Eps 8 Medali Wasiat - Yin Yong
Baca online Medali Wasiat - Yin Yong
Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.
"Hahaaak! Kukira siapa, tak tahunya adalah... adalah Si Lemper Raksasa!"
Ia pikir pantas bocah ini mengetahui setiap jurus seranganku di muka, sebab tempo hari bocah ini pernah kuberi tahu tentang ilmu silatku.
Maka lenyaplah rasa jerinya tadi, segera ia membentak Ciok Boh-thian.
"Anak keparat, mengapa kau berani ikut campur urusan yayamu?"
Kontan ruyungnya lantas menyabet ke atas kepala pemuda itu.
Tapi dengan enteng sekali Ciok Boh-thian dapat menghindar dengan melompat ke samping.
Ting Put-si tambah murka karena serangannya luput, beruntun-runtun ia menyerang tiga kali pula dan semuanya kena dielakkan oleh Ciok Boh-thian.
Ia tidak tahu bahwa dengan lwekang yang dimiliki Ciok Boh-thian sekarang, berbagai jurus serangan ilmu silat dalam pandangannya adalah terlalu sepele dan tiada artinya lagi.
Hanya saja ia masih takut kepada wibawa Ting Put-si, maka ia hanya berkelit saja tanpa balas menyerang.
Diam-diam Ting Put-si merasa heran, ia merasa tidak pernah mengajarkan ilmu permainan ruyung itu kepada Ciok Bohthian, mengapa pemuda itu mampu mengikuti seranganserangannya dengan baik tanpa cedera apa-apa?
Orang-orang lain yang menyaksikan Ciok Boh-thian berkelit ke sini dan menghindar ke sana di bawah sambaran ruyung menjadi khawatir.
Sebaliknya Boh-thian sendiri berpikir.
"Kenapa Siyaya tidak menyerang aku dengan sungguhsungguh? Apa barang kali dia cuma main-main dengan aku?"
Nyata ia tidak tahu bahwa sebenarnya Ting Put-si sudah mengeluarkan segenap kepandaiannya, cuma kakek itu tetap kalah setingkat sehingga ruyungnya tidak mampu mengenai Boh-thian.
Ting Tong cukup kenal watak kakek-ciliknya itu, dalam keadaan kalap bukan mustahil sekali-kali ruyungnya akan mengenai sasarannya, maka ia menjadi khawatir dan cepat berseru.
"Engkoh Thian, lekas balas menyerang, lekas! Kalau tidak bisa celaka kau!"
Mendengar suara jeritan nyaring anak dara keluar dari mulut seorang "pelayan"
Rumah makan, keruan semua orang menjadi heran dan memandang sekejap kepada si Ting Tong. Sebaliknya Ciok Boh-thian tidak mau mengerti. Pikirnya.
"Mengapa bisa celaka? Ah, barangkali karena aku tidak balas menyerang, maka Siyaya akan anggap aku telah menghinanya sebagaimana halnya dahulu aku dianggap demikian oleh imamimam Siang-jing-koan karena aku menempur mereka dengan sebelah tangan terikat."
Karena itu, segera ia menjulurkan kedua tangannya terus mencengkeram ke dada Ting Put-si sekaligus, yang dia gunakan adalah 13 jurus kim-na-jiu-hoat ajaran si Ting Tong dahulu.
Sudah tentu Ting Put-si mengenal ilmu silat keluarganya sendiri itu.
Hanya saja ia menjadi kaget karena setiap jurus serangan yang tampaknya sepele, tapi di tangan Ciok Bohthian lantas menjadi suatu serangan dahsyat yang lihai.
Keruan ia bingung dan berteriak-teriak.
"Ada setan! Ada setan!"
Beberapa jurus kemudian, dengan gerakan "Hong-bwe-jiu" (Pegangan Ekor Burung Hong), tangan Boh-thian membalik dan tepat ujung ruyung Ting Put-si kena dicengkeramnya.
Sekuatnya Ting Put-si membetot, tapi tidak bergoyah sedikit pun.
Ia menjadi kalap, dengan bentakan keras ia kerahkan segenap tenaganya untuk menarik, saking nafsunya ia menarik sehingga ruas tulang seluruh badannya sampai berbunyi kratakan, nyata ia telah keluarkan seluruh tenaganya habishabisan.
Melihat si kakek sedemikian ngotot hendak menarik kembali ruyungnya, Boh-thian membatin.
"Jika kau tidak mau lepas tangan, biarlah aku yang lepas saja!"
Waktu dia kendurkan pegangannya, maka terdengarlah suara gedubrakan yang ramai gemuruh, tubuh Ting Put-si mencelat ke belakang sehingga dinding rumah makan itu ambrol tertumbuk, bahkan terus jatuh ke ruangan makan, meja kursi dan mangkuk piring ikut terseruduk jatuh dan pecah berantakan.
Menyusul terdengarlah empat kali jeritan ngeri, seorang anak buah Kwantang dan tiga orang penonton biasa tahu-tahu telah jatuh tersungkur, punggung mereka terlihat mengeluarkan darah.
Waktu Boh-thian memburu masuk, dilihatnya punggung keempat orang itu ada yang terkena beling pecahan mangkuk, ada yang terkena sumpit, tapi Ting Put-si sudah menghilang entah ke mana perginya.
Kiranya Put-si tahu kalau dirinya bukan tandingan Ciok Bohthian lagi, saking gusar dan gemasnya lantas dilampiaskannya kepada orang-orang yang berada di dekatnya, sekenanya ia sambar pecahan mangkuk dan sumpit untuk menimpuk empat orang itu.
Ketika Hoan It-hui dan kawan-kawannya memeriksa korbankorban yang jatuh itu, ternyata semuanya sudah tidak bernyawa lagi.
Kejut mereka tak terhingga mengingat keganasan Ting Put-si itu.
Coba kalau Ciok Boh-thian tidak turun tangan menolong mereka, tentu saat ini mayat yang menggeletak di situ bukanlah keempat orang itu, tapi adalah mereka berempat ciangbunjin dari Kwantang.
Segera mereka menjura kepada Ciok Boh-thian dan mengucapkan terima kasih.
"Atas budi pertolongan Siauhiap (pendekar kecil), selama hidup kami ini takkan lupa. Tolong tanya siapakah nama Siauhiap yang mulia?"
Karena sudah mendapat petunjuk-petunjuk tentang tata krama dari ibunya, segera Ciok Boh-thian membalas hormat dan menjawab.
"Ah, hanya sedikit urusan saja tidak perlu disebutsebut lagi. Cayhe she Ciok dan bernama Tiong-giok."
Lalu ia pun tanya nama dan asal usul keempat orang itu. Hoan It-hui memperkenalkan dirinya bersama tiga kawannya, kemudian ia tanya pula nama si Ting Tong.
"O, dia bernama Ting-ting Tong-tong, dia adalah... adalah...."
Berulang-ulang ia mengucapkan "adalah", mukanya menjadi merah dan tidak dapat menyambung lagi.
Sebagai orang yang lebih tua dan berpengalaman luas, Hoan It-hui tidak menanya lebih lanjut.
Ia pikir sepasang muda-mudi ini mengadakan perjalanan bersama, sudah tentu ada hubungan istimewa di antara mereka yang serbasusah untuk diceritakan kepada orang lain.
"Marilah kita pergi saja!"
Demikian si Ting Tong lantas mengajak.
"Ya, baiklah!"
Sahut Boh-thian sambil mohon diri kepada semua orang.
Berulang-ulang Hoan It-hui dan kawan-kawan menyatakan terima kasih sambil mengantar.
Mestinya mereka ingin tanya pula dari golongan mana dan siapa perguruan Ciok Boh-thian, tapi lihat si Ting Tong beberapa kali mengedipi pemuda itu, nyata mereka tidak ingin diganggu lebih lama oleh orang lain, terpaksa It-hui berkata pula.
"Budi pertolongan Siauhiap tadi entah cara bagaimana harus kami balas. Di kemudian hari asal ada perintah dari Siauhiap, biarpun masuk lautan api atau terjun ke dalam air mendidih tidak nanti akan kami tolak."
Tiba-tiba Boh-thian teringat kepada tanya-jawab yang diajarkan ibunya, segera ia berkata.
"Kita adalah sesama orang Bu-lim, seharusnya kita saling bantu membantu. Jika kalian sedemikian sungkan, aku jadi rikuh sendiri. Hari ini kita dapat bersahabat sungguh aku merasa senang tak terhingga."
Memangnya Hoan It-hui merasa sangat berterima kasih karena jiwanya ditolong pemuda itu, ternyata tutur kata jago muda budiman ini juga sedemikian ramah tamahnya, keruan ia tambah kagum dan merasa suka berkawan padanya.
Begitu pula si Ting Tong diam-diam merasa girang.
"Coba, siapa berani mengatakan Engkoh Thian adalah orang linglung, bukankah pikirannya sekarang sudah semakin jernih."
Karena hatinya senang, maka wajahnya lantas bersenyum simpul.
Tapi ia lupa mukanya telah dipoles dengan hangus, dadanya memakai kain koki, tapi kupingnya memakai antinganting, maka tampaknya menjadi ganjil dan lucu, diam-diam semua orang tertawa geli.
Ko Sam-niocu lantas memegang lengan si Ting Tong, katanya dengan tertawa.
"Pelayan rumah makan secantik ini sungguh jarang terdapat di kampung halaman kita. Nyata beda sekali suasana di Kanglam ini dengan daerah Kwantang kita."
Mendengar itu, semua orang mengakak tawa. Ting Tong juga mengikik, pikirnya.
"Ya, saking gugupnya karena melihat sicekkong (kakek-cilik keempat) tadi aku lantas buru-buru menyamar, sekarang aku menjadi lupa mencuci muka dan melepaskan anting-antingku ini."
Dalam pada itu kelihatan beberapa ratus penduduk setempat sedang merubung dan menonton, agaknya mereka merasa jeri karena pertarungan sengit tadi.
Tapi Ting Put-si telah membunuh tiga orang, tentu penduduk akan mengira mereka ini adalah kaum perampok dan kawanan bandit yang biasa mengganas.
Maka Ko Sam-niocu lantas berkata pula.
"Kita jangan lama-lama tinggal di sini, marilah berangkat."
Lalu ia pun berkata kepada Ting Tong.
"Adik cilik, karena penyamaranmu ini mungkin bajumu sendiri telah menjadi kotor. Aku membawa cukup banyak pakaian, jika kau sudi bolehlah mencari suatu tempat untuk cuci badan dan ganti pakaianku. Sungguh gadis cantik seperti dirimu ini selamanya belum pernah kulihat, kelak kalau kupulang ke Liautang tentu engkau akan dapat kugunakan sebagai bahan cerita kepada sanak keluargaku."
Meski si Ting Tong adalah seorang dara yang nakal dan cerdik, tapi sejak kecilnya mengikut kakeknya tinggal di tempat yang terpencil dan berkelana di Kangouw, belum pernah ia mendapat pujian sebagaimana diterimanya dari Ko Sam-niocu, keruan ia menjadi senang sekali, sahutnya dengan tertawa.
"Ah, masakah aku cantik? Cici terlalu memuji saja!"
"Tapi... tapi pada malam... malam itu kau benar-benar telah bersolek dengan sangat cantik,"
Tiba-tiba Boh-thian ikut berkata.
Maksudnya adalah malam pengantin mereka tempo hari, cuma saja tidak jadi diucapkannya.
Ting Tong melototinya sambil menjulur lidah.
Ko Sam-niocu lantas memberi tanda dan berseru.
"Marilah berangkat!"
Beramai-ramai semua orang mengiakan.
Segera mereka membawakan kuda, lebih dulu Ciok Boh-thian dan si Ting Tong disilakan naik ke atas kuda, habis itu berbondong-bondong mereka pun mencemplak ke atas kuda masing-masing, dengan membawa jenazah kawan mereka dari Liautang itu dengan cepat mereka lantas meninggalkan tempat itu.
Bicara tentang usia maupun ilmu silat sebenarnya Hoan It-hui adalah paling tinggi di antara rombongan mereka itu.
Tapi perjalanan mereka ke Tionggoan ini semua ongkos telah dipikul oleh Ko Sam-niocu yang memang terkenal sangat tangan terbuka, menggunakan uang seperti membuang sampah, maka nyonya itu berbalik seakan-akan menjadi pemimpin dari rombongan.
Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda pilihan dari Liautang, maka dalam waktu singkat saja beberapa puluh li sudah mereka lalui.
Diam-diam Boh-thian tanya kepada Ting Tong.
"Apakah jalan ini menuju ke Ka-hin-hu?"
Ting Tong mengangguk dengan tersenyum.
Padahal letak Kahin-hu itu di jurusan tenggara, sebaliknya mereka menuju ke arah timur laut, jadi jarak mereka dengan Ciok Jing menjadi semakin jauh.
Petangnya mereka sampai di Kota Peng-yang-ceh.
Mereka bermalam pada suatu hotel yang terbesar di kota ini.
Kawan mereka yang mati itu adalah dari Gway-to-bun, maka Lu Cingpeng dan anak muridnya berkewajiban menyelesaikan layonnya.
Ko Sam-niocu sendiri membantu si Ting Tong berdandan kembali sebagai wanita.
Diam-diam Ko Sam-niocu merasa heran, si Ting Tong berdandan sebagai nyonya muda, tapi tingkah lakunya jelas masih anak perawan, sungguh ia tidak habis mengerti akan hal ini.
Bab 34.
Tonghong Heng, Ketua Tiang-lok-pang yang Asli Malamnya jago-jago Liautang itu mengadakan perjamuan besar bagi Ciok Boh-thian.
Karena tidak ingin diketahui hubungan dirinya dengan Ting Put-si, maka setiap kali Ko Sam-niocu, Hoan It-hui dan lain-lain memancing tentang asal usul dan perguruan dirinya dan Ciok Boh-thian selalu Ting Tong berusaha membelokkan pokok pembicaraan.
Karena yang ditanya enggan menerangkan, maka para jago itu pun tidak berani banyak bertanya lagi.
Melihat hubungan Ciok Boh-thian dan si Ting Tong penuh kasih sayang, Ko Sam-niocu menduga tuan penolongnya dengan adik perempuan cilik itu besar kemungkinan adalah sepasang kekasih yang diam-diam minggat dari rumah.
Jika demikian halnya, adalah tidak tahu diri bila kita menghalangi malam bahagia mereka ini.
Sebab itulah, sesudah cukup makan minum, Ko Sam-niocu lantas memberi tanda kepada Hoan It-hui, masing-masing menggandeng Ciok Boh-thian dan Ting Tong untuk diantarkan ke kamar mereka.
Dengan tertawa penuh arti Hoan It-hui lantas mengundurkan diri, sebaliknya Ko Sam-niocu masih menggoda.
"Inkong, coba lihatlah, pengantin perempuan kita ini cantik sekali bukan?"
Muka Boh-thian menjadi merah, ketika ia melirik si nona, tertampak air muka si Ting Tong juga merah jengah, kerlingan matanya menggetar sukma, jantung Boh-thian memukul keras.
Cepat kedua muda-mudi itu sama-sama melengos, keduanya sama-sama mundur beberapa tindak dan berdiri bersandar dinding.
Ko Sam-niocu mengekek tawa, katanya.
"Malam pengantin kalian ini janganlah disia-siakan, mengapa kalian mesti malumalu?"
Sambil berkata sebelah tangannya lantas menutupkan pintu kamar dari luar, sebelah tangan yang lain lantas mengayun pula, sebilah pisau terbang lantas menyambar sehingga batang lilin yang menerangi kamar itu terpapas bagian atasnya.
Seketika keadaan di dalam kamar menjadi gelap gulita, sedangkan pisau terbang itu masih terus melayang keluar dengan menembus jendela.
"Selamat malam dan selamat tidur! Semoga kalian hidup bahagia sampai hari tua!"
Demikian Ko Sam-niocu berseru dengan tertawa.
Lalu pintu kamar dirapatkannya.
Seperti halnya pada malam pengantin mereka dahulu, sekarang Ciok Boh-thian dan si Ting Tong juga sama-sama bingung dan malu-malu walaupun dalam hati mereka sebenarnya seperti dikilik-kilik.
Sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang di pelataran sana.
"Huh, jika memang jantan dan kesatria sejati, hayolah keluar untuk berkelahi secara terang-terangan, mengapa mesti main menimpuk pisau secara sembunyi-sembunyi, huh, bukankah ini perbuatan kaum pengecut?"
Ciok Boh-thian dan Ting Tong menjadi geli.
Si nona lantas berlari mendekati Boh-thian, empat tangan saling menggenggam dengan kencang.
Nyata perbuatan Ko Samniocu yang menimpukkan pisau untuk memadamkan api lilin mereka tadi telah menimbulkan salah paham orang di luar itu.
Mestinya Ciok Boh-thian ingin bersuara memberi penjelasan, tapi terasalah sebuah tangan yang halus dan lunak telah mendekap mulutnya dan melarangnya bersuara.
Segera ia pun rangkul si Ting Tong ke dalam pelukan.
Dalam pada itu orang yang berada di pelataran itu masih terus memaki.
"Pisau terbang yang keji semacam ini besar kemungkinan adalah perbuatan perempuan hina yang tidak kenal malu dari Liautang itu. Hm, janda she Ko itu tidak becus ilmu silatnya, paling-paling hanya pandai menyerang secara menggelap dengan pisau karatan seperti ini. Jika kesatria dari Tionggoan sini tentu tidak sudi menggunakan senjata rahasia begini."
Oleh karena timpukan pisaunya telah menimbulkan salah paham orang, mestinya Ko Sam-niocu tidak ingin cekcok dan membiarkan orang mencaci dan habis perkara.
Siapa duga caci maki orang itu secara terang-terangan telah dialamatkan kepadanya, diam-diam ia heran.
"Apakah orang itu mengenali pisauku atau cuma omong sekenanya saja?"
Tapi caci maki orang itu ternyata semakin galak dan meluas, katanya.
"Huh, dasar Kwantang adalah daerah miskin, daerah kere, di mana penuh kaum perampok dan kawanan bandit. Bedebah, di sana ada seorang yang berjuluk ‘Ban-to-bun’ (Si Golok Lambat), permainan goloknya lamban, pintarnya cuma menggunakan obat tidur untuk membikin celaka orang. Ada pula seorang yang bernama Jing-coa-pang (Gerombolan Ular Hijau), pekerjaannya cuma mengemis dengan membawa ular. Ada lagi seorang she Hoan pakai nama ‘It-hui-lok-cui’ (Sekali Terbang Kecemplung ke Dalam Air), kemahirannya adalah menggunakan dua batang kayu pencukit tahi, haha, sungguh menggelikan!"
Keruan gembar-gembor orang di pelataran itu membuat jagojago Liautang di dalam hotel menjadi gusar.
Mereka tahu orang sengaja mengolok-olok dan menantang kepada mereka.
Segera Lu Cing-peng menjinjing goloknya dan menerjang ke pelataran.
Maka tertampaklah seorang laki-laki pendek kecil sedang mencak-mencak, mencaci maki dengan tak terhingga senangnya.
"Hai, sobat,"
Segera Lu Cing-peng membentak.
"apa maksudmu menggembar-gembor tak keruan di sini?!"
"Apa maksudku?"
Orang itu menjawab.
"Asal aku melihat muka orang dari Liautang aku lantas merasa muak dan ingin kupenggal kepalanya untuk digantung di atas tiang sana."
"O, bagus! Ini dia kepala orang Liautang berada di sini, boleh coba kau memenggalnya!"
Seru Lu Cing-peng, berbareng ia terus melompat ke samping orang itu, golok Ci-kim-to bekerja, kontan ia menebas ke pinggang orang.
Orang itu menjerit, tahu-tahu Ci-kim-to telah menebasnya menjadi dua sebatas pinggang.
Badan bagian atas itu sampai mencelat dua-tiga meter jauhnya dan darah memenuhi pelataran.
Sementara itu Hoan It-hui, Hong Liang, Ko Sam-niocu, dan lain-lain telah berdiri di sekeliling pelataran dan sedang menonton, mungkin mereka takkan terkejut seperti sekarang apabila lelaki pendek kecil itu mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat dan aneh atau sekalipun Lu Cing-peng yang tertebas menjadi dua, sungguh sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa hanya dengan sekali tebas saja dan tanpa mengadakan perlawanan, lelaki yang galak di mulut itu ternyata sudah terbunuh mati.
Keruan Lu Cing-peng sendiri juga ternganga kaget karena lawannya ternyata tidak mahir ilmu silat sedikit pun.
Dan selagi semua orang saling pandang dengan bingung itu, tiba-tiba di atas atap rumah ada suara orang berkata dengan nada dingin.
"Bagus sekali! Sungguh kepandaian yang hebat! Lu-tayhiap dari Gway-to-bun di Liautang dengan sekali tebas telah membikin pelayan hotel terputus menjadi dua potong!"
Waktu semua orang mendongak dan memandang ke atas, maka tertampaklah seorang dengan jubah warna kelabu sedang berdiri di atas rumah sambil bertolak pinggang.
Melihat itu sadarlah semua orang bahwa orang yang dibunuh oleh Lu Cing-peng barusan kiranya adalah pelayan hotel yang telah disuruh oleh orang tak dikenal itu untuk sengaja mencari perkara kepada jago-jago Liautang.
Tanpa bicara lagi tangan Ko Sam-niocu lantas bekerja "crit-critcrit"
Tiga kali, tiga batang pisau terbang terus menyambar ke atas.
Namun dengan cepat sekali orang itu telah tangkap sebilah pisau terbang terus melompat ke samping sehingga dua bilah pisau yang lain juga terhindar.
Lalu dengan tertawa orang itu berseru.
"Atas kedatangan Sutay-mui-pay dari Kwantang, kami akan menunggunya dengan hormat di tengah hutan siong yang terletak 12 li di utara kota ini, jika kalian tidak berani datang juga tidak menjadi soal."
Dan sebelum Hoan It-hui dan lain-lain menjawab, cepat orang itu lantas melompat turun ke sana terus menghilang dalam kegelapan. Untuk sejenak semua orang terdiam. Kemudian berkatalah Ko Sam-niocu.
"Kita akan pergi atau tidak?"
"Tak peduli siapa adanya pihak lawan, sekali mereka sudah menantang, mau tak mau kita harus menerimanya,"
Ujar Hoan It-hui.
"Benar,"
Tukas Ko Sam-niocu.
"Betapa pun kita harus mempertahankan martabat dan nama Su-tay-mui-pay dari kalangan persilatan di Kwantang."
Lalu ia mendekati jendela kamar Ciok Boh-thian dan berseru.
"Ciok-inkong, adik perempuan cilik, kami ada janji dengan orang dan terpaksa harus berangkat dulu, biarlah besok saja kita bertemu pula di kota sebelah depan sana."
Setelah merandek dan tidak mendapat jawaban Ciok Bohthian, segera ia menyambung pula.
"Di tempat ini sudah terjadi perkara jiwa, tentu akan timbul kesukaran, maka ada lebih baik Inkong berdua juga lekas berangkat saja daripada tersangkut dalam perkara ini."
Dia tidak langsung minta Ciok Boh-thian dan Ting Tong ikut hadir dalam pertemuan mereka nanti, maklum siang harinya jiwa mereka baru saja ditolong oleh Ciok Boh-thian, kalau sekarang mereka mengajaknya pula akan berarti pemuda itu seakan-akan telah dijadikan pengawal mereka, hal ini tentu akan sangat memerosotkan derajat jago-jago Su-tay-mui-pay dari Kwantang.
Namun segala gerak-gerik di pelataran ini telah cukup jelas didengar oleh Ciok Boh-thian dan si Ting Tong.
Dengan bisik bisik Boh-thian telah tanya Ting Tong.
"Bagaimana kita harus berbuat?"
"Ya, toh tidak dapat tinggal terlalu lama lagi di sini, terpaksa kita harus mengikut di belakang mereka untuk menonton,"
Ujar Ting Tong sambil menghela napas gegetun.
Maklumlah, sebab dengan demikian maka malam yang bahagia bagi mereka berarti akan dilalui dengan sia-sia pula.
Namun Ciok Boh-thian ternyata tidak berpikir dan tidak merasakan apa-apa tentang malam pengantin segala, katanya pula.
"Entah siapakah pihak lawan mereka itu, apakah tidak mungkin adalah siyaya-mu?"
"Aku pun tidak tahu,"
Sahut Ting Tong.
"Biarlah kita jangan perlihatkan diri saja, boleh jadi siyaya-ku yang akan mereka hadapi."
"Wah, jika demikian tentu bisa runyam,"
Seru Boh-thian dengan khawatir.
"Le... lebih baik aku tidak ikut pergi saja."
"Tolol,"
Omel Ting Tong.
"Jika betul Siyaya yang akan mereka hadapi, kan kita dapat mengeluyur pergi secara diam-diam? Sekarang ilmu silatmu sudah begini tinggi, Siyaya juga tidak mampu membikin susah lagi padamu. Aku tidak khawatir, kau sendiri malah takut."
Tengah bicara, terdengarlah suara derapan kuda yang ramai, jago-jago Kwantang itu beramai-ramai sudah meninggalkan hotel. Terdengar Ko Sam-niocu berteriak kepada pengurus hotel.
"Aku meninggalkan 210 tahil perak di sini, yang sepuluh tahil adalah biaya-biaya tinggal kami, sedangkan 200 tahil yang lain adalah ganti rugi dan ongkos penguburan si pelayan yang mati itu. Pembunuhnya adalah begal dari Soatang yang bernama Ong Tay-hou, janganlah kalian merembet perkara ini kepada orang lain."
Boh-thian menjadi heran, ia tanya si Ting Tong dengan suara lirih.
"Siapakah Ong Tay-hou itu?"
"Tolol! Itu kan nama palsu, agar besok dalam laporan kepada yang berwajib ada cukup alasannya,"
Kata Ting Tong.
Mereka lantas keluar juga dan melihat dua ekor kuda tertambat di muka hotel, segera mereka mencemplak ke atas kuda dan meninggalkan hotel itu.
Walaupun tahu telah terjadi pembunuhan di dalam hotel itu, tapi siapakah di antara penghuni-hotel yang berani keluar untuk menegur mereka?
Begitulah Boh-thian dan Ting Tong lantas mengintil rombongan jago-jago Kwantang itu dari jauh.
Kira-kira belasan li jauhnya, benar juga di depan sana terbentang sebuah hutan siong yang lebat.
Dari jauh terdengar Hoan It-hui telah berseru dengan suara lantang.
"Entah sobat dari kalangan mana tadi telah mengundang kami, maka sekarang orang-orang Han-bweceng, Gway-to-bun, Jing-liong-bun ,dan Ho-hou-kau sudah berada di sini dan mohon bertemu!"
Dalam kalangan Kangouw terdapat semboyan yang mengatakan "Hong-lim-bok-jip" (Bila Ketemu Hutan Janganlah Masuk), apalagi dalam malam gelap, siapa tahu kalau di dalam hutan itu sudah disediakan perangkap bagi mereka?
Sebab itulah jago-jago Kwantang itu lantas berhenti di depan hutan dan menyapa.
"Marilah kita sembunyi di semak-semak sana, coba lihat dulu apakah Siyaya atau bukan?"
Kata Ting Tong kepada Boh-thian.
Kedua orang lantas melompat turun dari kuda mereka, dengan merunduk mereka lantas sembunyi di belakang sepotong batu besar yang sekelilingnya tumbuh rumput yang cukup lebat.
Ketika mendengar suara kaki kuda, Hoan It-hui dan kawankawannya sudah tahu bahwa Boh-thian berdua jadi mengikut di belakang mereka.
Maka sekarang mereka pun tidak menyapa pemuda itu, mereka memusatkan perhatian ke arah hutan.
Empat pemimpin berdiri paling depan, belasan anak murid mereka berbaris beberapa meter di belakang mereka.
Akan tetapi keadaan ternyata sunyi senyap, sedikit pun tiada jawaban apa-apa.
Malam itu bulan sudah menyerong ke barat dan agak guram, wajah semua orang menjadi agak kepucat-pucatan tersorot cahaya rembulan itu, perasaan mereka rada tegang.
Selang agak lama, tiba-tiba terdengar suara suitan di dalam hutan, menyusul dari sebelah kiri dan kanan lantas berlari keluar sebaris laki-laki berseragam hitam, kedua barisan yang berjumlah ratusan orang itu lantas berputar ke belakang sehingga jago-jago Kwantang itu akhirnya terkurung di tengah.
Sesudah itu, dari dalam hutan kembali keluar sepuluh orang laki-laki seragam hitam pula, serentak kesepuluh orang ini lantas berdiri secara berjajar.
Ciok Boh-thian bersuara heran perlahan di tempat sembunyinya.
Kiranya kesepuluh orang ini telah dikenalnya semua.
Mereka bukan lain daripada para hiangcu Lwe-go-tong dan wakilnya dari Tiang-lok-pang.
Bi Heng-ya, Tan Tiong-ci, Tian Hui dan lain-lain juga termasuk di antara kesepuluh orang itu.
Dan sesudah kesepuluh orang itu sudah berdiri di tempatnya, lalu keluar lagi seorang dari dalam hutan, siapa lagi dia kalau bukan "Tio-jiu-seng-jun"
Pwe Hay-ciok. Lebih dulu tabib she Pwe itu batuk-batuk beberapa kali, lalu membuka suara.
"Para pemimpin Su-tay-mui-pay dari Kwantang telah sudi berkunjung kemari, kami... huk, huk, tidak berani menunggu di markas, tapi sengaja datang menyambut ke sini. Hanya saja... huk, huk,... hanya saja kedatangan kalian agak terlambat, sungguh membikin para saudara kami merasa tidak sabar lagi."
Mendengar pembicaraannya diseling dengan terbatuk-batuk, maka Hoan It-hui lantas tahu tokoh di hadapannya ini pasti Pwe Hay-ciok yang termasyhur di dunia persilatan itu.
Tapi ia merasa lega malah setelah mengetahui bahwa pihak lawan ternyata adalah Tiang-lok-pang yang justru menjadi tujuan perjalanan mereka ini.
Ia pikir kebetulan juga dapat bertemu dan bertempur untuk menentukan mati atau hidup dengan Tiang-lok-pang di tempat ini daripada tanpa sebab terlibat dalam permusuhan dengan Ting Put-si yang gila-gilaan itu.
Maka cepat ia memberi hormat dan menjawab.
"O, kiranya Pwe-siansing yang telah jauh-jauh menyambut kedatangan kami ini, sungguh kami sangat terima kasih. Cayhe adalah Hoan It-hui dari Ho-hou-kau dan saudara ini adalah...."
Begitulah ia lantas perkenalkan pula Lu Cing-peng, Hong Liang, dan Ko Sam-niocu.
Melihat kedua pihak itu bertemu secara ramah tamah, diamdiam Boh-thian menyangka mereka tidak jadi berkelahi, segera ia membisiki si Ting Tong.
"Kiranya adalah kawan-kawan sendiri semua, marilah kita keluar untuk menemui mereka."
Namun si Ting Tong pantas mencegahnya, bisiknya perlahan.
"Nanti dulu, tunggulah sebentar lagi!"
Di sebelah sana terdengar Hoan It-hui mulai bicara pula.
"Kami sudah berjanji akan berkunjung ke tempat kalian pada hari Tiong-yang-ce, tak terduga di tengah jalan kami telah mengalami sedikit halangan sehingga datang agak terlambat, untuk ini mohon Pwe-siansing dan para hiangcu sudilah memaafkan."
"Ah, tidak,"
Jawab Pwe-tayhu.
"Cuma saja Ciok-pangcu sudah cukup lama menunggu dan kalian belum juga berkunjung datang, maka beliau telah berangkat pergi untuk urusan penting yang lain. Beliau menyangka janji pertemuan kalian itu tentu telah dibatalkan, maka tidak menunggu lebih lama lagi."
Hoan It-hui tertegun atas keterangan itu. Katanya kemudian.
"Entah sekarang Ciok-enghiong pergi ke mana? Sesungguhnya saja kedatangan kami dari jauh ke Tionggoan sini justru berharap dapat berjumpa dengan Ciok-enghiong kalian. Jika tidak dapat bertemu, maka... maka kami benar-benar sangat kecewa."
"Dasar orang goblok,"
Demikian si Ting Tong membisiki Bohthian.
"Dia berada bersama kau, makan-minum bersama satu meja, tapi mengatakan tidak bertemu dengan kau dan sangat mengecewakan mereka. Sungguh menertawakan."
Dalam pada itu terdengar Hoan It-hui telah menyambung lagi.
"Kunjungan kami ini telah membawa juga sedikit hasil bumi Kwantang, beberapa lembar kulit berbulu dan beberapa kati jinsom untuk dipersembahkan kepada Ciok-enghiong, Pwesiansing, dan para hiangcu yang terhormat. Sedikit oleh-oleh yang tak berarti ini sudilah kiranya kalian terima dengan suka hati."
Habis bicara ia lantas memberi tanda, segera ada tiga orang anak buahnya mendekati seekor kuda dan menurunkan tiga bungkusan dari punggung binatang tunggangan itu.
Lalu dengan membungkuk hormat mereka mendekati Pwe Hay-ciok.
"Ah, kalian... kalian benar-benar sangat baik hati,"
Sahut Pwetayhu dengan tertawa.
"Atas... huk, huk,... atas hadiah kalian yang berharga ini, sungguh kami sangat... sangat berterima kasih, sangat berterima kasih!"
Lalu dari punggung sendiri Hoan It-hui lantas menanggalkan juga sebuah bungkusan kecil, ia melangkah maju tiga tindak, lalu bungkusan kecil itu dipersembahkan sambil berseru.
"Tonghong-pangcu dari Pang kalian dahulu pernah tinggal di Kwantang serta mempunyai persahabatan yang akrab dengan kami. Di sini adalah sebuah jinsom tua yang telah berbentuk badan manusia, kalau dimakan akan dapat awet muda dan panjang umur, jinsom ini terhitung benda yang jarang terdapat, dengan ini khusus kupersembahkan kepada Tonghong-toako."
Dengan kedua tangannya dia persembahkan bungkusan kecil itu, tapi sorot matanya menatap tajam kepada Pwe-tayhu.
Diam-diam Ciok Boh-thian sangat heran, ia tidak tahu dari mana munculnya seorang Tonghong-pangcu lagi?
Sementara itu terdengar Pwe-tayhu sedang terbatuk-batuk beberapa kali, lalu menghela napas pula dan menjawab.
"Pangcu kami yang dahulu, Tonghong-toako, pada... huk, huk, pada beberapa tahun yang lalu telah mengalami sesuatu urusan yang tidak menyenangkan, beliau menjadi putus asa dan tidak mau mengurus soal organisasi lagi. Sebab itulah segala urusan penting dari Pang kami telah diserahkan kepada Ciok-pangcu yang sekarang. Tonghong toako sendiri lantas... huk, lantas mengasingkan diri, sampai saat ini kami pun tidak pernah menerima kabar beritanya dan sangat merindukan beliau. Sekarang kalian membawakan oleh-oleh berharga ini, tapi entah cara bagaimana harus menyampaikan kepada beliau?"
"Entah Tonghong-toako bertirakat di mana dan sebab apakah beliau sampai perlu mengasingkan diri?"
Tanya It-hui. Lapatlapat nadanya sudah mengandung maksud menegur dan mendesak. Namun Pwe-tayhu menjawabnya dengan tersenyum.
"Cayhe cuma bawahan Tonghong-toako saja, pengetahuan kami atas urusan pribadi beliau sangatlah terbatas dan tidak banyak. Jika saudara Hoan dan para kawan mengaku adalah sahabat akrab Tonghong-pangcu, maka kebetulan Cayhe ingin minta petunjuk. sebab apakah di kala Tiang-lok-pang sedang berkembang dengan pesat dan namanya lagi jaya, tapi mendadak Tonghong-pangcu malah menyerahkan beban yang amat berat ini kepada Ciok-pangcu?"
Tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya. Dengan demikian Hoan It-hui menjadi terdesak dan susah menjawabnya.
"Tentang ini, mungkin... mungkin...."
It-hui menjawab dengan tergagap-gagap dan tidak sanggup meneruskan. Maka Pwe-tayhu lantas berkata pula.
"Pada waktu Tonghongpangcu menyerahkan kedudukan pangcu, saat itu para saudara kami boleh dikata sama sekali tidak mengetahui seluk-beluk tentang ilmu silat dan pribadi Ciok-pangcu yang sekarang. Mengingat usianya masih sangat muda namanya juga tidak menonjol di dunia persilatan, sekarang dia diharuskan memimpin para kesatria, tentu saja menimbulkan ketidakadilan dalam hati saudara-saudara kami. Namun sesudah Ciokpangcu menduduki jabatannya, berturut-turut beliau lantas melakukan beberapa pahala bagi Pang kami, hal ini membuktikan bahwa pandangan Tonghong-pangcu benarbenar sangat tajam dan pintar memilih penggantinya, bukan saja ilmu silatnya memang tinggi, bahkan pengetahuannya juga lain daripada yang lain.... Huk, huk, jika tidak demikian masakah beliau dapat bersahabat akrab dengan kalian? Hahahaha!"
Di balik kata-katanya, yang terakhir ini seakan-akan dia ingin mengatakan bahwa kalau kalian anggap pilihan Tonghongpangcu itu tidak tepat, maka kalian yang merupakan sahabat pilihan Tonghong-pangcu pula tentu juga bukan manusia baikbaik atau cuma kaum keroco saja.
"Pwe-tayhu,"
Mendadak Lu Cing-peng menimbrung.
"berita yang kami peroleh di Kwantang justru tidak demikian ini, sebab itulah maka jauh-jauh kami sengaja datang kemari untuk menyelidikinya."
"Berita yang tersiar sejauh itu bukan mustahil telah sengaja ditambah dan dibuat-buat,"
Ujar Pwe Hay-ciok.
"Entah berita bohong apakah yang telah kalian dengar?"
"Ya, sebelum jelas duduknya perkara yang sebenarnya memang susah untuk dikatakan apakah berita ini cuma berita bohong atau bukan,"
Kata Lu Cing-peng.
"Dari seorang kawan kami mendengar, katanya Tonghong-toako telah... telah...."
Sampai di sini sorot matanya mendadak berapi-api, nadanya lantas meninggi.
"telah dibunuh oleh pengkhianat dalam Tianglok-pang, kematiannya tidaklah jelas dan kedudukan pangcu telah ditempati oleh seorang pemuda yang kejam, angkara murka dan cabul pula perbuatannya. Apa yang kami dengar dari kawan itu rasanya bukan bualan belaka. Mengingat persahabatan kami dengan Tonghong-toako di masa lampau, walaupun kami sadar baik ilmu silat maupun derajat kami sesungguhnya tidak sesuai untuk ikut campur dalam urusan Pang kalian, tapi demi untuk kepentingan Tonghong-toako, terpaksa... terpaksa kami harus berlaku sembrono."
"Benar, ucapan Lu-heng memang tepat, tindakan kalian ini memanglah sembrono,"
Sambung Pwe Hay-ciok dengan tertawa dingin. Muka Lu Cing-peng menjadi panas, diam-diam ia mengakui "Tio-jiu-seng-jun"
Pwe Hay-ciok memang benar-benar pintar dan cerdik. Segera ia menjawab dengan suara keras.
"Sebenarnya soal pengangkatan pangcu kalian, sebagai orang luar kami tidak perlu ikut campur. Kedatangan kami jauh-jauh dari Kwantang ini hanya ingin tanya kepada Pang kalian, sesungguhnya Tonghong-toako saat ini masih hidup atau sudah mati. Dia mengundurkan diri sebagai pangcu sesungguhnya dilakukan secara sukarela atau atas paksaan orang lain?"
Pwe Hay-ciok tertawa dingin. Katanya.
"Sekalipun orang she Pwe ini tidak becus, tapi jelek-jelek juga ada sedikit nama di dunia Kangouw, apa yang sudah kukatakan masakah pernah dijilat kembali? Biarpun kalian menganggap aku berdusta, apa mau dikata lagi, terpaksa orang she Pwe akan berdusta sampai titik terakhir. Hehe, kalian adalah orang-orang yang ada nama di dunia persilatan, dengan penuh semangat kalian suka membela teman, hal ini sungguh harus dipuji dan dikagumi. Tapi dalam urusan ini rasanya tidaklah tepat."
Selamanya Ko Sam-niocu suka disanjung puji orang, keruan sekarang ia menjadi gusar atas olok-olok Pwe Hay-ciok itu. Dengan suara garang ia berkata.
"Orang yang membunuh Tonghong-toako bukan mustahil kau orang she Pwe inilah biang keladinya. Kedatangan kami ke Tionggoan sini adalah untuk menuntut balas bagi Tonghong-toako, memangnya kami sudah bertekad takkan pulang dengan hidup. Seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani bertanggung jawab, mengapa kau bicara secara plintat-plintut? Nah, lebih baik kau mengaku terus terang saja, sebenarnya Tonghong-toako sudah meninggal atau masih hidup?"
Dengan acuh tak acuh Pwe Hay-ciok menjawab.
"Orang she Pwe ini sudah lama menderita sakit sehingga selalu tersiksa, memangnya aku sudah merasa bosan hidup. Jika Ko Samniocu mau bunuh, boleh silakan mulai saja."
"Huh, percuma saja kau mengaku sebagai tokoh persilatan, tapi main akal bulus terhadap nyonya besarmu ini,"
Damprat Ko Sam-niocu.
"Baiklah, jika kau tidak mengaku, bolehlah kau panggil keluar itu anak jadah she Ciok, biar nyonya besar tanya langsung kepadanya."
Ia pikir Pwe Hay-ciok terlalu licik, untuk adu mulut rasanya tidak bisa menang, main kekerasan juga mungkin kalah karena jumlah lawan lebih banyak.
Sebaliknya Ciok-pangcu itu hanya seorang pemuda ingusan, andaikan nanti tidak mau bicara terus terang, sedikitnya dari sikapnya dan gerak-geriknya akan dapat diketemukan sedikit tanda-tanda yang meyakinkan.
Akan tetapi Tan Tiong-ci yang berdiri di sebelah Pwe Hay-ciok itu mendadak menanggapi.
"Untuk bicara terus terang kepada Ko Sam-niocu, memang Ciok-pangcu kami biasanya paling suka kepada kaum wanita, tapi yang dia pilih hanya anak dara yang masih muda dan cantik, yang masih halus dan empuk. Kalau beliau diminta menemui Ko Sam-niocu, hehe, kukira... kukira...."
Ucapan Tan Tiong-ci itu bernada sangat bangor, secara terangterangan ia mengolok-olok Ko Sam-niocu sudah tua lagi jelek mukanya, maka Ciok-pangcu mereka tentu tidak mau menemuinya.
Diam-diam si Ting Tong merasa geli, ia membisiki Boh-thian.
"Sebenarnya Ko-cici juga sangat cantik, jika menurut kata-kata Tan-hiangcu tadi, apakah kau juga telah penujui dia?"
"Hus, jangan sembarangan mengoceh!"
Bentak Boh-thian tertahan sambil memegang tangan si nona.
Dalam pada itu Ko Sam-niocu menjadi gusar, kontan ia telah menyambitkan tiga bilah pisaunya ke arah Tan Tiong-ci.
Tapi Tan Tiong-ci dapat mengelakkannya semua, katanya dengan tertawa.
"Eh, apa gunanya kau penujui diriku?...."
Begitulah mulutnya lantas mencerocos lagi dengan kata-kata yang tidak senonoh. Keruan Ko Sam-niocu semakin kalap, segera pisau terbangnya menyambar lagi.
"Nanti dulu!"
It-hui bermaksud melerai.
Akan tetapi sekali Ko Sam-niocu sudah murka, maka susahlah dihentikan, sekaligus ia telah menyambitkan enam bilah pisau, yang satu menyambar terlebih cepat daripada yang lain.
Keenam bilah pisau itu dapat dihindarkan oleh Tan Tiong-ci, akan tetapi waktu pisau ketujuh menyambar tiba.
"cret" , ia tidak sempat mengelak, dengan tepat kaki kanan termakan, seketika kaki Tan Tiong-ci sakit dan lemas sehingga berlutut.
"Huh, apa gunanya berlutut dan minta ampun?"
Demikian Ko Sam-niocu balas mengejek.
Sekarang Tan Tiong-ci yang menjadi murka, ia cabut pisau yang menancap di kakinya itu terus menerjang maju.
Akan tetapi Hong Liang telah putar ruyungnya dan menyabet sehingga Tiong-ci terpaksa mundur lagi.
Tampaknya pertempuran total segera dapat terjadi, untunglah pada saat itu mendadak Ciok Boh-thian lantas berseru.
"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi! Kalian ingin bertemu dengan aku, bukankah kalian sudah bertemu sekarang?"
Sembari bicara ia lantas keluar dari tempat sembunyinya dengan gandeng tangan si Ting Tong, hanya beberapa kali lompatan saja ia sudah berdiri di tengah-tengah orang banyak.
Serentak Tan Tiong-ci dan Hong Liang yang telah siap-siap bertempur tadi lantas melompat mundur, segenap anggota Tiang-lok-pang lantas bersorak gemuruh dan sama memberi sembah hormat.
"Pangcu sudah tiba!"
Keruan Hoan It-hui dan lain-lain sangat terkejut.
Sebenarnya dia merasa sangsi, tapi kalau melihat sikap anggota-anggota Tiang-lok-pang yang sungguh-sungguh itu rasanya toh tidaklah pura-pura.
Lalu terpikir olehnya.
"Ya, Inkong mengaku she Ciok, usianya masih muda, ilmu silatnya sangat tinggi, memangnya tidaklah mengherankan juga dia adalah Pangcu Tiang-lok-pang, adalah salah kami sendiri yang tidak berpikir sampai begini jauh."
Ko Sam-niocu juga lantas menyapa.
"Eh. Ciok... Ciok-inkong, kiranya kau adalah... adalah Pangcu Tiang-lok-pang? Ai, kami benar-benar terlalu sembrono. Tahu begini, masakah kami berani tidak memercayai lagi?"
Boh-thian hanya tersenyum, katanya kepada Pwe Hay-ciok.
"Pwe-siansing, sungguh tidak nyana bahwa kita akan bertemu di sini. Mereka ini adalah sahabatku semua, jangan kita saling cekcok."
Memangnya Pwe Hay-ciok juga sangat girang atas munculnya Ciok Boh-thian, ia pun tiada permusuhan apa-apa dengan jagojago Kwantang itu, segera ia memberi hormat dan menjawab.
"Pangcu sudah datang sendiri, maka segala sesuatu terserah kepada kebijaksanaan Pangcu."
"Sungguh kami tidak pernah menduga bahwa pangcu baru Tiang-lok-pang kiranya adalah Inkong,"
Demikian Ko Samniocu berkata.
"Kami telah percaya kepada berita bohong yang mengatakan Tonghong-toako dicelakai kaum pengkhianat, makanya kami lantas mengadakan janji pertemuan dengan Pang kalian. Tapi jika Pangcu baru ternyata adalah Inkong adanya, dengan budi luhur Inkong ini tidaklah mungkin berbuat sesuatu yang tidak pantas terhadap Tonghong-toako, kami percaya pasti Tonghong-toako yang penujui Inkong karena nyata-nyata berjiwa luhur dan berkepandaian tinggi, maka beliau rela mengundurkan diri dan memberikan tempatnya kepada tenaga muda. Cuma keadaan Tonghong-toako entah baik-baik atau tidak?"
Ciok Boh-thian menjadi bingung untuk menjawabnya. Ia berpaling dan coba bertanya kepada Pwe-tayhu.
"Tonghong... Tonghong-toako ini...."
"O, Tonghong-pangcu telah mengasingkan diri di pegunungan sunyi, beliau tidak mau menemui tetamu dari mana pun juga,"
Jawab Pwe Hay-ciok.
"Ya, sayang, kalian yang penuh menaruh perhatian atas diri beliau dan sengaja datang dari jauh, mestinya memang harus bertemu dengan beliau."
"Tadi ucapan Cayhe mungkin agak kasar, untuk mana haraplah Pwe-siansing suka memberi maaf,"
Kata Hoan It-hui sambil memberi hormat. Lalu sambungnya pula.
"Hanya saja hubungan, kami dengan Tonghong-toako boleh dikata lain daripada yang lain, maka betapa pun juga kami harap dapatlah bertemu sejenak dengan beliau, untuk ini mohon Inkong dan Pwe-siansing sudi meluluskan. Walaupun Tonghong-toako menyatakan tidak mau menemui orang luar, tapi kami ini bukanlah orang luar."
"Tempat tirakat Tonghong-toako itu entah jauh atau tidak?"
Kata Boh-thian kepada Pwe Hay-ciok.
"Sesungguhnya memang sangat mengecewakan bila kedatangan Hoan-toako dan kawan-kawannya dari tempat sejauh ini ternyata tidak dapat bertemu dengan beliau."
Pwe Hay-ciok menjadi serbasusah.
Setiap ucapan sang pangcu boleh dikata adalah perintah.
Tapi apa yang terjadi di antara persoalan pangcu lama dan baru tampaknya sudah dilupakan seluruhnya olehnya, di hadapan orang banyak tidak leluasa pula untuk mengingatkannya kembali.
Terpaksa ia mengulur tempo dan berkata.
"Untuk ini seketika juga susah diterangkan. Sementara ini silakan para tamu mampir dulu di markas kita yang terletak tidak jauh dari sini, sambil minum sekadarnya perlahan-lahan kita dapat membicarakannya lagi."
"Markas kita terletak tidak jauh dari sini?"
Boh-thian menegas dengan heran. Pwe-tayhu memandang sekejap kepada pemuda itu.
"Penyakit linglung Pangcu kembali kumat lagi?"
Pikirnya. Tapi ia pun lantas menjawab.
"Dari sini menuju ke timur laut, dengan mengambil jalan singkat kita hanya perlu menempuh 50-an li saja sudah dapat sampai di markas besar kita di Yangciu."
Baru sekarang Boh-thian sadar telah disasarkan oleh si Ting Tong.
Waktu dia memandang si nona, si Ting Tong telah menjawabnya dengan menjulurkan lidah dan tertawa.
Hoan It-hui dan kawan-kawannya memang ingin mencari tahu di mana beradanya Tonghong Heng, maka mereka lantas menerima baik undangan Pwe Hay-ciok.
Begitulah beramai-ramai mereka lantas berangkat ke jurusan timur laut.
Menjelang pagi mereka sudah sampai di markas besar Tiang-lok-pang.
Petugas-petugas penyambut tamu sibuk melayani Hoan It-hui dan kawan-kawannya.
Sedangkan Ciok Boh-thian dan si Ting Tong lantas masuk ke ruangan dalam.
Melihat sang pangcu telah pulang, Si Kiam sangat girang dan kejut pula ketika melihat beliau membawa pulang seorang nona cantik.
Pikirnya.
"Baru saja kesehatannya sedikit pulih, sekarang penyakit bangornya sudah kumat lagi. Tadinya kukira dia akan berubah kelakuannya yang buruk ini, siapa duga dia tetap demikian. Ya, memangnya kalau sifatnya itu dapat berubah, tentu matahari akan muncul dari arah barat."
Sesudah cuci muka dan baru saja Boh-thian minum teh, terdengarlah Pwe Hay-ciok berseru di luar kamar.
"Enci Si Kiam, harap sampaikan kepada Pangcu bahwa Pwe Hay-ciok mohon bertemu."
Bab 35. Pek Ban-kiam Menerjang ke Sarang Tiang-lokpang Tanpa menunggu laporan Si Kiam, segera Boh-thian keluar dan berkata.
"Pwe-siansing, memangnya aku ingin bicara dengan kau. Sebenarnya bagaimana duduknya perkara tentang Tonghong-pangcu?"
"Harap Pangcu ikut kemari,"
Sahut Pwe Hay-ciok, Ia membawa Boh-thian menyusur taman dan sampailah di suatu gardu pemandangan.
Ia menunggu Boh-thian mengambil tempat duduk, habis itu barulah dia sendiri pun berduduk.
Lalu katanya.
"Sesudah Pangcu menderita sakit ini, jangan-jangan telah melupakan semua kejadian di masa lampau?"
Boh-thian sendiri sudah mendengar pembicaraan ayah-ibunya dan mengetahui sebabnya orang-orang Tiang-lok-pang mengangkatnya menjadi pangcu sebenarnya tidak dengan iktikad baik, tapi justru ingin memperalat dan mengorbankan jiwanya demi keselamatan orang banyak di dalam Pang mereka.
Hanya saja selama ini Pwe Hay-ciok selalu ramah tamah dan sangat menghormat padanya, di waktu dirinya menderita sakit payah juga berkat pengobatannya yang tekun, biar bagaimanapun juga orang tua itu telah banyak mengurangi penderitaannya.
Jika sekarang dirinya menegur dengan terus terang, tentu akan membuatnya kikuk.
Apalagi kejadian-kejadian di masa dahulu memangnya dirinya juga sudah lupa, untuk ini perlu juga mendapat keterangan yang jelas.
Maka ia lantas menjawab.
"Ya, benar! Harap Pwe-siansing sudi menguraikannya dari awal sampai akhir sejelas-jelasnya."
"Tonghong-pangcu yang dulu nama lengkapnya adalah Tonghong Heng, berjuluk Pat-jiau-kim-liong (Si Naga Emas Delapan Cakar), beliau adalah Pangcu punya susiok, apakah Pangcu masih ingat?"
"Aku punya susiok?"
Boh-thian menegas dengan heran.
"Mengapa... mengapa aku tidak ingat sedikit pun? Dari aliran dan golongan manakah dia itu?"
"Tentang asal usul perguruan Tonghong-pangcu, karena kami adalah kaum bawahan dan tidak pantas untuk tanya kepada beliau,"
Sahut Pwe Hay-ciok.
"Tiga tahun yang lalu, Pangcu sendiri mendapat perintah Suhu...."
"Mendapat perintah Suhu? Siapa sih guruku?"
Tanya Boh-thian. Hay-ciok menggeleng-geleng kepala. Katanya.
"Penyakit Pangcu ini benar-benar sangat parah, sampai-sampai gurunya sendiri pun sudah terlupa. Tentang perguruan Pangcu, kami sebagai bawahan juga tidak mengetahui. Tempo hari, itu Pek Ban-kiam dari Swat-san-pay menuduh Pangcu adalah murid pelarian dari Swat-san-pay mereka, hal ini pun membuat Siokhe (bawahan) merasa heran."
Sampai di sini ia lantas berhenti, agaknya mengharap agar Boh-thian menyambungnya dan membeberkan asal usul perguruannya sendiri. Tapi Boh-thian cuma menerangkan.
"Tentang guruku, aku hanya pernah mengangkat Su-popo dari Kim-oh-pay sebagai suhu, hal ini pun baru terjadi tidak lama berselang."
Lalu ia ketok-ketok dahi sendiri karena apa yang diingatnya selalu berbeda daripada apa yang dikatakan orang lain, hal demikian ini membuatnya sangat kesal. Kemudian ia menanya lagi.
"Lalu bagaimana sesudah aku mendapat perintah dari guruku?"
"Atas perintah guru Pangcu, maka Pangcu telah datang menumpang kepada Tonghong-pangcu dan mohon bimbingannya agar dapat menambah pengalaman. Tidak lama kemudian Pang kita lantas terjadi suatu urusan penting, yaitu mengenai medali tembaga tanda undangan Siang-sian dan Hwat-ok Sucia. Tentang ini apakah Pangcu masih ingat?"
"Tentang medali dari Siang-sian dan Hwat-ok itu memang aku mengetahui,"
Sahut Boh-thian.
"tapi bagaimana dan apa yang dirundingkan pada waktu itu, hal ini sedikit pun aku tidak ingat lagi."
"Begini, menurut tradisi Pang kita, setiap tahun satu kali kita mesti mengadakan sidang pleno pada tanggal tiga bulan tiga,"
Demikian Pwe Hay-ciok menjelaskan.
"Pada hari itu berkumpul para hiangcu dari pusat dan para thocu dari cabang-cabang di berbagai tempat. Pada suatu sidang besar tiga tahun yang lalu tiba-tiba ada kawan menyinggung tentang kemajuan Pang kita yang pesat, lewat dua-tiga tahun lagi soal undangan medali tembaga akan muncul pula di Kangouw, tatkala mana rasanya Pang kita takkan terhindar daripada undangannya, lalu cara bagaimana harus menghadapinya, ini harus dirundingkan sekalian supaya tiba saatnya nanti tidak tergesa-gesa dan bingung."
"Ya, benar itu,"
Ujar Boh-thian sambil mengangguk.
"Bila medali tembaga rasul-rasul itu sudah disampaikan, kalau Pangcu tidak mau terima dan berjanji akan hadir, maka segenap anggota tentu akan ikut menjadi korban. Hal ini aku sudah menyaksikan sendiri."
"Pangcu telah menyaksikan sendiri?"
Tanya Hay-ciok terheranheran.
"Sesungguhnya saja aku bukan pangcu kalian,"
Kata Boh-thian.
"Cuma tentang Siang-sian dan Hwat-ok Sucia itu aku memang telah menyaksikannya sendiri, yaitu ketika mereka membunuh habis-habisan orang-orang Hui-hi-pang dan Tiat-cha-hwe."
Tentang tertumpasnya Hui-hi-pang dan Tiat-cha-hwe lantaran menolak untuk menerima medali tembaga, berita-berita itu sudah lama didengar oleh orang-orang Tiang-lok-pang.
Pwe Hay-ciok menghela napas, lalu berkata pula.
"Kita juga sudah menduga akan tiba suatu hari nahas seperti kawankawan Kangouw itu, sebab itulah hiangcu yang dahulu mengemukakan persoalan ini sesungguhnya cukup beralasan. Cuma saja Tonghong-pangcu menjadi gusar dan anggap hiangcu she Ho itu sengaja menjangkitkan perasaan takut dan mengeruhkan suasana, segera beliau memerintahkan Hohiangcu itu ditahan. Ketika para kawan memohonkan ampun bagi Ho-hiangcu, pada lahirnya Tonghong-pangcu menyatakan baik, tapi pada malamnya Ho-hiangcu itu lantas dibunuh olehnya, besok paginya diumumkan katanya Ho-hiangcu telan membunuh diri karena takut kepada dosanya sendiri."
"Mengapa beliau berbuat demikian?"
Tanya Boh-thian.
"Ya, mungkin Tonghong-pangcu ada permusuhan pribadi dengan Ho-hiangcu itu, kesempatan itu lantas digunakan untuk membunuhnya."
"Tidak, tidak begitulah soalnya,"
Kata Pwe Hay-ciok sambil menggeleng.
"Alasan yang sesungguhnya adalah karena Tonghong-pangcu tidak ingin orang lain mengungkat soal medali tembaga itu."
"O,"
Boh-thian mengangguk dan pahamlah dia.
Hendaklah maklum bahwa sebenarnya dia mempunyai bakat yang pintar, soalnya dia jarang bergaul sehingga seluk-beluk orang hidup sama sekali asing baginya.
Tapi akhir-akhir ini dia telah berkumpul dengan Ting Tong, selama beberapa hari berbicara dan tukar pikiran pula dengan Ciok Jing dan Bin Ju, maka sekarang ia telah dapat meraba pikiran orang lain, Pikirnya.
"Rupanya Tonghong-pangcu sadar bila terima undangan medali tembaga, maka berarti akan tamatlah riwayatnya. Sebaliknya kalau tidak mau terima medali itu, tentu segenap anggota akan ikut berkorban. Lantaran soal yang serbamenyusahkan ini, maka beliau tidak mau soal sulit itu disebut-sebut."
Dalam pada itu Pwe Hay-ciok telah menyambung ceritanya.
"Sudah tentu para kawan mengetahui bahwa beliau sendiri yang telah membunuh Ho-hiangcu. Dari perbuatannya ini para kawan lantas dapat menarik kesimpulan bahwa kelak bila medali tembaga itu disodorkan kepadanya, tentu beliau akan menolak, tidak mungkin beliau rela mengorbankan diri sendiri untuk keselamatan para kawan. Tatkala itu semua orang hanya membatin saja, tapi tiada yang berani membuka suara. Pada saat itulah, hanya engkau Pangcu yang telah tampil ke muka dan menegur Tonghong-pangcu atau susiokmu itu."
"Aku... aku yang tampil ke muka dan... dan menegurnya?"
Boh-thian menegas dengan terheran-heran.
"Benar!"
Sahut Hay-ciok.
"Waktu itu dengan tegas Pangcu telah berkata, ‘Susiok, sebagai seorang pangcu, hendaklah engkau berpikir panjang demi kepentingan Pang kita di kemudian hari. Hari munculnya Siang-sian dan Hwat-ok Sucia sebab tidak jauh lagi, sebabnya Ho-hiangcu mengemukakan soal ini juga mengingat kebaikan kita bersama, tapi Susiok telah mendesaknya sehingga dia membunuh diri, hal ini mungkin akan menimbulkan rasa penasaran para kawan.’ — Tonghongpangcu menjadi gusar dan mendamprat engkau, ‘Anak kurang ajar! Di tengah sidang ini masakah kau berani ikut bicara? Akulah yang mendirikan Tiang-lok-pang, kalau mau runtuh biarlah aku pula yang meruntuhkannya, orang lain tidak perlu banyak bacot.’ — Ucapan Tonghong-pangcu itu lebih-lebih menimbulkan rasa kurang puas para kawan. Tapi Pangcu sendiri lantas berkata, ‘Susiok, engkau akan terima medali tembaga atau tidak, akhirnya toh tetap akan mati, apa sih bedanya? Jika engkau tidak mau terima, paling-paling jiwa kawan-kawan yang setia ini akan ikut menjadi korban, cara demikian apa manfaatnya bagimu? Maka ada lebih baik kalau Susiok menerima medali secara kesatria sehingga segenap anggota Pang kita pasti akan selamanya teringat kepada budi kebaikanmu.’"
"Ya, benar juga kata-kata ini,"
Ujar Boh-thian sambil anggukangguk.
"Akan tetapi... akan tetapi, Pwe-siansing, aku merasa tidak... tidak mahir bicara sebagus itu. Aku tidak mampu mengucapkan kata-kata seindah itu."
"Ah, mengapa Pangcu mesti merendah hati?"
Kata Hay-ciok dengan tersenyum.
"Soalnya Pangcu baru saja sembuh dari sakit keras, maka daya ingatanmu belum lagi pulih. Kelak bila kesehatanmu sudah pulih, tentang kepandaianmu berbicara dan berdebat, jangankan segenap kawan kita, sekalipun tokohtokoh Kangouw pada masa kini juga tiada seorang pun yang dapat menandingi engkau."
"Apa ya?"
Kata Boh-thian dengan setengah percaya dan setengah ragu-ragu.
"Lalu... lalu bagaimana sesudah aku berkata begitu?"
"Seketika muka Tonghong-pangcu lantas merah padam,"
Tutur Pwe Hay-ciok.
"Beliau menggebrak meja dan berteriak-teriak, ‘Kurang ajar! Hayo, lekas... lekas ringkus bocah murtad ini!’ — Tetapi meski dia membentak berulang-ulang, semua orang hanya saling pandang belaka dan tiada seorang pun yang bergerak. Keruan Tonghong-pangcu semakin murka, dia berteriak-teriak, ‘Ha! Jadi kalian telah bersekongkol dengan bocah ini dan hendak berontak padaku? Baik, kalian tidak mau turut perintah, biarlah aku sendiri yang membinasakan bocah keparat ini!’"
"Apakah para kawan tidak dapat mencegahnya?"
Tanya Bohthian.
"Sudah tentu semua orang tidak mau turut perintahnya, tapi tetap tiada seorang pun yang berani bersuara,"
Kata Hay-ciok.
"Segera Tonghong-pangcu mengeluarkan senjatanya, Pat-jiau hui-coa (Cengkeram Bercakar Delapan), kontan dia lantas menyerang engkau, Pangcu. Tapi dengan cepat engkau sempat menghindar. Berulang-ulang Tonghong-pangcu melancarkan serangan mematikan, tapi satu per satu dapat dielakkan olehmu, sebaliknya engkau tetap tidak balas menyerang. Permainan cengkeram delapan cakar Tonghong-pangcu itu terhitung suatu kepandaian tunggal di dunia persilatan, tapi engkau mampu menghindarkan beberapa kali serangannya, hal ini sudah boleh dikata sangat hebat, Saat itu Bi-hiangcu lantas berseru, ‘Pangcu, sutitmu telah mengalah beberapa kali seranganmu tanpa membalas, hal ini adalah karena dia menghormati engkau sebagai pangcu dan susioknya, jika engkau menyerang secara ganas lagi, tentu seluruh kesatria di jagat ini akan anggap kau yang salah.’ "Tapi Tonghong-pangcu tambah murka, bentaknya, ‘Boleh kau suruh dia balas menyerang saja! Memangnya kalian sudah condong padanya, jika perlu bolehlah kalian maju semua dan bunuhlah aku, angkatlah bocah ini sebagai pangcu, supaya terlaksana maksud tujuan kalian!’ — Sambil memaki seranganserangannya tidak pernah berhenti sehingga engkau berulangulang terancam bahaya, tampaknya dengan segera jiwamu akan melayang di bawah senjatanya."
Pada saat itulah Tian-hiangcu telah berseru padamu, ‘Terimalah pedang ini, Saudara Ciok!’ — Berbareng dia lantas melemparkan sebatang pedang padamu.
Sesudah bersenjata engkau mengalah tiga jurus lagi, lalu berkata, ‘Susiok, aku sudah mengalah lebih 20 jurus, jika kau tetap mendesak, janganlah menyalahkan aku berlaku kasar padamu.’ — Akan tetapi dengan sinar mata yang buas Tonghong-pangcu menjawab kau dengan serangan keji, mukamu segera hendak dicakar dengan senjatanya."
Para kawan menjadi penasaran dan berteriak-teriak menganjurkan engkau membalas serangannya.
Akhirnya barulah engkau mengucapkan maaf, lalu melancarkan serangan balasan.
Pertarungan kalian menjadi sangat seru.
Kepandaian Tonghong-pangcu dan Pangcu adalah berasal dari suatu perguruan, keruan para kawan susah membedakan siapa yang lebih unggul.
Namun sesudah sekian lamanya, akhirnya semua orang dapat melihat jelas bahwa Pangcu engkau belum mengeluarkan segenap tenaga dan terang masih mengalah padanya, sebaliknya Tonghong-pangcu menyerang semakin kalap.
Akhirnya dengan sejurus yang menyerupai ‘Sun-cui-tui-ciu’ (Mendorong Perahu Menurut Arus) dapatlah engkau menusuk pergelangan tangannya, hui-jiau terjatuh ke lantai, tapi engkau tidak menyerang lebih jauh, sebaliknya lantas menarik senjata dan melompat mundur malah."
Dengan muka pucat Tonghong-pangcu terpaku di tempatnya, sinar matanya menyapu ke muka para kawan satu per satu.
Keadaan sunyi senyap, tiada seorang pun yang membuka suara.
Selang agak lama barulah Tonghong-pangcu berkata dengan nada iba, ‘Ya, baik, baik!’ — Lalu ia melangkah keluar dengan cepat.
Para kawan hanya menyaksikan kepergiannya itu dan tetap tidak seorang pun yang bersuara.
"Dengan perginya Tonghong-pangcu itu, teranglah beliau merasa malu untuk kembali lagi. Tapi Pang kita tidak boleh tanpa pimpinan, maka beramai-ramai para kawan lantas mengangkat engkau sebagai pangcu. Waktu itu dengan rendah hati engkau berkata, ‘Aku tidak mempunyai kepandaian apaapa, sebenarnya aku tidak berani menanggung kewajiban seberat ini. Cuma saja mengingat dua-tiga tahun lagi akan muncul pula soal medali tembaga, maka sementara ini biarlah aku menjabat kedudukan ini, jika medali tembaga itu diantar kemari, akulah yang akan menerimanya dengan baik untuk menanggung segala akibatnya.’ "
Mendengar pernyataanmu itu, serentak para kawan bersorak gembira dan lantas menyembah padamu.
Kepandaianmu tinggi dan telah menundukkan Tonghong-pangcu, sekarang engkau menyanggupi pula berkorban bagi orang banyak, budi kebaikanmu itu sungguh tiada taranya.
Para kawan merasa tidak kecewa telah mendukung engkau sebagai pangcu."
"O, makanya beberapa kali aku melancong keluar, kalian menjadi panik dan khawatir kalau-kalau aku tidak pulang lagi,"
Kata Boh-thian. Muka Pwe Hay-ciok menjadi merah. Cepat ia berkata.
"Kami hanya khawatirkan keselamatan Pangcu. Selama ini walaupun Pangcu agak keras terhadap para kawan, tapi budi kebaikan Pangcu tetap membuat kami berterima kasih."
"Pwe-siansing,"
Kata Boh-thian sesudah merenung sejenak.
"kejadian-kejadian di masa lampau aku sudah tidak ingat lagi. Maka hendaklah kau jangan menutupi apa adanya, sebenarnya aku pernah berbuat kesalahan-kesalahan atau tidak?"
"Dikatakan kesalahan, sebenarnya juga jamak,"
Ujar Pwe Hayciok dengan tersenyum.
"Usia Pangcu masih muda, tentu juga agak romantis dan suka pelesir. Pula wanita-wanita itu kebanyakan adalah sukarela, tidaklah banyak terjadi pemaksaan. Nama Tiang-lok-pang kita memangnya tidak terlalu disukai orang luar, andaikan terjadi apa-apa juga dianggap sepele saja oleh para kawan."
Diam-diam Boh-thian sangat mencela kepada dirinya sendiri.
Ia tahu ucapan Pwe Hay-ciok itu meski kedengaran soal sepele, tapi jelas selama beberapa tahun ini dirinya pasti sudah banyak melakukan perbuatan tidak senonoh, yaitu dalam hal main perempuan.
Akan tetapi sudah dipikir dan diingat kembali, rasanya selain si Ting Tong toh dirinya tidak pernah berhubungan dengan perempuan lain lagi.
"Pangcu,"
Hay-ciok berkata pula.
"Siokhe ingin mengemukakan sesuatu yang agak menyinggung, entah Pangcu sudi mendengarkan atau tidak?"
"O, ya, aku justru ingin mendapat petunjuk-petunjuk Pwesiansing silakan bicara terus terang saja,"
Sahut Boh-thian cepat.
"Bahwasanya Tiang-lok-pang terpaksa melakukan pekerjaanpekerjaan gelap, hal ini memang susah dihindarkan, kalau tidak daripada kita memperoleh pembiayaan sandang-pangan bagi beberapa ribu anggota Pang kita? Memangnya kita juga bukan kaum kesatria dari kalangan pek-to (golongan baik-baik) sehingga tidak perlu patuh kepada adat peraturan mereka yang tengik. Cuma saja mengenai putri atau istri bawahannya sendiri, menurut pendapat Siokhe ada lebih baik Pangcu jangan terlalu menggubrisnya agar... agar tidak menimbulkan sengketa di antara saudara-saudara kita sendiri."
Seketika muka Boh-thian merah jengah.
Teringat olehnya pada malam itu Tian-hiangcu telah berusaha membunuhnya dengan menuduh dirinya telah mencemarkan kehormatan istri hiangcu itu.
Karena dirinya kena penyakit hilang ingatan, bukan mustahil hal demikian itu memang betul terjadi, wah, lantas bagaimana baiknya sekarang?
Dalam pada itu Pwe Hay-ciok telah berkata pula.
"Tingkah laku Ting Put-sam, Ting-losiansing itu rada aneh, ilmu silatnya juga sangat tinggi, jika Pangcu berhubungan dengan cucu perempuannya, kelak kalau Pangcu membuangnya lagi, mungkin Ting-losiansing tidak mau terima dan hal ini berarti akan menambah permusuhan...."
"Mana bisa aku membuangnya?"
Sela Boh-thian. Hay-ciok tersenyum, katanya.
"Di waktu Pangcu sedang menyukai seorang nona sudah tentu Pangcu menganggapnya sebagai jantung hati kesayangan. Cuma biasanya Pangcu tidak bisa lama menyukai nona-nona itu. Tentang nona Ting, jika Pangcu benar-benar suka padanya juga tidak menjadi soal, tapi janganlah sekali-kali mengadakan upacara nikah segala supaya tidak masuk perangkap Ting-losiansing itu."
"Akan tetapi aku... aku sudah menikah dengan dia,"
Kata Bohthian dengan rada tergagap.
"Ya, waktu itu penyakit Pangcu belum lagi sembuh, besar kemungkinan dalam keadaan tak sadar Pangcu telah terjerat oleh perangkap Ting Put-sam, hal ini pun tidak perlu dianggap,"
Ujar Hay-ciok.
Boh-thian mengerut dahi dan merasa bingung untuk menjawabnya.
Sampai di sini Hay-ciok merasa sudah cukup membicarakan soal pribadi sang pangcu, kalau melampaui batas boleh jadi akan mendatangkan rasa rikuh malah.
Maka ia lantas membelokkan pokok pembicaraan, katanya.
"Su-tay-mui-pay dari Kwantang telah datang kemari dengan garang sekali, tapi begitu bertemu dengan Pangcu sikap mereka lantas lunak, bahkan memanggil inkong tak habis-habis, hal ini menandakan budi luhur dan wibawa Pangcu yang tiada bandingannya."
Kiranya tentang Ciok Boh-thian menggempur lari Ting Put-si serta menolong jiwa Ko Sam-niocu dan kawan-kawannya, di tengah jalan jago-jago Kwantang itu sudah bercerita kepada orang-orang Tiang-lok-pang, dan sudah tentu banyak dibumbubumbui.
Maka Pwe Hay-ciok berkata pula.
"Meski ilmu silat orang-orang itu selisih sangat jauh dibandingkan Pangcu, tapi di dunia persilatan mereka pun tergolong tokoh-tokoh ternama. Mereka telah utang budi kepada Pangcu, kesempatan ini dapat digunakan untuk merangkul mereka. Jika nanti mereka bertanya pula tentang Tonghong-pangcu, hendaklah Pangcu menjawab bahwa Tonghong-pangcu sudah mengundurkan diri, kejadian yang Siokhe ceritakan tadi tidaklah perlu diberitahukan kepada mereka agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."
"Ya, saran Pwe-siansing ini memang beralasan,"
Kata Boh-thian sambil mengangguk.
Sesudah bicara sejenak pula, kemudian Pwe Hay-ciok mengeluarkan sehelai daftar dan melaporkan tentang keuangan organisasi, tentang mutasi petugas, tentang penerimaan sumbangan dari pelabuhan atau dari gunung mana.
Sudah tentu Ciok Boh-thian tidak paham tentang administrasi segala, apalagi dia memang buta huruf, maka dia hanya mengiakan saja atas laporan Pwe Hay-ciok itu.
Cuma sekarang lantas diketahuinya juga bahwa apa yang dilakukan oleh Tiang-lok-pang kiranya adalah hal-hal yang tidak halal, banyak diterima upeti dari kaum begal di berbagai tempat, hakikatnya adalah persekongkolan dan membagi rezeki.
Hati Boh-thian merasa tidak enak, tapi tidak tahu cara bagaimana harus bicara kepada Pwe Hay-ciok.
Malamnya diadakan perjamuan besar-besaran untuk menghormati jago-jago dari Kwantang itu.
Hoan It-hui, Ko Sam-niocu, Hong Liang, dan Lu Cing-peng berempat duduk di tempat yang terhormat dengan diiringi Ciok Boh-thian, Pwe Hay-ciok, dan si Ting Tong.
Sesudah saling angkat gelas serta mengobrol hal-hal yang biasa, kemudian Hoan It-hui berkata.
"Dengan bakat Inkong yang tinggi ini sehingga Tiang-lok-pang semakin berkembang dan jaya, untuk ini Tonghong-toako tentu juga merasa sangat senang."
"Saat ini Tonghong-pangcu sendiri sedang menikmati kehidupannya yang aman dan tenteram, beliau tidak mau ikut campur lagi urusan-urusan dalam Pang, maka kami pun tidak berani melaporkan sesuatu kepadanya,"
Kata Hay-ciok.
Dan baru Hoan It-hui ingin memancing lebih jauh untuk mendapatkan keterangan tentang diri Tonghong Heng, tibatiba wakil hiangcu dari Hou-beng-tong mendekati Pwe Hay-ciok dengan tergesa-gesa dan membisiki apa-apa kepadanya.
Lalu Hay-ciok mengangguk dengan tersenyum.
Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Ciok Boh-thian.
"Harap Pangcu maklum bahwa Swat-san-pay telah mengirim bala bantuan kemari dengan maksud menolong kawan-kawan mereka. Di luar dugaan mereka, bukannya berhasil menolong kawan mereka, sebaliknya dua orang di antara penyatron baru itu kembali diringkus kita lagi."
"Ha, anak murid Swat-san-pay telah kita tawan?"
Boh-thian menegas dengan terkejut.
"Tempo hari sesudah Pangcu meninggalkan markas bersama Pek Ban-kiam dari Swat-san-pay itu, Siokhe dan para kawan merasa khawatir kalau-kalau Pangcu kena diingusi oleh orang she Pek itu, maka menyusul para kawan lantas bergerak serentak untuk mencari jejak Pangcu,"
Demikian Pwe Hay-ciok menjawab tanpa menjelaskan ditawannya Ciok Boh-thian oleh Pek Ban-kiam dahulu supaya tidak kehilangan muka di hadapan jago-jago Kwantang itu.
"Di tengah jalan kita telah pergoki serombongan mereka di sini. Cuma sayang Pek Bankiam itu cukup cerdik sehingga hanya ia sendiri yang berhasil lolos."
"Dan bagaimana dengan nona Hoa Ban-ci itu?"
Mendadak si Ting Tong menimbrung.
"Dia sudah tertawan lebih dulu pada rombongan pertama, tatkala mana nona Ting juga berada di sini, bukan?"
Sahut Hayciok.
"Pertama kali itu seluruhnya kita telah menawan tujuh orang Swat-san-pay."
Hoan It-hui dan kawan-kawannya terperanjat.
Sungguh tak terduga oleh mereka bahwa Swat-san-pay yang begitu tersohor ternyata sudah dikalahkan habis-habisan oleh Tiang-lok-pang.
Maka Pwe Hay-ciok menyambung pula.
"Ketika kita memeriksa dan menanyakan jejak Pangcu kepada anak murid Swat-sanpay itu, mereka sama mengaku bahwa pada malam itu juga Pangcu telah meninggalkan kelenteng kecil itu, kemudian tidak pernah bertemu lagi. Setelah yakin keadaan Pangcu tidak kurang suatu apa pun, Siokhe dan para kawan barulah merasa lega. Sekarang terserahlah kepada kebijaksanaan Pangcu cara bagaimana akan memperlakukan orang-orang Swat-san-pay itu."
Diam-diam Boh-thian membatin.
"Menurut cerita ayah-ibu, katanya dahulu aku pernah berguru kepada Swat-san-pay dan orang-orang Swat-san-pay ini masih terhitung paman guruku. Sekarang mana boleh aku menahan mereka apalagi menghukum mati mereka?"
Maka berkatalah Boh-thian.
"Kukira di antara kita dan Swatsan-pay telah terjadi sedikit salah paham, maka lebih baik... lebih baik berkawan saja daripada mencari lawan. Pwesiansing, kukira bebaskan mereka saja dan undang mereka ikut makan minum sekalian, bagaimana pendapatmu?"
"Jika Pangcu anggap jalan ini adalah paling baik, nyata sekali keluhuran budi Pangcu ini harus dipuji,"
Sahut Pwe Hay-ciok dengan tertawa. Segera ia memberi perintah.
"Bawalah kemari orang-orang Swat-san-pay itu!"
Wakil hiangcu tadi mengiakan terus berlalu.
Sejenak kemudian empat anggota Tiang-lok-pang telah menggiring datang dua lelaki berbaju putih.
Tangan kedua orang itu terikat telikung, baju mereka berlepotan darah, agaknya sebelum tertawan mereka telah melawan mati-matian sehingga terluka.
"Lekas maju dan menyembah kepada Pangcu!"
Bentak wakil hiangcu tadi. Lelaki yang berusia lebih tua hanya mendelik saja. Sebaliknya kawannya berumur 30-an itu lantas mencaci maki.
"Sembah apa? Jika berani bolehlah bunuh saja tuan besarmu ini! Kalian kawanan bandit yang kejam ini adakalanya tentu akan menerima ganjaran yang setimpal. Tunggulah kedatangan guruku, Wi-tek Siansing, beliau akan mencincang kalian sehingga hancur luluh untuk membalas dendam kami."
"Dampratan Si-sute sangat tepat! Ya, makilah mereka, bandit anjing! Maling yang tidak tahu malu!"
Demikian mendadak suara seorang yang keras menanggapi dari luar.
Menyusul terdengarlah suara gemerencing nyaringnya rantai besi makin mendekat.
Tertampaklah 20-an orang Swat-san-pay yang terborgol semua telah memasuki ruang pendopo dengan bersitegang leher.
Kheng Ban-ciong, Houyan Ban-sian, Kwan Ban-lu, Kwa Bankin, Ong Ban-jim, Hoa Ban-ci, semuanya termasuk di antara tawanan-tawanan itu.
Bahkan Ong Ban-ek yang memiliki ginkang tertinggi sekarang juga ikut tertangkap.
Begitu masuk, Ong Ban-jim dan kawan-kawannya lantas mencaci maki lebih keras lagi, ada pula di antaranya berteriak murka.
"Huh, dasar bangsat pengecut, hanya pandai main asap pembius dan obat tidur, perbuatan demikian biasanya cuma dilakukan oleh golongan maling ayam yang rendah!"
Mendengar itu.
Hoan It-hui saling pandang sekejap dengan kawan-kawannya.
Pikir mereka jika apa yang dituduhkan orang-orang Swat-san-pay itu benar, memang perbuatan demikian itu bukanlah sesuatu yang gemilang walaupun berhasil membekuk lawan-lawannya.
Rupanya Pwe Hay-ciok dapat menduga pikiran jago-jago Kwantang itu, segera ia berbangkit.
Katanya dengan tertawa.
"Ya, memang tempo hari kami telah menggunakan obat tidur, hal ini bukanlah kami takut kepada kepandaian kalian, tapi adalah mengingat hubungan Ciok-pangcu dengan perguruan kalian, kalau sampai kami melukai kalian tentulah tidak baik. Sekarang kalian bergembar-gembor, agaknya kalian merasa penasaran karena telah tertawan. Baik begini saja, boleh kalian maju satu per satu untuk coba-coba padaku, asal salah seorang di antara kalian mampu bertahan sepuluh jurus saja, maka Tiang-lok-pang kami boleh kalian anggap bangsat yang rendah dan pengecut?"
Tempo hari dalam pertempuran di markas besar Tiang-lokpang ini Pwe Hay-ciok telah memperlihatkan kepandaiannya "Ngo-heng-liok-hap-ciang" , Kwa Ban-kin dan kawan-kawannya tiada satu pun yang mampu melawannya, hanya dalam duatiga jurus saja sudah kena ditutuk roboh semua, maka untuk bergebrak sepuluh jurus dengan Pwe Hay-ciok sekarang memang bukanlah soal mudah.
Si Ban-lian, murid Swat-san-pay yang baru sekarang ikut tertawan, dia belum kenal betapa lihainya Pwe Hay-ciok.
Sebaliknya ia melihat muka Pwe Hay-ciok pucat kurus seperti orang sakit tebese, sudah tentu ia tidak takut padanya.
Terus saja berteriak.
"Tiang-lok-pang kalian hanya menang dengan jumlah orang lebih banyak, apanya yang luar biasa? Huh, jangankan sepuluh jurus, biar seratus jurus juga akan Locu layani!"
"Bagus, bagus!"
Kata Hay-ciok dengan tertawa.
"Saudara ini benar-benar pemberani dan harus dipuji. Kita boleh bertaruh saja, jika kau mampu bertahan dalam sepuluh jurus, maka Tiang-lok-pang boleh dianggap sebagai kawanan bangsat pengecut, tapi kalau saudara yang kalah di dalam sepuluh jurus, apakah Swat-san-pay juga boleh dianggap sebagai kawanan bandit pengecut?"
Sambil bicara ia terus mendekati Si Ban-lian dan begitu mengebut dengan jarinya, kontan beberapa utas tali yang meringkus di tubuh Si Ban-lian itu lantas putus semua.
"Nah, silakan mulai sekarang!"
Kata Hay-ciok pula dengan tertawa.
Hanya dengan sekali kebutan jari saja tali-tali rami sebesar jeriji itu lantas putus semua, padahal tadi Si Ban-lian telah meronta sekuatnya dan tidak mampu melepaskan diri.
Keruan muka Ban-lian menjadi pucat, tanpa merasa badannya menjadi gemetar.
Pada saat itulah tiba-tiba dari luar ada suara seorang menanggapi ucapan Pwe Hay-ciok tadi.
"Bagus, bagus! Jadilah kita bertaruh!"
Mendengar suara itu, anak murid Swat-san-pay lantas bergirang, sebaliknya orang-orang Tiang-lok-pang melengak, sampai-sampai Pwe Hay-ciok sendiri juga rada terkejut.
Maka tertampaklah seorang yang gagah berwibawa telah muncul di depan pintu.
Siapa lagi dia kalau bukan "Gi-han-sepak"
Pek Ban-kiam. Sesudah melangkah masuk, segera Ban-kiam memberi salam kepada Hay-ciok, lalu berkata.
"Cayhe tidak becus, tapi ingin coba-coba sepuluh jurus dengan Pwe-siansing."
Pwe Hay-ciok tersenyum, sikapnya tetap sangat tenang, tapi batinnya sebenarnya serbarunyam.
Menurut kepandaian Pek Ban-kiam, rasanya paling sedikit harus ratusan jurus lebih baru bisa menangkan tokoh Swat-san-pay ini, jadi tidaklah mungkin dapat mengalahkannya di dalam sepuluh jurus saja.
Namun sebagai seorang tua yang berpengalaman, hanya berpikir sekejap saja ia lantas menjawab dengan tertawa.
"Pertaruhan sepuluh jurus hanya dapat digunakan untuk menggertak para sute Pek-tayhiap saja, sekarang Pek-tayhiap sendiri yang datang, maka syarat pertaruhan ini perlu diubah sedikit. Jika Pek-tayhiap ada minat buat lemaskan otot dengan Cayhe, maka bolehlah kita tentukan saja di dalam dua-tiga ratus jurus."
"O, kiranya apa yang telah diucapkan Pwe-siansing tadi dijilat kembali?"
Desak Pek Ban-kiam.
"Hahaha!"
Hay-ciok tertawa.
"Pertaruhan sepuluh jurus hanya ditujukan kepada kaum muda yang hijau dan congkak saja, masakah Pek-tayhiap tergolong orang-orang demikian ini?"
"Jika Tiang-lok-pang mau mengaku sebagai kawanan bangsat pengecut, apa halangannya kalau aku dianggap masih hijau dan congkak?"
Kiranya sesudah Pek Ban-kiam masuk ke ruang pendopo, ia menjadi mendongkol ketika melihat Ciok Boh-thian duduk terhormat di tengah ruangan, sebaliknya para sutenya bermuka pucat dan teringkus semua.
Sebab itulah ia terus pegang kelemahan ucapan Pwe Hay-ciok tadi agar dia mau mengaku bahwa Tiang-lok-pang adalah kawanan bangsat pengecut.
Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru dengan suara lantang.
"Nyo Kong dari Ka-hin-hu dan suami-istri Ciok Jing dari Hian-soh-ceng datang berkunjung!"
Itulah suaranya Ciok Jing. Ciok Boh-thian sangat girang, cepat ia melompat bangun sambil berseru.
"Ayah! Ibu!"
Berbareng ia terus berlari keluar.
Ketika lewat di samping Pek Ban-kiam, mendadak Ban-kiam pegang tangannya.
Karena di luar dugaan, tahu-tahu nadi pergelangan tangan Ciok Boh-thian sudah terpencet.
Tapi dia buru-buru ingin menemui ayah-ibunya, tanpa pikir lagi ia lantas mengebaskan tangannya, di mana tenaga murninya bekerja, seketika Ban-kiam merasa separuh tubuhnya pegal kesemutan, lekas-lekas Ban-kiam lepas tangan, namun tidak urung terasa juga suatu arus tenaga mahadahsyat telah menumbuk ke arahnya, cepat ia melangkah mundur.
Air muka Ban-kiam berubah seketika.
Dilihatnya Pwe Hay-ciok sedang tersenyum-senyum padanya sambil berkata.
"Benarbenar kepandaian yang hebat!"
Ucapan ini seperti memuji Ciok Boh-thian, tapi sesungguhnya menyindir kepandaian Pek Ban-kiam terlalu cetek, masih hijau dan sombong.
Dalam pada itu tertampaklah Ciok Boh-thian telah masuk kembali mengiring kedatangan Ciok Jing dan Bin Ju, selain itu ada pula seorang tua berjenggot putih dan berbadan tinggi besar.
Jarak Yangciu dan Ka-hin-hu tidak terlalu jauh, maka jago-jago Tiang-lok-pang mengenali Nyo Kong adalah tokoh silat ternama di daerah Kanglam, lebih-lebih sang pangcu memanggil Ciok Jing dan Bin Ju sebagai "ayah-ibu", dengan sendirinya mereka lantas berbangkit sebagai tanda hormat.
Dengan penuh kasih sayang tertampak Ciok Boh-thian menggandengi tangan Bin Ju.
Nyonya itu tersenyum simpul, katanya kepada Boh-thian.
"Sungguh aku sangat khawatir ketika kau menghilang dari hotel kemarin pagi. Tapi ayahmu mengatakan jangan khawatir, tidak mungkin orang mampu menculik kau lagi. Dia bilang pasti akan bisa mendapat kabar tentang dirimu bila tanya ke Tiang-lok-pang sini, benar juga kau ternyata berada di sini."
Sebaliknya muka si Ting Tong menjadi merah atas kedatangan Ciok Jing dan Bin Ju, cepat ia melengos ke arah lain, hanya pasang kuping untuk mendengarkan apa yang dibicarakan mereka.
Maka terdengar Ciok Jing suami-istri, Nyo Kong telah bersalaman dengan Pwe Hay-ciok, Hoan It-hui dan lain-lain.
Karena sama-sama tokoh persilatan yang ternama, maka masing-masing saling mengucapkan kata-kata pujian kepada kenalan-kenalan baru itu.
Lebih-lebih Hoan It-hui dan kawan kawannya menjadi tambah hormat kepada Ciok Jing dan Bin Ju ketika diketahui mereka adalah ayah-ibunya Ciok Boh-thian.
Kemudian Boh-thian berkata kepada Pwe Hay-ciok.
"Pwesiansing, kesatria-kesatria Swat-san-pay ini biarlah kita lepaskan semua saja."
"Atas perintah Pangcu, lepaskan semua ‘kesatria’ Swat-sanpay!"
Sambung Pwe Hay-ciok dengan tertawa meneruskan perintah Ciok Boh-thian. Kata-kata "kesatria"
Sengaja diucapkan dengan lebih keras, terang ia sengaja hendak menyindir tawanan tawanannya itu.
Belasan anggota Tiang-lok-pang serentak mengiakan atas perintah itu.
Lalu petugas-petugas yang bersangkutan sama maju membuka ringkusan dan belenggu atas diri anak murid Swat-san-pay.
Tapi dengan muka merah padam sambil meraba gagang pedangnya Pek Ban-kiam lantas membuka suara.
"Nanti dulu! Ciok... hm, Ciok-pangcu, Pwe-siansing, mumpung Nyo Kong, Nyo-loenghiong dan Ciok-cengcu suami-istri berada di sini, marilah urusan kita harus dibicarakan dahulu sehingga jelas."
Sesudah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula.
"Kita sebagai orang-orang Bu-lim, jika kita sendiri yang tidak becus sehingga terkalahkan, maka pihak lawan akan membunuh atau menghinanya, biar bagaimanapun adalah lumrah dan mati pun tidak perlu menyesal. Akan tetapi para suteku ini tertawan oleh karena dibius dengan obat tidur, perbuatan Tiang-lok-pang yang rendah dan memalukan ini sebenarnya merugikan nama baik Swat-san-pay atau merusak nama baiknya Tiang-lok-pang sendiri? Dan apa pula yang telah dikatakan oleh Pwe-siansing tadi rasanya tidak ada salahnya untuk diuraikan lagi agar dapat didengar sekalian oleh ketiga orang sobat yang baru datang ini."
Pwe Hay-ciok terbatuk-batuk beberapa kali, lalu menjawab dengan tertawa.
"Rupanya saudara Pek ini...."
"Siapa yang sudi bersaudara dengan kawanan bangsat yang rendah dan pengecut? Huh, tidak punya malu!"
Potong Pek Ban-kiam dengan suara bengis.
"Ciok-pangcu kami...."
"Pwe-siansing,"
Demikian Ciok Jing menyela sebelum Pwe Hayciok bicara lebih jauh.
"usia anakku ini masih muda dan pengalamannya cetek, masakah dia memenuhi syarat untuk menjadi pangcu kalian? Belum lama berselang ia pun jatuh sakit keras sehingga melupakan segala kejadian yang lampau. Maka dalam persoalan ini tentu ada salah paham yang besar, sebaiknya sebutan ‘pangcu’ janganlah digunakan lagi. Sebabnya Cayhe mengundang Nyo-loenghiong ke sini justru ingin bikin terang urusan ini. Pek-suheng, soal persengketaan Swat-san-pay kalian dengan Tiang-lok-pang dan anakku yang durhaka ini pernah berdosa pula kepadamu, dua persoalan ini hendaklah dipisah-pisahkan untuk diselesaikan tersendirisendiri. Aku orang she Ciok walaupun cuma kaum keroco biasa saja, tapi selamanya tidak sudi berdusta kepada siapa pun juga. Aku ingin mengatakan bahwa putraku ini benar-benar telah melupakan segala apa yang terjadi di masa lampau."
Bab 36. Ciok Boh-thian Tulen dan Palsu, yang Satu Jantan, yang Lain Pengecut Dan sesudah merandek sejenak, kemudian ia sambung pula dengan suara lantang.
"Namun demikian, segala sesuatu yang pernah dilakukan olehnya, tak peduli apakah dia masih ingat atau sudah lupa, pendek kata tidak nanti kami mengelakkan tanggung jawab. Sebaliknya jika perbuatan orang lain yang dilakukan dengan memperalat nama putraku, untuk ini kami menyatakan dengan tegas di sini bahwa semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan kami."
Seketika heran dan bingunglah semua orang yang hadir di situ, sungguh tiada seorang pun akan menduga bahwa mendadak bisa terjadi hal-hal yang luar biasa ini.
"Hehe, hehe, mengapa bicara demikian?"
Jawab Pek Hay-ciok dengan terkekeh kaku.
"Ciok-pangcu kami...."
Tiba-tiba Ciok Boh-thian menimbrung.
"Ya, Pwe-siansing, apa yang dikatakan ayah memang tidak salah. Aku bukan pangcu kalian, hal ini berulang-ulang sudah kukatakan, tapi kalian tetap tidak percaya."
"Sebenarnya rahasia apa yang terkandung di dalam urusan ini, sungguh kami ingin ikut mengetahuinya dengan jelas,"
Demikian Hoan It-hui membuka suara.
"Kami hanya kenal Pangcu Tiang-lok-pang adalah Tonghong Heng, Tonghongtoako, mengapa beliau bisa diganti oleh Ciok-inkong?"
Sejak tadi Nyo Kong hanya diam saja, sekarang ia pun ikut bicara sambil mengelus jenggotnya.
"Pek-suhu, janganlah engkau keburu nafsu, siapa yang salah dan siapa yang benar di dalam urusan ini tentu dunia persilatan akan memberi pertimbangan yang adil."
Meski usianya sudah tua, tapi suaranya ternyata keras lantang dan berwibawa. Terdengar ia melanjutkan lagi.
"Maka segala persoalan biarlah kita bicara secara tenang saja. Paling betul sekarang belenggu atas diri beberapa saudara itu hendaklah dibuka lebih dulu."
Melihat Pwe Hay-ciok sudah mengangguk setuju, segera beberapa anggota Tiang-lok-pang tadi melepaskan orang-orang Swat-san-pay yang tertawan itu.
Sesudah mendengar nada Ciok Jing dan Nyo Kong tadi yang lebih condong menegur kepada Pwe Hay-ciok dan tiada tanda bermusuhan dengan dirinya, hal ini membuat Pek Ban-kiam menjadi heran Sebenarnya sikapnya yang keras dan menantang kepada Pwe Hay-ciok tadi hanyalah karena terpaksa mengingat para sutenya sudah tertawan, sekarang dia hanya bersendirian, demi mempertahankan martabat Swatsan-pay terpaksa ia bersuara galak dan siap menghadapi segala risiko.
Tapi dengan datangnya Ciok Jing suami-istri dan Nyo Kong secara mendadak, tampaknya situasi menjadi berubah, maka ia pun tidak banyak bicara lagi, hanya tunggu dan lihat dulu apa yang akan diperbuat oleh Pwe Hay-ciok.
Menunggu sesudah anak murid Swat-san-pay telah dibebaskan semua dan telah ambil tempat duduk masing-masing, kemudian Ciok Jing berkata pula.
"Pwe-siansing, usia putraku masih demikian muda, pengalamannya terlalu cetek, kalau dia dapat menduduki pemimpin suatu organisasi besar sebagai Tiang-lok-pang kalian, apakah hal ini takkan ditertawai setiap kesatria Kangouw? Hari ini mumpung Nyo-loenghiong, Peksuheng, dan para saudara-saudara Swat-san-pay yang lain serta Su-tay-mui-pay dari Kwantang juga hadir di sini, maka persoalan ini harus dibikin jelas. Ingin kukatakan bahwa sejak kini putraku, Ciok Tiong-giok ini tiada sesuatu hubungan dan sangkut paut apa-apa lagi dengan Tiang-lok-pang. Tentang perbuatan-perbuatannya selama beberapa tahun ini, apa yang dia lakukan sendiri sudah tentu akan dibereskan, sebaliknya perbuatan yang dilakukan orang lain dengan memperalat namanya, apakah perbuatan itu baik atau jelek, bukanlah menjadi tanggung-jawab anak Giok."
"Apa yang dibicarakan Ciok-cengcu ini benar-benar membikin orang merasa bingung dan tidak habis mengerti,"
Demikian Pwe Hay-ciok menjawab dengan tertawa.
"Bahwasanya Ciokpangcu menjabat pangcu kami, hal ini sudah berlangsung selama tiga tahun dan bukan kejadian sehari semalam saja, selama ini kami pun tidak pernah mendengar cerita dari Pangcu bahwa Hian-soh-siang-kiam yang termasyhur di dunia Kangouw ternyata adalah ayah-ibu beliau. Pangcu, mengapa tidak kau katakan sejak dulu? Kalau tidak, jarak Hian-soh-ceng dari ini toh tidak terlalu jauh, pada waktu engkau diangkat menjadi pangcu tentu kita sudah mengundang ayah-bundamu untuk menyaksikan upacara resmi itu."
"Aku... aku sebenarnya juga tidak tahu,"
Sahut Boh-thian. Jawaban Boh-thian ini membuat semua orang melengak.
"Mengapa kau sebenarnya juga tidak tahu?"
Demikian mereka bertanya-tanya di dalam hati. Maka cepat Ciok Jing menukas.
"Ya, sebagaimana telah kukatakan tadi, putraku ini pernah jatuh sakit keras sehingga melupakan segala kejadian di masa lampau, bahkan ayahibunya sendiri juga tak teringat lagi. Maka soal ini tak bisa menyalahkan dia."
Sebenarnya Pwe Hay-ciok serbasusah dan terdesak oleh katakata Ciok Jing tadi.
Tak mungkin secara terang-terangan ia menceritakan maksud tujuan mereka mengangkat Ciok Bohthian sebagai pangcu hanya untuk tameng saja dalam menghadapi undangan medali tembaga dari kedua rasul penghukum dan pengganjar, sedangkan soal ini pun tidak pernah diucapkan oleh orang-orang Tiang-lok-pang sendiri, mereka hanya sama-sama tahu di dalam hati saja, masakah di hadapan orang luar boleh diceritakan?
Tapi sekarang demi mendengar Ciok Boh-thian mengaku bahwa sebelumnya dia sendiri pun tidak tahu Ciok Jing dan Bin Ju adalah ayah-ibunya, maka dapatlah dia alasan bantahannya, segera ia berkata.
"Ya, belum lama memang Pangcu telah menderita sakit keras, tapi kejadian itu baru dua bulan saja, ketika beliau diangkat menjadi pangcu kesehatannya cukup baik, pikirannya sangat jernih, kalau tidak mana mungkin beliau mampu menandingi dan bahkan mengalahkan Tonghong-pangcu?"
Ciok Jing dan Bin Ju menjadi curiga, mereka merasa belum pernah mendengar kejadian demikian dari sang putra.
"Nak, sebenarnya bagaimana kejadian yang dikatakan itu?"
Tanya Bin Ju kepada Boh-thian.
"Aku sendiri pun sama sekali tidak ingat lagi,"
Sahut Boh-thian sambil geleng kepala.
"Kami hanya tahu pangcu she Ciok dan bernama Boh-thian, nama Ciok Tiong-giok hanya baru saja kami mendengarnya dari Pek-suhu dan Ciok-cengcu,"
Kata Pwe Hay-ciok pula.
"Apa tidak mungkin Ciok-cengcu yang telah salah mengenali orang?"
"Putra kandungku sendiri masakah aku bisa salah mengenalnya?"
Sahut Bin Ju dengan gusar.
Biasanya dia sangat ramah tamah, tapi Pwe Hay-ciok mengatakan Ciok Boh-thian bukan putranya, betapa pun ia menjadi geram juga.
Melihat Pwe Hay-ciok tetap ngotot, Ciok Jing pikir tiada jalan lain kecuali mengungkap terus terang saja tipu muslihat mereka.
Segera ia berkata.
"Pwe-siansing, biarlah kita bicara secara blakblakan. Sebabnya pang kalian sedemikian menghargai putraku yang masih hijau ini kukira sekali-kali bukanlah lantaran dia memiliki kepandaian tinggi dan pengetahuan luas segala, tujuan kalian hanya ingin memperalat dia untuk menghadapi bencana undangan medali tembaga saja, coba katakan betul tidak?"
Karena ucapan Ciok Jing ini secara langsung telah kena isi hati Pwe Hay-ciok, biarpun dia sudah berpengalaman dan licin, tidak urung air mukanya berubah juga.
Ia terbatuk-batuk untuk mengulur tempo, dalam benaknya terkilas macammacam pikiran dengan cepat cara bagaimana harus menjawab tuduhan Ciok Jing itu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang bergelak tertawa dan berseru.
"Kalian sedang menunggu undangan medali tembaga bukan? Bagus, bagus sekali! Ini dia medali yang kalian tunggu sudah datang!"
Dan tahu-tahu di tengah ruangan sudah berdiri dua orang, satu gemuk dan satu kurus, pakaian mereka sangat perlente.
Cara bagaimana datangnya mereka itu ternyata tiada seorang pun yang memerhatikan.
Ciok Boh-thian sangat girang demi melihat kedua orang itu, cepat ia menyapa.
"He, Toako dan Jiko, sudah lama berpisah, apakah kalian baik-baik saja?"
Ciok Jing dan Bin Ju pernah mendengar cerita putranya itu tentang mengangkat saudara dengan Thio Sam dan Li Si.
Maka mereka menjadi terkejut ketika mengetahui yang dimaksudkan Thio Sam dan Li Si itu kiranya adalah kedua pendatang ini.
Cepat mereka berkata.
"Kedatangan kalian berdua ini sungguh sangat kebetulan, kami sedang susah menentukan tentang kedudukan pangcu dari Tiang-lok-pang, untuk ini harap kalian berdua suka ikut menjadi saksi."
Sementara itu Boh-thian sudah mendekati Thio Sam dan Li Si untuk memegang tangan mereka dengan mesra sekali.
"He, kiranya Samte adalah Pangcu Tiang-lok-pang, pantas ilmu silatmu sedemikian hebat,"
Kata Thio Sam dengan berseri-seri. Diam-diam Bin Ju pikir keselamatan sang putra hanya tergantung dalam waktu singkat ini saja, maka cepat ia menyela.
"Pangcu Tiang-lok-pang sebenarnya adalah Tonghong-siansing, mereka telah menipu putraku ini untuk menjadi tameng, maka kedudukan anakku ini tak bisa dianggap sungguh-sungguh."
Thio Sam memandang sekejap kepada Li Si, tanyanya.
"Bagaimana pendapatmu, Losi?"
"Harus mencari orang yang sesungguhnya,"
Sahut Li Si dengan nada dingin.
"Benar,"
Seru Thio Sam.
"Kita sudah mengangkat saudara dan berjanji akan hidup bahagia bersama, ada kesulitan dipikul bersama. Sekarang Samte kita hendak digunakan sebagai tameng oleh mereka, bukankah ini berarti mencari setori kepada kita berdua?"
Melihat cara munculnya Thio Sam dan Li Si yang mendadak itu, semua orang sudah tahu bahwa ilmu silat kedua orang ini susah diukur.
Dari wajah dan tingkah laku mereka jelas kelihatan pula sama dengan kedua rasul penghukum dan pengganjar yang namanya mengguncangkan Bu-lim selama beberapa puluh tahun ini, keruan semua orang terkesiap.
Sekalipun Pwe Hay-ciok dan Pek Ban-kiam juga ikut kebatkebit.
Dalam pada itu terdengar Thio Sam telah berkata pula dengan tertawa-tawa.
"Kami mengundang tamu untuk ikut menikmati Lap-pat-cok, maksud kami adalah baik, tapi entah mengapa setiap orang yang kami undang selalu sungkan hadir sehingga sangat mengecewakan kami. Padahal orang yang kami undang semuanya adalah ciangbunjin-ciangbunjin yang terkenal, pangcu-pangcu yang ternama atau kaucu-kaucu dari kalangan terpuji, kalau cuma orang biasa saja tidak nanti dikunjungi oleh medali-medali tembaga kami. Ya, bagus, bagus, bagus!"
Sambil mengucapkan "bagus-bagus"
Sorot matanya lantas menyapu ke arah Hoan It-hui, Lu Cing-peng, Hong Liang dan Ko Sam-niocu sehingga keempat orang itu merasa mengirik.
Ketika paling akhir pandangannya menatap Ko Sam-niocu, untuk sejenak sorot matanya berhenti lebih lama, dengan tertawa ia menambahkan sekali lagi.
"Bagus!"
Sebelumnya Hoan It-hui sudah merasa sebagai seorang ciangbunjin tentu tidak luput dari undangan medali tembaga, maka dapat diduga ucapan "bagus"
Empat kali Thio Sam itu tentu maksudnya mereka berempat ciangbunjin dari Kwantang kebetulan juga di sini, dengan demikian dia tidak perlu susah payah melawat ke daerah Kwantang untuk menyampaikan medalinya.
Sebaliknya Ko Sam-niocu menjadi gusar, segera ia berteriak.
"Apa maksudmu dengan ucapan ‘bagus’ sambil memandangi nyonya besarmu ini?"
"Bagus berarti bagus, apa sih maksudnya yang lain? Pendek kata bagus pasti tidak berarti tidak bagus,"
Sahut Thio Sam sambil tertawa.
"Jika mau bunuh boleh lekas bunuh, tapi jangan harap nyonya besar mau terima medalimu!"
Bentak Ko Sam-niocu, Berbareng tangan kanan bergerak, kontan dua bilah pisau lantas melayang ke arah Thio Sam.
Semua orang ikut terkejut.
Sungguh tidak terduga bahwa sedikit hatinya tidak senang seketika juga dia lantas menyerang, bahkan terhadap kedua rasul pengganjar dan penghukum itu ternyata tidak merasa jeri sedikit pun.
Sesungguhnya walaupun watak Ko Sam-niocu sangat keras, tapi dia bukanlah seorang yang sama sekali tak bisa berpikir.
Ia sudah menduga jika kedua rasul itu toh sudah berniat menyampaikan medali tembaga padanya, maka bencana ini betapa pun susah dihindarkan.
Sekarang ada sekian jago-jago terkemuka yang berkumpul di markas Tiang-lok-pang, dalam keadaan menghadapi musuh bersama, begitu mulai bergebrak, tentu yang lain-lain takkan berpeluk tangan, mereka tentu berpikir daripada dibunuh oleh kedua rasul itu ada lebih baik sekarang mengerubut maju bersama, dengan tenaga gabungan Su-tay-mui-pay dari Kwantang, ditambah Tiang-lok-pang, Swat-san-pay, Hian-soh-siang-kiam dan lain-lain, boleh jadi kedua musuh itu dapat ditumpas.
Karena itulah Ciok Boh-thian menjadi kaget ketika melihat Ko Sam-niocu mulai menyerang dahulu, cepat ia berseru.
"Awas, Toako!"
"Tidak apa-apa, jangan khawatir!"
Ujar Thio Sam dengan tertawa. Dan begitu lengan bajunya mengebas, dua potong tanda warna kuning lantas menyambar ke depan dan tepat berbenturan dengan kedua pisau terbang Ko Sam-niocu.
"Trang-tring" , didahului oleh suara nyaring mendenging, kedua benda kuning itu dari tegak berubah menjadi melintang dan dengan mendorong kedua bilah pisau terus menyambar ke arah Ko Sam-niocu. Didengar dari suara sambaran angin, nyata kekuatan benturan tadi sangat hebat, kalau Ko Sam-niocu mendak dan mengegos, tentu kawan-kawan yang berdiri di belakangnya yang akan menjadi korban. Tanpa pikir lagi kedua potong benda kuning itu lantas ditangkapnya. Seketika terasa kedua lengannya tergetar sakit, setengah badannya bagian atas terasa linu kesemutan. Waktu ia periksa benda-benda kuning yang menolak kembali pisaunya itu, kiranya bukan lain dari dua buah medali pengganjar dan penghukum yang ditakuti itu. Sudah lama juga Ko Sam-niocu mendengar tentang peraturan yang ditentukan oleh kedua rasul pengganjar dan penghukum, siapa saja asal sudah menerima medali tembaga mereka, maka dapatlah dianggap sebagai telah terima baik undangan mereka untuk hadir dalam perjamuan Lap-pat-cok dan tak mungkin menolaknya pula. Seketika pucatlah mukanya, sampai-sampai tubuhnya juga agak gemetar. Tapi dengan tertawa-tawa Thio Sam terus berkata pula.
"Pwesiansing, kalian telah memasang perangkap untuk menipu Samte kami agar dapat dipalsukan sebagai pangcu kalian. Samte kami adalah seorang yang jujur dan polos, dengan gampang saja dia terjebak. Tapi kami Thio Sam dan Li Si ini bukan manusia jujur. Kedatangan kami adalah untuk mengundang tamu, sudah tentu sebelumnya kami sudah menyelidiki dengan jelas. Kalau kami sampai salah mengundang orang, bukankah akan menjadi buah tertawaan? Ke mana lagi muka Thio Sam dan Li Si ini akan ditaruh? Sebab itulah, eh, saudaraku, tidakkah lebih baik kita persilakan turun saja sasaran utama yang hendak kita undang ini?"
"Benar, seharusnya kita persilakan dia turun,"
Sahut Li Si. Habis berkata, sekonyong-konyong ia sambar sebuah bangku bundar terus dilemparkan ke langit-langit rumah.
"Blang" , seketika atap rumah tertimpuk menjadi suatu lubang besar, debu pasir bertebaran disertai sepotong benda yang besar.
"Bluk" , benda besar itu jatuh terbanting di tengah ruangan. Tanpa merasa para hadirin mundur beberapa tindak karena jatuhnya benda besar itu. Ketika mereka memerhatikan, kiranya yang jatuh terbanting itu adalah satu manusia. Orang itu tampak meringkuk tak bergerak. Waktu Li Si menutuk beberapa kali dari jauh dengan jari kiri, seketika hiat-to orang yang tertutuk itu terbuka dan perlahanlahan dapatlah berbangkit. Sungguh kejut dan kagum tak terkatakan semua orang atas kepandaian tiam-hiat (menutuk jalan darah) Li Si dari jarak jauh itu. Dalam pada itu orang itu telah kucek-kucek matanya, kemudian memandang sekitarnya dengan bingung. Demi mengenali siapa orang itu, serentak ramainya suara teriakan kaget.
"He, dia!" — "Kenapa... kenapa dia?" — "Sungguh aneh!"
Ternyata wajah orang itu mirip benar dengan Ciok Boh-thian, hanya saja pakaiannya lebih perlente, bajunya dari kain sutra, kopiahnya berhiaskan mutiara yang besar.
"Ciok-pangcu, kami datang kemari untuk mengundang kau pergi makan Lap-pat-cok, kau akan hadir atau tidak?"
Demikian Thio Sam lantas berkata kepada pemuda itu sambil mengeluarkan dua buah medali tembaga. Agaknya Ciok Boh-thian tidak habis mengerti atas kejadian itu. Ia bertanya.
"He, Toako, seb... sebenarnya apa-apaan ini?"
"Samte, coba kau lihat, wajah orang ini mirip kau atau tidak?"
Sahut Thio Sam dengan tertawa.
"Mereka telah menyembunyikan dia, sebaliknya kau ditipu untuk menggantikan dia sebagai pangcu. Akan tetapi, hahaha, toako dan jikomu akhirnya dapat menemukan dia sehingga kau gagal menjadi pangcu mereka, untuk ini kau menyesal kepada kami atau tidak?"
Boh-thian menggeleng-geleng kepala, dengan mata tak berkedip ia pandang orang itu. Selang sejenak barulah berkata.
"Ayah, ibu, Ting-ting Tong-tong, Pwe-siansing, sejak mula aku sudah menyatakan kalian telah... telah salah mengenali diriku, sekarang menjadi lebih terang lagi bahwa aku bukan dia, dia... dialah yang tulen!"
Cepat Bin Ju melangkah maju, dengan suara terputus-putus ia bertanya.
"Kau... kau adalah anak Giok?"
Orang itu mengangguk, sahutnya.
"Ya, ibu, ayah, kalian berada di sini semua?"
Pek Ban-kiam juga mendesak maju dan menegur.
"Kau masih kenal padaku tidak?"
Orang itu lantas menunduk, sahutnya.
"Pek-susiok dan... dan para Susiok, kalian juga berada di sini semua?!"
"Hahahaha! Ya, memang kami sudah datang semua!"
Kata Ban-kiam dengan terbahak-bahak. Sebaliknya dengan mengerut kening Pwe Hay-ciok berkata.
"Muka mereka berdua satu-sama-lain sangat mirip, perawakan dan usia mereka juga sama, sebenarnya siapakah di antara kalian adalah pangcu kami, sungguh aku tidak mampu membedakan. Wah, ini benar-benar suatu kejadian aneh. Apakah engkau inilah pangcu kami?"
Orang baru itu tampak mengangguk. Lalu Pwe Hay-ciok bertanya pula.
"Habis selama ini sebenarnya Pangcu pergi ke mana?"
"Ai, susah untuk diceritakan, biarlah kita bicarakan nanti saja,"
Kata orang itu. Seketika suasana di ruang pendopo itu menjadi sunyi senyap, yang terdengar hanya sedu sedan Bin Ju yang sedang menangis.
"Wajah orang memang banyak yang sama, tapi bekas luka pedang di paha apakah juga bisa sama, kukira di dalam persoalan ini ada sesuatu yang ganjil,"
Kata Ban-kiam.
"Ya, orang ini adalah palsu,"
Akhirnya Ting Tong ikut bicara.
"Engkoh Thian yang tulen di atas pundak kirinya ada... ada sebuah bekas luka gigitan."
Ciok Jing menjadi ragu-ragu juga, ia pun mengemukakan alasannya.
"Benar, putraku pada waktu kecilnya juga pernah terluka oleh senjata rahasia musuh."
Lalu ia tuding Ciok Boh-thian dan melanjutkan.
"Pada tubuh orang ini justru terdapat bekas luka senjata rahasia itu. Untuk membedakan siapa yang tulen atau palsu, asal keduanya diperiksa tentu segera akan dapat diketahui."
Semua orang menjadi heran dan bingung juga mengikuti percakapan itu.
Mereka sebentar-sebentar pandang Ciok Bohthian dan lain saat mengamat-amati pula si pemuda berpakaian perlente itu.
Maka terdengarlah Thio Sam bergelak tertawa sambil berkata.
"Jika Ciok-pangcu sudah harus dipalsukan, maka setiap ciricirinya dengan sendirinya harus dibikin persis pula. Kalau di atas badan yang tulen ada bekas luka, yang palsu dengan sendirinya juga harus ada."
Habis berkata.
"sret" , mendadak ia lolos sebatang pedang yang tergantung di pinggang seorang wakil hiangcu Tiang-lok-pang dan di mana pedangnya menyambar, kontan bahu, paha kiri dan pantat pemuda perlente itu masing-masing tergores suatu lingkaran, ketika dia meniup pula, kontan jatuhlah tiga potong kain kecil bulat sebesar mangkuk. Tiga potong kain bundar itu kemudian bertebaran dan berubah menjadi sembilan potong. Ternyata hanya sedikit bergerak saja pedangnya telah mengorek satu bundaran pakaian pemuda perlente yang berlapis tiga (baju luar dan dalam) sehingga kelihatan kulit badannya. Maka tertampaklah di ujung bahunya terdapat keriput bekas luka, di paha dan di pantatnya juga ada, semuanya cocok seperti apa yang dikatakan si Ting Tong, Pek Ban-kiam, dan Ciok Jing. Melihat itu, semua orang sampai menjerit kaget, selain kejut atas kepandaian Thio Sam yang luar bisa itu, mereka pun heran melihat bekas luka di badan pemuda itu ternyata serupa dan persis seperti apa yang terdapat pada Ciok Boh-thian. Cepat Ting Tong memburu maju, dengan suara gemetar ia tanya.
"Apa kau benar-benar Engkoh Thian?"
Pemuda itu tersenyum getir, sahutnya.
"Ting-ting Tong-tong, sudah lama kita tak bertemu, sungguh aku sangat kangen padamu, sebaliknya kau ternyata sudah melupakan daku. Biarpun kau tak kenal padaku lagi, tapi aku, biarpun seratus tahun atau seribu tahun juga aku masih tetap kenal kau."
Mendengar itu, saking girangnya sampai si Ting-tang Ting-tong melelehkan air mata, serunya.
"Ya, engkau inilah benar-benar Engkoh Thian-ku. Dia... dia ini hanya penipu yang memuakkan, mana bisa dia mengucapkan kata-kata mesra demikian? Hampir-hampir saja aku tertipu olehnya!"
Sambil berkata ia pun melotot marah kepada Ciok Boh-thian, berbareng ia lantas gandeng tangan pemuda perlente itu dengan mesra.
Ketika pemuda itu menggenggam kencang tangan si nona dan tersenyum padanya, seketika si Ting Tong merasa senang dan bahagia tak terperikan.
"Ting-ting Tong-tong, memangnya sejak mula aku sudah menyatakan aku bukan kau punya Engkoh Thian, apa sekarang kau ma... masih marah padaku?"
Tanya Boh-thian sambil mendekati anak dara itu.
"Plok", mendadak ia dipersen sekali tamparan oleh si Ting Tong dengan dampratan.
"Kau penipu, aduh...."
Kiranya dia menampar terlalu keras sehingga tangannya kesakitan tergetar oleh tenaga dalam Ciok Boh-thian yang lihai itu.
"Apakah tanganmu sa... sakit?"
Tanya Boh-thian.
"Enyah, enyah kau! Aku tidak sudi melihat penipu yang tak kenal malu seperti kau ini!"
Damprat Ting Tong dengan gusar. Boh-thian menjadi murung.
"Aku... aku tidak sengaja menipu kau,"
Katanya setengah menggumam sendiri.
"Kau masih menyangkal?"
Semprot si Ting Tong.
"Kau sengaja membuat bekas luka palsu di pundakmu, mengapa tidak kau katakan sejak mula?"
"Aku... aku sendiri pun tidak tahu adanya bekas luka ini,"
Ujar Boh-thian.
"Penipu! Pendusta! Enyah kau!"
Bentak Ting Tong dengan muka merah padam. Air mata berlinang-linang di kelopak mata Ciok Boh-thian dan hampir-hampir menetes, sedapat mungkin ia menahannya sambil menyingkir mundur.
"Pwe-siansing,"
Segera Ciok Jing berkata kepada Pwe Hay-ciok.
"pem... pemuda ini dari mana kalian menemukannya dan putraku ini mengapa bisa dipaksa menjadi pangcu kalian? Mumpung di sini banyak hadir kawan-kawan Bu-lim, urusan ini harus kau jelaskan untuk menghindarkan rasa curiga semua orang?"
"Pemuda ini serupa benar dengan Ciok-pangcu, kalian Hiansoh-siang-kiam sendiri adalah ayah-ibu kandungnya toh juga salah mengenalnya, apalagi orang lain?"
Jawab Pwe Hay-ciok. Ciok Jing mengangguk, ia pikir memang beralasan juga ucapan tokoh Tiang-lok-pang itu. Maka Pwe Hay-ciok berkata pula.
"Adapun soal diangkatnya Ciok-pangcu sebagai pimpinan pang kami, untuk ini beliau telah mengalahkan Tonghong-pangcu dahulu dengan kepandaian yang sejati, karena itu maka para saudara kami telah mendukungnya. Coba silakan Ciok-pangcu bicara apa betul atau tidak kejadian ini? Bahwasanya kami ‘memaksa’ beliau, kami sangsi apakah istilah ini cukup tepat?"
"Apa yang dilakukan tempo dulu sebenarnya hanya keputusan untuk sementara saja untuk mencegah kerusuhan yang mungkin timbul di dalam pang kita,"
Kata si pemuda perlente alias Ciok Tiong-giok itu dengan nada tergagap-gagap.
"Pwe siansing, jabatan pangcu ini kukira... kukira engkau sendiri saja yang menduduki, aku... aku tidak sanggup melakoni lagi."
Air muka Pwe Hay-ciok tampak guram membesi, katanya.
"Apa yang telah Pangcu katakan dahulu itu? Mengapa sekarang kau merasa menyesal dan menghindarkan kewajiban?"
"Ya, sesungguhnya aku tidak sanggup melakukannya lagi,"
Sahut Tiong-giok.
"Segala urusan pang kita pada hakikatnya adalah Pwe-siansing yang mengambil keputusan, aku hanya menjadi pangcu boneka saja, sebab itulah aku bertekad menyingkir pergi untuk memberikan tempatku kepada orang lain yang lebih pandai. Dan karena kepergianku tanpa pamit ini, dengan sendirinya aku bukan pangcu lagi. Bukankah dalam surat yang kutinggalkan padamu itu sudah kukatakan dengan cukup jelas?"
"Surat?"
Pwe Hay-ciok menegas dengan heran.
"Surat apa? Mengapa aku tidak pernah melihatnya?"
"Kepandaian Pwe-siansing benar-benar luar biasa,"
Kata Ciok Tiong-giok dengan tertawa.
"Ketika aku menghilang, entah dari mana engkau telah menemukan bocah yang mukanya mirip benar dengan aku ini. Jika dia sudah mau memalsukan diriku, maka bolehlah dia lakukan sampai saat terakhir, buat apa tanya padaku lagi? Ayah dan ibu, marilah kita tinggalkan saja tempat yang tak genah ini!"
Nyata mulutnya sangat lincah, kalau dibandingkan Ciok Bohthian jelas seperti langit dan bumi bedanya. Dengan bergelak tertawa Thio Sam lantas berkata.
"Ciokpangcu, Pwe-siansing, kalian tentu tahu peraturan Liong-bok-to kami. Jika pangcu kalian sendiri yang menerima medali undangan kami, maka inilah jalan yang terbaik, sebaliknya kalau pangcu tidak mau terima, ini berarti pang kalian memandang rendah kepada Liong-bok-to, dari kawan kita akan berubah menjadi lawan dan terhadap lawan biasanya Liongbok-to tidak mau sungkan-sungkan lagi."
Pwe Hay-ciok dan gembong-gembong Tiang-lok-pang yang lain terkesiap.
Mereka tahu bilamana tiada orang yang tampil ke muka untuk menerima medali tembaga yang dikatakan, maka si gendut dan si kurus pasti akan mulai mengganas.
Dilihat dari kepandaian yang telah diperlihatkan mereka tadi rasanya segenap anggota Tiang-lok-pang tiada seorang pun yang mampu melawannya.
Melihat orang-orang Tiang-lok-pang tertegun, segera Ciok Bohthian berkata.
"Pwe-siansing, apa yang dikatakan Thio-toako itu bukanlah berkelakar, sekali beliau bilang bunuh orang tentu akan segera terjadi pembunuhan. Seperti orang-orang Hui-hipang dan Tiat-cha-hwe, seluruh anggota mereka telah dibunuh habis oleh Toako berdua. Maka sebaiknya medali mereka itu diterima saja lebih dahulu, tak peduli siapa yang akan menjadi pangcu nanti, yang terang korban jiwa orang banyak dapatlah dihindarkan. Kedua belah pihak adalah saudara sendiri semua, kalau sampai terjadi perkelahian, sungguh aku tidak tahu harus membantu pihak mana?"
"Itu adalah urusan Pangcu, kami yang menjadi bawahan tidak dapat mengambil keputusan,"
Ujar Pwe Hay-ciok.
"Ciok-pangcu,"
Boh-thian lantas berkata kepada Ciok-Tionggiok.
"harap kau terima medali itu saja. Medali itu kau terima akan mati, tidak terima juga pasti mati. Bedanya jika kau tidak terima, maka segenap anggota yang lain juga akan ikut menjadi korban, untuk ini apakah... apakah kau tega?"
"Hehe, kau bicara seenaknya dan sok budiman bagi orang lain, jika sedemikian luhur budimu, kenapa kau sendiri tidak terima saja kedua medali itu demi keselamatan Tiang-lok-pang? Hehe, sungguh menggelikan!"
Demikian jawab Tiong-giok. Boh-thian memandang sekejap kepada Ciok Jing suami-istri dan si Ting Tong sambil menghela napas, katanya.
"Pwesiansing, selama ini kalian sangat baik terhadap diriku, memangnya kalian berharap agar aku dapat melepaskan bencana ini bagi Tiang-lok-pang. Jika sekarang Ciok-pangcu yang tulen tidak mau menerima medali-medali undangan itu, maka biarlah aku yang menerimanya saja."
Habis berkata ia lantas mendekati Thio Sam dan hendak mengambil medali yang terdapat di tangannya itu.
"Nanti dulu!"
Cepat Thio Sam menarik tangannya. Lalu katanya kepada Pwe Hay-ciok.
"Medali undangan Liong-bok-to ini hanya diserahkan langsung kepada orang yang diundang. Nah, sesungguhnya kalian menganggap siapa yang benar-benar menjadi pangcu kalian?"
Sama sekali Pwe Hay-ciok dan gembong-gembong Tiang-lokpang itu tidak menduga bahwa Ciok Boh-thian masih mau berkorban bagi pang mereka meski sudah tahu akan tipu muslihat dan intrik mereka.
Dalam keadaan demikian, betapa pun keji dan kejamnya mereka, mau tak mau mereka merasa sangat berterima kasih juga kepada Ciok Boh-thian, serentak mereka lantas membungkuk tubuh memberi hormat kepada Boh-thian sambil berseru.
"Kami rela mengangkat Ciok-tayhiap sebagai pangcu kita, segala perintah Pangcu akan kami laksanakan dan taati."
"Ah, mana aku berani!!"
Sahut Boh-thian sambil balas menghormat.
"Aku tidak paham apa-apa, kalau salah omong atau salah berbuat diharap kalian janganlah marah padaku."
"Hahahahaha!"
Thio Sam bergelak tertawa.
"Nah, Ciok-pangcu dari Tiang-lok-pang, pada tanggal delapan bulan dua belas tahun ini diharap sudi hadir ke Liong-bok-to kami untuk sekadar menikmati Lap-pat-cok."
"Baiklah, tentu aku akan hadir sekalian menyambangi Toako dan Jiko,"
Sahut Boh-thian.
Thio Sam dan Li Si saling pandang sekejap dengan mengerut dahi.
Tapi Thio Sam lantas mengayun tangannya, dua potong medali tembaga terus melayang ke arah Ciok Boh-thian dengan perlahan.
Ketika semua orang memusatkan perhatian untuk menyaksikan cara bagaimana Ciok Boh-thian akan menerima medali-medali itu, sekonyong-konyong Bin Ju berteriak.
"Jangan terima, nak!"
"Aku sudah menyanggupinya, ibu!"
Sahut Boh-thian. Ketika kedua tangannya menjulur, dengan gampang saja masingmasing tangannya sudah menangkap sepotong medali tembaga itu. Lalu katanya pula kepada Bin Ju.
"Seperti Ciok... Ciokcengcu, meski sudah tahu ada bahaya toh beliau tetap mau mewakilkan Siang-jing-koan untuk hadir ke Liong-bok-to, sungguh sikapnya itu sangat mengagumkan orang, maka anak juga ingin menirukannya."
"Bagus, memang kesatria sejati dan pendekar budiman, tidak percumalah kita telah mengangkat saudara,"
Puji Li Si.
"Tapi, Samte, biarlah kita bicara di muka secara terang-terangan, apabila sudah datang di Liong-bok-to nanti, Toako dan Jiko akan memandang kau sebagaimana tamu-tamu yang lain tanpa pandang bulu dan tak dapat memberi sesuatu pelayanan istimewa."
"Ya, sudah seharusnya demikian,"
Sahut Boh-thian.
"Dan di sini masih ada beberapa buah medali yang harus diserahkan kepada saudara-saudara Hoan, Hong dan Lu dari Kwantang, silakan nanti juga hadir ke Liong-bok-to untuk menikmati Lap-pat-cok. Apakah kalian mau terima atau tidak?"
Demikian Li Si berkata pula. Hoan It-hui memandang sekejap kepada Ko Sam-niocu, pikirnya.
"Kau toh sudah menerima medalinya, kita Su-taymui-pay dari Kwantang sudah berjanji mati-hidup bersama, tiada jalan lain terpaksa ikut mengantarkan jiwa juga ke Liongbok-to."
Maka berkatalah dia.
"Ya, jikalau sedemikian Liong-bok-to menghargai kami, masakah kami menolak arak suguhan dan memilih arak hukuman? (maksudnya masakah diundang tidak mau sebaliknya minta dipaksa)."
Lalu ia mendahului melangkah maju untuk menerima medali undangan disusul dengan Hong Liang dan Lu Cing-peng.
"Terima kasih, terima kasih!"
Sambut Thio Sam dan Li Si. Lalu katanya kepada Ciok Boh-thian.
"Samte, kami masih perlu melanjutkan perjalanan jauh, hari ini terpaksa tidak dapat minum sepuas-puasnya dengan kau. Biarlah kami lantas mohon diri saja."
"Tiada halangannya kalau kita minum tiga mangkuk saja,"
Seru Boh-thian.
"Eh, di manakah buli-buli arak Toako dan Jiko?"
"Sudah kami buang,"
Sahut Thio Sam.
"Arak kami itu tidak dapat dibuat di dalam waktu singkat, apa gunanya selalu membawa buli-buli kosong. Baiklah, mari Jite, kita bertiga habiskan tiga mangkuk arak."
Segera anggota-anggota Tiang-lok-pang menuangkan arak, Thio Sam, Li Si, dan Ciok Boh-thian masing-masing lantas menghabiskan tiga mangkuk penuh. Tiba-tiba Ciok Jing melangkah maju sambil berseru.
"Cayhe Ciok Jing adanya, biasanya dikenal sebagai cengcu dari Hiansoh-ceng, kami suami-istri ada maksud hendak ikut hadir ke Liong-bok-to untuk minta semangkuk Lap-pat-cok."
Cepat Thio Sam berpaling. Pikirnya dengan heran.
"Selama lebih 30 tahun ini, setiap orang Bu-lim bila mendengar nama Liong-bok-to tentu kebat-kebit dan ketakutan, tapi hari ini ternyata ada orang yang sengaja minta berkunjung ke sana, hal ini benar-benar baru terjadi untuk pertama kalinya."
Tapi ia pun lantas menjawab.
"Ciok-cengcu, maafkan atas permintaanmu ini. Kalian berdua adalah murid Siang-jing-koan dan belum pernah berdiri sendiri secara resmi di dunia persilatan, maka kami tidak dapat mengundang. Begitu pula seperti halnya dengan Nyo-loenghiong dan Pek-tayhiap."
Bab 37. Ciok Boh-thian Memalsukan Ciok Tiong-giok untuk Menolong Ciok Jing "Kalian bilang akan melanjutkan perjalanan jauh, apakah... apakah kalian akan berkunjung juga ke Leng-siau-sia?"
Tibatiba Ban-kiam bertanya.
"Dugaan Pek-tayhiap sangat jitu, kami berdua memang hendak berkunjung dan menyambangi ayahmu, Wi-tek Siansing Pekloenghiong,"
Sahut Thio Sam dengan tertawa. Ban-kiam melangkah maju, tampaknya ia ingin bicara apa-apa, tapi tidak jadi. Selang sejenak barulah berkata.
"Ya, baik, baiklah!"
"Jika Pek-tayhiap cepat pulangnya mungkin kita dapat berjumpa pula di Leng-siau-sia,"
Ujar Thio Sam.
"Nah, selamat tinggal, sampai bertemu!"
Sesudah memberi salam, bersama Li Si segera mereka melangkah keluar.
"Keparat! Berlagak apa di sini?!"
Mendadak Ko Sam-niocu memaki, berbareng empat bilah pisau terbang lantas ditimpukkan ke punggung kedua orang.
Sebenarnya Ko Sam-niocu sadar bahwa serangannya itu sukar mengenai sasarannya, soalnya dia teramat murka, beberapa bilah pisau terbang itu hanya sekadar pelampias saja.
Benar juga, kedua orang itu seperti tidak merasa apa-apa meski empat bilah pisau itu sudah melayang sampai di belakangnya.
"Awas, Toako!"
Seru Boh-thian khawatir.
Tapi mendadak bayangan orang berkelebat, kedua orang itu tahu-tahu melesat ke samping untuk kemudian menghilang dengan cepat sehingga pisau-pisau terbang itu mengenai tempat kosong dan jatuh dengan sendirinya.
Betapa cepatnya gerakan kedua orang itu sungguh susah untuk diukur, keruan semua orang saling pandang dengan tercengang.
Saat itu Ciok Tiong-giok sebenarnya bermaksud mengeluyur pergi dengan membawa si Ting Tong, tak terduga serangan Ko Sam-niocu itu telah memancing perhatian semua orang ke arah pintu sehingga perbuatan Ciok Tiong-giok itu diketahui.
"Berhenti!"
Bentak Pek Ban-kiam dengan bengis. Lalu katanya kepada Ciok Jing.
"Ciok-cengcu, silakan menyatakan keputusanmu!"
"Apa mau dikata lagi jika memang demikian jadinya,"
Sahut Ciok Jing dengan menghela napas.
"Pek-suheng, biarlah kami suami-istri membawa serta anak murtad itu ikut kau pergi ke Leng-siau-sia untuk menerima hukuman dari Pek-supek."
Ucapan Ciok Jing ini benar-benar di luar dugaan Pek Ban-kiam dan anak murid Swat-san-pay yang lain.
Untuk membela putranya yang palsu tempo hari Ciok Jing suami-istri telah bertempur mati-matian pantang menyerah, sekarang demi putranya yang tulen sudah ketemu malah dia menyanggupi berkunjung ke Leng-siau-sia, jangan-jangan di balik ini ada sesuatu tipu muslihat.
Dalam pada itu Ciok Jing dan Bin Ju sendiri merasa sangat sedih, mereka sangat menyesalkan putranya yang tak becus, sudah mau menjadi pangcu, di kala ada bahaya berbalik main sembunyi dan mengelakkan kewajiban, manusia demikian biarpun ilmu silatnya setinggi langit juga takkan diindahkan oleh orang gagah di dunia Kangouw.
Bilamana mereka bandingkan dengan Ciok Boh-thian yang telah kumpul bersama sekian lamanya, walaupun tutur kata pemuda itu rada-rada kekanak-kanakan, tapi dasar wataknya sangat jujur dan polos, terkadang pun memperlihatkan jiwa kesatrianya yang menggembirakan mereka menjadi suka kepada pemuda itu.
Tak terduga Ciok Tiong-giok yang tulen mendadak muncul, meski wajah kedua pemuda itu sangat mirip, tapi jiwa mereka sangat berbeda, yang satu gagah perwira, yang lain lemah pengecut.
Celakanya yang pengecut itu justru adalah putranya sendiri yang tulen, sedangkan kesatria muda itu berbalik bukan putranya, hal ini membuat Bin Ju sangat kecewa.
Tapi apa pun juga pemuda itu tetap darah dagingnya sendiri, tidak urung ia memanggilnya.
"Anak Giok, coba ke sinilah!"
Segera Tiong-giok mendekat dan berkata dengan tersenyum.
"Ibu, sudah beberapa tahun kita berpisah, sungguh anak sangat merindukan engkau. Tampaknya ibu menjadi semakin cantik dan lebih muda, setiap orang yang melihat tentu akan mengira engkau adalah kakak perempuanku dan takkan percaya engkau adalah ibu kandungku."
Bin Ju tersenyum, tapi hatinya sangat mendongkol, ternyata putranya hanya pandai omong sebagai bergajul saja. Dalam pada itu Tiong-giok berkata pula.
"Ibu, anak telah memperoleh sepasang gelang kemala yang indah, sudah lama anak berharap dapat berjumpa dengan ibu agar dapat memasang gelang kemala ini di tangan ibu sendiri."
Sambil berkata ia lantas mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang berisi sepasang gelang kemala dan sebuah tusuk kundai berbingkai mutiara dan berbatu permata indah.
Ia tarik tangan sang ibu dan memasukkan sepasang gelang kemala hijau itu.
Memang Bin Ju sangat suka kepada perhiasan dan berdandan, melihat sepasang gelang kemala itu sangat bagus, mau tak mau ia menjadi senang juga atas kebaktian putranya kepada orang tua.
Lalu Tiong-giok membalik tubuh dan menancapkan tusuk kundai bermutiara itu di atas sanggul si Ting Tong, katanya dengan perlahan.
"Tusuk kundai mutiara ini seharusnya lebih cantik sepuluh kali lagi baru cocok untuk mengimbangi wajah si Ting-ting Tong-tong yang cantik molek."
Ting Tong menjadi girang, sahutnya lirih.
"Engkoh Thian, kau memang selalu pandai bicara."
Rupanya Pwe Hay-ciok menjadi tidak sabar menyaksikan adegan itu, segera itu berseru.
"Hari ini Nyo-loenghiong, Ciokcengcu dan nyonya, para kesatria Swat-san-pay dan su-taymui-pay (empat golongan besar) Kwantang berkumpul di sini semua, segala kesalahpahaman juga sudah dapat diakhiri, sekarang marilah kita mulai dengan jamuan baru, marilah kita sama-sama bergembira."
Akan tetapi Ciok Jing, Pek Ban-kiam, Hoan It-hui, dan lain-lain masih tertekan perasaan, mereka pikir.
"Kesukaran Tiang-lokpang kalian sudah ada yang mau menghadapi, tapi kami masih harus memikirkan keselamatan sendiri-sendiri, siapa yang punya nafsu untuk makan-minum lagi?"
Segera Pek Ban-kiam membuka suara.
"Menurut kedua sucia dari Liong-bok-to itu, katanya mereka akan berkunjung juga ke Leng-siau-sia, persoalan ini menyangkut kepentingan ayah dan Swat-san-pay kami, maka Cayhe harus lekas-lekas pulang ke sana. Tentang maksud baik Pwe-siansing ini Cayhe hanya mengucapkan terima kasih saja."
"Kami bertiga ingin berangkat bersama dengan Ciok-suheng,"
Segera Ciok Jing menambahkan.
Maka Hoan It-hui dan kawan-kawannya juga lantas mohon diri dengan alasan waktunya sudah mendesak, mereka harus lekas-lekas pulang ke Kwantang untuk kemudian bersiap-siap menghadiri pertemuan di Liong-bok-to.
Begitulah dengan perasaan hampa Ciok Boh-thian mengikuti Pwe Hay-ciok mengantar para tamu yang mohon diri itu.
Pikirnya dengan rasa pedih.
"Memangnya sejak mula aku bilang mereka telah salah paham, tapi si Ting-ting Tong-tong justru mengatakan aku adalah dia punya Engkoh Thian, Ciok-cengcu dan nyonya juga bilang aku adalah putra mereka, tapi sekarang diriku telah ditinggal sendirian oleh mereka."
Mendadak ia merasa di dunia ini hanya tertinggal seorang diri saja, siapa pun tiada sangkut pautnya dengan dia, sungguh ia ingin menangis sepuas-puasnya.
Ketika memberi salam perpisahan, Ciok Jing dan istri melihat Ciok Boh-thian mengunjuk rasa cemas yang tak terhingga, mestinya Bin Ju hendak mengatakan akan memungut Bohthian sebagai anaknya, tapi mengingat dia adalah pangcu suatu organisasi besar, ilmu silatnya juga sedemikian lihai, kedudukannya sudah jauh lebih tinggi daripada mereka suamiistri, maka ia merasa rikuh untuk mengemukakan maksudnya.
Terpaksa ia hanya berkata dengan suara halus.
"Ciok-pangcu, karena salah kenal tempo hari sehingga selama ini kami agak kurang hormat padamu, untuk ini kami berharap... berharap kelak kita dapat berjumpa pula."
Boh-thian hanya mengiakan saja dengan kurang semangat.
Sampai semua tamunya sudah lenyap dari pandangan dia masih termangu-mangu di depan pintu.
Para anggota Tiang-lok-pang tiada berani mengusiknya, mereka menduga mungkin sang pangcu menjadi masygul karena sadar sudah dekat ajalnya sesudah menerima medali tembaga kedua rasul pengganjar dan penghukum tadi, kalau mereka mengganggunya, jangan-jangan rasa marah sang pangcu akan dilampiaskan atas diri mereka?
Malamnya selekasnya Boh-thian sudah masuk kamar tidurnya, tapi pikirannya bergolak, sampai tengah malam masih belum pulas.
Pada saat mulai melayap-layap hendak pulas, mendadak terdengar daun jendela diketuk perlahan-lahan tiga kali.
Cepat Boh-thian bangun berduduk, teringat olehnya dahulu apabila si Ting-ting Tong-tong datang mencarinya selalu memberi tanda dengan ketukan jendela seperti sekarang ini.
Tanpa merasa ia lantas menegur.
"Apakah Ting-ting...."
Baru sekian ucapannya ia lantas menghela napas, sebab lantas teringat pula bahwa saat itu si nona tentu sudah berada di dalam pelukan Engkoh Thian yang dicintainya dan tidak mungkin sudi datang mencarinya lagi.
Di luar dugaan, daun jendela perlahan-lahan telah terdorong buka, sesosok tubuh yang langsing tampak melompat masuk sambil mengikik tawa, siapa lagi dia kalau bukan si Ting Tong?
"Mengapa kau potong namaku, Ting-tong kau ganti menjadi Ting-ting saja?"
Demikian nona genit itu berkata dengan suara perlahan sambil mendekati tempat tidur Ciok Boh-thian.
"Hah, kenapa kau kem... kemari lagi?"
Seru Boh-thian sambil meloncat turun dari tempat tidurnya, ia girang dan terkejut pula.
"Aku rindu padamu, maka datang menjenguk kau lagi,"
Sahut Ting Tong dengan tertawa.
"Gimana sih? Apakah aku tak boleh datang kemari?"
"Kau sudah menemukan kembali kau punya Engkoh Thian, buat apa kau datang menjenguk diriku lagi?"
Ujar Boh-thian sambil menggeleng.
"Ai, kau marah padaku, bukan?"
Kata Ting Tong dengan tertawa merayu.
"Engkoh Thian, siang tadi aku telah menampar kau, apakah kau masih marah padaku?"
Sambil berkata ia terus meraba-raba pipi Ciok Boh-thian yang ditamparnya itu.
Hidung Boh-thian lantas mengendus bau harum yang menggiurkan, mukanya terasa diraba oleh sebuah tangan yang putih dan halus, tanpa kuasa perasaannya menjadi kacau.
Katanya dengan setengah menggumam.
"Aku tidak marah, Ting-ting Tong-tong. Tak usah kau datang menjenguk diriku, memangnya kau telah salah mengenali diriku, asal kau tidak sebut aku sebagai penipu saja sudah cukup bagiku."
"Penipu, penipu! Ai, jika kau benar-benar penipu, mungkin aku malah senang,"
Ujar Ting Tong dengan suara lembut.
"Ai, Engkoh Thian, engkau benar-benar seorang jantan, seorang kesatria sejati yang jarang terdapat di dunia ini. Kau sudah menikah dan sudah sembahyang Thian dengan aku, kita pun sudah... sudah tidur bersama, tapi selama itu... selama itu kau tidak pernah memperlakukan aku sebagai istrimu."
Muka Boh-thian menjadi merah jengah, sekujur badannya terasa panas, katanya dengan tergagap-gagap.
"Ting-ting Tong-tong, aku... aku bukan kesatria sejati! Bukanlah aku tidak... tidak kepingin, aku hanya... hanya tidak berani! Ya, untung juga kita belum... belum apa-apa, kalau tidak, wah, tentu bisa runyam!"
Ting Tong menggeser dan duduk di tepi ranjang, mendadak ia menutupi matanya dan menangis tersedu sedan. Keruan Boh-thian menjadi gugup, cepat ia tanya.
"He, ada apakah, Ting-ting Tong-tong?"
"Ya, aku tahu engkau adalah seorang kesatria se... sejati, akan tetapi tidak begitulah pendapat... pendapat orang lain,"
Demikian sahut Ting Tong sambil menangis.
"O, sungguh, biarpun aku terjun ke dalam sungai juga tidak cukup untuk membersihkan nama suciku. Ciok... Ciok Tiong-giok itu mengatakan... mengatakan bahwa aku sudah menikah dengan kau dan sudah bersatu kamar, maka dia tidak mau padaku lagi."
"He, maaa... mana boleh jadi!"
Seru Boh-thian sambil membanting-banting kaki.
"Ting-ting Tong-tong, jangan khawatir kau, biar kubicarakan dengan dia, akan kuterangkan bahwa hubungan kita adalah suci bersih, selamanya tidak... tidak pernah...."
"Tapi... tapi dia sudah sangat benci padamu, biarpun kau bicara padanya juga dia takkan percaya,"
Ujar Ting Tong sambil menangis. Dalam hati kecilnya lapat-lapat Boh-thian merasa senang.
"Jika dia tidak mau padamu, akulah yang mau."
Tapi ia pun tahu kata-kata demikian tidak layak diucapkan, bahkan memikirnya juga tidak pantas. Maka dia hanya berkata.
"Lalu bagaimana? Wah, gara-gara diriku sehingga ikut membikin susah padamu!"
Dengan terguguk-guguk Ting Tong berkata pula.
"Dia bukan sanak kadangmu, kau pun tidak berbuat sesuatu kebaikan baginya, sebaliknya malah menyerobot dan menikah dengan kekasihnya, sudah tentu saja dia benci dan dendam padamu. Apabila dia... dia bukan dia, tapi misalnya Hoan It-hui atau kawan-kawannya, mereka pernah utang budi padamu, dengan sendirinya mereka akan percaya segala apa yang kau katakan."
Boh-thian mengangguk, katanya.
"Ya, benar. Ting-ting Tongtong, sungguh aku merasa tidak enak, kita harus mencari suatu akal yang baik. Eh, ya, kau boleh minta kakekmu berbicara padanya, tentu dia akan menurut."
"Percuma, percuma!"
Sahut Ting Tong.
"Dia... dia Ciok Tionggiok itu jiwanya sedang terancam, dalam waktu singkat kita pun tak dapat menemukan kakek."
"Hah, mengapa jiwanya sedang terancam?"
Tanya Boh-thian terkejut.
"Itu Pek Ban-kiam dari Swat-san-pay tadinya mengira kau adalah Ciok Tiong-giok sehingga kau ditangkap olehnya, syukur kakek dan aku telah menyelamatkan kau, kalau tidak, tentu kau sudah digiring ke Leng-siau-sia dan dicincang di sana, kau masih ingat tidak kejadian itu?"
"Ya, sudah tentu masih ingat. Wah, celaka, sekali ini Pek-suhu tentu akan menggiring dia ke Leng-siau-sia pula."
"Memangnya! Orang-orang Swat-san-pay itu sudah terlalu benci padanya, sekali dia sudah sampai di Leng-siau-sia, pasti jiwanya akan melayang!"
"Benar, kalau melihat cara orang-orang Swat-san-pay yang berulang-ulang menguber dan menangkap aku tempo hari, tampaknya urusannya tentu bukan sembarang persoalan. Cuma saja mengingat kehormatan Ciok-cengcu suami-istri, boleh jadi kau punya Engkoh Thian hanya akan didamprat sekadarnya saja dan urusan akan menjadi beres."
"Enak saja kau bicara,"
Ujar si Ting Tong.
"Jika mereka mau mendamprat, apa tak bisa dilakukan pada setiap tempat, buat apa mereka mesti susah-susah menggiringnya pulang ke Lengsiau-sia? Apakah kau tidak tahu bahwa dalam usaha menangkapnya selama ini Swat-san-pay sudah jatuh korban beberapa orang?"
Seketika Boh-thian berkeringat dingin.
Memang diketahuinya bahwa Swat-san-pay telah jatuh korban beberapa orang, jangankan dosa yang diperbuat Ciok Tiong-giok di Leng-siausia itu pasti sangat berat, hanya melulu perhitungan korban akibat pemburuannya di daerah Kanglam ini saja sudah cukup alasan untuk menjatuhkan hukuman mati padanya.
Dalam pada itu si Ting Tong berkata pula.
"Engkoh Thian memang betul bersalah, adalah pantas kalau dia menebus dosanya dengan jiwanya sendiri. Yang harus disayangkan adalah Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, mereka adalah orang-orang baik, tapi sekarang mereka harus ikut berkorban ‘jiwa’."
"Hah? Apa katamu? Ciok-cengcu dan nyonya juga akan ikut berkorban jiwa?"
Seru Boh-thian sambil melonjak bangun.
Ia masih ingat kebaikan suami-istri she Ciok itu, ia merasa mereka adalah orang yang paling baik di dunia ini, maka demi mendengar kedua orang itu menghadapi bahaya, dengan sendirinya ia menaruh perhatian penuh.
"Kau sudah tahu bahwa Ciok-cengcu berdua adalah ayahbunda Engkoh Thian, jika mereka mengantar Engkoh Thian ke Leng-siau-sia, masakah mereka sengaja mengantarkan kematian putranya? Sudah tentu mereka akan mintakan ampun kepada Pek-losiansing. Namun dapat dipastikan Peklosiansing tentu takkan meluluskan dan tetap akan membinasakan Engkoh Thian. Untuk mana Ciok-cengcu berdua tentu akan membela putra kesayangan mereka dan pada saat mana mau tak mau pasti akan menggunakan kekerasan. Coba kau pikir, betapa banyak jago-jago Swat-san-pay itu, pula di rumahnya sendiri, sebaliknya Ciok-cengcu hanya bertiga, mana bisa mereka melawannya? Ai, kulihat selama ini Ciok-hujin sangat baik padamu, ibumu sendiri mungkin juga tidak sedemikian sayangnya padamu. Tapi sekarang dia akan... akan tewas juga di Leng-siau-sia."
Sambil berkata ia terus menutupi mukanya dan kembali menangis pula. Seketika darah Ciok Boh-thian bergolak dan mendidih, serunya tanpa pikir.
"Jika Ciok-cengcu dan Ciok-hujin ada kesukaran, biarpun betapa bahayanya di Leng-siau-sia sana juga aku akan menyusul untuk membantunya. Seumpama aku tidak mampu menolong mereka, aku lebih suka gugur bersama mereka di sana daripada hidup sendirian. Ting-ting Tong-tong, biarlah sekarang juga aku akan pergi!"
"Kau hendak ke mana?"
Tanya si Ting Tong sambil menarik lengan baju pemuda itu.
"Malam ini juga aku akan menyusul mereka untuk bersamasama naik ke Leng-siau-sia,"
Sahut Boh-thian.
"Kabarnya ilmu silat Wi-tek Siansing Pek-loyacu itu sangat lihai, di samping itu ada tokoh-tokoh lain seperti Hong-hwe-sinliong Hong Ban-li dan sebagainya, andaikan kepandaianmu dapat menangkan mereka, tapi di tengah Leng-siau-sia konon penuh terdapat pesawat-pesawat rahasia seperti jaring kawat, panah berbisa, jebakan di bawah tanah, dan macam-macam lagi, sedikit kurang hati-hati tentu kau akan masuk perangkap mereka."
"Jika begitu apa mau dikata lagi kalau memang sudah nasib,"
Ujar Boh-thian.
"Janganlah kau terdorong oleh ketekadanmu yang timbul seketika ini, jika terjadi apa-apa atas dirimu, siapa lagi yang mampu menolong Ciok-cengcu dan nyonya?"
Ujar Ting Tong.
"O, apabila engkau gugur di sana, entah betapa akan rasa dukaku, aku... aku pun tentu tak bisa hidup sendirian."
Hati Boh-thian berdebur keras mendengar ucapan yang meresap itu, katanya dengan agak gemetar.
"Mengapa engkau sedemikian... sedemikian baik padaku? Aku toh bukan... bukan kau punya Engkoh Thian yang sebenarnya?"
"Ya, kalian berdua terlalu mirip laksana pinang dibelah dua, dalam hatiku hakikatnya tiada perbedaan, apalagi kita telah berkumpul cukup lama, selama itu pun kau sangat baik dan jujur padaku,"
Sampai di sini tiba-tiba Ting Tong pegang kedua tangan Ciok Boh-thian dan menambahkan.
"Engkoh Thian, berjanjilah padaku, biar bagaimanapun engkau jangan pergi dan binasa."
"Akan tetapi aku harus menolong Ciok-cengcu dan istrinya,"
Ujar Boh-thian.
"Sebenarnya aku ada satu akal, cuma kukhawatir engkau curiga dan mengira aku menipu kau, maka tidak enak akan kukatakan,"
Kata Ting Tong.
"Lekas katakan, lekas! Apakah akalmu itu, masakah aku curiga padamu?"
Ting Tong tampak merenung sejenak, katanya dengan raguragu.
"Engkoh Thian, cara ini sesungguhnya terlalu membikin susah padamu, sebaliknya terlalu menguntungkan dia, setiap orang yang mengetahui akalku ini tentu akan mengatakan aku sengaja menjebak kau. Ai, tidak, tidak bisa, biar bagaimanapun hal ini adalah terlalu tidak adil."
"Sebenarnya bagaimana akalmu itu? Asal dapat menolong Ciok-cengcu berdua, biarpun sedikit membikin susah padaku apa sih halangannya?"
"Engkoh Thian, jika kau berkeras ingin tahu, biarlah akan kuturut dan akan kuterangkan,"
Sahut Ting Tong.
"Cuma kalau kau benar-benar akan menjalankan akalku ini, maka akulah yang tidak boleh. Aku akan tanya dulu padamu, apakah kau tahu sebab apakah orang-orang Swat-san-pay sedemikian bencinya kepada Ciok Tiong-giok dan bertekad akan membunuhnya?"
"Kalau tidak salah Ciok Tiong-giok itu adalah murid Swat-sanpay, dia telah melanggar larangan perguruan, telah mengakibatkan kematian putri Pek-suhu sehingga sebelah lengan gurunya, yaitu Hong Ban-li ikut menjadi korban, ditebas oleh Pek-losiansing, ya, boleh jadi berbuat pula kejahatankejahatan lain yang tidak senonoh."
"Benar, justru karena Ciok Tiong-giok itu telah mencelakai orang, makanya mereka akan membunuhnya untuk mengganti jiwa. Engkoh Thian, apakah kau telah membinasakan putri Peksuhu dari Swat-san-pay itu?"
"Hah, aku?"
Seru Boh-thian melengak.
"Sudah tentu tidak! Sedangkan muka putri Pek-suhu itu belum pernah kulihat."
"Itu dia,"
Kata Ting Tong.
"Akalku ini sesungguhnya juga sangat sederhana, ialah engkau boleh menyaru sebagai Ciok Tiong-giok dan ikut Ciok-cengcu ke Leng-siau-sia sana, nanti bila mereka hendak membinasakan kau barulah kau mengaku terus terang bahwa kau sesungguhnya adalah Kau-cap-ceng dan bukan Ciok Tiong-giok. Yang akan mereka bunuh adalah Ciok Tiong-giok dan bukan kau, paling-paling mereka akan mencaci maki padamu karena kau telah menipu mereka dengan menyaru, tapi akhirnya kau toh akan dibebaskan juga. Dan karena kau tak dibunuh oleh mereka, dengan sendirinya Ciok-cengcu berdua juga tidak perlu bergebrak dengan mereka dan tentu pun tidak berbahaya lagi."
Untuk sejenak Boh-thian terdiam, katanya kemudian.
"Akalmu ini cukup baik, cuma letak Leng-siau-sia itu jauh di wilayah barat sana, dalam perjalanan sejauh ribuan li bersama Peksuhu dan rombongannya itu bukan mustahil sedikit salah omong saja penyamaranku akan diketahui. Kau sudah tahu sendiri, Ting-ting Tong-tong, aku tidak pintar bicara, gerakgerikku juga bodoh, mana dapat menirukan Ciok Tiong-giok yang... yang pintar dan cerdik itu."
"Soal ini sudah kupikirkan juga,"
Ujar Ting Tong dengan tertawa.
"Kau bisa semir sejenis... sejenis obat yang berbisa di bagian tenggorokanmu sehingga di bagian itu akan menjadi bengkak, kau pura-pura sakit tenggorokan dan susah bicara, pura-pura menjadi bisu dan tidak perlu membuka suara dalam perjalanan."
Sampai di sini tiba-tiba Ting Tong menghela napas, lalu katanya pula dengan menyesal.
"Engkoh Thian, meski akalku ini cukup bagus, tapi kau yang harus menderita, maka aku merasa tidak enak."
Mendengar ucapan si nona itu penuh rasa kasih sayang padanya, sungguh Boh-thian menjadi terharu.
Dalam keadaan demikian jangankan dia cuma disuruh pura-pura menjadi bisu, sekalipun dia diminta mati baginya juga mau.
Maka segera ia berseru.
"Bagus, akalmu sangat bagus! Cuma cara bagaimana aku harus menggantikan Ciok Tiong-giok itu?"
"Rombongan mereka itu bermalam semua di Heng-co-tin di sebelah barat sana, sekarang juga kita dapat menyusul ke sana,"
Kata Ting Tong.
"Kutahu kamar tidurnya Ciok Tionggiok, diam-diam kita masuk ke sana dan kalian dapat saling tukar pakaian. Besok pagi kau lantas pura-pura merintih-rintih kesakitan dan mengatakan bagian tenggorokanmu keluar bisul jahat sehingga susah bersuara, sebelum saat kau hendak dibunuh orang Swat-san-pay janganlah kau membuka mulut dan bicara."
"Ting-ting Tong-tong, akal sebagus ini hanyalah engkau yang dapat memikirkannya,"
Seru Boh-thian dengan girang.
"Dan ingatlah, sepanjang jalan jangan kau bicara dengan siapa pun juga, terhadap Ciok-cengcu dan Ciok-hujin juga tidak boleh memberi isyarat apa-apa. Maklum Pek-suhu dan kawankawannya itu sangat lihai, sedikit kau memperlihatkan tandatanda yang mencurigakan akan berarti membikin celaka kepada Ciok-cengcu berdua."
"Ya, baiklah, biarpun kepalaku dipenggal juga aku takkan bicara,"
Sahut Boh-thian sambil mengangguk.
"Hayolah, sekarang juga kita berangkat."
Tapi mendadak pintu kamar dibuka orang, suara seorang wanita berseru.
"Jangan kau tertipu olehnya, Siauya!"
Remang-remang Boh-thian melihat seorang wanita muda berdiri di depan pintu, kiranya adalah Si Kiam.
"Jangan... jangan tertipu apa, Si Kiam?"
"Di luar kamar telah kudengar seluruhnya,"
Sahut Si Kiam.
"Nona Ting ini tidak bermaksud baik, dia... dia hanya ingin menyelamatkan dia punya Engkoh Thian dan sengaja menipu kau untuk mewakilkan kematiannya."
"Ah, masakah begitu?"
Ujar Boh-thian.
"Nona Ting membantu aku memikirkan cara bagaimana harus menolong Ciok-cengcu dan Ciok-hujin."
"Ai, mengapa Siauya tidak pikir masak-masak, mungkinkah mereka menaruh maksud baik padamu?"
Kata Si Kiam. Mendadak Ting Tong tertawa dingin.
"Huh, memangnya kau adalah pelayan pangcumu yang tulen, sekarang kau sengaja membantu orang luar dan sengaja mengadu domba."
Lalu ia berpaling kepada Boh-thian dan berkata.
"Engkoh Thian, jangan kau pedulikan perempuan hina ini, lekas kau pergi minta sedikit bun-hiang (dupa pemabuk) kepada Tanhiangcu, tapi jangan bicara tentang urusan kita ini, sesudah mendapatkan dupa itu boleh tunggu aku di luar sana saja."
"Untuk apa kita membawa dupa seperti itu?"
Tanya Boh-thian.
"Sebentar tentu kau akan tahu, sekarang lekas berangkat, lekas!"
Desak si Ting Tong. Boh-thian mengiakan dan segera melangkah keluar. Setelah Boh-thian pergi, segera Ting Tong menyemprot Si Kiam.
"Hm, budak hina, baik juga ya hatimu!"
Si Kiam menjadi takut, ia menjerit terus hendak lari.
Tapi si Ting Tong tidak memberi kesempatan padanya, cepat ia memburu maju, kedua tangannya menghantam sekaligus, tepat punggung Si Kiam kena digenjot dan tanpa ampun lagi mati seketika.
Sebelum meninggalkan kamar itu, lebih dulu Ting Tong menyeret jenazah Si Kiam itu ke dalam kamar, ia sengaja merobek-robek pakaian Si Kiam dan meletakkan jenazah pelayan itu di atas ranjang agar besok paginya dicurigai orangorang Tiang-lok-pang yang pasti akan menyangka pangcu mereka sendiri yang telah membunuh pelayannya lantaran melawan kehendak sang pangcu yang tidak senonoh.
Dengan demikian Pwe Hay-ciok dan lain-lain tentu juga tidak akan kaget bilamana mendadak Ciok Boh-thian menghilang, mereka tentu mengira sang pangcu sengaja menyingkir untuk beberapa hari lamanya karena merasa malu.
Selesai mengatur, perlahan-lahan Ting Tong lantas menyusup keluar dan setelah menunggu agak lama barulah kelihatan Ciok Boh-thian muncul.
"Sudah dapat!"
Kata pemuda itu.
"Bagus!"
Sahut Ting Tong dengan girang dan segera mengajaknya berangkat menuju ke tepi sungai dan naik ke atas perahu yang sudah siap.
Setelah mendayung perahu itu beberapa li jauhnya, kemudian mereka mendarat, ternyata di bawah pohon sana sudah tertambat dua ekor kuda.
"Marilah kita menunggang kuda saja!"
Kata si nona.
"Ai, rencanamu ini benar-benar sangat rapi, sampai-sampai kuda pun sudah disiapkan,"
Ujar Boh-thian.
"Rapi apa segala?"
Semprot Ting Tong dengan muka merah.
"Ini adalah kuda Yaya, aku toh tidak tahu kalau kau ingin buruburu hendak pergi menolong Ciok-cengcu."
Boh-thian menjadi bingung mengapa si nona mendadak marah.
Ia tidak berani banyak bicara lagi dan terus cemplak ke atas kuda.
Kira-kira jam tiga dini hari sampailah mereka di luar Kota Heng-co-tin, mereka turun dari kuda dan masuk ke dalam kota.
Ting Tong membawa Boh-thian ke sebuah hotel.
Di luar hotel si nona berbisik-bisik padanya.
"Ciok-cengcu suami-istri dan putranya tidur di kamar kedua di sebelah timur sana."
"Apakah mereka bertiga tidur di suatu kamar?"
Tanya Bohthian.
"Wah, jangan-jangan nanti ketahuan Ciok-cengcu dan Ciok-hujin."
"Mereka terpaksa harus tidur sekamar, mereka harus mengawasi putranya agar tidak melarikan diri,"
Sahut Ting Tong.
"Ai, mereka hanya memikirkan harga diri mereka sebagai kesatria tanpa memikirkan mati-hidup putranya, orang tua demikian benar-benar jarang terdapat di dunia ini."
Mendengar nada si nona seperti merasa penasaran, Boh-thian menjadi bingung dan tidak dapat menanggapi. Terpaksa ia tanya dengan suara tertahan.
"Habis, bagaimana?"
"Boleh kau sulut dupa pemabuk yang kau bawa, masukkan ke dalam kamar mereka melalui celah-celah jendela, sesudah mereka tak sadarkan diri barulah kau membuka jendela dan masuk ke dalam, diam-diam kau pondong keluar Ciok Tionggiok dan selesaikan tugasmu. Ginkangmu sangat tinggi, keluarmasuk kamar tentu takkan diketahui Pek-suhu dan kawankawannya. Aku akan menunggu kau di bawah emper sana."
"O, kiranya demikian,"
Kata Boh-thian sambil mengangguk.
"Baiklah, akan kukerjakan menurut petunjukmu. Apakah dupa ini yang digunakan Tan-hiangcu dan kawan-kawannya untuk menawan orang-orang Swat-san-pay sebagaimana dikatakan mereka itu?"
"Benar,"
Sahut Ting Tong.
"Ini adalah perbuatan rendah yang biasa dilakukan oleh orang-orang Pang kalian, tentu dupa ini sangat manjur, kalau tidak masakah orang-orang Swat-sanpay yang bukan kaum lemah itu dapat dibekuk begitu saja? Cuma kau pun harus hati-hati, jangan sampai menerbitkan suara sedikit pun. Ketahuilah Ciok-cengcu dan nyonya tidak dapat disamakan dengan anak murid Swat-san-pay."
Boh-thian mengiakan perlahan. Segera ia menyalakan dupa pembius yang dibawanya. Walaupun di tempat terbuka kepalanya terasa pusing juga ketika membau asap dupa itu. Keruan ia terkejut.
"Dupa ini bisa mematikan orang tidak?"
Cepat ia tanya.
"Mereka telah menawan orang-orang Swat-san-pay dengan dupa semacam ini, apakah di antara orang-orang Swat-san-pay ada yang mati?"
Ting Tong balas bertanya.
"Ya, tidak,"
Sahut Boh-thian.
"Baiklah, harap kau tunggu di sini."
Perlahan-lahan ia melompat, melintasi pagar tembok, ternyata enteng sekali gerakannya sehingga tiada menimbulkan suara sedikit pun.
Ia menemukan jendela kamar kedua di serambi timur, ia dengar suara napas ketiga orang di dalam kamar itu sedang terpulas dengan nyenyaknya, perlahan-lahan ia membasahi kertas penutup jendela dengan air ludah sehingga terkorek menjadi sebuah lubang kecil, lalu ia menyalakan dupa dan memasukkannya ke dalam kamar.
Nyala dupa itu sangat cepat dan sebentar saja sudah habis.
Ia dengar sekeliling situ tiada sesuatu suara, dengan hati-hati ia lantas mendorong daun jendela sehingga terpentang, palang jendela telah patah oleh tenaga dalamnya yang kuat.
Dengan gesit ia lantas melompat ke dalam kamar.
Bab 38.
Ciok Boh-thian Pura-pura Sakit Gondok Di bawah cahaya bintang-bintang yang remang-remang dilihatnya dalam kamar itu terdapat dua buah dipan.
Ciok Jing suami-istri bersatu dipan dan Ciok Tiong-giok tidur sendirian di dipan yang lain.
Baru saja ia hendak mengangkat tubuh Ciok Tiong-giok, mendadak ia merasa kepala sendiri agak pusing, ia tahu telah mengisap bau dupa pemabuk, cepat ia menahan napas dan membawa Ciok Tiong-giok keluar hotel.
Ting Tong sudah menunggu di sana, bisiknya perlahan.
"Marilah kita menyingkir agak jauh supaya tidak membikin kaget Pek-suhu dan kawan-kawannya."
Boh-thian mengiakan, dengan memondong Ciok Tiong-giok ia ikut si nona menyingkir ke tempat lebih jauh dari hotel itu.
"Lekas kau menanggalkan pakaiannya dan menukar dengan pakaianmu, begitu pula seluruh isi sakunya,"
Kata si Ting Tong. Waktu Boh-thian merogoh kantongnya sendiri, ia mengeluarkan sekotak boneka kayu pemberian Tay-pi Lojin dahulu serta dua potong medali tembaga.
"Apakah ini juga... juga diberikan padanya?"
Tanyanya.
"Ya, berikan semua,"
Sahut Ting Tong.
"Kalau tersimpan di bajumu, jangan-jangan akan dilihat orang dan terbongkar rahasia penyamaranmu. Biarlah aku meronda di sebelah sana. Cepat kau bertukar pakaian dengan dia."
Menunggu sesudah si Ting Tong menyingkir agak jauh, segera Boh-thian melepaskan, pakaiannya sendiri, lalu membelejeti Ciok Tiong-giok dan saling bertukar pakaian.
"Sudah, sudah selesai!"
Serunya kemudian. Maka kembalilah Ting Tong mendekat, katanya.
"Jiwa Ciokcengcu dan Ciok-hujin selanjutnya tergantunglah padamu, jika kau kurang pandai bergaya tentu celakalah mereka."
"Aku akan berbuat sebisanya,"
Ujar Boh-thian. Lalu Ting Tong mengeluarkan sebuah kotak kecil, ia membuka tutup kotak dan mengorek sedikit salep dengan kukunya sambil berkata.
"Dongakkan kepalamu!"
Sesudah Boh-thian mengangkat kepalanya, segera ia poles salep itu di lehernya dan berkata pula.
"Sebelum pagi mendatang nanti harus kau membersihkan salep ini supaya tidak dilihat orang lain. Besok akan terasa sakit sedikit, untuk ini kau harus tahan derita."
"Tidak apa,"
Sahut Boh-thian. Tiba-tiba terlihat badan Ciok Tiong-giok sedikit bergerak seperti akan siuman. Cepat ia berkata.
"Ting-ting Tong-tong, aku akan kembali ke kamarnya, sampai bertemu!"
"Ya, lekas, selamat!!"
Sahut Ting Tong.
Kira-kira belasan meter jauhnya Boh-thian melangkah ke arah hotel, waktu menoleh, terlihat Ciok Tiong-giok sudah berduduk dan seperti sedang bicara dengan si Ting Tong dengan suara lirih.
Tiba-tiba terdengar Ting Tong mengikik tawa, suaranya sangat perlahan, tapi penuh rasa gembira.
Sekonyong-konyong Boh-thian merasakan semacam kecemasan yang hebat, lapat-lapat ia merasa selanjutnya tidak dapat berkumpul bersama si Ting Tong lagi.
Sesudah merandek sejenak, akhirnya ia melompat masuk ke dalam hotel dan menyusup ke dalam kamar.
Asap dupa di dalam kamar masih cukup keras, ia membuka daun jendela supaya ada hawa segar.
Terdengar suara derapan kuda yang makin menjauh, ia tahu si Ting Tong dan Ciok Tiong-giok telah pergi bersama.
Pikirnya.
"Ke manakah mereka? Sekarang si Ting-ting Tong-tong tentulah sangat senang. Aku sendiri terlalu bodoh dan tidak pintar bicara, berada bersama dia hanya selalu membikin marah padanya saja."
Ia berdiri termenung-menung agak lama di depan jendela, ketika mendadak merasa lehernya mulai sakit barulah cepatcepat ia menyusup ke kolong selimut.
Obat salep si Ting Tong itu ternyata sangat manjur, tidak sampai satu jam tenggorokan Ciok Boh-thian sudah kesakitan.
Waktu ia meraba dengan tangan, tempat tenggorokan itu sangat panas dan bengkak seperti orang gondok.
Ia tahan sampai fajar sudah menyingsing, lalu ia membersihkan bekas salep itu dengan selimut, kemudian mulai merintih-rintih kesakitan menurut ajaran Ting Tong supaya menarik perhatian Ciok Jing suami-istri dan tidak curiga bilamana mengendus sisa bau dupa.
Benar juga, sesudah merintih-rintih sebentar lantas didengar oleh Ciok Jing, segera orang tua itu bertanya.
"Kenapa kau?"
Nadanya bukannya kasih sayang, sebaliknya rada marah. Bin Ju juga lantas bangun dan bertanya.
"Kenapakah anak Giok? Apakah badanmu kurang enak?"
Dan tanpa menunggu jawaban segera ia mendekati Boh-thian. Ketika mendadak melihat kedua pipi Boh-thian merah membara, lehernya juga bengkak, ia menjadi kaget dan cepat berteriak.
"He, Engkoh Jing, lekas kemari, coba lihatlah!"
Mendengar seruan sang istri yang khawatir itu, cepat Ciok Jing lantas melompat bangun ke depan dipan putranya, ia menjadi khawatir juga demi tampak leher putranya merah bengkak sebagai gondokan.
"Besar kemungkinan hanya penyakit bisul biasa saja, kalau diobati cepat-cepat tentu akan segera sembuh."
Lalu ia tanya Boh-thian.
"Bagaimana, Nak? Apakah sangat sakit?"
Boh-thian hanya merintih saja dan tidak berani membuka suara. Pikirnya sendiri.
"Karena ingin menolong kalian, makanya aku pura-pura sakit untuk menipu kalian. Hanya sakit bisul begini saja kalian sudah sedemikian menaruh perhatian padaku, ini menandakan kalian masih sangat cinta kepada putramu Ciok Tiong-giok itu walaupun dia telah banyak berdosa. Ai, mengapa di dunia ini tiada seorang pun yang mencintai aku seperti ini."
Teringat demikian ia menjadi terharu sehingga mengembeng air mata.
Melihat putranya mewek-mewek akan menangis, Ciok Jing dan Bin Ju mengira dia kesakitan, maka mereka tambah khawatir.
Ciok Jing bertanya.
"Biarlah kucari seorang tabib."
"Di kota kecil seperti ini tentu tiada tabib pandai, marilah kita pulang ke Yangciu saja dan minta tolong Pwe-tayhu untuk memberi obat padanya,"
Usul Bin Ju.
"Tidak,"
Jawab Ciok Jing.
"Jangan-jangan akan menimbulkan curiga Pek Ban-kiam dan kawan-kawannya, pula akan dipandang hina oleh Pwe Hay-ciok."
Ia tahu Pwe Hay-ciok dan orang-orang Tiang-lok-pang sudah dendam kepada putranya yang khianat ini, bilamana dibawa ke sana bukan mustahil sang putra akan dicelakai malah.
Segera Bin Ju membawakan semangkuk kuah hangat untuk Ciok Boh-thian, tak terduga salep berbisa itu sangat lihai, luardalam tenggorokan itu telah bengkak semua sehingga tak dapat makan-minum sama sekali.
Keruan Bin Ju tambah khawatir.
Ciok Jing lantas mencari seorang tabib.
Dasar tabib kampungan, tapi berlagak mahapandai, sesudah memeriksa penyakit Boh-thian itu, sebentar ia bilang cuma penyakit gondok, tapi lain saat ia menakut-nakuti katanya sakit kanker.
Akhirnya ia membual betapa kepandaiannya dan minta pasiennya jangan khawatir, lalu ia membuka resep.
Ciok Jing memberi pujian sekadarnya dan memberikan honorarium yang cukup, setelah tabib itu pergi ia lantas membeli obat ke apotek.
Karena kesibukan Ciok Jing, itu, akhirnya orang-orang Swatsan-pay mendapat tahu juga persoalannya.
Khawatir kalaukalau Ciok Jing main gila dan berusaha menyelamatkan putranya, maka Pek Ban-kiam pura-pura menjenguk ke kamarnya.
Ketika melihat tenggorokan Ciok Boh-thian benarbenar seperti orang sakit gondok dan Bin Ju tampak khawatir dan bingung, diam-diam ia merasa senang dan syukur.
Pikirnya.
"Kau bocah durhaka ini sudah berdosa kelewat takaran, jika kau terbunuh begitu saja di Leng-siau-sia nanti akan terlalu murah bagimu, memangnya kau harus disiksa dan banyak menderita dahulu agar kau bertobat."
Walaupun demikian pikirnya, namun sebagai seorang kesatria ia malah menghibur Bin Ju agar jangan khawatir. Sesudah memberikan obat kepada putranya, kemudian Ciok Jing berkata kepada sang istri.
"Aku sudah siapkan kereta di luar. Tiong-giok adalah seorang lelaki, dia harus berani tahan uji, sedikit penyakit saja tidak boleh menghalangi urusan orang banyak. Marilah kita lantas berangkat saja."
Bin Ju menjadi ragu-ragu, katanya.
"Penyakit anak begini parah, kalau dipaksa meneruskan perjalanan mungkin... mungkin akan tambah berat."
"Kedua sucia pengganjar dan penghukum itu sedang menuju ke Leng-siau-sia, Pek-suheng harus buru-buru menyusul ke sana, jika Wi-tek Siansing sampai bergebrak dengan mereka, kita tak dapat membantu, sebaliknya memperlambat perjalanan Pek-suheng, hal ini tidaklah pantas."
Bin Ju terpaksa mengiakan, katanya kepada Boh-thian.
"Nak, marilah kubantu kau memakai baju."
Lalu ia membantu Boh-thian berpakaian dan lantas keluar hotel.
Melihat Ciok Jing memaksa putranya melanjutkan perjalanan dalam keadaan sakit, mau tak mau Pek Ban-kiam menaruh hormat juga atas jiwa kesatrianya.
Sebaliknya Bin Ju paham apa yang diperhitungkan sang suami, ia kenal watak suaminya tidak nanti mengeluyur pergi dengan membawa lari putranya.
Tapi menurut perhitungan Ciok Jing kunjungan Thio Sam dan Li Si ke Leng-siau-sia nanti pasti akan cekcok dan bertempur dengan Pek Cu-cay alias Wi-tek Siansing yang berperangai keras dan tidak nanti mau terima medali tembaga yang disodorkan itu.
Jika bisa Ciok Jing ingin mencapai Leng-siau-sia tepat pada waktunya dan dapat membantu pihak Swat-san-pay dengan sepenuh tenaga, jika nasibnya malang dan gugur dalam pertempuran itu, maka paling sedikit akan dapat mencuci bersih nama busuk putranya, sebaliknya kalau untung mendapat kemenangan, maka berita tentang Swat-san-pay bergabung dengan Hian-soh-ceng telah menjatuhkan Thio Sam dan Li Si pasti akan tersiar di dunia Kangouw, jasa itu tentu dapat menebus dosa putranya dan Pek Cu-cay tentu tidak tega membunuhnya lagi.
Namun Bin Ju sendiri sudah menyaksikan kepandaian Thio Sam dan Li Si di markas Tiang-lok-pang dan menduga lebih banyak kalah daripada menangnya bila benar-benar bergabung melawan kedua orang itu.
Akan tetapi selain pikiran sang suami itu rasanya tiada jalan lain lagi yang lebih sempurna, sebab itulah ia pun menurut saja.
Sebenarnya tabib di Heng-co-tin itu memang tidak becus, dia telah salah sangka bengkak di tenggorokan Ciok Boh-thian itu sebagai sakit gondok.
Namun dengan demikian Ciok Jing dan Bin Ju menjadi tidak curiga apa-apa.
Pula wajah Boh-thian dan Ciok Tiong-giok memang sangat mirip, sesudah saling tukar pakaiannya, siapa pun tidak dapat membedakannya lagi.
Dengan enak-enak Boh-thian bertiduran di dalam kereta kuda tanpa bersuara sedikit pun, maka rahasianya juga tidak sampai ketahuan siapa-siapa.
Kepergian si Ting Tong tanpa pamit itu adalah kebetulan bagi Ciok Jing dan Bin Ju, maka mereka pun tidak mengusut lebih lanjut.
Begitulah rombongan mereka lantas mempercepat perjalanan agar tidak didahului oleh Thio Sam dan Li Si.
Setiba di wilayah Provinsi Oulam, bengkak di tenggorokan Ciok Boh-thian sudah kempis, akan tetapi dia masih gagu dan tidak dapat bicara.
Beberapa kali Ciok Jing membawanya kepada tabib-tabib di kota yang dilalui, namun tidak diperoleh sesuatu kepastian tentang penyakitnya, hal ini membuat Ciok Jing menjadi masygul dan Bin Ju pun lebih sering mencucurkan air mata.
Suatu hari sampailah mereka di wilayah Se-ek (daerah provinsi-provinsi sebelah barat).
Orang-orang Swat-san-pay sangat hafal keadaan setempat, mereka selalu mengambil jalanan kecil yang lebih dekat.
Untuk ini mereka yakin pasti akan dapat tiba lebih dulu di tempat tujuan daripada Thio Sam dan Li Si.
Makin dekat dengan Leng-siau-sia makin legalah hati mereka.
Hanya Ciok Jing dan Bin Ju saja yang merasa bimbang, mereka menduga pada waktu bertemu dengan Wi-tek Siansing nanti kedua pihak tentu akan serbasalah.
Apabila orang tua itu lantas marah-marah terus membinasakan anak Giok dan pada saat itu juga Thio Sam dan Li Si muncul pula, maka keadaan tentu akan menjadi sulit.
Diam-diam Ciok Jing dan Bin Ju juga saling berunding, tapi susah mengambil sesuatu keputusan, terpaksa mereka pasrah nasib dan terserah kepada keadaan nanti.
Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di suatu lereng gunung di mana terdapat sederetan rumah-rumah papan kayu, Pek Ban-kiam telah tanya penjaga rumah-rumah papan itu dan diketahui beberapa hari terakhir ini belum pernah ada orang asing lalu di situ, maka hatinya menjadi makin lega.
Mereka bermalam di perumahan papan itu, besok paginya mereka melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
Kiranya perjalanan selanjutnya sangatlah terjal dan tidak dapat dilalui dengan kuda.
Beberapa murid Swat-san-pay jalan di depan sebagai penunjuk jalan mereka terus mendaki gunung dan melintasi tanjakan.
Kira-kira satu jam kemudian, seluruh tanah mulai tertampak hanya salju belaka.
Untung ginkang setiap orang tidaklah lemah sehingga tidak mengalami suatu kesukaran.
Sepanjang jalan Ciok Boh-thian terus ikut di belakang ayahbundanya, tidak mendahului juga tidak ketinggalan.
Melihat kekuatan berjalan sang putra sangat tangkas, napasnya juga panjang, diam-diam Ciok Jing dan Bin Ju merasa lwekang pemuda itu tidak lebih lemah daripada mereka sendiri, mereka menjadi kagum dan senang.
Tapi demi ingat tidak lama lagi akan berjumpa dengan Pek Cu-cay, kembali mereka khawatir pula.
Petangnya mereka melihat di depan sana berdiri suatu puncak gunung yang menjulang tinggi dengan bangunan berpuluhpuluh rumah.
"Ciok-cengcu, inilah Leng-siau-sia adanya, tempatnya terlalu terpencil dan miskin, segalanya kasar dan sederhana saja,"
Kata Pek Ban-kiam.
"Sungguh suatu tempat yang bagus,"
Puji Ciok Jing.
"Puncak yang tertinggi dikelilingi gunung-gemunung, benar-benar sesuai dengan namanya sebagai ‘leng-siau’ (mencakar langit)."
Tertampak awan mengapung ke atas dan lambat laun seluruh Leng-siau-sia telah terselubung semua di-tengah-tengah gumpalan awan yang tebal.
Ketika rombongan mereka sampai di kaki puncak gunung itu hari pun sudah gelap, mereka lantas bermalam pada dua rumah batu yang biasanya disediakan untuk orang-orang yang hendak berkunjung ke Leng-siau-sia agar besok pagi-pagi dapat mendaki puncak tinggi itu dengan tenaga penuh.
Waktu fajar baru menyingsing segera rombongan mereka mulai mendaki puncak terjal itu.
Walaupun semua orang berkepandaian tinggi, tidak urung mereka harus berhenti mengaso dua kali serta makan ransum di gardu kecil di tengah gunung.
Lewat tengah hari barulah mereka sampai di luar Leng-siau-sia.
Tertampaklah beratus-ratus rumah dikelilingi selapis tembok benteng yang putih dan tingginya lebih dari lima-enam meter, kelihatannya penuh dengan salju yang sudah membeku.
"Pek-suheng, dinding benteng penuh dengan salju yang membeku, maka pastilah sangat kukuh laksana baja, orang luar tidaklah mungkin dapat menyerbu ke dalam,"
Kata Ciok Jing.
"Ya, selama lebih 170 tahun berdirinya golongan kami memang tidak pernah diserbu musuh dari luar,"
Sahut Ban-kiam dengan tertawa.
"Hanya saja di musim dingin sering mendapat gangguan kawanan serigala yang lapar, tapi juga tidak mampu masuk ke dalam benteng."
Sampai di sini dilihatnya jembatan gantung yang melintasi sungai es yang mengelilingi benteng itu masih tergantung tinggi-tinggi dan belum dihubungkan, diam-diam Ban-kiam menjadi marah, segera ia membentak.
"Siapa itu yang dinas jaga? Apakah tidak lihat kami telah pulang?"
Maka tertampaklah di atas benteng menongol sebuah kepala dan berkata.
"Kiranya Pek-supek dan para supek yang lain telah pulang, segera akan kulaporkan dulu."
"Ada tamu jauh berkunjung kemari, lekas turunkan jembatan gantung!"
Bentak Ban-kiam pula.
Terdengar orang itu mengiakan sambil mengkeretkan kembali kepalanya, tapi sampai sekian lamanya jembatan gantung masih tetap tidak diturunkan.
Ciok Jing melihat sungai yang mengelilingi benteng itu lebarnya ada lima-enam meter lebih, untuk melompat ke seberang memang tidak gampang.
Pada umumnya dinding benteng memang selalu dikelilingi oleh sungai pelindung benteng, tapi di puncak gunung ini hawa sangat dingin, air sungai telah membeku menjadi es, sungai ini pun sangat dalam, tepi sungai juga membeku sebagai dinding es yang licin, baik binatang maupun manusia jika terjerumus ke bawah tentu sangat sukar untuk naik kembali.
Dalam pada itu terdengar Kheng Ban-ciong dan Kwa Ban-kin juga sedang membentak-bentak suruh penjaga-penjaga benteng lekas turunkan jembatan gantung dan membuka pintu.
Melihat suasana agak luar biasa, Ban-kiam menjadi khawatir jangan-jangan terjadi apa-apa di dalam benteng.
Segera ia membisiki kawan-kawannya.
"Para Sute harap waspada, boleh jadi kedua orang dari Liong-bok-to itu sudah tiba lebih dahulu."
Mendengar itu semua orang terkesiap dan tanpa merasa sama meraba senjatanya masing-masing.
Pada saat itulah terdengar suara berkeriang-keriut, jembatan gantung perlahan-lahan telah diturunkan.
Pintu gerbang lantas terbuka dan tertampak berlari keluar seorang yang berjubah putih, lengan baju sebelah kanan terikat pada ikat pinggangnya, di dalam lengan baju itu tertampak kosong melompong, terang tiada isinya, yaitu lengannya buntung.
Orang ini lantas berteriak-teriak.
"Haha, kiranya Ciok-heng dan Ciok-so yang telah tiba, sungguh tamu yang tak terduga, selamat datang!"
Melihat Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li menyambut sendiri kedatangan mereka, sedangkan lengan kanannya kelihatan buntung akibat perbuatan putranya sendiri, sungguh Ciok Jing menyesal tak terhingga.
Cepat ia memapak maju sambil berseru.
"Hong-jite, kami suami-istri membawa putra durhaka ini sengaja datang kemari untuk menerima hukuman yang akan dijatuhkan Pek-supek dan engkau."
Habis berkata ia terus melangkah maju dan bertekuk lutut memberi hormat.
Sejak Ciok Jing terkenal di dunia Kangouw belum pernah ia memberi hormat kepada angkatan yang setingkat kecuali kepada orang tua, sekarang lantaran pengorbanan Hong Ban-li terlalu besar gara-gara perbuatan putranya, maka tanpa merasa ia lantas menjura kepada sobat lama itu.
Melihat suaminya berlutut dan menjura, sebaliknya sang putra masih berdiri termangu di samping, cepat Bin Ju menarik baju Ciok Boh-thian sambil berlutut di samping sang suami.
Boh-thian sendiri tidak tahu apa-apa, tapi ia berpikir.
"Dia adalah gurunya Ciok Tiong-giok yang kusamar sekarang, ketemu guru memang seharusnya memberi hormat."
Maka ia lantas berlutut juga dan menjura berulang-ulang sampai kepalanya membentur tanah. Hong Ban-li tidak menggubris perbuatan Ciok Boh-thian itu sebaliknya ia berkata kepada Ciok Jing.
"Ai, mengapa Ciokheng dan Ciok-so memakai adat setinggi?"
Cepat ia pun berlutut dan balas menjura.
Sesudah Ciok Jing suami-istri dan Hong Ban-li berbangkit kembali, hanya Ciok Boh-thian sendiri yang masih berlutut di situ.
Sama sekali Ban-li tidak menggubris Ciok Boh-thian, katanya kepada Ciok Jing.
"Ciok-heng dan Ciok-so, rasanya sudah belasan tahun kita tidak bertemu, kalian berdua ternyata semakin sehat dan tambah muda. Selama ini terdengar juga nama kalian berdua yang sangat terpuji di dunia Kangouw, sungguh aku merasa sangat kagum dan terimalah ucapan selamat dariku."
"Kami tidak mampu mengajar anak, segala pujian kawankawan Kangouw hanya nama kosong saja, apa yang perlu ditonjolkan?"
Sahut Ciok Jing dengan rendah hati.
"Hari ini melihat keadaan Hong-hiante, sungguh kami merasa malu tak terhingga."
"Ah, kita adalah sahabat lama dan sesama kaum persilatan, hanya sedikit persoalan mengapa harus selalu disebut-sebut? Kalian datang dari jauh dan tentu sudah capek, hayolah lekas masuk ke dalam benteng dan mengaso dulu,"
Kata Hong Ban-li tetap tidak ambil pusing kepada Ciok Boh-thian yang masih berlutut di tempatnya.
Segera Hong Ban-li mengiringi Ciok Jing mendahului masuk ke dalam benteng.
Bin Ju lantas menarik bangun putranya dengan mengerut kening, melihat sikap Hong Ban-li tadi walaupun ucapannya enak didengar, tapi jelas belum mau mengampuni dosa Ciok Boh-thian.
Ketika masuk ke benteng, Pek Ban-kiam telah memanggil seorang penjaga dan bertanya dengan suara perlahan.
"Apakah Loyacu (tuan besar, maksudnya ayahnya) baik-baik saja? Apa yang telah terjadi di sini sesudah aku pergi?"
"Loyacu... Loyacu cuma suka marah-marah dan agak kasar perangainya,"
Sahut anak murid Swat-san-pay itu.
"Sejak Supek berangkat juga tiada terjadi apa-apa. Hanya... hanya...."
"Hanya apa?"
Desak Ban-kiam dengan menarik muka. Murid itu menjadi ketakutan, jawabnya.
"Lima... lima hari yang lalu mendadak Loyacu mengamuk dan... dan telah membunuh Liok-supek dan Boh-susiok."
"Hah? Mengapa bisa begitu?"
Tanya Ban-kiam terkejut.
"Tecu sendiri tidak tahu,"
Sahut murid itu.
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 8
Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan 1