Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 2

Eps 2 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

"Kalau engkau mampu menyambut tiga jurus seranganku, barulah kuterima sebagai pembantu?"

"Lu Kong Kong, hamba bersedia menerima tiga jurus serangan Lu Kong Kong."

"Ha ha ha!"

Lu Thay Kam .tertawa gelak.

"Berhati-hatilah!"

"Ya, Lu Kong Kong."

Lie Man Chiu mengangguk, lalu berjalan ke tengah-tengah ruangan itu. Lu Thay Kam bangkit berdiri, kemudian berjalan perlahanlahan mendekati Lie Man Chiu.

"Aku akan menyerangmu dengan pukulan, engkau boleh berkelit maupun menangkis."

Lu Thay Kam memberitahukan.

"Apabila engkau sanggup menerima tiga jurus pukulanku, maka kuterima engkau sebagai pembantu."

"Ya, Lu Kong Kong."

"Hati-hati!"

Lu Thay Kam mengingatkannya sambil menyerang.

"Jurus pertama!"

Lie Man Chiu segera mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang, sekaligus berkelit.

Akan tetapi, Lu Thay Kam pun menyerangnya lagi.

Kali ini Lie Man Chiu tidak sempat berkelit, maka terpaksa menangkis pukulan yang dilancarkan Lu Thay Kam.

"Daaar...? Terdengar suara benturan keras. Lu Thay Kam tetap berdiri di tempat, sedangkan Lie Man Chiu terhuyung~hUyUng ke belakang beberapa langkah.

"Bagus!"

Lu Thay Kam tertawa.

"LweekangmU cukup dalam! Coba sambut jurus terakhir ini!"

Betapa terkejutnya Lie Man Chiu ketika menangkis pukutan Lu Thay Kam, karena ia merasa dadanya sesak Kim Lu Thay Kam menyerangnya lagi, Lie Man Chiu segera mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang hingga ke puncaknya, lalu menangkis dan terdengarlah suara benturan keras.

Daaar...!

Lu Thay Kam terhuyung-huyung selangkah ke belakang, tapi sebaliknya Lie Man Chiu malah terpental beberapa depa, namun tidak mengalami luka dalam.

"Ha ha ha!"

Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Bagus, bagus! Ternyata engkau sanggup menerima tiga jurus pukulanku, maka kuterima engkau sebagai pembantu."

"Terima kasih, Lu Kong Kong!"

Ucap Lie Man Chiu dengan wajah berseri, tapi terkejut bukan main dalam hati, karena tidak menyangka kalau Lu Thay Kam berkepandaian begitu tinggi.

"Duduk!ah!"

Ujar Lu Thay Kam setelah duduk di kursi kebesarannya.

"Terima kasih, Lu Kong Kong!"

Lie Man Chiu segera duduk.

"Lweekangmu cukup dalam,"

Ujar Lu Thay Kam sambil menatapnya tajam.

"Tapi engkau harus tahu, bahwa aku cuma mengerahkan tujuh bagian lweekangku, Apabila kukerahkan seluruhnya, engkau pasti sudah jadi mayat."

"Ya."

Lie Man Chiu mengangguk.

"Engkau sebagai pembantuku, tentunya juga harus berkepandalan tinggi,"

Ujar Lu Thay Kam sungguh-sungguh.

"Oleh karena itu, mulai besok aku akan mengajarmu Ie Hoa Ciap Bok Sin Kang, Ciang Hoat dan Kiam Hoat. Setelah engkau menguasai ilmu tersebut, mungkin aku akan mengangktmu sebagai wakilku."

"Terima kAsih, Lu Kong Kong! Terima kasih...."

Dapat dibayangkan, betapa girangnya Lie Man Chiu, karena memang ini yang diharapkannya "Tapi engkau harus ingat!"

Lu Thay Kam menatapnya tajam.

"Apabila engkau berani berkhianat, engkau pasti mati di tanganku!"

"Lu Kong Kong,"

Ujar Lie Man Chiu cepAt.

"Hamba pasti setia kepada Lu Kong Kong."

"Bagus!"

Lu Thay Kam tertawa.

"Tahukah engkau, bahwa di dalam rimba persilatan terdapat Hiat Ih Hwe?"

"Hamba pernah mendengar tentang itu, namun hamba tidak tahu siapa ketuanya,"

Sahut Lie Man Chiu dengan jujur.

"Akulah ketua Hiat Ih Hwe."

Lu Thay Kam memberitahUkan.

"Karena itu, engkau harus menjadi wakilku."

"Terima kasih, Lu Kong Kong!"

"Engkau juga harus ingat, tidak boleh berkeluyuran di dalam istana ini!"

Pesan Lu Thay Kam.

"Engkau boleh jalanjalan di halaman ruangan ini dan kamarmu. Tetapi tidak boleh ke dalam."

"Hamba pasti ingat akan pesAn Lu Kong Kong."

Lie Man Chiu berjanji.

"Bagus!"

Lu Thay Kam tertawa gelak, kemudian bertepuk tangan tiga kali. Tak lama kemudian muncullah seorang dayang yang cantik manis, lalu memberi hormat kepada Lu Thay Kam dan Lie Man Chiu.

"Ada perintah apa, Lu Kong Kong?"

Tanya dayang itu.

"Mulai sekarang, engkau dan para dayang lainnya harus memanggil Lie Man Chiu, tuan muda."

Lu Kong Kong memberitahukan.

"Ya, Lu Kong Kong."

Dayang itu mengangguk.

"Tuan muda, terimalah hormatku!"

"Ini..."

Lie Man Chiu tampak salah tingkah.

"Ha ha ha!"

Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.

"Man Chiu, mulai sekarang engkau adalah tUan muda disini. Maka engkau boleb bersenang-senang dengan dayang, yang mana pun.!"

"Ya, Lu Kong Kong."

Lie Man Chiu mengangguk.

"Bwee-ji, antar tuan muda ini kekamar."

Ujar Lu Thay Kam.

"Ya, Lu Kong Kong."

Dayang yang dipanggil Bwee-ji itu mengangguk.

"Tuan muda silakan ikut aku."

"Lu konng Kong, hamba mohon diri!"

Ucap Lie Man Chiu lalu mengikuti dayang itu menuju kamar.

Lu Thay Kam memandang punggung Lie Man Chiu kemudian manggut-manggut sambil tersenyum, Setelah itu, ia pun meninggaikan ruangan itu menuju dalam.

0oo0dw0oo0 Seorang gadis cantik manis sedang berlatih ilmu pukutan di halaman tengah.

Anak gadis itu berusia sembi1an tahunan, namun pukuIan.pukulannya yang dilancarkannya sungguh hebat, bahkan menimbulkan suara menderu-deru.

Siapa anak gadis itu?

Ternyata putri angkat Lu Thay Kam, yang bernama Lu Hui San.

Ketika gadis kecil itu berusia tiga tahun, Lu Thay Kam membawanya ke istana ini.

"San San!"

Panggil Lu Thay Kam sambil mendekatinya.

"Ayah!"

Sahut Lu Hui San dan langsung mendekap di dada Lu Thay Kam.

"Ayah dari mana? Kok tadi tidak kelihatan sih?"

"Tadi ayah pergi karena dda sedikit urusan."

"Ayah...."

Lu Hui San menatapnya.

"Ayah pergi membunuh orang ya?"

"San San!"

Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayah bukan seorang pembunuh, bagaimana mungkin selalu membunuh orang?"

"Ayah,"

Ujar Lu Hiu San.

"Tidak baik membunuh orang, Thian (Tuhan) akan marah lho!"

"Ha ha ha!"

Lu Thay Kam tertawa gelak sambil memmbe1ainya.

"Ayah tidak sembarangan membunuh orang, yang ayah bunuh itu adalah para penjahat."

"Oh?"

Lu Hui San. tersenyum.

"Ayah...."

"Ada apa?"

Tanya Lu Thay Kam lembut..

"Kenapa San San tidak boleh pergi jalan-jalan? San San merasa bosan sekali terus diam didalam istana, setiap hari cuma melatih ilmu silat."

"San San!"

Lu Thay Kam tersenyum.

"Setelah engkau dewasa kelak, tentunya engkau boleh pergi jalan-jalan. Tapi sekarang engkau masih kecil, maka tidak boleh pergi ke mana-mana. Ayah mengajarmu ilmu silat, agar engkau memiliki kepandaian tinggi, mungkin bisa membantu ayah kelak."

"San San mau pergi berkelana, tidak mau terus diam di dalam istana ini. San San sudah bosan..."

"San San!"

Lu Thay Kam membelainya.

"Setelah engkau dewasa, tentunya engkau boleh pergi berkelana. Tapi sekarang engkau harus giat benlatih."

"Ya, Ayah."

Lu Hui San mengangguk.

"San San, engkau terus berlatih di sini, ayah mau pergi menghadap Kaisar,"

Ujar Lu Thay Kam menambahkan.

"Oh ya, kini ayah sudah punya seorang pembantu, namanya Lie Man Chiu!"

"Ayah!"

Wajah Lu Hui San tampak berseri "San San boleh pergi menemuinya?"

"Tunggu ayah kembali, ayah akan memperkenalkan kalian,"

Sahut Lu Thay Kam lalu melangkah pergi, sedangkan Lu Hui San mulai berlatih lagi.

Bwee-ji, dayang yang cantik manis itu mengantar Lie Man Chiu ke sebuah kamar yang sangat indah dan mewah, tentunya menggirangkan Lie Man Chiu.

Ia menengok ke sana ke mari setelah memasuki kamar itu, kemudian duduk dengan cErah ceria.

"Bagaimana?"

Tanya Bwee-ji sambit tersenyUm. Tuan muda suka kamar ini?"

"Suka sekali."

Lie Man Chiu mengangguk.

"Oh ya."

Bwee ji menatapnya.

"Mulai sekarang semua dayang yang ada di sini pasti mentaati perintah Tuan muda, jadi Tuan muda mau makan dan minum apa, cukup memesan kepada kami saja, Apabila Tuan muda mau mendengarkan musik dan menyaksikan tarian, beritahukan kepadaku!"

"Terima kaSih""

Ucap Lie Man Chiu sambil tertawa gembira. Ia tidak menyangka nasibnya begitu beruntung, hidup senang dan mewah setelah bertemu Lu Thay Kam.

"Tuan muda!"

Bwee-ji memberitahUkan dengan wajah kemerah2an.

"Di istana barat ini terdapat puluhan dayang muda yang cantik-cantik. Tadi Lu Kong Kong sudah bilang,kalau Tuan muda menyukai yang mana, boleh bersenang~senang dengan dia."

"Artinya bersenang-senang itu?"

Tanya Lie Man Chiu.

"Artinya...."

Wajah Bwee-ji bertambah merah.

"Masa Tuan muda tidak tahu, jangan berpura-pura ah!"

"Aku sungguh tidak tahu,"

Sahut Lie Man Chui.

"Jadi bukan ber-pura2."

"Arti ber-senang2 itu..."

Ujar Bwee-ji sambil menundukkan kepala.

"Tuan muda menunjuk dayang yang mana, dia pasti akan menemani Tuan muda."

"Oooh!' Lie Man Chui manggut-manggut.

"Bukankah saat ini engkau sedang menemaniku?"

"Tuan muda..."

Bwee-ji menatapnya sambil tertawa geli.

"Kok tidak tahu maksudku sih?"

"Apa maksudmu?"

"Maksudku... dayang-dayang disini siap menemani Tuan muda tidur. Tuan muda sudah mengerti?"

"Menemaniku tidur?"

Lie Man Chui terbelalak.

"Ya."

Bwee-ji mengangguk.

"Jadi boleh...boleh berbuat itu pula?"

Tanya Lie Man Chiu agak tergagap.

"Maksudnya berhubungan intim dengan dayang manapun."

"Karena tadi Lu Kong Kong telah berpesan begitu, maka...boleh."

Sahut Bwee-ji dengan malu-malu.

"Oooh!"

Lie Man Chiu manggut-manggut, namun ia sama sekali tidak bernafsu untuk itu, sebab ia hanya berambisi mengangkat tinggi namanya.

Disaat bersamaan, muncul seorang dayang menatap Lie Man Chiu sambil tersenyum manis dan memberitahukan.

"Lu Kong Kong memanggil Tuan muda keruang khusus."

"Ruang khusus?"

Lie Man Chiu tercengang.

"Ruang tadi itu."

Bwee-ji memberitahukan.

"Mari kuantar Tuan muda kesana."

"Terima kasih!"

Ucap Lie Man Chiu.

Bwee-ji mengantarnya keruang khusus itu, lalu meninggalkannya.

Lie Man Chiu melangkah kedalam.

Ia melihat Lu Kong Kong duduk disitu, dan disisinya berdiri seorang gadis kecil.

Ketika melihat gadis kecil itu, Lie Man Chiu teringat pada putrinya, namun hanya sekilas.

"Hamba memberi hormat kepada Lu Kong Kong!"

Ucap Lie Man Chiu sambil memberi hormat.

"Duduklah!"

Sahut Lu Thay Kam.

"Terima kasih!"

Lie Man Chiu duduk. Sementara gadis kecil itu terus memandangnya, kemudian ter-senyum2 seraya bertanya kepada Lu Thay Kam.

"Ayah! Dia adalah Paman Lie?"

"Ng?"

Lu Thay Kam mengangguk dan memperkenalkan putri angkatnya.

"Man Chiu, gadis kecil ini adalah putriku."

"Nona kecil, terimalah hormat paman!"

Lie Man Chiu memberi hormat kepada Lu Hui San.

"Hi hi!"

Gadis kecil itu tertawa.

"Kenapa Paman Lie memberi hormat pada San San? San San masih kecil lho?"

"Nona kecil adalah putri Lu Kong Kong,"

Sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum.

"Maka paman harus memberi hormat kepada Nona kecil."

"Paman Lie!"

Lu Hui San tertawa kecil.

"Mulai sekarang, paman tidak usah panggil San San nona kecil, cukup panggil San San saja."

"Itu...."

Lie Man Chiu memandang Lu Thay Kam.

"Itu kemauan putriku, turuti saja!"

Ujar Lu Thay Kam.

"Ya, Lu Kong Kong."

Lie Man Chiu mengangguk.

"Baiklah."

Lu Thay Kam bangkit berdiri.

"AkU mau ke kamar, engkau temani putriku!"

"Ya, Lu Kong Kong,"

Sahut Lie Man Chiu sambil berdiri, dan setelah Lu Thay Kam meninggalkan ruang itu, barulah Ia duduk kembali.

"Paman Lie...."

Lu Hui San menatapnya.

"Ada apa, San San?"

Tanya Lie. Man chiu lembut.

"Berapa sih usia Paman?"

"Tiga pulub lebih."

"Kalau begitu...."

Lu Hui San tersenyum.

"Paman Lie pasti sudah punya anak isteri. Ya, kan?"

"Ya."

"Anak laki laki atau anak perempuan?"

"Anak perempuan." .

"Berapa usianya?"

"Sembilan tahun."

"Oh?"

Lu Hui San tersenyum.

"Sama dengan San San, dia pasti cantik, kan?"

"Ya."

"Paman Lie tinggal di mana?"

"Di pulau Hong Hoang To."

"Pulau Hong Hoang To?"

Lu Hui San tampak berpikir.

"Tentu jauh sekali dan sini."

"Memang jauh sekali."

Lie Man Chiu mengangguk dan menambahkan.

"Pulau itu indah sekali, terdapat burung phoenix, yang langka."

"Oh?"

Wajah Lu Hui San berseri.

"Kalau Paman sempat, bolehkah ajak San San ke sana?"

"San San masih kecil, belum boleh bepergian jauh."

"Setelah San San dewasa kelak, maukah Paman ajak San San ke pulau Hong Hoang To itu?"

"Itu adalah urusan kelak, tidak usah dibicarakan sekarang,"

Sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum.

"Paman Lie...."

Mendadak Lu Hui San menatapnya dengan mata tak berkedip.

"Isteni Paman masih hidup?"

Lie Man Chiu manggut~manggUt.

"Kalau begitu...."

Lu Hui San mengerutkan kening.

"Kenapa Paman tega meninggalkan mereka?"

"Aku ingin mencani nama di ibu kota, maka terpaksa harus meninggalkan mereka. Namun kelak... aku akan kembaljike pulau itu."

"Paman Lie "

Lu Hui San menatapnya lagi.

"Tidak rindu pada anak isteri"

"Aku...."

Pertanyaan itu sudah barang tentu membuat Lie Man Chiu rindu kepada anak isterinya! Akan tetapi, itu pun hanya sekilas.

"San San yakin... putri Paman pasti rindu sekali kepada Paman,"

Ujar Lu Hui San.

"Entahlah... ."

"Kelihatannya...."

Lu Hui San menatapnya dalam-dalam "Paman berhati kejam."

"Kenapa San San berkata begitu?"

Lie Man Chiu mengerutkan kening.

"Karena... Pama~ cuma ingin cari nama, tapi tega meninggalkan anak isteri. Bukankah itu kejam sekali? Jadi nama yang lebih penting daripada anak isteri?"

"San San...."

Air muka Lie Man Chiu berubah, namun kemudian menghela nafas panjang.

"Engkau masih kecil, tidak tahu urusan orang."

"Tentu tahu,"

Sahut Lu Hui San.

"Sebab San San sering membaca buku, orang yang paling kejam di dunia adalah lelaki yang tega meninggalkan anak isteri. Itu adalah lelaki yang tak punya perasaan, tak punya nurani dan tak punya... kasih sayang."

"San San!"

Lie Man Chiu terbelalak. Ia tak menyangka anak sekecil itu dapat mencetuskan ucapan seperti itu.

"Engkau harus tahu, pendirian orang tidak sama. Lagi pula setiap orang pasti mempunyai ambisi, begitu pula Paman."

"Sungguh kasihan anak isteri Paman!"

Ujar Lu Hui San sambil bangkit berdiri, kemudian menatapnya dingin seraya berkata.

"San San mau kedalam, San San tidak mau mengobrol dengan paman yang telah melupakan anak isteri"

Lu Hui San meninggalkan ruang itu.

Lie Man Chiu termangu-mangu, akhirnya ia kembali ke kamarnya.

Bwee-ji, dayang yang cantik manis itu menyambutnya dengan senyum lembut, lalu menyugUhkan minuman dan berbagai macam hidangan lezat.

-oo0dw0oo-Di ruang tengah markas Tiong Ngie Pay, tampak Yo Suan Hiang duduk dengan wajah serius.

Di sisi kiri kanannya duduk Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

Para anggota berdiri diam dengan kepala tertunduk, begitu pula tiga anggota yang berdiri di hadapan Yo Suan Hiang, wajah mereka bertiga tampak berduka.

"Kenapa kalian tidak mencegah mereka bertiga itu?"

Tanya Yo Suan Hiang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kami telah berusaha mencegah, tapi... mereka bertiga bilang itu adalah kesempatan untuk membunuh Lu Thay Kam,"

Sahut salah seorang anggota dan menghela nafas panjang. Ternyata mereka melapor tentang kejadian kEtiga teman yang dibunuh Lie Man Chiu.

"Kalian tidak kenal siapa lelaki itu?"

Tanya Yo Suan Hiang dengan kening berkerut.

"Tidak kenal sama sekali. Kami hanya tahu lelaki itu masih muda berusia tiga puluhan, kepandaiannya tinggi sekali!"

"Kalian memang ceroboh."

Yo Suan Hiang mengge1enggelengkan kepala.

"Aku telah berpesan, jangan coba-coba mencari Lu Thay Kam. Sebab kepandaiannya sangat tinggi sekali, akupun tidak sanggup melawannya."

"Kami mengaku salah, mohon Ketua menghukum kami!"

"Sudahlah"

Lain kali kalian harus hati-hati. Kali ini aku memaafkan kesalahan kalian. Ingat jangan mati sia-sia!"

Sahut Yo Suan Hiang.

"Terima kasih, Ketua!"

Ucap mereka bertiga sambil memberi hormat.

"Kalian bertiga boleh kembali ke tempat."

"Terima kasih, Ketua!"

Mereka bertiga memberi hormat lalu kembali ke tempat masing-masing "Ketua,"

Tanya Tan Ju Liang.

"Betulkah Ketua tidak sanggup melawan Lu Thay Kam?"

"Betul? Yo Suan Hiang mengangguk.

"Ketua,"

Tanya Lim Cin An.

"Kira-kira siapa yang dapat melawannya?"

"Hanya ada dua orang yang dapat melawannya,"

Jawab Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Yaitu Tio Cie Hiong dan Tayli Lo Ceng."

"Tio Cie Hiong?"

Lim Cin An agak terbelalak.

"Bukankah dia Pek Ih Sin hap yang sangat kesohor itu?"

"Benar. Memang dia. Tapi... dia tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan lagi, melainkan hidup tenang dan bahagia di Pulau Hong Hoang To bersama anak isterinya."

"Lalu bagaimana dengan Tayli Lo Ceng?"

Tanya Tan Ju Liang.

"Padri tua itU pun tidak mau lagi mencampuri urusan persilatan,"

Sahut Yo Suan Hiang.

"Begitu pula guruku."

"Bagaimana kepandaian gurumu dibandingkan dengan Lu Thay Kam?"

Tanya Lim Cin An mendadak.

"Mungkin...,"

Pikir Yo Suan Hiang sejenak.

"Mungkin... setanding, karena guruku memiliki Kiu Yang Sin Kang."

"KalaU Tio Cie Hiong melawan Lu Thay KAm? tanya Tan Ju Liang.

"Tio Cie Hiong pasti menang,"

Sahut Yo Suan Hiang.

"Sebab kepandaiannya sulit diukur berapa tinggi. Terus terang, Cit Loan Kiam Hoat adalah ilmu pedang ciptaannya."

"Oh?"

Tan Ju Liang terbelalak.

"Berarti dia telah menjadi maha guru, padahal dia masih muda."

"Dia mempunyai anak?"

Tanya Lim Cin An.

"Cuma mempunyai anak satu, namanya Tio Bun Yang."

Yo Suan Hiang memberitahukan dengan nada kagum.

"Anak itu sungguh cerdas, bahkan melebihi ayahnya."

"Oh?"

Lim Cin An menatap Yo Suan Hiang.

"Alangkah baiknya dia bersedia membantu kita kelak!"

"Aku pun telah berpikir begitu,"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Mudah-mudahan dia bersedia membantu kita kelak!"

"Tapi kapan dia akan berkecimpung dalam rimba persilatan?"

Tanya Lim Cin An seakan bergumam.

"Masih lama, sebab kini usianya baru sepuluh tahun."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Sepuluh tahun lagi, aku yakin kepandaiannya boleh dikatakan tiada tanding?"

Kalau begitu...,"

Ujar Tan Ju Liang.

"Dia pasti dapat mengalahkan Lu Thay Kam."

"Aku yakin itu."

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Oh ya, Paman Tan harus memberi pesan kepada para anggota."

"Pesan apa?"

"Apabila mereka tidak sanggup melawan pihakk Hiat Ih Hwe, harus berusaba meloloskan diri jangan mati sia-sia."

"Ketua!"

Tan Ju Liang menggeleng~gelengkan kepala.

"Apabila mereka tidak sanggup melawan, tentunya sulit pula untuk meloloskan diri."

"Itu..."

Yo Suan Hiang mengerutkan kening, kemudian mendadak teringat sesuatu, yang membuat wajahnya berseri.

"Aku akan mengajar Paman Tan, Paman Lim dan Saudara Cu ilmu Kiu Kiong San Tian Pou."

"Ilmu apa itu?"

Tanya Tan Ju Liang.

"Itu ilmu langkah kilat,"

Jawab Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Tio Cie Hiong menurunkan ilmu tersebut kepadaku, dan mulai besok akan kuajarkan kepada kalian!"

"Terima kasih, Ketua!"

Ucap mereka bertiga serentak.

"Setelah kalian menguasai Kiu Kiong San Tian Pou, kalian pun harus mengajarkan kepada para anggota kita,"

Pesan Yo Suan Hiang dan menambahkan.

"Itu merupakan ilmu untuk meloloskan diri."

"Ya, Ketua"

Mereka bertiga mengangguk "Oh ya""

Yo Suan Hiang menatap Tan Ju Liang seraya berkata.

"Apabila ada kaum pesilat yang ingin bergabung jadi anggota kita, Paman Tan harus menyeleksi dengan cermat, jangan sembarangan menenima mereka!"

"Ya, Ketua."

Tan Ju Liang mengangguk.

"Mulai besok aku akan mengajar kalian Kiu Kiong San Tian Pou, bahkan juga akan mengajar kalian ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat,"

Ujar Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Setelah itu, kalian pun harus mengajarkan kepada para anggota kita."

"Ya, Ketua."

Sahut mereka bertiga dengan wajah berseri.

"Terima kasih atas kebaijaksanaan Ketua!"

"Tidak usah mengucapkan terima kasih,"

Sahut Yo Suan Hiang sambil tersenyum lembut.

"Kita semua harus bersatu demi Tiong Ngie Pay." -oo0dw0oo-Bagian Ke Tujuh Goa bekas markas Bu Tek Pay Seorang wanita berusia tiga puluhan duduk termenung dihalaman rumah yang sangat luas. Tampak pula taman bunga yang sangat indah di situ. Wanita itu kelihatan sedang mengenang sesuatu, kemudian menghela nafas panjang dan air matanya mulai meleleh. Wanita itu bernama Lie Siu Sien, suaminya bernama Kam Pek Kian, namun sudah almarhum.

"Ibu! Ibu....!"

Seorang anak lelaki berusia sebelas tahun menghampirinya.

"Kenapa Ibu melamun lagi?"

"Nak!"

Lie Siu Sien menggeleng~gelengkan kepala dengan air mata berderai-derai.

"Ibu teringat akan ayahmu."

"Ibu!"

Anak lelaki itu duduk di sisi ibunya. Ia bernama Kam Hay Thian.

"Ibu jangan terus mengingat, sebab akan membuat Ibu sedih."

"Nak!"

Lie Siu Sien terisak-isak.

"Bagaimana mungkin ibu tidak ingat, sebab ayahmu dibunuh orang."

"Aku masih ingat akan kejadian itu."

Mendadak sepasang mata anak itu membara.

"Orang itu membunuh ayah dengan sadis sekali."

"Pada waktu itu, untung kita bersembunyi dikolong meja. Kalau tidak, kita pun pasti mati ditangan orang itu."

"Ibu...."

Kam Hay Thian menatapnya.

"Kenapa orang itu membunuh ayah?"

"AaAkh...!"

Keluh Lie Siu Sien.

"Tanpa sengaja ayahmu menolong seseorang, kemudian orang itu memberikan ayahmu sebuah kitab. Tapi akhirnya orang itu mati, karena lukanya terlampau parah."

"Ibu, kitab apa itu?"

"Kitab Seng Hwee Cin Keng (Kitab Pusaka Api Suci) yang berisi pelajaran ilmu silat tingkat tinggi."

"Kenapa ayah tidak mempelajari kitab itu?"

"Tidak sempat, karena beberapa hari kemudian, muncullah penjahat itu merebut kitab tersebut, Ayahmu berusaha mempertahankannya tapi malah dibunuh dan kitab itu dibawa pergi oleb penjahat itu."

"ibu bukankah ayah berkepandaian tinggi? Kenapa tidak mampu melawan penjahat itu?"

"Nak!"

Lie Siu Sien tersenyum getir.

"Kepandaian penjabat itu lebih tinggi dari ayahmu Kalau tidak, bagaimana mungkin pejahat itu mampu membunuh ayahmu?"

"Ibu"

Ujar Kam Hay Thian Sungguh..sungguh.

"Hay Thian harus membalas dendam."

"Tidak mungkin, Nak"

Lie Siu Sien menggeleng-gelengkan kepala.

"Sebab engkau tidak mengerti ilmu silat, lagi pula kepandaian penjahat itu tinggi sekali."

"Ibu biar bagaimana pun aku harus balas dendam,"

Ujar anak itu telah membulatkan tekad.

"Aaakh..."

Keluh Lie Siu Sien.

"Tidak disangka sama sekali, beberapa tahun lalu ayahmu mati dibunuh!"

"ibu Pokoknya aku harus balas dendam."

Tegas Kam Hay Thian.

"Aku akan belajar ilmu silat."

"Sayang sekali...."

Lie Siu Sien menggeleng-gelengkan kepala "Ibu tidak tahu Tio Cie Hiong berada dimana Kalau tahu, engkau boleh berguru kepadanya."

"Ibu!"

Kam Hay Thian tercengang.

"Siapa dia? Bagaimana kepandaiannya?"

"Dia boleh dikatakan saudara angkat ibu, kepandaiannya sangat tinggi sekali."

Lie Siu Sien memberitatukan.

"Dia pernah menolong kakekmu, dan setetah itu bersama caton isterinya pun pernah menolong ibu dan ayabmu ketika ditangkap Muh San Ngo Kui (Lima Setan Gunung Muh San). NamUn mereka lalu pergi, dan hingga kini ibu tidak pernah bertemU mereka."

"Ibu!"

Kam Hay Thian menatapnya.

"Bolehkah aku pergi mencari Paman Cie Hiong?"

"Engkau masih kecil, lagi pula belum tentu engkau dapat mencarinya"

Lie Siu Sien meng-geleng2kan kepala.

"Ibu, usiaku sudah sebelas tahun! Aku sudah tidak kecil lagi, maka ibu harus mengijinkan aku untuk pergi mencari Paman Cie Hiong."

"Tionggoan sangat luas, tak mungkin engkau dapat mencarinya."

Lie Siu Sien menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"Kalau begitu, aku akan berguru kepada orang lAin. Setelah berkepandaian tinggi, aku pasti pulang."

"Nak...."

Lie Siu Sien menghela nafas.

"Benarkah engkau begitu bertekad untuk belajar ilmu silat?"

"Benar."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Sebab akU baruS balas dendam. Karena itu, ibu harus mengijinkan aku untuk pergi belajar ilmu silat."

"Aaakh...!"

Keluh Lie Siu Sien.

"Engkau ingin meninggalkan ibu?"

"Hanya sementara waktu, beberapa tahun kemudian aku pasti pulang,"

Sahut Kam Hay Thian Lie Sw Sien diam, kelihatannya ia sedang berpikir.

"Ibu,"

Desak Kam Hay Thian "Kalau Ibu tidak mengijinkan aku untuk pergi belajar ilmu silat, bagaimana mungkin aku bisa tenang di rumah?"

"Nak Lie Siu Sien menatapnya dengan mAta basah.

"Kalau memang engkau bertekad begitu, baiklah, Ibu mengijinkan engkau untuk pergi belajar ilmu silat."

"Terima kasih, Ibu!"

Ucap Kam Hay Thian girang.

"Nak!"

Lie Siu Sien tersenyum.

"Mudah-mudahan engkau berhasil mencari Tio Cie Hiong!"

"Kalau aku tidak berhasil mencari Paman Cie Hiong, aku akan berguru kepada orang lain, yang berkepandaian tinggi."

"Ngmmm!"

Lie Siu Sien manggut-manggut.

"Nak, kapan engkau akan berangkat?"

Tanyanya.

"Besok pagi."

"Nak...."

Wajah Lie Siu Sien berubah murung.

"Kenapa harus begitu cepat berangkat?"

"Lebih cepat Iebih baik,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Karena aku akan bisa cepat pulang pula."

"Nak...."

Lie Siu Sien menatapnya dengan lembut sekali.

"Baiklah! Engkau boleh berangkat besok pagi, namun harus cepat pulang."

"Ya, Ibu!"

Kam Hay Thian mengangguk.

-oo0dw0oo-Kam Hay Thian telah berangkat.

Sebuah buntalan bergantung di punggungnya, berisi pakaian dan ratusan tael perak pemberian ibunya.

Beberapa hari kemudian, ia telah tiba di kota Leng An yang cukup besar.

Tampak sebuah bagunan megah, yang di atas pintunya bergantung sebuah papan bertulisan "Liong San Bu Koan" (Perguruan Silat Aliran Liong San).

Begitu membaca tulisan itu, giranglah hati Kam Hay Thian dan Ia langsung menuju bangunan tersebut.

"Anak kecil!"

Dua penjaga menghadangnya.

"Mau apa engkau ke mari?"

"Aku mau belajar ilmu silat,"

Sahut Kam Hay Thian.

"Oh?"

Salah satu penjaga itu tersenyum.

"Kalau begitu, mari ikut aku ke dalam menemUi guru silat Lie!"

"Terima kasih!"

Ucap Kam Hay Thian sekaligus mengikuti penjaga itu ke dalam.

Begitu sampai di halaman, Ia melihat belasan pemuda sedang berlatih dengan penuh semangat.

Penjaga itu mengajak Kam Hay Thian kesebuah ruangan.

Seorang lelaki berusia lima puluhan duduk di kursi sambil menghirup teh.

"Guru!"

Penjaga itu memberi hormat dan memberitahukan.

"Anak in mau belajar ilmu silat."

"Oh?"

Guru silat Lie menatap Kam Hay Thian, lalu manggut-manggut seraya bertanya.

"Namamu siapa dan di mana tempat tinggalmu?"

"Namaku Kam Hay Thian, aku berasal dari kota lain,"

Jawab anak itu jujur.

"Engkau ingin belajar ilmu silat di sini?"

Tanya guru silat Lie sambil tersenyum.

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Engkau boleh belajar di sini, namun...."

Guru silat Lie memberitahukan.

"Setiap bulan engkau harus bayar dua puluh tael perak? "

"Ya!"

Kam Hay Thian mengangguk lagi, kemudian membuka buntalannya. DikeluarkAnnya dua ratus tael perak, lalu diserahkannya kepada guru silat Lie.

"Inilah uangku untuk belajar ilmu silat."

"Dua ratus tael perak?"

Guru silat Lie terbelalak.

"Dan mana engkau memperoleh uang sebanyak itu?"

"Dari ibuku."

"Engkau tidak merasa sayang memberikan semua uang itu kepadaku?"

"Tentu tidak, sebab aku ingin belajar ilmu silat di sini.

"Kalau begitu...."

Guru silat Lie mengangguk.

"Baiklah! Engkau boleh belajar ilmu silat di sini, bahkan boleh tinggal di sini."

"Terima kasih, Guru!"

Ucap Kam Hay Thian dan sekaligus berlutut di hadapan guru silat Lie.

"Hay Thian!"

Guru silat Lie menatapnya.

"Berdirilah!"

"Ya, Guru!"

Kam Hay Thian bangkit berdiri.

"Hay Thian,"

Ujar guru silat Lie sungguh-sungguh.

"Engkau tidak usah memanggil aku guru, cukup memanggil paman saja."

"Kenapa?"

Tanya Kam Hay Thian dengan rasa heran.

"Karena...."

Guru silat Lie menghela nafas panjang.

"Aku cuma merupakan guru silat biasa, jadi tidak dapat mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi Sedangkan engkau berbakat untuk belajar ilmu silat tingkat tinggi Karena itu, aku merasa malu kau panggil guru."

"Kalau begitu, aku memanggil paman saja?"

"Ya."

Di saat bersamaan, muncul seorang gadis kedil berusia sekitar sepuluh tahun sambil berseru-seru.

"Ayah! Ayah..."

Gadis kecil itu terbelalak ketika melihat Kam Hay Thian.

"Ayah, siapa dia?"

"Dia bernama Kam Hay Thian, ingin belajar ilmu silat pada ayah,"

Sahut guru silat Lie sambil tersenyum.

"Hay Thian, dia putriku bernama Lie Beng Cu."

Kam Hay Thian memandang gadis kecil itu sambil mengangguk, dan Lie Beng Cu pun mengangguk sambil tersenyum.

"Berapa usiamu7"

Tanya gadis kecil itu kepada Kam Hay Thian.

"Sebelas,"

Jawab Kam Hay Thian.

"Usiaku sepuluh, jadi aku barus memanggilmu kakak, dan engkau barus memanggilku adik,"

Ujar Lie Beng Cu sambil tertawa.

"Ya!"

Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Hay Thian,"

Ujar guru silat Lie.

"Hari ini engkau boleh beristirabat dulu, besok aku akan mulai mengajarmu ilmu silat."

"Terima kasih, Paman!"

Ucap Kam Hay Thian girang.

"Beng Cu, antar dia kekamar kosong itu!"

Ujar guru silat Lie memberitahukan.

"Dia berasal dan kota lain, maka harus tinggai disini."

"Ya, Ayah."

Wajah Lie Beng Cu berseni.

"Kakak Hay Thian, mari ikut aku ke dalam!"

"Tenima kasih, Adik Beng Cu!"

Ucap Kam Hay Thian lalu mengikuti gadis kecil itu ke dalam. Lie Beng Cu mengajaknya ke sebuah kamar kosong, dan begitu sampai di dalam, gadis kecil itu langsung duduk di kursi.

"Bagaimana? Engkau suka kamar ini?"

"Suka."

Kam Hay Thian mengangguk, sekaligus duduk di pinggir tempat tidur.

"Kakak Hay Thian!"

Lie Beng Cu menatapnya.

"Kenapa engkau ingin belajar ilmu silat?"

"Karena ingin balas dendam."

"Balas dendam?"

Lie Beng Cu terbelalak.

"Balas dendam siapa?"

"Ayahku dibunuh penjahat, maka aku harus belajar ilmu silat untuk membalas dendam itu."

Kam Hay Thian memberitahukan.

"Oh"?"

Lie Beng Cu menatapnya dalam-dalam.

"Kenapa penjahat itu membunuh ayahmu? "Karena sebuah kitab...."

Kam Hay Thian memberitahukan secara jujur.

"Maka ayahku terbunuh.

"Kalau begitu, kepandaian penjahat itu tinggi sekali."

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin penjahat itu dapat membunuh ayahku? Sebab ayahku pun berkepandaian tinggi.

"Ayahmu pernah mengajarmU ilmu silat?"

Tanya Lie Beng Cu mendadak.

"Hanya mengajarku dasar-dasar ilmu lweekang saja,"

Sahut Kam Hay Thian dan melanjutkan.

"Kata ayahku, lweekang merupakan pokok bagi orang yang ingin belajar ilmu silat tingkat tinggi.

"Benar."

Lie Beng Cu manggut~manggut.

"Ayahku pun berkata begitu, maka aku terus berlatih lweekang."

"Oh ya, ayahmu bilang kepandaiannya tidak begitu tinggi. Benarkah itu?"

Tanya Kam Hay Thian mendadak.

"Entahtah."

Lie ~eng Cu menggelengkan kepala.

"Aku tidak begitu jelas teNtang itu."

"Adik Beng Cu!"

Kam Hay Thian menatapnya.

"Pernahkah engkau mendengar tentang Tio Cie Hiong?"

"Tidak pernah,"

Jawab Lie Beng Cu.

"Mungkin ayahku tahu. Lebih baik engkau bertanya kepada ayahku saja."

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Kakak Hay Thian,"

Tanya Lie Beng Cu.

"Siapa Tio Cie Hiong itu?"

"Dia saudara angkat ibuku. Kata ibuku kepandaiannya sangat tinggi sekali. Maka aku harus mencari dia, namun tidak tahu dia berada dimana."

"Begini saja,"

Usul Lie Beng Cu.

"Untuk sementara engkau tinggal di sini sekalian belajar ilmu silat kepada ayahku, setelah itu barulah engkau pergi mencari orang tersebut."

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Kakak Hay Thian!"

Lie Beng Cu memandangnya sambil tersenyum.

"Aku mau pergi sebentar, nanti malam kita makan bersama."

"Terima kasih!"

Ucap Kam Hay Thian. Lie Beng Cu meninggalkan kamar itu, lalu pergi menemui ayahnya yang masih duduk diruang itu.

"Ayah!"

Panggilnya.

"Beng Cu di mana Hay Thian?"

Tanya guru silat Lie.

"Di dalam kamar."

Lie Beng Cu duduk disisinya.

"Oh ya, Ayah! Kakak Hay Thian ingin belajar ilmu silat karena ingin balas dendam."

"Oh?"

Guru silat Lie mengerutkan kening.

"Dia yang memberitahukan kepadamu?"

"Ya."

Lie Beng Cu mengangguk.

"Cukup lama kami mengobrol, dan dia memberitahukan secara jujur? "Ngmm!"

Guru silat Lie manggut-manggut dan bertanya.

"Apakah kedua orang tuanya dibunuh orang?"

"Ayahnya dibunuh penjahat."

"Dia memberitahukan sebab musababnya?"

"Ayahnya dibunuh karena sebuah kitab. Padahal ayahnya berkepandaian tinggi, namun masih tidak sanggup melawan penjahat itu."

"Kalau begitu...."

Kening guru silat Lie berkerut.

"Kepandaian penjahat itu pasti tinggi sekali"

"Benar, Ayah."

Lie Beng Cu mengangguk.

"Dia mengatakan begitu? "Ayahnya tidak pernah mengajarnya ilmu silat?"

Tanya guru silat Lie mendadak.

"Hanya mengajarnya ilmu lweekang, tidak pernah mengajarnya ilmU silat,"

Jawab Lie Beng Cu.

"Kalau begitu...,"

Ujar guru silat Lie setelah berpikir sejenak.

"Ayah akan mengajarnya Liong San Kun Hoat (Ilmu Silat Aliran Liong San), agar dia bisa menjaga diri dan memperkuat daya tahan tubuhnya."

"Ayah...."

Lie Beng Cu menatapnya seraya bertanya.

"Pernahkah Ayah mendengar tentang Tio Cie Hiong?"

"Tio Cie Hiong?!"

Guru silat Lie tertegun.

"Pernah. Memangnya kenapa?"

"Dia ingin mencari orang itu, yang katanya adalah saudara angkat ibunya."

Lie Beng Cu memberitahukan "Beng Cu,"

Ujar guru silat Lie.

"Kaum rimba persilatan pasti tahu mengenai Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong. Ayah pun pernah mendengar tentang pendekar, yang gagah dan berhati bajik itu."

"Oh?"

Giranglah hati Lie Beng Cu.

"Ayah tahu orang itu berada di mana?"

"Ayah tidak tahu."

Guru silat Lie menggelengkan kepala dan menambahkan.

"Sejak Bu Lim Sam Mo mati di tangannya, dia pun menghilang entah ke mana."

"Kalau begitu, tentunya Kakak Hay Thian tidak akan berhasil mencarinya,"

Ujar Lie Beng Cu dengan wajah muram.

"Beng Cu!"

Guru silat Lie tersenyum "Itu tergantung dari peruntungannya"

"Ayah!"

Lie Beng Cu tersenyUm.

"Benarkah Ayah ingin mengajar Kakak Hay Thian Liong San Kun Hoat?"

"Benar."

Guru silat Lie tertawa.

"Besok ayah akan mulai mengajarnya.

"Oh ya, kenapa engkau begitu menaruh perhatian kepadanya?"

"Ayah...."

Wajah Lie Beng Cu tampak kemerah-merAhan.

"Dia anak baik."

"Ayah tahu itu. Ayah tahu itu."

Guru silat Lie tertawa lagi.

"Maka ayah bersedia mengajarnya Liong San Kun Hoat." -oo0dw0oo-Guru silat Lie mulai mengajar Kam Hay Thian Liong San Kun Hoat, tujuannya agar anak itu bisa menjaga diri, sekaligus memperkuat daya tahan tubuhnya, karena guru silat Lie tahu, bahwa anak itu masih akan melanjutkan perjalanan. Kam Hay Thian belajar dengan tekun sekali, dan terus melatih ilmu lweekang yang diajarkan almarhUm ayahnya. Pagi ini, Kam Hay Thian berlatih bersama Lie Beng Cu. Seusai ber1atih, mereka duduk untuk beristirahat "Kakak Hay Thian,"

Ujar Lie Beng Cu dengan wajah berseri.

"Engkau memang cerdas, begitu gampang menerjma pelajaran ilmu silat itu."

"Engkau lebih cerdas,"

Sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Usiamu masih kecil tapi sudah menguasai seluruh ilmu silat ayahmu."

"Tentu."

Lie Beng Cu tertawa kecil "Sebab sejak aku berusia lima tahun, ayah sudab mulai mengajarku ilmu silat."

"Oooh!"

Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Kakak Hay Thian!"

Lie Beng Cu memberitahukan.

"Ayahku tahu tentang paman Tio Cie Hiongmu itu."

"Oh?"

Kam hay Thian girang sekali.

"Paman Cie Hiongmu adalah Pek Ih Sin Hiap, yang sangat terkenal. Kepandaiannya memang tinggi sekali, bahkan Bu Lim Sam Mo mati ditangannya."

"Kalau begitu, ayahmu pasti tahu Paman Cie Hiong berada di mana."

"Ayahku tidak tahu."

Lie Beng Cu menggelengkan kepala dan melanjutkan.

"Setejah Bu Lim Sam Mo mati di tangannya, Paman Cie Hiongmu menghilang entah ke mana."

"Yaah!"

Kam Hay Thian tampak kecewa.

"Kakak Hay Thian""

Lie Beng Cu tersenyum engkau tidak usah putus harapan. Paman Cie Hiongmu sangat terkenal, mungkin ada yang tahu dia tinggal di mana."

"Kalau begitu, aku harus bertanya kepada kaum rimba persilatan!"

Ujar Kam Hay Thian.

"Jangan sembarangan bertanya kepada kaum rimba persi1atan."

Pesan Lie Beng Cu serius.

"Lho? Kenapa?"

Tanya Kam Hay Thian dengan rasa heran.

"Seandainya yang engkau tanya itu adalah musuh Paman Cie Hiongmu, tentu engkau akan celaka."

Lie Beng Cu menjelaskan.

"Benar. Lalu aku harus bagaimana?"

Kam Hay Thian menghela nafas.

"Tenang saja!"

Lie Beng Cu tersenyum.

"Bukankah engkau bisa bertanya pada ayahku?"

"Betul, betul."

Kam Hay Thian rnanggut-manggut.

"Kenapa aku melupakan itu?"

"Kakak Hay Thian!"

Lie Beng Cu menatapnya.

"Setelah berhasil menguasai Liong San Kun Hoat,apakah engkau akan pergi?"

"Ya. Karena aku harus berusaha mencari Paman Cie Hiong."

"Kakak Hay Thian...."

Wajah Lie Beng Cu berubah muram.

"Setelah engkau pergi, engkau akan ke mari lagi?"

"Tentu."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Aku pasti ke mari lagi mengunjungimu dan ayahmu."

"Engkau tidak boleh melupakan aku lho!"

Pesan Lie Beng Cu.

"Sebab aku selalu ingat kepadamu."

"Adik Beng Cu!"

Kam Hay Thap tersenyum. n"Aku tidak akan melupakanmu, karena engkau baik sekali kepadaku, begitu pula ayahmu."

"Terima kasih Kakak Hay Thian."

Ucap Lie Beng Cu sambil tersenyum "Ayoh, mari kita berlatih lagi!"

"Baik."

Kam Hay Thian mengangguk.

Mereka berdua mulai berlatih.

Apabila Kam Hay Thian melakukan gerakan salah, Lie Beng Cu pasti memberi petunjuk kepadanya, maka Kam Hay Thian sangat girang dan sangat berterima kasih kepadanya.

-oo0dw0oo-Beberapa bulan kemudian, Kam Hay Thian telah berhasil menguasai Liong San Kun Hoat.

Maka guru silat Lie menyuruh putrinya memanggil Kam Hay Than "Paman memanggiku?"

Tanya anak itu setelah berada dihadapan guru silat Lie "Hay Thian!"

Guru silat Lie tersenyum lembut "Kini engkau telah menguasai Liong San Kun Hoat, maka sudah waktunya engkau pergi mencari Paman Cie Hiongmu."

"Oh?"

Kam Hay Thian terbelalak.

"Paman tahu dia berada di mana?"

"Aku tidak tahu, tapi engkau boleh ke markas Kay Pang,"

Sahut guru silat Lie memberi petunjuk.

"Mungkin ketua Kay Pang tahu dia berada di mana?"

"Jadi aku harus bertanya kepada ketua Kay Pang?"

"Ya."

GUrU silat Lie mengangguk.

"Kalau tidak salah, Pek th Sin Hiap Tio Cie Hiong mempunyai hubungan erat dengan Kay Pang. Tentunya ketua Kay Pang tahu dia berada di mana."

"Dimana markas pusat Kay Pang?"

"Dan sini engkau terus berjalan ke arah timur. Setelah melewati sebuah lembah, engkau akan sampai di sebuah desa. Tanyalah kepada penduduk desa itu, mereka akan membenitahukan kepadamu."

"Terima kasih, Paman!"

Ucap Kam Hay Thian dan bertanya.

"Kapan aku berangkat?"

"Engkau boleh berangkat sekarang,"

Sahut guru silat Lie.

"Ayah...."

Lie Beng Cu tersentak.

"Kakak Hay Thian berangkat besok saja!"

"Baiklah."

Guru silat Lie mengangguk sambil tersenyum.

"Hay Thian, kalau begitu, berangkatlah engkau besok pagi."

"Ya, Paman."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Oh ya!"

Ujar guru silat Lie.

"Engkau pernah menitip dua ratus tael perak kepadaku, besok pagi uang itu akan kukembalikan kepadamu."

"Paman, bukankah..."

"Ha ha ha!"

Guru silat Lie tertawa "Aku tidak akan menerima pembayaranmu, sebab aku mengajarmu ilmu silat dengan setulus hati Lagi pula engkau membutuhkan uang dalam perjalananmu"

"Terima kasih, Paman""

Ucap Kam Hay Thian dengan rasa haru.

"Ha ha ha!"

Guru silat Lie tertawa gelak, kemudian memandang putrinya seraya berkata.

"Beng Cu, temanilah Hay Thian!"

"Ya, Ayah."

Lie Beng Cu mengangguk, kemudian mengajak Kam Hay Thian ke halaman belakang.

"Adik Beng Cu,"

Ujar Kam Hay Thian begitu berada di halaman belakang.

"Bagaimana kalau kita berlatih?"

Lie Beng Cu menggelengkan kepala, lalu memandangnya dengan wajah agak muram seraya berkata.

"Kakak Hay Thian, besok pagi kita akan berpisah."

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Aku harus pergi mencari Paman Cie Hiong"

"Engkau harus hati-hati dalam perjalananmu, sebab banyak orang jahat di rimba persilatan,"

Pesan Lie Beng Cu.

"Aku aku mengkhawatirkanmu,"

"Adik Beng Cu!"

Kam Hay Thian tersenyum.

"Engkau jangan mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diri"

"Kakak Hay Thian...."

Lie Beng Cu menundukkan kepala.

"Engkau tidak akan melupakan aku, bukan?"

"Adik Beng Cu,"

Sahut Kam Hay Thian sungguh-sungguh.

"Aku tidak akan melupakanmu, percayalah!"

"Terima kasih, Kakak Hay Thian!"

Ucap Lie Beng Cu sambil tersenyum, kemudian mengeluarkan sebuah benda, yang ternyata sebuah cincin giok. Diberikannya cincin itu kepada Kam Hay Thian seraya berkata.

"Cincin giok ini hadiah dari almarhumah, kini kuberikan kepadamu"

"Adik Beng Cu...."

Kam Hay Thian tidak berani menenimanya.

"KAkak Hay Thian,"

Desak Lie Beng Cu.

"Biar bagaimana pun engkau hanus menerima. Kalau tidak, aku... aku akan marah."

"Adik Beng Cu...."

Akhirnya Kam Hay Thian menerima cincin itu, lalu dipakal dijari tengahnya.

"Kelak akan kupindahkan ke jari manis. Terima kasih, Adik Beng Cu!"

"Kakak Hay Thian!"

Lie Beng Cu tersenyum."Legalah hatiku engkau mau memakai cincin giok itu, pertanda engkau tidak akan melupakanku!"

"Adik Beng Cu,"

Ujar Kam Hay Thian sungguh-sungguh.

"Selama-lamanya aku tidak akan melupakanmu"

"Terimakasih, Kakak Hay Thianl"

Ucap Lie Beng Cu dan menambahkan.

"Aku selalu menanti kedatanganmu."

"Aku pasti ke mari kelak,"

Ujar Kam Hay Thian berjanji.

"Pasti ke mari." -oo0dw0oo-Lie Beng Cu mengantar kepergian Kam Hay Thian dengan air mata bercucunan bahkan setelah Kam Hay Thian lenyap dan pandangannya tangisnya pun meledak seketika. Guru silat Lie segera membelainya.

"Jangan menangis Nak! Dia pasti ke mari kelak."

Ujar guru silat Lie sambil tersenyum.

"Ayah tahu, engkau sangat menyukainya."

"Ayah...."

"Kalau engkau tidak menyukainya bagaimana mungkin cincin giok pemberian almarhumah berada di jari tangannya?"

"Ayah tidak marah?"

"Kenapa ayah harus marah?"

Guru silat Lie tersenyum lembut.

"Kam Hay Thian memang anak baik, maka ayah pun sangat menyukainya. Kalau tidak, bagaimana mungkin ayah membiarkanmu menghadiahkan cincin giok itu kepadanya?"

"Ayah...."

Lie Beng Cu menundukkan kepala.

"Engkau tidak usah berduka, dia pasti ke mari kelak,"

Ujar guru silat Lie dan menambahkan.

"Ayah tahu, dia pun menyukaimu."

"Ayah,"

Wajah Lie Beng Cu langsung berubah kemerahmerahan, lalu berlari ke dalam.

Sementara Kam Hay Thian terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang sesuai dengan petunjuk guru silat Lie.

Beberapa hari kemudian ta telah tiba di sebuah lembah.

Karena merasa lelah sekali, ia langsung duduk di atas sebuah batu.

Begitu duduk wajahnya tampak berubah seketika, dan cepat-cepat ia meloncat bangun.

Ternyata batu itu merosot ke bawah, kemudian terdengar pula suara "Kreeek"

Dan dinding tebing di tempat terbuka.

Betapa terkejutnya Kam Hay Thian, dan ia lalu berdiri termangu-mangu di tempat.

Berselang beberapa saat, barulah ia memberanikan diri mendekati goa itu sambil memandang ke dalam, yang keadaannya gelap gulita, tak tampak apa pun.

"Goa apa itu?"

Gumamnya sambil mengerutkan kening Akhirnya ia melangkah ke dalam, dan setelah ia berada di dalam, pintu goa itu tertutup kembali.

"Haaah...!"

Kam Hay Thian terkejut bukan main, namun tidak merasa takut lalu berkeluh.

"Celaka, aku akan terkurung di dalam goa ini!"

Kam Hay Thian berdiri di tempat sambil memandang ke dalam, tapi tidak tampak apa pun karena gelap sekali.

Beberapa saat kemudian, Ia memberanikan diri melangkah ke dalam sambi!

meraba-raba, Ternyata goa itu merupakan sebuah terowongan, yang sangat panjang.

Entah berapa lama kemudian tangannya meraba dinding yang sangat dingin, yang ternyata pintu baja.

"Kok ada pintu di sini?"

Gumam Kam Hay Thian sambil meraba ke sana ke mari, dan tAnpa sengaja menekan sesuatu.

"Kreeeek! Pintu baja itu terbuka dan cahaya yang cukup terang menyorot ke luar. Kam Hay Thian girang bukan main dan segera masuk. Setelah ia sampai di dalam, pintu baja itu pun tertutup kembali.

"Tempat apa mi?"

Gumam Kam Hay Thian sambil menengok ke sana ke mari.

Ternyata ia berada di sebuah ruangan, yang sangat indah dan agak terang, bahkan terdapat kursi, meja dan perabotan lainnya.

Di dinding ruangan itu juga terdapat beberapa buah pintu Karena tertarik ia pun memasuki salah satu pintu tersebut.

Betapa girang hatinya, sebab di ruangan kecil itu tersimpan makanan kering dan lain sebagainya.

Setelah memeriksa ruang kecil itu, ia pun memasuki pintupintu lainnya.

Ternyata semuanya merupakan ruangan, dan salah satunya menyimpan berbagai macam alat musik.

Sesudah memasuki semua ruangan tersebut, Kam Hay Thian kembali ke ruang depan, yang sangat besar itu.

Saking girangnya, ia terus meraba-raba Seluruh dinding ruang depan tersebut.

Kemudian bersamaan dengan terdengarnya suara "krek", muncullah sebuah lubang di bagian dinding itu.

Kam Hay Thian terbelalak, karena melihat sebuah kotak yang sangat indah tersimpan di dalamnya.

Ia menjulurkan tangannya mengambil kotak tersebut, kemudian ditaruhkannya di atas meja.

"Kotak apa ini?"

Ujarnya sambil memperhatikan kotak tersebut.

Kemudian dengan hati-hati sekali dibukanya kotak itu.

Ternyata di dalamnya berisi dua buah kitab, yang tentunya membuat Kam Hay Thian tercengang.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia mengambil kedua kitab itu, sekaligus dibacanya.

Ternyata kitab itu adalah kitab peninggalan Pak Kek Sian Ong dan kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi (Kitab Pelajaran Menghimpun Dan Menyatukan Tenaga Murni).

Setelah membacanya, dapat dibayangkan betapa girangnya hati Kam Hay Thian, karena tahu bahwa kedua kitab itu merupakan kitab pelajaran ilmu silat tingkat tinggi.

Tidak salah, kedua kitab itu memang milik Bu Lim Sam Mo.

Kam Hay Thian tidak tahu, tanpa sengaja Ia memasuki tempat tersebut, yang merupakan bekas markas Bu Tek Pay.

Karena ayahnya pernah mengajarnya dasar-dasar ilmu lweekang, maka terlebih dahulu Ia mempelajari kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi.

-oo0dw0oo-Bagian Ke Delapan Sumber penyakit aneh Kini Tio Bun Yang telah berusia lima belas tahun.

Ia bertambah tampan dan gagah.

Kepandaiannya pun bertambah tinggi, bahkan telah menguasai Ilmu Penakiuk Iblis dan ilmu pengobatan pula.

Tentunya sangat menggirangkan Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

Namun kedua orang tuanya masih tercekam rasa cemas, karena Tio Bun Yang mengidap semacam penyakit aneh.

Yakni tidak boleh marah, apabila marah maka Tio Bun Yang akan kehilangan kesadarannya, sehingga membuatnya membunuh apa pun yang ada di hadapannya.

Hingga saat ini, Tio Cie Hiong masih tidak tahu sumber penyakit aneh tersebut.

Padahal ia terus menerus mengobati putranya itu dengan berbagai macam obat, namun tetap tidak dapat menyembuhkannya.

Pagi ini, Tio Bun Yang duduk bersemedi dibawah sebuah pohon melatih lweekangnya.

Ia menghimpun Pan Yok Hian Thian Sin Kang, lalu Kan Kun Taylo Sin Kang setelah itu Giok Li Sin Kang.

Di saat menghimpun hawa murni Giok Li Sin Kang, wajah Tio Bun Yang berubah menjadi pucat.

Berselang sesaat, mulailah Ia menghimpun Kiu Yang Sin Kang.

Wajahnya yang pucat pias itu mulai berubah merah padam, dan keringatnya mulai merembes ke luar dan keningnya.

Makin lama wajahnya makin bertambah merah, kemudian mendadak ia berteriak keras sambil meloncat bangun, sekaligus membuka sepasang matanya.

Sungguh mengejutkan, karena sepasang matAnya tampak membara.

Ia memukul kesana kemari seperti orang gila, dan banyak pohon yang hancur terkena pukulannya.

kelihatannya Ia telah kehilangan kesadarannya, dan terus mengamuk memukul kesana kemari.

Lama sekali barulah ia berhenti, lalu terkulai dan pingsan.

Di saat bersamaan, muncullah Lie Ai Ling dan monyet bulu putih.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!"

Panggil Lie Ai Ling, sambjl menggoyang~goyangkan bahunya. Monyet bulu putih pun segera memeriksanya, dan setejah itu bercuit-cuit.

"Kauw heng,"

Tanya Lie Ai Ling. Kini gadis itu telah berusia empat belas tahun.

"Bagaimana keadaan Kakak Bun Yang, dia tidak apa-apa?"

Monyet bulu putih mengangguk, dan karena itu Lie Ai Ling menarik nafas lega. Berselang beberapa saat kemudian, badan Tio Bun Yang mulai bergerak, Lie Ai Ling segera memanggilnya.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!"

Tio Bun Yang membuka matanya, lalu menghela nafas panjang sambil duduk dan kelihatan lelah sekali.

"Kakak Bun Yang, kenapa engkau?"

Tanya Lie Ai Ling penuh perhatian.

"Kok engkau pingSan di Sini?"

"Aku"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Engkau sakit?"

Lie Ai Ling menatapnya.

"Aku tidak sakit, hanya saja...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Berat sekali rasanya kepalaku."

"Kenapa begitu?"

"Entahlah. Aku pun tidak mengerti,"

Sahut Tio Bun Yang dan bergumam.

"Aku sedang melatih lweekang...."

"Lalu?"

"Lalu...."

Tio Bun Yang terus berpikir sambil bergumam.

"Aku menghimpun Pak Yok Han Thian Sin Kang, kemudian Kan Kun Taylo Sin Kang Setelah itu, ketika aku menghimpun Giok Li Sin Kang, aku merasa peredaran darahku mulai bergejolak. Lebih-lebih ketika aku menghimpun Kiu Yang Sin Kang, dadaku terasa mau meledak, sehingga membuatku berteriak keras dan kehilangan kesadaran."

"Oh?"

Lie Ai Ling terbelalak, kemudian menengok ke sana ke mari.

"Engkau memukul hancur pohon-pohon itu?"

"Entahlah."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidak mengetahuinya?"

"Kakak Bun Yang!"

Lie Ai Ling menatapnya.

"Aku melihat engkau tergeletak pingsan disini, maka segera memanggilmu sambil menggoyang-goyangkan bahumu."

"Oh?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening. Tampaknya ia sedang berpikir lagi. Namun mendadak ia tersentak, kelihatannya telah menyadari satu hal.

"Apakah dikarenakan itu?"

"Dikarenakan apa?"

Tanya Lie Ai Ling.

"Adik Ai Ling, Kauw-heng, mari kita pulang!"

Tio Bun Yang bangkit berdiri.

"Aku harus memberitahukan kepada ayah." -oo0dw0oo-Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Tio Tay Seng dan Sam Gan Sin Kay di ruang depan dengan wajah serius. Ternyata Tio Bun Yang membertahukan tentang kejadian itu, bahkan Lie Ai Ling pun menambahkan.

"Aku melihat kakak Bun Yang pingsan, dan pohon-pohon di sekitar tempat itu hAncur berantakan."

"Ngmm!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Tidak salah lagi, itu pasti sumber penyakit Bun Yang!"

"Maksudmu Cie Hiong?"

Tanya Tio Tay Seng.

"Pan Yok Han Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang berhubungan erat sekali, boleh dikatakan merupakan saudara kandung,"

Jawab Tio Cie Hiong menjelaskan "Giok Li Sin Kang bersifat lembut mengandung hawa im (dingin), sedangkan Kiu Yang Sin Kang bersifat keras mengandung hawa Yang (panas).

Oleb karena itu, terjadilah gejojak hawa murni yang bertentangan di dalam tubuh Bun Yang, sehingga menyebabkan tekanan darahnya tidak normal, sekaligus menyerang syaraf otaknya, maka menimbulkan penyakit aneh itu."

"Kalau begitu harus bagaimanana tanya Lim Ceng im cemas.

"Tidak apa-apa."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kini aku sudab tahu sUmber penyakit itu, dan aku dapat menyembuhkannya."

"Bagaimana caranya?"

Tanya Tio Tay Seng.

"Aku harus membantunya mengeluarkan hawa murni Giok Li Sin Kang dan Kiu Yang Sin Kang,"

Jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Kalau tidak, tidak lama lagi dia pasti gila."

"Haaah...?"

Lim Ceng Im dan Tio Tay Seng terkejut bukan main, begitu pula Sam Gan Sin Kay.

"Untung cepat mengetahuinya, kalau tidak Bun Yang pasti cetaka."

Tio Cie Hiong menghela nafas lega.

"Itu kesalahanku,"

Ujar Lim Ceng Im menyesal.

"Karena aku mengajarkannya Giok Li Sin Kang."

"Aku pun bersalah."

Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Karena menginginkan Bun Yang menjadi pendekar tanpa tanding, maka aku pun mengajarnya Kiu Yang Sin Kang. Akhirnya malah jadi begini."

"Adik Im dan Paman tidak bersalah."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Itu pertanda sangat sayang pada Bun Yang. Pada waktu itu aku pun tidak tahu akan menjadi begini. Namun masih tidak terlambat, aku mampu mengeluarkan hawa-hawa murni itu dan tubuh Bun Yang."

"Syukurlah!"

Ucap Tio Tay Seng sambil menarik nafas lega.

"Bun Yang, duduklah bersila di lantai!"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Ayah suruh apa, engkau harus menurut."

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk, lalu duduk bersila di lantai. Tio Cie Hiong duduk bersila di belakangnya, kemudian sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung Tio Bun Yang.

"Bun Yang, himpunlah hawa murni Giok Li Sin Kang!"

Ujar Tio Cie Hiong.

Tio Bun Yang mengangguk, kemudian menghimpun hawa murni Giok Li Sin Kang.

Tak lama wajahnya mulai memucat, Tio Cie Hiong segera mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuh Tio Bun Yang, dan berselang sesaat ia berkata.

"Buka mulutmu!"

Tio Bun Yang membuka mulutnya. Sesaat kemudian tampak uap putih mulai keluar dari mulutnya.

"Terus himpun Giok Li Sin Kang, jangan berhenti!"

Pesan Tio Cie Hiong dengan suara rendah. Tio Bun Yang mengangguk perlahan dan terus menghimpun Giok Li Sin Kang. Berselang beberapa saat, tidak tampak lagi uap putih ke luar dan mulut Tio Bun Yang.

"Himpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang!"

Ujar Tio Cie Hiong sambil berhenti mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang.

Tio Bun Yang mulai menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang, dan tak lama kemudian wajahnya mulai memerah.

Tio Cie Hiong segera mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya.

"Buka mulutmu!"

Ujarnya kemudian. Tio Bun Yang membuka mulutnya, tampak pula uap putih ke luar dan mulutnya, yang mengandung hawa panas.

"Jangan berhenti menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang!"

Pesan Tio Cie Hiong, keningnya mulai berkeringat.

Tio Bun Yang terus menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang, sedangkan Tio Cie Hiong pun terus mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya untuk mendesak ke luar hawa murni Kiu Yang Sin Kang itu.

Berselang beberapa saat kemudian, mulut Tio Bun Yang tidak mengeluarkan uap lagi, dan wajahnya pun telah normal kembali.

Sebaliknya Wajah Tio Cie Hiong menjadi pucat pias.

Ia segera berhenti mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang, sekaligus menarik kembali tangannya dari punggung Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang bangkit berdiri, sedangkan Tio Cie Hiong masih duduk bersemedi.

Berselang sesaat, barulah ia bangkit berdiri sambil menghela nafas panjang dan berkata.

"Untung aku memiliki lweekang tinggi dan dua kali makan buah Kiu Yap Ling Che! Kalau tidak, aku pasti sudah tArluka dalam!"

"Ayah...."

Tio Bun Yang segera bersujud dihadapan ayahnya.

"Maafkan Bun Yang telah menyusahkan Ayah!"

"Nak!"

Tio Cie Hiong tersenyum lembut sambil membangunkannya "Kini ayah, ibu dan lainnya telah berlega hati, karena engkau telah sembuh."

"Terima kasih Ayah!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Nak, duduklah!"

Tio Cie Hiong tersenyum lagi sambil duduk.

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang duduk di sisi Lim Ceng Im.

"Ibu, mulai sekarang Ibu tidak perlu cemas lagi."

"Nak...."

Lim Ceng Im membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Tio Tocu, urusan in sudah beres. Maka kita pergi main catur!"

"Baik."

Tio Tay Seng mengangguk Mereka berdua lalu pergi main catur.

"Adik Im,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"ini merupakan pengalaman bagiku. Seseorang memang tidak boleb belajar bermacam-macam ilmu lweekang, sebab akan mencelakai diri sendiri."

"Benar."

Lim Ceng Im mengangguk "Untung Bun Yang cepat menyadani hal itu, kalau tidak...."

"Dia pasti gila."

Tio Cie Hiong menghela nafas Panjang.

"Oh ya!"

Lim Ceng Im teringat sesuatu.

"Kini dia telah memiliki Ilmu Penakiuk Iblis, itu tidak akan mempengaruhinya?"

"Tentu tidak."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Karena Ilmu Penakluk Iblis merupakan semacam ilmu kebatinan tingkat tinggi, jadi dapat memperkuat batinnya.~"

"Oooh!"

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Kakak Hiong, sungguh kasihan Kakak Hong Hoa! Selama lima tahun ini, dia hidup dengan hati tersiksa."

"Itu karena ulah Lie Man Chiu."

Tio Cie Hiong menggelenggelengkan kepala.

"Selama lima tahun ini, dia sama sekali tidak pulang. Entah dia menjadi apa di rimba persilatan?"

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im menatapnya sambil tersenyum.

"Untung engkau tidak seperti Lie Man Chiu!"

"Adik Im...."

Tio Cie Hiong menatapnya mesra dengan penuh cinta kasih.

"Bagaimana mungkin aku akan seperti Lie Man Chiu?"

"Paman, Bibi,"

Sela Lie Ai Ling mendadak.

"Ayahku memang jahat, tega meninggalkan kami. Aku pun tidak mau mengakunya sebagai ayah lagi, sebab dia... dia membuat ibu menderita!"

"Ai Ling...."

Tio Cie Hiong terkejut. Ia lupa akan keberadaan Lie Ai Ling di situ.

"Paman adalah lelaki yang paling baik didunia, juga sebagai ayah yang paling baik. Sebaliknya ayahku merupakan lelaki yang paling jahat di dunia. Demi mengangkat namanya dirimba persilatan, dia begitu tega meninggalkan kami."

"Ai Ling...,"

Ujar Lim Ceng Im dengan suara rendah.

"Engkau tidak boleh berkata demikian dihadapan ibumu, sebab akan membuat ibumu sedih lho!"

"Ya, Bibi!"

Lie Ai Ling mengangguk.

"Adik Ai Ling!"

Mendadak Tio Bun Yang menarik tangannya.

"Mari kita pergi berlatih!"

"Ya, Kakak Bun Yang."

Lie Ai Ling mengangguk. Mereka berdua lalu meninggalkan ruangan itu. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im menghela nafas panjang, sementara monyet bulu putih itu duduk diam saja di kursi.

"Adik Im!"

Tio Cie Hbong tersenyum.

"Kini legalah hati kita, karena Bun Yang telah sembuh."

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk dengan wajah berseri, kemudian berkata.

"Kakak Hiong, bagaimana menurutmu mengenai Bun Yang dengan Ai Ling?"

"Maksudmu?"

Tio Cie Hiong agak terbelalak.

"Mereka berdua begitu akrab dan cocok, mungkinkah mereka berjodoh menjadi suami isteri?"

Sahut Lini Ceng Im.

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong tertawa.

"Mereka berdua memang akrab dan sangat cocok sekali. Bahkan juga saling mengasihi dan saling mencinta pula."

"Kalau begitu...."

Wajah Lim Ceng Im berseri.

"Aku sangat menyukai Ai Ling."

"Adik Im!"

Mendadak Tio Cie Hiong tampak serius.

"Engkau jangan salah paham. Mereka saling mencinta bagaikan kakak adik kandung, bukan merupakan sepasang kekasih lho!"

"Oh?"

Lim Ceng Im tertegun.

"Menurutku..."

Ujar Tio Cie Hiong.

"Mengenai perjodohan Bun Yang, terserah padanya. Kita sebagai orang tua hanya merestui saja, jangan bantu dia memilih. Sebab dia bisa pilih sendiri, jadi terserah dia saja."

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk, kemudian tersenyum geli.

"Kakak Hiong...."

"Ada apa? Kenapa engkau mendadak tertawa geli?"

"Aku teringat pertemuan kita pertama kali. Engkau bertelanjang bulat mandi di kali,"

Sahut Lim Ceng Im yang masih tertawa geli.

"Mungkinkah Bun Yang akan mengalami hal seperti itu?"

"Mudah-mudahan!"

Ucap Tio Cie Hiong samtertawa gelak.

"Itu yang kuharapkan."

"Dasar...!"

Lim Ceng Im mencubit paha suaminya, dan kemudian Tio Cie Hiong memeluknya erat-erat dengan mesra sekali.

-oo0w0oo-Tio Hong Hoa duduk melamun di dekat taman bunga.

Matanya terus memandang bulan purnama, yang bersinar terang, lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang.

"Sudah lima tahun! Sudah lima tahun..."

Gumamnya dengan mata basah.

"Kakak Chiu, kenapa engkau belum pulang? Aku... aku rindu sekali kepadamu, begitu pula Ai Ling putri kita itu. Kakak Chiu, apakah engkau telah melupakan kami? Aaakh..!"

"Ibu! Ibu...."

Muncul Ai Ling menghampirinya.

"Al Ling!"

Tio Hong Hoa menatapnya sambil tersenyum getir.

"Kenapa engkau belum tidur?"

"Ibu belum tidur, bagaimana mungkin Ai Ling bisa tidur?"

Lie Ai Ling duduk di sisi ibunya.

"Nak...."

Tio Hong Hoa membelainya lembut.

"Sungguh kasihan engkau...."

"Yang harus dikasihani adalah Ibu."

Lie Ai Ling menatapnya iba.

"Karena Ibu tampak agak tua dan rambut ibu pun mulai memutih. Ibu, sungguh kejam ayah, Ai Ling benci kepadanya!"

"Nak...."

Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Tidak baik engkau membencinya, sebab biar bagaimana pun dia adalah ayahmu.

"Hmm!"

Dengus Lie Ai Ling dingin.

"Percuma punya ayah begitu macam, iebih baik anggap dia sudah mati."

"Nak!"

Wajah Tio Hong Hoa berubah pucat.

"Engkau...."

"Hanya demi mengangkat nama, dia tega meninggalkan kita,"

Ujar Lie Ai Ling sengit.

"Lihatlah Paman Cie Hiong, dia hidup tenang dan bahagia bersama anak isterinya di pulau ini, tidak seperti ayah, yang mementingkan dirinya sendiri."

"Sifat manusia berbeda...."

Tio Hong Hoa menggelenggelengkan kepala.

"Nak, walau ayahmu begitu tega meninggalkan kita, namun ibu tetap mencintainya, dan merindukannya pula!"

"Ibu...."

Lie Ai Ling terbelalak.

"Ayah begitu jahat, tapi kenapa ibu masih mencintai dan merindukannya?"

"Nak, sebetulnya ayahmu tidak jahat."

Tio Hong Hoa menjelaskan.

"Dia cuma terlampau berambisi, lagi pula mungkin sudah merupakan nasib ibu. Maka... engkau jangan mempersalahkannya."

"Ibu...."

Lie Ai Ling menghela nafas.

"Sungguh besar jiwa Ibu, tapi, sebaliknya ayah...."

"Yaah!"

Tio Hong Hoa tersenyum getir.

"Mungkin juga merupakan takdir, ibu harus menerima itu dan memaafkan ayahmu."

"Ibu,"

Sahut Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Pokoknya Ai Ling tidak akan memaafkan ayah."

"Nak, engkau tidak boleh begitu."

"Tidak boleh begitu? Jadi dia boleh meninggalkan kita sesuka hatinya? Lelaki macam itu lebih baik kita lupakan saja!"

"Nak, dia ayahmu. Jangan lupa itu...."

"Ibu, di saat ayah meninggalkan kita, di saat itu pula Ai Ling sudah tidak punya ayah."

"Adik Ai Ling...."

Mendadak muncul Tio Bun Yang. Apa yang dikatakan Lie Ai Ling masuk kedalam telinganya.

"Engkau tidak boleh berkata begitu. Ayahmu memang bersAlah, namun tetap ayahmu, maka engkau harus memaafkannya. Aku yakin suatu hari nanti, ayahmu pasti menyesal akan perbuatannya itu."

"Kakak Bun Yang...."

Sungguh mengherankan, gadis itu tidak berani berdebat dengannya.

"Bagaimana mungkin ayahku akan menyesal? Itu...tidak mungkin."

"Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang menatapnya lembut.

"Engkau harus tahu, Paman Chiu meninggalkan kalian lantaran suatu ambisi. Itu bukan berarti dia tidak mencintai kalian. Dia tega meninggalkan kalian karena nuraninya telah tertutup oleh ambisinya itu. Akan tetapi, suatu hari nanti pintu nuraninya pasti terbuka kembali, yang akan membuatnya menyesal dan pasti berlutut dihadapan ibumu untuk memohon pengampunan. Oleh karena itu, engkau harus memaafkannya agar pintu nuraninya terbuka. Mengerti?"

"Mengerti, Kakak Bun Yang."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Aku pasti menuruti nasihatmu."

"Bagus!"

Tio Bun Yang tersenyum lembut sambil membelainya.

"Aku sangat bersyukur dan legalah hatiku, karena engkau sudah mengerti dan mau menuruti nasihatku."

"Kakak Bun Yang!"

Lie Ai Ling menatapnya seraya berkata.

"Engkau adalah kakakku yang paling baik di dunia!"

"Terima kasih, adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Nah, mulai sekarang engkau tidak boleh berdebat dengan ibumu lagi. Kasihan ibu yang dirundung duka dan sangat menderita."

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk, kemudian merangkul Tio Hong Hoa sambil menangis terisak-isak.

"Ibu, maafkan Ai Ling!"

"Nak...."

Tio Hong Hoa membelainya dengan air mata berderai-derai, kemudian berkata kepada Tio Bun Yang.

"Terima kasih Bun Yang, engkau dapat menasihati Ai Ling!"

"Bibi, Bun Yang menyayanginya, maka harus menasihatinya,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Lagi pula Ai Ling boleh dikatakan sebagai adikku."

"Bun Yang...."

Tio Hong Hoa terharu bukan main.

"Sifatmu sungguh baik sekali, seperti sifat ayahmu.

"Bibi!"

Tio Bun Yang menatapnya dalam-dalam.

"Bun Yang harap mulai sekarang, Bibi jangan berduka lagi! Bun Yang yakin suatu hari nanti, Paman Chiu pasti pulang."

"Mudah-mudahan!"

Sahut Tio Hong Hoa.

"Memang itu yang bibi harapkan." -oo0dw0oo. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im duduk santai di ruang depan sambil bercakap-cakap, Wajah mereka tampak ceria dan bahagia.

"Adik Im,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Bun Yang telah menguasai seluruh kepandaianku, hanya saja lweekangnya masih dangkal"

"Jadi harus bagaimana agar lweekangnya mencapai ke tingkatmu?"

Tanya Lim ceng Im.

"Itu agak sulit."

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Sebab aku pernah makan buah Kiu Yap Ling Che, maka lweekangku menjadi tinggi"

"Kalau begitu...."

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Itu adalah buah ajaib dan langka, yang lima ratus tahun berbuah sekali, jadi tidak gampang orang memperoleh buah ajaib itu."

"Oooh!"

Lim Ceng Im manggut.manggut "Kalau begitu, Bun Yang harus terus melatib lweekangnya, bukan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Harus melatih berapa lama?"

"Mungkin sepuluh tahun, bahkan juga dua puluh tahun. Aku tidak begitu jelas."

"Yaah!"

Lim Ceng Im menghela nafas panjang. Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan putih melesat ke dalam, lalu duduk di hadapan mereka.

"Kauw-heng!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Dari mana engkau?"

Monyet bulu putih langsung manggut-manggut, kemudian bercuit-cuit tampak gembira sekali.

"Kalau begitu, pergilah panggil Bun Yang kemari!"

Ujar Tio Cie Hiong kepada monyet bulu putih. Monyet bulu putih itu bercuit-cuit sambil menggerakgerakkan tangannya Tio Cie Hiong manggut-mangggut dan berkata.

"Barusan engkau menyaksikan latihan Tio Bun Yang?"

Monyet bulu putih itu manggut-manggut, kemudian sepasang tangannya bergerak sekaligus menarik nafas "Maksudmu lweekangnya masih dangkal?"

Monyet bulu putih manggut-manggut lagi, lalu menunjuk ke atas, menunjuk dirinya sendiri dan menunjuk ke sana ke mari "Apa?"

Tio Cie Hiong terbelalak "Kakak Hiong,"

Tanya Lim Ceng Im.

"Kauw-heng bilang apa?"

"Dia bilang ingin mengajak Bun Yang pergi ke Gunung Thian San,"

Jawab Tio Cie Hiong memberitahUkan "Bun Yang harus berlatih disana, agar lweekangnya bisa mencapai tingkat tinggi."

"Oh?"

Lim Ceng Im tertegun "Kakak Hiong, bagaimana menurutmu?"

"Harus kita rundingkan dengan paman dan kakekmu,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Aku tidak berani mengambil keputusan sekarang"

"Ada apa?"

Mendadak muncul Tio Tay Seng bersama Sam Gan Sin Kay.

"Paman, Kakek pengemis!"

Panggil Tio Cie Hiong.

"Cie Hiong!"

Tio Tay Seng menatapnya.

"Kelihatannya engkau sedang merundingkan sesuatu dengan kauw heng. Apa yang kalian rundingkan?"

"Paman!"

Tio Cie thong memberjtahukan.

"Kauw-heng mengajukan suatu usul."

"Oh?"

Tio Tay Seng tersenyum.

"Kauw-heng mengajukan usul apa?"

"Dia ingin mengajak Bun Yang pergi ke Gunung Thian San."

"Maksudnya Bun Yang berlati di tempat tinggalnya, di Gunung Thian San?"

Tanya Tio Tay Seng.

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Bagaimana menurut Paman?"

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa mendadak.

"Itu merupakan suatu kesempatan bagi Bun Yang, maka kalian harus mengijinkan kauw-heng mengajaknya ke sana."

"Cie Hiong,"

Ujar Tio Tay Seng sungguh-sungguh.

"Terus terang, Paman tidak keberatan"

"Tapi "Tio Cie Hiong melirik Lim Ceng Im.

"Kakak Hiong!"

Lim Ceng Im tersenyum.

"Aku pun tidak berkeberatan, itu memang merupakan suatu kesempatan bagi Bun Yang. Lagi pula kauw heng sangat sakti, siapa tahu dia akan memetik buah ajaib Kiu Yap Ling Che untuk Bun Yang."

Monyet bulu putih bercuit sekali, lalu melesat pergi. Tak lama kemudian hewan itu telah kembali bersama Tio Bun Yang.

"Ayah memanggil Bun Yang?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Bun Yang, kauw-heng ingin mengajakmu pergi ke Gunung Thian San. Apakah engkau setuju?"

"Mau apa kauw heng mengajak aku ke sana?"

Tanya Tio Bun Yang dengan rasa heran. Monyet bulu putth segera bercuit-cuit, Sekaligus menggerak-gerakkan tangannya.

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Ternyata kauw-heng menghendaki agar aku berlatih di sana!"

"Bagaimana?"

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Engkau setuju?"

"Tentu setuju."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Karena itu merupakan kesempatan bagiku, maka aku tidak mau mengecewakan maksud baik kauw-heng."

"Kalau begitu, kapan engkau dan Kauw heng akan berangkat?"

Tanya Lim ceng Im.

"Besok pagi,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Ibu tidak berkeberatan, bukan?"

"Tentu tidak, namun engkau harus berhati-hati..."

Ucapan Lim Ceng Im terputus, karena mendadak monyet bulu putih bercuit-cuit. Lim Ceng Im tersenyum "Kauw-heng bisa menjaganya, bukan?"

Monyet bulu putih manggut-manggut, dan Tio Bun Yang tersenyum.

"Ibu, aku pun bisa menjaga diri,"

Katanya sungguhsungguh.

"Ngmm!"

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Bun Yang!"

Tio Cie Hiong menatapnya dalam-dalam.

"Engkau dan kauw-heng boleh berangkat besok pagi, tapi begitu usai berlatih dsana engkau dan kauw-heng harus segera pulang. Jangan berkelana dulu, engkau harus ingat"

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang pasti mematuhi pesan Ayah."

"Bagus!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Oh ya!"

Tio Bun Yang teringat sesuatu "Bun Yang harus memberitahu bibi dan adik Ai Ling"

"Mereka berada di ruang belakang, pergilah menemui mereka!"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang berjalan ke ruang belakang. Tampak Tio Hong Hoa sedang menyulam, dan Lie Ai Ling duduk di situ menemaninya.

"Kakak Bun Yang""

Panggil Lie Ai Ling ketika melihatnya muncul.

"Adik Ai Ling, Bibi!"

Tio Bun Yang mendekati mereka.

"Oh, Bun Yang!"

Tio Hong Hoa tersenyum.

"Duduklah!"

"Ya."

Tio Bun Yang duduk lalu berkata.

"Bibi, Adik Ai Ling! Bun Yang ingin menyampaikan sesuatu."

"Mau menyampaikan apa?"

Tanya Tio Hong Hoa.

"Besok pagi Bun Yang akan berangkat ke Gunung Thian San bersama kauw-heng."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Oh?"

Tio Hong Hoa tertegun.

"Kakak Bun Yang...."

Lie Ai Ling tersentak.

"Besok Kakak Bun Yang akan berangkat ke Gunung Thian San bersama kauw~heng?"

"Ya"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Mau apa ke Gunung Thian San?"

Tanya Tio Hong Hoa dengan rasa heran.

"Kauw-heng..."

Tio Bun Yang menjelaskan tentang maksud tujuan monyet bulu putih.

"Oooh!"

Tio Hong Hoa manggut-manggut.

"Itu memang merupakan kesempatanmu, ada baiknya engkau ke sana."

"Kakak Bun Yang...."

Mata Lie Ai Ling mulai basah.

"Kapan engkau pulang?"

"Entahlah."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Mungkin... dua tiga tahun kemudian."

"Kakak Bun Yang harus hati-hati, sebab Gunung Thian San sangat jauh dan sini."

Ujar Lie Ai Ling.

"Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku pasti hatihati, engkau tidak usah mencemaskanku."

"Kakak Bun Yang...."

Air mata Lie Ai Ling mulal meleleh.

"Jangan menangis, Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang membelainya.

"Aku pasti pulang. Engkau harus menjaga ibumu baik-baik."

"Ya, Kakak Bun Yang."

Lie Ai Ling manggut-manggut.

Keesokan harinya, berangkatlah Tio Bun Yang bersama monyet bulu putih ke Tionggoan menuju Gunung Thian San.

-oo0dw0oo-Bagian ke Sembilan 13 Jurus Pukulan Cahaya Emas Di Gunung Thay San, tampak Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sedang berlatih Thian Liong Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Naga Khayangan) dengan sungguh-sungguh Setelah itu, mereka juga berlatih Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Kahyangan) menggunakan ranting.

Di saat mereka berhenti berlatih, terdengar suara pujian dan muncul Tayli Lo Ceng dengan wajah berseri-seri.

"Omitohud! Kalian berdua telah berhasil menguasai Thian Liong Ciang Hoat dan Than Liong Kiam Hoat! Bagus, bagus!"

"Guru!"

Seru mereka sambil memberi hormat.

"Ha-ha-ha!"

Tayli Lo Ceng tertawa gembira, kemudian bertanya.

"Sudah berapa lama kalian berada di sini?"

"Kalau tidak salah...,"

Jawab Toan Beng Kiat.

"Sudah hampir lima tahun, bukan?"

"Betul."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Memang tak terasa, tahu-tahu sudah lima tahun."

"Guru, bagaimana kepandaian kami?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan mendadak sambil tersenyum.

"Maju pesat,"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Guru tidak menyangka, kalian begitu cerdas."

"Itu berkat bimbingan Guru,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Padahal kami sangat bodoh."

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Merendah diri merupakan sifat yang baik, angkuh dan sombong justru akan meruntuhkan diri sendiri."

"Terima kasih atas wejangan Guru."

Ucap mereka berdua serentak.

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng menatap mereka sambil tersenyum.

"Kini usia kalian sudah belasan, sudah remaja lho!"

"Guru,"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Kapan kami boleh pulang ke Tayli?"

"Dua tahun lagi,"

Sahut Tayli Lo Ceng dan menambahkan.

"Hari ini guru akan menurunkan kepada kalian semacam ilmu, tapi kalian harus belajar dengan sungguh.sungguh!"

"Ilmu apa itu?"

Tanya Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak dengan wajah berseri.

"Kim Kong Sin Kang (Tenaga Sakti CahayaEmas), Kim Kong Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Cahaya Emas) dan Kim Kong Kiam Hoat (limu Pedang Cahaya Emas)!"

Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Terima kasih, Guru!"

Ucap mereka.

"Kalian berdua harus tahu,bahwa guru tidak mewariskan ilmu tersebut kepada Lie Man Chiu,"

Ujar Tayli Lo Ceng.

"Kenapa?"

Tanya Toan Beng Kiat heran.

"Omitohud...."

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"Karena guru tahu bagaimana wataknya. Lagi pula masih ada suatu takdir dan karma pada dirinya, maka guru tidak mewariskan ilmu tersebut kepadanya.!"

"Guru, bagaimana wataknya?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Takdir dan karma apa pula untuk dirinya?"

"WataknyA agak ingin menang sendiri dan sangat berambisi,"

Jawab Tayli Lo Ceng memberitahukan "Mengenai takdir dan karmanya, lebih baik kalian tidak usah tahu.

Yang penting kalian harus banyak melakukan kebaikan, sebab siapa yang melakukan kebaikan, pasti akan menerima takdir dan karma yang baik pula.

Mengerti kalian?"

"Mengerti Guru,"

Sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak.

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng dan menambahkan.

"Setiap manusia juga tidak akan terlepas dari suatu cobaan. Di saat menghadapi cobaan, kita harus tAbah dan jangan sampai tergoyahkan."

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk, dan Tayli Lo Ceng memandang mereka sambil tersenyum.

"Kalian pun harus ingat,"

Ujar padri tua itu dan melanjutkan.

"Nasib, peruntungan, perjodohan dan musibah setiap manusia berkaitan dengan takdir. Oleh karena itu, janganlah kalian terlampau memaksa diri.

"Ya."

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk lagi.

Tayli Lo Ceng terus memberikan berbagai wejangan kEpada Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan, mereka berdua mendengar dengan penuh perhatian.

Setelah itu, barulah Tayli Lo Ceng mengajar mereka Kim Kong Sin Kang (Tenaga Sakti Cahaya Emas).

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan telah memiliki lweekang Hud Bun Pan Yak Sin Kang dari Tayli Lo Ceng, maka tidak begitu sulit bagi mereka untuk belajar Kim Kong Sin Kang.

-oo0dw0oo-Sementara Itu, Siang Koan Goat Nio terus melatih Giok Li Sin Kang, maka tidak mengherankan kalau lweekangnya bertambah tinggi.

Hal Itu tentu sangat menggirangkan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

Bahkan Siang Koan Goat Nio pun semakin mahir meniup suling, dan ginkangnya juga sudah maju pesat.

Kini Siang Koan Goat Nio sudah berusia empat belas tahun.

Gadis itu bertambah cantik dan lemah lembut.

Hari ini ia berlatih Giok Li Kiam Hoat, Giok Li Ciang Hoat dan ginkang.

Setelah Itu, Ia duduk beristirahat di bawah sebuah pobon sambil meniup suling.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia berhenti dan tiba-tiba mendengar suara tawa.

"Ha ha ha! Bagus!"

Muncul Kim Siauw Suseng dan Kou HUn Bijin sambil tertawa gembira.

"Ayah, Ibu!"

Panggil Siang Koan Goat Nio.

"Goat Nio,"

Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.

"Kepandaianmu makin maju. Sungguh mengagumkan!"

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Benar"

Kim Siauw Suseng manggut-manggut dan menambahkan.

"Lweekangmu pun bertambah tinggi, itu sungguh di luar dugaan!"

"Semua itu...."

Siang Koan Goat Nio tersenyum lagi.

"Atas bimbingan Ayah dan Ibu."

"Ha ha ha!"

Kim Siauw Suseng tertawa gelak.

"Sesungguhnya itU berkat latihanmu sendiri."

"Oh ya!"

Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam, kernudian tertawa cekikikan seraya berkata.

"Nak, engkau bertambah cantik lho!"

"Ibu "

Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.

"Goat Nio,"

Ujar Kim Siauw Suseng sungguh-sungguh "Kini engkau sudah remaja, maka harus berhati-hati bergaul dengan kaum lelaki. Jangan sampai engkau terjerumus."

Harus pilih yang tepat pula,"

Sambung Kou Hun Bijin "Oh ya, entah bagaimana keadaan Tio Cie Hiong dan lainnya, yang berada di Pulau Hong Hoang To!"

"Bijin!"

Kim Siauw Suseng menatap isterinya dan berkata.

"Mungkin kini sudah waktunya kita pergi ke sana."

"Ke pulau itu?"

"Benar."

Kou Hun Bijin tertawa gembira.

"Kapan kita berangkat ke sana?"

"Bagaimana kalau besok pagi?"

"Itu...."

Kou Hun Bijin berpikir sejenak, lalu mengangguk dengan wajah berseri.

"Baiklah."

"Goat Nio!"

Kim Siauw Suseng menatap putrinya sambil tersenyum.

"Bagaimana engkau, merasa gembira akan berangkat ke Pulau Hong Hoang To?"

"Sungguh gembira sekali, Ayah,"

Jawab Siang Koan Goat Nio dengan wajah cerah ceria. Di saat bersamaan, muncul Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui, yang kemudian memberi hormat kepada Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

"Bagus!"

Kou Hun Bijin tertawa.

"Kebetulan kalian kemari, aku ingin bertanya kepada kalian."

"Bijin ingin bertanya apa?"

Tanya Kwan Gwa Siang Koay.

"Kami bertiga akan berangkat ke Pulau Hong Hoang To, apakah kalian mau ikut?"

Tanya Kou Hun Bijin.

"Itu...."

Kwan Gwa Siang Koay memandang Lak Kui.

"Bijin,"

Ujar Tiau Am Kui.

"Lebih baik kami menjaga lembah ini, karena kami sudah merasa bosan bepergian jauh."

"Baiklah."

Kou Hun Bijin manggut-manggut.

"Kalian jaga baik-baik lembah ini! Kami akan berangkat besok!"

"Ya, Bijin."

Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui mengangguk.

"Kami pasti menjaga baik-baik lembah ini."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Kalian memang setia sekali kepada kami, kuucapkan terima kasih kepada kalian!"

"Sama-sama,"

Sahut Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui sambil tertawa.

Keesokan harinya, berangkatlah Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin dan Siang Koan Goat Nio ke Pak Hai (Laut Utara).

-oo0dw0oo-Belasan hari kemudian, mereka bertiga telah tiba di Pulau Hong Hoang To.

Betapa girangnya Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Tio Tay Seng dan Sam Gan Sin Kay ketika melihat kedatangan mereka.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Sastrawan sialan, terima kasih atas kedatangan kalian!"

"Ha ha ha!"

Kim Siauw Suseng juga tertawa gelak.

"Pengemis bau, kukira engkau sudah mampus! Tidak tahunya masih segar bugar!"

"Kakak!"

Panggil Tio Cie Hiong dengan wajah berseri.

"Bibi!"

Panggil Lim Ceng Im sambil tertawa gembira.

"Hi hi hi! Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa nyaring saking gembiranya.

"Kalian berdua pasti bahagia sekali!"

"Kakak dan Paman sastrawan pasti hidup bahagia juga,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil memandang Siang Koan Goat Nio. Kakak, gadis ini...."

"Dia putri kami, namanya Siang Koan Goat Nio."

Kou Hun Bijin memberitahukan.

"Oh?"

Tio Cie Hiong terbelalak.

"Sungguh cantik sekali putri kalian!"

"Hi hi hi! Siapa dulu?"

Sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan "Tentu ayahnya,"

Ujar Kim Siauw Suseng.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak "Sastrawan sialan, engkau begitu jelek, tapi kenapa bisa mempunyam putri yang sedemikian cantik? Sungguh di luar dugaan!"

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa.

"Pengemis bau, aku sangat cantik, maka anakku juga pasti cantik."

"Tidak salah, tidak salah."

Sam Gan Sin Kay terus tertawa.

"Kim Siauw Suseng, Bijin! Silakan duduk!"

Ucap Tio Tay Seng ramah, kemudian menyuruh pembantu menyuguhkan minuman.

Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin duduk, tak lama kemudian muncullah Tio Hong Hoa bersama Lie Ai Ling.

Tio Hong Hoa segera memberi hormat kepada mereka, sedangkan Lie Ai Ling bersujud.

"Ai Ling memberi hormat kepada Paman dan Bibi,"

Ucap gadis itu.

"Ha ha ha!"

Kim Siauw Suseng tertawa.

"Bangunlah!"

"Adik Cie Hiong!"

Tanya Kou Hun Bijin.

"Siapa gadis itu?"

"Putri Kakak Hong Hoa."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Oooh!"

Kou Hun Bijin manggut-manggut, kemudian mengerutkan kening.

"Eh, di mana Lie Man Chiu? Kenapa dia tidak kelihatan?"

"Dia... dia...."

Tio Cie Hiong memandang Tio Tay Seng, agar pamannya yang menjelaskan.

"Mantuku itu memang binatang,"

Ujar Tio Tay Seng mencaci.

"Tak punya perasaan, tak punya nurani dan...."

"Ayah!"

Tio Hong Hoa menatapnya dengan wajah muram.

"Jangan mencacinya...."

"Aaaakh...!"

Keluh Tio Tay Seng. Itu membuat Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin saling memandang.

"Apa gerangan yang telah terjadi?"

Tanya Kou Hun Bijin.

"Dia telah meninggalkan kami,"

Sahut Tio Hong Hoa memberitahukan sambil tersenyum getir.

"Apa?!"

Kou Hun Bijin dan Kim Siauw Suseng terbelalak.

"Lie Man Chiu sudah mati?"

"Dia memang telah mampus!"

Sahut Tio Tay Seng dengan wajah dingin.

"Ayah...."

Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala kemudian memberitahukan.

"Dia tidak mati, melainkan meninggalkan pulau ini."

"Oh?"

Kim Siauw Suseng tertegun.

"Kenapa dia meninggalkan pulau ini?"

"Dia...."

Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Dia ingin mengangkat namanya di rimba persilatan."

"Apa?"

Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.

"Kenapa dia jadi begitu?"

"Itu sungguh di luar dugaan!"

Kou Hun Bijin mengge1eng~ge1engkan kepala.

"Padahal dia murid Tayli Lo Ceng, namun bersifat begitu."

"Tayli Lo Ceng memang ke mari sete!ah mantu sialan itu pergi."

Tio Tay Seng memberitahukan.

"Kepala gundul itu bilang apa?"

Tanya Kou Hun Bijin.

"Padri tua itu bilang bahwa semuanya itu adAlah takdir dan suatu karma"

Sahut Tio Tay seng sambil menggelenggelengkan kepala.

"Ayahku pernah meninggalkan ibu, maka putriku harus menerima karma perbuatan itu."

"Kepala gundul berkata begitu?"

Tanya Kou Hun Bijin dengan kening berkerut-kerut.

"Ya."

Tio Tay Seng mengangguk.

"Hm!"

Dengus Kou Hun Bijin.

"Kalau aku bertemu kepala gundul itu, pasti menggetok kepalanya!"

"Bijin...."

Kim Siauw Suseng menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan omong sembarangan!"

"Kepala gundul itu selalu mengatakan takdir dan karma! Padahal Lie Man Chiu tak punya perasaan dan nurani, namun kepala gundul itu masih membela murid sialannya dengan alasan takdir dan karma! Dasar kepala gundul...,"

Sahut Kou Hun Bijin sengit.

"Oh ya!"

Tanya Kim Siauw Suseng.

"Sudah berapa lama dia meninggalkan kalian?"

"Sudah lima tahun,"

Jawab Tio Hong Hoa dengan wajah murung.

"Dia pernah pulang?"

Tanya Kim Siauw Suseng lagi.

"Tidak pernah."

Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Dasar lelaki sialan!"

Caci Kou Hun Bijin.

"Kalau aku bertemu dia, pasti kuhajar dia sambil merangkak-rangkak!"

"Bijin...."

Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.

"Jangan bicara sembarangan tidak baik"

"Eh?"

Kou Hun Bijin melotot.

"Bijin, kita adalah tamu. Jangan lupa lho!"

Kim Siauw Suseng mengingatkannya "Harus tahu diri dikit."

"Huaha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Sungguh tak disangka, Kim Siauw Suseng berubah begitu sungkan! Ha ha ha.!"

"Pengemis bau!"

Wajah Kim Siauw Suseng kemerahmerahan "Oh ya, di mana It Sim Sin Ni?"

"ibuku telah meninggal,"

Sahut Tio Tay Seng memberitahukan dengan wajah murung.

"Hah? Apa?"

Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin tertegun.

"It Sim Sin Ni sudab meninggal?"

"Ya."

Tio Tay Seng mengangguk.

"Yaaah!"

Kou Hun Bijin mengheja napas panjang.

"Tak disangka sama sekali."

Hening seketika suasana, berselang beberapa saat kemudian, Kou Hun Bijin memandang Tio Cie Hiong seraya bertanya.

"Cie Hiong, engkau tidak punya anak?"

"Punya."

Tio Cie Hiong memberitahukan "Anak laki-laki, namanya Tio Bun Yang."

"Oh?"

Wajah Kou Hun Bijin berseri.

"Dimana dia? Cepat panggil dia kemari, aku ingin melihatnya!"

"Dia tidak berada disini,"

Sahut Lim Ceng Im.

"Sudah sebulan dia berangkat ke Gunung Thian San bersama kauwheng."

"Mau apa putra kalian ke Gunung Thian San?"

Tanya kim Siauw Suseng heran.

"Berlatih lweekang di sana,"

Sahut Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Kauw-heng yang mengusulkan."

"Oooh!"

Kim Siauw SusEng manggut-manggut.

"Sayang sekali"

Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh ya, sudah berapa usianya?"

"Lima betas tahun"

Lim Ceng Im memberitahukan dan bertanya "Memangnya kenapa dan ada apa, Bibi?"

"Bagus!"

Kou Hun Bijin tertawa "Putriku berusiA empat belas tahun"

"Bagus!"

Sahut Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.

"Bijin, Bun Yang tampan sekali, bahkan lemah lembut dan sudah menguasai seluruh kepandaian Cie Hiong, dia pun sangat cerdas."

"Pengemis bau!"

Kim Siauw Suseng tertawa "Mulai mempromosi ya?"

"Kira-kira begitulah,"

Sahut Sam Gan Sin Kay lalu memandang Siang Koan Goat Nio "Sastrawan siatan! Putrimu cantik sekali"

"Betul"

Kim Siauw Suseng mengangguk dan menambahkan.

"Bahkan lemah lembut"

"Dia pun telah menguasai seluruh kepandaian kami,"

Sambung Kon Hun Bijin melanjutkan.

"juga pandai meniup suling"

"Bun Yang pun pandai sekali meniup suling, Cie Hiong menghadiahkan suling pualam kepadanya,"

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Suara sulingnya sungguh mEnggetarkan kalbu,"

Sela Tio Tay Seng.

"Siapa yang mendengarnya pasti terlena."

"Ha ha ha!"

Kim Siauw Suseng tertawa gelak.

"Aku pun telah menghadiahkan suling emas kepada putriku"

"Siapa yang mendengar suaranya, sukmanya pasti terbetot keluar,"

Sambung Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring "Ibu...? Wajah Siang Koan Goat Nio tampak kemerahmerahan "Wuah! Untung...,"

Ujar Sam Gan Sin Kay dengan wajah serius.

"Apa maksudmu, pengemis bau?"

Tanya Kim Siauw Suseng sambil menAtapnya tajam.

"Untung apa?"

"Putrimu itu...."

Sam Gan Sin Kay tersenyum.

"Kenapa dia"?"

Tanya Kim Siauw Suseng.

"Untung tidak memiliki kebiasaan buruk ibunya,"

Sahut Sam Gan Sin Kay memberitahukan.

"Ibunya sering tertawa nyaring dan cekikikan, bukankah itu merupakan kebiasaan buruk?"

"Hi hi his"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Pengemis bau! Kalau engkau berani nyerocos yang bukan-bukan, pipimu pasti bengkak!"

"Maaf! Maaf!"

Ucap Sam Gan Sin Kay, lalu diam tak bersuara lagi.

"Oh ya, Adik kecil!"

Kou Hun Bijin memandang Tio Cie Hiong.

"Engkau harus mewariskan sedikit kepandiaanmu kepada putriku, jangan pelit lho!"

"Kakak!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku memang berniat demikian."

"Oh?"

Kou Hun Bijin tertawa gembira.

"Goat Nio cepatlah mengucapkan terima kasih kepada Paman Cie Hiong!"

"Terima kasih, Paman!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Cie Hiong!"

Kim Siauw Suseng tertawa.

"Engkau ingin mewariskan kepandaian kepada putriku?"

"Tujuh jurus Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Pemusnah Kepandaian)."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Dan Cit Loan Kiam Hoat (ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling)."

"Apa?"

Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin terbelalak.

"Cit Loan Kiam Hoat?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Ilmu ciptaanku, yang kalau tidak dalam keadaan bahaya, tidak boleh dikeluarkan."

"Kenapa?"

Tanya Kou Hun Bijin.

"Sebab ilmu tersebut sangat lihay dan ganas, yang setiap jurusnya pasti mematikan lawan,"

Jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Cie Hiong, maukah engkau memperlihatkan ilmu itu? Kami ingin menyaksikannya,"

Ujar Kim Siauw Suseng.

"Tentu mau."

Tio Cie Hiong tersenyum sambil bangkit berdiri.

"Goat Nio, mana suling emasmu? Pinjamkan kepadaku!"

"Ya, Paman."

Siang Koan Goat Nio segera menyerahkan suling emasnya.

Hatinya girang bukan main sebab kedua orang tuanya selalu memuji kepandaian Tio Cie Hiong, dan kini ia mempunyai kesempatan untuk menyaksikannya.

Tio Cie Hiong melangkah ke tengah-tengah ruangan, mempertunjukkan Cit Loan Kiam Hoat, ilmu ciptaannya.

Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin menyaksikannya dengan mata terbelalak, kemudian merasa berkunang-kunang dan pusing.

Begitu pula Siang Koan Goat Nio.

Bahkan gadis itu memejamkan matanya, tidak berani terus menyaksikannya karena merasa pusing sekali.

Berselang beberapa saat, barulah Tio Cie Hiong menghentikan gerakannya.

Dikembalikannya suling emas itu kepada Siang Koan Goat Nio, lalu kembali ke tempat duduknya.

"Adik kecil..."

Kou Hun Bijin menatapnya dengan mata terbeliak.

"Betulkah engkau yang menciptakan Cit Loan Kiam Hoat itu?"

"Betul."

Tio Cie Hiong mengangguk kemudian memberitahukan.

"Itu berdasarkan ilmu pedang Im Sie Hong Mo dan Pek Ih Hong Li."

"Bukan main hebatnya ilmu pedang itu!"

Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya.

"Adik kecil, betulkah engkau akan mengajarkannya kepada Goat Nio?"

"Tentu."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Bagaimana mungkin aku bohong? Bahkan aku juga akan mengajarkan kepada Ai Ling, jadi mereka berdua bisa berlatih bersama-sama."

"Terima kasih, Paman!"

Ucap Lie Ai Ling cepat.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa mendadak sambil menatap Kim Siauw Suseng.

"Sastrawan sialan! Kenapa engkau diam saja."

"Pengemis bau!"

Sahut Kim Siauw Suseng sambil menghela nafas panjang.

"Aku mAsih merasa pusing gara-gara menyaksikan Ilmu Pedang Cit Loan Kiam Hoat itu."

"Oh?"

Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Sastrawan sialan, kita adalah Bu Lim Ji Khie, namun sudah ketinggalan jauh."

"Benar."

Kim Siauw Suseng manggut-manggut.

"O!eh karena itu, lebih baik kita hidup tenang saja."

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Aku memang hidup tenang di pulau ini, setiap hari cuma main catur dengan Tio Tocu."

"Oh?"

Kim Siauw Suseng merasa tertarik.

"Aku mau bergabung untuk main catur, kalian tidak berkeberatan, bukan?"

"Tentu tidak,"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Pasti kami terima dengan dada terbuka."

"Hi hi hi!"

Mendadak Kou Hun Bijin tertawa geli.

"Eh?"

Sam Gan Sin Kay heran.

"Bijin, kenapa engkau tertawa geli? Apa yang menggelikan?"

"Barusan engkau bilang apa, pengemis bau?"

Sahut Kou Hun Bijin.

"Aku bilang... pasti kami terima dengan dada terbuka,"

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Kenapa?"

"Dada terbuka? Jadi kalian ingin terima suamiku dengan dada terbuka?"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Eh? Itu..."

Wajah Sam Gan Sin Kay langsung memerah.

"Itu cuma arti kiasan lho!"

"Hi hi hi..."

Kou Hun Bijin masih tertawa cekikikan.

"Oh ya!"

Tio Tay Seng teringat sesuatu.

"Karena Goat Nio akan belajar di sini, maka kalianpun harus tinggal di sini."

"Itu sudah pasti,"

Sahut Kou Hun Bijin.

"Pulau Hong Hoang To ini sangat indah dan tenang, aku ingin menikmatinya."

"Bagus, bagus!"

Sambung Kim Siauw Suseng.

"Jadi aku juga bisa main catur dengan pengemis bau dan Tio Tocu! Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Siang Koan Goat Nio berlatih bersama Lie Ai Ling. Kelihatannya mereka sangat cocok, karena rnerekA selalu bercanda ria di saat beristirahat.

"Goat Nio!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Aku tidak menyangkA, ibumu sUdah berusia seratus tahun lebih. Pada hal kelihatan baru berusia empat puluhAn, lagi pula ibumu cantik sekali."

"Al Ling!"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Kedua orang tuaku awet muda, maka tampak masih muda."

"Engkau juga awet muda?"

"TEntu tidak, karena aku tidak pernah makan buah ajaib, yang membuat diriku awet muda"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Oh ya, usia ibumu barU empat puluhan, namun...."

"Tampak tua dan rambutnya pun mulai memutih, bukan?"

"Aaaah!"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Ibuku sungguh menderita, dia hidup dengan batin tertekan."

"Ai Ling""

Siang Koan Goat Nio menatapnya lembUt.

"Terus terang, aku tidak menyangka ayahmu..."

"Tak punya perasaan dan nurani, bukan?"

"Ya"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan.

"Aku jadi takut kepada kaum lelaki. Daripada punya suami seperti ayahmu, lebih balk tidak menikah."

"Benar."

Lie Ai Ling mengangguk. ."Aku sependapat denganmu, tapi... tidak semua lelaki seperti ayahku. Misalnya paman Cie Hiong, dia begitu mencintai dan menyayangi anak isterinya."

"Oh ya!"

Mendadak wajab Siang Koan Goat Nio tampak agak memerah.

"Bagaimana sifat Tio Bun Yang?"

"Dia adalah pemuda yang paling baik di dunia,"

Sahut Lie Ai Ling memberitahukan.

"Lemah lembut, penuh pengertian dan berhati bajik pula."

"Oh?"

Wajah Siang Koan Goat Nio berseri.

"Ai Ling, kalian berdua besar bersama, tentunya saling... mencintai, kan?"

"Memang."

Lie Ai Ling mengaugguk.

"Dia sangat menyayangi dan mencintaiku, begitu pula aku terhadapnya."

"Oh, ya?"

Wajah Siang Koan Goat Nio langsung berubah muram.

"Kalian kalian akan menikah kelak."

"Apa?!"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Kami akan menikah kelak?"

"Lho? Bukankah kalian sudah saling mencinta? Tentunya akan menikah kelak. Ya, kan?"

"Tidak mungkin."

Lie Ai Ling tertawa geli.

"Kenapa?"

Siang Koan Goat Nio tercengang.

"Karena..."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Hubungan kami bagaikan saudara kandung, tentunya tidak akan menikah kelak. Eeeh? Kelihatannya engkau sangat memperhatikan Kakak Bun Yang, jangan2..."

"Aku...."

Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Oooh!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Ternyata engkau tertarik kepadanya. Terus terang, Kakak Bun Yang tampan sekali. kalau engkau melihatnya, pasti akan jatuh cinta."

"Ai Ling Wajah Siang Koan Goat Nio memerah lagi.

"Jangan bicara yang bukan-bukan!"

"Aku bicara sesungguhnya."

Lie Ai Ling tampak serius.

"Sejak kecil kami selalu bersama, jadi aku tahu jelas bagaimana sifat, watak dan prilakunya. Engkau cantik sekali, juga lemah lembut. Maka... kalian merupakan pasangan yang serasi "Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio tertawa kecil "Aku belum bertemu dia, dia pun belum bertemu aku...."

"Namun begitu bertemu, kalian pasti saling jatuh cinta,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Aku yakin itu."

"Ai Ling,"

Tanya Siang Koan Goat Nio setengah berbisik.

"Betulkah dia pandai sekali meniup suling?"

"Betul"

Lie Ai Ling mengangguk dan menambahkan.

"Bahkan kepandaiannya pun sudah tinggi sekali"

"Tapi"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Belum tentu dia AkAn menaruh perhatian kepadaku."

"Goat Nio!"

Lie Al Ling tersenyum.

"Pokoknya aku siap membantu dalam hal ini. Terus terang, aku tidak menghendaki dia jatuh cinta kepada gadis yang tak kusukai."

"Kenapa begitu?"

Tanya Siang Koan Goat Nio.

"Sebab dia kakakku,"

Sahut Lie Ai Ling sambil menatapnya.

"Aku menyukaimu, maka dia boleh jatuh cinta kepadamu."

"Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Engkau harus ingat satu hal, itu ada baiknya bagimu."

"Mengenai hal apa?"

Tanya Lie Ai Ling heran.

"Cinta jangan dipaksa, lagi pula harus tumbuh di kedua pihak."

Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Kalau cuma tumbuh sepihak, itu percuma."

"Oooh!"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"AkU mengerti, terima kasih atas petunjukmu!"

"Ha ha ba!"

Terdengar suara tawa, kemudian muncul Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin, TIo Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

"Kenapa kalian tidak berlatih, malah terus mengobrol tak henti-hentinya?"

"Ayah, Ibu, Paman, Bibi!"

Panggil Siang Koan Goat Nio. Lie Ai Ling juga memanggil mereka sambil tertawa.

"Kami berdua sedang membicarakan sesuatu."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Oh?"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kalian mem-bicarakan apa? Bolehkah aku tahu?"

"Itu... mengenai kakak Bun Yang."

Lie Ai Ling memberitahukan, Lalu menunjuk Siang Koan Goat Nio.

"Dia terus bertanya tentang Kakak Bun Yang."

"Eh? Ai Ling!"

Wajah gadis itu langsung memerah.

"Aku...."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Bagus, bagus sekali! Goat Nio memang harus tahu jelas mengenal Bun Yang. Hi hi hi...!"

"Ibu!"

Siang Koan Goat Nio menundukkan wajahnya dalamdalam.

"Ai Ling,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Engkau boleh memberitahukannya mengenai Bun Yang, tapi... tidak boleh menambah bumbu.

"Paman!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Ai Ling memberitahukan apa adanya, tidak dikurangi maupun ditambah. Itu juga sudah cukup membuat Goat Nio tertarik. Padahal Goat Nio belum melihat Kakak Bun Yang, apa lagi melihatnya...."

"Ai Ling!"

Siang Koan Goat Nio mencubit lengan gadis itu.

"Aduh!"

Jerit Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Engkau jangan galak-galak terhadapku! Nanti aku tidak mau membantumu, baru tahu rasa!"

"Ha ha ha!"

Kim Siauw Suseng tertawa gelak.

"Ai Ling, biar bagaimana pun engkau harus membantunya. Sebab... dia sudah tertarik kepada Bun Yang."

"Ayah!"

Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Eeeeh?"

Kou Hun Bijin terbelalak.

"Tak kusangka anakku sudah bisa cemberut, itu pertanda ada kemajuan! Hi hi hi!"

"Ibu...."

Slang Koan Goat Nio membanting-banting kaki.

"Wuah!"

Kim Slauw Suseng tertawa terbahak-bahak.

"Bertambah maju lagi sekarang, karena sudah bisa membanting-banting kaki!"

"Ayah...."

Siang Koan Goat Nio betut-betul salah tingkah digoda kedua orang tuanya.

"Goat Nio!"

Lim Ceng Im tersenyum lembut sambil mendekatinya, kemudian tanyanya berbisik.

"Betulkah engkau tertarik kepada Bun Yang?"

"Maaf, Bibi!"

Jawab Siang Koan Goat Nio dengan suara rendah.

"Goat Nio tidak berani memastikan, sebab... belum bertemu dia."

"Menurut bibi...."

Lim Ceng Im tersenyum lagi.

"Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi."

"Bibi...."

Wajah Siang Koan Goat Nio memerah.

"Jangan bisik-bisik!"

Ujar Kou Hun Bijin.

"Kami tidak dengar nih."

"Itu tidak apa-apa,"

Sahut Kim Siauw Suseng sambil tertawa.

"Mereka memang harus ada pendekatan."

"Adik kecil!"

Kou Hun Bijin menatapnya.

"Bagaimana menurutmu, putriku cocok dengan putramu?"

"Menurutku, mereka memang cocok,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Tapi itu juga tergantung pada mereka, sebab mereka belum bertatap muka."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa.

"Aku senang sekali, apabila putriku berjodoh dengan putramu."

Katanya blakblakan.

"Aku pun senang sekali,"

Sambung Kim Siauw Suseng.

"Sama,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Mereka memiliki sifat yang sesuai, lemah lembut dan serasi pula."

"Ngmm!"

Kou Hun Bijin manggut-manggut.

"Oh ya, kapan putramu pulang?"

"Entahlah."

Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.

"Mungkin... dua tahun lagi, sebab dia berlatih lweekang di Gunung Thian San!"

"Kalau begitu...,"

Ujar Kou Hun Bijin sungguh-sungguh.

"Kami akan tinggal di sini dua tahun."

"Asyiiik!"

Seru Kim Siauw Suseng girang.

"Lho?"

Kou Hun Bijin mengerutkan kening.

"Kok engkau yang asyik?"

"Karena aku bisa terus main catur dengan pengemis bau dan Tio Tocu. Nah, bukankah itu asyik sekali?"

Sahut Kim Siauw Suseng sambil tertawa.

"Ha ha ha!" -oo0dw0oo-Bagian Ke Sepuluh Dibunuh orang misterius Sudah lima tahun lebih Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan ikut Tayli Lo Ceng. Maka tidak heran kalau Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng rindu sekali kepada putra mereka. Begitu pula Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian, mereka pun rindu sekali kepada Lam Kiong Soat Lan, putri mereka itu.

"Sudah lima tahun lebih, kenapa mereka masih belum pulang?"

Keluh Toan Wie Kie sambil menggeleng~ge1engkan kepala. Mereka berempat duduk dekat taman bunga. Wajah mereka tampak muram memikirkan Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Mungkin mereka belum berhasil menguasai ilmu-ilmu yang diwariskan Tayli Lo Ceng,"

Tukas Gouw Sian Eng.

"Itu memang mungkin."

Toan Wie Kie manggut-manggut.

"Biar bagaimana pun...,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Kita harus tetap bersabar, mungkin tidak lama lagi mereka akan pulang."

"Bagaimana kalau kita ke Gunung Thay San menemui mereka?"

Tanya Toan Pit Lian mendadak seakan mengusulkan.

"Tidak mungkin."

Toan Wie Kie menggelengkan kepala.

"Lagi pula ayah tidak akan mengijinkan kita pergi ke sana."

"Benar."

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Lebih baik terus bersabar menunggu saja."

"Tapi...."

Toan Pit Lian menghela nafas panjang.

"Aku sudah rindu sekali kepada Soat Lan."

"Kami pun rindu sekali kepada Beng Kiat,"

Ujar Gouw Sian Eng.

"Namun kita tidak boleh kesana menemui mereka, karena ayah pasti gusar."

"Betul."

Toan Wie Kie mengangguk.

"Memang lebih baik kita bersabar saja, jangan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."

Di saat bersamaan, tampak Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin menghampiri mereka sambil tersenyum.

"Ternyata kalian berada di sini!"

Ujar Tui Hun Lojin.

"Kalian sedang membicarakan apa?"

"Membicarakan Beng Kiat dan Soat Lan,"

Jawab Toan Wie Kie.

"Sudah lima tahun lebih mereka berdua ikut Tayli Lo Ceng, namun masih belum pulang."

"Jadi kalian rindu kepada mereka?"

Tanya Lam Kiong hujin.

"Ya, Ibu."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Kami pun sangat merindukan mereka, tapi kita harus tetap sabar menunggu,"

Ujar Lam Kiong hujin.

"Tadi Pit Lian mengusulkan...."

Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.

"Ke Gunung Thay San menemui mereka.

"Tidak mungkin."

Tui Hun Lojin menggelengkan kepala.

"Sebab akan menggusarkan Hong Ya."

"Karena itu, usul Pit Lian kami tolak,"

Ujar Toan Wie Kie.

"Lebih baik tetap bersabar menunggu mereka pulang."

"Begini...,"

Ujar Tui Hun Lojin.

"Biar aku yang ke Gunung Thay San menemui mereka, sebab aku pun ingin ke markas pusat Kay Pang menemui Han Tiong."

"Kalau begitu...,"

Sela Lam Kiong hujin.

"Aku ikut, karena aku memang sudah rindu sekali kepada Soat Lan."

"Baik."

Tui Hun Lojin mengangguk.

"Setelah itu, kita ke mari bersama Beng Kiat dan Soat Lan."

"Tapi Ibu harus berunding dulu dengan Hong Ya,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Tentu."

Lam Kiong hujin manggut-manggut sambil tersenyum.

"Tidak mungkin kami akan pergi secara diamdiam."

"Kalau begitu, mari kita pergi menemui Hong Ya!"

Ajak Tui Hun Lojin sekaligus melangkah kedalam.

Lam Kiong hujin segera mengikutinya, sedangkan Lam Kiong Bie Liong, Toan Pit Lian, Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng cuma saling memandang.

Sementara Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin sudAh sampai di ruang tengah, kebetulan Toan Hong Ya sedang duduk di situ.

"Hong Ya!"

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin memberi hormat.

"Oh!"

Toan Hong Ya tersenyum.

"Silakan duduk!"

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin duduk. Toan Hong Ya memandang mereka seraya bertanya.

"Ada sesuatu penting?"

"Hong Ya!"

Tui Hun Lojin memberitahukan.

"Kami sangat rindu kepada Beng Kiat dan Soat Lan, maka... kami ingin ke Gunung Thay San menemui mereka."

"Oooh!"

Toang Hong Ya manggut-manggut.

"Baiklah! Tolong sampaikan salamku kepada Tayli Lo Ceng!"

"Ya, Hong Ya."

Tui Hun Lojin mengangguk.

"Kapan kalian mau berangkat ke Tionggoan?"

Tanya Toan Hong Ya.

"Besok? jawab Lam Kiong hujin.

"Kalau begitu..."

Ujar Toang Hong Ya.

"Aku akan menyuruh pengawal menyediakan dua ekor kuda jempolan untuk kalian."

"Terima kasih, Hong Ya!"

Ucap Lam Kiong hujin dan Tui Hun Lojin serentak, lalu meninggalkan ruangan itu dan kembali ketaman bunga.

"Bagaimana Ibu?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Hong Ya memperbolehkan ibu ke Gunung Thay San?"

"Ya."

Lam Kiong hujin tersenyum.

"Kapan Kakek berangkat?"

Tanya Gouw Sian Eng.

"Besok,"

Sahut Tui Hun Lojin.

"Kakek juga ingin ke markas pusat Kay Pang menemui ayahmu, karena sudah lama kakek tidak bertemu ayahmu."

"Hati-hati Kakek!"

Pesan Gouw Sian Eng.

"Hati-hati Ibu!"

Pesan Lam Kiong Bie Liong. Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin tersenyum sambil manggut-manggut, kemudian Tui Hun Lojin berkata.

"Kalian tidak usah mencemaskan kami, kami pasti kembali bersama Beng Kiat dan Soat Lan."

Siapa pun tidak akan menyangka, bahwa kepergian Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin justru untuk selama-lamanya.

-oo0dw0oo-Tampak dua ekor kuda berlari kencang meninggalkan Tayli.

Penunggangnya adalah Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin, yang keduanya tampak berseri-seri.

"Lam Kiong hujin,"

Ujar Tui Hun Lojin.

"Kita mampir dulu ke markas pusat Kay Pang, setelah itu barulah ke GuNung Thay San. Bagaimana?"

"Tidak apa-apa,"

Sahut Lam Kiong hujin.

"Sebab harus melewati daerah markas pusat Kay Pang, tidak ada salahnya kalau kita mampir dulu ke sana."

"Lam Kiong hujin!"

Tui Hun Lojin tertawa.

"Sudah lima tahun lebih kita tidak bertemu Beng Kiat dan Soat Lan, mereka pasti sudah besar."

"Tentu."

Lam Kiong hujin tersenyum.

"Kini mereka sudah remaja. Jangan-jangan kita tidak akan mengenali mereka lagi."

"Mungkin."

Tui Hun Lojin tertawa gelak.

"Ha ha ha...!"

Beberapa hari kemudian, mereka sudah memasuki daerah Tionggoan, maka kedua-duanya merasa gembira.

Ketika hari mulai sore, sampailah mereka disebuah lembah.

Tiba-tiba Tui Hun Lojin mengerutkan kening seraya berkata.

"Lam Kiong hujin, kenapa perasaanku tidak enak? Mungkinkah akan terjadi sesuatu?"

"Oh?"

Lam Kiong hujin juga mengerutkan kening, dan kemudian mereka menghentikan kuda masing-masing.

"Heran!"

Gumam Tui Hun Lojin.

"Kenapa mendadak muncul perasaan yang tidak enak?"

Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa yang sangat menyeramkan lalu melayang turun sosok bayangan kebijau.hjjauan.

"Siapa! bentak Tui Hun Lojin sambil meloncat turun dan punggung kudanya. Begitu pula Lam Kiong hujin.

"Hmm!"

Dengus orang yang baru muncul itu. Orang itu mengenakan jubah bijau, mukanya berbentuk segi empat, bermata besar dan memancarkan sinar kehijau~hijauan.

"Engkau pasti Tui Hun Lojin!"

Orang itu menunjuknya kemudian menunjuk Lam Kiong hujin.

"Dan engkau pasti Lam Kiong hujin!"

"Benar!"

Tui Hun Lojin mengangguk.

"Siapa engkau, kenapa menghadang perjalanan kami?"

"He he he!"

Orang itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Hari ini kalian berdua harus mampus! Setelah kalian mampus, aku akan ke Kwan Gwa Siang Koay mencani Siang Koay dan Lak Kui!"

"Beritahukan!"

Desak Tui Hun Lojin.

"Siapa engkau? Ada permusuhan apa di antara kita?"

"Aku adalah Seng Hwee Sin Kun (Si Malaikat Api Suci), adik seperguruan Ang Bin Sat Sin (Algojo Muka Merah)!"

Orang itu memberitahukan.

"Maka hari ini kalian harus mampus!"

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong bujin saling memandang, kelihatannya mereka berdua sudah siap bertarung dengan Seng Hwee Sin Kun.

"He he be?"

Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh dan mendadak sepasang telapak tangannya berubah kehijauhijauan, bahkan mengeluarkan hawa yang sangat panas.

"Lam Kiong hujin!"

Pesan Tui Hun Lojin.

"Kita harus berhati-hati! Kita tidak membawa senjata, terpaksa melawannya dengan tangan kosong!"

"He he he!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh lagi, lalu mulai menyerang Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.

Mereka berdua segera berkelit dan balas menyerang dengan ilmu andalan masing-masing.

Terjadilah pertarungan sengit.

Kira-kira dua puluh jurus kemudian, Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mulai berada di bawah angin.

Betapa terkejutnya mereka berdua.

Sebab hawa pukulan pihak lawan membuat mereka terasa seperti terbakar, dan mereka sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apa itu.

"He he he! He he he!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa seram.

"Kini sudah waktunya kalian mampus!"

Mendadak sepasang telapak tangan Seng Hwee Sin Kun tampak membara, dan ia langsung menyerang Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.

Mereka berdua terpaksa menangkis, karena tiada kesempatan untuk berkelit.

"Aaaakh! Aaakh!"

Terdengar suara jeritan yang sangat menyayat hati.

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin terhuyung-huyung kemudian roboh dan nyawa mereka melayang seketika.

Sungguh mengerikan kematian mereka, sekujur badan mereka hangus seperti terbakar.

"He he he!"

Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak, lalu melesat pergi dan masih tertawa.

Mayat Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin dibiarkan tergeletak di situ.

-oo0dw0oo0 Hening sekali suasana dimarkas pusat Kay Pang, para anggota semuanya diam dan tampak berduka pula.

Di ruang depan, tampak Lim Peng Hang, Gouw Hang Tiong dan empat pelindung hukum duduk di situ dengan kening berkerut-kerut.

Wajah Gouw Han Tiong pucat pias dan matanya agak membengkak.

"Saudara Gouw, jangan terlampau berduka! Yang penting kita harus menyelidiki siapa pembunuh ayahmu dan Lam Kiong hujin."

Kata Lim Peng Hang sambil menatapnya.

"Aku yakin ayahku dan Lam Kiong hujin menuju kemari dan Tayli, tapi mereka berdua terbunuh di lembah itu. Siapa pembunuh itu?"

Gumam Gouw Han Tiong "Sekujur badan mereka hangus, terkena semacam pukulan,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Kita tidak pernah mendengar ada ilmu pukulan seperti itu dalam rimba persilatan."

"Itu adalah ilmu pukulan yang mengandung api,"

Ujar salah seorang pelindung hukum.

"Dapat dibayangkan, betapa tingginya lweekang pembunuh itu!"

"Benar."

Lim Peng Hang manggut.-manggut.

"Mungkin aku juga tidak akan sanggup menyambut pukulan itu. Heran? Kenapa bisa muncul ilmu pukulan seperti itu dalam rimba persilatan?"

"Aaaah!"

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Aku tidak menyangka kalau ayahku dan Lam Kiong hujin akan mati begitu mengenaskan. Kenapa mereka kemari.,.?"

"Saudara Gouw,"

Ujar Lim Peng Hang sungguh-sungguh.

"Kita harus menyuruh beberapa orang pergi menyelidiki pembunuh itu."

"Kami berempat siap melaksanakan tugas itu, ketua,"

Ujar salah seorang pelindung hukum.

"Kalian berempat tidak boleh meninggalkan markas pusat ini,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Lebih baik suruh beberapa orang anggota peringkat ketujuh untuk menyelidikinya!"

"Ya, Ketua."

"Saudara Gouw!"

Lim Peng Hang menatapnya.

"Engkau punya rencana?"

Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Bagaimana kalau begini...,"

Usul Lim Peng Hang.

"Saudara berangkat ke Tayli memberitahukan kepada Siang Eng dan Lam Kiong Bie Liong, sedangkan aku berangkat ke Pulau Hong Hoang To memberitahukan kepada ayahku dan Tio Cie Hiong?"

"Ngmm!"

Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Aku memang harus ke Tayli memberitahukan kepada mereka."

"Kalau begitu, kita berangkat besok pagi,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Baik."

Gouw Han Tiong mengangguk.

"Si Hu Huat (Empat Pelindung Hukum)!"

Lim Peng Hang memberi perintah.

"Kalian berempat tidak boleh meninggalkan markas, suruh beberapa anggota peringkat ketujub menyelidiki pembunuh itu!"

"Kami terima perintah, Ketua,"

Sahut keempat pelindung hukurn serentak sambil memberi hormat.

Keesokan harinya, Gouw Han Tiong berangkat ke Tayli dengan menunggang kuda, sedangkan Lim Peng Hang berangkat ke pulau Hong Hoang To.

Belasan hari kemudian, Lim Peng Hang sudah tiba di pulau tersebut.

Kedatangannya membuat Sam Gan Sin Kay, Tio Tay Seng dan lainnya terheran-heran, sebab wajah Lim Peng Hang tampak murung.

"Ayah! panggil Lim Ceng Im cemas.

"Ceng Im!"

Lim Peng Hang tersenyum getir Tio Cie Thong segera memberi hormat, namun tidak bertanya apa pun.

Sedangkan Sam Gan Sin kay terus menatapnya dengan perasaan tegang, berselang sesaat barulah membuka mulut.

"Peng Hang,"

Telah terjadi sesuatu di Kay Pang?"

"Tidak,"

Jawab Lim Peng Hang.

"kalau tidak, kenapa wajahrm begitu murung?"

Sam Gan Sin Kay mengerutkan kening.

Ketika Lim Peng Hang bAru mau menjawab, mendadak muncul Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

Lim Peng Hang segera memberi hormat, Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin memandangnya dengan penuh rasa heran, sebab wajah ketua Kay Pang itu tampak murung sekali "Lim Pangcu, kenapa wajahmu...?

Kim Siauw Suseng terus memandangnya.

"Aaaah ~"

Lim Peng Hang menghela nafas panJang "Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin terbunuh di sebuah lembah"

"Apa"

Semua orang terkejut, bahkan Sam GaN Sin Kay sampai meloncat bangun saking kagetnya "Peng Hang! Engkau bilang apa?"

Tanya Sam Gan Sin Kay dengan wajah pucat pias.

"Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin terbunuh di sebuah lembah!"

Jawab Lim Peng Hang mengulanginya.

"Setan tua itu...."

Mata Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng tampak basah.

"Siapa pembunuh itu?"

Tanya Tio Tay Seng.

"Entahlah."

Lim Peng Hang menggelengkan kepala sambil memberitahukan.

"Sekujur badan mereka hangus seperti terbakar."

"Apa?"

Sam Gan Sin Kay Lerkejut.

"Apakah mereka dibakar?"

"Bukan,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Kelihatannya mereka terkena semacam ilmu pukulan."

"Ilmu pukulan apa itu?"

Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.

"Itu adalah ilmu pukulan yang mengandung api,"

Ujar Kou Hun Bijin.

"Tergolong ilmu sesat."

"Bijin tahu tentang ilmu pukulan itu?"

Tanya Sam Gan Sin Kay.

"Tidak begitu jelas."

Sahut Kou Hun Bijin.

"Kalau tidak salah, ilmu itu berasal dari Persia. Tapi... selama dua ratus tahun ini, tiada seorang pun berhasil mempelajarinya, Namun sungguh mengherankan, kenapa kini ilmu pukulan itu malah muncul?"

"Kakak,"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"Bagaimana kedahsyatan pukulan tersebut?"

"Sangat dahsyat sekali,"

Jawab Kou Hun Bijin.

"Siapa yang terkena pukulan itu, pasti mati hangus."

"Aaaah...!"

Sam Gan Sin Kay menghela nafas panjang.

"Setelah Bu Lim Sam Mo mati, kukira rimba persilatan akan aman, tidak tahunya kini malah muncul bencana lagi, bahkan Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin yang terbunuh!"

"Oh ya!"

Tio Tay Seng memandang Lim Peng Hang seraya bertanya.

"Bagaimana Gouw Han Tiong?"

"Dia berangkat ke Tayli untuk memberitahukan kepada Sian Eng dan Lam Kiong Bie Liong,"

Jawab Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Lam Kiong Bie Liong pasti berduka sekali.

"Heran?"

Gumam Sam Gan Sin Kay.

"Padahal Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin hidup tenang di Tayli, tapi kenapa mereka masih ke TionggoaN?"

"Mungkin ingin menengok Gouw Han Tiong,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Itu memang masuk akal"

Sam Gan Sin Kay manggutmanggut.

"Lalu untuk apa Lam Kiong hujin juga ikut ke Tionggoan?"

"Entahlah."

Lim Peng Hang menggelengkan kepala.

"Oh ya! Di mana Bun Yang?"

"Bun Yang dan kauw-heng pergi ke Gunung Thian San."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Oh?"

Lim Peng Hang tercengang.

"Untuk apa Bun Yang dan kauw-heng pergi kesana?"

"Itu adalah usul kauw-heng,"

Ujar Lim Ceng Im. Bun Yang berlatih lweekang disana."

"Oooh!"

Lim Peng Hang manggut~manggut.

Di saat bersamaan, tampak Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio berjalan ke dalam.

Begitu melihat Lim Peng Hang, Lie Ai Ling langsung memberi hormat.

Begitu pula Siang Koan Goat Nio.

"Ai Ling!"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Engkau sudah besar! Eh? Siapa gadis itu? Sungguh cantik sekali!"

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Dia puteriku."

"Oh?"

Lim Peng Hang terbelalak.

"Bijin masih bisa mempunyai anak?"

"Eeeh?"

Kou Hun Bijin melotot.

"Itu putri kandungku lho! Berarti aku bisa mempunyai anak."

"Maaf, maaf!"

Ucap Lim Peng Hang cepat.

"Oh ya! Di mana Lie Man Chiu? Kenapa dia tidak kelihatan?"

"Dia binatang!"

Sahut Tio Tay Seng dengan wajah merah padam.

"Haah?"

Lim Peng Hang tertegun.

"Dia...."

"Dia telah meninggalkan anak isterinya."

Sam Gan Sin Kay memberitahukan "Dia ingin mengangkat namanya di rimba persilatan."

"Oh?"

Lim Peng Hang tefbelalak.

"Lim Pangcu!"

Tio Tay Seng menatapnya.

"Engkau pernah mendengar tentang dirinya dirimba persilatan?"

"Tidak pernah,"jawab Lim Peng dan bertanya.

"Tio Tocu! Sudah berapa lama dia meninggalkan pulau ini?"

"Sudah lima tahun lebih,"

Jawab Tio Tay Seng kemudian mencaci lagi.

"Dia memang binatang, membuat anak isteri menderita!"

"Padahal..."

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia murid Tayli Lo Ceng."

"Sudahlah!"

Tandas Tio Tay Seng.

"Jangan membicarakan binatang itu, sebab akan merusak suasana!"

"Ayah...."

Lim Peng Hang memandang Sam Gan Sin Kay.

"Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin dibunuh orang misterius, bagaimana rencana Ayah?"

"Ayah sudah tua, lagi pula sudah jemu akan urusan rimba persilatan. Oleh karena itu, ayah tidak mau turut campur mengenai kejadian ini,"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Tapi...? Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Tui Hun Lojin adalah kawan baik Ayah, kenapa Ayah tidak mau turut campur?"

"Peng Hang, ayah ingin hidup tenang di pulau ini. Engkau ingin memaksa ayah mencampuri urusan rimba persiiatan lagi?"

Tegur Sam Gan Sin Kay.

"Lim Pangcu,"

Ujar Kim Siauw Suseng.

"Tui Hun Lojin memang kawan baik kami, tapi kami sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan. Lebih baik engkau saja yang menanganinya."

"Lim Pangcu,"

Sela Tio Tay Seng.

"Kami semua sudah tua, maka ingin hidup tenang."

"Aku mengerti."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Tapi kematian Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin...."

"Peng Hang!"

Bentak Sam Gan Sin Kay.

"Engkau sebagai ketua Kay Pang, tapi kenapa jadi begini?"

"Ayah!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Kepandaian orang misterius itu sangat tinggi."

"Sudahlah! Engkau diam saja!"

Sam Gan Sin Kay mengerutkan kening.

"Jangan mengusik ketenangan di sini!"

"Ayah...,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Kakek memang sudah tahu, dan harus hidup tenang disini. Ayah jangan terus mendesak kakek, lebih baik kita cari jalan lain saja."

"Ayah tahu."

Lim Peng Hang menghela nafas lagi.

"Engkau dan Cie Hiong juga sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan. Tapi kini di rimba persilatan mulai timbul badai. Hiat Ih Hwe dan Tiong Ngie Pay saling membunub."

"Tiong Ngie Pay?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Partai baru dalam rimba persilatan?"

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Menurut dugaanku, ketua perkumpulan itu Yo Suan Hiang."

"Oh, ya?"

Lim Ceng Im tersenyum.

"Hebat juga dia, mampu mendirikan Tiong Ngie Pay! Ayah, bagaimana kekuatan partai itu?"

"Kini sudah kuat sekali."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Banyak pesilat golongan putih bergabung dengan Tiong Ngie Pay, sebab Tiong Ngie Pay selalu membela rakyat, sekaligus melawan Hiat Ih Hwe."

"Siapa ketua Hiat Ih Hwe?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Kalau tidak salah, ketua Hiat Ih Hwe adalah Lu Thay kam,"

Jawab Lim Peng Hang.

"Ayah memperoleh informasi, bahwa Lu Thay Kam berkepandaian tinggi sekali."

"Pusing!"

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Rimba persilatan bakal diterjang badai, sedangkan kerajaan pun akan disapu topan."

"Kini muncul pemberontakan dimana-mana."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Yang memimpin pemberontakan adalah Lie Tsu Seng."

"Peng Hang!"

Sam Gan Sin kay menatapnya tajam.

"Pokoknya Kay Pang jangan terseret kearus pemberontakan, engkau harus ingat itu!"

"Ya, Ayah."

Lim Peng Hang mengangguk dan menambahkan.

"Mengenai kematian Tui Hun Lojin, akan kutangani bersama Gouw Han Tiong."

"Bagus!"

Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.

"Memang harus begitu. Engkau harus tahu, bahwa ayah sudah tahu. Masih kuat hidup berapa lama lagi, tentunya engkau tidak menghendaki ayah cepat-cepat mati, bukan?"

"Ayah, maafkan karena aku tadi mendesak Ayah!"

Ucap Lim Peng Hang sambil menundukkan kepala. Sementara Lim Ceng Im berbisik-bisik kepada Tio Cie Hiong, dan kemudian mereka pun manggut-manggut.

"Eeh?"

Sam Gan Sin Kay memandang mereka.

"Kok kalian berdua malah berbisik-bisik? Mencaci kakek ya?"

"Mana berani kami mencaci kakek?"

Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.

"Kami merundingkan sesuatu."

"Apa yang kalian rundingkan? Bolehkah dibeberkan untuk kami dengar"

Tanya Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.

"Tentu boleh."

Lim ceng Im mengangguk.

"Sebelum Bun Yang berangkat ke Gunung Thian San, kami telah berpesan kepadanya."

"Kalian berpesan apa kepadanya?"

Tanya Sam Gan Sin Kay, yang tidak sabaran.

"Seusai berlatih lweekang di Gunung Thian San, dia harus ke Gunung Hong Lay San menemui Tan Li Cu.

"Setelah Itu, dia pun harus ke markas pusat Kay Pang menemui kakeknya."

Lim Ceng Im memberitahukan.

"Berhubung Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mati terbunuh, maka kami menghendaki Bun Yang membantu kakeknya."

"Bagus, bagus!"

Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.

"Memang sudah waktunya Bun Yang berkecimpung dalam rimba persilatan."

"Tunggu dulu!"

Potong Kou Hun Bijin.

"Kalau begitu, putriku akan sia-sia menanti di pulau ini?"

"Ha ha ha!"

Tio Tay Seng tertawa gelak.

"Setelah Goat Nio menguasaj ilmu-ilmu yang diajarkan Cie Hiong, bukankah dia boleh pergi mencari Bun Yang?"

"Ngmm!"

Kou Hun Bijin manggut-manggut.

"Betul juga. Tapi... ayahnya setuju atau tidak, harus bertanya kepadanya."

"Aku tidak berkeberatan,"

Sahut Kim Siauw Suseng cepat.

"Sebab Goat Nio pun harus pergi mengembara mencari pengalaman."

"Sastrawan sialan,"

Sela Sam Gan Sin Kay.

"Goat Nio akan pergi mencari Bun Yang mencari pengalaman?"

"Itu...."

Kim Siauw Suseng tergagap.

"Mencari Bun Yang sekaligus mencari pengalaman,"

Jawab Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.

"Hi hi hi! Tidak lama lagi rimba persilatan akan muncul seorang gadis yang cantik jelita!"

"Ayah,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Kalau Bun Yang ke markas pusat Kay Pang, beritahukan kepadanya bahwa ayah sudah ke mari!"

"Itu pasti."

Lim Peng Hang tersenyum.

"Oh ya, Ayah,"

Pesan Lim Ceng Im.

"Kauw heng harus terus mendampingi Bun Yang, sebab kauw heng memiliki panca indera keenam, jadi ada baiknya kauw heng mendampingi Bun Yang."

"Benar."

Lim Feng Hang mengangguk sambil tertawa.

"Tidak lama lagi di rimba persilatan akan muncul seorang pendekar muda yang tampan dan berhati bajik. Ha ha ha...!"

"Yaaah!"

Mendadak Tio Cie Hiong menghela nafas panjang sambjl mengge1eng-gelengkan kepala.

"Kakak Hiong!"

Lim Ceng Im tercengang.

"Kenapa engkau menghela nafas panjang? Apakah ada sesuatu terganjel dalam hatimu?"

"Kita di sini tertawa~tawa, namun di Tayli sana...."

Tio Cie Hiong menghela nafas lagi.

"Jadi keputusan kita yaitu Bun Yang membantu Lim Pangcu? Begitu kan?"

Ujar Kou Hun Bijin mendadak.

"Ya."

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im mengangguk.

"Sedangkan keputusanku... ."

Kou Hun Bijin melirik putrinya.

"Setelah dia menguasai semua ilmu itu, dia harus pergi mencari Bun Yang."

"Tidak salah,"

Sahut Kim Siauw Suseng.

"Kita berdua tetap tinggal di sini, tidak usah pulang ke Kwan Gwa. Sebab pulau ini sungguh indah, udaranya pun segar.dan sejuk."

"Yang lebih nyaman lagi yakni bisa main catur dengan Sam Gan Sin Kay dan Tio Tocu. Ya, kan?"

Sambung Kou Hun Bijin.

"Betul, betul."

Kim Siauw Suseng tertawa gelak.

"Engkau memang isteriku yang baik, tahu hobi suami."

"Merayu nih ye?"

Goda Sam Gan Sin Kay.

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa.

"Dia suamiku, dia senang aku gembira. Dia gembira aku senang, bahkan aku pun harus menuruti perkataannya."

"Yah, ampun!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Begitu mesranya, itu sungguh tak disangka! Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Di dalam sebuah kamar, tampak Tio Hong Hoa duduk di pinggir tempat tidur dengan kening berkerut-kerut, dan Lie Ai Ling duduk di sisinya.

"Bagaimana? Ibu setuju kan?"

Tanya Lie Ai Ling.

"Nak!"

Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Itu urusan nanti, maka lebih baik dibicarakan nanti saja."

"Setelah menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan Paman Cie Hiong, Goat Nio akan pergi mencari Kakak Bun Yang. Ai Ling ingin ikut dia ke Tionggoan mencari ayah?"

"Nak!"

Tio Hong Hoa tersenyum getir.

"Tentang ini akan ibu rundingkan dengan kakekmu. Ibu tidak berani mengambil keputusan sekarang?"

"Kalau begitu, lebih baik Ai Ling beritahukan kepada kakek,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Jangan!"

Tio Hong Hoa menggelengkan kepala.

"Kalau engkau singgung ayahmu, kakekmu pasti marah besar. Lebih baik engkau berunding dengan Paman Cie hong saja. Biar dia yang memberitahukan kepada kakekmu."

"Kalau begitu...."

Wajah Lie Ai Ling berseri.

"Ibu setuju kau ikut Goat Nio pergi ke Tionggoan?"

"Bagaimana mungkin ibu melarangmu,"

Tio Hong Hoa menghela nafas.

"Sebab engkau berhak pergi mencari ayahmu. Hanya saja engkau harus berhati-hati."

"Terim kasih, Ibu!"

Ucap Lie Ai Ling, lalu berlari ke kamar Tio Cie Hiong, dan kebetulan Lim Ceng Im mau melangkah ke luar.

"Ai Ling?"

Lim Ceng Im tercengang karena melihat gadis itu begitu tergesa-gesa ke kamarnya.

"Ada apa?"

Tanyanya.

"Bibi, Ai Ling ingin bicara dengan Paman,"

Jawab Lie Ai Ling.

"Baik."

Lim Ceng Im mengangguk, lalu mengajak gadis itu ke dalam kamar. Tio Cie Hiong belum tidur, hanya sedang duduk bersemedi.

"Paman!"

Panggil Lie Ai Ling sambil mendekatinya. Tio Cie Hiong membuka matanya, dan begitu melihat gadis itu Ia pun terheran-heran.

"Ada apa, Lie Ai Ling?"

"Paman!"

Lie Ai Ling duduk di hadapan Tio Cie Hiong.

"Ai Ling ingin bicara dengan Paman."

"Oh?"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Mau bicara apa?"

"Setelah berhasil menguasai ilmu-ilmu yang Paman ajarkan itu, Goat Nio akan pergi mencari Kakak Bun Yang, kan?"

"Benar. Lalu kenapa?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya sementara Lim Ceng Im sudah duduk di sisi suaminya.

"Tadi Ai Ling sudah berunding dengan Ibu, maksud, Ai Ling ingin ikut Goat Nio ke Tiong-goan mencari ayah. Ibu setuju, tapi ibu bilang harus berunding dengan Paman, setelah itu, barulah Paman memberitahukan kepada kakek. Kalau ibu atau Ai Ling yang memberitahukan, kakek pasti marah besar,"

Jawab Lie Ai Ling memberitahukan.

"Tentang ini...."

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Belum tentu kakekmu mengijinkanmu pergi mencari ayahmu."

"Kalau Paman bersedia membantu bicara, kakek pasti mengijinkan,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Sebab kakek Ai Ling sangat sayang kepada Paman? "Itu...."

Tio Cie Hiong berpikir sejenak, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh sambil menatap gadis itu.

"Sebagai anak, engkau memang berhak pergi mencari ayahmu. Baiklah. Kelak akan kuberitahukan kepada kakekmu. Tapi...."

"Ada apa, Paman?"

"Mulai besok engkau harus lebih tekun berlatih, agar kepandaianmu bertambah tinggi. Jadi kakekmu tidak akan mencemaskanmu. Mengerti?"

"Ai Ling mengerti, Paman."

"Bagus!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Sekarang kembalilah ke kamar menemani ibumu! Ingat, jangan menyinggung ayahmu di hadapan kakekmu!"

"Ya, Paman."

Lie Ai Ling mengangguk, lalu meninggalkan kamar Tio Cie Hiong. Setelah Lie Ai Ling pergi, Tio Cie Hiong menggelenggelengkan kepala seraya berkata.

"Sungguh kasihan Ai Ling!"

"Kakak Hiong,"

Bisik Lim Ceng Im.

"Betulkah kelak engkau akan memberitahukan kepada pamanmu?"

"Itu harus,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Apakah pamanmu akan mengijinkan Ai Ling pergi mencari ayahnya?"

"Kalau aku yang membicarakannya, mungkin pamanku akan mengijinkannya. Biar bagaimana pun, Lie Man Chiu tetap mantunya."

"Kakak Hiong!"

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudah sekian tahun tiada kabar beritanya tentang Lie Man Chiu, entah bagaimana keadaannya sekarang?"

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Aku yakin dia sudah hidup senang di ibu kota."

"Oh?"

"Aku yakin dia berada di ibu kota,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Kita tidak perlu memikirkannya."

"Huh!"

Dengus Lim Ceng Im.

"Siapa yang memikirkannya?"

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Barusan engkau menyinggung dirinya, tapi kenapa sekarang malah bilang siapa yang memikirkannya?"

"Itu dikarenakan aku merasa kasihan kepada kakak Hong Hoa dan Ai Ling, bukan berarti aku memikirkan Lie Man Chiu, yang tak punya perasaan itu."

"Adik Im...."

Wajab Tio Cie Hiong berubah serius.

"Terus terang, yang harus kita pikirkan justru adalah Lam Kiong Bie Liong. Entah bagaimana dia setelah mengetahui kematian ibunya?" -oo0dw0oo-Sementara itu, Gouw Han Tiong pun telah tiba di Tayli. Begitu mendengar tentang kematian Lam Kiong hujin dan Tui Hun Lojin, Lam Kiong Bie Liong nyaris pingsan seketika, sedangkan Gouw Sian Eng menangis terisak-isak. Toan Hong Ya dan isterinya hanya duduk diam dengan wajah murung. Toan Pit Lian terus menerus menghibur suaminya, dan Gouw Han Tiong menghibur putrinya. Suasana di ruangan itu menjadi hening, kecuali terdengar suara isak tangis.

"Siapa pembunuh ibuku? Siapa pembunuh ibuku?"

Teriak Lam Kiong Bie Liong dengan wajah pucat pias.

"Tenang, kakak Bie Liong!"

Toan Pit Lian memegang bahunya.

"Jangan terlampau berduka! Nanti engkau akan sakit."

"Ibu! Ibu..."

Teriak Lam Kiong Bie Liong.

"Bie Liong,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Engkau harus tenang, jangan begitu! Aku pun kehilangan ayah."

"Aaaah...!"

Keluh Lam Kiong Bie Liong.

"Tak terduga sama sekali,"

Ujar Toan Hong Ya sambil menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin berangkat ke Tionggoan karena rindu kepada Beng Kiat dan Soat Lan...."

"Hong Ya!"

Gouw Han Tiong tertegun.

"Bagaimana Kiat Beng dan Soat Lan bisa berada di Tionggoan?"

"Tayli Lo Ceng menerima mereka berdua sebagai murid, maka Tayli Lo Ceng membawa mereka ke Gunung Thay San."

Toan Hong Ya memberitahukan.

"Sudah berapa lama Kiat Beng dan Soat Lan ikut Tayli Lo Ceng?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Sudah lima tahun lebih, Ayah,"

Jawab Gouw Sian Eng memberitahukan.

"Karena itu, kakek dan Lam Kiong hujin sangat rindu kepada mereka, maka berangkat ke Tionggoan menuju Gunung Thay San."

"Tidak disangka...."

Lam Kiong Bie Liong terisak-isak "Ibu pergi selama-lamanya Aaaah... !"

"Siapa yang membunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin?"

Gumam Toan Hong Ya.

"Apakah mereka punya musuh?"

"Hong Ya,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Setahuku ibu tidak mempunyai musuh. Musuh kami adalah Bu Lim Sam Mo, tapi.... Bu Lim Sam Mo sudah mati."

"Ayahku pun tidak mempunyai musuh, namun malah mati dibunuh,"

Ujar Gouw Han Tiong sambil menggeleng~gelengkan kepala.

"Jadi... tiada seorang pun yang tahu siapa pembunuh itu?"

Tanya Toan Wie Kie.

"Memang tiada seorang pun yang tahu."

Gouw Han Tiong mengbela nafas.

"Ayahku dan Lam Kiong hujin terkena pukulan yang mengandung api, karena sekujur badan mereka hangus."

"Pukulan apa itu?"

Tanya Toan Wie Kie.

"Entahtah."

Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Kami sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apa itu, sebab kami tidak pernah mendengar tentang ilmu pukulan itu.

"Oh ya, kenapa Paman Lim tidak ikut kemari?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong mendadak.

"Lim Peng Hang pergi ke Hong Hoang To, aku berangkat ke mari."

Gouw Han Tiong memberitahukan dan menambahkan.

"Mungkin pihak Hong Hoang To tahu tentang ilmu pukulan itu."

"Aku harus berangkat ke Tionggoan,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Aku harus balas dendam."

"Engkau tidak boleh pergi,"

Sahut Toan Pit Lian.

"Pokoknya engkau tidak boleh pergi."

"Adik Pit Lian...."

"Bie Liong!"

Tegas Toan Hong Ya.

"Engkau tidak boleh ke Tionggoan. Harus menunggu Beng Kiat dan Soat Lan pulang.

"Tapi...."

"Kalau engkau berani pergi secara diam-diam, selamalamanya engkau tidak boleh ke mari lagi,"

Ujar Toan Hong Ya berwibawa. Lam Kiong Bie Liong diam.

"Kita tidak tahu siapa pembunuh itu, lalu bagaimana engkau mau balas dendam? Lebih baik engkau tunggu Beng Kiat dan Soat Lan pulang, setelah itu barulah berunding dengan Hong Ya."

Ujar Gouw Han Tiong sambil menatapnya.

"Ya."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Lagi pula Lim Peng Hang sudah ke pulau Hong Hoang To, aku yakin pihak Hong Hoang pasti membantu dalam hal ini."

Tambah Gouw Han Tiong.

"Jadi engkau harus tetap bersabar menunggu putrimu pulang. Mungkin Tayli Lo Ceng juga akan ke mari. Bukankah engkau boleh mohon petunjuk kepadanya?"

"Benar."

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Bie Liong,"

Tegas Toan Hong Ya.

"Engkau tidak boleh pergi secara diam-diam, sebab akan membuat Pit Lian menderita. Engkau harus ingat itu!"

"Ya."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk, kemudian berjanji kepada isterinya.

"Adik Pit Lian, aku tidak akan pergi secara diam-diam. Engkau tidak usah khawatir."

"Terima kasih atas pengertianmu!"

Toan Pit Lian tersenyum dan menambahkan.

"Setelah Beng Kiat dan Soat San pulang, barulah kita semua berunding bersama."

"Ya."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk, kemudian berkeluh.

"Ibu...." -oo0dw0oo-

Jilid 3 Bagian Ke Sebelas Meninggalkan Gunung Thian San Di puncak Gunung Thian terdapat sebuah goa, yaitu tempat tinggal monyet bulu putih.

Tio Bun Yang tinggal di dalam goa tersebut, dan setiap hari duduk di atas batu dingin berlatih lweekangnya.

Tugas monyet bulu putih adalah mencari buah, justru memberikan Tio Bun Yang buah aneh yang mengandung cairan kental.

Tio Bun Yang tidak tahu sama sekali, bahwa buah aneh itu berkhasiat menambah Iweekangnya.

Tanpa terasa sudah dua tahun Tio Bun Yang tinggal di dalam goa itu, dan kini usianya sudah tujuh belas, bertambah tampan dan tinggi.

Hari ini ia duduk bersemedi di atas batu dingin melatih lweekangnya, dan monyet bulu putih duduk tak jauh dan situ memperhatikannya.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak badan Tio Bun Yang melambung ke atas, ternyata lweekangnya telah mencapai ke tingkat tinggi.

Setelah itu, perlahan-lahan melayang turun di atas batu dingin itu.

Ketika badannya menyentuh batu dingin, terdengar suara "Kraak!

Kreeek!"

Monyet bulu putih itu terbelalak, sedangkan Tio Bun Yang tetap duduk.

bersemedi dengan mata terpejam.

Ternyata ia sedang mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang.

Kraaaak!

Terdengar suara meretak.

Bukan main!

Yang meretak itu ternyata batu dingin yang didudukinya.

Hal itu membuat monyet bulu putih bercuit-cuit.

Tio Bun Yang membuka matanya, lalu meloncat turun.

Di saat bersamaan terdengar pula suara "Braaak!"

Batu dingin itu telah hancur. Dapat dibayangkan, betapa tingginya lweekang Tio Bun Yang sekarang. Setelah batu dingin itu hancur, tampak sebuah benda bulat di situ memancarkan cahaya.

"Eh?"

Tio Bun Yang tercengang.

"Benda apa itu?"

Tio Bun Yang mendekati benda itu dengan mata terbelalak.

Sebetulnya benda apa itu?

Ternyata benda itu adalah batu inti es, yang amat dingin, yang berada di dalam batu dingin itu.

Perlahan-lahan Tio Bun Yang menjulurkan tangannya untuk menjamah batu inti es itu.

Namun ia tampak terkejut karena batu inti es itu dingin bukan main.

Kalau Ia tidak memiliki Pan Yok Han Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang, pasti tidak dapat memegang batu inti es tersebut.

"Ini tergolong benda pusaka,"

Gumamnya sambil tersenyum.

"Sangat bermanfaat bagi orang yang berlatih Im Kang (Lweekang yang mengandung hawa dingin). Benda ini harus kusimpan. Kalau bertemu orang baik yang berlatih Im Kang, akan kuhadiahkan kepadanya."

Sementara monyet bulu putih terus menatap Tio Bun Yang dengan mata tak berkedip, kemudian bercuit-cuit.

"Kauw-heng!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Engkau bilang lweekangku sudah tinggi sekali?"

Monyet bulu putih manggut-manggut, lalu menunjuk batu dingin itu sambil bercuit-cuit lagi.

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Engkau bilang ayahku masih tidak mampu menghancurkan batu dingin itu dalam keadaan bersemedi?"

Monyet bulu putih manggut-manggut sambil bertepuk tangan, kelihatannya gembira sekali.

"Kauw-heng,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Kalau begitu, kita boleh meninggalkan Gunung Thian San?"

Monyet bulu putih mengangguk, kemudian menunjuk batu inti es itu sambil bercuit-cuit.

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Maksudmu benda ini harus disimpan di dalam kantong?"

Monyet bulu putih menuju sudut goa. Ternyata Ia mengambil sebuah kantong kulit, lalu diberikan kepada Tio Bun Yang.

"Terima kasih, kauw-heng!"

Ucap Tio Bun Yang sambil menerima kantong kulit itu. Dimasukkannya batu inti es itu ke dalam kantong kulit tersebut, setelah itu barulah disimpan ke dalam bajunya.

"Kauw-heng! Ayah dan ibuku telah berpesan, aku harus pergi ke Gunung Hong Lay San. Engkau tahu dimana gunung itu, bukan?"

Monyet bulu putih mengangguk, kemudian menarik tangan Tio Bun Yang.

"Mau berangkat sekarang?"

Monyet bulu putih bercuit tiga kali.

"Baiklah."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Mari kita berangkat, sebab aku harus segera menemui Bibi Tan Li Cu!" -oo0dw0oo. Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dan monyet bulu putih telah tiba di Gunung Hong Lay San. Betapa girangnya Tan Li Cu, ia membelai Tio Bun Yang dengan penuh kasih sayang.

"Bun Yang!"

Tan Li Cu memandangnya dengan mata basah.

"Kini engkau sudah besar. Engkau dari pulau Hong Hoang To ya?"

"Bibi Li Cu, aku dan Gunung Thian San."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Oh?"

Tan Li Cu tertegun.

"Bagaimana engkau dan kauwheng bisa datang dan Gunung Thian San?"

"Begini Bibi Li Cu...."

Tio Bun Yang menjelaskan dan menambahkan.

"Ayah dan ibuku berpesan aku harus ke mari mengunjungi Bibi."

"Oooh!"

Tan Li Cu manggut-manggut.

"Kalau begitu, lweekangmu pasti sudah tinggi sekali!"

"Maaf, Bibi Li Cu, aku sendiri tidak mengetahuinya,"

Sahut Tio Bun Yang jujur. Di saat mereka sedang bercakap-cakap, mendadak muncul seorang gadis cantik berusia enam belasan.

"Guru..."

Panggil gadis itu, yang kemudian terbelalak karena melihat Tio Bun Yang dan seekor monyet bulu putih duduk di atas bahunya.

"Siok Loan!"

Tan Li Cu tersenyum.

"Mari guru perkenalkan! Dia adalah Tio Bun Yang, putra kesayangan Tio Cie Hiong."

"Oooh!"

Ma Siok Loan memandang Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar, lalu memberi hormat seraya berkata.

"Kakak Bun Yang, selamat bertemu!"

"Terima kasih!"

Sahut Tio Bun Yang kemudian balas memberi hormat.

"Bun Yang!"

Tan Li Cu tersenyum.

"Engkau harus memanggil dia adik."

"Ya, Bibi."

Tio Bun Yang mengangguk lalu memanggil gadis itu.

"Adik Siok Loan!"

"Hi hi hi!"

Ma Siok Loan tertawa geli.

"Siok Loan!"

Tegur Tan Li Cu halus.

"Tidak boleh bersikap begitu. Engkau sudah berusia enam belas, bukan anak kecil lagi."

"Guru!"

Ma Siok Loan masih tertawa geli.

"Aku tertawa geli karena melihat monyet bulu putih itu, sungguh lucu!"

"Oooh!"

Tan Li Cu tersenyum dan memberitahukan.

"Engkau harus tahu, bahwa itu monyet sakti."

"Oh?"

Ma Siok Loan menatap monyet bulu putih.

"Janganjangan monyet itu mempunyai hubungan dengan Sun Ngo Kong (Siluman Monyet Sakti Dalam Dongeng See Yu)!"

"Benar,"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Monyet bulu putih ini adalah saudara seperguruan dengan Sun Ngo Kong.

"Bohong ah!"

"Tentu bohong."

Tio Bun Yang tertawa kecil. Sedangkan monyet bulu putih itu menyengir.

"Hi hi hi!"

Baca Juga: Suling Naga 6

Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert