Eps 7 Medali Wasiat - Yin Yong
Baca online Medali Wasiat - Yin Yong
Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.
"Cayhe tiada pernah bermusuhan dengan gurumu, andaikan dia benar-benar mengirim orang untuk menguntit kami, hehe, untuk bicara terus terang, rasanya gurumu masih cukup menghormati kami dan takkan mengutus orang semacam saudara."
Di balik kata-katanya ini Ciok Jing ingin mengatakan bahwa ilmu silatmu terlalu rendah, tidaklah mungkin gurumu mengirim seorang keroco seperti kau ini.
Keruan muka orang itu menjadi merah jengah, untung dalam keadaan gelap sehingga tidak dilihat orang lain.
Ciok Jing lantas menepuk dua kali di pundak laki-laki itu, katanya.
"Kami suami-istri selamanya suka blakblakan dalam segala hal. Jika kau ingin tahu jejak kami, tiada halangannya kami memberitahukan secara terus terang. Kami tadi baru datang dari menyambangi Thian-hi Totiang di Siang-jing-koan. Bolehlah kau pulang dan tanya kepada gurumu, tentu kau akan tahu bahwa di waktu mudanya Ciok Jing dan Bin Ju pernah belajar silat di Siang-jing-koan dan Thian-hi Totiang adalah suheng kami. Sekarang kami hendak berangkat ke Leng-siausia di Swat-san untuk menemui Wi-tek Siansing, ciangbunjin dari Swat-san-pay. Nah, jika sahabat tiada sesuatu yang perlu ditanyakan lagi bolehlah silakan pergi saja."
Sesudah pundaknya ditepuk, segera laki-laki itu merasa badannya bisa bergerak lagi. Di samping malu ia menjadi kagum juga. Ia memberi hormat dan menjawab.
"Ciok-cengcu ternyata berbudi luhur dan tidak bernama kosong, maafkan tadi aku telah mengganggu."
Habis berkata, goloknya yang jatuh tadi pun tidak berani dijemput kembali, segera ia putar tubuh dan melangkah pergi. Baru beberapa tindak orang itu berjalan, tiba-tiba Ciok Jing berseru pula.
"He, sahabat, apakah pangcu kalian sudah diketemukan?"
Orang itu terkejut.
"Jadi... jadi kau sudah tahu semua?"
Sahutnya dengan terputus-putus sambil berpaling.
"Ah, tidak, aku tidak tahu,"
Kata Ciok Jing sambil menghela napas perlahan.
"Jadi belum ada beritanya, ya? "Ya, belum ada,"
Sahut laki-laki itu sambil menggeleng.
"Kami suami-istri juga ingin mencari dia,"
Kata Ciok Jing pula. Untuk sejenak ketiga orang berdiri terpaku berhadapan, kemudian orang itu membalik tubuh dan melanjutkan perjalanannya.
"Engkoh Jing, apakah dia orang Tiang-lok-pang?"
Tanya Bin Ju sesudah orang itu pergi agak jauh. Hati Ciok Boh-thian tergetar demi mendengar "Tiang-lok-pang"
Disebut. Bab 29. Ciok Jing Suami-Istri Difitnah Meracuni Dalam pada itu terdengar Ciok Jing telah menjawab.
"Tadi waktu dia berputar tubuh dan menarik jubahnya, lapat-lapat aku melihat ujung bajunya itu tersulam setangkai bunga kuning, maka aku coba-coba menegurnya, dan ternyata memang betul. Sebabnya dia menguntit kita kiranya... kiranya adalah anak Giok. Tahu begitu, tentu tadi kita tak perlu membikin susah padanya."
"Tampaknya mereka... mereka sangat setia kepada anak Giok,"
Ujar Bin Ju.
"Ya, anak Giok kena diculik oleh Pek Ban-kiam, tentu saja orang-orang Tiang-lok-pang disebarkan untuk mencegat di mana-mana,"
Ujar Ciok Jing.
"Jumlah mereka sangat banyak, hubungan luas dan pengaruh besar, tak tersangka toh tetap tiada mendapatkan sesuatu berita apa-apa."
"Dari... dari mana kau mengetahui tiada sesuatu berita apaapa?"
Kata Bin Ju dengan sedih. Dengan penuh kasih sayang Ciok Jing memegang tangan sang istri, katanya dengan lembut.
"Adik Ju, bila mereka sudah mendapat berita tentang anak Giok, tentu mereka takkan menyebarkan orang ke mana-mana untuk mengikuti jejak tokoh-tokoh Kangouw. Murid Loh Cap-pek tadi tanpa sebab telah menguntit kita, selain ingin mencari tahu jejak pangcu mereka rasanya tiada maksud tujuan lain lagi."
Tempat di mana Ciok Jing dan Bin Ju berada itu jaraknya kirakira beberapa meter dari tempat sembunyi Ciok Boh-thian.
Walaupun suara bicara Ciok Jing tidak keras, tapi cukup jelas didengar oleh pemuda itu.
Sebenarnya dengan kepandaian Ciok Jing suami-istri yang tinggi, waktu datangnya Boh-thian tadi tentu akan diketahui oleh mereka.
Cuma waktu itu mereka lagi mencurahkan perhatian kepada laki-laki murid Loh Cap-pek yang selalu menguntit itu, ditambah lagi lwekang Boh-thian sekarang sudah sangat tinggi, langkahnya enteng tak bersuara, sebab itulah sehabis Ciok Jing menyelesaikan urusan laki-laki itu, sama sekali mereka tidak menduga bahwa di tengah semaksemak sana masih sembunyi seorang lain lagi.
Dari percakapan Ciok Jing berdua itu, Boh-thian mendengar tentang Pangcu Tiang-lok-pang yang diculik Pek Ban-kiam yang maksudnya rasanya seperti dirinya, tapi "anak Giok"
Apa segala toh bukanlah dirinya.
Memangnya dalam benak Ciok Boh-thian telah penuh tanda tanya mengenai asal usulnya sendiri, kalau sekarang mendadak ia keluar dari tempat sembunyinya tentu juga kurang pantas.
Maka ia lantas diam saja untuk mendengarkan lebih lanjut.
Saat itu adalah malam yang gelap, suara serangga dan katak mulai bergema, angin pun meniup mendesis-desis, sebaliknya Ciok Jing suami-istri pun tidak bicara lagi.
Karena khawatir jejaknya diketahui, maka Ciok Boh-thian sampai bernapas pun tidak berani terlalu keras.
Selang agak lama barulah didengarnya nyonya Ciok menghela napas, menyusul terdengar suara tersedu-sedu yang perlahan.
Lalu terdengar Ciok Jing telah berkata.
"Adik Ju, selama kita merantau di kalangan Kangouw belum pernah kita melakukan sesuatu yang jahat. Beberapa tahun terakhir ini demi keselamatan anak Giok bahkan kita lebih banyak menjalankan kebajikan. Kalau sudah begini kita masih diharuskan tidak mempunyai keturunan maka apa mau dikata lagi bilamana memang sudah suratan nasib, apalagi anak durhaka sebagai anak Giok itu ada lebih baik kita anggap tidak mempunyai anak saja, sudah."
"Meski anak Giok memang agak nakal sejak kecil, tapi dia... dia tetap jantung hati kita,"
Ujar Bin Ju dengan suara lembut.
"Hanya karena anak Kian telah tewas dengan mengenaskan di tangan orang, kita menjadi lebih memanjakan anak Giok dan mengakibatkan gara-gara seperti sekarang ini, namun... namun aku tetap takkan membencinya. Tempo hari waktu di kelenteng kecil itu bukankah dia belum seburuk sebagaimana kita sangka? Jika aku tidak... tidak salah melukai dia, tentu... tentu takkan...."
Sampai di sini suaranya menjadi tergugukguguk, rupanya ia sangat menyesal dan berduka.
"Sudah kukatakan janganlah kau sedih atas kejadian itu, andaikan tempo hari kita dapat menyelamatkan dia, toh tidak mustahil akan direbut lagi oleh mereka,"
Kata Ciok Jing.
"Urusan ini pun sangat aneh, ke manakah perginya orangorang Swat-san-pay ini, mengapa mendadak telah menghilang semua dan tiada berita apa-apa lagi di dunia persilatan Tionggoan. Adik Ju, besok juga kita berangkat langsung ke Leng-siau-sia. Setiba di sana, baik atau buruk tentu kita akan mendapat keterangan yang jelas."
"Tanpa beberapa pembantu yang kuat, apakah kita mampu menyelamatkan anak Giok dari sarang harimau sebagai Lengsiau-sia itu?"
Ujar Bin Ju.
"Untuk menolong orang di sana memang tidaklah gampang,"
Kata Ciok Jing.
"Harapan kita hanya mencegatnya di tengah jalan, tapi sekali anak Giok sudah berada di Leng-siau-sia, maka itu berarti kambing sudah masuk ke dalam mulut harimau."
"Kukira dalam urusan ini juga tidak seluruhnya anak Giok yang bersalah,"
Kata Bin Ju.
"Lihatlah Swat-san-kiam-hoat yang dimainkan anak Giok itu sedemikian ceteknya, tentu karena Swat-san-pay tidak mengajarkan dia dengan sungguhsungguh. Anak Giok adalah pemuda yang angkuh dan tinggi hati pula, mungkin di sana ia telah banyak mengikat permusuhan. Tentu selama beberapa tahun ini dia telah sangat menderita lahir batin."
"Ya, semuanya adalah karena salahku, sungguh aku sangat menyesal,"
Kata Ciok Jing.
"Dahulu waktu aku memutuskan akan mengirim dia belajar kepada Swat-san-pay, walaupun kau tidak membantah, tapi kutahu di dalam hati kau merasa sangat berat. Sungguh tidak nyana Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li yang sedemikian terhormat, persahabatannya dengan kita juga begini baik, ternyata anak Giok telah disia-siakan di sana."
"Engkoh Jing, urusan ini mana boleh menyalahkan kau,"
Ujar Bin Ju.
"Maksudmu mengirim anak Giok ke Leng-siau-sia adalah demi kebaikanku, walaupun kau tidak menjelaskan juga aku tahu sendiri. Kau tahu bahwa untuk membalas sakit hati anak Kian melulu tenagaku sendiri tentu tidak berhasil, sampai pada saat yang menentukan juga kau tidak enak ikut campur, ditambah lagi pihak musuh terlalu hafal akan ilmu silat perguruan kita, tentu dia sudah mempunyai cara untuk mengalahkan kita. Tapi kalau anak Giok berhasil mempelajari Swat-san-kiam-hoat, dengan bahu-membahu kami ibu dan anak tentu mampu membinasakan musuh. Siapa tahu... siapa tahu... ai!"
Ciok Boh-thian dapat mengikuti percakapan Ciok Jing dan Bin Ju itu, tapi sebagian besar ia merasa tidak paham dan bingung. Hanya terpikir olehnya.
"Nasib nyonya Ciok sungguh malang, sedemikian sedih dia merindukan anaknya itu. Agaknya anaknya telah ditawan orang Swat-san-pay dan dibawa ke Leng-siau-sia, biarlah aku ikut mereka ke sana dan bila perlu akan kubantu mereka. Bukankah tadi dia mengatakan ingin mencari beberapa pembantu?"
Tengah merenung, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara derapan kuda yang ramai dari kejauhan, ada belasan ekor kuda sedang lari mendatangi dengan cepat.
Rupanya Ciok Jing berdua juga sudah dengar, mereka tidak bicara lagi, tapi duduk dengan diam saja.
Selang tidak lama, suara derapan kuda makin mendekat, lalu ada orang berseru.
"Itu dia, di sini!"
Menyusul ada orang berseru pula.
"Ciok-sute, Bin-sumoay, kami ingin bicara dengan kalian!"
Ciok Jing dan Bin Ju mengenali suara Tiong-hi Tojin itu, mereka agak heran, tapi lantas melompat maju. Seru Ciok Jing.
"Tionghi Suheng, apakah telah terjadi sesuatu?"
Maka tertampaklah Thian-hi, Tiong-hi, dan belasan suheng dan sute dari Siang-jing-koan itu semuanya berkuda, dua tojin di antaranya masing-masing memondong sesosok tubuh.
Karena keadaan gelap sehingga tubuh-tubuh siapakah itu tidaklah jelas.
Dengan pada yang gugup dan kasar Tiong-hi lantas menegur.
"Ciok... Ciok-sute dan Bin-sumoay, kalian tidak berhasil merebut kedua medali pengganjar dan penghukum di dalam kelenteng, mengapa lantas menggunakan tipu muslihat untuk merebutnya pula? Urusan kedua medali tembaga itu tidak menjadi soal, tapi mengapa kalian memakai cara keji terhadap Ciau-hi dan Thong-hi Sute, perbuatan kalian ini sungguh... sungguh tidak patut."
Ciok Jing dan Bin Ju terkejut semua mendengar uraian itu. Cepat Ciok Jing bertanya.
"Ciau-hi dan Thong-hi Suheng telah... telah mengalami cedera? Mengapa... mengapa bisa terjadi demikian? Apakah jiwa kedua suheng itu berbahaya?"
Karena mengkhawatirkan keselamatan kedua suheng itu, seketika juga Ciok Jing tidak sempat mendebat dan membela diri atas tuduhan Tiong-hi tadi. Tapi dengan marah-marah Tiong-hi berkata pula.
"Entah kau telah bersekongkol dengan kaum pengecut yang tidak kenal malu sehingga berani menggunakan racun yang keji. Walaupun kedua sute belum lagi binasa, tapi keadaan mereka sekarang rasanya juga tidak berbeda banyak."
"Harap Suheng jangan marah dulu, coba kuperiksa mereka,"
Kata Ciok Jing sambil melangkah maju hendak melihat keadaan Ciau-hi dan Thong-hi. Tapi lantas terdengar suara "sret-sret"
Di sana-sini, beberapa tojin sudah melolos pedang dan mengadang di depan Ciok Jing. Dengan menghela napas Thian-hi lantas berkata.
"Menyingkirlah kalian! Ciok-sute bukanlah manusia semacam itu."
Para tojin itu mendengus, lalu menurunkan pedang dan memberi jalan.
Segera Ciok Jing mengeluarkan geretan api untuk menerangi muka Ciau-hi dan Thong-hi.
Maka terlihatlah wajah kedua tojin itu hitam gelap, itulah memang tanda-tanda terkena racun.
Waktu pernapasan mereka diperiksa, ternyata denyut jantungnya sangat lemah, jiwa mereka sudah tinggal sesaat dua saat saja.
Hendaklah maklum bahwa ilmu silat Siang-jing-koan mempunyai gayanya tersendiri dan mempunyai kelebihan daripada ilmu silat golongan lain.
Ciau-hi dan Thong-hi Tojin semuanya memiliki lwekang yang cukup tinggi, sedangkan pukulan berbisa Ciok Boh-thian tidak langsung mengenai tubuh mereka, maka kedua tojin itu cuma jatuh pingsan terkena hawa berbisa yang tertolak keluar dari telapak tangan Ciok Boh-thian.
Namun demikian, terang ajal mereka pun takkan tahan lebih lama daripada satu atau setengah jam.
Melihat begitu parah kedua tojin itu keracunan, Ciok Jing menoleh dan tanya kepada sang istri.
"Adik Ju, kau kira orang dari golongan manakah yang memakai cara sekeji ini?"
Dan karena menolehnya itu, tertampaklah beberapa tojin yang lain dengan pedang terhunus sudah mengepung mereka dengan rapat.
Tapi Bin Ju anggap tidak tahu saja atas sikap permusuhan para imam itu.
Ia menerima geretan api dari tangan sang suami, lalu mendekat untuk periksa air muka Ciau-hi dan Thong-hi, sedikit saja terendus hawa berbisa yang diembuskan dari pernapasan kedua imam itu, seketika Bin Ju sendiri merasa kepala pening, cepat ia melangkah mundur.
Setelah memikir sejenak, lalu ia berkata.
"Aku belum pernah melihat racun begini selama merantau. Tolong tanya, Tiong-hi Suheng, cara bagaimana kedua suheng ini kena racun? Apakah salah minum obat racun? Atau terkena senjata rahasia musuh yang berbisa? Apakah tubuh mereka ada bekas luka?"
"Dari mana aku bisa tahu?"
Sahut Tiong-hi dengan marah.
"Kami justru menyusul ke sini untuk tanya padamu. Kau perempuan ini tadi tampak mencurigakan, besar kemungkinan waktu makan-minum tadi, karena tidak berhasil merebut medali-medali itu, lalu kau menaruh racun di dalam arak. Kalau tidak, mengapa orang lain tidak keracunan, tapi Ciau-hi Sute yang mengantongi medali-medali itu justru keracunan? Sedangkan me... medali-medali itu pun direbut lagi oleh kalian."
Saking gusarnya air muka Bin Ju sampai pucat pasi.
Tapi dasar perangainya memang halus, sejak kecil ia pun sangat sopan dan menghormati para suheng, maka ia tidak suka bercekcok mulut dengan mereka, hanya air matanya yang berlinanglinang dan hampir-hampir menetes.
Ciok Jing tahu di dalam persoalan ini tentu adalah kesalahpahaman yang besar.
Tadi dirinya suami-istri tidak berhasil merebut medali-medali tembaga itu, habis itu Ciau-hi lantas keracunan dan kehilangan medali-medali itu.
Dalam keadaan demikian mereka suami-istri memang berada pada tempat yang harus dicurigai.
Ia coba memegang tangan sang istri dengan maksud menghiburnya agar jangan berduka.
Tapi seketika ia pun bingung dan tak berdaya.
"Aku... aku...."
Demikian Bin Ju bermaksud membela diri, tapi hanya kata-kata itu saja yang sanggup diucapkan dan sudah menangis.
"Biarpun kau menangis sampai langit runtuh, memangnya kedua sute ini dapat kau hidupkan kembali? Huh, kucing menangisi tikus...."
Jengek Tiong-hi dengan gusar. Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong di belakang mereka ada orang berseru.
"Mengapa kalian tidak membedakan hitam atau putih dan sembarangan memfitnah orang?"
Mendengar suara orang yang sangat keras dan kuat itu, para imam terkejut dan berpaling semua.
Maka tertampaklah di sebelah sana sudah berdiri seorang laki-laki berbaju rombeng kumal.
Tatkala itu fajar sudah mulai menyingsing sehingga remang-remang wajahnya kelihatan, rupanya usianya masih sangat muda.
Ciok Jing dan Bin Ju menjadi girang demi melihat pemuda itu.
Bin Ju sampai berteriak.
"Ha... kau...."
Syukurlah pengalamannya cukup luas sehingga kata-kata "anak Giok"
Tidak sampai terucapkan.
Pemuda itu memang betul Ciok Boh-thian adanya.
Dia sembunyi di dalam semak alang-alang dan mendengarkan para imam itu menuduh Ciok Jing berdua telah meracuni kedua sute mereka.
Boh-thian menjadi ragu-ragu, kalau dirinya tampil ke muka, tentu akan bergebrak dengan para imam dan bukan mustahil pukulan berbisanya akan banyak minta korban lagi, hal ini sesungguhnya sangat bertentangan dengan pikirannya.
Tapi akhirnya demi melihat Tiong-hi makin garang dan makin mendesak sehingga Bin Ju sampai menangis, maka Boh-thian tidak tahan lagi, segera ia keluar dari tempat sembunyinya.
"Siapa kau? Dari mana kau mengetahui kami sembarangan memfitnah orang?"
Bentak Tiong-hi segera. Boh-thian menjawab.
"Ciok-cengcu dan Ciok-hujin tidak mengambil medali-medali tembaga kalian, tapi kalian bersitegang menuduh mereka, bukankah ini memfitnah secara ngawur?"
"Huh, kau bocah ini tahu apa? Kau berani sembarangan mengoceh di sini?"
Bentak pula Tiong-hi sambil melangkah maju setindak dengan pedang terhunus.
"Sudah tentu aku tahu,"
Sahut Boh-thian.
Mestinya ia hendak mengatakan bahwa sesungguhnya dia yang mengambil medalimedali itu, tapi terpikir pula bila dikatakan terus terang, tentu kawanan imam itu akan main rebut lagi, dan kalau tidak dikembalikan, tentu akan terjadi pertarungan sengit sehingga terpaksa membunuh orang.
Sebab itulah ia pikir lebih baik tidak dikatakan saja.
Di lain pihak hati Tiong-hi juga tergerak, ia pikir boleh jadi pemuda ini mengetahui seluk-beluk tentang medali-medali itu.
Maka ia lantas tanya.
"Habis siapakah yang mengambil medalimedali itu?"
"Pendek kata bukanlah Ciok-cengcu dan Ciok-hujin yang mengambil."
Kata Boh-thian.
"Kalian telah bersikap kasar kepada mereka, sampai-sampai Ciok-hujin jadi menangis, sungguh tidak pantas, lekaslah kalian meminta maaf kepada Ciok-hujin."
Sungguh girang Bin Ju tak terkatakan ketika mendadak melihat sang putra kesayangan yang dirindukannya siang dan malam itu, ternyata dalam keadaan selamat tanpa kurang sesuatu apa pun.
Sekarang didengarnya pula pemuda itu menyuruh Tionghi meminta maaf, terang sekali anak muda itu ingin membela sang ibu.
Bin Ju mempunyai dua orang putra yang telah banyak menyusahkan orang tua, dan baru sekarang ia mendengar sang putra mengucapkan kata-kata yang bersifat membela ibunda, seketika lega dan terhiburlah hatinya, ia merasa jerih payah dan duka derita yang telah dialaminya selama 20-an tahun bagi sang putra tidaklah sia-sia.
Melihat wajah sang istri berseri-seri, tapi air matanya berlinang-linang pula, Ciok Jing dapat memahami pikirannya, tangan istrinya yang masih dipegangnya itu digenggamnya lebih kencang lagi.
Ia pun berpikir.
"Ya, betapa pun jeleknya kelakuan anak Giok, terhadap ibunya toh dia masih sangat berbakti."
Dalam pada itu Tiong-hi menjadi gusar karena Boh-thian berani bicara dengan kasar padanya. Dengan suara keras ia membentak pula.
"Siapakah saudara ini? Berdasar apa kau berani menyuruh aku meminta maaf kepada Ciok-hujin?"
Karena senang hatinya, Bin Ju menjadi anggap sepi terhadap tuduhan Tiong-hi yang tak berdasar tadi, ia khawatir putranya bertengkar dengan imam-imam itu sehingga menimbulkan persengketaan di antara saudara seperguruan sendiri, maka cepat ia menyela.
"Tiong-hi Suheng hanya salah paham saja, kita adalah orang sendiri semua, asalkan duduknya perkara dibikin terang, maka tidak perlu bicara tentang minta maaf apa segala."
Lalu ia berpaling kepada Boh-thian dan berkata pula dengan suara halus.
"Para Totiang adalah supek dan susiokmu, lekas kau menjura kepada mereka."
Terhadap Bin Ju memangnya Ciok Boh-thian mempunyai kesan baik, sekarang dilihatnya nyonya itu memandangnya dengan wajah ramah dan penuh kasih sayang, hal ini selama hidupnya belum pernah diterimanya dari siapa pun juga.
Seketika darah Ciok Boh-thian bergolak, ia merasa biarpun apa yang harus dilakukannya menurut pesan Bin Ju, sekalipun mati juga tidak menolak, apalagi cuma disuruh menjura saja.
Maka tanpa pikir lagi ia lantas tekuk lutut dan menjura kepada Tiong-hi sambil berkata.
"Ciok-hujin menyuruh aku menjura padamu, maka aku lantas menjura!"
Thian-hi, Tiong-hi dan lain-lain sama melengak.
Mereka heran mengapa Ciok Boh-thian sedemikian menurutnya kepada Bin Ju.
Mereka tahu Ciok Jing mempunyai dua orang putra.
Yang satu telah dibunuh oleh musuh, seorang lagi hilang diculik, maka pemuda ini besar kemungkinan adalah muridnya saja.
Walaupun tabiat Tiong-hi agak berangasan, tapi apa pun juga dia adalah kaum beribadat, melihat Ciok Boh-thian memberi hormat padanya, seketika rasa gusarnya lantas mereda.
Cepat ia melompat turun dari kuda dan hendak membangunkan pemuda itu, katanya.
"Ah, janganlah banyak adat!"
Tak tersangka bahwa sekali Ciok Boh-thian sudah disuruh menjura, maka ia pikir harus menjura benar-benar, waktu Tiong-hi memayangnya ia tidak lantas bangun.
Dengan sendirinya waktu tangan Tiong-hi memegang bahu Boh-thian, ia merasa tubuh anak muda itu sangat berat, sedikit pun tidak bergoyah.
Keruan ia menjadi marah lagi, pikirnya.
"Kau anggap aku sebagai orang tua, tapi sekarang kau sengaja pamer lwekang lagi di hadapanku."
Segera ia menarik napas dalam-dalam dan mengerahkan tenaga untuk mengangkat ke atas, maksudnya hendak menjungkirkan Ciok Boh-thian yang bandel itu.
Melihat kuda-kuda Tiong-hi itu, segera Ciok Jing suami-istri mengetahui apa yang hendak dilakukan sang suheng.
Ciok Jing agak mendongkol atas sikap Tiong-hi itu.
Tapi demi mengingat sang suheng hendak memberi sedikit hajaran kepada putranya, ya, apa boleh buat, terpaksa membiarkan anak muda itu tahu rasa sedikit.
Sebaliknya Bin Ju lantas berseru.
"Perlahan sedikit, Suko!"
Maka terdengarlah suara "Wuuut...
bluk" , bukannya Ciok Bohthian yang terangkat, sebaliknya tubuh Tiong-hi sendiri mencelat ke belakang dan tertumbuk pada kudanya sendiri.
Dengan sempoyongan lekas-lekas Tiong-hi menggunakan ilmu "Jian-kin-tui" (membikin berat tubuh), dengan demikian barulah ia dapat berdiri tegak lagi.
Namun kudanya yang tertumbuk itu lantas meringkik dan terjungkal.
Kejadian yang disaksikan orang banyak ini sudah tentu membuat semua orang terkejut.
Ciok Jing dan Bin Ju sendiri pernah bertanding pedang dengan Ciok Boh-thian di kelenteng kecil di luar kata Yangciu tempo hari dan mengetahui tenaga dalam anak muda itu sangat kuat, namun sama sekali tak terbayang oleh mereka bahwa kekuatan lwekangnya sekarang sudah memuncak selihai ini, hanya tenaga pentalan saja sudah membikin tokoh kelas wahid dari Siang-jing-koan mencelat sendiri.
Begitu Tiong-hi sudah berdiri tegak.
"sret", segera ia melolos pedang. Saking gusarnya ia berbalik tertawa. Serunya.
"Bagus, bagus, bagus! Murid didik sute dan sumoay ternyata lain daripada yang lain, maka biarlah aku belajar kenal beberapa jurus dengan dia."
Habis berkata, kontan ujung pedang lantas menusuk ke dada Ciok Boh-thian.
"Tidak, ti... tidak, aku tak mau berkelahi dengan kau!"
Seru Boh-thian sambil goyang-goyang kedua tangannya dan mundur setindak.
Di sebelah lain Thian-hi sudah dapat melihat ilmu silat Ciok Boh-thian tidak boleh dibuat main-main, ia pikir kalau Tiong-hi Sute bertempur dengan anak muda ini, kalau menang toh takkan terpuji, sebaliknya kalau kalah malah akan ditertawai orang.
Sekarang dilihatnya Ciok Boh-thian tidak mau bertanding, hal ini menjadi kebetulan, maka cepat ia menyela.
"Ya, kita adalah orang sendiri, buat apa bertanding segala? Andaikan ingin tukar pikiran tentang kepandaian masing masing juga tidak perlu sekarang juga."
"Betul itu,"
Boh-thian menimpali.
"Kalian adalah suheng dan sutenya Ciok-cengcu, bilamana bergebrak dan aku membinasakan kalian lagi, wah, kan bisa berabe!"
Maklum, sama sekali Boh-thian tidak tahu adat istiadat orang hidup, ia khawatir jangan-jangan dalam pertarungan nanti pukulannya yang berbisa akan membinasakan lawan lagi, maka ia telah katakan terus terang isi hatinya itu.
Tak disangkanya bahwa ucapannya itu biarpun didengar oleh siapa pun juga tentu akan menimbulkan rasa murka dan akan melabraknya.
Apalagi imam-imam Siang-jing-koan itu biasanya sangat menilai tinggi ilmu silat golongan mereka, keruan mereka menjadi gusar.
Begitu pula Ciok Jing lantas membentak juga.
"Kau bilang apa? Jangan sembarang mengoceh!"
Semula Tiong-hi sudah menarik kembali pedangnya dan hendak menyingkir karena perintah Thian-hi tadi.
Tapi demi mendengar ucapan Ciok Boh-thian yang menghina dan memandang enteng para imam itu, ia tidak tahan lagi, segera ia melangkah maju pula dan membentak.
"Baik, aku justru ingin tahu cara bagaimana kau akan membinasakan kami. Nah, mulailah!"
"Tidak, aku tidak mau berkelahi dengan kau,"
Sahut Boh-thian dengan goyang-goyang kedua tangannya. Tiong-hi semakin murka, dengusnya.
"Hm, jadi kau merasa tiada harganya buat bergebrak dengan aku?!"
"Sret" , kontan ia mendahului menusuk ke bahu anak muda itu. Karena Boh-thian tidak bersenjata, maka serangan Tiong-hi ini sengaja ditujukan ke tempat yang tidak berbahaya. Dia adalah jago pedang terkemuka dari Siang-jing-koan, walaupun pengalaman tempurnya tidak lebih banyak daripada Ciok Jing dan Bin Ju, tapi ketangkasannya bahkan melebihi suami-istri itu. Keruan Boh-thian menjadi kelabakan, ia tidak sempat mengelakkan diri lagi.
"cret", bahunya telah tertusuk sedikit, kontan darah merembes keluar.
"Aduh!"
Bin Ju menjerit khawatir. Sebaliknya Tiong-hi lantas membentak pula.
"Lekas keluarkan senjatamu!"
Namun Boh-thian berpikir.
"Kau adalah suhengnya Ciok-hujin, tadi aku sudah salah membunuh dua orang suhengnya, kalau sekarang membunuh kau lagi, pertama, tidaklah baik terhadap Ciok-hujin, kedua, aku pun akan dianggap sebagai orang jahat."
Sebab itulah ia tidak menangkis tusukan Tiong-hi tadi, ia khawatir kalau tangannya bergerak, bukan mustahil telapak tangan yang beracun itu akan menimbulkan korban lagi.
Maka kedua tangannya sengaja ditelikungnya di belakang punggung dan saling genggam dengan erat, betapa pun dibentak Tiong-hi tetap dia tidak mau mainkan tangannya.
Melihat kelakuan Boh-thian ini, para imam Siang-jing-koan menyangka dia sengaja menghina, keruan mereka menjadi marah biarpun biasanya mereka adalah orang yang sabar.
Segera ada yang berseru.
"Tiong-hi Suheng, bocah itu terlalu sombong, berilah hajaran yang setimpal!"
"Apa kau benar-benar tidak sudi bergebrak dengan aku?"
Segera Tiong-hi membentak Ciok Boh-thian lagi.
"Sret-sret" , kembali ia menyerang pula dua kali. Saking cepatnya serangan Tiong-hi, dalam hal ilmu pedang memangnya Boh-thian juga kurang mahir, walaupun lwekangnya tinggi, tapi tidaklah sanggup menghindar, kontan lengan kiri dan dada kanan tertusuk pula. Untung Tiong-hi tidak bermaksud membunuhnya melainkan cuma memaksanya bergebrak saja, maka tusukan-tusukan itu hanya mengenai kulitnya dan pedang lantas ditarik kembali, makanya Boh-thian hanya terluka lecet saja. Melihat putra kesayangan berturut-turut terluka tiga tempat, sungguh hati Bin Ju merasa seperti dirinya yang terluka. Maka waktu melihat Tiong-hi kembali menusuk pula.
"trang" , segera ia menangkiskannya bagi Ciok Boh-thian. Serentak terdengarlah suara "trang-tring, trang-tring"
Yang ramai, dalam sekejap saja Tiong-hi dan Bin Ju sudah bergebrak 13 kali. Kedua orang sama-sama terhitung jago pilihan dari Siang-jingkoan, sekali ilmu pedang "Siang-jing-gway-kiam"
Dimainkan, Tiong-hi sekaligus menyerang 13 kali dan Bin Ju sekaligus juga menangkis 13 kali, seketika lelatu meletik sebagai kembang api disertai sinar pedang yang kemilauan, cepatnya tak terkatakan.
Maka begitu ke-13 jurus sudah dimainkan, serentak para imam dan Ciok Jing lantas bersorak dan menyenggak.
"Bagus!"
Karena kedua orang adalah tunggal guru, Thian-hi tahu biarpun bertarung lebih lama lagi juga susah menentukan kalah dan menang. Maka ia lantas berkata.
"Bin-sumoay, apa kau sudah terang akan membela anak muda ini?"
Bin Ju tidak menjawab, ia hanya pandang Ciok Jing dengan harapan sang suami yang menyatakan ketekadannya. Maka Ciok Jing lantas membuka suara.
"Bocah ini terlalu angkuh dan sembrono, memanglah pantas kalau diberi hajaran. Berturut-turut dia sudah kena tiga kali tusukan Tionghi Suheng, syukurlah Tiong-hi Suheng sengaja bermurah hati sehingga jiwanya tidak sampai melayang. Hanya sedikit kepandaian kasaran bocah ini mana dia sesuai untuk bergebrak dengan Tiong-hi Suheng? Nak, lekas kau menjura dan minta maaf kepada Supek!"
"Sudah terang dia memandang rendah kepada Siang-jing-koan kita, ia anggap tiada harganya bergebrak dengan kita,"
Seru Tiong-hi dengan marah-marah.
"Kalau tidak, mengapa tadi dia menyatakan sekali tangannya bergerak kita tentu akan terbunuh semua?"
Waktu Ciok Boh-thian membuka tangannya, lapat-lapat ia melihat noktah merah dan garis-garis biru di tapak tangannya itu agak timbul lagi. Ia menghela napas dan berkata.
"Kedua tanganku ini benar-benar penyakit, sedikit-sedikit tentu membinasakan orang."
Mendengar itu, kembali air muka para imam Siang-jing-koan berubah.
Mau tak mau Ciok Jing sendiri menjadi marah juga demi mendengar ucapan Boh-thian yang sombong dan menyinggung perasaan itu.
Segera ia membentak.
"Kau bocah ini benarbenar tidak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi. Tadi Tiong-hi Supek sengaja mengampuni kau, makanya jiwamu tidak sampai melayang, apa kau tidak tahu?"
"Aku... aku...."
Sahut Boh-thian dengan tergagap-gagap.
Dalam pada itu Tiong-hi sudah mulai curiga.
Tadi ia telah menusuk tiga kali kepada Ciok Boh-thian, dilihatnya cara pemuda itu belum paham cara menghindarnya, sebaliknya lwekangnya sedemikian lihainya, kalau bicara tentang ilmu silat tampaknya bukanlah murid didiknya Ciok Jing suami-istri.
Apalagi waktu Boh-thian membuka kedua tangannya, sayupsayup tercium olehnya bau amis busuk yang memusingkan kepala.
Keruan ia tambah sangsi.
Segera ia membentak pula.
"Sebenarnya kau murid siapa? Dari mana kau belajar berlagak dan bermulut besar?"
"Aku... aku adalah murid tertua Kim-oh-pay,"
Sahut Boh-thian. Tiong-hi melengak. Pikirnya.
"Kim-oh-pay? Setahuku di dunia persilatan tiada terdapat nama demikian, besar kemungkinan bocah ini membual lagi."
Segera ia berkata.
"O, kukira kau adalah muridnya Ciok-sute sendiri, tapi ternyata bukan orang sendiri, ini menjadi kebetulan malah."
Segera ia mengedipi dua orang sute yang berdiri di sebelahnya.
Kedua imam itu tahu maksud sang suheng, segera mereka memutar pedang, masing-masing dengan jurus "Tiau-pay-kimteng" (Menyembah Puncak Emas), yang seorang menghadapi Ciok Jing dan yang lain mengarah Bin Ju.
Gaya "Tiau-pay-kim-teng"
Ini adalah satu jurus penghormatan kepada lawan dari ilmu pedang Siang-jing-koan, biasanya digunakan bilamana hendak bertanding dengan tokoh Bu-lim yang terkemuka atau angkatan yang lebih tua.
Jurus ini tampaknya cuma sebagai penghormatan saja dengan ujung pedang mengarah ke bawah, tapi sebenarnya telah mengadakan penjagaan yang sangat rapat dalam lingkaran beberapa meter.
Sekali lawan bergerak, seketika lantas mendahului menggempur.
Sudah tentu Ciok Jing berdua paham maksud kedua imam itu, yaitu mengawasi gerak-gerik mereka.
Asalkan dirinya bergerak hendak membela sang putra, maka kedua imam itu serentak akan melayaninya.
Tapi kalau dirinya tidak bergerak, maka kedua imam itu pun takkan melakukan penyerangan lebih dulu.
Dalam pada itu Tiong-hi sudah tak sabar lagi, kembali ia membentak Boh-thian.
"Lekas keluarkan senjatamu! Jika kau tidak balas menyerang, segera aku mampuskan kau murid jahat dari Kim-oh-pay ini."
Dengan tegas ia mengatakan "Kim-oh-pay" , terang supaya Ciok Jing berdua tak dapat membelanya lagi andaikan nanti Boh-thian benar-benar dibunuh olehnya.
Pada saat yang menentukan itu, Ciok Jing menduga bila Bohthian tidak menandangi tantangan Tiong-hi itu, tentu anak muda itu akan terancam bahaya.
Sebaliknya kalau terima tantangan itu, karena mengetahui ada kemungkinan dirinya suami-istri akan membela anaknya, tentulah dia akan pikirpikir lebih dulu sebelum merobohkannya dan paling-paling anak muda itu hanya dilukai sedikit saja sekadar sebagai hajar adat.
Maka Ciok Jing lantas berseru.
"Nak, jika Supek ingin memberi petunjuk padamu, hal ini akan sangat berguna bagimu, tentu Supek takkan melukai kau, janganlah takut. Lekas kau keluarkan senjata untuk melayaninya!"
Melihat sinar pedang Tiong-hi yang gemerlapan dan wajah sang supek yang kereng itu, diam-diam Boh-thian menjadi jeri.
Berulang-ulang dia telah tertusuk tiga kali, ia tahu ilmu pedang imam itu sangat lihai.
Sekarang didengarnya Ciok Jing menyuruhnya mengeluarkan senjata, tiba-tiba timbul suatu pikiran padanya.
"Ya, betul, aku akan menangkis serangannya dengan senjata, dengan demikian racun di tanganku tentu takkan membinasakan dia."
Sekilas dilihatnya di atas tanah ada sebatang golok, yaitu senjata yang ditinggalkan muridnya Loh Cap-pek tadi. Dengan girang ia lantas berseru.
"Baik, baik! Aku akan melayani seranganmu. Tapi... tapi kau jangan menyerang lebih dulu, tunggulah aku mengambil golok itu. Jika kau menggunakan kesempatan ini untuk menusuk punggungku tentu tak bisa dianggap menang, jangan kau main belit."
Melihat cara bicara Ciok Boh-thian itu seperti anak kecil saja, Tiong-hi sangat mendongkol dan geli pula. Ia menjengek sekali sambil melangkah mundur.
"Cret", ia tancapkan pedangnya ke tanah dan berkata.
"Huh, kau anggap aku Tiong-hi ini orang macam apa? Masakah pakai menyerang dari belakang terhadap bocah ingusan macam kau?"
Dengan tangan tolak pinggang Tiong-hi sengaja menunggu Boh-thian menjemput golok di atas tanah itu. Pikirnya.
"Kiranya bocah ini mahir menggunakan golok, jika demikian terang dia bukan muridnya Ciok-sute. Hanya saja entah mengapa Ciok-sute menyuruh dia memanggil supek pula padaku?"
Begitulah, selagi Ciok Boh-thian berjongkok hendak mengambil golok, mendadak timbul pula suatu pikirannya.
"Wah, dalam pertarungan nanti jangan-jangan secara tidak sengaja aku menggunakan sebelah tangan yang kosong ini dan tentu akan membinasakan dia pula. Ya, ada lebih baik tangan kiri ini kuikat saja pada badanku, dengan demikian akan aman sentosa segalanya."
Bab 30. Rahasia Putra-putra Ciok Jing yang Hilang Maka ia tidak jadi menjemput golok itu, ia menegak kembali dan berkata kepada Tiong-hi.
"Maaf, harap kau tunggu dulu sebentar."
Habis itu ia lantas melepaskan ikat pinggang, tangan kiri ia julurkan lurus di samping badan, lalu dengan tangan kanan ia mengikat lengan kiri pada badannya sendiri.
Dengan mata terbeliak semua orang mengikuti perbuatannya itu, semuanya tidak tahu permainan apa yang akan dilakukan olehnya.
Namun Boh-thian tetap asyik melakukan pekerjaannya sendiri, setelah tangan kiri sudah terikat kencang di atas badan, lalu golok di atas tanah barulah diambilnya dan berkata.
"Baiklah, sekarang kita boleh mulai, dengan demikian aku takkan membinasakan kau."
Sungguh Tiong-hi hampir-hampir jatuh kelengar saking gusarnya.
Anak muda menerima tantangannya dengan mengikat sebelah tangannya, ini berarti suatu hinaan yang tak terkatakan.
Sudah tentu para imam Siang-jing-koan juga marah-marah, mereka membentak dan mencaci maki.
Ciok Jing dan Bin Ju juga lantas menyemprot Boh-thian.
"Anak kurang ajar! Hayo lekas melepaskan ikat pinggangmu itu!"
Untuk sejenak Boh-thian tertegun, pada saat itulah Tiong-hi sudah hilang kesabarannya, pedangnya dengan cepat sudah menusuk.
Dengan gugup lekas-lekas Boh-thian mengangkat goloknya untuk menangkis.
Tiong-hi sudah tahu lwekang anak muda itu sangat kuat, maka sebelum pedangnya terbentur golok, cepat ia sudah ganti serangan.
"Sret-sret-sret" , berturut-turut ia melancarkan enam-tujuh kali tusukan sehingga Boh-thian kerepotan melayaninya, jangankan hendak menangkis, dari mana datangnya serangan lawan saja Boh-thian tidak jelas. Diam-diam anak muda itu mengeluh.
"Wah, celaka!"
Dalam keadaan kepepet, tanpa pikir goloknya lantas membacok dan menebas serabutan, sedikit pun tidak menurut aturan.
Untunglah Tiong-hi sudah agak kapok terhadap lwekangnya yang mahakuat itu, walaupun permainan golok Ciok Boh-thian kelihatan banyak lubang kelemahannya, tapi di waktu goloknya membacok, mau tak mau Tiong-hi harus menarik kembali pedangnya dan menghindarkan diri, ia khawatir kalau-kalau pedangnya terbentur golok dan mencelat, hal ini tentu akan membikin malu habis-habisan padanya.
Sesudah membacok tak keruan, dilihatnya Tiong-hi berbalik mundur, maka Ciok Boh-thian sempat tenangkan diri untuk sementara.
Teringat olehnya ilmu golok yang diciptakannya dengan parang karatan yang ditemukan di Ci-yan-to tempo hari, tiba-tiba timbul pikirannya.
"Eh, ya, mengapa aku tidak menggunakan ilmu golokku itu untuk melayani dia?"
Hanya saja dahulu tangan kirinya menggunakan pedang dan tangan kanan memakai golok, sekarang tangan kiri sendiri terikat kencang, hanya tinggal tangan kanan saja yang tetap memainkan golok, dengan sendirinya daya gunanya menjadi banyak berkurang, namun begitu jurus-jurus serangannya yang aneh-aneh tetap tidak kurang banyaknya.
Sebenarnya kepandaian ciptaan Boh-thian sendiri ini tidaklah sempurna, banyak lubang kelemahannya.
Akan tetapi begitu ia mengerahkan lwekangnya yang tiada bandingannya, dengan sendirinya daya tempurnya menjadi sangat hebat.
Hanya belasan jurus saja para imam Siang-jing-koan dan Ciok Jing suami-istri sudah melongo terheran-heran.
Lebih-lebih Tiong-hi, di samping kejut dan gusar, ia menjadi rada-rada jeri pula.
Sebagai orang beribadat, pengalaman tempur Tiong-hi tidaklah luas, tapi ilmu golok dari golongangolongan terkemuka di dunia persilatan boleh dikata sudah dikenalnya semua.
Sekarang dilihatnya ilmu golok Ciok Bohthian itu sudah dangkal dan bodoh, caranya ngawur pula dan sangat bertentangan dengan teori ilmu golok pada umumnya.
Ilmu golok demikian mestinya sekali gempur sudah cukup mengalahkan anak muda itu, tapi aneh bin ajaib, justru dirinya sendiri yang berulang-ulang terancam oleh serangan ngawur itu, hal ini sungguh-sungguh tidak masuk akal.
Sesudah belasan jurus pula, lama-lama Tiong-hi menjadi gelisah dan hilang sabar.
"Sret" , pedangnya menusuk dari depan. Kebetulan pada saat itu golok Ciok Boh-thian telah berputar balik. Karena kedua orang sama-sama cepatnya.
"trang" , benturan kedua senjata tak dapat dihindarkan lagi. Tiong-hi sudah berjaga-jaga sebelumnya, ia telah pegang pedangnya dengan sangat kencang. Tapi tenaga dalam Ciok Boh-thian benar-benar terlalu kuat, di tengah jerit kaget orang banyak, pedang Tiong-hi tertampak sudah melengkung, gagang pedang pun berdarah, ternyata genggaman tangan Tiong-hi sampai tergetar pecah. Tiong-hi terkesiap, diam-diam ia merasa nama harumnya selama hidup sudah terhanyut sekarang, apa gunanya meyakinkan ilmu pedang dan menjadi ciangbunjin segala? Tanpa bicara lagi ia sambitkan pedang melengkung itu ke arah Ciok Boh-thian, menyusul kedua tangannya bagaikan cakar baja terus menubruk maju.
"Trang" , Ciok Boh-thian sempat menangkis timpukan pedang melengkung itu sehingga terpental, tapi lantaran itulah bagian dadanya menjadi terbuka, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Tiong-hi yang sedang menubruk maju itu, dengan cepat kedua hiat-to penting di dada Ciok Boh-thian telah kena dicengkeramnya. Serangan Tiong-hi ini laksana banteng ketaton dahsyatnya. Kim-na-jiu-hoat kaum Siang-jing-koan pun terhitung sesuatu kepandaian tunggal yang lihai. Siapa duga baru saja kedua tangannya menyentuh hiat-to di dada Ciok Boh-thian, kontan ia terpental balik oleh tenaga dalam anak muda itu sehingga mencelat. Sekali ini karena dia menyerang dengan kalap, maka tenaga pental balik itu pun tambah keras, tubuhnya yang mencelat itu tampaknya dengan segera akan terbanting telentang, jika ini terjadi, maka dia pasti akan malu besar. Syukurlah Thian-hi Tojin cepat bertindak, dengan cepat ia sempat menggunakan sebelah tangannya untuk menolak pundak sang sute ke samping sehingga daya pental itu dihapus sebagian, kedua kakinya menyentuh tanah lebih dulu dan meloncat ke atas. Dengan demikian Tiong-hi tidak sampai roboh terjungkal, tapi lalu menurun kembali dengan enteng. Namun wajahnya sudah lantas pucat pasi sebagai mayat. Setelah mendorong Tiong-hi ke samping, berbareng pula Thian-hi sudah melolos pedangnya dan berkata.
"Ternyata benar-benar seorang kesatria muda yang hebat, kagum, sungguh kagum sekali! Biarlah sekarang aku yang belajar kenal beberapa jurus padamu, mungkin aku yang sudah loyo ini pun bukan tandingan saudara."
Sambil bicara, berbareng pedangnya lantas menusuk lambat ke depan.
Waktu Boh-thian angkat goloknya menangkis, mendadak ia merasa tenaga yang dikerahkan pada batang goloknya itu punah tanpa bekas.
Kiranya Thian-hi mengetahui lwekang Ciok Boh-thian sangat lihai, maka serangannya telah menggunakan cara "menggeser"
Untuk menghapus tenaga lawan.
Namun tidak urung lengan kanan pun terasa tergetar dan kesemutan, dada pun kesakitan.
Keruan ia terkejut dan khawatir, jangan-jangan dirinya sudah terluka dalam.
Maka waktu menyerang pula, sebelum terbentur dengar golok lawan, segera ia tarik pedangnya dan menyusul menusuk dari samping.
Jangan mengira Thian-hi sudah lanjut usianya, tapi kegesitannya ternyata tidak kalah daripada orang muda, bahkan serangannya lebih jitu dan makin ganas.
Begitulah, dalam waktu singkat saja kedua orang sudah bergebrak lebih 20 jurus, karena sambaran angin senjata semakin meluas, maka lingkaran para penonton juga makin terdesak lebar.
Leng-hi Tojin dan kawannya yang bertugas mengawasi Ciok Jing dan Bin Ju sampai teralih perhatiannya dan asyik mengikuti pertarungan yang seru di tengah kalangan.
Sementara itu Ciok Boh-thian telah mainkan ilmu goloknya dengan semakin lancar, tenaga dalamnya juga ikut tambah kuat, semula Thian-hi masih dapat menandingi, tapi setiap bergebrak satu jurus tenaga anak muda itu pun tambah kuat sebagian, boleh dikata tumbuh tiada habis-habis dan tiada berhenti-henti.
Walaupun menang dalam kebagusan ilmu pedang, tapi kedua kaki Thian-hi sudah terasa mulai lemas, lengan juga mulai pegal, setiap kali bergebrak berarti semakin payah.
Sekarang Ciok Jing dan Bin Ju juga sudah dapat melihat jelas, apabila pertarungan itu diteruskan tentu Thian-hi akan kecundang.
Sebaliknya kalau sang putra yang dibentak suruh berhenti, hal ini sama dengan menyuruh dia mengalah di depan umum dan tentu akan membikin malu kepada Thian-hi.
Sungguh cemas dan bingung Ciok Jing berdua, mereka merasa serbasalah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ciok Boh-thian sendiri makin bertempur makin bersemangat, sampai akhirnya Thian-hi yang selalu terdesak malah.
Sekonyong-konyong Boh-thian melihat kaki kanan Thian-hi menjadi lemas dan hampir-hampir tekuk lutut, namun imam tua itu masih terus bertahan sekuatnya, hanya air mukanya yang sudah berubah hebat.
Tiba-tiba tergerak hati Boh-thian, teringat olehnya ucapan A Siu ketika berada di Ci-yan-to dahulu.
"Di waktu kau bertempur dengan orang, hendaklah selalu ingat bahwa di mana dapat mengampuni orang hendaklah mengampuni saja."
Sekali teringat kepada pesan A Siu itu, seketika Boh-thian terbayang wajah yang lembut dan ayu itu.
Segera ia melintangkan goloknya terus mendorong ke depan.
Kontan Thian-hi merasa dorongan golok itu membawa tenaga tekanan yang dahsyat sehingga napasnya terasa sesak.
Cepat ia melompat mundur dua tindak dan tidak urung tindakan mundur itu pun sudah membuatnya terhuyung-huyung.
Diam diam ia mengeluh.
"Celaka, jika dia mendesak maju lagi, untuk mundur saja rasanya aku pun tidak kuat lagi."
Akan tetapi Ciok Boh-thian tidak mendesak maju pula, sebaliknya goloknya lantas menebas kosong ke kiri, lalu ditarik kembali dan menusuk kosong lagi ke kanan, habis itu golok berputar ke atas terus membacok di depan anak muda itu sendiri.
Tiga kali gerakan itu adalah serangan kosong semua, namun betapa hebat tenaga yang digunakannya sehingga debu pasir sampai bertebaran terguncang angin senjatanya.
Selagi Thian-hi tercengang dengan napas terengah-engah, terlihatlah Boh-thian sudah menarik goloknya sambil mundur dua tindak, lalu berdiri tegak sambil memondong senjata dan berkata.
"Ilmu pedang tuan sangat bagus, Cayhe merasa sangat kagum. Hari ini susah menentukan kalah dan menang, bolehlah kita berhenti dan marilah bersahabat saja."
Thian-hi hampir-hampir tidak percaya kepada pendengarannya sendiri, ia berdiri termangu-mangu dan tidak sanggup berbicara.
Melihat Ciok Boh-thian menarik senjata dan melangkah mundur dengan gayanya yang sangat indah serta kuat itu, tanpa merasa semua orang memberi sorakan memuji.
Ciok Jing tersenyum-senyum dan merasa lega hatinya dengan kesudahan pertarungan yang damai itu.
Lebih-lebih Bin Ju, girangnya tak terkatakan lagi.
Mereka senang karena ilmu silat sang putra yang hebat itu, tapi yang lebih menggirangkan adalah sikap Ciok Boh-thian yang terakhir itu, sudah pasti akan menang, tapi toh dia mau mengalah dan menyudahi pertarungan itu dengan damai tanpa syarat ini benar-benar perbuatan yang luhur dan cocok sekali dengan sifat-sifat mereka suami-istri.
Namun Bin Ju lantas membentak Boh-thian dengan tertawa.
"Huh, anak goblok, sembarangan mengoceh tak keruan, mengapa pakai sebutan Cayhe segala, harus panggil supek dan mengaku Siautit (keponakan)!"
Thian-hi sendiri pun menghela napas lega, katanya dengan gegetun.
"Arus sungai selalu mendorong ke muka, orang muda memang selalu lebih hebat, kita sudah tua, tidak berguna lagi!"
"Nak, lekas kau memberi hormat dan minta maaf kepada Supek,"
Cepat Bin Ju berseru pula. Boh-thian mengiakan, ia membuang goloknya, lalu menjura dengan penuh hormat. Bin Ju sangat senang, katanya.
"Ciangbun-suko, ini adalah anak nakal sute dan sumoaymu, sejak kecil kurang mendapat didikan, harap suka memberi maaf atas kesalahannya."
Thian-hi terkesiap.
"O, kiranya adalah lenglong (putra kalian), pantas, pantas!"
Sahutnya kemudian.
"Tapi Sute tadi mengatakan lenglong telah diculik orang, kiranya hal itu tidaklah betul."
"Siaute mana berani mendustai Suheng,"
Kata Ciok Jing.
"Anak itu memang diculik orang, entah cara bagaimana dia bisa lolos sampai sekarang kami pun belum sempat tanya keterangannya."
"Ya, memangnya, dengan kepandaiannya yang tinggi ini memang tidak susah untuk meloloskan diri,"
Ujar Thian-hi dengan manggut-manggut.
"Hanya saja ilmu silat lenglong terang bukan ajaran Sute dan Sumoay, dalam ilmu goloknya ini pun tidak banyak terkandung jurus-jurus ilmu silat Swat-san pay, sebaliknya tenaga dalamnya sedemikian hebatnya dan susah diukur. Bahkan jurus yang terakhir tadi lebih-lebih jarang terlihat."
"Betul itu, jurus ini adalah ajaran A Siu,"
Demikian Boh-thian menanggapi.
"Dia bilang padaku agar senantiasa bermurah hati kepada lawan, di mana dapat mengampuni orang supaya mengampuni saja. Jurus ini bernama ‘Pang-kau-cik-kik’ (pukul dari samping dan hantam dari pinggir), gunanya untuk mengalah kepada lawan, tapi juga takkan dilukai oleh lawan."
Begitulah tanpa tedeng-aling-aling dan prasangka apa-apa Ciok Boh-thian mencerocos menurutkan apa saja yang hendak diucapkan, keruan muka Thian-hi sebentar merah sebentar pucat, malunya tak terkatakan.
Segera Ciok Jing membentak.
"Diam! Kau sembarangan mengoceh apa?"
"Baiklah, aku takkan bicara lagi."
Kata Boh-thian.
"Apabila sejak mula terpikir olehku untuk mengikat tanganku yang berbisa ini dan melulu gunakan golok untuk bergebrak dengan orang, tentu takkan... takkan...."
Sampai di sini ia lantas berhenti, ia pikir kalau bicara terus terang bahwa dirinya yang telah membinasakan Ciau-hi dan Thong-hi, tentu akan timbul persengketaan baru lagi.
Namun begitu Thian-hi dan imam-imam lain sudah terperanjat, beramai-ramai mereka membentak.
"Apa katamu? Telapak tanganmu berbisa?" – "Jadi Ciau-hi dan Thong-hi Sute adalah kau yang membunuhnya?" – "Dan kedua medali tembaga itu pun kau yang mencurinya bukan?"
Begitulah senjata-senjata para imam yang tadinya sudah dimasukkan kembali ke sarungnya ini sekarang beramai-ramai dicabut keluar lagi. Boh-thian menghela napas menyesal, katanya.
"Sesungguhnya aku tiada bermaksud membunuh mereka, tak terduga tanganku hanya sedikit bergerak saja mereka sudah lantas roboh sendiri."
Dengan murka Tiong-hi lantas berseru kepada Ciok Jing.
"Nah, Ciok-sute, cara bagaimana urusan ini harus diselesaikan, hendaklah kau katakan saja!"
Pikiran Ciok Jing menjadi kusut, ketika berpaling dilihatnya pula air mata sang istri berlinang-linang, perasaannya juga sangat khawatir dan cemas, terpaksa ia menjawab dengan kuatkan perasaan.
"Betapa pun kepentingan perguruan harus diutamakan. Binatang cilik ini telah banyak menimbulkan garagara, kami suami-istri susah juga untuk membelanya, maka terserah kepada keputusan Ciangbun-suheng untuk mengambil tindakan padanya."
"Bagus!"
Seru Tiong-hi, berbareng pedangnya bergerak, serentak ia hendak maju mengerubut.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Bin Ju mencegahnya. Dengan melirik Tiong-hi berkata.
"Apa yang Sumoay ingin katakan lagi?"
"Ciau-hi dan Thong-hi Suheng saat ini toh belum meninggal, boleh jadi mereka masih dapat tertolong."
Ujar Bin Ju dengan suara gemetar. Tiong-hi mengekek sambil mendongak, katanya dengan mengejek.
"Kedua sute sudah terkena racun sejahat ini, masakah mereka masih ada harapan buat hidup lagi? Ucapan Sumoay ini apa bukan sengaja mengolok-olok saja?"
Bin Ju pun tahu tiada harapan lagi, ia coba tanya Ciok Bohthian.
"Nak, racun apakah yang berada di telapak tanganmu itu? Apakah ada obat pemunahnya?"
Sambil bertanya ia lantas mendekati anak muda itu, katanya.
"Coba kuperiksa sakumu apakah terdapat obat pemunah."
Lalu ia pura-pura memasukkan tangannya ke saku Ciok Bohthian untuk mencari obat, tapi diam-diam ia membisiki anak muda itu.
"Lekas lari lekas! Ayah dan ibu tak sanggup menolong kau lagi!"
Boh-thian terperanjat.
"Ayah dan ibu? Siapa adalah ayah dan ibu?"
Serunya menegas. Kiranya tadi Thian-hi selalu menyebut tentang "lenglong"
Apa segala, karena buta huruf, maka Boh-thian tidak tahu bahwa "lenglong"
Artinya "putramu".
Bahwasanya Ciok Jing suami-istri juga menyebutnya sebagai "anak" , hal ini pun ia sangka sebutan lazim kaum tua kepada kaum muda, sama sekali tak terduga olehnya bahwa suami-istri itu telah salah mengenalnya sebagai putra mereka.
Pada saat itulah, sebelum Ciok Boh-thian dapat berbuat apaapa, tiba-tiba terasa punggungnya tersentuh oleh sesuatu.
Kiranya Ciok Jing yang telah menjuju punggungnya dengan ujung pedang, katanya.
"Adik Ju, kita tidak boleh membela binatang cilik ini sehingga merusak hubungan baik dengan perguruan sendiri. Dia tidak boleh lari!"
Nada ucapannya ternyata penuh mengandung perasaan pahit getir. Bin Ju pun hampir-hampir pingsan saking pedihnya, katanya dengan suara gemetar.
"Nak, apakah jiwa kedua supek ini benar-benar tiada obat yang dapat menolong mereka?"
Saat itu Leng-hi yang berdiri di samping dan bertugas mengawasi Bin Ju itu menjadi khawatir jangan-jangan sang sumoay akan merintangi atau mungkin juga mendadak membunuh diri, maka dengan cepat ia pegang tangan Bin Ju dan merampas pedangnya.
Tatkala mana Bin Ju sedang mencurahkan perhatian atas diri Ciok Boh-thian sehingga dengan gampang saja pedangnya kena dirampas.
Sebaliknya Ciok Boh-thian tidak tinggal diam melihat Bin Ju diperlakukan begitu, ia berteriak.
"Apa yang kau lakukan?"
Berbareng pedang Bin Ju tadi lantas hendak direbutnya kembali.
Akan tetapi Leng-hi telah putar pedang itu terus memotong.
Sebelum tertebas, cepat Boh-thian menarik tangan terus membalik untuk memegang pergelangan tangan lawan.
Ini adalah satu jurus kim-na-jiu-hoat ajaran si Ting Tong tempo hari.
Walaupun kim-na-jiu-hoat ini amat bagus, tapi mana dapat digunakan atas diri Leng-hi yang tergolong jago pilihan Siangjing-koan?
Mendadak Leng-hi membentak.
"Bagus!"
Berbareng pedangnya memutar balik untuk menangkis. Tak tersangka tubuhnya lantas sempoyongan, pandangannya menjadi gelap.
"bluk" , ia jatuh tersungkur sendiri. Kiranya racun di telapak tangan Ciok Boh-thian itu telah teruar pada waktu tangannya bergerak tadi. Ketika Leng-hi membentak, dengan sendirinya ia harus menyedot napas, maka kontan ia keracunan. Saking kagetnya para imam sampai menyingkir mundur beberapa tindak, wajah mereka pun pucat seketika laksana melihat setan iblis. Boh-thian insaf keonaran yang ditimbulkannya ini telah tambah besar, walaupun para imam itu tampak melangkah mundur, tapi setiap orang tetap menghunus pedang dan mengepung di sekelilingnya, untuk menerjang keluar tidak boleh tidak harus menjatuhkan korban jiwa lagi. Sekilas dilihatnya pula kedua tangan Leng-hi memegang perutnya sendiri sambil menggosokgosok dan meremas-remas tiada hentinya, terang imam itu sedang menderita sakit perut yang tak terhingga. Kiranya imam-imam Siang-jing-koan itu jauh lebih kuat lwekangnya dibanding anggota-anggota Tiat-cha-hwe, oleh karena itu mereka tidak lantas binasa terkena hawa berbisa, tapi masih sanggup tahan untuk sejam dua jam lamanya. Tiba-tiba Ciok Boh-thian teringat kepada Thio Sam dan Li Si sewaktu menderita sakit perut dan berkelesotan di sarang Tiatcha-hwe tempo hari, kemudian Thio Sam telah mengajarkan cara menolongnya sehingga racun di dalam tubuh kedua saudara angkat itu dapat dipunahkan, maka cepat ia lantas membangunkan Leng-hi. Para imam di sekelilingnya sudah siap-siap dengan pedangnya untuk mengerubutnya, namun Boh-thian buru-buru ingin menolong Leng-hi, maka sikap permusuhan imam-imam itu tak dihiraukan lagi. Dengan tangan kiri Boh-thian lantas tahan leng-tay-hiat di punggung Leng-hi, sedangkan tangan kanan memegang tat-tiong-hiat di bagian dada, ia kerahkan tenaga melalui tangan kiri dan tangan kanan dipakai menyedot, dengan cara yang diajarkan Thio Sam itu, tidak lama kemudian Leng-hi Tojin lantas bisa menarik napas panjang, sakit perutnya lantas berhenti. Dan begitu sudah sembuh, kontan Leng-hi memaki.
"Maknya, bangsat kau!"
Sebagai orang beribadat, caci maki Leng-hi itu sesungguhnya tidak pantas, tapi sekali dia sudah dapat bersuara, segera semua orang mengetahui jiwanya sudah dapat diselamatkan, maka semua orang lantas bersorak gembira dan tidak memusingkan kata-kata Leng-hi yang kurang sopan tadi.
Saking girangnya Bin Ju sampai meneteskan air mata.
Katanya.
"Nak, Ciau-hi dan Thong-hi Supek juga keracunan sejak tadi, lekas kau menolong mereka!"
Dalam pada itu dua tosu sudah memondong Ciau-hi dan Thong-hi ke depan Ciok Boh-thian, keadaan kedua imam itu sudah sangat payah, napas mereka sudah tinggal Senin-Kamis saja.
Segera Boh-thian menjalankan cara penyembuhan seperti tadi.
Karena Ciau-hi dan Thong-hi lebih lama keracunan, maka diperlukan waktu lebih lama pula barulah racun-racun di dalam tubuh mereka dapat dipunahkan.
Begitu sadar kontan Ciau-hi lantas mendamprat.
"Kakekmu disambar geledek, anak keparat!"
Dan Thong-hi juga tidak mau ketinggalan, ia pun mengumpat.
"Anak jadah piaraan biang anjing, kau berani menggunakan racun untuk menyerang tuanmu!"
Karena senangnya sehingga Ciok Jing dan Bin Ju tidak mengambil pusing lagi kepada caci maki ketiga suhengnya yang menyangkut kehormatan suami-istri mereka.
Sebaliknya diam-diam mereka menertawakan imam-imam itu.
"Percuma saja ketiga suheng itu bertirakat selama ini, biasanya mereka sangat saleh, tampaknya seperti imam yang sangat alim, tapi di waktu kepepet kata-kata mereka pun sedemikian kasarnya."
Setelah Ciok Boh-thian menyembuhkan Ciau-hi bertiga, maka rasa gusar para imam tadi lantas hilang pula sebagian besar. Bin Ju lantas berkata.
"Nak, jika kau yang mengambil medalimedali tembaga dari Ciau-hi Supek itu, hendaklah kau mengembalikan saja kepada beliau, ibu tidak inginkan bendabenda itu lagi."
"Ibu? Ibu?"
Boh-thian menggumam dengan terperanjat, lalu ia mengeluarkan medali-medali itu dan dikembalikan kepada Ciau-hi sambil menegas lagi kepada Bin Ju.
"Ibu? Kau... kau adalah ibuku?"
Di sebelah sana Thian-hi Tojin sudah lantas berkata kepada Ciok Jing dan Bin Ju.
"Sute dan Sumoay, biarlah kita berpisah saja di sini!"
Ia tahu untuk bertemu lagi kelak susahlah diramalkan, maka tanpa mengucapkan "sampai bertemu lagi"
Segera ia memimpin para imam dan berangkat pergi.
Ciok Boh-thian masih memandangi Bin Ju dengan termangumangu dan penuh keragu-raguan.
Sebaliknya kedua mata Bin Ju tampak basah, dengan tersenyum-senyum ia berkata.
"Anak bodoh, apa kau tidak... tidak mengenali ayah-ibumu lagi?"
Habis itu segera ia merangkul Boh-thian ke dalam pangkuannya.
Sejak tahu seluk-beluknya orang hidup belum pernah Bohthian dikasihi orang, terhadap Bin Ju selama ini dia memang merasa sangat suka dan terima kasih, kini mendadak mengalami perlakuan sedemikian, dengan sendirinya perasaannya juga terguncang dan terharu, ia terlongonglongong tak sanggup bicara.
Sampai agak lama barulah dia bisa membuka suara.
"Apakah dia... Ciok-cengcu adalah... adalah ayahku? Tapi aku kok tidak tahu. Cuma... engkau bukanlah ibuku, aku... aku memang sedang mencari ibuku sendiri."
Hati Bin Ju menjadi pilu karena Boh-thian tidak mengenalinya lagi, hampir-hampir ia meneteskan air mata pula. Katanya.
"O, kasihan anak ini. Tapi kau juga tak dapat disalahkan, sesudah... sesudah sekian tahun lamanya tentu kau sudah pangling kepada ayah-ibumu. Waktu kau meninggalkan Hiansoh-ceng tinggimu baru seperut ibu, tapi sekarang kau sudah lebih tinggi daripada ayahmu. Wajahmu ternyata juga banyak berubah, pertemuan di dalam kelenteng tempo hari kalau sebelumnya ayah-ibu tidak mengetahui kau yang telah ditawan Pek Ban-kiam, di kala bertemu juga tentu kita takkan saling mengenal."
Boh-thian semakin heran mendengarkan uraian nyonya Ciok itu.
Soal dirinya ditawan Pek Ban-kiam dan dibawa ke kelenteng Toapekong itu memang betul terjadi, tapi tentang ibunya yang diketahui bermuka kuning pucat, perawakannya juga jauh lebih pendek dan kecil daripada Bin Ju, untuk ini tidaklah mungkin dia pangling.
Maka dengan tergagap-gagap ia berkata.
"Ciok-hujin, engkau telah... telah salah kenal, aku... aku bukan an... anak kalian!"
"Engkoh Jing,"
Bin Ju berpaling kepada Ciok Jing.
"coba kau lihat anak ini...."
Mendengar Ciok Boh-thian tidak mau mengakui ayah-ibunya, diam-diam Ciok Jing lantas menimbang-nimbang.
"Bocah ini sangat cerdik, dia tidak mau mengakui orang tua sendiri tentu dia mempunyai maksud yang mendalam. Jangan-jangan dia telah menimbulkan bencana besar di Leng-siau-sia dan telah banyak melakukan kejahatan di Tiang-lok-pang, namanya tersohor sangat busuk, maka dia merasa malu untuk mengakui ayah-ibu sendiri. Atau mungkin juga takut dihukum dan khawatir merembet ayah-ibunya?"
Sesudah berpikir sejenak, kemudian ia tanya.
"Jika demikian, kau ini Ciok-pangcu dari Tiang-lok-pang atau bukan?"
Boh-thian garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sahutnya.
"Ya, semua orang mengatakan aku adalah Ciok-pangcu, tapi sebenarnya bukan, mereka pun telah salah mengenali diriku."
"Habis siapa namamu?"
Tanya Ciok Jing.
"Aku tidak punya nama dan tidak punya she,"
Sahut Boh-thian dengan wajah bingung.
"Ibu hanya panggil aku ‘Kau-capceng’."
Ciok Jing saling pandang dengan Bin Ju, mereka merasa ucapan Ciok Boh-thian itu sangat jujur dan sungguh-sungguh, sedikit pun tiada tanda-tanda sengaja berdusta.
Segera Ciok Jing mengedipi sang istri dan mengajaknya menyingkir agak jauh, lalu dengan suara perlahan ia berkata.
"Adik Ju, bocah ini sebenarnya Tiong-giok atau bukan? Dari kabar-kabar yang kita peroleh memang diketahui bahwa Tionggiok telah menjadi pangcu di Tiang-lok-pang, tapi sebagai seorang pangcu masakah bisa jadi sedemikian dungunya?"
"Anak Giok sudah belasan tahun meninggalkan kita,"
Sahut Bin Ju dengan berat.
"sesudah dewasa sudah tentu muka dan perawakannya akan banyak berubah. Akan tetapi... aku yakin dia pasti putraku."
"Kau benar-benar mantap, sedikit pun tidak sangsi?"
Ciok Jing menegas.
"Kesangsian sih ada, tapi entah mengapa, aku percaya bahwa... bahwa dia pasti putra kita. Apa sebabnya, aku sendiri pun tak bisa menjelaskan."
Tiba-tiba Ciok Jing teringat kepada sesuatu, katanya.
"Ah, aku mendapat akal. Bukankah kau masih ingat waktu perempuan hina itu hendak menyatroni kau, adik Ju?...."
Apa yang diungkap Ciok Jing ini merupakan kejadian yang tak bisa dilupakan oleh mereka suami-istri, hanya mereka tidak mau menyinggung kejadian itu.
Maka Ciok Jing cuma menyebut awalnya dan Bin Ju pun lantas mengerti.
"Betul, biar kutanya padanya,"
Demikian Bin Ju lantas sadar akan maksud sang suami. Lalu ia berduduk di atas sepotong batu besar, kemudian Boh-thian dipanggilnya.
"Nak, coba kemari, ada yang hendak kukatakan padamu."
Boh-thian lantas mendekatinya dan oleh Bin Ju dia disuruh duduk juga di sebelahnya, lalu nyonya itu mulai bertanya.
"Nak, pada waktu kau berusia dua tahun, datanglah seorang penjahat wanita yang hendak membikin susah ibumu, kebetulan ayahmu tidak di rumah, sedangkan ibu baru saja melahirkan adikmu sehingga tidak mampu melawan penjahat wanita itu. Wanita jahanam itu benar-benar sangat jahat, bukan saja ibumu hendak dibunuhnya, bahkan kau dan adikmu juga akan dibunuh olehnya."
"Hah, lalu aku terbunuh atau tidak?"
Seru Boh-thian terkejut. Tapi ia lantas tertawa sendiri dan menyambung pula.
"O, aku benar-benar sudah linglung, sudah tentu aku tidak terbunuh."
Namun Bin Ju tidak tertawa, ia melanjutkan ceritanya.
"Waktu itu ibu membopong kau dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan memainkan pedang untuk melawannya dengan matimatian. Penjahat wanita itu sangat lihai, aku menjadi kewalahan. Pada saat berbahaya itu kebetulan ayahmu keburu pulang. Dengan cepat penjahat wanita itu menimpukkan tiga buah kim-ci-piau (senjata rahasia berbentuk mata uang), dua buah di antaranya kena disampuk jatuh oleh ibumu, kim-cipiau yang ketiga telah mengenai bokongmu. Kau menjerit menangis, ibumu menjadi khawatir dan lelah terus jatuh pingsan. Tapi karena melihat ayahmu, penjahat wanita itu pun lantas melarikan diri. Wanita itu benar-benar amat kejam, sewaktu melarikan diri dia sekalian menggondol pergi adikmu pula. Karena buru-buru ayahmu harus menolong aku dahulu, pula khawatir kalau-kalau penjahat wanita itu menyembunyikan pembantu dan aku akan dicelakai, maka ayahmu tidak mau mengejarnya, pula mengingat... mengingat penjahat wanita itu pun tidak mungkin membunuh putranya, paling-paling orok itu sengaja diculik untuk menakut-nakuti ayahmu saja. Siapa tahu pada hari ketiga mayat adikmu telah dikirim pulang oleh penjahat wanita itu, di atas badan ulu hatinya tertancap dua bilah pedang kecil, yang sebatang pedang hitam dan sebatang lagi pedang putih, bahkan di atas pedang-pedang itu terukir pula nama ayah-ibumu...."
Bercerita sampai di sini, saking sedihnya air matanya sudah bercucuran sebagai hujan. Boh-thian juga gusar mendengar peristiwa kejam itu, katanya.
"Penjahat wanita itu benar-benar terlalu keji, seorang anak bayi yang tak berdosa juga tega membunuhnya. Wah, kalau tidak terbunuh aku kan senang mempunyai seorang adik? Ciokhujin, kejadian itu selamanya ibu tak pernah katakan padaku."
"Nak,"
Kata Bin Ju pula dengan air mata berlinang-linang.
"apa benar-benar kau telah melupakan ibu kandungmu sendiri? Aku... aku inilah ibumu yang sesungguhnya."
Boh-thian mengamat-amati sejenak wajah Bin Ju, lalu menggeleng perlahan-lahan, katanya.
"Bukan, kau bukan ibuku. Kau telah salah mengenali aku."
"Dahulu pantatmu telah tertumpuk oleh kim-ci-piau si penjahat wanita, walaupun sekarang kau sudah dewasa, tentu bekas luka itu takkan hilang. Nah, coba kau membuka celanamu dan periksalah sendiri."
"Aku... aku...."
Sahut Boh-thian dengan muka merah dan serbasalah.
Teringat olehnya bahwa di atas pundak sendiri terdapat bekas gigitan si Ting Tong, di atas paha juga terdapat enam titik bekas luka tusukan pedang oleh "Liau-susiok"
Dari Swat-sanpay, semuanya itu sebenarnya sudah dilupakan olehnya, tapi setiap kali ia membuka baju dan periksa, selalu terlihat jelas apa-apa yang tertinggal di atas badannya sebagaimana dituduhkan orang.
Seluk-beluk di dalam urusan ini benar-benar membuatnya bingung dan tidak habis mengerti.
Sekarang Ciok-hujin mengatakan pula bahwa di pantatnya terdapat bekas luka kim-ci-piau, wah, jangan-jangan luka demikian itu benar-benar ada pula.
Ia coba meraba-raba pantat sendiri sebelah kiri dari luar, ia merasa tidak ada sesuatu bekas luka apa-apa.
Hanya saja ia sudah kapok dengan dua kali kejadian sebelumnya, yaitu luka gigitan di pundak dan luka pedang di paha, mau tak mau sekarang ia menjadi sangsi.
"Aku adalah ibu kandungmu, entah sudah berapa kali aku mengganti kain popokmu jika kau ngompol atau berak, masakah sekarang kau merasa malu segala?"
Ujar Bin Ju dengan tersenyum.
"Baiklah, boleh kau periksakan kepada ayahmu saja."
Habis berkata ia lantas memutar tubuh dan menyingkir ke sana. Ciok Jing sendiri juga merasa ragu-ragu, katanya.
"Nak, boleh kau lepaskan celana dan periksa sendiri saja."
Dengan sangsi Boh-thian meraba pantat sendiri pula dari luar, sesudah yakin tiada bekas luka apa-apa barulah dia membuka tali kolor dan melorotkan celananya, waktu ia melongok ke belakang, terlihatlah di sebelah kiri pantat itu lapat-lapat ada sejalur bekas luka kira-kira tiga-empat senti panjangnya, rupanya luka itu sudah terlalu lama, maka bekas luka itu sudah samar-samar saja.
Seketika Boh-thian ternganga kaget, ia merasa langit dan bumi seakan-akan berputar, dirinya serasa mendadak telah berubah seorang lain, tapi toh dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa.
Saking kaget dan takutnya, tak tertahan lagi Boh-thian menangis keras-keras.
Cepat Bin Ju berpaling kembali, dilihatnya sang suami sedang manggut-manggut padanya, maksudnya berkata.
"Ya, dia memang betul Tiong-giok adanya."
Bin Ju menjadi girang dan cemas pula, ia berlari mendekati Boh-thian terus merangkulnya. Katanya dengan air mata bercucuran.
"Anak Giok, O, anak Giok, jangan takut, betapa pun besarnya urusan tentu ayah-ibu akan menyelesaikan bagimu."
"Aku sudah lupa kepada segala kejadian di masa lampau,"
Kata Boh-thian sambil menangis.
"Aku tidak tahu engkau adalah ibuku, tidak tahu dia adalah ayahku, tidak tahu di pantatku ada bekas luka demikian ini. Aku tidak tahu, ya, tidak tahu, segala apa pun tidak tahu...."
"Lwekangmu yang begini tinggi ini kau belajar dari mana?"
Tanya Ciok Jing.
"Entah, aku tidak tahu,"
Sahut Boh-thian.
"Habis pukulanmu yang berbisa itu kau pelajari dari siapa pula?"
Desak Ciok Jing.
"Tidak tahu, tiada orang yang mengajarkan padaku,"
Sahut Boh-thian dengan takut-takut.
"Ai, kenapakah aku ini, segala apa sudah linglung bagiku. Apakah aku benar-benar Ciok Bohthian, Ciok-pangcu? Ciok... Ciok, jadi aku benar-benar she Ciok dan adalah anak kalian?"
Saking gugupnya sampai muka Boh-thian menjadi pucat, kedua tangannya masih memegangi celananya yang kedodoran, khawatir kalau melorot ke bawah, sebaliknya lupa mengikat tali kolornya.
Melihat Boh-thian sedemikian gugup dan takutnya, Bin Ju merasa sangat kasihan, tiada hentinya ia menepuk-nepuk perlahan pundak anak muda itu dan berkata.
"Anak Giok, jangan takut, jangan takut!"
Ciok Jing lantas kesampingkan juga rasa gemasnya kepada putranya yang diketahui berkelakuan tidak senonoh itu, pikirnya.
"Aku pernah melihat kepala orang mengalami pukulan keras atau menderita sakit parah, lalu melupakan segala apa yang pernah dialaminya, konon penyakit ini bernama ‘sakit hilang ingatan’ dan sangat sukar disembuhkan kembali. Jangan-jangan... jangan-jangan anak Giok sekarang terkena penyakit aneh ini?"
Pikiran Ciok Jing ini tidak berani lantas dikatakan kepada sang istri, tak terduga Bin Ju sendiri juga mempunyai pikiran yang serupa.
Suami-istri itu saling tukar pandang dengan ragu-ragu, akhirnya sama-sama tercetus.
"Sakit hilang ingatan!"
Ciok Jing tahu orang yang menderita penyakit aneh itu tidak boleh ditanyai terus-menerus, semakin didesak penyakitnya akan semakin berat.
Jalannya harus perlahan-lahan membantunya memulihkan daya ingatannya, lalu dipancing dan ditanya sedikit demi sedikit.
Maka dengan ramah tamah ia lantas berkata.
"Hari ini kita telah dapat berkumpul kembali, sungguh suatu hal yang sangat menggembirakan. Nak, tentu perutmu sudah lapar, marilah kita pergi ke kota di depan sana untuk makan dan minum."
"Se... sebenarnya siapakah diriku ini?"
Demikian Boh-thian masih bingung. Bin Ju lantas bantu melipatkan celana anak muda itu dan mengikat tali kolornya, lalu katanya dengan halus.
"Nak, apakah kau pernah terjatuh sehingga kepalamu terbentur dengan keras? Atau kau pernah berkelahi dengan orang dan kepalamu kena diketok benda keras oleh lawanmu?"
"Tidak, tidak pernah,"
Sahut Boh-thian sambil geleng-geleng kepala.
"Atau selama ini pernahkah kau jatuh sakit panas?"
Tanya Bin Ju pula.
"O, ya, pernah,"
Sahut Boh-thian.
"Beberapa bulan yang lalu sekujur badanku terasa sangat panas sebagai dibakar di dalam tungku. Kemudian berubah menjadi dingin setengah mati. Waktu itu aku berada di atas gunung, lalu... lalu jatuh pingsan dan apa yang terjadi selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi."
Bab 31. Ciok Jing Berkisah tentang Rasul-rasul Pengganjar dan Penghukum Ciok Jing menjadi girang dan merasa lega karena sang istri telah dapat menjelajahi sumber penyakit anak muda itu.
"Nak, janganlah kau takut,"
Kata Bin Ju pula dengan lembut.
"karena sakit panas itu sehingga kau telah melupakan segala apa di masa lampau, tapi perlahan-lahan daya ingatanmu pasti akan pulih kembali."
Namun Boh-thian masih bersangsi.
"Jadi kau benar-benar adalah ibuku dan... dan Ciok-cengcu adalah ayahku?"
Tanyanya pula.
"Betul,"
Sahut Bin Ju dengan tersenyum.
"Nak, aku dan ayahmu telah mencari kau ke mana-mana, berkat Tuhan yang maha pengasih, akhirnya kita bertiga telah dapat berkumpul kembali. Eh, mengapa kau tidak... tidak lekas panggil ayah?"
Boh-thian percaya penuh bahwa Bin Ju pasti tidak membohonginya, memangnya ia sendiri pun tidak punya ayah, maka sesudah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia memanggil ayah pada Ciok Jing.
"Dan panggil juga ibu!"
Sahut Ciok Jing dengan tersenyum.
Disuruh memanggil ibu kepada Bin Ju bagi Ciok Boh-thian menjadi lebih sukar keluar dari mulutnya.
Ia masih ingat dengan jelas bahwa wajah ibunya sendiri sama sekali berbeda daripada Bin Ju, ibunya yang menghilang itu rambutnya sudah mulai ubanan, sebaliknya rambut Bin Ju masih hitam mengilap.
Tabiat ibunya sangat keras, sedikit-sedikit lantas marah-marah dan memaki, bahkan main pukul segala, sama sekali berbeda daripada sikap Bin Ju yang ramah tamah ini.
Melihat air muka Bin Ju penuh menaruh harapan akan panggilannya, bahkan kelihatan matanya menjadi basah sesudah menunggu sekian lamanya belum lagi dipanggil, Bohthian menjadi tidak tega, akhirnya ia memanggil dengan suara perlahan.
"Ibu!"
Sungguh girang Bin Ju tak terlukiskan, terus saja ia merangkul Boh-thian sambil berseru.
"O, anakku yang baik!"
Berbareng air matanya sudah bercucuran pula. Ciok Jing pun terharu, pikirnya.
"Kalau mengingat sepak terjang anak ini ketika di Leng-siau-sia dan di tengah orangorang Tiang-lok-pang, dosanya itu biarpun ditebus dengan jiwanya juga belum cukup setimpal, mana dapat dikatakan sebagai ‘anak yang baik’?"
Tapi mengingat anak itu menderita penyakit hilang ingatan, ia merasa tidak enak untuk menegurnya tentang perbuatanperbuatannya.
Apalagi kalau diingat bahwa kesalahan setiap orang harus diberi kesempatan untuk memperbaikinya, bukan mustahil kelak anak ini akan berubah menjadi baik.
Padahal kalau ditinjau lebih mendalam, sejak kecil dia sudah berpisah dengan ayah-ibu, betapa pun dirinya sebagai ayah harus bertanggung jawab karena kurang memberi didikan.
Hanya saja perbuatan tidak senonoh bocah inilah yang benar-benar telah membikin busuk nama baik Hian-soh-siang-kiam (sepasang pedang dari Hian-soh-ceng) yang tersohor di Kangouw selama ini.
Begitulah sesaat itu pikiran Ciok Jing menjadi bergolak di samping gembira juga merasa menyesal dan gemas.
Melihat air muka sang suami yang sebentar terang sebentar masam itu, segera Bin Ju dapat meraba apa yang dipikirnya.
Khawatir kalau suaminya mulai menanyai dosa Ciok Boh-thian cepat Bin Ju berkata.
"Engkoh Jing, Anak Giok, aku sudah sangat lapar, marilah kita lekas mencari makanan."
Ia lantas bersuit, sejenak kemudian kedua ekor kuda hitamputih lantas berlari mendatangi dari semak-semak sana.
"Nak, kau bersatu kuda tunggangan dengan ibu saja."
Melihat sang istri sangat gembira, hal ini jarang terjadi selama belasan tahun ini, maka Ciok Jing hanya tersenyum saja dan lantas mencemplak ke atas kuda hitam.
Boh-thian dan Bin Ju bersama menunggang kuda putih terus dilarikan menuju ke jalan besar.
Tapi di dalam hati Boh-thian tetap ragu-ragu dan tidak habis mengerti.
"Apakah dia benarbenar ibuku? Jika betul ibu yang membesarkan aku sejak kecil itu tentulah bukan ibuku lagi. Sebenarnya yang manakah yang betul adalah ibuku?"
Begitulah tiga orang berdua kuda telah melanjutkan perjalanan. Beberapa li kemudian, tiba-tiba terlihat di tepi jalan ada sebuah kelenteng.
"Marilah kita sembahyang dahulu ke dalam kelenteng,"
Tibatiba Bin Ju mengajak.
Lalu ia mendahului melompat turun terus masuk ke dalam kelenteng.
Terpaksa Ciok Jing dan Boh-thian ikut ke dalam kelenteng.
Padahal Ciok Jing mengetahui sang istri selamanya jarang bersembahyang.
Tapi sekarang dilihatnya Bin Ju sudah berlutut di depan patung ji-lay-hud (Buddha) dan sedang menjura berulang-ulang.
Waktu ia berpaling ke arah Ciok Boh-thian, tiba-tiba timbul rasa terima kasihnya, pikirnya.
"Walaupun bocah ini tidak genah kelakuannya, padahal cintaku kepadanya melebihi jiwaku sendiri. Jika ada orang hendak membikin celaka padanya tentu aku akan membelanya sekalipun nyawaku harus melayang. Hari ini kami ayah-ibu dan anak dapat berkumpul kembali, sungguh Tuhan yang maha pengasih benar-benar sangat memberkati kepadaku."
Karena itu, tanpa merasa ia pun berlutut dan menjura ke hadapan patung Buddha. Boh-thian hanya berdiri saja di samping, ia dengar Bin Ju memanjatkan doa dengan suara perlahan.
"Mohon Buddha memberkati agar penyakit putraku ini lekas sembuh. Dia masih terlalu muda, biarlah segala dosanya ditanggung olehku sebagai ibunya, segala kutuk hukuman ibunya yang akan memikulnya, asalkan putraku selanjutnya dapat membarui hidupnya, bebas dari kesukaran dan bencana, hidup sejahtera dan bahagia."
Suara Bin Ju itu sebenarnya sangat lirih tapi dengan lwekang Ciok Boh-thian yang tinggi sekarang, dengan sendirinya ia dapat mendengarnya dengan jelas.
Seketika darahnya tersirap, perasaannya terguncang, pikirnya.
"Jika dia bukan ibu kandungku, masakah dia sedemikian baiknya kepadaku? Selama ini aku ragu-ragu untuk memanggil ibu padanya, aku benar-benar sudah terlalu linglung."
Saking terharunya mendadak ia terus menubruk maju terus merangkul pundak Bin Ju dari belakang sambil berseru.
"Ibu, O, ibu, kau benar-benar adalah ibuku!"
Dari panggilan ibu tadi keluar dari mulutnya dengan sangat dipaksakan adalah sekarang panggilan Boh-thian ini benarbenar timbul dari lubuk hatinya yang tulus.
Sudah tentu Bin Ju dapat mendengar dari nada suaranya itu, dengan terharu ia lantas berpaling dan balas memeluk sambil berseru.
"O, anakku yang bernasib malang!"
Dasar watak Ciok Boh-thian memang jujur dan berbudi, ia menjadi teringat kembali kepada "ibu"
Yang pernah selama belasan tahun di atas gunung yang sunyi itu, walaupun dirinya diperlakukan dengan kurang baik, tapi ibu dan anak telah hidup berdampingan sekian lamanya, betapa pun hatinya juga merasa berat.
Maka ia telah bertanya pula.
"Dan bagaimana dengan ibuku yang dahulu itu? Apakah... apakah dia memang membohongi aku?"
"Bagaimana macamnya ibumu yang dahulu itu? Coba kau terangkan pada ibu,"
Kata Bin Ju sambil membelai-belai rambut Ciok Boh-thian.
"Dia... dia punya rambut sudah agak putih, jauh lebih pendek daripadamu, dia pun tak bisa ilmu silat, dia sering marahmarah sendiri, terkadang marah-marah padaku dengan mata melotot,"
Demikian tutur Boh-thian.
"Kau bilang dia adalah ibumu, apakah dia pun panggil anak padamu?"
Tanya Bin Ju.
"Tidak, dia panggil aku sebagai ‘kau-cap-ceng’!"
Sahut Bohthian. Hati Ciok Jing dan Bin Ju tergerak semua, pikir mereka.
"Wanita itu memanggil Anak Giok sebagai kau-cap-ceng (anak anjing campuran), teranglah karena dia terlalu benci kepada kami suami-istri, jangan-jangan... jangan-jangan adalah wanita hina itu?"
Maka cepat Bin Ju tanya pula.
"Apakah ibumu itu bermuka bundar telur, kulit badannya sangat putih, kalau tertawa terdapat dekik di atas pipinya?"
"Bukan,"
Sahut Boh-thian sambil menggeleng.
"Ibuku itu berpipi gemuk dan kekuning-kuningan, jarang tertawa, juga tiada dekik di pipi apa segala."
"O, kiranya bukan dia,"
Ujar Bin Ju dengan menghela napas.
"Nak, ketika di kelenteng kecil malam itu pedang ibu telah melukai kau, bagaimana dengan lukamu itu?"
"Tidak apa-apa, hanya luka ringan saja, beberapa hari lagi tentu akan sembuh,"
Sahut Boh-thian.
"Dan cara bagaimana kau lolos dari cengkeraman Pek Bankiam?"
Tanya Bin Ju pula.
"Anak kita benar-benar hebat, sampai ‘Gi-han-se-pak’ juga tidak mampu menawannya."
Kata-kata terakhir ini dia tujukan kepada Ciok Jing dengan rasa bangga.
Ciok Jing sendiri memang sangat kagum kepada kepandaian Pek Ban-kiam setelah pertandingan di kelenteng Toapekong tempo hari.
Maka ia pun setuju atas ucapan sang istri.
Ia hanya menjawab.
"Ah, jangan terlalu memuji padanya, nanti terlalu memanjakan dia."
Tapi Ciok Boh-thian lantas menerangkan.
"Bukan aku sendiri yang meloloskan diri, tapi Ting-samyaya dan si Ting-ting Tong tong yang menyelamatkan aku."
Ciok Jing dan Bin Ju terperanjat mendengar namanya Ting Putsam itu, cepat mereka tanya keterangan lebih lanjut.
Karena cerita ini agak panjang, maka Ciok Boh-thian lantas menguraikan dengan jelas tentang cara bagaimana Ting Putsam dan si Ting Tong telah menolongnya, kemudian Ting Putsam hendak membunuhnya, tapi Ting Tong telah mengajarkan kim-na-jiu-hoat padanya dan akhirnya dia terlempar ke dalam perahu yang lain.
Bin Ju lantas menanyakan pula kejadian-kejadian sebelumnya, terpaksa Boh-thian menuturkan cara bagaimana ia telah dinikahkan dengan si Ting Tong oleh Ting Put-sam dan cara bagaimana ditawan oleh Pek Ban-kiam di markas besar Tianglok-pang.
Kemudian ceritanya melompat kejadian berikutnya, di mana dia telah bertemu dengan Su-popo dan A Siu di Sungai Tiangkang serta bertanding melawan Ting Put-si, lalu cara bagaimana Su-popo telah menerimanya sebagai murid pertama Kim-oh-pay ketika mendarat di Ci-yan-to.
Sesudah itu dia ditinggal pergi si nenek dan A Siu, lalu menemukan kapal mayat Hui-hi-pang, akhirnya dia ketemu dengan Thio Sam dan Li Si serta mengangkat saudara dengan mereka.
Ia menceritakan seluruhnya sehingga sampai di sarang Tiat-chahwe dan akhirnya kesasar ke dalam Siang-jing-koan.
Apa yang telah dialaminya di dunia Kangouw itu memangnya sudah membikin bingung padanya, sekarang dia disuruh cerita, sudah tentu terjungkir balik tiada teratur.
Namun Ciok Jing dan Bin Ju selalu tanya secara teliti sehingga akhirnya sebagian besar cerita Ciok Boh-thian itu dapatlah dipahami mereka.
Begitulah makin mendengar cerita itu makin terheran-heran Ciok Jing berdua, pikiran mereka pun semakin tertekan.
Waktu Ciok Jing menanyakan cara bagaimana Boh-thian bisa masuk ke dalam Tiang-lok-pang, maka anak muda itu lantas menguraikan cara bagaimana dia dibawa Cia Yan-khek ke atas Mo-thian-kay sehingga mendapat ilmu menangkap burung dari jauh, kemudian ia putar kembali ceritanya mengenai dahulu ia pernah terima persen dari Bin Ju di depan warung siopia ketika bertemu dengan Bin Ju di sana.
Sudah tentu Ciok Jing dan Bin Ju sama sekali tidak menduga bahwa si pengemis kecil yang kotor dekil yang pernah dijumpai di Hau-kam-cip dahulu itu ternyata bukan lain adalah putranya sendiri.
Bila teringat keadaan si pengemis kecil yang terluntalunta dan harus dikasihani itu, kembali Bin Ju merasa pilu hatinya.
Diam-diam Ciok Jing juga membatin.
"Kalau dihitung menurut waktu pertemuan di Hau-kam-cip tempo dulu itu, tatkala mana bocah ini toh belum lama melarikan diri dari Leng-siau-sia. Mengapa Kheng Ban-ciong dan kawan-kawannya bisa pangling kepada Anak Giok ini?"
Berpikir demikian, segera Ciok Jing mengamat-amati pula air muka "Ciok Tiong-giok".
Ia merasa muka si pengemis kecil yang sekilas pernah dilihatnya di Hau-kam-cip dahulu itu samar-samar sudah tak teringat olehnya, yang masih jelas adalah pakaiannya yang compang-camping dan mukanya yang kotor saja.
Lalu terpikir lagi.
"Sejak dia melarikan diri dari Leng-siau-sia, sepanjang jalan ia hidup dari mengemis, sudah tentu mukanya menjadi dekil, bukan mustahil malah dia yang sengaja membikin kotor mukanya supaya tidak mudah dikenali orang sehingga Kheng Ban-ciong dan kawan-kawannya menjadi pangling. Aku pun sudah berpisah sekian tahun lamanya, perubahan anak kecil juga sangat cepat, dengan sendirinya aku lebih-lebih pangling lagi."
Setelah ragu-ragu sejenak kemudian Ciok Jing coba bertanya.
"Waktu di depan warung siopia tempo dulu, apa kau tidak merasa takut ketika melihat Kheng Ban-ciong dan para susiokmu yang lain?"
Sebenarnya Bin Ju tidak suka sang suami menyinggung urusan Swat-san-pay itu, tapi karena sudah diucapkan, untuk mencegahnya juga tidak bisa lagi, ia hanya mengerut alis, ia khawatir sang suami terus mengusut perbuatan-perbuatan putranya yang tidak senonoh.
Tak terduga Ciok Boh-thian telah menjawabnya.
"Kheng Banciong? Orang-orang Swat-san-pay itu? Apakah mereka benarbenar adalah susiokku? Tatkala itu aku tidak tahu mereka hendak menangkap aku, dengan sendirinya aku tidak takut kepada mereka."
"Kau tidak tahu mereka hendak menangkap kau?"
Ciok Jing menegas.
"Kau... kau benar-benar tidak tahu Kheng Ban-ciong adalah susiokmu?"
"Ya, tidak tahu,"
Sahut Boh-thian sambil menggeleng. Melihat wajah sang suami sekilas agak masam, Bin Ju tahu Ciok Jing telah menahan rasa gusarnya sedapat mungkin. Maka cepat ia membuka suara.
"Nak, setiap orang tentu pernah berbuat salah, asalkan insaf akan kesalahannya dan berani memperbaikinya rasanya belumlah terlambat. Ayah dan ibu mencintai kau melebihi jiwanya sendiri, maka segala apa tidak perlu kau merahasiakan, katakanlah terus terang segala sebab musababnya kepada ayah-ibumu saja. Sebenarnya bagaimana sikap Hong-suhu terhadap dirimu?"
"Hong-suhu? Hong-suhu yang mana?"
Boh-thian menegas dengan bingung. Tiba-tiba teringat olehnya ketika di kelenteng Toapekong tempo hari ayah-ibunya pernah sebut-sebut namanya Hong Ban-li, maka ia lantas menyambung pula.
"Apakah kau maksudkan Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li? Aku pernah mendengar kalian menyinggung namanya, tapi aku tidak kenal dia."
Ciok Jing dan Bin Ju saling pandang sekejap. Segera Ciok Jing tanya pula.
"Dan bagaimana dengan Pek-yaya (Kakek Pek)? Tabiat beliau sangat keras bukan?"
"Pek-yaya siapa? Entah, aku tidak pernah melihat dan tidak kenal dia,"
Sahut Boh-thian sambil geleng kepala. Menyusul Ciok Jing dan Bin Ju bergilir menanyakan pula suasana dan keadaan Swat-san-pay di Leng-siau-sia, tapi Ciok Boh-thian ternyata tidak mengetahui apa pun.
"Engkoh Jing, penyakitnya ini terang terjadi sejak waktu itu,"
Kata Bin Ju kepada sang suami. Ciok Jing mengangguk, tapi diam saja. Kiranya kedua orang sekarang telah paham duduknya perkara, mereka menarik kesimpulan.
"Anak Giok sudah mengalami pukulan batin yang mahahebat sejak dia melarikan diri dari Leng-siau-sia, jika bukan kepalanya terkena benda keras waktu di tempat perguruannya itu, tentu disebabkan saking ketakutannya sehingga pikirannya menjadi linglung dan melupakan segala kejadian di masa lampau. Tentang pengalamannya waktu di Mo-thian-kay dan di Tiang-lok-pang, semuanya itu terjadi sesudah dia menderita sakit hilang ingatan."
Kemudian Bin Ju berusaha menjajaki lagi kejadian-kejadian di masa kecilnya, tapi bicara ke sana kemari Ciok Boh-thian hanya ingat pernah hidup di atas pegunungan yang sunyi, kerjanya cuma menangkap burung dan memburu ayam hutan, lebih dari itu dia tidak dapat menjelaskan lagi, seakan-akan sejak dia dilahirkan sehingga berumur belasan tahun, masa hidupnya itu hanya kosong belaka tanpa sesuatu peristiwa.
"Anak Giok,"
Kata Ciok Jing akhirnya.
"ada suatu hal penting yang menyangkut mati-hidupmu di masa depan. Tentang ilmu silat Swat-san-pay sebenarnya sampai berapa banyak telah kau pahami?"
Boh-thian tampak termangu-mangu, jawabnya kemudian.
"Aku hanya menyaksikan orang-orang Swat-san-pay melatih ilmu pedang di dalam kelenteng tempo hari, diam-diam aku pun mengingatnya sebagian saja. Apakah lantaran ini mereka sangat marah padaku sehingga aku hendak dibunuh oleh mereka? Ayah, itu Pek-suhu bersitegang mengatakan aku adalah murid Swat-san-pay, entah apakah maksudnya? Anehnya mengapa di atas pahaku memang benar terdapat bekas luka tusukan ilmu pedang mereka itu. Ai, sungguh aku pun tidak habis mengerti akan hal ini."
"Adik Ju, biar kucoba lagi dia punya ilmu pedang,"
Kata Ciok Jing kepada sang istri. Lalu ia melolos pedangnya dan menyambung pula.
"Coba, boleh kau gunakan Swat-san-kiamhoat yang telah kau pahami itu untuk bergebrak dengan Ayah, sedikit pun kau tidak boleh menyembunyikan kepandaianmu."
Bin Ju lantas mencabut pedang dan diserahkan kepada Ciok Boh-thian sambil tersenyum, maksudnya mendorong anak muda itu agar melakukan apa yang dikehendaki Ciok Jing.
Ketika Ciok Jing mulai menusuk dengan lambat, segera Ciok Boh-thian mengangkat pedang untuk menangkis, yang dia gunakan adalah jurus "Siok-hong-hut-khi" (Angin Utara Mendadak Meniup), gerakannya lamban, gayanya kaku dan banyak lubang kelemahannya.
Ciok Jing mengerut kening melihat ketololan ilmu pedang anak muda itu, sebelum kedua pedang kebentur, segera ia ganti serangan lagi sambil berkata.
"Kau pun boleh balas serang saja!"
"Baik!"
Sahut Boh-thian.
Mendadak pedangnya membacok dari samping, ia gunakan pedang sebagai golok sehingga yang dia mainkan lebih mirip Kim-oh-to-hoat daripada disebut ilmu pedang.
Dengan cepat Ciok Jing mempergencar serangan-serangannya, pikirnya.
"Betapa pun licin bocah ini juga jangan harap akan dapat mengelabui diriku dalam hal ilmu silat. Setiap orang yang menghadapi detik menentukan antara mati atau hidup tidaklah mungkin berpura-pura lagi dalam permainan ilmu pedangnya."
Karena pikiran ini, segera ia mendesak lebih kencang pula, setiap serangannya selalu menuju tempat-tempat berbahaya di tubuh Ciok Boh-thian.
Mau tak mau Boh-thian menjadi kelabakan, dalam gugupnya untuk mempertahankan diri secara otomatis ia lantas memainkan kepandaian ciptaannya sendiri, yaitu ilmu yang mirip ilmu golok dan menyerupai ilmu pedang.
Dalam pada itu serangan-serangan Ciok Jing bertambah gencar.
Coba kalau lawannya bukan putranya sendiri, niscaya dengan mudah dia sudah membikin tamat riwayatnya.
Pada jurus ke-11 jika mau dada Ciok Boh-thian tentu sudah ditembus oleh pedangnya, ketika jurus ke-23 mestinya buah kepala anak muda itu pun dapat ditebasnya menjadi dua, bahkan setiba jurus ke-28 pertahanan Ciok Boh-thian menjadi terbuka semua, dadanya, perutnya, pundaknya, kakinya, semuanya dengan gampang dapat dijadikan sasaran pedang.
Ciok Jing menoleh sekejap kepada sang istri sambil menggeleng.
"Sret" , menyusul pedangnya lantas menusuk ke depan, perut Ciok Boh-thian segera terancam oleh ujung pedang. Keruan Boh-thian kelabakan, ia coba menangkis sebisanya.
"trang" , tahu-tahu pedang Ciok Jing tergetar mencelat, berbareng dadanya terasa sesak, kontan ia tersentak mundur beberapa tindak. Di bawah guncangan tenaga dalam Ciok Boh-thian yang mahakuat itu, hampir-hampir saja ia tidak sanggup berdiri tegak lagi.
"He, kenapakah kau, Ayah?"
Seru Boh-thian kaget, cepat ia membuang pedangnya dan memburu maju hendak memayang Ciok Jing.
Tiba-tiba Ciok Jing merasa pening dan muak, lekas-lekas ia menutup pernapasan dan memberi tanda agar Boh-thian jangan mendekatnya.
Kiranya sekali Ciok Boh-thian sudah bergebrak dengan orang, dengan sendirinya racun yang mengeram di dalam tubuhnya lantas terdesak keluar oleh tenaga dalamnya yang bergolak itu.
Syukurlah sebelumnya Ciok Jing sudah mengetahui seluk-beluk kepandaian putranya sehingga tidak sampai roboh keracunan.
Khawatirkan diri sang suami, cepat Bin Ju juga memburu maju untuk memayangnya, ia menoleh dan menegur Boh-thian.
"Ayah cuma menjajal kepandaianmu saja, mengapa kau begini sembrono?"
Boh-thian menjadi khawatir, sahutnya cepat.
"Ya, aku... aku yang salah, Ayah! Apakah kau terluka?"
Melihat bocah itu menaruh perhatian secara tulus dan sungguhsungguh kepadanya, diam-diam Ciok Jing sangat girang dan terhibur. Ia tersenyum, sesudah mengatur napasnya, kemudian ia menjawab.
"Ah, tidak apa-apa. Adik Ju, jangan kau salahkan Anak Giok. Dia memang benar belum memahami ilmu pedang Swat-san-pay, sebab kalau dia sudah mahir, tentu dapat menyerang dan dapat menarik kembali dengan tepat, dengan sendirinya dia takkan sembrono padaku. Tenaga dalam bocah ini benar-benar sangat hebat, tokoh Bu-lim yang mampu menandingi dia boleh dikata sangat terbatas."
Bin Ju cukup kenal watak sang suami yang biasanya tidak sembarangan memuji orang persilatan pada umumnya, kalau sekarang dia memuji putra kesayangannya, hal ini menandakan kepandaian Ciok Boh-thian memang benar-benar hebat.
Tentu saja Bin Ju ikut bergirang, katanya.
"Tapi ilmu silatnya masih terlalu kaku, sebaiknya sang ayah memberi petunjuk-petunjuk seperlunya."
"Ketika di kelenteng tempo hari bukankah kau sudah pernah mengajarkan dia?"
Ujar Ciok Jing dengan tertawa.
"Tampaknya dalam hal mendidik anak nakal si ayah yang keras harus menyerah kepada sang ibu yang pengasih."
Bin Ju tersenyum gembira, katanya.
"Kalian tentu sudah lapar, marilah kita mencari rumah makan."
Sesudah mereka sampai di suatu kota kecil dan tangsel perut seperlunya, kemudian mereka keluar kota menuju ke suatu tempat yang sunyi.
Di sini Ciok Jing lantas menguraikan letak saripati ilmu pedang yang hebat.
Dasarnya Ciok Boh-thian memang tidak bodoh, selama ini dia telah banyak memahami pula berbagai macam ilmu silat, sekarang diberi petunjuk pula oleh tokoh silat terkemuka sebagai Ciok Jing, sudah tentu ia tambah cepat mengerti.
Apalagi lwekang Ciok Boh-thian memangnya sudah sangat tinggi dan melebihi jago kelas satu di dunia Kangouw, yang masih kurang baginya hanya dalam hal pengalaman tempur saja.
Begitulah Ciok Jing dan Bin Ju bergilir memberi petunjuk dan saling gebrak dengan Boh-thian, bilamana ada sesuatu kesukaran segera mereka memberi petunjuk di mana perlu, dengan demikian kemajuan Boh-thian terang jauh lebih pesat daripada waktu Bin Ju memberi petunjuk secara diam-diam waktu bertemu di kelenteng Toapekong dahulu.
Karena tenaga dalam Ciok Boh-thian teramat kuat, biarpun dia berlatih terus dari siang sehingga petang tanpa berhenti dan mengaso, namun sedikit pun dia tidak kelihatan lelah, bahkan napasnya tidak sampai terengah-engah.
Sebaliknya Ciok Jing dan Bin Ju yang memberi petunjuk secara bergilir malah mandi keringat dan merasa capek.
Secara ringkas saja pelajaran-pelajaran itu telah berlangsung selama beberapa hari, kemajuan Boh-thian sangat pesat, dari ilmu pedang ajaran ayah-ibunya sudah dapat dipahaminya tujuh-delapan bagian.
Hian-soh-kiam-hoat memangnya adalah ilmu pedang yang lihai, ditambah lagi tenaga dalam Ciok Boh-thian yang mahakuat, kelak kalau bertemu lagi dengan Pek Ban-kiam, Ting Put-sam, dan Ting Put-si dan lain-lain, andaikan Boh-thian belum dapat mengalahkan jago-jago tua itu, paling sedikit ia pun sudah mampu mempertahankan diri.
Selama beberapa hari itu, di kala mengaso atau di waktu makam, Ciok Jing dan Bin Ju masih terus berusaha memancing Ciok Boh-thian menceritakan pengalamannya di masa lampau dengan maksud membantunya memulihkan daya ingatannya.
Akan tetapi Boh-thian hanya dapat menceritakan dengan jelas tentang kejadian sesudah dia berada di Tiang-lok-pang, sampai kejadian-kejadian kecil ia pun dapat menerangkan, tapi ditanya sewaktu kecilnya, ketika tinggal di Hian-soh-ceng dan belajar silat di Leng-siau-sia, semuanya ini ia hanya melongo saja tak bisa menjawab.
Pada hari itu, sesudah makan siang, mereka bertiga kembali berada di bawah pohon yang biasanya mereka suka dudukduduk di situ dan mengobrol.
Tiba-tiba Bin Ju menjemput setangkai ranting dan menggores-gores di atas tanah, ia menulis empat huruf "Hek-pek-hun-beng" (hitam dan putih harus dibeda-bedakan dengan tegas), lalu katanya.
"Anak Giok, apakah kau masih ingat keempat huruf ini?"
Boh-thian menggeleng-geleng kepala, sahutnya.
"Tidak, aku tidak bisa membaca."
Ciok Jing dan Bin Ju terkejut semua. Padahal waktu anak mereka meninggalkan rumah Bin Ju sudah mengajarkan membaca kepadanya, kitab-kitab yang sederhana sebagai "Sam-ji-keng" (kitab aksara tiga).
"Tong-si" (sanjak Tong) boleh dikata sudah dapat dihafalkan di luar kepala, mengapa sekarang jawabnya tidak bisa membaca? Apalagi Wi-tek Siansing dari Swat-san-pay terkenal serbapandai, baik ilmu silat maupun ilmu sastra. Anak muridnya juga terkenal sebagai kaum cerdik pandai semua. Waktu Ciok Jing memasrahkan Tiong-giok kepada Hong Ban-li dahulu juga dengan tegas dinyatakan semoga anak itu mendapat didikan ilmu silat maupun ilmu sastra, tatkala itu Hong Ban-li telah berkata dengan tertawa.
"Pek-tehu (adik ipar Pek, maksudnya istri Pek Ban-kiam) adalah sastrawan wanita di Leng-siau-sia kita, biarkan dia yang mengajar putramu, tanggung tidak akan mengecewakan harapanmu."
Tapi kini anak muda itu ternyata mengaku buta huruf. Tentang empat huruf "Hek-pek-hun-beng"
Itu adalah tulisan di atas papan yang tergantung di pendopo Hian-soh-ceng mereka, tulisan itu adalah sumbangan seorang tokoh Bu-lim angkatan tua, maknanya cocok dengan sepasang pedang hitam-putih andalan Ciok Jing dan istrinya, tapi juga mengandung pujian kepada mereka suami-istri yang suka membela keadilan dan membantu kaum lemah untuk menumpas kejahatan.
Sebabnya Bin Ju menulis keempat huruf yang dahulu sering dilihat putranya sejak kecil, mungkin dari situ akan dapat mengingatkan dia kepada kejadian-kejadian di masa lampau, siapa duga anak muda itu bahkan menjawab tidak dapat membaca.
Lalu Bin Ju menggores lagi angka "satu"
Di atas tanah, tanyanya pula dengan tertawa.
"Dan huruf ini kau masih ingat tidak?"
"Tidak, huruf apa pun aku tidak tahu, tiada yang pernah mengajarkan padaku,"
Jawab Boh-thian. Pedih sekali hati Bin Ju, air matanya lantas berlinang-linang lagi.
"Anak Giok, coba kau mengaso dulu ke sebelah sana,"
Kata Ciok Jing kepada Boh-thian. Setelah mengiakan, Boh-thian lantas jinjing pedangnya dan menyingkir ke sana untuk berlatih sendiri. Kemudian Ciok Jing telah menghibur sang istri.
"Adik Ju, penyakit yang diderita Anak Giok tampaknya tidaklah enteng dan tak dapat disembuhkan dalam waktu singkat."
Sesudah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula.
"Seandainya dia memang sudah melupakan segala kejadian yang lalu, hal ini pun bukanlah urusan jelek. Sepak terjang bocah ini di masa lampau terlalu sembrono, walaupun sekarang agak... agak linglung, tapi tingkah lakunya terang jauh lebih baik dan lebih prihatin. Hal ini boleh dikata merupakan suatu kemajuan besar baginya."
Bin Ju pikir apa yang dikatakan sang suami itu pun ada benarnya, seketika dari sedih berubah menjadi girang.
Apa halangannya kalau cuma buta huruf saja, paling-paling diajarkan lagi dari permulaan kan beres?
Tiba-tiba Ciok Jing berkata pula.
"Adik Ju, ada suatu hal yang aku tidak habis paham. Penyakit hilang ingatan bocah ini terang sudah terjadi sewaktu dia meninggalkan Leng-siau-sia, kemudian ia menderita sakit panas lagi, hal ini hanya semakin menambah parah penyakitnya itu. Akan tetapi... akan tetapi...."
Mendengar ucapan sang suami itu mengandung sesuatu tekateki yang mendalam, mau tak mau Bin Ju ikut menjadi tegang, cepat ia tanya.
"Akan tetapi apa?"
"Bicara tentang kesusastraan terang Anak Giok buta huruf,"
Kata Ciok Jing.
"Bicara tentang ilmu silatnya juga tidak terlalu mahir, hanya lwekangnya saja yang luar biasa. Bicara soal pengalaman, pengetahuan dan tipu akalnya, semuanya lebihlebih tiada yang dapat dipilih. Padahal Tiang-lok-pang adalah suatu organisasi besar yang sangat menonjol pada masa akhirakhir ini, namanya sangat disegani oleh dunia persilatan, mengapa... mengapa...."
"Ya, betul, mengapa mengangkat seorang anak kecil sebagai Tiong-giok untuk menjadi pangcu mereka?"
Sambung Bin Ju dengan manggut-manggut. Ciok Jing merenung sejenak, lalu sambungnya pula.
"Waktu di Ciciu tempo hari kita pernah mendengar cerita bahwa Ciok Boh-thian, Ciok-pangcu dari Tiang-lok-pang adalah seorang yang suka main perempuan, tingkah lakunya culas dan licik, tapi ilmu silatnya sangat tinggi pula. Sebenarnya tiada seorang pun yang tahu asal-usul Ciok-pangcu itu, belakangan entah mengapa dia telah dapat dikenali oleh murid wanita dari Swatsan-pay yang bernama Hoa Ban-ci, katanya dia adalah murid murtad Swat-san-pay mereka, Ciok Tiong-giok, yang sedang dicari-cari oleh perguruannya. Tapi kalau dilihat sekarang, segala apa tentang tingkah lakunya culas licik dan ilmu silatnya sangat tinggi, ulasan-ulasan itu sesungguhnya tidak tepat digunakan atas diri Tiong-giok."
Dengan mengerut kening Bin Ju menanggapi.
"Ya, dahulu kita pikir usia Anak Giok memang masih muda, tapi otaknya memang tajam, jika ilmu silatnya benar-benar telah maju pesat sehingga dapat menjabat sebagai pangcu apa juga bukan sesuatu yang aneh, sebab itulah kita tatkala itu sedikit pun tidak curiga, kita hanya berunding cara bagaimana menyelamatkan dia dari pencarian Swat-san-pay. Akan tetapi melihat kelakuannya sekarang, kukira... kukira...."
Sampai di sini mendadak ia perkeras suaranya.
"Ya, Engkoh Jing, kukira di balik urusan ini tentu adalah suatu muslihat keji. Coba pikir saja, betapa cerdik pandai tokoh ‘Tio-jiu-seng-jun’ Pwe-siansing itu, masakah...."
Sampai di sini ia menjadi takut sendiri, suaranya menjadi gemetar pula. Ciok Jing sendiri berjalan mondar-mandir dengan berpangku tangan, mulutnya tiada hentinya menggumam.
"Ya, mengangkat dia menjadi pangcu , mengangkat dia menjadi pangcu , apa maksud tujuannya? Apa maksud tujuannya?"
Setelah dipikir berulang-ulang, akhirnya jelaslah duduknya perkara baginya, segala apa yang terjadi sangat cocok dengan persoalannya, cuma saja urusan ini terlalu mengerikan, maka ia tidak berani lantas mengutarakan pendapatnya.
Waktu ia memandang sang istri, sekilas sorot mata Bin Ju juga sedang menatap ke arahnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir.
Untuk sejenak suami-istri itu saling pandang, habis itu mendadak mereka berseru berbareng.
"Pengganjar dan Penghukum!"
Ucapan ini cukup keras sehingga dapat didengar oleh Ciok Bohthian, segera anak muda ini mendekati dan bertanya.
"Ayah, ibu, sebenarnya macam apakah Pengganjar dan Penghukum itu? Aku pernah mendengar nama itu dari orang-orang Tiatcha-hwe, imam-imam Siang-jing-koan itu pun pernah menyebut-nyebutnya."
Ciok Jing tidak menjawab sebaliknya malah bertanya.
"Sewaktu kau mengangkat saudara dengan Thio Sam dan Li Si, apakah mereka mengetahui kau adalah Pangcu Tiang-lok-pang?"
"Mereka tidak tanya, aku pun tidak bilang, mungkin mereka tidak tahu,"
Sahut Boh-thian.
"Bagaimana keadaan mereka ketika kau berlomba minum arak berbisa dengan mereka? Coba kau ceritakan lagi dengan lebih jelas,"
Tanya Ciok Jing.
"Hah, apakah arak itu berbisa? Mengapa aku tidak keracunan?"
Sahut Boh-thian dengan heran.
Lalu ia pun menuturkan lagi pengalamannya ketika bertemu dengan Thio Sam dan Li Si, di mana mereka telah makan babi panggang dan minum arak sepuas-puasnya.
Ciok Jing mendengarkan dengan diam saja, sesudah Boh-thian menutur, ia merenung sejenak, lalu berkata.
"Anak Giok, ada suatu hal harus kukatakan padamu, baiknya saat ini masih dapat dicegah, maka kau pun tidak perlu khawatir."
Sesudah merandek sebentar, kemudian ia menyambung.
"Pada masa 30 tahun yang lalu, banyak sekali di antara gembonggembong dan tokoh-tokoh Bu-lim dari berbagai golongan dan aliran mendadak telah menerima undangan yang meminta mereka sebelum tanggal 8 bulan 12 supaya datang ke Liongbok-to (Pulau Kayu Naga) di Laut Selatan untuk makan Lappat-cok."
"Ya, semua orang asalkan mendengar tentang ‘Lap-pat-cok’ lantas sangat ketakutan, entah apa sebabnya?"
Kata Boh-thian sambil manggut-manggut. Namun Ciok Jing menyambung terus.
"Tokoh-tokoh dari berbagai golongan dan aliran itu semuanya adalah orang-orang yang punya harga diri, ketika mereka menerima medali undangan...."
"Medali undangan? Apakah kedua potong medali tembaga itu?"
Sela Boh-thian.
"Betul, tak-lain-tak-bukan adalah kedua buah medali tembaga yang pernah kau rebut dari Ciau-hi Supek itu,"
Sahut Ciok Jing.
"Muka medali-medali itu masing-masing terukir wajah orang yang sedang tertawa, ini mempunyai arti ‘pengganjar’, yaitu memberi ganjaran kepada orang yang berbuat bajik, sebaliknya medali yang lain terukir wajah marah yang berarti ‘penghukum’, yaitu pemberi hukuman kepada setiap kejahatan. Pengirim-pengirim medali undangan itu adalah dua orang pemuda gemuk dan kurus."
"Pemuda?"
Boh-thian menegas. Ia sudah menduga pengirimpengirim medali-medali itu tentulah Thio Sam dan Li Si, tapi demi mendengar pemuda, ia merasa tidak cocok pula dengan mereka.
"Apa yang terjadi itu adalah di waktu lebih 30 tahun yang lalu, dengan sendirinya ketika itu mereka masih muda,"
Ujar Ciok Jing.
"Para pemimpin Bu-lim yang kebagian medali undangan itu dengan sendirinya ragu-ragu, mereka menanyakan siapakah tuan rumah yang mengundang itu, tapi kedua utusan itu menyatakan bahwa sesudah para tamu sampai di tempat tujuan tentu akan tahu sendiri. Gembong-gembong persilatan itu ada yang anggap sepele akan undangan itu dan menerimanya dengan tertawa, ada juga yang marah-marah. Menurut kedua utusan itu, bila penerima undangan itu menepati undangan itu, maka segalanya akan aman tenteram, sebaliknya kalau menolak, maka golongan atau organisasi mereka ini pasti akan tertimpa bencana. Karena itulah para pemimpin persilatan itu saling bertanya-tanya, ‘Hadir atau tidak?’ "
Orang pertama yang menerima medali undangan itu adalah Siau-san Totiang, Ciangbunjin Jing-sia-pay di Sucwan Barat.
Sambil tertawa ia mengerahkan tenaga dalam sehingga kedua medali tembaga itu kena diremas menjadi dua potong tembaga rongsokan.
Dengan memperlihatkan kepandaiannya yang hebat itu Siau-san Totiang mengira kedua pemuda yang takabur itu pasti akan kabur dengan ketakutan.
Siapa duga, baru saja medali-medali itu dirusaknya, kontan keempat tangan pemudapemuda itu pun sekaligus menghantam dada Siau-san Totiang, tanpa ampun lagi tokoh persilatan di daerah Sucwan itu terbinasa seketika."
"Ah, sedemikian keji cara mereka itu,"
Seru Boh-thian.
"Ya, serentak orang-orang Jing-sia-pay juga lantas mengerubut maju,"
Sambung Ciok Jing.
"Tatkala itu ilmu silat kedua pemuda belum mencapai tingkatan setinggi seperti sekarang, segera mereka merampas dua batang pedang, setelah membunuh tiga orang Tojin mereka lantas melarikan diri. Namun demikian, kejadian tentang Jing-sia-pay diubrak-abrik dan Siau-san Totiang dibunuh dua orang pemuda yang tak terkenal dalam waktu singkat saja sudah lantas membikin geger dunia persilatan.
"Dua puluh hari kemudian, Tiau-lopiauthau di Ekciu juga menerima medali undangan tersebut. Waktu itu Tiaulopiauthau sedang sibuk mengadakan perjamuan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Tamu-tamu yang hadir sangat banyak, tiba-tiba kedua pemuda yang tidak diundang muncul di tengah perjamuan dan mengaturkan medali-medali tembaga mereka. Memangnya sebagian besar para hadirin itu lagi ramai membicarakan peristiwa Jing-sia-pay, sekarang diketahui kedua pemuda itu mengacau pula ke situ, serentak mereka bergerak dan hendak menghajar kedua pemuda itu. Tak terduga dengan gampang saja kedua pemuda itu dapat meloloskan diri dari kepungan orang banyak. Bahkan tiga hari kemudian, keluarga Tiau-lopiauthau sebanyak lebih 30 jiwa pada tengah malam buta semuanya telah tewas. Di atas pintu rumah jelas terpaku dua bentuk medali tembaga muka tertawa dan muka marah itu."
"Pertama kalinya aku melihat kedua medali tembaga itu adalah di pintu ruangan kapal Hui-hi-pang yang penuh mayat itu,"
Kata Boh-thian dengan menghela napas.
"Tak tersangka bahwa... bahwa kedua medali itu mirip saja dengan kartu undangan yang dikirim oleh Giam-lo-ong (raja akhirat)."
"Setelah kejadian itu tersiar, segera ketua Siau-lim-pay tampil ke muka dan mengundang para pemimpin terkemuka dari dunia persilatan untuk merundingkan cara menghadapi persoalan medali-medali tembaga itu, berbareng penyelidikpenyelidik disebarkan untuk mencari tahu jejak kedua utusan yang mengganas itu,"
Demikian Ciok Jing melanjutkan ceritanya.
"Namun kedua pemuda utusan itu benar-benar sangat licin, sering kali mereka menyamar dan ganti rupa sehingga jejak mereka susah diketemukan. Tapi bilamana orang-orang Bu-lim sudah mulai lengah, tahu-tahu kedua pemuda itu muncul lagi untuk menyampaikan kedua medali panggilan.
"Bukan saja jejak kedua pemuda itu susah diketemukan dan ilmu silatnya tinggi, malahan mereka pandai menggunakan racun pula. Seperti Sian-pun Tianglo dari Siau-lim-pay, Khopek Tojin dari Bu-tong-pay, mereka telah tewas semua sesudah menerima medali undangan. Waktu menerima medalimedali itu tiada terjadi apa-apa, tapi lewat sebulan kemudian mendadak mereka kena penyakit keras terus binasa. Menurut perkiraan, tentulah kedua rasul Siang-sian dan Hwat-ok Sucia itu jeri kepada ilmu silat Sian-pun Tianglo dan Kho-pek Totiang yang tinggi, mereka tidak mampu melawannya, maka diamdiam mereka telah menaruh racun jahat di atas medali-medali mereka, sesudah tangan menyentuh racun itu, akhirnya racun akan bekerja dan membunuh sang korban. Anehnya racun itu sama sekali tidak memberi tanda-tanda sebelumnya, tapi sekali sudah kumat, hanya dalam waktu satu jam saja lantas binasa, sungguh lihainya susah dikatakan."
Bab 32. Ting Tong! Dia Muncul Lagi Ciok Boh-thian sampai merinding mendengarkan cerita seram itu, katanya.
"Masakah kedua saudara-angkatku Thio Sam dan Li Si itu adalah manusia-manusia yang begitu kejam? Mereka suka bermusuhan dengan orang-orang Bu-lim, sebenarnya apa maksud tujuannya?"
"Entahlah, selama 30-an tahun ini persoalan yang rumit ini tetap tak terpecahkan,"
Sahut Ciok Jing sambil menggeleng.
"Sesudah tewasnya tokoh-tokoh terkemuka seperti Siau-san Totiang dari Jing-sia-pay, Tiau-lopiauthau dari Sucwan, Sianpun Taysu dari Siau-lim-si, Kho-pek Totiang dari Bu-tong-pay, mau tak mau pemimpin-pemimpin Bu-lim yang lain menjadi kebat-kebit dan merasa tidak aman, mereka tidak berani main kasar lagi, bila di antaranya ada yang menerima medali undangan, segera disanggupi untuk hadir pada perayaan makan Lap-pat-cok itu. Jika demikian, maka kedua rasul itu akan berkata, ‘Sungguh kami merasa mendapat kehormatan atas kesediaan tuan akan hadir di Liong-bok-to, diharap pada hari dan bulan sekian silakan menunggu di mana, pada waktunya tentu ada orang akan menyambut kalian dengan perahu.’ – Begitulah, selama tahun undangan itu, tokoh-tokoh Bu-lim, ciangbunjin, pangcu dari berbagai golongan yang telah menjadi korban keganasan mereka itu ada 14 orang, selain itu ada 19 tokoh yang melaksanakan undangan mereka. Akan tetapi ke-19 orang itu hanya dapat pergi saja dan tidak dapat pulang, selama 32 tahun ini sedikit pun tiada berita-berita tentang nasib mereka."
"Terletak di lautan selatan manakah pulau yang disebut Liongbok-to itu?"
Tanya Ciok Boh-thian.
"Mengapa tidak mengumpulkan teman dan pergi menolong ke-19 orang itu?"
"Tentang Liong-bok-to itu sudah ditanyakan kepada hampir seluruh nelayan dan ahli pelayaran, tapi tiada seorang pun yang kenal nama pulau itu, tampaknya pulau itu hanya omong kosong kedua pemuda itu saja,"
Tutur Ciok Jing lebih jauh.
"Begitulah setahun demi setahun telah lalu dengan cepat, selain keluarga-keluarga dari ke-33 orang yang mengalami nasib malang itu, maka semua orang lambat laun sudah melupakan peristiwa-peristiwa tersebut. Tak terduga 11 tahun kemudian, tahu-tahu medali undangan itu muncul lagi di dunia Kangouw. Kali ini ilmu silat kedua rasul itu sudah tambah maju lagi, hanya di dalam waktu 20-an hari saja beberapa ratus orang dari berbagai aliran dan organisasi besar telah dibunuh oleh mereka."
Keruan kejadian itu semakin menggegerkan dunia Kangouw.
Waktu itu tiga orang tertua Go-bi-pay lantas tampil ke muka untuk mengumpulkan 20-an jago-jago pilihan, secara diamdiam mereka sembunyi di markas Ang-jio-hwe (perkumpulan tombak merah) di daerah Holam untuk menantikan kedatangan kedua pengganas.
Tak terduga kedua pengganas itu seperti serbatahu saja, mereka telah menghindari Ang-jio-hwe, bahkan tidak menginjak ke dalam wilayah Holam, sebaliknya medali panggilan mereka masih terus disebarkan ke tempat-tempat lain.
Asal penerima medali undangan itu menyanggupi akan hadir, maka segenap anggota keluarga penerima undangan itu akan aman tenteram, jika tidak maka biarpun betapa keras dan rapatnya penjagaan, tentu segenap anggotanya akan menjadi korban keganasan kedua orang itu."
Tahun itu Soa-pangcu dari Hek-liong-pang juga mendapat medali undangan, tatkala itu ia telah menyanggupi akan hadir, tapi diam-diam ia telah memberitahukan waktu dan tempat perahu yang akan memapaknya kepada Ang-jio-hwe.
Maka tiba pada saatnya serentak ke-20 tokoh persilatan itu lantas menuju ke tempat yang dimaksudkan.
Akan tetapi sial bagi mereka, entah siapa yang telah membocorkan rahasia mereka itu, ketika tiba saatnya ternyata tiada seorang pun atau perahu yang datang menyambut.
Mereka coba menunggu lagi beberapa hari, namun satu demi satu di antara mereka itu berturut-turut tewas keracunan.
"Keruan sisanya menjadi ketakutan dan beramai-ramai mereka lantas bubar menyelamatkan diri. Akan tetapi belum lagi sampai di rumah masing-masing, di tengah jalan mereka sudah mendapat kabar, ada yang seluruh anggota keluarganya telah habis dibunuh orang, ada pula segenap anggota organisasinya telah habis dibinasakan tanpa mengetahui siapa pembunuhnya. Dalam tahun itu hanya ada tujuh orang tokoh saja yang telah menumpang sebuah kapal lain menuju ke Liong-bok-to, tapi mereka pun bisa pergi dan tak bisa pulang, besar kemungkinan mereka sudah terkubur di dasar lautan yang susah dijajaki. Apa yang terjadi itu adalah peristiwa pada 21 tahun yang lalu. Ai, benar-benar bencana besar bagi Bu-lim, kalau dipikir sungguh menyeramkan dan menyedihkan!"
Ciok Boh-thian ingin tidak memercayai cerita yang mengerikan itu, akan tetapi dengan mata kepala sendiri ia telah menyaksikan terbunuhnya anggota-anggota Tiat-cha-hwe serta kapal mayat orang-orang Hui-hi-pang, bahkan tanpa sengaja dia sendiri telah membantu Thio Sam dan Li Si melakukan keganasan itu, kalau teringat sekarang sungguh ia menjadi bergidik sendiri.
Ia dengar Ciok Jing telah menyambung pula.
"Selang 11 tahun kemudian, kembali kedua rasul itu muncul lagi. Yang pertama menerima medali undangan adalah Bu-kek-bun di daerah Kangsay. Setahun sebelumnya di antara pemimpin-pemimpin berbagai golongan dan aliran sudah mengadakan musyawarah dan permufakatan, tak peduli siapa yang menerima undangan, maka seluruhnya akan menerima dengan baik dan berjanji akan hadir. Mereka telah bertekad kepada pemeo yang mengatakan ‘tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapat anak harimau’. Mereka bertekad akan datang ke Liong-bok-to untuk melihat keadaan yang sebenarnya, semua orang telah bersatu padu akan menumpas musuh bersama dari dunia persilatan itu.
"Sebab itulah pada tahun undangan itu, di mana medali undangan disampaikan sebegitu jauh tidak terjadi korban jiwa, seluruhnya ada 33 orang yang telah menerima undangan, maka ada 33 orang yang akan hadir, akan tetapi ke-33 jago dan kesatria pilihan yang terkenal cerdik pandai itu pun mengalami nasib yang sama, mereka bisa pergi dan untuk selamanya tidak pernah pulang lagi, hilang tanpa bekas dan tanpa berita.
"Karena pengacauan Liong-bok-to itu, maka jago-jago terkemuka Bu-lim selama ini menjadi terkuras habis. Siangjing-koan kami biasanya jarang berkeliaran di Kangouw, meski ilmu silat ayah-ibumu berasal dari Siang-jing-koan, tapi dalam pergaulan selalu menggunakan nama Hian-soh-ceng. Para paman gurumu yang berilmu silat tinggi itu pun jarang bertarung dengan orang sehingga bagi penglihatan orang luar para imam Siang-jing-koan dikira hanya orang-orang beribadat yang saleh dan tidak paham ilmu silat...."
"Apakah lantaran mereka jeri kepada Liong-bok-to?"
Boh-thian memotong. Untuk sejenak Ciok Jing tampak serbaragu-ragu, katanya kemudian.
"Para paman gurumu itu biasanya tidak pernah bermusuhan dengan orang, mereka adalah imam-imam yang suci, tapi bila dikatakan mereka jeri kepada Liong-bok-to, ya, memang benar juga. Maklum, biarpun kau adalah tokoh Bu-lim kelas satu, biarpun punya pengaruh besar dan berkawan banyak, asalkan menyebut ‘Liong-bok-to’, siapa pun akan kebat-kebit. Sungguh tidak tersangka bahwa Siang-jing-koan yang sedemikian prihatin, akhirnya tetap tak terhindar dari bencana."
Habis berkata ia lantas menghela napas panjang.
"Ayah ingin menjadi Ciangbunjin Siang-jing-koan, katanya hendak menyelidiki keadaan Liong-bok-to yang sebenarnya,"
Tanya Boh-thian pula.
"Tapi kalau mengingat pengalamanpengalaman yang lalu, di mana tidak sedikit tokoh-tokoh terpandai yang hanya bisa pergi dan tak bisa pulang, rasanya tugas ayah pun tidaklah gampang dilaksanakan."
"Ya, sudah tentu sangat sulit,"
Ujar Ciok Jing.
"Tapi kita biasanya memandang membantu kesukaan orang sebagai kewajiban sendiri, apalagi urusan mengenai perguruannya sendiri, masakah kita bisa berpeluk tangan tanpa peduli?"
Boh-thian mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia tanya.
"Kau bilang kedua saudara angkatku Thio Sam dan Li Si itu adalah kedua rasul dari Liong-bok-to yang menyampaikan medali undangan?"
"Itu sudah terang dan tidak disangsikan lagi,"
Sahut Ciok Jing.
"Jika mereka adalah orang jahat, mengapa mereka mau mengangkat saudara dengan aku?"
Kata Boh-thian dengan heran. Ciok Jing tertawa geli. Katanya.
"Waktu itu kau bicara dengan ketolol-tololan sehingga mereka tidak dapat menolak. Apalagi sumpah yang mereka ucapkan itu adalah palsu dan tidak dapat dianggap."
"Sumpah palsu bagaimana?"
Tanya Boh-thian.
"Thio Sam dan Li Si adalah nama mereka yang palsu,"
Tutur Ciok Jing.
"Mereka mengucapkan sumpah atas nama Thio Sam dan Li Si, dengan sendirinya segala sumpah yang diucapkan hanya palsu belaka."
"O, kiranya demikian! Kelak kalau bertemu lagi tentu aku akan menegur mereka."
Sampai di sini Bin Ju yang sejak tadi hanya tinggal diam saja tiba-tiba menyela.
"Anak Giok, lain kali kalau ketemu kedua orang itu hendaklah kau berlaku hati-hati. Tangan kedua orang itu sudah penuh berlumuran darah, mereka biasa membunuh orang tanpa berkedip, kalau pertarungan secara terangterangan tidak menang mereka lantas menyerang secara menggelap. Kalau menyerang secara menggelap tidak berhasil mereka lantas menggunakan racun."
"Ya, jangankan kau masih sangat hijau dan pikiranmu jujur polos, sekalipun tokoh-tokoh yang jauh lebih cerdik daripada kau juga susah menghindarkan diri dari keganasan kedua utusan itu,"
Sambung Ciok Jing.
"Maka bicara tentang hati-hati dan berjaga-jaga boleh dikata sangat sulit. Sebaliknya, anak Giok, kalau lain kali bertemu lagi harus serentak menggunakan pukulan mematikan, harus mendahului daripada didahului. Walaupun cuma seorang saja di antara mereka yang dapat dibunuh juga sudah terhitung mengurangi suatu bencana bagi Bu-lim."
"Tapi... tapi kami adalah kiat-pay-hiati (saudara angkat), masakah aku boleh membunuh mereka?"
Ujar Boh-thian dengan ragu-ragu. Ciok Jing hanya menghela napas dan tidak bicara lagi. Ia pikir memang tidaklah patut untuk memaksa sang putra membunuh saudara-saudara angkatnya sendiri.
"Engkoh Jing,"
Kata Bin Ju dengan tertawa.
"kau bilang anak Giok orang yang jujur polos, jadi sudah terang putra kita telah berubah baik bukan?"
"Dia memang sudah berubah menjadi baik,"
Sahut Ciok Jing sambil mengangguk.
"Dan justru sebab itulah maka ada orang ingin memperalat dia untuk menahan bencana yang akan menimpa mereka. Anak Giok, apakah kau tahu sebenarnya apa maksud tujuan para pemimpin Tiang-lok-pang itu mengangkat kau sebagai pangcu mereka?"
Sesungguhnya Ciok Boh-thian memang bukan anak bodoh, hanya sejak kecil hidup di gunung bersama ibunya, di waktu mudanya tinggal di atas Mo-thian-kay bersama Cia Yan-khek, kedua orang juga jarang bicara, sebab itulah terhadap selukbeluk dan lika-liku orang hidup sama sekali tak dipahami olehnya.
Sekarang demi mendengar uraian Ciok Jing tadi, seketika dia sadar, tanpa terasa tercetus dari mulutnya.
"Ya, mereka mengangkat aku sebagai pangcu, jangan-jangan... jangan-jangan aku hendak dijadikan tameng oleh mereka?"
Ciok Jing menarik napas lega, katanya.
"Ya, sebenarnya sebelum duduknya perkara dibikin jelas tidaklah pantas mengukur jelek hati orang dan menilai rendah kesatria Kangouw, tapi kalau bukan begitu, di dalam Tiang-lok-pang sendiri toh banyak terdapat tokoh-tokoh terkenal, masakah seorang muda yang masih hijau sebagai dirimu yang diangkat menjadi pangcu? Tiang-lok-pang itu adalah suatu organisasi besar yang baru menonjol pada beberapa tahun terakhir ini, ketika kita bertemu di Hau-kam-cip dulu di dunia Kangouw masih belum mengenal ‘Tiang-lok-pang’ apa. Menurut perkiraanku, karena kemajuan pesat yang dicapai Tiang-lokpang pada masa akhir-akhir ini, maka para pemimpin Tianglok-pang telah memperhitungkan sudah dekat dengan waktu munculnya medali undangan dari Liong-bok-to, sekali ini Tianglok-pang mereka pasti akan menerima juga undangan itu, sebab itulah lebih dulu mereka lantas memilih seorang yang mempunyai hubungan rapat dengan mereka untuk diangkat menjadi pangcu, dan bila tiba saatnya, pangcu yang baru ini lantas didorong ke depan untuk memikul segala bencana yang akan menimpa."
Ciok Boh-thian sampai terlongong-longong, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa hati manusia ternyata sedemikian licin dan kejamnya.
Tapi perkiraan Ciok Jing itu memang sangat masuk di akal sehingga mau tidak mau ia pun percaya penuh.
"Nak,"
Bin Ju ikut berkata.
"nama Tiang-lok-pang di kalangan Kangouw sangat busuk, walaupun tidak terlalu jahat, tapi soal merampok, mengganas dan perbuatan-perbuatan kekerasan lain bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka, lebih-lebih mereka tidak pantang kecabulan, hal ini lebih-lebih tidak dapat dimaafkan oleh orang Bu-lim. Para Thocu dan Hiangcu di dalam organisasi mereka itu bukanlah manusia baik-baik semua, kalau mereka sengaja membikin perangkap untuk menjerat kau, hal ini pun tidak mengherankan."
"Hm, mereka sengaja mencari orang untuk menjadi pangcu dan anak Giok memang pilihan yang paling tepat,"
Jengek Ciok Jing.
"Dia sudah melupakan kejadian-kejadian di masa yang lampau, terhadap seluk-beluk dan lika-liku orang Kangouw juga tidak paham, Mereka cuma tidak menyangka sama sekali bahwa pangcu muda mereka ini ternyata adalah putranya Ciok Jing dan Bin Ju dari Hian-soh-ceng sehingga perhitungan mereka belum pasti akan terlaksana dengan tepat."
Sampai di sini, tangannya memegang gagang pedang sambil memandang jauh ke timur, yaitu arah letak markas pusat Tiang-lok-pang.
"Jika kita sudah mengetahui tipu muslihat mereka, maka kita tidak perlu khawatir lagi,"
Kata Bin Ju.
"Untungnya anak Giok belum lagi menerima medali undangan. Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan, Engkoh Jing?"
Ciok Jing merenung sejenak, jawabnya.
"Kita bertiga harus datang ke Tiang-lok-pang untuk membongkar rahasia mereka. Cuma dengan demikian mereka tentu akan malu dan menjadi kalap sehingga besar kemungkinan akan terpaksa main kekerasan, padahal kita hanya bertiga, pula kita perlu kesaksian beberapa orang terkemuka dari Bu-lim agar di kemudian hari mereka tidak dapat merecoki anak Giok lagi."
"Nyo Kong, Nyo-toako di Ka-hin-hu, Ciatkang, adalah sahabat kental kita, pergaulannya juga sangat luas, boleh kita minta dia tampil ke muka untuk mengajak kawan-kawan Bu-lim bersama-sama berkunjung ke Tiang-lok-pang."
"Usul ini sangat bagus,"
Kata Ciok Jing dengan girang.
"Kawankawan Bu-lim di sekitar Kanglam rasanya pasti akan suka membantu kita suami-istri."
Hendaklah maklum bahwa hubungan Ciok Jing suami-istri dengan orang-orang Bu-lim biasanya sangat baik, mereka suka membantu kesukaran kawan dan jarang minta bantuan orang lain.
Sekarang tiba-tiba mereka inginkan bantuan kawankawan itu, tentu saja dengan gampang mereka akan mendapatkan bala bantuan secukupnya.
Begitulah mereka bertiga lantas mengambil jalan ke arah timur menuju ke Ka-hin-hu.
Tiga hari kemudian, sampailah mereka dan bermalam di Liong-ki-tin.
Kota kecil ini cukup ramai, mereka bertiga bermalam di suatu hotel.
Ciok Jing suami-istri mendiami sebuah kamar besar di bagian depan, sedangkan Ciok Boh-thian memperoleh sebuah kamar agak kecil di sebelah dalam.
Mestinya Bin Ju hendak mencarikan sebuah kamar besar bagi putra kesayangannya itu, tapi karena kamarkamar sudah penuh tamu, terpaksa apa adanya.
Malam itu Boh-thian duduk bersila di atas tempat tidurnya, ia melatih ilmunya sehingga badan terasa segar dan semangat penuh.
Waktu ia periksa kedua telapak tangannya, ternyata noktah merah dan garis-garis biru di tengah telapak tangan itu sudah samar-samar dan hampir-hampir tak kelihatan lagi.
Ia tidak tahu bahwa kedua botol arak berbisa itu sekarang sudah terbaur menjadi tenaga dalam yang mahakuat di dalam tubuhnya, ia menyangka tentu kegiatannya berlatih selama beberapa hari ini sehingga racun telah diusir keluar, maka ia menjadi girang, lalu ia merebah dan tidur.
Sampai tengah malam, tiba-tiba terdengar jendela bersuara gemeletak, ada orang sedang mengetok jendela dengan perlahan.
Tepat Boh-thian bangun dan tanya dengan suara tertahan.
"Siapa?"
Tapi kembali terdengar suara "tek-tek-tek"
Tiga kali, suara jendela diketok itu sudah sangat hafal baginya. Hati Boh-thian berdebar, cepat ia tanya pula.
"Apakah Ting-ting Tong-tong di situ?"
Maka terdengarlah suara si Ting Tong menjawab perlahan di luar jendela.
"Sudah tentu aku adanya, memangnya kau mengharapkan siapa?"
Boh-thian menjadi girang dan gugup pula demi mendengar suara si nona, seketika ia sampai tidak sanggup bicara lagi.
Tiba-tiba terdengar suara "bret", kertas jendela terobek, sebuah tangan menyelonong masuk, tahu-tahu telinganya telah dijewer.
"Hayo, mengapa tidak lekas membuka jendela?"
Demikian terdengar si nona berkata.
Boh-thian menjadi kesakitan, tapi khawatir membikin kaget ayah-ibunya, maka ia tidak berani bersuara dan lekas-lekas membuka daun jendela.
Segera Ting Tong melompat masuk ke dalam kamar, ia mengekek tawa dan berkata.
"Engkoh Thian, kau kangen padaku atau tidak?"
"Aku... aku... aku...."
Berulang-ulang Boh-thian menyebut "aku", tapi tidak sanggup meneruskan lagi.
"Bagus, jadi kau tidak kangen padaku, ya?"
Omel si Ting Tong.
"Yang kau rindukan hanya pengantin baru yang telah bersembahyang Thian bersama kau itu?"
"Bilakah aku pernah bersembahyang Thian lagi dengan siapa lagi?"
Sahut Boh-thian.
"Huh, dengan mata kepala sendiri aku melihatnya, kau berani mungkir?"
Semprot si nona.
"Baiklah, aku pun tidak menyalahkan kau, ini memang sifatmu yang bangor dan biasa main gila, aku berbalik merasa senang. Dan di manakah nona cilik pengantin baru itu?"
"Sudah hilang, ketika aku kembali ke dalam gua di sana, dia sudah hilang meski aku telah mencarinya,"
Tutur Boh-thian.
"O, semoga Buddha memberkati, supaya selama hidup ini kau takkan menemukan dia lagi,"
Kata si Ting Tong dengan mengikik.
"Dan di manakah kakekmu, apakah beliau baik-baik saja?"
Tanya Boh-thian.
"Kenapa kau tidak tanya diriku baik-baik atau tidak?"
Omel si nona sambil mencubit lengan pemuda itu. Tapi mendadak ia menjerit.
"Aduh!"
Kiranya tenaga dalam Ciok Boh-thian telah mementalkan tangan si nona dengan kuat sehingga nona itu menjerit kaget.
"Apakah kau baik-baik saja, Ting-ting Tong-tong?"
Tanya Bohthian kemudian.
"Sungguh untung bagiku, waktu kau melemparkan aku ke dalam sungai, kebetulan aku jatuh di dalam sebuah perahu sehingga tidak sampai mati tenggelam."
"Untung apa? Akulah yang sengaja melemparkan kau ke dalam perahu itu, masakah kau tidak tahu?"
Kata Ting Tong. Boh-thian menjadi kikuk, sahutnya.
"Di dalam hatiku sudah tentu tahu kau sangat baik padaku, hanya saja... hanya saja aku merasa malu untuk mengatakannya."
Ting Tong tertawa, katanya.
"Kau dan aku adalah suami-istri, masakah pakai malu apa segala?"
Begitulah mereka duduk berdampingan di pinggir ranjang, sayup-sayup Boh-thian mengendus bau harum yang timbul dari badan si Ting Tong, harumnya anak perawan yang khas, keruan perasaan Boh-thian seperti dikilik-kilik dan....
Tapi demi teringat bahwa ayah-ibunya juga berada di kamar sebelah, urusan perkawinan dengan si Ting Tong ini entah bagaimana pendapat mereka, ia angkat tangan kanan dan bermaksud merangkul si nona, tapi baru saja menyentuh bahunya, cepat ia menarik kembali lagi tangannya.
"Engkoh Thian, hendaklah katakan sejujurnya padaku, sesungguhnya aku lebih cantik ataukah binimu yang baru itu lebih ayu?"
Tiba-tiba si Ting Tong bertanya.
"Di manakah aku ada bini baru lagi? Aku hanya punya... punya istri kau seorang saja,"
Sahut Boh-thian.
Ting Tong kegirangan, mendadak ia peluk si anak muda dan "ngok", ia menciumnya satu kali.
Boh-thian menjadi merah jengah dan bingung, ingin mendorong pergi si nona, rasa berat karena nikmat juga ciuman itu, hendak balas memeluk, eh, hati tidak berani.
Biarpun tingkah laku si Ting Tong itu lebih berani, tapi apa pun juga dia adalah anak perawan yang masih suci, ketika tanpa sadar ia mencium Ciok Boh-thian satu kali, lalu ia pun merasa menyesal.
Dengan malu ia lantas menyusup ke tengah ranjang, ia tarik sehelai selimut terus membungkus dirinya rapat-rapat.
Sampai sekian lamanya Boh-thian merasa ragu-ragu, tangannya ingin memegang anak dara itu, tapi takut-takut dan tidak jadi.
Akhirnya ia hanya memanggil perlahan.
"Ting-ting Tong-tong! Ting-tang Ting-tong!"
Namun si nona diam saja tak menggubrisnya.
Akhirnya Boh-thian menguap kantuk, ia duduk di atas kursi sambil mendekap di atas meja kemudian terpulas.
Di pihak lain si Ting Tong merasa bersyukur karena kekasih yang dicari-cari selama ini telah dapat diketemukan pula.
Dengan rasa senang serta badan lelah, tanpa merasa akhirnya ia pun tertidur di atas ranjang.
Sampai fajar sudah menyingsing, tiba-tiba terdengar suara orang mengetok pintu, lalu terdengar Bin Ju sedang memanggil.
"Anak Giok, kau sudah bangun?"
"O, ibu!"
Boh-thian menjawab sambil berbangkit. Tapi demi memandang ke arah si Ting Tong, seketika ia menjadi bingung.
"Buka pintu, anak Giok, aku ingin bicara,"
Terdengar Bin Ju berkata pula.
Boh-thian mengiakan.
Dengan ragu-ragu pintu lantas hendak dibukanya.
Sudah tentu si Ting Tong menjadi kelabakan juga.
Yang akan masuk itu adalah ibu mertua, kalau dilihatnya dirinya bermalam di suatu kamar bersama Ciok Boh-thian, walaupun mereka tidak melanggar tata susila apa-apa, tapi siapa yang mau percaya, bukankah kelak akan dipandang hina oleh ibu mertua itu?
Segera ia membuka daun jendela dan bermaksud melompat keluar.
Tapi ketika ia melirik Ciok Boh-thian, tiba-tiba hatinya terasa berat pula untuk berpisah, dengan susah payah ia telah mencari anak muda itu dan akhirnya diketemukan di sini, jika sekarang berpisah lagi maka susahlah diramalkan kapan akan dapat bersua pula.
Maka berulang-ulang ia memberi tanda agar anak muda itu jangan membuka pintu dahulu.
"Ibuku, tidak menjadi soal,"
Bisik Boh-thian, sementara itu tangannya sudah menyentuh palang pintu. Ting Tong menjadi gugup, pikirnya.
"Kalau orang lain memang tidak menjadi soal, tapi ibumu justru menjadi soal."
Ia melihat palang pintu sudah hampir diangkat oleh anak muda itu, untuk melompat keluar jendela rasanya juga tidak keburu lagi.
Mestinya si Ting Tong adalah anak dara yang tidak takut mati, tapi demi terpikir akan berjumpa dengan ibu mertua, bahkan kepergok dalam keadaan yang kurang pantas begini, mau tak mau ia menjadi gugup.
Saat itu Boh-thian sudah hampir menarik palang pintu, tanpa pikir lagi segera ia bertindak dengan menggunakan kim-na-jiu-hoat, tangan kirinya mencengkeram "leng-tay-hiat"
Di punggung anak muda itu dan tangan kanan tepat memegang "koan-ki-hiat"
Di tengkuknya.
Boh-thian hanya merasa kedua tempat hiat-to itu kesemutan dan kaku, lalu tak bisa berkutik lagi.
Ia merasa si Ting Tong telah merebahkan tubuhnya, lalu menyeretnya dan sembunyi bersama-sama ke kolong ranjang.
Bin Ju adalah tokoh Kangouw yang sudah berpengalaman.
Ketika didengarnya suara jawaban sang putra di dalam kamar, tapi sampai sekian lamanya pintu kamar tidak dibuka, kemudian terdengar pula suara-suara yang mencurigakan, ia menjadi khawatir atas keselamatan Ciok Boh-thian, tanpa pikir lagi segera ia mendobrak pintu dengan bahunya.
Ketika palang pintu patah dan daun pintu terpentang, segera dilihatnya jendela pun sudah terbuka, sedangkan putra kesayangannya sudah tiada berada di dalam kamar lagi.
Cepat ia berseru.
"Lekas kemari, Engkoh Jing!"
Dengan menjinjing pedang Ciok Jing segera memburu tiba.
"Anak... anak Giok telah digondol lari orang!"
Seru Bin Ju dengan suara gemetar sambil menunjuk jendela.
Habis itu susul menyusul suami-istri itu lantas melayang ke luar jendela, satu hitam yang satu putih laksana dua ekor burung raksasa saja, gayanya sangat indah.
Si Ting Tong yang sembunyi di kolong ranjang diam-diam memuji juga akan kepandaian pasangan suami-istri yang tersohor itu.
Sebenarnya dengan pengalaman Ciok Jing dan Bin Ju yang luas itu mestinya tidak gampang tertipu.
Soalnya mereka terlalu mengkhawatirkan keselamatan sang putra sehingga tidak sempat berpikir panjang lagi, begitu melihat jejak putranya sudah hilang, pikiran Bin Ju lantas bingung dan menduga keras pasti orang Swat-san-pay atau Tiang-lok-pang yang telah menculik Ciok Boh-thian.
Ketika dia mendobrak pintu dan masuk ke dalam kamar, jarak waktunya dengan suara-suara yang mencurigakan di dalam kamar itu hanya selang sejenak saja, ia menaksir masih dapat menyusul penculiknya, sebab itulah tidak menaruh perhatian keadaan di dalam kamar.
Ciok Boh-thian sendiri yang kena dicengkeram Hiat-to yang penting itu untuk sedetik dua detik memang tak bisa berkutik, tetapi karena lwekangnya terlalu lihai, hanya sekejap saja ia sudah dapat melancarkan kembali Hiat-to yang tertutuk itu.
Cuma saja ia merasa senang dan nikmat badannya berada dalam pelukan si Ting Tong, maka ia tidak mau bersuara memanggil ayah-ibunya.
Dan karena sedikit ayal itulah sementara itu Ciok Jing dan Bin Ju sudah melompat ke luar jendela dan pergi jauh.
Di kolong ranjang itu sudah tentu banyak debu kotoran, akhirnya Boh-thian tidak tahan dan bersin beberapa kali, ia tarik tangan si Ting Tong dan menerobos keluar dari kolong ranjang.
Ia lihat muka si nona juga penuh debu, tapi tidak mengurangi cantiknya dan kelihatan malu-malu.
"Mereka adalah ayah-ibuku,"
Demikian Boh-thian coba menerangkan.
"Aku sudah tahu, petang kemarin aku mendengar kau memanggil mereka,"
Sahut Ting Tong.
"Nanti kalau ayah dan ibu sudah kembali, maukah kau menemui mereka saja?"
Tanya Boh-thian.
"Aku tak mau,"
Sahut Ting Tong sambil membuang muka.
"Ayah-ibumu memandang hina kepada kakekku, dengan sendirinya juga memandang rendah padaku."
Selama beberapa hari berada bersama ayah-ibunya Ciok Bohthian telah banyak mendengar pembicaraan mereka, ia merasa ayah-ibunya benar-benar pendekar-pendekar yang berbudi luhur, berbeda sekali dengan tindak tanduk Ting Put-sam.
Karena itulah ia menjadi ragu-ragu dan bungkam.
Ting Tong menaksir tidak lama lagi Ciok Jing berdua pasti akan pulang, segera ia mengajak.
"Marilah kau ikut ke kamarku, aku ingin bicara sesuatu dengan kau."
"Kau pun menginap di hotel ini?"
Tanya Boh-thian dengan heran.
"Tidak menginap di sini, habis menginap di mana?"
Ujar si nona.
Lalu ia menggapai Boh-thian dan mendahului melompat keluar jendela, ia menyusur ke serambi sana dan lantas masuk ke sebuah kamar.
Segera Boh-thian menyusul ke dalam kamar si nona, ia tanya.
"Di mana kakekmu?"
"Aku berkeluyuran sendiri, tidak bersama kakek lagi,"
Sahut Ting Tong.
"Sebab apa?"
Tanya Boh-thian.
"Hm, sebab apa?"
Si nona mendengus.
"Aku ingin mencari kau, tapi kakek tidak mengizinkan, terpaksa aku minggat sendirian."
Boh-thian menjadi terharu, katanya.
"Ting-ting Tong-tong, kau sungguh sangat baik terhadapku."
Si nona sangat girang, sahutnya dengan tertawa.
"Semalam kau rikuh untuk mengatakan, mengapa sekarang kau tidak rikuh lagi?"
"Kau sendiri yang mengatakan bahwa kita adalah suami-istri, tidak perlu rikuh-rikuh dan malu-malu,"
Kata Boh-thian dengan tertawa. Muka si Ting Tong kembali bersemu merah. Pada saat itulah terdengar di luar suara Ciok Jing sedang berseru.
"Ini uang sewa kamar dan rekening makanan!"
Habis itu lantas terdengar suara berdetaknya kaki kuda, rupanya Ciok Jing suami-istri telah berangkat meninggalkan hotel.
"Apakah kau tahu di mana letak Ka-hin-hu?"
Tanya Boh-thian kepada si Ting Tong.
"Ka-hin-hu adalah tempat yang besar, masakah tidak tahu?"
Sahut si nona dengan tertawa.
"Ayah-ibuku hendak pergi ke sana untuk mencari seorang yang bernama Nyo Kong, sebentar biarlah kita menyusul ke sana saja,"
Kata Boh-thian. Agaknya ia pun merasa berat untuk berpisah dengan si nona jelita yang baru saja bersua kembali. Karena keterangan Boh-thian itu, tiba-tiba Ting Tong mendapat akal.
"Dia tidak kenal jalanan ke Ka-hin-hu yang terletak di jurusan tenggara sana, biarlah nanti aku mengajaknya berangkat ke arah timur laut supaya makin lama makin jauh berpisah dengan ayah-ibunya, dengan demikian tentu tidak khawatir akan bertemu lagi di tengah jalan."
Lantaran hatinya senang, dengan sendirinya mukanya yang memang ayu itu bertambah cantik menggiurkan. Boh-thian sampai terkesima memandangi anak dara itu.
"Mengapa kau memandang aku sedemikian rupa? Memangnya baru saja kenal?"
Ting Tong menggoda dengan tertawa.
"Ting-ting Tong-tong, kau... kau sungguh sangat enak dipandang, jauh lebih bagus daripada ibuku,"
Ujar Boh-thian. Si nona mengikik tawa, sahutnya.
"Engkoh Thian, kau pun sangat bagus, jauh lebih bagus daripada kakekku."
Habis berkata ia lantas terbahak-bahak. Begitulah kedua muda-mudi itu bicara dan bersenda gurau, akhirnya Boh-thian tetap teringat kepada ayah-ibunya, katanya.
"Bilamana aku tidak diketemukan ayah dan ibu, mereka tentu akan khawatir. Marilah sekarang juga kita menyusul mereka."
"Baiklah,"
Sahut Ting Tong.
"Engkau benar-benar putra yang berbakti."
Segera mereka pun membereskan rekening hotel dan lantas berangkat bersama.
Sudah tentu pengurus dan pelayan hotel dibuat terheran-heran ketika melihat Ciok Boh-thian yang datangnya diketahui bersama Ciok Jing suami-istri, kini tahu-tahu keluar bersama dari kamar si nona cantik yang semula datang sendirian.
Maka gegerlah suasana hotel itu ramai membicarakan kejadian itu, ada yang membumbu-bumbui dengan kata-kata kotor dan cabul, ada pula yang kagum kepada rezeki Ciok Boh-thian yang dianggapnya kejatuhan bidadari dari langit....
Sesudah meninggalkan Liong-ki-tin itu, Ting Tong lantas mengajak Boh-thian ke jurusan timur.
Beberapa li kemudian, sampailah mereka di suatu persimpangan jalan cabang tiga.
Tanpa pikir si Ting Tong lantas mengambil jurusan timur laut.
Karena percaya si nona pasti kenal jalanan, maka tanpa curiga Boh-thian mengikut saja.
Katanya.
"Ayah-ibuku menunggang kuda bagus, bilamana mereka tidak berhenti mengaso di tengah jalan terang kita tidak dapat menyusul mereka."
"Setiba di rumah keluarga Nyo di Ka-hin-hu dengan sendirinya akan bertemu,"
Ujar Ting Tong dengan tersenyum.
"Ayahibumu sudah kenyang makan asam-garam, memangnya kau khawatir mereka akan kesasar?"
"Ayah dan ibu sudah menjelajahi hampir seluruh jagat, masakah mereka bisa kesasar?"
Sahut Boh-thian dengan tertawa.
Begitulah sepanjang jalan mereka bicara dan bergurau dengan gembira ria.
Sejak berkumpul dengan ayah-ibunya dan hanya mendapat petunjuk-petunjuk, maka sekarang Boh-thian sudah jauh lebih paham tentang seluk-beluk orang hidup.
Melihat tingkah laku ketolol-tololan sang kekasih telah banyak berkurang, diam-diam si Ting Tong sangat girang.
Pikirnya.
"Sesudah menderita sakit parah, banyak kejadian-kejadian di masa lampau telah dia lupakan. Asalkan aku menceritakannya kembali hal-hal itu, tentu dia takkan lupa lagi."
Maka sepanjang jalan ia sengaja menceritakan kejadiankejadian di dunia persilatan, tentang peraturan-peraturan Kangouw, soal hati manusia yang baik dan jahat dan macammacam lagi.
Sewaktu tengah hari, sampailah mereka di suatu kota kecil.
Mereka mendapatkan sebuah rumah makan untuk mengaso dan tangsel perut.
Ketika masuk ke ruangan rumah makan itu, terlihat tiga buah meja besar di bagian tengah sudah penuh diduduki tetamu.
Terpaksa mereka mengambil sebuah meja kecil di pojok ruangan.
Rumah makan itu tidak terlalu besar, si pelayan sedang sibuk menyiapkan daharan bagi tamu-tamu yang berada pada tiga meja besar itu sehingga tidak sempat mengurusi kedatangan Boh-thian berdua.
Ting Tong melihat di antara tamu-tamu yang mengelilingi meja-meja besar terdapat tiga orang wanita yang usianya boleh dikata tidak muda lagi, dengan sendirinya juga tak dapat disebut cantik.
Orang-orang itu semuanya membawa senjata, logat mereka adalah orang-orang daerah Liau-tang.
Mereka sedang makan-minum secara bebas.
"Sobat-sobat Kangouw ini kalau bukan orang-orang dari piaukiok (perusahaan pengawalan) tentu adalah jago-jago kalangan lok-lim (kaum begal dan sebagainya),"
Demikian pikir si Ting Tong. Ia lihat Boh-thian juga sedang memandang ke arah tamu-tamu di meja besar itu, tiba-tiba terpikir pula olehnya.
"Semoga aku senantiasa berada bersama Engkoh Thian dan makan bersatu meja seperti sekarang ini, maka bahagialah selama hidupku ini."
Begitulah, karena rasa bahagianya itu, maka meski pelayan terlambat meladeninya juga tidak menimbulkan rasa marahnya. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar ada orang berseru di luar.
"Aha, bagus, bagus! Ada arak dan ada daging, memangnya kakek sudah sangat lapar!"
Boh-thian merasa suara orang sudah dikenalnya. Benar saja, segera tertampak seorang tua telah melangkah masuk. Ternyata adalah Ting Put-si.
"Wah, celaka!"
Diam-diam Boh-thian mengeluh. Cepat ia berpaling ke arah lain agar tidak dilihat orang tua itu. Si Ting Tong juga lantas membisikinya.
"Wah, aku punya cekkong (mbah cilik), jangan kau pandang dia, biar aku menyaru dahulu."
Dan tanpa menunggu jawaban Boh-thian segera ia mengeluyur ke ruangan belakang.
Bab 33.
Kembali Ciok Boh-thian Membikin Keok Ting Putsi Sesudah masuk, Ting Put-si melihat meja-meja sudah penuh tetamu, hanya di meja Ciok Boh-thian masih ada tempat duduk yang lowong, tapi di atas meja belum terdapat daharan apaapa, maka tak disir olehnya.
Sebaliknya ia lantas duduk di atas bangku panjang pada meja yang tengah, waktu ia mendesak sedikit, kontan seorang laki-laki yang duduk lebih dulu di atas bangku itu terdesak ke ujung.
Keruan laki-laki itu menjadi gusar, sekuatnya ia pun mendesak kembali.
Ia pikir berapa kuat tenaga kakek loyo ini, hanya sedikit desak saja pasti akan membuatnya mencelat keluar pintu.
Tak terduga baru saja badannya kontak dengan tubuh Ting Put-si, seketika timbul suatu kekuatan yang mahadahsyat dan mendesaknya kembali sehingga dia sendiri yang terpental.
Untunglah Ting Put-si keburu menariknya sambil berkata.
"Jangan sungkan-sungkan, marilah duduk bersama!"
Karena tarikan Ting Put-si barulah laki-laki itu tidak jatuh tersungkur. Seketika mukanya merah padam dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya lagi. Ting Put-si lantas berkata pula.
"Hayo, silakan, silakan! Jangan sungkan-sungkan, silakan!"
Lalu mangkuk besar yang berisi arak lantas diangkatnya terus ditenggak hingga habis.
Menyusul ia lantas ambil sumpit bekas pakai si lelaki tadi dan menyumpit sepotong daging terus dimakannya dengan nikmat.
Kelakuannya itu seakan-akan dialah tuan rumahnya yang sedang menjamu tamu.
Tiada seorang pun di antara tetamu itu yang kenal Ting Put-si, tapi lwekang si lelaki tadi terhitung paling kuat di antara mereka, karena desakannya tadi lelaki itu hampir-hampir saja mencelat dan jatuh, maka dapatlah dibayangkan si kakek loyo ini tentu bukan orang sembarangan.
Kiranya lelaki yang didesak Ting Put-si tadi adalah Hoan It-hui dari Ho-hou-kau di Kwantang.
Sambil menikmati daharannya, seperti tidak sengaja Ting Putsi menatap seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya dan sedang melotot padanya, pinggang lelaki itu terlibat sebatang "kiu-ciat-nui-pian" (ruyung lemas beruas sembilan).
Mendadak ia menegur.
"Hei, bocah, dari golongan mana kau? Mengapa kau pun menggunakan kiu-ciat-pian?"
"Cayhe Hong Liang, ketua Jing-liong-bun di Kimciu,"
Sahut lakilaki itu dengan suara lantang.
"Numpang tanya Locianpwe, apakah Cayhe tidak boleh menggunakan kiu-ciat-pian?"
Saat itu si Ting Tong sudah menyamar sebagai pelayan dan telah keluar lagi, mukanya dipoles dengan hangus, tangannya juga penuh hangus, ketika dia meraba muka Ciok Boh-thian, kontan muka Boh-thian juga penuh hangus hitam, kedua muda-mudi saling pandang dengan geli.
Tiba-tiba terdengar Ting Put-si bergelak tertawa, katanya.
"Hahaha! Masakah Yaya melarang orang menggunakan kiuciat-pian?"
Dan ketika tangannya meraba ke pinggang sendiri dan ditarik kembali.
"sret" , tahu-tahu tangannya juga sudah memegang sebatang ruyung lemas. Ujung ruyung berbentuk kepala naga, badan ruyung bercahaya kemilauan berhiaskan emas putih dan batu permata, bila ruyung itu bergerak, terpancarlah sinar gemerlapan yang menyilaukan mata. Diam-diam semua orang terperanjat.
"Kiranya dia sendiri juga menggunakan kiu-ciat-pian?"
Demikian pikir mereka. Sementara itu Ting Put-si telah berkata pula.
"Bocah ingusan yang tidak punya kepandaian apa-apa juga berani membawabawa kiu-ciat-pian segala, bila bertempur dengan orang tentu lebih banyak kalah daripada menang dan orang tentu akan memandang rendah kepada setiap pemain kiu-ciat-pian. Memang sudah lama Yaya mendengar di daerah Kimciu terdapat sekawanan yang mengaku Jing-liong-bun segala, keparat, katanya turun-temurun kalian juga memakai kiu-ciatpian. Maka sudah lama aku ingin membunuh habis segenap keluargamu, cuma saja daerah Kwantang terlalu dingin, Yaya malas datang ke sana buat bunuh orang. Sekarang kebetulan pergoki kau bocah ini di sini, nah, tidak lekas kau membunuh diri mau tunggu apa lagi?"
Baru sekarang Hong Liang paham duduknya perkara.
Kiranya kakek ini bersenjatakan kiu-ciat-pian, maka orang lain dilarang menggunakan senjata yang serupa.
Hal ini benar-benar terlalu aneh dan sewenang-wenang.
Sebelum Hong Liang memberi jawaban, sekonyong-konyong bergemalah suara seorang di meja sebelah kiri sana.
"Hm, untung juga kau bocah tua ini tidak menggunakan golok!"
Waktu Ting Put-si memandang ke arah pembicara itu, terlihatlah orang itu bermuka lebar dan penuh berewok pendek. Segera ia tanya.
"Jika aku menggunakan golok, lantas bagaimana katamu?"
"Sebab yayamu juga menggunakan golok, kalau menuruti logika kau bocah tua yang semena-mena ini, bukankah Yaya juga akan kau bunuh?"
Sahut lelaki berewok.
"Tapi seumpama kau mampu membunuh Yaya, di dunia ini masih beribu-ribu dan berlaksa-laksa orang yang memakai golok, apakah kau mampu membunuh habis mereka?"
Habis berkata.
"sret" , ia melolos goloknya dari pinggang terus ditancapkan ke atas meja. Golok itu berwarna emas lembayung, punggung golok tebal dan mata golok tipis, pada pangkal gagang golok tergantung seuntai kain sutra warna ungu. Waktu golok itu menancap di atas meja, bergetarlah mangkuk piring yang berada di atas meja sehingga mengeluarkan suara, nyata sekali golok itu sangat berat dan tenaga pemakainya juga sangat kuat. Kiranya lelaki berewok itu adalah Lu Cing-peng berjuluk Cikim-to (Si Golok Emas Lembayung), ketua Gway-to-bun (Golongan Golok Kilat) dari Tiang-pek-san.
"Cret" , mendadak Ting Put-si menyimpan kembali ruyungnya, ketika sebelah tangannya menjulur, tahu-tahu golok yang terselip di pinggang si lelaki yang berada di sebelahnya telah dicabut olehnya, lalu serunya.
"Baik, anggap Yaya memang bersenjatakan golok, lantas bagaimana? Tapi, wah, keliru! Kurang ajar!.... Yaya berjuluk ‘Ce-jit-put-ko-si’, sekarang di sini ada 11 bocah keparat yang bergolok, ditambah lagi pemakai ruyung ini, terpaksa Yaya harus membagi dan membunuh selama tiga hari...."
Golok adalah senjata yang sangat umum, maka di antaranya orang-orang Kwantang itu memang ada 11 orang yang membawa golok.
Mereka menjadi terkejut menyaksikan kecekatan Ting Put-si merebut golok itu, tanpa merasa mereka sama meraba goloknya sendiri dan siap bertempur.
Ketika mendengar si kakek mengaku berjuluk "Ce-jit-put-ko-si"
Atau satu hari tidak lebih dari empat, beberapa orang di antaranya sampai berseru.
"Ha, dia... dia adalah Ting Put-si!"
"Ya, hari ini Yaya belum pernah membunuh orang maka dapatlah aku membunuh empat bangsat cilik, nah, siapakah di antara kalian yang ingin mampus?"
Demikian Ting Put-si berseru sambil tertawa.
"Hayo lekas laporkan nama kalian! Jika tidak kecuali bocah bersenjata ruyung ini asal kalian mau menjura sepuluh kali dan minta ampun kepada Yaya, maka boleh juga jiwa kalian diampuni."
Tapi lantas terdengarlah suara tertawa dingin di sana-sini, empat orang serentak berbangkit dan melangkah keluar rumah makan itu mereka lantas berdiri sejajar di depan pintu.
Selain Hong Liang, Hoan It-hui, Lu Cing-peng, orang keempat adalah seorang wanita setengah umur.
Wanita itu tidak bersenjata, begitu sudah berdiri di luar pintu, segera ia singkap kedua sayap kun (gaun panjang) dan diikat pada ikat pinggangnya, maka tertampaklah dua baris pisau kecil yang gemerlapan di bagian pinggangnya.
Pisau itu panjangnya cuma belasan senti, sedikitnya ada 30 batang lebih, secara rajin terselip pada seutas sabuk bersulam yang terikat di pinggang.
Sedangkan senjata Hoan It-hui adalah sepasang boan-koan-pit, dengan suara lantang ia membuka suara.
"Cayhe adalah Liautang-ho (Burung Ho dari Liautang) Hoan It-hui, ketua Ho-pitbun, bersama-sama dengan ketua Jing-liong-bun, saudara Hong Liang; ketua Gway-to-bun, saudara Lu Cing-peng dan Hui-hong-to (Pisau Belalang Terbang) Ko Sam-niocu dari Hanbwe-ceng. Keempat golongan kami dari Kwantang ini selamanya tiada permusuhan apa-apa dengan Ting-loyacu, tapi entah sebab apa Ting-loyacu telah sengaja menghina dan mengolok-olok kami, haraplah sudi memberi penjelasan?"
Ting Put-si tidak menjawab, sebaliknya ia sengaja mengamatamati Ko Sam-niocu dengan kepala miring-miring ke sini dan meleng-meleng ke sana seperti lagaknya anak kecil mengincar boneka.
Kemudian ia berkata.
"Kurang! Kurang cantik!"
Melihat lagak Ting Put-si itu sudah tentu semua orang tahu yang dimaksudkannya "kurang cantik"
Itu adalah Ko Samniocu.
Dasar watak Ko Sam-niocu memang sangat keras, kepandaiannya juga memang tinggi, ayahnya, bapak mertuanya dan gurunya, semuanya cukup ternama dan berpengaruh di dunia persilatan Kwantang, Han-bwe-ceng mereka juga terkenal suatu perkampungan yang kaya raya dengan sawah-ladang, perkebunan dan peternakan yang subur.
Sebab itulah biarpun dia sudah janda, tapi sangat terkenal di Kwantang.
Apalagi pada masa mudanya dia pun tersohor sangat cantik, walaupun sekarang sudah setengah umur juga masih belum hilang seluruh kecantikannya itu.
Keruan ia menjadi murka mendengar hinaan Ting Put-si itu.
Terus saja ia berteriak.
"Ting Put-si, keluarlah kau!"
Dengan acuh tak acuh Ting Put-si melangkah keluar rumah makan itu. Tanyanya.
"Apakah kalian berempat ini yang ingin mampus?"
Sekonyong-konyong sinar putih berkilauan, lima batang pisau terbang telah menyambar tiba dari berbagai jurusan.
Cepat sekali datangnya pisau-pisau terbang itu, meski pisau-pisau itu sangat pendek, tapi desiran angin yang timbul dari sambaran pisau-pisau itu tidak kalah kerasnya daripada angin sambaran golok atau pedang.
"Pisaunya bagus! Orangnya tidak cantik!"
Bentak Ting Put-si.
Berbareng tangan kanan lantas menarik keluar kiu-ciat-pian, di mana cahaya kuning berkelebat, empat pisau musuh lantas tersampuk jatuh.
Dalam pada itu pisau kelima telah menyambar ke mukanya, dia lantas pamerkan sekalian kepandaiannya, begitu mulut terbuka ujung pisau itu lantas tergigit.
Hong Liang, Hoan It-hui dan Lu Cing-peng terperanjat.
Tapi serentak mereka lantas menerjang maju.
Cepat Ting Put-si menghindarkan bacokan golok Lu Cing-peng, berbareng kakinya menendang pergelangan tangan Hoan It-hui untuk memaksanya menarik kembali boan-koan-pitnya.
Sedangkan kiu-ciat-pian yang diputarnya berbalik digunakan untuk melibat ruyung Hong Liang.
Akan tetapi sebelumnya Hong Liang sudah siap sedia, ia tahu si kakek lawannya ini tidaklah empuk, maka begitu ruyung Ting Put-si menyambar tiba segera ia menyendal ruyungnya sendiri sehingga batang ruyung melurus lempeng laksana tombak terus ditusukkan ke dada musuh.
"Boleh juga, bocah keparat ini!"
Puji Ting Put-si sambil mengulur tangan kanan untuk menarik ujung ruyung lawan.
Hong Liang terkejut dan cepat menarik kembali senjatanya.
Tapi lengan Ting Put-si masih tetap menjulur maju.
Untunglah pada saat itu golok Lu Cing-peng lantas menebas sehingga Ting Put-si terpaksa menarik kembali tangannya.
Dan dari sebelah lain Ko Sam-niocu juga telah menyambitkan sebilah pisau.
Begitulah karena dikerubut orang empat, mau tak mau Ting Put-si tak berani mengolok-olok lagi, Dengan penuh tenaga ia putar ruyungnya untuk menjaga diri.
Baru sekarang dia mengetahui bahwa kepandaian orang-orang Liautang itu ternyata tidak rendah, jika satu lawan satu memang tidak ada artinya, tapi satu dikeroyok empat, betapa pun ia agak kerepotan juga.
Ciok Boh-thian dan Ting Tong ikut menyaksikan pertarungan itu bercampur dengan orang banyak.
Sesudah beberapa puluh jurus, tertampak Lu Cing-peng dan Hoan It-hui serempak menyerang maju.
Waktu Ting Put-si mengayun ruyungnya untuk memaksa mundur kedua lawan itu, pada saat itulah kiuciat-pian Hong Liang lantas menyabet ke atas kepala Ting Putsi.
Buru-buru Ting Put-si miringkan kepalanya, tapi hampir pada saat yang sama dua bilah pisau terbang Ko Sam-niocu juga telah menyambar tiba.
Dalam seribu kerepotannya itu lekaslekas Ting Put-si mendoyongkan tubuhnya ke belakang, dua bilah pisau itu menyerempet lewat di tepi tenggorokannya, hanya selisih beberapa senti saja tentu lehernya sudah bocor.
Walaupun begitu tidak urung sebagian kecil jenggot Ting Put-si yang sudah putih beruban itu juga terpapas sehingga benangbenang perak itu bertebaran jatuh.
"Hui-to (pisau terbang) yang bagus!"
Demikian belasan orangorang Kwantang yang menonton di depan pintu memberi sorakan kepada Ko Sam-niocu.
Diam-diam Ting Put-si juga mengakui kelihaian senjata rahasia janda Kwantang itu.
Ia pikir kalau tidak menggunakan serangan mematikan, bukan mustahil dirinya yang bakal kecundang.
Segera ia putar ruyungnya dengan lebih kencang, di tengah berkelebatnya bayangan ruyung ia selingi pula dengan kim-najiu-hoat dengan tangan lain.
Ruyung digunakan menyerang jarak jauh, yang berani dekat segera dicakar dan dicengkeram dengan tangan kiri, dengan demikian Lu Cing-peng dan Hoan It-hui terpaksa harus menghindar dan tidak berani mendekat lagi.
Melihat Ting Put-si memainkan kim-na-jiu, yang paling senang adalah Ciok Boh-thian.
Maklum, dahulu ketika di atas perahu Ting Put-si pernah mengajar ilmu menangkap dan mencengkeram itu kepadanya, cuma waktu itu pengetahuannya dalam teori-teori ilmu silat sangatlah terbatas, apa yang diajarkan Ting Put-si itu hanya ditelannya mentahmentah dan cuma diingatnya di dalam hati saja, tapi tidak mampu mempraktikkannya.
Tapi sekarang dia telah mendapat petunjuk-petunjuk ilmu silat dari ayah-ibunya, banyak pula mendapat petunjuk-petunjuk ilmu silat yang berharga, dengan sendirinya benaknya yang tadinya bebal lantas terbuka.
Ia merasa sangat senang dan cocok dengan setiap jurus serangan Ting Put-si baik mencengkeram, mencakar, memegang, menarik dan gaya-gaya serangan lain.
Sampai pada suatu saat menentukan, mendadak tangan kiri Ting Put-si merangsang ke pundak Lu Cing-peng.
Cepat Cingpeng memutar balik goloknya untuk menebas lengan lawan.
Boh-thian terkejut.
Ia tahu apabila tebasan Lu Cing-peng itu diteruskan, tangan Ting Put-si tentu akan berubah menampar dan pasti akan kena mukanya, menyusul tangannya akan menyambar ke bawah untuk merampas goloknya.
Tamparan Ting Put-si itu tentu akan membikin kepala Lu Cing-peng pecah berantakan.
Maka tanpa lagi pikir lagi Boh-thian lantas berseru.
"Awas, dia akan pukul mukamu!"
Karena lwekangnya sangat kuat, maka suaranya itu dapat didengar setiap orang walaupun di tengah suasana pertempuran yang ramai.
Sebagai jago silat terkemuka dengan sendirinya Lu Cing-peng mendengar juga seruan Ciok Boh thian itu.
Seketika ia tersadar dan cepat membuang golok dan menjatuhkan diri ke bawah.
Walaupun cukup cepat dia menghindar, tidak urung terserempet juga angin tamparan Ting Put-si sehingga mukanya terasa panas pedas.
Sesudah bergelindingan beberapa meter jauhnya barulah Lu Cing-peng melompat bangun dengan hati berdebar-debar.
Untunglah ada orang berseru memperingatkan, kalau tidak jiwanya pasti sudah melayang di bawah pukulan lawan.
Tapi dengan menyingkirnya Lu Cing-peng, Hoan It-hui menjadi payah menghadapi Ting Put-si, berulang-ulang ia diberondong dengan serangan-serangan berbahaya.
Cepat Cing-peng berseru.
"Ambilkan golok!"
Segera seorang anak buahnya melemparkan sebatang golok, begitu sambar golok itu serentak Lu Cing-peng menerjang maju lagi.
Tiba-tiba dilihatnya ruyung Ting Put-si sedang berlibatan dengan ruyung Hong Liang, sekonyong-konyong tubuh Hong Liang terseret terus ditumbukkan kepada golok Lu Cing-peng yang sedang membacok itu.
Terpaksa Cing-peng memutar balik goloknya.
"Awas, orang she Hoan! Lehermu akan dicengkeram!"
Mendadak Boh-thian berteriak.
Hoan It-hui terkejut, tanpa pikir ia lantas tegakkan boan-koanpit untuk melindungi tenggorokannya sendiri.
Benar juga, saat itu kelima jari Ting Put-si sudah mencakar tiba.
"cret" , lehernya keserempet dan meninggalkan lima jalur lecet berdarah. Berturut-turut Boh-thian berseru dan menyelamatkan jiwa dua orang, keruan para jago Kwantang itu merasa sangat terima kasih. Mereka melihat muka penggembor itu terpoles hangus hitam, terang muka aslinya tidak ingin dikenali orang. Sebaliknya Ting Put-si menjadi murka, kontan ia memaki.
"Kurang ajar! Anak anjing siapa itu yang membacot di sini? Kalau berani boleh majulah untuk menempur Yaya!"
"Wah, dia... dia telah mengenali kita?"
Kata Boh-thian kepada si Ting Tong sambil menjulurkan lidah.
"Habis siapa yang suruh kau buka mulut?"
Omel Ting Tong.
"Tapi dia mengatakan anak anjing siapa, mungkin dia belum tahu siapa dirimu."
Dalam pada itu kelima orang itu kembali sudah bertempur pula dengan lebih sengit.
Ting Put-si buru-buru ingin tahu siapa orang yang berseru membantu lawannya itu, maka ia menyerang semakin gencar dengan jurus-jurus mematikan.
Tapi berulang-ulang Ciok Boh-thian berseru tepat pada waktunya sehingga Lu Cing-peng tertolong pula dua kali, Hoan It-hui empat kali dan Hong Liang tiga kali.
Pada satu kali mendadak Ting Put-si menggunakan serangan berisiko, sekonyong-konyong ia meloncat ke atas terus menubruk ke arah Ko Sam-niocu.
Untung juga Ciok Boh-thian berseru memperingatkannya sehingga Ko Sam-niocu sempat menghindar, tapi tidak urung pundak Ko Sam-niocu tersampuk oleh jari Ting Put-si sehingga lengannya terasa kaku dan susah bergerak lagi.
Namun janda Kwantang itu pun benar-benar sangat lihai, meski tangan kanan tak bertenaga lagi, segera tangan kiri mencabut pisau.
"crit-crit"
Dua kali, dua batang pisau lantas menyambar ke arah Ting Pit-si.
Tapi sekali gulung dengan ruyungnya, kedua pisau itu lantas terlibat terus disambitkan ke arah Hong Liang dan Lu Cing-peng.
Berbareng itu bahkan Ting Put-si lantas meloncat ke atas, ruyungnya terus menyabet ke bawah.
Cepat Ko Sam-niocu membungkuk tubuh untuk menghindar.
Tapi terdengarlah suara jeritan orang banyak, menyusul janda Kwantang itu merasa kepalanya terangkat, tanpa kuasa tubuhnya terus melayang ke atas.
Kiranya ujung ruyung Ting Put-si dengan tepat kena melilit sanggulnya dan badannya ikut terangkat.
Keruan Hong Liang bertiga sangat terkejut.
Dengan tenaga mereka berempat saja masih kewalahan, apalagi kalau Ko Sam-niocu mengalami nasib malang, sisa mereka bertiga tentu juga tak terhindar dari bencana.
Maka dengan mati-matian mereka lantas mengerubut maju.
Mendadak mulut Ting Put-si meniup.
"berrr" , pisau yang tergigit olehnya tadi lantas disemburkan ke perut Ko Samniocu. Sedangkan tangan kiri berbareng mencengkeram, mencakar dan menjambret, dalam sekejap saja ia dapat menghalau Hong Liang bertiga yang sekaligus menerjang maju itu. Saat itu tubuh Ko Sam-niocu masih terapung di udara, sambaran pisau yang ditiup Ting Put-si itu betapa pun sukar dihindarnya.
"Selama ini entah sudah berapa banyak musuh yang binasa di bawah pisau terbangku, tapi hari ini senjata akan makan tuannya, akhirnya aku mesti mati di bawah senjatanya sendiri,"
Begitulah terbayang olehnya sambil memejamkan mata dan menanti ajal.
Sungguh di luar dugaan siapa pun juga, secara kebetulan dua bilah pisau yang dilibat dan disambitkan Ting Put-si tadi masing-masing telah kena disampuk mencelat oleh Hong Liang dan Lu Cing-peng, dengan tepat pisau-pisau itu telah menyambar lewat di samping Ciok Boh-thian.
Melihat keadaan sangat berbahaya, untuk bersuara memperingatkan juga tidak keburu lagi, segera Boh-thian menangkap kedua batang pisau itu dan secepat kilat lantas disambitkan.
Maka terdengarlah suara "trang"
Yang nyaring, sebilah pisau itu tepat membentur jatuh pisau yang sedang menyambar ke arah perut Ko Sam-niocu, pisau yang lain juga tepat memapas putus rambutnya sehingga Ko Sam-niocu terjatuh ke bawah.
Tapi begitu kakinya menyentuh tanah, cepat ia melompat mundur dengan berjumpalitan, Mukanya tampak pucat pasi ketakutan.
Penonton-penonton di samping juga terkesima kaget, sampai lupa menyoraki kepandaian Ciok Boh-thian yang luar biasa itu.
Apa yang terjadi ini pun sama sekali di luar dugaan Ting Put-si.
Cepat ia berpaling dan membentak.
"Sobat dari manakah yang selalu merintangi urusanku? Kalau berani hayolah maju untuk bertempur 300 jurus dengan aku, terhitung kesatria macam apa jika main sembunyi-sembunyi saja?"
Kedua mata Ting Put-si melotot ke arah Ciok Boh-thian, tapi muka pemuda itu terpoles hangus, maka ia tidak mengenalnya.
Tapi mengapa orang ini tahu sebelumnya setiap jurus serangannya, bahkan benturan kedua bilah pisau itu amat jitu disertai tenaga yang amat kuat, maka teranglah lwekang sendiri sekali-kali bukan tandingannya.
Walaupun watak Ting Put-si sangat tinggi hati, sekarang mau tak mau ia harus prihatin dan tidak berani mengoceh semena-mena lagi seperti tadi.
Sebaliknya perbuatan Ciok Boh-thian tadi hanya terdorong oleh maksudnya ingin menyelamatkan orang, sekarang mendadak dipelototi dan ditegur oleh Ting Put-si dengan garang, ia menjadi lupa pada mukanya sendiri yang telah dipoles hangus oleh si Ting Tong, maka dengan gugup ia menjawab.
"Siyaya, aku... aku inilah Si Lemper Raksasa!"
Untuk sejenak Ting Put-si tercengang, lalu ia berkata dan terbahak-bahak.
Baca Juga: Bangau Sakti 24
Baca Juga: Satria Gunung Kidul 3