Eps 6 Renjana Pendekar - Khulung
Baca online Renjana Pendekar - Khulung
Cersil Renjana Pendekar - Khulung.
Jawab orang itu. Sesudah ke empat orang itu berada di dalam kamar, si Harimau merah Tio Kang lantas menjatuhkan diri di tempat tidur, ia tarik selimut dan diendusnya lalu tertawa dan berkata.
"Haha, harum amat tubuh perempuan ini, sampai selimutnya juga ketularan wangi, sungguh aku tidak tahan, ingin ku tindih mampus dia."
"Wah tampaknya Loji sudah lupa tujuan kedatangan kita ini !"
Omel si baju kelabu. Gin-hoa-nio tertawa, katanya.
"Apapun maksud tujuan kedatangan kalian ini, pokoknya minum arak saja dahulu, kan tidak menjadi soal bukan ?"
Segera ia menuang empat cawan arak dan diaturkan kepada tetamunya. Pek-coa-longkun terkekeh-kekeh, katanya.
"Ai, tangan nona putih mulus begini, entah arak yang kau suguhkan ini beracun atau tidak?"
Ang-hoa melompat bangun, ia tarik tangan Gin-hoa-nio dan di rabanya, katanya dengan tertawa.
"Arak suguhan dari tangan putih halus begini, sekalipun beracun juga akan kuminum."
Benar juga, tanpa pikir ia angkat salah satu cawan arak itu terus ditenggaknya hingga habis.
Ob-pah melototi sang kawan, ia cukup licin, ia tunggu sebentar lagi dan melihat Ang-huo sama sekali tidak ada tanda-tanda keracunan, bahkan si harimau merah itu bertambah gembira.
Maka tertawalah Oh-pah alias Macan Tutul hitam katanya.
"Masa ada orang main racun di depan kita ? ..... Hehe, kukira nona ini bukan orang bodoh!"
Sambil bicara iapun angkat satu cawan dan di minum habis. Pada saat itulah, Bwe Su-bong yang mengintai di rumah seberang sana sedang tanya Kimyan-cu dengan suara tertahan.
"Kau kira arak itu beracun atau tidak ?"
"Mungkin tidak,"
Jawab Kim-yan-cu.
"Ai, seharusnya di berinya racun."
"Jika demikian pikiran nona, kukira kau keliru besar,"
Ujar Bwe Su-bong dengan tersenyum.
"Menaruh racun di dalam arak terlalu mudah di ketahui lawan, tentu saja sangat berbahaya, jelas adik perempuanmu tidak mau bertindak sebodoh itu."
"Memangnya dia mempunyai cara lain?"
Ujar Kim-yan-cu dengan gregetan.
"Menurut pandanganku, tindakan adikmu mungkin jauh lebih pintar dari pada nona sendiri dan jauh lebih tinggi daripadaku."
Kata Bwe Su-bong.
"Tampaknya urusan ini tidak perlu lagi kita ikut campur."
Dalam pada itu terlihat Gin-hoa-nio sedang menyuguhkan arak ke depan Pek-coa-long-kun, katanya.
"Apakah kongcu tidak sudi minum arak suguhanku?"
Pek-coa-long-kun tertawa terkekeh-kekeh, katanya.
"Tapi melulu minum arak saja kan kurang menyenangkan, nona harus memberikan barang pengiring arak sekalian."
Gin-hoa-nio melirik genit, tanyanya.
"Kongcu menghendaki barang pengiring arak apa ?"
"Sepanjang jalan kami mengikuti nona ke sini apa tujuan kami masakah nona tidak tahu ?"
Kata Pek-coa -longkun dengan tertawa misterius.
"O, barang yang tidak manis juga tidak asin begitu masa dapat digunakan pengiring arak ?"
Ucap Gin-hoa-nio dengan menggigit bibir.
"Meski barang-barang itu tidak manis, juga tidak asin tapi, asalkan ku lihatnya sekejap, sedikitnya ku sanggup minum tiga cawan arak,"
Ujar Pek-coa-long-kun.
"Tapi entah nona sudi memperlihatkan tidak kepada kami barang tersebut ?"
"Jika Kongcu menghendaki demikian, mana aku berani menolak,"
Kata GIn-hoa-nio dengan tertawa genit, Mendadak dia menyingkap kain sprei tempat tidur yang terletak di pojok kamar sana.
Seketika pandangan semua orang terasa silau, sinar-sinar lampu seolah-olah menjadi suram oleh cahaya gemerlapnya ratna mutu manikam.
Seketika ke empat orang itu mendelik, tubuh Pek-coa-longkun menggigil semakin keras.
Segera Ang-hou melompat maju, diraupnya segenggam batu permata itu, teriaknya dengan gembira.
"Sungguh tak kusangka begini gemuk kambing kita ini, setelah transaksi ini, mungkin selanjutnya kita tidak perlu susah payah lagi dan dapat hidup tenteram sampai tua."
Pek-coa-longkun terkekeh-kekeh, katanya.
"Cuma sayang, barang-barang ini kan milik nona jelita ini, apakah orang sudi menyerahkannya kepada kita kan masih menjadi soal."
"Kita angkut saja dan habis perkara, perduli dia mau memberi atau tidak?! teriak Ang-hou.
"Kita kan orang sopan, segala sesuatu harus permisi dulu kepada yang empunya,"
Ujar Pekcoa-longkun dengan terkekeh-kekeh.
"Baik, biar kutanya dia."
Teriak Ang-hou.
"Eh, mestika ratu, boleh tidak ? Hahahaha, kita bertanya padanya boleh atau tidak, Hahaha..."
Makin keras tertawanya dan makin geli rasanya, sampai-sampai ia memegangi perut dan menungging. Gin hoa nio tidak memberi reaksi-apa-apa, dengan tersenyum ia berkata.
"Sebelumnya hamba sudah tahu kalian akan kemari, maka sudah kusiapkan semua barang yang kalian inginkan ini."
"Hahaha, memang sudah kukatakan kau ini perempuan cerdik,"
Seru Ang hou sambil bergelak.
"Bukan cuma batu permata ini saja akan kupersembahkan kepada kalian, bahkan masih ada barang berharga lain juga akan kuserahkan kepadamu, entah kalian sudi menerima atau tidak?"
Ang-hou mendelik, teriaknya.
"Masih ada barang berharga lain lagi? Di mana? Lekas perlihatkan kepadaku!"
Gin hoa nio mengerling genit, ucapnya dengan tersenyum.
"Barang itu sudah berada di sini. Coba kalian pikir, benda paling berharga apa yang terdapat pada diriku? Masa kalian tidak dapat menerkanya?"
Ang-hou garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berteriak-teriak.
"Tak dapat kuterka, aku tidak tahu, benda apa maksudmu?"
"Andaikan kalian tak dapat menerkanya, biarlah ku perlihatkan saja!"
Ujar Gin hoa nio dengan lirikan mautnya.
Perlahan ia menarik baju tidurnya yang tipis itu sehingga merosot ke lantai, maka tertampaklah dadanya yang menegak hanya tertutup oleh selapis kutang yang tipis remangremang, tubuhnya yang montok dan pahanya yang mulus dengan warna kulit yang putih bersih.....
Biji mata Su ok siu melotot seperti mata ikan emas yang akan melompat keluar dari rongga matanya, napas mereka pun makin kasar dan akhirnya megap-megap, kalau semula ada tiga bagian mereka masih menyerupai manusia, tapi sekarang hampir seluruhnya berubah menjadi binatang yang buas dan kelaparan.
Biji leher Ang hou tampak naik turun, berulang kali ia menelan air liur, gumamnya kemudian.
"O, mestika ratuku, sungguh ini benar-benar mestika ratu nomor satu di dunia ini, jika ada anak kura-kura yang bilang ini bukan mestika ratu, maka matanya pasti buta dan akan kuhancurkan mulutnya."
Pek coa longkun juga tambah gemetar sehingga pinggangnya hampir patah, gumamnya dengan tergagap-gagap.
"Nona.... nona benar-benar .... benar-benar hendak memberikan barangmu yang berharga ini kepada kami?"
Gin hoa nio bersuara aleman, ucapnya sambil tersenyum manis.
"Pemuda mana yang tidak birahi, gadis mana yang tidak gairah. Perempuan kalau sudah dewasa yang dikehendakinya bukan lagi batu permata melainkan lelaki."
Tangannya yang menutupi dada itu perlahan-lahan mulai merosot ke bawah, lalu ucapnya pula dengan suara yang menggetar sukma.
"Tentunya para Kongcu dapat melihat sendiri, aku tidak lagi anak kecil bukan?"
Ang hou tertawa dengan setengah menjerit, teriaknya.
"Bilamana ada anak kura-kura yang bilang kau masih anak kecil, seketika akan ku masukkan lagi dia ke perut biangnya."
Mendadak Oh pah Cin Piau berkata dengan bengis.
"Perempuan cantik dan genit macam kau ini kalau ingin cari lelaki, sekaligus satu keranjang juga dapat kau dapatkan, sebab apa kau sengaja menghendaki kami? Sesungguhnya akal bulus apa yang telah kau atur?"
Gin hoa nio tertawa ngikik, katanya.
"Meski kalian berempat tidak terhitung cakap, tapi kalian adalah lelaki sejati, jantan cemerlang, hanya anak perempuan yang masih hijau saja yang suka kepada lelaki sebangsa enak dipandang tak berguna dipakai. Aku justeru....."
Ia lantas menunduk dan malu-malu kucing seperti gadis pingitan, lalu sambungnya dengan tertawa genit.
"Yang kusukai adalah lelaki jantan, jantannya lelaki."
"Plok", Ang hou berkeplok sambil berteriak.
"Keparat, ucapanmu memang tepat, nyata pandanganmu memang tajam, anak muda yang bermuka putih seperti pupuran itu mana becus bekerja? Hahaha, cukup kau jepit dengan pahamu saja mungkin seketika keluar kuning telurnya."
"Tapi.... tapi hamba pun mempunyai sesuatu kesukaran,"
Tiba-tiba Gin hoa nio menghela napas. Ang hou jadi mendelik, tanyanya cepat.
"Apa kesukaranmu?"
Gin hoa nio tidak lantas menjawab, ia mengerling mesra sekeliling kepada keempat orang itu, lalu berkata dengan menyesal.
"Soalnya begini, meski batu permata ini dapat dibagi menjadi empat, tapi diriku hanya seorang saja...."
"Di antara kami berempat hanya aku saja yang belum berbini, sudah tentu kau mestika ratu ini adalah milikku,"
Teriak Ang hou. Dengan menunduk Gin hoa nio berkata.
"Tio-kongcu gagah perkasa, sudah tentu terhitung lelaki tulen, bilamana kudapatkan suami seperti dirimu, apa pula yang kuharapkan lagi, hanya saja...."
Sembari bicara, matanya diam-diam melirik Cin Piau, si macan tutul. Benar saja, belum habis ucapannya, serentak Cin Piau berteriak.
"Tio-loji, barang lain boleh kuberikan padamu, tapi mestika ratu jelita ini adalah milikku Cin-lotoa."
"Lotoa (si tua)? Hehe, jika aku tidak mengalah, bisakah kau menjadi Lotoa?"
Jengek Tio Kang alias Ang hou atau di harimau merah. Cin Piau menjadi gusar, bentaknya.
"Jadi kau tidak terima?"
"Terima? Berdasarkan apa aku mesti mengalah padamu?"
Gemerdep sinar mata Gin hoa nio, jelas dalam hati sangat senang, tapi di mulut ia berkata.
"Eeh, janganlah kalian bertengkar, apabila kalian bersaudara bertengkar lantaran diriku, wah, entah bagaimana hamba harus menebus dosaku ini."
Pek coa longkun terkekeh-kekeh, katanya.
"Ucapan nona ini memang tidak salah, jika kita bersaudara bertengkar mengenai seorang perempuan, bukankah akan dibuat buah tertawaan orang? Menurut pendapatku, mestika ratu ini akan menjadi milik siapa boleh ditanyakan langsung kepada dia sendiri."
Si ular putih ini menganggap dirinya paling cakap dan menarik di antara mereka berempat, jika sang "mestika ratu"
Disuruh memilih, jelas dirinya yang akan terpilih.
Tapi harimau merah, serigala kelabu dan macan tutul hitam juga mengira dirinya masingmasing yang dipenujui Gin hoa nio, kalau tidak masakah lirikan si cantik yang membetot suka itu selalu tertuju ke arahnya?
Baru habis ucapan si ular putih, serentak ketiga rekannya menyatakan setuju.
"Ya cara ini memang paling bagus dan adil!"
Ang hou lantas menyambung pula dengan tertawa.
"Mestika sayang, jadilah kau Ong Po sun dan Aku Sih Peng kui (Nama-nama peran dalam cerita roman kuno), pilihlah aku!?"
Gin hoa nio menunduk sambil menggigit bibir, seperti malu dan juga seperti serba salah.
Kerlingannya yang mesra justru mengusap kian kemari secara bergilir di antara ke empat orang itu.
Oh pah Cin Piau bertepuk-tepuk dada dan berkata.
"Siapa yang kau sukai, katakan saja terus terang, tidak perlu takut!"
"Betul, jangan takut,"
Tukas Ang hou.
"Bila aku yang kau pilih, katakan saja, kalau ada anak kura-kura yang berani mengganggu seujung rambutmu, lihat saja kalau tidak kugetok kepalanya hingga gepeng."
Sembari bicara sebelah tangannya bertolak pinggang dan tangan yang lain memperlihatkan ototnya yang kuat.
Begitulah ke empat orang itu sama yakin pasti dirinya yang akan dipilih Gin hoa nio.
Sungguh luar biasa.
Memang tidak mudah bagi seorang perempuan untuk membuat setiap lelaki sama merasa mabuk baginya, dalam hal ini Gin hoa nio harus diberi piala.
Menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, berulang-ulang Bwe Su-bong juga mengurut dada, sungguh mimpi pun dia tidak menyangka Kim yan cu mempunyai adik perempuan sehebat itu, diam-diam ia pun membatin.
"Untung usiaku sudah hampir 70, kalau tidak, bisa jadi akupun akan terjun ke sana dan ikut ambil bagian....." ***** Dalam pada itu, Gin hoa nio tampaknya masih ragu-ragu, biji matanya berputar-putar dan tetap tak dapat mengambil keputusan, lama sekali barulah ia menghela napas dan berkata.
"Kalian semuanya adalah lelaki sejati dan ksatria terpuji, sungguh aku menjadi bingung, entah siapa yang harus ku pilih. Setelah kupikir pergi-datang, kukira hanya ada satu cara untuk menentukannya."
Cara bagaimana?"
Tanya ke empat orang itu serentak.
"Begini,"
Tutur Gin hoa nio dengan senyum genit dan lirikan mautnya.
"kalian kan tahu, perempuan adalah kaum lemah, setiap perempuan tentu berharap akan mendapatkan suami yang berilmu silat tinggi dan bertenaga kuat......"
Air muka si serigala kelabu yang licin dan licik itu seketika berubah, tapi Gin hoa nio tidak memberi peluang baginya untuk bicara, cepat ia menyambung.
"Tapi kalau kalian berempat benar-benar saling berhantam sehingga ada yang cedera, tentu hatiku akan sedih."
Mendengar ini, air muka si serigala kelabu berubah menjadi tenang kembali. Sebaliknya si harimau merah berkerut kening dan berkata.
"Tapi kalau tidak saling gebrak, cara bagaimana membedakan Kungfu siapa yang lebih unggul? Keparat, aku menjadi bingung apa kehendakmu sesungguhnya."
Gin hoa nio tertawa manis, ucapnya pula.
"Maka hamba cuma ingin kalian memperlihatkan sejurus Kungfu masing-masing saja, aku yang melihat dan aku yang menilai, sebaliknya takkan merusak persaudaraan kalian sekaligus juga ketahuan Kungfu siapa yang lebih unggul."
"Aha, bagus,"
Teriak Ang hou dengan tertawa.
"Tak terduga, kepalamu yang kecil ini berisi akal sebanyak ini."
Pada saat itulah Kim-yan-cu mengintip di seberang sana berkata pula kepada Bwe Su-bong.
"Entah akal apa yang sedang diaturnya sekarang?"
"Sudah tentu akal untuk memancing agar ke empat orang itu saling membunuh sendiri."
Ujar Bwe Su-bong.
"Jika demikian, mengapa dia tidak berdaya agar mereka lekas saling bergebrak?"
Kata Kimyan-cu.
"Di sinilah letak kecerdikan adikmu"
Ujar Bwe-Su-bong dengan tertawa.
"Serigala kelabu itu sudah mencurigai adikmu sedang main gila, jika saat ini juga adikmu menyuruh mereka saling baku hantam, mungkin serigala kelabu itu akan segera berontak."
"Tapi kalau ke empat orang itu tidak saling gebrak, cara bagaimana pula bisa terjadi bunuh membunuh?"
"Agaknya adikmu sudah tahu, meski ke empat orang itu bersaudara, tapi satu sama lain tidak mau mengalah, tiada satupun mengakui kungfunya di bawah yang lain, maka akhirnya mereka pasti akan saling hantam sendiri. Biarkan mereka baku hantam sendiri kan jauh lebih baik daripada adikmu yang menyuruhnya?"
Kim-yam-cu menghela napas dan tidak bicara lagi.
Dalam pada itu terlihat si harimau merah sedang mengulet badan dengan kemalas-malasan sehingga seluruh ruas tulang badannya sama berbunyi keriat-keriut, habis itu mendadak ia meraung, sebelah tangannya terus menghantam sebuah bangku batu bulat disampingnya.
Bangku itu berbentuk bulat tengahnya kosong, tapi biarpun begitu, umpama orang biasa memukulnya dengan palu besar juga tidak mungkin dapat menghancurkannya dengan sekali hantam.
Sekarang si harimau merah sekali hantam telah dapat membuat bangku batu itu menjadi berkeping-keping.
Gin-hoa-nio berseru dengan tersenyum genit.
"Wah, hebat sekali kungfu Tio-kongcu, sungguh mimpipun tak terpikir olehku tenaga seorang bisa begini besar dengan kepalan yang begitu keras"
Ang-hoa tertawa latah sambil melirik hina kesana dan ke sini, teriaknya. Setelah kuperlihatkan kungfuku ini, kukira orang lain tidak perlu coba-coba lagi"
"Ya, kungfumu ini memang sukar dibandingi siapapun,"
Ujar Gin-hoa-nio dengan senyuman menggiurkan, namun matanya senantiasa melirik ke arah si macan tutul. Cin-piau, si macan tutul hitam mendengus.
"Hm, tangan To-loji memang kuat untuk membelah kayu, tapi kalau digunakan untuk bertempur jelas tiada gunanya. Muka Ang-hou menjadi merah, teriaknya gemas.
"Bedebah, tiada gunanya katamu? Memangnya kau lebih kuat daripadaku?"
Oh-pah atau si macan tutul hitam mendengus, pelahan ia berduduk di bangku batu yang lain, ia duduk dengan diam, sampai sekian lama tetap tidak bergerak.
"Hehe, kungfu macam apa yang kau perlihatkan? kungfu pantat barangkali? ejek si harimau merah dengan tertawa. Oh-pah tetap berduduk tanpa bergerak, jengeknya kemudian.
"Seumpama otakmu bebal, apakah matamu juga buta?"
Baru sekarang Ang-hoa mengamati-amati rekannya dan seketika ia tidak sanggup tertawa lagi.
Tiba-tiba dilihatnya bangku batu yang diduduki Oh-pah itu makin lama makin pendek, bangku batu yang berat itu ada sebagian ambles ke dalam tanah.
Nyata, meski kelihatannya Oh-pah hanya berduduk tanpa bergerak, tapi sesungguhnya dia sudah memperlihatkan Lwekangnya yang hebat.
Dengan tertawa genit Gi-hoa-nio berseru.
"hih, Cin-lotoa memang tidak malu sebagai orang pertama, jika bangku ini berujung lancip masih dapat dimengerti, tapi bangku ini berujung rata, sekarang ada setengahnya tertanam ke dalam tanah, sungguh hebat tenaga dalamnya betul tidak Kongcu-kongcu yang lain?"
Pek-coa-longkun tertawa terkekeh kekeh, ucapnya.
"Betul, betul! beberapa bulan tidak bertemu, tak tersangka kungfu Cin-lotoa sudah maju sepesat ini."
Oh-pah tertawa bangga, katanya.
"Jika kungfuku tiada kemajuan, kan bisa di..."
Mendadak ia berhenti tertawa, air mukanya juga berubah pucat.
Rupanya entah sejak kapan si serigala kelabu telah merunduk ke belakang Oh-pah dan menyarangkan belatinya di punggung rekannya.
Keringat dingin tampak menghiasi dahi Oh-pah dengan suara gemetar ia berkata.
"Losam, ke... keji amat kau!"
Wajah si serigala tiada memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengan dingin.
"Aku cuma ingin memberitahukan padamu bahwa Kungfu Tio-loji hanya cocok untuk dipakai memotong kayu, sebaliknya kungfumu juga belum tentu ada gunanya. Manusia adalah makhluk hidup, mungkinkah dia akan kau duduki sesukamu seperti bangku yang kau tanamkan ke dalam tanah ini?"
Dengan pandangan yang licik ia melototi Gin-hoa-nio dan berkata pula dengan menyeringai.
"Kungfu yang paling berguna di dunia ini adalah kungfu yang dapat digunakan membunuh orang betul tidak nona?"
Oh-pah meraung kalap, segera ia membalik tubuh dan bermaksud mencekik leher si serigala.
Namun si serigala sempat melompat mundur, belati juga dicabutnya sehingga darah lantas mancur dari tubuh Oh-pah, belum lagi macam tutul hitam itu berdiri seketika ia jatuh terguling ke lantai dan tidak mampu bangun pula.
Ang-hou meraung gusar.
"Sekalipun Cin-lotoa bukan orang baik, jelek-jelek dia kan saudara kita, mengapa kau membunuhnya?"
"Setelah ku bunuh dia, bukankah kau yang menjadi Lotoa?"
Jawab si serigala. Ang-hoa mengelak, ia mendengus dan tidak bicara lagi. Pek-coa-longkun terkekeh kekeh katanya.
"Ucapan ... memang betul, kungfu apa segala, semuanya palsu, hanya kungfu yang dapat membunuh orang adalah kungfu sejati. Kungfuku membunuh orang tentunya juga tidak kurang hebat daripada kungfu si Lo-sam?"
Sambil bicara terus ia terus mengitar ke belakang Ang-hou, mendadak ia melolos belati terus menikam.
Kecepatan dan kegesitan serta kelihaiannya memang tidak di bawah Hwe-long atau si serigala kelabu.
Tak tersangka, meski si harimau merah itu tampaknya gede dan bodoh, sesungguhnya dia malah cukup cerdik.
Baru saja si ular putih turun tangan, secepat itu pula dia membalik tubuh dan balas menghantam.
Cuma sayang, badannya terlalu gede, meski tikaman si ular tidak mengenai tempat yang fatal namun tetap mengenai bahunya, begitu keras tikaman itu sehingga belati itu ambles seluruhnya ke dalam dagingnya.
Begitu kuat tikaman itu sampai si ular sendiripun tak sempat menahan diri.
Di tengah raungan keras Ang-hou terus pentang sebelah tangannya, seketika si ular kena didekapnya di bawah ketiak, Anghou menyeringai.
"He he, coba kemana lagi kau akan lari?"
Si ular ketakutan dan berteriak.
"He, Tio-loji, lepaskan, ampuni aku!"
"Hatiku sih mau mengampuni kau, tapi sayang tanganku tidak boleh."
Jawab Ang-hou sambil tertawa. ia perkeras dekapannya, terdengarlah suara "Krak-krek"
Beberapa kali tulang badan si ular tergencet remuk, jeritan ngeri berubah menjadi rintihan.
Sampai akhirnya suara rintihanpun tidak terdengar lagi, barulah Ang-hou mengangkat tangannya dan Pek-coalongkun terus jatuh terkapar seperti bangkai ular.
Diam-diam si serigala kelabu merasa ngeri, ucapnya kemudian dengan terkekeh.
"Wih, hebat benar tenaga Tio-loji."
Ang-hou mencabut belati yang menancap di belakang bahunya, darah segar kontan menyembur seperti air mancur, namun dia sama sekali tidak merasa sakit, katanya terhadap Hwe-long sambil menyeringai.
"Sekarang tinggal kau, apa kehendakmu?"
Jilid 13________ Gin-hoa-nio telah menyingkir ke samping, ia hanya menonton tanpa ikut bicara.
Ia tahu api sudah menyala dan tidak perlu diberi minyak lagi.
Dilihatnya Ang-hoa dan Hwe-long lagi saling melotot, sampai lama sekali keduanya tetap diam saja.
Tiba-tiba Hwe-long mendekati meja, kursi ditariknya lalu duduk, katanya dengan tersenyum.
"Tio loji, mengapa tidak duduk saja dan marilah kita berbincang-bincang."
"Duduk ya duduk, orang lain takut kepada tipu muslihatmu, masa akupun takut kepadamu?"
Kata Ang-hoa, segera iapun menarik kursi dan duduk. Dengan tersenyum Hwe long berkata pula.
"Sebuah meja boleh berpasangan dengan dua kursi bukan?"
Ang-hoa tidak tahu untuk apakah lawannya bertanya tentang tetek bengek begitu, ia cuma mengangguk dan menjawab singkat.
"Betul!"
Hwe-long mengangkat poci dan menuang dua cangkir the, katanya pula dengan tertawa.
"Dan satu poci juga boleh berpasangan dengan dua cangkir, betul tidak?"
"Huh, omong kosong!"
Omel Ang-hou dengan gusar. Dengan tertawa Hwe-long menyodorkan secangkir teh yang dituangnya itu dan berkata.
"Jika kita sama-sama dapat minum teh, untuk apa mesti berkelahi mati-matian?"
Lamat-lamat Gin-hoa-nio sudah dapat merasakan maksud tujuan ucapan si serigala kelabu, diam-diam ia berkerut kening. Didengarnya Ang-hou menjawab dengan aseran.
"Sesungguhnya apa arti ucapanmu, aku tidak paham!"
"Tentunya kau pernah membaca, dahulu ada dua ratu bersama mengawini seorang suami dan kisah itu dijadikan cerita yang menarik. Sekarang kita berdua adalah saudara, mengapa kita tidak boleh berkongsi mengawini seorang isteri?"
"Urusan lain boleh berkongsi, hanya isteri yang tidak boleh berkongsi,"
Jawab Ang-hou dengan gusar.
"Sabar, pertimbangkan dulu,"
Kata Hwe-long."
Musuh kita tidaklah sedikit, umpama aku kau bunuh dan tersisa kau sendiri, apakah kau takkan kesepian dan kehilangan kawan?
Apalagi bila kita bergebrak sungguh-sungguh, siapa yang akan terbunuh kan juga masih suatu tanda tanya, betul tidak?"
Lama juga Ang-hou melototi si serigala, tiba-tiba ia tertawa, katanya.
"Betul juga, setengah potong bini rasanya lebih baik daripada sama sekali tidak punya bini. Apalagi melihat gairahnya yang menyala, sendirian belum tentu ku sanggup melayani dia."
Ia angkat cangkir dan berkata pula.
"Saudaraku yang baik, usulmu sangat bagus, terimalah hormat satu cangkir ini."
Gin-hoa-nio tertawa terkikit-kikik, ucapnya.
"Usulnya memang bagus, setelah kau minum teh ini, tentu kau akan tahu betapa bagus usulnya ini."
Berputar biji mata Ang-hou, cangkir teh yang sudah diangkatnya ditaruhnya lagi.
Meski sebodoh kerbau orang ini, betapapun sudah puluhan tahun dia berkecimpung di dunia Kangouw, perbuatan baik mungkin dia tidak paham, tapi perbuatan busuk tidak sedikit yang diketahuinya.
Sambil masih memegangi cangkir teh itu, ia melototi Hwe-long dan berkata.
"Apakah di dalam air teh ini kau hendak main gila padaku?"
"Lo-ji, jangan kau sembarangan menuduh, kita adalah saudara sendiri, jangan mau diadu domba orang,"
Teriak Hwe-long. Gin-hoa-nio tertawa dan berkata.
"Jika demikian, boleh coba kau minum teh itu."
Dengan berlenggak-lenggok dia mendekati Ang-hou dan mengambil cangkir teh itu terus disodorkan ke depan Hwe-long.
Di luar tahu orang, ujung kukunya yang bercat merah itu seperti dicelup perlahan ke dalam teh.
Lalu ucapnya dengan tertawa genit.
"Kau bilang air teh ini beracun, jika kau tidak mau minum juga takkan kusalahkan kau."
"Kalau kau tidak berani minum teh itu, segera kugencet pecah kepalamu!"
Teriak Ang-hou dengan gusar. Air muka Hwe-long bertambah pucat, serunya.
"Teh ini semula tidak beracun, tapi sekarang telah kau racuni."
"Kau... kau bilang aku yang menaruh racun?"
Tanya Gin-hoa-nio dengan terbelalak.
"Ya, kau perempuan busuk ini !"
Teriak Hwe-long, berbareng ia lantas menjotos. Namun Gin-hoa-nio keburu menyingkir dan bersembunyi di belakang Ang-hou. Serentak Ang-hou juga melompat bangun sambil meraung.
"Bangsat! Jelas-jelas kau yang menaruh racunnya dan sekarang menuduh orang lain? Kau kira Locu ini babi goblok?"
Berbareng itu ia terus menubruk ke sana. Terdengar suara "blak-bluk "
Dua kali, kedua kepalan Hwe-long dengan tepat menghantam tubuh ang-hou, tapi pukulan itu seperti mengenai karung pasir, sama sekali si harimau merah tidak bergeming.
Keruan Hwe-long terkejut, segera ia hendak mencabut belati lagi, namun Ang-hou tidak memberi kesempatan padanya, kontan ia balas menonjok perut Hwe-long.
Serigala kelabu yang kerempeng itu tidak tahan, ia menungging kesakitan.
Menyusul Anghou lantas menambahi sekali hantam di kepalanya, seketika kepala pecah dan otak berantakan.
Kedua pukulan Ang-hou itu tidak pakai jurus silat segala, tapi pukulan umum, namun cukup berguna.
Barang siapa kalau bertangan kosong sebaiknya jangan berkelahi dengan orang gede semacam Ang-hou ini, sebab dipukul dia tidak bergeming, sebaliknya kalau dia balas memukul, maka celakalah kau.
Gin-hoa-nio kegirangan menyaksikan hasil pertarungan itu, ia berkeplok dan tertawa.
Ang-hou terus meludahi mayat Hwe-long dan mendamprat.
"Huh, belum belajar tahan pukul sudah ingin memukul orang, kan cari mampus sendiri!"
Gin-hoa-nio tertawa senang, katanya.
"Betul kepandaian Tio-kongcu memukul orang tergolong hebat. Kungfumu tahan pukul terlebih tiada bandingannya. Tapi... tapi barusan apakah keparat ini benar-benar tidak melukaimu?"
Dengan membusungkan dada Ang-hou berkata dengan tertawa.
"Kedua cakarnya seperti menggaruk gatal badanku, tidak percaya boleh kau periksa sendiri."
Benar-benar Gin-hoa-nio mendekati Ang-hou, ucapnya dengan suara lembut.
"Tapi bahumu masih mengucurkan darah...."
Dengan kuku jarinya yang merah ia menggelitik perlahan di bahu Ang-hou yang dilukai si ular putih tadi dan bertanya perlahan.
"Sakit tidak?"
"Tidak,"
Jawab Ang-hou dengan tertawa.
"tapi rasanya menjadi geli karena digelitik kau."
Sambil bergelak tertawa sehingga tubuhnya yang penuh daging lebih itu berguncang-guncang, berbareng ia terus merangkul pinggang Gin-hoa-nio.
Tapi Gin-hoa-nio lantas menyelinap ke samping dengan tertawa genit, ucapnya sambil tertawa terkikik-kikik.
"Bila kau dapat menangkap diriku barulah aku menyerah padamu!"
Begitulah ia lantas lari di depan dan dikejar Ang-hou dengan napas terengah-engah.
Gerakan Gin-hoa-nio sangat enteng dan gesit, jangankan menangkapnya, meraih ujung bajunya saja tidak mampu dilakukan Ang-hou.
Sampai akhirnya Ang-hou sendiri tidak tahan, ia megap-megap sambil memegang tepi meja, namun begitu ia masih cengar-cengir dan berseru.
"O, mestikaku, kemarilah biar kupeluk cium kau."
Gin-hoa-nio memandangnya dengan tertawa, tiba-tiba ia menggeleng dan menghela napas gegetun, katanya.
"Ai, kau ini... jelas kau ini seekor babi goblok, mengapa kau tidak mau mengaku?"
Ang-hou melengak, tanyanya kemudian dengan melotot.
"Ap.... Apa maksudmu?"
"Baru saja ku taruh racun pada lukamu, racun yang membinasakan bila masuk ke darah. Kadar racun yang ku taruh itu cukup untuk membunuh sepuluh ekor babi gemuk,"
Tutur Ginhoa-nio dengan suara halus.
"Jika kau tidak bergerak mungkin akan hidup lebih lama beberapa jam, sekarang kau telah berlari-lari, racun sudah mengalir masuk darahmu dan menyebar di seluruh tubuhmu, bila kau gunakan tenaga sedikit seketika jiwamu bisa melayang."
Mendadak Ang hou meraung murka, dengan segenap sisa tenaganya, ia menubruk maju, terdengarlah suara gemuruh, meja ditumbuknya hingga hancur berantakan dan tertindih oleh tubuhnya yang gede.
Gin hoa nio menghela napas, katanya.
"Dengan maksud baik sudah ku peringatkan, mengapa kau tidak mau percaya padaku?"
Lalu ia mengitari meja dan menuju ke ambang pintu, sambil bersandar di depan pintu ia berseru dan tersenyum menggiurkan.
"Di dalam rumah ada empat orang mati, maukah para Toako membantuku menggotongnya keluar?"
Sejak tadi anak buah Su ok siu menunggu di luar dengan gelisah, namun disiplin Su ok siu sangat keras, tanpa diperintah, siapa pun tidak berani meninggalkan tempatnya.
Mereka cuma mendengar suara kacau di dalam rumah dan tidak tahu apa yang terjadi, setelah mereka dipanggil Gin hoa nio barulah mereka berkerumun maju, mereka jadi melongo kaget setelah melihat keadaan di dalam rumah.
Dengan suara halus Gin hoa nio berkata kepada mereka.
"Ku tahu perasaan kalian. Melihat majikan kalian dibunuh orang, takkan kusalahkan kalian bila kalian ingin menuntut balas bagi mereka."
Melihat Gin hoa nio bersikap tenang dan tertawa riang, bajunya sedikit pun tidak terkoyak apalagi robek, sebaliknya majikan yang mereka puja seperti malaikat dewata itu semuanya terkapar seperti anjing mampus, jelas perempuan ini tidak cuma sangat cantik, tapi pasti juga sangat lihai.
Belasan orang ini mana berani lagi bicara tentang menuntut balas, serentak mereka membalik tubuh dan lari terbirit-birit, hanya sekejap saja sudah hilang tanpa bekas.
"Ai, jaman ini tampaknya kaum penjahat juga kecil hatinya,"
Gumam Gin hoa nio dengan menghela napas. ***** Apa yang terjadi, semua itu dapat diikuti Kim yan cu dan Bwe Su-bong dengan jelas, mereka sama melenggong. Dengan tersenyum getir Bwe Su bong berkata.
"Betapa lihai adik perempuanmu, hakekatnya dapat disejajarkan dengan kelihaiannya Hay hong hujin di masa dahulu. Memang sudah kuduga orang lain tidak perlu turun tangan, adikmu sendiri pasti sanggup membereskan mereka."
Kim yan cu tidak menanggapi, diam-diam ia pun merasa getir.
"Sekarang bolehlah nona turun ke sana dan aku pun akan pulang,"
Kata Bwe Su bong.
"Kau.... kau tidak turun dan berduduk dulu?"
Tanya Kim yan cu.
"Biarpun aku sudah kakek-kakek, tapi tetap lelaki, maka lebih baik tidak berjumpa dengan adikmu..."
Belum habis ucapannya dia sudah melayang jauh ke sana. Kim yan cu menghela napas panjang, dilihatnya Gin hoa nio sedang bersandar pula di pintu dan berkata sambil menengadah ke arahnya.
"Tak tersangka di atas loteng juga ada tamu, maaf jika sambutanku kurang baik."
Tidak tahan lagi Kim Yan cu, mendadak ia melayang turun ke depan Gin hoa nio.
Baru saja Gin hoa nio melengak setelah tahu siapa gerangannya, tahu-tahu mukanya sudah tertampar dua kali.
Cukup keras gamparan itu sehingga Gin hoa nio jatuh ke dalam rumah sambil berteriak.
"He, Toaci.... kau...."
Kim yan cu merasa pukulannya tidak cukup keras, dengan gemas ia mendengus.
"Hm, tidak perlu lagi kau panggil Toaci padaku, mana ku berharga menjadi Toacimu? Jiwa manusia bagimu tidak lebih seperti semut, bilamana kau mau, bisa jadi aku pun akan kau bunuh."
Gin hoa nio merabai mukanya yang digampar itu, mendadak ia menangis.
"Dengan mudah sekali kau bunuh empat orang ini, seharusnya kau bergembira, apa yang kau tangisi?"
Damprat Kim yan cu dengan gusar.
"Apakah Toaci mengira aku sangat senang setelah membunuh orang?"
Seru Gin hoa nio dengan menangis sedih.
"Toaci, jika kau menyaksikan tingkah laku mereka tadi, tentu kau akan paham bagaimana jadinya jika aku tidak berdaya membinasakan mereka."
Dengan menangis ia menubruk ke bawah kaki Kim yan cu dan berkata pula.
"Toaci, kau mau memukul aku, mau memaki, semua ini bukan soal bagiku, tapi kalau kau tidak mengakui adik lagi padaku, biarlah sekarang juga ku mati di depanmu."
Setelah memukul dan mendamprat, rasa gusar Kim yan cu sudah hilang sebagian besar, sekarang mendengar ucapan Gin hoa nio yang mengibakan hati ini, akhirnya ia pun mengucurkan air mata dan mengomel pula.
"Biarpun kau terpaksa, seharusnya tidak boleh sekeji itu!"
"Ya, Toaci, ku tahu kesalahanku,"
Jawab Gin hoa nio dengan suara gemetar.
"Soalnya sejak kecil aku sudah kenyang dianiaya orang, yang kulihat setiap hari adalah orang-orang yang kejam, aku.... aku menjadi takut, maka caraku turun tangan menjadi agak kejam."
Sembari menangis ia terus merangkul kaki Kim yan cu dan meratap pula.
"O, Toaci, jika kau datang lebih cepat tentu mereka tidak berani mengganggu diriku dan aku pun takkan bertindak demikian."
Hati Kim yan cu terharu pula, ia menghela napas dan berkata.
"Betul juga, aku pun salah, seharusnya sejak tadi-tadi ku datang kemari."
Dasar hatinya memang polos, ia merasa kejadian ini tidak dapat menyalahkan orang lain, tapi dirinya ikut bertanggung jawab.
Bicara punya bicara, akhirnya ia merangkul Gin hoa nio dan menangislah keduanya.
Meski lahirnya Gin hoa nio menangis tergerung-gerung, tapi di dalam hati sebenarnya lagi tertawa.
***** Sekarang ia telah menemukan suatu kenyataan yakni asalkan sifat seseorang dapat kau raba dengan jitu, bukan saja lelaki mudah dihadapi, bahkan perempuan juga tidak sulit dilayani, lebih-lebih perangai anak perempuan seperti Kim yan cu ini.
Dunia Kangouw memang kejam dan berbahaya, tapi juga adil, asalkan manusia yang punya kemahiran tentu akan menanjak ke atas dan kehidupannya seketika juga akan berubah gilang gemilang.
Cuma saja, ada kehidupan sementara orang yang meski gilang gemilang, tapi terlalu singkat, seperti meteor saja, hanya sekelebat, lalu lenyap.
Selama beratus tahun sejarah Kangouw entah sudah berapa banyak pahlawan yang baik bintangnya untuk kemudian lantas tenggelam pula.
Tapi di antaranya bukan tiada yang tetap berdiri tegak tanpa jatuh.
Ada sementara orang, meski orangnya sudah mati, tapi keturunannya, anak cucunya, masih dapat mempertahankan suatu kekuatan yang tidak pernah runtuh di dunia kangouw, dengan demikian selamanya juga lantas tetap berjaya dan abadi.
Selama 300 tahun ini, kekuatan yang tetap berdiri tegak tanpa ambruk itu, selain Siau-lim pay, Bu tong pay, dan aliran-aliran besar yang mempunyai sejarah gilang gemilang ini, masih ada juga keluarga persilatan ternama dan berpengaruh.
Keluarga persilatan ini ada sebagian yang tetap berjaya karena pengorbanan leluhurnya bagi kepentingan dunia persilatan di masa lalu sehingga mendapat penghormatan dari kaum pahlawan dunia Kangouw, tapi kebanyakan adalah karena mereka memang mempunyai Kungfu yang istimewa dan sukar ditandingi, sebab itulah sejarah mereka bisa tetap hidup abadi sepanjang masa.
Di antara keluarga persilatan itu misalnya terdapat keluarga "Thio Kan-cay"
Di kota-raja yang terkenal dengan ilmu pertabibannya. Ada keluarga "Pi-lik-tong"
Di Kanglam yang termasyhur karena ahli membuat senjata api. Ada keluarga Lam-kiong dengan ilmu pukulannya yang hebat, ada keluarga "Thian-hi-tong"
Yang disegani karena kemahirannya menyelam di dalam air, ada pula keluarga Pang di Holam yang merajai dunia persilatan di wilayahnya karena permainan Toan bun to yang lihay.
Dan di antara keluarga-keluarga persilatan yang turun temurun itu, yang paling berkesan dan diketahui setiap orang persilatan kiranya harus ditonjolkan keluarga Tong dari Sujwan yang termasyhur karena Am-gi atau senjata rahasia yang tiada bandingannya selama ini.
Tong keh ceng atau perkampungan keluarga Tong itu terletak di kaki gunung di luar kota Cung king, propinsi Sujwan.
Setelah mengalami perbaikan dan perluasan di sana-sini selama berabad-abad, dari perumahan sederhana dua deret kini telah meluas menjadi sebuah perkampungan yang megah dan sudah menyerupai sebuah kota kecil.
Ini terbukti bilamana orang masuk pintu gerbang yang tiap tahun dicat satu kali itu, maka segala keperluan, dari sandang, pangan sampai tempat tinggal dan sarana lain, sekolahan, hiburan, sampai urusan nikah dan kematian, setiap barang keperluan dapat diperoleh di sini dan tidak perlu berbelanja ke luar.
Hakekatnya, restoran Sujwan yang paling terkemuka, toko cita yang paling mentereng, toko barang kosmetik yang mutakhir, semuanya terdapat di perkampungan ini.
Dengan sendirinya anak murid keluarga Tong masing-masing juga mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, mereka dapat mencari nafkah menurut kemahirannya sendiri-sendiri, lalu dibelanjakan pula kepada toko-toko itu sehingga terjadilah sirkulasi perekonomian yang makmur di perkampungan ini.
Bila mereka ingin menikmati kehidupan yang tinggi, cukup asalkan mereka berusaha mencari laba segiatnya, dengan dana dan tenaga yang hanya beredar di lingkungan perkampungan mereka saja, dengan sendirinya makin lama Tong keh ceng bertambah besar dan kuat.
Sampai Gin hoa nio sendiri, begitu memasuki pintu gerbang perkampungan Tong ini seketika ia terkesima dan hampir tidak percaya kepada apa yang dilihatnya.
Dia pernah datang ke Tong keh ceng ini, tapi hanya memandangnya dari luar, sama sekali tidak terbayangkan olehnya bahwa antara luar dan dalam Tong keh ceng terdapat perbedaan sebanyak ini.
Kalau dipandang dari luar, pintu gerbangnya bercat hitam dengan pagar balok kayu sebesar dahan pohon, panji terkerek tinggi di tiangnya, keadaan demikian tiada bedanya dengan perkampungan persilatan lain, hanya formatnya saja yang lebih besaran.
Tapi setibanya di dalam pintu gerbang perkampungan, tiba-tiba ia melihat di dalam perkampungan ini ada sebuah jalan raya, sebuah jalan balok batu yang rajin dan lurus, di kedua tepi jalan terdapat aneka macam toko, cukup ramai toko-toko itu dikunjungi pembeli, cuma saja toko-toko itu tidak pasang merek dagang.
Sungguh mimpipun tak terpikir olehnya bahwa keadaan yang demikian ini akan dilihatnya di dalam suatu "perkampungan", yang lebih mengherankan lagi adalah di dalam perkampungan keluarga persilatan yang termasyhur ini sama sekali tiada terdapat penjagaan dan tanda-tanda siap siaga.
Sungguh aneh.
Ketika kuda mereka sampai di depan pintu gerbang, Kim yan cu hanya memberitahukan sekedarnya namanya, lalu mereka disilahkan masuk.
Sedangkan penjaga pintu gerbang itu pun cuma dua kakek reyot.
Gin hoa nio menghela napas panjang, saking tak tahan ia coba bertanya dengan suara tertahan.
"Apakah benar inilah satu-satunya Tong keh ceng yang termasyhur itu?"
"Memangnya kau tidak percaya?"
Tanya Kim yan cu dengan tertawa.
"Bukannya aku tidak percaya, aku cuma merasa bingung,"
Kata Gin hoa nio dengan gegetun.
Di jalan raya itu banyak juga orang berlalu lalang, sudah barang tentu kedatangan Kim yan cu dan Gin hoa nio menarik perhatian mereka, tapi mereka pun cuma memandang sekejap saja dan tiada seorang pun yang mendekat dan menegur mereka.
Kembali Gin hoa nio bertanya.
"Orang Kangouw suka bilang Siau lim si, Bu tong san dan Tong keh ceng adalah tempat-tempat terlarang di dunia persilatan dan jangan harap akan dapat memasukinya, andaikan dapat masuk, maka jangan mengharapkan akan dapat keluar dengan hidup. Tapi melihat gelagatnya sekarang, tampaknya seperti setiap orang boleh masuk dan keluar lagi dengan bebas."
Kim yan cu tersenyum tak acuh, katanya.
"Soalnya lantaran kau datang bersamaku."
"O, jika aku datang sendiri pasti tidak dapat menerobos masuk?"
Tanya Gin hoa nio.
"Masuk sih tidak sulit, tapi keluar lagi tubuhmu akan membujur,"
Jawab Kim yan cu dengan tertawa. Lalu ia menyambung pula.
"Coba kau lihat orang-orang yang berlalu, semuanya kelihatan ramah tamah bukan? Tapi salahlah jika kau pikir demikian. Sebab sedikit kau perlihatkan sesuatu yang tidak beres, dari lengan baju setiap orang itu bisa melayang keluar sesuatu benda untuk mencabut nyawamu."
Diam-diam Gin hoa nio merasa ngeri, tapi di mulut ia menanggapi dengan tertawa.
"Tapi kita sudah masuk ke sini, mengapa tiada seorang pun yang melaporkan dan memberi petunjuk jalan?"
"Darimana kau tahu mereka tiada yang melaporkan kedatangan kita?"
Tanya Kim yan cu.
"Hanya caranya mereka melapor itu saja tidak diketahui orang luar. Jika tidak percaya, boleh kau lihat sebentar lagi, segera ada orang keluar menyambut."
"Cujin (majikan, pemilik) perkampungan ini...."
"Maksudmu Bu Siang Lojin? Beliau berdiam di gedung belakang perkampungan sana, tinggal bersama anak-anaknya. Mungkin kau mengira setiap orang juga dapat menerobos masuk dari pintu gerbang hingga ke tempat tinggalnya, orang itu sedikitnya harus punya sayap dan mempunyai beberapa kepala."
Gin hoa nio menghela napas, gumamnya.
"Jika dia terus menerus berdiam di tempat aman begini, pantaslah kalau nyalinya makin lama makin kecil."
"Darimana kau tahu nyali beliau makin lama makin kecil?"
Tanya Kim yan cu sambil berkerut kening. Gin hoa nio melengak, cepat ia menjawab.
"Ah, aku cuma mendengar orang bercerita demikian."
Mestinya Kim yan cu ingin tanya pula, tapi dari ujung jalan sana sudah muncul beberapa perempuan menyongsong kedatangan mereka.
Perempuan itu semuanya memakai gaun berwiru banyak, jalannya berlenggang, mungkin itulah gaya berjalan "macan luwah"
Atau harimau lapar. Salah seorang perempuan itu, seorang nyonya berbaju putih dan berperawakan semampai, dari jauh lantas berseru kepada Kim yan cu.
"Sam-ya thaucu (budak ketiga), kenapa baru sekarang kau kemari, sungguh Cici telah lama merindukan kau." ***** Tidak lama kemudian Gin hoa nio lantas tahu bahwa perempuan semampai dan bernas ini dengan wajah bulat telur dan sedikit berjerawat ini bernama Tong Ki, puteri tertua, anak kedua Tong Bu-siang. Dia inilah yang memegang kekuasaan rumah tangga di perkampungan Tong ini. Kemudian dari Kim yan cu juga diketahui Gin hoa nio bahwa Tong ji-kohnaynay (bibi kedua keluarga Tong) ini memang bernasib malang, meski mukanya tidak jelek, pintar mengurus rumah tangga pula, tapi sudah dua kali bertunangan, belum lagi menikah, dua kali pula bakal suaminya meninggal dunia. Sebab itulah, di belakangnya orang suka bilang mungkin lantaran Tong ji-kohnaynay terlalu pintar mengurus rumah tangga, tapi membawa sial bagi suami. Mungkin Tong ji-kohnaynay mendengar desas-desus ini, saking gusarnya ia lantas bersumpah di depan abu leluhur bahwa selama hidup dia tidak mau menikah. Dan sekarang Tong ji-kohnaynay inilah menyambut kedatangan Kim yan cu dengan gembira, ia pun banyak memberi pujian kepada kecantikan "adik baru"
Kim yan cu.
Mungkin sudah menjadi sifatnya yang khas, tangan Tong jikohnaynay selalu membawa sepotong handuk kecil, sepanjang jalan bila melihat ada gulungan kertas tercecer atau kulit buah terbuang, segera dijemputnya dan dibungkus dengan handuknya.
Melihat itu baru Gin hoa nio tahu apa sebabnya Tong keh ceng sedemikian rapi dan bersih.
Diam-diam ia pun mentertawai Tong jikohnaynay kita ini, untung nona ini tidak menikah, kalau tidak, bisa jadi suaminya akan repot mempunyai isteri begini.
Di antara perempuan-perempuan yang mendampingi Tong Ki, tapi hanya tersenyum dan tidak bersuara, ialah menantu perempuan tertua Tong Bu-siang, isteri Tong Jan, namanya Li Pweling.
Nyonya menantu ini bermuka bundar, matanya juga bundar, pergelangan tangannya juga bulat seperti lontong.
Potongan nyonya menantu inilah model menantu bijaksana dan membawa rejeki.
Sedangkan adik Tong Ki, namanya Tong Lin, adalah gadis yang lemah tidak tahan angin.
Matanya yang besar kelam itu seolah-olah orang yang selalu menanggung susah.
Gin hoa nio tahu ketiga perempuan inilah orang penting di Tong keh ceng, selebihnya tidak perlu diperhatikannya.
Setelah melintasi jalan raya dan melalui sebuah jalan berkerikil, tiba-tiba membentang sebidang hutan di depan sana, di balik pepohonan terdapat pagar tembok bercat merah dengan genteng warna hijau, disitulah tempat Bu-siang Lojin menikmati kehidupan bahagia di hari tuanya.
Sementara itu, Tong jikohnaynay telah membuang handuk kecil yang penuh membungkus sampah jemputannya tadi dan dibuang ke keranjang sampah, lalu mencuci tangan pada sungai kecil yang melingkari pagar tembok, kemudian ia berkata dengan tertawa.
"Loyacu (tuan tua) sedang tidur siang, kukira kalian tidak perlu menjumpai beliau, boleh langsung ke tempat Toa-so (kakak ipar, isteri kakak) saja, ku tahu di tempatnya ada dua botol Bi kwi lo (arak mawar), biarlah kita gasak saja."
"Wah, dasar tukang gasak, orang menyimpan dua botol arak saja selalu kau incar,"
Demikian Li Pwe-ling berseloroh. Tong Ki, Tong jikohnaynay tertawa, ucapnya.
"Terus terang, memang sudah lama ku incar kedua botol araknya, sekarang mumpung ada tamu, harus kugunakan kesempatan ini untuk menyikatnya, kalau tidak, bila Toako pulang nanti, mungkin berikut botolnya akan dia lalap sama sekali."
Kim yan cu tertawa terpingkal-pingkal, Gin hoa nio juga ikut tertawa.
Diam-diam ia pun heran mengapa nona-nona keluarga Tong di Sujwan ini mahir bicara dengan logat Pakkhia, tapi kemudian diketahuinya bahwa isteri Tong Bu-siang justeru adalah puteri keluarga ternama dari kota raja.
Pendek kata, sejak masuk pintu gerbang perkampungan Tong, segenap panca indera Gin hoa nio tidak pernah menganggur, mata telinga dan mulut terus bekerja.
Matanya tidak menyampingkan sesuatu benda yang dilihatnya, telinga juga tidak pernah lalai terhadap sesuatu berita yang dapat didengarnya, malahan mulutnya terus menerus memuji dan menyanjung.
Meski semuanya itu tujuannya cuma satu, yakni ingin mencari kabar, akan tetapi betapa pun dia berusaha, kabar yang ingin didengarnya tetap sukar didapat.
Yakni mengenai diri Jikongcu atau putera kedua keluarga Tong, kekasih Kim hoa nio, Tong Giok, kemana perginya?
Bahwa dia berusaha mati-matian memikat Kim yan cu dan rela diakui sebagai adiknya, harapannya justeru ingin dibawa Kim yan cu ke Tong keh ceng untuk mencari tahu bagaimana keadaan Tong Giok.
Hanya dua hari saja Gin hoa nio sudah dapat bergaul dengan erat bersama beberapa nona keluarga Tong.
Dari peti benda mestika dikeluarkannya beberapa bentuk permata yang paling bagus untuk diberikan kepada Tong Ki, Tong Lin dan Li Pwe-ling, dipilihnya pula beberapa perhiasan lain yang tidak begitu indah, namun juga cukup berharga dan dibagi-bagikannya kepada setiap nona, setiap menantu keluarga Tong yang ditemuinya.
Sebab itulah, setiap orang yang pernah bertemu dengan dia, di depan maupun di belakang, semuanya sama memuji betapa baik hati "adik baru"
Kim yan cu yang cantik ini.
Dalam pada itu ia pun sudah bertemu dengan Tong Bu-siang, ia tahu orang tua ini belum tentu dapat mengenalnya.
Maklumlah, kebanyakan orang yang sudah pernah melihat "Khing hoa samniocu", kalau tidak melenggong kaget tentu juga terkesima oleh dandanan mereka yang aneh-aneh atau bisa juga melongo lupa daratan melihat tari bugil mereka, jarang ada yang teringat lagi kepada wajah mereka.
Begitulah, hampir setiap anggota keluarga Tong telah dilihatnya di perkampungan ini, hanya Tong Giok saja yang tidak ditemuinya.
Bahkan di Tong keh ceng ini hakekatnya tiada orang lagi berbicara mengenai Ji kongcu yang romantis itu.
Sudah hampir setiap pelosok Tong keh ceng telah didatanginya terkecuali sebuah gua yang terletak di lereng bukit belakang perkampungan, setiap kali dia berpura-pura menyelonong ke sana secara tidak sengaja, setiap kali pula dia dihadang orang dari jauh.
Akhirnya diketahuinya bahwa gua itulah rupanya tempat pembuatan Am-gi atau senjata rahasia keluarga Tong yang termasyhur itu, tempat itu terlarang dikunjungi orang yang tidak berkepentingan.
Malam ini, Tong toaso bergilir pula menjadi nyonya rumah, dengan sendirinya kedua botol Bi kwi lo yang diincar Tong Ki dahulu itu sudah habis terminum, tapi arak enak yang masih tersedia juga lumayan.
Sebenarnya arak bukan minuman yang cocok bagi kaum wanita, tapi sifat para nona keluarga Tong ini ternyata tidak kalah daripada lelaki, meski makan sayur sedikit-sedikit, tapi minum arak justeru banyak-banyak.
Cahaya bulan malam ini sangat terang, terendus pula bau harum bunga Kwi di halaman sana, setelah menenggak arak, ucapan Tong Ki semakin banyak, bahkan Li Pwe-ling yang biasanya jarang bicara kini juga banyak omongnya.
Pertemuan di antara kenalan lama, mereka dan Kim yan cu seakan-akan tidak pernah kehabisan bahan bicara.
Hanya Gin hoa nio saja yang tidak banyak minum arak, pertama dia merasa tiada artinya minum arak bersama kaum perempuan.
Kedua, ia pikir dirinya harus tetap dalam keadaan sadar.
Kedatangannya ini bukan untuk minum arak saja.
Tong Lin juga tidak banyak minum arak, matanya yang besar dan kelam itu seolah-olah menanggung kesedihan yang semakin berat, tampaknya dia selalu bermalas-malasan, berbuat apa pun kurang semangat.
Aneh juga, nona cilik yang belum pernah ke luar rumah ini sebenarnya menanggung pikiran apa.
Tiba-tiba Tong Ki melototi Kim yan cu dan bertanya.
"He, Sam-ya-thau, tahun ini berapa umurmu?"
Kim yan cu tertawa, jawabnya.
"Untuk apa kau tanya urusan ini? Memangnya ingin pacaran denganku? Cuma sayang kau bukan lelaki, kalau tidak aku ingin menjadi istrimu."
Tong Ki menenggak araknya, lalu berkata pula.
"Kau tahu, kau lahir bulan tiga, tahun ini sudah lebih 20, betul tidak?"
"Ehmm..,"
Kim yan cu bersuara samar-samar.
"Nona berumur likuran belum lagi kawin, kukira ini rada berbahaya,"
Kata Tong Ki. Muka Kim yan cu menjadi merah, omelnya.
"Kau tidak gelisah bagi dirimu sendiri, mengapa malah kuatir bagi diriku?"
Kembali Tong Ki minum araknya, ucapnya dengan menghela napas.
"Selama hidupku ini jelas tidak akan menikah, tapi kau.... kau tidak boleh, perempuan harus menikah, bila kau berumur sebaya diriku baru kau akan tahu betapa susahnya kesepian."
Tanpa terasa pandangan Kim yan cu menjadi suram, tapi ia berucap dengan tersenyum.
"Eh, koh-naynay kita hari ini bisa juga bicara setulusnya."
Sambil memegang cawan araknya Tong Ki berkata pula dengan rawan.
"Untuk apa ku purapura di depan kalian? memangnya aku dilahirkan untuk tidak menikah? Tapi sekarang.... kau kira aku mesti menikah dengan siapa...? Yang tinggi tidak sudi padaku, yang rendah aku emoh..."
Dia angkat cawan araknya dan menenggaknya pula.
"Bicara sesungguhnya, Sam-moay, sampai sekarang apakah kau belum punya pacar?"
Tanya Li Pwe-ling dengan tertawa.
"Bukankah Sinto Kongcu itu....."
"Jangan kau sebut dia lagi, bila menyebut namanya, arak saja tak dapat kuminum,"
Seru Kim yan cu.
"Aneh, mengapa mendadak kau benci padanya, jangan-jangan kau sudah punya yang lain?"
Kata Li Pwe-ling. Muka Kim yan cu menjadi merah, jawabnya dengan tertawa.
"Huh, mana ada?"
"Aha, tahulah aku,"
Seru Tong Ki mendadak.
"Caramu bicara ini mana bisa menipu orang? Hayolah, siapa, lekas katakan. Lekas mengaku terus terang, kalau tidak pasti tidak kuampuni kau."
Habis berkata segera dia hendak menggelitik pinggang Kim yan cu. Dengan tertawa Kim yan cu mengelak dan sembunyi di belakang Tong Lin, ucapnya dengan tertawa.
"Usia Simoay juga tidak kecil lagi, mengapa kalian tidak tanya dia apakah sudah punya pacar atau belum?"
Mendadak Tong Lin berdiri, ucapnya dengan hambar.
"Aku tidak ada urusan dengan mereka, jangan kalian ikut campurkan diriku."
Sembari bicara ia terus melangkah keluar tanpa berpaling. Kim yan cu jadi melengak.
"He, Simoay marah!"
Serunya.
"Jangan urus dia,"
Kata Tong Ki.
"Akhir-akhir ini tampaknya budak ini seperti kesurupan setan, selalu kurang semangat, entah menanggung pikiran apa?"
Li Pwe-ling tertawa lembut, ucapnya.
"Anak perempuan se-usia dia, mana yang tidak menanggung pikiran? Biar ku keluar melihatnya."
Biji mata Gin hoa nio berputar, mendadak ia mendahului berdiri dan berseru.
"Toa-so jangan repot, biar aku saja yang keluar melihatnya."
"Boleh juga,"
Ujar Li Pwe-ling.
"Kalian dapat bicara dengan cocok, cuma selekasnya hendaklah kembali, sudah ku sediakan ayam goreng untuk makan malam nanti."
Setiba di luar, bau harum bunga terasa semakin semerbak.
Tong Lin kelihatan berdiri di bawah pohon Kwi, bayang-bayang pohon menutupi wajahnya, nona itu berdiri diam saja tanpa bergerak laksana badan halus di malam sunyi.
Gin hoa nio tidak lantas mendekati nona yang kesepian itu, ia pun mondar-mandir di bawah cahaya bulan, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan bergumam perlahan.
"O, kehidupan manusia sungguh mengecewakan, sinar bulan yang terang, bau harum bunga Kwi, semua ini paling-paling hanya menambah rasa kesunyian orang hidup saja."
Dia memperhitungkan dengan baik pada waktu murung begini Tong Lin pasti malas untuk bicara, maka dia sengaja menguraikan kesepian orang hidup, kekecewaan dan sebagainya, semua ini ternyata tepat mengena di hati Tong Lin.
Ia jadi tertarik dan menoleh, dipandangnya Gin hoa nio hingga sekian lama, akhirnya ia berucap dengan hampa.
"Orang semacam kau, ke mana pun kau dapat pergi, kenapa kau pun merasakan kesepian? Rasa kesepian hanya diketahui dengan jelas oleh burung yang terkurung di dalam sangkar."
Gin hoa nio menghela napas dan berkata.
"Adik yang baik, usiamu masih belia, kau belum tahu persis sesungguhnya apa kesepian itu. Ada sementara orang meskipun setiap hari dapat pesiar dan bergurau dengan orang lain, tapi hatinya jauh lebih kesepian daripada siapa pun juga. Ada lagi setengah orang meski setiap hari hanya berduduk sendirian, tapi asalkan pikirannya melayang ke tempat yang jauh, di sana pun ada seorang sedang memikirkan dia, maka apa pun juga ia takkan merasa kesepian."
Tong Lin termenung sejenak, ia mengangguk perlahan dan berkata.
"Betul, orang yang belum pernah merasakan kesepian tak nanti dapat mengucapkan kata-kata demikian... Tapi waktu pikiranmu melayang ke tempat jauh sana, darimana kau tahu dia juga sedang memikirkan dirimu?"
"Sudah tentu aku tidak tahu, siapa pun tidak tahu soal ini dan inilah penderitaan orang hidup."
"Betul, inilah penderitaan orang hidup,"
Tukas Tong Lin dengan rawan dan menunduk.
"Sudah lama sekali,"
Tutur Gin hoa nio.
"ada kukenal seorang pemuda, namanya The Giok long, hanya satu kulihat dia, tapi siang dan malam aku merindukan dia, mungkin.... mungkin namaku saja dia tidak tahu...."
Gin hoa nio tahu kelemahan anak perempuan umumnya, bilamana kau ingin seorang anak perempuan membeberkan rahasia isi hatinya, maka jalan yang paling baik adalah menceritakan dulu rahasia di hatinya sendiri.
Sebab itulah dia lantas membuat suatu nama dan mengarang satu cerita.
Benarlah, tubuh Tong Lin kelihatan rada gemetar, selang sejenak, ia coba bertanya lagi.
"Sudah banyak tempat yang kau jelajahi?"
"Ehmm,"
Gin hoa nio mengangguk.
"Ya, banyak sekali,"
Jawab Gin hoa nio dengan tersenyum getir.
Tong Lin menunduk, jelas hatinya sedang meronta dan bergolak, ia terdiam lagi sebentar barulah mengambil keputusan, mendadak ia mengangkat kepala dan menatap Gin hoa nio, ucapnya sekata demi sekata.
"Tahukah kau seorang na... namanya Ji Pwe giok?"
Ji Pwe giok! Kembali Ji Pwe giok! Jantung Gin hoa nio hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu tanda sedikit pun, dengan tersenyum ia bertanya.
"Kakimu tidak pernah melangkah keluar Tong keh ceng ini, cara bagaimana kau kenal Ji Pwe giok?"
"Beberapa hari yang lalu dia pernah kemari,"
Tutur Tong Lin perlahan.
"Berkunjung kemari? Beberapa hari yang lalu?"
Tukas Gin hoa nio tanpa terasa. Tong Lin menggigit bibir, ucapnya pula.
"Dia datang mencari ayahku. Hari itu, kebetulan Toako dan Toa-so keluar mengantar keberangkatan Toako, hanya aku saja yang di rumah. Cukup lama dia bicara dengan ayah, tiba-tiba ayah menyatakan mau keluar, seperti akan mencarikan seseorang baginya, maka.... maka aku lantas dipanggil untuk menemani dia..."
Cahaya bulan menembus celah-celah dedaunan yang menyinari wajahnya, menyinari matanya, wajahnya kemerah-merahan, matanya bersinar laksana kerlip bintang di langit.
Dengan tenang Gin hoa-nio mendengarkan dan tidak memutus ceritanya.
Sampai lama Tong Lin termangu-mangu, kemudian disambungnya dengan perlahan.
"Sebenarnya aku tidak suka bicara dengan orang yang baru kukenal, tapi di depannya aku merasakan tiada sesuatu kekangan, setiap gerak geriknya kurasakan begitu halus, apa yang diucapkannya terasa penuh rasa simpatik dan pengertian. Tatkala mana dia seperti baru terluka parah, tapi dia tidak memperlihatkan rasa menderita sedikitpun, jelas karena dia tidak ingin ku ikut susah, nyata, setiap urusan apa pun selalu dia pikirkan dulu bagi orang lain."
Dia bercerita dengan perlahan seperti orang yang mengigau dalam mimpi.
"Kemudian bagaimana?"
Tanya Gin hoa nio tak tahan.
"Kemudian ayahku pulang dan terpaksa ku kembali ke kamarku, kukira esoknya dapat kulihat dia lagi, siapa tahu, pada.... pada malam itu juga dia telah berangkat, ayah pun tidak mau memberitahukan kemana perginya, hanya menyampaikan terima kasihnya atas pembicaraanku dengan dia waktu dia ku ajak ngobrol. Ai, aku.... kukira selama hidup ini takkan melihat dia lagi."
Dia menunduk dengan air mata bercucuran.
"Kau kan baru melihat dia satu kali, masa dia begitu penting bagimu?"
Ucap Gin hoa nio dengan perlahan.
"Dan kau sendiri bukankah... bukankah juga baru bertemu satu kali dengan The Giok Long yang kau sebut tadi?"
Baru Gin hoa nio ingat pada bualannya tadi, katanya pula.
"Jika benar-benar kau tak dapat melihat dia lagi, lalu bagaimana?"
"Ya, apa boleh buat!?"
Jawab Tong Lin dengan suara agak gemetar.
"Tapi selama... selama hidupku ini mungkin akan selalu.... merana."
Gin hoa jio memandangnya tajam-tajam, tanyanya kemudian.
"Bagaimana kalau ada orang yang dapat membuat kau bertemu dengan dia?"
Mendadak Tong Lin memegang tangan Gin hoa nio erat-erat, serunya dengan gemetar.
"Jika ada orang dapat mempertemukanku dengan dia, aku bersedia melakukan apapun juga baginya.... Ya, apapun juga akan kulakukannya, selama hidupku ini tidak pernah gila bagi urusan apa pun, tapi sekarang, rasanya aku benar-benar hampir gila."
Gin hoa nio menghela napas, katanya dengan tertawa.
"Pikiran anak gadis, ya, inilah pikiran anak gadis."
Sekujur badan Tong Lin gemetar pula, pegangannya bertambah erat, ia menegas.
"Dapatkah.... dapatkah kau memper...."
Gin hoa nio menarik tangannya, ia tidak lantas menjawab, ia sengaja jual mahal, sejenak kemudian barulah ia menjawab secara licin.
"Aku pun ingin melihat sesuatu, entah kau dapat membantu atau tidak?"
"Urusan apa? katakan saja, katakan!"
Desak Tong Lin.
"Kudengar cerita orang, konon tempat keluargamu menggembleng am-gi adalah tempat yang paling misterius dan tempat yang paling menarik, mimpi pun aku ingin masuk ke sana untuk melihatnya,"
Jawab Gin hoa nio. Seketika air muka Tong Lin berubah, katanya.
"Ah, tempat itu tiada sesuatu yang menarik."
"Tak apalah jika kau tak dapat membantu keinginanku ini,"
Ucap Gin hoa nio tak acuh. Sejenak kemudian tiba-tiba ia berkata.
"O, sebentar, aku akan minum dulu."
Tapi sebelum Gin hoa nio melangkah pergi, cepat Tong Lin menariknya dan berkata.
"Jika kubantu keinginanmu ini, apakah kau...."
"Aku pun akan membantu terpenuhi keinginanmu,"
Tukas Gin hoa nio dengan tertawa. Tong Lin berpikir sejenak, akhirnya ia menjawab dengan menggreget.
"Baik, akan kubawa kau ke sana. Tapi berhasil atau tidak tak berani kujamin. Selain itu, kau mesti berjanji juga padaku, setelah masuk ke sana, tidak boleh kau menyentuh sesuatu barang apa pun."
Dengan girang Gin hoa jio menjawab.
"Asalkan melihatnya saja hatiku sudah puas, pasti takkan ku sentuh."
"Baik, sekarang juga kita pergi kesana,"
Kata Tong Lin. Tapi Gin hoa nio menariknya pula dan berkata.
"Biarlah kita kembali dulu ke dalam, agar mereka tidak curiga. Ku tahu di sana ada sebuah gardu kecil, nanti kalau mereka sudah mabuk dan tertidur kita bertemu kembali di gardu itu."
Tong Lin mengangguk setuju, tiba-tiba air matanya bercucuran, ratapnya di dalam hati.
"Ji Pwe giok, wahai Joi Pwe giok, sejauh ini kulakukan bagimu, tapi apakah kau tahu....?" ***** Tengah malam Gin hoa nio sudah datang ke gardu kecil itu, sebelumnya Tong Lin sudah menunggunya dengan tak sabar, begitu melihat Gin hoa nio muncul dari kejauhan segera ia menggapai dengan tangannya. Jarak gardu kecil ini dengan gua itu masih cukup jauh, tapi gerak-gerik Tong Lin tampak sangat hati-hati. Gin hoa nio juga tahu di tempat ini tidak boleh sembrono. Kelihatan dua lelaki baju hitam mondar-mandir di depan gua sana, di dalam gua tampak ada cahaya lampu, selain itu tiada kelihatan bayangan orang lain. Di kejauhan ada suara air gemercik, Gin hoa nio, tahu itulah sebuah sumber air hangat di tebing bukit sana. Konon sebabnya racun senjata rahasia keluarga Tong tidak dapat ditiru orang lain adalah karena dicampur dengan sumber air yang istimewa ini. Tapi sesungguhnya masih ada sebab lain atau tidak sukar dipastikan. Gin hoa nio lantas mendesis.
"Apakah sekarang kita dapat masuk ke sana?"
Muka Tong Lin tampak lebih pucat daripada kertas, katanya sambil menggeleng.
"Tidak, saat ini yang dinas jaga gua ini adalah Si-suhengku, Tong Siu-hong, dia berwatak keras dan kaku, bila kita ingin masuk ke sana sekarang, hakekatnya setitik harapan saja tidak ada."
"Jika demikian, hayolah kita pulang saja!"
Ucap Gin hoa nio dengan kurang senang. Tapi Tong Lin lantas mendesis.
"Sabar dulu, ketahuilah orang yang dinas jaga di sini akan berganti pada tengah malam tepat, maka boleh kita tunggu lagi sejenak, bila yang dinas jaga nanti adalah Toa suheng atau Jit-suheng, maka bereslah, sebab kedua orang ini paling mudah diajak bicara."
Gin hoa nio tersenyum cerah dan tidak bersuara lagi. Tidak lama kemudian, Tong Lin tak tahunya ia bertanya.
"Apakah kau pun kenal... kenal Ji kongcu?"
Gin hoa nia mengiakan. Tong Lin menggigit bibir.
"Cara bagaimana kau kenal dia?"
Tanyanya kemudian.
"Jangan kuatir,"
Ujar Gin hoa nio dengan tertawa.
"Aku dan dia cuma kawan biasa saja, aku sendiri sudah punya pacar."
Muka Tong Lin yang pucat itu seketika merah semarak, ia menunduk dan tidak bicara lagi. Lewat sejenak pula, Gin hoa nio juga tidak tahan, ia bertanya.
"Konon tidak lama mukanya telah dilukai orang, entah betul atau tidak?"
"Betul,"
Jawab Tong Lin dengan menyesal.
"Mukanya memang ada bekas luka, dia bilang padaku, seorang perempuan paling keji dan paling licin di dunia ini yang melukainya."
Tentu saja Gin hoa nio merasa gregetan tapi di mulut ia berkata dengan tertawa.
"Jika bukan perempuan yang keji, siapa yang sampai hati melukai dia?"
Tiba-tiba Ton Lin tertawa, katanya.
"Bila perempuan ini bermaksud merusak wajahnya, maka dia pasti akan kecewa."
"Oo!? Sebabnya?"
Tanya Gin hoa nio.
"Sebab setelah mukanya bertambah bekas luka itu, dia bukannya menjadi buruk rupa, tapi malah menambah perbawa kelelakiannya,"
Tutur Tong Lin.
"Kupikir pada sebelum terluka begitu tentu wajahnya berbau pupur, pasti tidak sebaik sekarang."
Hampir meledak dada Gin hoa nio saking gemasnya, dia hanya menggreget secara diam-diam saja, tapi menanggapi dengan tertawa.
"Kukira itulah yang dinamakan di mata pacar timbul bidadari, biarpun seperti siluman juga tampaknya maha cakap."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara langkah orang ramai, menyusul dari jalan kecil sana lantas muncul dua baris bayangan orang, jumlahnya ada 20-30 orang, empat orang yang di depan dan di belakang sama memegang lampu kerudung kertas.
Seorang pendek gemuk berjalan paling depan, dia tidak membawa senjata, tapi pinggangnya menonjol, jelas banyak am-gi atau senjata rahasia yang dibawanya.
"Wah, mujur kita, yang ganti dinas jaga memang betul Jit-suko,"
Ucap Tong Lin dengan senang.
"Si gemuk kecil inikah Jit-sukomu?"
Tanya Gin hoa nio.
"Meski Jit-suko kami ini tampaknya ramah tamah, tapi ilmu silatnya tergolong kelas satu, orang Kangouw memberi julukan "Jian jiu mi to" (Buddha gemuk bertangan seribu) padanya. Di Tong keh ceng sini, kecuali Toako dan Toa-suheng kami, mungkin nama Jitsuko yang paling gemilang."
"Sungguh tidak dinyana, padahal kelihatannya dia seperti kasir di restoran yang berperut buncit,"
Gin hoa nio berseloroh. Tong Lin juga tertawa geli, katanya.
"Pada waktu tidak dinas jaga, pekerjaannya memang kasir restoran. Setiap orang yang berkunjung ke perkampungan ini seluruhnya dilayani oleh dia, yang bermaksud mengacau ke sini juga harus melalui rintangannya dulu."
Gadis yang baru pertama kali jatuh cinta ini sejak merasa ada harapan akan bertemu lagi dengan orang yang dicintainya, hati yang tadinya murung kini mulai cerah dan bergairah hingga kata-katanya juga bertambah banyak.
Dalam pada itu Jian jiu mi to Tong Siu jing sudah berhenti di depan gua sana, dari bajunya ia mengeluarkan sebuah pelat hitam dan diserahkan kepada lelaki yang berjaga di luar gua tadi.
Lelaki itu memberi hormat, lalu berlari masuk ke dalam gua.
Tidak lama kemudian dia keluar lagi bersama seorang lelaki kekar bermuka lebar dan berjenggot hitam.
"Si-suheng tentu sudah capai!"
Sapa Tong Siu jing sambil menyongsong ke depan. Yang baru keluar itu memang Tong Siu hong, ia memandang kedua barisan tadi, lalu berkata dengan kurang senang.
"Mengapa yang datang cuma 29 orang?"
Dengan mengiring tawa Tong Siu jing memberi penjelasan.
"Isteri Siau hou cu melahirkan, kuberi dia cuti satu hari."
Dengan muka bersungut Tong Siu hong berkata.
"Punya anak juga bukan sesuatu yang luar biasa, di Tong keh ceng ini hampir setiap hari ada anak lahir. Waktu susomu (kakak iparmu) melahirkan, bukankah akupun tetap berdinas jaga?"
Tong Siu jing menunduk, jawabnya tetap dengan mengiring tawa.
"Ya, inilah kesalahanku..."
"Sekali ini tidak jadi soal, bulan depan dia harus tambah dinas sehari,"
Ucap Tong Siu hong tegas.
"Tapi tenaga hari ini tetap tidak boleh berkurang satu."
"Sudah belasan tahun tempat ini selalu aman tenteram, hanya kurang satu orang masa menjadi soal?"
Ujar Siu jing dengan tertawa.
"Lojit, salah besar ucapanmu ini,"
Kata Siu hong dengan bengis.
"Biarpun seribu tahun tidak pernah terjadi apa-apa, tetap penjagaan kita tidak boleh teledor. Sebabnya orang luar tidak berani menerobos masuk ke sini justeru karena ketatnya penjagaan di sini."
Terpaksa Tong Siu jing menunduk dan mengiakan. Pandangan Siu hong beralih kepada seorang lelaki penjaga tadi dan berkata.
"Kemarin waktu istirahat makan, diam-diam kau minum dua ceguk arak, mestinya akan kuhukum kau setelah pulang nanti, tapi sekarang Siu hou cu tidak masuk kerja, bolehlah kau wakilkan dia dinas satu hari lagi."
Lelaki itu tidak berani membantah dan mengiakan dengan hormat.
Habis ini barulah Tong Siu hong memberi tanda, segera Tong Siu jing membawa kedua barisan tadi masuk ke dalam gua.
Menyusul di dalam gua lantas bergema suara bentakan disertai suara nyaring pintu pagar besi dibuka dan ditutup lagi, lalu ada pula 29 orang berjalan keluar dalam dua barisan.
Tong Siu hong memeriksa pula dengan teliti ke 29 orang ini, air mukanya yang keren barulah rada cerah, lalu ia berpaling dan berkata kepada Siu jing.
"Besok sesudah pulang dari dinas, datanglah ke rumah Siko, Si-suso kemarin baru saja masak Ang sio tite, dia tahu kegemaranmu dan disediakan bagimu."
"Baik, Si-sute akan datang dengan membawa arak,"
Jawab Siu jing dengan tertawa. Kemudian Siu hong memberi tanda lagi dan membawa pergi kedua barisan tadi. Beberapa langkah kemudian ia berpaling pula dan berseru.
"Jangan terlalu banyak arak yang kau bawa nanti agar tidak sampai mabuk, bisa terlantar pekerjaan kita."
Siu jing tertawa dan mengiakan.
***** Tempat yang selalu aman tenteram selama belasan tahun ini sampai sekarang masih tetap dijaga seketat ini, mau tak mau hati Gin hoa nio terkesiap dan kagum juga menyaksikan semua ini.
Baru sekarang ia tahu sebabnya nama Tong keh ceng di Sujwan tetap jaya, sebab memang tak mudah memasukinya.
Untung ia tidak sembarangan bertindak, kalau tidak, bisa jadi saat ini dia sudah digotong keluar dalam keadaan tak bernyawa.
Sesudah Tong Siu hong dan kedua barisannya lenyap dari pandangan barulah Tong Lin menghela napas lega, ia tarik lengan baju Gin hoa nio dan berkata.
"Hayolah, sekarang kita boleh coba-coba mengadu untung."
Segera ia mengajak Gin hoa nio menuju ke gua sana. Baru sampai di luar gua, segera penjaga membentak.
"Siapa itu?"
"Aku, masa tidak kenal?"
Sahut Tong Lin.
"O, kiranya nona Lin,"
Cepat lelaki itu memberi hormat.
"Ada urusan yang ingin kutemui Jitsuko..."
Sambil bicara Tong Lin terus hendak menerobos ke dalam. Siapa tahu lelaki itu lantas menghadang di depan, katanya dengan tertawa.
"Maaf nona, tanpa perintah tuan besar, bila hamba membiarkan nona masuk, besok hamba pasti akan mendapat hukuman berat."
Terpaksa Tong Lin berhenti dan berkata.
"Jika demikian, kukira boleh kau panggilkan Jitsuko saja."
Orang itu tampak ragu sejenak, tapi kemudian mengiakan. Namun Tong Siu jing tidak perlu dipanggil lagi, dengan tertawa ia sudah memapak keluar. Ia memandang Gin hoa nio sekejap, lalu berkata.
"Simoay, mengapa kau bawa tamu ke tempat ini, cara bagaimana harus kuladeni kalian?"
Gin hoa nio tersenyum dan memberikan lirikan genit, lalu menunduk malu-malu. Tong Lin menjawab dengan tertawa.
"Kau tahu dia ini tamu, jadi kau sudah tahu siapa dia?"
"Sudah dua hari kudengar nona Kim datang dengan membawa seorang adik perempuan, kudengar juga dua botol bi kwi lo simpanan Toaso telah terminum habis, padahal kedua arak itupun sudah lama ku incar, tapi Jikohnaynay tidak mengundang diriku, tentu saja aku tidak berani nyelonong ke perjamuannya."
"Pantas Jici (kakak kedua) selalu bilang Jit-suko bertelinga panjang, nyatanya segala urusan besar kecil di perkampungan ini tiada satupun dapat mengelabui mata telingamu,"
Ujar Tong Lin dengan tertawa.
"Ah, tidak perlu kau mengumpak diriku, tentu ada yang kau harapkan dariku,"
Kata Tong Siu jing.
"Coba jawab saja, ada tamu, cara bagaimana kau memberi pelayanan?"
Kata Tong Lin.
"Ai, kan sudah kukatakan, di sini tiada sesuatu yang cocok untuk melayani tamu. Tapi lusa siang pasti akan kusiapkan satu meja perjamuan besar, semoga para nona sudi hadir."
"Huh, perjamuan apa, paling-paling juga cuma Hay hong hi sit (sup sirip ikan dan telur kepiting), Yan oh keh yong (sarang burung masak ayam) dan sebagainya, sudah bosan!"
Seru Tong Lin. Mendadak ia menarik lengan baju Tong Siu jing dan berkata pula dengan tersenyum manis.
"Dia hanya ingin meninjau sejenak saja ke dalam, harap Jitsuko memberi izin. Kan tempo hari Jici juga membawa tamunya kemari dan kaupun membiarkan mereka masuk? Jika Jici kau beri kesempatan, supaya adil akupun mesti diberi kesempatan. Kalau tidak, lain kali takkan kuhiraukan kau lagi, jika ku masak wikeh kuah juga takkan kuberikan padamu."
Tong Siu jing menghela napas, katanya.
"Begitu melihat kedatanganmu segera ku tahu maksudmu, kalau tidak, kenapa tidak cepat tidak lambat, begitu aku dinas jaga segera kau muncul?"
Gin hoa nio sengaja mengikik tawa dan berbisik-bisik pada Tong Lin.
"Betul tidak, kan sudah kukatakan dia tak dapat dikelabui, kukira lebih baik panggil Jici saja kemari."
Dia seperti bicara terhadap Tong Lin, padahal sengaja diperdengarkan kepada Tong Siu jing, maka meski suaranya kedengarannya lirih, tapi cukup untuk didengar Tong Siu jing.
"Ai, kutakut pada Ji-siocia, memangnya Si-siocia kutakuti?"
Ujar Tong Siu Jing dengan menyesal.
"Padahal Si-siocia jauh lebih sulit untuk dilayani."
Dia membungkuk tubuh sebagai tanda menyilakan dan berkata pula.
"Baiklah, kedua nona silahkan masuk saja, lekas! Cuma kalian harus mengikuti petunjukku, tidak boleh sembarangan bergerak, tidak boleh sembarangan pegang dan aku akan berterima kasih jika semua itu kalian patuhi." ***** Dipandang dari jauh hakekatnya gua itu tiada terlihat pintunya, tapi setiba di mulut gua segera akan tertampak tiga lapis pagar besi yang tertanam di dinding batu. Melulu ketiga pagar besi ini saja sukar diterobos oleh segala orang, maklum terali besinya yang sebesar lengan bayi itu jelas tidak mudah digeser orang. Akan tetapi Tong Siu jing hanya menekan perlahan pada suatu tempat di dinding batu dan pagar besi itu lantas menghilang ke dalam dinding tanpa mengeluarkan suara. Di balik pintu besi itu sudah kelihatan keadaan gua yang curam dan berbahaya, pada setiap batu yang mencuat keluar pasti ada seorang lelaki berseragam hitam berjaga di situ. Setelah melintasi ketiga lapis pagar besi itu, hati setiap orang lantas mulai tegang, rasanya seperti masuk ke sebuah biara kuno yang seram, seperti juga masuk ke sebuah hutan purba, secara aneh dirinya sendiri terasa berubah sedemikian kelunya, di segenap penjuru seolaholah penuh terpendam bahaya yang sukar diraba. Gin hoa nio menghela napas, desisnya.
"Padahal tanpa dipesan, di tempat begini, siapakah yang berani sembarangan bergerak?"
Tong Lin mencibir, katanya.
"Jika tidak menemani kau, tidak nanti ku datang ke tempat setan ini."
Meski di mulut dia bilang "tempat setan", tapi aneh, sukar menutupi rasa senangnya. Soalnya tempat ini tidak cuma dipandang sebagai "tanah suci"
Oleh anak murid Tong, bahkan juga dianggap tempat suci oleh orang Kangouw, justeru inilah yang selalu dibanggakan oleh setiap anggota keluarga Tong.
Gua ini cukup dalam dan berliku-liku, tempat demikian seharusnya terasa gelap dan seram, tapi justeru semakin ke dalam rasanya semakin hangat, menyusul lantas terdengar gemerciknya air mengalir.
Setelah membelok lagi satu tikungan, pandangan Gin hoa nio mendadak terbeliak.
Gua yang semula berliku-liku itu, sampai di sini mendadak terbuka, perut gunung ini ternyata kosong, berwujud sebuah terowongan raksasa, atapnya yang bulat melengkung berpuluh tombak tingginya, luasnya entah berapa ratus tombak, seorang berteriak dari ujung sini umpamanya, waktu dia tutup mulut, barulah suaranya dapat berkumandang sampai di ujung sana.
Anehnya meski tempat ini termasuk di dalam perut gunung, tapi di sini dialiri sebuah sungai kecil.
Air sungai berwarna kuning bahkan mengepulkan asap dan berhawa panas.
Di tepi sepanjang sungai kecil itu terdapat berpuluh tungku tembaga antik yang beraneka ragam bentuknya, di antara tungku satu dan tungku lain teraling oleh pintu angin batu setengah alam dan setengah buatan tenaga manusia.
Pada saat ini, di samping setiap tungku terdapat dua lelaki kekar dengan telanjang badan bagian atas, kedua orang sedang memukul dan menggembleng di atas talenan besi, palu yang digunakan mereka tidak terlalu besar, jelas barang yang mereka gembleng itu sangat kecil, tapi air muka mereka sama prihatin, seolah-olah menanggung beban beribu kati, segenap tenaga dan perhatian mereka tidak berani lena sedikit pun.
Setelah orang-orang pada tungku pertama selesai membuat benda itu lalu dilempar ke dalam keranjang bambu yang terikat dan terendam di dalam air sungai, setelah digerujuk dan dicuci oleh air sungai yang mengalir tanpa henti itu, lalu orang-orang yang menunggui tungku kedua akan menggantol keranjang bambu itu, terus digembleng dan ditempa pula.
Begitulah setelah mengalami lima kali gemblengan, hasil produksi itu direndam lagi di dalam air sungai sampai sekian lamanya, akhirnya akan dikumpulkan oleh seorang lelaki berseragam hitam dan diantar ke dalam rumah batu yang terdapat berderet di dinding tebing sana.
Di depan pintu rumah batu terpasang kerai, di dalam terkadang juga bergema suara gemblengan, untuk bisa melihat keadaan di dalam rumah harus menyingkap kerai.
Cara bekerja orang-orang itu sangat tekun dengan sikap prihatin pula, terhadap segala urusan dari luar seolah-olah tidak dilihat dan tidak didengarnya.
Dunia mereka, kehidupan mereka seolah-olah sudah tercurahkan pada benda kecil yang mereka pegang, padahal benda-benda kecil itu tidak lebih hanya sepotong besi atau sepotong kawat.
Amgi atau senjata rahasia keluarga Tong dari propinsi Sujwan yang termasyhur selama beratus tahun rupanya berasal dari potongan besi atau kawat kecil melalui proses produksi orang-orang ini.
Sampai kesima Gin hoa nio menyaksikan semua ini.
Tidak pernah terbayang olehnya bahwa pembuatan sepotong senjata rahasia sekecil itu mengalami proses produksi seruwet ini.
Melihat Gin hoa nio kesemsem, Tong Lin tertawa, katanya.
"Sudah cukup kau lihat?"
Gin hoa nio memegang tangannya dan berkata.
"Adik yang baik, jangan kau tertawakan diriku, aku benar-benar seperti katak baru keluar dari tempurung, aku merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus kukatakan."
"Mana bisa kutertawai kau,"
Kata Tong Lin.
"Setiap orang yang berkunjung ke sini semuanya berubah seperti dirimu. Sebab tiada seorang pun yang membayangkan bahwa untuk membuat satu biji senjata rahasia sekecil itu ternyata sedemikian ruwetnya."
"Ya, memang betul, aku benar-benar bingung,"
Kata Gin hoa nio. Setelah berpikir sejenak, Tong Lin mengeluarkan sepotong amgi yang berwarna hitam, amgi ini kalau dipandang mirip setangkai bunga, kalau diamati lagi barulah kelihatan bukan bunga.
"Kau tahu barang apakah ini?"
Tanya Tong Lin.
"Entah, aku... aku tidak tahu,"
Jawab Gin hoa nio dengan mata terbelalak.
"Inilah Thi cit le (besi berduri) yang disegani orang Kangouw,"
Tutur Tong Lin.
"Sebenarnya Thi cit le bukan senjata rahasia yang lebih lihay dari pada amgi lain, hanya thi cit le buatan keluarga Tong memang lain daripada yang lain dan lebih lihay, sebab proses pembuatannya berbeda jauh daripada Thi cit le biasa."
"Ah, tidak kulihat ada sesuatu perbedaannya,"
Gin hoa nio sengaja membantah.
"Cara membuat Thi cit le, biasanya orang lain harus membuat cetakan modelnya, lalu menuangkan cairan bajanya ke dalam cetakan, sesudah cairan baja dingin barulah selesai pembuatannya."
"Dan bagaimana cara keluargamu membuatnya?"
Tanya Gin hoa nio.
Thi cit le keluarga kami dimulai dengan membuat daun-daunnya yang kecil-kecil, habis itu sepotong demi sepotong dibentuk menjadi satu, apabila Thi cit le ini disambitkan dan masuk tubuh manusia, segera daun-daunnya akan mekar, bila senjata rahasia ini hendak dikeluarkan, sedikitnya sebagian kulit daging akan terkoyak."
"Wah, sakitnya pasti setengah mati!"
Seru Gin hoa nio dengan lagak terperanjat.
"Kalau jiwa dapat tertolong, rasa sakit sih tidak menjadi soal,"
Ujar Tong Lin dengan tersenyum.
"Cuma sayang, ketika senjata rahasia ini dapat dikeluarkan, jiwanya juga tak tertolong lagi"
"Memangnya sebab apa?"
Tanya Gin-hoa-nio pura-pura bingung.
Sebab Am-gi ini dibentuk dengan 13 sayap, bukan saja setiap sayapnya sudah direndam racun, bahkan jenis racunnya tidak sama, ke-13 macam racun sama lihaynya, asal masuk darah lantas meluas, biarpun malaikat dewata juga tidak mampu menyelamatkan jiwanya"
Diam-diam Gin-hoa-nio merasa ngeri juga setelah mengetahui betapa lihay senjata rahasia keluarga Tong ini. Katanya kemudian.
"Pantas orang Kangouw sama bilang, lebih baik ketemu setan daripada ketemu am-gi keluarga Tong"
Tapi Tong Lin lantas bercerita lebih lanjut.
"Di antara ke tujuh macam Am-gi keluarga Tong yang paling lihay, Thi-cit-le ini tergolong yang paling umum dan paling sederhana. Thi-cit-le hanya dibentuk dari 13 kepingan besi, masih ada Am-gi lain yang dibentuk dari berpuluhpuluh potong onderdil. Misalnya Kiu-thian-sin-ciam, jarum sakti ini harus disemburkan dengan sebuah bumbung. Untuk merakit bumbung ini sampai saat ini masih merupakan rahasia besar bagi orang Kangouw"
Gemerdep sinar mata Gin-hoa-nio, katanya.
"Makanya kalian sengaja memisahkan orangorang yang membuat am-gi ini, tujuannya adalah untuk menjaga rahasia ini agar tidak dibocorkan oleh mereka, betul tidak?"
"Betul, orang yang dipekerjakan di sini, meski semuanya jujur dan setia, tapi bukan mustahil ada juga yang tidak tahan pancingan dan paksaan orang lain", kata Tong Lin.
"Dan leluhur keluarga Tong sudah memikirkan hal-hal demikian, sebab itulah hakekatnya tiada seorangpun di antara mereka yang mengetahui rahasia seluruhnya dari proses pembuatan Am-gi ini, jadi, seumpama mereka ingin membocorkannya juga sukar membocorkannya secara lengkap dan jelas."
Dia tuding salah seorang pekerja itu, lalu menyambung pula.
"Umpama orang ini, tugasnya hanya membuat salah satu daun Thi-cit-le, maka selama hidupnya juga melulu bekerja menggembleng sayap Thi-cit-le ini, pekerjaan lain tidak pernah tahu, sampai-sampai bagaimana bentuk sayap Thi-cit-le yang lain juga tidak diketahuinya."
"Selama hidup hanya itu-itu saja yang mereka kerjakan, sampai akhirnya dengan sendirinya hasil pekerjaannya semakin sempurna, pantas Am-gi keluarga Tong selamanya tak dapat ditiru orang,"
Ujar Gin hoa nio dengan gegetun.
"Cara demikian juga masih ada kebaikan lain yaitu di luar pekerjaan ini mereka dapat hidup seperti orang biasa, tidak perlu kuatir ada orang luar akan membawa lari mereka dan kita pun tidak perlu mengawasinya."
Gin hoa nio memandang ke deretan rumah batu sana dan bertanya.
"Lalu, bagaimana dengan orang-orang di dalam sana?"
"Ya, hanya orang-orang di dalam itulah yang mengetahui rahasia pembuatan amgi, sebab setelah onderdilnya selesai dibuat, semuanya dikumpulkan dan diantar ke tempat mereka untuk dirakit."
"Apakah mereka takkan membocorkan rahasianya?"
Tanya Gi hoa nio.
"Orang-orang di dalam rumah itu adalah kakek yang telah pensiun, kebanyakan di antaranya juga sebatangkara, maka sukarela bekerja di situ. Sebab, setelah memangku pekerjaan ini, selama hidup tak boleh lagi keluar dari gua ini."
Gin hoa nio menghela napas, katanya.
"Pantas mereka bekerja dengan sepenuh tenaga, kiranya mereka sudah mempersembahkan jiwa raga mereka buat amgi ini, asalkan dapat membuat sebuah amgi yang baik dan sempurna agar sejarah keluarga Tong tetap gemilang, maka itu pun merupakan kebahagiaan mereka."
"Ucapan nona memang tepat,"
Tukas Tong Siu jing mendadak dengan tertawa.
Meski kehidupan kakek-kakek itu kesepian, tapi tekad mereka adalah menegakkan dan mempertahankan nama baik keluarga Tong tetap jaya abadi.
Setiap anggota keluarga Tong memang sanggup menderita apa pun."
"Eh, silahkan kalian omong-omong dulu, ku pergi ke sana untuk menjenguk seseorang,"
Tibatiba Tong Lin berkata.
"He, Simoay, jangan lupa kau...."
Tapi belum sempat Tong Siu jing mencegah lebih jauh, tahutahu Tong Lin sudah melompati sungai kecil itu dan berlari ke sana.
Dengan lagak malu-malu dan menunduk Gin hoa nio melayani pembicaraan Tong Siu jing, tapi perhatiannya sebenarnya selalu mengikuti gerak-gerik Tong Lin.
Dilihatnya nona itu berlari secepat terbang ke dalam deretan rumah batu sana dan langsung masuk ke rumah ketiga dari sebelah kiri.
Begitu cepat gerak tubuh nona itu, kerai baru tersingkap segera tertutup kembali lagi.
Akan tetapi cukup sekejap itu lamat-lamat Gin-hoa-nio sudah dapat melihat ada orang berada di dalam rumah.
Orang itu duduk membelakangi pintu dan tanpa bergerak, tapi tidak menyerupai orang yang lagi asyik bekerja melainkan lebih mirip orang yang lagi duduk melamun.
Dengan sendirinya mukanya tidak kelihatan, hanya tertampak rambutnya hitam gelap, bahkan Gin-hoa-nio yakin matanya sendiri pasti tidak keliru lihat, usia orang itu pasti sangat muda.
Kalau menurut cerita Tong Lin tadi, bahwa yang bekerja di dalam rumah-rumah batu itu adalah kakek-kakek yang sudah pensiun, mengapa sekarang ada seorang muda di sana?
Untuk apa pula Tong Lin sengaja menjenguknya?
Mendadak jantung Gin-hoa-nio berdetak.
"Ha..Tong Giok! Orang itu pasti Tong Giok adanya. Kiranya Tong Bu-sian menyembunyikan puteranya yang kedua ini di sini, pantas dicari sekian lamanya tidak bisa ditemukan"
Saking girangnya hampir saja Gin-hoa-nio berjingkrak, tapi ia tetap tidak lupa melayani bicara Tong Siu-jing.
Mata Tong Siu-jing memandangnya semakin mencorong dan semakin lengket.
Tentu saja Gin-hoa-nio berlagak semakin malu kucing, mengangkat kepala saja tidak berani.
Tong Siu-jing berkata.
"Sudikah nona dan nona Kim makan siang di rumah makanku besok pagi?". Gin-hoa-nio menjadi merah mukanya.
"Kalau cici Kim bersedia aku bersedia juga". Dia berjalan ke arah sungai kecil dan berkata.
"Dapatkah aku mencuci tangan di sini?"
Tong Siu-jing menjawab.
"Tentu saja"
Gin-hoa-nio mencelupkan dan mencuci tangannya ke dalam air. Tong Siu-jing terpesona melihat tangannya yang anggun dan indah. Tong Lin kembali dan kelihatan sedikit jengkel, dia berkata.
"Dia jadi sangat aneh, dia bahkan tidak mau memandangku"
Tong Siu-jing berkata.
"Belakangan ini perasaannya tidak enak, jangan perdulikan dia"
Gin-hoa-nio yakin bahwa orang yang dimaksud adalah Tong Giok, diam-diam dia jatuhkan sapu tangan ungunya ke dalam air. Dia berdiri dan berkata.
"Adik ke empat, aku rasa aku sudah cukup melihat semuanya"
Tong Siu-jing berkata.
"Kakak ke empat...."
Tong Lin menyela.
"Adik ke tujuh, tidak usah kuatir. Kita belum merepotkanmu"
Tong Siu-jing berkata.
"Lain kali....."
Tiba-tiba Tong Siu-jing melihat air sungai bergolak dan mengeluarkan asap ungu.
Asap itu segera berubah menjadi kabut tebal.
Dalam waktu singkat kabut itu menjadi semakin tebal, bahkan orang-orang tidak bisa melihat siapa yang berdiri disampingnya.
Dengan terkejut Tong Siu-jing membentak.
"Setiap orang tetap berjaga di tempat masingmasing. Jangan sembarang bergerak!"
"Aku bagaimana?..."
Seru Tong Lin.
"Kau awasi kawanmu, juga jangan pergi dulu!"
Bentak Tong Siu-jing dengan bengis.
Ditengah suara bentakannya ia sudah membuat obor, di tengah kabut tebal itu api obor ternyata tiada artinya, hanya remang-remang seperti kunang-kunang.
Tong Lin bermaksud meraih Gin-hoa-nio, tapi ternyata meraih tempat kosong, keruan ia terkejut dan berseru.
"He, Hoa-cici, Hoa-cici, di mana kau?"
Meski cukup keras teriakannya, namun sayang selamanya tiada jawaban lagi.
***** Kiranya sejak tadi Gin-hoa-nio telah mengincar baik-baik arah rumah batu tadi, begitu kabut ditebarkan, secepat anak panah terlepas dari busurnya ia terus melayang ke sana, langsung ia menerobos ke dalam rumah itu sambil berseru tertahan.
"Tong Giok, Tong-kongcu, di mana kau?"
Terdengar seorang menjawab dengan suara serak.
"Siapa kau? Untuk apa mencari diriku?"
Belum habis ucapannya, tahu-tahu Gin-hoa-nio telah menarik tangannya terus diseret menerjang ke luar, tidak lupa ia menjawab.
"Masa kau tidak kenal suaraku lagi?"
"Hah, kau?!"
Seru Tong Giok.
"Betul, siapa lagi?"
Jawab Gin-hoa-nio dengan tertawa.
"Hampir gila Toaci memikirkan dirimu, tanpa menghiraukan bahaya ku datang mencari kau, hayolah lekas lari!"
"Tapi....tapi ayah...."
Tampaknya anak muda itu masih ragu-ragu, namun tubuhnya sudah tidak berkuasa lagi, ia terseret keluar.
"Ai, kau tidak punya liangsim, masakah kau tidak ingin menemui toaci?"
Kata Gin-hoa-nio.
Sembari menyeret Tong Giok dengan tangan kiri dan menerobos keluar rumah batu itu, lalu tangan kanan terangkat, kontan sejalur sinar perak terpancar ke depan, seperti meteor yang melintas angkasa gua itu, hanya sekelebat saja sinar perak itu lantas lenyap.
Jilid 14________ Sekilas itu Gin-hoa-nio sudah dapat membedakan arah mulut gua, segera ia melayang ke sana secepat terbang, baru sekarang ia merasakan bobot tubuh Tong Giok sangat berat, hakekatnya anak muda itu seperti tidak mau ikut pergi kalau tidak diseret.
Dalam pada itu terdengar suara Tong Siu-jing lagi membentak.
"Jaga rapat mulut gua, siapapun dilarang meninggalkan tempatnya!"
Gin-hoa-nio menjadi gelisah, katanya.
"Tong Giok, bila kau tidak mau ikut pergi, kalau aku kepepet, tentu takkan menguntungkan kita masing-masing."
Entah takut digertak atau mendadak berubah pikiran, segera Tong Giok juga bergerak cepat ke depan, kedua orang menerjang keluar bersama.
Dari lengan baju Gin-hoa-nio mendadak terpancar pula selarik sinar perak.
Sekali ini sinar perak itu menyambar ke luar gua, waktu itu para penjaga mulut gua sedang menggeser pintu besi dan ada yang hendak menghadang mereka dengan golok terhunus, tapi senjata rahasia Gin-hoa-nio lantas dihamburkan menyusul dengan terpancarnya sinar perak tadi.
Terdengar serentetan jeritan ngeri, Gin-hoa-nio dan Tong Giok sudah menerjang keluar gua.
Di luar bintang-bintang masih berkelip bertaburan di langit, malam masih sunyi senyap, Kekacauan yang terjadi di dalam gua belum lagi tersiar keluar, hanya seorang penjaga segera memapak mereka dan membacok dengan goloknya, tapi sekali Gin-hoa-nio angkat tangannya, setitik sinar perak menyambar ke depan, kontan orang itu roboh terkapar.
Pada saat itulah di dalam gua baru terdengar suara tanda bahaya, suara bende bertalu-talu, serentak terdengar pula suara bende dimana-mana, perkampungan yang tadinya tenggelam dalam kesunyian malam itu seketika terjaga bangun, hanya sekejap saja dari berbagai penjuru lantas muncul bala bantuan.
Akan tetapi selama beberapa hari ini Gin-hoa-nio sudah mempelajari keadaan perkampungan ini, setiap jalan keluar sudah diperhitungkannya, tanpa pikir ia terus meluncur ke arah tenggara.
Tong Giok sudah berubah seperti boneka saja dan membiarkan dirinya ditarik lari oleh Ginhoa-nio, ke timur ia ikut ke timur, ke selatan ia turut ke selatan, hanya mulutnya masih melawan.
"Penjagaan di sini sangat ketat, tidak nanti kau dapat kabur."
"Mungkin orang lain memandangnya seperti tembok tembaga dan dinding besi, tapi bagiku tiada ubahnya seperti jalan rata, mau datang atau ingin pergi dapat sesukaku,"
Kata Gin-hoanio dengan tertawa.
Sementara itu pagar tembok perkampungan Tong sudah kelihatan di depan, memang dengan leluasa ia dapat keluar tanpa halangan.
Tapi ucapan Gin-hoa-nio itu agaknya terlalu pagi, sebab mendadak di atas pagar tembok muncul belasan lelaki kekar berseragam hitam, tangan kanan memegang golok dan tangan kiri membawa busur.
Yang memimpin barisan ini ternyata Tong Siu-hong adanya.
Terkejut Gin-hoa-nio melihat munculnya Tong Siu-hong secara mendadak ini.
Lebih-lebih tangan kirinya kelihatan memakai sarung tangan kulit, entah berapa banyak jiwa orang pernah melayang di bawah hamburan senjata rahasianya.
"Berhenti! Kalau tidak, senjata rahasia kami tidak kenal ampun lagi!"
Bentak Tong Siu-hong dengan bengis.
"Memangnya senjata rahasia hanya monopoli kalian dan aku tidak mempunyai senjata rahasia?"
Jengek Gin-hoa-nio dengan tertawa genit.
"Kalau perlu, boleh kita coba-coba senjata rahasia siapa yang lebih lihay."
Tangan Tong Siu-hong yang sudah terangkat itu lantas diturunkan.
Begitu juga, mestinya Gin-hoa-nio hendak menyerang, tapi telah dicegah Tong Giok.
Mendadak Tong Giok mengacungkan sepotong pelat besi dan berteriak.
"Siapa yang berani merintangi diriku?"
Melihat pelat besi itu, Tong Siu-hong tampak tunduk benar-benar, sambil mengiakan ia lantas memberi tanda.
Serentak belasan orang berseragam hitam itu menghilang dengan cepat dan mendadak seperti munculnya tadi.
Di tengah tertawa Gin-hoa-nio bersama Tong Giok mereka lantas melayang keluar pagar tembok.
Di luar sana adalah lereng bukit, suasana malam tetap sunyi.
Namun langkah Gin-hoa-nio tidak pernah berhenti, ia melintasi lereng bukit, di kaki gunung ada sebuah kelenteng Toapekong tanpa penghuni.
Ke situlah ia menuju, agaknya sebelumnya tempat ini sudah dipilihnya.
Orang yang cerdik takkan menjadi maling jika tidak lebih dulu mengatur jalan larinya.
Setiba di kelenteng itu barulah Gin-hoa-nio menghela napas lega, ucapnya dengan tersenyum.
"Betapapun kau masih punya liangsim dan mau membantuku lari keluar, tidak percuma kami kakak beradik sayang padamu...."
Sambil bicara ia terus membuat api dan menyalakan lampu minyak di atas meja sembahyang.
Tiba-tiba ia melenggong setelah lampu menyala.
Di bawah cahaya lampu kelihatan muka Tong Giok coreng-moreng tak keruan seperti muka setan.
Setelah dipandang lebih cermat baru diketahui dia memakai kedok tipis yang aneh dan buruk.
Gin-hoa-nio tertawa, katanya.
"Mau pakai topeng kan seharusnya pilih topeng yang sedap dipandang, mengapa kau pakai topeng setan begini? Kaget aku, kukira Cihuku yang cakap itu mukanya telah dirusak orang."
"Justeru lantaran ayahku kuatir ku lari dan bertemu dengan orang luar, maka aku diberinya topeng ini,"
Ucap Tong Giok dengan menyesal. Gin-hoa-nio menjulur lidah, katanya dengan tertawa.
"Wah, ketat amat pengawasan bapakmu, tapi sekarang topeng setan ini dapat kau tanggalkan bukan?"
"Topeng ini dipasang dengan lem buatan khusus ayahku, jika ditanggalkan sebelum waktunya, mungkin kulit mukaku bisa ikut terbeset,"
Jawab Tong Giok. Kembali Gin-hoa-nio melenggong, ucapnya kemudian.
"Wah, langkah ini ternyata tepat juga, dengan memakai topeng setan ini memang tak dapat dikenali siapapun juga, tapi aku.... tetap kuingat bagaimana bentukmu, biar kau memakai topeng apapun tetap tidak menjadi soal bagiku."
"Masa benar-benar kau masih ingat akan diriku?"
Tanya Tong Giok. Gin-hoa-nio menunduk, jawabnya perlahan.
"Meski Toaci selalu menyembunyikan dirimu, walaupun cuma satu kali kulihat kau dan hanya beberapa kalimat saja percakapan kita, tapi.... tapi selamanya takkan kulupakan suaramu!"
Tong Giok termenung sejenak, ia menghela napas panjang dan berkata.
"Apakah baik-baik saja Toacimu?"
Mendadak Gin-hoa-nio mengangkat kepalanya, matanya tampak basah, ucapnya dengan suara rada gemetar.
"Dengan susah payah ku tolong kau dari penjara maut itu, kau.... kau sama sekali tidak mengucapkan terima kasih padaku, tapi buru-buru tanya tentang Toaci?"
Dengan suara halus Tong Giok berkata.
"Aku memang harus berterima kasih padamu. Sungguh tidak mudah kau dapat menemukan diriku."
Gin-hoa-nio menunduk dan memainkan ujung bajunya sambil menggigit bibir, ucapnya malumalu.
"Asal kau tahu saja."
"Sungguh aku tidak tahu dengan cara bagaimana kau dapat menemukan diriku?"
Tanya Tong Giok. Gin-hoa-nio tertawa cerah, katanya.
"Kau kenal Kim-yan-cu?"
"Sep.... seperti pernah kudengar nama ini,"
Jawab Tong Giok.
"Tidak perlu kau dusta,"
Omel Gin-hoa-nio.
"Aku takkan cemburu, masa kau tidak kenal dia, bukankah dia saudara angkat kakak ipar dan kakak perempuanmu?"
"Ya, aku memang kenal dia,"
Kata Tong Giok dengan tertawa.
"Sebelumnya memang sudah kuketahui hubungannya yang erat dengan keluarga Tong, demi menemukan dirimu, maka akupun telah mengangkat saudara dengan dia."
"Kau.... kaupun mengangkat saudara dengan dia?"
Tong Giok menegas.
"Tidak perlu kau terkejut,"
Ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.
"Dengan sendirinya dia tidak tahu sesungguhnya siapa aku ini. Dia cuma tahu aku ini anak perempuan yang sebatang kara dan memerlukan seorang sahabat atau kakak yang dapat melindunginya."
"Ai, dia ternyata sangat mudah ditipu orang,"
Ujar Tong Giok dengan gegetun.
"Jangan kau remehkan dia,"
Kata Gin-hoa-nio.
"Waktu kuminta dia membawaku ke Tongkeh-ceng ini perlu ku bujuk dengan susah payah."
"Oo!"
Melenggong Tong Giok.
"Semula dia ogah-ogahan, untung aku baru menemukan beberapa peti batu permata, maka sengaja kukatakan hendak mencari suatu tempat penitipan yang dapat dipercaya, benarlah dia lantas mengusulkan titip saja di Tong-keh-ceng ini."
"Dan sekarang kau rela meninggalkan barang-barang berharga itu di Tong-keh-ceng?"
Tanya Tong Giok.
"Haha, memangnya kau kira aku begitu murah hati dan meninggalkan barang-barang berharga itu bagi orang lain?"
Kata Gin-hoa-nio dengan tertawa.
"Kau tahu, sepanjang perjalanan hampir sembilan bagian isi peti itu sudah kukeluarkan dan kuganti dengan barang palsu, hanya bagian atas saja ada beberapa potong permata tulen yang memang hendak kuberikan kepada kakak-kakakmu. Selebihnya tidak berharga sama sekali. Mengenai permata yang tulen itu ...."
Dia mengerling genit, lalu menyambung.
"Permata yang tulen itu memang tidak sedikit jumlahnya, cara bagaimanapun akan kau gunakan atau dihamburkan, selama hidup juga takkan habis."
"Dan mengapa Tong Lin mau membawa kau ke gua itu?"
Tanya Tong Giok pula.
"Adik perempuanmu itu sedang birahi,"
Tutur Gin-hoa-nio dengan tertawa.
"Beberapa hari yang lalu konon dia baru kenal seorang lelaki, sekali bertemu dia lantas tergila-gila padanya. Kukatakan dapat kutemukan lelaki itu baginya, maka segala apapun akan dikerjakannya untukku."
Tong Giok termenung-menung sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Tampaknya kau telah banyak memeras tenaga bagiku, bilamana diketahui Toacimu, dia pasti sangat berterima kasih padamu."
Tiba-tiba wajah Gin-hoa-nio yang berseri-seri berubah menjadi murung, matanya basah lagi, ucapnya dengan tersendat.
"Kembali Toaci dan Toaci lagi, kau.... kau hanya tahu Toaci saja, tapi tahukah kau betapa susah payah usahaku mencari kau, waktu itu dia lagi bekerja apa?"
"Darimana ku tahu?"
Jawab Tong Giok.
"Dia.... dia...."
Belum lanjut ucapannya air matanya lantas berderai.
"Apakah.... apakah terjadi sesuatu atas dirinya?"
Tanya Tong Giok.
"Tiada terjadi apa-apa atas dirinya,"
Jawab Gin-hoa-nio sambil mendekap mukanya.
"Habis mengapa kau menangis?"
"Tolol, aku tidak menangis baginya, tapi bagimu!"
Omel Gin-hoa-nio sambil membanting kaki.
"Bagiku? Sebab apa?"
"Sebab.... sebab aku kasihan padamu, sungguh aku tidak tahan dan berduka bagimu."
"Berduka bagiku? Memangnya kenapa?"
Mendadak Gin-hoa-nio mendongak dan berseru dengan parau.
"Biarlah kukatakan terus terang padamu, pada.... pada waktu kau menderita baginya, dia sendiri justeru......"
"Dia kenapa?"
Tong Giok menegas "Dia.... dia justeru berada dalam rangkulan lelaki lain,"
Seru Gin-hoa-nio sambil mendekap mukanya. Tong Giok seperti melenggong, hingga lama ia tidak bersuara.
"Sebenarnya tidak pantas kukatakan padamu, tapi..... tapi akupun tidak tega membohongimu, sungguh aku..... aku ikut sedih,"
Sambil menangis mendadak Gin-hoa-nio menjatuhkan dirinya ke pangkuan Tong Giok. Sama sekali Tong Giok tidak bergerak, ucapnya sekata demi sekata.
"Siapa lelaki itu?"
"Tak dapat kukatakan lagi...."
Jawab Gin-hoa-nio sambil menangis.
"Aku.... aku sudah bersalah kepada Toaci."
"Kan lebih baik jika lebih cepat kau katakan padaku, kalau tidak...."
"Baik, biar kukatakan padamu,"
Kata Gin-hoa-nio dengan parau.
"Lelaki itu bernama Ji Pwegiok!"
"Ji Pwe-giok!?"
Tong Giok menegas.
"Betul. Kau kenal dia?"
"Baru sekarang kudengar namanya,"
Jawab Tong Giok perlahan.
"Untung kau tidak kenal dia, kalau tidak, tentu kaupun akan tertipu."
"Oo!?"
Tong Giok melongo "Orang ini sangat culas dan keji, tapi justeru mempunyai seraut wajah yang menyenangkan, wajah yang putih dan cakap, iapun mahir membujuk rayu terhadap perempuan, sebab itulah Toaci ter....
tertipu olehnya."
Kembali Tong Giok termenung agak lama, katanya kemudian dengan muka masam.
"Jika hati Toacimu sudah berubah, untuk apa pula kau cari diriku?"
"Masa.... masa kau tidak paham?"
Kata Gin-hoa-nio sambil membenamkan kepalanya ke rangkulan anak muda itu.
"Aku tidak paham,"
Jawab Tong Giok perlahan "Ai, kau memang....tolol!"
Omel Gin-hoa-nio "Aku memang tolol, kalau tidak masa......"
"Cukup, tidak perlu kau katakan lagi,"
Sela Gin-hoa-nio.
"Meski Toaciku membuat salah padamu, tapi aku...."
Ia bergeliat dalam pangkuan Tong Giok, ia ingin menggunakan tingkahlakunya sebagai ganti ucapannya. Perlahan-lahan akhirnya tangan Tong Giok terangkat dan merangkul pinggang si nona.
"Ooo sayang, padamkan dulu lampunya,"
Ucap Gin-hoa-nio sambil berkeluh.
"Jangan dipadamkan, sebab ingin kupandang kau sejelasnya,"
Kata Tong Giok.
"Ai, bu.... busuk amat kau!"
Omel Gin-hoa-nio.
"Ingin kupandang sejelasnya mengapa di dunia ini ada perempuan sekotor, sekeji dan tidak tahu malu seperti kau ini...."
Tidak kepalang kejut Gin-hoa-nio seperti melihat setan, teriaknya.
"Apa katamu?"
Segera ia bermaksud melepaskan diri dari rangkulan Tong Giok, namun sudah terlambat, tangan Tong Giok telah bekerja, sekaligus beberapa Hiat-to di punggungnya sudah tertutuk.
Seketika Gin-hoa-nio menggeletak di lantai dan tak dapat berkutik, serunya kuatir.
"He, apaapaan kau ini?"
Tong Giok menjengek.
"Apakah betul suara Tong Giok selama hidup tak terlupakan olehmu?"
Sekujur badan Gin-hoa-nio terasa lemas dan dingin, serunya.
"He, masa kau bu...... bukan dia....."
Sungguh mimpipun tak terpikir olehnya bahwa orang yang dibawanya lari keluar dari tempat yang terjaga ketat dan hampir tidak mungkin dimasuki orang luar itu, ternyata bukan Tong Giok, bahkan sampai detik inipun dia tidak pernah meragukannya.
Lantas siapakah orang ini kalau bukan Tong Giok?
Mengapa dia sedemikian jelas mengetahui urusan Tong Giok dan Kim-hoa-nio?
"Se......
sesungguhnya siapa kau?"
Tanya Gin-hoa-nio sambil memandangi orang dengan cemas. Dengan perlahan "Tong Giok"
Berkata pula.
"Sekalipun kau ini perempuan paling licin di dunia juga tak dapat menerka siapakah diriku ini." -Perlahan ia lantas membuka kedoknya yang berwujud buruk itu dan tertampaklah wajah aslinya. Sungguh sebuah wajah yang sukar dibayangkan, Wajah yang sukar ditemukan setitik ciripun. Meski pada wajah ini terdapat bekas luka sayatan pisau yang cukup panjang, tapi bekas luka ini tidak membuat orang merasa muak, sebaliknya malah menambah daya tarik kelelakiannya. Seperti orang gila Gin-hoa-nio menjerit.
"Ji Pwe-giok! Kau.... mengapa bisa kau?" -Seketika hatinya terasa seperti tenggelam ke dalam kegelapan yang tidak ketahuan dasarnya. Tersembul senyuman mengejek pada ujung mulut Ji Pwe-giok, ucapnya dengan tak acuh.
"Tentu tak kau sangka bukan? Salah mu sendiri, nasibmu yang jelek, masa membuat desasdesus Ji Pwe-giok di depan Ji Pwe-giok. Kalau tidak, cara bagaimana kau memaki Ji Pwegiok di depan orang pasti akan dipercaya penuh oleh siapa saja yang mendengar."
Gin-hoa-nio seperti terkesima saking kagetnya dan tidak mendengarkan ucapan anak muda itu, Ia memandangnya dengan linglung dan berulang-ulang bergumam.
"Mengapa bisa kau.... mengapa bisa kau...."
"Masa tidak pernah kau dengar dari Tong Lin bahwa pernah ku datang ke Tong-keh-ceng sini?"
Tanya Pwe-giok.
"Ya, tahulah aku,"
Seru Gin-hoa-nio.
"Karena kau sudah kepepet dan menghadapi jalan buntu, akhirnya kau minta bantuan Tong Bu-siang agar menyembunyikan kau.... Ai, mengapa sebelum ini tidak pernah kupikirkan hal ini."
Ji Pwe-giok menghela napas, katanya.
"Ucapanmu memang tepat, sesungguhnya aku sudah kepepet dan sudah buntu, pula terluka. Tapi Tong Bu-siang tidak menghina diriku, ia malah melanggar kebiasaannya dan menyembunyikan diriku di tempatnya yang paling rahasia."
Kini Gin-hoa-nio sudah mulai tenang kembali, ia lantas menjengek.
"Tua bangka itu memang tidak jelek terhadapmu, sampai anak perempuannya juga dikelabuinya dan mengira kau ini Tong Giok yang tulen, bahkan menyesali kau tidak mengajak bicara padanya."
Pwe-giok tersenyum, ucapnya.
"Soalnya dia benar-benar tak dapat melupakan suara Tong Giok."
"O, jika memang demikian, jadi Tong Giok tadinya memang betul-betul disembunyikan di rumah batu itu?"
"Ya, bukan saja memang berada di rumah batu itu, bahkan mukanya juga diberi topeng ini. Tong Bu-siang membawa aku ke sana, lalu memindahkan topeng yang dipakai Tong Giok ke mukaku serta menukarkan pakaian kami. Semua anak murid keluarga Tong yang berdinas di sana juga cuma tahu Tong Bu-siang datang dengan membawa seorang pengiring, hanya sebentar saja mereka lantas pergi lagi. Maka tiada seorangpun yang tahu apa yang terjadi sesungguhnya."
"Apakah Tong Giok yang asli dibawa pergi Tong Bu-siang?"
"Ya, masa perlu ditanya pula?"
"Dibawa kemana?"
Tanya Gin-hoa-nio.
"Akupun tidak tahu,"
Jawab Pwe-giok dengan tersenyum tak acuh.
"Seumpama tahu, seandainya kuberitahukan kepadamu, mungkin kaupun tak dapat mencarinya lagi untuk selamanya."
Pucat air muka Gin-hoa-nio, tanyanya dengan takut.
"Akan.... akan kau apakan diriku?"
Pwe-giok memandangnya tanpa menjawab.
"Aku yang melukai wajahmu, ku tahu kau pasti sangat benci padaku...."
Tanpa memberi kesempatan bagi Pwe-giok untuk bicara, segera ia berteriak dengan suara parau.
"Tapi hanya kusayat mukamu satu kali, sebaliknya orang lain telah menusuk dan menabas kau berkali-kali, mengapa kau tidak benci padanya dan cuma dendam padaku."
Orang lain yang dimaksudkannya jelas Lim Tay-ih adanya.
Dengan pedih Pwe-giok menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya.
Melihat sikap anak muda itu, seketika mata Gin-hoa-nio mencorong terang, serunya pula.
"Apalagi, seumpama kulukai dan memaki kau, semua ini hanya karena ku cinta padamu, saking cintanya baru timbul benci. Apakah.... apakah tidak kau pikirkan sampai di sini?"
Akhirnya Pwe-giok bersuara perlahan.
"Jangan kuatir, pasti tidak kubunuh kau." -Dia tersenyum pedih, lalu menyambung pula.
"Ucapanmu tidak salah, sesungguhnya memang terlalu banyak orang yang pernah mencelakai dan memaki diriku, mengapa aku hanya dendam padamu seorang? Mengapa aku cuma membalas kepadamu saja?"
"Kau tidak benci padaku?"
Semakin mencorong sinar mata Gin-hoa-nio.
"Tidak, aku tidak benci padamu, akupun tidak bermaksud mengganggu seujung rambutmupun,"
Jawab Pwe-giok.
"Aku...... aku hanya akan mengantar kau pulang ke Tongkeh-ceng."
Seketika air muka Gin-hoa-nio berubah pucat lagi, serunya dengan suara serak.
"Jika..... jika kau tidak dendam padaku, mengapa kau perlakukan diriku cara begini! Tentunya kau tahu bilamana berada di Tong-keh-ceng, bagiku hanya ada kematian belaka."
"Kan sudah kukatakan, biar kau dusta padaku, memaki padaku, bahkan membunuhku juga tidak menjadi soal dan takkan kupikirkan, tapi tak dapat kubiarkan kau menipu dan mencelakai orang lain lagi."
Baru sekarang Gin-hoa-nio kelabakan, teriaknya dengan suara serak.
"Kau binatang, kau pendusta, bicaramu muluk, tapi hatimu terlebih keji dari siapapun. Kau ingin membunuhku, tapi sengaja meminjam tangan orang lain." -Mendadak ia berteriak lebih keras.
"Orang she Ji, bila benar kau lelaki sejati, kalau berani, hayolah turun tangan sendiri dan bunuhlah diriku, untuk itu aku akan kagum padamu. Tapi kalau kau bawa diriku ke Tong-keh-ceng, maka kau adalah hewan, hewan yang lebih kotor daripada babi dan anjing."
Pwe-giok memandangnya dengan tenang, ia tidak marah juga tidak bicara, menghadapi lelaki demikianlah Gin-hoa-nio benar-benar mati kutu.
Saking gemas dan cemasnya Gin-hoa-nio benar-benar menangis.
Pwe-giok menghela napas, katanya.
"Jika sebelum ini kau tahu menghargai orang dan tidak menganggap orang lain semuanya orang tolol, tentu nasibmu takkan seperti sekarang...."
Mendadak terdengar suara derapan kuda lari, ditengah malam sunyi di angkasa pegunungan, suara derapan kaki kuda terdengar lebih jelas.
Sebelum suara derap kaki kuda mendekat, lebih dulu Pwe-giok telah memadamkan api lampu, Ia tutuk Hiat-to bisu Gin-hoa-nio, iapun sudah meneliti keadaan ruangan kelenteng kecil ini.
Apa yang dilakukan ini bukan lantaran nyalinya kecil, tapi disebabkan dia sudah kenyang pahit-getirnya pengalaman, maka tindakannya sekarang jauh lebih hati-hati daripada orang lain.
Suara derapan kaki kuda tadi sangat cepat dan ramai, sedikitnya ada tiga penunggang kuda yang datang.
Jauh malam begini mengapa mereka menempuh perjalanan tergesa-gesa begini?
Apalagi menuju ke tempat terpencil ini?
Memangnya Pwe-giok sudah sangsi, apalagi kemudian didengarnya suara kuda lari itu menuju ke kelenteng ini, cepat ia angkat tubuh Gin-hoa-nio, terus melompat ke atas belandar.
Jika orang lain, tempat yang dibuat sembunyi kalau tidak panggung pemujaan tentu adalah kolong meja.
Namun tempat-tempat itu diketahui oleh Pwe-giok dalam keadaan bersih, tidak banyak debunya, hal ini menandakan tempat-tempat itu sering digunakan orang.
Hal-hal ini pasti takkan ditemukan orang lain, andaikata diketahui juga takkan diperhatikan, namun Pwe-giok sudah kenyang mengalami mara bahaya sehingga setiap tindak tanduknya sekarang berpuluh kali lebih hati-hati dan lebih cepat daripada orang lain.
Benarlah, beberapa penumpang kuda itu akhirnya berhenti di luar kelenteng kecil ini.
Terdengar seorang diantaranya bertanya.
"Apakah di sini?"
"Ya, di sini,"
Jawab seorang lagi.
"Silahkan kalian masuk."
Dalam kegelapan Pwe-giok melihat berturut-turut masuk tiga orang, wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya perawakan orang pertama kelihatan jangkung, tampaknya sangat hapal terhadap keadaan kelenteng ini.
Selagi heran, orang itu sudah menyalakan lampu minyak di atas meja.
Di bawah cahaya lampu dapatlah Pwe-giok melihat jelas muka ketiga orang itu.
Betapa kagetnya hampir saja ia jatuh terjungkal dari tempat sembunyinya.
Orang yang berperawakan jangkung itu adalah seorang pemuda berpakaian perlente, pinggangnya bergantung sebuah kantung kulit beraneka warna, itulah tanda pengenal khas anggota keluarga Tong.
Dua orang yang ikut masuk itu, yang satu berjubah sulam dan berkopiah tinggi, pedang bergantung di pinggang, rambutnya sudah mulai ubanan, tapi sikapnya tetap gagah, tiada sedikitpun tanda-tanda ketuaannya.
Seorang lagi berwajah kereng, langkahnya mantap, perbawanya besar.
Kedua orang ini ternyata Leng hoa-kiam Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong dari Thay-oh.
Kedua tokoh yang rapat hubungannya dengan Ji Hong-ho ini datang bersama anak murid keluarga Tong, bahkan tidak menuju ke Tong-keh-ceng sebaliknya datang ke tempat terpencil seperti ini, lalu apakah yang hendak mereka lakukan?
Kejut dan heran Pwe-giok, bahkan juga kesal.
Yang membuatnya kesal ialah Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong ini, baik gerak-gerik maupun wajahnya sungguh mirip dengan yang asli, tampaknya intrik mereka ini benar-benar sukar untuk dibongkar.
Dilihatnya mata Ong Kim-liong mencorong seperti sinar kilat, ucapnya sambil mengusap jenggot.
"Mengapa Bu-siang Lojin mengundang kami ke tempat terpencil dan kotor ini untuk bertemu? Coba kalau Tong-kongcu tidak datang sendiri, tentu kami akan merasa curiga kesungguhan hati Bu-siang Lojin."
Pemuda baju perlente itu menjawab dengan tersenyum.
"Demi keamanan agar tidak dilihat orang dengan sendirinya ayahku bertindak sehati-hatinya. Kecuali Wanpwe sendiri, anak murid perguruan kami tiada satupun yang tahu. Bukankah kedua Cianpwe juga menghendaki agar urusan ini jangan terlalu banyak diketahui orang."
"Hahahaha, betul, memang inilah transaksi perdagangan kita sendiri dan tidak perlu diketahui orang lain."
Ujar Ong Kim-liong dengan bergelak tertawa.
Pwe-giok tambah terkejut.
Ia yakin pemuda perlente itu tentu Tong Jan, putera sulung Tong Bu-siang.
Sedangkan kedatangan Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong ini adalah untuk memenuhi janji pertemuan dengan Tong Bu-siang.
Sesungguhnya transaksi perdagangan apa yang hendak mereka lakukan?
Dan mengapa transaksi ini harus dirahasiakan?
Sejenak kemudian, terdengar Ong Kim-liong berkata pula.
"Waktu yang dijanjikan ayahmu apakah betul pada malam ini juga?"
"Betul, urusan sepenting ini masa Wanpwe bisa salah ingat?"
Jawab Tong Jan dengan tertawa. Tiba-tiba Lim Soh-koan menyeletuk.
"Konon keparat itu sangat tinggi ilmu silatnya, bahkan sangat licin, apakah ayahmu yakin benar-benar dapat menangkapnya?"
Tong Jan tersenyum.
"Biarpun keparat ini sangat licin, tapi terhadap ayahku dia percaya penuh dan tidak sangsi sedikitpun. Apalagi ayah sudah menjebloskan dia ke tempat yang terjaga sangat ketat dan dilarang didatangi siapapun juga, sekalipun dia tidak terluka juga jangan harap akan dapat kabur."
Lim Soh-koan tersenyum, ucapnya.
"Jahe memang pedas yang tua, cara kerja Bu-siang Lojin sungguh sangat mengagumkan kami."
Ong Kim-liong lantas berkata pula.
"Tapi Kongcu perlu tahu, terhadap keparat itu, Bengcu juga tiada maksud jahat, yang dikuatirkan adalah kemungkinan keparat itu akan memperalat nama mendiang putera Bengcu untuk bertindak sewenang-wenang di luaran, sebab itulah Bengcu ingin menemukan dia...."
"Ya, Wanpwe paham,"
Tukas Tong Jan dengan tertawa. Ong Kim-liong juga tertawa, katanya.
"Setelah ayahmu menyelesaikan urusan ini bagi Bengcu, dengan sendirinya Bengcu takkan melupakan kebaikannya. Tapi saat ini Bengcu mengemban tugas pengamanan dunia persilatan, setiap tindakannya tentu akan menarik perhatian orang, beliau kuatir ada anasir-anasir tak bertanggung jawab akan menggunakan kesempatan ini untuk menyiarkan desas-desus, sebab itulah urusan ini perlu dirahasiakan."
"Cianpwe jangan kuatir, Wanpwe pasti takkan membocorkan sedikitpun urusan ini,"
Kata Tong Jan. Mendengar sampai di sini, kaki dan tangan Pwe-giok terasa dingin seluruhnya.
"Keparat"
Yang disinggung Lim Soh-koan dan begundalnya itu tidak perlu disangsikan lagi pastilah dirinya.
Nyata, iblis yang menyaru sebagai ayahnya, yaitu Ji Hong-ho, masih juga tidak mau mengabaikan dia.
Lalu Tong Bu-siang yang mau melanggar peraturannya dan menerima dia itu ternyata juga jahanam yang bermuka manusia tapi berhati binatang, setelah dia disembunyikan di Tongkeh-ceng, diam-diam ia telah dijualnya.
Untung secara tidak sengaja Gin-hoa-nio telah menyerobotnya keluar, kalau tidak, saat ini mungkin dirinya sudah terjeblos di dalam cengkeraman kawanan iblis ini dan nasibnya sukar untuk dibayangkan.
Berpikir sampai di sini, seketika Pwe-giok bermandi keringat dingin.
Didengarnya Tong Jan berkata pula.
"Setelah urusan ini selesai, diharap cianpwe juga jangan lupa kepada urusan yang telah dijanjikan."
"Ucapan Bengcu laksana gunung kukuhnya, masa ingkar janji?"
Ujar Lim Soh-koan dengan serius. Ong Kim-liong tertawa dan berkata.
"Asalkan ayahmu dapat dipercaya ucapannya, kami menjamin akan menumpas Khing-hoa-samniocu. Bengcu memerintah seluruh dunia persilatan, kekuasaannya tak terbatas, masa cuma Thian-jan-kau yang tiada artinya itu tak dapat membereskannya?"
"Bila Bengcu sudi menumpaskan bibit bencana bagi ayahku, selanjutnya apapun perintah Bengcu, segenap anggota keluarga Tong yang berjumlah beberapa ratus jiwa pasti siap melaksanakannya,"
Kata Tong Jan.
Kiranya Tong Bu-siang takut diganggu oleh "Khing-hoa-samniocu", demi menghilangkan penyakit ini dia rela mengkhianati Ji Pwe-giok.
Dan rupanya inilah transaksi dagang mereka.
Mendengar semua percakapan itu, sungguh Pwe-giok sangat sedih, ingin menangispun tidak keluar air matanya.
Tak tersangka olehnya seorang tokoh suatu perguruan besar yang disegani sebagai Tong Bu-siang bisa berubah menjadi pengecut dan rendah begini.
"Krek", mendadak terdengar bunyi sesuatu, tempat patung pemujaan mendadak bergeser, menyusul Tong Bu-siang muncul dari meja sembahyang. Di bawah meja sembahyang itu ternyata ada sebuah jalan tembus di bawah tanah, kiranya patung Toa-pekong itulah pusat pengendali jalan rahasia ini. Untung sebelumnya Ji Pwe-giok bertindak sangat hati-hati, kalau dia sembarangan mencari tempat sembunyi, saat ini dia tentu sudah kepergok. Di bawah cahaya lampu kelihatan Tong Bu-siang bermuka pucat dan lesu, ia berusaha menenangkan diri dan memberi hormat serta menyapa.
"Anda berdua sungguh orang yang bisa pegang janji, kedatanganku agak terlambat, harap maaf."
Gemerdep sinar mata Ong Kim-liong, ia membalas hormat dan berkata.
"Ah, tidak apa-apa. Tentunya Tong-tayhiap telah membawa kemari Ji Pwe-giok itu?"
Tong Bu-siang berdehem beberapa kali, lalu menjawab.
"Sebenarnya urusan ini tidak menjadi soal, siapa tahu.... siapa tahu...."
Seketika Ong Kim-liong menarik muka dan berkata.
"Adakah sesuatu perubahan mendadak?"
Tong Bu-siang menghela napas panjang, jawabnya kemudian dengan menyengir.
"Urusan ini memang betul ada perubahan, sebab Ji Pwe-giok telah.... telah kabur."
"Apa katamu?"
Ong Kim-liong menegas dengan melengak.
"Perubahan yang tak terduga ini, sungguh membuatku merasa malu, sekali lagi kuminta maaf,"
Ucap Tong Bu-siang dengan menyesal.
"Perubahan tak terduga bagaimana? Hm, jangan-jangan kau sengaja hendak mempermainkan kami?"
Tanya Ong Kim-liong dengan gusar.
"Biarlah langit dan bumi menjadi saksi, apa yang kukatakan adalah sejujurnya,"
Jawab Tong Bu-siang sambil menyengir.
"Seumpama betul keteranganmu, masa Tong-keh-ceng yang gilang gemilang dapat dibuat terobosan orang sesukanya?"
Jengek Lim Soh-koan.
"Anda mungkin tidak tahu bahwa demi membuat tenteram hati Ji Pwe-giok itu, maka waktu ku ajak dia masuk ke gua rahasia kami, secara tidak sengaja telah kuserahkan sebuah Lengpay (pelat besi tanda perintah) yang biasanya dapat digunakan untuk keluar masuk tanpa rintangan,"
Demikian tutur Tong Bu-siang.
"Tanpa sengaja apa?"
Damperat Ong Kim-liong dengan gusar.
"Kukira kau mempunyai tipu muslihat lain?!"
"Ah, sama sekali tiada maksud demikian!"
Jawab Tong Bu-siang.
"Jika kau tiada mempunyai tipu muslihat lain, maka pastilah kau ini sudah tua dan pikun...."
Jengek Lim Soh-koan. Sejak tadi Tong Jan sudah menahan gusar, sekarang mendadak ia menggebrak meja dan membentak.
"Kalian ini menganggap dirimu ini apa? Berani bicara sekasar ini kepada ayahku?"
Kalau Tong Bu-siang tambah tua tambah penakut, tidak perkasa lagi seperti waktu mudanya, sedangkan putranya justeru menginjak masa keras dan berani, maka bentakannya tadi membuat Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong terkejut.
Dengan bengis Tong Jan berteriak pula.
"Hendaklah kalian jangan lupa tempat apakah sini. cukup orang she Tong memberi aba-aba, mungkin tidaklah mudah bagi kalian untuk pergi dengan selamat!"
Mendadak Ong Kim-liong bergelak tertawa, katanya.
"Kenapa Tong-kongcu marah-marah begini? Yang kami sayangkan hanya karena urusan penting ini telah gagal, sekalipun ada ucapan kami yang kurang pantas, masakah kami berani berlaku kasar terhadap Tongkongcu?"
Mendengar nada orang berubah lunak, Tong Bu-siang lantas membusungkan dada, ucapnya dengan tersenyum sambil mengusap jenggotnya.
"Meski urusan kita telah gagal, tapi biarpun Bengcu datang sendiri juga takkan menyalahkan diriku."
"Apakah betul?"
Ujar Ong Kim-liong dengan tersenyum aneh.
Sekonyong-konyong terdengar suara langkah orang yang ramai, delapan orang berseragam hitam ringkas dan bercaping dengan golok terhunus menerobos masuk.
Tong Bu-siang terkejut, serunya.
"He, ada.... ada apa ini?"
Belum lenyap suaranya, seorang kakek berbaju hijau dengan wajah putih bersih melangkah masuk dengan pelahan, siapa lagi dia kalau bukan Bulim-bengcu sekarang, Ji Hong-ho adanya.
Keringat dingin membasahi tangan Ji Pwe-giok.
Dahi Tong Bu-siang juga berkeringat.
Terpaksa ia menyapa sambil memberi hormat.
"Maaf, hamba tidak tahu Bengcu akan berkunjung kemari sehingga tidak dilakukan penyambutan selayaknya, mohon Bengcu memberi ampun."
"Ah, ucapan Tong-heng terlalu sungkan,"
Jawab Ji Hong-ho dengan tak acuh. Ia memandang sekejap ke arah Tong Jan yang masih bersikap marah itu dan menambahkan.
"Yang ini tentunya putera Anda bukan?"
"Betul, dia anak sulungku, Tong Jan,"
Jawab Bu-siang dengan mengiring tawa. Ji Hing-ho mengangguk dan tersenyum, katanya.
"Bagus, bagus, benar-benar ksatria muda perkasa, tidak malu sebagai putera dari ayah ternama.... Eh, entah sudah berapa usianya tahun ini?"
"Wanpwe berusia 26 tahun,"
Jawab Tong Jan sambil membungkuk tubuh.
"Wah, orang pemberang begini dapat hidup selama 26 tahun, sungguh tidak mudah,"
Ujar Ji Hong-ho dengan acuh tak acuh. Setelah Tong Jan melengak, mukanya menjadi pucat. Pelahan Ji Hong-ho berkata pula.
"Di hadapan orang tua bisa jadi orang muda akan bersikap kurang hormat, ini dapat dimengerti, tapi kalau sampai menggebrak meja segala, kukira cara demikian agak keterlaluan."
Tong Jan tidak tahan, ia membantah.
"Tapi sikap Tecu itu bukannya mengacau tanpa beralasan."
"Oo, jadi Tong-kongcu tidak terima ucapanku ini? Memangnya tadi orang she Ji yang mengacau tanpa alasan?"
Kata Ji Hong-ho dengan tersenyum. Belum Tong Jan menjawab, cepat Tong Bu-siang membentaknya, dengan mengiring tawa ia berkata kepada sang Bengcu.
"Maaf, jika anak ini ada kesalahan, biarlah kumohonkan ampun baginya."
Tiba-tiba Ji Hong-ho menarik muka dan berkata.
"Yang kutanya ialah putramu, sebaiknya Tong-heng jangan ikut bicara."
Dan Tong Bu-siang benar-benar tidak berani ikut bicara lagi. Tong Jan menarik napas dalam-dalam, ucapnya kemudian dengan suara berat.
"Biarpun Wanpwe orang bodoh, pernah juga kubaca kitab ajaran Nabi, mana berani ku lawan orang tua. Tapi kalau orang lain menghina ayahku, betapapun Wanpwe tidak dapat tinggal diam!!"
"Lalu mau apa kalau tidak dapat tinggal diam?"
Tanya Ji Hong-ho. Saking tak tahan Tong Jan berteriak.
"Barang siapa menghina ayahku, biarpun mengadu jiwa juga akan ku labrak dia."
Ji Hong-ho tersenyum, katanya.
"Oo, apa betul? Sungguh terpuji......"
Belum lanjut ucapannya, mendadak tangannya menampar ke samping.
Entah karena keder terhadap perbawa sang Bengcu atau memang tak dapat menghindar serangan kilat itu, tahu-tahu "plok", muka Tong Bu-siang tergampar dengan telak.
Lalu Ji Hong-ho berpaling pula kepada Tong Jan dan bertanya dengan tersenyum.
"Nah, bagaimana?"
Air muka Tong Jan sebentar pucat sebentar hijau, meski mengepal, tapi tangan terasa gemetar. Sambil mendekap mukanya yang bengap, dengan suara serak Tong Bu-siang membentak.
"Kau binatang yang durhaka, masa kau berani kurang ajar terhadap Bengcu?"
"Sudah tentu ia tidak berani,"
Tukas Ji Hong-ho dengan tersenyum tak acuh.
"plak", mendadak sebuah tangannya menyampuk pula dan tepat mengenai muka Tong Bu-siang. Tong Jan tidak tahan lagi, air matanya bercucuran dan menangis sedih, teriaknya.
"Ayah, anak tidak berbakti dan tidak..... tidak dapat...."
Di tengah jerit pilu dan murkanya serentak ia menubruk ke arah Ji Hong-ho.
"Jangan, anak Jan!"
Tong Bu-siang menjerit kaget. Akan tetapi sudah terlambat, pukulan Tong Jan tepat mengenai bahu Ji Hong-ho.
"krek", tahu-tahu pergelangan tangan Tong Jan sendiri tergetar patah, tubuhnya juga terpental dan mencelat. Sebaliknya Ji Hong-ho masih tenang-tenang saja sambil memangku tangan, ucapnya dengan tertawa.
"Tong-heng, nyali putramu memang teramat besar."
Tong Bu-siang lantas berjongkok di tanah dengan air mata bercucuran, katanya dengan terputus-putus.
"Anak kecil tidak tahu aturan, mohon.... mohon Bengcu memberi ampun padanya...."
Ji Hong-ho menghela napas, katanya.
"Sudah tentu tidak kupikirkan perbuatannya, hanya saja..... kaupun peserta pertemuan Hong-ti, masa kau tidak tahu hukuman apa bagi orang yang berani menghina dan menyerang Bengcu?"
Tong Bu-siang menyembah dan berkata pula.
"Mohon Bengcu sudi mengampuni jiwanya, biar kupotong sendiri kedua tangannya untuk minta maaf kepada Bengcu."
Ji Hong-ho tidak menjawab, ia berpaling ke arah Ong Kim-liong dan bertanya.
"Bagaimana?!"
Dengan suara bengis Ong Kim-liong lantas berseru.
"Undang-undang yang ditetapkan dalam pertemuan Hongti mendapat perhatian sepenuhnya di seluruh dunia, apabila undang-undang itu dilanggar, lalu siapa pula yang akan menghargai Bengcu, siapa pula yang menghargai pertemuan Hongti?"
Ji Hong-ho lantas berpaling pula ke arah Tong Bu-siang dan berkata.
"Dan bagaimana dengan pendapatmu? Terikat oleh undang-undang, terpaksa aku tak dapat berbuat apa-apa."
Dalam pada itu Ong Kim-liong sudah menggusur Tong Jan keluar, menyusul lantas terdengar jeritan ngeri di luar.
Dengan sempoyongan Tong Bu-siang berdiri, hampir saja jatuh terkulai lagi di lantai.
Di tempat sembunyinya Ji Pwe-giok dapat mengikuti adegan dramatis itu, tanpa terasa air matanya berlinang-linang.
Kalau saja dia harus bertahan hidup demi perjuangannya yang belum selesai, tentu dia sudah melompat turun untuk mengadu jiwa.
Dilihatnya Ji Hong-ho sedang menatap Tong Bu-siang dengan tajam, lama dan lama sekali, tiba-tiba ia berkata pula.
"Kau berduka atas kematian anakmu, tentunya Tong-heng bermaksud menuntut balas bukan?"
Dengan napas terengah-engah Tong Bu-siang menjawab dengan menunduk.
"Apa yang terjadi adalah akibat perbuatan anak itu sendiri, mana berani kusalahkan orang lain."
Ji Hong-ho tertawa cerah, katanya.
"Bagus, Tong-heng memang orang yang bijaksana."
Makin rendah Tong Bu-siang menunduk, begitu rendah sampai Ji Pwe-giok ikut malu baginya. Terdengar Ji Hong-ho berkata pula.
"Dari jauh ku datang ke sini, tahukah Tong-heng apa tujuanku?"
"Dengan sendirinya untuk Ji Pwe-giok itu,"
Jawab Bu-siang dengan ragu.
"Hahaha, salah kau!"
Seru Ji Hong-ho dengan tertawa.
"Salah?"
Tong Bu-siang melengak.
"Ketahuilah, tujuanku mencari Ji Pwe-giok itu adalah karena ingin kuselidiki asal-usulnya, sebab ku kuatir dia adalah putraku yang durhaka itu, tapi sekarang sudah jelas diketahui bahwa dia memang orang lain. Sebab itulah, selanjutnya tentang orang ini, apakah dia masih hidup atau sudah mampus tidak ku perduli lagi."
Urusan ini sebenarnya suatu rahasia, kini Ji Hong-ho menguraikannya secara blak-blakan, tentu saja Ji Pwe-giok terkesiap, lebih-lebih Tong Bu-siang, ia terkejut dan sangsi pula, tanyanya dengan tergagap-gagap.
"Jika demikian, untuk.... untuk keperluan apakah kedatangan Bengcu ini?"
"Kedatanganku ini adalah ingin memperkenalkan beberapa sahabat kepadamu,"
Jawab Ji Hong-ho. Tong Bu-siang tambah heran, ia berkedip-kedip tanyanya.
"Sahabat? Entah siapa-siapa saja?"
"Memang aneh kalau diceritakan,"
Ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.
"Terhadap orang ini jelas Tong-heng sudah sangat kenal, sebaliknya orang ini selamanya tidak pernah melihat Tongheng."
Seketika Bu-siang melongo, sama sekali tak dapat dirabanya siapakah gerangan yang dimaksudkan, iapun tidak tahu untuk maksud apakah Ji Hong-ho hendak memperkenalkannya kepada "sahabat"
Yang disebut itu.
Tiba-tiba ia merasa wajah Ong Kim-liong dan Lim Soh-koan menampilkan semacam senyuman yang misterius, seketika timbul rasa ngerinya dari kaki ke ulu hati.
Diam-diam Pwe-giok juga merasa heran.
Untuk apakah Ji Hong-ho sengaja membawa seorang "sahabat"
Untuk dipertemukan kepada Tong Bu-siang, bahkan sebelumnya dengan suatu dan lain alasan dibunuhnya lebih dulu anak lelaki Tong Bu-siang.
Apakah karena orang ini tidak boleh dilihat oleh Tong Jan?
Siapakah orang ini sesungguhnya?
Mengapa begini misteriusnya?
Intrik apa yang tersembunyi di balik semua kejadian ini?
Pwe-giok merasa tangan dan kakinya rada dingin, dahinya juga berkeringat dingin.
Dalam pada itu Ji Hong-ho telah memberi tanda, beberapa lelaki berseragam hitam tadi lantas melangkah keluar, menyusul dari kegelapan di luar lantas menyelinap masuk seorang.
Orang ini memakai kopiah dan berjubah hijau.
Waktu Pwe-giok mengintai dari atas, tentu saja muka orang ini tidak kelihatan.
Tapi Tong Bu-siang dapat melihat dengan jelas wajah orang yang baru masuk ini.
Tiba-tiba Pwe-giok melihat, setelah berhadapan dengan orang yang baru masuk ini, seketika wajah Tong Bu-siang merinding seperti melihat setan, air mukanya penuh rasa takut, tubuhnya berkejang dan mulut melongo....
Pwe-giok terperanjat, ia tidak tahu sesungguhnya terdapat keanehan apa pada wajah orang yang baru datang ini sehingga dapat membuat Tong Bu-siang ketakutan setengah mati.
Dengan tersenyum Ji Hong-ho lantas berkata.
"Bagaimana, Tong-heng. Tidak keliru bukan perkataanku, bukankah kau sudah kenal dia?"
"Aku...... aku..... dia....."
Tong Bu-siang gelagapan dengan suara parau, kerongkongannya seperti tersumbat dan tak dapat bicara lancar.
"Sudah lama dia ingin bertemu dengan Tong-heng, cuma waktunya yang tepat belum tiba, juga aku tidak menghendaki Tong-heng bertemu dengan dia..... Apakah Tong-heng sudah tahu apa sebabnya?"
"Ti...... tidak tahu."
Jawab Bu-siang.
"Sebab tidak kuhendaki Tong-heng mati terlalu cepat,"
Ujar Ji Hong-ho dengan tersenyum. Dahi Tong Bu-siang penuh keringat, baru diusap keringat sudah merembes keluar lagi, dengan suara parau ia tanya.
"Ap.... apa maksudnya?"
"Sebab pada waktu kalian bertemu, pada saat itu pula ajalmu tiba,"
Jawab Ji Hong-ho dengan tertawa.
Terbelalak lebar mata Tong Bu-siang, ia menatap orang yang misterius itu, butiran keringat berketes-ketes di mukanya dan merembes ke matanya, tapi dia sama sekali tidak berkedip.
"Apakah kau ingin memandangnya dengan lebih jelas? .... Baik!"
Mendadak Ji Hong-ho menyingkap topi orang itu yang berpinggir lebar dan....
Ternyata wajah orang inipun wajah "Tong Bu-siang", mukanya, alisnya, matanya, hidungnya, semuanya mirip, persis seperti berasal dari satu cetakan.
Baru sekarang Pwe-giok dapat melihatnya dengan jelas, tidak kepalang tegangnya sehingga sekujur badan sama gemetar.
Akhirnya dengan mata kepala sendiri ia dapat menyaksikan rahasia kawanan iblis ini!, Didengarnya Ji Hong-ho lagi berkata dengan tertawa.
"Nah, sekarang Tong-heng sudah melihat jelas bukan? Bukankah ini suatu karya seni yang belum pernah ada sejak dahulu hingga kini. Biarpun seniman paling tersohor dari jaman dulu hingga sekarang banyak yang dapat melukis dengan sedemikian indahnya, tapi semuanya itu adalah benda mati. Dan buah karya kami sekarang, bukan saja terdiri dari darah daging, bahkan juga berjiwa."
Tong Bu-siang sudah mirip sebuah patung yang tak berjiwa dan tidak bergerak.
"Dengan susah payah kami berusaha, dengan pembantu-pembantu mengawasi gerak-gerikmu, akhirnya dapatlah kami ciptakan Tong Bu-siang yang kedua. Untuk ini, Tong-heng, kukira kau harus merasa bangga."
"Tapi..... tapi sesungguhnya apa sebabnya?"
Tanya Bu-siang.
"Masa sampai sekarang Tong-heng belum lagi paham?"
Tanya Ji Hong-ho sambil bergelak tertawa.
"Aku benar-benar tidak paham,"
Kata Bu-siang sambil menjilat bibirnya yang kering. Serentak Ji Hong-ho berhenti tertawa, lalu berucap sekata demi sekata.
"Sebab Tong Bu-siang yang pertama sudah hidup cukup lama, sekarang dia boleh istirahat dengan baik-baik dan biarkan Tong Bu-siang yang kedua menggantikan kehidupannya."
Sekonyong-konyong Tong Bu-siang bergelak tertawa, tertawa latah. Ji Hong-ho memandangnya dengan dingin, sejenak kemudian baru ia berucap pula.
"Pada saat demikian Tong-heng masih sanggup tertawa, sungguh peristiwa aneh juga."
"Mengapa aku tidak dapat tertawa, aku justeru tertawa geli,"
Teriak Tong Bu-siang sambil terbahak-bahak.
"Hahaha, dengan boneka ciptaan kalian ini akan kalian gunakan untuk menggantikan diriku?"
"Kenapa kau heran? Sudah beberapa kali kami berhasil!"
Jawab Ji Hong-ho dengan dingin.
"Sekarang percayalah aku kepada perkataan Ji Pwe-giok itu, dengan sendirinya akupun tahu kalian sudah berhasil beberapa kali,"
Kata Tong Bu-siang.
"Tapi aku Tong Bu-siang tidaklah sama dengan kau Ji Hong-ho, juga tidak sama dengan orang-orang seperti Cia Thian-pi, Ong Ih-lau, Sebun Bu-kut dan sebagainya."
"Di mana perbedaannya?"
Tanya Ji Hong-ho dengan sinar mata gemerdep.
"Orang-orang ini andaikan tidak berdiri sendirian, orang yang berdekatan dengan mereka juga tidak banyak, kalian dapat menghancurkan Ji Pwe-giok, dapat memaksa minggat Lim Tay-ih, tapi dapatkah kalian membunuh habis anak murid keluarga Tong? Meski kalian dapat membinasakan anakku, Tong Jan, tapi aku masih banyak anak murid yang lain, pada satu hari rahasia kalian pasti akan terbongkar."
"Begitukah?"
Ucap Ji Hong-ho dengan tak acuh dan tetap tenang.
"Sekalipun kalian dapat menciptakan orang ini sehingga serupa diriku, bahkan cara bicara dan gerak-geriknya juga serupa, tapi apakah kalian tahu siapa nama kecil putera puteriku dan muridku? Tahukah kalian bilakah hari lahir mereka? Tahukah kalian sifat dan perangai mereka masing-masing?......"
Tong Bu-siang terbahak-bahak, lalu menyambung pula.
"Suatu keluarga besar seperti keluarga Tong ini tentu terdapat banyak hal yang tidak diketahui orang luar, untuk bisa menjadi kepala keluarga sebesar ini, memangnya semudah perkiraan kalian?"
Ji Hong-ho terdiam sejenak, katanya kemudian.
"Betul juga ucapanmu, memang ada sementara hal-hal yang tidak kami ketahui, tapi dengan cepat pasti akan kami ketahui."
"Kukira belum tentu mampu,"
Jengek Bu-siang.
"Tapi aku yakin sanggup, kupercaya kau pasti akan membeberkan segala rahasiamu kepada kami,"
Kata Ji Hong-ho dengan tertawa.
"Tidak, siapapun jangan harap akan dapat memaksa diriku,"
Bentak Bu-siang.
"Orang lain mungkin tidak dapat, tapi kami mempunyai cara tersendiri, mempunyai cara yang aneh, bolehlah Tong-heng mencobanya...."
Belum habis ucapan Ji Hong-ho, mendadak di luar ada suara suitan. Cepat Ong Kim-liong memburu keluar dan cepat pula berlari kembali, dengan suara tertahan ia memberi lapor.
"Ada tanda bahaya, seperti kedatangan orang."
"Mundur cepat!"
Kata Ji Hong-ho.
"Segenap penjagaan terang maupun gelap, seluruhnya meninggalkan pegunungan ini."
"Dan orang ini?"
Tanya Ong Kim-liong sambil memandang Tong Bu-siang.
"Kerudungi kepalanya dan bawa dia!"
Kata Ji Hong-ho. Mendadak Tong Bu-siang melompat ke atas, kedua tangannya bekerja sekaligus, terdengar suara mendesing ramai, dalam sekejap saja berpuluh biji senjata rahasia telah berhamburan.
"Semuanya jangan bergerak, biar kubereskan dia!"
Bentak Ji Hong-ho.
Berbareng itu ia telah menanggalkan topinya dan diputar satu lingkaran, seketika senjata rahasia yang bertebaran itu seperti laron menubruk pelita, semuanya hinggap ke dalam topinya.
Akan tetapi dengan kalap Tong Bu-siang lantas menerjangnya.
Senjata rahasia keluarga Tong tiada bandingannya di dunia ini, Kungfu lain juga tidak lemah.
Rambut dan jenggot putih si kakek ini beterbangan, kedua telapak tangannya serentak menghantam dengan gencar.
Tapi Ji Hong-ho juga bergerak dengan gesit, bentaknya.
"Kau berani melawan?"
"Hm, mau apa kalau melawan?"
Tong Bu-siang menyeringai.
"Memangnya kau berani membunuh aku? Kukira kau masih perlu keterangan-keterangan dariku!"
Dalam sekejap mata sudah belasan pukulan dilontarkan, setiap pukulannya cukup keras dan ganas, bila perlu dia bersedia gugur bersama lawan.
Pertarungan nekat begini benar-benar memusingkan kepala, betapapun tinggi ilmu silat seseorang, bila ketemu serangan kalap demikian pasti akan kewalahan dan terpaksa harus menghindar sedapatnya.
Tong Bu-siang hanya ingin mengulur waktu saja, ia pikir asalkan Ji Hong-ho tidak berani mengadu pukulan, maka dia dapat mengulur tempo sebanyak-banyaknya, dan bila ada yang datang berarti akan tertolonglah dirinya.
Ji Hong-ho memang tidak berani menyambut serangannya dengan keras lawan keras, sudah dua-tiga puluh jurus dan tetap tidak balas menyerang.
Lim Soh-koan dan Ong Kim-liong juga tidak membantu, bahkan memandang saja tidak.
Nyata mereka yakin benar-benar Tong Bu-siang pasti tak tahan sekali hantam oleh Bengcu mereka.
Pwe-giok ikut berdebar-debar menyaksikan pertarungan seru itu, sesungguhnya ia ingin tahu gaya asli ilmu silat "Ji Hong-ho"
Ini, siapa tahu yang dimainkan "Ji Hong-ho"
Ini memang gerakan asli "Bu-kek-bun", yakni perguruan Pwe-giok sendiri, bahkan gerakannya sangat gesit dan indah, tiada setitik ciri apapun dapat ditemukan.
Padahal di seluruh jagat ini selain Hong-ho Lojin, ayah Pwe-giok sendiri, siapa lagi yang mampu memainkan Kungfu asli Bu-kek-bun ini?
Seketika Pwe-giok berkeringat dingin dan kebingungan.
Dalam pada itu terdengar Ji Hong-ho sedang berseru dengan tersenyum.
"Tong-heng, seranganmu yang nekat ini akhirnya tetap tiada gunanya.... Pergilah kau!" -Disertai bentakan perlahan, sebelah tangannya secepat kilat menghantam. Pukulan Ji Hong-ho ini tampaknya sukar menembus serangan Tong Bu-siang yang gencar itu, siapa tahu justeru dapat menerobos pada bagian yang sama sekali sukar dipercaya orang. Begitu terpukul, kontan Tong Bu-siang roboh. Ji Hong-ho tidak lagi memandangnya, begitu pukulannya dilontarkan, segera ia melompat mundur sambil berseru.
"Bawa dia, lekas ikut mundur!"
Hanya sekejap saja sinar lampu di kelenteng kecil ini sudah padam, semua orang juga sudah pergi, hanya tertinggal Ji Pwe-giok saja yang masih termangu-mangu di tempat gelap dengan mandi keringat dingin.
Dimulai sejak munculnya Ong Kim-liong dan Lim Soh-koan sampai dengan kepergian mereka, jarak waktu itu tidaklah lama, tapi bagi Pwe-giok rasanya seperti sudah selang setahun lamanya.
Dalam jarak waktu ini Ji Pwe-giok benar-benar bernapas diantara mati dan hidup, seperti telur di ujung tanduk.
Asalkan tempat sembunyinya diketahui orang, maka tamatlah riwayatnya.
Bila orang lain, bisa jadi akan ketakutan setengah mati dan sedikit badannya bergemetar atau napasnya sedikit keras, bila setitik debu di atas belandar terjatuh, maka selamanya jangan harap lagi akan meninggalkan kelenteng ini dengan hidup.
Untung Gin-hoa-nio dalam keadaan tertutuk Hiat-to seluruh tubuhnya sehingga tak dapat bergerak dan bersuara, Pwe-giok sendiri sejak kecil sudah biasa berlatih duduk bersemedi dan menahan perasaan, sekalipun di bawah panas terik matahari atau di gua es juga dia sanggup bertahan tanpa bergerak sedikitpun.
Sebab itulah dia tidak sampai diketahui musuh.
Tapi sekarang, setelah bebas dari ketegangan yang hebat tadi, ia merasa ingin mencari suatu tempat untuk berbaring dan istirahat.
Namun iapun tahu kesempatan yang sukar dicari ini tidak boleh disia-siakan.
Asalkan dia dapat mengikuti jejak orang-orang ini secara diam-diam dan berhasil menemukan tempat penyimpanan Tong Bu-siang asli dan palsu itu, maka besar harapannya akan dapat membongkar rahasia mereka.
Namun iapun menyadari, untuk menguntit tokoh-tokoh kelas satu itu sama halnya berjudi dengan jiwanya sendiri, meski kesempatan untuk menang tidaklah banyak, namun resiko ini cukup berharga untuk dihadapi.
Padahal kesempatan ini segera akan lenyap dalam sekejap saja, sungguh peluang untuk bernapas saja terasa tidak ada.
Dilihatnya Gin-hoa-nio sedang menatapnya dengan terbelalak lebar, meski dia tak dapat bergerak dan bersuara, namun dia dapat mendengar segala apa yang terjadi.
Pwe-giok tidak sempat banyak berpikir lagi, segera ia membisiki nona itu.
"Sebenarnya hendak ku antar kau ke Tong-keh-ceng agar mereka membuat perhitungan dengan kau, tapi sekarang..... Ai, biarlah suka-duka kita selanjutnya kuhapus seluruhnya, Hiat-to yang kututuk dalam waktu tak lama lagi akan punah dengan sendirinya dan kau dapat bergerak kembali. Semoga selanjutnya jangan kau cari diriku lagi dan akupun takkan mengusik dirimu."
Sesudah memberi pesan ini, segera ia hendak melompat turun dan tinggal pergi.
Siapa tahu, pada saat itu juga dari luar ada suara langkah orang pula disertai berkelebatnya cahaya lampu, ternyata Ong Kim-liong telah masuk pula dengan membawa dua orang berseragam hitam.
Heran dan gelisah Pwe-giok, sudah jelas Ji Hong-ho telah pergi bersama anak buahnya, mengapa Ong Kim-liong dan dua begundalnya kembali lagi ke sini?
Didengarnya Ong Kim-liong lagi berkata.
"Lekas kembalikan patung itu dan meja sembahyang pada tempatnya semula, lalu lantai dibersihkan pula, jangan sampai meninggalkan sesuatu tanda agar anak murid keluarga Tong tidak dapat memperkirakan ke mana perginya Tong Bu-siang."
Nyata setiap tindak-tanduk komplotan jahat ini dilakukan dengan sangat cermat dan teliti tanpa meninggalkan sesuatu apapun.
Pwe-giok menjadi kelabakan.
Sudah tentu sekarang ia dapat melompat turun dan membinasakan ketiga orang itu.
Dengan ilmu silatnya jelas ketiga orang itu bukan tandingannya.
Tapi dia kuatir tindakannya ini akan mengejutkan Ji Hong-ho yang pergi belum jauh itu.
Sebaliknya bila ditunggu lagi sampai pekerjaan ketiga orang itu selesai, tentu Ji Hong-ho juga sudah pergi jauh dan sukar untuk menyusulnya.
Konyolnya, cara kerja kedua orang berseragam itu justeru adem-ayem saja, alon-alon asal kelakon, sesuatunya dikerjakan dengan sangat cermat.
Sudah tentu semuanya ini memakan waktu lebih lama.
Keruan Pwe-giok tambah gelisah, tapi apa daya?
Kini dia hanya berharap semoga ketiga orang ini nanti habis bekerja juga akan menyusul kepergian Ji Hong-ho, dengan demikian asalkan dia membuntuti ketiga orang, maka jadinya akan mencapai tujuannya, bahkan penguntitannya nanti akan lebih mudah daripada menguntit Ji Hong-ho.
Karena inilah satu-satunya harapan yang masih ada, maka ia tidak dapat menyerang ketiga orang ini.
Siapa tahu, justeru pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar suara mendenging nyaring tiga kali, suara sambaran senjata rahasia dari luar.
Kontan kedua lelaki berseragam hitam tadi menjerit dan roboh terjungkal.
Dengan sendirinya reaksi Ong Kim-liong lebih cepat dan gesit, dia sempat melompat ke atas, agaknya berhasil dia menghindari serangan senjata rahasia itu, lalu membentak dengan suara bengis.
"Siapa itu, berani menyerang petugas Bengcu di sini, apakah sudah bosan hidup kau?!"
Di tengah bentakannya, serentak senjata ruyungnya Kim-liong-pian lantas dilolosnya dan diputar dengan kencang, dia terus menerjang keluar.
Dalam kegelapan di luar pintu seperti ada orang tertawa seram dan misterius.
Pwe-giok terkejut dan juga gelisah.
Ia tidak tahu siapakah gerangan orang yang menyergap Ong Kim-liong bertiga itu dan apa tujuannya?
Melihat serangan yang keji dan tanpa kenal ampun ini, jelas penyerang ini pasti juga bukan manusia baik-baik.
Jangan-jangan anak murid keluarga Tong telah memburu tiba?
Meski kedatangan mereka sangat kebetulan, tapi setitik harapan terakhir Pwe-giok menjadi ikut buyar.
Lampu di meja sembahyang tadi sudah dinyalakan, di bawah gemerdepnya cahaya lampu, tiba-tiba terlihat Ong Kim-liong masuk lagi dengan mundur.
Kim-liong-pian atau ruyung naga mas yang dipegangnya tampak terseret di lantai, wajahnya penuh rasa kejut dan takut, keringat dingin memenuhi dahinya, tapi tiada kelihatan mengalami sesuatu luka.
Matanya tampak melotot penuh rasa takut, entah apa yang membuatnya setakut ini?
Sesungguhnya apa yang dilihatnya?
Terdengar seorang berkata di luar.
"Siapa sahabat ini? Kau datang dari mana?"
Suaranya sangat aneh, halus, rendah, tapi membawa semacam nada yang membikin merinding pendengarannya.
Mendengar suara orang itu, seketika Pwe-giok merasa tidak enak.
Ia tidak mengerti mengapa suara seorang bisa begitu lembut dan halus, tapi juga begitu aneh dan menyeramkan.
Sungguh ia ingin tahu bagaimana macamnya orang yang bicara itu.
Di luar pintu memang kelihatan ada sesosok bayangan manusia.
Kelihatan sepasang matanya yang kelam, sama kelamnya seperti kegelapan malam.
Akan tetapi sinar matanya yang mencorong justeru menampilkan perasaan hampa, semacam kesuraman yang sukar diraba.
Meski sinar mata itu tidak memandang ke arah Ji Pwe-giok, tapi tanpa terasa Pwe-giok bergidik sendiri.
Terdengar Ong Kim-liong lagi menjawab dengan suara rada gemetar.
"Aku she Ong, Ong Kim-liong, dari Thay-oh."
"O, kiranya kau si raja naga dari Thay-oh,"
Ucap suara yang indah tapi aneh itu.
"Untuk apa kau datang ke sini?"
"Ku datang ikut Bu-lim-bengcu,"
Jawab Ong Kim-liong.
"Bu-lim-bengcu? Maksudmu Ji Hong-ho?"
"Betul,"
Jawab Ong Kim-liong pula.
"Mau apa dia datang ke sini?"
"Ada janji dengan Tong Bu-siang untuk bertemu di sini."
Begitulah tiap kali suara itu bertanya segera ia menjawabnya dengan sejujurnya.
Ong Kimliong seolah-olah sudah kehilangan pikiran sehatnya, seperti sama sekali sudah tunduk di bawah pengaruh sinar mata yang aneh itu.
Tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin menyaksikan kejadian ini.
Suara aneh itu bertanya pula sesudah termenung sejenak.
"Ji Hong-ho bertemu dengan Tong Bu-siang, mengapa di sini tempatnya? Yang dirundingkan mereka apakah sesuatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?"
"Didalam urusan ini memang betul ada sesuatu rahasia, sebab Bengcu....."
Pwe-giok merasa terkesiap dan bergirang juga karena akan mengetahui rahasia pertemuan Tong Bu-siang dan "Ji Hong-ho"
Itu, tak terduga, bicara sampai di sini, mendadak sekujur badan Ong Kim-liong menggigil dan tutup mulut rapat-rapat. Sorot mata orang di luar itu semakin mencorong, dengan suara bengis ia mendesak.
"Rahasia apa, kenapa tidak kau ceritakan?"
Ong Kim-liong tetap tutup mulut, keringat dingin tampak berketes-ketes memenuhi dahinya. Suara itu kembali berubah lunak dan halus sekali, katanya pelahan.
"Bicaralah, tidak menjadi soal! Sesudah kau ceritakan, pasti tiada orang menyalahkan kau."
Tubuh Ong Kim-liong tambah gemetar, mukanya berkerut-kerut, tampaknya sangat menderita, jelas sedang bergulat dengan batin sendiri yang bertentangan. Akhirnya tercetus juga ucapannya yang gemetar.
"Ti..... tidak, tidak dapat kukatakan."
"Mengapa tidak dapat kau katakan?"
Ucap suara itu.
"Jangan lupa, saat ini tubuhmu, jiwamu, sukmamu, semuanya sudah menjadi milikku, masa kau berani membangkang?"
Sekonyong-konyong Ong Kim-liong berteriak seperti orang gila.
"Tidak, segala apa yang ada pada diriku ini milik Bengcu, tidak boleh kukhianati dia, kalau tidak, bagiku hanya..... hanya ada kematian...."
Mendadak ia angkat ruyungnya terus menghantam kepala sendiri.
Agaknya orang yang berada di luar itu tidak menduga akan tindakan Ong Kim-liong ini, ia berseru kaget, namun Ong Kim-liong sudah terkapar bermandi darah.
Bercucuran keringat dingin Pwe-giok, apa yang terjadi ini sungguh sukar untuk dimengerti, ia hampir-hampir tidak percaya pada matanya sendiri.
Dalam pada itu dari luar lantas masuk satu orang.
Langkahnya enteng, pelahan tanpa suara, seperti badan halus saja.
Di bawah cahaya lampu kelihatan orang ini memakai baju kain kasar sebangsa kain belacu yang biasa dipakai kaum petani.
Tangan membawa sebuah caping yang sudah rusak, perawakannya tinggi kurus, wajahnya putih cakap dan agak kurus.
Tampaknya usianya antara 30-an, tapi seperti juga sudah lebih 50.
Begitu melangkah masuk, sorot matanya yang kelam kehijau-hijauan itu seketika lenyap, tiada sesuatu yang menyolok, hanya tangannya yang panjang dan kurus itu kelihatan putih indah berkilau.
Sama sekali tak terpikir oleh Pwe-giok bahwa mata yang aneh itu bisa tumbuh pada seorang yang sangat umum ini, lebih-lebih tak terpikir sinar matanya bisa berubah begitu cepat.
Lamat-lamat ia merasa orang ini seperti seekor bunglon yang setiap saat dapat berganti warna badan untuk mengelabui musuh demi keselamatan sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan muda menghela napas dan bergumam.
"Ah, sudah mati semua!"
Pandangan Pwe-giok ternyata tertarik sepenuhnya oleh manusia yang aneh ini, baru sekarang ia tahu di belakang orang ini masih ikut seorang perempuan muda bergaun dan baju kain kasar, perawakan gadis ini padat dan indah, kepalanya juga memakai caping bambu yang ditarik rendah ke depan, agaknya tidak suka wajah aslinya dilihat orang.
Sungguh aneh, memangnya siapa yang hendak dihindarinya?
Entah mengapa, Pwe-giok merasa perawakan dan suara gadis itu seperti sudah dikenalnya, tapi seketika tidak ingat di mana pernah bertemu.
Sementara itu si baju belacu tadi telah mengitari ruangan itu satu kali, lalu ia berpaling memandang si gadis, dari wajahnya yang bersih itu tiba-tiba menampilkan senyuman yang sangat menarik, ucapnya dengan pelahan.
"Pandanganmu memang jitu, orang-orang ini memang betul sudah mati semua."
Si gadis menggigit bibir, katanya kemudian.
"Mereka kan tidak mengganggu kita, mengapa engkau membunuh mereka?"
"Ucapanmu memang betul, sesungguhnya tidak perlu kubunuh mereka,"
Ujar si baju belacu dengan tersenyum.
"Jika tidak perlu, mengapa kau bunuh mereka?"
Kata si gadis. Orang itu tidak menjawab, ia cuma mengulum senyum dan memandangnya lekat-lekat, tibatiba ia menghela napas dan berkata.
"Cantik, sungguh cantik, kerlingan matamu tertampak lebih cantik di bawah sinar lampu ini. cukup kau pandang diriku sekejap dan aku rela mati sepuluh kali bagimu."
Tampaknya dia sangat memanjakan nona itu dan sangat sayang padanya, setiap ucapannya penuh sanjung puji, tapi siapapun dapat mendengar kata-katanya hanya seperti orang tua membikin senang hati anak kecil saja.
Anehnya, gadis itu sedikitpun tidak merasa dimanjakan atau dibujuk, sebaliknya mukanya menjadi merah dan terkesima, kemudian menghela napas dan berkata dengan rawan.
"Yang kuharap asalkan selanjutnya jangan kau bunuh orang lagi, asalkan kita dapat meloloskan diri sekali ini, bolehlah kita mencari suatu tempat yang terpencil jauh di sana dan hidup tenteram selama hidup."
"Tepat sekali ucapanmu,"
Kata orang itu dengan tersenyum.
"kita akan mencari suatu tempat yang indah, ada gunung ada air, setiap hari akan kuiringi kau pesiar, setiap hari dapat kudengar suara tertawamu yang lebih merdu daripada burung berkicau."
Pikiran nona itu seakan-akan melayang jauh membayangkan adegan bahagia itu, ia memejamkan mata dan bergumam.
"O, alangkah bahagianya bilamana tiba pada hari demikian itu, rasanya segala apa yang telah kulakukan tidaklah sia-sia, asalkan datang hari bahagia itu, andaikan matipun aku rela."
Akhirnya Pwe-giok dapat melihat mukanya, seraut muka yang cantik, muka yang polos dan murni penuh membayangkan kebahagiaan yang akan datang, dari matanya terembes butir air mata kegembiraan.
Tiba-tiba Pwe-giok ingat siapa nona ini.
Ya, betul, dia inilah Ciong Cing, murid Hoa-san-pay yang menyambut kedatangannya pada waktu Pwe-giok menghadiri pertemuan Hong-ti tempo hari.
Sungguh aneh, murid dari perguruan ternama itu mengapa sekarang bisa berada bersama seorang yang aneh dan misterius ini?
Apa saja yang telah diperbuatnya demi orang ini seperti ucapannya tadi?
Seketika Pwe-giok tercengang, sangsi dan juga menyesal.
Si baju belacu tidak memandang lagi si nona, tapi sedang mengamat-amati mayat Ong Kimliong yang digenangi darah itu, tampaknya dia sedang merenungkan sesuatu sambil bergumam.
"Sesungguhnya rahasia apa yang tersembunyi di dalam hati orang ini? Mengapa dengan tenaga gaibku tidak mampu menyuruhnya mengaku? Dengan kekuatan gaib apa pula Ji Hong-ho itu dapat membuat anak buahnya lebih rela mati daripada mengkhianatinya?"
Kembali ia mondar-mandir lagi di ruangan itu dan sorot matanya berubah lebih tajam daripada mata elang, setelah menyapu pandang kian kemari, tiba-tiba ia berseru perlahan.
"He, lihat, di sini ada sebuah jalan rahasia!"
Ia tepuk patung Toa-pekong dan diputar, segera jalan di bawah tanah itu kelihatan dengan jelas. Ciong Cing juga berseru.
"He, menembus kemanakah jalan di bawah tanah ini?"
Orang itu memejamkan mata dan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum cerah.
"Ehm, di sini kan bukit di belakang Tong-keh-ceng?"
"Ya, betul, jalan ini pasti menembus ke Tong-keh-ceng,"
Seru Ciong Cing.
"Tepat,"
Kata orang itu dengan tertawa.
"Kau benar-benar anak perempuan yang cantik dan cerdik."
Muka Ciong Cing menjadi merah pula, ia menunduk dan memainkan ujung bajunya, sejenak kemudian baru berkata.
"Jika tempat ini mengandung rahasia orang lain, lebih baik kita pergi saja."
"Pergi? Mengapa?"
Ujar orang itu.
"Selama hidupku kesenanganku justeru membongkar rahasia orang lain." -Dia mengusap perlahan muka Ciong Cing, lalu berkata pula.
"Ji Hongho dan Tong Bu-siang main sembunyi-sembunyi, tentu bukan pekerjaan baik yang mereka lakukan, aku akan memeriksanya melalui jalan rahasia ini, hendaklah kau tunggu saja di sini, mau?"
Ciong Cing lantas memegang tangan orang itu dan menjawab dengan cemas.
"Tidak, jangan kau pergi!"
Seketika sorot mata orang itu berubah sedingin es, ucapnya.
"Kenapa? Kau kuatir ku pergi dan tak kembali lagi?"
Hakekatnya Ciong Cing tidak memperhatikan perubahan sikap orang itu, dengan suara lembut ia berkata.
"Tiada lain, yang kukuatirkan adalah keselamatanmu. Lukamu belum sembuh benar-benar, sedangkan Tong Bu-siang dan Ji Hong-ho itu adalah tokoh-tokoh yang lihay...."
Pandangan orang yang dingin itu mulai cair lagi, ucapnya dengan tersenyum.
"O, kau kuatir mereka mencelakai diriku?"
Mata Ciong Cing tampak merah dan basah, katanya dengan tersendat.
"Jika.... jika terjadi apaapa atas dirimu, lalu.... lalu aku bagaimana?"
Orang itu tertawa, katanya.
"Jangan kuatir, masih jauh jika orang semacam Tong Bu-siang dan Ji Hong-ho itu hendak mencelakai diriku." -Dengan lembut ia membelai rambut si nona, lalu menyambung pula.
"Kau tunggu saja di sini, sayang, secepatnya aku akan kembali. Ku berjanji padamu, pasti tiada seorangpun dapat mengusik seujung rambutku."
Habis berkata, sekali berkelebat, tahu-tahu ia sudah menghilang ke jalan di bawah tanah itu.
Dengan termangu-mangu Ciong Cing menyaksikan kepergian orang itu, ia mendekap mukanya dan menghela napas panjang, gumamnya.
"O, apa yang kulakukan ini apakah betul? atau salah? ...."
"Salah!"
Tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara tertahan.
"Hahh, siapa?"
Ciong Cing menjerit kaget sambil melonjak ke atas. Dilihatnya seorang pemuda dengan tersenyum entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya."
Cayhe Ji Pwe-giok!"
Ucap pemuda itu.
"Ji Pwe-giok?"
Seru Ciong Cing dengan terbelalak. Ia tahu "Ji Pwe-giok"
Sudah mati, di kelenteng kecil yang terpencil di pegunungan sunyi ini mendadak mendengar nama orang yang sudah mati, seketika ia merinding.
Akan tetapi anak muda ini kelihatan sedemikian ramah tamah, ganteng, cakap, sorot matanya yang mengandung senyuman hangat itu sungguh bisa membuat cair gunung es di bumi ini.
Tidak mungkin ada perempuan bisa takut kepada lelaki muda demikian ini.
Ciong Cing tidak lagi gugup, dengan suara keras ia menjawab.
"Betul, aku memang kenal seorang Ji Pwe-giok, tapi jelas bukan kau. Aku tidak kenal kau!"
"Tapi kukenal nona"
Kata Pwe-giok.
"Kau kenal aku?"
Ciong Cing melengak.
"Ya, nona kan murid Hoa-san dan bernama Ciong Cing?"
Seketika Ciong Cing tegang lagi, dengan suara bengis ia bertanya.
"Jadi kedatanganmu ini adalah untuk menangkap kami?"
Dalam hati Pwe-giok jadi terheran-heran, namun lahirnya dia tenang-tenang saja, katanya pelahan.
"Memangnya apa kesalahan nona? Kenapa takut akan ditangkap orang?"
Jilid 15________ Ciong Cing memandangnya sejenak, ia mulai tenang, jawabnya dengan tersenyum ewa.
"Sudah tentu aku tidak berbuat salah apa-apa, aku cuma mencoba dirimu saja."
Pwe-giok menghela napas, katanya dengan suara halus.
"Kedatanganku ini bukan hendak menangkap nona, juga tidak untuk menyelidiki rahasiamu, aku hanya ingin memberi nasehat padamu, lebih baik kau pulang saja."
"Pulang? Pulang kemana?"
Kembali Ciong Cing terkesiap.
"Pulang ke samping gurumu, beliau pasti akan melindungi dirimu agar tidak sampai ditipu orang lain."
"Memangnya aku tertipu oleh siapa? Berdasarkan apa kau campur urusanku?"
Kata Ciong Cing dengan tidak senang. Pwe-giok menyengir, ucapnya.
"Memikirkan diriku sendiri saja repot, sesungguhnya aku memang tidak pantas ikut campur urusan orang lain. Tapi kata-kata ini seperti duri di tenggorokan, kalau tidak kukeluarkan terasa tidak lega. Soal kau mau menurut atau tidak memang terserah kepada keputusan nona sendiri."
Ia memandang mayat yang menggeletak di lantai itu, lalu menghela napas panjang.
Kalau setitik harapannya tadi kinipun sudah buyar, untuk apa pula dia tinggal lagi di sini?
Mengenai Giu-hoa-nio yang masih ditinggalkan di atas belandar itu tidak perlu dikuatirkannya, ia tahu si nona pasti dapat menjaga dirinya sendiri.
Melihat Pwe-giok hendak pergi, Ciong Cing jadi melenggong, seperti mau mencegah, tapi akhirnya urung.
Tapi sebelum Pwe-giok melangkah keluar pintu, tahu-tahu sesosok bayangan orang seperti badan halus saja telah melayang dari belakang dan menghadang jalan keluarnya.
"He, begitu cepat kau sudah kembali?"
Seru Ciong Cing, kejut dan girang.
"Ya, apakah aku kembali terlalu cepat?"
Jawab orang itu dengan tersenyum. Ciong Cing tidak merasakan di dalam kata orang itu berduri, ia bertanya pula.
"Sudah kau lihat Ji Hong-ho dan Tong Bu-siang?"
"Tidak, Ji Hong-ho tidak ada, Tong Bu-siang juga menghilang,"
Jawab orang itu. Baru sekarang sorot matanya yang tajam beralih ke arah Ji Pwe-giok, katanya pula dengan tersenyum.
"Urusan ini memang sangat aneh, betul tidak?"
Meski jalan keluar Pwe-giok terhalang, tapi sedapatnya ia bersabar, ia mengamat-amati orang aneh itu, tapi betapapun dia mengawasinya dengan cermat tetap tak dapat diketahui orang ini baik atau jahat, lebih-lebih tak dapat diketahui bagaimana asal usulnya.
Baca Juga: Medali Wasiat 9
Baca Juga: Bangau Sakti 4