Ceritasilat Novel Online

Medali Wasiat 4

Eps 4 Medali Wasiat - Yin Yong

Baca online Medali Wasiat - Yin Yong

Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.

Segera ia membawa Ciok Boh-thian melompat ke daratan.

Dilihatnya di ujung kade sebelah barat sana berlabuh juga sebuah perahu beratap, segera ia mendatangi perahu itu, begitu melompat ke atas perahu segera ia sodorkan sepenceng uang perak seberat empat-lima tahil dan berkata.

"Juragan perahu, kawanku ini sakit keras dan perlu segera ditolong, harap kau lekas mengantar kami ke Tingkang."

Melihat biaya yang diberikan itu jauh melebihi biasanya, juragan perahu menjadi girang, tanpa banyak cincong lagi ia lantas angkat sauh dan meluncurkan perahunya ke depan.

Sambil sembunyi di dalam perahu beratap itu, diam-diam Pek Ban-kiam merancang apa yang harus diperbuatnya nanti.

Ia tahu di sekitar daerah Yangciu itu Tiang-lok-pang mempunyai pengaruh kekuasaan sangat besar, asal jejaknya diketahui, dalam waktu singkat orang-orang Tiang-lok-pang tentu akan dapat menyusulnya.

Ia bergirang dan sedih pula, girangnya karena Ciok Tiong-giok yang telah dicarinya sekian lamanya itu sekarang telah dapat ditangkapnya secara mudah sekali.

Sedangkan sedihnya adalah lantaran para Sute dan Sumoaynya juga ditawan pihak Tianglok-pang, entah cara bagaimana harus menolong mereka?

Khawatir kalau-kalau Ciok Boh-thian pura-pura saja, maka tidak sampai satu jam segera ia menutuk lagi beberapa tempat Hiat-to di tubuh pemuda itu.

Ketika perahu itu sampai di muara sungai Kwaciu dan masuk di perairan Tiangkang, sementara itu Ciok Boh-thian sudah berulang-ulang ditutuk sehingga beberapa puluh kali banyaknya.

Sesudah perahu itu masuk perairan Tiangkang, segera Bankiam berkata.

"Juragan perahu, perahumu boleh kau luncurkan saja ke hilir ini, kutambah lagi lima tahil perak untukmu."

Juragan perahu itu girang setengah mati, berulang-ulang ia mengucapkan terima kasih, katanya.

"Hadiah tuan penumpang ini sungguh teramat besar, cuma perahuku ini terlalu kecil dan tidak kuat menahan gelombang ombak Tiangkang ini, untuk bisa berlayar terus hanya bisa dilakukan dengan menyusur tepi sungai saja."

"Terserah, asal menyusur tepi utara saja,"

Kata Ban-kiam.

Setelah perahu itu berlayar lebih 20 li jauhnya, tertampak di tepi sungai sana ada sebuah kelenteng kecil berdinding kuning.

Segera Ban-kiam berdiri ke haluan perahu dan bersuit sekeraskerasnya.

Maka terdengarlah suara suitan pula dari dalam kelenteng itu.

"Menepi di sini, juragan perahu!"

Seru Ban-kiam.

Tanpa bicara juragan perahu lantas merapatkan perahunya ke tepi sungai.

Ia menancapkan galahnya dan menambat perahunya, baru saja dia hendak pasang papan loncatan, tahutahu Pek Ban-kiam sudah melompat ke daratan dengan mengempit Ciok Boh-thian.

Juragan perahu itu sampai kaget dan kesima melihat cara penumpangnya melompat seperti terbang itu.

Dan baru saja Ban-kiam mendarat, seketika ia disambut dengan sorak gembira oleh belasan orang yang keluar dari kelenteng tadi.

Kiranya mereka adalah rombongan kedua dari murid Swat-san-pay.

Ketika melihat Ban-kiam mengepit seorang pemuda, serentak mereka bertanya.

"Pek-suko, apakah dia?"

Bab 15. Munculnya Ciok Jing dan Istri Ban-kiam membanting Boh-thian ke tanah, katanya dengan gusar.

"Para Sute, beruntung sekali akhirnya anak durhaka ini dapat kita tangkap. Masakah kalian sudah pangling padanya?"

Waktu semua orang mengamat-amati Ciok Boh-thian, lapatlapat mereka masih mengenali dia adalah Ciok Tiong-giok, itu anak yang lincah dan nakal di Leng-siau-sia dahulu.

Saking gemasnya segera ada yang mendepak, ada pula yang meludahi Boh-thian.

"Harap saudara-saudara jangan melukai dia,"

Ujar seorang murid yang berusia agak lanjut.

"Hasil Pek-suko yang gilanggemilang ini sungguh harus dibuat bersyukur dan diberi selamat."

Namun Ban-kiam menggeleng kepala sahutnya.

"Meski bocah ini dapat kita tangkap kembali, tapi tujuh orang Sute dan Sumoay kita telah jatuh di tangan musuh, sesungguhnya kita lebih banyak rugi daripada untungnya."

Sambil bicara mereka lantas berjalan ke dalam kelenteng kecil itu.

Kelenteng kecil yang sudah bobrok itu adalah kelenteng Thote-bio (kelenteng Toapekong) yang tiada penghuninya, sebab itulah murid-murid Swat-san-pay telah menggunakannya sebagai pos penghubung.

Begitulah, orang-orang Swat-san-pay itu lantas mengeluarkan daharan yang tersedia untuk Pek Ban-kiam.

Habis itu mereka lantas berunding apa tindakan selanjutnya.

Kata Ban-kiam.

"Kita sudah dapat menangkap anak durhaka ini, maka kita harus mengirimnya pulang ke Leng-siau-sia untuk diserahkan kepada Ciangbunjin. Walaupun tujuh orang Sute dan Sumoay kita tertawan musuh, kukira jiwa mereka tidak perlu dikhawatirkan, rasanya orang Tiang-lok-pang takkan berani mengganggu mereka. Sekarang aku akan membagi tugas kepada kalian. Thio-sute, Ong-sute dan Tiosute, kalian adalah orang selatan, maka boleh tinggal di kota Yangciu dengan menyamar untuk memata-matai pihak musuh dan memerhatikan keadaan ketujuh Sute dan Sumoay kita yang tertawan itu, tapi jangan sekali-kali bertindak sendirisendiri."

Segera Thio, Ong dan Tio bertiga mengiakan. Lalu Pek Ban-kiam menyambung.

"Ang Ban-ek, Ang-sute, orangnya sangat cerdik, ilmu silatnya juga tinggi, sesudah kalian mengadakan kontak dengan dia, maka kalian harus menurut kepada pesannya. Janganlah kalian mentang-mentang sebagai Suheng, lalu berlagak sehingga membikin urusan menjadi runyam."

Ketiga orang itu sangat hormat dan segan kepada Pek-suheng ini, maka berulang-ulang mereka mengiakan lagi.

"Sekarang kita harus lekas menyeberang ke selatan, lebih dulu kita mengitar ke sana baru kemudian pulang ke Leng-siau-sia,"

Kata Ban-kiam pula.

"Walaupun perjalanan menjadi lebih jauh, tapi orang-orang Tiang-lok-pang pasti tidak menduga jurusan kita tempuh ini."

Dan ucapan ini nyata sekali tanpa tedeng aling-aling ia telah menunjukkan rasa jerinya kepada pihak Tiang-lok-pang. Dalam pada itu hari sudah mulai gelap. Ban-kiam menghela napas dan berkata pula.

"Perjalanan kita ini walaupun telah berhasil membakar Hian-soh-ceng serta dapat menangkap murid Ciok Tiong-giok ini, tapi kita telah kehilangan dua orang Sute yang terbunuh secara penasaran Kheng-sute dan lain ditawan musuh pula, semua ini benar-benar sangat memalukan golongan kita, Kalau diusut pokok pangkalnya segalanya adalah lantaran pimpinanku yang tidak becus ini."

"Pek-suko tidak perlu mencela dirinya sendiri,"

Ujar Houyan Ban-sian, seorang Sutenya yang berumur paling tua.

"Padahal sebab musababnya yang sesungguhnya adalah karena kita semua ini kurang tekun belajar, kita sudah mendapat didikan Suhu, tapi dalam perguruan kita selain Hong-suheng dan Peksuheng berdua yang lain-lain hanya berhasil mendapatkan sedikit bulu dan kulit ajaran Suhu saja dan tidak dapat mempelajari intisarinya."

"Ya, dasar kita ini memang seperti katak di dalam tempurung,"

Kata seorang Sutenya yang berbadan gemuk dan bernama Bun Ban-hu.

"Di waktu kita saling bertanding di antara kita sendiri di Leng-siau-sia, kita semua sama menganggap dirinya sendiri sudah jagoan, sudah kampiun. Tak terduga setelah berada di dunia luar barulah kita sadar kita ini terlalu pecak. Pek-suko baru akan berangkat kalau hari sudah gelap, mumpung masih ada waktu dan kita juga lagi iseng, maka diharap Pek-suko suka menggunakan kesempatan ini untuk memberi petunjuk sejurus-dua kepada kami sekalian."

Para Suheng dan Sutenya serentak bersorak menyatakan setuju. Maka berkatalah Ban-kiam.

"Sebenarnya ilmu silat yang diajarkan Tiatia (ayah) kepada para saudara sedikit pun tiada bedanya seperti apa yang diajarkannya kepadaku, sama sekali beliau tiada pernah pilih kasih. Seperti Hong-suheng, dia lebih giat dan lebih tekun belajar daripadaku, maka kepandaiannya juga lebih tinggi daripadaku."

"Ya, bahwasanya Suhu tidak pernah pilih kasih, hal ini kita mengetahui semua,"

Kata Bun Ban-hu.

"Soalnya kita sendirilah yang terlalu bodoh dan tak dapat memahami intisari ajaran beliau."

"Baiklah, kepulangan kita ke Leng-siau-sia ini besar kemungkinan masih akan banyak mengalami rintanganrintangan, kalau kita bisa tambah sedikit kepandaian akan berarti kekuatan kita bertambah pula,"

Kata Ban-kiam.

"Nah, Houya-sute dan Bun-sute, kalian boleh coba-coba mulai bergebrak, Tio-sute dan Ong-sute silakan pasang mata di luar, kalau ada sesuatu yang mencurigakan hendaklah segera memberi tahu."

Sebenarnya Tio dan Ong berdua sangat ingin menyaksikan latihan para Suheng dan Sute dengan petunjuk-petunjuk dari Pek-suheng, kesempatan ini biasanya jarang terjadi, tapi mereka justru disuruh meronda di luar, tentu saja dalam hati mereka merasa enggan, tapi mereka juga tidak berani menolak perintah sang Suheng itu, terpaksa mereka keluar dengan rasa kurang senang.

Segera Houyan Ban-sin dan Bun Ban-hu menghunus pedang masing-masing dan pasang kuda-kuda.

Bun Ban-hu adalah Sute, ia berseru.

"Silakan mulai, Houyan-suko!"

Dengan memegang pedangnya terbalik, lebih dulu Houyan Ban-sian memberi hormat kepada Ban-kim dan berkata.

"Harap Pek-suko memberi petunjuk-petunjuk seperlunya!"

Dan sesudah Pek Ban-kiam mengangguk, segera Ban-sian memutar pedangnya ke atas terus membuka serangannya, ia menusuk ke bahu kiri Bun Ban-hu.

Itulah jurus "Lau-ki-hengsia" (ranting pohon bertumbuh miring) dari Swat-san-kiamhoat.

Kiranya di dalam kota Leng-siau-sia banyak tumbuh Bwe-hoa.

Cikal bakal mereka yang menciptakan ilmu pedang itu pun sangat suka kepada bunga Bwe, sebab itulah di dalam gerak ilmu pedangnya itu banyak diseling dengan gaya bunga Bwe, tangkai Bwe, dahan Bwe dan sebagainya.

Bunga Bwe yang bagus biasanya tumbuh dalam keadaan gundul, dahannya jarang-jarang dan tak berdaun, sebaliknya kuntum bunganya lebat dan menggerombol.

Sebab itulah ilmu pedang yang dimainkan Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu terkadang sangat lambat dan tenang, terkadang cepat dan kerap pula dengan sinar pedang kemilauan sebagai bunga salju yang bertebaran tertiup angin.

Dalam pada itu Ciok-Boh-thian yang tertutuk dan dilemparkan begitu saja di samping ruangan sana itu tiada seorang pun yang menggubrisnya.

Sebenarnya perutnya sudah sangat lapar, dalam keadaan iseng coba-coba ikut menonton latihan ilmu pedang yang dimainkan Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu itu.

Lwekang Boh-thian sekarang sudah sangat sempurna, hanya saja mengenai ilmu pukulan atau ilmu pedang dan sebagainya sama sekali ia tidak becus, namun ilmu silat umumnya harus menggunakan Lwekang sebagai dasar, ilmu pukulan dan lainlain hanya gerakan yang dikerahkan oleh tenaga dalam itu.

Karena di waktu kecilnya Boh-thian sering berburu binatang dan menangkap burung, maka pada dasarnya gerak-geriknya sudah gesit dan cekatan.

Sejak dia berhasil pula melatih Lohan-hok-mo-kang yang berasal dari boneka-boneka itu, maka tokoh-tokoh kelas satu seperti Pwe Hay-ciok atau Cia Yan-khek sekalipun juga bukan tandingannya lagi.

Setelah mengikuti sejenak pertandingan dan serang menyerang antara Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu itu, ia menjadi ketarik dan merasa dirinya juga bisa.

Ia merasa serang-menyerang kedua orang itu seperti permainan anak kecil saja, sudah terang satu tusukan asal disorong maju sedikit lagi tentu akan mengenai sasarannya, tapi justru tenaga penyerangnya sudah habis dikerahkan dan terpaksa hanya mencapai jarak tertentu saja dan gagal mengenai lawannya.

Boh-thian pikir mungkin karena mereka adalah sesama saudara seperguruan dan hanya latihan saja, maka dengan sendirinya tidak saling menyerang dengan sungguh-sungguh.

Tiba-tiba terdengar Pek Ban-kiam membentak "Berhenti dulu!"

Lalu ia maju ke tengah, ia ambil pedangnya Houyan Ban-sian dan memberi contoh, katanya.

"Tusukanmu barusan ini kalau disorong maju dua senti lagi tentu sudah memperoleh kemenangan."

Boh-thian menjadi senang karena apa yang dikatakan Pek Bankiam itu cocok benar dengan pikirannya tadi, Tapi mengapa penyerangnya itu sengaja tidak mau menusuk dengan lebih maju sedikit?

Sementara itu kelihatan Houyan Ban-sian telah mengangguk dan menjawab.

"Petunjuk Pek-suko memang tepat. Cuma serangan Siaute barusan ini telah dilakukan dengan sekuatnya dan sampai di sini tahu-tahu tenaga dalam sudah habis dikerahkan sehingga susah disorong maju lebih jauh lagi."

Ban-kiam tersenyum, katanya.

"Untuk mencapai tenaga dalam yang kuat memang bukan latihan dalam satu-dua hari saja. Lwekang yang kupelajari pada hakikatnya juga tiada bedanya dengan Lwekang yang dipelajari para Sute. Namun demikian, kekurangan tenaga dalam masih dapat dibantu dengan menggunakan perubahan-perubahan ilmu pedang. Sesungguhnya Lwekang golongan kita juga tiada sesuatu yang luar biasa, dibandingkan Lwekang golongan lain seperti Siaulim-pay Go-bi-pay, Bu-tong-pay, Kun-lun-pay, meski masingmasing golongan mempunyai keunggulannya sendiri-sendiri tapi sejarah golongan kita masih terlalu muda sehingga tak dapat membandingi golongan-golongan yang bersejarah ratusan tahun itu. Namun begitu ilmu pedang golongan kita sesungguhnya dapat dikatakan tiada bandingannya di dunia ini. Maka dari itu di kala berhadapan dengan musuh hendaklah para Sute menggunakan keunggulan pihak sendiri untuk menyerang kelemahan musuh, janganlah mengadu tenaga dalam dengan orang, tapi gunakanlah perubahan-perubahan ilmu pedang kita yang hebat ini untuk merebut kemenangan."

Para Sutenya sama mengangguk dan membenarkan analisis sang Suheng yang ternyata tepat sekali itu.

Kiranya ketua Swat-san-pay yang sekarang, Wi-tek Siansing Pek Cu-cay, yaitu ayahnya Pek Ban-kiam, pada waktu kecilnya secara kebetulan telah minum obat mukjizat sehingga tenaga dalamnya mendadak maju sangat pesat dan dapat menandingi latihan orang selama 40-50 tahun.

Sebenarnya Lwekang Swat-san-pay itu tidak dapat menandingi golongan lain, tapi Pek Cu-cay telah mengambil jalan lain yang lebih cepat sehingga tenaga dalamnya menjadi lebih tinggi malah dibandingkan tokoh-tokoh Siau-lim-pay, Bu-tong-pay dan lain-lain.

Sudah tentu obat mukjizat begitu hanya bisa diketemukan secara kebetulan dan tak dapat dicari.

Walaupun tenaga dalam Pek Cu-cay sendiri sangat kuat tapi anak muridnya yang berjumlah tidak sedikit itu justru lemah dalam hal Lwekang.

Dasar watak Wi-tek Siansing itu memang suka unggul, maka selamanya ia tidak menjelaskan titik kelemahan golongannya sendiri kepada para muridnya.

Anak muridnya yang hidup terpencil di pegunungan bersalju itu karena kurang penerangan lantas menganggap ilmu pedang dan Lwekang golongannya tersendiri terhitung nomor wahid di kolong langit ini.

Baru sesudah mereka berulang-ulang terjungkal di daerah Tionggoan, sekarang Pek Ban-kiam secara terus terang telah menguraikan titik kelemahan golongannya sendiri dan barulah mereka sadar semuanya.

Begitulah Pek Ban-kiam lantas memberi petunjuk-petunjuk tentang di mana letak kehebatan perubahan ilmu pedang Swatsan-pay itu sejurus demi sejurus.

Sesudah Houyan Ban-sian dan Ban Ban-hu, lalu berganti pula dua orang Sutenya yang lain.

Kemudian Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu disuruh menggantikan Tio dan Ong yang pasang mata di luar itu.

Ilmu pedang yang dimainkan orang-orang Swat-san-pay itu sebenarnya tidak banyak bedanya satu sama lain.

Dasar Ciok Boh-thian memang pintar, pondamen tenaga dalamnya sudah sangat kuat pula, ditambah lagi Pek Ban-kiam telah memberi petunjuk-petunjuk dengan sungguh-sungguh yang diikuti Ciok Boh-thian dengan saksama.

Maka sampai dengan pasangan ketujuh dari pertandingan anak murid Swat-san-pay itu, dari 72 jurus Swat-san-pay itu telah dipahami seluruhnya oleh Ciok Boh-thian, walaupun namanama dari jurus-jurus ilmu pedang itu tak teringat dengan lengkap, intisari dari perubahan-perubahan ilmu pedang itu pun susah dipahami seketika, tapi bilamana diserang lawan, maka cara menangkis dan cara balas menyerang sudah tercakup di dalam rekaannya, bahkan ilmu pedang yang dia reka itu jauh lebih bagus dan jitu daripada murid-murid Swat san-pay itu, sebaliknya cocok sekali dengan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Pek Ban-kiam kepada Sute-sutenya.

Terkadang apa yang direka oleh Ciok Boh-thian itu juga agak bodoh, ilmu pedang yang digunakan murid Swat-san-pay itu ada lebih bagus daripada rekaannya, dan petunjuk yang diberikan Pek Ban-kiam juga lebih bagus setingkat lagi.

Jika demikian, maka ini berarti Ciok Boh-thian sudah lebih mendalami satu jurus ilmu pedang itu.

Begitulah dengan asyik sekali semua orang mencurahkan perhatian dalam mempelajari ilmu pedang, yang belajar lupa lelah, yang menonton lupa lapar, sehingga semua murid Swatsan-pay itu selesai latihan, Swat-san-kiam-hoat itu telah dimainkan beberapa kali secara berulang-ulang oleh anak murid Swat-san-pay, maka Ciok Boh-thian juga telah paham hampir seluruhnya dari ilmu pedang itu.

Diam-diam Boh-thian juga heran.

"Sudah begitu lama orangorang ini melatih ilmu pedang, mengapa permainan mereka sedemikian jeleknya, sudah terang jurus-jurus ilmu pedang ini sangat gampang, tapi mereka justru tidak dapat melakukannya dengan jitu."

Ia tidak tahu bahwa Lo-han-hok-mo-kang yang telah dipelajarinya dari boneka-boneka itu adalah semacam Lwekang mahatinggi dari Siau-lim-pay yang merupakan ikhtisar atau saripati dari ilmu silat Siau-lim-pay yang paling dalam.

Dengan memiliki pengetahuan Lwekang yang tinggi itu, terhadap setiap ilmu silat umumnya adalah laksana orang memandang bumi dari puncak gunung, segala apa dapat dilihatnya dengan jelas dan boleh dikata tiada artinya lagi baginya.

Selagi Boh-thian termenung-menung sendiri, tiba-tiba terdengar Pek Ban-kiam menghela napas panjang sambil melemparkan pedangnya.

Keruan para Sutenya saling pandang dengan heran, mereka tidak paham apa maksud sang Suheng dengan menghela napas panjang dan membuang pedangnya itu.

Tertampak sorot mata Pek Ban-kiam kemudian beralih kepada Ciok Boh-thian yang mendoprok bersandar di pilar sana, dengan muka muram dan suara serak ia berkata.

"Sejak bocah ini masuk perguruan kita, hanya dalam waktu dua-tiga tahun saja dia sudah dapat memahami intisari ilmu silat golongan kita, walaupun kekuatannya masih kalah daripada para paman gurunya yang sudah belajar belasan tahun, tapi dalam hal kecerdasan dan perubahan-perubahan gerak menurut keadaan dia ada lebih pintar, hal ini cocok benar dengan ilmu pedang kita yang memang mengutamakan kegesitan dan perubahanperubahan cepat. Sebab itulah Hong-suko menaruh harapan sangat besar kepadanya, bahkan Ciangbunjin sendiri juga menunjukkan perhatian dan berharap dia yang akan mengembangkan kejayaan golongan kita. Tapi, siapa duga ... ai, at ... ai ...."

Berulang-ulang ia menghela napas panjang sampai tiga kali, betapa rasa sayang dan menyesalnya kentara sekali pada wajahnya itu. Hendaklah maklum bahwa "Gi-han-se-pak"

Pek Ban-kiam bukan cuma ilmu silatnya saja yang tinggi, bahkan pengalaman dan pengetahuannya juga sangat luas.

Sesudah menyaksikan latihan-latihan Sutenya itu, ia merasa semua Sute itu terbatas oleh bakat pembawaan masingmasing, biar betapa pun giatnya mereka berlatih juga susah mendapat tingkatan tertinggi.

Ia menjadi teringat kepada nasib golongannya sendiri yang tiada mempunyai ahli waris yang baik maka ia sangat menyesal.

Mestinya Ciok Boh-thian seorang pemuda pilihan yang jarang terdapat, tapi anak muda itu justru tidak baik kelakuannya, sebab itulah ia menghela napas dan bersedih mengingat nasib golongan Swat-san-pay kelak.

Ciok Boh-thian menjadi terharu juga ketika melihat sorot mata Pek Ban-kiam yang memandang ke arahnya itu penuh kasih sayang padanya, walaupun tidak paham kandungan hati tokoh Swat-san-pay itu tapi diam-diam timbul juga rasa terima kasihnya.

Begitulah suasana dalam kelenteng sunyi itu untuk sekian lamanya menjadi sunyi senyap.

Selang sebentar, mendadak Pek Ban-kiam menggunakan ujung kaki kanan untuk menutuk gagang pedang yang dilemparkan ke lantai tadi, kontan pedang itu lantas mencelat ke atas dan kena dipegangnya.

Dengan perlahan-lahan ia menuju ke pelataran.

Tiba-tiba ia berseru.

"Sobat dari manakah itu, silakan turun saja untuk bicara?"

Para murid Swat-san-pay menjadi terperanjat.

Serempak mereka menduga tentu orang-orang Tiang-lok-pang yang telah datang?

Anehnya mengapa Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu yang menjaga di luar itu sama sekali tidak memberi tanda bahaya apa-apa?

Datangnya musuh juga sama sekali tak bersuara, mengapa Pek-suko dapat mengetahui?

Selagi semua orang berkebat-kebit, terdengarlah suara jatuhnya benda yang perlahan, tahu-tahu di tengah pelataran sana sudah bertambah dua orang.

Yang satu berbaju hitam mulus, yang lain adalah wanita yang berpakaian putih mulus.

Kedua orang itu sama-sama membawa pedang yang terselip di punggung mereka, di waktu melompat turun mereka hanya mengeluarkan suara yang perlahan, hal ini sudah menang angin lebih dulu, ditambah lagi kedua orang sama-sama gagah dan cantik sehingga membuat kesengsem setiap orang yang melihatnya.

Segera Pek Ban-kiam memberi hormat dan berseru pula.

"Kiranya adalah Ciok-cengcu dan nyonya dari Hian-soh-ceng yang telah datang!"

Suami-istri yang datang ini memang benar adalah Ciok Jing dan Bin Ju. Wajah Ciok Jing tampak bersenyum simpul, ia membalas hormat dan berkata.

"Pek-suheng telah berkunjung ke tempat kami, kebetulan kami suami-istri tiada di rumah dan tidak memberi penyambutan yang layak, untuk ini hendaklah suka memberi maaf."

Anak murid Swat-san-pay yang pernah bertemu dengan Ciok Jing di Hau-kam-cip tempo hari semuanya telah tertawan di markas Tiang-lok-pang, sedangkan rombongan ini tiada yang kenal suami-istri itu, maka mereka menjadi tergetar ketika mendengar yang datang ini adalah Ciok Jing bersama istrinya.

Pikir mereka.

"Kami sudah membakar perkampungannya, entah mereka sudah tahu atau belum?"

Tak terduga Pek Ban-kiam lantas bicara secara terus terang saja, katanya.

"Kunjungan kami ke Tionggoan ini adalah untuk mencari putramu, karena putramu tidak diketemukan, dalam gusarnya aku telah membakar kampung kediamanmu."

Wajah Ciok Jing yang tersenyum itu sama sekali tidak berubah demi mendengar keterangan itu. Sahutnya.

"Perkampungan kami itu memangnya tidak bagus bangunannya, kalau Peksuheng merasa tidak suka dan telah mewakilkan Siaute membakarnya, hal ini menjadi kebetulan malah. Untuk mana aku mengucapkan banyak terima kasih atas kemurahan hati Pek-suheng yang telah sudi menyingkirkan dulu semua penghuni rumah sehingga tiada satu ekor ayam atau itik yang terbakar mati, ini menandakan hati Pek-suheng yang welas asih patut dipuji."

"Pelayan dan penjaga kediaman Ciok-cengcu itu toh tiada berdosa, kami mana boleh sembarangan membikin susah orang lain? Buat apa Ciok-cengcu mesti berterima kasih segala?"

Sahut Ban-kiam.

"Para kesatria Swat-san-pay sesungguhnya sangat sayang kepada putraku itu, cuma sayang anak itulah yang tidak genah sehingga sangat mengecewakan harapan Pek-locianpwe, Hongsuheng dan Pek-suheng, sungguh kami merasa terima kasih dan malu pula,"

Demikian kata Ciok Jing.

"Apakah Peklocianpwe baik saja? Begitu pula tentunya Pek-lohujin (nyonya besar Pek, ibu Pek Ban-kiam)?"

Habis berkata bersama sang istri mereka sama membungkuk tubuh sebagai tanda menghormat kepada ayah dan ibunya Pek Ban-kiam. Ban-kiam membalas hormat itu, sahutnya.

"Atas doa Ciokcengcu berdua, ayah sendiri dalam keadaan baik saja, sedangkan ibu berhubung dengan perkara putramu itu, sekarang beliau tidak berada di Leng-siau-sia lagi."

Sampai di sini, tertampaklah air mukanya yang menyesal dan sedih.

"Pek-lohujin berkepandaian tinggi dan berbudi luhur, selama hidup beliau banyak melakukan kebajikan, siapa orangnya di dunia Kangouw yang tidak kagum padanya,"

Kata Ciok Jing.

"Sekali ini beliau hanya keluar sekadar berlibur, tentulah keadaan beliau akan baik-baik dan sehat walafiat."

"Banyak terima kasih atas pujian Ciok-cengcu, semoga dengan demikianlah adanya,"

Sahut Ban-kiam.

"Cuma saja usia ibu sudah lanjut, sekarang berkelana pula di Kangouw, sebagai anak mau tak mau ikut berkhawatir juga."

"Ini menandakan kebaktian Pek-suheng yang terpuji,"

Ujar Ciok Jing.

"Sebagai anak orang harus berbakti kepada orang tua, sebagai orang tua wajib mendidik putra-putrinya, semua ini adalah sifat manusia yang umum. Sekalipun kelakuan putraputrinya tidak pantas, di samping menyesal, sebagai orang tua terpaksa hanya dapat memberi ajaran lebih keras saja kepada anak-anaknya."

"Ciok-cengcu adalah tokoh yang dihormati dan disegani orangorang Bu-lim, kalau tidak salah di pendopo Hian-soh-ceng kalian tergantung sebuah pigura besar yang bertuliskan "

Ohpek-hun-beng (hitam atau putih harus dibeda-bedakan secara tegas). Entah betul tidak adanya pigura itu?"

"Betul,"

Sahut Ciok Jing.

"Tapi entah pigura bertuliskan empat huruf itu sekarang berada di mana?"

"Sudah kubakar,"

Sahut Ban-kiam.

"Bagus!"

Kata Ciok Jing.

"Putraku adalah murid Swat-san-pay kalian, jika melanggar peraturan perguruan adalah seharusnya mendapat hukuman setimpal dari pimpinan dan gurunya, apakah akan dihajar atau dibunuh, sebagai orang tua kami tak dapat ikut campur, ini adalah peraturan Bu-lim yang tak bisa di ganggu gugat. Untuk ini waktu di Hau-kam-cip tempo hari kami pernah menyerahkan pedang hitam putih kepada kawankawanmu dengan pernyataan kami akan menggiring anak durhaka itu ke Leng-siau-sia untuk menukar sepasang pedang kami itu, bukankah kejadian ini juga telah diketahui oleh Peksuheng?"

Tentang sepasang pedang hitam-putih itu Pek Ban-kiam memang sudah mendapat tahu dari Kheng Ban-ciong, Kwa Ban-kin dan lain-lain, diketahui pula bahwa sepasang pedang itu telah dirampas orang di tengah jalan, perampas pedang itu kemungkinan adalah tokoh-tokoh yang disegani orang-orang Bu-lim, yaitu Thian-kisu Cia Yan-khek.

Sekarang didengarnya Ciok Jing menyinggung tentang sepasang pedangnya, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Sahutnya kemudian.

"Ya, betul. Cuma pedang kalian itu tiada kami bawa, kelak pasti akan kami aturkan kembali dengan baik."

"Hahaha! Ucapan Pek-suheng ini sungguh terlalu memandang enteng kepadaku ini,"

Seru Ciok Jing dengan tertawa.

"Kalian sekarang telah meringkus anakku, di samping itu senjata kami itu ditahan pula dan tak dikembalikan, apakah ada peraturan demikian di dalam dunia persilatan?"

"Habis bagaimana kalau menurut pendapat Ciok-cengcu?"

Tanya Ban-kiam.

"Ucapan seorang laki-laki sejati, biar bagaimanapun takkan ditarik kembali,"

Kata Ciok Jing.

"Maka dari itu hanya ada satu di antara dua, inginkan anak harus kembalikan pedang, bila menahan pedang harus melepaskan anakku."

Sebenarnya Pek Ban-kiam adalah seorang tokoh terkemuka, bahwasanya sepasang pedang hitam putih telah direbut orang, memangnya dia merasa malu terhadap Ciok Jing, maka pantasnya dia tidak boleh putar lidah dan main menang sendiri.

Tapi dia juga pernah bertukar pikiran dengan Kheng Ban-ciong dan Sute-sute yang lain, menurut perkiraan mereka bukan mustahil secara diam-diam Ciok Jing telah bersekongkol dengan Cia Yan-khek, lebih dulu Ciok Jing pura-pura menyerahkan pedang-pedang pusaka mereka sebagai jaminan, lalu minta Cia Yan-khek mencegat di tengah jalan dan merebutnya kembali.

Apalagi Ciok Tiong-giok telah menyebabkan kematian putri tunggal kesayangannya itu, sekarang anak muda yang merupakan biang keladi dari segala peristiwa menyedihkan ini sudah tertangkap, sudah tentu Bankiam tidak rela melepaskannya begitu saja hanya karena ucapan Ciok Jing tadi.

Begitulah, sesudah berpikir sejenak lalu ia berkata.

"Permintaan Ciok-cengcu itu Cayhe tidak berani memutuskannya sendiri, harap Ciok-cengcu suka memaafkan. Tentang sepasang pedang kalian itu pendek kata adalah tanggung jawabku Pek Ban-kiam ini. Bila orang she Pek ternyata tidak mampu mengembalikan sepasang pedang hitam-putih itu, biarlah aku akan datang ke kediaman Ciokcengcu dan menggorok leherku di depan kalian untuk menebus dosa."

Pernyataan Pek Ban-kiam ini cukup tegas dan tanpa tawarmenawar lagi.

Ciok Jing cukup kenal siapa Pek Ban-kiam, yaitu seorang kesatria yang selalu pegang janji, kata-kata sesuai dengan perbuatan.

Sekarang dengan tegas Ban-kiam telah menanggung sepasang pedangnya dengan jiwa sendiri, maka mau tak mau dia harus memercayainya.

Namun demikian dengan jelas dilihatnya putra kesayangan mereka meringkuk di lantai yang kotor itu, betapa pun ia tidak tega membiarkannya dibawa pulang orang-orang Swan-san-pay.

Lebih-lebih Bin Ju, sejak berada di dalam kelenteng itu pandangannya tidak pernah meninggalkan lagi tubuh si Boh thian.

Dia sudah berpisah sekian lamanya dengan putra kesayangannya, sekarang dapat bertemu di tempat yang jauh ini, sungguh ia sangat ingin menubruk maju untuk memeluknya.

Sedari tadi air matanya sudah berlinang-linang dan hampir-hampir menetes, apa yang dikatakan Pek Ban-kiam sama sekali tak digubris olehnya.

Cuma saja ia selalu tunduk kepada segala keputusan sang suami, maka dia tidak ikut bicara melainkan tetap berdiri di samping Ciok Jing.

Maka Ciok Jing telah menjawab.

"Ah, ucapan Pek-suheng terlalu sungguh-sungguh, hanya sepasang senjata kami itu terhitung apa? Mana boleh dipersamakan dengan badan Peksuheng yang berharga? Hanya saja sebagai orang Kangouw segala apa kita mengutamakan keadilan. Sekalipun ilmu pedang Swat-san-pay sangat hebat dan orangnya berjumlah banyak, tapi juga tidak boleh berbuat sesukanya, sudah mau pedangnya, ingin orangnya pula. Nah, Pek-suheng, sekarang juga bocah ini akan kami bawa pulang saja."

Bicara sampai di sini, tiba-tiba pundak kirinya sedikit bergerak, ini adalah isyarat kepada istrinya agar lolos pedang dan menyerang bersama.

Benar juga, segera pandangan semua orang menjadi silau oleh gemerdepnya sinar pedang, tahu-tahu ujung pedang Ciok Jing dan Bin Ju sudah menusuk ke arah Pek Ban-kiam.

Kira-kira belasan senti di depan dada sasarannya, mendadak kedua pedang itu berhenti serentak.

"Silakan, Pek-suheng!"

Seru Ciok Jing.

Nyata, sebagai tokoh terkemuka mereka suami-istri tidak ingin menyerang secara mendadak di kala pihak lawan belum siap siaga.

Kalau Pek Ban-kiam tidak meloloskan pedang untuk menangkis, maka tusukan mereka itu pun tidak diteruskan ke depan.

Dengan sorot matanya yang tajam Pek Ban-kiam menatap ujung pedang lawannya, mendadak ia melangkah maju setengah tindak.

Segera Ciok Jing dan Bin Ju menarik mundur pedang mereka, jarak ujung pedang dengan dada sasarannya tetap belasan senti jauhnya.

Tapi mendadak Ban-kiam meluncur satu tindak ke belakang, ketika kedua pedang Ciok Jing dan Bin Ju ikut menjuju maju, maka terdengarlah suara "tring-tring"

Dua kali, Pek Ban-kiam sudah melolos pedangnya dan telah balas menyerang malah.

Tiga batang pedang seketika menjangkitkan suatu lingkaran sinar yang kemilauan.

Pedang yang digunakan Ciok Jing mestinya berwarna hitam mulus, tapi karena pedang itu sudah diserahkan kepada orang Swat-san-pay sebagai jaminan bersama pedang istrinya, maka sekarang yang dia pakai adalah sebatang pedang biasa.

Biasanya orang-orang Swat-san-pay sangat mengagumi ilmu pedang Pek-suko mereka yang hebat, sekarang mereka berpendapat biarpun dikerubut orang dua juga sang Suheng akan lebih unggul.

Maka mereka hanya menonton di samping saja dengan pedang terhunus.

Semula tertampak serangan-serangan Ciok Jing dan Bin Ju yang dapat bekerja sama dengan sangat baik itu dilakukan dengan lambat, tapi makin lama makin cepat sehingga sesudah 50 jurus lebih jurus-jurus serangan suami-istri itu susah dibedakan lagi.

Sebaliknya yang dimainkan Pek Ban-kiam adalah Swat-sankiam-hoat yang meliputi 72 jurus itu.

Ilmu pedang yang pasti dipelajari setiap murid Swat-san-pay ini tampaknya tiada sesuatu yang luar biasa, tapi di bawah permainan Pek Bankiam ternyata tidak kalah lihainya daripada ilmu pedang Ciok Jing berdua, baik bertahan maupun balas menyerang dapat dilakukan dengan tepat dan menimbulkan daya tekanan yang hebat kepada lawan.

Di dalam kelenteng kecil itu hanya tersulut sebatang lilin saja, sinarnya agak guram sehingga menambah seramnya suasana pertempuran itu.

Tadi waktu Ciok Jing dan istrinya tiba, segera Ciok Boh-thian dapat mengenali Bin Ju adalah si wanita cantik berhati luhur yang pernah memberi uang kepadanya di Hau-kam-cip tempo dulu.

Begitu datang suami-istri itu lantas tiada hentinya bicara dengan Pek Ban-kiam, menyusul ketiga orang lantas lolos pedang dan bertempur sehingga tiada memberi kesempatan kepada Ciok Boh-thian untuk menyapa dan bicara.

Sedangkan apa yang dipercakapkan Ciok Jing dan Pek Bankiam tadi juga tak dipahami Ciok Boh-thian, hanya lapat-lapat diketahuinya Ciok Jing telah minta kembali sepasang pedang kepada Pek Ban-kiam, selain itu mengenai diri seorang anak apa, cuma sama sekali tak terduga olehnya bahwa yang dimaksudkan itu justru adalah Ciok Boh-thian sendiri.

Tadi juga telah disaksikan latihan ilmu pedang dari muridmurid Swat-san-pay, sekarang dilihatnya pula Ciok Jing bertiga melolos pedang dan bertanding pula, ketiga orang tidak saling membentak atau memaki, sikap mereka pun ramah tamah saja, maka disangkanya mereka juga sedang latihan saja seperti tadi.

Sejenak kemudian ia lantas memerhatikan pula ilmu pedang yang dimainkan Ciok-Jing dan istrinya.

Segera dapat diketahuinya bahwa ilmu pedang ketiga orang itu ternyata sangat berbeda.

Gerakan Ciok Jing sangat kuat dan tangkas, sebaliknya Bin Ju lemah gemulai.

Jurus ilmu pedang yang dimainkan suami istri itu adalah sama, tapi yang satu keras dan yang lain lunak, yang satu Yang (positif) dan yang lain Im (negatif), yang satu cepat dan yang lain lambat, tenaga dalam yang digunakan berlawanan satu sama lain, tapi bila ketemu dengan pedang Pek Ban-kiam, segera jurus pedang suami-istri itu tampaknya dapat bekerja sama dengan sangat rapat dan dua menjadi satu.

Maklum bahwa suami-istri Ciok Jing dan Bin Ju yang telah menikah selama dua puluh tahun itu tidak pernah berpisah barang satu hari pun, juga tiada pernah absen satu hari tidak berlatih pedang, maka ilmu pedang mereka sudah boleh dikatakan mencapai dua raga satu pikiran.

Dalam hal permainan berganda pedang, di dunia persilatan sudah tiada bandingannya lagi.

Tentang teori ilmu pedang yang mendalam itu sudah tentu Ciok Boh-thian tidak paham, tapi Lwekang yang telah dimilikinya sekarang adalah sangat aneh, lebih dulu ia melatih Lwekang mahadingin dari sesuatu orang, kemudian mendapat ajaran Lwekang mahapanas dari Cia Yan-khek, akhirnya melalui "Lohan-hok-mo-kang"

Yang merupakan Lwekang yang paling sempurna itu sehingga kedua macam Lwekang dingin dan panas semula dapat dilebur menjadi satu.

Ilmu pedang Ciok Jin dan Bin Ju, sebenarnya dimainkan dengan Lwekang Im dan Yang yang tidak sama.

Maka Ciok Boh-thian hanya menonton sebentar saja lantas seperti menyadari sesuatu, pikirannya.

"Aneh, ilmu pedang mereka ini aku dapat memainkannya semua, tapi entah sejak kapan aku telah mempelajarinya?"

Karena merasa ilmu pedang yang dimainkan ketiga orang itu ia sendiri pun bisa, maka Ciok Boh-thian menjadi girang tak terkatakan.

Tidak lama kemudian ia lantas tahu juga bahwa dengan satulawan-dua keadaan Pek Ban-kiam lebih lemah dan mulai terdesak.

Kiranya ilmu pedang dan tenaga dalam Ciok Jing suami-istri masing-masing sebenarnya sama kuatnya, tapi sekarang mereka berdua mengerubut Pek Ban-kiam seorang, dengan sendirinya Ban-kiam kewalahan, cuma dalam ilmu pedang Bankiam itu ada suatu arus tenaga yang ganas dan lihai, dasar Bin Ju memang lemah lembut, di waktu menyerang selalu memberi kelonggaran, sebab itulah mereka bertiga dapat bertarung sampai sekian lamanya.

Padahal walaupun Bin Ju kelihatan lemah gemulai, tapi dalam hal ilmu pedang sebenarnya sedikit pun tidak di bawah suaminya.

Begitulah, maka sesudah beberapa puluh jurus, beruntunruntun Pek Ban-kiam dua kali hampir dimakan ujung pedang Bin Ju.

Diam-diam Ban-kiam mengeluh.

Namun dasar wataknya memang keras, sekalipun dia mesti binasa di bawah pedang Ciok Jing suami-istri juga dia pantang menyerah, maka dengan mati-matian ia masih terus bertahan.

Selang sejenak pula, sekarang beberapa orang Swat-san-pay sudah mulai mengetahui keadaan sang Suheng yang payah itu.

Segera seorang di antaranya berteriak.

"He, dua orang mengerubut satu orang, huh, tidak tahu malu! Ciok-cengcu, jika kau berani silakan bertempur satu-lawan satu dengan Peksuko saja, kalau ingin main keroyokan terpaksa kami juga akan menerjang maju semua!"

Namun Ciok Jing hanya tersenyum saja, sahutnya sambil kerjakan pedangnya.

"Apakah Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li Hong-suheng berada di sini? Kalau Hong-suheng berada di sini dia boleh main berganda bersama Pek-suheng dan kita berempat boleh coba-coba mengukur ilmu pedang masingmasing."

Terang sekali maksudnya hendak mengatakan bahwa di antara anak murid Swan-san-pay sebanyak itu, selain Hong-hwe-sinliong Hong Ban-li, maka yang lain-lain pasti tidak mampu main ganda bersama Pek Ban-kiam untuk melawan mereka suami istri.

Padahal Ciok Jing juga tahu bahwa dengan suami-istri mereka mengerubut Pek Ban-kiam seorang terang mereka lebih kuat dan sebenarnya juga tidak pantas menurut peraturan Kangouw.

Tapi sekarang urusan menyangkut mati-hidup putra kesayangannya, kalau anak muda itu sampai dibawa pulang ke Leng-siau-sia, maka terang pasti akan dihukum mati.

Demi untuk menyelamatkan putranya itu, saat inilah suatu kesempatan yang paling baik, walaupun kelak akan dicerca sesama orang Bu-lim tentang mereka main kerubut dua lawan satu dan bukan perbuatan kesatria sejati, terpaksa mereka tak peduli lagi.

Apalagi di dalam kelenteng ini di pihak Swat-sanpay masih ada belasan orang lagi, keadaan demikian pun boleh dikatakan mereka suami-istri melawan belasan orang musuh.

Adapun soal kepandaian orang-orang Swat-san-pay yang lain itu terlalu rendah untuk dapat melawan mereka, adalah salah pihak Swat-san-pay sendiri, siapa sih yang suruh Swat-san-pay mendidik murid-murid segoblok itu?"

Di lain pihak Pek Ban-kiam menjadi gusar ketika mendengar Ciok Jing menyebut nama Hong-hwe-san-liong Hong Ban-li. Pikirnya.

"Justru Hong-suko telah kehilangan sebelah lengannya gara-gara perbuatan putramu yang durhaka itu, sekarang kau masih coba-coba menyebut namanya dan ingin bertanding dengan dia?"

Pertandingan di antara jago-jago kelas tinggi sebenarnya tidak boleh lena sedikit pun, apalagi memencarkan pikirannya.

Memangnya Pek Ban-kiam sudah terdesak, dalam gusarnya itu gerak pedangnya menjadi lambat, saat itu ia sedang menyerang, tapi Ciok Jing sempat menangkisnya dan segera dapat dilihatnya pula lubang kelemahan Ban-kiam itu, ia kerahkan tenaga dalam ke batang pedang dan sekuatnya menekan pedang lawan.

Insaf keadaan yang berbahaya itu cepat Ban-kiam hendak menggeser ke samping, namun lubang kelemahan yang hanya terlintas dalam sekejap saja itu sudah digunakan oleh Bin Ju dengan baik, tahu-tahu ujung pedangnya sudah menyambar tiba dan tepat menjurus ke dada Pek Ban-kiam.

Ban-kiam tahu serangan ini tak bisa dielakkan lagi dan pasti akan menembus dadanya, maka ia pejamkan mata dan terima nasib.

Tak terduga ujung pedang Bin Ju hanya ditujukan kira-kira belasan senti berada di depan dadanya, lalu ditariknya kembali segera.

Berbareng mereka suami-istri lantas melompat mundur, mereka menyimpan kembali pedang masing-masing dan berdiri tegak tanpa bicara.

Bab 16.

Antara Anak Berbakti dan Murid Durhaka Dengan muka merah padam Ban-kiam membuka matanya pula.

Ia pikir pihak lawan sudah mengampuni jiwaku, maksud tujuannya adalah jelas sekali, yaitu mereka hendak membawa pergi putra mereka.

Sekarang dirinya sudah keok, mana boleh bertempur lagi dan merintangi kehendak mereka?

Andaikan bertempur lagi juga tak dapat melawan mereka suami-istri.

Demi teringat nasib putri kesayangannya yang telah binasa gara-gara kelakuan murid murtad perguruannya sendiri, sekarang dirinya memimpin para Sute datang ke Tionggoan, di antara para Sute itu ada tujuh orang telah ditawan pula oleh pihak Tiang-lok-pang, Ciok Tiong-giok yang dapat ditangkapnya ini sekarang mesti dirampas orang lagi, sedangkan Swat-san-kiam-hoat yang paling diandalkan juga tak dapat melawan Hian-soh-siang-kiam (sepasang pedang Hian-soh-ceng), nama baiknya selama ini telah runtuh habishabisan, teringat semuanya ini seketika Ban-kiam menjadi putus asa, ia berdiri dengan termenung-menung tanpa bersuara.

Dalam pada itu suara pertempuran di dalam kelenteng itu juga telah didengar Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu yang menjaga di luar kelenteng, mereka pun sudah masuk kembali dan menyaksikan kekalahan sang Suheng, segera mereka berseru.

"Mereka dapat main kerubut, masakah kita tidak boleh main keroyok!"

Dan sekali memberi tanda serentak 12 orang murid Swat-sanpay lantas menerjang maju mengelilingi Ciok Jing dan Bin Ju.

Ban-kiam tahu ke-12 orang Sutenya itu sekali-kali bukan tandingan Ciok Jing suami-istri, sekalipun dirinya ikut pula di dalam pertempuran juga sukar memperoleh kemenangan.

Karena itulah ia menjadi ragu-ragu apa yang harus diperbuatnya.

Tiba-tiba terdengar Ciok Jing berkata.

"Pek-suheng, kami suami-istri bergabung melawan Pek-suheng memang telah di atas angin sedikit, tapi tak dapat dikatakan telah mendapat kemenangan. Maka dari itu marilah kita mulai lagi. Awas serangan!"

Habis berkata segera pedangnya menusuk lebih dahulu.

Terhadap ke-72 jurus ilmu pedang Swat-san-pay memangnya sudah dapat dipahaminya dengan baik, sekarang dilihatnya pula permainan Pek Ban-kiam yang lihai itu, ia merasa setiap jurus yang dimainkan itu cocok benar dengan seleranya.

Dengan kedudukan Pek Ban-kiam sebagai seorang tokoh terkemuka, kalau tadi pihak lawan sudah mengampuni jiwanya, maka seharusnya ia tidak boleh menantang lagi.

Tapi sekarang Ciok Jing sendiri yang melancarkan serangan lebih dulu, untuk ini ia boleh menangkisnya.

Diam-diam ia membatin.

"Baik, biar aku coba mengukur kekuatanmu lagi dengan satu lawan satu."

Segera ia menangkis sambil menggeser ke samping, lalu balas menyerang.

Keadaan menjadi berbeda dengan pertarungan Pek Ban-kiam melawan Ciok Jing ini.

Tadi dia satu melawan dua, dengan sendirinya lebih banyak diserang daripada menyerang, walaupun dia dapat berjaga dengan sangat rapat, tapi di waktu balas menyerang mau tak mau mesti berpikir kepada lawan yang lain, kalau menyerang Ciok Jing harus menjaga pula serangan dari Bin Ju, sebaliknya kalau menusuk Bin Ju harus pula cepat menangkis serangan balasan dari Ciok Jing yang selalu kerja sama dengan sangat baik bersama istrinya.

Sekarang satu lawan satu, pula merasa malu atas kekalahan tadi, seketika Pek Ban-kiam memainkan 72 jurus Swat-sankiam-hoat dengan sehebat-hebatnya dan tanpa kenal ampun lagi.

Di dalam kelenteng yang kecil itu seketika penuh bertaburan sinar pedang yang menyilaukan.

Diam-diam Ciok Jing harus mengakui ilmu pedang Pek Bankiam memang benar-benar lihai dan tergolong ahli pedang kelas satu.

Segera dengan penuh semangat ia melayani seranganserangan lawan dengan segenap kepandaiannya.

Pikirnya.

"Biarkan tahu bahwa ilmu pedang dari Hian-soh-ceng kami sebenarnya tidak di bawah ilmu pedang Swat-san-pay kalian. Sebabnya aku suruh putraku belajar di tempat kalian adalah karena aku mempunyai maksud tujuan tertentu, maka janganlah kau tinggi hati dan mengira aku Ciok Jing tak dapat menandingi seorang Pek Ban-kiam."

Dengan pertarungan ulangan Ciok Jing melawan Pek Ban-kiam sangat cepat dan tangkas, sebaliknya Ciok Jing bertahan dengan rapat dan tenang.

Berulang-ulang Ban-kiam mengganti serangan belasan kali dan sedikit pun tidak memperoleh keuntungan apa-apa, maka diam-diam ia pun terkejut dan heran.

"Kehebatan ilmu pedang orang ini ternyata lebih tinggi daripada kesohoran yang diperolehnya dari orang Kangouw. Jika demikian hebat ilmu pedangnya sendiri buat apa dia menyuruh putranya belajar kepada golongan Swat-san-pay kami?"

Lalu terpikir pula olehnya.

"Tadi aku telah dikalahkan, hal ini boleh dikatakan lantaran aku dikeroyok dua. Tapi sekarang hanya satu lawan satu, kalau aku kalah sejurus saja akan berarti runtuhlah nama baik Swat-san-pay selama ini. Maka aku harus mengalahkan dia dan mengancam sesuatu tempat yang berbahaya di badannya, lalu mengampuni jiwanya. Kalau tidak, susah aku membalas hinaan kekalahanku tadi."

Dan karena nafsunya ingin menang, mau tak mau seranganserangannya menjadi agak terburu-buru dan sering dilakukan secara ceroboh. Diam-diam Ciok Jing bergirang.

"Semakin kau terburu nafsu, semakin cepat kau akan kalah lagi di bawah pedangku."

Sesudah belasan jurus, benar juga Pek Ban-kiam sendiri berulang-ulang terancam bahaya malah.

Ia terkesiap dan cepat memusatkan perhatiannya dengan tenang, ia tidak berani sembrono lagi.

Sampai di sini barulah kedua jago benar-benar bertempur dengan sama kuat dan sama tangkasnya sehingga susah menentukan kalah atau menang.

Dari pertarungan sengit kedua tokoh ini, Ciok Boh-thian telah tambah berpengalaman lagi macam-macam teori ilmu pedang itu, sebenarnya teori ilmu pedang yang itu susah dipahami oleh seorang pemuda yang baru berusia 20-an tahun, tapi pertama karena ciok Boh-thian sudah memiliki Lwekang yang sangat tinggi, pula cara pertarungan kedua jago pedang yang sama kuatnya dan dilakukan dengan sangat dahsyat itu sesungguhnya jarang dijumpai di dalam dunia persilatan, untunglah Ciok Boh-thian dapat menyaksikan dengan secara teratur sehingga tanpa merasa teori ilmu pedang yang paling mendalam telah dapat dipecahkan dan dipahaminya.

Saking asyiknya Ciok Boh-thian menonton pertarungan Ciok Jing dan Pek Ban-kiam juga seru sekali sehingga melupakan segala apa yang berada di sekeliling mereka.

Sesudah 200 jurus lebih, semangat Pek Ban-kiam tambah menyala, ia merasa pertarungan hari ini benar-benar suatu hal yang menyenangkan selama hidup ini sehingga rasa terhina atas kekalahannya tadi sudah tak berpikir lagi olehnya.

Begitu pula Ciok Jing merasa girang karena telah ditemukan tandingan yang sama tangguhnya.

Maka dengan sendirinya kedua orang sama-sama timbul rasa sayangnya kepada pihak kawan, rasa permusuhan mereka pun mulai berkurang, sebaliknya timbul keinginan untuk menguji dan tukar kepandaian masing-masing, maka kedua orang sama-sama mengeluarkan segenap kemahiran sendiri-sendiri untuk memancing cara bagaimana pihak lawan akan menangkis serangannya.

Di waktu mulai bertempur tadi, di dalam kelenteng itu ramai dengan suara "trang-tring"

Beradunya pedang, tapi sekarang yang terdengar hanya suara "cring-cring"

Yang perlahan dari gesekan dua batang pedang saja.

Sampai suatu saat menentukan, tiba-tiba Pek Ban-kiam menusuk dari samping dalam jurus "Am-hun-so-eng" (sebagai awan laksana bayangan), pedangnya menyambar tiba dengan cepat sehingga tampaknya ada tapi seperti tiada pula.

"Kiam-hoat yang bagus!"

Ciok Jing memuji perlahan.

Cepat ia pun menegakkan pedangnya untuk menangkis sehingga kedua batang saling bentur.

Sekali ini diam-diam kedua orang telah mengerahkan segenap Lwekang masing-masing, maka terdengarlah suara "pletak", tahu-tahu pedang yang dipegang Ciok Jing telah patah menjadi dua.

Namun, begitu pedangnya patah saat itu juga dari samping kiri sebatang pedang telah disodorkan.

Dan begitu taman kiri menerima pedang itu, menyusul Ciok Jing lantas menggunakan jurus "Co-yu-hong-goan" (ketemu sasaran di kanan di kiri), pedangnya terus berputar satu kali di depan badannya untuk merintangi serangan susulan pihak lawan.

Di luar dugaan, Pek Ban-kiam lantas mundur setindak malah, katanya.

"Rupanya pedang Ciok-cengcu itulah yang jelek dan mudah patah, sekali-kali bukan kekalahan dalam ilmu pedang. Jikalau Ciok-cengcu memegang pedang hitam sendiri, pedang mestika itu masakah dapat patah?"

Tapi baru selesai berkata, mendadak air mukanya berubah hebat.

Kiranya baru diketahuinya bahwa orang yang berdiri di samping kiri dan telah menyodorkan pedang kepada Ciok Jing itu bukan lain adalah Bin Ju, istri Ciok Jing sendiri.

Sebaliknya ke-12 orang Sutenya sudah menggeletak malang melintang memenuhi lantai.

Kiranya di waktu Pek Ban-kiam mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menempur Ciok Jing, saat itu juga Bin Ju seorang diri sudah merobohkan ke-12 orang murid Swat-sanpay yang mengerubutnya itu.

Luka yang diderita setiap murid Swat-san-pay itu sangat ringan, tapi Bin Ju telah menusuk dengan menyalurkan Lwekangnya melalui batang pedang dan mengenai Hiat-to sasarannya sehingga murid-murid Swat-sanpay yang tertusuk ringan itu lantas menggeletak dan tak berkutik lagi.

Ini adalah suatu kepandaian khas Bin Ju, perangainya memang welas asih dan tidak suka membikin celaka orang lain, sebab itulah ia telah menggunakan ilmu Tiam-hiat di dalam ilmu pedangnya, kelihatannya lawan tertusuk pedang dan roboh, tapi sebenarnya terkena tutukan tenaga dalamnya.

Hanya saja Lwekang Bin Ju belum mencapai tingkatan sempurna, kalau tidak, asal ujung pedangnya mengenai Hiat-to sasarannya sudah cukup merobohkan lawan tanpa melukainya sedikit pun.

Begitulah, sesudah Bin Ju menyodorkan pedangnya kepada sang suami, segera ujung kakinya menyungkit, sebatang pedang milik seorang Swat-san-pay yang terlempar di lantai itu lantas mencelat ke atas dan segera dipegang olehnya serta siap untuk membantu sang suami pada setiap saat.

Melihat itu, Pek Ban-kiam seketika cemas.

Pikirnya.

"Betapa pun aku dan Ciok Jing hanya dapat bertempur dengan sama kuatnya, kalau nyonya Ciok ikut pula di dalam pertempuran dan kejadian tadi terulang lagi, lalu apa yang dapat kuharapkan pula?"

Terpaksa ia berkata.

"Ya, sayang Hong-suko tiada berada di sini, kalau ada, dengan kami berdua tentu akan dapat mengukur tenaga lebih jauh dengan kalian suami-istri. Sekarang kalah dan menang sudah jelas, apa mau dikatakan lagi?"

"Ya, betul, kelak kalau ketemu dengan Hong hwe-sin-liong ...."

Belum selesai ucapannya tiba-tiba teringat olehnya bahwa Hong Ban-li telah terkutung sebelah lengannya disebabkan perbuatan putranya yang bernama Ciok Tiong-giok itu, sekalipun kelak dapat berjumpa juga, tokoh Swat-san-pay itu tidak dapat bertanding pedang lagi, karena itu ucapannya lantas terhenti setengah jalan dan tidak diteruskan.

Melihat wajah Pek Ban-kiam yang merah padam dan perasaannya yang cemas itu, sedangkan Ciok Jing dan Bin Ju juga kelihatan menaruh simpatik kepada lawannya, diam-diam Ciok Boh-thian membatin.

"Ke-12 murid Swat-san-pay itu benar-benar sangat goblok, masakah tiada seorang pun yang mampu membantu Suhengnya dalam permainan ganda melawan Ciok-cengcu suami-istri sehingga pertandingan yang mengasyikkan ini terhenti setengah jalan."

Teringat olehnya rasa sayang Pek Ban-kiam ketika menatap padanya tadi, ia pikir.

"Orang she Pek ini sangat baik padaku, tapi nyonya Ciok itu pun pernah memberi uang padaku. Sekarang mereka ingin bertanding kurang seorang lawan, rupanya ada seorang bernama Hong-suheng apa, tapi orangnya tidak berada di sini sehingga mereka merasa kecewa. Walaupun aku tidak tahu ilmu pedang segala, tapi tadi aku sudah menyaksikan permainan mereka dan sudah hafal, biarlah aku ikut main-main dengan mereka."

Karena pikiran demikian, segera ia berbangkit, ia menirukan caranya Pek Ban-kiam tadi, dengan ujung kaki ia menutuk gagang sebatang pedang yang terlempar di lantai itu, di mana tenaga dalamnya sampai, kontan pedang itu lantas mencelat ke atas dan segera dipegang olehnya.

Lalu katanya dengan tertawa.

"Kalian kurang satu orang dan tidak jadi bertanding, biarlah aku main berganda bersama Pek-suhu!"

Baik Pek Ban-kiam maupun Ciok Jing suami-istri sama-sama terperanjat ketika melihat mendadak Ciok Boh-thian dapat berdiri.

Ban-kiam heran sebab pemuda itu sudah terang ditutuknya beberapa puluh kali pada Hiat-to yang penting, mengapa sekarang bisa bergerak?

Jangan-jangan sesudah merobohkan ke-12 Sutenya tadi Bin Ju telah membuka Hiat-to pemuda itu?

Sebaliknya Ciok Jin dan Bin Ju yakin sesudah pemuda itu ditawan Pek Ban-kiam tentu sudah tertutuk Hiat-to yang paling penting agar tidak dapat lolos, tapi mengapa seenaknya saja sekarang pemuda itu dapat berbangkit?

"Anak Giok ...."

Baru Bin Ju hendak menyapa, mendadak ia hentikan panggilannya dan berpaling kepada sang suami dengan perasaan cemas.

Sebab apakah mendadak Ciok Boh-thian dapat bergerak sendiri?

Padahal dia sudah tertutuk oleh Pek Ban-kiam.

Tadi dia sudah menggeletak lebih dua jam di situ, selama itu Pek Bankiam sibuk memberi petunjuk kepada para Sutenya, kemudian bertanding melawan Ciok Jing suami istri sehingga tidak pernah menambahi tutukannya kepada Hiat-to di tubuh Ciok Bohthian.

Tutukan Pek Ban-kiam itu sebenarnya berkekuatan 12 jam baru dapat punah sendirinya.

Tak terduga Ciok Boh-thian telah memiliki Lwekang yang mahatinggi, walaupun tidak paham cara membuka Hiat-to sendiri yang tertutuk itu, tapi tidak sampai satu jam, tempat-tempat yang tertutuk itu tanpa merasa telah punah sendiri oleh karena tenaga dalamnya yang berjalan sendiri secara kuat itu.

Sudah tentu Ciok Boh-thian tidak tahu bahayanya Hiat-to yang tertutuk itu, juga tidak merasa bingung mengapa Hiat-to tertutuk dapat punah sendiri.

Begitulah mendadak pikiran Pek Ban-kiam tergerak, serunya.

"Mengapa kau ingin main ganda bersama aku? Apakah karena kau hendak mencoba ilmu pedang yang telah kau pelajari selama menjadi murid Swat-san-pay?"

"Tapi aku tidak tahu apakah benar tidak kepandaianku ini,"

Sahut Boh-thian dengan manggut-manggut secara ketololtololan.

"dari itu diharap Pek-suhu dan Ciok-cengcu berdua suka memberi petunjuk."

Habis berkata pedangnya lantas terangkat melintang di depan dada sambil berdiri ke sisi Pek Ban-kiam, gerakan yang digunakan memang benar adalah jurus "Siang-tho-say-lay" (dua unta datang dari barat) dari Swat-san-kiam-hoat.

Untuk sejenak Ciok Jing dan Bin Ju termangu-mangu memandangi Ciok Boh-thian, rasa suka duka dan gemas-malu meliputi perasaan mereka berhadapan dengan putra yang telah sekian tahun tidak pernah bertemu ini.

Perawakan sang putra sekarang sudah tumbuh sekian tingginya dan kekar, walaupun mukanya tampak agak kurus dan letih, tapi tidak memengaruhi sikapnya yang gagah itu.

Lebih-lebih sepasang matanya yang bersinar terang seperti di dalam tubuhnya tersembunyi kekuatan Lwekang yang sangat tinggi.

Sebagai seorang ayah, sebenarnya Ciok Jing merasa malu karena perbuatan putranya yang mencemarkan nama baik Hian-soh-ceng, terutama bila mengingat peraturan-peraturan Bu-lim, maka selama beberapa tahun ini mereka tidak berani muncul di depan umum, sebaliknya cuma menyelidiki jejak sang putra secara diam-diam.

Sekarang sesudah bertemu dengan ayah-bunda, anak durhaka ini sudah tidak memberi sembah hormat, bahkan hendak bertanding ilmu pedang dengan kedua orang tua, melulu hal ini saja sudah meyakinkan bahwa berita-berita yang tersiar di Kangouw tentang kelakuan putranya yang tidak senonoh itu pastilah bukan kabar bohong belaka.

Karena itulah diam-diam Ciok Jing merasa gemas, cuma dia wataknya memang sabar, pula di depan Ban-kiam, maka sedapat mungkin ia menahan perasaannya itu.

Berlainan dengan kasih sayang seorang ibu, dalam pertemuan ini rasa girang karena Bin Ju melebihi rasa gemasnya kepada sang putra.

Mestinya dia mempunyai dua orang putra, yang satu telah dibunuh musuh secara keji, karena itulah kasih sayangnya lantas terpusatkan kepada putra satu-satunya yang masih ada ini.

Tentang perbuatan Ciok Tiong-giok yang tidak senonoh di Leng-siau-sia itu ia telah coba membela diri putranya, ia yakin putranya yang masih muda tidaklah mungkin melakukan hal hal yang durhaka itu, minggatnya Tiong-giok dari Leng-siau-sia boleh jadi karena anaknya merasa dihina atau dianiaya sehingga tidak kerasan tinggal di sana.

Demikian ia berdebat kepada sang suami.

Dalam usaha mencari putranya selama beberapa tahun ini, ia sering mengucurkan air mata, ia khawatir jangan-jangan sudah terkubur di tanah salju di pegunungan Tay-swat-san atau sudah menjadi mangsa binatang buas.

Sekarang putra kesayangan yang sangat dirindukan itu berada di depannya, biarpun dosa anak itu setinggi langit juga sudah diampuni di dalam kasih seorang ibu.

Ia pun tahu putranya itu sejak kecil sudah sangat cerdik dan licin, kalau sekarang anak muda itu menyatakan hendak main berganda bersama Pek Ban-kiam, tentu ada maksud tujuannya yang tertentu.

Ia menjadi khawatir sang suami akan marah dan mendamprat putranya sehingga membikin urusan menjadi runyam, pula ia pun ingin lihat bagaimana ilmu silat yang dipelajari anak muda itu selama sekian tahun, lantas mendahului berkata.

"Baiklah, kita berempat boleh dua-lawandua dan coba-coba kepandaian masing-masing, toh hanya coba-coba saja dan tidak menjadi soal."

Ciok Jing melirik sekejap kepada sang istri sambil manggutmanggut.

Ia menduga maksud yang istri ialah ingin tahu bagaimana ilmu silat putranya itu, pula agar Pek Ban-kiam dapat dikalahkan dengan sukarela setelah main berganda, betapa pun pintarnya Ciok Tiong-giok, dalam usianya yang masih begitu muda juga takkan lebih lihai daripada para paman gurunya yang telah dirobohkan Bin Ju tadi, apalagi anak muda itu pun tidak mungkin membantu Pek Ban-kiam untuk bertempur dengan ayah-ibunya sendiri dengan sungguhsungguh.

Sebaliknya Pek Ban-kiam mempunyai rekaan sendiri.

"Dengan Swat-san-kiam-hoat kau hendak main berganda dengan aku, ini berarti sudah mengaku sendiri sebagai murid Swat-san-pay, maka tak peduli bagaimana dengan hasil pertandingan ini, asal aku tidak terbinasa, bila aku mengeluarkan tanda kebesaran ketua Swat-san-pay, mau tak mau anak muda ini harus ikut aku pulang ke Leng-siau-sia. Kalau Ciok-Jing berdua merintangi, ini berarti mereka telah melanggar peraturan Bulim."

Dengan tekad bulat ia lantas menjawab.

"Apakah ingin dua lawan dua atau tiga lawan satu, memangnya aku adalah jago yang sudah keok, biar bagaimana tentu aku akan ikuti kehendakmu."

Diam-diam ia pun telah ambil keputusan jika dirinya terdesak, sebelum terbinasa sedikitnya ia harus membunuh dulu Ciok Boh-thian.

Melihat ujung pedang yang dipegang Pek Ban-kiam agak tergetar dan mengarah miring ke depan, tapi tidak segera menyerang, maka Boh-thian lantas berkata.

"Jika demikian akulah yang dahulu!"

Dengan ujung pedang yang agak tergetar segera ia membuka serangan, ia menusuk ke bahu kanan Ciok Jing.

Begitu tusukannya dilontarkan, seketika hawa pedang memuncak, tusukan pedang ini tidak terlalu cepat, tapi di mana tenaga dalamnya sampai seketika menjangkitkan suara mendesusnya angin.

Jurus pedangnya adalah Swat-san-kiamhoat, tapi betapa hebat tenaga dalamnya bahkan Pek Ban-kiam bukan tandingannya.

Seketika Ban-kiam, Ciok Jing dan Bin Ju bersuara heran berbareng begitu menyaksikan serangan pembukaan Ciok Bohthian itu.

Semula Ban-kiam memandang hina ketika pemuda itu menjujukan pedangnya ke depan, ia lihat siku pemuda itu terangkat terlalu tinggi, cara memegang pedang juga tidak kuat, kuda-kudanya juga salah dan macam-macam kelemahan lain.

Tapi begitu serangan itu sudah mencapai titik sasarannya, seketika pandangannya yang memandang rendah itu berubah.

Ternyata tenaga dalam yang mengiringi tusukan pedang itu benar-benar tiada taranya, tenaga dalam sekuat ini hanya pernah dilihatnya di kala ayahnya, yaitu Pek Cu-cay alias Witek Siansing bermain pedang.

Namun untuk mengeluarkan tenaga selihai itu juga tidak dapat dilakukan secara sekaligus sebagaimana Ciok Boh-thian sekarang, baru serangan pertama sudah membawa kekuatan yang tak terkira hebatnya.

Tapi segera ia menyaksikan bahwa dugaannya ternyata tidak betul.

Saat itu Ciok Jing telah menangkis serangan Boh-thian, mendadak "krek"

Sekali, pedang yang dipegang Ciok Jing telah patah menjadi dua bagian, yang patah itu sampai mencelat dan menancap di dinding.

Ciok Jing sendiri merasa genggaman panas pedas, lengan pegal, hampir-hampir gagang pedang yang masih terpegang itu pun terlepas dari cekalannya.

Walaupun gemas kepada putra durhaka itu, tapi seorang jago silat bila ketemukan jago yang pandai tanpa merasa lantas timbul perasaan kagumnya, maka secara otomatis tercetus juga pujiannya.

"Bagus!"

Sebaliknya Boh-thian lantas berseru kaget melihat pedang Ciok Jing patah, segera ia tarik kembali pedangnya dengan wajah yang menunjukkan rasa menyesal dan sayang pula.

Di bawah sinar lilin yang remang-remang air muka Boh-thian itu dapat juga oleh Ciok Jing dan Bin Ju, diam-diam terkilas rasa hangat dalam hati mereka.

"Nyata, betapa pun anak Giok masih tetap seorang anak yang berbakti."

Ciok Jing lantas membuang pedang yang patah dan kembali menggunakan ujung kaki untuk mencukit sebatang pedang yang lain. Lalu katanya.

"Jangan khawatir terimalah serangan ini!"

Dan "sret", segera ia balas menusuk ke paha kiri Ciok Boh-thian.

Bagaimanapun Boh-thian tidak pernah belajar ilmu pedang secara resmi mesti tenaga dalamnya sangat kuat dan dapat digunakan di waktu menyerang, tapi bila diserang oleh seorang jago sebagai Ciok Jing, tentu saja ia kelabakan dan bingung untuk menangkisnya, syukur ia dapat berpikir cepat, dengan kaku ia melintangkan pedangnya untuk menangkis dalam jurus "Jong-siong kheng-khek" (pohon siong menyambut tamu).

Namun sedikit miringkan pedangnya tahu-tahu ujung pedang Ciok Jing sudah menyambar lewat dan mencapai pahanya.

Coba kalau lawannya ini bukan putra kesayangannya tentu paha anak muda itu sudah ditebasnya terkutung menjadi dua.

Sebab itulah pada titik terakhir mendadak ia tahan pedangnya.

Walau demikian Bin Ju juga sudah terkejut dan telah berseru khawatir.

"Jangan, Engkoh Jing!"

Waktu Boh-thian memandang paha kanan sendiri, ternyata lengan celananya sudah terobek satu jalur, untung tidak terluka. Dengan agak malu-malu ia berkata dengan tertawa.

"Banyak terima kasih atas kemurahan hatimu. Ilmu pedangmu ternyata jauh lebih pandai daripadaku!"

Apa yang diucapkan Ciok Boh-thian ini adalah timbul dari hatinya yang tulus, tapi bagi pendengaran Pek Ban-kiam katakata itu menjadi sangat menusuk perasaannya. Pikirnya.

"Kau menyatakan ilmu pedang ayahmu jauh lebih tinggi daripada ilmu pedangmu, bukankah hal itu berarti kau telah sengaja menilai rendah Swat-san-kiam-hoat sendiri? Dasar kau bocah ini memang licin dan licik dan sengaja membikin ayahmu mendapat nama harum. Pendek kata hari ini kalau aku Pek Ban-kiam masih dapat bernapas, tentu aku tidak rela dihina oleh kalian sekeluarga ini."

Di sebelah sana Ciok Jing juga mengerut kening dan berpikir.

"Adik Ju selalu menyangsikan anak Giok pasti dicemooh dan dihina dalam perguruannya, tapi aku selalu anggap Pek Cu-cay, Pek-locianpwe adalah seorang tokoh yang jujur, Hong Ban-li juga seorang pendekar budiman, kalau dia sudah menerima anakku sebagai murid, tentu dia akan memberi pelajaran sebagaimana mestinya dan tidak nanti menghinanya malah, Tapi kalau melihat dua jurus yang dimainkannya barusan, walaupun caranya betul, tapi banyak lubang kelemahannya, mana boleh dipakai dalam gelanggang pertempuran? Tampaknya dia memang tiada mendapat kepandaian apa-apa di Leng-siau-sia. Kalau melihat tenaga dalamnya yang sangat kuat tadi agaknya toh tiada sangkut pautnya dengan kepandaian pihak Swat-san-pay, bahkan Wi-tek Siansing sendiri belum tentu memiliki Lwekang sehebat ini. Ya, tentu anak Giok mempunyai pengalaman aneh tertentu, untuk ini aku harus menyelidikinya sampai terang agar kelak dapat dipakai sebagai bahan pembelaan bagi kesalahan anak Giok."

Setelah ambil ketetapan itu, lalu ia berkata.

"Mari, mari, kita tidak perlu main sungkan-sungkan, bertandinglah sebagaimana mestinya saja!"

Segera pedangnya bergerak, ia mendahului menusuk ke arah Pek Ban-kiam.

Cepat Ban-kiam menangkis dan kontan balas menyerang satu kali.

Maka serangan Bin Ju lantas beralih juga kepada Ciok Boh-thian, dengan perlahan-lahan ia menusuk ke dada anak muda itu.

Ia sengaja menyerang dengan perlahan, maksudnya supaya anak muda itu tidak kelabakan dan susah menangkisnya.

Melihat serangan itu, Boh-thian menjadi teringat kepada kebaikan Bin Ju waktu memberi persen padanya di Hau-kamcip tempo dulu, tanpa merasa ia tertawa mengangguk kepada Bin Ju sebagai tanda hormat dan terima kasih, habis itu barulah ia angkat pedangnya untuk menangkis.

Karena kelakuan Boh-thian itu, Bin Ju menyangka anak muda itu sedang memberi salam hormat kepada sang ibu, ia menjadi lebih girang, segera ia tarik kembali pedangnya, lalu menebas ke pinggang Boh-thian.

Untuk beberapa detik Boh-thian berpikir dengan jurus apa dia harus menangkisnya, akhirnya ia lantas mengeluarkan sejurus Swat-san-kiam-hoat untuk menahan serangan Bin Ju itu.

Melihat kepandaian sang putra sangat dangkal, gerakannya juga lamban, diam-diam Bin Ju menyesalkan jago-jago Swatsan-pay yang mengaku ilmu pedangnya tiada bandingannya itu ternyata cara demikian mendidik muridnya sebagai putraku ini.

Segera ia ganti serangan lagi, ia menusuk bahu kiri Boh-thian, ia tunggu sesudah anak muda itu ingat cara bagaimana menangkis barulah dia menusuk sungguh-sungguh, kalau seketika Boh-thian belum mampu menangkis, maka ia lantas menunggu pula.

Sudah tentu cara demikian bukan lagi bertanding, bahkan lebih sabar dan lebih sayang daripada seorang guru yang sedang mengajar muridnya.

Belasan jurus kemudian, lambat laun Boh-thian mulai percaya kepada dirinya sendiri, permainan pedangnya telah bertambah cepat.

Diam-diam Bin Ju bergirang, setiap kali kalau jurus yang digunakan Boh-thian cukup bagus, ia lantas mengangguk sebagai tanda memuji.

Di sebelah lain untuk ketiga kalinya Ciok Jing bertempur melawan Pek Ban-kiam lagi.

Terhadap keunggulan dan kelemahan masing-masing kedua orang sudah sama-sama tahu, maka sekarang mereka menjadi lebih hati-hati dan tidak berani lena sedikit pun, mereka mencurahkan segenap perhatian dalam pertandingan ulangan ini sehingga tidak ambil pusing kepada apa yang terjadi di sekitar mereka, Sebab itulah tentang cara bagaimana Bin Ju bertempur melawan Ciok Bohthian, apakah mereka bertempur sungguh-sungguh atau purapura, siapa yang menang dan siapa yang kalah, sama sekali tak dihiraukan lagi oleh Ban-kiam dan Ciok Jing, sebab siapa saja sedikit ayal tentu akan membawa akibat bagi dirinya sendiri, kalau tidak mati tentu juga terluka parah.

Sebaliknya di waktu Bin Ju seakan-akan sedang mengajar ilmu pedang kepada Ciok Boh-thian itu, dia mempunyai banyak kesempatan untuk melihat pertarungan sengit sang suami melawan Pek Ban-kiam.

Didengarnya suara napas sang suami sangat panjang, terang tenaga dalamnya masih sangat kuat, andaikan tidak menang juga tak akan kalah.

Biasanya sang suami jarang ketemukan seorang lawan yang tangguh, sekarang telah bertemu dengan lawan yang sama kuatnya, kesempatan ini biarlah digunakan oleh sang suami untuk bertempur dengan sepuasnya.

Dalam pada itu sejurus demi sejurus Boh-thian sudah selesai memainkan ke-72 jurus Swat-san-kiam-hoat.

Maka Bin Ju lantas menurutkan jalan tadi untuk memancing Boh-thian mengulangi sekali lagi ilmu pedang Swat-san-pay itu.

Dasar pembawaan Boh-thian memangnya sangat pintar, tenaga dalamnya sangat kuat pula, maka percobaan ulangan ini sudah jauh berbeda daripada pertama tadi, sekarang dalam bertahan ia dapat menyerang juga, gerak-geriknya juga jauh lebih cepat.

Ketika ulangan ke-72 jurus Swat-san-kiam-hoat ini sudah hampir habis, Bin Ju melihat pertarungan sang suami melawan Pek Ban-kiam itu masih tetap sama kuatnya, diam-diam ia merancang.

"Selesai gebrakan ini aku harus membantunya dan tidak perlu berayal-ayalan lagi dengan orang she Pek itu, yang penting bawa pergi saja anak Giok."

Maka waktu Ciok Boh-thian menusuknya lagi segera ia menangkis terus balas menyerang, ia menduga cara menangkis serangannya ini sudah dipahami Boh-thian, tentu dengan mudah akan dapat dilakukan anak muda itu.

Tak tersangka pada saat itu juga mendadak keadaan menjadi gelap gulita, kiranya lilin yang tersulut di dalam kelenteng itu sudah habis dan mendadak padam.

Dalam pada itu tusukan Bin Ju itu sudah di lontarkan, begitu api lilin padam segera ia pun menarik kembali serangannya.

Tak terduga Ciok-Boh-thian sama sekali tiada punya pengalaman bertempur, ketika keadaan mendadak gelap gulita, bukannya mundur, sebaliknya ia malah melangkah maju ke depan dengan maksud hendak mendekati Bin Ju untuk mengajak bicara dan akan mengaturkan terima kasihnya atas kebaikan nyonya cantik itu.

Dan karena mendekatnya itu kebetulan tubuhnya seakan-akan disodorkan ke ujung pedang Bin Ju, segera Bi Ju merasa senjatanya kena menusuk sesuatu, dalam kagetnya cepat ia tarik pedangnya dan lempar ke belakang, lalu ia pegang pundak Ciok Boh-thian dalam kegelapan itu sambil bertanya dengan khawatir.

"Ai, apakah kau terluka Di manakah lukanya? Parah atau tidak?"

"Aku ... aku ...."

Berulang-ulang Boh-thian terbatuk-batuk dan sukar berbicara lagi.

Cepat Bin Ju menyalakan geretan api, maka tertampaklah dada Ciok Boh-thian penuh berlumuran darah.

Mestinya Bin Ju adalah orang yang tenang, tapi sekarang ia menjadi tertegun bingung, ia menoleh dan tanya kepada sang suami.

"Engkoh Jing, ba ... bagaimana ini?"

Dalam kegelapan Ciok Jing dan Pek Ban-kiam masih terus bertempur berdasarkan suara sambaran senjata lawan.

Ketika Bin Ju menyalakan api dan berseru khawatir, Ciok Jing telah melirik sekejap dan melihat Ciok Boh-thian roboh terluka, sang istri tampak sangat khawatir dan cemas, betapa pun adalah hubungan ayah dan anak, mau tak mau Ciok Jing merasa gelisah juga.

Dan karena sedikit ayal itulah Ban-kiam telah menggunakan kesempatan itu dengan baik, pedangnya secepat kilat sudah menusuk ke ulu hati Ciok Jing, serangan kilat yang mengancam tempat mematikan ini ketika disadari Ciok Jing namun sudah terlambat, untuk menangkis sudah tidak keburu lagi.

Tapi Ban-kiam tidak meneruskan tusukannya, ketika ujung pedang tinggal dua tiga senti di depan dada sasarannya segera ia tahan senjatanya itu.

Sebagai seorang ahli Ciok Jing tahu apa maksud Pek Ban-kiam itu.

Tadi Bin Ju juga telah mengancam jiwanya, tapi tidak jadi diteruskan dan jiwanya diampuni maka sekarang Ban-kiam juga ingin membayar kembali mengampuni jiwanya, sehingga kedua belah pihak tidak mempunyai utang piutang apa-apa lagi.

Karena khawatirkan luka putranya, Ciok Jing tidak sempat memikirkan soal kalah-menang atau terhina tidak, segera ia mendekati Boh-thian dan memeriksa lukanya.

Dilihatnya darah terus mengucur dari dada anak muda dengan perlahan, nyata lukanya tidak terlalu parah.

Baru saja Ciok Jing dan Bin Ju merasa lega karena luka yang tidak berbahaya itu, sekonyongkonyong sebatang pedang telah mengancam di tenggorokan Ciok Boh-thian.

Waktu mereka berpaling, kiranya yang memegang pedang itu adalah Pek Ban-kiam.

"Putramu telah menghina dan menyebabkan kematian putriku, sakit hati ini tidak boleh tidak dibalas,"

Demikian kata Ban-kiam dengan nada dingin.

"Jika kalian membiarkan dia kubawa pulang Leng-siau-sia, paling sedikit dia masih bisa hidup buat dua bulan lamanya, tapi kalau kalian tetap berkeras hendak merampasnya, maka sekali tusuk segera kucabut nyawanya."

Ciok Jing saling pandang dengan Bin Ju.

Ngeri juga Bin Ju membayangkan kematian putra kesayangannya, ia kenal Bankiam sebagai seorang tokoh persilatan yang berani berkata berani berbuat, kalau sampai putranya betul-betul ditusuk mati maka tiada gunanya lagi andaikan nanti mereka suami-istri dapat juga membunuh Pek Ban-kiam.

Rupanya Ciok Jing juga mempunyai pikiran yang sama dengan sang istri, ia memberi isyarat kepada Bin Ju sambil memegang tangannya lalu bersama-sama melompat ke pekarangan kelenteng.

Bin Ju menoleh dan memandang sekejap lagi kepada Ciok Boh-thian yang menggeletak di atas lantai itu dengan sorot mata penuh kasih sayang seorang ibu.

Dan hanya sekejap itu saja geretan api yang dia nyalakan itu pun sudah padam, keadaan di dalam kelenteng kembali gelap gulita pula.

Dari suara tindakan Ciok Jing suami-istri Ban-kiam mengetahui mereka sudah pergi jauh, ia yakin kedua orang itu pasti tidak rela putranya dibawa pergi begitu saja, dalam perjalanan pulang ke Leng-siau-sia ini tentu akan banyak rintanganrintangan bukan saja dari pihak Tiang-liok-pang bahkan juga dari Ciok Jing berdua.

Bila membayangkan pertarungan tadi sungguh Ban-kiam merasa untung sekali, coba kalau api lilin itu tidak kebetulan habis dan padam, tentu bocah she Ciok ini sudah direbut oleh ayah ibunya, bahkan dirinya terhina habis-habisan boleh jadi jiwa bisa melayang pula.

Sesudah tenangkan diri, kemudian Ban-kiam coba mencari batu ketikan api pada tubuh salah seorang Sutenya, perbekalannya sendiri telah dia titipkan kepada Houyan Bansian ketika dia hendak menuju ke sarang Tiang-lok-pang.

Waktu api sudah diketik menyala, baru saja dia hendak mencari sebatang lilin, mendadak ia melongo kaget, ternyata Ciok Boh-thian yang menggeletak di sebelahnya tadi sekarang sudah lenyap.

Di samping kaget Pek Ban-kiam menjadi merinding pula, yang terpikir olehnya ialah ada setan.

Sebab kalau bukan setan atau badan halus tentu tidak mungkin Ciok-Boh-thian lenyap dalam sekejap saja.

Tanpa pikir ia membuang kertas api yang sudah menyala itu, dengan pedang terhunus ia lantas berlari keluar kelenteng.

Di luar keadaan sunyi senyap, di sekitar situ tiada suatu bayangan seorang pun, yang terdengar hanya suara jangkrik dan serangga-serangga malam belaka.

Semula Ban-kiam berpikir ada setan, tapi segera disadarinya, bahwa di sekitar situ tentu ada tokoh kosen yang sedang mengintip, dia sedang mencari batu api.

Kesempatan itu digunakan oleh orang kosen untuk menolong Ciok Boh-thian.

Segera ia melompat ke atas rumah dan memandang sekelilingnya, hanya di jurusan tenggara sana ada segerombolan semak-semak pohon yang dapat dibuat sembunyi, segera ia melompat turun dan memburu ke tepi hutan itu, bentaknya.

"Kenapa mesti main sembunyi-sembunyi, kalau laki-laki sejati, hayolah keluar bertempur sampai titik terakhir."

Tapi sudah ditunggu sekian lamanya keadaan di dalam hutan tetap tiada sesuatu jawaban apa-apa, dasar kepandaiannya tinggi dan nyalinya besar, tanpa pikir lagi Ban-kiam lantas menerjang ke dalam hutan.

Tapi di dalam hutan keadaan juga sepi dan kosong, hanya angin meniup silir-silir dan suara keresek jatuhnya daun-daun kering.

Seketika rasa takabur Pek Ban-kiam lantas lenyap.

Pertempuran tadi sudah membuatnya tidak berani lagi memandang enteng kepada kesatria-kesatria di jagat ini, sekarang ia lebih-lebih merasa di luar langit ini masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai.

Lapat-lapat timbul juga perasaan cemasnya, teringat kematian putrinya yang mengenaskan, tanpa terasa ia menjadi berduka.

Ia menghela napas panjang dan putar kembali ke dalam kelenteng Toapekong tadi.

Ia menyalakan api lagi dan menyulut sebatang lilin, lalu menolong para Sutenya yang ditutuk oleh Bin Ju tadi.

Tapi ia menjadi kaget pula.

Bab 17.

Tidak Ajar-Jangan Lari-Tidak Ampun Tiba-tiba Ban-kiam tercengang kaget lagi.

Ternyata di pipi kiri Houyan Ban-sian, Bun Ban-hu dan lain-lain masing-masing terdapat bekas tamparan yang jelas, kelihatan bekas lima jari tangan.

Bekas tamparan itu hitam gosong dan melekuk beberapa mili dalamnya.

"Sia siapa ... siapa? Siapakah yang memukul kalian ini? Ka ... kapan terjadinya?"

Demikian Ban-kiam bertanya dengan suara terputus-putus.

Dilihat dari bekas tamparan yang kecil itu, agaknya adalah tangan kaum wanita.

Biasanya Pek Ban-kiam jarang menjelajahi Tionggoan, tapi sering ia mendengar cerita dari ayahnya tentang kejadian-kejadian yang menarik di dunia persilatan, walau pengalamannya sedikit, tapi pengetahuannya cukup luas.

Ia lihat bekas tamparan yang berwarna hitam gosong itu bukan bekas pukulan Hek-sah-ciang atau Thiat-sah-ciang (pukulan pasir hitam dan pasir besi), sebab kalau kedua macam pukulan itu tentu yang terkena sudah binasa sejak tadi, tapi sekarang para Sutenya itu hanya ringan saja lukanya, bahkan terdengar Houyan Ban-sian dapat berteriak-teriak.

"Setan alas, aku sama sekali tidak tahu siapakah yang menggampar diriku!"

"Keparat, merunduk orang secara diam-diam, babi ...."

Demikian Bun Ban-hu juga mencaci maki.

Ternyata tiada seorang pun yang tahu siapa yang telah menyerang mereka secara menggelap itu.

Yang jelas ketika Ban-kiam berlari ke luar kelenteng dengan pedang terhunus tadi, mendadak pipi seorang lantas kena ditampar orang, menyusul seorang lagi juga kena digampar, yang dipukul belakangan tidak mendengar suara tamparan yang dipukul lebih dulu, sebaliknya yang terpukul dahulu karena sedang meringis kesakitan sehingga tidak mendengar kawan di sebelahnya juga kena pukulan, kemudian Ban-kiam masuk kembali dan menyalakan lilin barulah mereka mengetahui semua kawannya rata-rata telah diserang orang.

Tadinya mereka menyangka dirinya sendiri saja yang mengalami nasib sial.

Ban-kiam termenung-menung tanpa memberi komentar apaapa, ia menduga orang yang menolong Ciok Boh-thian dan yang menyerang para Sutenya itu tentu terdiri dari satu orang yang sama.

Terang sesudah menolong Ciok Boh-thian orang itu masih bersembunyi di dalam kelenteng, ketika dirinya mengejar keluar, lalu, dengan sebebasnya ia menggampar para Sutenya setiap orang satu kali, habis itu barulah Ciok Boh-thian dibawa pergi.

Orang itu dapat memukul tanpa mengeluarkan suara, yang digunakan adalah tenaga dalam yang lunak, kepandaiannya dan kecerdikannya terang bukan orang sembarangan, Ban-kiam menjadi ngeri membayangkannya.

Kiranya lukanya tidaklah parah karena dia sendiri yang menumbuk ujung pedangnya Bin Ju, rasanya juga tidak terlalu sakit.

Ketika Ciok Jing dan Bin Ju dipaksa pergi, keadaan di dalam kelenteng lantas gelap gulita, tiba-tiba ia merasa mulutnya didekap sebuah tangan, lalu badannya diseret orang dengan perlahan-lahan dan akhirnya sampai di kolong meja sembahyang.

Tidak lama kemudian terasa pula orang itu mengempitnya terus membawanya lari keluar kelenteng, tidak terlalu lama lalu melompat ke atas sebuah perahu, menyusul ada orang menyalakan pelita.

Waktu Boh-thian membuka mata, tertampak orang berada di sampingnya dengan memegang pelita itu tak-lain-tak-bukan adalah si Ting Tong.

"Hai, Ting-ting Tong-tong, kiranya kau yang telah membawa aku ke sini?"

Seru Boh-thian dengan girang. Tapi mulut Ting Tong tampak mencibir, omelnya malah.

"Babi mampus kau, masakah siapa yang membawa kau ke sini juga tidak tahu. Yaya yang telah menyelamatkan kau, tahu?"

Boh-thian menoleh, dilihatnya Ting Put-sam berada di haluan perahu dengan duduk berpangku dengkul sedang memandang ke udara, sedikit pun tidak menggubris padanya. Maka ia lantas menyapa.

"Yaya untuk ... untuk apakah membawa aku ke sini?"

"A Tong,"

Tiba-tiba Ting Put-sam mendengus tanpa menggubris Boh-thian.

"orang ini adalah orang sinting, buat apa kau menjadi istrinya? Toh kau belum tidur bersama dia, sebelum telanjur lebih baik kau bunuh dia saja."

"Tidak, tidak!"

Sahut Ting Tong dengan gugup.

"Engkoh Thian telah menderita sakit keras sehingga banyak kejadian-kejadian di masa lampau terlupa olehnya. Lambat laun dia tentu akan sehat kembali. Engkoh Thian, coba kuperiksa lukamu."

Dengan hati-hati Ting Tong lantas membuka baju Ciok Bohthian, dengan saputangan ia mengusap darah di sekitar luka itu, lalu membubuhkan obat luka, akhirnya ia menyobek ujung baju sendiri untuk membalut luka di dada anak muda itu.

"Terima kasih, Ting-ting Tong-tong!"

Kata Boh-thian.

"Eh, apakah tadi kau dan Yaya sembunyi di kolong meja sana? Haha, sungguh sangat menarik main sembunyi-sembunyian begitu!"

"Jiwamu sendiri hampir amblas masih bilang sangat menarik segala?"

Semprot Ting-Tong.

"Pertarungan sengit antara ayahibumu melawan orang she Pek itu sungguh membikin hatiku ikut berdebar-debar."

"Ayah-ibuku?"

Boh-thian menegas dengan heran.

"Kau bilang tuan yang berbaju hitam mulus itu adalah ayahku? Tapi wanita cantik itu bukanlah ibuku ... ibuku tidak demikian mukanya, tidak secantik nyonya tadi."

Ting Tong menghela napas, katanya kemudian.

"Engkoh Thian, sakitmu itu benar-benar telah membikin susah padamu, sampai-sampai ayah ibunya sendiri pun sudah terlupa. Kulihat caramu memainkan ke-72 jurus Swat-san-kiam-hoat itu pun sangat kaku dan belum hafal betul, jangan-jangan sampai ilmu silatnya sendiri juga kau lupakan sama sekali? Ai, mana boleh jadi begini."

Kiranya sudah Ciok Boh-thian ditawan dan dilarikan oleh Pek Ban-kiam, segera Ting Put-sam dan Ting Tong mengejarnya sepanjang jalan.

Kejadian-kejadian Pek Ban-kiam memberi petunjuk ilmu pedang kepada para Sutenya dan kedatangan Ciok Jing suami-istri ke dalam kelenteng lalu bertempur, semua itu dapat disaksikan oleh Ting Put-sam dan si Ting Tong.

Waktu Ting Put-sam berhasil menolong Ciok Boh-thian, Ting Tong juga tidak mau tinggal diam, ia mengeluarkan ilmu pukulan keluarga Ting yang ternama dan memberi persen satu kali tamparan pada tiap-tiap murid Swat-san-pay.

Terhadap Pek Ban-kiam rupanya si Ting Tong benar-benar jeri, maka sebelum tokoh Swat-san-pay itu masuk kembali ke dalam kelenteng ia sudah lantas kabur lebih dulu menyusul kakeknya.

Begitulah maka Boh-thian telah menjawab dengan heran.

"Kau bilang ilmu silat? Ilmu silat apa? Sama sekali aku tidak bisa ilmu silat. Apa yang kalian bicarakan aku pun tidak paham."

Mendadak Ting Put-sam berdiri, katanya dengan suara bengis.

"A Tong, apa barangkali pikiranmu sudah butek atau bebal, makanya menyukai seorang bocah tolol dan sinting seperti dia ini? Biarlah sekali hantam kumampuskan dia saja. Pendek kata kau tidak perlu khawatir, kakek tanggung jawab untuk mencarikan seseorang kesatria muda yang gagah, tampan dan serbapandai untuk menjadi suamimu."

"Aku .... aku tak mau, aku tidak inginkan kesatria muda lain yang tampan dan pintar apa segala,"

Jawab Ting Tong dengan terguguk-guguk dan air mata berlinang-linang.

"Dia ... dia toh bukan orang sinting, hanya saja karena ... karena dia habis sakit keras, mungkin pikirannya belum jernih kembali."

"Belum jernih apa?"

Bentak Ting Put-sam dengan gusar.

"Siapa saja yang menyaksikan kelakuannya yang memuakkan di dalam kelenteng itu pasti meledak dadanya saking gusarnya dan gemasnya. Coba bayangkan, caranya bergerak yang ngular-kambang seperti anak kecil yang baru belajar, setiap jurus selalu salah dan kaku, banyak lubang kelemahannya, hehe, sudah terang orang telah menarik kembali pedangnya, tapi anak gebleg ini justru menumbukkan badannya sendiri dan baru puas kalau sudah terluka. Hm, manusia goblok seperti begini ada lebih baik kumampuskan saja daripada kelak dibunuh orang lain. Jangan-jangan akan tersiar di kalangan Kangouw bahwa cucu menantu Ting Put-sam telah dibunuh orang, kan aku yang malu. Maka, ada lebih baik dimampuskan sekarang saja, harus dibunuh."

Ting Tong hanya menggigit bibir dan terdiam.

Ia kenal watak sang kakek, kalau beliau sudah berkata demikian, maka pasti akan dilakukannya demikian pula, percuma saja untuk berdebat atau membantah pendiriannya itu.

Sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Yaya, habis cara bagaimanakah supaya engkau tak jadi membunuhnya?"

"Ha, mengapa aku tidak jadi membunuhnya! Aku harus, ya, harus membunuhnya supaya tidak membikin malu,"

Kata Ting Put-sam dengan marah-marah.

"Bila orang mendengar Ting Put-sam telah membunuh cucu menantunya sendiri, hal ini tidaklah mengherankan, tapi kalau terdengar kabar tentang cucu menantunya Ting Put-sam dibunuh orang, lantas apa tindakanku? "

Apa tindakanmu? Tentunya membalaskan sakit hatinya!"

Kata Ting Tong.

"Hahahaha! Kau bilang aku akan membalaskan sakit hati seorang goblok sebagai dia? Haha, kau anggap kakekmu ini orang macam apa? "

Habis bagaimana, kan salahnya kakek sendiri?"

Sahut Ting Tong sambil menangis.

"Engkau yang suruh aku menikah dengan dia, secara resmi dia adalah suamiku, kalau engkau membunuhnya, bukankah aku akan menjadi janda?"

Ting Put-sam menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya kemudian.

"Tatkala itu aku telah menjajal dia dan merasa Lwekangnya sangat tinggi dan memenuhi syarat untuk menjadi cucu menantuku, siapa tahu dia ternyata seorang sinting. Jika kau berkeras tidak memperbolehkan aku membunuhnya, hal ini boleh juga asal kau memenuhi sesuatu syaratku."

Ting Tong menjadi girang karena ada harapan menyelamatkan sang suami, segera ia bertanya.

"Syarat apa? Lekas katakan, lekas!"

"Sudah kukatakan dia adalah seorang sinting dan harus dibunuh, tapi kau bilang dia tidak sinting dan jangan dibunuh. Untuk ini, baiklah, aku memberi batas waktu 10 hari agar dia pergi mencari dan bertanding dengan Pek Ban-kiam itu, dia harus membunuh atau mengalahkan orang she Pek yang bergelar ‘Gi-han-se-pak’ itu barulah aku dapat mengampuni jiwanya dan mengizinkan dia menjadi suamimu yang sungguhsungguh."

Ting Tong menarik napas panjang mendengar syarat sang kakek itu.

Ia pikir ilmu pedang orang she Pek itu sedemikian lihainya, hal ini telah disaksikan sendiri oleh mereka kakek dan cucu berdua.

Boh-thian sendiri baru saja sembuh dari sakit keras, sekarang terluka pula, di dalam sepuluh hari ini cara bagaimana dia dapat berlatih dan mengalahkan seorang ahli pedang sebagai Pek Ban-kiam?

Dengan cemas kemudian Ting Tong berkata.

"Yaya, syaratmu ini sudah terang sukar dilaksanakan."

"Apakah sukar dilaksanakan atau mudah dilakukan, pendek kata bila dia tidak mampu mengalahkan Pek Ban-kiam, segera sekali hantam kumampuskan dia,"

Sahut Ting Put-sam dengan tegas.

Ting Tong menjadi sedih, ia coba berpaling kepada Boh-thian, tertampak anak muda itu acuh-tak-acuh saja, seperti apa yang dipercakapkan antara Ting Tong dan kakeknya itu sama sekali tiada sangkut paut dengan kepentingannya.

Dengan gemas Ting Tong coba mengisiki Boh-thian.

"Engkoh Thian, Yaya memberi tempo dalam waktu sepuluh hari supaya kau mengalahkan Pek Ban-kiam itu, bagaimana, apakah kau sanggup?"

"Mengalahkan Pek Ban-kiam? Haya, mana bisa, ilmu pedangnya teramat lihai, siapa pun bukan tandingannya, apalagi diriku?"

Sahut Boh-thian dengan melenggong.

"Ya, tapi kakek bilang bila kau tidak mampu mengalahkan dia, maka kau yang akan dibunuh oleh kakek,"

Kata Ting Tong.

"He, he, orang tidak apa-apa mengapa hendak dibunuh?"

Sahut Boh-thian dengan tertawa.

"Ah, kakek hanya berkelakar saja dengan kau, masakah kau anggap sungguh-sungguh? Kakek adalah orang baik dan bukan orang jahat, masakah dia akan ... akan membunuh aku?"

Ting Tong menghela napas panjang, pikirnya.

"Engkoh Thian benar-benar agak sinting tampaknya, segala apa selalu anginanginan. Jalan paling baik sekarang ialah menyanggupi dulu syarat kakek tadi, di dalam sepuluh hari semoga dapat diperoleh sesuatu akal dan kesempatan agar Engkoh Thian bisa melarikan diri dengan selamat."

Karena itu ia lantas berkata pada Ting Put-sam.

"Baiklah, kakek, aku terima syaratmu, di dalam sepuluh hari akan kuminta dia pergi mencari dan mengalahkan Pek Ban-kiam."

"Ya, sekarang kakek sudah merasa lapar, lekas pergi menanak nasi,"

Sahut Ting Put-sam dengan tertawa dingin.

"Biarlah kukatakan padamu, pertama tidak ajar, kedua jangan lari, ketiga tidak ampun. Tidak ajar ialah kakek sekali-kali takkan mengajarkan ilmu silat kepada seorang sinting. Jangan lari ialah supaya kau jangan sekali-kali bermaksud melepaskan dia untuk melarikan diri, asal kakek mengetahui dia bermaksud lari, di dalam waktu singkat tentu aku dapat menemukan dia dan membinasakan dia lebih cepat daripada waktu sepuluh hari. Tentang tidak ampun, sudah cukup jelas, tidak perlu kukatakan lagi."

"Jika engkau mengatakan dia seorang sinting, maka biarpun engkau mengajarkan ilmu silat padanya juga dia takkan bisa, buat apa mesti menyatakan tidak akan mengajar ilmu silat padanya?"

Ujar Ting Tong.

"Kau tidak perlu memancing aku,"

Sahut Ting Put-sam dengan tersenyum.

"Padahal, andaikan kakek mau mengajarkan dia, di dalam waktu sepuluh hari juga tidak mungkin dia mampu mengalahkan Pek Ban-kiam? Huh, biarpun 10 tahun mendidik dia juga percuma saja."

Mendadak pikiran Ting Tong tergerak, katanya.

"Baik, kakek tidak mau mengajar dia, biar aku saja yang mengajarnya mengalahkan Pek Ban-kiam? Huh, biarpun sepuluh tahun mendidik dia juga percuma saja."

Tatkala itu perahu mereka itu sudah di pasang layarnya dan mendapat angin buritan sedang berlayar ke hulu sungai melawan arus.

Cuaca sudah mulai terang, fajar telah menyingsing, tapi di permukaan sungai penuh kabut melulu.

"A Tong kau tidak mau masak, apakah kau sengaja membikin kakek mati kelaparan?"

Kata Ting Put-sam dengan gusar.

"Engkau hendak membunuh suamiku, lebih baik aku membikin kau mati kelaparan dulu,"

Sahut Ting Tong.

"Budak setan yang kurang ajar! Hayo, lekas menanak nasi,"

Semprot Ting Put-sam pula. Tapi Ting Tong tidak menggubris sang kakek lagi, ia berkata kepada Ciok Boh-thian.

"Engkoh Thian, biarlah aku mengajarkan semacam kepandaian padamu, tanggung di dalam 10 hari saja pasti dapat mengalahkan Pek Ban-kiam itu."

"Huh ngaco-belo! Sedangkan aku saja tidak mampu mengajarkan dia secepat itu, masakah kau si budak cilik ini mampu?"

Omel Ting Put-sam.

Begitulah kakek dan cucu itu terus bertengkar mulut, padahal di dalam hati si Ting Tong sangat gelisah dan sedih, ia tidak tahu cara bagaimana supaya bisa membujuk sang kakek agar tidak jadi membunuh Ciok Boh-thian.

Ia kenal watak kakeknya yang aneh, biar memohon dengan sangat juga tiada gunanya, jalan satu-satunya harus mencari suatu akal yang licin sehingga orang tua itu mau menarik kembali keputusan secara sukarela.

Pikir Ting Tong.

"Kalau aku tidak memasak baginya, bila sudah lapar terpaksa dia akan menyuruh perahu ini berlabuh dan mendarat untuk membeli makanan, kesempatan itu akan dapat digunakan oleh Engkoh Thian untuk melarikan diri."

Tak tersangka ketika melihat Ting Put-sam bermuka masam dan menyatakan kelaparan, Ciok Boh-thian yang merasa dirinya juga sudah lapar dengan tiba-tiba ia terus berbangkit dan berkata.

"Biarlah aku menanakkan nasi bagimu?"

Dasar anak muda ini memang seorang berhati polos, ternyata sama sekali ia tidak paham maksud tujuannya Ting Tong. Keruan anak dara itu menjadi gusar, serunya.

"Kau baru saja terluka, kalau bekerja sehingga membikin lukamu tambah parah, lantas bagaimana?"

"Obat luka keluarga Ting kita adalah obat mujarab, sekali dibubuhkan lantas sembuh, pula lukanya tidak berat, kenapa mesti khawatir?"

Demikian kata Ting Put-sam.

"Ya, anak baik, lekas pergi menanak nasi untuk kakek."

"Dia menanak nasi untukmu, lalu kau masih akan membunuhnya atau tidak?"

Tanya Ting Tong.

"Menanak nasi adalah menanak nasi, membunuh orang tetap membunuh orang, kedua hal yang berlainan mana boleh dicampuradukkan?"

Sahut Ting Put-sam.

Nyata ia tetap bertekad harus membunuh Ciok Boh-thian menurut batas waktu yang telah ditetapkan.

Waktu Boh-thian meraba dadanya sendiri, ternyata tidak terlalu sakit lagi.

Segera ia menuju ke buritan perahu untuk mencuci beras dan menanak nasi.

Ia melihat seorang tukang perahu tua sedang memegang kemudi dan duduk di buritan, terhadap pembicaraan mereka bertiga tadi seperti tidak ambil pusing sama sekali.

Dalam hal menanak nasi dan memasak daharan enak adalah kepandaian khas Boh-thian, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama ia sudah selesai menanak sebakul nasi yang hangat-hangat, dan sekejap juga sudah selesai menggoreng dua ekor ikan yang berbau sedap.

Sambil makan Ting Put-sam sambil memuji, katanya.

"Jika kepandaian ilmu silatmu ada setengahnya kepandaian memasak seperti ini tentulah kakek tidak akan membunuh kau. Tapi sayang, sungguh sayang. Coba kalau tempo hari kau tidak menikah dengan A Tong, tapi hanya menjadi kokiku saja, jangankan membunuh kau, andaikan orang lain yang akan membunuh kau juga kakek akan membela kau malah."

Dalam pada itu si Ting Tong telah mengisi semangkuk nasi dan mengambil setengah ekor ikan goreng dan dibawa ke buritan untuk si tukang perahu.

Selesai makan, Boh-thian dan Ting Tong bersama-sama mencuci mangkuk dan piring di buritan perahu.

Melihat sang kakek duduk di haluan perahu, dengan suara berbisik Ting Tong lantas berkata.

"Sebentar aku akan mengajarkan sejurus Kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) padamu, hendaklah kau mempelajarinya dengan baik-baik."

"Sesudah mempelajarinya apakah akan digunakan untuk bertanding dengan Pek-suhu itu?"

Tanya Boh-thian.

"Ai, apakah engkau benar-benar-orang sinting? O, Engkoh Thian, dahulu ... dahulu engkau toh tidak seperti ini,"

Kata Ting Tong.

"Dahulu bagaimana keadaanku?"

Tanya Boh-thian. Muka Ting Tong menjadi bersemu merah, sahutnya kemudian.

"Dahulu bila kau bertemu dengan aku, mulutmu sungguh lebih manis daripada madu, kau banyak bergurau sehingga membikin hatiku alangkah senangnya. Apa yang kau katakan selalu di luar dugaan dan sangat mencocoki seleraku. Tapi sekarang ... sekarang engkau telah berubah."

"Ya, memangnya aku bukan kau punya Engkoh Thian itu,"

Sahut Boh-thian dengan menghela napas.

"Dia pandai membikin senang hatimu, tapi aku tidak dapat. Maka ada lebih baik kau mencari dia saja."

"O, Engkoh Thian, apakah kau marah padaku?"

Tanya si anak dara dengan suara setengah meratap.

"Aku mana bisa marah, aku hanya bicara dengan sesungguhnya padamu, tapi kau selalu tidak mau percaya,"

Ujar Boh-thian sambil menggeleng. Sambil memandang air sungai yang membanjir lewat di sisi perahu, Ting Tong menggumam sendiri.

"Ai, entah kapan barulah dia akan pulih kembali seperti dahulu kala."

Ia termenung-menung sejenak sehingga tanpa terasa sebuah mangkuk yang dipegangnya itu kecemplung ke dalam sungai dan hanyut ke dalam arus.

"Ting-ting Tong-tong betapa pun aku tak dapat berubah menjadi kau punya Engkoh Thian itu, apabila aku selamanya sin ... sinting seperti ini, maka selamanya pula kau takkan suka padaku bukan?"

"Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!"

Jerit Ting Tong dengan suara tertahan, pedih hatinya seperti disayat-sayat.

Saking kesalnya tiba-tiba ia pegang sebuah mangkuk dan dilemparkan pula ke dalam sungai, dan begitu pula berturut-turut diulangi sampai dua-tiga kali.

"Apabila mulutku pandai bicara dan dapat mencerocos terus untuk menyenangkan dirimu, maka aku pun suka untuk berbuat demikian bagimu,"

Kata Boh-thian.

"Namun aku be ... benar-benar bukanlah kau punya Engkoh Thian itu, biar bagaimanapun juga aku tidak dapat menirukan dia."

A Tong coba mengamat-amati pemuda itu, tatkala mana sang surya baru saja muncul di ufuk timur sehingga muka Ciok Bohthian kelihatan terang kemerah-merahan, kedua matanya bersinar tajam, air mukanya tampak bersikap sangat tulus dan jujur.

Kembali Ting Tong menghela napas, lalu katanya.

"Jikalau engkau bukanlah aku punya Engkoh Thian, mengapa di pundakmu terdapat bekas luka gigitanku? Mengapa engkau juga mempunyai sifat bangor yang sama, suka menggoda wanita dan mempermainkan nona Hoa dari Swat-san-pay itu? Bila engkau adalah aku punya Engkoh Thian, mengapa mendadak kau berubah menjadi angin-anginan seperti orang hilang ingatan, sama sekali kau tidak menarik dan romantis lagi seperti dahulu?"

"Aku adalah suamimu, bukankah ada lebih baik aku berlaku jujur dan setia padamu?"

Ujar Boh-thian dengan tertawa.

"Tidak, aku lebih suka engkau selincah dan senakal dahulu, apakah kau akan menggoda anak perawan orang lain atau akan mencolong istri orang, pendek kata aku tidak suka kau berlaku sekaku demikian,"

Kata Ting Tong.

"Mencolong istri orang? Ha, mana boleh jadi? Kalau aku mencuri istri orang lain, kan orang akan kehilangan istri?"

Ujar Boh-thian.

Ting Tong menjadi kurang senang, ia pikir makin diajak bicara makin ruwet, dasar goblok.

Saking gemasnya mendadak ia menjewer kuping Ciok Boh-thian terus dipelintir sekuatnya, sampai-sampai pangkal telinga itu berdarah.

Keruan Boh-thian meringis kesakitan dan tanpa pikir menyampuk dengan tangannya.

Seketika Ting Tong merasa lengannya diketuk oleh suatu tenaga yang mahakuat, tanpa kuasa tangannya lantas terlepas, bahkan tubuhnya sampai tersentak ke belakang dan hampirhampir mematahkan tiang layar yang ditumbuknya.

Ia menjerit kaget dan memaki.

"Setan, apa kau hendak mengajar istrimu? Kenapa pakai tenaga begitu besar?"

"Ai, maaf, maaf, aku ... aku tidak sengaja,"

Sahut Boh-thian cepat.

Waktu Ting Tong periksa lengan sendiri, ternyata sudah matang biru di tempat yang tersampuk itu.

Tiba-tiba wajahnya yang uring-uringan tadi berubah menjadi girang, ia memegang kedua tangan Ciok Boh-thian dan digoyang-goyangkan, katanya.

"Engkoh Thian, kiranya kau memang sengaja purapura saja untuk menipu aku."

"Pura-pura apa?"

Sahut Boh-thian dengan bingung.

"Ilmu silatmu kan sama sekali tidak berkurang?"

Ting Tong menegas.

"Aku ... aku tidak paham ilmu silat apa segala,"

Sahut Bohthian. Ting Tong menjadi marah lagi, omelnya.

"Kau sengaja ngacobelo lagi, lihatlah kalau aku mau gubris padamu."

Habis berkata, segera ia hendak menampar pipi kiri Boh-thian.

Cepat Boh-thian mengegos dan hendak menangkis.

Tapi ilmu pukulan si Ting Tong adalah sedemikian cepatnya, dengan sendirinya tangkisan Boh-thian itu mengenai tempat kosong, tahu-tahu pipinya terasa kesakitan, secara tidak bersuara sudah kena dipukul oleh Ting Tong.

Kembali Ting Tong menjerit kaget, bahkan mengandung rasa khawatir yang melebihi tadi.

Kiranya ia menyangka ilmu silat Ciok Boh-thian belum punah dan dengan sendirinya akan dapat menghindarkan tamparannya itu dengan gampang, sebab itulah pukulannya itu telah menggunakan tenaga lunak yang berbisa dingin.

Maklum, setiap pukulan kalau tidak membawa tenaga dalam tentu akan kurang cepat dan gesit.

Siapa duga cara menangkis Ciok Boh-thian ternyata sedemikian lamban dan bodoh, seakan-akan seorang yang sama sekali tidak paham ilmu silat, keruan tamparannya dengan tepat lantas mengenai pipinya.

Sambil memegangi tangan sendiri yang digunakan menampar itu, Ting Tong melihat di pipi kiri Boh-thian sudah terdapat cap tangan berwarna hitam dan gosong melekuk.

Ia menjadi menyesal dan malu pula, ia merangkul pinggang Boh-thian dan menempelkan pipi sendiri ke pipi anak muda itu, katanya sambil menangis.

"O, Engkoh Thian, sungguh aku tidak tahu bahwa sebenarnya keadaanmu belum pulih kembali seluruhnya."

Ada wanita cantik di dalam pelukan, Ciok Boh-thian menjadi lupa kepada pipinya yang sakit, katanya dengan menghela napas.

"Ting-ting Tong-tong, sebenarnya apa sebabnya kau sebentar senang dan sebentar marah? Sungguh aku tidak paham."

"O, bagai ... bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya?"

Kata Ting Tong. Segera ia melepaskan diri dari pelukan Boh-thian, ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang sebutir obat pil serta suruh Boh-thian meminumnya, katanya.

"Semoga takkan meninggalkan bekas di atas pipimu itu."

Begitulah kedua muda-mudi itu duduk saling bersandar di buritan perahu, untuk sesaat keduanya sama-sama diam saja. Selang agak lama, tiba-tiba Ting Tong membisiki Boh-thian.

"Engkoh Thian, sesudah kau menderita sakit keras, rupanya ilmu silatmu telah kau lupakan semua, tapi tenaga dalamnya tidaklah terlupa. Biarlah aku mengajarkan ilmu Kim-na-jiu-hoat itu padamu."

"Jika kau mau mengajar padaku, tentu aku akan mempelajarinya,"

Sahut Boh-thian.

Dengan jarinya yang halus lentik perlahan-lahan Ting Tong meraba lekuk cap tangan bekas tamparannya tadi di pipi anak muda itu, sungguh rasa menyesalnya tak terhingga.

Mendadak ia mencium sekali pipi Boh-thian di tempat cap tangan itu.

Seketika kedua muda-mudi sama-sama merah jengah.

Untuk menutupi perasaan malunya, cepat Ting Tong berdiri, ia membetulkan rambutnya, lalu memainkan ke-18 jurus Kim-najiu-hoat dan diikuti oleh Boh-thian dengan cermat.

Selesai ia memain, lalu Boh-thian disuruhnya bergebrak dengan dia.

Dasar bakat Boh-thian memang amat tinggi, otaknya juga cerdas, hanya satu kali diberi contoh saja ia sudah ingat dengan baik.

Dengan cepat tiga hari telah lalu, sementara itu ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat itu sudah terlatih sangat hafal oleh Ciok Bohthian.

Meski Kim-na-jiu-hoat itu hanya meliputi 18 jurus saja, tapi tiap-tiap jurus di antaranya membawa perubahan yang tak terbatas, ada yang belasan macam, ada yang membawa berpuluh macam perubahan ikutan, semuanya sangat ruwet dan bagus.

Di dalam tiga hari sementara luka di dada Boh-thian sudah hampir sembuh seluruhnya, maka sepanjang hari dia hanya mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari ilmu Kim-na-jiuhoat menurut ajaran si Ting Tong.

Ting Put-sam hanya menyaksikan kelakuan kedua muda-mudi itu dengan acuh tak acuh, terkadang ia pun suka mengejek dan menyindir.

Perahu mereka yang berlayar ke hulu itu perlahan-lahan telah sampai di tempat yang sunyi dan jauh dari rumah penduduk.

Melihat kemajuan Ciok Boh-thian yang sangat pesat itu, diamdiam si Ting Tong sangat senang.

Suatu kali waktu mendengar kakeknya mengejek Boh-thian sebagai orang sinting lagi, kontan ia lantas berkata.

"Yaya, ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat keluarga Ting kita ini kalau disuruh belajar seorang sinting harus makan waktu berapa lamanya untuk bisa dipahami benar-benar?"

Ting Put-sam menjadi bungkam dan tak bisa menjawab.

Ia menyaksikan sendiri Ciok Boh-thian telah dapat mempelajari Kim-na-jiu-hoat itu dengan baik, jika demikian sesungguhnya anak muda ini bukan seorang tolol, apalagi sinting.

Tapi mengapa kelakuannya dan kata-katanya seperti orang miring?

Apakah dia pura-pura saja, memang benar telah melupakan segala kejadian di masa lampau lantaran sakit keras yang pernah dideritanya?

Dasar watak Ting Put-sam memang kukuh dan tidak mau kalah, terhadap cucu perempuannya itu ia pun tidak mau kalah berdebat, segera ia menjawab secara pokrol bambu.

"Ada juga orang sinting yang pintar, ada pula orang sinting yang goblok, orang sinting yang pintar sudah tentu akan cepat dan hanya setengah hari saja sudah paham diberi ajaran sesuatu, kalau orang sinting yang tolol adalah seperti suamimu itu, harus tiga hari baru bisa."

"Yaya, dahulu waktu engkau mempelajari Kim-na-jiu-hoat keluarga kita ini memerlukan waktu beberapa hari?"

Tanya Ting Tong sambil tertawa.

"Masakah aku perlu belajar sampai beberapa hari? Dahulu moyangmu hanya mengajarkan satu kali saja padaku, tidak sampai setengah hari juga Yaya lantas paham seluruhnya,"

Sahut Ting Put-sam.

"Haha, jika demikian, kiranya Yaya adalah seorang sinting yang pintar,"

Kata Ting Tong dengan tertawa. Karena terpegang kelemahan ucapannya tadi, dari malu Ting Put-sam menjadi gusar, dengan mendelik ia membentak.

"Hus, budak setan, omong tak keruan!"

Pada saat itulah tiba-tiba ada sebuah perahu sedang mengejar tiba dari sungai sana.

Perahu itu memasang layar, dikayuh empat orang pula, badan perahu kecil, meluncurnya menjadi enteng dan cepat, maka makin lama makin mendekati perahu yang ditumpangi Ting Put-sam ini.

Di hulu perahu itu tampak berdiri dua orang lelaki, seorang di antaranya sedang berteriak.

"Hai, bocah she Ciok itu apakah berada di dalam perahu di depan itu? Lekas berhenti! Lekas berhenti!"

Ting Tong hanya mendengus sekali saja, katanya.

"Yaya, rupanya orang Swat-san-pay sedang mencari Engkoh Thian pula."

"Itulah paling baik,"

Sahut Ting Put-sam dengan senang.

"Biarkan si sinting ini ditangkap mereka untuk dicincang, dengan demikian barulah terkabul cita-cita kakek."

"Yang akan ditangkap si sinting yang pintar atau si sinting yang tolol?"

Tanya Ting Tong.

"Sudah tentu si sinting yang tolol yang akan ditangkap, siapa sih yang berani menangkap si sinting yang pintar,"

Sahut Ting Put-sam.

"Ya, memang ilmu silat si sinting yang pintar ini sedemikian lihainya, siapa yang berani mengganggu seujung rambutnya?"

Ujar Ting Tong dengan tersenyum. Ting Put-sam tertegun, segera ia sadar ucapannya yang kasar tadi, bentaknya dengan gusar.

"Budak alas, kau berani putar kayun dan memaki kakekmu?"

Tengah bicara, sementara itu perahu kecil tadi sudah makin mendekat.

Ting Put-sam dan Ting Tong duduk di dalam hanggar perahu, dengan tenang mereka mengikuti apa yang akan terjadi.

Maka terdengarlah kedua lelaki yang berdiri di haluan perahu sana sedang membentak dengan marah-marah.

"Hai, orang itu, tampaknya kau adalah bocah dari she Ciok dari Tiang-lokpang itu, mengapa kau tidak lekas menghentikan perahumu?"

Boh-thian menjadi gugup, serunya kepada si Ting Tong.

"He, Ting-ting Tong-tong, ada orang mengejar tiba, kau bilang apa yang harus kulakukan?"

"Dari mana aku tahu apa yang harus kau lakukan? Kau seorang laki-laki dewasa, masakah sedikit pun tidak dapat mengambil sesuatu keputusan?"

Sahut Ting Tong.

Pada saat itulah perahu kecil tadi sudah berada kira-kira dua meter jauhnya, sambil menggertak kedua lelaki itu lantas melompat ke buritan perahu yang ditumpangi Ciok Boh-thian, kedua orang sama-sama menghunus pedang.

Boh-thian mengenali kedua orang itu adalah murid-murid Swat-san-pay yang pernah dilihatnya di dalam kelenteng tempo hari itu.

Pikirnya.

"Entah apa kesalahanku, mengapa orang-orang Swat-san-pay ini selalu mengincar diriku saja, ke mana aku pergi selalu diuber-uber?"

Bab 18. Pertama Kali Melukai Orang, Menyesalnya Tak Terhingga Dalam pada itu.

"sret"

Pedang salah seorang lelaki Swat-sanpay menusuk ke bahunya.

Dalam beberapa hari ini Boh-thian terus-menerus berlatih dengan si Ting Tong, kadang-kadang kalau dia bergerak sedikit lambat tentu kena ditempeleng atau disikut oleh anak dara itu, sudah banyak pahit getir yang telah dirasakan maka gerakgeriknya sekarang sudah jauh lebih cepat dan gesit daripada waktu bertanding melawan Ciok Jing suami-istri di dalam kelenteng tempo hari.

Ketika melihat serangan musuh tiba, tanpa pikir lagi ia lantas menggunakan jurus kedelapan dari Kim-na-jiu-hoat yang disebut "Hong-bwe-jiu" (tangkapan ekor angin), tangan kanan memutar ke atas, orangnya mendesak maju, kontan pergelangan tangan lawan dipegang terus dipuntir.

Waktu orang itu menjerit kesakitan dan melepaskan senjatanya, berbareng Ciok Boh-thian lantas mengangkat sikutnya.

"plok" , tepat janggut orang itu kena disikut, tanpa ampun lagi janggut orang itu pecah, darah bercucuran dan gigi rontok belasan biji, semuanya termuntah di geladak perahu. Sama sekali Boh-thian tidak menduga bahwa jurus "Hong-bwejiu"

Itu akan membawa hasil yang sedemikian lihainya, ia menjadi terlongong-longong sendiri dengan hati berdebardebar.

Orang Swat-san-pay yang kedua mestinya hendak maju membantu sang kawan untuk mengeroyok Ciok Boh-thian, tapi hanya dalam sekejap saja dilihatnya sang Suheng yang menyerang lebih dulu itu sudah terluka parah, padahal ilmu silat Suhengnya jauh lebih tinggi daripadanya, andaikan ia ikut maju juga pasti akan mengalami nasib yang sama, terpaksa ia tidak berani main garang lagi, paling penting menolong sang Suheng lebih dulu, segera ia melompat maju dan memondong sang Suheng.

Saat itu kebetulan perahunya yang kecil itu sedang meluncur sejajar dengan perahu besar yang ditumpangi Ciok Boh-thian, sambil membawa Suhengnya yang terluka segera ia melompat kembali ke perahunya sendiri dan memerintahkan tukang perahu menurunkan layar dan membelokkan haluan, maka dalam sekejap saja kedua kendaraan air itu sudah berpisah jauh, perahu kecil itu telah meluncur kembali ke hilir.

Ciok Boh-thian masih terkesiap dan merasa menyesal sambil memandangi belasan biji gigi dan darah yang berceceran di geladak kapalnya.

Dalam pada itu Ting Tong telah keluar dari hanggar perahu dan mendekati anak muda itu, katanya dengan tersenyum.

"Engkoh Thian, jurus ‘Hong-bwe-jiu’ yang kau mainkan barusan sungguh sangat bagus dan tepat."

"Ai, mengapa sebelumnya kau tidak menerangkan padaku bahwa jurus ini sedemikian hebatnya bila mengenai lawan, tahu begini tentu aku tidak mau mempelajarinya,"

Sahut Bohthian sambil menggeleng-geleng. Perasaan Ting Tong menjadi sedih pula, ia pikir penyakit si sinting ini kembali kumat lagi, bicaranya telah melantur tak keruan. Katanya kemudian.

"Jika sudah belajar ilmu silat, sudah tentu lebih lihai akan lebih baik. Coba kalau tadi jurus Hong-bwe-jiu yang aku mainkan itu tidak bagus dan tepat, tentu bahumu sendiri sekarang sudah tertembus oleh pedangnya. Pendek kata dalam hal ilmu silat hanya ada dua pilihan, melukai orang atau dilukai orang. Nah, coba kau ingin pilih yang mana? Padahal hanya membikin rontok belasan biji gigi juga cuma luka yang ringan saja, pertarungan di dunia persilatan setiap saat ada kemungkinan jiwa akan terancam. Kau memang berhati nurani baik, sebaliknya pihak lawan berhati jahat, jika kau tadi sudah terbunuh, biarpun hatimu lebih baik seratus kali juga tidak guna."

Boh-thian termangu-mangu tak bicara, akhirnya ia menggumam.

"Paling baik kalau kau mengajarkan semacam kepandaian padaku, kepandaian yang tidak dapat melukai atau membunuh orang, sebaliknya juga tidak mungkin dapat dilukai atau dibunuh orang. Dengan demikian kepada siapa pun kita akan berkawan saja dan takkan bermusuhan."

"Omong kosong, ngaco-belo belaka,"

Sahut Ting Tong dengan tersenyum getir.

"Setiap orang yang belajar silat, sekali sudah bergebrak tentu berarti mengadu jiwa. Memangnya kau sangka cuma permainan anak kecil saja?"

"Aku lebih suka permainan anak kecil daripada berkelahi dan mengadu jiwa,"

Ujar Boh-thian.

"Dasar orang linglung, sialan bagi mereka yang bicara dengan kau,"

Omel Ting Tong dengan mendongkol. Saking jengkelnya ia tidak gubris lagi pada anak muda itu, ia masuk ke dalam hanggar perahu dan merebahkan diri.

"Nah, apa kataku? Betul tidak buktinya? Sekali sinting tetap sinting. Ilmu silatnya tinggi tetap seorang sinting, ilmu silatnya jelek juga tetap sinting. Bukankah lebih baik dibunuh saja daripada membikin mangkel belaka,"

Demikian Ting Put-sam membubui.

Diam-diam Ting Tong bergerak juga perasaannya, ia merasa bila Engkoh Thian itu selalu linglung begini, cara bagaimana dirinya dapat hidup didampingnya selama hidup ini?

Daripada tersiksa lahir batin, memang ada lebih baik dibunuh saja seperti anjuran kakek dan segala urusan menjadi beres.

Tapi segera terpikir pula olehnya pada masa sebelum Engkoh Thian jatuh sakit, tatkala mana entah betapa banyak katanya yang menarik dan manis sebagai madu, biarpun tak berkata apa-apa, asal dia memandang sekejap saja pada dirinya, maka rasanya pandangan itu pun penuh mengandung kata-kata yang merayu kalbu dan memabukkan.

Siapa duga sesudah berpisah, kekasih yang dirindukan itu lantas jatuh sakit, kekasih yang pintar dan ganteng itu lantas berubah menjadi seorang linglung dan ketololan sebagai tonggak kayu.

Makin dipikir makin kesal sehingga air matanya bercucuran, akhirnya ia membenamkan kepalanya ke dalam selimut dan menangis sesenggukan.

"Apa gunanya menangis? Dengan menangis toh takkan dapat mengubah seorang tolol menjadi pintar,"

Jengek Ting Put-sam.

"Kalau aku mengubah seorang sinting yang tolol menjadi seorang sinting yang pintar, boleh tidak?"

Sahut Ting Tong dengan sengit.

"Ngaco-belo lagi!"

Semprot Ting Put-sam. Ting Tong masih terus menangis, pikirnya.

"Kalau melihat sikap dan tutur kata nona Hoa dari Swat-san-pay itu, tampaknya dia toh belum diganggu oleh Engkoh Thian, jika demikian, sifat kebangoran Engkoh Thian terhadap kaum wanita sekarang sudah berubah, terang dia tidak mirip seorang laki-laki sejati pula. Bila aku menikah dengan seorang suami yang kaku dan tolol sedemikian, lalu apakah aku bisa hidup bahagia?"

Begitulah ia terus menangis sampai setengah harian, terpikir olehnya dirinya secara resmi sudah menjadi istri orang, selama beberapa hari ini mereka selalu bergaul dengan rapat, di waktu tidur mereka pun selalu berdampingan, tapi jangankan hidup layak sebagai suami-istri, sedangkan mencium saja, bahkan memegang tangan atau kakinya saja tidak pernah dilakukan pemuda itu.

Hidup sedemikian masakah mirip suami-istri yang baru saja kawin?

Dalam pada itu terdengar suara mendengkur Ciok Boh-thian yang lelap di buritan perahu, pemuda itu sedang bermimpi di alamnya sendiri, seketika Ting Tong menjadi naik darah, diamdiam ia mengeluarkan goloknya, pikirnya dengan mengertak gigi.

"Suami yang tolol sebagai tonggak kayu demikian apa gunanya dibiarkan hidup di dunia ini?"

Segera ia bangun dan menuju ke buritan perahu, terdengar suara mendengkur si tukang perahu yang keras, Ciok Bohthian yang tidur tidak di sebelah tukang perahu itu ternyata tidak berasa sama sekali, diam-diam Ting Tong mendongkol, katanya di dalam hati.

"Engkoh Thian, kau sendirilah yang telah berubah dan jangan salahkan aku berlaku kejam."

Ia angkat goloknya dan hendak membacok ke leher pemuda itu.

Tapi mendadak hatinya menjadi lemas, ia tertegun sejenak, kemudian ia berjongkok dan perlahan-lahan menarik pundak Ciok Boh-thian dengan maksud memandangnya untuk penghabisan kalinya sebelum ajal pemuda itu.

Ketika Boh-thian membalik tubuh, di bawah sinar bulan yang remang-remang tertampak mukanya bersenyum simpul, entah impian manis apa yang sedang dialaminya.

Kata Ting Tong di dalam hati.

"Sebentar lagi kau akan mati, biarkan kau menyelesaikan impianmu dahulu barulah akan kubunuh kau, toh hanya dalam waktu tidak lama lagi kita akan berpisah untuk selamanya."

Maka Ting Tong lantas duduk menunggu di samping Ciok Bohthian, ia pandang muka pemuda itu, asal senyuman yang tersimpul di muka pemuda itu sudah lenyap, segera goloknya akan membacok.

Selang sejenak, tiba-tiba terdengar Ciok Boh-thian berkata dalam keadaan tak sadar.

"He, Ting-ting Ting-tong, sebab ... sebab apakah kau marah? Tapi ... tapi di waktu marah kau menjadi ... menjadi lebih-lebih cantik, ya, lebih cantik, biarkan aku memandang kau selama seratus hari seratus malam juga tidak cukup rasanya, bahkan seribu hari, selaksa hari, sejuta juga ... juga tidak cukup ...."

Dengan tenang Ting Tong mendengarkan igauan Ciok Bohthian, pikirannya menjadi terombang-ambing, katanya di dalam hati.

"O, Engkoh Thian, kiranya di dalam mimpi kau selalu terkenang padaku. Ucapanmu yang enak didengar ini jika kau katakan padaku di waktu siang bukankah sangat baik? Ai, semoga penyakitmu yang linglung ini pada suatu hari akan lenyap, pikiran sehatmu akan pulih kembali dan dapat mengucapkan kata-kata manis seperti ini kepadaku."

Tertampak olehnya papan perahu di sebelahnya agak basah terkena air embun, baju yang dipakai Ciok Boh-thian agak tipis, seketika timbul rasa kasih sayang si Ting Tong, segera ia ambil sehelai selimut dan perlahan-perlahan diselimutkan ke atas badan pemuda itu.

Untuk sekian lamanya ia termangu-mangu pula memandangi muka sang suami, habis itu barulah dia masuk kembali ke dalam kamar perahu.

Tiba-tiba terdengar Ting Put-sam mengomel.

"Tengah malam buta di dalam perahu ini ada seekor tikus kecil yang gentayangan kian kemari, sudah kecil nyalinya, mau turun tangan tidak berani lagi, huh, tiada berguna!"

Ting Tong tahu kelakuannya tadi telah diketahui semua oleh sang kakek, tapi karena dia sedang senang hatinya, maka sindiran orang tua itu sama sekali tak diambil pusing olehnya.

Di dalam hatinya hanya teringat ucapan Ciok Boh-thian tadi yang menyatakan.

"Di waktu marah kau menjadi lebih-lebih cantik, biarpun kupandang selama sejuta hari juga tidak cukup."

Mendadak Ting Tong tertawa sendiri, katanya dalam hati.

"Engkoh Thian ini memang linglung, sampai di waktu mimpi juga tidak keruan ucapannya. Andaikan manusia dapat hidup seratus tahun juga cuma ada 36 laksa hari, dari mana bisa mencapai sejuta hari lamanya?"

Begitulah si Ting Tong telah sibuk semalam suntuk dengan sebentar senang dan sebentar sedih, sampai menjelang pagi barulah dia dapat terpulas.

Tapi tidak lama ia sudah terjaga bangun lagi oleh suara ribut Ciok Boh-thian, terdengar pemuda itu sedang berteriak-teriak di belakang.

"He, sungguh aneh ini! Oi, Ting-ting Tong-tong, mengapa tadi malam selimutmu bisa lari sendiri ke atas badanku? Apa barangkali selimutmu punya kaki?"

Ting Tong menjadi malu, cepat ia melompat bangun dan memburu ke buritan perahu, terdengar Ciok Boh-thian sedang berkata pula sambil memegangi selimutnya.

"Ting-ting Tongtong, coba lihat, aneh atau tidak? Selimut ini ...."

Sebelum pemuda itu selesai berkata si Ting Tong sudah lantas merebut kembali selimut itu sambil membentak dengan suara tertahan.

"Hus, omong yang bukan-bukan, selimut berkaki kenapa mesti diherankan dan digegerkan?"

"Ada selimut berkaki kau bilang tidak mengherankan? Di manakah letak kakinya selimut?"

Boh-thian menegas.

Sekilas Ting Tong melihat si tukang perahu yang sudah tua itu dengan tersenyum-tak-senyum sedang melirik kepada dirinya sambil mendayung, Ting Tong menjadi merah jengah mukanya, omelnya kepada Ciok Boh-thian.

"Mengoceh tak keruan!"

Berbareng ia terus hendak menjewer kuping pemuda itu.

Tapi tangan kanan Boh-thian lantas menangkis, secara otomatis ia mengeluarkan sejurus Kim-na-jiu-hoat untuk membela.

Waktu Ting Tong menggunakan tangan lain hendak mencengkeram iga Boh-thian, segera Boh-thian menggunakan siku kiri untuk menahan serangan, berbareng tangan lain digunakan untuk balas mencengkeram pundak si nona.

Begitulah dalam sekejap saja kedua muda-mudi itu telah bergebrak sampai belasan jurus.

Makin lama makin cepat serangan si Ting Tong, tapi Ciok Boh-thian juga melayani dengan penuh perhatian, sedikit pun tidak ayal.

Sampai jurus ke-45, Ting Tong telah menggunakan gerakan "Liong-hing-jiau" (cakar naga melayang) untuk mencengkeram kepala Ciok Boh-thian, tapi pemuda itu sempat menangkis dengan cepat luar biasa, rupanya Ting Tong tidak keburu menarik kembali tangannya sehingga Hiat-to bagian pergelangan tangan kena tersabet oleh jari Boh-thian, seketika lengannya terasa kaku pegal, suatu arus tenaga hangat terasa menyalur dari lengannya terus ke pinggang, lalu dari pinggang mengalir ke kaki.

Karena tak bisa berdiri tegak lagi, Ting Tong jatuh terkulai dan kebetulan jatuh di atas selimutnya.

Tiba-tiba timbul kejahilan Boh-thian yang bersifat kekanakkanakan, segera ia membungkus si Ting Tong dengan selimut itu, lalu diangkatnya, katanya dengan tertawa.

"Hayo, kenapa kau menjewer kupingku? Biar kulemparkan kau ke dalam sungai untuk umpan ikan."

Walaupun berpisah oleh sehelai selimut, tapi seluruh badan si Ting Tong menjadi lemas lunglai di dalam pondongan si anak muda, dengan malu dan girang ia menjawab.

"Kau berani?"

"Mengapa tidak berani?"

Kata Boh-thian dengan tertawa.

Lalu ia bergerak pura-pura hendak melemparkan si Ting Tong ke sungai.

Tapi segera ia melemparkan tubuh si nona yang terbungkus selimut itu dengan perlahan ke dalam hanggar perahu.

Dengan cepat Ting Tong menerobos keluar dari bungkusan selimut, lalu berlari ke buritan perahu lagi.

Khawatir kalau diserang pula, cepat Boh-thian mundur selangkah sambil pasang kuda-kuda dan siap bertempur.

"Sudahlah, tak mau main lagi,"

Kata Ting Tong dengan tertawa.

"Melihat lagakmu ini lebih mirip seorang dusun, sedikit pun tidak memperlihatkan gaya sebagai seorang jago di dalam dunia persilatan."

"Memangnya aku bukan jagoan dalam dunia persilatan,"

Sahut Boh-thian dengan tertawa.

"Kionghi, Kionghi, Kim-na-jiu-hoat yang kau pelajari ini sekarang sudah terlatih dengan sangat bagus, bahkan lebih lihai daripadaku, si murid telah melebihi sang guru,"

Kata Ting Tong. Tiba-tiba terdengar Ting Put-sam berkata dengan nada mengejek di dalam hanggar perahu.

"Tapi untuk bertanding dengan jago Swat-san-pay yang bernama Pek Ban-kiam itu, hah, selisihnya paling sedikit masih tiga pal jauhnya."

"Yaya,"

Kata Ting Tong.

"sedemikian cepat majunya cara dia belajar, asal Yaya mau mengajar setahun atau setengah tahun padanya, biarpun nanti bukan jago yang tiada tandingannya di jagat ini, tapi paling sedikit juga dia takkan membikin malu sebagai cucu menantumu."

"Tidak, apa yang telah diucapkan Ting Put-sam apakah pernah ditarik kembali atau diubah?"

Sahut sang kakek.

"Pertama aku sudah menyatakan, bila dia ingin ambil kau sebagai istri, maka selamanya jangan mengharap belajar ilmu silatku. Kedua, aku memberi waktu sepuluh hari padanya untuk mengalahkan Pek Ban-kiam, aku toh tidak mengatakan setahun atau setengah tahun. Padahal lewat lima hari lagi jiwanya juga bakal melayang, tiada gunanya bicara melantur-lantur lagi."

Ting Tong merasa ngeri membayangkan apa yang dikatakan sang kakek itu selamanya pasti dilakukan.

Kalau kemarin ia bermaksud membunuh Ciok Boh-thian dengan tangan sendiri, tapi sekarang ia benar-benar keberatan kalau Engkoh Thian yang dikasihi itu terbinasa di tangan sang kakek.

Ia menjadi bingung.

Setelah dipikir bolak-balik, akhirnya Ting Tong mengambil keputusan harus mencari jalan keluar melalui ke-13 jurus Kimna-jiu-hoat yang telah dipahami Ciok Boh-thian.

Maka dalam beberapa hari ini, selain makan dan tidur, Ting Tong selalu bergebrak dan berlatih dengan sang suami mengenai aneka macam perubahan dari Kim-na-jiu-hoat itu.

Sampai akhirnya Boh-thian benar-benar sudah paham dan hafal, biarpun tidak dengan tenaga dalam yang kuat juga sudah mampu serangmenyerang dengan Ting Tong dengan sama sekuatnya.

Sampai pagi hari kedelapan, sesudah berdehem sekali, Ting Put-sam telah berkata.

"Awas, tinggal tiga hari saja."

"Yaya,"

Kata Ting Tong.

"kau suruh dia mengalahkan Pek Ban kiam, menurut pandanganku hal ini toh bukan sesuatu yang sukar. Biarpun ilmu pedang Pek Ban-kiam dari Swat-san-pay itu cukup lihai, tapi juga masih bukan tandingan ilmu silat keluarga Ting kita, Kim-na-jiu-hoat yang dilatih Engkoh Thian ini sudah cukup masak, tenaga dalamnya bahkan sangat hebat, melulu dengan bertangan kosong saja dia sudah dapat merebut pedang dari tangannya Pek Ban-kiam. Kalau dia dapat merebut senjata lawan dengan tangan kosong, hal ini dianggap kemenangan atau tidak?"

"Huh, budak setan, bicara seenaknya saja,"

Jengek Ting Putsam.

"Hanya dengan sedikit kepandaiannya ini dia mampu merebut pedang dari tangannya Gi-han-se-pak yang tersohor itu? Ha, lebih baik kau jangan mimpi di siang bolong. Sekalipun kakekmu sendiri dengan bertangan kosong juga tidak mampu merebut pedang dari tangannya Pek Ban-kiam."

Ting Tong menjadi uring-uringan, katanya.

"Ke sana kemari toh sama-sama akan mati, kalau berusaha merebut pedang orang she Pek itu boleh jadi masih ada harapan akan berhasil daripada mati konyol di tanganmu. Yaya, kau suruh dia mengalahkan Pek Ban-kiam itu di dalam waktu sepuluh hari, tapi kalau di dalam sepuluh hari orang she Pek itu tidak diketemukan, ini kan bukan salahnya Engkoh Thian?"

"Sekali kukatakan sepuluh hari, maka tetap juga sepuluh hari,"

Sahut Ting Put-sam.

"Pendek kata orang she Pek itu pasti berada di sungai ini, apakah akan dia ketemukan atau tidak adalah bukan urusanku, singkatnya kalau di dalam sepuluh hari dia tidak mengalahkan orang she Pek itu, maka bocah she Ciok yang sinting inilah yang akan kubunuh."

"Sekarang waktunya tinggal tiga hari saja, ke mana harus mencari orang she Pek itu?"

Ujar Ting Tong.

"Ai, kau ... kau benar-benar keterlaluan dan tidak pakai aturan."

"Kalau Ting Put-sam tidak keterlaluan kan bukan Ting Put-sam lagi,"

Sahut si orang tua.

"Boleh kau coba cari tahu di kalangan Kangouw apakah selama ini Ting Put-sam kenal kasihan dan bicara tentang aturan?"

Ting Tong menjadi bungkam. Di dalam hari kedelapan dan kesembilan ini dia hanya mengajarkan Boh-thian jurus-jurus "Say-cu-bok-tho" (singa lapar terkam kelinci).

"Jong-eng-liakkhe" (elang menyambar anak ayam).

"Jiu-kau-nah-lay" (di mana tangan tiba lantas diambilnya), dan "Tam-kiu-ju-but" (merogoh saku mengambil barang), keempat jurus ini adalah khusus dipakai untuk merebut senjata yang lihai. Pada hari kesembilan itu Ting Put-sam selalu melirik-lirik Ciok Boh-thian dengan senyum mengejek dan mencemoohkan. Ting Tong tahu sang kakek pasti akan membunuh Engkoh Thian pada hari kesepuluh, pada waktu ini jangankan Ciok Bohthian masih bukan tandingan Pek Ban-kiam, sekalipun ilmu silatnya benar-benar dapat mengalahkan orang she Pek itu juga susah mencari lawan di dalam waktu singkat di tengah sungai yang luas itu. Lewat tengah hari, sesudah Ting Tong berlatih pula sebentar dengan Ciok Boh-thian, tanpa merasa ia telah berkeringat, ia telah mengambil saputangan dan mengusap keringat yang membasahi hidung dan di atas bibirnya. Tiba-tiba ia menguap kantuk. Katanya.

"Sudah bulan kedelapan, hawa masih segerah ini!"

Kemudian ia duduk berjajar dengan Boh-thian di tepi perahu, sambil menunjuk dua burung belibis yang sedang berenang di tengah sungai sana ia berkata.

"Engkoh Thian, coba lihat, alangkah bebas dan bahagianya sepasang suami-istri itu berenang kian kemari di dalam sungai. Kalau burung jantan itu dipanah mati umpamanya, burung betina itu akan hidup merana sebatang kara, bukanlah sangat kasihan?"

"Ya, dahulu aku sering berburu di pegunungan, di waktu menangkap burung aku tidak pernah pikirkan apakah burung itu jantan atau betina, jika demikian halnya, kelak aku hanya memburu burung betina saja."

Ting Tong menghela napas dengan rasa gemas-gemas dongkol, pikirnya.

"Sungguh tolol Engkoh Thian ini."

Saat itu ia merasa lelah, ia bersandar di bahu Boh-thian sambil pejamkan mata, lambat laun ia terpulas.

"Ting-ting Tong-tong, apakah kau sudah penat? Kupondong kau ke dalam kamar perahu saja, ya?"

Kata Boh-thian.

"Tak mau, aku ingin tidur begini saja,"

Sahut Ting Tong dengan samar-samar.

Boh-thian tidak berani membantah maksud si nona, terpaksa membiarkannya tidur bersandar di bahunya.

Terdengar pernapasan anak dara itu makin lambat dan makin panjang, tidurnya semakin nyenyak.

Rambutnya yang panjang bergosok-gosok di pipi kiri Boh-thian, anak muda itu merasa geli dan nikmat tak terkatakan.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara seorang yang sangat lembut sedang berkata padanya.

"Aku bicara padamu, tapi kau hanya boleh mendengarkan saja dan jangan mengangguk, lebih-lebih tidak boleh bersuara, mukamu juga tidak boleh memperlihatkan rasa heran dan kaget. Paling baik kau pun pejamkan mata dan pura-pura tidur saja, kalau kau mengeluarkan suara mendengkur pula tentu akan lebih bagus lagi untuk menutupi suara ucapanku."

Dari suara itu Boh-thian mengenali pembicara itu adalah si Ting Tong, semua ia terheran-heran dan mengira anak dara itu sedang mengigau, tapi waktu ia meliriknya, tertampak bulu mata si Ting Tong yang panjang itu sedikit bergerak, mendadak mata kirinya terbuka dan mengedip dua kali padanya, lalu terpejam pula.

Boh-thian lantas sadar, kiranya si Ting Tong ingin bicara apaapa yang harus dirahasiakan dan tidak boleh didengar oleh kakeknya.

Maka Boh-thian lantas pura-pura menguap juga, katanya.

"Ahhham! Ngantuk!"

Lalu ia pun memejamkan matanya.

Diam-diam Ting Tong bergirang, ia pikir Engkoh Thian betapa pun toh bukan seorang tolol benar-benar, hanya sekali diberi tahu saja sudah paham, suruh dia pura-pura tidur, dia lantas berpura-pura dengan sangat mirip.

Kemudian Ting Tong lantas membisiki Boh-thian.

"Yaya mengatakan ilmu silatmu terlalu rendah, kelakuanmu anginanginan pula dan tidak sesuai untuk menjadi cucu menantunya. Batas waktu sepuluh hari sudah akan habis sampai besok, kau pasti akan dibunuh olehnya. Kita pun susah menemukan Pek Ban-kiam. Jalan satu-satunya sekarang ialah kita harus melarikan diri dan sembunyi di pegunungan yang sunyi agar Yaya tidak dapat menemukan kita."

Diam-diam Boh-thian merasa heran.

"Tanpa sebab mengapa Yaya akan membunuh aku? Ah, dasar Ting-ting Tong-tong ini masih kekanak-kanakan, ucapan kakek yang cuma berkelakar saja dianggapnya sungguh-sungguh. Dia mengajak aku bersembunyi di pegunungan yang sunyi agar tidak dapat ditemukan Yaya, ha, permainan ini menarik juga."

Dalam pada itu terdengar Ting Tong sedang berbisik pula.

"Bila kita melarikan diri ke daratan, tentu kita akan ditangkap kembali oleh Yaya dan susah terlepas lagi. Maka kau harus ingat dengan baik-baik nanti tengah malam bila mendadak aku merangkul Yaya dengan kencang sambil menjerit dan menangis, ‘O, Yaya, ampunilah Engkoh Thian, janganlah kau membunuhnya!’ – Pada saat itu juga kau harus lekas memburu masuk ke dalam hanggar perahu, tangan kananmu menggunakan jurus ‘Hou-jiau-jiu’ (cengkeraman cakar harimau) untuk memegang punggung kakek, sedang tangan kiri dengan jurus ‘Giok-li-cui-ciam’ (si gadis ayu menyusup jarum) berbareng pinggangnya harus dicengkeram. Ingat, asal terdengar aku menjerit, ‘Janganlah kau membunuh dia,’ maka kau harus segera bertindak. Ingat yang baik, jurus ‘Hou-jiaujiu’ dan ‘Giok-li-cui-ciam’. Saat itu Yaya telah kurangkul dengan kencang, seketika dia tak dapat melawan, maka sekali pegang dengan tenaga dalammu yang kuat itu tentu Yaya takkan bisa berkutik lagi."

Diam-diam Boh-thian membatin.

"Si Ting Tong benar-benar sangat nakal, masakah suruh aku bermain gila pada Yaya, entah nanti Yaya akan marah atau tidak? Ya, sudahlah, jika si Ting Tong suka bergurau, biarkan aku menuruti dia saja. Rasanya permainan ini sangat menarik."

Lalu Ting Tong berbisik lagi.

"Cengkeramanmu itu nanti menentukan mati dan hidup kita berdua, maka kau harus melakukannya dengan cepat dan tepat. Coba kau meraba ‘Leng-tay-hiat’ di punggungku ini, jurus ‘Hou-jiau-jiu’ itu nanti harus mencengkeram di tempat ini."

Dengan tetap memejamkan mata perlahan-lahan Boh-thian menggeser tangannya dan meraba perlahan di punggung si anak dara.

"Ya, benar, di situlah tempatnya,"

Kata Ting Tong.

"Dalam keadaan gelap nanti, caramu menyerang harus cepat, tempatnya harus jitu, dengan mati-matian aku akan merangkul Yaya dengan kencang, asal kau dapat bertindak dalam waktu singkat tentu urusan akan menjadi beres, sebaliknya kalau terlambat sehingga rencana kita disadari Yaya, tentu kita akan celaka. Coba sekarang kau pegang pula ‘Koan-ki-hiat’ di pinggangku, jurus yang digunakan adalah ‘Giok-li-cui-ciam’ yang dipakai hanya jari jempol dan jari telunjuk saja, tenaga dalam harus digunakan melalui jari untuk menutuk Hiat-to ini."

Perlahan-lahan tangan Boh-thian lantas menggeser ke samping bawah, dengan kedua jari yang dikatakan itu perlahan-lahan ia memegang sekali "Koan-ki-hiat"

Di bagian pinggang si nona.

Sudah tentu sekarang dia tidak menggunakan tenaga dalam, maka jarinya seakan-akan hanya mengilik-ngilik saja, memangnya si Ting Tong masih perawan yang takut geli, karena ia menjadi tak tahan maka tertawalah dia terkikik-kikik sambil membentak.

"Hei, kau main gila apa?"

Ketika Ciok Boh-thian bergelak tertawa, segera Ting Tong balas mengilik-ngilik iga pemuda itu.

Begitulah kedua muda-mudi itu lantas bergurau sendiri dan tertawa haha-hihi melupakan kelakuan mereka yang pura-pura tidur tadi.

Pada petang harinya, si tukang perahu telah melabuhkan perahunya di dermaga sebuah kota kecil, dengan membawa poci arak dia mendarat ke kota untuk membeli arak.

"Engkoh Thian, marilah kita juga jalan-jalan ke kota,"

Ajak si Ting Tong.

"Hayo,"

Sahut Boh-thian.

Segera mereka mendarat dengan bergandeng tangan.

Kota itu sangat kecil, penduduk tiada lebih daripada seratus rumah, belasan rumah di antaranya adalah pedagang-pedagang ikan.

Sampai di ujung kota sana, melihat sekitar mereka tiada orang lain, Boh-thian telah berkata.

"Yaya sedang tidur di dalam perahu, kalau sekarang juga kita lantas angkat kaki dan melarikan diri, apakah beliau dapat menemukan kita kembali?"

"Tidak semudah demikian,"

Sahut Ting Tong dengan menggeleng.

"Biarpun kita sudah berlari 20-30 li jauhnya akhirnya pasti akan dapat disusul olehnya."

"Memang, biarpun kau sudah lari seratus atau seribu li juga akhirnya kami pasti dapat menyusul dan membekuk kau,"

Demikian tiba-tiba suara seorang yang agak serak berkata di belakang mereka.

Waktu Boh-thian dan Ting Tong menoleh tertampaklah dua orang lelaki telah muncul dari balik pohon sana, kedua orang itu yang satu tinggi dan yang lain pendek sedang menyengir ejek pada mereka.

Boh-thian lantas kenal kedua orang itu adalah Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu dari Swat-san-pay.

Ia terkejut dan merasa takut.

Kiranya sesudah orang-orang Swat-san-pay memergoki jejak Ciok Boh-thian di perairan Tiangkang, bahkan dua orang di antaranya berusaha menangkap Boh-thian, tapi diserang pemuda itu sehingga luka parah.

Sesudah mendapat laporan itu segera Pek Ban-kiam menyebarkan para Sutenya untuk menguber melalui darat dan sungai.

Rombongan Houyan Ban-sian dan Bun Ban-hu bertugas mengejar ke arah barat menuju ke hulu sungai.

Tak terduga di kota kecil inilah mereka dapat memergoki Ciok Boh-thian.

Houyan Ban-sian orangnya lebih hati-hati, ia pikir pihaknya berdua belum tentu mampu melawan bocah she Ciok ini, baru saja dia ingin melepaskan panah berapi sebagai tanda untuk memanggil kawan-kawannya yang lain sebagaimana telah diperintahkan Pek Ban-kiam, tak terduga Bun Ban-hu yang bertabiat berangasan itu sudah tidak tahan diri lagi dan segera menegur Ciok Boh-thian.

Ting Tong juga terkejut melihat munculnya orang-orang Swat-san-pay, ia khawatir janganjangan Pek Ban-kiam juga berada di sekitar situ, jika demikian, bila nanti Yaya memaksa Engkoh Thian harus bertanding dengan orang she Pek itu kan urusan bisa runyam?

Segera ia memelototi Ban-sian dan Ban-hu, semprotnya.

"Kami sedang bicara sendiri, siapa suruh kalian ikut menimbrung? Marilah Engkoh Thian, kita kembali ke perahu saja."

Memang Boh-thian merasa jeri, segera ia mengangguk setuju dan kedua orang lantas membalik tubuh hendak bertindak pergi.

Biasanya Bun Ban-hu sangat memandang hina kepada murid keponakan she Ciok ini, ia pikir kepandaian apa yang kau miliki selama beberapa tahun saja bela jar di Leng-siau-sia?

Jika sekarang aku dapat menangkapnya, maka ini akan merupakan suatu pahala besar bagiku dan tentu akan mendapat pujian dari Suhu.

Maka ia lantas membentak pula.

"Hendak lari ke mana bocah she Ciok? Hayo, lebih baik ikut padaku saja jika kau tidak ingin dihajar!"

Sambil berkata segera tangan kirinya digunakan menjambret pundak Ciok Boh-thian.

Cepat Boh-thian mengegos ke samping dan secara otomatis ia mengeluarkan Kim-na-jiu-hoat ajaran si Ting Tong untuk menangkis cengkeraman Bun Ban-hu itu.

Sudah tentu Bun Ban-hu tidak membiarkan tangannya beradu dengan tangan lawan, cepat ia tarik kembali dan berbareng kakinya lantas menendang ke perut Ciok Boh-thian.

Boh-thian menjadi bingung menghadapi tendangan itu, ia tidak tahu cara bagaimana harus menangkis atau mengelakkan diri.

Maklum, dalam hal tendangan sama sekali ia tidak pernah belajar, Ting Tong hanya mencurahkan perhatiannya mengajarkan Kim-na-jiu-hoat, terutama jurus "Hou-jiau-jiu dan Giok-li-cui-ciam"

Yang akan digunakan terhadap kakeknya, tapi dalam hal cara bagaimana menghadapi serangan-serangan atau tendangan dari golongan lain sama sekali tak diajarkan kepada pemuda itu.

Begitu pula dalam hari terakhir ini Ciok Boh-thian juga melulu menghafalkan dengan sebaiknya jurus-jurus "Hou-jiau-jiu"

Dan "Giok-li-cui-ciam,"

Maka dalam keadaan berbahaya yang teringat olehnya juga kedua jurus itu.

Tapi sekarang dia berdiri berhadapan dengan Bun Ban-hu, padahal kedua jurus itu khusus digunakan menyerang bagian belakang tubuh lawan, terang tak cocok untuk dipakai.

Tapi di saat terancam bahaya ia menjadi tidak peduli apakah jurusjurus serangan itu cocok digunakan atau tidak, sekali kakinya menggeser, tahu-tahu ia telah memutar ke belakang Bun Banhu.

Karena Lwekangnya sangat tinggi, gerak-geriknya menjadi cepat dan gesit luar biasa sehingga langkahnya itu dengan tepat justru berhasil menghindarkan tendangan Bun Ban-hu tadi, bahkan dengan tangan kanan menggunakan "Hou-jiaujiu"

Dan tangan kiri memakai jurus "Giok-li-cui-ciam", sekaligus ia cengkeram Leng-tay-hiat dan Koan-ki-hiat di bagian pinggang lawan.

Dengan Lwekangnya yang lihai itu, di mana dia mencengkeram, seketika Bun Ban-hu merasa tubuhnya menjadi lemas lunglai, kontan roboh terjungkal.

Dalam pada itu baru saja Houyan Ban-sian hendak ikut mengerubut maju, demi tampak Ciok Boh-thian telah dapat mencengkeram Hiat-to penting di tubuh sang Sute dengan cara yang lihai, dalam gugupnya Ban-sian tidak sempat melolos senjata lagi, tapi cepat ia menghantam ke pinggang Ciok Bohthian.

Karena tujuan hendak memaksa agar Boh-thian melepaskan cengkeramannya kepada sang Sute, maka tenaga yang digunakan Ban-sian ini adalah sekuat-kuatnya, maka terdengarlah suara "bluk" , hampir berbareng juga terdengar suara "krak" , Houyan Ban-sian merasa kesakitan sendiri, ternyata tulang lengannya telah patah sebaliknya Boh-thian hanya merasa pinggangnya seperti tersodok perlahan oleh sesuatu, waktu ia melepaskan tubuh Bun Ban-hu, ternyata jago Swat-san-pay itu sudah meringkuk kaku dalam keadaan yang menyeramkan tampaknya.

Keruan Boh-thian terperanjat, teriaknya.

"Haya, celaka! He, Ting-ting Tong-tong, ken ... kenapa mendadak dia kejang? Jangan-jangan dia ... dia sudah mati?"

Ting Tong tertawa, sahutnya.

"Engkoh Thian, kedua jurus itu telah kau mainkan dengan sangat bagus, cuma saja langkahmu tadi agak tergesa-gesa dan gugup, sedikit pun tiada memperlihatkan gaya seorang jagoan. Sesudah kau cengkeram, orang ini takkan mati, tapi akan cacat untuk selama hidupnya, kedua kaki dan tangannya takkan bisa bergerak lagi."

Boh-thian tambah kaget, segera ia memayang Bun Ban-hu sambil berkata.

"Ai, ma ... maaf, aku ... tidak sengaja membikin susah padamu. Lantas bagaimana baiknya? Ting-ting Tong-tong, dapatkah kau mencari akal untuk menyembuhkan dia?"

Tapi Ting Tong lantas melolos pedang yang tergantung di pinggang Bun Ban-hu, katanya.

"Apa kau ingin dia tidak terlalu menderita dalam hidupnya nanti? Itulah mudah, boleh sekali tebas kau membinasakan dia saja."

"Tidak, tidak boleh jadi!"

Seru Boh-thian, dan saling gelisahnya ia sampai meneteskan air mata.

"Kalian berdua siluman cilik ini, hendaklah tahu bahwa murid Swat-san-pay lebih suka dibunuh daripada dihina,"

Teriak Houyan Ban-sian dengan gusar.

"Hari ini kami berdua telah terjungkal di tanganmu, jika mau bunuh hayolah lekas bunuh saja."

Khawatir kalau si Ting Tong benar-benar membunuh kedua orang itu, cepat Boh-thian merampas pedangnya dan ditancapkan ke atas tanah, lalu katanya.

"Ting-ting Tong-tong, lekas, lekas kita kembali saja."

Segera ia tarik nona dan diajak pulang ke perahu mereka.

"Orang Kangouw suka mengatakan Ciok-pangcu dari Tiang-lokpang berhati keji dan bertangan gapah, membunuh orang tidak kenal kasihan, mengapa sekarang tiba-tiba berubah alim?"

Demikian Ting Tong mencemoohkan.

"Engkoh Thian, sebaiknya kejadian barusan ini jangan dikatakan kepada Yaya."

"Baik, aku takkan bilang padanya,"

Sahut Boh-thian.

"Ting-tang Ting-tong, apakah dia benar-benar akan ... akan cacat untuk selama hidupnya?"

"Sudah tentu,"

Sahut Ting Tong.

"Kau telah cengkeram kedua Hiat-to penting di tubuhnya, kalau paling sedikit tak bisa membikin dia cacat selama hidup, habis apa gunanya ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat dari keluarga Ting kita yang tersohor ini?"

"Jika demikian lihainya cengkeraman-cengkeraman itu, mengapa kau suruh aku nanti malam menggunakan jurus-jurus keji ini untuk mencengkeram Yaya?"

Tanya Boh-thian.

"Engkoh tolol, tokoh macam apakah Yaya kita itu? Masakan dapat dipersamakan dengan kaum keroco sebangsa orang Swat-san-pay itu?"

Ujar Ting Tong.

"Jika untung kau dapat mengerahkan segenap tenaga dalam, paling-paling hanya akan membikin Yaya tak bisa berkutik dalam dua-tiga jam saja, memangnya kau sangka begitu mudah Yaya dibikin cacat?"

Namun Boh-thian masih bersangsi, ia menjadi ragu-ragu dan tidak tenteram.

Petangnya, sesudah si tukang perahu menyediakan daharan, dengan kurang nafsu ia makan setengah mangkuk saja, lalu duduk te-menung-menung.

Malam itu ia tak bisa tidur nyenyak.

Sampai tengah malam, benar juga tiba-tiba terdengar Ting Tong sedang berseru di dalam kamar perahu.

"O, Yaya, ampunilah jiwa Engkoh Thian, janganlah membunuh dia! Janganlah membunuh dia!"

Cepat Boh-thian melompat bangun dan berlari ke dalam hanggar perahu, dalam keadaan remang-remang tertampak Ting Tong telah menyingkap badan bagian atas Ting Put-sam sambil masih berseru.

"Yaya, janganlah kau membunuh Engkoh Thian!"

Segera Boh-thian menjulurkan tangannya dan bermaksud mencengkeram ke punggung Ting Put-sam sebagaimana telah direncanakan si Ting Tong.

Tapi mendadak terbayang olehnya keadaan menyeramkan tatkala Bun Ban-hu habis kena cengkeramannya itu, seketika Boh-thian ragu-ragu, pikirnya.

"Bila aku jadi mencengkeramnya sehingga Yaya juga kaku kejang sebagai orang Swat-san-pay itu, wah, aku benar-benar akan berdosa. Tidak, aku ... aku takkan melakukan hal demikian."

Karena itu diam-diam ia lantas mengundurkan diri dan kembali ke tempatnya untuk tidur lagi.

Semula si Ting Tong sudah bergirang ketika melihat Boh-thian berlari ke dalam hanggar, siapa tahu mendadak pemuda itu menjadi ragu-ragu, lalu mengundurkan diri keluar lagi, rencana mereka menjadi gagal sama sekali, keruan Ting Tong menjadi gelisah dan mendongkol pula.

Bab 19.

Pergi Ting Put-sam, Datang Ting Put-si Sesudah merebah di tempatnya, Boh-thian merasa jantungnya masih berdebar-debar.

Selang sejenak, tiba-tiba terdengar si Ting Tong lagi berseru pula.

"Ai, Yaya, mengapa aku telah merangkul badanmu? Tadi ... tadi aku mengimpi buruk seakanakan Engkoh Thian telah kau pukul hingga mati, kumohon engkau suka mengampuni jiwanya dan engkau tidak mau. Tapi syukurlah itu hanya dalam impian saja."

Boh-thian menjadi agak lega, pikirnya.

"Ting-ting Tong-tong sungguh pintar berdusta, rupanya khawatir Yaya mencurigai diriku, maka dia telah mengarang omongan kosong tentang mimpi segala untuk menutupi kejadian tadi."

Tapi lantas terdengar Ting Put-sam sedang menjawab.

"Apakah kau mimpi atau tidak, pendek kata bila hari sudah terang tanah, maka genaplah batas waktu sepuluh hari. Tinggal melihat dia dalam hari terakhir dapat mengalahkan Pek Bankiam atau tidak."

"Ai, kuyakin Engkoh Thian pasti bukan seorang sinting,"

Kata Ting Tong sambil menghela napas.

"Ya, hati nuraninya sungguh harus dipuji,"

Sahut Ting Put-sam.

"Orang yang berhati nurani baik adalah orang tolol, orang sinting, pantas kalau mampus. Ha, dengan Hou-jiau-jiu memegang Leng-tay-hiat dan dengan Giok-li-cui-ciam mencengkeram Koan-ki-hiat, ai, sungguh akal yang bagus, sungguh tipu yang baik."

Ucapan Ting Put-sam ini sekaligus membikin kaget baik Ting Tong yang berada di dalam kamar maupun Boh-thian yang berada di buritan.

Sungguh susah dipahami dari manakah sang kakek mengetahui rencana mereka itu?

Masih mendingan si Boh-thian yang tidak tahu apa-apa, sebaliknya Ting Tong sampai berkeringat dingin, pikirnya.

"Kiranya Yaya sudah mengetahui apa yang akan kulakukan, jika demikian diam-diam tentu beliau sudah berjaga-jaga. Untunglah Engkoh Thian tidak jadi turun tangan. Namun susah dibayangkan juga hukuman apa yang akan dijatuhkan Yaya kepadaku?"

Di sebelah sana Ciok Boh-thian percaya bahwa besok pagi Ting Put-sam benar-benar akan membunuhnya, dengan seenaknya saja ia terpulas lagi dengan nyenyaknya.

Menjelang pagi, sekonyong-konyong terdengar suara orang ribut-ribut di daratan sana.

Ada orang sedang berteriak.

"Itu dia, di sini orangnya!"

Lalu ada yang menanggapi.

"Ya, betul! Itulah kepalanya." – "Hayo, tangkap, jangan sampai siluman tua itu meloloskan diri!"

Waktu Boh-thian bangun berduduk, ia lihat di tepi sungai ada puluhan orang dengan penerangan obor sedang berlari-lari ke samping perahu sambil membentak.

"Di mana siluman tua itu? Hayo, hendak lari ke mana siluman tua yang membikin celaka manusia itu?"

Rupanya Ting Put-sam juga terjaga bangun oleh suara ributribut itu, segera ia keluar dari kamar perahu dan membentak.

"Kurang ajar! Kalian ribut-ribut apa di sini dan mengganggu tidurnya tuan besarmu?"

"Nah, inilah dia! Inilah silumannya! Lekas semprot!"

Teriak seorang laki-laki.

Segera dari belakang laki-laki itu maju ke depan dua kawannya yang membawa alat semprot yang terbuat dari bumbung bambu, dengan mengincar ke arah Ting Put-sam segera mereka menyemprotkan air darah.

Berbareng itu orang-orang yang berada di tepi sungai sana serentak bersorak.

"Nah, kena dia. Darah anjing hitam telah tepat mengenai siluman tua itu, dia tak bisa menghilang lagi!"

Akan tetapi semprotan darah anjing itu mana dapat mengenai tubuh Ting Put-sam? Mendadak orang tua itu meloncat ke atas, pikirnya dengan murka.

"Dari manakah datangnya orang-orang gila ini? Masakah aku dianggap siluman dan hendak disemprot dengan darah anjing hitam?"

Biasanya, biarpun orang lain tidak mengganggunya, asal dia merasa gatal tangan, setiap saat dia juga suka membunuh orang, apalagi sekarang, tanpa sebab orang lain berani mengganggunya, keruan Ting Put-sam menjadi tambah murka dan tidak kenal ampun.

Begitu tubuhnya menurun kontan kedua lelaki yang membawa alat semprot tadi kena ditendang mencelat menyusul tangannya menghantam pula, tanpa ampun lagi lelaki yang pertama tadi juga terpental dan mati seketika di tepi sungai.

Ketika Ting Put-sam hendak mengumbar angkara murkanya lagi, sekonyong-konyong dari belakang terdengar Ting Tong mendengus padanya.

"Yaya, Ce-jit-pu-ko-sam (satu hari tidak lebih tiga)!"

Ting Put-sam tertegun.

Saking gusarnya sampai dia hampirhampir lupa kepada sumpahnya sendiri, yaitu menurut julukannya yang menyatakan satu hari takkan membunuh orang lebih dari tiga.

Maka serangannya yang hampir dilontarkan lagi itu lantas dibatalkan.

Orang-orang itu ketakutan setengah mati, serentak mereka berteriak-teriak dan lari sipat kuping.

Hanya dalam sekejap saja keadaan menjadi sunyi kembali meninggalkan tiga sosok tubuh yang tak bernyawa, obor pun terlempar di sana-sini tak terurus.

Segera Ting Put-sam berkata kepada si tukang perahu.

"Lekas berangkat, kalau kedatangan orang lagi aku bisa kewalahan membunuh mereka!"

Dengan tangan gemetar si tukang perahu lantas mengangkat galah dan menolak perahunya ke tengah sungai, lalu meluncurlah perahu itu ke depan.

Darah anjing yang tidak mengenai tubuh Ting Put-sam tadi telah menyemprot ke dalam perahu sehingga menimbulkan bau anyir busuk.

Tiba-tiba Ting Put-sam menegur si Ting Tong.

"A Tong, bukankah kau yang main gila dalam peristiwa ini? Sebab apa kau berbuat demikian?"

"Yaya,"

Sahut Ting Tong dengan tertawa.

"kau pegang janji atau tidak terhadap apa yang telah kau ucapkan?"

"Bilakah aku pernah mengingkar janji?"

Sahut Ting Put-sam.

"Bagus!"

Kata Ting Tong.

"Kau mengatakan bahwa habis sepuluh hari bila Engkoh Thian tidak mengalahkan orang she Pek itu, maka Engkoh Thian segera akan kau bunuh. Sekarang adalah hari kesepuluh, terang dia tak dapat menemukan orang she Pek itu, akan tetapi tadi kau sudah genap membunuh tiga orang."

Ting Put-sam menjadi melengak, semprotnya kemudian.

"Budak setan, kiranya Yaya telah tertipu oleh muslihatmu."

Ting Tong sangat senang, dengan tersenyum-senyum ia berkata.

"Ting-samya kita biasanya paling pegang janji, kau mengatakan akan membunuh Engkoh Thian pada hari terakhir ini, akan tetapi kau sudah membunuh tiga orang, orang keempat ini tentulah tak boleh kau bunuh lagi. Yaya, jikalau kau tidak dapat membunuh dia, untuk seterusnya kau pun tidak boleh membunuh dia lagi. Kulihat cucu menantumu ini toh bukan seorang tolol sungguh-sungguh, nanti kalau kesehatannya sudah pulih kembali, dengan sendirinya ilmu silatnya juga akan maju lebih pesat, pendek kata pasti takkan membikin malu padamu."

Mendadak Ting Put-sam membanting kakinya sehingga papan geladak perahu itu terinjak satu lubang, lalu teriaknya dengan gusar.

"Tidak, tidak bisa! Sekarang juga Ting Put-sam sudah merasa malu karena ditipu oleh seorang budak setan seperti kau."

"Aku adalah cucu perempuanmu, kita adalah sekeluarga, kenapa bicara tentang membikin malu apa segala? Toh kejadian ini takkan kukatakan kepada orang luar."

"Tidak bisa. Karena aku ditipu, maka hatiku tetap tidak senang. Apakah kau akan katakan kepada orang luar atau tidak bukanlah soalnya."

Mendengar percakapan kedua kakek dan cucu itu, baru sekarang Boh-thian tahu duduknya perkara.

Kiranya orangorang yang datang membikin ribut dan menyemprot Ting Putsam dengan darah anjing hitam itu adalah permainan si Ting Tong yang sengaja didatangkan agar sang kakek membunuh orang, bila sudah terpenuhi sumpah membunuh tiga orang dalam sehari, maka orang tua itu tidak lagi membunuh dia.

Begitulah, maka ketika melihat Ting Tong berjalan ke buritan dengan tersenyum simpul segera Boh-thian berkata.

"Ting-ting Tong-tong, untuk menolong jiwaku, sebaliknya kau telah korbankan tiga jiwa yang tidak berdosa, bukankah ini ter ... terlalu kejam?"

Tiba-tiba Ting Tong menarik muka, sahutnya.

"Kematian mereka itu adalah gara-garamu, mengapa aku yang disalahkan?"

"Gara-garaku?"

Boh-thian mengulangi dengan bingung.

"Mengapa tidak? Bukankah kita sudah merancang dengan baik, tapi sampai detik terakhir kau tidak berani turun tangan. Kalau tidak, tentu kita berdua sudah lolos dengan selamat dan tidak perlu mengorbankan tiga jiwa orang yang tak berdosa itu."

Boh-thian pikir apa yang dikatakan si Ting Tong juga ada benarnya, seketika ia menjadi tak bisa bicara pula.

"Hahahaha! Dapat sekarang, dapat!"

Demikian tiba-tiba terdengar Ting Put-sam berseru dengan bergelak tertawa.

"Hei, bocah she Ciok, Yaya akan mencukil matamu dan akan memotong kedua tanganmu supaya kau mati tidak dan hidup sempurna juga tidak, tapi akan menjadi seorang cacat. Asal aku tidak mencabut nyawamu, maka aku tak dapat dianggap melanggar sumpahku."

Boh-thian dan Ting Tong terkejut mendengar ucapan itu. Sebaliknya makin dipikir Ting Put-sam makin senang, berulangulang ia berseru.

"Ya, akal bagus, akal bagus! Aku takkan membunuh kau, tapi akan membikin dia menjadi manusia bukan manusia dan setan pun bukan setan. Nah, A Tong, cara demikian tentulah boleh bukan?"

Ting Tong menjadi susah mendebatnya, terpaksa ia menjawab.

"Hari kesepuluh ini toh belum berakhir, boleh jadi sebentar lagi akan bertemu dengan Pek Ban-kiam dan sekali gebrak nanti mungkin Engkoh Thian dapat mengalahkan dia."

"Hahaha! Memang betul juga!"

Seru Ting Put-sam sambil terbahak-bahak.

"Urusan kita ini dilakukan dengan adil, maka bolehlah kakek menunggu sampai tengah malam nanti baru turun tangan."

Ting Tong menjadi serbasusah dan tak dapat menemukan sesuatu akal untuk menyelamatkan Boh-thian dari kesukaran ini.

Yang paling lucu adalah justru Boh-thian sendiri tidak sadar kalau dirinya sedang terancam elmaut sebaliknya ia malah tanya kepada Ting Tong.

"Eh, Ting-ting Tong-tong, sebab apakah kau sedih, apakah ada kesukaran?"

"Tidakkah kau mendengar Yaya mengatakan akan mencukil matamu dan memotong kedua tanganmu?"

Omel Ting Tong dengan mendongkol.

"Ah, Yaya hanya bergurau saja untuk menakut-nakuti kau, kenapa kau anggap sungguh-sungguh?"

Ujar Boh-thian.

"Apa sih gunanya dia mencukil mataku dan memotong tanganku?"

Dari dongkol Ting Tong menjadi gemas, pikirnya.

"Dasar tolol dan sinting, kalau selama hidup ini aku ikut dia, rasanya juga tidak menyenangkan. Jika Yaya berkeras hendak membunuh dia, maka biarpun dia mampus saja sudah."

Tapi lantas teringat olehnya bahwa sang kakek sekarang takkan membunuh pemuda itu lagi, sebaliknya akan mencukil mata dan memotong kedua tangannya.

Apabila dirinya kelak mendadak berubah pikiran dan terkenang pula kepada kekasih ini, padahal kedua mata dan tangannya tentu tak bisa dipulihkan kembali.

Lalu apa gunanya aku bersuamikan seorang yang cacat demikian?

Begitulah Ting Tong termenung-menung memandangi bayangan sendiri yang terapung di permukaan air bersama bayangan Ciok Boh-thian, makin lama makin memanjang mereka, ternyata tanpa terasa hari sudah makin sore, sang surya sudah makin condong ke barat.

Dalam kesalnya tiba-tiba terpikir pula oleh Ting Tong.

"Daripada suamiku yang baik-baik dibikin cacat oleh Yaya, adalah lebih baik aku sendiri yang mengerjakan dia saja. Ketika berpaling, dilihatnya duduk Ciok Boh-thian sedang membelakanginya, mendadak ia menjulurkan kedua tangannya terus mencengkeram ke "

Leng-tay-hiat"

Di punggung dan "Koan-ki-hiat"

Di bagian pinggang, jurus-jurus lain yang digunakan adalah Hou-jiau-jiu dan Giok-li-cui-ciam.

Memangnya Ciok Bohthian tidak berjaga-jaga, keruan ia lantas kena dibekuk dengan mudah, seketika ia tak bisa berkutik.

Sebaliknya karena bekerjanya tenaga dalam Ciok Boh-thian, maka Ting Tong juga tergetar dan terhuyung-huyung ke belakang, hampir-hampir saja kecemplung ke dalam sungai.

Cepat ia memegangi atap kolong perahu dan memaki.

"Yaya segera akan mencukil matamu dan memotong kedua tanganmu, orang cacat demikian kalau hidup di dunia ini andaikan tidak membikin malu kepada Yaya juga aku si Tingting Tong-tong yang merasa tiada muka untuk berjumpa dengan orang. Maka tidak perlu Yaya yang turun tangan, biarlah aku sendiri yang mencukil kedua biji matamu."

Segera ia mengambil seutas tambang layar di buritan, lalu kaki dan tangan Boh-thian diringkusnya dengan kencang, bahkan ia terus membelebat Ciok Boh-thian mulai dari bahu sehingga sampai bagian kaki, ia ikat badan pemuda itu dengan tambang layar itu selingkar demi selingkar sehingga seluruhnya paling sedikit ada 50-60 lingkar, sampai akhirnya badan Ciok Bohthian mirip sebuah lemper raksasa.

Mestinya orang yang dicengkeram Hiat-to penting seperti Ciok Boh-thian sekarang akan susah membuka suara di dalam waktu satu-dua jam.

Tapi dasar tenaga dalam Boh-thian mahakuat, meski kaki dan tangannya tak bisa bergerak, tapi dia masih dapat bicara, maka katanya.

"He, Ting-ting Tongtong, apakah kau bergurau padaku?"

Walaupun demikian dia bertanya, tapi demi tampak sikap si Ting Tong yang galak dan bengis itu, diam-diam ia pun tahu gelagat jelek maka matanya telah memantulkan sinar mata yang mohon dikasihani.pTapi Ting Tong lantas menendang satu kali di pinggang pemuda itu dengan gemas, dampratnya.

"Hm, kau sangka aku bergurau padamu? Kematianmu sudah di depan mata, tapi kau masih bermimpi? Huh, orang tolol sebagai kau biarpun dicincang menjadi perkedel juga pantas."

"Sret" , mendadak ia lolos goloknya, ia gosok-gosok beberapa kali di pipi Ciok Boh-thian seperti orang yang sedang mengasah senjata.

"Ting-ting Tong-tong, untuk selanjutnya aku pasti akan turut kepada segala ucapanmu, hendaklah kau jangan membunuh aku,"

Demikian Boh-thian memohon. Tapi Ting Tong menjawab dengan sengit.

"Hm, mestinya aku bermaksud menolong jiwamu, tapi kau justru tidak turut kepada pesanku, maka kau sendirilah yang cari mampus dan tak perlu menyalahkan orang lain. Kalau sekarang aku tidak membunuh kau, tentu nanti juga kau akan dibunuh Yaya. Kau adalah suamiku, bila harus dibunuh biarlah aku sendiri saja yang melakukan, kalau orang lain yang membunuh suamiku, hidupku tentu juga akan merana selamanya."

"Ampunilah diriku, bolehlah aku tidak menjadi suamimu,"

Mohon Boh-thian.

"Upacara nikah juga sudah berjalan, masakah kau dapat membatalkan menjadi suamiku?"

Sahut Ting Tong.

"Pendek kata, lebih baik kau tutup mulut saja, kalau rewel-rewel lagi segera kupenggal kepala anjingmu ini."

Boh-thian menjadi ketakutan dan tidak berani bersuara pula. Maka terdengar Ting Put-sam telah berkata dengan tertawa.

"Haha, bagus, bagus! Cara demikianlah baru sesuai sebagai cucu perempuannya Ting-losam. Nah, boleh lekas turun tangan saja, sekali bacok bikin dia menjadi dua potong sudah."

Si tukang perahu sampai gemetar ketakutan ketika melihat si Ting Tong mengangkat golok hendak membunuh orang, sampai-sampai kemudi yang dipegangnya menjadi menceng, perahunya menjadi oleng.

Kebetulan pada saat itu dari depan sedang meluncur tiba sebuah perahu kecil mengikuti arus sungai, karena olengnya perahu yang ditumpangi Ting Put-sam itu, segera kedua kendaraan air itu akan bertubrukan.

Maka terdengar si tukang perahu di atas perahu kecil sana telah berteriak-teriak khawatir.

"Hai, belokkan kemudimu! Belokkan!"

Dalam pada itu sang surya sudah hampir menghilang di ufuk barat, cahaya matahari senja menyorot di atas golok yang dipegang si Ting Tong sehingga menimbulkan sinar gemerdep yang menyilaukan matanya Ciok Boh-thian.

Mendadak tangan si Ting Tong yang putih halus itu mengayun ke bawah.

"plok" , golok nona itu kena membacok di atas geladak perahu yang cuma beberapa senti di sisi kepala Ciok Boh-thian. Begitu goloknya membacok papan geladak perahu, segera Ting Tong lepas tangan, dengan cepat ia angkat tubuh Ciok Bohthian terus dilemparkan sekuat-kuatnya menuju ke kolong perahu kecil yang saat itu menyerempet lewat di sebelahnya. Melihat cucu perempuannya mendadak main gila, dengan gusar Ting Put-sam lantas membentak.

"Apa yang kau lakukan!"

Cepat Ting Put-sam memburu keluar dan segera hendak menjambret tubuh Ciok Boh-thian.

Namun sudah terlambat.

Arus sungai teramat kencang, kedua perahu dalam sekejap saja sudah berpisah belasan meter jauhnya, betapa pun tinggi Ginkangnya Ting Put-sam juga tak dapat melompat ke atas perahu kecil itu.

Dengan gusar ia menampar Ting Tong sekali sambil berteriak kepada si tukang perahu.

"Lekas putar kemudi, putar balik ke sana dan kejar, lekas!"

Tapi arus sungai Tiangkang teramat deras, untuk memutar kemudi dalam sekejap itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

Apalagi perahu kecil tadi meluncur dengan cepat mengikuti arus, makin lama makin cepat dan makin jauh sehingga susah dikejar lagi.

Ciok Boh-thian yang tubuhnya diringkus kencang-kencang dengan tambang layar, ketika tubuhnya d lemparkan si Ting Tong, ia merasa badannya berputar setengah lingkaran di atas udara, lalu melayang ke depan, waktu turun mukanya menghadap ke bawah, ia merasa di mana badannya jatuh adalah suatu tempat yang empuk dan tidak terasa sakit, hanya saja keadaan di situ gelap gulita, segala apa tidak kelihatan.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan orang yang tertahan, Bohthian sendiri tidak dapat bergerak, maka ia pun tidak berani membuka suara.

Ia diam saja sampai sekian lamanya, perlahan-lahan hidungnya mengendus bau harum, rasanya seperti kembali berada di atas tempat tidur di dalam kamarnya di markas Tiang-lok-pang.

Benar juga, sesudah tenangkan diri, ia lantas merasa dirinya menggeletak di atas kasur, mukanya terbenam di atas bantal, di samping bantal terasa ada kepala seorang lain lagi yang berambut panjang, nyata seorang wanita adanya.

Keruan Bohthian terperanjat dan menjerit.

Sekonyong-konyong Boh-thian merasa belakang lehernya ditempel sesuatu yang dingin dan rada sakit pula, ia tahu ada orang telah memasang senjata tajam di atas lehernya.

Menyusul lantas terdengar suara seorang wanita telah berkata.

"Siapa kau? Apa kau adalah anak muridnya siluman tua Ting Put-si?"

"Aku ... aku ...."

Sahut Boh-thian dengan terputus-putus, ia sendiri tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. Wanita itu menjadi gusar, dampratnya pula.

"Kau berani menyusup ke dalam perahu kami, tentu kau bukan manusia baik-baik, biarlah nona binasakan kau saja."

Habis berkata, segera ia tambahkan tenaga tangannya sehingga Boh-thian merasa belakang lehernya kesakitan.

"Ti ... tidak, bukan aku sendiri yang datang ke sini, tapi ... tapi orang yang melemparkan aku kemari,"

Seru Boh-thian.

"Hayo, lekas ... lekas keluar, mengapa kau menyusup ke dalam ke dalam selimutku ini?"

Kata wanita itu.

Waktu Boh-thian coba-coba merasakan, benar juga di depan dadanya adalah kasur, di atas punggung ada selimut, mukanya menindih bantal, malahan di dalam kolong selimut terasa masih hangat-hangat.

Kiranya lemparan Ting Tong tadi dengan tepat telah membikin Boh-thian menyusup ke dalam kolong perahu kecil ini terus masuk ke dalam kolong selimut malah, yang paling runyam adalah dari nada ucapan si wanita ini agaknya kolong selimut ini adalah miliknya.

Coba kalau Boh-thian tidak diringkus dan dapat bergerak, tentu sejak tadi dia sudah melompat bangun dan berlari keluar.

Celakanya sekarang dia tertutuk Hiat-to yang penting dan tak dapat bergerak sama sekali.

Maka terpaksa ia hanya berkata.

"Aku tidak dapat bergerak, aku mohon dengan sangat padamu, silakan kau pindahkan aku keluar saja, dorong aku keluar juga boleh, ya, depak aku keluar juga baik."

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita lain yang tua berkata di belakang sana.

"Ngaco-belo apa keparat itu? Lekas bacok mampus dia saja!"

"Nenek, kalau bunuh dia, tentu di dalam kolong selimutku akan berlumuran darah, lantas ... lantas bagaimana?"

Demikian sahut wanita yang semula.

"Setan alas dari manakah dia?"

Kata si wanita tua dengan gusar.

"He, keparat kau, lekas kau merangkak keluar!"

"Aku benar-benar tidak dapat bergerak,"

Sahut Boh-thian.

"Coba kalian lihat sendiri, aku telah dicengkeram orang bagian Leng-tay-hiat dan Ko-an-ki-hiat, sekujur badan diikat kencang pula dengan tali, untuk bergerak sedikit saja tidak dapat. Ai, ini nona atau nyonya, silakan lekas bangun saja, kita tidur di dalam satu kolong selimut, rasanya me ... memang kurang pantas."

"Nyonya apa? Aku masih gadis, tahu!"

Semprot wanita pertama tadi.

"Aku sendiri pun tidak dapat bergerak. Nenek, hendaklah engkau mencarikan suatu akal bagiku saja, orang ini memang benar-benar terikat kencang dengan tali-tali."

"Ya, Lothaythay (nyonya tua), aku pun mohon padamu, tolonglah kau menyeret aku keluar,"

Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 4

Baca Juga: Sepasang Naga Lembah Iblis Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert