Eps 8 Renjana Pendekar - Khulung
Baca online Renjana Pendekar - Khulung
Cersil Renjana Pendekar - Khulung.
"Orang yang mendengar pembicaraan rombongan Tonghong-sengcu itu bukan orang yang suka usil mulut, sebab itulah berita itu tidak tersiar dengan luas, namun orang Kangouw umumnya memang sukar menjaga rahasia, akhirnya urusan itu tetap juga didengar orang, diam-diam ada orang menyelidiki kejadian itu, betapapun mereka ingin tahu bagaimana kesudahan pertarungan sengit antara tokoh-tokoh top itu."
"Apakah kejadian itu tetap tak dapat diselidiki mereka?"
Tanya Pwe giok pula.
"Ya, tidak ada yang berhasil menyelidikinya,"
Jawab Kwe Pian sian.
"Sebab apa?"
Tanya Pwe giok. Kwe Pian sian menghela nafas gegetun, katanya.
"Sebab tokoh-tokoh top macam Tonghongsengcu, Oh-lolo dan lain-lain itu untuk selanjutnya lantas lenyap tanpa bekas, seolah-olah mereka mendadak hilang dari permukaan bumi ini, siapapun tak dapat menemukan mereka."
Terperanjat Pwe-giok, tanyanya.
"Masa orang-orang itu sama.....sama disikat Siau hun kiongcu..."
Dia pandang Cu Lui ji sekejap dan tidak melanjutkan ucapannya. Kwe Pian sian menjawab.
"Meski Siau hun kiongcu adalah tokoh ajaib di dunia persilatan, tapi menurut perkiraan umum, rasanya tidak mungkin sekaligus dia dapat menyikat tokohtokoh top sebanyak itu..."
Mendadak iapun pandang Cu Lui ji sekejap dan tidak bicara lebih lanjut. Mendadak terdengar si sakit bersuara.
"Apakah kalian ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya dari peristiwa itu?"
"Sudah tentu sangat kuharapkan asalkan ada yang sudi memberitahu."
Ujar Kwe Pian sian dengan tertawa.
"Baik, akan kukatakan kepada kalian,"
Tutur si sakit.
"Tonghong Tay-beng, Li thian ong, Ohlolo beserta 19 Tocu ke 72 pulau di lautan selatan itu, seluruhnya telah kubunuh, satupun tidak tersisa!"
Dia bicara dengan acuh tak acuh, seolah-olah kejadian itu hanya sesuatu yang biasa, tapi Kwe Pian sian dan Ji Pwe giok jadi melongo.
Meski mereka tidak pernah menyaksikan sendiri betapa lihay Tonghong Tay-beng, Oh-lolo dan lain-lain, tapi kalau Kungfu mereka diketahui jauh lebih tinggi daripada pimpinan 13 perguruan ternama jaman kini, maka dapatlah dibayangkan sampai dimana kelihaian mereka, sedangkan para Tocu dari laut selatan itu konon juga bukan jago lemah, ada diantaranya yang mampu menandingi Hui-hi-kiam-khek sehingga tiga hari tiga malam dan tetap belum terkalahkan.
Tokoh lihay semacam begitu, satu saja sukar dilawan, apalagi sekaligus berkumpul sampai 20 orang, sebaliknya si sakit yang sudah kempas kempis ini menyatakan telah membunuh tokohtokoh top itu tanpa tersisa satupun.
Keruan Pwe giok dan Kwe Pian sian melongo kaget dan tidak sanggup bersuara pula.
Dengan perlahan si sakit berkata lagi.
"Selain itu, harus kuberitahukan bahwa ibu Lui-ji, Cu Bi yang kalian kenal sebagai Siau hun kiongcu, dia meninggalkan istananya bukan lantaran takut terhadap pencarian musuh, kepergiannya itu hanya karena sudah bosan dengan kehidupan yang kesepian, tiba-tiba ia jatuh cinta kepada seorang dengan setulus hati, sebab itulah dia tidak sayang mengorbankan segalanya dan pergi bersama orang yang dicintainya itu untuk meneruskan sisa hidupnya sebagai suami istri seperti khalayak umumnya."
Pwe giok dan Kwe Pian sian memandangnya dengan terkesima, diam-diam mereka berpikir.
"Jangan-jangan orang yang dimaksudkan ialah kau sendiri? Jangan-jangan kau inilah ayah Cu Lui ji?"
Dengan sendirinya pikiran mereka ini tidak berani dikemukakan nya. Si sakit itu tiba-tiba bertanya.
"Apakah kalian ingin tahu siapakah yang berhasil merebut hati Cu Bi itu?"
"Kalau Cianpwe keberatan untuk menjelaskan juga tidak menjadi soal,"
Ujar Kwe Pian sian dengan mengiring tawa. Tapi si sakit lantas menjelaskan.
"Orang itu adalah putera Tonghong Tay-beng, Tonghong Bi giok."
Kwe Pian sian dan Pwe giok sama menghela nafas panjang, dalam hati mereka seperti agak kecewa. Dalam pada saat itu Cu Lui ji telah maju ke sana mendekap disamping si sakit.
"Pemuda itu bernama Bi-giok (kemala indah), dari namanya dapat dibayangkan dia pasti seorang pemuda cakap,"
Sambung si sakit.
"Sebab itulah, meski Cu Bi sudah cukup berpengalaman, dia jatuh hati juga terhadap bocah yang usianya hampir cuma separuh umurnya itu. Tentunya kalian dapat memaklumi, perempuan seperti Cu Bi, apabila sudah jatuh cinta benar-benar, maka tidak tanggung-tanggung lagi dan sukar dicegah."
Selagi Pwe giok dan Kwe Pian sian tidak tahu cara bagaimana harus menanggapi, tiba-tiba Gin hoa nio menghela nafas dan berkata.
"Ya, memang betul!"
"Tapi Tonghong Bi-giok itu selain cakap, ternyata jiwanya justeru sangat kotor dan rendah,"
Kata pula si sakit.
Di depan Cu Lui ji dia mencaci-maki ayahnya, tapi anak dara itu ternyata tidak menghiraukan, seolah-oleh dia memang pantas dicaci-maki.
Diam-diam Pwe giok dan Kwe Pian sian menjadi heran.
Terdengar si sakit menyambung lagi.
"Sesudah Cu Bi menjadi isterinya, dia meninggalkan segala kebiasaannya yang hidup mewah dan suka memerintah, dia menjadi isteri yang baik seperti perempuan umumnya. Setiap hari dia mengurus rumah tangga dan meladeni sang suami, sebab ia ingin melupakan segala apa yang telah lalu ditengah kehidupan yang masa ini, betapa mendalam cintanya terhadap Tonghong Bi-giok tentu pula dapat kalian bayangkan."
Pwe-giok menghela nafas, katanya didalam hati.
"Seorang lelaki bila mendapatkan isteri sebaik ini, apa pula yang diharapkannya?"
Diam-diam Gin hoa nio juga membatin.
"Kelak bilamana akupun jatuh cinta kepada seseorang, entah aku akan bertindak begitu atau tidak?.....Tapi, aihh, jiwaku saja sukar dipertahankan, untuk apa kupikirkan hal ini?"
Juga Kwe Pian sian diam-diam berpikir.
"Siau-hun-kiongcu itu sudah kenyang merasakan asam garamnya kehidupan manusia ia merasa hanya dengan memperlihatkan tindak nyata itulah baru dapat membuktikan cintanya yang tulus, Tapi Tonghong Bi giok adalah pemuda yang masih hijau, mungkin dia malah merasa kehidupan yang begitu itu terlalu kaku dan bersahaja dan tidak menarik."
Begitulah tiga orang tiga macam pikiran, sudah tentu tiada seorangpun yang berani, memberi komentar. Si sakit lantas menyambung lagi.
"Meski Cu Bi telah mencurahkan, cintanya dengan segenap jiwa raganya, siapa tahu Tonghong Bi giok justeru bosan terhadap kehidupan mereka itu, berulang-ulang ia membujuk agar Cu Bi mau kembali ke Siau hun kiong."
Kwe Pian sian tersenyum puas, ia bangga karena merasa dugaannya tadi cocok dengan kejadian yang sebenarnya. Sedangkan Pwe giok diam-diam menggeleng kepala. Gin hoa nio yang lantas bertanya.
"Dan dia.....dia jadi pulang ke Siau hun kiong atau tidak?"
"Dengan sendirinya Cu Bi tidak mau"
Tutur si sakit.
"Waktu itu usianya tidak tergolong muda lagi, namun dia mahir bersolek sehingga tampaknya masih tetap cantik seperti bidadari, sebab itulah Tonghong Bi giok juga masih berat untuk meninggalkan dia....."
Kwe Pian sian memandang sekejap ke arah Cu Lui ji, pikirnya.
"Dalam usia sekecil dia ini sudah dapat memikat kaum lelaki, maka tidak perlu ditanyakan lagi betapa cantik ibunya. Sayang, aku sendiri sok mengaku kenyang main perempuan macam apapun, tapi ternyata tidak dapat bertemu dengan perempuan seperti Siau hun kiongcu."
Gin hoa nio juga sedang membatin.
"Biarpun Cu Bi sudah meninggalkan kehidupannya yang mewah, tapi dalam hal-hal tertentu dia pasti dapat membuat Tonghong Bi giok lupa daratan. Kelak entah aku dapat menandingi dia atau tidak?"
Ia pandang Pwe giok, anak muda itu tampak sedang menghela nafas gegetun. Terdengar si sakit bertutur pula.
"Umumnya perempuan yang suka berdandan paling pantang melahirkan, dengan sendirinya Cu Bi juga tahu hal ini, sebab itulah selama hidup bersama dua tahun iapun tidak mengandung. Tapi lambat laun usia Cu Bi juga makin bertambah, citacitanya akan menjadi ibu juga bertambah keras, akhirnya ia tidak menghiraukan soal kecantikan lagi dan lahirlah seorang puterinya."
Dia pandang Cu Lui ji sekejap, anak dara itu menunduk dengan air mata berlinang. Gin hoa nio tidak tahan, ia bertanya.
"Sesudah melahirkan anak, apakah dia betul-betul berubah menjadi tua?"
Kalau orang lain sama asyik mendengarkan cerita yang misterius ini, hanya Gin hoa nio saja yang justeru memperhatikan soal kecantikan Siau hun kiongcu. Si sakit menghela nafas, berkata"
"Ya, tidak sampai setengah tahun setelah melahirkan anak ini perempuan yang maha cantik itu lantas berubah keriput dan ubanan, seketika seperti bertambah berpuluh tahun lebih tua."
Gin hoa nio menghela nafas, ia tidak bicara lagi, tapi diam-diam membatin.
"Jika demikian, biarpun kepalaku harus dipenggal juga aku tidak mau melahirkan anak."
Tak terduga Pwe giok juga menghela nafas dan berkata.
"Bila Tonghong Bi giok itu sudah mulai timbul rasa.....rasa bosannya terhadap Cu kiongcu, maka selanjutnya...selanjutnya mungkin...."
Dia memandang Cu Lui ji sekejap dan menelan kembali kata-kata yang belum terucap itu. Tapi si sakit lantas berkata.
"Cu Bi sangat cerdik, masa dia tidak tahu Tonghong Bi giok mulai berubah pikiran terhadapnya. Ia cuma tidak berpikir bahwa setelah melahirkan anak dia bisa berubah tua secepat itu. Satu hari ia berkaca dan melihat rambut sendiripun sudah mulai rontok, segera terpikir olehnya bahwa sekali ini pasti sukar merebut kembali hati Tonghong Bi giok yang memang sudah goyah itu. Diam-diam Gin hoa nio membatin.
"Jika aku menjadi dia, akan lebih baik kubunuh saja Tonghong Bi giok, dengan demikian, biarpun aku tidak mendapatkan dia lagi, orang lainpun jangan harap akan memiliki dia."
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia melirik ke arah Pwe giok, dilihatnya bekas luka di muka anak muda itu, seketika ia menunduk dan tidak berani mendongak lagi.
Didengarnya si sakit sedang menyambung pula ceritanya.
"Malam itu diam-diam ia menangis sambil menimang anaknya, semalam suntuk dia menangis, esoknya sebelum lagi terang tanah dia lantas membangunkan Tonghong Bi-giok."
Gin hoa nio tidak tahan dan menyela pula.
"Apakah.....apakah mereka tidak tidur bersama di dalam satu kamar?"
"Sejak anak ini lahir. Tonghong Bi-giok lantas tidur di suatu kamar tersendiri,"
Jawab si sakit.
"Katanya dengan demikian supaya Cu Bi dapat momong anaknya dengan lebih baik, padahal.....Hmk."
Diam-diam Kwe Pian sian membatin.
"Hal inipun tidak dapat menyalahkan dia, bilamana aku, tentu aku pun tidak sudi tidur bersama seorang nenek-nenek...."
Mendadak ia merasa sorot mata si sakit tertuju kepadanya, cepat ia berkata dengan mengiring tawa.
"Entah untuk apakah Cu-kiongcu membangunkan dia?"
Orang sakit itu menghela nafas, katanya kemudian.
"Mungkin kalianpun tak dapat menerka apa maksudnya."
Seketika semua orang terdiam, siapapun tidak berani buka mulut. Selang sejenak barulah si sakit menyambung lagi.
"Tujuannya membangunkan dia adalah mohon diri kepadanya."
"Mohon diri?!"
Serentak Ji Pwe-giok, Kwe Pian sian dan Gin hoa nio sama melenggong.
"Betul,"
Kata si sakit.
"Dia tahu keadaannya tidak mungkin disukai lagi oleh Tonghong Bigiok, ia menyatakan tak mau lagi membebani Tonghong Bi-giok, setelah berpisah bolehlah Tonghong Bi giok mencari gadis lain yang sembabat dan berumah tangga lagi yang bahagia. Cu Bi sendiri tak mau lagi bertemu dengan dia, yang diharapkannya adalah Tonghong Bi-giok dapat hidup bahagia asalkan dapat membesarkan anak mereka, maka puaslah dia."
Bilamana membayangkan betapa pedih waktu Cu Bi mengucapkan katanya itu, tanpa terasa hati semua orang ikut remuk redam. Sampai-sampai Kwe Pian sian juga merasa terharu, pikirnya.
"Tak tersangka Cu Bi benarbenar mencintai Tonghong Bi-giok dengan suci murni, seorang lelaki bila mendapatkan cinta setulus itu dari seorang perempuan, maka tidak penasaranlah hidupnya ini."
Pwe giok juga terharu, ia berkata.
"Sesudah mendengar ucapan itu, apakah Tonghong Bi-giok tega tinggal pergi begitu saja?"
Si sakit menjawab.
"Tidak, dia tidak pergi, sebaliknya setelah mendengar kata-kata Cu Bi itu lantas bersumpah segala, katanya cintanya terhadap Cu Bi takkan berubah sampai dunia kiamat. Biarpun Cu Bi berubah tua dan betapa jelek juga dia tidak mungkin meninggalkannya."
Pwe giok menghela nafas panjang, katanya.
"Jika demikian, Tong hong Bi giok ini bukanlah manusia yang tidak setia."
"Betul, dia memang bukan manusia yang tidak setia, sebab hakekatnya dia memang bukan manusia,"
Tukas si sakit mendadak.
Sampai di sini wajahnya yang semula tenang-tenang itu seketika berubah menjadi emosi, sorot matanya berapi, butiran keringatpun merembes keluar di dahinya.
Perlahan Cu Lui ji mengusap keringat sang paman, air mata anak dara itupun berderai.
Semua orang sama ternganga menyaksikan kejadian itu, tiada yang berani buka suara.
Seketika suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara sedu-sedan Cu Lui-ji yang berduka itu.
Selang sejenak, akhirnya ia si sakit menghela nafas, katanya.
"Setelah mendengar sumpah setia Tonghong Bi-giok itu, hati Cu Bi menjadi terharu dan berterima kasih, memangnya dia juga merasa berat untuk berpisah, ia hanya rela berkorban baginya. Sekarang Tonghong Bi giok tegas-tegas menyatakan setianya, dengan sendirinya Cu Bi juga tidak menyinggung lagi soal berpisah."
"Jangan-jangan Tonghong Bi giok itu ada.....ada rencana tentu?"
Kata Pwe giok. Si sakit tidak menjawab, ia melanjutkan ceritanya.
"Sejak itulah Cu Bi mencurahkan segenap tenaganya untuk menjaga anak dan merawat Tonghong Bi giok dengan lebih rajin. Lewat dua tahun lagi, tiba-tiba ayah Tonghong Bi-giok, yaitu Tonghong Tay-beng itu bahkan membawa serta 20 tokoh Bu-lim terkemuka."
Si sakit memandang sekejap Pwe giok bertiga, lalu menyambung.
"Padahal tempat tinggal Cu Bi itu sangat dirahasiakan, maklum dia sendiri musuhnya terlalu banyak. Lalu cara bagaimana Tonghong Taybeng berhasil menemukan tempat kediamannya? Dapatkah kalian membayangkan hal ini?"
"Ya Wanpwe juga sedang heran."
Kata Kwe Pian sian.
"Bukan cuma kau saja yang heran, waktu itu Cu Bi juga sangat heran,"
Ujar si sakit.
"Dia baru paham duduknya perkara setelah dilihatnya tindakan Tonghong Bi-giok, ia tidak terkejut, bahkan.... bahkan dia terus berlari menggabungkan diri dengan mereka..."
Seru si sakit dengan suara parau.
"brak, mendadak sebuah meja kecil di ujung tempat tidur dihantamnya hingga hancur. Tergerak hati Pwe giok, Kwe Pian sian dan Gin hoa nio, lamat-lamat mereka dapat menerka bahwa kedatangan Tonghong Taybeng dan rombongannya itu bukan mustahil justru Tonghong Bi-giok sendiri yang membocorkan tempat tinggalnya ini, namun mereka tidak sampai hati untuk memberi komentar. Mereka mendengar nafas si sakit terengah-engah, jelas gusarnya tidak kepalang. Dengan menahan tangis Cu Lui-ji berkata.
"Sacek, tenaga...tenagamu belum pulih, untuk...untuk apa kau....."
"Di seluruh kolong langit ini belum ada orang lain yang tahu akan rahasia ini,"
Seru si sakit dengan suara bengis.
"Sekalipun aku harus mati sehabis bercerita juga akan kubeberkan, tak dapat kubiarkan ibumu menanggung nama busuk meski sudah mati."
Cu Lui-ji tak tahan lagi, ia mendekap di tempat tidur dan menangis sedih. Dengan suara serak si sakit bercerita pula.
"Kiranya binatang Tonghong Bi-giok itu diamdiam telah berkhianat, pada tahun berikutnya setelah Cu Bi melahirkan, pada waktu kecantikan Cu Bi sudah luntur, diam-diam binatang itu menyewa seorang saudagar yang biasa berlayar keluar lautan, dengan upah besar dia minta orang itu menyampaikan suratnya ke Jitgoat-to, ke Put-ya-seng, kepada ayahnya. Tentu saja dengan janji muluk-muluk dan upah besar agar saudagar itu mau melaksanakan tugasnya. Cuma Jit goat to itu sangat sukar ditemukan, sebab itulah baru beberapa tahun kemudian surat itu sampai di tangan Tonghong Tay-beng..."
Meski sejak tadi semua sudah menduga akan kemungkinan kejadian ini, namun mereka belum lagi berani percaya Tonghong Bi-giok itu ternyata sedemikian kejinya.
Sekarang hal ini diceritakan sendiri oleh si sakit, tanpa terasa semua orang ikut gemas juga, sampai-sampai Kwe Pian sian dan Gin hoa nio juga merasa tindakan Tonghong Bi giok itu terlalu kejam.
Mendadak dengan sinar mata yang tajam si sakit melototi Kwe Pian-sian, katanya.
"Ku tahu kau inipun orang yang tak berbudi, tapi bila kau yang menjadi Tonghong Bi-giok, apakah kau tega berbuat begitu.....? Coba jawab dengan sejujurnya!"
Kwe Pian sian jadi gelagapan.
"O, Cayhe...Wanpwe..."
Ia merasa sinar mata si sakit setajam sembilu yang hendak membedah dadanya sehingga untuk berdusta saja ia tidak berani. Ia menghela nafas, lalu menyambung dengan menyengir.
"Jika....jika Wanpwe, paling-paling ku tinggal pergi begitu saja dan habis perkara."
"Betul, bila orang lain, betapa keji orang itu, paling-paling cuma tinggal pergi saja dan habis perkara."
Kata si sakit.
"Tapi Tonghong Bi-giok si binatang itu benar-benar lain daripada yang lain, ia tahu betapa tinggi Kungfu Cu Bi dan betapa keji caranya turun tangan, ia takut bila melarikan diri mungkin Cu Bi akan menemukan kembali, ia kuatir jiwanya tetap tak bisa lolos dari tangan Cu Bi."
"Tapi....tapi Cu-kiongcu kan sudah rela mau berpisah dengan dia, mengapa dia bertindak pula sekeji itu?"
Tanya Pwe giok dengan gemas. Jawab si sakit.
"Meski Cu Bi hendak berpisah setulus hati dengan dia, tapi dia khawatir tindakan Cu Bi itu hanya pura-pura saja dan hendak mengujinya. Apalagi waktu itu dia juga sudah mengirim surat kepada ayahnya, demi kepentingan sendiri dan agar tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari dengan sendirinya ia harus menyaksikan kematian Cu Bi barulah dia merasa aman. Jadi apa yang dikatakannya kepada Cu Bi itu hanya sekedar untuk menghiburnya agar Cu Bi tetap tinggal di situ."
Mendengar sampai di sini, tanpa terasa Kwe Pian-sian ikut bicara.
"keji amat hati orang ini, sungguh sangat kejam."
"Kemudian apakah... apakah Cu-kiongcu benar-benar mati di tangan mereka?"
Tanya Pwe-giok. Muka si sakit tampak masam dan tidak lantas menjawab, selang sejenak barulah ia berkata.
"Kukira kalian lupa bertanya sesuatu padaku."
"Dalam hal apa?"
Tanya Pwe-giok.
"Kalian lupa tanya padaku dari mana ku tahu semua kejadian ini."
Kata si sakit.
Mendingan dia tidak omong, begitu dia katakan, mau tak mau semua orang menjadi heran.
Memang betul juga, kalau peristiwa itu sedemikian dirahasiakan, darimana pula si sakit mendapat tahu?
bahkan sedemikian jelas seperti di menyaksikan dengan mata kepala sendiri di tempat kejadian.
Pelahan-lahan orang sakit itu memejamkan mata lagi sambil berkata.
"Selama hidupku paling suka menyendiri, sejak mengalami sesuatu kejadian, aku lantas merasa di dunia ini tiada seorangpun yang cocok bagiku, siapapun yang kutemui kalau bisa ingin ku mampuskan dia dengan sekali bacok"
Belum habis dia bercerita kisah kehidupan Siau-hun kiongcu, tiba-tiba ia bicara tentang wataknya sendiri.
Tentu saja semua orang merasa heran, tapi mereka tetap diam saja dan mendengarkan dengan cermat, tiada seorangpun berani menyeletuk.
Terdengar si sakit menyambung pula dengan pelahan.
"Tapi tidak mungkin kubunuh habis manusia di dunia ini, terpaksa akulah yang menjauhi mereka. Tatkala itu lagi musim semi, disekitar pantai Hokciu di propinsi Hokkian banyak kapal dagang yang hilir mudik ke kepulauan timur, ku pilih sebuah kapal layar yang kuat dan gesit, ku lompat ke atas kapal itu dan mengusir seluruh anak buahnya, aku berlayar sendirian.
"Sudah tentu perbekalan di atas kapal itu cukup lengkap dan banyak sehingga aku tidak perlu akan kelaparan dan kehausan, kurasakan jagat raya yang luas ini benar-benar bebas merdeka dan tiada seorangpun yang akan mengganggu diriku lagi. Kurasakan hidup yang tenang dan sunyi, rasa kesal yang terpendam sekian lama akhirnya terasa buyar."
Mendengar sampai di sini, samar-samar orang dapat merasakan cerita orang ini pasti ada sangkut pautnya dengan kisah hidup Siau-hun-kiongcu itu, sangkut pautnya justeru terletak pada kapal layar ini.
Terdengar si sakit menyambung pula ceritanya.
"Entah sudah berapa lama aku berlayar, suatu hari aku berduduk di buritan kapal dan menikmati matahari terbenam yang indah, tiba-tiba kulihat sesosok tubuh manusia terombang-ambing di lautan yang luas itu, sekujur badan orang itu berlumuran darah, dengan mati-matian berpegangan erat-erat pada sepotong kayu, keadaan sangat payah dan tampaknya lebih banyak mampusnya daripada hidup."
Diam-diam Kwe Pian-sian membatin.
"Bilamana orang ini masih bisa hidup, mungkin kau takkan menolong dia. Tapi lantaran orang itu pasti akan mati, kaupun lagi iseng karena kesepian, bisa jadi akan kau tolong dia malah."
Dalam pada itu si sakit telah berkata pula.
"Waktu itu aku sudah terlalu benci kepada setiap manusia di dunia ini, mestinya tiada niatku akan menolong dia, tapi melihat lukanya begitu parah, aku menjadi tidak tega dan kutanya dia apa yang terjadi, siapa yang melukai dia separah itu? Kupikir bilamana di sekitar situ ada bajak laut, kebetulan bagiku akan dapat ku sikat mereka untuk melampiaskan rasa gemasku."
Mendengar uraian si sakit yang penuh emosi itu, diam-diam Pwe-giok membatin.
"Meski orang ini penuh dendam kepada sesamanya, tapi apapun juga dia tidak mau sembarangan membunuh, malahan bajak laut yang ingin di tumpasnya, dari sini terbukti hati nuraninya belum lagi gelap sama sekali, tindak tanduknya tetap bersifat seorang pendekar sejati."
Berpikir demikian, tanpa terasa timbul juga rasa hormatnya kepada si sakit ini. Tapi mendadak si sakit melotot padanya dan bertanya.
"Sekarang apakah kau tahu siapa orang yang ku tolong itu?"
Pwe-giok melengak, benaknya bekerja cepat, serunya.
"Jangan-jangan orang yang dititipi surat oleh Tonghong Bi-giok itu"
Untuk pertama kalinya sorot mata si sakit yang dingin itu menampilkan secercah senyuman, katanya.
"Tepat sekali tebakanmu."
Dengan cepat senyumnya itu lantas lenyap, dengan ketus dia menyambung lagi.
"Dan tahukah kau siapa yang turun tangan keji kepadanya?"
Belum lagi Pwe-giok bersuara, mendadak Kwe Pian-sian menyela.
"Tonghong Tay-beng!"
"Betul,"
Kata si sakit.
"Rupanya setelah dia berhasil mencapai Put-ya-sia di Jit-goat-to, setelah dia menyerahkan surat kepada Tonghong Tay-beng, selagi dia menunggu hadiah besar dari penerima surat itu, siapa duga Tonghong Tay-beng malah mengerahkan anak buahnya, segenap rombongan pengantar surat yang berjumlah 37 jiwa itu telah dibunuhnya sama sekali tanpa sisa satupun. Untung pengantar surat itu hanya terluka parah dan belum tewas, sekuatnya ia berusaha lari, tujuannya hanya ingin membeberkan rahasia yang diketahuinya mengenai Tonghong Bi-giok."
"Mungkin dia memang ditakdirkan harus membeberkan rahasia yang diketahuinya, maka Thian mengantarkan dia untuk bertemu dengan Cianpwe."
Sela Pwe-giok pula. Tapi Kwe Pian-sian berkata dengan menyesal.
"Jika aku menjadi dia, hakekatnya aku tidak mau mengantarkan surat itu. Masa urusan sepenting itu harus dirahasiakan boleh diserahkan begitu saja kepada orang yang baru dikenal, mana mungkin Tonghong Tay-beng membiarkan dia pergi lagi dengan hidup setelah menerima surat itu."
"Tapi pada umumnya orang yang sudah biasa berlayar kian kemari rata-rata adalah orang licin, dengan sendirinya segala kemungkinan juga sudah dipikirnya."
Kata si sakit.
"Setelah dia menerima upah dari Tonghong Bi-giok, cukup baginya surat itu dibakar saja dan segala urusan beres, ke mana Tonghong Bi-giok akan mencarinya lagi. Tapi sayangnya dia telah berbuat suatu kesalahan, timbul rasa ingin tahunya akan surat antarannya itu, ia pikir isi surat itu pasti sangat penting, kalau tidak tentunya tidak perlu di suruh mengantar dengan upah yang besar. Maka secara diam-diam ia telah mencuri baca isi surat itu."
Gin-hoa-nio menghela napas, katanya.
"Jika aku menjadi dia, rasanya akupun ingin tahu apa isi surat itu."
"Makanya orang macam begitu tidak perlu penasaran kalau mampus."
Jengek si sakit. Gin-hoa-nio menunduk dan tidak berani bersuara lagi.
"Sesungguhnya apa isi surat itu? tanya Pwe-giok tiba-tiba.
"Binatang Tonghong Bi-giok itu telah menyatakan di dalam surat bahwa dia yang terpelet oleh Cu Bi dan berada dalam bahaya, maka diharapkan pertolongan Tonghong Tay-beng. Didalam surat itupun dinyatakan dengan tegas agar setelah terima surat itu, supaya Tonghong Tay-beng memberikan upah kepada si pengantar surat satu jumlah harta yang tak habis terpakai selama hidup.
"Mungkin pengantar surat itu telah terpancing oleh pesan Tonghong Bi-giok itu, maka sedapatnya dia berusaha menyampaikan surat itu ke Put-ya-sia. Padahal kalau dia mau berpikir secara cermat, di dunia ini mana ada kekayaan yang tak habis terpakai selama hidup? Betapapun besar jumlahnya harta kekayaan juga ada kalanya akan habis dan ludes, kecuali orang itu mati seketika, dengan begitulah baru benar-benar tidak habis terpakai selama hidup."
"Betul, dengan pesan itu Tonghong Bi-giok justeru menghendaki ayahnya membinasakan si pengantar surat apabila surat sudah diterimanya."
Sela Kwe-Pian-sian.
"Cuma sayang, bocah itu mungkin sudah keblinger oleh janji upah yang besar itu sehingga dia tidak memperhatikan arti yang terkandung di dalam pesan itu."
"Bukan cuma begitu saja, justeru Tonghong Bi-giok sudah memperhitungkan di tengah jalan pengantar surat itu pasti akan mencuri baca suratnya, maka di dalam suratnya dia sengaja menulis pesan yang bermakna ganda itu untuk memancingnya,"
Kata si sakit.
"Manusia mati karena harta, burung mati karena pangan, jadi orang itu memang pantas mampus. Namun apa yang terjadi itupun dapat menggambarkan betapa kejinya Tonghong Bi-giok."
"Jangan-jangan lantaran Cianpwe merasa perbuatan orang ini terlalu keji, maka Cianpwe ingin membunuhnya demi kesejahteraan umum, maka Cianpwe terus putar balik dari pelayaranmu itu?"
Tanya Pwegiok.
"Kalau melulu soal ini mungkin aku takkan kembali lagi ke daratan sini."
Tutur si sakit dengan pelahan.
"Justeru sebelum mati orang itu telah bercerita pula apa yang dialaminya, saking gusarnya barulah aku ingin bertindak."
"Apalagi yang diceritakan orang itu?"
Tanya Pwe-giok.
"Bahwa Tonghong Bi-giok mau menyerahkan surat sepenting itu kepadanya, tentunya orang itupun mempunyai hubungan cukup erat dengan dia, betul tidak?"
Tanya si sakit.
"Ya, tapi Tonghong Bi-giok kan sudah hidup menyepi..."
"Tahukah kau bahwa untuk menyepi yang paling baik adalah di tempat yang ramai?"
Tanya si sakit tiba-tiba. Seketika Kwe Pian-sian berkeplok dan membenarkan, katanya.
"Betul, untuk menyepi, artinya bersembunyi menghindari pencarian orang, tempat yang baik memang tidak harus di pegunungan atau tempat terpencil. Bila kau sembunyi di tempat begitu, terkadang malah lebih mudah ditemukan orang. Tapi orang semacam Cu-kiongcu, bila bersembunyi di suatu kota kecil biasa dan hidup tenteram seperti orang lain, tentu jejaknya akan sukar ditemukan orang."
Tergerak pikiran Pwe-giok, serunya.
"He, jangan-jangan di kota kecil inilah dahulu Cukiongcu bertirakat?"
Si sakit menghela nafas, tuturnya.
"Kota ini dibilang kecil juga tidak kecil, dikatakan besar juga tidak besar, tapi kehidupan di sini aman tenteram, penduduknya hidup rukun dan damai, tak nanti sengaja mencari tahu rahasia pribadi orang lain. Sekalipun terkadang ada orang Kangouw lalu di sini juga takkan menaruh perhatian keadaan di sini, jadi memang suatu tempat tirakat yang baik. Sungguh cerdik Cu Bi dapat memilih tempat sebaik ini. Kalau saja Tonghong Bi-giok tidak berubah pikirannya, sekalipun dia tinggal seratus tahun di sini juga orang lain takkan menyangka nyonya rumah yang biasa di kota kecil ini sebenarnya adalah Siau-hun-kiongcu dan dikabarkan sudah mati itu."
"Ya, memang benar tak terduga oleh siapapun juga,"
Kata Pwe giok.
"Pelaut yang dititipi surat oleh Tonghong Bi-giok itu bernama Li Bo-tong, aslinya juga penduduk kota kecil ini, cuma sejak muda dia sudah mengembara ke mana-mana sehingga hampir dilupakan oleh penduduk setempat. Kebetulan tahun itu dia pulang kampung halaman, kebetulan pula tempat tinggalnya sebelah menyebelah dengan rumah Cu Bi. Pada waktu Tonghong Bi-giok mengetahui orang she Li ini tidak lama akan berlayar lagi, pada saat itulah dia lantas bersahabat dengan dia."
"Cu-kiongcu adalah orang yang cerdik, masa sedikitpun dia tidak menaruh curiga?"
Tanya Kwe Pian sian. Si sakit menjawab.
"Waktu itu Cu Bi mencurahkan segenap perhatiannya untuk merawat anaknya, apalagi pergaulan antara tetangga kan juga jamak,"
Kata si sakit.
"Betul, dia sudah bertempat tinggal di situ, kalau tidak bergaul dengan tetangga tentu akan menimbulkan curiga orang lain malah,"
Ujar Pwe giok.
"Apalagi orang biasa seperti Li Bongtong itu tentu juga takkan tahu-menahu rahasia persembunyiannya."
"Tapi penduduk di sekitar sana tahu Cu Bi adalah isteri yang baik dan Ibu Rumah Tangga yang teladan rajin dan hemat, bahkan sangat pintar meladeni sang suami,"
Kata orang sakit itu.
"Sepulangnya Li Bong tong di rumah tentu iapun mendengar cerita tetangga itu,"
Ujar Kwe Pian sian.
"Betul, makanya setelah membaca surat Tonghong Bi-giok itu, ia sangat terkejut,"
Tutur si sakit.
"Sungguh ia tidak percaya seorang isteri teladan dan ibu rumah tangga yang terpuji itu asalnya adalah seorang iblis yang ditakuti. Tapi iapun menganggap Tonghong Bi-giok tidak pantas berbuat khianat terhadap istrinya sendiri. Namun waktu itu ia sudah keblinger oleh janji upah besar, yang terpikir olehnya hanya harta benda yang takkan habis digunakan selama hidup. Ketika mendekat ajalnya barulah timbul hati nuraninya, baru dia menceritakan seluk beluk urusan itu padaku."
Habis bicara, kembali tangannya hendak menggabruk meja lagi.
Karena sepanjang tahun dia berbaring di situ, dalam anggapannya di sebelahnya adalah meja kecil, tak teringat olehnya bahwa meja itu tadi sudah digebrak hingga hancur.
Dengan sendirinya gebrakan ini mengenai tempat kosong dan mungkin akan mengenai pinggir tempat tidur dan bisa jadi tempat tidur itupun akan hancur.
Untunglah mendadak Cu Lui ji menjulurkan tangannya.
dengan enteng tangan sang paman dipegangnya sambil berkata dengan suara halus.
"Sacek, maukah kau jangan marah-marah lagi?"
Tindakan Cu Lui ji itu mungkin takkan mengherankan orang lain, tapi bagi pandangan Pwegiok dan Kwe Pian sian yang sudah tergolong jago silat kelas satu, melihat itu hati mereka jadi terkesiap.
Maklumlah, betapa cepat dan betapa kuat pula gebrakan tangan si sakit, tapi dengan ringan saja Cu Lui-ji dapat menangkapnya.
Diam-diam Kwe Pian-sian membatin.
"Budak cilik ini selain mahir memikat lelaki, Kungfunya ternyata juga tidak rendah dan tampaknya tidak di bawahku."
Padahal si sakit sudah dalam keadaan senin-kemis, tapi masih mampu mendidik seorang nona cilik dengan Kungfu setinggi itu, mau tak mau Kwe Pian sian merasa ngeri.
Dilihatnya tangan Cu Lui ji yang kecil itu sedang mengelus tangan si sakit yang kurus seperti cakar itu, lambat laun rasa gusar si sakit pun mereda, ia menghela nafas dan berkata.
"Sesudah mendengar penuturan Li Bong-tong waktu itu, aku tidak tahan akan rasa gusarku, sungguh tak pernah terpikir olehnya di dunia ini ada manusia tak berbudi semacam Tonghong Bi-giok itu. Segera kuminta Li Bong-tong melukiskan letak pulau kediaman Tonghong Taybeng. Habis memberi keterangan Li Bong tong lantas menghembuskan nafas penghabisan."
"Dan Cianpwe lantas memburu ke Put-ya-sin di Jit-goat-to untuk mencari Tongheng Taybeng?"
Tanya Pwe giok.
"Betul,"
Jawab si sakit.
"Cuma sayang, waktu itu Tonghong Tay-beng sudah meninggalkan pulau nya. Dalam gusarku, ku obrak-abrik seluruh pulau itu hingga morat-marit. Ku pikir kepergian Tong hong Tay-beng itu tentu akan mengundang bala bantuan lagi, untuk itu tentu akan makan waktu, jika segera menyusul ke Li-toh-tin, bisa jadi jiwa Cu-Bi dapat kuselamatkan. Maka aku lantas berlayar pulang ke daratan sini, siapa tahu.....kedatanganku masih tetap terlambat satu langkah."
Sampai di sini, bagi Kwe Pian sian dan Gin hoa nio kisah Siau hun kiongcu itu sudah jelas sebagian besar, tapi diam-diam merekapun heran atas diri si sakit, pikir mereka.
"Jika orang ini sudah sedemikian benci terhadap sesamanya, saking bencinya seakan-akan baru puas bilamana setiap manusia di dunia ini sudah mau terbunuh habis, lalu untuk apa dia terburuburu pulang ke sini hanya untuk menolong Cu Bi?"
Hanya Ji Pwe giok saja yang berbeda pendapat, meski masih muda, tapi dia sudah kenyang dengan macam-macam pengalaman, iapun seorang yang berperasaan halus dan pecinta yang luhur, lamat-lamat ia dapat menerka isi hati si sakit itu, diam-diam ia berpikir.
"Dari nada ceritanya, sebabnya dia berubah menjadi ekstrim dan ingin membunuh setiap manusia di dunia ini, jangan-jangan lantaran dia sendiri juga mengalami persoalan yang menyakitkan hati, misalnya". dikhianati kekasihnya, maka dia dendam kepada setiap orang yang berhati palsu dan suka mengkhianati. Bahwa dia memburu ke Li-toh-tin katanya hendak menolong Cu Bi, siapa pula yang tahu bahwa tujuannya justeru hendak membunuh Tonghong Bi-giok yang tidak setia terhadap anak istrinya itu."
Dihatinya si sakit telah memejamkan mata pula dengan nafas terengah-engah.
Orang bicara tampaknya tidak perlu tenaga tapi lantaran dia terkenang kepada kejadian dahulu, karena emosi, jantungnya lantas berdetak keras.
Mestinya Pwe giok ingin bertanya kisah lanjutan Siau-hun-kiongcu, cara bagaimana dia mati dan bagaimana pula akhirnya dengan nasib Tonghong Bi-giok, juga tentang Tonghong Taybeng yang katanya juga telah dibunuh semuanya olehmu, mengapa pula kau sendiri bisa terkena racun separah ini?
Namun pertanyaan itu hanya berputar saja dalam benak Pwe giok, ia tidak tega berucap melihat keadaan si sakit yang payah itu.
Didengarnya Cu Lui-ji berkata.
"Tentu kalian sudah lapar, nasi sudah kusiapkan, biarlah kuambilkan untuk kalian,"
Cepat Kwe Pian sian berbangkit dan berkata "Ah, mana berani kami merepotkan nona?!"
Tapi Cu Lui ji tidak menanggapinya, ia mengusap air matanya, lalu turun ke bawah loteng. Gin hoa nio tidak tahan lagi, cepat ia berseru dengan suara gemetar.
"Nona, kumohon sudilah engkau menolong jiwaku, jika terlambat, mungkin....."
Tanpa menoleh Cu Lui ji mendengus, ucapnya.
"Barang siapa mendapatkan kitab pusakaku, berarti dia telah masuk perguruanku. Selamat atau celaka, untung atau malang, apapun yang akan terjadi tetap harus tunduk kepada perintahku. Barang siapa tidak taat kepada perintahku dia pasti akan binasa...."
Apa yang diucapkannya itu adalah amanat Siau-hun-kiongcu yang terukir di dinding istana di bawah tanah itu.
Tempo hari, setelah Pwe giok dan Kim-yan-cu mendapatkan kitab pusaka Siau hun pi-kip, lalu timbul bermacam-macam kejadian.
Karena itulah kitab pusaka itu mereka buang di sembarang tempat.
Kemudian terjadi lagi hal-hal lain dan merekapun tidak memperhatikan kitab pusaka itu sehingga dapat ditemukan Gin hoa nio.
Tentu saja Gin hoa nio kegirangan seperti mendapat rejeki nomplok.
Dapat kitab pusaka itu, setiap ada tempo senggang ia lantas berlatih menurut petunjuk di dalam kitab.
Dasar wataknya memang berdekatan dengan isi pelajaran kitab itu, dengan sendirinya hasilnya juga memuaskan dan maju pesat.
Sebab itulah begitu melihatnya tadi si sakit lantas mengetahui pada tubuh Gin hoa nio terdapat ilmu memikat ajaran Siau hun kiongcu, karena itulah ia menegurnya apakah dia murid siau hun kiongcu.
Tapi lantaran kitab pusaka itu diperolehnya dengan tidak halal, ia tidak berani mengaku.
Orang yang tidak mengakui perguruannya sendiri dalam dunia persilatan dianggap khianat dan dosanya tak terampunkan.
Sekarang di dengarnya ucapan Cu Lui-ji yang cocok amat dengan amanat tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, seketika hati Gin-hoa-nio tergetar, tubuh menjadi lemah dan jatuh terkulai.
Mendadak bayangan Cu Lui-ji berkelebat ke atas loteng lagi.
Gin-hoa-nio ketakutan dengan mandi keringat.
Tak terduga yang di tuju Cu Lui-ji bukanlah dia melainkan Kwe Pian-sian, dengan mata melotot, ia bertanya.
"Nona di bawah itu apamu?"
"O, dia ... dia kawanku,"
Jawab Kwe Pian-sian dengan tergagap.
"Hmm, kukira tidak cuma kawan saja?!"
Jengek Lui-ji.
"Pandangan nona memang tajam,"
Terpaksa Kwe Pian-sian mengakui dengan menyengir.
"Jika begitu, mengapa kau tinggalkan dia di bawah tanpa menghiraukannya ?"
Damprat Lui-ji.
Diam-diam Kwe Pian-sian mendongkol, ia pikir justeru kalian yang mencelakai dia, masa sekarang kau malah membela dia dan menyalahkan aku ?
Walaupun begitu pikirnya, sudah tentu tidak berani di utarakannya, dengan menyengir, ia menjawab.
"Kukira tidak .... tidak leluasa ku bawa dia naik turun, maka kubiarkan dia menunggu saja di bawah."
"Hmm,"
Cu Lui-ji menjengek.
"kiranya kaupun seorang yang tak berperasaan."
Karena dituduh "tidak berperasaan", seketika Kwe Pian-sian berkeringat dingin.
Ia tidak berani bersuara lagi, cepat dia berlari ke bawah dan membawa Ciong Cing ke atas.
Selang tidak lama, Cu Lui-ji naik lagi ke atas dengan membawa satu bakul nasi yang masih mengepul.
Cuma sekarang hati setiap orang sama merasa tertekan, siapapun tidak bernapsu makan lagi.
Selagi Pwe-giok termenung sambil memegangi mangkuk nasinya, dalam benaknya bergolak bermacam-macam persoalan.
Pada saat itu tiba-tiba si sakit mendesis.
"Sssst, ada orang datang!"
Suasana saat itu sunyi sepi, sampai suara anginpun tidak terdengar, mana ada suara orang segala.
Diam-diam Pwe-giok mengira si sakit ini sudah terlalu lama menggeletak di tempat tidurnya sehingga telinganya mungkin juga rada tuli.
Tapi selang sejenak mendadak di bawah ada suara pintu di ketuk suaranya rada aneh, seperti sesuatu alat tajam yang di gunakan untuk mengetuk pintu.
Lalu suara seorang berseru dengan lantang.
"Sepada! Adakah orang di atas ? Wanpwe Dian Ce-hun datang mengantarkan surat!"
"Surat ? Mengantar surat apa ?"
Gumam Cu Lui-ji sambil berkerut kening.
"Siapa pula Dian Ce-hun ini ?"
Sembari bergumam, ia terus turun ke bawah. Tiba-tiba si sakit memberi pesan.
"Ginkang dan Lwekang orang ini tidak lemah, bahkan seperti pernah berlatih kungfu sebangsa Eng-jiau-kang (tenaga cakar elang), jika kau tidak mampu merintangi dia, biarkan saja dia naik ke sini!"
"Ku tahu,"
Jawab Lui-ji.
Walaupun begitu ucapnya, namun di dalam hati merasa penasaran.
Pwe-giok tahu dari suara ketukan pintu itulah si sakit menilai kungfu pendatang yang mengaku bernama Dian Ce-hun itu dan dari suaranya dapat diukur pula tenaga dalamnya.
Selain itu, kedatangannya itu ternyata tidak di dengar oleh orang-orang yang berada di atas loteng, dari sini dapat diketahui Ginkangnya pasti sangat tinggi.
Setelah berpikir, Pwe-giok lantas berkata.
"Wanpwe juga ingin turun untuk melihatnya."
Setiba di bawah, Pwe-giok melihat pintu sudah dibuka oleh Cu Lui-ji.
Di bawah cahaya sang surya yang terang benderang, di luar pintu tampak tegak seorang pemuda jangkung dan berwajah cakap serta berbaju ungu.
"Kau yang mengantar surat kemari?"
Tegur Lui-ji.
"Dimana suratnya?"
Orang yang mengaku bernama Dian Ce-hun itu memandang sekejap kepada Lui-ji, jawabnya dengan tersenyum.
"Surat ini tidak boleh kuserahkan kepada anak kecil, bolehkah aku masuk ke situ ?"
Dia bicara dengan tersenyum, namun sikapnya angkuh. Lui-ji tersenyum, jawabnya.
"Hanya pengantar surat saja mana boleh sembarangan terobosan di tempat orang ? Jika suratmu tidak mau di serahkan padaku, silahkan kau bawa pulang saja."
"Tajam amat mulut nona cilik,"
Kata Dian Ce-hun dengan tertawa.
"Tapi apakah nona sanggup menerima surat ku ini ?"
Dia benar-benar mengeluarkan sepucuk surat dari dalam baju dan disodorkan lurus ke depan dengan di pegang kedua tangan.
Surat itu disodorkan tepat ke Cu Lui-ji, tampaknya sopan dan sangat menghormat.
Namun Pwe-giok dapat melihat kedua tangan orang sedikit melengkung, jelas mengandung tenaga dalam yang sukar di jajaki, tampaknya saja tenang-tenang, tapi diam-diam siap siaga.
Apabila Lui-ji benar-benar menjulurkan tangan untuk menerima surat itu, bisa jadi nona cilik itu akan kecundang.
Selagi Pwe-giok hendak memburu maju, tiba-tiba Lui-ji berkata dengan ketus.
"Boleh kau taruh suratmu di lantai saja!"
Gemerdep sinar mata Dian Ce-hun, ucapnya dengan tersenyum.
"Masa nona cilik tidak berani menerima suratku ini ?"
"Hmmm, percuma kau ini kelihatan seperti orang terpelajar, masa persoalan lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan juga tidak tahu?"
Jengek Lui-ji. Dian Ce-hun tertawa, katanya.
"Haha, lihay amat nona cilik, pantas sekian banyak orang terjungkal di tanganmu."
Di tengah suara tertawanya, kedua tangannya terus mendorong ke depan bersama sampul surat yang di pegangnya.
Tampaknya sampul surat itu hanya benda yang tipis, tapi terpegang di tangannya tiada ubahnya seperti baja tipis yang tajam.
Belum lenyap suaranya, angin berkesiur, tahu-tahu Dian Ce-hun sudah menyelinap lewat di samping Lui-ji tanpa menyenggol ujung bajunya.
Betapapun, Lui-ji tidak sempat lagi untuk mencegatnya.
Terdengar Dian Ce-hun berkata dengan tertawa.
"Lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan, biarlah ku antar surat ini langsung ke atas saja."
Tapi mendadak seorang menanggapi dengan tegas.
"Tidak perlu, serahkan padaku di sini kan sama saja."
Suara Dian Ce-hun terhenti seketika, dilihatnya seorang pemuda maha cakap dan sopan santun sudah berdiri di ujung tangga dengan mengulum senyum, tempat berdiri pemuda cakap itu tepat merintangi jalan lewatnya.
Biasanya Dian Ce-hun sangat angkuh, menganggap dirinya maha cakap dan tiada bandingannya.
Tapi demi melihat pemuda di depan ini, mau tak mau ia terkesiap dan merasa kalah.
Segera ia bertanya dengan tertawa.
"Apakah Anda tuan rumah di sini?"
Pemuda cakap itu adalah Pwe-giok, ia menjawab.
"Tuan rumah sedang tidur siang, hendaklah anda...."
Tapi Dian Ce-hun lantas memotong dengan tertawa.
"Jika Anda bukan tuan rumahnya, mana boleh kau terima surat ini ?"
Segera ia mendorong ke depan pula sampul surat itu dengan kedua tangannya.
Ternyata Pwegiok tidak mengelak dan juga tidak menghindar, sebaliknya kedua tangannya lantas memapak tangan lawan, gerak tangannya cepat luar biasa.
Alis Dian Ce-hun berjengkit, dampratnya pelahan.
"Apakah kau benar-benar ingin menerima surat ini? Kau mampu?". Mendadak jarinya menjentik, sampul surat diselentik masuk ke dalam lengan baju sendiri, sedangkan tangannya terus menindih ke bawah.
"Plak", seketika empat tangan beradu dan kedua orang sama-sama terkejut. Maklumlah, pembawaan tenaga sakti Ji Pwe-giok jarang ada bandingannya, tapi pemuda she Dian ini ternyata mampu menindih tangannya hingga tertekan beberapa inci ke bawah, hampir saja Pwe-giok tidak sanggup menahannya.
Jilid 18________ Sebaliknya Dian Ce-hun juga tidak menyangka pemuda cakap yang tampaknya lemah lembut ini, ternyata memiliki tenaga sakti sekuat ini.
Dia menahan dari atas, jadi posisinya lebih menguntungkan, tapi ternyata kedua tangan lawan ternyata tetap keras bagai baja, betapapun dia mengerahkan tenaga lagi tetap tak mampu menekannya ke bawah.
Karena adu tenaga, hanya sekejap saja kedua orang sudah sama-sama berkeringat.
Diam-diam Dian Ce-hun menyesal, tidak seharusnya dia beradu tenaga dalam dengan lawan.
Dalam pada itu, diam-diam Cu Lui-ji telah memutar ke samping Dian Ce-hun, katanya.
"Silahkan kalian mengukur tenaga di sini, suratnya serahkan saja kepadaku."
Sebelah tangannya segera terjulur dari belakang untuk meraba sampul surat yang tersimpan di dalam baju Dian Ce-hun.
Dalam keadaan begini, bilamana Dian Ce-hun menghindar, tentu bagian depannya akan tak terjaga dan peluang itu akan memberi kesempatan kepada Ji Pwe-giok untuk menyerangnya.
Apalagi ketika tangan kiri Cu Lui-ji meraba suratnya, tangannya yang lain juga sudah siap untuk menyerang.
Diam-diam Pwe-giok berkerut kening, menyaksikan tindakan Cu Lui-ji itu, ia merasa tidak pantas nona itu mengancam orang selagi lawan kepepet.
Tapi keadaan sudah terlanjur begitu, jika dia menarik diri, mungkin lawan yang terus mendesak dan dirinya yang bakal celaka.
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa panjang.
Bayangan tubuh Dian Ce-hun mendadak melayang ke atas.
Pwe-giok berdiri di ujung tangga, jarak papan loteng dengan kepalanya tidak lebih dari setengah meteran, siapa tahu tubuh Dian Ce-hun yang melayang ke atas itu dapat memberosot ke atas loteng menempel papan loteng selicin ikan.
Ginkang yang diperlihatkan ini benar-benar sangat mengejutkan dan sukar dibayangkan.
Baik Pwe-giok maupun Cu Lui-ji sama terkejut.
Terdengar Dian Ce-hun bersuara di atas loteng.
"Wanpwe Dian Ce-hun ingin menyampaikan surat, mohon cianpwe sudi menerima."
Padahal saat itu dia sudah melihat jelas orang berbaring di tempat tidur, andaikan si sakit tidak mau menerimanya, juga sukar mengelakkan diri.
Orang sakit itu hanya memandang Dian Ce-hun sekejap dengan tak acuh, lalu bertanya.
"Kedatanganmu ini atas suruhan siapa ?"
"Inilah suratnya, setelah cianpwe membacanya tentu akan tahun sendiri,"
Jawab Dian Ce-hun.
Kedua tangannya lantas menjulur ke depan, perlahan ia mengangsurkan sampul surat yang dibawanya, tanpa berkedip ia pandang si sakit.
Sementara itu Cu Lui-ji sudah memburu ke atas dan berseru.
"Awas tangannya, sacek ...."
Belum lenyap suaranya, mendadak tangan si sakit menggapai perlahan, entah dengan cara bagaimana tahu-tahu sampul surat yang dipegang erat-erat oleh kedua tangan Dian Ce-hun telah berpindah ke tangan orang lain.
Air muka Dian Ce-hun rada berubah dan menyurut mundur dua-tiga langkah, katanya sambil membungkuk.
"Tugas Wanpwe sudah selesai, sekarang juga kumohon diri."
Sambil bicara ia melangkah mundur dua tiga tindak sehingga menyurut sampai di ujung tangga, tapi sebelum melangkah ke bawah loteng, mendadak ia turun tangan secepat kilat, tahu-tahu pergelangan tangan Cu Lui-ji dicengkeramnya.
Lui-ji tidak pernah menduga akan disergap begitu, keruan badannya lantas lemas dan tak berdaya, ia sempat berteriak.
"Sacek ... ."
Dian Ce-hun lantas berkata dengan suara tertahan.
"Bilamana kalian memikirkan keselamatan nona ini, hendaklah kalian jangan sembarangan bergerak, Cayhe hanya ingin membawanya pergi menemui seseorang, habis itu pasti akan ku antar dia pulang ke sini dengan selamat."
Sambil bicara, selangkah demi selangkah ia terus mundur ke bawah loteng, semua orang hanya menyaksikan kepergiannya dengan mata terbelalak tanpa bisa bertindak apa-apa.
Si Sakit sedikitpun tidak kelihatan cemas, dia malah bertanya lagi dengan perlahan.
"Hendak kau bawa dia untuk menemui siapa ?"
"Guruku ..."
Jawab Dian Ce-hun. Mendadak si sakit mendengus.
"Hmm, jika dia ingin menemuinya, suruh dia sendiri datang ke sini."
Sambil bicara mendadak tubuhnya melayang melintang dari tempat tidurnya.
Ketika berbaring tampaknya dia sudah kempas-kempis dan tak dapat bergerak, tapi sekarang begitu melayang ke atas, gerak tubuhnya itu tampak begitu gesit dan tangkas.
Wajah Dian Ce-hun menjadi pucat, bentaknya.
"Apakah Cianpwe tidak memikirkan dia lagi ..."
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong si sakit sudah menubruk ke arahnya segera lehernya hendak mencengkeramnya.
Ketika Dian Ce-hun merasa angin keras menyambar tiba, begitu kuat sehingga napaspun terasa sesak.
Mana dia sempat mencelakai Cu Lui-ji lagi, ingin lari saja tidak sempat.
Terpaksa ia mengerahkan segenap tenaga, kedua tangannya menangkis ke atas.
Tak terduga si sakit yang mengapung di atas udara itu ternyata dapat melakukan perubahan dengan gesit, sekali putar badan, secepat kilat urat nadi pergelangan tangan Dian Ce-hun telah di kena di cengkeramannya.
Sekejap itu, semua orang sama melenggong menyaksikan apa yang terjadi itu.
Semua orang tahu si sakit ini pasti bukan tokoh sembarangan, tapi tiada yang menduga kungfunya sedemikian mengejutkan.
Kungfu dari perguruan dan aliran manapun di dunia ini kalau dibandingkan gerakan si sakit barusan.
Hakekatnya, boleh dikatakan seperti permainan anak kecil belaka.
Diam-diam Kwe Pian-sian terkejut, pikirnya.
"Bocah she Dian ini benar-benar cari penyakit sendiri. Sekarang tangannya sudah dicengkeram orang, mungkin segenap kungfunya akan dipinjam pakai juga oleh orang. Bara saja terlintas pikiran demikian, tiba-tiba terdengar si sakit mendamprat perlahan.
"Inilah sedikit hajar adat padamu agar selanjutnya kau tahu diri. Nah, enyahlah kau!"
Di tengah bentakannya itu, tubuh Dian Ce-hun telah diangkatnya ke atas terus dilemparkannya ke luar jendela seperti anak kecil lempar bola. Sampai lama sekali baru terdengar suara "bluk"
Di luar sana.
Habis itu, si sakit melayang kembali ke tempat tidurnya dan berbaring pula seperti semula, hanya napasnya tampak terengah-engah.
Selang sejenak, tiba-tiba terdengar suara Dian Ce-hun berkumandang dari luar jendela sana.
"Kungfu Cianpwe sungguh hebat luar biasa kelak Wanpwe masih ingin minta petunjuk lagi."
Bicara sampai kata terakhir itu suaranya kedengarannya sudah berada di tempat beratus tombak jauhnya.
Nyata anak muda ini tidak cuma kepala batu, dan tidak kenal apa artinya kapok, bahkan nyalinya juga besar dan tidak takut apapun.
Diam-diam timbul rasa suka dan sayang dalam hati Pwe-giok terhadap pemuda she Dian itu, pikirnya dengan gegetun.
"Sungguh lelaki yang hebat, entah dia anak murid siapa?"
Di dengarnya si sakit sedang berkata dengan megap-megap.
"Melulu Ji Hong-ho dan begundalnya itu tidak nanti berhasil mendidik anak murid seperti ini."
"Betul,"
Tukas Pwe-giok.
"Dia tidak mungkin murid salah satu ke-13 perguruan terkemuka jaman ini. Sebab itulah Wanpwe merasa heran entah dia berasal dari mana?"
Orang sakit itu memejamkan mata, ia cuma menggeleng dan tidak bicara lagi. Tiba-tiba Cu Lui-ji bertanya.
"Sacek, mengapa kau lepaskan dia ?"
"Perang antara dua negara tidak boleh membunuh utusan musuh,"
Kata si sakit dengan dingin.
"Apalagi biarpun dia kurang sopan, masa akupun bertindak ngawur seperti dia?"
"Tapi kulihat kedatangannya itu tidak melulu untuk mengantar surat saja, tentu dia ingin tahu keadaan di sini, setelah dia tahu penyakit Sacek belum sembuh, sepulangnya ini mungkin akan datang lagi dengan membawa orang lain."
"Biarpun membawa orang lain lantas mau apa?"
Kata si sakit dengan gusar.
"Sekalipun kita harus mati juga tak boleh bertindak sesuatu yang memalukan, tahu tidak?"
Cu Lui-ji mengiakan dengan menunduk.
Iapun tidak berani bicara lagi.
Diam-diam Pwe-giok bertambah kagum terhadap kepribadian si sakit.
Kwe Pian-sian sejak tadi diam saja, kini iapun tidak tahan, katanya.
"Sekalipun Cianpwe harus membebaskan dia, mengapa tidak kau pinjam pakai dulu Kungfunya itu?"
Si sakit meliriknya sekejap dengan sorot mata dingin dan penuh rasa menghina, iapun tidak menjawabnya. Cu Lui-ji lantas mendengus.
"Sekalipun Sacek suka pinjam pakai Kungfu orang lain, kalau bukan orang itu sukarela tentulah akibat perbuatan orang itu sendiri. Kalau tidak, Kungfumu kan juga tidak lemah, mengapa Sacek tidak pinjam pakai?"
Kwe Pian-sian jadi ngeri sendiri dan tidak berani bicara lagi.
Tapi biasanya dia juga angkuh dan tinggi hati, tentu saja dia tetap penasaran karena merasa dihina.
selang sejenak, ia tidak tahan dan berkata pula.
"Mungkin nona hanya bergurau saja. Di seluruh dunia ini mana ada orang yang sukarela meminjamkan Kungfunya yang dilatihnya dengan susah payah selama hidup kepada orang lain?"
Tiba-tiba Cu Lui-ji melirik Gin-hoa-nio sekejap, lalu mendengus.
"Mungkin ada, siapa tahu?!"
Gin-hoa-nio merasa bingung mengapa anak dara itu meliriknya, seketika ia merinding sendiri. Selagi ia hendak mencari alasan untuk bertanya, tiba-tiba Pwe-giok sudah bertanya lebih dulu.
"Entah apa yang tertulis di dalam surat itu?"
Setelah bertanya, hati Pwe-giok menjadi menyesal, ia menyangka si sakit pasti tidak akan memberitahukannya dan hal ini berarti dirinya mendapat malu sendiri.
Siapa tahu si sakit lantas menyerahkan surat tadi kepada Lui-ji dan berkata.
"Coba, kau bacakan bagi mereka."
Lui-ji lantas merobek sampul surat itu, diloloskannya secarik surat, lebih dulu dilihatnya satu kali, habis itu baru dibacanya dengan perlahan."...
Locianpwe yang terhormat, sudah lama kami kagum atas pribadimu, tak tersangka sekarang Cianpwe bertirakat di sini.
Nama Cianpwe termasyhur bijaksana, tentunya Cianpwe takkan membela puteri ....
Pada tengah malam nanti kami akan berkunjung kemari, diharapkan Cianpwe takkan menolak kedatangan kami.
Hormat Ji Hong-ho dan kawan-kawan berjumlah 12 orang."
Isi surat itu ditulis secara tergesa-gesa sehingga kalimatnya tidak diperbaiki lagi, namun cekak-aos, singkat dan jelas.
Namun waktu membacanya, Cu Lui-ji sengaja melompati beberapa nama yang tidak dibacanya.
Diam-diam Pwe-giok membatin.
"Nama pada bagian depan surat itu tentulah nama orang sakit ini dan nama bagian lain yang menyebutkan nama orang tua nona Cu ini, dengan sendirinya juga tidak dibacakannya."
Mendadak si sakit mendengus.
"Hm, Ji Hong-ho dan kawan-kawannya berjumlah 12 orang ..... huh, hanya mereka itu saja berani menemui aku dengan menjanjikan waktu berkunjung segala?"
Dengan suara tertahan Cu Lui-ji berkata.
"Jika cuma mereka saja tentu saja tidak berani menulis surat ini, tapi sekarang kukira mereka tentu sudah mempunyai beking yang kuat, makanya nyali mereka tambah besar."
Pwe-giok saling pandang sekejap dengan Kwe Pian-sian, diam-diam mengagumi kecepatan berpikir nona cilik ini, mereka memang juga sudah memperkirakan Ji Hong-ho pasti mendapatkan bala bantuan yang tangguh.
Diam-diam Pwe-giok membatin.
"Rasanya tokoh andalan mereka pasti bukan Dian Ce-hun yang mengantar surat ini, tapi pasti lebih lihay daripada Dian Ce-hun, jangan-jangan orang yang dimaksud adalah guru pemuda she Dian itu?"
Berpikir demikian, diam-diam ia berkuatir bagi si sakit. Dilihatnya orang sakit itu telah memejamkan mata pula, setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata dengan perlahan.
"Jika mereka telah mengirim surat secara sopan padaku rasanya kitapun harus membalasnya dengan cara yang sama ....... Lui-ji, boleh kau pergi kesana, katakan kepada mereka bahwa aku tetap menantikan kedatangan mereka di sini."
"Tidak, aku tidak mau kesana,"
Di luar dugaan Lui-ji menjawab dengan menggeleng.
"Kau tidak mau pergi?"
Si sakit menegas dengan berkerut kening. Lui-ji menyapu pandang sekejap ke arah Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, katanya kemudian dengan menunduk.
"Aku akan mengiringi Sacek di sini, aku tidak mau pergi kemana-mana."
Pwe-giok tahu sebabnya nona cilik itu tidak mau pergi adalah karena kuatir terhadap Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, ia harus tetap tinggal di sini untuk mengawasi gerak-gerik kedua orang itu.
Dari sini terbuktilah bahwa saat ini si sakit berada dalam keadaan gawat, sisa tenaganya sudah tidak cukup untuk melayani gin-hoa-nio dan Kwe Pian-sian berdua.
apalagi untuk menghadapi Dia Ce-hun dan gurunya yang pasti jauh lebih lihay.
Berpikir demikian, tanpa terasa Pwe-giok terus berseru.
"Jika nona Cu harus meladeni Cianpwe di sini, biarlah aku saja yang mewakili Cianpwe pergi ke sana."
Sekonyong-konyong si sakit membuka mata dan bertanya.
"Kau ingin pergi?"
Pwe-giok tertawa, jawabnya.
"Ya, jika sekiranya Cianpwe tidak merasa keberatan."
Sorot mata si sakit yang tajam itu menatapnya sejenak, tiba-tiba ia berkata.
"Coba kemari kau!"
Sejak tadi Ciong Cing berduduk melongo disamping sana, kini timbul rasa kuatirnya ketika dilihatnya Ji Pwe-giok disuruh mendekati orang sakit itu, hampir saja ia berteriak.
"He, jangan kau mendekati dia. Kungfumu akan dipinjam pakai juga olehnya."
Namun tanpa prasangka apapun Pwe-giok tetap mendekati si sakit dengan tenang, katanya.
"Cianpwe hendak memberi pesan apalagi?"
Si sakit memberi tanda, Pwe-giok terus mendekatkan telinganya ke mulut orang itu.
Dengan mata terbelalak Ciong cing menyaksikan si sakit berbisik-bisik sekian lamanya di tepi telinga Pwe-giok.
Suaranya sangat lirih sehingga tiada seorangpun yang tahu apa yang dikatakannya.
Hanya terlihat air muka Pwe-giok lambat-laun memperlihatkan rasa girang, mendadak ia memberi hormat dan berucap.
"Terima kasih, Cianpwe".
"Kau sudah paham?"
Tanya si sakit.
Pwe-giok memejamkan matanya dan berpikir sejenak, tiba-tiba kedua tangannya bergerak beberapa kali di udara, seperti menggores beberapa lingkaran yang besar-kecilnya tidak sama.
Orang lain tidaklah merasakan apa-apa atas perbuatan Pwe-giok itu, tapi Kwe Pian-sian menjadi terkejut.
Nyata dia merasakan pad setiap lingkaran yang dibuat oleh Ji Pwe-giok itu mengandung satu jurus serangan mematikan yang amat lihay.
Makin lama makin cepat lingkaran yang dibuat Ji Pwe-giok itu, tapi dari cepat mendadak berubah lambat, habis itu lantas berhenti, dia menarik napas panjang-panjang, air mukanya bersemu merah, lalu ia memberi hormat kepada si sakit dan bertanya.
"Apakah begini caranya?"
Sorot mata si sakit menampilkan rasa girang, katanya sambil mengangguk.
"Bagus sekali, bolehlah kau berangkat!"
Pwe-giok memberi hormat pula, tanpa bicara lagi ia terus bertindak pergi dengan langkah lebar.
Kini Kwe Pian-sian dapat menerka bahwa mungkin si sakit kuatir Pwe-giok akan dianiaya atau dihina waktu mengantar surat ke sana, maka si sakit sengaja mengajarkan sejurus Kungfu maha lihay kepadanya.
Diam-diam Kwe Pian-sian menyesal.
"Tahu begitu. tentu tadi ku dahului mencalonkan diri sebagai pengantar surat."
Tapi setelah menyesal ia menjadi heran pula.
"Orang sakit ini hanya berbisik-bisik sejenak kepada Ji Pwe-giok ini dan anak muda itu lantas dapat menguasai jurus serangan maha lihay itu, mengapa dia dapat belajar secepat ini?"
Ia tidak tahu bahwa pandangan si sakit sangat tajam, dari gerak-gerik Ji Pwe-giok sejak tadi sudah dapat dirabanya asal-usul ilmu silatnya.
Apa yang diajarkannya barusan adalah Kungfu yang berdekatan dengan kepandaian yang telah dikuasai Pwe-giok, apalagi anak muda itu memang sangat cerdas, diberitahu satu segera paham tiga, diberi petunjuk sebelah sini serentak tahu pula apa yang di sebelah sana, setelah diberitahu kunci-kuncinya oleh orang kosen, dengan sendirinya segera dapat dikuasainya dengan cepat.
Dalam pada itu kedengaran si sakit telah mendengkur, agaknya sudah tertidur pulas pula.
Sebaliknya wajah Cu Lui-ji sekarang tampak agak pucat, dia bergumam.
"Tengah malam nanti ..... waktunya tinggal lima-enam jam lagi ...."
Tiba-tiba pandangannya beralih ke arah gin-hoa-nio dan berkata dengan dingin.
"Sesudah lima enam jam lagi mungkin kau akan ......."
Gin-hoa-nio menjadi ketakutan setengah mati, sebelum habis ucapan anak dara itu segera ia berlutut dan menyembah, mohonnya dengan suara gemetar.
"Mohon belas kasihan nona, sudilah mengingat sesama perguruan dan tolonglah diriku."
"Jadi sekarang kau mau mengaku sebagai orang perguruan kita?"
Tanya Cu Lui-ji. Gin-hoa-nio menunduk, jawabnya dengan terputus-putus.
"Aku .... aku ...."
"Hm, apakah tidak terlalu terlambat pengakuanmu sekarang?"
Jengek Lui-ji Gin-hoa-nio merasa sekujur badan lemas seluruhnya dan hampir jatuh terkulai.
Meski dia biasa mempermainkan setiap lelaki, tapi di depan anak perempuan ini dia benar-benar mati kutu dan tidak sanggup bertingkah sama sekali.
Tak terduga, lewat sejenak, tiba-tiba Lui-ji berkata pula.
"Jika kau ingin hidup, kukira masih ada jalannya."
"Apa jalannya?"
Tanya Gin-hoa-nio cepat.
"Masa kau sendiri tidak dapat menerkanya?"
Ucap Lui-ji dengan hambar. Diam-diam Gin-hoa-nio menggreget, pikirnya dengan gemas.
"Budak sialan, budak mampus, jika aku dapat memikirkan jalan baik, masa perlu kuminta pertolongan kepada budak hina macam kau?"
Sudah tentu dia tidak berani memperlihatkan rasa penasarannya itu, sebaliknya ia menjawab dengan mengiring tawa.
"Ah, aku ini terlalu bodoh sehingga perlu minta petunjuk kepada nona, mana sanggup kucari jalan yang lebih baik. Hendaklah nona saja sudi menolong, budi kebaikanmu tentu takkan kulupakan selama hidup ini."
Tapi Cu Lui-ji lantas melengos ke sana seperti tidak mendengar ucapannya itu.
Keruan Gin-hoa-nio tambah gelisah, saking gregetan hampir saja ia mencaci-maki.
Tak terduga Kwe Pian-sian lantas menimbrung dengan perlahan.
"Jalan keluarnya mungkin dapat ku terka."
Gin-hoa-nio melengak, tanyanya .
"Kau tahu?"
"Ehmm,"
Kwe Pian-sian mengangguk.
"Meng .... mengapa tidak lekas kau katakan?"
Seru Gin-hoa-nio.
"Untuk apa harus kukatakan?"
Jawab Kwe Pian-sian dengan ketus.
Gin-hoa-nio jadi tertegun, mukanya sebentar pucat sebentar hijau, diam-diam ia menggertak gigi saking gemasnya, namun wajahnya segera menampilkan senyuman menggiurkan, katanya.
"Kumohon dengan sangat, sudilah kau katakan padaku, selama hidupku ......"
"Ah, justru aku tidak berharap agar selama hidupmu akan selalu teringat padaku."
Tukas Kwe Pian-sian.
"Tapi bukan saja aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu, bahkan apapun kehendakmu atas diriku pasti akan kuberikan,"
Sambung gin-hoa-nio pula. Kwe Pian-sian melirik sekejap ke arah bungkusan benda mestika sana, katanya.
"Barang apapun juga, katamu?"
"Ya."
Jawab Gin-hoa-nio dengan menunduk. Terdengar suara keriat-keriut di sebelah sana, kiranya saking gregetan Cion Cing telah menggertak giginya. Maklumlah, makna kata "barang apapun yang kau kehendaki"
Terlalu luas dan meliputi macam-macam hal. Kwe Pian-sian tertawa cerah, katanya.
"Tentang jalan keluarnya, tadi kudengar nona Cu bilang ada sementara orang yang sukarela akan meminjamkan Kungfunya kepada Cianpwe ini, tatkala mana aku merasa bingung, tapi sekarang aku telah paham arti ucapannya itu."
Teringat waktu bicara tadi Cu Lui-ji pernah melirik ke arahnya, tiba-tiba Gin-hoa-nio juga paham apa yang dimaksudkan, seketika keringat dingin membasahi tubuhnya.
Terdengar Kwe Pian-sian menyambung pula.
"Dan jika kau mau meminjamkan Kungfumu kepada Cianpwe ini, racun yang mengeram di tubuhmu dengan sendirinya juga akan terhisap bersih oleh Cianpwe ini dan jiwamu juga tidak akan menjadi soal lagi."
Gemetar Gin-hoa-nio, katanya.
"Tapi ..... tapi kalau terjadi begini, bukankah be .... beliau sendiripun akan keracunan?"
Meski ucapannya ini ditujukan kepada Kwe Pian-sian, iapun tahu Kwe Pian-sian pasti tidak mampu menjawab, yang sanggup menjawab pertanyaannya ini hanya Cu Lui-ji saja.
Benarlah, dengan tenang Cu Lui-ji lantas berkata.
"Sedikit racun di tubuhmu itu memang cukup berat bagimu, tapi bila berada di tubuh Sacek, racun itu sama sekali tidak ada artinya."
Gin-hoa-nio melenggong pula dengan berkeringat dingin, sebentar-bentar ia pandang si sakit dan sebentar-bentar lagi memandang tangannya sendiri. Mendadak ia berteriak dengan suara parau.
"Baiklah! Akan ...... akan kupinjamkan kepadamu!"
"Hm, kau mau, masih perlu dipertimbangkan lagi apakah kami mau terima?"
Jawab Cu Lui-ji dengan tertawa dingin. Kembali Gin-hoa-nio melengak, ucapnya pula dengan terputus-putus.
"Habis sesungguhnya apa .. apa kehendakmu?"
Lui-ji hanya tertawa dingin saja tanpa bersuara. Tapi Kwe Pian-sian lantas menyeletuk.
"Jika orang tidak mau menerima, apakah kau tidak dapat memohon lagi?"
Gin-hoa-nio terkesima lagi sekian lamanya, akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata dengan air mata bercucuran.
"Ya, kumohon .... kumohon dengan sangat sudilah ..... sudilah nona ..."
Sesungguhnya dia sangat penasaran dan menahan dendam, suaranya menjadi tersendat dan hampir-hampir sukar diucapkan. Sebaliknya diam-diam Cion Cing merasa senang, pikirnya.
"Tak tersangka orang semacam kau sekarang juga mendapat ganjaran yang setimpal."
Sejenak kemudian barulah Cu Lui-ji tersenyum hambar, katanya.
"Baiklah, cuma kau harus ingat kau sendiri yang memohon padaku, aku tidak pernah memaksa kau, betul tidak?"
Gin-hoa-nio tidak tahan lagi, ia menjatuhkan diri di lantai dan menangis sedih ....
***** Saat itu baru saja lewat lohor, sang surya sedang memancarkan sinarnya yang cerlang cemerlang, tapi suasana di kota kecil ini terasa seram dan suram.
Di pojok dinding sana meringkuk seekor anjing tua, mungkin binatang itu sudah terbiasa oleh keramaian, kini juga merasakan suasana yang luar biasa ini sehingga ketakutan dan tidak berani sembarangan bergerak.
Walaupun kecil, tapi Li-toh-tin semula adalah sebuah kota kecil yang cukup ramai, tapi sekarang keadaan kota ini sunyi senyap, suara kokok ayam dan gonggong anjingpun tak terdengar, karena itulah terasa seram laksana sebuah kota hantu.
Pwe-giok berjalan sendirian di jalan raya satu-satunya ini, dilihatnya pintu toko di kedua samping jalan sama tertutup rapat, hanya papan merek toko saja yang bergoyang-goyang tertiup angin, mau-tak-mau timbul juga rasa seramnya.
Setelah berjalan lagi sekian lamanya ke depan, mendadak terlihat di hutan di depan sana ada bayangan manusia.
Pwe-giok mengira orang-orang yang hendak dicarinya itu bersembunyi di hutan sana, segera ia mendekatinya dengan langkah lebar.
Siapa tahu, setelah dekat, dilihatnya ditengah hutan itu penuh berjubel orang-orang, ada yang duduk di atas batu, ada yang berkerumun di bawah pohon, lelaki dan perempuan, tua dan muda, entah berapa jumlahnya.
Rupanya Ji Hong-ho telah menggiring segenap penduduk Litoh-tin ke hutan ini.
Wajah orang-orang itu sama mengunjuk rasa takut dan cemas, begitu banyak orang yang berkerumun di situ, tapi tiada seorangpun yang berani bersuara, sampai bayi-bayi dalam pangkuan sang bunda juga dibungkus rapat-rapat dengan selimut sehingga suara tangisannya tidak tersiar.
Semua orang merasa seakan-akan ditimpa oleh malapetaka.
Pwe-giok menghela napas, pikirnya.
"Orang she Ji itu sengaja mengiring penduduk Li-toh-tin ke sini, tentu saja dengan alasan demi keselamatan penduduk itu sendiri agar tidak menimbulkan korban orang yang tak berdosa, padahal penduduk di sini adalah rakyat jelata yang hidup tertib, mana pernah mengalami kejadian seperti ini ..."
Kedatangan Pwe-giok disambut orang-orang di tengah hutan itu dengan pandangan yang curiga dan benci, mereka seakan-akan hendak berkata.
"Sesungguhnya kau ini manusia macam apa ? Mengapa kalian mengganggu ketenangan kami?"
Pwe-giok tidak berani memandang mereka dengan kepala tertunduk ia lalu ke sana. Mendadak dua lelaki berpakaian ketat melompat keluar dari balik pohon sana dan menghadang di depan Pwe-giok.
"Kawan ini datang darimana dan ada keperluan apa?"
Segera seorang menegur.
Kedua orang itu tadi tidak ikut ke Li-keh-can, maka mereka tidak kenal Pwe-giok.
Sebaliknya dari dandanan mereka Pwe-giok dapat menerka mereka pasti anak buah langsung orang she Ji itu.
Ia menjadi gusar.
Tapi sedapatnya ia menahan perasaannya, jawabnya dengan ketus.
"Ku datang mengantar surat, dapatkah kalian memberi petunjuk jalannya?"
Orang itu tertawa lebar, katanya.
"Bengcu sudah tahu pasti ada orang yang akan datang dengan membawa surat, makanya kami berdua ditugaskan menunggu di sini. Perhitungan Bengcu yang maha jitu ini sungguh luar biasa, kawan merasa kagum tidak?"
Pwe-giok hanya mendengus saja tanpa menjawab. Orang itu melototinya sekejap, seketika iapun menarik muka dan berkata.
"Jika kau ingin menyampaikan surat, marilah ikut padaku. Kalau saja tiada pesan Bengcu ....... Hm!"
Melihat lagak orang, Pwe-giok berbalik tidak marah, pikirnya.
"Jika anak buah orang she Ji itu melulu terdiri dari orang-orang tolol begini, jadinya lebih baik malah."
Setelah menyusuri hutan itu tampaklah di depan sana ada sebuah biara.
Hampir seluruh penduduk Li-toh-tin itu she Li, patung yang dipuja di biara ini ialah Thaysiang-lo-kun yang aslinya juga she Li.
Rupanya penduduk Li-toh-tin ini menganggap mereka adalah keturunan Thay-siang-lo-kun, sebab itulah biara ini dibangun dan dirawat dengan sangat megah dan bagus, bahkan besarnya tidak kalah dengan biara ternama di kota-kota besar.
Tapi sekarang suasana biara itupun senyap, kedua sayap daun pintu bercat hitam hanya terbuka sedikit, pohon di depan biara adalah pohon tua yang berumur ribuan tahun.
Setiba di depan pintu, kedua pengantar itu menoleh dan berkata.
"Tunggu dulu di sini, biar kami laporkan bagimu, jangan sembarangan bergerak, tahu ?"
Jika orang lain diperlakukan kasar begini, bisa jadi kedua orang itu akan kontan dipersen dengan dua kali gamparan. Tapi Pwe-giok memang pemuda sabar, ia hanya tersenyum hambar dan menjawab.
"Baiklah, terima kasih". Kedua orang itu melotot lagi sekejap, lalu melangkah ke dalam biara sambil mendengus. Sejenak kemudian dibalik pintu sana berkumandanglah suara mereka.
"Bengcu melukiskan pihak lawan sedemikian lihaynya, tapi kulihat pengantar surat ini mirip seorang penari belaka, cuma sayang mukanya ada bekas luka". Pwe-giok tidak menjadi marah oleh olok-olok itu, sebaliknya malah ia tertawa senang. Kebanyakan anak muda berdarah panas dan lekas marah, tinggi hati, tidak mau kalah. Apalagi dihina orang. Dengan sendirinya Pwe-giok juga begitu. Tapi kini setelah mengalami berbagai macam gemblengan, sudah kenyang dengan pengalaman pahit, ia justru takut bila orang lain memperhatikan dan menghargainya, semakin orang memandang rendah padanya, semakin meremehkan dia, dalam hatinya justru semakin girang. Sebab ia tahu hanya orang demikian inilah takkan dibenci dan dicemburui orang lain dan juga takkan dicelakai orang. Meski usianya masih muda, tapi pengetahuannya kini sudah terlalu banyak. Selang tak lama, terdengar dibalik pintu ada suara orang bertanya.
"Dimana si pengantar surat ?". Pwe-giok tahu pertanyaan orang itu berlebihan, sebab jelas-jelas diketahuinya pengantar surat berada diluar, untuk apa mesti bertanya lagi. Segera ia membetulkan bajunya dan menjawab."
Di sini!"
Tanya jawab ini sebenarnya memang tidak perlu, tapi kalau tiada permainan begini, rasanya sandiwara ini menjadi kurang menarik.
Akan tetapi setelah bertanya-jawab, dari dalam tetap tiada orang muncul.
Pwe-giok menunggu lagi sejenak, sekalipun ia cukup sabar, tidak urung ia tidak tahan dan mengulangi lagi jawabnya.
"Di sinilah pengantar suratnya...."
Dua kali dia mengulangi ucapannya itu, suaranya juga tambah keras, tapi di balik pintu tetap sunyi senyap tanpa reaksi apa-apa. Ia menunggu lagi sebentar, tiba-tiba ia berseru dengan tertawa.
"Jelas-jelas anda tahu kedatangan pengantar surat, mengapa tinggal diam dan tidak menggubrisnya? Apakah anda tidak suka menerima surat ini? Sungguh cayhe tidak paham apa maksud anda?"
Namun di balik pintu tetap tiada suara jawaban. Pelahan Pwe-giok berkata lagi.
"Namun Cayhe sudah menerima tugas dan harus melaksanakan kewajiban. Kalau surat sudah ku antar kemari, betapapun harus kuserahkan kepada yang wajib terima". Sembari bicara ia terus mendorong pintu dan melangkah ke dalam. Halaman dalam kelihatan guram, suasana juga hening, bahkan kedua orang yang membawanya kemari tadi juga sudah menghilang entah ke mana. Tanpa melirik ke kanan maupun ke kiri, Pwe-giok langsung menuju ke ruangan tengah sana dengan melintasi halaman itu. Di ruangan pendopo biara itu tampak asap dupa bergulung-gulung, patung Thay-siang-lo-kun di altar kelihatan khidmat, sebuah Hiolo (tungku dupa) terbuat dari perunggu yang biasanya terletak di tengah-tengah pendopo kini sudah disingkirkan ke pinggir. Hiolo itu tingginya melebihi manusia, tampaknya biarpun bertenaga raksasa juga sukar memindahkannya kecuali kalau belasan orang bertenaga kuat menggesernya bersama. Tapi Hiolo itu cuma berkaki tiga, bagian lain boleh dikatakan licin sekali dan sukar dipegang, biarpun belasan orang hendak mengangkatnya sekaligus rasanya juga sulit. Sungguh Pwe-giok tidak paham siapakah yang memindahkan Hiolo raksasa itu dan cara bagaimana menggesernya? Terlihat setelah Hiolo itu dipindahkan, di ruang pendopo itu kini sudah dipasang 12 kursi besar dari kayu merah. Namun ke 12 kursi itu belum satupun diduduki orang. Sampai di sini Pwe-giok tidak melangkah lebih maju lagi. Sekarang iapun paham duduknya perkara. Pikirnya.
"Rupanya merekapun tahu orang sakit itu juga akan menggunakan alasan mengirim surat balasan dan sekaligus mencari tahu kekuatan mereka, sebab itulah mereka sama menyingkir dan tiada seorangpun mau memperkenalkan diri. Tapi orang se Ji dan Lim Soh-Koan dan lain-lain kan tidak perlu lagi menyembunyikan jejak mereka, yang tidak ingin memperlihatkan wajah aslinya mungkin adalah tokoh andalan mereka yang lihai itu."
Lalu siapakah tokoh andalan mereka itu?
Mengapa mesti bertindak misterius begini?
Apakah mungkin dia kuatir kedatangannya diketahui oleh si sakit?
Bisa jadi si sakit akan kabur bilamana mengetahui kedatangannya?
Timbul juga rasa ingin tahu Pwe-giok, ia mengerling sekeliling ruangan itu, mendadak ia menjura terhadap kursi besar dibagian tengah yang kosong itu dan berkata.
"Cayhe Ji Pwegiok sengaja berkunjung kemari untuk menemui Bengcu."
Dia menjura dengan sikap yang sangat hormat, sama seperti saat itu Ji Hong-ho benar-benar berduduk dikursi itu.
Dalam keadaan demikian, bilamana Ji Hong-ho tidak mau kehilangan pamornya sebagai seorang Bengcu, maka mau-tak-mau dia harus memperlihatkan dirinya.
Selang sejenak, benarlah terdengar suara Ji Hong-ho berkumandang dari belakang sana, katanya dengan tertawa."
Sungguh tidak pernah kuduga si pengantar suratnya ialah Ji-kongcu, maaf jika tiada penyambutan yang layak."
Ramah juga nada ucapannya, tapi belum lama lagi lenyap suaranya, sekonyong-konyong seorang berteriak disamping."
Jadi kau inilah pengantar surat Hong Sam?"
Baru sekarang Pwe-giok tahu orang sakit itu bernama Hong Sam, didengarnya orang itu bicara dengan keras dan cepat, jelas orang yang berbicara ini berwatak keras dan pemberang.
Pada umumnya orang yang berwatak keras dan pemberang tentu sukar melatih Kungfu dengan baik, tapi tenaga dalam orang itu justru begini kuat, setiap katanya bergetar seperti bunyi genta sehingga anak telinga pendengarnya terasa sakit.
Tanpa melihat orangnya saja Pwe-giok tahu tinggi ilmu silat orang ini benar-benar belum pernah dilihatnya selama hidup ini.Jelas memang lebih tinggi setingkat dibandingkan para ketua dari ke-13 perguruan terkemuka jaman ini.
Selagi Pwe-giok tercengang, agaknya orang itu tidak sabar menunggu lagi, dengan gusar ia menegur pula.
"Kutanya padamu, mengapa tidak lekas kau jawab?"
Maka Pwe-giok lantas berkata.
"Betul Cayhe memang mengantar surat bagi Honglocianpwe..."
"Kau pernah apanya Hong Sam?"
Tanya pula orang itu dengan suara bengis.
"Cayhe dan Hong-cianpwe bukan sanak bukan kadang, hanya ...."
"Bukan sanak bukan kadang?"
Orang itu memotong dengan gusar.
"Lalu untuk apa kau menjadi pengantar suratnya? Apakah kau makan kenyang dan terlalu iseng?"
Setiap kali ucapannya belum habis lantas dipotong oleh orang itu, diam-diam Pwe-giok mendongkol dan juga geli, pikirnya.
"Watak orang ini begini keras, jelas pula seorang pemberang, entah cara bagaimana dia berhasil meyakinkan Kungfu setinggi ini?"
Walaupun dalam hati merasa heran, tapi dimulut iapun tidak berani ayal, jawabnya.
"Tugas mengantar surat adalah pekerjaan yang mudah, tidak merugikan diri sendiri, tapi berguna bagi orang lain, mengapa tidak kulakukan?"
"Hm,"
Orang itu mendengus.
"Di mana suratnya?"
"Surat Hong-locianpwe yang ku antar ini adalah surat lisan,"
Jawab Pwe-giok.
"Surat lisan?"
Orang itu menegas.
"Apakah untuk memegang pensil saja dia tidak punya tenaga lagi?"
Berkata sampai di sini mendadak ia tertawa terbahak-bahak, begitu keras dan nyaring suara tertawanya sungguh-sungguh sangat mengejutkan, seluruh ruangan pendopo itu seolah-olah bergetar oleh gema suara tertawanya.
Pwe-giok tambah terkejut juga.
Ia tunggu setelah suara tertawa orang mereda barulah ia menjawab dengan suara tegas.
"Hong-locianpwe menyuruh Cayhe menyampaikan kepada Anda sekalian bahwa tengah malam nanti beliau siap menanti kunjungan kalian, diharap kalian datang tepat pada waktunya.."
"Dia berharap kami datang tepat pada waktunya, memangnya dia mengira aku tidak berani pergi kesana?"
Kata orang itu dengan gusar.
"Maksud Hong-locianpwe hanya ......"
"Darimana kau tahu maksudnya?"
Sela orang itu dengan meraung gusar.
"Kau ini kutu macam apa? Selesai mengantar surat, tidak lekas enyah dari sini, apakah kau minta ku gencet pecah kepalamu?"
Pwe-giok tersenyum tak acuh, jawabnya "Jika demikian, baiklah Cayhe mohon diri."
Sedikitpun pihak lawan tidak mempersulit dia, seharusnya dia bersyukur dan merasa senang tapi dalam hati Pwe-giok sekarang justru merasa tertekan.
sebab kedatangannya ini meski hanya mengantar surat, sesungguhnya masih ada dua maksud tujuan lain, satu diantaranya adalah demi kepentingan si sakit dan tujuan lainnya adalah demi kepentingannya sendiri.
Tujuannya bukan saja ingin menyelidiki kekuatan musuh bagi si sakit, Pwe-giok juga ingin menemui Ang-lian-hoa untuk menjelaskan seluk-beluk apa yang terjadi ini.
Betapapun ia tidak ingin Ang-lian-hoa ikut campur urusan yang ruwet ini.
Tapi sekarang tujuannya mencari tahu kekuatan lawan tidak berhasil, Ang-lian-hoa juga tidak ditemuinya, malahan gelagatnya dia harus segera meninggalkan tempat ini, jadi kunjungannya ini boleh dikatakan sia-sia belaka.
Halaman yang suram itu penuh berserakan daun kering yang belum tersapu, suasana hening.
Pwe-giok telah meninggalkan pendopo dan menyusuri halaman itu, selagi dia merasa gegetun pada perjalanannya ini, tiba-tiba terdengar suara "sret"
Yang perlahan, sinar pedang menyambar tiba secepat kilat, tulang rusuk belakang yang terarah.
Begitu cepat serangan ini sehingga sukar untuk menghindar bagi sasarannya.
Meski perasaan Pwe-giok sedang tertekan, namun dia tidak pernah melupakan kewaspadaannya, dengan tidak kalah cepatnya ia berputar dan kedua tangannya masingmasing menggores satu lingkaran.
Itulah jurus ajaib ajaran si orang sakit tadi, sekarang dikeluarkannya secara mendadak, entah betapa hebat daya serangannya, yang jelas segera terdengar suara "pletak", pedang musuh yang menusuk ke tengah lingkaran yang digarisnya itu mendadak patah menjadi dua.
Padahal tangan Pwe-giok tidak pernah menyentuh pedang lawan, hanya tenaga dalamnya saja sudah cukup mematahkan pedang baja musuh.
Daya serangannya ini sungguh mengejutkan, sampai Pwe-giok sendiripun terkesiap.
Waktu Pwe-giok berpaling, dilihatnya di bawah pohon berdiri seorang dengan memegang pedang buntung, agaknya orang inipun terkejut oleh pedangnya yang patah mendadak itu.
Orang ini bertubuh jangkung dan bergaya, kiranya Lim Soh-koan adanya.
Setelah tahu siapa penyerangnya, hati Pwe-giok jadi paham duduk perkaranya.
Nyata orang ini masih tetap menaruh curiga padanya dan sekarang sengaja hendak mencoba dan memancing gaya Kungfunya untuk mengetahui asal-usulnya.
Maklumlah, bilamana seorang mendadak diserang, secara naluri tentu akan dipergunakannya Kungfu aslinya untuk menjaga diri.
Hal ini dilakukannya secara otomatis, jadi tidak mungkin pura-pura, andaikan pura-pura juga tidak sempat lagi.
Tak tahunya, Pwe-giok baru saja mendapat ajaran Kungfu yang maha hebat dan setiap saat selalu diulang-ulang ingat dalam hati.
Kini mendadak mengalami serangan, tanpa terasa Kungfu baru ini lantas digunakannya.
hal inipun dilakukannya secara naluri, sedikitpun tidak berpura-pura.
Keruan Lim soh-koan tercengang dan berdiri seperti patung dengan wajah sebentar pucat sebentar hijau, sampai lama sekali tidak sanggup bicara.
Jika orang lain tentu akan mengucapkan beberapa kata ejekan, tapi dasar Pwe-giok memang pemuda berbudi, dia cuma tersenyum hambar saja dan berkata.
"Cepat amat pedang anda."
Iapun tidak ingin menyaksikan sikap Lim Soh-koan yang serba susah itu, sambil bicara ia terus memutar pergi lagi ke depan. tak terduga, pada saat itu juga seorang membentaknya.
"Berhenti!"
Begitu keras suara bentakan itu, daun kering sama rontok tergetar, telinga Pwe-giok pun mendengung, pandangannya serasa kabur, tahu-tahu sesosok bayangan orang melayang tiba seperti burung raksasa, cara melayangnya juga sedemikian cepat, belum lagi daun rontok jatuh di tanah, orang itu sudah berada di depan Pwe-giok.
Dilihatnya orang ini bersinar mata tajam, muka berewok, rambutnya juga semrawut dan kaku menegak.
Dari suara bentakannya yang keras serta wajah yang aneh ini, setiap orang tentu akan mengira orang ini pasti tinggi besar dan gagah perkasa.
tak tahunya orang ini ternyata seorang tua kurus kecil, tingginya hanya sebatas dada Pwe-giok, memakai jubah pertapaan biru, ikat pinggangnya terdiri dari seutas rami, pada tali pinggang itulah terselip sebilah pedang pendek.
namun sarung pedangnya penuh bertaburan batu permata yang bercahaya gemerlapan dan tak ternilai harganya.
Melihat betapa garangnya orang ini, betapa hebat gerakan tubuhnya serta dandanannya yang aneh, diam-diam Pwe-giok terkejut juga.
tapi dengan tersenyum ia lantas menegur.
"Cianpwe ada pesan apakah?"
Tojin jubah biru pendek kecil itu membelalakkan matanya yang bersinar tajam, tanpa berkedip ia pandang Pwe-giok, bentaknya kemudian.
"Sesungguhnya ada hubungan apa antara kau dengan Hong Sam?"
"Tadi kan sudah kukatakan, Cayhe dan Hong-locianpwe bukan sanak ....."
"Kentut!"
Bentak Tojin jubah biru sebelum lanjut ucapan Pwe-giok.
"Kalau kau tiada hubungan sanak keluarga dengan Hong Sam, darimana kau dapat belajar jurus 'Heng-hun-pouh, Hong-bu-kiu-thian' (awan berarak dan hujan mencurah, burung Hong menari di surga) ini?"
Suaranya sungguh keras sebagai bunyi genta, setiap kali dia bicara, rasanya Pwe-giok pasti berjingkat.
siapapun tidak dapat membayangkan suara sekeras itu.
Tidak ada yang tahu bahwa Khikang (tenaga dalam) Tojin kerdil ini sudah terlatih sangat sempurna, waktu bicara biasa saja selalu disertai tenaga dalam yang maha kuat sehingga setiap katanya tercetus seperti bunyi genta.
Pwe-giok menghela napas, jawabnya kemudian.
"Jurus ini baru saja diajarkan Honglocianpwe kepadaku sesaat sebelum ku berangkat ke sini. terus terang, semula Cayhe sendiripun tidak tahu apa nama jurus ini."
"Kentut, kentut busuk,"
Tojin kerdil itu meraung pula.
"Jika Hong Sam mau sembarangan mengajarkan jurus serangan andalannya ini kepada orang lain, maka dia bukan lagi Hong Sam tapi kunyuk!"
Diam-diam Pwe-giok merasa geli melihat orang tua beribadat ini selalu mengucapkan katakata kasar.
Tapi bila melihat sikapnya yang marah benar-benar itu, mau-tak-mau ia menjadi kuatir, cepat ia menjawab pula.
"Soalnya hong-locianpwe kuatir ku bikin malu padanya, makanya ......"
Tojin jubah biru itu semakin murka, teriaknya.
"Baik, seumpama benar dia mau mengajarkan jurus serangannya itu kepadamu, tapi dalam waktu sesingkat ini kaupun dapat menguasainya sebagus ini, maka kau hakekatnya bukan manusia."
Rupanya Tojin kerdil ini suka mengukur orang lain atas dirinya sendiri.
Dia sendiri bukan orang yang berbakat, bukan orang yang berotak cerdas.
Kungfunya yang sakti itu dilatihnya secara mati-matian berdasarkan kegiatan dan ketekunan melulu, maka sama sekali ia tidak percaya di dunia ini ada manusia cerdas yang diberitahu satu segera tahu tiga, diajar sekali lantas paham seluruhnya.
Justeru lantaran pada waktu berlatih Kungfu dia lebih banyak mengalami pahit getir daripada orang lain, maka Kungfunya berhasil dikuasai, wataknya lantas berubah menjadi berangasan dan mudah marah, seringkali dia melampiaskan rasa gusarnya yang tak berdasar pada orang lain.
Pwe-giaok tahu sukar baginya untuk menjelaskan, ia hanya menyengir dan berkata.
"Jika Cianpwe tidak percaya, apa yang dapat kukatakan lagi ......."
"Sudah tentu tak dapat kau katakan,"
Tojin kerdil itu berjingkrak.
"di depanku masa kau bisa bermain gila? Tapi kalau ku tantang kau untuk bergebrak, tentunya kau akan bilang aku orang tua menganiaya anak muda ......"
Mendadak ia meraung lebih keras.
"Ya, kau hendak bilang aku orang tua menganiaya anak muda, begitu bukan?"
Pwe-giok jadi tertawa geli, jawabnya.
"Kata-kata ini diucapkan oleh Cianpwe sendiri, mana Cayhe pernah ......"
"Baik, anggap kau tidak bilang begitu, lalu apa yang kau tertawakan?"
Bentak Tojin kerdil itu. Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, pikirnya.
"Orang kasar dan ingin menang sendiri begini sungguh jarang ada."
Karena bicaranya selalu dianggap salah, terpaksa dia tutup mulut. Siapa tahu tutup mulut juga dianggap salah oleh Tojin jubah biru itu, bentaknya pula.
"Mengapa kau tidak buka mulut? Apakah mendadak kau berubah bisu?"
Pwe-giok menyengir, jawabnya.
"Jika Cianpwe tidak sudi bergebrak denganku, biarlah Cayhe mohon diri saja."
Tapi Tojin kerdil itu lantas membentak.
"Nanti dulu! Bila kau bukan murid Hong Sam, maka akan kulepaskan kau pergi, tapi sekarang justeru ingin kulihat Kungfu lihay apalagi yang diajarkan Hong Sam kepadamu?"
Bicara sampai di sini, mendadak ia berpaling dan membentak.
"Murid orang lain sedang bergaya di sini, tapi dimana muridku? Apakah dia sudah mampus?"
Belum lenyap suaranya, tertampaklah seorang berlari keluar dari pendopo, ia memberi hormat kepada Tojin kerdil itu dan bertanya.
"Suhu ada pesan apa?"
Semula Pwe-giok mengira murid tojin jubah biru ini pasti Dian Ce-hun adanya, siapa tahu yang muncul ini adalah seorang tosu kecil yang berwajah cakap dan sopan santun, jubah pertapaannya berwarna hijau dan sangat bersih, mukanya juga putih bersih bersemu kemerahmerahan, sepintas pandang orang akan mengira dia adalah anak perempuan.
Dalam pada itu Tojin jubah biru sudah tidak sabar lagi, kembali ia meraung pula.
"Aku ada pesan apa? Masa kau perlu tanya lagi padaku? Apakah kau ini orang mampus dan tidak tahu?"
Tosu cilik itu menjawab dengan mengiring tawa.
"Apakah Suhu menghendaki Tecu menjajal Ji-kongcu ini?"
"Kalau sudah tahu, kenapa kau tanya pula padaku?"
Teriak si Tojin kerdil dengan lebih keras.
Baru sekarang Pwe-giok tahu bahwa watak tojin jubah biru itu memang begitu aslinya, jadi bukan cuma terhadap orang lain saja dia berteriak dan menghardik, terhadap muridnya sendiri juga dia main bentak dan maki.
Dilihatnya si Tosu cilik sedang mendekatinya dengan tersenyum, dengan sopan ia memberi hormat, katanya.
"Tecu Sip-hun, ingin mohon petunjuk beberapa jurus kepadamu, mohon Kongcu mengalah sedikit padaku."
Tosu cilik ini bukan saja sopan santun bicaranya dan cakap orangnya, mukanya juga selalu dihiasi senyuman manis, wataknya ternyata sangat halus, sungguh berselisih 180 derajat dibandingkan perangai gurunya.
Guru yang begitu dapat mempunyai murid begini, sungguh Pwe-giok merasa heran.
Tapi setelah dipikir lagi, apabila tiada murid yang berwatak sabar, mana bisa meladeni guru yang pemberang begitu.
Andaikan tidak diusir oleh Tojin jubah biru tidak sampai tiga hari juga pasti akan kabur dengan sendirinya saking tidak tahan apalagi disuruh belajar silat dengan sabar?
Perangai Pwe-giok sendiri juga halus dan sopan, orang lain bersikap ramah padanya, iapun membalasnya dengan lebih ramah, maka ia lantas membalas hormat Tosu cilik itu dan menjawab.
"Ah, totiang terlalu rendah hati, sebenarnya Cayhe tidak berani bergebrak dengan Totiang, hanya saja ....."
Mendadak si tojin jubah biru membentak.
"Mau berkelahi hendaklah cepat mulai, pakai cerewet apalagi?"
"Jika demikian, silahkan Totiang memberi petunjuk,"
Ujar Pwe-giok dengan menyengir. Sip-hun lantas memberi hormat dan berkata.
"Kalau begitu, terpaksa Tecu berbuat kurang hormat."
Cara bertindaknya ternyata tidak bertele-tele, begitu bilang mulai, segera ia memukul lebih dahulu.
Jurus serangannya ini sungguh luar biasa dahsyatnya, siapapun tidak menyangka orang lembut dan ramah seperti dia bisa melancarkan pukulan seganas ini.
Pwe-giok tidak sempat memperlihatkan rasa terkejutnya, cepat ia berputar sehingga serangan lawan dapat dielakkan, akan tetapi pukulan lawan berikutnya segera melanda tiba pula.
Guru yang keras tidak nanti melahirkan murid yang lemah, jika watak gurunya begitu keras, anak didiknya dengan sendirinya juga suka pada kekerasan, ini terbuktilah dari pukulanpukulannya yang dahsyat dan ganas.
Pwe-giok merasa tosu cilik yang sopan santun dan selalu tersenyum itu kini telah berubah sama sekali.
Yang dihadapinya sekarang seolah-olah seorang pengganas yang buas dan tidak kenal sopan.
Dengan cepat belasan jurus telah berlalu, Pwe-giok terdesak hingga bernapas saja hampir tidak sempat.
Ada beberapa jurus mestinya dapat dipatahkannya dengan Kungfu perguruannya sendiri, tapi kalau dia memperlihatkan Kungfu "Bu-kek-pay", bukankah asalusulnya akan konangan.
Terpaksa ia menciptakan jurus sebisanya dan bergerak menurut keadaan, akan tetapi terbatas oleh macam-macam kekuatiran, sebaliknya tekanan lawan sedemikian hebat, maka jurus serangan yang dikeluarkannya tidak begitu leluasa.
Terdengar si Tojin jubah biru lagi meraung pula.
"anak busuk, mengapa tidak kau keluarkan Kungfu ajaran Hong sam, apakah kau takut rahasia Kungfunya diketahui olehku? ...... Keras sedikit, keparat! Kemana kau semalam? Mengapa sekarang kelihatan lemas? ...... Bagus, itulah Yong-hu-pwe-ci, Beng-hou-khay-san (si perkasa menyandang panah, harimau buas keluar gunung) ...... Sontoloyo, masa seranganmu ini kau anggap Yong-hu-pwe-ci? Lebih mirip kau lagi menggaruk punggung orang yang gatal!"
Beberapa kalimat bagian depan dengan sendirinya ditujukan memaki Pwe-giok, tapi kalimatkalimat belakangan adalah digunakan memaki muridnya.
dia mengira Pwe-giok tidak berani mengeluarkan ilmu silat perguruannya karena kuatir rahasia ilmu Hong Sam dapat diketahuinya.
Padahal Pwe-giok sendiri lagi mengeluh, sebab kemampuannya hanya itu-itu saja, untuk menangkis saja sekarang rasanya sulit.
Namun si Tojin jubah biru masih mencela serangan muridnya kurang keras, padahal betapa hebat dan kuat serangan Sip-hun sudah cukup membuat melongo orang-orang yang menyaksikannya.
Karena terbatas oleh kekuatiran gaya Kungfu aslinya akan diketahui musuh, maka setiap kali Pwe-giok hendak menyerang selalu harus mengingat-ingat apakah jurus serangan ini ilmu silat perguruan asalnya atau bukan.
Dengan cara demikian, bukan saja gerak-geriknya menjadi lebih lambat, tenaga juga banyak terbuang.
Setelah belasan jurus lagi, Pwe-giok sudah mandi keringat, bilamana terancam bahaya, terpaksa ia menggunakan jurus "Heng-hun-po-ih, Hong-bu-kiu-thian"
Ajaran Hong Sam itu untuk mendesak mundur musuh.
Tapi setelah beberapa kali gebrak lagi, kembali ia terdesak dan terancam bahaya.
Begitulah sudah berulang-ulang ia menggunakan jurus sakti ajaran Hong Sam itu, untung setiap kali diulang, setiap kali bertambah lancer dan daya serangnya juga tambah kuat.
Sampai akhirnya, terpaksa Sip-hun harus menyingkir terlebih dahulu bila Pwe-giok menggunakan jurus sakti itu.
Setelah jurus itu lewat, barulah Sip-hun menubruk maju dan menyerang lagi sehingga Pwe-giok tambah mengeluh.
Didengarnya si Tojin kerdil lagi meraung-raung pula.
"Anak busuk, lebih baik kau keluarkan seluruh ajaran Hong Sam, kalau cuma satu jurus ini apa gunanya? Bila bukan muridku ini terlalu tidak becus, tentu kau sudah mati lima puluh kali sejak tadi."
Nyata dia anggap Hong Sam telah banyak mengajarkan kungfunya kepada Pwe-giok, sebab ia menilai kekuatan anak muda itu bukanlah jago muda yang baru muncul, malahan kepandaiannya sudah tergolong kelas satu di dunia Kang-ouw, tapi selain satu jurus "Henghun-bo-ih"
Itu ternyata tiada jurus lain yang dikeluarkannya.
Sudah tentu keadaan Pwe-giok mirip si bisu dicekoki pil pahit, hanya bisa mengeluh tapi tak dapat menjelaskan.
Ia tidak tahu bahwa raungan Tojin kerdil itu justru telah membantunya malah.
Kalau tidak, betapa tajam pandangan Lim Soh-koan dan begundalnya, bila melihat caranya berusaha menutupi gaya silat aslinya, tentu mereka akan curiga lagi dan kesulitan yang akan timbul kelak tentu akan bertambah banyak.
Sementara itu Pwe-giok sudah mandi keringat, setiap orang percaya dia tidak mampu bertahan hingga 20 jurus lagi.
Tak terduga tenaga pembawaan Pwe-giok maha kuat, keuletannya sungguh di luar dugaan, setelah belasan jurus lagi keadaannya masih tetap begitu, biarpun keringat tambah banyak menghias jidatnya, tapi dia tetap bertahan.
Mau-tak-mau semua orang jadi melongo heran, cuma keheranan mereka sekarang bukan lagi karena kedahsyatan serangan Sip-hun melainkan karena daya tahan Pwe-giok yang luar biasa itu.
Di luar pendopo sekarang sudah penuh berkerumun orang, semuanya tercengang.
Lim Soh-koan menggeleng dan bergumam.
"Bocah ini kelihatan lemah lembut, tak tersangka sekuat kerbau. Kalau bukan Sip-hun suheng orang lain mungkin sukar melayani dia."
Dia sendiri hanya satu gebrakan saja pedangnya telah dipatahkan Pwe-giok, maka sekarang dengan sendirinya ia sengaja menyanjung puji setinggi langit kungfu anak muda itu sekedar untuk menutupi kekalahannya tadi.
Tapi Dian Ce-hun hanya tersenyum hambar saja, katanya.
"Seumpama dia benar seekor kerbau yang kuat, memangnya kita tidak mempunyai kepandaian menaklukkan kerbau?"
Dia bicara dengan suara lirih, ia mengira orang lain pasti tidak mendengarnya.
Siapa tahu si Tojin jubah biru mendadak berjingkrak gusar, nyata telinganya sangat tajam dan dapat mendengar apa yang dikatakan Dian Ce-hun itu, dengan gusar ia berteriak.
"Baik, jika begitu besar kepandaianmu, biarlah kulihat kesanggupanmu saja!"
Saat itu Sip-hun sedang memukul kedua sisi tubuh Pwe-giok dengan kedua telapak tangannya.
Pwe-giok sendiri lagi bingung karena tidak tahu cara bagaimana mematahkan serangan tersebut.
Untunglah mendadak dilihatnya tubuh Sip-hun terus mengapung ke atas, ternyata kuduknya telah dicengkeram oleh Tojin jubah biru terus dilemparkannya.
"Telur busuk yang tak berguna!"
Demikian terdengar Tojin jubah biru memaki.
"Lebih baik menggelinding ke samping sana dan saksikan kemampuan orang lain yang katanya sekali turun tangan lantas dapat menundukkan bocah she Ji itu."
Meski di mulut ia memaki muridnya sendiri, yang benar ia berolok-olok kepada Dian Ce-hun, sebab ia sendiri tahu siapapun juga tiada yang mampu mengalahkan Ji Pwe-giok hanya dengan sekali dua gebrak saja.
Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan saling pandang sekejap menyaksikan tindakan Tojin jubah biru itu, diam-diam mereka merasa geli, piker mereka.
"Tak tersangka watak orang ini yang suka membela murid sendiri sampai tua tetap tidak berubah."
Dalam pada itu Sip-hun yang dilemparkan itu sempat berjumpalitan satu kali di udara, lalu melayang turun dengan enteng, wajahnya lantas menampilkan senyuman ramah pula, dia memberi hormat kepada Pwe-giok dan berkata.
"Tadi aku telah berlaku kasar, mohon Kongcu sudi memaafkan."
"Ah, Totiang telah bermurah hati padaku,"
Jawab Pwe-giok dengan tersenyum dan membalas menghormat.
Kedua orang saling pandang dengan tertawa, tiada yang menyangka beberapa detik sebelumnya mereka telah saling labrak dengan mati-matian.
Sementara itu Tojin jubah biru telah melototi Dian Ce-hun dan membentak.
"Nah, sekarang ingin kulihat gurumu yang rudin dan kecut itu telah mengajarkan Kungfu lihay macam apa kepadamu? Kenapa tidak lekas kau maju kemari, apakah perlu kumohon lagi padamu?"
Dian ce-hun menghela napas, katanya sambil nyengir.
"Jika totiang menghendaki pertunjukanku yang jelek ini, terpaksa Tecu menurut. Cuma jangan para Cianpwe mentertawakanku."
Dia menyingsingkan lengan baju dan melangkah ke depan.
Kesempatan itu digunakan Pwe-giok untuk berganti napas sambil memandang sekeliling orang-orang yang hadir di situ.
Dilihatnya Ji Hong-ho tersenyum simpul berdiri berjajar dengan "Tong Bu-siang"
Itu, Lim soh-koan berdiri di belakangnya dengan tangan masih memegang pedang buntung.
Rupanya saking asyiknya dia mengikuti pertarungan seru tadi sehingga lupa membuang pedang patah itu.
Kecuali mereka bertiga, yang lain-lain terasa asing bagi Pwe-giok, hanya saja setiap orangnya tampak tenang dan kereng, jelas semuanya tokoh-tokoh Bu-lim kelas tinggi.
Selagi Pwe-giok merasa heran karena tidak melihat Ang-lian-hoa, tiba-tiba dilihatnya di atas tungku perunggu raksasa di ruangan pendopo sana menongkrong satu orang, siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian-hoa.
diam-diam Pwe-giok menghitung, termasuk tojin jubah biru dan muridnya, yang hadir ini semuanya berjumlah 11 orang.
Jadi masih kurang satu orang.
Setelah berpikir, akhirnya Pwe-giok paham persoalannya.
"Selisih seorang ini jelas ialah Hayhong Hujin, dengan sendirinya dia enggan bercampur dengan orang-orang ini."
Didengarnya tojin jubah biru lagi membentak.
"Anak busuk, kau melamun apa? Orang lain menganggap kau sebagai kerbau dan hendak menaklukan kau. Orang ini tidak seperti muridku yang tidak becus, jika kau tahu gelagat, lekas berjongkok dan biarkan orang menunggangi kau si kerbau ini."
Ucapannya ini tampaknya memaki Ji Pwe-giok, padahal sama saja dia menyuruh anak muda itu untuk berkelahi sekuatnya agar jangan sampai dikalahkan orang.
Bahwa muridnya tidak sanggup mengalahkan Pwe-giok, dengan sendirinya ia tidak ingin orang lain mampu mengalahkan Pwe-giok.
Setiap orang yang hadir di situ adalah orang Kangouw kawakan, tentu saja semuanya dapat menangkap arti ucapannya, meski merasa geli, tapi tiada seorangpun yang berani tertawa.
Dian Ce-hun tersenyum terhadap Pwe-giok, katanya.
"Tenaga sakti anda sungguh mengejutkan tadi Cayhe sudah merasakannya, sekarang ingin kubelajar kenal pula dengan Kungfu anda yang hebat, hendaklah Anda tidak perlu sungkan-sungkan ..."
"Sungkan?"
Si tojin jubah biru meraung pula.
"Memangnya bocah ini berlaku sungkan terhadap muridku?!"
Perangai kasar tojin kerdil ini sungguh jarang ada bandingannya, bahkan Dian Ce-hun dan Pwe-giok sudah bergebrak hingga berpuluh jurus, dia masih tetap marah-marah saja.
Pertarungan sekarang berbeda lagi dengan tadi.
Sekalipun orangnya lemah-lembut, tapi serangan sip-hun tadi mengutamakan keras dan dahsyat.
Kini Dian Ce-hun sebaliknya menggunakan gaya serangan yang lunak, tapi penuh variasi.
Meski sudah berlangsung beberapa puluh jurus, tapi serangannya masih tetap serangan pancingan dan tiada satupun yang benar-benar diarahkan sasarannya.
Meski Pwe-giok tidak dapat memainkan ilmu silat perguruan asalnya, tapi silat Bu-kek-bun mengutamakan ketenangan, untuk menghadapi serangan Dian Ce-hun yang banyak variasinya itu menjadi sangat cocok.
Namun ginkang dian Ce-hun memang sangat hebat, cepat dan sukar diduga laksana naga meluncur di tengah awan dengan gerak perubahan yang tidak menentu, jangankan Pwe-giok tidak dapat meraba posisi lawan, sampai yang menonton disampingpun merasa bingung, seorang Dian Ce-hun seolah-olah telah berubah menjadi berpuluh orang.
Terdengar seorang tua berbaju ungu dan berjenggot panjang berkata dengan gegetun.
"Dian jitya berjuluk Naga Sakti, tak tersangka putera kesayangannya juga memiliki Ginkang setinggi ini. Tampaknya biarpun Ginkang si Elang dari Bu-lim-jit-kim (tujuh burung dari dunia persilatan) juga tak melebihi Dian-kongcu ini,"
Seorang lagi menanggapi dengan tertawa.
"Bu-lim-jit-kim memang tiada satupun yang memiliki kepandaian sejati. Sun Tiong si Elang itu meski tertua dari Jit-kim, tapi bila dibandingkan anak murid Sin-liong (Naga Sakti), jelas bedanya terlalu jauh."
Orang ini sudah ubanan, perawakannya pendek kecil, namun kelihatan gesit dan tangkas, jelas ginkangnya pasti juga tidak lemah.
Maka meski di mulut dia memuji orang lain, namun sikapnya ternyata ingin membanggakan dirinya sendiri, agaknya baru merasa puas bilamana orang lain mau memujinya beberapa kata.
Benar juga, Lim Soh-koan lantas berkata dengan tertawa.
"Ucapan Hui-lo (kakek Hui) memang tepat. Tapi mengapa kau lupa pada dirimu sendiri. Siapakah di dunia kangouw yang tidak kenal ginkang Bu-eng-cu To-toaya yang tiada bandingannya. Seumpama engkau tidak dapat menandingi kesempurnaan Dian-jitya, bila dibandingkan Dian-kongcu ini.... Hahaha!"
Kakek pendek kecil yang berjuluk Bu-eng-cu atau tanpa bayangan itu tampaknya berseri-seri oleh pujian Lim Soh-koan itu, dia berharap orang akan terus bicara.
Siapa tahu, setelah tertawa, lalu Lim Soh-koan tidak melanjutkan lagi.
Untung si kakek berbaju ungu lantas menyambungnya ."
Betul, jahe memang selalu pedas yang tua. Betapapun tinggi ginkang Dian-kongcu ini, mana bisa menandingi kesempurnaan ginkang To-heng."
Bu-eng-cu To Hui tambah senang karena diumpak dan ditiup, tapi wajahnya justru tidak memperlihatkan setitik senyumpun, ia malah berkata dengan sungguh-sungguh.
"Agaknya Hiang-heng tidak tahu, orang kalau sudah tua, tulangnya juga tambah berat, mana dapat kutandingi Dian-siauhiap yang muda dan perkasa itu. Apalagi ginkang hanya kepandaian sampingan saja dan tidak banyak gunanya, bicara ilmu pukulan Hiang-heng, itulah baru benar-benar kungfu sejati."
Kakek baju ungu she Hiang itu berjuluk 'Sin-kun-bu-tek' atau pukulan sakti tanpa tanding, ia menjadi gembira karena dipuji, sambil terbahak-bahak ia menjawab.
"Ah, To-heng terlalu memuji padaku."
Begitulah semula mereka hanya memuji kehebatan ginkang Dian Ce-hun, tapi akhirnya berubah arah dan malah saling membual akan keunggulannya sendiri-sendiri.
Tentu saja si Tojin jubah biru sangat mendongkol, segera ia meraung.
"Wah, ada orang kentut! Alangkah busuk kentutnya!"
Sambil berkata iapun seraya mendekap hidung.
Ucapannya ini ibarat pelawak di panggung hanya sebagai umpan belaka dan memerlukan rekan lain untuk menanggapinya, jika tiada tanggapan, jadinya akan putus sampai di situ saja.
Tak terduga Sip-hun lantas menanggapinya dengan tersenyum.
"Suhu, mana ada orang kentut di sini!"
Tojin jubah biru mendengus.
"Hm, kautahu apa? Kalau kita kentut biasanya keluar dari pantat, tapi ada sementara orang kentut dengan mulut. Kentut yang keluar dari mulut itulah baunya lebih bacin, tahu!"
Seketika muka To Hui, Lim Soh-koan dan kakek she Hiang berubah merah seperti kepiting rebus, meski dalam hati sangat gusar, tapi tiada seorangpun berani memberi reaksi.
Padahal dengan nama dan kedudukan ketiga orang ini, biasanya mana mereka pernah diolok-olok orang.
Tapi sekarang, entah mengapa tampaknya mereka sangat jeri terhadap Tojin jubah biru ini.
Hanya dalam hati ketiga orang itu sama menggerutu.
"Muridmu sendiri tidak mampu mengalahkan orang, sekarang bocah she Dian ini tampaknya akan berhasil, tentu kau akan kehilangan muka, untuk apa kau melampiaskan dongkolmu atas diri kami?"
Tojin jubah biru memang tidak ingin mendapat malu, tadinya ia bermaksud mencari tahu betapa hebat kungfu Hong Sam melalui Ji Pwe-giok, bilamana sudah tahu, kalau tengah malam nanti harus saling gebrak, tentu dia sudah mempunyai pegangan.
Tapi setelah muridnya gagal memancing keluar kungfu Pwe-giok yang lain, sekarang Tojin jubah biru ini justru berharap sekali hantam dapatlah Pwe-giok merobohkan Dian Ce-hun.
Namun apa yang terjadi justru jauh dari kehendaknya, bukan saja Pwe-giok tidak mampu merobohkan Dian Ce-hun, bahkan ujung baju lawan saja tidak dapat menyentuhnya.
Padahal sejak mengalami macam-macam petaka dan kenyang derita, selama ini belum pernah ada orang dapat merobohkan Pwe-giok dengan ilmu silat.
Sudah tentu ia bukan pemuda yang sombong, tapi setidak-tidaknya iapun merasa kungfunya sendiri sudah cukup lumayan.
Siapa tahu sekarang hanya dalam waktu singkat saja, telah ditemuinya dua lawan tangguh yang belum pernah dilihatnya selama hidup ini.
Kungfu kedua orang ini bukan saja jauh melebihi dirinya, usianya juga tidak lebih tua.
Tampaknya di dunia kangouw ini memang masih banyak 'harimau tidur dan naga bersembunyi', entah betapa banyak lagi orang kosen.
Kungfu yang dimilikinya boleh dikata masih jauh untuk dapat menandingi mereka.
Seketika Pwe-giok menjadi kesal, dengan sendirinya tenaga pukulannya menjadi kendur.
Bila orang lain, mungkin akan putus asa menyerah kalah.
Tapi wataknya adalah halus di luar keras di dalam, meski menyadari bukan tandingan lawan, betapapun ia pantang menyerah.
Meski Dian Ce-hun masih terus melancarkan serangan dan selalu mendahului, tapi untuk merobohkan Pwe-giok dalam waktu singkat juga sulit, mau tak mau ia menjadi gelisah sendiri.
Dalam pada itu Tojin jubah biru telah berteriak pula.
"Berapa jurus tadi kau bergebrak dengan bocah she Ji ini?"
Pertanyaannya ini ditujukan kepada muridnya. Maka Sip-hun lantas menjawab.
"Belum sampai 300 jurus!"
"Dan sekarang sudah berapa jurus mereka saling labrak?"
Tanya pula si Tojin kerdil.
"Juga mendekati 300 jurus!"
Kata Sip-hun.
"Hahahaha!"
Tojin kerdil itu bergelak tertawa.
"Sekarang tentunya kaupun tahu bahwa orang yang suka membual, kebanyakan juga tidak mempunyai kepandaian sejati. Orang muda sebaiknya lebih giat belajar kungfu kaki dan tangan, daripada berlatih kungfu mulut!"
Muka Dian Ce-hun tampak sebentar merah sebentar pucat, gerak tubuhnya juga bertambah cepat. Mendadak ia berkata kepada Pwe-giok dengan suara tertahan.
"Lambat atau cepat akhirnya kau toh pasti kalah, untuk apa kau bertahan mati-matian? Bila tiba saatnya tentu aku tidak kenal ampun lagi, akan lebih baik jika sekarang kau mengaku kalah saja."
"Mengaku kalah?"
Pwe-giok menegas.
"Ya, jika sekarang kau mengaku kalah, bukan saja takkan kulukai kau, bahkan aku menjamin akan mengantar kau pulang dengan selamat."
Pwe-giok tersenyum, mendadak ia menghantam sekuatnya. Pukulan inilah merupakan jawabannya. Keruan Dian Ce-hun menjadi marah, dampratnya.
"Keparat, kau tidak mau tahu maksud baik orang, lihat saja apakah kau mampu lolos dari sini?"
Sementara itu belasan jurus sudah lalu pula, karena ia bertekad akan mengalahkan Pwe-giok sebelum mencapai 300 jurus, mendadak ia melayang ke udara sambil bersiul panjang, dari atas seperti ular naga melingkar, segera ia menubruk ke bawah.
Inilah jurus serangan rahasia perguruan "Naga Sakti"
Yang disebut "Keng-liong-pok-bengsam-sik" (tiga jurus adu nyawa si naga sakti).
Dahsyatnya sukar ada tandingannya.
Tapi dari namanya yang disebut "mengadu nyawa", jelas serangan ini baru akan dikeluarkan bilamana keadaan kepepet.
Sebab kedahsyatan serangan ini juga merupakan modal terakhirnya, bilamana tidak kena sasarannya, dirinya sendiri yang akan celaka.
Sebab itulah bilamana tidak terpaksa, anak murid "Naga Sakti"
Tidak akan mengeluarkan jurus maut ini.
Sekarang Dian Ce-hun tidak kepepet, dia hanya ingin merobohkan lawan lebih cepat, maka telah digunakannya jurus maut yang membawa resiko ini.
Dengan sendirinya iapun sudah memperhitungkan lawan pasti tidak mampu menghindarkan serangannya ini.
Seketika Pwe-giok merasa udara penuh bayangan musuh, sekujur badan sendiri telah terkurung di bawah angin pukulan lawan, ke manapun dia menghindar tetap sukar lolos.
Begitu keras angin pukulan musuh sehingga dia hampir tidak dapat bernapas, bila dia balas menghantam, bisa jadi kedua tangan sendiri akan patah.
Pada waktu itu dia masih ragu itulah, telapak tangan musuh sudah menindih tiba dari atas kepala.
Dalam keadaan demikian, tiada pilihan lain lagi baginya kecuali memejamkan mata dan menanti ajal belaka.
Dengan sendirinya serangan Dian Ce-hun itupun menggemparkan para penonton.
Sampai-sampai Ji Hong-ho berseru kuatir.
"Lihay amat serangan ini, pantas di dunia Kangouw tersiar semboyan 'Naga Sakti muncul, matipun tidak menyesal'!"
Bahwa suatu jurus serangan mematikan dapat membuat korbannya mati tanpa menyesal, maka betapa lihaynya dapatlah dibayangkan.
Tak terduga, baru saja lenyap suara ucapan Ji Hong-ho, sekonyong-konyong terdengar suara orang menjerit, yang menjerit ternyata bukan Ji Pwe-giok melainkan Dian Ce-hun.
Terlihat bayangan tubuhnya yang sedang menubruk ke bawah sekuatnya itu mendadak mengapung lagi ke atas dan mencelat hingga jauh.
Yang mengikuti pertarungan ini hampir seluruhnya adalah jago kelas satu di dunia persilatan, bahkan rata-rata adalah tokoh kawakan Kangouw, sedikit kejadian ini mana dapat membuat mereka melengak, Tapi sekarang, ketika tubuh Dian Ce-hun mencelat, baik Ji Hong-ho, Lim Soh-koan dan lain-lain hampir semuanya berubah pucat.
Apakah benar-benar Hong Sam telah mengajarkan ilmu maha sakti kepada Pwe-giok sehingga pada detik terakhir itu, pada saat terancam bahaya dia dapat mematahkan serangan maut Dian Ce-hun itu ?
Padahal jelas-jelas Pwe-giok sudah tak bisa berkutik dan hanya menanti ajal belaka, mana dia mampu lagi mengelabuhi pandangan tokoh-tokoh ulung ini dengan sesuatu gerak serangannya?
Terdengar suara gemersak, tubuh Dian Ce-hun telah menumpuk daun pohon, lalu "bluk", ia jatuh ke bawah dengan muka pucat seperti kertas, dengan mata mendelik ia pandang Tojin jubah biru dan berkata dengan suara parau.
"Kau...kau..."
Belum lanjut ucapannya, darah segar tersembur dari mulutnya, pingsanlah dia di bawah pohon.
Pandangan semua orang tanpa terasa juga terpusat ke arah Tojin jubah biru.
Tapi Tojin kerdil itu lantas berjingkrak gusar, teriaknya.
"Apa yang kalian pandang? Memangnya kalian kira aku yang menolong bocah she Ji ini? Hm, selama hidupku ini bilakah pernah ku main sergap? Apalagi terhadap anak busuk pembual ini?"
Kedua tangan Tojin kerdil ini memang selalu terselubung didalam lengan jubahnya yang longgar, tampaknya memang benar-benar tidak pernah bergerak.
Karena itu, pandangan semua orang lantas beralih lagi ke arah Ji Pwe-giok.
Pwe-giok masih berdiri di tempatnya, seperti kesima, nyata yang membikin Dian Ce-hun mencelat tadi bukan dia sendiri.
Jika demikian, lantas siapa gerangan yang membantunya itu?
"Huh!"
Jengek si Tojin kerdil.
"Orang sebanyak ini hanya berdiri melongo saja, sampai siapa orang yang turun tangan juga tidak tahu, cis, sungguh memalukan!"
Setelah berludah, lalu ia memutar pergi dengan langkah lebar.
Wajah semua orang sama merah dan menunduk malu.
Pada saat itu juga mendadak Pwe-giok melompat ke atas dan melayang pergi melintasi pucuk pohon, hanya sekejap saja bayangannya sudah lenyap.
Lim Soh-koan memandang Ji Hong-ho sekejap, katanya.
"Bengcu....."
"Biarkan dia pergi,"
Ucap Ji Hong-ho dengan tersenyum tak acuh.
"Betapapun nanti malam....."
Lim Soh-koan mendekati Dian Ce-hun dan membangunkannya, dengan tersenyum ia bergumam.
"Sekalipun dia dapat lolos tengah malam nanti, mustahil dia mampu lolos dari cengkeraman Dian jitya? Naga sakti pemburu sukma, naik ke langit maupun menyusup ke bumi.... Hahaha, masakah dia mampu naik ke langit atau menyusup ke bumi?"
Jilid 19________ Setelah melayang keluar dari biara itu, detak jantung Ji Pwe-giok belum lagi hilang.
Sesungguhnya siapakah gerangan orang yang telah menyelamatkannya?
Pada detik yang paling gawat itu, dia hanya merasa ada angin keras menyambar lewat di atas kepalanya dan mengenai dada Dian Ce-hun.
Tapi tenaga yang maha dahsyat dan tidak kelihatan itu bukan dikeluarkan oleh si Tojin jubah biru, sebab dia dan muridnya berdiri di depan Pwe-giok, sedangkan tenaga serangan yang tidak kelihatan itu datangnya dari belakangnya.
Sungguh Pwe-giok tidak tahu siapakah yang telah menolongnya dan sebab apa menolongnya?
Tenaga pukulan sekuat itu hakekatnya belum pernah dilihatnya selama ini.
Sekilas ia telah menoleh dan memandang ke arah datangnya tenaga pukulan dahsyat itu, dilihatnya ranting pohon bergoyang, namun tiada bayangan seorangpun yang terlihat.
Selain tenaga dalamnya maha dahsyat, ginkang orang itupun sangat mengejutkan.
Di dunia ini ternyata masih ada tokoh kosen begini, sebelumnya mimpipun tak pernah dibayangkan Pwegiok.
Baru sekarang ia tahu tokoh ajaib di dunia persilatan ini masih sangat banyak dan sukar dijajaki.
Ia menghela nafas panjang.
Mendadak didengarnya daun pohon gemerisik di depan sana, sesosok bayangan orang melayang tiba dan menghadang di depannya, sambil bergelak tertawa orang itu berseru.
"Hahaha, setelah kau lukai putera tunggal gabungan tujuh keluarga Dian, lalu kau hendak angkat kaki begitu saja?"
Suara tertawanya keras bagai bunyi genta. Siapa lagi dia kalau bukan si Tojin jubah biru. Pwe-giok terkesiap dan menyurut mundur, ia lantas memberi hormat dan menjawab.
"Pandangan Totiang maha tajam, tentunya sudah tahu bahwa tadi bukan Cayhe yang turun tangan selihay itu."
"Habis siapa?"
Tanya Tojin jubah biru dengan sinar mata gemerdep.
"Untuk itu justeru Cayhe ingin mohon petunjuk kepada Totiang,"
Ujar Pwe-giok. Tojin itu menjadi gusar, katanya.
"Jadi kaupun tidak tahu siapa yang telah menyelamatkan kau?"
"Kalau Totiang saja tidak dapat melihat jelas siapa gerangannya, mana Cayhe mempunyai mata setajam itu?"
Jawab Pwe-giok.
"Jadi maksudmu mataku ini kurang tajam?"
Tojin itu bertambah gusar.
"Huh, orang yang suka bertindak secara sembunyi2 begitu mana ada harganya kuperhatikan."
Mendadak ia menarik leher baju Pwe-giok dan bertanya dengan sekata demi sekata.
"Dia Hong-sam atau bukan?"
Dengan tak acuh Pwe-giok menjawab.
"Memangnya Hong-sam sianseng orang yang suka main sembunyi2 begitu?"
"Bukan Hong-sam, habis siapa?"
Hardik Tojin itu dengan suara bengis.
"Hanya dengan sepotong ranting kayu saja orang itu mampu melukai putera Dian Jit hingga tumpah darah, kecuali diriku dan Hong-sam, siapa pula yang sanggup berbuat demikian?"
"Sesungguhnya Cayhe memang juga tidak percaya masih ada orang lain,"
Ujar Pwe-giok. Sejenak Tojin itu melototi anak muda itu, katanya kemudian.
"Apapun juga, Dian cilik terluka pada waktu bergebrak dengan kau, bilamana Dian tua tahu, mana dia mau mengampuni kau? Antara ke tujuh Dian bersaudara itu, ke enam orang yang tua masih mendingan, tapi Dian Jit... haha, kalau dia mau merecoki kau, biarpun kau lari ke langit atau masuk ke bumi juga tak dapat lari."
"Cayhe sendiri tidak bermaksud lari,"
Ujar Pwe-giok.
"Tidak lari? Memangnya kau kira sanggup melawan dia?"
Jengek Tojin jubah biru.
"Cayhe juga tidak bermaksud melawan dia,"
Kata Pwe-giok pula.
"Tidak lari juga tidak melawan, memangnya kau ada akal lain? Kau kira Dian Jit mau bicara aturan dengan kau?"
Pwe-giok berdiam sejenak, katanya kemudian dengan tak acuh.
"Urusan sudah kadung begini, kukira nanti akan ada akal."
"Busyet, masih muda belia, cara bicaramu se-olah2 sudah kakek2,"
Kata Tojin itu dengan tertawa.
"Jika kau tidak punya akal, aku sudah mempunyai akal."
"Mohon petunjuk Totiang,"
Kata Pwe-giok.
"Kalau kau mengangkat guru padaku, kujamin di dunia ini tiada orang berani mengganggu satu jarimu."
"Mengangkat guru kepada Totiang?"
Pwe-giok menegas dengan melengak.
"Ya, jangan kau kira aku sukar mencari murid maka ku penujui kau,"
Teriak Tojin itu.
"hanya lantaran kulihat kau ini lumayan, pemberani dan keras kepala, biarpun Dian cilik telah memancing kau dengan berbagai cara, ternyata kau tetap tidak mau mengkhianati aku."
"Hah, kiranya Totiang telah mendengar ucapannya,"
Pwe-giok tertawa geli.
"Bila tidak kudengar ucapannya ketika membujuk kau menyerah saja padanya, hm, biarpun kepalamu pecah menyembah padaku juga tidak sudi kuterima kau sebagai murid."
Pwe-giok menghela nafas panjang, katanya.
"Maksud baik Totiang sungguh sangat mengharukan, untuk mana Wanpwe mengucapkan terima kasih banyak2. Cuma... Wanpwe ini seorang yang bernasib jelek, selama hidup ini Wanpwe tidak ingin mengangkat guru lagi kepada siapa pun."
"Jadi kau tidak mau?"
Tojin itu menegas dengan murka. Pwe-giok menunduk dan tidak bicara lagi.
"Kau tidak menyesal?"
Tanya pula si Tojin dengan suara bengis. Pwe-giok tetap tidak bersuara. Tojin itu tambah marah, ia mendamprat.
"Kau goblok, tolol, sinting..."
Mendadak ia membalik tubuh dan menghantam.
"blang..."
Sebatang pohon cukup besar di sebelahnya telah dihantamnya hingga patah menjadi dua, pohon patah itupun tumbang dan menerbitkan suara gemuruh.
Sambil menghantam Tojin itupun menengadah dan bersiul panjang, waktu Pwe-giok berpaling, suara siulan Tojin kerdil itu sudah berada di kejauhan.
Pwe-giok menghela nafas pula, mendadak di dengarnya ada seorang juga sedang menghela nafas panjang.
"Sayang, sungguh sayang...!"
"Siapa itu?"
Bentak Pwe-giok tertahan.
Maka muncul seorang dari kegelapan pohon sana dengan langkah ke-malas2an, siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian-hoa.
Mencorong sinar mata Ang-lian-hoa, katanya sambil menatap Pwe-giok.
"Kau kenal padaku tidak?"
Bergolak darah panas di rongga dada Pwe-giok ketika dapat berjumpa dengan sahabat karib di tempat sepi ini, hampir2 saja dikeluarkannya seluruh isi hatinya tanpa menghiraukan segala akibatnya.
Namun di bawah bayang2 pohon yang rimbun sana apakah betul tiada terdapat lagi orang lain?
Terpaksa diam2 Pwe-giok hanya menghela nafas, jawabnya kemudian sambil memberi hormat.
"Nama Ang-lian-pangcu termasyhur di seluruh dunia, siapakah yang tidak kenal padamu?"
Ang-lian-hoa juga seperti menghela nafas, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula.
"Eh, apakah kau tahu siapa gerangan orang yang hendak mengambil murid padamu tadi?"
"Siapa?"
Tanya Pwe-giok. Ang-lian-hoa tersenyum, jawabnya.
"Usiamu terlalu muda, mungkin kau belum pernah mendengar nama Lo-cinjin?"
"Lo-cinjin?"
Tukas Pwe-giok.
"itukah Lo-cinjin dari Hoa-san?"
"Betul, kecuali Lo-cinjin, siapa lagi yang memiliki Kungfu selihay dan pemberang begitu?"
"Pantas orang sama bilang dia benar2 salah seorang di antara kesepuluh tokoh utama jaman ini, baru sekarang kupercaya..."
Tiba2 ia memandang Ang-lian-hoa sekejap dan tidak meneruskan.
"Baru sekarang kau percaya orang yang disebut "tokoh"
Seperti kami ini hakikatnya seperti anak kecil bilamana dibandingkan dia, begitu bukan?"
Ang-lian-hoa merandek dengan tertawa. Dia tahu Pwe-giok tidak sanggup menjawabnya, maka ia sendiri lantas melanjutkan.
"Betapa tinggi khikang orang ini konon sudah mencapai tingkatan yang tertinggi dan boleh dikatakan jago nomor satu di dunia ini. Bahkan watak orang ini sangat aneh, selama ini hampir tidak pernah menghargai orang lain. Tapi sekarang dia mau menerima kau sebagai murid dan kau sebaliknya tidak mau, sungguh aku pun merasa sayang bagimu."
Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum hambar.
"Apakah kedatangan Pangcu ini hanya ingin memberitahukan kepadaku mengenai urusan ini?"
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan lagi padamu?"
Jawab Ang-lian-hoa perlahan.
"O, silahkan bicara,"
Kata Pwe-giok. Kembali sinar mata Ang-lian-hoa mencorong terang dan menatap Pwe-giok lekat2, ucapnya dengan suara tertahan.
"Nona Lim Tay-ih, mengapa dia hendak membunuhmu?"
Pwe-giok tersenyum pedih, jawabnya.
"Apakah dia... tidak memberitahukan padamu?"
"Belum pernah kutanyai dia,"
Kata Ang-lian-hoa.
"Jika Pangcu belum menanyai dia, mengapa malah tanya padaku?"
Mendadak Ang-lian-hoa berkata dengan suara bengis.
"Sebab adalah sementara anak perempuan betapapun tidak mau ngomong apa2, tapi kaum lelaki kita, seorang jantan sejati, berbuat apapun seharusnya membusungkan dada dan berani bicara secara terus terang, betul tidak?"
Dengan rawan Pwe-giok menjawab.
"Orang yang seperti Pangcu sudah tentu dapat membusungkan dada untuk menghadapi segala, tapi ada sementara orang biarpun ingin membusungkan dada juga tidak.. tidak dapat."
Sampai sekian lama sinar mata Ang-lian-hoa yang tajam itu menatap Pwe-giok, katanya kemudian dengan suara tertahan.
"Sesungguhnya ada urusan apakah yang tak dapat kau bicarakan?"
"Maaf, tiada sesuatu yang dapat kukatakan,"
Jawab Pwe-giok dengan tersenyum pedih. Kembali Ang-lian-hoa menatapnya sejenak, lalu ia menengadah dan menghela nafas menyesal, katanya.
"Orang baik2 rela terjerumus ke dalam kegelapan, sungguh sayang!"
"Sesungguhnya Cayhe juga merasa sayang bagi Pangcu,"
Kata Pwe-giok tiba2.
"Apa yang kau sayangkan bagiku?"
Tanya Ang-lian-hoa dengan agak melengak.
"Keluhuran Pangcu sudah lama terkenal di seluruh kolong langit ini, mengapa sekarang juga sudi menggabungkan diri dengan kaum munafik itu untuk mengerubuti seorang anak perempuan yatim piatu?"
Air muka Ang-lian-hoa rada berubah, mendadak ia bergelak tertawa dan berakta.
"Kau bilang yatim piatu? Maksudmu ia anak perempuan yatim piatu?"
Mendadak suara tertawanya berhenti, lalu bertanya dengan bengis.
"Tahukah kau mengapa kami mencarinya ke sini?"
"Justeru ingin kutanyakan?"
Jawab Pwe-giok.
"Selama beberapa tahun ini sudah ada 20 orang lebih menghilang secara misterius dan jejaknya tidak pernah diketemukan, orang2 itu ada yang berasal dari utara dan ada yang dari selatan, masing2 boleh dikatakan tiada hubungannya sama sekali. Tapi setelah diselidiki secara cermat, akhirnya diketahui bahwa di antara orang2 yang hilang itu terdapat satu titik persamaan."
"O, apa itu?"
Tanya Pwe-giok.
"Satu2nya hal yang sama adalah sebelum mereka menghilang, semuanya pernah dilihat orang tinggal di Li-toh-tin ini."
"O, hanya begitu?"
"Ya, tapi yang paling penting adalah sesudah kelihatan di Li-toh-tin sini, lalu tiada orang melihat mereka lagi."
"Hal ini rada membingungkan aku?"
Ujar Pwe-giok.
"Dengan lain perkataan, umpama orang itu kemarin kelihatan berada di Li-toh-tin sini, besok dia lantas lenyap tanpa bekas dan entah ke mana perginya."
"Oo...."
"Petunjuk ini sebenarnya tidak begitu jelas, tapi setelah 20 orang lebih sama2 menghilang dengan cara begitu, maka persoalannya menjadi lain. Para sanak keluarga orang2 yang hilang itu lantas mengangkat tiga orang wakil mereka ke Li-toh-tin sini untuk menyelidiki urusan ini dengan lebih jelas."
"Siapakah ketiga orang itu?"
Tanya Pwe-giok.
"Biar kukatakan nama mereka juga tidak kau kenal,"
Kata Ang-lian-hoa.
"Cukup kukatakan ketiga orang itu tentunya orang2 yang cerdik dan pandai, kalau tidak masa mereka terpilih?"
"O, lalu bagaimana hasil penyelidikan mereka?"
"Apapun tidak dihasilkan oleh mereka."
"Oo? Kenapa begitu?"
"Sebab setiba di Li-toh-tin ini, selamanya merekapun tidak pernah kembali lagi.
"Hah? Lantas bagaimana?"
"Dengan sendirinya urusan ini sangat menggemparkan dan akhirnya dilaporkan kepada Bulim-bengcu."
"Ehm, memang harus begitu."
"Tapi Ji bengcu baru saja kehilangan anaknya, beliau sedang berduka dan belum sempat memikirkan urusan ini,"
Tutur Ang-lian-hoa.
"Dengan sendirinya urusan ini jatuh ke tangan Kay-pang. Bilamana kaum tukang minta2 itu mau menyelidiki sesuatu, tentunya akan jauh lebih leluasa daripada orang lain."
"Ya, betul juga,"
Pwe-giok menyengir.
"Sebab itulah selama setengah bulan ini di Li-toh-tin mendadak kaum pengemis bertambah banyak. Mereka mengemis pada setiap orang dan setiap rumah, tentu saja tiada orang menaruh curiga kepada mereka bahwa sebenarnya mereka sedang menyelidiki sesuatu rahasia yang membikin panik kaum Bu-lim."
"Justeru lantaran itulah, maka di kolong langit ini siapapun tidak berani merecoki Kaypang kalian,"
Kata Pwe-giok dengan tersenyum. Ang-lian-hoa tersenyum bangga, sambungnya lagi.
"Setelah penyelidikan selama belasan hari terus menerus, akhirnya diketahui penduduk Li-toh-tin ini adalah rakyat jelata yang patuh dan tertib, hanya sebuah loteng kecil di belakang Li-keh can itu berdiam dua orang yang sama sekali tidak diketahui asal-usulnya. Sebab itulah mereka berdua lantas menjadi sasaran penyelidikan selanjutnya."
"Kemudian?"
Tanya Pwe-giok.
"Sehari suntuk mereka mengintai di sekitar loteng kecil ini, belum lagi menemukan sesuatu yang mencurigakan, tahu2 si ... si nona cilik yang tinggal di atas loteng kecil itu malah sudah melihat gerak-gerik kaum jembel itu, malamnya, lima murid kami yang pasang mata di sana telah dikerjai, kantung yang membedakan tingkatan mereka yang selalu di panggul di punggung mereka itu tahu2 lenyap secara aneh."
Dia merandek sejenak, lalu menyambung dengan menarik muka.
"Padahal anak murid Pang kami sangat memandang penting kantung yang mereka bawa, tapi orang dapat mencuri kantung yang melengket di punggung mereka itu tanpa diketahui, maka tahulah mereka bahwa nona cilik itu ternyata seorang kosen, jelas orang sengaja hendak memperingatkan mereka agar mereka jangan ikut campur urusan ini."
"Siapa tahu, urusan menjadi runyam malah, bukan?"
Tanya Pwe-giok.
"Betul, sebab hidup orang Kay pang justeru suka ikut campur urusan."
"Dan lantaran urusan ini pula maka Pangcu datang ke Sujwan sini."
"Bukan cuma itu saja, mestinya Pang kami akan mengadakan rapat besar di Thay-heng-san untuk menjatuhkan hukuman bagi pengkhianat, karena adanya urusan ini terpaksa tempat rapat kamipun berpindah ke sini."
Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan.
"Dan sekarang Pangcu sudah merasa pasti bahwa hilangnya ke-20 orang itu ada sangkut pautnya dengan nona Cu yang tinggal di atas loteng itu?"
"Betul, setelah menerima laporan murid Kaypang, Ji-bengcu lantas mengumpulkan para tokoh Bu-lim dan datang ke Li-toh-tin ini dengan pura2 main catur Li-keh-can yang terletak di depan loteng kecil itu, tapi diam2 tempat itu telah dijaga dan di intai, akhirnya dapat dipastikan bahwa yang tinggal di situ adalah anak keturunan Siau-hun-kiongcu dan Hongsam."
"Kiranya di balik persoalan ini masih ada liku2 begini, tadinya kukira urusan ini sangat sederhana,"
Ujar Pwe-giok sambil menghela nafas. Gemerdep sinar mata Ang-lian-hoa, mendadak ia berkata dengan suara kereng.
"Jika kau mau terima nasehatku, lebih baik cepat kau tinggalkan tempat ini, kalau tidak, bila tengah malam nanti tiba, segalanya akan hancur lebur dan hal itu tentu akan sangat disesalkan."
Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Tapi kukira urusannya tidak sederhana sebagaimana disangka Pangcu."
"Pokoknya beginilah nasehatku, mau percaya atau tidak bergantung padamu sendiri,"
Kata Ang-lian-hoa.
Dia pandang Pwe-giok sekejap, seperti mau omong apa2 lagi, tapi urung diucapkan, lalu melayang pergi.
Buru2 Pwe-giok menyusuri hutan tadi.
Penduduk Li-toh-tin masih berkumpul di situ, tampaknya mereka tambah cemas.
Padahal Pwe-giok juga tidak kurang cemasnya, selama setengah hari ini sudah banyak rahasia yang didengarnya, namun pikirannya masih penuh diliputi tanda2 tanya yang sukar dipecahkan.
Setelah menyusuri hutan itu, di depan adalah sebuah tanjakan, bila tanjakan itu sudah dilintasi barulah sampai di kota kecil itu.
Pada saat itulah dari balik tanjakan sana Pwe-giok mendengar suara rintihan orang kesakitan.
Cepat Pwe-giok memburu ke sana, dilihatnya seorang berambut putih sedang berjongkok di samping sepotong batu besar dan sedang merintih.
Masih musim rontok, hawa belum terlalu dingin, tapi nenek ini memakai baju kapas yang sangat tebal.
Melihat Pwe-giok, segera ia berkeluh dan berseru.
"Siau... Siauya, tol... tolonglah, bantu nenek ini!"
Nenek ini tampaknya cuman sakit keras biasa namun Pwe-giok selalu waspada, betapapun ia merasa sangsi, ia coba tanya.
"Apakah nenek penduduk Li-toh-tin ini?"
"Ya, ben... benar..."
Jawab nenek itu.
"Orang2 sama berkumpul di hutan sana, mengapa nenek berada sendirian di sini?"
Nenek itu mengucek matanya dengan tangannya yang kurus kering sambil berkata.
"Janganlah Siauya mentertawakan diriku jika kukatakan, hidup nenek ini sebatang kara, tidak punya sanak keluarga seorangpun, orang lain sama menganggap nenek ini kotor dan sudah tua renta, tiada seorangpun mau memperhatikan diriku, selama ini hanya Siau Hoa (si belang) saja yang mendampingi aku."
Sambil omong, meneteslah air matanya, dengan suara tersendat ia menyambung pula.
"Tapi orang itu tidak... tidak mengijinkan kubawa Siau Hoa, seharian ini Siau Hoa tentu akan mati kelaparan... O Siau Hoa yang baik, Siau Hoa sayang, jangan kau kuatir, sebentar lagi nenek pasti datang menjenguk kau."
Segera ia hendak merangkak bangun, tapi jatuh terkulai pula. Cepat Pwe-giok memayangnya bangun, katanya sambil berkerut kening.
"Apakah Siau Hoa itu cucu nenek? Mengapa mereka tidak mengijinkan kau bawa serta dia?"
"Betul, Siau Hoa adalah cucuku sayang,"
Tutur si nenek sambil menangis.
"Cucu orang lain suka ribut, suka nakal, tapi Siau Hoa sangat jinak, sangat penurut, sepanjang hari hanya menunggui aku, menangkap tikus saja tidak mau."
"Hah, menangkap tikus?"
Pwe-giok melengak, akhirnya ia tertawa geli sendiri dan bertanya.
"O, kiranya Siau Hoa kesayangan nenek itu adalah seekor kucing?"
Tapi nenek itu lantas menangis ter-gerung2, katanya.
"Betul, dalam pandangan orang muda seperti kalian ini Siau Hoa hanya seekor kucing, tapi dalam pandangan nenek yang sudah hampir masuk liang kubur ini, Siau Hoa justeru adalah jiwaku, sukmaku, tanpa dia bagaimana aku akan melewatkan hari2 selanjutnya...?"
Dia meronta dan hendak merangkak ke depan, serunya dengan parau.
"O, Siau Hoa sayang, cucu sayang, sebentar nenek akan memberi makan ikan padamu, janganlah kau menangis, biarpun perut nenek akan robek kesakitan juga akan merangkak pulang untuk memberi makan padamu."
Memandangi rambut si nenek yang putih perak dan tubuhnya yang bungkuk, Pwe-giok membayangkan kehidupan orang tua yang sengsara dan kesepian ini, tanpa terasa ia menjadi terharu dan ikut pedih, dengan suara keras ia lantas berseru.
"Jika Lo-thaythay (nenek) tidak mampu berjalan lagi, biarlah ku gendong kau saja."
"Kau... kau sudi?"
Tanya si nenek sambil kucek2 matanya.
"Jika nenekku sendiri masih hidup, beliau tentu juga akan sayang pada Siau Hoa seperti dirimu,"
Ujar Pwe-giok sambil tertawa ramah. Maka tertawalah si nenek sehingga kelihatan mulutnya yang ompong dengan gigi yang tinggal dua, katanya.
"Ai, Siauya memang orang baik, tadi begitu mendengar aku akan memberi makan kepada Siau Hoa, mereka lantas merintangi aku dan melarang aku pulang, hanya Siauya saja... Ai, begitu melihat Siauya memang sudah kuduga engkau pasti seorang yang baik hati."
Begitulah sambil mendekam di atas punggung Pwe-giok ia masih terus mengoceh terus dan memuji Pwe-giok setinggi langit, katanya anak muda itu baik hati, cakap lagi, kelak pasti akan mendapatkan bini yang cantik dan pintar.
Muka Pwe-giok menjadi merah.
Untung tidak lama mereka sudah memasuki kota kecil itu.
Pwe-giok lantas tanya.
"Dimanakah Lo-thaythay bertempat tinggal?"
"Tempat tinggalku paling mudah dikenali, sekali pandang saja lantas tahu,"
Kata si nenek.
"O, apakah di depan sana?"
Tanya Pwe-giok pula dengan tertawa.
"Eh, jadi sudah kau lihat? Memang betul di loteng kecil itulah,"
Kata si nenek.
Air muka Pwe-giok seketika berubah.
Maklumlah, di kota kecil ini hanya terdapat loteng itu, satu2nya loteng kecil itu adalah tempat tinggal Hong-sam dan Cu Lui-ji, sekarang si nenek ternyata mengaku juga bertempat tinggal di situ.
Diam2 Pwe-giok merasakan gelagat tidak enak, tapi sebelum ia bertindak sesuatu, tahu2 kedua kaki si nenek yang tadinya lemas itu seketika berubah menjadi kuat dan menjepit tubuhnya seperti tanggam.
Biarpun Pwe-giok memiliki tenaga sakti pembawaan, tapi terjepit oleh kedua kaki si nenek, jangankan hendak meronta, bernapas saja terasa sesak.
Keruan ia terkejut, serunya.
"He, Lothaythay, ap... apa kehendakmu?"
"Aku cuman berharap Siauya akan mengantar ku pulang ke rumah,"
Kata si nenek.
"Tapi... tapi tempat itu..."
"Hahhh!"
Mendadak si nenek mengakak, suara tertawanya seperti bunyi kokok beluk di malam sunyi dan membuat bulu roma Pwe-giok sama berdiri. Di dengarnya si nenek berkata pula dengan terkekeh2.
"Barangkali Siauya belum tahu bahwa tempat itulah rumah nenek, yang tinggal di sana, seorang adalah cucuku dan seorang lagi adalah buyut perempuanku."
Pwe-giok menarik nafas dalam2, sedapatnya ia menahan perasaannya, katanya dengan perlahan.
"Jika Lothaythay ada sengketa apa2 dengan Hong-sian sianseng dan ingin mencarinya, mengapa engkau perlu ku gendong ke sana? Padahal dengan tenaga kaki nenek yang kuat, masa tidak dapat naik ke sana?"
Nenek itu tertawa.
"Siauya, kau ini orang baik, tapi cucuku itu sedikitpun tidak berbakti padaku, bila dia melihat nenek datang sendirian ke sana, bukan mustahil sekali depak aku akan ditendangnya ke bawah loteng."
"Dan sekarang apa yang kau inginkan dariku?"
Tanya Pwe-giok dengan tersenyum getir.
"Asalkan kau gendong aku ke atas loteng dan katakan kepada mereka bahwa aku ini seorang nenek yang sudah sakit parah, kau yang menolongku ke sana untuk minta mereka memberikan obat padaku."
"Kemudian?"
Tanya Pwe-giok.
"Urusan selanjutnya tidak perlu lagi kau ikut campur... Hehe, kau sendiripun tidak mampu ikut campur,"
Kata si nenek dengan ter-kekeh2. Diam2 Pwe-giok membatin "Ya, setelah ku gendong dia ke atas loteng, tentunya dia takkan melepaskan aku dan akupun tidak perlu ikut campur apa2 lagi."
Berpikir demikian, sekujur badannya lantas basah kuyup oleh keringat dingin.
"Tapi hendaknya sekarang janganlah Siauya merencanakan tindakan yang tidak2, sebab biarpun usia nenek sudah lanjut, untuk meremas patah tulang lehermu kukira tidak lebih sukar daripada kupatahkan sepotong ranting kayu."
Pwe-giok menghela nafas, katanya.
"Lo thaythay, tiada sesuatu yang kukagumi padamu selain ceritamu tentang si belang tadi, sungguh sedikitpun tidak menimbulkan curigaku." ***** Pintu di bawah loteng kecil itu hanya dirapatkan saja tanpa dipalang dari dalam. Di atas loteng Kwe Pian-sian lagi duduk termenung, Ciong Cing mendekap di pangkuannya, seperti sudah tertidur. Gin-hoa-nio meringkuk di pojok sana, mukanya yang semula ke-merah2an itu kini tampak pucat seperti mayat, ia sedang memandangi tempat tidur sana dengan terbelalak, matanya yang hidup se-olah2 dapat bicara itu kini tampak sayu dan hampa seperti sudah berubah menjadi seorang linglung. Si sakit, Hong-sam sianseng masih tetap berbaring di tempat tidur dengan tenang, cuma air mukanya tambah merah dan segar, napasnya juga sudah normal. Cu Lui-ji berjaga di sampingnya, air mukanya tampak mengunjuk rasa girang. Pada saat itulah Pwe-giok naik ke atas loteng, begitu melangkah ke atas, dengan suara keras ia lantas berseru.
"Nenek ini mendapat sakit keras di tengah jalan, terpaksa ku gendong dia pulang... kan tidak dapat kulihat dia mati sakit di tepi jalan bukan?"
Mendengar ini, Kwe Pian-sian berkerut kening.
Ciong Cing tetap masih pulas dalam tidurnya.
Gin-hoa-nio tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, sedangkan Hong-sam sianseng tetap diam2 saja tanpa membuka matanya.
Hanya Cu Lui-ji saja yang tersenyum, katanya.
"Nenek ini menderita penyakit apa? Biar ku..."
Mendadak suaranya terhenti, tanpa berkedip ia pandang nenek itu dengan wajah kerut dan takut seperti melihat setan saja.
Nenek itu menyembunyikan mukanya di belakang gendongan Pwe-giok, katanya dengan setengah merintih.
"O, kasihanilah nona, berikan obat kepada nenek!"
Siapa tahu mendadak Cu Lui-ji lantas menjerit.
"Oh-lolo... Oh-lolo... kau Oh-lolo!"
Tubuh Kwe Pian-sian tergetar demi mendengar nama Oh-lolo atau nenek Oh ini, air mukanya juga tampak kejut dan jeri se-akan2 ingin kabur saja kalau bisa.
Tangan Pwe-giok juga berkeringat dingin, dia masih ingat kepada cerita ayahnya dahulu bahwa yang paling jahat dan paling keji di dunia sekarang adalah Oh-lolo.
Perempuan yang paling tinggi ginkangnya dan paling mahir menggunakan racun juga Oh-lolo.
Pernah dia dikerubuti tiga diantara "Kesepuluh tokoh-tokoh jaman ini, dia terkurung di suatu lembah pegunungan dan bertahan tujuh hari tujuh malam, akhirnya dia tetap dapat lolos dengan selamat.
Begitulah terdengar Oh-lolo menghela nafas di gendongannya sambil berkata.
"Tahu aku bakal dikenali budak cilik ini, untuk apa ku-buang2 tenaga sebanyak ini?"
Dia menggapai Lui-ji dan berkata pula.
"Eh, budak cilik, cara bagaimana kau kenal pada nenek? Coba jelaskan, nanti nenek memberikan permen padamu!"
Tapi Cu Lui-ji telah memegangi tangan Hong sam sianseng, katanya dengan suara gemetar.
"Li... lihatlah Sacek, Oh-lolo tidak mati, sekarang dia datang lagi. Hong Sam tetap tidak membuka matanya, dengan perlahan dia berucap.
"Orang ini bukan Ohlolo.".
"Tapi, kukenal dia... kukenal dia,"
Kata Luji.
"Dia masih tetap memakai bajunya yang tebal itu, sanggulnya memakai tusuk kundai kayu hitam, sepatunya yang dipakainya juga serupa dengan waktu itu."
"Dia bukan Oh-lolo,"
Jengek Hong Sam.
"Oh-lolo sudah mati!"
"Tapi dia... dia sudah hidup kembali!"
Seru Lui-ji.
"Orang yang terkena Hoa-kut-tan (pil penghancur tulang), jangankan dapat hidup kembali, menjadi setan pun tidak dapat,"
Kata Hong Sam dengan kereng.
Mendadak nenek itu bergelak tertawa, tertawa latah.
Suara seperti bambu patah, pergesekan benda logam, lolong serigala di hutan, bunyi kokok beluk dan sebagainya adalah suara yang paling menakutkan dan paling menusuk telinga, tapi suara tertawa nenek ini jauh lebih tidak enak didengar dan jauh lebih menakutkan daripada suara2 yang disebutkan tadi.
Setelah tertawa seperti orang gila sampai sekian lamanya, lalu nenek itu berkata.
"Pantas kucari kian kemari tidak dapat menemukan adik perempuanku yang keji itu, kiranya dia memang telah dibunuh oleh kau si setan penyakitan ini... Oo, baik sekali matinya, dia memang sudah hidup cukup lama dan sudah waktunya harus mati... tapi sesudah dia mati, aku menjadi sebatang kara begini, cara bagaimana aku dapat hidup sendirian!..."
Dari tertawa mendadak berubah menjadi menangis, suara tangisannya berpuluh kali lebih menusuk telinga daripada suara tertawanya tadi, kaki Pwe-giok terasa lemas dan hampir2 saja tidak kuat berdiri.
Akhirnya Hong Sam membuka matanya, sinar matanya berkelebat, setelah menatap si nenek sekejap lalu katanya dengan bengis.
"Kau inikah kakak Oh-lolo?"
Nenek itu menjawab.
"Dia adalah aku dan aku adalah dia, dia Oh-lolo, akupun Oh-lolo, kami kakak beradik berdua sama dengan satu dan tidak terpisahkan."
Tiba2 Kwe Pian-sian paham duduknya perkara, pikirnya.
"Pantas orang Kangouw sama bilang jejak Oh-lolo tidak menentu dan sukar diraba, pada satu hari yang sama ada orang melihat dia muncul di Holam, tapi ada orang lain yang melihat dia berada di Soa-tang, kiranya Oh-lolo ini terdiri dari dua kakak beradik kembar yang selamanya berdandan sama."
Tiba2 terdengar si nenek alias Oh-lolo tadi menangis tergerung-gerung sambil berteriak.
"Kau setan penyakitan busuk, kau telah membunuh adikku, bolehlah kau bunuh saja diriku sekalian."
"Jadi kau kemari minta kubunuh?"
Jawab Hong Sam dengan tak acuh.
"Baiklah, boleh kau maju sini!"
"Lihatlah para hadirin!"
Teriak Oh-lolo.
"Di dunia ini ternyata ada orang sekeji ini. Adik perempuanku sudah dibunuhnya dan sekarang ia ingin membunuhku pula... kau setan penyakitan ini apakah benar2 tiada punya hati nurani manusia sama sekali?"
"Jika kau tidak ingin mati boleh kau pergi saja,"
Kata Hong Sam pula dengan ketus.
"Pergi ya pergi, jika aku tidak dapat membunuh kau, untuk apalagi berada di sini, hanya kheki saja bila melihat kau!"
Kata Oh-lolo.
Mendengar si nenek menyatakan mau pergi, segera Pwe-giok hendak membalik tubuh, untuk turun ke bawah.
Padahal ia tahu sekali turun, maka selama hidupnya pasti akan terkekang di bawah tangan nenek aneh itu.
Siapa tahu belum lagi dia membalik tubuh, se-konyong2 kedua kaki Oh-lolo menggantol sekuatnya sehingga tubuh Pwe-giok bagian atas menubruk ke depan tanpa kuasa.
Dirasakannya suatu arus tenaga menyalur ke lengannya, tanpa terasa kedua tangannya terus terangkat dan menghantam ke arah Hong Sam yang masih terbaring itu.
Cara ini benar2 sesuai dengan namanya, yaitu "Cio-to-sat-jin"
Atau pinjam golok membunuh orang.
Sebab kalau hantaman Pwe-giok itu berhasil, tentu saja sangat baik, tapi kalau Hong Sam melancarkan serangan balasan, paling2 yang akan terluka ialah Pwe-giok.
Oh-lolo yang mendekap di belakang punggungnya tentu sempat mengundurkan diri bilamana kejadian tidak menguntungkan.
Maklumlah, sebelumnya Oh-lolo sudah memperhitungkan keadaan Hong Sam, lawan ini berbaring tertutup selimut, jelas tidak dapat mengelak, baginya hanya ada dua jalan, yakni menerima pukulan kedua tangan Pwe-giok itu atau balas menghantam.
Dengan lain perkataan, apabila Hong Sam tidak mati, maka yang akan mati ialah Pwe-giok.
Tapi kalau Hong Sam mati, apakah Oh-lolo akan membiarkan anak muda itu hidup terus?
Jadi pergi-datang, akhirnya Pwe-giok pasti akan mati.
Keruan Cu Lui-ji menjerit kaget.
Dilihatnya tangan Hong Sam yang kurus kering seperti kayu itu mendadak terjulur keluar dari selimut, entah cara bagaimana tahu2 telapak tangan Pwegiok kena ditangkapnya.
Sesaat itu Pwe-giok merasakan suatu arus tenaga maha dahsyat timbul dari tangan Hong Sam siansing, tapi hanya satu putaran segera tenaga itu menyurut kembali.
Menyusul tenaga yang dikerahkan Oh-lolo ke tangannya tadi lantas ikut arus tenaga Hong Sam siansing itu dan mengalir keluar.
Seketika Pwe-giok merasa kedua tangannya dialiri oleh arus tenaga yang panas dan bergerak tanpa berhenti, keruan ia terkejut, tapi segera ia tahu apa yang terjadi.
Nyata Hong Sam siansing telah menggunakan lengannya sebagai jembatan untuk menghisap tenaga murni Ohlolo.
Di dunia ini ternyata adalah kungfu ajaib begini, sungguh sukar untuk dibayangkan oleh siapapun.
Agaknya Oh-lolo juga sudah tahu apa yang terjadi, saking takutnya ia berteriak.
"Hong Sam... Hong-locianpwe... berhenti... ampun, aku... aku menyerah padamu!"
Dengan perlahan Hong Sam berkata.
"Sebenarnya aku tidak mau sembarangan mengambil tenaga murni orang lain, tapi kau yang lebih dulu ingin mencabut nyawaku..."
"Aku tidak berani lagi, Hong-locianpwe, kumohon sudilah engkau mengampuni diriku,"
Pinta Oh-lolo dengan suara parau.
Pwe-giok jadi heran dan geli.
Kwe Pian-sian juga melenggong.
Mendadak Oh-lolo menggigit telapak tangannya sendiri, kedua kakinya memancal sekuatnya di punggung Pwe-giok, orangnya terus mencelat pergi dari gendongan Pwe-giok.
"Blang", kepalanya menumbuk langit2 rumah, lalu jatuh ke bawah lagi dan terduduk di lantai dengan nafas ter-engah2, mendadak ia berlutut menyembah kepada Hong Sam dan berkata.
"Ya, ku tahu akan kesalahanku, kumohon sudilah engkau mengampuni diriku."
Dengan hambar Hong Sam menjawab.
"Kau dapat lolos dari tanganku, sungguh tidak mudah... baiklah, pergilah kau!"
Lalu ia tersenyum kepada Pwe-giok dan berkata.
"Untung bagimu!"
Tadi waktu tubuh Oh-lolo mencelat ke atas, seketika Pwe-giok merasakan tenaga yang menghisap di telapak tangannya hilang mendadak.
Kini di antara kedua tangannya masih terasa ada hawa hangat yang bergerak tiada hentinya.
Selagi bingung didengarnya Cu Lui-ji berkata kepadanya dengan tertawa.
"Tenaga murni orang yang dipinjam Sacek ada sebagian besar tertinggal di tubuhmu, kau telah mendapatkan keuntungan tanpa sengaja, masa kau belum lagi tahu?"
Pwe-giok melengak, ia pandang tangan sendiri, lalu pandang Oh-lolo pula, dalam hati entah bergirang atau berduka.
Dilihatnya Oh-lolo sedang melangkah ke tangga loteng dengan tubuhnya yang bungkuk dan kelihatan lemas.
Meski berjalan dengan tertunduk, tapi sinar matanya yang buas penuh kebencian masih terus melirik ke arah Hong Sam.
"Jangan kau pergi dulu!"
Kata Hong Sam mendadak. Oh-lolo terjingkat, tanyanya dengan suara gemetar.
"Hong-samya ingin pesan apa lagi?"
"Selamanya aku tiada hubungan apa2 dengan orang Kangouw, apalagi bermusuhan,"
Ucap Hong Sam dengan perlahan.
"Jika sekarang kau pergi begini saja, tentu dalam anggapanmu adik perempuanmu telah kubunuh tanpa alasan."
"Mana kuberani berpikir begitu,"
Ujar Oh-lolo dengan kepala tertunduk.
"Bolehlah kau tinggal di sini, dengarkan ceritaku sebab apakah kubunuh dia,"
Kata Hong Sam pula.
"Jika Hong-samya mau bercerita, dengan sendirinya terpaksa kudengarkan,"
Ujar Oh-lolo.
Meski di mulut dia bilang akan mendengarkan karena terpaksa, padahal di dalam hati ia sangat berharap agar Hong Sam lekas bercerita.
Pwe-giok juga tahu apa yang akan diceritakan Hong-sam sianseng sekarang adalah lanjutan kisahnya yang pernah diceritakan itu.
Sudah tentu minatnya terhadap cerita ini tidak di bawah Oh-lolo.
Tak tahunya sebelum Hong Sam berbicara lebih lanjut, tiba2 Cu Lui-ji menyela.
"Kukira lebih baik Sacek istirahat saja dan biarkan kuceritakan kepada mereka."
"Kejadian waktu itu apakah masih kau ingat dengan baik?"
Tanya Hong Sam dengan menyesal. Lui-ji menggigit bibir dan menjawab dengan sekata demi sekata.
"Meski waktu itu aku masih kecil, tapi apa yang terjadi seolah2 terukir dalam-dalam hatiku. Asalkan ku pejamkan mata segera dapat kulihat setiap... setiap raut wajah itu."
Meski dia bicara dengan perlahan, tapi rasa bencinya membuat orang mengkirik, tanpa terasa Oh-lolo juga merasa seram, katanya dengan mengiring tawa.
"Jika demikian, silahkan nona lekas bercerita."
Tiba2 Lui-ji melotot ke arahnya dan berkata.
"Ingin kutanya padamu lebih dulu, tahukah kau siapa aku ini?"
Dengan menyengir Oh-lolo menjawab.
"Di dunia ini, kecuali ibu seperti Cu-kiongcu itu, siapa lagi yang dapat melahirkan anak perempuan seperti nona Cu ini?"
Lui-ji melototinya sekejap dengan gemas, per-lahan2 ia pejamkan mata dan mulai bercerita dengan perlahan.
"Waktu itu sudah jauh malam, ibu belum lagi tidur, beliau sedang menjahitkan baju baru bagiku, sepotong baju merah yang disiapkan untuk kupakai pada tahun baru. Ibu bermaksud pula menyulam seekor Kilin (binatang lambang rejeki) pada baju merah itu, beliau membisiki diriku, katanya beliau berharap lambang Kilin itu akan membawa seorang adik lelaki yang mungil bagiku."
Kenangan itu masih terasa hangat dan indah, wajah Lui-ji yang pucat itupun menampilkan cahaya yang cantik lantaran kenangan yang hangat ini.
Tersembul senyuman manis pada ujung mulut Lui-ji, lalu ia menyambung ceritanya.
"Anak kecil mana yang tidak suka pada baju baru, dengan sendirinya akupun ingin cepat2 memakai baju baru. Maka meski sudah larut malam, aku masih menunggui ibu menjahit dan tidak mau tidur."
Oh-lolo ber-kedip2, katanya dengan tersenyum.
"Siau-hun-kiongcu ternyata mau menjahit baju, sungguh tak pernah terbayangkan oleh siapa pun juga."
"Bukan saja menjahit, bahkan ibuku juga mencuci, menanak nasi, menyapu lantai... pendek kata segala pekerjaan rumah tangga selalu ditanganinya sendiri, masa kau tidak percaya?"
"Apa yang dikatakan nona masakah perlu kuragukan?"
Jawab Oh-lolo.
"Sementara itu sudah dekat tengah malam, pada umumnya penduduk di kota kecil ini suka tidur lebih dini, suasana sudah sunyi, tiada terdengar suara apapun, keadaannya serupa sekarang ini."
Angin meniup di luar jendela, suasana memang benar2 hening, entah mengapa dalam hati masing2 sama timbul rasa seram se-akan2 mendapat firasat tidak enak. Lui-ji melanjutkan ceritanya.
"Tatkala mana ibuku agaknya juga merasakan alamat tidak baik, pikiran beliau tampaknya juga sedang kacau. Saat itu beliau sedang menyulam mata Kilin, tapi telah salah sulam tiga kali. Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara menggelepar di luar, seekor burung malam tiba2 terbang dari atap seberang rumah."
Bicara sampai di sini, senyuman yang menghiasi wajah Lui-ji sudah lenyap, perasaan setiap orang juga ikut tegang.
"Aku terkejut,"
Sambung Lui-ji pula.
"Ku jatuhkan diri ke pangkuan ibu. Sembari menepuk punggungku dengan perlahan, mendadak ibu meraup segenggam jarum sulam terus ditaburkan ke lubang angin di ujung atap sana."
"Burung malam terbang terkejut, jelas itu tandanya ada Ya-heng-jin (orang pejalan malam),"
Kata Oh-lolo dengan tertawa.
"Ibumu memang tidak malu sebagai seorang tokoh Kangouw kawakan dengan taburan jarum itu, mustahil kalau bocah di luar itu tidak menggeletak."
"Hm, yang di luar jendela itu tak-lain-tak-bukan ialah Oh-lolo!"
Jengek Lui-ji. Oh-lolo melengak, ucapnya dengan menyengir.
"O, be... begitukah?"
"Tapi begitu jarum itu ditaburkan ibuku, keadaannya seperti batu tenggelam di lautan, sedikitpun tidak menimbulkan reaksi apa2, maka tahulah ibu telah kedatangan lawan tangguh, ibu lantas memanggil bangun ay..."
Dia memejamkan mata dan menghela nafas panjang, lalu menyambung lagi.
"Memanggil bangun Tonghong Bi-giok dan menyerahkan diriku kepadanya. Tatkala mana kulihat air muka ibu mendadak berubah pucat. Tapi Tonghong Bigiok itu sebaliknya tampak bergirang."
Pwe-giok menghela nafas gegetun, pikirnya.
"Lelaki yang tidak berbudi dan tidak setia begitu, pantas kalau Lui-ji tidak sudi mengaku ayah padanya."
Terdengar Lui-ji melanjutkan lagi ceritanya.
"Dalam pada itu di luar jendela ada orang berseru dengan tertawa.
"Lihay amat hujan jarum yang ditaburkan ini, cuma sayang, terhadap nenek macam diriku ini menjadi tiada gunanya hujan jarum ini..."
Karena uraian ini, tanpa terasa pandangan semua orang lantas beralih ke arah Oh-lolo. Nenek itu terbatuk, lalu bertanya.
"Waktu itu nona berumur berapa?"
"Empat tahun,"
Jawab Lui-ji.
"Masa anak umur empat dapat mengingat sejelas itu apa yang pernah diucapkan orang lain?"
Ucap Oh-lolo dengan tertawa. Dengan hambar Lui-ji menjawab.
"Ada sementara orang biarpun hidup sampai nenek2 tapi makin tua makin pikun. Sebaliknya ada orang yang sekalipun baru berumur empat, tapi sudah banyak yang dipahaminya, apalagi..."
Tanpa berkedip ia pandang Oh-lolo, lalu menyambung sekata demi sekata.
"Bilamana ada orang telah membunuh ibumu pada waktu kau baru berumur empat, maka apapun yang dikatakannya waktu itu, tentu takkan kau lupakan selamanya biarpun cuma satu kata saja."
Mengkirik Oh-lolo oleh pandangan tajam si nona, ia tertunduk dan berkata.
"Adik perempuanku itu memang keterlaluan, suka campur urusan orang lain."
Lui-ji mendengus, sambungnya pula.
"Setelah mendengar ucapan tadi, segera ibuku dapat menerka siapa yang berada di luar jendela. Beliau lantas berseru.
"Oh-lolo, selamanya kita tiada sengketa apa2, untuk apa kau cari diriku?..."
Pada waktu itulah daun jendela di sekeliling rumah lantas terbuka serentak, di dalam rumah tahu2 sudah bertambah belasan orang.
Cepat sekali kedatangan orang2 itu, meski mereka melayang masuk dari luar jendela, tapi rasanya seperti arwah yang muncul dari bawah bumi."
"Kiranya mereka datang belasan orang sekaligus..."
Kata Oh-lolo.
"Rumah kami memang tidak besar, tentu saja belasan orang itu segera memenuhi seluruh ruangan,"
Tutur Lui-ji pula.
"Ibuku lantas terkepung di tengah, jalan mundur saja sudah tertutup buntu."
"Bagaimanakah bentuk orang2 itu?"
Tanya Oh-lolo.
"Yang menjadi kepalanya bertubuh jangkung, berkopiah dan berbaju pertapa, tampaknya seperti orang yang beribadat dan menimbulkan rasa hormat orang..."
Tutur Lui-ji.
"Padahal sesungguhnya dia hanya seorang Siaujin (orang kecil, rendah) yang keji."
"Orang ini tentunya Tonghong-sengcu adanya,"
Kata Oh-lolo dengan tertawa.
"Ada seorang lagi yang bermuka penuh berewok, bertubuh tinggi besar, mukanya hitam seperti pantat kuali, senjata yang dibawanya mirip sebuah pagoda."
"Ah, kiranya Li-thian-ong juga ikut,"
Tukas Oh-lolo.
"Ada pula seorang tua, rambutnya sudah putih seluruhnya, giginya juga sudah ompong semua, wajahnya senantiasa tersenyum seperti seorang nenek yang welas asih, padahal hatinya lebih keji dan buas daripada binatang."
Tidak perlu dijelaskan lagi semua orang tahu siapa gerangan yang dimaksudkan, tanpa terasa pandangan semua orang lantas beralih pula ke arah Oh-lolo.
"Makian yang tepat,"
Kata Oh-lolo dengan tersenyum.
"Bilamana kulihat dia, tentu juga akan ku maki dia se-kenyang2nya."
"Sudah tentu ibuku terkejut melihat munculnya orang2 itu, tapi segera beliau dapat menenangkan diri dan bertanya apa maksud tujuan kedatangan mereka?"
"Ya, biarpun orang2 itu bukan orang sembarangan, tapi Cu-kiongcu tentu juga tidak takut terhadap mereka,"
Kata Oh-lolo dengan menyengir.
"Tapi Tonghong Tay-beng itu lantas mencaci maki, katanya ibu telah memikat anaknya, banyak pula kata2 tidak baik yang diucapkannya. Meski ibu sangat marah mendengar makian orang, tapi beliau menyadari orang itu adalah ayah-mertuanya. Ibu tidak berani memperlihatkan sikap kasar, beliau mengira apa yang terjadi ini hanya salah paham belaka, maka berusaha memberi penjelasan."
"Huh, si tua Tonghong itu paling suka membela orang sendiri, mana dia mau terima keterangan ibumu,"
Kata Oh-lolo.
"Benar juga, dia bahkan tidak memberi kesempatan bicara kepada ibuku,"
Tutur Lui-ji.
"Ibuku pikir biarkan Tonghong Be-giok saja yang bicara langsung kepada ayahnya, siapa tahu, mendadak Tonghong Bi-giok melompat ke belakang ayahnya, lalu menuding dan mendamprat ibuku, caci-makinya bahkan jauh lebih kotor daripada Tonghong Tay-beng."
"Lelaki kebanyakan memang tidak punya Liangsim (hati nurani yang baik),"
Kata Oh-lolo dengan menyesal. Dalam pada itu Ciong Cing sudah mendusin, perasaannya jadi tersinggung, kembali ia menangis perlahan. Lui-ji juga mengembeng air mata, tuturnya pula.
"Sampai sekarang barulah ibuku tahu pribadi Tonghong Bi-giok ternyata begini rendah, nyata cintanya selama ini telah diserahkan kepada manusia demikian, sesaat itu mendadak ibu merasa putus asa dan lemas lunglai, iapun malas bicara lagi, ia hanya tanya apakah Tonghong Tay-beng dan Tonghong Bi-giok mau membesarkan diriku atau tidak?"
Bercerita sampai di sini air mata Lui-ji sudah mengucur deras, bahkan Gin-hoa-nio yang berhati keras itupun ikut menangis.
Perasaan semua orang juga sangat sedih, satu per satu sama menunduk dan tidak bersuara.
Selang agak lama barulah Lui-ji mengusap air matanya dan melanjutkan ceritanya.
"Dengan sendirinya Tonghong Bi-giok menyatakan sanggup, malahan katanya aku ini anaknya, dengan sendirinya akan dijaga se-baik2nya. Untuk terakhir kalinya ibuku memandangnya sekejap, lalu hendak membunuh diri di depannya."
Tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget, tapi merekapun tahu ibu si nona itu takkan mati secepat itu, sebab seterusnya diketahui masih terjadi lagi macam2 urusan.
Dengan pedih Lui-ji berkata pula.
"Tatkala mana usiaku masih kecil, namun samar2 sudah dapat ku terka apa yang terjadi, akupun menangis keras2, namun ibuku sudah nekat dan tidak menggubris ratapanku, segera ia angkat belati hendak membunuh diri. Pada detik terakhir itulah se-konyong2 sesosok bayangan putih melayang masuk pula dari luar, begitu cepat dan gesit gerakan orang itu, tahu2 belati di tangan ibuku sudah dirampasnya."
Semua orang sama berseru heran.
"Hei, siapa lagi orang ini?"
Lui-ji tidak menjawabnya, ia meneruskan ceritanya.
"Waktu itu meski aku tidak paham tinggi rendahnya ilmu silat, tapi dapat juga kulihat ginkang orang itu ternyata jauh lebih tinggi daripada ibuku."
"Oo...?"
Oh-lolo berseru heran, tanpa terasa ia melirik ke sana, seketika pandangan semua orang ikut beralih kepada Hong Sam sianseng, dalam hati masing2 samar2 sudah dapat menduga siapa si pendatang itu.
"Merasa niatnya dirintangi orang, ibuku menjadi gusar, sebelah tangannya lantas menghantam. Namun dengan enteng dan gesit orang itu dapat menghindarkan serangan ibu. Kukira sekarang kalian tentu tahu siapa penolong ibuku itu?"
"Ehmm,"
Semua orang sama mengangguk. Lui-ji memandang Hong Sam sekejap, tersembul senyuman hangat pada ujung mulutnya, lalu katanya.
"Waktu itu Sacek masih seorang Kongcu yang gagah dan cakap. Hari itu dia memakai baju putih mulus seperti salju, ketika melayang tiba dari luar sungguh gayanya seperti malaikat dewata yang baru turun dari kahyangan."
Oh-lolo berdehem dua kali, katanya.
"Kecakapan Hong Sam kongcu, pada masa itu pernah kudengar juga."
"Padahal Tonghong Tay-beng dan begundalnya juga terhitung tokoh Bu-lim yang top, tapi melihat gerakan Sacek yang luar biasa, ginkangnya yang tiada bandingannya, mau-tak-mau mereka sama melongo. Betapapun Tonghong Tay-beng memang lebih tabah, segera ia menegur Sacek.
"Siapa kau? Apa maksud kedatanganmu ini?"
"Rupanya Tonghong Tay-beng sudah terlalu lama tinggal di lautan sana sehingga tidak kenal lagi kepada Hong-sam sianseng, hal ini dapatlah dimaklumi, tapi Li-thian-ong, adik perempuanku dan lain2 masa juga tidak dapat menduga pendatang itu ialah Hong-sam sianseng? Di kolong langit ini, kecuali Hong-sam kongcu, siapa lagi yang berusia semuda itu dan menguasai Kungfu setinggi itu?"
"Semula ibuku juga melenggong, setelah mendengar teguran Tonghong Tay-beng itu, mendadak Oh-lolo menjerit kaget dan menyebut nama Sacek. Barulah ibuku tahu telah kedatangan penolong yang dapat dipercaya, ia merasa tidak perlu kuatir lagi akan difitnah dan dikeroyok orang."
Sampai di sini Hong Sam yang berbaring itu menghela nafas panjang, katanya dengan rawan.
"Siapa tahu aku... aku..."
Cepat Lui-ji mendekatinya dan berlutut, ucapnya dengan menangis.
"Kejadian itu mana boleh menyalahkan Sacek? Kenapa Sacek berduka?"
Hong Sam termenung sejenak dan memejamkan matanya, katanya kemudian.
"Baiklah, lan... lanjutkan ceritamu!"
Lui-ji berdiri dengan menunduk kepala, iapun memejamkan mata dan berdiam sejenak, habis itu barulah dia menyambung kisahnya.
"Waktu itu Sacek lantas membongkar seluk beluk rencana busuk yang diatur Tonghong Bi-giok yang bersengkongkol dengan ayahnya itu, Sacek mendamprat Tonghong Bi-giok habis2an akan ketidak-setiaan dan ketidak berbudinya. Begundal Tonghong Tay-beng sama melengak heran dan sangsi, entah mesti percaya atau tidak terhadap keterangan Sacek itu."
Baca Juga: Pendekar Bunga 5
Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam 2