Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 1

Eps 1 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

Pendekar Sakti Suling Pualam Giok Siauw Sin Hiap Lanjutan Pek Ih Sin hiap (Kesatria Berbaju Putih) Karya . Chin Yung.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/.

Jilid .

1 PENDAHULUAN Setelah Bu Lim Sam Mo mati di tangan Pek Ih Sin Hiap.

Tio Cie Hiong, maka para ketua tujuh partai besar dan kaum rimba persilatan lainnya, yakin bahwa dunia persilatan pasti aman, tentram dan damai.

Sedangkan Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa melangsungkan pernikahan di pulau Hong Hoang To.

Para ketua tujuh partai besar dan para jago silat lainnya hadir semua dalam pesta pernikahan itu, sehingga pesta pernikahan tersebut menjadi meriah dan semarak.Sejak itu, Tio Cie Hiong sama sekali tidak mencampuri urusan rimba persilatan lagi.

ia hidup tenang, damai dan bahagia sepanjang masa bersama Lim Ceng Im di pulau itu.

Bagaimana keadaan rimba persilatan setelah Tio Cie Hiong menetap di pulau Hong Hoang To?

Betulkah kematian Bu Lim Sam Mo membawa kedamaian dalam rimba persilatan?

Justru sungguh di luar dugaan.

Karena di saat Tao Cie Hiong hidup tenang, damai dan bahagia di pulau itu, di rimba persilatan telah muncui Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah).

Siapa ketua perkumpulan itu tiada seorangpun yang mengetahuinya, sebab perkumpulan tersebut sangat misterius, lagi pula para anggotanya rata-rata berkepandaian tinggi Dimana Hiat ih Huie muncul, di situ pasti banjir darah, Semula Hiat Ih Huie cuma membantai para pembesar yang jujur dan setia, juga membasmi para pemberontak-Akan tetapi, lambat laun perkumpulan tersebut mulai mengarah pada kaum rimba persilatan golongan putih-Tak lama setetah itu, muncul pula Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) dan Seng Huiee Kauw (Agama Api Suci), sebingga timbul pula berbagai pertikaian dan bencana dalam rimba persilatan.

---ooo0dw0ooo---Bagian Kesatu Penyakit Aneh yang mencemaskan Pulau Hong Hoang To (Pulau Burung Phoenix) terletak di Pak Hai (Laut Utara).

Panorama di pulau tersebut sangat indah menakjubkan, tampak pula belasan ekor burung phoenix berterbangan, bunga-bunga liar pun memekar segar menambah keindahan pulau tersebut, Pagi ini, terlihat seorang bocah laki-laki sedang berlatih ilmu pukulan dan ilmu pedang di tempat terbuka.

Bocah lakilaki itu berusia sepuluh tahun, bukan main tampannya, siapa yang melihatnya pasti akan timbul rasa suka kepadanya.

Siapa bocah laki-laki itu?

Ternyata putra Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im bernama Tio Bun Yang.

Sejak anak itu berusia tiga tahun, Tio Cie Hiong mulai mengajarnya pan Yok Hian Thian Sin Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) dan Kan Kun Taylo Sin Kang (Tenaga Sakti Alam Semesta).

Setelah Tio Bun Yang berusia tujuh tahun, mulailah Tio Cie Hiong mengajarnya Tujuh Jurus Giok Siauui Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian), Tujuh Jurus Bit Ciat Sin Ci (Ilmu Jan Sakti pemusnah Kepandaian) dan Kan Kun Taylo Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Alam Semesta).

Kini Tio Bun Yang telah menguasai semua ilmu itu, hanya saja luieekangnya masih belum begitu tinggi.

Sedangkan monyet bulu putih pun tidak mau ketinggalan.

Monyet sakti itu juga mengajarnya berbagai ilmu pukulan, Di saat Tio Bun Yang berlatih, monyet bulu putih terus memperhatikannya bagaikan seorang guru.

Berselang beberapa saat, muncullah Tio Cie Hiong bersama Lim Ceng Im.

Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah Pohon sambil memperhatikan latihan Putra mereka.

"Adik Im,"

Ujar Tio Cie hong sambil tersenyum.

"Aku tidak menyangka, Bun Yang baru berusia sepuluh tahun tapi telah dapat menguasai semua ilmu yang kita turunkan kepadanya."

"Benar, memang sungguh di luar dugaan,"

Sahut Lim Ceng Im dengan tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah murung.

"Adik Im____"

Tio Cie Hiong menatapnya seraya berkata.

"Engkau tidak perlu cemas."

"Kakak Hioong...."

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Dia mengidap penyakit."

"Tidak Perlu cemas,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Itu memang Penyakit aneh, tapi engkau tidak Perlu cemas."

"Bagaimana mungkin aku tidak cemas?"

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala "Penyakit itu mungkin akan mempengaruhi dirinya."

"Tidak mungkin,"

Sahut Tio Cie Hiong "Aku mahir ilmu Pengobatan, tentunya tahu jelas akan penyakit itu."

"Kakak Hiong, kenapa dia bisa mengidap penyakit itu?"

"Yaaah"

Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Mungkin sudah nasibnya."

"Hingga saat ini engkau tidak mampu mengobatinya?"

"Aku telah berusaha mengobatinya, namun belum menemukan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya"

"Apakah selamanya dia akan begitu?"

"Menurutku, kalau sudah waktunya penyakit itu akan lenyap dengan sendirinya."

"Bagaimana mungkin?"

"Percayalah!"

Tio Cie Hiong menggenggam tangan isterinya dengan penuh cinta kasih.

"Adik Im, sejak dia berusia tiga tahun, aku telah mengajarnya pula dengan pendidikan moral, akal budi wejangan dan lain sebagainya. Karena itu, aku yakin, dia pasti seperti diriku. Tidak mau membunuh dan berbuat dosa maupun melakukan hal-hal yang cenderung jahat. Lagi pula Pada dasarnya dia berhati bajik dan berwatak luhur, jadi aku tidak begitu cemas."

"Tapi____"

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku... aku khawatir dia akan sembarangan membunuh orang."

"Tidak mungkin."

Tio Cie Hiong tersenyum dan menjelaskan.

"penyakitnya timbul hanya di saat ia marah besar, sehingga peredaran darahnya berjalan lebih cepat menerjang ke arah syaraf otak, maka kesadarannya akan tertutup. Apabila ia masih dapat menekan hawa amarahnya, tidak akan terjadi apa-apa. Seandainya tidak bisa, Ia pasti mengamuk atau akan membunuh orang yang membuatnya marah besar itu."

"Itulah yang kukhawatirkan."

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Kakak Hiong, sebetulnya penyakit apa itu? "

"Semacam tekanan darah tinggi."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Akan tetapi, kasih sayang dan kelembutan dapat menjernihkan pikirannya disaat kesadarannya tertutup oleh hawa kemarahan. Oleh karena itu, penyakitnya tersebut dapat disembuhkan dengan kasih sayang dan kelembutan."

"Ngmmml"

Lim Ceng Im manggut-manggut dan melanjutkan.

"Aku masih ingat, setahun lalu ketika ia dipagut ular, seketika itu juga ia membunuh ular itu saking marahnya, bahkan mencincang-cincangnya pula."

"Itu dikarenakan ia merasa dirinya disakiti, padahal Ia tidak mengganggu ular. Karena itu. Maka, timbullah kemarahannya hingga ular itu dibunuhnya sekaligus dicincangnya."

"Bagaimana kelak kalau ada orang menyakiti bukankah ia akan langsung membunuh orang itu?"

"Maka, aku memberikannya pelajaran moral, akal budi dan lain sebagainya agar pikirannya selalu terbuka, tidak terpengaruh oleh hawa kemarahannya,"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Aku pun akan mulai mengajarnya ilmu pengobatan dan Ilmu Penakiuk Iblis. Sebab Ilmu Penakiuk Iblis dapat memperkuat imannya, bahkan tidak akan terpengaruh oleh ilmu hitam dan ilmu sihir lainnya."

"Kakak Hiong!"

Lim Ceng Im menatapnya.

"Anak kita itu... tidak akan berubah jadi penjahat, kan? "

"Aku yakin tidak,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Karena watakku yang baik pasti menurun padanya."

"Ooohl"

Lim Ceng im manggut-manggut. Sementara Tio Bun Yang yang telah usai berlatih, ketika melihat kedua orang tuanya, ia langsung mengkampiri sambil tersenyum.

"Ayah, Ibu!"

Panggilnya sambil duduk.

"Nak!"

Lim Ceng Im tersenyum lembut.

"Masih pagi kok sudah berlatih?"

"Ibu, Ayah bilang berlatih ilmu silat pagi-pagi, akan menyegarkan tubuh kita,"

Jawab Tio Bun Yang.

"Benar, Nak."

Tio Cie hong membelainya.

"Oh ya, tahukah engkau apa tujuan seseorang belajar ilmu silat?"

"Untuk memperkuat tubuh, membela diri dan untuk menolong sesama manusia. itu tujuan utama belajar ilmu silat,"

Jawab Tio Bun Yang "Nak,"

Tanya Lim ceng Im "

Setelah engkau berkepandaian tinggi, bolehkah engkau membunuh orang di saat engkau disakiti orang?a"

"Ibu!"

Tio Bun Yang menatapnya dengan mata bening.

"Kita tidak menyakiti orang, kenapa orang lain akan menyakiti kita?"

"Karena orang lain itu berhati jahat, maka suka menyakiti orang,"

Jawab Lim Ceng Im menjelaskan.

"Di saat engkau disakiti orang, haruslah tetap bersabar, tidak boleh marah sama sekali."

"Ibu, bagaimana kalau ada orang ingin membunuh Bun Yang?"

Tanya anak itu mendadak.

"Engkau harus mengampuninya, tidak boleh membunuhnya,"

Sahut Lim Ceng im dengan tersenyum lembut "

Cukup memusnahkan kepandaiannya saja?"

"Ibu...."

Tio Bun Yang tampak berpikir keras, kemudian bertanya.

"Kalau orang itu jahat sekali, apakah Bun Yang boleh membunuhnya?"

"Tidak boleh."

Lim Ceng Im menggelengkan kepala.

"Biar bagaimanapun engkau harus mengampuninya. Namun engkau boleh memusnahkan kepandaiannya agar dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening "Ibu, kenapa orang jahat tidak boleh dibunuh?"

"Nak,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil menatapnya lembut.

"Membunuh orang adalah perbuatan yang sangat berdosa. Sebagai orang yang berhati bajik, luhur dan mulia, tidak boleh membunuh orang. Siapa yang pernah membunuh orang, kelak dia sendiri atau anak cucunya pasti dibunuh orang pula. Sebab merupakan hukum karma yang tak dapat dielakkan, jadi engkau harus ingat baik-baik!"

"Ya, Ayah"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Nak!"

Tio Cie hong tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan "Engkau masih mempunyai paman Toan dan paman Lam Kiong di Tayii. Kalau mereka punya anak, tentunya telah sebesar engkau."

"Oh?"

Tio Bun Yang tertawa kecil "Kenapa ayah dan ibu tidak pernah mengajak Bun Yang ke Tayli menemui mereka?"

"Tayli sangat jauh, lagi Pula ayah dan ibu telah bersumpah tidak akan meninggalkan pulau ini,"

Sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Tapi kelak engkau boleh pergi seorang diri ke Tayli."

Tio Bun Yang tampak girang sekali.

"Kapan Bun Yang boleh berangkat ke Tayli?"

"Tentunya harus menunggu engkau dewasa dulu,"

Ujar Lim Ceng Im dan melanjutkan.

"Jadi sekarang engkau harus giat berlatih, agar memiliki kepandaian tinggi kelak."

"Ibu, kalau Bun Yang sudah besar, bolehkah Bun Yang pergi mengembara?"

Tanya anak itu.

"Tentu boleh. Tapi----"

Lim Ceng im melirik Tio Cie Hiong "Kalau engkau pergi mengembara, sudah barang tentu akan berkecimpung dalam rimba persilatan,"

Ujar Tio Cie Hiong cepat "

Engkau harus tahu, bahwa banyak orang jahat dalam rimba persilatan.

Orang jahat pasti berhati licik, busuk dan tak segan membunuh orang.

Karena itu, engkau harus berhati-hati dan harus bersabar menghadapi urusan apa Pun.

ingat, engkau tidak boleh marah agar tidak sembarangan membunuh orang."

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang pasti selalu ingat akan semua nasihat Ayah."

"Bagus!"

Tio Cie hong membelainya.

"Bun Yang adalah anak baik, penuh kesabaran, pengertian dan berhati bajik, luhur serta mulia."

"Ayah!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Bun Yang tidak akan mengecewakan Ayah dan ibu."

"Bagus, bagus!"

Lim Ceng Im tertawa gembira dan sekaligus memeluknya erat-erat dengan penuh kasih sayang.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!"

Terdengar suara seruan merdu, kemudian muncul seorang anak gadis berusia sekitar sembilan tahun, cantik, manis dan lincah.

Siapa anak gadis itu?

Tidak lain Lie Ai Ling, putri Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa.

"Adik Ai Ling!"

Sahut Tio Bun Yang tersenyum.

"Paman, Bibi!"

Panggit Lie Ai Ling.

"Ai Ling, di mana ayah dan ibumu?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Mereka sedang sarapan,"

Jawab Lie Ai Ling dan memberitahukan.

"Kakek dan kakek pengemis telah mulai main catur."

"Ooohl"

Tio Cie hong manggut-manggut.

"Kauw heng!"

Lie Ai Ling membelai monyet bulu putih.

"Ai Ling mencari ke sana ke mari, ternyata kauw heng berada di sini!"

Monyet bulu putih bercuit-cuit kemudian sepasang tangannya bergerak-gerak seakan memberitahukan sesuatu.

"Oh, kauw heng berlatih di sini bersama Kakak Bun Yang!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Kakak Bun Yang, mari kita berlatih!"

"Baik, Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang mengangguk. Mereka berdua lalu mulai benlatih. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im menyaksikannya dengan penuh perhatian, kemudian manggut-manggut.

"Kakak Hiong,"

Bisik Lim Ceng Im.

"Kelihatannya kecerdasan Bun Yang tidak di bawah kecerdasanmu."

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk sambil tersenyum.

"Menurutku, dia lebih cerdas dariku. Itu sungguh di luar dugaan, lagi pula----"

"Kenapa?"

"Adik im!"

Tio Cie Hiong serius.

"Tahukah engkau suatu hal mengenai diri Bun Yang?"

"Hal apa?"

"Dia pun kebal terhadap berbagai macam racun sepertiku"

"Oh?"

Terbetalak Lim Ceng Im.

"Kok bisa begitu?"

"Dua kali aku makan buah Kiu Yap Ling Che, sedangkan dia darah dagingku, maka dia pun kebal terhadap racun apa pun."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Syukurlah!"

Ucap Lim Ceng Im dengan wajah berseri.

"Bun Yang memang anak, yang luar biasa. Walau baru berusia sepuluh tahun, tapi telah menguasai semua ilmuku, termasuk ginkang (Ilmu Meringankan Badan)."

"Memang."

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Hanya saja lweekangnya masih dangkali "Kalau dia terus berlatih, pasti Iweekangnya akan bertambah tinggi"

"Kakak Hiong!"

Lim ceng Im menatapnya.

"Engkau akan memperbolehkannya pergi berkelana kelak?"

"Itu memang sudah harus, tidak mungkin dia terus diam di pulau ini. Dia barus pergi mencari Pengalaman"

"Tapi----"

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Otomatis dia akan berkecimpung dalam rimba persilatan, dan itu akan membahayakan dirinya."

"Adik Im!"

Tio Cie hong tersenyum lembut.

Satu bahaya justru akan menambah pengalamannya, sekaligus menggembleng ketabahan hatinya.

Kita pun tidak usah mengkhawatirkannya, sebab dia telah berbekal kepandaian tinggi yang kita turunkan kepadanya."

"Ya."

Lim Ceng im manggut-manggut.

"Yang kusayangkan...."

Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Nenek telah wafat dua tahun yang lalu----"

"Nenek memang sudah tua, sebelumnya nenek pun telah menurunkan kepandaiannya kepada Kakak Suan Hiang."

"Sudah sepuluh tahun lebih Adik Suan Hiang belajar ilmu silat di pulau ini, mungkin tidak lama lagi dia akan ke Tionggoan untuk menuntut balas kematian ayahnya."

"Kasihan dia----"

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Kini usianya sudah tiga puluh lebih, namun belum menikah!"

"Mudah-mudahan dia akan bertemu lelaki yang baik, jadi dia pun akan hidup bahagia!"

"Kelihatannya dia sudah tiada niat untuk menikah, hanya ingin menuntut balas kematian ayahnya saja".

"Ngmm!"

Tio Cie hong manggut-manggut.

"Oh ya, belum lama ini Man Chiu kelihatan agak aneh"

"Oh?"

Lim Ceng Im menatapnya.

"Bagaimana anehnya?"

"Dia seling melamun, bahkan hatinya seakan terganjel sesuatu"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Aku khawatir suatu yang buruk akan terjadi...."

Lim Ceng Im juga mengerutkan kening.

"Menurutmu apa yang akan terjadi atas dirinya?"

"Entah?"

Tio Cie Hbong menggelengkan kepala.

"Pokoknya suatu yang buruk, sebab dia kelihatan sedang mempertimbangkan suatu kePutusan. Terus terang, aku cemas akan itu."

"Kalau begitu, engkau harus memberitahukan kepada Kakak Hong Hoa."

Ujar Lim Ceng Im mengusulkan.

"Tidak bisa."

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Karena aku tidak tahu jelas, melainkan cuma berfirasat dan juga itu kan urusan Man Chiu dengan Kakak Hong Hoa, aku tidak boleh turut campur."

"Ya"

Lim Ceng Im mengangguk.

"Oh ya, Kakak Hiong! Setelah Bu Lim Sam Mo mati, apakah rimba persilatan sudah aman, tenang dan damai?"

"Adik Im!"

Tio cie Hbong menghela nafas panjang.

"Rimba persilatan bagaikan laut yang selalu bergelombang, hanya bisa tenang sejenak lalu bergelombang lagi."

"Maksudmu rimba persilatan tidak bisa tenang selamaiamanya?"

Tanya Lim Ceng Im sambil menatapnya.

"Adakah laut yang tenang selama-lamanya?"

Cie Hiong balik bertanya.

"Tidak ada."

Lim Ceng Im menggelengkan "Nah begitu Pula rimba persilatan,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum getir.

"Sebab kaum rimba persilatan tidak terlepas dan keserakahan, kelicikan dan lain sebagainya. Karena itu, bagaimana mungkin rimba persilatan bisa tenang seiama-iamanya?"

"Kalau begitu----"

Lim Ceng im mengerutkan kening.

"Bun Yang berkelana kelak...."

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong tersenyum sambil membelainya.

"Engkau Pun pernah berkecimpung dalam rimba persilatan, jadi jangan terlampau mengkhawatirkan Bun Yang!"

"Kakak Hiong...,"

Tanya Lim Ceng im dengan suara rendah.

"Perlukah kita menemaninya berkelana?"

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong tertawa.

"Dia pergi berkelana berarti dia telah dewasa, kenapa kita masih harus menemaninya? Bukankah engkau pernah mengembara seorang diri kemudian bertemu aku yang sedang mandi telanjang di sungai?!"

"Kakak Hiong...."

Wajah Lim Ceng im langsung kemerahmerahan.

"Kenapa kau ungkit lagi kejadian itu, bahkan sering pula memberitahukan kepada Bun Yang, sehingga membuatnya tertawa geii?"

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh cinta kasih.

"Itu merupakan kenangan yang sangat indah dan manis lho!"

"Dasar...."

Lim Ceng Im cemberut "Kakak Hiong, kita... selamanya tidak akan ke Tionggoan iagi?"

"Tentu harus ke sana, sebab kita harus mengunjungi ayahmu,"

Jawab Tio Cie Hiong.

"Sudah dua tahun ayahmu tidak ke mari."

"Kakak Hiong, kapan kita akan ke markas pusat Kay Pang mengunjungi ayahku?"

Tanya Lim Ceng Im mendadak.

"Setelah Bun Yang besar"

"Yaahi"

Lim Ceng Im menarik nafas dalam-dalam.

"Itu masih lama! Bagaimana kalau tahun depan kita ke markas pusat Kau Pang?"

"Lihat saja nanti!"

Tio Cie thong tersenyum.

"Oh ya, entah bagaimana keadaan Toan Wie Kie, Lam Kiong Bie Liong dan isteri mereka? Sudah sepuluh tahun lebih kita berpisah dengan mereka, apakah mereka sudah mempunyai anak?"

"Aku yakin mereka sudah mempunyai anak,"

Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum"

Kakak Hiong, yang kupikirkan adalah Kim Siau Suseng dan Kou Hun Bijin-Sudah sepuluh tahun lebih mereka menjadi suami isteri, mungkinkah mereka bisa mempunyai anak?"

"Mereka pasti bisa mempunyai anak?"

"Apakah mereka akan tetap awet muda?"

"Tidak bisa"

Tio Cie Hiong menjelaskan "Setelah menikah, mereka pun akan tua. Karena melakukan hubungan intim, sehingga mempengaruhi tubuh mereka."

"Kakak Hiong!"

Lim Ceng Im tersenyum. Entah bagaimana anak mereka?"

"Kalau anak mereka laki-laki, tentunya tampan luar biasa. Kalau perempuan, otomatis cantik bukan main,"

Sahut Tio cie Hiong sambil tertawa.

"Eh? Kakak Hiong!"

Wajah Lim Ceng im serius.

"Kalau mereka mempunyai anak perempuan yang cantik bukan main, kelak entah berapa banyak kaum pemuda akan bertekuk lutut dihadapannya. Ibunya adalah Kou Hun Bijin (Wanita Cantik Pembetot Sukma), maka anak perempuannya"

"Tidak akan seperti ibunya,"

Sambung Cie Hiong.

"Kalau mereka mempunyai anak perempuan, aku yakin anak perempuan itu pasti lemah lembut dan kalem"

Lim Ceng Im tersenyum.

"Kakak Hiong, entah gadis mana yang akan menjadi jodoh Bun Yang!"

"Adik im!"

Tio Cie Hiong tertawa.

"Un Yang belum dewasa, kenapa engkau telah memikirkan jodohnya?"

"Kita adalah orang tuanya, tentunya harus memikirkannya, bukan?"

"Benar,"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Pokoknya itu terserah dia, yang penting adalah gadis yang baik."

"Betul!"

Lim Ceng Im manggut-manggut dan berbisik.

"Harus seperti kita berdua."

"Ha ha ha!"

Tio Cie Hiong tertawa gembira.

"Saling mencinta dengan penuh kasih sayang Selamalamanya!" --ooo0dw0ooo--Seusai berlatih ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix) dan Lui Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat), Yo Suan Hiang lalu duduk di bawah sebuah pohon, Berselang sesaat, wajah gadis itu tampak berubah murung. Ternyata ia teringat akan kematian ayahnya. Mendadak sepasang matanya memancarkan sinar berapi~api, kemudian bergumam sambil mengepalkan tinju.

"Aku harus menuntut balas! Aku harus menuntut balas...."

"Suan Hiang!"

Muncul Tio Tay Seng, majikan pulau Hong Hoang To menatapnya lembut.

"Guru!"

Yo Suan Hiang segera bangkit berdiri, sekaligus memberi hormat.

"Guru tahu bagaimana perasaanmu."

Tio Tay Seng mengheia nafas panjang seraya berkata.

"Sudah sepuluh tahun lebih engkau belajar ilmu silat di sini, dan kini ilmu silatmu boleh dikatakan sudah tinggi. Kalau ingin menuntut balas kematian ayahmu, engkau boleh berangkat ke Tionggoan."

"Guru. ."

Yo suan Hiang menundukkan kepala. Tio Tay Seng tersenyum.

"Memang sudah waktunya engkau ke Tionggoan, karena kepandaianmu sudah tinggi. Tapi biar bagaimanapun engkau harus berhati~hati"

"Guru, kapan aku boleh ke Tionggoan?"

"Besok pun boleh."

"Guru.."

Yo Suan Hiang mulai terisak-isak "Guru tahu..."

Tio Tay Seng menatapnya dalam-dalam.

"Engkau merasa berat meninggalkan guru dan pulau ini. Tapi biar bagaimanapun engkau harus ke Tionggoan. Karena itu, guru izinkan engkau berangkat esok"

"Ya, Guru"

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Kakak Suan Hiang!"

Muncul Lim Ceng Im dan Tio Cie Hiong.

"Paman, Adik Suan Hiang!"

Panggil Tio Cien Hiong, yang kemudian memandang Yo Suan Hiang.

"Engkau akan ke Tionggoan esok?"

"Ya, Kakak Cie Hiong""

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Kepandaianmu memang sudah cukup tinggi, namun aku pernah menyaksikan lweekang ketua perkumpulan Hiat Ih Huie. Kelihatannya dia memiliki iweekang yang sangat tinggi. Engkau harus berhati-hati menghadapinya, jangan berlaku ceroboh!"

"Ya, Kakak Cie Hiong."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Begini..."

Tio Cie Hiong menatapnya serius seraya berkata.

"Berhubung ketua Hiat Ih Huie berkepandaian sangat tinggi, maka alangkah baiknya engkau kuajari Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat). Apabila engkau bertemu ketua itu dan tidak sanggup melawannya, engkau masih bisa meloloskan diri dengan ilmu Kiu Kiong San Tian Pou."

"Betul,"

Ujar Tio Tay Seng.

"Cie Hiong, ajarkan kepadanya Ilmu Langkah Kilat! Setelah itu, barulah dia pergi ke Tionggoan."

"Ya, Paman."

Tio Cie Hiong mengangguk lalu berkata kepada Yo SUan Hiang.

"Adik Suan Hiang, aku akan mulai mengajarmu Kiu Kiong San Tian Pou."

"Terima kasih, Kakak Cie Hiong!"

Yo Suan Hiang girang bukan main.

"Tio Tocu!"

Terdengar suara seruan dan kejauhan, yang tidak lain suara seruan Sam Gan Sin Kay (Pengemis Sakti Mata Tiga), Tetua Kay Pang.

"Cepat kemari main catur!"

"Baik! Hari ini engkau pasti kalah!"

Sahut Tio Tay seng lalu sekaligus melesat Pergi.

Sedangkan Tio Cie hong telah mulai mengajarkan Hiang Kiu Kiong San Tian Pou kepada Yo Suan Hiang.

Gadis itu mempelajari ilmu tersebut dengan penuh semangat dan bersungguh.

Dua hari kemudian, barulah Yo Suan Hiang dapat menguasai ilmu itu.

Tio Cie hong manggut-manggut gembira, sedangkan Yo Suan Hiang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

"Kakak Cie Hiong, terima kasih! Terima kasih...."

"Tidak perlu berterima kasih,"

Sahut Tio cie Hiong lembut.

"Kita boleh dikatakan sebagai kakak adik"

"Kakak Hiong."

Sela Lim Ceng Im mendadak.

"lebih baik engkau mengajarnya semacam ilmu pedang untuk melindungi diri, karena engkau bilang ketua perkumpulan Hiat Ih Huie berkepandaian sangat tinggi, Aku khawatir----"

"Adik Im, ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat dan Lui Tian Kiam Hoat merupakan ilmu Pedang tingkat tinggi yang amat lihay."

"Tapi belum tentu dapat mengalahkan ketua perkumpulan. Jadi alangkah baiknya engkau mengajar Kakak Suan Hiang semacam ilmu pedang,"

Usul Lim Ceng Im. Tio Cie hong berpikir lama sekali, kemudian barulah mengangguk.

"Baiklah. Aku akan ajarkan adik Suan Hiang semacam ilmu pedang,"

Ujar Tio cie Hiong sungguh-sungguh.

"Kebetulan aku baru menciptakan ilmu pedang tersebut."

"Terima kasih, Kakak Cie Hiong!"

Ucap Yo Suan Hiang terharu "Terima kasih adik Ceng Im!"

"Kakak Suan Hiang, engkau tidak usah mengucapkan terima kasih."

Lim Ceng im tersenyum lembut lalu bertanya pada Tio Cie Hiong.

"Ilmu pedang apa yang akan engkau ajarkan kepada Kakak Suan Hiang?"

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Selama berada di pulau ini, aku terus memikirkan ilmu pedang Im sie Hong Mo-Ku Tek Cun dan ilmu pedang Pek Ih Hong Li-Yap In Nio. itu membuat kepalaku menjadi pusing sekali, namun akhirnya aku berhasil menciptakan semacam ilmu pedang berdasarkan ilmu pedang mereka"

"Oh?"

Lim ceng im terbelalak.

"Engkau menciptakan ilmu pedang apa?"

"Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Fusing Tujuh Keliling),"

Tio Cie Hiong memberitahukan "Apa?"

Lim Ceng Im, tertegun, lalu tertawa geli seraya berkata.

"itu pasti ilmu pedang yang kacau balaul "

"Benar?"

Tio Cie Hiong mengangguk dan berkata kepada Yo Suan Hiang.

"Engkau harus ingat, bahwa ilmu pedang tersebut sangat lihay, dahsyat dan ganas, dan setiap jurusnya Pasti memutuskan urat di tubuh lawan. Karena itu, kalau tidak terpaksa, janganlah engkau mengeluarkan ilmu pedang tersebut!"

"Ya."

Yo Suan hang mengangguk "Cit Loan Kiam Hoat terdiri dan tujuh jurus."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Setiap jurusnya mempunyai tujuh perubahan, jadi tujuh jupus berarti mempunyai empat puluh sembilan perubahan, yang tak terduga. Oleh karena itu, ilmu Pedang tersebut sangat lihay. Engkau harus belajar dengan segenap hati, kalau tidak, sulit bagimu menguasainya,"

"Kakak Cie Hiong!"

Ujar Yo Suan Hiang berjanji.

"Aku pasti belajar dengan segenap hati, pokoknya tidak akan mengecewakanmu"

"Bagus!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian meminjam pedang yang di tangan Yo Suan Hiang.

"Aku akan memperlihatkan ilmu pedang itu."

Tio Cie Hiong mulai memainkan ilmu pedang cit Loan Kiam Hoat.

Yo suan Hiang dan Lim Ceng Im menyaksikannya dengan penuh perhatian.

Tak seberapa lama kemudian, mereka berdua merasa berkunang-kunang dan kepala mereka pun menjadi pusing sekali, Ketika Tio Cie Hiong berhenti, Yo Suan Hiang dan Lim Ceng Im jatuh terduduk dengan wajah pucat pias.

"Adik Im, Adik Suan Hiang!"

Panggil Tio Cie Hiong dengan tersenyum.

"Kenapa kalian?"

"Tidak tahan, Pusing sekali,"

Sahut mereka berdua serentak.

"Sungguh dan luar biasa sekali ilmu pedang itu! Pantas dinamai Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling!"

"Karena itu...."

Tio Cie Hiong mengingatkan.

"Jangan sembarangan mengeluarkan ilmu pedang tersebut!"

"Kakak Cie Hiong, mampukah aku mempelajari ilmu pedang itu?"

Tanya Yo Suan Hiang mendadak.

"Adik Suan Hiang!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kalau ada kemauan keras, tentu akan berhasil"

"Ya."

Yo Suan hang mengangguk "Nah, kini aku akan mulai mengajarmu,"

Ujar Tio Cie Hiong dan mulai mengajar Yo Suan Hiang.

Walau hanya tujuh jurus, tapi yo Suan Hiang mempelajarinya membutuhkan waktu sebulan lebih, barulah dapat menguasai ilmu pedang tersebut.

Setelah itu, ia mohon pamit kepada Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Tio Cie hong, Lim Ceng Im dan lainnya.

"Bibi, kapan kita akan berjumpa lagi?"

Tanya Tio Bun Yang dengan mata bersimbah air.

"Bun Yang!"

Yo Suan Hiang membelainya.

"Kita akan berjumpa dalam rimba persilatan kelak,"

"Bibi,"

Sahut Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Bun Yang tidak mau berkecimpung dalam rimba persilatan."

"Kenapa?"

Tanya Yo Suan Hiang heran.

"Kata ayah, banyak orang jahat dalam rimba silatan."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Jadi Bun Yang lebih senang tinggal di pulau ini."

"Bun Yang____"

Yo Suan Hiang tersenyum lembut "Kalau bisa, memang lebih baik tidak berkecimpung dalam rimba persilatan."

"Ya, Bibi"

Tio Bun Yang mengangguk-"Bibi,"

Tanya Lie Ai Ling, putri Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa sambil terisak-isak.

"Kapan Bibi akan kemari menengok Ai Ling dan Kakak Bun Yang? A "Ai Ling!"

Yo Suan Hiang membelainya.

"Kalau urusan bibi sudah beres, bibi pasti kemari menengok kalian. Nah, selamat tinggal!"

"Adik Suan Hiang, selamat jalan!"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Kakak Cie Hiong____"

Mata Yo Suan Hiang sudah basah, kemudian berlutut di hadapan Tio Tay Seng "Guru, aku mohon pamit."

"Berangkatlah!"

Tio Tay Seng menatapnya lembut dan melanjutkan.

"Kapan pun engkau boleh kemari."

"Ya, Guru."

Yo Suan Hiang mengangguk lalu bertutut di hadapan Sam Gan Sin Kay.

"Kakek, aku mohon pamit!"

"Ha ha ha! Suan Hiang!"

Sam Gan Sin Kay tertawa getak.

"Jangan cengeng, hapusiah air matamu!"

"Kakek.."

Yo Suan Hiang terisak-isak.

"Suan Hiang!"

Tio Tay Seng tersenyum.

"Bangunlah, jangan terus berlutut! Engkau boleh berangkat sekarang."

"Ya, Guru"

Yo Suan Hiang bangkit berdiri "Adik Ceng Im, sampai jumpa!"

"Sampai jumpa, Kakak Suan Hiang!"

Sahut Lim Ceng im dengan mata bersimbah air.

"Hati-hati setelah sampai di Tionggoan!"

Yo Suan Hiang mengangguk, kemudian mendadak melesat pergi. Tio Tay Seng dan Sam Gan Sin Kay saling memandang sambil menghela nafas Panjang, setelah itu Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Tio Tocu, mari kita main catur!"

"Baik. Hari ini engkau Pasti kalah!"

Sahut Tio Tay Seng sambil tersenyum dan menambahkan.

"Pokoknya sepuluh kosong..."

Mereka berdua melesat pergi, Lie Man Chiu, Tio Hong Hoa dan Lie Ai Ling juga meninggalkan tempat itu Sedangkan Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Hiong, dia mulai bergelut dengan bahaya,"

Ujar Lim Ceng Im sambil menghela nafas.

"Mudah-mudahan dia berhasil menuntut balas! Kalau tidak...."

Tio Cie Hiong diam, berselang sesaat baru melanjutkan.

"Dia pula yang akan celaka."

"Ayah, bibi mau pergi menuntut balas apa?"

Tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Nak!"

Tio Cie Hiong membelainya.

"Ayah bibimu itu dibunuh orang jahat, maka dia mau pergi menuntut balas."

"Jadi... bibi mau pergi membunuh orang jahat?"

Tanya Tio Bun Yang lagi.

"Ya"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Ayah...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kata ayah harus mengampuni orang, kenapa bibi tidak mau mengampuni orang, yang memhunuh ayahnya?"

"Nak,"

Tio cie Hiong tersenyum.

"Sifat, watak dan hati orang tidak akan sama. Ada yang pendendam dan pembenci, ada pula yang uielas asih dan mau mengampuni orang lain. Jadi, bibi itu masih tercekam oleh rasa dendam dan benci, maka dia tidak bisa mengampuni pembunuh ayahnya."

"Ayah,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Seandainya Ayah dan ibu dibunuh orang, Bun yang juga pasti membalas dendam, paling tidak harus memusnahkan kepadaian penjahat itu."

"Nak!"

Tio Cie hong tersenyum lembut "

Engkau memang tidak salah, namun cukup memusnahkan kepandaian penjahat itu saja."

"Kalau begitu bibi..."

"Dia pun akan memusnahkan kepandaian pembunuh ayahnya,"

Sahut Lim Ceng Im. sambil membelainya.

"Membunuh itu tidak perlu, cukup memusnahkan kepandaian para penjahat saja"

"Ya, Ibu."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang pasti selalu ingat akan nasihat Ibu."

"Engkau memang anakku yang baik"

Lim Ceng Im memeluknya erat-erat dengan penuh kasih sayang.

"Anakku, engkau tidak boleh membunuh siapa pun kelak. Jangan membuat suatu karma yang buruk untuk dirimu sendirit Camkanlah baik-baik nasihat ibu!"

"Ya, Ibu!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang pasti menurut semua nasihat Ayab dan Ibu, Bun Yang tidak mau jadi anak durhaka, dan tidak mau jadi penjahat. Bun Yang berjanji kepada Ayah dan Ibu!"

"Nak!"

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im membelai-beiainya dengan penuh kasih sayang.

-ooo0dw0ooo-Bagian Kedua Kejadian yang tak terduga.

Lie Man Chiu, suami Tio Hong Hoa duduk diatas sebuah batu.

Sepasang matanya terus mengarah ke laut yang membiru itu-Sayup-sayup terdengar suara deruan ombak, diiringi pula oleh suara desiran angin laut.

Kelihatannya ia sedang mempertimbangkan suatu keputusan.

Hal itu dapat diketahui dan keningnya yang terus menerus berkerut.

"Benar."

Gumamnya dengan suara rendah.

"Aku harus mengambil keputusan itu, tidak boleh ragu lagi"

Pada waktu bersamaan, Ia mendengar suara langkah di belakangnya. Tanpa menoleh ia sudah tahu, bahwa itu suara langkah Tio Hong Hoa, isterinya.

"Kakak Chiu..."

Panggil Tio Hong Hoa, kemudian duduk di sisinya.

"Kenapa engkau duduk melamun di sini?"

"Adik Hoa,"

Sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum.

"Aku sedang menikmati keindahan laut."

"Oh?"

Tio Hong boa menatapnya dalam-dalam.

"Tapi kelihatannya engkau sedang memikirkan sesuatu. Apa yang engkau pikirkan? Bolehkah aku tahu?"

"Adik Hoa!"

Lie Man Chiu mengambil sebuah batu kecil, lalu dilemparkannya ke laut seraya berkata.

"Aku tidak memikirkan apa-apa, percayalah!"

"Kalau begitu, legalah hatiku!"

Tio Hong Hoa tersenyum dan menambahkan.

"Aku justru khawatir, ada sesuatu yang terganjel dalam hatimu."

"Tentu tidak"

Lie Man Chiu juga tersenyum.

"Oh ya, Yo Suan Hiang telah pergi ke Tionggoan. Entah bagaimana dia, berhasilkah dia menuntut balas?"

"Kasihan dia!"

Tio Hong Hooa menghela nafas."

Mudahmudahan dia akan berbasil membalas dendam!"

"Adik HoaI "

Lie Man Chiu menatapnya dalam-dalam.

"Engkau tidak berniat sama sekali pergi ke Tionggoan?"

"Kakak Chiu!"

Tio Hong Hoa tersenyum lembut "Bukankah lebih tenang hidup di pulau ini Kita sudah mempunyai anak dan hidup bahagia, jadi untuk apa pergi ke Tionggoan?"

"Tapi anak kita "

Lie Man Chiu memandang jauh ke depan.

"Apakah dia juga harus terus tinggal di sini?"

"Setelah dia dewasa kelak, tentunya dia harus pergi mengembara mencari pengalaman. Engkau tidak mengijinkannya mengembara dalam rimba persilatan?"

"Mengembara cari pengalaman memang harus, namun dunia persilatan penuh berbagai kejahatan dan kelicikan, maka aku kuatir...."

"Ai Ling memiliki sifat baik dan periang Lagi pula____"

Tio Hong Hoa memandang lurus ke depan dan melanjutkan.

"Dia memang harus mencari pengalaman di luar"

"Ngmmm!"

Lie Man Chiu mengangguk "Oh ya, Cie Hiong begitu terkenal dalam rimba persilatan, namun dia malah hidup menyendiri di pulau ini bersama anak isterinya. Bukankah itu sayang sekali?"

"Cie Hiong dan Ceng im memang telah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan lagi Namun Ceng Im pernah memberitahukan kepadaku, bahwa mereka memperbolehkan Bun Yang berkelana untuk cari pengalaman."

Lie Man Chiu manggut-manggut dan berkata.

"Bun Yang memang sangat cerdas dan baik, aku yakin dia akan menjadi seorang Pendekar gagah kelak"

"Benar."

Tio Hong Hoa manggut-manggUt.

"Aku sangat menyukainya, dan Ai Ling pun cocok sekali dengan dia"

"Oh?"

Lie Man Chiu tertawa.

"Aku yakin ada sesuatu di batik ucapanmu itu,"

Bukanya "Ya?"

Tio Hong boa tersenyum.

"Kakak Chiu, alangkah baiknya kita menjodohkan mereka."

"Adik Hoa!"

Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita tidak boleh menjodohkan mereka".

"Kenapa?"

"Mereka berdua memang sangat cocok dan akur, namun hubungan mereka kini merupakan hubungan kakak adik. Oleh karena itu, kita tidak boleh menjodohkan mereka. Lagi pula mereka masih kecil, belum mengenal cinta. Apabila mereka saling mencinta kelak, barulah kita menjodohkan mereka"

"Baiklah."

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Aku mengusulkan begitu karena aku sangat menyukai Bun Yang."

"Engkau boleh menyukainya, tapi jangan dikaitkan dengan perjodohannya."

Ujar Lie Man Chiu sungguh-sungguh "Mereka masih kecil, maka jangan membuat suatu beban yang menekan pikiran mereka."

"Ya"

Tio Hong Hoa mengangguk, kemudian tersenyum seraya berkata.

"Kakak Chiu, mungkin Lam Kiong Bie Liong dan Toan Wie Kie sudah mempunyai anak. Bagaimana kalau suatu hari nanti kita ajak Ai Ling ke Tayli?"

"Boleh."

Lie Man Chiu mengangguk.

"Tapi harus menunggu Ai Ling dewasa dulu."

"Tunggu dia dewasa?"

Tio Hong Hoa terbelajak.

"Bukankah itu masih lama sekali?"

"Tidak apa-apa, kan?"

Lie Man Chiu tersenyum. Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Baiklah."

Pada waktu bersamaan, muncuj Lie Ai Ling menghampiri mereka dengan wajah cerah ceria, Ayah dan ibu ternyata berada di sini!

Ai Ling tadi mencari ke mana-mana tapi tidak ada Tidak tahunya ayah dan Ibu mengobrol di sini"

Ujar Lie AiLing sambil duduk.

"Nak!"

Tio Hong Hoa membelainya.

"Di mana Bun Yang?"

"Kakak Bun Yang sedang berlatih ilmu pedang."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Ibu, kepandaian Kakak Bun Yang semakin tinggi lho!"

"Oh, ya?"

Tio Hong Hoa menatapnya lembut.

"Kenapa engkau tidak berlatih bersamanya?"

"Ai Ling ingin menemani Ayah dan Ibu,"

Sahut Lie Ai Ling lalu menatap Lie Man Chiu.

"Ayah dari tadi duduk di sini?"

"Ya."

Lie Man Chiu manggut-manggut.

"Ayah...."

Lie Ai Ling menundukkan kepala seraya bertanya.

"Kenapa Ayah sering melamun? Ada sesuatu terganjel di dalam hati Ayah?"

"Tidak."

Lie Man Chiu tersenyum sambil membelainya.

"Oh ya, paman Cie hong berkepandaian sangat tinggi, engkau harus banyak belajar kepadanya."

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk, Lie Man Chiu bangkit berdiri, Ia memandang Tio Hong Hoa sepaya berkata.

"Adik Hoa. aku mau ke rumah, Engkau mau menemani Ai Ling berlatih bersama Bun Yang?"

"Baiklah."

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Ai Ling!"

Lie Man Chiu menatapnya lembut.

"Engkau boleh pergi menemui Bun Yang, ayah ingin pergi beristirahat."

"Ya, Ayah."

Lie Ai Ling tersenyum.

Lie Man Chiu melangkah Pergi, sedangkan Tio Bong Hoa menggandeng putrinya ke tempat latihan Tio Bun Yang.

Tio Cie Hiong terus memberi petunjuk kepada putranya mengenai Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling).

Setelah itu, Tio Bun Yang mulai berlatih.

Anak itu tidak menggunakan Pedang, melainkan menggunakan suling kumala, pemberian ayahnya.

"Lweekangnya masih agak dangkal, maka kalau menghadapi lawan yang memiliki tenaga dalam yang tinggi, maka dia akan kewalahan."

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im menyaksikannya dengan penuh perhatian, kemudian mereka saling memandang dengan penuh rasa kagum.

"Kakak Hiong...,"

Bisik Lim Ceng Im.

"Anak kita memang luar biasa, baru tiga hari telah menguasai Cit Loan Kiam Hoat."

"Dia memiliki daya ingat yang kuat sekali,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Bahkan juga memiliki bakat alam, maka tidak sulit baginya untuk mempelajari ilmu silat tingkat tinggi."

"Ng!"

Lim Ceng Im mengangguk.

"Kakak Hiong, kita harus menjadikannya seorang pendekar berkepandaian tinggi, berhati bajik, bijaksana dan adil"

"Benar."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Hanya saja...."

"Kenapa?"

"Kini dia telah memiliki Pan Yak Hian Thian Sin Kang, Kan Kun Taylo Sin Kang, Giok Li Sin Kang dan Kiu Yang Sin Kang. Apabila dia terus bersemedi, beberapa tahun kemudian, lweekangnya pasti tinggi."

"Benar."

Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil tersenyum.

"Dia memang harus menjadi pendekar gagah, berhati bajik, bijaksana dan adil"

"Oh, ya, kupikir..."

"Adik Im?"

Tio Cie Hiong menatapnya mesra.

"Apa yang engkau pikirkan?"

"Entah siapa jodohnya kelak?"

Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.

"Yang jelas harus gadis yang bersifat iemah lembut dengan tatapan sejuk, itu dapat menyejukkan hatinya,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Ooohl"

Lim Ceng im manggut-manggut.

"Aku tahu, tatapan sejuk itu dapat menghilangkan rasa emosinya di saat marah, bukan?"

"Betul."

Tio Cie hong mengangguk.

"Adik cie Hiong!"

Panggil Tio Hong Hoa dengan tersenyum.

"Oh, Kakak!"

Sahut Tio Cie Hiong. Kemudian ia membelai Lie Ai Ling.

"Engkau ke mana? Kok tidak berlatih bersama Bun Yang?"

"Ai Ling pergi mencari Ayah dan Ibu."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Ternyata Ayah Ibu mengobrol dekat pantai."

"Oh!"

Tio cie hong tersenyum sambil memandang Tio Hong Hoa.

"Apa yang kalian obrolkan di sana?"

"Tidak mengobrol apa-apa,"

Jawab Tio Hong Hoa dan menghela nafas panjang.

"Aku melihat dia duduk melamun di dekat pantai, maka aku mendekatinya..."

"Man Chiu duduk melamun dekat pantai?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Apakah dia sedang memikirkan sesuatu?"

"Katanya tidak, tapi...."

Tio Hong Hoa menundukkan kepala.

"Kelihatannya dia memang sedang memikirkan sesuatu."

"Engkau tidak bertanya kepadanya apa yang sedang dipikirkannya?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Aku sudah bertanya kepadanya, namun dia menjawab tidak. Kemudian kami mengalihkan pembicaraan...."

"Mengenai apa?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Itu..."

Tio Hong Hoa tersenyum.

"Mengenai Ai Ling dan Bun Yang."

"Kenapa mereka berdua?"

Tanya Lim Ceng im.

"Aku suka sekali kepada Bun Yang, maka ingin menjodohkan Ai Ling padanya."Tio Hong Hoa memberitahukan.

"Tapi Man Chiu bilang jangan."

"Kenapa?"

Lim Ceng Im menatapnya.

"Man Chiu bilang, mereka masih kecil, jadi belum tahu tentang cinta, Karena itu, tidak boleh membebani pikiran mereka dengan suatu urusan,"

Ujar Tio Hong Hoa memberitahukan.

"Benar apa yang dikatakan Man Chiu"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kita sebagai orang tua, tidak boleh menjodohkan anak, Namun boleh menjodohkan pilihan mereka, jadi orang tua tidak akan dipersalahkan oleh anak,"

"Ya."

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Oh ya, Adik Cie Hiong! Entah bagaimana keadaan Lam Kiong Bie Liong dan Toan Ulie Kie, mungkin mereka pun sudah mempunyai anak. Entah kapan kita akan ke sana atau mereka akan ke mari? Aku ingin mengajak Man Chiu ke Tayli, tapi dia bilang harus menunggu Ai Ling dewasa dulu."

"Kakak!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kami juga rindu sekali kepada mereka, karena sudah sepuluh tahun lebih tidak bertemu"

"Oh, ya!"

Mendadak Tio Hong Hoa tertawa geli.

"Entah bagaimana dengan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin? Mungkinkah mereka telah dikaruniai anak?"

"Tentu mungkin.g Tio Cie Hiong mengangguk dan menambahkan.

"Bahkan aku Pun yakin anak mereka pasti tampan atau cantik."

"Yaaah!"

Tio Hong Hoa menghela nafas. Entah kapan kita akan bertemu mereka lagi!"

"Sudah sepuluh tahun lebih tiada kabar berita mengenaj mereka, yang di Tayli dan yang di Kwan Gwa (Luar Perbatasan)!"

Ujar Tio Cie Hiong sambil menggeleng. gelengkan kepala.

"Rasanya gembira sekali apabila bisa berkumpul kembali!"

"Benar."

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Oh, ya, bagaimana kepandaian Bun Yang? Apakah telah mengalami kemajuan?"

"Memang mengalami kemajuan pesat, hanya saja lweekangnya masih belum begitu tinggi."

Tio Cie hong memberitahukan "Kini aku sedang mengajarnya Cit Loan Kiam Hoat."

"Cit Loan Kiam Hoat?"

Tio Hong Hoa tertegun.

"Setahuku, engkau tidak memiliki ilmu pedang itu."

"Baru kuciptakan belum lama ini,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Dan telah kuajarkan kepada Suan Hiang."

"Oooh!"

Tio Hong Hoa manggut-manggut kagum.

"Pasti lihay sekali ilmu pedang itu!"

"Memang lihay sekali sebab kuciptakan berdasarkan ilmu pedang, yang dimiliki Im Sie Hong Mo dan Pek Ih Hong Li. Namun tidak mudah mempelajarinya"

"Eeeeh?"

Tio Hong Hoa terbelalak ketika menyaksikan Tio Bun Yang sedang berlatih, dan kemudian ia pun merasa pusing "Ilmu itu. ..."

"Itu adalah Cit Loan Kiam Hoat."

Tio Cie Hiong memberitahukan "Tapi Bun Yang menggunakan seruling kumala"

"Bukan main!"

Tio Hong Hoa menghela nafas saking kagumnya "aku jadi pusing menyaksikan ilmu Pedang itu!"

"Maka ilmu pedang Itu dinamai Ilmu Pedang Pusingng Tujuh Keliling,"

Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.

"Adik Cie Hiong!"

Tio Hong Hoa menatapnya.

"Maukah engkau mengajarkan ilmu pedang itu kepada Ai Ling?"

"Tentu boleh"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Mulai hari ini aku akan mengajarkan kepadanya."

"Terimakasih, Adik Cie Hiong"

Ucap Tio Hong Hoa.

"Eh?"

Tio Cie Hiong tersenyum geli "Kok kakak jadi berlaku sungkan kepadaku sih? Tidak usah mengucapkan terima kasih"

"Oh, ya"

Sela Lim Ceng Im mendadak "Aku pun akan menurunkan Giok Li Sin Kang kepada Ai Ling"

"Bagus!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut setuju "Ai Ling memang harus belajar Sin Kang itu, sebab sangat bermanfaat bagi dirinya."

"Adik Ceng Im,"

Ucap Tio Hong Hoa.

"Aku berterima kasih kepadamu!"

"Kakak Hong Hoa....."

Lim Ceng Im tertawa geli.

"Kok jadi begitu sungkan? Kita bukan orang lain, lho."

"Terus terang..."

Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Kalian berdua memang sangat baik terhadapku, maka aku...."

"Kak!' Tio Cie Hiong menggenggam tangan Tio Hong Hoa erat-erat.

"Engkau kakakku, tentunya kami harus baik terhadapmu."

"Terima kasih!"

Ucap Tio Cie Hiong terharu.

"Oh, ya, apakah kalian memperbolehkan Bun Yang berkelana kelak?"

"Itu memang harus,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Tidak mungkin Bun Yang terus tinggal di pulau ini sampai tua, karena dia harus ke Tionggoan mencari Pengalaman"

"Adik Cie Hiong, bagaimana kalau Ai Ling ikut Bun Yang berkelana kelak?"

Tanya Tio Hong Hoa mendadak.

"Itu tidak jadi masalah,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Tapi harus ada persetujuan dan Man Chiu dulu."

"Ya."

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Oh, ya, entah bagaimana keadaan Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin di Tayli? "

"Mereka pasti segar bugar,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum, a Paman Gouw Han Tiong telah lama bergabung dengan Kay Pang, mungkin kini sudah menjadi Tetua di sana"

"Mungkin."

Tio Hong Hoa manggut-manggut.

"Yang paling senang adalah Sam Gan Sin Kay, setiap hari main catur dengan ayah"

"Memang menggelikan,"

Ujar Lim Ceng Im dengan tersenyum.

"Dulu kakek sering ribut dan saling mencaci dengan Kim Siauw Suseng. Kinipun begitu, sering ribut dan sating mencaci dengan ayahmu."

"Itu pertanda mereka akrab sekali."

Tio Hong Hoa memberitahukan.

"Rupanya kakekmu tidak mau meninggalkan pulau ini."

"Benar."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Kakek sudah tua sekali, bagaimana mungkin akan meninggalkan pulau ini."

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong menatapnya lembut seraya bertanya.

"Entah bagaimana keadaan Kay Pang sekarang?"

"Aku yakin bertambah maju,"

Sahut Lim Ceng Im.

"Sebab Paman Gouw Han Tiong berada disana"

"Adik Cie Hiong,"

Ujar Tio Hong Hoa.

"Aku mau pulang dulu, karena Man Chiu berada dirumah."

"Baiklah."

Tio Cie Hiong mengangguk. Tio Hong Hoa melangkah Pergi. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im memandang punggung wanita itu sambil menghela nafas panjang.

"Adik im,"

Ujar Tio Cie Hiong dengan kening berkerut.

"Kakak Hong Hoa bilang, bahwa tadi Man Chiu duduk melamun di dekat pantai, Aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu,"

"Kira-kira apa yang dipikirkannya?"

"Entahlah Tio Cie Hiong"

Menggelengkan kepala "Mudahmudahan dia memikirkan yang baik jadi tidak akan terjadi sesuatu" --ooo0dw0ooo--Pagi ini, mendadak Tio Hong Hoa berlari kesana ke mari sambil berteriak-teriak.

tangannya menggenggam sepucuk surat.

"Kakak chiu Kakak chiu... ."

"Ayah Ayah... ."

Lie Ai Ling juga ikut berlari ke sana ke mari sambil berteriak-teriak memanggil ayahnya.

"Ada apa, ada apa?"

Betapa terkejutnya Tio Tay Seng.

"Apa yang terjadi?"

"Ayah...

"Tio Hong Hoa menangis "Kakak chiu... ."

"Kenapa dia?"

Wajah Tio Tay Seng berubah pucat "Beritahukan kepada ayah, kenapa dia?"

"Dia... dia... telah pergi."

Tio Hong Hoa memberitahukan sambil menangis "Dia meninggalkan sepucuk surat."

"Coba ayah baca"

Tio Tay seng menyambar surat dan tangan putrinya, lalu membacanya dengan kening berkerutkerut.

Adik Hoa.

Sebelumnya aku minta maaf karena meninggalkanmu dan Ai Ling, aku terpaksa.

Telah lama kupertimbangkan, akhirnya aku mengambil keputusan untuk meninggalkan kalian, sebab aku ingin prgi berkelana demi mengorbitkan namaku.

Maka dalam hal ini, sekali lagi aku mohon maaf kepadamu, juga mohon maaf kepada ayahmu.

Adik Hoa, tentunya engkau tahu.

setelah aku memiliki kepandaian tinggi, aku tidak pernah berkelana.

Begitu , mulai berkecimpung dalam rimba persilatan, aku bertemu denganmu lalu kita menikah di pulau Hong Hoang To.

sejak itu aku tidak pernah kemana-mana.

Terus terang, itu sungguh menyiksa hati dan perasaanku.

Akhirnya aku mengambil keputusan meninggalkan kalian, demi mengorbitkan namaku dalam rimba persilatan.

Aku harap engkau maklum dan bersedia memaafkan diriku, kita pasti berjumpa kembali kelak selamat tinggal dan jagalah Ai Ling baik-baik Lie Man chiu "Kurang ajar.

Dasar tak tahu diri"

Caci Tio Tay seng setelah membaca surat itu.

"Dia betul-betul menyusahkan anak isteri"

Lim Tocu sam Gan sin Kay menepuk bahunya.

"Tenang lah. Jangan terus emosi"

"Pengemis bau"

Sahut Tin Tay Seng.

"Mantuku itu sungguh kejam, dia meninggalkan anak isteri hanya demi mengorbitkan namanya dalam rimba persilatan Aku tidak menyangka murid Tayli Lo Ceng akan berubah jadi begitu"

"Kakak...."

Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im dan Tio Bun Yang menghampiri mereka dengan perasaan tercekam.

"Apa yang terjadi, Kak?"

"Man chiu telah pergi,"

Sahut Tio Hong Hoa dengan air mata berderai-derai.

"Dia hanya meninggalkan sepucuk surat."

"Oh?"

Kening Tio Cie Hiong berkerut-kerut.

"Cie Hiong, bacalah suratnya ini"

Tio Tay seng menyerahkan surat tersebut kepada Tio Cie Hiong. Setelah membaca surat itu, Tio Cie Hiong langsung melesat pergi seraya berseru.

"Aku akan mencoba mencari dia"

Sementara Lie Ai Ling terus menangis dengan air mata bercucuran, dan Tio Bun Yang memegang bahunya.

"Adik Ai Ling, jangan terus menangis Engkau akan sakit nanti...."

Kakak Bun Yang Lie Ai Ling memeluknya.

"Ayahku begitu tega meninggalkan kami, dia... dia kejam"

"Adik Ai Ling, tenang lah"

Tin Bun Yang membelainya.

"Ayahku sudab pergi mencari ayahmu, mudah-mudahan ayahmu akan pulang bersama ayahku Kakak Bun Yang...."

Lie Ai Ling terus menangis.

"Ayoh mari kita ke ruang depan menunggu Cie Hiong"

Ajak Tio Tay seng, yang wajahnya masih tampak merah padam saking gusarnya.

Mereka semua menuju ruang depan.

Tio Hong Hoa dan Lie Ai Ling masih terus menangis.

Berselang beberapa saat kemudian, Tio Cie Hiong pulang dengan wajah muram.

"Bagaimana?"

Tanya Tio Hong Hoa kepada Tio Cie Hiong.

"Tiada jejaknya,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil menggeleng gelengkan kepala.

"Aku yakin dia telah berlayar ke Tionggoan."

"Lie Man chiu"

Suara Tio Tay seng mengguntur.

"Binatang kau. Demi mencari nama dirimba persilatan engkau tega meninggalkan anak isteri"

"Tio Tocu"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Dia pergi tidak akan lama, mungkin sebulan dua bulan dia akan pulang."

"Tidak mungkin."

Tio Tay seng menggeleng kepala, kemudian memandang Tio Hong Hoa seraya bertanya.

"Apakah kalian pernah ribut baru-baru ini?"

"Tidak pernah sama sekali,"

Sahut Tio Hong Hoa dan menambahkan.

"Tapi belum lama ini dia sering melamun seorang diri"

Tio Tay seng mengerutkan kening.

"Engkau tidak bertanya kepadanya kenapa melamun?"

"Aku sudah bertanya, tapi dia menjawab tidak..."

Tio Hong Hoa terisak-isak.

"Aaaakh,., keluh Tio Tay seng.

"Kalau memang dia ingin mencari nama di rimba persilatan, tidak seharusnya dia menikah denganku sepuluh tahun yang lalu Dia... telah membuat kalian menderita kini heran, kenapa Tayli La ceng tidak bisa meramalkan tentang ini?"

"Ayah,"

Ujar Tia Hong Hoa mendadak.

"Aku mau menyusulnya ke Tionggoan."

"Hoa ji...."

Tio Tay seng menghela napas panjang. Kak Tio Cie Hiong menatapnya.

"Percuma engkau menyusulnya, sebab dia telah mengambil keputusan itu Lagi pula dia pasti tidak akan menemuimu, maka lebih baik engkau tetap tenang di pulau ini"

"Adik Cie Hiong..."

Tio Hong Hoa menatapnya penuh harap.

"Bersediakah engkau pergi menyusulnya?"

"Sebetulnya tidak jadi masalah. Tapi....

"Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa?"

"Kalaupun aku berhasil menyusul, dia pasti tidak mau ikut aku pulang."

Tio Cie Hiong menjelaskan.

"sebab dia telah membulatkan tekadnya. seandainya dia mau ikut pulang, tentunya dia tidak akan meninggalkan kalian. Kakak harus mengerti itu".

"Lalu bagaimana aku dan Ai Ling?"

Tio Hong Hoa mulai menangis lagi.

"Masih ada aku, Adik Ceng im, Paman dan Kakek pengemis di sisimu Jadi engkau tidak usah terlampau berduka."

Sahut Tio Cie Hiong terus menasihatinya. Sam Gan Sin Kay dan Tio Tay seng saling memandang, kemudian manggut-manggut seakan saling memberi isyarat.

"Cie Hiong, hiburlah dia Paman dan pengemis bau mau pergi main catur,"

Ujar Tio Tay seng, dan mereka berdua lalu pergi.

"Aaaakh..."

Keluh Tio Hong Hoa.

"Aku tidak menyangka"

"Ibu.."

Lie Ai Ling memandangnya dengan air mata bercucuran.

"Ayah tidak akan pulang lagi?"

"Ai Ling,"

Sahut Lim Ceng Im cepat.

"Ayahmu pasti pulang, engkau tidak usah terus bertanya kepada ibumu."

"Ya."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Adik Cie hong, maaf"

Ucap Tio Hong Hoa.

"Aku mau ke kamar untuk beristirahat."

"Baiklah."

Tio Cie Hiong mengangguk. Tio Hong Hoa berjalan ke dalam, dan Lie Ai Ling segera mengikutinya. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im memandang mereka sambil menghela nafas panjang.

"Bun Yang,"

Ujar Tio Cie Hiong berpesan.

"engkau harus sering-sering menghibur Ai Ling, tidak boleh membuatnya kesal"

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk. kemudian menatap Tio Cie Hiong seraya bertanya.

"Ayah, kenapa Paman Man chiu begitu tega meninggalkan Bibi dan Ai Ling?"

"Karena Paman Man Chiu masih punya suatu ambisi."

Tio Cie Hiong menjelaskan.

"Dia tidak memikirkan anak isteri, sebaliknya malah ingin mengorbitkan namanya di rimba persilatan."

"Ayah, kalau begitu Paman Man chiu berhati kejam, karena sudah tidak sayang Bibi dan Ling,"

Ujar Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Bahkan Paman Man chiu pun tidak mempunyai perasaan, begitu tega meninggalkan Ai Ling yang masih kecil. padahal Ai Ling sangat membutuhkan kasih sayangnya."

"Nak"

Lim Ceng Im membelainya.

"Engkau telah melihat itu, maka kelak engkau tidak boleh seperti Paman Man chiu. Ingat baik-baik itu"

"Ibu.."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayah tidak seperti itu, dan Bun Yang pun tidak akan seperti itu pula. Ayah merupakan contoh yang baik bagi Bun Yang, lagipula Bun Yang tidak berhati kejam."

"Bagus, Nak."

Lim CengIm membelainya lagi.

"ibu merasa puas dan bangga padamu, engkau memang anak baik"

"Bun Yang harus menjadi anak baik, tidak mau mengecewakan Ayah dan ibu,"

Ujar anak itu sungguh-sungguh .

"Nak. ayah gembira sekali."

Tio Cie Hiong membelainya.

"Nah, sekarang engkau harus mengajak Ai Ling main, agar dia tidak terus menangis memikirkan ayahnya"

"Ya, Ayah". Tio Bun Yang berjalan ke dalam. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im manggut-manggut sambil tersenyum. Sam Gan sin Kay dan Tio Tay seng duduk di bawah sebuah pohon. Mereka tidak main catur, melainkan terus memperbincangkan tentang kepergian Lie Man chiu, wajah Tio Tay seng tampak muram sekali.

"Yaaah"

Sam Gan sin Kay menarik nafas.

"Memang tidak disangka sama sekali mengenai kejadian ini. Man chiu begitu tega meninggalkan anak isteri hanya demi mengejar nama di rimba persilatan."

"Padahal dia adalah murid kesayangan Tayli Lo Ceng, tapi kenapa...."

Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku yakin Tayli Lo Ceng tahu, namun dia diam saja?"

"Kalau Lo Ceng tua itu tahu, tidak mungkin tidak memperdulikannya. Kukira..."

Tio Tay seng mengerutkan kening dan melanjutkan,"

Lo Ceng itu tidak mengetahui watak asli muridnya itu."

"Menurutku, itu tidak mungkin. Lo Ceng itu pasti tahu, hanya saja... mungkin ada sebab lain,"

Ujar sam Gan sin Kay dan menambahkan.

"Kita tidak tahu berada di mana Lo Ceng itu.."

"Yah, sudahlah"

Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Mungkin sudah nasib putriku". Pada waktu bersamaan, muncullah Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im menghampiri mereka, lalu duduk dengan kening berkerut-kerut.

"Kakek pengemis, Paman"

Panggil Tio Cie Hiong. Cie Hiong.

"bagaimana Hong Hoa?"

Tanya Tio Tay seng. Dia masih terus menangis?"

"Biarlah dia menangis, karena bisa membuat hatinya lega,"

Jawab Tio Cie Hiong.

"Bun Yang berusaha menghibur Ai Ling."

"Aaakh...."

Keluh Tio Tay seng.

"Paman tidak menyangka akan terjadi itu, padahal Hong Hoa dan Man chiu saling mencinta"

"Ambisi "ujar Tio Cie hong menggeleng-gelengkan kepala.

"Ambisi telah menutup rasa sayang dan cintanya terhadap Kakak Hoa serta anaknya."

Cie Hiong Tio Tay seng menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana menurut pendapatmu, apakah Man chiu akan pulang"

"Dia pasti pulang, tapi... tidak begitu cepat,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"sebab dia ingin membuat dirinya terkenal."

"Aku justru mengkhawatirkan itu,"

Sela sam Gan sin Kay sambil menghela nafas panjang.

"Dia begitu tega meninggalkan anak isteri, pertanda hatinya sangat kejam dan tak berperasaan. Kemungkinan besar... dia pun akan berubah jahat. Kakek."

Ujar Lim Ceng im.

"Mungkin tidak serius tentang itu."

"Dia ingin mengorbitkan namanya, sudah barang tentu harus melakukan sesuatu yang menggemparkan rimba persilatan. Menggemparkan dengan perbuatan baik memang tidak masalah, sebaliknya apabila dia...."

Sam Gan sin Kay menghela nafas. Kakek pengemis Tio Cie Hiong tersenyum.

"Tidak mungkin dia akan melakukan kejahatan, sebab dia pasti masih ingat kepada gurunya."

"Hm"

Dengus Tio Tay seng dingin.

"Kalau dia masih ingat kepada gurunya, tentunya dia tidak berani meninggalkan anak isterinya dengan cara begitu seharusnYa dia berunding dengan kita."

Tio Tocu sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau dia berunding dengan kita, tentunya kita tidak mengijinkannya pergi. Karena itu, dia pergi secara diamdiam."

"Yaah, tidak disangka nasib putriku menjadi begini"

Wajah Tio Tay seng bertambah murung, kemudian melanjutkan.

"Kalau dia memang ingin mencari nama dalam rimba persilatan, bukankah dia boleh mengajak putriku?"

Tio Tocu sam Gan sin Kay tersenyum getir.

"Engkau pasti tidak memperbolehkan mereka pergi berkelana, maka dia tidak mau mengajak Hong Hoa."

"Takdir"

Gumam Tio Tay seng.

"Mungkin ini merupakan suatu takdir bagi putriku Aaaakh..." --ooo0dw0ooo--Lie Ai Ling duduk melamun di bawah sebuah pohon. Tanpa sadar tangannya terus mencabut rumput-rumput di sekitarnya.

"Adik Ai Ling "Tio Bun Yang menghampirinya sambil tersenyum lembut.

"Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata engkau duduk melamun di sini Kakak Bun Yang...."

Mata Lie Ai Ling mulai basah.

"Adik Ai Ling"

Tio Bun Yang memegang bahunya lalu duduk."Jangan terus berduka, beberapa hari ini engkau tampak agak kurus, lho"

"Kakak Bun Yang...."

Lie Ai Ling mulai menangis terisakisak.

"Ai Ling tidak menyangka, ayah begitu kejam."

"Adik Ai Ling"

Tio Bun Yang menghapus air matanya.

"sesungguhnya ayahmu tidak kejam, hanya saja dia tidak bisa menekan ambisinya, sehingga meninggalkan engkau dan bibi."

"Kakak Bun Yang, bolehkah seorang ayah meninggalkan anak isterinya hanya demi suatu ambisi? tanya Lie Ai Ling mendadak."

"Seharusnya tidak boleh,"

Jawab Tio Bun Yang.

"Ayah yang baik harus bertanggung jawab, dan ada apa-apa harus berunding dengan yang bersangkutan. Tapi. kesadaran ayahmu telah tertutup oleh ambisinya, sehingga membuatnya tidak berpikir panjang lagi."

Bukan main Padahal Tio Bun Yang baru berusia sepuluh tahun, sedangkan Lie Ai Ling baru sembilan tahun, namun mereka berdua justru bisa saling tukar pikiran dan memperbincangkan suatu masalah.

Bukankah itu luar biasa sekali?

"Kakak Bun Yang sungguh beruntung, mempunyai ayah yang begitu baik.

sebaliknya Ai Ling.."

Air mata Lie Ai Ling mulai meleleh.

"Adik Ai Ling"

Tio Bun Yang menatapnya lembut.

"Ayahku dan ibumu adalah kakak beradik, maka ayahku boleh dikatakan ayahmu juga. sedangkan Bun Yang adalah kakakmu. Ya, kan?"

"Ng.."

Lie Ai Ling menganggu.

"Terima kasih Kakak Bun Yang selalu menghibur Ai Ling"

"Bun Yang memang harus menghiburmu, sebab engkau adikku."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Kakak Bun Yang...."

Lie Ai Ling menatapnya seraya bertanya.

"Kenapa ayah Ai Ling tidak seperti ayahmu?"

"Adik Ai Ling,"

Jawab Tio Bun Yang menjelaskan."

Itu tergantung pada sifat dan watak. karena semua orang tidak memiliki sifat dan watak yang sama. Karena itu, terdapatlah orang baik dan orang jahat."

"Oooh"

Lie Ai Ling manggut-manggut."

Kalau begitu, ayah Ai Ling termasuk orang jahat, kan?"

"Tidak juga."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayah mu terlampau berambisi, sehingga membuatnya jadi begitu"

"Kakak Bun Yang"

Mendadak Lie Ai Ling menatapnya dalam-dalam.

"Apakah kelak Kakak Bun Yang akan seperti ayah Ai Ling?"

"Tentu tidak."

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Bun Yang harus seperti ayah, tidak mau membunuh dan tidak mau menyakiti orang lain. Bun Yang harus menjadi orang baik, bijaksana dan adil,"

"Bagus"

Lie Ai Ling tertawa.

Ai Ling gembira dan bangga memcunyai kakak yang begini.

Di saat mereka berdua bercakap-cakap, tampak sepasang mata mengintip ke arah mereka.

Ternyata Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

Betapa kagum dan gembiranya hati mereka ketika mendengar percakapan itu, dan mereka pun saling memandang sambil manggut-manggut.

"Ayah, ibu"

Seru Tio Bun Yang mendadak."Jangan terus bersembunyi di balik pohon, tidak baik mencuri dengar pembicaraan orang"

Seketika juga Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im melesat ke hadapan mereka, tentunya Lie Ai Ling terkejut sekali.

"Paman, Bibi"

Panggilnya.

"Ai Ling"

Lim Ceng Im membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Nak"

Tio Cie Hiong menatap putranya.

"Bagaimana engkau tahu bahwa kami bersembunyi dibalik pohon?"

"Karena kaki ibu menimbulkan suara, maka Bun Yang tahu kehadiran ibu dan Ayah,"

Jawab Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Kalau kaki ibu tidak menimbulkan suara, Bun Yang pasti tidak akan mengetahuinya"

"Nak"

Tio Cie Hiong menatapnya kagum.

"sungguh tajam pendengaranmu, ayah kagum kepadamu"

"Nak"

Lim Ceng im tersenyum-senyum.

"Padahal kaki ibu hanya bergerak sedikit, tapi engkau dapat mendengarnya. Lagipula... engkau sedang bercakap-cakap dengan Ai Ling, kenapa...."

"ibu"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayah pernah pesan, di mana pun kita berada, harus waspada terhadap tempat sekelilingnya".

"oooh"

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Tapi ini adalah pulau Hong Hoang To, tidak mungking akan muncul musuh."

"ibu, Bun Yang harus membiasakan begini.Kalau sudah terbiasa, tentu tidak akann melalaikannya " .

"Bagus, bagus "Tio Cie Hiong tertawa gembira.

"Itu merupakan kebiasaan yang baik, di manapun kita berada, haruslah waspada. ini sangat penting dan berlaku dalam rimba persilatan"

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Nak"

Lim Ceng im menatapnya sambil tersenyum.

"sudah lama ibu tidak mendengar suara sulingmu, sekarang ibu ingin mendengarnya."

"Ya, ibu."

Tio Bun Yang mengangguk lagi, lalu mulai meniup suling pualam pemberian ayahnya.

Terdengarlah suara suling yang sangat menyentuh hati dan menggetarkan kalbu.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im saling memandang sambil tersenyum-senyum, sedangkan Lie Ai Ling terus menatap Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar.

--ooo0dw0ooo--Bagian ketiga Kehadiran padri tua Dua bulan telah berlalu, namun Lie Man chiu tidak pernah kembali ke pulau Hong Hoang To, tentunya membuat Tio Hong Hoa jadi putus asa dan stress, sehingga badannya bertambah kurus.

Hari ini mereka semua berkumpul di ruang depan.

wajah Tio Tay seng tampak murung sekali, sedangkan sam Gan sin Kay terus menerus menghela nafas panjang.

Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Tio Hong Hoa, Tio Bun Yang dan Lie Ai Ling duduk diam ditempat.

"Aku harus pergi ke Tionggoan mencari Man Chiu,"

Ujar Tio Tay seng penuh kegusaran.

"Kalau dia tidak mau ikut aku pulang, apa boleh buat Aku harus membunuhnya Ayah...."

Tio Hong Hoa mulai terisak-isak.

"Hoaji"

TioTay seng menghela nafas panjang "jangan kau pikirkan dia lagi, anggaplah dia telah mati suami yang begitu macam buat apa dipikirkan"

"Ayah, kasihan Ai Ling."

Air mata Tio Hong Hoa meleleh.

"ibu,"

Ujar Lie Ai Ling cepat menghiburnya.

"Ai Ling baikbaik saja. ibu yang harus menjaga diri, karena badan ibu bertambah kurus."

"Nak...."

Tio Hong Hoa menatap putrinya sambil menggeleng-gejengkan kepala.

"ibu,"

Ujar Lie Ai Ling memberitahukan.

"KakakBun Yang bilang, bahwa kita harus tabah menghadapi kejadian apa pun."

"Hidup memang banyak cobaan, maka kita harus tabah. Nak....

"Tio Hong Hoa terisak-isak.

"Bibi,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Paman Man chiu telah melupakan Bibi dan Adik Ai Ling, namun Bibi masih terus memikirkannya hingga badan Bibi menjadi kurus. Apakah itu berharga bagi Bibi?"

"Bun Yang....

"Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau masih kecil, jadi belum tahu bagaimana cinta dan sayangnya seorang isteri kepada suaminya."

"Bun Yang tahu itu,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Namun Paman Man chiu begitu tega meninggalkan Bibi dan Adik Ai Ling, lalu apa gunanya bibi terus memikirkannya? Itu sama juga menyiksa diri sendiri, bahkan akan membuat Adik Ai Ling berduka pula. Apakah Bibi tidak memikirkan Adik Ai Ling, padahal dia sangat membutuhkan kasih sayang Bibi?"

"Bagus, bagus Masih kecil sudah bisa menasihati orang"

Ujar sam Gan sin Kay mendadak dan menambahkan.

"Hong Hoa, sadarlah Yang harus engkau pikirkan sekarang justru Ai Ling, putrimu. Bukan Man Chiu, yang tak punya perasaan itu. Apa yang dikatakan Bun Yang memang benar. Dia masih begitu kecil, tapi cara berpikirnya malah begitu jauh dan luas."

"Kakek pengemis, aku....

"Tio Hong Hoa menundukkan kepala. Di saat bersamaan, tampak Tio Lo Toa bergegas-gegas berjalan ke dalam dengan wajah serius.

"Tocu Lapor Tio Lo Toa. Tayli Lo Ceng berkunjung."

"oh? Cepat undang beliau masuk "sahut Tio Tay seng.

"Ya"

Tio Lo Toa segera pergi. Tak seberapa lama, terdengarlah suara seseorang, yang amat halus.

"omitohud Maaf, kedatanganku telah mengganggu kalin semua"

Kemudian muncul seorang padri tua, dan memang benar Tayli Lo Ceng.

"selamat datang Lo Ceng"

Ucap Tio Tay seng sambil memberi hormat.

"silakan duduk"

"Terima kasih"

Tayli Lo Ceng duduk. Lo Ceng sam Gan sin Kay memberi hormat. selamat bertemu "omitohud"

Tayli Lo Ceng tersenyum. sin Kay, engkau semakin sehat saja tinggal di sini Ha ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"lo Ceng pun semakin segar bugar lho omitohud.."

"Lo Ceng"

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im memberi hormat. selamat bertemu "Ha ha ha"

TayliLo ceng lertawa.

"Kalau masih hidup, kita pasti akan bertemu. Kelihatannya kalian bahagia sekali."

"Lo Ceng"

Mendadak Tio Hong Hoa bersujud di hadapannya.

"Hong Hoa memberi hormat...."

"omitobud"

Tayli Lo Ceng menatapnya lembut. semua Itu adalah takdir, juga merupakan nasibmu. Tabahkanlah hatimu demi anak. jangan tercekam oleh rasa keputusasaan Lo Ceng...."

Air mata Tio Hong Hoa berderai-derai.

"omitohud"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"Bangunlah"

Tio Hong Hoa bangkit berdiri, dan di saat bersamaan mendadak Tio Bun Yang bersujud dihadapan Tayli Lo Ceng. Bun Yang memberi hormat kepada Lo Ceng "omitohud"

Tayli Lo Ceng menatapnya, kemudian tertawa gelak.

"Bagus, bagus Engkau pasti putra Tio Cie Hiong"

"Betul, Lo Ceng. Tio Bun Yang mengangguk. lalu berkata kepada Lie Ai Ling.

"Adik Ai Ling, cepatlah bertutut memberi hormat kepada Lo Ceng"

"Ya". Lie Ai Ling segera berlutut di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Ai Ling memberi hormat kepada Lo Ceng"

"omitobud"

Tayli Lo Ceng menatapnya dalam-dalam.

"Engkau pasti putri Lie Man Chiu omitohud semua itu memang takdir, siapa yang melawan takdir? Kecuali dengan perbuatan yang baik"

"Lo Ceng,"

Tanya Tio Bun Yang mendadak "Paman Man Chiu meninggalkan Bibi dan Adik Ai Ling, apakah itu merupakan suatu takdir?"

"omitohud Itu boleh dikatakan karma,"

Sahut Tayli La Ceng "Anak baik, kalian bangunlah"

"Terima kasih, Lo Ceng"

Ucap Tio Bun Yang lalu bangkit berdiri Lie Ai Ling juga ikut berdiri dan duduk di tempat masing-masing. Lo Ceng Tio Tay seng menatapnya Tentunya Lo Ceng sudah tahu akan kejadian di sini "omitohud"

Sahut Tayli Lo Ceng Tio Tocu.

"itu boleh d ikatkan suatu karma. Dalam hal tersebut, jangan mempersalahkan siapa pun"

"Lo Ceng"

Sela sam Gan sin Kay "Lie Man chiu meninggalkan anak isterinya hanya demi mengejar nama, itulah kesalahannya Kenapa Lo Ceng malah bilang jangan mempersalahkan siapa pun?"

"Aku ke mari justru ingin menjelaskan tentang itu,"

Ujar Tayli Lo Ceng "Hidup tidak akan terlepas dari takdir, nasib, peruntungan, jodoh, musibah dan karma Berhubung dulu Tio Po Thian pernah meninggalkan isterinya, maka karma itu jatuh pada Tio Hong lion oleh karena itu, harap Tio Tocu harus paham akan hal tersebut"

"Jadi....

"Tio Tay seng mengernyitkan kening.

"Yang bersalah dalam hal tersebut adalah almarhum ayahku?"

"omitobud "Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"suatu karma yang diperbuat seseorang, ituakan jatuh pada anak cucunya."

"Yaah"

Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau kejadian itu merupakan suatu karma, akujuga tidak bisa bilang apa-apa lagi."

"Lo Ceng,"

Tanya sam Gan sin Kay mendadak.

"selama ini Tio Cie Hiong tidak pernah membunuh dan melakukan suatu kejahatan, maka tentu tiada karma buruk bagi dirinya."

"omitohud"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"itu memang tidak salah."

Lo Ceng Tio Cie Hiong tersenyum.

"Bagaimana perjalanan hidup anakku kelak? Tentunya tidak akan terlepas dan suatu cobaan."

Tayli Lo Ceng menatap Tio Bun Yang.

"Hatinya bajik, imannya kuat dan tidak mudah tergoda maupun terpengaruh. Mengenai penyakitnya itu, kelak akan sembuh dengan sendirinya."

"Terima kasih, Lo ceng"

Ucap Tio Cie Hiong. Lo Ceng, tanya Tio Hong Hoa mendadak.

"Apakah Man chiu akan pulang ke mari?"

"omitohud Kelak engkau akan mengetahui,"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Yang pasti putrinya akan hidup bahagia kelak."

"Lo Ceng...."

Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"omitohud"

Tayli Lo Ceng tersenyum lembut dan menambahkan.

"suatu karma buruk harus dihabiskan dengan perbuatan baik, agar tidak membuat sengsara turunan."

"Lo Ceng,"

Tanya Lim Ceng Im.

"Bolehkah putraku pergi berkelana kelak?"

"Boleh. Tayli Lo Ceng mengangguk.

"sebab kelak rimba persilatan sangat membutuhkan kehadirannya."

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im saling memandang, mereka tahu bahwa apa yang diucapkan Tayli Lo Ceng mengandung arti yang dalam.

"Maksud Lo Ceng?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"omitohud "sahut Tayli Lo Ceng.

"Itu merupakan suatu rahasia, yang jelas dia tidak akan terjadi apa pun."

"Terima kasih, Lo Ceng"

Ucap Tio Cie hong.

"omitohud"

Tayli Lo Ceng tersenyum sambil bangkit berdiri.

"Aku mau mohon pamit, karena harus berangkat ke Tayli"

"Lo Ceng,"

Pesan Tio Cie Hiong.

"Tolong sampaikan salamku pada Toa n wie Kie, La m Kiong Bie Liong dan lainnya"

"omitohud Pasti kusampaikan,"

Sahut Tayli Lo Ceng sekaligus melesat pergi.

"sampai jumpa"

"Karma Betulkah itu merupakan suatu karma?"

Gumam Tio Tay seng sambil menghela nafas panjang.

"Yaah, sudahlah"

"Ayah,"

Ujar Tio Hong Hoa dengan wajah murung.

"Kini aku telah sadar, bahwa segala sesuatu itu memang merupakan takdir atau karma.Jadi mulai sekarang aku tidak akan memikirkan Man chiu lagi, dan akan baik-baik mendidik Ai Ling?"

"Benar, Hoa ji.

"Tio Tay seng manggut-manggut.

"Memang harus begitu dan legalah hatiku kin"i "Kakak "Tio Cie hong memandangnya sambil tersenyum.

"Aku gembira mendengar ucapanmu."

"Adik Cie Hiong..."

Tio Hong Hoa juga tersenyum, namun senyumnya masih tampak getir.

"Mulai sekarang, aku akan baik-baik mendidik Ai Ling." ---ooo0dw0ooo---Di halaman istana Tayli, tampak beberapa orang sedang duduk sambil bercakap-cakap. Di sana terlihat pula dua orang anak sedang berlatih ilmu silat. Mereka adalah Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Liansedangkan kedua anak itu adalah Toan Beng Kiat, putra Toan wie Kie, dan yang satu lagi adalah putri Lam Kiong Bie Liong, yang bernama Lam Kiong Soat Lan.

"Mereka berdua telah mengalami banyak kemajuan,"

Ujar Toan wie Kie sambil menunjuk kedua anak itu.

"Hanya saja...."

"Kenapa?"

Tanya Gouw sian Eng.

"Kepandaian kita terbatas sekali, maka tidak bisa menurunkan kepandaian tinggi kepada mereka,"

Jawab Toan wie Kie sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Ya."

Gouw sian Eng manggut-manggut.

"oh ya, sudah hampir sebelas tahun kita berpisah dengan Tio Cie Hiong, entah bagaimana keadaan mereka di pulau Hong Hoang To?"

"Ha ha"

Lam Kiong Bie Liong tertawa.

"Mereka pasti hidup bahagia di sana."

"Entah mereka sudah mempunyai anak atau belum?"

Ujar Toan pit Lian mendadak.

"Aku yakin mereka pasti sudah mempunyai anak."

Sahut Lam Kiong Bie Liong dan menambah kan.

"Aku... aku rindu sekali pada mereka."

"sama,"

Ujar Toan wie Kie.

"Entah kapan kita akan berjumpa mereka lagi"

"Bagaimana kalau kita ke sana?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong mendadak.

"Tidak bisa. Toan wie Kie menggelengkan kepala. sebab ayah pasti tidak memperbolehkan.

"Yaah Kalau begitu...."

Lam Kiong Bie Liong menghelakan nafas panjang.

"oh ya"

Tiba-tiba Gouw sian Eng tertawa geli. Tentunya kalian masih ingat kepada Kim siauw suseng dan Kou HHun Bijin, bukan? Entah mereka sudah mempunyai anak atau belum?"

"Ha ha ha"

Lam Kiong Bie Liong tertawa gelak.

"suami isteri yang awet muda itu, mungkin sudah mempunyai anak."

"Usia Kou Hun Bijin seratus lebih, dan usia Kim Siauw suseng hampir seratus. Apakah mereka masih bisa mempunyai anak?"

Ujar Toan pit Lian.

"Aku yakin mereka masih bisa mempunyai anak."

Sahut Gouw sian Eng dan melanjutkan.

"Kalau anak mereka perempuan pasti cantik sekali, dan kalau lelaki, pasti tampan luar biasa."

"Benar."

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"sebab mereka awet muda, tentunya anak mereka pasti cantik atau tampan."

"setelah mereka mempunyai anak, apakah mereka akan tetap awet muda?"

Tanya Toan pit Lian "Entahlah."

Lam Kiong Bie Liong menggelengkan kepala.

"Menurutku..."

Ujar Toan Wie Kie setelah berpikir sejenak.

"Kemungkinan besar mereka tidak akan tetap awet muda".

"Kenapa?"

Tanya Gouw sian Eng heran.

"Maaf, Adik sian Eng"

Jawab Toan wie Kie sambil tersenyum.

"Aku tidak bisa menjelaskan, karena cuma menduga saja."

Ayah Toan Beng Kiat menghampiri mereka.

"Bagaimana ilmu silat Beng Kiat? Apakah sudah ada kemajuan?"

"sudah maju pesat, Nak", sahut Toan wie Kie sambil tersenyum. Ayah Lam Kiong Soat Lan menghampiri mereka dengan wajah berseri.

"Ilmu silat Soat Lan? sudah ada kemajuan seperti Kakak Beng Kiat?"

"Tentu", sahut Lam Kiong Bie Liong sambil tertawa.

"Ilmu silatmu telah maju pesat".

"Ayah", tanya Toan B eng Kiat mendadak.

"Kalau kami sudah dewasa kelak. bolehkah kami berkelana ke Tionggoan?"

"Itu urusan kelak jadi harus dibicarakan kelak pula", jawab Toan wie Kie.

"Ibu"

Toan Beng Kiat menatap Gouw sian Eng.

"Kata ibu kepandaian Paman Cie Hiong tinggi sekali, benarkah itu?"

"Benar, Nak". Gouw sian Eng mengangguk.

"Kalau begitu, Beng Kiat ingin belajar kepada Paman Cie Hiong", ujar Toan B eng Kiat sungguh-sungguh.

"Jadi Beng Kiat bisa berkepandaian tinggi."

"Paman Cie Hiong tinggal di pulau Hong Hoang To, sangat jauh sekali."

Toan wie Kie memberitahukan "Ayah, kapan kita pergi menemui Paman Cie Hiong? setelah engkau dewasa kelak."

"Yaah"

Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kemala.

"Itu masih lama sekali".

"Nak"

Gouw sian Eng menatapnya dalam-dalam.

"Kenapa engkau ingin belajar ilmu silat tingkat tinggi?"

"Ibu"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Beng Kiat ingin menjadi pendekar, yang selalu menolong orang, maka harus memiliki kepandaian tinggi".

"Ha ha ha"

Tiba-tiba muncul Tui Hun Lojin sambil tertawa gelak.

"Usiamu baru sepuluh tahun,kok sudah ingin jadi pendekar?"

"Bukan sekarang, Kakek Tua", ujar Toan Beng Kiat.

"Melainkan kelak setelah Beng Kiat dewasa, Beng Kiat ingin berkelana ke Tionggoan"

"oh?"

Tui Hun Lojin tersenyum.

"Kalau begitu, engkau harus giat belajar".

"Ya, Kakek Tua". Toan Beng Kiat mengangguk.

"Bagus, bagus"

Tiba-tiba muncul pula Lam Kiong hujin sambil tertawa-tawa.

"Mau menjadi pendekar harus berhati bajik lho"

"Ya, Nek". Toan Beng Kiat mengangguk. Nenek Lam Kiong Soat Lan menghampirinya.

"Soat Lan juga ingin menjadi pendekar wanita, boleh kan?"

"Tentu boleh". Lam Kiong hujin membelainya.

"oh ya, engkau sudah berlatih ilmu tongkat yang nenek ajarkan itu?"

"Nenek"

Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Setiap hari Soat Lan pasti berlatih ilmu tongkat dan ilmu selendang."

"Bagus, bagus"

Lam Kiong hujin tertawa gembira, kemudian memandang Lam Kiong Bie Liong seraya bertanya.

"Engkau sudah ajarkan dia Thay Yang Kiam Hoat (Ilmu Pedang surya)?"

"sudah Lam Kiong Bie Liong mengangguk dengan wajah berseri.

"Soat Lan telah menguasai ilmu pedang itu."

"Bagus"

Lam Kiong hujin manggutmanggut. Di saat bersamaan, mendadak melayang turun seorang padri tua, membuat mereka girang bukan main.

"omitohud?"

Padri tua itu ternyata Tayli Lo Ceng. Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Lian segera bersujud dihadapan padri tua itu.

"Kami memberi hormat kepada Lo Ceng"

"Ha ha "Tayli Lo Ceng tertawa.

"Kalian bangunlah"

Mereka bangkit berdiri, kemudian menyuruh Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan memberi hormat kepada padri tua itu.

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan langsung menjatuhkan diri di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Beng Kiat memberi hormat kepada Lo Ceng Soat Lan memberi hormat kepada Lo Ceng"

"Omitohud"

Tayli Lo Ceng tersenyum lembut, kemudian menatap kedua anak itu dengan tajam dan manggutmanggut.

"Kalian bangunlah"

"Terima kasih", Lo Ceng Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan bangkit berdiri Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin memberi hormat kepada Tayli Lo Ceng Padri tua itu memandang mereka sambil tertawa.

"omitohud"

"selamat datang, Lo Ceng"

Ucap Tui Hun Lojin-"Angin apa yang membawa Lo Ceng kemari?"

"Ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa."

Bukan angin yang membawaku ke mari, melainkan atas kemauanku sendiri"

"Lo Ceng"

Toan wie Kie memandangnya"

Apakah ada sesuatu penting?"

"Penting dan tidak". sahutnya sambil memandang Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan-"Terus terang, aku ingin memanfaatkan sisa hidupku untuk kedua anak ini."

"oh?"

Toan wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong girang bukan main-"Maksud Lo Ceng ingin menerima mereka sebagai murid?"

"omitohud Memang begitulah maksudku".

"Terima kasih", Lo Ceng ucap Toan wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong serentak dengan wajah berseri-seri.

"Tapi masih harus kubicarakan dengan Toan Hong Ya, ayahmu?"

Tayli Lo Ceng memberitahukan-"sebab aku akan membawa kedua anak itu ke gunung Thay san, dan akan menggembleng mereka berdua di sana"

Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong, Toan pit Lian, Tui HHun Lojin dan Lam Kiong hujin saling memandang, lama sekali barulah Toan wie Kie membuka mulut.

"Lo Ceng, bukankah lebih baik Lo Ceng tinggal di sini?"

"Kalian berkeberatan?"

Tanya Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"Berkeberatan sih tidak, tapi...."

Toan pit Lian menundukkan kepala dan melanjutkan.

"Jelas kami akan berpisah dengan anak,"

"Tujuh atau delapan tahun kemudian, mereka pasti kembali ke sini", ujar Tayli Lo Ceng dan menambahkan.

"Apabila kalian merasa berat berpisah dengan anak, berarti kalian telah menyia-nyiakan kesempatan."

"Itu...", ujar Toan wie Kie.

"Bagaimana keputusan ayah kami saja".

"Ngmm"

Tayli Lo Ceng manggut-manggUt, kemudian mengalihkan pembicaraan.

"oh ya, aku ke mari dari pulau Hong Hoang To. Tio Cie Hiong mengirim salam untuk kalian,"

"oh, ya?"

Toan Wie Kie gembira sekali.

"Bagaimana keadaan Cie Hiong dan isterinya, apakah mereka sudah mempunyai anak?"

"Ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Mereka berdua akan hidup rukun dan bahagia hingga di akhir hayat nanti. Mereka pun sudah mempunyai seorang putra bernama Tio Bun Yang".

"syukurlah"

Ucap Toan wie Kie.

"Lo Ceng", tanya Toan pit Lian.

"Bagaimana anak itu, apakah seperti ayahnya?"

"Anak itu lebih tampan dan cerdas dibandingkan dengan Cie hong". Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Bahkan berhati bajik, mulia dan bijaksana. Kelak dia pasti menjadi seorang pendekar yang luar biasa."

"oh?"

Lam Kiong Bie Liong tersenyum.

"Lo Ceng, bagaimana dengan putri kami ini?"

"omitohud"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Aku tahu maksudmu, tapi putrimu buka n jodoh anak itu."

"Lo Ceng...."

Lam Kiong Bie Liong menghela nafas panjang.

"Aku memang bermaksud menjodohkan putriku kepada anak itu, namun...."

"Kelak putrimu akan ketemu jodohnya sendiri"

Tayli Lo Ceng tersenyum dan menambahkan.

"Begitu pula Toan Beng Kiat".

"Terima kasih", Lo Ceng ucap Toan wie Kie. Mendadak muncul Toan Hong Ya dan isterinya. Ternyata salah seorang dayang melihat Tayli Lo Ceng, lalu cepat-cepat melapor.

"selamat datang", Lo Ceng ucap Toan Hong Ya, dan kemudian isterinya bersujud di hadapan padri tua itu.

"omitohud Kalian bangunlah"

Toan Hong Ya dan isterinya bangkit berdiri, kemudian Toan Hong Ya mempersilakan Tayli Lo Ceng masuk ke dalam.

"Tidak usah ke dalam"

Tolak Tayli Lo Ceng.

"Kita bercakapcakap di sini saja"

"Baiklah."

Toan Hong Ya mengangguk.

"Ayah"

Toan wie Kie memberitahukan.

"Lo Ceng dari pulau Hong Hoang To".

"oh? Bagaimana keadaan mereka di sana, Lo Ceng?"

Tanya Toan Hong Ya.

"Mereka baik-baik saja". Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Tio Cie Hiong pun sudah mempunyai seorang putra, bernama Tio Bun Yang."

"syukurlah"

Toan Hong Ya tampak girang sekali, kemudian bertanya.

"Murid Lo Ceng dan Tio Hong Hoa juga sudah punya anak?"

"Mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Lie Ai Ling. Tapi...."

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa?"

Tanya Toan Hong Ya heran-"Lie Man chiu telah meninggalkan pulau Hong Hoang To", jawab Tayli Lo Ceng sambil menghela nafas.

"omitohud "Itu memang sudah merupakan takdir, maka Tio Hong Hoa harus menerimanya ."

"Lo Ceng,"

Tanya Gouw sian Eng.

"Lie Man chiu pergi ke mana?"

"Dia pergi ke Tionggoan untuk mencari nama. omitohud itu adalah takdirnya, maka aku pun tidak bisa melarangnya. Karena aku tidak boleh melawan takdir itu, kalau aku melawan takdir itu, kelak akan menimbulkan suatu karma lagi bagi mereka."

"Ituu...."

Sebetulnya Lam Kiong Bie Liong ingin menanyakan sesuatu, namun tadi Tayli Lo Ceng telah mengatakan bahwa itu sudah merupakan takdir, maka Ia tidakjadi bertanya.

"omitohud"

Tayli Lo Ceng menghela nafas.

"Kejadian itu pun boleh dikatakan merupakan suatu karma. oleh karena itu, janganlah kalian melakukan sesuatu yang akan menimbulkan karma buruk."

"Ya."

Toan wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong mengangguk. Hong Ya Tayli Lo Ceng menatapnya seraya berkata.

"Aku berniat menerima Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sebagai murid".

"oh?"

Wajah loan Hong Ya berseri.

"Terima kasih, Lo Ceng"

"Tapi mereka berdua harus kubawa ke Gunung Thay San, aku akan menggembleng mereka di sana. Hong Ya berkeberatan mengenai itu?"

"Tentu tidak."

"Bagus"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut, kemudian menatap Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan seraya bertanya.

"Kalian berdua mau menjadi muridku?"

"Mau". sahut kedua anak itu serentak. Namun mendadak Toan Beng Kiat bertanya.

"Apakah kepandaian Lo Ceng tinggi sekali?"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Di atas gunung masih ada gunung, di atas langit masih ada langit. Artinya kepandaian itu tiada batasnya, engkau harus tahu itu". katanya.

"Ya", Lo Ceng. Toan Beng Kiat mengangguk. kemudian menarik Lam Kiong Soat Lan diajak berlutut di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Guru, terimalah hormat kami berdua"

"omitohud"

Tayli Lo Ceng tersenyum lembut."

Kalian berdua bersedia ikut aku ke Gunung Thay san?"

"Bersedia", sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak.

"Kalian harus tahu". Tayli Lo Ceng memandang mereka.

"Tentunya kalian harus berpisah dengan orang tua, apakah kalian merasa berkeberatan"

"sebetulnya Beng Kiat merasa berkeberatan sekali, tapi demi menuntut ilmu, berpisah sementara dengan orang tua tidak jadi masalah."

"Omitohud"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Soat Lan, bagaimana engkau?"

"seperti Kakak Beng Kiat", jawab Lam Kiong Soat Lan-"Kalian berdua pun harus tahu, bahwa tujuh atau delapan tahun kemudian, barulah kalian akan berjumpa orang tua."

"Tidak apa-apa", ujar Toan Beng Kiat seakan telah mengambil keputusan-"Kami berdua pergi menuntut ilmu, jadi orang tua kami pun pasti merasa girang."

"omitohud"

Tayli Lo ceng tersenyum lembut.

"Bagus, mulai sekarang kalian berdua resmi jadi muridku."

"Terima kasih, Lo Ceng"

Ucap Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak dengan wajah berseri.

"sekarang kalian boleh bangun-"

"Ya, Guru". Toan Beng Kiat menarik Lam Kiong Soat Lan untuk diajak bangun.

"Lo Ceng", tanya Toan wie Kie.

"Kapan Lo Ceng akan membawa mereka ke Gunung Thay san?"

"Besok pagi", sahut Tayli Lo Ceng memberitahukan-"Beng Kiat", pesan Toan wie Kie.

"Ayah harap engkau belajar dengan sungguh-sungguh, Jangan mengecewakan Lo ceng"

"Ya, Ayah". Toan Beng Kiat mengangguk.

"Soat Lan", pesan Lam Kiong Bie Liong.

"Engkau pun harus belajar dengap giat, jangan mengecewakan kedua orang tuamu"

"Ya, Ayah". Lam Kiong Soat Lan tersenyum. Tujuh atau delapan tahun kemudian, Soat Lan akan menjadi seorang pendekar wanita. ---ooo0dw0ooo---Bagian Keempat Suara suling mengalun di lembah Di Kwan Gwa (Luar Perbatasan) terdapat sebuah lembah, yang sangat indah menakjubkan. Bunga-bunga liar bermekaran segar dan sayup,sayup terdengar pula suara air terjun yang diiringi oleh kicauan burung. Mendadak terdengarlah suara suling, yang sangat merdu, dan siapa yang mendengar suara suling itu, pasti akan terbuai. siapa yang meniup suling di lembah yang sepi itu? Ternyata seorang anak gadis berusia sembilan tahun duduk di atas sebuab batu sambil meniup suling. Bukan main cantiknya gadis itu Wajahnya mulus kemerahmerahan, hidung mancung dan mulut kecil mungil, sepasang matanya bersinar terang, lembut dan sejuk. sebetulnya siapa anak gadis yang begitu cantik? Tidak lain putri kesayangan Kim siauw suseng dan Kou Hun Bijin, yang bernama siang Koan Goat Nio. Pagi ini setelah berlatih Giok Li Kiam (Ilmu Pedang Gadis Murni) dengan mempergunakan suling emas pemberian ayahnya, siang Koan Goat Nio lalu duduk di atas batu sambil meniup suling. Di saat sedang asyik meniup suling, mendadak gadis itu melihat sesuatu terjatuh dan atas pohon. segeralah ia melesat ke sana, sekaligus menyambut benda yang jatuh itu, yang ternyata seekor anak burung.

"ciit ciiiit Anak burung itu mencicit.

"Ciauji (Anak Burung)"

Siang Koan Goat Nio membelainya seraya berkata.

"Kenapa engkau tidak berhati-hati Kalau tubuhmu membentur tanah, bukankah engkau akan terluka? Lain kali engkau harus hati-hati. sekarang aku akan menaruhmu kembali ke sarang."

Siang Koan Goat Nio melesat ke atas pohon, lalu menaruh anak burung itu ke dalam sarangnya.

setelah itu, barulah ia meloncat turun dan kembali duduk di atas batu, dan mulai meniup suling lagi.

Di saat Ia berhenti meniup sulingnya, Kim siauw suseng dan Kou Hun Bijin muncul sambil tertawa-tawa.

"Bagus, Nak ujar Kim siauw suseng. Engkau telah menguasai Toh Hun Mi Im (Suara Pembetot sukma) "

"Ayah, ibu"

Siang Koan Goat Nio tersenyum. Bukan main lembutnYa senyuman anak gadis "Nak"

Kou Hun Bijin membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Engkau tidak melatih Giok Li Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Gadis Murni) dan Giok Li Kiam Hoat (Ilmu Pedang Gadis Murni)?"

"ibu, Goat Nio sudah berlatih tadi". siang Koan Goat Nio memberitahukan-"setelah itu, barulah Goat Nio meniup suling".

"oooh"

Kou Hun Bijin manggut-nanggut.

"Nak"

Kim siauw suseng menatapnya lembut.

"Engkau tidak berlatih Cap Pwee Kim siauw Ciat bat (Delapan BelasJurus Maut suling emas)?"

"sudah, Ayah". siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Goat Nio telah menguasai ilmu itu".

"Bagus"

Kim siauw suseng tertawa gembira.

"Engkau harus terus berlatih agar berkepandaian tinggi, jadi kami tidak akan khawatir kalau kelak engkau pergi berkelana".

"Ayah"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Kalau tidak salah, Ayah dan ibu pernah memberitahukan pada Goat Nio, bahwa kepandaian Paman Cie Hiong sangat tinggi sekali. Apakah Paman Cie Hiong sudah tiada tanding di kolong langit?"

"Kira-kira begitulah"

Kim siauw suseng mengangguk. Tapi... dia sering mengalami cobaan-"

"Ayah pernah menceritakan itu. Goat Nio sangat kagum dan salut kepada Paman Cie hong, sebab dia begitu setia kepada Bibi Lim Ceng im."

"Dia pun berhati bajik, luhur dan mulia", tambah Kou Hun Bijin "lbu sayang sekali kepadanya."

"Ayah, ibu,"

Tanya siang Koan Goat Nio.

"sudah berapa lama tidak bertemu mereka?"

"Hampir sebelas tahun", jawab Kou Hun Bijin-"Entah mereka sudah mempunyai anak atau belum?"

Kim siauw suseng tersenyum.

"Aku yakin mereka sudah mempunyai anak. mungkin sebesar Goat Nio."

Suseng Kou Hun Bijin menatapnya.

"Terus terang, aku berharap dia mempunyai anak laki-laki"

"Kenapa engkau berharap begitu?"

Tanya Kim siauw suseng.

"Kalau mereka mempunyai anak laki-laki, aku percaya merupakan anak yang baik seperti ayahnya,"

Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan.

"Maksudku ingin menjodohkan Goat Nio pada anak mereka itu"

"Eh? Bijin Kim siauw suseng tertawa geli.

"Putri kita baru berusia sembilan tahun, kenapa engkau sudah kalut tentang jodohnya?"

"Bukan kalut, melainkan memikirkannya", sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring. Itu sudah merupakan kebiasaannya, namun siang Koan Goat Nio justru tidak ketularan kebiasaan ibunya itu.

"Aku sih setuju saja,"

Ujar Kim siauw suseng sambil melirik putrinya.

"Tapi itu juga harus tergantung pada mereka. Apabila mereka saling mencinta, memang tidak ada salahnya kita menjodohkan mereka."

"Ayah, ibu"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Usia Goat Nio baru sembilan tahun, kenapa sudah membicarakan perjodohan Goat Nio?"

"Kami adalah orang tuamu, sudah barang tentu harus memikirkan dan membicarakan mengenai perjodohanmu. Ya, kan?"

Sahut Kou Hun Bijin-"Terima kasih, ibu"

Ucap siang Koan Goat Nio sambil tertawa kecil.

"Namun terlampau dini membicarakannya".

"Nak"

Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam.

"Engkau menyukai anak laki-laki yang bagaimana?"

"ibu...."

Wajah siang Koan Goat Nio kemerah-merahan-"Tidak apa-apa", desak Kou Hun Bijin "jawab sajaGoat Nio...."

Gadis itu menundukkan kepala sambil melanjutkan.

"Menyukai anak laki-laki yang lemah lembut, berhati bajik dan luhur, alim, kalem dan tidak ceriwis. Harus setia dan mencintaiku selama-lamanya."

"Nah, itu"

Kou Hun Bijin tertawa gembira.

"ibu...."

Siang Koan Goat Nio tercengang.

"Apa itu?"

"Tio Cie hong berhati bajik, luhur, dan... pokoknya dia serba baik. Begitu pula Lim Ceng Im isterinya, begitu setia dan sangat mencintai suaminya. Kalau mereka mempunyai anak laki-laki, tentunya akan seperti Tio Cie Hiong,"

Sahut Kou Hun Bijin dan menambahkan.

"Maka...."

Bijin Kim siauw suseng tertawa gelak.

"Kenapa engkau begitu kalut?"

"Aku tidak kalut, tapi menghendaki mantu yang baik. Ingat, Goat Nio adalah anak kita satu-satunya, maka kita harus menaruh perhatian pada perjodohannya."

"Benar. Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Namun itu juga tergantung dan pilihannya kelak."

"Nak"

Kou Hun Bijin memandang putrinya sambil tersenyum.

"Tentunya kami tidak akan memaksa, bagaimana engkau saja kelak."

"ibu"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Goat Nio tidak pernah berjumpa dengan mereka, lagi pula belum tentu Paman Cie Hiong mempunyai anak laki-laki. seandainya Paman Cie Hiong mempunyai anak perempuan? itu bagaimana?"

"Tidak apa-apa". Kou Hun Bijin tertawa.

"Namun ibu yakin mereka mempunyai anak laki-laki, yang sangat tampan" ---ooo0dw0ooo---"Ibu...."

Siang Koan Goat Nio tertawa geli.

"Ayah tidak salah, ibu meniang kalut sekali."

"Ibu memang harus kalut."

Kou Hun Bijin tertawa geli.

"Oh ya, masih ada Paman Toan dan Paman Lam Kiong. Mereka semua tinggal di Tayli, mungkin mereka juga sudah mempunyai anak."

"Ibu, kalau berjumpa semua, kita pasti ramai dan gembira sekali,"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Benar. Entah kapan kita akan berjumpa mereka!"

Ujar Kim Siauw Suseng dan menambahkan.

"Sam Gan Sin Kay tinggal di pulau Hong Hoang To, Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin tinggal di Tayli, sedangkan Gouw Han Tiong telah bergabung dengan Kay Pang. Kita sudah sepuluh tahun lebih tidak menginjak daerah Tionggoan, entah bagaimana keadaan rimba persilatan disana?"

"Ayah, bukankah di Tionggoan terdapat tujuh partai besar?"

Tanya Siang Koan Goat Nio mendadak.

"Partai mana yang paling terkenal?"

"Siauw Lim Pay,"

Sahut Kim Siauw Suseng.

"Selain Paman Cie Hiong, apakah masih ada orang lain berkepandaian tinggi sekali?"

"Ada."

Kou Hun Bijin memberitahukan.

"Tayli Lo Ceng dan It Sim Sin Ni, nenek Paman Cie Hiong!"

"Kepandaian siapa yang paling tinggi?"

"Tio Cie Hiong,"

Sahut Kim Siauw Suseng.

"Dia memang luar biasa, ilmu silat aliran manapun dapat dipahaminya hanya sekali pandang!"

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio semakin kagum.

"Ayah, ingin sekali rasanya Goat Nio bertemu Paman Cie Hiong."

"Ha ha!"

Kim Siauw Suseng tertawa.

"Kalau dia mempunyai anak laki-laki, bukankah lebih baik engkau menemui anaknya?"

"Ayah..."

Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.

"Heran! Kelihatannya Ayah dan Ibu yakin sekali, bahwa Goat Nio akan berjodoh dengan anak mereka!"

"Kami memang berharap begitu?"

"Bagaimana seandainya anak itu buruk rupa? Apakah Goat Nio juga harus berjodoh dengan dia?"

"Anak mereka tidak mungkin buruk rupa,"

Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa.

"Sebab Tio Cie Hiong sangat tampan, dan isterinya cantik jelita. Tidak mungkin akan menghasilkan anak yang buruk rupa."

"Seandainya buruk rupa?"

"Itu...."

Kou Hun Bijin dan Kim Siauw Suseng saling memandang.

"Itu terserah padamu."

"Ayah dan Ibu setuju kalau Goat Nio menikah dengan orang yang buruk rupa?"

Tanya anak gadis itu mendadak.

"Tentunya tidak setuju;"

Sahut Kou Hun Bijin.

"Namun kalau dia itu adalah anak Tio Cie Hiong, ibu masih menerimanya."

"Kalau Goat Nio tidak mau,"

Sambung Siang Koan Goat Nio dengan tersenyum.

"Itu terserah engkau saja."

Kou Hun Bijin tertawa dan melanjutkan.

"Seandainya anak mereka itu tampan, berhati bajik, luhur dan mulia, itu pun terserah engkau, sebab kami sebagai orang tua hanya merestui, tidak bisa memaksa."

"Terima kasih atas pengertian Ibu dan Ayah!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Oh ya, Ayah! Kapan kita akan ke pulau Hong Hoang To?"

"Setelah engkau dewasa nanti,"

Jawab Kim Siauw Suseng.

"Ayah...."

Siang Koan Goat Nio tercengang.

"Kenapa harus menunggu Goat Nio dewasa?"

"Karena sekarang engkau harus giat belajar, untuk bekalmu berkelana kelak."

Kim Siauw Suseng memberitahukan.

"Dulu ayah dan Sam Gan Sin Kay dikenal sebagai Bu Lim Ji Khie, ayah awet muda, begitu pula ibumu."

"Tapi...."

Siang Koan Goat Nio menatap mereka.

"Kenapa kini Ayah dan Ibu tampak agak tua?"

"Karena kami telah menikah, lagi pula sudah mempunyai anak."

Kim Siauw Suseng menjelaskan.

"Setelah menikah, kami tidak akan awet muda lagi."

"Oooh!"

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Nak!"

Kou Hun Bijin memandangnya seraya berkata.

"Kelak engkau pasti berkecimpung didalam rimba persilatan. Perlu engkau ketabui, bahwa banyak kelicikan, kebusukan dan berbagai kejahatan dalam rimba persilatan. Maka, engkau harus berhati-hati, jangan gampang tergoda dan terpengaruh oleh rayuan manis. Sifat lelaki berbeda-beda, ada yang pandai bermuka-muka dan merayu, bahkan pandai berdusta dan lain sebagainya. Engkau harus menjauhi leiaki yang begitu macam."

"Ya, Ibu."

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Oh ya!"

Kim Siauw Suseng teringat sesuatu.

"Bijin, aku mempunyai suatu ide, entah engkau setuju atau tidak?"

"Apa idemu?"

Tanya Kou Hun Bijin heran.

"Putri kita memang cantik sekali, tentu banyak pemuda yang berusaha mendekatinya,"

Jawab Kim Siauw Suseng sambil tersenyum.

"Bagaimana kalau kelak Goat Nio berdandan sebagal anak laki-laki?"

"Itu...."

Kou Hun Bijin memandang putrinya.

"ide yang bagus, Ayah."

Ujar Siang Koan Goat Nio sambil tertawa kecil.

"Goat Nio akan berdandan sebagai anak lelaki, bahkan berpakaian kumal dan wajahnya pun dibikin kotor. Setelah bertemu pemuda idaman hati, barulah Goat Nio berdandan biasa."

"Ngmm!"

Kim Siauw Suseng manggut-manggut.

"Bagus, bagus! Jadi engkau pun bisa menyelami hati anak laki-laki."

"Benar."

Kou Hun Bijin tertawa gembira.

"Ibu akan mengajarmu cara merias wajah, sehingga wajahmu tampak tidak karuan."

"Terima kasih, Ibu!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. Kim Siauw Suseng menatapnya sambil menggelenggelengkan kepala.

"Untung sifat burukmu ini tidak menurun kepada Goat Nio!"

Ujarnya.

"Maklum,"

Sahut Kou Hun Bijin dan tertawa lagi.

"Itulah ciri khasku, maka aku dijuluki Kou Hun Bijin. Hi hi hi...!" -oo0dw0oo-Kini Siang Koan Goat Nio bertambah giat berlatih. Hari ini Ia berlatih Giok Li Ciang Hoat, Kiam Hoat, Cap Pwee Kim Siauw Ciat bat dan ilmu pukulan lain, ajaran Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui. Di saat anak gadis itu sedang berlatih, muncullah Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui, dan mereka menyaksikannya dengan penub perhatian, kemudian manggut-manggut.

"Paman, Paman!"

Seru Siang Koan Goat Nio ketika berhenti berlatih.

"Nona Goat Nio,"

Sahut mereka sambil tertawa gembira.

"Kepandaianmu sudah maju pesat."

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio tersenyum lalu duduk di bawah sebuah pohon.

"Paman semua sudah tiada kepandaian lain untuk diajarkan pada Goat Nio?"

"Sebetulnya masih ada, tapi...."

Siluman Kurus menggelengkan kepala.

"Tidak sesuai untuk diajarkan kepadamu."

"Kenapa?"

Siang Koan Goat Nio tercengang.

"Ilmu andalan kami berdua adalah Tok Im Ciang (Ilmu Pukulan Dingin Beracun), yang akan merusak sepasang tanganmu yang putih halus, jadi tidak boleh diajarkan kepadamu,"

Siluman Kurus memberitahukan.

"Apa lagi ilmu andalan kami berenam,"

Sambung Kwan Gwa Lak Kui.

"Itu adalah Ku Lu Ciang-hoat (Ilmu Pukulan Tengkorak), juga tidak boleh diajarkan kepadamu."

"Oooh!"

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Paman semua, Goat Nio ingin menanyakan sesuatu, boleh kan?"

"Tentu boleh,"

Sahut Siluman Gemuk.

"Tanyalah!"

"Betulkah Paman Cie Hiong berkepandaian tinggi sekali?"

Ternyata ini yang ditanyakan Siang Koan Goat Nio "Betul."

Kwan Gwa Siang Koay mengangguk.

"Walau kami semua mengeroyoknya, mungkin kami hanya bisa bertahan sampai lima puluh jurus.

"Haaah...?"

Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Paman Cie Hiong begitu hebat sekali?"

"Tidak salah."

Siluman Gemuk manggut-manggut dan memberitahukan "Bu Lim Sam Mo, yang sangat terkenal itu, malah mati karena menyerangnya.

"Apa?!"

Siang Koan Goat Nio tertegun.

"Kenapa bisa begitu?"

"Karena Cie Hiong memiliki Kan Kun Taylo Sin Kang."

Siluman Gemuk menjelaskan.

"Kan Kun Taylo Sin Kang dapat membalikkan lweekang orang yang menyerangnya. Sebetulnya pada waktu itu Cie Hiong tidak berniat membunuh Bu Lim Sam Mo, namun Bu Lim Sam Mo yang cari mati karena menyerangnya dengan Iweekang sepenuhnya. Maka lweekang itu balik menyerang diri mereka sendiri, sehingga membuat mereka bertiga luka parah, dan akhirnya mati."

"Kalau begitu, Paman Cie Hiong boleh dikatakan tiada tanding di kolong lagit, bukan?"

"Benar."

Siluman Gemuk mengangguk.

"Namun Tio Cie Hiong tidak pernah memamerkan kepandaiannya bahkan tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan mereka tinggal di pulau Hong Hoang To."

"Goat Nio sudah tahu itu,"

Ujar anak gadis itu.

"Ayah dan ibu yang memberitahukan."

"Nona Goat Nio,"

Ujar Kwan Gwa Siang Koay sungguhsungguh.

"Tio Cie Hiong memang berhati bajik, luhur dan mulia. Kami sangat kagum, salut dan menghormatinya. Lagi pula dia sangat setia terhadap cinta, tidak pernah tergoda oleh gadis lain. Padahal banyak sekali anak gadis jatuh cinta kepadanya, namun dia hanya mencintai Lim Ceng Im."

"Paman tahu mereka sudah mempunyai anak belum?"

Tanya Siang Koan Goat Nio mendadak.

"Ha ha!"

Kwan Gwa Siang Koay tertawa.

"Selama ini kami semua tidak pernah meninggalkan lembah ini, bagaimana mungkin kami mengetahuinya?"

"Aku yakin mereka sudah mempunyai anak,"

Ujar Tiau Am Kui.

"Hanya saja tidak tahu anak laki-laki atau perEmpuan."

"Kalau anak laki-laki, pasti seperti Tio Cie Hiong,"

Sambung Siluman Gemuk dengan tertawa.

"Apabila anak perempuan, pasti cantik jelita."

"Oh ya?"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Kalau anak mereka laki-laki, mungkin berusia sekitar sepuluh tahun, seusia denganmu,"

Ujar Siluman Kurus dan menambahkan.

"Nona Goat Nio, mudahmudahan engkau berjodoh dengan dia!"

"Heran!"

Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.

"Ayah dan Ibu berharap begitu, kalian pun sama! Kenapa sih begitu?"

"Nona Goat Nio,"

Ujar Siluman Gemuk sungguh-sungguh.

"Engkau harus tahu, Tio Cie Hiong berhati bajik, luhur dan mulia, maka anaknya pasti juga begitu. Tio Cie Hiong tampan dan isterinya cantik jelita, tentunya anaknya pasti ganteng, bahkan... mungkin juga dia menggunakan suling pualam. Sedangkan engkau menggunakan suling emas. Bukankah cocok sekali?"

"Paman semua juga harus tahu, bahwa belum tentu mereka mempunyai anak laki-laki. Seandainya mereka mempunyai anak perempuan, sudah barang tentU Goat Nio akan jadi kecewa."

"Benar."

Siluman Gemuk manggut-manggut.

"Mudah2an mereka mempunyai anak laki-laki yang ganteng, berhati bajik, luhur dan mulia!"

"Oh ya,"

Ujar Siluman Kurus sungguh-sungguh.

"Kelak engkau berkecimpung dalam rimba persilatan harus berhatihati, jauhilah pemuda yang pandai bermuka-mUka dan pandai merayu! PemudA yang bertipe semacam itu, kebanyakan suka mempermainkan kaum gadis. Nah, engkau harus hati-hati."

"Terima kaSih atas nasihat Paman!"

Ucap Siang Koan Goat Nio dan memberitahukan.

"Ayah Goat Nio mempunyai suatu ide...."

"Ide apa?"

"Kelak di saat Goat Nio berkelana, Goat Nio akan berdandan sebagai anak laki-laki...."

"Menurut aku, itu tidak perlu,"

Potong Siluman Kurus.

"Kenapa?"

Tanya Siang Koan Goat Nio.

"Kalau engkau berdandan seperti itu, otomatis engkau tidak bisa menyelami hati kaum pemuda,"

Jawab Siluman Kurus.

"Namun apabila engkau berdandan seperti kaum gadis umumnya, tentu banyak pemuda akan mendekatimu. Nah, engkau dapat menyelami hati mereka, sekaligus tahu pula sifat, watak dan gerak-gerik mereka, bukan?"

"Benar juga."

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Tentang ini akan dirundingkan kelak?"

"Ha ha ha!"

Mendadak terdengar suara tawa, kemudian muncullah Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin. Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui segera memberi hormat, lalu melangkah ke belakang.

"Kami telah mendengar pembicaraan kalian,"

Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.

"Tidak disangka, kalian bisa memberi nasihat kepada Goat Nio!"

"Bijin,"

Sahut Kwan Gwa Siang Koay.

"Terus terang, kami sangat menyayangi Goat Nio. Karena itu, kami harus memberi nasibat kepadanya."

"Bagus, bagus!"

Kou Hun Bijin tertawa gembira.

"Terima kasih atas kasih sayang kalian terhadap Goat Nio!"

"Sama-Sama,"

Ucap Kwan Gwa Siang Koay.

"Ilmu andalan kalian adalah Tok Im Ciang dan Ku Lu Ciang Hoat, itu memang tidak bisa diturunkan kepada Goat Nio,"

Ujar Kou Hun Bijin sungguh.sungguh.

"Namun setahuku, kalian memiliki ginkang yang cukup tinggi. Nah, ajarkan ginkang kalian kepada Goat Nio!"

"Benar."

Kwan Gwa Siang Koay tertawa gembira.

"kenapa kami tidak memikirkan itu?"

"Terima kaSih, Paman!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Ha ha ha!"

Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui tertawa gelak.

"Kalau begitu, mulai besok kami akan mengajarmu ginkang tingkat tinggi."

"Terima kasih!"

Ucap Siang Koan Goat Nio lagi.

"Goat Nio!"

Kou Hun Bijin menatapnYa sambil tersenyum.

"Mereka juga setuju jodohmu adalah anak Tio Cie Hiong."

"Ibu...."

Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Kenapa Ibu terus kalut karena urusan itu?"

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa nyaring.

"Orang tua mana yang tidak kalut akan perjodohan anaknya?"

"Ibu,"

Ujar Siang Koan Goat Nio sungguh-sungguh.

"Kalau berjodoh, pasti ketemu. Tidak berjodoh, di depan mata pun tidak akan ketemu."

"Ha ha ha!"

Kim Siauw Suseng tertawa gelak.

"Kami akan mempertemukan kalian."

"Maksud Ayah?"

"Setelab engkau dewasa kelak, akan kami ajak ke pulau Hong Hoang To. Nah, bukankah engkau akan bertemu dia?"

"Ayah!"

Siang Koan Goat Nio tertawa geli.

"Siapa tahu anak mereka perempuan, Ayah dan Ibu pasti jatuh terduduk di pulAu Hong Hoang To!"

"Kami yakin...,"

Ujar Kwan Gwa Siang Koay mendadak.

"Mereka pasti mempunyai anak laki-laki. Sebab suling pualam akan berjodoh dengan suling emas, dan itu tidak akan salah."

"Betu!."

Kou Hun Bijin tertawa.

"Hi hi hi! Tio Cie Hiong memiliki sebatang suling pualam, pasti diberikan kepada anaknya."

"Heran?"

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa Ayah, Ibu dan Paman semua terus mendesak Goat Nio?"

"Kami senang apabila jodohmu adalah anak Tio Cie Hiong,"

Sahut Kwan Gwa Siang Koay sambil tertawa.

"Ha ha ha...." -oo0dw0oo-Siang Koan Goat Nio terus ber1atih ginkang, yang diajarkan Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui. Tampak bayangannya berkelebat kesana-kemari laksana kilat. Itu sangat mengejutkan burung-burung, yang bertengger di dahan, dan seketika juga burung-burUng itu berterbangan ke udara. Gadis itu berhenti berlatih, lalu memandang burung-burung itu sambil berseru.

"Jangan takut, aku cuma berlatih ginkang! Tidak mengganggU kalian sama sekali! Kalian tidak usah takut!"

Setelah berseru begitu, ia lalu duduk di bawah pohon. Mendadak ia teringat akan apa yang dikatakan kedua orang tuanya, dan seketika wajahnya tampak agak kemerahmerahan.

"Aku masih kecil, namun Ayah dan Ibu malah terus membicarakan perjodohanku serta agak mendesak pula,"

Gumam Siang Koan Goat Nio.

"Mungkinkah Paman Cie Hiong mempunyai anak laki-laki?"

Siang Koan Goat Nio kelihatan sedang berpikir, lama sekali baru mulai bergumam lagi.

"Kalau anak laki-laki, benarkah tampan dan berhati bajik, luhur serta mulia? Apakah jodohku benar dia?"

Siang Koan Goat Nio mengge1eng~gelengkan kepala, kemudian tersenyum sambil menepuk keningnya.

"Usiaku baru sembilan tahun, kenapa harus memikirkan anak laki-laki? Sungguh menggelikan!"

Siang Koan Goat Nio mengeluarkan suling emasnya, lalu ditiupnya.

Begitu lembut dan menggetarkan kalbu alunan suara suling itu, sehingga burung-burung yang berterbangan tadi mulai bertengger lagi di dahan, lalu berkicau-kicau mengiringi alunan suara suling itu.

Berselang beberapa saat, barulah ia berhenti meniup suling itu, lalu memandang burung-burung yang bertengger di dahan.

"Bagaimana? Sedap didengarkan suara sulingku?"

"Memang sedap didengar."

Terdengar suara sahutan, yang disusul oleh suara tawa yang cekikikan. Kemudian muncullah Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

"Ayah, Ibu!"

Panggil Siang Koan Goat Nio.

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa nyaring.

"Nak, engkau memikirkan apa tadi?"

Wajah gadis itu kemerah-merahan.

"Goat Nio tidak memikirkan apa-apa,"

Katanya.

"Jangan bohong!"

Kou Hun Bijin menatapnya sambil tersenyum lembut.

"Kami telah mendengar apa yang engkau gumamkan."

"Itu..."

Wajah Siang Koan Goat Nio bertambah merah.

"Ha ha ha! Hi hi hi!"

Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin tertawa.

"Mulai berpikir, kan?"

"Gara-gara Ayah dan Ibu sih!"

Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Pikiran Goat Nio menjadi terganggu!"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa."

Sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa.

"Wajar bagi seorang anak gadis memikirkan anak laki-laki."

"Bijin!"

Kim Siauw Suseng meng-geleng2kan kepala.

"Usianya baru sembilan tahun, belum waktunya dia memikirkan anak laki-laki."

"Sekarang ayah bisa omong begitu, tapi kenapa tempo hari terus membicarakan jodoh Goat Nio?"

Tegur gadis itu.

"Eh? Itu... itu... ."

Kim Siauw Suseng tergagap sambil melirik Kou Hun Bijin.

"Hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa.

"Nak, kami hanya membicarakan, namun tidak menyuruhmu berpikir lho!"

"Ayah dan Ibu terus membicarakan itu, sudah barang tentu membuat Goat Nio memikirkannya."

"Benar, benar,"

Kou Hun Bijin manggut-manggut.

"Memang ada baiknya engkau memikirkannya, jadi ibu dan ayahmu pun punya harapan."

"Harapan apa?"

Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Itu tuh!"

Kou Hun Bijin tertawa nyaring.

"Hi hi hi... ." -oo0dw0oo-Bagian Kelima Partai Keadilan Bagaimana Yo Suan Hiang yang telah meninggalkan pulau Hong Hoang To menuju ke Tionggoan? Ternyata setibanya di Tionggoan, Ia langsung ke markas pusat Kay Pang menemui Lim Peng Hang, ketua partai Pengemis. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan kehangatan.

"Silakan duduk, Suan Hiang!"

Ucap Lim Peng Hang ramah.

"Terima kasih, Lim Pangcu!"

Yo Suan Hiang duduk.

"Bagaimana kabar mereka, yang berada dipulau Hong Hoang To?"

Tanya Lim Peng Hang sambil tersenyum.

"Semua baik-baik saja.

"Suan Hiang!"

Lim Peng Hang memandangnya.

"Bagaimana keadaan ayahku, apakah baik-baik saja?"

"Beliau baik-baik saja."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Setiap hari pasti bermain catur dengan guruku.

"Oooh?"

Lim Peng Hang manggut-manggut gembira.

"Suan Hiang,"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Bagaimana Tio Bun Yang? Apakah kepandaiannya telah maju pesat?"

"Anak itu memang cerdas sekali"

Yo Suan Hiang memberitahukan "Dia telah menguasai Semua kepandaian ayahnya."

"Oh?"

GouW Han Tiong tertawa.

"Ayahnya begitu cerdas, tentunYa dia pasti cerdas pula."

"Kakak Cie Hiong mernang luar biasa,"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Sebelum aku berangkat ke mari, dia telah menciptakan ilmu pedang Cit Loan Kiam Hiat, yang sangat lihay sekali.

"Oh?"

Lim Peng Hang tertegUn.

"Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling?"

"Ya."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Dia mengajarkan ilmU pedang tersebut dan Kiu Kiong San Tian Pou.

"Kalau begitu...."

Gouw Han Tiong tertawa.

"Kepandaianmu pasti sudah tinggi sekali."

"Tinggi sekali sih tidak, namun dapat menjaga diri,"

Ujar Yo Suan Hiang merendah.

"Oh ya!"

Lim Peng Hang tersenyum seraya berkata.

"Suan Hiang, maukah engkau perlihatkan ilmu pedang Cit Loan Kiam bat itu?"

"TentU mau."

Yo Suan Hiang mengangguk sambil bangkit berdiri.

Ia berjalan ketengah-tengah ruangan itu, lalu menghunus pedangnya dan mulai mempertunjukkan ilmu pedang tersebut.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyaksikannya dengan penuh perhatian, namun kemudian merasa berkunang~kunang dan pusing.

Mereka saling memandang dengan mata terbelalak.

Berselang sesaat, Yo Suan Hiang berhenti dan kembali ke tempat duduknya seraya bertanya.

"Bagaimana ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat itu?"

"Sungguh luar biasa!"

Sabut Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tidak menyangka, kalau Tio Cie Hiong mampu menciptakan ilmu pedang, yang begitu dahsyat dan lihay."

"Bukan main itu!"

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang, kemudian menambahkan.

"Aku yakin Tio Bun Yang pasti seperti ayahnya."

"Menurut Kakak Cie Hiong, anak itu malah lebih cerdas dan dirinya"

Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Ceng Im pun bilang begitu."

"Oh?"

Lim Peng Hang tertawa.

"Benarkah cucuku itu lebib cerdas dan Cie Hiong"?"

"itu memang benar."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Kaiau tidak, bagaimana mungkin dia dapat menguasai semua kepandaian ayahnya? Padahal usianya baru sepuluh tahun."

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang tertawa gembira.

"Kelak dalam rimba persilatan akan muncul Seorang pendekar yang gagah dan berhati bajik lagi!"

"Tidak salah."

Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Entah bagaimana dengan cucuku, yang di Tayli?"

"Tentunya berkepandaiannya tinggi juga,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Yaah, sayang sekali!"

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Seandainya cucuku itu perempuan...."

"Engkau akan menjodohkannya pada cucuku?"

"Benar."

Gouw Han Tiong mengangguk.

"Tapi... dia adalah cucu laki-laki, mau bilang apa?"

"Lim Pangcu,"

Tanya Yo Suan Hiang mendadak.

"Bagaimana keadaan rimba persilatan sekarang?"

"Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah) mulai unjuk gigi terhadap kaum golongan putih, bahkan ada pula yang dibunuh,"

Jawab Lim Peng Hang memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Setelah Bu Lim Sam Mo mati, kita semua mengira bahwa rimba persilatan akan aman, tenang dan damai. Tidak tahunya malah muncul Hiat Ih Hwe!"

"Hingga saat ini tiada seorang pun tahu siapa ketua perkumpulan itu,"

Ujar Gouw Han Tiong dengan kening berkerut.

"Suan Hiang, menurutmu siapa ketua Hiat Ih Hwe itu?"

"Pasti Lu Thay Kam."

"Lu Thay Kam?"

Kening Gouw Han Tiong berkerut lagi.

"Apakah dia memiliki kepandaian tinggi?"

"Kepandaiannya memang tinggi sekali."

Yo Suan Hiang memberitahukan. Kalau tidak salah, dia telah menguasai ilmu Ie Hoa Ciap Bok (Memindahkan Bunga Menyambung Pohon)."

"Ilmu apa itu?"

Gouw Han hong dan Lim Peng Hang tertegun "Kami belum pernah mendengar tentang ilmu tersebut."

"Kitab Ie Hoa Ciap Bok disimpan di perpustakaan istana, dan siapa pun tidak tahu bahwa kitab itu merupakan pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi Pada suatu hari, Lu Thay Kam memeriksa perpustakaan itu. Ia melihat kitab tersebut, dan karena tertarik maka dibacanya. Setelah itu, ia pun mengambil kitab itu dan terus mempelajarinya."

"Tahukah engkau berasal dan mana kitab itu?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Tidak tahu."

Yo Suan Hiang menggelengkan kepala dan melanjutkan.

"Setelah berhasil menguasai ilmu itu, mungkin Lu Thay Kam mendirikan Hiat Ih Hwe guna membunuh para pembesar, yang setia dan jujur."

"Itu memang mungkin."

Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian menatapnya dalam-dalam seraya bertanya.

"Suan Hiang, apa rencanamu sekarang?"

"Rencanaku adalah membunuh Lu Thay Kam,"

Jawab Yo Suan Hiang dengan jujur "Tapi sebelumnya aku harus pergi ke kota Hay Hong menemui para kenalan ayahku untuk berunding. Karena aku tidak mau berlaku ceroboh."

"Ngmm!"

Lim Peng Hang mengangguk.

"Suatu tindakan memang harus diperhitungkan matang-matang. Kalau tidak, malah akan mencelakai diri sendiri"

"Terima kasih atas nasihat Lim Pangcu!"

Ucap Yo Suan Hiang lalu bangkit berdiri.

"Maaf, aku mau mohon diri!"

"Suan Hiang,"

Pesan Lim Peng Hang.

"Apabila engkau membutuhkan bantuan, beritahukanlah kepada kami!"

"Terima kasih, Lim Pangcu! Sampai jumpa!"

Ucap Yo Suan Hiang lalu meninggalkan markas pusat Kay Pang, dan langsung menuju kota Hay Hong.

-oo0dw0oo-Beberapa hari kemudian, ketika Yo Suan Hiang mampir di sebuah kedai teh untuk melepaskan dahaga, muncul beberapa orang berpakaian merah, dan mereka langsung mendekati Yo Suan Hiang sambil tertawa-tawa.

"Nona, sendirian nih?"

Tanya salah seorang dan pemuda sambil menatapnya kurang ajar "Bagaimana kalau kami menemanimu?"

"Siapa kalian?"

Bentak Yo Suan Hiang dingin.

"Ha ha ha!"

Orang-orang berpakaian merah itu tertawa gelak.

"Nona belum kenal kami?"

"Aku memang tidak kenal kalian!"

"Kalau begitu...."

Salah seorang tadi membusungkan dada seraya berkata.

"Aku memberitahukan, kami adalab anggota Hiat Ih Hwe."

"Oh?"

Yo Suan Hiang tertawa dingin.

"Bagus, bagus!"

"Memang bagus! Nah, biar kami menemanimu! Ha-ha-ha!"

"Jangan di sini!"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Lebih baik kita ke tempat yang sepi."

"Ke tempat yang sepi?"

Tanya orang itu sambil tertawa gembira.

"Ya."

Yo Suan Hiang mengangguk.

"Bagus!"

Orang itu memandang kawan-kawannya.

"Bagaimana? Kalian mau ikut aku ketempat yang sepi menemani nona ini?"

"Tentu,"

Sahut kawan-kawannya sambit tertawa gelak.

"Ayo!ah! Mari kita segera ke tempat yang sepi itu!"

"Kalau begitu...."

Yo Suan Hiang bangkit berdiri, sekaligus membayar minumannya lalu melangkah pergi. Orang-orang berpakaian merah segera mengikutinya dan belakang sambil berbisik-bisik, dan wajah mereka tampak berseri.

"Karena aku maka dia mau ke tempat yang sepi, jadi aku yang harus lebih dulu bersenang-senang dengan dia."

"Tidak apa-apa. Yang penting kami dapat bagian. Tapi... apakah dia kuat melayani kita semua?"

"Kuat atau tidak, pokoknya dia harus melayani kita. Ha ha ha!"

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang sepi. Yo Suan Hiang membalikkan badannya, lalu menatap mereka dengan dingin sekali. Tempat ini memang cocok sekali untuk kalian,"

Ujarnya sambil menghitung.

"Satu, dua tiga, empat, lima! Kalian berlima boleh maju serentak!"

"Apa?!"

Kelima orang itu tertegun.

"Kami maju serentak? Apakah Nona kuat melayani kami?"

"Hm!"

Dengus Yo Suan Hiang dingin sekaligus menghunus pedangnya.

"Kalian semua harus mampus di sini!"

"Eh?"

Mereka terperanjat.

"Siapa kau?"

"Kalian tidak perlu tahu!"

Bentak Yo Suan Hiang.

"Cepatlah kalian keluarkan senjata masing-masing!"

Kelima orang itu saling memandang, kemudian mengeluarkan senjata masing~maSing.

"Lihat serangan!"

Bentak Yo Suan Hiang sekaligus menyerang mereka.

Ia mengeluarkan ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat dengan jurus Ban Kiam Hui Thian (Selaksa Pedang Terbang Ke Langit).

Tampak pedangnya berkelebatan laksana kilat, dan seketika juga terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

"Aaakh! Aaaakh! Aaaakh...!"

Kelima orang itu berlumuran darah.

Mereka memandang Yo Suan Hiang dengan mata terbelalak, kemudian roboh dan nyawa mereka pun melayang seketika.

Setelah kelima orang itu roboh, Yo Suan Hiang melesat pergi, dan mayat-mayat itu dibiarkannya tergeletak begitu saja.

-oo0dw0oo.

Yo Suan Hiang memasuki kota Hay Hong disaat hari sudah mulai sore.

Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba seseorang menghampirinya seraya berbisik.

"Engkau adalah Nona Yo Suan Hiang, putri almarhum Yo Huai An?"

"Anda...?"

Yo Suan Hiang tersentak.

"Aku kenalan ayahmu. Mari ikut aku!"

Bisik orang itu sambil melangkah pergi.

Yo Suan Hiang mengerutkan kening, namun tetap mengikuti orang tersebut dengan was-was.

Berselang beberapa saat, orang itu memasuki sebuah bangunan tua, dan Yo Suan Hiang terus mengikutinya.

Setelah berada di dalam bangunan tersebut, orang itu mendekati dinding lalu menekan sebuah tombol kecil.

Seketika dinding itu terbuka, ternyata sebuah pintu rahasia.

"Nona Yo, mari ikut aku ke dalam!"

Ajak orang itu dan melangkah ke dalam. Yo Suan Hiang mengikutinya, dan kemudian pintu rahasia itu pun tertutup kembali. Di saat bersamaan, muncullah belasan orang.

"Paman Tan!"

Seru Yo Suan Hiang girang. Ternyata ia mengenali salah seorang tua berusia lima puluhan. Orang itu bernama Tan Ju Liang, bekas pengawal ayahnya.

"Nona Yo!"

Tan Ju Liang memberi hormat.

"Silakan duduk!"

"Terima kasih, Paman Tan!"

Ucap Yo Suan Hiang sambil duduk.

"Oh ya, orang itu...."

"Dia muridku, yang kuutus jemput Nona."

Tan Ju Liang memberitahukan.

"Kok Paman Tan tahu kehadiranku di kota ini?"

Tanya Yo Suan Hiang heran.

"Salah seorang anak buahku melihatmu, lalu segera ke mari melapor kepadaku, maka kusuruh muridku itu pergi menjemputmu ke mari."

Tan Ju Liang memberitahukan, kemudian memandangnYa seraya bertanya.

"Engkau ke mana setelah ayahmu meninggal?"

"Aku pergi ke markas pusat Kay Pang, lalu ke pulau Hong Hoang To belajar ilmu silat, tujuanku untuk membalas dendam,"

Jawab Yo Suan Hiang dan menambahkan.

"Aku datang di kota ini justru ingin menemui para kenalan ayahku untuk berunding. Sungguh kebetulan aku bertemu Paman di sini!"

"Oooh!"

Tan Ju Liang manggut-manggut.

"Para kenalan ayahmu tersebar di mana-mana. Kini engkau telah ke mari, maka akan kusuruh munidku pergi menghubungi mereka."

"Terima kasih, Paman Tan!"

Ucap Yo Suan Hiang.

"Tiang Him,"

Ujar Tan Ju Liang kepada muridnya.

"Cepatlah engkau pergi menghubungi mereka, malam ini mereka harus sampai di sini!"

"Ya, Guru."

Cu Tiang Him memberi hormat lalu meninggalkan ruang itu.

"Nona Yo!"

Tan Ju Liang menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana kepandaianmu sekarang, apakah sudah tinggi sekali?"

"Cukup tinggi,"

Jawab Yo Suan Hiang.

"Karena menyangkut urusan yang sangat penting, maka aku akan menguji kepandaianmu. Eng-kau tidak berkeberatan, kan?"

"Tentu tidak."

"Kalau begitu, mari ketengah-tengah ruangan!"

Tan Ju Liang melangkah ke sana, dan Yo Suan Hiang mengikutinya. Mereka berdua berdiri berhadapan. Tan Ju Liang menatapnya sambil tersenyum dan berkata.

"Nona Yo, sebelumnya aku mohon maaf, Sebab aku terpaksa harus menguji kepandaianmu!"

"Tidak apa-apa."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Jadi begini saja, aku berdiri di sini, Paman Tan boleh menyerangku."

"Oh?"

Tan Ju Liang tertegun.

"Paman Tan, silakan mengeluarkan senjata, aku akan melayani Paman dengan tangan kosong!"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Nona Yo!"

Tan Ju Liang menggeleng~gelengkan kepala.

"Jangan dianggap main-main lho!"

"Aku tidak main-main."

"Kalau begitu...."

Tan Ju Liang mengerutkan kening sambil menghunuS pedangnya.

"Nona Yo, hati-hati!"

Yo Suan Hiang tersenyum-SenyUm~ dan tetap berdiri tegak di tempat. Itu membuat terbelalak yang lain, sebab kepandaian Tan Ju Liang cukup tinggi.

"Paman Tan, jangan ragu! Seranglah aku!"

Ujar Yo Suan Hiang karena melihat Tan Ju Liang ragu menyerangnya.

"Baiklah""

Tan Ju Liang mengangguk, lalu mendadak menyerang Yo Suan Hiang dengan pedangnYa.

"Paman Tan,"

Ujar Yo Suan Hiang sambil berkelit.

"Pergunakan ilmu pedang andalan Paman, jangan menggunakan jurus-jurus biasa!"

"Tapi...."

Tan Ju Liang tampak masih ragu.

"Percayalah kepadaku!"

Ujar Yo Suan Hiang mendesaknya.

"Paman Tan harus menyerangku dengan sungguh~sunggu~ bahkan harus pula mengeluarkan ilmu pedang andalan!"

Tan Ju Liang berpikir sejenak, kemudian manggut.manggut seraya berkata serius.

"Baiklah! Kalau begitu, engkau barus berhati-hati!"

"Ya."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Seranglah!"

Tan Ju Liang mulai mengerahkan lweekangnya, lalu mendadak menyerang Yo Suan Hiang dengan Soan-long Kiam Hoat (Ilmu Pedang Angin Puyuh), mengeluarkan Jurus Soan Hong Soh Te (Angin Puyuh Menyapu Bumi) Pedang itu berkelebatan dan mengarah ke Yo Suan Hiang, dan menimbulkan suara gemuruh.

Sungguh dahsyat dan lihay ilmu pedang tersebut, sahingga yang menyaksikan menjadi tegang Seketika.

Akan tetapi, tiba-tjba Yo Suan Hiang lenyap dan pandangan Tan Ju Liang, itu membuatnya terheran-heran "Paman Tan!"

Terdengar suara Yo Suan Hiang di belakangnya.

"Aku berada di sini!"

Kini sadarlah Tan Ju Liang, bahwa Yo Suan Hiang berkepandaian tinggi.

Maka, ia segera membalikkan badannya, sekaligus menyerang Yo Suan Hiang dengan jurus Soan Hong Loan Hai (Angin Puyuh Mengaduk Laut).

Mendadak badan Yo Suan Hiang berputar-putar melambung ke atas, sehingga Tan Ju Liang menyerang tempat kosong.

Jago tua itu penasaran, kemudian bersiul panjang sambil menyerang Yo Suan Hiang.

Kali ini ia mengeluarkan jurus yang paling dahsyat dan lihay, yaitu jurus Soan Hong Cien San (Angin Puyuh Memindahkan Gunung).

Terdengarlah suara gemuruh, pedang itu berkelebatan mengurung sekujur badan Yo Suan Hiang.

Pada saat bersamaan, terdengar pula suara tawa yang amat nyaring, dan tampak badan Yo Suan Hiang berkelebat laksana kilat.

Setelah itu kembali diam di tempat semula, sedangkan Tan Ju Liang berdiri terperangah dengan mulut ternganga lebar.

Ternyata pedangnya telah berpindah ke tangan Yo Suan Hiang.

"Nona Yo! Bukan main...,"

Ujarnya kagum. Terdengar pula tepuk sorak yang riuh gemuruh.

"Maaf, Paman Tan!"

Ucap Yo Suan Hiang sambil mengembalikan pedang itu.

"Nona Yo!"

Tan Ju Liang menatapnya terbelalak.

"Aku tidak menyangka, kalau kepandaianmu begitu tinggi. Kini legalah hatiku."

"Paman Tan...."

Yo Suan Hiang merendahkan diri.

"Kepandaianku tidak begitu tinggi, tetapi Paman yang mengalah kepadaku."

"Ha ha ha!"

Tan Ju Liang tertawa gembira.

"Nona Yo, kepandaianmu memang tinggi sekali. Aku kagum kepadamu."

"Paman Tan...."

Wajah Yo Suan Hiang kemerah-merahan.

"Nona Yo, mari kita duduk!"

Ajak Tan Ju Liang. Kemudian ia pun memperkenalkan kawan-kawannya.

"Nona Yo!"

Seru kawan-kawan Tan Ju Liang.

"Kami semua pasti setia kepadamu, kita harus menumpas Hiat Ih Hwe!"

"Terima kasih! Terima kasih..."

Ucap Yo Suan Hiang terharu.

"Kita semua harus bersatu demi menumpas Hiat Ih Hwe."

"Setuju!"

Seru mereka semua dengan penuh semangat.

"Kita harus menumpas Hiat Ih Hwe!" -oo0dw0oo-Setelah larut malam, Cu Tiang Him pulang bersama belasan orang, yang terdiri dari orang tua, anak muda dan beberapa wanita berusia empat puluhan.

"Kami memberi hormat pada Nona Yo!"

Ucap mereka serentak sambil memberi hormat.

"Jangan sungkan-sungkan!"

Sabut Yo Suan Hiang sambil tersenyum.

"Silakan duduk!"

"Terima kasih!"

Mereka segera duduk. Ternyata di antara mereka terdapat mantan pengawal almarhum calon mertua Yo Suan Hiang.

"Kawan-kawan!"

Tan Ju Liang mulai membuka mulut.

"Perlu kalian ketahui, bahwa kini Nona Yo sudah berkepandaian tinggi. Terus terang, aku telah menguji kepandaiannya. Aku menyerangnya dengan ilmu pedang Soan Hong Kiam Hoat, tapi dengan mudah sekali dia merebut pedangku."

Belasan orang itu saling memandang, kelihatannya mereka tidak begitu percaya. Tan Ju Liang tertawa, kemudian ujarnya sungguh-sungguh.

"Aku tahu saudara Lim berkepandaian tinggi, maka kurang percaya akan apa yang kukatakan barusan. Namun saudara Lim boleh mengujinya."

"Paman Tan...."

Yo Suan Hiang mengerutkan kening.

"Nona Yo,"

Ujar Tan Ju Liang.

"Biar bagaimana pun engkau harus memperlihatkan kepandaianmu, agar mereka yakin dan mempercayaimu. Yo Suan Hiang berpikir lama sekali, kemudian dalam hati ia mengakui akan kebenaran ucapan Tan Ju Liang, karena itu ia segera berjalan ke tengah-tengah ruangan."Paman-paman,"

Ujarnya tanpa memperlihatkan keangkuhan.

"Aku bersedia diuji."

"Ha ha ha! Bagus!"

Lim Cin An menghampiri Yo Suan Hiang.

"Maaf, Nona Yo, aku terpaksa harus menguji kepandaianmu!"

"Silakan Paman Lim!"

Sahut Yo Suan Hiang.

"Baik."

Lim Cin An menghunus pedangnya."Nona Yo, engkau menggunakan senjata apa?"

"Pedang,"

Ujar Yo Suan Hiang sambil menghunus pedangnya. Apabila ia melayani Lim Cin An dengan tangan kosong, tentu akan menyinggung perasaan orang tua itu.

"Paman Lim, silakan menyerang!"

"Hati-hati!"

Lim Cin An mengingatkannya,lalu mulai menyerang Yo Suan Hiang dengan ilmu pedang biasa.Yo Suan Hiang berkelit tanpa balas menyerang, sedangkan Tan Ju Liang tersenyum-senyum.

"Saudara Lim! Serang dia dengan ilmu pedang andalanmu, jangan ragu!"

Seru Tan Ju Liang.

Lim Cin An mengerutkan kening, kemudian mulai menyerang Yo Suan Hiang dengan ilmu pedang andalannya, yakni Hui Yun Kiam Hoat (Ilmu Pedang Lawan Terbang) dengan mengeluarkan jurus Pek Yun Phiau-Phiau (Awan Putih Berterbangan).Pedang Lim Cin An terus berputar bagaikan gulungan awan mengarah ke pinggang Yo Suan Hiang jurus itu memang dabsyat dan lihay.

Akan tetapi, mendadak badan Yo Suan Hiang berkelebat laksana kilat, tahu-tahu sudah berada dibelakang mantan pengawal istana berusia lima puluhan itu.

Betapa terkejutnya Lim Cin An!

Tanpa melihat ia Iangsung menyerang ke belakang dengan jurus lui Yun Kai Goat (Awan Terbang Menutupi Bulan), menyusul lagi jurus Pek Yun Te (Awan Putih Menutupi Bumi).

Perlu diketahui, kedua jurus itu merupakan jurus-jurus simpanannya, yang jarang sekali dikeluarkan, kecuali menghadapi lawan tangguh.

Tentu saja sangat mengejutkan Tan Ju Liang, Cu Tiang Him dan penonton lainnya.

Namun mendadak Yo Suan Hiang bersiul panjang, kemudian pedangnya bergerak cepat sekali dan aneh pula.

Itu membuat mata Lim Cin An berkunang-kunang dan merasa pusing.

Ternyata Yo Suan Hiang mengeluarkan Cit Loan Kiam Hoat dengan jurus Ouw Thian Am Te (Langit Hitam Bumi Gelap).

Serrt!

Serrt!

Serrrrrt...!

Terdengar suara sobekan.

"Haaah...!"

Seru Lim Cin An kaget dan termundur-mundur.

Wajahnya pucat pias dan menatap Yo Suan Hiang dengan mata terbelalak.

Suasana diruang itu pun menjadi hening sekali.

Memang mengejutkan, sebab pakaian Lim Cin An terdapat belasan lubang.

Dapat dibayangkan, betapa dahsyat dan lihaynya ilmu pedang yang digunakan Yo Suan Hiang.

"Maaf, Paman Lim!"

Ucap Yo Suan Hiang.

"Ha ha ha!"

Lim Cin An tertawa gelak setelah hilang rasa kagetnya.

"Nona Yo, kepandaianmu memang tinggi sekali, aku tunduk kepadamu."

"Paman Lim terlampau mengalah"

Ujar Yo Suan Hiang sambil tersenyum.Bukan main kagumnya Cu Tiang Him terhadap Yo Suan Hiang, Ia sama sekali tidak menduga bahwa wanita muda itu berkepandaian begitu tinggi, sehingga membuatnya menatap Yo Suan Hiang dengan mata berbinarbinar.

"Ha ha ha!"

Tan Ju Liang tertawa.

"Mari kita duduk semua, karena Nona Yo ingin berunding dengan kita"

"Semuanya duduk sekaligus memandang Yo Suan Hiang dengan penuh kekaguman, dan mereka tampak tunduk kepadanya.

"Nona Yo, kira-kira apa yang akan dirundingkan?"

Tanya Lim Cin An.

"Maaf, aku ingin bertanya! Kegiatan apa yang kalian lakukan selama ini?"

Yo Suan Hiang balik bertanya.

"Terus terang, kami melakukan pemberontakan"

Lim Cin An memberitahukan dengan jujur.

"Tapi... pihak Hiat Ih Hwe selalu berusaha membunuh kami."

"Oooh!"

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Kalian semua berjumlah berapa orang?"

"Cuma dua puluh lima orang."

"Paman Lim, aku mempunyai suatu ide."

"Ide apa?"

Tanya Lim Cin An dan Tan Ju Liang serentak.

"Bagaimana kalau kita mendirikan sebuah partai?"

Yo Suan Hiang menatap mereka.

"Kalian setuju?"

"Tentu setuju."

Lim Cin An mengangguk.

"Tapi. kita cuma berjumlah dua puluh lima orang.

"Tidak jadi masalah."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Sebab kelak pasti ada pesilat golongan putih bergabung dengan kita."

"Benar."

Tan Ju Liang manggut.manggut.

"Nona Yo ingin mendirikan partai apa?"

"Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan),"

Jawab Yo Suan Hiang sungguh-sungguh dan menambahkan.

"Khususnya menumpas Hiat Ih Hwe, sebab kalau perkumpulan ini tidak ditumpas, nyawa para pejuang pun terancam?"

"Tidak salah."

Lim Cin An mengangguk.

"Kita tidak berniat menumbangkan Dinasti Beng, hanya membasmi para Thay Kam jahat dan para menteri, yang bersekongkol dengan bangsa Boan (Manchuria)."

"Benar."

Tan Ju Liang manggut-manggut.

"Biar bagaimana pun, kita harus mempertahankan Dinasti Beng, jangan sampai Tionggoan dijajah oleb bangsa Boan."

"Oleh karena itu...,"

Ujar Yo Suan Hiang melanjutkan.

"Kita harus memilih seorang ketua dan wakil, aku memilih Paman Lim dan Paman Tan...."

"Tidak bisa,"

Sahut Lim Cin An dan Tan Ju Liang.

"Kenapa?"

Tanya Yo Suan Hiang heran.

"Kepandaian kami jauh di bawah kepandaianmu, maka alangkah baiknya..."

Lim Cin An menatap Yo Suan Hiang.

"Nona Yo yang harus menjadi ketua."

"Benar,"

Sambung Tan Ju Liang.

"Itu tidak boleh."

Yo Suan Hiang menggelengkan kepala.

"Justru boleb,"

Sahut Lim Cin An sambil tertawa.

"Karena Nona Yo putri mantan menteri, yang amat setia, maka pantas menjadi ketua?"

"Tapi "Yo Suan Hiang tampak ragu.

"Kawan-kawan"

Seru Tan Ju Liang bertanya.

"Bagaimana menurut kalian, setuju atau tidak kalau Nona Yo menjadi ketua Tiong Ngie Pay?"

"Setuju,"

Sahut mereka semua, dan suara Cu Tiang Him yang paling kencang "Kami semua mendukung."

"Nah!"

Tan Ju Liang tertawa.

"Nona Yo, jangan menolak lagi!"

"Baiklah"

Yo Suan Hiang mengangguk "Malam ini kUresmikan berdirinya Tiong Ngie Pay!"

"Hidup Tiong Ngie Pay! Hidup Tiong Ngie Pay!"

Seru semua orang dengan penuh semangat. SetelAh suara seruan itu sirna, barulah Yo Suan Hiang membuka mulUt dengan wajah serius.

"Kalian semua harus bersumpah setia kepada Tiong Ngie Pay, dan senang susah harus kita pikul bersama!"

"Ya."

Mereka mengangguk lalu mengangkat sumpah "Kami semua bersumpah setia kepada Tiong Ngie Pay, hidup dan mati demi Tiong Ngie Pay! Apabila kami berkhianat, pasti mati secara mengenaskan!"

"Bagus!"

Yo Suan Hiang manggut.manggut gembira.

"Kalian semua harus ingat! Para anggota Tiong Ngie Pay dilarang melakukan kejahatan. Siapa yang melakukan kejahatan harus dihukum."

"Ya,"

Sahut mereka semua "Apabila kami melakukan kejahatan, kami bersedia dihukum mati!"

"Terima kasih"

Ucap Yo Suan Hiang lalu bertanya kepada Tan Ju Liang.

"Paman Tan, apakah tempat ini aman dan rahasia?"

"Sangat aman dan rahasia,"

Jawab Tan Ju Liang dan meNambahkan.

"Bahkan di luar pun telah dipasang berbagai macam jebakan."

"Bagus!"

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Oh ya, ada berapa ruangan dalam bangunan ini?"

"Lebih dari sepuluh ruangan."

Tan Ju Liang memberitahukan.

"Dan setiap ruangan telah dipasang pintu rahasia dan jebakan."

"Luar biasa!"

Yo Suan Hiang kagum sekali.

"Paman Tan, siapa yang~ membikin itu semua?"

"Saudara Kim,"sahut Tan Ju Liang.

"Paman Kim!"

Seru Yo Suan Hiang. Seketika juga seorang tua berusia enam puluhan, tampil dan memberi hormat kepada Yo Suan Hiang.

"Ada perintah apa, Ketua?"

Tanyanya hormat. Mulai saat ini engkau kuangkat sebagai pelindung markas!"

Sahut Yo SUan Hiang.

"Sebab bangunan ini akan dijadikan markas Tiong Ngie Pay."

"Terima kasih, Ketua!"

Ucap Kim Han Siong.

"Paman Kim,si1akan duduk kembali!"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Terima kasih, Ketua!"

Kim Han Siong duduk kembali.

"Mulai sekarang...,"

Ujar Yo Suan Hiang lantang. Paman Tan kuangkat sebagai wakil ketua, sedangkan Paman Lim sebagai pelaksana hukum."

"Terima kasih, Ketua!"

Ucap kedua orang itu serentak.

"Paman Kim,"

Pesan Yo Suan Hiang.

"Mulai besok harus memperhatikan tempat-tempat di sekitar bangunan ini."

"Ya, KetUa."

Kim Han Siong mengangguk.

"Aku pasti memasang berbagai macam jebakan disekitar bangunan ini, agar tidak gampang diserbu musuh."

"Bagus!"

Yo Suan Hiang manggut~manggut, kemudian berkata dengan serius.

"Terus terang, kepandaian kalian masih rendah. Oleh karena itu, mulai besok kalian harus giat berlatih. Untuk sementara ini jangan berurusan dengan pihak "Hiat Ih Hwe, sebab kalian harus memperdalam ilmu silat masing-masing!"

"Terima kasih, Ketua!"

Sahut para anggotA itu serentak.

"Paman Tan, Paman Lim dan Saudara Cu,"

Ujar Yo Suan Hiang.

"Mulai besok aku akan mengajar kalian ilmu silat tingkat tinggi"

"Terima kasih, Ketua!"

Ucap mereka bertiga, dan yang paling gembira adalah Cu Tiang Him.

"Cu Tiang Him!"

Panggil Yo Suan Hiang mendadak.

"Ya,"

Sahut Cu Tiang Him sambil memberi hormat.

"Ada perintah apa, Ketua?"

"Engkau kuangkat sebagai kepala regu, maka engkau harus mengajar mereka ilmu silat yang kuajarkan kepadamu,"sahut Yo Suan Hiang.

"Ya, Ketua."

Cu Tiang Him memberi hormat.

"Paman Tan,"

Ujar "Yo Suan Hiang.

"Harus diatur beberapa ruangan untuk mereka, sebab sementara ini mereka harus tinggal di sini untuk memperdalam ilmu silat masing-masing."

"Baik, Ketua."

Tan Ju Liang mengangguk.

"Akan kuatur itu, dan harus ada kamar khusus untuk Ketua."

"Terima kasih, Paman Tan!"

Ucap Yo Suan Hiang sambil tersenyum.

"Tiang Him,"

Pesan Tan Ju Liang.

"Aturlah mereka ke ruang tengah!"

"Ya, Guru."

Cu Tiang Him rnengangguk.

"Ketua,"

Ujar Tan Ju Liang hormat.

"Mari ikut aku ke dalam!"

"Terima kasih, Paman Tan!"

Ucap Yo Suan Hiang dan kemudian mengikuti Tan Ju Liang kedalam. Sejak malam itu, lahirlah Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) dalam rimba persilatan. -oo0w0oo-

Jilid 2 Bagian Ke Enam Mengabdi pada Lu Thay Kam.

Lie Man Chiu, yang meninggalkan anak isteri itu terus melakukan perjalanan.

Ia telah melupakan anak isterinya yang di Pulau Hong Hoang To, juga melupakan wejangan-wejangan Tayli Lo Ceng, gurunya.

Sejak Bu Lim Sam Mo mati di tangan Tio Cie Hiong, hati Lie Man Chiu terganjel sesuatu.

Ternyata ia merasa dengki terhadap Tio Cie Hiong, yang disanjung-sanjung kaum rimba persilatan.

Namun karena pada waktu itu Ia sangat mencintai Tio Hong Hoa, maka ikut ke Pulau Hong Hoang To, sekaligus melangsungkan pernikahan di pulau tersebut.

Akan tetapi, rasa dengkinya terhadap Tio Cie Hiong semakin menjadi, karena semua orang sangat menghormati TiO Cie Hiong.

Padahal Ia sudah mempunyai seorang putri, namun dengkinya justru membangkitkan ambisinya, yakni harus menyamai Tio Cie Hiong.

Karena itulah Ia mengambil keputusan harus meninggalkan anak isteri, demi mengorbitkan namanya agar tenar dalam rimba persilatan.

Lie Man Chiu melakukan perjalanan dari desa ke desa, dan kota ke kota, akhirnya tiba di kota, yang indah dan penuh dengan bangunan mewah.

Menyaksikan keadaan itu, Ia sangat tertarik akan kemewahan dan kesenangan hidup.

Ketika ia berjalan santai di pinggir jalan, tiba-tiba para penduduk ibu kota minggir semua.

Ternyata muncul pasukan pengawal istana, dan tampak empat pengawal menggotong sebuah tandu mewah.

Seketika para penduduk ibu kota memberi hormat ke arah tandu itu, tentunya membuat Lie Man Chiu terheran-heran.

Namun Ia yakin, bahwa yang duduk di dalam tandu itu pasti pejabat tinggi.

Timbullah suatu perasaan aneh dalam hatinya, yakni ingin rasanya duduk di dalam tandu mewah itu dan dihormati semua orang.

Di saat bersamaan, mendadak muncul tiga orang berusaha mendekati tandu mewah itu.

Sudah barang tentu mereka dihadang oleh para pengawal istana itu, sehingga terjadilah pertempuran sengit.

"Kami adalah anggota Tiong Ngie Pay, harus menumpas Thay Kam jahat!"

Teriak ketiga orang itu sambil menyerang para pengawal istana.

Ketiga orang itu memang berkepandaian tinggi.

Terbukti para pengawa!

istana itu mulai kewalahan melawan mereka, bahkan sudah ada yang mati pula.

Sementara Lie Man Chiu manggut-manggut sambil menyaksikan pertempuran itu, sekaigus membatin.

"Inilah kesempatanku untuk berkenalan dengan para pejabat tinggi itu, siapa tahu kelak aku Juga akan menjadi pejabat tinggi!"

Seusai membatin, Ia tersenyum sambil melesat ke arah ketiga orang itu.

"Sungguh berani kalian ingin membunuh pejabat kerajaan!"

Bentaknya.

"Siapa Anda?"

Tanya salah seorang dan mereka sambil mengerutkan kening.

"Kalian tidak perlu tahu aku siapa!"

Bentak Lie Man Chiu dingin.

"Anda harus tahu, kami adalah anggota Tiong Ngie Pay!"

Orang itu memberitahukan.

"Aku tidak perduli!"

Sahut Lie Man Chiu dan menambahkan sambil menghunus Thian Liong Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Kahyangan).

"Kalian bertiga harus mampus!"

Ketiga orang itu saling memandang, kemudian menyerang Lie Man Chiu serentak.

Lie Man Chiu tertawa dingin.

Ia menangkis sekaligus balas menyerang dengan pedang pusakanya.

Sementara gordyn tandu mewah itu terbuka sedikit, dan tampak sepasang mata menyorot tajam ke arah Lie Man Chiu.

"Aaaakh! Aaakh! Aaaakh...!"

Terdengar suara jeritan. Ternyata ketiga orang itu telah roboh bermandi darah, dan nafas mereka pun putus seketika.

"Terima kasih, hiapsu (Pendekar)!"

Ucap komandan pengawal istana sambil memberi hormat.

"Sama-sama,"

Sahut Lie Man Chiu dan balas memberi hormat.

"Hiapsu, Anda harus menemui majikan kami,"

Ujar komandan pengawal istana sambil tersenyum.

"Terima kasih!"

Ucap Lie Man Chiu kemudian mengikutinya.

"Lu Kong Kong!"

Lapor komandan pengawal istana sambil memberi hormat ke arah tAndu itu.

"Hiapsu ini tetah membantu kita membunuh tiga orang Tiong Ngie Pay."

Lie Man Chiu tersentak ketika mendengar komandan pengawal istana memanggil Lu Kong Kong kepada orang yang di dalam tandu.

Karena ia telah mengetahui Lu Thay Kam, yang sangat berkuasa itu, maka segeralah ia memberi bormat.

"Hamba memberi hormat kepada Lu Kong Kong!"

"Ha ha ha!"

Terdengar suara tawa gelak didalam tandu.

"Bagus, bagus! Engkau telah berjasa, maka engkau boleh ikut ke tempat tinggalku! Berangkat!"

Para pengawal istana langsung berjalan, dan Lie Man Chiu berjalan di sisi tandu dengan wajah berseri.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa akan bertemu Lu Thay Kam tersebut, dan timbul pula suatu harapan dalam hatinya.

-oo0dw0oo-Mereka telah sampai di tempat tinggal Lu Thay Kam, yakni istana bagian barat.

Tempat tinggal Lu Thay Kam itu sangat megah.

Di halAmannya tampak taman bunga yang indah, sehingga Lie Man Chiu terpesona begitu melihatnya.

Lu Thay Kam melangkah turun dan tandu, kemudian menatap tajam ke arah Lie Man Chiu.

Setelah itu, barulah ia melangkah memasuki istana seraya berkata.

"Mari ikut aku!"

"Ya, Lu Kong Kong."

Lie Man Chiu memberi hormat kemudian mengikutinya, dan para pengawal langsung memberi hormat kepada mereka.

Lu Thay Kam mengajak Lie Man Chiu ke sebuah ruangan yang sangat besar, kemudian setelah duduk barulah menyuruh Lie Man Chiu duduk.

"Terima kasih!"

Ucap Lie Man Chiu sambil duduk.

"Siapa namamu?"

Tanya Lu Thay Kam sambil menatapnya tajam.

"Nama hamba Lie Man Chiu,"

Jawabnya memberitahukan.

"Hamba sudah yatim piatu."

"Kenapa engkau mau membantu para pengawal istana membunuh para anggota Tiong Ngie Pay itu?"

"Karena mereka berniat coba-coba membunuh Lu Kong Kong, maka hamba harus turun tangan membunuh mereka.

"Bagus, bagus! Ha ha ha!"

Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Hatimu cukup kejam, sungguh mengagumkan!"

"Terima kasih atas pujian Lu Kong Kong!"

Ucap Lie Man Chiu sambil memberi hormat.

"Lie Man Chiu!"

Panggil Lu Kong Kong berwibawa.

"Ya, Lu Kong Kong,"

Sahut Lie Man Chiu cepat.

"Tentunya engkau ingin hidup senang dan mewah, bukan?"

Lu Thay Kam menatapnya dalam-dalam.

"Hamba berterima kasih sekali, apabila Lu Kong Kong bersedia mengatur itu untuk bamba."

"Ha ha ha!"

Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Jadi engkau ingin mengabdi kepadaku? Terus teranglah!"

"Ya, Lu Kong Kong."

"Ngmm!"

Lu Thay Kam manggut~manggut.

"Kepandaianmu cukup tinggi, kebetulan aku memang membutuhkan seorang pembantu."

"Terima kasih, Lu Kong Kong!"

Lie Man Chiu girang bukan main.

"Engkau jangan bergirang dulu!"

Tandas Lu Thay Kam dan melanjutkan.

"Sebab tidak gampang engkau menjadi pembantuku."

"Kenapa?"

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 8

Baca Juga: Dewi Maut 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert