Eps 2 Medali Wasiat - Yin Yong
Baca online Medali Wasiat - Yin Yong
Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.
"Oh, barangkali kau tidak suka orang yang setia kawan, ja........... jadi engkau tidak setia kawan."
Yan-khek menjadi murka, seketika kepala sipengemis cilik itu hendak ditaboknya.
Tapi demi melihat sikap bocah yang masih ke-kanak-anakan dan polos itu, tangannya yang sudah terangkat itu lantas ditarik kembali.
Pikirnya.
"Jika dia memang tidak paham apa artinya setia kawan, maka diapun tidak sengaja hendak mengejek padaku." – Lalu iapun menjawab.
"Masakan aku tidak setia kawan? Tentu saja aku suka setia kawan."
"Setia kawan itu baik atau tidak?"
Tanya sipengemis cilik/ "Baik, sudah tentu baik,"
Sahut Yan-khek.
"Ah, tahulah aku sekarang. Yang berbuat baik adalah orang baik, yang berbuat jahat adalah orang jahat. Engkau berbuat baik maka engkau adalah seorang yang sangat baik."
Kalau kata-kata ini diucapkan oleh seorang lain, Cia Yan-khek akan menganggapnya sebagai suatu sindiran dan tanpa pikir tentu orang itu dibinasakannya.
Hendaklah maklum selama hidupnya ini tak pernah seorangpun yang mengatakan dia adalah "orang baik".
Walaupun terkadang iapun berbuat satudua kebaikan, tapi itu hanya karena hatinya sedang senang dan melakukannya menurut seleranya pada saat itu, kalau dibandingkan kejahatannya yang diperbuatnya selama hidup boleh dikata tiada artinya.
Tapi sekarang didengarnya ucapan sipengemis cilik itu sangat tulus dan sungguh-sungguh, mau tak mau ia meringis dan serba runyam.
Pikirnya.
"Kata-kata bocah ini setengah sinting, sebentar bilang aku tidak setia kawan, sekarang aku dianggap orang baik. Kalau kata-kata demikian didengar oleh musuhku bukankah akan menjadi buah tertawaan orang-orang Bu-lim? Rasanya aku harus lekas menyelesaikan urusan ini dan tidak perlu omong-kosong lagi dengan dia."
Karena bocah itu tidak mau pedang-pedang hitam-putih itu, Yan-khek lantas mengeluarkan sepotong kain hijau dan membungkusnya, lalu digendongnya dipunggung. Diam-diam ia memikir.
"Cara bagaimana aku harus memancing dia supaya memohon sesuatu padaku?"
Tengah memikir, tiba-tiba dilihatnya ditepi jalan ada tiga batang pohon kurma dengan buahnya yang merah segar dan besar-besar. segera ia menunjuk buah kurma itu dan berkata.
"Sungguh enak sekali buah kurma itu."
Menurut rekaannya, karena pohon kurma itu tinggi-tinggi semua, asal sijembel cilik itu memohon dia memetikkan buah kurma, maka itu sudah terhitung sumpahnya terpenuhi, yaitu melaksanakan sesuatu permintaan orang yang menyerahkan kembali medali wasiat padanya itu.
Tak terduga sijembel cilik malah bertanya padanya.
"Eh, orang sangat baik, apakah kau kepingin makan kurma?"
"Orang sangat baik apa?"
Tanya Yan-khek.
"Karena engkau ada orang baik sekali, maka aku memanggil engkau orang sangat baik."
"Siapa yang mengatakan aku orang baik?"
Mendadak Yankhek menarik muka masam.
"Kalau bukan orang baik tentu adalah orang jahat, jika begitu biarlah kupanggil engkau orang jahat saja."
"Akupun bukan orang jahat."
"Kan aneh? Bukan orang baik, bukan orang jahat pula, lalu orang apa.......? Ah, tahulah aku, kiranya engkau bukan orang!"
"Apa katamu?"
Bentak Yan-khek dengan gusar.
Sijembel cilik menjulur lidah sekali dan mendadak terus berlari kebawah pohon kurma, tiba-tiba ia peluk batang pohon itu dan kakinya lantas memancal, segera ia panjat keatas pohon.
Nyata, meski bocah itu tidak bisa ilmu silat, tapi caranya memanjat pohon benar-benar sangat cepat dan segesit kera.
Hanya dalam sekejap saja jembel cilik itu sudah memetik kurma merah itu sekantong penuh sehingga bajunya yang rombeng itu hampir-hampir jebol dibebani kurma sebanyak itu.
Lalu ia memberosot turun, dengan kedua tangan ia mencakup kurma merah yang dipetiknya itu dan diberikan kepada Cia Yan-khek.
Katanya.
"Silakan makan kurma! Engkau bukan orang, juga bukan setan, apa barangkali malaikat dewata? Tapi kulihat juga bukan!"
Yan-khek tak menggubrisnya. Ia coba makan beberapa biji kurma itu, rasanya manis dan segar, ternyata kurma itu berkwalitas tinggi. Pikirnya.
"Buset, bukannya dia minta apaapa padaku, jadinya aku yang minta padanya malah."
Sejenak kemudian, ia coba memancing lagi, katanya.
"Apakah kau tidak ingin mengetahui aku ini siapa? Asal kau bertanya. ‘Harap engkau suka menerangkan siapakah kau sebenarnya?’ Apakah engkau ini malaikat dewata? – maka aku akan lantas menerangkan padamu."
"Tidak, aku tidak mau memohon apa-apa kepada orang lain,"
Sahut sijembel cilik sambil menggeleng. Yan-khek terkesiap.
"Mengapa tidak mau?"
Tanyanya cepat.
"Ibuku sering berkata kepadaku. ‘Wahai, Kau-cap-ceng, selama hidupmu ini janganlah kau meminta apa-apa kepada orang lain. Kalau orang mau memberikan padamu, tanpa diminta juga orang akan memberi. Sebaliknya kalau orang tidak mau memberi, biarpun kau meminta dan memohon dengan sangat juga percuma, bahkan akan membikin jemu orang.’ – Sebab itulah, maka selamanya akupun tidak pernah minta apa-apa kepada ibu. Terkadang ibu makan barangbarang yang harum dan enak, beliau sengaja mengiming-iming padaku, apabila aku membuka mulut dan minta padanya, bukan aku diberi, sebaliknya aku lantas dihajarnya hingga babak-belur. Lantaran itulah sekali-kali aku tidak mau meminta apa-apa kepada orang lain."
Sungguh heran Yan-khek tidak terkatakan, iapun merasa kecewa pula. Pikirnya.
"Jika bocah ini benar-benar tidak mau meminta apa-apa padaku, lantas cara bagaimana aku bisa membayar kaul yang tersirat didalam sumpahku itu? Ibunya mungkin adalah seorang gila, masakah anaknya minta makan padanya malah dipukuli."
Kemudian ia tanya pula.
"Habis, kau adalah seorang pengemis kecil, apakah kau tidak meminta uang dan mengemis makan kepada orang lain?"
"Tidak, selamanya aku tidak pernah mengemis,"
Sahut sijembel cilik sambil menggeleng.
"Kalau orang memberi, tapi kalau dia lengah, segera aku mengambilnya terus mengeluyur pergi."
Yan-khek tertawa. Katanya.
"Jika begini kau bukan pengemis kecil, tapi adalah maling kecil."
"Apa artinya maling kecil?"
"Kau benar-benar tidak tahu atau cuma berlagak bodoh?"
"Sudah tentu karena aku memang tidak tahu, makanya tanya padamu. Dan apakah artinya berlagak bodoh itu?"
Yan-khek coba mengamat-amati bocah itu, tertampak mukanya kotor, tapi sepasang matanya hitam bening dan bersinar, sedikit pun tidak ada tanda-tanda goblok. Maka katanya pula.
"Kau toh bukan anak umur tiga, usiamu sudah belasan tahun, mengapa segala apa tidak paham?"
"Ya, karena ibuku tidak suka bicara dengan aku, beliau menyatakan asal melihat aku lantas jemu, seringkali sepuluh hari atau dua puluh hari aku tidak pernah digubrisnya. Terpaksa aku hanya bicara dengan si Kuning saja. Tapi si Kuning hanya bisa mendengarkan dan tak dapat bicara dengan aku tentang maling kecil dan berlagak bodoh apa segala."
Melihat sorot mata bocah itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap nakal dan licin, diam-diam Yan-khek membatin.
"Agaknya bocah ini memang tidak pandai purapura" – Maka ia lantas tanya.
"Mengapa kau tidak bicara saja dengan tetanggamu?"
"Apakah artinya tetangga?"
"Yang tinggal disekitar rumahmu, itulah tetangga namanya,"
Sahut Yan-khek dengan aseran. Lama-lama ia menjadi jemu juga.
"Oh, yang tinggal disekitarku? Ya, banyak juga, dibelakang rumahku ada belasan pohon besar, diatas pohon banyak terdapat bajing, ditengah semak-semak banyak pula ayam alas, kelinci liar. Apakah mereka itu yang dinamakan tetangga? Tapi mereka hanya bisa berbunyi dan tak bisa bicara."
"Apa sampai sekian besarnya kau tidak pernah bicara dengan orang lain kecuali ibumu?"
Tanya Yan-khek dengan mendongkol.
"Selamanya aku tinggal diatas gunung dan tidak pernah turun. Maka selain Ibu, tak pernah ada orang bicara dengan aku. Beberapa hari yang lalu ibu telah hilang, waktu aku mencarinya, aku tergelincir jatuh kebawah gunung. Kemudian si Kuning juga menghilang. Waktu kutanya orang lain kemanakah perginya ibu dan si Kuning, tapi orang bilang tidak tahu. Apakah itu terhitung berbicara?"
Diam-diam Yan-khek gegetun. Kiranya bocah ini selamanya tinggal diatas gunung dan ibunya juga tidak suka menggubrisnya, makanya ini tidak paham dan itupun tidak tahu. Maka ia lantas menjawab.
"Ya, itupun dapat dianggap berbicara. Dan darimana kau tahu bahwa uang dapat dibelikan bakpau?"
"Kemarin aku melihat orang membeli secara demikian,"
Sahut sijembel.
"Kau tidak punya uang dan aku masih punya, kau ingin uang ini, bukan? Biarlah kuberikan padamu." – Lalu ia mengeluarkan uang receh kembalian sipenjual bakpau tadi dan disodorkan kepada Cia Yan-khek. Diam-diam iapun membatin.
"Biar bocah ini kelihatan ketolol-tololan, tapi ternyata bukan anak yang pelit."
Begitulah perasaan Cia Yan-khek menjadi semakin lega, sekarang ia percaya penuh sijembel cilik itu bukanlah perangkap yang sengaja dipasang oleh orang lain untuk menjebaknya.
Yan-khek tersenyum, sahutnya.
"Jika kau minta makan, minta uang kepada orang dan orang mau memberikan padamu secara sukarela, maka kau disebut sebagai pengemis kecil. Tetapi kalau kau minta-minta dan orang lain tidak mau memberi, diam-diam kau lantas menyambarnya dan membawa lari, itu namanya maling kecil."
Sijembel tampak merenung sejenak, lalu berkata pula.
"Selamanya aku tidak pernah minta-minta kepada orang, tak peduli orang suka memberi atau tidak, aku lantas mengambilnya untuk dimakan. Jika begitu aku adalah maling kecil.................. Eh, dan kau adalah maling tua."
Keruan Yan-khek terperanjat.
"Apa? Kau menganggap aku ini apa?"
"Bukankah kau memang maling tua?"
Sahut sijembel cilik.
"Sudah terang pemilik kedua batang pedang itu tidak memberikannya padamu, tapi kau sengaja merebutnya, kau bukan anak kecil, dengan sendirinya adalah maling tua."
Bab 6. Kalah Kuat Pakailah Akal "Ngaco-belo!"
Omel Yan-Khek.
"Kau tidak boleh memanggil aku sebagi maling tua."
"Baik, dan kaupun dilarang memanggil aku maling kecil."
Tidak gusar, sebaliknya Yan-khek tertawa malah. Katanya. Maling kecil adalah sebutan untuk memaki orang, maling tua yuga kata-kata makian, maka kau tidak boleh memaki aku."
"Jika begitu, mengapa kau memaki aku?"
Bantah si jembel.
"Baiklah, akupun takkan memaki kau", sahut Yankhek dengan tertawa.
"Kau sekarang bukan maling kecil pula Aku akan panggil kau sebagai anak kecil dan kau boleh panggil aku sebagai paman tua" .
"Tidak, namaku bukan anak kecil, tapi aku bernama Kau-capceng,"
Kata si jembel sambil menggeleng.
"Nama Kau-cap-ceng itu tidak baik, ibumu boleh panggil kau dimikian, tapi orang lain tidak boleh. Ibumu juga aneh, mengapa memanggil anaknya sendiri sebagai Kau-cap-ceng?"
"Kau-cap-ceng apakah jelek? Bukankah si Kuning kawanku itupun seekor anjing. Kalau dia mengawani aku, aku lantas senang. Sama seperti kau mengawani aku sekarang. Cuma si Kuning tidak bisa bicara, dia hanya pandai menggonggong, sebaliknya kau pandai bicara" . – Sambil berkata sembari tangannya mengelus-elus punggung Cia Yan-khek dengan penuh kasih sayang seperti halnya kalau dia mengelus-elus anjing piaraannya. Keruan Cia Yan-khek sangat mendongkol, masakah dia disamakan dengan si Kuning. Segera ia mengerahkan tenaga dalamnya kebagian punggung sehingga tangan si jembel cilik tergetar, seakan-akan tangannya memegang arang yang membara, cepat ia menarik kembali tangannya dengan kaget.
"Huh, biar kau tahu rasa sekarang" , demikian pikir Cia Yankhek sambil memandangi bocah itu dengan tersenyumsenyum. Di luar dugaan si jembel cilik malah berkata.
"Wah, paman tua, agaknya kau sakit panas, lekas mengaso dulu dibawah pohon sana, biar aku mencari sedikit air untuk kau minum, badanmu tentu sangat payah, panasnya bukan main, mungkin sakitmu ini tidaklah ringan" . – Dari nadanya itu tampak sekali rasa perhatiannya yang penuh, segera ia pegang lengan Cia Yankhek dan hendak mengajaknya mengaso kebawah pohon. Sampai disini, biar betapapun aneh sifatnya Cia Yan-khek juga tidak enak menyakiti pula bocah itu dengan tenaga dalamnya. Maka katanya.
"Aku sehat walafiat, kau bilang aku sakit apa? Coba lihat, bukankah panasnya sudah lenyap?" ~ Sambil berkata ia terus pegang tangan si jembel dan dirabakan ke dahinya sendiri. Ketika merasa dahi Yan-khek itu dingin-dingin segar saja, mendadak jembel cilik itu berseru kuatir.
"Wah, celaka! Paman tua, kau sudah hampir mati!"
"Ngaco belo, mengapa aku hampir mati?"
Bentak Yan-khek dengan gusar.
"Ibuku pernah jatuh sakit, seperti kau barusan, sebentar panas dan sebentar dingin, berulang-ulang ibu berteriak. Matilah aku, matilah aku! Orang yang tak punya liangsim (hati baik), lebih baik aku mati saja!" ~ Kemudian ibu benar-benar hampir mati, sesudah tiduran lebih dua bulan barulah sembuh."
"Tapi aku takkan mati,"
Ujar Yan-khek dengan tersenyum.
Si jembel cilik menggeleng perlahan seperti kurang percaya.
Mereka melanjutkan perjalanan, tidak seberapa jauh, ketika melihat sinar matahari yang amat terik, tiba-tiba si jembel cilik itu menjemput beberapa helai daun yang jatuh ditepi jalan.
Semula Yan-khek menyangka sifat si jembel cilik itu masih kekanak-anakan dan suka mainan, maka tak digubrisnya.
Siapa duga bocah itu telah memilin daun-daun itu menjadi sebuah topi, lalu diberikan kepada Cia Yan-khek, katanya.
"Matahari panas terik, engkau sedang sakit pula, harap pakailah topi ini."
Yan-khek benar-benar serba runyam menghadapi tingkah laku si jembel itu.
Tapi ia tidak ingin mengecewakan maksud baiknya maka topi itu diterimanya juga dan dipakainya diatas kepala.
Karena sinar matahari memang amat terik, dengan memakai topi itu rasanya menjadi lebih segar.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di suatu kota kecil.
Tiba-tiba si jembel berkata.
"Engkau tidak punya uang, boleh jadi sakitmu itu adalah lantaran kelaparan. Marilah sekarang kita pergi kerumah makan untuk makan sekenyang-kenyangnya." ~ Segera ia tarik tangan Cia Yan-khek dan masuk ke sebuah rumah makan. Selama hidup pengemis kecil itu tidak pernah masuk restoran. Karena itulah iapun tidak tahu cara bagaimana harus pesan makanan. Begitu masuk rumah makan itu segera ia keluarkan semua uang yang dimilikinya dan ditaruh diatas meja, lalu katanya kepada pelayan.
"Aku dan paman tua ini ingin makan nasi makan ikan dan daging, sediakanlah selengkapnya dan ambil semua uangku ini."
Sisa uangnya itu sedikitnya ada tiga tahil perak dan lebih dari cukup untuk membayar makanan semeja penuh.
Keruan si pelayan sangat girang, cepat ia memesan koki agar menyediakan daharan yang enak-enak, ada ayam panggang, ada Ko-lo-bak, ada bebek tim dan ada Ang-sio-hi, pendek kata serba komplit.
Bahkan disertai dua kati arak.
Sesudah daharan itu siap diatas meja.
Segera Yan-khek menuangkan arak.
Tapi baru saja si jembel cilik minum seteguk, kontan ia semburkan kembali, serunya.
"Hah, pedas, tidak enak." ~ Maka yang digasak hanya makanan-makanan yang enak saja. Diam-diam Yan-khek berpikir.
"Meski bocah ini tidak paham apa-apa, tapi pembawaannya ternyata sangat juyur, tampaknya juga tidak boleh, kalau dididik dengan baikbaik tentu akan menjadi jago pilihan di dunia persilatan."
Tapi lantas terpikir pula olehnya.
"Ah, di dunia ini banyak sekali manusia yang durhaka dan tak berbudi, masakah aku belum cukup dibikin susah oleh muridku yang celaka itu? Kenapa sekarang timbul pula pikiranku untuk mengambil murid baru?"
Demi teringat kepada muridnya yang durhaka itu, seketika ia naik darah. Cepat ia habiskan dua kati arak itu, lalu berkata .
"Hayolah, berangkat!"
"Apakah kau sudah baik, paman tua?"
Tanya si jembel.
"Sudah!"
Sahut Yan-khek sambil berpikir.
"Sekarang uangmu sudah habis, nanti kalau masuk restoran lagi kau tentu akan terpaksa minta tolong padaku."
Segera mereka meninggalkan kota itu dan melanjutkan perjalanan ke timur.
"Anak kecil, siapakah she ibumu, dia pernah katakan padamu tidak?"
Tanya Yan-khek.
"Ibu ya ibu, apakah ibu juga ada she segala?"
Sahut si jembel cilik.
"Sudah tentu, setiap orang tentu mempunyai she,"
Kata Yankhek.
"Justeru aku tidak tahu, makanya aku tanya she ibumu. Nama Kau-cap-ceng itu terlalu jelek, apa kau ingin minta aku mencarikan suatu nama yang baik bagimu?"
Demikian tanya Cia Yan-khek.
Ia pikir kalau si jembel mengajukan permintaan itu, maka terpenuhilah sumpahnya atas medali wasiat dan ia dapat sembarangan memberi suatu nama padanya.
Tak terduga si jembel lantas menjawab.
"Jika kau suka memberikan nama padaku, kukira boleh juga. Cuma kuatirnya ibu tidak tahu. Padahal beliau sudah biasa memanggil aku Kaucap-ceng, sekarang aku ganti nama baru, mungkin beliau akan marah. Mengapa kau anggap nama Kau-cap-ceng kurang baik ?"
Yan-khek mengerut kening.
"Kau-cap-ceng"
Artinya anak turunan anjing, ia menjadi bingung cara bagaimana harus menerangkan nama yang kotor dan tak baik itu.
Pada saat itulah tiba-tiba ditengah hutan disebelah kiri depan sana terdengar ada suara nyaring beradunya senjata.
Sebagai seorang tokoh besar dunia persilatan, sekali dengar saja hati Yan-khek lantas terkesiap.
Terang disana ada orang sedang bertempur dan dari suara beradunya senjata mereka yang sangat cepat itu pastilah ilmu silat mereka bukan jago silat rendahan.
Segera ia membisiki si jembel cilik .
"Coba kita melihatnya ke sana, kau jangan sekali-kali bersuara." ~ Sebelah tangannya lantas menolak dipunggung bocah itu, ia keluarkan Ginkang (ilmu entengkan tubuh atau kepandaian lari) yang tinggi dan berlari kearah suara pertempuran itu. Hanya beberapa kali lompatan saja sampailah dia dibelakang sebatang pohon besar. Karena dibawa lari secepat terbang dan seperti terapung diudara, si jembel cilik menjadi senang dan merasa geli, hampir ia tertawa. Tapi lantas teringat oleh pesan Cia Yan-khek agar dia jangan bersuara, maka cepat ia mmualap mulut sendiri. Waktu mereka mengintip dari balik pohon, tertampaklah di tengah hutan itu ada empat orang sedang melompat dan menubruk kian kemari, pertarungan sedang berlangsung dengan sengitnya. Kiranya ada tiga orang sedang mengeroyok satu orang. Yang dikeroyok adalah seorang tua bermuka merah, rambutnya panjang memutih perak, tangannya sudah tidak bersenjata lagi. Sedangkan ketiga orang pengeroyok itu, yang satu bertubuh tinggi kurus, seorang lagi adalah Tojin bermuka kuning dan yang ketiga mukanya sangat aneh, mukanya disilang oleh dua jalur bekas luka yang panjang. Sikurus memakai senjata pedang, sedangkan Tojin itu menggunakan gandin berantai dan simuka jelek bersenjata Kui-thau-to, golok berpunggung tebal yang melukiskan kepala setan. Yan-khek melihat orang tua yang dikeroyok itu sudah terluka tapi kedua telapak tangannya masih terus naik turun dan balas menyerang dengan sangat tangkas. Ia menghindarkan serangan-serangan lawan dengan mengitari sebatang pohon dan kadang-kadang diselingi dengan pukulan atau tutukan yang lihay, nyata sekali ilmu silatnya sangat hebat. Hanya mengikuti beberapa jurus saja Cia Yan-khek lantas mengenali orang tua itu. Tiba-tiba timbullah rasa syukurnya .
"Bagus, kukira siapa, tak tahunya adalah Tay-pi Lojin dari Pekkeng-to. Hari ini kau mirip harimau yang kesasar dan dikerubut kawanan anjing, tampaknya sekali ini kau pasti akan celaka."
Tapi ketiga pengeroyok itu tak dikenal Cia Yan-khek.
Tampaknya ilmu silat ketiga orang itupun tidak rendah, lebihlebih si tinggi kurus, ilmu pedangnya boleh dikata sudah mencapai kelas tertinggi.
Sedang permainan gandin berantai si Tojin yuga sangat aneh, terkadang gandinnya dapat mengitari pohon untuk menghantam bagian samping Tay-pi Lojin.
Adapun silelaki bermuka jelek itu memiliki tenaga yang sangat kuat, goloknya yang tebal itu diputar sedemikian kencangnya sehingga menerbitkan suara menderu2 yang memekakkan telinga.
Diam-diam Yan-khek terkejut.
Pikirnya.
"Sudah lama aku tidak menjelajahi Kangouw, ternyata didunia persilatan sudah timbul tokoh-tokoh silat sehebat ini. Mengapa satupun aku tidak kenal gaya permainan silat ketiga orang ini? Coba kalau lawannya bukan tiga jago pilihan selihay ini tentu Tay-pi Lojin takkan terdesak seperti ini. Kalau ketiga orang ini mengeroyok diriku, rasanya aku sendiripun susah untuk mengalahkan mereka."
