Ceritasilat Novel Online

Medali Wasiat 9

Eps 9 Medali Wasiat - Yin Yong

Baca online Medali Wasiat - Yin Yong

Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.

"Kemarin dulu kembali Loyacu membunuh Yan-susiok pula, juga sebelah kaki Tho-supek kena ditebas kutung oleh beliau."

Sungguh kaget Ban-kiam tak terkatakan. Pikirnya.

"Boh, Lio, Yan, dan Tho-sute adalah jago-jago pilihan dalam Swat-sanpay, biasanya ayah sangat sayang kepada mereka, mengapa mendadak ayah berlaku sekejam ini kepada mereka?"

Cepat ia menarik murid itu ke samping, sesudah Bin Ju dan Ciok Boh-thian pergi lebih jauh, segera ia tanya pula.

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

"Tecu benar-benar tidak tahu,"

Sahut murid itu.

"Sesudah meninggalnya paman-paman guru itu, setiap orang di Lengsiau-sia merasa tidak tenteram dan kebat-kebit. Kemarin malam Thio-susiok, Be-susiok, dan lain-lain juga pergi tanpa pamit, katanya hendak pergi mencari Pek-supek. Untunglah hari ini Pek-supek sudah pulang dan dapatlah meredakan kemarahan Loyacu."

Karena tidak mendapatkan keterangan yang diharapkan, segera Ban-kiam menyusul ke rumah.

Setiba di ruangan tamu, tertampak Hong Ban-li sedang mengiringi Ciok Jing dan Bin Ju minum teh.

Segera ia berkata.

"Silakan kalian duduk dahulu, Siaute akan menemui ayah dan minta beliau keluar bertemu dengan tamu."

Mendadak Hong Ban-li menukas dengan mengerut kening.

"Beberapa hari yang lalu mendadak Suhu jatuh sakit, mungkin beliau harus mengaso beberapa hari lagi baru dapat menemui tamu. Kalau tidak, beliau biasanya sangat menghormati Ciokheng, tentu sejak tadi beliau sudah keluar."

Pikiran Ban-kiam menjadi kacau, cepat ia berkata.

"Jika demikian, biarlah aku menjenguk ayah dahulu."

Dengan langkah lebar segera ia menuju ke kamar tidur sang ayah, sampai di luar pintu, ia berdehem dahulu, lalu berseru.

"Ayah, anak sudah pulang!"

Maka tertampaklah tirai pintu tersingkap, muncul seorang wanita cantik pertengahan umur, ialah bini muda Pek Cu-cay yang bernama Yu-nio.

Wajahnya kelihatan agak pucat, melihat Ban-kiam segera ia berkata.

"Syukurlah sekarang Toasiauya sudah pulang, memangnya kami sedang bingung apa yang harus kami lakukan. Sejak kemarin dulu pikiran Loyacu mendadak menjadi linglung, aku... aku telah sembahyang dan berdoa, tapi sedikit pun tidak berhasil apa-apa. Toasiauya, semoga kau...."

Sampai di sini ia lantas menangis tergugukguguk.

"Urusan apakah yang membikin ayah menjadi marah-marah?"

Tanya Ban-kiam.

"Ya entah anak muridnya salah omong apa sehingga Loyacu menjadi murka, berturut-turut beberapa muridnya telah dibunuh,"

Tutur Yu-nio.

"Saking marahnya sekujur badan Loyacu menjadi gemetar, sepulangnya di kamar mukanya tampak berkejang, mulutnya berbuih dan mengiler, bicara pun tidak sanggup lagi. Ada orang mengatakan beliau terkena ‘angin’ dan entah betul atau tidak...."

Sembari bicara dia terus menangis sedih. Mendengar penyakit "kena angin", seketika Pek Ban-kiam menjadi khawatir, tanpa bertanya lagi ia lantas berseru.

"Ayah!"

Dan terus berlari ke dalam kamar. Ia lihat kelambu tempat tidur sang ayah tertutup rapat, di dalam kamar ternyata ada sebuah anglo kecil dan sedang masak obat.

"Ayah!"

Seru Ban-kiam pula sambil membuka kelambu.

Maka tertampaklah ayahnya bertiduran dengan menghadap ke sebelah sana, badannya sedikit pun tidak bergerak.

Pendengaran Ban-kiam sangat tajam, ia merasa pernapasan ayahnya seperti sudah berhenti.

Saking kagetnya tanpa pikir ia terus menjulur tangan untuk memeriksa pernapasan hidung sang ayah.

Tapi baru saja sebelah tangannya terjulur sampai di samping mulut ayahnya, dari dalam selimut mendadak menyambar keluar suatu benda.

"krek" , tahu-tahu tangan Ban-kiam telah terbelenggu dengan kencang, kiranya benda itu adalah sebuah jepitan baja yang penuh berduri tajam. Keruan Ban-kiam tambah kaget.

"Ayah, akulah, anak telah pulang!"

Teriaknya.

Tapi mendadak dada dan perutnya berbareng telah tertutuk dua kali dan tepat mengenai hiat-to yang penting sehingga dia tidak bisa berkutik lagi....

Dalam pada itu Ciok Jing suami-istri yang dilayani Hong Ban-li dalam sedang minum di ruangan tamu itu pun merasakan sesuatu yang aneh pada orang-orang Swat-san-pay yang dilihatnya, seakan-akan setiap orang itu menyembunyikan rahasia apa-apa.

Ciok Jing menjadi heran dan mengira janganjangan berhubung akan datangnya kedua rasul pengganjar dan penghukum dari Liong-bok-to itu, maka orang-orang Swat-sanpay itu merasa cemas dan gelisah.

Rupanya Hong Ban-li mengetahui perasaan tamunya, ia coba memberi penjelasan bahwa gurunya sudah tua, biasanya cukup sehat, tapi mendadak jatuh sakit rada berat.

Untuk mana Ciok Jing juga mendoakan agar Pek Cu-cay lekas sembuh dan minta Hong Ban-li jangan terlalu berduka.

Sementara itu hari sudah mulai gelap, Hong Ban-li perintahkan orang menyiapkan perjamuan.

Kheng Ban-ciong, Kwa Ban-ki dan lain-lain ternyata tidak muncul lagi, maka Ciok Jing bertiga diiringi oleh Ban-li sendiri bersama seorang sutenya yang bernama Liok Ban-thong.

Sekali ini Ciok Boh-thian juga disilakan duduk dan disuguhi arak.

Dengan alasan minum arak untuk bikin hangat badan, berulang-ulang Ban-li menyilakan tamunya penghabisan isi cawan sehingga Bin Ju sampai-sampai menghabiskan tiga cawan.

Sekonyong-konyong terasa suatu arus panas menaik dari dalam perut, menyusul dada pun terasa panas sebagai dibakar, cepat Bin Ju mengerahkan lwekang untuk bertahan, katanya dengan tertawa.

"Hong-hiante, arakmu ini sungguh lih... lihai! Agaknya Ciok Jing juga merasakan hebatnya arak itu, mendadak ia berbangkit dan membentak.

"Arak apakah ini?"

"Ini adalah som-yang-ciu (arak kolesom) yang memang agak keras sedikit tapi rasanya tak sampai memabukkan Hian-sohsiang-kiam, bukan?"

Sahut Ban-li dengan tertawa. Dengan suara bengis Ciok Jing membentak pula.

"Kau... kau...."

Tapi mendadak tubuhnya menggeliat dan akan jatuh.

Cepat Bin Ju dan Ciok Boh-thian berbangkit dan bermaksud memayang Ciok Jing, tak terduga mereka berdua berbareng juga merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang.

Sekaligus mereka pun roboh dan terduduk kembali di tempatnya masing-masing tak sadarkan diri.

Entah berselang berapa lama, dengan lwekang Ciok Boh-thian yang kuat itu perlahan-lahan ia siuman lebih dulu.

Semula ia mengira di dalam mimpi saja, perlahan-lahan ia menggerakgerakkan tangannya dan bermaksud menahan tubuhnya untuk berduduk, sekonyong-konyong terasa kedua tangannya terkatup oleh sesuatu benda yang keras dan dingin.

Ia terkejut, pikirannya lantas jernih seketika.

Maka tahulah dia bahwa kaki dan tangannya telah terbelenggu semua.

Waktu ia membuka mata, ternyata keadaan gelap gulita dan tidak mengetahui di mana ia berada.

Ia coba berdiri dan melangkah ke depan, tapi baru dua tindak saja.

"blang" , batok kepalanya lantas membentur dinding yang keras. Ia coba tenangkan diri sambil raba-raba kepalanya yang benjut Perlahan-lahan ia meraba-raba dinding di sekelilingnya, kiranya dia terkurung di dalam sebuah kamar batu yang kecil. Keadaan gelap gulita, hanya pada ujung kiri sana remang-remang ada cahaya yang menembus masuk. Ketika diperiksa, kiranya adalah sebuah lubang sebesar belasan senti, jangankan manusia, anjing pun susah menerobos lewat. Ia coba ketokketok dinding batu dengan borgol di tangannya itu sehingga mengeluarkan suara gemerantang yang nyaring, nyata dinding batu itu sana tebal dan kukuh. Boh-thian duduk bersandarkan dinding dan mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi.

"Mengapa aku bisa sampai di sini? Apa barangkali arak kolesom yang mereka suguhkan itu dicampur dengan obat tidur sehingga Ciok-cengcu suami-istri juga jatuh pingsan di tempat perjamuan itu. Tampaknya orangorang Swat-san-pay berkeras akan membunuh Ciok Tiong-giok, khawatir kalau Ciok Jing berdua membelanya, maka mereka perlu dipulaskan lebih dulu dengan obat tidur. Tapi mengapa mereka belum membunuh aku? Ah, besar kemungkinan karena Wi-tek Siansing sedang sakit, mereka sengaja mengurung kami untuk beberapa hari lagi dan akan diputuskan sendiri oleh Witek Siansing bila sakitnya sudah sembuh."

Lalu terpikir pula olehnya.

"Bilamana Wi-tek Siansing tanya padaku, asal aku mengatakan bahwa aku adalah Kau-cap-ceng dan bukan Ciok Tiong-giok, kukira dia pasti akan membebaskan diriku. Tapi Ciok-cengcu berdua belum tentu akan dibebaskan olehnya, boleh jadi akan tetap dipenjarakan sebagai sandera sampai tertangkapnya Ciok Tiong-giok yang tulen. Selama dipenjarakan, orang halus dan suka bersih sebagai Ciok-hujin apakah tahan di tempat yang gelap dan kotor seperti ini, wah, entah betapa dia akan merana. Cara bagaimanakah aku harus mencari suatu akal untuk menolong Ciok-hujin dan Ciok-cengcu, habis itu barulah aku akan bicara menurut aturan dengan Pek-loyacu."

Demi teringat harus bertempur seketika ia menjadi sedih pula, padahal dirinya sekarang dalam keadaan terborgol dan memerlukan pertolongan orang lain, cara bagaimana pula dapat pergi menolong Ciok-cengcu berdua?

Di dalam Lengsiau-sia ini adalah orang-orang Swat-san-pay semua, siapa yang mau menolongnya?

Ia coba meronta dan membetot-betot borgol itu, tapi hanya terdengar suara gemerencing rantai saja, kiranya di antara borgol tangan dan kaki itu tersambung pula beberapa utas rantai besi.

Pada saat itulah mendadak dari lubang kecil di dinding tadi ada cahaya lampu menembus masuk.

Ada orang mendekati kamar batu itu dengan membawa pelita.

Menyusul dari luar lubang dinding itu terlihat disodorkan masuk sebuah kuali kecil yang berisi setengah kuali nasi, di atas nasi terdapat beberapa iris sayur asin, sepasang sumpit tertancap di atas nasi pula.

Boh-thian tidak pikirkan lagi tentang pura-pura menjadi gagu segala, segera ia berteriak.

"He, he! Aku ingin bicara dengan Pek-loyacu, lekas sampaikan kepada beliau!"

Tapi orang di luar itu hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Sinar pelita tadi lambat laun menjadi pudar dan akhirnya lenyap.

Ternyata orang itu telah pergi tanpa menggubris permintaan Boh-thian.

Terendus bau sedapnya nasi barulah Boh-thian ingat perutnya sudah lapar.

Padahal ia ingat sudah makan cukup banyak dalam perjamuan itu, mengapa sekarang sudah lapar sekali.

Rupanya waktu tak sadar dan terkurungnya di kamar batu itu sudah cukup lama.

Tanpa pikir lagi segera ia pegang kuali nasi itu, sumpit lantas bekerja dan makan dengan lahap, hanya sekejap saja isi kuali itu sudah disapu bersih ke dalam perutnya.

Habis makan ia taruh kuali kosong itu di tempatnya semula.

Beberapa kali ia coba membetot lagi, tapi borgol di kakitangannya itu ternyata terbuat dari baja, biarpun ia mengerahkan segenap lwekangnya juga susah mematahkannya, sebaliknya pergelangan tangan dan kaki sendiri yang kesakitan dan lecet.

Ia coba meraba daun pintu kamar batu itu, akhirnya ia menemukan garis celah-celah pintu, sekuatnya ia mendorong dengan pundak, tapi pintu batu tidak bergerak sedikit pun.

Boh-thian menjadi putus asa dan menerima nasib di samping mengkhawatirkan keselamatan Ciok Jing dan istrinya.

Daripada susah-susah akhirnya ia tidak mau pikir lagi, dengan bersandarkan dinding ia pejamkan mata dan tidur.

Di dalam kamar tahanan yang gelap gulita itu susah diketahui sudah lewat berapa lamanya, besar kemungkinan sudah menunggu satu hari barulah ada orang mengantarkan nasi lagi.

Terlihat sebuah tangan menjulur masuk dari luar lubang dinding untuk mengambil kuali kosong.

Sekilas benak Ciok Boh-thian timbul suatu akal.

Ketika orang itu memasukkan makanan pula, secepat kilat Boh-thian menubruk maju, di tengah gemerencingnya rantai besi, tahutahu pergelangan tangan orang itu sudah terpegang.

Dengan kim-na-jiu-hoat ditambah lwekang yang lihai, sekali tangannya sudah dipegang Ciok Boh-thian, biarpun tokoh terkemuka di dunia persilatan juga tidak tahan, apalagi sekarang hanya seorang pengantar makanan biasa saja?

Keruan orang di luar itu kaget, saking kesakitan ia menjerit laksana babi hendak disembelih.

Ketika Ciok Boh-thian sedikit menarik, seluruh lengan orang itu telah kena diseret masuk ke dalam, bentaknya.

"Jangan berteriak, kalau berteriak lagi segera kubetot putus lenganmu!"

Terpaksa orang itu minta ampun.

"Tidak, aku takkan berteriak lagi. Lek... lekas engkau melepaskan tanganku!"

"Buka dulu pintu kamar batu ini, lepaskan aku keluar,"

Sahut Boh-thian.

"Baik, lepaskan tanganku, biar kubuka pintunya,"

Kata orang itu.

"Sekali kulepaskan tentu kau akan lari, tidak dapat kulepaskan tanganmu,"

Ujar Boh-thian.

"Habis, cara bagaimana aku dapat membukakan pintunya?"

Jawab orang itu.

Boh-thian pikir benar juga alasan orang itu.

Kalau melulu memegangi tangannya saja terang tak berguna.

Tapi dengan susah payah tangan orang sudah kena dipegang, masakah sekarang lantas dilepaskan begitu saja?

Tiba-tiba ia mendapat akal pula, katanya.

"Lekas serahkan kunci borgol kaki-tanganku ini!"

"Kunci?"

Orang itu menegas.

"Wah, buk... bukan aku yang memegang kuncinya. Hamba cuma seorang pengantar ransum saja."

Boh-thian merasa curiga atas pada jawaban orang. Ia pikir toh sudah tiada jalan lain, terpaksa orang ini harus didesak terus. Segera ia genggam lebih keras sambil berkata.

"Baiklah, biar kupatahkan dulu tanganmu dan urusan belakang!"

Keruan orang itu berkuik-kuik kesakitan pula.

Di luar dugaan, sesudah mengaduh-aduh beberapa kali, akhirnya terdengar suara nyaring, sebuah kunci telah terlempar masuk.

Ternyata orang itu sangat licin sekali, dia sengaja melemparkan kunci ini jauh-jauh sehingga tangan Boh-thian tidak sampai untuk mengambilnya.

Jika mau ambil kunci itu terpaksa pemuda itu harus melepaskan dulu tangannya.

Bab 39.

Dengan Perkasa Ciok Boh-thian Menolong Supopo dan A Siu Seketika Boh-thian menjadi bingung juga.

Sambil membetot sekuatnya tangan orang itu Boh-thian mengulurkan sebelah kakinya ke belakang untuk meraih kunci borgol itu.

Namun meski lengan orang itu sudah terbetot sampai-sampai hampir copot dari ruasnya toh masih belum bisa mencapai kunci itu.

Sebaliknya orang itu menjerit-jerit kesakitan pula seperti babi.

"Aduh, aduuuh! Jangan tarik lagi, kalau tarik lagi tanganku tentu putus!"

Melihat kaki sendiri tidak bisa mencapai tempat kunci, tiba-tiba Boh-thian mendapat akal pula, cepat ia menanggalkan sebelah sepatunya sendiri, ia incar dinding sebelah sana, lalu sepatu itu ditimpukkan sekuatnya.

Ketika sepatu itu membentur dinding dan terpental balik, dengan tepat kunci yang terletak di tanah itu juga tersampuk dan terbawa ke sebelah sini.

Boh-thian sampai bersorak saking senangnya karena akalnya mencapai hasil yang diharapkan.

Segera ia jemput kunci itu dan memakai kembali sepatunya.

Secara bergantian ia membuka kedua belah borgol tangannya.

Habis itu mendadak "krek", ia gunakan borgol itu untuk membelenggu tangan orang itu.

Keruan orang itu terkejut.

"He, ap... apa yang kau lakukan?"

Serunya takut.

"Sekarang bolehlah kau membukakan pintu kamar tahanan ini,"

Kata Boh-thian dengan tertawa sambil mengeluarkan rantai borgol.

Tapi orang itu masih ragu-ragu, Boh-thian menjadi tidak sabar, ia tarik rantai borgol sehingga lengan orang itu terseret ke dalam lubang lagi.

Rupanya agak keras juga tenaga yang digunakan Ciok Boh-thian sehingga muka orang itu tertumbuk dinding, kontan batok kepalanya benjut dan hidung keluar kecapnya.

Orang itu sadar tidak dapat membangkang lagi, terpaksa sambil menyeret rantai borgol ia membukakan pintu kamar batu itu.

Akan tetapi ujung rantai yang lain masih terikat pada borgol kaki Ciok Boh-thian, meski pintu sudah terbuka, namun kedua ujung rantai besi itu menembus lubang dinding batu dan terikat pada tangan dan kaki dua orang, jadi Ciok Boh-thian tetap tidak dapat keluar.

"Coba serahkan kunci borgol kakiku ini,"

Kata Boh-thian sambil menarik rantai borgol tangan orang itu.

"Aku benar-benar tidak memegang kuncinya,"

Sahut orang itu dengan wajah sedih.

"Hamba benar-benar cuma seorang pengantar makanan saja dan tidak berkuasa memegang kunci."

"Baiklah, jika begitu tunggulah sesudah aku keluar dahulu,"

Kata Boh-thian.

Segera ia tarik pula lengan orang itu ke dalam lubang dan membukakan borgolnya.

Begitu tangannya terlepas dari borgol, dengan cepat orang itu lantas berlari ke sana dan bermaksud menutup kembali pintunya.

Akan tetapi semuanya ini sudah dalam perhitungan Ciok Boh-thian, secepat kilat ia sudah melompat ke sana dan menyelinap keluar pintu.

Sekali cengkeram segera ia bekuk kuduk orang itu dan diangkat ke atas.

Ia lihat orang itu berjubah putih, badannya kekar, mukanya cerdas, terang adalah anak murid Swat-san-pay dan bukan pengantar nasi saja seperti pengakuannya tadi.

Segera ia membentaknya.

"Kau mau buka borgol kakiku atau tidak? Atau kau minta kutumbukkan kepalamu di atas dinding batu ini?"

Sebenarnya ilmu silat orang itu juga tidak lemah, tapi kebentur di tangan Ciok Boh-thian orang itu menjadi seperti anak ayam dicengkeram oleh elang, sedikit pun tidak dapat berkutik.

Tiada jalan lain terpaksa ia mengeluarkan kunci dan membuka borgol kaki pemuda itu.

"Di mana kalian telah mengurung Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, lekas membawa aku ke sana,"

Bentak Boh-thian.

"Sebenarnya Swat-san-pay tiada permusuhan apa-apa dengan Hian-soh-ceng, maka Ciok-cengcu suami-istri sudah pergi tanpa cedera sesuatu apa pun,"

Sahut orang itu.

Boh-thian merasa sangsi, sekilas dilihatnya orang itu melirik ke arah pintu yang terletak di ujung lorong sebelah sana, ia pikir orang ini tentu berdusta, boleh jadi Ciok-cengcu berdua terkurung di kamar sana.

Segera ia menyeret orang itu ke depan pintu batu itu, lalu bentaknya.

"Lekas membuka pintu ini."

Air muka orang itu tampak berubah pucat, katanya.

"Aku... aku tidak punya kuncinya! Yang terkurung di dalam ini bukan... bukan manusia, tapi adalah... adalah seekor singa dan dua ekor macan, jika dibuka tentu bisa celaka."

Boh-thian merasa heran bahwa yang terkurung di dalam situ adalah singa dan harimau, ia coba menempelkan telinganya ke pintu dan mendengarkan dengan cermat, tapi tak terdengar sesuatu suara binatang-binatang buas itu.

"Engkau toh sudah terlepas, silakan lekas melarikan diri saja, jika tinggal lebih lama di sini, jangan-jangan akan dipergoki orang dan mungkin engkau akan tertangkap pula,"

Demikian kata orang itu setengah menakut-nakuti.

Boh-thian pikir kau toh bukan kawanku, mengapa sedemikian baik hatimu memikirkan keselamatanku?

Padahal tadi aku minta dibukakan borgol saja kau tidak mau, sekarang malah suruh aku lekas melarikan diri.

Jangan-jangan Ciok-cengcu berdua memang benar-benar dikurung di dalam kamar ini.

Segera ia angkat tubuh orang itu, ia benturkan kepalanya dengan perlahan di dinding batu, lalu bertanya.

"Kau mau buka pintu tidak? Atau minta kepalamu pecah? Hm, aku justru ingin tahu macam apa singa dan harimau yang kau katakan itu."

"Ai, binatang-binatang itu sangat buas, sudah beberapa hari tidak diberi makan, bila melihat manusia nanti pasti akan terus menerkam...."

Karena buru-buru ingin menolong Ciok Jing dan istrinya, Bohthian merasa sebal akan ocehan orang, tanpa menunggu selesai uraiannya segera ia jungkirkan tubuh orang itu dan dikocok-kocok untuk memaksanya menurut.

Di luar dugaan lantas terdengar suara gemerencing nyaring, dari baju orang itu telah terjatuh dua buah kunci.

Boh-thian sangat girang, segera ia lemparkan orang itu ke tanah dan cepat menjemput kunci-kunci itu untuk membuka pintu batu.

Benar juga, hanya sekali putar saja segera kunci pintu itu terbuka.

Dalam pada itu orang tadi telah menjerit kesakitan, cepat ia merangkak bangun dan segera putar tubuh hendak angkat langkah seribu.

Namun Boh-thian tidak memberi kesempatan padanya.

Ia pikir kalau orang ini sampai lari keluar dan memanggil kawan, tentu akan banyak menimbulkan kesukaran lagi.

Secepat terbang Boh-thian lantas memburu maju, sekali jambret segera orang itu diseretnya terus dijebloskan ke dalam kamar tahanannya sendiri tadi, sekalian ia lemparkan borgol kaki dan tangan beserta rantainya ke dalam dan menutup pintunya, bahkan dikunci pula dari luar.

Habis itu barulah ia kembali ke kamar batu di ujung lorong sana.

"Ciok-cengcu! Ciok-hujin! Apakah kalian berada di sini?"

Seru Boh-thian sambil melongok ke dalam kamar.

Tapi tak terdengar suara jawaban apa-apa.

Ia coba pentang pintu lebih lebar, ternyata di dalam tiada terdapat seorang pun.

Sebaliknya kira-kira dua-tiga meter di sebelah sana terdapat sebuah pintu pula.

Pikirnya.

"Ya, pantas ada dua buah kunci."

Segera ia menggunakan kunci yang lain untuk membuka pintu kedua, baru saja pintu itu terbuka sedikit dan belum lagi ia bersuara, tiba-tiba terdengarlah ada orang sedang mencaci maki di dalam situ.

"Jahanam keparat, haram jadah! Akan kusembelih dan potong-potong kalian agar kalian sekarat setengah mampus...."

Dan di samping itu terdengar pula suara gemerencingnya rantai besi.

Suara caci maki orang itu kedengaran sangat berat, rupanya tenggorokannya serak, sama sekali bukan logat orang Kanglam sebagaimana suaranya Ciok Jing.

Maka percayalah Boh-thian bahwa Ciok Jing dan istrinya memang tidak dipenjarakan di situ.

Tapi lantas terpikir olehnya mengapa tidak membebaskan sekalian orang yang ditawan Swat-san-pay ini.

Karena itu ia lantas berseru.

"He, kau tidak perlu memaki lagi, biar kutolong kau keluar dari sini!"

Namun orang itu masih terus memaki.

"Huh, kau kutu macam apa? Berani mengaco-belo dan menipu Locu? Apa kau minta kupuntir putus lehermu...."

Boh-thian merasa geli dan anggap perangai orang benar sangat kasar.

Tapi ia pun maklum, siapa pun kalau dikurung di tempat demikian tentu akan merasa sebal dan tertekan pantas kalau orang ini pun marah-marah.

Ia lantas melangkah ke dalam kamar dan berkata.

"Apakah engkau juga diborgol dan dirantai oleh mereka?"

Tapi baru sekian ia berkata, dalam kegelapan sekonyongkonyong sesuatu benda yang berat terasa mengepruk dari atas.

Cepat Boh-thian berkelit ke samping, namun belum lagi dia berdiri kuat, tahu-tahu hiat-to penting di bagian punggung sudah kena dicengkeram orang, menyusul lehernya lantas dicekik oleh sebuah lengan yang besar dan kuat, makin lama makin kencang sehingga napasnya sesak seketika, telinganya sampai mendenging-denging dan mata mulai berkunangkunang, sebaliknya terdengar pula suara caci maki orang itu.

Sama sekali Boh-thian tidak menduga bahwa di dalam kamar tahanan situ akan terdapat jago selihai itu.

Sekali kena didahului orang, seketika ia pun tak berdaya, diam-diam ia hanya mengeluh dan sedapat mungkin mengerahkan tenaga ke bagian lehernya untuk melawan cekikan lengan orang itu.

Meski daging bagian tenggorokan cukup lemas dan tidak sekuat lengan, tapi lwekang Ciok Boh-thian teramat hebat, semakin bertempur semakin kuat, di mana tenaganya sampai, tangan orang itu ternyata dapat ditolak agak kendur.

Cepat Boh-thian mengambil napas, ketika lengan orang itu hendak mengait kembali dengan lebih kencang, tanpa ayal lagi tangan kanan Ciok Boh-thian lantas digunakan untuk menarik, berbareng kepalanya lantas memberosot ke bawah sambil melompat mundur.

"Hai, dengan maksud baik aku hendak menolong kau keluar, mengapa tanpa bertanya engkau menyerang aku malah?"

Seru Boh-thian dengan mendongkol.

"Eh, sia... siapa kau? Boleh juga ya kepandaianmu?"

Demikian orang itu sangat terkejut sambil memandang Boh-thian dengan mata terbelalak lebar. Selang sejenak, kembali ia bersuara heran, lalu membentak.

"Anak busuk, siapa kau?"

"Aku... aku...."

Seketika Ciok Boh-thian menjadi bingung untuk menjawab apa mesti mengaku bernama Kau-cap-ceng atau tetap memalsukan nama Ciok Tiong-giok?

"Ya, kau dengan sendirinya adalah kau, masakah tidak punya nama?"

Semprot orang itu.

"Loyacu, biar kutolong kau keluar dahulu, segala urusan boleh kita bicarakan nanti,"

Ujar Boh-thian.

"Apa? Kau hendak menolong aku? Hahaaah! Apakah gigi orang seluruh dunia ini takkan copot semua menertawakan kau? Hahaha, siapakah aku ini? Dan macam apakah kau itu? Huh, hanya sedikit kepandaianmu yang mirip cakar ayam saja mampu menolong aku?"

Dari dekat sekarang Boh-thian dapat melihat orang itu sudah tua, jenggotnya sudah putih, tubuhnya tinggi besar tapi agak bungkuk seakan-akan kamar batu yang kecil ini kurang tinggi bagi tubuhnya yang tegap itu, kedua matanya lekuk ke dalam, tapi sorot matanya tajam berwibawa.

Boh-thian sampai mengirik ketika sinar mata orang itu menyapu kian-kemari di atas mukanya.

Pikirnya.

"Orang Swatsan-pay tadi bilang di kamar ini terkurung singa dan harimau, melihat macamnya orang ini ternyata benar-benar mirip seekor binatang buas."

Ia tidak berani banyak bicara lagi padanya, segera katanya.

"Loyacu, biar kupergi mencari kunci untuk membuka borgolmu."

Orang tua itu menjadi gusar, dampratnya.

"Aku tidak perlu, aku sendiri suka tinggal tirakat di sini, kalau tidak, di dunia ini siapa yang mampu mengurung aku? Huh, kau bocah ini barangkali tidak punya mata, masakah anggap aku dikurung orang di sini? Hehe, untung saat ini Yaya lagi sabar, kalau tidak tentu badanmu sudah kurobek-robek."

Ketika kedua tangannya digoyang-goyangkan, terdengarlah suara gemerencing rantai borgolnya. Lalu ditambahkannya.

"Ini, sekali Yaya sudah murka, apa artinya rantai-rantai seperti ini, apa gunanya borgol-borgol ini, hm, dalam pandanganku tidak lebih seperti tahu yang empuk."

Sudah tentu Boh-thian tidak mau percaya, ia pikir tutur kata orang ini kok mirip orang gila, tapi kepandaiannya sangat tinggi pula, akan kutolong berbalik aku hendak dipentung.

Lebih baik kutinggal pergi untuk mencari Ciok-cengcu saja.

Maka katanya kemudian.

"Baiklah, jika begitu biar aku pergi saja dari sini!"

"Pergi ya pergi, lekas enyah kau! Selamanya Yaya malang melintang di dunia ini tanpa ketemu tandingan masakah mengharapkan pertolongan bocah ingusan macam kau? Hahaha, benar-benar lucu, sungguh menggelikan...."

"Ya, sudah, maaf, maaf!"

Kata Boh-thian sambil mengundurkan diri dan perlahan-lahan merapatkan kembali daun pintu.

Jalan lorong itu cukup panjang, Boh-thian menyusur ke sana dan membelok satu kali, sesudah belasan meter lagi barulah sampai di ujung.

Tertampak di kanan-kiri masing-masing terdapat sebuah pintu.

Ia coba mendorong pintu sebelah kiri, tapi tertutup kencang, waktu mendorong pintu yang lain dengan mudah saja pintu itu lantas terpentang.

Kiranya di situ adalah sebuah ruangan.

Tidak seberapa jauh memasuki ruangan itu lantas terdengar dari arah kiri sana ada suara beradunya senjata, agaknya pertempuran cukup sengit.

"Kiranya Ciok-cengcu sedang bertempur dengan orang di sini,"

Demikian pikir Boh-thian.

Segera menuju ke arah datangnya suara.

Akan tetapi ia tidak menemukan pintu yang menuju ke tempat suara pertempuran itu.

Karena khawatirkan keselamatan Ciok Jing dan Bin Ju, ketika dilihatnya dinding papan di sebelah sana tidak terlalu tebal, segera ia menumbuknya dengan bahunya dan kontan dinding papan itu jebol.

Seketika suara nyaring beradunya senjata tambah keras dan ramai.

Kiranya di situ juga sebuah ruangan, empat laki-laki berjubah putih dan berpedang sedang mengerubut dua orang wanita.

Sesudah mengenali kedua orang wanita itu, tanpa merasa Bohthian terus berteriak.

"He, Suhu, A Siu! Kalian berada di sini?!"

Kiranya kedua wanita itu tak-lain-tak-bukan adalah Su-popo dan cucu perempuannya, si A Siu.

Su-popo memakai golok dan A Siu memutar sebatang pedang, dengan rambut kusut kedua orang sedang melawan kerubutan empat murid Swat-san-pay.

Baju nenek dan cucu itu tampak berlepotan darah, agaknya sudah terluka, keadaannya cukup mengkhawatirkan.

Mereka mendengar juga seruan Ciok Bohthian, tapi serangan-serangan keempat lawannya terlalu gencar sehingga tidak sempat menoleh.

Bahkan lantas terdengar jeritan kaget A Siu, pundaknya tertusuk musuh pula.

Walaupun tidak bersenjata, tanpa pikir Ciok Boh-thian lantas menerjang maju, kontan punggung orang yang sedang mencecar A Siu itu hendak dicengkeramnya.

Cepat orang itu berkelit dan balas menebas dengan pedangnya.

Mendadak tangan kanan Ciok Boh-thian menyampuk pula sehingga pedang orang itu terguncang ke samping, menyusul tangan kiri Ciok Boh-thian lantas menggaplok ke arah seorang tua yang lain.

Namun orang tua itu ternyata tidak kalah cepatnya tahu-tahu pedangnya sudah mendahului menusuk perut Boh-thian.

Serangan itu benar-benar sangat lihai dan cepat, untung Bohthian tempo hari sudah mendapat didikan Su-popo, terhadap intisari ilmu pedang Swat-san-pay sudah dipahami dengan baik, diketahui bahwa serangan si orang tua adalah jurus yang bernama "Leng-sing-song-bwe" (Sepasang Pohon Bwe di Atas Bukit), mestinya cuma satu jurus, tapi mempunyai dua gerakan, tusukan pertama segera disusul dengan tusukan kedua.

Maka cepat Boh-thian mengerutkan perutnya ke belakang untuk menghindar, menyusul tangan kiri lantas mengebut ke bawah, jarinya segera menyelentik.

Benar juga, saat itu tusukan kedua si orang tua sedang dilancarkan sehingga pedangnya seakan-akan sengaja disodorkan untuk diselentik Ciok Boh-thian.

Maka terdengarlah suara "tring"

Sekali, kontan pedang itu patah menjadi dua.

Separuh tubuh si orang tua sampai kesemutan karena getaran tenaga selentikan itu, tanpa kuasa lagi setengah potong pedang juga terlepas dari cekalan, cepat ia melompat mundur dengan muka pucat.

Boh-thian tidak mendesak lebih jauh, orang yang sedang menyerang A Siu lantas kena dicengkeram terus diangkat dan dijujukan ke arah pedang kawannya yang datang hendak menolong.

Keruan orang itu terkejut dan cepat menarik kembali senjatanya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Boh-thian, kontan ia menghantam dan tepat mengenai dadanya, orang itu terhuyung-huyung mundur dan akhirnya jatuh terduduk.

Menyusul Boh-thian lantas melemparkan tawanannya ke arah orang keempat.

Orang itu sedang melabrak Su-popo dengan mati-matian, ia menjadi kaget dan tidak sempat menghindar lagi, ia kena ditumbuk dengan keras oleh tubuh kawannya sendiri, kedua orang sama-sama muntah darah dan menggeletak tak sadarkan diri.

Hanya dalam sekejap saja keempat orang itu telah dirobohkan semua oleh Ciok Boh-thian, hanya si orang tua saja yang belum terluka.

Namun nyalinya menjadi pecah juga demi menyaksikan ketangkasan Boh-thian yang lihai itu.

"Kau... kau...."

Demikian entah apa yang hendak dikatakannya, mendadak ia putar tubuh terus hendak lari.

"Jangan membiarkan dia lari!"

Seru Su-popo. Cepat Boh-thian melompat maju, sekali kakinya menyapu, kontan orang tua itu terjungkal, kedua lutut kakinya keseleo semua dan tak bisa bangun.

"Bagus, muridku yang bagus! Murid pertama dari Kim-oh-pay kita memang benar-benar hebat!"

Seru Su-popo dengan tertawa. Wajah A Siu tampak putih pucat, sepasang matanya memandang Boh-thian dengan sayu merawan, nyata sekali hatinya sangat girang.

"Suhu, A Siu, sungguh tidak nyana dapat berjumpa dengan kalian di sini,"

Kata Boh-thian.

Buru-buru Su-popo membalut luka si A Siu, menyusul nona itu pun merobek ujung bajunya sendiri untuk membalut luka sang nenek.

Syukurlah luka kedua orang tidak parah sehingga tidak menjadi halangan.

"Tempo hari waktu aku kehilangan kalian di Ci-yan-to, sungguh aku merasa sangat kesepian, sekarang kita telah berjumpa pula, paling baik paling baik untuk selanjutnya kita jangan berpisah lagi,"

Demikian kata Boh-thian.

Muka A Siu yang pucat itu seketika bersemu merah dan menunduk malu.

Ia tahu sifat Ciok Boh-thian yang tulus jujur dan tidak pandai bicara.

Apa yang diucapkan itu jelas timbul dari lubuk hatinya yang murni, walaupun dirasakan malu juga karena pemuda itu terang-terangan menyatakan isi hatinya di depan sang nenek, tapi tidak urung hati A Siu merasa sangat senang.

Su-popo tertawa mengekek, katanya.

"Jika kau sudah berjasa besar, hal ini bukan mustahil akan terlaksana dan boleh anggap nenek sendiri yang telah meluluskan permintaanmu."

Kepala A Siu makin menunduk, mukanya tambah merah lantaran malu. Sebaliknya Ciok Boh-thian masih belum tahu bahwa ucapan Su-popo itu berarti telah menerima lamarannya. Dengan bingung ia malah tanya.

"Suhu meluluskan permintaanku soal apa?"

"Aku mengizinkan cucu perempuanku ini menjadi istrimu, kau mau tidak? Kau ingin tidak? Kau suka tidak?"

Kata Su-popo dengan tertawa. Boh-thian terkejut campur girang.

"Aku... aku sudah tentu suka...."

Sahutnya dengan tergagap-gagap.

"Tapi kau harus berjuang dan berjasa dahulu,"

Kata Su-popo.

"Sekarang Swat-san-pay sedang terjadi huru-hara, kita harus pergi menolong satu orang dahulu."

"Ya, memangnya aku hendak menolong Ciok-cengcu dan Ciokhujin, marilah kita lekas pergi mencarinya,"

Sahut Boh-thian. Teringat keadaan Ciok Jing suami-istri dalam keadaan bahaya, seketika hatinya menjadi gelisah sehingga urusan A Siu tak terpikir lagi.

"Apakah Ciok Jing dan istrinya juga sudah datang di sini?"

Tanya Su-popo.

"Kita harus mengamankan pemberontakan dahulu, soal Ciok Jing berdua adalah urusan biasa saja. A Siu, binasakan saja keempat orang ini!"

Segera A Siu menghunus pedang dan melangkah maju.

Tibatiba dilihatnya si orang tua yang kedua kakinya keseleo tadi sedang duduk bersandarkan dinding, sorot matanya penuh mengunjuk rasa minta diampuni.

Maka A Siu menjadi tidak sampai hati untuk membunuhnya.

Katanya.

"Nenek, beberapa orang ini bukanlah biang keladinya, mereka hanya ikut-ikutan saja, sementara ini biarlah diampuni dahulu, nanti sesudah diperiksa dan jika memang bersalah barulah dibunuh."

"Ya, sudah! Hayo lekas, jangan sampai bikin runyam urusan, lekas berangkat!"

Sahut Su-popo.

Segera ia mendahului melangkah pergi dan disusul oleh Boh-thian dan A Siu.

Cepat sekali Su-popo menyusur serambi dan melintasi ruangan-ruangan, setiap kali ada orang datang dari depan mereka lantas sembunyi di pojok atau di belakang pintu untuk menghindar, tampaknya nenek itu hafal sekali terhadap setiap kamar dan ruangan di situ.

Boh-thian jalan berjajar dengan A Siu dari belakang, dengan suara tertahan ia tanya si nona.

"Suhu suruh aku berjuang dan berjasa apa? Siapakah yang akan ditolong?"

Baru saja A Siu akan menjawab, tiba-tiba terdengar suara tindakan yang ramai, dari depan telah mendatangi lima atau enam orang.

Lekas Su-popo sembunyi di balik sebuah tiang yang besar.

Segera A Siu juga menarik Boh-thian untuk sembunyi di belakang pintu.

Beberapa orang itu sambil berjalan sembari mengobrol.

Kata seorang di antaranya.

"Sesudah bergotong royong bersamasama dan dapat mengurung si tua gila itu barulah kita merasa lega. Selama beberapa hari ini hidup kita benar-benar sangat tertekan dan terancam."

"Ya, selama Si Gila itu belum binasa, selalu pula kita belum bebas dari ancaman,"

Kata seorang lagi.

"Ce-supek masih ragu-ragu saja, bukan mustahil bisa membikin urusan menjadi runyam malah."

Segera seorang dengan suara kasar menanggapi.

"Memangnya, daripada kerja kepalang tanggung, mestinya kita bereskan Ce-supek sekalian! "Hus,"

Bentak seorang kawannya dengan suara tertahan.

"Kata-kata demikian masakah boleh kau ucapkan dengan keras? Jika didengar oleh anak muridnya Ce-supek, sebelum kita menumpas mereka boleh jadi buah kepalamu sudah berpisah dengan kau."

Orang yang bersuara kasar itu rupanya menjadi penasaran, sahutnya.

"Kalau perlu biar kita coba-coba dengan mereka, masakah kita pasti kalah?"

Begitulah orang-orang itu makin menjauh. Ciok Boh-thian yang berjubelan sembunyi di belakang pintu bersama A Siu dapat merasakan badan anak dara itu rada gemetar. Dengan berbisik-bisik ia tanya.

"Apakah kau takut, A Siu?"

"Ya, aku agak takut,"

Sahut si nona.

"Jumlah mereka sangat banyak mungkin kita tak dapat melawan mereka."

Dalam pada itu Su-popo telah keluar dari tempat sembunyinya dan berseru tertahan kepada mereka.

"Ayo, lekas!"

Segera ia mendahului menyusur ke depan dengan cepat.

Sesudah melalui sebuah pelataran luas dan menembus sebuah serambi yang panjang, akhirnya mereka sampai di suatu taman bunga yang luas.

Taman itu penuh salju, hanya kelihatan sebuah jalanan kecil dari batu-batu kecil menembus ke suatu ruangan tertutup.

Su-popo mendekam di balik sebatang pohon, ia comot segumpal salju, sesudah dikepal segera disambitkan keluar ruangan tertutup tadi.

"plok"

Batu salju itu jatuh di tanah dan mengejutkan dua orang penjaga yang berdiri di samping ruangan itu.

Cepat mereka berlari datang untuk memeriksa dengan pedang terhunus.

Menunggu kedua orang itu sudah dekat, sekonyong-konyong Su-popo melompat keluar, goloknya menebas dua kali dengan cepat luar biasa.

Kontan leher kedua orang itu tertebas, tanpa bersuara sedikit pun kedua orang itu terjungkal binasa.

Untuk pertama kalinya Ciok Boh-thian menyaksikan Su-popo membunuh orang secara ganas, tanpa merasa bulu romanya sama berdiri.

Selang sejenak baru teringat olehnya bahwa jurus serangan Su-popo tadi pernah juga diajarkan padanya di Ci-yan-to tempo hari, jurus itu bernama "Cay-au-to" (Golok Menebas Tenggorokan) dan dirinya sudah mahir menggunakannya, cuma selama ini belum pernah terpikir olehnya bahwa jurus serangan itu ternyata sedemikian bagus dan cepat untuk membunuh orang.

Ketika dia tenang kembali, sementara itu Su-popo sudah menyeret kedua mayat ke belakang gunung-gunungan, lalu dengan enteng sekali ia mendekati jendela ruangan tertutup itu untuk mendengarkan.

Telinga Ciok Boh-thian amat tajam, belum dekat dengan jendela itu sudah didengarnya di dalam ruangan itu ada suara dua orang sedang bertengkar.

Meski suara mereka tidak terlalu keras, tapi terang keduanya sama-sama marah dan tidak mau mengalah.

Terdengar seorang di antaranya berkata.

"Menangkap harimau adalah gampang dan celakalah kalau melepaskannya. Peribahasa ini tentu kau sudah paham. Urusan ini sudah telanjur kita kerjakan, sekarang kau menjadi takut malah. Jikalau si tua gila itu sampai lolos keluar, tentu kita akan mati semua tanpa ampun."

Diam-diam Boh-thian berpikir.

"Jangan-jangan ‘si tua gila’ yang mereka maksudkan adalah orang tua aneh di dalam kamar tahanan itu? Tingkah laku orang tua itu memang aneh, aku mau menolong dia keluar, tapi dia justru tidak mau. Mungkin dia memang benar-benar orang gila. Ilmu silat orang tua itu memang sangat lihai, pantas kalau semua orang ini sedemikian takut kepadanya."

Maka terdengar seorang lain telah menjawab.

"Si Gila itu sudah terkurung di penjara binatang, sekalipun dia memiliki kepandaian setinggi langit juga tak mampu lolos keluar. Kalau saat ini kita mau membunuh dia adalah teramat mudah, cuma kita harus menjaga nama baik kita. Perbuatan durhaka terhadap orang tua demikian mungkin Liau-sute sendiri tidak ambil pusing, tapi aku tidak berani memikul tanggung jawabnya. Kelak kalau kita ditanyai kawan-kawan dunia persilatan, lantas cara bagaimana kita akan menjawab dan ke mana muka kita harus ditaruh?"

"Huh, jika kau takut bertanggung jawab atas perbuatan durhaka, seharusnya sejak mula kau jangan menjadi biang keladi urusan ini,"

Jengek orang pertama yang disebut she Liau itu.

"Sekarang urusan sudah dilaksanakan, kau menjadi menyesal dan ingin mengelakkan tanggung jawab. Hm, masakan di dunia ini ada soal seenak ini? Pendek kata, Cesuko, apa yang kau pikirkan sudah kuketahui, lebih baik kita bicara blakblakan saja dan tidak perlu pura-pura."

"Aku mempunyai pikiran apa? Ha, ucapan Liau-sute benarbenar berduri dan penuh tulang,"

Sahut orang she Ce.

"Apa maksudnya ucapan berduri?"

Kata si orang she Liau.

"Sesungguhnya Ce-suko cuma pura-pura baik hati dan ingin menimpakan perbuatan durhaka ini kepadaku saja. Tujuanmu ialah satu kali tembak dapat dua burung, supaya kau sendiri bisa enak-enak dan tenang-tenang naik di atas singgasana."

"Haha, aneh benar tuduhan Liau-sute ini!"

Jawab orang she Ce.

"Berdasarkan apa aku ada hak naik ke atas singgasana? Kalau mesti menurutkan urut-urutan, di atas kita masih ada Sengsuko dan tidak mungkin jatuh kepada bagianku."

Mendadak suara seorang yang lebih tua dan serak menyela.

"Kalian bertengkar urusan kalian sendiri dan tidak perlu menyangkutpautkan diriku."

"Seng-suko, engkau adalah orang jujur, kau tidak lebih hanya akan digunakan sebagai tameng oleh Ce-suko, maka segala sesuatu hendaklah kau pikirkan yang jelas, janganlah dijadikan boneka sedangkan engkau sendiri masih belum sadar,"

Demikian kata orang she Liau.

Boh-thian coba membasahi kertas perapat jendela dengan air ludahnya, perlahan-lahan ia mengorek sebuah lubang kecil, lalu mengintip ke dalam ruangan.

Ia menjadi terkejut ketika diketahui bahwa di dalam situ tidak cuma tiga orang yang bicara saja, tapi masih ada dua-tiga ratus orang lainnya, ada yang berdiri dan ada yang berduduk, laki-laki dan wanita, ada yang tua dan ada yang masih muda, semuanya berjubah putih seragam murid Swat-san-pay.

Di tengah ruangan tertampak ada lima buah kursi besar, kursi yang tengah kosong, keempat kursi di kedua sampingnya berduduk empat orang.

Terdengar ketiga orang tadi masih berdebat tak henti-hentinya.

Dari suara mereka dapat dikenali bahwa yang duduk di sebelah kiri adalah orang-orang she Seng dan Liau, seorang yang duduk di sebelah kanan terang she Ce, seorang lagi berwajah putih kurus dan muram durja seakanakan baru kematian istri.

Saat itu terdengar orang she Ce telah menegurnya.

"Nio-sute, sejak tadi kau diam saja, sesungguhnya bagaimana pendapatmu?"

Orang she Nio yang berwajah muram itu menghela napas, lalu geleng-geleng kepala, kemudian menghela napas pula dan tetap tidak membuka suara.

"Nio-sute tidak berbicara, dengan sendirinya ia menyetujui urusan ini,"

Kata si orang she Ce.

"Kau toh bukan cacing pita di dalam perut Nio-sute, dari mana kau mengetahui pikirannya?"

Debat orang she Liau dengan gusar.

"Kita berempat yang telah melakukan urusan ini, seorang laki-laki sejati, sekali sudah berbuat harus berani bertanggung jawab. Kalau berani di muka dan takut belakangan, huh, terhitung orang gagah macam apa ini?"

Tapi si orang she menjawab dengan dingin.

"Justru karena kita semua ini takut mati, makanya telah melakukan kejadian ini, masakah kita dapat disebut sebagai kesatria atau orang gagah? Lebih tepat kalau dikatakan bahwa kita sudah kepepet sehingga terpaksa menyerempet bahaya."

"Ban-li,"

Sekonyong-konyong si orang she Liau berseru.

"Coba katakan, bagaimana menurut pendapatmu?"

Maka majulah seorang ke depan, yakni Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li yang buntung sebelah tangannya. Ia memberi hormat, lalu menjawab.

"Tecu tidak mampu menyelesaikan urusan ini sehingga menimbulkan malapetaka, dosa ini saja sudah diganjar dengan kematian, masakah sekarang Tecu berani mempunyai pikiran durhaka lagi? Maka Tecu setuju dengan usul Ce-susiok, jangan sekali-kali turun tangan keji kepada beliau."

"Aku pernah menyelamatkan jiwamu, apakah kau sudah lupa?"

Bentak si orang she Liau dengan gusar.

"Mana mungkin Tecu melupakan budi kebaikan Susiok,"

Sahut Ban-li.

"Tapi kalau Susiok menyuruh Tecu membunuh beliau, betapa pun Tecu tidak bisa menurut."

"Lalu cara bagaimana kau akan menyelesaikan anak murid Tiang-bun (cabang utama) yang baru pulang itu?"

Tanya orang she Liau dengan suara bengis.

"Jika Susiok mengizinkan Tecu ikut bicara, maka menurut pendapatku sementara ini mereka dapat ditahan dulu untuk kemudian dicarikan jalan penyelesaiannya,"

Ujar Ban-li.

"Cari penyelesaian apa? Hehe, keputusanmu sudah lama disiapkan, masakah aku tidak tahu?"

Jengek orang she Liau.

"Apa maksud ucapan Susiok ini?"

Tanya Ban-li. Si orang she Liau menjawab.

"Anak murid Tiang-bun kalian berjumlah banyak, tinggi pula kepandaiannya, sudah tentu kedudukan ciangbun (ketua) tidak rela diserahkan kepada anak murid dari cabang lain. Lebih dulu kau ingin menimpakan dosa pendurhakaan atas diriku, kemudian anak murid cabang empat kami akan kalian bunuh habis, dengan demikian kalian tentu akan menjagoi dengan aman sentosa."

Sampai di sini mendadak ia keraskan suaranya.

"Maka dari itu, setiap murid Tiang-bun semuanya merupakan bibit bencana, hari ini kita harus babat rumput sampai akar-akarnya. Kita harus turun tangan bersama, setiap murid Tiang-bun harus dibinasakan seluruhnya."

Habis berkata.

"sret" , segera pedangnya dilolosnya. Serentak dari sekitar ruangan melompat maju dua-tiga puluh orang dengan pedang terhunus dan siap siaga di seputar Hong Ban-li, tapi di samping itu ada pula beberapa puluh orang dengan pegang pedang juga telah mengepung. Diam-diam Boh-thian menjadi khawatir dan berpikir.

"Tampaknya Hong-suhu susah melawan orang banyak, entah aku harus membantunya atau tidak?"

Dalam pada itu terdengar Hong Ban-li telah berseru.

"Sengsusiok, Ce-susiok, dan Nio-susiok, apakah kalian membiarkan Liau-susiok malang melintang di sini? Jika cabang empat mereka sudah membunuh habis anak murid Tiang-bun, maka cabang-cabang dua, tiga dan lima kalian tentu akan menjadi giliran dibasmi pula oleh mereka."

"Bergerak!"

Bentak orang she Liau memberi komando kepada anak buahnya, berbareng ia terus menubruk maju, kontan dada Hong Ban-li lantas ditusuknya.

Cepat Ban-li melolos pedang dengan tangan kiri untuk menangkis serangan itu.

Terdengar suara "trang", menyusul lantas "bret"

Pula.

Walaupun pedang lawan tertangkis, tapi tidak urung lengan baju kanan Hong Ban-li terkupas sepotong.

Hendaklah maklum bahwa Hong Ban-li terkenal lihai seperti halnya Pek Ban-kiam, kedua orang merupakan jago-jago utama Swat-san-pay dari angkatan kedua, ilmu pedangnya sesungguhnya tidak kalah daripada paman-paman gurunya she Seng, Ce, Liau, dan Nio itu.

Cuma sayang sebelah lengannya sudah buntung, permainan pedang dengan tangan kiri dengan sendirinya kurang leluasa.

Ia telah dapat menangkis tusukan orang she Liau itu, tapi paman guru itu mendadak mengganti gerakan pedangnya dari menusuk menjadi menebas.

Walaupun Ban-li sudah menduga akan jurus serangan itu, tapi pedang di tangan kiri agak canggung digunakan, untung lengan kanan sudah buntung sehingga yang tertebas hanya lengan bajunya, kalau tidak tentu lengannya akan menjadi korban pula.

Paman gurunya itu benar-benar kejam, sekali berhasil serangannya, menyusul serangan kedua lantas dilancarkan pula.

Namun dari samping Ban-li lantas menyambar maju dua batang pedang saling beradu sehingga serangan orang she Liau kembali gagal.

"Kenapa tidak lekas maju!"

Bentak orang she Liau kepada anak buahnya.

Sambil berteriak-teriak serentak beberapa puluh orang dari anak murid cabang empat lantas mengerubut maju.

Seketika terdengarlah suara riuh ramai, pertarungan sengit lantas terjadi, anak murid cabang utama kebanyakan harus satu-lawan-dua atau tiga.

Ruangan itu seketika berubah menjadi medan pertempuran.

Orang she Liau lantas melompat ke pinggir untuk menyaksikan pertempuran.

Dilihatnya anak murid dari cabang dua, tiga dan lima tidak bergerak, semuanya menonton di samping.

Tergerak hatinya dan tahulah dia apa sebabnya.

Segera ia berseru.

"Loji, Losam, Longo, keji amat kalian, sengaja kalian membiarkan cabang empat kami bertarung mati-matian dengan cabang utama dan nanti kalian yang akan mengambil keuntungannya. Hehe, jangan kalian mimpi!"

Karena pikiran demikian, ia menjadi murka, kedua matanya menjadi merah, kontan ia terus menyerang orang she Ce.

Maka kedua orang lantas saling gebrak dengan sengit.

Nyata ilmu pedang orang she Liau lebih bagus daripada orang she Ce.

Sesudah belasan jurus si orang she Ce lantas mulai terdesak mundur.

Cepat orang she Seng, yaitu suheng kedua, melompat maju dengan pedang terhunus, serunya.

"Losi, segala urusan hendaklah dirundingkan dengan baik-baik. Sesama saudara seperguruan mengapa mesti menggunakan kekerasan seperti ini?"

Berbareng pedangnya lantas menyambar maju sehingga tusukan orang she Liau kena ditangkis.

Melihat jisuheng sudah ikut maju, kesempatan itu tidak diabaikan orang she Ce, cepat ia melangkah maju dan balas menusuk perut orang she Liau.

Serangan samsuheng she Ce ini pun tidak kurang kejinya, tujuannya hendak membinasakan lawannya tanpa kenal ampun sedikit pun.

Bab 40.

Su-popo Ternyata adalah Nyonya Pek Cu-cay Saat itu pedang orang she Liau sedang ditangkis pergi oleh pedang jisuhengnya dan sedang saling adu tenaga dalam buat melepaskan lengketan pedang lawan, maka tusukan samsuhengnya itu benar-benar di luar dugaan dan betapa pun susah dielakkan.

Pada saat demikian untunglah sang sute she Nio yang tadi hanya diam-diam saja itu kini mendadak ikut melolos pedang terus menusuk ke punggung orang she Ce sambil berkata.

"Ai, dosa, dosa caramu ini!"

Untuk membela diri, terpaksa orang she Ce menarik kembali pedangnya untuk menangkis serangan gosute she Nio itu.

Begitulah anak murid dari cabang dua, tiga, lima dan lain-lain lantas ikut menerjang maju untuk membela gurunya masingmasing.

Maka pertempuran menjadi tambah seru....

Ciok Boh-thian sampai bingung menyaksikan pertarungan gaduh itu.

Hanya sebentar saja terjadilah banjir darah di ruangan pendopo itu, banyak tangan kutung dan kaki patah tercecer di sana-sini diseling suara jerit ngeri.

"Toako, aku... aku takut!"

Kata A Siu dengan suara gemetar sambil menggelendot di samping Boh-thian.

"Sebenarnya ada urusan apakah, mengapa mereka saling hantam sendiri?"

Tanya Boh-thian.

Tatkala itu setiap orang di dalam ruangan itu sedang memikirkan keselamatannya sendiri, maka biarpun Boh-thian bicara lebih keras di luar juga takkan dipedulikan.

Sebaliknya Su-popo lantas menjengek.

"Hm, bagus, bagus! Pertarungan yang bagus! Biarkan semuanya mampus barulah puas hatiku!"

Pertempuran sengit beratus-ratus orang tanpa teratur itu agak lucu juga tampaknya, lebih-lebih pakaian mereka adalah seragam putih semua, senjata yang dipakai juga sama, kawan atau lawan menjadi susah membedakan.

Semula anak murid cabang utama bertarung melawan cabang ketiga, tapi sesudah anak murid cabang-cabang lain juga ikut masuk medan pertempuran, seketika keadaan menjadi kacau, banyak di antaranya yang memangnya ada permusuhan pribadi lantas dilampiaskan dalam pertempuran gaduh ini.

"Sudahlah, kita jangan lihat lagi, marilah menyingkir saja,"

Kata A Siu kepada Boh-thian.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara gedubrakan yang gemuruh, daun pintu telah terpentang dan terlepas dari engselnya.

Lalu terdengar seorang berseru dengan suara lantang.

"Siang-sian dan Hwat-ok Sucia dari Liong-bok-to berkunjung kemari hendak bertemu dengan ketua Swat-sanpay!"

Begitu keras dan nyaring suara seruan itu sehingga suara pertempuran yang riuh ramai tadi tersirap semua.

Mendengar nama Siang-sian dan Hwat-ok Sucia dari Liong-bokto sudah tiba, semua orang sangat terkejut.

Segera sebagian orang berhenti bertempur dan melompat ke pinggir.

Berturutturut yang lain juga berhenti bertempur.

Hanya sekejap saja semua orang sudah menyingkir ke samping, perhatian semua orang tertuju ke arah pintu.

Di tengah ruangan hanya tertinggal suara rintihan mereka yang terluka, suara lain tiada terdengar lagi.

Sejenak kemudian penderita-penderita luka itu pun lupa merintih lagi dan sama memandang ke arah pintu.

Ternyata di ambang pintu secara berjajar telah berdiri dua orang, satu gemuk dan satu kurus, pakaian mereka sangat perlente.

Hampir-hampir Ciok Boh-thian berseru menyapa ketika melihat yang datang itu adalah Thio Sam dan Li Si.

Tapi lantas teringat dirinya dalam penyamaran sebagai Ciok Tionggiok dan belum waktunya untuk menonjolkan siapa sebenarnya dia.

Dalam pada itu terlihat Thio Sam mulai berkata dengan tertawa.

"Pantas ilmu silat Swat-san-pay termasyhur di seluruh jagat, kiranya di waktu latihan di antara sesama saudara seperguruan digunakan cara menyerang dan membunuh sungguhan. Wah, cara demikian benar-benar hebat. Sungguh mengagumkan."

Orang she Liau lantas tampil ke muka dan menegur dengan suara bengis.

"Apakah kalian ini yang disebut sebagai Siangsian dan Hwat-ok Sucia dari Liong-bok-to?"

"Benar,"

Sahut Thio Sam.

"Entah siapakah di antara kalian ini adalah Ciangbunjin Swat-san-pay? Atas perintah Liong-bok-to Tocu kami ingin menyampaikan medali undangan agar ciangbunjin kalian kelak berkunjung ke pulau kami untuk sekadar ikut minum semangkuk Lap-pat-cok."

Sambil bicara ia lantas mengeluarkan dua buah medali tembaga, tiba-tiba ia berpaling kepada Li Si dan berkata.

"Eh, kabarnya Ciangbunjin Swat-san-pay adalah Wi-tek Siansing Pek-loyacu, tampaknya orang-orang yang berada di sini kok tidak mirip dia?"

"Ya, aku pun berpikir begitu,"

Sahut Li Si. Segera orang she Liau tadi menanggapi.

"Orang she Pek itu sudah mati, ciangbunjin yang baru...."

Belum habis ia bicara mendadak Hong Ban-li lantas memotong dengan mendamprat.

"Kentut busuk! Wi-tek Siansing masih baik-baik, beliau hanya...."

"Apakah demikian ini caranya kau bicara dengan susiokmu?"

Si orang she Liau balas mendamprat.

"Orang macam kau ini juga ada harganya untuk dipanggil susiok?"

Jawab Ban-li.

Nama orang she Liau itu selengkapnya adalah Liau Cu-le, wataknya sangat keras dan berangasan.

Karena jawaban Ban-li yang kasar itu, kontan pedangnya lantas menusuk.

Cepat Ban-li menangkis sambil melangkah mundur.

Rupanya Liau Cu-le sudah merah matanya, dengan murka ia lantas menerjang maju.

Tapi seorang murid cabang utama lantas mengadang maju untuk melabraknya.

Menyusul Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Nio Cu-cin, berturut-turut juga menyerbu maju lagi sehingga pertempuran gaduh kembali terjadi.

Hendaklah maklum bahwa geger-geger yang terjadi di dalam Swat-san-pay ini cukup berat persoalannya.

Sebab itulah keempat saudara seperguruan she Seng, Ce, Liau, dan Nio itu saling tidak mau mengalah, saling sirik, saling dendam, asal salah seorang di antara mereka binasa keadaan tentu akan berubah, sebab itulah meski kedua rasul pengganjar dan penghukum itu sudah datang toh mereka masih cekcok mengenai urusannya sendiri.

Menyaksikan suasana begitu Thio Sam lantas bergelak tertawa, katanya.

"Rupanya kalian tekun benar melatih ilmu silat perguruannya sendiri, tapi temponya kan masih banyak, mengapa mesti buru-buru pada saat ini?"

Habis berkata ia terus melangkah maju dengan perlahan, mendadak kedua tangannya bekerja, ia mencengkeram dan menarik ke sana kemari, maka terdengarlah suara gemerencing yang ramai, tahu-tahu beberapa batang pedang sudah terbuang ke atas lantai.

Entah cara bagaimana pedang orang-orang she Seng Ce, Liau, dan Nio beserta pedang Hong Ban-li dan dua orang muridnya tahu-tahu sudah kena dirampas oleh Thio Sam, mereka hanya merasa tangan tergetar kesemutan, lalu pedang sudah terlepas dari cekalan.

Keruan mereka menjadi terperanjat semua, baru sekarang mereka nyaho bahwa ilmu silat kedua tamu itu bukan main lihainya.

Dalam kagetnya mereka sampai lupa mengenai percekcokan di antara mereka sendiri itu dan teringat kepada macam-macam cerita tentang korban yang jatuh di mana tempat yang kedatangan Siang-sian dan Hwat-ok Sucia.

Sekarang mereka telah menyaksikan dan merasakan sendiri jelas bilamana kedua rasul itu mau mengganas, mungkin susah dilawan sekalipun segenap kekuatan Swat-san-pay dikerahkan seluruhnya.

Apalagi di dalam golongan sendiri sedang saling bunuh-membunuh.

Begitulah mereka menjadi takut dan ada yang sampai menggigil.

Sementara itu Thio Sam berkata pula dengan tertawa.

"Ketekunan kalian meyakinkan ilmu silat sungguh harus dipuji, tapi juga tidak perlu segiat ini dan masih banyak tempo. Kami berdua masih harus menyampaikan medali undangan ke lain tempat dan tiada waktu senggang untuk tinggal di sini. Tentang Wi-tek Siansing apakah dia sudah mati atau masih hidup kami tidak ambil pusing, yang pasti Swat-san-pay toh harus ada seorang ciangbunjin. Yang diundang oleh Liong-bokto kami adalah ciangbunjin dari Swat-san-pay, maka lekas terangkan yang manakah adalah ciangbunjin kalian?"

Untuk sejenak Seng Cu-hak dan para sutenya hanya saling pandang saja tanpa bisa menjawab.

Mereka tahu selama berpuluh tahun ini, setiap ciangbunjin yang menerima undangan dan pergi ke Liong-bok-to selamanya tiada seorang pun yang dapat pulang kembali, maka siapa saja yang menjadi Ciangbunjin Swat-san-pay sekarang akan berarti membunuh diri pula menghadapi utusan-utusan dari Liong-bok-to ini.

Tadinya mereka anggap Leng-siau-sia terletak jauh di wilayah barat dan jarang ada hubungan dengan orang-orang persilatan daerah Tionggoan, medali undangan Liong-bok-to itu rasanya takkan sampai di Leng-siau-sia yang terpencil ini.

Pula tentang kepandaian rasul-rasul pengganjar dan penghukum itu hanya beritanya saja yang mereka dengar dan besar kemungkinan, sengaja dibesar-besarkan dan dilebih-lebihkan oleh orang, padahal belum tentu benar sedemikian lihainya.

Siapa duga hal-hal yang disangka takkan terjadi itu mendadak lantas muncul di depan mereka sekarang.

Kalau beberapa saat sebelumnya tadi kelima cabang murid Swat-san-pay saling bertengkar dengan harapan cabangnya sendiri yang akan menjagoi dan pemimpinnya sendiri yang keluar sebagai pejabat ciangbunjin, untuk mana mereka tidak segan-segan saling hantam dan saling bunuh.

Tapi sekarang setelah keadaan berubah mendadak, mereka menjadi mengkeret dan berharap agar pihak lawan yang menjadi ciangbunjin saja, supaya bisa mewakilkan mereka mengantar nyawa ke Liong-bok-to.

Lantaran itulah, serentak Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Liau Cu-le, Nio Cu-cin, dan Hong Ban-li saling tunjuk dan sama berseru.

"Itu dia! Dia adalah ciangbunjinnya!"

Tentang Swat-san-pay dapat diterangkan bahwa sudah cukup lama diketuai oleh Wi-tek Siansing Pek Cu-cay, yaitu ayahnya Pek Ban-kiam.

Pek Cu-cay mempunyai empat orang sute, ialah Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Liau Cu-le, dan Nio Cu-cin.

Guru mereka sudah lama wafat sehingga kepandaian keempat sute itu sebagian besar adalah ajaran Pek Cu-cay, sebab itulah resminya Pek Cu-cay adalah suheng mereka, tapi sesungguhnya adalah guru dan murid.

Ilmu silat Swat-san-pay terkenal banyak ragam perubahannya, tentang lwekang berbalik tiada sesuatu yang bisa ditonjolkan.

Pek Cu-cay sendiri hanya secara kebetulan pada masa mudanya telah makan sejenis buah ajaib sehingga mendadak tenaga dalamnya bertumbuh dengan luar biasa.

Karena tenaga dalamnya yang hebat itu ditambah bagusnya ilmu silat, maka selama beberapa puluh tahun ini dia menjagoi daerah Se-ek tanpa tandingan.

Caranya Pek Cu-cay menurunkan kepandaiannya kepada para sute dan anak muridnya tidak pernah menyembunyikan satudua jurus yang istimewa, tapi telah mengajar dengan segenap kepandaian yang dia miliki sendiri.

Hanya tentang lwekangnya yang diperolehnya secara kebetulan itulah yang susah dipelajari, sebab itu kepandaian para sutenya selalu terbatas dan susah mencapai tingkatan seperti Pek Cu-cay.

Dasar watak Pek Cu-cay adalah suka menang dan tinggi hati, mengenai dia kebetulan makan buah ajaib sehingga lwekangnya tumbuh mendadak, hal ini selalu dirahasiakannya, dengan demikian dia ingin menunjukkan bahwa kepandaiannya itu adalah berkat kecerdasan dan kegiatannya berlatih dan bukan diperoleh secara mujur.

Sebaliknya di dalam hati keempat sutenya itu lantas timbul rasa penasaran dan sirik, mereka anggap sang suheng yang dipesan mendiang gurunya agar memberi bimbingan kepada para sute itu berlaku tamak dan sengaja merahasiakan sebagian ilmu silat perguruan sendiri.

Lebih-lebih ilmu silat Pek Ban-kiam dan Hong Ban-li ternyata sangat tinggi dan hampir-hampir memadai keempat susioknya, hal ini membuat Seng, Ce, Liau, dan Nio menjadi penasaran.

Cuma di bawah pengaruh Wi-tek Siansing mereka tidak berani memperlihatkan perasaan kurang puas itu.

Dan baru sekarang ketika anak murid Tiang-bun (cabang utama di bawah Pek Cucay) banyak yang turun gunung, Pek Cu-cay sendiri kurang waras pula pikirannya, maka para sutenya serentak melakukan pemberontakan.

Namun kepandaian antara mereka berempat boleh dikata sembabat, maka siapa pun tidak mau tunduk kepada yang lain dan sama-sama ingin menjadi ciangbunjin.

Tapi untuk bisa mencapai cita-cita itu mereka pun sadar harus berdaya menumpas dahulu ketiga orang sekutunya barulah dapat aman menduduki kursi ciangbunjin.

Sama sekali tak terduga bahwa pada saat yang krisis itulah mendadak kedua sucia dari Liongbok-to muncul di situ.

Begitulah, kalau tadi mereka berebut menjadi ciangbunjin, maka sekarang mereka sama-sama ingin mengelakkan tanggung jawab.

Kata Ce Cu-bian.

"Usia Samsuheng (Ce Cubian) adalah paling tua, menurut aturan dan dengan sendirinya dia yang harus menjabat ketua golongan kita."

"Hanya usia lebih tua saja apa gunanya?"

Jawab Ce Cu-bian.

"Dalam urusan kita ini kau yang paling banyak mengeluarkan tenaga, jika Liau-sute tidak mau menjadi ciangbunjin siapa lagi yang cocok untuk menjabatnya?"

"Huh, soal Ciangbunjin Swat-san-pay kita sebenarnya adalah biasa dijabat oleh Toasuheng, sekarang Toasuheng sudah exit, dengan sendirinya Jisuko yang harus menggantikannya, kenapa mesti dipersoalkan lagi?"

Demikian kata Gosute, Nio Cu-cin. Tapi jisuheng Seng Cu-hak lantas menjawab.

"Bicara tentang banyak akal dan kecerdikan di antara kita berempat harus diakui Gosute yang paling pintar. Maka aku setuju bila Gosute yang menjabat ciangbunjin kita. Maklumlah urusan hari ini lebih mengutamakan mengadu kecerdikan daripada mengadu kekuatan."

Liau Cu-le lantas menyambung pula.

"Ciangbunjin kita memangnya dijabat oleh orang dari Tiang-bun, jika Ce-suheng tidak mau menggantikannya, maka boleh silakan Heng-sutit dari Tiang-bun yang menjabatnya. Kukira semua orang pasti tidak mempunyai alasan untuk menolaknya, paling sedikit aku orang she Liau pasti setuju."

"Tapi tadi ada orang berteriak-teriak, katanya anak murid Tiang-bun harus dibinasakan semua, entah siapakah tadi itu yang melepaskan kentut anjing demikian?"

Kata Ban-li. Liau Cu-le menjadi gusar, alisnya sampai menegak. Mestinya ia hendak balas memaki, tapi lantas terpikir sesuatu olehnya, sedapat mungkin ia bersabar dan berkatalah.

"Urusan sudah kadung demikian, apakah terhitung seorang kesatria sejati jika mengkeret digaris depan?"

Begitulah kelima orang itu ribut mulut sendiri saling mengajukan orang lain untuk menjadi ciangbunjin.

Sejak tadi Thio Sam hanya mendengarkan saja dengan tersenyum-senyum tanpa membuka suara.

Sebaliknya Li Si yang tidak sabar lagi mendengarkan pertengkaran orang-orang Swat-san-pay yang tidak habis-habis itu.

Segera ia membentak.

"Sebenarnya siapakah di antara kalian ini adalah ciangbunjinnya? Kalian bertengkar terus, kalau sampai makan waktu seminggu atau sebulan, apakah kami juga disuruh menunggu begitu lama?"

"Ya, Seng-suko, hendaklah kau lekas menerima saja,"

Kata Nio Cu-cin.

"Jika ayal lagi jangan-jangan akan timbul malapetaka, maka kaulah yang akan membikin susah orang banyak."

"Mengapa aku yang akan membikin susah orang banyak?"

Sahut Seng Cu-hak dengan gusar. Begitulah kembali kelima orang itu bertengkar pula dengan sengitnya. Segera Thio Sam berkata pula dengan tertawa.

"Aku ada suatu akal. Begini, kalian berlima boleh memutuskan urusan ini dengan mengadu kepandaian masing-masing. Kepandaian siapa yang paling tinggi, dialah yang akan menjadi Ciangbunjin Swat-san-pay."

Kelima tokoh Swat-san-pay itu tidak berani menjawab. Mereka saling pandang dan menimbang-nimbang dalam hati masingmasing. Maka Thio Sam menyambung pula.

"Tadi waktu kami datang terlihat kalian berlima sedang saling labrak, kukira di samping kalian sedang berlatih untuk mempertinggi ilmu silat perguruan kalian, tentu pula kalian sedang mengukur tenaga untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan berhak menjadi ciangbunjin. Rupanya kami terlalu buru-buru masuk ke sini sehingga pertandingan kalian terputus setengah jalan. Maka sekarang kalian boleh meneruskan, tidak sampai satu jam tentu dapat ditentukan pihak yang kalah atau menang. Kalau tidak, menuruti watak saudaraku yang tidak sabaran ini, satu jam kemudian jika urusan masih belum selesai mustahil semua orang Swat-san-pay akan dibunuh habis olehnya sehingga tiada seorang pun di antara kalian yang berhasil menjadi ciangbunjin. Nah, satu, dua, tiga! Lekaslah mulai!"

"Sret", segera Liau Cu-le mendahului melolos pedang. Tapi mendadak Thio Sam berseru pula.

"Yang mengintip di luar jendela itu tentunya juga orang Swat-san-pay, harap masuk saja sekalian ke sini! Karena ciangbunjin ini akan ditentukan dengan ilmu silat, maka tidak peduli tua atau muda, setiap orang boleh ikut."

Habis berkata lengan bajunya lantas mengebas ke belakang.

"blang" , daun jendela terpentang dan terpental tersampuk oleh angin pukulannya itu. Karena jejaknya sudah ketahuan, segera Su-popo menarik A Siu dan Ciok Boh-thian masuk ke dalam ruangan. Melihat mereka bertiga, seketika semua orang yang berada di dalam ruangan menjadi tercengang. Serentak Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Liau Cu-le, dan Nio Cu-cin berempat mengelilingi mereka dengan senjata terhunus. Namun Su-popo hanya tertawa dingin saja tak ambil pusing. Sebaliknya Hong Ban-li lantas melangkah maju dan memberi hormat sambil menyapa.

"Terimalah hormatku, Sunio (ibu guru)!"

Boh-thian terperanjat. Pikirnya.

"Aneh, mengapa suhuku adalah dia punya ibu guru?"

Dalam pada itu Su-popo hanya menengadah saja tanpa menggubris hormat Hong Ban-li itu. Dengan tertawa Thio Sam lantas berkata.

"Bagus, bagus! Sobat cilik yang tidak mau mengaku sebagai Pangcu Tiang-lok-pang ternyata sudah kembali ke Swat-san-pay sini! Jite, coba lihat, alangkah miripnya bocah ini dengan samte kita."

Li Si mengangguk dan menjawab.

"Ya, cuma tutur katanya rada-rada tengik dan tingkah lakunya agak bergajul. Di mana ada nona cantik, di situ juga dia lantas hinggap."

Diam-diam Boh-thian anggap kebetulan malah karena kedua saudara angkat itu telah salah sangka dia sebagai Ciok Tionggiok.

"Eh, kiranya nenek ini adalah Pek-lohujin, maaf kami berlaku kurang hormat,"

Demikian Thio Sam membuka suara lagi.

"Para sutemu sedang mengincar kedudukan Ciangbun Pekloyacu, mereka sedang mengukur tenaga dan adu otot untuk merebut jabatan terhormat itu. Nah, baiklah, kalian boleh mulai lagi. Satu-dua-tiga, hayo mulai!"

Namun Su-popo lantas menggandeng tangan A Siu dan Bohthian, dengan bersitegang leher ia berjalan ke depan.

Seng Cuhak dan lain-lain tidak berani merintanginya dan menyaksikan nenek itu berduduk pada kursi besar yang tengah dengan sikap yang mencemoohkan orang-orang di sekitarnya.

"Hayo, kenapa kalian belum mulai, mau tunggu kapan lagi?"

Bentak Li Si mendadak.

"Benar!"

Sahut Seng Cu-hak terus mendahului menusuk Nio Cu-cin dengan pedangnya. Cepat Cu-cin menangkis sambil melangkah mundur, entah sengaja atau sungguhan, mendadak ia sempoyongan dan berkata.

"Wah, ilmu pedang Seng-suko benar-benar luar biasa, aku mengaku bukan tandinganmu!"

Di sebelah sana Liau Cu-le dan Ce Cu-bian berdua juga sudah mulai adu tanding.

Tapi keempat orang itu hanya main beberapa jurus saja, diam-diam para penontonnya sudah sama menggeleng kepala.

Kiranya setiap jurus serangan mereka semuanya sangat lemah dan kurang jitu, sama sekali tidak memperlihatkan sebagai tokoh kelas satu dari golongan Swatsan-pay.

Nyata sekali bahwa pertempuran mereka sekarang bukan "cari menang"

Lagi, sebaliknya mereka hanya mencari kalah malah, mereka sudah tidak mau berebut menjadi ketua Swat-san-pay lagi.

Hanya karena terpaksa maka mereka bertempur sekadarnya, yang diharapkan bukannya menang melainkan kalah saja.

Tapi karena mereka mempunyai pikiran yang sama, maka untuk mencari kalah pun tidak gampang.

Suatu ketika tertampak Nio Cu-cin sengaja menubruk ke ujung pedang Seng Cu-hak, sebaliknya mendadak Cu-hak menjerit.

"Aduh!"

Sekonyong-konyong sebelah kakinya kesandung sehingga tusukannya mengarah ke lantai malah. Menyaksikan pertarungan yang menyebalkan itu, Thio Sam terbahak-bahak, katanya.

"Losi, kita berdua sudah menjelajah seluruh jagat ini, tapi pertandingan sebagus ini benar-benar baru pertama kali ini kita lihat. Pantas ilmu silat Swat-san-pay sangat termasyhur, nyatanya memang lain daripada yang lain."

Rupanya Su-popo merasa sebal juga, dengan suara bengis ia lantas membentak.

"Ban-li, di mana kau telah mengurung Ciangbunjin dan anak murid Tiang-bun? Lekas pergi melepaskan mereka!"

"Liau... Liau-susioklah yang mengurung mereka, Tecu sendiri tidak... tidak tahu apa-apa,"

Sahut Ban-li dengan suara gemetar.

"Kau tahu apa tidak, pendek kata mereka harus lepas dibebaskan atau segera kubinasakan kau saat ini juga!"

Bentak Su-popo pula.

"Ya, ya, Tecu akan coba mencarinya,"

Sahut Ban-li sambil putar tubuh hendak bertindak pergi.

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Thio Sam mencegah.

"Saudara juga salah seorang calon pewaris ciangbunjin dari Swat-san-pay, mana boleh kau tinggal pergi begini saja? Hayolah kau, kau, kau... kau!"

Berulang-ulang ia menuding empat murid Swatsan-pay, lalu melanjutkan.

"Kalian berempat yang pergi membebaskan seluruh orang Swat-san-pay yang dikurung di Leng-siau-sia ini dan bawa ke sini semua. Kalau sampai kurang satu orang saja maka kepala kalian akan hancur seperti contoh ini."

Habis berkata tangan kanannya terus mencakar ke atas tiang kayu di sebelahnya sehingga tiang itu seketika melekuk suatu lubang.

Tertampak dari sela-sela jarinya bertebaran bubuk kayu yang halus.

Dalam waktu singkat saja sekaligus dia telah perlihatkan dua macam ilmunya yang sakti, keruan orang-orang Swat-san-pay menjadi jeri dan mengkeret.

Empat orang yang ditunjuk tadi sampai gemetar ketakutan.

Tanpa disuruh lagi segera mereka mengiakan dan mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah itu.

Di sebelah sana Seng Cu-hak berempat masih belum berhenti dari pertarungan mereka yang lucu.

Mereka pun sadar tingkah laku mereka itu mungkin susah mengelabui mata Thio Sam dan Li Si, maka sedapat mungkin mereka pura-pura bertanding sungguh-sungguh dan mengadu jiwa walaupun setiap kali selalu mengalah dan memberi kesempatan kepada pihak lawan masing-masing.

Makin melihat makin dongkol Su-popo, segera ia mendamprat.

"Huh, permainan setan begini juga dianggap sebagai ilmu silat Swat-san-pay? Hm, kalian benar-benar membikin malu nama Leng-siau-sia yang keramat ini."

Mendadak ia berpaling kepada Ciok Boh-thian dan berkata.

"Muridku, ambil golok ini dan tebaslah sebelah lengan mereka, setiap orang satu."

Di depan Thio Sam dan Li Si sedapat mungkin Boh-thian tidak berani membuka suara agar tidak dikenali.

Terpaksa ia terima golok yang disodorkan padanya, lalu melangkah maju, ia tuding Seng Cu-hak terus membacok.

Mendengar Su-popo memberi perintah agar lengannya yang harus ditebas, keruan Seng Cu-hak tidak berani main-main.

Cepat ia angkat pedangnya untuk menangkis.

Karena sekarang menyangkut keselamatannya, maka gerakan pedangnya ini sangat kuat dan indah, suatu jurus ilmu pedang Swat-san-pay yang sejati.

"Bagus! Mendingan jurus ini daripada tadi!"

Senggak Thio Sam. Tiba-tiba Boh-thian mendapat pikiran.

"Kedua Giheng sudah kenal tenaga dalamku yang hebat, jika aku menang dengan menggunakan lwekang, tentu mereka akan lantas mengenali aku sebagai Kau-cap-ceng, padahal aku menyaru sebagai Ciok Tiong-giok, terpaksa aku juga harus menggunakan Swat-sankiam-hoat saja!"

Segera ia putar goloknya dan menusuk dari samping, yakni merupakan satu jurus ilmu pedang Swat-san-pay yang disebut "Am-hiang-soh-eng" (Harum Kedaluan Hilang Bayangan).

Melihat ilmu pedang Boh-thian hanya sepele saja, Seng Cu-hak tidak jeri pula.

Ia putar pedang untuk melindungi tempattempat penting di tubuhnya sendiri, sesudah beberapa jurus kemudian, sengaja ia pancing golok Ciok Boh-thian menusuk ke atas kakinya.

Ia pura-pura tidak sempat menangkis dan mengelak, sambil menjerit kesakitan ia melompat minggir dengan luka di kakinya itu.

Segera ia membuang pedangnya dan berseru.

"Pahlawan selalu timbul dari kalangan muda, tua bangka sudah tak berguna lagi! Aku terima mengaku kalah."

Melihat ada kesempatan, Nio Cu-cin juga tidak mau ketinggalan, segera ia mendahului ayun pedang dan menebas ke pundak Ciok Boh-thian sambil membentak.

"Kau bocah ini benar-benar tidak tahu aturan lagi, sampai-sampai Susiokco (kakek-guru muda) juga kau lukai?"

Ia cukup paham ilmu pedang yang dimainkan Ciok Boh-thian, maka hanya beberapa jurus saja ia sengaja memancing suatu serangan pemuda itu sehingga lengan kirinya terserempet pedang.

Segera ia berteriak-teriak.

"Wah, luar biasa! Hampirhampir saja lenganku ini ditebas putus oleh anak ingusan ini."

Menyusul Ce Cu-bian dan Liau Cu-le juga tidak kalah liciknya, berturut-turut mereka pun mencari suatu kesempatan dan membiarkan ujung golok Ciok Boh-thian melukai sedikit kulit badan mereka, lalu mengaku kalah dan mengundurkan diri.

Maklumlah bahwa Ciok Boh-thian memang tiada maksud menebas kutung lengan mereka sebagai diperintahkan oleh Supopo tadi, pula ia tidak mengeluarkan kepandaiannya yang sejati, yang digunakan hanya sedikit ilmu pedang Swat-sanpay yang belum masak dilatihnya.

Selain itu Seng Cu-hak berempat sebenarnya sangat lihai, hanya lantaran mereka sengaja mengalah, maka tidak sulit bagi mereka untuk memainkan kelicikannya.

Coba kalau Ciok Boh-thian juga tidak bermaksud memenangkan mereka, tentu mereka pun tidak gampang pura-pura kalah.

Jadi pertandingan barusan ini lebih mirip dengan permainan anak kecil saja.

Keruan Su-popo sangat mendongkol.

Tapi ia pun tidak ambil pusing, dengan suara bengis ia lantas membentak.

"Jadi kalian sudah dikalahkan oleh bocah ini, kalian sudah rela mengangkat dia sebagai ciangbunjin?"

Diam-diam Seng Cu-hak berempat membatin.

"Kalau dia diangkat menjadi ketua, paling-paling kita hanya akan memperalat dia sebagai korban yang mewakilkan Swat-sanpay pergi ke Liong-bok-to, apanya yang membuat kita keberatan?"

Maka serentak mereka menjawab.

"Ya, kedua sucia dari Liongbok-to tadi sudah menetapkan syaratnya, kedudukan ciangbun harus direbut berdasarkan kepandaian masing-masing. Sekarang kami sudah kalah, ya, apa mau dikata lagi?"

"Jadi kalian benar-benar sudah takluk?"

Su-popo menegas.

"Ya, takluk lahir batin tanpa syarat,"

Sahut mereka. Tapi diamdiam mereka berpikir.

"Huh, jika kedua jahanam Liong-bok-to ini sudah pergi, bukankah Leng-siau-sia ini akan menjadi dunia kami pula? Hanya seorang nenek loyo dan seorang anak ingusan saja bisa berbuat apa?"

"Jika begitu mengapa kalian tidak lekas menyampaikan sembah bakti kepada Ciangbunjin dan mau tunggu kapan lagi?"

Ujar Su-popo dengan suara lantang. Sebelum Seng Cu-hak berempat menjawab atau bertindak, tiba-tiba terdengar teriakan seorang di luar.

"Siapa yang berani menduduki jabatan ketua Swat-san-pay?"

Itulah suaranya "Gi-han-se-pak"

Pek Ban-kiam.

Benar juga segera tertampak tokoh muda Swat-san-pay itu melangkah masuk dengan menyeret rantai borgol, di belakangnya mengikut beberapa puluh orang pula, semuanya juga terbelenggu.

Di belakang Pek Ban-kiam kelihatan Kheng Banciong, Kwa Ban-kin, Ong Ban-jim, Houyan Ban-sian, Bun Banhu, Ang Ban-ek, Hoa Ban-ci, dan anak murid Tiang-bun yang baru saja pulang dari Tionggoan.

Ketika melihat Su-popo juga berada di situ, segera Ban-kiam menyapa.

"Engkau sudah pulang, ibu!"

Nadanya terdengar penuh rasa girang dan di luar dugaan.

Tadi waktu mendengar Hong Ban-li memanggil Su-popo sebagai ibu-guru, lapat-lapat Boh-thian sudah merasa nenek itu tentu adalah istri Pek Cu-cay, sekarang mendengar Pek Ban-kiam memanggilnya sebagai ibu, maka dugaannya itu terang tidak perlu disangsikan lagi.

Hanya saja ia masih heran.

"Jika suhuku adalah istri ketua Swat-san-pay, mengapa beliau mengaku pula sebagai ketua Kim-oh-pay, bahkan selalu mengatakan bahwa Kim-oh-pay merupakan bintang bencana bagi Swat-san-pay?"

Dalam pada itu dilihatnya si A Siu telah berlari ke depan Pek Ban-kiam dan menyapa.

"Ayah!"

Tertampak Ban-kiam sangat girang, sahutnya dengan suara terputus-putus.

"A Siu, kau, kau ternyata tidak... tidak mati?"

"Sudah tentu dia tidak mati!"

Sela Su-popo dengan mendengus.

"Memangnya semua orang sedemikian tak becus semacam kau? Huh, hanya kau yang bermuka tebal yang masih berani memanggil ibu padaku! Hm, benar-benar tiada gunanya aku melahirkan anak goblok seperti kau. Orang tua sendiri telah dikurung orang, dirinya sendiri juga berhias besi-besi rombengan demikian, kau merasa senang ya dengan kejadian ini? Dasar telur busuk semua, huh, Swat-san-pay apa segala? Yang tua telur busuk, yang muda juga telur bau, semuanya telur kopyor. Rasanya lebih baik Swat-san-pay berganti nama menjadi Telur-busuk-pay saja."

Pek Ban-kiam diam saja membiarkan ibunya mencaci maki sepuasnya, kemudian barulah ia berkata.

"Bu, tertawannya anak bukanlah karena kepandaianku kalah tinggi daripada mereka, tapi kawanan pengkhianat ini telah menggunakan akal licik, dia... dia telah pura-pura menyaru sebagai ayah dan memasang perangkap di dalam selimut, lantaran itulah maka anak telah terjebak."

"Dasar telur busuk kecil macam kau ini memang tidak pantas diberi hidup,"

Damprat Su-popo pula.

"Kalau salah mengenali orang luar sih masih dapat dimengerti, masakah ayahnya sendiri juga salah mengenalnya, huh, apakah kau masih dapat dianggap sebagai manusia?"

Rupanya sejak kecil Ban-kiam sudah biasa dimaki dan dihajar sang ibu, maka sekarang ia pun anggap biasa meski dimaki habis-habisan di depan orang banyak.

Yang terpikir olehnya hanya keselamatan ayahnya.

Maka cepat ia tanya.

"Bu, apakah ayah baik-baik saja?"

"Telur busuk tua itu mati atau hidup, sedangkan kau telur busuk kecil ini pun tidak tahu, dari mana lagi aku bisa tahu?"

Sahut Su-popo dengan gusar.

"Daripada hidup membikin malu saja karena kena dikurung oleh sute-sutenya, ada lebih baik dia lekas mampus saja."

Mendengar ucapan itu baru sekarang Ban-kiam merasa lega, ia tahu sang ayah cuma berada dalam tahanan kawanan pemberontak saja. Katanya segera.

"Terima kasih kepada langit dan bumi bahwa ayah ternyata masih selamat."

"Selamat kentut!"

Bentak Su-popo dengan gusar. Walaupun begitu katanya, namun dalam hati sesungguhnya ia pun memikirkan keselamatan sang suami. Segera ia berkata kepada Seng Cu-hak dan para sutenya.

"Di mana kalian telah mengurung Toasuheng? Mengapa tidak lekas-lekas dikeluarkan?"

Seng Cu-hak menjawab.

"Perangai Toasuheng sangat keras, siapa pun tidak berani mendekat padanya, kalau mendekat segera akan dibunuh olehnya."

Terkilas rasa girang dan lega pada wajah Su-popo. Katanya kemudian.

"Bagus, bagus! Dasar telur busuk tua itu selalu anggap ilmu silatnya nomor satu di dunia ini, sombongnya tidak kepalang. Sekarang biarlah dia mengalami sedikit penderitaan supaya tahu rasa."

Agaknya Li Si menjadi tidak sabar mendengarkan caci maki yang tak habis-habis itu, akhirnya ia menimbrung.

"Sesungguhnya yang manakah ketua Telur-busuk-pay itu?"

Sekonyong-konyong Su-popo melangkah maju, ia tuding Li Si dan mendamprat.

"Istilah ‘Telur-busuk-pay’ masakah boleh diucapkan oleh telur busuk macam kau? Aku memaki lakiku dan anakku sendiri. Hm, kau ini kutu busuk jenis apa, berani kau ikut-ikut menghina Swat-san-pay kami?"

Semua orang menjadi kebat-kebit melihat Su-popo mendamprat Li Si dengan sikap sedemikian galak.

Mereka pikir kalau sampai Li Si menjadi gusar dan menyerang, maka nenek itu pasti akan celaka.

Maka dengan cepat Ciok Boh-thian lantas melompat maju dan mengadang di depan Su-popo, asal Li Si menyerang segera akan ditangkisnya.

Pek Ban-kiam sendiri masih terbelenggu, dia hanya mengeluh saja dan tak mampu berbuat apa-apa.

Di luar dugaan Li Si ternyata tidak marah, sebaliknya ia tersenyum dan berkata.

"Baiklah, anggaplah aku telah salah omong, harap Pek-hujin memaafkan. Nah, sebenarnya siapakah ketua Swat-san-pay kalian!"

"Pemuda ini sudah mengalahkan para pengkhianat itu, mereka sudah mengangkatnya sebagai ketua Swat-san-pay, siapa lagi yang merasa tidak takluk?"

Jawab Su-popo sambil menuding Boh-thian.

"Anak tidak mau terima dan ingin bertanding dulu dengan dia!"

Seru Pek Ban-kiam.

"Bagus!"

Sahut Su-popo.

"Hayo, buka semua belenggu mereka itu!"

Liau Cu-le menjadi ragu-ragu, ia saling pandang dengan Seng Cu-hak dan Nio Cu-cin. Pikir mereka.

"Jika anak murid Tiangbun ini dibebaskan, maka untuk mengatasi mereka tentu tidak gampang lagi. Padahal kita sudah mengadakan pemberontakan, perbuatan durhaka ini betapa pun tak bisa diampuni. Namun dalam keadaan sekarang ini mau tak mau mereka harus dilepaskan juga."

Tapi sedapat mungkin Liau Cu-le mencari jalan lain, katanya.

"Kau adalah jago yang sudah keok di bawah tanganku, sedangkan aku saja sudah takluk, berdasarkan apa kau berani membangkang?"

Ban-kiam menjadi gusar. Dampratnya.

"Huh, kau pengkhianat yang durhaka ini, kalau bisa aku ingin mencincang tubuhmu hingga hancur luluh, hm, sebaliknya kau masih berani mengatakan aku adalah jago yang sudah keok di bawah tanganmu? Secara licik kau telah menjebak aku, sekarang tanpa malu-malu kau masih berani bicara?"

Bab 41.

Ciok Boh-thian Mengalahkan Pek Ban-kiam, Supopo Menjadi Ciangbunjin Kiranya orang yang pura-pura sakit dan menyamar sebagai Pek Cu-cay sehingga tangan Ban-kiam mendadak diborgol itu taklain-tak-bukan adalah Liau Cu-le.

Di antara anak murid Tiangbun yang baru pulang dari Tionggoan itu hanya Pek Ban-kiam yang paling lihai, sekali kepalanya sudah tertangkap, seketika juga ekornya tidak dapat berkutik sehingga Kheng Ban-ciong dan lain-lain juga kena diringkus dengan mudah.

Sekarang berhadapan dengan orang yang telah menangkapnya dengan cara pengecut itu, keruan Ban-kiam merasa dendam dan geregetan tak terkatakan.

Maka dengan tertawa Liau Cu-le menjawab.

"Jika kau tidak keok di bawah tanganku mengapa kedua tanganmu bisa terbelenggu? Aku toh tidak menggunakan senjata rahasia juga tidak memakai obat tidur!"

"Buat apa masih terus bertengkar tak habis-habis?"

Bentak Li Si mendadak.

"Hayo, lekas membuka belenggunya, biarlah mereka berdua bertanding."

Liau Cu-le masih ragu-ragu, Li Si menjadi tidak sabar, segera ia rampas pedang dari tangan Liau Cu-le, hanya dua kali bergerak saja, tahu-tahu borgol tangan dan kaki Pek Ban-kiam sudah terputus dan jatuh ke atas lantai.

Padahal borgol-borgol itu terbuat dari baja, sekalipun pedang Liau Cu-le itu cukup tajam, tapi bukanlah pedang mestika yang dapat memotong besi sebagai potong sayur, namun dengan lwekang yang tinggi Li Si telah menebas borgol-borgol itu dengan mudah sekali, yang hebat adalah tangan dan kaki Pek Ban-kiam sedikit pun tidak ikut terluka.

Keruan semua orang sangat kagum dan tanpa merasa sama bersorak memuji.

Biasanya Pek Ban-kiam juga tinggi hati, tapi sekarang mau tak mau ia pun menyatakan kekagumannya.

Dalam pada itu seorang murid Tiang-bun cepat-cepat menyampaikan sebatang pedang padanya.

Tapi mendadak Ban-kiam meludahi muka murid Tiang-bun itu, menyusul kakinya lantas mendepak sehingga orang itu terguling.

"Huh, pengkhianat!"

Ban-kiam memaki.

Maklumlah bahwa anak murid Tiang-bun yang tinggal di Lengsiau-sia ternyata dalam keadaan selamat tanpa diganggu, maka terang adalah kaum pengkhianat yang telah ikut bersekongkol dengan anak murid cabang-cabang yang lain.

"Ini, ayah!"

Seru A Siu sambil mengangsurkan pedangnya sendiri. Ban-kiam tersenyum senang.

"Ehm, putriku yang baik!"

Katanya terhibur.

Selama ini dia sudah cukup menderita, sekarang diketahui ibu dan putrinya dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, dengan sendirinya ia sangat gembira.

Tapi ketika dia berpaling, wajahnya yang tersenyum simpul itu sekonyong-konyong berubah menjadi bengis dan penuh kebencian, sorot matanya berapi, bentaknya kepada Liau Cule.

"Kau pengkhianat ini bukan lagi angkatan tua Swat-san-pay, marilah kita coba-coba lebih dulu. Ini, terimalah pedangku!"

"Sret" , kontan ia mendahului menusuk. Pada saat yang hampir sama tiba-tiba Li Si menegakkan pedang rampasannya tadi sehingga serangan Ban-kiam itu tertangkis. Lalu ia sodorkan gagang pedang ke tangan Liau Cule. Maka mulailah pertarungan sengit, kedua orang sama-sama mengeluarkan segenap kepandaian masing-masing untuk mengadu jiwa, sama sekali berbeda daripada pertandingan antara Seng Cu-hak berempat tadi. Di antara angkatan tua Swat-san-pay, kecuali Pek Cu-cay, maka kepandaian Liau Cu-le terhitung yang paling tinggi. Ia pikir dirinya tadi sudah mengaku kalah pada Ciok Tiong-giok, asal sekarang dirinya mengalahkan Ban-kiam, maka dengan sendirinya Ciok Tiong-giok akan tetap diangkat sebagai pejabat ketua dan akan mengantarkan nyawa ke Liong-bok-to. Kepandaian Pek Ban-kiam memangnya tidak di bawah Liau Cule, dalam keadaan gawat begini terpaksa Cu-le mengerahkan segenap tenaganya, kalau ayal sedikit saja bukan mustahil dia sendiri yang akan celaka. Ia bertekad harus membinasakan Ban-kiam, dengan demikian barulah dia dapat menjagoi di Leng-siau-sia dan Ciok Tiong-giok hanya akan menjadi ciangbunjin dengan nama kosong saja. Asal Thio Sam dan Li Si sudah pergi, pemuda itu akan segera didesak agar lekas berangkat ke Liong-bok-to yang jauh itu daripada nanti terlambat. Begitulah diam-diam Liau Cu-le mempunyai perhitungan yang muluk-muluk, semangatnya lantas terbangkit, permainan pedangnya menjadi semakin lincah dan hidup, setiap serangannya bertambah ganas. Sebaliknya Ban-kiam buru-buru ingin membalas dendam sehingga terlalu nafsu dan sering menyerang secara berbahaya. Sesudah 30-an jurus, suatu ketika Ban-kiam menusuk ke depan, namun dengan cepat Cu-le sempat berkelit dan segera balas menebas.

"bret" , tahu-tahu ujung baju Ban-kiam terpapas sepotong. A Siu sampai menjerit khawatir. Sebaliknya Su-popo lantas memaki.

"Dasar telur busuk kecil, serupa benar dengan bapaknya, anak ajaran telur busuk tua itu memangnya tidak banyak berguna!"

Dalam gugupnya ditambah dicemoohkan pula, keruan permainan pedang Ban-kiam menjadi agak kacau. Diam-diam Cu-le bergirang, katanya.

"Memangnya aku sudah mengatakan kau adalah jago yang sudah keok di tanganku, masakah aku hanya membual saja, buktinya sekarang bagaimana?"

Dengan mengolok-olok begini maksud Cu-le ingin membikin marah lawannya sehingga perhatiannya semakin terpencar.

Tak terduga perhitungannya ternyata meleset.

Paling akhir ini Ban-kiam telah banyak kecundang di daerah Tionggoan sehingga perangainya telah banyak lebih sabar dan lebih ulet.

Ia tidak murka atas olok-olok lawan itu, sebaliknya menjadi lebih prihatin dan menjaga diri dengan rapat.

Pada lain kesempatan berulang-ulang ia berbalik balas menyerang tujuh kali.

Serangan berantai ini seketika mengubah keadaan menjadi sama kuatnya, bahkan setiap serangan Ban-kiam selalu mengancam tanpa kenal ampun.

Liau Cu-le ganti siasat, ia main putar di sekeliling Ban-kiam sambil mencaci maki.

Mendadak sinar pedang berkelebat, Bankiam bersuit panjang.

"sret-sret-sret", ia menyerang tiga kali secara berantai, ketika serangan keempat menyambar pula.

"cret" , tanpa ampun lagi kaki Liau Cu-le tertebas kutung sebatas dengkul. Ia menjerit ngeri tersungkur bermandikan darah. Dengan pedangnya yang masih berteteskan air darah Ban-kiam menuding Seng Cu-hak dan membentak.

"Sekarang kau! Hayo maju!"

Namun dengan muka pucat Cu-hak diam saja. Selang sejenak barulah menjawab.

"Kau ingin menjadi ciangbunjin boleh silakan... silakan menjabatnya, aku... aku tidak perlu berebut dengan kau."

Segera sinar mata Ban-kiam beralih kepada Ce Cu-bian dan Nio Cu-cin. Tapi kedua orang itu pun menggeleng-geleng tanda menyerah.

"Huh, baru mengalahkan beberapa pengkhianat saja apa sih yang luar biasa?"

Tiba-tiba Su-popo menjengek. Lalu ia berkata kepada Ciok Boh-thian.

"Muridku, coba kau bertanding dengan dia, biarkan orang lain menyaksikan apakah murid si telur busuk tua itu lebih lihai atau murid ajaranku lebih hebat."

Semua orang menjadi heran mendengar ucapan si nenek.

Sudah terang Ciok Tiong-giok adalah muridnya Hong Ban-li, mengapa nenek itu bilang muridnya sendiri?

Sementara itu Su-popo telah membentak Ciok Boh-thian.

"Ayo, lekas maju! Gunakan golok dan jangan memakai pedang. Ilmu pedang ajaran telur busuk tua itu hanya permainan anak kecil saja, tapi ilmu golok kita jauh lebih lihai!"

Sesungguhnya Boh-thian tidak ingin bertanding dengan Pek Ban-kiam, apalagi kalau teringat beliau adalah ayahnya A Siu atau bakal mertuanya.

Tapi kalau dia membuka suara untuk menolak tentu rahasia penyamarannya akan diketahui Thio Sam dan Li Si.

Karena itulah dengan menjinjing golok dia menjadi serbasalah berdiri di samping Su-popo.

Melihat pemuda itu masih diam saja, kembali si nenek membentak.

"Apa yang telah kujanjikan tadi apakah kau sudah tidak mau lagi? Tadi aku hilang kau harus membuat suatu jasa besar barulah janjiku itu akan dipenuhi. Dan jasa besar itu sekarang harus kau lakukan, yakni murid telur busuk tua ini harus kau kalahkan. Jika kau kalah, maka kau pun harus lekas enyah dari sini dan jangan bertemu pula dengan aku, lebihlebih jangan harap bisa bertemu dengan A Siu."

Baru sekarang Boh-thian mengetahui bahwa jasa besar yang dimaksudkan sang guru kiranya adalah suruh mengalahkan putra kandung si nenek sendiri.

Hal ini benar-benar membuatnya terheran-heran.

Sebaliknya orang-orang lain yang hadir di situ berpendapat.

"Kiranya Su-popo sengaja hendak menjadikan bocah dungu ini sebagai ketua Swat-san-pay agar dapat dijadikan korban ke Liong-bok-to untuk menggantikan nyawa suami atau putranya."

Namun Pek Ban-kiam dan A Siu berdua cukup paham apa maksud tujuan Su-popo ini.

Kiranya suami-istri Pek Cu-cay dan Su-popo sama-sama berwatak keras, biasanya si nenek masih suka mengalah sedikit kepada sang suami walaupun dengan menahan rasa mendongkol.

Dalam persoalan Ciok Tiong-giok hendak memerkosa A Siu dan gagal itu, bukan saja Pek Cu-cay telah menebas sebelah lengan Hong Ban-li, bahkan suami-istri mereka telah cekcok, dalam marahnya Cu-cay telah menampar Su-popo sekali.

Saking jengkelnya Su-popo lantas minggat dari Leng-siau-sia.

Walaupun sekarang dia sudah pulang, tapi kejadian ditampar sang suami itu masih terus teringat olehnya, makanya dia terus mencaci maki "telur busuk tua"

Tidak habishabisnya.

Watak Pek Cu-cay itu memang sangat sombong, ilmu silatnya memang juga merajai wilayah barat situ sehingga kepandaian sang istri dipandang sebelah mata olehnya.

Saking dongkolnya Su-popo bertekad akan mendidik seorang murid yang pandai untuk mengalahkan putranya sendiri, dengan demikian akan berarti mengalahkan muridnya Pek Cu-cay sebagai tanda kemenangannya atas diri sang suami.

Demikianlah apa yang diketahui oleh Pek Ban-kiam atas isi hati ibunya.

Cuma dia belum tahu bahwa Ciok Boh-thian memang betul adalah murid ibunya, dalam hal ini adalah A Siu yang lebih jelas duduknya perkara.

Begitulah Ban-kiam lantas melotot kepada Boh-thian dengan sikap yang menghina.

"Bagaimana? Apakah kau memandang enteng padanya?"

Supopo menjengek.

"Pemuda ini sudah mengangkat guru padaku dan telah kudidik seperlunya, kepandaiannya sekarang sudah berbeda daripada tadinya. Sekarang kau boleh coba-coba bertanding dengan dia, jika kau yang menang, ya, anggaplah telur busuk tua bangka itu lebih lihai, tapi kalau kau yang kalah, maka jadilah A Siu sebagai istrinya."

Ban-kiam terkejut.

"Wah, ini tidak boleh jadi, ibu! A Siu mana boleh diambil sebagai istri oleh bocah ini?"

Serunya. Su-popo terbahak-bahak, katanya.

"Jika kau dapat mengalahkan dia, dengan sendirinya A Siu takkan menjadi istrinya. Kalau tidak, cara bagaimana kau bisa merintanginya?"

Diam-diam Ban-kiam mendongkol.

"Ibu marah pada ayah, sekarang aku ikut-ikut dimarahi. Jika putramu ini tidak mampu menangkan bocah ini bukankah percuma menjadi manusia di dunia ini?"

Dalam pada itu Su-popo telah membentak pula.

"Jika kau merasa penasaran boleh lekas melabraknya. Buat apa hanya melotot belaka?"

Ban-kiam mengiakan. Segera ia berkata kepada Ciok Bohthian.

"Ayolah, kau boleh mulai menyerang!"

Boh-thian memandang sekejap ke arah A Siu, nona itu tampak malu-malu dan menaruh perhatian padanya. Pikirnya.

"Suhu mengatakan kalau aku kalah, selanjutnya tak dapat bertemu lagi dengan A Siu. Maka pertandingan ini mau tak mau harus menang."

Segera ia mengangkat golok dan bergerak.

"Sret" , mendadak Ban-kiam lantas menusuk. Cepat Boh-thian menangkis dan balas membacok satu kali. Di Ci-yan-to dahulu Boh-thian sudah pernah bergebrak dengan Ban-kiam. Tapi waktu itu dia menggunakan Kim-oh-to-hoat murni, ketika Ban-kiam menggunakan jurus yang paling kasar dari ilmu pedang Swat-san-pay, maka Boh-thian berbalik tidak mampu menangkisnya sehingga baju di bagian dadanya tergores dan berlubang. Sejak itulah Boh-thian lantas terbuka otaknya dan memahami soal "perubahan"

Atau "variasi"

Dalam ilmu silat yang tinggi, diketahuinya bahwa di kala bertanding silat harus bisa melihat gelagat, berubah dan bertindak menurut keadaan.

Kemudian ia mendapat petunjuk-petunjuk pula dari Ciok Jing dan Bin Ju sehingga ilmu silatnya banyak mendapat kemajuan.

Sekarang kembali ia harus bergebrak pula dengan Pek Bankiam, ilmu goloknya tidak lagi terbatas atas ajaran Su-popo saja, tapi banyak jurus serangannya sudah lain daripada yang lain dan susah diduga.

Keruan sesudah beberapa jurus saja Ban-kiam lantas terperanjat.

Ia tidak mengerti dalam waktu singkat ini dari manakah bocah ini mendapat pelajaran ilmu golok sedemikian lihainya?

Teringat olehnya waktu bertanding dengan pemuda yang mengaku pangcu dari Tiang-lok-pang di Ci-yan-to dahulu, pemuda itu juga mengaku sebagai murid pertama dari Kim-ohpay segala, ilmu golok kedua orang tampaknya rada-rada mirip, cuma dalam hal variasi dan keganasan pemuda Ciok Tiong-giok di hadapannya ini terang jauh lebih lihai.

Wajah kedua pemuda ini sangat mirip, jangan-jangan mereka berasal dari satu guru?

Ibuku mengatakan telah memberi bimbingan seperlunya, jangan-jangan dia memang benar-benar adalah murid Ibu?

Demikian Ban-kiam menimbang-nimbang sendiri.

Sesudah beberapa jurus pula, ketika Ban-kiam menebas dari samping, cepat Boh-thian menangkis.

"Trang" , lelatu api bercipratan, Ban-kiam merasa lengannya tergetar oleh suatu tenaga yang mahakuat, dadanya sampai sakit. Keruan ia tambah kaget, tanpa merasa sampai mundur dua-tiga tindak. Boh-thian tidak mendesak lebih lanjut, ia berpaling kepada Supopo. Maksudnya ingin bertanya.

"Apakah aku dianggap menang belum?"

Tak terduga Ban-kiam menjadi semakin bersemangat bila mana berhadapan dengan lawan tangguh, apalagi Ciok Tiong giok hanya kaum keroco saja, kalau sampai kalah bukankah terlalu penasaran?

Segera ia membentak.

"Lihat pedangku, bocah!"

Menyusul ia lantas menusuk pula.

Waktu Boh-thian hendak menangkis lagi, namun Ban-kiam tidak mau mengadu senjata pula, segera ia ganti siasat, ujung pedang berputar terus menjengkit ke atas untuk menusuk tenggorokan Boh-thian.

Serangan ini sangat cepat lagi jitu dan memperlihatkan ilmu pedang Swat-san-pay yang indah.

Thio Sam sampai memuji.

"Ilmu pedang yang bagus!"

Akan tetapi Ciok Boh-thian lantas mengayun goloknya untuk menebas lengan lawan, yang dia gunakan adalah Kim-oh-tohoat, jurus ini tepat merupakan serangan yang antiserangan Ban-kiam itu.

Maka Thio Sam kembali berseru memuji.

"Ilmu golok yang bagus!"

Begitulah pertarungan kedua orang makin lama makin cepat.

Ban-kiam unggul dalam ilmu pedang yang sudah terlatih, sebaliknya Boh-thian menang dalam hal tenaga dalam.

Ketika mencapai 30-an jurus, mendadak Boh-thian membacok ke depan.

Dalam keadaan susah menghindar, terpaksa Bankiam menangkis dengan pedangnya.

Maka terdengarlah suara "trang"

Yang nyaring, pedang Pek Ban-kiam tergetar patah menjadi dua.

Segera Boh-thian menarik kembali goloknya dan melompat mundur.

Sebaliknya muka Ban-kiam merah padam, dari seorang murid Swat-san-pay di sebelahnya segera disambarnya sebatang pedang dan kembali menusuk ke arah Boh-thian lagi.

Setelah mengalami pertarungan seru ini, tenaga dalam yang terhimpun di tubuh Ciok Boh-thian sudah mulai bergerak, maka setiap jurus serangannya sekarang selalu membuat Pek Bankiam merasa kewalahan untuk menangkisnya.

Lebih-lebih di atas senjatanya seakan-akan membawa kekuatan yang susah dilawan.

Maka tidak sampai beberapa jurus pula.

"krak" , kembali pedang Ban-kiam tergetar patah. Cepat Ban-kiam berganti senjata, tapi baru dua jurus saja lagi-lagi pedangnya patah. Sambil memegang pedang patah Ban-kiam berseru.

"Tenaga dalammu memang jauh melebihi aku, tapi dalam hal serangmenyerang aku belum lagi kalah!"

Segera ia lemparkan pedang patah, kembali ia sambar sebatang pedang anak muridnya terus menerjang maju dan menusuk pula.

Tapi Boh-thian sempat mengegos.

Sekilas dilihatnya sorot mata A Siu menampilkan rasa sedih dan khawatir.

Sekonyongkonyong hati Boh-thian tergerak.

Teringat olehnya apa yang A Siu pernah pesan padanya di Ci-yan-to dahulu bahwa di kala bertanding dengan orang hendaklah selalu memberi jalan hidup bagi lawannya, kalau bisa mengampuni supaya mengampuni.

Seorang tokoh Bu-lim takkan merasa malu bila dilukai olehmu, tapi dia akan lebih suka mati saja jika kau mengalahkan dia.

Ia lihat air muka Ban-kiam sangat prihatin, pikirnya.

"Dia adalah tokoh terhormat Swat-san-pay, kalau aku mengalahkan dia di hadapan orang sebanyak ini tentu dia akan malu. Sebaliknya kalau aku kalah tentu aku akan kehilangan A Siu. Wah, lantas bagaimana baiknya? Ya, biarkan aku menggunakan jurus Pang-kau-cik-kik ajaran A Siu tempo hari supaya pertandingan ini berakhir dengan seri saja."

Berpikir demikian, mendadak dalam benaknya terkilas pula suatu kesimpulan.

"Ya, di Ci-yan-to tempo hari aku telah berjanji kepada A Siu bahwa kelak aku akan berbuat menurut pesannya itu. Untuk mana dia saking terima kasihnya sampai menjura padaku. Pemberian hormat itu tentulah karena sudah diduganya akan adanya pertandingan seperti sekarang ini. Coba kalau bukan lantaran ayahnya, buat apa dia mesti menyembah padaku? Tentunya dia sudah tahu bahwa ayahnya takkan mampu melawan ilmu golokku ini, makanya dia memberi pesan demikian padaku."

Segera ia membacok ke kanan satu kali dan ke kiri satu kali, karena itu dadanya menjadi terbuka, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Pek Ban-kiam, pedangnya lantas menusuk ke depan.

Pada saat itulah cepat Boh-thian mundur tiga tindak, goloknya lantas menebas di depannya sendiri dari atas ke bawah.

Waktu itu tusukan pedang Ban-kiam masih berjarak belasan senti dengan dada sasarannya dan segera sudah terasa akan tekanan tenaga dalam Ciok Boh-thian yang dahsyat sedang pedangnya sampai tergetar dan mendenging-denging.

Akan tetapi pada saat yang sama kembali Ciok Boh-thian mundur dua tindak lagi.

Pikirnya.

"Aku sudah mematahkan tiga batang pedangnya, untuk bisa berakhir dengan seri tentunya dia juga harus mematahkan golokku ini."

Maka diam-diam ia kerahkan tenaga ke tangan.

"krak" , goloknya mendadak juga patah menjadi dua seakan-akan patah tergetar oleh pedang Pek Ban-kiam. A Siu menghela napas lega setelah menyaksikan kejadian itu. Serunya cepat.

"Ayah, Toako, kalian sama kuatnya, siapa pun tidak dikalahkan oleh siapa-siapa!"

Ia berpaling ke arah Boh-thian dan tersenyum simpul padanya, ia merasa syukur bahwa pemuda itu masih ingat kepada pesannya dahulu dan dapat memahami maksud tujuannya.

Sebaliknya air muka Pek Ban-kiam tampak pucat lesi, mendadak ia menancapkan pedangnya ke atas tanah, katanya kepada Ciok Boh-thian.

"Kau sengaja mengalah, masakah aku tidak tahu? Kau tidak membikin aku kehilangan muka di depan umum, sungguh aku merasa terima kasih."

Su-popo sangat senang, katanya.

"Anakku, kau pun jangan cemas, ilmu goloknya ini adalah ajaran ibu, lain hari aku pun akan mengajarkan padamu seperti dia. Kau dikalahkan dia kan sama saja seperti ibu yang mengalahkan kau. Masakah kita ibu dan anak masih membeda-bedakan antara kau dan aku?"

Dalam marahnya tadi dia masih mencaci maki "telur busuk tua bangka"

Dan "telur busuk kecil"

Segala, tapi sekarang sesudah Ciok Boh-thian mengalahkan putranya itu dengan Kim-oh-tohoat, hal ini berarti pada akhirnya dirinya lebih unggul daripada sang suami, saking senangnya ia lantas menghibur putranya yang keok itu.

Keruan Ban-kiam merasa serbarunyam, terpaksa menjawab.

"Ya, ilmu golok itu memang benar-benar sangat lihai, mungkin anak terlalu bodoh dan tak dapat mempelajarinya."

Su-popo mendekati Ban-kiam, perlahan-lahan ia meraba dan membelai rambut putranya itu. Katanya dengan penuh kasih sayang seorang ibu.

"Kau jauh lebih cerdas daripada bocah dungu ini, apa yang dapat dia pelajari masakah kau tidak dapat? He, anak dungu, kenapa tidak lekas menjura dan minta maaf kepada bapak mertuamu?"

Untuk sejenak Boh-thian melengak. Tapi ia lantas paham juga. Dengan girang dan kejut cepat ia menjura kepada Pek Bankiam. Namun Ban-kiam lantas menyingkir ke samping, katanya dengan suara bengis.

"Nanti dulu, urusan ini biarlah dibicarakan nanti saja."

Lalu katanya kepada Su-popo.

"Bu, meski ilmu silat bocah ini cukup tinggi, tapi tingkah lakunya bangor dan kotor, hari depan A Siu hendaklah kita pikirkan baik-baik."

"Sudahlah! Sudahlah!"

Demikian mendadak Li Si menyela.

"Apakah kau akan mengambil dia sebagai mantu atau tidak, yang terang aku tidak ambil pusing. Kulihat di antara orangorang Swat-san-pay tiada seorang pun yang dapat menangkan saudara cilik ini, apakah sudah terang dia akan menjadi ciangbunjin kalian? Kalian semua takluk atau tidak?"

Pek Ban-kiam, Seng Cu-hak, dan anak murid Swat-san-pay yang lain tiada seorang pun yang berani membuka suara.

Mereka merasa kepandaian memang kalah tinggi, di samping itu mereka pun berharap sesudah Ciok Boh-thian menjadi ciangbunjin akan segera berangkat ke Liong-bok-to untuk mengantarkan nyawa, sebab itulah mereka tidak memberi bantahan apa-apa.

Segera Thio Sam mengeluarkan dua potong medali tembaga, katanya dengan tertawa.

"Selamat bahagia, saudara cilik kembali telah menjabat Ciangbunjin Swat-san-pay, maka kedua buah medali ini silakan diterima sekalian."

Sambil bicara sebelah matanya berkedip-kedip pula beberapa kali.

Boh-thian tercengang melihat permainan mata Thio Sam itu, ia heran apakah sang toako telah mengenali penyamarannya?

Padahal sepatah kata pun dia tidak bicara, mengapa rahasianya bisa ketahuan?

Ia tidak tahu bahwa bukan saja ilmu silat Thio Sam dan Li Si memang sangat tinggi, bahkan pengalamannya juga sangat luas, walaupun dia tidak pernah bersuara, tingkah lakunya juga tidak memperlihatkan sesuatu tanda-tanda yang mencurigakan, tapi tadi waktu dia bergebrak dengan Pek Bankiam, di mana dia telah mengeluarkan tenaga dalam yang mahakuat, hal inilah yang jarang terdapat di dunia Kangouw, sedangkan Thio Sam dan Li Si sudah cukup mengetahui betapa hebat lwekang Ciok Boh-thian pada waktu mereka berlomba minum arak berbisa dahulu, maka sekali lihat saja mereka lantas mengetahui rahasia penyamaran pemuda itu.

Begitulah ketika melihat Thio Sam menyodorkan medali tembaga kepadanya, Boh-thian menjadi ragu-ragu dan berpikir.

"Ya, sudahlah! Toh aku sudah pernah menerima medali undangan ini sebagai Pangcu Tiang-lok-pang, sekali terima akan mati, dua kali terima juga mati, apa sih halangannya kalau sekarang aku menerima pula medalinya?"

Tapi baru saja ia angsurkan tangan hendak menerima pemberian medali-medali itu, mendadak Su-popo membentaknya.

"Nanti dulu!"

Terpaksa Boh-thian menarik kembali tangannya dan memandang si nenek dengan bingung. Terdengar nenek itu sedang berkata.

"Tentang kedudukan Ciangbunjin Swat-sanpay ini tadi telah ditentukan dengan jelas, yaitu berdasarkan ilmu silat masing-masing dan sekarang memang kau telah keluar sebagai juara. Cuma aku pun merasa muak atas sikap congkak si telur busuk tua bangka yang sok aksi sebagai ciangbunjin dahulu. Sekarang aku kepingin menjadi ciangbunjin juga untuk mencicipi rasanya. Dari itu, muridku yang baik, silakan kau menyerahkan kedudukan ciangbunjin padaku saja."

"Menye... menyerahkan padamu?"

Boh-thian menegas dengan heran.

"Ya, mengapa?"

Sahut Su-popo dengan marah.

"Apakah kau menolak? Jika demikian, hayolah kita boleh coba-coba bertanding berdasarkan ilmu silat masing-masing untuk merebut kedudukan ketua."

Melihat si nenek marah-marah, Boh-thian menjadi takut. Cepat ia mengiakan, lalu mengundurkan diri.

"Nah, sekarang akulah yang akan menjabat sebagai ciangbunjin, hayo, siapa lagi yang tidak mau takluk?"

Seru Supopo dengan tertawa.

Seketika semua orang hanya saling pandang saja, semua merasa perubahan ini terlalu cepat dan aneh, maka tiada seorang pun yang berani membuka suara.

Su-popo lantas tampil ke muka dan menerima kedua buah medali dari tangan Thio Sam, katanya.

"Ciangbunjin baru Swat-san-pay orang she Su dari keluarga Pek mengucapkan banyak terima kasih atas undangan kalian, pada waktunya kelak tentu akan hadir."

Thio Sam dan Li Si saling pandang dengan tertawa, berbareng kedua orang lantas putar tubuh terus melangkah pergi, hanya dalam sekejap saja suara tertawa mereka sudah berada beberapa puluh meter untuk kemudian semakin jauh lagi dan akhirnya menghilang dengan cepat.

Dengan duduk di atas kursi tengah, kemudian Su-popo berkata dengan pada dingin.

"Lepaskan semua belenggu orang-orang itu!"

Tapi mendadak Nio Cu-cin menegur.

"Berdasarkan apa kau berani berlagak dan memerintah? Kedudukan Ciangbun Swatsan-pay yang mahapenting ini masakan boleh diserahterimakan seperti permainan begini saja?"

Seng Cu-hak dan Ce Cu-bian juga lantas menyokong.

"Benar, kau bersenjata golok dan tidak memakai pedang, memangnya bukan kepandaian Swat-san-pay, mana boleh kau menjadi ciangbunjin kita?"

Tadi waktu Thio Sam dan Li Si masih berdiri di situ, yang dipikir semua orang adalah selekasnya kedua pentol pembawa maut itu bisa lekas-lekas pergi dan biar ada satu orang yang menerima undangannya untuk mengantar nyawa ke Liong-bokto.

Tapi begitu kedua pentol maut itu sudah pergi, segera teringat oleh mereka akan dosa pengkhianatan yang telah mereka lakukan, kalau sekarang Su-popo yang menjadi ciangbunjin mustahil dia takkan mengusut kesalahan mereka itu.

Karena persoalan yang menyangkut mati hidup mereka ini, maka ramailah seketika dan sama menolak kedudukan Supopo itu.

"Baiklah, jika kalian tidak bisa menerima aku sebagai ciangbunjin, ya, apa boleh buat,"

Kata Su-popo sambil memegangi kedua medali tembaga itu dan saling diketok-ketok sehingga mengeluarkan suara "ting-ting", lalu sambungnya.

"Nah siapakah di antara kalian yang ingin menjadi ciangbun dan bersedia hadir ke Liong-bok-to? Hayo, silakan tampil ke depan!"

Perlahan-lahan sorot matanya lantas menggeser dari Seng Cuhak ke muka Ce Cu-bian dan Nio Cu-cin. Tapi semua orang sama berpaling, tak berani menatap sinar matanya yang tajam.

"Lapor Sunio,"

Kata Ban-li tiba-tiba.

"kami semua telah berbuat durhaka dan mengkhianat Suhu, sungguh dosa kami tak terampunkan. Tapi dalam urusan ini sesungguhnya kami mempunyai alasan yang sangat terpaksa."

Sambil berkata ia terus berlutut dan berulang-ulang menjura. Lalu menyambung pula.

"Sebenarnya Sunio yang menjabat ciangbunjin kita adalah sangat baik sekali, biarpun Sunio akan membunuh Tecu juga Tecu tak berani mengelakkan diri. Cuma Tecu memohon agar Sunio suka mengampuni dosa yang lainlain untuk menenteramkan perasaan mereka, supaya di dalam Swat-san-pay kita takkan timbul geger-geger dan bencana saling bunuh lagi."

"Bahwasanya watak suhumu memang kurang baik, hal ini masakah aku tidak tahu?"

Ujar Su-popo.

"Sesungguhnya bagaimana awal mula kejadian ini, coba kau ceritakan yang jelas."

Ban-li menjura beberapa kali pula, lalu berkata.

"Sejak Sunio, Pek-suko, dan para sute turun gunung, setiap hari Suhu selalu marah-marah. Adalah soal kecil jika anak murid cabang utama kita didamprat atau dihajar oleh beliau, kita yang sudah menerima budi kebaikan Suhu mana berani merasa penasaran. Soalnya dimulai pada setengah bulan yang lalu, ketika kita kedatangan tiga orang tamu yang mengaku tiga saudara she Ting. Yang seorang katanya bernama Ting Put-ji, yang kedua Ting Put-sam dan yang lain Ting Put-si...."

"Ting Put-si... Ting Put-si itu mau apa datang ke sini?"

Su-popo menegas dengan terkejut.

"Begitu datang ketiga saudara she Ting itu, mereka lantas bicara secara rahasia dengan Suhu di dalam kamar,"

Tutur Banli lebih lanjut.

"Apa yang dibicarakan kami tidak tahu, yang terang ketiga tua bangka itu rupanya telah membikin marah kepada Suhu sehingga keempat orang telah bertengkar. Tecu sekalian khawatir kalau Suhu sendirian akan kewalahan dikerubut tiga orang lawan, maka beramai-ramai kami menjaga di luar kamar, asalkan mendengar perintah Suhu serentak kami pun akan menyerbu ke dalam untuk melabrak ketiga tua bangka itu. Terdengar Suhu sangat marah dan mencaci maki dengan Ting Put-si itu, disinggung-singgung juga nama ‘Pek-lwe-san’ dan ‘Ci-yan-to’ apa, terdengar disebutsebut juga nama seorang wanita, kalau tidak salah seperti ‘Siau-jui’."

Su-popo mendengus satu kali dengan muka cemberut. Tapi lantas teringat para anak muridnya belum kenal nama kecilnya itu, kalau diterangkan akan menjadi kurang baik malah. Maka ia hanya tanya saja.

"Lalu bagaimana?"

"Lalu entah cara bagaimana mulailah bergebrak, yang terdengar hanya suara menderu-deru angin pukulan di dalam kamar Suhu,"

Demikian tutur Ban-li.

"Karena tidak menerima perintah Suhu, Tecu dan kawan-kawan tidak berani sembarangan masuk. Selang tak lama, tertampak dinding kamar itu sepotong demi sepotong tergetar ambrol, dari lubang dinding itulah baru kami dapat melihat jelas Suhu sedang bertanding dengan Ting Put-si. Ting Put-ji dan Ting Put-sam hanya menonton saja di samping. Karena guncangan angin pukulan kedua orang sehingga dinding tembok sama tergetar pecah dan ambrol. Tidak terlalu lama kemudian, tua bangka Ting Put-si itu akhirnya tidak mampu menandingi kesaktian Suhu, ia telah kalah satu jurus dan dadanya kena dihantam oleh Suhu sehingga muntah darah."

Su-popo sampai bersuara kaget, air mukanya menampilkan rasa khawatir. Dalam pada itu Ban-li telah melanjutkan.

"Rupanya Suhu sangat gusar, pukulan kedua segera dilontarkan pula. Tapi Ting Put-ji itu telah menangkisnya dan berkata, ‘Kalah atau menang sudah jelas, buat apa diteruskan lagi? Toh bukan permusuhan besar apa-apa, masakan perlu mengadu jiwa segala?’ — Lalu Ting Put-si dipayang dan pergilah ketiga orang she Ting itu meninggalkan Leng-siau-sia."

"Ketiga tua bangka itu tidak pernah datang lagi, tapi sejak itu pikiran Suhu lantas kurang normal, sepanjang hari beliau selalu terbahak-bahak, tertawa dan bicara sendiri, katanya, ‘Bangsat tua Ting Put-si itu memangnya adalah jago yang sudah keok di bawah tanganku, sekali ini dia tentu akan lebih kapok lagi mengakui kekalahannya. Dia... dia mengatakan Siau-jui telah ikut dia ke Pik-lwe-san....’."

Bab 42. Ciok Boh-thian Mengalahkan Wi-tek Siansing "Ngaco-belo, mana bisa terjadi demikian?"

Mendadak Su-popo membentak dengan gusar.

"Ya, memangnya Suhu juga bilang, ‘Ngaco-belo, mana bisa, terjadi demikian? Terang si bangsat tua Ting Put-si itu sengaja berdusta, berdasarkan apa sih Siau-jui sudi datang ke Pik-lwesan? Tapi... tapi, jangan-jangan Siau-jui kena juga dibujuk dan dirayu dan... dan akhirnya tanpa sadar mau....’."

Dengan muka merah padam kembali Su-popo membentak pula.

"Telur busuk tua bangka itu sengaja mengaco-belo, masakan bisa terjadi tanpa sadar apa segala?"

Karena tidak paham apa maksud ucapan si nenek, terpaksa Ban-li mengiakan saja.

"Kemudian apa lagi yang dikatakan telur busuk tua bangka itu?"

Tanya Su-popo.

"Yang dimaksudkan Sunio apakah Suhu?"

Ban-li menegas.

"Ya, siapa lagi kalau bukan tua bangka itu?"

Sahut Su-popo.

"Sejak itu pikiran Suhu agaknya sangat tertekan, beliau selalu menggumam, ‘Apakah benar dia sudah pergi ke Pik-lwe-san? Tapi pasti tidak. Hanya saja seorang diri dia berkelana di Kangouw, tentu dia sangat kesunyian dan mungkin bisa terjadi lalu mampir ke sana untuk omong-omong.’."

"Kentut! Ngaco-belo!"

Kembali Su-popo mendamprat.

Ban-li menjadi serbabingung dan serbarunyam, terpaksa hanya berlutut dan tak berani mengiakan.

Sebab kalau mengiakan tentu akan berarti mengakui ucapan suhunya itu adalah "kentut"

Belaka.

"Coba kau berdiri saja,"

Kata Su-popo kemudian.

"Kemudian bagaimana?"

Ban-li mengucapkan terima kasih, lalu berbangkit dan menyambung ceritanya.

"Dua hari kemudian, mendadak Suhu bergelak tertawa terus, setiap orang yang dijumpai tentu ditanya, ‘Coba katakan ilmu silat siapa yang paling tinggi di dunia ini?’ — Semua orang selalu menjawab, ‘Sudah tentu Ciangbunjin Swat-san-pay kita yang paling tinggi.’ — Tampaknya waktu itu perangai Suhu berbeda sekali daripada biasanya. Terkadang ia sudah bertanya tentang ilmu silat secara berbelit-belit sehingga sukar untuk menjawabnya. Suatu hari beliau kepergok Liok-sute di tengah pelataran, tiba-tiba beliau bertanya, ‘Ilmu silatku kalau dibandingkan Boh-hoat Taysu, ketua Siau-lim-si siapa yang lebih tinggi?’ — Entah cara bagaimana jawab Liok-sute, yang terang buah kepala Liok-sute kemudian diketemukan sudah remuk kena hantaman Suhu dan terbinasa di situ. Melihat kematian Liok-sute yang mengerikan itu, lekas-lekas kami melapor kepada Suhu...."

"A Liok biasanya memang ketolol-tololan dan tidak pandai bicara, entah cara bagaimana suhumu telah membinasakan dia?"

Ujar Su-popo.

"Suhu bahkan terbahak-bahak ketika menerima laporan kami,"

Demikian Ban-li menyambung.

Katanya, ‘Biarkan dia mampus!

Masakah aku tanya dia tentang ilmu pukulanku dibandingkan dengan ilmu pukulan Siau-lim-pay, dia secara ngawur telah menjawab bahwa susah dibedakan mana yang lebih unggul, katanya aku dan si gundul Boh-hoat Taysu dari Siau-lim-pay sama-sama lihainya.

Hahaha, benar-benar pantas mampus!

Masakan Wi-tek Siansing Pek Cu-cay yang tiada bandingannya sejak dulu kala sehingga sekarang dianggap sama pandainya dengan kepala gundul dari Siau-lim-si.’ "Kami lihat pikiran Suhu waktu itu tampaknya agak abnormal, kami hanya saling pandang saja dan tidak berani menanggapi ucapan beliau.

Ternyata Suhu menjadi gusar dan mendamprat kami, ‘Apakah kalian bisu semua?

Mengapa tidak bicara?

Ucapanku tadi benar atau tidak, tepat atau tidak?’ — Segera beliau tuding Soh-sute untuk menjawab, tapi rupanya jawaban Soh-sute tidak memuaskan Suhu, sekali gaplok kembali Sohsute dihantam mati pula.

Dan begitu pula Yan-sute disuruh menyebut bahwa Wi-tek Siansing dari Swat-san-pay adalah tokoh serbanomor satu di dunia ini baik ilmu pedang, ilmu lwekang maupun ilmu lain-lainnya.

Tapi sekali salah omong, kembali Yan-sute kemudian juga dihantam pecah kepalanya dan binasa seketika.

Melihat pikiran Suhu dalam keadaan kurang waras, terpaksa Tecu sekalian tak bisa berbuat apaapa."

"Kenapa kalian tidak memanggil tabib untuk memeriksa penyakit gurumu?"

Omel Su-popo.

"Sudah, kami sudah memanggil tabib Lam dan tabib Te yang paling pandai di Leng-siau-sia kita ini untuk memeriksa penyakit Suhu, tapi begitu bertemu dengan tabib-tabib itu Suhu lantas tanya mereka tentang ilmu silat lagi. Sudah tentu kedua tabib itu tidak dapat menjawab karena ilmu silat bukan bidang pekerjaan mereka. Karena itu Suhu menjadi marah dan lagi-lagi kedua tabib itu menjadi korban keganasan beliau."

Dalam keadaan demikian semua, orang hanya merasa takut dan penasaran, tapi tidak berani bicara.

Besoknya kami hendak mengubur ketiga sute dan kedua tabib itu, tapi Suhu telah membikin kacau pula upacara sembahyangan itu.

Waktu Thosute coba-coba melerai beliau, sebaliknya Suhu telah menyambar sebuah piring dan sebelah kaki Tho-sute telah tertebas putus mentah-mentah.

"Melihat keganasan Suhu itu, malamnya lantas ada tujuh orang suheng dan sute yang kabur tanpa pamit. Semua orang merasa Swat-san-pay sedang menghadapi detik-detik keruntuhan, setiap orang merasa tidak aman dan terancam oleh kekejian Suhu itu. Karena sudah terpaksa barulah beramai-ramai kita berunding tindakan apa yang harus diambil. Akhirnya secara diam-diam kami telah menaruh obat tidur di dalam makanan Suhu sehingga beliau tak sadarkan diri dan kaki-tangannya dapat dibelenggu. Dosa atas perbuatan durhaka kami ini sesungguhnya terlalu berat, ganjaran apa yang akan dijatuhkan atas diri kami terserahlah kepada Sunio sekarang."

Habis bicara Ban-li memberi hormat kepada Su-popo, lalu mengundurkan diri dan berdiri bercampur dengan orang banyak.

Untuk sejenak Su-popo termangu-mangu.

Teringat olehnya keperkasaan sang suami selama ini, sampai hari tua ternyata menjadi linglung dan pikun, tanpa merasa air matanya hampirhampir menetes.

"Apa yang dituturkan Ban-li tadi adakah sesuatu yang tidak jujur dan terlalu dilebih-lebihkan?"

Tanyanya kemudian dengan sama rada gemetar. Semua orang diam saja. Selang agak lama barulah Seng Cuhak membuka suara.

"Suso, sesungguhnya memang begitulah kejadiannya, jika kami berdusta lagi padamu bukankah berarti bertambah besar pula dosa kami?"

"Ya, umpama memang suhengmu bersalah, mengapa Ban-kiam dan rombongannya yang baru pulang itu pun kalian jebak pula?"

Ujar Su-popo.

"Dan mengapa para murid Tiang-bun hendak kalian tumpas, mengapa secara keji kalian hendak membabat rumput sampai ke akar-akarnya?"

"Siaute memangnya tidak setuju membikin susah Ciangbun Suheng dan para murid Tiang-bun, maka dari itu Siaute telah cekcok dengan Liau-sute, untuk ini Suso tentu sudah mendengar sendiri,"

Kata Ce Cu-bian. Untuk sejenak Su-popo termenung-menung, akhirnya ia menghela napas dan berkata.

"Ya, apa mau dikata lagi, urusan sudah telanjur dan tak bisa menyalahkan siapa-siapa."

Sementara itu Liau Cu-le yang sebelah kakinya ditebas kutung oleh Pek Ban-kiam tadi ternyata cukup memiliki pambek kesatria, sama sekali ia tidak merintih walaupun darah bercucuran, ia menutuk hiat-to sendiri untuk menghentikan aliran darah, lalu membalut sendiri dengan sobekan baju.

Tiada seorang pun muridnya yang mendekat untuk menolongnya.

Semula Su-popo sangat benci kepada Liau Cu-le karena dia bersitegang hendak membinasakan Pek Cu-cay dan anak murid Tiang-bun, tapi sesudah mengetahui duduknya perkara dan ternyata kesalahan terletak pada suaminya sendiri, maka hati Su-popo menjadi lemas.

Segera ia membentak kepada anak murid cabang empat, yaitu murid-muridnya Liau Cu-le.

"Binatang, menyaksikan guru kalian terluka parah, mengapa kalian hanya menonton saja? Apakah kalian ini manusia?"

Karena dampratan itu barulah murid-murid cabang empat berebut lari ke depan untuk menolong Liau Cu-le.

Yang lain-lain ikut merasa lega juga, kalau dosa Liau Cu-le yang besar juga diampuni, maka mereka yang cuma ikut-ikutan saja tentu takkan menjadi soal pula.

Segera ada orang mengeluarkan kunci untuk membuka belenggu Kheng Ban-ciong, Ang Ban-ek, Hoa Ban-ci, dan lain-lain.

Kemudian Su-popo berkata.

"Kalau pikiran Ciangbunjin seketika kurang waras, mestinya kalian harus berusaha menyadarkan dia. Tapi kalian telah berbuat durhaka, betapa pun kalian telah melanggar tata tertib perguruan. Cara bagaimana memutuskan urusan ini aku sendiri pun tidak tahu. Tindakan pertama sekarang kita harus melepaskan Ciangbunjin dulu untuk berunding dengan beliau."

Air muka semua orang menjadi berubah dan ragu-ragu, mereka menjadi takut kalau Pek Cu-cay dilepaskan apakah tidak akan menimbulkan bencana pula bagi mereka? Su-popo menjadi gusar. Bentaknya.

"Bagaimana? Apakah kalian akan mengurung dia selama hidup ini, apakah dosa kalian masih belum cukup?"

Terpaksa Seng Cu-hak menjawab.

"Suso, kita sudah menyaksikan sendiri bahwa saat ini ciangbunjin kita adalah engkau dan bukan Pek-suko. Sudah tentu Pek-suko akan kita lepaskan, tapi kita harus berdaya menyembuhkan penyakitnya dahulu, kalau tidak...."

"Kalau tidak bagaimana?"

Bentak Su-popo dengan bengis.

"Kalau tidak, Siaute merasa malu untuk bertemu pula dengan Pek-suko, maka biarlah sekarang juga Siaute mohon diri saja,"

Sambung Cu-hak sambil memberi hormat. Segera Ce Cu-bian dan Nio Cu-cin juga berkata.

"Ya, jika Suso cukup bijaksana mau mengampuni jiwa kita, maka biarlah kami segera akan pergi dari sini untuk selamanya tak berani menginjak Leng-siau-sia lagi."

Diam-diam Su-popo juga dapat memahami perasaan para sute yang takut kepada kemungkinan balas dendam Pek Cu-cay bila nanti suheng itu dibebaskan.

Jika mereka sampai bubar, maka Leng-siau-sia tentu takkan pantas sebagai tempat keramat Swat-san-pay lagi.

Terpaksa ia ambil kebijaksanaan, katanya.

"Baiklah, sementara ini kita tunda dulu mengenai persoalan ini. Biar kupergi menjenguknya, jika tiada sesuatu jalan yang baik, tentu aku pun takkan gampang melepaskan dia."

Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, dan Nio Cu-cin saling pandang sekejap.

Mereka pikir betapa pun kalian adalah suami-istri dan sudah tentu akan membelanya.

Namun kami juga punya kaki, bila si gila itu kau bebaskan, segera juga kami akan angkat kaki dari sini.

Maka Cu-hak lantas menjawab.

"Silakan Ciangbunjin segera pergi menjenguk Suheng, biarlah kami menunggu kabar saja di sini."

Segera Su-popo memanggil Ban-kiam dan A Siu, lalu berpaling kepada Boh-thian, katanya.

"Ek-to, coba kalian bertiga ikut padaku."

Menyusul ia berkata pula kepada Seng Cu-hak bertiga.

"Lebih baik silakan ketiga Sute mengantar kami ke sana untuk ikut mendengarkan pembicaraanku agar kalian tidak menjadi khawatir. Jangan-jangan kalian akan menyangka kami akan mengatur tipu muslihat apa-apa untuk menjebak kalian."

"Ah, mana kami berani berpikir demikian?"

Sahut Cu-hak.

Walaupun begitu katanya, tapi untuk selamatnya mereka bersama Cu-bian dan Cu-cin lantas ikut masuk ke belakang juga.

Liau Cu-le lantas memberi isyarat kepada seorang muridnya.

Orang itu paham maksud sang guru, dari jauh ia lantas mengikut juga dari belakang.

Sesudah menyusur serambi yang panjang, akhirnya rombongan mereka sampai di tempat di mana Ciok Boh-thian pernah dikurung.

"Di sinilah!"

Kata Seng Cu-hak menunjukkan tempat tahanan tua yang pernah dilihat Boh-thian.

Waktu Cu-hak mengeluarkan kunci hendak membuka pintu penjara itu, di luar dugaan gembok pintu itu ternyata sudah terbuka.

Keruan ia bersuara heran dan ketakutan.

Diam-diam ia mengeluh.

"Wah, celaka! Si Gila itu sudah lolos!"

Melihat tangan Seng Cu-hak agak gemetar dan tidak membuka pintu, segera Su-popo mendorong pintu batu itu dan dengan mudah saja sudah terpentang.

Tanpa merasa Cu-hak, Cu-bian dan Cu-cin bertiga melangkah mundur beberapa tindak.

Di dalam ruangan situ kosong melompong tiada seorang pun.

Segera Seng Cu-hak berseru.

"Wah, celaka! Dia sudah kabur!"

Tapi lantas teringat olehnya bahwa tempat situ adalah ruangan luar, masih harus membuka sebuah pintu pula barulah akan mencapai kamar tahan Pek Cu-cay.

Saking tegangnya sampai dia tidak berani membuka lagi pintu yang kedua itu.

Mestinya Ciok Boh-thian hendak memberi tahu bahwa pintu itu sudah dibuka olehnya, tapi demi teringat dia sedang menyaru sebagai orang bisu, ada lebih baik jangan membuka suara dahulu.

Su-popo menjadi tidak sabar, segera ia ambil kunci dari tangan Seng Cu-hak dan dimasukkan lubang kunci, tapi segera diketahuinya pintu itu sudah terbuka, ia sangka sang suami benar-benar sudah lolos, diam-diam menjadi khawatir kalaukalau suaminya yang kurang waras itu akan menimbulkan bencana di luaran.

Tak tersangka baru saja pintu itu didorong sedikit, segera terdengarlah suara tertawa seorang tua.

Seketika semua orang merasa lega, itulah suaranya Pek Cu-cay.

Setelah tertawa orang tua itu telah berseru.

"Huh, apa-apaan ilmu silat dari Siau-lim-pay, Bu-tong-pay dan lain-lain itu? Sejak kini semua orang Bu-lim harus ganti belajar ilmu silat dari Swat-san-pay, segala ilmu silat dari golongan lain harus dihapus. Hai, dengar tidak kalian? Ini dia Pek Cu-cay adalah raja di atas raja segala tokoh persilatan. Siapa yang tidak tunduk padaku segera kupatahkan batang lehernya!"

Waktu Su-popo melangkah masuk, remang-remang terlihat kaki-tangan sang suami terbelenggu semua dan terikat di tengah-tengah dua tiang batu dengan rantai besi, mau tak mau perasaan si nenek menjadi pedih.

Pek Cu-cay juga tertegun ketika tiba-tiba tampak sang istri.

Tapi ia lantas berkata dengan tertawa.

"Bagus, bagus! Kau sudah pulang. Sekarang setiap orang Bu-lim telah mengangkat aku sebagai yang dipertuan agung, Swat-san-pay menjagoi seluruh dunia, golongan-golongan lain telah dipunahkan. Popo, bukankah hal ini sangat menggembirakan?"

"Ya, bagus, tapi entah mengapa aliran dan golongan lain harus dihapuskan?"

Sahut Su-popo dengan dingin saja.

"Eh, mengapa kau bertanya demikian? Ilmu silat Swat-san-pay sudah terang paling tinggi, dengan sendirinya golongan dan aliran lain harus dibubarkan saja!"

"Coba lihat, siapa ini?"

Tiba-tiba Su-popo menarik A Siu ke depan.

Ia tahu suaminya paling sayang kepada cucu perempuannya itu, sebabnya sang suami menjadi kurang waras pikiran justru timbul lantaran A Siu membunuh diri terjun ke dalam jurang.

Ia berharap dengan melihat cucu perempuan kesayangannya mungkin pikiran sehatnya akan pulih kembali.

Segera A Siu juga menyapa.

"Yaya, aku sudah pulang, aku tidak mati, aku jatuh di atas salju yang belum beku, nenek yang telah menolong diriku."

Pek Cu-cay pandang sekejap kepada A Siu. Katanya kemudian.

"Bagus, kau adalah A Siu! O, mestikaku, apakah kau tahu di dunia ini ilmu silat siapakah yang paling tinggi? Siapa yang dipertuan agung di dunia persilatan sekarang ini?"

Dengan suara perlahan A Siu menjawab.

"Yaya!"

Pada saat itulah Pek Ban-kiam telah melangkah maju, katanya.

"Ayah, anak telah pulang terlambat sehingga ayah menderita, biarlah anak membukakan belenggumu."

"Hus, pergi kau! Siapa yang minta kau membuka kunci belenggu?"

Bentak Cu-cay.

"Besi karatan begini dalam pandangan ayahmu hanya seperti kayu lapuk saja, asal aku mau meronta sedikit tentu akan terlepas. Soalnya aku tidak mau dan lebih suka istirahat di sini. Huh, aku Pek Cu-cay selamanya malang melintang di dunia ini, biarpun seribu orang maju sekaligus juga tak bisa mengganggu seujung rambut ayahmu, siapa lagi yang mampu membelenggu diriku?"

"Ya, ayah memang tiada tandingannya di dunia ini,"

Kata Bankiam.

"Sekarang ibu dan A Siu sudah pulang, kita harus bergembira, silakan ayah makan minum di ruangan depan untuk merayakan berkumpulnya kita sekeluarga."

Sembari berkata ia terus pegang kunci hendak membuka belenggu tangan sang ayah. Tapi Cu-cay menjadi gusar. Teriaknya.

"Aku suruh kau pergi, mengapa kau tidak pergi!"

Tiba-tiba ia melihat Seng Cu-hak dan lain-lain sedang melongak-longok di luar pintu, segera ia membentak.

"Kurang ajar! Melihat aku mengapa kalian tidak memberi hormat? Hayo, siapa di antara kalian sang mengaku sebagai kesatria dan jagoan?"

Seng Cu-hak dan lain-lain menjadi serbasalah.

Tapi mereka pikir kalau sang suheng nanti dilepaskan bukan mustahil mereka akan celaka, rasanya lebih baik sekarang juga merendah diri dan mengambil hatinya.

Maka Cu-hak lantas menjawab.

"Pek-loyacu adalah jago pedang nomor satu tiada taranya sejak dahulu kala hingga sekarang, bahkan ilmu pukulan juga nomor satu, ilmu lwekang juga nomor satu!"

"Ya, Pek-loyacu adalah mahakesatria, mahapendekar, mahaguru ilmu silat, dengan menonjolnya Swat-san-pay kita, dengan sendirinya Siau-lim-pay, Bu-tong-pay dan lain-lain harus dihapuskan, hanya Pek-loyacu kita yang harus dipertuanagungkan!"

Demikian Nio Cu-cin lantas ikut mengumpak.

Begitu pula Ce Cu-bian dan lain-lain lekas-lekas ikut arah angin dan memberi puji sanjung setinggi langit sehingga Pek Cu-cay tampak manggut-manggut dan tertawa senang.

Sebaliknya Su-popo merasa malu sekali.

Pikirnya.

"Tua bangka ini dikatakan gila toh juga tidak. Buktinya dia masih ingat pada diriku dan A Siu. Penyakitnya mungkin disebabkan karena terlalu sombong atau gila hormat."

Mendadak Pek Cu-cay berkata kepada Su-popo.

"Beberapa hari yang lalu Ting Put-si telah datang kemari, katanya kau telah menyambangi dia dan berdiam beberapa hari di Pik-lwe-to. Apakah benar hal ini?"

"Apakah kau benar-benar sudah gila? Masakah kau percaya saja segala ocehan demikian?"

Sahut Su-popo dengan gusar.

"Yaya,"

Tiba-tiba A Siu menyela.

"Ting Put-si memang pernah memaksa aku dan nenek supaya mampir ke tempatnya Piklwe-to itu, dia memaksa orang di saat bahaya, tapi nenek lebih suka membunuh diri dengan terjun ke dalam sungai daripada ikut dia ke tempatnya itu."

"Bagus, bagus! Memangnya nyonya Pek Cu-cay masakah terima dihina begitu? Kemudian bagaimana?"

"Kemudian... kemudian beruntung kami telah ditolong oleh Toako ini, akhirnya Ting Put-si dapat digebah pergi,"

Sahut A Siu. Untuk sejenak Pek Cu-cay mengamati Ciok Boh-thian, katanya.

"Kepandaian bocah ini masih boleh juga, walaupun masih selisih beberapa pal dengan kepandaianku, tapi rasanya memang sudah cukup untuk mengenyahkan Ting Put-si."

"Huh, kau membual apa?"

Teriak Su-popo dengan mendongkol.

"Kau mengaku tokoh nomor satu di dunia ini, kan benar-benar ngaco-belo belaka! Anak ini adalah muridku, aku sendiri yang telah mendidiknya. Kepandaian muridku ini saja sudah terang jauh lebih tinggi daripada kepandaian muridmu!"

"Hahaha! Omong kosong! Omong kosong!"

Seru Pek Cu-cay dengan terbahak-bahak.

"Kepandaian apa yang kau miliki sehingga mampu menangkan kepandaianku?"

"Coba jawab, Kiam-ji adalah anak-didikmu, bukan?"

Tanya Supopo.

"Nah, coba katakan kepada gurumu, Anak Kiam, kesudahan pertandingan tadi antara kau dengan muridku berakhir dengan kemenangan di pihak siapa?"

"Ini... ini...."

Ban-kiam tergagap-gagap tak bisa menjawab.

Di hadapan ayahnya yang tinggi hati itu ia tidak berani mengemukakan hal-hal yang berlawanan dengan wataknya.

Tapi Cu-cay sudah lantas berkata dengan tertawa kepada Supopo.

"Hah, muridmu masakah mampu melawan muridku?"

Su-popo melotot sekali kepada sang putra dan mendengus. Ban-kiam menjadi kikuk. Sebagai seorang laki-laki yang jujur terpaksa ia mengaku. Katanya.

"Ya, anak memang sudah coba coba bergebrak dengan dia dan benar-benar telah kalah."

"Apa katamu?"

Teriak Pek Cu-cay sambil meloncat bangun sehingga rantai besi borgolnya bersuara gemerencing.

"Kau kalah? Mana bisa jadi? Tidak, tidak boleh jadi!"

Sebagai suami-istri selama puluhan tahun Su-popo cukup kenal watak dan perasaan sang suami. Pikirnya.

"Tua bangka ini selamanya anggap dirinya tiada tandingannya di kolong langit, rupanya dia kena dibakar oleh ucapan Ting Put-si sehingga pikirannya menjadi kurang waras. Kata peribahasa.

"Penyakit jiwa harus diobati dengan ilmu jiwa. Jika sekali-sekali dia dikalahkan oleh seseorang, boleh jadi penyakit gilanya ini akan dapat disembuhkan. Cuma sayang Thio Sam dan Li Si sudah pergi, kalau tidak mereka berdua cukup memenuhi syarat untuk mengobati penyakit tua bangka ini. Sekarang terpaksa harus dicari jalan lain, walaupun ilmu silat muridku ini tidak tinggi, tapi tenaga dalamnya terang lebih kuat, mengapa aku tidak mencobanya?"

Maka ia lantas berkata.

"Huh, selamanya kau cuma membual ilmu silatmu nomor satu di dunia ini dan tenaga dalam tiada bandingannya di kolong langit. Huh, benar-benar tidak tahu malu. Padahal melulu soal tenaga dalam saja, muridku ini sudah terang jauh di atasmu!"

Pek Cu-cay bergelak tertawa sambil mendongak. Katanya kemudian.

"Biarpun Tat-mo Cosu dari Siau-lim-si hidup kembali juga bukan tandingan orang she Pek ini, sekarang hanya seorang bocah hijau ingusan saja, kalau tenaga dalamnya ada satu pertiga tenagaku sudah cukup baginya untuk menjagoi dunia persilatan."

"Huh, benar-benar sombong dan tidak tahu malu,"

Jengek Supopo.

"Kalau kau ingin tahu rasa, cobalah kau mengadu tenaga dulu dengan dia."

"Ha, masakah bocah ini ada harganya untuk bergebrak dengan aku?"

Ujar Cu-cay dengan tertawa.

"Ya, baiklah, aku hanya menggunakan sebelah tangan saja sudah cukup membuatnya berjungkir balik tiga kali."

Su-popo tahu tenaga dalam sang suami memang sangat lihai dan bukan mustahil Ciok-Boh-thian akan dilukai.

Sekarang suaminya mengucapkan sendiri akan menggunakan sebelah tangan melulu, keruan kebetulan baginya.

Segera ia menjawab.

"Baik. Silakan kalian coba-coba bertanding. Pemuda ini adalah muridku juga calon suami A Siu, berarti juga calon cucu menantumu, maka kalian tidak boleh saling melukai."

"Kau bilang dia adalah calon cucu menantuku?"

Pek Cu-cay menegas dengan tertawa.

"Baiklah, akan kucoba dulu apakah dia memenuhi syarat untuk menjadi suami si A Siu atau tidak? Tentu aku takkan mencelakai jiwanya."

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang berlari masuk ke dalam kamar tahanan itu dan berseru.

"Lapor Ciangbunjin, pangcu dari Tiang-lok-pang Ciok Boh-thian bersama Mo-thiankisu Cia Yan-khek telah menolong keluar Ciok Jing dan istrinya, sekarang mereka sedang menantang perang di ruang pendopo."

Dari suaranya dapatlah dikenal adalah suaranya Kheng Banciong. Seketika Pek Cu-cay dan Su-popo bersuara heran berbareng.

"Mo-thian-kisu Cia Yan-khek?!"

Sebaliknya Ciok Boh-thian terkejut dan bergirang.

Ia merasa girang karena diketahui Ciok Jing dan istrinya sudah lolos dengan selamat.

Terkejut karena Ciok Tiong-giok itu sekarang sudah berada di Leng-siau-sia, maka rahasia penyamarannya ini tentu akan segera terbongkar.

Ia pun sudah lama tidak bertemu dengan Cia Yan-khek, sekarang dapat berjumpa pula, di samping girang ia pun rada-rada takut.

"Selamanya kita tiada persengketaan apa-apa dengan Tianglok-pang dan Cia Yan-khek, untuk apa mereka mencari perkara ke sini?"

Demikian kata Su-popo kemudian.

"Apakah mereka datang untuk membantu Ciok Jing?"

"Ciok Boh-thian dari Tiang-lok-pang itu sangat kurang ajar, katanya dia telah penujui Leng-siau-sia kita dan suruh kita harus... harus menyerah padanya,"

Sahut Kheng Ban-ciong.

"Kentut anjing!"

Teriak Pek Cu-cay dengan gusar.

"Orang Tiang-lok-pang seluruhnya datang berapa banyak?"

"Mereka hanya terdiri dari lima orang saja,"

Sahut Ban-ciong.

"Selain Cia Yan-khek, Ciok Boh-thian dan Ciok Jing suami-istri terdapat pula seorang nona jelita cucu perempuannya Ting Putsam."

Mendengar si Ting Tong juga ikut datang, mau tak mau Bohthian lantas mengerut kening.

Ia coba melirik si A Siu, ternyata nona itu pun sedang memandang padanya dengan matanya yang jeli.

Dengan muka merah cepat Boh-thian berpaling ke arah lain.

Pikirnya.

"Mengapa Ciok Tiong-giok itu datang pula bersama Ting Tong? Apa mereka khawatir kalau-kalau aku mengalami cedera di sini, makanya mereka sengaja datang buat membantu bila perlu? Dan Cia-siansing itu tentu datang hendak menolong aku pula."

Dasar watak Boh-thian memang polos dan jujur, maka disangkanya manusia di seluruh jagat ini juga semuanya berhati baik dan berbudi.

Sebab itulah terhadap orang lain selalu yang dipikirkan adalah hal-hal yang baik saja.

Dalam pada itu Pek Cu-cay telah berkata.

"Huh, hanya lima orang saja apa artinya bagiku? Apakah tidak kau katakan bahwa Pek-loyacu dari Swat-san-pay adalah jago nomor satu di dunia ini, mengapa mereka berani main gila ke sini? Ah, ya, ya! Tentu berita tentang tetirahku di dalam kamar sunyi ini telah tersiar, mereka sangka Pek-loyacu sudah cuci tangan dan tidak mau main silat lagi, maka berani mengacau ke sini. Coba lihat, baru saja guru kalian istirahat sebentar saja kalian sudah tak mampu menghadapi orang luar."

"Huh, masih membual apa lagi?"

Semprot Su-popo.

"Hayo, semua orang ikut aku keluar untuk menandangi musuh."

Segera ia mendahului melangkah keluar disusul dengan Pek Ban-kiam, Seng Cu-hak, dan lain-lain. Baru saja Ciok Boh-thian juga hendak melangkah pergi, tibatiba didengarnya seruan Pak Cu-cay.

"Kau bocah ini tinggal dulu di sini, biar kuberi sedikit hajaran."

Terpaksa Boh-thian berhenti dan putar tubuh kembali.

A Siu yang sudah jalan juga lantas berpaling dan kembali ke depan pintu.

Ia tahu sang kakek kurang waras, jangan-jangan sekali hantam Boh-thian akan terbinasa.

Maka cepat ia berseru.

"Nenek, kakek benar-benar hendak... hendak bertanding dengan dia."

Su-popo masih sempat berpaling dan berkata kepada Pek Cucay.

"Jika kau berani melukai muridku, seketika juga aku akan pergi ke Pik-lwe-san untuk selamanya takkan pulang lagi."

Cu-cay menjadi gusar. Teriaknya.

"Kau... kau bilang apa?"

Namun Su-popo tak menggubrisnya lagi, segera ia bertindak keluar sambil merapatkan pintu penjara.

Seketika keadaan di dalam menjadi gelap gulita.

Segera A Siu mendekati sang kakek, ia gunakan kunci yang tertinggal di atas belenggu oleh Pek Ban-kiam tadi untuk membuka borgol kaki dan tangan Pek Cu-cay.

Katanya kemudian.

"Yaya, bolehlah kau mengajarkan beberapa jurus padanya. Tapi jangan keras-keras, dia belum lama belajar silat."

Pek Cu-cay menjadi senang, katanya dengan tertawa.

"Baik, aku akan ajarkan beberapa jurus padanya supaya berguna baginya kelak."

Boh-thian merasa kebetulan malah.

Tadi ia mendengar kakek itu mengaku sebagai jago nomor satu di dunia ini, ia merasa dirinya pasti bukan tandingannya.

Sekarang orang tua itu hanya akan memberi ajaran saja, sudah tentu ini yang diharapkannya.

Maka cepat ia mengucapkan terima kasih.

A Siu lantas mengundurkan diri, ia membuka pintu penjara sehingga dalam kamar tahanan itu menjadi terang lagi.

Setelah berdiri, ternyata perawakan Pek Cu-cay hampir-hampir lebih tinggi satu kepala daripada Ciok Boh-thian, tertampak gagah perkasa laksana malaikat.

Keruan Boh-thian bertambah segan dan hormat padanya sehingga tanpa merasa dia mundur dua tindak.

"Jangan takut, jangan takut!"

Kata Cu-cay dengan tertawa.

"Yaya takkan melukai kau. Lihat ini, sekali tanganku menjulur dan memegang kudukmu segera kau akan kubanting terguling...."

Sambil bicara tangannya juga lantas meraih dan benar juga kuduk Ciok Boh-thian lantas kena dipegang olehnya.

Saking cepat dan tepatnya Boh-thian sama sekali tak sempat menghindar.

Terasa tangan si kakek sangat kuat, sekali kena dipegang tubuh serasa hendak terangkat ke atas.

Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga untuk bertahan, menyusul tangan kanan terus menangkis untuk melepaskan cengkeraman lawan.

Seketika tangan Pek Cu-cay terasa kesemutan tertangkis oleh tangan Ciok Boh-thian, ia bersuara heran dan merasa tenaga dalam bocah ini benar-benar sangat hebat.

Cepat tangan kirinya menyambar pula, kembali dada Boh-thian kena dijambretnya, menyusul terus mengentak ke samping, tapi tubuh pemuda itu tetap tak bergerak.

Mestinya Boh-thian sudah berjaga-jaga dan ingin berkelit, tapi toh tetap kena dijambret si kakek, diam-diam ia sangat kagum dan memuji.

"Kepandaian Loyacu memang sangat lihai, hanya dua jurus ini saja sudah lebih lihai daripada Ting-siya!"

Sebenarnya Pek Cu-cay sudah merasa malu karena dua kali angkat dan entak tak mampu merobohkan Boh-thian, sekarang pemuda itu memujinya lebih lihai daripada Ting-Put-si, maka ia menjadi senang pula.

Katanya.

"Memangnya Ting Put-si mana bisa menandingi aku?"

Habis itu kaki kiri Pek Cu-cay terus menjegal.

Akan tetapi Bohthian sempat mengelak pula sehingga tidak jadi jatuh tersungkur.

Serangan tiga serangkai; menarik, mencengkeram dan menjegal dari Pek Cu-cay itu selama ini sudah banyak menjatuhkan jago-jago silat ternama.

Siapa duga sekarang dia ketemu Ciok Boh-thian yang memiliki tenaga dalam yang mahakuat sehingga satu jurus pun tidak berhasil.

Sebabnya pikiran Pek Cu-cay menjadi kurang waras adalah karena ucapan Ting Put-si tempo hari tentang Su-popo, dalam gusar dan cemburunya pikirannya menjadi linglung.

Sekarang melihat sang istri sudah pulang dan diketahui pula kepergian Su-popo ke Pik-lwe-to sebagaimana dikatakan Ting Put-si itu cuma omong kosong belaka, saking girangnya penyakit gilanya sudah sembuh sebagian besar.

Tapi tentang gila hormat "Jago nomor satu di dunia", ini masih tetap menjadi keyakinannya.

Tak tersangka sekarang tiga jurus andalannya itu ternyata tidak mampu mengapa-apakan seorang pemuda sebagai Ciok Boh-thian, keruan ia menjadi murka sehingga pikirannya menjadi linglung lagi.

Tanpa bicara lagi segera ia menghantam ke dada Ciok Boh-thian dengan tenaga sepenuhnya, sama sekali ia sudah lupa tentang pesan Su-popo agar memberi kelonggaran kepada Boh-thian.

Melihat pukulan dahsyat itu, cepat Boh-thian menangkis, tapi menyusul kepalan kiri Pek Cu-cay lantas memukul pula.

Segera Boh-thian bermaksud mengegos, namun pukulan susulan Pek Cu-cay ini sangat lihai.

"plak" , tanpa ampun lagi bahu kanan Boh-thian kena digenjot. Saking khawatir dan kagetnya A Siu sampai menjerit. Tapi Boh-thian ternyata tidak bergerak, bahkan ia menghibur si nona.

"Jangan khawatir, aku tidak sakit!"

"Anak kurang ajar! Kau tidak sakit? Ini, rasakan lagi bogem mentahku!"

Teriak Pek Cu-cay dengan gusar sambil melontarkan hantaman pula.

Tapi kena ditangkis oleh Ciok Boh-thian.

Melihat pertarungan kedua orang itu makin lama makin cepat dan berulang-ulang Boh-thian kena pukulan dan tendangan, semula A Siu sangat khawatir.

Tapi demi melihat pemuda itu seperti tidak merasakan apa-apa, akhirnya ia pun merasa lega.

Beruntun-runtun Pek Cu-cay telah hantam belasan kali di tubuh Ciok Boh-thian, semula dia memang cuma menggunakan duatiga bagian tenaganya menurut pesan sang istri agar Boh-thian tidak terluka.

Tapi pemuda itu ternyata tidak kelihatan kalah, keruan Cu-cay terkejut dan gusar pula.

Maka pukulan-pukulan selanjutnya juga semakin keras.

Namun aneh juga, biarpun tenaga pukulannya sudah tambah kuat, pemuda itu tetap sukar dirobohkan.

Sambil mengerang murka Pek Cu-cay telah mengerahkan segenap tenaganya untuk menyerang sehingga antero kamar penuh angin pukulan yang keras, sampai-sampai rantai besi yang bergantungan di tiang batu ikut gemerencing terguncang.

A Siu merasa napasnya menjadi sesak, terpaksa ia membuka pintu kamar penjara itu dan berjalan keluar.

Ia merasa tidak sampai hati menyaksikan tubuh Ciok Boh-thian dihujani pukulan sang kakek, segera ia merapatkan pintu dan diamdiam berdoa di luar semoga pertarungan kedua orang itu berakhir dengan seri dan keduanya tidak terkena cedera apaapa.

Ia mendengar suara daun pintu terguncang dan gemerencingnya rantai makin lama makin keras, sungguh ia menjadi cemas dan sangat khawatir.

Entah berapa lamanya ketika mendadak keadaan menjadi sunyi, tak terdengar lagi suara gemerencingnya rantai dan terguncangnya daun pintu.

Ia coba mendengarkan dengan cermat, ternyata di dalam kamar penjara itu sunyi senyap.

Keadaan demikian membuatnya semakin cemas daripada tadi.

Pikirnya.

"Wah, celaka! Entah kakek atau dia yang menang? Kalau kakek yang menanti tentu sudah terbahak-bahak, sebaliknya kalau dia yang menang, tentu pula dia sudah keluar."

Dengan gemetar kemudian A Siu mendorong pintu dengan perlahan-lahan, hatinya kebat-kebit khawatir kalau-kalau yang dilihatnya adalah mayat salah seorang yang menggeletak.

Tapi ia lantas menghela napas lega ketika tertampak Pek Cu-cay sedang duduk bersila dengan kedua mata terpejam, sedangkan Ciok Boh-thian dengan tersenyum simpul memandang padanya, sebelah tangan pemuda itu menahan di punggung sang kakek, rupanya sedang bantu menyalurkan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka sang kakek.

"Apakah... apakah Yaya terluka?"

Tanya A Siu dengan khawatir.

"Tidak, hanya napasnya sesak seketika, sebentar saja sudah baik,"

Sahut Boh-thian. Mendadak Pek Cu-cay melompat bangun sambil membentak.

"Napas sesak apa? Bukankah aku sudah... sudah sembuh?"

Berbareng sebelah tangannya terus menghantam pula ke batok kepala Ciok Boh-thian.

Tapi mendadak kedua telapak tangannya terasa bengkak dan kesakitan, waktu diperiksa, ternyata kedua tangannya sudah merah biru dan melepuh, kalau hantaman itu mengenai Ciok Boh-thian, bukan mustahil tangannya sendiri yang akan pecah lebih dulu.

Dalam pada itu kedua kakinya lantas terasa pula kesakitan seperti ditusuk jarum.

Maka tahulah Pek Cu-cay bahwa tenaga dalam bocah yang disepelekannya itu ternyata mahakuat, berpuluh kali pukulannya tadi telah terpental kembali karena terbentur tenaga dalam pemuda itu sehingga tangan dan kakinya sendiri yang luka tergetar.

Bab 43.

Mo-thian-kisu Cia Yan-khek Muncul di Leng-siausia Untuk sejenak Pek Cu-cay termangu-mangu, akhirnya ia berkata.

"Ya, sudahlah, habislah segalanya!"

Seketika ia menjadi putus asa, segala bualan tentang "jago nomor satu di dunia ini"

Barulah diinsafinya terlalu menggelikan orang lain. Segera ia ambil borgol dan membelenggu pula kaki dan tangannya sendiri dan dikunci pula padu pilar.

"Cring" , ia banting kunci borgol ke dinding batu sehingga kunci-kunci itu rusak melengkung, maka untuk membuka borgolnya menjadi susah pula.

"He, Yaya, mengapakah kau?"

Seru A Siu kaget. Tapi Pek Cu-cay lantas berpaling menghadap tembok, katanya.

"Aku... aku Pek Cu-cay sudah terlalu berdosa, biarlah sekarang tirakat di sini untuk menginsafkan diri. Lekas kalian keluar dari sini, sejak kini siapa pun takkan kutemui. Boleh suruh nenekmu pergi ke Pik-lwe-to saja dan selanjutnya jangan pulang ke Leng-siau-sia lagi."

A Siu dan Boh-thian saling pandang dengan bingung. Selang sejenak barulah A Siu mengomeli Boh-thian.

"Semuanya garagaramu, mengapa kau mentang-mentang mesti mencari menang?"

"Aku... aku toh tidak menyerang sekalipun pada kakekmu?"

Sahut Boh-thian dengan melengak.

"Apakah dia hanya kakekku saja? Apakah kau merasa terhina jika memanggil ‘kakek’ juga kepada beliau?"

Semprot A Siu dengan melotot.

"O, ya. Kakek!"

Cepat Boh-thian memanggil dengan rasa syur. Tapi Pek Cu-cay telah menggoyang-goyang tangannya dan berseru.

"Lekas pergi, lekas pergi! Kau lebih kuat daripadaku, aku adalah cucumu, kaulah kakekku!"

"Wah, kakek telah marah, lekas kita beri tahukan pada nenek!"

Kata A Siu sambil menjulur lidah. Segera kedua orang keluar dari penjara itu dan menuju ke ruang pendopo. Kata Boh-thian kepada si nona.

"A Siu, setiap orang menyangka aku sebagai pemuda Ciok Tiong-giok itu, sampai-sampai Ciok-cengcu dan Ciok-hujin juga tidak dapat membedakan. Tapi mengapa kau tidak sampai salah mengenal diriku?"

Mendadak air muka A Siu berubah merah, lalu pucat pula dan jalannya menjadi agak sempoyongan. Cepat ia tenangkan diri, kemudian berkata.

"Ciok Tiong-giok itu pernah hendak menodai diriku sehingga aku terjun ke jurang untuk membunuh diri. Toako, apakah kau suka membalaskan sakit hatiku dan membunuh dia?"

Boh-thian menjadi ragu-ragu, jawabnya.

"Dia adalah putra tunggal kesayangan Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, Ciok-cengcu berdua juga sangat baik padaku, sungguh aku... aku tidak boleh membunuh putranya, A Siu."

Tiba-tiba A Siu menangis terguguk-guguk, katanya.

"Untuk pertama kalinya aku memohon padamu dan sudah lantas kau tolak, maka untuk selanjutnya tentu kau pun akan... akan selalu main garang padaku seperti kakek terhadap nenek. Biar... biarlah kuberi tahukan pada nenek dan ibu saja."

Habis berkata ia terus putar tubuh dan berlari pergi.

"A Siu, A Siu! Dengarkanlah penjelasanku,"

Seru Boh-thian.

"Jika kau tidak membunuh dia, selamanya aku takkan menggubris kau lagi!"

Sahut A Siu sambil menutupi mukanya dan terus berlari ke depan, hanya sekejap saja ia sudah sampai di ruang pendopo.

Ketika Boh-thian juga menyusul tiba, tertampaklah di ruangan situ sinar pedang berkilat-kilat, empat orang sedang bertempur dengan sengit.

Mereka adalah Pek Ban-kiam, Seng Cu-hak, dan Ce Cu-bian bertiga sedang mengerubut seorang tua berewok dan berjubah hijau.

Melihat orang tua itu, tanpa merasa Boh-thian terus berseru.

"He, Paman Cia, baik-baikkah kau? Sudah lama sekali kita tak bertemu!"

Kiranya orang tua itu tak-lain-tak-bukan adalah Mo-thian-kisu Cia Yan-khek.

Dikeroyok tiga tokoh terkemuka Swat-san-pay ternyata Cia Yan-khek masih tetap sangat tangkas, dengan bertangan kosong ia melawan tiga batang pedang sedikit pun tidak kelihatan asor, sebaliknya dia malah di atas angin, lebih banyak menyerang daripada diserang.

Ketika tiba-tiba mendengar suara seruan Ciok Boh-thian ia terperanjat, waktu memandang ke arah pemuda itu, tanpa terasa ia berseru.

"He, mengapa muncul satu pula?"

Pertandingan tokoh-tokoh terkemuka biasanya tidak boleh lengah sedikit pun.

Karena terkejutnya itu, sekaligus pedangpedang Pek Ban-kiam, Seng Cu-hak, dan Ce Cu-bian lantas menusuk ke perutnya.

Serangan cepat lagi ganas itu tampaknya pasti akan menembus perut Cia Yan-khek, Boh-thian menjadi khawatir.

Teriaknya.

"Awas!"

Cepat ia melompat maju, sekali jambret ia pegang punggung Pek Ban-kiam dan ditarik ke atas. Menyusul terdengarlah suara "krek-krek"

Dua kali, dalam keadaan berbahaya Cia Yan-khek telah keluarkan kepandaian andalannya "Pik-ciam-jing-ciang" , tangan kiri mematahkan pedang Ce Cu-bian dan tangan kanan mematahkan pedang Seng Cu-hak.

Walaupun demikian tidak urung jubahnya juga sudah tergores robek dua jalur panjang.

Bahkan menyusul kedua tangannya terus menyodok pula ke depan, di mana tenaga dalamnya memancar, kontan Seng Cuhak dan Ce Cu-bian terus mencelat dan menumbuk dinding.

Dalam pada itu terdengar pula suara "plok"

Satu kali, kiranya Pek Ban-kiam telah putar tubuh dan persen Ciok Boh-thian dengan sekali tamparan.

Cia Yan-khek memandang sekejap pula kepada Ciok Boh-thian, kemudian sorot matanya beralih kepada si pemuda Ciok Tionggiok yang duduk di pojok sana.

Dengan terheran-heran dan bingung ia bertanya.

"Mengapa ka... kalian berdua sedemikian miripnya?"

Sementara itu Boh-thian telah melepaskan Ban-kiam, dengan muka berseri-seri ia menjawab.

"Paman Cia, apakah kau datang buat menolong aku? Aku baik-baik saja, terima kasih atas maksud baikmu. Eh, Ting-ting Tong-tong dan Ciok-toako, kalian juga datang semua? Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, syukurlah kalian tidak tercedera apa-apa. Suhu, Yaya telah memborgol dirinya sendiri pula dan tak mau keluar, katanya kau boleh pergi ke Pik-lwe-to saja."

Begitulah sekaligus ia telah bicara terhadap Cia Yan-khek, Ting Tong, Ciok Tiong-giok, Ciok Jing suami-istri, dan Su-popo.

Dia bicara dengan gembira ria, sebaliknya orang-orang yang mendengar ucapannya itu sama terkejut.

Dahulu waktu di atas Mo-thian-kay, karena ingin mempermainkan Ciok Boh-thian, maka Cia Yan-khek telah mengerahkan tenaga dalamnya dari Pik-ciam-jing-ciang yang dilatihnya itu.

Kebetulan pada saat itulah Pwe Hay-ciok muncul bersama jago-jago Tiang-lok-pang, katanya hendak mencari pangcu mereka yang tinggal di atas Mo-thian-kay yaitu Ciok Boh-thian.

Walaupun sekali gebrak saja Cia Yan-khek sudah berhasil membekuk Bi Heng-ya dari Tiang-lok-pang, tapi dikerubut Pwe Hay-ciok dan kawan-kawannya, kebetulan Yan-khek sendiri lagi kehabisan tenaga dalam, ia pikir kalau terus bertahan tentu akan celaka.

Daripada dikalahkan ada lebih baik kabur saja sebelum terlambat.

Sebagai pemilik Hian-tiat-leng, medali wasiat yang diperebutkan setiap orang Bu-lim sudah tentu Cia Yan-khek bukanlah tokoh sembarangan.

Walaupun dia tidak dikalahkan, tapi ia pun merasa terhina dengan peristiwa itu.

Ia pikir sebabnya dirinya sampai kabur adalah lantaran kehabisan tenaga sebelum musuh tiba, jika dalam keadaan normal Pwe Hay-ciok sekali-kali bukanlah tandingannya biarpun ditambah dengan beberapa orang begundalnya.

Segera ia mencari suatu tempat terpencil untuk mengembalikan lwekangnya dan meyakinkan Pik-ciam-jingciang sehingga sempurna benar-benar, beberapa bulan kemudian barulah ia mendatangi Tiang-lok-pang di Yangciu untuk menuntut balas.

Begitu masuk pintu kontan enam orang hiangcu sudah lantas dibinasakan olehnya.

Keruan Tiang-lokpang menjadi geger.

Tatkala itu Ciok Boh-thian sudah ditipu oleh si Ting Tong untuk menggantikan Ciok Tiong-giok menuju ke Leng-siau-sia dan nona itu diam-diam sedang mencari kesempatan untuk kabur bersama Tiong-giok.

Tak tersangka penjagaan Tiang-lok-pang sangat kuat, di mana-mana terdapat pos penjaga, betapa pun mereka hendak melarikan diri selalu kepergok.

Tiada jalan lain terpaksa Ciok Tiong-giok juga lantas memalsukan Ciok Bohthian untuk sementara.

Sebaliknya Pwe Hay-ciok sesudah menyambut kembali Ciok Boh-thian dari Mo-thian-kay, diam-diam ia pun merasa telah mengikat permusuhan dengan seorang tokoh yang kelak tentu akan mendatangkan kesukaran.

Kemudian diketahui bahwa Ciok Boh-thian ternyata bukan Ciok Tiong-giok yang dicari mereka itu.

Namun jarak waktu datangnya medali undangan dari Liong-bok-to sudah mendesak, terpaksa ia memalsukan tanda-tanda atau ciri-ciri yang berada di badan Ciok Boh-thian sebagai gantinya Ciok Tiong-giok.

Kiranya dahulu setelah Ciok Tiong-giok disanjung-sanjung oleh Pwe Hay-ciok dan lain-lain dan diangkat sebagai pangcu, tapi beberapa hari kemudian pemuda yang bangor itu lantas hendak melarikan diri.

Namun ia kena ditangkap kembali oleh Pwe Hay-ciok dan dibelejeti hingga telanjang bulat serta ditahan selama beberapa hari.

Lantaran itulah ciri-ciri yang terdapat di badan Ciok Tiong-giok dapat dilihat oleh Pwe Hayciok.

Siapa sangka kedua sucia dari Liong-bok-to ternyata lain daripada yang lain, rahasia pemalsuan Pwe Hay-ciok itu dengan mudah telah dibongkar oleh mereka, Ciok Tiong-giok yang asli telah mereka seret keluar.

Walaupun kemudian Ciok Boh-thian dengan sukarela mau menjabat pangcu mereka untuk menghadiri pertemuan di Liong-bok-to kelak, tapi Pwe Hay-ciok merasa malu juga, sedapat mungkin ia menjauhi Boh-thian sehingga tentang pertukaran Boh-thian dan Tiong-giok yang mestinya tidak gampang mengelabui matanya sebegitu jauh belum diketahui.

Hari itu Cia Yan-khek telah datang dan sekaligus membinasakan enam orang hiangcu mereka, terpaksa Pwe Hay-ciok tampil ke muka.

Tapi ia pun insaf bukan tandingan Cia Yan-khek.

Sambil melayani lawan segera ia memberi perintah agar sang pangcu dipanggil supaya lekas keluar.

Sudah tentu Ciok Tiong-giok menjadi ketakutan, dengan macam-macam alasan ia menolak untuk keluar sehingga suruhan Pwe Hay-ciok berturut-turut datang pula dan memenuhi kamar sang pangcu.

Karena sudah tak bisa mengelakkan diri pula, terpaksa Tiong-giok ikut keluar ke ruang pendopo dengan tekad bukanlah melawan, tapi akan menyerah dan minta maaf kepada Cia Yan-khek.

Di luar dugaan ketika Cia Yan-khek melihat dia, seketika ia berseru terkejut.

"He, Kau-cap-ceng, kiranya kau!"

Dalam pada itu tertampak Pwe Hay-ciok sudah menggeletak di samping dalam keadaan payah, pakaiannya berlumuran darah.

Kalau Pwe-tayhu saja kena dirobohkan Cia Yan-khek, apalagi dirinya sendiri, bahkan rahasia pemalsuannya tentu akan terbongkar pula, demikian pikir Tiong-giok.

Maka ketika ditegur oleh Cia Yan-khek, terpaksa ia menjawab dengan tergagapgagap.

"Ya, ki... kiranya Cia-siansing."

Ia tidak tahu bahwa "Kau-cap-ceng"

Adalah namanya Ciok Bohthian dan begitu melihat Cia Yan-khek lantas mengira dia sebagai Ciok Boh-thian.

"Hm, bagus, bagus! Ternyata kau ini adalah Pangcu Tiang-lokpang!"

Jengek Cia Yan-khek pula.

Tapi demi teringat kejadian-kejadian dahulu, mau tak mau ia menjadi mengkeret.

Seperti diketahui dia telah menerima kembali medali wasiat dari Ciok Boh-thian yang dikenalnya sebagai pengemis cilik bernama Kau-cap-ceng.

Dahulu Yan-khek sendiri telah bersumpah siapa-siapa yang menemukan medali wasiatnya boleh mengajukan sesuatu permintaan atau perintah dan tentu akan dilaksanakan olehnya.

Maka sekarang ia menjadi khawatir.

"Wah, celaka! Kiranya demikian licinnya Pwe-tayhu ini. Dia mengetahui aku telah menerima kembali Hian-tiat-leng dari Kau-cap-ceng, maka dengan segala usahanya dia sengaja datang ke Mo-thian-kay untuk membawa bocah itu ke sini dan diangkat menjadi pangcu boneka, sudah terang maksud tujuannya adalah supaya aku tunduk kepada perintah pangcu mereka. Wahai Cia Yan-khek, selamanya kau sangat pintar, mengapa hari ini kau masuk perangkap sendiri ke sini. Sejak kini kau tentu akan selalu dijadikan alat oleh mereka dan celakalah kau!"

Begitulah, kalau seseorang sudah terikat kepada sesuatu hal, maka segala apa yang dialaminya tentu selalu dihubunghubungkan dengan hal itu.

Seorang pesakitan yang melarikan diri dari penjara tentu akan selalu menyangka semua opas di dunia ini sedang menguber-ubernya.

Seorang penjahat tentu pula akan selalu menganggap setiap orang menaruh curiga padanya.

Begitu pula dalam hubungan asmara muda-mudi, setiap gerak-gerik atau tutur kata sang kekasih tentu disangka sebagai ditujukan kepadanya.

Dan demikian pula dengan perasaan Cia Yan-khek sekarang.

Semakin dipikir semakin khawatir dia.

Ia mengira Pwe Hay-ciok sudah merancangkan sesuatu tipu muslihat untuk menjebaknya.

Dengan tak berkedip ia pandang Ciok Tiong-giok untuk menantikan perintah apa yang harus dilakukan olehnya.

Ia pikir celakalah jika pemuda itu suruh dia mengutungi kedua tangannya sendiri sehingga cacat untuk selamanya.

Mestinya ia dapat tinggal pergi saja dan untuk seterusnya tak perlu bertemu dengan Kau-cap-ceng, dengan demikian terhindarlah kesukarannya.

Tapi dengan demikian di dunia Kangouw tentu akan lenyap pula nama seorang tokoh sebagai dia.

Hal ini masih bukan soal, yang penting adalah sumpahnya itu, kalau sampai ketulah atau kualat atas sumpahnya sendiri kan bisa konyol.

Begitulah ia terus pandang Ciok Tiong-giok untuk menantikan perintahnya.

Tak tersangka Ciok Tiong-giok juga sangat takut padanya.

Jadi kedua orang terus saling pandang sampai sekian lamanya.

Akhirnya Cia Yan-khek membuka suara juga dengan bengis.

"Baiklah, memang kau telah mengembalikan Hian-tiat-leng padaku, sekali orang she Cia sudah bicara tentu akan pegang janji, Sekarang silakan omong saja, apa yang kau minta kukerjakan segera akan kulaksanakan. Selamanya orang she Cia sudah malang melintang di Kangouw, biarpun menghadapi urusan sukar setinggi langit juga takkan mengerut kening."

Mendengar itu, seketika Ciok Tiong-giok tertegun.

Tentang sumpah Cia Yan-khek mengenai Hian-tiat-leng yang dia sebarkan pernah juga didengar olehnya.

Sebagai pemuda yang cerdik segera ia paham duduknya perkara.

Ia duga Cia Yankhek tentu telah salah sangka dia sebagai Ciok Boh-thian, bahkan tokoh itu minta dia mengemukakan sesuatu soal dan tentu akan dilakukan olehnya biar betapa pun sukarnya soal itu.

Keruan Ciok Tiong-giok kegirangan melebihi orang ketomplok rezeki dari langit.

Ia pikir ilmu silat orang ini sangat tinggi, boleh dikata tiada sesuatu yang sukar baginya.

Baca Juga: Raja Silat 11

Baca Juga: Pendekar Bunga Merah Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert