Ceritasilat Novel Online

Medali Wasiat 6

Eps 6 Medali Wasiat - Yin Yong

Baca online Medali Wasiat - Yin Yong

Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.

Pek Ban-kiam melirik ke arah Ciok Boh-thian dengan rasa benci, malu dan heran pula, tapi juga tidak kurang rasa terima kasihnya.

Coba kalau bocah ini tidak membantunya, tentu saat ini jiwa belasan orang Swat-san-pay sudah melayang di pulau terpencil ini.

Sungguh ia masih merasa ngeri bila teringat betapa ganas dan keji serangan-serangan kedua saudara Ting yang tidak kenal ampun tadi.

Sesudah menghela napas lega, kemudian Ban-kiam bertanya.

"Ilmu golokmu barusan ini adalah ajaran siapa?"

"Ajaran Su-popo,"

Jawab Boh-thian.

"Seluruhnya ada 73 jurus, lebih banyak satu jurus daripada Swat-san-kiam-hoat kalian dan tiap-tiap jurusnya adalah penangkal daripada Swat-sankiam-hoat."

"Hm, tiap-tiap jurus adalah penangkal Swat-san-kiam-hoat? Ha, apakah tidak terlalu besar mulutnya?"

Jengek Pek Bankiam.

"Siapakah Su-popo itu?"

"Su-popo adalah cikal bakal Kim-oh-pay kami, beliau adalah guruku, aku adalah murid pertama angkatan kedua Kim-ohpay,"

Sahut Boh-thian. Pek Ban-kiam menjadi gusar mendengar jawaban itu, jengeknya pula.

"Hm, kau boleh tak mengakui perguruan asalmu, mengapa kau masuk lagi ke dalam perguruan Kim-ohpay apa segala? Hm, Kim-oh-pay, nama ini belum pernah kudengar, di dunia persilatan juga tiada pernah terdaftar nama ini."

Boh-thian masih tidak tahu kalau Pek Ban-kiam sudah gusar, ia menjelaskan pula.

"Menurut berita suhuku, katanya Kim-oh berarti sang surya, bila matahari terbit, maka mencairlah salju di atas gunung, sebab itu bila anak murid Swat-san-pay kebentur dengan Kim-oh-pay kami, maka tiada jalan lain bagi kalian kecuali ... kecuali ...."

Mestinya ia hendak berkata sebagaimana pernah diucapkan oleh Su-popo, yaitu "kecuali berlutut dan menyembah minta ampun".

Tapi betapa pun Boh-thian bukanlah pemuda tolol, sebelum kata-kata itu diucapkan, mendadak ia ingat bahwa kata-kata itu tidaklah pantas didengar oleh murid-murid Swatsan-pay, maka mendadak ia berhenti dan tidak melanjutkan kata-katanya.

Sudah tentu Pek Ban-kiam kurang senang, dengan muka masam ia mendesak dengan suara bengis.

"Bila anak murid Swat-san-pay kami ketemukan orang Kim-oh-pay kalian lantas bagaimana? Kecuali apa, lekas katakan!"

Boh-thian menggeleng, sahutnya.

"Bila kuterangkan, tentu kau akan marah, aku pun mengira ucapan Suhu ini agak tidak tepat."

"Kecuali mengaku kalah dan lari terbirit-birit, demikian hendak kau katakan, bukan?"

Desak Ban-kiam pula.

"Ya, kukira tiada berbeda jauhnya maksud ucapan suhuku itu dengan kata-katamu ini,"

Sahut Boh-thian.

"Tapi hendaklah Pek-suhu jangan gusar, mungkin suhuku hanya bergurau saja dan janganlah dianggap sungguh-sungguh."

Sebenarnya Pek Ban-kiam masih kesakitan karena kakinya dan pundaknya kena pukulan Ting Put-si tadi, tapi demi mendengar uraian Ciok Boh-thian yang menghina nama baik perguruannya, sudah tentu ia tidak tahan lagi, segera ia angkat pedangnya dan berseru.

"Baik, sekarang juga aku ingin belajar kenal dengan ilmu silat Kim-oh-pay kalian, aku ingin tahu cara bagaimana kau akan menundukkan Swat-san-kiam-hoat kami."

Tapi begitu pedangnya terangkat, seketika ia merasa lengannya sakit tidak kepalang dan pedang hampir-hampir terlepas dari cekalannya.

Pada saat itulah seorang murid Sat-san-pay bernama Pau Banyap telah tampil ke muka dan berseru.

"Bocah she Ciok, tentu kau tidak kenal lagi kepada susiokmu ini, biarlah aku saja yang belajar kenal dengan kepandaianmu!"

"Pau-sute, kau mundur saja, biar aku yang melayani dia,"

Seru Ban-kiam. Segera ia pindahkan pedang ke tangan kiri lalu berkata pula.

"Nah, bocah she Ciok, mulailah!"

"Sudahlah, kakimu dan pundakmu sudah terluka, kita tak perlu bertanding lagi, apalagi aku pun pasti bukan tandinganmu,"

Demikian sahut Boh-thian.

"Kau berani menghina Swat-san-pay, mengapa tidak berani bertanding?"

Bentak Ban-kiam dan kontan pedangnya mendahului menyerang dengan jurus "Bwe-swat-ceng-jun"

Walaupun ia menyerang dengan tangan kiri sehingga tidak segesit tangan kanan, namun serangannya itu tetap tidak kurang lihainya.

Cepat Boh-thian angkat golok karatnya dan balas dengan jurus "Bwe-swat-hong-he"

Ajaran Su-popo. Ternyata jurus serangan ini sangat bagus dan merupakan penangkal bagi jurus "Bweswat-ceng-jun"

Yang dilontarkan Pek Ban-kiam itu.

Keruan Ban-kiam terperanjat, cepat ia ganti serangan dan dengan jurus "Bang-gwat-cau-tit" (Meniup Seruling di Malam Terang Bulan).

Tapi Boh-thian lantas keluarkan jurus "Jik-jitkim-koh" (Genderang Berbunyi di Siang Bolong).

Kembali Ban-kiam terkejut, tampaknya golok lawan sudah menyambar tiba dan cepat menuju ke titik kelemahan jurus serangannya sendiri itu, tanpa pikir lagi segera ia ganti serangan lagi.

Untunglah Boh-thian tidak paham di mana letak kebagusan serangannya sendiri dari tidak mendesak lebih jauh, sebaliknya ia pun segera ganti jurus serangan begitu melihat Ban-kiam ganti serangan.

Padahal dengan jurus "Jik-jit-kim-koh"

Itu Boh-thian sudah berada di pihak penyerang, tak peduli apakah Ban-kiam ganti jurus serangan atau tidak, asalkan Boh-thian mendesak maju, tentu Ban-kiam akan dipaksa melangkah mundur beberapa tindak.

Dalam keadaan kakinya tidak leluasa bergerak, mau tak mau Ban-kiam pasti akan menghadapi bahaya atau terpaksa ia harus menyerah kalah.

Tapi karena Boh-thian tidak paham letak kebagusan serangannya itu telah terbuang dengan percuma.

Diam-diam Ban-kiam bersyukur atas dirinya sendiri.

Malahan sebagian murid Swat-san-pay yang menyaksikan di samping itu pun dapat melihat keadaan demikian tadi dan diam-diam mereka pun merasa bersyukur bagi sang suheng.

Akan tetapi beberapa jurus kemudian, kembali Pek Ban-kiam menghadapi bahaya lagi.

Kim-oh-to-hoat itu benar-benar sangat aneh, tiap-tiap jurusnya ternyata benar-benar merupakan penangkal bagi Swat-sankiam-hoat.

Tak peduli betapa pun hebat serangan Pek Bankiam selalu dapat dipatahkan oleh Ciok Boh-thian, hanya dengan golok karatan saja Boh-thian tetap di pihak yang lebih unggul.

Kira-kira sudah lebih tiga puluh jurus, ketika Ciok Boh-thian sedang membacok dengan goloknya ke pundak kiri Pek Bankiam, mestinya Ban-kiam dapat mengayun kakinya untuk menendang pergelangan tangan Boh-thian yang memegang senjata itu.

Akan tetapi baru saja kakinya terangkat sedikit, seketika bagian yang bekas kena pukulan Ting Put-si itu terasa kesakitan luar biasa, saking tak tahan sampai Ban-kiam merasa lemas dan tekuk lutut, lekas-lekas ia menyangga dengan tangan kanan di atas tanah.

Dalam keadaan demikian terang dia tak dapat menghindarkan bacokan Ciok Boh-thian tadi.

Di luar dugaan bacokan Ciok Bohthian itu ternyata tidak diteruskan, bahkan ia berkata.

"Biarlah sekali ini tak dianggap saja."

Kesempatan itu segera digunakan Pek Ban-kiam untuk melompat bangun. Sekilas itu timbul macam-macam pikiran di dalam benaknya.

"Bocah ini sedari tadi sudah dapat mengalahkan aku, mengapa setiap jurus serangannya selalu tak diteruskan? Tampaknya dia seperti tidak pernah belajar Swat-san-kiam-hoat. Barusan sudah terang dia tadi menundukkan aku, mengapa dia sengaja mengalah padaku? Padahal bocah she Ciok ini biasanya sangat licik dan kejam, bila aku sudah dibunuh olehnya, terang para Sute tiada satu pun yang mampu menandingi, dia tidak tega membunuh, apakah sebabnya? Jangan-jangan, ya, janganjangan dia benar-benar bukanlah Ciok Tiong-giok?"

Berpikir sampai di sini, tanpa pikir pedang yang dipegang tangan kiri itu lantas menusuk ke depan dengan jurus "Tiauthian-sik (gaya pembukaan).

Seketika terdengar suara heran para murid Swat-san-pay.

Kiranya "Tiau-thian-sik"

Itu tidak termasuk di dalam ke-72 jurus Swat-san-kiam-hoat, tapi adalah salah satu kepandaian dasar bagi setiap murid Swatsan-pay yang mulai belajar, maka tiada dapat digunakan untuk menandingi musuh.

Sebab itulah maka para murid Swat-sanpay yang lain bersuara heran, mereka menyangka sang Suheng terluka parah dan tidak sanggup memainkan pedangnya lagi.

Tak tersangka Ciok Boh-thian juga terkesima atas serangan Pek Ban-kiam itu.

Maklum ia tidak pernah melihat jurus "Tiau-thian-sik"

Ini, Supopo juga tidak pernah mengajarkan padanya, maka ia menjadi bingung cara bagaimana harus menangkisnya. Akan tetapi di hadapan jago sebagai "Gi-han-se-pak"

Pek Bankiam mana boleh lawannya main ayal-ayalan. Hanya sedikit tertegun saja secepat kilat pedang Ban-kiam sudah menyambar tiba dan tepat menjuju di depan ulu hati Ciok Bohthian.

"Bagaimana sekarang?"

Bentaknya.

"Aneh, ilmu pedang apakah seranganmu ini? Mengapa aku tidak pernah tahu?"

Sahut Boh-thian. Mau tak mau Ban-kiam merasa kagum juga atas ketabahan Boh-thian, walaupun jiwanya terancam, tapi toh masih sempat bertanya tentang ilmu pedang apa segala. Segera ia berkata.

"Apa benar kau tidak pernah mempelajarinya?"

Boh-thian menjawab dengan menggeleng kepala.

"Saat ini bila aku hendak mencabut nyawamu adalah terlalu mudah bagiku,"

Ujar Ban-kiam.

"Akan tetapi seorang laki-laki harus dapat membedakan antara dendam dan budi secara tegas. Tadi kau telah menolong aku di kala aku dikerubut kedua saudara she Ting. Sekarang aku hanya kembalikan budimu itu, kita satu jiwa bertukar satu jiwa, jadi masingmasing tiada punya utang apa-apa. Sejak kini kau dilarang mengatakan lagi bahwa Kim-oh-to-hoat adalah penangkal Swat-san-kiam-hoat."

"Ya, memangnya tadi aku pun sudah bilang tak sanggup melawan kau,"

Sahut Boh-thian sambil memanggut. Tapi mendadak ia berkata pula.

"Eh, Pek-suhu, sekarang aku sudah paham. Seranganmu ini agaknya toh tidak susah untuk ditangkis."

Habis berkata sekonyong-konyong dadanya melekuk sehingga terlepas dari ancaman ujung pedang, berbareng goloknya lantas menyampuk dari samping.

"Plok" , golok dan pedang kebentur, karena tenaga dalam Boh-thian memang sangat dahsyat, kontan pedang Pek Ban-kiam terlepas dan patah menjadi dua. Air muka Ban-kiam berubah merah padam, cepat ujung kaki mencukit, sebatang pedang yang terletak di tanah lantas mencelat dan dapat dipegangnya pula. Menyusul "sret-sretsret"

Tiga kali, ia menyerang dengan cepat, semuanya adalah jurus serangan yang paling umum dan mesti dipelajari setiap murid Swat-san-pay yang mulai belajar.

Tapi bagi Ciok Bohthian serangan-serangan yang mudah itu malah membingungkannya, ia menjadi kelabakan dan tak dapat menangkis lagi, tahu-tahu pergelangan tangan sudah terkena pedang dan goloknya terlepas dari cekalan.

Pada saat lain ujung pedang lawan sudah menjuju di depan ulu hatinya pula.

Waktu Ban-kiam menyendal pedangnya, seketika baju di bagian dada Boh-thian itu tergores sebuah lingkaran kecil.

Ketika pedangnya ditarik kembali, tiga cuil kain bundar kecil lantas jatuh bertebaran.

Maka tertampaklah baju di dada Ciok Boh-thian telah berlubang sebesar mangkuk, baju luar, baju tengah dan baju dalam telah tembus kena digores sebuah lubang bundar sehingga kelihatan kulit dadanya.

Ketika pedang Ban-kiam bergerak pula, mendadak Boh-thian berteriak mengaduh, ternyata dadanya sendiri sudah tertusuk enam titik secara berjajar dalam bentuk enam sayap.

Darah pun merembes keluar dari luka-luka itu.

Untung tusukan pedang itu tidak dalam sehingga tidak terlalu sakit.

"Jurus ‘Swat-hoa-liok-cut’ yang bagus!"

Sorak para murid Swatsan-pay. Pek Ban-kiam juga lantas berkata.

"Nah, sekarang silakan pulang dan beri tahukan kepada gurumu bahwa Swat-san-pay yang telah mencederai kau ini."

Rupanya Ban-kiam melihat Boh-thian memang benar-benar tidak paham beberapa jurus kepandaian dasar Swat-san-pay tadi, pula sikapnya dan gerak-geriknya, perangainya dan tutur katanya juga sama sekali berbeda daripada Ciok Tiong-giok, maka ia pikir.

"Dia telah menyelamatkan jiwaku tadi, tak peduli dia Ciok Tiong-giok atau bukan, yang pasti hari ini tak dapat aku membunuh dia. Jurus ‘Swat-hoa-liok-cut’ ini hanya sekadar sebagai peringatan bagi Kim-oh-pay mereka agar jangan lagi bermulut besar."

Habis itu, bersama para sutenya segera mereka mengangkat jenazah-jenazah kelima sutenya yang terbunuh tadi.

Karena berduka atas kematian para sutenya, pula malu atas dirinya sendiri yang tak dapat membela sute-sute itu, tanpa merasa Ban-kiam mencucurkan air mata.

Katanya dengan dendam.

"Kedua bangsat tua Put-sam dan Put-si, sakit hati Swat-sanpay ini pasti akan menuntut balas, diharap saja kalian jangan mati terlalu cepat."

Lalu ia memberi tanda berangkat, beramai-ramai mereka lantas bertindak keluar hutan sana, tiada seorang pun yang menoleh lagi kepada Ciok Boh-thian.

Melihat darah berceceran di atas tanah, beberapa batang pedang patah berserakan di sana sini, keadaan sunyi senyap, hanya suara beberapa ekor burung gaok terdengar terbang melayang di atas pohon sana, mau tak mau Boh-thian merasa seram juga.

Segera ia jemput kembali goloknya, lalu berseru.

"A Siu! A Siu!"

Ia coba mencarinya di balik pohon besar tempat mereka tadi, tapi A Siu tidak diketemukan.

Ia pikir mungkin si nona sudah pulang lebih dulu.

Segera ia pun kembali ke gua dengan langkah cepat sambil berseru.

"A Siu! A Siu!"

Keruan Boh-thian menjadi gugup, ia lihat di atas tanah di dalam gua itu ada huruf-huruf yang ditulis dengan arang, tapi dia adalah pemuda buta huruf, sudah tentu tidak paham apa arti tulisan itu.

Ia menduga Su-popo dan A Siu tentu sudah pergi semua meninggalkan dia.

Semula Boh-thian merasa sangat kesepian, Tapi sejak kecil ia sudah biasa hidup seorang diri, rasa sepi itu tidak lama kemudian pun tak dirasakannya lagi.

Sekarang luka di dadanya sudah tidak berdarah lagi.

Ia robek sepotong kain dari ujung baju luar untuk menutupi lubang bundar di bagian dada itu.

Katanya di dalam hati.

"Semuanya sudah pergi, biarlah aku pun pergi saja dari sini, aku akan mencari ibu dan Si Kuning."

Sekarang dia sudah terhindar dari macam-macam persoalan orang lain yang membingungkan, ia merasa lega dan gembira.

Segera ia selipkan golok karatan diikat pinggangnya, lalu menuju ke tepi sungai.

Sampai di tepi sungai, tertampak ombak mendebur-debur, di tepi sungai tiada sebuah kapal apa pun.

Boh-thian terus mencari dengan menyusur pantai.

Ci-yan-to itu adalah sebuah pulau karang yang tidak luas, maka tiada satu jam lamanya Boh-thian sudah mengelilingi pulau kecil itu dan tetap tiada tampak bayangan sebuah kapal pun.

Sepanjang mata memandang juga tiada kelihatan bayangan layar sesuatu perahu yang berlayar di sepanjang sungai.

Kiranya Ci-yan-to terletak di suatu muara Sungai Tiangkang yang bercabang, arus di situ sangat keras, permukaan sungai juga sempit, maka jarang sekali ada kapal atau perahu yang mendekati pulau kecil itu.

Sambil berdiri di tepi sungai, diam-diam Boh-thian memikir.

"Terpaksa aku harus tinggal lagi beberapa hari di sini, akan kutunggu kalau-kalau ada kapal atau perahu yang lalu di sini. Kalau tidak, boleh juga aku akan belajar berenang agar lain kali bila aku didorong orang dan kecemplung lagi ke dalam sungai, tentu aku takkan khawatir dan takkan minum air lagi."

Kemudian terpikir pula.

"Ya, buat apa aku mesti buru-buru pergi dari sini? Orang-orang itu seperti Ting-samyaya, Tingsiyaya, si Ting-ting Tong-tong, Pek-suhu, dan lain-lain lagi, semuanya ingin membinasakan diriku. Untuk berkelahi aku tak dapat melawan mereka, kalau sembunyi di sini kan lebih selamat."

Tengah termenung-menung, mendadak terdengar suara keresek, dari semak-semak di samping kakinya tiba-tiba melompat keluar seekor kelinci liar.

Memangnya Boh-thian sedang kelaparan karena setengah harian belum makan apaapa, selama beberapa hari terakhir ini pun tidak berani menyalakan api untuk memasak, yang dimakan melulu kesemak belaka.

Sekarang melihat seekor kelinci gemuk, tentu saja ia sangat girang, segera ia cabut goloknya dan memburu terus menusuk.

Namun kelinci itu teramat gesit, sedikit meloncat ke samping, seketika tusukan Boh-thian itu mengenai tempat kosong.

Tapi cepat Boh-thian memutar kembali goloknya terus menebas, kontan kelinci itu tertebas menjadi dua potong.

Selagi Boh-thian hendak mengambil kelinci yang sudah mati itu, tiba-tiba terkilas sesuatu di dalam benaknya.

"Tebasanku barusan ini bukankah adalah jurus ‘Ting-cia-cit-ki’ ajaran Supopo? Ya, memang betul adalah jurus serangan itu. Jika demikian, jadi jurus ini tidak melulu untuk mengatasi ‘Lau-kihong-sia’ dari Swat-san-kiam-hoat, tetapi masih dapat digunakan pula pada lain tempat."

Lalu terpikir lagi olehnya.

"Tadi waktu aku menusuk kelinci ini dengan golok, caraku adalah sama dengan jurus ilmu pedang yang dimainkan Pek-suhu untuk mengalahkan aku itu. Padahal kelinci ini toh tidak pernah belajar ilmu golok atau ilmu pedang segala, tapi sedikit berkelit saja dia sudah menghindarkan tusukanku. Ah, tahulah, bila aku diserang orang aku boleh menangkis atau berkelit dan tidak pasti harus menggunakan jurus atau cara-cara tertentu untuk menangkisnya."

Maklumlah, selama hidup Ciok Boh-thian belum pernah mendapat pelajaran ilmu silat secara teratur, Cia Yan-khek dan Ting Put-si telah mengajarkan ilmu silat padanya, tapi mereka itu tiada punya maksud tujuan baik.

Ting Tong dan Su-popo telah mengajarkan Kim-na-jiu-hoat dan Kim-oh-to-hoat padanya, walaupun mereka tiada bermaksud jelek, tapi juga mempunyai tujuan tertentu, yaitu seorang berharap dia dapat menyelamatkan diri, sedangkan seorang lagi ingin Boh-thian menggunakan Kim-oh-to-hoat untuk menangkan Swat-sankiam-hoat, adapun mengenai bagaimana cara menghadapi musuh, cara bagaimana menyerang dan menghindari serangan serta kepandaian-kepandaian dasar ilmu silat pada umumnya sama sekali tak pernah diajarkan kepadanya.

Sebab itulah maka Boh-thian dapat melayani Swat-san-kiam-hoat yang dimainkan Pek Ban-kiam secara lihai itu, sebaliknya malah kelabakan dan tak bisa menangkis jurus "Tiau-thian-sik"

Yang sepele.

Sekarang secara kebetulan golok Ciok Boh-thian telah menebas kelinci sehingga berhasil menyelami jalan ilmu silat yang sebenarnya, bahwasanya ilmu silat itu adalah hidup dan tidak mati dalam setiap gerak atau jurus tertentu, tapi boleh berubah dan bergerak menurut keadaan.

Teori demikian sebenarnya sangatlah dangkal, sebabnya Ciok Boh-thian tidak paham adalah bukan lantaran dia bodoh, soalnya sejak mula dia sudah disesatkan oleh macam-macam ajaran yang diberikan si Ting Tong, Ting Put-si dan Su-popo secara kaku dan mati.

Malam itu waktu di kelenteng Toapekong meski Bin Ju juga pernah bergebrak dan seakan-akan sengaja mengajar kepada Ciok Boh-thian, tapi tatkala mana kedua orang tiada bicara barang sepatah kata pun, Bin Ju hanya membantunya memahami cara menggunakan jurus serangan Swat-san-kiamhoat, dengan sendirinya di mana letak "hidupnya"

Ilmu silat itu tidak sampai diajarkan padanya. Sekarang hal ini mendadak disadari sendiri olehnya, keruan ia sangat girang. Pikirnya pula.

"Tempo hari waktu berada di atas perahu Suhu telah memberikan petunjuk padaku agar menirukan setiap jurus yang dimainkan Ting-siyaya, tipu serangan apa yang dilontarkan beliau, segera aku pun menirukan dengan tipu serangan yang sama. Cara demikian terang seperti orang bermain-main saja. Coba bilamana Ting samyaya juga berada di situ, lalu beliau mendadak menyerang padaku, kan bisa celaka kalau aku tetap melayani Ting-siyaya dengan tipu serangan yang sama-sama. Maka terpaksa aku harus ganti tipu serangan yang lain untuk menyambut pukulan Ting-siyaya dan sekaligus balas menyerang Ting-samyaya.

"Begitulah, sekali otaknya menjadi encer, segera segala ilmu silat yang pernah dipelajarinya lantas diingatkannya kembali sejurus demi sejurus, saking asyiknya, tanpa merasa kaki dan tangannya lantas bergerak-gerak sendiri seperti sedang menari-nari. Ia tidak pikirkan lagi itu jurus apa dan cara bagaimana harus menggunakannya, tapi apa yang dia ingat lantas dimainkannya menurut pikirannya, apa tangannya yang terangkat atau kakinya yang bergerak, makin lama makin bersemangat, sampai akhirnya debu pasir dan daun kering ikut bertebaran terbawa oleh angin yang ditimbulkan oleh tenagatenaga dalamnya yang dikeluarkan itu. Bahkan berpotongpotong batu sebesar kepalan juga mencelat ke udara tercukit oleh kakinya, pepohonan juga terguncang. Waktu batu-batu itu jatuh kembali ke atas kepalanya, apakah Ciok Boh-thian menolaknya ke samping dengan tenaga pukulannya ke atas atau melompat untuk berkelit, keadaan demikian menjadi mirip tengah bertempur saja. Makin lama makin bersemangat dan batu yang tercukit oleh kakinya juga tambah banyak. Sampai akhirnya, tak peduli batu-batu menghambur dari arah mana tentu dapat ditolaknya terpental atau dihindarkannya dengan sangat mudah. Sekonyong-konyong terdengar suara "krak" , sebatang ranting kayu yang juga mencelat ke udara telah patah terbentur batu, lalu jatuh ke bawah berbareng dengan batu itu. Secepat kilat tangan kiri Boh-thian menyambar tangkai kayu itu, menyusul terus menyabet ke samping sehingga tepat batu itu kena disampuk dan mencelat jauh-jauh. Untuk sejenak Boh-thian melengak sendiri, katanya di dalam hati.

"Bukankah gerakan ini adalah jurus serangan yang dimainkan dengan tangan kiri oleh Pek-suhu tadi?"

Segera ia pegang lagi goloknya, dengan tangan kiri tetap memegang tangkai kayu. Ia mainkan jurus "Tiang-cia-ciat-ki"

Dari Kim-oh-to-hoat. Jurus-jurus serangan golok dan pedang itu mestinya saling bertentangan, tapi sekaligus dimainkan bersama ternyata menimbulkan daya serangan yang mahadahsyat.

"Cret" , sebatang pohon siong sebesar lengan telah terkutung oleh goloknya, sebaliknya tangkai kayu di tangan kiri juga kena sabet di batang pohon sehingga kulitnya pohon itu terbeset sebagian. Saking asyiknya Ciok Boh-thian memainkan sebatang golok karatan dan sebatang ranting kayu, makin lama makin cepat, ia tidak ambil pusing apakah permainannya yang aneh itu tepat atau tidak, yang terang di atas pulau situ toh tiada manusia lain lagi, maka ia tidak perlu khawatir ditertawai orang. Begitulah, secara tidak sengaja Ciok Boh-thian alias Su Ek-to telah meyakinkan lwekang yang paling tinggi, kemudian digembleng oleh beberapa tokoh terkemuka, sekali otaknya menjadi encer, tiba-tiba dia dapat menciptakan sejenis ilmu silat gabungan pedang dan golok. Ilmu silatnya ini mencakup Swat-san-kiam-hoat dan Kim-ohto-hoat, pula meliputi ilmu silat ajaran Cia Yan-khek, Ting Putsi, si Ting Tong, dan Bin Ju. Hanya saja jurus serangannya tiada tertentu, walaupun mempunyai daya tekanan yang dahsyat, tapi lubang kelemahannya juga tidak sedikit. Boh-thian sendiri tiada bermaksud menciptakan ilmu silat, sudah tentu tak pernah terpikir olehnya untuk memberi nama jurus-jurus ilmu silatnya itu. Apalagi dia buta huruf, disuruh membeli nama juga dia tidak mampu. Begitulah makin latih makin tambah lwekangnya sehingga sedikit pun tidak merasa lelah sampai akhirnya perutnya berkeruyukan saking laparnya barulah ia berhenti. Waktu ia cari kelinci tadi ternyata sudah hancur terinjak-injak olehnya sendiri, terpaksa ia mencari ke semak pula untuk menangsel perut. Ia coba kembali ke gua itu dengan harapan Su-popo dan A Siu sudah pulang, tapi keadaan di situ ternyata sunyi senyap. Dalam pada itu malam pun sudah tiba, terpaksa Boh-thian tidur di dalam gua. Sampai tengah malam, mendadak terdengar suara menderak yang keras dari arah pantai. Karena lwekangnya sekarang sudah sangat tinggi, dengan sendirinya indra pendengarannya juga sangat tajam. Segera ia melompat bangun dan berlari ke tepi sungai. Di bawah sinar bintang yang remang-remang tertampak sebuah kapal berlabuh di sana dan tiada hentinya bergoyang-goyang. Boh-thian terkejut dan bergirang, ia khawatir kalau-kalau kapal itu adalah milik Ting Put-sam atau Ting Put-si, maka ia tidak berani mendekatinya. Ia coba sembunyi di belakang pohon untuk mengintai. Tiba-tiba terdengar suara menderak yang keras pula, sekali ini dapat dilihatnya dengan jelas, yaitu layar yang terlepas di tiang kapal itu tadinya berlipatan menjadi satu, ketika tertiup angin kencang, layar itu lantas terpentang dan mengeluarkan suara kebasan keras. Kapal itu tergoyang-goyang dan tampaknya hendak terhanyut pula meninggalkan pulau, cepat Boh-thian berlari mendekati sambil berteriak.

"Adakah orang yang berada di atas kapal?"

Tapi ia tidak mendapat jawaban orang.

Sekali lompat segera ia melayang ke atas kapal.

Ia coba melongok ke dalam ruangan kapal, keadaan di dalam gelap gulita dan tiada kelihatan apaapa.

Dalam pada itu kapal itu mulai terombang-ambing, nyata telah meluncur perlahan ke tengah terbawa oleh arus.

"Apakah ... apakah Ting-samyaya yang berada di dalam?"

Boh-thian berteriak pula.

Namun tetap tiada jawaban seorang pun.

Tanpa pikir ia berjalan ke dalam ruangan, mendadak kakinya kesandung badan orang merebah melintang di lantai kapal.

Cepat Boh-thian berkata.

"Maaf!"

Segera ia bermaksud membangunkan orang itu.

Tak terduga di mana tangannya menyentuh kiranya adalah serangka mayat yang sudah kaku dan dingin.

Keruan Boh-thian menjerit kaget.

Waktu tangan kirinya meraba ke belakang, kembali tersentuh lengan seorang, keadaannya juga sudah kaku dingin, terang sudah mati sekian lamanya.

Dengan menggagap-gagap ia terus menyusur ke belakang kapal, ternyata di mana-mana hanya mayat belaka, kakinya menginjak mayat, di mana tangannya menjulur juga selalu menyentuh mayat.

Di ruangan belakang juga penuh dengan mayat, banyak yang bergelimpangan di lantai, ada pula yang duduk di atas kursi.

"Adakah orang di sini?"

Kembali Boh-thian berteriak khawatir.

Saking ngerinya sampai ia merasa suaranya sendiri pun sudah berubah.

Setiba di buritan kapal, di bawah sinar bintang yang remangremang kelihatan pula di atas geladak situ pun bergelimpangan belasan orang.

Semuanya sudah kaku, terang juga mayat.

Bab 25.

Rasul Pengganjar dan Rasul Penghukum Sementara itu angin meniup dengan kencangnya sehingga menimbulkan suara menderu-deru, beberapa layar kapal yang sudah robek pun ikut berkibar-kibar dan menerbitkan suara memberebet yang keras dan menyeramkan.

Walaupun Ciok Boh-thian alias Su Ek-to sudah biasa hidup sendirian dan berhati tabah, tapi di tengah malam gelap, di atas kapal yang penuh mayat belaka, betapa pun ia merasa merinding juga, apalagi kalau terkenang kepada "mayat hidup"

Yang pernah mengudaknya di Hau-kam-cip dahulu itu.

Saking ngerinya segera Boh-thian bermaksud meninggalkan kapal itu.

Tapi baru saja ia naik kembali ke atas geladak kapal, maka mengeluhlah dia.

Kiranya kapal itu sudah jauh meninggalkan tepian dan sedang terhanyut oleh arus yang deras.

Mula-mula kapal itu terhanyut ke pulau Ci-yan-to, sesudah berputar dan oleng beberapa kali, kemudian terhanyut pula ke hilir.

Semalam suntuk Boh-thian tidak berani tidur di dalam kapal, ia melompat ke atas atap kapal, sambil bersandar pada tiang layar ia menantikan datangnya fajar.

Besok paginya sesudah sang surya muncul dan seluruh jagat raya menjadi terang benderang, barulah rasa seram Boh-thian mulai hilang.

Ia coba memeriksa kembali keadaan kapal itu, ia lihat di luar dan dalam kapal itu sedikitnya ada 50-60 mayat yang bergelimpangan dan mengerikan.

Anehnya di atas mayatmayat itu tiada bekas-bekas darah, juga tiada tanda-tanda terluka oleh senjata tajam sehingga tidak diketahui apa yang menyebabkan kematiannya.

Ketika Boh-thian memutar ke haluan kapal, tiba-tiba dilihatnya tepat di atas pintu ruangan kapal terpaku dua buah pening dari tembaga putih sebesar gobang.

Sebuah pening melukiskan muka seorang yang sedang tertawa ramah, sebuah lagi melukiskan muka yang bengis dan jahat.

Untuk sejenak Boh-thian memandangi kedua bentuk pening tembaga itu, ia merasa muka yang terlukis di atas pening itu seakan-akan hidup saja, ia tidak berani memandang lebih lama lagi dan cepat-cepat berpaling.

Ketika ia memandang pula kepada mayat-mayat yang bergelimpangan itu, ia melihat hampir semuanya membawa senjata, terang korban-korban itu adalah orang-orang persilatan semua.

Waktu diperiksa lebih teliti, terlihatlah pada baju setiap korban itu masing-masing tersulam seekor ikan kecil bersayap dan berwarna putih.

Boh-thian tambah heran, ia menduga korbankorban di atas kapal itu tentu adalah orang-orang sekomplotan, cuma tidak diketahui mengapa bisa ketemukan musuh tangguh dan semuanya terbinasa.

Begitulah kapal tanpa juru mudi itu masih terus terhanyut ke hilir.

Menjelang tengah hari, sampailah pada suatu pengkolan sungai, tiba-tiba dari depan sedang meluncur tiba dua buah kapal dengan menempuh arus.

Melihat ada kapal yang meluncur dari hulu sungai dalam keadaan oleng, juru mudi kapal dari muara sungai itu menjadi khawatir dan berteriak-teriak.

"Hai! Awas! Banting kemudi!"

Akan tetapi kapal tanpa pengemudi itu makin mengoleng, kebetulan di tengah sungai situ ada pusaran air sehingga kapal itu malah menerjang ke depan dengan melintang.

Maka terdengarlah suara gemuruh yang keras, tanpa ampun lagi kedua buah kapal dari muara sungai itu telah tertumbuk.

Terdengarlah suara orang yang panik diseling suara caci maki yang kotor.

Boh-thian menjadi kaget dan khawatir.

Pikirnya.

"Wah, kapal mereka telah tertumbuk rusak, tentu mereka akan mencari ke atas kapal ini dan meminta pertanggungjawabanku. Kalau diusut lebih jauh, tentu mereka akan mengira aku yang telah membunuh orang-orang di atas kapal ini. Wah, tentu aku bisa celaka. Lantas apa yang harus kulakukan sekarang?"

Dalam gugupnya tiba-tiba timbul akalnya, cepat ia menyusup ke dalam ruangan kapal, ia membuka papan lubang dan sembunyi ke dalam dek di bagian bawah kapal.

Sementara itu tiga buah kapal sudah oleng bersama dan bergumul menjadi satu.

Selang tak lama lantas terdengar ada suara orang melompat ke atas kapal ini, menyusul ramailah suara teriak kaget orang banyak.

Ada yang berseru.

"He, inilah orang-orang Hui-hi-pang (gerombolan ikan terbang)! Meng... mengapa sudah mati semua!"

Lalu ada yang menanggapi.

"Ya, bahkan pangcu... pangcu mereka Seng Tay-yang juga mati di sini!"

Sejenak kemudian mendadak ada orang berteriak di haluan kapal.

"He, med... medali pengganjar dan... dan medali penghukum!"

Dari suaranya yang gemetar terang sekali orang ini sangat ketakutan.

Karena teriakan itu, seketika suara ribut-ribut tadi lantas berhenti, keadaan berubah menjadi sunyi senyap.

Walaupun sembunyi di bawah kapal dan tidak dapat melihat air muka orang-orang itu, tapi dapatlah Boh-thian membayangkan betapa kaget dan takutnya mereka.

Sampai agak lama barulah terdengar seorang membuka suara.

"Tahun ini memang jatuh tempo keluarnya Siang-sian-leng dan Hwat-ok-leng (Medali Pengganjar dan Medali Penghukum), maka besar kemungkinan kedua rasul pengganjar dan penghukum kembali telah bertugas keluar lagi. Ai, memangnya orang-orang Hui-hi-pang ini di masa lampau sudah terlalu banyak melakukan kejahatan...."

Sampai di sini ia lantas menghela napas panjang dan tidak meneruskan.

"Oh-toako,"

Demikian terdengar seorang bertanya.

"konon menurut cerita orang, katanya Siang-sian-leng dan Hwat-okleng ini adalah tanda panggilan kepada seseorang ke... ke sesuatu tempat, setiba di sana barulah diambil tindakan, jadi hukuman tidak dilakukan di tempat si orang yang dipanggil."

"Ya, bilamana yang dipanggil itu mau tunduk kepada panggilannya,"

Sahut orang yang duluan tadi.

"Tampaknya Seng Tay-yang dari Hui-hi-pang ini tidak mau menurut perintah dan melakukan perlawanan, maka kedua rasul sakti itu menjadi gusar."

Sesudah pembicaraan orang itu, lalu semua orang terdiam lagi. Tiba-tiba Boh-thian sendiri teringat.

"Mayat-mayat yang bergelimpangan di kapal ini katanya adalah orang-orang Huihi-pang segala dan ada juga seorang pangcu. Wah, celaka, bukan mustahil kedua rasul yang disebut pengganjar dan penghukum itu juga akan mendatangi Tiang-lok-pang kami?"

Berpikir demikian, mau tak mau ia menjadi gelisah, ia merasa perlu lekas pulang ke tempat Tiang-lok-pang untuk memberitahukan kepada kawan-kawannya di sana agar bisa siap siaga sebelumnya.

Maklum, walaupun dia keliru disangka sebagai Ciok-pangcu dari Tiang-lok-pang sehingga banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan baginya, bahkan beberapa kali jiwanya terancam bahaya, namun setiap orang di Tianglok-pang adalah sedemikian baik dan menghormat padanya, meskipun pernah terjadi seorang Tian Hui yang bermaksud membunuhnya, tapi hal ini pun terjadi karena salah paham, sebab itulah Boh-thian sangat menaruh perhatian terhadap keselamatan orang-orang Tiang-lok-pang.

Segera ia pasang telinga dan mendengarkan lebih jauh apa yang dipercakapkan orang-orang di atas kapal itu.

Terdengar seorang di antaranya telah berkata pula.

"Oh-toako, menurut pendapatmu, urusan ini akan merembet sampai kepada kita atau tidak? Kedua rasul itu apakah juga akan mendatangi Tiat-cha-hwe (perkumpulan tombak besi) kita?"

Maka orang yang dipanggil sebagai Oh-toako itu telah menjawab.

"Jikalau kedua rasul pengganjar dan penghukum sudah muncul lagi, maka setiap organisasi atau perkumpulan di dunia Kangouw tentu susah bebas dari penilikan mereka. Tentang Tiat-cha-hwe kita apakah dapat terhindar dari malapetaka ini kukira semuanya tergantunglah kepada nasib kita."

Dan sesudah merenung sejenak, lalu ia berkata pula.

"Baik begini saja, diam-diam boleh kau perintahkan orang agar segera pulang lapor kepada Congthocu (ketua) kita. Adapun para saudara yang berada di atas kedua kapal kita itu, boleh suruh mereka berkumpul ke atas kapal ini. Semua benda di atas kapal ini janganlah dipegang, kita membawa kapal ini ke kampung nelayan di luar muara Ang-liu-kang sana. Karena kedua rasul pengganjar dan penghukum sudah menumpas habis para tokoh-tokoh Hui-hi-pang, rasanya mereka takkan datang lagi untuk kedua kalinya."

"Betul, betul, bagus sekali akal ini!"

Seru orang pertama tadi.

"Jika kedua Sucia (rasul) melihat kapal ini pula, tentu mereka akan mengira kapal ini hanya berisi mayat-mayat orang Hui-hipang belaka dan tidak mungkin memeriksa ke sini lagi. Biarlah sekarang juga aku akan meneruskan perintahmu."

Tidak lama kemudian, terdengarlah orang banyak beramairamai berkumpul ke atas kapal ini.

Di tempat sembunyinya Boh-thian dapat mendengar percakapan ramai yang dilakukan orang-orang itu dengan suara perlahan dan ketakutan seakanakan sedang menghadapi elmaut.

Terdengar seorang di antaranya berkata.

"Tiat-cha-hwe kita toh tiada bersalah kepada mereka, rasanya kedua rasul pengganjar dan penghukum takkan membikin susah kepada kita."

Lalu seorang kawannya menanggapi.

"Memangnya kau kira orang-orang Hui-hi-pang berani menyalahi mereka? Tapi toh tidak terhindar dari malapetaka. Ai, kukira bencana yang selalu terjadi satu kali setiap sepuluh tahun ini mungkin... mungkin kali ini kita... kita juga...."

Tiba-tiba seorang lagi menyela.

"Lau Li, apabila Congthocu kita memenuhi panggilan dan pergi ke sana, lalu bagaimana?"

"Lalu bagaimana? Sudah tentu bisa pergi tak bisa pulang!"

Sahut orang she Li itu dengan mendengus.

"Menurut kejadian kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, setiap orang, apakah dia pangcu, congthocu, atau ciangbunjin dari golongan mana, asal sudah pergi memenuhi panggilan itu, belum pernah ada seorang pun yang pulang kembali. Sudahlah, selama ini Congthocu sangat berbudi kepada kita, pendek kata kalau terjadi apa-apa atas diri beliau, masakah kita mesti bersikap pengecut dan membiarkan beliau menghadapi bahaya sendiri?"

"Benar juga. Tapi jalan paling baik adalah menghindari saja,"

Ujar seorang lagi.

"Untung kita dapat mengetahui sebelumnya secara kebetulan, tampaknya Thian memang memberkati agar Tiat-cha-hwe kita terbebas dari bencana ini. Perkampungan nelayan kecil di muara Ang-liu-kang itu sangatlah terpencil dan merupakan suatu tempat sembunyi yang bagus, biarpun kedua Sucia pengganjar dan penghukum serbalihai juga susah untuk menemukan kita."

"Sudah lama Congthocu mengusahakan perkampungan nelayan ini, tujuannya tiada lain justru akan digunakan seperti sekarang ini,"

Kata orang yang dipanggil Oh-toako tadi.

"Selama delapan tahun nelayan yang berdiam di perkampungan itu boleh dikata tidak pernah keluar dari perkampungan itu, jadi tempat itu memangnya adalah sebuah tempat pengungsian yang baik."

Kemudian seorang lagi yang bersuara lantang kasar telah berkata.

"Tiat-cha-hwe kita selama ini malang melintang di lembah Tiangkang sini, kita tidak takut kepada langit dan tidak gentar pada bumi, bahkan kepada si tua bangka raja juga kita tidak mau tunduk, mengapa sekarang hanya mendengar nama rasul-rasul kentut apa segala lantas ketakutan setengah mati dan lari mencawat ekor terus mengkeret dan sembunyi seperti kura-kura saja. Seumpama kita dapat sembunyi dengan baik, tapi kelak kalau ada orang menanyakan kejadian ini, lalu muka kita harus ditaruh ke mana? Maka ada lebih baik kita melawannya mati-matian, persetan, toh jiwa kita belum pasti akan melayang!"

"Benar juga,"

Ujar Oh-toako tadi.

"Orang yang makan nasi Kangouw sebagai kita ini memangnya tidak perlu pikir tentang jiwa melayang segala, pekerjaan kita senantiasa bergulat dengan elmaut, apa yang mesti kita takuti. Namun menghadapi Siang-sian dan Hwat-ok Sucia kita tidak boleh tidak berpikir dua kali, jangankan kita, sedangkan tokoh-tokoh terkemuka sebagai...."

Sampai di sini, mendadak orang yang bersuara lantang kasar tadi berteriak.

"Huh, dasar pengecut, bilakah kau pernah melihat aku Ong-laulak, Si Bulus Berkepala Botak, minta ampun dan takut kepada orang lain? Huh... aduuuh!"

Belum selesai ucapannya, mendadak ia menjerit ngeri.

Habis itu keadaan lantas sunyi senyap dan tiada seorang pun yang berani membuka suara lagi.

Sejenak kemudian, tiba-tiba Boh-thian merasa ada air yang menetes di atas tangannya, waktu ia mengendus barang cair itu, terciumlah bau anyirnya darah.

Malahan darah itu masih terus menetes dari atas.

Karena tahu orang-orang yang berada di atas geladak kapal itu tepat berada di atas kepalanya, maka Boh-thian tidak berani bergerak sedikit pun agar tidak menjangkitkan sesuatu suara dan terpaksa membiarkan darah menetes terus di atas badannya.

Dalam pada itu terdengar pula si Oh-toako tadi sedang berteriak dengan bengis.

"Apa kau menyalahkan aku karena Ong-laulak telah kubunuh?"

"Ah, tidak, tidak!"

Demikian sahut seorang dengan suara agak gemetar.

"Ucapan Ong-laulak tadi memang... memang terlalu kasar sehingga tidaklah heran membikin marah kepada Ohtoako. Cuma... cuma saja Ong-laulak selamanya juga... juga sangat setia dan telah banyak berjasa bagi Tiat-cha-hwe kita."

"Jadi kau tidak setuju atas tindakanku barusan ini?"

Tanya si Oh-toako.

"Bu... bukan...."

Belum sempat orang itu bicara pula, kembali terdengarlah jeritan ngeri, terang ia sudah dibunuh pula oleh orang she Oh itu.

Maka air darah kembali menetes lagi ke bawah melalui celahcelah papan kapal, untung sekali kini air darah itu tidak mengotori badan Ciok Boh-thian, tapi menetes semua di lantai.

Berturut-turut Oh-toako itu telah membunuh dua orang, keruan yang lain-lain tidak berani banyak cincong lagi.

Maka Oh-toako itu telah berkata.

"Bukanlah aku sengaja berbuat ganas dan kejam dan tidak mengingat hubungan baik sesama saudara, tapi soalnya menyangkut jiwa beribu-ribu anggota kita, bila tempat kita ini sampai diketahui musuh, maka nasib kita pasti akan serupa dengan kawan-kawan dari Hui-hi-pang ini. Ong-laulak menganggap dirinya jagoan dan berteriakteriak, padahal jiwanya tidaklah menjadi soal, masakah jiwa Congthocu dan kita semua harus ikut melayang bersama dia?"

Terdengar semua orang mengiakan saja dan tidak berani bicara pula. Maka Oh-toako itu berkata lagi.

"Nah, siapa-siapa yang tidak ingin mampus supaya berdiam saja di dalam kapal ini. Siau Song, pergilah kau memegang kemudi, pakailah sepotong kain layar untuk menutupi tubuhmu agar jangan sampai dilihat orang."

Begitulah Boh-thian yang mendekam di bawah kapal itu lantas mendengar mendeburnya air, kapal itu terasa bergerak.

Mungkin orang-orang di atas kapal itu semuanya sedang merenungkan nasibnya sendiri-sendiri, maka tiada seorang pun yang berbicara.

Dengan demikian Boh-thian sendiri lebih-lebih tidak berani bergerak dan menerbitkan sesuatu suara.

Teringat olehnya tipu-tipu silat yang dimainkannya di tepi pantai kemarin itu, dengan pedang di tangan kiri dan golok di tangan kanan, ditambah lagi jurus-jurus pukulan dan tendangan ajaran Ting Put-si.

serta Kim-na-jiu-hoat ajaran si Ting Tong, semua kepandaian itu sejurus demi sejurus terlintas pula dalam ingatannya, sehingga tanpa merasa seluruh tenaga dalam yang terpupuk di dalam tubuhnya, telah dicurahkan semua ke dalam jurus-jurus ilmu silat ciptaannya itu.

Terkadang kalau ia merasa salah satu jurus di antaranya masih kurang sempurna, segera ia memikirkannya pula dari semula.

Begitulah ia tenggelam di dalam lamunannya untuk menyelami ilmu silatnya.

Semula ia masih sempat mengikuti juga gerakgerik orang-orang Tiat-cha-hwe yang berada di atas kapal itu, tapi sampai akhirnya, perhatiannya telah tercurah seluruhnya kepada ilmu silat melulu.

Sesudah mengalami penyelaman secara mendalam ini, baru sekarang lwekang dan gwakang yang telah dihimpunnya selama bertahun-tahun ini dapatlah dilebur dan dipahami dengan baik.

Maka si "Kau-cap-ceng"

Yang tadinya cuma seorang pemuda gunung yang ketololtololan telah tumbuh juga menjadi seorang jago silat kelas wahid hasil ciptaannya sendiri.

Beberapa jam kemudian, teringat pula olehnya pertandingan ilmu pedang antara Ciok Jing suami-istri melawan, Pek Bankiam, serta macam-macam ilmu silat ketika terjadi pertarungan antara Ting Put-sam dan Ting Put-si mengeroyok Pek Ban-kiam di Ci-yan-to tempo hari, di mana dahulu ia merasa susah memahami letak kebagusan ilmu-ilmu silat itu.

Tapi sekarang sesudah direnung kembali, ia merasa setiap tipu dan setiap jurus yang dimainkan mereka itu toh semuanya jelas dan gamblang baginya.

Selagi Boh-thian termenung-menung, tiba-tiba terdengar suara gemerencingnya rantai, kiranya kapal itu sudah membuang sauh dan telah berlabuh.

Segera terdengar pula si Oh-toako sedang berkata.

"Sesudah masuk rumah, semua orang dilarang keluar lagi. Dengan tenang tunggulah kedatangan Congthocu dan terserah kepada perintah beliau nanti."

Dengan suara perlahan semua orang telah mengiakan, lalu dengan hati-hati mereka mendarat semua.

Hanya dalam sekejap saja semua orang sudah meninggalkan kapal itu, keadaan menjadi sunyi kembali.

Sesudah menunggu agak lama, Boh-thian menduga orangorang itu tentu sudah masuk rumah semua, maka perlahanlahan barulah ia berani membuka papan lubang dan melongok ke atas.

Segera matanya menjadi silau oleh cahaya yang terang benderang.

Kiranya waktu itu sudah siang hari.

Melihat sekelilingnya tiada orang lagi barulah Boh-thian menerobos keluar dari bawah dek.

Ia lihat di atas geladak kapal masih penuh dengan mayat-mayat kemarin itu.

Segera ia menjemput sebatang golok dan diselipkan pada ikat pinggangnya.

Ia menggerayangi pula mayat-mayat itu dan menemukan beberapa renceng uang perak guna sangu.

Lalu ia menuju ke buritan kapal, dari situ ia melompat ke daratan.

Sambil membungkuk ia terus berlari-lari kecil menyusur tepi sungai.

Kira-kira satu li jauhnya barulah ia sampai di suatu jalanan kecil yang menghubungkan tepi sungai itu.

Ia pikir saat itu belum terlepas dari daerah berbahaya, rasanya makin jauh meninggalkan tempat itu akan makin baik, maka ia lantas angkat kaki dan berlari-lari secepatnya.

Untunglah perkampungan nelayan itu memang sangat sepi dan terpencil, belasan li di sekitar situ ternyata tiada sebuah rumah pun, selama itu tiada seorang pun yang dijumpai.

Ia tidak tahu bahwa di sekitar perkampungan nelayan itu, sebenarnya ada juga beberapa petani, tapi petani-petani itu diam-diam telah binasa diracun orang-orang Tiat-cha-hwe, ada juga penduduk pindahan baru dari lain tempat, tapi tidak lama kemudian meninggalkan tempat itu.

Orang-orang yang berdekatan dengan perkampungan nelayan Ang-liu-kang (muara pohon Liu merah) itu menganggapnya sebagai tempat maut yang selalu berjangkit penyakit menular.

Maka selama beberapa tahun ini tiada seorang pun yang berani mendekatinya, dan dengan demikian Ang-liu-kang dapatlah menjadi sarang Tiat-cha-hwe yang sangat baik dan rahasia.

Setelah berlari beberapa li lagi, jarak dengan kampung nelayan itu sudah semakin jauh.

Boh-thian benar-benar sudah sangat lapar.

Segera ia memasuki hutan yang berada di sebelah jalan dengan tujuan mencari sesuatu makanan.

Eh, benar-benar sangat kebetulan, belum jauh ia berjalan, sekonyong-konyong terdengar suara gemeresak, dari tengah-tengah semak-semak telah menerjang keluar seekor babi hutan yang besar, dengan kedua taringnya yang kelihatan putih tajam, binatang itu terus menyeruduk ke arah Ciok Boh-thian.

Tapi dengan sebat sekali Boh-thian dapat mengegos ke samping, berbareng tangan kanan sudah mencabut golok, dengan jurus "Tiang-cia-ciat-ki" (Si Kakek Menebas Tangkai) dari Kim-oh-to-hoat, secepat kilat ia menebas.

"Sret" , tanpa ampun lagi buah kepala babi hutan itu sudah terpenggal. Babi hutan itu ternyata sangat buas dan tangkas, meski kepalanya sudah terpenggal toh tubuhnya masih menerjang ke depan sampai beberapa meter jauhnya, habis itu barulah roboh. Sungguh girang Boh-thian tak terkatakan. Ini benar-benar pucuk dicinta ulam tiba, memangnya ia sedang kelaparan dan ingin mencari makanan, tahu-tahu babi hutan itu telah mengantarkan nyawa sendiri untuk menjadi babi panggang baginya. Segera Boh-thian mencari sepotong batu hitam, ia gunakan punggung golok untuk mengetok batu itu sehingga meletikkan lelatu untuk membuat api unggun. Ia pilih bagian-bagian yang baik dan potong keempat paha babi hutan itu. Ia mencucinya ke tepi sungai kecil yang tiada jauh dari situ. Ketika kembali goloknya yang dia bakar di dalam api unggun itu pun sudah merah, dengan golok panas itulah ia bersihkan bulu-bulu di atas paha babi hutan. Lalu keempat paha itu dia tusuk dengan sebatang kayu dan terus dipanggang. Tidak lama kemudian, maka teruarlah bau harum sedap yang merangsang selera. Tengah Boh-thian sibuk memanggang paha babi hutan, tibatiba terdengar di tempat sejauh beberapa puluh meter sana ada orang berkata.

"Wah, alangkah sedapnya bau ini, benarbenar membangunkan nafsu makan setiap orang!"

"Agaknya di sebelah sana ada orang sedang memanggang daging, marilah kita coba pergi ke sana dan berunding padanya untuk minta bagian sedikit,"

Demikian seorang lagi menanggapi.

"Ya, benar! Hayo!"

Sahut orang yang pertama.

Lalu terdengar suara langkah mereka yang menuju ke tempat Ciok Boh-thian.

Maka tertampaklah seorang di antaranya bertubuh tinggi gemuk, bermuka lebar dan bertelinga besar, memakai jubah warna kuning kehijau-hijauan, wajahnya tersenyum simpul dan ramah tamah.

Seorang lagi juga bertubuh sangat tinggi, tapi kurus kering, berbaju panjang warna biru langit, berjenggot kecil sebagai buntut tikus, wajahnya kelihatan guram dan bersungut.

Sesudah dekat, segera si gemuk menyapa dengan tertawa.

"Haha, Saudara cilik, bolehkah...."

Karena sudah mendengar percakapan mereka tadi, segera Boh-thian menukas.

"Ya, di sini masih banyak kelebihan daging panggang, biarpun sepuluh orang juga takkan habis, sebentar boleh silakan kalian ikut pesta saja."

"Jika demikian, banyaklah terima kasih,"

Ujar si gemuk.

Kedua orang itu lantas berduduk di samping api unggun.

Mereka melihat pakaian Ciok Boh-thian cukup perlente, tapi kotor dan kusut, bahkan penuh bekas darah.

Kedua orang itu saling tukar pandang dengan perasaan heran.

Tapi mereka lantas memusatkan perhatian mereka kepada paha babi hutan yang sedang dipanggang itu dan tidak ambil pusing lagi kepada keadaan Ciok Boh-thian itu.

Babi hutan itu ternyata cukup gemuk sehingga sesudah terpanggang minyaknya telah menetes ke dalam api unggun dan menimbulkan bau sedap, walaupun belum dimakan, namun sudah merangsang selera.

Keruan si kurus hampir-hampir mengiler.

Dari pinggangnya ia menanggalkan sebuah houlo (buli-buli arak terbuat dari sejenis labu) berwarna biru, ia membuka sumbat buli-buli itu terus menenggak seceguk, lalu mulutnya berkecap-kecap sambil memuji.

"Ehmmm, arak bagus!"

Si gemuk juga lantas menanggalkan sebuah houlo warna merah, lebih dulu ia mengocaknya berapa kali, lalu membuka sumbat dan menenggaknya juga satu ceguk, kemudian ia pun berkata.

"Ehmmm, arak bagus!"

Selama ikut Cia Yan-khek dahulu, sering juga Ciok Boh-thian melihat dan mencicipi arak.

Sekarang terendus bau arak, seketika timbul juga keinginannya ikut minum.

Cuma ia menjadi ragu-ragu ketika melihat kedua orang itu masingmasing meminum araknya sendiri-sendiri dan tiada maksud mengundangnya ikut minum, maka ia pun merasa tidak pantas untuk memohon kepada mereka.

Selang tak lama, keempat paha babi panggang itu sudah cukup matang, segera Boh-thian berkata.

"Sudah matang sekarang, silakan makan!"

Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, segera si gemuk dan si kurus menyerbu babi panggang itu, masing-masing menyambar sepotong paha gemuk besar itu terus akan digerogoti dengan lahapnya kalau Ciok Boh-thian tidak keburu menyetop mereka.

"Meski kedua belah paha itu gemuk dan besar, tapi itu adalah paha bagian belakang, rasanya tidak seenak paha bagian depan."

Apa yang dikatakan Boh-thian itu memang benar. Kalau memilih paha (kaki) babi, maka kaki bagian depan adalah lebih lezat daripada kaki belakang. Maka si gemuk telah menjawab dengan tertawa.

"Hatimu ternyata sangat baik!"

Segera ia menukarkan sebelah kaki depan yang lebih kecil dan lebih lezat rasanya, lalu digerogoti dengan lahapnya.

Si kurus sudah telanjur menggerogoti paha panggang bagian depan itu, ia hanya ragu-ragu sejenak, tapi tidak jadi menukarkannya.

Begitulah sesudah kedua orang itu memakan sebagian paha panggang itu, lalu masing-masing minum seceguk lagi araknya masing-masing sambil memuji.

"Ehmmm, arak bagus!"

Kemudian buli-buli arak disumbat kembali dan digantungkan lagi ke pinggang masing-masing. Diam-diam Boh-thian membatin.

"Tampaknya kedua orang ini toh bukan orang miskin, mengapa mereka begini kikir, hanya minum dua ceguk saja lantas tidak berani minum lebih banyak lagi, memangnya apakah arak mereka sedemikian bagus dan mahalnya?"

Sejenak kemudian, dengan memberanikan diri Boh-thian coba memohon kepada si gemuk.

"Toaya (tuan), apakah boleh aku minta arakmu barang beberapa cegukan saja?"

Namun si gemuk telah menggoyang kepala dan menjawab.

"Tidak, tidak boleh! Ini bukan arak, tidak boleh diminum orang lain. Kami telah makan babi panggangmu, sebentar kami tentu akan memberi balas jasa yang pantas."

"Hehe, kau berdusta,"

Ujar Boh-thian dengan tertawa.

"Baru saja kau sendiri mengatakan ‘arak bagus’, pula aku pun mencium harumnya arak."

Lalu ia berpaling kepada si kurus dan memohon.

"Biarlah arak kepunyaan Toaya ini saja, bolehkah aku meminumnya beberapa ceguk?"

Namun si kurus telah menjawabnya dengan mata mendelik.

"Ini adalah racun, jika kau berani boleh silakan minum."

Habis berkata ia lantas menanggalkan pula buli-bulinya dan ditaruh di atas tanah.

"Jika racun, mengapa kau sendiri tidak keracunan?"

Ujar Bohthian dengan tertawa sambil mengambil buli-buli arak itu, ketika ia membuka sumbatnya, segera terendus bau arak yang menusuk hidung.

Melihat Boh-thian benar-benar akan minum arak kawannya, air muka si gemuk agak berubah, cepat ia berkata.

"Memangnya begitu, siapa yang berdusta padamu? Hayo, lekas taruh kembali!"

Berbareng tangannya lantas menjulur dengan maksud merebut kembali houlo yang telah dipegang Boh-thian itu.

Tak terduga, baru saja jarinya menyentuh tangan Ciok Bohthian, seketika si gemuk merasa tergetar oleh suatu tenaga yang mahakuat sehingga jarinya terpental balik.

Si gemuk bersuara kaget dan berkata.

"Eh, beginilah kiranya! Jadi kami sendiri yang salah mata, ya, silakan minum arak itu!"

Tanpa sungkan-sungkan lagi Boh-thian lantas angkat houlo itu dan meneguknya dua kali, ia pikir si kurus sangat kikir dan sayang sekali kepada araknya, maka ia tidak berani minum terlalu banyak, sesudah ia tutup kembali buli-buli itu, lalu mengucapkan terima kasih.

Tiba-tiba ia merasa suatu arus hawa dingin menaik dari perutnya.

Hawa dingin itu terus mengalir menaik sehingga dalam sekejap saja sekujur badannya seakan-akan terbeku kaku.

Cepat Boh-thian mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, dengan demikian arus dingin itu lambat laun dapat dipunahkan.

Dan sesudah hilang rasa dingin itu, seketika seluruh anggota badannya terasa sangat segar sekali, bukan saja tidak merasa dingin, sebaliknya malah merasa hangathangat dan enak sekali.

"Ehmmm, arak bagus!"

Demikian tanpa terasa Boh-thian juga memuji dan tanpa kuasa ia sambar houlo arak tadi, ia cabut sumpalnya dan kembali meneguk dua kali.

Ketika tenaga dalamnya dapat memunahkan pula hawa dingin yang timbul dari arak itu, maka ia pun mulai merasakan pengaruhnya alkohol itu.

Katanya dengan gegetun.

"Ah, benarbenar arak bagus yang belum pernah kuminum. Sayang arak ini terlalulah berharga, kalau tidak tentu akan kuhabiskan seluruhnya."

Air muka si gemuk dan si kurus tampak terheran-heran. Kata si gemuk.

"Jika adik cilik benar-benar tahan minum, maka bolehlah silakan minum habis seisi houlo itu."

"Apa benar? Kukira Toaya ini takkan mengizinkan,"

Ujar Bohthian dengan girang.

"Isi houlo merah tuan gemuk ini rasanya terlebih enak lagi, apakah kau mau mencobanya?"

Tiba-tiba si kurus menanggapi dengan nada dingin. Boh-thian tidak bersuara lagi, ia hanya pandang si gemuk dengan maksud memohon. Tiba-tiba si gemuk menghela napas, katanya.

"Semuda ini telah memiliki lwekang sedemikian tinggi, tapi jiwa akan melayang secara begini, sungguh sayang!"

Sambil berkata ia terus menanggalkan houlo merah dari pinggangnya dan ditaruh di atas tanah. Diam-diam Boh-thian berpikir.

"Kedua orang ini rupanya suka berkelakar semua. Bilamana arak mereka ini benar-benar beracun, mengapa mereka sendiri telah meminumnya juga?"

Segera ia pun angkat houlo merah itu, ketika sumpalnya dicabut, bau arak lantas menusuk hidung pula.

Tanpa pikir lagi ia lantas meneguk dua kali.

Sekali ini rasanya tidak dingin seperti arak si kurus, sebaliknya rasanya sangat panas sehingga perut seperti terbakar.

Boh-thian sampai menjerit kaget dan meloncat bangun, cepat ia mengerahkan tenaga dalam sehingga rasa panas sebagai api itu dapatlah dipunahkan.

Teriaknya.

"Wah, lihai benar arak ini!"

Dan aneh juga, begitu rasa panas di dalam perut sudah lenyap, seketika sekujur badannya terasa lebih segar daripada tadi.

"Begitu hebat tenaga dalammu, kenapa sih kalau kau habiskan sekalian isi kedua houlo itu?"

Ujar si gemuk.

"Ah, aku mana berani minum sendirian,"

Sahut Boh-thian dengan tertawa.

"Hari ini kita bertiga dapat berkenalan dan bersahabat, alangkah senangnya jika kita sambil makan daging panggang sambil masing-masing minum seceguk. Nah, silakan dahulu, Toaya."

Habis berkata ia terus mengangsurkan houlo merah itu kepada si gemuk.

"Haha, jika adik cilik ingin mengukur kekuatan padaku, terpaksa aku mengiringi sebisanya,"

Sahut si gemuk dengan tertawa. Ia terima houlo merah dan menenggaknya seceguk, lalu diangsurkan kembali kepada Boh-thian sambil berkata.

"Silakan minum lagi!"

Tanpa sungkan-sungkan Boh-thian minum seteguk pula, lalu mengangsurkan houlo itu kepada si kurus sambil berkata.

"Silakan Toaya ini juga minum!"

Air muka si kurus tampak berubah, katanya.

"Aku akan minum kepunyaanku sendiri."

Segera ia ambil houlo biru dan minum seteguk, kemudian diberikan pula kepada Ciok Boh-thian.

Boh-thian telah merasakan arak di dalam houlo biru itu, ia pikir kalau arak panas dan dingin itu diminum seteguk demi seteguk secara bergiliran, rasa panas-dingin yang bercampur aduk itu tentulah akan sangat enak sekali.

Maka tanpa pikir ia lantas terima houlo biru si kurus dan meminumnya seteguk besar.

Ketika dilihatnya si gemuk dan si kurus memandangnya dengan mata melotot, segera Boh-thian paham apa artinya, dengan menyesal ia bilang.

"O, maaf, terlalu banyak tegukan barusan ini."

Tapi si kurus telah berkata dengan nada dingin.

"Jika kau ingin gagah-gagahan, makin banyak kau meneguk makin baik."

"Kalau kehabisan dan kita belum puas, biarlah sebentar kita beli lagi di kota sana, aku membawa uang, boleh kita membeli satu guci besar dan kita dapat minum sepuas-puasnya. Cuma arak sebagus ini mungkin susah didapatkan,"

Kata Boh-thian dengan tertawa.

Lalu ia minum seteguk lagi isi houlo merah, kemudian diangsurkan kembali kepada si gemuk.

Si gemuk tampak duduk bersila dan diam-diam mengerahkan lwekangnya, dengan demikian barulah dia minum seteguk pula.

Ia semakin heran dan terperanjat demi menyaksikan Boh-thian minum seteguk demi seteguk tanpa halangan apa-apa.

Bab 26.

Ciok Boh-thian Menciptakan Pukulan Berbisa Kiranya si gemuk dan si kurus itu adalah tokoh-tokoh yang memiliki ilmu silat mahatinggi.

Hanya saja bentuk ilmu yang dilatih mereka itulah satu-sama-lain berlawanan.

Yang dilatih si gemuk adalah sun-yang, positif, mahapanas, sebaliknya yang diyakinkan si kurus adalah im-ju, negatif, mahadingin.

Isi dari kedua houlo mereka itu adalah arak obat yang sangat baik untuk menambah lwekang mereka.

Arak di dalam houlo merah adalah arak mahapanas dan mahakeras, sebaliknya arak di dalam houlo biru adalah arak obat mahadingin.

Kedua botol arak obat itu mengandung banyak sekali obat-obat mukjizat kumpulan si gemuk dan si kurus, khasiatnya sangat hebat dan keras, bagi orang biasa, jangankan meminumnya, hanya mencicipi saja juga akan melayang jiwanya.

Adapun lwekang si gemuk dan si kurus memangnya sangat tinggi, pula mereka telah minum obat lain yang dapat melemahkan bekerjanya arak obat mereka, sebab itulah mereka tidak keracunan.

Tetapi kalau si gemuk salah minum arak si kurus dan si kurus keliru minum arak si gemuk, maka mereka pasti akan binasa seketika, bahkan usus mereka akan putus dan mati dengan mengerikan.

Tapi sekarang mereka melihat Ciok Boh-thian sudah sekian banyak minum arak mereka dan masih tetap tidak berhalangan apa-apa, keruan mereka terperanjat tak terkatakan.

Pengalaman dan pengetahuan si gemuk dan si kurus sebenarnya sangat luas, segala ilmu silat di dunia ini boleh dikata hampir seluruhnya dikenal mereka, tapi sama sekali tak terpikir oleh mereka bahwa secara sangat kebetulan Ciok Bohthian telah mendapat pengalaman aneh, lebih dulu pemuda itu mendapat ajaran ilmu silat lunak dan dingin yang menyerupai "Han-ih-bian-ciang", kemudian mendapat ilmu "Yam-yamkang"

Yang mahakeras dan panas dari Cia Yan-khek.

Kedua macam ilmu yang panas-dingin, im dan yang atau positif dan negatif itu mestinya berlawanan satu sama lain, karena itu Boh-thian hampir-hampir lumpuh dan binasa, tak terduga ia mendapatkan pula "Lo-han-hok-mo-kang"

Dari Tay-pi Lojin dengan boneka-boneka kayu pemberiannya itu, hal ini membuat tenaga im dan yang di tubuh Boh-thian menjadi terbaur menjadi satu, makin menambah kekuatannya yang ampuh, bahkan menjadi tidak mempan keracunan segala jenis racun.

Ketika minum arak-arak obat si gemuk dan si kurus tadi mulamula Boh-thian memang merasakan tajamnya arak itu, tapi sesudah dipunahkan oleh tenaga dalamnya, dalam waktu singkat malah makin menambah kekuatan yang telah dimilikinya itu.

Dasar jiwa Ciok Boh-thian memang luhur, sesudah minum arak enak kedua orang itu secara gratis, ia merasa rikuh dan segera panggang lebih banyak daging babi hutan itu, ia pilih bagianbagian yang paling lezat untuk disuguhkan kepada si gemuk dan si kurus sambil berulang-ulang minta mereka pun ikut minum arak.

Setelah mengetahui tenaga dalam Ciok Boh-thian luar biasa lihainya, si gemuk dan si kurus menyangka pemuda itu sengaja hendak bertanding lwekang dengan cara minum arak berbisa itu.

Karena mereka pun tidak mau mengaku kalah, terpaksa mereka terima ajakan Ciok Boh-thian dan minum arak sendirisendiri seteguk demi seteguk, tapi diam-diam mereka juga menjejalkan obat pil pemunah racun arak ke mulutnya sendirisendiri.

Di samping itu si gemuk dan si kurus diam-diam juga mengawasi gerak-gerik Ciok Boh-thian, mereka melihat pemuda itu sama sekali tidak makan obat pemunah apa-apa, betapa hebat tenaga saktinya benar-benar tiada pernah mereka lihat, sungguh mereka tidak tahu dari manakah mendadak bisa muncul seorang kesatria muda yang aneh ini.

Dalam pada itu setelah minum seteguk lagi Ciok Boh-thian telah menyodorkan pula houlo merah kepada si gemuk.

Terpaksa si gemuk menerimanya sambil berkata.

"Lwekang adik cilik ternyata begini hebat, sungguh Cayhe sangat kagum. Numpang tanya siapakah nama saudara cilik yang terhormat?"

Boh-thian lantas mengerut kening bila ditanya soal nama. Jawabnya.

"Urusan ini benar-benar membikin kepalaku sakit. Sering orang menuduh aku she Ciok, padahal aku bukanlah she Ciok, aku tidak tahu she apa dan bernama siapa, sebab itulah pertanyaanmu ini benar-benar susah kujawab."

Sudah tentu si gemuk tidak mau percaya, ia anggap Boh-thian berlagak bodoh dan tidak mau mengatakan namanya. Ia coba tanya pula.

"Jika demikian, siapakah guru saudara cilik yang terhormat? Dari golongan dan aliran manakah engkau?"

"Guruku she Su, beliau adalah seorang nenek tua, apakah kau pernah kenal dia?"

Sahut Boh-thian.

"Beliau adalah cikal bakal Kim-oh-pay dan aku adalah muridnya yang pertama."

Diam-diam si gemuk dan si kurus menganggap Ciok Boh-thian hanya membual saja, sebab seluruh golongan dan aliran persilatan di dunia ini boleh dikata telah dikenalnya semua, tapi belum pernah mereka mendengar tentang Kim-oh-pay dan nenek she Su apa segala.

Pada kesempatan tanya-jawab itulah, si gemuk pura-pura lupa, ia tidak minum araknya, tapi houlo merah lantas disodorkan kembali kepada Boh-thian sambil berkata.

"O, kiranya adik cilik adalah murid pertama dari Kim-oh-pay, pantas engkau begini lihai. Ini, silakan minum lagi sebagai penghormatanku!"

Tapi Boh-thian melihat si gemuk belum meneguk araknya itu, ia mengira si gemuk saking asyiknya bicara sehingga lupa minum, segera ia berkata.

"Eh, kau sendiri belum lagi minum."

"O, ya? Aku sampai lupa,"

Sahut si gemuk dengan muka merah.

Karena maksudnya diketahui orang, diam-diam ia merasa sangat mendongkol.

Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya Ciok Boh-thian adalah bermaksud baik karena khawatir si gemuk dirugikan karena si gemuk sendiri tidak minum.

Padahal seluruhnya si gemuk sudah minum delapan ceguk, kalau minum lebih banyak lagi, sekalipun ada obat pemunah juga pasti akan berbahaya baginya.

Maka terpaksa ia purapura mengangkat houlo merah, ia tempelkan di tepi mulut dengan lagak menenggak, tapi sebenarnya ia tutup rapat-rapat mulutnya, maka waktu buli-buli itu diturunkan, arak yang akan tertuang itu sudah mengalir masuk kembali ke dalam buli-buli itu.

Perbuatan si gemuk ini sudah tentu diketahui pula oleh si kurus.

Maka ia pun lantas menirukannya, ia juga cuma berlagak minum, tapi sesungguhnya tiada setetes arak yang masuk ke dalam tenggorokannya.

Dan begitulah, seteguk demi seteguk secara bergiliran, akhirnya isi houlo-houlo yang hampir penuh itu boleh dikata ada delapan bagian yang diminum sendiri oleh Ciok Boh-thian.

Memangnya kekuatan minum arak Boh-thian tidak besar, ia hanya mengandalkan tenaga dalamnya yang hebat sehingga sampai sekian lamanya masih dapat bertahan.

Walaupun arak berbisa itu tiada jeleknya, bahkan bermanfaat baginya, namun di bawah pengaruh alkohol itu, mau tak mau pikirannya menjadi agak limbung, bicaranya menjadi banyak, ia mengoceh tentang si A Siu, si Ting-tong, dan macam-macam lagi.

Sudah tentu si gemuk dan si kurus merasa bingung dan tidak mengerti apa yang dikatakan pemuda itu.

Pikir si gemuk.

"Masakan kekuatan minum kami berdua tidak mampu melawan dia seorang, hal ini kalau sampai tersiar, wah, tentu akan runyam. Apalagi sesudah dia minum habis kedua buli-buli arak mukjizat ini, kelak dia tentu akan tambah lihai. Peribahasa mengatakan, ‘Berpikiran sempit bukannya seorang kesatria, kalau tidak keji bukanlah jantan’. Rasanya aku harus berani bertindak lebih jauh."

Karena pikiran itu, si gemuk lantas mengedipi si kurus.

Si kurus dapat menangkap maksud kawannya, segera ia merogoh saku dan mengeluarkan sebutir pil yang disebut "Kiukiu-wan" (pil 99) dan disiapkan di tangannya.

Waktu Boh-thian menyodorkan lagi houlo biru padanya, segera ia pura-pura minum pula seteguk, lalu pura-pura menggunakan tangannya buat mengusap mulut houlo, tapi yang sebenarnya ia telah masukkan pil Kiu-kiu-wan ke dalam buli-buli itu.

Sesudah dia kocak-kocak beberapa kali, lalu berkata.

"Ehmmm! Arak bagus! Arak enak!"

Ketika si kurus melakukan perbuatannya itu, diam-diam si gemuk juga sudah mengeluarkan sebutir pil yang bernama "Liat-hwe-tan" (pil api membara) dan diam-diam dimasukkan ke dalam houlo merah, Dan dengan sendirinya sisa arak bercampur Liat-hwe-tan ini pun habis ditenggak oleh Ciok Bohthian.

Sebagai pemuda yang masih hijau pelonco, Boh-thian mengira telah bertemu dengan dua orang peminum yang baik hati, maka ia hanya asyik minum arak dan makan daging, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa kedua orang yang sebelumnya tak dikenal itu, diam-diam hendak membikin celaka padanya.

Begitulah, maka terdengar si kurus telah berkata.

"Adik cilik, sisa arak di dalam houlo ini tinggal sedikit saja, rupanya kau sangat kuat minum, maka boleh kau habiskan saja."

"Baiklah,"

Sahut Boh-thian dengan tertawa.

"Karena kalian tidak sungkan-sungkan, maka aku pun tidak perlu sungkansungkan juga."

Segera ia ambil houlo biru, baru saja ia hendak mengeringkan isinya, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, katanya.

"Ketika berada di atas kapal, pernah kudengar ceritanya si Ting-ting Tong-tong, katanya kalau orang lelaki dan orang perempuan cocok satu sama lain, maka mereka akan terikat menjadi suami-istri. Bila lelaki suka sama lelaki, maka mereka bisa mengangkat saudara. Hari ini secara kebetulan kita telah bertemu di sini dan rupanya kalian cukup menghargai diriku, kupikir sehabis makan-minum ini nanti, biarlah kita bertiga lantas mengangkat saudara saja, dengan demikian kelak kita akan selalu dapat makan-minum bersama dan tentu sangat menyenangkan. Entah bagaimana pendapat kalian atas usulku ini?"

Khawatir kalau-kalau Boh-thian tidak jadi menghabiskan araknya, cepat si gemuk menjawab.

"Bagus, bagus! Bagus sekali usulmu ini. Nah, silakan kau habiskan sisa arak kami ini."

"Dan bagaimana pendapat Toaya yang ini?"

Tanya Boh-thian kepada si kurus.

"Tentu saja aku menurut bilamana adik cilik mempunyai maksud baik demikian,"

Sahut si kurus.

Sekarang pikiran Boh-thian sudah makin limbung, keadaannya sudah setengah mabuk, saking senangnya ia terus mengangkat tinggi-tinggi houlo biru dan menenggak habis seluruh sisanya.

Ternyata rasanya sekarang sudah tidak sedingin tadi.

"Sungguh hebat, sungguh kuat sekali adik cilik ini. Nah, sedikit sisa arak di dalam houlo ini pun silakan adik cilik habiskan sekalian,"

Seru si gemuk dengan tertawa.

"Dan habis itu segera kita mengangkat saudara."

Pikiran Ciok Boh-thian memangnya sangat sederhana, pula dalam keadaan sudah sinting, dengan sendirinya mulutnya banyak mengoceh dan banyak tingkah pula, tanpa merasa ia pun berlagak gagah, tanpa pikir ia ambil houlo merah lagi terus ditenggak habis sisa isinya.

Si gemuk dan si kurus saling tukar pandang, pikir mereka.

"Kiu-kiu-wan dan Liat-hwe-tan adalah racun yang tiada bandingannya di dunia ini. Kiu-kiu-wan dibuat dengan 9x9=81 macam rumput berbisa. Liat-hwe-tan juga terbuat dari bahan bahan racun yang tiada taranya seperti warangan, bisa ular sendok, bisa laba-laba hitam dan macam-macam lagi. Tak peduli Kiu-kiu-wan atau Liat-hwe-tan, asal sebutir dicemplungkan ke dalam sumur atau sungai, maka penduduk berkampung-kampung akan mati keracunan. Sekarang kedua pil beracun digunakan sekaligus, mustahil kalau dia masih tetap tidak akan mampus keracunan.

"Benar juga, baru saja mereka berpikir demikian, mendadak terdengar Ciok Boh-thian telah menjerit.

"Aduh! Celaka! Sakit sekali perutku!"

Dan sambil memegang perut pemuda itu meringis dan berjongkok. Si gemuk dan si kurus saling pandang dengan tertawa senang. Segera si gemuk pura-pura tanya.

"He, ada apakah? Perutmu sakit? Ah, tentu karena kau makan terlalu banyak, maka perutmu mulas!"

"Tidak! Bukan mulas! Tapi... aduh, celaka!"

Teriak Boh-thian sambil meloncat.

Berbareng si gemuk dan si kurus juga lekas-lekas melompat bangun.

Mereka mengira sebelum pemuda itu menemui ajalnya tentu akan menyerang mereka sekuat-kuatnya, maka mereka telah himpun tenaga dan siap menantikan segala kemungkinan.

Ciok Boh-thian memang lantas memukul juga, tapi bukan ditujukan kepada mereka, melainkan diarahkan kepada sebatang pohon besar sambil berteriak.

"Aduh! Sa... sakitnya tidak kepalang!"

Karena perutnya sakit dan ususnya seperti dipuntir-puntir, maka Boh-thian telah mengerahkan tenaga dalamnya dengan maksud hendak memunahkan rasa sakit itu melalui pukulannya.

Tak terduga Kiu-kiu-wan dan Liat-hwe-tan memang bukan racun sembarang racun, sekali kedua jenis obat itu sudah bekerja, seketika perut Boh-thian seperti disayat-sayat, sakitnya susah dilukiskan dan hampir-hampir ia jatuh kelengar.

Seketika kaki-tangannya juga terasa kaku dan sekujur badannya terasa kejang.

Saking tak tahannya, sekuatnya tangan kiri lantas memukul ke batang pohon.

Tak tersangka sesudah pukulan itu dilontarkan, segera rasa sakit perutnya lantas agak berkurang.

Maka tangan kanan segera dipukulkan pula kepada batang pohon.

Dan begitulah seterusnya, setiap ia melontarkan pukulan rasa sakit perutnya lantas berkurang dan segar kembali.

Tapi kalau dia berhenti memukul, seketika perutnya kesakitan lagi, bahkan seperti disayat-sayat dan ditusuk-tusuk.

Sambil berkaok-kaok menahan rasa sakit dan kaki-tangannya bergerak dan memukul, maka dengan sendirinya ia telah mengeluarkan ilmu silat yang baru saja diciptakannya ketika berada di Ci-yan-to itu.

Walaupun ilmu silatnya itu tidak begitu teratur, tapi dahsyatnya mengejutkan.

Si gemuk dan si kurus kembali saling pandang dengan terperanjat, berulang-ulang mereka melangkah mundur.

Mereka tahu jago silat selihai sebagai Ciok Boh-thian itu, sesudah keracunan dan pada saat akan menemui ajalnya, tentu seluruh kekuatan di dalam tubuhnya akan buyar dan meledak sehingga kelakuannya akan mirip harimau gila.

Asal kena terpukul atau kena dirangkulnya, maka celakalah orang itu.

Mereka melihat pukulan dan tendangan Ciok Boh-thian yang dahsyat itu gayanya mirip ilmu silat Swat-san-pay dan menyerupai pula ilmu silat keluarga Ting.

Di samping itu banyak tercampur pula ilmu silatnya Mo-thian-kisu Cia Yankhek.

Keruan mereka tambah melongo heran dan mau percaya mungkin pemuda ini benar-benar adalah murid dari Kim-ohpay.

Makin memukul makin dahsyat dan cepat permainan Boh-thian itu.

Ia merasa setiap pukulannya dilontarkan, setiap kali pula tenaga pukulannya itu lantas melenyapkan sedikit rasa sakit perutnya.

Maka ia memukul dengan lebih semangat lagi dan makin dahsyat.

Walaupun demikian, sekarang si gemuk dan si kurus juga sudah dapat menilai sampai di mana kepandaian Ciok Bohthian itu.

Meski pukulan Boh-thian itu sangat dahsyat, namun gayanya dan caranya tidaklah luar biasa.

Mereka saling pandang dengan tersenyum dan sama-sama berpikir.

"Lwekang bocah ini memang sangat kuat, tapi ilmu silatnya ternyata tidak seberapa. Jika Kiu-kiu-wan dan Liat-hwe-tan tidak dapat membinasakan dia, terang pemuda ini pun bukan tandingan kami berdua. Tadi karena tenaga dalamnya terlalu lihai, maka terlalu tinggi menilai kepandaiannya."

Berpikir sampai di sini, mereka menjadi sayang kepada arak obat dan pil-pil yang berharga dan telah diminum oleh Ciok Boh-thian tadi.

Tahu begitu, sekali gebrak saja pemuda itu sudah dapat mereka bunuh dan tidak perlu banyak membuang waktu dan membuang barang berharga sebanyak itu.

Setelah bersilat sekian lamanya, kadar racun di dalam perut Boh-thian juga mulai menghilang terbawa oleh tenaga dalam yang dia keluarkan dan terdesak sampai di bagian telapak tangan, rasa sakit perutnya juga lantas berkurang dan akhirnya lantas lenyap juga.

Kemudian dengan agak sempoyongan Boh-thian kembali ke samping api unggun, katanya dengan tertawa.

"Wah, sedemikian sakitnya perutku barusan ini, kukira ususku akan putus terpuntir-puntir, sungguh aku takut setengah mati."

Si gemuk dan si kurus menjadi terperanjat malah, pikir mereka.

"Sungguh luar biasa, ternyata di dunia ini ada makhluk yang tak mati kena racun Kiu-kiu-wan dan Liat-hwetan."

Segera si gemuk menanyakan.

"Dan sekarang perutmu masih sakit atau tidak?"

"Tidak, tidak sakit lagi,"

Sahut Boh-thian sambil mengulur tangan kanan untuk mengambil sepotong daging babi panggang yang sudah hampir hangus.

Di bawah cahaya api unggun tiba-tiba ia melihat di telapak tangan sendiri itu ada bintik merah sebesar mata uang, ia bersuara heran.

"He, apa apakah ini?"

Waktu ia periksa tangan kiri, ternyata yang berada di telapak tangan kiri ini adalah bintik-bintik biru.

Kiranya tadi ia telah mendesak racun di dalam perutnya ke telapak tangan, cuma saja dia tidak mahir menggunakan tenaga dalamnya sehingga tidak dapat mendesak kadar racun itu keluar tubuh, akibatnya racun itu menjadi terkumpul pada telapak tangannya.

Bagi si gemuk dan si kurus sudah tentu paham duduknya perkara, maka mereka merasa lebih lega pula.

Pikir mereka.

"Kiranya bocah ini pun tidak mampu memanfaatkan tenaga dalamnya yang mahadahsyat itu, maka bocah ini lebih-lebih tidak perlu ditakuti lagi. Boleh jadi dia memang dilahirkan dengan keadaan yang luar biasa, atau mungkin dia telah makan sesuatu benda mukjizat sehingga membuat tenaga dalamnya sedemikian lihainya."

Dalam pada itu terdengar Ciok Boh-thian telah berseru kepada mereka.

"He, tadi kita telah bersepakat akan mengangkat saudara. Nah, siapakah di antara kalian berusia lebih tua dan siapakah nama kalian yang terhormat?"

Sesungguhnya si gemuk dan si kurus yakin bahwa sesudah Ciok Boh-thian minum racun mereka tentu akan binasa seketika, makanya mereka tanpa pikir menyanggupi akan angkat saudara dengan dia, sama sekali tak terduga, bahwa pemuda itu ternyata tidak mempan diracun.

Selamanya kedua orang ini sangat tinggi hati dan menilai tinggi dirinya sendiri, apa yang sudah mereka katakan tentu ditepati, sejak mereka berhasil meyakinkan ilmu silat mereka yang ampuh belum pernah mereka mengingkar sesuatu janji, maka sekarang walaupun di dalam hati mereka seratus kali tidak sudi mengangkat saudara dengan pemuda ketolol-tololan ini, tapi terpaksa mereka harus melakukannya agar tidak mengingkari janjinya sendiri.

Begitulah, maka sesudah si gemuk berbatuk satu kali, lalu katanya dengan canggung-canggung.

"Aku... aku bernama Thio Sam, usiaku lebih tua sedikit daripada saudaraku yang bernama Li Si ini. Dan kau sendiri katanya tidak punya nama, cara bagaimana kita dapat mengangkat saudara?"

"Guruku telah memberikan suatu nama padaku, ialah Su Ek-to, maka bolehlah kalian panggil aku dengan nama ini saja,"

Sahut Boh-thian.

"Jika demikian, bolehlah kita bertiga mengangkat saudara sekarang juga,"

Ujar si gemuk dengan tertawa. Lalu ia mendahului berlutut dengan sebelah kaki dan berseru lantang.

"Hari ini Thio Sam dan Li Si mengangkat saudara dengan Su Ek-to, sejak kini kalau ada untung akan sama dinikmati dan jika ada kesukaran akan sama ditanggung. Bila mengingkari sumpah ini, biarlah kelak Thio Sam akan menyerupai babi hutan ini disembelih orang dan dimakan. Haha, haha!"

Sudah tentu "Thio Sam" (Thio si Tiga) adalah namanya yang palsu, maka dia sengaja menyebut Thio Sam melulu dan sama sekali tidak menyebut "Aku" , hal ini menandakan dia memang tidak mempunyai maksud sungguh-sungguh untuk kiat-pay atau mengangkat saudara dengan Ciok Boh-thian.

Segera si kurus juga berlutut dan menirukan si gemuk, katanya dengan tertawa.

"Ya, hari ini Li Si dan Thio Sam mengangkat saudara dengan Su Ek-to, biarpun tidak dilahirkan pada tahun dan hari yang sama, tapi semoga dapat mati pada hari dan waktu yang sama. Bilamana melanggar sumpah ini, biarlah kelak Li Si akan mati dicincang orang. Hehe, hehe!"

Dengan sendirinya "Li Si" (Li si Empat) adalah namanya yang palsu juga.

Maka sehabis mengucapkan itu, ia berulang-ulang mengekek tawa.

Sebaliknya Ciok Boh-thian adalah seorang pemuda yang masih hijau dan polos, ia pun berlutut dan mengangkat sumpah dengan tulus dan sungguh-sungguh.

"Hari ini aku mengangkat saudara dengan kedua Koko (kakak) ini, bila ada arak enak dan daging lezat tentu akan kusilakan mereka menikmati dahulu, jika ada orang lain hendak membunuh kedua Koko, tentu aku akan maju untuk melawannya dahulu. Apabila aku mengingkar janji, biarlah aku dihukum untuk sakit perut setiap hari seperti tadi."

Melihat kesungguhan Ciok Boh-thian itu, diam-diam si gemuk dan si kurus merasa rikuh sendiri. Si gemuk lantas berbangkit dan berkata.

"Sudahlah, Samte (adik ketiga), sekarang kami ada urusan penting, terpaksa kita harus berpisah dahulu."

"Toako dan Jiko (kakak tertua dan kakak kedua) hendak ke mana?"

Demikian tanya Ciok Boh-thian.

"Tadi Thio-toako menyatakan sesudah kita menjadi saudara angkat, maka ada untung akan dirasakan bersama dan kalau ada kesukaran akan ditanggung bersama pula. Toh aku tiada punya urusan apaapa, maka biarlah aku ikut berangkat bersama kalian saja."

Namun si gemuk lantas bergelak tertawa, sahutnya.

"Kami lagi ada urusan, yaitu hendak mengundang tamu, hal ini tiada menarik, maka kau tidak perlu ikut."

Habis berkata segera ia mendahului berangkat.

Sebagai pemuda yang baru saja bergaul dan mengikat persahabatan, Ciok Boh-thian merasa berat untuk berpisah, segera ia pun ikut di belakang mereka dan berkata.

"Biarlah aku mengantar keberangkatan kedua Koko. Setelah berpisah, entah kapan kita akan berjumpa dan bersama-sama makanminum pula."

Si kurus yang memakai nama palsu Li Si itu tetap merengut dan tidak ambil pusing kepada Boh-thian, hanya si gemuk Thio Sam yang masih bersenda gurau dengan dia. Katanya.

"Samte, kau bilang gurumu memberi nama Su Ek-to padamu, jika demikian, sebelum gurumu memberi nama baru itu tentu kau sudah mempunyai nama yang asli. Sekarang kita sudah mengangkat saudara, masakah kita perlu berdusta dan menyimpan rahasia?"

Boh-thian tertawa rikuh, sahutnya.

"Bukanlah aku sengaja berdusta kepada Koko, soalnya namaku terlalu tidak enak didengar. Sejak kecil ibuku memanggil aku sebagai Kau-capceng."

"Kau-cap-ceng? Hahahaha! Kau-cap-ceng! Nama ini memang sangat aneh!"

Seru si gemuk sambil bergelak tertawa.

Langkah Thio Sam dan Li Si itu tampaknya tidak terlalu cepat, tapi diam-diam mereka telah menggunakan ginkang yang tinggi, maka pepohonan di tepi jalan telah mereka lewati seperti terbang cepatnya.

Untuk sejenak Ciok Boh-thian tercengang dan tahu-tahu sudah ketinggalan beberapa meter jauhnya, cepat ia pun angkat kaki dan menyusulnya.

Begitulah, dua orang di muka dan satu orang di belakang, jarak mereka selalu bertahan sejauh beberapa langkah saja.

Thio Sam dan Li Si ingin lekas-lekas meninggalkan si bocah tolol ini, tapi meski mereka sudah mengeluarkan segenap kepandaian ginkang mereka toh Boh-thian tetap mengintil dengan kencang di belakang.

Bicara tentang jalan cepat mereka bertiga, maka kentara sekali selisih kepandaian mereka yang sangat mencolok.

Gaya langkah Thio Sam dan Li Si, tampak seenaknya saja, mereka berlenggang dengan luwes, sedikit pun tidak kelihatan terburuburu.

Sebaliknya Ciok Boh-thian harus melangkah lebar-lebar, kedua tangannya juga berayun ke muka dan ke belakang sambil membungkuk tubuh dan setengah berlari, kelakuannya itu lebih mirip copet kepergok dan sedang diuber orang.

Tapi di tengah jalan cepat itu toh Ciok Boh-thian masih sanggup membuka mulut dan bicara seperti biasa, keruan mau tak mau si gemuk dan si kurus harus kagum kepada tenaga dalamnya yang mahakuat itu.

Ketika tanpa merasa Boh-thian mengetahui bahwa arah yang diambil mereka itu adalah jalan di mana dia datang tadi, yaitu menuju kampung nelayan yang dibuat sembunyi gerombolan Tiat-cha-hwe dan sekarang sudah sangat dekat, maka cepat Boh-thian berseru.

"He, he! Kedua Koko, di depan sana adalah tempat berbahaya, janganlah ke sana. Marilah kita berganti jurusan saja dan jangan mengantarkan jiwa percuma ke sana."

Rupanya Thio Sam dan Li Si menjadi heran, berbareng mereka berhenti dan berpaling, tanya Li Si.

"Mengapa kau katakan di depan sana adalah tempat berbahaya?"

"Ya, di muara sungai di depan sana ada sebuah kampung nelayan, banyak sekali orang-orang Kangouw yang bersembunyi di sana dan tidak ingin orang lain mengetahui jejak mereka, jika mereka melihat kita bertiga hendak memergoki tempat sembunyi mereka, boleh jadi mereka akan terus mengganas dan akan membunuh kita."

"Dari mana kau tahu?"

Tanya Li Si dengan muka masam.

Segera Boh-thian menceritakan pengalamannya, di mana dia telah kesasar ke atas kapal yang penuh mayat, cara bagaimana dia telah mendengar perundingan orang-orang Tiat-cha-hwe di tempat sembunyinya dan akhirnya menyaksikan orang-orang itu sembunyi di perkampungan nelayan itu.

"Jadi mereka sembunyi di kampung nelayan itu adalah lantaran takut kepada Siang-sian dan Hwat-ok Sucia, ini toh tiada sangkut paut dengan urusan kita, mengapa kita takut akan dibunuh mereka?"

Ujar Li Si tetap dengan air mukanya yang merengut.

"Tidak, tidak!"

Sahut Boh-thian sambil goyang-goyang kedua tangannya.

"Orang-orang itu terlalu ganas dan jahat, sedikitsedikit lantas main membunuh, demi rahasia jejak mereka, bahkan kawan mereka sendiri pun tidak segan-segan dibunuhnya. Ini lihat, noda darah di atas bajuku ini adalah tetesan darah kawan mereka yang terbunuh itu."

"Ya, sudahlah, jika kau takut bolehlah kau jangan ikut kami,"

Ujar Li Si.

"Tapi... tapi kukira kedua Koko lebih baik jangan pergi ke sana,"

Kata Boh-thian.

"Urusan ini tidak boleh di... dibuat mainmain."

Namun Thio Sam dan Li Si tidak gubris padanya lagi, segera mereka berpaling kembali dan berjalan terus. Pikir mereka.

"Percuma saja bocah ini memiliki tenaga dalam sehebat ini, ilmu silatnya ngawur, pengecut pula seperti tikus."

Tak tersangka, belum seberapa jauh mereka berjalan, tahutahu Boh-thian telah menyusul tiba pula dengan langkah cepat.

"Katanya kau takut dibunuh orang-orang Tiat-cha-hwe, buat apa kau ikut lagi?"

Tegur si Thio Sam.

"Bukankah kita sudah bersumpah bahwa kalau ada untung akan dinikmati bersama dan kalau ada kesukaran akan ditanggung bersama pula,"

Sahut Boh-thian.

"Sekarang kalau kedua Koko berkeras hendak ke sana, maka terpaksa aku mengiringi kalian agar bila perlu dapat mati pada hari dan waktu yang sama. Seorang laki-laki sejati mana boleh melanggar janjinya sendiri."

"Hehe, kalau nanti sekaligus berpuluh tombak orang-orang Tiat-cha-hwe menancap di atas tubuhmu sehingga kau akan dibikin mirip binatang landak, apakah kau tidak takut?"

Jengek Li Si.

Boh-thian menjadi terbayang jeritan ngeri kedua orang Tiatcha-hwe yang terbunuh di kapal mayat itu, diam-diam ia mengirik juga.

Ia pikir pengganas-pengganas yang sembunyi di kampung nelayan itu sedikitnya ada ratusan orang, sekarang dirinya hanya bertiga, biarpun betapa tinggi ilmu silat kedua saudara angkat itu rasanya juga susah melawan orang banyak.

Melihat air muka Boh-thian menunjuk rasa jeri, segera Li Si mengejeknya.

"Sudahlah, untuk mati rasanya kami berdua juga tidak perlu minta ditemani, kau boleh pulang saja sendiri. Jika kami nanti tidak mati, sepuluh tahun lagi tentu kita akan berjumpa pula."

"Tidak, aku tetap akan ikut,"

Sahut Boh-thian.

"Tambah seorang pembantu tentu akan tambah baik. Andaikan kita tidak dapat melawan jumlah mereka yang terlalu banyak, di saat berbahaya toh kita masih dapat melarikan diri dan belum pasti akan terbunuh."

Melarikan diri? Huh, itu kan perbuatan pengecut!"

Jengek Li Si.

"Sudahlah, lebih baik kau jangan ikut saja daripada nanti membikin malu."

"Baiklah, aku pasti takkan lari,"

Sahut Boh-thian.

Karena tidak berdaya mengenyahkan Boh-thian, Li Si dan Thio Sam hanya saling pandang dengan tersenyum ewa.

Tanpa berkata lagi mereka lantas melanjutkan perjalanan, tidak lama kemudian sampailah mereka di tengah kampung nelayan itu.

Ternyata kapal yang penuh mayat itu sudah tak terlihat pula, di tengah kampung itu pun sunyi senyap tiada tampak seorang pun.

Setelah mengamat-amati keadaan setempat, lalu Thio Sam dan Li Si mendatangi sebuah gubuk.

Pintu gubuk itu didorong terpentang, langsung mereka lantas menuju ke dapur.

Sesudah memandang keadaan sekitar tempat itu dan memikir sejenak, tiba-tiba Thio Sam memindahkan sebuah gentong air besar yang terletak di pojok ruangan dapur itu.

Maka tertampaklah di bawah gentong air itu ada sebuah gelang besi.

Tanpa disuruh lagi Li Si lantas pegang gelang besi itu terus ditarik ke atas.

Maka terdengarlah suara keras, sepotong papan besi ikut terangkat dan kelihatan sebuah lubang di bawahnya.

Segera Thio Sam mendahului melompat masuk ke dalam lubang itu.

Menyusul Li Si juga melompat ke bawah.

Boh-thian terheran-heran melihat kejadian luar biasa itu.

Tanpa pikir ia lantas ikut melompat ke dalam lubang.

Mendadak di bawah lubang itu mereka disambut oleh suara bentakan seorang.

"Siapa itu?"

Menyusul angin tajam lantas menyambar, dua batang Cha (tombak bercabang) yang mengilap telah menusuk ke arah Thio Sam.

Tapi ketika kedua tangan Thio Sam bergerak dan menepuk di atas batang tombak-tombak itu, di mana tenaga dalamnya menggetar, kontan kedua penyerang itu lantas terjungkal dan binasa.

Di depan mereka ternyata terbentang sebuah jalan lorong yang berlika-liku, di atas dinding jalan tersulut lilin yang besar.

Setiap ada pengkolan jalan, di situ tentu dijaga oleh dua orang lelaki.

Tapi setiap kali Thio Sam cukup menggerakkan kedua tangan dan kontan kedua laki-laki bersenjata tombak itu lantas terbunuh.

Caranya Thio Sam ternyata sangat cepat lagi jitu, sama sekali ia tidak perlu menggunakan jurus kedua.

Boh-thian sampai melongo menyaksikan kesaktian itu, pikirnya.

"Ilmu sulap apakah yang digunakan Thio-toako ini? Jika yang dia gunakan ini adalah ilmu silat juga, maka terang Thio-toako jauh lebih lihai daripada Ting Put-sam, Ting Put-si, Pek-suhu, dan lain-lain."

Selagi pikiran Boh-thian melayang, terdengarlah suara riuh ramai, dari depan telah membanjir tiba orang banyak.

Namun Thio Sam telah maju dengan langkah perlahan.

Sebaliknya orang-orang yang menyerbu dari depan itu mendadak berdiri tegak, air muka mengunjuk rasa kaget dan ketakutan.

"Apakah congthocu kalian berada di sini?"

Tanya Thio Sam. Segera seorang laki-laki berperawakan tinggi besar tampil ke muka orang banyak, katanya sambil memberi hormat.

"Maafkan kami tiada menyambut kedatangan tuan-tuan. Silakan menuju ke ruangan besar untuk sekadar minum. O, kiranya masih ada seorang tamu terhormat lagi. Silakan tuantuan bertiga masuk ke dalam."

Thio Sam dan Li Si tidak bicara lagi, mereka hanya mengangguk saja.

Boh-thian sendiri merasa kebat-kebit, di jalan lorong yang remang-remang dan menyeramkan itu Thio Sam berturut-turut telah membinasakan 12 orang Tiat-cha-hwe, tampaknya pihak mereka tentu akan menuntut balas, maka diam-diam Boh-thian sangat khawatir.

Namun dilihatnya kedua saudara angkat itu telah melangkah ke depan seperti tidak terjadi apa-apa, sudah tentu ia tidak dapat mundur sendirian, maka terpaksa ia mengikut dari belakang.

Lelaki kekar tadi lantas menunjukkan jalan di depan dengan sikap sangat hormat.

Sepanjang jalan lorong itu penuh berbaris anggota Tiat-cha-hwe yang bertombak baja, ujung tombak yang bercabang itu tajam dan gemilapan terkena sinar lilin.

Namun Thio Sam dan Li Si anggap seperti tiada apa-apa saja, bersama Ciok Boh-thian mereka lantas menyusur ke depan mengikuti tuan rumah.

Sesudah membelok lagi suatu pengkolan, mendadak pandangan mereka terbeliak, mereka telah sampai di suatu ruangan pendopo.

Di sekeliling dinding pendopo itu terpasang banyak obor sehingga keadaan terang benderang sebagai siang hari.

Sekitar ruangan juga berdiri penuh anggota-anggota Tiat-cha-hwe yang bertombak.

Air muka semua orang ini tampak sangat tegang.

Sekali tempo pandangan Ciok Boh-thian kebentrok dengan sinar mata orang-orang itu, ia merasa sorot mata mereka itu semuanya buas dan kejam sehingga membikin orang merasa tidak aman.

Lelaki kekar tadi menyilakan Thio Sam dan Li Si duduk ke tempat yang terhormat.

Tanpa sungkan-sungkan Thio Sam dan Li Si terus mengambil tempat duduk yang ditunjuk.

Dengan tertawa Thio Sam berkata kepada Boh-thian.

"Adik kecil, bolehlah kau duduk di sebelahku sini."

Dan sesudah Boh-thian juga mengambil tempat duduk, lelaki kekar itu juga mengiringi duduk di sebelah lain.

Sejenak kemudian beberapa orang pelayan yang tak bersenjata telah menyiapkan meja dengan hidangan lengkap.

Mendadak Thio Sam dan Li Si menggerakkan tangan kiri masing-masing, berbareng dari lengan baju mereka menyambar keluar sesuatu benda.

"plok" , kedua benda itu jatuh berjajar di atas meja di depan si lelaki kekar tadi, kiranya kedua benda itu adalah dua potong pening atau medali tembaga dan ambles rata di permukaan meja. Tertampak di atas pening tembaga itu masing-masing terukir muka orang, yang satu muka yang tertawa dan yang lain muka yang lagi gusar. Jadi mirip sekali dengan kedua pening tembaga yang terpaku di atas kapal mayat orang-orang Hui-hipang itu. Serentak si lelaki kekar itu berbangkit demi melihat kedua benda itu. Seketika pula terdengar suara gemerencing, ratusan orang yang berdiri di sekitar ruangan pendopo telah menggerakkan tombak mereka, karena tombak mereka terpasang gelang-gelang besi, maka mengeluarkan suara nyaring yang membisingkan telinga, berbareng orang-orang itu pun melangkah maju satu tindak. Diam-diam Boh-thian menjadi khawatir.

"Wah, celaka, mereka akan berkelahi. Di ruangan pendopo yang terletak di bawah tanah ini tentu susah untuk melarikan diri."

Waktu ia melirik kedua saudara-angkatnya, ia lihat Thio Sam dan Li Si masih tetap tenang saja, yang satu tetap tersenyumsenyum ramah dan yang lain tetap bermuka masam tanpa memberi reaksi apa-apa.

"Jika sudah begini, apa mau dikata lagi?"

Ujar si lelaki kekar tadi dengan lesu.

"Congthocu,"

Kata Thio Sam dengan tertawa.

"kedatangan kami adalah untuk mengundang kau agar suka hadir pada pesta ‘Lap-pat-cok’ (bubur atau jenang perayaan tutup tahun) nanti, maksud lain tidak ada, harap jangan curiga."

Lelaki kekar itu memang benar adalah congthocu atau pemimpin umum Tiat-cha-hwe.

Dia bersangsi sejenak, kemudian ia telah menepuk meja sekali, kedua potong pening tembaga yang terjepit rata di muka meja itu mendadak mencelat ke atas, dengan cepat ia sambar kedua benda itu dan dimasukkan ke dalam baju, lalu katanya.

"Baiklah, orang she Liong pasti akan hadir pada waktunya."

"Banyak terima kasih atas kerelaan Liong-thocu sehingga perjalanan kami ini tidak tersia-sia,"

Ujar Thio Sam sambil mengacungkan jari jempolnya. Sekonyong-konyong di antara orang-orang yang berkerumun itu ada seorang telah berseru.

"Walaupun Liong-congthocu adalah pemimpin kami, tapi Tiat-cha-hwe adalah milik orang banyak, maka tidaklah pantas kalau Congthocu sendiri saja yang disuruh memikul beban ini bagi para saudara."

Begitu mendengar suara orang itu, segera Boh-thian mengenali pembicara itu adalah Oh-toako yang berturut-turut membunuh dua orang di atas kapal itu.

Ia tahu orang she Oh sangat ganas, maka diam-diam ia merasa kebat-kebit dan khawatir.

"Apa gunanya mengakibatkan korban yang lebih banyak,"

Ujar congthocu she Liong itu dengan tersenyum getir.

"Keputusanku ini sudah bulat, hendaklah Oh-hiante tidak perlu banyak bicara lagi."

Lalu ia angkat poci arak yang sudah tersedia untuk menuangkan arak bagi Thio Sam, tapi tangannya ternyata agak gemetar, arak yang tertuang sampai tercecer di atas meja. Kata Thio Sam dengan tertawa.

"Konon Liong-congthocu adalah seorang kesatria yang gagah berani, membunuh orang biasanya tidak berkedip, tapi hari ini mengapa menjadi agak jeri?"

Habis berkata segera Thio Sam mengangkat cawan arak dan hendak minum.

Tapi mendadak tangannya terasa kaku, cawan arak jatuh ke lantai dan pecah berantakan, menyusul tubuh Thio Sam lantas terkulai miring di atas kursi.

Keruan Boh-thian terkejut, cepat ia tanya.

"He, kenapakah kau, Toako?"

Segera ia pun berpaling dan tanya Li Si.

"Jiko, kenapakah...."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dilihatnya Li Si juga terkulai lemas dan perlahan-lahan memberosot ke bawah meja.

Bab 27.

Pukulan Berbisa Ciok Boh-thian Mulai Mengganas Tentu saja Boh-thian tambah kaget dan bingung.

Congthocu she Liong itu semula mengira kelakuan Thio Sam dan Li Si itu hanya pura-pura dan main sandiwara saja, tapi kemudian demi tampak muka Thio Sam merah membara, napasnya terengah-engah, sebaliknya kedua mata Li Si kelihatan mendelik, mukanya gelap menghitam, itulah tandatanda terkena racun yang mahajahat.

Keruan ia menjadi girang, tapi ia masih tidak berani ambil tindakan sesuatu, ia pura-pura berkata.

"He, kenapakah? Apa barangkali arak kami ini tidak cukup baik? Dan tuan ini mau minum tidak?"

Sambil berkata ia hendak menuangkan arak untuk Li Si.

Dalam pada itu tubuh Li Si sudah meringkuk seperti cacing di bawah meja, tubuhnya tampak berkejang.

Sungguh kaget Ciok Boh-thian tak terkatakan, cepat ia memayang bangun Li Si dan berkata.

"Jiko, apakah... apakah badanmu sakit?"

Nyata Boh-thian tidak tahu bahwa tadi lantaran berlomba minum arak yang mengandung racun jahat dengan dia, maka sedikitnya Thio Sam dan Li Si masing-masing juga telah ikut minum tujuh atau delapan ceguk.

Menurut ukuran kekuatan Thio Sam dan Li Si itu, bila berturutturut mereka minum dua-tiga ceguk dan segera mengerahkan tenaga dalam untuk melawan bekerjanya racun, maka hal ini masih tidak menjadi halangan bagi mereka.

Namun tadi mereka telah minum melampaui takaran, waktu itu mereka masih bertahan sekuatnya dan diam-diam merasa senang karena Ciok Boh-thian telah kena dikelabui, di samping itu juga merasa syukur karena lwekang mereka tampaknya telah banyak tambah maju, buktinya setelah minum arak berbisa sebanyak itu toh tidak merasakan perut sakit dan usus terpuntir-puntir.

Di luar perhitungan mereka bahwa tatkala itu mereka telah minum obat pemunah, obat pemunah itu gunanya melambatkan bekerjanya racun arak itu, dengan demikian tenaga dalam mereka yang kuat itu lambat laun akan dapat membaur dan memunahkan arak obat yang sudah masuk di dalam perut, dengan demikian tenaga dalam mereka akan bertambah lebih kuat.

Jadi obat pemunah itu sebenarnya hanya mempunyai khasiat melambatkan bekerjanya racun dan tiada khasiat memunahkan racun.

Tapi sesudah kedua orang melakukan perjalanan cepat, di luar dugaan pada saat yang genting racun jahat di dalam arak itu mendadak telah bekerja di dalam perut.

Keruan seketika perut Thio Sam dan Li Si kesakitan seperti disayat-sayat, sekujur badan mereka kaku kejang.

Mereka insaf keadaan sangat berbahaya, maka cepat mereka mengerahkan tenaga murni di dalam pusarnya untuk bertahan, sedapat mungkin sisa arak berbisa di dalam perut itu dibungkus dan membiarkannya cerna sedikit demi sedikit.

Kalau tidak, bila racun jahat itu bekerja secara mendadak, tentu jantung mereka akan putus dan bisa mati seketika.

Diam-diam mereka mengeluh, sungguh sial bahwa racun itu justru bekerja pada saat mereka berada di sarang musuh, andaikan bekerjanya racun di dalam perut itu sementara dapat dilambatkan, tapi rasanya juga susah terhindar dari kekejaman orang-orang Tiat-cha-hwe itu.

Di pihak lain, ketika mendadak melihat Thio Sam dan Li Si tibatiba memberosot ke lantai dengan badan kejang, keringat berbutir-butir memenuhi jidat mereka, tampaknya sangat menderita, maka Liong-congthocu dan Oh-toako dari Tiat-chahwe serta anak buah mereka menjadi terheran-heran dan curiga pula.

Walaupun menghadapi kesempatan yang bagus itu untuk bertindak, namun terpengaruh oleh wibawa Thio Sam dan Li Si yang memang sangat mereka takuti, maka sementara itu mereka masih tidak berani bertindak apa-apa.

Dalam pada itu yang paling gelisah adalah Ciok Boh-thian, ia coba tanya pula.

"Toako, Jiko, apakah kalian mabuk atau mendadak kalian sakit usus buntu?"

Namun Thio Sam dan Li Si tidak memberi jawaban, dengan setengah berduduk setengah telentang cepat mereka mengerahkan lwekang untuk melawan bekerjanya racun di dalam perut.

Selang tidak lama, mulailah dari ubun-ubun kepala kedua orang mengeluarkan uap putih yang hampir tidak kelihatan.

Liong-congthocu itu cukup berpengalaman, demi melihat keadaan itu, segera ia mengisiki bawahannya she Oh tadi.

"Ohhiante, kedua orang ini terang dalam keadaan payah, kalau bukan cau-hwe-jip-mo (kelumpuhan karena sesatnya ilmu yang dilatih) tentu adalah sakit keras mereka mendadak kumat. Mereka sedang mengerahkan lwekang untuk bertahan, kesempatan ini janganlah kita sia-siakan, hayolah beramairamai maju bersama!"

Orang she Oh itu menjadi girang.

Tapi ia tidak berani mendekat, hanya sebatang tombak lantas ditimpukkannya ke arah Thio Sam.

Sudah tentu Thio Sam tidak sanggup menangkis, terpaksa ia berusaha menghindar dengan sedikit memiringkan tubuhnya, namun tidak urung tombak itu telah menancap di atas bahunya sehingga darah bercucuran.

Kaget Ciok Boh-thian tak terhingga, cepat ia berseru.

"He, kau kenapa kau berani melukai toakoku?"

Sudah tentu orang-orang Tiat-cha-hwe tiada satu pun yang takut padanya, pertama karena dia masih sangat muda, kedua Boh-thian kelihatan bingung dan gugup, gerak-geriknya tampaknya lucu.

Apalagi Thio Sam yang biasanya sangat ditakuti mereka itu sekarang dengan sangat mudah telah dilukai, keruan mereka tambah berani dan bersemangat.

Maka tanpa menjawab lagi segera Ciok Boh-thian dipersen dengan timpukan tiga batang tombak sekaligus oleh orang-orang Tiatcha-hwe.

Dengan gugup Boh-thian sempat menggunakan lengan kiri untuk menyengkelit sehingga dua batang tombak kena ditangkis mencelat, berbareng tangan kanan digunakan untuk menangkap tombak ketiga, menyusul tubuhnya menggeser, cepat ia menjaga di depan tubuh Thio Sam dan Li Si yang tak berkutik itu.

Dalam keadaan panik, tiba-tiba lima batang tombak baja telah menyambar pula.

Cepat Boh-thian putar tombak rampasannya itu, satu per satu tombak-tombak musuh itu kena dipukul mencelat kembali sehingga dua anggota Tiat-cha-hwe berbalik jatuh menjadi korban, yang seorang kepalanya pecah dan yang lain perutnya tertembus.

Liong-congthocu itu cukup cerdik, ia melihat tempat yang agak sempit itu sukar menggunakan senjata, kalau pertarungan demikian diteruskan tentu akan lebih banyak melukai kawannya sendiri.

Maka cepat ia berseru.

"Semua orang berhenti dahulu, biarkan aku sendiri yang membereskan anak jadah ini!"

Serentak anak buahnya lantas menyingkir.

Ketika Liongcongthocu itu membungkuk tubuh, kedua tangannya meraba ke kain pembebat kakinya, ketika menegak kembali, tahu-tahu kedua tangannya masing-masing sudah memegang sebilah belati yang mengilap.

"Hayo mundur, saksikanlah congthocu kita membereskan anak jadah itu!"

Teriak anggota-anggota Tiat-cha-hwe sambil menyingkir dan berdiri memepet dinding pendopo.

Mendadak Liong-congthocu itu melompat maju secepat kilat, tahu-tahu ia sudah berada di samping Ciok Boh-thian, kedua belatinya lantas menyambar dari atas dan bawah, masingmasing mengincar muka dan pinggang pemuda itu.

Sama sekali Ciok Boh-thian tidak menduga datangnya serangan lawan ternyata begini cepat, keruan ia menjadi kelabakan, sambil berseru kaget lekas-lekas ia melangkah ke samping, namun tidak urung pinggang dan lengannya juga sudah terkena belati musuh.

"Trang" , berbareng tombak rampasannya itu pun jatuh ke lantai. Melihat kepandaian Ciok Boh-thian ternyata tidak tinggi, diamdiam Liong-congthocu itu merasa lega dan mendapat hati. Sambil membentak-bentak kembali ia menubruk maju pula sebagai harimau menerkam mangsanya. Karena sudah kepepet, dalam keadaan gugup Ciok Boh-thian harus melawan sebisanya, tanpa pikir tangan kirinya lantas menolak ke depan, ternyata yang digunakannya ini adalah salah satu jurus yang telah diciptakannya sewaktu berada di Ci-yan-to tempo hari. Di luar dugaan, tolakan tangannya itu telah menimbulkan serangkum angin yang mahakuat dan menyambar ke arah lawan. Seketika Liong-congthocu itu merasa napasnya menjadi sesak dan cepat-cepat ia melompat pergi. Untunglah Ciok Boh-thian belum matang betul atas jurus-jurus serangan ciptaannya sendiri itu sehingga tidak terpikir olehnya untuk melakukan serangan susulan lagi. Diam-diam Liong-congthocu terkejut, pikirnya.

"Kiranya ilmu silat bocah ini sesungguhnya tidak lemah. Daripada banyak terjadi hal-hal yang tak terduga, apalagi kalau kedua orang itu sembuh kembali, tentu aku bisa celaka. Paling perlu bocah ini harus dimampuskan lebih dulu."

Maka cepat kedua belatinya berputar naik-turun dan kembali ia menubruk maju ke arah Ciok Boh-thian.

Luka di lengan Boh-thian yang terkena belati tadi sangat ringan, tapi pinggang yang tertusuk itu terasa sangat sakit.

Karena sekali balas serang Liong-congthocu itu kena dipaksa mundur, diam-diam Boh-thian berpikir.

"Eh, rupanya jurus serangan yang kuciptakan dengan secara ngawur itu boleh juga digunakan."

Ketika dilihatnya Liong-congthocu menerjang maju pula dengan bengis, cepat Boh-thian lantas mengegos ke samping, berbareng tangannya membalik dan menghantam ke punggung lawan.

Sebagai pemimpin besar Tiat-cha-hwe, sudah tentu ilmu silat Liong-congthocu itu bukanlah kaum keroco yang rendah.

Ketika didengarnya setiap pukulan Ciok Boh-thian itu selalu membawa sambaran angin yang keras, tenaga dalamnya ternyata sangat lihai, diam-diam ia menjadi jeri.

Sekarang ia tidak berani ayal dan memandang ringan lagi kepada Ciok Boh-thian, segera ia mengeluarkan segenap kepandaian yang diandalkannya, ia mulai menyerang ke tempat yang mematikan di tubuh pemuda itu dengan jurus-jurus serangan yang paling ganas.

Semula Ciok Boh-thian agak repot juga melayani serangan musuh yang menggencar itu, tapi lama-lama ia pun dapat mengikutinya sehingga pertarungan kedua orang makin lama makin sengit.

Bermula juga anggota-anggota Tiat-cha-hwe masih bersoraksorak memberi bantuan semangat kepada congthocu mereka, tapi sampai akhirnya mereka menjadi melongo dan ikut berdebar-debar menyaksikan pertempuran seru itu dan lupa bersorak lagi.

Dalam pada itu Thio Sam dan Li Si masih tetap menggeletak tak berkutik, sambil mengerahkan tenaga dalam untuk melawan meluasnya racun di dalam perut mereka pun mengikuti pertarungan sengit antara Ciok Boh-thian melawan Liong-congthocu.

Mereka sadar bahwa mati atau hidup mereka hanya tergantung kepada hasil pertempuran itu.

Berulang-ulang mereka melihat banyak kesempatan bagus bagi Ciok Boh-thian untuk mengalahkan lawannya, tapi kesempatan-kesempatan itu telah disia-siakan semua oleh pemuda itu.

Sungguh mereka merasa sayang sekali dan gelisah pula, bahkan mereka pun tidak berani terlalu memencarkan perhatian sehingga mengganggu tenaga dalam sendiri yang sedang dikerahkan untuk melawan racun itu.

Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama pula, mendadak Ciok Boh-thian melancarkan sebuah pukulan.

Baru saja Liong-congthocu itu hendak menangkis, tiba-tiba ia mencium dari angin pukulan lawan itu terbawa semacam bau harum yang memabukkan, seketika kepalanya menjadi pusing, orangnya lantas roboh dan tak sadarkan diri lagi.

Tapi air mukanya memperlihatkan tersenyum-senyum yang aneh.

Ciok Boh-thian berbalik terperanjat atas kejadian itu, cepat ia melompat mundur dan berseru.

"He, kenapa? Apa kau terpeleset jatuh? Boleh lekas bangun!"

Dari samping orang yang dipanggil sebagai Oh-toako itu telah berlari mendekati sang congthocu, tertampak muka pemimpin mereka itu berwarna matang biru, itulah pertanda kena racun yang mahajahat.

Waktu diperiksa pula napasnya, ternyata orangnya sudah mati.

Saking kaget dan gusarnya Oh-toako itu lantas berteriak dengan suara parau.

"An... anak jadah, kau... kau berani main licik dengan memakai racun, biarlah kita meng... mengadu jiwa saja dengan dia.... Hayolah kawan-kawan, maju semua untuk menuntut balas, Cong... Congthocu telah dibinasakan oleh anak bangsat ini!"

Orang-orang Tiat-cha-hwe serentak berteriak-teriak, mereka angkat tombak terus menyerang serabutan ke arah Ciok Bohthian.

Dengan mati-matian Ciok Boh-thian tetap mengadang di depan Thio Sam dan Li Si dan tidak berani menyingkir pergi, ia khawatir kalau sedikit lena tentu kedua saudara angkat akan dibunuh oleh tombak-tombak baja yang tak terhitung banyaknya itu.

Ketika sudah berbahaya, segera Boh-thian merebut sebatang tombak musuh, sekuatnya ia patahkan tombak itu sehingga menjadi pendek, lalu dia mainkan Kim-oh-to-hoat dengan kencang untuk menangkis dan menghalau serangan musuh.

Karena tenaga dalamnya memang sangat kuat dan tersalur ke batang tombaknya yang pendek itu, maka susahlah bagi musuh yang ingin menahannya, dalam sekejap saja belasan senjata lawan sudah tersampuk jatuh atau terpental.

Ada seorang anggota Tiat-cha-hwe yang berdiri paling depan, ketika tombaknya terbentur dan mencelat, segera ia menubruk maju, kedua tangannya terus mencakar ke muka Ciok Bohthian.

Melihat lawan itu menerjang dengan kalap, cepat tangan kirinya menyapu ke depan, maka terdengarlah suara "prak"

Yang keras, dengan tepat kesepuluh jari musuh kena ditampar sehingga sembilan di antara sepuluh jari itu patah semua, menyusul orang itu lantas terkulai ke lantai dan tak berkutik lagi.

Dalam pertarungan sengit itu, dengan sendirinya tiada orang sempat memerhatikan mati atau hidupnya anggota Tiat-chahwe itu.

Segera ada tujuh atau delapan kawannya menerjang maju lagi, ada yang bertombak dan ada yang bertangan kosong, dengan nekat mereka mengerubut Ciok Boh-thian.

Boh-thian sendiri tidak berani mundur barang selangkah pun, ia khawatir akan memberi lowongan kepada musuh sehingga kedua kakak-angkatnya mendapat cedera.

Maka bila dilihatnya ada musuh mendesak maju, kontan tangannya lantas menampar atau menabok.

Dan setiap kali ia menyerang, aneh juga, entah sebab apa pihak lawan pasti roboh terjungkal, saktinya tidak alang kepalang.

Begitulah, maka berturut-turut enam atau tujuh orang telah dirobohkan oleh Ciok Boh-thian.

Tentu saja pihak lawan menjadi geger, banyak di antaranya berteriak-teriak.

"Awas, pukulan anak keparat ini berbisa dan sangat lihai, kawankawan harus hati-hati!"

Lalu ada orang berseru pula.

"Ya, Ong-samko dan Sun-loliok juga telah binasa dipukul anak bangsat itu, hati-hatilah ka... kawan...."

Belum selesai ucapan orang ini.

"bluk" , tahu-tahu ia sendiri pun roboh terkapar, tombaknya yang antap tepat memukul mukanya sendiri. Rupanya orang ini belum lagi terkena pukulan berbisa dari Ciok Boh-thian, tapi dia toh mati juga keracunan. Di ruangan pendopo itu masih banyak anggota-anggota Tiatcha-hwe yang belum sempat ikut bertempur, mereka menjadi saling pandang dengan penuh ketakutan, tanpa merasa mereka mundur ke belakang selangkah demi selangkah. Menyusul terdengarlah suara gedubrakan dan gemerencing yang nyaring ramai, ternyata anggota-anggota Tiat-cha-hwe itu satu per satu telah roboh terjungkal dengan sendirinya, ada yang sempat memutar tubuh dan hendak melarikan diri, tapi belum seberapa langkah, tidak urung juga roboh terkapar dengan tombak mereka. Hanya dalam sekejap saja ratusan laki-laki tegap yang berada di ruangan pendopo itu sudah bergelimpangan memenuhi pendopo, tinggal empat orang saja yang berkepandaian paling tinggi, sedapat mungkin mereka menutupi mulut dan hidung sendiri, lalu mencari jalan buat berlari keluar. Namun mereka hanya mampu mencapai pintu ruang pendopo saja, lalu keempat orang itu jatuh terjungkal semua dan binasa. Menyaksikan keadaan demikian, bukannya Boh-thian bergirang atas kemenangannya, sebaliknya ia menjadi ternganga takut. Jauh lebih takut daripada waktu dia kesasar ke atas kapal yang penuh mayat di Ci-yan-to tempo hari. Maklum, waktu di atas kapal itu, yang dilihatnya adalah mayat anggota-anggota Huihi-pang yang sudah mati lebih dulu, tapi sekarang anggotaanggota Tiat-cha-hwe ini satu per satu menggeletak mati di depan matanya secara aneh, entah kena sihir atau disambar iblis nyawa mereka itu. Tiba-tiba Boh-thian teringat kepada seruan orang-orang Tiatcha-hwe tadi yang mengatakan pukulannya yang berbisa itu terlalu lihai, ia menjadi bingung sebab selamanya dirinya toh tidak pernah berlatih ilmu pukulan yang berbisa apa segala. Ketika tanpa sengaja ia coba mengamat-amati telapak tangannya sendiri, tiba-tiba terlihat di tengah-tengah telapak tangan itu terdapat toh merah sebesar gobang, di pinggir toh merah itu banyak terdapat garis-garis biru yang aneh. Dengan terheran-heran Boh-thian mengamat-amati sampai sekian lamanya, akhirnya ia merasa jijik sendiri, kedua tangan sendiri seakan-akan telah berubah sebagai benda-benda yang memuakkan, hidungnya mengendus pula bau yang aneh, seperti bau wangi dan seperti bau busuk yang susah dilukiskan. Boh-thian tidak ingin melihat tangannya sendiri lagi, ia coba berpaling memandang Thio Sam dan Li Si, keadaan kedua orang itu tampaknya baik-baik saja, ubun-ubun kepala mereka makin banyak mengepulkan uap putih, di bahu Thio Sam masih tetap menancap tombak yang ditimpukkan orang Tiat-cha-hwe tadi. Boh-thian pikir tombak yang menancap di bahu sang toako itu harus dicabut keluar lebih dahulu. Maka ia lantas mendekati Thio Sam, ia pegang gagang tombak dan perlahan-lahan dicabut ke luar. Darah segar lantas memuncrat keluar dari bahu Thio Sam. Cepat Boh-thian menahan luka itu dan menyobek ujung bajunya dan digunakan membalut luka sang toako. Terdengar Thio Sam telah menarik napas panjang, lalu dengan suara lemah ia berkata.

"Deng... dengarkanlah dan... dan kerjakanlah... menurut... petunjukku...."

Kiranya keadaan Thio Sam dan Li Si sama payahnya terkena racun araknya sendiri, tapi sesudah pundak Thio Sam mengeluarkan darah, hal ini malah membikin bekerjanya racun dihambat untuk sementara.

Ia insaf kesempatan yang cuma sedetik itu adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri, maka dengan sepenuh tenaga ia coba bicara kepada Ciok Boh-thian.

"Ya, baiklah, pasti akan kukerjakan menurut petunjuk Toako,"

Demikian Boh-thian menjawab.

"Gun... gunakanlah... tangan kirimu un... untuk menahan lengtay-hiat di.... di punggungku...."

Kata Thio Sam dengan terputus-putus dan sekata demi sekata, dan sesudah bernapas, lalu ia menyambung pula.

Begitulah, sesudah banyak membuang tenaga dan dengan susah payah akhirnya barulah Thio Sam selesai memberi petunjuk kepada Ciok Boh-thian, caranya mengerahkan lwekang untuk membantu mendesak keluar kadar racun yang mengeram di dalam tubuhnya.

Ketika habis bicara, saking letihnya jidatnya sampai penuh butiran keringat yang besarbesar, wajahnya juga merah membara dan napas terengahengah.

Boh-thian tidak berani ayal lagi, segera ia kerjakan menurut petunjuk sang toako.

Ia membuka baju Thio Sam dan menggunakan tangan kiri untuk menahan di leng-tay-hiat di bagian punggung, sedangkan tangan kanan menahan di tantiong-hiat, tenaga dalam dikerahkan masuk melalui tangan kiri untuk mendesak kadar racun, sebaliknya tangan kanan mengerahkan tenaga untuk mengisap keluar.

Benar juga, tidak antara lama terasalah ada suatu arus hawa yang hangat dan halus telah menyusup masuk melalui tangan kanannya.

Yang terpikir oleh Ciok Boh-thian hanya menolong jiwa Thio Sam saja, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa lantaran kerjanya itu kembali badannya sendiri telah kemasukan kadar racun yang tidak sedikit, yaitu racun yang asalnya mengeram di tubuh Thio Sam.

Selagi Boh-thian asyik melakukan tugasnya itu, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang banyak.

Dari luar telah berlari masuk belasan orang yang semuanya bersenjata tombak.

Terang mereka adalah anggota Tiat-cha-hwe pula.

Begitu mereka memasuki ruangan dengan sendirinya mereka lantas kaget melihat pemimpin dan kawan-kawan mereka sudah menggeletak tak bernyawa memenuhi pendopo itu.

Kiranya orang-orang Tiat-cha-hwe ini bertugas menjaga di luar, karena sudah sekian lamanya tiada terdengar sesuatu suara atau perintah dari sang congthocu, maka sebagian di antara mereka lantas masuk ke situ untuk melihat apa yang sudah terjadi.

Sudah tentu mereka tidak menduga bahwa kawan-kawan mereka sudah mati semua, saking kagetnya mereka melihat pula Ciok Boh-thian, Thio Sam dan Li Si masih duduk di atas lantai situ dan terang juga terluka parah, maka sambil berteriak-teriak anggota-anggota Tiat-cha-hwe itu serentak menyerbu maju sambil mengacungkan tombak mereka.

Mestinya Ciok Boh-thian hendak berbangkit untuk menghalau musuh.

Tak tersangka belasan orang Tiat-cha-hwe itu baru menerjang maju kira-kira beberapa meter jauhnya, mendadak tubuh orang-orang itu lantas sempoyongan seperti orang mabuk, menyusul satu per satu lantas roboh terkulai, seperti nasib kawan-kawan mereka yang lain, belasan orang itu pun mati tanpa bersuara.

Boh-thian sendiri tidak alang kepalang kagetnya, jantungnya sampai berdebar-debar, ia berteriak dengan gemetar.

"Toako... Toako, apakah... apakah di ruangan ini ada setan? Le... lekas kita pergi saja dari sini!"

Namun Thio Sam menjawabnya dengan menggeleng. Saat itu sebagian racun di tubuhnya sudah terdesak keluar, sakit perutnya sudah tidak sehebat tadi, maka dapatlah ia bicara dengan lebih lancar.

"Boleh kau menggunakan cara barusan ini un... untuk menolong Jiko pula."

Boh-thian mengiakan.

Segera menurutkan cara ajaran Thio Sam tadi untuk mengisap racun Li Si.

Sekarang yang terasa masuk di telapak tangannya adalah hawa halus yang dingin segar.

Kira-kira sepertanak nasi kemudian, kadar racun di dalam tubuh Li Si sudah banyak berkurang, maka bergilir Thio Sam yang ditolong.

Begitulah secara bergilir, berulang-ulang Boh-thian telah mengisap tiga kali pada tiap-tiap orang itu.

Walaupun sisa racun belum lenyap seluruhnya, tapi sekarang sudah tidak berhalangan lagi bagi Thio Sam dan Li Si.

Melihat mayat yang bergelimpangan di sekitar mereka, teringat kepada keadaan bahaya tadi, mau tak mau Thio Sam dan Li Si merinding sendiri dan bersyukur pula atas pertolongan Ciok Boh-thian.

Melihat air muka Ciok Boh-thian walaupun merasa takut-takut, tapi gerak-geriknya sangat tangkas, sedikit pun tiada tanda-tanda keracunan, maka diam-diam Thio Sam dan Li Si tidak habis mengerti, mereka merasa bocah ini mungkin memiliki kekebalan pembawaan atau mungkin pernah makan obat mukjizat apa-apa sehingga tidak mempan keracunan.

Hendaklah maklum bahwa arak berbisa dari kedua houlo itu sebagian besar telah diminum Ciok Boh-thian, yang diminum Thio Sam dan Li Si hanya sebagian kecil saja, tapi sekarang boleh dikata hampir seluruhnya kadar racun dari arak kedua houlo itu masuk di dalam tubuh Ciok Boh-thian.

Sebabnya orang-orang Tiat-cha-hwe itu seketika binasa bila kesampuk oleh angin pukulannya terang adalah karena tersebarnya racun mahajahat melalui telapak tangannya.

Bahkan akhirnya seluruh ruang pendopo itu pun penuh dengan hawa berbisa sehingga orang yang masuk ke situ akan mati seketika.

"Baiklah, Jite dan Samte, marilah kita pergi dari sini,"

Akhirnya Thio Sam berkata dan segera mendahului berjalan keluar dengan diikuti oleh Li Si dan Boh-thian.

Sesudah keluar dari lorong di bawah tanah, tertampaklah di atas berdiri beberapa puluh orang yang berkerumun di sekitar lubang masuk itu, semuanya bersenjata tombak dan sedang mengintai-intai.

Waktu melihat Thio Sam bertiga muncul, serentak mereka merubung maju.

Seorang di antaranya lantas menegur.

"Congthocu di mana? Mengapa belum lagi keluar?"

"Congthocu kalian berada di dalam,"

Sahut Thio Sam dengan tertawa.

"Jika kau ingin bertemu bolehlah masuk saja."

"Mengapa kalian keluar lebih dulu?"

Seorang yang berada di barisan depan ikut tanya.

"Hal ini aku sendiri pun tidak mengerti, maka lebih baik kalian boleh masuk ke dalam dan tanya saja kepada Congthocu,"

Sahut Thio Sam dengan tertawa.

Berbareng kedua tangannya lantas menjulur ke depan, kontan dua orang kena dicengkeramnya terus dilemparkan ke dalam lorong di bawah tanah.

Perawakan kedua orang itu sangat kekar, ilmu silat mereka pun tampaknya tidak lemah, siapa duga hanya sekali dicengkeram saja mereka lantas tak bisa berkutik, mirip bangkai saja mereka telah terlempar ke dalam lorong.

Keruan kawan-kawannya menjerit kaget, berbareng mereka angkat tombak terus menyerang.

Sama sekali Thio Sam tidak menghindar atau berkelit, sebaliknya ia mendesak maju dan kedua tangannya menyambar ke depan, kontan dua orang kena dicengkeram lagi terus dilemparkan pula ke belakang.

Ternyata serangan Thio Sam itu teramat jitu, di mana tangannya sampai tentu sasarannya kena dicengkeramnya.

Walaupun orang-orang Tiat-cha-hwe itu juga menyerang, tapi tombak mereka selalu menusuk tempat kosong atau cepatcepat ditarik kembali karena khawatir mengenai kawannya sendiri, maklum, mereka berkerumun di tempat yang sempit.

Ciok Boh-thian hanya menonton saja di samping, dilihatnya Thio Sam seenaknya saja mencengkeram dan melemparkan musuh sehingga mirip elang menyambar anak ayam, tak peduli cara bagaimana musuh berusaha melawannya atau ingin lari, tapi selalu sukar meloloskan diri dari cengkeraman dan lemparannya itu.

Makin melihat Boh-thian makin ternganga heran, sungguhsungguh tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini ternyata ada kepandaian setinggi ini.

Kalau dibandingkan sang toako angkat ini, maka jago-jago yang pernah dikenalnya seperti Pek-suhu, Ciok-cengcu, Ting Put-sam dan Ting Put-si, Su-popo, dan lainlain, apalagi si Ting-ting Tong-tong segala, boleh dikata tiada artinya lagi.

Di sebelah lain Li Si ternyata tidak perlu maju membantu, ia hanya berpangku tangan mengikuti kejadian itu.

Sesudah belasan orang dicengkeram dan dilemparkan ke dalam lorong oleh Thio Sam, segera Thio Sam memutar ke belakang untuk mengincar orang-orang yang berdiri paling jauh sehingga lambat laun orang-orang Tiat-cha-hwe itu didesak mendekati lubang lorong.

Sisa orang-orang Tiat-cha-hwe itu kini tinggal 30-an saja.

Mereka menjadi ketakutan demi melihat ilmu silat Thio Sam yang luar biasa itu, segera ada orang mendahului berteriak.

"Lari!"

Cepat orang itu melarikan diri ke dalam lorong di bawah tanah. Tanpa pikir kawan-kawannya lantas ikut masuk juga.

"He, jangan masuk ke sama, di dalam sana sangat berbahaya!"

Seru Boh-thian.

Tapi siapa yang mau percaya dan menurut padanya?

Bahkan orang-orang itu berebut mendahului menyelamatkan diri ke dalam lorong yang sudah penuh hawa berbisa itu.

Dan sudah tentu, tiada lama berselang orang-orang itu pun berturut-turut binasa semua.

Sungguh Boh-thian tidak habis mengerti, ia merasa bingung sebab apakah anggota-anggota Tiat-cha-hwe itu bisa mendadak mati satu per satu dan mengapa sang toako dan jiko itu juga mendadak sakit perut dan keracunan?

Pula untuk apa sang toako sengaja menggiring orang-orang itu masuk ke lorong di bawah tanah?

Begitulah ia menjadi ragu-ragu dan entah cara bagaimana harus ditanyakan kepada kakak-kakak angkat itu.

Sejenak kemudian, ia coba minta keterangan kepada Thio Sam.

"Toako...."

Tapi mendadak Thio Sam memotong.

"He, siapakah yang datang itu?"

Ketika Boh-thian berpaling, ia tidak melihat bayangan seorang pun, segera ia tanya.

"Siapakah yang datang? Di mana orangnya?"

Namun tak terdengar Thio Sam menyahut. Waktu Boh-thian berpaling kembali, ia menjadi terkejut. Ternyata Thio Sam dan Li Si sudah menghilang.

"Toako! Jiko! Ke manakah kalian?"

Seru Boh-thian.

Berulangulang ia berteriak, namun tiada jawaban apa-apa.

Kampung nelayan itu banyak terdapat rumah-rumah gubuk, berturut-turut ia memeriksa beberapa rumah gubuk itu, tapi semuanya kosong melompong tiada bayangan seorang pun.

Tatkala itu sang surya baru saja muncul di ufuk timur, seluruh kampung nelayan itu terang benderang, tapi keadaan sunyi senyap dan tinggal dia seorang diri.

Teringat kematian orang-orang Tiat-cha-hwe yang mengerikan di lorong itu, Boh-thian menjadi merinding takut.

Mendadak ia menjerit terus berlari terbirit-birit keluar kampung.

Sesudah belasan li berlari barulah Boh-thian melambatkan langkahnya.

Waktu ia periksa kembali telapak tangannya sendiri, ia melihat toh merah yang timbul di tengah telapak tangan itu sekarang sudah hilang sebagian besar dan tidak sejijik seperti tadinya, maka legalah hatinya.

Kiranya timbulnya toh merah di telapak tangan itu adalah tergantung keadaan, karena dia sudah tidak mengerahkan tenaga, maka racun yang terdesak itu lantas mengalir kembali ke dalam tubuh melalui urat nadinya.

Dan begitulah selanjutnya karena dia berlatih tiap hari, maka racun jahat itu pun perlahan-lahan punah sendiri dan lwekangnya juga ikut bertambah hebat.

Sesudah 7x7=49 hari nanti barulah seluruh kadar racun di dalam tubuh itu dapat punah seluruhnya.

Begitulah, tanpa membedakan arah, Ciok Boh-thian terus berjalan mengikuti langkahnya.

Sesudah setengah harian, kembali ia telah sampai di tepi Tiangkang (Sungai Panjang).

Segera ia menyusur jalan di tepi sungai itu dan menuju ke hilir sungai.

Sewaktu tengah hari sampailah di suatu kota kecil, Boh-thian membeli bakmi sekadar isi perut, lalu melanjutkan perjalanan ke timur.

Karena dia tiada mempunyai sesuatu kepentingan, maka ia terserah ke mana dirinya akan terbawa oleh kakinya.

Waktu petang, tiba-tiba dilihatnya jauh di depan di antara hutan sana ada dinding rumah, sesudah dekat, kiranya adalah sebuah kelenteng yang megah.

Di depan kelenteng itu terbentang sebuah jalanan yang lebar dan rata terbuat dari papan-papan batu.

Tiba-tiba dari dalam kelenteng tampak berjalan keluar dua tojin (imam agama To atau Tau) berkopiah kuning dan membawa pedang.

Waktu melihat Ciok Boh-thian, dengan langkah cepat kedua tojin setengah umur itu lantas mendekatinya.

Seorang imam itu lantas menegur.

"Kau mau apa?"

Rupanya dia melihat pakaian Boh-thian kotor dan kumal, usianya masih muda, kelakuannya juga ketolol-tololan, maka nada teguran imam itu menjadi agak kasar.

Namun Boh-thian tidak ambil pusing, ia menjawab dengan tertawa.

"Ah, tidak mau apa-apa, aku hanya berjalan-jalan saja. Eh, apakah di sini adalah kelenteng hwesio (padri agama Buddha)? Apakah bisa memberi sedikit makanan padaku?"

"Anak goblok sembarangan omong,"

Semprot tojin itu dengan gusar.

"Kau sendiri lihat apakah aku ini seorang hwesio? Hayo, lekas enyah, lekas! Kalau berani main gila lagi ke Siang-jing koan sini, awas kedua kaki anjingmu!"

Berbareng tojin yang lain tampak meraba-raba pedangnya dengan muka bengis, lagaknya seperti segera akan lolos senjata untuk membunuh orang. Namun dengan tertawa Boh-thian hanya berkata.

"O, jika bukan kelenteng hwesio, maka tentulah kelenteng tosu. Soalnya perutku sudah lapar, maka ingin minta sedikit makanan pada kalian, toh aku tidak ingin berkelahi. Ya, tanpa sebab buat apa mesti membunuh dua orang tojin?"

Sambil berkata ia pun terus berjalan pergi.

"Kau bilang apa?"

Damprat imam yang muda tadi dengan gusar, berbareng ia lantas memburu maju.

Apa yang dikatakan Ciok Boh-thian itu sesungguhnya tidaklah salah.

Ketika di ruang bawah tanah di tempat sembunyi orangorang Tiat-cha-hwe itu, sekali tangannya bergerak tentu jatuh seorang korban, hal ini membuatnya sangat menyesal, maka ia benar-benar tidak ingin berkelahi lagi dengan orang.

Sekarang dilihatnya imam muda itu memburu dan hendak melabraknya, ia menjadi khawatir jangan-jangan di luar tahunya kembali imam itu dibunuhnya pula.

Maka tanpa pikir lagi ia terus angkat langkah seribu, dengan cepat ia lari masuk ke dalam hutan.

Maka terdengarlah kedua tojin itu tertawa terbahak-bahak.

Imam yang setengah umur tadi berkata.

"Hahaha! Rupanya seorang bocah dogol, hanya sedikit digertak saja sudah lari terbirit-birit mencawat ekor!"

Boh-thian sendiri merasa lega melihat kedua imam itu tidak mengejarnya.

Tapi hari sebentar lagi akan gelap, untuk mencari sedikit makanan atau buah-buahan sekadar tangsel perut juga susah, sebab hutan itu melulu pohon cemara dan sebagainya yang tak berbuah.

Ia coba berlari ke atas sebuah bukit kecil dan memandang sekitarnya, ia lihat dari belasan rumah.

Cerobong rumah bagian belakang tampak mengepulkan asap, hal ini menandakan penghuninya sedang menanak nasi dan memasak.

Kecuali kompleks bangunan kelenteng itu tiada terdapat bangunan lain di sekitar situ.

Melihat cerobong yang mengepulkan asap, Ciok Boh-thian menjadi terbayang-bayang kepada masakan-masakan enak, maka perutnya yang lapar itu tambah berkeroncongan.

Ia pikir.

"Para tojin itu tampaknya sangat garang, baru saja bicara sudah ajak berkelahi. Biarlah aku mengintip ke rumah belakang sana, bila ada makanan, segera aku mencurinya dan lari."

Begitulah ia lantas memutar ke belakang kelenteng, ditujunya rumah yang bercerobong asap tadi, lalu ia menggeremet maju mepet tembok.

Tiba-tiba dilihatnya pintu belakang rumah itu setengah tertutup dan setengah terbuka, keruan ia menjadi girang.

Ia melongok ke dalam dan melongok ke belakang seperti maling khawatir kepergok, lalu menyelinap masuk ke dalam.

Sementara itu hari sudah gelap, sesudah masuk pintu belakang itu, maka Boh-thian telah berada di suatu pelataran dalam.

Di sebelah sana adalah serambi panjang dengan kamar dapur yang besar, terdengar suara wajan gemerencang terketok dan suara minyak mengosos disertai bau sedap yang teruar jauh ke luar dapur.

Keruan semua itu makin merangsang selera Ciok Boh-thian yang memang sudah kelaparan itu, hampir saja ia mengiler, cepat ia menelan ludah, biji lehernya sampai naik-turun.

Ia dengar di dalam dapur itu banyak orang, ia pikir kalau menuju langsung ke sana tentu akan kepergok.

Tiba-tiba ia mendapat akal, dengan hati-hati ia mendekati pintu dapur, ia sembunyi di pinggir serambi yang gelap.

Pikirnya.

"Ingin kulihat masakan yang selesai diolah itu nanti dibawa ke mana? Jika di dalam ruang makan sana toh belum ada orang, maka aku akan mencuri sepotong daging dan semangkuk nasi, lalu akan kubawa lari, dengan demikian aku tak perlu berkelahi atau membunuh orang lagi."

Benar juga, tidak antara lama, terlihatlah tiga orang keluar dari kamar dapur itu.

Semuanya adalah tosu kecil.

Seorang membawa tanglung (lampu berkerudung) berjalan di depan, di belakangnya dua orang masing-masing membawa nampan dengan masakan-masakan yang menyiarkan bau sedap, terang masakan-masakan itu adalah sebangsa Ang-sio-bak, ayam goreng dan sebagainya.

Keruan biji leher Ciok Boh-thian naik-turun lagi, berulang-ulang ia telan ludah sendiri pula.

Dengan berjinjit-jinjit ia lantas menguntit di belakang tosu-tosu kecil itu.

Sesudah menyusur serambi dan melalui sebuah gang, akhirnya ketiga tosu cilik itu masuk ke sebuah ruangan.

Masakanmasakan yang mereka bawa itu ditaruh di atas meja.

Dua tosu kecil di antaranya lantas kembali dulu ke dapur, tertinggal seorang tosu kecil yang masih mengatur meja-kursi, sumpit dan cawan dan lain-lain yang perlu dalam perjamuan.

Dengan sembunyi di balik jendela ruangan yang panjang itu dengan mata tak berkedip Ciok Boh-thian terus mengincar makanan-makanan yang sudah siap di atas meja itu.

Sungguh kalau dia tidak khawatir memukul mati tosu cilik itu, tentu sejak tadi dia sudah menerjang masuk dan menggasak makanan lezat itu.

Tunggu punya tunggu, syukurlah akhirnya tosu kecil itu meninggalkan ruang makan itu dan menuju ke ruangan sana.

Tanpa ayal lagi Ciok Boh-thian lantas menyerobot ke dalam, lebih dahulu ia comot sepotong "Ang-sio-gu-bak" (daging sapi masak saus) dan dijejalkan ke dalam mulut, saking keburunya sampai ia keselak.

Sambil mengunyah, kedua tangannya lantas menyambar pula seekor ayam kuah dan bermaksud membetot paha ayam.

"Pek-sak" (ayam masak kuah bening) itu. Tapi baru saja Ang-sio-gu-bak tadi masuk ke perutnya, tibatiba terdengar di luar jendela sana ada suara orang bicara.

"Sute, Sumoay, silakan sebelah sini!"

Lalu terdengar suara tindakan beberapa orang menuju ke ruangan makan itu.

"Wah, celaka! Bisa kepergok aku ini!"

Demikian Boh-thian mengeluh. Saat itu paha ayam "Pek-sak"

Tadi belum lagi kena dibesetnya, terpaksa ia angkat ayam itu seekor penuh terus hendak berlari ke ruangan belakang, tapi mendadak dari belakang juga ada suara orang yang lagi mendatangi.

Ia coba periksa sekitarnya, ternyata ruangan itu cukup luas dan tiada tempat sembunyi yang baik.

Diam-diam Boh-thian mengeluh dan gelisah.

"Wah, jangan-jangan aku terpaksa harus berkelahi dan membunuh lagi."

Bab 28.

Thian-hi Tojin Ketua Siang-jing-koan Dalam pada itu beberapa orang itu sudah berada di depan deretan jendela panjang, sejenak lagi tentu akan memasuki ruang makan.

Pada saat yang sudah sangat mendesak itu, sekilas Boh-thian melihat di atas ruangan itu tergantung melintang sebuah papan pigura besar yang bertuliskan tiga huruf emas.

Karena sudah kepepet, tanpa pikir lagi Boh-thian lantas meloncat ke atas belandar, lalu menyusup ke belakang papan pigura itu.

Ia setengah merebah dan rasanya cukup baginya untuk sembunyi.

Apa yang terjadi itu hanya berlangsung dalam beberapa detik saja.

Di sini Ciok Boh-thian baru saja sembunyi di belakang papan pigura, di sebelah sana orang-orang tadi pun sudah mendorong pintu dan melangkah masuk.

Terdengar seorang di antaranya sedang berkata.

"Kita adalah saudara seperguruan, mengapa Suko seperti kedatangan tamu agung saja dan mengadakan perjamuan apa segala."

Boh-thian merasa suara orang itu sudah dikenalnya.

Ia coba mengintip ke bawah melalui sela-sela pigura itu, ia lihat ada belasan tojin mengiringi dua orang tamu pria dan wanita.

Kiranya kedua orang tamu ini adalah Ciok-cengcu suami-istri, yaitu Ciok Jing dan Bin Ju dari Hian-soh-ceng.

Terhadap Ciok Jing berdua sampai sekarang Ciok Boh-thian masih sangat berterima kasih, lebih-lebih Nyonya Ciok yang dahulu pernah memberi sedekah kepadanya, pula belum lama berselang telah mengajarkan ilmu pedang padanya.

Maka setelah bertemu sekarang, seketika timbul perasaan hangat di lubuk hati pemuda itu.

Sementara itu seorang tosu tua yang sudah ubanan terdengar membuka suara.

"Sute dan Sumoay datang dari jauh, sungguh suhengmu ini merasa girang tak terhingga, hanya secawan arak bening ini saja masakah dapat dikatakan sebagai perjamuan?"

Tiba-tiba tosu tua itu melihat di atas meja perjamuan penuh tetes air kuah, sebuah pinggan (basi) hanya tinggal sedikit sisa kuah bening, masakan pokok di dalam basi itu entah ayam atau itik, ternyata sudah terbang.

Tosu tua itu mengerut kening, ia pikir bagaimana kerjanya anak-anak ini, masakah makanan yang sudah siap tidak dijaga sehingga kena digondol kucing.

Karena berada di depan tamu, ia merasa tidak baik untuk mendamprat anak-muridnya yang lengah itu.

Tatkala itu kembali ada tosu-tosu cilik membawakan masakan lain lagi.

Waktu mereka melihat keadaan meja perjamuan yang morat-marit itu, mereka menjadi kikuk dan serbasalah, cepat mereka membersihkan meja dan menyiapkan daharan yang lain lagi.

Dengan hormat tosu tua itu menyilakan Ciok Jing suami-istri duduk di meja utama, ia sendiri mengiringinya bersama tiga orang tojin lain yang setengah umur, sisanya 12 orang tojin lagi terbagi pada dua meja yang lain.

Setelah minum beberapa cawan, kemudian tosu tua itu membuka suara pula dengan terharu.

"Selama delapan tahun tidak bertemu, ternyata Sute dan Sumoay tidak kurang sehat dan gagahnya daripada dahulu. Sebaliknya suhengmu ini sekarang sudah tua dan loyo."

"Rambut Suheng memang telah tambah ubanan, tapi semangatmu toh tetap sangat kuat,"

Sahut Ciok Jing.

"Tambah ubanan apa? Rambutku ini adalah karena pikiranku yang sedih, hanya dalam semalam saja lantas ubanan,"

Kata si tosu tua.

"Jika Sute dan Sumoay datang kemari pada tiga hari yang lalu, tentu jenggot dan rambutku tidaklah seputih ini, paling-paling cuma setengah putih saja."

"Yang dipikirkan Suheng apakah urusan tentang kedua sucia (rasul) Siang-sian dan Hwat-ok (pengganjar bajik dan penghukum jahat) itu?"

Tanya Ciok Jing.

"Ya, kecuali urusan ini, rasanya tiada urusan kedua di dunia ini yang dapat membuat Thian-hi Tojin dari Siang-jing-koan berubah menjadi lebih tua 20 tahun hanya dalam waktu semalam,"

Sahut si tosu tua alias Thian-hi Tojin.

"Justru Sute dan Sumoaymu ini mendengar tentang berita bahwa kedua rasul itu kembali muncul, dunia persilatan harus menghadapi bencana pula, makanya siang-malam kami memburu kemari untuk berunding dengan Ciangbun-suheng dan para Suheng dan Sute,"

Tutur Ciok Jing.

"Selama sepuluh tahun terakhir ini nama Siang-jing-koan kita cukup menonjol di kalangan bu-lim, pohon besar tentu terancam angin, kukira kedua rasul itu boleh jadi akan berkunjung ke sini. Maka ada maksud Siaute suami-istri untuk tinggal satu-dua bulan di sini. Bilamana mereka benar-benar mencari gara-gara ke sini, walaupun tidak becus, sedikitnya kami suami-istri juga dapat berjuang mati-matian bahu-membahu bersama para Suheng demi perguruan."

Thian-hi saling pandang sekejap dengan para tosu yang hadir di situ, lalu menghela napas perlahan sambil merogoh keluar dua bentuk medali tembaga.

Ia taruh kedua buah medali itu di atas meja.

Dari atas Boh-thian dapat melihat dengan jelas bahwa kedua medali tembaga itu pun terukir muka tertawa dan muka gusar sebagaimana medali-medali yang pernah dilihatnya di atas kapal mayat dan di sarang Tiat-cha-hwe.

Diam-diam ia tercengang.

"Aneh, mengapa Thian-hi Tojin ini pun mempunyai dua buah medali yang serupa?"

Dalam pada itu terdengar Ciok Jing telah berkata dengan heran.

"Eh, kiranya sucia itu sudah berkunjung kemari. Jika demikian kedatangan Siaute suami-istri toh tetap ketinggalan walaupun kami telah memburu kemari siang dan malam. Dan apakah mengenai urusan itu? Lalu cara... cara bagaimana Suheng melayaninya?"

Karena pikiran Thian-hi tidaklah tenteram, seketika ia menjadi susah menjawab. Segera seorang tojin setengah umur yang duduk di sebelahnya mewakilkan menjawab.

"Datangnya kedua sucia itu adalah kejadian tiga hari yang lalu. Berkat budi Ciangbun-suheng yang luhur dan rela menanggung segala kemungkinan, maka beliau sudah menyanggupi akan pergi ke sana untuk makan ‘Lap-pat-cok’ (bubur atau jenang tanggal 8 bulan 12 atau penutup tahun)."

Ketika melihat kedua medali tembaga, memangnya Ciok Jing sudah menduga akan hal demikian. Segera ia berbangkit dan memberi hormat kepada Thian-hi, katanya.

"Dengan rela Suko telah menanggungnya sendirian untuk menyelamatkan seluruh penghuni Siang-jing-koan ini, sungguh Siaute merasa berterima kasih dan malu pula, di sini terimalah hormat Siaute lebih dulu. Cuma Siaute masih ada suatu permohonan yang kurang pantas, sebelumnya mohon Suko sudi memaafkan."

Thian-hi tersenyum, sahutnya.

"Segala apa di dunia ini sekarang bagiku adalah laksana awan yang terapung di udara itu. Apa yang Sute inginkan tentu akan kupenuhi."

"Jika demikian, jadi tegasnya Suko sudah menyanggupi?"

Ciok Jing menegas.

"Ya, kusanggupi,"

Sahut Thian-hi.

"Entah apakah keinginan Sute itu?"

"Begini, dengan lancang Siaute mohon agar Suko suka menyerahkan tugas ciangbun atas Siang-jing-koan ini kepada kami suami-istri,"

Tutur Ciok Jing. Ucapan Ciok Jing ini membuat para tosu yang hadir di situ menjadi melengak semua. Dan belum lagi Thian-hi menjawab, segera Ciok Jing menyambung pula.

"Setelah kami suami-istri memegang jabatan ciangbun ini, maka undangan untuk makan Lap-patcok itu biarlah kami yang pergi ke sana mewakilkan Suko."

Mendadak Thian-hi terbahak-bahak, suara tertawa yang mengandung rasa pahit getir, matanya juga tampak basah berkaca-kaca. Katanya.

"Maksud baik Hiante berdua, biarlah suhengmu terima di dalam hati. Sebagai ketua Siang-jingkoan, suhengmu sudah cukup dikenal oleh orang bu-lim selama belasan tahun ini. Sekarang di kala menghadapi bahaya masakah aku malah menghindarkan tanggung jawabku, lalu muka Thian-hi yang tua keriput ini kelak harus ditaruh ke mana?"

Sampai di sini Thian-hi telah pegang tangan kanan Ciok Jing, lalu menyambung pula.

"Sute, usia kita selisih terlalu banyak, kau adalah keluarga preman pula, kita jarang berkumpul di masa yang lalu, tapi hubungan kita selamanya sangat baik, apalagi ilmu silatmu dan pribadimu sesungguhnya adalah tokoh utama perguruan kita, selama ini Suheng sangat kagum padamu. Coba kalau bukan lantaran janji Lap-pat-cok ini, tentu Suheng akan menyerahkan jabatan ciangbun ini kepadamu. Namun keadaan hari ini sudah lain, maka permintaanmu tiada mungkin dapat kupenuhi lagi. Hahaha!"

Di tempat sembunyinya Boh-thian dapat mendengar dengan jelas percakapan itu. Ia tidak tahu barang apakah "Lap-patcok"

Yang dibicarakan itu.

Ia masih ingat istilah itu pun pernah diucapkan Thio Sam waktu bertemu dengan orang-orang Tiatcha-hwe, sekarang demi menyebut janji makan "Lap-pat-cok", Thian-hi Tojin lantas sedih, apa barangkali "Lap-pat-cok"

Itu adalah sesuatu racun yang lihai? Dalam pada itu terdengar Thian-hi telah berkata pula.

"Sute, bahwasanya rambut Suheng menjadi putih dalam semalam, hal ini sekali-kali bukanlah karena takut mati. Usiaku sekarang sudah 62 tahun, kalau mati tahun ini juga sudah cukup umur. Hanya saja yang selalu kupikirkan adalah cara bagaimana agar kita dapat melenyapkan bencana besar yang setiap sepuluh tahun satu kali tentu menimpa bu-lim ini? Dengan cara bagaimana agar nama dan ilmu silat perguruan kita yang jaya ini dapat dipertahankan? Ya, memang semuanya ini adalah urusan mahasulit. Selama 32 tahun berselang, pihak sana sudah tiga kali mengadakan perjamuan Lap-pat-cok. Setiap tokoh dan setiap jago dari berbagai kalangan dan golongan yang diundang ke sana belum pernah ada seorang pun yang dapat pulang. Sesungguhnya kematian Suheng ini tiada perlu dibuat gegetun, hanya, saja urusan kesudahannyalah yang perlu kita pikirkan."

Tiba-tiba Ciok Jing juga terbahak, ia angkat cawan arak dan mengeringkan isinya, lalu berkata.

"Suko, bahwasanya secara lancang Siaute mohon Suko menyerahkan jabatanmu, hal ini bukanlah Siaute ingin mewakilkan Suko untuk mengantarkan jiwa, tapi bertujuan ingin menyelidiki persoalan ini, ya, boleh jadi Thian memberkahi sehingga Siaute dapat menyelidiki rahasia di dalamnya, walaupun Siaute tak berani menjamin akan mampu menumpas malapetaka yang selalu mengancam bu-lim ini, tapi asal rahasia di balik layar sudah dapat disiarkan, lalu setiap orang persilatan sama berbangkit dan beramai-ramai berjuang, masakah kita benar-benar tak mampu melawan pihak mereka itu?"

Namun Thian-hi telah menggeleng perlahan, katanya.

"Bukanlah aku sengaja menilai tinggi pihak orang dan mengartikecilkan Sute, coba lihat, tokoh-tokoh sebagai It-bok Totiang dari Bu-tong-pay, Giok-cin Tojin dari Jing-sia-pay, dan tokoh-tokoh lain yang berkepandaian tinggi toh mereka hanya bisa pergi dan tak bisa kembali. Maka menurut pendapatku, ai, biarpun ilmu silat Sute cukup tinggi, betapa pun... betapa pun juga belum dapat dibandingkan dengan kaum cianpwe (angkatan tua) sebagai It-bok dan Giok-cin Totiang."

"Untuk ini Siaute juga cukup tahu diri,"

Ujar Ciok Jing.

"Namun berhasil atau tidak dari sesuatu urusan sebagian adalah tergantung pada kepandaian dan sebagian lagi juga tergantung kepada nasib. Andaikan Siaute tidak mampu menumpas bencana ini, tapi berusaha untuk menyelidiki sedikit rahasia yang menyangkut urusan ini rasanya bukanlah tiada harapan sama sekali."

Namun Thian-hi tetap menggeleng, katanya.

"Jabatan Ciangbunjin Siang-jing-koan kita selama ratusan tahun ini selalu dipegang oleh kaum beribadat (tosu). Bila aku mati, maka aku sudah menunjuk Tiong-hi Sute sebagai penggantiku. Untuk selanjutnya asalkan Sute berdua suka membantu sepenuh tenaga agar supaya golongan kita tetap berkembang, maka cukuplah bagiku untuk menyatakan terima kasih yang tak terhingga."

Begitulah meski Ciok Jing telah berulang kali mendesak, tapi Thian-hi tetap menolak sehingga semua orang sampai berhenti minum dan lupa makan.

Di tempat sembunyinya Boh-thian sendiri sedang asyik menikmati ayam Pek-sak yang dicurinya dari meja perjamuan tadi.

Sepotong demi sepotong ia jejalkan daging ayam itu ke dalam mulut, tapi karena khawatir mengeluarkan suara, maka ia tidak berani mengunyah, jadi terus menelannya matangmatang begitu saja.

Walaupun demikian ia pun tidak lupa pasang mata mengintip segala kejadian di bawah.

Dilihatnya Nyonya Ciok, yaitu Bin Ju, sejak mula hanya mendengarkan saja pembicaraan sang suami dengan Thian-hi Tojin tanpa menimbrung apa-apa, sebaliknya perlahan-lahan ia mengambil kedua bentuk medali tembaga yang berada di atas meja, ia mengamat-amati medali-medali itu sejenak, lalu seperti sengaja dan seperti tidak sengaja ia hendak memasukkan benda-benda itu ke dalam sakunya.

"Taruh kembali, Sumoay!"

Mendadak Thian-hi berseru.

"Ah, aku yang menyimpannya bagi Suko toh sama saja,"

Sahut Bin Ju dengan tersenyum dan tampaknya kedua medali itu segera akan masuk ke dalam bajunya.

Thian-hi menjadi khawatir, mencegahnya dengan ucapan tak dihiraukan, terpaksa ia hendak merebutnya kembali dengan tangan.

Tapi kebetulan pada saat itu Ciok Jing sedang menjulurkan sumpitnya hendak mengambil makanan sehingga lengannya tepat merintangi tangan Thian-hi yang terjulur itu.

Segera Tiong-hi yang duduk di sebelahnya Bin Ju ikut bergerak, cepat tangannya menyambar hendak merampas medali-medali itu sambil berkata.

"Lebih baik serahkan padaku saja!"

Namun cepat Bin Ju telah mengangkat tangannya ke atas, berbareng tangan yang lain terus mengebas ke bawah.

Terpaksa Tiong-hi menarik kembali tangannya dan balas menutuk pergelangan tangan Nyonya Ciok dan begitulah lantas terjadi serang-menyerang di antara mereka.

Tiong-hi sudah ditetapkan oleh Thian-hi untuk menggantikannya menjabat sebagai ketua Siang-jing-koan, ini berarti Tiong-hi adalah calon pemimpin yang akan datang, ia pun terhitung tokoh yang tertinggi ilmu silatnya di dalam kelenteng itu di samping Thian-hi sendiri.

Sudah tentu Tiong-hi mengetahui apa yang dilakukan Ciok Jing dan istrinya itu timbul dari maksud yang baik.

Tapi kedua bentuk medali tembaga itu menyangkut jiwa semua penghuni Siang-jing-koan, Thian-hi sudah menerimanya dari kedua rasul pengganjar dan penghukum, jika sekarang jatuh ke tangan orang lain, hal ini berarti jiwa semua imam di dalam kelenteng itu pun terancam, sebab inilah maka Tiong-hi telah berusaha merebutnya sedapat mungkin.

Begitulah, sambil tetap berduduk Tiong-hi dan Bin Ju telah bergebrak belasan jurus.

Kedua orang adalah tunggal guru, yang dimainkan adalah Kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) dari perguruan sendiri, walaupun masing-masing tiada maksud melukai lawannya, tapi terpaksa juga mesti mengeluarkan segenap kepandaian.

Sebagai saudara seperguruan mereka sudah berpisah 20-an tahun, selama itu walaupun pernah bertemu beberapa kali, tapi belum pernah menyaksikan sampai di mana kemajuan ilmu silat masing-masing.

Sekarang kedua orang mendadak bergebrak dengan sama kuatnya, mau tak mau dalam hati masing-masing juga memuji akan kemajuan lawannya.

Belasan tojin yang duduk di meja-meja lain sementara itu juga telah mengikuti pertarungan Tiong-hi dan Bin Ju.

Tojin-tojin itu adalah jago-jago terkemuka semua, mereka pun tahu selama belasan tahun ini nama Ciok Jing dan Bin Ju sangat menonjol di dunia Kangouw, sekarang menyaksikan Nyonya Ciok itu berebut medali tembaga dengan Tiong-hi secara diam-diam, nyonya itu telah memperlihatkan segenap intisari ilmu silatnya dari perguruan mereka, maka tojin -tojin itu merasa sangat kagum dan gegetun.

Ternyata di antara mereka tiada seorang pun yang sadar bahwa di atas kepala mereka masih ada sepasang mata yang lain sedang mengikuti perebutan medali itu.

Pada belasan jurus permulaan kekuatan Bin Ju dan Tiong-hi boleh dikata sembabat.

Namun sebelah tangan Nyonya Ciok itu memegang dua buah medali sehingga tangan kanan itu cuma dapat menggunakan kepalan saja dan jarinya tak dapat dimanfaatkan.

Lantaran demikian, Kim-na-jiu-hoat yang paling bagus menjadi tak dapat dimainkan dengan sempurna.

Sesudah beberapa jurus pula, dengan lwekang yang kuat tangan kiri Tiong-hi berhasil memaksa lengan kiri Ciok-hujin ke bawah, berbareng tangan kanannya sudah menyambar dan sudah dapat menyentuh medali-medali yang tergenggam di tangan nyonya itu.

Bin Ju insaf sekali ini pasti susah dipertahankan lagi.

Jika ia menggenggam terus dan sama-sama mengadu lwekang, pertama kurang pantas dilihat orang banyak, kedua dirinya betapa pun adalah wanita, dalam hal lwekang tentu tidak sekuat Tiong-hi.

Segera ia mengendurkan tangannya sehingga kedua bentuk medali dibiarkan jatuh.

Dengan jalan demikian ia berharap sang suami yang duduk di sisinya akan dapat menyambar benda-benda itu.

Di luar dugaan, baru saja Ciok Jing hendak menjulurkan tangannya, sekonyong-konyong dua rangkum yang keras telah menyambar ke mukanya.

Kiranya Thian-hi yang telah menolaknya dengan kedua tangan.

Kedua rangkum angin itu sangat kuat, kalau tidak ditangkis tentu akan terluka parah.

Maka terpaksa ia angkat tangan untuk menangkis.

Dan karena sedikit ayal itulah, Ciau-hi Tojin yang duduk di sebelah Thian-hi telah dapat menyambar kedua medali tembaga itu.

Begitu medali-medali itu jatuh di tangannya Ciau-hi, serentak Ciok Jing suami-istri, Thian-hi dan Tiong-hi lantas bergelak tertawa dan berhenti bergebrak.

Tiong-hi dan Ciau-hi lantas membungkuk tubuh dan berkata.

"Harap Sute dan Sumoay suka memaafkan."

Cepat Ciok Jing dan Bin Ju membalas hormat, kata Ciok Jing.

"Mengapa kedua Suheng berkata demikian, justru Siaute berdua yang telah berlaku kasar. lwekang yang telah dicapai Ciangbun-suheng ternyata sedemikian tingginya dan berpuluh kali lebih kuat daripada Siaute, rasanya perjalanan ini walaupun berbahaya, tapi untuk meloloskan diri saja dengan selamat rasanya juga bukan tiada harapan."

Kiranya sesudah bergebrak tadi, Ciok Jing telah mengetahui lwekang sang suheng ternyata jauh lebih tinggi daripada dirinya, maka semangatnya yang sok jagoan tadi lantas lenyap sebagian besar.

Dengan tersenyum getir Thian-hi lantas menjawab.

"Ya, semoga terkabul menurut doa Sute itu. Terima kasih. Marilah, silakan minum!"

Lalu ia mengangkat cawan dan menenggaknya hingga habis.

Meski Siang-jing-koan adalah tempat beribadat, tapi mereka tidak pantang minum arak dan makan barang berjiwa.

Dalam pada itu Ciok Boh-thian yang menyaksikan Bin Ju tak berhasil merebut kedua medali tembaga yang tidak diketahui apa gunanya itu, karena teringat kepada kebaikan Nyonya Ciok dahulu, maka diam-diam ia telah merancang.

"Tosu itu telah merebut medali-medali tembaga, sebentar aku akan merebutnya pula untuk dihadiahkan kepada Ciok-hujin."

Sementara itu sesudah saling mengangkat gelas dan habis minum, lalu Ciok Jing berbangkit dan berkata.

"Kuharap perjalanan Suheng nanti takkan mengalami sesuatu halangan sehingga dapat pulang dengan selamat. Siaute sendiri karena urusan seorang anakku kena diculik orang dan sekarang buruburu ingin pergi menolongnya sehingga tidak sempat bicara lebih lama dengan para Suheng dan Sute, maka sukalah para Suheng memaafkan, sekarang juga kami mohon diri."

Mendengar itu, para tosu terperanjat. Kata Thian-hi.

"Kabarnya putra Sute belajar di tempat Swat-san-pay, dengan nama Sute suami-istri, ditambah pengaruh Swat-san-pay yang besar, masakah ada manusia yang begitu kurang ajar dan berani menculik putramu?"

Ciok Jing menghela napas, sahutnya.

"Urusan ini terlalu panjang untuk diceritakan, soalnya juga karena salah Siaute sendiri yang tidak pandai mendidik anak, maka akibat yang ditimbulkan anak yang menyeleweng itu tidaklah dapat menyalahkan orang lain."

Hendaklah maklum bahwa Ciok Jing adalah seorang yang bijaksana, walaupun Hian-soh-ceng, kediamannya yang megah itu, telah dibakar habis oleh Pek Ban-kiam, tapi ia tahu sebab musababnya adalah kesalahan di pihaknya sendiri, maka dia tidak menaruh dendam kepada Swat-san-pay.

Di antara para tosu itu, Tiong-hi terhitung orang yang paling simpatik, dengan suara lantang ia lantas berseru.

"Sute dan Sumoay, jika musuh berani menculik putramu, itu berarti dia pun memandang rendah kepada Siang-jing-koan. Tak peduli tokoh macam apa penculik itu, biarpun suhengmu ini tidak becus juga pasti akan memberi bantuan padamu."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Sedangkan putramu diculik orang, tapi kau toh perlukan datang ke tempat perguruan yang sedang menghadapi kesukaran, hal ini menandakan betapa baik budi Sute berdua. Untuk ini masakah kami tidak mempunyai perasaan dan berpeluk tangan membiarkan Sute mengalami kesukaran sendiri?"

Ia sangka kalau penculik itu sudah tidak gentar kepada Ciok Jing suami-istri dan tidak takut kepada orang-orang Swat-sanpay yang berpengaruh itu, maka penculik itu tentulah seorang tokoh yang sangat lihai.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa orang yang menangkap putranya Ciok Jing itu justru adalah kaum Swat-san-pay.

Pertama memang Ciok Jing tidak ingin perbuatan sang putra yang merusak nama keluarganya diketahui orang luar, apalagi sekarang Siang-jing-koan sendiri sedang menghadapi kesulitan, tentu saja ia lebih-lebih tidak ingin para suheng itu mengikat permusuhan baru dengan pihak lain lagi.

Maka cepat ia menjawab.

"Maksud baik para Suheng dan Sute, sungguh kami merasa terima kasih tak terhingga. Cuma persoalan ini sekarang masih harus diselidiki dulu dengan lebih jelas, biarlah kelak bilamana urusan sudah agak jelas, jikalau Siaute berdua merasa kurang kuat, dengan sendirinya kami akan pulang kemari untuk minta bantuan."

"Baiklah jika demikian halnya,"

Ujar Tiong-hi.

"Tatkala mana Sute juga tidak perlu datang sendiri, asalkan menyampaikan sedikit berita saja tentu seluruh isi Siang-jing-koan akan dikerahkan."

Ciok Jing dan Bin Ju memberi hormat dengan ucapan terima kasih.

Tapi di dalam hati diam-diam merasa berduka, mereka tahu dosa putranya, andaikan anak itu akan dicincang atau digantung oleh Swat-san-pay, mau tak mau mereka hanya bisa menerima nasib saja dan tidak nanti minta pertolongan kepada Siang-jing-koan.

Begitulah Ciok Jing berdua lantas mohon diri, mereka diantar keluar oleh Thian-hi, Tiong-hi dan lain-lain.

Melihat semua orang sudah keluar agak lama, segera Ciok Bohthian melompat keluar dari tempat sembunyinya, ia melompat ke atas rumah dan melintasi pagar tembok.

Pikirnya.

"Ciokcengcu dan Ciok-hujin mengatakan putra mereka telah diculik orang, entah siapakah yang melakukan perbuatan itu? Tentang medali-medali tembaga itu tampaknya hanya benda permainan yang tiada artinya, dapat direbut atau tidak, tidaklah menjadi soal, sebaliknya tentang putranya yang diculik itu aku harus bantu mencarikannya untuk membalas budi kebaikan Ciokhujin padaku. Ya, bila aku dapat menolong kembali putranya, tentu dia akan sangat gembira. Biarlah aku menyusulnya untuk tanya siapakah nama putranya itu, berapa umurnya dan bagaimana rupanya agar aku dapat mencarinya."

Ia coba melompat ke atas pohon yang tinggi, ia lihat belasan buah lampu kerudung dalam dua baris sedang bergerak ke sebelah sana, kiranya para tosu sedang mengantar Ciok Jing dan Bin Ju keluar kompleks kelenteng.

Pikir Boh-thian.

"Kuda tunggangan Ciok-cengcu berdua sangat cepat larinya, ada lebih baik aku mendahuluinya mencegat mereka di depan sana."

Sesudah membedakan arah yang akan dituju Ciok Jing suamiistri, segera ia melompat turun dan mendahului berangkat melalui lereng bukit.

Tak terduga, belum lagi beberapa jauh ia meninggalkan kompleks kelenteng itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang.

"Siapa itu? Lekas berhenti!"

Bahwasanya dengan lwekang Ciok Boh-thian yang tinggi itu, ia sembunyi di atas papan pigura dengan menahan napas sehingga sama sekali tidak diketahui oleh siapa pun juga.

Tapi sekarang begitu dia angkat kaki dan berlari, seketika imamimam Siang-jing-koan yang bukan kaum keroco itu lantas mengetahui tempat mereka telah kemasukan orang luar.

Semula mereka pun masih tinggal diam saja, tapi begitu Ciok Jing dan Bin Ju sudah agak jauh, segera mereka menyusul dan menggerebek Ciok Boh-thian dari berbagai jurusan.

Dalam kegelapan mendadak Ciok Boh-thian merasa hawa pedang yang dingin, tahu-tahu dua orang tojin sudah mengadang di depannya dengan pedang terhunus dan memancarkan sinar yang gemerlapan.

Samar-samar ia melihat seorang di antaranya tak-lain-tak-bukan adalah Ciau-hi.

Ia menjadi girang, segera ia bertanya.

"Apakah Ciau-hi Tojin di situ?"

Ciau-hi melenggong, ia pikir kiranya orang sudah mengenalnya. Segera ia menjawab.

"Ya, betul. Siapakah saudara ini?"

Tanpa banyak cincong lagi Boh-thian lantas berkata sambil mengangsurkan tangan.

"Berikan medali-medali tembaga tadi padaku!"

Ciau-hi menjadi gusar.

"Terimalah ini!"

Bentaknya, berbareng pedangnya terus menusuk ke paha Ciok Boh-thian.

Kaum Siang-jing-koan mempunyai peraturan yang keras, yaitu tidak boleh sembarangan membunuh.

Sekarang asal-usul pihak lawan belum jelas, walaupun begitu datang Ciok Boh-thian lantas minta medali tembaga apa segala, namun serangan Ciau-hi itu toh tidak diarahkan ke tempat yang berbahaya.

Dengan cepat Boh-thian dapat mengegos, berbareng tangan kanan balas mencengkeram pundak lawan.

Melihat gerak-gerik Boh-thian sangat cekatan, Ciau-hi tidak berani ayal lagi, pedang berputar terus menusuk pula ke bahu kanan lawan.

Lekas-lekas Boh-thian mendakkan tubuh dan menggeser ke samping, berbareng tangan kanan digunakan menyampuk.

Di luar dugaan, kontan Ciau-hi lantas mencium serangkum bau amis yang memuakkan, kepalanya menjadi pening, seketika ia roboh terjungkal.

Selagi Boh-thian tercengang atas kejadian itu, tiba-tiba pedang tojin kedua sudah menusuk dari belakang.

Sekarang Boh-thian sudah tahu bahwa telapak tangannya sendiri itu rada-rada ajaib, asal memukul tentu akan membinasakan orang, maka ia tidak berani balas menyerang lagi, lekas-lekas ia melompat ke depan.

Namun sudah kasip sedikit.

"bret" , bajunya telah terobek satu garis, bahkan kulitnya juga tergores sedikit. Meski ilmu silat tojin itu lebih rendah daripada Ciau-hi, tapi karena melihat Ciau-hi telah dirobohkan lawan dengan cara yang tak jelas, maka buru-buru ia ingin menolong sang suheng, pedangnya berputar dengan kencang, ia serang Bohthian dengan gencar. Karena tak berani balas memukul, terpaksa Boh-thian berusaha menghindar. Pada suatu kesempatan ia dapat menjemput pedang Ciau-hi yang terlempar di atas tanah itu. Ia lihat musuh masih terus menyerang tanpa kenal ampun, segera ia pun memutar pedang itu sebagai gantinya golok, ia mainkan Kimoh-to-hoat yang lihai itu.

"Trang" , sekaligus ia tangkis pergi pedang lawan yang sedang menusuk. Karena tenaga dalam Ciok Boh-thian yang luar biasa kuatnya itu, tojin itu tidak mampu memegangi pedangnya lagi, senjata itu terlepas dan mencelat dari cekalannya. Tapi ilmu silat kaum Siang-jing-koan tidak melulu dalam hal ilmu pedang saja, Kimna-jiu-hoat juga merupakan salah satu kepandaian tunggal yang disegani di dunia persilatan. Maka begitu kehilangan senjata, tojin itu tidak menjadi gentar, sebaliknya ia terus menubruk maju malah, kedua tangannya yang mirip cakar itu terus mencengkeram dada dan perut Ciok Boh-thian. Dengan cara pertarungan dari jarak dekat ini, pihak lawan yang berpedang menjadi sukar untuk menggunakan senjatanya.

"Hei, jangan, jangan!"

Demikian Boh-thian berteriak-teriak gugup karena musuh menyeruduk dengan nekat.

Berbareng tangan kirinya terus menyampuk untuk mendorong pergi tojin itu.

Pada saat dia sudah mengeluarkan tenaga, dengan sendirinya racun jahat yang mengeram di tubuhnya itu juga sudah ikut terkumpul di telapak tangannya.

Maka sekali tangannya mendorong, kontan saja tojin itu pun roboh terkulai.

"Ai, ai! Sesungguhnya aku toh tidak ingin membikin celaka kau!"

Seru Boh-thian sambil banting-banting kakinya sendiri dengan penuh menyesal.

Dalam pada itu terdengar suara suitan yang sahut-menyahut, para tosu sudah makin mendekat.

Cepat Boh-thian meraba sakunya Ciau-hi, benar juga kedua medali tembaga dapat diketemukannya.

Segera ia masukkan benda-benda itu ke dalam bajunya sendiri, lalu angkat langkah seribu menuju ke jurusan yang ditempuh Ciok Jing dan istrinya.

Sekaligus tanpa berhenti ia terus berlari sampai belasan li jauhnya, tapi sama sekali tak terdengar suara larinya kuda.

Pikirnya.

"Apa barangkali kuda-kuda tunggangan Ciok-cengcu dan Ciok-hujin itu sedemikian cepatnya sehingga aku tidak dapat mendahului mereka? Atau, jangan-jangan aku telah salah ambil arah, mereka tidak melalui jalan besar ini, tapi mengambil jurusan lain?"

Setelah berlari beberapa li lagi, tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik.

Cepat Boh-thian memandang ke arah suara kuda itu, dari jauh dapat dilihatnya di bawah sebatang pohon tertambat dua ekor kuda, seekor hitam dan seekor lagi putih.

Terang itulah kuda-kuda tunggangan Ciok Jing berdua.

Boh-thian sangat girang, segera ia mengeluarkan kedua medali tembaga dan disiapkan di tangan.

Baru saja ia hendak pentang mulut untuk menyapa, sekonyong-konyong terdengar suara Ciok Jing sedang bicara di kejauhan.

"Adik Ju, maling kecil itu secara sembunyi-sembunyi telah menguntit kita, tentu dia tidak bermaksud baik, bolehlah kau bereskan dia saja."

Keruan Boh-thian terperanjat, disangkanya Ciok Jing tidak suka dikintil olehnya.

Anehnya suara Ciok Jing terdengar dengan jelas, tapi orangnya tidak kelihatan.

Ia menjadi khawatir kalau kalau Ciok-hujin melabrak dirinya dan terpaksa ia harus balas menyerang, lalu nyonya baik itu juga terpukul mati, kan urusan bisa runyam.

Maka cepat ia menyusup dan sembunyi di tengah alang-alang yang lebat.

Ia pikir Bin Ju pasti akan memburu ke situ, jika demikian ia akan melemparkan medali-medali tembaga tadi kepada nyonya itu, lalu ia akan melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar suara berkeresek, sesosok bayangan orang telah melompat keluar dari balik pohon di sebelah sana, dengan pedang terhunus orang itu menuding ke tengah semaksemak sambil membentak.

"He, anak muda, untuk apa kau menguntit kami? Hayo lekas keluar!"

Itulah suaranya Bin Ju.

Baru saja Boh-thian hendak menjawab, sekonyong-konyong dari tengah semak-semak rumput menyambar keluar tiga titik sinar, ada orang sedang menyerang Bin Ju dengan senjata rahasia.

Ketika Bin Ju mengayun pedangnya dan baru saja senjata-senjata rahasia itu disampuk jatuh, cepat dari semaksemak rumput telah melompat keluar seorang laki-laki berbaju hijau, dengan golok laki-laki itu lantas membacok Bin Ju.

Kejadian ini benar-benar di luar dugaan Boh-thian, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa di tengah semak-semak rumput itu tersembunyi orang lain pula.

Dilihatnya gerakan laki-laki itu cukup gesit, golok diputar dengan kencang.

Bin Ju hanya menangkis seperlunya saja dan tidak balas menyerang.

Sementara itu Ciok Jing juga sudah muncul dari balik pohon sana, ia hanya menonton saja dengan berpangku tangan.

Setelah mengikuti beberapa jurus, tiba-tiba ia menegur.

"He, kau, bukankah kau ini muridnya Loh Cap-pek dari Thay-san?"

"Kalau betul mau apa?"

Bentak orang itu, goloknya sedikit pun tidak kendur.

"Walaupun Loh Cap-pek tiada persahabatan dengan kami, tapi juga tidak bermusuhan,"

Kata Ciok Jing.

"Kau sudah menguntit kami beberapa li jauhnya, apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?"

"Aku tidak sempat menjelaskan...."

Sahut laki-laki itu.

Kiranya Bin Ju tampaknya seperti seenaknya saja melayani seranganserangan lawan, tapi sebenarnya laki-laki itu sudah terdesak sehingga kelabakan.

Maka Ciok Jing berkata pula dengan tertawa.

"Ilmu golok Loh Cap-pek jauh lebih tinggi daripada kami, tapi tampaknya kau belum lagi ada tiga bagian mempelajari kepandaian suhumu itu. Nah, lepas senjata dan berdiri saja di situ!"

Mendengar ucapan Ciok Jing ini, kontan pedang Bin Ju juga tepat menusuk pergelangan laki-laki itu.

Sedikit berputar ke samping, Bin Ju putar gagang pedangnya untuk mengetok, dengan tepat hiat-to di punggung orang lantas ditutuknya.

"Trang", golok laki-laki itu jatuh ke tanah, sedangkan tubuhnya sudah tak bisa berkutik lagi.

"Kau she apa, sahabat?"

Tanya Ciok Jing dengan tersenyum. Namun orang itu sangat kepala batu, biarpun terancam dia tetap tidak gentar. Bahkan dengan galak ia menjawab.

"Mau bunuh boleh bunuh, buat apa banyak bicara?"

"Jika sahabat tidak mau bicara juga tidak menjadi soal,"

Ujar Ciok Jing dengan tertawa.

"Kau telah ikut di dalam organisasi mana? Agaknya gurumu tidak mengetahui, bukan?"

Laki-laki itu mengunjuk rasa sangsi dan heran, ia pikir dari manakah orang mengetahui seluk-beluk tentang dirinya? Maka Ciok Jing menyambung lagi.

Baca Juga: Lima Jago Luar Biasa 3

Baca Juga: Naga Beracun Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert