Ceritasilat Novel Online

Pendekar Satu Jurus 8

Eps 8 Pendekar Satu Jurus - Gan KL

Baca online Pendekar Satu Jurus - Gan KL

Cersil Pendekar Satu Jurus - Gan KL.

"Ko-put-ki, Ko-put-Ki ternyata di dunia ini memang banyak persoalan yang sukar dilewati... Tham Beng, wahai Tham Beng, bagaimana jua kau memang salah, kau salah besar..."

Leng-kok-siang-hok saling pandang sekejap, lalu Leng Han-tiok berkata.

"Andaikata Tham Beng mengetahui siasat busuknya yang direncanakan secara rapi dan berhasil mengelabui orang ini ternyata telah hancur di tangan seorang kusir kereta yang tak terkenal, entah bagaimanakah perasaannya sekarang?"

"Maka untuk selanjutnya dia akan percaya di dunia ini memang ada perkara yang Ko-put-ki."

Sambung Leng Ko bak dengan tersenyum dingin.

Angin berembus makin kencang, membuyarkan suara teriakan gusar, seruan kaget dan helaan napas yang memenuhi permukaan bumi ini.

-oOo --oOo-Sementara itu Tham Beng dengan sebelah tangan memegang tali kendali kuda dan tangan lain mengelus jenggotnya sedang membiarkan kudanya berjalan lambat di tengah kegelapan.

Tokoh persilatan yang termasyhur ini ketika ini berada dalam keadaan murung, alisnya bekernyit, rupanya ia sedang menimbang suatu keputusan penting mengenai suatu masalah besar.

Lo Gi, Pian Siau-yan dan Pat-kwa ciang Lm Hui pelahan mengikut di belakangnya, dan pada barisan paling belakang mengikut empat orang laki-laki berpakaian ringkas, dilihat dan dandanan mereka, tampaknya orang-orang itu adalah para teriak jalan dari perusahaan pengawalan.

Kedelapan ekor kuda berjalan di tengah keheningan malam yang dingin, tiada suara manusia, tiada ringkikan kuda, yang terdengar hanya derap kaki kuda yang berdetak-detak.

Angin malam yang dingin mengusap jenggot Tham Beng yang panjang, tiba-tiba ia menghela napas.

"Setelah musim dingin tiba, banyak orang persilatan harus dibereskan. Selesai membereskan persoalan ini, akupun akan beristirahat sudah sekian tahun, ai..."

Tiba-tiba ia menghela napas pula. Pat-kwa-eiang Liu Hui larikan kudanya menyusul ke sisinya, sambil tersenyum ia berkata.

"selama beberapa tahun terakhir ini walaupun Cong-piautau sudah capai, tapi semangatmu makin lama makin berkobar, cara Congpiautau menyelesaikan pelbagai persoalanpun juga mengagumkan orang."

Ia merenung sebentar, seolah-olah sedang mempertimbangkan bagaimana caranya ia menyanjung agar dapat merebut hati majikannya. Selang sejenak, dia tersenyum dan berkata pula.

"Anibil contoh kejadian yang baru saja lewat, aku benar-benar amat kagum, cukup hanya duatiga patah kata saja Kang Tay sik sudah dibikin tunduk sehingga disuruh terjun ke lautan api pun rela, cuma sekalipun Congpiautau tidak mengucapkan kata-kaia semacam itu, kami semua juga rela menjual nyawa bagi Cong-piautau"

Liong heng-pat-ciang tertawa.

"Itulah cara orang hidup dan menjadi manusia yang layak, bila suatu hari aku mengundurkan diri dari keramaian dunia, maka kaupun harus meniru cara caraku untuk menjadi orang."

Mata Pat-kwa-aang Liu Hui bersinar terang, tapi lahirnya pura-pura menunjukkan rasa tercengang.

"Cong-piautau"

Katanya.

"berbicara soal kesehatan, ilmu silat dan kecerdasan keadaanmu sekarang sedang berada pada puncaknya, kenapa kau singgung soal pengunduran diri? Bila Congpiautau benar-benar akan mengundurkan diri, lantas siapakah yang akan memikul tanggungjawab atas usaha yang besar itu?"

Semakin cerah wajah Liong-heng-pat-ciang katanya lagi sambil tersenyum.

"Meskipun demikian tapi siapakah yang mampu menahan menanjaknya usia? sekalipun dia adalah seorang Enghiong, rasanya juga tak mampu menahan bertambahnya usia Ai. aku hanya berharap agar mereka..."

Belum habis kata2nya, tiba2 dan arah belalang berkumandang suara derap kaki kuda yang gencar, seekor kuda tampak membedal tiba.

"Siapa itu?"

Tegur Tham Beng cepat. Serentak kedelapan ekor kuda itu dihentikan penunggang kuda yang muncul dan belakang itu cepat melompat turun dari kudanya dan menghadap Tham Beng.

"Cian Sin Jiu sudah tiba di Tionggoan,"

Demikian orang itu memberi laporan.

"barusan ia telah muncul di bukit Hok-gu-san, tapi agaknya dia datang sendirian, entah apa yang dibicarakan dengan Hui-tay sianseng, karena itu hamba tak berani berdiam terlalu lama di sana dan buru-buru datang kemari untuk memberi laporan kepada Congpiautau."

Liong-heng-pat-ciang Tham Beng mengernyitkan alisnya yang tebal, sesudah termenung sejenak akhirnya ia tertawa dingin kalanya "Bagus...

bagus sekali!

Ternyata ia benar-benar sudah datang.

Hm kalau ia berani datang ke daerah Tionggoan berarti dia sudah atur persiapan yang matang, tak nanti dia datang seorang diri, bila Kang hiante ingin turun tangan, rasanya teramat sulit."

Air muka Pat-kwa-ciang Liu Hui agak berubah, sambil tertawa iapun berkata.

"Ia berani meninggalkan daerah kekuasaannya dan datang ke Tionggoan, mungkin ia sudah bosan hidup, itulah keuntungan Congpiautau, siaute harus mengucapkan selamat kepada Congpiautau, sedangkan soal Kang-lote, kukira kungfunya cukup hebat, dia juga cerdik dan pandai melihat gelagat, mungkin tugasnya tak akan mengalami kesulitan!"

"Bila tahu diri sendiri dan tahu keadaan musuh, setiap pertarungan tentu akan menang, kalian terlalu memandang rendah kemampuan Sin-jiu Cian Hui, padahal orang ini terhitung seorang jagoan yang sangat tangguh."

"Sekalipun Cian Hui termasuk orang yang tangguh masa dia mampu menandingi ketangguhan Congpiautau?"

Pat-kwa-ciang Liu Hui mengumpak "sudah puluhan tahun Congpiautau memimpin dunia persilatan, masakah seorang Cian Hui saja tak sanggup membereskannya"

"Meskipun begitu, kan tak ada salahnya kain kita berhati-hati. ."

Kata Liong-heng-pat ciang sambil tersenyum. Tiba2 hawa napsu membunuh terpancar dari matanya setelah berhenti sebentar ia menengadah bergelak tertawa.

"Cian Hui wahai Cian Hui,"

Serunya.

"meski tindakanmu itu jauh di luar dugaan, tapi aku sudah menyebarkan mata2ku di sana, setiap gerikmu tak nanti lolos dan pengamatan mata dan telingaku Hehehe, setelah kau datang ke Tionggoan, jika tak kuberi pelayanan yang baik padamu, percumalah aku menjadi tuan rumah di daerah Tionggoan sini."

Gelak tertawanya yang nyaring itu penuh mengandung nada bangga dan gembira "Hahaha! betul,"

Sambung Pat kwa-ciang Liu Hui sambil tergelak pula.

"barang siapa berani memusuhi Congpiautau berarti orang tersebut sudah bosan hidup."

Belum gelak tertawanya berhenti, tiba2 dari arah belakang sana muncul lagi seekor kuda yang dilarikan kencang2, penunggang kuda itu berambut awut-awutan tak keruan, mukanya tegang, sekalipun di tengah malam yang dingin, namun badannya basah kuyup oleh peluh.

Melihat kemunculan orang itu Liong-heng-pat-ciang Tham Beng serentak berhenti tertawa, dengan dahi berkerut tegurnya "Yu Jit, kenapa kebingungan.

Usap dulu keringat di atas kepalamu sebelum bicara denganku "

Yu Jit, si penunggang kuda itu benar2 menyeka dulu keringat di atas kepalanya lalu ia membungkuk badan dan memberi hormat.

"Lapor Congpiautau,"

Serunya dengan gugup.

"di bukit Hok gu-san sana telah terjadi peristiwa luar biasa."

"Peristiwa apa yang terjadi?"

Tanya Liong-heng-pat ciang Tham Beng.

"Setiba di sana, Cian Sin-jiu telah mengucapkan beberapa patah kata yang menjelekkan diri Congpiautau, lalu semua orang yang hadir di bukit itu bersorak-sorai menyanjung Hui-taysianseng. Saudara-saudara yang Congpiautau tinggal di situ merasa penasaran dan tidak ikut bersorak, perbuatan ini telah diketahui oleh orang-orang yang dipersiapkan Cian Hui di sana, mereka ditangkapi ketika Kang-piautau melihat gelagat tidak menguntungkan dan coba kabur, tapi iapun dibekuk oleh anak buah Cian Hui"

"Masa di antara anak buah Cian Hui ada yang mampu membekuk Kang Tay-sik. Aneh benar!"

Seru Liong-heng-pat ciang dengan kening berkerut.

Lo Gi dan Pian Sau-yan saling pandang sekejap, wajah mereka menunjukkan pula rasa kaget.

Perlu diterangkan Tok jiu ciang-wi (Ciang Wi bertangan keji) Kang Tay sik adalah seorang tokoh kelas satu dalam Hui-liong piaukiok, sebab itulah Tham Beng menyerahkan tugas tersebut kepadanya.

Yu Jit berhenti sebentar untuk mengatur napasnya yang tersengal, kemudian sambungnya "Ketika menyaksikan gelagat tidak baik, hamba segera ikut bersorak sorai, sesudah mereka pergi semua hamba pun segera ambil langkah seribu, saat ini..."

"Kecuali Kang Tay-sik, masih ada berapa orang lagi yang kepergok?"

Tukas Liong heng-patciang Tham Beng.

Yu Jit termenung sejenak, lalu sahutnya "Semuanya berjumlah lima belas orang.

Belum habis ucapannya tiba-tiba Liong heng-pat ciang Tlidm Bcng bergelak lagi.

Melihat tingkah lakunya ini, semua orang hanya saling pandang saja.

Sesudah tertawa, Tham Beng berseru lagi.

"Cian Hui wahai Cian Hui kau memang betul-betul seorang tokoh kosen dan tak malu menjadi musuh besarku. Tapi tindakanmu memusuhi diriku adalah suatu tindakan yang keliru besar, kau akan menyesal untuk selamanya karena peristiwa ini. Kembali ia tertawa seram, lalu terusnya "Liu hiante tahukah kau berapa banyak mata-mata yang telah kusiapkan di sana, sekalipun ia berhasil menangkap lima belas orangku lagi semua gerak-geriknya tetap tak lolos dari pengawasanku."

Pat-kwa-ciang Liu Hui tertawa "Congpiautau adalah orang paling kosen di antara manusiamanusia kosen lainnya, siapa yang akan mampu menandingi dirimu?

Dan lagi orang she Cian itu terhitung manusia apa?"

Liong-heng-pat ciang Tlum Bcng tertawa terbahak-bahak "Hahaha!

Kang Tay sik memang cerdik, tapi iapun berbuat tolol, padahal ia tak perlu melarikan diri, asal berpura-pura saja, siapa yang akan mencurigai dia?

Cuma...

hahaha, meskipun tertangkap, hal ini tidak akan mempengaruhi rencana besarku, dengan perasaan utang budi yang tertanam di hati Hui Giok tak nanti dia memusuhi ku!"

"Ya, benar, Hui Giok menghormati Congpiautau ibaratnya kepada orang tua sendiri, tak nanti akan berbuat kurang ajar terhadap Congpiau-tau."

Kata Lui Hui.

"Yang paling menggelikan adalah usaha Cian Hui yang bersusah payah menjadikan Hui Giok seorang yang ternama dan berkedudukan tapi ia tak sangka akan hubunganku dengan Hui Giok ini, perbuatannya ini sekarang berbalik jadi senjata makan tuan."

Setelah tertawa bangga, Tham Beng menyambung pula.

"Suatu ketika tentu akan kubiinm Hui Giok berbalik memusuhi dia, kalau sudah demikian itu berarti Perserikatan orang-orang Kanglam yang didirikannya dengan susah payah itu akan menambah kekuatan bagi pihakku malah, hahaha..."

Ia berpaling ke arah Liu Bui dan meneruskan "Liu-hiante, sekarang tentunya kau mengerti kenapa selama ini aku tidak berbuat apa-apa terhadap Perserikatan orang orang Kanglam itu?

Nah di sinilah alasannya Hahaha, orang persilatan manakah yang akan menduga rencanaku itu"

Pat-kwa-ciang Liu Hui buru-buru memperlihatkan rasa kagumnya, sambil menghela napas ia berkata "Ya, siapa yang mampu menebak perhitungan Congpiautau.

Belakangan ini kungfu Hui Giok mendapat kemajuan yang pesat siapa tahu kalau di kemudian hari dia akan menjadi seorangpembantu yang dapat diandalkan bagi Congpiautau?"

"Benar,"

Liong-heng-pat-ciang Tham Beng mengangguk "asal kugunakan sedikit akal tidak perlu kuatir ia akan membangkang perintahku."

Di tengah gelak tertawanya yang nyaring kembali wajahnya menampilkan perasaan bangga. Pat-kwa-ciang Liu Hui menghela napas dan berkata.

"walaupun begitu, sampai sekarang juga aku masih belum percaya, masa dalam waktu satu-dua tahun yang singkat ini ia berhasil memperoleh kepandaian silat yang maha lihai, bahkan baik dalam hal bicara maupun tindaktanduknya seakan-akan telah berubah menjadi seorang yang lain."

Liong-heng pek-ciang mengangguk "Ya, sesunguhnya bocah ini memang seorang yang amat cerdik."

Katanya.

"sejak dulu aku sudah mengetahuinya, karena itulah...."

Tiba-tiba ia berhenti bicara, setelah celingukan maju ke dekat Pat-kwa-ciang Lui Hui dan melanjutkan kata-katanya dengan setengah berbisik "Sejak kecil sudah kusiksa dia, kulukai harga diri menghancurkan rasa kepercayaan pada diri sendiri agar dia menjadi seorang yang lemah dan tak berguna.

Siapa tahu dia memang seorang yang luar biasa, walaupun kecerdasan serta kemampuan telah kutekan dan kukuasai tapi sedikit terlena saja, semuanya itu lantas meluap lagi, sebab itulah dalam waktu singkat ia berhasil mencapai kesuksesan yang luar biasa."

Setelah menghela napas sambungnya lagi.

"Seperti halnya membendung air. sekali bendungan jebol, maka air bau akan menerjang masuk dengan lebih besar Ya, salahku sendiri yang tak pernah berpikir sampai ke sana."

Dari perkataannya jelaslah bahwa ia merasa menyesal karena dulu bertindak kurang tegas. Buru-buru Pat kwa ciang Liu Hui menghiburnya.

"Walaupun begitu toh sekarang Congpiautau cukup mampu untuk menguasainya lagi sekalipun harus membuang tenaga lebih banyak tapi orang itu kan tetap merupakan benda dalam saku Cong-piautau?"

"Hahaha...."

Liong heng pat ciang bergelak sambil menepuk bahu anak-buahnya itu "Liu hiante kau memang seorang pembantu yang paling kuandalkan!"

Kungfu Pat kwa ciang Liu Hui sebenarnya tidak tinggi, tapi kecerdasan otaknya boleh diandalkan di antara jago-jago lainnya dalam Hui liong piaukiok dia merupakan orang yang paling dipercaya oleh Liong-heng-pat ciang.

Sebab itulah terkadang orang merasa heran Liong-heng pat ciang yang cermat kenapa bisa salah pilih, masa seorang yang tak becus dijadikan orang kepercayaan?

Orang lain tidak tahu bahwa walaupun Pat kwa ciang Liu Hui tak becus, tapi kepandaiannya menjilat pantat adalah nomor satu.

Biasanya, baik dia orang pintar atau orang bodoh, menghadapi sanjung puji seringkali orang akan melahapnya tanpa menolak.

Liong heng-pat ciang Tham Beng berhenti tertawa, seraya memutar kudanya ia berkata lagi dengan suara berat.

"Cian Hui berbuat demikian disebabkan ada maksud tertentu. Yu Jit, sekarang juga berangkat ke Lam-yang dan cari rumah penginapan O-hun-kek can setelah bertemu dengan Si Beng Siang Hui kui dan Kongsun Tay-liok bertiga, perintahkan kepada mereka agar segera berangkat ke Hok-gu san, katakan bahwa aku ada urusan penting perlu bantuan mereka."

Yu Jit mengiakan berulang kali, cepat ia melompat ke atas kudanya dan dilarikan secepat terbang. Seperginya orang itu, Liong heng pat ciang Tham Beng berkata pula.

"Kita berangkat ke sana, ingin kutahu Cian Hiu masih mampu main gila apa lagi."

Selesai berkata, ia lantas menarik kudanya dan larikannya ke depan.

Melihat itu dengan dahi berkerut Lo Gi berisik Cian Sin-jiu tentu datang dengan persiapan yang cukup matang, entah jago2 lihay macam apa lagi yang ia bawa."

Pian Siau yan termenung sejenak, sambil memandang bayangan punggung Liong heng pat ciang ia menyahut "Asal Congpiautau turun tangan sendiri, dalam dunia persilatan dewasa ini tak ada seorang pun yang sanggup bertahan lima puluh gebrakannya."

"Kuatirnya..."

Lo Gi berkerut kening Pian Siau-yan tersenyum, tukasnya "Perkataanku pasti tidak meleset suatu hari pernah ku saksikan dengan mata kepalaku sendiri cara bagaimana Congpiautau berlatih ilmu silatnya.

Sedemikian hebat kungfunya, biarpun kita berdua bergabung juga belum tentu mampu menahan tiga puluh jurus serangannya."

Airmuka Lo Gi berubah, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi ia cemplak kudanya dan berlalu walaupun ia kurang percaya terhadap cerita Pian sau yan akan tetapi mau tak-mau juga harus mempercayainya.

Liong-heng pat ciang Tham Beng duduk di kudanya sekukuh batu karang siapapun tak menyangka orang tua ini sudah sehari semalam duduk di atas kudanya tanpa beristirahat.

Wajahnya masih tetap tenang, tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Di tengah kegelapan hanya suara derap kuda yang terdengar memecah kesunyian, tiba-tiba dan depan debu beterbangan ke udara.

Melihat itu, Liong heng-pat-ciang tertawa dingin, dengusnya.

"Hm, ini dia, Sin Jiu Cian Hui ada main lagi!"

Nadanya penuh rasa percaya pada diri sendiri dan juga angkuh.

"Ah, permainan apapun yang akan dia lakukan juga tak akan mampu dikembangkan dihadapan Congpiautau!"

Umpak pat-kwat-ciang Lui Hui sambil tersenyum.

Liong heng pat-ciang Tham Beng tertawa "Sejak dulu kan sudah kukatakan kepadamu bahwa di dunia ini sama sekali tak ada urusan yang tak bisa diselesaikan?

aku jadi teringat pada belasan tahun yang lalu pernah berjumpa seorang kusir kereta kuda yang bernama Ko put ki,"

Sementara pembicaraan berlangsung dan depan muncul seekor kuda yang makin mendekat dengan cepatnya. Ketika si penunggang kuda itu mendengar ucapan terakhir Liong heng-pat-ciang yang terakhir.

"Tahu apa?"

Bentak Liong-heng-pat-ciang sambil menarik muka. Karena jawaban ini, si penunggang kuda tampak tertegun, bukan saja kelihatan gugup, sekujur badannya juga basah kuyup oleh keringat.

"Ko put-ki "

Ucapnya dengan tergagap.

"Ko-put-ki. Ko-put ki apa?"

Bentak Liong heng-pat ciang Tham Beng lagi dengan dahi berkerut "Ong Liat kenapa kian lama kelakuanmu kian mirip orang sinting, mana berbicara pun tidak jelas!"

Ong Liat yang gugup dan mandi keringat ia semakin ketakutan ia tak berani menengadah cepat-cepat dicteritakannya semua kejadian yang berlangsung di Hok-gu-sau itu kepada majikannya.

Berbicara sampai pada perbuatan Tok-jiu-ciang-wi yang pura-pura mati dengan tujuan membunuh Hui Giok.

Liong heng-pat-ciang tampak tersenyum.

"Sejak dulu sudah kutahu bahwa Kang hiante bukan seorang yang tolol ternyata dia memang mempunyai tujuan tertentu dengan perbuatannya itu. Ya dia memang seorang tangguh yang sukar dicari tandingannya."

Walaupun senyuman juga menghiasi wajah Pat-kwa-ciang Lui Hui, tapi diam-diam ia merasa iri.

Tapi Ong Liat lantas bercerita tentang Hui Giok mendadak melompat bangun dan Kang Tay-lik menelan kapsul racunnya untuk bunuh diri, air muka Liong-heng-pat ciang berubah hebat, ia menghela napas berulang kali, sedang Pat-kwa-ciang Liu Hui juga menunjukkan wajah menyesal meski dalam hati ia bersorak kegirangan karena Kang Tay-sik gagal berjasa.

Tapi ketika Ong Liat melaporkan ada orang yang berniat akan membeberkan asal usul Tok ciang Kang Tay-sik, dengan murka Liong-heng-pat-ciang lantas berteriak.

"Ke mana kaburnya orang itu? Apakah dia dibunuh Cian Hui?"

"Tidak, tak dibunuh Cian Hui,"

Ong Liat menggeleng kepala "tapi dia takkan lolos dari cengkeraman kita, sebab ketika hamba bersama Tio Kian dan Thio Seng berhasil kabur dari sana mereka berdua kuperintahkan untuk menguntitnya sendiri datang kemari untuk memberi laporan."

Mendengar itu Liong-heng pat-ciang Tham Beng tertawa dingin.

"Hehehe, Cian Hui tahu tak nanti kuampuni penghianat itu, maka ia pura-pura bermurah hati!"

"Liu-hiante, jika Cian Hui tidak segera dilenyapkan dari muka bumi ini selamanya kita tak bisa hidup tenang."

Meskipun air mukanya berubah hebat, tapi sikapnya tak kelihatan gugup.

Tapi ketika Ong Liat melaporkan perbuatan Ko-put ki yang telah membongkar rahasianya tokoh yang gagah perkasa ini baru kelihatan gugup, tangannya yang mengelus jenggotpun gemetar.

Setelah termenung sejenak, kemudian ia berkata dengan suara tertahan.

"Masa semua orang percaya obrolan seorang kusir yang tak terkenal?"

Ong Liat tak berani menjawab, dia hanya mengangguk saja.

Dalam pada itu air muka Lo Gi, Pian Sau-yan serta Pat-kwa-ciang Liu Hui sama berubah juga, betapapun rahasia yang menyelimuti peristiwa yang pernah menggetarkan dunia Kangouw itu tak pernah diketahui oleh siapapun, bahkan Pat-kwa-ciang Liu Hui sendiri baru pertama kali ini mendengarnya.

Sambil mengelus jenggotnya Liong heng pat-ciaag duduk tepekur di atas kudanya, kecuali rambut dan jenggot yang berkibar terhembus angin sekujur badan sama seakan tak bergerak, seolah-olah seorang pertapa yang sedang bersemedi.

"Congpiautau "

Bisik Pat kwa-ciang Liu Hiu dengan agak tergagap.

Liong heng pat ciang mengulapkan tangannya memotong ucapan orang, ia jalankan kudanya perlahan ke depan, tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba ia putar kudanya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun melarikan kudanya menuju ke arah yang lain.

Lo Gi, Pian Sau-yan dan Pat kwa-ciang Liu Hui segera menyingkir memberi jalan, sesudah Congpiautau lewat, mereka bertiga saling pandang sekejap, akhirnya mereka menyusul ke sana.

Liong-heng-pat-ciang melarikan kudanya ke sana dengan cepat, rambutnya yang telah beruban berkibar tertiup angin, begitulah hampir selama setengah jam ia membedal kudanya dengan cepat, walaupun Pat kwa ciang bertiga tak dapat melihat perubahan air mukanya, tapi mereka dapat menebak betapa kalut perasaannya waktu itu.

Maka mereka pun tak berani bersuara, sedang mereka melarikan kuda masing-masing, mendadak Tham Beng menahan kudanya sehingga kuda mengangkat kaki depan ke atas, sementara kuda-kuda yang mengikut di belakangnya juga buru2 terhenti.

Ringkikan kuda berkumandang, serentak rombongan menghentikan perjalanannya.

Tiba-tiba Liong-heng-pat ciang berpaling dan bertanya dingin suara tertahan.

"Liu hiante berapa banyak orang yang dapat dipakai di kantor pusat ibukota?"

Pat-kwa-dang Liu Hin berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Kurang lebih empat puluh orang."

Pelahan Liong heng-pat ciang mengangguk "Dalam tiga hari, bisa kau kumpulkan berapa banyak jago2 tangguh dari seluruh kantor cabang kita?"

Berdebar jantung Pat kwa-ciang Liu Hui, ia tahu majikannya telah siap untuk beradu kekuatan dengan Sin jiu Cian Hui.

Lo Gi dan Piao Siau-yan yang mendengar pertanyaan itu ikut merasa tegang juga.

Setelah termenung sebentar, kembali Liu Hui menjawab.

"Bila kita kirim perintah dengan pos merpati dalam tiga hari kita bisa mengumpulkan dua puluh sembilan orang Piausu dan kurang lebih seratus orang anak buah, selebihnya..."

"Cukup"

Tukas Lioug-heng-pat ciang "Sau yan, sekarang juga berangkat ke Sik-ki-tin, kirim surat perintah ke seluruh kantor cabang dengan burung merpati, dan perintahkan kepada mereka yang mampu bertarung agar segera berangkat ke Kang-lam, yang sedang mengawal barang tetap mengawal barang, yang tak ada pekerjaan, isi kereta masing-masing dengan batu dan pura2 sedang mengawal barang, perintahkan kepada mereka untuk berkumpul di sepanjang penyeberangan di Buhan"

"Terima perintah."

Sahut Pian Sau-yan dengan semangat berkobar. Sambil berkerut kening Liong-heng-pat-ciang Tham Beng berkata pula dengan suara dalam.

"Baik ada barang kawalan atau tidak, isi kereta masing-masing dengan batu!"

Pian Sau-yan memberi hormat di atas kudanya kemudian mencambuk kuda tunggangannya dan berlalu dengan cepat.

Setajam sembilu Liong heng-pat-ciang Tham Beng menyapu pandang anak buahnya, kembali ia berkata.

"To hiante, sekarang juga berangkat ke Lam-yang dan mengadang Si Beng, Siang Hu, Kongsun Tay liok di sana, ajak mereka segera berangkat ke dermaga penyeberangan dan langsung menuju selatan, setibanya di Kanglam kumpulkan kembali ke-20 saudara kita yang bertugas di Ci-bun dan langsung berangkat ke Long bong-san-ceng, kecuali perempuan tua dan kanak-kanak, semua laki-laki yang tampak sehat ringkus seluruhnya, lebih baik diringkus dalam keadaan hidup-hidup, bila terpaksa boleh dibunuh, sesudah itu bakar Long-bong-san-ceng hingga rata dengan tanah."

Walaupun merasa terkejut Lo Gi menyahut juga dengan nyaring.

"Terima perintah!"

Dengan mata membara terpengaruh hawa napsu membunuh, Liong-heng-pat-ciang melanjutkan kata katanya.

"Bila tugas ini tak berhasil kau laksanakan, tak usah datang menjumpai diriku lagi, bila tugas itu dapat kau selesaikan, kalian boleh beristirahat sehari di Hu-liang, tunggu perintahku selanjutnya dengan berita burung merpati."

Lo Gi tak berani banyak bicara lagi, ia segera mencemplak kudanya dan berangkat. Tanpa berhenti, Liong-heng-pat-ciang Tham Beng menurunkan perintahnya lebih jauh.

"Ong Liat, sekarang juga balik ke Hok gu-san, gerak-gerik apapun yang dilakukan Sin-jiu Cian Hui, harus usahakan untuk melapor kepadaku, bila terlolos sebuah berita saja, kaupun tak usah bertemu denganku lagi"

"Terima perintah"

Sahut Ong Liat sambil melompat ka atas kudanya, diam-diam ia menyeka peluh dingin yang membasahi jidatnya.

"Bila bertemu dengan Thio Khi dan Thio Seng, jika mereka telah berhasil menangkap pengkhianat tersebut, perintahkan kepada mereka agar pengkhianat itu langsung dibawa ke ibukota!"

Ong Liat mengiakan lagi, tapi sebelum ia berlalu dari situ, dengan dahi berkerut kembali Tham Beng berkata.

"Jika mereka berdua tak berhasil menangkap pengkhianat tersebut, bunuh saja kedua orang itu, Hui-liong-piaukiok kita tidak membutuhkan manusia tak becus seperti mereka."

Ong Liat terkesiap, ia makin tak berani banyak bicara, cepat kudanya diputar dan berlalu. Sampai di situ, Liong~heng~pat-ciang baru dapat mengembus napas. ujarnya kemudian dengan lembut.

"Liu-hiante, ikutlah aku pulang ke ibukota, akhir-akhir ini tentunya kau amat lelah bukan?"

"Bila Congpiautau ada perintah lain, katakan saja kepadaku,"

Buru-buru Pat-kwa-ciang Liu Hui berseru.

"aku ..."

"Di sepanjang jalan, hanya ada satu tugas yang harus kita laksanakan. ."

Tukas Tham Beng sambil tersenyum. Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"yakni kita harus menyiarkan ke seluruh dunia bahwa Bun-ki telah bertunangan dengan Tonghong Ceng, salah satu dari Tiat-kiam-cengkang-ouw Tonghong bersaudara dari Kang-soh!"

"Ber... bertunangan?"

Desis Pat-kwa ciang Liu Hui dengan bingung.

"Ya, bertunangan!"

Sambil tertawa Tham Beng menambahkan.

"Setengah tahun yang lalu, Tonghong Tiat telah memberi bisikan kepadamu bahwa ia ingin melamar Bun ki untuk Samtenya, ketika itu aku masih agak sangsi, pertama kuatir Bun-ki menolak, kedua akupun tak ingin mengecewakan Hui Giok, maka waktu itu aku cuma main ulur waktu dan tidak menyanggupinya. Pat kwa-ciang Liu Hui tertegun, ujarnya kemudian sesudah termenung sejenak "Lantas sekarang mungkinkah. ."

Tiba-tiba Liong heng-pat-ciang tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha Liu Hiante, bagaimanapun kau memang kurang cekatan, bila berita itu tersiar maka dunia persilatan pasti akan gempar, Tonghong-hengte yang mendengar kabar inipun pasti akan kaget bercampur curiga, sekalipun mereka tak akan datang untuk melamar, sedikit banyak pasti akan mencari diriku untuk menanyakan duduknya persoalan, Nah, waktu itu asal ku ungkap kembali kejadian lama, niscaya pertunangan itu akan beres dengan sendirinya."

Pat-kwa ciang Liu Hui berpikir sebentar, akhirnya iapun dapat memahami maksud sang majikan.

"Congpiautau!"

Demikian ia memuji.

"kau memang hebat, ketepatanmu menyusun siasat rasanya tidak di bawah Khong Beng, dengan begitu..."

"Hahaha... dengan begitu, bukan saja keluarga Tonghong akan menjadi pembantuku, perguruan Tonghong ngo-hengte pun akan menjadi tulang punggungku, setelah kekuatanku di tunjang oleh kekuatan sebesar ini, apa lagi yang mesti kutakuti, sekalipun penuturan kusir kereta itu akan mempengaruhi orang-orang dungu, mungkinkah cerita tersebut dipercayai juga oleh orang keluarga Tonghong Bu-tong-pay, Kun-lun pay dan beberapa perguruan kenamaan itu? Hah-ha, waktu belasan tahun kan tidak pendek, kukira sudah cukup untuk mengurangi rasa dendam serta kenangan orang banyak atas peristiwa lama tersebut Hahaha"

Cian Hui wahai Cian Hui. bagaimanapun juga kau telah salah mencari musuh tandinganmu"

Pat kwa-ciang Liu Hui ikut tertawa ter-bahak2, sejenak kemudian tiba2 tanyanya.

"Cuma, bila ini benar2 terjadi, bukankah kita akan tidak leluasa untuk berbuat apa2 terhadap Hui Giok."

Semakin keras gelak tertawa Liong-heng-pat-ciang Tham Beng.

"Hahaha, setelah kupunya pendukung setangguh itu, sekalipun ada sepuluh bocah ingusan macam Hui Giok yang memusuhi diriku juga tak mampu berbuat apa2 terhadap diriku."

Gelak tertawanya semakin bangga, suaranya pun semakin keras, hanya sayang tokoh persilatan yang selalu dianggap sebagai seorang budiman ini kembali menilai terlalu rendah kemampuan Hui Giok sehingga terciptalah suatu kekeliruan lagi.

Dan kekeliruan tersebut seperti apa yang dikatakannya sendiri akan mendatangkan penyesalan baginya di kemudian hari.

-o0o-Dataran rendah Bu-hau yang luas kembali dilapisi oleh bunga salju akibat hujan yang lebat.

Bekas roda kereta di atas permukaan salju, bekas kaki kuda yang tampak nyata tumpang menumpang.

Di tengah hujan salju yang keras, bayangan orang dan suara cambuk dapat ditemui di mana2, gelak tertawa dan nyanyian keras pun terdengar di mana2, bahkan terlihat juga sinar pedang sering menambah seram dan dinginnya cuaca.

Semua itu membuat ketiga kota Bu-han yang sudah ramai tambah semarak lagi, membuat dunia persilatan yang sudah kalut semakin kisruh lagi.

Ketenangan dunia persilatan selama belasan tahun telah berlalu, orang persilatan sama kasak-kusuk, tahun lama sudah berakhir, tahun baru hampir tiba, barang siapa ingin pamer kepandaian dan jual nama kini saatnya sudah tiba, tunjukkanlah kegagahanmu...

tunjukkanlah kepandaianmu dan berusahalah merebut kedudukan yang tinggi dalam dunia persilatan.

Kereta pengiriman barang telah berkumpul sepanjang pantai sungai Tiang-kang, setiap saat mereka akan menyeberang ke wilayah Kanglam.

Bendera perusahaan yang berwarna menyolok berkibar dengan menterengnya terembus angin utara yang dingin.

Delapan ekor naga terbang yang tersulam di bendera seakan-akan terbang menembus awan melayang pergi.

Di jalan-jalan besar sepanjang sungai, sering bermunculan Busu bersenjata dari perusahaan Hui liong-piaukiok, mereka membuat kelompuk sendiri dan mondar mandir kesana kemari.

Pada wajah mereka yang serius itu seringkah menunjukkan ketegangan yang mencekam, sinar mata yang mencorong ibaratnya anjing pemburu yang sedang mencari mangsanya, tangan mereka yang kekar selalu meraba senjata masing-masing, seakan-akan setiap saat mereka siap menghunus senjata untuk melangsungkan pertarungan mati-matian.

Sepatu kulit mereka yang kuat berderap di permukaan salju yang keras, sarung senjata mereka yang mengkilap bergesek dengan pelana yang berwarna hitam gelap.

Dalam dunia persilatan, Liong-heng-pat-ciang yang mempunyai kedudukan ibarat seorang Bengcu dalam perusahaan ekspedisi Hui-liong-piaukiok ini adalah pimpinan tertinggi kedudukan selama sepuluh tahunan ini selalu mantap dan kuat bagaikan batu karang, kini telah mulai goyah.

Alasan yang terpenting adalah karena kejujuran, kemuliaan serta kebijaksanaan Liong-hengpat-ciang dalam pandangan orang sudah mulai goyah.

Suatu tuduhan sebagai pembunuh keji yang licik, kejam dan berhati busuk yang berlangsung pada sepuluh tahun yang lalu, kini mulai dibongkar dan tuduhan itu ternyata jatuh atas diri tokoh besar tersebut.

Jago-jago persilatan yang suka mencari keramaian berbondong-bondong datang ke Bu-han dari berbagai penjuru negeri, sorot mata semua orang sama tertuju pada kereta barang yang berhimpun di sepanjang sungai, sebaliknya para Busu Hui-liong-piaukiok yang gagah perkasa, selalu pula memperhatikan setiap gerak-gerik di pantai selatan sana.

Ada sementara orang yang diam-diam merasa kecewa dan menyesal, andaikata Koay-sim Hoa Giok belum mati, maka perasaan para jago yang berkumpul di kota Bu han tentu tak akan sekesal ini.

Dengan demikian tentu pula di jalan raya dan rumah makan serta gang2 tempat ber-foya-foya dalam kota Bu han tak akan terjadi begitu banyak percekcokan perkelahian serta pembunuhan.

-oOo -o--oOo-Fajar baru menyingsing, meski waktu seperti ini adalah waktu yang paling tenang setiap hari, Tapi kota Bu-han yang dingin karena hujan salju ternyata tidak tenang dan sepi seperti tempat lain pada waktu yang sama, di bawah atap rumah yang penuh dengan salju yang membeku berkumpul kelompok-kelompok jago persilatan yang sedang ber-bisik-bisik membicarakan sesuatu rumah makan dan warung minum yang baru buka pintu telah diserbu orang hingga tak ada tempat yang kosong.

Tiba-tiba dari kejauhan muncul empat ekor kuda yang dilarikan kencang-kencang, bunga salju beterbangan di belakang kuda dan menciprat ke empat penjuru penunggang kuda mengenakan mantel yang tebal dengan topi lebar, begitu masak ke kota, seorang lantas berteriak.

"sebelum tengah hari nanti, Hui-taysianseng akan tiba di sini!"

Berita itu dengan cepatnya tersiar saling menyambung hingga dalam sekejap saja seluruh kota Bu-ban telah merata dengan berita itu, sedemikian menggemparkan berita ini sehingga air sungai yang telah membeku se-akan2 beriak kembali.

Liong-heng-pat-ciang Tham Beng, Sin jiu Cian Hui dua tokoh utama yang sangat menarik perhatian orang itu belum muncul, tapi Hui-taysianseng ternyata sudah datang.

kabar ini benar2 menggemparkan.

Maka kelompok2 manusia lantas berkumpul di dermaga Tiang kang ada yang membawa payung ada yang memakai topi lebar, mereka berdiri di tepi sungai sambil memperhatikan perahu yang pelahan sedang merapat ke sini.

"Siapa? Siapa yang datang?"

Demikian mereka sama bertanya.

Siapa pun yang datang, asal dia datang dari wilayah Kanglam (selatan sungai), maka kemunculannya itu pasti akan menimbulkan kegemparan di antara jago2 persilatan yang berkumpul di situ.

Meskipun air sungai yang kuning berlumpur telah banyak mengalangi berita tapi tak mampu mengalangi pertarungan yang bakal berlangsung suatu pertarungan yang belum pernah terjadi selama berpuluh tahun terakhir ini.

Perahu itu pelahan mendekat dan makin merapat.

Tapi di dalam kota sana tiba-tiba terjadi kegemparan lagi.

Di bawah hujan salju yang bertaburan seorang pemuda tampan berbaju hijau sambil memegang tali kendali kudanya, menyelusuri jalan raya yang panjang dan lurus.

Di sisinya mengikuti dua ekor kuda hitam di atas kuda dua orang berbaju abu-abu dan bermuka dingin.

mereka bukan lain adalah Leng-kok siang bok yang tersohor dalam dunia persilatan itu.

Di belakang mereka adalah lapisan suara manusia, lapisan ringkik kuda, entah berapa banyak penunggang kuda yang mengikut di belakang itu.

Sejauh pandangan ke belakang terlihat kepala belaka, demikian banyaknya orang itu hingga sekilas pandang mirip gulungan ombak yang sedang mendorong pemuda yang berada di depan itu, walau sebenarnya pemuda itulah yang datang membawa gelombang ombak tersebut.

"Hui-taysianseng!", sorak sorai gegap gempita berkumandang dan empat penjuru. Suara yang keluar dan mulut orang-orang itu mestinya tidak keras, tapi seruan yang diucapkan hampir bersamaan waktunya oleh sekian banyak orang kedengarannya menjadi seperti gemuruh guntur. Hui Giok tetap kalem dan tenang, senyuman selalu terkulum di ujung bibirnya meskipun begitu, di antara sinar matanya seolah-olah tersembunyi rasa sedih dan kesal yang tak terhingga. Para Busu "Hui liong"

Yang tadi masih berjalan dengan langkah lebar dan sikap yang angkuh, kini keangkuhan mereka menjadi sirap.

Langkah sepatu kulit mereka yang semula berat, kini sudah enteng, tangan yang semula meraba gagang senjata, kinipun terjulur lemas.

Hui Gok memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian melompat turun dari kudanya, ia tak mau melanjutkan perjalanannya dengan menunggang kuda di antara kerumunan sekian banyak jago persilatan, karena ia tak ingin menonjolkan diri dihadapan orang banyak, dia lebih suka menjadi seorang yang sederhana.

Tapi nasib telah menciptakan dia menjadi seorang Enghiong, seorang pahlawan, keadaan yang telah menciptakannya menjadi seorang gagah dan lain daripada yang lain.

Pada saat yang bersamaan, di sudut kota sebelah lain, perahu tadi sudah merapat di dermaga.

Papan loncatan telah dipasang di antara perahu dengan daratan.

Kabin perahu yang semula tertutup pelahan terbuka dan muncul lima orang pemuda tampan berbaju perlente, mereka membawa pedang, ujung baju yang berkibar terembus angin membuat mereka tampak lebih gagah, lebih kereng dan menakjubkan.

"Tonghong-ngo kiam!"

Pekikan nyaring meledak dan mulut orang-orang yang berkerumun di tepi sungai.

Kerumunan manusia di dermaga dengan cepatnya mundur ke belakang memberi jalan lewat, sambil tersenyum Tonghong Tiat menjura ke sana ke mari memberi hormat kepada penyambutnya, lalu dengan membawa keempat saudaranya yang disegani itu turun dari perahu mereka, orang-orang disepanjang jalan serentak gempar.

Tonghong-ngo-kiam menyusuri sebuah jalan raya yang lurus dan panjang, walaupun terjadi kegemparan, namun jalan raya yang lebar itu tak seorangpun yang berlalu lalang, hanya di bawah emper rumah dan di rumah makan orang makin berjubel.

Tonghong-ngo-hengte saling pandang sekejap, alis mata mereka bekernyit, timbul rasa heran dan curiga mereka.

"Mengapa begini?"

Tapi akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya menyusuri jalan raya, pada ujung jalan lain, langkah Hui Giok masih tetap lambat dan tenang, matanya memandang ke bawah, ia tak mau melirik kawanan jago itu batang sekejap pun.

Suasana di bawah emper rumah dan dalam warung makan mendadak berubah jadi hening, ketika itu dunia persilatan telah digemparkan oleh suatu berita besar, semua orang tahu bahwa keluarga Tonghong dari Kanglam telah berbesanan dengan Liong-heng-pat-ciang Tham Beng.

Puteri kesayangan Liong-heng-pat-ciang yaitu "Liong-li" (puteri naga) Tham Bun-ki telah dijodohkan dengan Tonghong Ceng, saudara ketiga dari Tonghong-ngo kiam.

Pada saat yang sama, suatu berita lain yang meski lebih rahasia sifatnya, tapi tersiar pula dalam dunia persilatan secara luas.

Berita itu entah siapa yang menyiarkan, tapi setelah disiarkan oleh orang pertama, dengan cepatnya berita itu tersiar dan mulut ke mulut, meski hanya berupa bisikan-bisikan belaka, tapi kecepatan penyiaran berita itu ternyata lebih cepat daripada pengumuman resmi.

Kini, hampir setiap orang persilatan mengetahui hal ini!

Berita apakah itu?

Yakni bahwa Liong-li Tham Bun-ki itu puteri kesayangan Liong-heng-patciang Tham Beng, sebenarnya adalah kekasih Hui-tay-sianseng sejak kecil.

Bahkan ada pula yang secara diam-diam berkata begini, sebenarnya Hui-taysianseng dan Liong-li Tham Bun-ki diam-diam telah mengikat janji dalam perkawinan, tapi lantaran Liong-hengpat-ciang sendiri yang mengacau, karena dia ingin menggaet keluarga Tonghong agar berpihak kepadanya agar dapat dipakai untuk menghadapi Perserikatan orang orang Kanglam, maka ia lantas menjodohkan puteri kesayangannya kepada Tong-hong Ceng.

Walaupun sebagian besar orang tak tahu darimana datangnya sumber berita itu, namun ada kelompok manusia yang diam-diam menebak bahwa berita tersebut mungkin berasal dari pihak Sin-jiu Cian Hui.

Tapi peduli darimanakah sumber berita itu, yang pasti semua orang hampir mempercayai kebenaran berita tersebut.

Sekarang, Tonghong-ngo-kiam dan Hui-taysian seng akan berjumpa di tengah jalan, sudah tentu peristiwa tersebut merupakan suatu peristiwa yang lebih dahsyat dan menggemparkan daripada kejadian apapun.

Kawanan jago persilatan yang mengikut di belakang Hui Giok semuanya telah turun dan kuda masing-masing, beratus pasang sepatu berjalan di atas lapisan salju dan menimbulkan suara yang sama.

Serentetan suara langkah kaki lain berkumandang pula dari arah utara menuju ke selatan.

Walaupun senyuman masih menghiasi wajah Tonghong-ngo-kiam, rasa heran dan curiga menyelimuti perasaan mereka, Di tengah keheningan mereka pun mendengar langkah kaki lain yang makin lama makin mendekat.

Ketika mereka berpaling, tertampaklah kelompok manusia di tepi jalan sama menunjukkan sikap yang semakin tegang.

Hampir bersamaan waktunya kelima Tonghong bersaudara itu meraba gagang pedang masing2, sinar mata mereka yang tajam menatap tak berkedip ke arah depan sana.

Saat itulah di bawah emper rumah ada puluhan orang laki2 berbaju hitam sedang menyebarkan diri secara diam2, mereka mencari tempat2 yang sepi dan terlindung dari pandangan orang.

Tentu saja tak seorangpun yang menaruh perhatian kepada mereka dan juga tak ada yang tahu anak buah siapakah mereka?

Langkah Hui Giok belum berhenti.

Langkah Tonghong-ngo-kiam juga tidak berhenti.

"Apa yang akan terjadi setelah mereka kepergok? Bagaimana sikap mereka? pertanyaan dan pertanyaan timbul dalam hati setiap orang, tapi tak seorang pun yang menemukan jawabannya Akhirnya Hui Giok menengadah sinar matanya menyapu pandang sekejap, dilihatnya lima pemuda berpakaian perlente pelahan sedang menghampiri ke arahnya. Derap langkah mereka teratur, pakaian dan dandanan mereka mirip satu dengan yang lain. Berdebar jantung Hui Giok setelah mengenali orang2 itu sebagai lima saudara Tonghong, namun air mukanya tetap tenang, seolah-olah tak pernah terjadi apapun. Tonghong-ngo-kiam juga saling pandang sekejap, lalu Tonghong Kang berbisik.

"Dia inikah Hui Giok!"

Keempat saudaranya hanya mengangguk, sebenarnya antara mereka berlima dengan Hui Giok tidak ada permusuhan apapun, tapi dalam keadaan dan situasi semacam ini, tiba2 saja mereka merasa antara mereka dengan Hui Giok ada sesuatu yang mengganjal, meski air muka mereka tak berubah, namun hati mereka merasa serba susah juga, Leng-kok siang-bok saling pandang sekejap lalu berdehem, Dalam pada itu Tonghong-ngo hengte sudah mendekat dengan langkah lebar.

"Selamat berjumpa selamat berjumpa!"

Sapa Hui Giok dengan tersenyum.

"Selamat berjumpa, selamat berjumpa!"

Tong hong~ngo-hengte membalas hormat.

Di antara kelima bersaudara itu, kendatipun Tonghong Ceng merasa paling kikuk, namun senyuman tetap menghiasi bibirnya, hal ini membuat semua orang yang menonton di bawah emper rumah saling pandang dengan rasa kecewa.

Agaknya setelah saling tegur sapa dengan sopan, kedua rombongan itu lantas berpapasan dan lewat dengan begitu saja, tanpa ketegangan, tanpa rangsangan dan tanpa kejutan, se-olah2 kenalan biasa yang bertemu di tengah jalan saja.

Kembali Leng-kok-siang-bok saling pandang sekejap.

Tiba-tiba dari ujung jalan depan sana berkumandang suara teriakan yang nyaring.

"Wahai Hui-taysianseng, masa hatimu sedih kekasihmu dirampas orang lain? Masa kau tidak marah? Tidak penasaran"

Hui Giok, Leng-kok-siang-bok maupun Tonghong-ngo kiam serentak berhenti dan saling pandang dengan melenggong.

"Siapa?"

Hardik Tonghong Ceng mendadak dengan kening berkerut.

Jilid ke-17 Baru saja ia membentak, dari ujung jalan sana terdengar pula orang berteriak.

"Wahai Tonghong Ceng, meskipun Tham Bun ki akan kawin dengan kau, pada hakikatnya dia masih mencintai Hui Taysianseng, bahagiakah kawin tanpa dilandasi oleh cinta?"

Suasana di sekeliling tempat itu menjadi gaduh, air muka Tonghong-hengte berubah hebat, lebih-lebih Tonghong Ceng, mukanya tampak pucat seperti mayat.

Dalam pada itu, rombongan orang yang jauh ngintil di belakang Hui Giok tadi telah berkerumun ke muka, lalu mengurung mereka di tengah arena.

tentu saja sukar untuk mencari biangkeladi si berteriak dari sekian banyak orang ibaratnya mencari jarum di dasar lautan.

Tongbong Ceng menyengir "Hui-heng, baik-baikkkah kau selama ini?"

Tegurnya kemudian dengan nyaring "Konon ilmu silat Hui-heng telah mendapat kemajuan yang amat pesat untuk itu Siaute ikut bergembira."

Perkataan ini sengaja diucapkan dengan suara lantang, pertama untuk menunjukkan dia tidak mempunyai tujuan pribadi, kedua iapun ingin mengalihkan pembicaran ke soal lain, di sinilah terlihat kebijaksanaannya sebagai seorang ksatria muda.

Siapa tahu baru saja selesai katanya, kembali ada orang menyeletuk "Apa yang kau girangkan?

Memang kau anggap Hui-taysianseng tidak setangguh kalian berlima?

sungguh harus disesalkan perbuatan Tham Beng itu, demi persekongkolannya dengan keluargamu ia telah menjadikan puterinya sebagai hadiah, ia telah mengorbankan kebahagiaan hidup puterinya.

Tonghong Ceng, wahai Tonghong Ceng, katakanlah terus terang, bukankah memang demikian kejadiannya?"

Wajah Tooghng Ceng yang pucat kini menghijau, tangannya yang memegang gagang pedang tampak tegang hingga otot hijau pada menongol keluar, padahal kawanan manusia yang berada di sekelilingnya selapis demi selapis mengurung mereka di tengah, dalam keadaan demikian mau pergi pun tak bisa, tidak pergi rasanya tak enak, mau marah enggan, tidak marah hati terasa panas ia benar-benar serba salah dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Sinar mata Leng-kok-siang-bok berkilat, sebagai manusia yang berpengalaman mereka segera sadar bahwa teriakan orang tadi pasti merupakan serangkaian rencana keji yang sengaja diatur oleh Sin-jiu Cian Hui, yaitu agar Hui Giok dan Tonghong-ngo-kiam saling bentrok, bahkan terlibat dalam suatu pertarungan sengit sedang dia sendiri yang akan menarik keuntungannya.

Walaupun Tonghong-ngo-kiam sendiri juga bukan orang bodoh, tapi sayang mereka pun tak tahu cara bagaimana mengatasi situasi yang serba salah ini.

Untunglah diantara lima bersaudara itu, Tonghong Tiat terhitung paling tenang dan pandai menguasai keadaan, meski situasi tidak menyenangkan, pikirannya tak sampai kalut.

"Sobat!"

Bentaknya setelah merenung sebentar.

"Kalau ingin bicara, tampil ke depan dan bicaralah yang jelas, caramu itu..."

"Kalian lima bersaudara mempunyai nama yang baik, mempunyai juga guru yang baik"

Suara teriakan tadi kembali berkumandang.

"sekalipun aku merasa mendongkol dan kheki, tak berani kuganggu diri kalian."

"Betul"

Segera seorang menyambung pula, sampai-sampai Liong-heng-pat-ciang perlu menjilat pantat kalian, apalagi kami sungguh kasihan, Hui taysianseng yang berpribadi halus, berilmu silat tinggi dan berpendidikan baik, oleh karena tak mempunyai tulang punggung yang mendukungnya.

dia harus berpisah dengan kekasihnya secara paksa."

Suara tertawa dingin segera menggema pula dan sudut lain.

"Hehehe, selama ini tindakan Huileng-po selalu mencerminkan perbuatan seorang pendekar tak nyana kali ini sudi melakukan perbuatan seperti ini."

Mencorong sinar mata Tonghong-ngo kiam, lenyap pula senyuman yang menghiasi bibir Hui Giok.

Tiba2 Tonghong Kang dan Tonghong Ouw, kedua saudara kembar yang paling muda tapi juga paling berangasan melompat ke depan dan menghampiri Hui Giok sambil tertawa dingin Tonghong Ouw membentak.

"Manusia rendah yang tak tahu malu, engkau inikah yang mengatur segala sesuatunya ini?"

"Ngo-te!"

Tonghong Tiat cepat menbentak. Tapi terlambat, sebab air muka Hui Giok lelah berubah hebat.

"Saudara apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti demikian serunya dengan nada berat."

Tonghong Ouw tertawa dingin, mendadak ia lolos pedangnya.

"Hari ini aku Tonghong Ouw tidak akan mengandalkan nama perguruan tidak menonjolkan nama orang tua atau saudara, dengan seorang diri ingin kujajal kepandaian Hui-taysianseng, ingin kulihat sampai di manakah tarap kepandaianmu!"

Tonghong Tiat berkerut kening, bisiknya sambil menghela napas "Ngo-te, kau kau...."

Perkataan itu belum berlanjut ketika dari empat penjuru menggema suara teriakan yang gegap gempita "Hajar saja"

Ganyang saja! Hajar bajingan cilik itu sampai mampus, kita lihat apa yang bakal dilakukan gurunya, ayahnya serta saudara saudaranya?"

Tonghong Tiat berpaling, ia lihat Hui Giok berdiri kaku di tempat semula, tidak menjawab juga tidak memberi penjelasan, hal ini segera menimbulkan kecurigaan serta rasa mendongkolnya. Saudara Hui,"

Tegurnya kemudian sambil tertawa dingin.

"sebenarnya apa yang terjadi? Harap memberi penjelasan kepada kami"

Tiba-tiba Hui Giok tersenyum "Engkau minta penjelasanku, lantas aku minta penjelasan kepada siapa?"

Tonghong Ouw menggetarkan tangannya, cahaya pedang berkilau, sekali berkelebat hampir saja muka Hui Giok terluka. Berubah air muka Hui Giok.

"Aku tak ingin bertengkar dengan kalian, pertama aku tak ada permusuhan dengan kalian, kedua akupun tak ingin diadu domba oleh orang-orang yang tak dikenal. Sebab itu kuminta kaupun jangan bersikap kelewat batas, paling sedikit sebelum duduk perkara dibikin jelas."

Tonghong Tiat segera menarik mundur adiknya, seraya berkata.

"Adapun kedatangan kami tak lain hanya ingin membikin terang duduknya perkara, kami sama sekali tidak bermaksud berbesanan dengan keluarga Tham, tapi saudara..."

Mendadak Hui Giok tertawa dingin dan menukas.

"Apakah kalian mau berbesanan dengan keluarga Tham atau tidak, apa sangkut pautnya dengan diriku?"

"Benarkah tak ada sangkut-pautnya?"

Tonghong Ouw mengejek.

Kontan hati Hui Giok menjadi panas, betapa perkataan pemuda berangasan ini telah menyinggung perasaannya.

Leng Han-tiok yang berada di samping buru-buru menegur dengan mata mengkilap "Apakah kau suka orang jahat bergembira karena siasatnya berhasil?"

Hui Giok terkesiap, dada yang membusung seketika melengkung lagi.

Dan kerumunan orang banyak segera terdengar suara teriakan keras "Wahai Hui-taysianseng selemah itukah dirimu?

Senangkah kau dipendam kan orang tanpa membalas?

Atau kau memang jeri terhadap mereka?"

Tonghong Ouw mendengus "Hm, begitu banyak kawanan tikus yang memberi semangat kepadamu, apa lagi yang kau takuti"

Hui Giok menghela napas, ia berpaling sekejap ke arah Leng-kok-siang-bok, melangkah ke sana, tampaknya akan menuju ka tengah kerumunan orang. Toa-kongcu, Ji-kongcu!"

Tiba-tiba terdengar gertakan.

"orang inilah yang berkaok-kaok cepat. Tapi sebelum lanjut seruan, mendadak terdengar jeritan ngeri.

"Koan ji!"

Seru Tonghong Tiat dengan air muka berubah.

Tonghong Ouw memutar pedangnya sambil melayang lewat di atas kepala orang banyak.

Dia adalah pemuda asal keluarga persilatan lagi pula mendapat didikan guru yang pandai, kungfunya memang jarang ada di dunia ini.

Hui Giok membatalkan maksudnya melangkah ke sana, Tonghong Ceng bermaksud menyusul saudaranya, tapi Tonghong Tiat segera mencegahnya.

"Sudah ada Ngo-te seorang, rasanya sudah cukup."

"Jika orang itu berhasil ditangkap, ingin ku lihat dia itu manusia macam apa?"

Seru Tonghong Kang dengan marah.

Suasana kembali jadi gaduh, suara langkah terang bergemuruh dan empat penjuru.

Tiba-tiba di antara kerumunan orang terbuka satu jalan, dengan wajah dingin Tonghong Ouw muncul dengan langkah tegap, pedangnya tergantung di pinggang, tapi tangannya memondong sesosok mayat.

"Koan-ji? Benar Koan ji itu?"

Tonghong Kiam berseru kaget. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Tong-hong Ouw membaringkan jenazah itu di tanah, pada dada mayat itu tertancap sebilah belati.

"Ai, dia benar-benar Koan-ji,"

Keluh Tonghong Tiat sambil menghela napas.

"dia tentu menemukan si peneriak itu, tak tersangka dia akan mati terbunuh sekeji itu."

"Di mana pembunuhnya?"

Teriak Tonghong Kang sambil memburu maju.

"Dalam keadaan seperti ini, sekalipun ada seribu orang pembunuh juga dapat bersembunyi di antara kerumunan orang banyak,"

Sahut Tong hong Ceng ketus.

Selama ini Tonghong Ouw terus menerus mengawasi belati itu, tiba2 ia membentak, tangan diayun ke depan, serentak cahaya perak dengan desing angin tajam langsung mengancam dada Hui Giok.

Bekernyit alis Hui Giok, tapi ia tak bergerak dengan jari tangan dan jari telunjuknya tahu2 belati itu sudah terjepit di tangannya.

"Hei, apa-apaan kau ini?"

Bentaknya Dengan mata melotot gusar Tonghong Ouw berteriak.

"Lihat sendiri tulisan di atas pisau itu coba periksa! Bukankah anggota perserikatan Kanglam kalian yang melakukan perbuatan ini?"

Tonghong Kang juga membentak, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia melolos pedangnya, dengan menciptakan selapis cahaya tajam, ia tabas bahu Hui Giok, Dengan enteng Hui Giok berkelit ke samping, belati yang terjepit di tangan kanannya menyampuk perlahan.

"trang"

Tabasan lawan berhasil di tangkis "Bagus"

Seru Tonghong Kang.

"sambutlah seranganku ini"

"Sret!"

Dia membacok lagi dengan kuat "Jangan gegabah kau ingin ditertawakan orang?"

Seru Tonghong Tiat sambil memegang pergelangan tangan adiknya. Pedang yang sudah disarungkan kembali dilolos oleh Tonghong Ouw, ia menjengek.

"Hehe, apa nya yang akan ditertawakan?"

Cahaya pedang berkilau.

"sret! Sret! ia membacok ke kiri dan menabas ke kanan secara beruntun mengarah bahu kiri serta kanan leher Hui Giok. Dasar wataknya memang berangasan, tidak heran kalau serangannya juga ganas dan mengerikan. Jeritan kaget menggema, barisan orang yang beraa paling depan serentak menyurut mundur tapi rombongan yang di belakang dengan cepat mendesak maju. Hui Giok melompat dan berkelit ke samping. tapi baru saja kedua serangan terhindar, tahutahu Tonghong Ouw sudah putar pedang dan menusuk hulu hatinya. Dengan tenang Hui Giok bergeser ke belakang.

"Ayo balas! Masakan tidak berani membalas?"

Teriak Tonghong 0uw.

Sambil berseru kembali ia lancarkan tiga kali serangan berantai, menusuk jalan darah Huan-su Tiong-ha&t serta Oang-tay, tiga jalan darah penting Hui Giok tertawa dingin, ia mengegos kesamping lalu menerjang ke muka, sementara itu Tonghong Tiat berseru dengan gegetun.

"Masa bodoh, terserah kemauan kalian. Dia melepaskan tangan Tonghong Ouw, lalu menyingkir jauh ke belakang. Leng-kok siang-bok juga bertindak cepat, sambil mengebaskan ujung bajunya mereka mengadang di depan Hui Giok.

"Minggir!"

Bentak Tonghong Kang serta Tonghong Kiam sambil menyilangkan pedangnya Di tengah ketegangan itu tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari kerumunan orang banyak.

"Hehehe, budak dungu !"

Meskipun suara itu tidak keras, namun dapat didengar jelas oleh telinga Tonghong-ngo-hengte.

Sebagai keturunan keluarga persilatan tentu saja kelima orang itu tahu bahwa perkataan tadi diucapkan oleh seorang tokoh persilatan yang mempunyai tenaga dalam yang sempurna mereka jadi ragu.

Tonghong Kang dan Tonghong Ouw menarik kembali senjatanya dan mundur dua langkah, tiba dari arah kerumunan orang banyak melayang datang segulung bayangan hitam, gerak bayangan itu sangat cepat.

Suara kaget kembali menggema di sekeliling tempat itu, tanpa terasa Tonghong-hengte mundur lagi tiga langkah.

"Buk"

Bayangan itu jatuh ke tanah, ternyata seorang laki-laki berbaju hitam yang tertutuk jalan darahnya.

Rupanya laki-laki berbaju hitam itu dilemparkan orang dari kejauhan, namun tidak membikin terluka waktu terbanting di tanah, ketepatan tenaga lemparan yang demonstrasikan orang itu sungguh luar biasa.

"Tonghong-heogte lebih terperanjat lagi, Hui Giok dan Leng-kok-siang-hok juga melenggong, maklumlah tidak banyak orang yang memiliki tenaga dalam sesempurna itu di dunia ini.

"Siapa?"

Bentak Tonghong Kiam. Karena tiada jawaban, dengan dahi berkerut Tonghang Tiat berseru sambil menjura.

"Locianpwe dari mana yang berkunjung kemari? Silakan..."

Belum habis seruannya, ucapan yang halus nyaring dan kuat itu kembali berkumandang, kah ini diucapkan sekata demi sekata.

"Peduli siapapun, tanpa menyelidiki keadaan yang sesungguhnya adalah tindakan dungu, akan ku bekuk mereka yang berkaok-kaok itu agar kalian tahu sebenarnya mereka itu anak buah siapa?"

Perkataan ini jauh lebih nyaring dibandingkan dengan pertama kali tadi, suasana kembali menjadi riuh, mereka yang ikut berteriak di tempat persembunyian mulai berdebar setelah mendengar perkataan itu, tanpa sadar mereka mengambil langkah seribu dan lari terbirit-birit.

Tapi, baru saja mereka kabur, dari bawah emper rumah sana melayang keluar dua sosok bayangan, demikian cepatnya gerakan mereka sehingga beratus pasang mata yang hadir di situ tak seorangpun yang dapat melihat wajah mereka.

Di mana bayangan tersebut menyambar lewat, seorang segera menjerit kaget, menyusul sesosok bayangan lantas terlempar ke udara dan terjatuh di tengah lapang di antara kerumunan orang banyak.

Belum habis rasa kaget Hui Giok, Leng-kok-siang-bok serta Tonghong-ngo-kiam yang berada di antara kerumunan orang itu puluhan bayangan hitam sudah beterbangan dari berbagai penjuru.

"Blangl Bluk"

Meski bayangan-bayangan hitam itu datang dari arah yang berbeda, namun mencapai tanah pada saat yang hampir sama.

Tonghong Kang dan Tonghong Ouw melompat ke sana tapi hanya terlihat dua sosok bayangan abu-abu berkelebat di udara dan lenyap di kejauhan.

Ilmu meringankan tubuh yang demikian hebatnya ini benar-benar tak pernah dilihat oleh kawanan jago yang berada di situ, malahan Tonghong hengte yang berasal dari keluarga persilatan mempunyai guru dan ayah yang merupakan tokoh silat kelas satu, juga terperanjat setelah menyaksikan kelihayan Ginkang kedua orang itu.

Mencorong sinar mata Hui Giok, dari gerakan tubuh kedua orang itu, satu ingatan melintas dalam benaknya, tiba-tiba ia teringat akan dua orang, tanpa terasa senyuman menghiasi bibirnya.

Tonghong Tiat segera mencengkeram baju seorang laki-laki berbaju hitam, jalan darah orang itu Ditepuknya.

Laki-laki itu sangat ketakutan mukanya pucat dan matanya celingukan ke sana kemari seperti maling tertangkap basah, dengan gemetar ia memohon.

"Ampun! ampunilah hamba... hamba tidak... tidak berkata apa-apa!"

Tonghong Ouw tertawa dingin, batang pedangnya menabok tulang bahunya dan menyebabkan laki-laki itu kesakitan, ia menjerit seperti babi mau disembelih, peluh dingin membasahi badannya.

Dengan gusar Tonghong Kang membentak.

"Ayo mengaku, kau anak buah siapa? Diperintah oleh siapa untuk berbuat begini? sebelum hitungan ketiga kau harus mengaku terus terang, kalau tidak Hm, kedua tulang pundakmu akan kutembusi pedang, lalu matamu akan kubuatkan."

Ujung pedang yang bergetar menempel di bawah alis laki-laki itu, dalam keadaan begini, asal dia menggerakkan tangannya, niscaya mata laki-laki akan terkorek keluar.

Hm G ok menghela napas, ia seperti teringat akan sesuatu dan ingin bicara tapi akhirna tidak.

sementara itu Tonghong Kang sudah mulai menghitung.

"Satu! . ."

Laki-laki berbaju hitam itu ketakutan hingga badan gemetar, sedikitpun tak berani bergerak.

"Hamba tidak ..tidak. ."

Tonghong Ouw tak memandangnya, ia menghitung lebih lanjut.

"Dua!..."

Air muka laki-laki itu makin pucat tiba-tiba ia berteriak "Aku mengaku... mengaku . ., ."

Tonghong Kang tertawa dingin, ia tarik kembali pedangnya, Dengan lemas laki-laki berbaju hitam itu terduduk di tanah, ia menyeka peluh yang membasahi jidatnya dengan tangan yang gemetar.

"Hamba ..hamba adalah anak buah Na-ceng cu dari Jit-giau San ceng."

Katanya kemudian dengan pelahan. Begitu pengakuan diberikan baik Hui Giok dan Leng-kok-siang-bok maupun Tonghong ngo kiam sama-sama melengak.

"O, mereka ini anak buah Jit giau-tui-hun?"

Kegaduhan berkumandang dan empat penjuru, suasana jadi gempar, semula mereka mengira perbuatan ini pasti merupakan suatu rangkaian siasat mmeecah-belah dari Sin jiu Cian Hui, tak tersangka siasat ini adalah tipu berantai dari Jit-giau-tui-hun Na Hui hong yang ingin "sekali timpuk empat ekor burung".

Seandainya Hui Giok sampai bentrok dengan Tonghong-ngo-kiam, akibatnya kedua pihak tentu akan sama-sama cedera.

Bila begini, Liong-heng pat ciang akan paling menderita dia pasti mengira tindakan mi merupakan siasat dari Sin-jiu Cian Hui, orang persilatanpun tentu akan mengutik kekejian si Tangan Sakti ini.

Dengan alis berkerut Leng Han-tiok juga mendesis.

"Hm, sekali timpuk empat ekor burung, hehehe, siasat berantai yang busuk rencana jahat yang keji!"

Sementara itu Tonghong hengte termangu sejenak, lalu mengerling sekejap ke arah Hui Giok, kemudian mereka sama melengos dan tak berani memandang pemuda itu lagi.

Hui Giok tersenyum, tiba-tiba ia menepuk tiga kali di tubuh orang-orang berbaju hitam yang menggeletak di tanah itu.

"Hei apa yang kau lakukan?"

Tegur Tonghong Ouw Tersenyum Hui Giok "Orang-orang ini tak lebih hanya kaki-tangan yang diperintah kedudukan mereka tidak bebas kita tak dapat menyalahkan mereka Bagaimanapun juga kita sudah tahu siapa dalang di belakang mereka, asal kita sama2 tidak rugi, apa salahnya mereka dilepaskan saja?"

Merah wajah Tonghong Kang, ia tidak bicara lagi.

"Nah, pergilah"

Kata Hui Giok kemudian sambil ulapkan tangannya.

Bagaikan mendapat pengampunan besar, semua laki-laki berbaju hitam itu melompat bangun lalu memberi hormat kepada Hui Giok, kemudian lari terbirit-birit ke tengah kerumunan orang banyak.

Kalau orang lain di sekitar tempat itu sama kalut maka Toughong-ngo-kiam serta Hui Giok hanya berdiri diam saja tanpa bicara.

Dalam suasana seperti inilah di tengah kerumunan orang banyak itu ada seorang anak perempuan dengan matanya yang besar sedang memperhatikan gerak-gerik Hui Giok, kebetulan Hui Giok juga berpaling ke sana, melihat mata jeli itu.

tergerak hati Hui Giok, ia menjura kepada Tonghong-ngo kiam sambil berkata.

"Selamat bertemu! Selamat tinggal!"

Tonghong-ngo-kiam melengak tapi cepat merekapun menjura.

"Selamat, sampai berjumpa pula."

Seperti tiba-tiba menemukan sesuatu, Hui Giok lantas menyelinap ke tengah kerumunan orang banyak sana.

Tonghong-ngo-kiam saling pandang sekejap dan pancaran sinar mata mereka terlihat rasa heran, curiga dan kecewa, sesudah memberi hormat kepada Leng-kok-siang-bok.

kelima bersaudara itu pun menuju ke kerumunan orang sana.

"Siapa yang ditemukan Giok-ji?"

Bisik Leng Han-tiok dengan dahi berkerut.

Leng Ko-bok menggeleng kepala, tanpa bicara mereka ikut di belakang Hui Giok, menyelinap ke tengah kerumunan manusia.

Tanpa harus dorong mendorong otomatis semua orang memberikan jalan lewat bagi Hui Giok tapi waktu itu si anak perempuan yang bermata besar itu telah pergi, hanya terlihat kuncirnya yang panjang hitam menggapai di tengah kerumunan orang.

Hui Giok makin tercengang, langkahnya dipercepat untuk menyusul ke sana.

Apakah Hui Giok berada di sini?

Hui Giok, berada di mana?"

Mendadak dan belakang berkumandang suara teriakan.

Dengan ragu Hui Giok hentikan langkahnya.

Terdengar suara dentingan benda logam semakin mendekat, tiba-tiba dari kerumunan manusia muncul seorang laki-laki bertongkat baja dengan wajah penuh rasa gusar.

Orang ini tak asing lagi bagi semua orang, dia bukan lain adalah pemimpin Kim keh-pang, si ayam Emas Siang It-ti.

Tonghong-ngo-kiam baru saja pergi dan kini Siang It-ti telah datangi bahkan muncul dengan sikap seolah-olah ingin mencari perkara, para jago yang siap bubaran itu serentak berkerumun kembali di sekeliling tempat itu.

Sementara itu Hui Giok sedang menghela napas, sambil berpikir "Ai, apakah dia yang telah datang!

Mengapa dia menemui diriku?"

Segera iapun menjura dan berkata kepada Siang It-ti.

"Baik-baikkah selama ini Siang pangcu? Ada urusan apakah?"

Kim-keh Siang It ti mendengus, setelah melotot sekejap ia membentak.

"Hm, kau masih kenal padaku?"

Hui Giok melongo dan tak tahu bagaimana harus menjawab.

Sementara itu Siang It-ti telah berkata pula "Masih ingatkah bagaimana caramu menduduki singgasana Bengcu Perserikatan orang-orang Kang-lam?

Tak kusangka setelah kedudukanmu kuat, lalu kau berlagak tuan besar dan main kuasa!?"

Hui Giok mengernyitkan dahinya.

"Siang pangcu, silakan bicara sesukamu, maaf, aku tak dapat melayani kau lebih lama"

Habis mi segera ia hendak melangkah pergi. Tapi sebelum ia sempat bergerak, diiringi suara dentingan sesosok bayangan mengadang di depannya.

"Mau pergi,"

Jengek Siang It-ti. Hui Giok mengerling sekejap.

"Aku tak boleh pergi?"

Baik sikap maupun waktu bicara sikap Hui Giok tetap tenang, begitu berwibawa dan demikian yakin pada diri sendiri.

hal ini membuat Kim-keh Siang It-ti jadi tertegun.

Dja tak menyangka pemuda lemah lembut yang berpisah dalatn beberapa tahun saja sekarang sudah demikian gagah dan kerengnya.

"Mau pergi? Tentu boleh saja."

Katanya kemudian setelah merenung sebentar.

"cuma aku ingin tanya dulu kepadamu. kesalahan apakah yang di perbuat anak buahku si jengger ayam Pau Siau-thian sehingga kau menjatuhken hukuman mati kepadanya."

Hui Giok melongo setelah mendengar tuduhan "Pau Siau-thian telah mati?"

Desisnya dengan tergagap.

"Ya, dia mati terbunuh di lereng bukit Hok lan san"

Sahut Siang It-ti dengan gusar.

"seandainya tidak cepat kutemukan, mungkin jenazahnya sudah habis diganyang binatang buas . ."

Hui Giok terkesiap.

"Apakah di sampingnya juga terdapat mayat Sin-lu tui-hong?"

Tukasnya.

"Hehehe, nyata kau sudah tahu, bila sekarang tidak memberi penjelasan yang memuaskan, hm hari ini kau harus ganti nyawanya,"

Seru Kim-keh Siang It-ti sambil tertawa dingin.

Dengan kening berkerut tongkatnya mengetuk tanah sehingga salju muncrat berhamburan menodai baju Hui Giok yang berwarna hijau itu.

Hui Giok menghela napas, seakan-akan tidak melihat akan perbuatan orang ia berkata dengan nada berat.

"Sungguh tak nyana Sin jiu Cian Hui membinasakan juga mereka berdua"

"Hehehe, kau hendak melimpahkan kesalahan ini kepada Cian Hui?"

Siang It-ti tertawa dingin.

"Kau kira aku jeri terhadap Cian Hui? Hari ini akan kujagal dulu dirimu, kemudian baru kubikin perhitungan dengan Cian Hui!"

Belum selesai perkataannya, tongkat langsung diayun ke depan, dengan deru angin keras ia hantam batok kepala Hui Giok.

Suasana jadi gempar lagi, jeritan kaget menggema di sana sini, kawanan jago sama tertegun mereka tak mengerti mengapa Kim-keh Siang It-ti yang tergabung dalam Perserikatan orangorang Kanglam berani menyerang Bengcunya.

Hui Giok mengegos lalu menyelinap di belakang lawan.

"Kau sudah gila?"

Hardiknya.

"Jangan urus aku gila atau tidak, hari ini kau harus bayar dulu nyawa Pau Siau-thian"

Jawab Siang It-ti seperti orang kalap.

Di antara deru angin serangan yang dahsyat secara beruntun dia lancarkan tiga kali serangan mengincar kepala, pinggang dan kaki.

Begitu hebat serangan tersebut, tampaknya dia benar-benar bernapsu membinasakan Hui Giok.

Seringan daun Hui Giok melayang kian kemari, meski hebat ketiga serangan itu toh semuanya dapat dihindarkannya dengan manis.

Tak kusangka Kim-keh Siang Tt ti adalah seorang laki-laki berdarah panas.

demikian pikir Hui Giok.

"untuk membalaskan kematian seorang anak buahnya ia berani bertarung dengan nekat!"

Setelah ingatan tersebut terlintas, timbul rasa simpatinya kepada orang itu maka iapun enggan membalas serangan lawan, dengan lincah dia mengegos ke sana kemari, pemuda itu berharap lawan akan tahu diri dan mundur teratur.

Siapa sangka Kim-keh Siang It-ti seperti tidak paham maksud baik lawannya, bukan menghentikan serangannya dia malah mencecar lebih gencar.

Suasana semakin gempar, malah ada di antara kawanan jago itu mulai mencaci-maki.

"Tak tersangka si Ayam Emas adalah orang gila? Hanya seorang anak buahnya dia berani menyerang Bengcunya sendiri?"

Watak manusia umumnya banyak yang lebih suka menjaga diri dan tidak mencampuri urusan orang, demikian pula dengan kawanan jago persilatan, walau ada di antara mereka berteriak, tapi jumlahnya kecil sekali, lebih banyak yang diam dan menjadi penonton belaka.

Apalagi semua orang juga melihat sejak tadi Hui taysianseng hanya bersikap mengalah, seandainya sungguh2 berkelahi tak nanti Kim-keh Siang it-ti mampu bertahan dalam sepuluh gebrakan.

Di mana deru angin serangan menyambar bunga salju berhamburan ke mana2 tapi saat itu jangankan tongkatnya, percikan bunga salju pun tak mampu menempel baju Hui Giok dengan gerakan yang indah dan tenang pemuda itu bergerak kian kemari di antara bavangan tongkat.

Seandainya ia tidak menjabat Bengcu, umpama ia tidak di hadapan kawanan jago yang begitu banyak, sungguh pemuda itu ingin pergi saja dari situ ingin menghindari tindakan nekat si Ayam Emas yang mirip orang gila itu.

Selama pertarungan berlangsung, Leng kok mg-bok hanya berpeluk tangan menonton jalan nya pertempuran tapi akhirnya Leng Han liok berbisik juga.

"Lebih baik kita yang mewakili anak Giok menyelesaikan pertarungan ini!"

"Jangan!"

Leng Ko bok menggeleng.

"biar ia taklukkan sendiri orang ini, agar di kemudian hari dapat dijadikan tangan kanannya."

Sementara mereka ber-bisik2, Kim-keh Siang It-ti telah melancarkan lagi tiga kali serangan berantai, agaknya ia sudah menyadari kemampuan sendiri, ia tahu kungfunya tak mampu menundukkan lawan, sekilas rasa cemas dan gelisah melintas di wajahnya, matanya celingukan ke sana kemari seperti sedang menantikan sesuatu, jangan2 ia telah siapkan bala bantuan, hanya tak tahu siapa yang diundangnya itu.

Kegaduhan tiba2 terjadi di bagian luar kerumunan sana, menyusul bagaikan gulungan ombak mereka sama menyingkir ke samping dan membuka sebuah jalan lewat.

"Aneh, kenapa Na Hui-hong juga datang?"

Bisikan segera ramai tersiar di sekitar arena.

Begitu terpisah, gelombang manusia itu segera merapat kembali, Jit-giau tui-hun Na Hui hong benar-benar telah muncul di situ, dia mengenakan pakaian ketat, sebuah kantung kulit tergantung di pinggangnya, isi kantung itu jelas adalah senjata rahasia andalannya.

Melihat dandanannya itu, hati semua orang tergerak mereka tahu kedatangan orang she Na ini jelas siap untuk bertempur melawan seseorang.

Melihat kehadiran si jago itu, Leng Han-tiok berkerut dahi, bisiknya.

"Jika orang ini berniat turun tangan..."

"Memangnya kubiarkan dia berbuat sesukanya?"

Sambung Leng Ko-bok dengan cepat Betul juga, Kim-keh Siang It-ti memang sedang menunggu bala bantuan, terbukti wajahnya lantas berseri begitu Na Hui-hong muncul di situ, setelah melancarkan tiga kali serangan berantai, teriaknya.

"Na-toako, kau sudah datang? Bagus, bagus sekali! Coba lihat, bajingan cilik yang buas ini, masa pantas kita jadikan Bengcu, orang-orang Kanglam? Ayo kita basmi saja kunyuk kecil ini dari muka bumi"

Diam-diam Hui Giok menghela napas, pikirnya "Aku mengira dia adalah seorang lakilaki sejati yang berjiwa panas, demi anak buahnya yang mati terbunuh ia jadi kalap, Ai, tak tahunya dia hanya menggunakan peristiwa itu sebagai alasan saja, kenapa manusia ini mempunyai jiwa yang sempit dan tabiatnya yang rendah?"

Sedingin es air muka Jit-giau-tui hun Na Hui-hong mendengus dan pelahan masuk ka tengah arena.

"Jit-giau tui-hun memang benar bala bantuan yang diundangnya,"

Bisik Leng Han-tiok.

Leng Ko-bok hanya mengawasi Na Hui-hoag, tidak berkata juga tidak bergerak.

Pada saat itu, Kim-keh Siang It-ti tiba-tiba merasakan pancaran tenaga pukulan kuat dari telapak tangan lawan, ia terkesiap dan segera berseru.

"Na toako..."

"Bukankah kau tidak setuju Hui-taysianseng menjadi Bengcu Perserikatan orang-orang Kanglam?"

Tanya Jit-giau tui-hun Na Hui-hong dengan dingin "Benar, ia tak pantas,"

Jawab si Ayam Emas sambil menahan serangan Hui Giok.

"Hehehe, bagus sekali, bagus sekali"

Sahut Jit giau-tui-hun sambit tertawa dingin. Mendadak tangannya diayun ke depan, segumpal cahaya perak segera terpancar "Awas! Senjata rahasia"

Seru Leng Ko-bok cepat baru saja ia hendak menerjang maju, tiba2 terdengar jeritan ngeri menggema di angkasa bayangan manusia lantas terpencar.

Para jago terkejut Leng-kok-siang-bok juga terkesiap.

Tampak Kim-keh Siang It-ti maupun Hui Giok masih berdiri berhadapan, keduanya sama-sama tak bergerak.

Akhirnya senyuman menyeringai yang memedihkan hati menghiasi bibir Kim-keh Siang It-ti.

dengan tangan gemetar ia menuding Na Hui hong, lalu berseru dengan tcrputus-putus.

"Kau... kau sungguh keji..."

"Trang", belum habis perkataannya tongkat bajanya terjatuh ke tanah, menyusul tubuhnya bergontai ke sana kemari seakan-akan hendak menabrak ke arah Jit-giau tui-hun. Na Hui-hong tertawa dingin bentaknya "Hm kau tidak taat pada peraturan dan berani mengkhianati Bengcu dosamu tak terampunkan, apa lagi yang kau pikirkan di sini"

Suatu pukulan dahsyat mendadak dilontarkan Kim-keh Siang It-ti yang sedang melangkah maju terhajar telak, tubuhnya tergelepar di tanah diiringi jeritan kesakitan setelah bergulingan ke samping lalu tak bergerak lagi.

Perubahan ini jauh di luar dugaan siapapun, saking kagetnya kawanan jago itu berdiri terkesima, tak seorangpun mengeluarkan suara.

Lebih7 Hui Giok, ia ^termangu dengan mata terbelalak dan mulut melongo Selesai membereskan rekannya, Jit-giau-tm hun bertepuk tangan, lalu menyepak satu kali mayat Siang It ti, setelah itu, sambil tersenyum dia menyapa.

"Bengcu, apakah engkau kaget?"

"Kau...kau..."

"Mengkhianati persekutuan sama dosanya seperti menghianati perguruanku"

Ujar Jit-giau-Tui hun Na Hui-hong dengan suara berat.

"manusia berdosa macam begini wajib dibunuh oleh siapa pun di dunia persilatan ini, Bengcu, walaupun engkau berhati mulia dan bajik, tapi tidak sepantasnya kau ampuni manusia bejat yang dosanya tak terkirakan besarnya ini."

Hui Giok tertegun, ia tak mampu menjawab. sambil menghela napas, bisiknya.

"Tapi tidak per kau bertindak seganas itu"

Jit-giau-tui-hun tidak berbicara lagi, ia berpaling sambil menggapai dan kerumunan orang lantas muncul dua lelaki kekar yang segera menggotong pergi jenazah Kim-keh Siang It-ti.

Seorang jago persilatan yang selama hidupnya berwatak angkuh, suka mencari nama akhirnya harus tewas dalam keadaan yang mengenaskan diam2 semua orang ikut gegetun, tapi tentu saja tiada seorangpun yang berani buka suara, karena siapa saja yang berani mengucapkan sepatah kata yang membantu si Ayam Einas berarti pula memusuhi Perserrkatan orang-orang Kanglam yang berpengaruh itu.

Pihak Hui liong-piaukiok serta konco-konconya sudah tentu merasa gembira dengan terjadinya peristiwa ini, sebab bila antara sesama anggota Perserikatan orang-orang Kanglam sampai terjadi saling membunuh, yang bakal menarik keuntungan adalah pihak Hui liong-piaukiok.

Leng-kok siang-bok kembali saling pandang muka, masih sangsi dan curiga, mereka tahu Jit giau tui hun masih mempunyai rencana lainnya, hanya saja kedua orang itu merasa kurang leluasa untuk ikut campur urusan rumah tangga"

Perserikatan orang orang Kanglam.

Diiringi senyuman Jit-giau-tui-hun mengawasi anak buahnya menggotong pergi jenazah Siang It ti sementara itu kerumunan manusia mulai bubar, tiba-tiba sebilah pedang tanpa menimbulkan suara menusuk ke bahu orang she Na itu.

Dengan terkejut Na Hui-hong berputar badan sambil membentak.

"Siapa?"

Apa yang dilihatnya adalah Tonghong Kang dan Tonghong Ouw dengan pedang terhunus dan tersenyum dingin berdiri berjajar di belakangnya.

Melihat itu, Hui Giok menghela napas, ia tahu urusan belum selesai, terpaksa ia batalkan niatnya untuk pergi.

"Hehehe, kukira siapa? Rupanya Tonghong saauhiap berdua?"

Seru Jit-giau tui-hun sambil terisi dingin.

"sejak kapan kalian belajar melukai orang dengan cara menyergap dari belakang? Kepandaianmu ini sungguh sangat mengagumkan."

Nadanya keras, ucapannya tajam. memang tak malu dia disebut seorang kawakan Kangouw. Sedingin salju air muka Tonghong-hengte mereka tidak terpengaruh oleh sindiran itu.

"Hm, masih terhitung sungkan caraku menghadapi manusia yang suka main licik, kalau tidak apa kaukira ada kesempatan bagimu untuk bercakap-cakap dengan kami berdua?"

Kata Tonghong Kang ketus.

"Hahaha, kalau begitu, aku harus berterima kasih atas kemurahan hati kalian!"

Jit-giau-tui hun Na Hui liong tertawa lantang.

"Kurangi sikap tengikmu itu di hadapan kami tak perlu bersilat lidah,"

Kata Tonghong 0uw.

"coba terangkan apa maksudmu memerintahkan anak buahmu menyebarkan kata-kata busuk? jika tidak kau terangkan, hm, boleh kau rasakan ujung pedangku, aku tak akan bersikap sungkansungkan lagi seperti tadi."

Jit-giau-tui-hun Na Hiu-hong seolah-olah bingung dan menunjukkan wajah tidak mengerti.

"Hei, persoalan apa yang kau maksudkan"

Serunya.

"aku tidak mengerti akan perkataanmu itu."

Tonghong Kang tertawa dingin "Hehehe, di depan anak buahmu kau telah mengaku terus terang sekarang kau mau mungkir lagi?

Ayo jawab, bukan kah mereka yang mencaci maki kami dari tempat persembunyiannya adalah anak-buahmu?"

Jit giau-tuj-hun Na Hui-hong menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia mengangguk.

"Benar, mereka adalah anak buahku dan akulah yang memerintahkan mereka berbuat demikian!"

Pengakuan yang terus terang ini malah membuat semua orang melengak, siapapun tidak menyangka dia akan bersikap demikian.

Tonghong-hengte saling pandang sekejap kemudian Tonghong Kang menggetarkan pedangku dan berseru dengan marah.

"Bagus, kalau memang engkau yang menjadi dalangnya, ada dua cara boleh kau pilih, Pertama, berlutut di depan kami dan minta maaf, kedua, cabut senjatamu dan berduel dengan kami!"

Air muka Jit-giati-tui-hun sama sekali tidak berubah, dia malah bertanya.

"Ke mana perginya orang-orang itu? Sudah mati semua di ujung pedang kalian?"

"Mereka kan cuma menjalankan perintahmu, tentu saja kami tak bisa menyalahkan mereka"

Kata Tonghong Kang.

"Tapi aku juga hanya menjalankan perintah orang, apakah kau akan menyalahkan diriku?"

Mencorong sinar mata Tonghong Kang, hardiknya "Perintah siapa? siapa yang memberi perintah padamu? Apakah Sin-jiu Cian Hui, atau..."

Tiba-tiba ia membungkam seperti tak sengaja mengerling sekejap ke arah Hui Giok.

Jit-giau tui hun Na Hui-hong menengadah dan terbahak-babak "Yang memberi perintah kepadaku bukan orang lain, ialah ayahmu sendiri, Tonghong-pocu!"

Mula-mula Tonghong hengte tertegun menyusul sambil menggetarkan pedang mereka membentak gusar "Keparat, kau berani mempermainkan kami! Cabut pedangmu dan bersiaplah menerima kematianmu."

Jit giau tui-hun kembali menengadah sambil tertawa tergelak "Hahaha! kalau kalian percaya pada perkataan orang lain, kenapa tidak percaya pada perkataanku Aneh benar!"

Setelah berhenti tertawa, lalu katanya lagi "Nah masa kalian boleh percaya setiap perkataan tanpa bukti? Memangnya aku Na Hui-hong adalah manusia macam begitu?"

Dengan tertegun kedua saudara Tonghong kemudian saling pandang sekejap, pelahan pedang mereka diturunkan. Leng Han-tiok tertawa dingin.

"Tajam benar mulut orang ini!"

"Ya, manusia begini memang tak bisa melakukan pekerjaan baik, justeru pekerjaan busuk tak habisnya dilakukan, memang paling sulit melayani orang seperti ini,"

Sambung Leng Ko bok.

Meskipun perkataan itu diucapkan dengan suara nyaring, tapi Jit-giau-tui-hun pura-pura tidak mendengar, sementara itu kedua saudara Tonghong sudah menyimpan kembali pedangnya dengan tersipu-sipu setelah melirik sekejap ke sekeliling tempat itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka berlalu dan situ.

Na Hui-hong terbahak-bahak, kesempatan itu di gunakan mengejek lagi "Tonghong-siauhiap, lain kali bila hendak menuduh orang, jangan lupa memberi kabar dulu kepadaku."

Tonghong Ouw putar badan dengan marah tapi cepat ditarik pergi Tonghong Kang, Bagaimanapun mereka berdua memang anak murid golongan putih, cuma sayang pengalamannya masih cetek.

Seperginya kedua orang itu, Na Hui-hong juga berhenti tertawa, katanya seraya berpaling "Bengcu akan berdiam di sini ataukah akan melanjutkan perjalanan?"

"Aku bermaksud mencari rumah penginapan"

Jawab Hui Giok setelah berpikir sebentar. Na Hui-hong tersenyum, katanya..

"Jangan harap Bengcu akan mendapatkan rumah penginapan, bukan saja semua hotel di kota Han ko sudah penuh, penginapan di kota Han yang pun tak ada kamar kosong"

"Lantas.."

Dengan dahi berkerut Hui Giok melirik sekejap ke arah kedua Leng bersaudara.

Na Hui-hong tersenyum "Di luar kota sana ada sebuah rumah kosong apakah Bengcu bersedia menginap di sana?

Bagaimanapun jua dalam beberapa hari semua urusan tentu akan beres."

"Bagus, Cuma..."

Sebelum selesai ucapan Hui Giok, mendadak nampak empat ekor kuda berlari datang, semua orang yang berkerumun di jalan raya segera menyingkir ke samping.

Keempat penunggang kuda itu adalah laki-laki kekar berwajah kereng, terutama laki-laki yang berada paling depan, pada tangan kanannya memegang sebuah panji besar berhuruf kuning dengan dasar hitam panji itu berkibar terembus angin.

Hui Giok mundur beberapa langkah, ia lihat panji itu bersulamkan delapan ekor naga emas yang saling bergumul, di tengahnya tertera sebuah huruf "Tham"

Yang besar.

"Pantas semua jago persilatan memberi jalan"

Batinnya.

"rupanya orang kepercayaan Liongheng put-ciang yang datang."

Begitu merapat ekor kuda itu berada di tengah jalan raya, penunggang yang berada paling depan itu lantas berseru dengan lantang.

"Tham-congpiau-tau ada perintah, semua saudara yang tergabung di bawah komando Hui liong-ki harap segera bebenah setiap saat siap menanti perintah untuk berangkat. Kegaduhan kembali terjadi ada yang dari jalan raya segera lari masuk ke rumah, ada pula yang dari dalam rumah lari ke jalan, banyak suara berkumandang di sana-sini. Perintah diteruskan ujung jalan yang lain, k lainnya lagi hingga d^"

Garan seruan itu "BemgcuP fcatn ngan mata berki1 kt muna?" *********************** Hal 39 robek sebagian *********************** dunia persilatan, katanya Bengcu mempunyai sakit hati yang amat besar pada Tham Beng, entah bagaimana rencana Bengcu selanjutnya?

Apakah membutuhkan bantuan Siaute?" *********************** Hal 40 robek sebagian *********************** Ia tertawa parau.

"Bagaimana pun perkenankanlah Siaute membawa Bengcu ke tempat peristirahatan"

Baru selesai ia berkata. sudah ada belasan laki-laki yang berkerumun dan empat penjuru, mereka menjura seraya berkata.

"Hamba pun anggota Perserikatan orang orang Kanglam, karena kedudukan yang rendah selama ini tak berani berbicara dengan Bengcu. kalau Bengcu bermaksud menginap disini, hamba rela memberikan kamar kami untuk Bencu."

Sikap orang2 itu bukan saja sangat menghormat, bicaranya juga gugup dan takut, seperti seorang murid yang berbicara dengan gurunya yang kereng.

Kembali sinar mata Jit-giau tui-hun berkilat, tampaknya ia heran mengapa orang2 itu begitu hormat terhadap Hui Giok.

"Tidak perlu, aku telah menyiapkan tempat penginapan untuk Bengcu toako!"

Katanya dengan tersenyum.

Belasan orang itu menghela napas panjang, seolah-olah merasa kecewa karena tak dapat menyumbang baktinya bagi Hui-taysianseng.

Hui Giok sangat terharu, dengan rasa terima kasih yang meluap dia berkata.

"Terima kasih banyak atas perhatian saudara sekalian, terima... terima kasih."

Sekalipun hanya dua patah kata yang sederhana, tapi lantaran diutarakan oleh seorang Bengcu seperti Hui Giok, kata-katanya itu menimbulkan perasaan puas dalam hati orang-orang itu.

Diam-diam Leng kok siang bok menghela napas.

mereka merasa bangga dan gembira.

Selama hidup kedua orang ini tak pernah menikah, apalagi punya anak, juga tak punya murid dan tak punya teman, tapi sekarang mereka telah menganggap Hui Giok sebagai putranya, muridnya, sanaknya dan kawannya.

Tentu saja mereka ikut gembira menyaksikan orang lain bersikap menghormat kepada Hui Giok, tapi teringat keadaan sendiri yang sengsara dan selama hidup belum pernah mengalami keadaan seperti itu timbul juga rasa sedihnya.

Habis Hui Giok bicara, belasan orang itu serentak memberi hormat, sampai lama sekali mereka masih berdiri di situ "Menyingkir!"

Tiba-tiba Leug Han-tiok membentak berbareng itu terdengar desingan angin tajam mendesir-desir, puluhan anak panah bagaikan hujan menyambar tiba, ada yang mengarah Hui Giok ada yang mengincar Na Hui-hong, malah ada pula yang mengarah belasan orang yang sedang memberi hormat itu.

Hui Giok terkesiap, ia berpekik nyaring, bukan menghindar dia malah menerjang ke arah datangnya hujan anak panah itu.

Baginya bukan saja sulit untuk menghindari serangan anak panah ini, tapi kawanan laki-laki itu pasti akan terluka oleh serangan anak panah sekarang ia menyongsong datangnya serangan itu, sudah tentu tindakan ini sangat membahayakan jiwanya sendiri.

Begitulah, dalam sekejap mata puluhan batang anak panah yang meluncur tiba itu mengancam sekujur badannya Tanpa pikir panjang Leng-kok-siang-bok ikut menerjarg ke muka, sementara kawanan laki-laki itu ada yang berguling ke samping untuk menyelamatkan diri ada pula yang ikut menerjang maju untuk menyelamatkan Hui Giok dengan mengumpankan diri di depan pemuda tersebut.

Pekikan Hui Giok terasa menggema diangkasa, secepat kilat ia lepaskan pakaiannya, di antara deru angin yang menyambar-nyambar, sebagian besar anak panah itu berhasil disapu rontok, sedang sisanya karena terpengaruh oleh daya tolak bajunya dengan mudah bisa dihindari.

Perubahan ini terjadi tanpa pertanda sebelumnya dan berakhir dalam sekejap, saat itulah jeritan kaget baru terdengar di sana sini.

Sekilas perasan terima kasih terlintas pada wajah jit-giau-tui-hun, sementara itu dari atap rumah tampak ada puluhan orang laki-laki bertengger di sana, di antaranya ada dua orang berbaju hijau, sedang lainnya memakai baju berwarna kuning tangan masing-masing memegang busur, tapi entah bagaimana tak seorang pun membidikan panah lagi, semuanya hanya memandang ke arah Hui Giok dengan tercengang.

Keadaan Hui Giok kini cukup mengenaskan bukan saja jubah panjangnya koyak-koyak karena digunakan untuk menghalau anak panah, malah baju yang menempel di tubuhnya juga robek karena terburu-buru membuka baju tadi.

Ujung baju yang robek berkibar terembus angin, meski rasa kaget masih nampak menghiasi wajahnya, tapi dalam pandangan semua orang, tiada orang seagung dia pada saat itu.

Na Hui-hong membentak dan segera hendak melompat ke atap rumah, tapi sebelum berbuat demikian laki-laki yang berada di atas atap rumah telah melompat turun dan semuanya berlutut.

Perlahan Hui Giok menghela napas.

"Ai, mengapa kalian berbuat demikian? sekalipun merasa dendam kepadaku, buat apa melukai orang lain yang tak berdosa?"

Na Hui liong memburu maju, serunya dengan lantang "Mereka semua adalah anak buah Kim keh-pang, dua orang yang berbaju hijau adalah Pembantu Siang It-ti, Keh-gan (mata ayam) Put keh-hengte (Pui bersaudara)."

Seperti memahami sesuatu, Hui Giok manggut-manggut dan menghela napas.

"Rupanya kalian ingin balas dendam bagi Pangcumu Ya, aku tidak menyalahkan kalian, meski usahamu gagal tapi, Ai pergilah kalian, lain kali toh masih ada kesempatan untuk mewujudkan keinginan kalian ini."

Tak seorang pun di antara anggota Kim keh-pang itu berani menengadah, wajah mereka ratarata memancarkan penyesalannya yang tak terhingga, bahkan ada di antaranya mereka meneteskan air mata saking terharunya, mereka menyembah dan minta maaf.

Pui It-ji, salah seorang dari dua Pui bersaudara yang termasuk dalam kelompok Keh-gan (muta ayam) berkata dengan kepala tertunduk.

"Hamba sekalian tak tahu Hui-taysianseng ternyata begini mulia, begini bijaksana, hingga kami berani melakukan perbuatan semacam ini. Kami tahu salah dan bersedia menerima hukuman dan Bengcu."

Pui It-oh, saudaranya, juga berkata.

"Bengcu begini bijaksana, hamba sekalian tak berani berkhianat lagi, setelah menjalani hukuman, sekalipun Bengcu tak sudi, hamba tetap siap mengabdi dan berbakti bagi Bengcu."

Hui Giok menghela napas panjang.

"Ai, kalau memang begitu, cepat kalian bangun, salju amat dingin, jangan sampai merusak kesehatan kalian". Angin memang dingin dan berembus kencang baju Hiu Giok yang compang-camping tertiup berkibaran bagaikan bunga2 salju, seorang laki-laki itu cepat melepaskan jubah panjangnya dan diangsurkan ke hadapan Hui Giok. Tak seorang pun di antara mereka yang bersuara, sebab rasa terharu yang bergolak dalam hal mereka tak terkatakan dalam keadaan begtu jangankan cuma melepaskan jubah luar, sekalipun kepala mereka dipenggal pun tak akan ada yang menolak. Dengan termangu Hui Giok mengawasi laki2 di hadapannya serta anggota Kim-keh-pang lainnya yang masih berlutut di tanah, serunya dengan terharu.

"Kalian... kalian.."

Tenggorokannya seperti tersumbat dan tak sanggup berucap pula, semua orang menyaksikan adegan ini dan menghela napas terharu, hanya Jit giau tui-hun yang diam2 tundukkan kepalanya entah merasa sedih atau timbul rasa menyesalnya?

o o-o Hujan salju sebentar turun dengan derasnya |dan sebentar berhenti, lapisan salju yang menyelimuti permukaan tanah sudah menumpuk sangat tebal.

Lapisan salju di luar kota jauh lebih tebal daripada di dalam kota empat penjuru yang terlihat hanya warna putih belaka.

Bila senja tiba, dunia yang berwarna putih keperak-perakan lantas berubah menjadi putih kelabu kalau tengah malam, yang tertampak bahkan hanya kelabu yang suram, dalam keadaan begini sukar untuk membedakan manakah tanah ladang, manakah pepohonan dan manakah perumahan.

Keheningan menyelimuti seluruh penjuru dunia, di depan sebuah kuil yang kecil berdiri seorang anak perempuan berusia empat-lima belas tahunan yang bertubuh ramping.

Dalam keheningan malam yang dingin ia tampak begitu kesepian dan sebatangkara.

Dalam ruangan kuil tergantung sebuah lentera kecil yang tak pernah padam, cahaya lentera menyinari tubuhnya dan mencetak bayangannya di atas permukaan salju, namun bayangan itu mana dapat membebaskan dia dari kelaparan, kedinginan serta kesepian?

Hanya sepasang matanya yang besar dan jeli ibaratnya bintang di cakrawala yang memancarkan sinarnya yang berkelip-kelip.

Tapi, sinar mata itu memperlihatkan pula kegelisahan penantian.

Apakah yang dinantikannya?

Tanpa berkedip dia mengawasi sederetan bangunan ramah nun jauh di sana, mendengarkan suara manusia di balik bangunan itu yang makin lama makin sunyi, melihat sinar lampu yang terang benderang yang makin lama makin suram.

Segulung angin dingin berembus lewat, ia bergidik dan bersin, akhirnya seperti tak tahan, ia menggigit bibir dan menjura ke dalam seraya berkata dengan lembut "Toh-te-kong (Toapekong) terima kasih banyak!"

Kemudian dengan sangat hati-hati dan penuh kewaspadaan ia berjalan menuju ke deretan bangun itu.

Gerak tubuhnya tidak gesit, juga tidak cepat, jelas dia tak pernah berlatih kepandaian apapun, tapi di balik sinar matanya yang jeli dan lembut terpancar keteguhan hati serta kebulatan tekad yang tebal.

Dia menuju ke kaki dinding bangunan, menengok dinding yang tingginya hampir dua tombak, melompat sekuatnya ke atas, tangannya meraih tembok, sayang tidak berhasil dan merosot ke bawah.

Tapi dia tak putus asa, gagal yang pertama dicoba untuk kedua kalinya, merosot lagi-diulang untuk ketiga kalinya.

Dengan susah payah akhirnya dia berhasil setelah demi selangkah bocah itu merambat ke atas.

Ketika berhasil sampai di atas dinding, dia menghembus napas lega, matanya yang jeli memandang ke halaman rumah yang hening dan diliputi kegelapan itu.

Ia menghela napas dan bergumam.

"Oh, Toa koko, engkau berada di mana?" -00000---OOXO0--O0O0ODi halaman rumah yang penuh salju Hui Giok sedang berdiri termangu di bawah pohon Yang yang telah layu. Udara berwarna kelabu, tiada bintang, tiada rembulan memandangi tumpukan salju yang tersebar di empat penjuru, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, seperti juga embusan angin puyuh yang melanda tanah ladang, sukarlah ia mengendalikan perasaannya yang bergolak. Pada malam yang sama seperti ini, dia pernah berdiri di bawah pohon Yang dalam perumahan Hui-liong piaukiok sambil menyesali kebodohan sendiri, membenci kebebalannya yang tak mampu mempelajari pelbagai ilmu silat pelbagai kepandaian. Ketika itu, ia pernah mengucurkan air mata karena sedih, mengenang kehidupannya yang sengsara, pengalamannya yang pahit lalu beralih ke halaman rumah yang lain, iapun mengagumi kebaikan halaman yang berada di sana, mengenang bayangan Tham Bun-ki yang ramping, kerlingan matanya yang menakjubkan. Dalam keadaan mengelamun demikiant sering kali muncul sebuah tangan kecil yang halus, yang menyekakan air matanya, kemudian dengan perasaan terhibur diajaknya masuk ke dalam rumah. Tapi di manakah tangan yang lembut itu sekarang? Masihkah menderita dalam perumahan Hui-liong-piaukiok? Merasakan kesepian dan penghinaan? Dengan penuh kepedihan ia menghela napas, bersumpah akan menyeka air mata yang meleleh dari mata yang besar itu dengan tangannya. Tiba tiba ia teringat kembali mata jeli yang muncul di antara kerumunan manusia itu. tapi dengan segera pula anak muda itu menghela napas "Tak mungkin dia. Kalau dia, mengapa ia tinggalkan aku?"

Demikian gumamnya.

Juga di tengah malam dingin yang sama, ia pernah berbaring di bawah emper rumah yang asing hanya dengan badan penat dan kecapaian setelah seharian penuh bekerja berat, ketika itu dia harus menahan rasa dingin, lapar dan rasa sedih serta kecewa yang mencekam perasaannya dan perasaan yang sukar ditahan, rasa rindu yang kuat dapat dilupakan.

Rasa rindu yang masih terdalam hatinya.

Tapi perasaan itu harus ditambah dengan penderitaan yang menyayat hati, sebab sasaran yang dirindukannya telah dipisahkan oleh selapis baja yang sukar ditembusnya, dia hanya dapat menyesali takdir yang mempermainkan dirinya kenapa ia mencintai gadis yang mestinya tidak boleh dicintainya.

Dalam pergolakan perasaan itu, tiba-tiba ia teringat kembali pada suatu kejadian lama, itupun terjadi di tengah malam yang sangat dingin seperti sekarang ini, ketika ia terjaga bangun dan suatu impian buruk dan tak bisa tidur lagi, didengarnya kabar tentang kematian ayah serta pamannya.

Rasa sedih dan penderitaan yang dialaminya ketika itu kini seakan-akan berkumpul lagi dalam lubuk hatinya.

Segala sesuatunya meski sudah terpisah amat jauh pada saat ini, namun semuanya seolah-olah muncul kembali di depan matanya, meskipun malam yang dingin di manapun adalah sama tumpukan salju pun berwarna sama, tapi...

Perubahan yang terjadi dalam dunia ini teramat ajaib, teramat besar, pemuda yang lemah, yang hidup sebatangkara dan penuh penderitaan serta siksaan itu, benarkah adalah diriku sekarang?

ia tidak percaya, ia tak akan mempercayainya, tapi bagaimanapun jua ia tak dapat tidak mempercayainya.

Kebahagiaan dan kebanggaan bagaikan kelebatan sinar kilat di udara.

tiba-tiba menjadi terang di depan mata, datang mendadak dengan begitu cepatnya.

Tapi, ada pula yang terasa sayang baginya merasa sayang karena semua itu datangnya terlambat.

Tiba-tiba ia merasa mukanya jadi dingin.

kiranya entah sejak kapan dia telah melelehkan airmata ia tidak melihat seorang sedang berjalan pelan menghampirinya di tengah kegelapan halaman orang itu sebentar berjalan.

lalu berhenti bernapas, berhenti lagi.

Dan akbimya, tiba-tiba dia di samping pemuda.

Tiba-tiba ia merasakannya dan berpaling, sebuah tangan kecil halus sedang diulurkan kemuka dengan gemetar, seperti juga kejadian dahulu di tengah malam yang dingin dalam kenangan yang tak terlupakan itu.

Rasa kejut dan gembira yang muncul secara tiba-tiba membuat anak muda itu tertegun membuatnya termangu dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

Tangan yang kecil dan mungil itu gemetar makin keras..

Dari kelopak matanya yang jeli meleleh butiran air mata rasa sedih dan gembira, butiran air mata meleleh melalui pipinya yang halus dan menetes di permukaan salju yang beku.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Hui Giok berseru.

"Tin-tin?, kau... kau..."

"Toakoko... Toakoko..."

Suara anak perempuan itu pun tersendat. Entah berapa kali ia memanggil "Toakoko."

Akhirnya ia menubruk ke dalam pelukan "Toakoko"

Nya dan menangis tersedu-sedu Di tengah kegelapan kembali muncul dua sosok bayangan manusia, mereka adalah Leng-kok siang bok yang menginap bersama Hui Giok di halaman belakang itu.

Dengan termangu mereka memandang adegan tersebut beberapa saat lamanya, kemudian menghela napas dan pelahan kembali lagi ke kamarnya.

"Mungkin anak perempuan itu adalah Wan Li tin yang sering disinggung anak Giok,"

Bisik Leng Han tiok kemudian tak tahan.

"Sungguh tak tersangka, dia .."

"Ssst, biarkan mereka bergembira, biarkan mereka mengucurkan air mata bagi pertemuan itu"

Bisik Leng Ko-bok "Anak Giok.... ai dia meman harus dihibur, dia memang pantas dihibur, bukankah begitu?"

Hui Giok memeluk Wan Li-tin erat-erat, entah berapa lama sudah lewat baru melepaskan pelukannya agar ia dapat memandangnya dan supaya si dia memandang padany.

"Kau... kau telah dewasa,"

Bisiknya sambil tertawa pedih. Nona itu tertunduk, bulu matanya yang panjang menutup kelopak matanya "Pagi tadi kulihat kau"

Katanya "Tak kusangka kau telah menjadi seorang pahlawan besar, seperti apa yang pernah kita impikan waktu masih berkhayal bersama, tapi aku tak berani munculkan diri?, begitu banyak orang-orang Hui-liong-piaukiok di jalanan, aku takut ditangkap, aku takut mereka laporkan hal ini kepada....

kepada paman Tham."

Walaupun agak keberatan dia mengucapkan, tapi kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun mungkinkah diubah dalam sekejap?

Hui Giok betul-betul tertawa meski tertawa dengan air mata yang meleleh, katanya "Mulai sekarang, kau tidak perlu takut lagi, apapun yang akan terjadi aku akan selalu melindungimu."

Wan Li-tin menengadah, memandangnya seperti seorang gadis yang memandangi pangeran dalam khayalannya, begitu kagum dia.

Ia menanyakan penghidupannya selama dua tahun ini, dan anak dara itu bercerita dengan air mata bercucuran disamping senyum gembira, bahwa penghidupannya adalah penghidupan yang sederhana, penghidupan yang penuh penderitaan, penghidupan yang kesepian tapi sekarang semua itu sudah berlalu.

Maka pemuda itupun memberitahukan kepadanya pengalamannya yang penuh keanehan selama itu, pengalamannya yang juga penuh penderitaan serta kesedihan.

Dengan terbelalak anak dara itu mendengarkan penuturan itu Tiba-tiba dari balik matanya yang jeli terpancar rasa marah, rasa dendam yang membara, ia mengepal tangannya, sambil menengadah katanya.

"Diam-diam kudengarkan orang bicara di jalanan, di Piaukiok, bahkan di manapun aku selalu dengar, benarkah ayah kita dibunuh... dibunuh orang itu?"

Sambil menggigit bibir Hui Giok mengangguk dengan berat, begitu keras ia menggigit bibirnya hingga darah merembes keluar.

Wan Lu-tin kembali menangis, sambil mendekap dalam pelukan Hui Giok dia mengeluh.

"O Toakoko, kau... kau harus membalaskan dendam ayah kita"

Hui Giok menepuk bahunya dan bergumam.

"Membalas dendam, membalas dendam!"

Tiba-tiba gadis itu berhenti menangis ia menengadah, sinar matanya yang bening itu memancarkan rasa iba, simpati, kasihan dan sedih.

"Ai, kasihan... yang paling kasihan adalah enci Tham! Tahukah kau... demi engkau, dia begitu menderita, seorang diri bersembunyi dalam kamarnya, sebentar tertawa, sebentar menangis sebentar mengatakan kau berbuat salah kepadanya sebentar lagi bilang dia yang bersalah padamu seringkali dia mengajak aku ke kamarnya untuk bercakap-cakap tapi kecuali kau, soal apapun tak pernah dibicarakan sambil berbicara ia menangis habis menangis bicara lagi!"

Setelah menghela napas sedih Lu-tin menundukkan kepalanya, seketika itu juga Hui Giok merasa darah menggelora dalam dadanya, ia terkesima dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya.

Lama sekali, Lu-tin berkata lagi "Kemudian ketika mengetahui ayahnya hendak menjodohkan dia dengan Tonghong hengte, ia melarikan diri dari rumah, tapi segera dapat ditangkap kembali oleh ayahnya, perasaannya baru bisa tenang ketika ayahnya menolak pinangan Tonghonghengte, tapi ketika aku kabur dari sana kudengar lagi dia akan dijodohkan dengan Tonghonghengte Ai, entah apa yang terjadi setelah ia mengetahui kabar tersebut."

Hui Giok berdiri bagaikan patung "Benarkah dia... dia mencintai aku?"

Gumamnya Wan Lu tin menghela napas sedih, pelahan dia mengangguk.

Hui Giok merasa telinganya seperti mencincang pesan Leng goat siancu Ay Cing sebelum ajalnya seakan akan berkumandang lagi ditepi telinganya.

Mulai detik mi selama hayat masih di kandung badan, selamanya kau tak boleh membohongi perempuan manapun selamanya tak boleh membuat sedih gadis, baik engkau mencintai atau tidak kau harus baik kepadanya, kau harus melindungi dia, dalam persoalan apapun tak boleh melukai perasaannya.

Lebih....

lebih lagi jangan kau biarkan dia dilukai orang lain."

Dengan termangu ditatapnya salju yang membeku, kembali ia bergumam.

"Sekali aku sudah bersumpah mana boleh kulukai hatinya? Betapapun dia, . dia mencintaiku aku... aku..."

Dengan pedih ia menggigit bibir sendiri "Tapi sakit hati orang tuaku lebih dalam dari lautan haruskah kuabaikan kewajibanku ini?

sebaliknya, bila kubalas sakit hati mi, kubunuh ayahnya, berarti kulukai perasaannya, bukankah perbuatanku ini berarti pula melanggar sumpah !"

Ya, dendam ayahnya, sumpah beratnya keduanya ternyata saling bertentangan antara cinta dan dendam sukar dipisahkan, tanpa terasa ia terbayang kembali perkataan Leng-goat-siancu yang gemetar dan penuh penyesalan itu.

Persoalan ini meski gampang diucapkan, pada hakekatnya sukar untuk dilaksanakan sebab di dunia ini selalu akan muncul pelbagai alasan yang aneh, yang membuat kau mau tak mau harus me lukai perasaan orang yang kaucintai!"

Pelbagai alasan yang aneh... pelbagai alasan yang aneh.... orang yang kaucintai... orang yang kaucintai."

"Toakoko,"

Tiba-tiba Wan Lu-tin menjerit kaget, kau... mengapa kau darahmu..."

Dengan tangan yang halus ia bantu Hui Giok mengusap darah yang meleleh dari bibirnya, meski di tengah malam yang dingin, tapi darah Hui Giok rasanya panas bagai api yang membara.

Dengan terharu dipegangnya tangan gadis itu, diusapnya dengan penuh kasih sayang, setelah menghela napas, berkatalah Hui Giok.

"Bagaimanapun juga, usiamu masih terlalu kecil, banyak persoalan ai tak akan kau pahami"

Dengan menurut Wan Lu-tin mengangguk sekalipun dia enggan dianggap anak kecil, tapi perkataan itu diucapkan oleh "Toakoko"

Nya, betapapun dia menganggapnya pasti benar.

Lama sekali ia termangu, tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu segera ia berkata lirih "Orang yang paling akhir bersamamu tadi apakah bernama jit giau tui hun?"

"Darimna kau tahu?"

Hui Giok heran.

"Dia bukan orang baik? Aku pernah melihatnya di kantor Hui-liong-piaukiok kulihat dia masuk lewat halaman belakang dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan entah apa yang dibicakannya dengan Tham... Tham Beng, hingga malam hari kedua dia baru pergi dengan gerakgerik yang aneh, bahkan naik kudapun tak berani."

"Benarkah itu?"

Hui Giok terkejut.

"kau melihatnya dengan jelas?"

Dengan penuh keyakinan Wan Lu-tin mengangguk Tiba-tiba dari belakang sepotong batu gunung tak jauh sana berkumandang suara helaan napas menyusul seorang menanggapi dengan nada yang berat.

"semuanya benar!"

Air muka Wan Lu-tin berubah hebat, dengan terkejut Hui Giok segera membentak.

"Siapa?"

Selagi ia hendak menerjang ke sana tak terduga sesosok bayangan orang lantas muncul, dia tak lain tak bukan adalah Jit-giau-tui hun Na Hui hong.

"Benar.... benar, semuanya memang benar,"

Demikian gumamnya pula. Tersembul senyuman rasa menyesal di ujung bibirnya, ia berkata lagi dengan lirih.

"Bengcutoako, maafkanlah perbuatanku yang telah mencuri dengar pembicaraan kalian ini, sejak adik cilik ini masuk ke halaman, aku lantas mengetahuinya sebab itulah akupun keluar dan kamarku."

Wan Lu-tin berdebar keras, dia mengira gerak-geriknya sudah cukup hati-hati, tak tahunya toh masih diketahui orang lain, sekarang dia mulai paham, ketajaman pendengaran orang-orang persilatan memang luar biasa, Yang mana tak pernah dipercayai sebelumnya sekarang ia mulai percaya di samping itu iapun mulai berduka bagi mereka.

"Seorang yang hidup di luaran dan banyak mengikat permusuhan pasti seperti mereka keadaannya, makan tak enak tidur pun tak nyenyak, setiap waktu setiap saat selalu kuatir akan diserang orang lain."

Sementara itu, dengan tatapan mata yang tajam dan mulut membungkam Hui Giok mengawasi orang she Na itu tanpa berkedip.

Jit-giau-tui-hun yang tersohor karena kebuasan dan kelicikannya itu sekarang berdiri dengan wajah malu dan penuh penyesalan.

"Ya, Bengcu,"

Katanya tergegap.

"Terus terang aku memang mengadakan persekongkolan dengan Liong-heng pat-ciang, dia bantu aku membasmi Perserikatan orang-orang Kanglam, bantu aku membunuh Kim-keh Siang It-ti dan bunuh Sin-jiu Cian Hui serta hehehe ..serta engkau Bengcu, bila pekerjaan ini berhasil maka dia akan bantu aku membentuk Perserikatan baru serta mengangkat diriku sebagai Bengcunya"

Hui Ohok hanya mendengarkan dengan seksama tidak emosi, tidak marah ataupun merasa benci.

Jit-giau-tui-hun berdehem pelahan, kemudian berkata lagi "Kematian Siang It ti tadi ai pada hakikatnya adalah hasil karyaku sendiri ku anjurkan dia memusuhi Bengcu dan akupun menyanggupi akan datang untuk membantunya."

Mendengar sampai di sini, Hui Giok tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menghela napas panjang "Ai, kau.... kau memang kelewat kejam!"

Desisnya kemudian. Dengan bungkam Na Hui-hong menundukkan kepalanya. Tiba-tiba Hui Giok berkata lagi.

"Kalau begitu, laki-laki yang memaki Tonghong hengte dari tempat gelap juga merupakan hasil karyamu? Kalau tidak, kenapa mereka mengucapkan kata kata yang tidak menguntungkan Tham Beng"

Semakin rendah Na Hui-hong tertunduk.

"Ya orang-orang itu adalah suruhanku, akulah yang memerintahkan mereka berbuat demikian, sebab ku... kuatir jika Tham Beng sampai berbesanan dengan Tonghong-hengte, pengaruhnya pasti akan besar dan kemudian andaikata dia ingkar janji, bahkan membunuh aku tentu aku tak bisa berbuat apa-apa?"

Terkesiap juga hati Hui Giok mendengar keterengan itu, dia menghela napas panjang "Ai, demikiankah keadaan dunia persilatan yang sebenarnya? Mengapa setiap orang harus tipu menipu?"

"Ai, pada hakikatnya dunia persilatan adalah dunianya kaum kuat menindas kaum lemah"

Kata Jit-giau-tui hun Na Hui hong sambil menghela napas "Semula kupikir orang yang berhati bajik tentu tak akan mampu hidup di dunia persilatan ini, tapi ai, sekarang aku baru tahu bahwa pikiranku itu keliru, di manapun jua orang baik selamanya tak akan kesepian."

Sesudah berhenti sebentar dengan kepala yang tertunduk rendah sambungnya lebih jauh.

"Kesemua ini tak lain adalah berkat watak Bengcu yang mulia dan bijaksana, tabiatmu telah mengharukan hatiku! Aku sebenarnya setelah Bengcu berhasil kupancing sampai di sini, makanan dan arak yang kuhidangkan kepadamu hendak kucampur dengan racun yang paling jahat racun itu bahkan sudah kusiapkan, racun itu adalah sejenis racun jahat yang tak berwarna maupun berbau, tapi ai aku benar-benar merasa tak tega untuk melaksanakan niat jahatku ini!"

Hui Giok terkesiap, baru sekarang ia sadar jiwanya tadi sebenarnya telah berada di ambang pintu akhirat.

Ia menghela napas panjang, sebetulnya dia hendik mengucapkan sesuatu, tapi sebelum niatnya terlaksanakan, tiba-tiba dari luar halaman, dan balik kegelapan berkumandang suara tertawa dingin yang menyeramkan.

Malam sudah hampir berakhir embusan angin terasa makin dingin suara tertawa dingin itu terasa menggidikkan.

Baik Hui Giok maupun Na Hui hong serta Wan Lu-tin serentak terperanjat "Siapa itu?"

Bentak Na Hui-hong "Tahu kesalahan dan bersedia bertobat itu menandakan kau masih bisa dididik, bila rencana busukmu itu kau laksanakan, kau kira nyawamu masih bisa hidup sampai sekarang?"

Suara itu muncul dari kegelapan, nyaring, tegas dan menggetar perasaan.

Terbawa oleh embusan angin dingin, sulit bagi Hui Giok dan Na Hui hong untuk menentukan darimanakah suara itu berasal, se akan2 jauh tapi terasa dekat, padahal sepuluh tombak di sekeliling halaman itu tak nampak bayangan manusia.

Hati Hui Giok tergerak, cepat teriaknya.

"Suhu... Locianpwe " -Berbareng itu juga ia melayang ke udara, ujung kakinya menutul di atas ranting pohon, dengan dua-tiga kah lompatan ia sudah berada di luar halaman. Tapi suasana tetap hening, angin berembus kencang, memandang jauh ke depan, yang tertampak hanya keheningan belaka dengan tanah bersalju yang lapang, seakan2 sejak dulu sampai sekarang tak pernah ada manusia yang muncul di situ. Hui Giok celingukan memandang ke sana ke mari, kemudian teriaknya lagi suhu! Locianpwe.."

Sekeras geledek teriakan itu sampai salju di ranting pohon pada gugur ke tanah, seekor burung bersuara kaget dan terbang dengan ketakutan, dalam sekejap mata lenyap pula di balik kegelapan.

Hui Giok berdiri dengan termangu, setelah menghela napas ia berkelebat kembali ke dalam halaman Waktu itu Wan Lu-tin sedang menanti dengan penuh pengharapan matanya yang jeli menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip sinar matanya adalah sinar mata penuh rasa kagum.

Jit giau-tui-hun Na Hui-hong berdiri dengan tangan terjulai ke bawah, mukanya pucat, matanya terbelalak dan mulutnya melongo, peluh sebesar kacang kedelai membasahi jidatnya.

Menyaksikan keadaan orang, tersenyumlah Hui Giok.

"Melepaskan golok pembunuh, berpaling mencapai tepian, Siaute pantas mengucapkan selamat untuk saudara Na."

Katanya menirukan sabda Budha.

"Ya, mulai sekarang mungkin tidurmu akan bertambah nyenyak dan makan pun akan bertambah nikmat."

Sambung Wan Lu tin tiba2 sambil tertawa manis.

Dengan tangan yang gemetar Jit-giau-tui-hun Na Hui-hong menyeka peluh dingin yang membasahi jidatnya, ia merasa jantungnya berdebar keras, di dalam hati ia berguman.

"Melepaskan golok pembunuh, berpaling mencapai tepian."

Mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, serunya lantang.

"Hahaha... sungguh tak kusangka, jadi orang bajik jauh lebih menyenangkan daripada menjadi orang jahat."

Sebagai seorang yang berasal dari golongan hitam, yang biasa membunuh dan merampok, tentu saja ia tidak menyadari bahwa ucapan yang sederhana itu sebenarnya mengandung makna yang luas mengandung filsafah yang tidak sederhana.

Diam-diam Hui Giok berpikir dalam hati "Entah berapa malam dia tidak tidur berapa besar penderitaan batinnya sebelum mengucapkan kata-kata sederhana yang sebenarnya tidak sederhana ini, semoga semua orang jahat yang ada di dunia ini dapat hadir di sini dan mendengarkan kata-kata yang timbul dan hati sanubarinya itu."

Mereka bertiga saling pandang sekejap tiba2 taman yang sepi dan dingin itu seakan-akan berubah jadi hangat dan nyaman, sebab taman tersebut sekarang penuh dengan watak kebaikan asli kemanusiaan.

Jalan raya di dalam kota Han-ko ketika berada dalam keheningan dengan udara yang dingin.

Banyak laki-laki berpakaian ringkas dengan sepatu kulit mereka yang berat tiada hentinya melewat tanah bersalju itu sambil mengawasi kereta-kereta barang kawalan di tepi sungai.

Meski masih banyak orang yang ingin tahu dan sok mencampuri urusan orang lain, demi menyelidiki awal dan suatu pertarungan sengit yang akan berlangsung, mereka harus berdiam semalam suntuk di kedai-kedai minum.

Namun.

keheningan serta hawa dingin yang menerkam empat penjuru masih tetap begitu berat, sedemikian beratnya sehingga terasa menekan perasaan setiap orang, menindih dada mereka hingga sukar rasanya untuk bernapas.

Kadangkala meledak gelak tertawa yang keras memecah keheningan yang mencekam malam yang gelap itu.

tapi berapa banyak pun gelak tertawa yang terdengar tidak akan berhasil menyingkirkan perasaan berat yang menekan hati orang-orang itu.

Tiba2 dari ujung jalan raya sebelah sana berkumandang jerit ngeri yang menyayat hati.

Entah berapa banyak orang yang segera berlari menuju ke tempat datangnya suara jeritan itu, tapi yang dijumpai hanya gumpalan darah kental yang mulai membeku di atas permukaan salju yang putih.

Disamping gumpalan darah beku, seorang anak buah Hui-liong-piaukiok tergelepar dengan badan telentang, wajah sang korban diliputi rasa kaget dan ketakutan, matanya yang kaku masih memandang ke angkasa dengan pandangan yang kosong.

Sebilah belati yang tajam menancap di atas dadanya yang bidang dan darah yang menetes keluar segera akan membeku bersama kengerian yang menyelimuti suasana di tengah malam dingin itu.

"Cian Sin-jiu mulai beraksi!"

Teriakan demi teriakan yang penuh kegembiraan segera tersiar ke mana2, tersebar di balik jalan raya yang sepi.

Suara jeritan lain tiba2 berkumandang dari sudut jalan yang lain.

Delapan ekor kuda tiba-tiba menerjang keluar dari sebuah bangunan besar di tepi jalan, dua orang yang berada paling depan membawa terompet yang segera ditiup keras-keras.

Di tengah denging suara terompet yang susul menyusul rombongan penunggang kuda itu segera bermunculan dan setiap sudut jalan di kota itu.

Mengikuti derap kaki kuda yang ramai seorang laki-laki dengan suara yang kuat segera berteriak keras.

"Semua saudara yang tergabung di bawah panji Naga Terbang, hendaknya berkumpul di tempat penyeberangan sungai Tiang-kang, jangan sampai terpencar!"

Teriakan itupun sambung menyambung tersebar ke seluruh pelosok kota yang gelap itu.

Dalam waktu singkat suasana dalam kota jadi kalut, ketenangan segera terenggut, keamanan tersita, keadaan jadi kacau balau.

sekalipun ada sekawanan opas bersenjata lengkap yang melakukan perondaan dengan perasaan apa boleh buat, tapi penglihatan mereka se-akan-akan tidak menghiraukan cahaya golok dan genangan darah.

Mereka menganggap semua ini sebagai berjangkitnya penyakit menular, sebagai wabah.

Penyakit menular memang tak bisa dilawan dengan kekuatan manusia tapi penyakit menular pada suatu ketika tentu akan berakhir.

Tapi jeritan ngeri masih berkumandang tiada intinya kadangkala muncul di sebelah timur, lain saat timbul di sebelah barat.

Seorang laki-laki mabuk berjalan dengan sempoyongan mencari tempat kencing, celakanya, sebilah golok tak bersarung terselip di pinggangnya, lebih celaka lagi kebetulan ada delapan penunggang kuda itu berlari lewat di sampingnya.

Maka penunggang kuda itupun membentak nyaring dan cahaya golok pun berkilat di angkasa.

Laki-laki pemabuk yang sempoyongan itu hanya merasakan kepalanya dingin dan sakit, lalu dengan mengenaskan roboh terkapar di atas permukaan salju dan membiarkan tubuhnya diinjakinjak oleh kaki kuda yang lalu di atas tubuhnya.

oOo oOo oOo Angin berhembus makin kencang.

Sebuah perahu yang berlayar hitam menyeberang dari balik kegelapan dan berlabuh di tepi sungai yang sunyi.

Sebelum perahu mencapai tepian, beberapa sosok bayangan hitam lantas melayang turun dari perahu itu, kemudian tanpa berhenti berkelebat ke depan dan lenyap dalam kegelapan.

Gerak gerik mereka sangat misterius ibaratnya sukma gentayangan yang datang den neraka.

Siapakah mereka?" ~ oOo --oOo -Lima ekor kuda jempolan mengiringi sebuah kereta besar muncul dari balik kegelapan dan berlari sepanjang jalan raya kota yang sepi, yang paling depan adalah seorang laki-laki berambut dan berjenggot putih, bermata tajam dan bertampang keren.

Entah siapa yang mulai dulu, mendadak ditepi jalan berkumandang teriakan kaget.

"Liong heng pat-ciang datang!"

Baru saja suara itu berkumandang tahu-tahu sebuah telapak tangga yang kuat menutup bibirnya dan menyeret orang itu ke tempat gelap di celah emper rumah.

Maka, tak ada orang yang berteriak lagi.

Kereta itu berhenti di depan sebuah bangunan besar di tepi jalan, sebenarnya di depan pintu terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan "Kantor cabang perusahaan Hui-liong piaukiok"

Tapi entah mulai kapan papan nama itu sudah dicopot orang.

Liong-heng-pat-ciang Tham Beng yang berada paling depan segera melompat turun dari kudanya.

Dengan satu lompatan enteng ia menyelinap ke depan kereta lalu serunya dengan suara perlahan "Anak Ki, ayo turun!"

Tabir tersingkap, Tham Bun-ki yang pucat dan bermata pudar pelahan turun dari kereta itu.

Mukanya waktu itu tampak layu, tidak beremosi, bahkan matanya yang jeli kini tampak buram.

Dengan pandangan kosong dan pikiran hampa dia melangkah di atas tanah bersalju dan masuk ke gedung megah itu, matanya tidak melirik, kepalanya tidak berpaling bahkan terhadap ayahnya juga tak memandangnya sekejap pun.

Liong-heng pat-ciang Tham Beng menghela napas sedih tanpa bicara dia ikut masuk ke dalam rumah itu.

Pintu gerbang yang tebal dan berat segera tertutup dengan menimbulkan suara yang keras, memotong pandangan orang banyak tapi tak dapat memotong bisikan orang banyak.

Liong heng pat ciang datang...

Liong heng pat-ciang telah datang..."

Udara malam berubah semakin kelam dan berat.

Entah berapa lama lagi waktu fajar?

--o-O-fo+O -o-Bangunan yang megah tapi suram itu segera diterangi cahaya lampu.

Namun langkah kaki yang kacau berubah menjadi ringan, enteng hampir tak menimbulkan suara Liong-heng-pat-ciang Tham Beng dengan wajah sedingin es buru-buru berjalan menuju ke ruangan sebelah barat.

Baru saja dia melangkah masuk ke pintu halaman, bentakan tertahan segera berkumandang dari balik ruangan.

"Siapa?"

Tham Beng berdehem pelahan, cahaya lampu segera menerangi seluruh ruangan dan Tonghong ngo kiam yang berpakaian tidur menyambut kedatangan Piautau itu di depan pintu.

"Paman Tham, mengapa engkau menyusul kemari di tengah malam buta begini"

Sapa Tonghong Tiat sambil tersenyum. Senyuman menghiasi wajah Liong~heng~pat ciang Tham Beng yang suram, jawabnya.

"Seharusnya sejak kemarin aku sudah sampai di sini untuk menantikan kedatangan Hiantit sekalian, tak tersangka karena keterlambatanku menyebabkan kalian mesti makan hati oleh karena kaokan manusia liar yang tak karuan itu."

Tonghong Kang terbahak-bahak.

"Hahaha, berita paman Tham sungguh luar biasa cepatnya."

Diiringi gelak tertawa mereka lantas masuk keruangan, tapi benarkah gelak tertawa itu timbul dari lubuk hati yang tulus dan murni?

Setelah berlangsung pembicaraan ringan, tiba2 Liong-heng-pat-ciang Tham Beng menghela napas panjang, kemudian mengalihkan pembicaraan ke pokok persoalan yang sebenarnya.

"Aku jadi teringat kembali pada lamaran yang pernah Hiantit ajukan pada tahun yang lalu,"

Demikian ia berkata.

"waktu itu, berhubung usia putriku masih kecil, lagipula merasa tak berani menerima penghargaan setinggi ini maka lamaran tersebut belum kuputuskan. Tonghong Ouw tersenyum, dia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi dijawil ujung bajunya oleh Toakonya, maka kata-kata tersebut urung diucapkan. Liong heng-pat-ciang mengalihkan pandangannya entah melihat atau tidak sikap orang, ia berkata lebih jauh.

"Tapi sejak peristiwa di perkampungan Long bong-san ceng, dimana putriku sudah mendapat bantuan yang besar dan keponakan Ceng, sungguh tak tersangka dia.... Dia.... ai ternyata diapun menaruh hati terhadap keponakan Ceng!"

Air muka Tonghong Ceng tetap kelihatan kaku, sedikitpun tidak emosi. Sebaliknya Tonghong Tiat lantas berseru sambil tersenyum "Wah, rupanya Samte yang punya rejeki besar!"

"Ya, selama kumalang melintang dalam dunia persilatan, dia satu-satunya putri yang kumiliki!"

Ujar Tham Beng lebih lanjut "Sebab itu kalau dia sendiri juga mau, maka terpaksa baru kutebalkan muka dan menyinggung kembali urusan lama dengan kalian."

Tampaknya ia sengaja menekankan "urusan lama"

Tersebut, seakan-akan dengan demikian persoalan itu bukan kehendaknya melainkan keluarga Tonghong yang mengemukakan lebih dulu.

Tonghong-hengte saling pandang sekejap sebelum berkata, Tham Beng telah bersuara pula.

"Cuma ai, keluargaku adalah keluarga yang rendah, entah derajat kami setimpal dengan derajat keluarga Tonghong atau tidak?"

Air muka Tonghong Ceng masih tetap tanpa emosi, namun juga tidak bermaksud menghindarkan diri.

Tonghong Tiat segera tersenyum "Nama besar paman Tham termashur sampai ke manamana, dalam sepuluh tahun akhir ini belum pernah ada jago persilatan yang dapat menjajarkan namanya dengan nama besar paman Tham.

Kalau paman Tham mengatakan derajat keluarga terlalu rendah, maka hal ini malahan membuat keponakan sekalian jadi tak enak hati."

"Ah. keponakan terlalu memuji."

Sambil tertawa Liong heng-pat-ciang mengelus jenggotnya "Kalau memang begitu, apakah saat ini keponakan Ceng membawa sesuatu benda yang bisa digunakan sebagai tanda ikatan perjodohan ini?" -Cuma......"

Tiba-tiba Tonghong Tiat menukas "Apa lag?"

Tanpa terasa air muka Liong-heng pat-ciang rada berubah.

Mencorong sinar mata Tonghong Tiat, kemudian berkata dengan tersenyum "Apakah paman Tham tidak merasa bahwa keputusan yang kau ambil ini tak terlampau terburu napsu?

Bagaimana pun juga persoalan ini menyangkut kebahagiaan hidup Samte kami, maka sudah sepantasnya kalau kami bersaudara harus menimbang persoalan ini dengan sedikit lebih serius."

Liong heng pat ciang mengerling, otaknya juga berputar memikirkan persoalan ini, kemudian katanya.

"Persoalan ini.... Meskipun betul pendapat kalian, tapi keadaan saat ini luar biasa, terpaksa kita mengambil keputusan dengan cepat. Ya, untunglah kita orang persilatan, soal adat istiadat rasanya juga tidak perlu kita hiraukan lagi... Hahaha, begitu bukan?"

Dia berpikir sambil bicara, maka kata-kata pembukaan tadi diucapkan dengan sangat lambat, begitu keputusan diambil, kata-kata selanjutnya diutarakan dengan lancarnya.

"Situasi sekarang tampaknya luar biasa"

Tonghong Kang dengan berlagak tidak mengerti. Kembali Liong-heng-pat-ciang memeras otak, lalu menghela napas panjang.

"Ai, terus terang saja kukatakan, dewasa ini Hui-liong-piaukiok kami telah bertemu dengan musuh tangguh padahal aku cuma mempunyai seorang puteri saja, maka hatiku baru bisa tenang setelah ia mendapat perlindungan yang dapat dipercaya."

Pelahan Tonghong Tiat mengangguk "Ya, paman Than memang terlampau sayang pada puteri satu-satunya, perkataanmu memang ada benarnya."

Sebagai seorang pemuda yang jujur, perkataan tersehut timbul dan lubuk hatinya yang murni.

Tonghong Ouw yang selama ini membungkam tiba-tiba berkata dengan dahi berkerut "Akhirakhir ini berita dunia persilatan mengatakan bahwa paman Tham mempunyai hubungan yang erat dengan peristiwa berdarah yang berlangsung belasan tahun yang lalu, numpang tanya kabar ini benar atau tidak?"

Jilid ke-18 Dasar pemuda berdarah panas, apa yang ingin diketahui dalam hati segera pula diutarakan tanpa tedeng aling-aling.

Air muka Liong-heng-pat-ciang berubah hebat, tiba-tiba ia menengadah lalu tertawa terbahak2.

"Haha. fitnahan kaum bandit yang berjiwa kotor tak perlu kugubris, apakah keponakan sekalian percaya pada kabar tersebut?"

Tonghong Kang dan Tonghong Ouw saling pandang sekejap, tapi sebelum mereka bicara lagi, Tonghong Tiat menjela lebih dulu sambil tertawa.

"Selama mengembara di dunia persilatan, paman Tham memang sukar menghindarkan permusuhan dengan orang, Ngo-te mana boleh kau..."

"Hahaha, keponakan Ouw masih muda dan berparah panas, memang begitulah watak seorang muda yang normal jangan salahkan dia!"

Cepat Liong-heng-pat-ciang berseru sambil tertawa. Kemudian, sinar matanya tertuju ke arah Tong-hong Ceng tapi berkata terhadap Tonghong Tiat.

"Keponakan Tiat, menurut adat, kakak tertua bisa mewakili ayah. Apabila keponakan Tiat dapat mengambil keputusan dan Setuju, kuyakin Tonghong loyacu"

Belum habis ucapannya mendadak dari luar terdengar suara langkah orang yang ramai, dengan dahi berkerut Liong heng-pat-ciang segera berbangkit.

"Ada apa?"

Bentaknya dengan gusar.

Dengan tangan yang terjulai ke bawah dan kepala tertunduk rendah, Pat kwa-ciang Liu Hui berdiri munduk-munduk di bawah undak-undakan, ketika Tham Beng muncul ia lantas berkata dengan prihatin.

"Ada orang mengantarkan tiga kotak hadiah kemari apakah Congpiautau hendak melihatnya?"

Air mukanya tampak diliputi rasa kaget dan ketakutan, ketenangan yang dimilikinya pada hari2 biasa kini lenyap tak berbekas, Tham Beng cukup tahu bahwa anak buahnya yang ini selalu tenang, maka perubahan sikapnya itu membuktikan ada suatu kejadian besar telah berlangsung, ia termenung sebentar baru saja akan melangkah pergi, tiba2 Tonghong Kang berseru sambil tersenyum "Bila ada sesuatu yang kurang leluasa silakan paman Tham berlalu lebih dulu."

Ruang tengah penuh diliputi suasana yang menyeramkan Liong heng-pat-ciang Tham Beng berdiri kaku di hadapan tiga buah batok kepala dengan muka sepucat mayat dan tubuh gemetar karena embusan angin dingin di luar.

Hui-liong-sam-kiat, tiga orang gagah dari Hui-liong-piaukiok yang namanya tersohor di dalam dunia persilatan, ternyata telah terbunuh dengan mengenaskan!

************************** Hal 5 robek sebagian ************************** kan tekanan batin yang berat, meski kedua tangan Pat-kwa-ciang Liu Hui mengepal kencang, namun masih kelihatan juga tangan itu gemetar tiada hentinya.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Tong hong Kiam menjerit kaget "He, di mana Samte?

Ke mana dia?"

Dengan kaget semua orang berpaling, betul juga Tonghong Ceng yang sejak tadi hanya berdiri kaku membungkam, kini sudah lenyap tak berbekas.

************************** Hal 6 robek sebagian ************************** Dengan wajah yang murung dan sedih Tham Bun ki seorang diri duduk di bawah lampu, cahaya lampu yang mirip impian menyinari sepasang matanya yang sayu dan rambutnya yang hitam.

Seluruh tubuhnya, jiwanya, perasaannya seolah-olah berada di alam mimpi, impian yang penuh penderitaan, penuh penyesalan.

Kegembiraan dan senyuman suka dukanya di masa lalu kini sudah jauh meninggalkan dia, sebab tubuh dan jiwanya telah berubah jadi kaku, seperti orang linglung.

Dalam hati dia sudah mengambil keputusan selama hayat masih dikandung badan, dalam hidupnya ini dia tak akan kenal lagi apa artinya "cinta kasih"

Sebab "cinta kasih"

Adalah sesuatu yang amat menakutkan.

Dia buang jauh-jauh segala kenangan lama, ia buang jauh-jauh segala kerinduan, dia hanya tahu hidup bagaikan sesosok mayat hidup, terserah, masa bodoh.

kapan ayahnya mengaturkan saat pernikahannya, kapan pula dia akan mengenakan pakaian pengantin, lalu...

Lalu bagaimana?

Diapun buang jauh-jauh segala pikiran selanjutnya, sebab dia percaya kehidupan yang serba kaku ini akan membuat dirinya cepat mati atau sebelum kekakuan membinasakan dirinya dia akan bunuh diri sendiri.

Tiba-tiba .

terdengar suara pelahan di luar jendela, ia tidak menggubris, tidak menegur ataupun bergerak, seakan-akan suara itu tak didengar olehnya.

Tapi dari luar jendela segera berkumandang suara orang menegur dengan suara tertahan "Nona Tham!"

Dengan pikiran yang kosong ia mendekati jendela, membuka dan melongok keluar.

Meski dalam hati kecilnya waktu itu timbul juga sedikit rangsangan tapi ia segera buang jauhjauh segala pikiran, menolak segala kesedihan atau pun kegembiraan.

Bayangan hitam berkelebat di luar jendela, seperti sedang menggapai padanya.

Ketika bayangan di luar jendela itu menggapai lagi untuk ketiga kalinya!

secara di bawah sadar gadis itupun melayang keluar jendela.

Ilmu meringankan tubuh Tham Bun ki masih tetap indah dan mempesona, di tengah keheningan malam yang dingin ia meluncur keluar dengan entengnya.

Namun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang di depan sana ternyata jauh lebih hebat lagi, hal ini membuat Tham Bun-ki!

rada terperanjat.

Tapi dengan cepat dia buang jauh-jauh semua pikirannya Sekejap kemudian, secara beruntun kedua orang itu sudah melayang keluar halaman belakang, melintasi rumah yang berderet dan menuju ke pinggiran kota yang sepi, Di bawah pohon Pek-yang yang sudah layu tiba-tiba bayangan manusia di depan itu berhenti.

Dengan enteng Tham Bun ki berkelebat ke depan dan melayang turun tepat di hadapan orang tampaklah orang itu bertubuh jangkung bermata tajam, bermuka pucat dengan alis mata yang bekernyit penuh kemurungan.

Bun-ki cukup kenal siapa gerangan orang ini dia tahu orang-orang ini adalah pemuda yang paling tampan dan disanjung puji orang dalam dunia persilatan, Tonghong Ceng dari Tonghong ngo-kiam, dia pun tahu orang ini tak lain adalah bakal suami sendiri yang dipilihkan oleh ayahnya.

Meski demikian mukanya tetap hambar, tetap kosong, tidak kelihatan kaget juga tidak kelihatan malu, malah dengan nada dingin ia menegur "Ada urusan apa?"

Ketenangan dan keketusan yang luar biasa ini, seketika membuat Tonghong Ceng jadi tertegun.

Lama sekali ia berdiri kaku, dia ingin mengubah seluruh perasaannya menjadi kekuatan yang dapat menenangkan hatinya, setelah air mukanya kembali tak beremosi, pelahan ia baru menjawab "Aku cuma ingin menanyakan satu hal kepadamu."

"Katakan"

"Apakah kau bersedia kawin dengan aku"

TongHong Ceng mengepal tangannya kencang2

"Yaa."

Tonghong Ceng menggigit bibirnya dengan kuat, lama sekali baru bertanya lagi dengan dingin.

"Apakah kesedianmu itu timbul dari hati sanubari mu sendiri?"

"Tidak."

Tonghong Ceng terkesiap, hawa dingin terasa menyusup naik dari alas kakinya hingga menembus hulu hatinya, matanya memandang ke tempat kegelapan dengan tatapan kosong, lama sekali ia baru berkata lagi.

"Lalu persoalan apakah yang memaksa kau menerima perjodohan ini?"

Tham Bun-ki mengalihkan pandangan dan melirik sekejap ke arahnya, tatapan yang kaku, seakan akan Tonghong Ceng hanya sepotong balok kayu belaka.

"Bila kawin dengan kau, maka selamanya ayah tak akan mencelakai jiwa Hui Giok lagi."

Sahutnya kemudian dengan tak acuh. Berbicara sampai di sini, tiba-tiba sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya, senyuman yang penuh ejekan, senyuman menghina.

"Sudah pahamkah kau! Sudah puaskah kau! lanjutnya sejenak kemudian Tonghong Ceng berdiri kaku seperti patung, ia merasa pipinya seakan-akan baru ditampar orang keras-keras, mukanya sebentar berubah jadi pucat dan sebentar menghijau, pikirannya jadi kusut dan bergolak, tiba-tiba teriaknya.

"Baik, baik, kau tak perlu kawin dengan aku! aku akan pergi, segera aku pergi!"

Sekali melompat, seperti orang gila dia berlari menuju ke tempat kegelapan, yang tertinggal hanya gema suaranya yang gemetar tadi terbawa embusan angin.

Kegelapan malam menyelimuti wajah Tham Bun-ki yang pucat, di balik kelopak matanya tampak butiran air mata dan membuat matanya berkaca-kaca, ia tahu bahwa perbuatannya telah melukai perasaan seorang pemuda, diapun sadar beberapa patah katanya yang singkat tapi dingin dan kaku itu ibaratnya berjuta-juta batang anak panah yang menghunjam hulu hati pemuda itu, mencabik-cabik perasaannya.

Tapi, segera ia membuang jauh-jauh semua pikiran itu.

Sejak itu dunia persilatan akan kehilangan seorang pendekar muda yang bermasa depan cemerlang, upacara pernikahan yang diidam-idamkan ayahnya juga selamanya tak akan terselenggara, hari bahagia yang telah diatur itu pun akan terus terkatung-katung.

Tapi, apa sangkut pautnya segala sesuatu itu dengan dia?

Kembali dia menolak untuk memikirkannya.

Apapun tak dipikirkan lagi olehnya, seperti kejadian apapun seakan-akan tak pernah berlangsung.

Dengan langkah yang tenang ia berjalan kembali ke kamarnya.

Belum beberapa langkah ia berjalan, tiba2 nona itu merasa ada sesosok bayangan orang mengadang di hadapannya.

Bayangan manusia itu muncul secara mendadak, ibaratnya segumpal kabut yang tlba-tiba mengambang tiba, cepat Tham Bun-ki menghentikan gerakan tubuhnya dan memandang ke depan.

Entah sedari kapan, tahu-tahu di depan telah berdiri seorang perempuan berbaju seputih salju, bersanggul tinggi dan mempunyai perawakan tubuh yang tinggi dan besar begitu besarnya sehingga agak mengerikan.

Yang paling aneh, di punggung perempuan itu menggendong sebuah keranjang berwarna kuning emas, dalam keranjang berduduk seorang pria berbaju kuning emas pula.

Laki2 itu bertubuh cebol.

perawakannya persis seperti seorang anak kecil.

tapi bajunya perlente seperti seorang raja muda.

Jenggotnya panjang sekali, ketika terembus angin ber-goyang2 mengibas sanggul si perempuan yang tinggi, sementara kedua matanya yang tajam menatap wajah Tham Bun-ki tanpa berkedip.

Terkesiaplah gadis itu, segera teringat olehnya siapa gerangan kedua orang aneh yang dihadapinya ini.

Dengan air muka sedingin es dan tanpa emosi ia lantas menjura, lalu bertanya dengan suara hambar.

"Ada urusan apa?"

Kim tong menghela napas panjang.

"Ai, rupanya kecuali anak Giok mati di hadapannya, persoalan apapun di dunia ini mungkin tak akan bisa menggerakkan hatinya lagi"

Giok-Ii juga menunjukkan perasaan kasihan bercampur kuatir, ujarnya.

"Anakku, usiamu masih muda, masa depannya masih panjang, kenapa pikiranmu tak bisa terbuka?"

Tham Bun-i"

Tertawa pedih.

"Bila urat sutera telah menjadi kepompong, serat sutera baru bisa diambil. Lilin sudah meleleh air mata sudah mengering, segala sesuatu kejadian di dunia ini laksana bunga dalam cermin dan bulan dalam air, siapa bilang jalan pikiran Wanpwe belum terbuka?"

"Sungguhkah itu?"

Tanya Kimtong sambil mengelus jenggotnya dan tertawa. Giok-li berpaling sekejap ke arah suaminya lalu mengomel "perasaan orang sudah menjadi begini masa dia membohongi lagi dirimu?"

"Hahaha. ."

Kim-tong terbahak-bahak.

"Nak. terus terang kuberitahukan kepadamu, ulat suteramu belum menjadi kepompong, lilinmu juga belum meleleh, selama masih ada kami suami isteri, di dunia ini tak akan ada bibit cinta yang mati sebelum bersemi."

Mencorong sinar mata Tham Bun-ki, tak tahan lagi ia menengadah dan melirik sekejap ke arah berdua orang tokoh persilatan itu. Giok li tertawa ringan, sambil membelai rambutnya iapun berkata.

"Nak, usaha yang bersungguh-sungguh dapat membuat batu dan emas jadi meleleh, di dunia ini tak ada persoalan yang tak bisa di tundukkan oleh cinta yang sejati, teringat kembali peristiwa masa lalu, ketika aku dan dia..."

Dengan pandangan penuh kasih sayang diliriknya Kim-tong sekejap, tiba2 pada wajahnya yang kasar tersungging senyuman yang lembut.

"Rintangan dan kesulitan yang kami hadapi waktu itu berpuluh kali lipat lebih hebat daripada apa yang kalian alami sekarang,"

Sambungnya perlahan.

"tapi..coba kau lihat, bukankah sampai sekarang pun kami masih tetap dua sejoli dan selalu berada bersama?"

Dengan termangu Thani Bun-ki memandang potongan tubuh mereka yang aneh, memandang kelembutan dan kasih sayang mereka yang hangat.

Tiba-tiba ia merasa di balik perasaannya yang kaku dan dingin timbul lagi setitik rasa kasih sayang yang lembut dan hangat.

Di hadapan kedua orang tokoh persilatan yang aneh ini, segala sesuatu yang "tak mungkin"

Di dunia ini seakan-akan berubah jadi "mungkin". Segala cinta kasih yang khayal seakan-akan berubah jadi keyakinan"

Segala sesuatu "impian"

Yang ada di dunia ini seakan-akan berubah jadi kenyataan. Dan segala "air mata"

Bisa berubah menjadi "senyuman"

"Tekad yang bersungguh dapat membuat batu dan emas pun meleleh, benarkah hal ini?"

Ia mulai bergumam dengan lirih.

Senyuman yang semula menghiasi wajah Kim tong tiba-tiba lenyap, dengan serius dia berkata "Tentu saja sungguh, asal cinta kasihmu dapat lolos dari ujian yang penuh penderitaan, maka cinta murnimu itu pada suatu ketika pasti akan mendapat imbalan yang semestinya."

"Ya anakku,"

Ujar Giok h dengan lembut.

"Meskipun kau memiliki cinta sejati, namun kau tidak memiliki kepercayaan maka perasaanmu, berubah menjadi kaku dan menderita Nak, bersediakah kau mendengarkan nasehat kami?"

Tiba-tiba Tham bun-ki merasakan hatinya bergolak keras, butiran air mata yang sudah lama mengering mendadak meleleh kembali, ia menengadah dan mengangguk. Kim-tong tertawa nyaring.

"Hahaha!, . Bagus sekali, asal kau sudah memiliki cinta yang sejati dan rasa percaya pada diri sendiri, maka berarti akupun berhasil menggembleng sebentuk batu yang akan bersinar cemerlang."

"Nah, anakku sayang! ikutlah kami pergi,"

Bisik Giok-li lembut.

meskipun perjalanan di depan masih amat jauh dan penuh kesulitan, tapi jangan takut!

coba lihatlah, walaupun kegelapan ditengah malam itu cukup panjang, bukankah fajar pun tetap akan menyingsing?"

Sekali lagi Tham Bun-ki mengangguk, lalu mengikuti di belakang kedua tokoh persilatan itu, berangkatlah gadis itu menuju ke arah timur di mana sinar pertama segera akan terbit.

Oo-oO Oo -oO Betapapun malam yang gelap dan panjang, akhirnya fajar pasti juga menyingsing Angin tetap berembus kencang, salju kembali turun dengan lebatnya, musim dingin terasa makin membekukan badan.

Namun gerombolan manusia yang berkumpul di kota Bu han sama sekali tidak menghindari cuaca yang membekukan, mereka masih berkerumun di sepanjang jalan raya yang ramai itu.

Sekalipun semalam suntuk mereka tidak tidur, namun pagi ini mereka semua masih tampak segar bugar.

Liong-heng-pat-ciang telah datang mungkinkah hujan badai masih jauh?

Beratus-ratus pasang mata, baik yang beradu jauh ataupun yang berada dekat, terpusat dan tertuju ke arah pintu gerbang berwarna hitam pekat yang tertutup rapat itu.

Berita sensasi, desas-desus, bisikan berbisa tiada hentinya mengalir dan tersiar dalam kota itu.

"Engkau tahu, Cian Sin jiu juga sudah sampai di kota ini?"

"Kemarin malam, kulihat ada orang mengantarkan tiga kotak hadiah besar untuk Liong heng pat ciang kau tahu benda apakah itu?"

Eh, kabarnya si puteri naga Tham Bun-ki juga sudah datang mungkin kedatangannya adalah untuk dikawinkan dengan Tonghong Ceng dari Tonghong-ngo kiam.

Wah kalau begini keadaan Liong heng-pat-ciang ibaratnya harimau bertumbuh sayap, kedudukannya jelas bertambah kuat"

Aku berani bertaruh, sebelum tengah hari nanti, Hui taysianseng pasti juga akan sampai di sini untuk menuntut balas terhadap Tham Beng"

Menurut taksiranmu, kepandaian siapa lebih tinggi di antara kedua orang itu? Kalau masa jelas menjagoi Tham Beng."

Di antara kawanan jago itu, anak buah Sin jiu Cian Hui juga membaurkan diri di tengah mereka, bahkan ikut aktip menyiarkan berita dan sas-sus, baik yang sungguhan maupun hanya isapan jempol belaka.

"Kalian tahu siapakah Kongsun Tay-liok, Siang Hui ki dan Si Beng bertiga jagoan yang disebut Hui liong sam kiat? Ternyata balok kepala mereka sudah dipotong oleh Cian Sin jiu, tiga kotak hadiah besar yang dikirimkan kepada Liong heng pat-ciang kemarin malam tak lain adalah berisikan..."

"Kau tahu, meskipun Tham Beng sudah membawa puterinya kemari, tapi belum tentu Tonghong-hengte bersedia menikah dengan dia sehingga merusak nama baik sendiri."

"Walaupun usia Hui Taysianseng masih muda tapi dalam silatnya benar-benar sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur, asal dia turun tangan niscaya Liong heng~pat~ciang bukan tandingannya"

Berita sensasi, gosip, suara burung dan masing2 memenuhi seluruh kota, membuat suasana tambah heboh.

Waktu berlalu sangat lambat rasanya bagaikan siput yang merangkak, begitu lambat sehingga membikin orang jadi tak sabar.

Sampai tengah hari, baik di kota Bu han maupun di kota Han-ko masih belum tampak bayangan Hui-taysianseng, Sin jiu Cian Hui, Tonghong-ngo-kiam, Lionghcng-pat cjang maupun Jit-giau-tui hun.

-o0o~~ -X--o0p-Walaupun dalam kota tidak turun salju, di luar kota penuh bertaburan bunga-bunga salju.

Hui Giok berdiri di bawah emper rumah sambil memandang bunga salju yang beterbangan di udara, pikirannya waktu itu amat kalut, sekalut bunga salju yang berhamburan.

Musuh besar pembunuh orang tuanya kini berada di kota Han-ko tapi gadis yang paling dicintai justeru berada pula di samping musuh besarnya itu.

Mulai sekarang hingga akhir hayat, selamanya janganlah membuat sedih seorang gadis yang mencintaimu.

Kata-kata tersebut entah sudah berapa kali dia ulangi, bunga-bunga salju yang bertaburan di hadapannya seakan-akan semuanya telah berubah menjadi raut wajah Leng-goat-siancu yang pucat sedih dan terukir dalam2 di lubuk hatinya.

Ia tak tega untuk mengingkari janjinya kepada perempuan itu, tapi diapun tak dapat melupakan sakit hatinya yang lebih dalam dan lautan itu.

Ia tak dapat melupakan sakit hati yang sedalam lautan, namun iapun tak dapat melupakan cinta kasih Tham Bun-ki yang sulit dijajaki itu.

"Bagaimanapun juga aku tak dapat membiarkan arwah ayah dan paman menanggung penyesalan di alam baka!"

Akhirnya dia mengambil keputusan! Ketika berpaling, diluarnya Wan Lu tin yang duduk di depan jendela sedang menghela napas panjang dengan sedihnya .

"Salju turun dengan derasnya, entah bagaimanakah keadaan enci Bun-ki"

Bisiknya lirih. Hati Hui Giok terasa bergetar keras. Tapi sebelum ia bicara apa apa, Jit-giau-tui-hun Na Hui hong telah bersuara duluan.

"Ai sampai kini Liong heng-pat-ciang masih belum melakukan tindakan apa-apa, penantian ini sungguh terasa lebih tersiksa daripada melakukan pekerjaan apapun! Aku... bagaimanapun juga dia belum tahu kalau pikiranku telah berubah dan berkiblat kepada orang lain, bila aku yang pergi mencari berita, mungkin keadaan mereka yang sebenarnya akan dapat diketahui."

Hui Giok menghela mpas sambil menggeleng kepala.

"Saudara Na"

Katanya.

"perbuatan yang merugikan orang tak nanti bertahan lama, kalau kita tak ingin ditipu orang dengan muslihat yang licin dan keji, kenapa kita sendiri harus membodohi orang dengan akal busuk?"

Jit-giau tui hun tertegun ia merasa kata-kata itu mengandung makna yang dalam, kata-kata semacam itu tak boleh diabaikan dengan begitu saja.

Dalam pada itu, Leng kok-siang-bok yang duduk di dekat jendela sebelah sana, tiba-tiba Leng Han-tiok berseru.

"Ah, itu dia. beritanya sudah datang!"

Belum habis perkataannya, seorang laki-laki, berbaju ringkas telah berlari masuk dengan tergesa-gesa, mimik.

wajahnya yang aneh menunjukkan seakan-akan orang yang menemukan harta karun mendadak, Ketika dibentak Na Hui-hong, buru-buru orang itu berkata.

"Suasana dalam kota pada saat ini amat kalut berita sensasi tersebar dimana-mana menurut berita yang tersiar dari mulut para jago Hui-liong piaukiok katanya Hui-liong-sam kiat benar-benar sudah tewas."

Na Hui liong hanya menyahut pelahan dengan berlagak tak acuh. Maka orang itu berkata lebih lanjut.

"Yang paling penting adalah pada kemarin malam ternyata Tonghong Ceng dan si puteri naga Tham Bun-ki telah menghilang bersama, dan karena itulah Tham Beng masih berada dalam keadaan gelisah, maka hingga kini ia tidak melakukan gerakan apa-apa,"

Mendengar berita itu Wan Lu-tin menjerit kaget, sementara Hui Giok berubah air mukanya Jitgiau-tui-hunNa Hui-hong juga melenggong entah kaget, entah girang oleh kabar itu.

Sampaisampai Leng-kok-siang-hok pun ikut bangkit berdiri saking kagetnya setelah mendengar berita itu.

"Apakah kabar itu bisa dipercaya"

Na Hui hong bertanya dengan nada berat.

Dengan napas terengah laki-laki berpakaian ringkas itu mengangguk.

Siapa tahu belum lenyap rasa kaget mereka selagi mereka masih bingung mendadak dari luar halaman kembali berlari masuk seorang sambil berteriak keras-keras "Di luar pintu ada kedatangan seorang pembawa bendera dari Hui-liong piau kiok, katanya ingin berjumpa dengan Hui-taysianseng,"

Lapor orang itu "ilmu silatnya sangat lihay, Tio Peng-hui dan Ong Tek ki yang bermaksud menangkap orang itu untuk digusur ke hadapan Bengcu telah dirobohkan dalam sekali gebrakan saja."

"Apakah kau lihat jelas bagaimana tampang orang itu?"

Tanya Jit-giau-tui hun Na Hui-bong dengan wajah masam.

Laki-laki itu berpikir sebentar, lalu menjawab "Orang itu berwajah kuning pucat, seperti baru saja sembuh dari sakit parah, pakaian yang dikenakan adalah seragam pembawa panji Hui liong piaukiok, sebuah topi lebar yang terbuat dan anyaman bambu hampir menutupi sebagian wajahnya, sukar bagi orang lain untuk meneliti sorot matanya, tentang sepatu apa yang dia pakai, hamba tidak melihat jelas!"

"Hmm, Apakah ia membawa senjata?"

Tanya Jit-giau tui-hun sambil mendengus.

"Perawakannya hampir sama dengan potongan badanku, ia tidak membawa senjata, tapi dibalik pinggangnya terselip sebuah senjata sejenis Lian-ci tong (tombak) atau senjata sebangsa ruyung Juan-pian."

"Dalam perusahaan Hui liong piaukiok mana ada manusia macam begitu?"

Kata Jit~giau-tuihun dengan kening berkerut.

"Bengcu, biar Siaute periksa dulu!"

"Tak usah!"

Jawab Hui Giok dengan wajah dingin.

"kalau kedatangannya jelas untuk mencari aku, biarlah aku sendiri saja yang menghadapinya."

Belum habis perkataannya ia lantas berlari ke luar dan menerobos dengan cepat, setelah melewati ruang tengah tertampaklah di luar pintu gerbang belasan orang laki-laki kekar berkerumun di depan pintu sambil mengadang seorang pria di depannya.

Hui Giok merentangkan tangannya menyingkirkan orang banyak dan menerobos ke tengah, tertampaklah seorang laki-laki persis seperti apa yang dilukiskan tadi berdiri tenang di depan pintu gerbang, dilihat dan sikapnya yang seenaknya itu seolah-olah dia tak pandang sebelah mata terhadap belasan orang laki-laki yang merintanginya itu.

Dengan dahi berkerut, Hui Giok segera menegur.

"Sobat, siapa kau? Ada urusan apa mencari aku orang she Hui?"

Laki-laki itu masih tetap menunduk, melirik Hui Giok sekejap pun tidak.

"Apakah semua perkataanku tidak kau dengar?"

Tegur Hui Giok pula dengan dahi berkerut. Laki-laki itu berdehem lalu dengan suaranya yang parau menjawab.

"Tham congpiautau memerintahkan aku datang kemari untuk menasehati dirimu agar segera menyerah kepada Huiliong piau-kiok, kalau tidak... Hmm Hmm!"

Air muka Hui Giok berubah tertawa dingin lalu katanya.

"Lebih baik segera kau pulang."

Tapi sebelum ucapan itu berlanjut, tiba-tiba laki-laki itu menengadah sambil terbahak-bahak menyusut topi nya yang lebar itu dilepas sehingga tertampaklah matanya yang besar.

Tiba-tiba Hui Giok berteriak "Hah, kiranya kau!" -Sekali lompat dia menubruk maju dan menggenggam erat-erat bahu orang itu, di bawah hujan salju yang lebat mereka menegadah dan bergelak tertawa.

Leng-kok-siangbok.

Jit-giau tui-hun dan Wan Lu-tin yang baru saja melangkah keluar dari pintu gerbang sama tertegun menyaksikan adegan tersebut.

Di tengah gelak tertawanya yang nyaring, terdengar Hui Giok berkata.

"Hai selama ini kau pergi ke mana saja? Mengapa tidak mengirim berita kepadaku?"

"Hahaha! gerak-gerikku selama ini boleh dibilang misterius sekali, sudah tentu rahasianya ini boleh sampai terbocor."

Sahut laki2 tadi sambil tergelak.

"Lalu ia membimbing Hui Giok dan bersama2 naik ke atas tangga batu. Tiba2 Wan Lu-un merasa kenal dengan orang ini, dia berseru tertahan.

"Hai Li Yau-bin"

Kenapa kau sampai di sini?"

"Li Yau-bin?"

Hui Giok tertegun dan menghentikan langkahnya "Siapakah Li Yau-bin?"

Sementara itu Jit-giau-tui hun yang juga ikut mengawasi orang itu dengan teliti tiba2 merasakan bahwa mata orang sudah sangat dikenalnya, setelah merenung sekian lama, akhirnya ia teringat kembali.

"Wahai Jit-giau-tongcu, kenapa kaupun muncul di sini?"

Sapanya.

"Hei. siapakah Jit-giau-tongcu?"

Wan Lu-tm berseru keheranan.

"Jelas dia adalah Li Yau-bin seorang pegawai pembawa bendera Hui-liong piau kiok, mana bisa jadi Jit-giau-tongcu segala? Hati hati kalian jangan sampai tertipu oleh muslihatnya."

Hui Giok berpikir sebentar, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha"

Tentunya selama ini kau telah bermain gila, betul tidak? Tapi, bagaimana ceritanya sehingga Jit giau-tongcu Go Bengsi bisa berubah menjadi Li Yau-bin?"

Jit-giau tongcu Go Beng si tertawa tuturnya.

"Hahaha! Yang dimaksudkan "Li-yau-bin"

Adalah "minta nyawamu", artinya minta nyawa Tham Beng"

Hahaha ..ceritanya panjang sekali, tak mungkin kujelaskan dalam sekejap saja. Ayo hidangkan arak dulu, sambil minum kita bercerita lagi."

Maka sambil bergelak tertawa kedua orang ini lantas menuju ke halaman belakang sambil bergandengan tangan, sekalipun kedua sahabat senasib dan sependeritaan serta sehidup semati ini sudah lama tak berjumpa, namun dalam soal hubungan batin ternyata sama sekali tidak menjadi renggang.

Sejah masuk ke dalam ruangan, Na Hui hong segera menghidangkan arak, pada kesempatan itulah Jit giau tongcu Go Beng si berkata sambil tertawa.

"Saudara Na, selamat atas keputusanmu untuk kembali ke jalan yang benar! Untuk memeriahkan hari besar ini, Siaute ingin menghormati cawan arak khusus kepada saudara Na."

Mendengar perkataan itu, baik Hui Giok maupun Na Hiu-hong jadi tertegun, tanpa terasa mereka berseru berbareng.

"Hei, darimana kau tahu?"

Tersenyumlah Go Beng-si, Saudara Na"

Demikian katanya terus terang kuberitahukan kepadamu, pada hakekatnya Ong Tek ki dan Tio Peng-hui yang barusan kurobohkan itu tak lain adalah mata-mata yang sengaja kuatur untuk menyusup ke dalam tubuh perkumpulanmu sejak setahun yang lalu, sebab itu segala gerak-gerik saudara Na dapat kuketahui dengan amat gamblang sekali."

Mula-mula Jit-giau tui-hun masih tertegun, kemudian dengan perasaan ngeri ia berdiri termangu peluh dingin terasa membasahi telapak tangannya.

Dulu ia selalu menganggap kecerdikannya luar biasa dan tiada tandingannya di dunia ini, tapi sekarang ia baru tahu bahwa pikirannya itu keliru patas saja dia merasa kaget, ngeri dan juga malu.

Setelah perjamuan dimulai, Jit-giau-tongcu Go Beng si mulai mengisahkan semua pengalamannya yang berliku liku selama beberapa waktu ini.

Lebih dulu ia berkata.

"Sejak kudengar saudara Hui mengisahkan asal-usulnya, tahulah aku bahwa Liong-heng-pat-ciang pasti menyimpan suatu intrik besar terhadap dia, sebab barang siapa mengatakan manusia berbakat bagus seperti dia ini sebagai seorang goblok, maka orang itu sendiri kalau bukan sinting pastilah maha tolol, padahal kita semua tahu Tham Beng bukanlah orang sinting atau orang tolol, maka kuyakin dia pasti mempunyai maksud-maksud tertentu."

"Sebab itulah, sejak mula aku sudah mengubah wajahku dengan obat rias aku berusaha menyusup ke tubuh Hui liong piaukiok untuk memperhatikan secara diam-diam apakah Tham Beng ada sesuatu rahasia yang dapat kubongkar, kemudian tanpa sengaja akupun berhasil menemukan si kusir yang bernama Ko-put-ki itu, kudengar juga igauannya dalam mimpi, maka kugunakan pelbagai cara dan akal untuk memancing orang itu agar secara sukarela dan tanpa paksa mau mengungkapkan rahasia tersebut!"

Kisah ini diucapkan dengan singkat dan terburu-buru, seolah-olah dia masih ada urusan maha penting lainnya yang harus segera dilaksanakan.

Sekalipun singkat dan terburu-buru, namun keterangan ini sudah cukup membuat semua orang merasa terkejut bercampur heran.

Begitulah, sambil tersenyum ia bertutur lebih lanjut.

"Dari saudara Hui sering kudengar ceritanya tentang nona Wan ini, maka secara diam-diam akupun sering memperhatikannya, atau mencari kesempatan untuk bercakap-cakap dengannya, lalu dalam percakapan itu seperti sengaja dan tak sengaja kuberitahukan pula banyak urusan kepadanya?"

Mata Wan Lu-tin terbelalak lebar-lebar, serunya kemudian "He, pantasan! . Sungguh tak kusangka kau... kau begini cerdik!"

Go Beng-si tersenyum, ia berkata pula kepada Hui Giok.

"Ketika saudara Na berkunjung ke Hui-liong-piaukiok tempo hari, akulah yang memancing nona Wan agar sengaja atau tak sengaja berjumpa muka dengannya, kemudian akupun memberitahukan hubungan antara Tham Beng dengan peristiwa berdarah pada belasan tahun yang lalu kepada nona Wan, setelah itu kupancing pula dia untuk ke luar mencari dirimu."

Hui Giok segera menepuk jidat sendiri sambil menghela napas.

"Waktu itu aku sendiripun merasa heran, kenapa seorang anak perempuan yang selalu terkurung dalam rumah bisa mengetahui begini banyak rahasia? jadi kau rupanya Jit-giau tongcu! "Namamu sepantasnya diubah menjadi Sip-giau tongcu (si anak serba pandai)"

Tiba-tiba Wan Lu tin membelalakkan matanya yang jeli sambil bertanya.

"Ketika aku melarikan diri dan rumah, hampir saja diriku tertangkap kembali oleh mereka, apakah engkau pula yang secara diam-diam membantuku dengan memancing pergi mereka?"

Sambil tersenyum Go Beng-si mengangguk "Ya waktu itu keadaanku sendiri juga berbahaya, hampir saja kedokku ketahuan, untung orang-orang itu goblok semuanya"

"Ai, bukan orang2 itu yang terlalu goblok, tapi saudara Go yang cerdik. Ai, kecerdasanmu memang tiada tandingannya di dunia ini,"

Kata Jit-giau tui-hun Na Hui-hong sambil menghela napas.

"Ah. saudara Na terlalu memuji, rasa bangga terlintas pada wajahnya dan berkatalah lebih jauh "semua itu masih belum apa-apa, dewasa ini Siaute telah meninggalkan tulisan yang patut dibanggakan dalam kota Han-ko, sebelum senja nanti, bila kita semua tiba di kota tersebut dan hahaha..."

Ia tertawa ter-bahak2 dengan bangganya, lalu mengangkat cawan di depannya dan pelan tenggak menghabiskan isinya. Dengan rawan Wan Lu tin menghela napas, ujarnya.

"Aku benar2 merasa tidak mengerti bagaimana caramu melakukan semua itu, tapi kau bilang hal itu belum apa2, Toako, tak kusangka engkau mempunyai seorang sahabat sepintar ini, agaknya ia jauh lebih pintar daripada dirimu"

"Sejak dulu dia memang lebih pintar daripada aku,"

Jawab Hui Giok sambil tersenyum.

sekalipun ucapan yang bernada kagum dan sekadar melengkapi sopan santun, tapi nadanya dengar betapa tulus dan jujurnya perkataan terdengar.

Go Beng-si menggeleng kepala berulang kali "Keliru, keliru!

sekalipun aku lebih cerdik juga tak lebih hanya daun-daun hijau belaka, aku hanya cocok menjadi pembantu, tak dapat jadi pemimpin."

Senyuman yang menghiasi bibirnya mendadak lenyap, lalu dengan wajah serius lanjutnya.

"Saudara Hui, kau harus tahu, bunga Bo-tan yang sebenarnya adalah kau. Meskipun dunia persilatan telah kalut, engkaulah yang berkewajiban menyelesaikan semua ini, Thian menciptakan engkau untuk "umum"

Janganlah disebabkan soal cinta dan dendam mengakibatkan kau patah semangat, ketika kulihat semangatmu amat menurun tadi, hatiku benar2 sedih ketahuilah, dewasa ini beribu bahkan berjuta pasang mata umat persilatan sama tertuju kepadamu, seluruh harapan mereka telah ditumpukan di atas bahumu, bila kau patah semangat dikarenakan urusan pribadi semua sahabat persilatan tentu akan bersedih hati."

Terkesiap hati Hui Giok setelah mendengar perkataan itu, ia merasa kepalanya seakan-akan diguyur dengan sebaskom air dingin, seketika itu juga pikirannya jadi terang, semua cinta "pribadi", dendam "pribadi"

Segera tersapu lenyap dari benaknya.

"Hui Giok, wahai Hui Giok!"

Jeritnya dalam hati.

"kau memang pantas mampus, apakah masa depan sahabat persilatan di dunia tidak lebih penting daripada cinta dan dendam pribadimu?"

Berpikir sampai di sini, dengan perasaan menyesal dan terima kasih ia bangkit berdiri dan menjura kepada Go Beng si, untuk sesaat dia tidak tahu apa yang mesti dkatakan!

Leng-kok-siang-bok saling pandang sekejap, ujar Leng Han tiok kemudian.

"Dia adalah seorang sahabat yang baik."

"Ya, seorang sahabat yang sangat baik!"

Sambung Leng Ko-bok sambil menghela napas.

"Ai, barang siapa dapat bersahabat dengan kedua orang seperti mereka, nasib orang itu sungguh mujur sekali,"

Kata Jit-giau tui-hun Na Hui hong pula.

"OXO -0 + 0-Lewat tengah hari, awan yang gelap mulai buyar dan sinar matahari pun memancarkan cahayanya menyinari jalan raya di kota Han-ko. Manusia yang berlalu lalang di jalanan itu hampir saja meluap, kecuali rumah makan dan rumah penginapan hampir seluruh warung dan toko telah tutup pintu, semua pertemuan perayaan perkawinan, kematian, hubungan dagang, hubungan uang ..semua macet. Kereta2 berpanji Hui-liong-piaukiok yang berada di tepi sungai masih tetap diparkir di tempat semula, namun air muka para piausu yang berjaga di sekeliling kereta mereka tampak murung bercampur sedih. Semua kabar yang tersiar, semua berita yang terdengar, nadanya serupa, nadanya tidak menguntungkan bagi Liong heng-pat-ciang, hal ini membuat semua jago persilatan merasa kaget bercampur heran. Bukankah posisi Hui-liong-piaukiok sebenarnya berada di atas angin? Mengapa keadaannya sekarang bisa berubah seburuk ini? Sepanjang jalan raya penuh dengan suara pembicaraan orang, mereka yang sebenarnya ketakutan sekarang berani berbicara dengan suara lantang seluruh kota Han-ko bergolak seakan2 sekuali air yang mendidih. Hingga kini, pintu gerbang berwarna hitam itu masih tertutup rapat, tapi manusia yang berkumpul di depan pintu rumah itu makin lama semakin banyak, seakan-akan penonton yang sedang menunggu mainnya wayang. Tiba2, terdengar suara gembreng dibunyikan bertalu-talu. Beratus pasang mata segera beralih ke arah suara itu, tertampaklah beratus orang laki2 berbaju hitam berbaris datang dengan tertibnya, paling depan adalah empat orang yang menabuh gembreng kemudian puluhan orang di belakangnya bersenjatakan golok, lalu puluhan orang lagi yang membawa busur dan anak panah, paling belakang adalah seorang pemuda berpakaian berkabung dengan wajah yang sedih. Kemunculan orang2 itu mengejutkan semua orang, sementara mereka masih memandang dengan terheran-heran, kelihatan kawanan laki-laki berbaju hitam itu menaikkan pemuda tadi ke atas sebuah meja di bawah emper rumah, lalu para laki2 yang bersenjata golok mengelilingi di sekitarnya, kemudian para laki2 yang membawa busur dan anak panah itu mengelilingi seputar para jago yang bersenjata golok. Gembreng sekali lagi di bunyikan bertalu-talu, maka pemuda berbaju berkabung itupun mengisahkan kembali pengalamannya dan penderitaan selama hidup diiringi lelehan air mata dan luapan emosi. Tentu saja pemuda itu bukan lain adalah keturunan Piausu yang terbunuh dalam peristiwa berdarah belasan tahun yang lalu. Penuturannya yang mengibakan hati seketika juga mendapatkan simpatik dan luapan emosi dari beratus-ratus orang. Akhirnya, pemuda berbaju berkabung itu berlutut di tanah, lalu dengan suara keras berteriak.

"Sejak kecil penghidupanku sengsara, aku harus menanggung dendam dan lagi disiksa pula oleh bajingan itu, sampai sekarang aku tak lebih hanya seorang lemah yang tak punya tenaga untuk membunuh seekor ayam pun, dendam berdarahku ini terpaksa harus kugantungkan kepada para paman dan saudara2 sekalian untuk memberi keadilan demi tegaknya kebenaran dalam dunia persilatan! Seruan itu segera mendapat sambutan yang ramai dari kawanan jago silat yang berkumpul di situ. Entah siapa yang mulai dulu, tiba-tiba di tengah kerumunan orang banyak terdengar seorang berteriak.

"Bajingan munafik, bunuh saja Tham Beng-si anjing munafik yang terkutuk itu."

Teriakan itu ibaratnya percikan api di tumpukan jerami, seketika itu juga membakar dan mengakibatkan suasana menjadi panas.

Seketika itu suara makian dan kutukan berkumandang memenuhi udara jalan raya.

Pada waktu yang hampir bersamaan dari empat penjuru kota Han-ko bermunculan pemudapemuda berkabung yang sama-sama menuturkan kisah sedih mereka yang memancing kemarahan dan luapan emosi khalayak ramai.

Seperti diketahui kawanan jago persilatan itu pada umumnya adalah manusia berangasan yang berdarah panas, setelah melewati masa penantian yang penuh kejenuhan, mereka hampir saja sukar mengendalikan perasaan sendiri, tentu saja sedikit pancingan akan segera merangsang emosi mereka yang meluap.

Bukan begitu saja, bahkan mereka yang semula hanya bermaksud ikut menonton keramaian, kini telah melepaskan posisi mereka yang cuma berpeluk tangan belaka itu, dengan marah dan penuh emosi mereka ikut berteriak-teriak.

Yang lebih hebat lagi ternyata piausu dari Hui liong-piaukiok yang semula bersitegang kini ikut tergerak juga hatinya oleh kisah cerita itu sehingga dari sikap aktif kini mereka berubah pasif.

Tentu saja ada pula yang masih setia kepada Tham Beng, tapi melihat umum yang sedang meluap amarahnya, sudah barang tentu mereka tak berani sembarangan turun tangan.

Hanya satu harapan mereka, yakni pintu gerbang hitam itu cepat-cepat terbuka!

Tiba-tiba ada puluhan orang menyerbu ke tepi sungai, menerjang kawanan Piausu yang sedang murung itu dan mendorong kereta-kereta kawalan tersebut ke dalam sungai yang deras arusnya.

Tindakan yang mengejutkan itu segera memancing ratusan orang lainnya untuk menirukan cara yang sama, beratus orang menyerbu dan mendorong beratus buah kereta yang lain ke dalam sungai.

Air yang muncrat membasahi pakaian kawan manusia yang sedang kalap itu, namun air yang dingin itu bukannya tak mampu memadamkan kobaran api amarah mereka, sebaliknya ibarat api di siram minyak, kemarahan mereka tambah membara.

Berbondong-bondong mereka menyerbu ke depan pintu gerbang hitam yang tertutup rapat itu lalu mencaci maki dengan marahnya.

Tham Beng keluar kau"

Beri keadilan untuk kami semua"

Diiringi caci maki yang ramai, batu ikut di sambitkan pula ke pintu.

Maka batu, buah-buah busuk, bahkan cawan teh dan mangkok ikut disambitkan ke arah pintu gerbang yang hitam dan dinding pekarangan yang kelabu itu.

Tentu saja semua rencana yang masak itu adalah hasil pekerjaan Jii giau-tongcu Go Beng-si yang amat cerdik itu, ia mengadakan kontak dengan semua ahli waris Piausu yang terbunuh itu serta mengirim mereka ke kota Bu-han, kemudian berusaha pula mengadakan kontak rahasia dengan Sin-jiu Cian Hui untuk mengerahkan segenap jago dari perserikatan orang-orang Kanglam agar melakukan demonstrasi serta mengobarkan luapan amarah umum yang tak terpadamkan.

Akibatnya, semuanya berlangsung menurut rencana serta pengaturan yang seksama, dan semua rencananya yang bagus mendatangkan hasil yang luar biasa.

Oo -oO Oo -oO Secara teratur Jit-giau-tongcu Go Beng si masuk ke kota, sepanjang jalan ia membeberkan semua rencananya yang matang, kemudian sambil tersenyum-senyum, katanya.

"lnilah ilmu jiwa memperalat emosi umum."

"Sungguh hebat!"

Puji Jit-giau-tui-hun Na Hui-hong sambil menghela napas. Hui Giok yang sejak tadi membungkam dengan wajah dingin ikut berbicara setelah lama termenung.

"Apakah kau tidak merasa tindakanmu ini sedikit kebangetan?"

"Ya, aku juga merasakan kelewat batas!"

Bisik Wan Lu-tin sambil menghela napas sedih. Jit-giau-tongcu Go Beng si menghela napas katanya.

"Keadaan sudah mendesak mau apa lagi kita, sekalipun perbuatanku ini kuning bijaksana tapi terhadap manusia seperti Tham Beng, kukira cara inilah yang paling cocok "

Baca Juga: Suling Emas 13

Baca Juga: Raja Pedang 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert