Ceritasilat Novel Online

Renjana Pendekar 9

Eps 9 Renjana Pendekar - Khulung

Baca online Renjana Pendekar - Khulung

Cersil Renjana Pendekar - Khulung.

"Biarpun dalam hati mereka tak percaya, di mulut mungkin merekapun tidak berani bicara,"

Kata Pwe-giok.

"Hanya Li-thian-ong yang biasanya sombong dan suka meremehkan orang lain, meski Tonghong Tay-beng juga sudah pernah mendengar nama Sacek, tapi iapun belum kenal betapa lihaynya Sacek, kedua orang sama merasa penasaran menghadapi Sacek yang cuma sendirian itu. Diam2 kedua orang itu saling memberi tanda, serentak mereka melancarkan serangan maut terhadap Sacek."

"Kedua orang itu mungkin sudah bosan hidup,"

Kata Oh-lolo dengan gegetun.

"Memang,"

Kata Lui-ji.

"Orang macam apakah Sacek, sudah tentu beliau sudah memperhitungkan kemungkinan tindakan mereka itu. Beliau tetap tenang2 saja, waktu itu dari jauh kulihat senjata Li-thian-ong yang berwujud pagoda baja itu sedikitnya berbobot beberapa ratus kati sedang menghantam kepala Sacek, begitu dahsyat sehingga tempat aku berdiri juga merasakan angin damparannya yang keras. Apalagi Tonghong Tay-beng ikut menyerang sekaligus, sungguh aku menjadi kaget dan kuatir, saking ketakutan aku sampai menangis."

Tanpa terasa semua orang ikut berdebar. Tapi Lui-ji lantas menyambung.

"Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak Sacek bersiul panjang nyaring menggema angkasa, namun suaranya tidaklah menusuk telinga, sebaliknya kedengarannya sangat merdu."

"Itulah yang disebut kicauan burung Hong menggema ribuan li, menggetar sukma kabur sukar dicari!"

Seru Oh-lolo.

"Di tengah suara siulan nyaring itu,"

Demikian Lui-ji melanjutkan.

"entah cara bagaimana tahu2 tubuh Li-thian-ong mencelat, senjata andalannya, yaitu pagoda baja juga sudah berpindah ke tangan Sacek, dengan enteng Sacek memuntir, seketika pagoda baja itu berubah menjadi untir2."

Semua orang sama melengak, sungguh mereka tidak pernah mendengar bahwa di dunia ada Kungfu setinggi ini.

"Agaknya Tonghong Tay-beng juga terkena serangan Sacek,"

Sambung Lui-ji pula.

"dia tampak ketakutan, tapi Sacek hanya memandangnya dengan tertawa dingin, katanya.

"Mengingat menantu perempuanmu, biarlah kuampuni jiwamu!"

Sembari bicara Sacek terus menelikung untir2 baja tadi hingga berubah menjadi sebuah gelang, lalu dilemparkan, terdengar suara "brak"

Di kejauhan, sebatang pohon cukup besar seketika patah menjadi dua dan tumbang."

Bicara sampai di sini, Lui-ji menghela nafas lega, lalu katanya.

"Setelah Sacek memperlihatkan kungfunya, orang2 itu tiada satupun yang berani bergerak lagi."

Semua orang ikut merasa lega juga meski diketahui ibu anak dara itu akhirnya tidak terhindar dari kematian.

Dan ini pula yang membuat mereka heran, entah mengapa kemudian Siau-hunkiongcu tewas juga dan entah sebab apa Hong-sam sianseng juga terluka.

Cuaca sudah remang2, senja sudah tiba, di atas loteng mulai suram.

Pwe-giok tidak tahan, ia membuka suara.

"Apakah kejadian itu kemudian berkembang lagi lebih mengejutkan orang?"

Lui-ji menuang secangkir teh dan melayani minum Saceknya, habis itu perlahan2 barulah ia menyambung lagi.

"Melihat perbawa Sacek sudah menaklukan musuh, ibu lantas mendekati Sacek dan memberi hormat serta mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Sacek tanya kepada ibuku, lantas bagaimana akan menyelesaikan urusan ini?"

"Meski Tonghong Bi-giok itu berdosa kepada ibumu, tapi kukira ibumu pasti tidak tega mencelakai dia,"

Ujar Kwe Pian-sian dengan gegetun.

"Betul, hati perempuan biasanya memang lemah,"

Tukas Oh-lolo.

"Tapi diantaranya ada juga yang berhati keras, bahkan tidak kepalang kerasnya dan menakutkan,"

Sambung Kwe Pian-sian dengan tersenyum.

Seperti tidak mengikuti ucapan mereka, pandangan Lui-ji menatap keremangan senja di luar jendela dengan termangu, sejenak kemudian barulah ia menyambung ceritanya.

"Karena pertanyaan Sacek tadi, ibu hanya menangis saja dan tidak bicara. Sacek bertanya pula apakah lelaki tidak setia itu perlu dibunuh saja? Namun ibu tetap tidak buka mulut, melainkan cuma menggeleng saja. Maka berkatalah Sacek.

"Jika demikian, suruh dia enyah saja sejauh2nya!..."

Ia menghela nafas, lalu melanjutkan.

"Siapa tahu, ibu lantas menangis tergerunggerung mendengar ucapan Sacek itu."

"Aneh juga,"

Kata Pwe-giok.

"ibumu tidak tega membunuhnya, juga tidak mau melepaskan dia, sesungguhnya apa kehendaknya?"

Dengan menunduk Lui-ji berkata.

"Ibuku... dia..."

Mendadak Hong-sam sianseng menukas.

"Boleh kau istirahat dulu, biarkan ku sambung ceritamu."

Lui-ji mengusap air matanya dan mengiakan dengan menunduk. Hong Sam lantas berkata.

"Waktu itu akupun heran, kalau Cu Bi tidak tega membunuhnya dan juga tidak mau melepaskan dia pergi, lalu tindakan apa yang harus kulakukan?"

Dia berhenti sejenak, setelah menghela nafas lalu sambungnya.

"Pikiran wanita selamanya memang tak dapat ku raba. Selagi aku merasa bingung, tiba2 Oh-lolo itu menyeletuk, katanya dia tahu maksud Cu Bi."

"Memang hanya perempuan saja yang mengetahui isi hati sesama perempuan,"

Kata Pwegiok.

"Dengan sendirinya ku silahkan dia bicara,"

Tutur Hong Sam pula.

"Maka Oh-lolo lantas mendekati Cu Bi, tanyanya dengan tersenyum.

"Maksud Kiongcu apakah ingin rujuk kembali dengan Tonghong-kongcu?..."

Tentu saja aku menjadi gusar, kupikir sudah jelas Tonghong Bi-giok itu sedemikian rendah dan tak berbudi terhadap Cu Bi, bilamana Cu Bi tidak membunuhnya sudah tergolong untung baginya, masa sekarang Cu Bi ingin berhubungan baik pula dengan dia?

Sudah tentu aku tidak percaya, maka aku lantas tanya Cu Bi, apakah memang begitu maksudnya?

Sampai beberapa kali kutanya dia, namun sama sekali dia tidak mau menjawab meski dia tidak menangis lagi."

"Kalau tidak menangis dan juga tidak menjawab, hal itu berarti diam2 telah membenarkan,"

Kata Gin-hoa-nio mendadak. Hong Sam tersenyum pahit, ucapnya.

"Sampai lama akhirnya barulah ku paham isi hatinya, memang betul begitulah kehendaknya. Kurasakan hal itu sungguh terlalu enak bagi keparat Tonghong Bi-giok itu, tapi Cu Bi sebagai orang yang paling berkepentingan sudah menghendaki begitu, terpaksa akupun tak dapat berbuat apa2."

"Di dunia ini hanya cinta kasih antara lelaki dan perempuan saja yang tak dapat dipaksakan oleh siapapun,"

Kata Pwe-giok.

"Melihat sikapku sudah lunak dan tidak merintangi lagi, orang2 itu sama merasa lega,"

Tutur Hong Sam pula.

"Segera Tonghong Tay-beng menarik anaknya maju ke depan, ayah dan anak itu ber-sama2 meminta maaf kepada Cu Bi. Dalam keadaan demikian aku menjadi lebih2 tidak dapat bicara apa2 lagi."

"Dan bagaimana pula sikap Tonghong Bi-giok itu?"

Tanya Pwe-giok.

"Sudah tentu wajahnya penuh rasa menyesal,"

Jawab Hong Sam.

"Tadinya wajah Cu Bi penuh rasa gusar, tapi kemudian telah berubah cerah, sinar matanya menjadi terang pula, tampaknya awan mendung sudah buyar dan segala sesuatu akan menjadi terang. Siapa tahu tiba2 datang lagi usul Oh-lolo."

"O, usul apa?"

Tanya Pwe-giok.

"Katanya, meski Tonghong Bi-giok dan Cu Bi sudah suka sama suka, tapi sebelum ada ijin orang tua serta perantara comblang, betapapun ikatan mereka sebagai suami isteri belum resmi, sebab itulah sekarang juga dia ingin menjadi comblang bagi mereka agar Tonghong Bigiok dan Cu Bi dapat terikat menjadi suami isteri di depan ayahnya, dan akupun diminta menjadi wali bagi Cu Bi."

"Ehm, bukankah itu usul yang bagus?"

Kata Oh-lolo.

"Hm, semula akupun merasa usulnya memang bagus,"

Jengek Hong Sam.

"Maka be-ramai2 semua orang lantas sibuk mengatur seperlunya, di atas loteng kecil inilah diadakan perjamuan untuk merayakan peresmian pengantin baru mereka."

"Perjamuan?"

Pwe-giok menegas dengan terbelalak.

"Tentunya tiada perjamuan yang tanpa arak!"

"Betul, perjamuan tentu harus lengkap dengan suguhan arak,"

Kata Hong Sam.

"Jangan2 di dalam arak itulah terjadi sesuatu?"

Ucap Pwe-giok pula. Hong Sam menghela nafas panjang, katanya.

"Usiamu masih muda belia, tapi nyatanya pengalaman dan pengetahuanmu sudah jauh lebih luas daripada diriku pada waktu itu."

Diam2 Pwe-giok membatin.

"Mungkin lantaran Cianpwe memandang dirimu tiada tandingan di kolong langit ini dan tidak menaruh perhatian terhadap orang lain, dan tentunya juga tidak menyangka ada orang berani mencelakai kau dengan cara yang licik."

"Sudah tentu pikiran ini tidak berani diutarakannya, tapi didengarnya Hong Sam telah menyambung pula.

"Dalam hatimu tentu kau anggap aku terlalu tinggi hati dan mengira orang lain tidak berani berbuat apapun kepadaku, soalnya kau tidak mengetahui keadaan pada waktu itu..."

Ia menghela nafas panjang, lalu meneruskan.

"Apabila waktu itu kaupun di sana dan melihat setiap orang sama riang gembira, tentu kaupun takkan curiga bahwa sebenarnya dirimu sedang diincar."

"Jika orang ingin mengerjai Cianpwe, mana bisa sikapnya itu diperlihatkan kepada Cianpwe?"

Ujar Pwe-giok tak tahan. Air muka Hong Sam tampak guram, sampai lama ia tidak bersuara. Sementara itu Lui-ji sudah cukup beristirahat, segera ia menyela.

"Sudah tentu masih ada alasan lain. Pertama Sacek menganggap orang2 itu adalah tokoh Kangouw terkenal, tentunya tidak sampai bertindak secara keji dan rendah."

Pwe-giok tersenyum pahit, katanya.

"Terkadang orang2 yang sok anggap dirinya kaum pendekar budiman itulah sering2 dapat bertindak secara kotor dan menakutkan. Sebab kalau orang2 macam begitu sampai berbuat sesuatu kebusukan, bukan saja orang lain takkan berjaga-jaga, bahkan juga takkan percaya."

Lui-ji juga terdiam sejenak, katanya kemudian.

"Kedua, dengan Kungfu Sacek waktu itu, sekalipun beliau menenggak habis secawan arak beracun juga takkan menjadi soal, arak beracun itu pasti dapat didesaknya keluar. Apalagi Sacek menyaksikan sendiri arak yang disuguhkan itu dituang dari satu poci yang sama."

Kwe Pian-sian memandang Oh-lolo sekejap, lalu berkata.

"Kalau racun biasa tentu tidak beralangan bagi Hong locianpwe, tapi cara penggunaan racun Oh-lolo boleh dikatakan tiada bandingannya di kolong langit ini, biarpun tenaga dalam Hong locianpwe maha tinggi, betapapun perutnya bukan terbuat dari baja."

"Baru kemudian Sacek tahu bahwa racun bukan melalui arak yang disuguhkannya itu,"

Sambung Lui-ji pula.

"Tapi racun dipoles pada cawan arak yang digunakan Sacek dan ibuku, sungguh racun yang maha lihay."

"Bila di dalam arak beracun, rasa arak tentunya akan berubah,"

Kata Pwe-giok.

"Setelah Hong-locianpwe minum cawan pertama, apakah belum dirasakan ada kelainan pada arak itu dan mengapa sampai minum lagi cawan yang kedua?"

Kwe Pian-sian tidak tahan, ia menyeletuk pula.

"Seumpama Hong-locianpwe tidak dapat merasakannya, Cu-kiongcu sendiri kan juga seorang ahli racun, masa beliau juga tidak dapat merasakannya?"

"Justeru lantaran racun dipoles pada cawan arak, sedangkan araknya dingin, ketika cawan pertama dituang, serentak semua orang angkat cawan dan menghabiskannya, dengan sendirinya racun yang larut ke dalam arak waktu itu tidak banyak,"

Demikian Lui-ji menutur dengan gegetun.

"Dan kemudian...?"

Tanya Kwe Pian-sian.

"Kemudian racun yang larut ke dalam arak tentunya makin lama makin cepat dan banyak,"

Tutur Lui-ji.

"Tapi dalam pada itu arak yang diminum Sacek dan ibuku juga tidak sedikit lagi, daya rasa mereka lambat-laun sudah mulai tumpul... tentunya kalian maklum, saat itu hati ibuku tentunya sangat gembira. Dalam keadaan terlalu gembira, kewaspadaan seseorang biasanya tentu akan sangat berkurang."

"Sungguh hebat,"

Ujar Kwe Pian-sian.

"tampaknya waktu menaruh racun, setiap kemungkinan sudah diperhitungkan masak2 oleh Oh-lolo. Kemahiran menaruh racun orang ini sungguh sukar ditandingi siapapun juga."

Membayangkan betapa rapi cara Oh-lolo menaruh racun serta tindakannya yang keji, tanpa terasa semua orang sama mengkirik, apalagi sekarang terdapat pula seorang Oh-lolo di depan mereka, tentu saja timbul rasa was-was dan jemu mereka terhadap nenek ini.

Kebetulan Pwe-giok berdiri di sampingnya, sekarangpun ia merasa ngeri dan cepat menjauhinya.

Bahkan Ciong Cing menjadi ketakutan, memandang saja tidak berani.

Lui-Ji lantas berkata.

"Sekian lama mereka minum arak, mendadak ibuku menyembah beberapa kali kepada Sacek dan ber-ulang2 menyatakan terima kasihnya atas pertolongan jiwa Sacek."

Ya, akupun merasa heran dalam keadaan begitu tiba2 dia menyatakan terima kasihnya padaku,"

Tukas Hong Sam dengan menyesal.

"Tapi akupun tidak bilang apa2. Kulihat Cu Bi lantas mendekati Tonghong Bi-giok dan memegang tangannya dengan tersenyum manis, katanya.

"Berkat bantuan para Cianpwe yang hadir di sini sehingga dapatlah kita menjadi suami isteri secara istimewa. Betapapun hatiku sangat berterima kasih, Dengan sendirinya Tonghong Bi-giok menyambutnya dengan tertawa dan berkata.

"Ya, tentu saja akupun sangat berterima kasih."

"Dengan tertawa Cu Bi berkata pula.

"Kata orang, cinta suami-isteri harus sehidup semati. Meski aku tak dapat lahir bersama kau pada hari dan saat yang sama, hendaklah kita dapat mati pada hari dan saat yang sama, apakah kau bersedia?"

Aku menjadi heran pada hari bahagianya mengapa tanpa sebab dia bicara tentang kematian."

"Dalam pada itu kudengar Tonghong Bi-giok telah menjawabnya dengan tertawa.

"Dalam suasana bahagia begini, mengapa kau bicara hal2 yang tidak enak ini?"

Cu Bi memandangnya tajam2, ucapnya dengan tersenyum.

"Kuminta sukalah kau jawab bersedia atau tidak?"

Kulihat tertawa Tonghong Bi-giok sudah berubah menjadi menyengir, terpaksa ia mengangguk.

"Sudah tentu aku bersedia..."

Belum habis ucapannya, mendadak Cu Bi memuntir tangannya, krek, tulang lengan Tonghong Bi-giok telah dipuntirnya hingga patah!"

Tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget. Maka dapatlah dibayangkan betapa terkejutnya Tonghong Tay-beng dan lain2 ketika menyaksikan apa yang terjadi waktu itu. Dengan pedih Pwe-giok berkata.

"Mungkin waktu itu Cu-kiongcu sudah merasakan dirinya telah keracunan dan tak tertolong lagi, maka lebih dulu ia menghaturkan terima kasih kepada pertolongan Hong-locianpwe, itulah penghormatan perpisahannya dengan Cianpwe."

Gin-hoa-nio menghela nafas gegetun, katanya.

"Tatkala mana dia tetap tenang2 saja, kiranya dia sudah bertekad akan gugur bersama dengan lelaki tidak setia dan tak berbudi itu."

"Tapi waktu itu aku belum lagi tahu persoalannya, baru hendak kutanyai dia sebab apa dia bersikap begitu, tahu2 Tonghong Tay-beng dan begundalnya telah berteriak kaget terus menubruk ke arahnya,"

Tutur Hong Sam.

"Namun lebih dulu Cu Bi telah mencekik leher Tonghong Bi-giok sambil membentak.

"Berhenti! Siapapun diantara kalian berani maju lagi setindak, segera ku cekik mampus dulu jahanam ini!"

Karena itu Tonghong Tay-beng dan lain2 menjadi kuatir dan tidak berani sembarangan bertindak.

"Habis itu barulah Cu Bi berkata kepadaku dengan pedih bahwa arak telah diberi racun jahat, racun sudah merasuk tulang dan tak dapat ditolong lagi, karena itu dia hanya memohon agar aku suka menjaga Lui-ji. Diam2 akupun mengerahkan tenaga, akupun merasakan diriku juga sudah keracunan, bekerjanya racun sebenarnya sangat lambat, tapi lantaran aku mengerahkan tenaga, seketika kaki dan tanganku berubah menjadi biru hangus. Melihat keadaanku, tambah pedih Cu Bi, sebab tahulah dia bahwa racun yang berada dalam tubuhku jauh lebih hebat daripada dia dan jelas tak tertolong lagi."

Mendengar sampai di sini, hati semua orang seperti tertindih oleh batu, dadapun terasa sesak. Lui-ji mengusap air mata, katanya dengan perlahan.

"Waktu itu aku lagi duduk di suatu kursi kecil dan asyik makan bakso buatan Ibuku sendiri. Melihat kejadian itu, hampir aku keselak bakso. Pada saat itu juga kembali Sacek bersiul nyaring pula laksana kicauan burung Hong itu. Kulihat Oh-lolo menjadi pucat, berulang ia menyurut mundur sambil berteriak.

"Racun itu adalah buatan Tonghong-sengcu yang diracik dengan 81 jenis daun2an, jika kau banyak bergerak, kematianmu tentu akan tambah cepat dan tak tertolong...!"

"Kenapa racun itu dikatakan buatan Tonghong Tay-beng?"

Tanya Pwe-giok dengan heran. Kwe Pian-sian tersenyum, katanya.

"Oh-lolo itu licik dan licin, melihat kegagahan Honglocianpwe yang maha sakti itu, mana dia berani mengaku racun itu berasal dari dia? Apa yang diucapkannya itu tidak lain hanya ingin membelokkan perhatian Hong-locianpwe agar Tonghong Tay-beng yang dilabraknya."

"Orang sekeji itu sungguh sangat menakutkan,"

Ujar Pwe-giok.

"Tapi dia terlalu menilai rendah kekuatan Sacek,"

Tutur Lui-ji pula "Meski waktu itu racun sudah bekerja, namun Sacek menahannya ke dalam perut dengan lweekangnya yang maha sakti, sambil bersiul nyaring Sacek terus menubruk ke arah Tonghong Tay-beng.

Tapi ibuku lantas berteriak.

"Bukan Tonghong Tay-beng yang membuat racun itu, tapi Oh-lolo. Lekas Hong-locianpwe membekuknya dan memaksa dia menyerahkan obat penawarnya, dengan begitu mungkin masih dapat tertolong."

"Pada saat ibu bicara itulah, tahu2 kedua tangan Tonghong Tay-beng sudah tergetar patah oleh pukulan Sacek, menyusul dadanya kena dihantam pula sehingga tumpah darah dan roboh terkapar. Melihat tokoh semacam Tonghong Tay-beng saja tidak tahan sekali pukul Sacek, keruan para begundalnya ketakutan setengah mati, segera ada di antaranya bermaksud melarikan diri. Namun sudah terlambat, Sacek sudah kadung murka, terdengarlah suara krakkrek, blak-bluk berturut2, suara tulang patah dan orang roboh, para tokoh Bu-lim kelas tinggi yang memenuhi ruangan itu tiada satupun yang hidup, darah muncrat memenuhi lantai dan dinding."

Baru sekarang Pwe-giok menarik nafas lega, segera ia bertanya.

"Dan bagaimana dengan Oh-lolo?"

"Hanya Oh-lolo saja yang belum mati, Sacek cuma mematahkan kedua kakinya, akhirnya memaksa dia agar menyerahkan obat penawarnya,"

Tutur Lui-ji.

"Tapi racun itu katanya diracik dengan 81 jenis tumbuh2an, mungkin dia sendiri juga tidak mempunyai obat penawarnya. Sungguh sayang!"

Kata Kwe Pian-sian.

"Ya, memang betul,"

Kata Lui-ji.

"Ibu tahu keterangan Oh-lolo itu tidak dusta, maka minta dia menyebut nama ke-81 jenis tumbuh2an berbisa itu, asalkan tahu namanya tentu dapat mencari obat penawarnya dengan lengkap, sekalipun untuk itu diperlukan waktu cukup lama."

"Betul juga,"

Ujar Kwe Pian-sian.

"Dan dibeberkan tidak olehnya?"

Tanya Pwe-giok.

"Rase tua itu ternyata takut mati, asalkan ada kesempatan hidup, mana dia mau menyianyiakannya?"

Kata Lui-ji.

Tapi baru saja dia menguraikan dua-tiga nama jenis racun, sekonyong2 dari samping menyambar tiba secomot jarum dan bersarang di punggungnya.

Terdengar Tonghong Tay-beng bergelak tertawa dan berseru.

"Hong Sam, kau bunuh diriku, kaupun harus mati bersamaku. Di dunia ini tiada seorangpun yang mampu menyelamatkan kau."

Rupanya lwekangnya sangat hebat, meski terkena pukulan Sacek, tapi seketika belum mati, ia kuatir Oh-lolo memberitahukan resep obat penawar maka Oh-lolo dibunuhnya lebih dahulu!"

Kisah sedih yang ber-liku2 ini akhirnya tamat juga.

Namun betapa pedih hati anak dara itu setelah menceritakan kemalangan yang menimpa keluarganya tentulah dapat dibayangkan.

Entah berapa lama lagi, terdengar Oh-lolo menghela nafas panjang, gumamnya.

"Ai, kiranya akulah yang salah, akulah yang salah..."

Ia ulangi beberapa kali ucapannya itu, tiba2 ia berbangkit dan menjura dalam2 kepada Hong-sam sianseng, ucapnya sambil menunduk menyesal.

"Kiranya adik perempuanku bukan dibunuh oleh Samya, sebaliknya dia yang telah.. telah membikin susah Samya hingga begini, seumpama Samya yang membunuhnya juga aku tidak dapat bicara apa2 lagi."

Nenek ini dapat mengucapkan kata2 bijaksana begini, sungguh di luar dugaan siapapun juga. Sikap Hong Sam tampak sangat kesal, katanya, sambil memberi tanda.

"Sudahlah, orang yang pantas mati sudah mati semua, kejadian yang lampau tidak perlu diungkit lagi, kau boleh.. boleh pergi saja."

"Terima kasih Samya,"

Kata Oh-lolo sambil melangkah ke ujung tangga. Tiba2 ia menoleh dan berkata pula.

"Tonghong Tay-beng itu sok pintar, sesungguhnya iapun keliru besar."

"Oo? Keliru apa?"

Tanya Hong Sam.

"Dia mengira di dunia ini tiada orang yang sanggup menawarkan racun di tubuhnya Samya, nyata dia lupa bahwa masih ada seorang nenek reyot macam diriku ini,"

Kata Oh-lolo.

Jilid 20________ "Tapi masih ada satu hal yang tidak diketahui nona,"

Kata Oh-lolo dengan tertawa.

"Oo? Hal apa?"

Tanya Lui-ji.

"Racun itu sebenarnya adalah buatanku, makanya adik perempuanku tidak mempunyai obat penawarnya,"

Tutur Oh-lolo. Seketika Lui-ji melonjak kegirangan, teriaknya.

"Betul, biarpun racun buatan adik perempuannya, dengan sendirinya iapun paham cara bagaimana menawarkannya."

Keterangan Oh-lolo ini membuat semua orang terkejut dan juga bergirang. Saking senangnya muka Cu Lui-ji menjadi merah, serunya dengan suara parau.

"Jadi pada... padamu terdapat obat penawarnya?"

Oh-lolo mengeluarkan sebuah kotak kecil, katanya.

"Inilah obat penawarnya."

Kejadian ini datangnya sungguh terlalu mendadak dan terlalu beruntung, benar2 sukar untuk dipercaya.

Cu Lui-ji terbelalak memandangi kotak kecil yang dipegang nenek itu, sekujur badan sampai bergemetar.

"Obat ini sebenarnya tidak ingin kuberikan,"

Kata Oh-lolo sambil menghela nafas.

"Tapi Samya benar2 seorang berbudi, bilamana orang baik semacam Samya sampai tidak tertolong, memangnya di dunia ini tidak ada keadilan lagi?"

"Tak ter... tak tersangka kau masih punya Liangsim (hati nurani yang baik),"

Seru Lui-ji dengan ter-putus2.

Mendadak ia rampas kotak kecil yang dipegang Oh-lolo itu dan didekap erat2 di dalam pangkuannya se-olah2 takut direbut orang lagi.

Air matapun bercucuran, serunya saking kegirangan.

"Sacek... O, Sacek! Akhirnya... akhirnya kita tertolong! Sudah lama kita seperti bermimpi buruk dan mimpi buruk kini sudah berakhir. Sacek, apakah engkau bergembira?"

Tampaknya Hong Sam juga sangat terangsang dan hampir tak dapat menguasai perasaannya.

Setelah mengalami siksa derita sekian tahun, kini dapat terlepas dari lautan derita itu, tentu saja iapun bergirang.

Lui-ji mendekap di depan tempat tidur, saking gembira ia terus menangis ter-gerung2.

Hong Sam membelai rambutnya dengan perlahan, seperti ingin omong apa2, tapi suaranya tersendat sehingga tiada terucapkan sekatapun.

Tampaknya Oh-lolo juga sangat terharu, desisnya dengan hati lega.

"Orang baik tentu mendapat ganjaran yang baik, keadilan tentu terdapat pada hati setiap orang. Ai, rasanya sekarang nenek harus pergi saja."

Tapi baru saja ia membalik tubuh, mendadak Pwe-giok menghadang di depannya dan menegur.

"Apakah obat itu benar2 obat penawar?"

Oh-lolo tersenyum, katanya.

"Ai, anak muda, mungkin sudah terlalu banyak orang jahat yang kau temui, makanya kau tidak percaya kepada siapapun. Apakah kau lihat nenek seperti aku ini tega membikin celaka orang macam Hong-sam sianseng?"

"Memang betul sudah terlalu banyak orang jahat yang kutemui, makanya baru sekarang ku tahu biarpun orang semacam Hong-locianpwe terkadang juga bisa dicelakai orang,"

Jawab Pwe-giok dengan perlahan. Tiba2 Kwe Pian-sian juga menimbrung.

"Apalagi, Hong-locianpwe sudah pinjam ilmu silatmu, tapi kau berbalik hendak menolongnya? Betapapun aku menjadi ikut curiga apakah di dunia ini benar2 ada orang baik hati seperti kau ini?"

Padahal sejak mula ia sudah curiga, cuma urusannya tidak menyangkut kepentingannya, maka dia diam saja.

Kini Pwe-giok sudah mendahului membongkar hal itu, maka iapun membonceng biar kelihatan berjasa.

Karena ucapan mereka berdua, hati Cu Lui-ji jadi cemas lagi, perlahan ia berbangkit, katanya dengan melotot terhadap Oh-lolo.

"Coba ka... katakan, obatmu ini sesungguhnya obat penawar atau bukan?"

Oh-lolo menghela nafas, jawabnya.

"Kalau nona tidak percaya, boleh kau kembalikan saja obat itu kepadaku."

"Mana boleh,"

Jawab Lui-ji dengan suara bengis.

"Pendek kata jika obat ini bukan obat penawar, segera kucabut nyawamu!"

"Habis cara bagaimana barulah nona mau percaya?"

Tanya Oh-lolo sambil menggeleng.

"Coba kau sendiri makan dulu satu biji obat ini,"

Kata Lui-ji. Pwe-giok mengira sekali ini Oh-lolo pasti akan mengalami 'senjata makan nenek', tak terduga tanpa sangsi Oh-lolo terus menerima kembali kota obatnya, katanya dengan tertawa.

"Jika demikian, akan ku makan satu biji obat ini."

Tiba2 Kwe Pian-sian menyeletuk lagi.

"Apa bila kau sudah makan obat penawar lebih dulu, sekalipun obat ini adalah racun, tentunya tidak beralangan biarpun kau makan seluruhnya."

Oh-lolo menghela nafas, katanya.

"Wah, jika begini jadinya serba salah bagiku."

Dia mengerling, tiba2 ia berkata pula dengan tertawa.

"Tapi masih ada satu cara yang dapat kubuktikan isi kotak ini obat penawar atau racun."

Dengan menggreget Lui-ji berkata.

"Sebaiknya kau dapat membuktikannya, kalau tidak... hmmm!"

Dilihatnya Oh-lolo mengeluarkan pula sebuah kotak kayu kecil, kotak inipun diukir dengan indah, dicat dengan warna merah darah.

"Kotak inilah berisi racun yang pernah digunakan adik perempuanku itu,"

Kata Oh-lolo. Lalu dari dalam kotak ia mencolek setitik bubuk obat berwarna jambon terus ditelan. Semua orang sama terkejut, tapi Oh-lolo malah tertawa, katanya.

"Tampaknya mata nona bersinar aneh, kekuatan tubuhmu pasti lain daripada orang biasa. Racun yang dapat membinasakan orang lain kukira takkan beralangan apapun bagi nona."

Dia tersenyum, lalu menyambung.

"Entah apa yang kukatakan ini betul atau tidak?"

"Hmk!"

Lui-ji hanya mendengus saja. Meski tidak bersuara, tapi di dalam hati diam2 ia mengagumi penglihatan nenek yang tajam ini.

"Tapi terdapatnya kelainan nona yang hebat ini juga bukan berasal dari pembawaan lahir, betul tidak?"

Tanya Oh-lolo pula. Lui-ji tidak lantas menanggapi, tapi akhirnya ia bersuara.

"Betul, hal ini disebabkan aku harus mencobai racun apakah yang diidap Sacek, maka aku bertekad akan mencicipi setiap macam racun di dunia ini, dari cara bekerjanya racun yang kucicipi ini akan kupelajari bagaimana kadar racunnya dan cara bagaimana menawarkannya."

"Betul, racun apapun juga, asalkan makannya tidak melebihi dosisnya tentu takkan membinasakan. Apalagi kalau sudah banyak memakannya, kelak akan timbul daya tolak mu terhadap racun ini."

Setelah menghela nafas, lalu Oh-lolo menyambung pula.

"Tapi urusan ini tampaknya sangat mudah dilakukan, padahal tidak sembarang orang mampu melaksanakannya. Sungguh aku sangat kagum terhadap tolak dan kesabaran nona."

Bilamana membayangkan seorang nona cilik seperti Cu Lui-ji setiap hari harus mencobai macam2 racun, sedikit lengah saja akibatnya adalah mati.

Untuk ini semua orang merasa tidak punya keberanian seperti nona cilik ini dan mau-tak-mau mereka bertambah kagum dan hormat kepadanya.

Namun Cu Lui-ji hanya menanggapi dengan hambar.

"Inipun bukan sesuatu yang luar biasa. Kau tahu, ada sementara racun bukannya pahit, sebaliknya rasanya sangat manis."

"Ya, obat yang mematikan kebanyakan rasanya manis, obat penolong jiwa rasanya malah pahit,"

Kata Oh-lolo dengan tertawa.

"Tapi menurut pendapatku, obat racun yang ditemukan nona itu pasti bukan racun yang sukar dicari. Jika racun sebangsa racun ular, kelabang, ketungging dan sebagainya, tentunya takkan berbahaya bagi nona, tapi bila racunku ini..."

Lui-ji menengadah, seperti mau omong apa2, tapi seketika tak dapat bersuara apapun, sebab tiba2 dilihatnya muka Oh-lolo yang berkeriput itu kini telah berubah menjadi ungu kebiru2an, bahkan matanya juga bercahaya ungu, tampaknya menjadi beringas dan menakutkan.

Bukan cuma Lui-ji saja yang terkesiap, ketika semua orang ikut memandang si nenek, hati semua orangpun terperanjat.

Namun Oh-lolo berkata pula dengan tertawa.

"Racun yang baru saja kumakan kini sudah mulai bekerja. Sebagai seorang ahli racun tentu nona dapat melihatnya, cara bekerja racun ini apakah serupa dengan keadaan Hong-sam sianseng waktu keracunan dahulu?"

Sampai di sini, suara nenek itu sudah mulai kaku dan hampir tidak jelas terdengar, tubuhnya juga mulai berkejang.

"Betul, memang begini keadaannya,"

Jawab Lui-ji dengan muka pucat.

Lalu Oh-lolo mengeluarkan satu biji pil dari kotak yang diterimanya kembali dari Lui-ji tadi dan diminum.

Meski semua orang berdiri cukup jauh, namun terendus juga bau amis dan busuk dari pil yang ditelan Oh-lolo itu.

Melihat sikap orang2 itu, Oh-lolo berkata dengan tertawa.

"Obat yang mujarab selain pahit biasanya juga berbau busuk bukan? Tapi obat penyelamat jiwa biarpun berbau tentu juga akan diminum orang. Sebaliknya kalau racun juga berbau busuk, lalu siapa yang mau meminumnya?"

Ciong Cing yang sejak tadi berdiam diri itu kini mendadak menghela nafas dan berucap.

"Ya, kata2 ini sungguh mengandung makna yang sangat dalam. Tapi di dunia ini ada berapa orang yang menyadari hal ini?"

"Eh, nona cilik, ingatlah dengan baik,"

Kata Oh-lolo dengan tersenyum.

"Terkadang mulut lelaki yang manis jauh lebih menakutkan daripada racun yang mematikan."

Ciong Cing memandang Kwe Pian-sian sekejap, lalu menunduk dan tidak bicara lagi.

Selang sejenak, air muka Oh-lolo telah berubah normal kembali.

Racun yang diminumnya meski lihay, tapi obat penawarnya juga sangat mujarab.

Nenek itu menghela nafas panjang2, lalu berkata dengan tertawa.

"Nah, sekarang nona percaya tidak?"

Lui-ji menunduk dan berkata.

"Tadi aku salah menyesali engkau, hendaklah engkau jangan marah."

"Mana bisa ku marah padamu?"

Ujar Oh-lolo.

"Memang lebih baik kalau ber-hati2."

Sekarang Lui-ji sudah tidak sangsi sedikitpun, ia merasa malu dan juga berterima kasih, segera ia terima lagi obat penawar itu dan terus berlari ke tempat tidur Hong-sam.

Sorot mata Oh-lolo menyapu pandang sekejap ke arah Ji Pwe-giok dan Kwe Pian-sian, katanya dengan tersenyum.

"Sekarang nenek boleh pergi bukan?"

Meski di dalam hati Pwe-giok masih merasakan sesuatu yang tidak beres pada urusan ini, tapi bukti terpampang di depan mata, apa yang dapat dikatakannya lagi? Terpaksa ia memberi hormat dan berkata.

"Maaf jika tadi aku bersikap kasar padamu."

Oh-lolo tertawa, tiba2 ia mendekati Kwe Pian-sian.

Teringat sikapnya tadi rada kurang hormat terhadap si nenek, baru sekarang Kwe Pian-sian menyesal telah menyalahi orang semacam ini, seketika mukanya menjadi rada pucat, cepat ia berkata.

"Harap Cianpwe jangan... jangan..."

"Tidak perlu kau takut,"

Kata Oh-lolo dengan tertawa.

"tiada maksudku hendak mencari perkara padamu. Meski tadi kau rada2 membikin sirik hatiku, tapi akupun tidak menyalahkan kau, malahan kurasakan kau inipun seorang berbakat, kelak jika perlu boleh coba2 kau cari diriku untuk ber-bincang2 lebih banyak."

Dia pandang Ciong Cing sekejap dengan tertawa, lalu berkata pula.

"Eh, nenek ompong semacam diriku ini tentunya takkan menimbulkan rasa cemburumu bukan?"

Kwe Pian-sian melenggong hingga sekian lamanya, dilihatnya nenek itu telah melangkah ke bawah loteng, ia menggeleng kepala dengan menyengir, katanya.

"Ai, nenek ini sungguh seorang yang aneh dan sukar untuk diraba..."

Akhirnya Hong-sam telah minum juga obat penawar itu.

Mahluk2 berbisa yang memenuhi kolong selimutnya itu dengan sendirinya telah digiring oleh Cu Lui-ji ke dalam sebuah karung goni.

Kalau racun sudah ditawarkan, untuk apa pula mahluk2 yang menjemukan itu.

Cu Lui-ji tampak berjingkrak kegirangan, seperti burung cucakrowo saja dia mengoceh tiada hentinya, bertanya ini dan itu.

Maka Pwe-giok lantas menceritakan pengalamannya secara ringkas waktu ditugaskan menjadi utusan Hong-sam.

Hong-sam duduk bersila di tempat tidur, dia berkerut kening dan berkata.

"Kiranya tokoh andalan mereka adalah Lo-cinjin. Konon khikang orang ini tidak lemah, bagaimana menurut pengalamanmu?"

"Ya, memang tidak bernama kosong,"

Ujar Pwe-giok.

"Betapapun hebat Khikang nya juga tiada gunanya, sekarang racun dalam tubuh Sacek sudah dipunahkan, betapapun banyak jago mereka, datang satu sikat satu, datang dua sikat sepasang. Takut apa?!"

Ujar Lui-ji dengan tertawa. Pwe-giok diam sejenak, akhirnya ia tidak tahan dan berkata.

"Menurut apa yang kulihat dan kudengar sehari ini, Hong-cianpwe memang seorang berbudi luhur dan sukar dibandingi siapapun. Cuma kedatangan mereka inipun bukannya tidak beralasan."

"O, apa alasan mereka? Coba ceritakan!"

Kata Lui-ji dengan mendelik. Dengan suara berat Pwe-giok berkata.

"Yaitu disebabkan tindakan nona..."

Lui-ji melonjak bangun dengan gusar, teriaknya.

"Mereka pasti bilang padamu bahwa banyak orang Kangouw telah hilang, semuanya telah kubunuh, begitu bukan?"

Pwe-giok menarik nafas dalam2, jawabnya.

"Ya, memang begitu kata mereka."

"Tapi apa kau tahu sebab apa orang2 itu masuk ke rumah ini?"

Jengek Lui-ji.

"Tidak tahu,"

Jawab Pwe-giok.

"Karena ada di antaranya ingin mengganggu diriku, ada yang ingin merampok, mereka sendiri yang bermaksud jahat, makanya kubereskan mereka, salah mereka sendiri,"

Tutur Lui-ji.

"Jika kau lihat kawanan penjahat itu, mungkin kaupun takkan mengampuni mereka."

"Meski ucapan nona juga beralasan, tapi..."

"Tapi apa?"

Sela Lui-ji.

"Sacek menolong orang dan akibatnya keracunan, meski dengan Lwekangnya yang kuat beliau dapat menahan bekerjanya racun, tapi juga tak dapat bertahan terlalu lama, terpaksa kami harus berusaha mendesak keluar kadar racun di dalam tubuhnya. Sebab itulah Sacek memerlukan bantuan tenaga orang lain, kalau tidak, mungkin sudah lama beliau meninggal. Nah, coba katakan Sacek yang pantas mati atau keparat2 itu yang harus mampus?"

Pwe-giok termenung sejenak, ia menghela nafas panjang, katanya.

"Urusan di dunia ini memang sukar ditentukan benar dan salahnya oleh orang di luar garis. Agaknya aku... akupun salah."

"Di dalam persoalan ini memang masih ada sesuatu yang agak luar biasa, yaitu meski Sacek dapat menggunakan semacam kungfu istimewa untuk menghisap tenaga dalam seseorang dan dipinjam pakai, akan tetapi tenaga pinjaman itu pun akan terbuang dengan sangat cepat, sebab itulah hanya sebentar saja beliau perlu mencari pinjaman tenaga baru orang lain lagi..."

"Kalau Hong-locianpwe dapat menggunakan tenaga dalamnya untuk mendesak keluar kadar racunnya, mengapa perlu menggunakan pula mahluk2 berbisa itu?"

Kwe Pian-sian ikut bertanya.

"Soalnya setelah Sacek mendesak keluar racunnya, namun pori2 kulitnya akan menghisap kembali hawa berbisa yang didesak keluar itu,"

Tutur Lui-ji.

"Semula Sacek tidak paham kejadian ini sehingga beliau membuang tenaga percuma selama beberapa bulan, akhirnya barulah disadari apa yang terjadi, maka selanjutnya mahluk2 berbisa itu lantas di kerudung di dalam selimut untuk menghisap hawa berbisa yang keluar dari tubuh Sacek... sekarang tentunya kalian paham duduknya perkara?"

Pwe-giok lantas berkata.

"Setelah keracunan, Hong locianpwe telah dibuat marah lagi sehingga tenaga murninya buyar, dengan sendirinya beliau tak dapat pergi ke tempat lain dan terpaksa merawat dirinya di loteng kecil ini, begitu bukan?"

"Ya, sesudah Sacek membunuh kawanan penjahat itu, beliau sendiripun ambruk,"

Tutur Lui-ji.

"Kalau saja Sacek tidak membawa Hoa-kut-tan sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus membereskan mayat sebanyak itu."

"O, jadi orang2 yang lenyap setelah masuk kemari, dengan sendirinya juga berkat Hoa-kuttan?"

Tanya Kwe Pian-sian. Lui-ji mendengus, katanya.

"Hoa-kut-tan ini adalah obat mustajab yang sukar diperoleh, sesungguhnya terlalu boros kugunakan obat berharga itu bagi orang2 yang lebih rendah daripada binatang itu."

Pwe-giok menghela nafas panjang, katanya.

"Sebelumnya kurasakan berbagai urusan ini sangat tidak masuk di akal dan sukar dipecahkan, baru sekarang macam2 tanda tanya dalam benakku dapat terjawab dan tersapu bersih."

Dalam pada itu, se-konyong2 Ciong Cing menjerit kaget.

"Hei, li... lihatlah, mengapa... mengapa Hong-locianpwe berubah menjadi begini?"

Waktu semua orang berpaling, tertampaklah nafas Hong-sam megap2 dengan tubuh bergemetaran.

Sudah jelas yang diminumnya tadi adalah obat penawar, tapi sekarang dia seperti terserang racun jahat lagi.

Keruan semua orang melongo kaget.

Saking cemasnya hampir saja Cu Lui-ji menangis, dirangkulnya Hong-sam sambil berseru dengan suara ter-putus2.

"Sacek, ken... kenapa kau?"

Namun mata Hong-sam terpejam rapat, bahkan tampak menggertak gigi hingga bunyi gemertak dan tak sanggup bicara. Tidak kepalang kuatir Lui-ji, serunya.

"Kalianpun melihat obat tadi jelas2 obat penawar, mengapa bisa... bisa jadi begini? Sebab... sebab apakah menjadi begini?"

Mendadak Gin-hoa-nio tertawa, katanya.

"Ku tahu apa sebabnya."

Lui-ji melompat ke depan Gin-hoa-nio dan bertanya dengan suara parau.

"Benar kau tahu?"

"Ehmm,"

Gin-hoa-nio mengangguk.

"Masa isi kotak Oh-lolo ini bukan obat penawar?"

Tanya Lui-ji.

"Memangnya telah dicampurnya dengan racun? Atau waktu menyerahkannya kepadaku dia telah main gila dengan menukar obat penawar dengan racun?"

"Isi kotak ini memang benar2 obat penawar,"

Jawab Gin-hoa-nio.

"Di depan kalian iapun tidak berani main gila. Umpama dia berani main2, masakah mata orang sekian banyak dapat dikelabui semua?"

"Habis kenapa jadi begini?"

Seru Lui-ji dengan membanting kaki. Gin-hoa-nio menghela nafas perlahan, katanya kemudian.

"Untuk membuat semacam racun dari kombinasi sekian puluh jenis bahan racun, kukira tidaklah sederhana sebagaimana bila kita membuat gado2 atau Cap-jai."

"Ya, betul juga,"

Kwe Pian-sian meng-angguk2.

"Sebab kadar racun setiap jenis racun kan berbeda-beda,"

Tutur Gin-hoa-nio lebih lanjut.

"Bahkan ada di antara racun itu satu sama lain saling bertentangan. Apabila kau mencampurkan beberapa jenis menjadi satu, terkadang kadar racunnya malah akan lenyap sama sekali. Teori ini serupa kalau kita mencampurkan beberapa macam warna menjadi satu, kadang2 malah akan berubah menjadi warna putih."

"Betul,"

Kata Kwe Pian-sian.

"jika cara mencampur racun itu pekerjaan yang gampang, tidak nanti Oh-lolo mendapat nama besar di dunia persilatan."

"Dan bila kau campur ber-puluh2 jenis bahan racun menjadi satu, maka dosis dari tiap2 jenis racun itu harus sudah ditakar dengan tepat, sedikitpun tidak boleh lebih banyak atau berkurang, perbandingan dosis inilah rahasia yang paling besar dan penting dalam hal membuat racun. Dan obat penawarnya, dengan sendirinya juga harus dibuat dengan cara perbandingan dosis yang sama pula, tidak boleh selisih sedikitpun, kalau sebaliknya, maka tidak menimbulkan khasiat apapun."

"Ya, memang begitu,"

Tukas Kwe Pian-sian.

"Dan setelah lewat sekian tahun,"

Sambung Gin-hoa-nio lagi.

"racun yang mengeram di dalam tubuh Hong-sam sianseng tentu kadarnya sudah kacau balau, sebab kadar racun ada yang berat dan ada yang ringan, ada yang sudah didesak keluar oleh tenaga dalamnya. Sebab itulah obat penawar pemberian Oh-lolo ini sama sekali tidak mempunyai khasiat menawarkan racun yang mengeram di tubuh Hong-sam sianseng, sebaliknya malah mengganggu racun yang sudah ditahan secara susah payah itu dan akhirnya racun itu buyar dan bekerja lagi."

Dia menghela nafas, lalu menyambung pula.

"Dan di sinilah letak kelihaian cara Oh-lolo menggunakan racunnya."

Mendadak Cu Lui-ji menjambret baju Gin-hoa-nio dan membentak dengan suara parau.

"Jika kau tahu sejelas ini, mengapa tak kau katakan sejak tadi?"

Gin-hoa-nio tersenyum hambar, jawabnya.

"Jika kau jadi diriku, apakah akan kau katakan?"

Lui-ji jadi melengak dan tak bisa bicara. Maka Gin-hoa-nio menyambung lagi.

"Mungkin juga baru saja dapat kuketahui teori yang kukatakan ini."

Sekarang semua orangpun dapat memahami uraian Gin-hoa-nio itu, teringat bahwa dengan obat penawarnya saja Oh-lolo juga bisa bikin celaka orang, betapa keji dan betapa jauh tipu muslihatnya itu sungguh membuat orang bergidik.

Keringat tampak bercucuran dari kepala Hong-sam, jelas dia sedang mengerahkan tenaga dalam untuk menghimpun kembali kadar racun yang sudah buyar itu.

Melihat air mukanya yang penuh derita itu, dapatlah dibayangkan betapa gawatnya urusan ini.

Lui-ji menunduk perlahan, air matanya kembali berderai.

"Nona tidak perlu cemas,"

Ciong Cing berusaha menghibur.

"kalau sebelum ini Hong-sam sianseng dapat menahan bekerjanya racun, tentu akan lebih mudah baginya untuk berbuat sesuatu."

"Mestinya betul ucapanmu, tapi... tapi tenaga Sacek sekarang sudah jauh daripada sebelum ini,"

Kata Lui-ji sambil menangis.

"Apalagi,"

Tukas Gin-hoa-nio.

"Dalam keadaan gawat begini dia tidak dapat sembarangan menggerakkan tenaga murninya, sedangkan musuh akan datang dua-tiga jam lagi, lalu bagaimana baiknya?"

Dia berucap se-akan2 ikut gelisah bagi keadaan Hong-sam sianseng, padahal siapapun dapat mendengar nadanya itu mengandung rasa syukur dan senang karena orang lain mendapat celaka.

Dengan gemas Cu Lui-ji lantas mendamprat.

"Memangnya kau senang ya? Hm, kalau kami mati, kaupun jangan harap akan hidup!"

Namun dengan dingin Gin-hoa-nio menjawab.

"Betapapun aku sudah cacat begini, mati atau hidup bagiku tidak menjadi soal lagi." ***** Sang waktu terus berlalu, perasaan semua orang juga semakin tertekan. Meski Kwe Pian-sian tidak perlu ikut berkuatir bagi mati atau hidupnya Hong-sam sianseng, tapi bila teringat dirinya masih harus bersandar padanya untuk menghadapi kedatangan Anglian-hoa dan lain2, bila Hong-sam mati, semua orang yang berada di atas loteng inipun jangan harap akan hidup. Sekarang waktunya tinggal dua jam lagi. Mendadak Pwe-giok berbangkit dan berseru.

"Nona Cu, silahkan kau bawa Hong-sam sianseng dan cepat pergi saja... yang lain2 juga silahkan pergi semua!"

"Dan.. dan kau?"

Tanya Lui-ji.

"Saat ini di-mana2 tentu sudah dijaga oleh mereka, tapi dengan kekuatan nona dan Kwe-heng kukira tidak sulit untuk menerjang pergi,"

Kata Pwe-giok.

"Yang kukuatirkan hanya kalau Locinjin dan rombongannya keburu menyusul kemari, maka aku..."

"Kau sengaja tinggal di sini untuk menghadangnya?"

Sela Lui-ji.

"Biarpun kepandaianku kurang tinggi, tapi untuk merintangi mereka sementara waktu kukira masih sanggup, dengan demikian nona dan rombongan mungkin sempat pergi agak jauh,"

Setelah berhenti sejenak lalu Pwe-giok menyambung pula.

"sebab daripada kita menanti kematian di sini, akan lebih baik aku sendiri saja yang mengadu jiwa dengan mereka. Apalagi, orang yang hendak mereka cari bukanlah diriku, akupun belum pasti akan mati di tangan mereka."

"Jika yang dicari mereka bukan dirimu, untuk apa kau mengadu jiwa?"

Tanya Lui-ji.

"Kukira setiap orang pada suatu waktu tentu rela akan mengadu jiwa, bukan?"

Jawab Pwegiok. Tiba2 Gin-hoa-nio menjengek.

"Hm, tadinya kukira kau ini seorang yang sangat teliti dan hati2, dapat menghargai jiwanya sendiri, tak tersangka sekarang kaupun dapat berbuat hal2 bodoh dan emosi begini."

"Seorang kalau tidak punya emosi, apakah dia terhitung manusia?' jawab Pwe-giok. Kwe Pian-sian berdiri dan siap untuk pergi, katanya dengan tertawa.

"Seorang lelaki sejati harus tahu apa yang harus dilakukannya dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Ji-heng memang tidak malu sebagai seorang pendekar sejati, maka kamipun tidak enak untuk membantah kehendakmu."

"Betul, tekadku sudah bulat, silahkan kalian lekas pergi saja,"

Kata Pwe-giok. Tak terduga mendadak Hong-sam membuka mata dan menatap Pwe-giok tajam2, ucapnya dengan kereng.

"Caramu bertindak ini, apakah kau kira orang she Hong ini manusia yang tamak hidup dan takut mati?"

"Sama sekali Cayhe tidak bermaksud demikian,"

Jawab Pwe-giok dengan menghela nafas.

"Cuma..."

"Soal mati atau hidup memang sulit diramalkan, tapi bilamana menghadapi pilihan, seorang lelaki sejati kenapa mesti gentar mati?"

Kata Hong-sam pula dengan tegas.

"Ya, Tecu tahu,"

Jawab Pwe-giok.

"Jika kau tidak tahu tentu kau takkan tinggal di sini, betul tidak?"

Pwe-giok mengiakan pula.

"Jika demikian, kenapa kau suruh aku lari?"

Seru Hong-sam dengan gusar.

"Memangnya agar aku dapat menyempurnakan keluhuran budimu sebagai seorang pendekar sejati?"

"Ah, Tecu tidak berani,"

Jawab Pwe-giok dengan menunduk dan kikuk. Dengan lemas Kwe Pian-sian berduduk kembali, ucapnya dengan menyengir.

"Kalau begitu, biarlah kita semua tinggal saja di sini dan bertempur mati2an menghadapi mereka. Cuma, kalau kita dapat bertahan satu jam saja sudah untung."

Sorot mata Hong-sam tampak gemerdep, katanya pula sambil menatap Pwe-giok.

"Menurut pendapatmu, apakah kita pasti akan kalah?"

Membayangkan betapa hebat kekuatan lawan, Pwe-giok menjadi ragu2 untuk menjawab, katanya dengan tergagap.

"Cianpwe sendiri tidak dapat turun tangan, kemenangan pihak kita memang sukar diramalkan."

Hong-sam menepuk tempat tidurnya keras2, ucapnya dengan bengis.

"Kematianku tidak perlu disayangkan, tapi matipun aku pantang dihina orang."

"Apapun juga Sacek tidak boleh turun tangan,"

Seru Lui-ji dengan kuatir. Hong-sam memandang sekejap pula kepada Pwe-giok, lalu berkata dengan perlahan.

"Jika aku dapat meminjam pakai tenaga dalam orang lain, masakah aku tidak dapat meminjamkan tenagaku kepada orang lain?"

"Jika Sacek meminjamkan tenagamu kepada orang lain, lalu cara bagaimana akan sanggup menahan serangan racun dalam tubuhmu?"

Kata Lui-ji dengan suara gemetar.

"Akan lebih baik aku mati keracunan daripada mati terhina,"

Seru Hong-sam dengan gusar.

"Hanya tidak tahu adakah orang yang sudi bertempur mati2an bagiku?"

Terbeliak mata Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, kalau dapat memindahkan segenap tenaga dalam Hong-sam ke dalam tubuhnya sendiri, hal ini sungguh sangat menarik.

Tapi segera terpikir pula kekuatan Hong-sam sekarang tersisa tidak banyak, andaikan sisa tenaga itu dapat dipinjamkan seluruhnya kepadanya mungkin juga sukar melawan Lo-cinjin yang maha sakti itu.

Teringat demikian, hasrat mereka jadi dingin lagi.

Tiba2 Ciong Cing berkata.

"Kalau Cianpwe dapat meminjamkan tenagamu kepada orang lain, mengapa tidak kau gunakan tenagamu itu untuk menghadapi musuh?"

"Tenagaku yang kusalurkan ke tubuh orang lain akan berjalan perlahan seperti air di sungai, aku sendiri mungkin dapat menyimpan sedikit sisa tenaga untuk menahan serangan racun,"

Tutur Hong-sam.

"Sedangkan bila aku harus bergebrak dengan musuh, tenagaku akan meledak seperti air bah yang sukar ditahan. Dalam keadaan payah seperti diriku sekarang, tidak sampai tiga kali gebrak saja pasti racun akan bekerja dengan hebat dan membinasakan diriku. Apalagi pihak lawan sangat banyak dan rata2 sangat lihay, betapapun tidak mungkin dalam tiga kali gebrak kubinasakan mereka satu per satu."

"Jika... jika demikian, entah bolehkah Tecu membantu Cianpwe?"

Tanya Ciong Cing dengan tergagap.

"Kau tidak dendam padaku dan bersedia membantuku, kebaikan dan keberanianmu ini sungguh harus dipuji,"

Jawab Hong-sam.

"Cuma sayang badanmu lemah, bakatmu juga kurang, bilamana kusalurkan tenagaku, mungkin malah akan membikin celaka padamu."

Pada waktu bicara, seperti tidak sengaja sorot matanya mengerling sekejap pula ke arah Pwegiok. Maka Ciong Cing lantas berkata.

"Ji-kongcu, apakah... apakah engkau tak dapat..."

"Sudah tentu akupun sangat ingin membantu Hong locianpwe,"

Kata Pwe-giok dengan gegetun.

"Tapi aku kan tidak dapat menggunakan kesempatan pada waktu orang kesempitan..."

Ciong Cing berteriak.

"Ini kan keinginan Hong-locianpwe sendiri, dia yang meminjamkan tenaganya padamu, mana bisa dikatakan menggunakan kesempatan pada waktu orang kesempitan."

Pwe-giok termenung sejenak, tiba2 ia memberi hormat dan berkata kepada Hong-sam.

"Entah Hong-locianpwe sudikah menerima Tecu sebagai murid?"

Nyata, watak Pwe-giok memang jujur dan tulus, bahkan juga pintar dan cerdik.

Dengan tindakannya ini, bila murid meminjam kungfu sang guru, maka soalnya jadi adil dan cukup berdasar, murid mewakilkan guru bertempur, orang lainpun tak dapat bilang apa2 lagi.

Tak terduga Hong-sam lantas menjawab.

"Kau tidak mau menggunakan kesempatan pada kesempitan ku, mana aku dapat pula memperalat keluhuran budimu dan menyuruh kau mengangkat guru padaku?... Sebabnya kau mengangkat guru padaku tentunya bukan demi kepentinganmu, melainkan karena ingin membela diriku, begitu bukan?"

Pwe-giok melengak, jawabnya.

"Tapi ini..."

Hong-sam tertawa dan menyela.

"Jika kau sudi memanggil Hengtiang (kakak) padaku, maka puas dan senang lah aku. Hubungan antara kakak dan adik kan jauh lebih akrab daripada antara guru dan murid? Dan kalau ada saudara seperti dirimu ini menghadapi musuh bagiku, matipun aku tidak menyesal lagi."

Belum habis ucapan Hong-sam, tanpa disuruh segera Cu Lui-ji berlutut dan menyembah kepada Pwe-giok dan memanggil paman.

Panggilan paman ini membuat Pwe-giok terkesiap dan juga bergirang.

Kalau dirinya dapat mengikat saudara dengan tokoh Bu-lim yang hebat ini, tentu saja suatu kehormatan besar baginya.

Tapi bila teringat betapa berat tugasnya pada pertarungannya nanti, hanya boleh menang dan tidak boleh kalah, maka perasaannya lantas mirip cuaca di luar, terasa kelam dan tertekan.

***** Mendadak angin meniup keras, malam semakin larut.

Deru angin se-akan2 hendak merobek sukma.

Di atas loteng kecil itu tetap tiada penerangan, gelap dan hening seperti kamar mayat.

Hongsam sianseng duduk bersila di tempat tidurnya tanpa bergerak sedikitpun seperti orang mati.

Padahal setiap orang yang berada di atas loteng itu memang sudah tidak banyak bedanya daripada orang mati.

Kecuali suara bernapas yang semakin berat, selebihnya tiada terdengar apa2 dan juga tiada terlihat apa2.

Lui-ji bersandar di samping Hong-sam sianseng, tidak meninggalkannya barang sedetikpun.

Ia se-akan2 merasakan semacam firasat tidak baik, merasa waktunya bersandar di tubuh sang Sacek ini sudah tidak banyak lagi.

Pwe-giok juga duduk diam saja di tempatnya, dengan tekun dia bermaksud mencairkan tenaga dalam yang diperolehnya tadi agar dapat digerakkan dengan sesukanya, akan tetapi perasaannya tetap sukar untuk ditenangkan.

Hanya setengah hari yang lalu, mimpipun dia tidak pernah membayangkan akan dapat bertempur melawan seorang tokoh besar semacam Lo-cinjin.

Walaupun pertempuran itu tidak dapat dikatakan dimenangkan olehnya, tapi kejadian itu cukup membuatnya bergembira.

Maklumlah, di seluruh kolong langit ini ada berapa gelintir manusia yang pernah bertempur melawan Lo-cinjin?

Sejak tadi Kwe Pian-sian terus berdiri di depan jendela, memandang jauh keluar sana, ke tengah kota yang mati seperti kuburan itu.

Entah daun jendela rumah siapa yang tidak tertutup rapat, karena tertiup angin sehingga menerbitkan serentetan suara 'blang-blung' yang keras.

Anjing geladak yang meringkuk di pojok jalan sana terkadang mengeluarkan suara gonggongan yang menyeramkan.

Panji reklame hotel Li-keh-can juga masih berkibar dihembus angin, beberapa genteng jatuh hancur tertiup angin dan menjangkitkan suara gemertak.

Malam yang dingin dan seram dengan angin puyuh sekeras ini dan suasana setegang ini, setiap suaranya cukup membuat orang merinding.

Tapi kalau keadaan menjadi senyap tanpa suara, rasanya menjadi semakin menegangkan sehingga membuat dada setiap orang merasa sesak nafas.

Se-konyong2 di ujung jalan yang jauh sana muncul sebuah lentera, cahaya lentera yang guram itu tampak ber-goyang2 di bawah hembusan angin yang kencang.

Tampaknya seperti api setan (cahaya phosphor) yang berkelip di kejauhan.

Kwe Pian-sian mengembus nafas panjang2, katanya.

"Itulah dia... akhirnya datang juga dia!" ***** Datangnya kelip lentera itu sangat lambat, tapi akhirnya sampai juga di depan rumah berloteng kecil itu. Di bawah cahaya lampu yang ber-kelip2 guram itu, kelihatan bayangan orang yang tidak sedikit dengan sorot mata yang gemerdep, setiap bayangan orang itu melangkah dengan perlahan, berat dan mantap, setiap pasang mata sama bersinar tajam penuh semangat. Menyusul suara seorang yang lantang dan halus berucap perlahan.

"Murid Thian-biau-koan dari Jingsia, Sip-hun, khusus datang kemari untuk menyampaikan surat, maka mohon bertemu."

"Orang macam apakah Sip-hun ini?"

Tanya Lui-ji dengan suara bisik2.

"Murid Lo-cinjin,"

Jawab Pwe-giok. Lui-ji lantas menjengek.

"Hm, masuklah, pintu kan tidak terpalang!"

Selang sejenak, terdengarlah suara tangga berbunyi, seorang naik ke atas dengan perlahan.

Bunyi tangga sangat perlahan dan teratur, suatu tanda orang yang datang ini sangat sabar, bahkan kungfu bagian kakinya sangat mantap.

Maka terlihatlah Tosu muda dengan wajah yang cakap dan tersenyum simpul, meski masih muda, namun sikapnya tampak alim seperti pertapa tua, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa suka padanya.

Seperti juga waktu pertama kalinya Pwe-giok bertemu dengan dia, semua orang pun heran mengapa seorang Lo-cinjin yang terkenal berangasan dan pemberang itu bisa mempunyai seorang murid sehalus ini.

Keruan Cu Lui-ji sampai melotot heran.

Di dalam loteng kecil itu benar2 terlalu gelap, Sip-hun baru saja naik ke situ, ia seperti tidak dapat melihat apa2, namun sedikitpun dia tidak gugup, dia cuma berdiri tenang saja di tempatnya.

Lui-ji lantas mendengus.

"Kami berada di sini semuanya, kenapa kau berdiri kesima di situ?"

Sip-hun tidak menjadi marah, juga tidak balas ber-olok2, ia hanya memandang si nona sekejap, lalu menunduk dan melangkah maju, katanya sambil memberi hormat.

"Sip-hun menyampaikan salam hormat kepada Locianpwe!"

"Tidak perlu banyak adat,"

Jawab Hong-sam. Dengan hormat Sip-hun menyodorkan sebuah kartu dengan kedua tangannya, katanya.

"Bulim-bengcu Ji-locianpwe dan guruku sama menunggu di luar pintu, entah Hong-locianpwe sudi bertemu atau tidak?"

"Kalau Sacek bilang tidak, memangnya mereka takkan naik kemari?"

Jengek Lui-ji. Sip-hun menjawab dengan tetap menunduk.

"Tecu hanya melaksanakan tugas belaka, urusan lain tidak tahu menahu."

"Habis apa yang kau tahu?"

Tanya Lui-ji.

"Apapun tidak tahu,"

Jawab Sip-hun.

"Hm, murid Lo-cinjin kenapa tidak becus begini?"

Ejek Lui-ji.

"Guru pandai tidak mempunyai murid baik, memang inilah yang selalu disesalkan oleh guruku,"

Kata Sip-hun dengan tersenyum.

Nyata bukan saja dalam hal bertanya-jawab Tosu muda ini selalu sopan santun, bahkan apapun orang mencemoohkan dia, semuanya dia terima tanpa membantah, sedikitpun tidak marah.

Sungguh aneh.

Selama hidup Cu Lui-ji belum pernah melihat orang muda yang berwatak seramah dan sesabar ini, keruan ia menjadi melenggong sendiri.

Dalam pada itu berkatalah Hong-sam sianseng.

"Lo-cinjin mempunyai murid seperti kau ini, beliau boleh dikatakan sangat bahagia dan tiada penyesalan sedikitpun."

"Ah, Cianpwe terlalu memuji, Tecu menjadi malu diri,"

Jawab Sip-hun cepat sambil memberi hormat.

"Jika demikian, bolehlah kau sampaikan kepada gurumu, katakan orang she Hong menantikan kedatangannya di sini,"

Kata Hong-sam kemudian.

Kembali Sip-hun memberi hormat sambil mengiakan.

Perlahan ia lantas membalik tubuh dan melangkah turun, tetap ramah dan sabar, sedikitpun tidak gugup dan ter-buru2.

Lui-ji menjengek pula.

"Hm, sudah jelas datang hendak membunuh orang, tapi justeru berlagak ramah segala, sungguh memuakkan!"

Suaranya cukup keras dan sengaja diperdengarkan kepada Sip-hun, akan tetapi Sip-hun tidak memberi reaksi apa2, seperti tidak mendengar saja. Dengan suara tertahan Hong-sam sianseng berkata.

"Orang2 ini sama2 berkedudukan sebagai seorang guru besar suatu aliran tersendiri, dengan sendirinya tindak tanduk mereka menjaga gengsi agar tidak menurunkan derajat mereka. Hendaklah diketahui, menghormati orang lain adalah sama dengan menghormati dirinya sendiri."

Meski di mulut Lui-ji tidak berani bicara apa2 lagi, namun di dalam hati dia tetap penasaran dan tidak bisa menerima sikap kawanan pendatang itu.

Yang diminta naik ke atas loteng akhirnya datang juga.

Mereka tetap tidak mau kehilangan sopan santun, lentera yang mereka bawa digantungkan pada tangga loteng dan tidak dibawa serta ke atas, di tengah remang2 cahaya lentera itu, seorang telah mendahului naik ke atas loteng.

Tertampak orang itu berwajah putih bersih, sikapnya tenang dan sopan.

Dia inilah Ji Hong-ho.

Hendaklah diketahui, meski ilmu silat dan nama Lo-cinjin lebih tinggi setingkat daripada Ji Hong-ho, tapi jelek2 Ji Hong-ho bergelar Bu-lim-bengcu atau ketua perserikatan dunia persilatan, siapapun tidak boleh berjalan di depannya.

Diam2 Lui-ji membatin.

"Hm, jelas2 mereka tahu kami takkan pergi, makanya mereka sengaja berlagak tertib dan sopan begini untuk naik ke sini, kalau tidak, mustahil kalau mereka tidak menerjang kemari seperti kawanan anjing gila."

Begitu melihat Ji Hong-ho, seketika darah panas bergolak dalam dada Ji Pwe-giok, hampir saja ia tidak dapat menahan emosinya, syukur dia masih dapat menahan diri.

Dilihatnya Ji Hong-ho sedang memberi hormat dan berkata.

"Wanpwe Ji Hong-ho dari Kanglam, sudah lama mengagumi nama kebesaran dan keluhuran budi Hong-locianpwe, hari ini Cianpwe sudah menerima kunjunganku, sungguh sangat beruntung dan berterima kasih."

"Jadi Anda inilah Bu-lim-bengcu seluruh dunia sekarang ini?"

Tanya Hong-sam sianseng dengan hambar...

"Ah, tidak berani,"

Jawab Ji Hong-ho dengan rendah hati.

Hong-sam sianseng lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia seperti tidak sudi memandangnya lagi, se-olah2 memandang hina terhadap Bu-lim-bengcu ini dan juga rada kecewa.

Dengan dingin ia hanya berkata.

"Baik sekali, silahkan duduk."

Dalam pada itu tiba2 terendus bau harum semerbak menusuk hidung, seketika air muka Kwe Pian-sian berubah, memangnya dia berduduk jauh di pojokan sana, sekarang dia malah terus melengos dan meringkuk di belakang Ciong Cing dengan sembunyi2.

Segera Ji Pwe-giok tahu Hay-hong Hujin yang telah datang.

Hatinya juga mulai berdetak, ia tidak tahu apakah Lim Tay-ih ikut datang atau tidak?

Di bawah remang cahaya lentera, Hay-hong Hujin kelihatan anggun, cantik tiada bandingannya.

Iapun melihat Pwe-giok berada di situ, dia seperti tersenyum, lalu dia memberi hormat kepada Hong-sam dan berkata.

"Kun Hay-hong dari Kohsoh menyampaikan salam hormat kepada Hong-kongcu, baik2kah Kongcu?"

Perempuan sejelita ini, sekalipun sama2 perempuan juga ingin memandangnya beberapa kejap lebih banyak. Siapa tahu Hong-sam sianseng tetap bersikap tawar saja, jawabnya tak acuh.

"Baik, silahkan duduk."

Menyusul muncul lagi seorang dengan baju compang-camping, gagah dan angkuh tanpa memberi hormat. Tapi sinar mata Hong-sam lantas gemerdep, tegurnya.

"Apakah ini Pangcu dari Kaypang?"

"Ya, Ang-lian-hoa,"

Jawab orang itu.

Tanpa menunggu dipersilahkan duduk, segera ia berduduk di ambang jendela.

Ji Hong-ho dan Kun Hay-hong masih tetap berdiri, sebab di atas loteng kecil ini hakekatnya tidak ada tempat duduk lain.

Se-konyong2 terdengar suara 'dung' satu kali, seorang Tojin pendek kecil melangkah ke atas loteng.

Begitu mendadak dan cepat, tahu2 dia sudah muncul di ujung tangga loteng, se-olah2 cara naiknya hanya satu kali langkah saja lantas sampai di atas.

Dengan sorot mata yang tajam Tojin ini menatap Hong-sam sianseng dan menegur.

"Kau inikah Hong-sam?!"

"Dan kau inikah Lo-cinjin?"

Mendadak Lui-ji mendahului menjawab. Lo-cinjin menjadi gusar.

"Kurang ajar! Masa namaku boleh sembarangan dipanggil oleh budak ingusan seperti kau ini?"

Tidak kurang ketusnya, Lui-ji balas menjengek.

"Hm, memangnya nama Sacek juga boleh sembarangan di-sebut2 oleh orang kerdil semacam kau?"

Saking gusarnya Lo-cinjin sampai melotot, matanya se-akan2 menyemburkan api, mendadak ia berteriak.

"Sip-hun, naik ke sini!"

Baru lenyap suaranya, dengan sangat hormat tahu2 Sip-hun sudah berdiri di sampingnya, katanya dengan perlahan.

"Adakah suhu memberi sesuatu pesan?"

"Cara bicara budak cilik ini tidak bersih, coba kau sikat mulutnya,"

Bentak Lo-cinjin. Sip-hun mengiakan. Meski cukup cepat mulutnya mengiakan, tapi kaki tetap tidak bergerak, tetap berdiri di tempatnya. Lo-cinjin menjadi gusar, bentaknya pula.

"Ayo, kenapa tidak lekas kau hajar dia?"

Tapi Sip-hun lantas menunduk dan tetap tidak bergeser selangkahpun.

"He, apakah kau tuli?"

Teriak Lo-cinjin dengan murka.

"Tecu tidak tuli,"

Jawab Sip-hun, tetap perlahan dan halus.

"Kalau tidak tuli, kenapa tidak lekas kau hajar dia?"

Omel Lo-cinjin lagi.

"Tecu tidak berani,"

Kata Sip-hun dengan menunduk.

"Kurang ajar! Memangnya apa yang kau takuti?"

Damprat Lo-cinjin sambil mencak2.

"Sekalipun Hong-sam akan merintangi kau, tentu aku yang akan menghadapi dia. Biarkan murid lawan murid dan guru melawan guru, kenapa kau takut, kenapa kau tidak berani?"

"Memang Tecu tidak ... tidak berani,"

Jawab Sip-hun. Mendadak sebelah tangan Lo-cinjin terus menampar, 'plok', kontan muka Sip-hun merah bengap.

"Kau mau maju ke sana tidak?"

Bentak Lo-cinjin dengan murka.

Meski muka Sip-hun seketika tembem seperti kue apem karena gamparan sang guru, tapi dia tetap tenang dan sabar, sedikitpun tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, jawabnya dengan suara halus.

"Selamanya Tecu tidak berani bergebrak dengan kaum wanita."

Kontan Lo-cinjin berjingkrak dan menampar pula sambil membentak.

"Bila perempuan itu akan membunuh dirimu, apakah akan kau julurkan kepalamu untuk dipenggal sesukanya?"

Sembari berjingkrak, sekaligus ia telah menggampar beberapa kali.

Sip-hun tetap berdiri diam saja, semua gamparan sang guru itu diterima tanpa menghindar dan tidak mengelak, malahan dengan tersenyum ia menjawab.

"Nona cilik ini kan tidak bermaksud membunuh diriku."

Semua orang sama melongo heran dan geli menyaksikan pertunjukan gratis tersebut.

Sungguh tak terbayangkan oleh mereka bahwa di dunia ini terdapat guru begini dan juga murid demikian.

Lui-ji sangat senang juga menyaksikan pertunjukan lucu itu, diam2 iapun mendongkol terhadap Tojin pemberang itu, ia tidak tahan, tiba2 ia berkata pula.

"Yang ku maki adalah dirimu, mengapa kau tidak berani turun tangan sendiri?"

Lo-cinjin berjingkrak seperti orang kebakaran jenggot, teriaknya murka.

"Jika aku bergebrak dengan budak ingusan seperti kau ini, apakah takkan ditertawakan orang hingga copot giginya?"

"Huh, tiada hujan tanpa angin menghajar muridnya secara tidak se-mena2, apakah perbuatan demikian tidak takut ditertawakan orang hingga copot giginya?"

Jengek Lui-ji.

Semua orang mengira Lo-cinjin pasti akan tambah murka dan bukan mustahil sekali hantam Cu Lui-ji bisa dibinasakannya.

Tak terduga, sampai sekian lama Lo-cinjin melototi anak dara itu, akhirnya, bukannya murka, sebaliknya ia malah bergelak tertawa dan berseru.

"Hahaha! Sungguh budak yang hebat, besar amat nyalimu!"

Bahwa dia tidak menjadi marah, semua orang jadi melengak pula. Dalam pada itu Hay-hong Hujin sedang memandangi Cu Lui-ji, tiba2 ia bertanya dengan suara lembut.

"Eh, adik cilik, berapakah usiamu tahun ini?"

Dengan acuh tak acuh Lui-ji menjawab.

"Kukira selisih tidak banyak dengan engkau?"

"Selisih tidak banyak?"

Hay-hong Hujin menegas dengan tertawa geli.

"Apakah kau tahu berapa umurku?"

Lui-ji tidak lantas menjawab, ia pandang orang sejenak, lalu menjawab dengan sikap sungguh2.

"Melihat wajahmu, kukira usiamu kira2 baru dua puluhan."

"Apa iya!?"

Ucap Hay-hong Hujin dengan tertawa, tanpa terasa ia meraba mukanya sendiri.

"Dan kalau melihat tubuhmu, kukira juga baru berumur dua puluhan,"

Kata Lui-ji pula sambil memandangi tubuh orang yang bernas itu. Maka senanglah hati Hay-hong Hujin, ia tertawa nyaring seperti bunyi keleningan, katanya.

"Ai, adik cilik ini benar2 pintar bicara."

Maklumlah, setiap perempuan di dunia ini tentu suka dipuji.

Tiada seorang perempuan yang tidak senang kalau orang memujinya masih cantik dan awet muda.

Lebih2 perempuan yang sudah setengah baya, biarpun muka sudah mulai keriput, tapi pasti gembira kalau orang bilang dia baru berumur delapan belas.

Dengan lagak seperti sangat kagum Lui-ji lantas berkata pula.

"Apalagi kalau melihat tangannya yang putih dan halus ini, kukira umurmu paling2 baru delapan belas."

Hay-hong Hujin tertawa senang pula, tanpa terasa ia menjulurkan kedua tangannya, se-akan2 hendak dipertunjukkan kepada semua orang. Di luar dugaan, dengan perlahan Lui-ji lantas menyambung lagi.

"Dan kalau ketiga macam tadi dijumlahkan, total jenderal menjadi 58, maka kukira umurmu belum lagi genap 60, betul tidak?"

Ucapan Lui-ji ini hampir saja meledakkan tertawa semua orang, sampai2 Hong-sam yang selalu bersikap dingin itupun merasa geli.

Akan tetapi di hadapan Hay-hong Hujin, siapapun tidak berani tertawa.

Sudah barang tentu, yang paling runyam adalah Hay-hong Hujin sendiri, sungguh ia tidak menyangka dirinya akan terkecoh oleh seorang dara cilik, seketika ia menjadi merah padam dan tidak dapat bersuara lagi.

Syukurlah Pwe-giok lantas bertindak.

Betapapun ia masih ingat kebaikan Hay-hong Hujin ketika menemuinya di bawah sinar purnama dengan lautan bunga yang semerbak itu.

Iapun teringat kepada murid Hay-hong Hujin, yaitu Lim Tay-ih, tunangannya atau calon isterinya.

Maka ia coba menyimpangkan persoalan dan bertanya kepada Ji Hong-ho.

"Yang berkunjung kemari apakah cuma Anda berempat saja?"

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya.

"Kami tahu tempat kediaman Hong-locianpwe ini agak kurang leluasa menerima kunjungan orang banyak, sebab itulah beberapa sahabat terpaksa kami tinggalkan menunggu di bawah sana."

Cu Lui-ji mendengus.

"Hm, tentunya kau kira melulu kalian berempat saja sudah lebih daripada cukup untuk menghadapi kami bukan? Atau, kalian kuatir kami akan lari, maka lebih dulu begundal kalian telah diatur menjaga di sekitar tempat ini?"

Ji Hong-ho tidak menjadi marah, dengan tak acuh ia menjawab.

"Nona memang pintar bicara, tapi kalau nona mengira dengan kata2 yang tajam dapat kau bikin jeri kami, maka salahlah kau. Coba pikirkan, dengan tokoh2 besar seperti Lo-cinjin dan Hay-hong Hujin ini, apakah beliau ini sudi bertengkar mulut dengan seorang nona cilik hanya untuk kepuasan seketika saja?"

"Tapi mengapa sekarang kau sendiri bertengkar mulut denganku?"

Jawab Lui-ji.

"Memangnya karena kau merasa harga diri dan kedudukanmu terlebih rendah?"

Ji Hong-ho jadi melengak dan mendongkol, ia pikir kalau adu mulut dengan seorang anak dara hanya akan menurunkan pamornya sendiri saja, terpaksa ia berlagak tidak dengar olok2 Cu Lui-ji, ia berdehem, lalu berkata terhadap Hong-sam.

"Maksud kedatangan kami ini, kukira Hong-locianpwe tentunya sudah tahu."

"Oo!"

Demikian Hong-sam sianseng hanya bersuara seperti orang ingin tahu. Ji Pwe-giok juga berdiri tenang dan mendengarkan di samping. Lalu Ji Hong-ho menyambung ucapannya.

"Tentunya Hong-locianpwe juga tahu bahwa orang yang kami cari dan akan kami ambil ialah nona Cu ini."

"Ooo?"

Kembali Hong-sam bersuara seperti keheranan. Maka Ji Hong-ho melanjutkan lagi.

"Soalnya nona Cu ini beberapa tahun akhir2 ini telah berbuat berbagai urusan yang menimbulkan rasa ketidakpuasan para kawan Kangouw. Dalam kedudukanku selaku Bengcu, terpaksa kupenuhi permintaan orang banyak dan secara sembrono berkunjung kemari demi mencari keadilan. Dalam hal ini, asalkan Hong locianpwe dapat memakluminya dan membiarkan kami membawa pergi nona Cu ini, maka Cayhe akan menjamin persoalan ini pasti akan ku selesaikan secara adil dan jujur, bahkan pasti takkan mengganggu ketenangan Hong-locianpwe yang perlu tetirah lebih lama lagi."

"Ooo!?"

Lagi2 Hong-sam hanya bersuara singkat saja.

Ber-turut2 ia bersuara 'O' tiga kali tanpa memberi reaksi sedikitpun.

Hal ini membuat Ji Hong-ho jadi melengak malah, sebab ia tidak tahu apa artinya 'O' itu, apakah setuju dan menerima dengan baik atau menolak permintaannya?"

Sampai sekian lama baru terdengar Hong-sam sianseng menghela nafas panjang, lalu berkata.

"Bahwa kau berani datang kepada orang she Hong untuk mengambil orang, sungguh nyalimu tergolong tidak kecil."

Ji Hong-ho tertawa hambar, ucapnya.

"Ini disebabkan Hong-sam sianseng sekarang sudah bukan lagi Hong-sam sianseng di masa dahulu."

Hong-sam tidak menjadi marah. Tiba2 sorot matanya beralih ke arah Lo-cinjin, katanya.

"Yang bicara adalah dia, yang akan bertempur mungkin ialah dirimu, begitu bukan?"

Lo-cinjin bergelak tertawa, jawabnya.

"Hahahaha! Memang betul, walaupun Hong-sam sekarang sudah bukan lagi Hong-sam dahulu, tapi apapun juga, kecuali diriku, mungkin belum juga ada orang yang mampu melawan kau."

"Hehe, bagus,"

Jengek Hong-sam sianseng.

"Site (adik ke empat, maksudnya Ji Pwe-giok), bolehlah kau maju bergebrak dengan dia."

Pwe-giok mengiakan terus melompat maju, ucapnya sambil memberi hormat kepada Locinjin.

"Silahkan Totiang memberi petunjuk beberapa jurus."

Bahwa yang ditantang ialah Hong-sam sianseng dan dia tidak maju sendiri, juga bukan Cu Lui-ji yang maju melainkan Ji Pwe-giok yang diajukan sebagai jagonya, hal ini benar2 di luar dugaan siapapun juga.

Lo-cinjin, Ji Hong-ho, Ang-lian-hoa, dan Kun Hay-hong sama melenggong bingung.

Segera Lo-cinjin berteriak dengan gusar.

"Busyet! Masa kau suruh aku bergebrak dengan bocah yang masih berbau pupuk ini. Memangnya apa maksudmu sebenarnya?"

"Masa maksudnya tidak kau pahami?"

Tanya Cu Lui-ji dengan perlahan.

"Ya, aku justeru tidak paham!"

Teriak Lo-cinjin.

"Rupanya tidak cuma badanmu saja kerdil, otakmu juga kerdil,"

Demikian Lui-ji ber-olok2.

"Soalnya hanya dengan sedikit kemahiran mu ini lantas ingin bergebrak dengan Sacek sendiri, maka kau masih ketinggalan sangat jauh. Kelak kalau kejadian ini tersiar, bukankah di dunia Kangouw akan ramai orang bilang Sacek hanya mampu mengalahkan seorang kecil macam kau."

Seketika Lo-cinjin berjingkrak pula, kembali ia meraung gusar.

"Tapi kenapa aku juga disuruh bergebrak dengan anak ingusan ini? Sedangkan mengalahkan muridku saja dia tidak mampu..."

"Hm, berdasarkan apa kau berani meremehkan dia?"

Jengek Hong-sam sianseng.

"Seumpama Hong-sam sekarang bukan lagi Hong-sam dahulu, akan tetapi Ji Pwe-giok sekarang jelas juga bukan Ji Pwe-giok pada waktu yang lalu."

Sinar mata Ji Hong-ho tampak gemerdep, tiba2 ia berkata.

"Jika demikian, jadi urusan hari ini cukup diandalkan padanya dan segala persoalannya akan dapat diputuskan berdasarkan pertempurannya ini?"

"Ya, begitulah!"

Jawab Hong-sam sianseng dengan tegas.

"Dan kalau dia kalah, lalu bagaimana?"

Tanya Ji Hong-ho.

"Bila Sicek (paman ke empat) kalah, segera ku ikut pergi bersama kalian dan terserah akan diapakan kalian!"

Seru Lui-ji lantang.

"Apakah ucapan ini dapat dipercaya?"

Tanya Ji Hong-ho pula.

"Hm, orang macam kau juga berani menyangsikan kepercayaanku?"

Jengek Hong-sam sianseng. Terunjuklah rasa kegirangan pada sinar mata Ji Hong-ho, cepat ia berseru.

"Jika demikian, ayolah Totiang, lekas turun tangan, mau tunggu kapan lagi?"

"Kau juga menyuruh aku bergebrak dengan anak kemarin ini?"

Raung Lo-cinjin. Dengan tersenyum Ji Hong-ho menjawab.

"Tapi Ji-Kongcu ini sekarang sudah menjadi saudara Hong-sam sianseng, bila Totiang bergebrak dengan dia kan tidak dapat dianggap orang tua melabrak anak muda lagi?"

"Betul,"

Tukas Hay-hong Hujin.

"jika saudara Hong-sam sianseng yang bergebrak dengan Totiang, apapun juga tak dapat dikatakan telah menurunkan derajat Totiang."

"Akan tetapi, bagaimana dengan janji pihak kalian apabila Totiang kalian yang kalah?"

Tanya Lui-ji tiba2. Kembali Lo-cinjin berjingkrak, teriaknya dengan gemas.

"Jika aku kalah, segera aku menyembah padanya dan memanggilnya Suhu!"

"Wah, untuk ini kukira tidak perlu,"

Kata Lui-ji dengan tertawa.

"Jika Sicek menerima seorang murid yang setiap hari senantiasa marah2 saja seperti dirimu ini, bisa jadi Sicek akan kepala pusing tujuh keliling."

Lo-cinjin meraung pula dengan gusar.

"Dalam 50 jurus, bilamana tidak dapat ku robohkan dia, seketika juga ku angkat kaki dari sini."

Sebenarnya dia masih enggan bertarung dengan Pwe-giok yang dianggapnya tidak sepadan.

Tapi sekarang dia sudah benar2 murka sehingga berubah menjadi tidak boleh tidak harus bertarung dengan Pwe-giok, kini tiada seorangpun yang dapat mencegah akan niatnya itu.

Dengan tertawa Lui-ji menjawab.

"Jangankan cuma 50 jurus... jadikan saja 500 jurus juga belum tentu dapat kau sentuh ujung baju Sicek. Hanya saja, meski demikian pernyataanmu, lalu bagaimana pula dengan begundalmu itu?"

"Baiklah, jadi 500 jurus begitu,"

Kata Ji Hong-ho dengan tersenyum.

"Dalam 500 jurus itu bila Lo-cinjin tidak dapat mengalahkan Ji-kongcu ini, seketika juga kami akan angkat kaki dari sini dan takkan mengganggu gugat padamu lagi."

"Apakah pernyataannya juga mewakili kau?"

Tanya Lui-ji sambil memandang Hay-hong Hujin.

"Ji-kongcu adalah sahabatku, yang kuharap semoga Lo-cinjin hanya merobohkannya saja tanpa melukainya,"

Ucap Hay-hong Hujin dengan tersenyum.

"Dan kau?"

Tanya Lui-ji terhadap Ang-lian-hoa. Sinar mata Ang-lian-hoa tampak guram, siapapun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ketua Kaypang ini. Dia hanya menjawab dengan dingin.

"Setuju!"

Semua orang, termasuk Ang-lian-hoa, siapapun tidak percaya Ji Pwe-giok mampu melawan Lo-cinjin hingga 500 jurus.

Sebab mereka sudah sama menyaksikan kepandaian Pwe-giok, kalau anak muda itu mampu melawan Sip-hun hingga 500 jurus, hal ini boleh dikatakan cukup hebat, dan sekarang kalau dia sanggup menahan 50 kali serangan Lo-cinjin, maka hal ini benar2 suatu keajaiban.

"Jika sudah diputuskan begini, jadi semua orang sudah setuju, tiada orang lain lagi yang bakal rewel?"

Demikian Lui-ji menegas.

"Siapa yang berani rewel?"

Lo-cinjin meraung pula.

"Jika ada yang berani rewel, segera kupuntir kepalanya di sini juga. Dia seperti tidak sabar lagi, segera ia berteriak pula.

"Nah, bocah she Ji, ayolah mulai serang dulu, aku akan mengalah tiga jurus padamu."

Sejak tadi Pwe-giok diam2 saja tanpa memberi komentar.

Ia tahu tugas yang dipikulnya sekarang maha berat, sesungguhnya dia sangat tegang dan rada kebat-kebit, tapi ketika benar2 sudah berhadapan dengan Lo-cinjin, rasa tegangnya lantas mulai kendur.

Diam2 ia berkata kepada dirinya sendiri.

"Sabarlah! Apapun juga Lo-cinjin juga cuma seorang manusia belaka, kenapa aku harus jeri kepadanya?"

Karena lagi memikirkan dirinya sendiri, apa yang dipercakapkan orang lain tiada satu katapun diperhatikannya, apa yang diperbuat orang lain juga sama sekali tidak dilihatnya.

Perhatiannya kini sudah tercurahkan seluruhnya ke tubuh Lo-cinjin saja.

Tiba2 ia melihat kedua mata Lo-cinjin, kedua alisnya dan kedua tangannya tidak sama rata besarnya, yang sebelah kanan lebih kecil sedikit daripada yang sebelah kiri.

Pada lubang hidungnya kelihatan menongol tiga utas rambut hitam dan sangat kasar, rambut hidung itu terlalu panjang hingga ber-getar2 di atas bibir.

Pada leher bajunya di depan dada ada sebagian tergores robek sehingga kelihatan baju dalamnya yang putih.

Lalu diketahui pula kelopak mata kiri Lo-cinjin sedang me-lonjak2, mungkin sedang kedutan, ujung mulutnya juga ber-kerut2 seperti orang kejang.

Kelima jari tangan kanan juga sama bergemetar, tapi jari tangan kiri terjulur kaku lurus.

Apa yang dilihat Pwe-giok itu sebenarnya sedikitpun tidak menarik perhatian orang, akan tetapi dalam keadaan perhatian Pwe-giok lagi dipusatkan kepada Lo-cinjin seorang saja, setiap ciri yang paling kecil, tiba2 berubah menjadi begitu leas dan begitu nyata baginya.

Selamanya belum pernah Pwe-giok memperhatikan seseorang dengan sedemikian cermat, selamanya pula tak terpikir olehnya akan dapat melihat keadaan seseorang dengan sedemikian jelas.

Ia masih terus memandangnya, sampai akhirnya hidung Lo-cinjin itu bagi pandangannya itu seolah2 telah berubah menjadi sebesar mangkuk, berapa banyak pori2 di atas hidung orang rasanya seperti dapat dilihatnya dengan jelas...

***** Lo-cinjin sedang berteriak dan meraung, namun Pwe-giok seperti tidak mendengarnya.

Sudah dua kali Lo-cinjin mendesaknya agar anak muda itu lekas mulai, tapi dia masih tetap berdiri tenang seperti orang linglung, sedikitpun tidak bergerak.

Semua orang menjadi heran, ada yang berpikir.

"Jangan2 anak muda ini menjadi ketakutan dan kesima."

Tanpa terasa tersembul senyuman girang pada ujung mulut Ji Hong-ho. Lo-cinjin tidak sabar lagi, kembali ia berjingkrak dan meraung.

"He, apakah kau..."

Di luar dugaan, sekali ini baru saja kakinya melonjak dan suaranya baru saja bergema, Ji Pwegiok yang kelihatannya linglung seperti patung itu mendadak melompat maju secepat terbang.

Secepat kilat telapak tangannya juga lantas menabas ke dengkul Lo-cinjin.

Hendaklah dipahami bahwa tokoh besar seperti Lo-cinjin ini, kungfunya boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan yang terlebur menjadi satu dengan jiwa raganya.

Pada waktu biasa, setiap gerak geriknya, sengaja atau tidak sengaja selalu bertindak sesuai dengan kungfunya.

Seperti halnya seorang penari mahir, setiap gerak geriknya pada waktu biasa juga pasti bergaya jauh lebih indah daripada orang lain.

Sebab itulah, meski Lo-cinjin tampaknya berdiri seenaknya, namun seluruh tubuh se-akan2 juga senantiasa terjaga rapat dan tiada setitik lubangpun untuk diserang.

Tapi, tidak perduli siapapun juga, bilamana sedang marah, selagi berjingkrak seperti orang kebakaran jenggot, maka setiap gerakannya tentu juga rada teledor, apalagi kalau kedua kaki sudah terapung di udara dan bukan lagi menendang lawan, maka di bagian bawah pasti akan memperlihatkan ciri kelemahan.

Dengan memusatkan segenap perhatiannya mengamati lawan, tujuan Pwe-giok justeru ingin mencari titik kelemahan Lo-cinjin.

Maka begitu lawan memperlihatkan kelemahan pada bagian bawahnya, serentak dia melesat maju, tebasan telapak tangannya justeru menyerang titik yang paling lemah di tubuh lawan pada sat itu, bagian yang hampir tidak terjaga sama sekali.

Tentu saja Lo-cinjin terkejut, perawakannya yang kurus kecil itu se-konyong2 berputar di udara, sekaligus kaki dan tangannya balas menyerang Pwe-giok .

Gerakan mengelak sambil balas menyerang atau menyerang untuk menyelamatkan diri ini ternyata tindakan yang tepat dan hebat.

Di sini terbukti bahwa Lo-cinjin memang tidak malu disebut sebagai tokoh kelas top pada jaman ini, sekalipun menghadapi bahaya tetap tidak bingung.

Pada saat itulah Cu Lui-ji lantas menjengek.

"Huh, mau mengalah tiga jurus? Hm...!"

Seperti diketahui, tadi Lo-cinjin menyatakan hendak memberi tiga jurus kepada Pwe-giok.

Tapi sekarang dia bukan cuma mengelak saja, tapi balas menyerang, dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai jurus mengalah.

Mendadak terdengar Lo-cinjin bersuit panjang, di tengah suara suitan nyaring itu tahu2 tubuhnya sudah menyurut mundur ke belakang.

Padahal tangan dan kakinya sedang menyerang ke depan, tapi mendadak tubuhnya dapat menyurut mundur dalam keadaan terapung, kelihatannya jadi seperti ada orang menariknya dari belakang.

Kejadian ini bila dilihat orang biasa, mungkin akan menyangka Tojin kecil itu mahir ilmu gaib atau sedang main sulap.

Tapi yang hadir di atas loteng ini sekarang hampir boleh dikatakan seluruhnya terdiri dari jago2 silat kelas satu, semuanya dapat melihat suara suitan Lo-cinjin tadi bukannya tidak ada gunanya.

Dengan bersuit itulah Lo-cinjin mengerahkan hawa murni di dalam tubuhnya dan dipancarkan.

Karena pancaran hawa murni inilah tubuhnya lantas tertolak mundur.

Soal sebab apa pancaran hawa itu dapat membuat orang berbalik terdorong ke belakang, teori ini dengan sendirinya belum dapat dimengerti orang pada jaman itu.

tapi di sini pula setiap orang dapat menyaksikan betapa hebat Khikang (ilmu mengerahkan hawa dalam perut) Locinjin.

Sampai2 Ang-lian-hoa yang tidak suka sembarangan memuji orang, tanpa terasa iapun berseru.

"Khikang yang hebat!"

Ji Hong-ho tersenyum puas dan bangga, tanyanya pada Ang-lian-hoa.

"Menurut pendapat Pangcu, Ji-kongcu ini kira2 mampu menahan berapa jurus serangan Cinjin?"

Wajah Ang-lian-hoa menampilkan perasaan sayang dan menyesal, jawabnya sesudah berpikir sejenak.

"Kukira paling banyak hanya antara seratus jurus saja."

Ji Hong-ho lantas berpaling ke arah Hay-hong Hujin dan bertanya dengan tersenyum.

"Dan bagaimana pandangan Hujin?"

"Pandangan Ang-lian-pangcu maha tajam, masakan pendapatnya bisa keliru?"

Ujar Hay-hong Hujin dengan tersenyum.

Sejak awal hingga sekarang Hay-hong Hujin dan Ang-lian-hoa sama sekali tidak memandang barang sekejap pun ke arah Kwe Pian-sian, se-olah2 di pojok sana hakekatnya tidak terdapat sesuatu, apalgi ada orang bersembunyi di situ.

Tentu saja diam2 Kwe Pian-sian bergirang karena jejaknya tidak diperhatikan lawan yang ditakuti itu.

Tapi sekarang demi mendengar ucapan mereka, seketika hatinya cemas.

Pikirnya.

"Loteng ini hanya sejengkal luasnya, sekalipun aku bersembunyi di sudut segelap ini, mustahil dengan ketajaman mata mereka tak dapat melihat diriku? Jelas mereka yakin benar2 tiada seorangpun di atas loteng ini yang mampu lolos, makanya mereka sengaja berlagak tak acuh terhadapku."

Berpikir demikian, seketika keringat dingin membasahi tubuhnya.

Dalam pada itu Lo-cinjin benar2 telah mengalah tiga jurus kepada Pwe-giok, kini dia sudah mulai melancarkan serangan balasan.

Gaya serangannya tiada memperlihatkan sesuatu tipu istimewa atau gerakan yang luar biasa, tampaknya tidaklah sesuai dengan nama kebesarannya.

Akan tetapi setelah belasan jurus, daya tekanannya mulai kelihatan hebatnya, serangannya tambah mantap dan berat.

Gaya serangannya memang tiada sesuatu perubahan yang istimewa dan mengherankan, akan tetapi antara jurus serangan yang satu dengan serangan berikutnya terpadu sedemikian rapatnya, terkadang antara dua jurus kelihatan berlawanan, gerak tangan dan arah yang dituju jelas berbeda.

Bila orang lain yang memainkan dua jurus serangan demikian pasti akan kerepotan atau kalau bisa tentu juga sangat dipaksakan, namun bagi Lo-cinjin ternyata dapat dimainkan dengan sangat lancar dan serasi se-olah2 jurus yang satu dengan jurus lain memang sambung menyambung.

Semula Cu Lui-ji rada meremehkan Tojin kerdil ini, diam2 ia lagi melengak.

"Hm, rupanya Lo-cinjin yang termasyhur juga cuma begini saja kemampuannya."

Akan tetapi setelah mengikuti beberapa jurus lagi, mau-tak-mau perasaannya mulai tertekan.

Gerak serangan Lo-cinjin yang kelihatannya lumrah saja itu, makin dipandang makin lihay dan makin menakutkan.

Serangannya tidak banyak variasinya, kalau menghantam ya menghantam begitu saja seperti sebuah martil besar atau sebuah kapak raksasa, tapi serangan demi serangan susul menyusul, sambung menyambung tanpa putus.

Melihat gencarnya serangan Lo-cinjin itu, para penonton saja merasa tegang sehingga bernapas saja hampir2 tak sempat, apalagi Ji Pwe-giok yang langsung menghadapi serangan dahsyat itu.

Dalam cemasnya, Cu Lui-ji coba memandang Hong-sam sianseng sekejap, meski di mulut tidak bersuara, namun sorot matanya tiada ubahnya seperti ingin bertanya.

"Apakah Sacek yakin jago kita akan sanggup menahan 300 jurus serangan lawan?"

Tak terduga Hong-sam sianseng malah terus memejamkan matanya, terhadap pertarungan mati2an, pertarungan yang menyangkut mati atau hidup, pertarungan yang menyangkut hina atau jaya namanya itu, sama sekali ia tidak menghiraukan lagi.

Hanya sekejap saja 30 jurus lebih sudah berlangsung, setiap jurus serangan Lo-cinjin semakin dahsyat dan tambah lihay.

Tampaknya Pwe-giok hanya mandah diserang saja, sampai2 tenaga untuk balas menyerang saja sudah tidak ada lagi.

Begitu berat rasanya Pwe-giok menghadapi lawannya terbukti dari sikapnya yang kelihatan prihatin, setiap kali dia hendak bergerak, tampaknya kudu berpikir lebih dulu.

Padahal pertarungan di antara tokoh silat kelas tinggi mana ada peluang baginya untuk berpikir segala.

Maka setelah mendekati 50 jurus, unggul dan asor atau kalah dan menang tampaknya sudah jelas, sudah pasti.

Semua orang yakin, apabila Ji Pwe-giok sanggup bertahan sampai 100 jurus lebih, maka hal inipun sudah terhitung ajaib.

Tiba2 terdengar Ji Hong-ho berkata dengan tertawa.

"Haha, pertarungan sebagus ini, sungguh jarang ditemui selama ratusan tahun ini. Kalau tontonan menarik ini di-sia2kan, sungguh terasa sangat sayang."

Dengan tersenyum Sip-hun lantas menanggapi.

"Jika demikian, biarlah Tecu mengerek semua kerai jendela loteng ini agar setiap orang dapat ikut menyaksikannya, boleh?"

"Hah, bagus sekali usulmu!"

Seru Ji Hong-ho dengan bergelak.

Tanpa menunggu perintah lagi, terus saja Sip-hun melipat semua kerai jendela.

Suara angin di luar masih men-deru2 dan menyeramkan, malam tambah kelam, bumi dan langit se-olah2 penuh diliputi oleh suasana ketegangan.

Di atas wuwungan rumah di sekeliling loteng kecil itu ternyata sudah penuh ditongkrongi orang, semuanya ingin menonton pertarungan menarik ini meski harus menahan dinginnya udara malam.

Dan begitu kerai jendela dikerek, seketika orang yang menongkrong di atas wuwungan rumah itu bertambah banyak.

Tadi Kwe Pian-sian bermaksud kabur pada waktu keadaan kemelut, tapi sekarang barulah ia sadar biarpun mendadak dia tumbuh sayap juga jangan harap akan dapat mabur.

Jilid 21________ Kwe Pian-sian menghela napas, ia tahu tiada gunanya lagi main sembunyi-sembunyi.

Sekalian ia lantas berdiri, dia mengangguk pelahan terhadap Hay-hong Hujin dengan tersenyum, sikapnya seolah kejut, heran dan juga girang, seperti kekasih yang mendadak berjumpa kembali setelah berpisah sekian tahun lamanya.

Kaceknya cuma dia tidak terus berlari maju dan merangkul atau memegang tangannya untuk menyatakan rasa rindunya selama berpisah itu.

Namun Hay-hong Hujin tetap tidak memandangnya barang sekejap pun, seakan-akan di situ tiada terdapat seorang macam Kwe Pian-sian.

Sebaliknya ia malah berkata terhadap Ji Hongho dengan tersenyum.

"Ada satu hal yang sangat mengherankan aku?"

"Hujin mengherankan hal apa?"

Tanya Ji Hong-ho.

"Coba Bengcu memberi komentar, bagaimana daya pukulan Lo-cinjin kalau dibandingkan mendiang Thian-kang Totiang?"

Tanya Hay-hong Hujin. Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya.

"Ilmu sakti Kun-lun-pay tiada bandingannya. Betapa hebat kekuatan ilmu pukulan Thian-kang Totiang bahkan sudah lama dikagumi oleh sesama rekan dunia persilatan, cuma....."

"Cuma kalau dibandingkan Lo-cinjin masih selisih satu tingkat, begitu bukan?"

Tukas Hayhong Hujin. Ji Hong-ho hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Diam tanpa menyangkal berarti membenarkan. Maka Hay-hong Hujin berkata pula.

"Belasan tahun yang lalu aku ikut almarhum guruku ke Kun-lun-san, kebetulan menyaksikan Thian-kang Totiang sedang bergebrak dengan orang, lawannya seperti seorang Lama dari benua barat, kekuatannya juga sangat mengejutkan."

"Mungkin itulah Ang-hun Lama, satu di antara tiga tokoh Lama besar yang terkenal, orang ini sudah lama bermusuhan dengan Kun-lun-pay, bukan cuma satu kali saja dia menyatroni Kunlun-san."

"Waktu itu jarak berdiri kami dengan kalangan pertempuran mereka sedikitnya ada tujuh atau delapan tombak, akan tetapi setiap kali Thian-kang Totiang menyerang, dengan jelas kulit muka terasa perih oleh samberan angin pukulannya, bahkan ujung baju juga sama tergetar dan berkibar. Tapi sekarang Lo-cinjin bertempur di depan kita dalam jarak sedekat ini, mengapa sedikitpun tidak kurasakan tenaga pukulannya."

"Hal ini disebabkan Lo-cinjin sudah dapat menguasai tenaga pukulannya dengan sesuka hati, setiap kali dia memukul, tenaga pukulannya hanya dipusatkan kepada Ji-kongcu seorang saja, sedikitpun tidak terbuang ke tempat lain, dan bila serangan tidak kena sasaran, segera ia tarik kembali tenaga pukulannya, sebab itulah beban yang harus dihadapi Ji-kongcu cukup berat,"

Setelah tertawa, lalu Ji Hong-ho menyambung.

"Kalau tidak begitu, jangan kau dan diriku, bahkan seluruh loteng kecil ini mungkin sudah tergetar runtuh sejak tadi."

Hay-hong Hujin menghela napas, ucapnya dengan pelahan.

"Untung aku bukan Ji Pwe-giok, kukira saat ini dia tentu sangat tidak enak."

"Hm, juga belum tentu tidak enak sebagaimana dugaanmu,"

Jengek Cu Lui-ji.

"He, kau tahu? Darimana kau tahu?"

Tanya Hay-hong Hujin dengan tertawa. Namun Cu Lui-ji tidak menggubrisnya lagi, dia sibuk bergumam dan menghitung jurus pertempuran mereka.

"Sembilan puluh.... sembilan satu..... sembilan dua....."

Cara menghitungnya sesungguhnya terlalu cepat, padahal sampai saat itu antara Lo-cinjin dan Ji Pwe-giok paling-paling baru bergebrak delapan puluh jurus.

Akan tetapi rombongan Ji Hong-ho sudah yakin Pwe-giok pasti tidak sanggup bertahan sampai 300 jurus, sebab itulah tiada orang yang perduli cara berhitung Lui-ji itu.

Saat mana Pwe-giok sudah mirip sebuah paku, meski terus menerus dihantam oleh sebuah palu raksasa, tapi bila palu ingin membuat bengkok pakunya juga tidak terlalu gampang.

Tiba-tiba Pwe-giok merasakan daya serang Lo-cinjin itu meski hebat, tapi ternyata tidak terlalu mendesak, terkadang bila dia menghadapi serangan berbahaya dan seketika sukar menemukan cara untuk mematahkannya, Lo-cinjin berbalik seperti sengaja memberi kelonggaran padanya dan memberi waktu berpikir baginya.

Hal ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Pwe-giok, caranya menyerang atau menangkis sengaja lebih diperlambat.

Sebaliknya Cu Lui-ji yang menghitung jumlah gebrakan mereka tambah cepat malah, berturut-turut ia berseru.

"Seratus satu, seratus dua, seratus tiga....."

Ji Hong-ho memandang Ang-lian-hoa sekejap, ucapnya dengan tersenyum.

"Seratus jurus sudah lalu, tak nyana dia masih sanggup bertahan."

"Ya, sungguh tak tersangka."

Jawab Ang-lian-hoa dengan tak acuh. Tiba-tiba Sip-hun berkata.

"Tenaga dalam Ji-kongcu ini tampaknya mendadak bertambah lipat ganda, betul tidak?"

"Ya,"

Jawab Ang-lian-hoa.

"Tenaga dalam seorang dapat bertambah sebanyak ini hanya dalam waktu setengah hari ini, hal ini benar-benar sukar untuk dimengerti,"

Ujar Sip-hun dengan gegetun. Ji Hong-ho tersenyum, katanya.

"Tapi Toheng tidak perlu kuatir, biarpun tenaga dalamnya lebih kuat lagi juga tetap tidak mampu menahan seratus jurus serangan gurumu."

"Tapi saat ini seratus jurus kan sudah lebih?"

Ujar Sip-hun.

"Ah, hal itu disebabkan gurumu sengaja hendak mengetahui tinggi-rendah dan asal-usul ilmu silat lawan saja."

Kata Ji Hong-ho.

"Kalau tidak, pada jurus ke-86 tadi jelas Ji-kongcu sudah tidak sanggup bertahan lagi. Betul tidak?"

Ucapannya itu ditujukan kepada Sip-hun, tapi suaranya itu justeru diperkeras seakan-akan kuatir tidak terdengar oleh Lo-cinjin. Benar saja, Lo-cinjin lantas tertawa dan berkata.

"Betul, aku memang ingin tahu Kungfu hebat apa yang diajarkan Hong Sam kepada bocah ini. Tapi sekarang rasanya sudah cukup bagiku!"

Di tengah suara gelak tertawanya itu mendadak ia pergencar serangannya.

Tak terduga, setiap serangannya selalu dapat dipatahkan oleh Pwe-giok, kalau lawan bergerak dan menyerang cepat, maka iapun ikut cepat.

Hendaklah maklum, sekalipun Ji Pwe-giok sangat pintar dan cerdik, walaupun Hong-sam sianseng juga tidak sayang mengajarkan segenap Kungfunya, tapi dalam waktu singkat yang cuma setengah hari itu apa yang dapat dipahaminya tentu juga sangat terbatas dan tidak banyak.

Sebab itulah jurus serangan yang digunakannya untuk melawan Lo-cinjin ini kebanyakan adalah ciptaannya sendiri secara darurat dan karena itu pula gerak-geriknya dengan sendirinya tidak leluasa.

Akan tetapi setelah lewat seratus jurus, tiba-tiba kecerdasannya tambah meningkat, kini jurus serangan baru ciptaannya sudah tambah banyak, gerak perubahan jurus serangannya juga tambah apal.

Hal ini serupa main catur dengan orang yang ahli, biarpun baru mulai belajar, lama-lama tentu juga akan terdesak hingga mendapatkan ilham, tanpa terasa akan memainkan beberapa langkah ajaib yang sama sekali tak disadarinya.

Dan jurus serangan ciptaan Pwe-giok sekarang juga timbul lantaran terdesak dan terpaksa.

Dalam pada itu Cu Lui-ji masih terus menghitung.

"Seratus enam puluh satu, enam dua, satu enam tiga...."

Tiba-tiba Ji Hong-ho tertawa, katanya.

"Ah, apakah hitungan nona tidak salah? Sampai saat ini kan baru jurus ke 153 saja?"

Tadinya ia anggap tidak menjadi soal meski nona cilik itu menghitung lebih cepat beberapa jurus, tapi sekarang setelah menyaksikan ketahanan Ji Pwe-giok yang luar biasa, bahkan jurus serangannya yang baru bertambah lihay, akhirnya ia tidak tahan dan menyatakan keberatannya terhadap cara hitung Cu Lui-ji.

Lui-ji tertawa terkikik-kikik, katanya.

"Bukankah kalian penuh keyakinan akan menang? Kenapa sekarang kaupun mulai berkuatir? .... Satu enam tujuh, satu enam delapan.... satu enam sembilan...."

Begitulah dia masih terus menghitung dengan caranya sendiri, cara bagaimana orang memprotesnya sama sekali tak dihiraukannya.

"Ya, jika nona tetap menghitung cara demikian juga tidak beralangan, hanya saja nanti harus dipotong delapan jurus,"

Ujar Ji Hong-ho dengan tertawa. Mendadak Lo-cinjin meraung gusar.

"Biarpun dia menghitung lebih banyak delapan jurus juga tidak menjadi soal, memangnya dia mampu menyambut 300 jurus seranganku?" -Sambil menggerung, suatu pukulan dahsyat terus dilontarkan.

"Nah, kalian sudah dengar sendiri, jago kalian menyatakan cukup 300 jurus saja akan mengalahkan Sicek,"

Seru Lui-ji dengan tertawa. Lalu dia terus menghitung.

"Satu tujuh puluh...."

Dalam pada itu Pwe-giok telah membuat suatu lingkaran dan berhasil mematahkan hantaman dahsyat lawan.

Akan tetapi, biarpun serangan lawan sudah dipatahkan, namun tenaga pukulan lawan yang maha dahsyat itu masih terus menindihnya.

"Blang", tahu-tahu papan loteng berlubang, Ji Pwe-giok benar-benar seperti sebuah paku, langsung diketok ambles ke bawah melalui lubang itu. Saat itu Lui-ji baru menghitung sampai.

"Satu tujuh satu......."

Dan karena terkejut, seketika hitungannya terhenti. Ji Hong-ho tertawa senang, katanya.

"Meskipun Ji-kongcu kalah, tapi dia mampu menahan ratusan jurus serangan Lo-cinjin, betapapun dia memang hebat."

"Apa? Kalah? Siapa bilang Sicek kalah?"

Tanya Lui-ji dengan melotot.

"Hah, semua orang menyaksikan dengan jelas, masakah ini belum terhitung kalah?"

Ujar Ji Hong-ho dengan tertawa. Belum lagi Lui-ji menanggapi, sekonyong-konyong terdengar suara "blang"

Pula, tahu-tahu Pwe-giok telah muncul lagi dengan menerobos lubang papan loteng tadi. Menyusul sebelah tangannya lantas menghantam ke arah Lo-cinjin.

"Hahaha! Apa yang kau lihat sekarang? Jelas bukan?"

Seru Lui-ji sambil berkeplok tertawa.

"Yang pecah adalah papan loteng dan bukan perut Sicekku, masa kau anggap Sicek sudah kalah? Hahaha, sungguh lucu! Jika papan loteng berlubang lantas dianggap kalah, sekarang juga dapat kulubangi papan loteng ini tiga puluh lubang sekaligus."

Dan tanpa menunggu jawaban Ji Hong-ho ia terus menyambung hitungannya.

"Satu tujuh sembilan, satu delapan puluh, satu delapan satu...."

Sekali ini hitungannya tidak lebih banyak lagi daripada gebrakan yang sesungguhnya, sebab pada waktu dia bicara tadi antara Lo-cinjin dan Ji Pwe-giok sudah bergebrak delapan kali..

Ji Hong-ho menjadi bungkam dan tak dapat menyangkal.

Ia tersenyum, katanya kemudian.

"Ji-kongcu, papan loteng ini telah menyelamatkan jiwamu, hendaknya jangan kau lupakan hal ini."

Pwe-giok dapat menerima ucapan lawan itu, ia sendiri tahu bilamana tadi papan loteng itu tidak jebol, tentu dia akan dirobohkan oleh tenaga pukulan Lo-cinjin yang maha dahsyat itu.

Kalau melulu mereka berdua yang bertanding, dengan sendirinya dia harus menyerah kalah secara jujur.

Akan tetapi pertarungan ini justeru menyangkut pula keselamatan orang lain, mau tak mau Ji Pwe-giok harus melanjutkan pertandingan ini, apapun yang diucapkan Ji Hong-ho dianggapnya sebagai angin lalu saja dan pura-pura tidak mendengar.

Setelah dua-tiga puluh gebrakan pula, kini senyuman yang menghiasi wajah Ji Hong-ho sudah tidak nampak lagi, agaknya iapun melihat betapa tangkasnya Ji Pwe-giok dan sukar dijajaki.

Angin pukulan semakin menderu, bayangan orang berkelebat.

Di sekeliling loteng kecil yang penuh kerumunan penonton itu ramai orang berbisik-bisik membicarakan pertandingan dahsyat ini.

Terdengar ada yang sedang berkata.

"Sekarang dua ratus jurus sudah berlalu, apakah kau kira anak muda itu mampu bertahan seratus jurus lagi?"

"Hal ini sukar dipastikan."

Jawab seorang lain.

"Sungguh tak terduga bocah ini ternyata seorang yang tahan gebuk,"

Demikian sambung seorang lagi.

"Pada waktu mulai tadi, tampaknya dia sangat lemah, mungkin sepuluh jurus saja tidak tahan, tapi makin bergebrak makin tangkas, sekarang malah kelihatan penuh bersemangat."

Mendadak Lo-cinjin berjingkrak murka dan meraung.

"Kalian semuanya tutup bacot! Jika ada yang berani kentut lagi, seketika juga kumampuskan dia!"

Karena bentakan ini, suara bisik-bisik itu serentak cep-klakep, semuanya diam, tiada yang berani buka mulut lagi.

Namun dalam hati setiap orang cukup maklum bahwa Lo-cinjin sendiri sekarang juga mulai gopoh.

Dalam pada itu suara hitungan Cu Lui-ji bertambah lantang.

"Dua ratus sebelas, dua ratus dua belas... dua ratus tiga belas...."

Mencorong juga sinar mata Kwe Pian-sian menyaksikan pertandingan hebat itu.

Hanya Pwe-giok saja yang tahu keadaannya sendiri, hatinya terasa mulai tenggelam.....

Tibatiba ia merasa dirinya tidak sanggup bertahan lagi, mungkin 30 jurus saja tidak kuat bertahan pula.

Pada saat itulah tiba-tiba Hong-sam sianseng membuka matanya, wajahnya yang sejak tadi selalu tenang itu menampilkan juga setitik rasa cemas, hanya dia dan Ji Pwe-giok saja yang tahu bahwa tenaga dalam yang dipinjamkan kepada Pwe-giok itu sudah hampir terkuras habis.

Hendaklah diketahui bahwa meski Hong-sam sianseng sejak tadi memejamkan mata, tapi dari angin pukulan kedua pihak dia dapat mengikuti apa yang terjadi, dari tenaga pukulan kedua pihak dapat dibedakannya unggul dan asornya.

Sebab itulah meski tadi Ji Pwe-giok berada dalam keadaan terserang, tapi dia tidak merasa kuatir, sebab waktu itu dia tahu tenaga dalam Pwe-giok masih kuat, sekalipun Lo-cinjin sudah di atas angin juga sukar hendak merobohkan anak muda itu.

Tapi sekarang meski tenaga pukulan Pwe-giok masih tetap kuat, namun untuk menarik kembali pukulannya justeru terasa payah, bahkan setiap kali menghantam, setiap kali tenaganya juga menyusut.

Sampai akhirnya menyusutnya tenaga Pwe-giok juga bertambah cepat, begitu cepat seakanakan dibetot orang dari luar.

Ia tahu bilamana tenaga dalamnya sudah terkuras habis, maka jangan harap akan mampu menahan sekali hantam Lo-cinjin yang kuat seperti gugur gunung dahsyatnya itu.

Mendadak dilihatnya kepalan Lo-cinjin memukul ke depan dengan gaya menusuk seperti pedang yang tajam, dalam gugupnya Pwe-giok tidak sempat berpikir lagi, langsung dia menangkis, karena itu tubuhnya lantas tergetar hingga sempoyongan.

Betapa lihay Lo-cinjin, segera ia tahu lawan sudah tidak tahan lagi, seketika semangatnya terbangkit, beruntun dia menghantam pula tiga kali sehingga Pwe-giok terdesak ke pojok.

Semua orang sama melongo heran, ada yang terkejut dan ada yang bergirang, kalau tadi mereka tidak paham mengapa Pwe-giok sanggup bertahan, maka sekarang mereka pun tidak mengerti sebab apa mendadak ia tidak tahan.

Dalam pada itu Cu Lui-ji masih terus menghitung.

"Dua dua enam, dua dua tujuh, dua dua delapan...."

Meski hitungannya tidak pernah terputus, namun suaranya sudah mulai gemetar.

Kini hanya sisa tujuh puluhan jurus saja, namun untuk sekian jurus ini jelas Ji Pwe-giok tidak sanggup bertahan lagi.

Keadaan ini sekalipun Ciong Cing juga dapat melihatnya.

Hay-hong Hujin menghela napas gegetun, katanya.

"Mungkin takkan sampai hitungan dua ratus enam puluh....."

"Dua ratus lima puluh saja sudah jauh daripada cukup,"

Ujar Ji Hong-ho dengan tersenyum. Mendadak Lo-cinjin menukas dengan membentak.

"Kubilang cukup dua ratus empat puluh saja!" -Berbareng dengan bentakannya, kepalan kiri dan telapak tangan kanan terus menghantam sekaligus. Saat itu Lui-ji lagi menghitung sampai.

"Dua ratus tiga puluh delapan....."

Seketika itu juga Pwe-giok merasa angin pukulan dan bayangan telapak tangan beterbangan dan entah cara bagaimana harus menangkisnya.

Apalagi sekalipun dia dapat menangkis juga sukar menahan tenaga dalam yang maha dahsyat seperti gugur gunung itu.

Tampaknya dia pasti akan terpukul roboh dan tiada pilihan lain....

Wajah Ji Hong-ho kembali menampilkan senyuman gembira, Ang-lian-hoa juga telah melompat turun dari ambang jendela, Hay-hong Hujin sedang menggeleng kepala, Sip-hun merangkap kedua tangannya di depan dada seperti lagi berdoa....

Tubuh Pwe-giok tampaknya sudah mulai mendoyong ke belakang karena terdesak oleh angin pukulan yang kuat, seperti sebuah gendewa yang terpentang dan segera akan tertarik patah mentah-mentah.

"Mengaku kalah tidak?!"

Bentak Lo-cinjin mendadak.

Pwe-giok tidak menjawab, ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya sambil menggeleng sebagai tanda pantang menyerah.

Segera Lo-cinjin menambah tenaga lagi, teriaknya dengan gusar.

"Masih tahan kau? Tidak roboh sekarang?!"

Akan tetapi Pwe-giok justeru tidak mau roboh, tubuhnya semakin melengkung dan semakin rendah dengan keringat memenuhi kepalanya, namun matipun dia tidak mau roboh.

Pandangan semua orang terpusat kepada Pwe-giok, sampai berkedip saja tidak.

Angin di luar jendela meniup makin santer seakan-akan merobek bumi raya ini.

Sedangkan semua orang yang berada di dalam sama ikut tegang, suasana sunyi menyesakkan napas.

Tiba-tiba terdengar suara keriat-keriut yang timbul dari tulang punggung Pwe-giok, nyata badannya seakan-akan ditindih patah menjadi dua oleh tenaga tekanan yang maha dahsyat itu.

Ciong Cing sudah mengucurkan air mata, sekujur badannya tampak gemetar.

Kwe Pian-sian juga cemas, berulang-ulang ia mengusap keringatnya.

Sekonyong-konyong Ciong Cing berteriak dengan suara parau.

"Ji-kongcu kumohon padamu, kumohon dengan sangat, hendaklah kau rebah sajalah!"

Hay-hong Hujin menghela napas panjang, ucapnya.

"Ai, anak bodoh, untuk apalah kau bertahan susah payah begitu?....."

Pandangan Cu Lui-ji sudah samar-samar karena kelopak matanya mengembeng air mata, air mata pun mulai meleleh ke pipinya.

Saat ini sampai Lui-ji juga hampir-hampir membujuk Pwe-giok agar rebah dan mengaku kalah saja.

Remuk redam hati Lui-ji, ia sudah tidak tega memandangnya lagi.

Ang-lian-hoa juga tidak tahan, mendadak ia berseru.

"Hong-sam sianseng, apakah kau menghendaki dia mati tertindih begitu barulah mau mengaku kalah?"

Hong Sam tidak menjawabnya, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan rawan.

"Urusan sudah begini, terpaksa aku...."

Tapi mendadak Pwe-giok berteriak.

"Tidak, kita belum kalah, aku belum lagi roboh, aku masih tahan!"

Lo-cinjin menjadi gusar, dampratnya.

"Anak busuk, tabiat busuk, memangnya kau minta benar-benar kuhancurkan kau?!" -Saking gusarnya ia terus mendesak maju satu langkah. Tak terduga, tiba-tiba kakinya kebetulan menginjak pada sesuatu yang lunak, kiranya dia menginjak di atas sebuah karung goni. Padahal tenaga injakannya itu tidak kepalang kuatnya, betapapun kukuhnya karung goni itu juga pecah terinjak.

"Bret", karung goni itu robek, sekonyong-konyong beratus-ratus makhluk berbisa yang sukar dibedakan jenisnya itu sama merayap ke atas tubuhnya. Karena kejadian yang tak terduga-duga ini, semua orang sama melenggong. Lo-cinjin menjadi kaget dan juga gusar, cepat tangannya mengebas dan kaki bergoyang, maksudnya hendak membikin rontok binatang melata itu tergetar jatuh dari tubuhnya, habis itu akan diinjaknya hingga hancur. Akan tetapi binatang melata yang sudah terlanjur merayap ke atas tubuhnya itu terlalu banyak, seketika sukar dibersihkannya. Maka terjadilah adegan aneh dan lucu, Lo-cinjin seperti lagi menari, sebentar tangannya berputar, lain saat kakinya melangkah, mendadak tangan menepuk tubuh sendiri pula. Kalau saja Khikangnya tidak mencapai tingkatan yang sempurna dan hawa murni meliputi seluruh tubuhnya sehingga sekeras baja, mungkin tubuhnya sudah babak belur digigit oleh kawanan makhluk berbisa itu. Mata Cu Lui-ji seketika terbeliak, mendadak ia pergencar hitungannya.

"Dua empat satu, dua empat dua, dua empat tiga......"

Sekaligus tanpa ganti napas ia terus menghitung, hanya sekejap saja hitungannya sudah mencapai "dua delapan puluh."

Baru sekarang Ji Hong-ho terkejut dan mengetahui permainan anak dara itu, cepat ia membentak.

"He, tidak, tidak boleh, tidak dapat dianggap!"

Namun Lui-ji tidak menghiraukannya, ia masih terus menghitung.

"Dua delapan satu, dua delapan dua, dua delapan tiga, dua delapan empat ......"

Mendadak Lo-cinjin meraung keras-keras satu kali, ia injak ke sana-sini dan menginjak mati kelabang yang terakhir, pada saat itu pula hitungan Cu Lui-ji juga genap "tiga ratus".

Suasana di atas loteng kecil itu seketika sunyi senyap seperti kuburan, selang sekian lamanya barulah terdengar Ji Hong-ho tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Sudah tentu caramu menghitung ini tidak sah."

"Hm, sah atau tidak adalah urusan nanti, yang jelas sekarang Sicekku roboh atau tidak?!"

Jengek Lui-ji.

Dalam pada itu Ji Pwe-giok lagi bersandar di dinding dengan napas terengah-engah, namun tubuhnya masih berdiri tegak tanpa ambruk.

Terpaksa Ji Hong-ho bungkam dan tak dapat menjawab.

Dengan melotot Lui-ji lantas berkata pula.

"Dan kalau Ji-sicek tidak sampai roboh, sedangkan jago kalian Lo-cinjin juga sudah selesai melancarkan serangan 300 jurus, dengan sendirinya pertarungan ini telah dimenangkan oleh pihak kami, kenapa kau menyangkal dan berdasarkan apa tidak kau anggap sah?"

Jengek Lui-ji.

"Tapi beberapa puluh jurus Lo-cinjin yang terakhir tadi bukan ditujukan untuk melayani Jikongcu, hal ini disaksikan oleh semua orang, masa aku mengada-ada?"

"Hm, itu kan cuma alasanmu sendiri,"

Jengek Lui-ji.

"Jika dia sedang bergebrak dengan Sicekku, maka setiap jurus dan gerakan yang digunakannya berarti ditujukan kepada Sicek, jadi setiap gerakan, setiap jurus yang dilontarkan harus dihitung. Kalau dia menghantam dan menyerang secara ngawur, itu kan salah dia sendiri, kenapa menyalahkan orang lain?"

"Tapi makhluk berbisa itu....."

"Binatang berbisa itu kan terbungkus baik-baik di dalam karung goni, siapapun tidak mengganggunya, juga kami tidak melepaskannya, sebaliknya tanpa sebab jago kalian telah menginjaknya hingga mati semua, untuk itu malahan aku hendak minta ganti rugi padanya."

Sudah tentu Ji Hong-ho tahu ucapan anak dara itu hanya pokrol bambu saja, tapi seketika ia menjadi bungkam dan tidak sanggup menjawab.

Ia melenggong sejenak, akhirnya dia berpaling ke arah Lo-cinjin, katanya dengan menyengir.

"Kukira urusan ini Lo-cinjin dipersilahkan memutuskannya sendiri."

Sinar mata Lo-cinjin gemerdep, mendadak ia berseru.

"Bocah ini ternyata mampu menahan 300 jurus seranganku, dia benar-benar anak yang hebat."

"Tapi cinjin sendiri tidaklah benar-benar melontarkan 300 jurus serangan ke arahnya,"

Seru Ji Hong-ho. Lo-cinjin mendelik, katanya.

"Siapa bilang aku tidak melontarkan 300 jurus padanya? Jika dia bertanding denganku, dengan sendirinya setiap gerakanku harus dihitung satu jurus. Kalau jurus seranganku tidak mampu merobohkan dia, itu juga urusanku, kalian tidak perlu ikut campur."

Seketika Ji Hong-ho melongo dan tak dapat bersuara lagi. Saking bergirang, akhirnya Cu Lui-ji menubruk maju dan mendekap tubuh Ji Pwe-giok, teriaknya gembira.

"Sicek, O, Sicek, kita menang, kita menang........"

Ji Hong-ho tersenyum, sikapnya sudah tenang kembali, katanya.

"Jika Lo-cinjin menyatakan kalian yang menang, ya dengan sendirinya kalian yang menang."

"Nah, kedua kalimat ucapannya ini masih menyerupai ucapan seorang Bu-lim-bengcu,"

Kata Lui-ji dengan tertawa.

"Dan sekarang silahkan kalian pergi saja, orang she Ji menjamin pasti tiada orang yang akan mempersulit kalian,"

Ujar Ji Hong-ho dengan tersenyum hambar.

"Apa katamu? Pergi? Siapa yang pergi?..."

Lui-ji menegas dengan mata melotot.

"Tempat ini adalah rumah kami, kenapa kami yang harus pergi? Yang benar kalau omong!"

Air muka Ji Hong-ho rada berubah, tapi Lo-cinjin lantas membentak.

"Memang tidak seharusnya mereka pergi, kitalah yang harus pergi!...."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong dari luar jendela menerobos masuk dua orang. Seorang diantaranya bersinar mata tajam mencorong, muka burik, dengan suara bengis ia berteriak.

"Betul, kita harus pergi. Tapi sebelum pergi kita memenggal dulu kepala mereka."

"Kau ini barang apa?"

Damprat Lui-ji dengan gusar. Ji Hong-ho tersenyum, katanya.

"Inilah Tio Kun, Tio-tayhiap yang berjuluk "Boan-thian-sing" (bintang bertaburan di langit), kedua telapak tangan besinya dan ke 72 buah Kim-ci-piaunya terkenal di sekitar Kamsiok dan Samsay." -Lalu ia tunjuk seorang lagi yang bermuka lonjong seperti kuda berbaju kuning dan bertubuh tinggi kurus, sambungnya.

"Yang ini adalah Wi Hong, Wi-tayhiap yang berjuluk "Jian-lihong-ki" (Kuda sakti seribu li), terkenal sebagai kaki cepat nomor satu di daerah Hopak dan Holam."

"Huh, manusia baik-baik kenapa suka disebut sebagai kuda?"

Jengek Lui-ji.

"Coba kawanmu si burik ini, biarpun mukanya tidak rata kan juga tidak mau dipanggil sebagai Tio si bopeng, meski mukamu serupa kuda kan sepantasnya mencari suatu nama yang lebih enak di dengar?!"

Muka kuda Wi Hong yang memang panjang itu rasanya semakin panjang oleh karena olokolok Cu Lui-ji itu, segera ia balas menjengek.

"Hm, meski Lo-cinjin bermaksud mengalah kepada kalian, tapi kami tidak nanti melepaskan kau. Menghadapi kawanan siluman seperti kalian ini kukira juga tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw apa segala. Nah, budak cilik, kalau tahu gelagat, ikutlah pergi bersama tuanmu!"

Selagi telapak tangannya yang lebar seperti daun pisang itu terangkat dan hendak meraih ke arah Lui-ji, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Sip-hun sudah berdiri di depannya dengan mengulum senyum.

"Guruku sudah menyatakan akan melepaskan mereka, maka Wi-tayhiap hendaknya juga suka berbuat sama dengan melepaskan mereka,"

Kata Sip-hun dengan ramah. Tapi Wi Hong lantas menjawab dengan suara bengis.

"Urusan kaum Cianpwe dunia Kangouw mana ada hak bicara bagi orang muda seperti kau ini? menyingkir!" -Tangan yang baru saja ditarik kembali itu mendadak mendorong pula ke depan. Akan tetapi Sip-hun masih tetap berdiri di tempatnya dengan tertawa, sama sekali ia tidak berkelit atau bergerak. Namun gontokan Wi Hong yang keras itu ternyata tidak mampu membuat Sip-hun bergeming sedikitpun. Air muka Wi Hong berubah pucat, belum lagi dia bertindak lebih lanjut, Lo-cinjin telah mendekatinya dan berkata dengan suara tertahan.

"Muridku ini memang tidak tahu aturan, apakah kau ingin mengajar adat padanya?"

Semua orang sudah menyaksikan sikap Lo-cinjin yang kasar itu terhadap muridnya, selain main bentak juga main pukul.

Wi Hong mengira Tosu cilik yang selalu tertawa dan ramah ini tentu tidak disukai sang guru, maka ia tidak meragukan ucapan Lo-cinjin tadi, dengan tertawa ia menjawab.

"Cayhe memang sembrono dan ingin meng......"

Belum habis ucapannya, kontan Lo-cinjin berjingkrak dan meraung murka.

"Kau ini kutu busuk macam apa? Kaupun sesuai untuk mengajar muridku? Huh, tanganmu yang berbau busuk ini berani menyentuhnya? Baik!"

Baru saja kata "baik"

Diucapkan, mendadak pula ia turun tangan, secepat kilat pergelangan tangan Wi Hong dicengkeramnya, menyusul lantas terdengar suara "krak-krek", tulang pergelangan tangan itu telah dipatahkannya mentah-mentah.

Keruan Wi Hong meraung kesakitan, segera kaki kanannya menyapu.

Dia terkenal sebagai kaki sakti nomor satu di daerah utara, dengan sendirinya tenaga kakinya tidak boleh dibuat main-main, sekalipun sepotong cagak batu, sekali disampuk dengan kakinya juga akan hancur.

Namun Lo-cinjin tidak berkelit juga tidak menghindar, dia sengaja menerima serampangan kaki lawan dengan keras, maka terdengar suara "krek"

Yang lebih keras, yang patah ternyata bukan kaki Lo-cinjin melainkan kaki Wi Hong sendiri.

Belum lagi Wi-hong sempat menjerit kesakitan, lebih dulu dia sudah kelengar.

Tanpa memandang sekejappun terhadap pecundangnya itu, Lo-cinjin berpaling ke arah Tio Kun, tanyanya dengan dingin.

"Kau anggap kata-kataku seperti orang kentut, kaupun menghendaki kepala mereka, begitu bukan katamu tadi?"

Muka Tio Kun pucat pasi seperti mayat.

Tapi apapun juga dia tergolong tokoh yang sudah terkenal, di depan orang banyak, betapapun dia tidak mandah diperlakukan kasar begitu, betapapun dia ingin menjaga kehormatannya.

Dia tertawa terkekeh, lalu berkata.

"Baiklah, kalau Cinjin tidak mau ikut campur lagi urusan ini, boleh serahkan saja kepada kami."

"Serahkan padamu? Huh, kau ini apa?"

Teriak Lo-cinjin dengan murka.

"Apakah karena orang sudah kehabisan tenaga dan hampir tidak bisa bergerak lagi, maka kau ingin menarik keuntungan tanpa mengeluarkan tenaga, begitu?"

Begitu habis ucapannya, sekali cengkeram, tahu-tahu leher baju Tio Kun telah dijambretnya, tubuhnya terus diangkat.

Padahal perawakan Lo-cinjin jauh lebih pendek dan kecil daripada lawannya, tentu saja hal ini membuat semua orang tercengang.

Tio Kun terkejut dan juga gusar, tanpa pikir kedua telapak tangannya terus menghantam ke bawah dan tepat mengenai pundak kanan-kiri Lo-cinjin.

Seperti sudah diceritakan, Tio Kun terkenal dengan telapak tangan besinya, tapi ketika kena hantam di tubuh Lo-cinjin, telapak tangan besinya telah berubah menjadi tangan tebu, 'Krakkrek", kontan tulang tangannya patah semua, kembali ia menjerit ngeri, dari setiap burikan di mukanya tampak menetes keluar air keringat.

Begitulah dengan tangan kanan Lo-cinjin mencengkeram Tio Kun dan tangan kiri mengangkat Wi Hong, meski Tojin ini kurus kecil, tapi dua lelaki kekar itu dapat diangkatnya dengan enteng dan seenaknya, hal ini benar-benar membuat para penonton sama melongo.

Malahan Lo-cinjin seperti sama sekali tidak mengeluarkan tenaga meski kedua tangan mengangkat dua lelaki besar itu, dia seperti membekuk dua ekor ayam jago saja, ayam jago yang sudah keok tentunya.

Melihat Kungfu yang mengejutkan ini baru sekarang semua orang teringat kepada Ji Pwegiok, baru sekarang mereka dapat menilai betapa hebatnya anak muda itu.

Pikir saja, kalau dua tokoh Kangouw terkenal seperti "Boan-Thian-sing"

Dan "Jian-li-sin-ki"

Tidak sanggup menahan sekali gebrak dengan Lo-cinjin, sebaliknya Ji Pwe-giok yang masih muda belia dan kelihatan lemah lembut itu ternyata sanggup bergebrak dan bertahan sampai 300 jurus.

Waktu semua orang berpaling ke arah Ji Pwe-giok, pandangan mereka terhadap anak muda ini sekarang jelas sudah berbeda daripada tadi.

Ji Hong-ho juga sedang memandang Pwe-giok dengan lekat-lekat, sampai lama sekali dia menatap anak muda itu.

Tiba-tiba Lo-cinjin berteriak gusar.

"Nah, siapa lagi yang berani menganggap ucapanku sebagai kentut? Ayo, bersuara!?"

Suasana menjadi hening, baik orang yang berada di atas loteng maupun yang nongkrong di sekeliling wuwungan rumah itu tiada seorang pun yang berani bersuara.

"Hmmk!"

Lo-cinjin mendengus keras-keras satu kali, lalu melangkah turun ke bawah loteng. Sip-hun lantas merangkap kedua tangannya di depan dada dan memberi hormat dengan tersenyum, katanya.

"Beruntung hari ini Tecu sempat berjumpa dengan para Cianpwe, sungguh aku merasa sangat bangga dan bahagia. Semoga selanjutnya dapat sering-sering mendapat petunjuk lagi dari para Cianpwe."

Meski dia bicara terhadap semua orang, namun matanya terus menerus hanya memandang kepada Cu Lui-ji. Lui-ji lantas mendamprat perlahan.

"Huh, Tosu bermata maling, lekas kau enyah saja!"

Entah mendengar atau tidak, kembali Sip-hun memberi hormat dengan sopan, lalu iapun melangkah pergi, sampai di ujung tangga mendadak ia berhenti dan berpaling, katanya dengan tersenyum.

"Silahkan Bengcu jalan dahulu!"

Ji Hong-ho tersenyum, ucapnya.

"Hong-locianpwe, selamat tinggal, Ji-kongcu, selamat tinggal.... Kumohon diri sekarang juga."

Tiba-tiba Hay-hong Hujin berjalan ke arah Kwe Pian-sian.

Keruan orang she Kwe itu menjadi kebat-kebit dan muka pucat.

Tak tersangka Hay-hong Hujin tetap tidak memandangnya barang sekejap pun, yang dituju adalah Ciong Cing, katanya terhadap nona ini dengan tertawa.

"Apakah kau ini murid Ji Siokcin?"

Ciong Cing menunduk kikuk. Tiba-tiba ia merasa dirinya tidak boleh tampak lemah di depan saingan cintanya, seketika dia menengadah dan menjawab.

"Ya!"

Hay-hong Hujin menghela napas, ucapnya kemudian.

"O, kasihan, sungguh kasihan. Ai, sayang, sungguh sayang....."

"Aku..... aku....."

Seketika Ciong Cing menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

Ketika melihat wajah Hay-hong Hujin yang bersifat menghina itu, seketika ia naik pitam, ia tidak pedulikan lagi bagaimana akibatnya, dengan nekat ia berteriak.

"Kasihan apa? Perempuan yang sudah dibuang oleh lakinya itulah yang harus dikasihani!"

Hay-hong Hujin hanya tersenyum hambar saja dan tidak meladeni lagi, dengan lemah gemulai ia melangkah pergi, ia anggap tidak berharga untuk meladeni olok-olok itu.

Sekujur badan Ciong Cing sampai bergemetar, air mata akhirnya meleleh membasahi pipinya.

Yang paling ditakuti seorang perempuan adalah kalau dihina oleh bekas kekasih orang yang dicintainya sekarang.

Hal ini akan sangat menyakitkan hatinya, sebab akan dirasakannya bahwa orang yang dipandangnya seperti jiwanya, seperti sukmanya, nyatanya tidak lebih adalah barang bekas orang lain, barang yang sudah dibuang orang lain.

Ang-lian-hoa melototi Kwe Pian-sian sejenak, lalu ia pandang Hong Sam dan pandang pula Ji Pwe-giok.

Mendadak ia berjumpalitan keluar jendela.

Waktu Pwe-giok memandang keluar, ternyata orang-orang yang memenuhi wuwungan sekeliling loteng kecil itu pun sudah pergi seluruhnya.

Pwe-giok menghela napas panjang, napas yang lega dan akhirnya ia pun roboh terkulai....

***** Lentera yang tergantung di tangga loteng itu ternyata tidak dibawa pergi oleh rombongan Ji Hong-ho.

Pintu juga tidak ditutup kembali, angin meniup masuk membuat sumbu lentera bergoyang-goyang.

Cahaya lentera yang redup itu menyinari wajah Ji Pwe-giok yang pucat bagaikan kertas.

Lui-ji menubruk maju dan mendekap tubuh anak muda itu, serunya dengan menangis.

"O, Sicek, entah cara bagaimana aku harus berterima kasih padamu?!"

Keadaan Hong-samsianseng juga sangat payah, ia menghela napas panjang dan berkata dengan lemah.

"Di hadapan Sicek kenapa kau bicara tentang 'terima kasih'?"

Lui-ji menunduk, air matapun bercucuran memenuhi wajahnya. Pwe-giok tersenyum hambar, katanya.

"Apapun juga kita kan sudah menang, apalagi yang kau sedihkan?"

Sambil mengusap air matanya Lui-ji berkata.

"Aku tidak sedih, tapi..... tapi tidak terlalu bergembira."

Baru kata "gembira"

Terucapkan, tangisnya sukar dibendung lagi. Tiba-tiba Kwe Pian-sian berdehem, lalu berkata dengan tertawa.

"Sungguh tidak nyana Locinjin yang termasyhur dan tiada tandingannya di dunia ini sekarang juga keok di bawah tangan saudara Ji kita. Setelah pertarungan ini, siapa pula di dunia Kangouw yang takkan kagum kepada Ji-heng...."

Mendadak Lui-ji berseru.

"Dia adalah Sicekku, berdasarkan apa kau berani menyebutnya 'Jiheng' (saudara Ji)?"

Kwe Pian-sian berdehem-dehem, ia tidak menanggapi dampratan anak dara itu, katanya pula.

"Ya, selanjutnya nama Ji-kongcu pasti akan termasyhur dan mengguncangkan seluruh dunia, hanya saja...."

"Hanya saja apa?"

Tanya Lui-ji dengan mendongkol.

"Hanya saja, tempat ini bukan lagi tempat yang boleh didiami untuk selamanya,"

Kata Kwe Pian-sian.

"Menurut pendapatku, akan lebih baik kalau lekas pergi saja dari sini."

"Pergi dari sini?"

Lui-ji menegas dengan melotot.

"Di sinilah rumahku, kenapa kami harus pergi?"

"Nona tahu, meski Ji Hong-ho dan begundalnya tadi mengalami kekalahan, tapi mereka pasti penasaran dan tidak terima, jika dikatakan mereka benar-benar sudah kapok dan tidak berani mengganggu lagi ke sini, kukira siapapun takkan percaya."

Demikian ulasan Kwe Pian-sian.

"Tapi kalau mereka benar-benar hendak mencari kita, biarpun lari juga tiada gunanya, sebab akhirnya toh pasti akan ditemukan mereka,"

Jengek Lui-ji.

"Apalagi, memangnya kau kira Sacekku ini adalah orang yang suka main lari? Jika mau lari tentu sudah sejak dulu-dulu lari, untuk apa kami menunggu di sini sampai sekarang?"

"Memang betul juga ucapan nona,"

Kata Kwe Pian-sian.

"Tapi.... tapi kalau tetap tinggal di sini kukira juga bukan... bukan cara yang baik...."

"Jika kau ingin pergi, boleh silahkan pergi saja sesukamu, tiada orang yang akan menahan dirimu,"

Jengek Lui-ji pula.

Muka Kwe Pian-sian sebentar pucat sebentar merah, ia tidak bicara lagi, juga tidak berani pergi.

Kalau Ang-lian-hoa dan Hay-hong Hujin ada kemungkinan sedang menunggunya diluar sana, apakah dia berani pergi?

***** Angin menderu-deru di luar, suasana di atas loteng kecil itu justeru sunyi senyap, bila teringat kepada Ji Hong-ho dan rombongannya itu pasti tidak mau berhenti begitu saja, pikiran setiap orang menjadi tertekan.

Di tengah suara angin yang menderu-deru itu tiba-tiba terdengar suara anjing mengaing, suara mengaing yang melengking dan seram seperti jeritan setan.

Tanpa terasa Ciong Cing merinding, katanya.

"Mengapa...... mengapa suara anjing itu sedemikian menakutkan?"

Bulu roma Cu Lui-ji juga berdiri, tapi ia menanggapi dengan tertawa.

"Bisa jadi Ji Hong-ho telah menginjak ekor anjing itu."

Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong suara lengking anjing tadi tak terdengar lagi, mengaingnya sangat mendadak, berhentinya juga secara mendadak.

Meski suara mengaingnya menyeramkan dan menakutkan, tapi suara yang lenyap mendadak itu terlebih membuat orang mengkirik.

Di jagat raya ini seketika seperti penuh diliputi alamat yang tidak baik.

Lui-ji ingin bicara apa-apa untuk memecahkan ketegangan, tapi sukar baginya untuk bicara dan juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar suara "blung"

Yang dahsyat, menyusul api lantas berkobar dan menjulang tinggi ke langit. Begitu cepat nyala api itu, hanya sebentar saja hampir setengah langit sebelah sana telah terbakar hingga merah menganga.

"Keji amat tindakan Ji Hong-ho ini, dia hendak membakar mati kita,"

Seru Kwe Pian-sian dengan kuatir. Air muka Pwe-giok berubah agak pucat juga, katanya.

"Pantas lebih dulu dia telah mengusir seluruh penduduk kota ini, rupanya memang sudah direncanakannya akan membumihanguskan Li-toh-tin ini. Hm, dia sok anggap dirinya seorang pendekar budiman, sekarang ternyata tidak segan-segan berbuat serendah ini."

Kobar api makin lama makin dahsyat dan makin mendekati loteng kecil itu, cuma belum lagi berbentuk suatu lingkaran yang mengepung. Cepat Kwe Pian-sian melompat bangun, serunya dengan suara parau.

"Ayo cepat! Lekas kita terjang keluar, mungkin masih keburu!"

Lui-ji memandang ke arah Hong Sam. Dilihatnya air muka Hong-samsianseng sangat prihatin dan tidak memberi komentar apapun. Dengan tak sabar Kwe Pian-sian berseru pula dengan melotot.

"Urusan sudah begini, masa kalian belum lagi mau pergi?!"

Pwe-giok menghela napas, katanya.

"Ya, memang betul, urusan sudah kadung begini, apapun jadinya terpaksa kita harus menerjang ke luar!"

"Tapi.... tapi luka Sacek...."

Lui-ji merasa ragu.

"Biarkan ku gendong Hong-lo.... Hong-samko dan kau ikut saja di belakangku,"

Kata Pwegiok dengan tersenyum getir.

"Dan aku bagaimana?"

Tukas Gin-hoa-nio yang sejak tadi tidak pernah ikut bicara.

"Tentunya kalian tidak akan meninggalkan diriku di sini bukan?!"

Lui-ji menggertak gigi, katanya.

"Biarkan ku gendong Sacek saja dan kau.... kau gendong dia."

Kwe Pian-sian memandang Ciong Cing sekejap, akhirnya iapun menggendong nona itu, serunya "Ayolah, kalau tidak berangkat sekarang mungkin tidak keburu lagi!"

"Betul, lekaslah kalian pergi semua,"

Kata Hong-sam sianseng.

"He, Sacek, kau...."

Belum lanjut ucapan Lui-ji, dengan menarik muka Hong-sam sianseng lantas membentak dengan suara bengis.

"Sacek tidak apa-apa, masa aku perlu kau gendong dan melarikan diri?..... Memangnya Sacek adalah manusia pengecut demikian?"

Cahaya api yang berkobar dengan hebatnya telah menyinari mukanya yang kelihatan merah padam.

"Jika demikian, biarlah Siaute saja yang......"

Belum lanjut ucapan Pwe-giok, dengan gusar Hong Sam berkata pula.

"Kelak bila orang Kangouw mengetahui Hong Sam telah melarikan diri dengan digendong orang, lalu kemana lagi akan ku taruh mukaku ini? Kalau sudah begitu, biarpun hidup apa bedanya lagi dengan mati?"

"Tapi..... tapi urusan dalam keadaan luar biasa,"

Seru Pwe-giok.

"Samko, apakah..... apakah engkau tak dapat memaklumi keadaan?....."

"Sudahlah,"

Ucap Hong Sam dengan tegas.

"Tekadku sudah bulat, tiada gunanya kau bicara lagi, lekas kalian berangkat saja!"

Hampir gila Lui-ji saking cemasnya.

Tapi ia pun kenal watak sang paman, bilamana Hongsam sianseng sudah mengambil keputusan demikian, di dunia ini mungkin tiada seorangpun yang mampu mengubah pendiriannya.

Pwe-giok berkata pula dengan rawan.

"Ku tahu Samko kuatir pada keadaanku yang sudah lemah ini, maka lebih suka mati sendiri daripada menambah bebanku, tapi hendaklah Samko mengetahui, Siaute masih..... masih cukup kuat....."

Hong-sam sianseng terus memejamkan mata dan tidak menggubrisnya lagi biarpun apa juga yang dikatakan Pwe-giok.

Nyala api bertambah hebat dan menjilat ke sekitarnya, hanya sekejap saja api sudah dekat bangunan loteng kecil itu.

Agaknya Ji Hong-ho dan begundalnya telah memasang bahan-bahan pembakar yang mudah menyala, sebab itulah api menjalar dengan amat cepat.

Akhirnya Kwe Pian-sian berkata dengan suara serak.

"Jika kalian tidak pergi, terpaksa ku pergi lebih dulu, hendaklah kalian.... kalian...."

Dia seperti mau omong apa-apa lagi, tapi urung.

Dengan beringas ia terus melompat keluar dengan memondong Ciong Cing.

Terdengar suara tangis Ciong Cing sayup-sayup berkumandang dari luar jendela sana, sejenak kemudian lantas tidak terdengar apa-apa lagi.

"Kalian pun harus pergi, mengapa masih diam saja di sini?"

Bentak Hong Sam dengan suara bengis. Tapi Lui-ji malah berduduk di sampingnya dan berkata.

"Sacek tidak pergi, akupun tidak pergi."

"Kau berani membangkang ucapanku?"

Bentak Hong Sam dengan gusar. Lui-ji tersenyum pedih, ucapnya.

"Apapun ucapan Sacek akan ku patuhi, tapi sekali ini...... sekali ini aku......"

Mendadak Hong Sam angkat tangannya dan mendorong anak dara itu hingga jatuh tersungkur, lalu bentaknya.

"Kau berani membangkang kataku, biar ku pukul mampus kau lebih dulu."

"Biarpun Sacek pukul mampus diriku tetap aku takkan pergi,"

Jawab Lui-ji tegas. Hong Sam menjadi kewalahan, ia menghela napas dan menggeleng.

"Ji Pwe-giok!"

Teriak Gin-hoa-nio mendadak.

"Apakah kau juga tidak mau pergi? Apakah kau hendak mengiringi kematian mereka?"

Tapi Pwe-giok tetap berdiri saja dengan tenang, tampaknya ia pun terkesima.

Ia tahu kalau tetap tinggal di sini dan menunggu mati terbakar, hal ini sungguh perbuatan yang terlalu bodoh.

Tapi apapun juga dia tidak dapat menyelamatkan diri dengan meninggalkan Cu Lui-ji dan Hong Sam.

Dengan suara parau Gin-hoa-nio berteriak.

"Gila, kalian semua orang gila.... Sungguh sial aku berkumpul dengan kalian!"

Sekuatnya ia meronta ke depan jendela, tanpa pikir ia terus melompat keluar.

Akan tetapi sisa tenaganya sekarang tidak seberapa lagi, baru saja terjun ke bawah segera terdengar ia menjerit kesakitan, mungkin kakinya terkilir.

Pwe-giok tahu bilamana Gin-hoa-nio hendak lolos di tengah berkobarnya api sehebat itu, maka peluangnya boleh dikatakan sangat tipis, tanpa terasa ia menghela napas.

Segera Hong Sam berteriak pula dengan beringas.

"Kalian benar-benar hendak mati bersamaku?"

Pwe-giok memandang Lui-ji sekejap, lalu berkata.

"Siaute ingin...."

"Bagus, jadi kalian baru mau pergi setelah ku mati, begitu?"

Seru Hong Sam sambil tertawa latah, mendadak ia angkat sebelah tangannya terus menghantam kepalanya sendiri.

Keruan Pwe-giok dan Lui-ji menjerit kaget, berbareng mereka memburu maju.

Syukurlah pada saat itu juga mendadak terdengar suara "blang"

Yang sangat keras, dinding sekeliling hancur lebur, pecahan papan beterbangan, seorang tiba-tiba menerjang masuk seperti malaikat yang baru turun dari langit!

Di bawah cahaya api yang berkobar-kobar itu, pandangan Pwe-giok juga cukup tajam, betapa wajah orang yang menerjang masuk itu seharusnya dapat dilihatnya dengan jelas.

Namun gerak tubuh orang itu sungguh terlalu cepat, baru saja terdengar suara gemuruh tadi, mungkin Hong Sam sendiri juga tertegun, tahu-tahu Pwe-giok melihat sesosok bayangan menyerempet lewat di sebelahnya, Hong Sam terus diangkatnya, lalu melayang pergi secepat kilat.

Jadi bagaimana wajah pendatang ini, tua atau muda, lelaki atau perempuan, sama sekali Pwe-giok tidak tahu.

Lui-ji berteriak dengan kaget.

"Hai, siapa kau? Kenapa kau menyerobot Sacekku?"

Belum lenyap suaranya, bayangan orang tadi sudah melayang pergi beberapa tombak jauhnya. Terdengar suara Hong-sam sianseng membentak di kejauhan.

"Siapa kau?"

Lalu suara orang yang parau menjawab.

"Aku!"

Agaknya Hong-sam sianseng lantas menghela napas panjang, napas yang lega, lalu tidak bicara lagi.

Dalam pada itu Pwe-giok dan Lui-ji juga sudah memburu keluar, dilihatnya bayangan orang di depan sana melejit-lejit seperti gundu yang dilemparkan, bila lidah api menjilat ke depan, sekali tangannya mengebas dengan perlahan, kobaran api lantas menyurut, hanya sekejap saja bayangan orang itu sudah menerjang keluar lautan api.

Meski Pwe-giok dan Lui-ji masih terus mengejar dengan sepenuh tenaga, tapi jaraknya makin lama makin jauh.

"Tinggalkan Sacekku.... Kumohon, tinggalkan Sacekku!"

Lui-ji berteriak-teriak dengan suara parau.

"Wuttt", mendadak gulungan api menyambar lewat, waktu mereka memandang ke depan, bayangan tadi sudah lenyap. Lui-ji berlari lagi beberapa langkah dan akhirnya jatuh mendekap di atas tanah serta menangis tergerung-gerung. Pwe-giok pun iba melihat tangis Lui-ji itu, cepat ia memburu maju untuk membangunkan anak dara itu. Baru sekarang Lui-ji mengetahui tanpa terasa mereka sudah menerjang keluar lautan api. Rambut Lui-ji dan bajunya tampak ada bintik-bintik api, beberapa bagian tubuh Pwe-giok juga hangus terbakar. Tapi dalam keadaan cemas dan gelisah, keduanya sama sekali tidak merasakan hal itu.

"Kenapa kau menyerobot Sacekku? Cara bagaimana aku dapat hidup lagi selanjutnya?"

Demikian Lui-ji meratap dengan sedihnya. Pwe-giok menghela napas melihat betapa berduka anak dara itu, ucapnya dengan rawan.

"Tampaknya orang tadi tidak bermaksud jahat, coba kalau tiada dia, mungkin kita sudah terkubur di tengah lautan api itu."

"Tapi.... tapi bagaimana dengan.... dengan Sacek?"

Kata Lui-ji.

"Agaknya Sacekmu kenal dengan orang ini, mungkin sekali mereka adalah sahabat."

Ujar Pwe-giok.

"Kalau kita melihat betapa tinggi Kungfunya tadi, bila Sacekmu dibawa pergi olehnya, kita justeru boleh merasa lega malah."

Terhibur juga hati Lui-ji, suara tangisnya mulai lirih. Ucapnya dengan masih tersedu sedan.

"Ya, memang kedengaran tadi Sacek.... Sacek bertanya satu kali padanya, lalu..... lalu tidak bertanya pula, agaknya mereka memang kenal.... Tapi kalau dia membawa pergi Sacek, mengapa.... mengapa tidak membawa serta diriku sekalian?"

Dengan suara lembut Pwe-giok berkata.

"Hal ini disebabkan..... disebabkan dia tidak kenal padamu."

"Memang."

Ujar Lui-ji dengan air mata meleleh.

"Semua sahabat Sacek di masa dahulu, satupun tidak ku kenal. Ya, aku tidak kenal siapapun, sebaliknya juga tiada orang yang kenal diriku. Aku... aku...."

Teringat kepada nasibnya yang sengsara, tanpa terasa ia menangis sedih pula.

Pwe-giok terharu, hidung pun terasa beringus, air matanya juga hampir-hampir menetes.

Pelahan ia mengebut bintik api yang masih membara di atas tubuh Lui-ji, lalu katanya dengan tertawa ewa, Tapi Sicek kan kenal padamu dan kau pun kenal Sicek, betul tidak?"

Sambil menangis Lui-ji terus menjatuhkan diri ke pangkuan Pwe-giok, ucapnya dengan suara terputus-putus.

"Sicek, kau.... kau takkan meninggalkan diriku bukan?"

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, tapi dimulut ia menjawab dengan tersenyum.

"Masa Sicek akan meninggalkan kau?.... Pendek kata, kemana pun Sicek pergi pasti akan kubawa serta dirimu."

Padahal nasibnya sendiri sekarang juga terkatung-katung, ia sendiri pun ditinggalkan sanak keluarga dan handai taulan, ia pun tak tahu sekarang harus pergi ke mana.

Kalau mengurus diri sendiri saja repot, mana dia sempat mengurus orang lain lagi?

Sekonyong-konyong terasa hawa panas menyambar dari belakang, rupanya kobaran api telah menjalar pula ke tempat mereka ini.

Dari jauh terdengar suara ramai orang menangis dan meratap, di tengah hiruk-pikuk itu pun terseling suara orang mencaci maki, Mungkin penduduk Li-toh-tin menjadi kalap ketika melihat rumah dan harta benda mereka telah musnah terbakar menjadi abu.

Tiba-tiba terdengar suara seorang berteriak lantang.

"Hendaknya kalian jangan susah dan bingung, pokoknya segala kerugian kalian akan kami ganti sepenuhnya."

Diam-diam Pwe-giok berkerut kening, pikirnya.

"Biarpun Li-toh-tin ini kota kecil dan kebanyakan penduduknya adalah kaum miskin, tapi kalau beratus keluarga jumlahnya kan jadi tidak sedikit, tapi mereka ternyata bersedia memberi ganti rugi, apakah tujuan mereka cuma hendak membakar mati beberapa orang ini?" ***** Angin sudah mulai berhenti, tapi malam bertambah kelam. Suara ribut di kejauhan juga mulai sepi, Cu Lui-ji duduk termenung tanpa bergerak, sejak Pwe-giok membawanya ke tanah pekuburan yang sunyi ini, belum lagi dia berucap satu kata pun.

"Api yang mereka kobarkan itu pasti tidak cuma untuk membakar mati kita saja."

Kata Pwegiok tiba-tiba. Dengan sorot mata yang kabur Lui-ji memandangi sebuah kuburan baru di depan sana, ia hanya menanggapi ucapan Pwe-giok itu dengan suara,"

Oo?"

"Sebab kalau mereka menghendaki jiwa kita, pasti mereka sudah memasang perangkap di sekitar tempat yang akan mereka bakar agar kita tak dapat lolos. Tapi sekarang dengan sangat mudah kita dapat lari keluar, bahkan seorangpun tidak kita pergoki."

"Ehmm!"

Lui-ji mengangguk.

"Sebab itulah kupikir, tujuan mereka hanya ingin mengusir kepergian kita saja....."

"Hanya ingin mengusir kita, dan mereka tidak sayang membumihanguskan kota kecil ini, tidak sayang untuk membayar ganti rugi harta benda sebanyak ini..... Apakah mereka sudah gila?"

Demikian tukas Cu Lui-ji.

"Sudah tentu di balik tindakan mereka ini masih ada sebab lain.... ya, pasti masih ada sebab lain....."

Lui-ji tersenyum getir, katanya.

"Semula kurasa sudah jelas duduknya perkara, tapi ucapan Sicek ini tambah membingungkan aku."

"Semua kejadian yang tidak masuk akal ini hanya ada suatu penjelasannya,"

Kata Pwe-giok tanpa menghiraukan ucapan Lui-ji itu.

"Penjelasan bagaimana?"

Tanya anak dara itu.

"Pada loteng kecil tempat tinggal kalian itu pasti tersembunyi sesuatu rahasia besar yang sangat mengejutkan orang,"

Kata Pwe-giok.

"Rahasia besar?!"

Lui-ji melengak.

"Ya, lantaran rahasia itulah maka Tonghong Bi-giok merasa berat meninggalkan ibumu meski banyak kesempatan baginya untuk pergi,"

Kata Pwe-giok pula.

"Karena rahasia itulah maka Oh-lolo dan lain-lain juga datang, juga lantaran rahasia inilah maka Ji Hong-ho dan komplotannya tidak segan menyalakan api."

Terbeliak mata Lui-ji, ia bergumam.

"Tapi rahasia apakah itu?"

"Apakah kau ingat, sebelum ibumu wafat, pernahkah beliau membicarakan sesuatu yang luar biasa kepadamu?"

Tanya Pwe-giok dengan suara tertahan.

"Ibu tidak pernah bercerita apa-apa,"

Ujar Lui-ji sambil berkerut kening.

"Beliau cuma memberitahukan padaku bahwa tempat inilah rumahku, tempat inilah satu-satunya benda yang dapat ditinggalkannya kepadaku, aku disuruh menyayanginya, makanya selama ini aku tidak mau pergi dari sini...."

Mendadak suara ucapannya terhenti, matanya tambah terbelalak.

Kedua orang saling pandang sekejap, lalu serentak sama-sama berdiri.

Dalam pada itu api di kejauhan sudah semakin kecil, tampaknya sudah hampir padam.

Akan tetapi api tidak padam seluruhnya, dari ujung dinding, dari kusen pintu atau jendela yang hangus itu terkadang masih tersembur keluar lidah api dengan membawa asap yang tebal.

Sejauh mata memandang, udara penuh diliputi kabut asap yang tebal sehingga apapun tidak terlihat jelas.

Pelahan Pwe-giok dan Lui-ji menuju kembali ke tengah tumpukan puing itu.

Di bawah alingan asap, mereka menyelinap diantara reruntuhan puing, tidak lama kemudian dapatlah dilihat mereka bangunan berloteng kecil itu sudah terbakar roboh.

Hanya Li-keh-can saja, hotel yang dibangun jauh lebih kukuh daripada rumah penduduk itu tidak seluruhnya runtuh, api sudah padam lebih cepat, tiang belandar sudah terbakar seluruhnya, tapi sebagian besar dinding temboknya masih tegak.

Berjalan di atas reruntuhan puing itu, Lui-ji merasa telapak kakinya masih panas seperti menginjak bara.

Waktu ia mengintai ke balik asap tebal sana, dilihatnya di sekitar sana ada beberapa laki-laki berseragam hitam sedang mondar-mandir membersihkan sisa kebakaran, tapi Ji Hong-ho dan komplotannya tidak kelihatan, juga penduduk asli Li-toh-tin tidak nampak satupun.

Pwe-giok juga sedang mengintai dari pojok dinding sana.

Dengan suara mendesis Lui-ji bertanya.

"Sicek, sekarang juga kita mulai mencari atau menunggu kedatangan mereka?"

"Sudah bertahun-tahun kau tinggal di sini dan tidak kau temukan rahasia itu, dalam waktu singkat mana dapat kita menemukannya. Apalagi kobaran api sekarang sudah mereda, kuyakin selekasnya mereka akan datang lagi ke sini."

"Kalau begitu, apakah kita perlu mencari suatu tempat untuk bersembunyi?"

"Ya, betul,"

Jawab Pwe-giok.

"Wah, sembunyi di mana baiknya?"

Kata Lui-ji sambil memandang sekitarnya.

"Eh, lihat Sicek, bagaimana kalau di rumah sana?"

"Rumah itu kurang baik,"

Kata Pwe-giok.

"Meski saat ini mereka belum menggeledah sampai sini, tapi selekasnya mereka pasti akan kemari."

"Habis sembunyi di mana?"

Tanya Lui-ji "Dapur!"

Kata Pwe-giok. Waktu Lui-ji memandang ke sana, dilihatnya dapur yang terbuat dari kayu itu sudah habis terbakar, ia berkerut kening dan berkata.

"Dapur sudah terbakar, mana dapat dibuat sembunyi?"

Pwe-giok tertawa, katanya.

"Meski dapur sudah terbakar, tapi di dalam dapur kan masih ada sesuatu tempat yang takkan musnah terbakar."

Terbeliak mata Cu Lui-ji, serunya dengan suara tertahan.

"He, maksudmu tungku? Betul, hanya batu tungku saja yang takkan musnah terbakar untuk selamanya. Hah, sungguh bagus gagasanmu ini Sicek!"

Tanpa ayal lagi mereka terus berlari ke arah dapur hotel, terlihat di pojok sana ada sebuah gentong air yang tidak rusak, cuma air di dalam gentong juga terbakar hingga menguap seperti digodok.

Pwe-giok menyingkirkan wajan besar di atas tungku, air gentong lantas di tuang ke dalam tungku.

Setelah hawa panas di dalam tungku hilang, mereka lantas menyusup ke dalam perut tungku dan wajan tadi ditutup lagi di atasnya.

Li-keh-can adalah satu-satunya hotel di Li-toh-tin, tamunya cukup banyak, setiap hari ratarata harus melayani makan-minum dua-tiga puluh orang.

Dengan sendirinya tungku yang digunakan beberapa kali lebih besar daripada tungku rumah penduduk.

Pwe-giok dan Lui-ji bersembunyi di dalam tungku besar itu sehingga serupa sembunyi di dalam sebuah kamar sempit.

Lubang tungku yang biasanya digunakan untuk menambah kayu bakar itu menjadi mirip sebuah jendela bagi mereka.

Dinding papan dapur itu sudah terbakar ludes, maka melalui "jendela' ini dapatlah Pwe-giok dan Lui-ji mengikuti gerak-gerik bangunan berloteng kecil di depan sana.

Di loteng kecil itulah Lui-ji dilahirkan dan dibesarkan, tapi sekarang bangunan itu sudah berwujud tumpukan puing, tanpa terasa air mata Lui-ji berlinang-linang pula.

Tapi sedapatnya ia tidak memperlihatkan rasa sedih itu, katanya dengan tertawa.

"Sicek, kau lihat tidak? Tungku di rumahku sana juga tidak musnah terbakar."

"Ya, seperti ucapanmu tadi, tungku takkan terbakar rusak untuk selamanya,"

Kata Pwe-giok dengan suara halus.

"Dan bumi juga selamanya takkan rusak terbakar. Bilamana kau suka pada tempat ini, kelak masih boleh membangun sebuah rumah berloteng seperti tempat tinggalmu yang dulu."

Termangu-mangu Lui-ji memandang ke sana, air mata kembali bercucuran, katanya dengan hampa.

"Rumah loteng memang masih dapat dibangun, tapi hari-hari kehidupan seperti dahulu tidak mungkin datang kembali lagi."

Pwe-giok juga terkesima oleh ucapan anak dara itu.

Karena ucapan Lui-ji itu, tanpa terasa ia pun terkenang kepada kehidupannya yang bahagia dan tenteram di masa lalu, teringat olehnya pohon waringin yang rimbun di halaman rumahnya itu, di bawah pohon itulah setiap musim panas ayahnya suka menyaksikan dia berlatih menulis, terbayanglah senyuman welas-asih sang ayah....

Semua itu baru saja terjadi setengah tahun yang lampau, tapi bila terkenang sekarang rasanya seperti sudah jelmaan hidup yang lalu, tanpa terasa matanya menjadi basah lagi.

Ucapnya dengan rawan.

"Ya, segala apa yang sudah berlalu takkan kembali lagi untuk selamanya."

"Dahulu,"

Demikian Lui-ji bertutur dengan pelahan.

"sebelum fajar menyingsing, tentu aku sudah mulai memasak bubur, terkadang kubuatkan telur dadar, sedikit sayur asin dan kacang goreng, maka nafsu makan Sacek lantas bertambah dan satu kuali bubur disikatnya habis, lalu beliau akan memuji bubur yang ku masak itu harum dan enak, sayur asin dan kacang gorengnya lezat dan gurih, tapi sekarang....."

Dia menghela napas, lalu menyambung dengan menunduk.

"Meski tungku di sana belum rusak terbakar, selanjutnya masih dapat ku masak bubur di tungku itu, namun siapakah yang akan makan bubur yang ku masak itu."

Terharu Pwe-giok, tanpa terasa ia berkata.

"Akulah yang akan makan bubur yang kau masak itu."

"Benar?"

Tanya Lui-ji sambil menengadah.

Sementara itu hari sudah terang, sinar sang surya menembus ke dalam tungku melalui lubang kecil itu sehingga kelihatan wajah Lui-ji yang masih basah oleh air mata itu.

Sinar matanya gemerdep memancarkan cahaya kegirangan sehingga mirip setangkai bunga teratai putih dengan butiran embun yang mekar di pagi cerah di musim semi.

Tergetar juga hati Pwee-giok, cepat ia melengos dan tidak berani memandangnya lagi.

Lui-ji menghela napas, katanya.

"Ku tahu ucapan Sicek tadi hanya untuk menyenangkan hatiku saja. Orang semacam Sicek tentu masih banyak urusan penting yang harus dikerjakan, mana kau sempat datang padaku untuk makan bubur yang ku masak."

Suaranya begitu lirih dan rawan sehingga hati Pwe-giok kembali terharu, jawabnya dengan tertawa.

"Sicek tidak berdusta.... Biarpun banyak urusan yang harus ku selesaikan, tetapi begitu pekerjaanku selesai, suatu hari aku pasti akan datang ke sini untuk makan bubur yang kau masak."

Lui-ji tertawa senang seperti bunga yang baru mekar, ucapnya.

"Jika begitu, aku akan masak satu kuali bubur dan menunggu kedatanganmu."

"Setiap hari makan bubur saja tentu juga akan bosan,"

Kata Pwe-giok dengan serius.

"Sebaiknya setiap dua-tiga hari satu kali harus kau buatkan nasi goreng istimewa bagiku, kalau tidak aku bisa kurus kelaparan karena makan bubur melulu."

Lui-ji terkikik-kikik, katanya.

"Makan bubur kan waktu pagi, makan siang tentunya lain, selain nasi goreng, akan kubuatkan pula Ang-sio-tite (kaki babi saus manis), Jau-koh-kek-kiu (ayam goreng jamur) dan hidangan lain yang lezat, tanggung tidak sampai tiga bulan Sicek akan tambah gemuk satu kali lipat."

Melihat si nona tertawa girang, Pwe-giok juga bergembira. Tapi bila teringat kepada nasibnya sendiri, sakit hati ayah belum terbalas, iblis itu masih memalsu dan menyamar sebagai "Ji Hong-ho"

Gadungan dengan komplotan jahatnya sehingga segenap kawan Kangouw sama tertipu, sebaliknya dirinya harus berjuang sendirian, entah kapan intrik musuh baru dapat terbongkar.

Untuk bisa hidup tenang dan gembira untuk makan bubur yang di masak anak dara ini, mungkin harus menunggu sampai pada penjelmaan yang akan datang.

Selagi Pwe-giok termenung, tiba-tiba Lui-ji menegur.

"He, Sicek.... mengapa engkau menangis?!"

Cepat Pwe-giok mengusap matanya yang basah, jawabnya dengan tertawa.

"Ah, anak bodoh, Sicek sudah tua, mana bisa menangis. Karena asap maka keluar air mata."

Lui-ji termangu sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa.

"Sicek, masa kau anggap dirimu sudah tua? Jika Sacek tidak menyuruhku agar panggil Sicek padamu, sebenarnya lebih tepat kalau ku panggil Siko (kakak ke empat) padamu."

Pwe-giok memandangi wajah si nona yang berseri itu dan tak dapat menjawab. Entah manis, entah kecut, entah getir, sukar untuk dijelaskan.... T A M A T Bagian Pertama

Baca Juga: Pendekar Bunga 4

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert