Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 4

Eps 4 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

"trang" , pedang Ih Jong-hay tertangkis, tangan si Bungkuk tahu-tahu sudah bertambah sebuah senjata yang memancarkan sinar kuning kemilauan, kiranya adalah sebuah roda besar. Roda itu terus berputar, di sekeliling roda itu terpasang delapan buah pisau kecil. Lengan Ih Jong-hay sampai kesemutan karena tangkisan tadi. Ia tahu tenaga dalam lawan amat kuat. Segera ia keluarkan ilmu pedangnya, beruntun-runtun ia melancarkan belasan kali serangan lagi. Katanya pula.

"Bok-heng, kita selamanya tiada permusuhan apa-apa, buat apa kau membela seorang anak keroco sehingga kita bercekcok?"

Sambil memutar rodanya dan menangkis setiap serangan Ih Jong-hay, Bok Ko-hong menjawab.

"Ih-koancu, di hadapan orang banyak tadi bocah ini telah menyembah dan memanggil kakek padaku. Meskipun Cayhe dan Ih-koancu selamanya tiada permusuhan apa-apa, tapi kalau seorang yang telah sudi memanggil aku sebagai kakek dibiarkan kau tangkap dan dibunuh begitu saja, bukankah kau terlalu menghina aku? Jika sang kakek tidak mampu membela cucunya, kelak siapa lagi yang sudi memanggil aku sebagai kakek?"

Sambil bicara serang-menyerang kedua orang semakin cepat dan suara gemerantangnya senjata juga tak berhenti-henti. Ih Jong-hay menjadi gusar.

"Bok-heng,"

Serunya.

"Orang ini telah membunuh putraku, sakit hati putraku masakah aku tidak boleh membalas?"

"Hahahaha!"

Bok Ko-hong bergelak tertawa.

"Baik, mengingat kehormatan Ih-koancu, jika kau ingin membalas dendam boleh silakan balas. Nah, Ih-koancu, marilah kita sama-sama tarik. Satu, dua, tiga. Kau tarik, aku pun tarik, kita tarik mampus saja bocah ini! Nah, mulailah! Satu ... dua ... tiga!"

Habis berkata, mendadak tenaganya tambah kuat terus menarik.

Keruan tulang Peng-ci berkeriutan seakan-akan copot.

Ih Jong-hay menjadi khawatir jika tidak lepas tangan tentulah pemuda itu akan terbeset mati.

Baginya soal balas dendam adalah urusan kecil, tapi mendapatkan Kiam-boh adalah urusan besar.

Sebelum Kiam-boh ditemukan tidaklah mungkin dia membunuh Lim Peng-ci.

Karena itu ia lantas mengendurkan pegangannya sehingga Peng-ci kena ditarik Bok Ko-hong ke sebelah sana.

Kembali Bok Ko-hong terbahak-bahak, katanya.

"Terima kasih, banyak terima kasih! Ih-koancu benar-benar seorang sobat sejati, mengingat si Bungkuk, Ih-koancu ternyata sudi mengalah, sampai-sampai sakit hati terbunuhnya putramu juga tak jadi dibalas. Orang yang mengutamakan setia kawan demikian sungguh Ih-koancu terhitung nomor satu."

"Hm, asal kau tahu saja,"

Jengek Ih Jong-hay.

"Hanya satu kali saja Cayhe dapat mengalah, tapi tidak mungkin ada kedua kalinya."

"Juga belum tentu,"

Ujar Bok Ko-hong dengan menyengir.

"Boleh jadi Ih-koancu memang seorang yang berbudi dan bermurah hati, maka untuk kedua kalinya kelak kau akan sudi mengalah pula padaku."

Ih Jong-hay hanya mendengus saja dan tidak menggubrisnya. Ia memberi tanda kepada anak muridnya dan berkata.

"Kita pergi saja!"

Lalu bersama rombongannya mereka meninggalkan tempat itu.

Ting-yat Suthay dan murid-muridnya karena buru-buru ingin menemukan Gi-lim, maka sejak tadi mereka sudah mencari ke lain tempat.

Lau Cing-hong anggap setiap keselamatan tamunya adalah tanggung jawabnya, hilangnya Gi-lim betapa pun dia tidak boleh tinggal diam.

Maka bersama orang-orangnya segera mereka pun mencari ke jurusan lain.

Hanya dalam sekejap saja di luar rumah pelacuran itu cuma tinggal Bok Ko-hong dan Lim Peng-ci berdua saja.

"Wah, bukan saja kau cuma menyaru sebagai bungkuk, bahkan sebenarnya kau adalah bocah yang tampan,"

Demikian kata Bok Ko-hong dengan tertawa.

"Nak, kau tak perlu panggil kakek lagi padaku. Biarlah si Bungkuk menerima kau sebagai murid saja."

Peng-ci sendiri masih kesakitan karena ditarik dan diseret oleh kedua tokoh itu dengan tenaga dalam. Sekarang mendengar ucapan Bok Ko-hong itu, diam-diam ia membatin.

"Ilmu silat Bungkuk ini berpuluh kali lebih tinggi daripada ayahku, sampai Ih Jong-hay juga merasa jeri padanya. Jika aku ingin menuntut balas kepada Ih Jong-hay, terpaksa aku harus berguru pada si Bungkuk barulah ada harapan. Akan tetapi waktu murid Jing-sia-pay tadi hendak membunuh aku, sedikit pun dia tidak ambil pusing, ketika mendengar Pi-sia-kiam-boh dari keluargaku barulah dia mau turun tangan. Sekarang secara sukarela dia menyatakan mau menerima aku sebagai murid, terang dia tidak mengandung maksud baik."

Melihat pemuda itu tidak menjawab, sebaliknya tampak ragu-ragu, segera Bok Ko-hong membujuk pula.

"Ilmu silat dan kemasyhuran jago Bungkuk dari utara tentu sudah kau ketahui. Sampai saat ini seorang murid pun aku belum pernah terima. Di dunia ini bukanlah tidak ada pemuda yang bagus, cuma sudah lama aku pilih ke sana kemari tiada seorang pun yang cocok bagiku. Jika kau mau berguru padaku, si Bungkuk tentu akan mengajarkan segenap kepandaiannya kepadamu. Dengan demikian, jangankan orang-orang Jing-sia-pay, bahkan Ih Jong-hay sendiri kelak juga bukan tandinganmu. Nah, mengapa kau tidak lekas menyembah dan mengangkat guru padaku?"

Tapi semakin dia membujuk, Peng-ci tambah sangsi malah. Pikirnya.

"Jika Bungkuk ini benar-benar suka kepadaku, mengapa tadi dia telah mencengkeram pundakku dengan sekeras-kerasnya, bahkan katanya akan saling betot dengan Ih Jong-hay supaya aku lekas mati. Rupanya dia telah menduga Ih Jong-hay sedang mengincar Pi-sia-kiam-boh keluargaku dan sekali-kali tak mungkin membinasakan aku pada waktu sekarang, maka dia sengaja merebut diriku ke pihaknya. Orang yang berhati keji dan licin begini, jika aku mengangkat guru padanya tentu kelak akan banyak mendatangkan kesukaran bagi diriku sendiri. Di antara Ngo-gak-kiam-pay tidak sedikit orang-orang cerdik pandai, bila aku ingin mencari guru yang baik, aku harus mencari di antara mereka, betapa pun aku tidak boleh mempunyai seorang guru seperti si Bungkuk ini."

Melihat Peng-ci masih tetap ragu-ragu, lambat laun Bok Ko-hong menjadi gusar. Pikirnya.

"Entah berapa banyak orang Kangouw yang berusaha dengan segala daya upaya kepingin menjadi muridku, tapi tiada seorang pun yang sudi kuterima. Sekarang aku sendiri yang menyatakan mau menerima kau sebagai murid, hal ini boleh dikata sangat diharapkan oleh setiap orang Bu-lim, sebaliknya kau malah berlagak dan jual mahal di hadapan si Bungkuk. Huh, kalau bukan lantaran Pi-sia-kiam-boh itu, tentu sekali gaplok saja sudah kumampuskan kau!"

Bab 19.

Gak Put-kun, Ketua Hoa-san-pay, Guru Lim Peng-ci yang Baru Tapi dasar Bok Ko-hong memang seorang yang culas dan licin, walaupun batinnya mendongkol, tapi lahirnya dia masih tertawa-tawa dan berkata.

"Bagaimana? Apakah kau anggap kepandaian si Bungkuk belum cukup untuk menjadi gurumu?"

Sekilas Peng-ci melihat air muka si Bungkuk berubah menjadi bengis dan murka, walaupun perasaan demikian itu segera lenyap, tapi tanpa merasa Peng-ci sudah bergidik.

Ia merasa keadaannya serbasulit dan serbasalah, jika menolak menjadi muridnya, boleh jadi dia lantas mengamuk dan bukan mustahil dirinya akan terus dibinasakan olehnya.

Terpaksa ia menjawab.

"Bok-tayhiap, kau sudi menerima aku sebagai murid, sungguh hal ini adalah jauh di luar harapanku. Cuma yang kupelajari adalah ilmu silat keluarga kami sendiri, jika perlu berguru pada orang luar harus mendapatkan izin dahulu dari ayah. Cara demikian adalah hukum keluarga dan hukum Bu-lim yang telah sama-sama kita ketahui pula."

Bok Ko-hong manggut-manggut, katanya.

"Ya, beralasan juga ucapanmu ini. Cuma sedikit permainanmu ini hakikatnya belum dapat dimasukkan dalam hitungan ilmu silat. Pasti kepandaian ayahmu juga sangat terbatas. Untung bagimu hari ini hatiku lagi senang dan mendadak suka menerima kau sebagai murid, lewat sebentar lagi mungkin pikiranku ini akan segera berubah. Jadi kesempatan ini hanya dapat kau ketemukan secara kebetulan dan tidak dapat dicari. Tampaknya kau cukup cerdik, mengapa justru begini tolol? Sudahlah, kau boleh menyembah dan mengangkat guru dulu padaku, kelak aku sendiri yang akan bicara dengan ayahmu, rasanya dia pun takkan berani menolak."

Tiba-tiba pikiran Peng-ci tergerak. Segera ia berkata pula.

"Bok-tayhiap, saat ini ayah-ibuku berada di dalam cengkeraman orang-orang Jing-sia-pay dan tidak jelas mati-hidupnya. Untuk mana kuharap Bok-tayhiap sukalah pergi menolong mereka, bila berhasil, untuk membalas budi kebaikanmu, apa pun yang Bok-tayhiap inginkan pasti akan kupenuhi."

"Apa? Kurang ajar! Jadi kau berani main tawar-menawar dengan aku?"

Semprot Bok Ko-hong dengan gusar.

"Huh, kau bocah ingusan ini, memangnya anggap dirimu sebagai apa sehingga kau kira kakek harus menerima kau sebagai murid dan berani main tawar-menawar padaku? Hm, kurang ajar!"

Cepat Peng-ci berlutut dan berkata.

"Tentang Pi-sia-kiam-boh apa segala sebenarnya Wanpwe sama sekali tidak tahu. Andaikan Bok-tayhiap telah menerima aku sebagai murid juga tidak ada gunanya. Tapi ayah-ibuku tentu tahu akan Kiam-boh yang dimaksud itu. Bila Bok-tayhiap dapat menyelamatkan ayah-ibuku, barulah dapat mencegah jatuhnya Kiam-boh itu ke dalam tangan Ih Jong-hay."

Sesungguhnya Peng-ci sendiri memang tidak tahu Pi-sia-kiam-boh itu benda macam apa.

Tapi mengingat Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong sedemikian menghargai barang itu, tentulah Kiam-boh itu menyangkut sesuatu yang mahapenting.

Segera ia berkata pula.

"Jika Ih Jong-hay berhasil mendapatkan Kiam-boh, boleh jadi ilmu silatnya akan jauh lebih lihai daripada Bok-tayhiap, bilamana dia mencari perkara padamu, tentu Bok-tayhiap yang terpaksa harus sembunyi ke sana ke mari untuk menghindari."

"Kentut, kentut! Mana bisa jadi!"

Semprot Bok Ko-hong.

"Bila memang Kiam-boh milik keluargamu itu memiliki mukjizat demikian, mengapa ayah-ibumu kena ditawan oleh Ih Jong-hay?"

Walaupun demikian mulutnya berkata, tapi diam-diam ia pun percaya Pi-sia-kiam-boh tentu bukan sembarangan kitab pelajaran ilmu pedang, hal ini dapat dilihat dari sikap Ih Jong-hay yang lebih mementingkan Kiam-boh itu daripada sakit hati kematian putranya.

Ia lihat Peng-ci masih terus berlutut di hadapannya, segera ia berkata.

"Jika begitu, hayo lekaslah menjura padaku. Asal kau menjura tiga kali saja kau sudah terhitung muridku. Ayah-ibu muridku sendiri sudah tentu akan kuperhatikan dan Ih Jong-hay tentu takkan berani main gila kepada kedua orang tua muridku."

Karena memikirkan keselamatan ayah-bundanya, Peng-ci merasa biarpun terpaksa harus mengangkat guru kepada seorang yang mestinya tidak disukai, asal dapat menolong kedua orang tuanya, apa artinya menahan sedikit perasaan.

Dan baru saja ia bermaksud menjura, sekonyong-konyong Bok Ko-hong telah menggunakan tangannya untuk menekan kepalanya ke bawah agar menjura.

Rupanya si Bungkuk khawatir Peng-ci tidak jadi menjura padanya, maka sengaja main paksa.

Seharusnya Peng-ci sudah akan menjura, tapi karena kepalanya ditekan ke bawah secara paksa, kontan timbul perlawanannya, ia justru bikin kaku lehernya dan enggan menunduk ke bawah.

"He, apakah kau tidak mau menjura?"

Bentak Bok Ko-hong dengan gusar.

Segera ia tambahkan tenaga tekanannya.

Dasar watak Peng-ci memang tidak doyan kekerasan.

Dalam usahanya menolong ayah-ibunya mestinya ia sudah mau telan segala perasaan dan penderitaan dan akan menjura kepada Bok Ko-hong.

Tapi sekali Bok Ko-hong main paksa, bukannya Peng-ci menurut, sebaliknya ia malah melawan.

Dengan suara keras ia menjawab.

"Jika kau berjanji akan menolong ayah-ibu, maka aku pun akan berjanji berguru padamu. Tapi saat ini tidak mungkin suruh aku menjura padamu."

"Hah, tidak mungkin?"

Jengek Bok Ko-hong.

"Baik, ingin kulihat apakah benar-benar kau takkan menjura padaku!"

Habis berkata, kembali tenaganya bertambah kuat untuk menahan kepala Peng-ci ke bawah.

Sekuatnya Peng-ci bermaksud menegakkan kepala dan berdiri, tapi tenaga tekanan Bok Ko-hong terlalu kuat baginya sehingga mirip tertindih batu yang beribu kati beratnya, sampai-sampai kedua tangannya dipakai menahan di atas tanah, tapi tulang leher terasa berkeretekan seakan-akan patah dan tetap tak dapat berbangkit.

Bok Ko-hong terbahak-bahak, katanya.

"Kau mau menjura atau tidak? Jika tanganku tambahi tenaga pula, tentu lehermu ini bisa patah."

"Tidak, aku justru tidak mau menjura!"

Teriak Peng-ci dengan merah padam.

"Betul-betul tidak mau?"

Jengek Bok Ko-hong sambil menahan lebih kuat, makin tekan makin ke bawah sehingga batok kepala Peng-ci hampir-hampir menyentuh tanah.

Pada saat itulah sekonyong-konyong Peng-ci merasa punggungnya menjadi panas, ada suatu arus hawa hangat menyalur masuk ke dalam tubuhnya.

Tiba-tiba daya tekanan di atas tengkuknya menjadi kendur, begitu kedua tangannya menahan tanah, seketika dia dapatlah berdiri.

Kejadian ini benar-benar di luar dugaan Peng-ci, bahkan Bok Ko-hong juga terkejut.

Sekilas itu si Bungkuk itu lantas tahu bahwa tenaga hangat yang mematahkan daya tekanannya itu adalah "Kun-goan-kang", semacam Lwekang berasal dari Hoa-san-pay.

Walaupun datangnya arus Lwekang itu sangat mendadak, dalam keadaan belum siap sehingga dirinya tergetar dan Peng-ci sempat meronta berbangkit, tapi Kun-goan-kang itu jelas sudah sangat sempurna, bahkan tenaga susulannya masih terus membanjir tiba.

Dalam kagetnya dengan cepat sekali tangan Bok Ko-hong lantas menahan pula ke atas kepala Peng-ci, bahkan sekali ini ia pun menggunakan semacam Lwekang yang mahalihai.

Tapi begitu tenaganya membentur kepala Peng-ci, tiba-tiba terasa Kun-goan-kang seperti tadi timbul pula dari ubun-ubun pemuda itu.

Begitu kedua arus tenaga saling bentur, seketika tangan Bok Ko-hong kesemutan, dada pun terasa sakit.

Cepat si Bungkuk mundur dua langkah, serunya sambil tertawa.

"Haha! Gak-heng, mengapa diam-diam kau sembunyi di pojok sana dan bergurau dengan si Bungkuk?"

Tiba-tiba terdengar suara tertawa orang di balik pojok rumah sana, seorang Susing (kaum terpelajar) berbaju hijau dan berjubah ringan telah muncul.

Sambil tangan kanan menggoyang-goyangkan kipas lempit, orang itu berkata.

"Engkoh Bungkuk, sudah lama tak bertemu, ternyata ketangkasanmu tidak berkurang dari dahulu, sungguh harus diberi selamat."

Susing berbaju hijau yang baru muncul ini memang betul adalah Kun-cu-kiam, si pedang jantan, Gak Put-kun, ketua Hoa-san-pay yang termasyhur.

Biasanya Bok Ko-hong memang rada jeri terhadap ketua Hoa-san-pay itu.

Apalagi sekarang dia kepergok sedang memaksa seorang anak muda, keruan ia serbarunyam.

Tapi dasar dia memang orang yang licin dan tidak kenal malu, dengan cengar-cengir ia lantas menyapa.

"Gak-heng, makin lama makin muda kau ini, sungguh si Bungkuk ingin mengangkat guru padamu untuk belajar ilmu awet muda itu."

"Hus, kau makin tua makin tak genah,"

Semprot Gak Put-kun.

"Kenalan lama baru saja bertemu dan kau sudah mengoceh tak keruan."

"Habis, usiamu mestinya sudah 60-70 tahun, mengapa mendadak muda kembali dan kelihatannya malah seperti cucu si Bungkuk saja,"

Ujar Bok Ko-hong dengan tertawa.

Ketika Bok Ko-hong mengendurkan tangannya tadi, dengan cepat Peng-ci sudah lantas melompat bangun.

Dilihatnya Susing baju hijau itu berjenggot cabang lima, mukanya putih bersih dan berwibawa, seketika timbul rasa kagum dan hormatnya.

Ia tahu orang inilah yang tadi telah menolongnya dari paksaan Bok Ko-hong.

Setelah mendengar si Bungkuk itu memanggilnya sebagai "Gak-heng" (saudara Gak), seketika pikirannya tergerak.

"Apakah tokoh yang mirip dewa ini jangan-jangan adalah Gak-siansing, ketua Hoa-san-pay yang sering disebut-sebut oleh orang banyak selama beberapa hari ini? Cuma usianya kelihatannya baru 40 tahun, entah betul atau tidak?"

Tapi kemudian sesudah mendengar Bok Ko-hong memuji orang she Gak itu awet muda, segera Peng-ci teringat kepada cerita ibunya dahulu bahwa tokoh-tokoh Bu-lim yang memiliki Lwekang tinggi bukan saja bisa panjang umur, bahkan mukanya juga awet muda.

Maka ketua Hoa-san-pay ini mungkin juga memiliki ilmu Lwekang yang tinggi itu.

Keruan ia tambah kagum tak terkatakan.

Dalam pada itu Gak Put-kun telah berkata dengan tersenyum.

"Bok-heng, pemuda ini adalah seorang anak berbakti, juga punya jiwa kesatria, sungguh suatu bakat yang sukar dicari, pantas Bok-heng jatuh hati padanya. Padahal semua penderitaan yang menimpa dia itu adalah lantaran tempo hari dia telah membela keadilan dan menolong putriku si Leng-sian, maka sekarang terpaksa aku harus turun tangan juga, diharap suka memandang diriku, sukalah Bok-heng membebaskan dia saja."

"Apa katamu?"

Bok Ko-hong menegas dengan keheran-heranan.

"Hanya dengan sedikit kepandaian bocah ini saja dia mampu menolong keponakan perempuan si Leng-sian? Aha, kukira ucapanmu itu harus dibalik, mungkin si dara jelita itulah yang telah ...."

Gak Put-kun tahu ucapan si Bungkuk selanjutnya tentu adalah ocehan yang tidak enak didengar, maka cepat ia menyela.

"Sesama orang Kangouw adalah jamak saling memberi pertolongan, membantu dengan bertempur mati-matian termasuk menolong, membantu dengan ucapan saja juga menolong, maka tak dapat memandangnya dari soal ilmu silatnya tinggi atau rendah. Bok-heng, bila kau berkeras ingin mengambil pemuda ini sebagai murid, memang paling baik kalau membiarkan dia minta izin dulu kepada ayah-ibunya, dengan demikian kedua pihak menjadi sama-sama baiknya."

Bok Ko-hong sadar urusan hari ini bila Gak Put-kun sudah ikut campur, maka terang sukar terlaksanalah keinginannya. Segera ia geleng-geleng kepala dan menjawab.

"Tidak. Hanya seketika timbul maksud si Bungkuk ingin menerimanya sebagai murid, tapi sekarang hasratku itu sudah hilang, biarpun sekarang bocah ini menjura seribu kali padaku juga aku tidak sudi menerimanya."

Setelah berkata begitu, mendadak "plok" , kontan Lim Peng-ci ditendangnya hingga terpental dan terguling sampai beberapa meter jauhnya.

Serangan Bok Ko-hong ini benar-benar di luar dugaan Gak Put-kun sehingga ingin mencegah juga tidak keburu lagi.

Apalagi gerakan kaki si Bungkuk juga sangat cepat, caranya juga sangat aneh dan sukar dibayangkan orang sebelumnya.

Untunglah sesudah terguling, seketika Peng-ci dapat melompat bangun, tampaknya tidaklah terluka.

"Bok-heng, mengapa sifatmu seperti anak kecil saja, barang yang tidak dapat kau peroleh lantas kau buang. Kubilang kaulah yang telah kembali muda dan bukan aku,"

Demikian Gak Put-kun balas mengolok-olok. Bok Ko-hong tertawa. Jawabnya.

"Jangan khawatir, Gak-heng. Betapa pun besarnya nyaliku juga tak berani menyalahi kau punya ... kau punya ... kau punya apa ya? Ah, sudahlah, sampai berjumpa pula. Sungguh tidak nyana Hoa-san-pay yang sudah begini ternama juga menaruh perhatian juga terhadap 'Pi-sia-kiam-boh' itu."

Sembari bicara ia terus memberi hormat dan mundur teratur.

"Kau mengoceh apa, Bok-heng?"

Teriak Gak Put-kun sambil mendesak maju selangkah.

Seketika air mukanya bersemu ungu, tapi air muka demikian hanya timbul sekilas saja lantas hilang.

Melihat air muka bersemu ungu itu, hati Bok Ko-hong tergetar.

Pikirnya.

"Wah, itu adalah 'Ci-he-kang' (ilmu pelangi ungu) yang merupakan Lwekang tertinggi. Selama ratusan tahun ini kabarnya belum pernah ada tokoh Hoa-san-pay yang mampu meyakinkannya. Tapi Gak Put-kun ternyata berhasil melatih ilmu sakti itu. Wah, si Bungkuk tidak boleh membikin marah padanya."

Tapi lahirnya dia tenang-tenang saja, ia masih cengar-cengir dan menjawab.

"Entahlah, aku pun tidak tahu Pi-sia-kiam-boh itu benda macam apa. Cuma kulihat Ih Jong-hay telah mengincar Kiam-boh itu dengan mati-matian, maka tanpa sengaja aku telah sembarangan mengoceh, harap Gak-heng jangan pikirkan."

Habis berkata, ia putar tubuh terus melangkah pergi. Setelah si Bungkuk lenyap dalam kegelapan, Gak Put-kun menghela napas dan berkata.

"Tokoh berbakat kelas tinggi dunia persilatan seperti dia ini justru berkelakuan tidak genah."

Sekonyong-konyong Peng-ci berlari maju terus berlutut dan menyembah tak berhenti-henti kepada Gak Put-kun, katanya.

"Mohon Suhu mau menerima diriku sebagai murid. Tecu pasti akan taat kepada tata tertib perguruan dan giat belajar, sedikit pun tidak berani membantah titah guru."

Gak Put-kun tertawa, katanya.

"Jika aku menerima kau sebagai murid, tentu kelak akan diolok-olok si Bungkuk bahwa aku berebutan murid dengan dia."

"Begitu melihat Suhu, seketika Tecu merasa sangat kagum, permohonan ini adalah timbul dari ketekadan Tecu sendiri,"

Kata Peng-ci sambil terus menyembah.

"Baiklah,"

Sahut Gak Put-kun dengan tertawa.

"Untuk menerima kau adalah tidak sulit, cuma kau belum memberitahukan kepada ayah-ibumu, entah mereka mengizinkan atau tidak."

"Asal Tecu dapat diterima, tentu ayah dan ibu akan kegirangan, mustahil beliau-beliau itu takkan meluluskan,"

Ujar Peng-ci. Put-kun manggut-manggut.

"Baiklah, lekas bangun saja!"

Katanya kemudian. Lalu ia menoleh dan berseru.

"Tek-nau, A Hoat, Sian-ji, keluarlah semua!"

Maka muncul segera satu rombongan orang dari balik rumah sana.

Kiranya adalah anak murid Hoa-san-pay yang sejak tadi sudah sembunyi di sana.

Rupanya Gak Put-kun sengaja suruh mereka jangan tampakkan diri agar tidak membikin malu kepada Bok Ko-hong.

Sesudah berhadapan, segera Lo Tek-nau berkata dengan girang.

"Terimalah ucapan selamatku, Suhu. Engkau telah menerima seorang Sute baru yang mempunyai hari depan yang gilang-gemilang."

"Peng-ci,"

Kata Gak Put-kun kemudian.

"Para Sukomu ini sudah pernah kau lihat di rumah minum itu. Sekarang kalian boleh berkenalan secara resmi."

Memang sebagian besar anak murid Hoa-san-pay itu sudah dikenal Peng-ci.

Yaitu, yang tua adalah Jisuko Lo Tek-nau, yang bertubuh tegap adalah Samsuko Nio Hoat.

Yang berdandan sebagai kuli adalah Sisuko Si Cay-cu.

Yang selalu membawa Swipoa (alat hitung) adalah Gosuko Ko Kin-beng.

Laksuko Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji adalah tokoh yang paling gampang diingat, karena dia selalu membawa seekor monyet kecil.

Selain mereka terdapat lagi Citsuko To Kun dan Patsuko Eng Pek-lo yang masih muda-muda.

Sesudah satu per satu Peng-ci memberikan hormat, tiba-tiba dari belakang Gak Put-kun ada suara mengikik tawa yang nyaring genit.

Lalu berkata.

"Dan aku terhitung Suci atau Sumoay, Ayah?"

Untuk sejenak Peng-ci melengak.

Ia kenal suara itu adalah si gadis penjual arak yang pernah dijumpainya di luar kota Hokciu itu, para murid Hoa-san-pay sama memanggilnya sebagai "Siausumoay" (Sumoay cilik), kiranya dia adalah putri sang guru sendiri.

Sekilas Peng-ci melihat sebagian roman muka yang putih bersih dengan sebelah mata yang tampak hitam jeli sedang mengintipnya sekejap, lalu mengkeret kembali ke belakang Gak Put-kun.

Keruan Peng-ci terheran-heran.

"Nona penjual arak itu berwajah burik dan sangat buruk, mengapa sekarang telah ganti rupa?"

Nona itu hanya melongok sedikit saja, lalu mengkeret kembali, dalam kegelapan tidaklah jelas.

Tapi bahwasanya wajahnya pasti sangat cantik adalah tidak perlu disangsikan lagi.

Maka terdengar Gak Put-kun telah menjawab dengan tertawa.

"Setiap Sukomu yang hadir di sini semuanya masuk perguruan lebih lambat daripadamu, tapi semuanya juga memanggil kau Siausumoay. Rupanya nasibmu menjadi Sumoay sudah ditakdirkan. Maka sekali menjadi Siausumoay, tentu saja kau tetap adalah Siausumoay."

"Tidak, tidak bisa! Sejak kini aku harus menjadi Suci juga,"

Ujar nona itu dengan tertawa.

"Ayah, Lim-sute harus panggil aku sebagai Suci. Selanjutnya bila ayah menerima seratus atau dua ratus murid lagi juga harus memanggil Suci padaku."

Sambil bicara dan tertawa nona itu lantas muncul dari belakang Gak Put-kun.

Di malam gelap, samar-samar Peng-ci hanya melihat raut muka yang bulat telur itu agaknya sangat cantik.

Sinar mata si nona yang tajam terasa sedang menatap ke arahnya.

Cepat Peng-ci memberi hormat dan menyapa.

"Gak-sumoay, hari ini Siaute telah diterima sebagai murid oleh Suhu yang berbudi. Yang masuk perguruan dulu adalah lebih tua, Siaute sudah sepantasnya mengaku sebagai Sute."

Putri Gak Put-kun itu bernama Gak Leng-sian, dengan girang ia lantas berkata kepada sang ayah.

"Nah, kau dengar sendiri, Ayah. Dia sendirilah yang suka memanggil aku sebagai Suci, tapi bukan aku yang memaksa dia, lho!"

"Orang baru saja masuk perguruan kita dan kau sudah bicara tentang 'paksa' apa segala, jangan-jangan nanti dia akan menyangka setiap muridku akan sama seperti kau, yang tua suka memaksa yang muda, apakah kau takkan membikin takut padanya?"

Demikian kata Put-kun. Maka bergelak tertawalah para muridnya. Gak Leng-sian lantas berkata pula.

"Ayah, Toasuko sembunyi di sini untuk menyembuhkan lukanya, tadi kena dihantam sekali pula oleh Ih Jong-hay, keadaannya tentu tambah payah. Hayolah lekas kita menjenguknya."

Dengan mengerut kening Gak Put-kun menggeleng kepala, katanya.

"Bolehlah Kin-beng dan Cay-cu saja, kalian menggotong keluar Toasukomu."

Ko Kin-beng dan Si Cay-cu mengiakan berbareng, lalu melompat masuk ke dalam kamar melalui jendela. Tapi lantas terdengar seruan mereka.

"Suhu, Toasuko tidak berada di sini, di dalam kamar juga ... juga tidak ada orang."

Menyusul tertampaklah cahaya api, mereka sudah menyalakan lilin di dalam kamar.

Dahi Gak Put-kun terkerut makin kencang.

Dia tidak sudi masuk ke rumah pelacuran yang kotor dan hina itu.

Maka katanya kepada Lo Tek-nau.

"Coba kau masuk ke sana untuk memeriksanya."

Tek-nau mengiakan dan mendekati jendela.

"Biar aku juga masuk ke sana untuk melihatnya,"

Kata Leng-sian. Namun Gak Put-kun lantas menarik tangan putrinya itu sambil membentak.

"Hus! Tempat begini mana boleh sembarangan kau datangi?"

Karena cemasnya hampir-hampir Leng-sian menangis. Serunya khawatir.

"Tapi ... tapi Toasuko terluka parah, mungkin dia ... dalam keadaan payah."

"Jangan khawatir,"

Bisik Gak Put-kun.

"Dia telah dibubuhi obat Thian-hiang-toan-siok-ko dari Hing-san-pay, tidak nanti jiwanya berbahaya."

Leng-sian menjadi girang-girang khawatir, katanya.

"Da ... dari mana engkau tahu, Ayah?"

"Ssst, jangan ceriwis!"

Put-kun mendesis.

Kiranya dalam keadaan terluka parah dan kesakitan, namun pikiran Lenghou Tiong masih cukup sadar.

Ia dapat mengikuti suara pertengkaran antara Bok Ko-hong dan Ih Jong-hay dan kemudian orang-orang itu pergi satu per satu dan akhirnya didengarnya Suhunya sendiri telah datang.

Lenghou Tiong adalah seorang yang tidak gentar kepada siapa pun juga, di dunia ini hanya ada seorang yang disegani olehnya, yaitu sang guru.

Maka ketika mendengar Suhunya sedang berbicara dengan Bok Ko-hong, ia pikir daripada nanti dipergoki sang guru di tempat yang tak senonoh itu, lebih baik menyingkir dulu dari situ.

Maka sambil menahan rasa sakit cepat ia menyingkap selimut dan berbisik kepada Fifi dan Gi-lim.

"Wah, celaka! Guruku sudah datang, kita lekas lari!"

Segera ia mendahului keluar dari kamar itu dengan berpegangan dinding.

Cepat si Fifi juga lantas menarik bangun Gi-lim dan lari keluar.

Tertampak Lenghou Tiong sedang sempoyongan dan tidak kuat berjalan, lekas-lekas ia berlari maju untuk memayangnya.

Dengan menahan sakit Lenghou Tiong berjalan sekuatnya ke depan, sesudah menyusur sebuah serambi panjang, ia tahu mata-telinga Suhunya sangat tajam, bila keluar seketika akan ketahuan.

Dilihatnya di sebelah kanan ada sebuah kamar, tanpa pikir ia terus masuk ke kamar itu diikuti Fifi dan Gi-lim.

"Lekas tutup pintu dan jendela,"

Kata Lenghou Tiong dengan suara lemah.

Fifi melaksanakan permintaan itu.

Lenghou Tiong sendiri sudah sangat lemas, sambil merebah di atas ranjang, napasnya tersengal-sengal.

Ketiga orang itu tidak berani bersuara sedikit pun.

Mereka pasang kuping setajam mungkin.

Selang agak lama barulah terdengar suaranya Gak Put-kun berkumandang dari jauh.

"Rupanya dia sudah pergi dari sini. Sudahlah, kita pun pergi saja!"

Lenghou Tiong menghela napas lega. Selang tak lama, tiba-tiba terdengar suara orang berjalan dengan langkah perlahan sedang mendatangi.

"Toasuko! Toasuko!"

Demikian terdengar orang itu memanggil dengan suara tertahan.

Itu suaranya Liok Tay-yu.

Kiranya dia mengkhawatirkan keselamatan Lenghou Tiong, maka sesudah sang guru dan para saudara seperguruannya berangkat, diam-diam ia putar balik untuk mencari sang Toasuko.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa Lak-kau-ji, si monyet, memang lebih setia kawan daripada saudara-saudara seperguruannya yang lain.

Segera ia bermaksud menjawabnya.

Tapi mendadak terasa kain kelambu bergetaran, kiranya Gi-lim yang duduk di tepi ranjang itu merasa ketakutan dan gemetar.

"Ya, bilamana aku bersuara menjawab tentu akan merusak nama baik Siausuhu ini,"

Pikir Lenghou Tiong.

Maka urunglah dia menjawab panggilan Lak-kau-ji tadi.

Terdengar Liok Tay-yu berjalan lewat di luar jendela sambil memanggil terus dan makin lama makin menjauh dan akhirnya suaranya tak terdengar lagi.

"He, Lenghou Tiong, kau akan mati atau tidak?"

Tiba-tiba Fifi bertanya.

"Masa aku akan mati? Jika aku mati kan akan membikin rusak nama baik Hing-san-pay."

Sahut Lenghou Tiong.

"Sebab apa?"

Tanya Fifi heran.

"Lukaku telah dibubuhi obat mujarab keluaran Hing-san-pay, jika tak bisa sembuh, bukankah aku Lenghou Tiong akan merasa sangat menyesal terhadap ... terhadap Siausuhu dari Hing-san-pay ini?"

Kata Lenghou Tiong. Dalam keadaan terluka toh pendekar muda itu masih sempat berkelakar, diam-diam Gi-lim kagum kepada ketabahannya. Segera ia pun berkata.

"Lenghou-toako, kau telah kena dipukul pula satu kali oleh Ih-koancu itu. Coba kulihat keadaan lukamu."

Mestinya Lenghou Tiong hendak bangun, tapi telah dicegah Fifi.

Melihat pakaiannya berlepotan darah, Gi-lim tidak sempat memikirkan lagi pantangan antara laki-laki dan perempuan, segera ia membuka baju Lenghou Tiong, lalu mengambil sebuah baskom di samping sana, dengan sepotong handuk untuk membersihkan darah di tempat luka itu, lalu membubuhi pula dengan obat Thian-hiang-toan-siok-ko.

"Wah, obat sebaik ini kan sayang dihabiskan untuk lukaku ini,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Ah, janganlah Lenghou-toako berkata demikian,"

Sahut Gi-lim dengan malu-malu.

"Atas pertolonganmu, sampai-sampai Suhuku juga memuji akan jiwa kesatriamu."

"Puji sih tidak perlu, asal beliau tidak mendamprat aku saja aku sudah banyak terima kasih,"

Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Mana bisa beliau mendamprat padamu?"

Kata Gi-lim.

"Lenghou-toako, engkau harus istirahat dulu supaya lukamu tidak pecah pula, dengan demikian tentu akan cepat sembuhnya."

"Enci Gi-lim,"

Tiba-tiba Fifi menyela.

"silakan engkau menjaganya kalau-kalau ada orang jahat datang lagi. Kakek tentu sedang menunggu, aku harus lekas-lekas pulang."

"Tidak, tidak jangan! Mana boleh aku tinggal sendirian di sini!"

Seru Gi-lim.

"Bukankah Lenghou Tiong juga berada di sini? Masakah kau bilang sendirian?"

Ujar Fifi dengan tertawa. Lalu ia putar tubuh dan hendak melangkah pergi.

"Jangan pergi!"

Cepat Gi-lim berseru pula.

Namun Fifi sudah lantas melayang keluar jendela sambil mengikik tawa.

Ginkang dara cilik itu sangat hebat, Gi-lim merasa tak mampu mengejarnya.

Dengan cemas dan gelisah ia putar balik ke depan ranjang dan berkata.

"Wah, Lenghou-toako, dia ... dia sudah pergi!"

Tapi waktu itu kekuatan obat sedang bekerja, Lenghou Tiong dalam keadaan sadar tak-sadar sehingga tidak menjawabnya.

Saking bingungnya Gi-lim menjadi gemetar.

Selang agak lama barulah ia dapat tenang kembali, cepat ia menutup jendela.

Pikirnya.

"Aku harus lekas-lekas pergi dari sini atau tidak? Apa jadinya bila ada orang melihat aku berada di sini berduaan dengan Lenghou-toako? Tapi ... tapi lukanya begini parah, biarpun seorang anak kecil saja sudah cukup untuk membunuhnya, mana boleh aku meninggalkan dia di sini?"

Dalam kegelapan hanya terdengar di lorong yang sunyi itu terkadang ada suara anjing menggonggong, selain itu keadaan hening lelap.

Penghuni rumah pelacuran itu sudah kabur semua, ia merasa di dunia ini seakan-akan tertinggal Lenghou Tiong seorang saja yang berada di atas ranjang, lain tidak.

Sambil duduk di atas kursi, sedikit pun Gi-lim tidak berani sembarangan bergerak.

Selang agak lama, mulai terdengarlah suara ayam berkokok, fajar sudah hampir tiba.

Gi-lim menjadi kelabakan, pikirnya.

"Jika hari sudah terang, tentu akan ada orang datang ke sini. Wah, lantas bagaimana baiknya?"

Sejak kecil dia sudah cukur rambut dan menjadi Nikoh di bawah asuhan Ting-yat Suthay, maka sedikit pun tiada pengalaman apa-apa.

Dalam keadaan bingung sekarang ia tambah tak berdaya.

Tiba-tiba terdengar suara orang berjalan, ada tiga-empat orang sedang mendatangi dari ujung gang sana.

Dalam keadaan sunyi senyap suara langkah orang-orang itu menjadi terdengar sangat jelas.

Sampai di depan rumah pelacuran itu, orang-orang itu lantas berhenti.

Terdengar seorang di antaranya berkata dengan suara perlahan.

"Kalian berdua periksa sebelah timur sana, kalian berdua akan menggeledah sebelah barat. Jika ketemukan Lenghou Tiong harus ditangkap hidup-hidup. Dia terluka parah, tidak nanti bisa melawan kita."

Memangnya Gi-lim sudah khawatir, didengar pula kedatangan orang-orang itu hendak menangkap Lenghou Tiong, keruan ia tambah takut. Sekilas timbul suatu pikirannya.

"Betapa pun aku harus menyelamatkan Lenghou-toako."

Dengan tekad demikian itu, rasa takutnya lantas lenyap, pikirannya menjadi jernih kembali.

Cepat ia mendekati ranjang, ia gunakan selimut untuk membungkus rapat tubuh Lenghou Tiong dan dipondongnya, lalu perlahan-lahan membuka pintu dan menyelinap keluar.

Dalam keadaan demikian ia tidak dapat membedakan arah lagi, yang dituju adalah jurusan yang berlawanan dengan suara orang-orang tadi.

Dalam sekejap saja ia sudah tiba di sebuah kebun sayur dan sampai di pintu belakang.

Dilihatnya pintu itu setengah terbuka, rupanya orang-orang Kun-giok-ih tadi buru-buru melarikan diri dan tidak sempat menutup kembali pintu itu.

Sambil memondong Lenghou Tiong cepat Gi-lim berlari keluar terus menyusur gang yang kecil dan sepi.

Terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong tambah ramai, namun tanpa pikir ia berlari terus.

Sampai di pinggir benteng kota, ia pikir harus keluar dari kota saja, di dalam kota musuh Lenghou-toako terlalu banyak.

Segera ia menyusur dinding benteng, tidak lama kemudian, tertampak belasan orang desa bergegas-gegas lalu dengan memikul sayur, rupanya adalah tukang-tukang sayur di sekitar kota yang tiap hari berjualan di pasar.

Sambil menunduk Gi-lim bersimpang jalan dengan tukang-tukang sayur itu.

Sampai di pintu kota, cepat sekali ia berlari keluar.

Tatkala itu hari masih remang-remang, prajurit penjaga tidak sempat bertanya, tahu-tahu Gi-lim sudah berlari pergi cukup jauh.

Sekaligus Gi-lim berlari-lari sampai beberapa li jauhnya, yang dituju selalu tanah pegunungan yang sepi.

Sampai akhirnya ia telah berada di suatu gua.

Setelah perasaannya agak tenang, ia coba menunduk memandang Lenghou Tiong.

Ternyata pemuda itu sudah sadar dan sedang tersenyum padanya.

Melihat wajah yang tersenyum-senyum itu, Gi-lim menjadi gugup, tangannya menjadi lemas, hampir-hampir saja ia lepaskan tubuh yang dipondongnya itu.

Namun tidak urung ia pun terhuyung-huyung ke depan.

"Kau sudah lelah, Siausumoay! Silakan mengaso saja dulu,"

Kata Lenghou Tiong.

Gi-lim mengiakan.

Perlahan-lahan ia menaruh Lenghou Tiong di atas tanah.

Ia sendiri pun tidak sanggup berdiri lagi, terus saja ia menjatuhkan diri berduduk dengan napas terengah-engah.

Selang sejenak barulah ia bertanya.

"Bagaimana keadaan lukamu, Lenghou-toako?"

"Sekarang sudah tidak terasa sakit lagi, semuanya ini berkat obatmu yang mustajab itu,"

Puji Lenghou Tiong. Habis ini mendadak ia menghela napas, katanya pula dengan menyesal.

"Cuma sayang aku terluka parah sehingga kena dihina oleh kaum keroco, bahkan hampir-hampir saja kenyang disiksa oleh kawanan keparat dari Jing-sia-pay itu bila aku kena diketemukan mereka tadi."

"Kiranya engkau telah mengikuti semua kejadian tadi?"

Gi-lim menegas.

Demi teringat dirinya tadi memondongnya sambil berlari-lari sekian lamanya, entah sejak kapan pemuda itu sudah sadar dan telah memandang padanya, tanpa merasa wajah Gi-lim menjadi merah.

Lenghou Tiong tidak tahu mengapa Nikoh jelita itu mendadak merasa malu.

Disangkanya mungkin terlalu lelah.

Maka katanya.

"Sumoay, harap kau duduk tenang dan menjalankan pernapasan secara teratur supaya tidak terluka dalam."

Gi-lim mengiakan.

Lalu ia duduk bersila dan mengatur pernapasan sambil pejamkan mata.

Akan tetapi perasaannya menjadi gelisah, betapa pun sukar tenang lagi.

Hanya sebentar saja ia lantas membuka mata dan melirik ke arah Lenghou Tiong.

Begitulah sebentar-sebentar ia membuka mata dan memandang pemuda itu untuk melihat apakah lukanya ada perubahan atau pemuda itu apakah sedang mengintip padanya.

Ketika pandangan ketiga, kebetulan Lenghou Tiong juga lagi menatap padanya.

Keruan ia terkejut.

Sebaliknya Lenghou Tiong lantas terbahak-bahak.

"Ada ... ada apa kau tertawa?"

Tanya Gi-lim dengan kikuk.

"Kau masih terlalu muda, belum sempurna latihanmu bersemadi sehingga sukar memusatkan pikiran,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Sudahlah, kau jangan khawatir. Tenagaku sudah mulai pulih kembali. Andaikan orang-orang Jing-sia-pay itu menyusul kemari juga kita tak perlu takut lagi. Tentu aku akan suruh mereka merasakan ... merasakan gaya belibis jatuh dengan pantat menghadap ke belakang."

"Sudahlah, engkau jangan banyak bicara lagi, silakan mengaso saja,"

Kata Gi-lim.

"Wah, sesungguhnya aku ingin sekali bisa segera berbangkit dan berkunjung ke rumah Lau-susiok untuk melihat keramaian,"

Kata Lenghou Tiong.

"Guruku sampai datang sendiri, kuyakin pasti akan terjadi sesuatu yang gawat."

Melihat bibir pemuda itu sampai kering, matanya cekung, Gi-lim tahu dia tidak sedikit kehilangan darah dan perlu diberi minum sebanyak mungkin. Maka ia lantas berkata.

"Biarlah kupergi mencari air. Tentu kau sangat haus, bukan?"

"Waktu datang tadi kulihat di tepi jalan sebelah timur sana di tengah sawah banyak tumbuh semangka yang sudah masak, silakan kau pergi memetiknya beberapa buah,"

Kata Lenghou Tiong.

"Baiklah,"

Sahut Gi-lim sambil berbangkit. Tapi ketika meraba saku, ternyata tiada sepeser pun. Segera katanya pula.

"Apakah engkau ada uang, Lenghou-toako?"

"Untuk apa?"

Tanya Lenghou Tiong heran.

"Buat beli semangka!"

"Buat apa beli? Petik saja. Toh tiada penduduk di sekitar sini. Penanam semangka itu tentu tinggal sangat jauh dari sini. Kepada siapa kau akan membeli?"

"Mengambil tanpa permisi, itu kan men ... mencuri namanya. Suhu bilang sekali-kali tidak boleh mencuri. Jika tidak punya uang boleh minta sedekah saja. Hanya minta sebuah semangka rasanya mereka pun akan memberi."

"Ai, kau ini ...."

Mestinya Lenghou Tiong hendak mengomelinya, tapi mengingat dia masih terlalu muda, pula telah menolong dirinya dengan mati-matian, maka urunglah mengucapkan omelannya.

Melihat pemuda itu merasa kurang senang, Gi-lim tidak berani membantah lagi.

Segera ia menuju ke jalan tadi.

Kira-kira dua li jauhnya, benar juga tertampak ada beberapa bidang sawah yang penuh tanaman semangka dengan buah semangka yang besar-besar.

Suasana sunyi, hanya suara tonggeret ramai bersahutan di pucuk pohon, sekitar sawah itu ternyata tiada seorang pun.

Bab 20.

Mengambil Tanpa Permisi Namanya kan Mencuri Ia turun ke sawah dan mendekati buah semangka.

Ia menjadi ragu-ragu.

Tangannya sudah menjulur, tapi segera ditarik kembali.

Terbayang olehnya wajah sang guru yang kereng yang telah memberi pesan tentang pantangan-pantangan bagi orang beribadat, terutama dalam hal mencuri.

Akan tetapi segera timbul pula wajah Lenghou Tiong yang pucat dan cekung dengan bibirnya yang kering.

Mendadak ia menjadi nekat, dengan menggigit bibir ia terus betot sebuah semangka sehingga putus dari akarnya.

Pikirnya.

"Untuk menolong jiwa Lenghou-toako terpaksa aku melanggar pantangan dan biarlah aku rela masuk neraka asalkan Lenghou-toako dapat selamat."

Lenghou Tiong adalah seorang pemuda yang berpikiran bebas dan berpandangan luas, ia hanya merasa Nikoh cilik Gi-lim itu masih hijau, tidak tahu seluk-beluk kehidupan manusia.

Sama sekali tak tersangka olehnya bahwa untuk memetik sebuah semangka saja telah terjadi pertentangan batin sedemikian hebatnya dalam benak Nikoh jelita itu.

Maka ia menjadi girang ketika melihat Gi-lim sudah kembali dengan membawa buah semangka.

Pujinya.

"O, Sumoay yang baik, nona yang manis!"

Keruan Gi-lim tergetar demi mendengar pujian yang demikian itu, hampir-hampir saja semangka itu jatuh dari pangkuannya. Lekas-lekas ia memegangnya dengan lebih kencang.

"He, mengapa kau begini gugup? Apakah kau diuber orang karena kau mencuri semangka ini?"

Tanya Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Tidak, aku tidak diuber siapa-siapa,"

Sahut Gi-lim sambil berduduk perlahan-lahan.

Tatkala itu sang surya telah menyingsing di ufuk timur dengan sinarnya yang cerlang-cemerlang, suatu pagi yang cerah dengan hawa yang sejuk.

Gi-lim mencabut pedangnya yang ujungnya sudah patah itu, terpikir olehnya.

"Ilmu silat Dian Pek-kong itu benar-benar sangat hebat, kalau Lenghou-toako tidak menolong aku dengan mati-matian, tentu saat ini aku tidak dapat duduk di sini dengan selamat."

Sekilas dilihatnya kedua mata Lenghou Tiong melekuk cekung, wajahnya pucat. Diam-diam ia membatin.

"Demi dia, biarpun aku lebih banyak berdosa juga takkan menyesal."

Karena pikiran demikian, segera rasa berdosanya lantaran mencuri semangka tadi lantas lenyap semua.

Segera ia memotong semangka dengan pedang kutung itu.

Semangka itu rupanya dari jenis yang bagus, begitu terbelah lantas terendus bau yang harum segar.

"Semangka bagus!"

Puji Lenghou Tiong.

Segera Gi-lim memotong semangka itu menjadi selapis, sesudah dibuang bijinya, lalu sepotong demi sepotong diberikannya kepada Lenghou Tiong yang segera dimakannya dengan nikmat.

Gi-lim merasa senang melihat pemuda itu makan semangka dengan nikmat sekali.

Dilihatnya air semangka menetes dan membasahi lehernya karena Lenghou Tiong makan semangka sambil berbaring, maka untuk selanjutnya Gi-lim mengiris semangka itu menjadi potongan kecil-kecil sehingga air semangka tidak sampai mengalir keluar mulut lagi.

Tapi setiap kali Lenghou Tiong mengulurkan tangan buat menerima semangka selalu meringis menahan sakit, tanpa merasa Gi-lim lantas menyuapi.

Setelah makan hampir separuh buah semangka itu, barulah Lenghou Tiong ingat bahwa Gi-lim sama sekali belum makan, segera ia berkata.

"Kau sendiri pun silakan makan."

"Nanti, biar kau makan secukupnya dulu,"

Sahut Gi-lim.

"Sudah, aku sudah cukup, silakan kau makan saja,"

Kata Lenghou Tiong.

Sesungguhnya Gi-lim memang juga sangat haus, maka setelah menyuapi satu-dua potong lagi ke mulut Lenghou Tiong, kemudian ia pun masukkan sepotong semangka ke dalam mulut sendiri.

Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya, dengan malu ia lantas duduk membelakangi pemuda itu.

"Ah, sungguh sangat indah,"

Demikian tiba-tiba Lenghou Tiong memuji. Gi-lim tambah malu, ia tidak tahu mengapa mendadak pemuda itu memuji keindahannya.

"Coba lihatlah, alangkah bagusnya!"

Terdengar Lenghou Tiong berkata pula.

Waktu Gi-lim sedikit menoleh, tertampak jari pemuda itu menuding ke arah barat.

Ia coba memandang ke arah yang ditunjuk, kiranya di ujung langit di kejauhan sana tertampak lengkung pelangi dengan tata warna yang sangat indah.

Baru sekarang Gi-lim mengetahui bahwa yang dimaksudkan "indah"

Oleh Lenghou Tiong kiranya adalah pelangi, jadi dirinya sendiri yang telah salah wesel.

Kembali ia merasa malu lagi.

Cuma rasa malu sekarang berbeda dengan rasa malu tadi yang mengandung girang-girang kikuk.

"Eh, coba kau dengarkan!"

Kata Lenghou Tiong pula. Waktu Gi-lim mendengarkan dengan cermat, terdengar di arah pelangi sana sayup-sayup ada suara gemercaknya air.

"Ya, seperti suara air terjun,"

Katanya.

"Betul, sehabis hujan, di tanah pegunungan tentu banyak air terjun,"

Kata Lenghou Tiong.

"Marilah kita coba pergi ke sana untuk melihatnya."

Gi-lim tidak tega mengecewakan keinginannya, segera ia memayangnya bangun.

Mendadak wajahnya bersemu merah pula.

Ia menjadi ragu-ragu apakah dirinya sekarang masih harus memondongnya pula?

Mengapa pemuda ini tiba-tiba ingin pergi melihat air terjun, jangan-jangan hanya sebagai alasan saja agar dirinya memondong pula?

Demikian pikirnya.

Tengah ragu-ragu, tiba-tiba Lenghou Tiong menjemput sebatang kayu di sebelahnya dan digunakan sebagai tongkat, lalu berjalan perlahan-lahan ke depan.

Nyata kembali Gi-lim salah wesel lagi.

Cepat ia memburu maju untuk memegangi badan pemuda itu sambil mengomeli dirinya sendiri yang suka berpikir tak keruan, padahal Lenghou-toako adalah seorang kesatria sejati, mana boleh disamaratakan dengan kelakuan Dian Pek-kong yang jahat itu?

Lenghou Tiong benar-benar seorang pemuda yang kuat.

Lukanya itu baru selang dua hari, tapi sekarang dia sudah dapat berjalan, walaupun langkahnya belum mantap, tapi cukup kuat untuk bertahan.

Tidak seberapa lama, Gi-lim mengajaknya mengaso dan duduk di atas sepotong batu besar.

"Di sini juga boleh, apakah kau harus pergi melihat air terjun?"

Tanyanya.

"Dasar aku memang kepala batu, apa yang kupikir tentu harus kukerjakan,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Baiklah, pemandangan yang indah di sana itu mungkin akan membantu mempercepat sembuhnya lukamu,"

Ujar Gi-lim.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan.

Sesudah melintasi sebuah tanjakan, terdengarlah suara gemerujuknya air terjun yang makin keras.

Sesudah menyusur pula sebuah hutan akhirnya tertampaklah sebuah air terjun dengan airnya yang putih laksana dituang dari atas langit.

"Di puncak Giok-li-hong di atas Hoa-san kami juga terdapat sebuah air terjun yang hampir sama dengan air terjun ini,"

Tutur Lenghou Tiong.

"Di waktu iseng Sumoayku suka menyeret aku berlatih pedang di depan air terjun itu. Dengan nakal terkadang dia terus menerobos ke balik air terjun. Beberapa kali ia pun minta aku berlatih pedang dengan dia di bawah air terjun itu, katanya tenaga air yang dituang dari atas itu akan dapat memperkuat daya permainan pedang. Kami sering basah kuyup tersiram oleh air terjun, bahkan pernah hampir-hampir terperosok ke dalam kolam air yang dalam itu."

Mendengar pemuda itu menyinggung Sumoaynya, mendadak Gi-lim sadar sebabnya Lenghou Tiong berkeras ingin datang ke tempat air terjun itu rasanya bukanlah untuk menikmati pemandangannya, tapi adalah untuk mengenangkan sang Sumoay.

Segera ia tanya.

"Kau mempunyai berapa orang Sumoay?"

"Hoa-san-pay kami seluruhnya ada tujuh orang murid wanita,"

Tutur Lenghou Tiong.

"Leng-sian Sumoay adalah putri Suhu sendiri, enam Sumoay yang lain adalah murid ibu-guru kami."

"O, kiranya dia adalah putri Gak-supek. Tentu dia ... dia sangat baik padamu?"

Perlahan-lahan Lenghou Tiong berduduk, lalu menjawab.

"Aku adalah anak yatim piatu, 13 tahun yang lalu aku telah diterima oleh Suhu yang berbudi. Tatkala itu Leng-sian Sumoay baru berumur lima tahun. Aku lebih tua daripada dia, sering kali aku membawanya pergi mencari buah-buahan dan menangkap kelinci. Jadi kami boleh dikata dibesarkan bersama. Suhu tidak punya anak laki-laki sehingga aku dianggap sebagai putranya sendiri dan Leng-sian Sumoay juga sama seperti adikku sendiri."

"O, kiranya demikian,"

Kata Gi-lim. Selang sejenak, ia berkata pula.

"Aku pun seorang anak yatim piatu, sejak kecil aku sudah menjadi Nikoh di bawah asuhan Suhu."

"Sayang, sayang! Jika kau tidak menjadi murid Ting-yat Suthay, tentu aku dapat mohon kepada ibu-guru agar suka menerima kau sebagai murid dan Leng-sian Sumoay tentu akan sangat suka pula kepadamu."

"Cuma sayang aku tidak punya rezeki sebesar itu. Namun aku pun merasa bahagia tinggal di Pek-hun-am, Suhu dan para Suci juga sangat baik padaku."

"O, ya, ya! Aku yang salah bicara. Ilmu pedang Ting-yat Susiok sangat lihai, Suhu sendiri sering memuji beliau. Masakah Hing-san-pay kalah daripada Hoa-san-pay kami?"

"Lenghou-toako,"

Tiba-tiba Gi-lim bertanya.

"Tempo hari kau bilang kepada Dian Pek-kong, katanya bertempur dengan berdiri Dian Pek-kong terhitung jago nomor 14 dan Gak-supek adalah nomor 6. Lalu Suhuku terhitung nomor berapa?"

"Ah, aku kan cuma menipu Dian Pek-kong saja, masakah kau percaya sungguh-sungguh?"

Sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Tinggi atau rendahnya ilmu silat setiap orang selalu mengalami perubahan, ada yang semakin maju, ada yang sudah mundur karena lanjut usianya, mana ada patokan yang menentukan siapa lebih tinggi dan siapa nomor sekian? Ilmu silat Dian Pek-kong itu memang tinggi, tapi belum tentu dia dapat dihitung sebagai jago nomor 14 di dunia ini. Aku hanya sengaja mengumpak dia agar dia senang."

"O, kiranya kau cuma membohongi dia saja,"

Kata Gi-lim. Untuk sejenak ia termangu-mangu memandangi air terjun. Kemudian ia bertanya pula.

"Lenghou-toako, apakah kau sering membohongi orang?"

"Haha, untuk itu kita harus melihat keadaan,"

Sahut Lenghou Tiong tertawa.

"Yang perlu dibohongi harus dibohongi, yang tidak boleh dibohongi jangan sekali-kali berbohong padanya. Seperti Suhu dan Subo (ibu-guru), biarpun mereka hendak memotong kepalaku juga aku juga tidak berani membohongi mereka."

"Dan bagaimana dengan Sute atau Sumoaymu? Misalnya ... misalnya kau punya Leng-sian Sumoay, apakah kau suka membohongi dia?"

"Ah, itu harus melihat keadaan dan mengenai soal apa? Di antara sesama saudara seperguruan kami sering saling berkelakar. Bergurau tanpa tipu-menipu dan bohong-membohongi tentu akan kurang menarik. Terhadap ... terhadap Leng-sian Sumoay, bila mengenai urusan penting, sudah tentu aku takkan membohongi dia. Tapi di waktu bermain dan bergurau sudah tentu tak terhindar dari tipu-menipu."

Selama Gi-lim tinggal di Pek-hun-am, karena harus taat kepada agama dan tata tertib perguruan, maka hidupnya sangat sederhana dan kaku, di antara para Sucinya juga tak pernah bersenda gurau, walaupun satu sama lain saling mencintai.

Maka ia menjadi sangat tertarik dan merasa kagum terhadap sesama murid Hoa-san-pay yang gembira ria sebagaimana yang diceritakan Lenghou Tiong, sungguh ia ingin sekali dapat berkunjung ke Hoa-san dan bergaul dengan mereka.

Tapi bila teringat kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini, boleh jadi sesudah pulang sang guru takkan mengizinkan keluar kuil lagi, maka hasratnya ingin datang ke Hoa-san hanya menjadi lamunan belaka.

Andaikan sudah bergaul, tapi kalau Lenghou-toako senantiasa cuma mendampingi dia punya Leng-sian Sumoay, lalu aku tertinggal sendirian dan siapa yang akan mengawani aku?

Berpikir demikian, hatinya menjadi pilu dan hampir-hampir meneteskan air mata.

Rupanya Lenghou Tiong tidak memerhatikan perubahan Gi-lim itu, dia masih memandang ke arah air terjun dan berkata.

"Aku dan Leng-sian Sumoay memang sedang meyakinkan semacam Kiam-hoat dengan bantuan tenaga air terjun yang mencurah dari atas itu. Kami anggap tenaga air itu sebagai tenaga dalam serangan musuh, bukan saja kami harus menghalaukan tenaga dalam musuh, bahkan kami harus memperalat kembali tenaga musuh untuk menghantam musuh sendiri. Ilmu pedang kami itu takkan kelihatan daya serangannya terhadap lawan yang berkepandaian rendah, sebaliknya akan besar manfaatnya bila menghadapi musuh yang bertenaga dalam yang mahakuat."

Melihat pemuda itu bercerita dengan gembira, Gi-lim tidak ingin membuatnya kecewa. Ia hanya tanya.

"Dan kalian berhasil meyakinkan ilmu pedang itu belum?"

"Belum, belum!"

Sahut Lenghou Tiong.

"Apa kau sangka gampang untuk menciptakan sesuatu ilmu pedang?"

"Apa namanya ilmu pedang kalian itu?"

Tanya Gi-lim perlahan.

"Ah, mestinya tak dapat diberi nama apa-apa, tapi Leng-sian Sumoay berkeras ingin memberikan suatu nama, dia menyebutnya 'Tiong-leng-kiam-hoat', yaitu diambil dari nama kami masing-masing satu huruf."

"Tiong-leng-kiam-hoat? Ehm, nama ini mengandung namamu dan namanya, bila diturunkan di kemudian hari setiap orang akan tahu ilmu pedang ini adalah ciptaan kalian ... kalian berdua."

"Ah, hanya gara-gara Leng-sian Sumoay saja, padahal dengan kemampuan kami masakan dapat menciptakan ilmu pedang apa segala? Hendaklah jangan sekali-kali kau katakan kepada orang lain supaya tidak dijadikan bahan lelucon orang Kangouw."

"Baiklah, tentu takkan kukatakan pada orang lain,"

Sahut Gi-lim. Sesudah merandek sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tersenyum.

"Tapi ilmu pedang ciptaanmu sudah lebih dulu diketahui oleh orang lain."

"Apa ya?"

Lenghou Tiong terkesiap.

"Apakah Leng-sian Sumoay pernah beri tahukan kepada orang lain?"

Gi-lim tertawa, katanya.

"Kau sendirilah yang telah beri tahukan Dian Pek-kong. Bukankah kau mengatakan kau telah menciptakan semacam ilmu pedang penusuk lalat pada saat berjongkok di kakus?"

"Hahahaha! Aku sengaja membual saja padanya, tapi kau ternyata masih terus mengingat-ingatnya ... auuuuh!"

Demikian mendadak Lenghou Tiong mengerut kening, karena tertawa sehingga lukanya kesakitan.

"Ai, semuanya salahku sehingga membikin lukamu kesakitan lagi. Janganlah kau bicara pula, silakan mengaso saja secara tenang,"

Seru Gi-lim gugup. Lenghou Tiong lantas pejamkan mata. Tapi hanya sebentar saja kembali ia melek lagi. Katanya.

"Tadinya kukira pemandangan di sini tentu sangat indah, tapi setiba di sini malahan tidak dapat menyaksikan pelangi yang bagus tadi."

"Pelangi mempunyai keindahan sebagai pelangi, air terjun juga mempunyai keindahan air terjun sendiri,"

Ujar Gi-lim.

"Ya, betul juga ucapanmu. Di dunia ini mana ada sesuatu yang sempurna. Sesuatu yang dicari oleh seseorang dengan susah payah, sesudah diperoleh tentu akan merasakan kiranya juga cuma begini saja. Sebaliknya barang yang dimilikinya semula malah sudah dibuang olehnya."

"Ucapan ini terasa mengandung filsafat orang hidup, Lenghou-toako,"

Kata Gi-lim dengan tertawa.

"Sayang pengetahuanku terlalu cetek sehingga tidak paham artinya yang dalam."

"Ah, masakah aku tahu filsafat apa segala?"

Ujar Lenghou Tiong sambil menghela napas.

"Uh, alangkah lelahnya!"

Lalu perlahan-lahan ia pejamkan mata, lambat laun lantas terpulas.

Gi-lim duduk di sampingnya dan menghalaukan lalat atau serangga kecil yang mengganggunya.

Kira-kira sejam lamanya, ia pikir sebentar bila Lenghou-toako sudah mendusin tentu akan merasa lapar.

Di sini tiada yang dapat dimakan, biarlah kupergi memetik dua buah semangka pula yang dapat dibuat tangsel perut dan mencegah dahaga.

Maka dengan langkah cepat ia mendatangi sawah semangka pula, ia petik dua buah semangka dan buru-buru kembali untuk menjaga di samping Lenghou Tiong.

"Kukira kau sudah pulang,"

Demikian tiba-tiba Lenghou Tiong membuka mata dengan tersenyum.

"Mengira aku pulang?"

Gi-lim menegas heran.

"Ya, bukankah Suhu dan para Sucimu sedang mencari kau? Mereka tentu sangat mengkhawatirkan dirimu."

Sebenarnya Gi-lim tak teringat akan soal itu, demi mendengar ucapan Lenghou Tiong, ia menjadi gelisah juga. Pikirnya.

"Bila ketemu Suhu besok, entah beliau akan marah padaku atau tidak?"

"Siausumoay, sungguh aku sangat berterima kasih, kau yang telah menyelamatkan jiwaku. Sekarang aku sudah tidak berhalangan lagi, kau boleh lekas pulang saja,"

Kata Lenghou Tiong pula.

"Tidak, mana boleh kutinggalkan kau sendiri di tanah pegunungan sepi begini?"

Ujar Gi-lim.

"Setiba di rumah Lau-susiok, diam-diam boleh kau beritakan kepada para Suteku dan tentu mereka akan datang kemari untuk menjaga diriku,"

Kata Lenghou Tiong.

Perasaan Gi-lim menjadi pedih, ia pikir kiranya Lenghou-toako ingin kedatangan Sumoaynya, makanya aku diharapkan lekas pergi saja.

Tanpa merasa air matanya lantas bercucuran.

Lenghou Tiong menjadi heran, tanyanya cepat.

"He, ken ... kenapa kau menangis? Apakah kau takut akan dimarahi Suhumu?"

Gi-lim menggeleng-geleng.

"Ah, barangkali kau khawatir kepergok Dian Pek-kong lagi? Jangan takut, selanjutnya dia pasti tidak berani merecoki kau lagi. Bila melihat kau, tentu dia sendiri yang akan lari terbirit-birit."

Tapi kembali Gi-lim geleng-geleng kepala. Lenghou Tiong menjadi bingung. Tiba-tiba dilihatnya semangka yang baru dipetiknya itu, seketika ia sadar dan berkata pula.

"O, tentu kau merasa berdosa karena kau telah melanggar larangan agama bagiku, bukan? Tapi itu adalah dosaku dan tiada sangkut pautnya dengan kau."

Namun Gi-lim tetap menggeleng-geleng saja, air matanya menetes semakin deras. Melihat tangis Gi-lim yang semakin menjadi itu, Lenghou Tiong tambah tidak mengerti, katanya pula.

"Baiklah, mungkin aku telah salah omong. Biarlah aku minta maaf padamu saja, Siausumoay, harap engkau jangan marah."

Perasaan Gi-lim rada lega mendengar ucapan yang halus itu. Tapi lantas terpikir olehnya.

"Rupanya dia sudah biasa merendah diri dan minta maaf kepada Sumoaynya, maka sekarang sekenanya ia pun ucapkan padaku."

Mendadak ia menangis lebih sedih dan berkata sambil membanting kaki.

"Aku ... aku toh bukan Sumoaymu ...."

Tapi lantas teringat olehnya sebagai seorang Nikoh adalah tidak pantas mengomel dengan kata-kata demikian itu.

Seketika wajahnya menjadi merah dan lekas-lekas berpaling ke arah lain.

Sekilas Lenghou Tiong melihat muka Gi-lim berubah merah dengan air matanya masih meleleh, dalam sekejap tampaknya menjadi mirip butiran embun yang belum kering di atas kelopak bunga mawar di musim semi, cantiknya sukar dilukiskan.

Untuk sejenak Lenghou Tiong tertegun, ia merasa kecantikan Gi-lim ternyata tidak kalah daripada Sumoaynya, si Leng-sian.

Katanya kemudian.

"Usiamu jauh lebih muda daripadaku, sesama orang Ngo-gak-kiam-pay kita dengan sendirinya kau adalah Siausumoay. Adakah sesuatu kesalahanku sehingga membikin kau marah, maukah kau katakan padaku?"

"Kau tidak bersalah apa-apa,"

Sahut Gi-lim.

"Kutahu kau ingin aku lekas-lekas pergi dari sini agar tidak membikin muak padamu, supaya tidak membikin sial seperti pernah kau katakan 'asal melihat Nikoh, bila berjudi tentu kalah ....'"

Sampai di sini kembali ia menangis lagi. Lenghou Tiong menjadi geli sendiri, pikirnya.

"Kiranya dia merasa tersinggung karena ucapanku yang tak pantas di Cui-sian-lau itu. Ya, untuk ini aku memang harus minta maaf."

Segera ia pun berkata.

"Ya, memang mulutku tidaklah bersih sehingga apa yang kukatakan di Cui-sian-lau tempo hari telah menyinggung kehormatan Hing-san-pay kalian. Aku pantas dihajar, pantas dipukul!"

Lalu ia angkat tangan dan menampar pipinya sendiri beberapa kali.

"Jangan, jangan kau tampar sendiri lagi, aku ... aku tidak marah padamu, aku hanya khawatir ... khawatir membikin sial padamu,"

Cepat Gi-lim mencegah.

"Tidak, harus dihajar adat!"

Seru Lenghou Tiong dan "plak", kembali ia tampar pipi sendiri satu kali pula.

"Sudahlah, Lenghou-toako, aku tidak ... tidak marah lagi,"

Kata Gi-lim gugup.

"Kau menyatakan tidak marah lagi?"

Lenghou Tiong menegas. Gi-lim manggut-manggut.

"Tapi kau belum tertawa, terang kau masih marah,"

Ujar Lenghou Tiong.

Terpaksa Gi-lim tertawa.

Tapi mendadak teringat kepada nasibnya sendiri, hatinya menjadi pilu, tanpa merasa air matanya berlinang-linang lagi.

Cepat ia berpaling ke arah lain.

Melihat Nikoh jelita itu masih menangis, mendadak Lenghou Tiong menghela napas panjang.

Perlahan-lahan Gi-lim berhenti menangis, tanyanya dengan suara lirih.

"Ken ... kenapa engkau menghela napas?"

Diam-diam Lenghou Tiong geli.

Ia pikir dasar nona cilik yang masih hijau sehingga gampang ditipu.

Biasanya di kala dia bermain dengan Leng-sian, bila sang Sumoay mengambek dan tak mau gubris padanya, maka Lenghou Tiong lantas mencari akal untuk memancing anak dara itu membuka suara.

Bila tetap tak digubris, ia lantas berdaya upaya dan berlagak sesuatu yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu sang Sumoay sehingga anak dara itu berbalik menanya lebih dulu padanya.

Selama hidup Gi-lim jarang bergaul dengan orang luar, tak pernah mengambek dan muring-muring, maka dengan gampang saja ia kena dipancing oleh Lenghou Tiong.

Namun dengan sengaja Lenghou Tiong menghela napas pula dan berpaling ke arah lain tanpa menjawab.

"Apakah kau marah, Lenghou-toako?"

Tanya Gi-lim pula.

"Ah, tidak, aku tidak apa-apa,"

Sahut Lenghou Tiong.

Melihat sikap Lenghou Tiong itu, Gi-lim menjadi gugup.

Ia tidak tahu bahwa Lenghou Tiong hanya pura-pura saja dan di dalam perut pemuda itu sedang terpingkal-pingkal geli.

Segera Gi-lim bertanya pula.

"Akulah yang salah sehingga kau memukuli dirimu sendiri, biarlah aku ... aku membayar kembali pukulanmu itu."

Habis berkata mendadak ia pun menampar pipinya sendiri.

Waktu ia akan menampar pula, cepat Lenghou Tiong bangun berduduk untuk memegang tangan Gi-lim.

Tapi sekali bergerak, seketika ia merintih kesakitan.

"Ai, lekas berbaring, lekas! Jangan sampai lukamu pecah lagi,"

Kata Gi-lim dengan khawatir sambil membantu merebahkan Lenghou Tiong, lalu ia menyesali dirinya sendiri.

"Aku benar-benar sangat bodoh, berbuat segala apa selalu salah. Apakah ... apakah engkau masih kesakitan, Lenghou-toako?"

Tempat luka Lenghou Tiong itu memang terasa sakit, jika keadaan biasa tentu dia takkan mengaku.

Sekarang mendadak timbul akalnya untuk memancing supaya Gi-lim yang menangis itu berubah menjadi tertawa.

Maka sengaja ia mengernyit kening sambil merintih-rintih pula beberapa kali.

Keruan Gi-lim menjadi khawatir.

"Apakah sangat sakit?"

Tanyanya sambil meraba jidat pemuda itu.

"Ya, sakit sekali,"

Sahut Lenghou Tiong sambil pura-pura meringis.

"Alangkah baiknya bila ... bila Laksute juga berada di sini."

"Ada apa? Dia punya obat?"

Tanya Gi-lim.

"Ya, obatnya adalah dia punya mulut,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Dahulu bila aku terluka dan kesakitan, Lak-kau-ji selalu menghibur aku dengan macam-macam lelucon yang menggelikan, dengan demikian aku lantas lupa akan rasa sakit. Sayang dia tidak berada di sini. O, sakit ... sungguh sakit sekali!"

Gi-lim menjadi serbasusah.

Selama berguru kepada Ting-yat Suthay, tugas yang dilakukannya setiap hari adalah sembahyang dan membaca kitab, semadi dan main pedang, selamanya juga jarang mengobrol, jangankan lagi bergurau dan tertawa.

Sekarang Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji yang dikatakan pintar mendongeng dan melucu itu tidak berada di sini, bila dirinya yang harus melucu, wah, ini benar-benar mahasulit baginya.

Mendadak pikirannya tergerak, teringat sesuatu olehnya.

Segera ia berkata.

"Lenghou-toako, aku sih tidak bisa melucu, cuma aku pernah membaca suatu kitab yang isinya sangat menarik, nama kitab itu adalah 'kitab seratus dongeng'. Di dalamnya banyak cerita-cerita yang lucu."

"Baiklah, harap engkau menceritakan beberapa bagian yang lucu-lucu itu,"

Pinta Lenghou Tiong yang memang sengaja memancing agar Nikoh jelita itu berbicara. Untuk sejenak Gi-lim mengingat-ingat, lalu ia mulai bercerita dengan tersenyum.

"Baiklah, lebih dulu aku akan bercerita tentang seorang gundul dan seorang petani. Si gundul itu adalah pembawaan, sejak lahir kepalanya sudah kelimis, jadi bukan dicukur seperti kami di kala menjadi Nikoh. Entah urusan apa si gundul telah cekcok dengan petani itu. Dengan marah petani itu telah mengetok kepala gundul dengan paculnya sehingga berdarah. Akan tetapi si gundul tidak melawan dan tidak menghindar, dia terima dipukul, bahkan tertawa malah. Orang lain merasa heran dan tanya dia mengapa tertawa malah. Si gundul menjawab, 'Petani itu adalah orang tolol, kepalaku yang gundul ini disangkanya sepotong batu, maka ia menggunakan paculnya untuk mengetok batu. Jika aku menghindar, bukankah akan membikin dia berubah menjadi pintar?'"

Sampai di sini Lenghou Tiong telah bergelak tertawa. Katanya.

"Cerita bagus! Si gundul itu benar-benar sangat pintar, biarpun dipukul mampus juga dia takkan menghindar."

Melihat Lenghou Tiong tertawa senang, segera Gi-lim menyambung pula.

"Sekarang akan kuceritakan pula tentang seorang raja dan seorang tabib. Watak raja itu tidak sabaran, dia mempunyai seorang putri kecil, tapi sangat ingin dibesarkan dengan cepat. Maka telah dipanggilnya seorang tabib dan diperintahkan memberi suatu resep obat yang dapat membuat sang putri segera menjadi besar. Tabib itu menyatakan ada obatnya, tapi untuk mengumpulkan bahan-bahan obat dan meraciknya diperlukan waktu yang lama, ia sanggup membawa sang putri ke rumah dan membesarkannya asalkan raja tidak mendesaknya agar resep obat itu harus lekas selesai. Raja menerima baik usul itu. Sang putri lantas dibawa pulang oleh si tabib dan setiap beberapa hari memberi laporan kepada raja bahwa obatnya sudah mulai dikumpulkan dan diracik. Selang 12 tahun kemudian, tabib memberi lapor bahwa obat mukjizat sudah jadi dan hari ini juga sudah diminumkan kepada sang putri. Segera sang putri dibawa menghadap raja. Sungguh senang raja tak terkatakan ketika melihat putrinya yang tadinya masih bayi sekarang sudah sedemikian besarnya. Ia memuji kepandaian tabib itu yang benar-benar telah melaksanakan tugasnya dengan baik, segera raja memberikan hadiah besar kepada sang tabib."

Kembali Lenghou Tiong tertawa, katanya.

"Kau bilang raja itu tidak sabaran, padahal dia sudah menunggu 12 tahun lamanya. Bila aku menjadi tabib itu, cukup satu hari saja aku sudah dapat menjadikan putri bayi itu menjadi putri dewasa yang cantik jelita."

"Dengan cara bagaimana? Apakah engkau bisa menyulap?"

Tanya Gi-lim dengan mata membelalak lebar.

"Gampang sekali caranya, asalkan kau mau membantu,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Aku membantu?"

Gi-lim menegas.

"Ya, segera aku membawa pulang putri bayi itu dan memanggil empat orang tukang menjahit ...."

"Tukang menjahit? Untuk apa?"

Gi-lim bertambah heran.

"Untuk menjahit pakaian secara kilat. Akan kusuruh mereka membuatkan pakaian bagus bagimu. Besoknya pagi-pagi dengan kopiah keputrian berhias mutiara, berbaju sulam yang baru, dengan sepatu berbingkai batu permata, lalu akan kubawa engkau menghadap raja. Tentu raja akan sangat girang melihat putrinya yang cantik laksana bidadari hanya dalam semalam saja sudah berubah sedemikian besarnya sesudah makan obat dari tabib sakti Lenghou Tiong. Saking gembiranya beliau tentu tidak periksa lagi apakah putrinya itu tulen atau palsu dan pasti si tabib sakti Lenghou Tiong akan diberi anugerah besar."

Gi-lim tertawa geli selesai Lenghou Tiong bicara, saking gelinya ia sampai menungging dan memegangi perut sendiri. Selang sejenak barulah dia dapat bicara.

"Kau memang jauh lebih cerdik daripada tabib dalam dongeng itu. Cuma sayang, wajahku sedemikian ... sedemikian jelek, sedikit pun tidak mirip seorang putri."

"Jika kau dianggap jelek, maka di dunia ini tidak ada wanita cantik lagi,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Padahal sejak dulu sampai sekarang rasanya tiada seorang putri yang dapat membandingi kecantikanmu. Sungguh aku ...."

Mendadak ia merasa tidak pantas bicara demikian kepada seorang Nikoh muda belia yang suci bersih itu, padahal mengajaknya bersenda gurau saja sudah melanggar pantangan agama mereka, apalagi sekarang dirinya sembarangan omong.

Maka ia urung meneruskan, ia pura-pura menguap mengantuk.

"Ah, engkau sudah lelah, Lenghou-toako,"

Kata Gi-lim.

"Silakan kau mengaso saja."

"Baiklah,"

Kata Lenghou Tiong.

"Dongenganmu ternyata sangat manjur, sekarang lukaku tidak sakit lagi."

Karena maksud tujuannya membikin Gi-lim bicara dan tertawa sudah tercapai, maka ia lantas pejamkan mata dan mengumpulkan tenaga.

Saking isengnya menunggui Lenghou Tiong, ditambah suasana yang sunyi dengan angin sayup-sayup, Gi-lim menjadi lelah sendiri dan merasa mengantuk, akhirnya ia terpulas sambil berduduk.

Dalam mimpi ia merasa dirinya benar-benar telah memakai jubah putri raja yang mewah, dengan dituntun oleh seorang pemuda ganteng sebagai Lenghou Tiong mereka masuk ke sebuah istana yang besar dan megah.

Mendadak muncul seorang Nikoh tua dengan pedang terhunus dan mata melotot merah, itulah Suhunya, Ting-yat Suthay.

Saking takutnya cepat-cepat Gi-lim menarik lengan Lenghou Tiong untuk melarikan diri, tapi tarikannya telah mengenai tempat kosong, seketika suasana menjadi gelap gulita dan dirinya terjatuh.

Saking kagetnya Gi-lim sampai berteriak-teriak.

"Lenghou-toako!"

Tapi mendadak ia terjaga bangun dan ternyata hanya impian belaka. Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya dengan mata terbelalak lebar. Gi-lim jadi kikuk sendiri dengan wajah merah.

"Kau bermimpi?"

Tanya Lenghou Tiong. Gi-lim merasa serbasalah untuk menjawab. Sekilas air muka Lenghou Tiong tertampak sangat aneh, seperti sedang menahan rasa sakit. Cepat ia tanya.

"Apakah lukamu sangat kesakitan?"

"Ya, rada-rada sakit!"

Sahut Lenghou Tiong, namun suaranya kedengaran agak gemetar. Selang sejenak keringat pun merembes di dahinya. Terang sekali rasa sakitnya pasti tidak kepalang. Tentu saja Gi-lim sangat khawatir.

"Wah, bagaimana ini?"

Demikian ia menjadi kelabakan sendiri.

Ia mengeluarkan saputangan untuk mengusap keringat Lenghou Tiong.

Terasa dahi pemuda itu sangat panas sebagai dibakar.

Dari Suhunya, Gi-lim pernah mendengar bila seorang menjadi demam karena terluka senjata, maka keadaannya menjadi berbahaya.

Saking cemasnya tanpa merasa Gi-lim terus sembahyang dan berdoa.

Semula suaranya agak gemetar, tapi lambat laun perasaannya mulai tenang sehingga suara sembahyangnya kedengaran sangat nyaring dan jelas, penuh kepercayaan.

Semula Lenghou Tiong merasa geli melihat kelakuan Gi-lim itu.

Tapi sesudah mengikuti doa khotbah yang khidmat dan mohon Buddha memberi berkah baginya itu, mau tak mau ia menjadi terharu dan mengembeng air mata.

Sejak kecil Lenghou Tiong sudah yatim piatu, walaupun Suhu dan Subo sangat baik padanya, namun dia sendiri kelewat nakal, maka dia lebih sering dihajar daripada mendapatkan belaian kasih sayang.

Para Sutenya menghormatinya karena dia adalah Toasuheng.

Walaupun Leng-sian sangat baik padanya, tapi tidak begitu memerhatikan dia seperti Gi-lim sekarang ini yang sudi menanggung segala penderitaan di dunia ini asalkan dia selamat dan hidup bahagia.

Sifat Lenghou Tiong sukalah bergurau, kecuali guru dan ibu-gurunya, tiada orang lain lagi yang diindahkan olehnya.

Sekarang melihat Gi-lim bersembahyang sedemikian khidmat baginya, sungguh ia tidak tahu betapa terima kasihnya kepada Nikoh jelita itu.

Suara sembahyang Gi-lim itu makin lama makin merdu dan enak didengar, Lenghou Tiong merasa terharu dan terhibur pula.

Tanpa merasa demamnya menjadi berkurang, akhirnya dia terpulas di tengah suara doa Gi-lim yang halus itu.

Jika suasana di tanah pegunungan itu aman tenteram, sebaliknya di rumah Lau Cing-hong di kota Heng-san, di mana telah berkumpul berbagai jago silat dari berbagai aliran dan golongan sedang terjadi pertarungan sengit.

Sesudah Gak Put-kun menerima Lim Peng-ci sebagai muridnya, bersama anak muridnya mereka lantas menuju ke Heng-san.

Ketika mendapat kabar, Lau Cing-hong terkejut dan bergirang pula.

Tak tersangka olehnya bahwa tokoh yang termasyhur di dunia persilatan sebagai "Kun-cu-kiam"

Gak Put-kun itu juga berkunjung sendiri ke tempatnya.

Bersama Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay, Ih Jong-hay dan lain-lain, cepat ia menyambut keluar dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih.

Gak Put-kun adalah seorang yang ramah tamah, dengan berseri-seri ia pun mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong.

Lalu sang tamu disilakan masuk ke dalam rumah.

Sebagai orang yang berdosa, diam-diam Ih Jong-hay merasa tidak enak.

Pikirnya.

"Rasanya Lau Cing-hong takkan mendapat kehormatan sebesar ini sehingga ketua Hoa-san-pay sudi berkunjung padanya, tentu kedatangannya ini ditujukan kepadaku. Biarpun Ngo-gak-kiam-pay mereka berjumlah lebih banyak, tapi Jing-sia-pay kami juga bukan golongan yang gampang dihina. Bila Gak Put-kun berani mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, biarlah lebih dulu aku akan tanya dia perbuatan macam apa muridnya yang bernama Lenghou Tiong itu masuk rumah pelacuran dan main perempuan? Jika tiada persesuaian paham, kalau perlu biarlah main senjata saja."

Ia turun ke sawah dan mendekati buah semangka.

Ia menjadi ragu-ragu.

Tangannya sudah menjulur, tapi segera ditarik kembali.

Terbayang olehnya wajah sang guru yang kereng yang telah memberi pesan tentang pantangan-pantangan bagi orang beribadat, terutama dalam hal mencuri.

Akan tetapi segera timbul pula wajah Lenghou Tiong yang pucat dan cekung dengan bibirnya yang kering.

Mendadak ia menjadi nekat, dengan menggigit bibir ia terus betot sebuah semangka sehingga putus dari akarnya.

Pikirnya.

"Untuk menolong jiwa Lenghou-toako terpaksa aku melanggar pantangan dan biarlah aku rela masuk neraka asalkan Lenghou-toako dapat selamat."

Lenghou Tiong adalah seorang pemuda yang berpikiran bebas dan berpandangan luas, ia hanya merasa Nikoh cilik Gi-lim itu masih hijau, tidak tahu seluk-beluk kehidupan manusia.

Sama sekali tak tersangka olehnya bahwa untuk memetik sebuah semangka saja telah terjadi pertentangan batin sedemikian hebatnya dalam benak Nikoh jelita itu.

Maka ia menjadi girang ketika melihat Gi-lim sudah kembali dengan membawa buah semangka.

Pujinya.

"O, Sumoay yang baik, nona yang manis!"

Keruan Gi-lim tergetar demi mendengar pujian yang demikian itu, hampir-hampir saja semangka itu jatuh dari pangkuannya. Lekas-lekas ia memegangnya dengan lebih kencang.

"He, mengapa kau begini gugup? Apakah kau diuber orang karena kau mencuri semangka ini?"

Tanya Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Tidak, aku tidak diuber siapa-siapa,"

Sahut Gi-lim sambil berduduk perlahan-lahan.

Tatkala itu sang surya telah menyingsing di ufuk timur dengan sinarnya yang cerlang-cemerlang, suatu pagi yang cerah dengan hawa yang sejuk.

Gi-lim mencabut pedangnya yang ujungnya sudah patah itu, terpikir olehnya.

"Ilmu silat Dian Pek-kong itu benar-benar sangat hebat, kalau Lenghou-toako tidak menolong aku dengan mati-matian, tentu saat ini aku tidak dapat duduk di sini dengan selamat."

Sekilas dilihatnya kedua mata Lenghou Tiong melekuk cekung, wajahnya pucat. Diam-diam ia membatin.

"Demi dia, biarpun aku lebih banyak berdosa juga takkan menyesal."

Karena pikiran demikian, segera rasa berdosanya lantaran mencuri semangka tadi lantas lenyap semua.

Segera ia memotong semangka dengan pedang kutung itu.

Semangka itu rupanya dari jenis yang bagus, begitu terbelah lantas terendus bau yang harum segar.

"Semangka bagus!"

Puji Lenghou Tiong.

Segera Gi-lim memotong semangka itu menjadi selapis, sesudah dibuang bijinya, lalu sepotong demi sepotong diberikannya kepada Lenghou Tiong yang segera dimakannya dengan nikmat.

Gi-lim merasa senang melihat pemuda itu makan semangka dengan nikmat sekali.

Dilihatnya air semangka menetes dan membasahi lehernya karena Lenghou Tiong makan semangka sambil berbaring, maka untuk selanjutnya Gi-lim mengiris semangka itu menjadi potongan kecil-kecil sehingga air semangka tidak sampai mengalir keluar mulut lagi.

Tapi setiap kali Lenghou Tiong mengulurkan tangan buat menerima semangka selalu meringis menahan sakit, tanpa merasa Gi-lim lantas menyuapi.

Setelah makan hampir separuh buah semangka itu, barulah Lenghou Tiong ingat bahwa Gi-lim sama sekali belum makan, segera ia berkata.

"Kau sendiri pun silakan makan."

"Nanti, biar kau makan secukupnya dulu,"

Sahut Gi-lim.

"Sudah, aku sudah cukup, silakan kau makan saja,"

Kata Lenghou Tiong.

Sesungguhnya Gi-lim memang juga sangat haus, maka setelah menyuapi satu-dua potong lagi ke mulut Lenghou Tiong, kemudian ia pun masukkan sepotong semangka ke dalam mulut sendiri.

Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya, dengan malu ia lantas duduk membelakangi pemuda itu.

"Ah, sungguh sangat indah,"

Demikian tiba-tiba Lenghou Tiong memuji. Gi-lim tambah malu, ia tidak tahu mengapa mendadak pemuda itu memuji keindahannya.

"Coba lihatlah, alangkah bagusnya!"

Terdengar Lenghou Tiong berkata pula.

Waktu Gi-lim sedikit menoleh, tertampak jari pemuda itu menuding ke arah barat.

Ia coba memandang ke arah yang ditunjuk, kiranya di ujung langit di kejauhan sana tertampak lengkung pelangi dengan tata warna yang sangat indah.

Baru sekarang Gi-lim mengetahui bahwa yang dimaksudkan "indah"

Oleh Lenghou Tiong kiranya adalah pelangi, jadi dirinya sendiri yang telah salah wesel.

Kembali ia merasa malu lagi.

Cuma rasa malu sekarang berbeda dengan rasa malu tadi yang mengandung girang-girang kikuk.

"Eh, coba kau dengarkan!"

Kata Lenghou Tiong pula. Waktu Gi-lim mendengarkan dengan cermat, terdengar di arah pelangi sana sayup-sayup ada suara gemercaknya air.

"Ya, seperti suara air terjun,"

Katanya.

"Betul, sehabis hujan, di tanah pegunungan tentu banyak air terjun,"

Kata Lenghou Tiong.

"Marilah kita coba pergi ke sana untuk melihatnya."

Gi-lim tidak tega mengecewakan keinginannya, segera ia memayangnya bangun.

Mendadak wajahnya bersemu merah pula.

Ia menjadi ragu-ragu apakah dirinya sekarang masih harus memondongnya pula?

Mengapa pemuda ini tiba-tiba ingin pergi melihat air terjun, jangan-jangan hanya sebagai alasan saja agar dirinya memondong pula?

Demikian pikirnya.

Tengah ragu-ragu, tiba-tiba Lenghou Tiong menjemput sebatang kayu di sebelahnya dan digunakan sebagai tongkat, lalu berjalan perlahan-lahan ke depan.

Nyata kembali Gi-lim salah wesel lagi.

Cepat ia memburu maju untuk memegangi badan pemuda itu sambil mengomeli dirinya sendiri yang suka berpikir tak keruan, padahal Lenghou-toako adalah seorang kesatria sejati, mana boleh disamaratakan dengan kelakuan Dian Pek-kong yang jahat itu?

Lenghou Tiong benar-benar seorang pemuda yang kuat.

Lukanya itu baru selang dua hari, tapi sekarang dia sudah dapat berjalan, walaupun langkahnya belum mantap, tapi cukup kuat untuk bertahan.

Tidak seberapa lama, Gi-lim mengajaknya mengaso dan duduk di atas sepotong batu besar.

"Di sini juga boleh, apakah kau harus pergi melihat air terjun?"

Tanyanya.

"Dasar aku memang kepala batu, apa yang kupikir tentu harus kukerjakan,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Baiklah, pemandangan yang indah di sana itu mungkin akan membantu mempercepat sembuhnya lukamu,"

Ujar Gi-lim.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan.

Sesudah melintasi sebuah tanjakan, terdengarlah suara gemerujuknya air terjun yang makin keras.

Sesudah menyusur pula sebuah hutan akhirnya tertampaklah sebuah air terjun dengan airnya yang putih laksana dituang dari atas langit.

"Di puncak Giok-li-hong di atas Hoa-san kami juga terdapat sebuah air terjun yang hampir sama dengan air terjun ini,"

Tutur Lenghou Tiong.

"Di waktu iseng Sumoayku suka menyeret aku berlatih pedang di depan air terjun itu. Dengan nakal terkadang dia terus menerobos ke balik air terjun. Beberapa kali ia pun minta aku berlatih pedang dengan dia di bawah air terjun itu, katanya tenaga air yang dituang dari atas itu akan dapat memperkuat daya permainan pedang. Kami sering basah kuyup tersiram oleh air terjun, bahkan pernah hampir-hampir terperosok ke dalam kolam air yang dalam itu."

Mendengar pemuda itu menyinggung Sumoaynya, mendadak Gi-lim sadar sebabnya Lenghou Tiong berkeras ingin datang ke tempat air terjun itu rasanya bukanlah untuk menikmati pemandangannya, tapi adalah untuk mengenangkan sang Sumoay.

Segera ia tanya.

"Kau mempunyai berapa orang Sumoay?"

"Hoa-san-pay kami seluruhnya ada tujuh orang murid wanita,"

Tutur Lenghou Tiong.

"Leng-sian Sumoay adalah putri Suhu sendiri, enam Sumoay yang lain adalah murid ibu-guru kami."

"O, kiranya dia adalah putri Gak-supek. Tentu dia ... dia sangat baik padamu?"

Perlahan-lahan Lenghou Tiong berduduk, lalu menjawab.

"Aku adalah anak yatim piatu, 13 tahun yang lalu aku telah diterima oleh Suhu yang berbudi. Tatkala itu Leng-sian Sumoay baru berumur lima tahun. Aku lebih tua daripada dia, sering kali aku membawanya pergi mencari buah-buahan dan menangkap kelinci. Jadi kami boleh dikata dibesarkan bersama. Suhu tidak punya anak laki-laki sehingga aku dianggap sebagai putranya sendiri dan Leng-sian Sumoay juga sama seperti adikku sendiri."

"O, kiranya demikian,"

Kata Gi-lim. Selang sejenak, ia berkata pula.

"Aku pun seorang anak yatim piatu, sejak kecil aku sudah menjadi Nikoh di bawah asuhan Suhu."

"Sayang, sayang! Jika kau tidak menjadi murid Ting-yat Suthay, tentu aku dapat mohon kepada ibu-guru agar suka menerima kau sebagai murid dan Leng-sian Sumoay tentu akan sangat suka pula kepadamu."

"Cuma sayang aku tidak punya rezeki sebesar itu. Namun aku pun merasa bahagia tinggal di Pek-hun-am, Suhu dan para Suci juga sangat baik padaku."

"O, ya, ya! Aku yang salah bicara. Ilmu pedang Ting-yat Susiok sangat lihai, Suhu sendiri sering memuji beliau. Masakah Hing-san-pay kalah daripada Hoa-san-pay kami?"

"Lenghou-toako,"

Tiba-tiba Gi-lim bertanya.

"Tempo hari kau bilang kepada Dian Pek-kong, katanya bertempur dengan berdiri Dian Pek-kong terhitung jago nomor 14 dan Gak-supek adalah nomor 6. Lalu Suhuku terhitung nomor berapa?"

"Ah, aku kan cuma menipu Dian Pek-kong saja, masakah kau percaya sungguh-sungguh?"

Sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Tinggi atau rendahnya ilmu silat setiap orang selalu mengalami perubahan, ada yang semakin maju, ada yang sudah mundur karena lanjut usianya, mana ada patokan yang menentukan siapa lebih tinggi dan siapa nomor sekian? Ilmu silat Dian Pek-kong itu memang tinggi, tapi belum tentu dia dapat dihitung sebagai jago nomor 14 di dunia ini. Aku hanya sengaja mengumpak dia agar dia senang."

"O, kiranya kau cuma membohongi dia saja,"

Kata Gi-lim. Untuk sejenak ia termangu-mangu memandangi air terjun. Kemudian ia bertanya pula.

"Lenghou-toako, apakah kau sering membohongi orang?"

"Haha, untuk itu kita harus melihat keadaan,"

Sahut Lenghou Tiong tertawa.

"Yang perlu dibohongi harus dibohongi, yang tidak boleh dibohongi jangan sekali-kali berbohong padanya. Seperti Suhu dan Subo (ibu-guru), biarpun mereka hendak memotong kepalaku juga aku juga tidak berani membohongi mereka."

"Dan bagaimana dengan Sute atau Sumoaymu? Misalnya ... misalnya kau punya Leng-sian Sumoay, apakah kau suka membohongi dia?"

"Ah, itu harus melihat keadaan dan mengenai soal apa? Di antara sesama saudara seperguruan kami sering saling berkelakar. Bergurau tanpa tipu-menipu dan bohong-membohongi tentu akan kurang menarik. Terhadap ... terhadap Leng-sian Sumoay, bila mengenai urusan penting, sudah tentu aku takkan membohongi dia. Tapi di waktu bermain dan bergurau sudah tentu tak terhindar dari tipu-menipu."

Selama Gi-lim tinggal di Pek-hun-am, karena harus taat kepada agama dan tata tertib perguruan, maka hidupnya sangat sederhana dan kaku, di antara para Sucinya juga tak pernah bersenda gurau, walaupun satu sama lain saling mencintai.

Maka ia menjadi sangat tertarik dan merasa kagum terhadap sesama murid Hoa-san-pay yang gembira ria sebagaimana yang diceritakan Lenghou Tiong, sungguh ia ingin sekali dapat berkunjung ke Hoa-san dan bergaul dengan mereka.

Tapi bila teringat kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini, boleh jadi sesudah pulang sang guru takkan mengizinkan keluar kuil lagi, maka hasratnya ingin datang ke Hoa-san hanya menjadi lamunan belaka.

Andaikan sudah bergaul, tapi kalau Lenghou-toako senantiasa cuma mendampingi dia punya Leng-sian Sumoay, lalu aku tertinggal sendirian dan siapa yang akan mengawani aku?

Berpikir demikian, hatinya menjadi pilu dan hampir-hampir meneteskan air mata.

Rupanya Lenghou Tiong tidak memerhatikan perubahan Gi-lim itu, dia masih memandang ke arah air terjun dan berkata.

"Aku dan Leng-sian Sumoay memang sedang meyakinkan semacam Kiam-hoat dengan bantuan tenaga air terjun yang mencurah dari atas itu. Kami anggap tenaga air itu sebagai tenaga dalam serangan musuh, bukan saja kami harus menghalaukan tenaga dalam musuh, bahkan kami harus memperalat kembali tenaga musuh untuk menghantam musuh sendiri. Ilmu pedang kami itu takkan kelihatan daya serangannya terhadap lawan yang berkepandaian rendah, sebaliknya akan besar manfaatnya bila menghadapi musuh yang bertenaga dalam yang mahakuat."

Melihat pemuda itu bercerita dengan gembira, Gi-lim tidak ingin membuatnya kecewa. Ia hanya tanya.

"Dan kalian berhasil meyakinkan ilmu pedang itu belum?"

"Belum, belum!"

Sahut Lenghou Tiong.

"Apa kau sangka gampang untuk menciptakan sesuatu ilmu pedang?"

"Apa namanya ilmu pedang kalian itu?"

Tanya Gi-lim perlahan.

"Ah, mestinya tak dapat diberi nama apa-apa, tapi Leng-sian Sumoay berkeras ingin memberikan suatu nama, dia menyebutnya 'Tiong-leng-kiam-hoat', yaitu diambil dari nama kami masing-masing satu huruf."

"Tiong-leng-kiam-hoat? Ehm, nama ini mengandung namamu dan namanya, bila diturunkan di kemudian hari setiap orang akan tahu ilmu pedang ini adalah ciptaan kalian ... kalian berdua."

"Ah, hanya gara-gara Leng-sian Sumoay saja, padahal dengan kemampuan kami masakan dapat menciptakan ilmu pedang apa segala? Hendaklah jangan sekali-kali kau katakan kepada orang lain supaya tidak dijadikan bahan lelucon orang Kangouw."

"Baiklah, tentu takkan kukatakan pada orang lain,"

Sahut Gi-lim. Sesudah merandek sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tersenyum.

"Tapi ilmu pedang ciptaanmu sudah lebih dulu diketahui oleh orang lain."

"Apa ya?"

Lenghou Tiong terkesiap.

"Apakah Leng-sian Sumoay pernah beri tahukan kepada orang lain?"

Gi-lim tertawa, katanya.

"Kau sendirilah yang telah beri tahukan Dian Pek-kong. Bukankah kau mengatakan kau telah menciptakan semacam ilmu pedang penusuk lalat pada saat berjongkok di kakus?"

"Hahahaha! Aku sengaja membual saja padanya, tapi kau ternyata masih terus mengingat-ingatnya ... auuuuh!"

Demikian mendadak Lenghou Tiong mengerut kening, karena tertawa sehingga lukanya kesakitan.

"Ai, semuanya salahku sehingga membikin lukamu kesakitan lagi. Janganlah kau bicara pula, silakan mengaso saja secara tenang,"

Seru Gi-lim gugup. Lenghou Tiong lantas pejamkan mata. Tapi hanya sebentar saja kembali ia melek lagi. Katanya.

"Tadinya kukira pemandangan di sini tentu sangat indah, tapi setiba di sini malahan tidak dapat menyaksikan pelangi yang bagus tadi."

"Pelangi mempunyai keindahan sebagai pelangi, air terjun juga mempunyai keindahan air terjun sendiri,"

Ujar Gi-lim.

"Ya, betul juga ucapanmu. Di dunia ini mana ada sesuatu yang sempurna. Sesuatu yang dicari oleh seseorang dengan susah payah, sesudah diperoleh tentu akan merasakan kiranya juga cuma begini saja. Sebaliknya barang yang dimilikinya semula malah sudah dibuang olehnya."

"Ucapan ini terasa mengandung filsafat orang hidup, Lenghou-toako,"

Kata Gi-lim dengan tertawa.

"Sayang pengetahuanku terlalu cetek sehingga tidak paham artinya yang dalam."

"Ah, masakah aku tahu filsafat apa segala?"

Ujar Lenghou Tiong sambil menghela napas.

"Uh, alangkah lelahnya!"

Lalu perlahan-lahan ia pejamkan mata, lambat laun lantas terpulas.

Gi-lim duduk di sampingnya dan menghalaukan lalat atau serangga kecil yang mengganggunya.

Kira-kira sejam lamanya, ia pikir sebentar bila Lenghou-toako sudah mendusin tentu akan merasa lapar.

Di sini tiada yang dapat dimakan, biarlah kupergi memetik dua buah semangka pula yang dapat dibuat tangsel perut dan mencegah dahaga.

Maka dengan langkah cepat ia mendatangi sawah semangka pula, ia petik dua buah semangka dan buru-buru kembali untuk menjaga di samping Lenghou Tiong.

"Kukira kau sudah pulang,"

Demikian tiba-tiba Lenghou Tiong membuka mata dengan tersenyum.

"Mengira aku pulang?"

Gi-lim menegas heran.

"Ya, bukankah Suhu dan para Sucimu sedang mencari kau? Mereka tentu sangat mengkhawatirkan dirimu."

Sebenarnya Gi-lim tak teringat akan soal itu, demi mendengar ucapan Lenghou Tiong, ia menjadi gelisah juga. Pikirnya.

"Bila ketemu Suhu besok, entah beliau akan marah padaku atau tidak?"

"Siausumoay, sungguh aku sangat berterima kasih, kau yang telah menyelamatkan jiwaku. Sekarang aku sudah tidak berhalangan lagi, kau boleh lekas pulang saja,"

Kata Lenghou Tiong pula.

"Tidak, mana boleh kutinggalkan kau sendiri di tanah pegunungan sepi begini?"

Ujar Gi-lim.

"Setiba di rumah Lau-susiok, diam-diam boleh kau beritakan kepada para Suteku dan tentu mereka akan datang kemari untuk menjaga diriku,"

Kata Lenghou Tiong.

Perasaan Gi-lim menjadi pedih, ia pikir kiranya Lenghou-toako ingin kedatangan Sumoaynya, makanya aku diharapkan lekas pergi saja.

Tanpa merasa air matanya lantas bercucuran.

Lenghou Tiong menjadi heran, tanyanya cepat.

"He, ken ... kenapa kau menangis? Apakah kau takut akan dimarahi Suhumu?"

Gi-lim menggeleng-geleng.

"Ah, barangkali kau khawatir kepergok Dian Pek-kong lagi? Jangan takut, selanjutnya dia pasti tidak berani merecoki kau lagi. Bila melihat kau, tentu dia sendiri yang akan lari terbirit-birit."

Tapi kembali Gi-lim geleng-geleng kepala. Lenghou Tiong menjadi bingung. Tiba-tiba dilihatnya semangka yang baru dipetiknya itu, seketika ia sadar dan berkata pula.

"O, tentu kau merasa berdosa karena kau telah melanggar larangan agama bagiku, bukan? Tapi itu adalah dosaku dan tiada sangkut pautnya dengan kau."

Namun Gi-lim tetap menggeleng-geleng saja, air matanya menetes semakin deras. Melihat tangis Gi-lim yang semakin menjadi itu, Lenghou Tiong tambah tidak mengerti, katanya pula.

"Baiklah, mungkin aku telah salah omong. Biarlah aku minta maaf padamu saja, Siausumoay, harap engkau jangan marah."

Perasaan Gi-lim rada lega mendengar ucapan yang halus itu. Tapi lantas terpikir olehnya.

"Rupanya dia sudah biasa merendah diri dan minta maaf kepada Sumoaynya, maka sekarang sekenanya ia pun ucapkan padaku."

Mendadak ia menangis lebih sedih dan berkata sambil membanting kaki.

"Aku ... aku toh bukan Sumoaymu ...."

Tapi lantas teringat olehnya sebagai seorang Nikoh adalah tidak pantas mengomel dengan kata-kata demikian itu.

Seketika wajahnya menjadi merah dan lekas-lekas berpaling ke arah lain.

Sekilas Lenghou Tiong melihat muka Gi-lim berubah merah dengan air matanya masih meleleh, dalam sekejap tampaknya menjadi mirip butiran embun yang belum kering di atas kelopak bunga mawar di musim semi, cantiknya sukar dilukiskan.

Untuk sejenak Lenghou Tiong tertegun, ia merasa kecantikan Gi-lim ternyata tidak kalah daripada Sumoaynya, si Leng-sian.

Katanya kemudian.

"Usiamu jauh lebih muda daripadaku, sesama orang Ngo-gak-kiam-pay kita dengan sendirinya kau adalah Siausumoay. Adakah sesuatu kesalahanku sehingga membikin kau marah, maukah kau katakan padaku?"

"Kau tidak bersalah apa-apa,"

Sahut Gi-lim.

"Kutahu kau ingin aku lekas-lekas pergi dari sini agar tidak membikin muak padamu, supaya tidak membikin sial seperti pernah kau katakan 'asal melihat Nikoh, bila berjudi tentu kalah ....'"

Sampai di sini kembali ia menangis lagi. Lenghou Tiong menjadi geli sendiri, pikirnya.

"Kiranya dia merasa tersinggung karena ucapanku yang tak pantas di Cui-sian-lau itu. Ya, untuk ini aku memang harus minta maaf."

Segera ia pun berkata.

"Ya, memang mulutku tidaklah bersih sehingga apa yang kukatakan di Cui-sian-lau tempo hari telah menyinggung kehormatan Hing-san-pay kalian. Aku pantas dihajar, pantas dipukul!"

Lalu ia angkat tangan dan menampar pipinya sendiri beberapa kali.

"Jangan, jangan kau tampar sendiri lagi, aku ... aku tidak marah padamu, aku hanya khawatir ... khawatir membikin sial padamu,"

Cepat Gi-lim mencegah.

"Tidak, harus dihajar adat!"

Seru Lenghou Tiong dan "plak", kembali ia tampar pipi sendiri satu kali pula.

"Sudahlah, Lenghou-toako, aku tidak ... tidak marah lagi,"

Kata Gi-lim gugup.

"Kau menyatakan tidak marah lagi?"

Lenghou Tiong menegas. Gi-lim manggut-manggut.

"Tapi kau belum tertawa, terang kau masih marah,"

Ujar Lenghou Tiong.

Terpaksa Gi-lim tertawa.

Tapi mendadak teringat kepada nasibnya sendiri, hatinya menjadi pilu, tanpa merasa air matanya berlinang-linang lagi.

Cepat ia berpaling ke arah lain.

Melihat Nikoh jelita itu masih menangis, mendadak Lenghou Tiong menghela napas panjang.

Perlahan-lahan Gi-lim berhenti menangis, tanyanya dengan suara lirih.

"Ken ... kenapa engkau menghela napas?"

Diam-diam Lenghou Tiong geli.

Ia pikir dasar nona cilik yang masih hijau sehingga gampang ditipu.

Biasanya di kala dia bermain dengan Leng-sian, bila sang Sumoay mengambek dan tak mau gubris padanya, maka Lenghou Tiong lantas mencari akal untuk memancing anak dara itu membuka suara.

Bila tetap tak digubris, ia lantas berdaya upaya dan berlagak sesuatu yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu sang Sumoay sehingga anak dara itu berbalik menanya lebih dulu padanya.

Selama hidup Gi-lim jarang bergaul dengan orang luar, tak pernah mengambek dan muring-muring, maka dengan gampang saja ia kena dipancing oleh Lenghou Tiong.

Namun dengan sengaja Lenghou Tiong menghela napas pula dan berpaling ke arah lain tanpa menjawab.

"Apakah kau marah, Lenghou-toako?"

Tanya Gi-lim pula.

"Ah, tidak, aku tidak apa-apa,"

Sahut Lenghou Tiong.

Melihat sikap Lenghou Tiong itu, Gi-lim menjadi gugup.

Ia tidak tahu bahwa Lenghou Tiong hanya pura-pura saja dan di dalam perut pemuda itu sedang terpingkal-pingkal geli.

Segera Gi-lim bertanya pula.

"Akulah yang salah sehingga kau memukuli dirimu sendiri, biarlah aku ... aku membayar kembali pukulanmu itu."

Habis berkata mendadak ia pun menampar pipinya sendiri.

Waktu ia akan menampar pula, cepat Lenghou Tiong bangun berduduk untuk memegang tangan Gi-lim.

Tapi sekali bergerak, seketika ia merintih kesakitan.

"Ai, lekas berbaring, lekas! Jangan sampai lukamu pecah lagi,"

Kata Gi-lim dengan khawatir sambil membantu merebahkan Lenghou Tiong, lalu ia menyesali dirinya sendiri.

"Aku benar-benar sangat bodoh, berbuat segala apa selalu salah. Apakah ... apakah engkau masih kesakitan, Lenghou-toako?"

Tempat luka Lenghou Tiong itu memang terasa sakit, jika keadaan biasa tentu dia takkan mengaku.

Sekarang mendadak timbul akalnya untuk memancing supaya Gi-lim yang menangis itu berubah menjadi tertawa.

Maka sengaja ia mengernyit kening sambil merintih-rintih pula beberapa kali.

Keruan Gi-lim menjadi khawatir.

"Apakah sangat sakit?"

Tanyanya sambil meraba jidat pemuda itu.

"Ya, sakit sekali,"

Sahut Lenghou Tiong sambil pura-pura meringis.

"Alangkah baiknya bila ... bila Laksute juga berada di sini."

"Ada apa? Dia punya obat?"

Tanya Gi-lim.

"Ya, obatnya adalah dia punya mulut,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Dahulu bila aku terluka dan kesakitan, Lak-kau-ji selalu menghibur aku dengan macam-macam lelucon yang menggelikan, dengan demikian aku lantas lupa akan rasa sakit. Sayang dia tidak berada di sini. O, sakit ... sungguh sakit sekali!"

Gi-lim menjadi serbasusah.

Selama berguru kepada Ting-yat Suthay, tugas yang dilakukannya setiap hari adalah sembahyang dan membaca kitab, semadi dan main pedang, selamanya juga jarang mengobrol, jangankan lagi bergurau dan tertawa.

Sekarang Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji yang dikatakan pintar mendongeng dan melucu itu tidak berada di sini, bila dirinya yang harus melucu, wah, ini benar-benar mahasulit baginya.

Mendadak pikirannya tergerak, teringat sesuatu olehnya.

Segera ia berkata.

"Lenghou-toako, aku sih tidak bisa melucu, cuma aku pernah membaca suatu kitab yang isinya sangat menarik, nama kitab itu adalah 'kitab seratus dongeng'. Di dalamnya banyak cerita-cerita yang lucu."

"Baiklah, harap engkau menceritakan beberapa bagian yang lucu-lucu itu,"

Pinta Lenghou Tiong yang memang sengaja memancing agar Nikoh jelita itu berbicara. Untuk sejenak Gi-lim mengingat-ingat, lalu ia mulai bercerita dengan tersenyum.

"Baiklah, lebih dulu aku akan bercerita tentang seorang gundul dan seorang petani. Si gundul itu adalah pembawaan, sejak lahir kepalanya sudah kelimis, jadi bukan dicukur seperti kami di kala menjadi Nikoh. Entah urusan apa si gundul telah cekcok dengan petani itu. Dengan marah petani itu telah mengetok kepala gundul dengan paculnya sehingga berdarah. Akan tetapi si gundul tidak melawan dan tidak menghindar, dia terima dipukul, bahkan tertawa malah. Orang lain merasa heran dan tanya dia mengapa tertawa malah. Si gundul menjawab, 'Petani itu adalah orang tolol, kepalaku yang gundul ini disangkanya sepotong batu, maka ia menggunakan paculnya untuk mengetok batu. Jika aku menghindar, bukankah akan membikin dia berubah menjadi pintar?'"

Sampai di sini Lenghou Tiong telah bergelak tertawa. Katanya.

"Cerita bagus! Si gundul itu benar-benar sangat pintar, biarpun dipukul mampus juga dia takkan menghindar."

Melihat Lenghou Tiong tertawa senang, segera Gi-lim menyambung pula.

"Sekarang akan kuceritakan pula tentang seorang raja dan seorang tabib. Watak raja itu tidak sabaran, dia mempunyai seorang putri kecil, tapi sangat ingin dibesarkan dengan cepat. Maka telah dipanggilnya seorang tabib dan diperintahkan memberi suatu resep obat yang dapat membuat sang putri segera menjadi besar. Tabib itu menyatakan ada obatnya, tapi untuk mengumpulkan bahan-bahan obat dan meraciknya diperlukan waktu yang lama, ia sanggup membawa sang putri ke rumah dan membesarkannya asalkan raja tidak mendesaknya agar resep obat itu harus lekas selesai. Raja menerima baik usul itu. Sang putri lantas dibawa pulang oleh si tabib dan setiap beberapa hari memberi laporan kepada raja bahwa obatnya sudah mulai dikumpulkan dan diracik. Selang 12 tahun kemudian, tabib memberi lapor bahwa obat mukjizat sudah jadi dan hari ini juga sudah diminumkan kepada sang putri. Segera sang putri dibawa menghadap raja. Sungguh senang raja tak terkatakan ketika melihat putrinya yang tadinya masih bayi sekarang sudah sedemikian besarnya. Ia memuji kepandaian tabib itu yang benar-benar telah melaksanakan tugasnya dengan baik, segera raja memberikan hadiah besar kepada sang tabib."

Kembali Lenghou Tiong tertawa, katanya.

"Kau bilang raja itu tidak sabaran, padahal dia sudah menunggu 12 tahun lamanya. Bila aku menjadi tabib itu, cukup satu hari saja aku sudah dapat menjadikan putri bayi itu menjadi putri dewasa yang cantik jelita."

"Dengan cara bagaimana? Apakah engkau bisa menyulap?"

Tanya Gi-lim dengan mata membelalak lebar.

"Gampang sekali caranya, asalkan kau mau membantu,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Aku membantu?"

Gi-lim menegas.

"Ya, segera aku membawa pulang putri bayi itu dan memanggil empat orang tukang menjahit ...."

"Tukang menjahit? Untuk apa?"

Gi-lim bertambah heran.

"Untuk menjahit pakaian secara kilat. Akan kusuruh mereka membuatkan pakaian bagus bagimu. Besoknya pagi-pagi dengan kopiah keputrian berhias mutiara, berbaju sulam yang baru, dengan sepatu berbingkai batu permata, lalu akan kubawa engkau menghadap raja. Tentu raja akan sangat girang melihat putrinya yang cantik laksana bidadari hanya dalam semalam saja sudah berubah sedemikian besarnya sesudah makan obat dari tabib sakti Lenghou Tiong. Saking gembiranya beliau tentu tidak periksa lagi apakah putrinya itu tulen atau palsu dan pasti si tabib sakti Lenghou Tiong akan diberi anugerah besar."

Gi-lim tertawa geli selesai Lenghou Tiong bicara, saking gelinya ia sampai menungging dan memegangi perut sendiri. Selang sejenak barulah dia dapat bicara.

"Kau memang jauh lebih cerdik daripada tabib dalam dongeng itu. Cuma sayang, wajahku sedemikian ... sedemikian jelek, sedikit pun tidak mirip seorang putri."

"Jika kau dianggap jelek, maka di dunia ini tidak ada wanita cantik lagi,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Padahal sejak dulu sampai sekarang rasanya tiada seorang putri yang dapat membandingi kecantikanmu. Sungguh aku ...."

Mendadak ia merasa tidak pantas bicara demikian kepada seorang Nikoh muda belia yang suci bersih itu, padahal mengajaknya bersenda gurau saja sudah melanggar pantangan agama mereka, apalagi sekarang dirinya sembarangan omong.

Maka ia urung meneruskan, ia pura-pura menguap mengantuk.

"Ah, engkau sudah lelah, Lenghou-toako,"

Kata Gi-lim.

"Silakan kau mengaso saja."

"Baiklah,"

Kata Lenghou Tiong.

"Dongenganmu ternyata sangat manjur, sekarang lukaku tidak sakit lagi."

Karena maksud tujuannya membikin Gi-lim bicara dan tertawa sudah tercapai, maka ia lantas pejamkan mata dan mengumpulkan tenaga.

Saking isengnya menunggui Lenghou Tiong, ditambah suasana yang sunyi dengan angin sayup-sayup, Gi-lim menjadi lelah sendiri dan merasa mengantuk, akhirnya ia terpulas sambil berduduk.

Dalam mimpi ia merasa dirinya benar-benar telah memakai jubah putri raja yang mewah, dengan dituntun oleh seorang pemuda ganteng sebagai Lenghou Tiong mereka masuk ke sebuah istana yang besar dan megah.

Mendadak muncul seorang Nikoh tua dengan pedang terhunus dan mata melotot merah, itulah Suhunya, Ting-yat Suthay.

Saking takutnya cepat-cepat Gi-lim menarik lengan Lenghou Tiong untuk melarikan diri, tapi tarikannya telah mengenai tempat kosong, seketika suasana menjadi gelap gulita dan dirinya terjatuh.

Saking kagetnya Gi-lim sampai berteriak-teriak.

"Lenghou-toako!"

Tapi mendadak ia terjaga bangun dan ternyata hanya impian belaka. Dilihatnya Lenghou Tiong lagi memandang padanya dengan mata terbelalak lebar. Gi-lim jadi kikuk sendiri dengan wajah merah.

"Kau bermimpi?"

Tanya Lenghou Tiong. Gi-lim merasa serbasalah untuk menjawab. Sekilas air muka Lenghou Tiong tertampak sangat aneh, seperti sedang menahan rasa sakit. Cepat ia tanya.

"Apakah lukamu sangat kesakitan?"

"Ya, rada-rada sakit!"

Sahut Lenghou Tiong, namun suaranya kedengaran agak gemetar. Selang sejenak keringat pun merembes di dahinya. Terang sekali rasa sakitnya pasti tidak kepalang. Tentu saja Gi-lim sangat khawatir.

"Wah, bagaimana ini?"

Demikian ia menjadi kelabakan sendiri.

Ia mengeluarkan saputangan untuk mengusap keringat Lenghou Tiong.

Terasa dahi pemuda itu sangat panas sebagai dibakar.

Dari Suhunya, Gi-lim pernah mendengar bila seorang menjadi demam karena terluka senjata, maka keadaannya menjadi berbahaya.

Saking cemasnya tanpa merasa Gi-lim terus sembahyang dan berdoa.

Semula suaranya agak gemetar, tapi lambat laun perasaannya mulai tenang sehingga suara sembahyangnya kedengaran sangat nyaring dan jelas, penuh kepercayaan.

Semula Lenghou Tiong merasa geli melihat kelakuan Gi-lim itu.

Tapi sesudah mengikuti doa khotbah yang khidmat dan mohon Buddha memberi berkah baginya itu, mau tak mau ia menjadi terharu dan mengembeng air mata.

Sejak kecil Lenghou Tiong sudah yatim piatu, walaupun Suhu dan Subo sangat baik padanya, namun dia sendiri kelewat nakal, maka dia lebih sering dihajar daripada mendapatkan belaian kasih sayang.

Para Sutenya menghormatinya karena dia adalah Toasuheng.

Walaupun Leng-sian sangat baik padanya, tapi tidak begitu memerhatikan dia seperti Gi-lim sekarang ini yang sudi menanggung segala penderitaan di dunia ini asalkan dia selamat dan hidup bahagia.

Sifat Lenghou Tiong sukalah bergurau, kecuali guru dan ibu-gurunya, tiada orang lain lagi yang diindahkan olehnya.

Sekarang melihat Gi-lim bersembahyang sedemikian khidmat baginya, sungguh ia tidak tahu betapa terima kasihnya kepada Nikoh jelita itu.

Suara sembahyang Gi-lim itu makin lama makin merdu dan enak didengar, Lenghou Tiong merasa terharu dan terhibur pula.

Tanpa merasa demamnya menjadi berkurang, akhirnya dia terpulas di tengah suara doa Gi-lim yang halus itu.

Jika suasana di tanah pegunungan itu aman tenteram, sebaliknya di rumah Lau Cing-hong di kota Heng-san, di mana telah berkumpul berbagai jago silat dari berbagai aliran dan golongan sedang terjadi pertarungan sengit.

Sesudah Gak Put-kun menerima Lim Peng-ci sebagai muridnya, bersama anak muridnya mereka lantas menuju ke Heng-san.

Ketika mendapat kabar, Lau Cing-hong terkejut dan bergirang pula.

Tak tersangka olehnya bahwa tokoh yang termasyhur di dunia persilatan sebagai "Kun-cu-kiam"

Gak Put-kun itu juga berkunjung sendiri ke tempatnya.

Bersama Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay, Ih Jong-hay dan lain-lain, cepat ia menyambut keluar dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih.

Gak Put-kun adalah seorang yang ramah tamah, dengan berseri-seri ia pun mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong.

Lalu sang tamu disilakan masuk ke dalam rumah.

Sebagai orang yang berdosa, diam-diam Ih Jong-hay merasa tidak enak.

Pikirnya.

"Rasanya Lau Cing-hong takkan mendapat kehormatan sebesar ini sehingga ketua Hoa-san-pay sudi berkunjung padanya, tentu kedatangannya ini ditujukan kepadaku. Biarpun Ngo-gak-kiam-pay mereka berjumlah lebih banyak, tapi Jing-sia-pay kami juga bukan golongan yang gampang dihina. Bila Gak Put-kun berani mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, biarlah lebih dulu aku akan tanya dia perbuatan macam apa muridnya yang bernama Lenghou Tiong itu masuk rumah pelacuran dan main perempuan? Jika tiada persesuaian paham, kalau perlu biarlah main senjata saja."

Bab 21. Rahasia Lau Cing-hong Mengundurkan Diri dari Dunia Persilatan Tak terduga, begitu bertemu, Gak Put-kun terus memberi salam padanya dan berkata.

"Ih-koancu, sudah lama tak bertemu, tampaknya menjadi makin gagah. Kabarnya Ih-koancu sudah berhasil meyakinkan 'Ho-lui-kiu-siau-sin-kang' yang tiada taranya, sungguh harus diberi selamat dan dipuji."

Ih Jong-hay terkejut, pikirnya.

"Aku memang betul sudah selesai meyakinkan Ho-lui-kiu-siau-sin-kang, cuma kurang sedikit saja dalam hal keuletan. Jaringan berita tua bangka she Gak ini benar-benar sangat luas."

Tapi ia pun merasa bangga karena orang lain mengetahui kepandaiannya itu, segera ia menjawab.

"Ah, memang sudah lama aku melatih Kiu-siau-sin-kang, tapi masih belum dapat dikatakan sudah matang."

Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay dan lain-lain ikut terkesiap.

Mereka tahu Kiu-siau-sin-kang yang disebut itu adalah ilmu silat yang sangat dibanggakan Jing-sia-pay, selama ratusan tahun ini belum pernah terdengar ada tokoh Jing-sia-pay yang berhasil meyakinkan ilmu silat itu, siapa duga Tojin kerdil ini diam-diam telah berhasil melatihnya, pantas selama beberapa hari ini dia sangat garang dan takabur, kiranya memang mempunyai andalan.

Di tengah pembicaraan mereka, berturut-turut banyak tamu telah datang pula dari berbagai tempat.

Hari ini adalah hari resmi Lau Cing-hong akan mengadakan upacara "Kim-bun-swe-jiu"

Atau cuci tangan di baskom emas, maka mendekati tengah hari, lebih dulu Lau Cing-hong telah mengundurkan diri untuk bersiap-siap, hanya anak muridnya saja yang bertugas menyambut tamu.

Menjelang tengah hari, kembali ada ratusan tamu yang membanjir pula, di antaranya terdapat Thio Kim-gok, wakil ketua Kay-pang; He-kolunsu bersama tiga orang menantunya dari Liok-hap-bun di The-ciu; Thi-lolo, si nenek besi yang tinggal di Sin-li-hong, puncak dewi di daerah Sucwan; Phoa Kong, pemimpin Hay-soa-pang, gerombolan bajak di lautan timur; Sin-to Pek Khik dan Sin Pit Lo Se-su, dua sekawan dari Tiamjong yang terkenal dengan julukan golok sakti dan potlot sakti itu.

Kebanyakan di antara jago-jago dan gembong-gembong itu belum saling mengenal, kedatangan mereka hanya ingin melihat ramai-ramai saja.

Thian-bun Tojin dan Ting-yat Suthay enggan bergaul dengan orang lain, mereka berdiam saja di kamarnya masing-masing.

Mereka anggap Lau Cing-hong terlalu tidak tahu diri, masakah orang Ngo-gak-kiam-pay bergaul dengan orang-orang Kangouw yang tak keruan itu?

Hanya Gak Put-kun saja meski namanya "Put-kun" (tidak suka bergaul), tapi sifatnya sebenarnya suka bersahabat.

Banyak di antara tetamu itu mendekati dan ajak bicara padanya, tanpa pandang bulu sedikit pun Gak Put-kun melayani mereka dengan baik, sama sekali tidak berlagak sebagai seorang ketua Hoa-san-pay yang angkuh.

Sementara itu para murid Lau Cing-hong sudah menyiapkan 200-an meja perjamuan.

Ipar Lau Cing-hong yang bernama Pui Jian-ki dan murid Lau Cing-hong sendiri seperti Hiang Tay-lian, Bi Wi-gi dan lain-lain sibuk menyilakan para tamu mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.

Menurut peraturan Bu-lim, tokoh yang mempunyai nama dan kedudukan tertinggi sebagai ketua Thay-san-pay, Thian-bun Tojin yang pantas duduk di tempat utama.

Cuma di antara Ngo-gak-kiam-pay sudah berserikat, Thian-bun merasa sungkan terhadap Gak Put-kun, Ting-yat dan lain-lain, maka mereka saling mengalah untuk tempat duduk yang terhormat itu.

Selagi mereka sama sungkan menduduki tempat utama itu, tiba-tiba terdengar suara gembreng dan tambur ditabuh ramai, dari jauh terdengar pula suara bentakan-bentakan minta jalan, terang ada kaum pembesar yang akan lewat.

Sedang para hadirin terheran-heran, tertampak Lau Cing-hong bergegas-gegas keluar dengan memakai jubah sulam baru.

Selang tak lama tertampak tuan rumah itu sudah masuk kembali mengiringi seorang pembesar.

Diam-diam para kesatria heran.

"Apakah barangkali pembesar ini juga seorang tokoh Bu-lim?"

Tapi dari mukanya yang pucat dan jalannya yang lemah jelas tertampak bukanlah seorang yang mahir ilmu silat.

Gak Put-kun dan sebagian tamu lain mengira pembesar ini adalah penguasa setempat yang sengaja datang mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong yang terkenal sebagai seorang hartawan di kota Heng-san.

Maka mereka tidak terlalu heran.

Di luar dugaan, pembesar itu tampak melangkah masuk dengan angkuhnya, segera ia berdiri di tengah-tengah ruangan.

Seorang pengawalnya lantas berlutut di sebelahnya dengan kedua tangannya menyanggah sebuah nampan beralaskan sutera kuning, di tengah nampan itu terletak segulungan kertas.

Pembesar itu lantas mengambil gulungan kertas itu dan berseru.

"Ada titah dari Sri Baginda, hendaklah Lau Cing-hong menyambut segera!"

Para kesatria terperanjat. Mereka tidak tahu ada hubungan apa antara maksud Lau Cing-hong hendak "cuci tangan"

Dan mengasingkan diri itu dengan pihak pemerintah?

Mengapa mendadak datang titah raja?

Apa barangkali Lau Cing-hong bermaksud memberontak dan telah diketahui?

Jika demikian halnya tentu dosanya tak terampunkan lagi.

Terpikir demikian, serentak para hadirin berbangkit sambil meraba senjata masing-masing.

Mereka menduga dengan kedatangan pembesar yang membawa titah raja itu tentu pula membawa serta pasukan dan suatu pertempuran besar pasti sukar dihindarkan lagi.

Daripada mati konyol mau tak mau mereka harus ikut bertempur mati-matian.

Asal Lau Cing-hong memberi tanda, segera mereka akan bergerak dan lebih dulu membereskan pembesar itu.

Siapa tahu Lau Cing-hong ternyata tenang-tenang saja, bahkan tampak sangat senang.

Malahan tuan rumah itu lantas tekuk lutut dan menyembah ke arah pembesar itu sambil berseru.

"Hamba Lau Cing-hong siap menerima titah dengan hormat dari Sri Baginda!"

Melihat keadaan demikian, semua orang menjadi melenggong. Sementara itu pembesar tadi sudah membentang gulungan kertas dan membaca.

"Berdasarkan laporan dan usul gubernur Oulam, bahwa penduduk Heng-san-koan bernama Lau Cing-hong banyak berjasa bagi kesejahteraan dan mahir ilmu silat pula, maka dengan ini dianugerahi dengan pangkat Canciang (perwira setingkat letnan)."

Segera Lau Cing-hong menyembah pula beberapa kali sambil mengucapkan terima kasih kepada Sri Baginda. Setelah bangun kembali, tidak lupa ia pun memberi hormat kepada pembesar itu.

"Selamat, selamat! Untuk selanjutnya Lau-ciangkun adalah sesama pejabat, maka tidak perlu saling sungkan lagi,"

Demikian pembesar itu tertawa.

"Untuk selanjutnya masih diharapkan bantuan Thio-tayjin,"

Ujar Lau Cing-hong. Lalu ia berpaling kepada Pui Jian-ki.

"Pui-hiante, di manakah oleh-oleh untuk Thio-tayjin?"

Pui Jian-ki mengiakan terus membawakan sebuah nampan bundar, di tengah nampan terdapat sebuah bungkusan dari kain sutera.

Lau Cing-hong ambil bungkusan itu dan diangsurkan dengan hormat kepada pembesar she Thio itu, katanya dengan tertawa.

"Sedikit oleh-oleh ini harap Thio-tayjin sudi menerima dengan suka hati."

"Ah, saudara sendiri, buat apa Lau-tayjin mesti banyak adat segala,"

Ujar pembesar she Thio itu dengan tertawa-tawa.

Lalu ia mengedipi seorang pengiringnya yang segera mewakilkan menerima bungkusan itu.

Dari cara mengangkat bungkusan itu yang tampaknya agak antap bobotnya itu, si pembesar Thio lantas tahu isinya tentu bukan perak, tapi adalah emas murni.

Ia merasa puas, dengan berseri-seri ia berkata pula.

"Untuk urusan dinas Siaute tak dapat tinggal lama-lama di sini. Marilah kita minum tiga cawan, semoga Lau-ciangkun lekas naik pangkat pula."

Dalam pada itu para pelayan sudah lantas menuang arak.

Thio-tayjin mengangkat cawan tiga kali dengan tuan rumah, lalu mohon diri.

Dengan muka berseri-seri Lau Cing-hong mengantar tamu keluar.

Maka terdengarlah suara tambur dan gembreng berbunyi pula bergemuruh, iring-iringan pembesar itu sudah berangkat.

Adegan yang terjadi itu benar-benar di luar dugaan setiap hadirin.

Keruan banyak di antaranya saling pandang tanpa bicara, ada yang heran dan ada yang mencemoohkan.

Maklum, para tamu yang hadir di rumah Lau Cing-hong itu meski bukan golongan penjahat dan juga kaum pemberontak, tapi pada umumnya mereka cukup mempunyai nama baik di dunia persilatan, semuanya adalah tokoh-tokoh yang tinggi hati, biasanya tidak pandang sebelah mata kepada kaum pembesar negeri.

Sekarang melihat Lau Cing-hong terima menghambakan diri kepada kerajaan dan mendapatkan suatu pangkat kecil sebagai "Canciang" , lalu sikap orang she Lau yang kelihatan sangat senang dan amat terima kasih, maka para kesatria lantas mencemoohkan martabatnya yang rendah itu.

Bahkan banyak di antara hadirin itu anggap pangkat itu pasti diperoleh Lau Cing-hong dengan membeli.

Padahal mereka kenal Lau Cing-hong sebagai orang yang jujur, sungguh tidak nyana sampai hari tuanya lantas timbul rasa kemaruk akan kedudukan dan pangkat segala.

Begitulah, lalu Lau Cing-hong mendekati para tamunya pula, dengan riang gembira ia minta para tamu ke tempat duduknya masing-masing.

Tapi tiada seorang pun yang mau menduduki tempat utama sehingga kursi besar di tengah-tengah itu tetap kosong.

Tempat kedua sebelah kiri diduduki oleh wakil Pangcu dari Kay-pang, Thio Kim-gok.

Tamu-tamu yang lain juga lantas mengambil tempat duduk masing-masing, para pelayan segera menyuguhkan minuman.

Sejenak kemudian Hiang Thay-lian telah menaruh sebuah meja kecil di tengah ruangan dengan taplak meja kain sutera sulam.

Pui Jian-ki juga membawa keluar sebuah baskom emas yang gemilapan dan ditaruh di atas meja.

Baskom itu sudah penuh terisi air bersih.

Menyusul di luar pintu terdengar tiga kali suara petasan yang keras, lalu ramai pula suara petasan lain yang lebih kecil.

Dengan tertawa-tawa Lau Cing-hong lantas maju ke tengah, ia memberi salam hormat kepada sekalian tamu.

Para kesatria cepat berbangkit untuk membalas hormat.

"Para kesatria angkatan tua, para sahabat, para hadirin yang terhormat,"

Demikian Lau Cing-hong mulai dengan kata sambutannya.

"Sungguh aku merasa sangat berterima kasih atas kunjungan kalian ini. Hari ini aku mengadakan upacara cuci tangan di baskom emas dan untuk selanjutnya takkan ikut campur pula mengenai urusan orang Kangouw, untuk ini tentu para hadirin sudah tahu akan sebab musababnya. Sebagai pejabat pemerintah sebagaimana para hadirin telah saksikan tadi, terpaksa aku harus taat kepada undang-undang dan pegang teguh disiplin. Sebaliknya orang Kangouw biasanya bicara tentang setia kawan. Jika di antara kedua pihak terjadi persengketaan, sebagai pejabat pemerintah tentu aku akan serbasulit. Maka sejak kini aku menyatakan mengundurkan diri dari dunia persilatan, bilamana murid-muridku ada yang mau masuk ke perguruan lain boleh silakan dengan bebas.

"Adapun maksudku mengundang kalian kemari adalah untuk ikut bantu menjadi saksi. Kelak bila para sahabat datang ke kota Heng-san sini sudah tentu masih tetap menjadi sahabatku, hanya saja mengenai seluk-beluk dan persengketaan orang Bu-lim aku tidak ikut campur lagi."

Habis berkata kembali ia memberi hormat kepada para tamunya. Apa yang diuraikan Lau Cing-hong itu memang sudah diduga oleh semua orang. Pikir mereka.

"Jika dia sudah kemaruk menjadi pembesar, ya apa mau dikata lagi. Setiap orang mempunyai cita-citanya sendiri dan tidak dapat dipaksakan oleh orang lain. Biarlah anggap dunia persilatan selanjutnya tiada terdapat tokoh sebagai dia dan masa bodohlah urusannya."

Namun ada juga yang berpendapat perbuatan Lau Cing-hong ini benar-benar sangat membikin malu Heng-san-pay, tentu ketua mereka, yaitu Bok-taysiansing, sangat marah makanya tidak tampak hadir.

Ada pula yang berpikir tindakan Lau Cing-hong ini tentu juga akan merendahkan martabat Ngo-gak-kiam-pay yang biasanya tidak pernah tunduk kepada pihak pemerintah, mustahil tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang hadir di sini ini takkan menggugatnya?

Begitulah, karena tiap-tiap orang sama tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri, maka suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap.

Menghadapi kejadian tadi seharusnya para tamu beramai-ramai akan mengucapkan selamat bahagia kepada Lau Cing-hong dan memberi puji sanjung yang tinggi.

Akan tetapi sekarang ribuan hadirin itu ternyata tiada seorang pun yang membuka suara.

Lau Cing-hong juga tidak ambil pusing, segera ia berdiri menghadap keluar dan berseru lantang.

"Tecu Lau Cing-hong telah banyak menerima budi kebaikan Suhu, selama ini tidak pernah berjasa dan ikut mengembangkan kebesaran Heng-san-pay kita, sungguh Tecu merasa sangat malu. Syukurlah perguruan sekarang ada di bawah pimpinan Bok-suko yang bijaksana sehingga berada atau berkurangnya seorang Lau Cing-hong tentu tidaklah berarti apa-apa. Sejak kini Lau Cing-hong menyatakan cuci tangan dan melepaskan diri dari pergaulan Kangouw, selanjutnya hanya mencurahkan pikiran dan tenaganya dalam jabatannya yang baru. Jika melanggar pernyataan ini biarlah pedang ini sebagai contoh."

Mendadak ia melolos pedang, sekali tekuk.

"krak", pedang itu patah menjadi dua. Ketika kedua potong pedang patah itu dibuangnya.

"cret-cret"

Dua kali, potongan-potongan pedang patah menancap ke dalam jubin.

Melihat itu terkejutlah semua orang.

Dari suara menancapnya potongan pedang itu teranglah pedang itu adalah senjata tajam yang luar biasa.

Adalah tidak mengherankan jika seorang tokoh sebagai Lau Cing-hong memiliki pedang pusaka sebagus itu.

Tapi secara mudah saja ia telah patahkan pedang pusakanya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaga jarinya itu.

"Wah, sayang, sayang!"

Demikian Bun-siansing sampai berseru.

Entah yang dia sayangkan adalah pedangnya ataukah Lau Cing-hong yang rela menghambakan diri kepada kerajaan itu.

Dengan tersenyum Lau Cing-hong lantas menyingsing lengan bajunya, segera tangannya hendak dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air bersih itu.

Tapi belum lagi tangannya menyentuh air, tiba-tiba di luar pintu ada suara orang membentak.

"Nanti dulu!"

Lau Cing-hong terkejut.

Waktu berpaling, terlihatlah empat orang laki-laki berbaju kuning muncul dari luar.

Begitu masuk keempat orang itu lantas berdiri di samping kanan dan kiri, menyusul seorang laki-laki lain yang bertubuh tinggi besar dan juga berbaju kuning melangkah masuk dengan bersitegang leher melalui barisan keempat kawannya itu.

Pada tangan orang itu membawa sebuah panji pancawarna dengan penuh terhias mutiara dan batu permata sehingga mengeluarkan sinar gemilapan.

Banyak di antara hadirin mengenal panji pancawarna itu, semuanya terkesiap dan membatin.

"Panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay sudah datang juga!"

Orang yang membawa panji itu langsung menghampiri Lau Cing-hong, sambil angkat tinggi-tinggi panjinya orang itu berseru.

"Upacara 'cuci tangan' Lau-susiok ini diharap ditunda untuk sementara!"

"Perintah Bengcu berdasarkan panji pimpinan sudah seharusnya akan kutaati,"

Sahut Lau Cing-hong sambil membungkuk. Tapi sejenak kemudian ia lantas menambahkan.

"Tapi entah apa maksud Bengcu dengan menyampaikan perintah panji ini?"

"Tecu cuma melaksanakan tugas belaka dan tidak tahu apa maksud perintah Bengcu ini, harap Lau-susiok sudi memaafkan,"

Sahut laki-laki itu.

"Tidak perlu sungkan-sungkan,"

Kata Lau Cing-hong dengan tersenyum.

"Kau ini adalah Jian-tiang-siong Su-hiantit bukan?"

Walaupun sambil bersenyum, tapi suaranya juga rada gemetar.

Terang kejadian ini datangnya terlalu mendadak sehingga membuat perasaannya terguncang.

Laki-laki itu memang betul she Su bernama Ting-tat, murid Ko-san-pay yang berjuluk Jian-tiang-siong (pohon Siong seribu depa).

Ia menjadi senang juga karena Lau Cing-hong mengenal nama dan julukannya.

Dengan hormat ia menjawab pula.

"Betul, Tecu Su Ting-tat menyampaikan sembah bakti kepada Lau-susiok."

Lalu ia pun berpaling dan memberi hormat kepada Thian-bun, Gak Put-kun, Ting-yat Suthay dan lain-lain dan berkata.

"Anak murid dari Ko-san menyampaikan salam hormat kepada para Supek dan Susiok!"

Serentak keempat kawannya tadi juga lantas memberi hormat. Ting-yat Suthay sangat senang, sambil membalas hormat ia berkata.

"Gurumu telah tampil ke muka untuk merintangi persoalan ini, kurasa memang paling tepat. Menurut pendapatku, orang belajar silat sebagai kita harus hidup bebas merdeka dan mengutamakan setia kawan, buat apa mesti kemaruk menjadi pembesar negeri segala? Cuma tadi kulihat segala apa sudah diatur beres oleh Lau-hiante, biarpun kunasihatkan juga akan percuma, maka aku pun tidak suka banyak omong."

Lau Cing-hong merasa kehilangan muka juga. Segera ia berkata.

"Dahulu Ngo-gak-kiam-pay kita telah berserikat untuk bantu-membantu dan menegakkan kebenaran dunia persilatan, bila terjadi sesuatu yang menyangkut kepentingan kelima aliran kita, maka kita harus tunduk kepada perintah Bengcu. Panji pimpinan pancawarna ini adalah simbol kelima aliran kita, melihat panji ini seperti melihat Bengcu, hal ini tidak boleh dibantah. Cuma urusan hari ini adalah urusan pribadiku, aku tidak melanggar iktikad kalangan persilatan, juga tiada sangkut pautnya dengan persoalan Ngo-gak-kiam-pay kita. Sekarang para sahabat yang hadir di sini boleh menjadi saksi, segala urusan di dunia ini tentu tak terlepas dari kebenaran, maka aku ingin minta keadilan kalian, urusan pribadiku tentunya tidak terikat di bawah perintah panji kebesaran Bengcu ini. Dari itu harap Su-hiantit suka melaporkan kepada gurumu bahwa aku tidak dapat menurut perintahnya ini, diharap Toasuheng suka memaafkan."

Habis berkata ia lantas mendekati baskom emas pula sambil menjulurkan tangannya.

Tapi dengan cepat Su Ting-tat telah melompat maju dan mengadang di depan Lau Cing-hong, sambil mengangkat panji ke atas ia berkata.

"Lau-susiok, Suhuku telah memberi pesan wanti-wanti agar Lau-susiok harus menunda maksud 'Kim-bun-swe-jiu' ini. Kata Suhu, 'Ngo-gak-kiam-pay kita adalah senapas dan sehaluan laksana saudara sekandung'. Maksud Suhu mengirimkan panji pimpinan ini adalah untuk menjaga persahabatan Ngo-gak-kiam-pay kita yang kekal, juga demi menegakkan kebenaran dunia persilatan, berbareng juga demi kebaikan Lau-susiok sendiri."

"Hahaha! Aku menjadi kurang mengerti akan hal ini,"

Lau Cing-hong tertawa.

"Bila Toasuheng benar-benar mempunyai maksud baik demikian, mengapa sebelumnya tidak memberi nasihat dan mencegah, tapi menunggu pada saat aku menjamu tetamu barulah mengirimkan panji kebesarannya untuk merintangi maksudku, bukankah hal ini terang-terangan ingin membikin malu diriku di depan para kesatria?"

"Menurut pesan Suhu, katanya Lau-susiok adalah seorang laki-laki sejati dari Heng-san-pay yang terkenal dan dihormati oleh setiap kaum kita, Suhu sendiri biasanya juga sangat kagum, maka Tecu dipesan jangan sekali-kali kurang sopan, kalau tidak tentu akan diberi hukuman setimpal. Maka dari itu, mengingat nama baik Lau-susiok di dunia Kangouw, rasanya tidaklah perlu mengkhawatirkan akan kemungkinan ditertawai orang segala,"

Demikian kata Su Ting-tat.

"Ah, itu hanya pujian Bengcu yang berlebih-lebihan saja, dari mana aku mempunyai nama baik setinggi itu?"

Ujar Lau Cing-hong dengan tersenyum. Melihat pembicaraan kedua orang itu bertele-tele dan tiada kecocokan satu sama lain, dengan tak sabar Ting-yat Suthay lantas menyela.

"Lau-hiante, urusanmu ini bagaimana kalau kau tunda saja sementara? Yang hadir sekarang ini adalah kawan baik semua, siapa lagi yang hendak menertawai kau? Andaikan ada seorang dua orang keparat yang tidak tahu diri berani olok-olok padamu, sekalipun Lau-hiante tidak sudi mengurusnya, biarlah dia menghadapi dulu padaku ini!"

Habis bicara sinar matanya lantas menyapu sekeliling kepada para hadirin dengan sikap menantang.

"Jika demikian juga pendapat Ting-yat Suthay, maka bolehlah urusan Cayhe ini kutunda sampai besok tengah hari,"

Kata Lau Cing-hong kemudian.

"Para sahabat diharap jangan berangkat dulu, silakan menginap lagi semalam di sini, biarlah Cayhe berunding dulu lebih mendalam dengan para Hiantit dari Ko-san-pay."

"Banyak terima kasih kepada Lau-susiok,"

Kata Su Ting-tat sambil menurunkan panji kebesarannya dan memberi hormat. Tapi pada saat itu juga mendadak di ruangan belakang ada suara teriakan seorang wanita.

"He, hei! Kau ini apa-apaan? Aku suka bermain dengan siapa kan urusanku sendiri, kenapa kau ikut-ikut campur?"

Para hadirin sama melengak.

Mereka kenal suara itu tak-lain tak-bukan adalah anak dara cilik yang bernama Kik Fi-yan alias Fifi yang kemarin baru saja mengocok Ih Jong-hay di depan orang banyak.

Dalam pada itu terdengar pula suara seorang laki-laki sedang berkata.

"Aku bilang kau harus tetap duduk di situ dan tak boleh sembarangan bicara dan bergerak. Sebentar lagi tentu akan melepaskan kau pergi."

"Hah, kan aneh! Memangnya apakah ini rumahmu?"

Demikian terdengar Fifi membantah.

"Aku suka menangkap kupu-kupu bersama dengan Taci keluarga Lau, mengapa kau berani merintangi dan melarang kami?"

Terdengar orang tadi menjawab.

"Baiklah, jika kau mau pergi boleh silakan pergi sendiri, tapi nona Lau harus tunggu dulu di sini."

"Melihat kau saja Enci Lau lantas muak, maka sebaiknya kau lekas enyah saja dari sini,"

Demikian kata Fifi.

"Selamanya Enci Lau tidak kenal kau, mengapa kau mengacau di sini?"

Lantas terdengar suara seorang wanita lain berkata.

"Sudahlah, jangan pedulikan dia, adik Fifi. Marilah kita berangkat saja."

Tapi mendadak laki-laki itu berkata.

"Nona Lau, silakan kau tunggu sementara di sini dan jangan sembarangan bergerak."

Lau Cing-hong menjadi gusar mendengar percakapan itu, pikirnya.

"Dari manakah datangnya bangsat yang kurang ajar itu dan berani main gila di rumahku, bahkan berani merecoki putriku si Cing-ji?"

Dalam pada itu muridnya, yaitu Bi Wi-gi sudah memburu ke ruangan belakang.

Maka tertampaklah Sumoaynya yang bernama Lau Cing itu bersama Kik Fi-yan sedang berdiri berendeng di depan pintu, seorang laki-laki berbaju hijau dengan pentang kedua tangan sedang merintangi jalan lalu mereka.

Dari warna pakaiannya, Bi Wi-gi lantas kenal orang itu adalah murid Ko-san-pay.

Keruan ia mendongkol.

Ia mendehem satu kali, lalu berseru.

"Suheng ini tentunya adalah kawan dari Ko-san-pay? Mengapa tidak duduk saja di ruangan tamu sana?"

Waktu orang itu berpaling, kiranya adalah seorang pemuda berusia antara 27-28 tahun, tampaknya sangat tangkas dan kuat. Dia telah menjawab.

"Terima kasih atas undanganmu. Atas perintah Bengcu, segenap keluarga Lau harus diawasi dan tidak boleh lolos seorang pun."

Kata-kata itu tidak terlalu keras ucapannya, tapi bernada sangat angkuh dan tegas. Keruan semua orang ikut terkesiap. Lau Cing-hong menjadi murka. Segera ia tanya Su Ting-tat.

"Sebenarnya apa-apaan ini?"

"Ban-sute,"

Segera Su Ting-tat berseru kepada laki-laki di ruangan dalam itu.

"silakan keluar saja. Kalau bicara hendaklah hati-hati. Lau-susiok sudah menyanggupi akan menunda upacaranya."

"Ya, itulah yang paling baik,"

Sahut orang di dalam itu. Lalu muncul dari ruang belakang, ia membungkuk tubuh kepada Lau Cing-hong dan berkata.

"Murid Ko-san-pay bernama Ban Tay-peng menyampaikan salam hormat kepada Lau-susiok."

Saking gusarnya badan Lau Cing-hong sampai gemetar. Dengan suara keras ia berseru.

"Seluruhnya murid Ko-san-pay telah datang berapa banyak, boleh keluar saja semuanya!"

Baru habis kata-katanya, mendadak terdengar suara berpuluh orang dari atas rumah, di luar pintu, di pojok ruangan, di samping rumah, semuanya bergema menyatakan.

"Baik, para murid Ko-san-pay menyampaikan hormat kepada Lau-susiok."

Karena berpuluh orang berteriak sekaligus, suaranya keras dan di luar dugaan sehingga para kesatria ikut terkejut.

Maka tertampaklah berpuluh orang telah maju ke depan, sebagian besar berbaju kuning, sebagian pula dalam keadaan menyamar, terang sejak tadi mereka sudah menyelundup ke tengah perjamuan itu dan diam-diam mengawasi gerak-gerik Lau Cing-hong.

Ting-yat Suthay adalah orang pertama yang merasa penasaran, dengan suara keras ia berteriak.

"Apakah artinya ini? Sungguh terlalu ... terlalu menghina orang!"

"Maafkan, Supek,"

Ujar Su Ting-tat.

"Menurut perintah Suhu, katanya betapa pun Lau-susiok harus dicegah supaya jangan melangsungkan 'cuci tangan' ini. Karena khawatir Lau-susiok tidak mau tunduk kepada perintah, makanya telah banyak mengambil tindakan-tindakan yang kurang pantas."

Pada saat itu dari ruangan belakang muncul pula belasan orang.

Mereka adalah istri Lau Cing-hong dan dua orang putranya yang masih muda serta beberapa orang murid keluarga Lau, di belakang setiap orang diikuti pula oleh seorang murid Ko-san-pay.

Murid-murid Ko-san-pay itu semuanya membawa senjata dan mengancam di belakang nyonya Lau dan lain-lain.

Kiranya anak murid Ko-san-pay itu diam-diam sudah menyusup ke ruangan belakang rumah Lau Cing-hong dan telah membikin nyonya Lau dan beberapa muridnya tak bisa berkutik dengan ancaman kekerasan.

Malahan sikap Ban Tay-peng tadi terhadap putri Lau Cing-hong jauh lebih sopan, dia hanya memerintahkan nona Lau jangan sembarangan bergerak, tapi tidak mengancamnya dengan kekerasan.

Dengan suara lantang Lau Cing-hong lantas berseru.

"Para hadirin yang terhormat, bukanlah aku sengaja berkepala batu, soalnya Co-suheng telah mengancam diriku sedemikian rupa, jika orang she Lau lantas tunduk di bawah kekerasan, lalu ke mana lagi mukaku ini akan kutaruh? Co-suheng melarang aku 'cuci tangan', untuk ini, hehe, kepalaku boleh dipotong, tapi cita-citaku tidak nanti dipatahkan."

Habis bicara segera ia melangkah maju dan kedua tangannya hendak dimasukkan pula ke dalam baskom.

"Tunggu dulu!"

Seru Su Ting-tat sambil mengebaskan panjinya serta mengadang di depan Lau Cing-hong.

Mendadak tangan Lau Cing-hong menjulur ke depan, kedua jarinya lantas mencolok mata lawan.

Lekas-lekas Su Ting-tat menangkis ke atas dengan kedua tangannya.

Tapi Lau Cing-hong sudah menarik kembali tangannya, menyusul tangan yang lain kembali mencolok lagi kedua mata Su Ting-tat.

Dalam keadaan sukar untuk menangkis lagi, terpaksa Su Ting-tat melangkah mundur.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Lau Cing-hong untuk mengangsurkan kedua tangannya ke dalam baskom.

Pada saat itu terdengarlah suara angin berkesiur dari belakang, ada dua orang telah menubruk maju.

Tanpa menoleh lagi kaki kiri Lau Cing-hong lantas mendepak ke belakang.

"Bluk" , seorang murid Ko-san-pay telah didepak terguling, berbareng tangan kanan terus menyambar juga ke belakang sehingga dada seorang murid Ko-san-pay yang lain kena dijambret, sekali seret dan angkat, kontan Lau Cing-hong melemparkan tawanan itu ke arah Su Ting-tat. Serangan mendepak dan mencengkeram ke belakang itu dilakukan dengan sangat cepat dan tepat, benar-benar hebat dan membikin murid-murid Ko-san-pay yang lain menjadi kuncup dan tidak berani maju lagi.

"Lau-susiok,"

Tiba-tiba murid Ko-san-pay yang berdiri di belakang putra Lau Cing-hong berseru.

"jika kau tidak menghentikan maksudmu terpaksa aku akan membunuh putramu."

Lau Cing-hong menoleh, ia pandang sekejap kepada putranya yang sulung itu, lalu menjawab dengan dingin.

"Para kesatria berkumpul semua di sini, jika kau berani mengganggu seujung rambut anakku, tentu berpuluh murid Ko-san-pay kalian akan dicincang menjadi perkedel."

Ucapan Lau Cing-hong ini bukanlah sengaja menggertak.

Kalau murid Ko-san-pay itu benar-benar mengganggu putranya itu, hal ini tentu akan menimbulkan kemarahan orang banyak dan mengerubutnya beramai-ramai, pasti murid-murid Ko-san pay yang berada di situ sukar menghindarkan tuntutan keadilan orang banyak.

Begitulah, setelah mengucapkan kata-kata tadi segera Lau Cing-hong hendak menjulurkan kedua tangannya ke dalam baskom pula.

Tampaknya sekali ini tiada seorang pun yang dapat merintanginya lagi.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong sinar perak berkelebatan, sebentuk senjata rahasia yang kecil telah menyambar tiba.

Cepat Lau Cing-hong melangkah mundur.

Maka terdengarlah suara "cring"

Yang nyaring, senjata rahasia itu tepat mengenai tepi baskom emas itu.

Rupanya timpukan senjata rahasia kecil itu membawa tenaga yang amat besar.

Kontan baskom itu lantas bergelimpang dan jatuh ke lantai dengan menerbitkan suara gemerantang.

Baskom itu jatuh terbalik, air tertumpah semua di lantai.

Berbareng itu terlihat berkelebatnya bayangan kuning, dari atap rumah telah melompat turun satu orang.

Tahu-tahu sebelah kaki orang itu menginjak ke atas baskom yang terbalik itu, kontan baskom itu menjadi gepeng terinjak.

Pendatang ini berusia antara 40-an, berbadan sedang, tapi sangat kurus.

Bibirnya memiara kumis seperti kumis tikus, ia lantas merangkap tangannya memberi hormat dan menyapa.

"Lau-suheng, atas perintah Bengcu, engkau dilarang Kim-bun-swe-jiu."

Lau Cing-hong kenal orang ini adalah Sute keempat dari ketua Ko-san-pay, she Hui bernama Pin, terkenal dengan ilmu pukulan Tay-ko-yang-jiu.

Melihat gelagatnya, agaknya hari ini Ko-san-pay telah mengerahkan segenap jago-jagonya untuk melayaninya.

Apalagi sekarang baskom emas itu sudah terinjak rusak, upacara "cuci tangan di baskom emas"

Terang sudah gagal. Urusan sekarang hanya ada dua jalan. bertempur sekuat tenaga atau menerima semua hinaan itu? Sekilas itu timbul macam-macam pikiran dalam benak Lau Cing-hong.

"Ko-san-pay mereka walaupun dipilih menjadi Bengcu dan memegang panji pimpinan, tapi caranya menekan orang yang keterlaluan ini masakah dapat diterima oleh para kesatria yang menyaksikan ini, apakah mereka tiada yang berani tampil ke muka untuk membela keadilan?"

Bab 22. Ketua Mo-kau Tonghong Put-pay Segera ia balas menghormat dan menjawab.

"Jauh-jauh Hui-suheng datang kemari, mengapa tidak sudi ikut minum barang secawan arak, tapi malah sembunyi di atas rumah merasakan terik sinar matahari? Rasanya Ting-suheng dan Liok-suheng tentu juga sudah datang, boleh silakan keluar saja sekalian. Melulu menghadapi orang she Lau, seorang Hui-suheng saja sudah jauh lebih dari cukup. Tapi untuk melayani para kesatria sebanyak yang hadir di sini mungkin kawan Ko-san-pay yang datang ini masih kurang cukup."

Hui Pin tersenyum, katanya.

"Buat apa Lau-suheng mengeluarkan kata-kata mengadu domba demikian? Seumpama mesti berlawanan dengan Lau-suheng sendiri, Cayhe juga tidak mampu menahan gerakan 'Siau-lok-gan-sik' Lau-suheng barusan ini. Ko-san-pay sekali-kali tidak berani merecoki Heng-san-pay, lebih-lebih tak berani memusuhi setiap kesatria mana pun yang hadir di sini ini. Soalnya urusan ini menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan-kawan Bu-lim, maka terpaksa kami harus minta agar Lau-suheng membatalkan maksud akan 'cuci tangan di baskom emas' ini."

Kata-kata itu membuat para kesatria melengak heran semua. Mereka tidak habis mengerti ada hubungan apakah antara acara "cuci tangan"

Yang dilakukan Lau Cing-hong dengan para orang Kangouw? Mengapa dikatakan menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan Bu-lim? Benar juga. Lantas terdengar Lau Cing-hong menjawab.

"Ucapan Hui-suheng tadi sungguh terlalu menjunjung tinggi padaku. Padahal orang she Lau ini hanya seorang anggota Heng-san-pay biasa saja, sebaliknya tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay tak terhitung banyaknya, apa artinya bertambah atau berkurang dengan seorang Lau Cing-hong saja? Mengapa tindakanku ini dikatakan menyangkut jiwa ribuan orang kawan Bu-lim?"

"Ya, betul,"

Demikian Ting-yat Suthay menyambung.

"Soal Lau-hiante ingin Kim-bun-swe-jiu dan mau menjadi pembesar tergolong keroco itu, untuk bicara terus terang sesungguhnya aku pun merasa hina. Cuma setiap manusia mempunyai cita-citanya sendiri-sendiri, dia suka menjadi pembesar dan ingin rezeki nomplok, asalkan tidak merugikan rakyat jelata, tidak merusak kesetiakawanan sesama orang Bu-lim, maka siapa pun tidak dapat merintangi kebebasannya. Kukira Lau-hiante juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu sehingga dapat membikin celaka kawan Bu-lim sedemikian banyaknya."

"Ting-yat Suthay,"

Ujar Hui Pin.

"engkau adalah orang beribadat, sudah tentu kurang paham akan tipu muslihat orang luar. Hendak maklum, bilamana intrik besar ini sampai terlaksana, bukan saja banyak kawan Bu-lim yang akan menjadi korban, bahkan juga rakyat jelata yang tak berdosa akan ikut mengalami bencana besar. Coba kalian pikir sendiri. Lau-samya dari Heng-san-pay adalah seorang tokoh termasyhur, seorang kesatria yang terkenal di Kangouw, masakah beliau sudi merendahkan diri untuk mengekor kepada kawanan pembesar anjing yang korup itu? Harta benda Lau-samya sendiri sudah cukup kaya raya, masakan beliau masih kemaruk harta dan ingin kedudukan segala? Sebab itulah sudah lama kami merasa sangsi, bahwasanya seorang tokoh sebagai Lau-samya hanya sudi menjabat pangkat sedemikian kecilnya, hal ini benar-benar terlalu aneh dan mencurigakan."

"Hahaha! Bagus, bagus!"

Demikian Lau Cing-hong tidak marah, berbalik ia tertawa.

"Kiranya di balik persoalan ini dikatakan masih mengandung suatu intrik besar yang maharahasia. Hm, Hui-suheng, jika kau mau memfitnah hendaklah juga perlu mencari alasan yang masuk di akal. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan urusan ini, sebab kalau kukatakan sesungguhnya akan membikin malu Heng-san-pay sendiri. Tapi karena urusan sudah telanjur begini, terpaksa aku tidak dapat mengelakkan lagi, biarlah para kawan yang hadir di sini sukalah menimbang dengan adil. Nah, Ting-suheng dan Liok-suheng boleh silakan keluar saja sekalian!"

"Baik!"

Berbareng terdengar dari sebelah timur dan barat di atas rumah ada dua orang berseru.

Bayangan kuning berkelebat, tahu-tahu dua orang sudah berdiri di depan ruangan.

Ginkang kedua orang ini serupa benar dengan cara Hui Pin melompat turun tadi.

Yang berdiri di sebelah timur adalah seorang botak, botak dalam arti kata gundul kelimis tanpa seujung rambut pun, sampai-sampai batok kepalanya kelihatan mengilap.

Dia adalah tokoh kedua dari Ko-san-pay, namanya Ting Tiong.

Sedangkan orang yang berdiri di sebelah barat adalah seorang kurus kering seperti orang sakit TBC, agak bungkuk lagi pucat seperti orang yang sudah lebih seminggu kelaparan.

Para kesatria mengenalnya sebagai tokoh ketiga dalam Ko-san-pay yang terkenal, namanya Liok Pek, berjuluk Wi-bin Cukat atau si Cukat Liang (Khong Beng) bermuka pucat, yaitu lantaran dia sangat banyak tipu akalnya.

Ting Tiong dan Liok Pek sangat termasyhur di dunia persilatan, maka para kesatria serentak berbangkit menyambut kedatangan mereka berbareng saling mengucapkan salam hormat masing-masing.

Tampaknya tokoh Ko-san-pay yang datang ini makin lama makin banyak dan makin jempolan, agaknya urusan hari ini sangat penting, rasanya Lau Cing-hong pasti akan menghadapi kesukaran.

"Lau-hiante,"

Demikian Ting-yat Suthay telah membuka suara.

"kau jangan khawatir. Segala urusan di dunia ini tak terlepas dari satu kata, yakni 'kebenaran'. Janganlah kau anggap orang lain berjumlah banyak, memangnya para kawan kita dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay dan Hing-san-pay hanya datang untuk gegares saja tanpa bekerja?"

Di balik ucapannya itu, secara terang-terangan ia hendak menyatakan bilamana Ko-san-pay berani main kekerasan dan mengandalkan orang banyak, maka Hing-san-pay yang dipimpinnya adalah pihak pertama yang akan membela keadilan.

Sedangkan Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan lain-lain juga takkan tinggal diam.

Tapi Lau Cing-hong hanya tersenyum getir saja.

Katanya.

"Sungguh memalukan kalau urusan ini diceritakan. Sebenarnya persoalannya mengenai urusan dalam Heng-san-pay kami, tapi sekarang para kawan mesti ikut-ikut khawatir, sungguh aku merasa tidak enak. Sekarang aku pun dapat memahami duduknya perkara. Tentulah Bok-suheng kami juga telah mengadu biru kepada Co-suheng Bengcu tentang macam-macam kesalahanku sehingga para Suheng dari Ko-san-pay lantas dikerahkan kemari untuk merecoki aku. Ya, ya, apa mau dikata lagi, biarlah aku mengaku salah saja kepada Bok-suko."

Sorot mata Hui Pin yang tajam menyapu sekeliling kepada para hadirin. Kemudian ia berkata.

"Kau bilang urusan ini ada sangkut pautnya dengan Bok-taysiansing? Jika demikian silakan Bok-taysiansing keluar saja, biar kita bicara secara terus terang."

Habis ucapannya, suasana di tengah sidang menjadi hening senyap. Sampai agak lama tetap tidak tertampak munculnya "Siau-siang-ya-uh"

Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay atau Suheng Lau Cing-hong yang termasyhur itu. Dengan tersenyum getir Lau Cing-hong lantas membuka suara pula.

"Tentang pertengkaran antara kami bersaudara seperguruan cukup diketahui oleh para kawan dari Bu-lim dan tidak perlu kututup-tutupi lagi. Para sahabat tentu maklum bahwa dari warisan leluhur, maka keluargaku boleh dikata cukup berada, sebaliknya Bok-suko kami adalah orang yang miskin. Sebenarnya saling membantu antarkawan adalah lazim, apalagi antarsesama Suheng dan Sute. Namun berhubung urusan ini Bok-suko lantas sirik dan selamanya tak mau menginjak lagi ke rumahku, sudah ada beberapa tahun kami Suheng dan Sute tidak berbicara dan tidak bertemu, maka dengan sendirinya hari ini Bok-suko juga tidak mungkin hadir di sini. Adapun yang membuat aku merasa penasaran adalah Co-bengcu hanya percaya kepada pengaduan sepihak saja lalu mengirimkan para Suheng kemari untuk menghadapi aku, sampai-sampai anak-istriku juga ikut ditawan, bukankah hal ini agak ... agak keterlaluan?"

"Angkat panjimu!"

Seru Hui Pin kepada Su Ting-tat. Su Ting-tat mengiakan dan segera mengangkat panjinya dan berdiri di samping Hui Pin.

"Lau-suheng,"

Kata Hui Pin dengan keren.

"urusan hari ini sama sekali tiada hubungannya dengan Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay kalian, maka kau tidak perlu menyinggung tentang dirinya. Menurut perintah Bengcu, kami diharuskan menyelidiki dan menanya kau dengan jelas, yaitu bagaimana persekongkolanmu dengan Tonghong Put-pay dari Mo-kau, intrik apa yang telah kalian atur untuk menghadapi Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kawan dari Bu-lim?"

Kata-kata itu telah mengguncangkan perasaan setiap hadirin.

Hendaklah maklum bahwa Mo-kau (agama sesat) selalu memusuhi para kesatria dari kalangan Pek-to, permusuhan demikian sudah berlangsung selama ratusan tahun dan tidak habis-habis, kedua belah pihak sama-sama banyak jatuh korban.

Dari ribuan hadirin sekarang paling sedikit ada separuhnya yang pernah diganggu oleh pihak Mo-kau, ada yang ayah-bundanya terbunuh, ada gurunya terbinasa, maka bila menyebut agama iblis itu semuanya merasa dendam dan benci.

Sebabnya Ngo-gak, yaitu aliran lima gunung (Ko-san, Thay-san, Hoa-san, Heng-san dan Hing-san) berserikat justru tujuan utamanya adalah untuk menghadapi Mo-kau.

Ilmu silat Mo-kau baik Lwekang maupun Gwakang mempunyai caranya yang khas, betapa pun hebat ilmu silat pihak Ngo-gak sering juga kewalahan melawannya.

Lebih-lebih ketua Mo-kau yang bernama Tonghong Put-pay, bahkan oleh orang diberi julukan sebagai "jago nomor satu selama seabad ini".

Sesuai dengan namanya.

Put-pay (tidak terkalahkan), maka sejak dia mengetuai Mo-kau memang belum pernah dikalahkan oleh siapa pun juga.

Lantaran itulah demi para kesatria mendengar Hui Pin membongkar hubungan antara Lau Cing-hong dengan pihak Mo-kau, apakah hal ini betul atau tidak, yang jelas setiap kesatria itu ikut berkepentingan dan menyangkut keselamatan mereka pula.

Maka dari itu rasa simpatik mereka kepada Lau Cing-hong semula lantas lenyap seketika.

Maka terdengar Lau Cing-hong telah menjawab tuduhan Hui Pin tadi.

"Selamanya Cayhe belum pernah melihat, apalagi kenal kepada ketua Mo-kau Tonghong Put-pay, entah dengan dasar apa aku dituduh bersekongkol dan berintrik dengan pihak Mo-kau?'' Hui Pin tidak menjawabnya, ia hanya melirik Samsuhengnya, yaitu Liok Pek. Maka dengan suara perlahan-lahan, Liok Pek telah bicara.

"Lau-suheng, apa yang kau katakan rasanya masih banyak yang ketinggalan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Di dalam Mo-kau ada seorang Hou-hoat-tianglo (sesepuh pembela agama) yang bernama Kik Yang. Entah Lau-suheng kenal atau tidak?"

Sejak mula Lau Cing-hong sebenarnya sangat tenang, tapi demi mendengar nama "Kik Yang", seketika air mukanya berubah hebat.

Namun bibirnya terkatup rapat-rapat dan tidak menjawab.

Ting Tiong, tokoh kedua Ko-san-pay yang berkepala botak kelimis itu sejak datang tadi belum bersuara sepatah pun.

Sekarang mendadak ia bertanya dengan suara bengis.

"Kau kenal tidak kepada Kik Yang?"

Sedemikian keras dan lantang suaranya sehingga anak telinga setiap orang sampai mendenging.

Dalam pandangan semua orang jejak Ting Tiong seakan-akan bertambah tinggi besar secara mendadak dan penuh wibawa.

Namun Lau Cing-hong masih tetap tidak menjawab.

Seketika perhatian beribu orang terpusat kepadanya, dalam hati setiap orang sama merasa sikap Lau Cing-hong yang bungkam itu serupa saja dengan mengakui pertanyaan Ting-Tiong secara diam-diam.

Selang agak lama barulah Lau Cing-hong mengangguk dan berkata.

"Betul! Kik Yang, Kik-toako memang kenalanku. Malahan bukan cuma kenalan sekadar kenalan, bahkan dia adalah sahabatku yang baik. Sahabatku yang paling kental selama hidupku ini."

Seketika suasana sidang menjadi gempar.

Para kesatria ramai membicarakan pengakuan Lau Cing-hong yang terus terang dan di luar dugaan itu.

Semula mereka menyangka paling-paling Lau Cing-hong hanya akan mengaku bahwa Kik Yang memang betul pernah dikenalnya dan sekali-kali tidak menduga bahwa dia berani menyatakan bahwa gembong Mo-kau itu justru adalah sahabatnya yang paling kental.

Hui Pin tampak tersenyum, katanya.

"Baik sekali karena kau sendiri sudah mengaku. Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Nah, Lau Cing-hong, sekarang Co-bengcu telah menentukan dua jalan, bolehlah kau pilih sendiri."

Akan tetapi Lau Cing-hong seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Hui Pin itu, dengan tenang saja ia duduk kembali, ia menuang secawan arak dan ditenggaknya habis.

Diam-diam para hadirin memuji dan merasa kagum terhadap sikap Lau Cing-hong yang tabah dan tenang itu.

Menghadapi saat segawat ini ternyata dia masih sanggup bersikap tenang tanpa sedikit memperlihatkan tanda-tanda kecemasan.

Dengan suara lantang Hui Pin lantas berseru pula.

"Menurut Co-bengcu, katanya Lau Cing-hong adalah tokoh yang jarang terdapat di dalam Heng-san-pay, hanya karena sedikit kekhilafannya sehingga salah bergaul dengan orang jahat, apabila mau insaf kembali, sudah tentu kaum kita akan suka memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya. Jikalau jalan ini yang kau pilih, maka Co-bengcu memberi batas waktu sebulan agar kau membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, bawalah buah kepalanya sebagai bukti, dengan demikian segala kesalahan yang lain takkan diusut lebih lanjut dan kita masih tetap sahabat baik dan saudara dalam Ngo-gak-kiam-pay."

Para kesatria berpikir bahwa selamanya antara yang baik dan yang jahat tidak pernah hidup bersama.

Orang-orang Mo-kau bilamana kepergok oleh tokoh-tokoh dari kalangan pendekar tentu lantas saling labrak mati-matian.

Kalau sekarang Co-bengcu mengharuskan Lau Cing-hong membunuh dulu Kik-Yang untuk membuktikan kesetiaannya, hal ini pun dapat dimengerti dan bukan sesuatu permintaan yang berlebihan.

Sekilas air muka Lau Cing-hong bersenyum sedih, sahutnya kemudian.

"Kik-toako dan aku begitu bertemu lantas seperti sobat lama, lalu berhubungan dengan sangat akrab. Dia telah bertemu belasan kali dengan aku, kami tidur satu ranjang dan bicara sepanjang malam, terkadang bila kami menyinggung tentang persengketaan di antara berbagai golongan, Kik-toako selalu menghela napas dan merasa menyesal, beliau anggap pertengkaran antara kedua pihak sesungguhnya tidak ada gunanya. Persahabatanku dengan Kik-toako hanya mengutamakan saling bertukar pikiran tentang seni musik. Beliau adalah ahli menabuh kecapi dan aku suka meniup seruling. Di kala bertemu sebagian besar waktu kami gunakan untuk menabuh musik kesukaan masing-masing. Tentang ilmu silat selamanya kami tidak pernah membicarakannya."

Sampai di sini Lau Cing-hong tertampak tersenyum puas, lalu menyambung.

"Boleh jadi para hadirin tidak percaya, tapi aku anggap pada zaman ini dalam hal menabuh kecapi rasanya tiada orang lain yang sanggup melebihi Kik-toako, sedangkan dalam hal meniup seruling rasanya juga tiada orang kedua yang melebihi Lau Cing-hong. Meski Kik-toako adalah orang Mo-kau, tapi dari suara kecapinya aku cukup mengenal wataknya yang baik dan budinya yang luhur, beliau benar-benar seorang manusia yang berperasaan. Sebab itulah Lau Cing-hong benar-benar sangat kagum padanya dan biarpun bagaimana jadinya tidak nanti aku mau mencelakai seorang jantan sebagai Kik-toako."

Para kesatria bertambah heran.

Sama sekali mereka tidak menduga bahwa persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu dimulai dari seni musik.

Melihat ucapan Lau Cing-hong yang sungguh-sungguh dan jujur itu, mau tak mau mereka harus percaya kepada ceritanya itu.

Di dunia Kangouw memang banyak orang-orang kosen yang aneh-aneh tingkah lakunya, jika Lau Cing-hong keranjingan dalam hal musik juga tidak perlu diherankan.

Bagi orang yang tahu akan seluk-beluk Heng-san-pay lantas teringat pula bahwa di antara tokoh-tokoh Heng-san-pay dari dulu sampai sekarang memang banyak yang suka kepada seni musik.

Misalnya pejabat ketua mereka sekarang, yaitu Bok-taysiansing yang berjuluk "Siau-siang-ya-uh" , beliau juga paling suka menabuh rebab sehingga diberikan gelar "di dalam rebab tersimpan pedang, di tengah pedang bersuarakan rebab".

Dari itu bila persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu diawali dengan main musik, hal ini memang cukup masuk di akal.

Hui Pin lantas berkata pula.

"Tentang persahabatanmu dengan gembong Mo-kau itu dalam seni musik, hal ini sudah diselidiki Co-bengcu dengan jelas. Kata Bengcu kita, setiap orang Mo-kau mempunyai tipu muslihat tertentu. Mereka tahu sesudah perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, pasti kekuatan kita akan bertambah besar dan sukar dilawan oleh Mo-kau. Sebab itulah dengan segala daya upaya pihak Mo-kau berusaha hendak memecah belah dan mengadu domba kita, segala akal licik dapat pula dijalankan oleh mereka. Terhadap kaum muda kita sering pula mereka pancing dengan wanita cantik. Terhadap tokoh sebagai Lau-suheng yang hidupnya serbakecukupan, mereka lantas berusaha mendekati kegemaranmu dalam hal seni musik dan tugas ini telah diserahkan kepada Kik Yang. Untuk ini hendaklah Lau-suheng suka menggunakan pikiran secara dingin, sudah berapa banyak saudara-saudara kita yang telah menjadi korban keganasan pihak Mo-kau? Mengapa engkau kena dikelabui mereka dengan akal-akal licik itu dan tanpa sadar sedikit pun?"

"Benar, apa yang dikatakan Hui-sute memang tidak salah,"

Demikian Ting-yat Suthay menimbrung.

"Ditakutinya Mo-kau bukanlah lantaran ilmu silat mereka yang keji, tapi adalah macam-macam tipu muslihat mereka yang licik dan sukar diterka itu. Lau-sute, engkau adalah orang baik-baik, kalau tanpa sadar kena ditipu juga tidak menjadi soal. Biarlah kita bersama-sama turun tangan dan membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, maka segala urusan akan menjadi beres. Ngo-gak-kiam-pay kita selamanya senapas dan sehaluan, jangan sekali-kali kena diadudombakan oleh Mo-kau sehingga saling bertengkar sendiri."

"Ya, Lau-sute, seorang laki-laki sejati bila tahu akan kesalahan sendiri dan mau memperbaiki, hal ini bukanlah sesuatu yang mesti diributkan,"

Ujar Thian-bun Tojin.

"Asalkan sekali tebas kau binasakan gembong Mo-kau she Kik itu, maka kawan-kawan dari dunia persilatan akan tetap memuji ketegasanmu sebagai seorang kesatria yang bijaksana. Sebagai kawanmu kami pun akan ikut merasa bangga."

Lau Cing-hong ternyata tidak menjawabnya, sinar matanya beralih ke arah Gak Put-kun. Katanya.

"Gak-toako, engkau adalah seorang laki-laki yang bijaksana, para kawan-kawan terhormat dari Bu-lim yang hadir di sini sama mendesak aku menjual kawan, kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya?"

"Lau-hiante,"

Sahut Gak Put-kun.

"jika benar-benar demi sahabat, sebagai kaum Bu-lim kita ini biarpun leher putus demi membela kawan juga tidak menjadi soal. Namun gembong Mo-kau she Kik itu terang adalah manusia palsu mulutnya, tapi hatinya berbisa. Dia sengaja mendekati Lau-hiante dan mengikuti kegemaranmu dalam seni musik untuk melaksanakan tipu muslihatnya yang keji. Bila manusia demikian juga kau anggap sebagai sahabat, bukankah kata-kata 'sahabat' akan ternoda? Manusia iblis demikian masakah kau anggap sebagai sahabat karib segala?"

"Itu dia, apa yang diucapkan Gak-siansing memang tegas dan tepat,"

Demikian orang banyak menanggapi.

"Kita harus dapat membedakan antara kawan dan lawan. Terhadap kawan kita memang harus setia, tapi terhadap lawan kita tidak kenal ampun, apalagi bicara tentang setia kawan pula?"

Lau Cing-hong menghela napas. Ia tunggu sesudah suara orang banyak rada tenang kembali barulah bicara dengan perlahan.

"Sejak mulai bersahabat dengan Kik-toako sudah kuduga akan terjadi seperti hari ini. Melihat gelagatnya akhir-akhir ini, kutaksir tidak lama lagi Ngo-gak-kiam-pay kita tentu akan terjadi suatu pertarungan habis-habisan dengan Mo-kau. Di satu pihak adalah para saudara serikat sendiri, di lain pihak adalah sahabat karib pula sehingga sukar bagiku untuk menentukan pihak mana harus dibantu. Lantaran itulah aku mencari jalan dengan mengadakan upacara 'cuci tangan' seperti sekarang ini, maksudku adalah untuk mengumumkan kepada para kawan kaum kita bahwa orang she Lau sejak kini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak ikut campur kepada segala persengketaan orang Kangouw, harapanku adalah supaya dapat hidup bebas tenteram dan tidak tersangkut di dalam permusuhan dan bunuh-membunuh. Tujuanku membeli suatu pangkat sekecil ini juga hanya untuk menghindarkan diri dari kesukaran, padahal pangkat sekecil ini sesungguhnya cuma membikin cemar namaku saja. Siapa duga Co-bengcu memang benar-benar mahasakti, langkah yang kuambil ini toh tetap susah mengelabui dia."

Mendengar keterangannya ini barulah para kesatria mengerti duduknya perkara. Kiranya dia mengadakan upacara "cuci tangan di baskom emas"

Ini sebenarnya mempunyai maksud tujuan sejauh ini.

Pantas orang heran masakah seorang tokoh terkemuka dari Heng-san-pay sudi menjabat pangkat sekecil itu.

Hui Pin juga saling pandang sekejap dengan kedua Suhengnya, yaitu Ting Tiong dan Liok Pek, mereka merasa puas karena Ciangbun-suheng mereka telah berhasil mengetahui maksud tujuan Lau Cing-hong itu dan keburu merintangi tepat pada waktunya.

Maka terdengar Lau Cing-hong sedang menyambung pula.

"Tentang permusuhan antara Mo-kau dan golongan kita memang sudah sangat lama dan berlarut-larut, siapa yang benar dan siapa yang salah juga sukar untuk diceritakan. Yang kuharap hanyalah melepaskan diri dari persengketaan berdarah ini, selanjutnya biar hidup tenteram sebagai rakyat yang patuh kepada undang-undang negara dan menghibur diri dengan meniup seruling. Kurasa cita-citaku ini toh tidak sampai melanggar peraturan perguruan sendiri atau perjanjian antara Ngo-gak-kiam-pay kita."

"Huh, enak saja kau bicara,"

Demikian Hui Pin mendengus.

"Jika setiap orang meniru kau, melarikan diri di saat akan menghadapi musuh, maka dunia ini pasti akan celaka dan dikuasai oleh kaum iblis. Kau sendiri ingin melepaskan diri dari segala persoalan, tapi gembong Mo-kau she Kik itu apakah juga mau berlaku seperti kau?"

Cing-hong tersenyum, jawabnya.

"Di hadapanku Kik-toako sudah bersumpah kepada cikal bakal Mo-kau mereka untuk selanjutnya biarpun apa yang terjadi antara Mo-kau dengan kaum persilatan kita, maka Kik-toako sama sekali tak mau ikut campur lagi. Asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang."

"Hahaha! Bagus amat istilah 'asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang',"

Dengus Hui Pin dengan tertawa.

"Lalu bagaimana apabila kaum kita yang mengganggunya?"

"Kik-toako sudah menyatakan bahwa beliau akan mengalah sedapat mungkin,"

Sahut Lau Cing-hong.

"sekali-kali beliau takkan main menang-menangan dan bertempur dengan orang, bahkan akan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan salah paham kedua pihak. Kemarin juga Kik-toako telah mengirim berita padaku bahwa murid Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong telah dilukai orang, jiwanya dalam keadaan bahaya, tapi beliau telah memberi pertolongan seperlunya."

Ucapan ini kembali membikin gempar para hadirin, lebih-lebih bagi orang-orang Hoa-san-pay, Hing-san-pay, dan Jing-sia-pay. Dengan cepat Gak Leng-sian, itu putri Gak Put-kun, lantas bertanya.

"Lau-susiok, di manakah Lenghou-suko berada sekarang? Apakah ... apakah benar dia telah ditolong oleh ...oleh Locianpwe she Kik itu?"

"Jika begitu ucapan Kik-toako, rasanya tentu benar adanya,"

Sahut Lau Cing-hong.

"Untuk jelasnya boleh kau tanya Lenghou-hiantit sendiri bila kelak kau bertemu dengan dia."

"Huh, buat apa mesti mengherankan hal-hal begitu?"

Ejek Hui Pin.

"Orang-orang Mo-kau memang paling pandai memecah belah dan mengadu domba, segala tipu akal yang licik dapat dilakukan oleh mereka. Dengan segala daya upaya ia telah memelet murid Hoa-san-pay. Boleh jadi lantaran itu Lenghou Tiong menjadi merasa terima kasih dan ingin membalas budi pertolongannya itu. Bukan mustahil sejak kini Ngo-gak-kiam-pay kita telah bertambah lagi seorang pengkhianat."

Mendadak alis Lau Cing-hong menegak, tanyanya dengan angkuh.

"Hui-suheng, kau mengatakan sejak kini telah 'bertambah lagi' seorang pengkhianat. Apa maksudmu dengan kata-kata 'bertambah lagi' itu?"

"Siapa yang berbuat, dia harus tahu sendiri, apa perlu aku jelaskan pula?"

Sahut Hui Pin.

"Hm, jadi secara langsung kau menuduh orang she Lau ini telah menjadi pengkhianat?"

Tanya Lau Cing-hong.

"Aku berkawan dengan siapa saja adalah urusan pribadiku, orang luar tidak berhak untuk ikut campur. Selamanya Lau Cing-hong tidak merasa mengkhianati kawan dan mendurhakai perguruan, maka istilah 'pengkhianat' itu biarlah aku aturkan kembali kepadamu."

Tadinya sikap Lau Cing-hong tampaknya ramah tamah sebagaimana layaknya seorang hartawan terhadap tamunya, tapi sekarang mendadak sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, sikapnya gagah berani.

Walaupun berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan toh dia tetap mengadu mulut dengan tidak kalah tajamnya dengan Hui Pin, mau tak mau para hadirin merasa kagum juga terhadap ketabahannya.

"Jika demikian, jadi sudah terang Lau-suheng tidak mau memilih jalan pertama dan tegas-tegas tidak mau membinasakan gembong she Kik dari Mo-kau itu?"

Hui Pin menegas.

"Bila memang sudah ada perintah dari Co-bengcu, tiada halangannya sekarang juga Hui-suheng turun tangan untuk membunuh segenap keluargaku,"

Sahut Lau Cing-hong.

"Huh, jangan kau mentang-mentang ada sekian banyak kesatria-kesatria dari segenap penjuru sedang bertamu di rumahmu ini dan mengira Ngo-gak-kiam-pay kami akan merasa jeri, lalu tidak berani mengadakan pembersihan kepada kaum pengkhianat?"

Demikian jengek Hui Pin. Mendadak ia memberi tanda kepada Su Ting-tat dan berseru.

"Coba kemari!"

Su Ting-tat mengiakan sambil melangkah maju. Hui Pin mengambil panji pancawarna itu dari tangan Su Ting-tat, lalu diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil berseru.

"Dengarkanlah Lau Cing-hong! Atas perintah Co-bengcu, jika kau tidak mau berjanji untuk membunuh Kik Yang di dalam waktu sebulan, maka terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus segera mengadakan pembersihan di antara anggota-anggotanya sendiri untuk menghindarkan bencana di kemudian hari. Babat rumput harus sampai akar-akarnya, sedikit pun tidak kenal ampun. Untuk ini hendaklah kau pikirkan lagi semasak-masaknya!"

Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya.

"Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain, mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri? Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi, terserahlah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja, masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh apa-apa berani melawannya? Memangnya segala apa sudah diatur oleh Ko-san-pay kalian, boleh jadi peti mati bagiku mungkin juga sudah kalian sediakan. Kalau mau turun tangan boleh silakan saja, mau tunggu kapan lagi?"

Mendadak Hui Pin mengebaskan panji kebesarannya, serunya dengan suara lantang.

"Para Suheng dan Sute dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay, Hing-san-pay dan Heng-san-pay, menurut pesan dari Co-bengcu, selamanya antara Cing-pay dan Sia-pay (golongan baik dan jahat) tidak pernah hidup bersama. Mo-kau dan Ngo-gak-kiam-pay kita telah mengikat permusuhan sedalam lautan. Sekarang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay bersahabat dengan kaum penjahat dan menggabungkan diri kepada musuh, setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus membunuhnya bersama-sama. Siapa yang tunduk kepada perintah Co-bengcu ini hendaklah berdiri ke sisi kiri."

Tertampaklah Thian-bun Tojin yang pertama-tama berbangkit dan berjalan ke sebelah kiri dengan langkah lebar tanpa menoleh sekejap pun kepada Lau Cing-hong.

Kiranya gurunya Thian-bun Tojin dahulu telah ditewaskan oleh seorang gembong wanita dari Mo-kau.

Sebab itulah bencinya terhadap Mo-kau boleh dikata merasuk tulang sumsum.

Maka begitu dia menyisihkan diri ke sebelah kiri, segera anak muridnya juga ikut ke sebelah sana.

Orang kedua yang berbangkit adalah Gak Put-kun, katanya.

"Lau-hiante, asal kau manggut saja, maka orang she Gak ini akan mewakilkan kau membereskan Kik Yang itu. Kau bilang seorang jantan jangan sekali-kali mengkhianati sahabat. Apakah di dunia ini hanya Kik Yang seorang saja adalah sahabatmu? Apakah orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kesatria yang hadir di sini bukanlah sahabatmu? Ratusan, ribuan sahabat dari kalangan persilatan ini begitu mendengar engkau hendak mengundurkan diri dari dunia persilatan, serentak mereka lantas datang dari tempat jauh untuk mengucapkan selamat kepadamu dengan segala ketulusan hati. Apakah tindakan mereka ini belum dapat dianggap sebagai sahabat? Sekalipun Kik Yang itu mahir memetik kecapi, apa karena itu lalu jiwa segenap keluargamu serta persahabatan antara Ngo-gak-kiam-pay kita dan kawan-kawan yang hadir di sini ini kurang berharga daripada persahabatan dengan Kik Yang seorang?"

Perlahan-lahan Lau Cing-hong menggeleng kepala, sahutnya.

"Gak-suheng, engkau adalah orang terpelajar dan tentu tahu apa yang pantas dilakukan seorang laki-laki sejati dan apa yang tidak patut diperbuat. Nasihatmu yang baik ini kuterima juga dengan rasa terima kasih. Akan tetapi orang lain memaksa aku membunuh Kik-toako, hal ini sekali-kali tidak dapat kulakukan, sama halnya bila ada orang yang memaksa aku membunuh engkau Gak-suheng atau salah seorang sahabat yang hadir ini, biarpun seluruh anggota keluargaku tertimpa bencana juga takkan kulakukan. Kik-toako adalah sahabatku yang paling karib, hal ini sudah terang, tapi Gak-suheng juga sahabat baikku. Dan bila Kik-toako sampai membuka suara bermaksud mencelakai salah seorang sahabatku dari Ngo-gak-kiam-pay, maka perbuatannya itu tentu akan kupandang hina dan takkan menganggapnya sebagai sahabat lagi."

Karena ucapan Lau Cing-hong ini sangat sungguh-sungguh dan tulus kedengarannya, mau tak mau tergerak juga perasaan para kesatria.

Maklumlah orang-orang persilatan paling mengutamakan budi setia antarkawan.

Sedemikian tegas Lau Cing-hong membela Kik Yang, diam-diam para kesatria merasa gegetun juga akan jiwa luhur tokoh Heng-san-pay itu.

"Lau-hiante,"

Ujar Gak Put-kun.

"ucapanmu ini terang tidak betul. Lau-hiante mengutamakan setia kawan, hal ini memang mengagumkan. Tapi untuk itu juga harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara yang betul dan yang salah. Selama ini Mo-kau telah banyak berbuat kejahatan, tidak sedikit orang Kangouw yang baik-baik telah menjadi korban keganasannya, begitu pula rakyat jelata yang tak berdosa. Lau-hiante sendiri hanya karena merasa cocok dan sepaham dalam hal main musik lantas segenap jiwa anggota keluargamu juga kau pertaruhkan untuknya. Rasanya engkau telah salah mengartikan 'setia kawan' yang kau junjung tinggi itu."

Lau Cing-hong tersenyum hambar, katanya.

"Gak-toako, engkau tidak suka seni suara, makanya tidak paham maksudku yang mendalam. Hendaklah maklum bahwa dalam ucapan dan kata-kata, orang dapat berdusta dan membohong, tapi suara musik, suara kecapi dan seruling adalah suara hati yang tidak dapat dipalsukan atau dibikin-bikin. Kik-toako bersahabat dengan aku berdasarkan perpaduan suara kecapi dan seruling, jiwa kami telah saling mengikat, aku bersedia menanggungnya dengan segenap jiwa anggota keluargaku bahwa Kik-toako meski betul adalah orang Mo-kau, tapi beliau sedikit pun tidak berbau jahat seperti orang Mo-kau yang lain."

Gak Put-kun menghela napas panjang, dia tidak bicara lagi terus berjalan ke sebelah Thian-bun Tojin.

Segera Lo Tek-nau, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu dan lain-lain mengikuti jejak sang guru.

Sekarang bergilir atas diri Ting-yat Suthay, dengan tajam ia menatap Lau Cing-hong.

Katanya.

"Selanjutnya aku tetap memanggil Lau-hiante padamu atau menyebut Lau Cing-hong saja?"

Lau Cing-hong tersenyum getir, sahutnya.

"Jiwa orang she Lau ini hanya tergantung sekejap lagi, selanjutnya Suthay tiada sempat memanggil padaku pula."

Ting-yat Suthay merangkap tangannya dan menyebut Buddha, lalu perlahan-lahan berjalan ke sebelah Gak Put-kun dengan diikuti oleh anak muridnya.

"Urusan ini hanya menyangkut Lau Cing-hong seorang,"

Sahut Hui Pin kemudian.

"maka tiada sangkut pautnya dengan murid-murid Heng-san-pay yang lain-lain. Para murid Heng-san-pay yang tidak ikut membantu kejahatan dan mau sadar kembali boleh berdiri semua ke sebelah kiri."

Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru.

"Lau-supek, maafkanlah kepada kami!"

Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay.

Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong.

Sedangkan tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang datang.

"Murid keluarga Lau sendiri disilakan juga berdiri ke sisi kiri!"

Seru Hui Pin pula. Tapi Hiang Tay-lian lantas berseru lantang.

"Kami telah menerima budi besar dari perguruan, bilamana Suhu ada kesukaran, sudah seharusnya kami ikut memikul tanggung jawab. Kini para murid keluarga Lau bertekad sehidup semati dengan Suhu."

"Bagus! Bagus!"

Kata Lau Cing-hong dengan air mata bercucuran saking terharunya.

"Tay-lian, dengan ucapanmu ini kau sudah cukup berbakti kepada gurumu. Bolehlah kalian berdiri ke sebelah sana saja. Suhu sendiri yang berbuat, sedikit pun tiada sangkut pautnya dengan kalian."

"Sret", mendadak Bi Wi-gi melolos pedang. Serunya.

"Para murid keluarga Lau sudah tentu bukan tandingan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi urusan hari ini tiada pilihan lain kecuali menghadapi dengan kematian. Siapa yang berani mengganggu guru kami boleh silakan membunuh dulu orang she Bi ini!"

Habis berkata ia terus berdiri di depan Lau Cing-hong dengan gagah berani.

"Huh, mutiara sebesar beras juga mau coba-coba bersinar?"

Ejek Hui Pin. Mendadak tangan kirinya bergerak.

"crit" , sejalur sinar perak yang kecil terus menyambar ke depan secepat kilat. Lau Cing-hong terkejut, cepat ia tolak lengan kanan Bi Wi-gi sehingga murid itu terlempar ke samping dengan sempoyongan, sedangkan sinar perak itu terus menyambar ke dada Lau Cing-hong. Lantaran ingin melindungi sang guru, tanpa pikir Hiang Tay-lian terus menubruk maju. Maka terdengarlah jeritannya yang ngeri, sinar perak yang berwujud jarum itu tepat menancap di tengah ulu hatinya. Kontan ia roboh dan binasa. Dengan tangan kirinya, Lau Cing-hong masih sempat merangkul tubuh muridnya itu. Ia coba periksa pernapasannya dan ternyata sudah putus. Ia menoleh dan berkata kepada Ting Tiong.

"Lo-loji, adalah Ko-san-pay kalian yang lebih dulu membunuh muridku!"

"Benar,"

Sahut Ting Tiong.

"Memang kami yang turun tangan lebih dulu. Lalu kau mau apa?"

Mendadak Lau Cing-hong angkat jenazah Hiang Tay-lian terus dilemparkan ke arah Ting Tiong.

Melihat tenaga lemparannya itu, Ting Tiong tahu Lwekang Heng-san-pay memang mempunyai keistimewaannya sendiri, apalagi Lau Cing-hong adalah tokoh terkemuka dari Heng-san-pay, tentu tenaga yang digunakan tidak boleh dipandang enteng.

Maka diam-diam ia pun menghimpun tenaga dan siap menyambut datangnya tubuh tak bernyawa itu untuk kemudian akan dilemparkan kembali.

Segera ia balas menghormat dan menjawab.

"Jauh-jauh Hui-suheng datang kemari, mengapa tidak sudi ikut minum barang secawan arak, tapi malah sembunyi di atas rumah merasakan terik sinar matahari? Rasanya Ting-suheng dan Liok-suheng tentu juga sudah datang, boleh silakan keluar saja sekalian. Melulu menghadapi orang she Lau, seorang Hui-suheng saja sudah jauh lebih dari cukup. Tapi untuk melayani para kesatria sebanyak yang hadir di sini mungkin kawan Ko-san-pay yang datang ini masih kurang cukup."

Hui Pin tersenyum, katanya.

"Buat apa Lau-suheng mengeluarkan kata-kata mengadu domba demikian? Seumpama mesti berlawanan dengan Lau-suheng sendiri, Cayhe juga tidak mampu menahan gerakan 'Siau-lok-gan-sik' Lau-suheng barusan ini. Ko-san-pay sekali-kali tidak berani merecoki Heng-san-pay, lebih-lebih tak berani memusuhi setiap kesatria mana pun yang hadir di sini ini. Soalnya urusan ini menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan-kawan Bu-lim, maka terpaksa kami harus minta agar Lau-suheng membatalkan maksud akan 'cuci tangan di baskom emas' ini."

Kata-kata itu membuat para kesatria melengak heran semua. Mereka tidak habis mengerti ada hubungan apakah antara acara "cuci tangan"

Yang dilakukan Lau Cing-hong dengan para orang Kangouw? Mengapa dikatakan menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan Bu-lim? Benar juga. Lantas terdengar Lau Cing-hong menjawab.

"Ucapan Hui-suheng tadi sungguh terlalu menjunjung tinggi padaku. Padahal orang she Lau ini hanya seorang anggota Heng-san-pay biasa saja, sebaliknya tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay tak terhitung banyaknya, apa artinya bertambah atau berkurang dengan seorang Lau Cing-hong saja? Mengapa tindakanku ini dikatakan menyangkut jiwa ribuan orang kawan Bu-lim?"

"Ya, betul,"

Demikian Ting-yat Suthay menyambung.

"Soal Lau-hiante ingin Kim-bun-swe-jiu dan mau menjadi pembesar tergolong keroco itu, untuk bicara terus terang sesungguhnya aku pun merasa hina. Cuma setiap manusia mempunyai cita-citanya sendiri-sendiri, dia suka menjadi pembesar dan ingin rezeki nomplok, asalkan tidak merugikan rakyat jelata, tidak merusak kesetiakawanan sesama orang Bu-lim, maka siapa pun tidak dapat merintangi kebebasannya. Kukira Lau-hiante juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu sehingga dapat membikin celaka kawan Bu-lim sedemikian banyaknya."

"Ting-yat Suthay,"

Ujar Hui Pin.

"engkau adalah orang beribadat, sudah tentu kurang paham akan tipu muslihat orang luar. Hendak maklum, bilamana intrik besar ini sampai terlaksana, bukan saja banyak kawan Bu-lim yang akan menjadi korban, bahkan juga rakyat jelata yang tak berdosa akan ikut mengalami bencana besar. Coba kalian pikir sendiri. Lau-samya dari Heng-san-pay adalah seorang tokoh termasyhur, seorang kesatria yang terkenal di Kangouw, masakah beliau sudi merendahkan diri untuk mengekor kepada kawanan pembesar anjing yang korup itu? Harta benda Lau-samya sendiri sudah cukup kaya raya, masakan beliau masih kemaruk harta dan ingin kedudukan segala? Sebab itulah sudah lama kami merasa sangsi, bahwasanya seorang tokoh sebagai Lau-samya hanya sudi menjabat pangkat sedemikian kecilnya, hal ini benar-benar terlalu aneh dan mencurigakan."

"Hahaha! Bagus, bagus!"

Demikian Lau Cing-hong tidak marah, berbalik ia tertawa.

"Kiranya di balik persoalan ini dikatakan masih mengandung suatu intrik besar yang maharahasia. Hm, Hui-suheng, jika kau mau memfitnah hendaklah juga perlu mencari alasan yang masuk di akal. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan urusan ini, sebab kalau kukatakan sesungguhnya akan membikin malu Heng-san-pay sendiri. Tapi karena urusan sudah telanjur begini, terpaksa aku tidak dapat mengelakkan lagi, biarlah para kawan yang hadir di sini sukalah menimbang dengan adil. Nah, Ting-suheng dan Liok-suheng boleh silakan keluar saja sekalian!"

"Baik!"

Berbareng terdengar dari sebelah timur dan barat di atas rumah ada dua orang berseru.

Bayangan kuning berkelebat, tahu-tahu dua orang sudah berdiri di depan ruangan.

Ginkang kedua orang ini serupa benar dengan cara Hui Pin melompat turun tadi.

Yang berdiri di sebelah timur adalah seorang botak, botak dalam arti kata gundul kelimis tanpa seujung rambut pun, sampai-sampai batok kepalanya kelihatan mengilap.

Dia adalah tokoh kedua dari Ko-san-pay, namanya Ting Tiong.

Sedangkan orang yang berdiri di sebelah barat adalah seorang kurus kering seperti orang sakit TBC, agak bungkuk lagi pucat seperti orang yang sudah lebih seminggu kelaparan.

Para kesatria mengenalnya sebagai tokoh ketiga dalam Ko-san-pay yang terkenal, namanya Liok Pek, berjuluk Wi-bin Cukat atau si Cukat Liang (Khong Beng) bermuka pucat, yaitu lantaran dia sangat banyak tipu akalnya.

Ting Tiong dan Liok Pek sangat termasyhur di dunia persilatan, maka para kesatria serentak berbangkit menyambut kedatangan mereka berbareng saling mengucapkan salam hormat masing-masing.

Tampaknya tokoh Ko-san-pay yang datang ini makin lama makin banyak dan makin jempolan, agaknya urusan hari ini sangat penting, rasanya Lau Cing-hong pasti akan menghadapi kesukaran.

"Lau-hiante,"

Demikian Ting-yat Suthay telah membuka suara.

"kau jangan khawatir. Segala urusan di dunia ini tak terlepas dari satu kata, yakni 'kebenaran'. Janganlah kau anggap orang lain berjumlah banyak, memangnya para kawan kita dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay dan Hing-san-pay hanya datang untuk gegares saja tanpa bekerja?"

Di balik ucapannya itu, secara terang-terangan ia hendak menyatakan bilamana Ko-san-pay berani main kekerasan dan mengandalkan orang banyak, maka Hing-san-pay yang dipimpinnya adalah pihak pertama yang akan membela keadilan.

Sedangkan Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan lain-lain juga takkan tinggal diam.

Tapi Lau Cing-hong hanya tersenyum getir saja.

Katanya.

"Sungguh memalukan kalau urusan ini diceritakan. Sebenarnya persoalannya mengenai urusan dalam Heng-san-pay kami, tapi sekarang para kawan mesti ikut-ikut khawatir, sungguh aku merasa tidak enak. Sekarang aku pun dapat memahami duduknya perkara. Tentulah Bok-suheng kami juga telah mengadu biru kepada Co-suheng Bengcu tentang macam-macam kesalahanku sehingga para Suheng dari Ko-san-pay lantas dikerahkan kemari untuk merecoki aku. Ya, ya, apa mau dikata lagi, biarlah aku mengaku salah saja kepada Bok-suko."

Sorot mata Hui Pin yang tajam menyapu sekeliling kepada para hadirin. Kemudian ia berkata.

"Kau bilang urusan ini ada sangkut pautnya dengan Bok-taysiansing? Jika demikian silakan Bok-taysiansing keluar saja, biar kita bicara secara terus terang."

Habis ucapannya, suasana di tengah sidang menjadi hening senyap. Sampai agak lama tetap tidak tertampak munculnya "Siau-siang-ya-uh"

Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay atau Suheng Lau Cing-hong yang termasyhur itu. Dengan tersenyum getir Lau Cing-hong lantas membuka suara pula.

"Tentang pertengkaran antara kami bersaudara seperguruan cukup diketahui oleh para kawan dari Bu-lim dan tidak perlu kututup-tutupi lagi. Para sahabat tentu maklum bahwa dari warisan leluhur, maka keluargaku boleh dikata cukup berada, sebaliknya Bok-suko kami adalah orang yang miskin. Sebenarnya saling membantu antarkawan adalah lazim, apalagi antarsesama Suheng dan Sute. Namun berhubung urusan ini Bok-suko lantas sirik dan selamanya tak mau menginjak lagi ke rumahku, sudah ada beberapa tahun kami Suheng dan Sute tidak berbicara dan tidak bertemu, maka dengan sendirinya hari ini Bok-suko juga tidak mungkin hadir di sini. Adapun yang membuat aku merasa penasaran adalah Co-bengcu hanya percaya kepada pengaduan sepihak saja lalu mengirimkan para Suheng kemari untuk menghadapi aku, sampai-sampai anak-istriku juga ikut ditawan, bukankah hal ini agak ... agak keterlaluan?"

"Angkat panjimu!"

Seru Hui Pin kepada Su Ting-tat. Su Ting-tat mengiakan dan segera mengangkat panjinya dan berdiri di samping Hui Pin.

"Lau-suheng,"

Kata Hui Pin dengan keren.

"urusan hari ini sama sekali tiada hubungannya dengan Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay kalian, maka kau tidak perlu menyinggung tentang dirinya. Menurut perintah Bengcu, kami diharuskan menyelidiki dan menanya kau dengan jelas, yaitu bagaimana persekongkolanmu dengan Tonghong Put-pay dari Mo-kau, intrik apa yang telah kalian atur untuk menghadapi Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kawan dari Bu-lim?"

Kata-kata itu telah mengguncangkan perasaan setiap hadirin.

Hendaklah maklum bahwa Mo-kau (agama sesat) selalu memusuhi para kesatria dari kalangan Pek-to, permusuhan demikian sudah berlangsung selama ratusan tahun dan tidak habis-habis, kedua belah pihak sama-sama banyak jatuh korban.

Dari ribuan hadirin sekarang paling sedikit ada separuhnya yang pernah diganggu oleh pihak Mo-kau, ada yang ayah-bundanya terbunuh, ada gurunya terbinasa, maka bila menyebut agama iblis itu semuanya merasa dendam dan benci.

Sebabnya Ngo-gak, yaitu aliran lima gunung (Ko-san, Thay-san, Hoa-san, Heng-san dan Hing-san) berserikat justru tujuan utamanya adalah untuk menghadapi Mo-kau.

Ilmu silat Mo-kau baik Lwekang maupun Gwakang mempunyai caranya yang khas, betapa pun hebat ilmu silat pihak Ngo-gak sering juga kewalahan melawannya.

Lebih-lebih ketua Mo-kau yang bernama Tonghong Put-pay, bahkan oleh orang diberi julukan sebagai "jago nomor satu selama seabad ini".

Sesuai dengan namanya.

Put-pay (tidak terkalahkan), maka sejak dia mengetuai Mo-kau memang belum pernah dikalahkan oleh siapa pun juga.

Lantaran itulah demi para kesatria mendengar Hui Pin membongkar hubungan antara Lau Cing-hong dengan pihak Mo-kau, apakah hal ini betul atau tidak, yang jelas setiap kesatria itu ikut berkepentingan dan menyangkut keselamatan mereka pula.

Maka dari itu rasa simpatik mereka kepada Lau Cing-hong semula lantas lenyap seketika.

Maka terdengar Lau Cing-hong telah menjawab tuduhan Hui Pin tadi.

"Selamanya Cayhe belum pernah melihat, apalagi kenal kepada ketua Mo-kau Tonghong Put-pay, entah dengan dasar apa aku dituduh bersekongkol dan berintrik dengan pihak Mo-kau?'' Hui Pin tidak menjawabnya, ia hanya melirik Samsuhengnya, yaitu Liok Pek. Maka dengan suara perlahan-lahan, Liok Pek telah bicara.

"Lau-suheng, apa yang kau katakan rasanya masih banyak yang ketinggalan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Di dalam Mo-kau ada seorang Hou-hoat-tianglo (sesepuh pembela agama) yang bernama Kik Yang. Entah Lau-suheng kenal atau tidak?"

Sejak mula Lau Cing-hong sebenarnya sangat tenang, tapi demi mendengar nama "Kik Yang", seketika air mukanya berubah hebat.

Namun bibirnya terkatup rapat-rapat dan tidak menjawab.

Ting Tiong, tokoh kedua Ko-san-pay yang berkepala botak kelimis itu sejak datang tadi belum bersuara sepatah pun.

Sekarang mendadak ia bertanya dengan suara bengis.

"Kau kenal tidak kepada Kik Yang?"

Sedemikian keras dan lantang suaranya sehingga anak telinga setiap orang sampai mendenging.

Dalam pandangan semua orang jejak Ting Tiong seakan-akan bertambah tinggi besar secara mendadak dan penuh wibawa.

Namun Lau Cing-hong masih tetap tidak menjawab.

Seketika perhatian beribu orang terpusat kepadanya, dalam hati setiap orang sama merasa sikap Lau Cing-hong yang bungkam itu serupa saja dengan mengakui pertanyaan Ting-Tiong secara diam-diam.

Selang agak lama barulah Lau Cing-hong mengangguk dan berkata.

"Betul! Kik Yang, Kik-toako memang kenalanku. Malahan bukan cuma kenalan sekadar kenalan, bahkan dia adalah sahabatku yang baik. Sahabatku yang paling kental selama hidupku ini."

Seketika suasana sidang menjadi gempar.

Para kesatria ramai membicarakan pengakuan Lau Cing-hong yang terus terang dan di luar dugaan itu.

Semula mereka menyangka paling-paling Lau Cing-hong hanya akan mengaku bahwa Kik Yang memang betul pernah dikenalnya dan sekali-kali tidak menduga bahwa dia berani menyatakan bahwa gembong Mo-kau itu justru adalah sahabatnya yang paling kental.

Hui Pin tampak tersenyum, katanya.

"Baik sekali karena kau sendiri sudah mengaku. Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Nah, Lau Cing-hong, sekarang Co-bengcu telah menentukan dua jalan, bolehlah kau pilih sendiri."

Akan tetapi Lau Cing-hong seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Hui Pin itu, dengan tenang saja ia duduk kembali, ia menuang secawan arak dan ditenggaknya habis.

Diam-diam para hadirin memuji dan merasa kagum terhadap sikap Lau Cing-hong yang tabah dan tenang itu.

Menghadapi saat segawat ini ternyata dia masih sanggup bersikap tenang tanpa sedikit memperlihatkan tanda-tanda kecemasan.

Dengan suara lantang Hui Pin lantas berseru pula.

"Menurut Co-bengcu, katanya Lau Cing-hong adalah tokoh yang jarang terdapat di dalam Heng-san-pay, hanya karena sedikit kekhilafannya sehingga salah bergaul dengan orang jahat, apabila mau insaf kembali, sudah tentu kaum kita akan suka memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya. Jikalau jalan ini yang kau pilih, maka Co-bengcu memberi batas waktu sebulan agar kau membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, bawalah buah kepalanya sebagai bukti, dengan demikian segala kesalahan yang lain takkan diusut lebih lanjut dan kita masih tetap sahabat baik dan saudara dalam Ngo-gak-kiam-pay."

Para kesatria berpikir bahwa selamanya antara yang baik dan yang jahat tidak pernah hidup bersama.

Orang-orang Mo-kau bilamana kepergok oleh tokoh-tokoh dari kalangan pendekar tentu lantas saling labrak mati-matian.

Kalau sekarang Co-bengcu mengharuskan Lau Cing-hong membunuh dulu Kik-Yang untuk membuktikan kesetiaannya, hal ini pun dapat dimengerti dan bukan sesuatu permintaan yang berlebihan.

Sekilas air muka Lau Cing-hong bersenyum sedih, sahutnya kemudian.

"Kik-toako dan aku begitu bertemu lantas seperti sobat lama, lalu berhubungan dengan sangat akrab. Dia telah bertemu belasan kali dengan aku, kami tidur satu ranjang dan bicara sepanjang malam, terkadang bila kami menyinggung tentang persengketaan di antara berbagai golongan, Kik-toako selalu menghela napas dan merasa menyesal, beliau anggap pertengkaran antara kedua pihak sesungguhnya tidak ada gunanya. Persahabatanku dengan Kik-toako hanya mengutamakan saling bertukar pikiran tentang seni musik. Beliau adalah ahli menabuh kecapi dan aku suka meniup seruling. Di kala bertemu sebagian besar waktu kami gunakan untuk menabuh musik kesukaan masing-masing. Tentang ilmu silat selamanya kami tidak pernah membicarakannya."

Sampai di sini Lau Cing-hong tertampak tersenyum puas, lalu menyambung.

"Boleh jadi para hadirin tidak percaya, tapi aku anggap pada zaman ini dalam hal menabuh kecapi rasanya tiada orang lain yang sanggup melebihi Kik-toako, sedangkan dalam hal meniup seruling rasanya juga tiada orang kedua yang melebihi Lau Cing-hong. Meski Kik-toako adalah orang Mo-kau, tapi dari suara kecapinya aku cukup mengenal wataknya yang baik dan budinya yang luhur, beliau benar-benar seorang manusia yang berperasaan. Sebab itulah Lau Cing-hong benar-benar sangat kagum padanya dan biarpun bagaimana jadinya tidak nanti aku mau mencelakai seorang jantan sebagai Kik-toako."

Para kesatria bertambah heran.

Sama sekali mereka tidak menduga bahwa persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu dimulai dari seni musik.

Melihat ucapan Lau Cing-hong yang sungguh-sungguh dan jujur itu, mau tak mau mereka harus percaya kepada ceritanya itu.

Di dunia Kangouw memang banyak orang-orang kosen yang aneh-aneh tingkah lakunya, jika Lau Cing-hong keranjingan dalam hal musik juga tidak perlu diherankan.

Bagi orang yang tahu akan seluk-beluk Heng-san-pay lantas teringat pula bahwa di antara tokoh-tokoh Heng-san-pay dari dulu sampai sekarang memang banyak yang suka kepada seni musik.

Misalnya pejabat ketua mereka sekarang, yaitu Bok-taysiansing yang berjuluk "Siau-siang-ya-uh" , beliau juga paling suka menabuh rebab sehingga diberikan gelar "di dalam rebab tersimpan pedang, di tengah pedang bersuarakan rebab".

Dari itu bila persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu diawali dengan main musik, hal ini memang cukup masuk di akal.

Hui Pin lantas berkata pula.

"Tentang persahabatanmu dengan gembong Mo-kau itu dalam seni musik, hal ini sudah diselidiki Co-bengcu dengan jelas. Kata Bengcu kita, setiap orang Mo-kau mempunyai tipu muslihat tertentu. Mereka tahu sesudah perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, pasti kekuatan kita akan bertambah besar dan sukar dilawan oleh Mo-kau. Sebab itulah dengan segala daya upaya pihak Mo-kau berusaha hendak memecah belah dan mengadu domba kita, segala akal licik dapat pula dijalankan oleh mereka. Terhadap kaum muda kita sering pula mereka pancing dengan wanita cantik. Terhadap tokoh sebagai Lau-suheng yang hidupnya serbakecukupan, mereka lantas berusaha mendekati kegemaranmu dalam hal seni musik dan tugas ini telah diserahkan kepada Kik Yang. Untuk ini hendaklah Lau-suheng suka menggunakan pikiran secara dingin, sudah berapa banyak saudara-saudara kita yang telah menjadi korban keganasan pihak Mo-kau? Mengapa engkau kena dikelabui mereka dengan akal-akal licik itu dan tanpa sadar sedikit pun?"

"Benar, apa yang dikatakan Hui-sute memang tidak salah,"

Demikian Ting-yat Suthay menimbrung.

"Ditakutinya Mo-kau bukanlah lantaran ilmu silat mereka yang keji, tapi adalah macam-macam tipu muslihat mereka yang licik dan sukar diterka itu. Lau-sute, engkau adalah orang baik-baik, kalau tanpa sadar kena ditipu juga tidak menjadi soal. Biarlah kita bersama-sama turun tangan dan membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, maka segala urusan akan menjadi beres. Ngo-gak-kiam-pay kita selamanya senapas dan sehaluan, jangan sekali-kali kena diadudombakan oleh Mo-kau sehingga saling bertengkar sendiri."

"Ya, Lau-sute, seorang laki-laki sejati bila tahu akan kesalahan sendiri dan mau memperbaiki, hal ini bukanlah sesuatu yang mesti diributkan,"

Ujar Thian-bun Tojin.

"Asalkan sekali tebas kau binasakan gembong Mo-kau she Kik itu, maka kawan-kawan dari dunia persilatan akan tetap memuji ketegasanmu sebagai seorang kesatria yang bijaksana. Sebagai kawanmu kami pun akan ikut merasa bangga."

Lau Cing-hong ternyata tidak menjawabnya, sinar matanya beralih ke arah Gak Put-kun. Katanya.

"Gak-toako, engkau adalah seorang laki-laki yang bijaksana, para kawan-kawan terhormat dari Bu-lim yang hadir di sini sama mendesak aku menjual kawan, kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya?"

"Lau-hiante,"

Sahut Gak Put-kun.

"jika benar-benar demi sahabat, sebagai kaum Bu-lim kita ini biarpun leher putus demi membela kawan juga tidak menjadi soal. Namun gembong Mo-kau she Kik itu terang adalah manusia palsu mulutnya, tapi hatinya berbisa. Dia sengaja mendekati Lau-hiante dan mengikuti kegemaranmu dalam seni musik untuk melaksanakan tipu muslihatnya yang keji. Bila manusia demikian juga kau anggap sebagai sahabat, bukankah kata-kata 'sahabat' akan ternoda? Manusia iblis demikian masakah kau anggap sebagai sahabat karib segala?"

"Itu dia, apa yang diucapkan Gak-siansing memang tegas dan tepat,"

Demikian orang banyak menanggapi.

"Kita harus dapat membedakan antara kawan dan lawan. Terhadap kawan kita memang harus setia, tapi terhadap lawan kita tidak kenal ampun, apalagi bicara tentang setia kawan pula?"

Lau Cing-hong menghela napas. Ia tunggu sesudah suara orang banyak rada tenang kembali barulah bicara dengan perlahan.

"Sejak mulai bersahabat dengan Kik-toako sudah kuduga akan terjadi seperti hari ini. Melihat gelagatnya akhir-akhir ini, kutaksir tidak lama lagi Ngo-gak-kiam-pay kita tentu akan terjadi suatu pertarungan habis-habisan dengan Mo-kau. Di satu pihak adalah para saudara serikat sendiri, di lain pihak adalah sahabat karib pula sehingga sukar bagiku untuk menentukan pihak mana harus dibantu. Lantaran itulah aku mencari jalan dengan mengadakan upacara 'cuci tangan' seperti sekarang ini, maksudku adalah untuk mengumumkan kepada para kawan kaum kita bahwa orang she Lau sejak kini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak ikut campur kepada segala persengketaan orang Kangouw, harapanku adalah supaya dapat hidup bebas tenteram dan tidak tersangkut di dalam permusuhan dan bunuh-membunuh. Tujuanku membeli suatu pangkat sekecil ini juga hanya untuk menghindarkan diri dari kesukaran, padahal pangkat sekecil ini sesungguhnya cuma membikin cemar namaku saja. Siapa duga Co-bengcu memang benar-benar mahasakti, langkah yang kuambil ini toh tetap susah mengelabui dia."

Mendengar keterangannya ini barulah para kesatria mengerti duduknya perkara. Kiranya dia mengadakan upacara "cuci tangan di baskom emas"

Ini sebenarnya mempunyai maksud tujuan sejauh ini.

Pantas orang heran masakah seorang tokoh terkemuka dari Heng-san-pay sudi menjabat pangkat sekecil itu.

Hui Pin juga saling pandang sekejap dengan kedua Suhengnya, yaitu Ting Tiong dan Liok Pek, mereka merasa puas karena Ciangbun-suheng mereka telah berhasil mengetahui maksud tujuan Lau Cing-hong itu dan keburu merintangi tepat pada waktunya.

Maka terdengar Lau Cing-hong sedang menyambung pula.

"Tentang permusuhan antara Mo-kau dan golongan kita memang sudah sangat lama dan berlarut-larut, siapa yang benar dan siapa yang salah juga sukar untuk diceritakan. Yang kuharap hanyalah melepaskan diri dari persengketaan berdarah ini, selanjutnya biar hidup tenteram sebagai rakyat yang patuh kepada undang-undang negara dan menghibur diri dengan meniup seruling. Kurasa cita-citaku ini toh tidak sampai melanggar peraturan perguruan sendiri atau perjanjian antara Ngo-gak-kiam-pay kita."

"Huh, enak saja kau bicara,"

Demikian Hui Pin mendengus.

"Jika setiap orang meniru kau, melarikan diri di saat akan menghadapi musuh, maka dunia ini pasti akan celaka dan dikuasai oleh kaum iblis. Kau sendiri ingin melepaskan diri dari segala persoalan, tapi gembong Mo-kau she Kik itu apakah juga mau berlaku seperti kau?"

Cing-hong tersenyum, jawabnya.

"Di hadapanku Kik-toako sudah bersumpah kepada cikal bakal Mo-kau mereka untuk selanjutnya biarpun apa yang terjadi antara Mo-kau dengan kaum persilatan kita, maka Kik-toako sama sekali tak mau ikut campur lagi. Asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang."

"Hahaha! Bagus amat istilah 'asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang',"

Dengus Hui Pin dengan tertawa.

"Lalu bagaimana apabila kaum kita yang mengganggunya?"

"Kik-toako sudah menyatakan bahwa beliau akan mengalah sedapat mungkin,"

Sahut Lau Cing-hong.

"sekali-kali beliau takkan main menang-menangan dan bertempur dengan orang, bahkan akan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan salah paham kedua pihak. Kemarin juga Kik-toako telah mengirim berita padaku bahwa murid Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong telah dilukai orang, jiwanya dalam keadaan bahaya, tapi beliau telah memberi pertolongan seperlunya."

Ucapan ini kembali membikin gempar para hadirin, lebih-lebih bagi orang-orang Hoa-san-pay, Hing-san-pay, dan Jing-sia-pay. Dengan cepat Gak Leng-sian, itu putri Gak Put-kun, lantas bertanya.

"Lau-susiok, di manakah Lenghou-suko berada sekarang? Apakah ... apakah benar dia telah ditolong oleh ...oleh Locianpwe she Kik itu?"

"Jika begitu ucapan Kik-toako, rasanya tentu benar adanya,"

Sahut Lau Cing-hong.

"Untuk jelasnya boleh kau tanya Lenghou-hiantit sendiri bila kelak kau bertemu dengan dia."

"Huh, buat apa mesti mengherankan hal-hal begitu?"

Ejek Hui Pin.

"Orang-orang Mo-kau memang paling pandai memecah belah dan mengadu domba, segala tipu akal yang licik dapat dilakukan oleh mereka. Dengan segala daya upaya ia telah memelet murid Hoa-san-pay. Boleh jadi lantaran itu Lenghou Tiong menjadi merasa terima kasih dan ingin membalas budi pertolongannya itu. Bukan mustahil sejak kini Ngo-gak-kiam-pay kita telah bertambah lagi seorang pengkhianat."

Mendadak alis Lau Cing-hong menegak, tanyanya dengan angkuh.

"Hui-suheng, kau mengatakan sejak kini telah 'bertambah lagi' seorang pengkhianat. Apa maksudmu dengan kata-kata 'bertambah lagi' itu?"

"Siapa yang berbuat, dia harus tahu sendiri, apa perlu aku jelaskan pula?"

Sahut Hui Pin.

"Hm, jadi secara langsung kau menuduh orang she Lau ini telah menjadi pengkhianat?"

Tanya Lau Cing-hong.

"Aku berkawan dengan siapa saja adalah urusan pribadiku, orang luar tidak berhak untuk ikut campur. Selamanya Lau Cing-hong tidak merasa mengkhianati kawan dan mendurhakai perguruan, maka istilah 'pengkhianat' itu biarlah aku aturkan kembali kepadamu."

Tadinya sikap Lau Cing-hong tampaknya ramah tamah sebagaimana layaknya seorang hartawan terhadap tamunya, tapi sekarang mendadak sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, sikapnya gagah berani.

Walaupun berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan toh dia tetap mengadu mulut dengan tidak kalah tajamnya dengan Hui Pin, mau tak mau para hadirin merasa kagum juga terhadap ketabahannya.

"Jika demikian, jadi sudah terang Lau-suheng tidak mau memilih jalan pertama dan tegas-tegas tidak mau membinasakan gembong she Kik dari Mo-kau itu?"

Hui Pin menegas.

"Bila memang sudah ada perintah dari Co-bengcu, tiada halangannya sekarang juga Hui-suheng turun tangan untuk membunuh segenap keluargaku,"

Sahut Lau Cing-hong.

"Huh, jangan kau mentang-mentang ada sekian banyak kesatria-kesatria dari segenap penjuru sedang bertamu di rumahmu ini dan mengira Ngo-gak-kiam-pay kami akan merasa jeri, lalu tidak berani mengadakan pembersihan kepada kaum pengkhianat?"

Demikian jengek Hui Pin. Mendadak ia memberi tanda kepada Su Ting-tat dan berseru.

"Coba kemari!"

Su Ting-tat mengiakan sambil melangkah maju. Hui Pin mengambil panji pancawarna itu dari tangan Su Ting-tat, lalu diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil berseru.

"Dengarkanlah Lau Cing-hong! Atas perintah Co-bengcu, jika kau tidak mau berjanji untuk membunuh Kik Yang di dalam waktu sebulan, maka terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus segera mengadakan pembersihan di antara anggota-anggotanya sendiri untuk menghindarkan bencana di kemudian hari. Babat rumput harus sampai akar-akarnya, sedikit pun tidak kenal ampun. Untuk ini hendaklah kau pikirkan lagi semasak-masaknya!"

Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya.

"Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain, mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri? Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi, terserahlah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja, masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh apa-apa berani melawannya? Memangnya segala apa sudah diatur oleh Ko-san-pay kalian, boleh jadi peti mati bagiku mungkin juga sudah kalian sediakan. Kalau mau turun tangan boleh silakan saja, mau tunggu kapan lagi?"

Mendadak Hui Pin mengebaskan panji kebesarannya, serunya dengan suara lantang.

"Para Suheng dan Sute dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay, Hing-san-pay dan Heng-san-pay, menurut pesan dari Co-bengcu, selamanya antara Cing-pay dan Sia-pay (golongan baik dan jahat) tidak pernah hidup bersama. Mo-kau dan Ngo-gak-kiam-pay kita telah mengikat permusuhan sedalam lautan. Sekarang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay bersahabat dengan kaum penjahat dan menggabungkan diri kepada musuh, setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus membunuhnya bersama-sama. Siapa yang tunduk kepada perintah Co-bengcu ini hendaklah berdiri ke sisi kiri."

Tertampaklah Thian-bun Tojin yang pertama-tama berbangkit dan berjalan ke sebelah kiri dengan langkah lebar tanpa menoleh sekejap pun kepada Lau Cing-hong.

Kiranya gurunya Thian-bun Tojin dahulu telah ditewaskan oleh seorang gembong wanita dari Mo-kau.

Sebab itulah bencinya terhadap Mo-kau boleh dikata merasuk tulang sumsum.

Maka begitu dia menyisihkan diri ke sebelah kiri, segera anak muridnya juga ikut ke sebelah sana.

Orang kedua yang berbangkit adalah Gak Put-kun, katanya.

"Lau-hiante, asal kau manggut saja, maka orang she Gak ini akan mewakilkan kau membereskan Kik Yang itu. Kau bilang seorang jantan jangan sekali-kali mengkhianati sahabat. Apakah di dunia ini hanya Kik Yang seorang saja adalah sahabatmu? Apakah orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kesatria yang hadir di sini bukanlah sahabatmu? Ratusan, ribuan sahabat dari kalangan persilatan ini begitu mendengar engkau hendak mengundurkan diri dari dunia persilatan, serentak mereka lantas datang dari tempat jauh untuk mengucapkan selamat kepadamu dengan segala ketulusan hati. Apakah tindakan mereka ini belum dapat dianggap sebagai sahabat? Sekalipun Kik Yang itu mahir memetik kecapi, apa karena itu lalu jiwa segenap keluargamu serta persahabatan antara Ngo-gak-kiam-pay kita dan kawan-kawan yang hadir di sini ini kurang berharga daripada persahabatan dengan Kik Yang seorang?"

Perlahan-lahan Lau Cing-hong menggeleng kepala, sahutnya.

"Gak-suheng, engkau adalah orang terpelajar dan tentu tahu apa yang pantas dilakukan seorang laki-laki sejati dan apa yang tidak patut diperbuat. Nasihatmu yang baik ini kuterima juga dengan rasa terima kasih. Akan tetapi orang lain memaksa aku membunuh Kik-toako, hal ini sekali-kali tidak dapat kulakukan, sama halnya bila ada orang yang memaksa aku membunuh engkau Gak-suheng atau salah seorang sahabat yang hadir ini, biarpun seluruh anggota keluargaku tertimpa bencana juga takkan kulakukan. Kik-toako adalah sahabatku yang paling karib, hal ini sudah terang, tapi Gak-suheng juga sahabat baikku. Dan bila Kik-toako sampai membuka suara bermaksud mencelakai salah seorang sahabatku dari Ngo-gak-kiam-pay, maka perbuatannya itu tentu akan kupandang hina dan takkan menganggapnya sebagai sahabat lagi."

Karena ucapan Lau Cing-hong ini sangat sungguh-sungguh dan tulus kedengarannya, mau tak mau tergerak juga perasaan para kesatria.

Maklumlah orang-orang persilatan paling mengutamakan budi setia antarkawan.

Sedemikian tegas Lau Cing-hong membela Kik Yang, diam-diam para kesatria merasa gegetun juga akan jiwa luhur tokoh Heng-san-pay itu.

"Lau-hiante,"

Ujar Gak Put-kun.

"ucapanmu ini terang tidak betul. Lau-hiante mengutamakan setia kawan, hal ini memang mengagumkan. Tapi untuk itu juga harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara yang betul dan yang salah. Selama ini Mo-kau telah banyak berbuat kejahatan, tidak sedikit orang Kangouw yang baik-baik telah menjadi korban keganasannya, begitu pula rakyat jelata yang tak berdosa. Lau-hiante sendiri hanya karena merasa cocok dan sepaham dalam hal main musik lantas segenap jiwa anggota keluargamu juga kau pertaruhkan untuknya. Rasanya engkau telah salah mengartikan 'setia kawan' yang kau junjung tinggi itu."

Lau Cing-hong tersenyum hambar, katanya.

"Gak-toako, engkau tidak suka seni suara, makanya tidak paham maksudku yang mendalam. Hendaklah maklum bahwa dalam ucapan dan kata-kata, orang dapat berdusta dan membohong, tapi suara musik, suara kecapi dan seruling adalah suara hati yang tidak dapat dipalsukan atau dibikin-bikin. Kik-toako bersahabat dengan aku berdasarkan perpaduan suara kecapi dan seruling, jiwa kami telah saling mengikat, aku bersedia menanggungnya dengan segenap jiwa anggota keluargaku bahwa Kik-toako meski betul adalah orang Mo-kau, tapi beliau sedikit pun tidak berbau jahat seperti orang Mo-kau yang lain."

Gak Put-kun menghela napas panjang, dia tidak bicara lagi terus berjalan ke sebelah Thian-bun Tojin.

Segera Lo Tek-nau, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu dan lain-lain mengikuti jejak sang guru.

Sekarang bergilir atas diri Ting-yat Suthay, dengan tajam ia menatap Lau Cing-hong.

Katanya.

"Selanjutnya aku tetap memanggil Lau-hiante padamu atau menyebut Lau Cing-hong saja?"

Lau Cing-hong tersenyum getir, sahutnya.

"Jiwa orang she Lau ini hanya tergantung sekejap lagi, selanjutnya Suthay tiada sempat memanggil padaku pula."

Ting-yat Suthay merangkap tangannya dan menyebut Buddha, lalu perlahan-lahan berjalan ke sebelah Gak Put-kun dengan diikuti oleh anak muridnya.

"Urusan ini hanya menyangkut Lau Cing-hong seorang,"

Sahut Hui Pin kemudian.

"maka tiada sangkut pautnya dengan murid-murid Heng-san-pay yang lain-lain. Para murid Heng-san-pay yang tidak ikut membantu kejahatan dan mau sadar kembali boleh berdiri semua ke sebelah kiri."

Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru.

"Lau-supek, maafkanlah kepada kami!"

Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay.

Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong.

Sedangkan tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang datang.

"Murid keluarga Lau sendiri disilakan juga berdiri ke sisi kiri!"

Seru Hui Pin pula. Tapi Hiang Tay-lian lantas berseru lantang.

"Kami telah menerima budi besar dari perguruan, bilamana Suhu ada kesukaran, sudah seharusnya kami ikut memikul tanggung jawab. Kini para murid keluarga Lau bertekad sehidup semati dengan Suhu."

"Bagus! Bagus!"

Kata Lau Cing-hong dengan air mata bercucuran saking terharunya.

"Tay-lian, dengan ucapanmu ini kau sudah cukup berbakti kepada gurumu. Bolehlah kalian berdiri ke sebelah sana saja. Suhu sendiri yang berbuat, sedikit pun tiada sangkut pautnya dengan kalian."

"Sret", mendadak Bi Wi-gi melolos pedang. Serunya.

"Para murid keluarga Lau sudah tentu bukan tandingan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi urusan hari ini tiada pilihan lain kecuali menghadapi dengan kematian. Siapa yang berani mengganggu guru kami boleh silakan membunuh dulu orang she Bi ini!"

Habis berkata ia terus berdiri di depan Lau Cing-hong dengan gagah berani.

"Huh, mutiara sebesar beras juga mau coba-coba bersinar?"

Ejek Hui Pin. Mendadak tangan kirinya bergerak.

"crit" , sejalur sinar perak yang kecil terus menyambar ke depan secepat kilat. Lau Cing-hong terkejut, cepat ia tolak lengan kanan Bi Wi-gi sehingga murid itu terlempar ke samping dengan sempoyongan, sedangkan sinar perak itu terus menyambar ke dada Lau Cing-hong. Lantaran ingin melindungi sang guru, tanpa pikir Hiang Tay-lian terus menubruk maju. Maka terdengarlah jeritannya yang ngeri, sinar perak yang berwujud jarum itu tepat menancap di tengah ulu hatinya. Kontan ia roboh dan binasa. Dengan tangan kirinya, Lau Cing-hong masih sempat merangkul tubuh muridnya itu. Ia coba periksa pernapasannya dan ternyata sudah putus. Ia menoleh dan berkata kepada Ting Tiong.

"Lo-loji, adalah Ko-san-pay kalian yang lebih dulu membunuh muridku!"

"Benar,"

Sahut Ting Tiong.

"Memang kami yang turun tangan lebih dulu. Lalu kau mau apa?"

Mendadak Lau Cing-hong angkat jenazah Hiang Tay-lian terus dilemparkan ke arah Ting Tiong.

Melihat tenaga lemparannya itu, Ting Tiong tahu Lwekang Heng-san-pay memang mempunyai keistimewaannya sendiri, apalagi Lau Cing-hong adalah tokoh terkemuka dari Heng-san-pay, tentu tenaga yang digunakan tidak boleh dipandang enteng.

Maka diam-diam ia pun menghimpun tenaga dan siap menyambut datangnya tubuh tak bernyawa itu untuk kemudian akan dilemparkan kembali.

Bab 23.

Keluarga Lau Cing-hong Dibabat Habis oleh Ko-san-pay Tak terduga gerakan Lau Cing-hong itu ternyata hanya pancingan belaka.

Tampaknya jenazah itu dia sorongkan ke depan tapi mendadak ia melompat ke samping, jenazah itu diangkat dan disodorkan kepada Hui Pin.

Karena datangnya terlalu cepat lagi tak tersangka-sangka, terpaksa Hui Pin mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk menahan di depan dada.

Tapi pada saat yang hampir bersamaan, tahu-tahu bawah iga terasa kesemutan.

Nyata Hiat-to bagian iga telah kena ditutuk oleh Lau Cing-hong.

Baca Juga: Si Rajawali Sakti Kho Ping Hoo

Baca Juga: Bangau Sakti 22

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert