Eps 3 Siluman Gua Tengkorak - Kho Ping Hoo
Baca online Siluman Gua Tengkorak - Kho Ping Hoo
Cersil Siluman Gua Tengkorak - Kho Ping Hoo.
"Bantuan kerja sama dalam bentuk tenaga dan kepandaian silat taihiap. Hendaknya taihiap ketahui bahwa usaha kami ini banyak mendapat tentangan dari agama-agama lain dan sudah sering kali kami mereka cari dan mereka bermaksud membasmi kami. Oleh karena itu, taihiap bukan kami anggap sebagai pengikut biasa, melainkan sekutu kami, sebagai seorang di antara kami dan kalau taihiap dapat memenuhi harapan kami ini, percayalah bahwa dengan segala kemampuanku, taihiap akan menjadi orang pertama sesudah aku untuk berkenalan secara langsung dengan Dewa Kematian."
"Ahhh...!"
Thian Sin pura-pura merasa girang sekali.
"Aku akan girang sekali!"
"Akan tetapi, untuk itu kami harus benar-benar dapat dipercaya kepadamu, dan ini ada syaratnya."
"Syaratnya?"
"Menurut pelaporan anak buah kita, ada lima orang pendekar dari agama lain yang sedang menyelidiki tempat kita ini. Mereka merupakan bahaya bagi kita, maka aku minta kepadamu untuk menghadapi mereka dan membasmi mereka. Sanggupkah engkau, Ceng-taihiap?"
Thian Sin mengangkat muka dan memandang tajam, bertemu dengan pandang mata lawan yang penuh selidik.
Dia berhadapan dengan orang yang cerdik pula.
"Sian-su, aku masih dalam taraf percobaan, bagaimana engkau sudah begitu percaya kepadaku? Apakah engkau tidak khawatir kalau aku berkhianat setelah aku tiba di luar tempat ini?"
Wajah di balik topeng tengkorak itu tertawa.
"Apa boleh buat kami harus menghadapi resiko itu! Kalau taihiap benar-benar mau bekerja sama dengan kami, kami merasa beruntung sekali. Sebaliknya, andaikata taihiap berbalik pikir, kamipun tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi belum tentu taihiap akan mampu menemukan kembali tempat rahasia kami, dan di sini banyak terdapat perangkap-perangkap rahasia yang akan mampu membendung serbuan ratusan orang. Selain itu, andaikata mereka mampu menyerbu masuk, kamipun dapat saja setiap waktu meloloskan diri, pindah mencari tempat lain, membawa semua barang suci dan berharga, dan terpaksa kami harus meninggalkan para wanita itu dalam keadaan sempurna."
Karena ada penekanan kata-kata aneh dalam kalimat terakhir, Thian Sin curiga.
"Dalam keadaan sempurna bagaimana maksudmu?"
Pendeta siluman itu menggerakkan pundak.
"Yaahh, menyerahkan mereka kepada Dewa Kematian sebagai korban, apa lagi? Kami terpaksa, karena membawa mereka yang lemah untuk melarikan diri tidaklah mungkin, dan membiarkan mereka hidup-hidup tertawan musuh juga amat berbahaya bagi kami."
"Engkau akan membunuh puluhan orang gadis itu?"
Hampir Thian Sin berteriak.
"Ahhhh, nanti dulu, taihiap. Bukan membunuh, melainkan mengorbankan mereka kepada Dewa Kematian. Mereka akan mendapatkan kesenangan di sana, dan Dewa Kematian akan berterima kasih sekali kepada kami..."
Thian Sin tidak bertanya lagi.
Dia maklum apa artinya itu.
Wanita-wanita itu merupakan sandera!
Dengan lain kata-kata pendeta siluman ini hendak menyatakan kepadanya bahwa apa bila dia berbalik pikir dan kelak mengakibatkan perkumpulan agama itu diserbu, wanita-wanita itu akan dibunuhnya.
Tentu saja ini merupakan ancaman kepadanya agar dia tidak mengkhianati Sian-su, dan dia tahu bahwa ancaman itu bukan hanya ancaman kosong belaka!
"Baiklah, Sian-su, aku akan membuktikan bahwa aku memang ingin bekerja sama karena aku mulai tertarik oleh agama baru ini."
Thian Sin menjadi tamu terhormat di sarang perkumpulan agama Jit-sian-kauw itu, mendapat sebuah kamar yang indah dan mewah.
Dia menolak ketika ditawari gadis untuk menemaninya, dan malam itu dia tidur nyenyak untuk melepaskan lelah dan mengumpulkan tenaga.
Dia tahu bahwa semua gerak-geriknya diamati dan diintai, maka diapun tidak mau melakukan sesuatu yang mencurigakan.
Pada keesokan harinya, diapun sama kali tidak tahu bahwa Kim Hong telah menyusulnya dan mencarinya, bahkan kemudian gadis itu terjebak dan tertawan di dalam sarang rahasia Jit-sian-kauw itu.
Pada sore harinya dia diberi tahu oleh Sian-su bahwa lima orang yang memusuhi Jit-sian-kauw itu telah tiba di dekat puncak bukit.
Mereka itu tidak menyelidiki dari bagian depan tebing Guha Tengkorak, melainkan dari belakang dan karena sarang Jit-sian-kauw itu terkurung jurang yang dalam, maka lima orang pendekar itu tidak tahu bahwa tempat yang mereka cari-cari itu sebetulnya sudah amat dekat, hanya terhalang jurang, yaitu di puncak yang dikelilingi jurang itu.
Tidak mungkin menyeberangi jurang itu, dan tidak mungkin pula menuruni jurang yang demikian dalam dan curamnya.
Mereka berkeliaran di daerah itu, memeriksa dan mencari-cari.
Thian Sin melakukan pengintaian.
Dia sendirian saja dan dia kini telah mengenakan pakaian dan topeng dari anggauta Jit-sian-kauw!
Biarpun dia sendirian saja, namun dia mengerti bahwa Sian-su dan kaki tangannya tentu membayanginya dan mungkin kini sedang mengintai pula dari tempat-tempat tersembunyi untuk mengikuti sepak terjangaya yang bertugas mengusir lima orang musuh perkumpulan ini.
Akan tetapi jantung dalam dada Thian Sin berdebar tegang ketika dia mengenal siapa adanya tosu tua yang memimpin rombongan itu.
Tosu berusia kurang lebih enam puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian jubah kuning, dengan pedang di punggung, wajahnya putih itu, bukan lain adalah Liang Hi Tojin, seorang tokoh tingkat dua dari partai persilatan Bu-tong-pai!
Liang Hi Tojin ini adalah orang ke dua dari Bu-tong-pai, terkenal sebagai seorang pendekar yang sejak mudanya menjadi pembela keadilan dan kebenaran, seorang ahli pedang yang amat lihai.
Dan agaknya, empat orang lainnya itu, yang nampakaya gagah perkasa, tentulah murid-murid keponakannya.
Tentu rombongan dari Bu-tong-pai yang datang menyelidiki Jit-sian-kauw ini, bukan semata-mata karena perbedaan paham keagamaan, melainkan tentu karena orang-orang Bu-tong-pai itu mendengar akan kejahatan yang dilakukan Siluman Guha Tengkorak dan kini didorong oleh jiwa kependekaran mereka datang untuk menentang Jit-sian-kauw.
Tentu saja Thian Sin merasa serba salah.
Bagaimana mungkin dia memusuhi Liang Hi Tojin, seorang pendekar tua Bu-tong-pai yang telah dikenalnya dengan baik?
Akan tetapi, kalau dia mengkhianati Sian-su, lalu bagaimana nasib kurang lebih tiga puluh orang wanita yang berada di dalam cengkeraman siluman-siluman itu di di luar kehendak mereka, Karena mereka telah dikuasai oleh sihir dan obat bius?
Kalau dia memperkenalkan diri mengajak lima orang pendekar Bu-tong-pai ini membalik dan memberontak, apakah dia akan mampu?
Memasuki terowongan itu saja sudah merupakan bahaya yang besar dan sebelum mereka berhasil, siluman-siluman itu dapat melarikan diri dari jalan rahasia tersendiri dan meninggalkan puluhan wanita itu dalam keadaan tewas.
Tidak, dia harus bersandiwara, menuruti kehendak Sian-su dan menanti saatnya yang baik dan tepat untuk memberi pukulan besar-besaran.
Tosu tua tinggi kurus itu memang Liang Hi Tojin dari Bu-tong-pai, dan empat orang pria yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, yang nampak gagah perkasa itu adalah murid keponakannya, yaitu murid Bu-tong-pai yang termasuk sebagai murid-murid kepala.
Biarpun tingkat kepandaian mereka masih dua tingkat di bawah tingkat Liang Hi Tojin, namun mereka itu sudah dapat digolongkan pendekar-pendekar yang lihai pada masa itu.
Mereka itu turun gunung untuk mengunjungi Louw Ciang Su di Tai-goan, akan tetapi mereka hanya melihat peti matinya saja!
Tentu saja para tokoh Bu-tong-pai ini menjadi terkejut dan marah ketika mendengar bahwa Louw Ciang Su, sebagai seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, telah tewas oleh Siluman Guha Tengkorak.
Itulah sebabnya, mereka langsung melakukan penyelidikan ke daerah Guha Tengkorak dan karena mereka sudah mendengear bahwa pasukan keamanan dari Tai-goan dan para pendekar telah gagal ketika mencari siluman itu dari depan tebing Guha Tengkorak, mereka lalu melakukan penyelidikan dan pencarian dari belakang tebing.
"Bagaimana mungkin ada manusia dapat bersembunyi di tempat seperti ini?"
Terdengar Liang Hi Tojin berkata kepada empat orang murid keponakannya setelah mereka melihat keadaan di belakang tebing Guha Tengkorak itu.
"Bukit di depan itu merupakan puncak yang dikelilingi jurang yang tidak mungkin didatangi manusia."
"Akan tetapi, susiok, teecu kira justeru karena sulitnya dicapai orang inilah maka merupakan tempat yang amat baik bagi penjahat untuk menyem-bunyikan diri,"
Kata seorang murid keponakannya.
"Tentu ada suatu rahasia yang dapat membawa orang menyeberang ke puncak bukit itu,"
Kata murid kedua.
"Siancai, siancai, siancai...! Kalau memang ada, tentu tidak akan mudah mencarinya di tempat se-luas ini."
Thian Sin memuji ketelitian mereka.
Memang tidak akan mudah.
Dia sendiri tiba di belakang tebing ini melalui jalan rahasia yang rumit, yang merupakan "lubang tikus"
Dan menembus di lereng jurang, tertutup pohon-pohon dan semak-semak, di dekat tepi jurang.
Dia tadi merayap di lereng jurang itu melalui akar-akar pohon dan kini mengintai di balik pohon besar.
Karena merasa sudah waktunya untuk turun tangan dan agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada Sian-su yang dia tahu tentu sedang mengamatinya, dia lalu keluar dari tempat sembunyinya dan berlompatan ke depan lima orang itu!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya lima orang gagah dari Bu-tong-pai ketika mereka melihat munculnya seorang berjubah putih dengan gambar tengkorak merah darah di dada dan memakai topeng tengkorak yang menyeramkan.
"Siancai...! Inikah Siluman Guha Tengkorak yang telah membunuh Tujuh Pendekar Tai-goan itu?"
Liang Hi Tojin bertanya dan empat orang murid Bu-tong-pai itu telah mencabut pedang masing-masing dari punggung mereka dengan gerakan yang cepat dan indah.
Thian Sin tidak mengeluarkan suara.
Apa yang dapat diucapkannya?
Tugasnya hanyalah mengenyahkan mereka, maka diapun lalu menerjang ke depan dan menyerang tosu tua itu dengan pukulan dari samping mengarah pelipisnya.
Melihat pukulan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu, tahulah tokoh Bu-tong-pai ini bahwa siluman itu memang lihai sekali.
"Siancai sungguh siluman jahat sekali!"
Dan diapun cepat meloncat mundur untuk mengelak sambil mencabut pedangnya.
Empat orang muridnya sudah menerjang dengan pedangnya masing-masing dan Thian Sin segera dikurung dan dikeroyok.
Permainan pedang Bu-tong Kiam-sut memang hebat dan berbahaya sekali.
Sinar pedang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar dari pelbagai jurusan, menggulungnya dan kalau Thian Sin tidak memiliki gin-kang yang hebat dan langkah-langkah ajaib dari Thai-kek Sin-kun, tentu dia akan terancam bahaya dikeroyok oleh mereka.
Terutama sekali pedang di tangan Liang Hi Tojin amat lihainya.
Pedang itu mengeluarkan suara berdesing-desing dan sinarnya berkilauan menyambar-nyambar.
Thian Sin tidak berani mencabut Gin-hwa-kiamnya karena mungkin pedang itu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin.
Maka terpaksa diapun mengerahkan Thian-te Sin-ciang untuk kadang-kadang menangkis kalau elakan-elakannya kurang cukup untuk dapat menyelamatkan diri dari sambaran lima batang pedang itu.
Liang Hi Tojin dan empat orang muridnya terkejut bukan main melihat betapa siluman itu menangkis pedang mereka dengan tangan kosong saja!
Padahal, pedang mereka adalah pedang pilihan, terbuat dari baja yang amat keras dan baik.
Tahulah mereka bahwa siluman ini benar-benar amat lihai sekali dan merekapun tidak merasa heran sekarang bahwa Tujuh Pendekar Tai-goan tewas di tangan siluman ini.
Liang Hi Tojin menyerang makin hebat karena marah dan karena dia beranggapan bahwa siluman selihai dan sejahat ini harus dilenyapkan dari permukaan bumi agar rakyat terbebas dari pada ancaman malapetaka yang ganas dan jahat.
Thian Sin merasa kewalahan juga.
Kalau dia mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya seperti Thikhi-i-beng misalnya, sin-kang yang dapat menyedot tenaga lawan, atau Thian-te Sin-ciang atau Thai-kek Sin-kun, tentu kakek Bu-tong-pai itu akan mengenal ilmu-ilmu dari Lembah Naga dan Cin-ling-pai itu.
Kalau dia menggunakan ilmu peninggalan mendiang ayah kandungnya, yaitu ilmu-ilmu pukulan yang dahsyat Hok-liang Sin-ciang atau Hok-te Sin-kun, akibatnya bisa berbahaya sekali dan belum tentu lima orang itu akan mampu menahannya.
Padahal, tentu saja dia tidak ingin membunuh lima orang tokoh Bu-tong-pai ini.
Maka dia hanya mempergunakan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, ilmu yang dipelajarinya dari kakek sakti Yap Kun Liong dan mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk menangkisi pedang-pedang itu.
Dia menanti saat yang baik dan tepat untuk melakukan serangan terakhir seperti yang sudah direncanakannya ketika dia mengintai mereka tadi.
Perlahan-lahan dia mundur kebelakang menuju ke bawah sebatang pohon yang daunnya lebar, selebar tangan dengan ujung runcing dan daun itu kaku pula, cukup baik dijadikan senjata.
Tiba-tiba dia meloncat, mencabut beberapa helai daun dari ranting yang terendah dan begitu tubuhnya turun, dia menyambitkan daun-daun itu ke depan sambil membentak dengan suara nyaring.
"Pergilah!"
Berturut-turut tangannya bergerak, dengan pengerahan sin-kang yang amat kuat, lima helai daun itu seperti anak panah saja meluncur secepat kilat menuju ke arah lima orang lawannya.
(Lanjut ke
Jilid 05) Siluman Gua Tengkorak (Seri ke 07 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 05 Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan empat orang murid Bu-tong-pai itu melepaskan pedang mereka ketika sebatang daun menyambar dan menancap di pergelangan tangan kanan mereka seperti anak panah atau senjata piauw (pisau terbang) dengan kecepatan yang tak dapat dielakkan lagi.
Sedangkan Liang Hi Tojin masih dapat menggunakan lengan kirinya menangkap daun yang menyambar pergelangan tangan kanannya itu, dan berbeda dengan empat daun yang lain, daun yang menyambar ke arah pergelangan tangan Liang Hi Tojin itu tidaklah begitu cepat dan kuat sehingga dengan mudah dapat ditangkap oleh tosu ini.
Liang Hi Tojin memandang sekilas kepada daun di tangannya kemudian dia berkata.
"Ambil pedang, mari kita pergi!"
Empat orang murid itu cepat mengambil pedang masing-masing dengan tangan kiri, kemudian bersama tosu itu mereka berloncatan meninggalkan tempat itu.
Thian Sin tertawa dan memandang sampai mereka lenyap di balik semak-semak.
"Bagus, taihiap. Sungguh senang hatiku melihat engkau menghajar mereka, sayang tidak membunuh saja mereka itu agar kelak tidak mendatangkan penyakit."
Thian Sin menoleh dan melihat pendeta siluman ketua Jit-sian-kauw telah berada di situ.
Tentu saja dia tadi mendengar gerakannya, ketika orang ini muncul dengan ringan sekali akan tetapi dia pura-pura tidak tahu membiarkan orang itu merasa bangga bahwa gin-kangnya sedemikian hebatnya, terlalu hebat bagi Pendekar Sadis untuk dapat mengetahui kedatangannya.
Kemudian dia menarik napas panjang dan berkata.
"Sian-su, kalau mereka itu memusuhi kita, sudah cukup kalau kita hajar dan mereka akan jera untuk mengganggu kita lagi. Membunuh mereka, berarti hanya akan memperdalam permusuhan belaka, membuat kita semakin repot menghadapi usaha mereka untak balas dendam kelak."
"Ha-ha-ha, engkau benar, taihiap. Ah, sungguh beruntung mempunyai seorang sahabat seperti engkau untuk bekerja sama,"
Kata pula Sian-su dengan girang.
Mereka lalu kembali ke sarang Jit-sian-kauw.
Thian Sin merasa girang sekali bahwa dia dapat mengelabuhi pendeta siluman itu.
Dia tadi telah melakukan siasatnya dengan baik sekali.
Dia tahu bahwa biarpun di sana terdapat sekutunya yang paling baik, yaitu Kim Hong, akan tetapi belum tahu Kim Hong dapat mencari tempat rahasia ini.
Maka dia membutuhkan bantuan dan melihat lima orang Bu-tong-pai itu, dia melihat bantuan yang amat baik dan cukup kuat.
Maka ketika dia mengintai tadi, diam-diam dia menggunakan sehelai daun untuk digurat-gurat dengan duri, membuat beberapa buah huruf di atas daun.
Daun itu disimpannya dalam saku jubahnya dan ketika dia menyerang lima orang itu, daun yang ada huruf-hurufnya itu dia sambitkan ke arah Liang Hi Tojin dengan pengerahan tenaga yang sedikit saja.
Untung bahwa tokoh Bu-tong-pai itu cukup cerdik untuk dapat melihat kejanggalan ini dan menerima daun itu lalu mengajak empat orang murid keponakannya yang telah terluka pergelangan tangannya.
Tulisan di atas daun itu berbunyi demikian .
SIAP MENYERBU BERSAMA, TUNGGU BERITA.
ANG LIAN TO (PULAU TERATAI MERAH).
Dia sengaja memakai nama Ang-lian-to yang tentu akan dikenal oleh Liang Hi Tojin yang sudah mengenalnya dan tahu bahwa dia dan Kim Hong tinggal di sebuah pulau kosong yang bernama Ang-lian-to (Pulau Teratai Merah).
Dan agaknya tosu itu memang mengenalnya, buktinya tosu itu mengajak empat orang muridnya untuk mundur.
Padahal, sesuai dengan watak pendekarnya, sebelum dia sendiri roboh, tidak mungkin tosu itu akan melarikan diri dari pertempuran.
Thian Sin merasa lega dan gembira, merasa bahwa dia telah berhasil mengelabui ketua Jit-sian-kauw.
Akan tetapi, pendekar ini sama sekali tidak tahu bahwa di balik topeng tengkorak itu, Sian-su tersenyum-senyum dan mentertawakannya.
Dia tidak tahu bahwa ada kejutan yang amat tidak menyenangkan baginya.
Biarpun dia melihat sendiri betapa Pendekar Sadis telah mengusir lima orang musuh itu dan melukai empat orang murid Bu-tong-pai dengan cara yang amat mengagumkan dan menggiriskan hatinya, yaitu hanya dengan mempergunakan daun, namun ketua Jit-sian-kauw itu belum yakin begitu saja.
Dia masih belum mau percaya begitu saja.
Dia masih belum yakin benar akan kesetiaan Thian Sin.
Oleh karena itu, dia masih mempersiapkan suatu ujian yang amat berat bagi pemuda itu.
Malam hari itu, ketika Thian Sin sudah merebahkan diri dan mencari akal untuk melihat kesempatan, tiba-tiba dia terbangun dengan kaget.
Ada suara di telinganya, dekat sekali di telinganya, yang berbisik dengan suara mengandung kekuatan mujijat.
"Ceng Thian Sin, engkau telah berada dalam kekuasaan Sian-su. Engkau harus mentaati semua kehendaknya agar hatimu dapat merasa senang dan tenteram! Nah kau rebahlah, kau tidurlah, tidur yang nyenyak...!"
Thian Sin yang sudah bangkit duduk itu perlahan-lahan merebahkan diri kembali, dan memejamkan matanya, lalu dia mengatur pernapasannya seperti orang tertidur.
Tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi.
"Ceng Thian Sin, bangkitlah dan turunlah dari tempat tidurmu."
Bagaikan patung hidup, Thian Sin lalu turun dari pembaringan.
"Pergilah ke pintu kamar, bukakan daun pintu dan biarkan seorang sahabat masuk!"
Thian Sin berjalan ke pintu dan membuka daun pintu.
Di depan pintu itu telah berdiri seorang yang bertopeng tengkorak dan berjubah putih pakaian seragam para anggauta Jit-sian-kauw yang membawa sebuah baki terisi cawan arak.
Thian Sin tidak tahu apakah orang ini sang ketua sendiri ataukah orang lain, akan tetapi dia percaya bahwa ketua itu tidak begitu ceroboh untuk membiarkan dirinya dekat dengan dia tanpa terlindung.
Tentu ini hanya seorang anggauta biasa saja.
"Taihiap, harap suka minum arak dalam cawan ini,"
Kata orang itu sambil menyerahkan cawan arak.
Thian Sin hendak menolaknya, akan tetapi dia segera teringat bahwa dia sedang berada dalam keadaan "tersihir", maka diapun diam saja, hanya memandang dengan mata kosong dan berdiri seperti patung.
Suara itu lalu terdengar lagi, kini nadanya mengandung kelegaan hati.
"Ceng Thian Sin, ambil cawan itu dan minum araknya sampai habis!"
Kini Thian Sin mengambil cawan itu dan menempelkannya ke bibirnya.
Dari baunya saja dia maklum bahwa arak itu dicampuri obat bius, akan tetapi tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menuangkan araknya ke dalam mulut sampai habis.
Akan tetapi lebih dulu dia menggunakan kekuatan sihir dalam pandang matanya kepada sepasang mata di balik topeng itu dan melihat mata itu sejenak tercengang lalu melembut, tanda bahwa dia telah berhasil menguasai orang itu yang ternyata hanyalah seorang anggauta biasa saja.
Dengan kekuatan sihirnya dia membisikkan bahwa orang itu telah melihat dia minum arak itu sampai habis ditelannya.
Padahal arak itu hanya disimpan di mulutnya saja.
"Sekarang kembalilah ke tempat tidur dan rebahkan dirimu,"
Bisik suara di dekat telinganya yang dia tahu adalah suara Sian-su yang menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh menggunakan tenaga khi-kang yang amat kuat.
Angauta itupun lalu membawa pergi cawan kosong dan menutupkan pintu kamar, sedangkan Thian Sin merebahkan dirinya di atas pembaringan, diam-diam membuang arak di mulutnya yang dimuntahkan di dalam tangannya dan dibuang di atas lantai di belakang pembarirngan.
Hal ini dilakukannya dengan cepat lalu dia merasa yakin bahwa tidak ada mata orang lain yang mengikuti gerak-geriknya.
"Ceng Thian Sin, mulai saat ini engkau akan selalu percaya sepenuhnya taat, hormat dan tunduk kepadaku, kepada Sian-su, ketua dari Jit-sian-kauw yang akan mendatangkan kesenangan dunia akhirat bagimu! Camkan ini, harus selalu setia dan taat kepada Sian-su!"
Kalimat terakhir itu diulangi sampai belasan kali dengan kekuatan yang amat hebat sehingga Thian Sin harus mengerahkan tenaga sin-kang pula untuk melawannya agar jangan sampai terpengaruh.
Tentu saja pengalaman itu membuat Thian Sin tidak dapat tidur pulas.
Dia harus bertindak cepat karena kalau terlalu lama, keadaannya bisa semakin berbahaya.
Dia tidak tahu bahwa malam itu, Sian-su telah mempersiapkan percobaan terakhir kepadanya, percobaan yang teramat berat dan di sini Sian-su hendak mengambil kepastian apakah pendekar itu akan dianggap kawan ataukah lawan.
Setelah merasa yakin bahwa dia tidak diamati, Thian Sin lalu turun dari pembaringannya dan dengan langkah seperti langkah kucing, sama sekali tidak menimbulkan suara, dia mendekati jendela lalu pintu kamarnya untuk mengintai keluar.
Ada dua orang penjaga di luar, seorang di luar jendela dan seorang lagi di luar pintu.
Dengan hati-hati dia membuka daun pintu.
Anggauta Jit-sian-kauw itu memandang dan Thian Sin menggapai, berkata lirih.
"Twako, ke sinilah, aku mau bicara penting..."
Karena ketika memandang dan menggapai, juga ketika mengeluarkan kata-kata Thian Sin sudah mempergunakan kekuatan sihir melalui mata, gerakan tangan dan suaranya, penjaga itu biarpun ragu-ragu, tidak dapat menahan kakinya melangkah dan memasuki kamar.
Secepat kilat tangan kanan Thian Sin bergerak dan tanpa mampu mengeluarkan suara atau melawan, penjaga itu terkulai lemas karena dia telah pingsan tertotok.
Dengan hati--hati Thian Sin merebahkan orang itu di atas lantai kamarnya, kemudian dengan berindap-indap dia keluar dari pintu kamar, memutar dan meyergap penjaga yang duduk di luar jendela.
"Apa... uhhh...!"
Penjaga itu tadinya terkejut dan hendak melawan, namun dalam keadaan seperti itu Thian Sin telah menggunakan kepandaiannya, maka mana mungkin penjaga itu mampu melawannya.
Diapun roboh pingsan sebelum sempat berteriak dan Thian Sin sudah memondong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar, melepaskannya di atas lantai bersama penjaga pertama.
Kemudian, dengan cepat Thian Sin menelikung kedua orang itu, diikatnya dengan tali ikat pinggang mereka sendiri, Dijadikan satu dan mulut merekapun disumbat dengan kain baju mereka sendiri.
Karena dia tahu bahwa dua orang itu memiliki kepandaian yang lumayan, maka dia mengikat kaki tangan mereka kuat-kuat, juga menyumbat mulut mereka dan menalikan kain sumbatan itu melilit kepala, dan menambahkan totokan pada beberapa bagian tubuh mereka.
Dia merasa yakin bahwa sebelum pagi hari, mereka tidak akan siuman dan andaikata sudah siuman sekalipun, mereka takkan mampu bergerak dan tidak dapat mengeluarkan suara.
Setelah melakukan ini, dia lalu mendorong tubuh yang sudah menjadi satu itu ke bawah pembaringannya sehingga tidak nampak dari luar.
Kemudian dia bersiap-siap untuk melakukan penyelidikan sendiri dan dengan gesit dia menyelinap keluar dari dalam kamarnya, menutupkan daun pintu kamar dan keluar.
Dia sudah tahu di mana adanya kamar-kamar para wanita penari.
Dia bermaksud mencari isteri mendiang Cia Kok Heng dan hendak menyelidiki keadaan wanita itu karena dia merasa yakin bahwa ada sesuatu yang memaksa wanita itu berbohong kepadanya ketika ditanyainya.
Dan dia akan menggunakan kekuatan sihirnya membuyarkan kekuatan sihir yang mencengkeram para wanita penari dan mengorek rahasia kejahatan Siluman Guha Tengkorak dari mereka.
Akan tetapi, baru saja dia keluar dari kamarnya, terdengar suara canang bertalu-talu dan disusul suara hiruk-pikuk kaki orang-orang berlarian.
Than Sin terkejut dan cepat dia kembali ke dalam kamarnya, menyangka bahwa tentu perbuatannya ketahuan dan dia harus bersiap siaga menghadapi pengeroyokan kalau perlu.
Dia mengintai dari balik jendela dan melihat para anggauta perkumpulan itu berlari-lari dari segala jurusan menuju ke bangunan besar yang menjadi tempat tinggal Sian-su.
Tak lama kemudian, suara canang itupun berhenti dan nampaklah Sian-su bersama serombongan anggautanya melangkah lebar menuju ke kamarnya!
Thian Sin menanti dengan jantung berdebar.
Jelaslah bahwa perbuatannya telah ketahuan!
Akan tetapi dia pura-pura tidur miring di atas pembaringannya, dengan seluruh urat ayaraf menegang, siap menerjang keluar, menghadap ke pintu dan menutupi mukanya dengan lengan tangan, mengintai dari bawah lengan.
Dapat dibayangkan betapa tegangnya hati pendekar itu ketika pintu kamarnya perlahan-lahan terbuka dari luar!
Dia sampai merasa seolah-olah jantungnya hendak meloncat keluar dan suara detak jantungnya seperti suara tambur.
Akan tetapi, suara Sian-su tidak terdengar marah, bahkan ramah sekali ketika berkata.
"Ceng-taihiap, bangunlah!"
Thian Sin sudah merasakan perobahan dalam suara itu, suara yang sifatnya memerintah.
Akan tetapi dia pura-pura tidak merasakan hal ini, dan diapun menurunkan lengannya, dan membuka mata.
Dilihatnya bahwa mata itu tidak memancarkan kekuatan sihir, maka diapun mengerti bahwa sekali ini Sian-su hendak menghadapi dia dalam keadaan sadar.
Bukankah semalam suara Sian-su telah menanamkan pesan kepadanya bahwa dia harus setia dan taat?
Baiklah, dia akan bersikap taat.
"Ah, Sian-su, malam-malam begini ada apakah? Aku mendengar suara canang dan mendengar suara kaki berlari-lari, setelah suara canang berhenti akupun tidur lagi."
"Canang itu dipukul untuk mengumpulkan anggauta karena ada laporan dari pengamat di luar bahwa ada serombongan orang yang menyerbu tempat kita."
Reaksi Thian Sin cepat dan wajar, kewajaran sikap seorang yang setia!
Dia sudah meloncat turun dari pembaringan dan mengepal tinju.
"Kita harus basmi mereka!"
Dilihatnya betapa sepasang mata di balik topeng itu memancarkan sinar puas dan gembira melihat sikapnya ini, dan Sian-su berkata.
"Tidak perlu tergesa-gesa. Mereka itu tidak akan mampu menemukan tempat kita, taihiap."
"Siapakah mereka?"
"Ha-ha, mereka itu adalah orang-orang dari Hong-kiam-pai yang dipimpin oleh Im Yang Tosu."
Diam-diam Thian Sin terkejut.
Dia mengenal Im Yang Tosu, tokoh dari Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi.
"Apakah taihiap belum mengenal Hong-kiam-pang?"
Thian Sin menggeleng kepalanya.
"Hong-kiam-pang atau Hong-kiam-pai adalah perkumpulan silat yang mengutamakan ilmu pedang mereka, berpusat di kuil Thian-hong-bio di lembah Fen-ho di luar kota Tai-goan. Mereka dipimpin oleh Im Yang Tosu dan Bu Beng Tojin. Ha-ha, mereka berani memusuhi kita, akan tetapi biarlah, tak mungkin mereka dapat menemukan tempat kita ini. Cukup dengan beberapa orang pengamat saja untuk mengamati gerak-gerik mereka di luar tebing Guha Tengkorak, sedangkan kita akan melanjutkan pesta pengangkatan seorang anggauta atau murid baru."
Thian Sin merasa tidak senang, akan tetapi tidak diperlihatkannya pada wajahnya yang tetap tenang.
Sinar matanya ketika memandang kepada Sian-su penuh dengan kekaguman, kehormatan dan kesetiaan, sesuai seperti apa yang dikehendaki oleh pendeta siluman itu.
"Murid baru wanita?"
Pendeta siluman itu tertawa.
"Benar, seorang murid baru yang istimewa, taihiap dan terus terang saja, belum pernah kita mempunyai anggauta wanita seperti ini."
Thian Sin merasa agak heran dan juga timbul kecurigaannya, ada perasaan tidak enak menyelinap dalam hatinya.
Dia mencoba untuk menduga-duga, akan tetapi tidak berhasil memecahkan teka-teki ini.
Siapakah wanita yang dimaksudkan oleh pendeta siluman ini?
Hampir dia menduga bahwa jangan-jangan yang dimaksudkan adalah Kim Hong.
Akan tetapi dia membantah sendiri dugaannya ini.
Kim Hong terlampau cantik untuk dapat terjebak.
Memang besar kemungkinan Kim Hong menyelidiki dan memasuki sarang ini untuk mencari dan menolongnya, akan tetapi Kim Hong tentu maklum akan besarnya bahaya kalau membiarkan dirinya terjebak.
Tidak, Kim Hong tidak mungkin membiarkan dirinya dijebak seperti dirinya.
"Marilah, taihiap, mari kita menemani mereka yang sudah sejak tadi mulai dengan pesta malam ini. Ada seorang pengikut baru, seorang pembesar yang memiliki kedudukan penting di kota raja. Dari dialah kita dapat mengharapkan sumbangan yang besar untuk menyelesaikan bangunan pondok suci untuk tujuh dewa yang mulia. Untuk menghormati kehadirannya dan untuk meresmikan pengangkatan anggauta baru yang juga akan menjadi pilihanku sebagai murid terbaik dan tersayang, taihiap."
Thian Sin mengikuti pendeta siluman itu naik ke dataran puncak bukit di mana telah berkumpul para pengikut yang kemarin malam pernah dilihat oleh Thian Sin.
Dan di antara mereka kini terdapat seorang pria berpakaian mewah yang bermuka merah, usianya sudah enam puluh tahun akan tetapi sikapnya masih genit.
Ada tiga orang pelayan wanita yang bergaun tipis melayani orang ini dan Thian Sin dapat menduga bahwa orang inilah yang disebut oleh Sian-su tadi sebagai pengikut baru yang terhormat, seorang bangsawan tinggi dari kota raja.
Seperti juga kemarin malam, para penari wanita melakukan upacara dan Lu Sui Hwa atau isteri Cia Kok Heng kini ikut pula di antara para penari, nampak cantik dan agung, paling menarik di antara mereka walaupun mukanya agak pucat dan matanya sayu.
Thian Sin masih menghadapi semua ini dengan tenang.
Akan tetapi ketika tiba giliran anggauta atau murid baru itu mendaki anak tangga menuju ke dataran itu, tiba-tiba Thian Sin mengepal tinjunya dan wajahnya berobah pucat.
Dia mengenal Kim Hong yang kini menghampiri Sian-su, Kim Hong yang mengenakan pakaian gaun tipis putih!
Dengan mata terbelalak Thian Sin melihat betapa Kim Hong melangkah seperti boneka berjalan menghampiri Sian-su.
Dia masih meragukan apakah Kim Hong tidak bersandiwara?
Akan tetapi kemudian dia teringat bahwa biarpun Kim Hong memiliki kepandaian ilmu silat yang tidak mungkin kalah dibandingkan dengan pendeta siluman itu, namun kalau pendeta siluman itu mempergunakan ilmu sihir, tentu Kim Hong akan celaka.
Dan agaknya kini gadis itu sudah berada di bawah pengaruh sihir.
Agaknya untuk upacara ini, ketua Jit-sian-kauw itu menggunakan cara lain.
Mungkin saja karena tadi sudah mengatakan untuk mengangkat anggauta baru itu menjadi pilihannya sebagai murid tersayang, maka kini upacaranyapun berbeda dengan yang sudah-sudah.
Setelah Kim Hong menjatuhkan diri berlutut di depan ketua agama itu, Sian-su lalu memberkahi gadis itu dengan kedua tangannya di atas kepala Kim Hong, kemudian dengan gerakan halus membangunkan gadis itu, memegang tangannya dan menuntunnya ke dekat pondok-pondok emas kecil.
Akan tetapi di situ sekarang telah dihamparkan sebuah kasur dan kini Sian-su membimbingnya dan menyuruhnya terlentang di atas kasur.
Kim Hong melakukannya tanpa ragu sedikitpun dan tubuh yang menggairahkan itu, dengan terbungkus gaun yang tipis sekali, kini telah terlentang di atas kasur dengan kedua kaki lurus dan kedua lengan disilangkan di depan perut.
Tujuh orang wanita yang membawa kelinci, Pisau dan lain-lain telah maju berlutut dan Sian-su kini dengan gerakan perlahan seolah-olah hendak memperlihatkan pertunjukan yang amat menarik, mulai membukai kancing depan gaun itu!
Dan memang pertunjukan itu amat menarik karena para tamu yang hadir menghentikan minum dan memandang dengan mata melotot dan pandang mata penuh nafsu!
Kalau pada murid biasa, darah kelinci hanya dikucurkan di atas kepala, maka pada murid pilihan ini, darah kelinci akan dikucurkan di atas badan yang telanjang!
Ketika kancing bagian atas membuka gaun dan memperlihatkan dada kekasihnya, Thian Sin sudah tidak dapat menahan dirinya lagi.
Dengan teriakan melengking panjang dia meloncat ke tempat itu, lalu mengeluarkan bentakan yang penuh dengan kekuatan sihir untuk membuyarkan pengaruh sihir atas diri Kim Hong.
"Kim Hong sadarlah! Engkau berada di tangan musuh-musuh kita!"
Teriakan ini memang hebat bukan main dan seketika Kim Hong terbelalak dan sadar.
Akan tetapi ia masih bingung dan kepalanya terasa pening sehingga ketika pada saat itu Sian-su menggerakkan tangan menotoknya dari jarak yang dekat, ia tidak mampu mengelak dan Kim Hong yang sudah bangkit duduk itu roboh kembali dalam keadaan tertotok.
Sementara itu, para anak buah Jit-sian-kauw sudah menerjang Thian Sin.
Memang semua perlakuan terhadap Kim Hong tadi disengaja oleh Sian-su dalam usahanya unuk menguji kesetiaan Thian Sin.
Ujian terakkir yang tentu saja amat berat bagi Thain Sin dan pendeta siluman yang amat cerdik itu tahu bahwa andaikata Pendekar Sadis berpura-pura, maka kepura-puraannya itu tentu akan terbongkar kalau menghadapi kekasihnya terancam.
Bagaimanapun juga, ketua Jit-sian-kauw ini masih sangsi dan merasa ragu-ragu apakah benar Pendekar Sadis dapat ditundukkannya dengan kekuatan sihir karena diapun sudah mendengar bahwa selain memiliki kepandaian silat yang amat tangguh, juga pendekar itu kabarnya memiliki kepandaian ilmu sihir pula.
Kalau pendekar itu tetap taat dan setia kepadanya ketika melihat keadaan Kim Hong, maka dia dapat merasa yakin bahwa dia telah benar-benar dapat menguasai Thian Sin dan dapat menarik pendekar itu menjadi pembantunya yang amat menguntungkan.
Dan kalau pendekar itu hanya pura-pura, maka tentu rahasianya akan tebongkar, dan untuk itu dia sudah mempersiapkan anak buahnya yang telah berjaga di situ sejak tadi, mengamati gerak-gerik Pendekar Sadis.
Itulah sebabnya, ketika Thian Sin mengeluarkan suara melengking dan membentak, belasan anak buah Jit-sian-kauw telah menghadang dan mengoroyoknya, didahului oleh sambaran beberapa batang anak panah dari samping.
Lima batang anak panah yang dilepas oleh pasukan anak panah dari samping itu disusul pula oleh lima batang yang lain.
Akan tetapi, lima batang anak panah pertama itu runtuh semua ketika Thian Sin menggerakkan tangan kiri dengan mengerahkan sin-kang sehingga ada hawa pukulan menyambar dan meruntuhkan lima batang anak panah itu sebelum senjata itu menyentuh tubuhnya, kemudian, sambil meloncat ke depan, dia memapaki lima batang yang lain dan kedua tangannya menangkapi lima batang anak panah ini dan langsung melontarkannya ke arah lima orang anggauta pasukan panah itu.
Terdengar teriakan-teriakan kasakitan ketika tiga orang di antara mereka itu roboh dengan dada tertusuk anak panah mereka sendiri, sedangkan dua orang yang lain mampu menghindarkan diri dengan elakan.
Akan tetapi, belum sempat Thian Sin menerjang ke arah Sian-su, dia telah dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang anak buah Jit-sian-kauw yang bertopeng tengkorak.
Mereka semua telah mengeluarkan bermacam senjata dan menyerang dari semua jurusan dengan maksud membunuh karena Sian-su telah memberi isyarat untuk membunuh lawan yang amat tangguh ini, yang ternyata sama sekali tidak pernah terpengaruh oleh sihirnya dan yang ternyata hanya pura-pura saja menyerah itu.
Kini Thian Sin benar-benar mengamuk!
Melihat kekasihnya terancam penghinaan seperti itu, kemarahannya memuncak dan Pendekar Sadis memperlihatkan kelihaiannya.
Dia tidak mau mengeluarkan pedangnya, melainkan menyambut hujan senjata itu dengan kedua tangan kosong saja.
Akan tetapi tangan kosong yang bagaimana!
Seperti sepasang naga mengamuk saja kedua tangan Thian Sin itu ketika dia menghadapi pengeroyokan anak buah Jit-sian-kauw.
Dia mengeluarkan semua ilmu yang dikuasainya untuk menghajar para anggauta Jit-sian-kauw itu.
Biarpun mereka itu terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi, namun di tangan Pendekar Sadis mereka itu tiada bedanya seperti segerombolan anak-anak kecil saja.
Seorang anggauta yang agaknya memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, menggunakan sebatang toya.
Ilmu toya Siauw-lim-pai terkenal kuat sekali, Didasari dengan gerakan yang mengandung tenaga lwee-kang sehingga ujung toya itu tergetar dan kelihatan menjadi banyak.
Dengan gerakan mantap dan penuh tenaga, sambil membentak nyaring, pemegang toya ini menusukkan toyanya ke arah dada Thian Sin.
Akan tetapi karena ujung toya itu tergetar sukarlah untuk diduga apakah benar dada yang diserang itu, ataukah tenggorokan atau pusar, atau juga lambung kanan kiri.
Ada semua kemungkinan itu dan inilah lihainya permainan toya itu.
Namun, Thian Sin menghadapinya dengan tenang saja, bahkan menanti sampai toya itu mencium tubuhnya dan ternyata ujung toya itu mendarat pada lambungnya yang kiri.
Begitu ujung toya mencium bajunya di lambung, Thian Sin menggerakkan tangan kirinya yang dimiringkan dan yang mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang sepenuhnya itu, membacok ke bawah ke arah toya.
"Krakkk!"
Dan toya itu patah-patah menjadi tiga potong, kemudian sebelum pemegang toya yang merasa betapa telapak tangannya berdarah dan terkupas kulitnya itu sempat menguasai keadaannya, kaki Thian Sin sudah menendang orang dan orang itupun terlempar dan terbanting roboh, tidak mampu bangkit kembali.
Thian Sin masih ingat bahwa besar sekali kemungkinannya para anggauta Jit-sian-kauw ini bergerak di bawah pengaruh sihir atau setidaknya juga kepercayaan yang membuta terhadap Sian-su sehingga mereka itu tidak sadar bahwa mereka telah membantu seorang yang amat jahat.
Mungkin sekali para anggauta ini adalah orang baik-baik yang telah terseret karena pandainya Sian-su mengambil hati dan menundukkan mereka.
Karena itu, maka Pendekar Sadis ini masih merasa kasihan untuk membunuh mereka dan tendangannya tadipun terarah dan terkendalikan sehingga biarpun orang itu tidak mampu bangkit lagi, namun tidak menderita luka yang dapat merenggut nyawaya, hanya patah tulang dan salah urat saja.
Anggauta yang memegang toya itu terkenal di antara kawan-kawannya sebagai satu di antara lima murid utama dari Sian-su, maka melihat dia dalam segebrakan saja roboh, Para pengeroyok itu menjadi gentar.
Akan tetapi merekapun menyerbu dengan berbareng, tidak lagi berani maju satu-satu.
Thian Sin mengerling dengan ujung matanya dan melihat betapa Sian-su masih berdiri, dan hanya nonton pertempuran itu, sedangkan Kim Hong sudah rebah miring tak bergerak, dalam keadaan tertotok.
Hatinya menjadi gelisah.
Ingin dia cepat-cepat menyerang Sian-su dan menyelamatkan Kim Hong, apapun juga yang terjadi.
Hal ini membuat dia menjadi semakin marah kepada para anggauta yang mengepungnya.
Ketika dia melihat tosu penghuni kuil, yang dikenalnya dari kebiasaannya memiringkan muka, kemarahannya memuncak.
Dia tidak memperhatikan serangan yang datang bagaikan hujan itu, melainkan memutar tubuhnya dan melesat ke arah tosu itu sambil membentak.
"Tosu palsu keparat!"
Tubuhnya disambut oleh banyak senjata, Akan tetapi gerakan tangannya yang mendorong dengan ilmu mujijat Hok-liong Sin-ciang itu sedemikian hebatnya sehingga lima orang yang senjatanya langsung bertemu dengannya itu terjengkang seperti dilanda angin ribut, tosu yang memakai topeng setan itu sudah menusukkan pedangnya ke arah dada Thian Sin.
Akan tetapi sebelum ujung pedangnya mengenai dada lawan, angin pukulan dari Hok-liong Sin-ciang sudah lebih dulu menyambutnya dan tosu ini mengeluarkan pekik mengerikan ketika tubuhnya terjengkang dan terbanting sedemikian kerasnya sehingga diapun tak berkutik, pingsan dan hampir mati kalau saja tadi Thian Sin tidak menahan tenaganya!
Gegerlah keadaan di ruangan atas itu.
Beberapa orang tamu yang memiliki kepandaian silat sudah melangkah maju hendak membantu pihak tuan rumah, akan tetapi Sian-su memberi isyarat dan mereka itu hanya berkumpul di belakang Sian-su, Dengan senjata di tangan.
Sikap mereka sudah jelas hendak melindungi dan membantu Sian-su kalau Pendekar Sadis berusaha menyerang ketua agama ini!
Mereka itu rata-rata telah berjanji setia kepada Sian-su, tentu saja dengan keyakinan sepenuhnya bahwa mereka akan menikmati kesenangan dunia akhirat!
Pengeroyokan semakin ketat, akan tetapi Thian Sin kini sudah menjadi marah betul dia ingin segera menyerang Sian-su dan membebaskan Kim Hong, dan ulah para anggauta Jit-sian-kauw ini dengan menghalanginya, maka tiba-tiba dia mengeluarkan pekik nyaring dan membiarkan dirinya menjadi sasaran banyak senjata.
Akan tetapi, bukan dia yang terluka atau berteriak kesakitan, sebaliknya malah belasan orang itu kini terbelalak dan berteriak-teriak minta dilepaskan.
"Lepaskan aku...! Lepaskan aku...!"
"Lepaskan... aaahhh...!"
Belasan orang itu membetot-betot senjata mereka yang menempel pada tubuh Pendekar Sadis, akan tetapi makin kuat mereka membetot, semakin kuat pula senjata itu melekat!
Thian Sin telah mempergunakan ilmu mujijat Thi-khi-i-beng, yaitu ilmu sin-kang yang sudah sampai di puncak kekuatannya sehingga dapat menyedot tenaga sin-kang lawan melalui senjata atau tangan yang menempel di tubuhnya.
Tenaga dalam mereka itu membanjir keluar melalui gagang senjata masing-masing dan terasa tersedot oleh kekuatan yang luar biasa besarnya!
Melihat keanehan ini, Sian-su dan para pengikutnya memandang dengan mata terbelalak dan pendeta siluman itu merasa tengkuknya meremang.
Belum pernah selama hidupnya dia berhadapan dengan seorang yang seperti itu lihainya.
Dia pernah mendengar tentang ilmu menyedot tenaga lawan ini, akan tetapi menganggapnya ilmu itu hanya dibesar-besarkan saja dan semacam dongeng.
Akan tetapi sekarang, walaupun tidak meng-alaminya sendiri, dia telah menyaksikan betapa anak buahnya menjadi korban ilmu mujijat itu.
Dia sendiri mengerti bagaimana sebaiknya menghadapi ilmu menyedot yang berbahaya itu, akan tetapi dia melihat keadaan yang lebih baik dari pada harus mati-matian mencoba untuk menundukkan Pendekar Sadis dengan kekerasan.
"Hyaaaattt...!"
Tiba-tiba Pendekar Sadis memekik dan belasan orang yang tadinya tersedot olehnya dan yang mulai pucat mukanya dan lemah gerakan mereka untuk meronta terlempar ke kanan kiri dan jatuh terbanting di atas lantai, mengeluh dan tidak kuat untuk berdiri lagi.
Mereka ini harus mengumpulkan tenaga dan hawa murni untuk memulihkan kekuatan.
Dengan mata mencorong seperti mata seekor naga sakti, Thian Sin kini melangkah mnaju perlahan-lahan.
Para anggauta Jit-sian-kauw yang belum roboh masih mengepungnya dan ikut bergerak melangkah, akan tetapi tidak berani terlalu dekat, muka mereka pucat dan jelas terbayang wajah mereka betapa hati mereka jerih menghadapi pendekar yang luar biasa ini.
"Berhenti, Ceng Thian Sin!"
Tiba-tiba Sian-su membentak. Thian Sin tersenyum mengejek.
"Tidak perlu menggertakku dengan ilmu sihirmu yang tidak manjur, siluman!"
"Berhenti atau pedangku akan menembus jantungnya!"
Tiba-tiba Sian-su menggerakkan sebatang pedang dengan ujung pedang itu sudah menempel pada kulit putih di dada Kim Hong yang terbuka, tepat di antara dua bukit dadanya.
Melihat ini, seketika Thian Sin menghentikan langkahnya dan matanya mengeluarkan kilat.
Topeng tengkorak itu tersenyum lebar, penuh ejekan.
"Hemm, kau lihat, aku masih menguasaimu, Pendekar Sadis. Memang engkau hebat dan gagah perkasa, akan tetapi belum tentu aku kalah olehmu."
"Pendeta jahanam! Kalau memang engkau laki-laki sejati dan jantan tulen, jangan mengancam orang yang sudah tidak berdaya karena kecuranganmu! Hayo lawan aku sebagai laki-laki, atau kau bebaskan Kim Hong lalu melawannya tanpa kecurangan!"
"Ha-ha-ha, menggunakan tenaga sedikit mungkin untuk mencapai kemenangan, itu adalah sikap cerdik dan bijaksana. Kalau engkau berkeras, aku akan bunuh wanita ini lebih dulu, berarti aku sudah menang separuh. Kecuali kalau engkau menyerah..."
"Hemm, engkau hendak memaksaku untuk mengancam nyawa Kim Hong. Baik, kalau aku menyerah lalu apa yang hendak kau lakukan? Tidak urung engkau akan membunuh kami berdua juga!"
Thian Sin mengepal tinjunya.
"Dari pada melakukan kebodohan itu, menyerahkan diri untuk akhirnya kau bunuh juga bersama Kim Hong, lebih baik aku membiarkan kau membunuh Kim Hong lalu engkau... hemm.. Pendekar Sadis akan hidup lagi, akan menjadi paling sadis antara semua kesadisannya yang pernah dilakukannya untuk menyiksamu!"
Tanpa disadarinya, pendeta siluman itu merasa betapa tengkuknya meremang dan jantungnya berdebar.
Sungguh mengerikan mendengarkan ucapan dari pemuda tampan itu dan dia dapat merasakan bahwa ucapan itu bukanlah ancaman belaka.
Orang ini harus dienyahkan, harus dibasmi.
Kalau tidak, selama hidupnya akan terancam.
"Aku bukan orang bodoh, Pendekar Sadis. Aku berjanji, kalau engkau menyerahkan diri tanpa melawan, aku tidak akan membunuh kalian."
"Katakan, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami kalau aku tidak melawanmu dengan kekerasan!"
"Apa yang akan kami lakukan adalah urusan kami. Akan tetapi kalau engkau menyerah tanpa kekerasan, aku atas nama Jit-sian-kauw, atas nama Dewa Kematian, aku bersumpah untuk tidak membunuh Toan Kim Hong dan Ceng Thian Sin!"
Diam-diam Thian Sin mengerti bahwa kalau dia menyerah, berarti dia mempertaruhkan nyawanya dan nyawa Kim Hong.
Akan tetapi, dia percaya bahwa pendeta siluman itu tidak mungkin akan berani melanggar sumpahnya setelah bersumpah demi nama Jit-sian-kauw dan Dewa Kematian, apa lagi disaksikan oleh semua pengikutnya.
"Sumpahmu disaksikan oleh para tamu yang hadir saat ini!"
Kata Thian Sin menekan.
"Benar, disaksikan oleh para tamu terhormat. Kami bukan golongan pengecut yang suka melanggar janji!"
Kata Sian-su dengan suara dibikin gagah.
"Baik, aku menyerah."
Thian Sin berpendapat bahwa yang paling penting untuk saat itu adalah keselamatan dan keamanan mereka berdua.
Soal nanti selanjutnya, biarlah, tentu akan ada jalan lain.
"Akan tetapi, engkau harus menyingkirkan dulu Kim Hong dari sini dan biarkan ia mengaso dan jangan mengganggunya selama sehari semalam! Kalau engkau tidak mau berjanji seperti itu, sampai mati aku tidak mau menyerah dan kita lihat saja, siapa yang akan binasa dalam pertempuran di antara kita!"
Ketua Jit-sian-kauw itu mengerti bahwa kalau pemuda itu mau menyerah, semata-mata adalah karena pemuda itu tidak ingin melihat Kim Hong mati.
Dan dia sendiripun tidak berniat untuk membunuh Kim Hong.
Sama sekali tidak.
Dia mempunyai rencana sendiri terhadap diri Kim Hong.
Dia sudah mendengar bahwa dara itu memiliki ilmu silat yang tidak kalah lihainya dibandingkan dengan Pendekar Sadis.
Oleh karena itu, biarlah dia kehilangan Pendekar Sadis sebagai pembantu, asal berhasil membuat gadis lihai itu sebagai pembantunya, juga kekasihnya yang baru.
Kecantikan Kim Hong sudah menarik hatinya dan diapun dapat menguasai gadis itu dengan ilmu sihir, tidak seperti Pendekar Sadis yang kebal ilmu sihir.
"Baiklah, Pendekar Sadis. Aku berjanji bahwa selain aku tidak akan membunuh kalian berdua, juga nona Toan Kim Hong akan dirawat baik-baik, dibiarkan beristirahat dan tidak akan mengganggunya selama sehari semalam. Nah, aku berjanji, disaksikan semua tamu terhormat!"
Thian Sin melihat betapa Kim Hong yang masih lemas tertotok itu diangkut pergi oleh empat orang penari wanita setelah pendeta siluman itu memberikan perintahnya.
Diapun lalu melemaskan tubuhnya.
"Aku menyerah."
"Kami masih sangsi akan ketulusanmu, maka kami terpaksa akan membelenggu kaki tanganmu."
Kata Sian-su.
Thian Sin mengangguk dan diapun tidak memberontak dan mandah saja ketika dua orang anggauta Jit-sian-kauw mendekatinya dan membelenggu kedua tangannya ke belakang, juga kedua kakinya.
Tiba-tiba, sehelai saputangan ditutupkan mukanya.
Thian Sin mencium bau keras dan diapun tak sadarkan diri oleh obat bius yang amat kuat.
Orang-orang Hong-kiam-pang merasa marah dan sakit hati sekali ketika mendengar bahwa dua orang murid mereka yang terkenal, yaitu Cia Kok Heng dan Kwee Siu, tewas di dalam tangan Siluman Gaha Tengkorak.
Mereka lalu mengadakan rapat darurat, memanggil semua tokoh murid mereka dan rapat itu dipimpin oleh dua orang pemimpinnya yaitu Im Yang Tosu yang menjadi ketuanya dan Bu Beng Tojin yang menjadi pembantu utama atau wakil ketuanya.
Im Yang Tosu adalah seorang tosu berusia hampir tujuh puluh tahun, tubuhnya kurus dan pendek, akan tetapi wajahnya masih nampak segar dan gerakannya juga masih lincah.
Tosu ini adalah tokoh Kun-lun-pai, maka tentu saja berhak untuk menjadi ketua Hong-kiam-pang yang menjadi cabang dari Kun-lun-pai.
Ilmu kepandaiannya tinggi dan wataknya keras walaupun telah berpuluh tahun dia menjadi pendeta Agama To.
Wakilnya yang berjuluk Bu Beng Tojin adalah seorang pendeta yang bertubuh tinggi kurus, bermata tajam dan bersikap lemah lembut dan pendiam.
Akan tetapi dia merupakan seorang pembantu yang baik sekali, bahkan hampir semua urusan luar dari Hong-kiam-pang berada dalam pengawasannya.
Seperti juga Im Yang Tosu, tentu saja Bu Beng Tojin ini mahir Ilmu Pedang Hong-kiam-sut, Akan tetapi berbeda dari Im Yang Tosu yang memang menjadi murid yang pandai dari Kun-lun-pai, sebaliknya Bu Beng Tojin ini bukan murid Kun-lun-pai, melainkan ahli dalam pelbagai cabang ilmu silat berbagai aliran.
Akan tetapi, setelah diuji oleh Im Yang Tosu sendiri, ternyata kepandaian Bu Beng Tojin ini cukup lihai, bahkan hanya sedikit di bawah tingkat Im Yang Tosu, oleh karena itu maka dia dipercaya dan diangkat sebagai pembantu utama atau boleh dibilang juga wakil ketua.
Dalam banyak urusan, usul-usulnya selalu baik dan dapat diterima.
Dalam menghadapi Siluman Guha Teng-korak sekalipun, Im Yang Tosu menyerahkan kepada wakilnya itu untuk mengatur bagaimana baiknya untuk membalas kematian dua orang murid mereka.
"Sesungguhnya memang serba susah."
Kata Bu Beng Tojin dalam rapat itu ketika ditanyai pendapatnya.
"Perkumpulan kita selalu berusaha menjauhkan diri permusuhan. Akan tetapi dua orang murid kita tewas dan tentu saja kita tidak dapat membiarkan kematian itu lewat tanpa terbalas. Cuma ada satu hal yang harus diselidiki dengan teliti, apakah benar kedua orang murid kita itu tewas di tangan orang yang berjuluk Siliman Guha Tengkorak itu."
Suhengnya, Im Yang Tosu, menarik napas panjang.
"Siancai...! Pinto sendiri tidak menghendaki adanya permusuhan antara Hong-kiam-pang dengan pihak manapun juga dan di dunia ini banyak terdapat orang jahat yang memenuhi pemukaan bumi. Tidak mungkin kalau Hong-kiam-pang lalu harus memusuhi dan berusaha membasmi semua penjahat itu. Maka kitapun tidak pernah mencampuri urusan Siluman Guha Tengkorak selama dia tidak mengganggu kita. Akan tetapi, Tujuh Pendekar Tai-goan adalah murid-murid kita, dan terutama sekali Cia Kok Heng dan Kwee Siu yang langsung adalah murid-murid pinto sendiri. Tak dapat disangkal lagi bahwa tentu Siluman Guha Tengkorak yang membunuh mereka. Bukankah isteri Kok Heng juga telah diculiknya?"
Bu Beng Tojin juga menarik napas panjang.
"Tidak ada akibat tanpa sebab, dan itulah hukum alam! Mungkin isteri Kok Heng terlalu cantik maka ia terculik, dan dua orang murid kita itu tewas karena mereka menggunakan kekerasan. Lalu sekarang apa yang suheng kehendaki dalam menghadapi urusan ini?"
"Bukan hanya demi nafsu mendendam, sute, akan tetapi juga untuk membersihkan nama kita dan membersihkan dunia ini dari gangguan siluman itu. Kita harus serbu Guha Tengkorak dan membasmi siluman itu. Untuk ini, pinto serahkan siasatnya kepadamu."
Bu Beng Tojin mengangguk-angguk.
"Jangan khawatir, suheng. Aku akan membawa anak murid kita dan menyelidiki keadaan Guha Tengkorak. Suheng tenang-tenang sajalah di sini menanti berita dari kami."
Demikianlah, pada malam hari bulan purnama itu, Bu Beng Tojin membawa para anak murid Hong-kiam-pang yang terkumpul sebanyak dua puluh lima orang menuju ke daerah Guha Tengkorak dan melakukan penyelidikan.
Semua guha dimasuki dan diobrak-abrik.
Akan tetapi mereka tidak menemukan sesuatu kecuali guha-guha kosong yang sunyi dan menyeramkan.
"Kalian semua menjaga di depan guha, dan sebagian melakukan penyelidikan sambil meronda. Pinto sendiri diam-diam akan menyelinap ke belakang bukit, siapa tahu siluman itu akan melarikan diri dari jalan rahasia di belakang bukit. Kalian tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum pinto datang."
Demikian Bu Beng Tojin berpesan kepada para murid Hong-kiam-pang, agaknya hendak menggunakan siasat menggeprak dari depan membiarkan musuh lari lewat pintu belakang dan dia sudah menanti di sana untuk menyergapnya!
Para murid Hong-kiam-pang itu dengan pedang telanjang di tangan, berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan.
Mereka percaya akan kelihaian ji-suhu mereka, akan tetapi bagaimanapun juga, mereka merasa ngeri juga di tempat yang sunyi menyeramkan ini.
Apa lagi kalau mereka ingat betapa Tai-goan Ji-hiap, Tujuh Pendekar Tai-goan yang kesemuanya amat lihai itu tewas di tangan siluman ini!
Dan ji-suhu mereka itu pergi begitu lamanya.
Sampai lewat tengah malam belum juga kakek itu kembali dan mereka tidak berani meninggalkan tempat itu seperti yang dipesan oleh ji-suhu mereka.
Padahal, selagi berjaga, mereka mendengar suara-suara aneh, seperti dengung suara musik suling, yang-kim dan canang dipukul, dari tempat jauh sekali, kadang-kadang seperti terdengar keluar dari jurang-jurang terbawa angin.
Padahal mereka tahu bahwa di sekitar tempat itu tidak ada dusun, dan suara musik itu juga bukan musik dusun, melainkan musik halus yang biasanya hanya terdapat di kota besar.
Tentu saja hal ini membuat mereka semakin ngeri karena suara itu agaknya datang dari alam lain yang didatangkan oleh siluman-siluman!
Tentu saja para anak murid Hong-kiam-pang ini tidak pernah menduga sama sekali bahwa suara musik itu memang keluar dari jurang karena jurang-jurang itu merupakan "jendela"
Dari tempat rahasia yang berada di balik bukit guha-guha itu, di dalam bukit yang bertebing tinggi itu.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa di balik guha-guha itu sedang dilangsungkan pesta gila-gilaan, pesta yang penuh kecabulan di mana nafsu berahi diumbar dan dilampiaskan begitu saja dengan liar tanpa mengenal malu-malu lagi.
Juga pada malam hari itulah Thian Sin terpaksa menyerahkan diri karena ingin menyelamatkan Kim Hong.
Akan tetapi dia lengah dan tidak memperhitungkan kecerdikan ketua Jit-sian-kauw itu.
Ketika dia membiarkan dirinya dibelenggu, yakin bahwa tidak ada belenggu yang akan mampu menahannya, dan selagi dia mencurahkan perhatiannya kepada para pembelenggunya, tanpa disangkanya dia telah diserang oleh Sian-su dengan menggunakan saputangan yang mengandung obat bius yang amat kuat sehingga dia pingsan.
Malam itu semakin larut dan suasana menjadi makin sunyi.
Di luar daerah Guha Tengkorak itu makin sunyi melengang, Sedangkan di dalam tempat rahasia dari perkumpulan Jit-sian-kauw itupun sudah mulai sunyi karena para tamunya sudah mulai membawa pasangan mereka, masing-masing ke tempat monyendiri untuk dapat berasyik-masyuk tanpa terganggu.
Lampu-lampu sudah dipadamkan dan diganti dengan lampu-lampu yang terbungkus kain berwarna-warni sehingga suasana menjadi amat romantis dan coook untuk para pasangan itu melampiaskan nafsu berahi masing-masing sesuka hati mereka.
Ganti-berganti pasanganpun terjadilah dan pesta gila itu akan berlangsung sampai matahari terbit pada keesokan harinya, setelah tubuh mereka tidak mengijinkan lagi untuk melanjutkan pesta-pora pelampiasan nafsu itu.
Teriakan yang amat mengejutkan para murid Hong-kiam-pang itu terjadi lewat tengah malam.
Mereka mengenal suara ji-suhu mereka di balik bukit.
"Anak-anak... ke sinilah dan cepat bantu pinto!"
Demikian ji-suhu mereka itu berteriak-teriak dan mereka mendengar suara desir angin pukulan, tanda bahwa ji-suhu mereka itu sedang berkelahi.
Dan kalau sampai ji-suhu mereka itu berteriak minta bantuan, itu tentu berarti bahwa lawannya sunguh seorang yang luar biasa lihainya.
Berbondong-bondong dua puluh lima orang itu berlari ke arah tempat itu dan di bawah sinar bulan purnama yang sudah mulai condong ke bawat itu mereka melihat ji-suhu mereka benar-benar sedang bertanding melawan seorang laki-laki yang memakai topeng tengkorak dan berpakaian serba putih dengan bagian dada ada lukisannya tengkorak darah.
Siluman Guha Tengkorak!
Dan mereka melihat betapa ji-suhu mereka kini sedang mengadu tenaga sin-kang dengan siluman itu, dua pasang tangan mereka itu saling lekat dan saling dorong!
Para murid itu berhenti dan memandang dengan bingung.
Mereka semula maklum bahwa kalau ji-suhu mereka sedang mengadu sin-kang seperti itu, mereka tidak boleh mengganggu.
Selain tenaga sin-kang mereka masih belum mencapai tingkat setinggi tingkat suhunya, juga campur tangan mereka dapat membahayakan keselamatan ji-suhu mereka sendiri.
Maka mereka hanya mendekat dan mengepung saja, siap dengan pedang di tangan untuk membantu kalau keadaan mengijinkan.
Tiba-tiba terdengar Bu Beng Tojin mengeluarkan bentakan nyaring.
Dia mendorong dan...
lawannya itu roboh terpental dan terpelanting.
Melihat ini, para murid Hong-kiam-pang cepat menubruk ke depan dan hendak menggerakkan pedang mereka untuk menyerang tubuh orang bertopeng yang sudah roboh itu.
"Tahan! Biarkan pinto menangkapnya!"
Teriak Bu Beng Tojin mencegah para murid itu dan kakek ini lalu menubruk ke depan, monotok beberapa jalan darah lawannya yang seketika menjadi lemas dan lumpuh.
"Keluarkan belenggu dan belenggu kaki tangannya. Jangan sakiti atau bunuh dia, biar kita membawanya menghadap suheng!"
Bukan main girangnya hati para murid Hong-kiam-pang melihat betapa orang bertopeng tengkorak itu telah roboh pingsan.
Mereka membelenggu dan menelikungnya seperti seekor babi hendak disembelih dan beramai-ramai mereka menggotong orang tawanan ini turun dari tebing.
Bu Beng Tojin melarang mereka membuka topeng yang menutupi muka orang itu.
"Inikah yang dinamakan Siluman Guha Tengkorak, ji-suhu?"
Tanya mereka kepada Bu Beng Tojin ketika mereka beramai pulang dengan hati gmbira karena kemenangan itu.
"Siapa lagi kalau bukan dia? Dia lihai sekali, hampir pinto kewalahan menghadapinya. Untung pada saat terakhir kalian muncul sehingga perhatiannya tertarik dan sedikit banyak dia merasa terkejut dan khawatir sehingga hal itu mengurangi tenaga sin-kangnya, memungkinkan pinto untuk mengalahkannya. Pantas dia mampu merajalela dan mengacau karena memang ilmu kepandaiannya luar biasa lihainya."
"Susiok, kenapa kita tidak bunuh saja iblis ini agar arwah toa-suheng dan ji-suheng dapat menjadi tenang?"
Seorang pemuda berkata dengan sikap penasaran.
Pemuda ini adalah murid Im Yang Tosu ketua Hong-kiam-pang.
Ketua ini mempunyai lima orang murid, dan murid pertama dan ke dua adalah mendiang Cia Kok Heng dan Kwee Siu.
Pemuda itu adalah murid ke tiga, maka dia menyebut susiok kepada Bu Beng Tojin.
"Bersabarlah, kita tunggu saja keputusan dari gurumu."
Jawab Bu Beng Tojin.
Malam sudah hampir terganti pagi ketika mereka tiba di kuil mereka, disambut oleh para murid lain yang menjadi tegang dan gembira, juga ingin tahu sekali ketika mendengar bahwa Bu Beng Tojin telah berhasil menawan Siluman Guha Tengkorak!
Bu Beng Tojin melemparkan tubuh siluman itu ke atas lantai ruangan depan.
Para murid Hongkiam-pang mengepung tempat itu dan sebagian lagi melapor ke dalam.
Karena Im Yang Tosu sedang samadhi, maka mereka tidak berani mengganggu dan menanti sampai tosu tua itu selesai samadhinya, sementara itu mereka mendengarkan Bu Beng Tojin menceritakan pengalamannya.
"Memang menggelisahkan sekali menanti malam tadi, sendirian di balik bukit itu. Akan tetapt pinto yakin bahwa penjahat itu tentu akan keluar juga. Kita telah mempergunakan siasat mengancam di depan pintu dan membiarkan harimau lolos dari belakang. Kalau pinto membawa semua murid ke belakang, tentu dia tidak akan berani keluar. Pinto sendiri barsembunyi dan membiarkan dia mengira bahwa semua orang menyerbu dari depan. Akhirnya, diapun berkelebat keluar dari balik semak-semak yang pinto kira tentu merupakan jalan rahasianya. Nah, pinto lalu menyergapnya dan pinto sama sekali tidak mengira bahwa dia memang lihai bukan main sehingga pinto tidak segera memangil kalian. Akan tetapi, masih untung bahwa akhirnya pinto berhasil..."
Tiba-tiba Bu Beng Tojin menghentikan kata-katanya dan menoleh ke luar dengan sikap kaget sekali.
Semua orang cepat menoleh dan juga terkejut karena tiba-tiba saja seperti munculnya setan, di pekarangan itu telah berdiri seorang yang berpakaian putih-putih dengan sulaman tengkorak darah di dadanya, dan mukanya juga mengenakan topeng tongkorak!
Keadaan orang itu persis dengan siluman yang telah ditelikung dan kini rebah miring di atas lantai, hanya orang yang baru datang ini tubuhnya agak lebih kecil.
Tiba-tiba siluman yang baru datang ini dengan kecepatan kilat, sama sekali tidak tersangka-sangka, menyambitkan sesuatu ke arah siluman yang terbelenggu.
"Tak! Tak!"
Dua buah benda hitam menyambar dan mengenai punggung dan leher siluman yang terbelenggu itu.
Siluman ini nampak berkelojot sedikit lalu diam dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Bu Beng Tojin dan para murid Hong-kiam-pang ketika melihat bahwa siluman tawanan itu agaknya telah tewas karena mukanya pucat sekali dan napasnyapun terhenti!
Bu Beng Tojin marah bukan main.
"Keparat jahanam engkau!"
Dan tosu yang bertubuh tinggi kurus ini sekali bergerak sudah meloncat ke depan, dan langsung menyerang siluman yang bertubuh kecil itu.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika siluman itu berkelebat dan sejenak lenyap dari pandang matanya, lalu tiba-tiba siluman itu yang telah berada di sebelah kirinya mengirim tamparan ke arah lehernya.
"Plakkk!"
Bu Beng Tojin menangkis dan dia lebih kaget lagi.
Tubuhnya terdorong mundur oleh tangkisan itu dan kembali siluman itu telah menyerang dengan tendangan kilat yang memaksa tosu itu untuk meloncat mundur.
Kini para murid Hong-kiam-pang sudah berloncatan datang, dan mereka serentak menggunakan pedang untuk menyerang.
Tadinya mereka memang bingung dan termangu-mangu melihat munculnya seorang siluman lain lagi itu, akan tetapi kini mereka sadar bahwa yang disebut Siluman Guha Tengkorak tentu merupakan gerombolan yang mempunyai banyak anggauta dan semuanya mengenakan pakaian dan topeng seperti itu.
Maka merekapun sudah menerjang dengan marah.
Akan tetapi, siluman itu memang lincah bukan main dan memiliki gin-kang yang luar biasa.
Tubuhnya berkelebat ke sana-sini seolah-olah dapat menyelinap di antara sambaran pedang-pedang itu.
Ia sama sekali tidak gugup biarpun dikeroyok banyak orang, bahkan ketika Bu Beng Tojin sendiri juga sudah terjun dan menyerangnya.
"Siancai... ternyata siluman ini berani mengacau di tempat pinto!"
Terdengar bentakan halus dan disusul suara mencicit seperti tikus terjepit, ada sinar menyambar amat dahsyatnya.
"Eh...!"
Siluman itu mengeluarkan seruan kaget, akan tetapi biarpun pedang yang digerakkan oleh Im Yang Tosu itu amat hebat, Ia masih sempat melempar tubuhnya ke belakang dan dengan cara membuat poksai (salto) sampai lima kali, ia barhasil menghindarkan diri dari serangan sinar pedang yang bertubi-tubi itu.
Akan tetapi, kakek tua itu sungguh lihai bukan main permainan pedangnya karena sinar pedang itu bergulung-gulung dan dapat mengirim serangan secara terus-menerus dan sambung-menyambung.
Diam-diam ketua Hong-kiam-pang itupun terkejut setengah mati.
Baru sekarang ini permainan pedangnya gagal selalu biarpun dia sudah mengeluarkan jurus-jurus pilihan.
Siluman itu gesit bukan main dan gerakannya lebih cepat daripada sambaran sinar pedangnya!
Sementara itu, Bu Beng Tojin sudah meloncat mendekati siluman yang terbelenggu dan sekali renggut dia telah melepaskan topeng tengkorak yang dipakai oleh siluman itu.
Nampaklah wajah yang tampan dari Ceng Thian Sin!
"Pendekar Sadis...!"
Teriak Bu Beng Tojin dengah suara terkejut dan heran.
"Dia adalah Ceng Thian Sin, Pendekar Sadis...!"
Berkata demikian, dia meloncat ke belakang.
Semua orang terkejut.
Para anak buah Hong-kiam-pang sudah mendengar tentang Pendekar Sadis dan tentu saja mereka terkejut sekali mendengar bahwa orang yang menyamar sebagai Siluman Guha Tengkorak itu adalah Pendekar Sadis!
Bahkan Im Yang Tosu sendiri terkejut bukan main mendengar seruan pembantunya itu sehingga serangannya terhadap siluman kedua yang tadinya gencar menjadi berkurang.
Kesempatan ini digunakan oleh siluman ke dua itu untuk meloncat ke samping, menjauh dan terdengar seruannya nyaring.
"Thian Sin, mari pergi!"
Para anak buah Hong-kiam-pang yang ingin sekali menyaksikan sendiri wajah siluman yang oleh Bu Beng Tojin dikatakan sebagai Pendekar Sadis itu, mendekati dan merubung Thian Sin yang sudah mulai menggerakkan kedua matanya.
Sambitan dua buah kerikil hitam yang mengenai jalan darahnya tadi sudah membebaskannya dari totokan, Akan tetapi karena pengaruh obat bius masih membuatnya nanar, maka baru sekarang dia mulai sadar benar-benar.
Begitu mendengar suara yang amat dikenalnya itu, yang mengajaknya pergi, dia merasa seolah-olah kepalanya disiram air dingin dan seketika dia menjadi sadar sepenuhnya.
Dalam sedetik saja tahulah dia bahwa dia dalam bahaya, bahwa kedua kaki tangannya terbelenggu.
Cepat dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang ke dalam kedua kaki tangan dan sekali dia mengerahkan tenaga itu dan menggerakkan kaki tangan, terdengar suara keras dan semua belenggu itupun patah-patah!
Para anak buah Hong-kiam-pang terkejut dan merekapun tadi ragu-ragu apa yang harus mereka lakukan setelah melihat kenyataan bahwa yang menjadi Siluman Guha Tengkorak adalah Pendekar Sadis!
"Siancai...!
Pendekar Sadis menjadi Siluman Guha Tengkorak dan membunuhi murid Hong-kiam-pang?
Pinto harus membuat perhitungan!"
Im Yang Tosu berseru marah dan kakek ini sudah menerjang lagi ke arah siluman ke dua dengan dahsyat, dibantu oleh murid-muridnya, sedangkan Bu Beng Tojin juga sudah mencabut pedangnya dan menyerang Thian Sin.
"Totiang, telah terjadi kesalahpahaman besar..."
Thian Sin yang sudah meloncat bangun dan cepat mengelak ketika pedang di tangan Bu Beng Tojin menyambar, mencoba untuk membantab dan menjelaskan.
"Siluman busuk, tutup mulut!"
Bentak Bu Beng Tojin yang juga sudah marah dan dia mempercepat permainan pedangnya, dibantu pula oleh para murid Hong-kiam-pang.
"Thian Sin, tidak perlu berbantahan. Lari...!"
Siluman ke dua itu kembali berteriak dan dengan gerakan kilat dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan tendangannya, kemudian dia meloncat dan pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Thian Sin.
"Kejar! Tangkap...!"
Bu Beng Tojin berteriak dan semua orang Hong-kiam-pang yang merasa marah dan penasaran itu melakukan pengejaran.
Namun, mereka tidak mampu menyusul Thian Sin dan temannya yang sudah mengerahkan gin-kang mereka dan melarikan diri secepatnya.
Setelah para pengejar tidak nampak lagi, barulah mereka berdua berhenti dan siluman tengkorak yang bertubuh ramping itu membuka topengya.
"Kim Hong...!"
"Thian Sin...!"
Mereka berdua saling rangkul dan saling cium dengan hati penuh kerinduan dan juga kegembiraan melihat bahwa keduanya akhirnya dapat bertemu dalam keadaan selamat.
Setelah puas melampiaskan rasa rindu dan gembira hati masing-masing, Thian Sin menggandeng tangan Kim Hong dan mengajaknya duduk di atas batu besar.
"Nah, sekarang ceritakan bagaimana engkau tiba-tiba dapat muncul di sini dan menyamar sebagai Siluman Guha Tengkorak pula,"
Kata Thian Sin sambil mengelus punggung tangan kekasihnya.
Kim Hong lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak ia pergi mencari jejak dan menyusul Thian Sin ke daerah Guha Tengkorak sampai ia terjebak dan tertawan karena terpengaruh oleh kekuatan sihir dari Sian-su atau ketua dari perkumpulan Jit-sian-kauw atau Siluman Guha Tengkorak.
Seperti kita ketahui, dara ini berada dalam keadaan tidak sadar ketika ia tersihir dan hendak dijadikan auggauta baru dalam upacara pengangkatan angauta baru, bahkan ia terpilih sebagai calon jodoh dari Sian-su sendiri!
Ketika ia bertemu dengan Thian Sin di dalam sarang Siluman Guha Tengkorak, ia sama sekali tidak dapat mengenal Thian Sin karena ia berada di dalam keadaan tersihir, bahkan ketika Thian Sin mengamuk, iapun tidak tahu dan hanya memandang dengan bingung saja.
Akan tetapi, ketika ia hendak dibawa pergi, diam-diam Thian Sin mengerahkan segala kekuatan batinnya, menggunakan kepandaian sihirnya untuk membebaskan dara itu dari pengaruh sihir dan biarpun perlahan-lahan, ketika ia dibawa pergi, Kim Hong mulai sadar!
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dan ketika aku sadar, aku telah berada di dalam sebuah kamar yang indah, dilayani oleh tiga orang gadis cantik sebagai dayang.
Ketika aku teringat bahwa aku telah terjebak dan tertawan, aku bangkit dan melihat bahwa di luar kamar itu terdapat beberapa orang pria yang memakai pakaian dan topeng Siluman Guha Tengkorak.
Aku hendak mengamuk, akan tetapi pada saat itu pintu kamar terbuka dan di luar kamar nampak laki-laki tinggi yang agaknya menjadi kepala gerombolan itu..."
"Itulah ketua Jit-sian-kauw atau yang disebut dengan sebutan Sian-su!"
Kata Thian Sin.
"Iblis itu menunjuk kepadamu yang kulihat pingsan, sambil menodongkan pedangnya di lehermu. Dia mengancam bahwa kalau aku memberontak, dia lebib dulu membunuhmu, dan diapun katanya sudah mengancammu kalau engkau memberontak, dia akan lebih dulu membunuhku. Karena engkau tidak berdaya dan dia berjanji bahwa dia tidak akan membunuh kita berdua, aku bersabar diri dan engkaupun dibawa pergi. Aku menjaga kesehatanku dengan makan setelah yakin bahwa makanan itu tidak dicampuri obat bius. Aku mulai percaya bahwa agaknya Sian-su itu tidak berniat buruk dan benar-benar hendak bersahabat dengan kita."
"Hemm, dia menipumu. Dia menghendaki engkau menjadi isteri dan pembantunya."
Kata Thian Sin gemas.
"Akupun mendengar akan hal itu malam tadi. Seorang wanita berlari-lari masuk ke kamarku sambil menangis. Beberapa orang penjaga bertopeng tengkorak yang berada di luar kamar hendak menangkapnya, akan tetapi aku meloncat dan menghardiknya. Agaknya mereka itu takut dan membiarkan wanita itu berlutut di depan kakiku."
Cerita Kim Hong makin menarik hati Thian Sin yang tidak dapat menahan keinginan tahunya lalu bertanya.
"Apakah ia itu isteri mendiang Cia Kok Heng?"
Kim Hong mengangguk membenarkan lalu gadis ini melanjutkan ceritanya.
Wanita cantik yang usianya dua puluh tujuh tahun itu mula-mula menangis mengguguk sambil merangkul kedua kaki Kim Hong.
Kim Hong mula-mula merasa heran dan menyangka bahwa ini tentu akal bulus dari perkumpulan gerombolan iblis itu untuk menjebak atau menipunya.
"Enci, siapakah engkau dan kenapa engkau menangis?"
Akhirnya Kim Hong bertanya, memegang kedua pundak wanita itu dan menariknya bangkit duduk.
Disengaja olehnya menekan pundak itu dan ia mendapat kenyataan bahwa wanita itu tidak pandai ilmu silat, dan hal ini membuat hatinya lega karena setidaknya ia yakin bahwa wanita ini tidak akan mampu menyerangnya secara menggelap.
Wanita itu menyusut air matanya dan menahan isak tangisnya.
"Lihiap... aku adalah seorang wanita yang paling sengsara di dunia ini..."
Kembali ia menangis. Kim Hong mengerutkan alisnya.
"Enci, bagaimana engkau tiba-tiba saja menyebutku lihiap? Bagaimana engkau tahu bahwa aku adalah seorang ahli silat, seorang pendekar wanita?"
Wanita itu memandang keluar, ke arah orang-orang bertopeng tengkorak itu dan ia berbisik.
"Mereka itu bercerita tentang Pendekar Sadis yang tertawan, juga tentang dirimu yang katanya merupakan sahabat pendekar itu dan lihai sekali, maka aku sengaja nekat lari ke sini... aku ingin memberitahukan hal penting sekali..."
"Nanti dulu, enci. Siapakah engkau dan bagaimana engkau bisa sampai ke tempat seperti ini?" (Lanjut ke
Jilid 06) Siluman Gua Tengkorak (Seri ke 07 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 06
"Aku adalah satu di antara wanita-wanita yang berada di sini, seperti mereka ini."
Ia menunjuk ke arah gadis-gadis cantik yang menjadi dayang dan yang memandang heran dan tidak mengerti.
"Namaku Lu Sui Hwa dan seperti juga mereka, aku adalah wanita yang diculik. Ada yang dating ke sini karena bujukan, karena dibeli, karena diculik dan aku telah diculik. Mereka semua ini terbius dan tersihir, tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan. Akan tetapi aku tidak dibius lagi, tidak disihir lagi setelah aku dibebaskan dari pengaruh sihir oleh Pendekar Sadis, tapi... tapi akupun terpaksa mentaati kehendak mereka, melayani mereka... diperkosa, dipermainkah... ahh..."
Wanita itu mendekap mukanya dan air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya.
"Tapi, kalau engkau sadar dan tidak terbius, mengapa engkau mau menurut saja, Enci?"
Kim, Hong menegur dan mengerutkan alisnya.
"Apa dayaku? Suamiku telah mereka bunuh, dan mereka telah menculik dua orang anak-anakku. Mereka mengancam bahwa selama aku menurut, anak-anakku tidak akan dibunuh...maka aku... demi kedua anakku, aku terpaksa menyerah... hu-hu-huhhh..."
"Apakah engkau nyonya Cia Kok Heng, ibu kandung Cia Liong dan Cia Ling?"
Tiba-tiba Kim Hong bertanya dan wanita itu menurunkan kedua tangannya, memandang kepada pendekar itu dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Mulutnya ternganga dan sejenak ia tidak mampu menjawab, hanya memandang dengan sinar mata penuh harapan.
Akhirnya ia dapat juga membuka mulut dan bicara.
"Benar... benar... mana mereka? Bagaimana mereka...?"
"Tenangkan hatimu. Aku menyelamatkan mereka dari tangan iblis-iblis itu, kini mereka berada di tangan yang aman."
Tiba-tiba wanita itu berlutut dan mencium kaki Kim Hong.
"Terima kasih... ah, terima kasih kepada Thian... terima kasih, lihiap..."
Empat orang anggauta Siluman Guha Tengkorak kini berloncatan masuk ke dalam kamar itu dan hendak menyeret pergi Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng.
"Pergi engkau dari sini, perempuan bandel!"
Akan tetapi, kini Kim Hong tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Tubuhnya berkelebat dan kaki tangannya bergerak.
Hanya terdengar suara orang mengaduh berturut-turut diikuti tubuh empat orang itu terlempar ke kanan kiri dan mereka roboh tanpa dapat bangkit kembali karena mereka sudah tewas oleh pukulan dan tendangan Kim Hong yang dilakukan dengan kemarahan meluap tadi.
"Enci, ceritakan apa yang ingin kau katakan tadi? Pemberitahuan penting apa?"
Kim Hong mendesak cepat.
"Pendekar Sadis... dia dibawa oleh mereka... menurut pembicaraan mereka yang dapat kudengar, Pendekar Sadis yang pingsan itu diberi pakaian dan topeng Siluman Tengkorak kemudian hendak diserahkan kepada Hong-kiam-pang agar diadili dan dibunuh oleh perkumpulan yang mendendam kepada Siluman Guha Tengkorak... aku dapat mendengar segalanya karena aku tidak dibius dan mereka percaya aku tidak akan berani membocorkan rahasia..."
"Perempuan keparat!"
Terdengar bentakan-bentakan dan lima orang bertopeng masuk.
Akan tetapi Kim Hong menyambut mereka dan melayani serbuan lima orang yang menggunakan senjata tajam itu.
Kini Kim Hong tidak lagi ragu-ragu karena tahu bahwa Thian Sin tidak berada di situ dan bahwa janji Siluman Guha Tengkorak sama sekali tidak dapat dipercaya.
Begitu kaki tangannya bergerak, gadis cantik yang pernah menjadi datuk kau m sesat di selatan dengan julukan nenek Lam-sin ini, dalam belasan jurus saja telah membunuh empat orang lawan dan ia sudah menotok seorang anggauta gerombolan yang tubuhnya kecil, kemudian ia melompat keluar kamar sambil membawa tawanannya.
"Enci, aku akan pergi menolong Thian Sin..."
Akan tetapi pada saat itu ia mendengar suara keras disusul jeritan mengerikan.
Cepat ia monengok dan terkejutlah ia.
Kiranya Lu Sui Hwa atau nyonya Cia Kok Heng, ibu dari kedua orang anak itu, telah roboh dengan kepala pecah di dekat tembok.
Ternyata ibu muda yang putus asa karena selain suaminya terbunuh juga dirinya telah ternoda itu membunuh diri.
Kim Hong memandang dan menggigit bibirnya.
"Enci, pergilah dengan tenang. Aku akan menghancurkan gerombolan iblis ini dan akan menyelamatkan anak-anakmu."
Ia berbisik, kemudian menerjang keluar.
Belasan orang anak buah perkumpulan itu mencoba untuk menghadangnya, akat tetapi dengan tamparan tangan dan tendangan kakinya, Kim Hong dapat membuat mereka semua cerai-berai dan membawa tawanannya meloncat ke atas genteng.
"Hayo tunjukkan jalan keluar kalau engkau tidak ingin kucokel keluar matamu!"
Desis Kim Hong sambil meraba mata orang dengan telunjuknya.
"Baik... jangan...lihiap... akan kutunjukkan..."
Tawanannya itu mengeluh dengan suara gemetar dan tubuh menggigil ketika merasa betapa biji matanya diraba-raba jari!
"Harap turun ke dekat menara itu, di sana ada jalan rahasia..."
Kim Hong membawa tawanannya meloncat turun ke dekat menara.
Dua orang anggauta gerombolan yang berjaga di situ menyerangnya dengar golok dan pedang, akan tetapi hanya dalam dua gebrakan saja Kim Hong telah membuat mereka terpelanting dan roboh pingsan.
Atas petunjuk tawanan itu, ia berhasil memasuki terowongan rahasia dan akhirnya ia dapat keluar dari jalan rahasia itu sampai di balik tebing.
Jalan ini adalah jalan yang diambil oleh Thian Sin ketika dia sebagai "utusan"
Sian-su mengusir lima orang Bu-tong-pai.
"Tunjukkan di mana adanya tempat orang-orang Hong-kiam-pang!"
Kembali Kim Hong membentak dan orang itu kelihatan semakin ketakutan.
"Tidak...saya... tidak berani..."
"Engkau lebih berani membangkang terhadap perintahku?"
Kim Hong membentak dan sekali jari tangannya menotok orang itu lalu bergulingan di atas tanah sambil mengaduh-aduh.
Dalam kegelisahannya akan nasib Thian Sin dan kemarahannya terhadap gerombolan itu, apa lagi setelah melihat Lu Sui Hwa membunuh diri, Kim Hong pada saat itu seperti telah berobah menjadi nenek Lam-sin lagi.
Jalan darah yang ditotoknya itu adalah jalan darah yang membuat orang menderita rasa nyeri yang amat hebat sehingga seolah-olah seluruh tubuhnya bagian dalam dikeroyok ribuan semut api yang menggerogoti dagingnya!
"Ampun...
ampunkan saya...!"
Orang itu terengah-engah dan bergulingan.
"Kau tunjukkan tempat itu?"
Dengan suara dingin Kim Hong bertanya.
Orang itu menangis saking nyerinya dan mengangguk-angguk.
Barulah Kim Hong membebaskannya dari totokan yang menyiksa itu kemudian berkata.
"Hayo cepat tunjukkan!"
Dengan terpaksa orang itu menunjukkan kuil yang menjadi markas perkumpulan Hong-kiam-pang dan Kim Hong yang menyeret tubuh orang itu berlari seperti terbang cepatnya karena ia tidak ingin terlambat.
Ketika ia tiba di luar pekarangan kuil ia merasa lega melihat Thian Sin masih dalam keadaan selamat dan banyak anggauta Hong-kiam-pang berkumpul di ruangan depan.
Cepat ia lalu melucuti pakaian luar dan topeng orang itu dan tergesa-gesa memakai pakaian itu dan juga mengenakan topeng Siluman Tengkorak.
"Demikianlah, Thian Sin,"
Kim Hong mengakhiri ceritanya.
"Aku berhasil membuat mereka terkejut dan membebaskan totokanmu dengan dua sambitan batu kerikil yang sudah kupersiapkan. Sekarang ceritakan pengalamanmu."
"Terima kasih, Kim Hong. Engkau telah menyelamatkan lagi nyawaku,"
Kata Thian Sin sambil menciumnya.
Tentang pengalamanku, sebaiknya kuceritakan dalam perjalanan saja.
Sekarang yang perlu kita harus cepat-cepat menyerbu Guha Tengkorak untuk membasmi mereka sebelum mereka sempat melarikan diri atau membunuh wanita itu."
Kim Hong menyetujui dan sepasang pendekar sakti ini lalu mengerahkan gin-kang mereka untuk lari menuju ke Guha Tengkorak.
Di sepanjang perjalanan, Thian Sin menceritakan pengalamannya dengan singkat.
"Sian-su keparat itu memang benar hendak memegang janjinya, yaitu tidak akan membunuh kita berdua, akan tetapi dia hendak meminjam tangan orang-orang Hong-kiam-pang untuk membunuhku, kemudian dengan ilmu sihir dan obat biusnya dia tentu akan berusaha untuk menguasai dirimu agar engkau suka membantu pekerjaannya yang terkutuk itu!"
Kata Thian Sin mengakhiri penuturannya.
"Akan tetapi bagaimana engkau bisa berada di tangan orang-orang Hong-kiam-pang yang haus darah itu?"
"Hushh, jangan kau sebut haus darah. Mereka telah kehilangan tujuh orang murid, tidak aneh kalau mereka mendendam kepada Siluman Guha Tengkorak. Apa lagi kalau mereka ketahui bahwa gerombolan Siluman Guha Tengkorak memang sangat jahat dan keji, tentu sebagai pendekar-pendekar mereka itu akan menentang mati-matian. Dan aku yang berpakaian dan bertopeng seperti ini, tentu takkan mereka ampuni."
"Akan tetapi bagaimana engkau sampai terjatuh ke tangan mereka?"
"Sudah kukatakan tadi, aku dalam keadaan pingsan oleh obat bius. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan tahu-tahu aku telah berada di sana sampai kau datang. Tentu ini sia-sia Sian-su yang menyerahkan aku kepada Hiong-kiam-pang sebagai seorang Siluman Guha Tengkorak, dengan maksud agar orang-orang Hong-kiam-pang membunuhku."
"Sian-su keparat itu sungguh licik, curang, keji dan amat jahat. Kalau bertemu dengannya, aku pasti tidak akan memberi ampun padanya!"
Kim Hong berkata dengan nada suara marah.
"Akan tetapi engkau harus berhati-hati, karena dia memiliki ilmu sihir yang cukup kuat. Jangan lengah dan pergunakan semua ilmu penolak sihir seperti yang pernah kuajarkan kepadamu kalau dia mempergunakannya,"
Pesan Thian Sin dan Kim Hong mengangguk.
Ia memang telah mempelajari cara-cara penolakan sihir dari kekasihnya itu dan kalau ia sampai pernah jatuh dalam pengaruh sihir dari ketua Siluman Guha Tengkorak, adalah ka-rena ia tidak menyangka sama sekali, tertipu oleh tosu kuil itu dan juga karena memang siluman itu memiliki kekuatan sihir yang amat kuat.
Di dalam tempat rahasia ini perkumpulan Jit-sian-kauw itu, Sian-su mengumpulkan semua anak buah dan juga para tamunya.
Sepasang mata di balik topeng itu nampak gelisah.
"Para anggauta dan juga para saudara sekepercayaan semua yang mulia! Tempat pemujaan kita terancam bahaya besar! Pendekar Sadis dan pembantunya telah berkhianat dan tentu mereka itu akan datang mengacau di sini. Oleh karena itu, aku perintahkan kepada semua anggauta untuk bersikap waspada, menjaga semua jalan masuk dan memasang semua jebakan-jebakan. Dan kepada para saudara sekepercayaan, saya harap sukalah mengeluarkan sedikit tenaga membantu mempertahankan tempat pemujaan kita yang keramat."
Dengan cekatan Sian-su lalu membagi-bagi tugas di antara anak buahnya yang tinggal tiga puluh orang lebih banyaknya itu, memerintahkan para gadis itu bersembunyi di ruangan dalam dan tidak memperbolehkan mereka keluar.
Tosu Siok Cin Cu yang menjadi pembantu utamanya, dengan pakaian Siluman Tengkorak, mewakilinya untuk mengatur para anak buah dalam melakukan penjagaan.
Kemudian Sian-su membujuk para tamunya yang berkepandaian untuk ikut melakukan penjagaan.
Dinatara para tamunya itu terdapat sepuluh orang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan mereka ini yang merasa betapa pusat kepercayaan mereka terancam oleh musuh, dengan senang hati mau membantu Sian-su.
Kepercayaan yang membuta sering kali menyesatkan orang dan membuat manusia lupa bahwa segala macam agama atau kepercayaan diciptakan untuk manusia.
Agama atau kepercayaan lain diadakan untuk menuntun manusia ke jalan yang dianggap benar dan baik.
Jelaslah bahwa manusianya yang penting dan kepercayaan itu merupakan pelengkap dalam kehidupan, sebagai alat penerangan dan penuntun.
Namun, betapa banyaknya kepercayaan yang membuta membuat para pemeluknya lupa bahwa manusianya yang penting dan mereka itu bahkan lebih mementingkan agama atau kepercayaannya, dan manusianya sendiri lalu menjadi alat belaka yang mudah saja dikorbankan demi kepercayaan atau agama itu.
Dan yang memegang peran dalam hal ini adalah para pemimpinnya, para pendetanya yang mempergunakan nama agama untuk memenuhi ambisi pribadinya.
Para pemeluk itu mau saja diseret ke dalam kancah permusuhan dan kebencian, bunuh-membunuh, rela berkorban untuk membunuh atau terbunuh, semua dilakukan demi nama mempertahankan agama atau kepercayaan seperti yang digembar gemborkan oleh para pemimpinnya.
Terjadilah keadaan yang sama sekali terbalik.
Bukan lagi agama untuk manusia melainkan manusia untuk agama, bukan lagi agama sebagai alat manusia melainkan manusia menjadi alat agama.
Demikian pula dengan para tamu dari ketua Jit-sian-kauw ini.
Merekapun menyerahkan kepercayaan secara membuta dan di dalam penyerahan kepercayaan ini memang selalu terdapat hal-hal yang dianggap menguntungkan atau menyenangkan sebagai pendorong.
Mereka, para pemeluk agama Jit-sin-kauw ini, telah menikmati kesenangan jasmani berupa pesta-pora pemuasan nafsu-nafsu berahi, Akan tetapi juga kesenangan batiniah yang berupa harapan bahwa kalau sudah mati kelak mereka akan memperoleh kesenangan karena sudah disediakan suatu tempat yang baik untuk mereka oleh Dewa Kematian yang telah mereka puja-puja dan beri korban.
Kini, mereka rela untuk membela kepercayaan mereka, bahkan rela untuk mati kalau perlu, dengan keyakinan bahwa kematian itu akan berakhir dengan kesenangan bagi mereka.
Para tamu ini sama sekali tidak tahu bahwa ketika mereka ikut berjaga dengan sibuk untuk mempertahankan "tempat pemujaan keramat"
Itu, di sebelah dalam kamar rahasianya, Sian-su yang dibantu oleh orang kepercayaannya, yaitu Siok Cin Cu, sedang sibuk sendiri membenahi barang-barang berharga yang amat berharga, semua dimasukkan ke dalam dua buah peti sampai penuh!
"Siok Cin Cu, kita harus dapat menyelamatkan dua peti ini lebih dulu.
Pendekar Sadis dan wanita itu tidak boleh dipandang ringan.
Engkau tahu ke mana harus menyembunyikan peti-peti ini kalau keadaan memaksa."
"Baik, Sian-su, jangan khawatir. Akan tetapi sudah demikian berbahayakah keadaannya sehingga Sian-su perlu berkemas dan berkhawatir?"
Tanya tosu Siok Cin Cu itu di balik topengnya.
"Berbahaya sekali sih belum, akan tetapi kita perlu waspada. Para anak buah dan para tamu dengan bantuan jebakan-jebakan mungkin akan dapat menahan Pendekar Sadis dan temannya. Akan tetapi aku khawatir bahwa Hong-kiam-pang tidak akan mau sudah dan mereka akan berusaha untuk menemukan tempat kita. Im Yang Tosu agaknya berkeras hati benar untuk menggempur kita."
Siok Cin Cu menarik napas panjang.
"Agaknya kita telah salah tangan membunuh Tujuh Pendekar Tai-goan itu, Sian-su, sehingga menjadi berlarut-larut memancing permusuhan dengan Hong-kiam-pang."
"Tidak salah tangan sama sekali. Pertama, mereka itu menentang kita. Ke dua, ada gejala-gejala bahwa di antara mereka itu megetahui rahasiaku. Mereka memang perlu dibinasakan untuk mencegah datangnya bahaya yang lebih besar."
Percakapan mereka terhenti ketika terdengar suara hiruk pikuk di luar.
Mereka saling pandang dan dua pasang mata di balik topeng itu tampak gelisah.
Akan tetapi Sian-su menenangkan diri dan berkata.
"Siok Cin Cu, engkau membawa peti ini sebuah dan aku sebuah. Engkau mengambil jalan kiri dan aku ke kanan. Engkau tahu di mana kita dapat bertemu di luar tempat ini."
"Sian-su... hendak meninggalkan tempat ini? Apakah tidak menahan musuh dulu?"
"Sstt, diamlah. Yang penting menyelamatkan dua peti ini baru kita pikirkan untuk menghantam musuh yang berani masuk ke sini. Mari, cepat!"
Kata Sian-su menyerahkan sebuah di antara dua peti hitam itu kepada Siok Cin Cu.
Tosu ini menerima peti, mengangguk dan segera meloncat pergi dari kamar rahasia itu, bersimpang jalan dengan ketuanya.
Memang telah terjadi pertempuran semenjak di terowongan.
Seperti kita ketahui, Thian Sin dan Kim Hong menuju ke balik tebing untuk menyerbu sarang Jit-sian-kauw itu dari belakang, melalui jalan rahasia, yang telah mereka berdua ketahui.
Akan tetapi sebelum menuju ke situ, Thian Sin mengajak Kim Hong untuk lebih dulu memasuki sebuah hutan kecil tak jauh dari situ.
"Eh, kita ke mana?"
Tanya Kim Hong yang seperti juga kekasihnya telah menanggalkan pakaian dan topeng tengkorak.
"Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku pernah terpaksa mengusir lima owang tokoh Bu-tongpai dan aku berhasil memberi tahu mereka tentang keadaanku dan minta kepada mereka untuk menanti di hutan ini. Nah, itu mereka!"
Kata Thian Sin ketika melihat Liang Hi Tojin keluar dari sebuah gubuk kecil bersama empat orang murid Bu-tong-pai.
Cepat Thian Sin dan Kim Hong menghampiri mereka.
"Siancai, siancai... sungguh tidak sabar kami menanti-nanti berita darimu, Ceng-taihiap,"
Kata Liang Hi Tojin sambil menjura ke arah dua pendekar itu.
"Dan Toan-lihiap juga sudah datang, sungguh membesarkan hati!"
Thian Sin dan Kim Hong yang sudah mengenal tokoh ke dua dari Bu-tong-pai ini segera membalas penghormatan mereka berlima.
"Saya menanti saat baik dan kesempatan, totiang. Dan sekaranglah saat baik itu tiba."
"Kita menyerbu Guha Tengkorak? Tapi... kami tidak pernah menemui jalan masuk."
"Jangan khawatir, kami sudah tahu jalannya."
Kata Kim Hong.
"Mari ngo-wi (kalian berlima) ikuti kami."
Berbondong-bondong merekapun berangkat dengan penuh semangat.
Orang-orang Bu-tong-pai ini bukan hanya ingin membalas kematian Louw Ciang Su murid Bu-tong-pai, seorang di antara Tujuh Pendekar Tai-goan, akan tetapi juga mereka merasa bertugas untuk membasmi gerombolan Siluman Guha Tengkorak yang telah melakukan pengacauan dan kejahatan-kejahatan kejam itu.
Setelah menemukan jalan masuk rahasia melalui terowongan itu, Thian Sin masuk lebih dulu, diikuti oleh Kim Hong.
Barulah, di belakang dua orang pendekar ini, Liang Hi Tojin dan empat orang murid keponakannya berjalan masuk dengan pedang siap di tangan mereka.
Sebagai seorang yang pernah diperdaya oleh Sian-su, Thian Sin pernah melalui terowongan ini dan rahasia jebakan terowongan ini tidak disembunyikan darinya, maka sedikit banyak dia tahu di mana adanya jebakan-jebakan itu.
Sebaliknya, ketika melarikan diri dari tempat itu, Kim Hong membawa seorang tawanan yang telah memberi tahu kepadanya adanya jebakan-jebakan sehingga ia bersikap hati-hati dan juga dalam keributan itu, terowongan tidak terjaga dan tidak ada anggauta gerombolan yang menggerakkan alat rahasia jebakan.
Ketika tiba di sebuah tikungan terowongan, tiba-tiba Thian Sin berseru.
"Awas anak panah!"
Dan hampir berbareng dengan ucapannya, dari depan dan belakang menyambar puluhan batang anak panah ke arah mereka!
Akan tetapi, orang-orang Bu-tong-pai itu sudah siap dengan pedang mereka dan dengan memutar pedang, anak panah yang menyambar mereka runtuh ke atas tanah.
Kim Hong dan Thian Sin menggunakan gerakan tangan mereka menangkis, dan dua batang anak dapat ditangkap oleh Thian Sin yang cepat menggerakkan tangan.
Dua batang anak panah itu meluncur ke atas dan terdengarlah jeritan orang disusul jatuhnya sesosok tubuh yang tadinya bersembunyi di bagian atas dan menggerakkan alat-alat yang meluncurkan anak-anak panah itu.
Orang itu tewas dengan leher dan dada tertembus dua batang anak panah yang dilemparkan oleh Thian Sin tadi.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati tanpa memperdulikan orang yang sudah tewas itu.
Mereka melangkahi mayat itu dan dengan hati-hati Thian Sin terus melangkah maju, diikuti oleh yang lain.
Terowongan itu tidak begitu gelap, agak remang-remang karena ada cahaya matahari yang masuk melalui beberapa celah-celah yang berada di langit-langit torowongan.
"Berhenti...!"
Tiba-tiba Thian Sin berbisik dan semua orang berhenti.
Tidak nampak sesuatu yang mencurigakan di situ, akan tetapi mereka melihat Pendekar Sadis memberi isyarat agar mereka berhenti, Sedangkan dia sendiri melangkah ke depan sambil melirik ke sana-sini dengan penuh kewaspadan.
Tiba-tiba terdengar bunyi berderit dan lantai yang diinjaknya itu terbuka, sedangkan di dalam sumur di bawah itu nampak batu-batu meruncing menanti di bawah!
Akan tetapi, Thian Sin sudah mengeluarkan suara melengking dan tubuhnya mencelat ke kanan, ke arah batu karang besar dan sekali tangannya menyambar, dia telah menangkap seorang laki-laki bertopeng tengkorak dan tubuh orang itupun dilemparkannya ke dalam sumur, sedangkan dia sendiri sudah meloncat lagi ke tempat semula di mana teman-temannya berdiri memandang dengan mata terbelalak ke dalam sumur.
Orang yang terlempar itu mengeluarkan suara pekik mengerikan dan tubuhnya disambut oleh batu-batu karang yang seperti golok itu dan tewas seketika.
Lantai itu masih terbuka dan terpaksa mereka bertujuh lalu melompati sumur itu dan melanjutkan perjalanan lagi ke depan.
Tidak ada lagi jebakan yang menghadang perjalanan mereka, akan tetapi begitu mereka keluar dari pintu rahasia, mereka sudah diserbu oleh para anak buah Siluman Guha Tengkorak yang dibantu oleh sepuluh orang tamu pemeluk kepercayaan baru itu sehingga terjadilah perkelahian yang amat seru.
Liang Hi Tojin mengamuk dan empat orang murid keponakannya juga mempermainkan pedang mereka, dikeroyok oleh para anggauta gerombolan Jit-sian-kauw yang dibantu oleh sepuluh orang tamu.
Melihat betapa sepak terjang Liang Hi Tojin dan empat orang murid Bu-tong-pai itu cukup tangkas dan kuat, Thian Sin dan Kim Hong lalu sama-sama meloncat ke arah dalam.
"Engkau dari kiri, aku dari kanan!"
Kata Thian Sin dan nona itu mengangguk mengerti apa yang dikehendaki kekasihnya.
Mereka berdua sudah tahu di mana adanya kamar Sian-su, dan memang ada dua jalan yang menuju ke kamar itu, sebuah kamar yang mewah dan di mana hampir setiap malam terjadi kecabulan.
Pada saat itu, seorang yang berpakaian dan bertopeng Siluman Tengkorak sedang bergegas melarikan diri keluar dari lorong sambil membawa sebuah peti hitam.
Orang ini bukan lain adalah Siok Cin Cu, tosu pembahtu utama Sian-su yang bertugas menyelamatkan sebuah peti berisi barang perhiasan itu.
Diam-diam tosu ini merasa heran, mengapa Sian-su tidak lebih dulu menyambut dan menahan serbuan lawan melainkan lebih mementingkan untuk menyelamatkan barang-barang berharga itu.
Akan tetapi karena dia sendiri maklum betapa lihainya Pendekar Sadis, tugas ini tentu saja menggembirakan hatinya.
Dia tidak perlu menghadapi lawan yang mengerikan itu dan lebih enak menyelamatkan diri membawa peti perhiasan yang dia tahu amat berharga ini.
Andaikata Sian-su gagal, dia sendiri masih mempunyai sebuah peti yang akan cukup untuk dimakan selama tujuh turunan dalam keadaan mewah!
Ketika dia berlari melalui lorong itu, tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan.
Dia mengira bahwa tentu seorang di antara para gadis dayang dan penari yang keluar dari tempat mereka dikurung.
Melihat wanita cantik ini, Siok Cin Cu tersenyum di balik topengnya.
Bagaimana kalau dia membawa wanita cantik itu bersamanya?
Selain untuk teman di perjalanan juga untuk menghibur hatinya!
"Hei, berani engkau keluar dari ruangan itu?
Hayo kau ke sini dan ikut bersamaku....!"
Akan tetapi tiba-tiba Siok Cin Cu menghentikan kata-katanya setelah dia datang dekat dan mengenal wanita ini yang bukan lain adalah Toan Kim Hong!
Kim Hong berdiri dengan senyum manis dikulum.
Ucapan yang keluar dari balik topeng itu dikenalnya dengan baik dan senyumnya makin melebar menghias bibirnya yang merah basah dan manis ini.
Ia lalu bertolak pinggang menghadang di tengah lorong.
"Aihh, kiranya si pertapa Siok Cin Cu yang suci itupun mempunyai jubah dan topeng tengkorak? Totiong, tentu engkau tidak lupa kepadaku, bukan? Aku tidak pernah dapat melupakanmu dan budi totiang ketika membawaku ke susiok totiang itu sampai sekarang belum juga sempat kubalas!"
Kim Hong berkata dengan nada manis dan ramah, akan tetapi sepasang matanya yang mencorong itu mengeluarkan sinar dingin yang membuat Siok Cin Cu merasa bulu tengkuknya meremang.
Akan tetapi dia bukan seorang lemah.
Dia adalah pembantu utama dari Sian-su dan dia telah memiliki ilmu kepandaiin tinggi.
Karena maklum bahwa bicara banyak tiada gunanya dan bahwa wanita ini adalah teman dari Pendekar Sadis, maka sebelum pendekar itu sendiri muncul dia harus dapat merobohkan wanita ini.
Maka dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menggerakkan tangan kanannya untuk mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang dari pinggangnya, lalu dia menubruk ke depan dengan serangan kilatnya!
Tangan kirinya masih memeluk peti hitam di dekat dadanya.
"Singgg...! Wuuuutt...!"
Tusukan pedang itu luput ketika Kim Hong dengan seenaknya mengelak akan tetapi tusukan itu dilanjutkan dengan sabetan sebagai serangan selanjutnya.
Gerakan tosu ini memang cukup cepat.
Namun, tentu saja dia hanya merupakan lawan yang lunak dari Kim Hong yang pernah menjadi datuk berjuluk nenek Lam-sin ini.
Sambil tersenyum mengejek, Kim Hong kembali mengelak.
Ia tidak cepat turun tangan terhadap tosu ini karena perhatiannya tertarik kepada peti hitam yang dipeluk si kakek.
Tentu terisi benda penting maka hendak dilarikan oleh tosu ini, pikirnya.
Oleh karena itu, timbul niat di hatinya merampas peti ini dan memeriksa apa isinya, baru ia akan menghajar tosu palsu ini.
"Hyaaaatt...!"
Kembali Siok Cin Cu menyerang dengan gerakan pedangnya yang berkelebat seperti kilat menyambar itu.
Kim Hong cepat mengelak ke kiri dan ketika pedang itu menusuk ke arah matanya, ia miringkan kepala dan menggunakan tangan kiri untuk menjepit ujung pedang itu dengan ibu jari, telunjuk dan jari tengah, sedangkan kaki kanannya menendang ke arah muka lawan dengan gerakan kilat.
"Brettt!"
Tosu itu berteriak kaget, bukan hanya karena pedangnya seperti terjepit baja dan topeng tengkoraknya robek terkena ujung sepatu gadis itu, akan tetapi terutama sekali karena pada saat itu tangan kanan gadis itu sudah bergerak dan merampas peti hitamnya!
Setelah berhasil merobek topeng sehingga nampak wajah Siok Cin Cu yang agak pucat dan berhasil pula merampas peti hitam, Kim Hong tertawa dan dengan tubuh membuat jungkir balik tiga kali, ia meloncat ke belakang lalu duduk sembarangan di atas lantai, membuka peti hitam itu.
Wajahnya berseri, matanya terbelalak dan mulutnya tersenyum girang ketika ia melihat isi peti yang berkilauan, terdiri dari perhiasan-perhiasan emas perak penuh batu permata yang mahal-mahal itu.
Dengan wajah pucat Siok Cin Cu memandang.
Dia tahu bahwa nona itu lihai bukan main dan kalau berkelahi secara berhadapan, belum tentu dia akan menang.
Maka, melihat betapa gadis itu kini terpesona oleh perhiasan di dalam peti seperti seorang anak kecil tertarik oleh mainan yang bagus, diam-diam dia lalu mengambil jalan memutar, mengitari gadis dalam ruangan itu dengan pedang siap di tangan.
Setelah tiba di belakang Kim Hong, tiba-tiba dia meloncat, menubruk dan menggerakkan pedangnya untuk melakukan serangan maut yang kiranya tak akan mungkin dihindarkan oleh gadis yang sedang duduk di lantai dan tertarik oleh perhiasan-perhiasan itu.
Akan tetapi, tanpa menoleh Kim Hong menggerakkan tangan yang sedang memegang tusuk konde kumala tadi ke belakang dan gerakan tosu itu terhenti di tengah udara!
Tubuh yang sedang mengangkat pedang hendak membacok itu tiba-tiba terhenti, seperti tertahan oleh kekuatan dahsyat, pedangnya terhenti di atas kepala lalu terlepas dan jatuh ke atas lantai, kedua lututnya terkulai dan tertekuk lalu tubuhnya jatuh berlutut, kedua tangan mendekap dada di mana tusuk konde itu amblas dan memasuki dadanya tepat menusuk jantung.
Diapun roboh dan hamya berkelojotan sebentar.
Tewaslah Siok Cin Cu tanpa dapat bersambat lagi, matanya terbuka memandang kosong ke arah peti hitam yang terbuka di depan Kim Hong.
Kim Hong meloncat bangun dan menutupkan kembali peti hitam, Lalu membawa peti itu dan berloncatan menuju ke kamar pusat di mana ia mengharapkan akan dapat bertemu dengan orang yang amat dibencinya, yaitu Sian-su atau Siluman Guha Tengkorak, ketua dari Jit-siankauw.
Akan tetapi ia telah kalah dulu oleh Thian Sin.
Seperti juga halnya tosu Siok Cin Cu, Sian-su atau Siluman Guha Tengkorak itu melarikan diri membawa sebuah peti hitam yang dipeluknya.
Akan tetapi baru saja dia meninggalkan kamarnya dan tiba di ruangan sembahyang, tiba-tiba dia berhenti berlari dan memandang ke depan dengan mata terbelalak.
Pendekar Sadis telah berdiri di situ sambil bertolak pinggang dan menentang pandang mata dengan senyum mengejek dan mata mencorong penuh kemarahan!
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Siluman Guha Tengkorak melihat pendekar ini.
"Ah, Ceng-taihiap...!"
Katanya dengan suara yang ramah sekali, suara yang mengandung kekuatan sihir untuk menundukkan hati lawan.
"Aku selalu memegang janji, tidak membunuh engkau atau Toan-lihiap..."
"Bagus, memang engkau tidak melanggar janji. Dan akupun tidak akan membunuhmu, hanya ingin menangkapmu dan menyerahkanmu kepada para tosu Hong-kiam-pang dan Bu-tong-pai."
"Pengkhianat kau!"
Bentak Sian-su dan diapun sudah menerjang dan memukulkan tangan kanannya ke arah kepala Thian Sin.
"Darrr...!"
Thian Sin terkejut juga melihat sinar terang dan bunyi ledakan ketika ada benda menghantam dinding di belakangnya.
Pukulan Sian-su tadi dielakkannya dan ternyata Sian-su itu tidak hanya memukul, melainkan juga melepaskan sesuatu dari kepalan tangannya ke arah kepalanya yang membentur dinding dan meledak, membuat dinding itu berlubang sebesar kepala orang.
Kalau benda itu mengenai kepalanya dan meledak, tentu kepalanya yang akan pecah!
Sian-su sudah menerjang lagi dengan penuh kemarahan dan karena tangan kirinya masih memeluk peti hitam, dia menggunakan pukulan tangan kanan secara beruntun dua kali dibantu oleh tendangan kakinya satu kali.
"Dukk! Dukk! Desss...!"
Thian Sin sengaja menangkis dua kali pukulan dan satu kali tendangan itu sambil mengerahkan tenaga keras lawan keras.
Tubuhnya tergetar oleh pertemuan tenaga itu, akan tetapi juga Sian-su terdorong ke belakang sampai dua langkah dan terhuyung.
Thian Sin tersenyum mengejek.
"Ha-ha-ha, Siluman Guha Tengkorak! Sekarang keluarkanlah semua kepandaianmu. Mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih kuat!"
Siluman itu hanya menggeram dan kini dia sudah menerjang lagi karena Thian Sin menghalang di depannya.
Tangan kanannya bukan memukul melainkan mencengkeram dan melihat betapa gerakan tangan itu berputar disertai bunyi suara mencicit nyaring, tahulah Thian Sin bahwa lawannya menggunakan ilmu pukulan yang amat keji, dan mungkin merupakan tok-ciang (tangan beracun).
Akan tetapi, tentu saja Pendekar Sadis tidak takut, bahkan gentar sedikitpun tidak menghadapi cengkeraman ini.
Diam-diam dia sudah merasa heran mengapa lawannya tetap memeluk peti hitam itu, padahal dalam pertemuan tenaga tadi saja siluman itu tentu sudah maklum bahwa tenaga siluman itu kalah kuat.
Kalau bukan peti yang isinya amat berharga tentu siluman itu akan melepaskannya agar dapat menyerang dengan leluasa dan mempergunakan seluruh kepandaiannya.
"Wuttt... plakk...!"
Tangan yang mencengkeram ke arah ubun-ubun itu dielakkan oleh Thian Sin, akan tetapi dibiarkan mengenai pundaknya dan dia telah menyambutnya dengan pengerahan tenaga Thi-khi-i-beng!
"Aihhhh...!"
Sian-su memekik terkejut bukan main ketika cengkeramannya yang mengenai pundak itu mengakibatkan tenaganya membanjir keluar, tersedot oleh kekuatan yang amat dahsyat dan pada saat itu, petinya telah terampas oleh Thian Sin.
"Thi-khi-i-beng...!"
Serunya dan tiba-tiba tenaga cengkeramannya itu menghilang dan pada saat itu, dua jari tangan kirinya mencuat ke depan, ke arah kedua mata Thian Sin.
Memang hebat juga ketua Jit-sian-kauw ini.
Agaknya dia telah mengenal baik Thi-khi-i-beng dan tahu bagaimana caranya untuk menghadapinya.
Dia telah menghentikan aliran tenaga sin-kangnya sehingga tidak sampai tersedot lagi dan jari tangan kirinya yang menusuk ke arah sepasang mata lawan itu tentu saja tidak dapat dihadapi dengan Thi-khi-i-beng, karena sin-kang yang bagaimana hebatpun tidak mungkin dapat disalurkan melalui biji mata!
Thian Sin maklum akan berbahayanya serangan lawan itu, maka diapun sudah meloncat ke belakang sambil membawa peti hitam.
Akan tetapi, gerakannya itu memberi kesempatan kepada lawannya untuk meloncat ke kiri dan tiba-tiba saja siluman itu lenyap di balik sebuah tiang besar.
"Siluman keparat hendak lari ke mana engkau?"
Thian Sin membentak dan mengejar, akan tetapi di belakang tiang ini tidak ada apa-apanya dan siluman itu lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Thian Sin menjadi penasaran sekali.
Dia merasa yakin bahwa siluman itu tidak meninggalkan tempat itu melalui lain jalan.
Tadi hanya nampak meloncat ke belakang tiang ini dan lenyap.
Maka diapun lalu menggerakkan tangan kanannya menampar ke arah tiang sambil mengerahkan tenaga.
"Brakkkkk...!"
Tiang yang tebal sekali itu, dua kali ukaran manusia tebalnya, pecah berantakan dan kiranya sebelah dalam tiang itu berlubang dan tiang itu adalah tiang palsu, bukan balok kayu melainkan papan yang dibentuk seperti tiang dan di dalamnya berlubang.
Setelah pecah berantakan, nampak labang itu ke bawah.
Thian Sin maklum bahwa itulah jalan rahasia yang dilalui oleh lawannya, maka tanpa ragu-ragu lagi sambil masih mengempit peti hitam, diapun meloncat ke dalam lubang yang ternyata tidak berapa dalam itu.
Dia tiba di sebuah ruangan bawah dan terus meloncat ke arah pintu yang membawanya ke sebuah ruangan lain yang penuh dengan cermin.
Cemin-cermin kecil yang bersambung-sambung itu mencerminkan dirinya menjadi banyak sekali.
Tiap kali dia bergerak, Thian Sin melihat semua bayangannya itu ikut bergerak sehingga dia merasa seperti dikepung oleh banyak sekali orang, ada tiga puluh banyaknya, semua merupakan bayangannya sendiri.
Akan tetapi sebagai seorang ahli silat, tentu saja gerakan-gerakan itu membuatnya terkejut dan waspada.
Setelah yakin bahwa semua bayangan itu adalah bayangannya, barulah dia berani melanjutkan langkahnya, meneliti dan memeriksa cermin-cermin yang merupakan pintu-pintu tanpa kunci itu.
Tentu saja, gerakannya memeriksa cermin-cermin itu, diikuti terus oleh semua bayangannya.
Tiba-tiba Thian Sin meloncat ke kiri dan tujuh buah pisau terbang menyambar lewat, yang sebuah sempat menyerempet bahunya, Merobek baju dan melukai kulitnya.
Dia cepat menengok dan mencari-cari dengan matanya, akan tetapi yang ikut bergerak-gerak hanya bayangan-bayangannya saja.
Tidak ada bayangan orang lain.
Dia berhenti dan matanya saja yang melirik ke sana kemarim, ke dalam cermin-cermin itu.
Namun, yang nampak hanya dirinya sendiri.
Tadi dia merasa sukar menangkap gerakan orang yang menyambitkan hui-to (pisau terbang) karena pandang matanya terpengaruh oleh semua gerakan bayangannya sendiri sehingga kalau ada bayangan orang lain, tentu gerakan orang itu dapat menyelinap dan tersembunyi oleh gerakan semua bayangannya sendiri itu.
Thian Sin menjadi penasaran dan marah.
Peti hitam itu ditaruhnya ke depan, menghantam ke arah pintu bercermin di depannya sambil mengerahkan tenaga.
"Brakkk...!"
Cermin itu hancur berkeping-keping dan di balik cermin terdapat dinding bata yang kuat.
Akan tetapi pada saat dia memukul tadi, dia melihat sinar berkelebatan dari arah kanannya dan cepat dia menggulingkan tubuhnya.
Kembali tujuh batang hui-to lewat dan karena dia tahu bahwa yang menyerangnya secara menggelap itu dari kanan datangnya, diapun lalu menubruk ke kanan ke arah cermin.
"Brakkk...!"
Cermin-cermin inipun hancur akan tetapi di belakangnya tidak terdapat siapa-siapapun, kecuali dinding batu.
Kini Thian Sin mengerti.
Kalau dia diam saja dan semua bayangannya ikut diam, lawan tidak bergerak, akan tetapi kalau tubuhnya bergerak dan semua bayangannya tentu saja juga bergerak, kesempatan ini dipergunakan oleh lawannya untuk turun tangan karena gerakannya tentu akan kabur dengan gerakan semua bayangan itu.
Kini dia pura-pura bergerak lagi dan diam-diam dia memperhatikan sekelilingnya.
Benar saja, kini dia melihat bayangan lain, bukan bayangannya sendiri dari arah kirinya.
Begitu melihat bayangan yang lain dari pada bayangannya sendiri, Thian Sin memekik dan tubuhnya mencelat ke kiri, kedua kakinya menendang dengan dahsyatnya ke arah cermin di mana tadi dia melihat gerakan yang bukan bayangannya.
"Bresss...!"
Terdengar suara orang mengaduh dan daun pintu di balik cermin itu pecah berantakan.
Thian Sin melihat berkelebatnya orang yang meloncat ke depan dan melarikan diri.
Cepat dia menyambar peti hitam dan melakukan pengejaran, akan tetapi Sian-su, orang itu yang biarpun terkena tendangannya akan tetapi ternyata masih terlalu kuat untuk roboh itu, telah lenyap lagi melalui jalan rahasia yang tidak diketahuinya.
Karena merasa tidak sanggup mengejar lawan yang menggunakan jalan rahasia itu, dan mengkhawatirkan keadaan orang-orang Bu-tong-pai yang menghadapi keroyokan banyak orang Thian Sin dengan hati kecewa lalu berjalan kembali ke tempat semula.
"Thian Sin...!"
Ternyata Kim Hong yang memanggilnya itu dan gadis inipun membawa sebuah peti hitam yang serupa benar dengan peti yang dibawanya.
"Apa yang kau bawa itu?"
Thian Sin bertanya.
"Kurampas dari Siok Cin Cu, tosu keparat pembantu ketua siluman. Dia telah kubunuh dan peti ini terisi harta yang agaknya hendak dilarikannya. Dan peti di tanganmu itu?"
"Kurampas dari Sian-su, sayang dia dapat melarikan diri melalui jalan rahasia yang tidak kukenal. Entah apa isinya..."
Thian Sin menurunkan peti itu dan membuka tutupnya. Mereka memandang silau.
"Hemm, isinya sama dengan isi peti ini,"
Kata Kim Hong.
"Agaknya siluman itu bersama pembantunya sudah bersiap-siap hendak melarikan diri membawa harta benda hasil kejahatan mereka, seorang membawa sebuah peti penuh perhiasan."
"Sudahlah, mari kita bantu orang-orang Bu-tong-pai menghadapi para anak buah siluman..."
"Kau bantulah mereka. Aku sendiri akan membebaskan para gadis yang tertawan sebelum terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka."
"Baik, dan sebaiknya engkau bawa dua peti ini bersamamu. Engkau tentu masih ingat bagaimana untuk membebaskan orang dari pengaruh sihir dan bius?"
Gadis itu mengangguk.
"Menotok dua belas Keng-siang-meh dan mengurut tujuh Ki-keng-meh, lalu mengguyur mereka dengan air dingin."
Thian Sin mengangguk dan mengelus dagu kekasihnya.
"Bagus, engkau memang hebat. Nah, aku pergi."
Diapun lalu lari meninggalkan tempat itu untuk keluar membantu lima orang tokoh Butong-pai yang dikeroyok oleh banyak anak buah Silumah Guha Tengkorak dan para tamunya itu.
Kim Hong juga meninggalkan tempat itu, membawa dua buah peti hitam yang diikatnya menjadi satu menggunakan tirai sutera yang terdapat di ruangan itu dan pergilah ia ke ruangan dalam untuk mencari gadis-gadis yang ia duga tentu dikumpulkan di suatu tempat.
Dugaannya memang tepat.
Ia menemukan hampir empat puluh orang wanita yang rata-rata masih muda dan cantik-cantik, dengan wajah yang pucat dan pandang mata kosong, duduk berkumpul di sebuah ruangan besar.
Ada empat orang bertopeng menjaga di depan ruangan, membawa golok dan memandang beringas ketika ia datang membawa dua buah peti hitam itu.
Empat orang penjaga ini segera mengenalnya sebagai gadis tawanan yang memberontak dan melarikan diri, maka tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menerjang maju.
Melihat berkelebatnya empat batang golok itu, Kim Hong menggerakkan tangan yang memegang sutera pengikat dua peti hitam.
Sinar hitam yang lebar melayang, menyambut empat batang golok itu dan gerakan ini diikuti oleh kedua kaki Kim Hong yang menendang empat kali beruntun.
Akibatnya, empat batang golok yang bertemu dengan peti-peti hitam itu terlempar, disusul tubuh empat orang itu yang terlempar pula, membentur dinding dan terbanting roboh, tak dapat bangun kembali karena ketika menendang tadi, Kim Hong mengerahkan tenaga pada kedua kakinya dan sekali tendang saja remuklah isi perut empat orang itu.
Kim Hong mendorong daun pintu ruangan itu terbuka dan puluhan orang gadis itu memandang kepadanya dengan sinar mata ketakutan.
Beberapa orang di antara mereka bahkan maju dengan sikap menantang.
"Siapa kamu? Tidak boleh ada yang masuk ke sini kecuali ada ijin dari Sian-su!"
Kata seorang di antara mereka.
Kim Hong mengangkat muka memandang dan ia tahu bahwa gadis yang usianya baru tujuh belas tahun lebih ini dan yang berwajah amat cantik adalah kekasih Sian-su atau setidaknya merupakan gadis yang paling disuka oleh ketua siluman itu.
Akan tetapi, di balik sikapnya yang genit dan binal, juga pandang mata gadis itu kosong dan sayu tanda bahwa gadis ini penuh oleh hawa jahat atau sihir yang mempengaruhi dan wajahnya yang pucat itupun menandakan bahwa ia telah banyak terkena obat bius.
Semua gerakannya itu tidak wajar dan gadis inipun telah kehilangan kepribadiannya.
"Siapakah engkau?"
Kim Hong bertanya dengan suara mengandung wibawa.
Akan tetapi gadis itu tidak nampak takut, bahkan melangkah maju dan mengangkat dagunya dengan sikap tinggi hati.
"Aku bernama Thio Siang Ci dan aku adalah murid terkasih dari Sian-su. Pergilah sebelum aku memanggil pengawal dan menangkapmu!"
Kim Hong tersenyum dan menurunkan dua buah peti yang dibawanya, lalu tiba-tiba saja tubuhnya bergerak ke depan.
Akan tetapi ia kecelik kalau menyangka bahwa gadis itu sebagai murid dan kekasih Sian-su tentu lihai ilmu silatnya.
Ternyata gadis itu sama sekali tidak pandai ilmu silat, dan sama sekali tidak dapat menangkis atau mengelak ketika ia menotoknya menjadi lumpuh seketika.
Terdengar jeritan-jeritan kaget dan marah dari para wanita itu.
Akan tetapi Kim Hong tidak perduli dan cepat digerakkan jari-jari tangannya menotok jalan darah di tempat-tempat tertentu pada tubuh Thio Siang Ci itu dan mengurut jalan darah Ki-keng-meh.
Gadis itu nampak tertidur pulas dan Kim Hong lalu meloncat dan mengambil sepanci air yang berada di sudut ruangan, lalu menyiramkan air itu pada kepala Thio Siang Ci.
Gadis itu adalah pengantin yang telah diculik oleh Silumah Guha Tengkorak, yaitu puteri dari Thio Ki, kembang dusun Ban-ceng.
Baca Juga: Si Bangau Merah 3
Baca Juga: Petualang Asmara 7