Dalam pada itu terdengar Tojin atau imam itu telah berseru dengan suaranya yang serak.
"Pek-keng Tocu (penguasa pulau paus putih), selamanya Tiang-lok-pang kami tiada permusuhan apa-apa dengan kau. Jika sekarang kau mau mengaku kalah dan bersedia mengadakan perserikatan dengan Pang kami, maka segera kita akan menjadi sahabat baik dan tidak perlu bertarung mati-matian seperti ini yang mungkin akan melayangkan jiwa percuma."
Tapi Tay-pi Lojin menjawab dengan gusar.
"Seorang laki-laki sejati masakah sudi menjadi begundal manusia-sia tidak punya malu seperti kalian? Tidak, tidak bisa." ~ Habis berkata tangan kirinya mendadak mencakar kepundak lelaki bermuka jelek itu."
"Liong-jiau-jiu (cengkeraman cakar naga) yang hebat!"
Diamdiam Yan-khek memuji serangan Tay-pi Lojin.
Serangan itu tampak lambat, tapi sebenarya sangat cepat.
Meski si lelaki muka jelek sudah mendakkan tubuh untuk menghindar, tapi toh agak terlambat juga.
Pundaknya sudah dicengkeram oleh jari Tay-pi Lojin.
Keruan sitinggi kurus terkejut, cepat pedangya menusuk muka Tay-pi Lojin.
Dengan serangan selihay ini Tay-pi Lojin hendak dipaksa menarik kembali cengkeramannya kepada sang kawan.
Maka terdengarlah suara "bret"
Sekali, baju bagian pundak silelaki jelek telah tersobek sepotong, bahkan pundaknya lantas berlumuran darah, nyata telah dilukai oleh cakaran Taypi Lojin.
Ketiga orang itu menjadi gusar, mereka mengerubut dengan lebih gencar lagi.
Diam-diam Yan-khek menjadi heran.
"Macam perkumpulan apakah Tiang-lok-pang itu? Kalau didalam Pang mereka terdapat tokoh selihay ini, mengapa selama ini aku tidak pernah dengar nama mereka?"
Tertampak pertarungan keempat orang itu makin lama makin sengit.
Mendadak silelaki jelek menggereng keras sekali dan goloknya terus membabat.
Tapi Tay-pi Lojin sempat mengegos berbareng ia balas menjotos kearah si Tojin.
"Crat" , golok silelaki muka jelek telah menabas dibatang pohon, saking kuatnya tabasan itu sehingga seketika golok susah dicabut kembali. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Tay-pi Lojin, cepat sikutnya menyodok kepinggang lelaki muka jelek. Rupanya Tay-pi Lojin telah bertahan sekuatnya dari pengeroyokan ketiga jago lihay itu, ia insaf susah menyelamatkan diri. Apalagi dalam pertarungan sengit itu, pancainderanya yang tajam lapat-lapat telah melihat dibalik pohon tersembunyi dua orang lagi, ia menduga pasti musuh. Padahal untuk melawan tiga orang saja kewalahan, apalagi musuh mendapat bala bantuan pula? Karena itulah terpaksa ia mesti mengambil langkah berbahaya. Ia lihat simuka jelek itu adalah paling lemah diantara ketiga pengeroyok, maka pada kesempatan yang ada itu segera ia menyikutnya. Maka terdengarlah "bluk"
Sekali, dengan tepat pinggang simuka jelek tersikut.
Tay-pi Lojin bergirang karena serangannya tepat kena sasarannya, segera ia memutar pula kebalik pohon.
Pada saat itu juga gandin berantai si Tojin telah menyambar datang dari balik pohon.
Tanpa pikir telapak tangan kiri Tay-pi Lojin memotong keatas rantai gandin musuh.
Tapi mendadak sinar pedang berkelebat, cepat Tay-pi menggeser dan berkelit kekanan.
Tak terduga, karena usianya sudah lanjut, setelah bertempur sengit sekian lamanya, tenaganya sudah tidak sekuat seperti waktu mudanya, mestinya geserannya itu dapat mencapai sejauh dua meter, tapi sekarang hanya sejauh satu meter lebih, maka terdengarlah "cret"
Yang perlahan, pedang sikurus telah menembus bahu kirinya, tanpa ampun lagi ia terpaku kencang dibatang pohon.
Karena perubahan yang luar biasa itu, sijembel cilik sampai menjerit kaget.
Tadi waktu menyaksikan seorang tua dikeroyok tiga orang, memangnya dia sudah merasa tidak adil.
Sekarang dilihatnya pula siorang tua sudah dikalahkan, tentu saja ia lebih-lebih kuatir dan tambah penasaran.
Sementara itu terdengar sikurus sedang berkata dengan dingin.
"Pek-keng Tocu, dasar kau, diminta dengan baik-baik tidak mau dan maunya dipaksa. Sekarang kau mau menyerah kepada Tiang-lok-pang kami atau tidak?"
"Hm, jika kau kenal aku sebagai Tocu dari Pek-keng-to, apakan diantara penghuni Pek-keng-to kami ada pengecut yang pernah tekuk lutut kepada orang lain?"
Bentak Tay-pi Lojin dengan mata melotot.
Mendadak ia meronta sekuatnya, nyata ia lebih suka mengorbankan sebelah bahunya untuk melepaskan diri.
Namun gandin berantai si Tojin sudah bekerja juga, rantai senjata itu telah melibat beberapa kali sehingga badan Tay-pi Lojin terikat dibatang pohon, akhirnya terdengar suara "bluk"
Sekali, ujung gandin telah menghantam didada Tay-pi Lojin.
Tanpa ampun lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulut orang tua itu.
Sipengemis cilik tidak tahan lagi, mendadak ia berlari maju dan berteriak-teriak .
"Hai, kalian tiga orang yang jahat mengeroyok seorang baik, ini tidak boleh jadi!"
Diam-diam Cia Yan-khek mengerut kening.
Pikirnya ."Bocah ini ternyata suka cari penyakit.
Tapi biarkan saja, ada baiknya juga membiarkan ketiga orang itu membunuhnya.
Andaikan bocah itu nanti minta tolong padaku, diantara ketiga lawan sudah ada satu yang terluka, sisa dua orang itu tentu mudah dilayani.
Dalam pada itu tertampak sijembel cilik itu telah berlari sampai dibawah pohon sana dan mengadang didepan Tay-pi Lojin sambil berseru.
"Kalian tidak boleh membikin susah lagi kepada paman tua ini."
Sebenarnya sitinggi kurus juga sudah mengetahui bahwa di balik pohon itu tersembunyi orang.
Tapi dilihatnya pemuda ini toh tidak mahir ilmu silat, mengapa sedemikian berani merintangi mereka, tentu dibelakangnya ada yang menjagoi.
Maka diam-diam ia merancang.
"Biar aku menakut-nakuti setan cilik ini, tentu orang yang menjagoi itu akan terpaksa muncul sendiri."
Segera ia cabut Kui-thau-to, golok berukiran kepala setan, yaitu milik kawannya yang menancap dibatang pohon tadi, lalu ia menggertak.
"Setan alas, siapakah yang suruh kau mengacaukan urusan Locu (bapakmu, kata olok-olok) ini? Hayo lekas enyah, biar kumampuskan tua bangka itu!"
Habis berkata, ia sengaja mengangkat goloknya dengan lagak hendak membacok, nyata seakan-akan pengemis kecil yang mengadang didepannya itu juga akan dibacoknya sekalian bersama Tay-pi Lojin.
"Tidak, tidak nanti aku mau pergi,"
Demikian jawab sijembel malah tanpa gentar.
"Paman tua ini adalah orang baik dan kalian adalah orang jahat. Aku harus membantu orang baik dan tak mau enyah."
Kiranya dalam hidupnya sehari-hari, bila perasaan ibunya kebetulan lagi senang, maka pengemis kecil itu terkadang juga didongengi tentang orang jahat dan orang baik segala.
Maka dalam hati kecil bocah itu telah timbul kesan bahwa adalah seharusnya dan maha adil bila membantu orang baik untuk melawan orang jahat.
Maka terdengar sikurus telah membentak dengan gusar.
"Apakah kau kenal dia? Darimana kau tahu dia adalah orang baik?"
"Paman tua ini tadi mengatakan Pang apa kalian itu adalah perkumpulan orang jahat dan tidak sudi bergabung dengan kalian, maka sudahlah terang kalian adalah orang jahat,"
Demikian jawab sijembel cilik.
Segera ia membalik tubuh dan hendak melepaskan rantai gandin si Tojin.
Tapi si Tojin sudah lantas memberi persen sekali tamparan sehingga mata sijembel cilik berkunang-kunang dan pusing tujuh keliling, pipi kirinya seketika merah bengkak.
Dasar pengemis cilik itu memang tidak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi.
Kemarin dia telah menyaksikan Go To-it dikerubut oleh orang-orang Kim-to-the, soalnya dia tidak tahu Go To-it itu orang baik atau jahat, pula mereka bertempur diatas rumah dan akhirnya Go To-it terjungkal kebawah dan segera perutnya ditikam oleh kedua kaitan Li Tay-goan, kalau tidak, tentu saat itu juga dia akan tampil kemuka untuk membelanya tanpa memikirkan mati-hidupnya sendiri.
Begitulah demi melihat sikap sijembel cilik yang tak gentar, diam-diam sikurus menjadi sangsi malah, pikirnya.
"Macam apakah tokoh yang menjagoi kau itu sehingga kau berani main gila dengan para Hiangcu (pemimpin bagian, hulubalang) dari Tiang-liok-pang?"
Ia coba melirik kebalik pohon sana, sekilas tertampak olehnya muka Cia Yan-khek yang aneh itu, seketika ia ingat kepada seorang.
"Muka orang ini mirip dengan pemilik medali wasiat Mo-thian-kisu Cia Yan-khek, jangan-jangan memang dia inilah?"
Segera ia coba menggertak lagi dengan mengacungkan goloknya sambil membentak.
"Aku tidak kenal asal-usulmu dan siapa perguruanmu, pendek kata kau berani mengacau, segera kubacok mampus pengemis kecil macam kau ini ?" ~ Dan menyusul goloknya terus menyambar keleher sijembel cilik. Tak terduga jembel cilik itu ternyata sangat bandel, sama sekali ia tidak gentar dan tidak bergerak sedikitpun. Ketika golok sikurus sudah hampir mengenai leher bocah itu barulah mendadak sikurus tahan senjatanya, pujinya.
"Anak setan, besar juga nyalimu, ya?"
Sebaliknya watak si Tojin sangat berangasan, ia menjadi aseran melihat kebandelan sijembel cilik.
"plak" , kembali ia menampar lagi dengan lebih keras. Betapapun usia pengemis cilik itu masih sangat muda, karena berulang-ulang digampar, maka menangislah dia.
"Jika kau tidak ingin dihajar lagi, lebih baik kau menyingkir saja!"
Ujar sikurus.
"Asal kalian pergi dulu dan takkan membikin susah paman tua ini, maka tanpa disuruh juga aku akan segera pergi" , sahut sijembel cilik sambil bersengut. Sikurus menjadi tertawa malah. Sebaliknya si Tojin tambah murka, kontan kakinya mendepak sehingga sijembel cilik jatuh terguling. Tapi biarpun babak-belur dan didepak terguling, tetap sijembel pantang mundur, begitu merangkak bangun, kembali dia mengadang didepan Tay-pi Lojin pula. Sifat Tay-pi Lojin itu sebenarnya sangat aneh dan menyendiri, selama hidupnya jarang berkawan. Sekarang dilihatnya anak muda yang selamanya tidak pernah dikenalnya itu telah membela dengan mati-matian, mau-tak-mau timbul juga rasa terima kasihnya. Maka katanya.
"Adik cilik, percumalah kau bertengkar dengan mereka, bukan mustahil jiwamu akan melayang percuma pula. Dihari tua orang she Thia ternyata dapat mengikat seorang sahabat kecil sebagai kau, sungguh hidupku ini boleh dikata tidak sia-sia. Sekarang lekaslah kau pergi saja."
Apa yang dikatakan "dihari tua"
Dan "hidup tidak sia-sia"
Segala dengan sendirinya sijembel cilik tidak paham sama sekali, ia hanya tahu orang tua itu telah menyuruhnya lekas pergi saja. Maka ia lantas menjawab.
"Tidak, engkau adalah orang baik, betapapun kau tidak boleh dicelakai oleh mereka."
Sikurus adalah seorang cerdik dan bisa berpikir panjang. Diamdiam ia memikir.
"Datangnya bocah ini sangat mendadak dan aneh, orang yang sembunyi dibalik pohon itu entah betul Cia Yan-khek atau bukan, rasanya kita tidak perlu banyak mengikat permusuhan. Namun melulu beberapa patah-kata sibocah ini dan kami lantas pergi, hal ini bukankah menunjukkan Tiang-lok-pay taku kepada orang lain."
Tiba-tiba ia mendapat akal, ia angkat golok Kui-thau-to dan berkata.
"Baiklah, anak kecil, aku ingin menjajal kau sekali lagi. Berturut-turut aku akan membacok dan menabas 36 kali padamu, jika kau sama sekali tidak bergerak, maka aku akan menyerah padamu. Nah, kau takut tidak ?"
"Berulang-ulang dibacok 36 kali, sudah tentu aku takut,"
Sahut sijembel.
"Jika takut, nah, lebih baik kau menyingkir pergi saja,"
Ujar sikurus.
"Tidak, hanya didalam hati aku takut, tapi aku justeru tidak mau pergi,"
Sahut sijembel cilik. Sikurus mengacungkan jempolnya dan memuji.
"Bagus! Anak yang gagah. Nah, awas serangan!" ~ "Sret" , segera goloknya menabas lewat diatas kepala jembel cilik itu. Dari balik pohon Cia Yan-khek dapat melihat dengan jelas bahwa tabasan sikurus itu sangat cepat dan gesit, tenaga yang digunakan adalah tenaga pergelangan tangan, walaupun tak diketahui apa namanya jurus itu, tapi golok yang antap itu ternyata dapat dimainkan dengan enteng dan cepat sekali. Tabasan itu menyerempet lewat diatas ubun-ubun kepala sijembel sehingga secomot rambutnya terkupas. Namun demikian, benar juga sijembel cilik tetap sangat tabah, ia tetap berdiri tegak dan tidak bergerak sedikitpun. Menyusul sinar golok tampak berkelebat dan menyambar kian kemari diatas kepala sijembel, rambut bertebaran pula. Setelah 32 kali menabas, mendadak sikurus membentak sekali, golok membacok dari atas kebawah.
"bret" , lengan baju kanan sijembel telah terkupas sepotong, menyusul lengan baju kiri dikupas pula dengan cara yang sama, bahkan celananya juga terpotong sebagian dikanan-kirinya. Dengan demikian menjadi genaplah 36 kali bacokan dan tabasan. Diwaktu menarik kembali goloknya, tahu-tahu sikurus menggunakan gagang goloknya untuk menyodok di "Tan-tiong-hiat"
Didada Tay-pi Lojin, lalu ia tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Anak cilik, sungguh hebat kau, ketabahanmu memang luar biasa!"
Cia Yan-khek telah mengikuti dengan baik apa yang dilakukan sikurus itu.
Ia lihat sikurus telah memainkan goloknya dengan 36 jurus serangan yang susul-menyusul dan ternyata sedikitpun tiada lubang kelemahan, maka diam-diam Yan-khek memuji akan kepandaian orang.
Waktu dilihatnya pula sikurus menutuk Hiat-to mematikan didada Tay-pi Lojin pada saat dia menarik kembali goloknya, diam-diam iapun menganggap tindakan sikurus itu terlalu keji.
Dalam pada itu rambut sijembel cilik yang tadinya gombyok kusut itu, setelah kena 32 kali tabasan kini telah berubah menjadi seroang Hwesio kecil.
Tadi ia ditabas 32 kali dan setiap kali tabasan itu selalu menyerempet diatas kepalanya, hal ini sebagian adalah karena ketekadannya ingin membela Tay-pi Lojin, tapi sebagian juga lantaran kesimanya sehingga tidak dapat bergerak.
Sesudah sikurus habis menabas, ia coba meraba kepalanya sendiri dan terasa masih baik-baik tanpa kurang apa-apa, maka barulah dia menghela napas lega.
Sebaliknya si Tojin dan simuka jelek lantas bersorak memuji.
"Bi-hiangcu, ilmu pedang yang hebat !"
"Ha, permainan kasaran saja!"
Sahut sikurus dengan tersenyum.
"Mengingat ketabahan sobat kecil ini, biarlah hari ini kita mengalah sedikit padanya. Sekarang marilah kita pergi saja saudara-saudara."
Melihat Tay-pi Lojin sudah tinggal napas yang terakhir saja karena sodokan gagang golok sikurus tadi, maka si Tojin dan simuka jelek juga tidak rewel-rewel lagi, mereka jemput senjata masing-masing lalu melangkah pergi.
Sikurus mendadak menabok sekali diatas batang pohon, tahutahu pedangnya yang menancap dibatang pohon dengan memantek tubuh Tay-pi Lojin itu lantas mencelat keluar dengan membawa darah segar orang tua itu.
Segera sikurus sambar sambar pedangnya dan bertindak pergi dengan tertawa, sama sekali ia tidak berpaling lagi ketempat sembunyinya Cia Yan-khek.
Diam-diam Yan-khek membatin.
"Kiranya sikurus itu she Bi dan adalah Hiangcu dari tiang-lok-pang. Dia sengaja memperlihatkan dua jurus kepandaiannya padaku, terutama tabokan yang menggetarkan batang pohon untuk mengeluarkan pedang itu betul-betul sangat lihay."
Dalam pada itu sipengemis cilik sedang berkata kepada Tay-pi Lojin.
"Paman tua, biar kubalut lukamu itu." ~ Lalu ia ambil sobekan kain bajunya sendiri yang ditabas sikurus tadi dan hendak membalut luka dibahunya Tay-pi Lojin. Namun orang tua itu lantas berkata.
"Ti…………tidak perlu lagi! Di………….didalam kantongku ada………..ada beberapa boneka kecil……….ku………..kuberikan semua itu pa………………….padamu………………" ~ belum selesai ucapannya, matanya terpejam dan kepalanya miring kesamping, tubuhnya yang besar itu perlahan-lahan merosot kebawah pangkal pohon.
"Paman tua! Paman tua!"
Seru sijembel cilik dan bermaksud memayang orang tua itu. Tapi dilihatnya Tay-pi Lojin sudah meringkuk ditanah dan tak bisa berkutik lagi. Segera Cia Yan-khek mendekatinya dan bertanya.
"Apa yang dia katakan sebelum mati?"
"Dia bilang……….dia bilang didalam kantongnya ada beberapa boneka kecil dan diberikan padaku semua" , sahut sijembel cilik. Cia Yan-khek kenal Tay-pi Lojin adalah seorang tokoh besar didunia persilatan, dalam hal ilmu silat sekali-kali tidak dibawah dirinya, maka bukan mustahil pada tubuh orang tua itu tentu dapat diketemukan benda-benda yang penting. Namun sebagai seorang tokoh pula Cia Yan-khek juga bertinggi hati dan sekalikali tidak sudi mencuri apa-apa milik orang mati. Andaikan tahu betul Tay-pi Lojin membawa benda-benda mestika juga dia tidak mau mengambilnya. Karena itulah ia lantas berkata .
"Jika dia telah memberikannya padamu, maka bolehlah kau ambil saja."
"Dia sendiri yang memberi, kalau aku mengambilnya terhitung maling kecil atau bukan ?"
Tanya sijembel cilik.
"Bukan" , sahut Yan-khek dengan tertawa. Segera sijembel menggagapi saku bajunya Tay-pi Lojin dan mengeluarkan isinya, diantaranya terdapat sebuah kotak kayu kecil, beberapa uang perak dan beberapa buah senjata rahasia berduri. Selain itu pula beberapa pucuk surat dan seperti ada pula sehelai peta. Sebenarnya didalam hati Cia Yan-khek sangat ingin tahu apa yang tertulis didalam surat-surat itu dan apa yang terlukis didalam peta. Tapi ia merasa, asal tangannya menyentuh barang-barang itu, maka nama baiknya sebagai seorang tokoh pujaan dunia persilatan tentu akan tercemar. Dalam pada itu tertampak sijembel cilik sudah membuka kotak kecil itu, didalam diganjel dengan kapas dan terdapat tiga baris boneka buatan tanah liat. Setiap barisnya ada enam boneka sehingga seluruhnya ada 18 buah. Buatan boneka-boneka itu sangat indah, semuanya berbentuk laki-laki dan telanjang, ditubuh boneka yang berwarna putih itu penuh terlukis garisgaris merah. Sekali pandang saja Cia Yan-khek lantas tahu bahwa garisgaris merah yang terlukis diatas tubuh boneka-boneka itu adalah model-model untuk melatih sejenis Lweekang yang tinggi, besar kemungkinan adalah rahasia inti dari ilmu Lweekang golongan Pek-keng-to. Rupanya Tay-pi Lojin merasa berterima kasih kepada jiwa kesatria sijembel cilik yang telah membelanya mati-matian, maka telah menghadiahkan bendabenda mestika itu. Tapi lantas terpikir oleh Cia Yan-khek.
"Percuma juga maksud Tay-pi Lojin itu, andaikan tidak diberikan, toh kalau bocah ini menemukan boneka-boneka itu didalam kantongmu juga tentu akan diambilnya untuk barang mainan."
Padahal dugaan Cia Yan-khek ini pasti meleset.
Pengemis kecil itu sekarang sudah paham bahwa mengambil barang orang lain secara diam-diam adalah maling kecil serta orang jahat, maka tidaklah mungkin dia berani menggerayangi milik Tay-pi Lojin jika orang tua itu tidak memberitahukan tentang barang apa yang berada disakunya itu.
Selamanya jembel cilik itu hidup diatas gunung yang terpencil, untuk pertama kalinya sekarang dia melihat boneka-boneka sebanyak itu, keruan ia sangat senang dan berulang-ulang menyatakan .
"Sungguh menarik sekali. Tapi mengapa tidak pakai baju? Apa tidak dingin."
Diam-diam Cia Yan-khek membatin.
"Meski Tay-pi biasanya tidak cocok dengan aku, tapi dia terhitung juga seorang tokoh terkemuka, betapapun jenazahnya tidak boleh ditelatarkan begini saja."
Segera ia berkata kepada sijembel cilik yang lagi asyik dan senang memandangi boneka-boneka kecil itu.
"Kawanmu itu sudah mati, apa kau tidak menanamkan mayatnya ?"
"Ya, tapi cara bagaimana menanamnya ?"
Sahut sijembel.
"Kalau kau kuat, boleh kau menggali sebuah liang, kalau tidak kuat, boleh menguruki dia dengan tanah, batu dan daun-daun kering.
"Disini juga tiada cangkul dan susah untuk menggali liang" , ujar sijembel. Maka ia lantas mengusung batu dan tanah, dan uruk pula dengan daun-daun kering sehingga jenazah Tay-pi Lojin tertutup rapat. Karena usianya masih terlalu muda, setelah selesai menguruk jenazah Tay-pi itu ia sendiri sudah mandi keringat dan sangat lelah. Cia Yan-khek tetap berdiri menonton saja disamping dan tidak membantunya. Ia tunggu sijembel cilik selesai bekerja bakti, lalu ia mengajaknya berangkat.
"Kemana lagi? Aku sudah terlalu lelah dan takkan ikut padamu!"
Sahut sijembel.
"Kenapa? Kau tidak ikut pergi padaku?"
Tanya Yan-khek.
"Tidak, aku akan mencari ibu dan si Kuning,"
Kata sijembel cilik. Diam-diam Yan-khek menjadi kuatir.
"Bocah ini belum lagi meminta sesuatu padaku, jika dia tidak mau ikut pergi padaku, hal ini menjadi sulit bagiku. Sedangkan akupun takdapat mengajak dia secara paksa. Ah, sumpahku dahulu itu hanya mengatakan tidak boleh main paksa kepada orang yang mengembalikan medali wasiat padaku dan tidak menyatakan tak boleh mendustai dia. Maka sekarang terpaksa aku harus mendustai dia saja."
Maka ia lantas berkata.
"Kau boleh ikut padaku saja, nanti aku bantu mencarikan ibumu dan si Kuning."
"Baik sekali. Kepandaianmu sangat tinggi, tentu kau akan dapat menemukan ibuku dan si Kuning,"
Sahut sijembel dengan girang.
Yan-khek pikir tiada gunanya banyak bicara dengan bocah itu, untung bocah itu tidak pernah memohon secara resmi padanya, kalau tidak tentu akan sulit untuk mencarikan ibunya dan anjing piaraannya itu.
Segera ia pegang tangan kanan sijembel dan berkata.
"Marilah kita berjalan cepatan sedikit !"
Dan baru saja sijembel cilik mengiakan, tahu-tahu ia merasa tubuhnya terseret dan seakan-akan terapung dan berlari secepat terbang. Bukannya takut, sebaliknya ia menjadi senang, serunya.
"Ha, enak sekali, enak sekali!"
Kiranya Cia Yan-khek telah menggunakan Ginkang yang tinggi dan mengerahkan sedikit tenaga dalam untuk membawanya berlari.
Keruan sijembel cilik merasa seperti dibawa terbang dan tertawa-tawa senang sambil memuji kepandaian Cia Yankhek.
Sampai hari sudah gelap, entah sudah berapa jauhnya mereka berlari, akhirnya mereka sampai ditengah-tengah gunung yang sepi.
Disitulah Yan-khek berhenti dan melepaskan tangan sijembel cilik.
Sesudah berhenti barulah sijembel cilik itu merasakan kakinya lemas dan tidak kuat berdiri lagi, seketika ia jatuh terduduk.
Hanya sebentar saja ia berduduk, segera ia merasa kedua telapak kakinya kesakitan, ternyata sudah merah dan bengkak.
Ia berteriak kaget.
"Ha, paman tua, kakiku bengkak!"
"Jika kau minta aku mengobati kau, tentu segera kakimu takkan bengkak dan sakit" , sahut Cia Yan-khek.
"Kalau kau mau menyembuhkan aku, dengan sendirinya aku akan berterima kasih padamu" , sahut sijembel cilik. Mau-tak-mau Cia Yan-khek mengerut kening, katanya pula.
"Apa benar-benar selamanya kau tidak pernah memohon apaapa kepada orang lain?"
"Jika engkau suka menyembuhkan aku, tentunya tidak perlu aku memohon, sebaliknya kalau engkau memang tidak mau, biarpun aku memohon juga percuma" , ujar sijembel.
"Kenapa percuma ?"
Yan-khek menegas.
"Habis, kalau engkau tidak mau menyembuhkan aku, tentunya aku akan sedih, boleh jadi akan menangis. Sebaliknya kalau tidak dapat mengobati aku, tentunya engkau yang akan merasa susah."
"Hm, hatiku selamanya tidak pernah susah. Nah, kita tidur saja disini!"
Jengek Yan-khek. Agar sesuai dengan kenyataannya karena anak muda itu tidak sudi memohon sesuatu apapun kepada orang lain, dengan sendirinya istilah "sijembel cilik"
Atau "sipengemis cilik"
Adalah tidak tepat baginya, maka untuk selanjutnya kita akan menyebutnya sebagai anak muda saja.
Begitulah anak muda itu telah bersandar pada sebatang pohon, meski kedua kakinya melepuh sakit, tapi saking lelahnya, hanya sebentar saja ia sudah terpulas, sampai perutnya yang sudah lapar juga terlupakan.
Cia Yan-khek sendiri lantas melompat keatas pohon dan tidur disitu.
Ia berharap tengah malam nanti akan datang seekor binatang buas dan anak muda itu akan digigit mati dan dimakan sehingga akan mengakhiri kesulitan atas diri anak muda itu.
Tak terduga, sepanjang malam itu seekor kelincipun tidak lalu disitu jangankan lagi seekor binatang buas.
Diam-diam Yankhek membatin .
"Terpaksa aku mesti membawa pulang dia ke Mo-thian-kay. Kalau nanti dia membuka mulut memohon sesuatu yang mudah dikerjakan olehku, maka hal itu terhitung dia yang mujur, kalau tidak, betapapun aku harus berdaya upaya untuk membinasakan dia. Sungguh celaka, kalau terhadap seorang bocah cilik saja takbisa membereskannya, lalu macam apakah manusia Mo-thian-kisu yang tersohor ini?"
Esok paginya Cia Yan-khek menggandeng tangan anak muda itu dan diajaknya berangkat pula.
Tapi baru melangkah beberapa tindak, anak muda itu lantas menjerit kesakitan karena telapak kakinya serasa ditusuk oleh beratus-ratus jarum.
"Kenapa?"
Tanya Yan-khek. Ia menyangka anak muda itu tentu akan mengajukan permintaan berhenti dahulu atau permintaan lain sebagainya. Tak terduga anak muda itu hanya menjawab.
"Tidak apa-apa, kakiku sedikit sakit. Marilah kita jalan terus."
Karen takbisa meng-apa-apakan anak muda itu, lama-lama Cia Yan-khek menjadi naik darah, segera ia seret anak muda itu dan berlari lebih kencang lagi.
Mereka berlari terus tanpa berhenti.
Bila lalu dikota, seadanya Cia Yan-khek membeli sedikit penganan, lalau berangkat lagi, sambil lari sambil makan.
Kalau dia membagi makanan itu kepada sianak muda barulah anak muda itu memakannya, kalau tak membaginya, anak muda itu juga tidak minta.
Dengan demikian beberapa hari telah lalu dengan cepat.
Sampai hari keenam, tempat mereka berlari-lari itu adalah ditengah lereng gunung yang terjal.
Sungguh aneh juga, meski anak muda itu tidak paham ilmu silat, tapi dengan digandeng oleh Cia Yan-khek, semakin lama berlari, semakin bersemangat malah.
Sampai akhirnya bahkan kedua kakinya tidak terasa sakit lagi.
Bab 7.
Ada Ubi Ada Talas, Utang Budi Harus Membalas Sesudah berlari satu hari pula, jalanan pegunungan itu makin lama tambah berbahaya.
Akhirnya anak muda itu tidak sanggup mendaki lagi, terpaksa Cia Yan-khek menggendongnya dan berlompatan dari suatu tebing ketebing yang lain dan dari suatu lereng ke lereng yang lain.
Anak muda itu sampai kebat-kebit melihat lereng-lereng gunung yang curam disekitarnya itu.
Terkadang kalau ketmu tempat-tempat yang curam dan mengerikan, terpaka ia pejamkan mata dan tidak berani melihat.
Pada waktu lohor, sampailah Cia Yan-khek dibawah sebuah tebing yang menegak curam, tinggi mencakar langit.
Dengan bantuan seutas rantai besi yang menjulur dari atas tebing itu Yan-khek lantas mendaki tebing itu.
Tebing itu sesungguhnya halus licin dan tegak, jangankan manusia, sekalipun kera juga susah mendaki keatas.
Coba kalau tiada rantai besi yang panjang itu, biarpun kepandaian Cia Yan-khek setinggi langit juga belum tentu mampu memanjat keatas.
Sampai dipuncak tebing itu, Cia Yan-khek menurunkan anak muda itu, lalu katanya.
"Tempat ini namanya Mo-thian-kay (tebing pencakar langit), karena itulah aku mendapat julukan sebagai Mo-thian-kisu (pertapa dari tebing pencakar langit). Maka itu bolehlah tinggal saja disini."
Anak muda itu coba memandang sekitarnya, ia lihat puncak tebing itu cukup luas jua, tapi dikelilingi oleh kabut dan awan sehingga dirinya seakan-akan berada ditengah langit.
Tanpa merasa ia menjadi cemas dan gelisah.
Segera ia tanya.
"Katanya kau akan mencarikan ibuku dan si Kuning ?"
Tapi Cia Yan-khek telah menjawabnya dengan dingin .
"Dunia seluas ini, kemana aku harus mencari ibumu? Biarlah kita menunggunya disini saja, boleh jadi pada suatu hari ibumu akan datang kesini untuk menjenguk kau, siapa tahu ?"
Biarpun anak muda itu masih ke-kanak-anakan dan hijau dalam segala hal, tapi tahu juga bahwa dia telah diapusi oleh Cia Yan-khek.
Ditempat demikian cara bagaimana ibunya dapat menemukan dia?
Karena itu, seketika ia menjadi terkesima.
"Kapan-kapan bila kau ingin pergi dari sini juga boleh,"
Kata Yan-khek pula.
Diam-diam ia percaya kalau anak muda itu tak diberi makan, untuk turun kebawah tebing juga tidak berani, akhirnya anak muda itu tentu akan membuka mulut untuk memohon sesuatu padanya.
Biasanya biarpun ibu anak muda itu bersikap sangat dingin, tetapi selamanya tidak pernah mengapusi padanya.
Sekarang, untuk pertama kali selama hidupnya dia telah diapusi orang, entah bagaimana perasaannya, air matanya lantas berlinanglinang dikelopak matanya, tapi sedapat mungkin ia menahannya agar air matanya tidak sampai menetes.
Ia lihat Cia Yan-khek telah memasuki sebuah gua, selang tak lama dari dalam gua tampak mengepul keluar asap, yaitu asap orang sedang memasak.
Selang sejenak pula lantas terendus bau sedap dari dalam gua itu.
Memangnya perut anak muda itu sudah lapar, maka ia lantas masuk kedalam gua.
Ia lihat gua itu sangat luas dan cukup untuk bersembunyi beberapa ratus orang.
Rupanya Cia Yan-khek sengaja menanak nasi dan memasak daging dimulut gua dengan tujuan memancing selera makan anak muda itu agar meminta makan padanya.
Tak terduga, anak muda itu sejak kecil hanya hidup berdampingan dengan ibunya saja, pada hakikatnya dia tidak tahu tentang milikmu ataupun milikku, asal melihat makanan lantas diambilnya dan dimakan, kenapa mesti pakai minta segala.
Karena itulah, demi dilihatnya diatas meja batu didalam gua itu tertaruh sepiring daging rebus dan sebakul nasi, maka tanpa permisi lagi ia lantas mengambil mangkuk dan sumpit sendiri, lalu mengisi nasi dan mengambil dan terus dimakan.
Cia Yan-khek menjadi tercengang sendiri.
Pikirnya.
"Ia pernah mentraktir aku makan bakpau, bahakan juga makan di restoran, kalau sekarang aku melarang dia makan masakanku tentu hal ini akan memperlihatkan kerendahan budiku sendiri."
Karena itulah iapun tidak ambil pusing, segera ia juga makan sendiri. Rupanya penghidupan "berdikari"
Bagi anak muda itu sudah menjadi biasa, maka sehabis makan ia lantas mencuci mangkok, piring dan sumpit, lalu membersihkan bakul nasi dan selesai itu ia lantas pergi mencari kayu semuanya itu dikerjakannya seperti biasanya kalau dia hidup bersama dengan ibunya.
Sesudah mendapatkan kayu satu pikul, baru saja dia memikulnya pulang kegua, tiba-tiba dari semak-semak ditepi jalan melompat keluar seekor rusa.
Dengan sebat sekali anak muda itu mengangkat kapaknya dan rusa itu kena dihantam mati.
Segera ia menyembelih rusa itu dan dicuci bersih dengan air selokan yang jernih, lalu dibawanya pulang kegua.
Ia gantung sebelah badan rusa itu ditempat terbuka agar kena angin dan supaya tidak rusak, daging rusa yang lain ia potongpotong, lalu direbus didalam kuali.
Ketika mengendus bau sedapnya daging rusa rebus, Cia Yankhek tidak tahan lagi, ia coba menceduk satu sendok kuahnya dan mencicipinya.
Tiba-tiba ia menjadi girang dan masgul pula.
Ternyata rasa kuah itu enaknya tak terkira, cara masaknya ternyata berpuluh kali lebih pandai daripada dia sendiri.
Sungguh tak tersangka olehnya bahwa anak muda itu ternyata masih mempunyai kepandaian simpanan, kalau hidup bersama, tentu selanjutnya dia akan dapat banyak menikmati makanan enak.
Tapi lantas teringat pula olehnya, jika anak muda itu dapat berburu dan memasak, tentunya juga takkan meminta supaya diantar kebawah gunung, maka harapannya agar anak muda itu akan mengemukakan permintaannya itu menjadi kandas lagi.
Kiranya ibu anak muda itu pintar sekali memasak, tapi tabiatnya aseran dan malas pula, lebih sering dia suruh anak muda itu memasak daripada dia turun tangan sendiri.
Bila masakan anak muda itu kurang enak, dikala senang iapun suka memberi petunjuk-petunjuk cara masak dan resep-resepnya, tapi diwaktu kurang senang, sedikit-sedikit ia lantas mendamperat dan memukul anak muda itu.
Begitulah dengan cepat beberapa hari telah lalu, selama itu anak muda itu tetap melakukan pekerjaannya dengan baik, ia memasang perangkap untuk menangkap binatang, membikin jepretan untuk membidik burung, ternyata macam-macam dan ada-ada saja kepandaiannya sehingga setiap hari dia membikin masakan yang serba baru untuk disajikan kepada Cia Yankhek.
Kalau tidak habis termakan, maka sisa daging lantas dikeringkan menjadi dendeng.
Karena kepandaian sianak muda yang serba pintar dan baru itu, Cia Yan-khek menjadi terheran-heran.
Waktu dia menanyakan dari mana asal-usulnya kepandaian masak itu, sianak muda menjawab bahwa semuanya itu adalah ibunya yang mengajarkannya.
Diam-diam Cia Yan-khek tambah heran.
Ia pikir kalau ibu dan anak itu sedemikian pandai memasak, maka seharusnya mereka adalah orang-orang pintar, ia menduga mungkin ibunya adalah wanita kampung yang telah ditinggalkan sang suami sehingga timbul tabiatnya yang aneh dan menjendiri, atau boleh jadi karena tabiat pembawaannya yang aneh itu maka telah ditinggalkan suaminya.
Dan karena anak muda itu jarang sekali mengajak bicara padanya, diam-diam Cia Yan-khek sendiri menjadi sedih malah.
Pikirnya.
"Kalau urusan ini tidak lekas-lekas dibereskan, betapapun akan selalu merupakan ancaman bagiku. Bila pada suatu ketika anak muda itu mendapat bujukan musuhku dan mendadak dia memohon aku memunahkan ilmu silatku sendiri atau membikin cacat anggota badanku sendiri, wah, kan bisa celaka ? Atau mungkin sekali dia minta aku jangan turun dari Mo-thian-kay ini untuk selamanya, bukankah itu berarti aku akan mati konyol diatas puncak yang terpencil ini?"
Dalam keadaan demikian, biarpun Cia Yan-khek adalah seorang yang cerdik, seketika iapun tidak mendapatkan akal yang baik.
Pada suatu hari, lewat lohor, Cia Yan-khek sedang berjalanjalan iseng dihutan dekat guanya, sekilas dilihatnya anak muda itu sedang tengkurap diatas batu cadas dengan tertawa-tawa senang menghadapi serentetan benda-benda.
Waktu Yan-khek memperhatikan, kiranya benda-benda itu adalah ke-18 buah boneka tanah pemberian Tay-pi Lojin tempo hari.
Anak muda itu telah menaruh boneka-boneka itu secara terpisah disana-sini, sebentar dia membariskan boneka-boneka itu, lain saat boneka itu disuruh perang-perangan.
Sungguh asyik dan senang sekali anak muda itu dengan barang permainannya itu.
Ketika melihat diatas badan boneka-boneka itu penuh terdapat garis merah dan titik-titik hitam, segara Yan-khek mendekatinya, benar juga seperti apa yang telah diduganya, memang titik-titik hitam itu menunjukkan berbagai Hiat-to diatas tubuh manusia dan garis merah itu adalah jalannya uraturat nadi.
Yan-khek menjadi teringat kepada kejadian dahulu ketika ia bertanding dengan Tay-pi Lojin diatas gunung Pak-bong-san, kepandaian Tay-pi Lojin tatkala itu hanya keras pukulannya dan ilmu Kim-na-jiu-hoat yang banyak perubahannya dan cepat.
Sesudah bertanding lebih satu jam, akhirnya Yan-khek telah menang setengah jurus sehingga Tay-pi Lojin lantas mundur teratur.
Ilmu silat Tay-pi Lojin memang sangat tinggi, tapi mengutamakan kepandaian luar dan bukan kepandaian dalam tau Lweekang, akan tentang tanda-tanda latihan Lweekang yang terlukis dibadan boneka-boneka itu mungkin sangat cetek dan mentertawakan.
Segera Yan-khek mengambil salah sebuah boneka itu, ia lihat tanda-tanda Hiat-to dan garis-garis urat nadi yang terlukis itu memang benar adalah pengantar latihan Lweekang yang tepat, pada umumnya cara-cara permulaan melatih Lweekang dari berbagai golongan dan aliran tiada banyak bedanya seperti apa yang terlukis diatas boneka-boneka ini dan tiada sesuatupun yang perlu dirahasiakan.
Apa barangkali Tay-pi Lojin kemudian sadar bahwa kepandaiannya yang takdapat melebihi tokoh lain adalah disebabkan kekurangannya dalam ilmu Lweekang, maka entah darimana dia telah memperoleh 18 buah boneka itu dengan maksud hendak meyakinkan Lweekang untuk mengimbangi kepandaiannya yang sudah ada.
Tapi untuk meyakinkan Lweekang dengan baik toh tidak dapat disempurnakan dalam waktu singkat saja, padahal usia Tay-pi Lojin sampai ajalnya sudah lebih 80 tahun, maka Lweekang yang dikehendakinya itu terpaksa dilatihnya diakhirat saja.
Hahaha, sungguh lucu!
~ Demikian pikir Yan-khek dan tanpa terasa akhirnya ia bergelak tertawa.
Anak muda itu ikut tertawa, katanya.
"Paman tua, tentunya kau geli melihat boneka-boneka ini berjenggot dan bukan anak-anak, tapi semuanya telanjang bulat, makanya kau tertawa geli."
"Ya, memang menggelikan" , ujar Yan-khek sambil tertawa. Lalu ia memeriksa boneka-boneka lain lagi, ia lihat Hiat-to dan urat-urat nadi yang terlukis diatas boneka-boneka itu satu sama lain berbeda-beda. Yang 12 buah melukiskan Cing-kengcap-ji-meh, yaitu 12 urat nadi tetap diatas tubuh manusia. Sedangkan 6 buah lainnya melukiskan enam urat nadi aneh diatas tubuh manusia, padahal urat nadi aneh itu mestinya berjumlah delapan, yaitu apa yang disebut "Ki-keng-pat-meh" . Tapi sekarang dua urat nadi, yaitu Ciong-meh dan Tay-meh yang paling ruwet dan paling susah dipahami itu ternyata tidak ada, jadi boneka-boneka itu kurang lengkap. Diam-diam Cia Yan-khek membatin.
"Boneka-boneka yang dianggap benda mestika dan selalu dibawa oleh Tay-pi Lojin ini ternyata tidak lengkap. Padahal Lweekang yang dia ingin belajar ini adalah ilmu kasaran saja, asal dia mengundang seorang murid salah satu perguruan ilmu silat yang melatih Lweekang untuk memberi petunjuk, maka dengan mudah akan dapat dipahaminya. Tapi, ya, maklumlah, dia adalah tokoh angkatan tua yang kenamaan, masakah dia mau merendahkan diri untuk minta petunjuk kepada orang lain?"
Ia lantas terbayang lagi pada pertandingannya melawan Tay-pi Lojin dahulu, meski akhirnya dia menang setengah jurus, tapi kemenangannya itu diperoleh secara kebetulan saja, selama satu jam bertarung dengan mati-matian itu beberapa kali ia sendiripun menghadapi bahaya maut, kalau dipikir sekarang, sungguh untung sekali baginya, coba kalau waktu itu Taypi Lojin sudah mempunyai dasar Lweekang yang kuat, tentu tidak sampai setengah jam dirinya sudah dihantam terjungkal kedalam jurang oleh Tay-pi Lojin.
Dan baru saja ia hendak tinggal pergi, mendadak terpikir lagi olehnya.
"Jika bocah ini sedemikian senangnya memain boneka-boneka ini, kenapa aku tidak mengajarkan Lweekang yang terlukis diatas boneka-boneka itu padanya supaya dia nanti "
Cau-hwe-jip-mo " (tenaga dalam jalan tersesat sehingga mengakibatkan kematian atau kelumpuhan) dan mungkin juga akan binasa ?
Dahulu aku cuma bersumpah takkan menggunakan kekerasan kepada orang yang mengembalikan medali wasiat padaku, kalau sekarang dia mampus sendiri karena salah melatih Lweekang, hal ini dengan sendirinya bukan salahku dan bukan aku yang membunuhnya sehingga aku tidak melanggar sumpah.
Ya, kukira jalan inilah yang paling baik" .
Demikianlah tindak-tanduk Cia Yan-khek memangnya tergantung kepada pikirannya seketika itu saja.
Walaupun dia suka pegang teguh tentang kepercayaan, terutama apa yang pernah dia janjikan sendiri, tapi dalam hal tingkah laku dan cara berpikir baginya adalah bukan apa-apa dan tidak berharga sepeserpun.
Karena itulah segera ia pegang pula sebuah boneka itu dan berkata.
"He, anak kecil, apakah kau tahu apa artinya titik-titik hitam dan garis-garis merah diatas boneka ini?"
Anak muda itu berpikir sejenak, kemudian menjawab.
"Boneka-boneka ini sedang sakit."
"Mengapa sakit?"
Tanya Yan-khek dengan heran.
"Tahun yang lalu akupun pernah sakit dan sekujur badanku timbul tutul-tutul merah seperti ini" , ujar sianak muda. Yan khek menjadi tertawa geli. Katanya.
"Itu adalah sakit gabak. Tapi apa yang terlukis dibadan boneka ini bukan penyakit gabak melainkan rahasia cara belajar ilmu silat. Kau telah menyaksikan aku menggendong kau sambil berlari secepat terbang, kepandaianku itu bagus atau tidak?"
Sampai disini, agar dapat memperteguh keinginan anak muda itu akan belajar ilmu silat, maka ia lantas meloncat kepucuk sebatang pohon, dengan kaki kiri ia menahan diatas dahan, sekali menyendal, kembali ia meloncat keatas lagi, lalu menurun dengan perlahan kedahan pohon, kemudian meloncat pula keatas dan begitu seterusnya sampai beberapa kali.
Pada saat itulah tiba-tiba diudara terbang lalu dua ekor burung gereja.
Karena Cia Yan-khek sengaja hendak memperlihatkan kepandaiannya yang tinggi, segera kedua tangannya menjulur keatas, sekali raup, tahu-tahu kedua ekor burung itu sudah tertangkap olehnya.
Kemudian ia melompat turun kebawah dengan enteng sekali.
"Bagus! Bagus! Kepandaian hebat!"
Demikian puji sianak muda sambil menepuk tangan dan tertawa.
Waktu Yan-khek membuka telapak tangannya, segera kedua ekor burung gereja itu pentang sayap hendak terbang pergi, tapi baru saja sayap burung itu menggelepak sekali, tiba-tiba dari telapak tangan Cia Yan-khek timbul serangkum tenaga dalam sehingga kekuatan terbang burung-burung itu dipunahkan.
Anak muda itu tambah senang demi melihat telapak tangan Cia Yan-khek terbuka, tapi dua ekor burung itu hanya mengelepakkan sayap saja dan tetap tidak sanggup meninggalkan tangannya, segera ia berteriak-teriak.
"Ha, bagus, bagus! Sungguh menarik, sungguh permainan menarik!"
"Sekarang kau boleh coba!"
Kata Yan-khek dengan tertawa.
Lalu ia menyerahkan kedua ekor burung itu kepada sianak muda.
Segera anak muda itu memegang burung-burung itu dengan kencang dan tak berani membuka tangannya, kuatir terlepas.
"Nah, ketahuilah bahwa apa yang terlukis dibadan bonekaboneka itu adalah cara melatih ilmu yang hebat" , demikian Yan-khek menerangkan dengan tertawa.
"Rupanya kau telah membela tua bangka itu dengan mati-matian, makanya dia berterima kasih dan menghadiahkan boneka-boneka itu padamu. Ini bukan barang mainan biasa, tapi adalah benda mestika yang susah dinilai. Asal kau berhasil melatih ilmu yang terlukis diatas boneka-boneka itu, tentu kau pun dapat membuka tanganmu dan burung-burung itu takkan mampu terbang pergi."
"Wah, menarik juga jika demikian, aku akan coba-coba melatihnya?"
Kata anak muda itu sambil membuka kedua tangannya.
Karena tangannya tidak dapat mengeluarkan tenaga dalam, dengan sendirinya kedua burung gereja itu lantas pentang sayap dan terbang keatas.
Yan-khek tertawa terbahak-bahak.
Tapi dilihatnya kedua ekor burung gereja yang sudah terbang meninggalkan tangan anak muda itu setinggi satu-dua meter, mendadak burung-burung itu terjungkal lurus kebawah dan kembali jatuh kedalam tangan sianak muda, burung-burung itu ternyata sudah kaku, rupanya sudah mati.
Keruan kejut Yan-khek tak terkatakan sehingga suara tertawanya berhenti seketika.
Secepat kilat ia pegang urat nadi tangan sianak muda, tangan yang lain menuding hidung anak muda itu sambil membentak.
"Kau………….kau adalah murid sibangsat tua Ting Put-si, bukan? Le……….lekas mengaku!"
Biarpun Cia Yan-khek adalah seorang gembong persilatan yang telah banyak berpengalaman, tapi bicara tentang "sibangsat tua Ting Put-si"
Suaranya menjadi agak gemetar juga.
Kiranya dia menjadi kaget demi melihat cara anak muda itu membunuh kedua ekor burung gereja, terang itulah ilmu berbisa "Han-ih-bian-ciang" (pukulan lunak berbisa dingin) yang menjadi kemahiran Ting Put-si.
Ilmu yang maha lihay dan jahat itu sampai-sampai saudara sekandung Ting Put-si sendiri, yaitu Ting Put-sam juga tidak bisa.
Tapi sekarang anak muda ini ternyata sedemikian mahir menggunakan ilmu itu, tampaknya paling sedikit sudah terlatih sepuluh tahun lamanya, maka pasti anak muda itu adalah ahli waris Ting Putsi.
Cia Yan-khek cukup kenal Ting Put-si, ilmu silat tokoh itu sangat tinggi, tindak-tanduknya aneh dan susah diduga pula, bahkan sangat keji dan licin, nama julukannya ialah "Ce-jitput-ko-si" , artinya satu hari tidak lebih dari empat, yaitu orang yang akan dibunuhnya setiap hari hanya empat saja, jadi lebih banyak satu orang menurut ketentuan saudara sekandungnya, yaitu Ting Put-sam.
Demi terpikir bahwa anak muda ini telah memperoleh ajaran ini "Han-ih-bian-ciang"
Yang menjadi andalan Ting Put-si, andaikan bocah ini bukan keturunannya tentu adalah muridnya.
Padahal medali wasiatnya sendiri itu diterima kembali dari anak muda ini, rupanya segala sesuatu ini memang sengaja telah diatur oleh Ting Put-si, sebab itulah maka betapapun didesak anak muda ini tetap tidak mau memohon sesuatu apa padanya, rupanya akan tunggu sampai saat terakhir yang menentukan barulah akan dikemukakan.
Besar kemungkinan saat ini Ting Put-si sendiri sudah berada diatas Mo-thian-kay.
Berpikir demikian, seketika Cia Yan-khek menjadi tegang, ia coba memandang sekelilingnya, meski tiada nampak sesuatu yang mencurigakan, tapi sekilas itu didalam benaknya sudah timbul macam-macam pikiran.
"Selama beberapa hari ini aku telah banyak memakan daharan yang dimasak oleh anak muda ini, entah didalam makanan itu dia taburi racun atau tidak? Jika Ting Put-si bermaksud membikin celaka padaku, entah rencana apa yang telah diaturnya? Dan anak muda ini adalah alat Ting Put-si, entah apa yang akan dia minta agar aku mengerjakannya ?"
Dalam pada itu karena pergelangan tangannya dipegang dengan kencang sehingga seperti ditanggam, sianak muda menjadi meringis kesakitan dan segera berseru.
"Ting……………Ting Put-si apa?...........Aku…………aku tidak tahu!"
Karena gugupnya tadi, maka sekuatnya Cia Yan-khek telah cengkeram pergelangan sianak muda, sekarang demi ingat ada kemungkinan Ting Put-si sudah berada disekitar situ dan menyaksikan dia menganiaya seorang anak kecil, hal ini tentu akan menurunkan derajatnya sebagai seorang tokoh terkemuka, maka ia lantas lepas tangan dan berseru.
"Mothian-kay ini jarang didatangi oleh orang kosen, jikalau Tinglosi sudah berada disini, mengapa tidak perlihatkan dirimu saja?"
Berulang-ulang ia berseru sehingga suaranya berkumandang jauh menggema lembah pegunungan itu, namun sampai lama sekali hanya terdengar suara angin menderu-deru saja tanpa sesuatu jawaban orang.
Yan-khek coba mencemput burung gereja yang sudah mati itu, ia merasa bangkai burung itu kaku dingin, ia coba meremasnya sedikit, bangkai burung itu berbunyi kresek-kresek, nyata isi perut burung itu telah membeku menjadi es batu.
Dari ini dapat diketahui bahwa dasar kepandaian "Han-ih-bian-ciang"
Yang dilatih anak muda itu sudah mencapai tiga atau empat bagian.
Jika Ting Put-si yang menggunakan ilmu berbisa itu tentu bangkai burung itu sudah membeku menjadi es seluruhnya sampai-sampai bulunya sekalipun.
Diam Yan-khek terkesiap.
Ia berpaling dan berkata dengan suara ramah.
"Adik cilik, tingkah lakumu sekarang sudah ketahuan, buat apalagi kau masih berlagak pilon? Lebih baik kau mengaku saja Ting-losi itu pernah apamu?"
"Ting-losi? Aku…………aku tidak kenal, siapa dia ?"
Demikian jawab sianak muda.
"Baik, jika kau tidak mau mengaku, maka cobalah kau memaki si maling tua Ting-losi itu" , kata Yan-khek.
"Kau pernah mengatakan bahwa kata-kata maling tua adalah makian pada orang lain, dia toh tidak berbuat kesalahan apapun padaku, kenapa aku mesti memaki dia ?"
Sahut anak muda itu. Lama-lama Yan-khek jadi gemas, sungguh dia ingin sekali hantam lantas membinasakan anak muda itu. Tapi lantas terpikir pula.
"Rupanya Ting Put-si percaya akau takkan mengingkar kepada sumpahku sendiri dan takkan mengganggu orang yang mengembalikan medali wasiat padaku, makanya ia menyuruh anak muda ini ikut aku ketas tebing ini tanpa kuatir."
Sebenarnya Cia Yan-khek hanya saling mengenal nama saja dengan Ting Put-si dan tidak pernah bertemu muka, maka diantara mereka juga tiada selisih paham atau permusuhan apa-apa.
Tapi demi teringat dirinya mungkin sudah terjeblos didalam perangkap Ting Put-si yang terkenal keji itu, mau-takmau Yan-khek lantas merinding.
Kemudian ia tanya pula kepada sianak muda.
"Adik cilik, kau punya ‘Han-ih-bian-ciang’ ini sungguh sangat lihay, sudah berapa tahun kau melatihnya?"
"Apa itu ‘Han-ih-bian-ciang’? Entahlah, aku tidak tahu" , sahut sianak muda. Muka Cia Yan-khek berubah masam, katanya dengan aseran.
"Kalau ditanya, semuanya kau jawab tidak tahu. Memangnya kau anggap aku orang she Cia ini manusia goblok ?"
"Ada apakah engkau marah-marah padaku? Sung………….sungguh aku tidak tahu. Ah, barangkali karena aku membikin mati kedua ekor burung yang kau tangkap itu. Tapi kepandaian paman tua sangat hebat, maukah engkau terbang keudara untuk menangkap dua ekor lagi. Bukankah engkau menyatakan hendak mengajarkan caranya menangkap burung sehingga burung-burung itu tidak dapat terbang dari telapak tanganku."
"Bagus, biarlah aku lantas mengajarkan kepandaian ini padamu" , kata Yan-khek. Lalu ia ambil sebuah boneka yang terlukis Hiat-to dan urat-urat nadi itu, katanya pula.
"Ilmu ini tidak susah untuk dilatih, jauh lebih gampang daripada kau melatih ‘Han-ih-bian-ciang’. Ini, sekarang aku mengajarkan apalannya padamu, asal kau ingat dengan baik, lalu melatihnya menurut titik hitam dan garis-garis merah yang terlukis dibadan boneka ini, tentu dalam waktu singkat kau akan dapat menguasainya."
Segera ia mengajarkan satu kalimat demi satu kalimat apalan sejurus ilmu "Yam-yam-kang"
Padanya.
Tak terduga sianak muda itu tampaknya cukup cerdas, pula sudah memiliki beberapa bagian dasar ‘Han-ih-bian-ciang’.
Namun entah pura-pura bodoh atau memang sungguhsungguh ternyata dalam hal Hiat-to, urat nadi, cara bernapas dan mengerahkan tenaga, sama sekali ia tidak becus.
Sebabnya Cia Yan-khek hendak mengajarkan "Yam-yam-kang"
Padanya, yaitu semacam ilmu yang bertenaga dalam maha panas, tujuannya ialah ingin memunahkan tenaga dingin yang ditimbulkan Han-ih-bian-ciang yang telah dimiliki anak muda itu, lalu akan dibikinnya pula agar tenaga dalam yang maha panas itu sesat keurat nadi yang salah sehingga antara panas dan dingin saling bertentangan, akibatnya anak muda itu tentu akan binasa.
Sudah tentu "Yam-yam-kang"
Itu tak dapat dilatih dengan baik dalam waktu singkat, untuk bisa mengimbangi "Han-ih-bianciang"
Yang dimilikinya sekarang sedikitnya harus berlatih selama beberapa tahun, kalau tidak tentu tidak cukup untuk membinasakan anak muda itu.
Tapi sekarang anak muda itu mengaku sama sekali tidak paham apa-apa tentang Hiat-to dan sebagainya, diam-diam Cia Yan-khek mendongkol.
Sekarang kau berlagak bodoh, kelak kalau kau sudah tahu rasa barulah kenal kelihayanku.
Demikian pikirnya.
Karena itu iapun berlaku sabar sedapat mungkin dan menjelaskan tempat-tempat letak Hiat-to yang bersangkutan menurut apa yang terlukis dibadan boneka itu.
Dalam keadaan demikian anak muda itu ternyata tidak bodoh lagi, tapi dapat memahami dengan cepat, ingatannya juga cukup kuat.
Lalu Yan-khek mengajarkan pula caranya mengatur pernapasan dan suruh anak muda itu berlatih sendiri.
Untuk selanjutnya, tiap-tiap hari selain melatih ilmu-ilmu itu seperti biasa iapun pergi berburu, lalu memasak, sedikitpun tidak menyurigakan ilmu yang diajarkan oleh Cia Yan-khek padanya itu.
Semula Cia Yan-khek merasa kuatir kalau Ting Put-si datang ke Mo-thian-kay untuk menyerangnya, untuk menjaga kemungkinan itu maka ia telah mengerek rantai besi yang panjang itu keatas.
Sang waktu berlalu dengan cepat, hari berganti bulan dan bulan berganti musim, dalam sekejap saja setahun sudah lalu, selama itu tiada seorangpun yang berusaha naik keatas tebing yang curam itu, bahkan diatas Mo-thian-kay seluas belasan li itupun tiada terdapat orang asing.
Karena persediaan beras dan garam sudah hampir habis, Cia Yan-khek terpaksa harus membelinya kebawah gunung.
Tapi ia tidak tega membiarkan anak muda itu tinggal sendiri diatas gunung, kuatir kalau ada orang datang kesitu dan menculiknya, jika terjadi demikian, hal ini berarti dia menyerahkan matihidupnya sendiri kepada orang lain.
Sebab itulah ia lantas mengajak anak muda itu kemanapun dia pergi.
Ia membeli bahan makanan seperlunya ditambah minyak dan garam, baju, sepatu, dan kaos kaki.
Selam turun gunung Cia Yan-khek selalu berlaku waspada, namun mereka dapat pulang keatas gunung tanpa mengalami halangan apa-apa.
Keadaan begitu telah mereka lewatkan lagi selama beberapa tahun.
Dalam setahun mereka suka turun gunung satu-dua kali, habis belanja apa yang perlu mereka lantas cepat-cepat pulang keatas gunung lagi.
Sementara itu usia anak muda itu sudah menjadi 18-19 tahun, perawakannya sekarang tinggi besar, kekar dan kuat, bahkan lebih tinggi daripada Cia Yan-khek.
Selama itu Cia Yan-khek tetap berlaku hati-hati sekali, diwaktu malam dia tidak tidur bersama didalam satu gua.
Diwaktu makan juga mesti membiarkan anak muda itu mencobanya dahulu untuk membuktikan didalam makanan itu tiada diberi racun.
Sehabis itu baru dia berani makan daharan yang disajikan itu.
Sehari-hari selain mengajarkan lweekang kepada anak muda itu, untuk omong iseng saja ia merasa enggan.
Untungnya anak muda itu sejak kecil juga telah diperlakukan secara dingin oleh ibunya seperti sikap Cia Yan-khek sekarang.
Maka ia tidak merasakan kejanggalan atas perlakuan Cia Yankhek itu.
Malahan ibunya sering mendamperat dan memukul dia, sebaliknya Cia Yan-khek tidak banyak bicara, tidak tertawa dan tidak marah padanya.
Karena tiada pekerjaan lain, maka selain berburu dan memasak, kerja anak muda itu hanya berlatih Lweekang untuk melewatkan tempo yang senggang.
Sesudah beberapa tahun, lambat laun "Yam-yam-kang"
Yang dilatihnya itupun hampir mendekati selesainya.
Cia Yan-khek sendiri sejak dulu mengalami sesuatu urusan yang mengecewakan pada waktu dia berusia 30 tahun, lalu dia tirakat diatas Mo-thian-kay dan jarang lagi berkelana didunia Kangouw.
Tapi selama beberapa tahun terakhir ini, setiap kali terpikir ada kemungkinan dia sedang diincar oleh seorang tokoh aneh seperti Ting Put-si, maka siang dan malam dia selalu kebat kebit dan hidup tidak tenteram, terpaksa setiap saat iapun selalu waspada.
Maka selain dia giat berlatih ilmu silat perguruannya sendiri, ia meyakinkan pula tiga macam Ciang hoat (ilmu pukulan dengan tangan terbuka) dan Kun hoat (ilmu pukulan dengan kepalan) yang khusus digunakan menghadapi Lweekang lawan yang berbisa dingin.
Dalam waktu beberapa tahun bukan saja Yam-yam-kang yang dilatih sianak muda sudah hampir selesai, bahkan kekuatan Cia Yan-khek sendiri juga maju pesat, jauh berbeda kalau dibandingkan pada waktu ia bertemu dengan sianak muda dahulu.
Pagi hari itu Yan-khek melihat sianak muda sedang berduduk diatas batu cadas disebelah timur sana dan asyik melatih.
Dari ubun-ubun anak muda itu tampak mengepulkan uap tipis.
Itulah tanda tenaga dalam yang diyakinkan itu sudah mencapai tarap yang masak.
Diam-diam Yan-khek membatin.
"Anak setan, sekarang sebelah kakimu sudah berada diambang pintu akhirat."
Ia tahu latihan anak muda itu baru akan selesai menjelang lohor nanti, maka ia lantas tinggal pergi.
Ia gunakan Ginkang yang tinggi dan berlari sampai ditengah hutan cemara yang berada dibelakang puncak gunung.
Tatkala itu embun belum lagi kering seluruhnya, hawa masih sejuk segar.
Yan-khek menghirup napas dalam-dalam, lalu dihembusnya kembali dengan perlahan.
Habis itu mendadak sebelah tangannya menyodok kedepan, menyusul tangan yang lain juga memukul dengan cepat, badannya lantas menggeser pula mengikuti pukulan-pukulannya itu dan menyusur kian kemari ditengah pohon-pohon cemara itu.
Makin lama makin cepat larinya dan kedua tangannya juga naik-turun bekerja dengan teratur, terdengar suara "crat-cret"
Yang perlahan, pukulan-pukulannya tiada hentinya diarahkan kebatang pohon.
Larinya bertambah cepat, sebaliknya makin lama pukulannya makin lambat.
Jadi kakinya bekerjanya tambah cepat, sebaliknya tangannya makin perlahan bergeraknya.
Tapi cepatnya tidak terburu-buru, sedangkan perlahan tidak mengurangi keganasannya.
Nyata ilmu silatnya sekarang sudah mencapai puncaknya kesempurnaan.
Saking semangatnya mendadak Cia Yan-khek bersuit nyaring.
"plak-plak" , dua kali pukulannya tepat mengenai batang pohon cemara, seketika terdengar suara gemersik, lidi cemara telah rontok sebagai hujan. Tapi Yan-khek lantas keluarkan ilmu pukulannya, beribu-ribu lidi cemara itu telah dipukul mumbul kembali keudara. Dari atas pohon lidi cemara itu masih terus bertebaran jatuh, tapi tetap takbisa jatuh ketanah karena terguncang kembali keatas oleh angin pukulan Cia Yan-khek. Hendaklah maklum bahwa lidi cemara itu mempunyai bobot dan kecil, tidak seperti daun pohon biasa yang enteng dan mudah kabur terbawa angin. Tapi sekarang angin pukulan Cia Yan-khek itu mampu membikin lidi cemara sebanyak itu kabur keatas, nyata sekali tenaga dalamnya sudah dapat dikeluarkan dengan menurut sesuka hatinya. Begitu banyak lidi cemara yang berterbaran itu sehingga berubah menjadi suatu gulungan bayangan yang membungkus rapat disekeliling tubuh Cia Yan-khek. Agaknya dia sengaja hendak menguji sampai betapa hebatnya Lweekang yang telah diyakinkannya selama ini, maka ia masih terus mengerahkan tenaga dalam, lidi cemara itu diperlebar dan didorong lebih kedepan. Dengan meluasnya lingkaran bayangan lidi cemara, dengan sendirinya tenaga dalamnya menjadi susah dikuasai secara merata, maka lidi cemara yang berada paling luar itu lantas bertebaran jatuh kebawah. Tapi mendadak Yan-khek menarik napas dalam-dalam dan tenaganya tiba-tiba terpencar cepat keluar sehingga lidi cemara yang jatuh itu dapat dicegah. Sungguh girang sekali Cia Yan-khek, ia terus mengerahkan tenaga dalamnya, ia merasa setiap gerak-gerik kaki dan tanganya dapat dilakukan dengan lancar, jiwa raganya seakanakan sudah bersatu padu tak terpisahkan lagi. Sampai agak lama juga, ketika dia mulai menahan tenaganya, mulailah lidi cemara itu bertebaran jatuh ketanah sehingga berwuyud sebuah lingkaran hijau disekelilingnya. Selagi Yan-khek berseri-seri puas atas Lweekangnya sendiri itu, sekonyong-konyong air mukanya berubah hebat. Ternyata entah sejak kapan, tahu-tahu disekelilingnya sudah berdiri sembilan orang. Kesembilan orang ini semuanya bersenjata dan sedang memandang kearahnya tanpa berkata. Dengan kepandaian Cia Yan-khek yang sudah sedemikian tingginya, jangankan orang hendak mendekati dia, andaikan masih sejauh satu-dua li tentu juga akan diketahui olehnya. Soalnya tadi ia sedang asyik mengerahkan tenaga dalamnya untuk melatih sejurus "Pek-ciam-jing-ciang" (ilmu pukulan jarum hijau), perhatiannya terpusat kepada ilmunya itu sehingga kedatangan orang-orang yang sama sekali tak disangkanya itu tak diketahuinya. Padahal Mo-thian-kay itu selamanya tak pernah dikunjungi orang luar. Sekarang mendadak kedatangan tamu tak diundang sebanyak itu, maka Yan-khek insaf para pendatang itu tentu tidak bermaksud baik. Tapi ia menjadi besar hati pula ketika diketahui para pendatang itu berjumlah sembilan orang. Maklum, selama beberapa tahun ini yang dia kuatirkan hanya Ting Put-si yang berjuluk "Ce-jit-put-ko-si"
Itu.
Ia tahu betul, baik Ting Put-si maupun Ting Put-sam selamanya suka jalan sendirian dan tidak pernah bergerombol dengan orang banyak.
Kedua saudara sekandung itupun tidak akur satu sama lain dan jarang berada bersama.
Sekarang para pendatang itu berjumlah sembilan orang, terang diantara mereka tiada terdapat Ting Put-si, karena itulah iapun tidak perlu jeri lagi.
Waktu dia perhatikan lebih jauh, tiba-tiba ia mengenali tiga orang diantaranya, yaitu seorang tinggi kurus, seorang Tojin dan seorang bermuka jelek.
Itulah tiga orang yang telah mengeroyok dan membinasakan Tay-pi Lojin dahulu.
Yan-khek ingat betul menurut pengakuan mereka kepada Tay-pi Lojin bahwa mereka adalah orang-orang Tiang-lok-pang.
Sesaat itu timbul macam-macam pikiran dalam benak Cia Yankhek.
Tak peduli siapapun juga, kalau datangnya keatas Mothian-kay itu dilakukan secara diam-diam, terang ini terlalu memandang rendah kepadanya dan tidak gentar untuk memusuhinya.
Padahal selamanya dia tiada permusuhan apaapa dengan pihak Tiang-lok-pang.
Lalu apa maksud tujuan kedatangan mereka ini?
Jangan-jangan seperti halnya Tay-pi Lojin, merekapun akan memaksanya masuk menyadi anggota Tiang-lok-pang mereka?
Ia menaksir kekuatannya cukup untuk menghadapi ketiga orang yang sudah dikenalnya itu.
Tapi bagaimana harus melayani pula keenam orang yang lain?
Dilihatnya usia keenam orang yang lain itu semuanya sudah lebih 40 tahun, dua diantaranya terang memiliki Lweekang yang tinggi.
Kemudian ia lantas menyapa dengan tersenyum.
"Apakah saudara-saudara ini adalah sobat dari Tiang-lok-pang? Maafkan aku tidak menyambut kedatangan kalian secara mendadak ini. Entah ada kepentingan apa, mohon penjelasan."
Kesembilan orang itu serentak membalas hormat. Tadi mereka telah menyaksikan tenaga dalam Cia Yan-khek ketika memainkan "Pek-ciam-jing-ciang"
Tadi.
Mereka tidak menyangka kalau Cia Yan-khek sedang memusatkan perhatian dalam latihannya itu sehingga tidak tahu akan kedatangan mereka, sebaliknya mereka mengira Cia Yan-khek sengaja tidak gubris dan anggap enteng datangnya mereka itu.
Segera seorang tua diantaranya yang berbaju kuning menjawab.
"Kedatangan kami ini terlalu kurang sopan, diharap Ciasiansing suka memaafkan."
Melihat dandanan orang tua itu, mukanya pucat, bicaranya lemah seperti orang yang berpenyakitan, tiba-tiba Yan-khek ingat seseorang, segera ia bertanya.
"Apakah tuan ini adalah "Tiok-jiu-seng-jun"
Pwee-tayhu?"
Orang tua itu memang betul "Tiok-jiu-seng-jun" (sekali pegang lantas sembuh) Pwe-tayhu, sitabib sakti she Pwe.
Nama lengkapnya adalah Pwe Hay-ciok.
Ia merasa bangga juga demi mengetahui Cia Yan-khek mengenal namanya.
Ia batuk-batuk dua kali, lalu menjawab.
"Ah, Cia-siansing terlalu memuji saja. Julukan "Tiok-jiu-sengjun"
Itu sungguh malu aku menerimanya."
"Pwe-tayhu terkenal suka bertindak sendiri kemanapun pergi untuk menolong derita sesamanya, entah sejak kapan juga telah masuk kedalam Tiang-lok-pang?"
Tanya Yan-khek.
"Kekuatan seorang adalah terbatas, tapi kalau kekuatan orang banyak bergabung untuk kesejahteraan sesama manusia, maka kekuatan ini tentu akan besar,"
Sahut Pwe Hay-ciok.
"Cia-siansing, kedatangan kami ini memang terlalu sembrono, diharap engkau jangan marah. Sudah tentu kedatangan kami ini ada urusan penting yang harus disampaikan kepada Pangcu kami, maka sudilah Cia-siansing menghadapkan kami kepada beliau."
"Siapakah gerangan Pangcu kalian ?"
Yan-khek menegas dengan heran.
"Mungkin Cayhe sudah terlalu jarang berkecimpung dikangouw, maka pengetahuanku menjadi cetek sehingga nama Pangcu kalian juga tidak tahu. Tapi mengapa kalian mencarinya kesini ?"
Kesembilan orang itu tampak kurang senang atas jawaban Yan-khek itu. Pwe Hay-ciok meraba-raba jenggotnya yang pendek itu sambil batuk-batuk beberapa kali, lalu katanya pula.
"Cia-siansing, Ciok-pangcu kami adalah kawan karibmu dan selalu berada bersama, dengan sendirinya segenap anggota Tiang-lok-pang kami juga sangat menghormati Ciasiansing dan tak berani kurang sopan sedikitpun. Tentang gerak-gerik Ciok-pangcu kami, sebagai kaum bawahan selamanya kami tidak berani ikut campur. Soalnya adalah karena Pangcu sudah terlalu lama meninggalkan markas dan banyak urusan yang menantikan penyelesaiannya, ditambah lagi pada saat ini ada dua urusan maha penting yang mendesak, maka……..makanya begitu mendapat kabar bahwa Ciok-pangcu berada diatas Mo-thian-kay sini, segera juga kami menyusul kesini dengan cepat."
Bab 8.
Anak Anjing Berubah Menjadi Tiang-Lok-Pangcu Melihat cara bicara Pwe Hay-ciok itu sangat tulus, melihat sikap kesembilan orang itupun tiada bermaksud jahat meski semuanya bersenjata, diam-diam Cia Yan-khek mengetahui telah terjadi salah paham, maka jawabnya dengan tersenyum.
"Diatas Mo-thian-kay ini tiada meja kursi, sehingga telah mentelantarkan tamu-tamu terhormat, silakan kalian duduk saja diatas batu. Sebenarnya darimanakah Pwe-tayhu mendengar berita bahwa Ciok-pangcu kalian selalu berada bersama dengan aku? Padahal tidak sedikit kesatria-kesatria yang terhimpun didalam Pang kalian, dengan sendirinya Ciokpangcu kalian adalah seorang tokoh terkemuka, sebaliknya aku hanya seorang gunung miskin yang tiada suka bergaul, mana bisa berkumpul dengan kesatria ternama sebagai Ciok-pangcu kalian. Hehe, lucu, sungguh lucu."
Pwe Hay-ciok menjadi ragu-ragu.
Ia menduga sebabnya Cia Yan-khek tidak mau mengakui kenal Ciok-pangcu mereka, tentu didalam hal ini ada apa-apa yang tak dapat diterangkan.
Maka ia lantas memberi tanda kepada kawan-kawannya dan berkata.
"Saudara-saudara sekalian, silakan duduk untuk bicara."
Nyata sekali Pwe Hay-ciok adalah pemimpin dari kesembilan oran ini.
Maka kawan-kawannya itu lantas mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.
Ada yang duduk diatas batu cadas, ada yang duduk didahan pohon yang rendah, Pwe Hay-ciok duduk diatas gundukan tanah.
Kesembilan orang itu telah memasukkan kembali senjatasenjata mereka dan berduduk semua, tapi posisi kepungan mereka terhadap Cia Yan-khek masih tidak berubah.
Keruan diam-diam Yan-khek menjadi gusar, pikirnya.
"Sikap kalian ini benar-benar terlalu kasar padaku. Jangankan aku memang tidak tahu Ciok-pangcu kalian, andaikan tahu juga masakah aku dapat dipaksa untuk mengatakan ?"
Segera ia hanya tersenyum-senyum dingin saja sambil menengadah, terhadap orang-orang disekitarnya ia anggap sepi saja dan tak menggubris. Padahal "Tiok-jiu-seng-jun"
Pwe Hay-ciok itu sekalipun tidak lebih tinggi kedudukannya didunia persilatan dibandingkan Cia Yan-khek, paling tidak juga setingkat.
Sekarang Cia Yan-khek sengaja bersikap sedemikian angkuhnya, hal ini juga keterlaluan.
Namun Pwe Hay-ciok masih mengingat kehormatan Pangcu mereka dan tetap bicara dengan ramah.
"Cia-siansing, sesungguhnya ini adalah urusan rumah tangga Pang kami, jika engkau sampai terlibat, sungguh kami merasa tidak enak. Maka kami hanya minta Cia-siansing suka menghadapkan kami kepada Pangcu dan dengan sendirinya kami akan berterima kasih dan nanti akan minta maaf pula padamu."
Kalau mengingat nama besar dan watak "Tiok-jiu-seng-jun"
Pwe Hay-ciok yang terkenal disegani dan angkuh itu, sekarang dia bicara sedemikian ramahnya, hal ini boleh dikata jarang terjadi. Tapi Yan-khek tetap menjawab dengan dingin.
"Pwe-tayhu, engkau adalah kesatria ternama di Kangouw, setiap ucapan seorang laki-laki sejati harus dapat dipercaya, bukan ?"
Mendengar pertanyaan Cia Yan-khek yang bernada gusar itu, diam-diam Pwe Hay-ciok menjadi was-was, sahutnya.
"Ah, Ciasiansing terlalu sungguh-sungguh."
"Dan kalau ucapan Pwe-tayhu adalah kata-kata tulen, apakah ucapanku ini adalah kentut ?"
Kata Yan-khek pula.
"Sejak tadi aku sudah menyatakan tidak pernah melihat Ciok-pangcu kalian, tapi kalian tetap tidak percaya. Jika demikian, apakah kalian adalah laki-laki sejati dan orang she Cia ini adalah kaum pembohong ?"
"Ah, ucapan Cia-siansing terlalu sungguh-sungguh, orangorang Tiang-lok-pang kami selamanya juga sangat menjunjung tinggi kepada Cia-siansing,"
Sahut Pwe Hay-ciok sambil terbatuk-batuk.
"Jika Cia-siansing tidak suka menghadapkan kami kepada Pangcu kami, tiada jalan lain terpaksa kami mesti mencarinya sendiri."
Air muka Cia Yan-khek merah padam menahan rasa gusar, katanya.
"Jadi bukan saja Pwe-tayhu tidak percaya kepada ucapanku, bahkan hendak bertindak secara sewenang-wenang ditempat tinggalku ini?"
"Ah, tidak, mana kami berani ?"
Sahut Pwe Hay-ciok.
"Sungguh memalukan kalau dibicarakan. Tiang-liok-pang telah kehilangan Pangcu dan mesti minta orang menemukan Pangcu mereka, kalau cerita ini tersiar tentu akan dibuat bahan tertawaan orang Kangouw. Maka kami terpaksa hanya akan mencari sekadarnya saja, harap Cia-siansing jangan salah paham."
Sungguh dongkol Yan-khek tak terkatakan. Pikirnya.
"Diatas Mo-thian-kay ini darimana ada mereka punya Pangcu kentut apa segala? Dasar mereka ini adalah kawanan perusuh, tentang mencari Pangcu apa jelas hanya sebagai alasan saja. Kalau sekarang mereka telah mengincar diriku, biarpun darahku mesti membasahi puncak gunung ini juga aku tidak gentar."
Iapun insaf keadannya sekarang sangat berbahaya.
Melulu menghadapi Pwe Hay-ciok seorang saja paling banter dirinya cuma mampu melawannya dengan sama kuat, inipun sudah berkat kemajuan pesat kekuatan yang dilatihnya selama beberapa tahun paling akhir.
Sekarang pihak lawan ditambah lagi delapan jago pilihan, maka sangat sulitlah baginya untuk menyelamatkan diri.
Tiba-tiba ia mendapat akal.
Mendadak pandangannya beralih kesebelah kanan, air mukanya mengunjuk rasa terkejut sambil mengeluarkan suara heran perlahan.
Karena itu sinar mata kesembilan orang itu lantas memandang kearah yang dituju Cia Yan-khek itu.
Pada saat itulah mendadak Yan-khek bergerak, secepat kilat ia memutar kesamping sitinggi kurus, yaitu Bi-hiangcu yang sudah dikenalnya itu, segera ia hendak mencabut pedang yang tergantung dipinggang kawan itu.
Ketika tidak melihat apa-apa diarah yang dipandang itu dan segera merasa berkesiurnya angin dan tahu-tahu musuh sudah berada disampingnya, secepat kilat Bi-hiangcu juga lantas bertindak, tangannya bekerja lebih cepat daripada tangan Cia Yan-khek dan mendahului memegang pedang sendiri dan "sret"
Senjata itu segera dilolosnya.
Tapi baru saja sinar pedangnya berkelebat, sekonyongkonyong bagian iga dan punggungnya terasa kesakitan, Hiat-to bagian iga sudah tertutuk dan punggungnya sudah dicengkeram oleh Cia Yan-khek.
Kiranya Cia Yan-khek insaf bukan tandingan kesembilan orang itu, dia pura-pura terkejut sambil memandang kesebelah kanan hanya sebagai pancingan saja, gerakannya hendak merebut pedang itupun pancingan belaka.
Sebab Bi-hiangcu yang tidak mau kehilangan senjatanya tentu akan mempertahankannya dengan mati-matian, sebaliknya bagian iga dan punggung dengan sendirinya terbuka sehingga kena ditawan Cia Yankhek.
Kalau tidak, biarpun kepandaiannya lebih rendah juga tidak mungkin ditundukkan hanya dalam satu-dua gebrakan saja.
Yan-khek sendiri dahulu sudah pernah menyaksikan caranya Bi-hiangcu menempur Tay-pi Lojin dan caranya menggunakan Kui-thau-to memapas rambut sianak muda, maka ia cukup paham jalannya ilmu pedang Bi-hiangcu, dan untung juga sekali coba lantas berhasil.
Maka dengan tersenyum Yan-khek lantas berkata.
"Maaf, Bihiangcu."
Sebaliknya Pwe Hay-ciok lantas tanya dengan bingung.
"Ciasiansing, apa maksudmu ini? Apakah engkau benar-benar melarang kami untuk mencari Pangcu kami?"
"Kalau kalian hendak membunuh orang she Cia tentunya tidak sukar, hanya saja mesti diiringi dengan beberapa lembar jiwa pula,"
Sahut Yan-khek.
"Selamanya kita tiada permusuhan apa-apa, masakah kami bermaksud jahat kepada Cia-siansing?"
Sahut Pwe Hay-ciok dengan tersenyum getir.
"Apalagi dengan ilmu silat Ciasiansing yang aneh dan banyak perubahannya secara mendadak, biarpun kami ada maksud jahat juga tak mampu meng-apa-apakan Cia-siansing. Kita adalah sahabat baik, silakan melepaskan Bi-hiangcu saja."
Diam-diam iapun kagum melihat Cia Yan-khek dalam satu gebrakan saja sudah dapat menawan Bi-hiangcu.
Tapi sebagai ahli silat, sebenarnya betapa kemampuan pihak lawan sekali lihat saja sudah dapat diukurnya.
Ia tahu sebabnya Cia Yankhek berhasil menawan Bi-hiangcu adalah karena kelicikannya dengan serangannya secara mendadak, jadi bukan dengan kepandaian yang sejati.
Sebab itulah dalam ucapannya tadi dia menyatakan ilmu silat Cia Yan-khek itu aneh dan banyak perubahannya secara mendadak.
Saat itu Cia Yan-khek mencengkeram "Tay-cui-hiat"
Dipunggung Bi-hiangcu, asal dia kerahkan tenaga dalamnya, seketika urat nadi jantung Bi-hiangcu itu akan putus dan binasa. Maka ia telah menjawab.
"Asal kalian segera pergi dari Mo-thian-kay ini, sudah tentu aku akan segera melepaskan Bihiangcu."
"Apa susahnya untuk pergi?"
Kata Pwe Hay-ciok.
"Sekarang pergi, sebentar dapat datang lagi."
"Pwe-tayhu,"
Kata Yan-khek dengan menarik muka.
"Secara ngotot kau merecoki diriku, sebenarnya apa maksud tujuanmu?"
"Maksud tujuan apa? O, ya, saudara-saudaraku, apa maksud tujuan kita ?"
Demikian Pwe Hay-ciok sengaja mengulangi pertanyaan Cia Yan-khek itu. Sejak tadi ketujuh orang kawannya hanya tinggal diam saja, sekarang mereka menjawab serentak.
"Kita ingin bertemu dengan Pangcu dan menyambut Pangcu pulang Congtho (markas besar)."
"Bicara kesana kesini ternyata kalian tetap menuduh aku telah menyembunyikan Pangcu kalian ?"
Yan-khek menegas dengan gusar.
"Cia-siansing, sesungguhnya didalam urusan ini ada sesuat yang tak dapat kami terangkan dan terpaksa kami harus bertemu dulu dengan Pangcu kami,"
Sahut Pwe Hay-ciok. Lalu ia berpaling kepada seorang kawannya yang bertubuh tinggi besar, katanya.
"In-hiangcu, silakan kau bersama para saudara coba melongok kesekitar sini, bila melihat Pangcu hendaklah segera beritahukan padaku."
In-hiangcu yang disebut itu bersenjatakan sepasang tombak pendek, ia memanggut dan mengiakan. Lalu serunya.
"Marilah kawan-kawan, Pwe-siansing ada perintah agar kita coba mencari Pangcu dulu."
Keenam orang lain serentak mengiakan.
Ketujuh orang lantas mundur beberapa langkah, mendadak mereka membalik tubuh terus berlari keluar hutan.
Walaupun Cia Yan-khek sudah menawan seorang lawan, tapi orang-orang Tiang-lok-pang ternyata tidak kena digertak dan sama sekali tidak memikirkan mati-hidupnya Bi-hiangcu yang tertawan, mereka tetap menjalankan tugasnya masing-masing, hanya tertinggal Pwe Hay-ciok sendiri masih tetap berada disitu, nyata sekali untuk mengawasi dia dan bukan untuk berusaha menolong Bi-hiangcu.
Diam-diam Yan-khek membatin.
"Jika kalian tidak menemukan Pangcu kalian yang memang tiada disini itu, sekembalinya nanti tentu kalian akan merecoki aku lagi. Sianak muda pernah mengembalikan medali wasiat padaku, hal ini telah menggemparkan dunia Kangouw, maka sebentar lagi pemuda itu tentu akan ditawan oleh mereka dan ini berarti Tiang-lok-pang memiliki suatu senjata lagi untuk membikin aku tak berdaya. Rasanya sekarang tak berpaedah untuk bercekcok dengan mereka, paling perlu aku harus berusaha meloloskan diri dahulu."
Ia lihat ketujuh orang Ciang-lok-pang sudah menghilang diluar hutan.
Mendadak telapak tangan kiri menolak kepunggung Bihiangcu terus didorong sekuatnya.
Jurus ini disebut "Bun-caybu-wi" (satu halus dan satu kasar), yaiut dengan kiri menggunakan tenaga Im dan tangan kanan memakai tenaga Yang.
Tubuh Bi-hiangcu itu diperalat olehnya sebagai senjata yang ampuh terus ditolak kearah Pwe Hay-ciok.
Terpaksa Cia Yan-khek harus melakukan serangan kilat, sebab ia cukup tahu Lwekang Pwe Hay-ciok sangat lihay, hanya saja diwaktu mudanya Pwe Hay-ciok pernah terluka dalam dan penyakit itu takbisa disembuhkan seluruhnya, sebab itulah ilmu silatnya telah banyak terpengaruh.
Dan karena Pwe Hay-ciok sendiri menderita sakit dalam sehingga lama-lama dia menjadi pandai ilmu pertabiban, dari situlah dia memperoleh julukan sebagai Pwe-tayhu, padahal dia bukan seorang tabib sungguhsungguh.
Walaupun demikian ilmu silatnya tetap luar biasa lihaynya, hal ini terbukti pada sembilan tahun yang lalu, dalam semalam saja dia telah membunuh "Ek-tiong-sam-sat" (Tiga malaikat maut Opak) yang masing-masing tinggal di tempat tempat yang tidak sama dalam jarak 200 li jauhnya.
Peristiwa itu telah menggemparkan dunia persilatan pada waktu itu.
Sebab itulah meski Cia Yan-khek melihat Pwe Hay-ciok berulang-ulang terbatuk-batuk seperti orang sakit tebese, tapi iapun tidak berani ayal sedikitpun, maka sekali serang lantas menggunakan kekuatan sepenuhnya.
Pwe Hay-ciok lantas batuk-batuk lagi ketika mendadak diserang, katanya.
"Ai, Cia-siansing……….huk-huk……..mengapa mesti menggunakan kekerasan ?" ~ Terpaksa iapun memapak dengan kedua telapak tangan untuk menahan dada Bi-hiangcu yang ditolak kearahnya itu, berbareng itu mendadak dengkul kaki kiri terus mendengkul keatas sehingga tepat mengenai perut Bi-hiangcu, kontan tubuh Bi-hiangcu tertolak keatas dan mencelat kebelakangnya. Dengan demikian kedua telapak tangannya menjadi seakan-akan menolak kedada Cia Yan-khek sekarang. Perubahan jurus ini sungguh terlalu cepat dan sangat aneh, biarpun Cia Yan-khek sangat luas pengalamannya jua merasa kaget atas kejadian itu. Tiada jalan lain kecuali kedua tangannya digunakan untuk menyambut tolakan Pwe Hay-ciok itu. Tapi begitu keempat tangan beradu, Yan-khek merasa ujung jari-jari seperti ditusuk oleh beribu-ribu jarum. Cepat Yan-khek mengerahkan tenaga dalam tapi sekonyong-konyong terasa "blong" , pusat tenaganya terasa kosong dan susah dikerahkan. Sekilas itu tahulah dia bahwa karena latihannya tadi dia sudah menghabiskan tenaga dalam sendiri sehingga sekarang tidak mungkin mengadu tenaga dalam pula dengan lawan. Cepat ia tekan kedua tangan kebawah untuk menghantam perut lawan. Tapi Pwe Hay-ciok juga lantas tarik tangan kebawah untuk menahan serangannya. Sekonyong-konyong kedua lengan baju Cia Yan-khek mengebas dengan kuat untuk menyabet muka Pwe Hay-ciok. Serangan ini sangat lihay tampaknya. Tapi Pwe Hay-ciok sudah dapat melihat kelemahan musuh, namun demikian dia hanya mengegos untuk menghindar dan tidak balas menyerang. Kesempatan itu lantas digunakan Cia Yan-khek untuk menarik kembali lengan bajunya, berbareng tubuhnya terus melayang kebelakang dengan kekuatan angin serangan yang ditarik kembali itu. Ia memberi salam dan berseru.
"Maafkan, mohon pamit dulu, sampai berjumpa pula" . ~ Sambil bicara iapun terus mundur dengan cepat, sikapnya tetap keras dan gerakannya sebat, sedikitpun tidak kentara kalau dia sebenarnya hendak melarikan diri. Berturut-turut ia telah menyerang tiga kali dan tahu keadaan tidak menguntungkan, maka cepat ia lantas mengundurkan diri, jadi tidak dapat dianggap kalah. Walaupun dia dipaksa kabur dari Mo-thian-kay, tapi dia dikepung sembilan orang lawan, malahan dia dapat menjatuhkan Bi-hiangcu dari pihak musuh, hal ini sebaliknya cukup mematahkan semangat jagojago Tiang-lok-pang tadi. Maka ketika dia melompat turun dari tebing Mo-thian-kay yang tinggi dan curam itu, rasa lega dan senangnya ada lebih besar daripada rasa penasaran dan dongkolnya. Tapi baru beberapa li ia berlari, tiba-tiba ia merasa jari-jari tangan agak kesakitan. Ia coba memeriksa jari-jari itu, ternyata ujung tiap-tiap jari itu semuanya merah dan agak bengkak. Diam-diam ia terkejut akan lihaynya tenaga dalam Pwe Hay-ciok. Maka ia tidak berani berlari cepat lagi, tapi berjalan dengan perlahan dan mencari suatu tempat yang sepi untuk mengatur Lwekang dan menjalankan darahnya………. Dilain pihak, demi nampak Cia Yan-khek kabur meninggalkan Mo-thian-kay, Pwe Hay-ciok menjadi terheran-heran.
"Dia adalah sahabat karib Ciok-pangcu, mengapa dia menggunakan serangan seganas ini terhadap Bi-hiangcu? Sungguh tingkahlakunya benar-benar susah untuk dipahami."
Segera ia membangunkan Bi-hiangcu dan menempelkan kedua telapak tangannya dipunggung sang kawan dan menyalurkan tenaga dalam.
Selang sejenak, perlahan-lahan Bi-hiangcu dapat membuka matanya dan berkata dengan lemah.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Pwe-tayhu."
"Bi-hiante hendaklah rebah dan mengaso saja, sekali-kali engaku jangan menggunakan tenaga,"
Ujar Pwe Hay-ciok. Kiranya jurus "Bun-cay-hu-wi"
Yang dikeluarkan Cia Yan-khek tadi, tujuannya bukan saja untuk membinasakan Bi-hiangcu, bahkan merupakan serangan maut terhadap Pwe Hay-ciok.
Kalau Pwe Hay-ciok menahan tubuh Bi-hiangcu dengan tenaga dalam, maka digencet dari muka dan belakang, tentu seketika Bi-hiangcu akan mati.
Sebab itulah Pwe Hay-ciok hanya menahan sedikit dadanya Bi-hiangcu, berbareng dengkul kaki menyontak tubuh Bi-hiangcu hingga mencelat kebelakang, dengan demikian barulah jiwa Bi-hiangcu dapat diselamatkan.
Walaupun demikian, toh lukanya juga tidak ringan, andaikan dapat disembuhkan juga susah pulih kembali seperti semula dalam waktu beberapa tahun.
Perlahan-lahan Pwe Hay-ciok menaruh tubuh Bi-hiangcu diatas tanah, lalu menggunakan tenaga dalam untuk mengurut dada dan perutnya.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara orang.
"Pangcu berada disini, Pangcu berada disini!"
Girang Pwe Hay-ciok tak terhingga, katanya kepada Bihiangcu.
"Bi-hiante, keadaanmu sudah tidak berbahaya lagi, engkau mengaso dulu disini, aku hendak pergi menemui Pangcu dahulu." ~ Lalu ia berlari kearah datangnya seruan tadi. Diam-diam ia merasa bersyukur sang Pangcu telah diketemukan, kalau tidak, bukan mustahil Tiang-lok-pang mereka akan pecah berantakan tak keruan. Setelah berlari-lari, akhirnya ia melihat diatas sepotong batu cadas berduduk seorang. Dipandang dari samping memang betul adalah sang Pangcu. Pula In-hiangcu dan keenam kawan yang lain tampak berdiri didepan batu dengan sikap sangat menghormat. Cepat Pwe Hay-ciok mendekati mereka. Tatkala itu sang surya sedang memancarkan sinarnya yang terang sehingga wajah orang itu dapatlah terlihat dengan jelas, tertampak alisnya yang tebal dan mata besar, raut mukanya lonjong, siapa lagi kalau bukan Ciok-pangcu yang sedang dicarinya? "Pangcu, baik-baikkah engkau ?"
Seru Pwe Hay-ciok dengan girang.
Tapi tiba-tiba dilihatnya air muka sang Pangcu mengunjuk rasa derita sakit yang aneh, muka sebelah kiri tampak bersemu kehijau-hijauan, sebaliknya muka sebelah kanan kemerahmerahan seperti orang mabuk arak.
Sebagai seorang tokoh persilatan, pula mahir ilmu pertabiban, segera Pwe Hay-ciok melihat keadaan sang Pangcu yang luar biasa itu, ia terkejut.
"He, rupanya Pangcu sedang melatih semacam Lwekang yang sangat hebat. Wah, celaka, boleh jadi lantaran kedatangan kami yang sembrono ini, maka telah mengganggu ketenangan latihannya."
Sesaat itu ia merasa macam-macam tanda tanya yang tersekam di dalam benaknya selama ini menjadi terjawab .
"Kiranya Pangcu telah memperoleh ‘Bu-kang-pit-kip’ (kitab rahasia ilmu silat) apa-apa, makanya dia menghilang sampai setengah tahun lamanya dan susah diketemukan. Tentu Ciasiansing itu mengetahui latihan Pangcu sedang mencapai detik yang paling gawat dan tidak boleh diganggu oleh siapapun juga, makanya betapapun dia tidak mau menghadapkan kami kepada Pangcu. Ai, maksud baiknya itu telah disalah terima oleh kami sehingga membikin susah padanya, sungguh tidak pantas. Melihat keadaan Pangcu ini, agaknya hawa panas dan dingin tubuhnya sedang bergolak dan susah dihimpun menjadi satu, jika terjadi sesuatu kesalahan, tentu beliau akan celaka, sungguh berbahaya sekali."
Maka cepat ia memberi tanda agar kawan-kawannya itu mundur semua sehingga belasan meter jauhnya dari tempat sang Pangcu.
Lalu dengan suara perlahan ia menjelaskan keadaan itu.
Semua orang lantas paham duduknya perkara dan bergirang tercampur kuatir.
Ada yang bertanya apakah sang Pangcu berbahaya?
Ada pula yang menyesal tindakan mereka yang semberono sehingga telah mengganggu latihan sang Pangcu.
Pwe Hay-ciok lantas berkata.
"Bi-hiangcu telah dilukai oleh Ciasiansing itu. Sekarang salah seorang saudara hendaklah pergi menjaganya. Aku sendiri akan menjaga disini dan mungkin akan dapat membantu Pangcu bilaman keadaan perlu. Kawankawan yang lain silakan mengawasi sekitar tempat ini dan jangan sekali-kali bersuara keras. Kalau ada musuh datang boleh dibereskan secara diam-diam dan jangan sekali-kali membikin kaget Pangcu."
Jago-jago Tiang-lok-pang itu mengiakan perintah Pwe Hay-ciok dan menjaga disekitar puncak Mo-thian-kay itu.
Pwe Hay-ciok sendiri lantas mendekati Ciok-pangcu, ia lihat muka sang Pangcu berkerut-kerut, sekujur badannya berkejang, mulutnya tampak terpentang ingin berteriak, tapi takdapat mengeluarkan suara sedikitpun.
Terang itulah tanda tenaga dalamnya tersesat dan jiwanya terancam bahaya dalam waktu singkat.
Keruan Pwe Hay-ciok terkejut.
Ia ingin memberi pertolongan, tapi ia tidak tahu Lwekang apa yang sedang dilatih sang Pangcu.
Kalau secara ngawur ia memberi pertolongan, bukan mustahil akan mempercepat kematian orang yang ditolong itu malah.
Ia lihat pakaian sang Pangcu yang memangnya compangcamping itu menjadi koyak-koyak dan hancur karena dicakar dan dirobek kedua tangan sendiri, bahkan badannya berlumuran darah.
Sebaliknya ubun-ubun kepalanya tampak menguap.
Pikirnya.
"Ilmu silat Ciok-pangcu memang sangat aneh dan lihay serangannya, tapi tenaga dalamnya masih cetek. Namun melihat uap yang mengepul diatas kepalanya sekarang, terang Lwekangnya ini sudah terlatih sampai puncaknya. Sungguh aneh, mengapa hanya didalam waktu setengah tahun saja dia memperoleh kemajuan sedemikian pesatnya ? Hal ini membuktikan bahwa ilmu yang dilatihnya ini benar-benar luar biasa."
Selagi merasa ragu-ragu dan tak berdaya, sekonyong-konyong Pwe Hay-ciok mengendus bau sangit, dilihatnya baju bagian pundak kanan sang Pangcu mengepulkan asap tipis.
Itulah benar-benar tanda terbakar karena salah melatih dan dalam sekejap saja penderita itu dapat binasa seketika.
Karena terkejut, segera Pwe Hay-ciok mengulur tangan untuk menahan "Jing-leng-hiat"
Dilengan kanan sang Pangcu, maksudnya hendak membikin tenang pikiran sipenderita untuk sementara waktu.
Tak terduga baru saja jarinya menempel lengannya, ia merasa seluruh badannya menggigil kedinginan, ia tidak berani mengerahkan tenaga untuk melawan, terpaksa menarik kembali tangannya.
Pikirnya dengan heran.
"Lwekang aneh apakah ini? Mengapa setengah badannya mengepul panas, sebaliknya separuh badan yang lain sedingin ini?"
Selagi Pwe Hay-ciok ragu-ragu cara bagaimana harus berbuat, tiba-tiba tertampak tubuh sang Pangcu berkerut-kerut dan akhirnya meringkuk dengan tangan memegang kepala sendiri terus terguling jatuh kebawah.
Sesudah kejang beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.
"Pangcu! Pangcu!"
Seru Hay-ciok.
Ia coba periksa hidungnya, syukurlah masih dapat bernapas.
Hanya sangat lemah, seakanakan setiap saat bisa berhenti bernapas.
Pwe Hay-ciok mengerut kening kuatir.
Cepat ia bersuit memanggil kawan-kawannya, lalu ia membangunkan sang Pangcu dan disandarkan pada batu cadas besar itu.
Tidak lama kemudian berturut-turut kawannya sudah berkumpul.
Ketika melihat muka sang Pangcu sebentar merah membara dan sebentar lagi pucat seakan-akan kedinginan, badannya yuga bergemetar, keruan mereka ikut kaget.
Dengan sorot mata penuh tanda tanya mereka pandang Pwe Hay-ciok.
"Terang Pangcu sedang melatih semacam Lwekang yang maha hebat, apakah dia telah salat latih, seketika akupun belum tahu dengan pasti,"
Demikian kata Pwe Hay-ciok.
"Urusan ini memang serba sulit dan menyangkut Pang kita, maka diharap saudara-saudara ikut memberi saran yang baik."
Namun tiada seorangpun yang bersuara.
Semuanya saling pandang dengan bingung.
Kalau Pwe-tayhu saja tak berdaya apalagi kita orang?
Demikian pikir mereka.
Dalam pada itu Bi-hiangcu yang telah dipayang kawankawannya dan ikut berkumpul disitu lantas berkata dengan suara lemah.
"Pwe-tayhu, apa yang kau anggap paling baik, maka bolehlah dijalankan, betapapun pikiranmu jauh lebih sempurna daripada kami."
Pwe Hay-ciok memandang sekejap kearah Ciok-pangcu, lalu berkata.
"Keempat golongan paling berpengaruh dari Kwantang telah berjanji akan berkunjung kemarkas besar kita pada Tiong-yang-ce (hari raya tanggal 9 bulan 9) nanti, temponya sekarang sudah sangat mendesak dan tinggal sebulan lagi. Urusan ini menyangkut mati atau hidupnya Pang kita, tentu saudara-saudara sendiri sudah tahu bahwa keempat golongan besar dari Kwantang itu hanya tampil kemuka sebagai pelopor saja, tapi sebenarnya masih banyak pihak-pihak lain yang diam-diam ingin…….huk, huk, ingin menjungkalkan Tiang-liokpang kita. Dan bila Pang kita sampai dirobohkan oleh Kwantang-si-pay (keempat golongan dari Kwantang) sehingga pecah berantakan, maka jangankan kita hendak berkecimpung pula didunia Kangouw, sekalipun mencari suatu tempat untuk menyelamatkan diri rasanya juga………juga susah."
"Ucapan Pwe-tayhu memang benar,"
Ujar In-hiangcu.
"Bagaimana Tiang-liok-pang kita dalam pandangan orangorang Kangouw kita cukup mengetahui. Segala sesuatu kita biasanya suka bertindak dan berbuat secara tegas dan blakblakan, kita tidak suka meniru cara-cara kaum pengecut, dengan sendirinya kita telah banyak membikin sirik orangorang lain. Dalam urusan-urusan sekarang ini kalau tiada Pangcu sendiri yang tampil kemuka, mungkin……………….mungkin……..ai……….."
"Ya, sebab itulah kita harus cepat mengambil keputusan,"
Sahut Pwe Hay-ciok.
"Menurut pendapatku, kita harus cepat menyambut Pangcu pulang kemarkas besar. Tapi penyakit yang diderita Pangcu sekarang ini tampaknya tidak ringan, berkat rejeki beliau kalau dalam waktu sepuluh hari atau setengah bulan beliau dapat sembuh kembali, maka inilah yang sangat kita harapkan. Kalau tidak, asalkan Pangcu sendiri sudah berada dimarkas, sekalipun kesehatannya belum pulih, namun beliau sudah cukup untuk memberi dorongan semangat kepada kita untuk menghalau musuh bersama. Betul tidak saudara?"
"Ya, ucapan Pwe-tayhu memang betul,"
Sahut semua orang.
"Jika demikian, marilah kita lekas membuat dua usungan untuk membawa pulang Pangcu dan Bi-hiangcu"
Kata Pwe Hay-ciok pula.
Beramai-ramai mereka lantas terpencar untuk melakukan tugas, ada yang menebang dahan pohon, kulit pohon dipuntir menjadi tambang yang kuat, maka dalam waktu singkat dua buah usungan sudah selesai disiapkan.
Mereka mengikat kuatkuat sang Pangcu dan Bi-hiangcu diatas usungan itu agar tidak terjatuh diwaktu mereka menuruni tebing curam itu.
Kedelapan orang menggotong usung-usungan itu secara bergiliran dan meninggalkan Mo-thian-kay.
Siapakah Ciok-pangcu yang dibawa pulang orang-orang Tianglok-pang itu.
Ia tak lain tak bukan adalah sianak muda penemu medali wasiat itu.
Pada hari itu ia sedang melatih Lwekang menurut cara-cara yang diajarkan Cia Yan-khek padanya.
Sampai lohor, tiba-tiba ia merasa hawa panas merangsang naik melalui urat nadi, bagian kaki dan tangan sebelah kanan terasa panas sebagai dibakar.
Berbareng itu urat nadi kaki dan tangan sebelah kiri terasa kedinginan seperti direndam es.
Jadi yang panas keliwat panas dan yang dingin terlalu dingin, keduanya takdapat dibaurkan menjadi satu.
Kiranya sesudah berlatih dengan giat selama beberapa tahun, maka tenaga dalam anak muda itu sudah tambah hebat dan maju dengan pesat, sampai lohor hari itu "Yam-yam-kang"
Yang dilatihnya itu sudah jadi.
Menurut perhitungan Cia Yan-khek, bilamana Yam-yam-kang yang dilatih itu sudah jadi, seketika tenaga Yam-yam-kang yang maha panas itu akan saling terjang dan saling gontok dengan Lwekang "Han-ih-bian-ciang"
Yang maha dingin, akibatnya jiwa anak muda itu tentu akan melayang.
Sekarang anak muda itu ternyata tidak tahan sampai setengah jam dan orangnya lantas tak sadarkan diri, sampai sekian lamanya ia tetap tak sadar, sebentar ia merasa seluruh badannya panas seperti dipanggang, keringat bercucuran dan mulut terasa kering, lain saat ia merasa kedinginan seperti tertutup didalam gudang es, sampai darahpun seakan-akan membeku.
Begitulah ia terus tersiksa oleh rasa panas dan dingin secara bergilir, lapat-lapat iapun tahu ada orang berada disekitarnya, ada lelaki, ada wanita dan sedang bicara, tapi sedikitpun ia tidak tahu apa yang sedang dipercakapkan mereka.
Ia sendiri ingin berteriak tapi susah membuka mulut.
Ia merasa pandangannya terkadang terang dan terkadang gelap, ia merasa sering kali diberi makan dan minum oleh orang lain, apa yang diminum itu terkadang rasanya sangat pahit, ada kalanya juga sangat manis, tapi entah apa yang diminum dan dimakannya itu.
Keadaan yang gelap dan membingungkan itu entah sudah berapa lamanya berlangsung, ketika pada suatu hari mendadak ia merasa dahinya menjadi segar, hidungnya lantas mengendus bau harum.
Perlahan-lahan ia coba membuka matanya, yang pertama-tama terlihat ada sebatang lilin dengan apinya yang ter-guncang2 perlahan.
Menyusul lantas terdengar suara orang yang sangat halus dan merdu berkata.
"Ah, akhirnya kau sadar juga!"
Anak muda itu berpaling kearah suara itu, ia melihat pembicara itu adalah seorang anak dar berumur 17-18 tahun, berbaju hijau pupus, raut mukanya potongan daun sirih, cantiknya susah dilukiskan.
Biji mata anak dara itu mengerling bening, dengan suara perlahan telah berkata pula.
"Bagian manakah yang terang tidak enak?"
Namun anak muda itu masih merasa bingung.
Ia ingat ketika itu dirinya sedang berlatih diatas Mo-thian-kay, mendadak sebelah badannya terasa panas dan sebelah badan yang lain terasa dingin, dalam kaget dan bingungnya itu ia lantas jatuh pingsan.
Dan mengapa didepannya sekarang muncul seorang anak dara jelita?
Ia hendak menjawab, tapi lantas merasa dirinya merebah disebuah ranjang yang empuk, bahkan badannya berselimut, segera ia hendak bangun, tapi baru sedikit bergerak, seketika anggota badannya serasa dicocok beribu-ribu jarum, sakitnya tidak kepalang, tanpa terasa ia menjerit.
"Kau baru saja mendusin, janganlah bergerak,"
Demikian anak dara tadi berkata.
"Terima kasihlah kepada Thian yang maha murah, akhirnya jiwamu ini dapat diselamatkan."
Habis bicara, mendadak mukanya yang cantik itu bersemu merah, dengan kemalu-maluan ia lantas berpaling kearah lain.
Jantung sianak muda memukul keras.
Ia merasa si nona ini cantik tak terkirakan dan sangat menggiurkan.
Akhirnya ia coba berkata.
"Ber…………….berada dimanakah diriku ini?"
"Ssssst!"
Mendadak anak dara itu mengacungkan jarinya kedepan mulut sebagai tanda jangan bersuara. Lalu ia berbisikbisik.
"Ada orang datang, aku harus pergi dahulu." ~ Dan sekali melesat, cepat sekali ia sudah melompat keluar melalui jendela. Ketika anak muda itu berkedip, tahu-tahu sinona sudah menghilang. Hanya terdengar diatas wuwungan rumah ada suara orang berjalan dengan perlahan, tapi cepat sekali lantas menjauh.
"Siapakah dia? Apakah dia akan datang menjenguk diriku pula?"
Demikian sianak muda berpikir dengan bingung.
Selang sejenak, tiba-tiba diluar pintu ada suara tindakan orang, lalu ada orang berbatuk-batuk beberapa kali, menyusul pintu berkeriut dan didorong terbuka, maka masuklah dua orang.
Sianak muda melihat yang datang itu diantaranya ada seorang tua, tampaknya berpenyakitan.
Seorang lagi tinggi kurus dan seperti sudah dikenalnya.
Ketika melihat sianak muda itu sudah sadar, siorang tua menjadi girang, ia lantas mendekati dan berkata.
"Pangcu, bagaimana rasanya penyakitmu? Air mukamu hari ini tampak jauh lebih segar."
"Kau………..kau panggil apa padaku? Ak…………aku berada dimanakah ini?"
Sahut sianak muda. Sekilas siorang tua tampa merasa sedih, tapi segera mukanya berseri-seri, jawabnya dengan tertawa.
"Pangcu telah jatuh sakit beberapa hari lamanya, sekarang pikiranmu sudah jernih kembali, sungguh harus diberi selamat dan bersyukur. Sekarang silakan Pangcu mengaso dan tidur saja, besok hamba akan datang menjenguk Pangcu lagi."
Lalu ia memegang sebentar nadi tangan sianak muda, katanya kemudian sambil mengangguk.
"Denyut nadi Pangcu sudah teratur dan kuat, sedikitpun tiada berbahaya lagi. Pangcu sungguh-sungguh seorang berejeki besar, segenap anggota Pang kitapun ikut bahagia."
"Aku…………..aku bernama ‘Kau-cap-ceng’ dan bu…………bukan ‘Pangcu’, kata sianak muda itu dengan heran dan bingung. Siorang tua dan sikurus tampak melengak demi mendengar jawaban itu. Mereka saling pandang sekejap, lalu berkatadengan suara perlahan.
"Harap Pangcu mengaso saja." ~ Mereka mundur beberapa langkah, lalu memutar tubuh dan keluar dari kamar itu. Orang tua itu bukan lain daripada "Ciok-jiu-seng-jun"
Pwe Hayciok adanya.
Dan sikurus adalah Bi-hiangcu, nama lengkapnya ialah Bi Heng-ya.
Sementara itu luka Bi Heng-ya sudah mulai sembuh berkat pertolongan Pwe Hay-ciok.
Hanya saja ia merasa menyesal karena nama baiknya telah tersapu bersih lantaran dijatuhkan Cia Yan-khek hanya dalam satu jurus saja.
Tapi Pwe Hay-ciok telah menghiburnya.
"Bi-hiante, kalau dibicarakan, bahkan aku berharap waktu itu kita bersembilan lebih baik dijatuhkan semua oleh Cia-siansing, dengan demikian kita tentu tidak sampai membikin kaget Pangcu dan beliau takkan Cau-hwe-jip-mo dan menderita seperti sekarang. Kalau melihat keadaan Pangcu sekarang, sungguh susah diramalkan apakah beliau akan dapat sembuh atau tidak. Andaikan sembuh, maka Lwekang aneh yang bertenaga panas dingin itu pasti susah diyakinkan pula. Sebaliknya, yika terjadi apa-apa atas diri Pangcu, ai, Bi-hiante, malahan diantara kesembilan orang adalah engkau sendiri yang paling ringan dosanya, sebab meski kau ikut naik ke Mo-thian-kay, tapi ketika menemukan Pangcu engkau sendiri sudah dalam keadaan payah."
"Apa bedanya keadaan diriku pada waktu itu?"
Sahut Bi Hengya.
"Ya, pendek kata bila terjadi apa-apa atas diri Pangcu, rasanya kita bersembilan susah menebus dosa sebesar itu selain membunuh diri semua."
Tak tersangka, pada malam hari kedelapan, ketika Pwe Hayciok dan Bi Heng-ya menyambangi sang Pangcu, mereka melihat sang Pangcu sudah sadar kembali dan dapat bicara.
Sudah tentu kedua orang itu sangat lega dan girang.
Hanya saja mereka anggap Ciok-pangcu baru saja mengalami derita Cau-hwe-jip-mo, pikiran dan jiwanya tentu mengalami guncangan hebat, sebab itulah bicaranya menjadi me-lantur2 tak keruan serta tidak kenal pada mereka lagi.
Waktu Pwe Hay-ciok memeriksa nadi sang Pangcu, ia merasa jalannya nadi sangat kuat dan baik, baru saja ia merasa senang, tiba-tiba sang Pangcu telah mengucapkan kata-kata yang membuatnya bingung, katanya dia bukan "Pangcu", tapi bernama "Kau-cap-ceng"
Apa segala. Keruan mereka menjadi kaget dan tidak berani banyak bicara lagi, cepat-cepat mereka lantas mengundurkan diri. Sampai diluar, dengan suara perlahan Bi Heng-ya tanya Pwetayhu.
"Bagaimana, mengapa bisa demikian?"
Pwe Hay-ciok berpikir sejenak, sahutnya kemudian.
"Saat ini pikiran Pangcu masih kacau, tapi ada lebih baik daripada tak sadarkan diri sama sekali. Ya, tentu aku akan berusaha sepenuh tenaga dan semoga dalam waktu singkat kesehatan Pangcu sudah dapat dipulihkan kembali." ~ Sampai disini ia merandek sedetik, lalu menyambung pula.
"Cuma urusan organisasi kita sudah makin mendesak waktunya, entah kapan kesehatan Pangcu dapat disembuhkan seluruhnya ?"
Bab 9.
Tiang-Lok-Pangcu Palsu Atau Tulen Dalam pada itu, sesudah kedua orang itu pergi barulah sianak muda mengamat-amati keadaan didalam kamar, ia melihat dirinya tertidur diatas sebuah ranjang berukuran sangat besar dengan kelambu dan selimut yang indah, didepan tempat tidur itu terdapat sebuah meja tulis bercat merah, disamping meja itu ada dua buah kursi dengan kasur bersulam.
Selain itu banyak pula pajangan-jangan lain yang serba mewah dengan bau asap yang harum semerbak sehingga membikin orang merasa seperi berada didalam gua dewa.
Sudah tentu sianak muda tidak pernah kenal tempat tidur sebesar dan sebagus itu, apalagi benda-benda lain yang menyilaukan mata didalam kamar itu.
Pikirnya.
"Besar kemungkinan aku berada dalam impian."
Tapi bila teringat kepada sinona baju hijau yang cantik menggiurkan itu, sampai alisnya yang lentik dan bibirnya yang merah tipis sebagai delima merekah, semuanya itu juga masih teringat dengan jelas, pula daun jendela yang dibukanya tadi untuk melompat keluar itu sampai sekarang juga masih setengah terpentang, semuanya ini toh tidak seperti dalam mimpi?
Ia coba angkat tangan kanan hendak meraba kepalanya sendiri.
Tak tersangka hanya sedikit bergerak saja, seluruh badannya lantas kesakitan pula sehingga ia menjerit.
Karena suaranya itu, tiba-tiba terdengar suara orang menguap kantuk dipojok kamar sana dan berkata.
"Siauya" (tuan muda), engkau sudah mendusin…….."
Itulah suara seorang wanita, agaknya baru saja terjaga bangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia berseru kaget pula.
"Ha, eng………..engkau sudah sadar kembali?"
Sianak muda merasa pandangannya menjadi silau ketika tibatiba seorang anak dara berbaju kuning tahu-tahu sudah berdiri didepan tempat tidurnya.
Semua ia bergirang, disangkanya sinona baju hijau tadi yang telah datang lagi, tapi sesudah diperhatikan ternyata nona dihadapannya sekarang ini berbaju ringkas warna kuning telur, bergelung ciodah dibagi dua.
Bukan saja dandanannya lain, bahkan mukanya juga beda.
Muka sinona didepannya sekarang ini agak bundar, matanya besar, dibalik kecantikannya tampak sangat pintar dan lincah pula.
"Siauya, engkau sudah sadar kembali?"
Demikian terdengar sinona bertanya pula dengan rasa girang dan kuatir.
"Ya, aku…….aku sudah sadar. Apakah………..apakah aku bukan didalam mimpi?"
Sahut sianak muda. Sinona mengikik tawa.
"Ya, mungkin engkau masih didalam mimpi, boleh jadi,"
Katanya. Habis itu lalu ia bersikap sungguhsungguh dan bertanya pula.
"Siauya, apakah engkau ada perintah sesuatu?"
"Kau panggil aku apa? Siau………….Siauya apakah?"
Tanya sianak muda dengan heran. Air muka sinona tampak mengunjuk rasa marah, sahutnya.
"Sudah lama kukatakan padamu bahwa kami ini adalah orang orang rendah, kaum hamba belaka, kalau tidak panggil Siauya padamu, habis panggil apa?"
"Aneh,"
Ujar sianak muda dengan menggumam sendiri.
"Yang seorang memanggil aku Pang……Pangcu, sekarang yang satu lagi memanggil aku Siauya. Sebenarnya siapakah aku ini? Dan mengapa bisa berada di sini?"
Sinona tampak bersabar kembali, katanya.
"Siauya, kesehatanmu belum lagi pulih, hendaklah kau mengaso saja. Apakah suka makan sedikit sarang burung?"
"Sarang burung ?"
Sianak muda menegas. Ia tidak tahu barang apakah "sarang burung"
Itu.
Tapi perutnya memang terasa sangat lapar, tiada jeleknya untuk makan apapun juga.
Maka ia lantas manggut.
Dan sesudah membetulkan bajunya yang agak kusut, lalu anak dari itu menuju kekamar sebelah.
Tidak lama kemudian ia datang lagi dengan membawa sebuah nampan dimana tertaruh sebuah mangkuk berwarna indah, dari dalam mangkuk itu terkepul uap yang berbau sedap wangi.
Ditengah malam itu entah cara bagaimana nona itu dapat menyediakan daharan panas dalam waktu sesingkat itu.
Memangnya perut sianak muda sudah lapar, demi mengendus bau harum sedap itu, seketika ia mengiler, perutnya semakin berkeruyukan.
Rupanya suara keruyukan perut sianak muda dapat didengar anak dara itu, dengan tersenyum anak dara itu berkata.
"Sudah tujuh delapan hari engkau hanya minum kuah kolesom melulu untuk menguatkan badanmu, tentu saja kau sangat kelaparan." ~ berbareng ia lantas menghaturkan nampan yang dibawanya itu. Sianak muda dapat melihat bahwa isi mangkuk itu adalah sejenis makanan seperti bubur tapi bukan bubur, diatasnya ditaburi sedikit kelopak bunga mawar yang sudah kering sehingga menyiarkan bau harum. Segera ia tanya.
"Makanan baik ini apakah untukku?"
"Sudah tentu, masakah pakai sungkan-sungkan segala?"
Ujar sianak dara dengan tersenyum.
Tapi sianak muda itu menjadi ragu-ragu, ia pikir makanan sebaik ini entah berapa harganya, padahal uangnya sudah habis, entah boleh utang atau tidak?
Lebih baik bicara secara terang-terangan sebelumnya.
Maka ia lantas berkata.
"Ta………tapi aku tiada punya uang, apa…………apakah boleh utang ?"
Anak dara itu tampak tercengang sejenak, tapi lantas berkata dengan tertawa.
"Dasar jahil, sesudah sakit sepayah ini watakmu masih juga belum berubah. Baru saja kau dapat bicara sudah mulai mengoceh yang tidak-tidak lagi. Sudahlah, kalau lapar lekas makan saja." ~ Sambil bicara ia menyodorkan nampannya lebih dekat pula. Sianak muda menjadi girang.
"Habis makan aku tidak perlu bayar?"
Ia menegas. Rupanya anak dari itu menjadi jemu, tiba-tiba ia menarik muka dan menyahut.
"Ya, tidak perlu bayar, kau mau makan atau tidak ?"
"Makan, tentu saja makan!"
Seru sianak muda cepat.
Segera ia hendak memegang sendok yang berada diatas nampan.
Tapi baru saja tangannya bergerak, seketika tubuhnya kesakitan lagi seperti ditusuk jarum, ia merintih tertahan dan sambil meringis ia mengangkat tangannya dengan perlahan, namun toh tetap bergemetar.
"Siauya, kau ini sakit sungguh-sungguh atau pura-pura kesakitan?"
Tanya sianak dara dengan muka masam.
"Sudah tentu sakit sungguh-sungguh, mengapa mesti purapura?"
Sahut sianak muda dengan heran.
"Baik, mengingat deritamu diwaktu sakit keras ini, biarlah untuk sekali lagi aku menyuapi kau,"
Kata sianak dara.
"Tapi awas, Siauya, jika kau main pegang-pegang dan comat-comot lagi, tentu aku tidak mau gubris lagi padamu."
Sianak muda semakin heran.
"Apa itu main pegang-pegang dan main comat-comot?"
Tanyanya.
Air muka sianak dara menjadi merah jengah.
Ia pelototi anak muda itu sekejap sambil mendengus, lalu ia pegang sendok dan menyendok bubur sarang burung untuk menyuapinya.
Seketika sianak muda melenggong, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa didunia ini ternyata ada orang sebaik ini.
Tanpa pikir ia lantas membuka mulut dan makan bubur sarang burung yang dilolohkan kepadanya itu.
Sungguh rasanya sangat manis dan harum, enaknya tak terkatakan.
Anak dara itu hanya diam-diam saja dan terus menyuapi sampai beberapa kali, ia berdiri agak jauh dari tempat tidur sianak muda, hanya tangannya yang dijulurkan untuk menyuap, tampaknya seperti takut-takut kalau-kalau mendadak "diterkam"
Oleh sianak muda. Namun sianak muda sendiri sedang menikmati bubur sarang burung itu dengan menjilat-jilat bibirnya sambil memuji.
"Ehm, sungguh enak sekali. Aku harus berterima kasih padamu."
"Hm, hendaklah kau jangan pakai akal licik untuk menipu aku,"
Dengus sianak dara.
"Sarang burung seperti ini entah berapa ribu mangkuk telah kau makan, bilakah kau pernah memuji akan keenakannya?"
Sianak muda menjadi bingung sebab ia merasa selama hidupnya belum pernah makan sarang burung yang enak itu. Ia coba bertanya pula.
"Apakah ini yang di……………dinamakan sarang burung ?"
"Huh, kau benar-benar pandai berlagak bodoh, Siauya,"
Jengek sianak dara, berbareng ia melangkah mundur satu tindak seakan kuatir diperlakukan secara tidak senonoh oleh sianak muda.
Anak muda itu coba mengamat-amati sianak dara, terlihat pakaiannya yang berwarna kuning telur, rambutnya yang agak kusut bergelung ciodah bagi dua, matanya tampak masih keriyap-keriyep sepat karena baru mendusin, kakinya telanjang dan tidak memakai kaos sehingga kelihatan putih bersih bersandal sulam kembang cantiknya susah dilukiskan.
Tanpa terasa ia lantas memuji.
"Kau……….kau sungguh sangat cantik!"
Muka sianak dara menjadi merah dan mengunjuk rasa marah, mendadak ia taruh mangkuk diatas meja, lalu menuju kepojok kamar dan menggulung sebuah tikar dan sehelai selimut, tangan yang lain membawa sebuah bantal, terus berjalan kepintu kamar.
Dengan gugup sianak muda berseru.
"He, hen…..dak kemana kau ? Kau tak gubris lagi padaku ?"
"Kau baru saja sembuh, sekarang mulutmu sudah mulai mengoceh tak keruan lagi,"
Sahut sianak dara.
"Kemana aku dapat pergi? Engkau adalah majikan dan kami adalah kaum hamba yang rendah, masakan dapat dikatakan gubris dan tidak ?" ~ Sambil berkata ia terus melangkah pergi. Sianak muda menjadi bingung, ia tidak tahu sebab apakah anak dara itu marah-marah. Pikirnya.
"Seorang nona telah pergi dengan melompat jendela, nona ini pergi pula melalui pintu, apa yang mereka katakan sama sekali aku tak paham. Ai, aku benar-benar seorang tolol, segala apa tidak paham."
Tengah termenung-menung sendiri, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang halus, ternyata anak dara tadi telah masuk kamar lagi, air mukanya tampak masih bersengut, tangannya membawa sebuah baskom.
Sianak muda menjadi girang.
Dilihatnya anak dara itu meletakkan baskom itu diatas meja, lalu dari dalam baskom diangkatnya sepotong handuk yang mengepul panas, sesudah diperas, handuk itu lantas disodorkan kepada sianak muda, katanya dengan nada dingin.
"Ini, cuci muka!"
"Ya, ya,"
Sahut sianak muda cepat dan segera hendak mengambil handuk hangat itu.
Tapi baru bergerak sedikit saja sekujur badannya lantas kesakitan seperti ditusuk-tusuk jarum.
Ia meringis tertahan sambil menerima handuk itu.
Ketika hendak dipakai mengusap mukanya, kedua tangan gemetar dengan hebat, betapapun handuk itu susah dilekatkan kepada mukanya.
Anak dara itu tampak ragu-ragu dan curiga, katanya dengan menyindir.
"Huh, pintar sekali caramu berlagak". ~ Segera ia ambil kembali handuk itu dan berkata pula.
"Ingin aku mengusapkan mukamu juga tidak sukar. Cuma saja engkau tidak boleh main gila dengan tanganmu, asal kau menyentuh seujung rambutku, untuk selanjutnya aku pasti tidak mau masuk ke kamar ini lagi."
"Ah, nona jangan mengusapkan mukaku, mana aku berani dilayani olehmu,"
Ujar sianak muda.
"Kain ini sedemikian putih bersih, sedangkan mukaku sangat kotor, tentu kain bersih ini nanti akan ikut menjadi kotor."
Mendengar nada anak muda itu agak lebih rendah daripada dahulu, caranya bicara dan lafalnya juga rada berbeda daripada masa dulu, lebih-lebih mengenai apa yang dikatakan selalu halhal yang tak genah, mau tak mau sianak dara semakin curiga.
"Jangan-jangan karena sakitnya yang keras ini, maka otaknya telah terganggu. Menurut pembicaraan Pwe-siansing dan lainlain, katanya dia melatih sesuatu ilmu dan telah membakar dirinya sendiri sehingga menderita luka dalam yang berat. Kalau tidak mengapa bicaranya selalu tak keruan dan tak teratur ?"
Kemudian ia coba bertanya.
"Siauya, apakah kau masih ingat namaku?"
"Selamanya kau tidak pernah katakan padaku, dari mana aku kenal namamu?"
Sahut sianak muda. Ia tersenyum, lalu menyambung pula .
"Aku sendiri bukan bernama Siauya, tapi namaku adalah Kau-cap-ceng, ini adalah nama panggilan ibuku. Paman tua itu mengatakan nama ini tidak baik. Dan siapakah namamu ?"
Kening sianak dara semakin mengerut mengikuti ucapan sianak muda itu, pikirnya.
"Melihat cara bicaranya ini toh tiada tandatanda sengaja bergurau atau pura-pura, apakah dia benarbenar sudah tidak waras lagi ?" ~ Berpikir demikian ia sendiri menjadi sedih, katanya.
"Siauya, apakah engaku benar-benar tidak kenal diriku lagi? Kau sudah lupa kepada Si Kiam ?"
"Oh, apa kau bernama Si Kiam? Baiklah, selanjutnya aku akan panggil kau Si Kiam……..tidak, tapi akan kupanggil enci Si Kiam. Kata ibuku, terhadap wanita yang jauh lebih tua harus memanggilnya bibi, jika usianya sebaya bolehlah memanggilnya enci."
Tiba-tiba air mata Si Kiam berlinang-linang, katanya dengan suara senggugukan.
"Siauya, apa engkau benar-benar sudah lupa padaku dan bukan cuma pura-pura saja ?"
Sianak muda menggeleng kepala, sahutnya.
"Apa yang kau katakan semuanya aku tidak paham, enci Si Kiam, sebab apakah kau menangis, mengapa kau tidak senang ? Apakah aku berbuat salah padamu ? Dikala ibuku merasa tidak senang sering beliau memaki dan memukul aku, sekarang kaupun boleh memaki dan memukul padaku saja."
Perasaan Si Kiam semakin pilu, perlahan-lahan ia menggunakan handuk tadi untuk mengusap muka sianak muda, katanya dengan perlahan.
"Aku adalah pelayanmu, mana boleh memaki dan memukul kau? Siauya, semoga Thian memberkahi dirimu supaya penyakitmu lekas sembuh. O, Tuhan, jika ingatanmu benar-benar terganggu, lantas bagaimana baiknya ?"
Sejenak kemudian Si Kiam bertanya pula.
"Siauya, kau telah melupakan namaku, apakah urusan-urusan lain juga sudah kau lupakan? Misalnya tentang kau adalah Pangcu dari Pang apa?"
Sianak muda menggeleng, sahutnya.
"Tidak, aku bukan Pangcu apa-apa, paman tua telah mengajarkan aku melatih ilmu, sekonyong-konyong sebelah badanku sangat panas seperti dipanggang dan sebelah badan yang lain dingin luar biasa. Aku………….aku tidak tahan dan akhirnya tidak ingat diri lagi. Enci Si Kiam, mengapa aku bisa berada disini? Apakah kau yang membawa aku kesini ?"
Kembali hati Si Kiam merasa pilu, pikirnya.
"Jika demikian, agaknya dia benar-benar tidak ingat apa-apa lagi."
Dalam pada itu sianak muda telah berkata pula.
"Dimanakah paman tua itu? Dia mengajarkan aku melatih ilmu menurut garis-garis merah yang terlukis diatas boneka-boneka itu, mengapa badanku bisa menjadi panas dan dingin, aku ingin minta keterangan padanya."
Mendengar kata-kata "boneka" , Si Kiam menjadi teringat beberapa hari yang lalu ketika menggantikan pakaian sianak muda, dari kantong bajunya telah jatuh keluar sebuah kota kecil yang berisi 18 buah boneka kecil berbentuk lelaki telanjang.
Waktu itu muka Si Kiam menjadi merah, ia cukup kenal sifat tuan mudanya yang bangor dan suka main gila, boneka-boneka telanjang itu tentu bukanlah barang mainan yang genah.
Maka lantas menutup baik-baik kotak boneka itu dan disimpan didalam laci.
Ia pikir kalau boneka-boneka itu diperlihatkan kepada sianak muda, boleh jadi akan membantu mengingatkan daya pikirannya pada kejadian yang lalu.
Maka ia lantas membuka laci dan mengeluarkan kotak kecil itu, katanya.
"Apakah boneka-boneka yang didalam kotak ini?"
"Ya, benar, boneka-boneka ini berada disini, tapi dimanakah paman tua? Kemanakah dia?"
"Paman tua siapa?"
Tanya Si Kiam.
"Paman tua ya paman tua. Katanya……………………..katanya dia bernama Mo-thian kisu."
Si Kiam sendiri sangat cetek pengetahuannya dalam dunia persilatan, maka ia tidak tahu bahwa Mo-thian-kisu Cia Yankhek adalah seorang tokoh terkemuka. Katanya kemudian.
"Siauya, betapapun engkau sudah sadar kembali, jika kejadiankejadian dahulu sudah kau lupakan, biarkan saja, perlahanlahan tentu engkau akan ingat kembali. Sekarang subuh belum tiba, engkau boleh tidur lagi. Ai, sebenarnya………..sebenarnya akan lebih baik juga jikalau engkau sudah melupakan kejadiankejadian dimasa lampau."
Sambil berkata ia terus menyelimuti sianak muda, lalu membawa nampan dan segera hendak tinggal pergi. Mendadak sianak muda bertanya.
"Enci Si Kiam, mengapa kau anggap ada lebih baik jika aku tidak ingat lagi kepada kejadiankejadian dimasa yang lalu?"
"Sebab…….sebab perbuatanmu dimasa yang lampau……………."
Baru sekian ucapan Si Kiam, mendadak ia berhenti, lalu menunduk dan bertindak pergi dengan cepat.
Sianak muda menjadi bingung.
Ia merasa segala apa yang dialaminya sekarang ini sungguh susah untuk dipahami.
Ia dengar diluar ada suara kentongan tiga kali, ia tidak tahu bahwa itu adalah tanda waktu yang ditabuh peronda, sebaliknya ia heran mengapa ditengah malam buta masih ada orang memain tetabuhan segala.
Pada saat itulah, sekonyong-konyong ia merasa "Siang-yanghiat"
Di bagian jari telunjuk kanan menjadi panas, suatu arus hawa panas mendadak mengalir melalui lengan terus kebahu. Diam-diam sianak muda mengeluh.
"Celaka!" ~ Dan pada saat yang sama.
"Yong-coan-hiat"
Ditelapak kaki kiri juga lantas terasa dingin tak terkatakan.
Siksaan panas-dingin demikian itu sudah dirasakannya beberapa kali, ia tahu setiap kali kumat berarti penderitaan hebat baginya.
Jika sudah tak tertahankan lagi, akhirnya ia menjadi pingsan.
Biasanya kalau penyakitnya kumat selalu dia dalam keadaan tak sadar, tapi sekali ini penyakit itu kumat dikala pikirannya sedang terang, tentu saja lebih dirasakan dan lebih menguatirkan.
Dalam pada itu hawa panas dan dingin itu perlahan-lahan mulai menyerang dari kanan kiri dan lambat laun sudah memusat ke bagian jantungnya.
"Sekali ini pasti tamatlah riwayatku!"
Demikian pikir sianak muda.
Berjangkitnya penyakit panas-dingin itu biasanya berpindahpindah, kalau tidak berpusat kebagian perut, sering bertemu dibagian paha atau bahu, tapi sekali ini hawa panas-dingin itu merangsang kebagian jantung yang merupakan tempat berbahaya, keruan deritanya lebih-lebih hebat.
Ia tahu gelagat jelek, segara ia meronta bangun sekuatnya untuk duduk, pikirnya ingin duduk bersila, tapi kedua kakinya betapapun susah ditekuk.
Dalam keadaan amat tersiksa itu, tiba-tiba timbul pikirannya.
"Apakah dahulu diwaktu sipaman tua sendiri melatih ilmu ini beliau juga menderita seperti diriku? Sebenarnya permainan menangkap burung dan membuat burung takbisa terbang dari telapak tangan juga bukan sesuatu permainan yang terlalu menarik, tahu begini akibatnya tentu aku tidak mau melatihnya."
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki sedang bertanya dengan suara tertahan diluar jendela.
"Apakah Pangcu belum tidur? Hamba Pah-ciat-tong Tian Hui ingin melaporkan sesuatu urusan rahasia yang maha penting."
Dalam keadaan diserang hawa panas dingin didalam badan, sianak muda sedikitpun tidak sanggup bersuara lagi.
Selang sejenak, perlahan-lahan daun jendela terbuka, ketika bayangan orang berkelebat, tahu-tahu seorang laki-laki berbaju loreng sudah melompat masuk kamar.
Ketika mendekati tempat tidur dan mendadak melihat sianak muda duduk diatas ranjang, orang itu terperanjat.
Agaknya hal demikian sama sekali diluar dugaannya, maka cepat ia menyurut mundur setindak.
Dalam pada itu hawa panas-dingin dibadan sianak muda sedang berkecamuk dengan hebatnya, jantungnya bekerja dengan sangat lemah seakan-akan setiap saat bisa berhenti dan mati orangnya.
Namun demikian pikirannya tetap sangat jernih walaupun sedang menderita siksaan hawa panas-dingin itu.
Ia melihat laki-laki berbaju loreng itu melompat masuk dan mendengar dia mengaku bernama "Pah-ciat-tong"
Tian Hui, karena tidak tahu apa maksud kedatangan orang, maka anak muda itu hanya memandangnya dengan mata terbelalak lebar.
Sesudah mundur setindak dan melihat anak muda itu tiada bergerak sama sekali, lalu Tian Hui berkata pula dengan suara perlahan.
"Pangcu, kabarnya engaku sedang sakit keras, apakah sekarang sudah menjadi baik?"
Badan sianak muda tampak berkejang beberapa kali dan takdapat bersuara. Tiang Hui menjadi girang, katanya pula.
"Pangcu, jadi kesehatanmu belum pulih, sekarang engkau masih belum dapat bergerak?"
Walaupun suara Tian Hui itu sangat perlahan, tapi toh sudah didengar juga oleh Si Kiam yang berada dikamar sebelah, segera anak dara itu mendatangi dan ketika melihat Tian Hui bersikap beringas dan buas, ia terkejut dan berseru.
"He, untuk apa kau datang kekamar Pangcu ini? Tanpa dipanggil kau berani masuk sendiri, apakah kau tidak takut dihukum mampus?"
Tapi mendadak Tian Hui melompat maju kesisi Si Kiam, kontan sikutnya menyodok kepinggang anak dara itu, berbareng pundaknya ditutuk pula sekali.
Walaupun Si Kiam juga paham sedikit ilmu silat, tapi terlalu jauh kalau dibandingkan Tian Hui yang gesit dan tangkas itu.
Seketika Si Kiam tertutuk roboh dan didudukkan diatas kursi.
Lalu Tian Hui menyumbat pula mulut anak dara itu dengan sehelai handuk kecil.
Sudah tentu Si Kiam kelabakan dan tahu Tian Hui bermaksud jahat kepada sang Pangcu, tapi apa daya, dia sendiri tak bisa berkutik.
Meski Si Kiam sudah dibekuk, tapi Tian Hui tetap sangat jeri terhadap sang Pangcu, ia pura-pura angkat tangannya dengan gaya hendak menghantam sambil berkata.
"Dengan pukulan Tiat-sah-ciang (pukulan tangan besi) ini rasanya tidak susah untuk membinasakan kau sibudak cilik ini!"
Tak terduga meski tangannya sudah hampir mengenai kepala sasarannya, dilihatnya sang Pangcu masih tetap tidak bergerak.
Tian Hui menjadi girang dan cepat tahan pukulannya itu.
Lalu ia berpaling kepada sianak muda, katanya dengan menyeringai.
"Maling cabul kecil, selama hidupmu sudah berlumuran dosa, kejahatanmu sudah kelewat takaran, hari ini kau toh mampus juga ditangaku." ~ Ia melangkah lebih dekat, lalu sambungnya pula dengan suara perlahan.
"Saat ini kau sama sekali takdapat melawan, jika aku membunuh kau, perbuatan demikian bukan tindakan seorang kesatria sejati. Akan tetapi dendamku kepadamu lebih daripada lautan dan tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw segala, jikalau engkau kenal kesopanan orang Kangouw tentu kau takkan menggoda isteriku!"
Walaupun sianak muda dan Si Kiam tidak dapat bergerak, tapi apa yang dikatakan Tian Hui itu dapat didengar mereka dengan jelas. Pikir sianak muda.
"Mengapa dia dendam padaku? Apa maksudnya dia mengatakan aku menggoda isterinya?"
Sebaliknya Si Kiam membatin didalam hati.
"Selama ini entah sudah betapa banyak Siauya berutang dalam perkara asusila, hari ini akhirnya dia mendapatkan ganjarannya. Ai, tampaknya orang ini benar-benar hendak membunuh Siauya."
Karena kuatirnya,sekuat mungkin Si Kiam meronta, namun anggota badan terasa lemas linu, sedikit condong badannya.
"bruk", ia jatuh kelantai. Dalam pada itu terdengar Tian Hui sedang memaki pula.
"Hm, kau telah mencemarkan kehormatan isteriku, kau anggap aku tutup mata dan tidak tahu. Andaikan tahu juga tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kau dan terpaksa menahan perasaan seperti sibisu makan empedu, merasa pahit tapi takbisa bicara. Siapa nyana tiba saatnya juga kau tergenggam didalam tanganku, rupanya kejahatanmu sudah kelewat takaran dan sudah tiba ajalmu."
Sambil berkata ia terus pasang kuda-kuda, sekali tenaga dikerahkan, ruas tulang lengan kanannya sampai mengeluarkan suara berkertakan.
Segera telapak tangannya menghantam kedepan, ulu hati sianak muda tepat kena digenjot olehnya.
Tian Hui ini adalah Hiangcu dari Pah-ciat-tong, yaitu satu diantara lima hulubalang bagian luar dari Tiang-lok-pang.
Ilmu silat andalannya ialah Tiat-sah-ciang, ilmu pukulan pasir besi yang maha dahsyat.
Pukulan ini telah digunakan sepenuh tenaganya dan tepat mengenai "Tan-tiong-hiat"
Di ulu hati sianak muda.
Maka terdengarlah suara "krak", suara patahnya tulang.
Tapi bukan tulang dada sianak muda yang patah, sebaliknya tulang lengan Tian Hui sendiri yang telah patah, bahkan tubuhnya terus terpental keluar jendela dan terbanting diluar kamar, kontan orangnya tak sadarkan diri lagi.
Diluar kamar itu adalah sebuah taman bunga dan selalu ada orang ronda disitu.
Malam ini adalah orang-orang Pah-ciat-tong yang berdinas meronda, sebab itulah Tian Hui dapat masuk kekamar tidur sang Pangcu dengan leluasa.
Rupanya suara gedebukan terbantingnya Tian Hui dan suara patahnya dahan-dahan tanaman yang tertindih oleh tubuhnya itu telah mengagetkan para peronda itu, maka ada dua orang diantaranya lantas mendekatinya.
Waktu melihat Tian Hui menggeletak tak berkutik disitu, mereka sangka telah kedatangan musuh tangguh dan sedang menyatroni kamar sang Pangcu, dalam kaget mereka segera mereka membunyikan peluit sebagai tanda ada bahaya, berbareng mereka melolos senjata dan melongok kedalam kamar sang Pangcu melalui jendela yang sudah terpentang itu.
Namun didalam kamar gelap gulita, bahkan tiada sesuatu suara apapun.
Cepat mereka menerangi dengan obor sambil memutar senjata untuk menjaga diri.
Dari cahaya obor yang remang-remang dapatlah terlihat sang Pangcu sedang duduk bersila diatas ranjang, didepan tempat tidur itu menggeletak seorang wanita seperti pelayan sang Pangcu, selain itu tiada orang ketiga lagi.
Pada saat itulah beramai-ramai orang-orang Tiang-lok-pang yang mendengar suara alarm tadi juga sudah memburu tiba.
Dengan memegang senjata gada besi, Khu San-hong, itu Hiangcu dari Hou-beng-tong, lantas berseru.
"Pangcu, engkau baik-baik saja bukan?" ~ Berbareng itu ia lantas masuk kedalam kamar sang Pangcu. Mendadak dilihatnya badan sang Pangcu tiada hentinya bergemetar, sekonyong-konyong mulutnya terpentang dan memuntahkan darah hitam sampai beberapa mangkuk banyaknya. Cepat Khu San-hong menyingkir kepinggir sehingga tidak sampai tersembur oleh darah hitam yang berbau amis busuk itu. Tengah terkejut dan ragu-ragu, tiba-tiba terlihat sang Pangcu sudah melangkah turun dari tempat tidurnya dan pertama-tama pelayan yang menggeletak dilantai itu lantas dibangunkan, katanya.
"Enci Si Kiam, apakah dia telah melukai engkau?" ~ Berbareng ia lantas mengeluarkan handuk yang menyumbat mulut anak dara itu. Si Kiam menghirup napas segar dalam-dalam, lalu menjawab.
"Siauya, apakah engkau terluka kena hantamannya tadi?"
"Tidak, malahan pukulannya itu membuat aku merasa sangat segar sekali,"
Sahut sianak muda.
Dalam pada itu diluar kamar terdengar ramai orang-orang berdatangan, dengan langkah cepat Pwe Hay-ciok dan Bi Hengya tampak masuk kedalam kamar, yang berkedudukan rendah hanya menunggu diluar saja.
Segera Pwe Hay-ciok mendekati sianak muda dan bertanya.
"Pangcu, apakah pembunuh gelap itu telah membikin kaget padamu ?"
"Pembunuh gelap apa? Tidak ada pembunuh,"
Sahut sianak muda.
Sementara itu Tian Hui sudah diberi pertolongan oleh jago Tiang-lok-pang dan telah sadar kembali serta dibawa masuk kedalam kamar.
Tian Hui cukup paham tata tertib dalam Pang mereka, terutama hukuman kepada penghianat adalah paling keras, biasanya penghianat itu ditelanjangi pakaiannya, lalu diikat diatas batu "Heng-tay-ciok" (batu panggung hukuman) diatas gunung dibelakang markas dan dibiarkan digigit semut dan serangga-serangga lain, diserang oleh elang-elang lapar dan binatang buas, sesudah disiksa beberapa hari lamanya, akhirnya akan binasa juga.
Sekarang dia sendiri telah berbuat sesuatu yang khianat, pukulannya yang dahsyat tadi tidak berhasil membinasakan sang Pangcu, sebaliknya ia sendiri malah terpental oleh tenaga dalam sang Pangcu yang maha kuat, lengah kanan patah dan terluka dalam parah pula, memangnya dia berharap lekas mati saja, tapi sekarang dia dibawa masuk pula kedalam kamar, diam-diam ia sudah mengumpulkan kekuatan, asal sang Pangcu memerintahkan hukuman memancangkan dia diatas "Heng-tay-ciok"
Dan segera dia akan menumbukkan kepalanya kedinding untuk membunuh diri.
"Apakah ada pembunuh gelapmasuk melalui jendela?"
Tanya Pwe Hay-ciok pula.
"Aku sendiri tertidur, rasanya toh tiada orang masuk kesini" , sahut sianak muda. Tian Hui terheran-heran mendengar keterangan itu.
"Apakah tadi dia benar-benar dalam keadaan tak sadar dan tidak mengetahui aku yang telah memukul dia? Tapi budak cilik ini mengetahui aku yang telah melakukan hal itu, tentu dia akan memberi keterangan sebenarnya apa yang terjadi tadi."
Benar juga, segera Pwe Hay-ciok memijat dan menutuk pinggang dan pundak Si Kiam untuk membuka Hiat-to yang tertutuk, lalu bertanya kepada anak dara itu.
"Siapakah yang menutuk kau punya Hiat-to?"
"Dia !"
Sahut Si Kiam sambil menuding Tian Hui.
Pwe Hay-ciok memandang kearah Tian Hui dengan penuh rasa curiga.
Sebaliknya Tian Hui hanya mendengus saja.
Segera ia bermaksud mencaci maki biarpun nanti harus dihukum mati, tapi lantas terdengar sang Pangcu sedang berkata.
"Aku…….akulah yang suruh dia berbuat demikian."
Keruan Si Kiam dan Tian Hui melengak semua, hampir-hampir mereka tidak percaya kepada telinganya sendiri.
Dengan tercengang mereka memandangi sianak muda, mereka tidak paham apa maksud tujuannya dengan keterangannya itu.
Walaupun anak muda itu sama sekali hijau dalam segala hal, tapi lapat-lapat ia dapat merasakan keadaan yang genting.
Ia lihat semua orang sangat menghormat padanya, jika diketahui Tian Hui yang telah menotok Hiat-to sipelayan serta memukul pula pada dirinya, jika hal ini diketahui oeh orang-orang itu, tentu Tian Hui bisa celaka.
Karena itulah ia sengaja berdusta untuk mengeloni Tian Hui.
Adapun apa sebabnya dia membela Tian Hui, untuk ini ia sendiripun tidak paham sama sekali.
Ia hanya merasa sebabnya Tian Hui memukul dirinya adalah lantaran didorong oleh sesuatu rasa dendam yang luar biasa yang mau tak mau harus dilakukan olehnya.
Apalagi waktu Tian Hui memukulnya tadi, ia sendiri sedang dirangsang oleh hawa panas-dingin yang sangat menyiksa, pukulan Tian Hui itu tepat mengenai "Tan-tiong-hiat"
Dibagian ulu hatinya. Tantiong-hiat itu merupakan pusat penyaluran tenaga, karena pukulan Tian Hui itu, maka secara kebetulan telah membaurkan bergeraknya hawa dingin dan panas dari "Han-ihbian-ciang"
Serta "Yam-yam-kang" , hal mana membuat tenaga dalam sianak muda seketika menjadi bertambah hebat dan lantaran itulah Tian Hui sampai terpental keluar jendela.
Sesudah menerima pukulan Tian Hui itu, sama sekali sianak muda tidak merasa tersiksa lagi oleh membakarnya hawa panas dan membekunya hawa dingin, sebaliknya ia lantas merasa segar dan nikmat sekali, tanpa merasa ia ingin berteriak-teriak untuk melampiaskan rasa mual yang ditahannya sejak tadi.
Ketika Hiangcu dari Hou-beng-tong yaitu Khu San-hong, masuk tadi, tiba-tiba ia memuntahkan darah mati yang tersekam didalam tubuhnya, habis itu semangatnya lantas segar, bukan saja tenaga dalamnya bertambah luar biasa, bahkan otaknya juga tambah tajam.
Melihat keadaan didalam kamar sang Pangcu itu, Pwe Hay-ciok mempunyai pendapatnya sendiri.
Ia lihat pakaian Si Kiam agak kusut, rambutnya tak teratur, sikapnya takut dan gugup.
Maka pahamlah dia akan duduknya perkara.
Ia cukup kenal watak sang Pangcu yang bangor, suka main perempuan.
Maka tentulah Si Kiam hendak diperlakukan secara tidak senonoh walaupun penyakitnya baru saja sembuh.
Tapi perbuatan sang Pangcu itu rupanya telah dipergoki Tian Hui yang sedang meronda disekitar situ, maka Pangcu lantas panggil sekalian hulubalang itu dan suruh dia menutuk Hiat to sipelayan cantik itu, cuma entah sebab apakah Tian Hui telah membikin marah pula kepada sang Pangcu sehingga dia dihantam terpental keluar kamar.
Bab 10.
Disangka Buntung Malah Mendapat Untung Setiap anggota Tiang-lok-pang cukup kenal sifat sang Pangcu yang aneh dan pemarah, siapa saja, sekalipun orang kepercayaannya yang mempunyai kedudukan tinggi, asal dia sedang marah juga sering didamperat, bahkan dipukul olehnya tanpa pandang bulu.
Sekarang mereka melihat luka Tian Hui cukup parah, muka dan tangannya juga babak belur terluka oleh duri bunga mawar diluar kamar, tentu saja mereka ikut prihatin, namun merekapun tidak berani menghibur Tian Hui dihadapan sang Pangcu.
Dan karena pikiran demikian itulah, maka tokoh-tokoh Tianglok-pang itu tiada yang berani menyinggung tentang pembunuh gelap lagi.
Hiangcu dari Hou-beng-tong, Khu San-hong, masih merasa kuatir karena dirinya telah mengganggu kesenangannya sang Pangcu, bukan mustahil sang Pangcu akan marah dan memukulnya.
Ia pikir paling selamat lekaslekas tinggal pergi saja.
Maka ia lantas berkata dengan hormat.
"Silakan Pangcu mengaso saja, hamba mohon diri dulu."
Segera orang-orang lain juga ikut-ikut memohon diri. Hanya Pwe Hay-ciok yang memperhatikan kesehatan sang Pangcu, ia lihat air muka Pangcu agak aneh, segera ia pegang tangan sang Pangcu dan berkata.
"Biar kuperiksa pula nadi Pangcu."
Sianak muda juga tidak menolak, ia mengangsurkan tangannya untuk diperiksa.
Ketika ketiga jari Pwe-tayhu baru saja menyentuh urat nadi anak muda itu, sekonyong-konyong tangannya tergetar dan setengah badannya kaku kesemutan.
Keryan Pwe Hay-ciok terkejut.
Tapi segera ia menjadi girang.
Katanya.
"Hah, selamat, Pangcu! Selamat, Pangcu! Akhirnya ilmu sakti yang maha hebat itu telah berhasil diyakinkan juga olehmu!"
Sebaliknya sianak muda menjadi bingung, sahutnya.
"Ilmu…….ilmu sakti apa?"
Pwe Hay-ciok menyangka sang Pangcu tidak ingin orang lain ikut mengetahui ilmu sakti yang dilatihnya itu, maka ia tidak berani menegas lagi, cepat berkata.
"Ya, ya, hamba sembarangan mengoceh, harap Pangcu jangan marah." ~ Ia memberi hormat, lalu mengundurkan diri. Dalam waktu singkat saja semua orang sudah pergi, hanya tinggal Tian Hui dan Si Kiam saja. Tian Hui terluka dalam, tapi kawan-kawan-nya tidak tahu cara bagaimana sang Pangcu akan memutuskan perkaranya, maka mereka tidak berani bertanya dan terpaksa membiarkan dia tetap tinggal didalam kamar dan tidak seorangpun yang berani membawanya pergi untuk diberi obat. Karena tulang lengan patah, saking kesakitan dahi Tian Hui sampai penuh keringat. Ia lihat kawan-kawannya sudah pergi semua, segera ia berkata dengan penuh dendam.
"Kau ingin menyiksa diriku, boleh lekas kau lakukan, kalau orang she Tian minta ampun padamu bukanlah seorang laki-laki sejati."
"Buat apa aku menyiksa kau?"
Sahut sianak muda.
"Wah, tulang lenganmu patah, harus lekas disambung dengan baik. Dahulu si Kuning piaraanku telah tergelincir kebawah gunung dan patah tulang kakinya, akhirnya akulah yang telah menyambung tulangnya dan telah sembuh."
Kiranya pembawaan anak muda itu sebenarnya sangat pintar.
Dia hidup terpencil diatas gunung yang sepi bersama ibundanya, segala pekerjaan harus dilakukannya sendiri.
Karena itu, meski usianya masih muda, namun segala pekerjaan dapat dilakukannya dengan baik seperti menanam sayur, menanak nasi, membuat tali, mencari kayu dan lainlain.
Ketika anjing piaraanya, yaitu si Kuning, patah tulang kakinya, dia telah menggapit kaki binatang itu dengan sepotong kayu, lalu diikat kencang, belasan hari kemudian ternyata lantas sembuh.
Maka sekarang iapun hendak menyambungkan tulang lengan Tian Hui yang patah itu, sambil bicara ia lantas mencari-cari sepotong kayu yang diperlukan.
"Apa yang kau cari, Siauya?"
Tanya Si Kiam ketika melihat anak muda itu memandang kian kemari mencari sesuatu.
"Aku ingin mencari sepotong kayu,"
Sahut sianak muda. Mendadak Si Kiam terus berlutut didepan sianak muda dan berkata.
"Siauya, kumohon sudilah engkau mengampuni dia ini. Engkau telah……….telah mencemarkan isterinya, maka tidaklah heran kalau dia menjadi dendam padamu, tapi dia toh tidak sampai melukai engkau. Siauya, jika engkau betul-betul hendak membunuh dia, maka boleh juga dibunuh saja sekaligus, tapi janganlah menyiksa dia."
"Mencemarkan isterinya apa? Mengapa aku membunuh dia? Kau bilang aku hendak membunuh dia? Apakah manusia boleh dibunuh?"
Sahut sianak muda dengan tidak mengarti.
Ketika dilihatnya tiada sesuatu yang dapat ditemukan, akhirnya anak muda itu mengangkat sebuah kursi, segera ia menyempal sebuah kaki kursi itu.
Sekarang tenaga dalamnya sudah terbaur merata, ilmu saktinya baru saja jadi, sudah tentu kekuatannya luar biasa hebatnya, maka "krak"
Sekali, dengan mudah kaki kursi itu sudah disempal olehnya. Tapi anak muda itu masih tidak tahu tenaganya sendiri yang maha hebat itu, dia menggerundel sendiri.
"Kursi ini kenapa begini lapuk, kalau diduduki kan orang bisa jatuh terjungkal? Eh, enci Si Kiam, kenapa kau berlutut disitu? Lekas bangun!"
Lalu ia mendekati Tian Hui dan berkata padanya.
"Kau jangan bergerak!"
Tian Hui sendiri meski keras dimulut, tapi didalam hati sebenarnya juga takut.
Ia tidak tahu cara bagaimana sang Pangcu akan menyiksa padanya, maka dengan gemetar ia memandangi kaki kursi yang dipegang sianak muda.
Pikirnya.
"Kaki kursi ini tentu tidak akan digunakan untuk memukul diriku, wah, celaka, jangan-jangan kaki kursi ini akan dimasukkan kedalam mulutku sehingga menembus ketenggorokan agar aku mati tidak dan hidup pun tidak."
Kiranya cara memberi hukuman dan siksaan didalam Tiang-lokpang sangat banyak macamnya.
Diantaranya ada satu macam hukuman, yaitu dengan memasukkan mulut pesakitan dengan sepotong kayu sehingga menembus sampai tenggorokan terus ke kantong nasi, pesakitan itu takkan mati karena siksaan demikian, tapi sudah tentu sangat menderita.
Teringat akan jenis hukuman yang kejam itu, keruan Tian Hui menjadi ketakutan.
Ketika melihat sang Pangcu sudah berada didepannya, segera ia angkat tangan kiri dan menghantam.
Sebaliknya, sianak muda tidak tahu kalau Tian Hui hendak menyerangnya, ia berkata.
"Eh, jangan bergerak, jangan bergerak!" ~ Berbareng ia terus pegang tangan Tian Hui itu. Seketika Tian Hui merasa badannya lemas linu dan takbisa berkutik lagi. Sianak muda lantas melekatkan potongan kaki kursi tadi disamping lengan Tian Hui yang patah itu, katanya kepada Si Kiam.
"Enci Si Kiam, adakah tali atau kain, coba balutlah dia ini."
Si Kiam terheran-heran.
"Kau benar-benar hendak menyambungkan tulangnya?"
Tanyanya.
"Sudah tentu, masakah sambung tulang pakai pura-pura segala ?"
Sahut sianak muda dengan tertawa.
"Coba lihat, sedemikian dia kesakitan, masakah aku bergurau padanya ?"
Dengan tetap kurang percaya Si Kiam mencarikan juga sepotong kain pembalut, dengan sorot mata yang masih raguragu Si Kiam membalutkan lengan Tian Hui yang patah tulang itu.
"Bagus, bagus, rapi sekali caramu membalut, jauh lebih baik daripada waktu aku membalut kaki si Kuning dahulu,"
Ujar sianak muda dengan tersenyum.
Dikala Si Kiam membalut lengannya, diam-diam Tian Hui berkebat kebit, ia tidak tahu Pangcu yang jahat dan cabul itu entah akan menggunakan cara apa untuk menyiksanya lebih lanjut.
Ketika mendengar sang Pangcu berulang kali menyebut si Kuning, segera ia menanyakan.
"Siapakah si Kuning itu ?"
"Si Kuning adalah anjing piaraanku,"
Sahut sianak muda.
"Cuma sayang sekarang telah menghilang."
Tian Hui menjadi gusar, teriaknya dengan murka.
"Seorang lelaki sejati boleh dibunuh daripada dihina, jika kau hendak membunuh boleh lekas lakukan, tapi janganlah orang she Tian ini dipersamakan dengan khewan ?"
"O, tidak, tidak !"
Sahut sianak muda cepat.
"Aku hanya menyebutnya dengan tidak sengaja, hendaklah Toako jangan marah, maafkan ucapanku yang salah itu." ~ Sambil berkata sambil memberi kiongciu (hormat dengan merangkap kepalan didepan dada). Tian Hui tahu Lwekang sang Pangcu teramat lihay, disangkanya dia pura-pura minta maaf, tapi sebenarnya hendak menyerangnya pula dengan tenaga dalam yang kuat. Sebab sang Pangcu biasanya terkenal sangat angkuh dan sombong, mana dia mau minta maaf kepada seorang bawahannya? Maka dengan sendirinya ia mengegos kesamping untuk menghindari hormat sang Pangcu sambil melototkan matanya.
"Toako………o, ya, Toako khan she Tian? Tian toako, silakan kembali ketempatmu sendiri saja,"
Demikian kata sianak muda pula.
"Aku Kau-cap-ceng memang tidak pandai bicara sehingga telah membikan marah Tian toako, harap suka maafkan."
Keruan Tian Hui terkejut, ia tidak habis mengarti.
"Apa-apaan ini? Mengapa dia menyebut dirinya sebagai ‘Kau cap ceng’ segala ? Apakah ini adalah istilah baru yang dia gunakan untuk memaki padaku ?"
Disebelah sana Si Kiam juga sedang merenung.
"Pikiran Siauya hanya jernih kembali sebentar saja dan sekarang dia mulai mengoceh tak keruan lagi." ~ Ia lihat sianak muda sedang tertegun dan mengerut dahi, entah apa yang sedang dipikirkan, maka ia lantas mengedipi Tian Hui agar lekas tinggal pergi saja. Tapi Tian Hui lantas berteriak malah.
"Bocah she Ciok, kau tidak perlu jual lagak padaku. Pendek kata, jika kau hendak membunuh diriku, memangnya aku sudah pasrah nasib. Nah, mengapa kau tidak lekas turun tangan saja ?"
"Kau ini sungguh aneh,"
Ujar sianak muda dengan heran.
"Buat apa aku membunuh kau? Sungguh menggelikan. Diwaktu mendongeng ibuku selalu berkata. hanya orang jahat saja yang suka membunuh orang, kalau orang baik tentu tidak suka membunuh. Sudah tentu aku tidak ingin menjadi orang jahat."
Melihat keadaan yang bertele-tele itu, Si Kiam lantas menimbrung.
"Tian-hiangcu, Pangcu sudah mengampuni kau, kenapa kau tidak lekas pergi saja?"
Tian Hui garuk-garuk kepala sendiri yang tidak gatal itu, pikirnya.
"Apakah barangkali bangsat cilik ini sudah pikun, atau aku sendiri yang sedang mimpi ?"
"Lekas pergi, lekas pergi !"
Demikian Si Kiam mendesak pula, berbareng ia terus mendorong Tian Hui keluar kamar.
"Hahahaha! Orang ini sungguh lucu,"
Kata sianak muda dengan tertawa.
"Berulang-ulang dia mengatakan aku hendak membunuhnya, seakan-akan aku ini adalah seorang jahat dan paling suka membunuh orang."
Selama Si Kiam melayani sang Pangcu baru pertama kali ini melihatnya bermurah hati dan mengampuni seorang bawahan yang bersikap kasar padanya.
Diam-diam ia merasa bersyukur akan perubahan sifat sang Pangcu itu.
Dengan tersenyum ia berkata.
"Ya, sudah tentu engkau adalah seorang baik, seorang yang maha baik. Orang baik, makanya merebut isteri orang dan merusak rumah tangga orang."
"Apa ? Kau bilang aku me……….merebut isteri orang ?"
Sianak muda menegas dengan heran.
"Cara bagaimana merebut isteri orang? Dan untuk apa sesudah merebutnya ?"
Muka Si Kiam menjadi merah, omelnya.
"Orang baik masakah juga bicara serendah ini? Hanya sebentar saja pura-pura baik, dalam sekejap sudah berubah lagi."
"Kau………..kau omong apa?"
Tiba-tiba mulut sianak muda ternganga.
Saat itu dirasakan sekujur badannya penuh terisi tenaga dan seakan-akan susah tersalurkan, sorot matanya menjadi berkilat-kilat pula.
Diam-diam Si Kiam menjadi takut, ia berlari keambang pintu untuk siap-siap melarikan diri kalau-kalau sang Pangcu mendadak menjadi buas dan hendak menerkamnya.
Maklum, sudah beberapa kali ia lolos dari napsu binatang sang Pangcu, semuanya itu berkat kecerdikannya serta ketekadannya yang tidak mau menyerah, makanya kesucian badannya dapat dipertahankan sampai sekarang.
"Siauya, kesehatanmu belum pulih dengan baik, hendaklah mengaso saja,"
Kata Si Kiam sejenak kemudian. Tapi sianak muda telah geleng-geleng kepala dan berkata.
"Sesudah turun dari gunung aku lantas mengalami macammacam urusan yang sedikitpun aku tidak paham. Ai, aku benar-benar tidak paham."
Dalam keadaan linglung kedua tangannya telah memegang sandaran kursi, sedikit menggunakan tenaga, mendadak kursi yang terbuat dari kayu cendana itu lantas sempal dua potong.
Ketika ia meremas, tahu-tahu sempalan kayu itu lantas hancur menjadi bubuk.
Sianak muda sendiri sampai kaget.
"Ken……..kenapa kursi ini sedemikian lapuknya, hanya dipegang saja sudah hancur, kalau diduduki orang kan bisa celaka."
Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara 5
Baca Juga: Asmara Si Pedang Tumpul Kho Ping Hoo