Ceritasilat Novel Online

Renjana Pendekar 7

Eps 7 Renjana Pendekar - Khulung

Baca online Renjana Pendekar - Khulung

Cersil Renjana Pendekar - Khulung.

Hanya dirasakannya seolah-olah setiap saat timbul semacam tenaga gaib yang berpengaruh dari orang yang dihadapinya ini.

Pada waktu sorot mata orang ini beralih ke arahnya, seketika jantungnya berdetak.

Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya.

"Urusan ini memang sangat aneh, bukan?"

"Ya, memang sangat aneh,"

Pwe-giok hanya tersenyum saja.

"Sesuatu yang aneh, mengapa Anda tidak heran?"

Kata pula orang itu.

Pwe-giok tahu, menghadapi orang demikian tidak boleh omong sepatahpun.

Selagi dia menimbang cara bagaimana menjawabnya, tiba-tiba orang itu tertawa dan berkata pula dengan perlahan.

"Jika kau tidak suka menjawab, bolehlah kukatakan bagimu... Sebabnya kau tidak heran atas urusan ini adalah karena sebelumnya rahasia persoalan ini sudah kau ketahui."

Pwe-giok hanya tersenyum sebagai jawabannya.

Tiba-tiba ia merasa mata orang ini meski sangat menakutkan, tapi senyumannya membawa semacam daya tarik yang sukar dilukiskan, semacam daya gaib yang kuat, jangankan anak gadis seperti Ciong Cing sekalipun Pwe-giok sendiripun tanpa terasa terpikat oleh daya tarik yang gaib itu dan sukar memindahkan pandangannya ke arah lain.

Orang itupun terus menatapnya lekat-lekat, tiba-tiba menghela napas dan berkata.

"Lelaki yang maha cakap, ya, Anda boleh disebut lelaki cakap yang tiada bandingannya. Jangankan perempuan, sampai akupun merasa mabuk melihat senyuman Anda."

Dia bicara dengan lambat, suaranya rendah dan juga mengandung daya pikat yang sukar disebutkan.

Sebenarnya bukan Pwe-giok tidak suka, hanya saja setelah mendengarkan dan mendengarkan lagi, akhirnya kata-kata yang ingin diucapkannya jadinya malah lupa dikatakannya.

Dengan tersenyum orang itu berkata pula.

"Orang yang mempunyai muka seperti Anda ini, bilamana tidak tahu menggunakannya dengan baik-baik sungguh harus disayangkan. Tapi Anda tidak perlu kuatir, sekalipun Anda tidak tahu cara bagaimana harus mendaya-gunakan ketampanan sendiri, dengan suka hati akan kubantu berusaha bagimu agar Anda tidak sia-sia dilahirkan dengan wajah tampan ini."

Apabila kata-kata ini diucapkan orang lain, andaikan Pwe-giok tidak gusar, sedikitnya juga akan mendongkol.

Tapi kata-kata yang keluar dari mulut orang ini ternyata tidak membuat Pwe-giok naik pitam.

Orang itu tersenyum dan berkata pula dengan suara terlebih halus.

"Baiklah, sekarang bolehlah kau lupakan semuanya. Coba beritahukan padaku sesungguhnya rahasia apakah yang kau lihat tadi? Sesungguhnya apa yang dirundingkan Ji Hong-ho dan Tong Bu-siang?"

"Kukira lebih baik tidak kukatakan,"

Jawab Pwe-giok hambar.

"Kusuruh kau bicara, maka kau harus bicara, tahu?"

Ucap orang itu dengan suara tegas, meski wajahnya masih mengulum senyum, tapi sorot matanya yang aneh itu tampak mendesak, menatap Pwe-giok tajam-tajam.

Siapa tahu Pwe-giok tetap menjawab dengan hambar.

"Memangnya kenapa harus kukatakan?"

Orang itu lantas mengeluarkan seuntai rantai mutiara dan diayun-ayunkannya di depan Pwegiok, lalu berkata pula dengan perlahan.

"Sebab kau sudah menjadi budakku, setiap perkataanku harus kau taati, sedikitpun tidak boleh melawan."

Ciong Cing tampak lemas dan kuatir, ia tahu kekuatan gaib orang ini, ia tidak ingin dia membikin susah orang lain lagi, tapi iapun tidak berani mencegahnya.

Siapa tahu Pwe-giok tetap tenang-tenang saja, sebaliknya ia malah tertawa dan menjawab.

"Selamanya aku adalah orang yang bebas dan merdeka, mengapa tanpa sebab aku harus menjadi budakmu?"

Air muka orang itu berbalik berubah pucat malah, butiran keringatpun menghiasi jidatnya.

Maklumlah, Liam-sim-tay-hoat yang digunakannya sangat keji, tapi kalau tidak dapat menguasai pihak lawan, ia sendiri yang akan celaka.

Sekarang ia sudah mengerahkan segenap tenaganya, tapi lawan yang masih muda ini ternyata tiada terpengaruh sedikitpun.

Padahal sasaran Liam-sim-tay-hoat ini adalah melunakkan pikiran lawan, peluang itu lantas diselulupi kekuatan gaibnya dan terpengaruhlah orangnya.

Namun sejak kecil Pwe-giok sudah berlatih semedi dan memusatkan pikiran, akhir-akhir ini dia malah tergembleng dengan lebih teguh lagi imannya, hatinya kini boleh dikatakan sekeras baja, semurni emas.

Karena itulah, perasaan orang itu berbalik terguncang dan hampir-hampir saja sukar dikuasai.

Pwe-giok sama sekali tidak tahu mengapa pihak lawan menjadi begitu tegang, dengan tertawa ia malah bertanya.

"Barangkali anda hanya bergurau saja denganku, begitu?"

Tanpa terasa orang itu menjawab.

"Ya!"

"Siapakah nama Anda?"

Pwe-giok coba bertanya.

"Kwe Pian-sian,"

Jawab orang itu, butiran keringat tampak berketes-ketes seperti hujan.

Ia merasa sinar mata Pwe-giok makin mencorong, ia sendiri berbalik terpengaruh, setiap pertanyaan Pwe-giok mau-tak-mau harus dijawabnya.

Pwe-giok termenung sejenak, lalu bergumam.

"Kwe Pian-sian, nama ini asing bagiku. Apakah ini nama asli anda?"

Dengan suara gemetar orang itu mengiakan.

Dia memang betul Kwe Pian-sian adanya.

Sekarang dia tidak dapat menghindari lagi tatapan Pwe-giok, apabila Pwe-giok bertanya lebih lanjut, mungkin segala rahasianya akan dibeberkannya.

Pwe-giok jadi heran sendiri, tak tersangka olehnya setiap pertanyaannya akan dijawab secara jujur oleh lawan.

Tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya, ia coba bertanya pula.

"Apakah nona Ciong ini melarikan diri bersama anda?"

Kembali Kwe Pian-sian mengiakan.

"Siapakah yang anda hindari?"

Tanya Pwe-giok. Sedapatnya Kwe Pian-sian menggigit bibir agar tidak bersuara, tapi mau tak mau ia berucap juga.

"Ji Siok-cin!"

"Ji Siok-cin? Ji lihiap ketua Hoa san-pay?"

Pwe-giok menegas. Kwe Pian-sian mengiakan lagi. Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Memangnya kau sudah ditawan Ji-lihiap, tapi nona Ciong jatuh hati padamu dan diam-diam melepaskan kau serta minggat bersamamu?"

"Ya, be....begitulah,"

Jawab Kwe Pian-sian dengan suara terputus-putus.

Sekarang ia benar-benar ketakutan setengah mati, namun apa daya ia tidak dapat menguasai dirinya sendiri lagi.

Melihat keadaan Kwe Pian-sian, Ciong-cing juga melenggong.

Pwe-giok menghela napas, ia memandang Ciong-cing, katanya dengan tersenyum getir.

"Tak tersangka nona sampai hati mengkhianati guru sendiri, tentunya karena cintamu....."

Belum habis ucapannya, mendadak berpuluh-puluh bintik sinar perak menyambar ke arahnya.

Kiranya begitu pandangan Pwe-giok beralih, seketika Kwe Pian-sian mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari pengaruh sinar mata lawan, tanpa ayal kalung mutiara terus ditebarkan.

Sama sekali tak terpikir oleh Ji Pwe-giok bahwa orang yang sudah ketakutan dan menjawab setiap pertanyaannya secara jujur ini mendadak bisa melancarkan serangan gelap.

Karena kepalanya sudah berpaling ke kiri, sekarang tubuhnya lantas ikut berputar ke arah kiri, kedua tangannya juga mengebas, seperti penari ia terus berputar satu lingkaran.

Tahu-tahu berpuluhpuluh bintik sinar perak itu seperti ikan yang terisap ke tengah pusaran air dan ikut berputar mengikuti gerakan Pwe-giok.

Dipandang dari jauh, satu lingkaran sinar perak mengitari seorang penari yang sedang berputar dengan gaya yang indah.

Tanpa terasa Ciong-cing terkesima menyaksikan kejadian itu, terdengar suara gemerincing, seperti dering logam digosok, laksana bunyi kecapi, tahu-tahu berpuluh-pulih bintik sinar perak sudah berserakan di tanah.

Tadi kalau Pwe-giok sengaja menghindar, dalam keadaan kepepet belum tentu dia sanggup menyelamatkan diri oleh hamburan berpuluh-puluh bintik perak yang terpancar dari jarak dekat itu.

Tapi tanpa sengaja ia berputar, gerakan ini justeru sangat efektif dan ternyata mendatangkan hasil yang tak terduga.

"Kungfu hebat!"

Puji Ciong Cing setelah terkesima sejenak.

Dalam pada itu Kwe Pian-sian sudah melancarkan beberapa kali pukulan maut.

Walaupun serangannya ganas, gayanya indah, tapi setiap pukulan belum menggunakan tenaga sepenuhnya, ia masih menyimpan tenaga untuk menjaga segala kemungkinan.

Maklum, setelah menyaksikan kelihayan Pwe-giok, betapapun ia tidak berani mempertaruhkan seluruh modalnya.

Akan tetapi lebih dulu ia perkuat pertahanannya sehingga tak terkalahkan, habis ini barulah dia melancarkan serangan.

Meski dengan santai Pwe-giok dapat mengelakkan serangan lawan, namun di dalam hati dia tidak merasa santai.

Sebab segera diketahuinya serangan lawan ternyata sangat teratur, licin, licik dan cekatan, sungguh kepandaian yang belum pernah dilihatnya selama hidup.

Ia menyadari, tidaklah mudah bagi siapapun yang ingin merobohkan orang she Kwe ini.

Dalam pada itu, Kwe Pian-sian sudah melancarkan lagi empat kali pukulan lain, gerakan serangan ini mendadak berubah, dari ringan berubah menjadi berat, dari lunak berubah menjadi keras.

Namun daya pukulannya tetap terbatas, belum menggunakan sepenuh tenaganya, masih ada tenaga cadangan.

"Apakah anda bertekad akan membinasakan diriku?"

Tanya Pwe-giok dengan menyesal. Selesai ucapannya ini, dengan santai empat kali pukulan musuh sudah dihindarinya.

"Betul,"

Jawab Kwe Pian-sian, kembali empat kali pukulan dilontarkan dengan lebih cepat, selesai ucapannya yang cuma satu kata itu, selesai pula empat kali pukulan.

"Sebab apa?"

Tanya Pwe-giok pula, begitu cepat serangan lawan, secepat itu pula ia menghindar. Kwe Pian-sian menjawab.

"Sebab kalau anda hidup di dunia ini, maka makan dan tidurku pasti tidak akan tenteram."

Sekali ini pukulannya berubah menjadi lambat, bicara sepanjang ini juga cuma melancarkan empat kali pukulan, akan tetapi pukulan yang berat dan mantap.

Jelas inilah Thay kek kun asli, padahal Thay kek kun dan Bu kek bun ada hubungan yang erat.

Cepat Pwe giok melompat mundur dan berseru.

"Jangan-jangan Anda ini kaum Cianpwe dari Thay kek bun?"

Dengan tenaga dalam Kwe Pian sian yang tinggi ini, bilamana betul dia adalah orang Thay kek bun, maka kedudukannya pasti sangat tinggi, maka Pwe giok menghormatinya dengan sebutan "Cianpwe".

Siapa tahu Kwe Pian sian malah tertawa dan menjawab.

"Apa artinya Thay kek bun bagiku?"

Mendadak pukulan telapak tangannya berubah menjadi kepalan terus menghantam, jurus pertama adalah "Lo han hok hou"

Atau Buddha menaklukkan harimau, inilah jurus pembukaan Lo han kun dari Siau lim Pay.

Pwe giok dibuat terkejut pula.

Dalam pada itu pukulan kedua Kwe Pian sian telah berubah menjadi Tay Hong kun, sampai di tengah jalan, mendadak berubah lagi, sekali ini kedua kepalannya menghantam berbareng.

Gaya pukulan ini sangat aneh dan belum pernah dilihat Pwe giok, jelas-jelas yang diincar adalah pipi kanan dan dagu kiri, siapa tahu ketika kepalan sudah dekat, mendadak berubah lurus menghantam dada.

Kwe Pian sian kelihatan sangat bangga, katanya dengan tertawa.

"Dan tahukah kau pukulan ini dari aliran mana...?"

Sebenarnya kata-kata Kwe Pian sian ini belum habis terucap, sebab baru saja dia mengucapkan kata "dari", Pwe giok terpaksa balas menyerang, bahkan dia papak kepalan lawan yang sedang menghantam itu.

Waktu Kwe Pian sian mengucapkan kata "mana"

Segera dirasakannya tenaga pukulan Pwe giok maha dahsyat, cepat ia bermaksud menarik kembali tangannya, sekalipun dia masih menyimpan tenaga cadangan dan keburu menarik pukulannya, namun kepalannya tetap tersampuk oleh pukulan Pwe giok, seketika ia merasakan ditolak oleh suatu arus tenaga yang maha kuat seolah-olah gugur gunung dahsyatnya, tubuhnya terus mencelat hingga jauh.

Tenaga sakti pembawaan Pwe giok memang maha hebat, biarpun dia mengerahkan segenap tenaganya juga belum tentu sanggup bertahan, apalagi dia masih menyisakan sebagian tenaganya.

"Jangan melukai orang?"

Seru Ciong Cing kuatir. Pwe giok tersenyum, katanya.

"Tiada maksudku hendak mencelakai orang, jika kalian mau pergi, akupun takkan merintangi!"

Dia sudah kenyang merasakan betapa sengsaranya dibikin celaka orang, maka kalau tidak terpaksa, betapa pun ia tidak mau membikin susah orang lain.

Kwe Pian sian memang tidak terluka apapun, dia berdiri tegak di sana dan menghela napas.

Ciong Cing memburu ke sana dan memegang tangannya serta memohon.

"Marilah kita pergi, untuk apa kau bergebrak mati-matian dengan dia?"

Sambil menyengir Kwe Pian sian berkata kepada Pwe giok.

"Ilmu silat Anda belum nampak terlalu hebat, tapi tenagamu yang maha sakti ini belum pernah kulihat selama ini, tampaknya aku pun tak dapat menjatuhkan kau."

"Jika demikian, mengapa kau tidak lepas pergi?"

Ujar Pwe giok dengan tersenyum.

"Tampaknya aku memang lebih baik pergi saja,"

Kata Kwe Pian sian dengan gegetun.

Dia merangkap kedua tangannya seperti memberi salam dan hendak pergi benar-benar, siapa tahu, pada saat itu juga tangannya bergerak pula, dari lengan bajunya kembali menyambar keluar berpuluh bintik hitam.

"He, kau....."

Ciong Cing menjerit kaget.

Tapi belum lanjut ucapannya, tahu-tahu tubuhnya sudah diangkat oleh Kwe Pian sian terus dilemparkan ke arah Pwe giok.

Kwe Pian sian sendiri terus menyelinap ke belakang Pwe giok untuk menyerang pula, langkah ini sungguh teramat keji dan jarang ada di dunia ini.

Untuk menghindarkan hujan senjata rahasia itu saja tidak mudah bagi Ji Pwe giok, apalagi seumpama dia sempat mengelakkan senjata rahasia, tahu-tahu tubuh Ciong Cing juga sudah menubruk tiba.

Karena nona itu dilemparkan orang, dengan sendirinya kaki dan tangannya meronta-ronta, apabila Pwe giok tidak menghiraukan tubuh si nona dan hanya melayani Kwe Pian sian, bukan mustahil Pwe giok akan terluka oleh rontakan si nona yang ingin cari hidup itu.

Sebaliknya kalau Pwe giok menangkap tubuh si nona, sementara itu Kwe Pian sian sudah menyelinap ke belakangnya, peluang itu pasti akan digunakan orang keji itu untuk menghabisi dia.

Perubahan kejadian ini berlangsung dalam sekejap saja, belum lagi Pwe-giok tahu jelas duduknya perkara, tahu-tahu Am-gi atau senjata rahasia sudah menyambar tiba, bayangan orang yang meronta-ronta juga melayang tiba sekaligus.

Mestinya Pwe-giok bermaksud menyampuk balik senjata rahasia musuh, tapi ketika tiba-tiba diketahuinya bahwa bayangan orang yang ikut melayang tiba itu ialah Ciong Cing, bila senjata rahasia disampuk balik niscaya akan membinasakan nona itu.

Jadi serba susah bagi Pwe-giok, kalau tidak berkelit, jiwa sendiri bisa celaka.

Kalau bertindak, jiwa Ciong Cing mungkin melayang.

Dan Kwe Pian-sian tampaknya sudah memperhitungkan dia pasti tidak tega membikin celaka Ciong Cing.

Tak terduga, pada detik terakhir tangan Pwe-giok tetap bergerak ke depan secepat kilat, cuma tenaga yang digunakan kedua tangannya sama sekali berlainan, tenaga tangan kiri lunak, tenaga tangan kanan keras, tangan kiri bergerak lebih dulu, dengan tenaga lunak ia mendorong sekaligus tubuh Ciong Cing sehingga meluncur lebih jauh ke sana, sedangkan tenaga tangan kanan yang dahsyat itu digunakan memapak hujan senjata rahasia musuh.

Dan pada saat itu pula kedua telapak tangan Kwe Pian-sian juga telah menghantam punggungnya.

Karena segenap tenaga sudah dikerahkan, Pwe-giok tidak mempunyai sisa tenaga untuk menghindar, apalagi sisa tenaga untuk menangkis.

Dalam keadaan demikian, siapapun juga pasti akan binasa di bawah pukulan Kwe Pian-sian.

Akan tetapi di sinilah terlihat ketangkasan Ji Pwe-giok yang lain daripada yang lain, mendadak tenaga tangan kanannya yang dahsyat tadi berubah menjadi lunak, telapak tangannya berputar terus ditarik ke belakang, segerombolan senjata rahasia yang tergulung oleh tenaga pukulannya itu ikut berkisar di udara terus menyamber lewat di samping Pwegiok dan langsung menyerang Kwe Pian-sian yang berada di belakangnya.

Mimpipun Kwe Pian-sian tidak menyangka Am-gi yang dihamburkannya sendiri kini berbalik akan makan tuannya malah.

Jika pukulannya diteruskan dan dapat melukai Ji Pwe-giok, tapi tubuh sendiri pasti juga berubah seperti sarang tawon.

Ia menjerit kaget sambil menarik tangan dan mendoyong ke belakang, sekalian ia terus berjumpalitan ke belakang, sekalipun dia selalu menyiapkan jalan mundur, tidak urung sekali ini bajunya terserempet robek oleh senjata rahasia sendiri.

Dalam pada itu tubuh Ciong Cing juga telah menumbuk dinding, tapi tenaga dorongan Pwegiok juga pas sampai di situ saja, maka tumbukan pada dinding itu hampir tidak ada artinya, tubuhnya memberosot ke bawah dengan air muka pucat, tapi tidak terluka sedikit pun.

Dengan sendirinya Pwe-giok juga tidak cedera, namun gusarnya bukan alang kepalang terhadap manusia keji ini.

Orang ini ternyata tidak segan-segan mengorbankan gadis yang telah menolongnya, bahkan mencintainya dengan sepenuh hati, hati orang ini tidakkah berpuluh kali lebih keji dan lebih ganas daripada binatang buas?

Sambil meraung gusar, Pwe-giok terus menubruk ke arah Kwe Pian-sian.

Saking gemasnya, sekali ini dia tidak sungkan-sungkan lagi, dari bertahan ia mulai menyerang.

Tenaga pukulannya bergulung-gulung, tampaknya lunak, namun mendampar dengan dahsyatnya sehingga patung Toa-pekong ikut bergoncang.

Sekali ini Kwe Pian-sian terpaksa harus menandingi pula dengan sepenuh tenaga.

Meski tenaga dalam Kwe Pian-sian sangat kuat, tapi kelihatan sukar bertahan lama.

Maklumlah, ia tidak biasa bertempur mati-matian dengan lawan, biasanya musuh sukar menemukan dia, umpama bertemu, dengan tipu akalnya yang licik sudah cukup baginya untuk menghadapinya, hakekatnya dia jarang mengeluarkan tenaga.

Apalagi akhir-akhir ini dia dilukai pula oleh Kim-yan-cu.

Tikaman itu hampir mengirimnya ke akhirat.

Coba kalau dia tidak selalu membawa obat luka mujarab, tidak nanti dia dapat sembuh dengan cepat, apalagi hendak bertempur dengan Ji Pwe-giok sekarang.

Dengan kekuatannya ini jelas dia bukan tandingan Ji Pwe-giok, tapi jurus serangannya justeru sedemikian aneh, sedemikian cepat, gerakannya berubah-ubah tidak menentu, pukulan pertama digunakannya dengan keras, pukulan berikutnya mendadak berubah lunak.

Macammacam gaya dan ragam jurus serangannya, hampir setiap aliran dan perguruan di daerah Tionggoan dan di luar perbatasan dikuasainya dengan baik.

Diam-diam Pwe-giok terkesiap, beberapa kali ini hampir termakan oleh serangan lawan yang aneh, mau-tak-mau ia harus bertempur dengan penuh kewaspadaan.

Setelah beberapa puluh jurus, tanpa terasa Pwe-giok sendiri sudah mandi keringat.

Tiba-tiba terdengar Kwe Pian-sian berseru.

"Apakah anda bertekad akan membunuhku?"

Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan Pwe-giok, tapi sekarang malah dipertanyakan olehnya Pwe-giok jadi melengak, jawabnya dengan suara berat.

"Betul!"

"Sebab apa?"

Tanya Kwe Pian-sian pula.

"Sebab kalau anda hidup di dunia ini, makan dan tidurku juga takkan tenteram,"

Kata Pwegiok.

Dilihatnya waktu bicara napas Kwe Pian-sian sudah rada terengah-engah, jelas keadaannya sudah payah, seperti busur yang sudah terpentang penuh dan sukar ditarik lagi Pwe-giok tidak ayal, serangannya tambah gencar, ia benar-benar hendak membinasakan orang ini untuk menyelamatkan masyarakat.

Butiran keringat tampak memenuhi dahi Kwe Pian-sian, gerak serangannya sudah lemah, semangat ada tenaga kurang, kini serangannya lebih banyak pura-pura belaka, lambat-laun ia sudah terdesak ke pojok ruangan.

Ciong Cing memandanginya dengan termenung, air mata tampak meleleh di pipinya.

"Baik, lebih baik mati saja,"

Ucap Kwe Pian-sian dengan menyesal.

"Memangnya apa artinya hidup bagiku jika orang yang paling dekat denganku juga tidak sudi lagi membantuku."

Wajah Ciong Cing tidak nampak sesuatu perasaan, katanya dengan suara parau.

"Jika kau mati akan kutemani kau!"

"Untuk apa kau temani diriku, temani dia saja!"

Ucap orang she Kwe itu.

Pwe-giok menjadi gusar, sepenuh tenaga ia menghantam.

Mendadak dilihatnya kedua tangan Kwe Pian-sian menekuk ke kanan dan menikung ke kiri, seperti lemas tanpa tenaga sedikitpun, akan tetapi gaya pukulannya serupa seratus bunga yang baru mekar serentak.

Pukulan Pwe-giok itu ternyata terbendung, betapapun sukar menembus pertahanan lawan.

Nyata itulah kungfu istimewa Pek-hoa-bun!

Hendaklah maklum bahwa Kwe Pian-sian sangat merahasiakan asal-usulnya, ia paling tidak suka ada orang mengetahui hubungannya dengan Hay-hong Hujin.

Sebab itulah bila tidak kepepet, tidak nanti dia mengeluarkan ilmu silat Pek-hoa bun atau perguruan seratus bunga, lebih-lebih tidak mau memainkan ilmu pukulan Kay-pang.

Hampir seluruh ilmu silat di dunia ini yang dikuasainya dimainkannya, hanya kedua macam kungfu yang paling menjadi kemahirannya disisakan dan baru dikeluarkan pada waktu kepepet.

Pwe-giok terkesiap melihat Kwe Pian-sian tidak berganti ilmu silat aliran lain lagi.

Ia menjadi heran, pikirnya.

"Jangan-jangan ilmu silat Pek hoa-bun adalah kungfu perguruannya yang sebenarnya?"

Setelah bergebrak lagi beberapa kali, akhirnya Pwe-giok melompat mundur dan berseru.

"Apakah kau murid Pek-hoa-bun?"

Gemerdep sinar mata Kwe Pian-sian, jawabnya perlahan.

"Tiada lelaki dalam perguruan Pekhoa-bun, masa kata-kata ini tidak pernah kau dengar?"

"Jika demikian, mengapa kau sedemikian apal ilmu silat Pek-hoa-bun?"

"Memangnya kungfu aliran lain aku tidak paham?"

Jawab Kwe Pian-sian dengan angkuh. Pwe-giok menatapnya pula sejenak, katanya kemudian.

"Jadi matipun tidak mau kau katakan hubunganmu dengan Pek-hoa-bun?"

Kwe Pian-sian menengadah dan bergelak tertawa, ucapnya.

"Biarpun lukaku belum sembuh dan tenaga kurang, kukira kaupun belum tentu dapat membunuh diriku. Memangnya kau kira orang she Kwe ini akan minta ampun padamu?!"

Pwe-giok jadi melengak, tadinya ia mengira orang ini bukan saja keji, bahkan juga takut mati. Tak tersangka orang justeru berwatak angkuh begini. Setelah terdiam sejenak, lalu katanya dengan gegetun.

"Jika begini tinggi hati watakmu, mengapa caramu bekerja serendah dan sekotor ini?"

"Hm, selama hidupku, setiap tindak-tandukku hanya ku pertanggung-jawabkan kepada diriku sendiri, untuk apa harus kupikirkan bagi orang lain? Jika kau bermaksud memeras diriku dengan kematianku, jalan pikiranmu ini kan teramat mentertawakan?"

Kembali Pwe-giok melengak, kekejian orang ini di luar dugaannya, keangkuhan orang bahkan lebih-lebih di luar dugaan.

Nyata, sejak mula ia sudah salah menilai orang ini.

Tiba-tiba Kwe Pian-sian bertanya.

"Kau terus menerus bertanya mengenai hubunganku dengan Pek-hoa-bun, sesungguhnya ada urusan apa?"

"Soalnya aku tidak bergebrak dengan anak murid Pek-hoa-bun,"

Jawab Pwe-giok. Berubah air muka Kwe Pian-sian, katanya dengan bengis.

"Apa sebabnya? Memangnya apa hubunganmu dengan Kun Hay-hong?"

Selagi Pwe-giok merasa heran oleh perubahan sikap Kwe Pian-sian itu, mendadak Ciong Cing melompat maju dan berseru dengan suara terputus-putus.

"Kau...kau sudah berjanji padaku bahwa selanjutnya kau tidak akan menyebut namanya lagi, mengapa... sekarang kau tanyakan hubungan orang dengan dia? Apakah... kau tetap tak dapat melupakan dia?"

Kwe Pian-sian melototi nona itu, sorot matanya mencorong gusar. Seketika Ciong Cing menggigil, ucapnya dengan suara parau.

"Mengapa kau ikut campur urusan orang lain dengan dia? Apakah...apakah kau masih cemburu?"

Dengan gusar Kwe Pian-sian mendelik, lama dan lama barulah sorot matanya berubah tenang kembali, katanya dengan menyesal.

"Yang cemburu sekarang bukanlah diriku melainkan kau."

Dengan suara serak Ciong Cing berseru.

"Caramu perlakukan diriku tadi membuktikan sikapmu padaku hanya tipuan belaka. Apabila dia, tentu takkan kau perlakukan dia seperti caramu tadi. Sekarang kau sangat benci padaku dan lebih suka bila aku mati, begitu bukan?"

Kwe Pian-sian termenung sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan.

"Jika aku mati, kau akan mengiringi aku. Bila kau mati, memangnya harus kuiringi kau?"

Ciong Cing mendekap tubuh sendiri erat-erat, sesaat ini, ia merasa hanyutlah harapannya, runtuhlah segalanya, air matanya berderai bagai hujan, akhirnya ia menjatuhkan diri ke atas tanah dan menangis tergerung-gerung.

Pwe-giok jadi melenggong.

Dengan perlahan Kwe Pian-sian berkata pula.

"Sekarang tanpa kujelaskan tentu kau tahu apa hubunganku dengan Pek-hoa-bun bukan?"

"Betul,"

Jawab Pwe-giok sambil menarik napas dalam-dalam. Perlahan Kwe Pian-sian membelai rambut Ciong Cing, lalu berkata.

"Sungguh tak kusangka anak perempuan selembut ini bisa mempunyai rasa cemburu sebesar ini."

Melihat tangan Kwe Pian-sian terletak di atas kepala Ciong Cing, Pwe-giok menjadi kuatir dan berseru.

"Kau...kau hendak membunuhnya?"

"Untuk apa kubunuh dia?"

Ujar Kwe Pian-sian.

"Meski dia telah membocorkan rahasia pribadiku, semua ini adalah karena cemburunya yang besar. Kalau dia tidak menyukai diriku dengan sungguh hati masa dia dapat cemburu atas diriku?"

Mendadak ia bergelak tertawa dan menyambung pula.

"Hahahaha! Aku dapat membunuh orang dengan seribu alasan, tapi tidak nanti membunuh dia lantaran cemburu atas diriku!"

"Orang...orang macam kau ini juga memperhatikan urusan begini?"

Ucap Pwe-giok dengan sangsi. Perlahan Kwe Pian-sian menghentikan tertawanya, di antara mata-alisnya terlihat menampilkan semacam rasa kesepian, katanya kemudian.

"Kau tahu, meski selama hidupku mempunyai kekasih yang tak terhitung banyaknya, tapi tiada satu pun yang cemburu atas diriku seperti dia ini."

Pwe-giok termangu-mangu, akhirnya ia berkata.

"Semua ini adalah rahasia lubuk hatimu, mengapa kau katakan padaku?"

Kwe Pian-sian tersenyum hambar, ucapnya.

"Jika seorang tak dapat kubunuh, maka aku harus menganggap dia sebagai sahabatku. Dengan demikian hatiku akan terasa tenteram, cuma saja..."

Dengan sungguh-sungguh ia menyambung."... dapat kuberi jaminan padamu, sampai saat ini, sahabatku belum ada tiga orang."

Dengan tajam Pwe-giok menatapnya, ia merasa watak orang ini benar-benar sangat ruwet dan sukar dipercaya, dia seolah gabungan dari tiga empat orang yang berwatak paling ekstrim.

Dia mungkin seorang yang takut mati, kalau kau hendak membunuh dia, bisa jadi dia akan lari atau menipu kau, bahkan menggunakan berbagai tipu muslihat yang sukar kau duga, tapi pasti tidak akan mohon belas kasihan dan minta ampun padamu, Jika kau bertekad akan membunuhnya, untuk itu kau harus mengadu jiwa dengan dia.

Kwe Pian-sian juga sedang memandang Pwe-giok dengan lekat-lekat dan berucap dengan tersenyum.

"Dan sekarang, kau inilah sahabatku yang ketiga."

"Tapi darimana kau tahu aku akan mau menjadi sahabatmu?"

Jawab Pwe-giok, ia pun tertawa. Dengan angkuh Kwe Pian-sian berkata.

"Diriku ini boleh dikatakan salah seorang tokoh yang paling berkuasa dan berpengaruh di bu-lim, bahkan juga tokoh yang paling kaya raya di dunia ini. Barang siapa dapat bersahabat denganku, maka berbahagialah dia selama hidup."

"Bagimu, alasan yang kau katakan memang cukup kuat,"

Ujar Pwe-giok dengan tersenyum tak acuh.

"Tapi bagiku, jika kuterima kehendakmu, bukankah aku seakan-akan menjadi Siaujin (orang kecil, pengecut) yang suka mengumpak ke atas dan menjilat penguasa?"

Sambil bicara, ia terus membalik tubuh dan melangkah pergi.

"Jangan pergi dulu, sahabat!"

Bentak Kwe Pian-sian. Meski tidak berpaling, tapi langkah Pwe-giok lantas berhenti, ucapnya perlahan.

"Setelah anda gagal mendapatkan sahabat seperti diriku ini, apakah kau ingin coba-coba lagi membunuhku?"

"Dapatkah aku membunuh seseorang, cukup ku tahu sendiri dan tak perlu pakai coba-coba,"

Kata Kwe Pian-sian.

"Hanya saja... Anda sendiri kan belum coba-coba, mengapa kau menolak tawaranku?"

Pwe-giok menghela napas panjang, katanya.

"Perlu diketahui, hanya karena hubungan erat Anda dengan Pek-hoa-bun, maka sekarang ku pergi dengan hormat, soal bersahabat... orang macam Anda ini, betapapun aku tidak berani menaksir."

"Soalnya karena kau anggap aku ini orang yang berhati keji dan bertangan ganas, begitu?"

"Memangnya Anda tidak mengaku?"

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya pula.

"Racun meski dapat membunuh orang, kalau digunakan dengan tepat, terkadang juga dapat menolong, betul tidak? Ada semboyan yang menyatakan "menyerang racun dengan racun", tanpa kujelaskan tentu kau pun tahu akan khasiatnya."

Pwe-giok terdiam sejenak, gumamnya kemudian.

"Menyerang racun dengan racun..."

Mencorong sinar mata Kwe Pian-sian, ucapnya pula dengan suara mantap.

"Orang seperti anda ini, apabila dapat bekerja sama denganku, kuberani menjamin, tidak sampai tiga tahun kita pasti dapat menjagoi bu-lim dan merajai dunia."

Pwe-giok tetap belum lagi berpaling, ucapnya dengan tak acuh.

"Tidaklah anda terlalu membesar-besarkan ambisimu?!"

"Memangnya terhitung ambisi macam apa ini?"

Seru Kwe Pian-sian.

"Seorang lelaki sejati, hidup di jaman begini, kan seharusnya berbuat sesuatu yang mengguncangkan bumi dan mengejutkan langit. Kalau Ji Hong-ho itu boleh menjadi bengcu dunia persilatan, kenapa kita tidak boleh? Orang she Ji itu, hm, tampangnya saja kelihatan halus dan baik budi, padahal kusangsikan kejujurannya, tindak-tanduknya kelihatan main sembunyi-sembunyi, jelas dia seorang munafik, asalkan kita dapat membongkar kedoknya..."

Belum habis ucapannya, serentak Ji Pwe-giok membalik tubuh, mukanya yang semula agak pucat tampak bersemu merah penuh semangat, ia memburu ke depan Kwe Pian-sian dan berseru.

"Baik, cukup satu kata saja persetujuan kita. Selanjutnya kita bersatu-padu untuk menghadapi manusia yang berhati binatang itu! Supaya mereka pun kenal bagaimana pribadi Ji Pwe-giok ini!"

Seorang yang biasanya tenang dan lembut, kini mendadak bersemangat dan sangat emosi, hal ini rada-rada di luar dugaan Kwe Pian-sian, tapi setelah sinar matanya gemerdep, segera ia menjulurkan tangannya dan berkata dengan tertawa.

"Baik, satu kata ini sebagai persetujuan dan tidak boleh menyesal!"

Pwe-giok menengadah dan tergelak, katanya.

"Apakah kau lihat aku ini mirip orang yang suka ingkar janji?"

Mendadak di atas ruangan terdengar seorang tertawa dan berseru.

"Haha, hanya kalian berdua saja ingin malang melintang di dunia ini? Kukira masih selisih sekian jauhnya!"

Orang ini ternyata Gin-hoa-nio adanya.

Tadi Pwe-giok tidak menutuknya dengan tenaga berat, maka sekarang Hiat-to yang tertutuk itu sudah terbuka dengan sendirinya, maka segera ia tahu siapa orang yang bicara ini.

Sudah tentu yang terkejut ialah Kwe Pian-sian, namun orang ini pun cukup tabah dan tenang, bahkan mengangkat kepala saja tidak, ia malah menanggapi dengan tertawa seram.

"Hm, selisih apa menurut pendapatmu?!"

"Selisih diriku!"

Kata Gin-hoa-nio dengan tertawa genit.

Dia sudah melemaskan otot tulangnya di atas belandar, lalu membersihkan debu kotoran yang menempel bajunya, dikeluarkannya sapu tangan untuk mengusap muka, kemudian baru melompat turun dengan enteng.

Pribadi Gin-hoa-nio dapat digambarkan sebagai berikut.

Kalah kau suruh dia membuka baju dan menari telanjang di depan lima ratus pasang mata lelaki, maka dia pasti akan melakukannya dengan muka berseri-seri tanpa malu sedikit pun.

Tapi jika menghendaki dia muncul di depan umum dalam keadaan urat nadinya belum lancar, mukanya belum bersih dan bajunya kotor, maka mati pun dia tidak mau, sebab hal ini baginya adalah jauh lebih memalukan daripada perbuatan apa pun.

Kwe Pian-sian hanya memandangnya sekejap, seketika mencorong sinar matanya.

"Hihihi, bagaimana, lumayan bukan aku ini?"

Ucap Gin-hoa-nio dengan kerlingan yang bisa bikin lelaki jatuh kelengar.

"Ya, lumayan bahkan lebih dari lumayan,"

Jawab Kwe Pian-sian dengan rada gelagapan. Gin hoa nio menghela napas, ucapnya pula dengan menunduk."

Sayang diatas sana tidak ada cermin, kalau ada, tentu aku akan jauh lebih enak dipandang."

"Begini saja sudah cukup,"

Ujar Kwe Pian-sian dengan tertawa. Mendadak Ciong Cing memburu maju dan membentak dengan mata melotot.

"Kau ini siapa? Mengapa kau mencuri dengar rahasia orang di sini? Apakah kau tidak ingin hidup lagi?"

"Eh, adik cilik,"

Jawab Gin-hoa-nio dengan tertawa nyaring,"

Jangan kau menakuti diriku, nyaliku biasanya sangat kecil."

"Jika begitu, lekas enyah kau!"

Bentaknya dengan gusar. Gin-hoa-nio tertawa ngikik, ucapnya."

Adik cilik yang baik, tidak perlu kau usir diriku, ku tahu kau ini gentong cuka (maksudnya pencemburu), tapi jangan kau salah sangka, perempuan macamku ini, kalau ingin lelaki, cukup jariku bergerak saja dan lelakipun akan datang sendiri, masa perlu kurebut lakimu?"

Sampai pucat muka Ciong Cing saking dongkolnya, tapi tak tahu cara bagaimana melayani orang. Pwe-giok lantas menyela.

"Jika kau ingin merecoki anak perempuan, hendaklah kau cari sasaran yang lain."

Terkial-kial Gin-hoa-nio tertawa, katanya."

Ku tahu Ji-kongcu pasti akan membela keadilan lagi, tapi ......ai, mohon janganlah engkau marah, aku tidak takut terhadap siapa-siapa, hanya takut padamu!"

Dia memandang Kwe Pian-sian sekejap, lalu berkata pula dengan tertawa kenes.

"Aku dan dia boleh dikatakan senasib, sama-sama pernah keok di bawah tangan Ji-kongcu. Sekarang kalau Ji-kongcu menyuruh kami berduduk, tidak nanti kami berani berdiri."

Berulang-ulang dia menyebut "senasib"

Dan "kami"

Seolah-olah dia dan Kwe Pian-sian sudah menjadi sepasang merpati yang sehidup dan semati tak terpisahkan.

Pwe-giok tahu Gin-hoa-nio mulai lagi main gila, hanya dengan beberapa patah-kata saja Kwe Pian-san sudah digaet ke pihaknya.

"Sesungguhnya apa kehendakmu, boleh cepat kau katakan saja!"

Ucapnya dengan menghela napas. Gin-hoa-nio mengerling genit, jawabnya.

"Bukankah tadi sudah kukatakan?"

"Tapi aku tidak paham apa maksudmu?"

Kata Pwe-giok.

"Kan sudah kukatakan, bila kalian ingin merajai dunia, kukira masih selisih sekian jauhnya, tapi kalau diriku ditambahkan...."

Dia tertawa manis, lalu menyambung.

"Dengan tenaga gabungan kita bertiga barulah benar-benar tiada tandingannya lagi di dunia ini."

"Hahahaha!"

Kwe Pian-sian terbahak-bahak."

Kiranya kaupun ingin bersekutu dengan kami."

"Betul, ingin ku jadi sahabatmu yang ke empat,"

Jawab Gin-hoa-nio dengan main mata. Kwe Pian-sian memandangnya dari atas ke bawah dan kembali dari bawah ke atas, ucapnya kemudian dengan tersenyum."

Perempuan cantik semacam kau, untuk menjadi selir raja saja melampaui syarat, tapi belum cukup kalau ingin menjadi sahabatku."

Sambil menggerakkan pinggulnya Gin-hoa-nio bertanya dengan tersenyum genit."

Masa aku kalah dibandingkan para kekasihmu itu?"

"Kekasih dan sahabat tidaklah sama,"

Ujar Kwe Pian-sian.

"Kekasihku memang jumlahnya sukar dihitung, tapi sahabatku hanya tiga. Malahan yang dua sudah lama mati."

Gin hoa-nio menggigit bibir, katanya kemudian."

Jika demikian, cara bagaimanakah baru dapat ku jadi sahabatmu?"

"Coba katakan dulu syarat apa saja yang kau miliki,"

Kata Kwe Pian-sian. Dengan kerlingan mautnya, Gin-hoa-nio menjawab dengan tertawa."

Sekalipun aku bukan perempuan tercantik di dunia ini, tapi ku tahu cara bagaimana membikin senang lelaki. Jika kau tidak percaya, selanjutnya lambat laun kau pasti akan tahu."

"Ya, kupercaya selekasnya aku pasti akan tahu,"

Kata Kwe Pian-sian dengan memicingkan mata.

"Tapi ini saja belum cukup."

"Akupun terhitung wanita yang paling berpengaruh di dunia ini, cukup dengan sepatah kataku saja segera dapat kukerahkan beberapa ribu orang di lima propinsi sekitar sini."

Apa yang ditambahkan Gin-hoa-nio ini memang bukan bualan, sebab kekuasaan Thian-cankau di wilayah propinsi-propinsi yang dimaksud memang sudah tersebar sampai setiap pelosok.

Tapi Kwe Pian-sian tetap menanggapi dengan tertawa hambar."

Kebaikan satu-satunya bila jumlah orang banyak hanya lebih banyak nasi yang harus disediakan."

Gin hoa nio mengerling, katanya pula.

"Dan aku pun wanita yang paling kaya di dunia ini, kekayaan ku mungkin setan pun dapat ku beli. Jika kau tidak percaya, sebentar lagi dapat kubuktikan."

Terbeliaklah mata Kwe Pian sian, ucapnya dengan tertawa.

"Wah, kalau begitu, rasanya sudah mendekati."

"Tapi ini pun belum cukup,"

Tiba-tiba Pwe giok menimbrung. Gin hoa nio memelototi anak muda itu sekejap, lalu berkata pula dengan perlahan.

"Kekejian hatiku, keganasan caraku, kuyakin tidak di bawah siapa pun juga. Jika kau ingin "menyerang racun dengan racun", maka tiada yang lebih cocok lagi daripada mencari diriku, apalagi ...."

Dengan tersenyum ia meneruskan.

"Aku pun seorang perempuan, ada sementara urusan akan jauh lebih leluasa dilakukan oleh perempuan seperti diriku ini daripada lelaki."

Pwe giok berpikir sejenak, kemudian berkata dengan tertawa.

"Baik, kukira sudah cukup sekarang."

"Dan kau?"

Tanya Gin hoa nio sambil menatap Kwe Pian sian.

"Kau adalah sahabatku yang ke empat,"

Jawab orang she Kwe itu dengan tertawa. Gin hoa-nio berkeplok tertawa, katanya.

"Bagus, sekarang kalau ada orang yang berani merecoki kita, maka celakalah dia!" ***** Pada setengah hari sebelumnya, mimpi pun Pwe giok tidak menyangka dirinya dapat bersekutu dengan seorang lelaki seerti Kwe Pian sian dan seorang perempuan seperti Gin hoa nio. Tapi sekarang jalan pikirannya sudah berubah sama sekali. Pertemuan Hong ti tempo hari boleh dikatakan sudah menjaring seluruh pahlawan dan ksatria golongan Pek to (golongan baik), setiap orang yang mengaku sebagai pendekar pembela kebenaran dan keadilan, kini sudah tunduk dan menurut kepada "Ji Hong ho", seorang diri cara bagaimana Ji Pwe giok mampu melawannya? Dan siapa pula yang mau percaya kepada apa yang dikatakan anak muda ini? Karena itulah, terpaksa Pwe giok mencari jalan yang lain, satu-satunya jalan yang dapat ditempuhnya, yaitu.

"Menyerang raun dengan racun". Kini ia sudah tahu jelas wajah asli orang-orang yang menamakan dirinya sebagai pendekar dan ksatria itu. Misalnya Tong Bu siang, itu ketua keluarga Tong yang termasyhur, berapa lebih banyak kebaikannya dibandingkan Gin hoa nio? Maka kawan yang dicarinya sekarang adalah orang-orang yang biasanya dipandang jahat seperti ular atau kelabang, hanya dengan cara demikian ia dapat menyingkap wajah asli orang-orang yang mengaku sebagai ksatria dan pendekar itu. Falsafah yang dianut Pwe giok sekarang adalah berdasarkan hati nuraninya sendiri, asalkan dirinya merasa benar, maka cukuplah, perduli pendapat orang lain? ***** Di sini adalah sebuah tanah pekuburan yang sepi dan dingin. Sudah jauh malam, bulan guram bintang suram. Alang-alang tinggi mengelilingi gundukan kuburan yang tak terawat, barangkali tiada tempat lain di dunia yang lebih hening dan rawan dari pada tempat ini. Yang tertanam di sini rata-rata adalah kaum miskin yang hidup sengsara dan direndahkan, waktu hidup mereka nelangsa, sesudah mati mereka pun kesepian dan kapiran. Ciong Cing memegangi tangan Kwe Pian sian erat-erat, tapi matanya memelototi Gin hoa nio, katanya dengan mendongkol.

"Untuk apa kau bawa kami ke sini? Apa maksudmu? Gin hoa nio tertawa, jawabnya.

"Apakah kau takut, adik yang baik? Sesungguhnya tempat ini tidak menakutkan, bahkan boleh dikatakan sangat menarik."

Terbelalak lebar mata Ciong Cing, teriaknya.

"Menarik? Kau bilang tempat begini ini menarik?"

"Pada malam bulan purnama, arwah setan kuburan ini akan bangun dari kuburan masingmasing dan menari di bawah sinar bulan yang terang. Coba lihat, bisa jadi sekarang juga mereka sudah muncul,"

Dengan tertawa Gin hoa nio berkata.

Kebetulan angin meniup dan api setan (posfor) beterbangan, pepohonan sama bergemerisik sehingga mirip bisikan setan.

Ciong Cing merinding dan menggigil, tapi ia berlagak tabah dan mendengus.

"Huh, jika benar mereka muncul dan menari di sini, aku akan ikut menari bersama mereka."

Gin hoa nio tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Bagus, melihat anak perempuan cantik seperti kau, tentu saja mereka akan berebut menari dengan kau, bahkan pasti tidak mau melepaskan kau lagi."

Bergidik Ciong Cing, tanpa terasa ia menubruk ke rangkulan Kwe Pian-sian. Maka tertawalah Gin-hoa-nio hingga terpingkal-pingkal. Dengan tersenyum Kwe Pian-sian lantas berkata.

"Boleh juga kau, hanya kau yang dapat menyembunyikan harta pusaka di tempat begini."

Gin-hoa-nio mengerling genit, ucapnya.

"Apa yang kulakukan ternyata tak dapat mengelabui kau. Isi hatiku juga cuma kau saja yang tahu, apakah kita berdua memang berasal dari sejenis?"

Pwe-giok menghela napas, katanya dengan gegetun.

"Moga-moga orang sejenis kalian ini tidak terlalu banyak di dunia ini."

"Orang sejenis kami ini pasti tidak banyak, cukup kami berdua saja,"

Jawab Gin-hoa-nio dengan tertawa, lalu ia melirik Kwe Pian-sian dan menambahkan.

"Betul tidak?"

Baru saja Kwe Pian-sian tertawa dan belum bicara, serentak Ciong Cing melonjak dan menjengek.

"Hm, seumpama kau ingin memikat lelaki, kan tidak perlu di tempat begini?"

"Wah, lihatlah, gentong cuka kita pecah lagi,"

Seru Gin-hoa-nio dengan tertawa. Pwe-giok berkerut kening, katanya.

"Apakah benar kau sembunyikan harta bendamu itu di dalam kuburan?"

"Betul,"

Jawab Gin-hoa-nio.

"Kutemukan dua orang gelandangan, kuberi minum arak mereka, ketika mereka sudah lebih dari setengah mabuk, kubawa mereka ke sini untuk menggali sebuah kuburan baru, orang mati di dalam peti kubongkar, lalu kuganti dengan harta pusakaku dan peti mati kututup kembali."

Dia tertawa terkikik-kikik, lalu menyambung pula.

"Coba, bagus tidak akalku ini? Di sini adalah kuburan setan rudin, maling penggali kuburan juga takkan menaksirnya. Bila kutanam harta karunku di sini, kecuali setan, siapa yang tahu?"

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya.

"Dan kedua orang yang kau suruh menggali itu?"

"Kutahu caraku menyelesaikan mereka tentu tak dapat mengelabui kau,"

Ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

"Setelah mereka membantuku, dengan sendirinya harus kubalas jerih payah mereka, maka kusediakan satu poci arak yang paling enak, kuiringi mereka menghabiskan arak sepoci penuh itu..."

Dia menghela napas, lalu menyambung lagi dengan tersenyum.

"Cuma sayang, dasar orang melarat, diberi arak enak juga tak sanggup menikmatinya, belum habis arak diminum mereka sudah mabuk dan tak pernah bangun lagi."

Perbuatan rendah dan keji ini, andaikan orang lain berani melakukannya, tentu juga tidak berani membicarakannya kepada orang lain.

Tapi cara Gin-hoa-nio bicara bukan saja bangga seolah-olah harus diberi piala, bahkan ia berkisah seperti perbuatannya ini harus dicatat dalam sejarah.

Kwe Pian-sian memandang Pwe-giok sekejap lalu berkata.

"Jika kedua orang itu mau menggali kuburan bagimu, dengan sendirinya mereka pun bukan manusia baik-baik. Orang semacam mereka itu biarpun sehari mati sepuluh atau seratus juga tidak perlu disayangkan. Betul tidak, Ji-heng?"

Sebenarnya Pwe-giok hendak bicara sesuatu, tapi sekarang dia hanya menghela napas saja.

Begitulah mereka berempat terus berputar kian kemari mengelilingi tanah pekuburan itu, sampai sekian lamanya, mendadak Gin-hoa-nio berhenti dan berkata.

"Ini dia, di sini. Dihitung dari sebelah timur, inilah kuburan ke-27. Pohon kecil di atas kuburan ini malah aku sendirilah yang menandurnya.

"Tidak perlu kau jelaskan lagi, kupercaya tidak nanti kau lupakan pekerjaanmu ini,"

Kata Pwe-giok.

"Kuburan ini sudah tidak ada orang matinya melainkan cuma terdiri dari gundukan tanah belaka,"

Kata Gin-hoa-nio pula.

"Ku tahu Ji-kongcu kita pasti tidak sudi menggali kuburan, kalau mencangkul tanah tentunya tidak menjadi soal bukan?"

Padahal sebenarnya dia tidak perlu lagi memancing-mancing Ji Pwe-giok, keadaan anak muda ini sekarang sudah jauh lebih terbuka daripada dahulu, segala apa dirasakannya sebagai kejadian biasa saja, mana dia mempersoalkan gali kuburan segala.

Setelah gundukan tanah dibongkar, tertampaknya sebuah peti mati dari kualitas rendah.

"Ini dia, memang peti mati inilah,"

Kata Gin-hoa-nio.

"Di atas peti malah sudah kuberi tanda. Isi peti mati ini sebenarnya seorang perempuan muda, konon mati kaku saking gemasnya karena suaminya punya istri muda."

Mendadak ia berpaling dan tertawa terhadap Ciong Cing, katanya.

"Coba bandingkan, bukankah rasa cemburunya jauh lebih gede daripadamu?"

Muka Ciong Cing tampak pucat pasi, ia menggigit bibir dan tidak menjawab. Gin-hoa-nio terkikik-kikik, katanya pula.

"Konon seorang kalau sudah mati, biarpun mayatnya sudah digotong pergi, tapi kalau malam tiba, arwah setannya tetap akan pulang dan tidur di peti matinya. Karena kalian adalah perempuan sejenis, bila kubuka peti mati ini, dia pasti takkan mencari orang lain, orang pertama yang akan dicarinya pastilah kau. Maka lebih baik lekas kau menyingkir sejauh-jauhnya."

Meski sedapatnya Ciong Cing bikin tabah hatinya, tapi tanpa terasa langkahnya malah menyurut mundur.

Ketika angin malam meniup, ia merasa punggungnya dingin, rupanya keringat dingin telah membasahi bajunya.

"Kriuut", tutup peti mati telah dibuka. Gin-hoa-nio sendiri yang bermaksud menakuti orang mendadak menjerit kaget malah. Suaranya yang parau kedengarannya seperti lengking setan di malam sunyi. Kwe Pian-sian dan Ji Pwe-giok juga saling pandang belaka, mereka seolah-olah juga melenggong kaget. Di dalam peti mati ternyata tiada harta karun segala, yang ada hanya sesosok mayat yang mengerikan. Wajahnya yang abu-abu dan setengah menyeringai itu seakan-akan hendak berkata kepada Gin-hoa-nio.

"Bukan saja arwah setanku sudah pulang ke sini, bahkan mayatku juga pulang lagi!"

Angin meniup pula dan alang-alang gemerisik, api setan bertaburan di udara. Saking kejutnya Gin-hoa-nio berteriak.

"Jelas-jelas mayatnya telah ku bongkar keluar dan jelas-jelas ku taruh harta pusakaku di dalam peti, mengapa...mengapa sekarang..."

Ia merasa kedua kakinya lemas, belum habis ucapannya ia lantas jatuh terduduk.

Di bawah cahaya bintang yang remang-remang, tangan orang mati itu tampaknya memegang secarik kertas.

Kwe Pian-sian mendapatkan satu ranting kayu dan mencungkit kertas itu, ternyata di situ tertulis.

"Waktu hidupku keluargaku berantakan akibat seorang perempuan hina, sesudah mati sekarang kau pun akan merampas lagi rumahku ini?"

Kedua baris huruf itu tertulis dengan tak teratur, kertas itupun terasa seram, Kwe Pian-sian merasa jari sendiripun rada gemetar dan kertas itu pun terjatuh.

Betapapun tabahnya, tidak urung merinding juga dia.

Hanya Ji Pwe-giok saja, peristiwa aneh dan sukar dibayangkan ini sudah banyak dialaminya, maka ia tidak kaget juga tidak takut, dengan hambar ia tanya Gin-hoa-nio.

"Waktu kau tanam harta karunmu itu, apakah benar tidak dilihat orang lain?"

Gin-hoa-nio sudah berbangkit, tapi tubuh masih gemetar, jawabnya dengan terputus-putus.

"Ti...tidak ada!"

"Anehlah kalau begitu,"

Kata Pwe-giok sambil berkerut kening.

"Jika demikian, kecuali kedua orang itu hidup kembali, kalau tidak masa..."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong di kejauhan berkumandang suara orang tertawa terkekeh-kekeh sambil berseru.

"Wah, lezat, nikmat, arak enak, arak bagus, tambah satu poci lagi!"

Di tengah suara tertawa aneh itu, sebuah lampu berkerudung warna merah seperti api setan melayang-layang tiba dalam kegelapan.

Sesudah dekat baru kelihatan di balik lampu masih ada dua sosok bayangan orang.

Gin-hoa-nio ketakutan dan berteriak.

"Itu...itu dia...kedua orang inilah!"

Kwe Pian-sian mencengkeram tangannya dan bertanya dengan suara tertahan.

"Racunmu manjur atau tidak?"

"Kenapa tidak?"

Jawab Gin-hoa-nio dengan suara parau.

"Racun Thian-can, tiada obatnya di dunia!"

Tiba-tiba orang yang membawa lampu merah itu terkekeh-kekeh pula dan berkata.

"Hehehe, kau kira setelah kami mati kau racuni lantas segala urusan akan beres?!"

Seorang lagi menanggapi dengan suara serak.

"Sudah mati kami hidup kembali dan sengaja hendak menagih nyawa padamu!"

Di bawah cahaya lampu yang merah itu, wajah kedua orang samar-samar kelihatan berlepotan darah, mata, telinga, hidung, mulut, semuanya penuh darah yang bertetes-tetes.

Mendadak Kwe Pian-sian membentak.

"Orang mati mana bisa hidup kembali? Biarlah kalian mati sekali lagi!"

Berbareng itu berpuluh bintik sinar perak terus menyambar ke depan bagai hujan.

Kedua orang itu menjerit satu kali terus roboh terjungkal, lampu merah itu lantas menyala, di tengah gemerdep cahaya api tubuh kedua orang itu tampak berkelojot, lalu tidak bergerak lagi.

"Haha, kiranya setan juga tidak perlu ditakuti, hanya secomot senjata rahasia saja tidak tahan!"

Seru Kwe Pian-sian sambil tertawa.

"Tapi...tapi mereka jelas-jelas sudah pernah mati... masa seorang bisa mati dua kali?"

Seru Gin-hoa-nio dengan gemetar. Mencorong sinar mata Pwe-giok, tanyanya dengan suara tertahan.

"Apakah betul racun Thian-can tidak dapat diobati, sampai perguruanmu sendiri juga tidak mempunyai obat penawarnya?"

Tergetar tubuh Gin-hoa-nio, cepat ia melompat ke depan kedua sosok mayat itu, di bawah cahaya api yang belum padam itu ia memeriksa sejenak, tiba-tiba dia bergelak tertawa pula.

"Apa yang kau tertawakan? Masa cairan yang mengalir di muka mereka itu bukan darah?"

Tanya Kwe Pian sian. Gin hoa nio tidak menjawabnya, tapi terus tertawa dan berseru.

"Ayah, jika Anda sudah datang, mengapa tidak keluar saja kemari?"

Dalam kegelapan sunyi senyap, mana ada jawaban orang? Segera Gin hoa nio berkata pula.

"Kiranya ayah selalu mengikuti jejakku, harta karun yang kutanam di sini telah engkau gali. Kuracun mati kedua orang ini, engkau pun menghidupkan mereka. Engkau tahu aku pasti akan kembali lagi ke sini, maka engkau lantas menggunakan mereka untuk menakuti diriku?"

Dia tertawa terkekeh-kekeh, lalu menyambung pula.

"Sekarang anak benar-benar hampir mati ketakutan, sekali pun ayah hendak menghukum anak, tapi rasanya anak kan sudah cukup dihukum dan mestinya engkau tidak keberatan untuk keluar dan bertemu dengan anak?"

Di tempat gelap di kejauhan sana akhirnya bergema suara seorang.

"Pusaka perguruan kita ternyata akan kau caplok sendiri, dosamu ini sebenarnya pantas dihukum mati, mayat hidup tadi hanya sekedar hukuman kecil saja, bila tidak mengingat kau adalah anakku sendiri, tentu kuhukum kau menurut peraturan perguruan."

Suara itu mengambang terbawa angin, kedengarannya sudah berpuluh tombak jauhnya. Gin hoa nio menghela napas lega, gumamnya.

"Keji amat, satu biji mutiara saja tidak disisakan bagiku."

Kwe Pian sian termenung agak lama, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Sang ayah ternyata tega menyamar sebagai setan untuk menakuti anak perempuan sendiri, kejadian ini sungguh jarang ada di dunia."

"Apakah kau kira dia benar-benar cuma hendak menakuti aku saja?"

Tanya Gin hoa nio.

"Masa bukan begitu?"

Kata Kwe Pian Sian.

"Tadinya dia mengira aku pasti akan datang sendirian, bila aku ketakutan dan jatuh pingsan maka tamatlah riwayatku. Dengan demikian aku akan mati secara konyol, jadi setan pun tidak tahu siapa yang membunuh diriku. Beginilah biasanya cara Thian can kau kami membunuh orang."

"Tapi jangan lupa, betapapun dia kan ayahmu?"

Ujar Pwe giok sambil berkerut dahi.

"Ayah? Memangnya kenapa kalau ayah?"

Tukas Gin hoa nio dengan hambar.

"Thian can kau hanya kenal peraturan perguruan dan tidak kenal kasih sayang sanak keluarga. Kali ini aku tidak dibunuhnya hanya karena dia merasa tidak sanggup merecoki kalian berdua."

Tiba-tiba ia tertawa terkial-kial lalu menyambung pula.

"Coba kalian pikir, bilamana dia seorang yang berperasaan, pantaskah menjadi Thian can kaucu?"

Kwe Pian sian menghela napas panjang, katanya.

"Sungguh Thian can kaucu yang tidak bernama kosong! Kekejian hatinya dan keganasan tindakannya sungguh aku pun rada-rada kagum padanya."

"Dan ada ayah demikian barulah ada anak seperti aku ini,"

Tukas Gin hoa nio.

"Meski dia ingin membunuhku, tapi aku tidak menyalahkan dia, malahan aku merasa bangga mempunyai ayah seperti dia ini."

"Hm, sekarang kau sepeser saja tidak punya apa yang kau banggakan?"

Jengek Kwe Pian sian. Gin hoa nio memandangnya termangu-mangu sejenak, tiba-tiba dia tertawa terkikik-kikik pula, katanya.

"Hihihi, kau memang tidak malu sebagai sejenis denganku. Orang kaya memandang hina orang miskin, ini kan lumrah. Aku sendiri pun suka menghina orang rudin. Tapi kalau orang seperti diriku ini sepeser saja tidak punya, bukankah setiap orang di dunia ini akan mati melarat seluruhnya?"

"Memangnya kau...."

Belum lanjut ucapan Kwe Pian sian dengan tertawa Gin hoa nio memotong.

"Walaupun aku tidak tahu diam-diam dibuntuti dia, tapi sebelumnya akupun sudah berjaga-jaga akan kemungkinan ini. Sebagian harta pusakaku sudah kusembunyikan di tempat lain."

"Oo, di mana kau sembunyikan?"

Kwe Pian Sian jadi tertarik.

"Sudah tentu di tempat yang selamanya takkan kalian temukan,"

Ujar Gin hoa nio dengan tertawa penuh rahasia.

***** Bahwa ada orang yang menyimpan harta karun di suatu tanah pekuburan yang sunyi, di dalam peti mati seorang perempuan miskin dari rakyat biasa ini saja tidak pernah dibayangkan orang.

Tapi sekarang Gin hoa nio bilang sebagian harta karunnya tersimpan di suatu tempat yang tak mungkin ditemukan orang lain.

Lalu tempat ini bukankah lebih-lebih sukar untuk dibayangkan?"

Siapa tahu Gin hoa nio bukannya membawa mereka ke suatu tempat yang terlebih sepi dan lebih seram daripada kuburan, tapi berbalik membawa mereka ke suatu tempat yang ramai, ke suatu kota kecil yang tidak jauh dari tanah pekuburan itu.

Meski suasana kota sudah sunyi, namun kelihatan bangunan kota kecil ini cukup menarik.

Melihat orang-orang itu sama heran dan sangsi, Gin hoa nio lantas berkata dengan tertawa.

"Tentunya semula kalian menyangka tempat yang akan kutunjukkan pasti suatu tempat terlebih terpencil dan lebih rahasia, siapa tahu aku malah membawa kalian masuk ke kota yang ramai ini, jadi kalian terheran-heran, begitu bukan?"

"Ya,"

Jawab Pwe giok. Gin hoa nio menunjuk deretan rumah di dalam kota dan berkata pula.

"Kota kecil ini bernama Li toh tin, rumah yang agak tinggi di ujung sana itu adalah sebuah rumah penginapan yang bernama Li keh can. Kira-kira setengah bulan yang lalu pernah kutinggal beberapa hari di hotel itu dengan membawa harta karunku itu."

"Memangnya sebagian harta itu kau sembunyikan di Li keh can itu?"

Dengus Ciong Cing.

"Betul, tampaknya kau sudah mulai pintar,"

Kata Gin hoa nio dengan tertawa. Lalu ia menyambung.

"Lebih dulu kubungkus sebagian batu pertama dengan sepotong kain hitam dan kutaruh bungkusan ini di antara rusuk atap rumah, kemudian ku masukkan sisa harta yang lain ke dalam peti dan kusembunyikan di peti mati itu. Ciong Cing mencibir, jengeknya. .Huh, kukira kau sembunyikan barangmu di tempat yang luar biasa, tak tahunya cuma kau taruh di atap rumah, anak kecil saja dapat menemukan tempat begini."

"Adik yang baik, meski kau tidak bodoh, bahkan tampaknya mulai pintar, tapi apa yang kau lihat sesungguhnya terlalu sedikit, banyak urusan yang tidak kau pahami,"

Kata Gin hoa nio dengan tertawa.

"Meski tempat yang kugunakan ini tampaknya sangat sederhana, tapi sebenarnya tempat yang paling aman, bila kau tidak percaya boleh kau tanya dia... Dia pasti jauh lebih paham daripadamu...."

Ia melirik ke arah Kwe Pian sian dan bertanya.

"Betul tidak?"

"Betul,"

Jawab Kwe Pian sian.

"Tempat yang paling mudah diketemukan orang terkadang malah tidak diperhatikan dan takkan dicari ke situ, sebab siapa pun tidak percaya bahwa barang-barang yang begitu berharga akan kau sembunyikan di tempat begitu."

"Apalagi,"

Tukas Gin hoa nio.

"dengan tindakanku itu, sekalipun ada orang diam-diam menguntil diriku, ketika melihat kusembunyikan peti harta karun ke dalam peti mati, tentu dia takkan menyangka sebagian dari harta pusaka itu sudah kusembunyikan dulu di atas rumah."

Dia melirik sekejap ke arah Ciong Cing, lalu bertanya dengan tertawa.

"Nah, adik cilik, sekarang tentunya kau paham bukan?"

"Hm, aku tidak mempunyai kebiasaan main sembunyi-sembunyi begitu, urusan begini hakekatnya tidak perlu kupahami,"

Jengek Ciong Cing.

"Memang, cukup bagimu asalkan kau paham minum cuka saja,"

Kata Gin hoa nio dengan tertawa genit. Saking dongkolnya sampai jari Ciong Cing gemetar, tapi tidak sanggup bersuara lagi. Gin hoa nio berucap pula.

"Ku tahu di depan hotel itu ada sebuah rumah kecil berloteng, dari atas loteng dapat melihat jelas setiap gerak-gerik di sekitarnya. Boleh kita ke loteng itu dulu baru nanti memutuskan cara bagaimana kita harus bertindak."

"Tak tersangka caramu bekerja juga secermat ini,"

Ujar Kwe Pian sian dengan tersenyum.

"Orang yang bekerja cermat tentu akan hidup lebih lama sedikit.... Bukankah kita bertiga sama-sama orang yang suka bekerja cermat?"

Kata Gin hoa nio dengan tertawa.

Di atas loteng kecil itu memang dapat memandang sekelilingnya, bahkan hampir seluruh kota kecil itu dapat terlihat dengan jelas, di atas loteng inilah Kim yan cu menyaksikan Gin hoa nio mengerjai "su ok siu"

Atau tempat binatang buas itu.

Sekarang Gin hoa nio juga mengajak mereka ke atas loteng ini untuk mengintip orang lain.

Mereka mengitar ke belakang rumah, lalu meloncat ke atas loteng.

Baru saja mereka berjongkok dan mengintai ke sana, seketika mereka berempat sama melenggong.

Sudah jauh malam begini, rumah penginapan di depan itu ternyata masih terang benderang, jendela juga masih terbentang, entah sejak kapan di sekeliling rumah itu sudah ditambah beberapa bangku tinggi, di atas bangku tersulut lilin raksasa sebesar lengan sehingga rumah yang paling besar di Li toh tin ini terang benderang seperti di siang hari.

Sebuah meja besar tampak tertaruh di tengah ruangan, dua orang duduk berhadapan sedang main catur.

Di samping mereka berdiri beberapa orang dengan berpangku tangan, asyik menonton pertandingan catur itu.

Main catur sampai jauh malam, hal ini jarang terlihat, bahkan yang menonton juga berminat mengikutinya sampai laut malam begini, sungguh kecanduan catur mereka ini jarang terdapat.

Yang paling aneh bukanlah permainan catur dan penontonnya melainkan kedua pemain catur, yakni yang mengejutkan Ji Pwe giok dan lain-lain, karena kedua pemain catur itu adalah Tong Bu siang dan Ji Hong ho.

Yang menonton di samping selain Lim Soh koan yang dikenal Pwe giok itu, yang lain-lain kebanyakan gagah perkasa, jelas semuanya jago silat pilihan.

Ciong Cing juga terkejut, sebab mendadak dilihatnya tokoh Kangouw sebanyak itu, ia menjadi kuatir kalau di antaranya ada yang kenal dia sehingga jejaknya akan ketahuan gurunya itu.

Sedangkan terkejutnya Kwe Pian sian adalah karena semula dia menyangka Tong Bu siang dan Ji Hong ho sedang berbuat sesuatu yang kotor yang tidak boleh diketahui orang lain.

Tak tersangka kedua orang ini justeru menuju ke Li toh tin sini untuk main catur.

Ji Pwe giok juga terkejut, ia pun tidak menyangka kedua orang itu bisa main catur di sini, lebih-lebih tidak tahu "Tong Bu siang"

Yang sedang main catur ini Tong Bu siang tulen atau palsu. Yang paling terkejut di antara mereka berempat ialah Gin hoa nio. Sampai lama ia melenggong, akhirnya ia menghela napas perlahan dan berkata.

"Thian benar-benar tidak mau membantu, orang-orang ini tidak mau ke timur atau ke barat, tapi justeru main catur di sini. Dengan beradanya mereka di situ, untuk mengambil barang, terpaksa kita harus menunggu."

"Marilah pergi saja!"

Ajak Kwe Pian sian sambil berkerut kening.

"Pergi?"

Gin hoa nio menegas. Kwe Pian sian membisikinya.

"Habis kita tidak tahu sampai kapan baru permainan catur mereka akan berakhir. Bahkan habis main catur mereka pun belum tentu akan segera pergi, kan percuma kalau kita hanya menunggu saja di sini."

"Tidak, kita tidak boleh pergi,"

Tiba-tiba Pwe giok menyela.

"Betapapun, baik tulen atau palsu "Tong Bu siang"

Ini, dia harus tetap membayanginya hingga jelas."

Segera Gin hoa nio menyatakan setuju.

"Betul, betapa pun kita harus tetap berjaga di sini."

"Tapi fajar sudah hampir menyingsing, apakah kita dapat tinggal lama-lama di sini?"

Kata Kwe Pian sian. Gin hoa nio tertawa, katanya.

"Di atas sini tentu tidak dapat, tapi di dalam rumah kan boleh?"

Segera ia mengitar ke bagian belakang dan melongok ke bawah, ia coba mendorong daun jendela tingkat bawah, jendela ternyata tidak tertutup, dengan mudah ia membuka daun jendela dan melayang turun ke sana.

Meski Pwe giok tidak suka sembarangan terobosan di rumah orang, tapi dalam keadaan mendesak ia pikir memang tidak jalan lain, terpaksa ia pun ikut melayang masuk ke sana.

Di dalam rumah itu tiada lampu, jendela yang lain juga tertutup rapat, suasana dalam rumah menjadi gelap gulita, sampai jari sendiri pun tidak kelihatan.

Gin hoa nio lantas mengeluarkan ketikan dan membuat api.

Tadinya ia menyangka di dalam rumah pasti tidak ada orang, andaikan ada tentu juga sudah tidur seperti babi mampus.

Siapa tahu, begitu api menyala, tiba-tiba diketahuinya ada dua pasang mata sedang memandangnya dengan diam-diam.

Kedua pasang mata itu terbelalak lebar, sama sekali tidak berkedip.

Keruan Gin hoa nio terkejut pula, hampir saja obornya jatuh.

Terlihat sekarang, di dalam rumah yang terpajang cukup indah dan resik ini ada sebuah tempat tidur yang sangat besar, di situ berbaring satu orang dengan rambut kusut, mukanya pucat dan kurus kering, hampir tidak menyerupai bentuk manusia lagi.

Saat ini belum musim dingin, tapi orang ini memakai beberapa lapis selimut tebal, sekujur badannya terbungkus rapat di dalam selimut, hanya kepalanya saja yang menongol di luar.

Di sampingnya berduduk seorang anak perempuan yang tampaknya baru berusia 11 atau 12, anak ini kelihatan ketakutan sehingga tubuhnya meringkuk menjadi satu, hanya kedua matanya yang besar itu sedang memandang pendatang-pendatang yang tidak diundang ini.

Setelah mengetahui siapa-siapa yang menghuni kamar ini, Gin hoa nio tidak banyak pikir lagi, dengan tertawa manis ia menyapa.

"Sudah jauh malam begini, apakah kalian belum tidur?"

Nona cilik itu mengiakan sambil manggut-manggut.

"Jika tidak tidur, mengapa tidak menyalakan lampu, seperti kucing saja bersembunyi dalam kegelapan,"

Kata Gin hoa nio pula. Kembali nona cilik itu hanya terbelalak dan menggeleng. Orang yang tampaknya sakit sudah sangat parah itu tiba-tiba tersenyum rawan, ucapnya.

"Di sini tidak ada lampu."

"Tidak ada lampu?"

Gin hoa nio menegas dengan berkerut kening. Si sakit menghela napas, ucapnya.

"Jiwaku sudah tinggal menunggu ajal saja, apa gunanya cahaya lampu? Menanti datangnya ajal dalam kegelapan akan mengurangi rasa takut dan gelisah."

Dia bicara dengan suara lemah, ada hawa tidak ada tenaga, seolah-olah napasnya setiap saat bisa berhenti. Gin hoa nio memandanginya sejenak, katanya kemudian.

"Orang sebanyak ini mendadak menerobos masuk kamarmu, apakah kau tidak takut?"

"Orang yang sudah hampir mati, rasanya tidak ada sesuatu lagi di dunia ini yang perlu ditakuti,"

Ujar si sakit dengan hambar.

"Betul,"

Tukas Gin hoa nio dengan tertawa.

"seorang yang sudah hampir mati memang juga ada faedahnya. Misalnya.... mestinya akan kubunuh kau, tapi sekarang aku menjadi tidak tega."

Tiba-tiba ia meraba kepala anak perempuan itu dan bertanya dengan suara halus.

"Dan kau.... apakah kau pun tidak takut?"

Anak perempuan itu berpikir sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan.

"Sacek (paman ketiga) toh sudah hampir meninggal, maka aku pun tidak ingin hidup lagi."

"Makanya kau tidak takut?"

Gin hoa nio menegas.

"Y, tidak takut,"

Jawab anak perempuan itu dengan mata terbelalak lebar.

"Jika kau tidak takut, dengan sendirinya kau tidak akan berseru dan berteriak bukan?"

Tanya Gin hoa nio.

"Sacek suka ketenangan, selamanya aku tidak pernah bicara dengan suara keras,"

Jawab anak itu.

"Ehm, bagus, jika demikian hidupmu akan bertahan lebih lama,"

Ujar Gin hoa nio dengan tertawa.

Ia tidak menghiraukan lagi kedua orang ini, dia mendorong jendela yang di depan itu, hanya sedikit saja daun jendela itu terbuka, lalu ia mengintai ke bawah.

Ternyata setiap gerakgerik di rumah seberang sana dapat terlihat dengan jelas.

Sementara itu obor yang dipegang Gin-hoa-nio sudah padam, keadaan gelap gulita pula, suasana juga sunyi senyap, hanya terkadang terdengar suara "kletak", suara jatuhnya biji catur di luar sana, suaranya nyaring menyentak pendengaran.

Jilid 16________ Si Sakit telah memejamkan matanya, tapi mata si nona cilik justeru gemerdep di dalam kegelapan. Diam-diam Pwe-giok mendekatinya dan bertanya dengan suara halus.

"Adik cilik, siapa namamu?"

"Ah, pertemuan secara kebetulan, untuk apa anda tahu namaku."

Jawab anak perempuan itu dengan sayu.

Anak perempuan sekecil ini dapat mengucapkan kata-kata seperti orang tua, Pwe-giok jadi melengak malah.

Siapa tahu anak dara itu bahkan menatap Pwe-giok sekian lama, tiba-tiba ia berkata pula.

"Tapi lantaran kau sudah tanya, boleh juga kukatakan padamu. Namaku Cu Liu-ji, Liu artinya air mata, sebab sejak kecil aku memang anak yang suka mengucurkan air mata."

"Dan sekarang kau..."

"Sekarang tidak mengucurkan air mata lagi, mungkin sumber air mataku sudah kering."

Pwe-giok termangu-mangu sejenak, katanya kemudian dengan gegetun.

"Apakah Sacekmu sudah lama sakit ?"

"Ya, sudah empat-lima tahun."

"Kau yang merawat dia selama ini ?"

"Ehmm,"

Cu Lui ji mengangguk.

"Masa tiada ditemani orang lain ?"

"Sacek tidak mempunyai sanak keluarga lain, hanya diriku."

Tutur Cu Lui-ji dengan pelahan.

Pwe giok menghela nafas panjang, terbayang olehnya empat-lima tahun yang lalu, tatkala mana anak perempuan ini hanya berumur tujuh atau delapan tahun.

Itulah usia anak yang lagi nakal dan paling suka bermain, tapi nona cilik ini justru harus menemani seorang sakit yang sudah kempas-kempis dan telah hidup selama empat-lima tahun di loteng kecil yang sunyi dan rawan ini, malahan dimalam haripun tanpa lampu.

Setelah menghela nafas panjang, Pwe giok tidak tahu pula apa yang harus diucapkannya.

Suasana di dalam rumah sunyi senyap seperti kuburan, ditengah keheningan yang mencekam inilah fajar menyingsing dan pelahan-lahan tampak remang-remang menembus kertas jendela, dikejauhan mulai ramai terdengar ayam berkokok.

Ciong Cing sudah tertidur dengan mendekap di atas tubuh Kwe Pian-sian.

Sorot mata Kwe Pian sian masih terus menatap lekat-lekat kepada orang sakit yang hampir mati itu dan entah apa pula yang sedang dipikirnya.

Tiba-tiba Gin Hoa nio menguap ngantuk, ucapnya dengan menghela nafas pelahan .

"Setengah malam kedua orang itu main catur, biji catur yang bergeser hanya tiga kali, tampaknya pertandingan mereka ini biarpun sampai lima tahun depan juga belum berakhir...."

Tiba-tiba pula ia mendekati si anak perempuan dan berkata dengan tersenyum .

"Ku tahu kau ini anak perempuan yang pintar, maukah kau turun ke bawah sana, buatkan nasi yang agak lembek serta beberapa macam sayur untuk sarapan para paman dan bibi ini ?"

Cu Lui ji sama sekali tidak bergeser, jawabnya dengan tak acuh.

"Tidak, aku tidak mau pergi, tidak boleh kutinggalkan sacek."

"Pergilah sayang, anak kecil mana boleh membantah kehendak orang tua ?"

Ujar Gin hoa-nio dengan tertawa. Cu Lui ji sama sekali tidak memandangnya, jawabnya pula.

"Tidak, aku tidak mau !"

Tertawa Gin hoa-nio tambah lembut, ucapnya dengan suara halus.

"Ku tahu sama sekali kau tidak takut padaku, makanya tidak menurut kepada perkataanku, begitu bukan ?"

Di mulut ia bicara lembut, tapi tangannya telah menampar satu kali di muka Cu Lui ji.

Muka nona cilik yang putih pucat itu seketika merah bengkak, namun dia tetap tidak bergerak, bahkan matapun tidak berkedip, seperti tidak mempunyai daya rasa apapun, hanya tetap terbelalak memandang Gin Hoa-nio.

Gin Hoa nio berkerut kening, tanyanya dengan tersenyum.

"Apa yang kau lihat, kau anggap tamparanku kurang keras, begitu ?"

Segera ia hendak memukul pula, tapi tangannya keburu dipegang Pwe-giok.

"Ai. ku tahu kau akan ikut campur lagi,"

Kata Gin hoa nio dengan gegetun. Pwe-giok berkata dengan dingin.

"Jika kau masih ingin berada bersamaku, selanjutnya hendaknya....."

Belum lanjut ucapannya, mendadak Cu Lui ji mendekap mukanya dan berseru dengan suara gemetar.

"O, sakit...sakit sekali kau pukul diriku !"

Gin Hoa nio jadi melengak, tanyanya.

"Kupukul kau tadi dan baru sekarang kau rasakan sakit ?"

"Oo, sakit...sakit sekali...mati aku!"

Teriak Cu Lui-ji pula.

Melenggong Gin hoa-nio memandangi anak dara yang aneh itu, seketika ia tidak sanggup bicara pula.

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini ada manusia yang berdaya rasa selambat ini, orang telah memukulnya sejak tadi, sekian lama kemudian baru dia merasakan sakit.

Terlongong Gin Hoa nio memandangi nona cilik itu sehingga urusan makan nasi jadi terlupakan.

Pada saat itulah, si sakit yang seakan-akan sudah tidur itu tiba-tiba menghela nafas dan berkata .

"Jika kau takut sakit, kenapa tidak kau turuti perkataan orang, pergilah ke bawah dan menanak nasi."

Mendadak Cu Lui ji mendelik, katanya sambil melototi Gin Hoa-nio.

"Sacek yang suruh aku maka kuturuti, jika orang lain, biarpun aku mati dipukul juga takkan kukerjakan."

Dengan pelahan ia turun dari tempat tidur dan alon-alon ia turun ke bawah loteng.

Melihat perawakan si nona yang kurus dan lemah dengan wajah yang pucat, diam-diam Pwe giok menghela nafas menyesal.

Baru sekarang Gin Hoa-nio tertawa cerah, katanya.

"Tak tersangka watak anak ini sedemikian keras, tampaknya serupa aku waktu kecil..."

Mendadak ia berhenti bicara, biji matanya tampak berputar, mungkin teringat sesuatu olehnya, segera ia menyambung pula dengan tertawa .

"Tapi kalau anak ini serupa diriku waktu kecil, setelah kita makan nasinya, maka jangan harap lagi akan dapat pergi dari sini dengan hidup. Rasanya aku harus turun ke bawah untuk mengawasi dia."

"Anak sekecil itu, masa kau takut diracuni olehnya ?"

Ucap Pwe-giok dengan dahi berkernyit.

"Ketika aku lebih kecil daripada dia, orang yang mati kuracuni sudah lebih dari 80 orang,"

Kata Gin hoa nio sambil menoleh dan tertawa genit.

"O, jadi dia tidak takut padamu, sekarang kau malah takut padanya ?"

Ujar Pwe-giok dengan tertawa hambar.

Gin hoa-nio melenggong, sungguh ia sendiripun tidak tahu mengapa bisa timbul semacam perasaan jeri yang sukar dilukiskan terhadap anak perempuan yang kurus kecil itu.

Padahal menghadapi sorot mata Kwe Pian-sian yang begitu lihai saja tidak merasa takut sedikitpun, tapi ketika anak perempuan itu menatapnya, dalam hati terasa rada ngeri.

Sampai sekian lama ia melenggong, katanya kemudian dengan tersenyum.

"Betapapun kan tiada buruknya jika hati-hati, masa pesan orang tua ini kau lupakan ?"

Pwe-giok menghela nafas, katanya.

"Daripada kau yang turun ke bawah, lebih baik aku saja turun."

Di bawah loteng juga cuma terdiri dari satu ruangan, hampir setengah ruangan tertimbun kayu bakar dan sebagainya, hanya tersisa suatu sudut yang sempit, di situ ada gentong air, rak mangkuk dan tungku.

Cu Lui-ji tampak berjongkok disamping gentong dan sedang mencuci beras, sudah sekian kali ia membilas berasnya, satu biji gabah saja diambilnya dari beras cuciannya dan dikumpulkannya disamping.

Setelah beras masuk kuali, lalu gabah yang dikumpulkannya tadi dibungkusnya dengan secarik kertas, kemudian ia membersihkan lantai sebersih-bersihnya.

Pwe giok melihat ruangan seluas ini terawat dengan sangat resik, bahkan tungku yang setiap hari digunakan juga tiada bekas-bekas minyak setitikpun.

Dapur ini ternyata jauh lebih bersih daripada ruangan tamu orang lain.

Tangan yang kurus dan putih kecil itu setiap hari harus melakukan pekerjaan sebanyak dan seberat ini tubuh yang kurus kecil ini masa mampu melaksanakan tugas sebanyak ini ?

Tanpa terasa Pwe-giok menghela nafas pula, katanya kemudian.

"Apakah setiap hari kau bersihkan ruangan ini sebersih ini ?"

"Aku sudah terbiasa hidup serba bersih,"

Ucap Cu Lui-ji dengan tak acuh.

"Karena itulah bila kulihat sesuatu yang kotor, aku lantas mual. Sesungguhnya, kalau tidak terpaksa, memangnya siapa yang mau berkumpul dengan orang-orang yang tidak bersih ?!"

Mendadak ia berpaling dan menatap Pwe-giok serta bertanya.

"Betul tidak ?"

Tergerak hati Pwe-giok, jawabnya sambil menyengir.

"Betul, siapapun tidak nanti suka berada bersama orang yang tidak bersih."

Mencorong sinar mata anak dara itu, ucapnya pula dengan pelahan.

"Jika begitu... mengapa kau berada bersama orang yang tidak bersih?"

Seketika Pwe-giok jadi melenggong, sungguh ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya.

Sungguh aneh anak perempuan ini, terkadang dia kelihatan begitu lemah dan harus dikasihani, tapi ada kalanya dia berubah seperti orang dewasa yang sudah kenyang merasakan asam garamnya orang hidup.

Dalam pada itu Cu Lui ji telah menggeser kesana, dia berduduk di satu bangku kecil dan mulai mengipasi api tungku sambil berbicara.

"Meski aku sangat jarang keluar, tapi di atas loteng kecil ini banyak sekali yang dapat kulihat. Bilamana kulihat hal-hal yang menarik lantas kuceritakan kepada Sacek, kalau tidak entah betapa dia akan kesepian."

"Di... di atas loteng ini sering kau lihat hal-hal yang menarik ?"

Tanya Pwe-giok dengan keheranan.

"Ya, sering...!"

Jawab Cu Lui ji. Sejenak kemudian, tiba-tiba ia berpaling pula dan berkata.

"Satu hari, pernah kulihat seorang perempuan yang sangat cantik, dengan caranya yang sangat aneh dia telah membunuh sekian banyak orang. Coba apakah kau tahu siapa dia ?"

"Ya, ku tahu ialah orang yang memukul kau tadi,"

Jawab Pwe-giok.

"Siapa yang memukul ku tadi ? Aku sudah lupa,"

Kata Cu Lui ji dengan tersenyum hambar.

Tiba-tiba Pwe giok melihat muka si nona yang merah bengkak terpukul tadi kini sudah halus putih lagi, sama sekali tiada meninggalkan bekas setitikpun.

Didengarnya Cu Lui ji berkata pula.

"Bila orang memukulmu, kalau kau tidak mampu membalas, maka jalan paling baik adalah melupakan saja kejadian itu agar hatimu tidak sedih"

"Tapi.... tapi setelah kau dipukul orang, apakah betul harus selang sekian lama barulah kau rasakan sakit?"

Tanya Pwe-giok. Cu Lui-ji mencibir dan tertawa, katanya.

"Kalau sudah kena pukul kan mesti merasakan sakit, perihal cepat merasakan sakit atau terlambat merasakan sakit tidaklah menjadi soal. Sebab, makin cepat kau rasakan sakit, makin senang orang yang memukul kau itu. Jika selang sekian lama baru kau rasakan sakitnya, maka orang lainpun tidak dapat bergembira lagi."

Ia merandek sebentar, lalu menyambung pula.

"Kalau aku sudah dipukul, kenapa aku mesti membikin orang bergembira pula?"

Kembali Pwe-giok melenggong.

Anak sekecil ini ternyata penuh dengan pikiran-pikiran yang serba aneh, macam-macam jalan pikirannya yang aneh, sungguh sukar untuk diraba orang lain.

Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda, menyusul lantas ramai dengan suara orang, jelas suara-suara itu berkumandang dari rumah di seberang.

***** Halaman Li-keh-ceng memang sudah berjubel-jubel dengan orang, bahkan makin datang makin banyak.

Meski Pwe-giok tidak dapat melihat jelas-jelas siapa mereka, tapi dia dapat memastikan mereka pasti tokoh-tokoh Kangouw.

"Untuk apa orang-orang ini datang ke sini? Apa mau melihat setan?"

Demikian Gin-hoa-nio menggerundel.

"Jika Bulim-bengcu sekarang sedang main catur dengan ketua keluarga Tong dari Sujwan yang termasyhur, siapa orang Kangouw yang tidak ingin menontonnya?"

Kata Kwe Pian-sian dengan tenang.

"Cukup tiga hari saja berita ini tersiar, maka halaman hotel Li itu pasti akan jebol dibanjiri pengunjung."

"Entah keparat siapa yang menyiarkan berita ini?"

Kata Gin-hoa-nio dengan gemas.

Sudah tentu tiada yang menjawab pertanyaannya, tapi Pwe-giok lantas paham persoalannya.

Dengan sendirinya berita itu sengaja disiarkan oleh Ji Hong-ho sendiri.

Sang "Bulim-bengcu"

Sengaja menyiarkan berita hangat ini agar orang dunia persilatan menyaksikan dia lagi main catur dengan Tong Bu-siang.

Maka anak murid keluarga Tong takkan curiga lagi akan hilangnya Tong Bu-siang secara mendadak.

Sedangkan orang lain menyaksikan Bu-lim-bengcu yang terhormat itu lagi main catur dengan "Tong Bu-siang"

Maka biarpun Tong Bu siang ini palsu, dengan sendirinya lantas berubah menjadi tulen. Begitulah saat itu di halaman hotel sana sedang ramai orang memperbincangkan kejadian itu. Ada yang berkata.

"Inikah Ji Hong ho yang baru saja diangkat menjadi Bu-lim bengcu? Nyata memang hebat, pantas tokoh semacam Ang lian pangcu juga menyerah padanya."

"Entah dapat tidak kita minta Bengcu keluar untuk berbicara sebentar!"

Kata seorang lagi. Maka tampaklah Lim Soh koan muncul keluar, serunya dengan lantang.

"Diharap para pengunjung suka tenang dan sabar, babak permainan catur ini tampaknya masih harus berlangsung tiga atau lima hari lagi, kukira lebih baik kalian mencari pondokan dulu, nanti kalau Bengcu sudah menyelesaikan permainan catur ini barulah beliau dapat leluasa berbicara dengan kalian, bila kalian ada kesulitan apa-apa boleh juga dikemukakan nanti agar Bengcu dapat membereskan urusan kalian."

Seketika bergemalah sorak sorai orang banyak. Nyata ketua "Bu-kek-pay"

Yang menjadi Bulim-bengcu ini sangat dihormati dan disegani orang Kangouw.

Tapi hal ini membuat perasaan Pwe giok bertambah tertekan.

Terlihat Lim Soh koan masuk ke dalam rumah, di halaman hotel lantas ramai lagi orang berbicara.

"Apakah dia ini Leng hoa kiam Lim Soh-koan yang tersohor di utara dan selatan Tiangkang? Konon dia mempunyai seorang puteri kesayangan dan terkenal sebagai wanita tercantik di dunia Kang ouw."

"Ya, tapi sayang sejak dahulu kala hingga kini orang cantik kebanyakan pendek umur dan bernasib buruk. Nona Lim ini mestinya sudah bertunangan dengan putera Bengcu kita, siapa tahu, belum lagi pernikahan berlangsung, lebih dulu Ji kongcu sudah tewas di Su jin ceng."

"Siapa yang membunuhnya, masa Bengcu tidak menuntut balas bagi kematian anaknya?"

"Khabarnya Ji kongcu ini rada-rada tidak beres otaknya sudah lama Bengcu putus asa terhadap putera satu-satunya itu. Sekalipun nona Lim jadi menikah dengan dia juga harus disayangkan."

Begitulah berisik orang ramai itu membicarakan hal ikhwal Lim Tay-ih dan Ji Pwe-giok.

Seketika Pwe giok sendiri jadi terkesima.

Butiran keringat tampak menghias dahinya.

Mendadak Gin hoa nio menutup daun jendela, katanya dengan menyesal.

"Coba, kau dengar tidak, jelas mereka masih akan tinggal di sini dan entah berapa lama lagi kita harus menunggu."

"Kau tidak perlu tunggu lagi"

Mendadak Pwe giok berbangkit. Gin ho nio berkejut.

"Kau....kau akan....."

"Ada sementara urusan, semakin kau hindari semakin main sembunyi-sembunyi, orangpun semakin mencurigai kau. Akan lebih baik apa bila kita hadapi saja secara terangterangan..... Lambat laun hal ini sudah mulai kupahami."

Ucapan Pwe giok ini entah ditujukan kepada orang lain atau bicara kepada dirinya sendiri. Tapi Gin hoa nio lantas tertawa, katanya."

Apa yang kau maksudkan, sungguh aku tidak mengerti?"

Namun sebelum habis perkataan Gin hoa nio, Pwe giok terus turun ke bawah, ia membuka pintu dan keluar.

Cepat Gin hoa-nio menyingkap daun jendela lagi sedikit, selang sejenak kemudian, benarlah di lihatnya Pwe giok telah masuk ke halaman rumah sana, dia menyisihkan orang-orang yang berkerumun itu dan langsung masuk ke dalam.

"Dia mempunyai sahabat seperti diriku, dengan sendirinya nyalinya berubah besar,"

Kata Kwe Pian sian dengan tersenyum. Gin hoa nio menghela napas, ucapnya dengan perlahan.

"Sebelum dia bersahabat dengan kau, dia pun bernyali besar, lahiriah orang ini kelihatan lemah lembut seperti kucing, padahal dia terlebih menakutkan dari pada harimau."

Ketika Pwe giok masuk ke halaman rumah sana, serentak berpuluh pasang mata memandangnya dengan terpesona.

Maklum, jejaka setampan ini, biarpun lelaki juga ingin memandangnya beberapa kejap.

Namun pandangan Pwe giok tidak terarah kepada siapapun, dengan tersenyum ia menyisihkan kerumunan orang banyak dan langsung masuk ke ruangan dalam.

Serentak para penonton pertandingan catur sama menoleh dengan melengak, Lim Soh-koan berkerut kening dan menegur.

"Siapakah Anda? Bengcu sedang....."

"Cahye Ji Pwe-giok!"

Jawab Pwe giok sebelum lanjut ucapan orang. Mendengar nama "Ji Pwe giok"

Seketika wajah Lim soh-koan berubah pucat pasi. Di luar sayup-sayup juga terjadi kegemparan. Semula "Ji Hong ho"

Dan Tong Bu siang sedang memusatkan perhatian pada papan catur, kini tanpa terasa merekapun berpaling dengan terkejut, Pwe giok hanya dipandangnya sekejap saja.

Tapi hal inipun sudah cukup bagi Pwe giok untuk memastikan bahwa Ji Hong ho ini tidak mengenal wajah aslinya.

"Tong Bu-siang"

Itu juga pasti tidak mengenalnya, berdasarkan ini dia yakin Tong Bu-siang ini pasti palsu. Sinar mata "Ji Hong ho"

Tampak gemerdep, dengan tersenyum ia berucap.

"Namamu Ji Pwe giok? Sungguh tidak nyana nama Anda sama dengan nama puteraku yang almarhum, sungguh sangat kebetulan."

Berhadapan dengan orang ini, sungguh hati Pwe giok seolah-olah tertusuk-tusuk dan berdarah. Namun lahirnya dia tetap tenang-tenang saja, dia malah tersenyum dan menjawab.

"Aha, sungguh beruntung dan bahagia bahwa aku dapat bernama dengan putera Anda."

"Entah ada keperluan apakah kedatangan Anda ini?"

Tanya Ji Hong ho dengan mengulum senyum.

"Aku ingin kembali ke sini untuk mengambil sesuatu barang,"

Jawab Pwe giok.

"Oo, masa di sini terdapat barangmu?"

Ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.

"Ya. Sebab beberapa hari yang lalu pernah ku mondok di sini, tanpa sengaja sedikit barangku ketinggalan di sini,"

Kata Pwe giok pula. Tampaknya Ji Hong ho sangat tertarik oleh cerita Pwe giok itu, dengan tertawa ia berkata.

"Di dalam hotel sudah tentu banyak tamu yang pergi datang, semoga barang Anda masih terdapat di sini."

Pwe giok memandangnya dengan tenang, sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Barangku yang ketinggalan ini terletak ditempat yang tidak menyolok, asalkan Bengcu mengizinkan, segera ku......"

"Asalkan barangnya masih ada, silahkan Anda mengambilnya"

Jawab Ji Hong ho dengan tertawa.

"Jika demikian, maafkan kalau ku berlaku sembrono,"

Ujar Pwe giok.

Mendadak tubuhnya mengapung lurus ke atas, ia melayang ke atas belandar seluruh tubuh kaki maupun tangan, sama sekali tidak memperlihatkan bergerak, bahkan dengkul juga tidak nampak tertekuk sedikitpun, tapi tahu-tahu tubuhnya terapung ke atas.

Inilah "Kan-te-poat-jong"

Atau membedol bawang di tanah tandus, semacam Gingkang yang paling sukar dilatih.

Hendaklah maklum, di dunia persilatan terdapat macam-macam perguruan, cara berlatih Gingkang setiap perguruan itupun berbeda-beda dan mempunyai cara-cara khas sendiri.

Tapi bila mencapai gaya semacam "Kan-te-poat-jong"

Ini, maka dapat dikatakan Gingkangnya sudah mencapai puncaknya yang paling sempurna. Anak murid Bu tong pay misalnya, bila sudah mencapai tingkatan "Kan-te-poat-jong"

Ini, maka gerak dan gayanya akan sama seperti ini, begitu pula aliran lain, biarpun Siau-lim pay Go bi pay atau Tiam jong pai, kalau sudah menguasai Gin-kang hingga tarap Kan-te-poat jong, maka gayanya juga sama, tiada beda sedikitpun.

Sebabnya Pwe giok menggunakan gaya Gin-kang tertinggi ini, maksud tujuannya agar orang lain tidak dapat mengenali asal-usul ilmu silatnya.

Malahan supaya orang lain menganggap dia sengaja hendak pamer Gingkangnya yang hebat.

Ji Hong ho lantas berkeplok dan tertawa, katanya.

"Wah, Ginkang yang jempol!"

Kalau sang Bengcu sudah berkata demikian dengan sendirinya orang yang berkerumun di halaman hotel itu sama bersorak memuji.

Hanya Gin hoa-nio saja yang berada di loteng kecil itu tidak memperhatikan gerakan apa yang dilakukan Pwe-giok.

Sebab yang buru-buru ingin diketahuinya hanya harta karunnya yang disembunyikan itu apakah dapat ditemukan kembali atau tidak.

Waktu dilihatnya Pwe giok melompat turun dan tangannya benar-benar sudah memegang sebuah bungkusan kain hitam yang besar dan berat, maka bergiranglah Gin hoa nio, hampir saja ia bersorak gembira.

"Masih ada barangnya?"

Dengan tersenyum Kwe Pian sian bertanya "Tentu saja ada"

Ucap Gin hoa nio dengan tertawa bangga.

"Kan sudah kukatakan, barang simpananku tidak nanti dapat ditemukan orang lain."

Kwe Pian sian tertawa, katanya.

"Hebat sekali Ji Pwe giok, bukan saja tabah, bahkan jua punya otak. Dia berani mengambil bungkusanmu itu secara terang-terangan disaksikan orang sebanyak itu. Dalam keadaan demikian, andaikan Ji Hong ho mengincar barangmu juga tidak leluasa untuk turun tangan."

"Aha, sekarang dia sudah hampir keluar...Wah, celaka...."

Sudah tertawa girang mendadak Gin hoa nio mengeluh pula, air mukanya yang bergembira itupun seketika lenyap. Sambil berkerut kening Kwe Pian sian bertanya.

"Ada apa? Masa Ji Hong ho tidak mau melepaskan dia pergi?"

Mata Gin hoa nio tampak melotot, ucapnya dengan suara parau.

"Sialan! Tampaknya rase tua itu (maksudnya Ji Hong-ho yang licin) tidak enak untuk main kekerasan, dia hanya menyatakan ingin bersahabat dengan Ji Pwe giok dan berkeras minta Ji Pwe giok tinggal saja di situ."

"Dan bagaimana sikap Ji Pwe giok?"

Tanya Kwe Pian sian.

"Tampaknya dia dapat menahan perasaannya. Dia malah tertawa.....Nah, sekarang dia sedang bicara, katanya sehabis Ji Hong ho selesai main catur tentu dia akan datang lagi untuk mohon petunjuk"

"Kau dengar apa yang dibicarakannya?"

Tanya Kwe Pian sian.

"Berisik sekali di halaman sana, mana bisa ku dengar ucapannya? Hanya dari gerak bibirnya dapat ku terka sebagian besar apa yang diucapkannya"

Kwe Pian sian tertawa, katanya.

"Wah, banyak juga kepandaianmu..."

Mendadak Gin hoa nio berseru tertahan.

"Wah, celaka! Rase tua itu mendadak mengaduk biji caturnya, ia malah menyatakan kalau bisa berada bersama dan mengobrol dengan ksatria muda seperti Ji Pwe giok, biarpun tidak main catur juga tidak menjadi soal baginya."

"Wah, jika begitu, kalau Ji Pwe giok tidak ngotot dan main kekerasan, tampaknya tidak mudah baginya untuk keluar,"

Kata Kwe Pian sian sambil berkerut kening. Gin hoa nio tampak cemas juga, katanya.

"Dalam keadaan demikian, mana bisa dia bersikap keras tampaknya dia juga rada gugup...."

Baru bicara sampai di sini, mendadak terdengar seorang berseru lantang di halaman sana dengan tertawa.

"Haha, permainan catur yang menarik ini sukar dicari bandingannya, kalau Bengcu tinggalkan setengah jalan bukankah para penggemar catur seperti kami ini akan sangat kecewa?"

"He, siapa orang itu?"

Seru Kwe Pian sian.

Wajah Gin hoa nio menampilkan rasa girang, katanya "Ah, orang ini ternyata dapat mengembalikan biji catur pada papannya seperti keadaan sebelum diaduk, bahkan satu biji saya tidak keliru...

Wah, nampaknya dia memang hebat..."

Belum habis ucapannya, serentak Kwe Pian sian melompat mendekatnya dan ikut mengintai!.

Terlihat di seberang sana, di dalam ruangan sudah bertambah dengan seorang pengemis muda berbaju berwarna merah tua, kelihatan baru, tapi penuh tambalan.

Kiranya dia inilah Ang lian pangcu yang termasyhur.

Terlihat Ji Hong ho sedang tertawa dan berkata.

"Tak tersangka Ang lian pangcu juga penggemar catur, tampaknya terpaksa harus kulanjutkan permainan ini"

Kwe Pian sian hanya memandang sekejap saja kesana dan segera menutup rapat-rapat daun jendela, keringat dinginpun berketes-ketes. Gin hoa nio memandangnya sekejap, katanya dengan tertawa genit."

He, kenapa kau sangat takut padanya?"

Kwe Pian sian mundur kembali ke tempat duduknya tadi, mana dia mampu bersuara lagi. Gin hoa nio bergumam.

"Sungguh aneh, apakah Ang lian hoa sengaja datang untuk membantu Ji Pwe giok? Jika benar kawan baik Ji Pwe giok, kenapa dia diam saja ketika melihat Ji Pwe giok dilukai oleh Lm Tay ih...."

Dalam pada itu terdengarlah suara terbukanya pintu di bawah, serentak Kwe Pian sian melonjak bangun.

Ia menghela napas lega ketika dilihatnya yang naik ke atas adalah Ji Pwe giok.

Cepat ia bertanya dengan suara parau."

Apakah Ang lian hoa melihat kau masuk ke sini?"

"Untuk apa dia memperhatikan diriku?"

Jawab Pwe giok dengan perlahan.

"Masa dia tidak kenal kau?"

Tanya Kwe Pian sian "Tidak kenal"

Jawab Pwe giok sambil menghela napas menyesal.

Tentu saja ia sangat menyesal.

Baru saja ia berhadapan dengan sahabat baiknya, tapi tidak berani menegur sapa, bahkan harus mengeluyur pergi secara diam-diam.

Saat ini hatinya justru terasa sangat pedih.

Meski dia kembali dengan menyesal, tapi kepergiannya tadi bukannya sama sekali tidak membawa hasil.

Betapapun dia dapat mengetahui bahwa "Tong Bu-siang"

Yang senang main catur itu adalah palsu.

Maka diharapkannya semoga Tong Bu siang yang asli itu belum lagi terbunuh.

Sementara itu Gin hoa nio sudah lantas mengambil bungkusan hitam yang dibawa pulang Pwe giok itu dan berkata.

"Tempat ini tidak boleh ditinggali lama-lama, setelah barang sudah ditemukan, hayo lekas kita berangkat"

"Sebelum Ang lian hoa pergi, betapapun kita juga tak dapat pergi"

Kata Kwe Pian sian sambil menarik muka. Gin hoa nio tertawa genit, katanya.

"Kau takut dipergoki dia, aku kan tidak perlu takut, kalau aku berkeras harus pergi, lalu bagaimana?"

"Kau takkan pergi"

Ucap Kwe Pian sian sekata demi sekata. Gin hoa nio mengerling, tertawa tambah manis, katanya.

"Betul, tentu saja aku takkan pergi. Kalau kau masih tinggal di sini, mana dapat ku tinggal pergi?"

Dia masih memegangi bungkusan hitam yang dibawa pulang Pwe giok tadi, ia memandang ke sana dan ke sini mirip orang udik yang kuatir kecopetan, sungguh kalau bisa ia ingin telan bulat-bulat bungkusan itu, dengan demikian barulah aman rasanya.

Sambil memandangi bungkusan yang dipegang Gin hoa nio itu, mendadak Kwe Pian sian mendengus.

"Hmm, padahal boleh juga kalau kau ingin pergi, bahkan bungkusan itu boleh kau bawa sekalian!"

Gin hoa nio melengak."

Betul?"

Katanya dengan curiga. Dengan dingin Kwee Pian sian menjawab.

"Kenapa tidak kau periksa dulu isi bungkusanmu itu?"

"Apa isi bungkusan ini?"

Tukas Gin hoa nio dengan tertawa.

"Haha, tanpa melihatnya ku tahu apa isinya."

Tapi iapun merasakan ucapan Kwe Pian sian itu ada sesuatu maksud tertentu, meski begitu ucapannya dimulut, bungkusan yang dipegangnya itu lantas ditimang-timang dan diraba-raba, mendadak ia melonjak kaget dan berteriak."

Wah, celaka!."

Waktu bungkusan itu dibuka, mana ada batu permata atau harta pusaka apa segala, isinya hanya pecahan genteng melulu.

Begitu bungkusan itu terbuka, seketika Gin hoa nio mirip kena dibacok orang satu kali, hampir saja ia jatuh kelenger.

Ji Pwe giok dan Ciong Cing juga terkesiap.

Hanya Kwe Pian sian saja yang tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia malah mengejek.

"Nah bagaimana? apa isinya, tidak perlu dibuka kan sudah kau ketahui?"

Dengan suara terputus-putus Gin hoa nio berkata.

"Dan dari...darimana kau tahu..."

Kwe Pian sian tersenyum hambar, katanya.

"Jika isi bungkusan ini adalah batu permata yang berharga tentu suara langkahnya waktu naik ke atas loteng ini berbobot lain....Memangnya kau kira mata dan telingaku sama tidak bergunanya seperti dirimu?"

Mendelik Gin hoa nio, ucapnya dengan menggigit bibir.

"Tapi....tapi siapa pula yang mempermainkan diriku, siapa yang menukar barangku ini? Padahal waktu kusimpan barangku ini telah kulakukan dengan sangat teliti, bukan cuma jendela dan pintu saja kututup rapat, bahkan lampu juga kupadamkan, siapa yang dapat mengetahui rahasiaku?"

Dia mengitari ruangan kamar sambil bergumam pula.

"Jangan-jangan Ji Hong-ho...ya, betul hanya rase tua ini yang paling mencurigakan, dia datang ke sini dan menempati kamar yang pernah kutinggali, bisa jadi segenap pelosok kamar itu telah diperiksanya seluruhnya."

"Jika benar harta pusaka itu telah ditemukan dia, mungkin selama hidup ini jangan kau harap akan kau dapatkan kembali."

Kata Pwe giok.

Kwe Pian sian juga diam saja, ia hanya memandangi si sakit dengan termangu, orang sakit itu sejak tadi tidak pernah bergerak sedikitpun.

Tanpa terasa pandangan Gin hoa nio ikut menjurus ke sana.

Tiba-tiba melihat si sakit yang tampaknya kurus kering tinggal kulit membalut tulang itu.

ditempat tidurnya yang tertutup selimut itu tampak menonjol tinggi ke atas, di dalam selimut seperti tersembunyi apa-apa.

Saat itu cahaya matahari menyorot miring masuk dan menyinari selimut itu, kelihatan di dalam selimut itu ada sesuatu yang bergerak-gerak.

Gemeredep sinar mata Gin hoa nio, tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Tak tersangka aku telah berubah menjadi orang buta melek. sampai apa yang terdapat di depan mata tidak kulihat."

Sembari menyeringai segera ia mendekati tempat tidur orang sakit itu.

"He, kau mau apa?"

Seru Pwe giok dengan dahi berkerut. Gin hoa nio tertawa terkikik-kikik, katanya.

"Di dalam selimut seperti ada permainan yang menarik, ingin kusingkapnya agar kita dapat melihatnya."

Sementara itu ia sudah berada di depan tempat tidur, segera tangannya terjulur. Siapa tahu orang sakit itu mendadak membuka matanya dan berkata sambil mendelik.

"Asal sedikit saja kau singkap selimut ini, mungkin kau akan segera mati tanpa terkubur."

Si sakit yang tampaknya sudah senin-kemis itu mendadak bisa mengucapkan kata-kata begitu, matanya yang semula tampaknya sayu dan guram itu kinipun mendadak memancarkan sinar yang tajam.

Entah mengapa, hati Gin hoa nio merasa ngeri, tangan yang teratur itu tidak jadi meraih selimut, sebaliknya ia malah menyurut mundur.

Perlahan si sakit pejamkan matanya pula, mukanya tersorot cahaya sang surya, tampaknya tidak banyak berbeda dengan mayat.

Tidak mungkin sakitnya ini cuma paru-paru belaka.

Setelah tenangkan diri, dengan tertawa.

Gin hoa nio berkata pula.

"Apakah betul selimut ini tidak boleh disingkap?"

"Ya,"

Jawab si sakit.

"Tapi pembawaanku tidak percaya kepada hal-hal yang mustahil, semakin tidak boleh dilihat, semakin ingin kulihatnya,"

Kata Gin hoa nio Si sakit menghela napas, katanya kemudian "Jika begitu, Lui ji, boleh kau perlihatkan kepadanya."

Waktu dia bicara begitu jelas."

Cu Lui ji masih berada di bawah loteng, tapi baru selesai ucapannya, tahu-tahu Cu Lui ji sudah naik ke atas, katanya sambil melototi Gin hoa nio.

"Benar-benar kau ingin melihatnya? Kau tidak akan menyesal?"

"Menyesal apa? Memangnya di dalam selimut ini ada makhluk aneh?"

Ujar Gin hoa nio dengan tertawa, walaupun begitu, di dalam hati sebenarnya sudah rada ngeri.....

Padahal kedua orang ini, yang satu anak kecil kurus pucat, yang lain sakit keras, jelas tidak mungkin dapat menyerang orang.

Gin hoa nio sendiri tidak tahu sesungguhnya apa yang menakutkan dirinya?

Dilihatnya Cu Lui ji lantas turun ke bawah waktu naik lagi ia membawa sebuah mangkuk besar penuh berisi air jernih.

Ia keluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam, dengan kuku jari dicukitnya setitik bubuk hitam yang disentilkan ke dalam air, air semangkuk penuh itu seketika berubah menjadi hitam seperti tinta.

Gin hoa nio memandangnya dengan kesima, iapun tidak dapat menerka permainan apa yang sedang dilakukan nona cilik itu.

Lalu Cu Lui ji menaruh mangkok besar itu di sudut kamar.

ia pandang Gin hoa-nio dengan, katanya.

"Tunggu sebentar lagi hal-hal yang menarik segera akan muncul."

Senyuman, nona itu seakan-akan mengandung sesuatu yang misterius, sampai Ji Pwe giok juga rada tegang.

Mata Gin hoa nio juga terbelalak lebar.

Tertampaklah selimut yang menutupi badan si sakit itu mulai bergerak dengan keras, bergolak seperti ombak samudera.

Loteng kecil ini meski terang benderang oleh sinar matahari, akan tetapi mendadak seperti berubah dingin menyeramkan.

Saking ketakutan Ciong Cing sudah berjongkok dan meringkuk menjadi satu, kaki dan tangan sudah dingin seluruhnya.

Gin hoa nio tak tahan, katanya."

Apapun yang ter.....terdapat didalam selimut, aku.....aku tidak ingin... tidak lagi ingin melihatnya..."

"Baru sekarang kau tidak ingin melihatnya sudah terlambat"

Kata Cu Lui ji.

Pada saat itulah dari dalam selimut mulai menongol sesuatu kiranya seekor kelabang.

Kelabang ini tidak besar, bahkan jauh lebih kecil daripada kelabang umumnya, tapi seluruh badannya merah terang mirip mainan buatan dari batu jade.

Di belakang kelabang ini mengikat pula dua-tiga puluh ekor kelabang lain yang beraneka warnanya dan besar kecil tidak sama.

Satu persatu seperti berbaris merayap keluar secara teratur.

Jelas setiap ekor kelabang ini beracun sangat jahat.

Gin hoa nio tertawa mengikik.

"Hihi kukira barang apa yang bisa menakuti orang, kiranya cuma kawanan kelabang saja. Pada waktu berumur tiga tahun sudah biasa ku tangkap dan main-main dengan kelabang yang lebih besar."

Apa yang dikatakannya memang tidak bergurau.

Orang Thian-can-kau masa takut pada kelabang?

Cuma kawanan kelabang ini bisa merayap keluar dari dalam selimut orang ini betapapun juga satu kejadian yang aneh.

Meskipun Gin hoa nio masih tertawa tapi tertawanya sudah mulai berubah menjadi menyengir.

Di belakang barisan kelabang tadi ternyata mengikuti pula barisan tokek, lalu muncul lagi sejumlah ular berbisa, katak buduk, kalajengking dan macam-macam lagi serangga berbisa yang belum pernah dilihat Gin hoa nio, akan tetapi semuanya seperti mendapat perintah, satu persatu merayap keluar secara teratur.

Akhirnya Gin hoa nio tak bisa tertawa lagi.

Ciong Cing menjerit dan jatuh kelengar.

Sungguh sukar untuk dibayangkan, orang sakit yang sudah hampir mati itu bisa tidur bersama makhluk-makhluk berbisa sebanyak itu di satu tempat tidur dan di dalam satu selimut.

Malahan kelihatannya dia dapat tidur dengan aman dan tenang.

Mau tak mau merinding juga Gin hoa nio, meski sejak kecil ia hidup di tengah-tengah gerombolan makhluk berbisa, tapi kalau dia disuruh tidur di sini seperti si sakit ini biarpun dibunuh juga dia tidak berani.

Sementara itu barisan makhluk-makhluk berbisa itu satu persatu mulai merambat turun ke bawah tempat tidur, menuju ke sudut ruangan tempat mangkuk berisi air tadi.

Cu Lui ji lantas memasang dua tangkai sumpit di kanan kiri tepi mangkuk, dengan sumpit sebagai jembatan, kawanan makhluk berbisa itu lantas merayap ke dalam mangkuk besar itu sesudah mandi dalam air, merayap turun melalui jembatan sumpit di sebelahnya.

Makhluk berbisa yang tadinya tampak bercahaya dan gesit, sehabis mandi lantas kelihatan lesu dan lemas.

Begitulah beratus ekor binatang berbisa itu bergantian mandi di air mangkuk besar itu, lalu satu persatu menyusup kembali ke dalam selimut.

Sementara itu air mangkuk yang tadinya hitam seperti tinta lambat laun mulai berubah menjadi putih.

Ketika beberapa ekor ular berbisa yang tak diketahui namanya habis mandi di air mangkuk, lalu air mangkuk mulai berbuih, malahan terus mengepulkan hawa panas, mirip air yang baru di masak dan mendidih.

Butiran keringat di muka Kwe Pian sian juga mulai berketes-ketes.

Air mangkuk dari hitam kini telah berubah menjadi putih, dari putih lantas jernih dan kembali seperti asalnya.

Bedanya air semangkuk penuh itu sekarang seperti air mendidih yang habis di masak.

Sementara itu kawanan makhluk berbisa tadi seluruhnya sudah menyusup kembali ke dalam selimut.

Di ruangan loteng kecil ini kembali sunyi senyap seperti tidak pernah terjadi apapun.

Yang terdengar hanya suara pernapasan yang berat di sana sini, siapapun tidak ada yang bicara.

Cu Liu ji lantas mengangkat mangkuk besar tadi, dengan tertawa disodorkannya kepada Gin hoa nio, katanya.

"Nasi belum selesai di masak, kalau nona lapar, silahkan minum dulu air mukjizat ini. Setelah ditambahi bumbu sebanyak ini, rasa air ini pasti jauh lebih segar daripada kuah ayam."

Kontan Gin hoa nio menyurut mundur sambil menggoyang tangan, katanya sambil menyengir.

"O, jang...jangan sungkan, silahkan... nona minum sendiri saja."

Betapa dia memang berasal dari keluarga ahli racun, pengetahuannya banyak dan pengalamannya luas, Sekarang sudah dilihatnya bubuk hitam yang dicampurkan ke dalam air oleh Cu Lui-ji tadi sesungguhnya adalah semacam obat mujarab, dengan obat itulah kawanan makhluk berbisa tadi dipancing keluar agar menuangkan racunnya ke dalam mangkuk.

Kini racun beratus ekor binatang berbisa itu telah tertuang ke dalam air mangkuk, jangankan di minum, tersentuh saja mungkin bisa celaka, tubuh orang biasa kalau kena satu tetes air itu, bisa jadi seluruh badan akan membusuk.

Siapa tahu Cu Lui ji malah tersenyum dan berkata.

"Kuah segar dan lezat ini, kalau para tamu tidak sudi minum, terpaksa harus kuminum sendiri saja."

Sambil bicara ia terus angkat mangkuknya dan benar-benar diminum seluruhnya, habis itu mulutnya malah berkecap-kecap seperti orang habis merasakan makanan yang paling lezat.

Pwe-giok tidak memperlihatkan perasaan apa-apa menyaksikan perbuatan nona cilik itu, tapi air muka Kwe Pian sian dan Gin hoa nio lantas berubah seketika, sebab mereka tahu betapa hebat kadar racun di dalam air itu, sungguh mimpipun tak terbayangkan oleh mereka ada yang sanggup meminumnya setetes atau dua tetes, tapi sekarang nona cilik ini justeru minum semangkuk penuh, bahkan tidak terlihat terjadi sesuatu.

Apakah mungkin isi perut nona ini gemblengan dari baja?

Dengan tenang-tenang Cu Lui ji berkata lagi.

"Penyakit Sacek sudah sangat parah hingga merasuk tulang, berkat hawa dingin kawanan makhluk berbisa inilah jiwa sacek dapat dipertahankan hingga kini. Maka kalau kami kiranya bersikap kurang sopan, hendaklah para tamu sudi memberi maaf."

"Penyakit apakah yang menghinggapi Sacekmu?"

Tanya Gin hoa nio dengan mengiring tawa. Lui ji menghela nafas, jawabnya dengan rawan;

"Penyakit ini tidak diketahui namanya, tapi kalau kalian ingin tahu....."

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba di bawah ada orang mengetuk pintu, habis itu lantas terdengar suara seorang tua berseru.

"Ji Pwe-giok, Ji-kongcu apakah berada di atas? Ang lian pangcu kami sengaja berkunjung kemari dan mohon bertemu!"

Itulah suara Bwe Su bong. Kejut dan girang Pwe giok ia tidak tahu untuk apakah Ang lian pangcu mencarinya. Dalam pada itu air muka Kwe Pian sian menjadi pucat, katanya dengan parau.

"Lekas kau turun ke sana dan men...mencegah mereka... aku pergi dulu..."

Pada saat itulah kembali pintu diketuk lagi lebih gencar, suara seorang perempuan muda sedang berteriak.

"Buka pintu, Ji-kongcu! Kun hujin kami juga berkunjung padamu!"

Bahwa selain Ang lian hoa, Hay hong Hujin juga datang, keruan wajah Kwe Pian sian bertambah pucat.

Cepat ia melompat ke jendela, perlahan ia membuka daun jendela dan mengintip keluar.

Ternyata loteng kecil ini sudah penuh dikepung orang, atap rumah disekitar loteng ini dan setiap tempat yang dapat dibuat berdiri sudah penuh dengan orang.

Terdengar orang berteriak lagi ke bawah."

Kun-Hujin dan Ang lian pangcu berkunjung kemari kenapa Ji kongcu tidak lekas membuka pintu?"

Cepat Kwe Pian sian menarik Pwe giok, katanya.

"Apakah mereka tahu aku berada di sini?"

"Cara bagaimana ku tahu,"

Jawab Pwe giok.

"Untuk apa mereka mencari kau?"

Tanya Kwe Pian sian pula.

"Akupun tidak tahu,"

Ujar Pwe giok sambil mengangkat bahu.

"Mereka telah mengepung rapat tempat ini, tampaknya mereka hendak memusuhi kita, menghadapi musuh bersama, jangan...jangan kau buka pintu,"

Kata Kwe Pian sian.

"Pintu tidak ku buka, memangnya mereka tidak dapat mendobrak dan masuk dengan paksa?"

Ujar Pwe giok sambil menghela nafas. Dalam pada itu suara perempuan muda tadi sedang berteriak pula.

"Ji kongcu, kami sudah minta dibuka pintu dengan sopan, kalau pintu tetap tidak dibuka, terpaksa kami menerjang masuk!"

Biji mata Gin hoa nio berputar, tiba-tiba ia tertawa genit dan berseru.

"Ji Kongcu lagi sibuk di kakus, bila sekarang kalian menerobos masuk, tentu akan kebagian bau sedap. Tunggu saja sebentar, bilamana dia habis kuras gudang, pintu tentu akan dibuka, masa kalian terburuburu?"

Di bawah terdiam sejenak, lalu perempuan muda itupun tertawa ngikik dan berkata.

"Baiklah akan kami tunggu sebentar, asalkan dia tidak kecemplung ke dalam jamban, masa pintu takkan dibuka."

Pwe giok berkerut kening memandang Kwe Pian sian, katanya.

"Masa kaupun tidak berani bertemu dengan Hay hong Hujin? Sesungguhnya ada hubungan apa antara kau dengan dia?"

Kwe Pian sian hanya batuk-batuk saja dan tidak menjawab.

Dalam pada itu Ciong cing sudah siuman, pelahan ia mengurut punggungnya dengan rasa cemas.

Pwe giok menghela napas, katanya pula dengan perlahan."

Apapun juga akhirnya mereka toh akan naik ke sini, rasanya pintu harus kubuka, sebaiknya kau cari akal saja."

Orang sakit yang sudah kempas-kempis itu mendadak membuka matanya dan berkata.

"Aku ada akal! Coba dekatkan telingamu ke sini, akan ku bisiku kau,"

Kata orang itu.

Dengan girang Kwe Pian sian mendekatinya, tapi baru dua tiga langkah mendadak ia berhenti teringat olehnya hal-hal yang misterius pada diri si sakit ini, tanpa terasa ia menyurut mundur lagi.

Rupanya Ciong Cing jauh lebih gelisah daripada Kwe Pian sian, tanpa pikir ia mendekati orang sakit itu dan berkata.

"Apabila Cianpwe ada akal yang dapat menolong dia, silahkan beritahukan kepadaku, sungguh Tecu akan sangat berterima kasih."

Orang itu berkerut kening, tanyanya kemudian.

"Siapa kau? Anak murid perguruan mana?"

Ciong Cing ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berkata juga.

"Tecu Ciong Cing dari Hoasan."

"Anak murid Hoa-san, terhitung juga golongan murni...."

Orang itu bergumam, lalu menambahkan."

Baik, coba kemari, akan kuberitahu."

Butiran keringat memenuhi muka Ciong Cing, teringat olehnya makhluk-makhluk berbisa yang memenuhi kolong selimut itu, ia merinding dan kakipun terasa lemas.

Tapi demi orang yang dicintainya, betapapun ia tabahkan hati dan mendekat kesana.

Tiba-tiba orang sakit itu bertanya pula.

"Sudah berapa lama kau latih Kungfu?"

Meski tidak tahu untuk apa orang bertanya urusan ini, namun Ciong Cing menjawab juga.

"Sudah sebelas tahun."

Wajah orang sakit yang kurus dan kuning itu menampilkan secercah senyuman, katanya.

"Bagus, bagus....."

Mendadak sebelah tangannya terjulur, pergelangan tangan Ciong Cing terpegang.

Tampaknya ia sudah kempas kempis dan setiap saat bisa menghembuskan napas penghabisan, tapi begitu bergerak ternyata cepatnya luar biasa.

Sampai-sampai orang macam Kwe Pian sian dan Ji Pwe giok juga tidak jelas cara bagaimana orang sakit itu menjulurkan tangannya, Ciong Cing sendiri bahkan menjerit saja tidak sempat dan tahu-tahu sudah diseret lebih dekat sana.

"Apakah yang hendak Anda lakukan?"

Tanya Pwe giok dengan was-was.

Setelah orang sakit itu memegang pergelangan tangan Ciong Cing, lalu ia tidak melakukan gerakan lain lagi.

Sebaliknya ia lantas memejamkan mata.

Meski merasakan tangan orang sangat dingin, Ciong Cing mulai tenang juga karena orang tidak bertindak lain lagi.

Ia lantas bertanya.

"Sesungguhnya Cianpwe mempunyai akal apa? Tecu siap mendengarkan."

Sambil tetap memejamkan mata orang itu berkata dengan perlahan.

"Kalian tetap tunggu saja di sini dan tidak perlu buka pintu."

"Hanya....hanya begini saja masa terhitung akal?"

Seru Ciong Cing dengan mendongkol. Dengan tak acuh orang sakit itu berkata.

"Asalkan kalian tidak membuka pintu, di seluruh kolong langit ini tiada seorangpun berani naik ke atas loteng ini."

Meski merasa bualan orang agak terlalu besar, tapi mengingat tindak-tanduk orang ini sangat misterius, mau tak mau iapun percaya separoh-separoh, ia tidak merasakan air muka sendiri kini telah mulai pucat dan makin pucat.

Sebaliknya air muka si sakit yang tadinya kuning mayat kini mulai bersemu hawa orang hidup.

Dalam pada itu suara teriakan di bawah loteng bergema pula, maka orang lainpun tidak memperhatikan perubahan air muka mereka berdua.

Suara teriakan orang di bawah semakin ramai dan kasar, tapi benar juga, tiada seorangpun berani mendobrak pintu.

Terdengar Bwe Su-bong berteriak pula.

"Ji kongcu, Bengcu dan Bu siang Lojin juga berkunjung padamu, masa kau tetap tidak mau turun?"

Semula Pwe giok bermaksud turun, tapi sekarang ia menjadi ragu-ragu. Untuk apakah orangorang itu terburu-buru ingin bertemu dengan dirinya? Perempuan muda tadipun berteriak lagi.

"Ji kongcu, jika kau tidak menghendaki kami naik ke atas, boleh kau turun dan bicara sepatah kata saja dengan kami.....Ji-kongcu, sebanyak ini orang yang ingin bertemu denganmu, mengapa engkau menolak maksud baik orang banyak?"

Orang-orang itu ternyata tidak bermaksud naik ke atas, ini menandakan sasaran mereka bukan terhadap Kwe Pian sian.

Tapi mereka menghendaki Pwe giok turun ke bawah, apakah memang ada intrik tertentu?

Semakin didesak, semakin ragu Pwe giok.

Saat itulah mendadak Ciong Cing menjerit, orang sakit itu telah melepaskan tangannya, kontan Ciong Cing roboh terkulai.

Cepat Kwe Pian sian memayangnya bangun, tapi tubuh Ciong Cin terasa lunak seperti kapas, tanganpun sukar terangkat, waktu Kwe Pian sian memeriksa napasnya, ternyata juga sangat lemah.

"He, kenapa kau?"

Teriak Kwe Pian sian kaget. Air muka Ciong Cing tampak ketakutan setengah mati, serunya dengan suara lemah dan gemetar.

"Ib...iblis ini bu...bukan manusia dia...."

Dengan kaku ia memandang ke tempat jauh dan berulang-ulang mengucapkan kata-kata yang sama, dia seperti tidak waras lagi saking takutnya, ditanya juga tidak dapat menjawab lagi.

Kwe Pian sian memandangi si sakit air mukanya tampak mulai bersemu merah, nyata tenaga dalam latihan belasan tahun Ciong Cing tanpa terasa telah dihisap oleh orang itu.

Mendadak Kwe Pian sian berbangkit dengan sorot mata yang sangat ketakutan.

Sebaliknya si sakit tampaknya sudah terpulas, Cu Lui ji sedang merapikan selimutnya.

Diam-diam Gin hoa nio menarik Kwe Pian sian dan Ji Pwe giok ke samping sana, katanya dengan suara tertahan.

"Sesungguhnya apa yang terjadi ini?"

Keringat nampak memenuhi dahi Kwe Pian sian, dengan suara parau ia mendesis.

"Menghisap sari tenaga orang lain untuk menambah kekuatan sendiri, tak tersangka di dunia ini benar-benar ada Kungfu selihai ini. Kalau sekarang kita tidak menggunakan kesempatan ini untuk menumpas dia mungkin kitapun akan mati tak terkubur."

Gin hoa nio menghela nafas, katanya kemudian.

"Jika kau berani turun tangan lebih dulu, pasti akan kubantu kau."

Kwe Pian sian jadi melengak dan tak dapat menjawab.

Sunyi seperti kuburan di loteng kecil ini, Pwe giok seperti ingin bertindak sesuatu, tapi pada saat ini juga di bawah telah berkumandang suara Ji Hong-ho.

"Kalau dia tidak mau turun, tentu dia sudah ikut berkomplotan dengan mereka. Kini kita sudah berkumpul, bila tidak segera turun tangan mungkin akan terjadi perubahan....."

Tiba-tiba terdengar Hay hong Hujin menyeletuk.

"Apakah Bengcu sudah menyelidikinya dengan jelas?"

"Bukti dan saksi sudah lengkap di sini. Ang lian pangcu juga melihat sendiri,"

Kata Ji Hong ho.

Tiada terdengar suara Ang lian hoa, mungkin secara diam-diam ia membenarkan.

Selagi Pwe-giok menerka urusan apa sebenarnya yang dimaksudkan mereka, tiba-tiba terdengar suara deru angin yang keras, beberapa bola hitam sebesar semangka telah menerobos jendela dengan membawa api yang berkobar.

Hakekatnya Pwe giok dan lain-lain tidak tahu benda apakah ini seketika mereka menjadi bingung tidak tahu bagaimana harus menghadapi bola berapi itu, terpaksa mereka menyingkir saja menghindari.

Si orang sakit yang tampaknya tertidur itu mendadak menjulurkan kedua tangannya yang tadinya tertutup selimut, kesepuluh jarinya menyelentik susul menyusul.

Terdengar suara "crat-crit"

Berulang-ulang seperti desing anak panah di udara, belasan bola hitam tadi kontan terjentik kembali keluar.

Kiranya selentikan jari si sakit itu membawa semacam tenaga yang tak berwujud, tapi keras dan tajam seperti senjata.

Apa lagi ia menyelentik susul menyusul sehingga tenaga jari yang tak kelihatan ini terpancar lebih kuat, sekalipun ilmu tenaga jari sakti "Sian-ci-sin-thong"

Yan terkenal di dunia persilatan juga tidak selihai ini. Keruan semua orang sama terkesiap. Setelah bola-bola hitam tadi terjentik keluar, lalu terdengarlah suara "blang-blung"

Yang keras disertai lelatu api yang berhamburan.

Suara ledakan menggelegar tiada hentinya.

Suasana menjadi kacau, terdengar jeritan di sana sini serta suara orang yang berlari ketakutan.

Loteng kecil itupun tergetar seakan-akan ambruk.

"Apakah ini senjata api buatan Pi-lik-tong (nama pabrik mesiu jaman kuno) yang terkenal di daerah Kanglam itu?"

Kata Gin hoa nio dengan terkejut.

"Betul,"

Jawab Kwe Pian sian dengan gegetun.

"Kalau saja bola api tadi meledak di sini, andaikan tubuh kita tidak hancur lebur, sedikitnya akan babak-belur dan mungkin pula cacat selama hidup."

"Makanya tentunya sekarang kalianpun tahu,"

Sela Cu Lui-ji sambil menoleh tertawa.

"Meski Sacek telah meminjam pakai kekuatan belasan tahun latihan nona ini, tapi Sacek juga telah menyelamatkan jiwa kalian berempat. Jual beli ini kan tidak merugikan kalian?"

Daun jendela sudah jebol diterjang oleh bola-bola hitam tadi, sembari bicara Cu Lui ji lantas merapatkan tabir jendela agaknya tidak suka kalau keadaan didalam ruangan ini terlihat orang luar.

Kedua tangan si sakit telah disembunyikan kembali ke dalam selimut, air mukanya mulai pucat lagi.

Sungguh, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tidak percaya orang yang sudah sekarat ini mempunyai kungfu selihai tadi.

Pwe-giok tidak tahan, ia coba bertanya.

"sesungguhnya Ji Hong ho itu ada permusuhan apa dengan Anda?"

"Bermusuhan denganku? Hm, dia belum sesuai!"

Jengek orang sakit itu.

"Jika demikian, untuk apa dia bertindak sekeji ini terhadap Anda?"

Tanya Pwe giok pula.

"Darimana kau tahu yang dia tuju adalah diriku dan bukan kalian?"

Ujar orang itu.

"Tapi Ji Hong ho tidak bermain catur ditempat lain, justru datang ke kota kecil yang terpencil dan sepi ini, tadinya aku sangat heran baru sekarang ku tahu tujuan kedatangannya ialah Anda."

Kata Pwe-giok pula dengan gegetun. Tapi orang sakit itu tidak menanggapi, ia memejamkan mata pula. Pwe giok berkata lagi.

"Ada lagi, Anda tidak tetirah ditempat lain, tapi justeru datang ke kota kecil ini, inipun kejadian yang maha aneh. Sungguh tidak habis ku terka sesungguhnya dimana terletak daya tarik kota kecil ini?"

Tapi orang sakit itu tetap tidak menggubrisnya, maka Pwe giok tidak dapat bicara lagi. Selang sejenak, tiba-tiba Cu Lui-ji berkata.

"Yang mereka tuju bukanlah Sacek melainkan diriku!"

"Dirimu?"

Pwe giok menegas dengan melenggong.

"Usiamu sekecil ini, untuk apa mereka mencari kau?"

"Apakah usiaku terhitung masih kecil?"

Ujar Lui-ji sambil tertawa.

"Biarpun orang she Ji itu manusia berhati binatang, tapi dalam kedudukannya selaku Bu-limbengcu, mana bisa dia mengerahkan tenaga sebanyak itu untuk menghadapi seorang anak kecil seperti dirimu ini?"

Kata Pwe giok pula.

"Bu-lim-bengcu? Huh!"

Jengek Cu Lui-ji.

"Memangnya berapa harganya satu kati Bu-limbengcu begitu? Tidak perlu Sacek, aku saja tidak memandang sebelah mata padanya."

Padahal Hong ti-tayhwe atau pertemuan besar Hong ti adalah suatu sidang paripurna dunia persilatan yang mengikat, Bengcu atau ketua perserikatan yang diangkat didalam sidang itu dihormati dan disegani setiap ksatria dan pendekar di dunia ini.

Tapi anak perempuan kecil ini menyatakan tidak pandang sebelah mata terhadap sang Bengcu.

Tentu saja hal ini sangat luar biasa.

Memangnya kedudukan anak perempuan ini jauh lebih terhormat dan lebih agung daripada Bu-Lim-bengcu?

Pwe giok jadi semakin heran.

Selagi ia hendak bertanya pula, mendadak Gin hoa-nio bersorak gembira, serunya.

"Aha, orang-orang itu sudah pergi semua, bersih tanpa seorang-pun yang ketinggalan!"

Cepat Kwe Pian-sian menyingkap tabir jendela, memang betul, di luar sana tiada nampak bayangan seorangpun.

"Kenapa mesti heran,"

Dengan hambar Cu Lui-ji berkata pula.

"setelah orang-orang itu mengetahui kungfu Sacek sudah pulih, memangnya mereka berani tinggal lebih lama lagi di sini untuk menunggu kematian?"

Bahwa orang-orang seperti Ji Hong-ho, Kun Hay-hong dan lain-lain seakan-akan juga sangat jeri terhadap orang yang sakit ini, maka dapat diperkirakan orang sakit ini pasti luar biasa asal-usulnya.

Sesungguhnya siapakah dia?

Tentu juga Pwe-giok sangat heran, terkejut dan juga tertarik, namun saat itu juga Kwe Piansian sudah memondong Ciong Cing dan berkata."

Hayolah kita berangkat sekarang!"

"Betul, tidak berangkat sekarang mau tunggu kapan lagi?"

Tukas Cu Lui ji dengan dingin. Pwe-giok lantas berkata.

"Kalau mereka mendadak kembali lagi, apakah kalian...."

"Urusan Sacek tidak perlu kau ikut campur"

Ucap Lui ji dengan angkuh.

"Mengenai diriku.....apakah aku akan hidup atau mati lebih-lebih tidak perlu diresahkan orang lain."

Dengan suara gemetar mendadak Ciong Cing berteriak.

"Jika demikian, mengapa.....mengapa kalian men.....mencuri tenagaku?"

"Kan kalian yang datang sendiri ke sini. Kami tidak mencari kau, kenapa kau salahkan orang lain?!", jawab Cu Lui-ji dengan ketus. Ciong cing melengak, mendadak ia menangis tergerung-gerung. Tiba-tiba si sakit buka suara dengan perlahan.

"Mengingat kedatangan mereka ini tidaklah sia-sia barang itu boleh kau berikan saja kepada mereka."

"Tapi barang-barang ini memang milikku, kenapa harus kuberikan kepada mereka?"

Ujar Cu Lui-ji.

"Hanya sedikit batu permata begitu apa artinya? Kenapa kau berubah menjadi sebodoh ini?"

Ujar si sakit sambil berkerut kening.

Lui-ji mengiakan dengan menunduk.

Tanpa bicara lagi ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari almari dinding sana terus dilemparkan ke depan Gin-hoa-nio.

Ketika ujung bungkusan itu terlepas sedikit.

Tertampaklah cahaya gemerlapan, nyata itulah harta benda Gin-hoa-nio yang hilang itu.

Meski didalam hati penuh tanda tanya, tapi Gin-hoa-nio tidak berani lagi banyak bicara, setelah tertegun sejenak, mendadak ia angkat bungkusan itu terus lari ke bawah loteng secepat terbang.

***** Sesungguhnya siapakah gerangan si sakit itu?

Mengapa Ji Hong-ho dan lain-lain sedemikian takut kepadanya?

Siapa pula sebenarnya Cu Lui-ji dan darimana asal-usulnya?

Mengapa sebanyak itu tokohtokoh Bu-Lim berkumpul di kota kecil ini hanya untuk menghadapi seorang anak kecil begitu?

Bahkan diantara tokoh-tokoh Bu-Lim itu termasuk pula Ang-lian-hoa?

Masa Angliang-hoa seorang yang suka merecoki seorang anak kecil?

Sesungguhnya penyakit apa yang menghinggapi orang sakit itu?

Mengapa dia merawat sakitnya di kota kecil terpencil ini?

Jelas tenaganya belum pulih seluruhnya.

Sedangkan Ji Hong-ho dan lain-lain pasti tidak pergi begitu saja, seharusnya dia menahan ji Pwe-giok dan lain-lain di situ, mengapa dia melepaskan mereka pergi?

Begitulah didalam benak Pwe-giok penuh tanda tanya yang sukar dipecahkan.

Gin hoa nio juga bergumam terus menerus."

Aneh, si tebese itu mengapa mengembalikan harta benda ini kepadaku? Mengapa begini saja dia membebaskan kita pergi? Masa dia benarbenar tidak mengharapkan sesuatu dari kita?"

Sembari menggerundel ia terus berlari ke depan.

Kota kecil itu bermandi cahaya sang surya, namun setiap pintu rumah penduduk tampak tertutup rapat, satu bayangan manusia saja tidak kelihatan.

Baru sekian langkah Kwe Pian-sian berlari mendadak ia menghadang di depan Gin-hoa-nio.

Cepat Gin-hoa-nio menyembunyikan bungkusan ke belakang punggungnya, tanyanya dengan was-was.

"Kau mau apa?"

"Ai, dasar perempuan,"

Ujar Kwe Pian-sian dengan gegetun.

"Sampai perempuan seperti ini juga berpikiran sempit, dalam keadaan demikian masa dapat ku incar harta bendamu ini?"

Gin hoa nio mengerling genit, katanya dengan tersenyum.

"Jika kau tahu perempuan berjiwa sempit mengapa kau sengaja merintangi jalan orang? Apakah kau tidak ingin cepat-cepat pergi dan hendak menunggu kedatangan Ang-lian-hoa?"

"Sudah tentu aku ingin lekas-lekas pergi, tapi aku tidak ingin pergi dengan digotong orang,"

Kata Kwe Pian-sian dengan dingin. Gin hoa nio memandang Ciong Cing sekejap, ucapnya dengan tertawa.

"Kamipun ingin pergi dipondong olehmu, tapi sayang, tanganmu tidak ada peluang lagi."

"Kalau kau terus berlari ke depan, masa tidak bakalan ada orang akan menggotong kau?"

Kata Kwe Pian-sian.

"Maksudmu.....maksudmu kita tidak pergi sekarang?"

"Saat ini, kau dan aku jangan harap akan dapat meninggalkan kota kecil ini selangkahpun!"

"Hihi, memangnya kau sangka aku ini kegirangan karena mendapatkan kembali hartabendaku sehingga pikiranku sudah keblinger?"

Kata Gin hoa nio dengan tertawa."

Sudah tentu ku tahu Ji Hong-ho dan rombongannya takkan pergi jauh, besar kemungkinan mereka sudah mengepung rapat kota kecil ini, maka bayangan setanpun tidak kelihatan di sini"

"Tapi menurut perhitunganmu, karena kau tidak bermusuhan apapun dengan mereka, tentu kau akan diberi jalan, maka kau sendiri lantas mau kabur begitu saja tanpa memperdulikan orang lain, begitu bukan?"

"Ai. Aku ini kan perempuan yang berjiwa sempit dan tidak bisa apa-apa, memangnya hendak kau suruh aku bertindak bagaimana? Kalian kan lelaki gagah perkasa, masa memerlukan perlindunganku malah?"

"Hahahaha! Teman baik, sahabat karib.....!!"

Kwe Pian-sian bergelak tertawa.

"Sungguh tidak nyana kau dapat menutupi perbuatannya yang cuma mementingkan diri sendiri ini sebagai tindakan yang menarik, untung kau bukan lelaki, kalau tidak mustahil kalau tidak sejak taditadi kau disembelih orang."

Gin hoa nio tertawa terkekeh, katanya.

"Tapi ku tahu kau pasti takkan membunuhku, seumpama kau bermaksud menahanku di sini, Ji kongcu kita yang luhur budi dan bijaksana ini pasti juga tidak tinggal diam dan tentu akan membelaku."

"Jika kau ingin pergi, tidak nanti ku rintangi kau."

Kata Kwe Pian sian.

"Oya?! Tak tersangka kau juga seorang yang luhur budi dan bijaksana....."

"Tapi dengan membawa satu bungkus mestika begini, apakah orang lain mau membebaskan kau pergi begitu saja?"

Jengek Kwe Pian sian. Seketika Gin hoa nio merasa seperti kena depak orang satu kali, sekujur badan terasa lemas lunglai. Dengan tenang Kwe Pian sian menyambung pula.

"Makanya, jika kau ingin pergi, mau tak mau bungkusan ini harus kau tinggalkan di sini dan ini berarti..... seolah-olah menghendaki jiwamu."

Mendadak Gin hoa nio melonjak dan berjingkrak, katanya.

"Ah, tahulah aku sekarang, sebabnya si tebese itu mengembalikan harta pusakaku ini, maksudnya justru hendak mengganduli diriku supaya aku tidak pergi. Ai, orang sudah hampir mampus begitu masih juga banyak akal-bulusnya."

Mendadak Pwe giok ikut bicara.

"Jika kau sangka dia sengaja hendak membikin susah padamu, mengapa tidak kau kembalikan harta benda ini kepadanya?"

Gin hoa nio mendepakkan kakinya ke tanah dan berkata.

"Sudah tentu iapun memperhitungkan aku tidak rela...."

Tapi mendadak ia tertawa dan mengerling genit sambungnya.

"Apalagi, seumpama tidak ada bungkusan batu permata ini, masa ku-sampai hati meninggalkan kalian di sini? Apa yang ku katakan barusan kan cuma bersenda-gurau saja."

"Hehe, lucu ya guraumu?"

Jengek Kwe Pian sian. Gin hoa nio memandangnya dengan menengadah, tubuhnya seakan-akan hendak jatuh ke pangkuan orang, dengan suara halus ia berkata.

"Eh, coba katakan, apakah sekarang juga kita harus mundur kembali ke sana?"

"Adalah maha beruntung kalau kita dapat keluar dengan selamat, mana boleh balik lagi ke sana"

Ujar Kwe Pian sian. Nyatanya, ia lebih suka menghadapi Ang lian hoa dari pada bermusuhan dengan si sakit yang misterius itu.

"Maju tidak mau, mundur juga emoh, lalu bagaimana baiknya?"

Tanya Gin hoa nio.

"Apakah kita perlu mencari lagi sebuah rumah lain untuk sembunyi? Tapi kalau kepergok si tebese lagi, kan bisa celaka."

"Tempat yang kucari sekali ini pasti takkan terdapat orang lain..."

"Dimana?"

Tanya Gin hoa nio sebelum ucapan Kwe Pian sian dilanjutkan.

"Di sana, hotel itu!"

"Haha, kau memang pintar"

Puji Gin hoa nio dengan tertawa genit.

"Orang-orang tadi baru saja meninggalkan hotel itu, besar kemungkinan mereka takkan kembali kesana. Hotel itu memang tempat yang paling aman di kota ini, cuma....."

Dia pandang Pwe giok sekejap, sambil menggigit bibir ia menyambung pula.

"Ji-kongcu kita yang terhormat ini apakah kau mau bersembunyi bersama kita?"

"Dia pasti ikut,"

Kata Kwe Pian sian.

"Oo... pasti?"

Gin hoa nio merasa sangsi.

"Ya,"

Kata Kwe Pian sian.

"setelah sekian lama Ji hong-ho dan rombongannya tidak melihat suatu gerak-gerik di sini, tentu mereka akan balik lagi ke sini. Dan kalau kita sembunyi di hotel itu, kebetulan dapat menjadi penonton tanpa bayar."

Dia tersenyum bangga, lalu menyambung pula.

"Saat ini Ji-heng tentu juga penuh diliputi tanda tanya, kalau urusan ini tidak ikut terpecahkan hingga jelas, betapapun Ji-heng pasti tidak rela tinggal pergi. betul tidak Ji-heng?"

Pwe giok tersenyum hambar, jawabnya.

"Apa lagi saat ini aku memang tidak ada tempat tujuan untuk pergi."

Di hotel itu memang benar sunyi senyap tiada bayangan seorangpun, sampai-sampai pengurusnya dan pelayannya juga sudah kabur entah kemana, seakan-akan merekapun sudah tahu di sini bakal tertimpa bencana, maka cepat-cepat cari selamat lebih dulu.

Sebagai pemuda perkasa, Kwe Pian sian berjalan di depan, dia tidak mencari kamar tamu biasa, juga tidak menuju ruangan tempat tinggal Ji Hong ho tadi, tapi langsung menuju ke dapur.

Api tungku di dapur hampir padam tapi belum padam, satu wajan nasi tanak sudah hampir hangus.

Di atas meja sayur terdapat segebung sayur asin yang sudah dirajang sebagian, di suatu mangkuk juga ada telur ayam yang sudah diaduk, agaknya si koki tadi sedang siap-siap mengolah sayur asin goreng telur, tapi belum selesai dibuat.

Gin hoa nio celingukan kian kemari, dengan tertawa ia berkata.

"Penghuni hotel ini mungkin kabur dengan tergesa-gesa sehingga tidak sempat sarapan pagi. Apa lagi mereka diusir oleh Ji Hong ho dan begundalnya?"

"Ji Hong ho tidak perlu mengusir mereka, setelah mengalami kekacauan tadi, masa mereka masih berani tinggal ditempat yang penuh penyakit ini?"

Kata Kwe Pian sian.

"Mungkin lagi sial juga pemilik hotel ini, akhir-akhir ini penghuni hotel ini kebanyakan orang mati melulu....."

Sembari bicara Gin hoa nio terus menyembunyikannya ke bawah onggokan kayu bakar.

Lalu ia mengambil mangkuk dan mengisi nasi terus dimakannya dengan lauk sayur asin.

Kwe Pian sian juga mengisi satu mangkuk nasi dan disodorkan kepada Ciong Cing, katanya dengan tertawa.

"Ini, kaupun makanlah sedikit, meski nasi ini rada sangit, tapi pasti tidak beracun."

Gin ho nio tertawa, katanya.

"Selama hidupku sungguh tidak pernah dahar nasi seharum dan sesedap ini, kau...."

Belum habis ucapannya, mendadak mangkuk yang dipegang Kwe Pian sian telah disampuk jatuh Ciong Cing. Nona itu menangis tergerung-gerung sambil meratap.

"Aku sudah orang setengah mati, ku tahu nanti pasti kau tinggalkan diriku. Untuk apa pula ku makan nasi segala......Biarlah ku mati kelaparan saja, lebih cepat mati lebih baik!"

Kwe Pian-sian tidak menjadi marah, ucapnya dengan suara halus.

"Ku tahu pikiranmu lagi risau tapi kan tidak apalah kalau cuma kehilangan Kungfu saja. Aku toh tidak bakalan minta perlindunganmu, kau mahir ilmu silat atau tidak kan tidak menjadi soal bagiku?"

"Kau.....kau tidak perlu pura-pura di depanku,"

Kata Ciong Cing dengan suara terputus-putus.

"Coba jawab sudah tegas-tegas kau katakan padaku bahwa kau sudah putus segala hubungan dengan Kun Hay-hong, sekarang mengapa kau tidak berani bertemu dengan dia, apa yang kau takuti?"

Air muka Kwe Pian-sian tampak berubah.

Pada saat itulah mendadak ada suara orang batuk satu kali, seketika ke empat orang lantas bungkam.

Ditengah keheningan itu sayup-sayup terdengar di luar ada suara langkah orang yang sangat perlahan.

Di samping tungku dapur ini terletak pintu belakang hotel, maka suara langkah itu terdengar seperti menuju ke pintu belakang.

Dari celah-celah pintu Kwe Pian sian dapat mengintip keluar, dilihatnya dua orang sedang menuju ke sini, seorang mendekap mulut, jelas orang yang baru saja batuk.

Orang ini tinggi kurus, bermuka putih, sedang melintang tersandang di punggung, untaian benang sutra merah penghias garan pedang berpadu dengan bajunya yang hijau pupus sehingga kelihatan sangat menyolok.

Seorang lagi juga tinggi kurus, sinar matanya tajam.

Sekali pandang saja Kwe Pian sian lantas tahu Ginkang kedua orang ini pasti tidak lemah.

Kedua orang ini berjalan dari kanan dan kikir terpisah beberapa kaki jauhnya, langkah mereka sangat hati-hati, agaknya ingin menyelidiki keadaan di sini dan kuatir mengejutkan si sakit yang menakutkan di atas loteng kecil itu.

Gemerdep sinar mata dari Kwe Pian sian, mendadak ia membuka pintu dan tertawa kepada mereka.

Tentu saja kedua orang itu melengak.

Segera pula Kwe Pian sian menyurut mundur.

Dengan sendirinya pintu masih terbuka dan mengeluarkan suara"

Keriat-keriut"

Karena tertiup angin.

"Mengapa kalian tidak lekas masuk ke sini?"

Kata Kwe Pian sian dengan suara tertahan.

Gin hoa nio tahu maksud Kwe Pian sian hendak memancing kedua orang itu masuk ke sini untuk ditanyai gerak-gerik di pihak Ji Hong ho sana.

Padahal maksud tujuan kedatangan kedua orang ini adalah untuk menyelidiki keadaan di sini, sekarang mereka malah menjadi sasaran perangkap orang, diam-diam Gin hoa nio tertawa geli.

Rupanya Kwe Pian sian sudah memperhitungkan dengan baik bahwa mengetahui di dapur hotel ini ada orang, biarpun harus menyerempet bahaya juga kedua orang itu akan masuk ke sini untuk melihat apa yang terdapat di tempat ini.

Siapa tahu, meski sudah di tunggu sekian lama orang di luar masih juga tidak masuk kemari, bahkan tiada terdengar suara sedikitpun.

Kembali Gin hoa nio merasa heran, segera ia mendesis.

"Sstt, mengapa kedua orang itu sedemikian penakut?"

"Kukenal satu diantaranya, namanya Ko Tiong, anak murid Tiam jong pay, orang ini cukup terkenal di daerah Hunlam dan Kuiciu, tidak nanti dia takut urusan..."

Belum habis ucapannya.

"kriuut", daun pintu terpentang tertiup angin ternyata bayangan kedua orang tadi sudah tidak kelihatan lagi.

"Hah, tampaklah kedua orang itu memang berhati kecil melebihi tikus,"

Gin hoa nio berolokolok.

Kwe Pian sian berkerut kening, ia coba melongok lagi keluar, dilihatnya Cu Lui ji entah sejak kapan telah turun dari lotengnya dan sedang memetik bunga di halaman sana.

Rupanya ada setangkai bunga mawar yang menongol keluar pagar halaman sana, seharum semerbak tampaknya bunga mawar itu.

Cu Lui ji sedang menengadah ke atas sambil berjinjit tangannya yang kecil itu meraih tangkai bunga mawar itu, mendadak lengan bajunya merosot ke bawah sehingga kelihatan tangannya yang putih bersih.

Orang yang dikenal bernama Ko Tiong dan lelaki berbaju hijau tadi tampak melangkah ke sana dan berdiri tidak bergerak di belakang Cu Lui-ji, mereka memandangi anak dara itu dengan termangu-mangu.

Jilid 17________ Setelah memetik bunga mawar itu, tanpa berpaling lagi Cu Lui-ji lantas kembali ke loteng sana.

Ko Tiong dan lelaki baju hijau itu terpesona, wajah mereka tampak linglung seperti tergilagila kepada anak dara itu sehingga lupa daratan.

Kwe Pian-sian jadi terheran-heran, ia tidak mengerti apa sebab apakah kedua orang ini berubah seperti orang kehilangan ingatan.

Padahal, sekalipun Cu Lui-ji memang seorang dara yang cantik, betapapun usianya baru 11-12 tahun, masa dua laki-laki setengah umur begini juga tergila-gila kepadanya?

Tertampak langkah Cu Lui-ji yang lemah gemulai, bajunya yang tipis bergerak terembus angin, tubuhnya yang lemah itu seolah-olah juga melayang ke sana tertiup angin.

Mendadak anak dar itu menoleh dan tersenyum, sorot matanya yang bening itu seperti tidak sengaja melirik sekejap ke arah Kwe Pian-sian.

Seketika Kwe Pian-sian merasa dirinya hampir melupakan usia anak dara yang masih kecil itu, yang tampak olehnya hanya liuk pinggang si nona yang menggiurkan, selebihnya ia tak tahu lagi.

Hampir-hampir saja iapun mengintil ke sana.

Tapi apapun juga dia memang lebih kuat dan dapat mempertahankan diri, hatinya hanya terguncang sekejap saja setelah itu tenang kembali.

Sementara itu Cu lui juga berjalan kembali ke ujung rumah sana, Ko Tiong dan temannya mengikutinya kemudian juga ikut lenyap di balik pintu sana.

Sejak tadi Gin-hoa-nio juga mengikuti kejadian tersebut dan baru sekarang ia menghela napas dan berkata.

"Siluman, budak cilik ini benar-benar siluman, sekecil itu sudah mampu memikat dua lelaki sebesar itu. Pada waktu aku berusia sebaya dia, akulah yang ikut kian kemari di belakang lelaki". Setelah berhenti sejenak, mendadak ia tertawa dan berkata pula.

"Hihi, untung iman tuan Kwe kita cukup teguh, kalau tidak, hampir saja tuan Kwe kita juga ikut terperangkap olehnya"

"Bukan karena lwekang ku tinggi, melainkan pengalamanku terhadap perempuan jauh lebih banyak daripada kedua orang itu,"

Kata Kwe Pian-sian dengan tertawa.

"Sungguh aku tidak paham, untuk apakah budak cilik itu memikat kedua lelaki itu?"

Ucap Gin-hoa-nio dengan tertawa. Mendadak sinar matanya mencorong terang, ia berseru pula.

"Ah, tahulah aku, budak cilik itu sedang memancing ikan, bilamana kedua orang tolol itu terpancing ke atas loteng sana, maka segenap kungfu mereka pasti akan terhisap ludes oleh si sakit tbc itu"

"Ya, memang begitu"

Kata Kwe Pian-sian "Sungguh tak tersangka, sekecil itu dia sudah mahir memancing ikan dengan "Bi-jin-keh" (akal dengan memperalat perempuan cantik)", ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

"Tanpa disadari kedua orang tolol tadi, tahu-tahu telah terjebak."

"Tampaknya, sebabnya Ang-lian-hoa dan lain-lain datang ke sini untuk mencarinya memang juga cukup beralasan"

Kata Kwe Pian-sian sambil memandang Ji Pwe-giok.

"Memangnya tidak cuma sekali ini saja perbuatan nona cilik itu?"

Tanya Pwe-giok.

Melihat caranya bertindak tidak canggung-canggung itu, jelas sudah tidak sedikit korban yang terjebak di tangannya, makanya Ji Hong-ho mengerahkan orang sebanyak ini untuk melayani dia"

Ujar Kwe Pian-sian.

"Ya, kukira begitu,"

Kata Pwe-giok.

"Kalau tidak, tokoh macam Ang lian hoa tidak nanti sudi diperintah oleh Ji Hong ho."

Hal ini mungkin tidak diketahui orang lain tapi cukup diketahuinya dengan jelas, sebab Ang lian hoa juga sudah menaruh curiga terhadap "Ji Hong ho"

Itu.

"Hah, sungguh menarik juga,"

Kata Kwe Pian sian dengan tertawa.

"seorang anak perempuan berumur belasan ternyata begini besar kesaktiannya. Orang macam begini jelas bukan orang sembarangan, mungkin tidaklah mudah bagi Ang lian hoa untuk melayaninya."

Gin hoa nio tertawa ngikik, katanya."

Betapapun hebat dia toh sudah pernah juga merasakan tamparanku."

Sembari bicara ia angkat tangannya hendak memberi contoh agar dia menampar Cu Lui-ji, tapi mendadak.....ia merasa dirinya juga seperti kena gampar orang satu kali, seketika ia tak dapat tertawa dan tak dapat berbicara lagi.

Pwe giok dan Kwe Pian sian memandangnya , wajah Gin hoa nio yang biasanya selalu tersenyum manis itu kini mendadak berubah pucat seperti mayat, matanya yang jeli kini juga menampilkan rasa kejut dan cemas yang tidak terhingga sambil memandangi tangannya sendiri.

Malahan sekujur badannya lantas menggigil.

Tanpa terasa Pwe giok dan Kwe Pian sian ikut memandang tangan Gin hoa nio, hanya sekejap saja mereka memandang, seketika air muka merekapun berubah, sorot mata merekapun menampilkan rasa kejut yang tak terhingga.

Tangan Gin ho nio yang putih bersih dan halus mulus itu kini telah berubah menjadi hitam kemerah-merahan mirip cakar setan.

"He, kenapa bisa begini?"

Seru Pwe giok terkesiap. Dengan suara gemetar Gin hoa nio berkata.

"Ak....akupun tidak tahu mengapa bisa jadi... jadi begini, sedikitpun tidak kurasakan apa-apa dan tangan ini tahu-tahu sudah.... sudah berubah menjadi begini."

"Bisa bergerak tidak tanganmu ini?"

Tanya Kwe Pian sian.

"Seperti masih.....masih bisa bergerak, cu...cuma....."

Belum habis ucapan Gin hoa nio, mendadak Kwe Pian sian mengangkat sepotong kayu terus menghantam punggung tangan Gin hoa nio "plok", kayu bakar itu cukup besar, cara menghantamnya juga cukup keras, tangan siapapun kalau terpukul pasti juga akan menjerit kesakitan, siapa tahu Gin hoa nio sama sekali tidak berteriak sakit, bahkan tidak merasakan apapun meski tangan terpukul sekeras itu.

"Sakit tidak?"

Tanya Kwe Pian sian.

"Ti...tidak."

Jawab Gin hoa nio.

Dipukul tanpa merasa sakit, sepantasnya dia bergembira.

tapi setelah menjawab begitu, seketika air mata Gin hoa nio berlinang-linang.

Ia merasa tangan sendiri kini sudah berubah menjadi kayu belaka, kaku dan mati rasa seperti bukan tangannya sendiri lagi.

Dia menyaksikan Kwe Pian sian memukulkan kayu tadi, tapi yang dipukul seolah-olah tangan orang lain.

Kwe Pian sian berkerut kening pula, dilihatnya di meja sana ada bendo yang biasa di buat potong sayur, mendadak bendo itu disambarnya terus dibacokkan ke punggung tangan Gin hoa nio.

Meski bendo itu terlalu tajam, tapi kalau digunakan memenggal tangan seseorang rasanya mudah terlaksana.

Siapa tahu, begitu bendo itu mengenai sasarannya, tangan Gin hoa nio yang terbacok itu hanya bertambah satu luka kecil saja, bahkan tiada tetes darah yang mengucur keluar.

Nyata tangan Gin hoa nio telah berubah lebih keras daripada kayu.

Bahwa tangannya tidak mempan dipenggal orang, seharusnya Gin hoa nio bergembira tapi mukanya justeru bertambah pucat dan ketakutan setengah mati.

"Trang", Kwe Pian sian melemparkan bendo tadi, katanya sambil menggeleng kepala.

"Wah, nonaku yang baik, tamparanmu tadi mungkin telah menimbulkan kesulitan."

"Tapi.....tapi waktu ku pukul dia, sedikitpun tidak.....tidak merasa apapun,"

Kata Gin hoa nio.

"Justeru racun yang tidak menimbulkan perasaan apa-apa inilah yang lihai"

Ujar Kwe Pian sian.

"Tanpa terasa tahu-tahu racun telah merembes ke dalam darahmu, merasuk ke dalam tulangmu. Bila pada saat kejadian kau rasakan apa-apa tentu kau akan tertolong."

"Dan sek.....sekarang apakah tidak tertolong lagi?"

Tanya Gin hoa nio dengan suara gemetar.

Padahal ia sendiri juga ahli racun, sudah tentu iapun tahu betapa hebat racun telah masuk tubuhnya.

Hanya dalam keadaan cemas ia masih menaruh setitik harapan atas pertolongan orang lain.

"Mungkin tak tertolong lagi,"

Jawab Kwe Pian sian sambil menggeleng. Gin hoa nio menubruk maju sambil berteriak.

"Ku tahu kau pasti mampu menolong diriku, kaupun ahli racun, kau.....kau....."

Seperti menghindari makhluk berbisa saja, dengan cepat Kwe Pian sian melompat mundur sambil berkata.

"Betul, akupun tergolong kakeknya ahli racun, tapi racun selihay ini selamanya belum pernah kulihat.....Nona yang baik, kau sendiri terkena racun, sebaiknya jangan kau bikin susah lagi kepada orang lain, lekas kau cari satu tempat yang baik untuk menantikan ajalmu saja."

Seketika Gin hoa nio menjadi lemas dan roboh terkulai. Pwe giok juga tercengang menyaksikan racun yang meresap di tubuh Gin hoa nio itu, mendadak ia mendorong pintu dan berkata.

"Mari ikut padaku!"

"Akan.....akan kau bawa kemana diriku?"

Tanya Gin hoa-nio.

"Orang lain tidak mampu menolong kau, orang yang meracuni kau pasti dapat,"

Kata Pwe giok. Seketika Gin hoa nio melonjak bangun, serunya.

"Ya, betul, dia pasti dapat menolong diriku. Meski telah ku pukul dia, namun antara dia dan aku sebenarnya tiada permusuhan apa-apa, bila kuminta maaf dan memohon dengan sangat, mungkin dia masih mau menolong jiwaku."

Padahal iapun menyadari urusan ini tidak sedemikian sederhana.

Tapi maklum juga, seorang yang sudah mendekati ajalnya layaknya kalau berusaha menghibur dirinya sendiri.

Tiba-tiba Kwe Pian sian berseru.

"Ji-heng, masa betul hendak kau bawa dia kembali ke atas loteng itu?"

"Ya,"

Jawab Pwe giok "Kedua orang yang berada di sana itu jelas bukan manusia baik-baik, untung kau dapat meninggalkan tempat itu, jika kau pergi lagi kesana, mungkin kau sendiri juga takkan kembali lagi,"

Seru Kwe Pian sian. Pwe giok tersenyum hambar, katanya.

"Jika aku harus mati, entah sudah berapa kali aku telah mati."

"Perempuan begini masa ada harganya bagimu untuk membelanya dengan taruhan nyawamu, Ji-heng?"

"Sekalipun orang semacam Kwe heng bila terancam bahaya juga akan ku tolong tanpa pamrih."

Kata Pwe giok sembari bicara ia lantas melangkah pergi bersama Gin hoa nio. Kwe Pian sian menggeleng sambil bergumam.

"Orang macam begini sungguh jarang terlihat, aku tidak mengerti untuk apakah dia....."

Pada saat itulah mendadak terdengar Gin hoa nio berteriak-teriak di kejauhan sana.

"Ang lian hoa, Kun Hay-hong, lekas kalian kemari, Kwe Pian sian bersembunyi di dapur hotel sana....."

Air muka Kwe Pian sian berubah pucat, dengan gemas ia menggerutu.

"Keji amat hati perempuan ini."

Ia lantas memondong Ciong Cing, lalu diambil lagi bungkusan yang disimpan di bawah onggokan kayu bakar tadi.

Ciong Cing mendongak memandangnya, tiba-tiba ia mengucurkan air mata pula, katanya dengan suara terputus-putus.

"Aku......aku sudah begini. tapi.....tapi kau tidak melupakan diriku, padahal sudah.....sudah banyak perempuan yang kau kenal, mengapa.....mengapa kau masih begini baik padaku?"

"Jika kau tutup mulut, mungkin akan lebih baik lagi padamu"

Jengek Kwe Pian sian. ***** Sembari berteriak-teriak, setiba di bawah rumah berloteng tadi Gin hoa nio sudah terengahengah, dilihatnya Pwe giok sedang memandangnya, ia menyengir dan menjelaskan.

"Betapa takkan kubiarkan dia kabur begitu saja, dia bertindak kejam lebih dulu padaku betul tidak?"

Pwe giok menghela napas, katanya.

"Jangan kau kira aku akan menyalahkan kau, sekarang aku sudah tahu di dunia ini masih banyak orang yang terlebih busuk darimu. Kau baru mencelakai orang lain apa bila orang bersalah padamu, tapi ada sementara orang....."

Mendadak tidak dilanjutkan ucapannya, ia membalik badan dan hendak mengetuk pintu. Tak terduga didalam rumah lantas ada orang berseru."

Pintu tidak terkunci, masuklah sendiri!"

Gin hoa nio menggigit bibir, desisnya.

"Kiranya dia sudah memperhitungkan kepergian kita tadi pasti akan datang kembali, makanya kita dibiarkan pergi begitu saja."

Meski ucapannya sangat lirih, siapa tahu tetap terdengar juga oleh orang di dalam rumah. Terdengar Cu Lui ji berucap dengan tak acuh.

"Kan sudah kukatakan, kami tidak pernah memohon sesuatu kepada orang lain, kami hanya menunggu orang lain akan datang memohon kepada kami."

Gin hoa nio mengira Cu Lui ji berada di balik pintu, tak tahunya setelah pintu didorong, di ruangan bawah situ ternyata tiada bayangan seorang pun.

Tapi suara Cu Lui ji lantas berkumandang dari atas loteng, katanya.

Sesudah masuk pintu, jangan kalian palang, bisa jadi sebentar lagi ada orang lain akan datang juga!"

Gin hoa nio menggertak gigi dengan mendongkol, pikirnya. Tajam benar telinga budak ini."

Sudah tentu ia tak berani bersuara lagi.

Ia ikut Pwe giok naik ke atas loteng dengan perlahan, tirai jendela tertutup rapat, suasana terasa seram.

Cu Lui ji kelihatan duduk di kursi kecil di samping tempat tidur, melirik saja tidak kepada kedatangan mereka, dengan mata terbelalak nona cilik itu mengawasi Sacek atau paman ke tiganya yang berbaring di tempat tidur.

Kedua orang yang terpancing masuk tadi juga kelihatan berlutut di kanan kiri tempat tidur, sikap mereka kelihatan sangat ketakutan, seperti ingin kabur kalau bisa, tapi sayang, tenaga untuk kabur ternyata tidak ada.

Si sakit tetap berbaring dengan memejamkan mata, air mukanya tampak mulai bersemu merah pula, selang sejenak, mendadak uap mengepul di atas kepalanya.

Gigi Ko Tiong kedengaran bergemerutuk, tiba-tiba ia berseru dengan suara parau dan lemah.

"Am.....ampun Cianpwe, ampun....."

Makin lama makin lirih suaranya, sampai akhirnya bahkan suaranya tak terdengar sama sekali.

Sebaliknya Cu Lui ji lantas berkata "Sacek hanya pinjam pakai tenaga kalian dan tidak ingin mencabut nyawa kalian, bila setitik Kungfu kalian ini dapat diberikan kepada Sacek, ini kan rejeki dan kebanggaan kalian."

Belum habis ucapannya mendadak tangan si sakit dikendorkan, kontan Ko Tiong berdua jatuh terjengkang dengan napas ngos-ngosan seperti kerbau.

Cu Lui ji lantas mengusap keringat sang paman dengan sapu tangannya dan bertanya dengan perlahan "Bagaimana Kungfu kedua orang ini?"

Si sakit menghela napas gumamnya "Ada nama tanpa isi.....ada nama tanpa isi.....Mengapa dunia Kangouw sekarang penuh manusia-manusia yang bernama kosong belaka."

Sambil berkerut kening Cu Lui ji berkata.

"Sudah selanjut ini usia kalian, mengapa kalian tidak berlatih sebaik-baiknya, bilamana latihan dipergiat sedikit, tentu sekarang kalian akan jauh lebih berjaya."

Ternyata dia menghendaki orang lain berlatih Kungfu sebaik-baiknya agar dapat "dipinjamkan"

Kepada pamannya, ucapan yang mau menang sendiri ini sungguh keterlaluan, sampai Pwe giok juga geleng-geleng kepala.

Tapi bagi Cu Lui ji, ucapannya itu ternyata sangat beralasan, bahkan makin omong makin jengkel, mendadak sebelah kakinya mendepak, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu kedua orang yang menggeletak di lantai itu terus mencelat keluar jendela, selang sejenak baru terdengar suara gemuruh genteng pecah, mungkin keduanya jatuh di atap rumah sebelah.

Bahwa dua orang itu berani menaksir gadis orang, apa yang mereka alami adalah akibat salahnya sendiri.

Tapi melihat cara anak dara itu turn tangan sekeji itu, mau tak mau Pwe giok geleng-geleng kepala pula dan menghela napas gegetun.

Gin hoa nio lantas melangkah maju memberi hormat kepada Lui-ji, katanya dengan mengiring tawa.

"Nona Cu, tadi mataku buta dan berani berbuat sembrono terhadapmu. Kuharap engkau jangan marah lagi dan sudi memaafkan diriku."

"Aku memang sudah biasa digampar orang, mana berani ku marah padamu,"

Jawab Lui ji dengan dingin. Gin hoa nio tahu rasa gusar orang sebelum lagi hilang, mendadak tergerak pikirannya, ia terus berlutut di depan si sakit, air matapun berderai, ratapnya.

"Sejak kecil aku sudah yatim piatu, bilamana Cianpwe sudi menolong jiwaku, selanjutnya sekalipun dijadikan kuda atau kerbau, selama hidup akan kuladeni Cianpwe di sini."

Dia tidak langsung memohon pertolongan kepada Cu Lui ji, tapi malah memohon kepada si sakit, inilah kecerdikan Gin ho nio.

Ia tahu banyak lelaki berhati lemah terhadap perempuan, lebih-lebih bila melihat ari mata perempuan.

Sebaliknya perempuan terhadap perempuan biasanya tidak kenal ampun.

Kalau sakit ini sudah menyanggupi akan menolong tentu Cu Lui ji tidak berani membantah.

Betul juga si sakit lantas membuka matanya dan memandangnya sejenak tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah kau murid siau hun kiongcu?"

Pertanyaan mendadak ini membuat Pwe giok ikut terperanjat. Dengan terkejut Gin hoa nio menjawab.

"Dari mana....darimana Cianpwe....."

Mestinya dia hendak bilang "Darimana Cianpwe tahu"

Sebab dia sudah masuk ke siau hun kiong, yaitu istana di bawah tanah tempat kediaman siau hun kiongcu, iapun sudah menyembah kepada amanat tinggalan siau hun kiongcu yang terukir di dinding, jadi sudah terhitung murid siau hun kiongcu.

Tapi tiba-tiba teringat olehnya jaman hidupnya Siau hun kiongcu hampir dimusuhi oleh setiap tokoh dunia persilatan, jika dirinya mengaku sebagai murid Siau hun kongcu, lalu siapa pula yang mau menolongnya?

Karena pikiran inilah dia menelan kembali sebagian ucapannya.

Si sakit lantas bertanya pula.

"Apakah kau murid Siau hun kongcu?"

"Bukan!"

Jawab Gin hoa nio. Sejenak si sakit memandangnya, lalu menghela napas panjang, katanya.

"Sayang... sayang!"

"Sayang?"

Gin hoa nio menegas dengan bingung.

Si sakit lantas memejamkan matanya dan tidak menghiraukannya lagi.

Beberapa kali Gin hoa nio sudah pantang mulut, tapi tidak berani bertanya, ia menjadi gelisah dan mulut terasa kering.

Selang sejenak, tiba-tiba terdengar Cu Lui ji berucap.

"Sudah belajar ilmu silat Siau hun kiong, itu berarti sudah menjadi murid Siau hun kiongcu, dan kalau sudah menjadi murid Siau hun kiong kenapa tidak berani mengaku? Orang yang lupa pada perguruan dan berkhianat begini siapa pula yang sudi menolong kau?"

Keringat Gin ho nio berketes-ketes, ucapnya dengan suara gemetar.

"No....nona bilang apa?"

Tapi Cu Lui ji juga lantas memejamkan mata dan tidak menggubris kepadanya.

Seketika keadaan menjadi hening dan menyesakkan napas.

Gin hoa nio memandang si sakit memandang pula Cu Lui ji, gigi mulai gemerutuk.

"Sayang, sungguh sayang!"

Tiba-tiba seorang berseru dengan menghela napas panjang.

Ternyata Kwe Pian sian adanya, entah sejak kapan dia sudah ikut naik ke atas dan berduduk di ujung tangga sana.

Gin hoa nio tidak tahan lagi, dengan suara parau ia bertanya.

"Sayang katamu? Sesungguhnya apanya yang harus disayangkan?"

"Bilamana tadi kau mengaku sebagai murid Siau hun kiongcu, bukan mustahil nona Cu ini akan menolong kau,"

Kata Kwe Pian sian.

"Sebab apa?"

Tanya Gin hoa nio. Kwe Pian sian tertawa, katanya.

"Masa sampai sekarang kau tidak dapat menerka siapakah nona Cu ini?"

"Memangnya siapa.....siapa dia?"

Tanya Gin hoa nio. Mendadak Kwe Pian sian berdiri dan memberi hormat kepada Cu Lui ji, katanya.

"Dengan sendirinya nona Cu inilah puteri kesayangan Cu nio-nio dari Siau hun kiong."

Ucapan ini membikin Pwe giok ikut terkejut serentak Gin hoa nio lantas berdiri, tapi cepat ia berlutut pula kebawah tanyanya dengan terbelalak terhadap Cu Lui ji.

"Apakah....apakah benar engkau puteri siau hung kiongcu?"

Namun Cu Lui ji sama sekali tidak menjawab, wajahnya tetap kaku dingin tanpa emosi.

Anak umur belasan tahun seolah-olah berubah menjadi nyonya setengah baya yang kenyang asam garamnya kehidupan.

Sekujur badan Gin hoa nio terasa dingin, mendadak ia berteriak dengan suara parau.

"Tidak, tidak mungkin! Siau hun kiongcu sudah meninggal 30 atau 40 tahun, tidak mungkin mempunyai anak perempuan sekecil ini!"

Kwe Pian sian menghela napas, katanya.

"Dunia persilatan memang penuh rahasia dan banyak teka-teki yang tak terpecahkan, perempuan muda belia seperti kau bisa tahu apa?"

"Apa.....apakah kau tahu?"

Tanya Gin hoa nio.

"Meski aku tahu sedikit, tapi tidak berani ku katakan"

Ujar Kwe Pian sian. Mendadak si sakit menukas.

"Kalau tahu, mengapa tidak berani dikatakan?"

Kwe Pian sian berbangkit dan memberi hormat katanya.

"Jika demikian kehendak Cianpwe, tentu saja Cayhe menurut."

Lalu dengan perlahan ia bertutur.

"Menurut cerita yang sudah turun temurun, satu diantara rahasia besar dunia persilatan adalah mengenai teka-teki kematian Siau hun kiongcu..."

"Tapi dengan mata kepalaku sendiri kulihat jenazahnya,"

Kata Pwe giok.

"Konon itu bukan Siau hun kiongcu yang tulen"

Ujar Kwe Pian sian.

"jenazah itu hanya seorang pelayannya saja. Karena dia hendak menghindari pencarian musuh, maka menggunakan akal begitu."

Meski dia sedang menjawab pertanyaan Ji Pwe giok, tapi matanya terus memandang si sakit.

Dilihatnya si sakit tetap berbaring tanpa bergerak, seperti sudah tertidur dan entah dengar tidak ucapannya.

Kwe Pian-sian berdehem, lalu menyambung.

"Meski tindak-tanduk Siau-hun-kiongcu sangat dirahasiakan, tapi entah mengapa, akhirnya jejaknya diketahui orang, orang pertama yang mengetahui rahasianya konon ialah Tonghong-sengcu..."

"Tonghong-sengcu?"

Pwe-giok menegas.

"Apa yang kau maksudkan adalah Tonghong Taybeng dari Put-ya-seng (kota tanpa malam) di pulau Jit-goat-to yang merajai 72 pulau lautan selatan itu?"

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya.

"Betul, tidak menjadi soal sekarang kau sebut namanya, konon di masa jayanya, bilamana ada orang berani langsung menyebut namanya, maka orang itu mungkin sukar hidup satu jam lebih lama lagi."

Mendadak si sakit membuka mata dan menatap Pwe-giok, tanyanya dengan bengis.

"Darimana kau tahu nama Tonghong Tay-beng?"

Pwe-giok merasa mata orang yang tadinya guram itu mendadak mencorong terang dan menggetar sukma, meski diam2 terkejut, tapi dia tetap tenang saja dan menjawab.

"Ayahku pernah bercerita padaku bahwa Tonghong-sengcu ini adalah satu di antara ke sepuluh tokoh terkemuka dunia persilatan. Cuma dia jauh bertempat tinggal di lautan selatan, kebanyakan orang Kangouw tidak kenal kelihaiannya. Ayahku juga mengatakan bahwa kesepuluh tokoh yang memang hebat itu kebanyakan jarang bergerak di dunia Kangouw, padahal ilmu silat mereka rata2 di atas pimpinan ke-13 aliran dan perguruan yang paling ternama sekarang ini."

"Siapa2 saja ke sepuluh tokoh yang dimaksudkan?"

Tanya si sakit.

"Cayhe tidak ingat lagi seluruhnya, cuma masih ingat diantaranya kecuali Tonghong-sengcu ini, ada lagi Nikoh sakti Eng-hoa Taysu dari Eng-hoa-kok. It-gun, si unta terbang dari gurun utara, Lo cinjin dari Jing-sia-san, Sin-liong-kiam-khek, yang jejaknya sukar diraba itu, lalu ada lagi Li Thian-eng dari Sin-hong-nia ...."

Belum habis ucapannya, si sakit seperti tidak sabar lagi mendengarkan, ia berkerut kening dan mendengus.

"Hm, jadi mereka itu yang dimaksudkan ke sepuluh tokoh tertinggi? Hm, mereka sesuai?"

Lalu dia memejamkan mata dan memberi tanda kepada Kwe Pian-sian.

"Lanjutkan!"

Kwe Pian-sian berdehem pula, lalu menyambung.

"Konon permusuhan Tonghong-sengcu dan Siau-hun-kiongcu sangat dalam, setelah mendapat kabar di mana beradanya Siau-hunkiongcu, segera ia mengumpulkan belasan Tocu dari ke-72 pulau laut selatan, diundang pula Li-thian-ong, Oh-lolo dan lain2, dicarinya Siau-hun-kiongcu untuk menuntut balas."

"Ah, ingatlah aku,"

Seru Pwe-giok mendadak.

"Oh-lolo itupun termasuk satu di antara kesepuluh tokoh tersebut, konon ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi kemahirannya menggunakan racun konon jarang ada bandingannya di dunia ini."

"Tujuan Tonghong-sengcu mengundang Oh-lolo agar ikut menghadapi Siau-hun-kiongcu justeru supaya meng.....Hk, hk...."

Mestinya Kwe Pian-sian hendak omong "menggunakan racun untuk menyerang racun", tapi demi melihat wajah Cu Lui-ji yang masam itu, seketika ia telan kembali ucapannya itu dengan batuk2.

"Apakah orang2 itu sudah mengetahui tempat sembunyi Siau-hun-kiongcu?"

Tanya Pwe-giok.

"Dengan sendirinya tahu,"

Jawab Kwe Pian-sian.

"Dan dapatkah mereka menemukan Siau-hun-kiongcu?"

Tanya Pwe-giok pula.

"Mungkin ketemu,"

Kata Kwe Pian-sian.

"Wah, pertarungan sengit itu pasti luar biasa dan jarang terjadi di dunia ini,"

Ujar Pwe-giok.

"Lalu bagaimana kesudahannya?"

"Itulah akupun tidak tahu,"

Kata Pian-sian.

"Kaupun tidak tahu?"

Pwe-giok menegas.

"Ya, bukan cuma aku saja tidak tahu, mungkin di dunia ini juga tiada orang lain lagi yang tahu,"

Kata Pian-sian sambil menyengir.

"Memangnya sebab apa?"

Tanya Pwe-giok heran.

"Tindak-tanduk Tonghong Tay-beng dan rombongannya sudah tentu juga sangat dirahasiakan, tapi pada waktu mereka hendak mulai bergerak, konon lebih dulu mereka mengadakan pesta pora di Gak-yang-lau (nama restoran terkenal di tepi danau Tongting), kebetulan di dekat Gak-yang-lau juga ada orang yang sedang pesiar dengan perahu di bawah bulan purnama, tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan rombongan Tonghong-sengcu itu, maka diketahuilah berkumpulnya tokoh2 top dunia persilatan itu adalah hendak menghadapi Siau-hun-kiongcu."

"Dengan begitu beritanya lantas tersiar?"

Tanya Pwe-giok.

Baca Juga: Pendekar Patung Emas 12

Baca Juga: Raja Silat 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert