Ceritasilat Novel Online

Medali Wasiat 5

Eps 5 Medali Wasiat - Yin Yong

Baca online Medali Wasiat - Yin Yong

Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.

Kata Boh-thian.

"Ai, aku ... aku telah membikin susah nona ini, sungguh aku merasa ... merasa tidak enak."

"Setan alas, masih bicara muluk-muluk,"

Damprat si nenek dengan gusar.

"Nenek, bolehkah kita suruh si tukang perahu menyeretnya keluar saja,"

Usul si nona.

"Tidak, tidak bisa, kalau tukang perahu itu sampai masuk ke sini, tentu jiwa kita akan melayang,"

Sahut si nenek. Diam-diam Boh-thian membatin.

"Jangan-jangan Lothaythay dan nona ini pun diringkus orang dan tak bisa berkutik seperti diriku?"

Rupanya nenek itu menjadi gusar dan gelisah, tiada hentinya ia memaki.

"Setan alas, keparat, mengapa kau tidak pilih perahu yang lain, tapi justru cari mampus ke sini? Sudahlah, A Siu, bunuh saja dia!"

"He, jangan, jangan! Darahku sangat kotor, tentu akan merusak kolong selimut yang harum ini. Pula ... pula kalau di kolong selimut ini terdapat mayat, tentu tidaklah baik,"

Demikianlah Boh-thian berseru.

"Uh,"

Hanya terdengar suara demikian, lalu Boh-thian merasa golok yang mengancam di belakang lehernya telah terangkat pergi. Ia menjadi girang, pikirnya.

"Rupanya nyali nona cilik ini sangat kecil, biarlah aku menakut-nakuti dia lagi."

Maka ia lantas berkata pula.

"Sekarang aku tak bisa berkutik, jika kau membunuh aku, tentu aku akan berubah menjadi mayat hidup. Wah, betapa menakutkan bila kau tidur bersama mayat hidup. Sekarang aku tak bisa bergerak, tapi sesudah menjadi mayat hidup tentu bisa bergerak, dengan kedua tanganku yang kaku dan dingin aku akan mencekik lehermu."

Rupanya nona itu benar-benar ketakutan atas obrolan Bohthian itu, segera ia berkata.

"Tidak, aku takkan membunuh kau! Aku takkan membunuh kau!"

Selang sejenak si nona berkata pula kepada si wanita tua.

"Nenek, kita harus mencari suatu akal untuk mengeluarkan dia dari sini."

"Ya, aku sedang berpikir, kau jangan banyak bersuara,"

Sahut si nenek.

Dalam pada itu hari sudah malam, di dalam kolong perahu keadaan gelap gulita.

Meski Boh-thian berada di dalam selimut bersama si nona, tapi karena waktu dia dilempar masuk kebetulan menceng di samping, maka tidak sampai menyentuh badan nona itu.

Dalam kegelapan sekarang dapat didengarnya suara napas si nona yang memburu, nyata nona itu sangat khawatir dan cemas.

Sampai agak lama, si nenek tetap tidak mendapatkan sesuatu akal apa-apa.

Pada saat itulah mendadak dari arah sungai sana terdengar suara suitan melengking tajam yang menyeramkan.

Belum lenyap suara suitan itu, terdengarlah suara orang bergelak tertawa panjang, suaranya serak tua.

Sambil tertawa orang tua itu pun berseru.

"Siau-jui, aku telah tunggu kau sehari semalam, kenapa baru sekarang kau tiba?"

"Wah, celaka, nenek! Siluman tua itu telah memapak datang, lantas bagaimana tindakan kita?"

Tanya si nona dengan khawatir. Si nenek mendengus sekali, katanya.

"Kau jangan bersuara lagi. Aku sedang mengumpulkan tenaga, asal aku bisa bergerak sedikit saja segera aku akan ... akan terjun ke dalam sungai daripada dihina oleh siluman tua itu."

"Jangan ... jangan, nenek,"

Kata si nona dengan cemas.

"Sudah kukatakan jangan bersuara, masih kau mengganggu aku lagi,"

Semprot si nenek.

"Nanti kalau nenek terjun ke dalam sungai, kau akan ikut aku apa tidak?"

Untuk sejenak si nona merasa sangsi, akhirnya ia menjawab.

"Aku ... aku akan mati bersama nenek saja."

"Baik!"

Kata si nenek. Habis ini ia lantas tidak bicara lagi. Boh-thian sendiri pernah dua kali merasakan ketika Lwekangnya "tersesat", pikirnya.

"Kiranya Lothaythay dan nona ini juga mengalami nasib seperti diriku, melatih Lwekang dan tersesat sehingga tak bisa bergerak. Celakanya pada saat ini musuhnya telah mengejar tiba, keadaan mereka benar sangat sulit."

Dalam pada itu suara si orang tua tadi terdengar pula dari hilir sungai sana.

"Sekarang boleh kau pilih, mau tanding pedang boleh, mau adu kepalan juga jadi, Ting-losi pasti akan mengiringi, kau, kita boleh bertempur tiga hari tiga malam barulah menyenangkan. Nah, Siau-jui, mengapa kau tidak menjawab?"

Dari suara orang tua itu rasanya jaraknya sekarang sudah semakin mendekat lagi.

Selang tak lama, mendadak terdengar suara gemerencing rantai besi, menyusul lantas terdengar suara gedubrak yang keras, suatu benda yang berat telah jatuh di atas perahu si nenek.

Kiranya dari kapal yang memapak dari depan itu telah dilemparkan sebuah jangkar berantai.

Seketika Boh-thian merasa badannya miring sebelah, rupanya perahunya menjadi doyong karena tertimpa jangkar yang berat itu.

"Hei, hei! Mau apa itu?"

Demikian si tukang perahu berteriakteriak kaget.

Karena miringnya perahu, badan Boh-thian lantas menggelinding ke samping, sebaliknya si nona juga lantas menggelinding dan bersandar di badan pemuda itu.

"Wah, ini ... ini ...."

Demikian Boh-thian ingin minta si nona jangan menempelkan tubuhnya itu, tapi segera teringat nona itu pun serupa dirinya dalam keadaan tak bisa berkutik maka kata-kata yang akan diucapkan itu lantas ditelan kembali.

Dalam pada itu terasa ada orang melompat ke atas perahu mereka, hanya sekejap saja imbangan perahu itu sudah pulih kembali.

"Siau-jui,"

Terdengar seorang tua tadi berkata di haluan perahu.

"sekarang aku sudah datang, apakah kita akan segera bertanding?"

"Eh, jangan kau main begitu, kedua perahu bisa berjungkir semua,"

Seru si tukang perahu di buritan dengan khawatir. Si orang tua menjadi gusar.

"Keparat, tutup bacotmu!"

Segera ia angkat jangkar tadi dan dilemparkan kembali.

Begitu dua perahu terpisah, segera terhanyut ke hilir semua mengikuti arus.

Melihat betapa hebat tenaga orang itu, jangkar besi yang bobotnya beberapa ratus kati dilemparkan kian kemari dengan seenaknya saja, keruan si tukang perahu ternganga kaget dan tak berani bersuara lagi.

"Nah, Siau-jui, aku telah berada di haluan perahumu, lekas keluar,"

Demikian kata si kakek pula dengan tertawa.

"Aku takkan tertipu olehmu, aku tak mau masuk ke kolong perahu yang mungkin telah kau siapkan perangkap."

Mendengar itu Boh-thian dan kedua wanita berada di dalam kolong perahu itu menjadi lega hatinya.

Mereka pikir kalau kakek itu tidak mau masuk ke kolong perahu, itu berarti dapat mengulur tempo lebih lama lagi.

Tapi Boh-thian lantas teringat lagi bila nanti si wanita tua sudah dapat mengumpulkan sedikit tenaga saja tentu akan terjun ke dalam sungai bersama si nona cilik ini.

Walaupun Boh-thian belum pernah kenal kedua wanita itu, bahkan si nenek berulang-ulang ingin membunuhnya, namun dasar sifat Boh-thian memang baik, ia tidak tega menyaksikan nenek dan cucu perempuan itu mati secara mengenaskan.

Kebetulan saat itu telinga si nona terletak di sisi mulutnya, segera ia membisikkannya.

"Nona, kau harus minta nenekmu jangan terjun ke sungai untuk membunuh diri."

"Dia ... dia takkan menurut, beliau pasti akan terjun,"

Sahut si nona dengan perlahan.

Saking sedihnya air matanya lantas bercucuran.

Sekali air mata sudah bercucuran, maka susah dihentikan lagi, nona itu lantas menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi pula pipi Boh-thian.

"Ma ... maafkan aku, air ... air mataku telah membikin kotor mukamu,"

Kata si nona dengan suara parau. Nyata nona ini mempunyai perangai yang sangat lemah lembut dan halus budi.

"Ai, nona jangan main sungkan-sungkan, hanya air mata saja tidak apa-apa,"

Sahut Boh-thian.

"Sesungguhnya aku tidak mau mati,"

Kata si nona pula dengan perlahan.

"Tetapi orang di haluan perahu itu sangat kejam, nenek bilang lebih suka mati juga tidak sudi ditawan olehnya. O, maaf, air mataku ... ah, kenapa kau pun menangis juga?"

"Aku menjadi terharu atas tangisanmu, maka aku pun ikut-ikut menangis,"

Sahut Boh-thian.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang berbangkit, di pojok kolong perahu ada bayangan seorang telah berduduk.

Semula Ciok Boh-thian mestinya berada dalam keadaan tengkurap, tapi sesudah menggelinding, badannya sekarang menjadi miring.

Maka waktu melihat orang itu berduduk, ia menjadi khawatir, dengan suara terputus-putus ia membisiki si nona.

"Ne ... nenekmu sudah dapat bergerak dia ... dia telah berduduk."

Nona itu berseru khawatir, segera ia bermaksud memegangi Boh-thian.

Tapi dia sendiri tak bisa berkutik, bahkan satu jari saja tak bisa bergerak, maka hanya hatinya yang gelisah, tapi tak dapat berbuat lain.

Selang sejenak, terdengar Boh-thian membisikinya lagi.

"Dia ... dia telah menjulurkan tangannya hendak menjambret kau."

"Lekas ... lekas kau suruh dia jang ... jangan pegang diriku ... aku takut ...."

Seru si nona. Tapi pada saat itu juga punggungnya lantas terasa dicengkeram oleh sepasang tangan. Karena tak bisa bergerak, terpaksa Boh-thian hanya berseru.

"Lothaythay, jangan kau mencengkeramnya, dia tak mau mengiringi kau terjun ke dalam sungai. Tolong, tolong!"

Si kakek yang berada di haluan perahu itu menjadi heran ketika mendadak terdengar suara seorang pemuda dari dalam kolong perahu, bentaknya.

"Siapa itu yang bergembargembor?"

Cepat Boh-thian menjawab.

"Lekas kau masuk kemari, lekas tolong orang. Lothaythay tidak dapat menandingi kau, dia hendak terjun ke sungai untuk membunuh diri."

Rupanya si kakek menjadi terkejut, segera ia menghantam sehingga atap perahu tersingkap separuh, segera tangannya mencengkeram sehingga lengan si nenek kena dipegangnya.

Hawa murni si nenek yang sudah terkumpul sedikit itu lantas buyar seketika terus roboh terkulai.

Si kakek menjadi terkejut sesudah memegang nadi si nenek, cepat ia tempelkan tangannya ke punggung si nenek, katanya dengan khawatir.

"He, Siau-jui, apakah kau melatih Lwekang dan sesat jalannya? Mengapa tidak kau katakan sejak tadi, tapi sengaja bertahan."

"Lepaskan diriku, jangan kau pedulikan diriku! Lekas enyah dari sini!"

Seru si nenek dengan napas terengah-engah.

"Denyut nadimu tak teratur, keadaanmu sangat berbahaya, kalau tidak segera ditolong mungkin ... mungkin bisa cacat untuk selamanya. Biarlah aku membantu kau,"

Demikian kata si kakek. Tapi si nenek menjawab dengan gusar.

"Tidak, tidak perlu bantuanmu! Jika kau sentuh badanku lagi, biarpun aku tak bisa bergerak, segera juga aku akan menggigit putus lidahku untuk membunuh diri."

Si kakek kenal watak si nenek yang keras, berani berkata dan berani berbuat. Terpaksa ia membujuknya pula.

"Denyut nadimu di bagian tangan semuanya kacau tak keruan, untuk ini ...."

"Kau tak perlu urus,"

Sahut si nenek.

"Kau berkeras ingin menangkan diriku. Sekarang aku melatih Lwekang dan tersesat, bukankah menjadi lebih baik bagimu dan terpenuhi cita-citamu?"

"Kita jangan bicara soal ini,"

Ujar si kakek.

"A Siu, kenapakah kau? Lekas kau menghibur nenekmu. Eh, ken ... kenapa kau tidur di situ bersama seorang lelaki? Apakah dia kekasihmu?"

"Bu ... bukan!"

A Siu dan Boh-thian menjawab berbareng.

"Kami tak bisa bergerak sama sekali."

Si kakek merasa heran dan geli pula.

Segera ia seret Ciok Bohthian keluar.

Tak terduga seluruh badan Boh-thian terikat dengan kencang oleh tambang sehingga kaku lempeng, pinggang tak bisa membungkuk, tangan tak bisa melengkung, karena diseret, seketika tubuhnya terangkat menegak ke atas sehingga membuat kaget si kakek.

Sesudah jelas duduknya perkara, kakek itu terbahak-bahak geli, katanya.

"A Siu, apa kau kelaparan, maka kau menyimpan sebuah lemper raksasa di kolong selimutmu?"

"Bukan,"

Sahut si A Siu cepat,"

Dia ... dia melayang masuk sendiri dari luar dan bukan ... bukan aku yang menyimpannya."

"Kau sendiri juga tidak bisa bergerak, apakah kau pun ingin menjadi lemper raksasa?"

Kata si kakek. Mendadak si nenek membentak dengan bengis.

"Jangan kau coba menyentuh A Siu atau segera aku mengadu jiwa dengan kau."

"Baik, aku takkan menyentuh dia,"

Sahut si kakek. Lalu ia menoleh kepada si tukang perahu dan berkata.

"Juru mudi, putar haluan, pasang layar, kalau aku suruh kau berhenti harus segera berhenti!"

Si tukang perahu tidak berani membangkang, terpaksa ia menurut segala perintah itu.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Seru si nenek dengan gusar.

"Aku akan membawa kau ke Pik-lwe-san untuk merawat kau dengan baik-baik,"

Sahut si kakek.

"Tidak, mati pun aku takkan ke Pik-lwe-san (gunung keong hijau),"

Bantah si nenek.

"Aku toh tidak kalah padamu, mengapa kau memaksa aku datang ke sarang anjingmu?"

"Bukankah kita sudah berjanji akan bertanding di sungai Tiangkang ini. Kalau aku kalah, aku akan datang ke rumahmu dan menyembah padamu. Sebaliknya kalau kau kalah, kau harus ikut ke rumahku. Sekarang aku tak peduli apakah kau melatih Lwekang dan tersesat atau kau kalah bertempur, pendek kata sekali ini kau harus ikut aku ke Pik-lwe-san."

"Tidak, aku tidak mau ke sana! Tidak ...."

Baru sekian si nenek menjerit dengan murka, mendadak napasnya menjadi sesak, orangnya lantas pingsan.

"Hahaha! Mau tidak mau kau harus ikut aku ke sana,"

Kata si kakek dengan tertawa.

"Hari ini sudah terang kau tak berkuasa lagi."

"Eh, kalau dia tidak mau pergi, mana boleh kau memaksa orang?"

Demikian Boh-thian telah menimbrung. Si kakek menjadi gusar.

"Siapa suruh kau ikut-ikut kentut?"

Bentaknya, berbareng ia menampar ke muka Ciok Boh-thian.

Tampaknya pemuda itu pasti akan puyeng tujuh keliling kena tempelengan itu, boleh jadi giginya bisa rontok pula semua.

Tapi sekilas tiba-tiba si kakek melihat di pipi Boh-thian terdapat sebuah cap tangan yang hitam gosong, ia menjadi tertegun dan menahan pukulannya.

Katanya dengan tertawa.

"Aha, lemper raksasa, kukira siapa yang meringkus kau sedemikian rupa, kiranya adalah perbuatan aku punya cucu keponakan perempuan yang nakal itu. Bekas tamparan di mukamu ini bukankah adalah pukulan cucu keponakan perempuan?"

"Cucu keponakan perempuanmu?"

Boh-thian menegas dengan bingung.

"O, barangkali kau belum tahu siapa diriku ini? Aku adalah Ting Put-si, cucu keponakan perempuanku ialah ...."

"Ah, benar, Ting-ting Tong-tong adalah cucu keponakan perempuanmu,"

Demikian sela Boh-thian.

"Ya, memang si Tingting Tong-tong yang telah menampar pipiku ini. Dia pula yang telah meringkus aku dengan tali tadi."

Bab 20. Ciok Boh-thian Mengalahkan Ting Put-si "Hahahaha! Memangnya aku sudah menduga di dunia ini selain si budak cilik A Tong itu tiada anak perempuan yang demikian nakalnya,"

Kata Ting Put-si dengan tertawa terpingkal-pingkal.

"Ehm, bagus! Sebab apakah dia meringkus kau sekencang ini?"

"Kakeknya hendak membunuh aku, katanya ilmu silatku terlalu rendah, aku dikatakan tolol dan sinting,"

Tutur Boh-thian.

"Hahahaha!"

Ting Put-si terpingkal-pingkal pula sampai menungging dan memegangi perutnya yang sakit.

"Orang yang hendak dibunuh Losam, sekarang telah kepergok oleh Losi, maka ... hahahaha!"

"Kau juga hendak membunuh aku?"

Tanya Boh-thian dengan khawatir.

"Pikiran Ting-losi di dunia ini siapakah yang dapat menerka?"

Ujar Ting Put-si.

"Kau mengira aku hendak membunuh, tapi aku justru tidak mau membunuh."

Habis berkata ia lantas mencengkeram tengkuk Ciok Boh-thian dan ditegakkan.

Telapak tangan kanan setajam pisau lantas bekerja berulang-ulang ia memotong tambang layar yang meringkus badan Boh-thian itu sehingga berpuluh-puluh potong tali lantas jatuh semua dalam keadaan terputus-putus.

"Wah, Loyacu, kepandaianmu ini benar-benar sangat lihai. Kepandaian apakah ini namanya?"

Puji Boh-thian. Dasar watak Ting Put-si memang suka dipuji dan suka menang, pujian Ciok Boh-thian itu telah membuatnya senang tidak kepalang. Sahutnya.

"Kepandaianku ini sudah tentu sangat hebat, di dunia ini mungkin tiada orang kedua lagi yang dapat menandingi kepandaian Ting Put-si ini. Tentang nama kepandaian ini ...."

Mendengar bualan Ting Put-si itu, si nenek yang baru saja siuman kembali segera mengejeknya.

"Hm, tikus naik di atas meja, membual dan memuji diri sendiri! Kepandaian Gway-tocam-loan-moa (pisau cepat memotong tali rami) seperti itu asal orang yang pernah belajar dua-tiga jurus saja tentu akan dapat memainkannya. Kenapa mesti dibuat heran?"

"Fui!"

Semprot Ting Put-si.

"Asal orang yang pernah belajar dua-tiga jurus saja akan dapat memainkan jurus Gway-to-camloan-moa ini? Nah, boleh coba kau memainkannya sekarang juga!"

"Kau tahu aku tak bisa bergerak, maka sengaja bicara seenaknya,"

Sahut si nenek.

"He, Lemper raksasa, biarlah kukatakan padamu, jurus ‘Gway-to-cam-loan-moa’ ini di manamana dapat kau saksikan, setiap penjual obat di pasar, asal kau memberi dia satu-dua picis dan suruh dia memainkan jurus ini, maka dia tentu akan memainkannya bagimu, tanggung caranya serupa dengan gerakan tua bangka ini tadi. Jurus ini adalah kepandaian yang tak berarti, setiap penipu di dunia ini tentu juga bisa, kenapa mesti dibuat heran?"

Ting Put-si paling benci kalau orang mengolok-olok kepandaiannya, sekarang ucapan si nenek sedemikian menghinanya, keruan ia menjadi murka, kontan tangannya mencengkeram ke pundak si nenek.

"He, jangan main kasar!"

Seru Boh-thian dan cepat tangannya memotong ke pergelangan tangan Ting Put-si, yang digunakan adalah jurus "Pek-ho-jiu" (cakar bangau putih) dari ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat ajaran si Ting Tong.

Kiranya sudah cukup lama dia punya Hiat-to dicengkeram oleh si Ting Tong, dengan Lwekangnya yang kuat, Hiat-to yang tertutuk itu sudah punah dengan sendirinya, sekarang tali layar yang meringkusnya itu sudah putus semua, darah telah jalan lancar kembali, maka seketika ia dapat bergerak dengan bebas.

Tangkisan Boh-thian itu membuat Ting Put-si bersuara heran.

Segera ia memutar tangannya untuk menggaet lengan pemuda itu.

Namun Boh-thian sudah hafal sekali meyakinkan ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat itu, segera ia pun ganti serangan, telapak tangan kiri memukul, jari tangan kanan dipakai mencolok kedua mata lawan.

"Bagus! Ini adalah Kim-na-jiu-hoat ajaran Losam!"

Bentak Ting Put-si.

Berbareng kedua tangannya menolak ke depan untuk menahan kedua tangan pemuda itu.

Tapi mendadak kedua tangan Ciok Boh-thian memutar dari kedua samping untuk menggecek Thay-yang-hiat di kedua pelipis lawan.

Namun secepat kilat kedua tangan Ting Put-si menerobos dari bawah ke atas terus menyampuk keluar sehingga kedua lengan Ciok Boh-thian terketuk.

Disangkanya benturan tangan itu pasti akan membuat lengan Ciok Boh-thian patah seketika.

Tak terduga begitu keempat lengan beradu, Boh-thian tetap berdiri tegak tanpa bergerak.

Sebaliknya Ting Put-si sendiri merasa tubuh bagian atas seakan-akan kaku semua.

"krak" , tanpa merasa sebuah papan perahu telah patah kena diinjaknya, badan perahu itu pun terombang-ambing ke kanan dan ke kiri beberapa kali. Sama sekali Ting Put-si tidak menduga bahwa bocah tolol ini memiliki tenaga dalam sedemikian hebatnya, cepat ia mundur selangkah supaya tidak kejeblos ke dalam lubang papan yang patah itu sambil bersuara heran lagi. Semula Ting Put-si bersuara heran karena di luar dugaannya Ciok Boh-thian ternyata mahir menggunakan Kim-na-jiu-hoat dari keluarga Ting. Tapi ia bersuara heran pula dengan terkejut karena getaran tenaga dalam pemuda itu telah membuatnya mundur selangkah dan mematahkan papan perahu, ia merasa Lwekang anak muda ini benar-benar luar biasa dan susah di ukur. Sungguh susah dimengerti entah dari manakah mendadak bisa muncul seorang jago muda yang memiliki ilmu silat setinggi ini? Walaupun benturan tangan tadi Ting Put-si tidak mengeluarkan seluruh tenaganya, tapi pihak lawan seakan-akan tidak merasakan apa-apa, sebaliknya dirinya telah menginjak patah papan perahu, hal ini boleh dikata dirinya sudah kalah satu jurus. Pemuda ini sedemikian lihainya, mengapa kena ditangkap oleh Ting Tong? Bahkan kena ditampar pula? Begitulah seketika Ting Put-si menjadi ragu-ragu dan sangsi. Di sebelah sana si nenek juga heran dan terkejut. Tapi setiap ada kesempatan untuk mengolok-olok Ting Put-si selalu digunakannya dengan baik, maka ia lantas tertawa. Sesudah terbahak-bahak beberapa kali, maksudnya hendak bicara, tapi seketika napasnya menjadi sesak dan susah mengeluarkan suara, terpaksa ia berkata dengan perlahan-lahan.

"Hahaha! Ter ... ha ... dap seorang bocah ... bocah tolol saja tidak ... tidak bisa ...."

Ting Put-si menjadi gusar, teriaknya.

"Biarlah aku mewakilkan kau bicara saja. Kau hendak bilang. Terhadap seorang bocah tolol saja tidak bisa menang bukan?"

Nenek itu tersenyum simpul dan manggut-manggut membenarkan. Tiba-tiba Ting Put-si berpaling kepada Ciok Boh-thian, tanyanya.

"Hei, Lemper raksasa, siapakah gurumu?"

Boh-thian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia pikir meski Cia Yan-khek dan si Ting Tong pernah mengajarkan ilmu silat padanya, tapi mereka bukanlah gurunya yang resmi, maka jawabnya.

"Aku tidak punya guru."

"Ngaco-belo, habis kau punya Kim-na-jiu-hoat ini kau mencuri belajar dari mana?"

Bentak Ting Put-si.

"Aku tidak mencuri belajar, tapi si Ting-ting Tong-tong yang mengajarkan aku selama sepuluh hari,"

Sahut Boh-thian.

"Si Ting Tong bukan guruku, tapi adalah ... adalah ...."

Mestinya ia ingin menerangkan bahwa "dia adalah istriku", tapi ia merasa tidak enak, maka tidak diucapkannya. Ting Put-si menjadi gusar, ia memaki.

"Keparat, kau bilang Kim-na-jiu-hoat ini si Ting Tong yang mengajarkan kau? Huh, ngaco-belo!"

Dalam pada itu napas si nenek sudah teratur kembar, segera ia menyindir lagi.

"Orang Kangouw suka mengatakan bahwa ‘Kedua jago keluarga Ting, yang satu adalah kesatria dan yang lain adalah babi’. Sekarang dengan mataku sendiri aku telah menyaksikannya dan nyata memang tidak salah kabar orang Kangouw itu."

Ting Put-si berjingkrak marah-marah, teriaknya.

"Bilakah orang Kangouw mengatakan demikian? Huh, pasti kau sendiri yang membuat-buatnya. Coba katakan, siapa yang kesatria dan siapa yang babi? Ilmu silatku lebih tinggi daripada Losam, siapa orangnya di dunia persilatan yang tidak tahu hal ini?"

Si nenek tidak berani bicara terlalu buru-buru, maka dengan sekata demi sekata ia menjawab.

"Si Ting Tong adalah cucu perempuannya Ting-losam."

Kepandaian Ting-losam diajarkan kepada putranya, putranya mengajarkan kepada putrinya si Ting Tong itu dan akhirnya si Ting Tong mengajarkan pula kepada bocah dogol ini.

Malahan bocah dogol ini cuma belajar sepuluh hari saja sudah mengalahkan Ting Put-si.

"Nah, boleh kau coba minta pertimbangan setiap orang di dunia ini, sia ... siapakah ...."

Sampai di sini napasnya kembali sesak lagi dan susah meneruskan. Ting Put-si menjadi tidak sabaran lagi, segera ia menyambung.

"Biarlah kuwakilkan bicara, ‘Siapakah sebenarnya yang kesatria dan siapa yang babi? Sudah tentu Ting-losam adalah kesatria dan Ting-losi adalah babi’, bukan?"

"Ya, asal ... asal kau tahu saja,"

Kata si nenek sambil memanggut dan tersenyum-senyum ejek. Walaupun suara si nenek sangat lemah tapi bagi pendengaran Ting Put-si terasa sangat menusuk, teriaknya pula.

"Siapa bilang si Lemper raksasa ini telah mengalahkan Ting Put-si? Hayo, mari, mari, boleh kita coba-coba lagi! Kalau aku tidak ...."

Mestinya ia hendak mengatakan.

"Kalau aku tidak menghantam kau masuk ke dalam sungai di dalam 3 jurus saja, biarlah aku menyembah padamu"

Dan lain-lain lagi.

Tapi sebelum diucapkan ia lantas ingat ilmu silat Ciok Boh-thian yang susah diduga itu, jangan-jangan di dalam tiga jurus tidak dapat merobohkan dia, kan urusan bisa runyam?

Kalau menyatakan "di dalam sepuluh jurus", rasanya juga tidak meyakinkan, sebaliknya kalau bilang "di dalam 50 jurus"

Rasanya terlalu banyak, masakah dirinya sebagai seorang tokoh ternama harus memerlukan 50 jurus baru dapat mengalahkan murid cucu keponakan perempuan sendiri, lalu apakah dirinya masih dapat disebut sebagai kesatria?

Sedikit Ting Put-si merandek saja, kesempatan itu lantas digunakan si nenek untuk mengejeknya pula.

"Boleh kau katakan jika di dalam 200 jurus kau tidak mengalahkan dia, maka kau akan menyembah dan mengangkat dia sebagai ...."

"Mengangkat dia sebagai guru, demikian hendak kau katakan bukan?"

Teriak Ting Put-si dengan murka.

Berbareng ia terus meloncat ke atas, dari udara kedua tangannya lantas menghantam kepala dan pundak Ciok Boh-thian.

Walaupun Boh-thian telah mempelajari ke-18 jurus Kim-na-jiuhoat, tapi dia hanya dapat mematahkan serangan-serangan si Ting Tong saja, cara belajarnya bukan cara yang hidup, cara menggunakannya juga tidak bisa cara hidup.

Maka ketika melihat kedua tangan Ting Put-si menghantam dari atas, ia menjadi kelabakan, terpaksa ia menjulurkan kedua tangan ke atas untuk melindungi kepalanya sendiri.

Pada saat lain "Tay-cui-hiat"

Di kuduknya lantas terasa sakit dan ditumbuk oleh suatu tenaga yang kuat, nyata telah kena pukulan lawan.

Tay-cui-hiat itu adalah Hiat-to penghubung antara urat-urat nadi kaki dan tangan, dari situ seketika timbul tenaga reaksi yang mahakuat.

Kontan Ting Put-si merasa seluruh badannya tergetar, tubuhnya lantas terpental balik.

Waktu dia pandang Ciok Boh-thian, pemuda itu ternyata tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa.

Meski serangan ini tepat mengenai Ciok Boh-thian, namun Ting Put-si sendiri malah terpental mundur, maka tidak dapat dianggap kalah atau menang.

Tapi si nenek sudah lantas menyindir lagi.

"Ting-losi, orang sengaja membiarkan seranganmu mengenai dia, tapi kau sendiri malah terpental, sungguh terlalu tidak becus. Teranglah hanya satu jurus saja kau sudah kalah."

"Mana bisa aku kalah? Ngaco-belo!"

Sahut Ting Put-si dengan gusar.

"Umpama kau belum kalah, maka boleh coba membiarkan dia menghantam kau punya Tay-cui-hiat, bila kau tidak mampus dan dapat pula membikin dia terpental mundur maka kalian dapat dianggap seri, sama-sama kuat."

Diam-diam Ting Put-si memikir, dengan tenaga dalam anak muda yang mahakuat ini, bila aku punya Tay-cui-hiat kena dihantam, andaikan tidak binasa juga pasti terluka parah. Maka lantas jawabnya.

"Tanpa sebab buat apa aku membiarkan diriku dihantam? Kalau perlu kau punya Tay-cui-hiat boleh coba kuhantam saja."

"Huh, memangnya aku sudah tahu si ‘Ting babi’ adalah pengecut, hanya mau menang sendiri, kalau disuruh bertanding secara kesatria tentu tidak berani,"

Jengek si nenek.

Ting Put-si menjadi bungkam karena sindiran si nenek kena betul isi hatinya.

Dasar dia memang suka unggul, biarpun kalah bicara juga tidak mau tunduk.

Segera ia berkata lagi kepada Boh-thian.

"Marilah kita coba-coba lagi!"

"Tidak,"

Sahut Boh-thian.

"Aku hanya belajar sedikit kepandaian kepada Ting-ting Tong-tong, ilmu silat lain aku tak paham sama sekali. Serangan-seranganmu yang ruwet tadi aku tak dapat menangkisnya. Maka, biarlah anggap kau yang menang dan tak perlu bertanding lagi."

"Anggap kau yang menang", kata-kata ini sangat menusuk telinga Ting Put-si. Segera ia berseru.

"Kalau kalah bilang kalah, kalau menang ya menang, mengapa pakai anggap atau tidak anggap? Sekarang aku akan membiarkan kau menyerang dahulu. Nah, lekas kau mulai!"

"Tidak, aku tidak bisa,"

Sahut Boh-thian sambil menggeleng. Ting Put-si menjadi murka, apalagi dari samping si nenek masih terus tertawa mengejeknya, segera ia memaki.

"Anak bedebah, kau tidak bisa, biar aku mengajar kau. Nah, lihatlah yang jelas, jika kau memukul padaku cara demikian, aku lantas begini menangkisnya, menyusul aku balas menyerang kau, kau lantas mengegos ke samping dan batas memukul aku dengan kepalan kiri."

Disuruh belajar memang Ciok Boh-thian sangat cepat memahaminya.

Maka ia lantas menurutkan gaya yang diajarkan Ting Put-si, ia menyerang dahulu, lalu Ting Put-si balas menghantam.

Baru saja mereka bergebrak empat jurus, ketika Ting Put-si memukul pula maka Boh-thian tidak tahu cara bagaimana menangkisnya lagi, terpaksa dia terdiri tegak dan berkata.

"Bagaimana aku harus terbuat? Aku tidak tahu lagi."

Ting Put-si merasa geli dan mendongkol pula, katanya.

"Kalau semuanya harus aku yang mengajarkan, lalu bertanding apa lagi?"

"Memangnya aku bilang tak perlu bertanding dan anggap saja kau yang menang,"

Sahut Boh-thian.

"Tidak, tidak bisa,"

Kata Put-si.

"Jika aku tidak menangkan kau dengan sungguh-sungguh, selama hidup ini tentu aku akan ditertawai Siau-jui dan dianggap sebagai babi dan pengecut. Nah, ingatlah yang baik, bila aku sampai memukul begini, maka kau tidak perlu menangkis, tapi menggeser maju terus balas menusuk perutku dengan jarimu. Serangan balasan ini sangat lihai dan terpaksa aku harus menarik kembali pukulanku untuk menghindari seranganmu."

Begitulah Ting Put-si sambil berkata sambil bergaya memberi contoh, Ciok Boh-thian juga mengingatnya dengan baik.

Sesudah paham lalu kedua orang bergebrak lagi dari permulaan jika sudah terpakai habis jurus-jurus ajaran Ting Put-si, lalu Boh-thian berhenti dan terpaksa Put-si mengajarkan lagi, lalu mulai bergebrak dan begitu seterusnya sehingga tanpa merasa lelah berlangsung sampai ratusan jurus, tapi Ting Put-si tetap susah merobohkan Boh-thian, walaupun jurusjurus yang digunakan anak muda itu adalah ajarannya.

Lama-kelamaan Ting Put-si menjadi gelisah.

Apalagi si nenek masih terus mencemoohkan dari samping, sehingga Ting Put-si tidak berani main licik, terpaksa ia mengajarkan jurus-jurus serangannya dengan sungguh-sungguh.

Dasar ingatan Bohthian sangat baik, Lwekangnya sangat kuat pula, terpaksa Ting Put-si harus melayani dengan semangat, pertarungan demikian menjadi tidak kalah hebatnya daripada dahulu tatkala dia bertanding melawan si nenek.

Sesudah beberapa puluh jurus lagi, sementara itu fajar sudah menyingsing.

Ting Put-si menjadi tidak sabar lagi, mendadak ilmu pukulannya berganti, ia mengeluarkan jurus "Kat-mapeng-coan" (kuda haus berlari ke sumber air) yang telah diajarkan permulaan tadi, mendadak ia menubruk maju sambil menghantam.

"He, he! Salah! Urut-urutannya salah!"

Teriak Boh-thian.

"Peduli urut-urutannya salah apa segala? Asal jurus yang pernah kuajarkan saja tadi kan sudah jadi?"

Sahut Ting Put-si.

Namun demikian Boh-thian juga belum lupa harus mematahkan serangan Ting Put-si itu dengan jurus "Hun-tiappian-hui" (kupu-kupu terbang menari di angkasa) ajaran Ting Put-si tadi, cepat ia melompat ke samping.

Menurut rekaan Ting Put-si, asal pemuda itu didesak mundur sehingga kecemplung ke dalam sungai, maka itu berarti dia sudah menang dan betapa pun Siau-jiu (si nenek) tiada alasan untuk menyindirnya lagi.

Maka cepat ia mendesak maju, dengan jurus "Heng-sau-jian-kun" (menyapu seribu prajurit), kedua tangannya berbareng memotong dari samping.

Tapi Boh-thian lantas menggunakan jurus "Ho-hong-se-uh" (angin halus hujan gerimis) untuk menghindarkan serangan lawan yang membadai.

Namun terpaksa ia mesti mundur lagi setindak sehingga sebelah kakinya telah menginjak di atas tepi perahu.

Ting Put-si sangat girang.

"Turunlah!"

Bentaknya sambil menyerang dengan gerak tipu "Ciong-koh-ce-bin" (genderang menggema serentak), kedua kepalan sekaligus hendak menghantam kedua pelipis Ciok Boh-thian.

Kalau menurut kepandaian ajaran Ting Put-si tadi, maka Bohthian terpaksa harus melangkah mundur untuk memberi tangkisan.

Akan tetapi sekarang dia tiada jalan mundur lagi, kalau melangkah mundur berarti terjerumus ke dalam sungai.

Dalam gugupnya tanpa pikir lagi Boh-thian lantas menggunakan kepandaian yang paling dipahami ajaran si Ting Tong dahulu, segera ia menggeser ke samping sehingga berbalik berada di belakang Ting Put-si, berbareng tangan kanan menggunakan jurus "Hou-jiau-jiu"

Untuk mencengkeram "Leng-tay-hiat"

Dan tangan kiri memakai jurus "Giok-li-cui-ciam"

Untuk memegang "Koan-ki-hiat"

Sekali tangannya kena memegang sasarannya, seketika pula tenaga dalamnya yang mahadahsyat juga bekerja.

Tanpa ampun lagi Ting Put-si menjerit sekali, kontan ia roboh terkulai di atas geladak perahu.

Padahal biarpun Lwekang pemuda itu teramat kuat, betapa pun juga susah merobohkan Ting Put-si yang tergolong jago kawakan itu.

Soalnya Ting Put-si terlalu memandang enteng kepada Boh-thian, disangkanya pemuda itu pasti akan menggunakan jurus ajarannya untuk menangkis serangannya, untuk mana pemuda itu pasti akan terdesak masuk ke dalam sungai.

Tak terduga olehnya bahwa pemuda dogol ini mendadak bisa ganti tipu serangan, bahkan yang digunakan adalah tipu serangan yang telah dipelajarinya dengan masak betul sehingga Ting Put-si sama sekali tiada kesempatan untuk menghindar, malahan tenaga dalam Ciok Boh-thian juga sedemikian lihainya sehingga Ting Put-si tak dapat menahannya.

Kejadian di luar dugaan ini, bukan saja Ting Put-si dan Ciok Boh-thian sendiri terkejut, bahkan si nenek juga melongo kaget.

Tapi ia lantas terbahak-bahak beberapa kali, tiba-tiba napasnya sesak, lalu jatuh pingsan lagi dengan mata mendelik.

Keruan Boh-thian terperanjat, cepat ia berseru.

"He, Lothaythay, ken ... kenapakah kau?"

Si nona yang tak bisa berkutik dan berada di dalam kolong perahu itu dengan sendirinya tidak dapat mengikuti apa yang terjadi di luar itu, ketika mendengar suara seruan Boh-thian yang gugup itu, segera ia bertanya.

"Toako itu, bagaimanakah dengan nenekku?"

"Dia ... dia telah pingsan,"

Sahut Boh-thian dengan tak lancar.

"Sekali ini tampaknya ... tampaknya agak berat, mungkin ... mungkin susah sadar kembali."

"Ha, kau maksudkan nenek telah ... telah meninggal?"

Tanya si nona dengan khawatir. Boh-thian coba memeriksa pernapasan hidung si nenek, lalu menjawab.

"Napasnya sih masih bekerja, cuma ... cuma melihat gelagatnya agak ... agak berat."

"Berat bagaimana?"

Tanya pula si nona.

"Wajahnya pucat sebagai mayat,"

Tutur Boh-thian.

"Ah, biarlah aku memondong kau keluar untuk melihatnya sendiri."

Sebenarnya si nona merasa rikuh dipondong pemuda itu, tapi sesungguhnya ia sangat mengkhawatirkan keselamatan neneknya. Sesudah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berkata.

"Baiklah! Tolong engkau suka memayang aku keluar."

Selama hidup Ciok Boh-thian belum pernah mendengar orang bicara sedemikian halus dan sopan padanya.

Keruan ia sangat senang.

Biasanya kalau orang-orang Tiang-lok-pang bicara padanya sikapnya sangat hormat dan takut-takut, hanya katakata si nona inilah terasa sangat "sreg"

Dan enak bagi pendengarannya.

Maka perlahan-lahan ia lantas memondong nona itu, ia membungkus tubuhnya dengan sehelai selimut tipis, lalu membawanya ke haluan perahu.

Waktu melihat neneknya dalam keadaan pingsan, si nona telah menjerit khawatir.

Serunya.

"Toako ini, sukalah engkau tolong menyalurkan sedikit ... sedikit tenaga dalam ke tubuh nenek melalui ‘Leng-tay-hiat’ di punggungnya. Permohonan ini agak melampaui batas, sungguh aku merasa tidak enak."

Mendengar suara si nona yang lemah lembut dan merdu itu, tanpa terasa Boh-thian menunduk dan mengamati-amati mukanya.

Saat itu sang surya baru saja memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang, maka tertampaklah dengan jelas raut muka si nona yang bundar telur, cantik molek, terutama sepasang matanya yang besar juga sedang memandang padanya dengan sorot matanya yang sayu rawan.

Ketika sinar mata kedua orang kebentrok, maka si nona menjadi merah jengah.

Karena tidak dapat berpaling ke arah lain, terpaksa dia pejamkan mata.

Sebaliknya Ciok Boh-thian tanpa merasa telah berkata.

"Kiranya kau juga sedemikian cantiknya, nona!"

Muka si nona tambah merah.

Karena jarak muka kedua orang terlalu dekat, ia tidak berani membuka suara, sebab khawatir bau mulutnya menyembur ke muka Ciok Boh-thian, maka dia diam saja dengan menutup mulut kencang-kencang.

Sesudah terkesima sejenak, kemudian Boh-thian berkata.

"O, maaf!"

Segera ia menaruh tubuh si nona, lalu menggunakan telapak tangannya untuk memegang Leng-tay-hiat di punggung si nenek, sebenarnya ia tidak tahu cara bagaimana harus menyalurkan tenaga dalam sebagaimana diminta oleh si nona, maka dia hanya menggunakan cara mencengkeram Hiat-to itu dengan "Hou-jiau-jiu"

Ajaran si Ting Tong, segera ia mengerahkan tenaga. Mendadak si nenek menjerit sekali dan siuman kembali.

"Anak dogol, apa yang kau lakukan?"

Omelnya kepada Boh-thian.

"Nona ini minta aku menyalurkan tenaga kepadamu dan kau ter ... ternyata sudah sadar kembali,"

Sahut Boh-thian.

"Kau justru telah menutup aku punya Hiat-to di punggung, masakah cara ini kau katakan hendak menyalurkan tenaga padaku?"

Damprat si nenek.

"O, aku ... aku memang tidak bisa, harap engkau suka mengajarkan padaku,"

Pinta Boh-thian dengan kemalu-maluan.

Rupanya karena cengkeraman Boh-thian tadi sehingga membikin si nenek tergetar sadar, semula ia sangat marah, tapi ia lantas tahu juga Lwekang anak muda itu ternyata sangat kuat, ia pikir apa barangkali bocah tolol ini telah makan sesuatu buah-buahan atau tumbuhan ajaib sehingga membikin tenaga dalamnya menjadi kuat, tapi dia justru tidak tahu cara menggunakan tenaga dalam itu.

Sekarang aku melatih Lwekang dan tersesat, mungkin berkat tenaga dalamnya yang kuat dapat membantu aku menembuskan urat-urat yang tersumbat di dalam badanku, asal jalan nadi sudah lancar, untuk kesembuhan selanjutnya aku dapat melakukannya sendiri.

Begitulah maka ia lantas berkata.

"Baiklah, akan kuajarkan padamu. Hendaklah kau himpun dulu tenagamu ke dalam perut, bila sudah merasakan suatu arus hawa hangat mulai bergolak, maka dapatlah kau salurkan ke mana pun menurut pikiranmu. Nah, untuk pertama kali hendaklah kau menyalurkan hawa hangat itu ke nadi Siau-yang-meh di telapakan tanganmu."

Segera Boh-thian melakukannya sesuai dengan petunjuk itu, maka dengan mudah saja ia telah dapat menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangan. Hendaklah maklum bahwa "Lohan-hok-mo-kang"

Yang telah diyakinkan sebelumnya itu adalah Lwekang paling tinggi dari Siau-lim-pay yang serbaguna dan dapat dikerahkan menurut keinginannya, soalnya dahulu ia tidak tahu cara bagaimana menggunakan Lwekang itu sehingga mirip seorang hartawan memiliki harta karun segudang penuh, namun tidak menemukan kunci untuk membuka pintu gudang harta karunnya.

Tapi sekarang sesudah mendapat petunjuk si nenek dan dilakukannya dengan baik, maka tenaga dalamnya lantas membanjir keluar laksana air bah melanda.

Sedemikian hebat bekerjanya Lwekang Ciok Boh-thian sehingga si nenek merasa kewalahan, ia berseru.

"Tahan, tahan dulu, per ... perlahan-lahan saja ...."

Belum habis ucapannya, mendadak ia muntahkan sekumur darah hitam kental. Boh-thian terperanjat, serunya cepat.

"He, kenapa? Apakah keliru caraku?"

"Toako ini, nenek minta kau lambatkan tenaga yang kau salurkan itu dan jangan terburu-buru,"

Kata si nona yang menggeletak di samping itu.

"Tolol,"

Demikian si nenek mengomel.

"apakah kau ingin membikin jiwaku melayang? Kau harus menyalurkan tenagamu sedikit demi sedikit, sesudah aku bernapas, lalu kerahkan pula tenagamu."

"O, ya, ya!"

Sahut Boh-thian. Dan baru saja ia hendak lakukan menurut permintaan si nenek, tiba-tiba terlihat Ting Put-si telah melompat bangun sambil berteriak.

"Bedebah, keparat! Hayo, kita bertanding lagi, yang tadi tak bisa dihitung!"

"Huh, tua bangka yang tidak tahu malu! Mengapa yang tadi tak bisa dihitung? Sudah terang kau telah kalah, bukan?"

Demikian si nenek menanggapi.

"Coba kalau tadi dia tambahkan sekali hantam lagi atau membacok kepalamu dengan golok, apakah jiwamu masih ada sampai saat ini?"

Ting Put-si merasa di pihak yang salah, maka ia tidak berani bertengkar mulut lagi dengan si nenek. Tanpa bicara ia terus menghantam pula ke arah Ciok Boh-thian sambil membentak.

"Jurus ini tadi telah kuajarkan padamu, tentunya kau sudah paham, bukan?"

Lekas-lekas Boh-thian mematahkan serangan Ting Put-si dengan jurus ajaran orang tua itu pula. Tapi Ting Put-si lantas menyerang pula sambil membentak.

"Dan jurus ini pun sudah kuajarkan tadi, tentu kau tak bisa mengatakan aku main licik dan mau menang sendiri."

Ternyata setiap serangannya memang betul-betul adalah jurus yang dia telah ajarkan kepada Ciok Boh-thian tadi, dengan demikian dia hendak perlihatkan kepada si nenek bahwa dia tetap pegang janji sebagai seorang kesatria.

Namun tentang dia kena dicengkeram pemuda itu tadi sehingga jatuh kalah, untuk ini sepatah kata pun dia tidak menyinggung.

Makin lama makin cepat, sesudah belasan jurus mulut Ting Put-si menjadi kewalahan atas kecepatan serangannya sendiri, maka dia hanya membentak-bentak.

"Ini sudah kuajarkan, sudah kuajarkan, sudah kuajarkan!"

Karena serangan-serangan kilat itu, biar bagaimana pintarnya Ciok Boh-thian juga tak dapat melayani dengan baik, hanya beberapa jurus saja ia sudah kelabakan dan tampaknya akan segera dirobohkan oleh Ting Put-si.

Untunglah pada saat ia sedang kewalahan, tiba-tiba terdengar si nenek berseru.

"Tahan dulu! Aku ingin bicara!"

Ting Put-si lantas menghentikan serangannya dan bertanya.

"Siau-jui, apa yang hendak kau katakan?"

Tapi si nenek berpaling kepada Boh-thian dan berkata.

"Anak muda, badanku merasa tidak enak, harap kau menyalurkan sedikit tenaga lagi padaku."

"Ya, boleh juga,"

Sela Ting Put-si sambil mengangguk.

"Urat nadimu memang kacau, napasmu juga sesak. Jika kau tidak mau terima pertolonganku, boleh juga suruh dia membantu kau. Ilmu silat pemuda ini rendah, tapi tenaga dalamnya sangat kuat."

"Hm,"

Si nenek mendengus sekali.

"Memangnya, ilmu silatnya adalah ajaranmu."

"Ilmu silatnya mana boleh buat dianggap aku yang mengajarkan dia, padahal aku hanya memberi petunjuk dalam waktu tiada satu jam barusan ini,"

Sahut Ting Put-si dengan gusar.

"Tapi kalau dia mau ikut belajar padaku selama tiga atau lima tahun, hm, aku tanggung kelak tiada seorang kesatria angkatan muda yang dapat menandinginya."

"Sekalipun berhasil belajar sepandai dirimu juga apa sih gunanya?"

Jengek si nenek.

"Tanpa mempelajari ilmu silatmu dia dapat mengalahkan kau, kalau sudah berhasil mempelajari ilmu silatmu mungkin dia malah akan kau kalahkan. Makin belajar padamu makin dungu dan semakin kalahan. Nah, coba katakan, apa lebih baik belajar ilmu silatmu atau tidak?"

Untuk sejenak Ting Put-si menjadi bungkam, kemudian ia mendebat lagi.

"Jurus-jurus Hou-jiau-jiu dan Giok-li-cui-kiam yang dia gunakan tadi bukankah juga kepandaian keluarga Ting kami?"

"Tapi itu adalah ajaran cucu perempuan Ting-losam dan bukan kau yang mengajarkan dia,"

Sahut si nenek.

"Anak muda, marilah ke sini, jangan gubris dia lagi."

Boh-thian mengiakan dan mendekati si nenek, ia gunakan telapak tangannya untuk menahan di Leng-tay-hiat orang tua itu dan membantunya melancarkan jalan darah urat nadinya.

Si nenek perlahan-lahan mengangkat lengannya ke atas, ia pura-pura menutup mukanya dengan lengan baju, tujuannya agar Ting Put-si tidak melihat dia sedang bicara, lalu dengan suara bisik-bisik ia berkata kepada Boh-thian.

"Sebentar bila kau bergebrak lagi dengan dia, telapak tanganmu harus menggunakan tenaga dalam sebagaimana sekarang mengerahkan tenaga ke tanganmu ini. Bila dia memukul kau, maka kau harus menggunakan jurus yang sama untuk memapak tangannya, asal kedua tangan beradu, segera kau kerahkan tenagamu ke badan lawan. Hati-hatilah, tua bangka itu hendak mendesak kau terjerumus ke dalam sungai, kau bisa mati kelelap. Maka ingatlah baik-baik, jurus apa pun yang dia keluarkan kau pun menyambutnya dengan jurus yang sama. Hanya dengan cara demikian barulah dapat mempertahankan jiwa ... jiwa kita bertiga."

Rupanya sesudah si nenek berkumpul beberapa jam bersama Ciok Boh-thian, diam-diam orang tua itu telah dapat mengetahui pemuda itu berhati baik dan berjiwa luhur.

Kalau suruh dia bertanding tanpa alasan melawan Ting Put-si, mungkin setiap saat dia bisa mengalah.

Tapi kalau ditekankan bahwa "demi untuk mempertahankan jiwa kita bertiga" , ini berarti termasuk jiwa si nenek dan cucu perempuannya, maka besar kemungkinan Ciok Boh-thian akan membelanya dengan sepenuh tenaga.

Benar juga, segera tertampak Boh-thian manggut-manggut setuju.

Lalu si nenek berkata pula.

"Sementara kau tidak perlu menyalurkan tenaga padaku lagi. Sebentar kalau tanganmu saling tahan dengan tangannya, maka tenaga yang kau kerahkan tidak boleh perlahan-lahan, tapi harus cepat dan keras, semakin kuat semakin baik."

"Dia akan muntah darah atau tidak?"

Tanya Boh-thian.

"Tidak,"

Sahut si nenek.

"Tadi aku muntah darah karena aku sendiri sangat lemah dan mendadak diterjang oleh membanjirnya tenagamu yang kuat. Tapi Lwekang tua bangka itu sangat hebat, kalau kau tidak mengerahkan tenaga sekuatnya tentu kau sendiri yang akan tergetar dan muntah darah. Dan kalau kau terluka, tentu tiada orang lain lagi yang mampu membela kami nenek dan cucu berdua. Dalam keadaan tak bisa berkutik terpaksa kami mesti pasrah nasib dan membiarkan diri kami dibunuh orang sesukanya."

Mendengar sampai di sini darah Ciok Boh-thian lantas bergolak, timbul seketika jiwa kesatriaannya.

Ia merasa saat ini biarpun mati bagi nenek dan nona itu pun rela.

Padahal kedua orang itu siapa, apakah orang baik atau orang jahat, sama sekali dia tidak tahu.

Begitulah perlahan-lahan si nenek lantas menurunkan lengan bajunya yang menutupi mukanya itu, katanya.

"Terima kasih, anak muda, kalau tiada bantuan tenagamu mungkin sejak tadi jiwa nenek sudah melayang. Rupanya tua bangka Ting Put-si itu masih ngotot tak mau mengaku kalah padamu, maka bolehlah kau bergebrak lagi padanya. Ai, aku sudah sedemikian tua, sudah banyak juga aku menjumpai kesatria sejati dan pahlawan tulen di dunia ini, tak tersangka pada saat hampir dekat ajalku, di depan mataku sekarang justru terdapat seekor babi tua, sungguh aku sangat penasaran."

"Kau bilang babi tua, apakah kau maksudkan aku?"

Tanya Ting Put-si dengan gusar.

"Seorang yang tahu diri masih boleh dikata belumlah terlalu buruk,"

Ujar si nenek dengan tersenyum.

"Nah, Ting Put-si, jika kau ingin membunuh dia kan terlalu gampang? Asal kau gunakan beberapa jurus yang belum pernah kau katakan padanya, tanggung dia tak mampu menangkis dan akan kau binasakan."

"Memangnya kau sangka aku Ting Put-si adalah pengecut seperti itu?"

Sahut Ting Put-si dengan gusar.

"Boleh kau saksikan dengan baik, justru setiap jurus yang akan kugunakan adalah kepandaian yang telah kukatakan padanya tadi."

Justru si nenek sengaja memancing ucapan Ting Put-si ini, maka dapatlah ia menghela napas lega dan tidak bersuara pula. Di sebelah sana Ting Put-si segera membentak.

"Nah, Lemper raksasa, segera aku akan menghantam dengan jurus ‘Gik-cuiheng-ciu’ (mendayung perahu melawan arus). Jurus ini sudah kuajarkan padamu tadi, janganlah kau lupa."

Sambil berkata ia lantas pasang kuda-kuda dengan sedikit berjongkok, mendadak telapak tangan kiri menghantam ke depan dari bawah ke atas.

Ketika mendengar Ting Put-si menyebut jurus "Gik-cui-hengciu" , diam-diam Ciok Boh-thian lantas siap siaga, ia pun pasang kuda-kuda dengan sedikit berjongkok, telapak tangan kiri juga memukul ke depan dari bawah ke atas.

"He, salah, bukan begitu caranya menangkis seranganku!"

Bentak Ting Put-si.

Namun pada saat itu juga tampaknya tangan pemuda itu sudah hampir membentur tangannya sendiri, keruan ia terkesiap, ia tahu Lwekang Boh-thian sangat kuat, kalau sampai kedua orang saling mengadu tenaga dalam, untuk memenangkan pemuda itu menjadi susah diramalkan.

Maka cepat Put-si menarik kembali pukulannya itu, segera telapak tangan kanan berganti menyodok ke depan.

Jurus ini bernama "Ki-hong-tut-gi" (kejadian aneh mendadak timbul).

Tapi Boh-thian telah ingat betul-betul pesan si nenek, segera ia pun memapak dengan jurus yang sama, bahkan tangannya membawa tenaga dalam yang lebih kuat.

Sebelum kedua tangan kebentur, seketika Ting Put-si merasakan angin pukulan lawan telah menyampuk tiba.

Ia terperanjat dan cepat ganti serangan lagi ....

Bab 21.

Pulau Keong Hijau dan Pulau Kabut Ungu Ciok Boh-thian sama sekali tidak ambil pusing jurus serangan apa yang akan dilontarkan Ting Put-si, dia hanya memerhatikan gerak-gerik lawan, jurus apa yang digunakan orang tua itu, segera ia pun meniru dan memapak dengan jurus yang sama.

Dengan demikian Boh-thian menjadi tidak perlu menggunakan otak, sebaliknya perhatiannya melulu dicurahkan dalam hal mengerahkan tenaga dalam sehingga pukulannya makin lama makin dahsyat.

Di pihak lain Ting Put-si mesti dua kali pikir bila hendak menyerang, ia khawatir kalau-kalau tangannya kebentur dan lengket dengan tangan Ciok Boh-thian dan terpaksa harus mengadu tenaga dalam.

Sebab itulah banyak seranganserangannya yang bagus-bagus tak dapat dikeluarkan.

Sebagai seorang tokoh, sudah tentu banyak sekali lawan ternama yang pernah dihadapi Ting Put-si, tapi tak pernah ia ketemukan lawan sebagaimana Boh-thian sekarang, tidak peduli jurus apa yang dimainkan, selalu lawan menirukannya.

Bilamana lawannya adalah tokoh kenamaan, maka cara pertarungan ini boleh dianggap terlalu licik, tapi sekarang Ciok Boh-thian jelas tidak mahir ilmu silat dan sebelumnya sudah berjanji akan melawannya dengan menggunakan jurus-jurus serangan yang diajarkannya tadi, jadi perbuatan pemuda itu yang menirukan setiap jurus serangannya boleh dikata tidak melanggar janji.

Keruan lama-kelamaan Ting Put-si menjadi gelisah, berulangulang ia mencaci maki, tapi toh tak bisa mengapa-apakan Ciok Boh-thian.

Sesudah berlangsung beberapa puluh jurus, lambat laun Bohthian sudah dapat meraba cara bagaimana mengerahkan tenaganya maka setiap pukulannya makin lama makin kuat.

Sudah tentu Ting Put-si tak berani ayal, ia melayaninya dengan sepenuh tenaga.

Pikirnya.

"Sebenarnya orang macam apakah bocah ini? Janganjangan dia sengaja pura-pura bodoh, tapi sebenarnya dia adalah seorang jago muda yang memiliki ilmu silat sangat tinggi?"

Setelah beberapa jurus pula, Ting Put-si ra\sakan tekanan tenaga lawan makin lama makin kuat.

Untung Boh-thian hanya menirukan gaya serangannya saja sehingga dia tidak perlu khawatir kalau-kalau pemuda itu mendadak menyerangnya dengan cara di luar dugaan.

Pada suatu jurus, mendadak kedua tangan Ting Put-si berputar beberapa kali, lalu kedua tangan Ting Put-si berputar beberapa kali, lalu kedua telapak tangannya menghantam miring ke depan.

Jurus ini bernama "Hek-co-hek-yu" (mungkin kiri mungkin kanan), ke mana tenaga pukulannya akan dikerahkan, apa ke kiri atau ke kanan, hal ini tergantung dalam keadaan.

Diam-diam Put-si bergirang dengan jurus pukulannya ini, ia membatin.

"Anak busuk, sekali ini kau tentu mati kutu dan tak bisa menirukan lagi. Masakah kau tahu dari jurusan mana tenaga pukulanku akan kukerahkan?"

Benar juga, tertampak Boh-thian menjadi bingung, tiba-tiba ia bertanya.

"Hey, seranganmu ini akan mengarah ke kanan atau ke kiri?"

Ting Put-si terbahak-bahak geli, bentaknya.

"Boleh kau terka saja akan ke kanan atau ke kiri?"

Berbareng kedua tangannya sengaja digerak-gerakkan untuk menggodanya.

Dalam gugupnya terpaksa Boh-thian mengangkat kedua telapak tangannya dan sekaligus memapak kedua tangan lawan.

Karena tak mengetahui dari sebelah mana tenaga pukulan lawan akan dikerahkan, terpaksa ia memapak dengan kedua tangan dengan sekuatnya.

Keruan Ting Put-si menjadi kaget malah.

Kurang ajar pikirnya, masakah jurus "Mungkin kiri mungkin kanan"

Yang pura-pura itu telah ditirukan oleh Ciok Boh-thian dengan perubahan "Hekco-ek-yu" (juga kiri juga kanan) sehingga serangan sungguh.

Dengan cara demikian, terpaksa Ting Put-si harus mengadu tenaga dalam dengan Ciok Boh-thian dan hal ini justru tidak dikehendaki olehnya.

Pada detik berbahaya itu, sekilas timbul sesuatu akal, mendadak Put-si mengangkat kedua tangannya ke atas sehingga tenaga pukulannya dilontarkan ke udara.

Jurus ini disebut "Thian-ong-thok-tah" (Thian mengangkat menara), yaitu suatu jurus serangan yang biasanya digunakan untuk melawan musuh yang sedang menubruk dari atas.

Boh-thian sendiri pada waktu itu toh tidak menyerang dari udara, jadi jurus Ting Put-si itu sebenarnya tiada gunanya.

Tapi dasar Boh-thian selalu menirukan setiap jurus lawan, ketika mendadak dilihatnya Ting Put-si mengeluarkan jurus "Thianong-thok-tah"

Itu, walaupun tidak paham apa maksud tujuannya, tapi dia lantas menirukan juga dengan mengangkat kedua telapak tangan ke atas sehingga tenaga pukulannya menjurus ke udara.

Keadaan pada waktu itu menjadi empat tangan dari kedua orang itu sama-sama terangkat ke atas dengan pandangmemandang, Put-si memandang Boh-thian dengan geli, Boh thian memandang Put-si dengan bingung.

Saking tak tahan, akhirnya Ting Put-si terbahak-bahak geli.

Melihat lawannya tertawa, tanpa merasa Boh-thian juga ikut tertawa.

Si nona yang bersandar di dinding perahu sana juga ikut tersenyum menyaksikan adegan yang lucu itu.

Sebaliknya si nenek lantas mencemoohkan.

"Huh, tidak tahu malu! Tidak dapat menangkan orang, lantas menggunakan akal bulus untuk menipu anak kecil!"

Sekilas itu mendadak Ting Put-si dapat mengeluarkan tipu yang aneh itu untuk menghindarkan adu Lwekang dengan Ciok Bohthian, maka Put-si sangat puas atas kecerdikannya sendiri, ia tidak ambil pusing terhadap ejekan si nenek, ia hanya tertawa saja dan memberi alasan.

"Aku toh tiada bermusuhan apa-apa dengan bocah ini, buat apa aku mesti membinasakan dia dengan tenaga dalamku?"

Dan baru saja si nenek hendak mengolok-olok pula, mendadak terasa perahu mereka menjadi oleng terus meluncur cepat ke hilir.

Kiranya permukaan sungai di situ agak sempit dan arus menjadi lebih kencang.

Kembali Ting Put-si bergelak tertawa dan berkata.

"Siau-jui, sudah akan sampai di Pik-lwe-to, kalian nenek dan cucu bersama si Lemper Raksasa disilakan dulu ke tempatku itu."

Air muka si nenek berubah mendadak, sahutnya tegas.

"Tidak, biar mati pun aku tidak sudi menginjak tanah pulau setanmu itu."

"Tinggal saja di sana buat beberapa hari lamanya, apa sih halangannya?"

Ujar Put-si.

Dalam pada itu arus sungai bergelombang dengan hebat, air ombak mendebur ke atas perahu mereka.

Waktu Boh-thian memandang ke arah yang dituju Ting Put-si, ternyata di sebelah kanan sungai sana tertampak sebuah puncak gunung yang menghijau, ujung puncak itu lancip dan bagian bawah bulat sehingga bentuknya mirip keong.

Ia pikir tentu inilah "Pik-lwe-to" (pulau keong hijau) yang dimaksudkan itu.

"Belokkan kemudi untuk menepi,"

Perintah Ting Put-si kepada si tukang perahu.

Si tukang perahu mengiakan.

Segera Ting Put-si bersiap-siap di haluan perahu dengan memegang jangkar, asal sudah dekat dengan tepi sungai segera ia akan membuang sauh ke daratan pulau itu.

"Loyacu,"

Demikian kata Boh-thian.

"jika Lothaythay ini tidak mau pergi ke rumahmu buat apa engkau me ...."

Belum habis Boh-thian bicara, sekonyong-konyong si nenek telah meloncat bangun, sekali rangkul si nona, segera terjun ke dalam sungai.

"He! Jangan!"

Teriak Ting Put-si dengan kaget.

Segera ia hendak menjambret, tapi sudah terlambat.

Terdengar suara air berdebur, nenek dan nona itu sudah menghilang ditelan ombak.

Dalam kagetnya cepat Boh-thian juga bertindak, ia pegang sepotong papan perahu terus ikut terjun ke dalam sungai.

Waktu melompat ia telah memancal di tepian perahu sehingga walaupun terjun belakangan, tapi sauhnya justru berada di sisi si nenek berdua.

Boh-thian tidak dapat berenang, begitu masuk sungai mulutnya lantas kemasukan air.

Tapi tekadnya hendak menolong orang, dengan tangan kanan merangkul papan, tangan kiri lantas meraih kian kemari, kebetulan rambut si nenek yang panjang kena dijambak olehnya, terus saja ia pegang dengan kencang dan tak terlepaskan lagi.

Ketiga orang lantas terhanyut oleh arus yang deras itu.

Sesudah terdampar sejenak, sementara itu kepala Boh-thian terasa pusing, mulutnya masih terus tercekok air.

Tiba-tiba badannya terguncang hebat, pinggangnya terasa sakit, rupanya ia telah terdampar dan tertumbuk oleh sepotong batu karang yang melintang di tepi sungai.

Dengan girang segera Boh-thian gunakan kakinya untuk menahan dirinya di batu karang itu.

Waktu ia mendongak ke permukaan air, di atas sana tampak kabut belaka, di tengah kabut lapat-lapat tertampak pula banyak pepohonan.

Tanpa pikir lagi segera ia menarik si nenek ke atas, syukurlah orang tua itu masih terus merangkul cucu perempuannya dengan kencang, cuma tidak diketahui apakah sudah mati atau masih hidup.

Boh-thian lantas pondong kedua orang itu dan berusaha mendarat sekuat tenaga.

Ia berjalan ke tengah pepohonan yang penuh kabut sana.

Kira-kira beberapa puluh meter jauhnya ia sudah meninggalkan tepi sungai yang penuh lumpur itu.

Setiba di tanah yang kering barulah ia meletakkan kedua wanita itu.

Tapi baru saja ia hendak menurunkan kedua wanita itu, tiba tiba terdengar si nenek mendampratnya.

"Anak kurang ajar! Kau berani menjambak rambutku?"

Boh-thian melengak dan cepat menjawab.

"O, ya, maaf, maaf!"

"Kau jambak rambutku sedemikian kencang sehingga kepalaku kesakitan, huak ...."

Mendadak ia memuntahkan air sungai yang telah diminumnya tadi.

"Nenek, kalau kita tak tertolong oleh Toako ini tentu saat ini kita sudah ...."

Sampai di sini si nona berkata, tiba-tiba ia pun memuntahkan air sungai yang tadi banyak masuk ke dalam perutnya.

"Jika demikian, jadi bocah ini yang telah menolong jiwa kita,"

Kata si nenek.

"Ya, sudah, kesalahannya menjambak rambutku takkan aku persoalkan lagi padanya."

Si nona tersenyum, katanya pula.

"Toako ini benar-benar sangat baik, terima kasih banyak-banyak atas pertolonganmu."

Waktu itu si nenek dan si nona masih berada dalam pondongan Boh-thian dan belum diturunkan, jarak pandangan mereka tiada setengah meter jauhnya, wajah si nona menjadi merah dan tak berani menatap Boh-thian.

"Sudahlah, sekarang boleh turunkan kami,"

Kata si nenek.

"Tempat ini adalah Ci-yan-to (pula kabut ungu), letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat kediaman Ting-lokoay, maka kita harus berjaga-jaga kalau-kalau dia mengacau ke sini."

Boh-thian mengiakan. Dan baru saja ia hendak menurunkan nenek dan cucunya itu, tiba-tiba di balik semak pohon sana ada suara orang berkata.

"Bocah itu besar kemungkinan tidak mampus, kita harus menemukan dia."

Boh-thian terkejut, katanya dengan suara bisik-bisik.

"Wah, celaka! Ting Put-si telah mengejar tiba!"

Segera ia mendekam ke dalam semak-semak dengan masih memondong dua orang, sedikit pun ia tidak berani bergerak.

Maka terdengar suara tindakan orang yang lalu di sebelah mereka, seorang tua dan seorang lagi wanita muda.

Kaget Ciok Boh-thian melebihi tadi demi mengetahui siapa kedua orang itu.

Sesudah kedua orang itu beberapa puluh meter jauhnya, ia coba melongok ke sana, benar juga kedua orang itu adalah Ting Put-sam dan si Ting Tong.

Kiranya Ting Put-sam dan Ting Put-si adalah saudara kandung, usia mereka cuma selisih satu tahun, suara mereka pun sangat mirip.

Karena khawatir dikejar oleh Ting Put-si, maka suara Ting Put-sam telah keliru disangka Ting Put-si oleh Boh-thian.

"Wah, celaka! Kiranya adalah Ting-samya!"

Bisik Boh-thian dengan suara takut.

"Mengapa kau demikian takutnya?"

Ujar si nenek.

"Bukankah cucu perempuan Ting Put-sam itu telah mengajarkan ilmu silatnya padamu?"

"Loyacu hendak membunuh aku, si Ting-ting Tong-tong juga marah padaku, katanya aku tidak menurut kata-katanya, maka aku telah diringkus menjadi sebuah lemper raksasa dan dilemparkan ke dalam sungai,"

Tutur Boh-thian.

"Untunglah saat itu perahu kalian lewat di sisinya, kalau tidak ... kalau tidak ...."

"Kalau tidak tentu kau sudah menjadi kura-kura di dalam sungai, telah menjadi isi perut ikan, bukan?"

Sambung si nenek dengan tertawa.

"Ya, ya!"

Sahut Boh-thian. Dan bila teringat kejadian kemarinnya, diam-diam ia merasa khawatir pula, segera ia berkata.

"Nenek, mereka masih mencari aku, kalau aku tertangkap pula tentu ... tentu aku tak dapat menyelamatkan jiwaku lagi."

Si nenek menjadi gusar, sahutnya.

"Jika aku tidak dalam keadaan lumpuh begini, hanya seorang Ting Put-sam saja apa artinya bagiku? Kau boleh pergi memanggil dia ke sini, ingin kulihat apakah dia berani mengganggu seujung rambutmu atau tidak?"

Rupanya perangai si nenek ini sangat berangasan, biarpun dia melatih Lwekang dan tersesat, tapi dia tetap memandang sebelah mata kepada para jago-jago silat di dunia.

"Nenek, dalam keadaan demikian sebaiknya engkau menghindari kedua saudara Ting itu, kelak kalau kesehatanmu sudah pulih kembali barulah engkau membikin perhitungan dengan mereka,"

Demikian si nona juga menghiburnya. Namun si nenek masih marah-marah, katanya.

"Sekali ini nenekmu benar-benar sialan, aku Su Siau-jui selama hidup ini telah malang melintang di dunia Kangouw, biasanya akulah yang membikin gara-gara kepada orang lain, mana bisa jadi seperti sekarang ini aku harus bungkam dalam seribu bahasa? Ya, semuanya ini adalah gara-gara perbuatan ‘binatang kecil’ dan ‘tua bangka’ itu."

"Sudahlah, nenek,"

Kata si nona.

"apa yang sudah lalu buat apa diungkat-ungkat pula? Kita berdua sama-sama menderita kesukaran, kita harus tetirah dengan pikiran tenang barulah dapat sembuh dengan cepat. Bila hati nenek selalu murung, tentu akan semakin merusak kesehatannya sendiri."

"Rusak biar rusak, takut apa?"

Kata si nenek dengan gusar.

"Hari ini benar-benar sialan, sedemikian banyak aku tercekok air sungai yang kotor, nama baik Su Siau-jui hari ini benarbenar telah runtuh habis-habisan."

Begitulah semakin marah semakin keras suara ucapan nenek itu. Boh-thian khawatir kalau didengar oleh Ting Put-sam, maka cepat ia menghiburnya.

"Tenanglah, nenek! Apa ... apakah perlu aku menyalurkan sedikit tenaga kepadamu?"

Dan sebelum si nenek menjawab ia lantas menempelkan telapak tangannya ke Leng-tay-hiat di punggung orang, lalu mengerahkan tenaga dalam dan disalurkan ke tubuh si nenek itu.

Karena penyaluran tenaga dalam itu, terpaksa si nenek mencurahkan pikirannya untuk mengerahkan tenaga bantuan itu ke urat nadi di tubuh sendiri yang buntu itu.

Maka satu demi satu Hiat-to yang macet itu dapatlah ditembus.

Yang diharapkan Ciok Boh-thian, asalkan nenek itu tidak bersuara lagi sehingga diketahui Ting Put-sam, maka ia masih terus menyalurkan tenaga dalamnya.

Diam-diam Su-popo (si nenek she Su) terheran-heran.

"Sedemikian hebat tenaga dalam bocah ini, bukan saja sangat kuat, bahkan tenaganya sangat murni, terang dia masih berbadan jejaka, yang diyakinkan juga Lwekang dari golongan yang baik. Tapi mengapa dia sama sekali tidak mahir ilmu silat?"

Karena sedikit pikirannya bercabang, seketika darah di rongga dadanya bergolak, cepat si nenek memusatkan perhatiannya lagi dan tidak berani memikirkan urusan lain.

Kira-kira setengah jam kemudian barulah "Siau-yang-kengmeh", yaitu urat-urat nadi bagian kaki dapat ditembus semua.

Maka dapatlah si nenek bernapas lega, mendadak ia berbangkit, katanya dengan tertawa.

"Sementara ini cukuplah! Kau tentu sudah capek juga."

Boh-thian dan si nona terkejut dan bergirang pula, seru mereka berbareng.

"Ha, nenek sudah dapat berjalan?"

"Ya, baru urat nadi bagian kaki yang telah bekerja lancar, tapi masih banyak urat nadi bagian lain yang masih buntu,"

Sahut si nenek.

"Aku toh tidak lelah, biarlah kita melancarkan sekalian uraturat nadi yang lain,"

Ujar Boh-thian.

"Seenaknya saja kau bicara,"

Sahut si nenek.

"Aku dan A Siu bersama-sama melatih Bu-bon-sin-kang sehingga tersesat jalan tenagaku, apakah kau kira penyakitku ini adalah penyakit lumpuh biasa? Biarpun Tat-mo Cosu atau Thio Sam-hong hidup kembali juga tidak dapat menembus seluruh urat nadiku di dalam waktu satu hari."

"Ya, ya, aku tidak paham urusan demikian ini,"

Kata Boh-thian dengan kikuk.

"Jika merasa iseng, bolehlah kau membantu A Siu melancarkan Siau-yang-keng-meh di bagian kakinya,"

Kata si nenek.

"Baiklah,"

Sahut Boh-thian.

Segera ia memayang si nona alias A Siu, ia sandarkan bahu nona itu pada sebatang pohon, lalu menggunakan telapak tangan untuk menahan Leng-tay-hiat di punggungnya, perlahan-lahan ia menyalurkan tenaga dalam menurut cara yang diajarkan si nenek tadi.

Karena Lwekang si A Siu jauh lebih cetek daripada neneknya, maka Boh-thian harus menggunakan tempo berlipat ganda untuk melancarkan Hiat-to si nona.

Sesudah merangkak bangun, dengan suara lemah lembut A Siu berkata.

"Terima kasih, Toako ini. Nenek, kita juga belum mengetahui nama Toako yang baik hati ini, entah cara bagaimana kita harus menyebutnya, sungguh agak kurang hormat."

Meski ucapan A Siu itu ditujukan kepada neneknya, tapi sebenarnya sedang menanyakan namanya Ciok Boh-thian, soalnya dia merasa rikuh untuk bicara langsung kepada seorang pemuda yang baru dikenalnya itu.

Diam-diam Boh-thian membatin sendiri.

"Ya, siapakah namaku?"

Dalam pada itu si nenek sudah lantas berseru.

"Hey, Lemper Raksasa, cucu perempuan sedang menanyakan namamu siapa?"

"Aku ... aku pun tidak tahu,"

Sahut Boh-thian dengan tergagapgagap.

"Ibuku memanggil aku ... memanggil aku ...."

Dia hendak mengatakan bernama "Kau-cap-ceng" , tapi sekarang ia sudah tahu bahwa nama itu tidak sopan untuk diucapkan di depan seorang nona yang berbudi halus dan sopan itu.

Maka ia lantas menyambung pula.

"Mereka sebaliknya salah mengenali diriku, padahal aku bukan orang yang mereka maksudkan itu. Sebenarnya siapakah diriku ini, aku sendiri pun susah ... susah untuk menjelaskan ...."

Su-popo menjadi tidak sabar, bentaknya.

"Jika tidak mau mengatakan, boleh tak mengatakan, kenapa mesti bicara macam-macam."

"Nenek, bila orang tak mau mengatakan, tentu dia ada kesukarannya sendiri, maka kita pun jangan memaksa,"

Ujar A Siu.

"Tentang nama tidaklah menjadi soal, asalkan kita selalu mengingat kepada budi kebaikannya sudah cukuplah."

"Tidak, tidak, bukanlah aku tidak mau mengatakan namaku, soalnya namaku sesungguhnya sangat jelek,"

Kata Boh-thian.

"Jelek apa segala? Apakah ada nama yang lebih jelek daripada nama Lemper Raksasa?"

Ujar Su-popo.

"Jika kau tidak mau mengatakan, maka biarlah kupanggil kau si Lemper saja."

"Boleh juga engkau memanggil aku si Lemper, ini toh tidak terlalu jelek,"

Sahut Boh-thian dengan tertawa.

Ia pikir paling tidak nama Lemper akan lebih sedap didengar daripada panggilan Kau-cap-ceng alias anak anjing.

A Siu menjadi lebih rikuh lagi melihat perangai Boh-thian yang baik itu, biarpun neneknya mengolok-olok dan ucapannya kasar toh pemuda itu sedikit pun tidak marah.

Segera katanya pula.

"Sudahlah nenek, janganlah engkau menggodanya lagi. Toako ini ...."

"Tak apa, tak apa,"

Sahut Boh-thian cepat.

"Aku akan berterima kasih asal Ting-yaya dan si Ting Tong tidak menguber-uber diriku. Sekarang kalian bolehlah mengaso sebentar, biarlah aku pergi mencari sesuatu makanan apaapa."

"Di Ci-yan-to ini banyak tumbuh buah kesemak, saat ini buahnya sedang masak, boleh kau pergi memetiknya sedikit,"

Kata Su-popo.

"Di pulau ini juga banyak kepiting yang gemukgemuk, boleh juga kau menangkapnya beberapa ekor."

Boh-thian mengiakan dan segera berangkat.

Dengan hati-hati ia menyusur pepohonan yang rindang itu karena khawatir dipergoki oleh Ting Put-sam dan si Ting Tong.

Kira-kira ratusan meter jauhnya benar juga tertampak di lereng bukit situ ada belasan pohon kesemak dengan buahnya yang merah masak.

Sesudah berada di bawah pohon-pohon kesemak itu, Boh-thian memegang batang pohon dan digoyang-goyangkan sekuatnya.

Pertama karena tenaganya besar, kedua buah kesemak itu memang sudah masak, seketika berjatuhanlah belasan buah kesemak.

Cepat Boh-thian pentang bajunya untuk menjemput buah-buah itu, lalu dibawanya kembali.

Sementara itu, kaki Su-popo dan si A Siu sudah dapat bergerak, cuma tangan mereka yang masih kaku, Su-popo masih mendingan dapat mengangkat tangannya walaupun berat sekali rasanya.

Sebaliknya kedua tangan A Siu sama sekali belum dapat bergerak.

Boh-thian mengupas kulit buah kesemak itu, lebih dulu ia memberikan sebuah kepada Su-popo, lalu mengupas sebuah pula untuk menyuapi A Siu.

Melihat pemuda itu menyuapi dirinya, muka si A Siu menjadi merah sebagai buah kesemak itu.

Tapi ia pun tak bisa menolak terpaksa ia memakannya.

Ketika Boh-thian hendak menyuapi sebuah lagi, tiba-tiba A Siu berkata.

"Toako sendiri bolehlah makan dulu, habis itu baru baru ...."

Begitulah mereka lantas makan secara bergiliran. Boh-thian sendiri makan sebuah, lalu mengupas dan membaringkan Supopo dan menyuapi A Siu lagi.

"Tidak jauh di sebelah barat daya sana ada sebuah gua, malam nanti kita boleh tinggal di sana agar kedua saudara setan yang ‘tidak tiga tidak empat’ (Put-sam dan Put-si) itu tak dapat menemukan kita,"

Kata Su-popo. Boh-thian menjadi girang, serunya.

"Ha, bagus sekali!"

Ia tidak begitu jeri terhadap Ting Put-si, tapi terhadap Ting Putsam dan si Ting Tong yang hendak membunuhnya itu dia benar-benar sangat takut.

Maka ia menjadi terhibur demi mendengar Su-popo mengatakan ada suatu tempat sembunyi yang baik.

Lambat laun malam pun tiba, segera Boh-thian memayang Supopo dan tangan lain memapah A Siu, bertiga lantas menuju ke arah gua.

Rupanya Ci-yan-to adalah tempat yang pernah dijelajahi Supopo, terbukti nenek ini sudah sangat hafal sekali jalannya.

Benar juga, kira-kira satu-dua li jauhnya, sampailah mereka di suatu lembah bukit, di sisi kanan adalah dinding karang belaka, sesudah Su-popo memberi petunjuk belok sini dan putar sana akhirnya sampai juga di depan sebuah gua.

"Lemper Raksasa, malam ini kau tidur dan jaga di luar sini, tapi tidak boleh masuk ke dalam gua,"

Kata Su-popo. Berulang-ulang Boh-thian mengiakan. Katanya pula.

"Sayang kita tidak berani menyalakan api untuk mengeringkan pakaian kita."

"Hm, dasar sialan, kelak kedua setan yang tidak tiga dan tidak empat itu harus dibikin menderita sepuluh kali lebih berat daripada kita sekarang,"

Kata si nenek dengan gemas.

Besok paginya, sebagai sarapan pagi mereka pun makan buah kesemak lagi, lalu Boh-thian menyalurkan tenaga pula untuk melancarkan urat nadi kedua nenek dan cucu itu sehingga tangan mereka dapatlah bergerak semua.

"Lemper Raksasa,"

Kata Su-popo.

"di sana ada sebuah empang dan banyak terdapat kepiting yang gemuk-gemuk, boleh kau pergi menangkapnya beberapa ekor daripada kita makan buah kesemak setiap hari."

Boh-thian menjadi ragu-ragu, sahutnya kemudian.

"Menangkap kepiting sih tidak sukar, cuma saja kita tak dapat memasaknya, pula tak dapat memakannya secara mentahmentah."

"Huh, seorang laki-laki yang muda dan kuat mengapa mesti ketakutan setengah mati kepada seorang tua bangka sebagai Ting Put-sam?"

Jengek Su-popo.

"Jangankan Ting-samya saja, sampai-sampai si Ting-ting Tongtong juga jauh lebih lihai daripadaku,"

Sahut Boh-thian sambil menggeleng.

"Jika aku kena ditangkap mereka, lalu aku diikat pula sebagai lemper raksasa dan dilemparkan lagi ke dalam sungai, wah, kan bisa runyam."

"Sudahlah, nenek, apa yang dikatakan Toako ini pun ada benarnya,"

Sela A Siu.

"Bolehlah kita bersabar sementara, tunggu nanti kalau urat nadi nenek sudah lancar kembali dan tenaga saktimu sudah pulih, tatkala mana masakah kita masih takut kepada Ting Put-sam atau Ting Put-si segala?"

"Hm, kau bicara seenaknya saja, untuk memulihkan tenaga saktiku apakah begitu gampang?"

Jengek si nenek.

"Untuk melancarkan urat nadi kita saja diperlukan belasan hari lamanya dan kalau ingin memulihkan kepandaian semula, sedikitnya diperlukan setahun atau paling tidak juga delapan bulan lamanya. Apalagi di dalam delapan bulan ini kita dapat makan buah kesemak melulu? Hm, mungkin belasan hari lagi juga semua buah kesemak itu akan kedaluan dan busuk semua."

"Untuk itu kita tidak perlu khawatir,"

Ujar Boh-thian.

"Aku akan memetik buah kesemak sebanyak-banyaknya, lalu dijemur menjadi kesemak kering, kukira cukup untuk persediaan setengah atau satu tahun dan kita takkan mati kelaparan."

Kiranya Boh-thian menjadi kapok setelah berulang-ulang menghadapi bahaya dan tersiksa, ia pikir daripada hidup merana tak menentu, ada lebih baik hidup aman tenteram di gua ini saja.

Tapi Su-popo lantas mengomelnya.

"Kau suka menjadi kurakura yang terus mengkeret di sini, aku yang tidak sudi. Pula keparat Ting Put-si itu di dalam satu-dua hari ini tentu akan mencari ke pulau ini, biarpun kau ingin mengkeret di sini seperti kura-kura juga tak bisa jadi lagi. Eh, apa-apaan kau ini, Lemper Raksasa? Percuma saja kau memiliki Lwekang setinggi itu, tapi mengapa tidak pernah belajar ilmu silat?"

"Justru tiada orang yang mengajarkan aku, hanya si Ting-ting Tong-tong saja pernah mengajarkan l8 jurus Kim-na-jiu-hoat, dengan sendirinya aku tak sanggup melawannya. Ilmu silat yang diajarkan kakek Ting Put-si kepadaku juga setiap jurusnya sudah dipahami olehnya,"

Demikian jawab Boh-thian.

"Nenek,"

Tiba-tiba A Siu menyela.

"mengapa engkau tidak mau memberi petunjuk barang beberapa jurus kepada Toako ini. Sesudah dia memahami kepandaianmu, bila dia dapat mengalahkan Ting Put-si, bukankah lebih membanggakan daripada engkau sendiri yang menangkan dia."

Su-popo memandang dengan tak berkesip kepada Boh-thian.

Sorot matanya mendadak memantulkan perasaan yang buas dan benci, kedua tangannya juga tampak gemetaran seakanakan ingin menubruk maju dan sekali gigit membinasakan pemuda itu.

Boh-thian menjadi takut dan tanpa merasa melangkah mundur setindak.

Katanya dengan terputus-putus.

"Lothaythay, engkau ... engkau ...."

"A Siu,"

Mendadak si nenek berseru dengan suara bengis.

"coba kau pandang dia yang jelas, bukankah sangat mirip sekali?"

Sepasang mata A Siu yang besar bundar itu menatap sejenak ke muka Ciok Boh-thian, tapi air mukanya sangat lemah lembut sahutnya kemudian.

"Nenek, memang agak mirip, namun ... namun pasti bukan dia. Bila dia memadai sedikit kejujuran dan ketulusan Toako ini saja ...."

Sinar mata si nenek yang bengis tadi perlahan-lahan mulai pudar kembali, tapi ia masih mengejek dan berkata.

"Meski bukan dia, tapi mukanya sedemikian mirip, biar bagaimanapun aku takkan mengajarkan kepandaianku padanya."

Seketika Boh-thian paham duduknya perkara, ia tahu tentu si nenek menyangka dirinya sebagai pemuda Ciok Boh-thian itu, agaknya Ciok-pangcu itu terlalu banyak berdosa kepada orang lain, maka banyak sekali orang-orang di dunia ini yang benci padanya.

Kelak kalau aku dapat bertemu dengan dia, tentu aku akan memberi nasihat padanya agar menjadi orang yang baikbaik, demikian pikirnya.

Dalam pada itu terdengar si nenek sedang bertanya padanya.

"Apakah kau juga she Ciok?"

"Bukan!"

Sahut Boh-thian sambil menggeleng.

"Orang lain memang mengatakan bahwa aku sangat mirip dengan Ciokpangcu dari Tiang-lok-pang, padahal sama sekali aku bukanlah dia. Ai, bicara ke sana ke sini tiada seorang pun yang mau percaya padaku."

Habis berkata ia lantas menghela napas panjang dengan hati kesal.

"Aku percaya engkau bukanlah dia,"

Tiba-tiba A Siu menanggapi dengan suara perlahan. Boh-thian menjadi girang.

"Kau benar-benar tidak percaya? Itulah sangat ... sangat bagus. Hanya engkau seorang yang telah menyatakan tidak percaya."

"Engkau adalah orang baik-baik dan dia adalah orang ... orang jahat,"

Kata A Siu.

"Kalian berdua sama sekali berbeda."

Alangkah terhibur hatinya Boh-thian, ia merasa telah ketemukan seorang yang benar-benar dapat menyelami isi hatinya, tanpa merasa ia pegang tangan si nona dan berkata.

"Banyak terima kasih."

Dan saking terharunya sampai air matanya bercucuran.

Maklum, selama ini setiap orang selalu menganggap dia sebagai Ciok-pangcu segala, untuk membantah adalah sangat sulit.

Sekarang ia menjadi seperti seorang pesakitan yang mendadak telah dapat membikin terang duduknya perkara dan dengan sendirinya dia sangat berterima kasih kepada si nona yang sudi memahami isi hatinya itu.

Muka A Siu menjadi merah jengah, tapi ia pun tidak tega menarik kembali tangannya yang dipegang Boh-thian itu.

Sebaliknya Su-popo lantas mencemooh lagi.

"Kalau betul bilang betul, jika bukan ya bukan, seorang laki-laki sejati macam apa pakai menangis segala?"

"Iy ... ya, o, ma ... maaf!"

Mendadak Boh-thian sadar masih memegang tangan A Siu yang putih halus itu, cepat ia melepaskannya dan berkata pula.

"Aku ... aku tidak seng ... aku akan pergi memetik buah kesemak lagi."

Ia tidak berani banyak memandang si nona pula dan cepat berlari pergi.

Melihat tingkah laku Boh-thian yang serbakikuk, tingkah laku yang wajar dan sekali-kali bukan pura-pura itu, mau tak mau si nenek merasa geli juga.

Ia menghela napas dan berkata.

"Ya, memang bukan. Coba alangkah baiknya kalau binatang kecil she Ciok itu bisa memiliki sedikit kejujuran sebagai si Lemper ini."

Selang tidak lama, mendadak di luar gua terdengar suara orang berlari, tertampak Boh-thian telah berlari kembali dengan wajah pucat dan sangat ketakutan, katanya.

"Wah, celaka, celaka!"

"Ada apakah? Kau telah dipergoki Ting Put-sam?"

Tanya Supopo.

"Bu ... bukan!"

Sahut Boh-thian.

"Orang-orang Swat-san-pay telah menyusul ke pulau ini, wah, berbahaya sekali ...."

Mendengar "Swat-san-pay"

Disebut, seketika air muka Su-popo dan A Siu berubah, mereka saling pandang sekejap, lalu si nenek bertanya.

"Siapa yang datang?"

"Itu ... itu Pek Ban-kiam dengan belasan orang Sutenya,"

Sahut Boh-thian.

"Mereka pasti akan menangkap diriku untuk dibawa pulang ke Leng-siau-sia dan dihukum mati di sana."

"Kau telah dilihat mereka tidak?"

Tanya Su-popo.

"Untung tidak sampai dilihat mereka,"

Ujar Boh-thian.

"Cuma aku telah melihat Pek Ban-kiam itu sedang ... sedang bicara dengan kakek Ting Put-si.

"Apakah kau tidak keliru? Ting Put-si atau Ting Put-sam?"

Supopo menegas.

"Ting Put-si, pasti tidak keliru,"

Sahut Boh-thian.

"Dia mengatakan bahwa di sungai tiada diketemukan mayat, tentu terdampar dan sembunyi di pulau ini. Mereka telah mulai mencari dan sebentar tentu akan sampai di sini, wah, bisa celaka ini."

Saking khawatirnya sampai jidatnya penuh berkeringat. A Siu coba menghiburnya.

"Apakah Pek Ban-kiam itu pun salah mengenali kau? Tapi kalau engkau memang bukan dia, betapa pun kau dapat menerangkan kepada mereka dengan jelas dan tidak perlu khawatir."

"Ti ... tidak, mereka sukar untuk diberi penjelasan,"

Ujar Bohthian.

"Sukar diberi penjelasan? Jika begitu hantam saja!"

Kata Supopo.

"Di dunia ini orang yang difitnah juga tidak melulu kau seorang saja."

Bab 22. Ciok Boh-thian Diterima Menjadi Murid Kim-ohpay "Pek-suhu itu adalah tokoh terkemuka Swat-san-pay, ilmu pedangnya sangat tinggi, aku mana mampu melawannya?"

Tutur Boh-thian.

"Hm, macam apakah ilmu pedang Swat-san-pay itu? Bagiku juga cuma biasa saja dan tidak mengherankan,"

Jengek Supopo.

"Tidak, tidak,"

Ujar Boh-thian sambil goyang-goyang tangannya.

"Ilmu pedang Pek-suhu itu memang sangat hebat, benar-benar susah dilukiskan lihainya. Dia punya pedang hanya sedikit bergerak begini saja lantas dapat meninggalkan enam titik bekas luka di tubuh orang atau di atas pilar, kau percaya tidak?"

Sambil berkata ia pun memegangi lengan celananya, pikirnya kalau Su-popo tidak percaya maka ia akan menyingsing lengan celana untuk memperlihatkan bekas goresan pedang di pahanya.

Karena dia adalah bocah gunung dan tiada pernah bergaul, maka sama sekali tak terpikir olehnya apakah perbuatannya itu sopan atau tidak dilakukan di depan kaum wanita.

Namun terdengar Su-popo telah mendengus sekali dan berkata.

"Mengapa aku tidak percaya? A Siu, bila kita punya Bu-bong-sin-kang kini berhasil dilatih, bukankah sekaligus aku dapat membuat tujuh bekas luka pedang!"

A Siu mengangguk dan menghela napas perlahan karena menyesal ilmu sakti mereka itu belum berhasil terlatih dan mereka sudah telanjur menjadi orang cacat. Segera Boh-thian menghiburnya.

"Sementara ini kalian tak bisa bergerak, tapi nanti kalau kalian sudah sembuh tentu dapat melatihnya lagi, buat apa mesti banyak bicara pula."

"Persetan, ngaco-belo belaka!"

Semprot Su-popo.

"Kalau aku dapat melatihnya lagi buat apa mesti banyak bicara pula."

Boh-thian menjadi bingung atas omelan nenek itu, ia garukgaruk kepala dan tidak berani buka suara lagi. Rupanya kemarahan Su-popo masih belum reda, ia mengomel lagi.

"Hm, di mana letak kelihaian ilmu silat Swat-san-pay? Dalam pandanganku justru tiada harganya barang sepeser pun, Pek Cu-cay si setan tua itu main raja-rajaan di Leng-siau-sia dan anggap dia punya Swat-san-kiam-hoat sudah nomor satu di dunia ini. Hm, aku punya Kim-oh-to-hoat (ilmu golok Kimoh-pay) justru adalah lawan mematikan bagi dia punya ilmu pedang. Eh, Lemper Raksasa apakah kau tahu apa artinya Kimoh-pay?"

"Ti ... tidak tahu,"

Sahut Boh-thian sambil menggeleng.

"Kim-oh artinya matahari, bilamana sang surya menyingsing, apa yang akan terjadi dengan salju di atas gunung?"

Tanya Supopo.

"Salju akan cair,"

Jawab Boh-thian.

"Itu dia! Jika sang surya sudah menyingsing, maka gunung salju akan runtuhlah,"

Kata Su-popo.

"Sebab itulah ilmu silat dari Kim-oh-pay merupakan lawan mematikan bagi ilmu silat Swat-san-pay. Anak murid mereka bila bertemu dengan orang Kim-oh-pay tentu mereka akan menyembah dan minta ampun belaka."

Tentang Swat-san-kiam-hoat sudah disaksikan oleh Boh-thian sendiri, maka sekarang ia menjadi ragu-ragu akan kebenaran Kim-oh-to-hoat sebagaimana dikatakan oleh Su-popo itu.

Dasar dia adalah orang jujur, karena rasa sangsinya itu seketika tertampak jelas pada air mukanya.

"Apakah kau tidak percaya?"

Tanya Su-popo segera. Jawab Boh-thian.

"Ketika aku ditawan oleh Pek-suhu di kelenteng sana, aku telah menyaksikan sesama saudara seperguruan mereka saling gebrak dan aku masih ingat sedikit kepandaian mereka itu, aku merasa ... merasa ilmu pedang Swat-san-pay mereka itu memang ... memang ...."

"Memang apa?"

Bentak Su-popo dengan gusar.

"Kau hanya menyaksikan latihan di antara sesama saudara seperguruan mereka, hanya semalam saja apa yang dapat kau pelajari? Dari mana kau tahu bagus dan tidak? Coba kau pertunjukkan kepadaku sekarang."

"Sedikit kepandaian kasar yang kupelajari ini tentu tidak selihai Pek-suhu itu,"

Ujar Boh-thian. Tiba-tiba Su-popo terbahak-bahak, A Siu juga tersenyumsenyum. Lalu nenek itu berkata.

"Pek Ban-kiam itu memang mempunyai bakat yang bagus, latihannya sangat giat pula, sejak kecil sampai sekarang sudah lebih 20 tahun berlatih ilmu pedang, sekarang kau hanya melihatnya saja dalam waktu sebentar lantas ingin selihai dia, bukankah terlalu menggelikan?"

"Nenek, Toako ini memangnya mengatakan tidak selihai Peksuhu itu,"

Sela A Siu. Su-popo melotot sekali kepada nona itu, lalu dia berpaling kepada Boh-thian dan berkata pula.

"Baiklah, boleh coba kau pertunjukkan sekarang, ingin kulihat betapa lihainya ilmu pedangmu."

Boh-thian tahu si nenek sedang menyindir padanya, dengan muka marah segera ia menjemput sebatang ranting pohon untuk digunakan sebagai pedang, ia menirukan jurus ilmu pedang yang pernah dilihatnya di kelenteng tempo hari itu.

"sret", segera ia menusuk seperti apa yang dimainkan Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu dahulu.

"Haha!"

Su-popo tertawa.

"Jurus pertama saja sudah salah!"

Muka Boh-thian bertambah merah dan segera berhenti.

"Teruskan, terus main,"

Seru Su-popo.

"Aku ingin tahu betapa lihainya Swat-san-kiam-hoat-mu."

Dengan perasaan malu mestinya Boh-thian hendak melemparkan ranting kayu itu.

Tapi sekilas dilihatnya A Siu sedang memandangnya dengan penuh perhatian, sorot matanya memperlihatkan rasa simpatik, sedikit pun tiada maksud mengejek.

Maka ia lantas menggerakkan pedangnya pula.

"sret-sret-sret" , ia mainkan terus ilmu pedang yang dilihatnya tempo hari, makin lama makin lancar permainannya sehingga menerbitkan suara angin yang menderu-deru. Semula Su-popo dan A Siu tersenyum-senyum saja menyaksikan permainan Boh-thian, akan tetapi makin lama rasa menghina nenek itu pun makin lenyap, sebaliknya menjadi heran. Setelah Boh-thian selesai memainkan Swat-san-kiamhoat yang tidak teratur dan banyak kesalahannya itu, maka Su-popo saling pandang sekejap dengan A Siu, mereka mengetahui ilmu pedang yang dipelajari pemuda itu sangat tidak sempurna, terang karena tidak mendarat didikan sebagaimana mestinya, namun tenaga dalamnya ternyata sangat hebat, boleh dikata jarang ada bandingannya. Waktu melihat kedua orang itu diam-diam saja, dengan kikuk Boh-thian lantas membuang ranting kayu dan berkata.

"Hendaklah kalian jangan menertawakan lagi diriku, aku sangat bodoh, sesudah belasan hari aku pun tidak ingat lagi seluruhnya."

"Kalau bilang permainanmu ini boleh menyaksikan latihan anak murid Swat-san-pay di suatu kelenteng bobrok, lalu diam-diam mempelajarinya?"

Tanya Su-popo.

"Ya, aku tahu adalah perbuatan tidak pantas mencuri belajar ilmu silat orang lain, soalnya aku merasa ilmu pedang ini sangat menarik, maka tanpa sadar lantas mengingat-ingat permainan mereka ini,"

Tutur Boh-thian dengan muka merah.

"Hanya dalam semalam saja kau sudah dapat mempelajari hal ini pun boleh dikatakan kau mempunyai bakat yang tinggi,"

Ujar Su-popo.

"Maka aku punya Kim-oh-to-hoat ini tentu kau pun dapat mempelajarinya. Begini saja, ada lebih baik kau mengangkat aku sebagai gurumu."

"He, nenek itu kurang baik,"

Sela A Siu mendadak.

"Mengapa kurang baik,"

Tanya si nenek dengan heran. Wajah A Siu menjadi merah jengah, sahutnya.

"Jika begitu, bukankah aku harus memanggil dia sebagai Susiok (paman guru), seketika aku menjadi lebih rendah setingkat."

"Panggil Susiok ya panggil saja, mengapa mesti geger?"

Ujar si nenek dengan menarik muka.

"Si tua bangka Ting Put-si sewaktu-waktu dapat menyusul kemari dan memaksa aku pergi ke Pik-lwe-to, dalam keadaan begitu bukanlah kita harus terjun ke sungai untuk membunuh diri lagi? Jalan satu-satunya ialah lekas-lekas mengajar ilmu silat kepada si Lemper ini barulah kita dapat melawan tua bangka itu. Sekarang urusan sudah mendesak, dari mana dapat membedakan soal tingkatan segala. Eh, Lemper Raksasa, Su-popo hari ini ingin membuka pintu dan mendirikan cabang serta akan menerima kau sebagai murid pertama bagi Kim-oh-pay kami, kau mau tidak?"

Watak Ciok Boh-thian mestinya sangat penurut, Su-popo ingin dia menjadi muridnya, tentu dia akan terima dengan baik.

Tapi demi mendengar A Siu mengatakan sungkan untuk memanggilnya sebagai Susiok, maka ia menjadi agak raguragu.

"Lekas kau berlutut dan menyembah padaku, maka jadilah kau sebagai ahli waris Kim-oh-pay kami,"

Kata Su-popo pula.

"Aku adalah cikal bakal dari Kim-oh-pay dan kau adalah murid pertama angkatan kedua Kim-oh-pay kita."

Tiba-tiba A Siu teringat sesuatu, ia tersenyum dan berkata.

"Nenek, terimalah ucapan selamatku atas pendirian cabang Kim-oh-pay kalian hari ini. Eh, Toako ini, bolehlah lekas kau mengangkat guru pada nenek. Aku toh bukan murid Kim-ohpay, tapi kita terdiri dari dua golongan yang berlainan, maka aku tidak perlu memanggil kau sebagai Susiok."

Karena buru-buru ingin menerima murid, maka Su-popo tidak memikirkan apa yang dikatakan A Siu itu, segera ia berkata pula.

"Lekas berlutut dan menyembah delapan kali padaku."

Mendengar A Siu sudah setuju, dengan girang Boh-thian lantas berlutut dan menyembah delapan kali kepada Su-popo. Rasa girang Su-popo sungguh tak terkirakan, katanya.

"Sudahlah! Murid yang baik, sekarang kita adalah orang sekeluarga, hubungan kita menjadi tidak sama dengan tadi. Hari ini Kim-oh-pay kita telah didirikan, kau harus melatih ilmu silatku dengan giat dan tekun, sebab bagaimana perkembangan Kim-oh-pay kita di kemudian hari semuanya ini adalah tergantung kepadamu. Nah, Lemper Raksasa ...."

"He, nenek cikal bakat Kim-oh-pay,"

Tiba-tiba A Siu menyela dengan tertawa.

"Murid pertama golongan kalian adalah kesatria yang hebat, tapi nama julukannya ini kedengarannya kurang sedap."

"Ya, benar juga,"

Sahut Su-popo.

"Eh, sebenarnya siapa namamu? Terhadap Suhu sekali-kali kau tidak boleh berdusta."

"Ya, ya,"

Sahut Boh-thian.

"Ibuku memanggil aku sebagai Kaucap-ceng, tapi orang-orang Tiang-lok-pang mengatakan aku adalah Pangcu mereka yang bernama Ciok Boh-thian. Padahal bukan, namun aku ... aku sendiri pun tidak tahu sebenarnya she apa dan bernama siapa."

"Huh, Kau-cap-ceng apa segala, ngaco-belo belaka! Ibumu tentu seorang gila,"

Kata Su-popo dengan mendengus.

"Sudahlah, boleh begini saja, kau ikut aku punya she, yakni she Su. Sebagai murid Kim-oh-pay angkatan kedua sebaiknya kau pakai nama apa ya? Ehm, murid Swat-san-pay itu ada yang bernama Pek Ban-kiam. Hong Ban-li, Kheng Ban-ciong dan entah ‘Ban’ apa lagi. Tapi kita lebih kuat selaksa kali daripada mereka, murid mereka adalah angkatan ‘Ban’ (laksa), maka murid kita adalah angkatan ‘Ek’ (seratus juta, jadi selaksa kali daripada selaksa). Dia bernama Pek Ban-kiam (selaksa pedang), maka biarlah aku memberi nama padamu, yaitu ‘Su Ek-to’ (seratus juta golok)."

Memangnya selama hidup Ciok Boh-thian belum pernah mendapat nama yang resmi, baik dipanggil sebagai Kau-capceng, si Lemper, maupun Ciok Boh-thian, semuanya tak diperhatikan olehnya.

Sekarang Su-popo memberi nama Su Ek-to padanya, memangnya dia juga tidak tahu ‘Ek’ itu berarti ‘laksa kali laksa’ (10.000x10.000), maka tanpa pikir ia pun mengiakan saja.

Sebaliknya Su-popo merasa sangat senang, dengan penuh semangat ia berkata pula.

"Aku punya Kim-oh-to-hoat ini sudah beberapa tahun yang lalu kuciptakan dengan sempurna cuma saja untuk memainkan ilmu golok ini diperlukan tenaga dalam yang kuat, kalau tidak tentu takkan memperlihatkan betapa hebatnya ilmu golok ini. Sekali ini aku kepergok Ting Put-si di sungai sini, dia berkeras hendak mengundang aku ke Pik-lwe-to, untuk ini kalau dia tak dilabrak, tentu dia masih akan terus rewel dan tak mau mundur teratur, maka aku dan A Siu lantas melatih ‘Bu-bong-sin-kang’ bersama, bila tenaga sakti ini sudah terlatih, aku akan menggunakan Kim-oh-to-hoat dan A Siu memainkan ... Giok-tho-kiam-hoat (ilmu pedang rembulan dengan perpaduan sang surya dan rembulan), jangankan cuma seorang tua bangka sebagai Ting Put-si, biarpun tokoh nomor satu di dunia persilatan sekarang ini juga akan angkat tangan menghadapi kami. Tak terduga karena sedikit lengah A Siu telah salah latih, cepat aku memberi pertolongan, akibatnya kami berdua sama-sama runyam, hawa murni tersesat dan menjadi lumpuh semua."

Begitulah, dasar watak si nenek memang suka blakblakan, sekali Boh-thian sudah menjadi muridnya, maka ia lantas bicara secara terus terang dan menceritakan sebab musababnya dia sampai menjadi lumpuh itu.

Lalu ia menyambung pula.

"Dan untunglah kau memiliki tenaga dalam yang hebat, ini sangat cocok untuk melatih Kim-oh-tohoat kita. To-hoat tidak sama dengan Kiam-hoat, pedang mengutamakan cepat dan gesit, sebaliknya golok harus keras dan kuat. Ranting kayu itu terlalu enteng, boleh kau cari sebatang lagi yang lebih besar."

Boh-thian mengiakan dan lantas pergi mencari batang kayu.

Sampai di tempat sebatang pohon yang sudah tumbang, ia lihat di samping itu ada sebatang golok yang sudah karatan, ia coba menjemput golok itu, ternyata golok itu adalah golok yang biasanya dipakai memotong kayu, mata goloknya sudah banyak yang sumbing, bahkan gagang kayunya sudah membusuk dan terlepas, hanya bobotnya agak lumayan dan terasa.

Ia pikir daripada menggunakan ranting kayu adalah lebih baik memakai golok pemotong kayu yang sudah karatan ini.

Maka ia lantas mencari sepotong kayu dan dipasang sebagai gagang goloknya itu.

Waktu melihat Boh-thian membawa kembali golok karatan itu Su-popo dan A Siu tertawa geli, kata si A Siu.

"Nenek, Kim-ohpay kalian hari ini didirikan secara resmi dan memakai golok pusaka demikian untuk mengajarkan ilmu silat kepada muridmu yang pertama, bukankah agak ... agak kurang mentereng?"

"Kurang mentereng apa?"

Sahut Su-popo.

"Justru perkembangan Kim-oh-pay kami kelak adalah berkat golok pusaka ini. Hahahaha!"

Ia menjadi terbahak-bahak sendiri demi bicara tentang "golok pusaka"

Yang istimewa itu. Maka A Siu dan Boh-thian juga ikut tertawa.

"Baiklah, sekarang kita mulai,"

Kata Su-popo kemudian.

"Ingatlah yang betul, jurus pertama dari Kim-oh-to-hoat kita bernama ‘Khay-bun-liak-cat’ (buka pintu tangkap maling), yaitu khusus digunakan untuk mengatasi jurus ‘Jong-siongkheng-khek’, (menyambut tamu di bawah pohon Siong) dari Swat-san-kiam-hoat mereka. Karena mereka pura-pura baik hati menyambut tamu segala, maka terang-terangan saja kita membuka pintu dan tangkap maling. Tampaknya kita pun seperti membungkuk memberi hormat, tapi di dalam hati kita anggap lawan sebagai maling."

Habis bicara ia lantas mengambil ranting kayu tadi dan perlahan-lahan memberi contoh caranya menggunakan jurus serangan itu sambil berkata.

"Karena aku masih lemas sehingga gerak-gerikku kurang cepat, tapi kau harus memainkannya dengan cepat dan kuat."

Boh-thian memanggut, lalu angkat goloknya dan menirukan memainkan jurus serangan itu dengan cepat sekali.

"Bagus, kalau sudah hafal nanti kau harus memainkannya lebih cepat,"

Ujar Su-popo.

"Dan jurus kedua kita bernama Bweswat-hong-he (bunga Bwe mekar di musim panas), yaitu untuk mengatasi mereka punya jurus Bwe-swat-ceng-jun (bunga Bwe mekar di musim semi). Mereka suka main bunga Bwe bersayap enam apa segala, tapi kita sengaja mekar di musim panas agar salju mereka mencair dan bunga Bwe mereka rontok."

Jurus "Bwe-swat-ceng-jun"

Dari Swat-san-pay itu agak ruwet sebagaimana pernah disaksikan Ciok Boh-thian alias Su Ek-to waktu Pek Ban-kiam memainkannya di markas Tiang-lok-pang tempo hari.

Sedangkan "Bwe-swat-hong-he yang diajarkan Su-popo ini adalah sangat cepat, dalam sekejap harus membacok ke atas, ke bawah, ke kanan dan ke kiri masing-masing tiga kali sehingga berjumlah 12 kali bacokan, dengan serangan dahsyat ini untuk mematahkan setiap serangan pedang lawan.

Lalu jurus ketiga bernama "Jian-kin-ap-tho" (seribu kati menindih unta) khusus untuk mengawasi jurus "Siang-tho-selay (dua unta datang dari barat) dalam Swat-san-kiam-hoat.

Jurus keempat bernama "Tay-hay-tim-sah" (pasir tenggelam di dasar laut) untuk mengatasi jurus "Hong-sah-bong-bong" (angin badai bertebaran), dan begitu seterusnya, setiap jurus ilmu golok ajaran Su-popo itu tentu ada sesuatu nama yang aneh.

Walaupun nama jurus-jurus ilmu golok itu aneh, tapi memang sangat hebat dan menakjubkan.

Boh-thian tidak pernah kenal sekolahan alias buta huruf, maka ia tidak paham nama-nama jurus ilmu golok yang indah itu, dia hanya mengingat baik-baik caranya memainkan setiap jurus itu.

Su-popo juga cukup sabar, mulutnya mengucap dan tangannya bergaya memberi contoh, bila permainan Boh-thian salah segera dibetulkannya.

Dengan demikian kemajuan Boh-thian menjadi pesat, jauh berbeda daripada waktu dia mencuri belajar ilmu pedang Swat-san-pay di kelenteng bobrok tempo hari itu.

Sesudah memberi petunjuk sampai 18 jurus, Su-popo sendiri merasa letih, segera ia pejamkan mata untuk mengaso dan membiarkan Boh-thian berlatih sendirian.

Tidak lama kemudian Su-popo menyambung pula pelajarannya, bila sudah capek ia mengaso lagi dan begitu seterusnya sehingga menjelang magrib ia sudah mengajarkan 72 jurus Kim-oh-to-hoat kepada Boh-thian.

"Swat-san-kiam-hoat mereka meliputi 72 jurus,"

Demikian kata Su-popo akhirnya.

"tapi ilmu silat Kim-oh-pay kita selalu melebihi mereka, maka ilmu golok kita ini pun satu jurus lebih banyak daripada mereka, jadi ada 73 jurus. Jurus yang terakhir ini hendaklah kau perhatikan betul-betul, ini, lihatlah!"

Sambil berkata ia lantas mengangkat ranting kayu dan memotong dari atas ke bawah, lalu sambungnya.

"Di waktu melontarkan serangan ini kau harus meloncat ke udara dan membacok ke bawah bersama badanmu yang lagi menurun itu."

Menyusul ia lantas mengajarkan cara bagaimana harus meloncat, cara bagaimana mengerahkan tenaga dan cara bagaimana menutup jalan mundur yang mungkin digunakan lawan untuk menghindar.

Untuk sejenak Boh-thian termenung-menung menyelami jurus itu, kalau ia menirukan ajaran si nenek, ia meloncat ke atas, lalu goloknya membacok ke bawah, begitu dahsyat serangan itu sehingga sebelum goloknya menurun atau debu pasir di atas tanah sudah bertebaran.

Selesai pertunjukkan jurus serangan itu, Boh-thian lantas berhenti dan berdiri di samping.

Waktu ia pandang Su-popo, tertampak wajah si nenek pucat pasi, ketika berpaling dan memandang A Siu, nona itu tampak mengembeng air mata, agaknya sangat berduka.

Boh-thian menjadi heran, dengan tergagap-gagap ia bertanya.

"Apakah ... apakah jurus permainanku ini tidak betul?"

Su-popo tidak menjawab. Selang sebentar barulah ia menggerakkan tangannya dan berkata.

"Betul, cuma ... cuma daya serangan itu teramat dahsyat, maka janganlah sembarangan digunakan agar tidak keliru melukai orang baik."

"Ya, ya, orang baik sekali-kali tidak boleh dilukai,"

Sahut Bohthian.

Jurus ke-73 itu rupanya menimbulkan kesan yang amat mendalam bagi Boh-thian sehingga pada malamnya ia tak bisa tidur nyenyak, ia terus memikirkan cara permainan jurus terakhir sampai melupakan Ting Put-sam dan Ting Put-si serta Pek Ban-kiam yang sedang mencarinya di sekitar gua itu.

Syukurlah Ci-yan-to itu penuh dengan hutan belukar, walaupun luas pulau itu tidak terlalu besar, maka Pek Ban-kiam dan kawan-kawannya seketika susah menemukan tempat sembunyinya itu.

Besok paginya, begitu bangun ia lantas berlatih Kim-oh-tohoat.

Sampai jurus terakhir, ia meloncat ke udara terus membacok ke bawah.

Sekali ini lebih dahsyat lagi daripada kemarinnya, begitu angin senjatanya menyambar ke bawah.

"blang", terdengarlah suara benturan yang keras.

"Selamat pagi Su ... Su-toako,"

Tiba-tiba terdengar A Siu menegurnya dari belakang. Boh-thian menoleh, dilihatnya A Siu berada di depan gua dan sedang menyaksikan dirinya dengan sorot matanya yang halus.

"Oh, ya, selamat pagi,"

Sahutnya cepat. Muka A Siu menjadi merah, katanya.

"Aku ingin jalan-jalan ke hutan sana, apakah engkau suka mengawani aku?"

"Baiklah, kau sudah dapat bergerak, kau memang harus melemaskan otot,"

Sahut Boh-thian.

Segera kedua orang berjalan ke arah hutan sana.

Kira-kira beberapa puluh meter jauhnya, sementara itu mereka sudah memasuki hutan yang cukup rindang itu, di dalam hutan masih remang-remang oleh kabut tipis, keadaan sunyi senyap, hanya terdengar suara tindakan mereka yang menimbulkan suara keresek-keresek menginjak daun-daun kering di atas tanah.

Sekonyong-konyong Boh-thian mendengar suara tersedu-sedu sebelahnya, waktu Boh-thian menoleh kiranya A Siu yang menangis.

Keruan ia terkejut dan cepat ia bertanya.

"Nona A Siu, sebab ... sebab apakah engkau menangis?"

Tapi A Siu tidak menjawab, ia berjalan pula dan tiba-tiba bersandar di sebatang pohon dan menangis lebih sedih lagi.

"Ada apakah? Kau telah diomeli nenekmu?"

Tanya Boh-thian. A Siu menggeleng kepala.

"Habis mengapa? Badanmu tidak enak?"

Tanya Boh-thian pula.

Kembali A Siu hanya menggeleng saja dan begitu pula meski Boh-thian telah bertanya sampai beberapa kali.

Seketika Boh-thian menjadi bingung.

Wanita-wanita yang pernah dikenalnya seperti ibunya, Si Kiam, Ting Tong, Hoa Ban-ci dan lain-lain semuanya berwatak terang-terangan dan tidak pernah terjadi seperti A Siu yang lemah lembut dan malumalu ini.

Makin sedih A Siu menangis, makin bingunglah Boh-thian, akhirnya terpaksa ia memohon.

"Sebenarnya apakah yang menyebabkan hatimu sedih? Sudilah kau menerangkan kepadaku?"

"Se ... semuanya ga ... gara-garamu, kau ... kaulah yang salah, masakah ... masakah kau masih bertanya?"

Sahut A Siu dengan terguguk-guguk. Keruan Boh-thian terkejut, pikirnya.

"Aku yang salah? Bilakah aku berbuat salah?"

Tapi karena dia sangat menghormati A Siu yang berbudi halus itu maka ia percaya saja segala apa yang dikatakan nona itu, jika dia bilang dirinya salah, maka tentulah tidak keliru lagi.

Segera ia menjawab dengan suara terputus-putus.

"No ... nona A Siu, harap engkau suka menerangkan padaku apa kesalahanku, aku adalah ... adalah seorang bodoh, sudah berbuat salah, tapi ti ... tidak tahu, sungguh bodoh aku ini."

Dengan air mata meleleh A Siu memandang Boh-thian, lalu tuturnya.

"Semalam aku ... aku telah bermimpi buruk, impiannya sangat menakutkan, di mana kau ... kau telah bersikap sedemikian kejamnya kepadaku?"

Sampai di sini kembali air matanya bercucuran lagi.

"Aku sangat kejam padamu?"

Boh-thian menegas dengan terheran-heran.

"Ya, aku telah mengimpi, dengan memainkan jurus ke-73 dari Kim-oh-to-hoat itu, kau telah membacok dari udara dan sekali bacokan telah membinasakan diriku,"

Sahut A Siu. Untuk sejenak Boh-thian tercengang, mendadak ia mengetokngetok kepalanya sendiri dan mengomel.

"Kurang ajar! Aku telah membikin nona ketakutan di dalam mimpi."

A Siu menjadi tertawa geli, katanya.

"Su-toako, aku sendirilah yang bermimpi dan tak dapat menyalahkan kau."

Boh-thian sampai terkesima memandangi wajah si nona yang putih halus dan cantik itu di kala tertawa dengan pipinya yang masih terdapat beberapa tetes air mata.

Muka A Siu menjadi merah, katanya pula dengan malu-malu.

"Impianku biasanya sangat tepat dan terbukti, makanya aku menjadi takut jangan-jangan pada suatu hari kelak engkau benar-benar akan membacok mati diriku dengan jurus ketujuh puluh tiga itu."

"Tidak, tidak mungkin, biar bagaimanapun tidak mungkin aku membunuh kau,"

Sahut Boh-thian sambil menggeleng-geleng.

"Jangankan aku tak mungkin membunuh kau, sekalipun kau yang akan membunuh aku juga aku takkan ... takkan melawan."

"Jika aku akan membunuh kau, sebab apa kau takkan melawan?"

A Siu menegas dengan heran.

"Ya, aku ... aku merasa apa pun yang nona katakan dan apa pun yang hendak nona lakukan, tentu aku akan menurut kepada segala kehendakmu itu,"

Sahut Boh-thian sambil garukgaruk kepala dan menyengir.

"Apabila engkau benar-benar hendak membunuh diriku, bila aku tidak menurut, tentu engkau akan tidak senang, maka adalah lebih baik aku membiarkan diriku dibunuh engkau saja."

A Siu mendengarkan ucapan Boh-thian itu dengan termangumangu.

Ia merasa ucapan pemuda itu sangat tulus ikhlas dan timbul dari lubuk hatinya yang murni, sungguh ia menjadi sangat berterima kasih, ia terharu dan matanya menjadi merah lagi.

Katanya kemudian.

"Sebab ... sebab apakah engkau sedemikian baiknya padaku?"

"Kupikir asalkan nona merasa senang, maka aku pun merasa bahagia,"

Sahut Boh-thian.

"Nona A Siu, sungguh aku ingin ... ingin senantiasa memandang kau seperti sekarang ini. Dasar Boh-thian memang seorang pemuda yang masih hijau dan polos, apa yang terpikir olehnya segera diucapkannya tanpa mempunyai pikiran-pikiran lain. Sebaliknya meski usia A Siu lebih muda beberapa tahun, namun dalam hal seluk-beluk kehidupan manusia entah berapa kali lipat paham daripada Boh-thian. Oleh sebab itulah demi mendengar ucapan Bohthian tadi segera ia anggap pemuda itu telah menunjukkan rasa cinta padanya dan bersedia untuk hidup berdampingan selamanya sebagai suami-istri. Keruan ia menjadi malu, mukanya menjadi merah dan menundukkan kepala. Sampai sekian lamanya kedua orang terdiam. Akhirnya A Siu membuka suara dengan kepala tetap tunduk.

"Aku pun tahu, engkau adalah orang baik, apalagi ketika di atas perahu itu kita ... kita berdua telah memakai satu bantal, untuk mana biarpun mati juga aku takkan ikut kepada orang lain lagi."

Dengan ucapan A Siu ini maksudnya ialah bahwa apa yang sudah terjadi itu seakan-akan sudah suratan takdir.

Dalam keadaan seluruh badan terikat Boh-thian justru dilemparkan orang ke dalam kolong selimutnya sehingga meringkuk bersama satu bantal semalam suntuk, hanya saja ia malu untuk mengatakannya secara terus terang, maka ketika menyebut tentang "bersatu bantal"

Itu suaranya menjadi sedemikian lirihnya sebagai bunyi nyamuk.

Sudah tentu Boh-thian sama sekali tidak paham ucapan A Siu itu pada hakikatnya merupakan sumpah setianya, yang diketahui hanya kedengaran si nona ternyata sangat baik padanya, dengan sendirinya ia sangat senang.

Tiba-tiba ia berkata.

"Alangkah baiknya jika di atas pulau ini hanya terdapat nenekmu, engkau dan aku bertiga. Kita dapat tinggal selamanya di sini tanpa diganggu oleh siapa pun juga. Tapi sayang kita telah disusul oleh Pek Ban-kiam, kakek-kakek Ting Put-sam, Ting Pun-si segala sehingga kita selalu dalam keadaan khawatir."

"Aku sih tidak takut kepada Pek Ban-kiam atau Ting Put-si segala, aku hanya takut kalau ... kalau kelak kau membunuh diriku,"

Sahut A Siu sambil mengangkat kepalanya.

"Tidak, aku lebih suka membunuh diri sendiri daripada mengganggu seujung jarimu sekalipun,"

Sahut Boh-thian cepat.

Tanpa merasa A Siu mengangkat telapak tangan sendiri serta memandangnya.

Kala itu sinar sang surya sedang memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang dan menembus masuk ke dalam hutan di antara celah-celah pepohonan, maka tertampaklah jari-jari A Siu yang putih bersih menggiurkan itu, tanpa merasa Boh-thian terus pegang tangan si nona dan menciumnya.

Keruan A Siu menjerit kaget dan cepat menarik kembali tangannya, mendadak ia menjadi lemas dan bersandar di batang pohon dengan napas terengah-engah.

Mengira si nona menjadi marah, cepat Boh-thian berkata.

"O, maafkan, nona, harap janganlah marah. Aku tidak sengaja ...."

Melihat kegugupan pemuda itu, A Siu menjadi tidak tega, kembali ia menyodorkan tangannya dan berkata dengan suara lemah lembut.

"Ti ... tidak, tidak apa-apa."

Boh-thian menjadi girang, dengan hati berdebar-debar kembali ia memegang tangan si nona yang putih halus itu dan dirabarabanya dengan perlahan, tapi ia tidak berani menciumnya lagi.

Sudah tenang kembali pernapasannya, lalu A Siu berkata.

"Kau telah melancarkan jalan darah nenekku, akan tetapi entah kapan barulah kekuatan beliau dapat pulih kembali."

Karena Boh-thian tidak paham tentang Cau-hwe-jip-mo (lumpuh karena salah melatih) apa segala, maka ia pun tidak tahu cara bagaimana harus menghiburnya, ia hanya berkata.

"Semoga Ting Put-si tak dapat menemukan kita, maka takkan menjadi halangan walaupun sementara ini kesehatan nenekmu belum pulih kembali."

"Mengapa kau masih bicara tentang nenekmu dan nenekku segala? Bukankah dia adalah cikal bakal Kiam-oh-pay dan engkau adalah muridnya, mengapa engkau tidak memanggil Suhu padanya?"

"Ya, karena sudah biasa sehingga sukar berubah seketika,"

Sahut Boh-thian.

"Nona A Siu ...."

"Mengapa kau masih menyebut nona apa segala padaku, buat apa mesti sungkan-sungkan?"

"O, ya, ya. Tapi ... tapi cara bagaimana aku harus memanggil kau?"

Kembali muka A Siu menjadi merah, katanya di dalam hati.

"Seharusnya kau memanggil aku ‘adik Siu’ dan aku memanggil Toako padamu."

Akan tetapi, betapa pun dia adalah nona yang berperasaan halus, pikirannya demikian sudah tentu tak berani diutarakannya, maka ia hanya menjawab.

"Boleh kau panggil aku ‘A Siu’ saja. Dan bagaimana aku harus memanggil engkau?"

"Kau suka memanggil apa, boleh terserah padamu,"

Ujar Bohthian.

"Bila aku memanggil engkau sebagai si Lemper, kau akan marah atau tidak?"

Tanya A Siu dengan tertawa.

"Ha, bagus, masakan aku akan marah?"

Ujar Boh-thian tertawa juga.

"Baiklah. Eh, Lemper!"

Panggil A Siu dengan suara merdu.

"Ya, A Siu,"

Sahut Boh-thian. Dan A Siu juga mengiakannya. Maka tertawalah kedua muda-mudi itu dengan saling pandang, rasa gembira mereka susah diperkirakan.

"Apakah kau tidak lelah berdiri sejak tadi? Marilah kita berduduk untuk bicara,"

Ajak Boh-thian.

Lalu kedua orang itu duduk berjajar di bawah pohon besar itu.

Rambut A Siu yang panjang itu menjulai sampai di pundak dan mengilap terkena sinar matahari.

Perlahan-lahan Boh-thian membelai rambut si nona yang tersampir di sebelah bahunya itu.

"Engkoh Lemper,"

Kata A Siu sambil memainkan ujung bajunya.

"jika kami tidak bertemu dengan kau, tentu nenek dan aku saat ini sudah mati tenggelam di dasar sungai dan takkan terjadi seperti saat sekarang ini."

"Kalau kita bisa hidup seperti ini, bukankah kita akan sangat gembira?"

Sahut Boh-thian.

"Buat apa kita harus belajar ilmu silat apa segala dan saling pukul, saling gontok, akibatnya sama-sama susah dan sama-sama celaka. Sungguh aku tidak paham."

"Betapa pun ilmu silat harus kita pelajari,"

Ujar A Siu.

"Di dunia terlalu banyak orang jahat, biar kau tak memukul orang, tentu orang lain yang akan memukul kau. Memukul saja masih tidak menjadi soal, kalau sampai membunuh, itulah yang celaka. Maka dari itu Engkoh Lemper, bolehkah aku mohon sesuatu padamu?"

"Boleh saja,"

Sahut Boh-thian.

"Apa yang kau katakan, tentu akan kulakukan."

Maka berkatalah A Siu.

"Kim-oh-to-hoat yang diajarkan nenek itu memang sangat lihai, ditambah lagi Lwekangmu yang kuat, sesudah kau latih dengan masak, tentu akan sedikit sekali jago silat yang mampu menandingi kau. Hanya saja aku mengkhawatirkan sesuatu, kau sangat jujur dan polos, sebaliknya hati manusia di dunia Kangouw ini kebanyakan palsu dan jahat, bila kau banyak mengikat permusuhan, tentu kau akan masuk perangkap orang-orang jahat itu dengan segala tipu akalnya yang licik. Maka dari itu aku mohon hendaklah kau jangan banyak mengikat permusuhan dengan orang."

"Ini adalah maksud baikmu bagi kepentinganku, tentu saja aku akan menurut,"

Sahut Boh-thian sambil mengangguk. Sesudah berhenti sejenak, lalu A Siu berkata pula.

"Kim-oh-tohoat ajaran nenek itu setiap jurusnya sangat ganas dan kejam, kelak bila kau bertempur dengan orang, bila banyak melukai atau membunuh orang, mau tak mau musuhmu akan menjadi banyak juga."

Boh-thian menjadi khawatir, cepat jawabnya.

"Ya, benar ucapanmu ini. Biarlah aku takkan mempelajari ilmu golok ini dan akan minta nenek mengajarkan kepandaian lain saja."

"Ilmu silat Kim-oh-pay justru cuma terdiri dari ilmu golok itu melulu dan tiada lain macam lagi,"

Kata A Siu dengan menggeleng kepala.

"Pula, biar ilmu silat macam apa pun juga pasti akan melukai dan membunuh orang. Kalau tak dapat melukai atau membunuh orang, maka itu tak bisa dinamakan silat lagi. Soalnya, asal di waktu kau bertempur dengan orang hendaklah senantiasa bermurah hati, di mana dapat mengampuni orang, maka ampunilah, dan ini pun sudah cukup."

"Di mana dapat mengampuni orang, ampunilah dia, katakatamu ini sangat baik. A Siu, kau sungguh sangat pintar dapat mengatakan kata-kata sebagus itu,"

Puji Boh-thian.

"Ah, masakah aku bisa sepintar itu, apa yang kukatakan ini hanya kutipan dari sesuatu syair kuno saja,"

Sahut A Siu dengan tersenyum.

"Apa? Syair?"

Tanya Boh-thian dengan bingung.

Maklum, dia buta huruf, sudah tentu syair apa segala tak diketahuinya.

A Siu memandang heran kepada pemuda itu, ia ragu-ragu apakah Boh-thian benar-benar tidak paham atau cuma purapura saja?

Tapi ia pun tidak menjawabnya, sesudah merenung sejenak, kemudian ia berkata.

"Harus mencapai tingkat tiada tandingannya di dunia ini barulah dapat mengampuni orang di mana kau ingin mengampuni, kalau tidak, biarpun kau yang minta ampun kepada orang juga belum tentu orang mau mengampuni. Eh, Lem ...."

Sampai di sini ia tertawa, lalu menyambung.

"Bolehkah aku memanggil ‘Toako’ saja kepadamu?"

Dan tanpa menunggu jawaban Boh-thian segera ia meneruskan lagi.

"Maksudku agar kau suka mengampuni sesama manusia, tetapi orang Bu-lim banyak yang berhati jahat, engkau bermaksud mengampuni orang boleh jadi pihak lawan menggunakan kesempatan itu untuk mencelakai kau. Toako, aku pernah melihat orang memainkan sejurus serangan yang amat bagus, biarlah sekarang kupertunjukkan kepadamu."

Habis berkata ia lantas mengambil golok puntul yang terletak di sebelah Boh-thian, ia berdiri tegak, lalu membuka langkah, golok ditolak ke depan dengan melintang, menyusul lantas menebas ke kiri, ditarik kembali dan menebas lagi ke kanan, menyusul golok membacok balik dan menurun ke depan dadanya sendiri.

Melihat gaya si nona yang indah dan menggiurkan itu, Bohthian menjadi terpesona sehingga termangu-mangu memandangi A Siu, hakikatnya ia tidak memerhatikan permainan goloknya tadi.

Dalam pada itu sesudah menarik kembali goloknya, A Siu mundur dua tindak, lalu berdiri tegak pula dengan golok terpeluk di depan dada, katanya.

"Sesudah menarik kembali senjata, tenaga dalam harus tetap dikerahkan untuk menjaga sekitar badan sendiri agar tidak mendadak diserang musuh."

Ketika melihat pemuda itu termenung-menung memandangi dirinya dan terang tidak memerhatikan apa yang dikatakan tadi, segera ia bertanya.

"Kenapakah kau? Apakah jurus permainanku ini kurang baik?"

Bab 23. Pek Ban-kiam Dikerubuti Ting Put-sam dan Ting Put-si "O, ti ... tidak! Baik sekali, ba ... bagus sekali!"

Sahut Boh-thian dengan tergagap.

"Di mana letak kebagusannya?"

Tanya A Siu.

"Ini ... ini ...."

Boh-thian menjadi susah menjawab, mukanya berubah merah.

"Ya, tahulah aku,"

Omel A Siu.

"Engkau adalah murid ahli waris Kim-oh-pay, sudah tentu kau sama sekali memandang sebelah mata dengan sedikit permainan cakar kucing yang kutunjukkan ini."

"O, ma ... maaf, aku memandangi kau karena sangat memesonakan, maka aku menjadi lupa kepada permainan golokmu,"

Sahut Boh-thian dengan gugup.

"Nona A Siu, sukalah engkau memainkannya sekali lagi."

"Tidak, tidak mau lagi!"

A Siu pura-pura marah.

"Aku mohon dengan sangat, sukalah kau main sekali lagi,"

Pinta Boh-thian sambil memberi hormat.

"Baik, aku main satu kali lagi, tapi tidak kuat untuk main ketiga kalinya,"

Kata A Siu dengan tersenyum.

Segera ia membuka langkah dan ayun goloknya lagi membacok dan menebas seperti tadi, ia ulangi pula jurus itu dengan perlahan.

Sekali ini Boh-thian benar-benar memerhatikan dengan sungguh-sungguh, maka dapatlah dia ingat dengan baik caranya, gayanya, langkah, dan gerakan-gerakannya.

Lalu A Siu memberi pesan pula bilamana Boh-thian harus tetap mengerahkan tenaga untuk menjaga-jaga kalau pada saat terakhir mendadak diserang musuh, untuk ini Boh-thian mengingatnya dengan baik pula.

Lalu ia mengambil golok dari si nona dan memainkan jurus itu menurut apa yang telah dipahaminya.

Melihat pemuda itu sekali belajar lantas bisa, sungguh A Siu sangat girang, pujinya.

"Kau sungguh pintar, Toako, hanya memerhatikan sebentar saja kau sudah dapat memahaminya. Jurus serangan ini bernama ‘Pang-kau-cik-kik’ (mengetok dari samping dan memukul dari sisi), ke mana golokmu tiba, ke situlah tenaga dalam harus dikerahkan."

"Jurus serangan ini sungguh sangat bagus, tiba-tiba di kanan, tahu-tahu di kiri, mendadak ke atas, tahu-tahu ke bawah lagi sehingga musuh susah untuk menangkis,"

Ujar Boh-thian.

"Letak kebagusan jurus serangan ini melainkan berguna untuk mengampuni pihak lawan saja,"

Kata A Siu.

"Hendaklah tahu, sekali jago silat sudah bertanding, sekali senjata beradu, maka sering kali harus mengadu tenaga dalam, sesungguhnya itu adalah pertarungan yang sangat berbahaya, yang kalah andaikan tidak mati juga pasti akan terluka parah. Tidak perlu dibicarakan lagi apabila kau memang tidak dapat melawan musuh, tapi seumpama kau lebih lihai daripada lawanmu, kau ada maksud takkan melukai lawan dan ingin menghentikan pertarungan sengit dengan sama-sama tidak cedera, hal ini sesungguhnya teramat sukar. Maka dari itulah, jurus ‘Pangkau-cik-kik’ ini adalah sangat bagus dan serbaguna, jurus ini takkan melukai orang, tapi juga tak bisa dilukai orang."

Melihat nona itu bersandar di pohon dan tampaknya sangat lelah, segera Boh-thian berkata.

"Duduklah, agaknya engkau sangat lelah."

Perlahan-lahan A Siu berjongkok dan duduk bersila di bawah pohon, kemudian ia tanya.

"Kau sudah mendengarkan uraianku barusan?"

"Sudah,"

Sahut Boh-thian.

"Jurus ini bernama ‘Pang-kau-cikkik’ apa ya?"

Sekali ini bukanlah dia tidak memerhatikan uraian A Siu tadi, tapi ia benar-benar susah mengucapkan nama jurus serangan itu.

Maklum, nama itu adalah kalimat ungkapan tertentu, karena dia tidak pernah sekolah, dengan sendirinya ia tidak paham dan susah mengucapkan.

"Ha, kembali kau tidak memerhatikan uraianku lagi,"

Omel A Siu.

"Sudahlah, kau berpaling ke sana dan jangan memandang padaku lagi."

Kata-kata si nona ini sebenarnya hanya untuk bergurau saja.

Tak tersangka Boh-thian dasarnya memang polos tanpa mempunyai pikiran apa-apa, ia benar-benar berpaling dan tak berani memandangnya lagi.

A Siu menjadi tak enak sendiri, ia tersenyum, lalu menerangkan.

"Jurus itu bernama ‘Pang-kau-cik-kik’. Toako, hendaklah mengetahui bahwa setiap tokoh Bu-lim kebanyakan sudah menjaga nama dan pamor. Seorang tokoh yang kenamaan, dia takkan menyesal bila kau melukainya sehingga parah sekalipun, tapi dia akan merasa malu bila kau mengalahkan dia. Sebab itulah di waktu bertanding paling baik kalau kita bisa memberi kelonggaran kepada lawan dan jangan terlalu mendesaknya. Jika sudah terang kau telah menang, bolehlah kau menggunakan jurus serangan ‘Pang-kau-cik-kik’ ini, karena kau menebas ke sana dan ke sini dan naik-turun, tentu pandangan orang-orang di samping akan kabur, tapi akhirnya kau melangkah mundur sambil menarik kembali golokmu, hal ini akan membingungkan para penonton, mereka takkan mengetahui dengan pasti siapa yang telah menang dan siapa yang kalah. Dengan cara demikian berarti kau telah memberi muka kepada lawan agar dia tidak merasa malu dan berarti kau telah mengurangi permusuhan yang tidak habishabis. Bila kau dapat menambahi beberapa patah kata yang ramah tamah untuk memuji pihak lawan, dengan demikian pihak lawan menjadi lebih rikuh lagi untuk bermusuhan terus dengan kau dan bukan mustahil akan berbalik menjadi kawanmu."

Sungguh Boh-thian sangat kagum atas uraian si nona, katanya.

"A Siu, kau masih sangat muda, tapi sudah sedemikian pandai memikir. Caramu ini benar-benar sangat baik."

"Jangan memuji dulu, uraianku masih belum selesai,"

Kata A Siu dengan tertawa.

"Sekarang bolehlah kau berpaling kemari."

Boh-thian menurut. Ia lihat si nona sedang memandang padanya dengan tersenyum simpul, wajahnya molek berseri, untuk pertama kalinya hatinya terguncang. Dalam pada itu terdengar A Siu telah berkata.

"Ah, aku pintar apa? Aku hanya dengar kata orang tua saja, maka aku pun menirukannya."

"Biarlah aku melatihnya sekali lagi supaya tidak lekas lupa,"

Ujar Boh-thian. Lalu ia melompat bangun, ia angkat goloknya dan memainkan pula jurus "Pang-kau-cik-kik"

Itu sampai dua kali lagi.

"Ehm, bagus, sedikit pun tidak salah,"

Kata A Siu sambil manggut-manggut. Dengan senang Boh-thian lantas duduk di samping si nona. Tiba-tiba A Siu menghela napas dan berkata.

"Toako, aku telah mengajarkan jurus ‘Pang-kau-cik-kik’ ini, tapi janganlah kau beri tahukan kepada nenek."

"Ya, takkan kukatakan padanya, kutahu nenekmu tentu akan kurang senang,"

Sahut Boh-thian.

"Dari mana kau mengetahui nenek akan kurang senang?"

Tanya A Siu.

"Engkau bukan orang Kim-oh-pay, sekarang sebagai murid Kim-oh-pay aku telah belajar kepandaian dari golongan lain, sudah tentu beliau akan kurang senang,"

Ujar Boh-thian.

"Kim-oh-pay, haha, Kim-oh-pay! Nenek menjadi seperti anak kecil saja,"

Kata A Siu dengan tertawa.

"Ya, aku pun merasa nenekmu agak kekanak-kanakan sifatnya. Ting Put-si hanya mengundang beliau bermain ke Pik-lwe-to, mestinya beliau boleh pergi saja sebentar, buat apa dilakoni sampai terjun sungai segala. Perangainya benar-benar agak terlalu keras."

"Huh, kau berani menggerundel pada gurumu sendiri, awas akan kukatakan padanya biar beliau membeset kulitmu,"

Kata A Siu dengan tertawa. Boh-thian menjadi gugup juga walaupun mengetahui si nona hanya bergurau saja, cepat ia berkata.

"He, jangan! Lain kali aku takkan sembarangan omong lagi."

Melihat kekhawatiran pemuda itu, A Siu menjadi menyesal juga, ia merasa tidak pantas mendustai orang jujur sebagai Boh-thian itu.

Apalagi kalau diingat sebabnya dirinya mengajarkan jurus "Pang-kau-cik-kik"

Itu, walaupun tidak jelek bagi pemuda itu, tapi sesungguhnya juga terdorong oleh kepentingan sendiri. Dasar perasaan A Siu memang halus, maka cepat ia berkata.

"Toako, kau telah berjanji padaku bila kelak bertempur dengan orang, engkau takkan sembarangan melukai dan membunuh orang, bahkan takkan membikin malu orang, sungguh aku merasa sangat berterima kasih, untuk mana terlebih dulu terimalah penghormatanku ini."

Habis berkata ia lantas berlutut dan menyembah. Boh-thian terkejut, serunya cepat.

"He, mengapa engkau memberi penghormatan setinggi ini?"

Segera ia pun berlutut dan balas menyembah. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang wanita dengan gusar.

"Huh, tidak tahu malu, mengapa kau main sembah-sembahan lagi dengan perempuan lain di sini?"

Siapa lagi suara itu kalau bukan suaranya si Ting Tong! Keruan kejut Boh-thian tak terhingga.

"Haya! Ting-ting Tongtong!"

Ia menjerit dan segera melompat bangun.

Benar juga tertampak si Ting Tong sedang berlari datang dari hutan sana, di belakangnya mengikuti seorang tua, itulah Ting Put-sam adanya.

Melihat kedua orang itu, sungguh takut Boh-thian tidak kepalang, cepat ia rangkul A Siu dan mengepitnya, segera ia membawanya melarikan diri secepat terbang.

Akan tetapi Ting Put-sam jauh lebih cepat lagi, hanya beberapa kali lompatan saja sudah melampaui Boh-thian dan segera mengadang di depan pemuda itu.

Kembali Boh-thian menjerit kaget, cepat ia membelok ke samping.

Memangnya dia punya ginkang kalah tinggi daripada Ting Putsam, ditambah lagi dia mengempit si A Siu, sudah tentu dengan mudah saja kembali dia sudah diadang pula oleh Ting Put-sam.

Saat itu si Ting Tong juga sudah menyusul sampai di belakangnya.

Tertampak nona itu bersenjata liu-yap-to (golok panjang tipis seperti daun liu) yang mengilat, keruan ia tambah khawatir.

Tiba-tiba terdengar si Ting Tong membentak dengan murka.

"Letakkan perempuan hina itu dan biar kubinasakan dia, kalau tidak, selama hidup urusan kita ini pasti takkan terselesaikan!"

"Ti ... tidak, jang ... jangan!"

Sahut Boh-thian gugup.

"Sret" , mendadak Ting Tong menebaskan goloknya ke atas kepala A Siu. Boh-thian terkejut, tanpa pikir lagi ia melompat ke samping. Saking khawatirnya kalau-kalau tebasan si Ting Tong itu akan membinasakan A Siu, maka tanpa terasa tenaga dalamnya telah timbul menurutkan pikirannya, seketika tenaga dalam yang mahakuat timbul di telapak kakinya sehingga tubuhnya yang meloncat itu terus mengapung ke atas, di luar dugaan tingginya sampai melebihi pucuk pohon. Sedemikian tinggi loncatan Boh-thian itu, bukan saja Ting Putsam dan si Ting Tong terkejut, bahkan Boh-thian sendiri pun menjerit kaget selagi badannya masih terapung di udara. Ia menduga bila jatuh nanti, tentu badannya akan hancur, paling sedikit kakinya juga pasti patah. Lebih celaka lagi kalau A Siu sampai dibunuh oleh si Ting Tong, tentu runyamlah segala urusan. Saat itu badannya sudah mulai menurun ke bawah dan tampaknya akan menjatuhi sebatang dahan pohon yang melintang, dalam gugupnya ia menggunakan kakinya untuk bertahan sekuatnya dengan maksud dapatlah melompat lagi sejauh mungkin untuk melarikan diri. Tak terduga lantas terdengarlah suara "krak" , dahan pohon itu telah patah, badannya membal lagi ke depan sehingga lebih tinggi daripada tadi. Syukurlah pada saat itu terdengar A Siu yang berada di kempitannya itu telah berkata padanya.

"Toako, waktu menurun nanti hendaklah tekuk kakimu agar daya turunnya tertahan sedikit, tentu daya pentalnya nanti akan lebih ...."

Belum habis ucapan A Siu, kembali kedua kaki Boh-thian sudah jatuh pula di atas dahan pohon yang lain.

Sekali ini ia menuruti petunjuk A Siu, ia sedikit tekuk lututnya untuk mengurangi daya tekanannya.

Aneh juga, dahan pohon itu tidak patah lagi, tapi hanya mendoyong sedikit ke bawah, lalu menyendal kembali ke atas sehingga tubuh Boh-thian terlempar terlebih tinggi dan jauh.

Dan begitulah seterusnya, tiap kali di atas dahan, lalu Boh-thian terpental lebih jauh lagi sehingga lambat laun suara bentak maki si Ting Tong makin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi.

Dengan melompat naik-turun itu, Ciok Boh-thian merasa sangat senang.

Ditambah lagi A Siu masih terus memberi petunjuk-petunjuk cara menggunakan tenaga dan cara melompat.

Memangnya tenaga dalam Boh-thian sangat kuat, sekali mengetahui cara bagaimana menggunakan ginkang, dengan cepat ia sudah dapat melompat dengan sesukanya sebagai kera atau tupai gesitnya.

Sungguh senangnya tak terhingga, katanya.

"Wah, cara demikian ini sangat bagus, dengan begini kita takkan takut dikejar oleh mereka lagi."

Dalam pada itu mereka sudah hampir mencapai ujung hutan sana, tiba-tiba terdengar pula suara-suara bentakan yang ramai disertai sinar berkelebatnya senjata, terang ada orang sedang bertempur di sana.

"Wah, celaka, di sana ada orang, kita jangan maju lagi,"

Kata Boh-thian.

Dan sedikit kakinya menutul dahan pohon, dengan enteng ia lantas turun ke bawah.

Ia menurutkan cara yang diajarkan A Siu, ia tarik napas dalam-dalam, ujung kakinya menyentuh tanah lebih dulu, biarpun dia masih tetap membawa seorang, tapi jatuhnya ke tanah ternyata tiada mengeluarkan suara apa-apa.

Ia sembunyi di balik sebatang pohon yang besar, lalu mengintip ke arah suara ramai-ramai sana.

Tapi ia menjadi terkejut.

Tertampak di suatu tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon itu ada dua orang sedang bertarung dengan sengit, yang satu bersenjata pedang adalah Pek Ban-kiam, yang lain bertangan kosong, itulah Ting Put-si.

Di samping masih ada belasan murid Swat-san-pay dengan pedang terhunus sedang mengawasi pertempuran itu, mereka bersorak-sorak untuk memberi semangat kepada Pek Bankiam.

Sebaliknya mesti Ting Put-si tidak bersenjata, tapi dia telah mainkan tangannya untuk mencengkeram, mencakar, menutuk, memotong, dan memukul, lihainya melebihi sepasang senjata.

Terkadang kalau pedang Pek Ban-kiam menusuk dari samping, bukannya Ting Put-si menghindar mundur, sebaliknya ia menerjang maju untuk mendahului menghantam.

Hanya mengamati beberapa jurus saja segera Boh-thian mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyaksikan pertempuran itu sampai lupa bahwa dia masih memondong seorang lagi.

Memangnya Boh-thian pernah belajar Swat-sankiam-hoat, sedangkan jurus-jurus serangan Ting Put-si juga adalah sebagian pernah diajarkan kepadanya, walaupun masih ada sebagian besar tak pernah dilihatnya, tapi jalannya dapatlah diikuti dengan baik, di mana letak tujuan setiap serangan itu pun dapat dipahaminya.

Ia lihat Ting Put-si lebih banyak menyerangnya daripada bertahan, sepasang telapak tangannya sebagai pedang dan mirip golok, terkadang dipakai menusuk menyerupai tombak pula sehingga Pek Ban-kiam terdesak dan terpaksa lebih banyak bertahan daripada menyerang.

Pek Ban-kiam tampak tenang dan sabar, namun tidak kurang pula tangkisannya.

Terkadang kelihatan dia terdesak, tapi sekali pedangnya berkelebat, kembali dia dapat memaksa Ting Put-si untuk menarik kembali serangannya.

Tampaknya tidaklah mudah bagi Ting Put-si untuk merebut kemenangan, bahkan kalau sudah lama boleh jadi akan lebih menguntungkan Pek Ban-kiam yang bersenjata itu.

Kalau Ciok Boh-thian saja dapat menarik kesimpulan demikian, maka bagi Pek Ban-kiam dan Ting Put-si sudah tentu lebihlebih merasakan akan keadaan itu.

Kiranya Ting Put-si itu menganggap dirinya sama tingkatannya dengan ayah Pek Ban-kiam yaitu Wi-tek Siansing Pek Cu-cay, maka ia telah menyatakan akan melawan Pek Ban-kiam dengan bertangan kosong, bahkan di dalam 72 jurus saja ia akan dapat merampas pedang lawannya itu.

Di luar dugaan, begitu pertarungan sudah berlangsung seketika Ting Put-si mengeluh di dalam hati.

Dahulu ia pernah bertempur dengan beberapa orang murid Swat-san-pay, maka ia sangka kepandaian Pek Ban-kiam betapa pun juga terbatas.

Siapa duga di antaranya sesama murid Swat-san-pay itu bedanya ternyata sangat jauh, keruan ia terkecoh dan mengeluh.

Walaupun yang dimainkan Pek Ban-kiam sama-sama adalah Swat-san-kiam-hoat, tapi kecepatannya dan perubahanperubahannya, tenaga dalam yang digunakan serta caracaranya, nyata dia sudah mencapai tingkatan jago kelas satu, sekalipun Wi-tek Siansing Pek Cu-cay sendiri di masa jayajayanya ketika masih malang melintang di dunia Kangouw mungkin juga tidak lebih daripada kepandaian sang putra sekarang.

Terpaksa Ting Put-si harus mencurahkan perhatian dan mengerahkan semangat lebih daripada biasanya, ia gunakan kegesitannya untuk melompat dan menyusup kian-kemari di bawah lingkaran sinar pedang lawan, terkadang bila sudah kepepet ia harus menggunakan serangan balasan yang berbahaya dengan tujuan gugur bersama untuk memaksa Pek Ban-kiam menarik kembali serangannya yang lihai.

Sebaliknya bila ketemukan keadaan begitu, selalu Pek Ban-kiam mengalah dan tidak mau mengadu jiwa dengan lawan, seakan-akan Bankiam sudah yakin pasti akan memperoleh kemenangan terakhir nanti.

Sebenarnya kalau berbicara tentang kepandaian sejati betapa pun harus diakui Ting Put-si adalah lebih tinggi setingkat, sebabnya dia terdesak adalah lantaran dia terlalu takabur, dia tak mau menggunakan senjata untuk menandingi Pek Bankiam, dia tidak tahu jago macam apakah "Gi-han-se-pak"

Itu, bahwasanya sekalipun jago yang paling kuat, kalau senjata lawan senjata dengan dia juga tidak mudah untuk mengalahkannya, apalagi bertangan kosong sebagai Ting Put-si sekarang?

Begitulah, maka sesudah dua-tiga puluh jurus, tiba-tiba Pek Ban-kiam berkata.

"Ting-sicek (Paman Ting), silakan menggunakan senjata saja, kalau bertangan kosong engkau tak dapat menandingi aku."

"Kentut!"

Bentak Ting Put-si dengan gusar.

"Masakah aku tak dapat menandingi kau? Hm, ini boleh kau coba seranganku ini!"

Mendadak tangan kirinya berputar sekali, menyusul kepalan kanan terus memukul ke depan melalui lingkaran tangan kiri itu.

Serangan ini sangat aneh, karena tidak paham cara mematahkannya, terpaksa Pek Ban-kiam mundur satu tindak.

Ting Put-si tertawa terbahak-bahak, sekonyong-konyong ia melompat naik ke kanan, begitu cepat tubuhnya mengapung ke atas seakan-akan kakinya dipasang dengan pegas (per) dan mendadak bisa terpental, ketika tubuhnya sudah berada di udara, kedua kakinya lantas menendang cepat.

Terpaksa Pek Ban-kiam mundur selangkah lagi sambil putar pedangnya untuk melindungi mukanya sendiri.

Tapi Ting Put-si masih terus melancarkan serangan-serangan, mendadak dari sebelah kanan, tahu-tahu dari sebelah kiri, tiba tiba dari belakang, dan sekonyong-konyong dari depan lagi.

Ciok Boh-thian sampai pusing menyaksikan serangan-serangan Ting Put-si yang tampaknya tak teratur itu.

"Bret" , mendadak terdengar suara kain terobek, kiranya lengan celana Ting Put-si telah tertusuk oleh pedang Pek Ban-kiam dan sobek. Meski kakinya tidak sampai terluka, tapi celananya juga sudah terobek panjang sehingga kelihatan kakinya.

"Terima kasih atas kesudianmu mengalah,"

Segera Ban-kiam berkata sambil menarik kembali pedangnya.

Pertandingan di antara jago silat kelas tinggi, kalah atau menang hanya tergantung kepada satu-dua jurus saja.

Maka sekali celana Ting Put-si tertusuk robek, hal ini boleh dikata sudah terang siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Tak terduga, dari malu Ting Put-si menjadi gusar, bentaknya.

"Siapa yang mengalah padamu? Tusukanmu barusan ini hanya kebetulan saja mengenai celanaku, masakah dianggap?"

Dan segera dengan jurus "Khik-cui-heng-ciu" (Perahu Meluncur Melawan Arus), kembali ia menerjang pula.

Dalam keadaan demikian, mau tak mau Pek Ban-kiam harus angkat pedang dan menyambut serangan itu.

Tusukan pedangnya tadi sehingga merobekkan lengan celana lawan, dibilang kebetulan memang juga betul, waktu itu Pek Ban-kiam sedang menusuk ke depan, Ting Put-si juga sedang mengayun kakinya untuk menendang sehingga seperti sengaja menyodorkan lengan celananya ke ujung pedang lawan.

Namun demikian, sedikit banyak kegarangan Ting Put-si menjadi banyak berkurang juga, serangan-serangan selanjutnya mau tak mau harus lebih berhati-hati, tapi makin lama dia pun semakin terdesak di pihak asor.

Melihat perimbangan pertarungan itu tentu saja yang paling senang adalah orang-orang Swat-san-pay yang menonton di samping, segera ada yang berseru memuji.

"Coba lihatlah jurus serangan Pek-suko, Gwat-sik-hun-hong (Sinar Rembulan Remang-remang) itu, pedangnya bergerak seakan-akan tak kelihatan, remang-remang saja menuju sasarannya, sungguh telah memperlihatkan inti Swat-san-kiam-hoat yang hebat. Lihatlah itu, Ting-siansing sampai kerepotan menghindar, kalau bukan Pek-suko sengaja memberi kelonggaran tentu badannya sudah pakai bintang."

"Kentut!"

Mendadak terdengar bentakan orang dari dua jurusan.

Satu jurusan adalah suara Ting Put-si, itulah lumrah dan tidak mengherankan karena dialah yang diolok-olok, tapi suara yang lain ternyata datang dari jurusan timur laut sana.

Waktu semua orang berpaling ke arah sana, maka orang yang paling kaget tentulah Ciok Boh-thian.

Ternyata di sebelah sana telah berdiri berjajar dua orang, yang seorang adalah Ting Put-sam dan yang lain dengan sendirinya adalah si Ting Tong.

"He, Losam, lekas kau menyingkir pergi, aku sedang bergebrak dengan orang, buat apa kau berdiri di situ?"

Teriak Ting Put-si.

Meski dengan sepenuh perhatian dia bergebrak dengan Pek Ban-kiam, tapi betapa pun adalah saudara sekandung sendiri, baru dengar suaranya saja ia lantas tahu sang kakak telah datang.

Maka Ting Put-sam telah menjawab dengan tertawa.

"Aku ingin melihat apakah ilmu silatmu selama ini sudah ada kemajuan atau tidak."

Ting Put-si menjadi gugup, ia tahu dalam keadaan demikian dirinya pasti susah memperoleh kemenangan, tapi sang kakak justru telah muncul dan ingin melihat kepandaiannya.

"Kau pergi saja, Losam,"

Serunya pula.

"Kau hanya mengacaukan perhatianku saja. Aku terpaksa harus bicara dengan kau sehingga perhatianku terpencar, cara bagaimana aku bisa menghajar bocah ini."

"Kau tidak perlu bicara dengan aku, kau boleh berkelahi dengan sepenuh perhatianmu,"

Sahut Put-sam dengan tertawa. Lalu ia menoleh dan berkata kepada si Ting Tong.

"Biasanya kau punya Si-yaya (kakek keempat) suka menganggap ilmu silatnya tiada tandingannya di dunia ini, seakan-akan kakekmu sendiri juga tak bisa menandingi dia. Sekarang kau boleh pentang matamu lebar-lebar untuk menyaksikannya, boleh kau melihat kau punya Si-yaya dengan bertangan kosong akan menghajar lawannya, akan merebut pedang lawan sehingga lawannya mengaku kalah serta berlutut dan menyembah minta ampun padanya. Hahaha!"

Ting Put-sam sengaja bergelak tertawa sehingga suaranya memekak telinga dan membuat siapa yang mendengar merasa tidak enak. Keruan Ting Put-si sangat mendongkol, bentaknya.

"Losam, kau tertawa apa-apaan?"

"Aku menertawai kau!"

Sahut Put-sam.

"Menertawai aku mengenai apa? Apanya yang menggelikan?"

Teriak Put-si dengan gusar.

"Aku menertawai kau karena selama hidupmu kau suka sombong, ingin menang sendiri, tapi di kala menghadapi bahaya toh masih perlu bantuan kakakmu ini untuk mengangkat kau keluar dari malapetaka,"

Kata Put-sam.

"Malapetaka apa?"

Bentak Put-si dengan murka.

"Bocah she Pek ini adalah angkatan muda kita, kalau bukan mengingat ayah-bundanya, tentu sejak tadi sekali menghantam sudah kumampuskan dia. Huh, siapa yang ingin bantuanmu untuk mengangkat diriku apa segala? Lebih baik kau pergi mengangkat poci arak saja atau mengangkat pispot juga boleh. Aduh! Anak kurang ajar, kau berani melukai aku ...."

Mestinya dia sudah kewalahan melawan Pek Ban-kiam yang bersenjata, sekarang dia terpencar pula perhatiannya untuk bicara dengan Ting Put-sam, kesempatan itu segera digunakan oleh Ban-kiam untuk menyerang sehingga iga kirinya tergores dan darah bercucuran.

Ting Put-sam dan Ting Put-si adalah saudara sekandung, tapi sejak kecil mereka sudah suka bertengkar dan berkelahi sendiri.

Si kakak tidak mirip kakak, si adik juga tidak pantas sebagai adik.

Tapi sekarang demi melihat saudaranya terluka, mau tak mau ia menjadi khawatir juga, segera ia membentak dengan gusar.

"Anak bedebah! Kau berani melukai saudara Ting Put-sam?"

Dan sekali melompat, segera ia melayang ke belakang Pek Ban-kiam dan kontan hendak mencengkeram punggung lawan itu.

Diserang dari muka dan belakang, namun sedikit pun Pek Bankiam tidak bingung, lebih dulu pedangnya menusuk Ting Put-si sehingga lawan dari depan itu dipaksa mundur setindak, habis itu ia lantas putar pedang menebas ke belakang.

Dasar Ting Put-si memang suka unggul, dia masih berteriakteriak.

"Losam, lekas menyingkir! Siapa yang suruh kau membantu aku?"

"Siapa yang membantu kau?"

Sahut Ting Put-sam.

"Aku Ting Put-sam paling benci kalau ada perkelahian yang tidak adil. Biarlah aku melucuti pedangnya dulu, lalu akan kubikin darahnya juga keluar di badannya, habis itu barulah kalian berkelahi secara adil."

Melihat sang suheng dikeroyok, sudah tentu para murid Swatsan-pay tidak kira tinggal diam.

Apalagi Ting Put-sam itu diketahui adalah musuh yang telah membunuh saudara seperguruan mereka, maka serentak mereka berteriak-teriak terus menerjang maju bersama.

"Anak anjing, apa barangkali sudah bosan hidup semua? Hayo lekas enyah kembali seluruhnya!"

Bentak Ting Put-sam. Namun sebagai jawaban para murid Swat-san-pay itu telah menusuk dengan pedang mereka. Dengan gesit dapatlah Ting Put-sam menghindar serangan-serangan itu sambil membentak pula.

"Lekas mundur semua, kalau tidak awas, terpaksa Locu akan membunuh orang!"

Ban-kiam mengetahui para sutenya itu sekali-kali bukan tandingan Ting Put-sam, sekali orang tua itu menyatakan hendak membunuh orang, maka akibatnya tentu para sutenya itu akan banyak yang menjadi korban.

Cepat ia berseru.

"Para Sute, hendaklah lekas mundur!"

Biasanya murid-murid Swat-san-pay itu sangat segan kepada sang suheng, maka demi mendengar perintah itu, serentak mereka melompat mundur semua.

"Coba pinjamkan pedangmu itu!"

Tiba-tiba Ting Put-sam berkata kepada seorang murid Swat-san-pay yang pendek gemuk dan bernama Li Ban-san.

"Baik, ini terimalah!"

Sahut Li Ban-san dengan gusar.

"Sret" , mendadak pedangnya menusuk ke perut Ting Put-sam. Tapi dengan cepat Ting Put-sam menggeser ke pinggir, sekali tangannya menjulur, dengan tepat pergelangan tangan Li Bansan sudah tertangkap olehnya, dengan perlahan Ting Put-sam memuntir sehingga mau tidak mau Li Ban-san harus melepaskan pedangnya sehingga mirip benar dengan Li Bansan sengaja menyodorkan pedangnya kepada Ting Put-sam. Karena puntiran itu, pergelangan tangan Li Ban-san sudah terkilir, waktu Ting Put-sam mengayun kaki pula, kontan badan Li Ban-san yang bundar buntak di depan itu terjungkal. Waktu murid-murid Swat-san-pay hendak mengerubut maju lagi, namun Ting Put-sam sudah memutar pedang rampasannya, ia gunakan ujung pedang untuk menggaris di tanah sambil berlari mengelilingi Pek Ban-kiam dan Ting Put-si yang sedang bertempur itu sehingga suatu garis lingkaran seluas empat lima meter. Selesai itu, lalu ia berkata kepada murid-murid Swat-san-pay.

"Nah, siapa saja yang berani melangkah masuk lingkaran ini berarti dia telah masuk ke pintu akhirat."

Pek Ban-kiam tampaknya menghadapi lawannya dengan sangat tenang, tapi di dalam hati sebenarnya ia sangat gelisah.

Ia tahu kedua saudara Put-sam dan Put-si itu biasanya membunuh orang tidak pernah berkedip alias tidak kenal ampun.

Sekarang kedua orang tua itu bersatu padu untuk menempurnya, terang dirinya susah untuk melawan mereka.

Keadaan sekarang kalau dibandingkan pertarungan di kelenteng toapekong waktu melawan suami-istri Ciok Jing mungkin jauh lebih berbahaya, boleh jadi murid Swat-san-pay hari ini akan gugur semua di Ci-yan-to ini.

Karena keadaan sudah berbahaya, terpaksa Pek Ban-kiam melancarkan serangan-serangan kilat lagi, ia pikir Ting Put-si harus dibinasakan dahulu barulah keselamatan murid-murid Swat-san-pay dapat terjamin.

Akan tetapi Ting Put-si juga bukan kaum keroco yang dengan mudah dapat dibinasakan olehnya.

Meski iga orang tua itu sudah terluka, namun luka itu tidak parah dan masih dapat bertempur dengan tangkasnya.

Begitulah, lantaran Pek Ban-kiam ingin buru-buru menang, meski serangan-serangannya tambah gencar, tapi "safety"nya menjadi kurang daripada tadi.

Sebaliknya Ting Put-si semakin tangkas, kedua tangannya menari kian-kemari di antara berkelebatnya sinar pedang lawan, dia masih tetap gesit dan berbahaya walaupun darah tiada hentinya bercucuran keluar dari lukanya.

"Losi, kau boleh mundur dahulu,"

Demikian Ting Put-sam telah tampil ke depan dengan pedang terhunus.

"Balut dulu lukamu baru nanti kau maju dan bertempur lagi."

Namun dasar Ting Put-si adalah orang yang suka menang, segera ia berteriak.

"Luka apa? Di mana aku terluka? Huh, hanya sebatang pedang karatan bocah ingusan ini saja masakah dapat melukai diriku?"

Ting Put-sam terbahak-bahak dan tidak membantahnya lagi.

"Sret", mendadak pedangnya menusuk ke arah Pek Ban-kiam sambil berseru.

"Nah, orang she Pek, hendaklah kau mendengarkan yang jelas, saat ini adalah aku bertempur dengan kau satu lawan satu, Ting-losi juga ingin satu melawan satu dengan kau, jadi bukan kami berdua bersama-sama mengerubut kau seorang. Ting Put-si suruh aku jangan ikut campur, tapi aku tidak menurut. Sebaliknya aku suruh dia mundur dan dia juga tidak mau tunduk. Aku sendiri menjadi sebal melihat rupamu ini, maka aku ingin memberi hajaran padamu. Losi juga muak padamu, maka ingin memberi persen beberapa kali tamparan padamu. Sekarang kami masingmasing akan mencapai tujuannya sendiri-sendiri dan tiada maksud hendak mengeroyok kau, aku sengaja bicara di muka supaya orang lain takkan bilang Ting-si Siang-hiong (kedua tokoh keluarga Ting) telah mengeroyok seorang jago Swatsan-pay, hal ini tentu tak enak didengar kalau tersiar."

Begitulah, meski mulutnya mengoceh, tapi tangannya tidak pernah kendur, ia menyerang dengan cepat dan lihai. Diam-diam Ban-kiam sangat mendongkol, pikirnya.

"Huh, kau bilang bertempur dengan aku satu lawan satu dan Ting Put-si juga menyatakan bertempur satu lawan satu, tapi kenyataan demikian apa bedanya dengan dua mengeroyok satu?"

Namun watak Pek Ban-kiam tidak suka bertengkar mulut dengan orang, pula ia sudah merasa muak terhadap sifat pengecut kedua saudara she Ting itu, apalagi di bawah kerubutan dua jago terkemuka, sudah tentu ia pun tidak dapat membagi perhatiannya untuk bicara.

Maka dia hanya memusatkan perhatian dan menjaga diri dengan sangat rapat, bila ada kesempatan dia lantas melancarkan serangan balasan.

Pada suatu saat yang menentukan, ketika pedang Ting Put-sam terbentur dengan pedang lawan, Ban-kiam merasa lengannya tergetar, tenaga dalam lawan yang dahsyat telah membenturnya dengan hebat, cepat ia pun mengerahkan tenaga sambil menyampuk ke samping, menyusul pedang berputar untuk menebas kembali.

Akan tetapi pada saat itu juga mendadak kaki kanan terasa kesakitan, kiranya Ting Putsam telah menggunakan telapak tangan kiri yang kuat untuk memotong kakinya, walaupun tidak terluka, namun sakitnya bukan kepalang.

Cepat ia mundur dua tindak dengan terhuyung-huyung dan hampir-hampir terperosot jatuh.

"Jangan mencelakai suko kami!"

Teriak seorang murid Swatsan-pay terus menerjang maju dengan pedang terhunus.

Tapi baru saja kakinya melangkah masuk lingkaran yang digaris Ting Put-sam tadi mendadak sinar pedang berkelebat, tahu-tahu dadanya sudah tertusuk oleh pedang, sudah binasa ditusuk oleh Ting Put-sam.

Keruan orang-orang Swat-san-pay terkejut dan murka pula, dua orang di antaranya segera menerjang maju pula.

Ting Put-sam membentak dengan suara menggelegar sambil loncat ke udara, dari atas pedangnya terus membacok ke bawah, berbareng telapak tangan kiri juga menghantam.

Di mana sinar pedangnya menyambar, tanpa ampun lagi salah seorang murid Swat-san-pay itu terbelah menjadi dua mulai dari pundak kanan sehingga sampai di pinggul kiri, sedangkan pukulan tangan kiri Ting Put-sam juga mengenai batok kepala murid Swat-san-pay yang lain, kontan orang itu roboh terkulai tanpa bersuara, kepalanya sampai terpuntir ke belakang, kiranya tulang lehernya sudah patah dan terang tak bisa hidup lagi.

Hanya dalam sekejap saja Ting Put-sam sudah membunuh tiga orang, Ciok Boh-thian sampai berdebar-debar dan ngeri menyaksikannya.

Bahkan keganasan Ting Put-sam itu belum mereda, ia putar pedangnya secepat kilat dan menerjang ke arah Pek Ban-kiam.

Mendadak terdengar suara "krak-krak"

Dua kali, kedua pedang yang saling bentur itu telah patah semua.

Berbareng kedua orang sama-sama menimpukkan sisa pedang patah kepada lawan dan kedua orang sama-sama mendakkan tubuh untuk menghindar, kedua pedang patah itu pun sama-sama melayang lewat di atas kepala masing-masing.

Kedua orang sama gerakannya dan sama cepatnya, betapa bahayanya juga sama-sama pula.

Karena kaki kanan Pek Ban-kiam sudah terluka, jalannya menjadi kurang leluasa, sekarang kehilangan senjata lagi, seketika ia terdesak di pihak yang dicecar dengan seranganserangan tanpa dapat membalas.

Ada lagi dua murid Swat-san-pay yang nekat, walaupun sadar bilamana mereka melangkah masuk ke dalam lingkaran tentu mereka lebih banyak mati daripada hidupnya.

Tapi mereka pun tidak ingin menyaksikan sang suheng dikerubut dan dibinasakan begitu saja oleh musuh, maka tanpa pikir lagi mereka lantas menerjang maju dengan pedang terhunus.

Tiba-tiba Ting Put-sam berseru.

"Losi, boleh kau bereskan mereka saja, hari ini aku sudah membunuh tiga orang."

"Haha, jadinya kau juga terpaksa memohon sesuatu padaku,"

Seru Put-si dengan tertawa.

Sungguh aneh sekali, sama sekali Ting Put-si tidak memutar tubuh, tapi kedua kakinya terus menyepak ke belakang seperti halnya kuda menyepak orang saja, maka terdengarlah "plakplok"

Dua kali, kedua kakinya masing-masing telah kena menyepak di dada tiap orang.

Kontan kedua murid Swat-san-pay itu mencelat sampai beberapa meter jauhnya dan terbanting jauh, sedikit pun mereka tidak sempat bersuara dan tahu-tahu mereka sudah mati terdepak.

Sekali kedua saudara she Ting sudah mengganas, maka mereka tidak kenal lagi segala tata krama dan sopan santun orang Kangouw lagi.

Mereka kerjakan tangan dan kaki dan menyerang Pek Ban-kiam dengan cara yang keji mematikan.

Dengan kaki pincang Pek Ban-kiam masih terus bertahan dengan tenang, selangkah ia mundur keluar dari kalangan.

Sekonyong-konyong ia bersuara tertahan pula, kiranya bahu kanan telah kena dihantam lagi oleh telapak tangan Ting Put-si sehingga lengan kanan hampir-hampir susah bergerak.

Melihat pertarungan sengit itu, semakin lama darah kesatria Ciok Boh-thian semakin bergolak, mendadak ia berteriak.

"Cara demikian sungguh terlalu tidak adil!"

Tanpa pikir lagi ia terus lemparkan A Siu ke atas tanah, ia cabut golok karatan yang terselip diikat pinggangnya, lalu menerjang maju sambil berteriak.

"Sungguh tidak adil, dua mengeroyok satu!"

Karena dilemparkan begitu saja ke atas tanah, A Siu sampai menjerit kesakitan. Rupanya Boh-thian mendengar suara A Siu itu, ia masih sempat berpaling dan berkata.

"O, maaf, maaf!"

Habis itu secepat terbang ia sudah melompat masuk ke tengah lingkaran dan mendekati Ting Put-si.

Mendengar dari belakang ada orang menerjang tiba, Ting Put-si tetap tidak menoleh atau membalik tubuh, kembali kakinya menyepak lagi ke belakang.

Tapi sekali menutul kedua kakinya, dengan enteng sekali Bohthian lantas melayang ke depan melintasi kepala orang dan turun kembali di depan Ting Put-si.

Ketika merasa kakinya menyepak tempat kosong, sebaliknya tahu-tahu di depannya sudah bertambah satu orang, untuk sejenak Ting Put-si tercengang, tapi ia lantas berseru sambil menuding.

"He, Lemper Raksasa, kiranya kau!"

"Ya, betul, inilah aku,"

Sahut Boh-thian.

"Kalian ... kalian berdua mengeroyok satu orang, ini terlalu tidak adil."

Habis berkata, Boh-thian coba melirik ke arah Ting Put-sam dengan jantung memukul keras, ia masih ngeri menyaksikan tiga sosok mayat yang berlumuran darah yang barusan dibunuh Ting Put-sam itu menggeletak di sebelahnya, bahkan kakinya sendiri sekarang juga berlepotan darah.

Semula Ting Put-sam juga terkejut ketika tiba-tiba melihat seorang melayang masuk ke tengah kalangan pertempuran mereka.

Tapi demi mengenali Boh-thian segera ia mendamprat.

"Anak bedebah, tempo hari kau telah berhasil melarikan diri, kiranya kau sembunyi di sini."

"Aku ... aku ingin melerai kedua Loyacu agar janganlah terlalu banyak mengikat permusuhan, jika sudah menang, di mana dapat mengampuni orang hendaklah mengampuni, buat apa mesti ngotot dan ingin membunuh musuh habis-habisan."

Bab 24. Ting Put-sam dan Ting Put-si Melawan Gabungan Kim-oh-to-hoat dan Swat-san-kiam-hoat Put-sam dan Put-si saling pandang dengan bergelak tertawa, kata Put-si.

"Losam, entah dari mana bocah ini dapat belajar beberapa kalimat ocehan penjual obat, lalu sekarang menirukannya untuk memberi nasihat kepada kita, sungguh lucu, hahaha!"

Boh-thian tidak menanggapi lagi, tiba-tiba ia gunakan goloknya untuk mencukil sebatang pedang yang terletak di atas tanah sehingga pedang itu terlempar ke arah Pek Ban-kiam, berbareng ia berseru.

"Pek-suhu, Swat-san-pay kalian biasanya harus menggunakan pedang!"

Sungguh sekali-kali tak tersangka oleh Pek Ban-kiam bahwa di saat dirinya terancam bahaya dan tampaknya dalam sekejap lagi tentu akan binasa di bawah tangan kedua saudara Ting, siapa duga mendadak telah muncul seorang penolong yang bukan lain adalah Ciok Tiong-giok, bocah yang selama ini sedang dicari dan hendak dibunuhnya, sudah tentu tidak keruan perasaannya pada saat demikian.

Pedang yang dilemparkan ke arahnya itu adalah tinggalan seorang sutenya yang dibinasakan Ting Put-sam tadi, asal dirinya sudah bersenjata pula, seketika semangatnya akan bertambah berlipat ganda.

Maka tanpa bicara lagi segera ia sambar pedang yang melayang ke arahnya itu.

Sebaliknya Ting-Put-sam menjadi murka melihat Boh-thian merintangi tujuannya, bahkan hendak membantu pihak lawan, segera ia mendamprat.

"Anak jadah! Bukankah orang she Pek itu hendak menangkap dan membunuh kau? Jika tempo hari aku tidak menolong kau, apakah kau masih dapat hidup sampai sekarang?"

"Ya, betul juga,"

Sahut Boh-thian sambit memanggut.

"Makanya aku pun hendak menasihatkan Pek-suhu ini agar di mana dapat mengampuni orang hendaklah suka mengampuni."

Dalam pada itu diam-diam Ting Put-si merasa khawatir kalaukalau Boh-thian membicarakan kejadian di atas perahu, di mana ia telah dikalahkan oleh pemuda itu, hal ini tentu akan sangat menghilangkan pamornya, maka ia pikir bocah ini harus dibinasakan lebih dulu, dengan demikian rahasianya tidak akan terbongkar.

Maka ia lantas membentak.

"Kau mengoceh apa di sini? Ini, rasakan!"

Kontan ia terus menghantam ke arah Ciok Boh-thian.

Sekali ini Su-popo tiada terdapat di situ, maka Ting Put-si tidak perlu rikuh-rikuh lagi, jurus serangan "Hek-in-boan-thian" (Awan Mendung Memenuhi Langit) yang digunakan ini adalah tipu serangan yang belum pernah diajarkan kepada Boh-thian.

Namun Pek Ban-kiam tidak dapat tinggal diam dan membiarkan Ciok Tiong-giok dihantam mati secara begitu keji, sekali pedangnya bergerak, dengan jurus "Lo-su-hong-sia" (Pohon Tua Mendoyong Miring) segera ia menusuk dari samping.

Di lain pihak ternyata Ciok Boh-thian juga tidak manda diserang, mendadak goloknya membacok dengan jurus "Tiangcia-ciat-ki (Orang Tua Memotong Ranting), dengan cepat ia menebas tangan Ting Put-si.

Sungguh aneh juga jurus serangan antara golok dan pedang itu mestinya saling berlawanan, yaitu seperti diketahui ilmu golok yang dimainkan Ciok Boh-thian itu adalah ciptaan Su-popo yang bertujuan mengalahkan Swat-san-kiam-hoat.

Tapi sekarang sesudah bergabung dan dimainkan bersama, ternyata telah menimbulkan daya tekanan yang mahadahsyat, hanya sekejap saja Ting Put-si sudah terkurung di bawah ancaman pedang dan golok itu.

"Awas, Losi!"

Seru Put-sam dengan khawatir.

Maksudnya hendak membantu, akan tetapi serangan-serangan gabungan golok dan pedang itu terlalu lihai, apalagi dia sendiri bertangan kosong, biar bagaimanapun juga susah menembus jaringan sinar pedang dan golok.

Sudah tentu yang lebih-lebih kaget adalah Ting Put-si, untung pada saat berbahaya itu ia sempat menjatuhkan tubuh ke samping, lalu bergelindingan lolos keluar kalangan.

Waktu ia melompat bangun pula, tertampaklah di antara pedang dan golok lawan sana masih bertebaran sutra-sutra putih panjang.

Ketika ia meraba janggutnya sendiri, ternyata jenggotnya yang putih panjang itu sudah terkupas sebagian.

Dengan sendirinya Ting Put-si terkejut dan gusar pula, Ting Put-sam juga melongo kaget, Pek Ban-kiam pun tidak menduga, hanya Ciok Boh-thian saja masih tidak sadar bahwa serangannya tadi sesungguhnya sangat lihai dengan tenaga dalam yang dahsyat sehingga telah mengguncangkan perasaan tiga jago terkemuka dunia persilatan di depannya itu.

"Baik, kita pun memakai senjata,"

Akhirnya Ting Put-sam berseru. Segera ia jemput dua batang pedang yang berserakan di atas tanah, ia berikan sebatang kepada Put-si, lalu berseru pula.

"Hayolah, Losi, pikir apa lagi? Majulah bersama!"

Dan sekali pedangnya bergerak, segera ia mendahului menusuk Ciok Boh-thian.

Memang Ciok Boh-thian masih hijau dan tiada berpengalaman, maka ia menjadi kelabakan ketika diserang, ia bingung cara bagaimana harus menangkisnya.

Syukurlah Pek Ban-kiam lantas membantunya dengan jurus serangan "Siang-tho-selay" , serangan ini seketika menyadarkan Ciok Boh-thian, segera ia mengeluarkan jurus "Jian-kin-ap-tho"

Ajaran Supopo, dengan punggung golok ia mengetok ke bawah, begitu hebat daya tekanannya sehingga Ting Put-sam hampir-hampir tidak kuat menahan pedangnya.

Untung Ting Put-si cepat menolongnya.

Waktu Pek Ban-kiam menyerang pula dengan jurus "Hong-sahhong-bong" , segera Boh-thian mengikuti dengan jurus "Tayhay-tim-sah" , kerja sama antara golok dan pedang itu sedemikian rapat sehingga Ting Put-sam dan Ting Put-si semakin terdesak, sampai-sampai mereka berkaok-kaok kelabakan.

Tenaga dalam Ciok Boh-thian memangnya sangat kuat, ilmu silat yang dipelajarinya juga sangat bagus, hanya saja kurang latihan dan belum ada pengalaman dalam medan pertempuran, sebab itulah terkadang ia menjadi bingung menghadapi serangan lawan dan tidak tahu harus menangkis dengan jurus serangan apa.

Kim-oh-to-hoat yang dipelajari Boh-thian itu, kecuali jurus ke-73, jurus-jurus yang lain adalah khusus ditujukan untuk menghadapi Swat-san-kiam-hoat.

Sewaktu Su-popo mengajarnya juga selalu memberi petunjuk cara mengatasi serangan Swat-san-kiam-hoat sejurus demi sejurus.

Tapi sekarang dalam keadaan bingung ia menjadi tidak ingat lagi kepada ajaran Su-popo, bila musuh menyerang, tanpa pikir lagi ia hanya menirukan Pek Ban-kiam saja, jurus serangan apa yang dimainkan Pek Ban-kiam, segera ia juga keluarkan jurus serangan lawannya menurut petunjuk Su-popo.

Jadi kalau Pek Ban-kiam memainkan jurus "Lau-ki-heng-sia" , maka ia lantas mengeluarkan jurus "Tiang-cia-ciat-ki" , bila Pek Ban-kiam gunakan "Siang-tho-se-lay", segera ia pakai jurus "Jian-kin-aptho".

Walaupun Kim-oh-to-hoat itu diciptakan Su-popo sebagai tumbal penangkal Swat-san-kiam-hoat, justru karena tumbal itulah maka bila keduanya digunakan secara bersama-sama maka setiap lubang kelemahan dari masing-masing to-hoat dan kiam-hoat itu menjadi tertutup rapat dan jadilah semacam ilmu silat yang mahadahsyat dan tiada taranya.

Semula Pek Ban-kiam merasa ragu-ragu dan tidak habis mengerti akan kelakuan Ciok Boh-thian itu.

Tapi sebagai seorang tokoh silat terkemuka, sesudah berlangsung beberapa jurus ia mengetahui ilmu golok yang dimainkan Ciok Boh-thian itu hakikatnya merupakan jodoh dari ilmu pedangnya sendiri, bilamana kedua senjata sudah dimainkan bersama, maka luar biasa daya tekanannya kepada pihak musuh.

Yang lebih hebat lagi adalah tenaga dalam bocah she Ciok itu seakan-akan membawa semacam kekuatan yang kelihatan, yang makin lama makin luas daya tahannya.

Dalam hal ilmu silat maupun pengetahuan sudah tentu Ting Put-sam dan Ting Put-si lebih atas daripada Pek Ban-kiam, maka dengan sendirinya mereka pun sudah mengetahui keadaan yang luar biasa pada diri Ciok Boh-thian itu.

Cuma saja watak kedua saudara she Ting itu memang bengis dan galak, betapa pun mereka tidak mau mengaku kalah, bahkan mereka berharap ilmu golok aneh yang dimainkan Ciok Bohthian itu terbatas jurus serangannya, maka mereka masih terus bertahan dengan mati-matian untuk mencari kesempatan.

Pek Ban-kiam juga khawatir kalau-kalau Ciok Boh-thian cuma "macan kertas"

Saja, jangan-jangan hanya beberapa jurus serangan permulaan saja yang lihai, habis itu tak berguna lagi dan berbalik akan dikalahkan oleh kedua saudara Ting.

Melihat gelagatnya adalah lebih menguntungkan kalau melancarkan serangan kilat dulu.

Karena pikiran demikian, segera ia melancarkan serangan dengan jurus "Am-hiang-soh-eng" (Harum Kurang, Bayangan Jarang), batang pedangnya gemetar, sinar pedangnya gemilapan, itulah sejurus Swat-san-kiam-hoat yang paling hebat dan dapat melukai lawan di luar sadar orang.

Untuk mengikuti jurus Swat-san-kiam-hoat itu, segera Ciok Boh-thian juga mengayun goloknya menebas dari samping dengan jurus "Beng-goat-ciau-su" (Rembulan Terang Menyorot Pohon), goloknya juga tampak gemetar dan menyambar cepat dengan membawa tekanan tenaga dalam yang dahsyat.

Maka terdengarlah dua kali suara jeritan, pundak Ting Put-si terkena golok, lengan Ting Put-sam juga tertusuk pedang.

Kedua orang secepat kilat lantas melompat keluar kalangan.

Ting Put-sam masih sempat jambret si Ting Tong dan dengan cepat sekali lantas menghilang di balik hutan di sebelah timur sana.

Sebaliknya Ting Put-si terus melarikan diri ke balik bukit sebelah barat.

Hanya sekejap saja keadaan menjadi sunyi kembali, darah berceceran di atas tanah dengan lima sosok mayat yang sudah tak bernyawa.

Para murid Swat-san-pay saling pandangmemandang dengan rasa curiga.

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 12

Baca Juga: Cheng Hoa Kiam Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert