Ceritasilat Novel Online

Medali Wasiat 3

Eps 3 Medali Wasiat - Yin Yong

Baca online Medali Wasiat - Yin Yong

Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.

Si Kiam sampai terkesima menyaksikan ilmu sakti yang telah dimiliki sang Pangcu itu.

Ia terkejut dan bergirang pula.

Tapi demi teringat tingkah laku sang Pangcu, dengan ilmu silatnya yang sedemikian tingginya, kalau melakukan kejahatankejahatan menurutkan napsu angkara murkanya, maka celakalah orang-orang yang berada disekitarnya, bahkan bukan mustahil akan merupakan malapetaka pula bagi dunia Kangouw.

Kiranya diwaktu kecilnya anak muda itu, secara kebetulan ia telah mendapat ajaran semacam Tok-ciang (ilmu pukulan berbisa) yang sangat lihay.

Mestinya kalau dia melatihnya sampai usianya mencapai 20-an, apabila tiada diberi obat-obat mujarab sebangsa Jinsom (kolesom) atau Ho-siu-oh yang berumur ribuan tahun untuk memunahkan racun dingin dari ilmu pukulan yang dilatihnya, maka dia pasti akan binasa keracunan sendiri.

Dahulu orang yang mengajarkan juga tiada punya maksud baik, sama sekali tak terduga bahwa secara kebetulan Mo-thian-kisu Cia Yan-khek juga telah mengajarkan semacam "Yam-yam-kang"

Padanya.

Menurut perhitungan Mo-thian-kisu Cia Yan-khek, jikalau anak muda itu adalah murid orang pandai, tentu gurunya juga telah mengajarkan cara-cara menghapuskan hawa dingin berbisa yang dilatihnya itu.

Sama sekali tak terduga bahwa orang yang mengajarkan ilmu pukulan berbisa dingin itupun berpendirian serupa dengan Cia Yan-khek, yaitu menghendaki anak muda itu mati konyol sendiri akibat ilmu yang dilatihnya.

Soalnya ilmu pukulan berbisa yang secara tidak sadar telah diyakinkan anak muda pada sebelum bertemu dengan Cia Yankhek itu memang sangat mirip dengan ilmu pukulan "Han-ihbian-ciang"

Yang menjadi kebanggan Ting Put-si, padahal sama sekali bukanlah "Han-ih-bian-ciang", hanya keduanya samasama ilmu pukulan berbisa dingin yang sejenis.

Kemudian sesudah anak muda itu melatih Yam-yam-kang pula, pada hari itu betul juga dia telah dirangsang oleh hawa panas dan dingin yang hebat, dan sungguh sangat kebetulan pula Pwe Hay-ciok sedang berada disitu yang segera membantunya dengan menyalurkan Lweekang murni untuk menguatkan daya tahannya sehingga anak muda itu tidak sampai mati seketika.

Dan sampai malam ini secara kebetulan Tian Hui telah menghantam pula dia punya "Tan-tiong-hiat"

Sehingga darah mati yang tersekam didalam badannya didesak keluar, lalu tercampur baurlah antara hawa panas dan dingin, antara Im dan Yang (negatip dan positip), dengan demikian badannya tidak terganggu apa-apa, sebaliknya malah membikin sempurna semacam tenaga dalam aneh yang dilatihnya itu.

Sudah tentu hal-hal demikian itu sama sekali tidak disadari oleh sianak muda.

Memangnya dia tidak paham apa-apa, sekarang ia lebih bingung dan menyangka dirinya sedang bermimpi.

Begitulah, maka Si Kiam telah berkata pula padanya dengan suara perlahan.

"Jika kau sudah mengampuni jiwanya, kau telah menyambung pula tulang lenggannya, tapi mengapa kau memakinya pula sebagai binatang? Dengan demikian dendamnya padamu menjadi tambah mendalam lagi" . ~ Dan ketika melihat sorot mata sang Pangcu yang aneh kembali timbul lagi, tanpa menunggu jawaban, lekas-lekas ia mengundurkan diri. Sianak muda hanya menggeleng kepala saja sambil berkata sendiri.

"Aneh, sungguh aneh!" ~ Ia lihat boneka-boneka didalam kotak itu masih tertaruh diatas meja dengan baik, maka ia menggumam pula.

"Boneka itu masih berada disini, jika demikian aku toh bukan didalam mimpi?"

Segera ia membuka kotak kayu dan mengeluarkan bonekaboneka kecil itu.

Sementara itu ilmu saktinya baru selesai diyakinkannya, ia tidak tahu tenaga sendiri sekarang sangat besar, dengan sendirinya iapun tidak tahu cara bagaimana harus menggunakan tenaga itu dengan tepat.

Tapi seperti biasanya ia terus pegang begitu saja sebuah boneka itu, mendadak lapisan luar yang membentuk boneka tanah itu mengelotok dan jatuh semua.

Sianak muda berseru kaget, ia merasa sayang sekali atas rusaknya boneka itu.

Tapi ia menjadi melotot heran ketika dilihatnya boneka yang sudah rontok bagian lapisan luar itu ternyata dibagian dalam ada selapis kayu bercat pula.

Segera sianak muda membersihkan sekalian tanah lapisan luar itu, maka tertampaklah samar-samar bentuk boneka yang menyerupai manusia.

Sesudah dikeletek lebih bersih lagi, akhirnya menjadi lebih jelas lagi bentuk boneka itu, yaitu berwujud badan manusia yang telanjang.

Diatas boneka kayu yang diberi bercat minyak ini juga penuh terlukis garis-garis hitam, tapi tiada titik-titik tanda tempat Hiat-to.

Bentuk dan wajah boneka kayu inipun berbeda daripada boneka tanah liat semula.

Boneka kayu ini dibuat secara rajin dan indah sekali, mimik mukanya sangat hidup dalam keadaan sedang tertawa terbahak-bahak, kedua tangannya memegang perut menyerupai orang sewaktu tertawa terpingkal-pingkal, sikapnya sangat jenaka.

Meski sianak muda sudah berusia 20 tahun, tapi sifat kebocahannya belum lagi lenyap.

Ia menjadi senang melihat boneka yang lucu itu.

Apalagi tanda-tanda urat nadi dan Hiat to dibadan boneka-boneka tanah itu sekarang sudah teringat dengan baik diluar kepala, maka ia lantas mebelejeti sekalian boneka-boneka tanah yang lain.

Benar juga didalam setiap boneka tanah itu terbungkus pula sebuah boneka kayu.

Sikap dan mimik muka daripada setiap boneka kayu itu berbedabeda, ada yang sedang kegirangan, ada yang sedih, ada yang sedang menangis dan ada pula yang sedang gusar dan macammacam sikap yang lain.

Garis-garis urat nadi yang terlukis diatas badan boneka-boneka kayu ini hampir seluruhnya sama dengan boneka tanah sebelumnya, hanya garis yang menunjukkan jalan caranya mengerahkan tenaga adalah sama sekali berbeda.

Pikir sianak muda.

"Boneka-boneka kayu ini sangat menarik, biarlah aku coba melatihnya menurut sikap boneka-boneka ini. Muka boneka yang sedang menangis ini takkan kutiru? Yang sedang tertawa seperti orang sinting juga tidak sedap dipandang dan takkan kulatih. Yang akan kutirukan hanya sikap dan mimik wajah boneka-boneka yang sedang berseriseri dan tampak ramah saja."

Segera ia duduk bersila, ia taruh boneka yang bermuka senyum simpul didepannya, lalu mengerahkan tenaga dengan perlahan dari pusatnya, maka terasalah suatu arus hawa hangat perlahan-lahan naik keatas.

Ia jalankan tenaga dalam itu menurutkan garis-garis yang terlukis dibadan boneka itu ke tempat-tempat Hiat-to diseluruh badan.

Kiranya apa yang terlukis diatas badan boneka-boneka kayu itu adalah semacam ilmu sakti ciptaan seorang paderi saleh angkatan tua dari Siau-lim-pay, ilmu sakti itu bernama "Lohan-hok-mo-sin-kang" (ilmu sakti Budha menaklukkan iblis).

Ilmu sakti ini mencakup Lweekang dan Gwakang (kekuatan dalam dan luar atau rohani dan jasmani) yang pernah dihimpun oleh kaum Budha.

Setiap boneka kayu itu adalah sebuah patung Budha.

Untuk bisa melatih ilmu sakti itu dengan baik, orang itu harus mempunyai kecerdasan yang luar biasa, tapi harus berjiwa bersih dan berpikiran polos.

Sudah tentu orang demikian sangat sulit diketemukan didunia ini.

Jarang sekali terjadi bahwa seorang yang pintar bisa membatasi pikirannya pada soal-soal yang sederhana, sebaliknya tentu akan banyak memeras pikiran untuk macam-macam urusan.

Namun pembawaan anak muda itu justeru sangat pintar dan cerdas, kebetulan sejak kecil dia hidup dipegunungan yang sunyi dan terasing dari dunia luar sehingga hijau dalam segala urusan insaniah, hal ini kebetulan cocok sebagai dasar dari permulaan meyakinkan ilmu sakti Lo-han-hok-mo-sin-kang itu.

Rupanya paderi sakti Siau-lim-pay yang menciptakan ilmu ini menyadari sukarnya mencari manusia yang cocok untuk meyakinkan ilmu ciptaannya itu, maka dia telah sengaja melapisi boneka-boneka kayu itu dengan tanah liat dan diberi bercat minyak serta dilukis pula ajaran pengantar Lwekang Siau-lim-pay yang asli, maksudnya supaya orang yang menemukan boneka-boneka itu tidak tertarik untuk melatih Lohan-hok-mo-sin-kang yang sukar itu dan bukan mustahil akibatnya akan membikin jiwa orang yang melatihnya itu melayang.

Tay-pi Lojin, penguasa Pek-keng-to (pulau paus putih), yang menemukan boneka-boneka itu hanya mengetahui bahwa benda-benda itu adalah benda mestika dunia persilatan, tapi dimanakah letak rahasia daripada benda mestika yang berharga itu ia sendiripun tidak tahu meski dia sudah menyelidikinya selama bertahun-tahun.

Maklum, karena boneka-boneka tanah itu dipandang sebagai benda mestika, dengan sendirinya benda-benda itu dijaganya dengan baik, sedikitpun tidak boleh rusak, padahal selama boneka tanah itu tidak rusak, selama itu pula boneka kayu didalamnya takkan diketahui.

Makanya sampai ajalnya Tay-pi Lojin tetap tidak tahu dimana letak rahasia gaib daripada boneka-boneka itu.

Sebenarnya juga tidak melulu Tay-pi Lojin saja yang kecele, sejak rangkaian boneka-boneka tanah itu terlepas dari tangan paderi sakti Siau-lim-pay, selama itu sudah berganti tangan 12 orang dan semuanya masuk liang kubur bersama dengan rahasia yang tidak pernah diketahui mereka.

Demikianlah, karena tenaga dalam sianak muda sekarang sudah sangat hebat, ketika dia mengerahkan tenaga dalam menurutkan garis-garis petunjuk diatas badan boneka-boneka kayu itu, maka setiap rintangan diurat nadinya menjadi tertembus sekaligus.

Sesudah diulanginya sampai tiga kali, akhirnya ia merasa badannya sangat segar dan sehat.

Maka ia lantas ganti sebuah boneka kayu yang lain dan melatihnya lagi.

Karena dia baru mulai melatih Lwekang demikian sehingga seluruh perhatian dan pikirannya dicurahkan kesitu, habis sebuah boneka berganti pula sebuah lagi dan begitu seterusnya.

Tanpa merasa ia telah melatih diri dari subuh sampai lohor terus sampai malam dan kembali keesok paginya.

Dengan penuh rasa kuatir Si Kiam terus menjaga didepan pembaringan sang Pangcu.

Pwe Hay-ciok juga menjenguk beberapa kali keadaan anak muda itu.

Ketika dilihatnya ubunubun kepala sang Pangcu mengepulkan uap tipis, ia tahu Lwekang yang dilatihnya itu sedang mencapai detik-detik yang penting.

Segera ia memberi perintah bawahannya untuk memperkuat penjagaan diluar kamar sang Pangcu, siapapun dilarang mengganggunya.

Waktu sianak muda selesai melatih Hok-mo-sin-kang menurutkan apa yang terlukis diatas ke 18 boneka kayu, sementara itu sudah tiba subuh hari ketiga.

Anak muda itu menarik napas dalam-dalam, lalu ia simpan kembali ke-18 boneka buah boneka itu kedalam kotak.

Ia merasa semangatnya segar dan kuat, tenaga dalamnya berjalan menurut sesuka hatinya.

Sekilas tertampak Si Kiam tertidur dengan nyenyaknya ditepi ranjang.

Anak muda itu lantas turun dari tempat tidurnya.

Tatkala mana sudah lewat hari Tiongkhiu, hawa pada akhir bulan delapan itu belum terlalu dingin, tapi lebih nyaman rasanya.

Ia lihat baju Si Kiam sangat tipis, segera ia ambil sehelai selimut tipis dan perlahan-lahan ia mengemuli pelayan itu.

Mungkin saking lelahnya karena dua malam tidak tidur, maka Si Kiam benarbenar sudah terpulas dan lupa daratan.

Lalu ia mendekati jendela untuk menghirup hawa segar dan berbau harum bunga yang mekar ditaman itu.

Tiba-tiba terdengar Si Kiam sedang berkata.

"Siau…….Siauya, jangan…………janganlah membunuhnya!"

Cepat sianak muda menoleh dan menjawab.

"Kenapa kau selalu memanggil aku Siauya dan mengatakan aku suka membunuh orang?" ~ Tapi lantas tertampak olehnya pelayan itu masih tertidur, rupanya dia telah mengigau. Namun demikian, ketika mendengar suara sianak muda, seketika juga Si Kiam terjaga bangun, ia tepuk-tepuk dada sendiri sambil berkata.

"Wah, sangat menakutkan!" ~ Tapi ketika melihat diatas tempat tidur tiada orang lagi, cepat ia menoleh, maka tertampaklah sianak muda berdiri didekat jendela, ia terkejut dan bergirang, katanya dengan tertawa.

"O, Siauya, kau sudah dapat bangun! Coba lihat, aku sampai tertidur dan tidak mengetahui."

Waktu ia berdiri, segera selimut yang menutup pundaknya itu lantas jatuh kelantai.

Ia terperanjat, ia menyangka diwaktu terpulas dirinya telah diperlakukan secara tidak senonoh oleh tuan mudanya yang terkenal bangor itu.

Tapi ketika melihat bajunya sendiri masih terpakai dengan rajin dan baik, seketika ia menjadi ragu-ragu dan bersyukur pula, katanya dengan suara terputus-putus.

"Kau………..kau tidak…………aku………ku……….."

"Tadi kau telah mengigau dan minta aku jangan membunuh orang, apakah didalam mimpi kau melihat aku hendak membunuh orang?"

Kata sianak muda dengan tertawa. Mendengar ucapan sianak muda tiada bersifat kotor, pula keadaan dirinya juga tiada sesuatu yang mencurigakan, maka hati Si Kiam menjadi lega. Segera ia menjawab.

"Ya, dalam mimpi aku melihat engkau membawa sepasang golok, dimanamana mayat bergelimpangan, semuanya………semuanya………" . ~ Sampai disini mukanya menjadi merah dan tidak melanjutkan lagi. Rupanya siang harinya dia banyak melihat boneka-boneka telanjang yang dimiliki sianak muda, maka didialam mimpi yang dilihatnya juga mayat-mayat kaum lelaki yang telanjang. Dengan sendirinya ia merasa malu untuk mengatakan terus terang. Sudah tentu sianak muda tidak tahu duduknya perkara, ia menegas.

"Semuanya kenapa?"

Muka Si Kiam kembali bersemu merah, sahutnya.

"Semuanya…………..semuanya bukan orang jatah."

"Enci Si Kiam,"

Demikian sianak muda bertanya.

"Banyak sekali kejadian-kejadian yang aku tidak paham, apakah kau suka menjelaskan kepadaku ?"

"Ai, mengapa sesudah sakit, sekarang watakmu sudah berubah sejauh ini,"

Sahut Si Kiam dengan tertawa.

"Bicara dengan kaum hamba sebagai kami ini masakah pakai memanggil enci apa segala ?"

"Justeru itulah yang membingungkan aku,"

Ujar sianak muda.

"Mengapa kau memanggil Siauya padaku dan mengapa pula kau mengaku sebagai hambaku. Para paman itupun menyebut aku sebagai Pangcu. Dan Tian-toako itu mengatakan aku telah merebut isterinya. Sebenarnya bagaimanakah duduknya perkara?"

Si Kiam memandang termangu-mangu sejenak, melihat anak muda itu ber-sungguh-sungguh, lalu katanya.

"Sudah dua hari dua malam engkau tiada makan apa-apa, diluar sana ada bubur tim, biarlah kuambilkan untukmu."

Mendengar tentang makanan, seketika sianak muda merasa perutnya sangat lapar, serunya.

"Biarlah aku ambil sendiri saja, dimanakah bubur tim itu?" ~ Lalu ia menggunakan hidungnya untuk mengendus dan berkata pula dengan tertawa.

"Ya, tahulah aku."

Segera ia menuju keluar.

Diluar kamar tidurnya itu ternyata adalah sebuah kamar besar pula.

Dipojok kiri kamar sana ada sebuah anglo kecil dengan sebuah panci diatasnya, terdengar suara krupukan masaknya bubur itu.

Sianak muda berpaling sekejap kepada Si Kiam.

Seketika muka pelayan itu menjadi merah, ia tahu apa yang terjadi.

Segera ia berseru.

"Ai, bubur tim telah kedaluan sehingga hancur menjadi bubur sumsum."

"Bubur sumsum juga enak,"

Kata sianak muda dengan tertawa. Waktu dia membuka tutup panci, seketika terendus bau sangit, bubur itu memang benar sudah hancur menjadi bubur sumsum, bahkan sebagian besar sudah hangus.

"Siauya, harap kau tunggu sebentar, biar kumasak lagi. Sungguh gebleg hamba ini, ketelanjur tidur sampai lupa daratan" , kata Si Kiam. Anak muda itu sudah lama tinggal di pegunungan, soal nasi atau bubur hangus sudah seringkali dimakannya, maka bubur sumsum yang sudah hangus itupun tidak mengherankan dia, ia ambil sendok dan menyendok bubur itu terus dimakan. Bubur tim itu mestinya bercampur Jinsom yang rasanya memang agak pahit, sekarang hangus dan tiada diberi gula, sudah tentu lebih-lebih pahit. Namun anak muda itu hanya sedikit mengerut dahi dan bubur itu terus ditelannya, ia melelet lidah dan berkata.

"Wah, pahit!". Tapi segera ia menyendok lagi dan dimakan, lalu berkata pula.

"Wah, pahit!"

Cepat Si Kiam hendak merebut sendoknya sambil berkata.

"Barang sudah hangus jangan dimakan lagi."

Ketika tangannya menyentuh tangan sianak muda, karena anak muda itu tidak mau melepaskan sendoknya, dengan sendirinya lantas menimbulkan tenaga tolakan sehingga tangan Si Kiam tergetar, pelayan itu terkejut dan cepat menarik kembali tangannya.

Apa yang terjadi itu sama sekali tak dirasakan oleh sianak muda, dia masih terus makan bubur sumsum yang hangus itu.

Melihat anak muda itu makan dengan lahap sekali tanpa peduli barang hangus dan pahit, Si Kiam menjadi geli, katanya kemudian.

"Ya, maklum juga, memangnya engkau sudah terlalu lapar."

Hanya sebentar saja setengah panci bubur itu sudah dimakan habis bersih.

Walaupun bubur itu sudah hangus, tapi bubur itu dicampur dengan Jinsom yang berkwalitas tinggi dan merupakan obat kuat, maka sehabis makan, tidak lama kemudian semangat sianak muda menjadi lebih tangkas.

Melihat air muka anak muda itu merah bercahaya, dengan tertawa Si Kiam bertanya.

"Siauya, yang kau latih sebenarnya ilmu apa? Tanganku sampai tergetar ketika tersentuh tanganmu. Cahaya mukamu juga sedemikian segarnya."

"Akupun tidak tahu ilmu apa yang kulatih ini, aku hanya melatihnya menurut contoh diatas badan boneka-boneka kayu itu,"

Sahut sianak muda.

"Eh, enci Si Kiam, se……….sebenarnya siapakah aku ini?"

Kembali Si Kiam tertawa, sahutnya.

"Engkau benar-benar tidak ingat lagi atau cuma bergurau saja?"

Sianak muda meng-garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mendadak ia bertanya.

"Kau melihat ibuku atau tidak ?"

"Tidak,"

Sahut Si Kiam dengan heran.

"Siauya, selamanya aku tak pernah mendengar bahwa engkau masih mempunyai ibunda. Ah, tahulah aku, tentu engkau sangat penurut kepada apa yang dikatakan Lothaythay (nyonya besar), makanya watakmu juga sudah berubah."

"Apa yang dikatakan ibu sudah tentu harus diturut,"

Kata sianak muda. Ia menghela napas perlahan, lalu berkata pula.

"Cuma sayang entah ibu telah pergi kemana?"

"O, syukurlah bahwa didunia ini masih ada seorang yang dapat menundukkan kau,"

Kata Si Kiam. Pada saat itu tiba-tiba diluar kamar ada orang berseru.

"Apakah Pangcu sudah bangun? Hamba ingin memberi lapor sesuatu."

Sianak muda diam saja dengan bingung. Tanyanya kepada Si Kiam dengan suara bisik2.

"Apakah dia sedang bicara padaku?"

"Ya, dia bilang hendak memberi laporan kepadamu,"

Sahut Si Kiam.

"Wah, bagaimana aku harus bicara dengan dia,"

Kata sianak muda dengan bingung.

"Enci Si Kiam, suruhlah dia tunggu sebentar, engkau harus mengajarkan dulu padaku cara bagaimana aku harus bicara."

Bab 11. Tiang-Lok-Pangcu Namanya = Ciok Boh Thian Si Kiam memandang sekejap kepada anak muda itu, lalu serunya.

"Siapakah yang berada diluar itu?"

"Hamba Tan Tiong-ci dari Say-wi-tong,"

Sahut orang itu.

"Atas perintah Pangcu hendaklah Tan-hiangcu tunggu sebentar,"

Seru Si Kiam pula.

"Baik,"

Sahut Tan Tiong-ci diluar kamar. Segera sianak muda mengajak Si Kiam kekamar dalam, lalu tanyanya dengan suara tertahan.

"Sebenarnya aku ini siapa?"

Si Kiam mengerut kening, hatinya menjadi sedih karena menyangka anak muda itu benar-benar tidak ingat apa-apa lagi atas dirinya sendiri. Jawabnya kemudian.

"Engkau adalah Pangcu dari Tiang-lok-pang, she Ciok bernama Boh-thian.

"She Ciok bernama Boh-thian? Ciok Boh-thian, kiranya aku ini bernama Ciok Boh-thian, jadi namaku bukan Kau-cap-ceng lagi?"

Demikian sianak muda menggumam sendiri. Melihat air muka anak muda merasa bingung dan gelisah, segera Si Kiam menghiburnya.

"Siauya, kau tidak perlu risau, perlahan-lahan tentu kau dapat ingat kembali."

"Tiang-lok-pang itu barang apa? Apa yang dilakukan Pangcunya?"

Tanya pula si anak muda alias Ciok Boh-thian. Si Kiam menyadi serba sukar untuk menerangkan, sesudah memikir sejenak, akhirnya ia menjawab.

"Tiang-lok-pang mempunyai anggota-anggota sangat banyak, seperti Pwesiansing, Bi-hiangcu dan Tan-hiangcu yang menunggu diluar itu. Engkau adalah Pangcu, maka mereka harus tunduk kepada perintahmu."

"Lantas apa yang harus kubicarakan dengan mereka?"

Tanya Ciok Boh-thian.

"Aku sendiripun tidak tahu apa-apa,"

Sahut Si Kiam.

"Siauya, jika engkau merasa susah mengambil keputusan, maka segala sesuatu boleh kau tanya kepada Pwe-siansing. Dia adalah Kunsu (penasehat) daripada Pang kita, dia sangat pintar."

"Tapi sekarang Pwe-siansing tiada disini, apakah kau tahu Tanhiangcu itu hendak melaporkan apa kepadaku? Jika dia tanya apa-apa kepadaku, tentu aku tidak mampu menjawabnya. Ada lebih baik kau suruh dia pergi saja."

"Suruh dia pergi mungkin bukan cara yang baik,"

Ujar Si Kiam.

"Kau boleh mendengarkan saja apa yang dia katakan, apa yang dia laporkan, cukup kau mengangguk saja."

"Baiklah, hanya mengangguk saja tidak sukar,"

Kata Ciok Bohthian dengan girang.

Segera Si Kiam mengantar Ciok Boh-thian menuju kesebuah ruangan tamu dibagian luar.

Maka tertampaklah seorang lakilaki tinggi besar lantas berbangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat sambil menyapa.

"Pangcu baik, terimalah salam hormat hamba Tan Tiong-ci."

Ciok Boh-thian membalas hormat dan berkata.

"Tan…….Tanhiangcu juga baik, akupun memberi salam hormat padamu."

Air muka Tan Tiong-ci berubah pucat dan cepat melangkah mundur dua tindak.

Maklum, biasanya Tan Tiong-ci mengetahui sang Pangcu adalah seorang kasar, seorang sombong, kejam dan suka main perempuan pula.

Sebagai seorang bawahan ia memberi salam hormat padanya, siapa duga sang Pangcu juga balas memberi salam hormat, hal ini menandakan pikiran jahatnya telah timbul dan segera akan membunuhnya.

Walaupun takut, tapi dia adalah seorang kesatria yang berkepandaian tinggi, sudah tentu ia tidak mandah dibinasakan tanpa melawan, maka diamdiam iapun sudah bersiap siaga, katanya dengan suara berat.

"Entah hamba telah melanggar peraturan Pang kita pasal berapa? Jika Pangcu hendak menjatuhkan hukuman juga mesti mengadakan sidang terbuka dan menjatuhkan keputusan didepan orang banyak."

Dengan sendirinya Ciok Boh-thian tidak paham apa yang dimaksudkan, katanya dengan heran.

"Menjatuhkan hukuman? Menghukum siapa?"

Tan Tiong-ci tambah penasaran, katanya dengan mendongkol.

"Selamanya Tan Tiong-ci jujur dan setia kepada Tiang-lok-pang dibawah pimpinan Pangcu, selama inipun tiada merasa berbuat salah, mengapa Pangcu berulang-ulang menyindir?"

Ciok Boh-thian menjadi bingung.

Tiba-tiba teringat pesan Si Kiam tadi yang menyuruhnya mengangguk saja bila ada sesuatu yang tidak paham dan soalnya nanti boleh ditanyakan kepada Pwe Hay-ciok.

Maka ia lantas mengangguk sambil berkata.

"Ya, ya, silakan Tan-hiangcu duduk dan jangan sungkan-sungkan."

"Dihadapan Pangcu masakah ada tempat duduk bagi hamba,"

Sahut Tan Tiong-ci.

"Ya, ya!"

Kata Ciok Boh-thian dengan bingung.

Jadi kedua orang hanya berdiri saja dengan saling pandang, keduanya sama-sama tidak membuka suara lagi.

Kalau wajah Tan Tiong-ci agak cemas-cemas kuatir dan penuh kewaspadaan, sebaliknya air muka Ciok Boh-thian mengunjuk rasa bingung, tapi bersenyum simpul ramah.

Menurut peraturan Tiang-lok-pang, dikala bawahan memberi laporan rahasia kepada sang Pangcu, maka orang lain harus menyingkir.

Sebab itulah maka sejak tadi Si Kiam sudah tingal keluar dari ruangan tamu itu.

Kalau tidak tentu dia akan dapat memberi sekadar penjelasan kepada Tan Tiong-ci tentang belum pulihnya kesehatan sang Pangcu dan minta Tan-hiangcu jangan kuatir.

Begitulah sesudah kedua orang itu tertegun sejenak, tiba-tiba Ciok Boh-thian melihat diatas meja ada dua mangkuk teh wangi, segera ia mengambil semangkuk, semangkuk lagi ia sodorkan kepasa Tan Tiong-ci.

"Mari minum!"

Karena kuatir didalam teh itu ditaruh racun, pula kuatir mendadak diserang Ciok Boh-thian, maka Tan Tiong-ci tidak berani menerima mangkuk teh itu, sebaliknya malah mundur selangkah.

Maka terdengarlah suara "prang"

Yang nyaring mangkuk itu jatuh kelantai dan pecah berantakan.

"Ai, maaf, maaf!"

Seru Ciok Boh-thian, segera ia menyodorkan mangkuk yang satu lagi dan berkata.

"Silakan minum yang ini saja."

Alis mata Tan Tiong-ci menjengkit, ia pikir toh tidak dapat lolos dari maksud jahat sang Pangcu, seorang laki-laki biarpun mati juga tidak perlu takut.

Maka tanpa pikir lagi ia lantas terima mangkuk itu dan sekali tenggak isi mangkuk itu lantas diminum habis.

Ia gabrukan mangkuk teh itu diatas meja, lalu berkata dengan rasa cemas.

"Sedemikianlah cara Pangcu memperlakukan bawahanmu yang setia, semoga Tiang-lokpang bahagia selamanya dan semoga Ciok-pangcu panjang umur."

Sedikit banyak Ciok Boh-thian dapat menangkap maksud katakata "semoga Ciok-pangcu berpanjang umur" , cuma ia tidak tahu maksud ucapan Tan Tiong-ci itu adalah kebalikannya, maka ia lantas menjawab.

"Ya, semoga Tan-hiangcu juga panjang umur."

Sudah tentu jawaban ini bagi pendengaran Tan Tiong-ci merupakan sindiran pula, ia tertawa dingin berkata didalam hati.

"Jiwaku hanya tinggal sekejap saja, tapi kau masih mendoakan aku berpanjang umur, sungguh keji amat kau."

Namun demikian ia masih penasaran, serunya pula.

"Entah dimana letak kesalahanku, makanya aku harus terima ganjaranku seperti sekarang, untuk ini Siok-he (bawahan) tidak ingin banyak omong lagi. Hanya saja mengenai maksud kedatangan Siokhe ini ialah ingin memberi lapor kepada Pangcu, bahwa semalam ada dua wanita telah menyusup kemarkas Say-wi-tong, yang seorang adalah wanita setengah umur, yang satu lagi baru berusia 27-28 tahun. Kedua wanita itu semuanya menggunakan pedang, ilmu silat mereka seperti dari golongan Swat-san-pay. Siokhe bersama para kerabat berusaha menangkap mereka, tapi ilmu pedang kedua wanita itu terlalu lihay, tiga anak murid Siokhe telah menjadi korban keganasan mereka, tapi wanita yang lebih muda itupun terluka kakinya dan akhirnya tertawan. Untuk mana Siokhe sengaja datang kemari untuk minta keputusan Pangcu."

"O, jadi yang satu tertangkap dan yang lain lolos,"

Kata Ciok Boh-thian.

"Entah kedua wanita itu mau apa datang kesini? Apakah hendak mencuri ?"

"Dimarkas Say-wi-tong tiada kehilangan apa-apa,"

Sahut Tan Tiong-ci.

"Kedua wanita itu mengapa begitu kejam, masakah sekaligus membunuh tiga orang,"

Kata Ciok Boh-thian sambil mengerut kening. Tiba-tiba timbul rasa ingin tahunya, segera ia bertanya.

"Eh, Tan-hiangcu, cobalah kau membawa aku pergi melihat wanita itu."

"Baik,"

Sahut Tan Tiong-ci dengan hormat. Sesudah mereka keluar dari ruangan tamu, tiba-tiba timbul suatu pikiran dalam benak Tan Tiong-ci.

"Wanita yang kutawan itu bermuka cantik, boleh jadi Pangcu akan suka padanya dan dalam girangnya mungkin dia akan memberikan obat penawar padaku." ~ Tapi lantas terpikir pula.

"Tan Tiong-ci, wahai Tan Tiong-ci, Ciok-pangcu adalah seorang yang kasar, girang dan marah tiada tertentu, rasanya Tiang-lok-pang ini bukanlah tempat bernaung yang baik bagimu. Kalau hari ini jiwamu beruntung dapat selamat, selanjutnya lebih baik kabur saja sejauh mungkin dan mengasingkan diri serta jangan berkecimpung pula didunia Kangouw."

Begitulah Ciok Boh-thian ikut Tan Tiong-ci menyusuri beberapa ruangan dan melalui dua buah taman, akhirnya sampailah didepan sebuah pintu batu yang besar.

Tertampak empat penjaga bersenjata berdiri disitu.

Melihat datangnya Ciok Bohthian dan Tan Tiong-ci, dengan gugup penjaga2 itu memberi hormat.

Ketika Tan Tiong-ci memberi tanda, segera dua penjaga diantaranya mendorong daun pintu batu itu.

Dibalik pintu batu itu kiranya masih ada sebuah pintu berterali besi yang dikunci dengan gembok besar.

Segera Tiong-ci mengeluarkan kunci dan dibukanya sendiri.

Sesudah masuk, ternyata disitu adalah sebuah lorong yang panjang, didalamnya ada api lilin besar.

Pada ujung lorong ada empat penjaga pula dan kembali menghadapi sebuah pintu berterali besi.

Sesudah pintu terali dibuka, didalamnya ada sebuah pintu besi yang tebal.

Setelah Tan Tiong-ci membuka gembok dan membuka pintu tebal itu, maka tertampaklah sebuah kamar batu kira-kira tiga meter persegi.

Seorang wanita berbaju putih tampak duduk mungkur.

Waktu mendengar suara pintu terbuka, wanita itu lantas menoleh.

Segera Tan Tiong-ci menaruh Cektay (tatakan lilin) diatas meja disamping pintu, cahaya lilin dapat menerangi muka siwanita dengan jelas.

Mendadak Ciok Boh-thian berseru kaget.

"Ha, bukankah engkau adalah nona Hoa, Hoa Ban-ci dari Swat-sanpay?"

Kiranya apa yang terjadi di Hau-kam-cip dulu masih teringat dengan baik olehnya.

Walaupun sudah berselang beberapa tahun, namun wajah Hoa Ban-ci itu tiada banyak berubah, maka begitu lihat Ciok Boh-thian lantas mengenalnya.

Sebaliknya dulu Ciok Boh-thian adalah seorang pengemis kecil yang dekil, hari ini pakaian sudah mewah dan berubah dewasa menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan, dengan sendirinya Hoa Ban-ci tidak mengenalnya lagi.

Maka dengan marah-marah Hoa Ban-ci berkata.

"Mengapa kau mengenal diriku?"

Diam-diam Tan Tiong-ci juga kagum terhadap kecerdasan sang Pangcu, hanya sekali lihat saja lantas dapat mengatakan siapa dan dari mana asal-usul tawanannya itu. Segera ia membentak.

"Ini adalah Pangcu kami, cara bicaramu harus tahu aturan sedikit!"

Hoa Ban-ci terkejut.

Sama sekali tak tersangka olehnya akan bertemu dengan Tiang-lok-pangcu Ciok Boh-thian yang terkenal busuk itu.

Kabarnya pangcu ini suka merusak kaum wanita, hari ini dirinya berada didalam cengkeramannya, tentu lebih banyak celaka dari selamatnya.

Karena itulah ia menjadi kuatir dan cepat berpaling kearah dinding agar wajahnya yang cantik itu tidak terlihat.

Berbareng terdengar suara gemerincingnya benda logam, kiranya kaki dan tangannya telah diborgol.

Diwaktu mendengarkan ibunya mendongeng, Ciok Boh-thian pernah diberitahu tengan borgol dan lain-lain dan baru hari ini ia melihat dengan mata sendiri bentuk borgol itu.

Segera ia tanya Tan Tiong-ci.

"Tan-Hiangcu, apa sih dosa nona Hoa ini sehingga kaki dan tangannya perlu diborgol."

Sebabnya dia tanya adalah karena dia memang tidak paham. Tapi bagi pendengaran Tan Tiong-ci, disangkanya pertanyaan sang Pangcu itu bermaksud kebalikannya. Pikirnya.

"Wah, celaka, mungkin Pangcu menganggap aku memperlakukan nona Hoa dengan tidak pantas, maka dia telah meracuni diriku. Sedapat mungkin aku harus berusaha memperbaiki kesalahanku ini." ~ Maka cepat ia menjawab.

"Ya, ya, hamba memang salah." ~ Segera ia mengeluarkan kunci dan cepat membuka borgol yang membelenggu kaki dan tangan Hoa Banci itu. Walaupun Hoa Ban-ci sekarang sudah merdeka, tapi ia menjadi lebih-lebih kuatir sehingga gemetar. Dalam hal kecerdasan dan kepandaian silat Hoa Ban-ci yang berjuluk Bwe-hoa-lihiap (pendekar bunga Bwe) itu tidaklah kalah daripada kesatria kaum lelaki. Kalau Ciok Boh-thian mengancam akan membunuhnya, betapapun tidak nanti dia menyerah. Tapi sekarang ia mendengar Ciok Boh-thian malah menyalahkan Tan-hiangcu yang menawannya, terang dibalik ucapannya itu mengandung maksud tertentu atas dirinya, jelasnya dia telah dipenujui oleh Ciok Boh-thian. Padahal selama hidup ini dia selalu menjaga diri dengan baik dan sampai saat ini masih suci bersih, kalau sampai dinodai oleh Ciok Boh-thian yang terkenal busuk itu, wah, benar-benar bisa celaka. Dalam pada itu Tan Tiong-ci juga sengaja hendak membikin senang hati sang Pangcu, maka ia telah berkata.

"Pangcu, mengapa nona Hoa tidak diajak bicara kekamar Pangcu saja? Disini terlalu gelap dan kotor, bukan suatu tempat yang pantas untuk tetamu."

"Ya, bagus,"

Sahut Ciok Boh-thian dengan girang.

"Marilah nona Hoa, disana tersedia sarang burung yang sangat enak, nanti kau boleh coba mencicipi satu mangkuk."

"Tidak, tidak mau,"

Seru Hoa Ban-ci dengan suara gemetar.

"Enak, sungguh sangat enak, boleh kau coba dulu nanti" , kata Ciok Boh-thian pula. Hoa Ban-ci menjadi gusar, sahutnya.

"Kalau mau bunuh, lekas bunuh, nona adalah murid terhormat dari Swat-san-pay, tidak nanti sudi minta ampun padamu. Kau bangsat ini kalau menaruh maksud jahat padaku, aku lebih suka membunuh diri daripada…………datang kekamarmu."

"Ai, mengapa kau bilang demikian, seakan-akan aku ini paling suka orang saja, sungguh aneh, buat apa aku membunuh kau? Jika kau tidak doyan sarang burung ya sudah, ya, mungkin kau lebih suka makan ayam panggang dan bebek tim. Eh, Tanhiangcu, apakah makanan-makanan demikian kita ada sedia?"

"Ada, ada, ada!"

Cepat Tan Tiong-ci menjawab.

"Apa yang disukai nona Hoa, asal terdapat didunia ini tentu didapur kita juga sedia."

"Fui, biarpun mati juga nona tidak sudi makan barang suguhan kalian yang hanya membikin kotor mulutku saja,"

Sahut Ban-ci dengan marah.

"O, apa barangkali nona Hoa lebih suka belanja sendiri kepasar untuk dibawa pulang dan dimasak sendiri? Apakah kau mempunyai uang? Jika tidak punya, tentunya Tan-hiangcu punya, bukan? Harap kau berikan sedikit padanya,"

Demikian kata Ciok Boh-thian.

"Ada, ada, segera kusuruh mengambilkan pada kasir!" ~ "Tidak, tidak, biar mati juga aku tidak sudi!"

Demikian Tan Tiong-ci dan Hoa Ban-ci bersuara berbareng.

"Ah, mungkin kau sendiri sudah punya uang, Tan-hiangcu bilang kakimu terluka, kami akan minta Pwe-siansing mengobati lukamu, tapi tampaknya kau tidak suka kepada Tiang-lok-pang, maka bolehlah kau pergi mencari tabib sendiri, kalau lukamu terlalu banyak mengeluarkan darah tentu akan kurang baik."

Sudah tentu Hoa Ban-ci tidak percaya Ciok Boh-thian mau membebaskan dia, ia menduga dirinya akan dipermainkan seperti kucing menggoda tikus, maka dengan marah-marah ia menjawab.

"Pendek kata aku takkan masuk perangkapmu biarpun kau pakai tipu muslihat apapun juga."

Ciok Boh-thian menjadi lebih heran, katanya.

"Kamar batu ini mirip dengan penjara, buat apa tinggal disini? Nona Hoa, lebih baik lekas kau keluar dari sini saja."

Karena mendengar ucapan itu agak sungguh-sungguh, Hoa Ban-ci mendengus dan berkata.

"Hm, dimanakah pedangku, mau mengembalikan atau tidak?" ~ Ia pikir kalau sudah pegang senjata, bila Ciok Boh-thian akan berbuat tidak senonoh padanya tentu akan dapat membunuh diri biarpun tidak mampu melawannya.

"O, ya, nona Hoa suka pakai senjata pedang. Tan-hiangcu, sukalah kau mengembalikan pedangnya ?"

Kata Ciok Boh-thian.

"Ya, ya, pedangnya tersimpan diluar sana, silakan nona keluar dan segera akan kami kembalikan" , sahut Tan Tiong-ci. Karena sudah bertekad akan membunuh diri maka Hoa Ban-ci tidak gentar terhadap tipu muslihat pula. Mendadak ia berbangkit terus melangkah keluar. Segera Ciok Boh-thian dan Tan Tiong-ci mengikutinya dari belakang. Sesudah tiba ditaman diluar penjara itu, maka Hoa Ban-ci menjadi silau oleh cahaya sang surya. Walaupun demikian semangatnya lantas terbangkit. Rupanya Tan Tiong-ci ingin mengambil hati sang Pangcu, sebelum disuruh ia sudah mengambilkan pedangnya Hoa Banci dan diserahkan kepada Ciok Boh-thian. Lalu Ciok Boh-thian mengembalikan pedan itu kepada Hoa Ban-ci. Kuatir kalau mendadak dirinya diserang, maka diwaktu menerima kembali pedangnya, cepat sekali ia menyambar gagang pedang dan siap-siap untuk melolosnya dari sarung pedang. Tan Tiong-ci tahu ilmu pedang murid Swat-san-pay itu sangat hebat, maka berbareng iapun menyambar sebatang golok dari tangan seorang penjaga dan siap untuk menghadapi Hoa Banci. Namun Ciok Boh-thian telah berkata.

"Nona Hoa, apakah lukamu tidak menjadi halangan? Jika tulang kakimu patah, boleh juga aku menyambungkan untukmu seperti aku menyambung tulang kaki si Kuning dahulu."

Yang bicara tidaklah sengaja, tapi yang mendengarkan merasa terhina.

Apalagi Hoa Ban-ci masih seorang perawan suci, ketika melihat sorot mata Ciok Boh-thian memandang kearah kakinya, seketika mukanya menjadi merah, damperatnya.

"Dasar bajingan, cara bicaramu juga kotor dan rendah."

"He, apakah salah perkataanku?"

Seru Ciok Boh-thian dengan heran.

"Apakah boleh kuperiksa lukamu itu?"

Apa yang dikatakannya adalah timbul dari jiwanya yang masih ke-kanak-anakan dan tiada punya maksud lain, Hoa Ban-ci menganggap Ciok Boh-thian hendak menggodanya.

"Sret, pedang segera dilolosnya sambil membentak.

"Manusia she Ciok, jika kau berani maju setindak lagi segera nona mengadu jiwa dengan kau."

"Nona Hoa, Pangcu kami sangat gagah dan tampan, jika beliau sudah penujui kau, ini adalah rejekimu, biarpun kau membawa pedang juga tiada bedanya bagi pandangan Pangcu kami. Padahal entah betapa banyak nona cantik didunia ini yang ingin memikat Pangcu kami dan tak terkabul harapan mereka,"

Demikian kata Tan Tiong-ci.

Dengan muka pucat menahan gusar, tanpa pikir lagi pedang Hoa Ban-ci lantas menusuk kedada Ciok Boh-thian dalam tipu "Tay-boh-hui-sah" (pasir terbang digurun luas).

Meski Lwekang Ciok Boh-thian sekarang sudah maha kuat, tapi dalam hal ilmu silat untuk menghadapi musuh selamanya dia belum pernah belajar.

Sekarang dilihatnya pedang Hoa Ban-ci menyambar kepadanya, dalam gugupnya ia menjadi kelabakan, tapi ia masih sempat membalik tubuh terus melarikan diri.

Untung Lwekangnya sekarang sudah sangat sempurna, walaupun cara larinya agak ketolol-tololan dan menggelikan, tapi cepatnya benar-benar luar biasa, hanya beberapa langkah saja dia sudah berlari sejauh beberapa meter.

Sama sekali Hoa Ban-ci tidak menyangka Ciok Boh-thian akan melarikan diri, bahkan sedemikian cepat larinya, betapa aneh dan hebat Ginkangnya itu sungguh belum pernah dilihatnya, seketika Hoa Ban-ci sampai terkesima sendiri dan tak dapat bersuara.

"Wah, nona Hoa, kau jangan main-main dengan senjatamu,"

Demikian Ciok Boh-thian berseru sambil goyang-goyang kedua tangannya.

"Berulang-ulang kau menuduh aku suka membunuh orang, padahal kau sendirilah yang suka membunuh. Sudahlah, jika kau mau pergi boleh pergi saja dan kalau ingin tinggal disini juga boleh, aku tidak mau bicara lagi dengan kau."

Rupanya ia menduga Hoa Ban-ci tentu mempunyai alasannya, maka dirinya hendak dibunuh olehnya.

Untuk ini ada lebih baik meminta keterangan kepada Si Kiam saja.

Maka sehabis bicara ia lantas tinggal pergi.

Hoa Ban-ci menjadi lebih heran, serunya.

"Ciok-pangcu, apakah kau benar-benar telah membebaskan diriku? Janganjangan kau menyuruh orang untuk merintangi aku diluar sana."

"Untuk apa aku merintangi kau? Jangan-jangan pedangmu akan menusuk aku lagi, wah, kan bisa runyam!"

Sahut Ciok Boh-thian.

Betapapun Hoa Ban-ci masih ragu-ragu.

Tapi ia pikir daripada tetap tinggal disarang maut itu ada lebih baik tinggal pergi saja.

Maka tanpa bicara lagi ia lantas putar tubuh dan melangkah pergi.

"Nona Hoa,"

Tiba-tiba Tan Tiong-ci berseru dengan tertawa.

"Jelek-jelek Tiang-lok-pang kami juga tidak kekurangan penjaga, masakah nona Hoa sedemikian mudahnya pergidatang sesukanya, memangnya kau anggap orang-orang Tiang-lok-pang kami ini adalah sebangsa tukang gegares yang tak berguna?"

"Habis apa yang kau inginkan?"

Sahut Hoa Ban-ci dengan alis menjengkit.

"Kukira, haha, adalah lebih baik aku yang mengantar nona Hoa keluar,"

Ujar Tan Tiong-ci dengan tertawa. Diam-diam Hoa Ban-ci berpikir.

"Sekarang aku masih berada disarang mereka, terpaksa aku tunduk kepada keinginannya, kalau aku membangkang tentu akan sukar untuk keluar dari sini. Sekarang biarlah aku telan semua hinaan, kelak aku akan mengajak para saudara seperguruan untuk mengobrak-abrik tempat ini dan membalas dendam."

"Jika demikian, silakan antarkan,"

Katanya kemudian.

"Pangcu, Siokhe hendak mengantar nona Hoa keluar dari sini,"

Kaa Tiong-ci kepada Ciok Boh-thian.

"Bagus, bagus!"

Sahut Boh-thian.

Melihat sinar pedang Hoa Ban-ci yang gemilapan itu, dia menjadi jeri, kalau Tan Tiong-ci bersedia mengantarnya keluar adalah kebetulan baginya.

Maka ia lantas kembali ke kamarnya sendiri melalui jalan tadi.

Setiap orang yang dijumpainya ditengah jalan selalu menyingkir dan memberi hormat padanya.

Setiba kembali dikamarnya, diatas meja ternyata sudah tersedia macam-macam daharan yang serba enak, segera Si Kiam melayaninya makan.

Dengan lahap Ciok Boh-thian melahap semua masakan-masakan jang disediakan itu dan berulang-ulang memuji kelezatannya, sekaligus ia menghabiskan lima mangkuk nasi barulah merasa kenyang.

Selesai makan, baru saja dia hendak tanya Si Kiam mengenai ditawannya Hoa Ban-ci oleh Tan-hiangcu dan mengapa nona itu hendak membunuhnya, tiba-tiba penjaga diluar pintuk memberi lapor bahwa Pwe Hay-ciok datang.

Boh-thian sangat girang, cepat ia memapak keluar ruangan tamu.

Segera ia berkata kepada Pwe Hay-ciok.

"Pwe-siansing, tadi telah terjadi sesuatu yang aneh," ~ Lalu ia menceritakan tentang Hoa Ban-ci tadi.

"Pangcu,"

Kata Pwe Hay-ciok kemudian dengan sikap prihatin.

"Siokhe ingin mohon sesuatu padamu. Yaitu tentang Tan hiangcu dari Say-wi-tong yang selamanya sangat setia dan berjasa kepada Pang kita, haraplah Pangcu suka mengampuni jiwanya."

"Mengampuni jiwanya?"

Ciok Boh-thian menegas dengan heran.

"Ya, mengapa tidak? Bukankah dia seorang baik. Apakah dia sakit? Jika demikian hendaklah Pwe-siansing suka menolongnya saja."

Pwe Hay-ciok sangat girang, ia memberi hormat dan menghaturkan terima kasih.

Biasanya sang Pangcu itu sangat tak berbudi, orang yang dianggapnya bersalah jarang diampuni, tapi hari ini kebiasaan itu telah dilanggar, hal ini menandakan penghargaannya terhadap permohonan dirinya itu.

Maka cepat Pwe Hay-ciok lantas mengundurkan diri.

Kiranya sesudah Tan Tiong-ci berpisah dengan Hoa Ban-ci, kemudian buru-buru ia menemui Pwe Hay-ciok dan minta bantuannya untuk memohon ampun kepada sang Pangcu dan memberi obat penawar racun (padahal sama sekali ia tidak keracunan).

Obat penawar racun milik Pwe Hay-ciok yang bernama "Ban-leng-kay-tok-tan"

Sangat mujarab bagi segala macam racun, asal sang Pangcu mengijinkan, dengan mudah sekali ia dapat menyelamatkan jiwa Tan Tiong-ci.

Dan ternyata dengan cepat sang Pangcu lantas meluluskan permintaannya, sudah tentu girang Pwe Hay-ciok tak terkatakan, terutama mengingat kekuatan Tiang-lok-pang tidak jadi retak dengan urung perginya Tan Tiong-ci.

Begitulah, sesudah Pwe Hay-ciok pergi, lalu Ciok Boh-thian tanya berbagai urusan kepada Si Kiam, maka baru diketahui bahwa tempat markas besar Tiang-lok-pang berada itu adalah kota Yangciu.

Dia adalah Pangcu dari Tiang-lok-pang yang susunan organisasinya terbagi menjadi Lwe-sam-tong (tiga seksi dalam) dan Gwa-ngo-tong (lima seksi luar) dengan anggota yang tersebar luas dimana-mana.

Jago-jago pilihan didalam Tiang-lok-pang teramat banyak, beberapa tahun terakhir ini perkembangan organisasi mereka maju dengan pesat, tokoh-tokoh seperti Pwe Hay-ciok saja juga mau masuk menjadi anggota, maka dapat dibayangkan betapa hebat pengaruh dan kekuatan Tiang-lok-pang.

Adapun bagaimana azas perjuangan Tiang-lok-pang, siapa kawan dan siapa lawannya, hal-hal ini Si Kiam tak dapat menceritakan, maklum ia hanya seorang pelayan yang masih hijau.

Dengan sendirinya Ciok Boh-thian tidak mendapatkan gambaran yang jelas tentang Tiang-lok-pang, apalagi dia sendiri tiada punya pengalaman apa-apa.

Sesudah merenung sejenak, kemudian ia berkata.

"Enci Si Kiam, tentu kalian telah salah mengenali orang. Jikalau aku tidak berada dalam mimpi, maka teranglah Pangcu kalian adalah seorang lain lagi. Aku adalah pemuda gunung, masakah dianggap Pangcu apa segala."

"Sekalipun banyak manusia yang mirip didunia ini juga tiada mungkin semirip ini,"

Kata Si Kiam dengan tertawa.

"Siauya rupanya engkau sedang melatih semacam ilmu dan mungkin telah mengguncangkan otakmu sehingga kau melupakan kejadian yang lalu. Hendaklah kau mengaso saja, perlahanlahan tentu dapat ingat kembali."

"Tidak, tidak, masih banyak yang aku merasa tidak mengarti dan ingin tanya padamu,"

Kata Boh-thian.

"Enci Si Kiam, sebab apa kau suka menjadi pelayan?"

"Masakah ada orang sukarela menjadi pelayan?"

Sahut Si Kiam dengan hati pedih.

"Sejak kecil aku sudah yatim piatu, aku telah dijual orang kedalam Tiang-lok-pang sini dan Tocongkoan (kepala rumah tangga, she To) menugaskan aku melayani kau, terpaksa aku harus melayani kau."

"Jika demikian, jadi kau tidak suka, kalau begitu bolehlah kau pergi saja, aku tidak perlu dilayani orang, segala apa aku dapat mengerjakannya sendiri,"

Kata Boh-thian.

"Aku hanya sebatangkara, kau suruh aku pergi kemana? Jika To-congkoan mengetahui kau takmau dilayani diriku, tentu aku yang disalahkan dan mungkin akan dihajarnya hingga mati."

"Aku akan minta dia jangan menghajar kau,"

Kata Boh-thian. Namun Si Kiam tetap menggeleng, katanya.

"Kesehatanmu belum pulih, akupun tidak boleh pergi dengan begini saja. Pula asal kau tidak nakal padaku, sesungguhnya aku suka melayani kau, Siauya."

"Bilakah aku nakal padamu? Selamanya aku tidak pernah nakal pada orang lain."

Si Kiam mendongkol dan geli pula, katanya.

"Jika demikian, orang tentu akan mengatakan Ciok-pangcu kita benar-benar telah berubah sekarang menjadi alim."

Boh-thian tidak berkata lagi, tapi pikirnya.

"Ciok-pangcu yang sebenarnya itu tentulah seorang manusia jahat, nakal dan suka membunuh orang pula, maka setiap orang takut padanya. Wah, bagaimana baiknya ini? Biarlah besok dibicarakan sejelasnya dengan Pwe-siansing saja, terang mereka telah salah mengenali diriku."

Begitulah pikirannya timbul-tenggelam tak tertentu, sebenarnya ia merasa senang menjadi Pangcu yang dihormati orang sebanyak itu, tapi lain saat ia merasa tidaklah pantas memalsukan orang lain, kelak kalau Pangcu tulen itu pulang tentu akan marah, boleh jadi dirinya akan dibunuh dan inilah suatu risiko baginya.

Petangnya sesudah makan malam, kembali ia mengobrol lagi dengan Si Kiam, ia tanya ini dan itu, ia merasa serba menarik dari keterangan-keterangan yang diberikan Si Kiam itu.

Sampai jauh malam, Si Kiam kuatir penyakit nakal sang Siauya akan kumat lagi, maka cepat-cepat ia mengundurkan diri dan sekalian menutupkan pintu kamar.

Tinggal Ciok Boh-thian sendirian didalam kamar, dalam isengnya ia lantas duduk bersila diatas ranjang dan berlatih menurut petunjuk-petunjuk dibadan boneka-boneka kayu itu.

Dimalam yang sunyi senyap itulah tiba-tiba terdengar suara "tik-tik-tik"

Tiga kali, suara daun jendela diselentik.

Waktu Ciok Boh-thian membuka mata, tertampaklah daun jendela perlahan-lahan terpentang, sebuah tangan yang halus tampak sedang menggapai-gapai padanya, samar-samar kelihatan pula lengan bajunya yang berwarna hijau pupus.

Hati Ciok Boh-thian tergerak, teringat olehnya wajah sianak dara berbaju hijau muda.

Segera ia melompat turun dan memburu kedepan jendela, serunya.

"Cici!"

"Cis, mengapa memanggil Cici sekarang? Lekas keluar sini!"

Demikian terdengar suara seorang anak dara menyahut dengan suara yang nyaring merdu.

Segera Boh-thian melangkah keluar melalui jendela.

Tapi tiada seorangpun tertampak olehnya.

Tengah heran, mendadak pandangannya menjadi gelap, sepasang tangan yang halus lemas telah mendekap kedua matanya, berbareng terdengar suara mengikik-tawa dibelakangnya, menyusul lantas terandus bau bunga anggrek yang harum.

Terkejut dan senang pula hati Ciok Boh-thian.

Ia tahu si-anak dara sedang bergurau dengan dia.

Padahal sejak kecil ia hidup ditengah gunung yang sepi, kawan satu-satunya adalah si Kuning, anjing piaraannya.

Sekarang mendadak ada seorang muda yang sebaya dan suka bergurau dengan dia, sudah tentu dia sangat senang.

"Nah, aku akan tangkap kau!"

Serunya sambil kedua tangannya merangkul kebelakang.

Tapi betapa cepatnya dia bergerak, tahu-tahu dia hanya memegang tempat kosong, dengan cepat sekali sianak dara sudah melompat pergi.

Ketika ia menoleh, sekilas tertampak baju hijau berkelebat di-semak-semak pohon bunga sana, cepat ia memburu maju dansegera menangkapnya, tapi yang terpegang adalah duri-duri mawar sehingga dia menjerit kesakitan.

Sianak dara tampak mengongol dari balik semak-semak sana dan berkata perlahan dengan tertawa.

"Tolol, jangan bersuara, lekas ikut padaku!"

Ketika melihat anak dara itu berjalan pergi, segera Boh-thian mengikutinya.

Waktu berlari sampai ditepi pagar tembok, baru saja anak dari itu hendak melompat keatas, mendadak dari tempat gelap telah mengadang keluar dua orang bersenjata sambil membentak.

"Jangan bergerak! Siapa kau?"

Pada saat itu pula juga dengan tertawa-tawa Ciok Boh-thian juga sudah ikut tiba.

Rupanya kedua orang itu adalah anggota Tiang-lok-pang yang sedang meronda.

Mereka menjadi mengkeret demi nampak sang Pangcu bersama anak dara itu dalam keadaan tertawa senang, cepat mereka melangkah mundurdan memberi hormat, kata mereka.

"Hamba tidak tahu nona ini adalah teman Pangcu, harap memaafkan." ~ Menyusul merekapun memberi hormat pada sianak dara sebagai tanda permintaan maaf. Anak dara itu meleletkan lidah kepada mereka dengan muka jenaka, lalu ia menggape pula kepada Ciok Boh-thian terus melompat keatas pagar tembok. Melihat pagar tembok itu cukup tinggi, Boh-thian merasa tidak sanggup melompat keatas sebagaimana cara sianak dara itu. Tapi dilihatnya anak dara itu sedang menggape lagi padanya, bahkan kedua peronda tadi juga sedang memandang padanya, ia pikir tidaklah mungkin menyuruh mereka membawakan tangga baginya, terpaksa ia harus melakukannya sebisa mungkin, segera ia tekuk lutut sedikit terus meloncat keatas. Eh, aneh juga, entah darimana timbulnya semacam tenaga pada kakinya, sekonyong-konyong tubuhnya terus membal keatas, bahkan tanpa hinggap diatas pagar tembok dan sekaligus melintas keluar sana. Kedua peronda tadi sampai melonjak kaget, mereka lantas berseru memuji.

"Gin-kang yang hebat !"

Namun lantas terdengar suara gedebukan diluar pagar tembok sana, suara jatuhnya benda berat.

Kiranya Ciok Boh-thian tidak tahu cara bagaimana harus tancapkan kakinya ketanah maka ia telah jatuh terbanting.

Kedua peronda hanya saling pandang dengan bingung, sudah tentu mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi.

Sungguh tak tersangka oleh mereka bahwa Ginkang sang Pangcu sebagus itu akhirnya dapat jatuh terbanting dalam keadaan yang lucu.

Sebaliknya sianak dara yang berdiri diatas pagar tembok dapat melihat dengan jelas, ia terkejut dan cepat melompat turun kesana.

Ia lihat Ciok Boh-thian sampai sejenak belum lagi bangun, segera ia memayangnya dan bertanya.

"Engkoh Thian, bagaimana? Agaknya kesehatanmu belum pulih betul-betul, janganlah terlalu menggunakan tenaga. Pantat Ciok Boh-thian terasa kesakitan karena jatuh terbanting dengan keras, atas bantuan sianak dara akhirnya dia dapat berdiri kembali.

"Maukah kita pergi ketempat biasanya sana,"

Ajak sianak dara.

"Apakah kau masih sakit, dapat berjalan tidak?"

Dasar Ciok Boh-thian sangatlah bandel, biarpun sakit juga takkan mengaku sakit, apalagi Lwekangnya sekarang sudah sangat tinggi, rasa sakit terbanting itu hanya sebentar saja sudah lenyap, segera ia menjawab.

"Aku tidak merasa sakit lagi, marilah kita segera berangkat."

"Sudah sekian lamanya kita tidak bertemu, kau kangen padaku atau tidak?"

Tanya sianak dara dengan mendongak, menatap muka Ciok Boh-thian dan sambil menarik tangan kanannya.

Maka tertampaklah didepan Ciok Boh-thian sebuah wajah yang cantik molek, dibawah pantulan cahaya rembulan, kedua biji mata anak dara itu seakan-akan dua titik bintang yang cemerlang.

Dari badan anak dara itupun terendus bau yang harum, mau-tak-mau hati pemuda itu terguncang.

Walaupun dia sama sekali tidak paham soal hubungan antara kaum pria dan wanita, tapi seorang pemuda berusia 20 tahun berada dalam keadaan dan adegan demikian, biarpun lebih tolol lagi juga akan timbul rasa cintanya kepada anak dara yang cantik itu.

Sesudah tertegun sejenak, lalu ia menjawab.

"Malam itu kau telah datang menjenguk diriku dan segera kau pergi lagi. Sungguh aku sangat merindukan dikau."

Sianak dara tertawa genit, katanya pula.

"Kau telah menghilang sekian lamanya, lalu tak sadarkan diri sekian lamanya pula, sungguh aku menjadi kuatir sekali. Selama beberapa hari ini setiap malam aku pasti datang menjenguk kau, apakah kau tahu? Kulihat kau sedang asyik berlatih, karena kuatir mengganggu, maka aku tidak memanggil kau."

"Apa betul? Sungguh aku sama sekali tidak tahu. O, enci yang baik, mengapa kau se………..sedemikian baiknya padaku?"

Kata Boh-thian dengan girang. Mendadak air muka sianak dara berubah, ia kipatkan tangan sianak muda dan omelnya.

"Kau panggil aku apa? Ya, memang aku sudah………..sudah menduga sebabnya kau menghilang sekian lamanya, tentu……… tentu kau mempunyai teman wanita lagi dilain tempat. Hm, rupanya kau sudah terlalu biasa memanggil ‘enci yang baik’ kepada orang lain, maka sekarang juga kau panggil aku demikian."

Baru saja anak dara itu masih tertawa riang dan menggiurkan, sekarang mendadak lantas berubah marah, keruan Ciok Bohthian tidak paham dan bingung, katanya dengan tergagapgagap.

"Aku………..aku…………."

Sianak dara bertambah marah, tiba-tiba ia jewer telinga kanan Ciok Boh-thian, katanya dengan gusar.

"Selama ini sebenarnya kau telah berkumpul dengan wanita siapa? Bukankah kau memanggilnya sebagai ‘enci yang baik’? Hayo, lekas mengaku, lekas!" ~ Sambil bicara jewerannya tambah keras dan makin keras. Keruan Ciok Boh-thian menjerit kesakitan, serunya.

"He, he! Kenapa kau segalak ini? Aku takmau bermain lagi dengan kau!"

Kembali sianak dara menjewer lebih keras, katanya.

"Jadi kau hendak meninggalkan aku dan takkan menggubris lagi padaku? Hm, tidak boleh semudah ini. Siapa wanita yang berada bersama kau itu? Hayo, lekas mengaku!"

"Ya, aku memang berada bersama seorang wanita,"

Akhirnya Boh-thian mengaku dengan meringis kesakitan.

"Dia……….dia tidur sekamar dengan aku…………."

"Nah, apa kataku?"

Sela sianak dara dengan gusar. Kontan ia menjewer terlebih keras sehingga kuping Ciok Boh-thian sampai berdarah. Lalu teriaknya dengan suara melengking.

"Biar sekarang juga akan kubunuh dia!"

"Eh, eh, jangan! Dia adalah enci Si Kiam, dia telah membuatkan sarang burung dan memasakkan bubur untukku, walaupun bubur itu kedaluan dan hangus, tapi dia sangat baik. Kau………kau tidak boleh membunuhnya."

Mestinya anak dara itu sudah mencucurkan air mata, mendadak ia tertawa kembali.

"Fui!"

Semprotnya sambil menjewer lagi dengan keras.

"Kukira enci yang baik siapa, kiranya adalah budak busuk itu. Ah, kau berdusta, aku tidak percaya. Selama beberapa malam ini aku selalu mengawasi kau dari luar jendela, tampaknya kau dan budak busuk itu cukup prihatin juga, ya, anggaplah kau masih tahu batas." ~ Habis berkata kembali ia hendak menjewer lagi. Boh-thian terkejut dan cepat hendak berusaha menghindar, tapi sekali ini anak dara itu ternyata tidak menjewer lagi, sebaliknya ia mengelus-elus telinga pemuda itu, tanyanya dengan tertawa.

"Apakah sakit?"

"Sudah tentu sakit,"

Sahut Boh-thian.

"Biar kau tahu rasa, habis siapa suruh kau berdusta, secara aneh kau memanggil aku ‘enci yang baik’ apa segala!"

"Menurut ibuku, katanya panggilan ‘Cici’ adalah tanda hormat pada orang lain, apa aku salah panggil?"

Sianak dara mempelototinya sekali.

"Sejak kapan kau menghormat padaku? Sudahlah, jika kau merasa penasaran, bolehlah kau balas menjewer telingaku. Ini!" ~ Berbareng ia terus miringkan muka dan sodorkan telinganya kedepan. Seketika Boh-thian mengendus bau harum yang teruar dari muka anak dara itu. Tanpa merasa hidungnya meng-endus2 beberapa kali seperti si Kuning piaraannya. Ia pegang-pegang kuping anak dara itu, lalu katanya.

"Tidak, aku takmau menjewer kau………….O, ya, cara bagaimana aku mesti memanggil kau?"

"Cara bagaimana kau panggil aku dahulu? Masakah sampai namaku juga sudah kau lupakan?"

Omel sianak dara. Boh-thian terdiam sejenak, lalu katanya dengan sungguhsungguh.

"Nona, biarlah kukatakan terus terang padamu. Sesungguhnya kau telah salah mengenali aku. Aku bukanlah kau punya ‘engkoh Thian’ apa segala. Aku bukan Ciok Bohthian, tapi aku adalah Kau-cap-ceng."

Bab 12.

Ting Tong!

Si Nona Berbaju Hijau Anak dara itu melengak, ia pegang pundak pemuda itu dan diputarnya ke kanan dan ke kiri, ia mengamat-amati pemuda itu sejenak di bawah cahaya rembulan.

Tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Engkoh Thian, sungguh kau pintar berkelakar. Ucapanmu barusan sungguh membuat kaget padamu, kusangka benar-benar telah salah mengenali kau. Hayolah, mari kita berangkat."

Segera ia tarik tangan Ciok Boh-thian dan mendahului bertindak ke depan.

"Ti ... tidak, aku tidak berkelakar,"

Seru Ciok Boh-thian dengan gugup.

"Kau benar-benar telah salah mengenali diriku. Coba pikir, sedangkan namamu saja aku tidak tahu."

Mendadak si anak dara menghentikan langkahnya, katanya dengan tertawa genit.

"Ya, sudahlah, dasar kepala batu, tidak mau mengalah, biarlah aku tunduk padamu. Nah, dengarkan aku she Ting bersama Tong, biasanya kau suka panggil aku ting-tong, ting-tong, terkadang kau pun panggil aku ting-tingtong-tong Sekarang sudah jelas, bukan?"

Habis berkata segera ia putar tubuh dan berlari ke depan secepat terbang.

Karena diseret si anak dara, tanpa kuasa Ciok Boh-thian ikut berlari juga, semula ia hampir keserimpet, untung tidak sampai jatuh.

Akhirnya ia dapat membuang langkah dan mengikuti lari si anak dara dengan sama cepatnya.

Bermula napasnya menjadi tersengal-sengal tapi lama-kelamaan tenaga dalamnya mulai merata, kakinya makin lama makin enteng, sedikit pun tidak terasa payah lagi.

Entah sudah berlari berapa jauhnya, tiba-tiba tertampak pantulan cahaya air mengambang di depan, nyata mereka telah sampai di tepi sebuah sungai.

Segera Ting Tong menarik tangan Ciok Boh-thian dan melompat perlahan ke depan, menghinggap di haluan sebuah perahu kecil yang tertambat di tepi sungai.

Karena Ciok Boh-thian belum dapat menggunakan tenaga dalamnya untuk dikerahkan sebagai Ginkang, maka lompatannya ke atas perahu itu seperti orang biasa saja, dengan antap menancapkan kaki di haluan perahu sehingga perahu tertekan dan air muncrat.

"Ai, apakah kau ingin menenggelamkan perahu ini?"

Jerit Ting Tong dengan tertawa.

Segera ia melepaskan tambatan perahu, ia angkat dengan galah bambu, sekali dorong dengan galahnya, dengan cepat perahu itu lantas meluncur ke tengah sungai.

Boh-thian melihat kedua tepi sungai itu banyak tumbuh pohon Yangliu, dari jauh tertampak beberapa buah rumah penduduk, malam sunyi, bulan terang, sayup-sayup hidungnya mendengus bau harum yang memabukkan, entah bau harum bunga yang tumbuh di tepi sungai atau bau wangi yang timbul dari badan Ting Tong?

Perahu itu meluncur dengan pesat di tengah sungai, sesudah membelok beberapa kali, setiba di bawah sebuah jembatan batu, Ting Tong lantas menambat perahunya di batang pohon Yangliu.

Pohon-pohon Yangliu di sekitar jembatan itu tumbuh sangat rindang sehingga jembatan batu yang kecil itu hampir tertutup rapat.

Sinar bulan menembus remang-remang melalui celah-celah daun pohon, perahu yang berlabuh itu menjadi mirip bermukim di dalam sebuah rumah alam yang kecil.

"Sungguh baik sekali tempat ini, andai kata siang hari juga orang mungkin tidak menyangka bahwa di sini berlabuh sebuah perahu kecil,"

Puji Boh-thian.

"Mengapa baru sekarang kau memuji tempat ini?"

Sahut Ting Tong dengan tertawa.

Segera anak dara itu membuka peti perahu, ia mengeluarkan sehelai tikar dan dibentang di haluan perahu, dikeluarkannya dua pasang sumpit dan mangkuk serta satu poci arak, katanya dengan tertawa.

"Silakan duduk dan minum arak."

Kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa macam makanan pengiring arak seperti kacang goreng, dendeng dan lain-lain.

Ketika anak dara itu baru menuangkan arak, Ciok Boh-thian lantas membau harum arak yang menusuk hidung.

Sudah pernah dia mendengar cerita ibunya tentang minum arak, tapi macam apakah "arak"

Itu selamanya belum pernah dilihat dan dicobanya.

Cia Yan-khek juga tidak suka minum arak, sebab itulah ketika tinggal di Mo-thian-kay juga tidak pernah kenal arak.

Sekarang ia melihat secawan arak yang disodorkan Ting Tong itu berwarna merah kekuning-kekuningan, tanpa pikir ia terus menenggaknya hingga habis.

Ia merasakan hawa hangat menerjang ke dalam perut, dalam mulut terasa sedikit pedas dan sedikit pahit.

Seketika ia mengerut dahi.

Ting Tong tertawa, katanya.

"Ini adalah arak ‘Lu-ji-hong’ dari Siauhin simpanan dua puluh tahun, apakah enak rasanya?"

Tapi belum lagi Boh-thian menjawab, tiba-tiba dari atas terdengar suara seorang tua berkata.

"Hm, Lu-ji-hong simpanan 20 tahun masakah tidak enak rasanya?"

Tanpa terasa cawan arak yang dipegang Ting Tong jatuh ke papan perahu dan akhirnya menggelinding masuk ke dalam sungai, arak menciprat membasahi pakaiannya.

Muka anak dara itu pucat seketika dengan badan gemetar, ia pegang tangan Ciok Boh-thian dan berbisik.

"Celaka, itulah suara kakek!"

"Ya, betul memang inilah kakekmu,"

Kata suara orang tua di atas itu.

"Budak setan, kau berkencan dengan kekasih tidaklah menjadi soal, tapi mengapa arak yang kudapatkan dengan susah payah itu juga kau curi untuk disuguhkan kepada kekasihmu?"

"Dia ... dia bukan kekasih, hanya ... hanya kawan biasa saja,"

Sahut Ting Tong.

"Huh, kawan biasa masakah perlu kau melayaninya sedemikian baik?"

Semprot si kakek.

"Ya, sampai arak kesayangan kakek juga kau berani mencuri? Hayo, maling cilik, lekas-lekas keluar sini, ingin kulihat bagaimana macammu sehingga hati cucu perempuanku sampai tercuri olehmu?"

Waktu Ciok Boh-thian mendongak ke arah datangnya suara, terlihat sepasang kaki menjulai dan bergerak-gerak di atas kepalanya, terang orang tua itu duduk di atas jembatan sambil menjulurkan kedua kakinya ke bawah, kalau kakinya mengulur belasan senti lagi ke bawah tentu akan dapat menginjak di atas kepala Ciok Boh-thian.

Kedua kaki itu memakai kaus kaki katun warna putih, sepatu kain tebal bersulam indah.

Baik kaus kaki dan sepatunya tampak sangat rajin dan resik.

Dalam pada itu Ting Tong telah menjawil-jawil Ciok Boh-thian sambil memberi macam-macam tanda, maksudnya agar pemuda itu jangan mengaku siapa sebenarnya dia, lalu nona itu berseru.

"Yaya (kakek), kawanku ini bermuka jelek lagi tolol, kalau melihatnya pasti kakek takkan suka padanya. Arakmu yang kucuri ini hanya akan kuminum sendiri, orang macam dia masakah ada harganya untuk disuguhi arak seenak ini? Soalnya cucu merasa kesepian dan sembarangan mencari seorang teman mengobrol seperti dia ini."

Sudah tentu Ciok Boh-thian sangat mendongkol, masakah dirinya dikatakan jelek dan dianggap tolol serta dikatakan tiada harganya disuguhi arak itu, segera ia mengipratkan tangan Ting Tong sehingga terlepas.

Tapi cepat Ting Tong memegang pula tangan pemuda itu dan menggoyang-goyang tangan serta menjawil-jawil, seperti tanda mesra dan seperti memberi pesan dengan sangat pula agar pemuda itu menurut.

Dengan sendirinya Ciok Boh-thian merasa bingung.

Sementara itu si orang tua yang duduk di atas itu telah berkata pula.

"Hayo, kedua setan cilik lekas keluar semua. A Tong, hari ini kakek sudah membunuh beberapa orang?"

"Seperti ... seperti baru membunuh satu orang,"

Sahut Ting Tong dengan suara terputus-putus.

Diam-diam Ciok Boh-thian merasa heran mengapa ke sana kemari selalu ditemukan orang-orang yang suka membunuh, yang dibicarakan juga selalu soal membunuh.

Dalam pada itu si kakek di atas jembatan itu telah berkata.

"Bagus, jadi hari ini aku baru membunuh satu orang, jika demikian masih boleh membunuh dua orang lagi. Membunuh dua orang lagi sebagai pengiring minum arak juga boleh."

"Membunuh orang sebagai pengirim minum arak, di dunia ini mengapa ada kejadian demikian?"

Demikian pikir Ciok Bohthian.

Pada saat lain mendadak terasa tangan yang dipegang Ting Tong tadi telah dilepaskan, berbareng suatu bayangan berkelebat, tahu-tahu di atas perahu mereka sudah bertambah satu orang dan tepat duduk di tengah-tengah antara Ting Tong dan Boh-thian.

Dalam kejutnya cepat Boh-thian menyurut mundur sedikit, waktu ia pandang orang itu, ternyata jenggot dan kumis orang itu sudah memutih perak, wajahnya berseri-seri, itulah seorang kakek yang tampaknya sangat welas asih.

Tapi begitu tertatap sinar matanya, tanpa kuasa Ciok Boh-thian bergidik.

Kiranya dari sorot mata orang tua itu terpantul sesuatu sifat jahat yang susah dilukiskan sehingga bagi yang melihatnya seketika akan merasa merinding ketakutan.

Kakek itu tampak tertawa dan mengangkat tangannya menepuk satu kali di atas pundak Ciok Boh-thian, katanya.

"Anak bagus, mulutmu sungguh sangat beruntung dapat minum arak Lu-ji-hong simpanan 20 tahun milik kakek."

Meski dia hanya menepuk perlahan saja, tapi tulang pundak Ciok Boh-thian seketika berkeriukan seakan-akan pecah dan rontok semua.

Ting Tong terperanjat dan cepat memegang tangan sang kakek sambil memohon.

"Yaya, ja ... janganlah kau melukai dia."

Tepukan yang perlahan tadi sebenarnya mengandung tenaga dalam yang mahadahsyat, maksud orang tua itu adalah untuk membikin remuk tulang pundak Ciok Boh-thian.

Tak terduga ketika telapak tangannya menyentuh bahu pemuda itu, seketika dari bahunya timbul semacam tenaga tolakan yang mahakuat, tenaga dalam yang hebat itu bukan saja telah melindungi tubuh pemuda itu, bahkan tangan si kakek sendiri sampai tergetar membal ke atas.

Syukur kakek itu cepat mengerahkan tenaganya lagi sehingga tangannya tidak sampai terpental ke atas.

Keruan kejut si kakek melebihi Ting Tong, tapi ia lantas tertawa dan berkata pula.

"Bagus, bagus! Anak bagus, kau memenuhi syarat untuk minum arakku. Hayo, A Tong, tuangkan lagi beberapa cawan arak, sekarang Yaya yang menjamu dia minum arak dan takkan menyalahkan kau yang mencuri arak ini."

Ting Tong menjadi girang.

Ia kenal watak sang kakek yang angkuh.

Jarang ada tokoh-tokoh persilatan yang terpandang olehnya.

Sekarang baru bertemu dengan Ciok Boh-thian sudah lantas menjamunya minum arak, sudah tentu anak dara itu merasa girang dan lega.

Ia mengira sang kakek juga suka kepada kekasihnya yang gagah dan tampan ini.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa Ciok Boh-thian tadi sebenarnya sudah terancam elmaut.

Sebabnya sang kakek berubah sikap adalah karena terkejut atas Lwekang Ciok Boh-thian yang luar biasa itu dan sekali-kali bukan karena pemuda itu "gagah dan tampan" , padahal muka Ciok Boh-thian meski tidak jelek, namun untuk dibilang tampan juga belum sesuai.

Begitulah dengan senang Ting Tong lantas mengeluarkan dua cawan arak lagi dan menuangkan secawan untuk sang kakek, secawan untuk Ciok Boh-thian, ia sendiri pun menuang secawan.

"Bagus, bagus! Jikalau A Tong sudah penujui kau, tentu kau mempunyai asal usul yang tidak sembarangan. Nah, coba katakan, siapa namamu?"

Demikian si kakek bertanya.

"Aku ... aku bernama ...."

Sahut Ciok Boh-thian dengan tergagap. Sekarang dia sudah tahu bahwa "Kau-cap-ceng"

Adalah kata-kata makian yang kotor, sudah tentu tidak boleh diucapkan di depan seorang tua. Tapi selain itu sesungguhnya dia tiada punya nama lain, maka sesudah mengucapkan.

"Bernama ... bernama ...."

Ia tidak sanggup menyambung pula. Si kakek tampak kurang senang, tegurnya.

"Apakah kau tidak berani berkata terus terang kepada kakek?"

"Mengapa tidak berani?"

Tiba-tiba Boh-thian menjawab dengan tegas.

"Hanya saja namaku agak kurang enak didengar. Aku ... bernama Kau-cap-ceng!"

Untuk sejenak si kakek tampak melengak. Tapi mendadak ia bergelak tertawa terpingkal-pingkal, suara tertawanya berkumandangan jauh, jenggotnya yang sudah putih semua itu sampai terguncang-guncang.

"Hah, bagus, bagus, namamu sungguh sangat baik,"

Kata si kakek sesudah berhenti tertawa.

"Kau-cap-ceng!"

"Ya, kakek!"

Sahut Ciok Boh-thian.

Seketika Ting Tong tersenyum girang.

Ia pandang sang kakek dan pandang pula Ciok Boh-thian.

Sebabnya dia merasa senang adalah karena Ciok Boh-thian secara spontan memanggil kakek kepada kakeknya, malah waktu dipanggil dengan nama Kau-cap-ceng pemuda itu pun menurut saja.

Nyata ia tidak tahu bahwa sebenarnya Ciok Boh-thian itu memang bersama Kau-cap-ceng, pula pemuda itu tidak tahu tata krama, bagaimana orang memanggil ia pun menirukan saja, si Ting Tong memanggil kakek, maka ia pun menirukan memanggil kakek.

Jadi rasa puas Ting Tong dan kakek yaitu sebenarnya "salah wesel"

Belaka.

"A Tong,"

Si kakek berkata pula.

"apakah nama kakek sudah kau katakan kepada kekasihmu?"

Ting Tong menggeleng dengan sikap malu-malu, jawabnya.

"Tidak, belum kukatakan padanya."

Mendadak si kakek menarik muka, katanya.

"Sebenarnya kau suka atau tidak padanya. Jika suka, mengapa asal usul sendiri belum lagi diberitahukan padanya? Jikalau tidak suka mengapa kau berani mencuri arak simpanan kakek untuk disuguhkan kepadanya, bahkan selama beberapa malam berturut-turut kau mencuri arak Hian-peng-pek-hwe-ciu yang merupakan jimat simpanan kakek itu dan dicekokkan kepada bocah ini?"

Makin lama makin keras suaranya, sampai akhirnya suaranya berubah menjadi bengis, ketika menyebut nama Hian-pengpek-hwe-ciu (arak api hijau inti es) bahkan sorot matanya menjadi beringas.

Ciok Boh-thian ikut-ikut kebat-kebit hatinya menyaksikan demikian itu.

Namun Ting Tong lantas menjatuhkan dirinya ke pangkuan si kakek sambil memohon.

"O, Yaya, ternyata engkau sudah mengetahui semuanya. Harap ampunilah A Tong."

"Mengampuni A Tong? Hm, enak saja bicara,"

Jengek si kakek.

"Apakah kau tahu bahwa betapa mujarabnya Hian-peng-pekhwe-ciu itu, sekarang telah kau habiskan, untuk memperolehnya apakah sedemikian mudahnya?"

"Ampun kakek,"

Pinta Ting Tong.

"Soalnya karena A Tong tidak tega menyaksikan dia tersiksa oleh penyakit panas-dingin. Tiba-tiba A tong teringat kepada arak mustajab simpanan kakek itu, maka secara sembrono telah mencurinya untuk diminumkan padanya. Ternyata ada hasilnya sedikit, lalu berturut-turut kuminumkan dia lagi sehingga tanpa terasa habis terminum. Baiklah kakek memberitahukan resep membuat arak itu padaku, betapa pun A Tong pasti akan mengembalikan sebotol kepada kakek."

Sesudah mendengarkan percakapan kakek dan cucu perempuan itu barulah Ciok Boh-thian paham duduknya perkara.

Kiranya sewaktu dirinya dalam keadaan tak sadar ketika diserang penyakit panas-dingin tempo hari, secara diam-diam Ting Tong telah mencuri dan mencekoki arak "Hian-peng-pekhwe-ciu yang merupakan milik kesayangan kakeknya.

Rupanya kesembuhannya ini sebagian adalah jasa si anak dara itu yang telah menolong jiwanya, sekarang terdengar si kakek sedang marah-marah kepada anak dara itu maka ia lantas menyela.

"Kakek, jikalau arak itu telah diminumkan padaku, maka tanggung jawab mengembalikan arak itu harus kupikul. Biarlah aku akan berdaya untuk mengembalikannya padamu. Jika tidak dapat, terpaksa terserah kepada cara bagaimana kau akan ambil tindakan padaku."

"Bagus, bagus!"

Seru si kakek dengan tertawa.

"Jika demikian, soalnya menjadi agak lain. Eh, A Tong, mengapa kau tidak memberi tahu padanya tentang asal usul dirimu sendiri?"

Ting Tong tampak serbasalah, jawabnya.

"Dia ... dia tidak pernah tanya padaku, maka aku pun tidak pernah katakan padanya. Hendaklah kakek jangan sangsi, sama sekali tiada maksud tertentu di dalam hal ini."

"Tiada maksud tertentu?"

Si kakek menegas.

"Kukira toh tidak demikian halnya. Apa isi hatimu masakah kakek tidak tahu? Tentunya kau sudah benar-benar menyukai dia dengan harapan bocah ini akan mengambil kau sebagai istri, tapi kalau kau katakan nama dan asal usulmu, hm, tentunya bocah ini akan kaget setengah mati. Sebab itulah kau berusaha mengelabui dia sedapat mungkin. Hm, betul tidak dugaanku?"

Uraian si kakek benar-benar tepat mengenai isi Ting Tong.

Tapi kalau dia mengaku terus terang tentu sang kakek akan gusar.

Sebab ia tahu sang kakek adalah tokoh yang disegani, ditakuti, dihormati, tapi juga dijauhi oleh setiap orang Bu-lim lantaran kejahatannya yang merontokkan nyali siapa saja yang mendengarnya.

Tapi orang tua itu ingin bersikap ramah dan suka padanya, asal orang memperlihatkan tanda takut atau muak padanya, orang itu tentu akan segera dibunuh olehnya.

Begitulah Ting Tong menjadi serbasusah.

Kalau berdusta tentu akan makin membikin gusar sang kakek dan membikin urusan menjadi runyam.

Tapi kalau mengatakan terus terang nama dan asal usul sang kakek sehingga benar-benar menakutkan kekasihnya, lalu melarikan diri dan tak mau berkumpul lagi dengan dirinya, lantas bagaimana.

Ia khawatir dalam gusarnya sang kakek akan membinasakan sang kekasih, tapi ia pun khawatir sang kekasih akan meninggalkannya, jika demikian tentu ia pun tak bisa hidup sendirian lagi.

Akhirnya dengan suara terputus-putus ia berkata.

"Kakek aku ... aku ...."

"Hahaha! Kau khawatir kita dipandang rendah oleh orang lain bukan?"

Demikian si kakek memotong.

"Haha, Ting-lothau sudah berumur selanjut ini, ternyata cucu perempuanku sendiri sampai tidak berani menyebut nama kakeknya sendiri, bukan saja tidak merasa bangga atas diri kakeknya, sebaliknya malah merasa malu bagi sang kakek. Haha, sungguh lucu, hahahahaha!"

Ting Tong insaf bahaya sedang mengancam. Ia tahu sang kakek sangat mementingkan arak "Hian-peng-pek-hwe-ciu,"

Agaknya arak mestika itu menyangkut sesuatu urusan yang menentukan mati atau hidupnya di kemudian hari.

Sekarang dirinya telah mencuri arak itu untuk menolong jiwa sang kekasih, tapi selama ini tidak berani menyebut nama kakeknya.

Sekarang orang tua itu bergelak tertawa sedemikian rupa, terang rasa murkanya sudah mencapai puncaknya.

Mau tak mau Ting Tong harus menempuh segala risiko, dengan menggigit bibir akhirnya ia berkata.

"Engkoh Thian, kakekku she Ting."

"Ya, sudah tentu! Kau she Ting, dengan sendirinya kakekmu juga she Ting,"

Sela Boh-thian.

"Nama beliau bagian depan Put dan bagian belakang Sam, nama julukannya ialah ... ialah ... Ce-jit-put-ko-sam!"

Ting Tong menyambung pula dengan tak lancar.

Ia menyangka dengan tersebutnya nama julukan sang kakek itu tentu Ciok Boh-thian akan terperanjat.

Sebab itulah dengan hati kebatkebit ia telah pandang pemuda itu dengan mata tak berkedip.

Tak terduga air muka Ciok Boh-thian tenang-tenang saja, bahkan dengan tersenyum ia menjawab.

"O, nama julukan Yaya ternyata sangat enak didengar!"

Hati Ting Tong tergetar keras, sekali ia bergirang. Tapi ia masih khawatir, segera ia menegas lagi.

"Mengapa kau bilang sangat enak didengar?"

"Aku pun tidak tahu sebabnya. Aku hanya merasa nama itu enak didengar,"

Sahut Ciok Boh-thian.

Waktu Ting Tong melirik ke arah sang kakek dilihatnya orang tua itu sedang mengelus jenggot dan tampak sangat senang.

Mendadak ia menepuk pula pundak Ciok Boh-thian, tapi sekali ini adalah tepukan biasa tanpa tenaga dalam.

Terdengar dia berkata dengan manggut-manggut.

"Orang hidup bisa mendapatkan seorang teman sepaham, maka hidup ini tidaklah tersia-sia lagi. Orang lain kalau mendengar nama julukanku, kalau orang itu berjiwa rendah tentu akan segera memuji dan menjilat padaku, bila orang itu bernyali kecil tentu akan ketakutan setengah mati, ada juga beberapa orang gila yang berani mencaci maki padaku. Hanya kau bocah ini sama sekali tidak terpengaruh oleh nama julukanku, bahkan memuji namaku enak didengar. Ehm, bagus, bagus! Untuk sikapmu ini kakek ingin memberi sesuatu hadiah. Hadiah apa ya ... biarlah kupikir sebentar dulu."

Lalu ia duduk berpeluk dengkul, sambil termenung-menung memandangi sang dewi malam yang menghias di tengah cakrawala.

Supaya diketahui bahwa "Ce-jit-put-ko-sam Ting Put-sam adalah seorang gembong, suatu iblis yang memiliki ilmu silat mahatinggi di dunia persilatan, sifatnya aneh dan kejam sedikit-sedikit suka membunuh orang.

Kendati peraturan yang dia tetapkan sendiri menyatakan setiap orang yang dibunuhnya takkan melampaui tiga orang, tapi cobalah hitung, kalau satu hari tiga orang, sepuluh hari 30 orang dan 100 hari berarti 300 orang, maka selama berpuluh tahun ini entah sudah berapa ribu orang yang telah menjadi korbannya, celakanya orangorang yang telah dibunuhnya itu sering kali tidak sempat melihat mukanya dan tahu-tahu sudah dibinasakan olehnya.

Misalnya kedua murid Swat-san-pay, yaitu Sun Ban-lian dan Cu Ban-jing yang diceritakan di depan itu, mereka juga mati konyol tanpa mengetahui siapa pembunuhnya.

Beberapa tahun yang lalu dia masih merahasiakan jejaknya, sehabis membunuh orang juga tidak pernah meninggalkan nama sehingga Bu-lim jarang yang kenal namanya.

Tapi paling akhirnya ini mendadak ia sengaja menyiarkan namanya secara luas, cuma saja orang yang pernah melihat mukanya dan dapat tetap hidup jumlahnya adalah sangat sedikit.

Bagi Ciok Boh-thian yang sama sekali tidak tahu seluk-beluk urusan Kangouw, biarpun nama Ting Put-sam itu lebih tersohor lagi juga tiada arti baginya.

Tapi dalam pandangan Ting Putsam sekarang, pemuda yang tidak jeri dan menjilat padanya ini adalah luar biasa, terutama dengan perasaan yang tulus dan jujur pemuda itu telah menyatakan rasa mesranya ketika mendengar nama julukan orang tua itu.

Sebagai seorang tua yang berusia lebih dari 60 tahun, sudah tentu Ting Put-sam sangat kenal watak manusia, setiap sikap manusia yang rendah dan palsu tentu susah mengelabui matanya.

Di dunia ini selain cucu perempuan kesayangannya itu boleh dikata tiada orang kedua yang benar suka dan mencintainya, sekarang pemuda itu ternyata juga sedemikian baik padanya sudah tentu hal ini sangat menyenangkan hatinya.

Begitulah, sesudah termenung-menung memandangi rembulan, akhirnya orang tua itu berkata.

"Kakek mempunyai tiga macam pusaka. Yang pertama adalah ‘Hiang-peng-pek-hwe-ciu’ yang telah kau minum itu, tapi arak ini hanya sebagai pinjaman saja, kelak kau bayar kembali, maka tak bisa dianggap sebagai pemberian. Pusaka kedua adalah ilmu silat yang dimiliki kakek, kalau kau dapat mempelajarinya tentu akan sangat besar manfaatnya. Tentang pusaka ketiga bukan lain adalah cucu perempuanku si A Tong ini. Di antara dua pusaka ini hanya dapat kuberikan satu saja. Nah Kau-cap-ceng, kau ingin belajar ilmu silat atau ingin mengambil si A Tong saja?"

Seketika Ting Tong dan Ciok Boh-thian melengak oleh karena pertanyaan itu. Hati Ting Tong berdebar-debar dengan hebatnya. Pikirnya.

"Ilmu silat kakek boleh dikata tiada bandingannya di dunia ini, walaupun kepandaian Engkoh Thian juga tidak lemah, tapi kalau dibandingkan kakek sudah tentu bedanya terlalu jauh. Kalau dia dapat mempelajari ilmu silat andalan kakek, selanjutnya namanya tentu akan lebih disegani dan dapat malang melintang di dunia Kangouw. Dia adalah Pangcu dari Tiang-lok-pang, kabarnya Pang mereka sedang menghadapi kesulitan yang sukar diselesaikan, jika bisa mendapatkan ilmu silat kakek tentu akan besar bantuannya bagi kesulitannya itu. Sebagai seorang lelaki, seorang kesatria, tentu lebih mengutamakan ilmu silat daripada soal asmara."

Ia coba melirik Ciok Boh-thian, dilihatnya pemuda itu merasa bingung, terang sedang serbasulit mengambil keputusan.

Diam-diam hati Ting Tong mencelus.

Ia tahu tabiat sang kekasih yang romantis, selama hidup entah sudah berapa banyak wanita yang telah disukainya.

Selama setengah tahun terakhir ini walaupun memperlihatkan tanda cinta padanya, tapi dalam hati pemuda itu seorang Ting Tong mungkin hanya seperti awan saja yang sebentar sudah akan buyar tertiup angin.

Apalagi kakek mempunyai nama buruk di dunia persilatan, meski nama Ciok Boh-thian dan Tiang-lokpang mereka juga tidak begitu harum tapi toh tidak sejahat kakek yang telah membunuh orang tak terhitung jumlahnya.

Dan kalau dia sudah tahu asal usulku masakah dia sudi mengambil aku sebagai istrinya?

Demikianlah pikiran Ting Tong bergolak, air mata pun berlinang-linang.

Dalam pada itu Ting Put-sam sudah lantas mendesak.

"Hayo, lekas katakan, lekas! Pendeknya kau jangan coba main gila bahwa sekarang kau ingin belajar ilmu silat lebih dulu kemudian akan dapat memperistrikan A Tong pula, atau sekarang minta A Tong, lalu secara diam-diam ingin belajar ilmu silatku. Biarlah kukatakan padamu, di dunia ini tiada seorang pun yang bisa main gila pada Ting Put-sam. Kau hanya boleh pilih satu di antara dua, kalau tidak jiwamu tentu akan melayang. Nah, lekas katakan, lekas!"

"Yaya, engkau dan Ting-ting Tong-tong telah salah mengenali orang, aku ... aku bukan ...."

"Aku tidak peduli kau ini siapa, apakah kau anak anjing, anak setan atau anak kura-kura, semua aku tak peduli,"

Demikian Ting Put-sam memotong sebelum Ciok Boh-thian menerangkan lebih lanjut.

"Aku pun tidak peduli apakah A Tong suka padamu atau tidak. Yang terang adalah karena Ting Put-sam telah penujui kau, dan sekali Ting Put-sam sudah penujui kau maka kau harus memilih satu di antara dua pusaka yang kusebut tadi."

Ciok Boh-thian menjadi serbasalah, ia pandang si kakek dan pandang pula si anak dara. Pikirnya.

"Ting-ting Tong-tong ini telah salah menganggap diriku sebagai dia punya Engkoh Thian, sedangkan itu Engkoh Thian yang tulen tidak lama lagi tentu akan kembali, bukanlah dalam hal ini aku telah menipu si Ting Tong dan memalsukan Engkoh Thian itu pula? Sebaliknya kalau aku menyatakan tidak mau si Ting Tong dan pilih belajar ilmu silat saja, hal ini tentu akan melukai hati si Ting Tong. Ah, lebih baik tidak mau dua-duanya saja."

Maka ia lantas menggeleng kepala dan berkata.

"Yaya, aku telah minum kau punya Hian-peng-pek-hwe-ciu dan seketika tak dapat kubayar kembali padamu, maka bolehlah dianggap sebagai salah satu pusaka pemberianmu saja."

"Tidak, tidak boleh jadi,"

Sahut Ting Put-sam dengan muka masam.

"Sudah kukatakan tadi Hian-peng-pek-hwe-ciu itu hanya dipinjamkan saja dan kelak harus kau bayar kembali. Biar kau hendak mengangkangi juga tak bisa. Nah, kau sudah pilih dengan baik belum? Ingin ambil A Tong atau pilih ilmu silat?"

Ciok Boh-thian memandang sekejap ke arah Ting Tong, kebetulan anak dara itu pun sedang melirik padanya.

Sinar mata kedua orang terbentur, cepat keduanya melengos lagi.

Wajah Ting Tong tampak pucat, air matanya berlinang-linang, kalau menuruti adatnya, kalau dia tidak lantas menjewer telinga Ciok Boh-thian, tentu akan ditinggal pergi dengan marah-marah.

Tapi di hadapan sang kakek sekarang sedikit pun ia tidak berani main garang, sudah tentu perasaannya sangat tertekan.

Sekilas melihat air mata Ting Tong yang berlinang-linang itu, hati Ciok Boh-thian menjadi tidak tega.

Segera ia berkata dengan suara halus.

"Ting Ting Tong Tong, dengarkanlah keteranganku ini, kau sesungguhnya telah salah mengenal diriku. Jika aku benar-benar adalah kau punya Engkoh Thian masakah aku masih ragu-ragu untuk memilihnya? Sudah tentu aku akan memilih dirimu dan tidak sudi pilih ilmu silat segala."

Air mata Ting Tong masih bercucuran, namun mulutnya sudah mengulum senyum, katanya.

"Kau bukan Engkoh Thian? Habis di dunia ini apakah masih ada Engkoh Thian yang kedua?"

"Ya, boleh jadi mukaku agak mirip dengan Engkoh Thian-mu itu,"

Ujar Boh-thian.

"Kau masih tidak mengaku?"

Ting Tong menegas dengan tertawa.

"Baiklah, ingin kutanya padamu sekarang. Pada permulaan tahun ini, waktu kita baru mulai kenal, secara kasar kau telah pegang tanganku, maka kontan aku lantas pukul kau, betul tidak?"

Boh-thian tidak menjawab, tapi dengan ketolol-tololan ia pandang si anak dara dengan melenggong. Wajah Ting Tong tampak mengunjuk rasa kurang senang lagi, katanya pula.

"Apakah kau benar-benar sudah melupakan segala kejadian dahulu setelah menderita sakit payah atau cuma pura-pura saja dan berlagak bodoh?"

Boh-thian garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sahutnya.

"Sudah terang kau telah salah mengenali diriku. Dari mana aku tahu apa yang terjadi antara kau dengan Ciok-pangcu itu?"

"Hm, apakah kau kira dapat menyangkal lagi,"

Kata Ting Tong pula.

"Waktu itu kau telah pegang kedua tanganku, aku menjadi kelabakan, lebih-lebih ketika dengan cengar-cengir kau hendak ... hendak mencium aku. Cepat aku melengos dan menggigit sekali di atas pundakmu sehingga darah bercucuran, karena kesakitan barulah kau melepaskan aku. Sekarang boleh coba bu ... buka bajumu, bukankah di atas pundak kirimu masih ada bekas luka gigitan itu? Andaikan aku memang salah mengenali orang, betapa pun bekas luka itu tak dapat kau hapus."

"Ya, kau tidak pernah menggigit aku, dengan sendirinya di atas pundak tak ada bekas luka itu,"

Sambil berkata Boh-thian lantas menyingkap bajunya sehingga kelihatan pundaknya, tapi mendadak ia menjerit kaget.

"He, sungguh aneh, mana bisa jadi?"

Ternyata dengan terang dan gamblang ketiga orang dapat melihat dengan jelas bahwa di atas pundak pemuda itu benarbenar terdapat bekas luka gigitan.

Bekas luka itu sudah menjadi belang yang menonjol dan terang adalah gigitan mulut orang.

"Nah, apa katamu sekarang? Apa kau berani menyangkal lagi?"

Jengek Ting Put-sam.

"Biarlah kukatakan padamu, orang yang sering naik gunung pada akhirnya tentu ketemu harimau. Kau suka main gila akhirnya tentu kecantol salah satu wanita dan susah melepaskan diri. Dalam hal demikian kakek juga pernah ditipu orang di waktu masih muda. Sudahlah, jadi jelasnya yang kau pilih adalah A Tong, bukan?"

Namun Ciok Boh-thian sedang terheran-heran, ia tidak ingat bilakah pundaknya pernah digigit orang?

Kalau melihat bekas luka itu, terang gigitan itu sangat parah, luka sedemikian itu masakah dapat dilupakan?

Selama beberapa hari ini dia telah banyak mengalami kejadian-kejadian aneh, untuk semua ini ia dapat memecahkan persoalannya dengan alasan "salah mengenali orang"

Dan hanya bekas luka gigitan inilah yang benar-benar susah dimengerti.

Melihat pemuda itu termangu-mangu dan tidak menjawab pertanyaannya, air mukanya tampak aneh sekali, diam-diam Ting Put-sam mengira pemuda itu merasa malu dan tidak berani mengaku terus terang isi hatinya.

Maka ia lantas berkata dengan tertawa.

"Baiklah, A Tong, hayo, dayung perahu dan pulang!"

Ting Tong terkejut dan bergirang pula, serunya.

"Yaya, apa engkau maksudkan membawa dia pulang ke rumah kita?"

"Dia adalah cucu menantuku, mengapa tidak membawanya pulang?"

Sahut Ting Put-sam.

"Jangan-jangan sedikit lena nanti dia terus kabur, kan urusan bisa runyam dan ke mana muka Ting Put-sam harus ditaruh?"

Dengan muka berseri-seri Ting Tong pelototi sekali pada Ciok Boh-thian, mendadak mukanya menjadi merah, cepat dia angkat galah dan menolak perahunya ke depan Sesudah menyusuri kolong jembatan, perahu itu lantas meluncur dengan lajunya.

"Ke rumahmu?"

Demikian mestinya Ciok Boh-thian ingin bertanya.

Tapi di dalam benaknya sesungguhnya terlalu banyak tanda tanya, maka ucapan yang hampir dicetuskan itu telah ditelannya kembali.

Di tengah malam yang sunyi perahu itu menyusur sungai di bawah dahan-dahan pohon Yangliu yang lemas gemulai menjulur ke tengah sungai sehingga terkadang mengeluarkan suara gemeresik karena sentuhan badan perahu dengan dahan-dahan itu.

Sayup-sayup hidung Boh-thian mengendus bau harum bunga, hampir ia tidak sadar lagi di mana ia berada.

Beberapa kali perahu itu menerobos kolong jembatan, jalanan air itu pun berliku-liku.

Agak lama juga akhirnya sampailah mereka di tepi pekarangan rumah yang berundakan batu bertingkat-tingkat dan menurun ke tepi sungai.

Ting Tong menambat perahunya di sebuah cagak kayu, ia tersenyum kepada Ciok Boh-thian dan mendahului melompat ke undak-undakan batu.

"Hari ini kau adalah tamu sanjungan kami, mari, mari!"

Kata Ting Put-sam dengan tertawa.

Boh-thian tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.

Dengan linglung ia ikut belakang Ting Tong menyusur sebuah jalan batu yang rata, sesudah menembus sebuah pintu bundar lalu melintasi sebuah taman bunga, kemudian mereka sampai di sebuah gardu pemandangan.

"Silakan duduk, tamu sanjungan!"

Kata Ting Put-sam dengan tertawa sesudah masuk ke dalam gardu itu.

Boh-thian tidak paham apa maksudnya "tamu sanjungan", karena disilakan duduk, maka ia pun berduduk.

Ting Put-sam sendiri lantas membawa cucu perempuannya meninggalkan taman bunga dan masuk ke rumah di sebelah sana.

Saat itu sang dewi malam sudah mendoyong ke sebelah barat, suasana sunyi senyap, angin meniup silir-silir.

Sambil meraba bekas luka di atas pundaknya Ciok Boh-thian merasa serbabingung.

Agak lama kemudian terdengarlah suara orang mendatangi, dua wanita setengah umur muncul di depan gardu itu, mereka memberi hormat dan berkata dengan tersenyum.

"Silakan Sinkoa-lang (pengantin baru) berganti pakaian ke ruangan dalam."

Sudah tentu Ciok Boh-thian tidak paham apa maksud mereka, ia menduga dirinya diundang ke ruangan dalam sana, maka ia lantas ikut kedua wanita itu.

Sesudah lewat di sebuah kolam bunga teratai, menyusur pula sebuah serambi panjang, akhirnya ia sampai di sebuah kamar samping.

Di dalam kamar sudah tersedia sebuah baskom besar dengan air hangat, di samping tertaruh dua helai handuk.

"Silakan Sin-koa-lang mencuci badan,"

Demikian kata salah seorang wanita tadi.

"Kata Loyacu (tuan besar) waktunya sudah sangat mendesak sehingga tidak sempat menyediakan pakaian baru, terpaksa Sin-koa-lang diminta tetap menggunakan pakaian sendiri yang terpakai sekarang ini."

Lalu dengan mengikik tawa kedua wanita itu mengundurkan diri sambil menutupkan pintu kamar. Boh-thian bertambah bingung, pikirnya.

"Sudah terang aku bernama Kau-cap-ceng, mengapa sebentar aku dianggap sebagai Ciok-pangcu, sebentar lagi berubah menjadi Engkoh Thian, dan sekarang aku dipanggil sebagai ‘Sin-koa-lang’ apa segala?"

Ia pikir toh sudah datang, tampaknya Ting Put-sam dan Ting Tong juga tiada bermaksud jahat padanya, maka tanpa pikir lagi segera ia mencuci badan dengan air hangat berbau harum yang tersedia itu.

Habis mandi, ia merasa semangatnya menjadi segar.

Baru saja ia selesai berpakaian kembali, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki berseru di luar pintu.

"Silakan Sin-koalang ke ruangan tengah untuk sembahyang Thian!"

Boh-thian terkejut. Ia paham tentang "sembahyang Thian"

Berikutnya ia menjadi teringat juga tentang sebutan "Sin-koalang"

Itu.

Sewaktu kecil pernah ia mendengar cerita ibunya tentang pengantin lelaki dan pengantin wanita bersembahyang kepada Thian.

Maka sesaat itu ia menjadi melengong saja.

Dalam pada itu lelaki di luar tadi sedang bertanya pula.

"Apakah Sin-koa-lang sudah selesai berpakaian?"

Terpaksa Boh-thian mengiakan.

Lalu masuklah orang itu, tampak bicara lagi lelaki itu lantas menyampirkan sehelai kain merah di atas leher Ciok Boh-thian, sebuah bunga kain sutra merah disematkan pula di dadanya.

Lalu katanya.

"Kionghi! Kionghi!"

Segera ia gandeng tangan Boh-thian dan diajak keluar.

Dengan rasa bingung Boh-thian tahunya cuma ikut saja.

Setibanya di ruangan besar, tertampaklah delapan lilin besar telah dinyalakan terletak di atas sebuah meja besar dengan Toh-wi (tirai meja) merah bersulam indah yang terdapat di tengah-tengah ruangan.

Kelihatan Ting Put-sam berdiri di sisi meja besar itu dengan senyum berseri-seri.

Dan begitu Ciok Boh-thian melangkah masuk, serentak tiga orang lelaki di samping ruangan sana lantas membunyikan seruling.

Lelaki yang menggandeng Boh-thian tadi lantas berseru.

"Silakan pengantin perempuan keluar!"

Maka terdengarlah suara kerincing-kerincing dan keriangkeriut, dari belakang keluarlah kedua orang wanita pertama tadi dengan memapah seorang gadis berbaju ungu mudah berkerudung kain sutra merah.

Dilihat bangun tubuhnya terang itulah si Ting Tong.

Ketiga wanita itu lantas berdiri di sisi kiri Ciok Boh-thian.

Sayup-sayup pemuda itu mendengus bau harum yang meresap.

Hatinya menjadi bimbang, takut tapi juga girang.

"Menyembah kepada Thian (langit)!"

Seru pula lelaki tadi selaku protokol.

Segera Boh-thian melihat Ting Tong berlutut ke arah meja dan perlahan-lahan mulai menyembah.

Sudah tentu ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Untunglah si lelaki tadi telah membisikinya.

"Lekas berlutut dan menyembah!"

Karena punggungnya didorong perlahan pula dari belakang, terpaksa Boh-thian berlutut dan menyembah beberapa kali secara ngawur.

Melihat kelakuannya yang lucu itu, salah seorang wanita pengiring pengantin perempuan itu sampai tertawa geli.

"Menyembah kepada bumi!"

Si protokol berseru lagi. Segera Boh-thian dan Ting Tong membalik tubuh dan menyembah ke arah ruangan dalam.

"Menyembah kakek!"

Seru pula protokol. Ting Put-sam lantas siap di tengah, lebih dulu Ting Tong menyembah, dengan agak ragu-ragu Boh-thian juga menyembah.

"Suami istri saling menyembah!"

Teriak si protokol. Melihat si Ting Tong telah miringkan tubuh dan berlutut ke arahnya, seketika otak Boh-thian berubah terang. Mendadak ia berseru.

"He, Ting-ting Tong-tong! He Yaya! Aku sungguhsungguh bukan Ciok-Pangcu dan bukan kau punya Engkoh Thian apa segala. Kalian telah salah mengenali diriku, kelak ... kelak kalian jangan menyalahkan aku, lho!"

Ting Put-sam terbahak-bahak, katanya.

"Anak dungu, dalam keadaan begini masih bicara hal demikian? Tidak, tidak akan menyalahkan kau!"

"He, Ting-ting Tong-tong! Kita harus bicara di muka, lho! Kita sembahyang Thian ini hanya main-main saja atau sungguhan?"

Seru Ciok Boh-thian pula. Dari balik kerudung muka Ting Tong menjawab dengan tertawa.

"Sudah tentu sungguhan, urusan demikian masakah ... masakah boleh main-main?"

"Tapi ... tapi kau yang salah mengenali orang, aku ... aku tak mau tanggung, lho! Jangan-jangan kelak kau menjadi menyesal dan ... dan akan menjewer kupingku dan menggigit pundakku lagi, ini ... ini tidak boleh, ya?"

Seketika para hadirin tercengang. Ting Tong juga mengikik geli. Sahutnya dengan suara rendah.

"Tidak, aku takkan menyesal, asal kau selalu baik padaku, tentu aku takkan ... takkan menjewer kau lagi."

Sebaliknya Ting Put-sam lantas berseru.

"Dijewer bini adalah sesuatu yang lumrah, kenapa mesti digegerkan? Nah, Kau-capceng, sudah sekian lamanya A Tong berlutut padamu mengapa kau tidak lekas membalas hormat?"

"Ya, ya,"

Cepat Boh-thian menjawab. Dan segera ia pun berlutut dan saling menyembah dengan Ting Tong. Protokol lantas berteriak lagi.

"Upacara selesai, silakan sepasang pengantin baru masuk kamar. Semoga hidup bahagia, panjang umur, keturunan subur!"

Seketika suara seruling berbunyi pula.

Lalu sepasang pengantin diiringkan ke dalam kamar baru.

Kamar ini jauh lebih kecil daripada kamar Ciok Boh-thian di markas Tiang-lok-pang itu, perabotnya juga sederhana, hanya penerangan lilin lebih semarak, di dalam kamar penuh pajangan-pajangan kain merah dan benda-benda lain yang menambah suasana bahagia.

Sesudah menundukkan Ting Tong dan Ciok Boh-thian di pinggir ranjang, beberapa pengiring pengantin itu menuangkan dua cawan arak dan ditaruh di atas meja, kata mereka bersama.

"Kionghi dan selamatlah sepasang pengantin baru, silakan saling tukar minum secawan arak ini!"

Lalu dengan tertawa terkekeh-kekeh mereka mengundurkan diri sambil merapatkan pintu kamar.

Hati Ciok Boh-thian menjadi berdebar-debar.

Meskipun ia masih hijau dan sama sekali tidak paham kehidupan manusia umumnya, tapi ia pun insaf bahwa dengan upacara tadi, maka dirinya dan si Ting Tong telah menjadi suami istri.

Ia lihat Ting Tong berduduk dengan diam saja di sebelahnya, kepalanya masih berkerudung kain sutra merah.

Bab 13.

Pek Ban-kiam Jago Swat-san-pay Karena sampai sekian lamanya anak dara itu masih tidak bergerak akhirnya Boh-thian bicara mengada-ada.

"Eh, Tingting Tong-tong, kau memakai kerudung itu, apakah tidak merasa gerah?"

"Sudah tentu gerah sekali, hendaklah kau menyingkapnya saja,"

Sahut Ting Tong dengan tertawa.

Maka dengan jari Ciok Boh-thian lantas memegang ujung kain kerudung dan perlahan-lahan menyingkapnya.

Di bawah cahaya lilin tertampaklah wajah si Ting Tong yang cantik molek.

Girang dan berdebar-debar hati Ciok Boh-thian, dengan mata tak berkedip ia memandangi nona itu, katanya.

"Kau ... kau sungguh cantik."

Ting Tong tersenyum manis, pipi kirinya kelihatan sebuah dekik kecil, perlahan-lahan ia menunduk dengan malu-malu.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara Ting Put-sam di luar kamar, kedengaran sedang berkata di tempat yang agak tinggi.

"Malam ini adalah malam pengantin cucu perempuanku entah kawan dari manakah itu yang datang silakan turun kemari sekadar minum secawan."

Lalu di tempat yang tinggi sebelah sana ada orang menjawab.

"Pwe Hay-ciok, pengabdi Tiang-lok-pang, dengan jalan menyampaikan salam hormat kepada Ting-samya, harap maaf atas kelancangan kami membikin ribut ke sini malam-malam begini."

"O, kiranya Pwe-siansing yang telah datang,"

Bisik Ciok Bohthian di dalam kamar. Alis Ting Tong tampak terkerut, ia mendesis agar pemuda itu jangan bicara. Maka terdengarlah Ting Put-sam sedang bergelak tertawa, katanya.

"Eh, kukira kawan tukang gerayang dari mana, tak tahunya adalah orang dari Tiang-lok-pang. Kalian ingin minum arak pengantin atau tidak? Janganlah bergembar-gembor sehingga mengganggu cucu perempuanku dan menantu cucuku itu."

Pwe Hay-ciok ternyata sangat sabar menghadapi ucapan yang kasar itu, ia terbatuk beberapa kali, lalu berkata.

"Kiranya hari ini adalah hari nikah cucu perempuan Ting-samya, maafkan kedatangan kami yang sembrono ini sehingga tiada membawa kado apa-apa, lain hari tentu kami akan datang pula memberi selamat dan minta minum arak pengantin. Sekarang Pang kami sedang menghadapi sesuatu urusan genting dan harus bertemu sendiri dengan Ciok-pangcu kami, maka mohon Ting-samya sudi pertemukan kami kepada beliau, untuk mana sebelumnya kami mengucapkan terima kasih. Sesungguhnya kalau tiada urusan penting, biarpun nyali kami sebesar langit juga kami tidak berani sembarangan menerobos ke tempat kediaman Ting-samya ini."

"Pwe-tayhu, kau juga seorang tokoh di dunia Kangouw dan tidak perlu main sungkan-sungkan kepadaku,"

Sahut Ting Putsam.

"Apa yang kau sebut sebagai Ciok-pangcu adalah cucu menantuku Kau-cap-ceng ini bukan? Tapi dia bilang kalian telah salah mengenali dia, maka tidak ingin bertemu dengan kalian."

Orang-orang yang datang bersama Pwe Hay-ciok itu seluruhnya adalah delapan jago utama Tiang-lok-pang. Demi mendengar Ting Put-sam memaki Pangcu mereka sebagai "Kau-cap-ceng"

Atau anak anjing, seketika beberapa orang di antaranya mengeluarkan suara geraman, kalau bisa mereka ingin melabrak orang she Ting itu.

Tapi Pwe Hay-ciok sendiri pernah mendengar Ciok Boh-thian mengaku bernama Kau-cap-ceng, maka ia anggap apa yang diucapkan Ting Put-sam itu tiada bermaksud menghina sang Pangcu.

Ia pun kenal tabiat sang pangcu yang bangor, boleh dikata seorang bajul buntung, ke mana pun pergi suka main perempuan, bermalam di tempat "Ca-bo-keng" (rumah perempuan) adalah soal biasa baginya.

Tapi sekarang mendengar bahwa sang Pangcu telah diambil sebagai cucu menantu oleh iblis tua Ting Put-sam, mau tak mau hati Pwe Hay-ciok menjadi ragu-ragu dan khawatir.

Ia pikir kejadian ini tentu akan membawa akibat buruk di kemudian hari, lebih celaka lagi kalau sampai bermusuhan dengan tokoh-tokoh sebagai Ting Put-sam dan Ting Put-si bersaudara ini.

Maka ia lantas berkata.

"Ting-samya, urusan Pang kami ini sesungguhnya sangat genting dan harus segera dimintakan petunjuk Pangcu. Dalam hal Pangcu kami suka bicara mainmain atau berkelakar adalah lazim saja."

Mendengar ucapan Pwe Hay-ciok itu, agaknya sangat khawatir dan gelisah, Ciok Boh-thian menjadi teringat kepada pertolongan dan perhatian tabib itu ketika dirinya dirangsang oleh derita penyakit panas dingin tempo hari, maka ia menjadi tidak tega membiarkan dia gelisah sedemikian rupa, segera ia membuka jendela dan berseru.

"Pwe-siansing, aku berada di sini! Apa kalian mencari aku?"

Pwe Hay-ciok sangat girang, cepat jawabnya.

"Ya, betul! Siokhe ada urusan penting yang harus segera dilaporkan kepada Pangcu."

"Aku adalah Kau-cap-ceng dan bukan Pangcu kalian apa segala,"

Ujar Boh-thian.

"Jika kau ingin mencari diriku sih memang sudah ketemu, tapi bila ingin mencari Pangcu, terang kau telah keliru alamat."

Pwe Hay-ciok menjadi serbasusah, tapi lantas dijawabnya.

"Ah, Pangcu suka bergurau lagi. Silakan Pangcu suka keluar sebentar agar kita bisa bicara lebih jelas."

"Kau minta aku keluar?"

Boh-thian menegas.

"Ya, Pangcu,"

Sahut Pwe Hay-ciok. Tiba-tiba Ting Tong telah tarik-tarik lengan baju Ciok Boh-thian dan membisikinya.

"Engkoh Thian, janganlah keluar!"

"Biar aku bicara sebentar saja dengan dia, segera aku akan kembali,"

Sahut si pemuda.

Lalu ia melompat keluar melalui jendela.

Maka tertampaklah di atas pagar tembok pekarangan sebelah barat berdiri Pwe Hay-ciok, di atas wuwungan di belakangnya terdapat pula beberapa orang lagi.

Sebaliknya di atas dahan pohon besar yang berada di sebelah timur pekarangan itu berduduk satu orang, ialah Ting Put-sam.

"Pwe-tayhu, kau ingin bicara dengan cucu menantuku, aku ikut mendengarkan, boleh tidak?"

Tiba-tiba Ting Put-sam bertanya.

Tentu saja Pwe Hay-ciok susah menjawab.

Padahal Ting Putsam sendiri sebagai seorang angkatan tua harus tahu peraturan Kangouw, urusan penting dan rahasia golongan lain adalah tidak pantas orang lain ikut-ikut mendengarkan, nyata tingkah laku iblis ini memang aneh sebagaimana disohorkan oleh orang Kangouw, demikian pikir Pwe Hay-ciok.

Kemudian ia menjawab.

"Urusan ini Cayhe tidak berani menjawab, Pangcu sendiri berada di sini, segala apa sudah seharusnya diputuskan oleh beliau."

"Bagus, bagus! Segala urusan telah kau timpakan kepada cucu menantuku,"

Kata Ting Put-sam.

"Hai, Kau-cap-ceng, Pwetayhu ingin bicara dengan kau aku pun ingin ikut mendengarkan."

"Apa halangannya jika Yaya ingin ikut mendengarkan,"

Sahut Ciok Boh-thian.

"Hahaha! Bagus, bagus! Anak baik, cucu berbakti!"

Seru Ting Put-sam dengan tertawa.

"Nah Pwe-tayhu, kalau ingin bicara lekaslah mulai. Maklum, waktu sangat berharga, apalagi, di malam pengantin cucu perempuanku ini kau sengaja datang membikin kacau, benar-benar runyam."

Sama sekali Pwe Hay-ciok tidak menduga Ciok Boh-thian akan mengizinkan permintaan Ting Put-sam tadi, tapi apa daya hanya dalam hati saja ia merasa kurang senang. Lalu ia mulai berkata.

"Pangcu, di markas telah mendapat kunjungan tamu dari Swat-san-pay."

"Swat-san-pay?"

Boh-thian manggut-manggut.

"Apa barangkali nona Hoa Ban-ci dan kawan-kawannya?"

Banyak sekali golongan dan aliran di dunia persilatan, tapi yang dikenal Ciok Boh-thian hanya Swat-san-pay saja dan di antara orang-orang Swat-san-pay itu hanya dikenalnya Hoa Ban-ci seorang, sebab itulah ia lantas menyebut namanya.

"Nona Hoa juga terdapat di antara tamu-tamu itu,"

Sahut Pwe Hay-ciok.

"Selain itu masih ada pula beberapa orang di bawah pimpinan ‘Gi-han-se-pak’ Pek ...."

Sampai di sini ia lantas berhenti dan dengan penuh perhatian ia memandang air muka sang Pangcu.

Di bawah cahaya bulan dapat dilihat jelas ketika mendengar sebutan "Gi-han-se-pak", sama sekali air muka Ciok Boh-thian tiada reaksi apa-apa.

Maka lega dan tenteramlah hati Hay-ciok.

Dari sikap sang Pangcu yang tenang-tenang itu, ia yakin sang Pangcu tentu sudah mempunyai kepandaian yang lebih unggul untuk menghadapi orang-orang Swat-san-pay, dan apa yang dituduhkan pihak lawan itu hanya omong kosong belaka.

Maka ia lantas menyambung pula.

"Tampaknya orang-orang Swat-san-pay yang datang itu adalah jago-jago pilihan semua."

"Sekalipun si tua bangka Pek Cu-cay yang datang sendiri juga bisa apa?"

Tiba-tiba Ting Put-sam menyela.

"Pwe-tayhu, kabarnya kau punya ‘Ngo-heng-liok-hap-ciang’ sangat lihai, mengapa kedatangan seorang bocah seperti Pek Ban-kiam saja kau sudah gugup?"

Mendengar orang memuji pukulannya, mau tak mau Pwe Hayciok menjadi senang. Dengan tersenyum ia menjawab.

"Sedikit kepandaianku ini masakah ada harganya untuk disebut-sebut. Tiang-lok-pang kami meski suatu organisasi kecil juga tidak pernah takut kepada golongan dan aliran mana pun juga di dunia persilatan ini. Soalnya selama ini kami toh tiada percekcokan apa-apa dengan Swat-san-pay, tapi kedatangan Gi-han-se-pak ini tampaknya sangat garang dan ingin segera bertemu dengan Pangcu, kami minta dia suka menunggu sampai besok juga telah ditolak, maka teranglah dalam urusan ini ada sesuatu hal yang agak luar biasa, dan kami perlu minta petunjuk kepada Pangcu."

"Kemarin nona Hoa itu telah ditawan oleh Tan-hiangcu dan pagi tadi dia telah kita lepaskan,"

Demikian kata Boh-thian.

"Apa barangkali orang-orang Swat-san-pay itu marah-marah karena kejadian ini?"

"Mungkin ada sedikit hubungan dengan kejadian itu,"

Sahut Pwe Hay-ciok.

"Tapi Siokhe sudah minta keterangan kepada Tan-hiangcu, katanya Pangcu bersikap sangat ramah kepada nona Hoa, bahkan seujung rambutnya juga tak disentuh, kesalahannya berani kasak-kusuk ke dalam markas kita juga tak diusut, hal ini boleh dikata telah memberi muka kepada orang-orang Swat-san-pay. Kalau melihat sikap Gi-han-se-pak yang garang itu, agaknya kedatangan mereka adalah untuk urusan lain."

"Habis apa yang kau kehendaki dariku?"

Tanya Boh-thian.

"Itulah terserah kepada perintah Pangcu,"

Sahut Pwe Hay-ciok.

"Jika Pangcu ingin cara halus, maka kami akan segera kembali dan memberi sedikit petuah kepada mereka. Sebaliknya kalau Pangcu bilang pakai kekerasan, maka kita lantas hajar mereka hingga kocar-kacir agar mereka kapok dan tidak berani sembarangan main gila dengan Tiang-lok-pang. Atau boleh juga Pangcu sendiri coba melihat-lihat ke sana dan bertindak menurut gelagat, jalan ini pun baik juga."

Berada sendirian di dalam kamar bersama Ting Tong tadi memangnya Ciok Boh-thian lagi merasa bingung, ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya sesudah masuk di dalam kamar pengantin itu.

Ia merasa dirinya bukanlah Ciok-pangcu tulen, tentang pengantinan itu akibatnya kelak tentu akan membikin susah, untung Pwe Hay-ciok sekarang datang, kesempatan ini dapat dibuat alasan untuk meloloskan diri.

Maka ia lantas berkata.

"Jika demikian, baiklah aku akan pulang untuk melihatnya, mungkin ada salah paham di pihak mereka dan aku akan bicara secara terus terang kepada mereka,"

Lalu ia berpaling dan berkata pula.

"Yaya, Ting-ting Tong-tong! Aku akan pergi dulu, ya!"

Ting Put-sam garuk-garuk kepala, katanya.

"Wah, cara, demikian kurang baik. Kalau bocah-bocah kaum Swat-san-pay itu yang datang mengacau, biarlah aku saja yang pergi membereskan mereka. Toh aku memang sudah pernah membunuh dua orang murid mereka dan memang sudah mengikat permusuhan dengan si tua bangka she Pek, bagaimana kalau sekarang harus aku membunuh lagi beberapa orang mereka, maka utang piutang ini akan sama saja cara memperhitungkannya kelak."

Tentang terbunuhnya Sun Ban-lian dan Cu Ban-jing oleh Ting Put-sam, karena hal ini menyangkut kehormatan Swat-sanpay, maka telah dirahasiakan, kecuali Ciok Jing suami istri yang telah diberi tahu.

Pwe Hay-ciok sendiri merasa tidak enak kalau Ting Put-sam ikut campur dalam urusan ini sehingga akan makin mempertajam pertentangan dengan Swat-san-pay yang luas pengaruhnya di dunia persilatan itu.

Maka ia lantas berkata.

"Jika Pangcu sendiri ingin pulang untuk menemui orang Swatsan-pay, sudah tentu jalan ini adalah paling baik. Dari itu urusan kecil Pang kami ini tidak perlu sampai membikin urusan ini tentu akan berkunjung lagi kemari."

Sama sekali Pwe Hay-ciok tidak menyinggung tentang arak pengantin segala, sebab ia berharap sesudah pulang di markas Tiang-lok-pang nanti akan dapat membujuk sang Pangcu agar membatalkan maksudnya berbesanan dengan keluarga Ting itu.

Tak terduga Ting Put sam lantas berkata.

"Ngaco-belo, kalau aku sudah mengatakan akan pergi, maka sudah pasti aku akan pergi. Pendek kata urusan Tiang-lok-pang ini, aku Ting-losam sudah pasti akan ikut campur."

Setelah mengikuti percakapan di luar itu, Ting Tong menduga sebabnya orang-orang Swat-san-pay mendatangi markas Tiang-lok-pang tentu adalah gara-gara perbuatan kekasihnya yang bersifat bajul buntung ini, mungkin karena Hoa Ban-ci dari Swat-san-pay itu bermuka cantik, maka telah diganggunya dan bukan mustahil sudah dipaksa secara kasar.

Padahal saat ini adalah malam pengantin baru mereka, tapi Ciok Boh-thian ternyata hendak pulang untuk menemui Hoa Ban-ci tanpa memedulikan dirinya, keruan Ting Tong sangat mendongkol.

Maka tanpa pikir lagi segera ia melompat ke luar dan berseru.

"Yaya, jikalau Engkoh Thian ada urusan penting dan harus pulang segera, walaupun berat juga terpaksa kita tak dapat merintanginya. Biar begini saja, kita kakek dan cucu berdua juga ikut Engkoh Thian ke sana untuk melihat tokoh-tokoh macam apakah dari Swat-san-pay yang datang itu."

Meski Ciok Boh-thian ingin menghindari kesukaran di dalam kamar pengantin, tapi sesungguhnya ia pun merasa berat untuk berpisah dengan Ting Tong, kini mendengar nona itu mau ikut pulang padanya, ia menjadi girang dan segera menanggapi.

"Bagus, bagus! Ting-ting Tong-tong, marilah kita berangkat. Yaya, marilah engkau pun ikut."

Sekali sang Pangcu sudah berkata demikian, terpaksa Pwe Hay-ciok tak dapat bicara lain lagi.

Beramai-ramai mereka lantas menuju ke tepi sungai dan naik ke atas perahu besar milik orang-orang Tiang-lok-pang dan segera mereka berlayar pulang ke markas.

Diam-diam Pwe Hay-ciok mengisiki Ciok Boh-thian.

"Pangcu, hendaklah kau minta kepada Ting-samya agar jangan ikut turun tangan dan membunuh orang Swat-san-pay, tiada gunanya banyak mengikat permusuhan, sedapat mungkin kita harus menyelesaikan setiap persoalan secara damai."

"Benar, tanpa sebab mana boleh sembarang membunuh orang, kan orang jahat namanya jika suka membunuh orang?"

Sahut Boh-thian. Pwe Hay-ciok sampai melongo sendiri mendengar jawaban Ciok Boh-thian itu. Katanya di dalam hati.

"Kau sendiri mengapa mendadak bicara seperti seorang mahaalim? Sungguh aneh!"

Setiba di markas Tiang-lok-pang, segera Ting Tong berkata.

"Engkoh Thian, biar aku mengganti pakaian kaum lelaki ke kamarmu, lalu ikut bersama kau untuk menemui nona Hoa yang cantik molek itu."

Sebagai pemuda yang masih hijau, Ciok Boh-thian merasa tertarik akan permainan si Ting Tong itu, jawabnya dengan tertawa.

"Untuk apa kau menggunakan pakaian lelaki?"

"Aku tidak ingin diketahui sebagai istrimu agar nanti dapat lebih bebas bicara,"

Kata Ting Tong tertawa.

"Baiklah, mari kuantar kau ke kamarku,"

Sahut Boh-thian. Mendadak Ting Put-sam juga berkata.

"Biar aku pun ikut menyamar saja. Pwe-tayhu, apakah boleh aku menyaru sebagai anak buahmu?"

Memangnya Pwe Hay-ciok tidak ingin diketahui oleh orang Swat-san-pay tentang beradanya Ting Put-sam di dalam Tianglok-pang, maka kesediaan Ting Put-sam untuk menyamar itu menjadi kebetulan baginya.

Segera ia menjawab dengan senang.

"Apa yang Ting-samya kehendaki, boleh silakan saja."

Begitulah Ciok Boh-thian lantas membawa Ting Put-sam dan Ting Tong ke kamarnya.

Waktu itu Si Kiam masih mendengkur dengan nyenyaknya.

Ketika mendengar suara pintu terbuka, ia lantas terjaga bangun.

Ia menjadi terheran-heran ketika melihat Ting Tong dan kakeknya.

Boh-thian merasa susah untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi, hanya dikatakannya.

"Enci Si Kiam, mereka ini hendak menyamar, boleh ... boleh kau membantu mereka seperlunya."

Dan karena khawatir ditanya oleh Si Kiam, maka cepat ia keluar lagi dari kamar dan menunggu di ruangan luar. Tidak terlalu lama, datanglah Tan Tiong-ci dan memberi lapor.

"Pangcu, para saudara sudah siap menantikan kedatangan Pangcu ke ruangan Hou-beng-tong."

Pada saat itulah tampak Ting Tong juga telah muncul sambil berseru.

"Baiklah, kita boleh segera pergi bersama."

Mendadak Boh-thian melihat di depannya telah bertambah seorang pemuda dengan dandanan yang serbaindah.

Ternyata Ting Tong telah memakai baju panjang warna hijau, pakai ikat kepala kaum pelajar, tangannya membawa kipas lempit.

Sebaliknya Ting Put-sam telah mengganti pakaian yang kasar berlengan pendek, mukanya sengaja dipoles hitam, memakai sepatu butut, pundak miring sebelah, jalannya dibikin pincang, kelakuannya sangat lucu.

Hampir-hampir Ciok Boh-thian tidak kenal lagi pada orang tua itu, selang sejenak barulah ia berseru dengan terbahak-bahak.

"Yaya, kau sama sekali telah berubah rupa."

Kemudian Tan Tiong-ci bertanya kepada Boh-thian.

"Pangcu, apakah kita perlu membawa senjata?"

"Membawa senjata?"

Sahut Boh-thian dengan mata terbelalak lebar.

"Untuk apa membawa senjata?"

Tiong-ci menyangka arti jawaban Boh-thian itu adalah kebalikannya, maka ia hanya mengiakan saja dan segera mendahului berjalan di depan dan membawa mereka ke ruang Hou-beng-tong (ruang harimau buas).

Di ruangan itu sudah menunggu beberapa puluh orang, ketika melihat kedatangan Ciok Boh-thian, serentak mereka berdiri dan memberi hormat.

Sama sekali Boh-thian tidak menyangka ruangan itu sedemikian besarnya serta sedemikian banyak orang yang berada di situ.

Ia terkejut, lebih-lebih ketika orang-orang itu serentak memberi hormat, keruan ia menjadi bingung dan entah cara bagaimana harus bicara.

Untuk sekian lamanya ia tertegun di ambang pintu.

Ia lihat meja-meja yang terletak di sekeliling ruangan itu semuanya terdapat lilin besar yang memancarkan cahaya yang terang, beberapa puluh orang lelaki berbaris di kanan-kiri, di tengah-tengah ruangan tersedia sebuah kursi besar berlapis kulit harimau yang loreng.

Keangkeran ruangan besar itu seketika membikin pemuda gunung yang masih hijau itu tercengang bingung.

Terpaksa ia memandang ke arah Pwe Hay-ciok yang juga terdapat di antara orang-orang yang menantikan kedatangannya itu, ia sangat mengharapkan nasihat Pwe Hay-ciok akan bagaimana harus diperbuatnya.

Syukurlah Pwe Hay-ciok lantas menyambut ke hadapannya dan berbisik padanya.

"Pangcu, marilah kita ambil tempat duduk dulu, habis itu barulah sahabat dari Swat-san-pay itu diundang masuk kemari."

Dalam keadaan demikian sudah tentu Ciok Boh-thian menurutkan saja segala petunjuk Pwe Hay-ciok.

Di bawah iringan Pwe-tayhu, segera Boh-thian mendekati kursi besar berlapis kulit harimau itu dengan sangsi.

"Silakan Pangcu duduk saja,"

Pwe Hay-ciok membisikinya.

"Aku ... aku duduk di sini?"

Boh-thian menegas dengan bingung, sungguh ia merasa takut, tanpa merasa sorot matanya tertuju ke arah Ting Tong, ia berharap paling baik kalau nona itu lantas menyeretnya melarikan diri keluar dari ruangan itu dan kabur sejauh mungkin ke tempat yang sunyi.

Tapi Ting Tong hanya membalas dengan tersenyum saja dengan maksud memberi dorongan padanya.

Melihat sinar mata si nona yang mesra itu Boh-thian merasa nona itu seperti sedang menganjurkannya agar jangan takut dan siap membantunya jika ada kesukaran apa-apa.

Sekarang semangat Boh-thian terbangkit, hatinya menjadi tabah, ia merasa terima kasih dan lega.

Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lantas duduk di atas kursi berkulit harimau itu.

Sesudah Boh-thian berduduk, lalu Ting Put-sam dan Ting Tong berdiri di belakang kursi besar itu.

Segera para hadirin juga lantas mengambil tempat duduknya sendiri-sendiri menurut urutan dan kedudukan masing-masing.

Kemudian Pwe Hay-ciok mulai membuka suara.

"Saudarasaudara yang terhormat. Selama ini Pangcu telah jatuh sakit parah sekali, untunglah kini kesehatan beliau telah sembuh kembali walaupun semangatnya belum lagi pulih seluruhnya. Seharusnya Pangcu masih perlu istirahat untuk beberapa hari lamanya barulah dapat bekerja seperti biasa. Tak terduga-duga sobat-sobat dari Swat-san-pay bersitegang harus bertemu dengan Pangcu, seakan-akan kalau Pangcu tidak menemui mereka, maka menandakan sakitnya Pangcu sudah tak bisa disembuhkan lagi. Hehe, masakah dengan Lwekang mahatinggi yang dimiliki Pangcu bisa terganggu oleh penyakit yang tiada artinya? Pangcu, apakah sekarang juga kita undang saja sobatsobat dari Swat-san-pay itu masuk ke sini?"

Boh-thian mendengus sekali, ia tidak tahu apa mesti menyatakan baik atau tidak baik.

Tapi Pwe Hay-ciok lantas memerintahkan orang-orang Tianglok-pang mengatur tempat duduk mereka semua berduduk di sebelah timur, sembilan buah kursi di sebelah barat dikosongkan untuk para tamu.

Lalu Pwe Hay-ciok berseru.

"Bi-hiangcu, boleh silakan para tamu masuk untuk bertemu dengan Pangcu."

Bi Heng-ya mengiakan dan segera melangkah keluar. Tidak lama kemudian terdengarlah suara tindakan orang di luar. Pintu ruangan terbuka Bi Heng-ya muncul dan berdiri di sisi pintu dan berseru.

"Lapor Pangcu, para sobat dari Swat-sanpay telah tiba!"

"Marilah kita keluar menyambutnya,"

Pwe Hay-ciok mengisiki Ciok Boh-thian dan perlahan-lahan menarik lengan bajunya.

"Menyambut?"

Boh-thian menegas dengan ragu-ragu, perlahan-lahan ia berbangkit dan ikut Pwe Hay-ciok menuju keluar ruangan.

Tepat pada saat itu juga kesembilan jago Swat-san-pay telah melangkah masuk, mereka semuanya memakai baju panjang warna putih, orang yang berjalan paling depan bertubuh sangat tinggi, berumur antara 42-43 tahun, mukanya kereng, ketika dua-tiga meter berhadapan dengan Ciok Boh-thian mendadak ia berdiri tegak, sorot matanya menatap tajam kepada Bohthian.

Tapi Boh-thian membalasnya dengan tersenyum ketolol-tololan sebagai tanda sambutan.

Lalu Pwe Hay-ciok berkata.

"Pangcu, saudara ini adalah ‘Gihan-se-pak’ (perbawa menggigilkan seluruh barat laut) Pek Ban-kiam, Pek-toako yang namanya disegani dan ilmu pedangnya tiada bandingannya di Bu-lim."

Boh-thian hanya manggut-manggut saja dan kembali tersenyum ketolol-tololan.

Karena dia hanya kenal Hoa Ban-ci seorang saja yang ikut di belakang Pek Ban-kiam itu, maka ia lantas berkata dengan tertawa.

"Nona Hoa, kau telah datang lagi,"

Air muka kesembilan jago Swat-san-pay berubah seketika demi mendengar teguran itu.

Pek Ban-kiam adalah putra sulung Wi-tek Sian-sing Pek Cucay, itu Ciangbunjin atau ketua Swat-san-pay.

Nama seluruh saudara perguruan mereka memakai huruf "Ban" (laksa) semua, dia bernama "Ban-kiam" (selaksa pedang), maka dapat dibayangkan ilmu pedangnya tentu lain daripada yang lain.

Dalam Swat-san-pay nama Pek Ban-kiam sejajar dengan Honghwe-sin-liong Hong Ban-li, orang Kangouw menjuluki mereka sebagai "Swat-san-siang-kiat" (dua jago dari Swat-san).

Coba kalau bukan Pek Ban-kiam sendiri yang datang, tentu Pwe Hayciok tidak perlu malam-malam datang ke rumah Ting Put-sam untuk mencari Ciok Boh-thian.

Dan kalau tokoh terkemuka sebagai Pwe Hay-ciok juga sedemikian hormat dan segan padanya, sebaliknya seorang Pangcu yang masih muda belia ternyata acuh tak acuh kepadanya, sudah tentu Pek Ban-kiam sangat mendongkol, apalagi dia sudah menunggu sekian lamanya di ruangan tamu sekarang ternyata disambut secara dingin saja, bahkan datang-datang yang disapa adalah Sumoaynya yang cantik itu, keruan dada Pek Ban-kiam hampir-hampir meledak saking menahan perasaannya.

Syukurlah dia adalah seorang kesatria yang bisa membawa diri dan tidak mau perhatikan perasaannya secara terbuka.

Hanya dengan sikap dingin ia melirik Ciok Boh-thian, meski tidak bicara, namun air mukanya sudah kentara sangat menghinakan kelakuan Ciok Boh-thian tadi.

Hoa Ban-ci juga serbasalah atas teguran Boh-thian itu, ia pun tidak menjawab dan hanya mendengus sekali saja.

Sebaliknya Ciok Boh-thian masih terlalu polos dan kekanakkanakan, ia tidak tahu bahwa orang-orang Swat-san-pay itu sudah marah padanya, ia masih bertanya pula.

"Eh, nona Hoa, apa luka di kakimu itu sudah sembuh? Masih sakit atau tidak?"

Pertanyaan ini membuat muka Hoa Ban-ci merah jengah, seketika orang-orang Swat-san-pay yang lain juga lantas memegang gagang pedang dan siap dilolos.

Melihat ketegangan suasana itu, cepat-cepat Pwe Hay-ciok membuka suara.

"Silakan duduk, saudara-saudara, silakan! Sebenarnya kesehatan Pangcu kami belum mengizinkan untuk menemui tamu, tapi karena kedatangan saudara-saudara dari tempat jauh, terpaksa beliau menemui kalian. Tadi saudarasaudara telah lama menunggu, haraplah suka dimaafkan."

Pek Ban-kiam hanya mendengus saja dan segera mengambil tempat duduk pertama di sebelah barat tadi.

Kheng Ban-ciong duduk di sisinya, lalu Kwa Ban-king, Ong Ban-jim dan seterusnya, Hoa Ban-ci duduk di tempat yang terakhir.

Diam-diam beberapa orang Tiang-lok-pang merasa senang mendengar ucapan sang Pangcu mengenai luka di kaki Hoa Ban-ci dan membikin orang-orang Swat-san-pay itu gemas setengah mati, tapi toh tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu Pwe Hay-ciok juga telah mengiringkan Ciok Boh-thian kembali ke tempat duduknya.

Para pelayan lantas mengaturkan minuman.

Kemudian Hay-ciok membuka suara lagi.

"Tiang-lok-pang kami sudah lama kagum kepada Wi-tek Siansing, Swat-san-siang kiat dan para jago muda dari Swat-san-pay, cuma sayang tempat kami ini terpencil di daerah Kanglam sehingga susah mengadakan hubungan. Hari ini berkat kunjungan Pek-siheng dan saudara-saudara sekalian, sungguh kami merasa bahagia sekali."

Pek Ban-kiam membalas hormat sambil berkata.

"Pwe-tayhu Tiok-jin-seng-jun, Ngo-heng-liok-hap-ciang juga tiada bandingannya di dunia ini, meski selama ini kita tidak kenal, tapi Cayhe sudah lama mendengar nama kebesaranmu."

Dia hanya memuji Pwe Hay-ciok saja, tapi tidak sebut-sebut Ciok Boh-thian. Namun Pwe Hay-ciok pura-pura tidak tahu, sahutnya dengan merendah diri.

"Ah, Pek-siheng terlalu memuji. Entah saudarasaudara sudah berapa hari tiba di Yangciu ini? Biarlah lain hari Pangcu akan bertindak selaku tuan rumah dan mengundang saudara-saudara sekalian mengadakan sekadar perjamuan."

Pek Ban-kiam mulai tidak sabar karena maksud kedatangan mereka tidak ditanyakan, segera ia berseru lantang.

"Di kalangan Kangouw orang menyohorkan ilmu silat Ciok-pangcu kalian sangat hebat, cuma tidak diketahui kepandaian Ciokpangcu itu entah berasal dari golongan atau aliran mana?"

Pertanyaan ini membuat orang-orang Tiang-lok-pang mengerut kening semua.

Memang kepandaian Ciok-pangcu mereka terkenal sangat hebat dan aneh, tapi tiada seorang pun yang tahu dari golongan atau aliran mana ilmu silat sang Pangcu itu.

Kalau ditanya juga cuma dijawab dengan tersenyum saja.

Jadi orang-orang Tiang-lok-pang sendiri sebenarnya juga ingin tahu, maka serentak pandangan semua orang beralih kepada Ciok Boh-thian.

Keruan Boh-thian gelagapan, sahutnya.

"Ini ... itu ... kau tanya tentang ilmu silatku? Tapi aku se ... sedikit pun tidak bisa ilmu silat apa-apa."

Memangnya Pek Ban-kiam sudah sangsi melihat sikap Ciok Boh-thian yang serbasalah itu dan mengatakan tidak bisa ilmu silat, keruan ia tambah curiga. Dengan tertawa menyindir ia berkata pula.

"Tiada sedikit tokoh-tokoh dan jago-jago terkemuka di dalam Tiang-lok-pang kalian, kalau Ciok-pangcu tidak bisa ilmu silat, apakah engkau dapat mengepalai para jago-jago sebanyak itu? Hm, ucapanmu itu hanya dapat dipakai menipu anak kecil saja."

"Kau bilang aku menipu anak kecil?"

Boh-tian menegas dengan bingung.

"Siapa anak kecil itu? O, apa barangkali kau maksudkan Ting-ting Tong-tong? Tapi dia ... dia bukan anak kecil lagi, aku pun tidak menipu dia, sebelumnya aku pun sudah katakan padanya bahwa aku bukan dia punya Engkoh Thian."

Rupanya meski dia sedang tanya jawab dengan Pek Ben-kiam, tapi sayup-sayup hidungnya mengendus bau harum yang timbul dari badan si Ting Tong yang berdiri di belakangnya itu sehingga semangatnya sudah melayang kepada diri anak dara itu.

Dengan sendirinya Pek Ban-kiam tidak paham apa yang dikatakan tentang Ting-ting Tong-tong apa segala, disangkanya Ciok Boh-thian sudah merasa bersalah, maka sengaja bicara ke timur dan ke barat untuk mengaburkan pokok pembicaraan mereka.

Seketika air muka Ban-kiam berubah masam, dengan suara geram ia berkata pula.

"Ciok-pangcu, biarlah kita bicara secara terus terang dan blakblakan saja. Cobalah jawab, ilmu silat yang kau pelajari di Leng-siau-sia itu mungkin belum terlupa seluruhnya, bukan?"

Ucapan Pek Ban-kiam ini benar-benar telah menggemparkan orang Tiang-lok-pang termasuk Pwe Hay-ciok.

Mereka tahu Leng-siau-sia (kota langit) adalah tempat kediaman kaum Swat-san-pay yang terletak di pegunungan Swat-san di wilayah barat sana.

Jika menurut ucapan Pek Ban-kiam ini, apakah benar sang Pangcu dahulu pernah belajar silat kepada kaum Swat-san-pay?

Jadi kedatangan orang-orang ini barangkali ada hubungannya dengan urusan perguruan mereka sendiri?

Namun terdengar Ciok Boh-thian telah menjawab dengan bingung.

"Leng-siau-sia? Tempat apakah itu? Selamanya aku tidak pernah belajar ilmu silat apa-apa. Jika pernah belajar tentu takkan melupakannya sama sekali."

Jawaban ini bukan saja menusuk perasaan orang-orang Swatsan-pay, bahkan Pwe Hay-ciok juga merasa keterlaluan. Masakah nama "Leng-siau-sia"

Yang tersohor dikenal setiap orang Bu-lim dianggap oleh sang Pangcu sebagai tempat yang tak pernah dikenal, bahkan menyatakan tidak pernah belajar ilmu silat, omong kosong yang tak masuk di akal, betapa pun juga hanya akan menurunkan derajat sang Pangcu sendiri.

Sebaliknya bagi pendengaran orang-orang Swat-san-pay, terutama Pek Ban-kiam, sudah tentu jawaban Ciok Boh-thian tadi merupakan suatu hinaan besar.

Yang pertama-tama tidak tahan ialah Ong Ban-jim, segera ia berteriak.

"Ucapan Ciok-pangcu barusan ini benar-benar keterlaluan. Apa barangkali semua orang Swat-san-pay satu peser pun tiada harganya dalam pandangan Ciok-pangcu?"

Melihat orang-orang Swat-san-pay itu marah-marah, Boh-thian menyangka ucapannya tadi tentu salah, maka cepat menjawab.

"O, tidak, tidak! Masakah aku berani mengatakan orang-orang Swat-san-pay tidak laku sepeser pun. Seperti ... seperti ...."

Tiba-tiba teringat olehnya dahulu waktu dia ikut Cia Yan-khek berbelanja ke kota, ia tahu barang yang baik berharga lebih mahal, maka ia bermaksud mengucapkan kata-kata yang bisa membikin senang Pek Ban-kiam dan kawan-kawannya, tapi berulang-ulang ia berkata.

"seperti ... seperti ...."

Namun tak bisa memberi contoh yang tepat. Dan karena di antara orang Swat-san pay yang dikenalnya itu hanya Hoa Ban-ci saja seorang, maka dalam keadaan serbasusah ia lantas berkata.

"Seperti ... seperti nona Hoa Ban-ci tentulah berharga, ya, tentu sangat berharga ...."

"Sret" , serentak orang-orang Swat-san-pay berbangkit dari tempat duduk mereka dan senjata terlolos dari sarungnya, selain Pek Ban-kiam, delapan orang lainnya semua sudah menghunus pedang dan berdiri mengepung di depan Ciok Bohthian. Bahkan Ong Ban-jim terus menuding dan mendamprat.

"Orang she Ciok, kau sembarangan mengoceh dengan katakata rendah, sungguh kau terlalu menghina kami. Walaupun kami sudah berada di sarangmu juga tidak manda diperlakukan secara semena-mena."

Bab 14. Ciok Boh-thian Ditawan oleh Pek Ban-kiam Boh-thian tambah bingung melihat kemarahan orang-orang Swat-san-pay itu, pikirnya.

"Apa yang kukatakan adalah bermaksud baik, mengapa kalian marah padaku malah?"

Dalam bingungnya ia lantas berpaling kepada Ting Tong dan bertanya.

"He, Ting-ting Ting-tong, apakah barusan aku telah salah omong?"

Ting Tong tertawa, sahutnya "Entahlah, aku pun tidak tahu. Barangkali nona Hoa tidak laku dengan harga baik seperti katamu."

Boh-thian manggut-manggut, katanya.

"Ya, andaikan nona Hoa tidak begitu berharga dan harus dijual murah, toh hal demikian tidak perlu di buat marah?"

Seketika orang-orang Tiang-lok-pang tertawa gempar mendengar ucapan itu, mereka menduga sang Pangcu pasti sudah ambil keputusan akan melabrak pihak Swat-san-pay, maka sengaja menggunakan kata-kata demikian untuk mengolok-oloknya.

Segera ada seorang menanggapi.

"Ya, jika terlalu mahal tentu kita tidak mampu membelinya. Bila agak murah sedikit, hehe, tentu kita dapat ...."

"Cring" , mendadak terdengar suara nyaring disertai berkelebatnya sinar pedang. Kiranya Ong Ban-jim sudah tak dapat menahan rasa murkanya, pedangnya lantas menusuk ke dada Ciok Boh-thian. Untung Pek Ban-kiam keburu melolos pedang juga dan mengetok ke batang pedang sang Sute sehingga senjata Ong Ban-jim itu hampir-hampir terlepas dari cekalan, tangannya sampai pegal tergetar. Dan dengan sendirinya tusukan itu hanya mencapai setengah jalan saja dan tak dapat diteruskan. Berbareng Pek Ban-kiam juga lantas membentak.

"Sakit hati kita kepada orang ini sedalam lautan, mana boleh dibereskan dengan sekali tusuk saja?"

"Sret", ia masukkan kembali pedangnya, lalu berkata kepada Boh-thian dengan suara geram.

"Nah, Ciok-pangcu, sesungguhnya kau kenal padaku atau tidak?"

Boh-thian manggut-manggut, sahutnya.

"Ya, aku kenal kau. Bukankah kau adalah Gi-han-se-pak Pek Ban-kiam dari Swat san-pay?"

"Bagus jika kau masih kenal padaku,"

Ujar Ban-kiam.

"Nah apa yang pernah kau lakukan tentunya akan kau akui, bukan?"

"Apa yang pernah kulakukan sudah tentu aku mengakui,"

Sahut Boh-thian.

"Baik, dan sekarang aku ingin tanya padamu. Ketika berada di Leng-siau-sia dahulu siapa namamu?"

"Ketika di Leng-siau-sia?"

Boh-thian menegas sambil garukgaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kapan sih aku pernah ke sana? O, ya, tempo dulu waktu aku turun gunung untuk mencari ibu dan si kuning, aku pernah menjelajahi beberapa buah kota, aku pun tidak tahu apa nama kota-kota itu, besar kemungkinan di antaranya ada sebuah kota yang bernama Leng-siau-sia."

"Kau tidak perlu melantur-lantur dan berlagak pilon,"

Semprot Pek Ban-kiam.

"Hendaklah bicara terus terang saja, namun aslimu toh bukan Ciok Boh-thian."

"Benar, benar! Memangnya aku bukan Ciok Boh-thian,"

Seru Boh-thian dengan tersenyum.

"Tapi merekalah yang telah salah mengenali diriku. Ya, betapa pun memang Pek-suhu lebih pintar, sekali tebak lantas tahu bahwa aku bukan Ciok Bohthian."

"Bagus! Dan siapakah namamu yang asli, cobalah katakan biar didengar oleh semua yang hadir di sini ini,"

Ujar Ban-kiam.

"Dia bernama apa? Hm, dia bernama Kau-cap-ceng!"

Sela Ong Ban-jim dengan makiannya.

Sekali ini bergilir orang-orang Tiang-lok-pang yang serentak berbangkit dengan marah dan sama melolos senjata.

Namun Ong Ban-jim tidak menjadi gentar, ia sudah bertekad biarpun dicincang oleh orang-orang Tiang-lok-pang juga tiada takkan peduli asalkan dapat mencaci maki lebih dulu si Kau-cap-ceng (anak anjing) ini.

Tak terduga bahwa makiannya itu tidak membikin murka Ciok Boh-thian, sebaliknya pemuda itu malah bertepuk tangan dan bergelak tertawa, serunya.

"Ya, benar, benar, sedikit pun tidak salah, memangnya aku ini bernama Kau-cap-ceng, entah dari mana kau mendapat tahu?"

Sudah tentu jawaban Ciok Boh-thian ini membikin semua orang terlongong-longong bingung kecuali beberapa orang seperti Pwe Hay-ciok, Ting Put-sam dan lain-lain yang pernah mendengar pemuda itu mengaku bernama "Kau-cap-ceng".

Diam-diam Pek Ban-kiam membatin.

"Bocah ini benar-benar licin dan licik, benar-benar lain daripada yang lain, sampai caci maki Ong-sute barusan juga diterimanya bulat-bulat. Terhadap manusia licik demikian harus hati-hati, sedikit pun tidak boleh lengah."

Sedangkan Ong Ban-jim lantas terbahak-bahak geli, serunya.

"Hahahaha! Jadi kau memang benar adalah Kau-cap-ceng? Hahaha, sungguh lucu, sungguh menggelikan!"

"Namaku memang Kau-cap-ceng, kenapa mesti dibuat geli?"

Sahut Boh-thian.

"Dahulu kalau ibumu juga memanggil kau sebagai Kau-cap-ceng, maka sekarang kau tentu juga sudah menjadi Kau-cap-ceng."

"Ngaco-belo!"

Bentak Ban-jim dengan murka.

Berbareng pedangnya lantas bergerak dalam jurus "Hui-sah-cau-ciok" (pasir terbang batu bertebaran), sinar pedang gemerdep, kontan ia menusuk ke dada Ciok Boh-thian.

Pek Ban-kiam sengaja hendak melihat selama beberapa tahun ini ilmu silat aneh apa yang telah dipelajari Ciok Boh-thian sehingga dalam usianya yang masih muda belia itu sudah menjadi Pangcu suatu organisasi besar serta disegani tokohtokoh sebangsa Pwe Hay-ciok dan lain-lain.

Maka tindakan Ong Ban-jim itu tidak dicegahnya, walaupun mulutnya pura-pura menegur, tapi sengaja membiarkan Ong Ban-jim menerjang ke depan.

Meski Boh-thian pernah belajar beberapa tahun ilmu Lwekang, tapi dalam hal bertempur sama sekali tiada pengalaman dan tak pernah belajar cara-cara berkelahi.

Keruan ia menjadi kelabakan ketika melihat ujung pedang Ong Ban-jim menyambar ke arahnya, ia tak tahu cara bagaimana harus menangkis atau menghindar, dalam gugupnya secara otomatis kedua tangannya lantas menolak ke depan, karena dia memakai baju panjang yang berlengan panjang dan gondrong, maka lengan baju itu menjadi seakan-akan dikebutnya ke depan.

Terdengarlah suara "krak"

Sekali menyusul tubuh Ong Ban-jim terus mencelat ke belakang dan "blung", badannya tertumbuk di pintu ruangan besar itu.

Tadi ketika orang-orang Swat-san-pay sudah masuk ke dalam Hou-beng-tong, segera orang-orang Tiang-lok-pang menutup pintu, mereka menaksir bila terjadi pertengkaran, maka orangorang Swat-san-pay akan dapat dibekuk dan tak bisa meloloskan diri.

Daun pintu ruangan itu terbuat dari kayu pilihan yang sangat kuat, dilapis pelat besi diberi berpaku tembaga.

Begitu punggung Ong Ban-jim tertumbuk di atas pintu, menyusul lantas terdengar suara "crat-cret"

Dua kali, dua potong pedang patah berbalik menancap di atas badannya sendiri.

Dengan lemas ia terbanting jatuh di atas lantai, darah segar merembes ke luar dan dalam sekejap saja sudah membasahi bajunya yang putih itu.

Cepat Kwa Ban-kin dan Hoa Ban-ci memburu maju, yang seorang memeriksa napasnya dan yang lain memeriksa nadinya.

Untung meski tenaga dalam Ciok Boh-thian sangat kuat, tapi dia tak tahu cara bagaimana menggunakannya, maka Ong Ban-jim selain menderita luka luar itu, jiwanya boleh dikata selamat.

Hanya satu jurus yang diperlihatkan Ciok Boh-thian ini bukan saja membikin panik orang-orang Swat-san-pay, bahkan di pihak orang Tiang-lok-pang juga gempar, mereka bergirang dan terheran-heran pula, sebab ilmu silat sang Pangcu itu hanya diketahui sangat aneh dan susah dijajaki, tapi belum pernah diketahui bahwa Lwekangnya ternyata sedemikian dahsyatnya.

Diam-diam Pwe Hay-ciok mengangguk dan membatin.

"Pangcu hanya menghilang setengah tahun saja dan ternyata beliau memang sedang meyakinkan semacam Lwekang yang lihai, dengan hasilnya ini sungguh Tiang-lok-pang harus merasa bahagia sekali."

Sebaliknya Pek Ban-kiam lantas menjengek.

"Ciok-pangcu, sebagai orang Bu-lim kita harus mengutamakan tentang perbedaan kedudukan dan antara tua dan muda. Setiap orang yang berani melawan orang tua adalah khianat dan durhaka. Guru dipandang melebihi ayah sendiri. Engkau pernah belajar silat di perguruan Swan-san-pay kami maka jelek-jelek Ongsute ini juga terhitung kau punya Susiok, tapi sekali gebrak kau sudah turun tangan keji, sebenarnya apa alasanmu? Segala persoalan di dunia ini tak bisa mengesampingkan tentang ‘kebenaran’, biarpun ilmu silatmu mahatinggi juga takkan terhindar dari keadilan."

"Apa yang kau maksudkan, sedikit pun aku tidak paham,"

Demikian sahut Boh-thian dengan bingung.

"Kapan aku pernah belajar ilmu silat di tempat Swat-san-pay kalian?"

"Sampai saat ini kau masih tidak mau mengaku?"

Ban-kiam menegas dengan aseran.

"Kau mengaku sebagai Kau-cap-ceng, hehe, kau rela merendahkan dirinya sendiri adalah urusanmu sendiri. Tapi ayah-ibumu adalah kesatria-kesatria terutama di dunia Kangouw. Kalau kau tidak mau mengaku perguruanmu, apa terhadap ayah-bundamu juga kau tidak mau mengaku?"

Boh-thian menjadi girang, cepat ia menjawab.

"He, kau kenal ayah-ibuku? Wah, baik sekali kalau begitu. Pek-suhu, harap engkau suka memberitahukan padaku, di manakah ibuku? Siapakah ayahku?"

Sambil bicara lantas ia berdiri dan memberi hormat dengan sikap yang sungguh-sungguh dan tulus.

Pek Ban-kiam menjadi bingung malah, ia tidak paham apa maksud tujuan sikap pura-pura pemuda itu.

Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Orang ini mahajahat dan mahalicin, sekali-kali tidak boleh diukur menurut orang biasa. Demi untuk menutupi asal usulnya sendiri sampai-sampai ayah-ibunya sendiri juga tak diakuinya. Kalau dia sudah mau mengaku dirinya sendiri sebagai Kau-cap-ceng, dengan sendirinya tentang perguruan dan orang tua tak terpikir lagi olehnya."

Begitulah, seketika hati Pek Ban-kiam menjadi bimbang, ia menghela napas panjang dan berkata.

"Bakat sebagus ini justru tidak mau belajar yang baik, sungguh sayang."

"Pek-suhu, kau bilang sayang, ada apakah dengan ayahibuku?"

Tanya Boh-thian agak bingung.

"Jika kau masih mempunyai rasa khawatir atas diri ayahibumu, hal ini menandakan kau masih belum durhaka sama sekali,"

Ujar Ban-kiam.

"Ilmu pedang ayah-ibumu sangat sakti, suami-istri berkelana di Kangouw bersama, sudah tentu mereka takkan menghadapi sesuatu bahaya apa-apa."

Dalam pada itu dengan dipapah oleh Kwa Ban-kin dan Hoa Ban-ci, perlahan-lahan Ong Ban-jim telah sadar kembali dan terdengar suara rintihannya.

Hati Ciok Boh-thian memangnya sangat welas asih, segera ia bertanya.

"Toako ini tadi mengapa mendadak terbang ke belakang dan seperti tertumbuk jatuh di sana? Pwe-siansing, apakah dia terluka parah?"

Pertanyaan Boh-thian ini sebenarnya timbul dari hati nuraninya yang baik, tapi bagi pendengaran orang lain semuanya menganggap dia sengaja menyindir.

Seketika sebagian besar orang-orang Tiang-lok-pang bergelak tertawa, ada yang memuji kelihaian sang Pangcu ada pula yang mengolok-olok pihak Swat-san-pay.

"Hm, hanya dengan sedikit kepandaian begitu saja juga berani main gila ke sini, sekarang sesudah kalian diberi tahu rasa oleh Pangcu baru nyaho!"

Demikian cemooh mereka. Namun Pek Ban-kiam anggap tidak mendengar semua olokolok itu, segera ia berseru pula dengan suara lantang.

"Ciokpangcu, kunjungan kami ke sini ini adalah untuk urusan pribadi Ciok-pangcu sendiri saja dan tiada sangkut pautnya dengan sahabat-sahabat yang lain, maka pihak Swat-san-pay kami tidak ingin bertengkar mulut seperti di tengah pasar. Nah, Ciok Tiong-giok, aku hanya ingin bertanya padamu, kau sebenarnya mau mengaku atau tidak?"

"Ciok Tiong-giok? Siapa itu Ciok Tiong-giok?"

Kau ingin aku mengaku tentang apa?"

Boh-thian menegas dengan melongo heran.

"Kau tidak perlu berlagak pilon,"

Ujar Ban-kiam.

"Gurumu Hong-hwe-sin-liong telah berkorban sebelah lengan lantaran perbuatanmu yang rendah dan kotor itu. Padahal budi Hongsuko terhadapmu adalah lebih besar daripada gunung, apakah sedikit pun dalam hatimu tidak merasa menyesal dan merasa malu?"

Karena apa yang dikatakan Ban-kiam itu memang tidak bisa di pahami oleh Ciok Boh-thian, maka ia lantas bertanya lagi.

"Hong-hwe-sin-liong? Hong-suko? Siapakah dia? Mengapa dia mengorbankan sebelah lengannya lantaran perbuatan yang rendah dan kotor? Apa sih per ... perbuatanku yang rendah dan kotor itu?"

Sungguh tidak kepalang rasa murka Pek Ban-kiam, sudah tetap tidak mau mengaku, bahkan akhirnya pemuda yang dianggap durhaka itu sengaja mendesaknya agar menguraikan apa yang terjadi di Leng-siau-sia seperti putrinya hendak diperkosa, akhirnya membunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, kejadian-kejadian yang memalukan dan mengenaskan itu masakah pantas untuk diceritakan di hadapan orang luar?

Saking murkanya "sret"

Pedangnya terlolos, tangannya bergerak, sinar pedang gemerlap.

"tok"

Pedang sudah masuk kembali ke dalam sarungnya lagi. Habis itu ia berkata pula sambil menunjuk bekas-bekas pedang di atas pilar di sebelahnya dan berseru.

"Saudara-saudara sekalian, ilmu pedang Swat-san-pay kami adalah terlalu rendah dan menertawakan bagi kaum ahli. Tapi sejak cikal bakal kami mendirikan golongan kami sampai sekarang, turun-temurun kami ada suatu kebiasaan, yaitu, bila pedang kami beruntung dapat melukai pihak lawan, maka di tempat luka itu tentu akan kelihatan bentuk Swat-hoa (bunga salju) bersayap enam."

Segera semua orang memandang ke arah pilar, maka tertampaklah di atas pilar yang bercat merah itu ada enam titik bekas tusukan pedang, setiap titik itu berbentuk bunga salju yang bersayap enam.

Keenam titik bekas pedang itu berbaris dengan sangat rajin dalam bentuk segi enam.

Padahal pedang Pek Ban-kiam tadi kelihatannya cuma berkelebat sekali saja, lalu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya, hanya dalam sekejap saja, dengan getaran pedangnya sudah terbentuk bunga salju sebanyak itu, betapa cepat dan jitunya ilmu pedang Pek Ban-kiam itu sungguh susah dibayangkan.

Kalau tadi banyak di antara orang-orang Tiang-lok-pang memandang hina kepada pihak Swat-san-pay karena sekali gebrak saja Ong Ban-jim sudah dibikin mencelat oleh Ciok Bohthian, tapi sekarang sesudah menyaksikan kepandaian Pek Ban-kiam yang lihai ini, mau tak mau mereka merasa kagum dan bahkan ada yang bersorak memuji.

"Sedikit kepandaian orang she Pek ini sesungguhnya tiada artinya, aku percaya tentu tidak sedikit di antara para hadirin yang jauh lebih pandai daripada diriku,"

Demikian kata Bankiam dengan rendah hati.

"Jadi sesungguhnya dengan kepandaianku yang rendah ini sekali-kali aku tidak berani main gila ke tempat kalian ini. Hanya saja ada satu urusan yang kami inginkan kesaksian para sahabat. Dahulu tujuh tahun yang lalu, dalam Swat-san-pay kami terdapat seorang murid celaka yang bernama Ciok Tiong-giok, secara sembrono dan kurang ajar dia telah berani coba-coba bertanding dengan Liaususiok kami. Untuk memberi hajar adat padanya, maka Liaususiok sengaja melukai paha anak durhaka itu dan meninggalkan bekas luka dalam bentuk bunga salju seperti di atas pilar ini.

"Meski ilmu pedang golongan kami hanya biasa saja dan tidak mengherankan, tapi di dunia ini tiada ilmu pedang lain yang dapat meninggalkan bekas bunga salju demikian. Nah, Ciok Tiong-giok, kau telah mendustai semua orang dan tidak berani memperlihatkan asal usulmu yang sebenarnya. Coba sekarang kau menyingsing lengan celanamu, biar dilihat oleh para hadirin apakah di pahamu ada bekas luka itu atau tidak?"

"Kau suruh aku menyingsing lengan celanaku?"

Boh-thian menegas dengan heran.

"Benar, sahut Ban-kiam.

"Jika di pahamu tiada terdapat bekas luka itu maka aku inilah yang buta dan dengan sendirinya akan minta maaf atas kelancangan kami ini. Sebaliknya kalau pahamu terdapat bekas luka itu lantas ... lantas bagaimana?"

"Jika di atas pahaku terdapat bekas luka demikian, itu benarbenar sangat aneh, sebab aku sendiri sama sekali tidak tahu,"

Ujar Boh-thian dengan tertawa.

Diam-diam Pek Ban-kiam menjadi ragu-ragu sendiri melihat sikap Ciok Boh-thian yang tenang itu.

Tapi ia yakin pemuda ini pasti Ciok Tiong-giok yang dicarinya itu.

Walaupun sudah selang beberapa tahun, tindak tanduknya tampak agak berbeda daripada dulu, tapi mukanya sedikit pun tidak salah.

Apalagi sesudah Hoa-sumoay bebas dari tawanan orang Tiang lok-pang, dengan pasti dia yakin Ciok Boh-thian inilah sama orangnya dengan Ciok Tiong-giok, masakah beberapa pasang mata bisa salah lihat semua?

Selagi Ban-kiam termenung, dengan tertawa Tan Tiong-ci lantas berkata.

"Haha, kau ingin melihat bekas luka Pangcu, sebaliknya Pangcu ingin melihat bekas luka di kaki nona Hoa. Di sini terlalu banyak orang, ada lebih baik silakan Pangcu dan nona Hoa saling lihat ke dalam kamar saja."

Ban-kiam menjadi murka, mendadak ia maju ke depan dan membentak.

"Ciok Tiong-giok, dasar orang berdosa, kau tidak mau memperlihatkan bekas luka di kakimu, maka boleh ikut aku pulang ke Leng-siau-sia saja!"

"Sret", berbareng pedang sudah terhunus di tangannya.

"Eh-eh, Pek-suhu mengapa menjadi marah?"

Ujar Boh-thian.

"Di atas kakiku selamanya tiada bekas luka apa-apa, jika tidak percaya bolehlah kuperlihatkan."

Sambil berkata ia terus menyingsing lengan celananya sehingga kelihatan pahanya.

Seketika suasana di ruang besar itu menjadi sunyi senyap, perhatian semua orang terpusat kepada paha Ciok Boh-thian.

Mendadak terdengar jeritan terkejut orang banyak.

Ternyata di sisi luar paha kiri Ciok Boh-thian memang benar ada enam titik bekas luka.

Keruan di antara orang-orang itu yang paling terkejut adalah Boh-thian tersebut sendiri.

Ia coba gosok-gosok bekas luka itu, tetapi bekas luka itu memang nyata dan berada di atas pahanya.

Ia kucek-kucek matanya dan kembali mengamat-amati paha sendiri pula, namun bekas luka itu memang sama benar dengan bekas pedang di atas pilar tadi.

Sembilan pasang mata orang-orang Swat-san-pay sekarang menatap tajam kepada Ciok Boh-thian, mereka tidak bicara lagi, tapi menantikan pengakuan dosa Ciok Boh-thian sendiri.

Dahi Ciok Boh-thian sampai berkeringat.

Ia meraba bekas luka di paha itu, lalu meraba-raba pula bekas luka di atas pundak sambil menggumam.

"Aneh, di kaki ada bekas luka, di atas pundak juga ada luka, mengapa orang lain mengetahui, sebaliknya aku ... aku malah tidak tahu. Jangan-jangan aku benar-benar sudah melupakan segala kejadian di masa dahulu?"

Ia coba memandang Pwe Hay-ciok, dilihatnya penasihat itu menggeleng kepala perlahan.

Ia menoleh ke arah Ting Tong, anak dara itu tampak mengerut hidung dan mencibir padanya.

Ia coba memandang juga kepada Ting Put-sam, orang tua itu angkat lengan baju kanan untuk menutupi gerakan tangan kiri yang memberi tanda agar segera labrak pihak lawan saja.

Pada saat itulah Tan Tiong-ci telah mendekati sang Pangcu dan mengaturkan sebatang pedang sambil membisiki.

"Pangcu, tidak perlu banyak bicara dengan mereka. Segala urusan biarlah diputuskan dengan kepandaian saja. Yang menang adalah yang benar dan yang kalah adalah yang salah."

Rupanya Tan Tiong-ci yakin dengan kepandaian sang Pangcu yang aneh serta Lwekangnya yang hebat itu tentu dapat mengalahkan Pek Ban-kiam.

Kalah berdebat terpaksa pakai kekerasan.

Paling-paling main kerubut, dengan jumlah orang Tiang-lok-pang yang jauh lebih banyak pasti akan dapat membekuk orang-orang Swat-san-pay itu, demikian pikirnya.

Secara tak sadar Boh-thian telah terima pedang yang disodorkan padanya itu.

Di lain pihak Pek Ban-kiam lantas berseru dengan suara kereng.

"Dengarkanlah Ciok Tiong-giok, hari ini Pek Ban-kiam mendapat titah Wi-tek Siansing selaku Ciangbunjin kita, agar melakukan pembersihan rumah tangga sendiri. Maka urusan ini adalah urusan dalam Swat-san-pay dan tiada sangkut pautnya dengan orang luar. Jikalau di dalam markas Tiang-lok-pang ini tidak pantas digunakan gelanggang pertarungan, bagaimana kalau kita keluar saja untuk menentukan mati dan hidup?"

"Buat ... buat apa mesti menentukan mati dan hidup?"

Sahut Ciok Boh-thian dengan bingung. Tiba-tiba Ting Tong mendorong perlahan di punggungnya dan membisikinya.

"Engkoh Thian, hayo majulah! Labrak saja dia! Kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada dia, sekali tusuk bunuh saja dia!"

"Ti ... tidak, buat apa membunuh dia? Dia toh bukan orang jahat?"

Sahut Boh-thian dan tanpa merasa melangkah maju beberapa tindak.

Melihat tindakan pemuda itu sangat kukuh dan kuat, terang Lwekangnya sangat hebat.

Tadi Pek Ban-kiam juga sudah menyaksikan Ong Ban-jim terpental hanya kena kebasan lengan bajunya saja, sekarang dengan sendirinya ia tidak berani ayal sedikit pun.

Segera pedangnya menyendal sekali, dengan jurus "Bwe-swat-ceng-jun" (bunga Bwe dan bunga salju bertebaran), sinar pedangnya berkilau, ujung pedang dan mata pedang digunakan berbareng terus menyerang ke arah Ciok Boh-thian.

Seketika Boh-thian merasa pandangannya menjadi silau dan tak dapat membedakan yang mana ujung pedang dan yang mana mata pedang.

Dengan gugup kembali Ciok Boh-thian mengebutkan kedua lengan bajunya secara serabutan.

Percuma saja dia memiliki Lwekang yang tinggi tapi sama sekali tak dapat menggunakan.

Tadi Ong Ban-jim kena disengkelit dan terpental adalah karena kebetulan saja, sekarang dia mengebas lengan baju pula, karena tenaga dalamnya tak terpakai, pula kepandaian Pek-Ban-kiam juga tidak dapat disamakan dengan Ong Ban-jim, maka terdengarlah suara "brat-bret"

Beberapa kali, kedua lengan baju Ciok Boh-thian telah terkupas robek oleh pedang Pek Ban-kiam menyusul tenggorokan Boh-thian terasa "nyes"

Dingin, tahu-tahu ujung pedang lawan sudah mengancam di lehernya.

Rupanya Pek Ban-kiam insaf jago-jago di pihak lawan teramat banyak, terutama tokoh-tokoh Pwe Hay-ciok dan si kakek berbaju kasar yang berdiri di belakang Ciok Boh-thian itu tentu ilmu silatnya susah diukur.

Berada di tempat berbahaya, sekali mendapat kesempatan, mana boleh pihak lawan kelonggaran?

Maka segera ia mendesak maju, secepat kilat Ciok Boh-thian lantas dikempitnya dengan kencang berbareng lengannya menjepit sekuat-kuatnya di tempat Hiat-to bagian pinggang Ciok Boh-thian sehingga pemuda itu tak bisa berkutik berbareng ia terus membentak.

"Para sobat, hari ini terpaksa kami harus lancang tangan, biarlah lain hari kami akan datang lagi untuk minta maaf."

Melihat sang Suheng telah berhasil menawan musuh, tanpa diperintah serentak Kwa Ban-kin menggendong Ong Ban-jim yang terluka terus mendahului menerjang ke arah pintu.

Namun Tan Tiong-ci dan Bi Heng-ya telah melompat maju bersama sambil membentak.

"Tinggalkan Pangcu!"

Berbareng golok mereka terus menyerang, yang satu membacok pundak dan yang lain menebas kedua kaki Pek Bankiam. Tapi pedang Pek Ban-kiam hanya sedikit bergerak saja dan "cring-cring"

Dua kali berturut-turut, tapi selisih kedua tangkisan itu sebenarnya cuma sekejap mata saja cepatnya.

Ketiga orang sama-sama terkejut dan sama-sama tergetar mundur satu tindak oleh tenaga dalam masing-masing.

Sekilas timbul pikirannya Pek Ban-kiam bahwa hanya ilmu silat kedua lawan ini saja sudah sedemikian lihainya apalagi kalau mereka mengerubut maju bersama maka pihak sendiri yang cuma berjumlah sembilan orang saja pasti akan gugur semua di situ.

Secepat kilat ia lantas melompat ke samping dan berdiri membelakangi dinding, lalu bentaknya.

"Ciok Tiong-giok sudah kutawan, kalau kalian main kerubut, terpaksa aku membinasakan dia dahulu untuk kemudian melayani kalian."

Para jago Tiang-lok-pang itu tiada seorang pun yang menduga bahwa Pangcu mereka yang berkepandaian sedemikian tingginya hanya dalam satu gebrakan saja sudah kena ditawan musuh, keruan mereka menjadi panik dan bingung.

Bahkan kejadian yang luar biasa ini pun di luar dugaan Ting Put-sam yang berpengalaman luas itu.

Ting Put-sam saling pandang sekejap dengan Ting-Tong.

Air muka Ting Tong tampak sangat khawatir, berulang-ulang ia memberi tanda agar sang kakek turun tangan.

Tapi Ting Putsam hanya tersenyum-senyum saja tanpa memberi reaksi apaapa.

Ia anggap ilmu silat Ciok Boh-thian sangat tinggi, hal ini pernah dicobanya dengan tenaga dalam yang kuat, pemuda itu telah memunahkan tepukannya di atas perahu tempo hari itu, maka tidaklah mungkin dengan sedemikian gampangnya dia kena ditawan musuh, tentu di balik kejadian ini ada tujuan tertentu, kalau dirinya ikut campur tentu akan membikin runyam rencananya malah.

Maka ia sengaja tinggal diam saja untuk menantikan perkembangan selanjutnya.

Melihat sikap sang kakek yang acuh tak acuh dan tenangtenang itu, Ting Tong menjadi lega.

Namun begitu ia tetap khawatir juga karena sang suami berada dalam tawanan musuh.

Dalam pada itu, dengan kedua tangannya menolak daun pintu, Kwa Ban-kin sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong pintu itu, tapi pintu itu hanya mengeluarkan suara berkeriutan saja dan tidak mau terbuka.

Rupanya di luar pintu sana telah ditahan dengan balok-balok kayu yang kuat.

Melihat daun pintu yang didorong sekuatnya itu lambat laun mulai terpentang, cepat Pwe Hay-ciok melompat maju dan berseru.

"Sobat Kwa jangan terburu-buru pergi dulu, biarlah kami suruh orang membuka pintu dan mengantar keberangkatan kalian,"

"Mundur!"

Bentak Hoa Ban-ci sebelum Pwe Hay-ciok mendekat, dengan pedang terhunus ia menjaga di belakang Kwa Ban-kin.

Namun Pwe-Hay-ciok tidak gentar, mendadak jarinya yang kuat sebagai kait itu terus mencengkeram ke atas pedang lawan.

Ban-ci terkejut, ia heran apakah tangan orang she Pwe itu kebal senjata tajam?

Dan karena sedikit ayal itulah tahu-tahu jari Pwe Hay-ciok sudah mendekati, sekonyong-konyong cengkeramannya berubah menjadi menyelentik.

"creng" , tangan Hoa Ban-ci sampai kesaktian, pedang terlepas dari cekalan dan jatuh ke lantai. Berbareng tangan kanan Pwe Hay ciok lantas merangsang maju pula dan tepat pundak Banci kena ditepuk sekali. Serangan Pwe Hay-ciok ini dilakukan dengan gesit dan cepat sekali, sungguh tidak kalah indahnya kalau dibandingkan betapa hebat caranya Pek Ban-kiam membuat enam titik bunga pedang di atas pilar tadi. Diam-diam Ting Put-sam memberi pujian juga, sebabnya Pwe Hay-ciok terkenal di Bu-lim, nyata dia punya ilmu pukulan Ngoheng-liok-hap-ciang memang mempunyai keunggulannya sendiri. Pwe Hay-ciok masih menyusur kian kemari dengan cepat sekali, ia menyelentik di sini dan memukul di sana. Para murid Swat-san-pay itu kecuali Ong Ban-jim yang sudah terluka, sisanya beruntun-runtun telah dirobohkan semua. Setiap orang paling-paling hanya mampu bergebrak tiga-empat jurus saja dengan Pwe Hay-ciok dan musuh dirobohkan.

"Kepandaian bagus, Ngo-heng-liok-hap-ciang yang hebat, orang she Pek kelak pasti akan belajar kenal padamu!"

Seru Pek Ban-kiam. Mendadak ia meloncat ke atas.

"brak"

Atap rumah telah disundul olehnya sehingga berlubang, dengan mengempit Ciok Boh-thian ia lantas menerobos keluar.

"Kenapa tidak belajar kenal sekarang saja?"

Seru Pwe Hay-ciok, menyusul ia pun meloncat ke atas dan hendak menguber lawan melalui lubang atap yang bobol itu.

Tapi mendadak matanya menjadi silau, bintik sinar pedang sebagai hujan mencurah telah mengancam kepalanya.

Dalam keadaan terapung di udara, pula tidak bersenjata, sudah tentu Pwe Hay-ciok tidak dapat menangkis serangan itu, seketika ia membikin antap badannya dan anjlok kembali mentah-mentah ke bawah.

Gerakan itu tampaknya sepele saja, tapi dalam sekejap dapat mengubah daya loncat ke atas itu menjadi anjlok ke bawah, asal telat sekejap saja tentu sudah terluka oleh pedang lawan, ketangkasan Pwe Hay-ciok ini membikin para jago yang berada di ruangan situ sama memuji di dalam hati.

Namun berkat serangannya itu Pek Ban-kiam telah sempat membawa lari Ciok Boh-thian.

Sedangkan Pwe Hay-ciok begitu kakinya menyentuh lantai kembali ia meloncat ke atas untuk mengejar.

Ting Tong ikut sibuk, cepat ia pun bermaksud meloncat keluar melalui lubang atap yang bobol itu.

Namun Ting Put-sam keburu menarik tangan anak dara itu dan membisikinya.

"Tidak perlu buru-buru!"

Di tengah berhamburnya batu pasir rontokan genting atap itu sekonyong-konyong di antara murid-murid Swat-san-pay yang menggeletak di lantai itu, seorang yang bertubuh kurus kecil mendadak meloncat ke atas segesit kucing dan secepat kera menerobos keluar melalui lubang atap itu.

Tan Tiong-ci sempat menebas dengan goloknya, terdengar "sret"

Sekali, selapis tumit sepatu orang itu kena tertebas, hanya selisih beberapa senti saja kaki orang kurus kecil itu tentu terkutung.

Orang-orang Tiang-lok-pang sama melengak, tak terduga oleh mereka bahwa di antara jago-jago Swat-san-pay itu selain Pek Ban-kiam ternyata masih ada seorang jago selihai itu, sudah terang tadi orang itu sudah ditutuk roboh oleh Pwe Hay-ciok tapi mampu mengerahkan tenaga dalam dan membuka Hiat-to sendiri yang tertutuk itu lalu meloloskan diri di depan orang banyak.

Khawatir kalau ketujuh orang tawanan yang lain akan kabur lagi, segera Bi Heng-ya menambahi beberapa kali tutukan pada setiap orang itu.

Dalam pada itu sudah ada belasan jago Tiang-lok-pang dengan bersenjata telah ikut mengejar keluar melalui lubang atap yang bobol itu.

Orang-orang Tiang-lok-pang itu berpendapat, orang lain telah berani main gila ke sarang mereka dan bahkan menawan Pangcu mereka, kalau sang Pangcu tidak direbut kembali, maka untuk selanjutnya nama Tiang-lok-pang mereka pasti akan runtuh.

Walaupun pihak musuh juga tertawan tujuh orang, tapi biarpun bagaimana juga tak dapat mengimbangi tertawannya sang Pangcu.

Mereka yakin asal orang she Pek itu dapat dicegat, lalu dikerubut, akhirnya sang Pangcu tentu dapat diselamatkan dan hal ini akan merupakan pahala besar bagi mereka yang berjasa itu.

Karena itulah dengan penuh semangat mereka lantas menguber musuh secara terpencar.

Sementara itu fajar sudah menyingsing, orang-orang Tianglok-pang yang dikerahkan untuk mencari musuh semakin banyak.

Tapi meski sudah diuber dan dicari kian kemari dalam jarak seluas belasan li, ternyata jejak musuh itu sama sekali tak tertampak.

Kiranya Pek Ban-kiam sendiri pun terheran-heran bahwa dalam satu jurus saja Ciok Boh-thian sudah kena ditawannya.

Ia tahu kejadian itu tentu hanya secara kebetulan saja, walaupun berhasil menawan orang yang dicarinya itu tapi orang-orang Tiang-lok-pang telah dikerahkan semua untuk mengejarnya, untuk melarikan diri tentu juga sukar.

Ia coba memandang sekelilingnya, tertampak di hulu sungai sebelah barat sana ada sebuah jembatan batu.

Tanpa pikir lagi ia terus berlari ke sana dan menyusup ke bawah jembatan.

Ia mengepit Ciok Boh-thian dengan tangan kiri, pedang di tangan kanan lantas ditusukkan ke dalam celah-celah batu jembatan sehingga terjepit dengan kencang.

Lalu dengan sebelah tangan itu menggandul dan pepetkan tubuhnya di bawah jembatan itu.

Tidak lama kemudian lantas terdengar suara suitan orangorang Tiang-lok-pang bahkan ada yang melintasi jembatan itu, getaran orang-orang itu waktu menginjak jembatan itu hampirhampir membikin pedang Pek Ban-kiam terlepas dari celahcelah batu.

Diam-diam Pek Ban-kiam sudah ambil keputusan kalau jejaknya diketahui musuh, maka besar kemungkinan terpaksa harus membunuh dulu pemuda tawanannya itu.

Terdengar ada suatu rombongan orang-orang Tiang-lok-pang sedang mencarinya dengan menyusur tepi sungai.

Ketika hampir mendekati jembatan itu, mendadak di semak alangalang sana ada suara keresek, ada seorang secepat terbang telah berlari ke arah yang berlawanan sana.

Dari suara tindakan dan gerakan orang itu Ban-kiam tahu adalah seorang Sutenya yang bernama Ang Ban-ek.

Ia bergirang dan merasa lega.

Ang Ban-ek itu tergolong nomor satu dalam hal Ginkang di antara sesama jago-jago Swat-sanpay, larinya secepat terbang, tiada seorang pun yang mampu menyusulnya.

Nyata sekali perbuatannya barusan ialah untuk membelokkan perhatian musuh dan memancing pihak musuh mengejarnya ke jurusan lain, dengan demikian dapat memberi kesempatan kepada Pek Ban-kiam untuk meloloskan diri dari tempat bahaya itu.

Dan ternyata benar juga, orang-orang Tiang-lok-pang beramai-ramai lantas mengejar ke jurusan sana.

Tapi Pek Ban-kiam masih ragu-ragu orang-orang.

Tiang-lokpang terlalu banyak jumlahnya, asal dia memperlihatkan diri, tentu akan kepergok.

Tengah bersangsi, tiba-tiba terdengar suara mendeburnya air, suara dayung perahu mengayuh, tertampak dari arah timur sana sedang mendatangi tiga buah perahu beratap, kedua buah perahu di antaranya penuh memuat sayur-mayur, sebuah lagi penuh memuat rumput jerami.

Rupanya orang kampung pagi-pagi hendak pergi ke pasar kota Yangcu untuk menjual hasil tanamannya.

Ketiga perahu itu bereret-eretan menerobos di bawah jembatan batu.

Pek Ban-kiam sangat girang, ia tunggu waktu perahu ketiga lewat di bawah jembatan itu, segera ia tarik pedangnya, bersama Ciok Boh-thian mereka menjatuhkan diri ke atas tumpukan jerami di atas perahu itu.

Karena tumpukan jerami itu sangat tinggi dan lunak, maka apa yang terjadi itu sama sekali tidak diketahui si tukang perahu.

Dengan membawa Ciok Boh-thian segera Ban-kiam menyusup ke dalam onggok jerami itu sehingga tidak kelihatan dari luar.

Sesudah tiba di pasar kayu bakar, sambil menantikan tengkulak yang biasa menerima barang dagangannya, si tukang perahu telah meninggalkan perahunya untuk pergi makan-minum.

Kesempatan baik itu tidak disia-siakan Pek Ban-kiam.

Lebih dulu ia melongok ke tepi, ia lihat di dekat situ tiada orang lain.

Baca Juga: Kemelut Blambangan Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert