Ceritasilat Novel Online

Medali Wasiat 1

Eps 1 Medali Wasiat - Yin Yong

Baca online Medali Wasiat - Yin Yong

Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.

MEDALI WASIAT (Ode to Gallantry) Cerita Asli. Xia Ke Xing / Hiap Khek Heng oleh. Yin Yong ~ Diceritakan oleh. Gan K.L.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Bab 1.

Si Jembel Yatim Piatu Kira-kira duabelas li ditimur kota Khay-hong, ibukota propinsi Ho-lam terdapat sebuah kota kecil bernama Hau-kam-cip, suatu kota kecil yang ramai dan makmur dalam lalu-lintas perdagangan.

Tatkala itu sudah menjelang maghrib, para pedagang dan bakul-bakul, tukang sayur, tukang daging dan lain-lain sedang sibuk bebenah pikulan dan keranjang mereka untuk pulang.

Pada saat itulah sekonyong-konyong dari arah tenggara sayupsayup terdengar suara derapan kaki kuda yang ramai.

Hau-kam-cip memang suatu kota yang menempati jalan raya yang penting, kaum pedagang yang berlalu-lalang setiap hari sangat banyak, maka siapapun tiada yang ambil pusing jika ada orang berlalu dengan menunggang kuda.

Tapi dari arah suara derap kaki kuda yang makin mendekat itu dapat terdengar bahwa jumlah penunggang kuda itu ternyata adalah suatu rombongan besar, sedikitnya ada ratusan.

Baru sekarang penduduk Hau-kam-cip mulai terkejut dan heran.

Dari suara derap kuda yang gemuruh itu nyata sekali penunggang-penunggangnya sedang membalapkan binatang tunggangan mereka dengan cepat.

"Besar kemungkinan adalah pasukan tentara pemerintah!"

Demikian orang ramai mempercakapkan.

"Ya, lekas kita menyingkir,"

Ada yang menanggapi.

"Mendingan kalau cuma barang dagangan kita yang keterjang dan rusak, lebih celaka kalau kita yang terinjak-injak kuda, kan bisa runyam!"

Mendadak diantara suara gemuruh derap kuda itu terseling pula suara-suara suitan, bahkan suara-suara suitan itu sahutmenyahut dari berbagai jurusan.

Ternyata segenap penjuru Hau-kam-cip itu sudah terkepung dengan rapat.

Kembali semua orang terperanjat.

Bagi orang-orang yang berpengalaman lebih luas lantas timbul kesangsian.

"Wah, jangan-jangan adalah kaum bandit?"

Seorang pegawai toko kelontong bermerek "Ho An"

Ditepi jalan itu telah berkata.

"Wah, celaka! Mungkin saudara-saudara tua kita itu yang datang!"

Ong-ciangkui, si juragan toko memangnya sedang gemetar ketakutan, sekarang mendengar pegawainya bermulut cerewet, kontak ia mengangkat sebelah tangannya dengan gaya hendak menabok, sambil membentak.

"Kurang ajar! Bicara saja tidak tahu aturan. Kalau benar tuan-tuan besar dari golongan itu yang datang, hm, tentu… tentu kau bisa mampus. Padahal jarang terdengar ada orang melakukan pekerjaan begitu disiang hari bolong? Wah, ini… ini memang agak aneh…."

Belum selesai ucapannya ia menjadi melongo dan tidak sanggup meneruskan lagi, sebab saat itu dari jurusan timur ada empat-lima penunggang kuda sedang menerjang tiba.

Penunggang-penunggang kuda itu seluruhnya berbaju hitam mulus, kepala memakai caping dan semuanya bersenjata golok mengkilap.

"Wahai, dengarkan segenap penduduk! Hendaklah setiap orang tetap tinggal ditempatnya masing-masing, kalau berani sembarangan bergerak, jangan menyesalkan senjata kami yang tak bermata ini!"

Demikian penunggang-penunggang kuda itu berteriak-teriak.

Sambil mem-bentak2 terus melarikan kuda mereka kejurusan barat.

Tapal kuda mereka yang beradu dengan jalan yang berlapiskan balok-balok batu menimbulkan suara "ketuprakketuprak"

Telah menggetarkan perasaan setiap orang.

Belum lenyap suara derap kuda-kuda itu, kembali dari jurusan barat menerjang datang tujuh-delapan penunggang kuda yang lain, semuanya juga berbaju hitam dan memakai caping yang setengah menutupi muka mereka sehingga tidak jelas terlihat.

Orang-orang inipun mem-bentak2 agar setiap orang tetap tinggal ditempatnya masing-masing kalau tidak ingin berkenalan dengan senjata mereka yang tajam.

Dasar cerewet dan usilan, kembali sipegawai toko kelontong tadi mengoceh.

"Ha, entah bagaimana rasanya golok mereka, kan lebih enak makan…."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong salah seorang penunggang kuda itu mengayun cambuknya.

"tarrr" , ujung cambuk menyambar masuk kedalam toko dan dengan cepat melilit dileher sipegawai, ketika orang itu menarik cambuknya yang panjang itu.

"bluk" , kontan sipegawai toko kelontong yang sialan itu terbanting ke-tengah2 jalan raya. Waktu penunggang kuda itu mencongklangkan kudanya, seketika sipegawai ikut terseret kedepan. Lebih celaka lagi dari belakang telah menyusul tiba penunggang-penunggang kuda yang lain. Maka terdengarlah suara jerit ngeri sipegawai toko tadi, seketika melayanglah jiwanya terinjak-injak oleh kaki kuda. Melihat betapa jahat dan kejamnya kawanan berandal itu, tentu saja penduduk-penduduk yang lain tidak berani berkutik. Yang tadinya bermaksud cepat-cepat menutup pintu juga urung dan serasa terpaku ditempatnya masing-masing dengan badan gemetar. Terpisah kira-kira belasan rumah dari toko kelontong bermerek "Ho An"

Itu adalah sebuah kedai penjual penganan sebangsa Yuciakue, untir2, siopia-siopia dan lain-lain.

Sebuah wajan besar dengan minyak yang mendidih mengeluarkan suara gemercik.

Diatas saringan minyak dari ayaman kawat diatas wajan itu terdapat beberapa lonjor Yuciakue yang masih panas.

Penjual penganan itu adalah seorang kakek yang bungkuk.

Kalau orang lain merasa berdebar-debar dan ketakutan oleh apa yang terjadi saat itu, adalah sikakek ternyata tidak ambil pusing, dianggapnya seperti tidak melihat saja.

Sikakek sedang sibuk mengolah barang dagangannya, sedang membuat siopia-siopia.

Mula2 ia menaruh sedikit rajangan berambang diatas adonan tepungnya, lalu adonan itu dikepalnya dan dipencet dengan kedua telapak tangan sehingga berbentuk bundar gepeng, kemudian ia mencomot sedikit wijen dari sebuah mangkuk yang terletak diujung papan adonam tepung dan ditaburkan diatas kepingan siopia-siopia yang belum masak itu.

Akhirnya ditaruh diatas alat panggang terus dimasukkan kedalam anglo garangan.

Saat itu suara-suara suitan tadi sudah mereda, suara derap kuda juga tak terdengar lagi.

Suasana kota Hau-kam-cip yang berpenduduk hampir ribuan jiwa itu berubah menjadi sunyi senyap laksana kuburan.

Ditengah suasana prihatin itu yang masih terdengar hanya suara "prak-prak-prak" , suara derap sepatu kulit yang memukul lantai sedang mendekat dari jurusan barat menyusul sepanjang jalan raya.

Dari suara tindakan itu, agaknya orang itu berjalan dengan sangat perlahan, suara derap sepatu kulitnya yang berat itu dirasakan seakan-akan menggetarkan perasaan setiap penduduk kota.

Suara langkan orang itu makin lama makin mendekat.

Tatkala itu sang surya baru saja akan terbenam diufuk barat, suatu bayangan orang yang jangkung tampak tersorot ditengah jalan besar dan makin mendekat mengikuti suara tindakan kaki.

Setiap orang dijalanan Hau-kam-cip itu seolah-olah sudah terkesima ketakutan.

Hanya sikakek penjual penganan tadi masih tetap sibuk membuat siopia-siopia.

Anehnya, suara derap sepatu kulit setiba didepan tempat penjual siopia-siopia itu mendadak lantas berhenti.

Orang itu mengamat-amati sikakek penjual siopia-siopia dari atas kebawah dan dari ujung kaki sampai keujung rambut.

Habis itu sekonyong-konyong ia tertawa dingin terkekeh-kekeh.

Perlahan-lahan si kakek penjual siopia-siopia mengangkat kepalanya, dilihatnya orang itu berbadan sangat tinggi, usianya antara 45-46 tahun, mukanya buruk, kulit mukanya seperti kulit jeruk yang kasar dan penuh kukul, kedua matanya kecil, tapi bersinar.

"Apa mau beli siopia-siopia, tuan? Satu picis satu biji,"

Kata si kakek.

Lalu ia menggunakan capit besi dan mengeluarkan sebuah siopia-siopia dari dalam anglo yang masih panas dan ditaruh diatas meja.

Kembali sijangkung bermuka jelek itu tertawa dingin, tiba-tiba ia menjulurkan tangannya dan berseru.

"Mana? Berikan!"

Sikakek mengiakan, lalu siopia-siopia yang masih panas itu diambilnya dna ditaruh kedalam tangan sijangkung.

"Kurang ajar! Sampai saat ini kau masih coba mempermainkan tuan-besarmu!"

Bentak sijangkung dengan alis menegak gusar dan mendadak siopia-siopia itu terus disambitkan kemuka sikakek.

Dari sambaran angin yang terbawa oleh siopia-siopia itu jelas sekali tenaga sambitan sijangkung ternyata sangat kuat, kalau muka sampai terkena sambaran itu pasti akan terluka parah.

Tapi sikakek dengan sedikit miringkan kepalanya, dengan tepat siopia-siopia itu telah menyambar lewat disisi mukanya.

Plok, siopia-siopia itu jatuh ditepi selokan dipinggir jalan.

Dalam pada itu setelah menyambitkan siopia-siopia, menyusul sijangkung lantas melolos keluar sepasang senjata Siang-kau (gaetan), ujung senjata yang melengkung tajam itu mengeluarkan sinar gemerlapan.

"Dalam keadaan demikian masih tidak kau serahkan, memangnya apa kau kira jiwamu dapat diselamatkan? Orang she Go, sebenarnya kau bisa melihat gelagat atau tidak?"

Demikian bentak sijangkung pula. Tapi dengan setengan memicingkan matanya, sikakek penjual siopia-siopia menjawab.

"Sudah lama kudengar An-cecu dari Kim-to-ce suka merampas yang kaya untuk menolong yang miskin, setiap orang Kangouw yang menyebut nama An-cecu tentu akan mengacungkan jempol mereka dan berkata.

"Ya, seorang begal budiman!" – Tapi entah mengapa hari ini Siauliaulo (anak buah kaum begal, keroco) yang dia kirim ke Hau-kam-cip ini telah sudi mengincar kepada seorang kakek miskin penjual siopia-siopia? " – Cara bicaranya seperti perlahan dan lemah, tapi apa yang dikatakannya itu terdengan cukup jelas. Sebaliknya sijangkung tambah gusar ketika mendengar dirinya dianggap sebagai "

Kaum keroco"

Saja. Segera ia membentak pula.

"Go To-it, kau tidak perlu berlagak-pilon. Katakanlah terus terang saja, apa kau benar-benar tidak mau menyerahkan?"

Sikakek terkesiap juga, karena orang dapat mengatakan dengan jitu nama aselinya.

Diam-diam ia harus mengakui tajamnya telinga Kim-to-ce.

Namun dia masih tetap berlagak seperti tiada terjadi apa-apa, dengan sikap ke-malas2an ia menjawab.

"Saudara membawa Siang-kau, tentu adalah Tiatkau-cu Thio… Thio Tay-goan dari Kim-to-ce!"

Padahal sijangkung bernama Li Tay-goan, orang memberi julukan "Sin-kau" (Si Kait Sakti) padanya.

Tapi sekarang Go To-it, yaitu sikakek penjual siopia-siopia, sengaja mengganti dia punya she, bahkan Si Kait Sakti sengaja disebut sebagai Tiat-kau-cu atau Si Kait Besi yang penuh mengandung maksud ejekan.

Keruan ia tidak tahan lagi.

Mendadak kaitan kiri bergerak, terus saja menggancu kepundak Go To-it.

Cepat Go To-it mengegos kekanan sehingga kaitan Li Taygoan mengenai tempat kosong.

Namun serangan Li Tay-goan itu ternyata masih membawa serangan susulan yang sangat lihay.

Ketika kaitan diseret kesamping terus ditarik, kembali punggung Go To-it hendak digait.

Sekonyong-konyong Go To-it mendakkan tubuh sehingga kaitan itu menyambar lewat diatas kepalanya, menyusul kakinya lantas menendang, tapi bukan Li Tay-goan yang diarah, sebaliknya menendang anglo sehingga bara arang yang masih menyala itu berhamburan ketubuh Li Tay-goan, berbareng sewajan penuh minyak mendidih yang sedang dibuat menggoreng yuciakue tadi juga menyiram keatas kepalanya.

Keruan Li Tay-goan terkejut, buru-buru ia melompat mundur hingga taburan bara arang dapat terhindar, tapi susah menghindarkan muncratnya minyak mendidih.

Ia mengaduh kesakitan karena kedua kakinya telah tersiram minyak mendidih itu.

Kesempatan itu telah digunakan oleh Go To-it untuk meloncat keatas, sebagai burung ia mengapung keatas wuwungan rumah didepan sana dengan tangan tetap memegang jepit besi alat panggang siopia-siopia tadi.

Dan baru saja Go To-it sempat berdiri diatas wuwungan, mendadak sinar tajam berkilau, kepalanya sudah terancam oleh bacokan golok.

Cepat Go To-it menangkis dengan japit besi.

"Trang!"

Lelatu api meletik.

Ternyata jepit besi yang hangus tak menarik itu sebenarnya buatan dari baja murni sehingga golok musuh tertangkis kembali.

Pada saat yang hampir sama dari sebelah kiri sebatang tombak pendek dan dari sisi kanan sepasang golok berbareng juga menyerang tiba.

"Hm, tidak tahu malu, main kerubut!"

Jengek Go To-it.

Waktu tubuhnya sudah menegak, tahu-tahu kedua tangannya masingmasing sudah memegang sebelah tangkai japit besi, yang kiri dibuat menangkis tombak dan yang kanan dipakai menahan sepasang golok musuh.

Nyata dia telah pisahkan japit besi itu sehingga sekarang berbentuk sepasang Boan-koan-pit.

Ketiga orang pengerubut itupun berpakaian hitam mulus, mereka menjadi kaget ketika mendadak melihat tubuh Go To-it menegak, seorang kakek yang bungkuk tahu-tahu sekarang telah berubah menjadi seorang yang berperawakan tegap kuat.

Dengan memutar sepasang Boan-koan-pit itu selalu Go To-it mengincar Hiat-to lawannya, walaupun satu dikeroyok tiga, tapi ia masih tetap diatas angin.

"Kena!"

Mendadak Go To-it menggertak.

Menyusul terdengar lawannya yang memakai tombak telah menjerit, kaki kiri terkena tusukan Boan-koan-pit dan segera terperosot kebawah rumah.

Dalam pada itu diatas wuwungan rumah sebelah sana tampak berdiri seorang tua kurus kecil, dengan kedua tangan bertolak pinggang, orang tua itu sedang mengawasi pertarungan ketiga orang.

Ditengah berkelebatnya sinar berkilau.

"trang!" , senjata sipemakai golok telah tersampuk jatuh oleh Boan-koan-pit yang dihantamkan Go To-it, menyusul dada orang itupun terdepak sehingga terjungkal kebawah rumah. Sekarang lawan Go To-it tertinggal sipemakai sepasang golok saja yang menjadi jeri karena kedua kawannya berturut-turut telah dirobohkan Go To-it. Tapi ia masih tidak mau mengaku kalah dan mengundurkan diri, ia putar kedua batang goloknya sebagai kitiran cepatnya, ia melindungi tempat-tempat berbahaya diseluruh badannya, ia hanya menjaga diri dan tidak menyerang. Maka sikakek kurus kecil yang sejak tadi hanya menonton saja sekarang lantas mendekati mereka, makin lama makin mendekat. Saat itu senjata Go To-it dan lawannya sedang diputar sekencang-kencangnya, asal salah seorang tersambar senjata itu tentu akan binasa atau sedikitnya terluka parah. Tapi sikakek kurus kecil itu justeru anggap sepi saja akan hal itu, ia masih terus melangkah kedepan dan makin mendekati kedua orang yang sedang mengadu jiwa itu.

"Awas, Susiok!"

Teriak si pemakai sepasang golok.

Saat itu dia sedang membabat dengan senjatanya dan karena tidak sempat ditahan lagi, maka goloknya telah menabas kepundak sikakek.

Namun sikakek kurus kecil sama sekali tidak berkelit, tangan kanannya mendadak terangkat, dengan kedua jari tangan ia tahan keatas batang golok.

Begitu kuat daya tekanan itu sehingga orang itu tidak sanggup memegang senjatanya lagi, tahu-tahu goloknya terlepas dan terbang ketengah jalan raya dibawah sana.

Tentu saja orang itu menjadi gugup karena sebelah goloknya terlepas.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Go To-it, sebelah Boan-koan-pitnya kontan menjuju kedepan untuk menutuk perut lawannya.

Tak disangka sikakek kurus kecil mendadak menjulurkan sebelah tangannya lagi keatas pundak sipemakai golok, sekali tarik secepat kilat orang itu telah ditarik mundur kebelakangnya.

Berbareng jari kanannya lantas mencolek mata kiri Go To-it.

Serangan balasan ini cepatnya tak terkatakan.

Padahal Go Toit jelas melihat perut sipemakai golok tadi pasti akan tertutuk oleh Boan-koan-pitnya.

Siapa duga mendadak lawan telah membarengi dengan serangan yang keji itu, untuk menyelamatkan biji matanya sendiri terpaksa ia menarik kembali senjatanya untuk memukul tangan sikakek.

Tapi hanya sedikit serongkan jarinya sikakek sudah mengelakkan hantaman senjata lawan, malahan jarinya lantas berganti sasaran dan mengarah tenggorokan Go To-it.

Cepat To-it melompat mundur.

Tak terduga sikakek juga lantas mendesak maju dan kembali jarinya menutuk kembali keperutnya.

Sebagai pemain Boan-koan-pit, dengan sendirinya Go To-it adalah ahli Tiam-hiat, ahli menutuk jalan darah.

Ia lihat cara menutuk lawan itu tidak diarahkan kepada bagian Hiat-to tertentu, tapi asal kena saja.

Walaupun demikian Go To-it juga tidak berani membiarkan tubuhnya tertutuk.

Mendadak Boankoan-pit sebelah kanan memutar balik terus mengepruk keatas kepala sikakek.

Tak terduga sikakek malah menerjang maju sehingga hampirhampir menubruk kedalam pelukan Go To-it.

Dan karena terjangan itu dengan sendirinya serangan Go To-it itu sudah terhindar, bahkan kedua tangannya menjulur sekaligus untuk mencakar dada Go To-it.

Perawakan Go To-it tinggi besar, sebaliknya tinggi sikakek hanya sebatas lehernya.

Namun ilmu silat sikakek ternyata sangat ganas, biarpun dengan bertangan kosong ia terus menubruk dan mendesak maju.

Ketika mendadak Go To-it merasa musuh sudah berada didepan dadanya, dalam kagetnya cepat ia melompat mundur, namun tidak urung bajunya sudah tercakar.

"bret!" , bajunya robek sepotong. Seketika Go To-it merasa perutnya silir-silir dingin, dalam seribu gugupnya ia tidak sempat memeriksa apakah tubuhnya sudah terluka atau tidak, tapi segera ia putar balik sepasang Boan-koan-pit terus mengetok ke "Thay-yang-hiat" , yaitu kedua pelipis si kakek. Sungguh aneh, kembali sikakek tidak berkelit, juga tidak menangkis, tapi lagi-lagi orangnya menerjang kedepan dan dengan telak kedua tangannya menghantam didada Go To-it. Maka terdengarlah suara "krakkk!" , entah berapa lajur tulang iga telah dipatahkan, kontak Go To-it terguling kebawah rumah. Dibawah sana masih menggeletak Li Tay-goan yang kedua kakinya melepuh tersiram minyak mendidih tadi, memangnya dia sudah murka, soalnya kedua kakinya terluka parah dan tidak leluasa untuk melompat keatas wuwungan rumah buat melabrak musuh. Pula ia kenal watak Ciu Bok, yaitu nama sikakek kurus kecil, yang tinggi hati dan angkuh, sekali dia sudah turun tangan, maka dia tidak suka kalau orang lain ikut membantunya. Sebab itulah Li Tay-goan hanya mendongak keatas untuk mengikuti pertarungan kedua orang. Waktu Go To-it terjungkal kebawah, tanpa ayal lagi Li Taygoan lantas melompat maju, dengan kalap kedua senjata kaitnya lantas menikam ke perut Go To-it. Saking senangnya karena rasa dongkolnya terlampias, kembali ia mendongak dan tertawa panjang.

"Jangan dibunuh!"

Demikian mestinya Ciu Bok telah mencegahnya, tapi toh agak terlambat, kedua kaitan besi Li Tay-goan sudah bersarang didalam perut Go To-it dan sudah tentu jiwanya melayang.

Tapi sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, menyusul terdengar Li Tay-goan menjerit ngeri, ia terhuyunghuyung mundur beberapa tindak, tahu-tahu bagian kedua tetek didadanya sudah tertancap sepasang Boan-koan-pit yang menembus sampai punggungnya, darah mengucur keluar sebagai mata air dari lubang keempat luka itu.

Dan sesudah sempoyongan beberapa kali, akhirnya Li Tay-goan roboh terkulai.

Kiranya Go To-it tidak rela mati konyol begitu saja, tapi sebelum ajalnya ia masih balas menyerang sekuatnya.

Dan karena tidak terduga-duga, tanpa ampun lagi dada Li Tay-goan telah tertusuk tembus oleh sepasang Boan-koan-pit.

Ciu Bok, sikakek kurus kecil itu, sama sekali tak ambil pusing akan mati-hidupnya Li Tay-goan.

Sebaliknya dengan air muka menghina ia mendekati Go To-it, ia jambret tubuh orang she Go itu, tapi diketahuinya napasnya juga sudah berhenti.

Dengan mengerut kening Ciu Bok membanting tubuh Go To-it ketanah sambil membentak.

"Copot pakaiannya dan geledah!"

Beberapa anak buahnya mengiakan dan segera mulai melepaskan baju Go To-it.

Maka tertampaklah dibagian punggung yang tertutup baju itu terdapat sebuah bantalan.

Kiranya bungkuk Go To-it itu adalah buatan belaka yang diganjal dengan bantalan itu.

Segera dua lelaki berbaju hitam dengan cepat membongkar bantalan itu.

Ternyata didalam bantalan terdapat bungkusan pula dan tiap-tiap lapis dibungkus dengan kain minyak.

Setiap kali bungkusan itu dilepaskan, setiap kali pula air muka Ciu Bok bertambah girang, diam-diam ia bersorak didalam hati.

"Ini dia! Disini! Ini dia!"

Sesudah belasan lapisan kain minyak itu dibuka, bungkusan itu makin lama makin kecil dan akhirnya hanya tinggal satu potong yang cuma belasan senti persegi.

Ciu Bok lantas sambar bungkusan kecil itu dari tangan anak buahnya sambil berkata.

"Sudahlah, hanya tipu belaka, tidak perlu dibuka lagi! Lekas geledah saja kedalam rumah, periksalah yang teliti!"

Serentak belasan laki-laki berbaju hitam mengiakan dan beramai-ramai masuk kedalam rumah.

Kedai siopia-siopia itu tidak lebih hanya terdiri dari dua kamar saja.

Sekaligus dimasuki belasan orang, keadaan menjadi penuh sesak.

Maka terdengarlah suara gemerencang dan gemertak yang ramai, suara terlempar dan diobrak-abriknya mangkok, piring, meja, kursi, dan alat-alat perabot lainnya.

Sedang Ciu Bok masih terus berseru.

"Periksalah yang teliti, setiap tempat harus digeledah, jangan sampai terlalui!"

Begitulah sampai lama sekali belasan lelaki itu menggeledah, akhirnya haripun sudah gelap, segera mereka menyalakan obor dan masih terus menggeledah, sampai-sampai dinding kedai siopia-siopia itu, bahkan dapurnya juga dibongkar.

"Brang!" , mendadak sebuah gentong terlempar ketengah jalan raya dan pecah berantakan, isinya adalah tepung terigu yang bertebaran memenuhi jalan…. Ditengah cuaca senja yang remang-remang itulah tiba-tiba dari pojik jalan sana menjulur sebuah tangan kecil dan secara hati-hati siopia-siopia yang jatuh ditepi selokan tadi diambilnya, lalu tangan itu perlahan-lahan ditarik kembali. Itulah tangan seorang pengemis kecil berusia antara 12-13 tahun. Sudah seharian dia kelaparan dan tidak memperoleh sedekah apa-apa, dengan badan lemas sejak tadi dia duduk mendoprok dipojok rumah sana. Tadi waktu Li Tay-goan menimpukkan siopia-siopia yang diterimanya dari Go To-it sehingga siopia-siopia itu jatuh ditepi selokan, sejak itulah pandangan mata sipengemis kecil itu tidak pernah meninggalkan sepotong penganan itu. Sudah sedari tadi dia sangat ingin mengambil siopia-siopia itu untuk dimakan, tapi dia tidak berani berkutik karena takut kepada kawanan laki-laki berbaju hitam yang tampaknya galak dan jahat-jahat itu. Malahan jenazah sipegawai toko kelontong Ho An yang ceriwis itu menggeletak dekat dengan siopia-siopia yang diincarnya itu. Bahkan kemudian mayat-mayat Go To-it dan Li Tay-goan juga terkulai tidak jauh dari tempat siopiasiopia itu berada. Baru kemudian sesudah cuaca menjadi gelap dan cahaya obor tidak mencapai tepi selokan itu, akhirnya sipengemis kecil berani mengulur tangannya untuk menggerayangi siopia-siopia itu. Saking laparnya, sipengemis kecil tidak ambil peduli apakah siopia-siopia itu kotor atau tidak, dengan segera ia menggigiti perlahan segigitan dan dikulum didalam mulut, ternyata dia tidak berani mengunyah, kuatir kalau mulutnya mengunyah, tentu akan mengeluarkan suara perlahan, hal ini mungkin akan didengar oleh laki-laki berbaju hitam yang galak dan bersenjata itu dan bukan mustahil akan mendatangkan malapetaka baginya. Dari sebab itu siopia-siopia yang telah digigitnya itu tetap dikulum didalam mulut saja, walaupun tidak sampai ditelan kedalam perut, tapi rasa laparnya seolah-olah sudah agak berkurang. Dalam pada itu kawanan laki-laki berbaju hitam itu sudah sekian lamanya mengobrak-abrik segenap isi kedai siopiasiopia tadi, sampai-sampai ubin kedai itupun tidak ketinggalan dicungkil dan diperiksa, tapi hasilnya tetap nihil. Melihat tiada sesuatu yang dapat diketemukan lagi, akhirnya sikakek kurus kecil . telah berseru.

"Sudahlah, berhenti saja, tarik pulang semua!"

Maka terdengar pula suara suitan sahut-menyahut disana-sini disusul dengan derap lari kuda yang riuh ramai, kawanan perusuhitu sudah meninggalkan Hau-kam-cip.

Akhirnya beberapa laki-laki yang mengerubut Go To-it tadi menaikkan jenazah Li Tay-goan an ditaruh melintang diatas kuda, lalu merekapun menghilang dalam waktu singkat.

Sampai suara derap lari kuda akhirnya sudah tak terdengar lagi, kemudian penduduk Hau-kam-cip baru berani keluar dari tempat sembunyi masing-masing, tapi kuatir kalau-kalau kawanan bandit itu akan datang kembali, maka cara bicara merekapun tidak berani keras-keras.

Cepat-cepat tauke toko kelontong dan seorang pegawai yang lain menyeret jenazah kawan mereka kedalam rumah, lalu menutup papan pintu toko untuk selanjutnya tidak berani keluar lagi.

Maka terdengarlah suara gedebrakan disana-sini, suara pintu ditutup cepat-cepat.

Hanya sebentar saja suasana kembali sunyi pula, dijalan kota itu tidak nampak bayangan seorangpun.

Hanya tertinggal sipengemis kecil tadi masih meringkuk dipojok rumah sana.

Ketika dilihatnya mayat Go To-it masih menggeletak disitu dan tiada seorang pun yang mengurusnya, hati sijembel cilik itu menjadi takut.

Perlahan-lahan ia mengunyah beberapa kali siopia-siopia yang masih terkulum didalam mulut itu dan cepat ditelannya.

Dan baru saja dia hendak menggigit sisa siopia-siopia yang masih dipegangnya itu, tiba-tiba dilihatnya mayat Go To-it bergerak perlahan.

Keruan kaget sipengemis cilik itu bukan buatan.

Ia coba kucek-kucek matanya sendiri, ketika ia memandang lagi, ternyata mayat itu sudah terduduk.

Sipengemis kecil menjadi terkesima saking takutnya.

Dia pernah mendengar cerita tentang mayat hidup, maka hatinya menjadi berguncang hebat.

Tiba-tiba dilihatnya mayat Go To-it itu mulai berbangkit dan akhirnya berdiri tegak.

Saking tegang dan takutnya gigi sijembel cilik sampai mengeluarkan suara berkeretukan.

Rupanya suara kertukan itu dapat didengar mayat hidup itu, maka mayat itu telah berpaling.

Untung sijembel cilik meringkuk dibalik pojok rumah sehingga tak terlihat oleh mayat hidup.

Saat itu rembulan muda mulai memancarkan sinarnya yang remang-remang sehingga sipengemis kecil dapat melihat dengan jelas muka mayat hidup itu, dari ujung mulutnya tampak mengucurkan darah, dua batang kaitan masih menancap didalam perutnya.

Dengan sekuat-kuatnya sipengemis menggigit kuat-kuat giginya supaya tidak mengeluarkan suara berkertukan.

Dilihatnya mayat hidup itu tiba-tiba berjongkok, tangannya meraba-raba diatas tanah, ketika sebuah siopia-siopia terpegang, ia penyet-penyet siopia-siopia itu dan dipecah, tapi lantas dibuangnya, lalu tangannya mencari-cari pula, ketika sebuah siopia-siopia ditemukan lagi, namun setelah dirobek segera dibuangnya juga.

Sungguh takut sipengemis cilik tidak kepalang, hatinya berdebar keras seakan-akan meloncat keluar dari rongga dadanya.

Dilihatnya mayat hidup itu masih terus meraba-raba diatas tanah, barang-barang lain yang terpegang olehnya tidak diperhatikan, hanya kalau siopia-siopia segera dipecah menjadi dua, lalu dibuang.

Sambil meraba-raba, lambat-laun mayat hidup itu telah mendekati tepi selokan.

Sudah tentu sijembel cilik tambah takut.

Ada maksudnya hendak melarikan diri, tapi sekujur badan serasa lemas semua, sepasang kakinya seperti terpaku diatas tanah, sedikitpun tidak sanggup bergerak.

Gerak-gerik mayat hidup itu sangat lamban, maka telah makan waktu sekian lamanya setelah belasan buah siopiasiopia dirusak olehnya.

Dan karena tiada menemukan siopiasiopia lain pula diatas tanah, perlahan-lahan mayat hidup itu menoleh seperti hendak mencari siopia-siopia lagi.

Sekonyong-konyong sipengemis kecil menjadi kaget ketika melihat bayangannya sendiri tersorot oleh sinar bulan dan terletak disamping kaki mayat hidup itu.

Waktu dilihatnya kaki mayat hidup kembali bergerak kedepan, entah darimana datangnya tenaga, mendadak ia berteriak keras sekali, lalu melarikan diri.

Mungkin mayat hidup itu juga kaget oleh jerita sipengemis cilik, ia tertegun sejenak, tapi segera iapun berseru.

"Siopiasiopia! Siopia-siopia!" – lalu ia menguber kearah sijembel cilik. Saking gugupnya sipengemis keserimpet larinya sehingga jatuh tersungkur. Kesempatan itu segera digunakan mayat hidup untuk menangkapnya. Tapi secepat kilat sipengemis menggelinding kesamping sehingga mayat hidup menubruk tempat kosong. Lalu sijembel berlari lagi lebih cepat. Karena gerak-geriknya agak lamban, maka sesudah sekian lamanya barulah mayat hidup itu dapat berdiri tegak lagi. Namun dia berkaki panjang dan berlangkah lebar, biarpun dengan agak sempoyongan, hanya belasan tindak saja kembali ia sudah menyusul sampai dibelakang sijembel cilik. Waktu itu ditepi jalan terdapat sebatang pohon besar. Tibatiba sijembel cilik teringat kepada cerita orang, katanya mayat hidup tidak dapat membelok, asal orang yang dikejar mayat hidup berputar disekitar pohon, maka susahlah mayat hidup hendak menangkapnya. Karena pikiran itu segera sijembel cilik hendak membelok kebelakang pohon, namun sudah terlambat sedikit tahu-tahu tengkuknya teras dicengkeram orang, lalu tubuhnya terangkat keatas.

"Kau……… kau telah mencuri aku punya siopia-siopia?"

Tanya mayat hidup itu. Dalam keadaan demikian sudah tentu sijembel cilik tak berani menyangkal, terpaksa ia mengangguk.

"Dan sio…….. siopia-siopia itu sudah ………. Sudah kau makan?"

Mayat hidup itu bertanya pula dengan suara lemah. Kembali sijembel cilik mengangguk.

"Bret!"

Mendadak mayat hidup itu menarik baju sijembel sehingga robek dan kelihatan perutnya.

Jelek-jelek baju kapas yang rombeng itu merupakan milik satu-satunya sijembel dan telah dipakai seluruhnya, sekarang ternyata dirobek begitu saja, keruan ia merasa sangat sayang dan hampir-hampir saja ia menangis kalau tidak dalam keadaan ketakutan.

"Akan kubelah perutmu dan mengoreknya keluar!"

Demikian terdengar mayat hidup itu berkata. Hampir-hampir saja sukma sijembel cilik meninggalkan raganya saking takutnya. Dengan suara gemetar ia berkata.

"Aku………. Aku hanya menggigitnya sedikit."

Tapi saking takutnya, suaranya hampir-hampir tak terdengar.

Dalam keadaan ketakutan benaknya juga tidak pernah terkilas pikiran mengapa mayat hidup dapat bicara?

Sudah tentu tak diketahuinya bahwa sesudah dada Go To-it kena hantaman sikakek kurus kecil sehingga tulang iga patah beberapa buah ditambah lagi perutnya tertusuk oleh sepasang kaitan Li Tay-goan, seketika napasnya berhenti dan roboh tak sadarkan diri.

Tapi lambat-laun ia telah siuman kembali.

Walaupun perut merupakan tempat yang mematikan, tapi luka parah itu seketika tidak membuat Go To-it lantas binasa.

Bahkan dalam benak Go To-it selalu teringat kepada sesuatu benda, maka begitu dia siuman dan mengetahui orang-orang Kim-to-ce sudah pergi semua, dengan mengesampingkan luka didada dan diperutnya yang parah, lebih dulu ia lantas berusaha mencari benda yang telah disembunyikannya didalam siopia-siopia itu.

Kiranya ia menyamar sebagai penjual siopia-siopia dan menetap di Hau-kam-cip, maksud tujuannya ialah ingin menyelamatkan benda itu dari pencarian musuh dan selama tiga tahun dia telah hidup aman tenteram ditempatnya ini.

Tiada seorangpun dari penduduk Hau-kam-cip menaruh perhatian kepada seorang kakek bungkuk penjual siopia-siopia, maka tiada yang tahu bahwa sebenarnya dia tidak bungkuk juga belum tua, bahkan bukan seorang penjual siopia-siopia.

Ketika terdengar suara suitan yang ramai dan ratusan penunggang kuda telah mengepung rapat Hau-kam-cip, maka tahulah Go To-it bahwa jejaknya akhirnya telah ketahuan.

Dalam keadan terburu-buru ia tidak sempat mencari tempat lain yang baik dan terpaksa menyembunyikan benda mestika itu didalam siopia-siopia.

Waktu Li Tay-goan menyodorkan tangannya ingin minta benda itu padanya, terpaksa Go To-it bersepekulasi dan menaruh siopia-siopia itu ditangan Li Taygoan, dan benar juga seperti apa yang diduganya, dalam gusarnya Li Tay-goan lantas melemparkan siopia-siopia itu.

Sesudah siuman dari lukanya yang parah Go To-it tidak dapat membedakan lagi siopia-siopia mana yang terdapat benda mestika itu.

Terpaksa ia mencarinya satu-persatu dan memecahkan siopia-siopia itu untuk mencarinya.

Akhirnya dilihatnya pula sipengemis itu.

Tiba-tiba terpikir olehnya bukan mustahil siopia-siopia bersama benda mestika itu telah ditelan semua kedalam perut sijembel cilik yang kelaparan itu, maka cepat ia menangkapnya dan hendak membelih perutnya untuk mencari benda mestikanya.

Namun tiada senjata tajam yang dapat dipakai membelah perut, tiba-tiba ia menggertak gigi terus mencabut sebuah kaitan besi yang menancap diperutnya sendiri itu, dengan kaitan yang tajam itu segera hendak dipakainya untuk menyembelih sipengemis cilik.

Tapi begitu kaitan besi itu tercabut keluar, seketika perutnya terasa kesakitan dan darah menyembur keluar dari lukanya, belum lagi kaitan itu sempat ditusukkan atau tangannya sudah terasa lemas dan pengemis cilik itu terlepas dari cekalannya.

Sedetik kemudian Go To-it merasa badannya menjadi lemas, ia jatuh terkapar dan sesudah berkelojotan beberapa kali, akhirnya mati sungguhsungguh.

Sipengemis cilik sesudah terlepas dari cengkeraman Go To-it, sekuatnya ia merangkak bangun dan segera berlari seperti kesetanan.

Akan tetapi ia benar-benar terlalu takut, maka cuma beberapa langkah saja dia tidak sanggup berlari lagi, kakinya terasa lemas dan akhirnya jatuh terguling dan tak ingat diri pula.

Namun tangannya masih tetap menggenggam siopia-siopia yang tadi baru digigitnya satu kali itu.

Sinar rembulan yang remang-remang itu menerangi jenazah Go To-it dan lambat laun menggeser sampai diatas badan sipengemis cilik.

Dalam pada itu dari arah tenggara sana sayup-sayup terdengar suara derapan kuda pula.

Datangnya suara derap kuda itu sekali ini sangatlah cepat, baru saja terdengar dan tahu-tahu sudah mendekat.

Memangnya penduduk Hau-kam-cip sudah ketakutan maka suara derap kuda ini pun membikin gemetar mereka.

Hanya saja yang datang sekali ini tidak lebih dari dua penunggang kuda pula tiada mengeluarkan suara suitan segala.

Bentuk kedua ekor kuda itupun sangat aneh.

Yang seekor berwarna hitam mulus, hanya keempat telapak kakinya berbulu putih.

Sebaliknya yang seekor berwarna putih mulus dan keempat telapak kakinya berbulu hitam.

Penunggang kuda putih itu adalah seorang wanita berbaju putih pula, kalau ikat pinggangnya tidak berwarna merah tentu orang akan menyangka wanita itu sedang berkabung.

Pada ikat pinggangnya yang berwarna merah itu tergantung sebatang pedang.

Sedangkan penunggang kuda hitam adalah seorang laki-laki setengah umur berbaju hitam, pinggangnya juga terikat sebatang pedang.

Kedua penunggang kuda itu secepat terbang datangnya.

Ketika tiba-tiba melihat tiga sosok mayat yang menggeletak ditengah jalan dan barang-barang dan alat-alat perabot berserakan, tanpa merasa kedua orang itu bersuara heran.

Mendadak silelaki baju hitam mengayun cambuknya sehingga membelit leher mayat Go To-it dan terus ditariknya keatas, dibawah cahaya rembulan dapatlah muka Go To-it terlihat jelas.

"Dia Go To-it, tampaknya Kim-to-ce sudah berhasil,"

Kata siwanita baju putih. Ketika silelaki baju hitam ayun cambuknya pula, ia lemparkan mayat Go To-it ketepi selokan. Lalu sahutnya.

"Belum lama matinya Go To-it, darah yang mengucur keluar dari lukanya belum lagi kering, kita masih dapat menyusul mereka!"

Siwanita mengangguk setuju.

Segera mereka melarikan kuda hitam-putih itu kearah barat dengan cepat.

Sungguh aneh juga, suara derapan kedua ekor kuda itu begitu rajin dan tetap sehingga suaranya mirip derap kaki seekor kuda saja, terang sekali kedua ekor kuda itu sudah terlatih dengan baik.

Makin lari makin cepat, kedua ekor kuda itu.

Sesudah mengitar lewat kota Khoy-hong, jalanan mulai sempit dan tidak cukup untuk kedua ekor kuda berlari sejajar.

Siwanita lantas menahan kudanya sedikit dan membiarkan silelaki jalan lebih dahulu.

Silelaki tampak tersenyum dan mencongklangkan kudanya kedepan dengan disusul siwanita dari belakang.

Bab 2.

Golok Emas Lawan Pedang Hitam Menurut taksiran kedua penunggang kuda itu, dilihat dari saat kematian Go To-it mereka menduga akan dapat menyusul orang-orang Kim-to-ce dalam waktu singkat.

Akan tetapi sudah sekian lamanya kawanan berandal itu tetap tidak kelihatan.

Nyatalah perhitungan mereka memang meleset, sebab matinya Go To-it walaupun benar belum lama berselang, tapi sebelum Go To-it mati benar-benar berandal Kim-to-ce itu sudah berangkat cukup jauh.

Begitulah dua jam lamanya kedua penunggang kuda itu telah melarikan kuda mereka dengan cepat, akhirnya mereka mengaso sekadarnya agar binatang tunggangan mereka tidak lelah, lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Menjelang fajar tertampaklah jauh didataran didepan sana ada cahaya api unggun.

Kedua orang saling pandang dengan tersenyum dan bersama langas melompat turun dari kuda mereka.

Sesudah menambat kuda-kuda mereka dibatang pohon ditepi jalan, mereka lantas berlari ketempat api unggun itu dengan Ginkang yang tinggi.

Api unggun itu tampaknya tidak jauh, tapi sebenarnya ada belasan li jauhnya.

Namun dengan Ginkang mereka yang hebat itu, bagaikan terbang saja mereka dapat mencapai tempat api unggun itu dalam waktu singkat.

Sesudah dekat, tertampaklah segerombolan orang terbagi dalam beberapa kelompok dan mengelilingi belasan gunduk api unggun.

Terdengar pula suara "serupat-seruput"

Disana-sini, orangorang itu masing-masing tampak memegang sebuah mangkuk, rupanya mereka sedang makan mi yang masih panas dan seperti biasanya orang makan mi, merekapun main sedot saja mi yang panjang-panjang dan panas itu.

Mestinya kedua orang itu ingin mengintai lebih dulu, tapi didataran yang luas itu tiada tempat sembunyi yang baik, terpaksa mereka lantas mendekati rombongan orang-orang itu.

Maka terdengarlah suara bentakan diantara rombongan orangorang itu.

"Siapa itu? Mau apa?"

Sesudah melangkah maju lagi, lalu silelaki memberi salam, katanya dengan tertawa.

"Apakah An-cecu tidak berada disini? Siapakah kawan yang berada disini ini?"

Sementara itu sikakek kurus kecil yaitu Ciu Bok, sudah selesai makan mi dan baru saja hendak memberi komando agar rombongan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan orang yang mendekat, menyusul dari rombongan kawan sendiri ada yang berseru menegur, waktu ia memperhatikan di bawah cahaya obor, kelihatan pendatang itu adalah seorang lelaki dan seorang wanita berbaju hitam-putih dan sudah berdiri sejajar didepan situ.

Usia kedua orang setengah umur semua, yang lelaki tampan dan gagah, yang wanita cantik dan lemah lembut, pinggang mereka masingmasing tergantung sebatang pedang.

Ciu Bok terkesiap, segera teringat dua orang olehnya.

Cepat ia berbangkit dan balas memberi salam, lalu jawabnya.

"Wahai, kiranya Ciok-cengcu suami-isteri dari Hian-soh-ceng di Kanglam telah berkunjung kemari!" – Lalu ia lantas berteriak.

"Hayo, saudara-saudara, lekas bangun dan memberi hormat, inilah Ciok-cengcu suami-isteri yang namanya mengguncangkan lembah utara dan selatan sungai (Yangce)."

Serentak anak buah Kim-to-ce lantas berdiri dan sedikit membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat. Diam-diam Ciu Bok membatin.

"Ciok Jing dan Bin Ju suamiisteri selamanya tiada percekcokan apa-apa dengan Kim-to-ce kami, tapi sekarang mendadak mereka datang kesini, entah apa maksud tujuannya, jangan-jangan merekapun ingin mendapatkan benda mestika itu?"

Ia coba memandang sekeliling dataran itu dan tiada terlihat orang lain pula. Pikirnya lagi.

"Walaupun kabarnya ilmu pedang suami-isteri ini sangat lihay, tapi mereka hanya berdua, masakah kami sebanyak ini mesti jeri pada mereka?"

Dalam pada itu nyonya Ciok yang bernama Bin Ju itu telah berkata dengan suara yang lemah-lembut.

"Koanjin (suamiku), tampaknya tuan ini adalah Ciu Bok Ciu-loyacu dari Eng-jiaubun."

Meski ucapan Bin Ju sangat perlahan, tapi terdengar juga oleh Ciu Bok, mau-tak-mau iapun merasa senang.

"Kiranya Pengswat-sin-kiam (Sipedang Salju Sakti, julukan siwanita) juga kenal akan namaku." – Maka cepat ia menanggapi.

"Ya, harap Ciok-cengcu dan Ciok-hujin terimalah hormatnya Ciu Bok."

Sebaliknya kawanan berandal Kim-to-ce yang lain tidak tahu tokoh-tokoh dari "Hian-soh-teng"

Itu orang macam apa, tapi mereka melihat pemimpin keempat mereka yaitu Ciu Bok, sedemikian hormat kepada suami-isteri she Ciok itu, maka mereka menduga tentu kedua orang itu bukanlah sembarangan tokoh.

Sementara itu Ciok Jing telah berkata pula dengan tersenyum.

"Rupanya para kawan sedang sarapan pagi dan terganggu oleh kedatangan kami. Boleh silakan duduk saja dan selesaikan sarapan kalian.

" – Lalu ia berpaling kepada Ciu Bok dan melanjutkan.

"Kawan Ciu, kami suami-isteri juga pernah bertemu beberapa kali dengan Ceng Cin-cong, Ceng-heng (saudara Ceng), kalau dibicarakan sesungguhnya kita adalah kenalan lama."

"O, beliau adalah paman-guruku,"

Sahut Ciu Bok. Tapi diamdiam ia merasa terhina, katanya dalam hati.

"Usiamu jauh lebih muda daripada diriku, tapi kau sebut paman-guruku sebagai saudara, bukankah kau sengaja menganggap dirimu sebagai angkatan lebih tua?"

Hendaklah maklum bahwa soal tingkatan atau angkatan didalam dunia persilatan dipandang sangat penting.

Angkatan muda harus menghormat angkatan tua, setiap pesan angkatan tua tidak boleh sembarangan dibantah oleh kaum muda.

Ciok Jing juga lantas tahu pikiran Ciu Bok demi melihat perubahan air mukanya, maka katanya dengan tertawa.

"Maaf! Dalam pertemuan di Hoa-san dahulu Ceng-heng pernah bicara tentang ilmu silat kalian, sungguh kami suami-isteri merasa sangat kagum. Mengingat hubungan baik kita, sekarang Cayhe ingin bicara sesuatu yang kurang pantas kepada Ciu-siheng, untuk mana kami minta maaf lebih dulu."

"Jika urusan pribadi, asal tenagaku dapat mencapainya, pesan apapun tentu akan kulaksanakan dengan baik,"

Sahut Ciu Bok.

"Akan tetapi bila urusannya menyangkut Kim-to-ce kami, oleh karena kedudukanku terlalu rendah dan mungkin akan susah memenuhi keinginan kalian!"

Diam-diam Ciok Jing mengakui akan kelicikan orang, belumbelum sudah berusaha mengelakkan tanggung-jawab. Segera katanya.

"Soalnya tiada sangkut-paut apa-apa dengan Kim-toce kalian. Cayhe hanya ingin mencari tahu sesuatu kepada Ciuheng. Soalnya begini. Kami suami-isteri telah mencari dan menguber seorang sejak dari Kwitang sehingga kota Khayhong sini. Orang itu she Go bernama To-it dan biasanya memakai senjata Boan-koan-pit, perawakannya sangat tinggi, usianya antara 38-39 tahun, kabarnya paling akhir ini menyamar sebagai seorang bungkuk dan hidup mengasingkan diri disekitar sini. Entah Ciu-siheng pernah mendengar berita tentang orang she Go itu atau tidak?"

Orang-orang Kim-to-ce menjadi gempar mendengar nama Go To-it disebut. Piker Ciu Bok.

"Kau datang dari arah timur, tentu mayat Go To-it sudah kau ketemukan, jika kami tidak bicara terang-terangan malah akan disangka pengecut." – Karena itu ia lantas tertawa dan berkata.

"Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, urusan ini sangat kebetulan juga. Meski kepandaianku rendah dan tiada artinya, tapi kebetulan telah berjasa bagi Ciokcengcu. Go To-it itu rupanya telah berdosa pada kalian, maka orang-orang Kim-to-ce kami telah membereskan dia."

Sambil bicara matanya terus menatap air muka Ciok Jing untuk melihat bagaimana reaksinya, apa girang atau marah.

Sebaliknya Ciok Jing semakin merasa Ciu Bok itu benar-benar seorang yang licik dan licin oleh kerna jawabannya itu, maka ia hanya tersenyum dan berkata.

"Go To-it itu sebenarnya tidak saling kenal dengan kami, maka tidak dapat dikatakan telah berdosa apa-apa kepada kami. Adapun maksud kami mencari dia, kalau kami katakana terus terang hendaklah Ciu-siheng jangan mentertawakan kami, soalnya adalah karena kami ingin mencari sesuatu benda yang berada pada orang she Go itu."

Air muka Ciu Bok agak berubah, tapi cepat tenang kembali, sahutnya dengan tertawa.

"Berita Ciok-cengcu ternyata tajam juga, kabar tentang hal itu memang juga kami dengar. Untuk bicara terus terang kepada Ciok-cengcu sebabnya Cayhe memimpin para saudara-saudara kami keluar ini sesungguhnya juga lantaran benda yang dimaksudkan itu. Tapi, ai, entah setan alas atau anak jadah siapa yang telah sengaja menyebarkan desas-desus demikian, jiwa Go To-it telah melayang, perjalanan kami inipun sia-sia, bahkan bukan mustahil kami akan diomeli An-cecu karena usaha kami yang nihil ini. Apalagi kalau kabar bohong ini sampai tersiar sehingga kawan-kawan kalangan Kangouw sama menyangka benda itu telah didapatkan orang-orang Kim-to-ce dan semuanya lantas memusatkan incaran mereka kepada Kim-to-ce, wah, bukankah urusan ini bisa runyam? Thio-hiantit, coba untuk jelasnya boleh kau ceritakan kepada Ciok-cengcu dan Ciokhujin tentang cara bagaimana Go To-it terbinasa dan apa yang terdapat di kedai siopia-siopia itu."

Segera seorang lelaki pendek kecil tapi gesit tangkas lantas tampil kemuka dan menutur.

"Orang she Go itu telah dihantam terjungkal dari atas rumah oleh pukulan Ciu-thauleng kami, seketika itu juga tulang iga orang she Go itu patah dan isi perutnya hancur………….." – begitulah dengan mulutnya yang tajam itu dia telah membumbu-bumbui, menambah kecap dan menuangi minyak sehingga ceritanya tambah menarik, ia ceritakan semua kejadian sampai matinya Go To-it, hanya bagian yang menyangkut buntalan dipunggung Go To-it yang telah diambil Ciu Bok itulah yang tidak diuraikannya. Selesai mendengarkan cerita itu, Ciok Jing tampak manggutmanggut. Tapi pikirnya didalam hati.

"Ketika melihat kedatangan kami tadi, Ciu Bok ini lantas selalu siap siaga dan kelihatan tidak tenteram. Padahal Hian-soh-ceng dan Kim-to-ce tiada punya permusuhan apa-apa, kalau bukan karena dia sudah mengantongi benda mestika itu buat apa dia mesti waswas kepada kami suami-isteri?" – Ia pun menduga bila benda mestika itu benar-benar telah diketemukan orang-orang Kimto-ce, maka pasti benda itu dipegang sendiri oleh Ciu Bok. Sekilas pandang ia melihat dua ratusan orang-orang Kim-to-ce itu semuanya gagah dan tangkas, meski tiada terdapat jagojago kelas satu, tapi jumlahnya cukup banyak dan susah dilawan. Watak Ciok Jing ini adalah halus diluar tapi keras didalam. Tadi dia sudah merasa tersinggung oleh ucapan Ciu Bok, namun lahirnya dia masih tersenyum-senyum saja. Ia menuding kearah hutan yang jauh disebelah kiri sana dan berkata.

"Aku ingin bicara sesuatu secara empat mata dengan Ciu-siheng, silahkan engkau ikut kehutan sana."

"Ah, kawan-kawan kami ini semuanya dapat dipercaya, kalau ada sesuatu boleh bicara secara…………."

Baru Ciu Bok berkata sampai disini, mendadak ia merasa pergelangan tangan kirinya sudah tergenggam oleh tangan Ciok Jing, menyusul separo tubuhnya terasa linu pegal sehingga tangan kanan juga tak bisa berkutik.

Sungguh terkejut dan gusar Ciu Bok tidak kepalang.

Sejak munculnya Ciok Jing dan Bin Ju suami-isteri, dia sudah lantas menghadapinya dengan penuh perhatian, sedikitpun tidak berani lengah, eh, toh masih kecundang juga, tahu-tahu Ciok Jing sudah turun tangan dan entah dengan gerakan apa secepat kilat tangannya sudah terpegang olehnya.

Padahal Kim-na-jiu-hoat atau ilmu menangkap dan mencengkeram seperti itu adalah kepandaian Eng-jiauw-bun sendiri yang sangat diandalkan, tak terduga, belum lagi bergebrak Ciu Bok sudah kena ditangkap lawan.

Dalam pada itu Ciok Jing telah berkata pula dengan suara keras.

"Jika Ciu-siheng sudah mau bicara kesana, memang inilah yang kuharapkan." – Lalu ia menoleh kepada sang isteri dan berkata.

"Aku akan bicara sebentar dengan Ciu-siheng, harap kau tunggu saja disini."

Bin Ju mengangguk ramah.

Lalu Ciok Jing menggandeng Ciu Bok dan berjalan perlahan kedepan.

Orang-orang Kim-to-ce menyaksikan Ciok Jing berjalan pergi bersama Ciu Bok dengan tertawa-tawa dan seperti tiada maksud jahat, pula isterinya ditinggalkan di situ, maka tiada seorangpun yang menduga bahwa dengan ilmu silat Ciu Bok yang tinggi itu, tahu-tahu sudah berada dibawah ancaman lawan dan terpaksa mengikuti segala keinginan orang.

Sambil memegang tangan Ciu Bok, makin lama makin cepat jalannya Ciok Jing, asal langkah Ciu Bok sedikit lambat saja, bukan mustahil akan lantas terseret jatuh, maka terpaksa dia bukan mustahil akan lantas terseret jatuh, maka terpaksa ia ikut berlari sekuat tenaga.

Jarak dengan hutan itu mestinya ada dua-tiga li jauhnya, tapi hanya sekejab saja kedua orang sudah sampai ditengah hutan.

Disitulah Ciok Jing melepaskan tangan Ciu Bok dan berkata dengan tertawa.

"Ciu-siheng……………….."

"Apa maksudmu ini?"

Bentak Ciu Bok dengan gusar dan kontak tangan kanan terus mencakar kedada Ciok Jing dalam gerak tipu "Beng-bok-say-jiu"

Atau cakar singa menerkam kalap.

Namun secepat kilat tangan kiri Ciok Jing telah menyambar dari kiri kekanan, tangan Ciu Bok itu kena dicengkeramnya, berbareng terus ditelikung kebelakang bahkan tangan Ciu Bok yang lain kena dipegang pula sehingga kedua tangannya tertelikung semua.

Dalam kaget dan kuatirnya, tanpa piker lagi Ciu Bok angkat sebelah kakinya dan mendepak kebelakang, yang diarah adalah selangkangan Ciok Jing.

"Ai, mengapa mesti marah?"

Ujar Ciok Jing dengan tertawa.

Berbareng Ciu Bok merasa Hiat-to dibagian kakinya menjadi kesemutan sehingga kaki yang sedang mendepak kebelakang itu tahu-tahu terasa lemas dan menjulai kembali kebawah.

Dengan demikian terpaksa Ciu Bok tak berani berkutik lagi.

Dengan muka merah padam ia membentak.

"Kau…. Kau mau apa?"

"Benda itu sudah kau ambil dari Go To-it, maka aku ingin pinjam lihat barang itu, silahkan mengeluarkannya,"

Kata Ciok Jing.

"Barang itu sih memang ada, tapi tiada berada padaku,"

Sahut Ciu Bok.

"Jika kau ingin lihat, boleh kembali ketempat kawankawanku itu."

Tujuan Ciu Bok ialah memancing Ciok Jing kembali ketempat api unggun, disana dia mempunyai ratusan kawannya, sekali dia memberi perintah, segera mereka dapat mengerubutnya, jika demikian, betapapun tinggi kepandaian Ciok Jing suami isteri, tentu juga susah melawan orang banyak.

Namun Ciok Jing tak mudah ditipu, sahutnya dengan tertawa.

"Maaf, aku tak dapat mempercayai kau, terpaksa mesti menggeledah dulu badanmu!"

"Kau berani menggeledah aku? Kau anggap aku ini orang macam apa?"

Teriak Ciu Bok dengan gusar.

Ciok Jing tidak peduli dan tidak menjawab.

Sekali tarik segera ia tanggalkan sepatu kulit Ciu Bok.

Ciu Bok tersentak kaget.

Namun Ciok Jing sudah lantas mengeluarkan sebuah bungkus kecil dari kepitan sepatunya.

Terang itulah bungkusan berasal dari pengganjal punggung Go To-it.

Diam-diam Ciu Bok sangat heran, ia tidak habis tahu mengapa Ciok Jing dapat mengetahui tempat dimana ia menyimpan bungkusan kecil itu.

Ia tidak tahu bahwa Ciok Jing itu sangat cerdik.

Ketika Ciu Bok ditanya tentang benda mestika itu, tanpa merasa sorot matanya telah melirik kebagian sepatunya, hal inilah yang menimbulkan dugaan keras pada Ciok Jing bahwa benda itu pasti disembunyikan didalam sepatu kulitnya.

Sebab itulah maka sekali geledah lantas ketemu.

Keruan Ciu Bok menjadi gugup, segera ia bermaksud menggembor untuk minta tolong kepada begundalnya.

Namun Ciok Jing telah berkata pula dengan menjengek.

"Hm, kau telah berdusta dan mengkhianati An-cecu kalian, apakah kau lebih suka membongkar sendiri rahasiamu ini dan nanti akan menerima hukuman potong sepuluh jarimu?"

Keruan Ciu Bok terkejut, tanpa merasa ia bertanya.

"Da………. darimana kau mengetahui?"

"Sudah tentu aku mengetahui,"

Sahud Ciok Jing.

"Padahal Ancecu adalah orang cerdik, sedangkan aku saja tak dapat kau kelabui, apalagi An-cecu kalian?"

Rupanya tadi ketika orang she Thio dari Kim-to-ce menguraikan kejadian mengobrak-abrik kedai siopia-siopia dan tidak menemukan sesuatu yang dicari, dari nadanya Ciok Jing merasa apa yang diceritakan itu memang bukan omong-kosong atau bualan belaka, tapi sekarang benda mestika yang dicari itu justeru diketemukan ditubuh Ciu Bok, maka teranglah Ciu Bok mempunyai maksud untuk mencaplok sendiri benda mestika itu.

Dan pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang perlahan, ternyata diluar hutan sudah kedatangan beberapa orang.

Lalu terdengarlah suara orang tertawa dan berkata.

"Banyak terima kasih atas pujian Ciok-cengcu kepada orang she An ini, terimalah hormatku ini."

Dan baru selesai ucapannya tertampaklah tiga orang telah menyelusup kedalam hutan.

Melihat para pendatang itu, air muka Ciu Bok seketika pucat pasi.

Kiranya ketiga orang yang datang ini adalah gembonggembong Kim-to-the, yaitu Toa-cecu (pemimpin berandal yang pertama) An Hong-jit, Ji-cecu (pemimpin kedua) Pang Cin-bu dan Sam-cecu Pun-khong Tojin.

Yang terakhir ini adalah seorang imam agama To.

Waktu An Hong-jit menugaskan Ciu Bok kekota Khay-hong untuk mengusut urusannya Go To-it, dia tidak mengatakan akan memapak ditengah jalan, tapi entah mengapa sekarang pemimpin utama itu telah datang sendiri malah.

Jadi, pastilah rahasianya ingin mengangkangi benda itu sudah gagal, bahkan jiwanya boleh jadi akan melayang.

Dalam gugupnya, cepat Ciu Bok berseru.

"An-toako, ben….. benda itu telah direbut dia!" – Sambil berkata iapun menuding kearah Ciok Jing. Lebih dulu An Hong-jit memberi hormat kepada Ciok Jing, lalu berkata.

"Nama Ciok-cengcu tersohor diseluruh penjuru, sungguh orang she An merasa sangat kagum dan sayang selama ini tidak pernah bertemu. Ce (markas berandal) kami terletak tidak jauh dari sini, jika sudi silakan Ciok-cengcu dan nyonya suka mampir dan tinggal beberapa hari ditempat kami itu agar kami dapat meminta petunjuk-petunjuk yang berharga."

Ciok Jing coba memperhatikan potongan para gembong Kimto-ce itu.

An Hong-jit berewok pendek kaku, tubuhnya juga pendek tapi kekar dan agak kasar tampaknya, namun bicaranya ternyata sangat sopan dan pakai aturan, sama sekali ia tidak menyinggung tentang benda mestika yang telah direbutnya itu, sebaliknya malah mengundangnya ke Kim-toce, maka Ciok Jing lantas membalas hormat dan hendak memasukkan bungkusan kecil yang direbutnya dari Ciu Bok tadi kedalam saku sambil berkata dengan tertawa.

"Ah, terima kasih atas maksud baik An-cecu……….."

Baru sekian ucapannya, sekonyong-konyong matanya merasa silau, sinar senjata telah berkelebat, tahu-tahu Pun-khong Tojin sudah mencabut pedangnya dan ujung senjata itu telah mengancam kepergelangan tangan Ciok Jing sambil membentak.

"Lepaskan dulu benda itu!"

Namun betapa cepatnya Pun-khong Tojin toh masih kalah cepat daripada Ciok Jing.

Hanya sedikit miring kesamping, sekalian Ciok Jing lantas angsurkan bungkusan kecil itu ketangan kiri Pun-khong Tojin dan berkata.

"Nah, terimalah…."

Pun-khong menjadi girang, tanpa pikir ia terus pegang bungkusan kecil itu.

Tak terduga pergelangan tangan kanan yang memegang pedang mendadak terasa linu, senjatanya tahu-tahu sudah kena direbut lawan.

Bahkan Ciok Jing terus memutar balik pedang rampasan itu dan balas memotong pergelangan kiri Pun-khong sambil membentak.

"Lepaskan dulu benda itu!"

Keruan Pun-khong terperanjat, sinar pedang sudah menyambar dekat tangannya, sedetik lagi senjata itu pasti akan makan tuannya, untuk menarik tangannya juga sudah terlambat, terpaksa Pun-khong lemparkan bungkusan kecil itu.

Cepat pedang Ciok Jing lantas mencukit kebawah.

"Kepandaian hebat!"

Seru Pang Cin-bu yang tidak mau tinggal diam.

Sebelum Ciok Jing sempat menangkap kembali bungkusan kecil itu, terus saja ia putar goloknya dan menjatuhkan tubuhnya ketanah, sambil menggelinding kearah Ciok Jing, segera ia menabas kaki lawan itu.

Tapi gerakan Ciok Jing benar-benar teramat sebat.

"Sret!" , mendadak pedangnya mendahului menusuk kepala Pang Cinbu. Sebelum serangan Cin-bu itu mengenai sasarannya tentu kepalanyaa akan terpantek diatas tanah oleh pedang Ciok Jing. Melihat keadaan membahayakan jiwa kawannya itu, cepat An Hong-jit berteriak.

"Tahan dulu!"

Namun tusukan Ciok Jing itu masih menuju kebawah. Pang Cin-bu sudah pejamkan mata dan menerima ajalnya. Mendadak pipi kiri terasa "nyes"

Dingin, tusukan Ciok Jing itu tidak diteruskan lagi.

Rupanya ia benar-benar menahan serangannya itu, maka ujung pedang hanya menempel dipipi Pang Cin-bu saja.

Betapa tepat sasarannya dan betapa cepat daya tahannya serta tenaga yang dipakai ternyata tidak selisih sedikit pun sehingga kepala Pang Cin-bu tidak jadi terpantek diatas tanah.

Habis itu barulah terdengar suara "bluk!"

Yang perlahan, bungkusan kecil yang dicukit kembali itu telah tertangkap pula oleh Ciok Jing.

Beberapa gerakan itu ternyata sudah berlangsung dengan secepat kilat.

Dan sesudah menangkap kembali bungkusan kecil itu, barulah Ciok Jing menarik pulang pedangnya dan berkata.

"Maaf!" – Lalu ia melangkah mundur dua-tiga tindak. Ketika Pang Cin-bu berdiri kembali, mukanya menjadi merah jengah dan serba salah, tinggal pergi merasa malu, tetap disitu juga merasa susah. Dalam pada itu An Hong-jit sudah melangkah maju, ia membuka bajunya sendiri sehingga kelihatan simbar-dadanya yang berbulu lebat. Dari punggung ia lantas mencabut keluar sebatang golok. Tatkala itu sang surya sudah mulai menyingsing, cahaya matahari menembus masuk melalui celah-celah daun pohon yang rindang itu, sinar golok warna emas itu gemerlap menyilaukan, mata golok itu tebal bagian punggung dan tipis serta tajam bagian depan, sungguh sebuah senjata yang bagus. An Hong-jit mengacungkan golok-emasnya itu dan berkata.

"Ciok-cengcu mempunyai kepandaian yang hebat, sungguh aku sangat kagum. Sekarang biarlah aku mohon petunjuk beberapa jurus padamu!"

"Hari ini bertemu dengan tokoh ternama, sungguh aku merasa sangat beruntung!"

Sahut Ciok Jing dengan tertawa.

Dan sekali tangannya bergerak, mendadak bungkusan kecil yang dipegangnya itu tertimpuk kedepan.

An Hong-ji dan kawan-kawannya menjadi heran, masakah benda mestika yang dibuat rebutan itu sekarang malahan dibuang begitu saja oleh Ciok Jing?

Tapi menyusul lantas terdengar suara angin menderu, pedang rampasan yang dipegang Ciok Jing itupun disambitkan dan baru saja bungkusan kecil itu menumbuk batang pohon didepan sana, tahu-tahu dari belakang pedang panjang itu sudah menyusul tiba.

"cret" , dengan tepat bungkusan kecil itu terpaku dibatang pohon. Ujung pedang itu hanya menembus satu bagian kecil bungkusan itu sehingga tidak mengenai benda yang terbungkus didalamnya. Betapa jitu dan bagus caranya Ciok Jing mempertunjukkan kepandaiannya itu, mau-tak-mau Pun-khong Tojin dan Pang Cin-bu harus mengakui keunggulan lawan. Ketika pandangan An Hong-jit, Pun-khong Tojin dan lain-lain berpindah kembali kearah Ciok Jing, tahu-tahu tertampak tangan orang she Ciok itu sudah bertambah pula dengan sebatang pedang lain yang berwarna hitam mulus. Terdengar Ciok Jing telah berkata.

"Bak-kiam (pedang hitam) ketemu Kim-to (golok emas), sungguh sangat beruntung. Marilah kita coba-coba, asal salah sepihak tertutuk, biarpun cuma menang satu jurus atau setengah gerakan saja, dia yang akan mendapatkan benda yang terpaku dipohon itu. Setuju?"

Padahal Ciok Jing sudah berhasil merebut benda itu, tapi sekarang sengaja dipantek diatas pohon dan akan diperebutkan dengan bertanding ilmu silat, sungguh An Hong-jit merasa sangat kagum akan kejujuran orang.

Segera ia menjawab.

"Marilah mulai, Ciok-cengcu!"

Sudah lama An Hong-jit mendengar ilmu pedang suami-isteri Ciok Jing dan Bin Ju adalah sangat lihay, tadi iapun sudah menyaksikan caranya Ciok Jing menundukkan Pun-khong Tojin dan Pang Cin-bu, dan memang benar-benar bukan omongkosong kepandaiannya, maka sekarang Hong-jit tidak berani gegabah.

"srat-sret-sret" , sekaligus ia lantas mulai melancarkan tiga kali serangan pancingan. Namun Ciok Jing tenang-tenang saja, ujung pedangnya menuding kebawah, badannya sama sekali tidak bergerak, katanya.

"Silahkan menyerang saja!"

Karena itu barulah golok An Hong-jit menabas miring kebawah, tapi sebelum mengenai sasarannya mendadak ia putar balik keatas.

Nyata, sekali mulai menyerang segera ia mengeluarkan 72 jurus "Bik-kwa-to", ilmu golok andalannya yang beraneka ragam perubahannya didalam tiap-tiap jurusnya.

Ciok Jing juga lantas putar pedangnya yang berwarna hitam mulus itu, semula dia masih bertahan, tiap-tiap serangan An Hong-jit selalu ditangkisnya.

Tapi sesudah lewat 30 jurus, mendadak ia bersuit nyaring, ia mulai melancarkan serangan balasan, serangan-serangan semakin gencar dan semakin cepat.

Sesudah bertahan sampai lebih 30 jurus, An Hong-jit sekarang berbalik tidak dapat membedakan arah datangnya serangan lawan lagi.

Diam-diam ia menjadi gugup, terpaksa ia putar goloknya sekencang-kencangnya untuk menjaga diri.

Walaupun sudah bergebrak sampai 70 jurus, tapi senjata kedua orang tetap belum pernah saling bentur.

Sampai akhirnya mendadak terdengar suara "cring"

Yang perlahan sekali, mata pedang warna hitam itu telah menumpang diatas punggung golok terus menggesek kebawah. Gerak tipu ini disebut "Sun-liu-gi-he"

Atau menurun mengikuti arus, terhitung suatu jurus ilmu pedang yang lazim untuk mengalahkan ilmu golok.

Bila kepandaian penyerang itu lebih rendah, maka cukuplah kalau An Hong-jit sampukkan goloknya kesamping dan segera pedang lawan akan terpental.

Namun Ciok Jing bukanlah jago silat pasaran, baru saja An Hong-jit hendak menyampukkan goloknya, tahu-tahu mata pedang sudah menyentuh jarinya.

Keruan terkejut An Hong-jin tidak kepalang, diam-diam ia mengeluh jarinya pasti akan terpapas, sekalipun dia hendak melepaskan golok dan menarik tangan juga sudah terlambat.

Baru saja terkilas pikiran demikian dibenak An Hong-jit, tahutahu pedang Ciok Jing telah tertahan mentah-mentah ditengah jalan, tidak memotong terus, sebaliknya tertarik kembali beberapa senti jauhnya.

An Hong-jit insaf lawannya sengaja bermurah hati padanya, kalau kesempatan itu tidak digunakan untuk melepaskan golok mungkin akan membawa akibat lebih jelek lagi, maka terpaksa ia menjatuhkan senjatanya.

Tak terduga, mendadak pedang hitam lawan lantas memutar kebawah golok sehingga golok emas itu tersanggah dan tidak sampai jatuh ketanah.

Bahkan terdengar Ciok Jing sedang berkata.

"Kekuatan kita adalah setanding dan susah menentukan menang atau kalah." – Ketika pedang sedikit mencukit, segera golok emas itu mencelat keatas. Sungguh terima kasih An Hong-jit tak terkatakan, cepat ia pegang kembali goloknya itu. Ia tahu lawan yang berbudi itu sengaja menyelamatkan mukanya, maka cepat ia menegakkan golok dan memberi hormat, itulah jurus terakhir dari Bik-kwato yang bernama "Lam-hay-pay-hud"

Atau menyembah Budha dilautan kidul. Sampai disini An Hong-jit lebih terkejut sehingga air mukanya berubah. Kiranya sampai saat terakhir ini justeru dia telah selesai memainkan "Bik-kwa-to"

Yang meliputi 72 jurus itu.

Jika demikian, terang Ciok Jing sangat paham ilmu golok andalannya ini dan dirinya baru dikalahkannya pada jurus yang ke-71 tadi, yaitu jurus terakhir, ditambah dengan jurus penutup "Lam-hay-pay-hud".

Coba kalau Ciok Jing mau menjatuhkan dia dengan lebih cepat, rasanya bukan soal sulit baginya.

Dan baru saja An Hong-jit hendak mengucapkan beberapa patah rasa terima kasihnya, disebelah sana Ciok Jing sudah memasukkan kembali pedangnya dan berkata sambil merangkap kedua kepalan tangan.

"Orang she Ciok merasa beruntung mengikat persahabatan dengan An-cecu, maka pertandingan kita ini tidak perlu diteruskan lagi. Kapan-kapan kalau An-cecu lalu ditempat kami, diharap sudilah mampir buat tinggal beberapa hari disana."

"Terima kasih atas undangan Ciok-cengcu,"

Sahut Hong-jit dengan wajah kikuk.

Mendadak ia melompat keatas, ia cabut pedang Pun-khong Tojin yang ditimpukkan oleh Ciok Jing tadi dan mengambil bungkusan kecil yang terpaku dibatang pohon itu.

Kemudian dengan penuh hormat, ia persembahkan bungkusan itu kehadapan Ciok Jing dan berkata.

"Silakan Ciokcengcu ambil saja!"

Rupanya dia merasa pamornya telah diselamatkan oleh Ciok Jing, pula jari tangannya tidak sampai terkutung, maka ia merasa sangat berterima kasih dan rela menyerahkan benda itu.

Tak terduga Ciok Jing itu tidak mau menerimanya, ia memberi hormat dan berkata.

"Sampai bertemu pula!" – Lalu putar tubuh dan tinggal pergi.

"Tunggu dulu, Ciok-cengcu,"

Seru An Hong-jit.

‘Cengcu telah menjaga nama baik orang she An ini, masakah aku sendiri tidak tahu?

Sudah terang diriku telah kalah habis-habisan dan benda ini sudah seharusnya menjadi bagian Ciok-cengcu, kalau tidak bukankah diriku akan dikatakan sebagai manusia rendah yang tidak kenal budi kebaikan?"

"An-cecu,"

Sahut Ciok Jing dengan tersenyum.

"Pertandingan tadi belum lagi terang siapa yang menang atau kalah, kepandaian An-cecu yang lain seperti Ceng-liong-to dan Toanbun-to yang hebat itu belum lagi dikeluarkan, mana boleh engkau dianggap sudah kalah? Pula, isi bungkusan itu toh tidak terdapat benda yang dicari itu, mungkin Ciu-siheng telah ditipu orang!"

An Hong-jit tercengang oleh jawaban itu.

"Isi bungkusan ini tiada terdapat benda itu!"

Ia menegas.

Cepat ia membuka bungkusan itu selapis demi selapis.

Sesudah lima lapis, akhirnya barulah kelihatan isinya, yaitu terdiri dari tiga titik hitam belaka.

Waktu diperiksa, kiranya adalah tiga biji kutu busuk yang sudah mati.

Melihat isi bungkusan yang sangat mengecewakan itu, sungguh kejut dan gusar An Hong-jit tak terkirakan.

Tapi ia masih dapat menahan perasaannya, ia berpaling dan tanya kepada Ciu Bok.

"Ciu-hengte, se…… sebenarnya apa-apaan ini?"

"Aku……… aku sendiripun tidak tahu,"

Sahut Ciu Bok dengan gelagapan.

"Dari tubuh Go To-it hanya dapat diketemukan bungkusan kecil ini, lain tidak."

Segera An Hong-jit tahu bahwa benda mestika itu tentu telah disembunyikan oleh Go To-it atau sudah diberikan kepada orang lain.

Jadi usahanya ini bukan saja sia-sia belaka, bahkan telah menjatuhkan nama baik Kim-to-ce.

Ia membuang bungkusan kosong itu, lalu katanya kepada Ciok Jing.

"Sungguh membikin malu saja pekerjaan kawan-kawan kami ini. Tapi entah darimana Ciok-cengcu mengetahui tentang isi bungkusan ini?"

"Ah, Cayhe juga cuma sembarangan menerka saja,"

Sahut Ciok Jing dengan tersenyum.

"Nyata kita sama-sama telah dikelabui orang, diharap An-cengcu saling memaklumi."

Habis berkata, kembali ia memberi salam kepada Pang Cin-bu, Pun-khong Tojin dan Ciu Bok, lalu melangkah pergi dengan cepat. Setiba ditempat api unggun, ia berkata kepada Bin Ju.

"Niocu (istriku), marilah berangkat!" – Kedua orang lantas mencemplak keatas kuda masing-masing dan menuju kearah darimana mereka datang tadi. Melihat air muka sang suami, tak ditanya juga Bin Ju mengetahui usaha mereka ini telah sia-sia. Entah mengapa hatinya menjadi pilu dan air matanya berlinang-linang.

"Engkau tidak perlu kesal, isteriku,"

Kata Ciok Jing.

"Kim-to-ce sendiri juga tertipu. Biarlah kita menggeledah pula jenazah Go To-it itu, boleh jadi orang-orang Kim-to-ce itu yang telah salah mata dan benda mestika itu masih tertinggal disana."

Walaupun tahu usaha mereka tentu akan sia-sia pula, tapi Bin Ju tidak ingin membantah maksud sang suami itu, dengan suara terguguk, ia menyatakan baik.

Segera kuda-kuda hitamputih itu berlari pula kearah Hau-kam-cip.

Sungguh cepat sekali kekuatan lari kuda-kuda itu, kira-kira lohor mereka kembali sudah berada dikota kecil itu.

Dalam pada itu, rasa panik penduduk kota itu belum lagi lenyap, maka tiada suatu tokopun yang membuka pintu.

Laporan tentang datangnya kawanan bandit yang telah membunuh orang dan merampok harta benda kemarin itu oleh petugas setempat sudah disampaikan kepada pembesar kota Khay-hong.

Tapi pemeriksaan belum dilakukan, mungkin para pembesar dikota itupun takut kepada kawanan bandit, kalau lebih lama tentu akan lebih selamat, demikian perhitungan mereka.

Ketika Ciok Jing berdua sampai pula didekat jenazah Go To-it tertampak dipojok dinding sana berduduk seorang pengemis kecil berusia antara 12-13 tahun, selain itu tiada orang lain lagi.

Segera Ciok Jing memeriksa dan menggeledah dengan teliti sekujur badan Go To-it, sampai-sampai gelung rambutnya juga dilepas, sepatu dan kaos kaki juga dicopot untuk diperiksa.

Sedangkan Bin Ju mencari kedalam kedai siopia-siopia.

Tapi akhirnya suami-isteri itu hanya menghela napas belaka.

Kata Bin Ju.

"Siangkong (suamiku), tampaknya sakit hati kita ini ditakdirkan takkan terbalas. Selama beberapa hari ini sudah terlalu membikin capek engkau, marilah kita pesiar saja kekota Khay-hong, disana kita dapat melihat sandiwara dan menonton wayang."

Ciok Jing cukup kenal baik watak sang isteri yang suka kepada ketenangan dan tidak suka menonton sandiwara apa segala.

Bahwasannya sekarang isterinya mengajak pesiar kekota Khayhong adalah ingin membikin senang padanya, maka iapun menjawab.

"Baiklah, kita sudah datang ke Holam sini, sudah selayaknya kita pesiar ke Khay-hong. Konon pandai emas dikota itu sangat terkenal, marilah kita mencari beberapa bentuk perhiasan yang indah."

Didunia persilatan Bin Ju terkenal akan kecantikannya.

Memangnya dia suka bersolek, apalagi wanita yang sudah menanjak setengah umur, tentu akan lebih memperhatikan soal dandan.

Sekarang usaha suami-isteri itu tiada membawa hasil apa-apa, dalam keadaan kesal, terpaksa mereka mencari kesenangan lain sekadar pelipur hati.

Begitulah maka Bin Ju telah menjawab sang suami dengan tersenyum pedih.

"Sejak anak Kian meninggal, selama 13 tahun ini perhiasan yang kau belikan untukku rasanya sudah cukup untuk membuka sebuah toko perhiasan."

Berkata tentang "meninggalnya anak Kian", kembali air mata Bin Ju bercucuran.

Sekilas terlihat olehnya sipengemis kecil yang duduk sembunyi-sembunyi dipojok dinding sana dengan rasa takut-takut dan keadaan kotor tak terurus, tiba-tiba timbul rasa kasihannya, segera ia bertanya.

"Dimanakah ibumu? Mengapa menjadi pengemis?"

"Ib…….. ibuku tidak tahu kemana,"

Sahut pengemis cilik itu. Bin Ju menghela napas dan mengeluarkan serenceng uang perak dan dilemparkan kepada pengemis kecil itu, katanya.

"Ini buat beli siopia-siopia!" – Lalu ia menarik les kuda dan melarikannya sambil menoleh dan bertanya pula.

"Nak, kau she apa dan siapa namamu?"

"Aku…………….. aku bernama Kau-cap-ceng (anak anjing),"

Sahut sipengemis cilik. Ciok Jing menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban itu.

"Rupanya seorang anak gendeng!"

Ujarnya.

"Ya, sungguh kasihan,"

Kata Bin Ju.

Sambil bicara kedua orang lantas melarikan kuda mereka kejurusan kota Khay-hong.

Tertinggal sijembel cilik yang masih meringkuk sendirian berkawankan jenazah Go To-it.

Bab 3.

Hian-Tiat-Leng (Medali Wasiat) Seperti diketahui pengemis cilik itu telah pingsan saking ketakutan karena diuber oleh "mayat hidup"

Go To-it dan sampai hari sudah terang baru dia siuman.

Tapi rasa takutnya itu rupanya terlalu hebat, begitu membuka mata dan melihat jenazah Go To-it yang berlumuran darah itu menggeletak disampingnya, maka kembali ia jatuh kelenger lagi.

Agak lama kemudian barulah dia sadar pula.

Waktu Ciok Jing berdua datang, saat itu sijembel cilik itu baru sadar dan mestinya ingin melarikan diri.

Tapi dilihatnya Ciok Jing telah mengangkat dan membalik jenazah yang mengerikan itu, dalam ketakutan dia menjadi tak berani bergerak.

Tak terduga akhirnya dia mendapat persen serenceng uang perak dari wanita cantik itu yang menyuruhnya membeli siopiasiopia.

"Beli siopia-siopia? Bukankah aku sudah punya?"

Demikian pikirnya.

Segera ia angkat tangan kanan, benar juga siopiasiopia yang baru digigitnya sekali itu masih tergenggam didalam tangan.

Karena rasa takutnya mulai hilang, seketika ia merasakan perutnya kelaparan.

Segera ia menggigit siopiasiopia itu dengan lahapnya.

Tapi baru sekali menggigit.

"krek"

Giginya terasa kesakitan karena menggigit benda sekeras besi.

Waktu dia menarik siopia-siopia itu, terasa mulutnya sudah tertambah sepotong benda keras, cepat ia menumpahkan benda itu ditangan kiri, kiranya adalah sepotong besi kecil yang gepeng tipis dan berwarna hitam.

Ia pandang besi kecil itu dengan heran, ia tidak mengarti mengapa didalam siopia-siopia bisa tercampur benda demikian.

Tapi benda besi itu tidak dibuang olehnya, sesudah memeriksa siopia-siopia itu tiada terdapat benda lain lagi, segera ia makan kembali siopia-siopia itu.

Hanya dalam sekejap itu siopia-siopia itu sudah dilalap habis.

Pandangannya segera beralih kepada belasan buah siopiasiopia yang telah pecah dan terserak disekitar mayat Go To-it, pikirnya.

"Siopia-siopia yang telah dirusak setan entah boleh dimakan atau tidak?"

Sedang ragu-ragu, tiba-tiba terdengar diatas kepalanya ada suara orang berkata.

"Kepung sekeliling sini!"

Keruan dia terkejut.

"Mengapa diatas kepalaku ada suara orang?" – Waktu dia mendongak, tertampaklah diatas wuwungan rumah telah berdiri tiga orang laki-laki berjubah putih. Menyusul dari belakang terdengar pula suara mendesir, ada orang telah melompat tiba. Waktu pengemis cilik itu berpaling, terlihat empat orang berjubah putih dengan pedang terhunus tahu-tahu sudah mengepung dari kanan-kirinya. Melihat sinar pedang yang gemilapan itu, si pengemis cilik menjadi menggigil ketakutan. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar pula suara derapan kuda, seorang penunggang kuda sedang mendatangi secepat terbang dan terdengar seruannya.

"Apakah kawan-kawan Swat-sanpay disitu? Maafkan orang she An tidak memberi sambutan atas kunjungan kalian ke Holam sini."

Hanya sekejap saja seekor kuda berbulu kuning sudah menerjang tiba, penunggangnya seorang laki-laki pendek gemuk berewok.

Sesudah dekat, sama sekali dia tidak menahan kudanya tapi terus melompat turun begitu saja.

Sedangkan kuda kuning itu masih terus berlari kedepan dan berputar satu kali, lalu berhenti dikejauhan sana.

Nyata seekor kuda yang sudah terlatih dengan baik.

Berbareng tiga orang berjubah putih yang berada diatas rumah tadi melayang turun, semuanya siap-siaga memegang gagang pedang mereka.

Seorang diantaranya yang kekar dan berusia 40-an tahun segera berkata.

"Kiranya An-cecu dari Kim-to-ce. Selamat bertemu!" – Sambil berkata sembari mengedipi kawan-kawannya yang berdiri dibelakang An Hongjit. Pendatang baru ini memang betul adalah An Hong-jit. Dia telah dikalahkan oleh Ciok Jing, sudah tentu dia patah semangat. Tapi dia adalah seorang yang berjiwa besar, kalah atau menang baginya adalah soal lumrah. Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Untuk apalagi Ciok-cengcu suami-isteri pergi pula ke Hau-kam-cip? Ah, tentu disebabkan tertipunya Ciu-site, maka mereka suami-isteri hendak kembali kesana untuk mencari benda itu. Aku adalah jago yang sudah keok ditangannya, kalau benda itu dapat diketemukan mereka itu, terpaksa aku membiarkannya. Tetapi kalau mereka tidak dapat mencarinya, kenapa aku tidak mencarinya pula untuk cobacoba peruntungan? Benda itu tentu disembunyikan disuatu tempat yang dirahasiakan oleh Go To-it, kalau dicari dan digeledah sepuluh kali tidak ketemu, kenapa aku tidak boleh mencarinya untuk kesebelas kalinya?"

Begitulah, sesudah ambil keputusan itu, segera ia mencemplak kuda dan menyusul ke Hau-kam-cip.

Karena kudanya kalah cepat daripada kuda-kudanya Ciok Jing berdua, pula tidak berani mengintil terlalu dekat, maka sesudah cukup lama Ciok Jing memeriksa dan menggeledah jenazah Go To-it serta kedainya, lalu tinggal pergi, kemudian barulah An Hong-jit sampai di kota itu.

Dengan matanya yang tajam dari jauh An Hong-jit lantas melihat bayangan orang yang muncul di atas rumah.

Dari dandanan dan senjata yang mereka bawa, Hong-jit menduga pasti anak murid dari Swat-san-pay yang terletak diperbatasan Sucwan dan Secong (Tibet).

Sesudah dekat, tertampak pula beberapa orang berjubah putih itu sedang mencurahkan perhatiannya seperti sedang menghadapi musuh tangguh.

Semula Hong-jit mengira orangorang itu hendak mengadakan sergapan terhadap Ciok Jing suami-isteri, karena mengingat kebaikan Ciok Jing, maka Hong-jit lantas berseru dari jauh dengan maksud menggagalkan sergapan orang-orang Swat-san-pay.

Tak terduga sampai ditempatnya, bayangan Ciok Jing berdua tidak kelihatan, sebaliknya yang dikepung oleh tujuh orang Swatsan-pay itu adalah seorang pengemis kecil.

Sudah tentu An Hong-jit sangat heran, ia coba memperhatikan keadaan pengemis kecil yang kotor dan kurus itu, tampaknya toh bukan seorang yang mahir ilmu silat.

Tapi sekilas terlihat olehnya seorang Swat-san-pay itu sedang mengedipi kawannya, hal ini lantas menimbulkan curiga An Hong-jit.

Maka kembali ia mengamat-amati keadaan sijembel cilik itu.

Sekali pandang seketika hatinya tergetar hebat.

Ternyata tangan kiri sipengemis kecil tertampak memegang sepotong benda kecil warna hitam, bentuknya mirip benar dengan ‘Hiantiat-leng’ (medali besi) yang selalu menjadi bahan bicara didunia persilatan itu.

Waktu dilihatnya senjata keempat lelaki jubah putih dibelakangnya bergerak gemerlapan seperti akan mengerubut maju untuk merebut, tanpa pikir lagi An Hong-jit lantas mengeluarkan goloknya dan tubuhnya bergerak cepat mengitari sipengemis kecil satu keliling, goloknya membacok kekanan dan kekiri, kedepan dan kebelakang, hanya dalam sekejap saja ia sudah menyerang kedelapan penjuru dan setiap jurusan tiga kali bacokan, jadi seluruhnya 24 kali bacokan, sinar golok itu hanya belasan senti saja diluar tempat duduk sipengemis kecil sehingga jembel cilik itu seolah-olah terbungkus rapat didalam sinar golok yang berwarna emas itu.

Karena merasa silau dan tersambar oleh angin tajamnya golok, sipengemis kecil menjadi ketakutan dan mendadak menangis.

Hampir pada saat sipengemis kecil itu mulai menangis, serentak ketujuh orang berjubah putih itupun memainkan pedang mereka sehingga berwujut sebuah jejaring sinar putih yang mengitari An Hong-jit dan sijembel cilik.

Namun demikian mereka tidak lantas menyerang.

Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara derapan kuda pula, seekor kuda putih dan seekor kuda hitam tampak mendatangi dengan cepat.

Kiranya adalah Ciok Jing dan Bin Ju yang telah kembali lagi.

Kiranya tidak jauh sesudah Ciok Jing berdua berangkat, mereka lantas melihat gerak-gerik anak murid Swat-san-pay yang mencurigakan.

Tiba-tiba timbul pikiran lain pada benak mereka maka cepat mereka memutar balik.

Dari jauh Ciok Jing lantas berseru.

"Kawan-kawan Swat-san-pay dan An-cecu, kita semuanya sahabat, kalau ada urusan apa-apa boleh bicara secara baik-baik saja supaya tidak selisih paham."

Seorang lelaki tinggi besar di pihak Swat-san-pay adalah pemimpinnya, sekali pedangnya menegak, serentak kawankawannya berhenti memainkan senjata mereka.

Tapi mereka masih berdiri disekeliling An Hong-jit.

Mendadak Ciok Jing dan Bin Ju bersuara heran bersama ketika melihat tangan kiri sipengemis cilik memegang sepotong pelat besi kecil, cuma mereka tidak tahu apakah benda ini adalah benda mestika yang sedang dicari itu.

Segera Ciok Jing tanya sijembel cilik.

"Adik kecil, benda apakah yang kau pegang itu, maukah perlihatkan padaku?"

Diam-diam iapun sudah ambil keputusan bahwa An Hong-jit tentu takkan merintangi dia, maka begitu sijembel cilik menyodorkan tangannya, seketika ia akan menerobos ketengah kepungan orang-orang Swat-san-pay untuk merebut benda itu, ia menaksir anak murid Swat-san-pay itu tidak mampu merintangi dirinya.

Tapi silelaki tegap berjubah putih tadi sudah membuka suara.

"Ciok-cengcu, kami inilah yang melihatnya lebih dahulu."

"Kheng-suheng,"

Bin Ju ikut bicara.

"boleh juga kau tanya adik cilik itu, serenceng uang perak disampingnya itu apakah bukan pemberianku?"

Maksud ucapan ini sangat jelas yaitu ingin menunjukkan bahwa sedari tadi dia sudah memberi uang, dengan sendirinya sudah lebih dulu ia melihat pengemis itu.

Lelaki tegap berjubah putih itu she Keng bernama Ban-ciong, terhitung tokoh utama dari murid angkatan kedua Swat-sanpay.

Maka dia telah menjawab.

"Ciok-hujin, boleh jadi suamiistri kalian telah melihat adik cilik ini lebih dulu namun ‘Hiantiat-leng’ ini adalah kami yang melihatnya lebih dulu."

Begitu nama "Hian-tiat-leng"

Disebut, seketika hati Ciok Jing, Bin Ju dan Ang Hong-jit terkesiap dan sama memikir.

"Kiranya benar Hian-tiat-leng adanya!" – Begitu pula keenam orang Swat-san-pay yang lain juga mengunjuk rasa agak heran. Padahal mereka bertujuh tiada pernah memperhatikan benda besi yang dipegang sipengemis kecil itu, hanya karena melihat Ciok Jing suami isteri dan An Hong-jit sedemikian sungguhsungguh membela sijembel cilik itu, maka mereka yakin besi kecil itu pasti medali wasiat yang sedang dicari itu. Sebaliknya Ciok Jing bertiga juga mempunyai pikiran serupa.

"Kheng Ban-ciong dari Swat-san-pay ini sangat luas pengetahuannya dan cerdik pula, kalau dia sampai mengincar kepada besi kecil itu, tentu tidak salah lagi benda itu pasti medali wasiat."

Karena pikiran yang sama itu, tanpa merasa kesepuluh orang itu serentak menjulurkan tangan kearah sipengemis kecil dan berkata.

"Adik cilik, berikan padaku saja benda itu!"

Tapi tiada seorangpun diantara kesepuluh orang itu berani main merebut, sebab mereka tahu sekali mendahului main serobot, tentu yang lain-lain akan serentak menyerangnya.

Dari itu mereka hanya berharap sipengemis kecil mau menyerahkan kepada mereka dengan sukarela.

Sudah tentu sijembel cilik tidak tahu bahwa yang diminta oleh kesepuluh orang itu adalah besi kecil yang hampir-hampir membikin rompang giginya tadi.

Sebaliknya ia menjadi bingung dan takut serta menangis pula.

"Lebih baik berikan padaku saja!"

Tiba-tiba terdengar suara parau seseorang, berbareng sesosok bayangan telah menyusup ketengah kalangan, sekali sambar seketika besi kecil yang dipegang sipengemis kecil itu sudah direbut olehnya.

Serentak terdengar pula suara bentakan orang banyak.

"Hai, mau apa? – Lepaskan! – Bangsat kurang ajar! – Persetan!"

Dan sebatang golok emas berbareng lantas menyambar kearah bayangan orang itu.

An Hong-jit berada paling dekat dengan sijembel cilik tadi, maka sekali goloknya bergerak, dengan jurus "Pek-hong-koanjit" (pelangi putih menembus cahaya matahari), kontan ia membacok kepala penyerobot itu.

Sedangkan anak murid Swat-san-pay yang sudah terlatih baik itu, sekaligus tujuh pedang mereka lantas menusuk tempattempat yang berbahaya dan berlainan ditubuh lawan sehingga lawan susah untuk mengelakkan diri.

Sebaliknya Ciok Jing dan Bin Ju sekilas itu belum jelas siapakah penyerobot yang sebat itu, maka mereka tidak mau menggunakan tipu serangan keji, sinar pedang mereka hanya berputar dan mengurung lawan dibawah ancaman sepasang pedang hitam-putih mereka.

Akan tetapi mendadak terdengar suara "trang-tring"

Yang berulang-ulang, kedua tangan penyerobot itu bergerak naik turun dengan cepat, entah dengan cara apa, hanya dalam sekejap saja tahu-tahu golok emas An Hong-jit dan tujuh pedang anak murid Swat-san-pay itu sudah terampas semua olehnya.

Ciok Jing dan Bin Ju juga lantas merasa lengan mereka linu pegal dan pedang mereka hampir-hampir terlepas dari cekalan, untung mereka sempat melompat mundur dengan cepat.

Air muka Ciok Jing menjadi pucat, sebaliknya muka Bin Ju merah jengah.

Padahal gabungan pedang hitam-putih Ciok-cengcu suamiisteri dari Hian-so-ceng boleh dikata hampir tiada tandingannya didunia ini, tapi tadi pedang mereka hanya kena selentikan jari orang itu dan hampir-hampir terlepas dari cekalan, hal ini benar-benar belum pernah terjadi sejak mereka menjagoi dunia persilatan selama hidup ini.

Keruan Ciok Jing dan Bin Ju sangat terkejut.

Waktu mereka memperhatikan penyerobot itu, tertampaklah golok emas dan tujuh batang pedang rampasan itu telah menancap diatas tanah disekeliling orang itu.

Orang itu berjubah hijau dan berjenggot pendek, usianya kira-kira setengah abad, air mukanya bersemu kehijau-hijauan dan memperlihatkan perasaan yang tak terkatakan girangnya.

Tiba-tiba Ciok Jing teringat kepada seorang, tanpa merasa ia bertanya.

"Apakah tuan ini adalah pemilik daripada Hian-tiatleng ini?"

"Hehehe!"

Orang itu tertawa.

"Pedang hitam-putih Hian-soceng sangat tersohor didunia Kang-ouw dan nyatanya memang bukan omong-kosong. Lohu (aku yang tua) tadi telah menggunakan satu bagian tenagaku untuk melayani kedelapan sobat ini dan memakai sembilan bagian tenaga untuk menghadapi suami-isteri kalian, tapi toh masih tidak dapat merampas pedang kalian. Ai, kepandaianku ‘Tan-ci-sin-thong’ (ilmu sakti menyelentik dengan jari) ini tampaknya perlu dilatih sepuluh tahun lagi."

Mendengar itu Ciok Jing menjadi lebih yakin lagi dengan siapa dia sedang bicara. Segera ia memberi hormat dan berkata pula.

"Kami suami isteri kebetulan lewat disini dan sebenarnya ingin naik ke Mo-thian-kay (tebing pencakar langit) untuk menyampaikan salam kepada tuan, syukurlah disini sudah dapat bertemu, maka tidaklah sia-sia perjalanan kami ini. Tentang kepandaian kami yang kasar ini sudah tentu tiada harganya dalam pandangan tuan, harap tidak menjadi buah tertawaanmu. Adapun hari ini tuan sendiri sudah menarik kembali medali wasiat itu dari peredaran, sungguh harus dibuat girang dan diberi selamat."

Karena ucapan Ciok Jing itu, diam-diam ketujuh orang Swatsan-pay membatin.

"Apakah mungkin orang berjubah hijau ini benar-benar adalah pemilik medali wasiat yang bernama Cia Yan-khek itu? Kalau melihat rupanya toh tiada sesuatu yang luar biasa dan susah untuk dipercaya bahwa dia adalah tokoh yang namanya membikin rontok nyali setiap orang Bu-lim itu. Tapi bila melihat caranya sekali gebrak saja sudah mampu merampas pedang-pedang kami, mau-tak-mau orang harus mengakui betapa lihaynya dan selain Cia Yan-khek rasanya tiada tokoh lain lagi."

Orang itu memang benar adalah Cia Yan-khek yang bersemayam diatas Mo-thian-kay. Kembali ia bergelak tertawa, katanya kemudian.

"Tadi Cayhe telah berlaku kasar, diharap Cia-cianpwee suka memaafkan dan terimalah salamku ini."

Berkata sampai disini, medali wasiat yang berada ditangan kirinya itu dilemparkannya ditelapak tangannya sendiri, lalu dengan tersenyum ia berkata pula.

"Cuma saja hari ini hatiku kebetulan sedang senang, maka bacokan ini boleh kutitip dahulu. Dan kau juga telah menusuk dadaku, kau menusuk pahaku, kau menusuk pinggangku, kau menabas betisku.........."

Sembari bicara, ia sambil menuding-nuding ketujuh orang Swat-san-pay itu.

Keruan ketujuh orang Swat-san-pay itu tambah kaget demi mendengar orang dapat menguraikan dengan jitu tipu serangan dan tempat yang diarah yang dilakukan serentak dalam sekejap tadi, bahkan siapa menyerang dan tempat yang diarah, semuanya dapat dikatakan dengan jelas, melulu ketajaman mata dan daya ingatan ini saja orang lain pasti tidak dapat memadai.

Dalam pada itu terdengar Cia Yan-khek sedang melanjutkan.

"Semua utang kalian ini biarlah sementara ini kucatat saja didalam buku, kapan-kapan kalau aku merasa sebal barulah aku akan mendatangi kalian untuk menagih utang."

Salah seorang Swat-san-pay yang agak pendek rupanya merasa penasaran, tiba-tiba ia berteriak.

"Kepandaian kami memang lebih rendah, kalau sudah kalah biarlah kalah, kenapa kau mesti mengucapkan kata-kata yang menghina? Kau bilang mencatat utang apa? Kalau mau boleh lantas balas menusuk aku saja, siapa yang sudi main utang-utangan dengan kau?"

Orang ini bernama Ong Ban-jim, wataknya berangasan dan enggan mengalah, biarpun tahu musuh terlalu lihay juga tidak sudi nama baik Swat-san-pay mereka dihina.

Tak terduga Cia Yan-khek lantas mengangguk dan berkata.

"Baik!" – Mendadak ia cabut pedang rampasan dari Ong Banjim tadi terus menusuk kedepan. Cepat Ong Ban-jim melompat mundur kebelakang untuk menghindarkan tusukan itu. Tak tersangka serangan Cia Yankhek itu terlalu cepat datangnya, baru tubuh Ong Ban-jim terapung, tahu-tahu ujung pedang sudah menyentuh dadanya. Sekali tangan Cia Yan-khek menyendal, segera ia tarik kembali pedangnya. Waktu Ong Ban-jim berdiri kembali diatas tanah, mendadak ia merasa dadanya silir-silir dingin. Waktu ia menunduk, tanpa merasa ia berseru kaget. Ternyata baju dadanya telah berlubang sebuah lingkaran bundar sebesar cangkir sehingga kelihatan kulit dagingnya. Rupanya, tahu-tahu Cia Yan-khek sudah mengorek sebuah lingkaran kecil sehingga tiga lapis bajunya seperti digunting sebuah lubang bundar. Coba kalau tusukan itu diteruskan kedepan, tentu ulu hatinya sudah dikorek keluar oleh pedang Cia Yan-khek tadi. Keruan Ong Ban-jim ternganga dengan muka pucat. Sebaliknya tidak kepalang kagumnya An Hong-jit, tanpa merasa ia bersorak.

"Ilmu pedang bagus!"

Bicara tentang jurus ilmu pedang yang dimainkan Cia Yankhek barusan sebenarnya Ciok Jing suami-isteri juga sanggup melakukannya, cuma dalam hal kecepatan, bahkan lawan sudah mengetahui tempat yang akan diserang, namun demikian toh tetap takdapat mengelakkan diri, untuk inilah Cok Jing dan Bin Ju tahu diri mereka tidak mampu menandinginya.

Begitulah maka suami-isteri itu telah saling pandang sekejap dengan rasa cemas dan sayang, pikir mereka.

"Betapa aneh ilmu silat tokoh ini ternyata memang susah diukur. Dasar nasib kami yang jelek, coba kalau Hian-tiat-leng itu dapat direbut oleh kami, tentu sakit hati kami akan terbalas dengan mudah!"

Dalam pada itu Cia Yan-khek hanya mendengus saja atas sorakan An Hong-jit tadi, lalu ia hendak melangkah pergi.

"Nanti dulu, Cia-siansing!"

Tiba-tiba seorang wanita muda diantara anak murid Swat-san-pay telah berseru.

"Ada apa?"

Tanya Cia Yan-khek sambil menoleh. Wanita muda itu bernama Hoa Ban-ci. Setiap anak murid Swat-san-pay memakai huruf "Ban"

Dalam nama mereka. Dia lantas berkata.

"Barusan Cia-siansing telah bermurah hati dan tidak melukai Suko kami, sungguh kami merasa berterima kasih. Akan tetapi aku ingin tanya dulu, potongan besi yang kau ambil itu sebenarnya adalah Hian-tiat-leng atau bukan?"

"Kalau betul mau apa, kalau bukan lantas bagaimana?"

Sahut Yan-khek dengan sikap angkuh.

"Kalau bukan medali besi wasiat, maka kami beramai-ramai akan mencarinya lagi,"

Kata Hoa Ban-ci.

"Dan kalau benda itu adalah medali wasiat, maka engkaulah yang telah berbuat salah."

"Jangan banyak bicara, Hoa-sumoay!"

Bentak Kheng Banciong.

Dilain pihak air muka Cia Yan-khek sekilas telah bersemu hijau, lalu tenang kembali.

Semua orang mengetahui bahwa sifat Cia Yan-khek itu sangat kejam dan suka membunuh, kelakuannya aneh, setempo baik, tapi lain saat sudah jahat pula.

Tindak-tanduknya hanya tergantung kepada kesukaannya pada seketika itu saja, selama ini entah sudah berapa banyak orang-orang Kang-ouw yang telah menjadi korban keganasannya, entah dia dari golongan Hek-to (kalangan penjahat) atau dari golongan Pek-to (kaum kesatria).

Tapi lantaran ilmu silatnya memang benar-benar sangat lihay, jejaknya juga tak menentu, meski tidak sedikit musuhnya telah mencari dia dan ingin menuntut balas, namun selalu mereka diketemukan sudah mati ditengah jalan secara aneh.

Selama tahun2 terakhir ini, musuh2nya boleh dikata sudah hampir terbunuh olehnya, sisanya merasa tidak sanggup melawannya dan terpaksa membatalkan maksud mereka untuk menuntut balas.

Hari ini dia telah dikerubut sepuluh orang dan seorangpun ternyata tak diganggu olehnya, hal itu boleh dikata sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Tak terduga Hoa Ban-ci dari Swat-san-pay itu masih usilan dan berani mengajukan pertanyaan segala, hal ini bukan saja membuat kawankawannya merasa kuatir, bahkan Ciok Jing dan lain-lain juga ikut cemas.

Tapi Cia Yan-khek lantas angkat medali besi itu keatas sambil membaca dengan suara lantang.

"Hian-tiat-ci-leng, yu-kin-piteng (dengan pembuktian medali ini, setiap permintaan tentu terpenuhi)!" – Lalu ia membalik medali itu dan membaca pula huruf disebelahnya.

"Tertanda Cia Yan-khek di Mo-thian-kay."

Dan sesudah berhenti sejenak, kemudian katanya pula.

"Medali ini adalah buatan dari besi murni yang jarang terdapat didunia ini dan tidak mempan segala macam senjata tajam." – Segera ia mencabut sebatang pedang yang menancap di atas tanah terus membacok medali besi yang dipegangnya itu.

"Cring" , mendadak pedang patah menjadi dua, sebaliknya medali itu tidak rusak barang sedikitpun. Mendadak Cia Yan-khek menarik muka dan bertanya dengan suara bengis.

"Nah, mengapa kau bilang aku berbuat salah?"

Dengan tenang Hoa Ban-ci menjawab.

"Menurut cerita kawan kalangan Kang-ouw, katanya Cia-siansing mempunyai tiga bentuk medali wasiat serupa itu dan masing-masing telah dihadiahkan kepada tiga orang sahabat yang pernah menolong Cia-siansing, dengan pesan asal membawa medali itu dan diperlihatkan kepada Cia-siansing, maka pembawa medali itu boleh meminta kau melakukan suatu urusan, biarpun urusan yang betapa sulitnya pasti juga akan dilakukan oleh Ciansiansing. Tentang ini tentunya tidak salah, bukan?"

"Ya, betul,"

Sahut Cia Yan-khek.

"Hal ini diketahui oleh setiap orang Bu-lim." – Dari sikapnya terlihat rasa bangganya yang tak terhingga. Maka Hoa Ban-ci berkata pula.

"Konon dua diantara ketiga medali itu sudah diterima kembali oleh Cia-siansing, dan oleh karena itu didunia persilatan pernah juga terjadi peristiwa yang mengguncangkan. Dan medali sekarang ini apakah benar adalah medali yang terakhir itu, bukan?"

Air muka Cia Yan-khek tampak tenang kembali demi mendengar kata-kata tentang "dua peristiwa yang pernah mengguncangkan dunia persilatan"

Itu, sahutnya.

"Ya, memang betul. Adapun kawanku yang memegang medali ketiga ini sudah lama wafat. Dia sendiri memiliki ilmu silat mahatinggi dan tiada sesuatu urusan yang susah dilakukan olehnya, maka medali ini sesungguhnya tiada gunanya buat dia. Karena dia tidak mempunyai anak, sesudah wafat medali ini lantas jatuh ditangan orang lain. Selama beberapa tahun ini semua orang secara mati-matian telah berusaha mendapatkan medali ini dengan harapan akan dapat memerintahkan aku melakukan sesuatu urusan sulit baginya. Tapi, hehehe, tidak nyana hari ini medali ini telah kuterima kembali dengan mudah. Boleh juga kukatakan padamu bahwa diterimanya kembali medali ini olehku, mungkin juga hal ini akan mengecewakan sobat-obat kalangan Kang-ouw, tetapi boleh jadi hal ini malah akan banyak mengurangi malapetaka bagi kalian sendiri."

Berkata sampai disini, tiba-tiba ia depak mayat Go To-it sehingga terpental beberapa meter jauhnya, lalu menyambung pula.

"Seperti setan ini, biarpun dia sudah memegang medaliku ini, tapi tidaklah gampang untuk menemui aku. Sebelum dia perlihatkan medali ini kepadaku, ternyata dia sendiri sudah menjadi sasaran orang banyak sehingga binasa lebih dulu. Memangnya orang Bu-lim mana yang tidak ingin membunuhnya untuk merebut medali ini? Coba, sampaisampai Ciok-cengcu suami-isteri yang tersohor juga tidak terhindar dari keinginan demikian, apalagi orang lain? Haha, hehe, hehehe!"

Ucapan terakhir yang bernada menyindir itu telah membuat Ciok Jing merah jengah.

Dikalangan Bu-lim biasanya dia sangat disegani, walaupun lahirnya dia ramah-tamah, tapi sesungguhnya apa yang dia ucapkan tiada pernah dibantah oleh siapapun.

Tak terduga sekarang ia harus menerima olokolok Cia Yan-khek didepan orang banyak.

Sebagai seorang tokoh yang tinggi hati sudah tentu ia merasa malu atas perlakuan demikian.

Lebih-lebih Bin Ju, isterinya itu menjadi pucat pasi saking gusarnya, berulang-ulang ia telah melirik sang suami, asal suaminya memberi tanda, serentak mereka akan mengadu jiwa dengan Cia Yan-khek, walaupun insaf bukan tandingan lawan, tapi mereka tidak sudi menelan mentah-mentah hinaan itu.

Namun lantas terdengar Cia Yan-khek telah berkata lagi.

"Ciok-cengcu suami-isteri adalah pahlawan dan kesatria sejati, bila medaliku ini didapatkan kalian, paling2 kalian hanya suruh Lohu melakukan sesuatu pekerjaan sulit dan habis perkara. Tetapi bila medali ini diperoleh kaum keroco yang tak bermoral dan Lohu diperintahkan membikin cacat badannya sendiri sehingga mati tidak dan hidup juga kepalang, wah, bukankah bisa berabe? Bahkan akan lebih celaka lagi kalau aku diperintahkan membunuh diri, kalau aku belum bosan hidup dan membangkang perintah, bukankah itu berarti aku telah mengingkari sumpah setia ‘permintaan tentu terpenuhi’ yang tertera diatas medali ini? Haha, rupanya peruntunganku masih lumayan juga, sehingga dengan mudah medali ini dapat kuterima kembali. Haha, hahaha!"

Suara tertawanya keras menggetar sukma.

Ada beberapa penduduk Hau-kam-cip yang sedang mengintip sampai mengkeret ketakutan demi mendengar suara tertawa yang menyeramkan itu.

Usia Hoa Ban-ci meski masih muda, tapi agak pemberani, dengan suara lantang ia masih berkata pula.

"Cia-siansing jangan buru-buru senang dahulu. Pernah kudengar cerita bahwa Cia-siansing sendiri pernah bersumpah barang siapa yang menyerahkan medali itu padamu, maka engkau akan memenuhi sesuatu permintaannya, biarpun orang itu adalah musuh bebuyutanmu juga kau akan menurut dan takkan mencelakai dia...................."

Berkata sampai disini, sementara itu orang-orang yang menonton disekelilingnya telah bertambah pula, mereka adalah Pang Cin-bu, Pun-khong Tojin, Ciu Bok dan orang-orang Kimto-ce.

Dalam pada itu Hoa Ban-cie telah melanjutkan.

"Sekarang medali kau terima kembali dari adik cilik itu, untuk mana kau toh belum tahu persoalan sulit apa yang akan dia minta agar dikerjakan olehmu."

"Cis!"

Semprot Cia Yan-khek.

"Pengemis cilik itu barang apa, masakah aku harus menurut perintahnya? Haha, hahaha! Benar-benar menggelikan!"

"Nah, dengarlah kawan-kawan yang hadir disini, kiranya Ciasiansing menganggap pengemis kecil itu bukan manusia, maka sumpahnya dahulu takdapat dianggap!"

Seru Hoa Ban-ci. Kembali air muka Cia Yan-khek sekilas bersemu hijau pula, pikirnya.

"Kurang ajar! Perempuan ini sengaja membikin aku menjadi serba salah sehingga ada kemungkinan orang Kangouw akan mengatakan sumpahku sebagai kentut saja." – Tapi mendadak tergetar pula batinnya.

"Wah, celaka! Janganjangan pengemis cilik adalah sekomplotan dengan mereka yang sengaja dipasang untuk menjiret diriku, tadi sekaligus aku telah merebut kembali medali wasiat, sekarang tidak dapat dikembalikan lagi padanya."

Ia lihat, pandangan semua orang terarahkan padanya, segera ia mendengus dan berkata dengan angkuh.

"Hm, apakah didunia ini ada sesuatu urusan sulit yang takdapat dikerjakan oleh orang she Cia dari Mo-thian-kay? Pengemis cilik, hayolah kau ikut padaku, ada urusan apa yang kau akan minta kukerjakan juga tiada sangkut-pautnya dengan orang luar." – lalu ia gandeng tangan sijembel cilik dan hendak diajak pergi. Hendaklah maklum bahwa watak Cia Yan-khek itu sangat cerdik dan dapat berpikir jauh. Meski dia tidak pandang sebelah mata kepada jago-jago silat yang mengelilinginya itu, tapi ia kuatir dibelakang pengemis kecil itu ada orang pandai dan sengaja mengemukakan sesuatu persoalan sulit didepan orang banyak dan minta dia lakukan, umpama benar-benar minta dia membikin cacat anggota badan sendiri dan sebagainya, hal ini tentu akan membuatnya serba susah, sebab itulah cepat-cepat ia hendak membawa pergi sijembel untuk ditanyai lebih jauh ditempat lain yang sepi. Hoa Ban-ci lantas mendekati sipengemis kecil, katanya dengan suara halus.

"Adik cilik, sungguh kau ini anak yang baik, Lopepek (paman tua) ini paling suka membunuh orang, maka lekas kau memohon dia selanjutnya jangan membu............" – Baru berkata sampai disini, sekonyong-konyong serangkum angin kuat menyampuk kemukanya sehingga kata-katanya terputus ditengah jalan. Kiranya Hoa Ban-ci sangat cerdik, ia tahu apa yang telah dikatakan Cia Yan-khek tentu akan dilaksanakannya. Tadi dirinya telah menusuk muka orang she Cia itu dan dia menyatakan utang itu akan ditangguhkan dahulu dan akan ditagih setiap waktu dikemudian hari. Ini berarti pada setiap saat mukanya akan ditusuk pedang oleh Cia Yan-khek, apalagi diantara para Suhengnya itu, kecuali Ong Ban-jim yang utangnya telah dibayar kontan tadi, selebihnya masih belum membayar semua, maka utang-utang itu kelak pasti akan mengakibatkan pertumpahan darah bila Cia Yan-khek datang menagih. Sebab itulah sekarang ia sengaja menyerempet bahaya tanpa menghiraukan akan menimbulkan kemurkaan Cia Yan-khek, ia suruh sipengemis kecil itu lekas memohon Cia Yan-khek agar untuk selanjutnya jangan membunuh orang lagi. Asal permintaan demikian itu diajukan sipengemis kecil, maka terpaksa Yan-khek harus menurut dan itu berarti jiwanya sendiri dan keselamatan para Suhengnya akan terjamin. Tak terduga Cia Yan-khek sudah mengetahui maksudnya itu dan lantas mengebutkan lengah jubahnya, angin kebutan yang keras itu memaksa Hoa Ban-ci tidak sanggup menghabiskan ucapannya tadi. Bahkan terdengar Cia Yan-khek membentak pula.

"Perlu apa kau banyak cerewet?" – Dan kembali serangkum angin kuat menyambar tiba. Hoa Ban-ci tidak sanggup berdiri tegak lagi, kontan ia roboh terjengkang. Keruan anak murid Swat-san-pay yang lain menjerit kaget dan beramai-ramai menubruk maju untuk menolong. Ketika mereka sudah membangunkan Hoa Ban-ci, sementara itu Cia Yan-khek sudah pergi jauh dengan membawa sipengemis kecil. Melihat gembong yang menakutkan itu sudah pergi, untuk mengejar terang tidak berani. Maka An Hong-jit lantas mencabut kembali goloknya sendiri yang tertancap diatas tanah itu, katanya kepada Ciok Jing suami-isteri dan ketujuh orang Swat-san-pay.

"Maafkan akan keberangkatanku lebih dulu, kalau ada tempo senggang silakan kalian suka mampir ketempat kami. Sampai bertemu pula!" – Lalu iapun tinggal pergi dengan anak buahnya. Sekarang hanya tinggal Ciok Jing suami-isteri dan ketujuh orang Swat-san-pay saja yang berada disitu. Tiba-tiba Ong Ban-jim berseru.

"Ciok-cengcu, kami justeru ingin membicarakan sesuatu dengan Ciok-cengcu."

"Baiklah, ada urusan apakah? Silakan bicara,"

Sahut Ciok Jing dengan ramah. Kheng Ban-ciong berusia lebih tua, maka setiap tindaktanduknya selalu lebih hati-hati. Ia berkata.

"Tempat ini tidak pantas didiami lebih lama, marilah kita mencari suatu tempat lain yang lebih tenang untuk bicara."

Ciok Jing mengangguk setuju. Segera mereka beramai-ramai menuju kearah barat. Kira-kira beberapa li jauhnya, tertampak ditepi jalan tumbuh tiga batang pohon yang rindang.

"Ciok-cengcu, apakah baik kalau kita berbicara dibawah pohon sana?"

Tanya Kheng Ban-ciong.

"Baik sekali,"

Sahut Ciok Jing.

Segera kesembilan orang menuju kebawah pohon itu dan mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.

Sementara itu Kheng Ban-ciong sudah memperkenalkan para sutenya dan saling mengucapkan kata-kata pujian dengan Ciok Jing suami-isteri.

Diam-diam Ciok Jing sangat gopoh karena tidak tahu apa yang hendak dibicarakan oleh orang-orang Swat-san-pay itu.

Tapi ia tidak enak untuk mendesak.

Sejenak kemudian, barulah Khong Bin-ciong membuka suara.

"Ciok-cengcu, kita adalah sahabat lama, kalau ada sesuatu ucapanku nanti agak tidak enak didengar, haraplah engkau suka memaafkan. Menurut pendapatku, ada lebih baik kalau Ciok-cengcu menyerahkan puteramu kepada kami saja. Cayhe tentu akan berusaha sedapat mungkin untuk memintakan ampun kepada Suhu dan Subo (ibu guru) serta Pek-suheng suami-isteri, dengan demikian jiwa puteramu mungkin akan dapat diselamatkan. Andaikan kepandaiannya juga dipunahkan juga lebih baik daripada kedua fihak menjadi bermusuhan dan menumpahkan darah."

Ciok Jing menjadi heran, sahutnya.

"Sejak Siau-ji (puteraku) berada ditempat kalian, selama tiga tahun belum pernah aku melihatnya. Maka kalau ada terjadi sesuatu apa, sesungguhnya kami suami-isteri tidak mengetahui. Dari itu diharap Khengheng suka memberitahukan secara terus terang saja!"

"Apa Ciok-cengcu betul-betul tidak tahu?"

Ban-ciong menegas.

"Ya, tidak tahu!"

Sahut Ciok Jing.

Ban-ciong cukup kenal wataknya Ciok Jing.

Dengan nama kebesaran Hian-so-ceng yang diagungkan didunia Kang-ouw tidaklah mungkin Ciok Jing sulit berbohong.

Kalau dia sudah menyatakan tidak tahu, maka pastilah tidak tahu.

Maka Banciong lantas berkata pula.

"Oh, karena Ciok-cengcu sama sekali tidak mengetahui...................."

"Jadi Giok-ji (anak Giok) sekarang tidak berada di Leng-siausia?"

Sela Bin Ju yang sangat memperhatikan keselamatan puteranya itu. Ban-ciong mengangguk, Sedangkan Ban-jim lantas berkata.

"Kalau bocah itu saat ini berada di Leng-siau-sia, biarpun dia punya seratus lembar jiwa juga sudah amblas semua!"

Diam-diam Ciok Jing mendongkol. Pikirknya.

"Sebabnya aku mengirim anak Giok belajar silat keperguruan kalian adalah lantaran aku menghargai ilmu silat Swat-san-pay kalian. Seumpama karena usianya masih muda dan sifatnya nakal sehingga telah melanggar sesuatu larangan perguruan, untuk mana paling tidak kalian juga mengingat kehormatan suamiisteri kami dan tidak boleh sembarangan membunuhnya."

Walaupun demikian pikirnya, tapi lahirnya dia tetap tenang tenang saja. Sahutnya dengan tawar.

"Peraturan-peraturan perguruan kalian yang keras itu memang cukup kuketahui. Justru kamipun ingin Giok-ji dapat belajar sedikit peraturanperaturan yang baik itu, makanya kami kirim anak itu ke Lengsiau-sia kalian."

Mendadak wajah Khong Ban-ciong agak masam dan berkata.

"Ucapan Ciok-cengcu ini terlalu memuji. Akan tetapi akhlak si Ciok Tiong-giok yang bejat dan perbuatannya yang durhaka dan jahat itu sekali-kali bukanlah ajaran Swat-san-pay!"

Bab 4. Ciok Tiong-Giok, Anak Bejat & Durhaka "Akhlak bejat dan perbuatan durhaka? Darimanakah dapat dikatakan demikian?"

Tanya Ciok Jing dengan kurang senang.

"Hoa-sumoay,"

Tiba-tiba Ban-ciong berkata kepada Ban-ci.

"harap kau periksa kesana, coba awasi kalau-kalau ada orang datang."

Hoa Ban-ci mengiakan dan segera menyingkir dengan menjinjing pedang.

Ciok Jing saling pandang sekejap dengan isterinya.

Mereka tahu sebabnya Kheng Ban-ciong menyuruh Hoa Ban-ci menyingkir adalah karena ada ucapan-ucapan yang tidak pantas didengar oleh kaum wanita muda.

Dan sesudah menghela napas, lalu Kheng Ban-ciong bicara pula.

"Ciong-cengcu, bahwasannya Pek-suheng kami tiada mempunyai putera, melainkan cuma mempunyai seorang puteri, hal ini tentu kaupun tahu. Sutitli (murid keponakan perempuan) kami itu usianya baru 12 tahun, pintar dan cerdik, lincah menyenangkan, selain Pek-suheng suami-isteri, bahkan Suhu dan Subo kami juga menganggapnya sebagai mutiara jantung hati mereka. Sebab itulah Sutitli kami itu menjadi mirip Tuan Puteri dari Leng-sian-sia di Tay-swat-san, dengan sendirinya seluruh saudara perguruan kami juga menyanjungnya sebagai dewi."

Ciok Jing mengangguk, katanya.

"Oh, apa barangkali puteraku yang kurang ajar itu telah berbuat salah kepada puteri cilik itu?"

"Berbuat salah, kata-kata ini terlalu ringan baginya,"

Ujar Banciong.

"Dia....... dia.......... justru sembrono dan telah meringkus Sutitli kami itu, kaki-tangannya diikat kencang, pakaiannya dibelejeti hingga telanjang bulat, lalu bermaksud memperkosanya!"

"Haaaaaaa!"

Ciok Jing dan Bin Ju sampai berseru kaget terus berbangkit. Air muka Bin-ju sampai pucat pasi.

"Ma........... mana boleh jadi?"

Kata Ciok Jing.

"Usia Tiong-giok baru 15 tahun, kukira didalam hal ini tentu ada kesalahpahaman."

"Memangnya semula kamipun mengira kejadian itu terlalu janggal,"

Sahut Ban-ciong.

"Tapi hal ini memang benar-benar terjadi. Dua pelayan pribadi Sutitli kami itu ketika mendengar suara percekcokan yang ribut, mereka lantas memburu kedalam kamar dan segera mereka berteriak-teriak minta tolong demi nampak adegan didalam kamar itu. Akibatnya seorang pelayan itu lengannya terkutung sebelah dan seorang lagi sebelah kakinya juga buntung, semuanya jatuh pingsan. Untuk juga karena datangnya pelayan-pelayan itu telah membikin anak durhaka itu menjadi takut dan lantas melarikan diri dan tidak berani melanjutkan perbuatannya yang terkutuk itu."

Perlu diketahui bahwa didunia persilatan selamanya memandang soal pelanggaran kehormatan wanita sebagai suatu larangan paling keras.

Kaum bandit dan sebagainya dari kalangan Hek-to boleh merampok, membegal, membunuh orang dan membakar rumah, semuanya itu boleh dikata jamak bagi mereka, tetapi bila sampai melanggar larangan "perjinahan", betapapun hal ini tak dapat diampuni oleh sesama kaum mereka.

Karena itulah Bin Ju menjati kuatir dan bingung, sambil menarik-narik lengan baju Ciok Jing ia bertanya "Siangkong, lan...........

lantas bagaimana baiknya?"

Ciok Jing sendiripun bingung demi mendengar berita yang luar biasa itu.

Dia paling mengutamakan keluhuran budi sesama orang Kang-ouw, kalau dia mendengar puteranya cuma membunuh orang atau berbuat sesuatu kesalahan lain, betapapun besar malapetaka itu tentu juga akan diambil oper olehnya.

Tapi sekarang persoalannya sungguh luar biasa dan entah cara bagaimana harus diselesaikan.

Andaikan sekarang puteranya berada disisinya juga bukan mustahil akan dibunuhnya sendiri.

Sesudah tenangkan diri sejenak, Ciok Jing bertanya.

"Jika demikian, berkat Tuhan yang maha pengasih, jadi nona Pek masih suci bersih dan tidak sampai dinodai oleh puteraku yang celaka itu, bukan?"

"Ya, tidak,"

Sahut Ban-ciong.

"Walaupun demikian toh juga tidak banyak bedanya. Kau sendiri cukup kenal tabiat Suhu kami. Beliau seketika memerintahkan orang mencari Cionggiok dengan pesan siapa saja yang melihat anak itu boleh seketika dibunuh saja dan tidak perlu diberi ampun."

"Suhu mengatakan bahwa beliau mempunyai hubungan baik dengan kau, bila Tiong-giok ditangkap kembali, mengingat dirimu tentu beliau tidak enak mencabut nyawanya, maka lebih baik dibunuhnya saja diluar supaya lekas beres,"

Demikian Ban-jim menyambung. Ban-ciong melotot sekali kepada sang Sute, agaknya kurang senang karena Ban-jim ikut menimbrung. Tapi Ban-jim lantas menambahkan.

"Memang demikian pesan Suhu, masakan aku salah omong?"

Ban-ciong tidak gubris lagi padanya dan menyambung.

"Sebenarnya kalau cuma dua pelayan saja yang dilukai adalah bukan sesuatu yang hebat. Namun Sutitli kami itu biarpun usianya masih kecil, tapi tabiatnya ternyata sangat keras. Dia merasa dirinya telah mengalami hinaan dan tercemar, ia merasa malu dan tidak mau menemui siapapun, sesudah menderita dua hari, pada malam hari ketiga mendadak ia melompat keluar melalui jendela terus menerjang kedalam jurang yang tak terkirakan dalamnya untuk membunuh diri!"

Kembali Ciok Jing dan Bin Ju berteriak kaget.

"Dan apakah........... apakah dapat diselamatkan?"

Tanya Ciok Jing.

"Jurang di Leng-siau-sia kami itu tentu diketahui juga oleh Ciok-cengcu, jangankan manusia, sekalipun sepotong batu juga akan hancur bila dijatuhkan kedalam jurang itu,"

Sahut Banciong.

"Apalagi seorang nona cilik yang lembut, sekali terjun kebawah jurang mustahil tidak lantas hancur lebur?"

"Yang paling penasaran boleh dikata adalah Toasuko kami,"

Demikian seorang murid Swat-san-pay berusia antara 27-28 tahun dan bernama Kwa Ban-kin, telah menyeletuk.

"Tanpa sebab apa-apa sebelah lengannya telah ditabas kutung oleh Suhu kami."

"Ha? Hong-hwe-sin-liong?"

Seru Ciok Jing kaget.

"Ya, siapa lagi?"

Sahut Kwa Ban-kin.

"Saking sayangnya kepada cucu perempuannya, sedangkan puteramu belum juga tertangkap. Suhu menjadi marah-marah dan menialahkan Hong-suheng tidak benar mendidik muridnya, dalam gusarnya beliau lantas melolos pedang yang dibawa Hong-suheng dan menabas sebelah lengannya. Sungguh kasihan, Hong-suheng yang berkepandaian sedemikian tingginya sejak itu lantas menjadi cacat untuk selamanya. Berhubung dengan itu Subo lantas menegur Suhu mengapa sembarangan menghukum muridnya yang tak berdosa. Tapi Suhu tambah marah sehingga suami-isteri bercekcok sendiri didepan para muridnya, makin cekcok makin tegang dan entah kejadian lama apa yang telah disinggung-singgung Subo, akhirnya Suhu telah menampar muka Subo. Dalam gusarnya Subo terus angkat kaki dan minggat serta menyatakan takkan menginjak kembali ke Lengsiau-sia!"

Sungguh malu Ciok Jing tak terhingga atas peristiwa itu.

Karena dirinya sangat kagum atas ilmu silat Hong-hwe-sinliong Hong Ban-li, sinaga sakti api dan angin, itu murid tertua kaum Swat-san-pay, makanya dirinya telah mengirimkan puteranya, yaitu Tiong-giok, untuk belajar padanya.

Siapa duga gara-gara perbuatan sang putera yang durhaka itu sehingga mengakibatkan Hong Ban-li ikut-ikut menjadi cacat seumur hidup.

Padahal Hong Ban-li terkenal karena ilmu pedangnya yang cepat dan keras sebagai angin dan api sehingga memperoleh julukan sebagai Hong-hwe-sin-liong.

Sekarang tiba-tiba telah terkutung sebelah lengannya, sedangkan musuhnya sangat banyak, maka untuk selanjutnya mungkin dia tidak berani berkelana lagi didunia Kang-ouw.

Ai, sungguh tidak enak sekali terhadap sahabat yang baik itu.

Demikian pikir Ciok Jing.

Dalam pada itu terdengar Ong Ban-jim telah berkata.

"Kwasute, kau bilang Toasuheng kita sangat penasaran, memangnya Pek-suheng lantas tidak penasaran? Puterinya sudah mati, isterinya menjadi gila lagi."

"Ha? Meng....... mengapa Pek-hujin menjadi gila pula?"

Tanya Ciok Jing dan Bin Ju berbareng.

Sungguh malu mereka tak terhingga, mereka menjadi lebih kuatir entah apalagi yang terjadi di Leng-siau-sia karena gara-gara perbuatan putera mereka yang tak genah itu.

"Apalagi kalau bukan lantaran perbuatan putera kalian yang baik itu?"

Jengek Ong Ban-jim.

"Karena kematian keponakan puteri kami itu, Pek-suko lantas mengomeli Pek-suso, katanya dia kurang baik menjaga puteri mereka itu sehingga dapat lari keluar rumah dan membunuh diri. Memangnya Pek-suso tidak kepalang sedihnya atas meninggalnya sang puteri, sekarang diomeli pula oleh sang suami, dia menjadi tambah berduka dan berteriak-teriak memanggil nama puterinya, seketika itu juga pikirannya menjadi kurang waras dan terpaksa dijaga keras oleh dua orang Suci kami, agar tidak sampai terjadi apa-apa lagi atas diri Pek-suso. Coba katakanlah Ciok-cengcu, jika Peksuso kami lantas mendatangi tempat kalian dan membakar Hian-so-ceng, kau bilang pantas atau tidak?"

"Ya, pantas, harus dibakar!"

Sahut Ciok Jing.

"Sungguh kami suami-isteri merasa sangat malu, biarpun menjelajahi setiap pelosok jagat raya inipun anak durhaka itu harus kami tangkap kembali dan akan kami bawa ke Leng-siau-sia untuk dihukum mati didepan perabuan nona Pek................."

Mendengar sampai disini, mendadak Bin Ju menjerit sekali dan lantas jatuh pingsan didalam pelukan sang suami.

Cepat Ciok Jing memijat-mijat Jin-tong-hiat dibagian bibir atas sang isteri dan lambat laun barulah Bin Ju siuman kembali.

"Ciok-cengcu,"

Kata Ban-jim pula.

"Bahkan ada dua jiwa Swatsan-pay kami mungkin harus pula diperhitungkan atas utang Hian-so-ceng kalian."

"Mengapa masih ada dua jiwa lain lagi?"

Tanya Ciok Jing kaget.

Selama hidup Ciok Jing sebenarnya sudah kenyang dengan pukulan-pukulan yang bagaimanapun hebatnya, tapi tiada yang lebih menyedihkan seperti apa yang dialaminya sekarang ini.

Dahulu waktu puteranya yang kedua bernama Ciok Tiong-kian dibunuh oleh musuhnya, walaupun dia juga berduka dan murka sekali, tapi tidaklah seperti sekarang, sudah malu merasa kuatir pula, dan lantaran itu suaranya menjadi agak parau.

Dalam pada itu Ong Ban-jim telah berkata pula.

"Karena peristiwa yang hebat ini, maka Suhu telah mengirim 18 orang muridnya turun gunung dengan dipimpin oleh Pek-suheng dengan tujuan untuk membakar Hian-so-ceng kalian. Bahkan beliau mengatakan.......... mengatakan............" – Sampai disini ia menjadi tergagap-gagap dan ragu-ragu untuk menerangkan. Tertampak juga Kheng Ban-ciong berulangulang mengedipi sang Sute itu. Maka tahulah Ciok Jing kata-kata apa yang tidak diterangkan oleh Ong Ban-jim itu. Segera ia menyambungnya.

"Tentunya beliau mengatakan kami suami-isteri akan ditawan ke Tayswat-san untuk menggantikan jiwanya nona Pek?"

"Ah, Ciok-cengcu janganlah berkata demikian,"

Cepat Banciong menyela.

"Jangankan kami tidak berani, sekalipun berani, apakah dengan sedikit kepandaian kami yang kasar ini, mampu mengundang Ciok-cengcu? Suhu hanya mengatakan bahwa putera kalian itu betapapun harus diketemukan. Cuma saja usianya meski masih muda, tapi orangnya sangatlah cerdik, kalau tidak demikian masakah dia mampu lolos tanpa bekas dari pengawasan orang-orang Leng-siau-sia yang berjumlah sebanyak ini?"

"Giok-ji tentu sudah mati, tentu juga terjerumus kedalam jurang,"

Ujar Bin Ju dengan mencucurkan air mata.

"Tidak,"

Ujar Ban-ciong sambil menggoyang kepala.

"Tapak kakinya jelas kelihatan ditanah salju yang menandakan dia lari terus kebawah gunung. Sungguh memalukan untuk dibicarakan, kami orang dewasa sebanyak ini ternyata tidak mampu menangkap seorang anak muda yang baru berumur 15 tahun. Sesungguhnya Suhu kami hanya ingin mengundang Ciok-cengcu berdua ke Leng-siau-sia untuk berunding seperlunya atas kejadian ini."

"Bicara kesana-kesini akhirnya ternyata juga inginkan pertanggung-jawabanku atas kematian nona Pek,"

Kata Ciok Jing.

"Dan Ong-suheng tadi bilang ada dua jiwa lagi, sebenarnya bagaimana jadinya?"

"Tadi aku mengatakan kami ber-18 orang diperintahkan turun gunung oleh Suhu,"

Jawab Ban-jim.

"Ditengah jalan kami membagi diri pula menjadi dua rombongan. Rombongan pertama dipimpin Pek-suheng menuju ke Kanglam, sedangkan rombongan lain dipimpin Kheng-suheng dan menuju ke Tionggoan sini untuk mencari jejaknya puteramu. Tapi sungguh sial........."

"Sudahlah, Ong-sute, tak perlu diteruskan lagi, kejadian itu toh tidak ada sangkut-pautnya dengan Ciok-cengcu,"

Sela Banciong.

"Mengapa tiada sangkut-pautnya?"

Bantah Ban-jim.

"Coba kalau bukan gara-gara anak durhaka itu, tentu jiwa Sun-suko dan Cu-sute tidak sampai melayang secara aneh. Pula, sebenarnya siapa pembunuh mereka juga tak diketahui, kalau kelak kita ditanyai Suhu, lantas cara bagaimana kita harus menjawab? Dan kalau Suhu sampai murka lagi, mungkin lenganmu juga akan ditabas olehnya. Sekarang kita isengiseng mencari keterangan kepada Ciok-cengcu suami-isteri yang luas pengalamannya toh tiada jeleknya?"

Kheng Ban-ciong menjadi ngeri juga bila membayangkan betapa celakanya kalau sebelah lengannya juga ditabas seperti Hong-suhengnya.

Memang tiada jeleknya untuk mencari keterangan pada Ciok Jing berdua daripada menghadapi jalan buntu dan susah memberi pertanggungan-jawab kepada sang guru.

Terpaksa ia berkata.

"Ya, terserahlah, jika kau suka boleh kau ceritakan."

Maka Ban Jim lantas melanjutkan.

"Ciok-cengcu, tiga hari yang lalu kami telah mendapat berita katanya ada seorang she Go telah memperoleh Hian-tiat-leng dan sekarang sembunyi disuatu kota kecil dengan menyamar sebagai penjual siopiasiopia. Diam-diam kami lantas berunding. Kami merasa dalam usaha mencari Tiong-giok kami hanya bisa secara untunguntungan saja, habis dunia seluas ini kemana kami harus pergi mencari dia? Kalau sepuluh tahun tidak ketemu, itu berarti selama sepuluh tahun kami tidak dapat pulang ke Leng-siausia. Tetapi kalau kami dapat merebut Hian-tiat-leng itu, andaikan tetap tidak dapat menemukan puteramu, paling tidak kami akan dapat memberi pertanggungan-jawab kepada Suhu dengan medali wasiat itu. Ditengan perundingan itu, mau tak mau ada juga diantara kami lantas mencaci-maki puteramu itu, dimakinya puteramu yang masih kecil itu sudah berani mati melakukan perbuatan yang durhaka dan merusak, sungguh harus dihukum mati. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa seorang tua sambil berkata.

"Hahaha! Bagus, bagus sekali! Pemuda seperti itu benar-benar jarang terdapat didunia ini! Benar-benar berbakat bagus dan berkwalitet tinggi dan susah dicari bandingannya!"

Ciok Jing lantas pandang sekejap dengan sang isteri.

Mereka tidak merasa senang atas pujian-pujian setinggi itu terhadap putera mereka, sebaliknya mereka merasa tertusuk.

Dalam pada itu Ban-jim telah melanjutkan.

"Pembicaraan kami waktu itu dilakukan dikamar hotel yang dikelilingi dinding tembok yang rapat, akan tetapi suara orang itu dapat menembus tembok dan terdengar dengan jelas seperti orang bicara berhadapan saja. Sebaliknya suara pembicaraan kami dilakukan dengan sangat perlahan dan entah cara bagaimana dapat didengar olehnya."

Hati Ciok Jing dan Bin Ju tergetar. Pikir mereka.

"Dapat mendengar suara pembicaraan orang dari balik dinding, boleh jadi karena dinding itu ada sesuatu lubang atau celah-celah, atau mungkin orang itu mencuri dengar diluar jendela kamar. Tapi mungkin juga pembicaraan orang-orang ini dilakukan dengan suara keras, sebaliknya mereka sendiri mengira berbicara dengan pelan. Hal-hal ini pun tidak terlalu mengherankan. Tapi dia bicara dibalik tembok sana dan dapat didengar dengan jelas oleh orang lain, hal inilah yang sulit dan harus memiliki lweekang yang sempurna. Maka jelas orangorang Swat-san-pay ini telah bertemu dengan orang kosen ditengah jalan. Ya, mereka benar-benar sial, suatu perkara belum selesai sudah timbul pula perkara yang lain."

"Kami menjadi kaget demi mendengar suara orang itu,"

Demikian Kwa Ban-kin menggantikan cerita sang Suheng.

Segera Ong-suko membentak.

‘Siapa itu?

Apa sudah bosan hidup, maka berani mendengarkan pembicaraan kami?’ – Karena bentakan Ong-suko tadi, suara disebelah lantas diam.

Akan tetapi sejenak kemudian kembali terdengar bangsat tua itu berkata lagi.

‘A Tong, mereka itu adalah orang-orang Swatsan-pay.

Guru mereka itu biasanya paling dibenci kakek.

Seorang anak muda ternyata dapat mengkocar-kacirkan keluarga setan tua dari Swat-san-pay itu, hal ini sungguh sangat menarik.

Hehe, sungguh menarik!’ – Mendengar itu, seketika kami menjadi murka dan hendak bertindak, tapi Kheng-suko telah memberi tanda agar kami jangan bersuara lagi.

"Benar juga, segera terdengar suara tertawa seorang anak perempuan sambil berkata. ‘Ya, sungguh menarik’. – Lalu terdengar bangsat tua semula batuk-batuk beberapa kali dan menjawab, ‘Kalau setan tua itu mati konyol karena gusarnya juga tidak terlalu menarik. Kapan-kapan kalau kakek ada tempo senggang, biarlah nanti kakek membawa kau ke Tayswat-san untuk membikin setan tua itu marah-marah dan mati konyol, dengan demikian barulah menarik."

"Sungguh kurang ajar orang itu,"

Ujar Ciok Jing.

"Apa yang dia andalkan sehingga dia berani kurang hormat kepada Peksupek? Sekali-kali kita tak boleh tinggal diam atas ucapanucapannya itu!"

"Memang,"

Sahut Ban-jim.

"Sedemikian takaburnya bangsat tua itu, biarpun mengadu jiwa juga kami akan melabrak dia. Tapi pada waktu kami merasa murka itulah, tiba-tiba kami mendengar suara berkeriutnya pintu dibuka, dari sebuah kamar tamu telah keluar dua orang dan menuju kepelataran. Serentak kami melolos senjata dan hendak menerjang keluar untuk melabraknya. Tapi Kheng-suko telah mencegah pula dan suruh kami bersabar. Dalam pada itu terdengar bangsat tua itu sedang berkata kepada anak perempuan tadi. ‘A Tong, hari ini kita telah membunuh berapa orang?’ – ‘Baru satu orang, kakek,’ demikian sahut setan cilik itu. Lalu sibangsat tua menyatakan. ‘Jika begitu kita boleh membunuh lagi dua orang!’"

"Haa! Satu hari tidak lebih tiga!"

Seru Ciok Jing mendadak dengan nada yang mengandung rasa takut. Sejak tadi Kheng Ban-ciong hanya diam saja, sekarang mendadak ia bertanya.

"Ciok-cengcu, apakah kau kenal bangsat tua itu?"

Ciok Jing menggoyang kepala.

"Aku tidak kenal dia,"

Sahutnya.

"Cuma aku pernah mendengar cerita mendiang ayahku, katanya didunia persilatan ada seorang tokoh yang berjuluk ‘Ce-jit-put-ko-sam’ (satu hari tidak lebih dari tiga), yaitu bahwa dalam satu hari paling banyak dia membunuh tiga orang saja. Sesudah membunuh tiga orang perasaannya menjadi lemas dan tidak tega membunuh orang keempat lagi."

"Maknya disontek! Satu hari membunuh tiga orang masakah kurang?"

Demikian Ban-jim memaki.

"Manusia jahat dan kejam sebagai itu ternyata diberi hidup sampai sekarang ini."

Ciok Jing diam saja dan tidak menanggapi. Tapi dalam hatinya memikir.

"Konon Locianpwe itu she Ting, tindak-tanduknya susah diraba, baik tidak dan jahatpun tidak. Walaupun wataknya kejam dan suka membunuh, tapi orang yang terbunuh olehnya selalu adalah manusia berdosa yang setimpal menerima ganjarannya dan jarang terdengar Locianpwe itu membunuh orang yang baik." – Walaupun demikian pikirnya, tapi ia tidak enak menerangkan karena kuatir menyinggung perasaan orang-orang Swat-san-pay itu. Sebaliknya Kheng Ban-ciong lantas bertanya.

"Entah bangsat tua itu bernama siapa dan berasal dari golongan atau aliran mana?"

"Kabarnya dia she Ting, nama aslinya entah siapa, hanya terkenal dengan julukannya "

Ce-jit-put-ko-sam’, maka orangorang dari angkatan tua sama memanggil dia dengan nama Ting Put-sam (Ting tidak lebih dari tiga),"

Tutur Ciok Jing.

"Ya, kelakuan bangsat tua itu memang tidak tiga dan tidak empat,"

Ujar Kwa Ban-kin dengan marah-marah.

"Sebenarnya nama orang ini juga cukup terkenal didalam Bulim, mungkin Pek-supek ada sedikit permusuhan dengan dia dan tidak mau menyebut namanya, makanya saudara-saudara tidak diberitahu,"

Ujar Ciok Jing.

"Kemudian lantas bagaimana?"

"Kemudian bangsat tua itu lantas berseru. ‘Diantara kalian ada seorang yang bernama Sun Ban-lian dan seorang bernama Cu Ban-jun atau tidak? Nah, kedua orang itu lekas maju kesini. Yang lain-lain karena tiada banyak berbuat jahat, biarpun ingin mampus juga kakek tak sudi membunuhnya!’ – Sudah tentu kami tidak dapat tahan lagi dan beramai-ramai kami bersembilan lantas menerjang keluar. Akan tetapi, aneh juga, ditengah pelataran tiada tertampak seorangpun. Segera kami mencari disekitar situ, aku malah melompat keatas rumah dan juga tidak terdapat orang. Kwa-sute lantas menerobos kedalam kamar tamu yang daun pintunya setengah tertutup itu..............."

Ternyata didalam kamar itu hanya tersulut sebatang lilin dan juga tiada nampak bayangan seorang pun.

Selagi kami merasa heran, tiba-tiba didalam kamar kami sendiri ada suara orang berseru, itulah suara sibangsat tua, katanya.

‘Sun Ban-lian, kau telah berbuat apa dikota Lanciu, dan kau Cu Ban-jun, apa yang telah kau lakukan di Kengciu?

Tuduhan2 ini tentunya bukan fitnah toh?

Nah, lekas kalian masuk kesini!’ – Sun-suko dan Cu-sute menjadi murka, dengan senjata terhunus keduanya lantas menerjang kedalam kamar.

Cepat Khengsuheng memperingatkan mereka agar ber-hati-hati dan kami lantas menyusul dibelakang mereka, tapi mendadak pelita didalam kamar sudah padam dan keadaan menjadi sunyi.

"Aku berteriak-teriak memanggil Sun-suko dan Cu-sute, tapi tiada jawaban mereka, bahkan didalam kamar juga tidak terdengar suara beradunya senjata. Seketika kami merinding, cepat kami menyalakan api, tiba-tiba tertampak kedua kawan kami itu berlutut kaku disitu, pedang mereka tertaruh disamping. Waktu kami hendak menarik bangun mereka, tapi mereka lantas roboh, ternyata keduanya sudah tak bernyawa lagi. Badan mereka terasa masih hangat dan tiada terdapat suatu tanda luka, entah dengan cara apa sibangsat tua itu telah membunuh mereka. Sungguh memalukan kalau diceritakan, sejak mula sampai akhir tiada seorangpun diantara kami yang melihat bayangan bangsat tua dan setan perempuan cilik itu."

Selesai Ban-jim menutur, semua orang menjadi terdiam sampai sekian lamanya. Akhirnya Ciok Jing membuka suara.

"Kheng-suheng, bilakah anakku yang durhaka itu melakukan perbuatan2nya yang tidak senonoh itu?"

"Pada tanggal 9 bulan 12 tahun yang lalu,"

Sahut Ban-ciong.

"Oh, dan hari ini tanggal 12 bulan tiga, jadi Pek-suheng dan kalian sudah tiga bulan berangkat dari Leng-siau-sia, jika demikian saat ini Hian-so-ceng tentu sudah dibakar olehnya,"

Ujar Ciok Jing.

"Begini, Kheng-suheng, pertama kami suamiisteri toh harus mencari jejak anak durhaka itu, kalau dapat menangkapnya kembali tentu akan kami bawa ke Leng-siau-sia untuk minta ampun pada Pek-supek dan Hong-suheng. Kedua, sekalian kami dapat mencari kabar tentang diri Ting Put-sam yang berjuluk sehari tidak lebih dari tiga itu, walaupun kami suami-isteri tidak berani meng-apa-apakan dia, paling tidak kami juga dapat memberi berita kepada Pek-supek supaya beliau membereskan sendiri peristiwa kalian itu. Nah, sampai berjumpa pula!" – Habis berkata ia lantas memberi salam hormat.

"Apa hanya bicara sekian saja lantas kalian hendak....... hendak tinggal pergi?"

Tiba-tiba Kwa Ban-kin menyeletuk.

"Habis bagaimana menurut pendapat Kwa-suheng?"

Tanya Ciok Jing.

"Kami tidak dapat menemukan puteramu, terpaksa minta kalian suami-isteri ikut kami ke Leng-siau-sia untuk menemui Suhu kami,"

Sahut Kwa Ban-kin.

"Sudah tentu kami akan pergi ke Leng-siau-sia, cuma harus tunggu dulu sampai segala urusan menjadi lebih terang,"

Kata Ciok Jing. Ban-kin memandang kearah Kheng Ban-ciong dan memandang pula kepada Ong Ban-jim, lalu katanya dengan kurang senang.

"Bila Suhu mengetahui kami sudah bertemu dengan Ciok-cengcu suami-isteri dan tidak dapat mengundang kalian kesana, bukankah..... bukankah......."

Sedari tadi Ciok Jing sudah tahu maksudnya hendak main keroyok untuk memaksa suami-isteri mereka pergi ke Tayswat-san.

Tegasnya kalau puteranya tak dapat ditangkap, maka sang ayah-ibu yang akan dimintai pertanggungan-jawab.

Terpaksa Ciok Jing berkata.

"Pek-supek adalah seorang yang berbudi luhur dan berwibawa agung diwilayah barat, selamanya Cayhe sangat menghormati beliau sebagai gurunya sendiri. Apabila Pek-suko berada disini dan atas perintah Pek-supek mengharuskan Cayhe ikut ke Leng-siau-sia, terpaksa Cayhe menurut saja. Tapi sekarang, ehm, lebih baik begini saja!" – Ia lantas menanggalkan pedangnya sendiri bersama sarungnya yang tergantung diikat pinggang itu, lalu katanya kepada Bin Ju.

"Niocu, silakan kaupun melepaskan pedangmu."

Bin Ju menurut dan melepaskan pedangnya. Dengan memondong kedua batang pedang yang melintang diatas kedua tangan itu lalu Ciok Jing menyodorkan kehadapan Kheng Ban-ciong dan berkata.

"Nah, Kheng-suheng, silakan kau tahan saja senjata kami suami-isteri ini."

Kheng Ban-ciong cukup kenal sepasang pedang hitam-putih ini adalah senjata mestika yang jarang terdapat didunia persilatan dan sangat disayangi Ciok Jing suami-isteri, tapi sekarang mereka telah menanggalkan pedang dan menyerahkan sebagai sandera, hal ini boleh dikata telah memberi muka besar kepada Swat-san-pay dan demi sepasang pedang ini kelak suami-isteri itu terpaksa harus datang ke Leng-siau-sia.

Tapi baru saja Ban-ciong hendak mengucapkan kata-kata ramah-tamah dan menerima pedang-pedang itu, mendadak Kwa Ban-kin sudah mendahului berseru.

"Jiwa murid keponakan kami dan sebelah lengan Hong-suheng, bahkan Pek-suso telah menjadi gila dan Subo meninggalkan Suhu, ditambah lagi kematian Sun-suko dan Cu-suko yang tidak jelas perkaranyaa, semua ini apakah cukup diganti oleh sepasang pedang kalian ini? Kheng-suko mempunyai hubungan baik dengan kau, tapi aku si orang she Kwa tidak pernah kenal kau! Nah, orang she Ciok, pendek kata hari ini betapa pun kau harus pergi ke Leng-siau-sia!"

Ciok Jing tetap tenang-tenang saja, sahutnya dengan tersenyum.

"Dosa puteraku sudah terlalu besar kepada golongan kalian, selain merasa menyesal dan minta maaf apa yang dapat kukatakan lagi. Kwa-suheng adalah jago muda dari Swat-san-pay dan berkepandaian tinggi, meski Cayhe belum pernah kenal, tapi juga sudah lama kagum akan namamu." – Sambil berkata kedua tangannya tetap memondong sepasang pedangnya dan menunggu diterima oleh Kheng Ban-ciong. Diam-diam Kwa Ban-kin menaksir kalau menggunakan kekerasan untuk memaksa Ciok Jing berdua ikut ke Tay-swatsan, tentu suatu pertarungan sengit susah dihindarkan. Sekarang mereka menyerahkan senjata secara sukarela, apa jeleknya kalau diterima saja dan urusan diselesaikan belakangan. Karena itu ia menjadi kuatir kalau-kalau mendadak Ciok Jing membalik pikiran dan menarik kembali pedangnya, segera ia melangkah maju, kedua tangannya bekerja sekaligus, dengan Kim-na-jiu-hoat yang lihay segera ia pegang kuat-kuat kedua barang pedang itu sambil berkata.

"Baiklah, untuk sementara senjata kalian dilucuti dahulu."

Segera ia mengulur tangan hendak mengambil pedang-pedang itu.

Tapi mendadak terasa telapak tangan Ciok Jing seperti mengeluarkan tenaga lengketan yang kuat sehingga kedua batang pedang itu susah diangkat.

Kwa Ban-kin terkejut, ia kerahkan segenap tenaga kelengannya dan segera membetot sekuatnya sambil membentak.

"Lepas!"

Tak terduga tenaga lengketan ditangan Ciok Jing mendadak lenyap sehingga kekuatan membetot Ban-kin yang keras itu tidak ketemu lawannya, sebaliknya menjadi beban kedua pergelangan tangan sendiri, maka terdengarlah suara "krak"

Sekali, kedua pergelangan tangan keseleo semua, ia menjerit dan terpaksa membuka tangan sehingga kedua pedang itu jatuh kembali kedalam tangan Ciok Jing.

Orang lain cukup jelas melihat Ciok Jing sama sekali tidak menggerakkan jari tangannya, jadi Kwa Ban-kin sendiri yang terlalu bernapsu membetot sehingga pergelangan tangan sendiri terkilir.

Sakit gusar dan karenakesakitan pula, tanpa pikir lagi Ban-kin terus ayun sebelah kakinya hendak menendang keperut Ciok Jing.

"Jangan kurang sopan!"

Seru Ban-ciong cepat dan menarik Ban-kin kebelakang sehingga tendangannya mengenai tempat kosong.

Ban-ciong tahu tenaga dalam Ciok Jing sangat lihay, kalau tendangan Ban-kin itu mengenai sasarannya tentu kakinya akan patah pula.

Sebagai Suheng, kepandaian dan pengetahuan Ban-ciong dengan sendirinya lebih tinggi daripada Ban-kin.

Ia menarik napas panjang-panjang dan mengerahkan tenaga dalamnya kesepuluh jarinya, lalu perlahan-lahan digunakan untuk mengambil kedua batang pedang.

Tapi baru saja ujung jarinya menyentuh pedang, seluruh badannya lantas tergetar seperti kena aliran listrik.

Nyata tenaga dalam Ciok Jing telah disalurkan melalui batang pedang untuk menyerangnya.

Diam-diam Ban Ciong mengeluh, ia menyangka Ciok Jing sengaja memasang perangkap untuk mengadu tenaga dalam dengan dia.

Biasanya kalau jago silat sudah mulai tenaga dalam, maka susahlah untuk mengelakkan diri dan mungkin baru akan berakhir, bila salah satu pihak sudah tak bisa berkutik.

Karena itu, begitu terasa tenaga dalam lawan menerjang tiba, cepat Ban-ciong melawan sekuat tenaga.

Tak terduga baru saja tenaga dalam kedua pihak kebentur, seketika tenaga Ban-ciong terpental balik.

Tiba-tiba Ciok Jing menaruh perlahan kedua batang pedang itu ketangan Ban-ciong, katanya dengan tertawa.

"Kita adalah sahabat baik, mana boleh terjadi selisih paham?"

Sekilas itu Ban-ciong sudah mandi keringat dingin.

Ia insaf tenaga dalam sendiri terlalu jauh dibandingkan tenaga dalam Ciok Jing.

Tadi begitu tenaga dalam kedua pihak kebentur dan tenaga sendiri kontan terbentur balik, hal ini jelas menandakan dirinya sekali-kali bukan tandingannya.

Untuk sejenak Banciong tertegun ditempatnya sambil memondong kedua batang pedang, air mukanya merah jengan dan entah apa yang harus dikatakan.

"Niocu, marilah kita berangkat ke Khayhong saja,"

Segera Ciok Jing berpaling kepada sang isteri. Bin Ju tampak masih muram, katanya.

"Siangkong, anak itu............"

"Sudahlah, lebih baik dia dibunuh orang seperti anak Kian dan habis perkara,"

Ujar Ciok Jing. Air mata Bin Ju lantas berlinang-linang, katanya dengan senggugukan.

"Siangkong, kau.................."

Tapi Ciok Jing lantas menggandeng tangannya dan membantunya naik keatas kuda.

Melihat wanita yang lemah hati itu, anak-anak murid Swatsan-pay itu merasa heran dan susah untuk mempercayai bahwa dia inilah "Pek-siang-sin-kiam"

Yang mengguncangkan Kang-ouw.

Melihat Hian-so-siang-kiam (sepasang pedang dari Hian-soceng) sudah pergi dengan menunggang kuda, segera Hoa Banci berlari kembali.

Dilihatnya Ong Ban-jim sudah membetulkan tangan Ban-kin yang keseleo itu, sebaliknya Ban-kin masih mencaci-maki.

Sesudah menanyakan apa yang sudah terjadi, Ban-ci tertampak mengerut kening, katanya.

"Kheng-suko, urusan ini agaknya tidak menguntungkan."

"Mengapa?"

Tanya Ban-ciong.

"Ilmu silat mereka terlalu kuat, biarpun kita bertujuh mengerubutnya juga belum tentu dapat menang. Sekarang kita menahan senjata mereka, paling tidak akan dapat dibuat bukti bila kita ditanyai Suhu." – Sambil berkata ia coba melolos pedang-pedang itu, tertampaklah pedang putih berkilau sebagai es dan pedang hitam mengkilap tajam, nyata dua pedang mestika yang jarang ada bandingannya. Maka ia lantas menambahkan.

"Pedang-pedang ini bukanlah palsu."

"Sudah tentu pedang-pedang itu tulen,"

Ujar Hoa Ban-ci.

"Soalnya kita tidak mampu menahan orangnya, sekarang apakah kita mampu menjaga kedua pedang pusaka ini dengan baik?"

Hati Ban-ciong terkesiap.

"Apa barangkali Hoa-sumoay telah melihat sesuatu yang meragukan?"

Tanyanya.

"Aku menjadi teringat pada tahun yang lalu,"

Demikian tutur Ban-ci.

"pada suatu hari aku telah omong iseng bersama Peksuso dan membicarakan tentang golok mestika dan pedang pusaka didunia ini. Tiba-tiba bangsat cilik Ciong Tiong-giok itu menimbrung, katanya pedang hitam-putih milik ayah-ibunya adalah senjata maha tajam didunia ini, katanya ayah-ibunya tega mengirim dia ke Tay-swat-san dan tidak bertemu bertahun-tahun, tapi tidak tega meninggalkan senjata mereka itu biarpun satu hari saja. Sekarang Ciok-cengcu sengaja menyerahkan senjata mereka kepada kita, jangan-jangan beberapa hari lagi kalau ia menggunakan sedikit akal licik dan mencuri kembali pedang mereka, kemudian mereka datang lagi ke Leng-siau-sia untuk meminta kembali senjatanya, cara demikian tentu akan membikin susah kita sendiri."

"Masakah kita bertujuh menyaksikan pedang mereka ini diambil kembali begitu saja atau senjata mereka ini dapat terbang sendiri?"

Ujar Ban-kin.

"Tapi apa yang dikatakan Hoa-sumoay juga bukannya tidak beralasan,"

Kata Ban-ciong sesudah memikir sejenak.

"Ciok Jing memang bukan tokoh sembarangan, kita harus ber-jaga2 lebih rapat dan jangan sampai terjungkal lagi ditangannya."

"Ya, apa salahnya kalau kita berlaku lebih hati-hati,"

Sambung Ban-jim.

"Mulai hari ini juga kita enam orang lelaki setiap malam harus bergilir menjaga sepasang pedang ini. Khengsuheng, saat ini suami-isteri she Ciok itu sedang berada dikota Khay-hong, kita akan menuju kesana atau tidak?"

Ban-ciong menjadi ragu-ragu.

Khay-hong adalah kota tersohor, sudah datang di Tionggoan masakah tidak mengunjungi kota yang terkenal itu, bukankah hal ini terlalu kentara akan takut kepada musuh.

Sebaliknya kalau pergi ke kota itu dan terang-terangan diketahui Ciok Jing suami-isteri ada disana, bukankah ini berarti menyerempet bahaya?

Tengah ragu-ragu dan susah mengambil putusa, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang yang keras.

Dari depan sana telah datang serombongan alat-alat negara.

Empat tukang panggul tampak menggotong sebuah joli besar berwarna hijau.

Kiranya pembesar negeri yang telah datang.

Karena disamping mereka menggeletak serangka mayat, daripada ikut-ikut terseret dalam perkara pembunuhan, lebih baik tinggal pergi saja.

Maka Ban-ciong lantas memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk berangkat.

Tapi baru saja mereka hendak melangkah pergi dengan cepat, sekonyong-konyong salah seorang petugas negeri didalam rombongan pendatang itu lantas berteriak-teriak.

"Itu dia kawanan bandit yang telah membunuh orang, jangan dibiarkan mereka kabur!"

Namun Ban-ciong tidak menggubrisnya dan mendesak kawankawannya lekas angkat kaki saja. Tiba-tiba terdengar petugas itu berteriak pula.

"Itu dia, pembunuhnya bernama Pek Cu-cay, adalah situa bangka yang belum mampus yang mengetuai Swat-san-pay. Wahai, Pek Cucay yang tidak berwibawa dan tak berbudi, kau telah membunuh dan merampok harta orang, kau kenal malu tidak?"

Mendengar itu, sungguh kaget dan gusar murid-murid Swatsan-pay itu tidak kepalang.

Hendaklah maklum bahwa Pek Cu-cay itu adalah nama guru mereka, yaitu Ciangbunjin atau ketua Swat-san-pay yang sekarang.

Dikalangan Kang-ouw orang tua itu terkenal dengan julukan "Wi-tek Siansing"

Atau tuan yang berwibawa dan berbudi.

Tapi sekarang petugas negeri itu berani meng-olokolok bahkan mencaci-maki namanya guru mereka, sudah tentu mereka menjadi murka.

Siapakah biang keladi yang memperalat petugas-petugas negeri itu untuk meng-olok-olok orang-orang Swat-san-pay?

Dapatkah jago-jago Swat-san-pay itu mempertahankan sepasang pedang mestika?

Kemana perginya sijembel cilik berikut Cia Yan-khek?

Bab 5.

Pengemis Yang Tidak Pernah Mengemis "Sret", seketika Ban-jim melolos pedang dan balas membentak.

"Pembesar anjing yang kurang ajar, biar kupotong dulu lidahmu dan urusan belakang!"

"Nanti dulu, Ong-sute,"

Buru-buru Ban-ciong mencegahnya.

"Masakah kaum pembesar negeri disini mengenal nama dan julukan Suhu kita? Kukira dibelakangnya tentu ada biang keladinya."

Habis berkata, segera ia memapak maju, ia memberi salam hormat dan menegur.

"Paduka Tuan siapakah yang tiba ini?"

Tapi sebagai jawaban, sekonyong-konyong dari dalam joli telah menyambar keluar sebutir Am-gi atau senjata gelap, dan tepat mengenai "Hok-tho-hiat"

Dipahanya.

Am-gi itu sangat kecil, tapi daya sambarnya sangat kuat.

Kontan kaki Ban-ciong terasa lemas dan terjungkal.

Namun demikian ia adalah murid terkemuka Swat-san-pay, betapapun tidak boleh terjadi hanya dalam sejurus saja sudah dirobohkan lawan tanpa balas menyerang.

Karena itu pedang yang dia pegang itu terus ditimpukkan kearah joli.

Walaupun orangnya terjungkal, tapi timpukan pedang dalam jurus "Ho-hui-kiu-thian"

Atau burung bangau terbang kelangit itupun cukup jitu dan lihay, pedang itu dengan tepat telah menembus kedalam joli dan tampaknya dengan telak mengenai orang yang menyambitkan Am-gi tadi.

Sudah tentu Ban-ciong sangat girang.

Tapi dilihatnya keempat tukang panggul masuk terus melarikan joli itu kedepan, sesudah dekat, sekonyong-konyong seutas cambuk panjang menjulur keluar dari dalam joli dan melilit kekaki Ong Ban-jim yang saat itu memegang bak-kiam atau pedang hitam milik Ciok Jing itu, ketika cambuk itu ditarik dan diayunkan, kontak tubuh Ban-jim terlempar pergi, tahu-tahu pedang hitam yang dipegangnya itu sudah terampas oleh cambuk panjang.

"Apakah disitu Ciok-cengcu?"

Teriak Hoa Ban-ci terkejut, berbareng pedang putih yang dibawanya segera dilolos terus menabas kecambuk panjang itu. Tapi mendadak terdengar "cret"

Sekali, kembali dari dalam joli menyambar keluar pula sebutir Am-gi dan tepat menyambit dipergelangan tangan Ban-ci sehingga pedang putih itu terlepas dari cekalannya.

Cepat salah seorang Suhengnya melompat maju terus menginjak pedang putih itu dengan sebelah kakinya agar senjata itu tidak dirampas oleh cambuk.

Diluar dugaan tiba-tiba dari dalam joli lantas menyambar keluar pula sesuatu benda dan tepat menutup diatas kepalanya.

Keruan murid Swat-sanpay itu kaget setengah mati karena pandangannya menjadi gelap gulita, cepat ia melompat mundur, lalu membuang sekuatnya benda yang mengerudungi kepalanya itu.

Waktu dilihat, kiranya adalah sebuah kopiah pembesar yang besar.

Dalam pada itu tertampak cambuk panjang tadi sudah berhasil melilit pedang putih yang jatuh ketanah itu dan sedang ditarik kedalam joli.

Sudah tentu orang-orang Swat-san-pay tidak rela pedangpedang itu direbut, beramai-ramai mereka lantas memburu maju sambil membentak.

Tapi dari dalam joli lantas menghambur keluar macam-macam senjata gelap, ada yang terkena mukanya, ada yang tersambit pinggangnya, tiada seorang pun murid Swat-san-pay itu terluput dari serangan itu.

Cuma tempat yang diarah Am-gi itu bukan tempat yang berbahaya hanya sakitnya tidak kepalang.

Waktu orang-orang Swat-san-pay memeriksa Am-gi yang mengenai itu, seketika mereka tercengang, kiranya Am-gi itu hanya sebutir kancing tembaga saja yang baru ditanggalkan dari baju.

Maka insaflah murid-murid Swat-san-pay itu bahwa kepandaian orang didalam joli itu selisih terlalu jauh dengan mereka, kalau mereka mengejar lagi dan sampai bergebrak, tentu mereka sendiri yang akan celaka.

"Orang she Ciok itu tiada seorang pun yang baik, yang muda durhaka dan bejat moralnya, yang tua juga tak bisa dipercaya, sudah bilang senjatanya ditinggalkan kepada kita, sekarang direbutnya kembali lagi!"

Demikian Kwa Ban-kin berteriakteriak. Begitu pula Ong Ban-jim juga marah-marah dan mencaci-maki habis-habisan. Tapi Ban-ciong lantas berkata.

"Bila kejadian ini sampai tersiar tentu tidak menguntungkan nama baik golongan kita. Sebaiknya kita tutup mulut saja dan pulang untuk melaporkan kepada Suhu."

Dalam pada itu joli besar tadi bersama rombonganna sudah pergi jauh.

Sesudah beberapa li lagi rombongan itu lantas membelok kesuatu jalanan kecil.

Ketika tukang gotong joli itu sedikit lambat larinya, kontan cambuk panjang melayang keluar dari dalam joli, dan menyabat beberapa kali dipunggung tukang panggul bagian depan itu sehingga babak belur.

Terpaksa tukang-tukang panggul itu berlari lebih cepat dan terpaksa pula tukang panggul bagian belakang juga ikut berlari lagi walaupun napas mereka sudah ngos-ngosan senin-kemis.

Sesudah beberapa li pula, akhirnya terdengar suara orang didalam joli berkata.

"Baiklah, sekarang boleh berhenti!"

Sungguh keempat tukang panggul itu seperti pesakitan yang diberi pengampunan, cepat mereka berhenti dan meletakkan joli besar itu diatas tanah, napas mereka tampak megap-megap.

Waktu tirai joli tersingkap, keluarlah seorang tua dengan tangan kiri menarik seorang pengemis kecil.

Kiranya orang tua ini adalah Cia Yan-khek, pemilik medali wasiat.

Dia lantas membentak kepada beberapa petugas tadi.

"Nah, kalian boleh enyah sekarang! Pulanglah dan laporkan kepada pembesar anjing kalian, katakan bahwa apa yang terjadi tidak boleh sekali-kali disiarkan. Asal aku mendengar sedikit kabar yang kurang menyenangkan, seketika juga buah kepala kalian akan kupotol semua, begitu tidak terkecuali pembesar anjing kalian itu!"

"Ya, ya, sekali-kali kami tak berani usil mulut. Selamat jalan tuanbesar! Selamat jalan tuan muda!"

Demikian beberapa petugas itu menjawab dengan memberi hormat.

"Dan apa yang kusuruh kalian katakan kepada pembesar anjing itu, kalian ingat tidak?"

Tiba-tiba Cia Yan-khek berseru pula selagi para petugas itu hendak melangkah pergi.

"Oh, ya, hamba ingat dengan baik,"

Sahut seorang petugas.

"Hamba akan berkata telah menyaksikan sendiri bahwa si bungkuk penjual siopia-siopia di Hau-kam-cip itu telah dibunuh oleh seorang tua bangka yang bernama Pek Cu-cay. Senjata yang digunakan adalah sebatang golok yang berlumuran darah. Bukti dan saksi sudah nyata dan lengkap, betapapun tua bangka pembunuh itu tidak dapat menyangkal."

Tentang bukti dan saksi itu sengaja ditambahkan oleh petugas itu untuk membikin senang Cia Yan-khek, sebab tadi dia telah kenyang dihajar, ia menjadi ketakutan. Tapi Cia Yan-khek lantas berkata.

"Tua bangka she Pek itu tidak biasa menggunakan golok, tapi pedang."

"Oh, ya, hamba keliru, dia menggunakan pedang dan sekali tusuk sibungkuk telah dibunuh olehnya, setiap penduduk Haukam-cip juga ikut menyaksikan kejadian itu,"

Demikian petugas itu menambahkan.

Diam-diam Yan-khek merasa geli sendiri.

Padahal untuk membunuh Go To-it adalah terlalu mudah bagi Wi-tek Siansing Pek Cu-cay dan tidak perlu pakai senjata apa segala.

Tapi iapun tidak perduli lagi kepada kawanan petugas itu, segera ia gandeng tangan sijembel cilik dan tangan lain membawa pedang hitam-putih milik Ciok Jing, segera ia tinggal pergi dengan hati senang.

Maklum, sebelumnya dia masih menyangsikan Ciok Jing suami-isteri sengaja berkomplot dengan orang-orang Swatsan-pay untuk menjebaknya dengan menggunakan sipengemis cilik itu sebagai umpan.

Sebab itulah sesudah beberapa li dia membawa pergi sijembel itu, lalu ia tusuk bocah itu dan dilemparkan kedalam semak-semak, kemudian ia merunduk kembali ke Hau-kam-cip untuk menyelidiki apa yang sudah terjadi.

Karena kepandaiannya memang jauh lebih tinggi daripada Ciok Jing dan lain-lain, maka kedatangannya kembali itu sama sekali tak konangan oleh siapapun.

Ketika dilihatnya Ciok Jing menyerahkan senjata-senjatanya kepada Kheng Ban-ciong, segera timbul maksud Cia Yan-khek untuk merebutnya.

Kebetulan ditengah jalan ia bertemu dengan bupati yang hendak memeriksa perkara di Hau-kam-cip itu, segera ia menyergap pembesar itu dan dilempar keluar joli, lalu menggertak dan memaksa para petugas negara itu agar menggotong dia bersama sipengemis kecil itu dan memapak kearah orang-orang Swat-san-pay untuk merebut kedua pedang pusaka.

Karena Kheng Ban-ciong tidak melihat muka sipelaku didalam joli itu, dengan sendirinya mereka menyangka keras adalah perbuatan Ciok Jing suami-isteri.

Begitulah, Cia Yan-khek meneruskan perjalanannya dengan membawa sijembel cilik itu, yang dituju selalu adalah tempat yang sepi.

Setiba ditepi sebuah sungai kecil, tampaknya disekitar situ tiada orang lain lagi, lalu ia melepaskan tangan bocah itu, ia lolos pedang putih milik Bin Ju serta mengacungkan mata pedang ketengkuk sijembel itu sambil membentak dengan suara bengis.

"Sebenarnya kau disuruh oleh siapa? Hayo, lekas mengaku, kalau berani berdusta segera kupenggal kepalamu!"

Habis menggertak.

"sret" , pedangnya menyabat kesamping sehingga sebatang pohon kecil tertabas kutung, batang pohon yang kutung itu jatuh kedalam sungai dan hanyut terbawa oleh arus air. Keruan pengemis cilik itu ketakutan, dia menjawab dengan gelagapan.

"Aku........... aku......... tidak.......... tidak suruh................"

Cia Yan-khek memperlihatkan medali wasiatnya dan membentak pula.

"Siapa yang memberikan benda ini padamu?"

"Aku............ aku makan sio........... siopia-siopia dan............ dan terdapat barang itu,"

Sahut sipengemis kecil dengan gemetar.

Cia Yan-khek menjadi gusar karena jawaban yang tidak jelas itu.

Telapak tangannya terus menggampar kepipi bocah itu.

Tapi sebelum kena sasarannya, mendadak teringat oleh sumpahnya sendiri dahulu bahwa sekali-kali dia takkan mengganggu orang yang menyerahkan medali wasiat itu kepadanya.

Karena itu tamparannya dihentikan mentahmentah sambil membentak lagi.

"Ngaco-belo, peduli siopiasiopia apa segala? Aku hanya tanya siapakah yang memberikan barang ini kepadamu?"

"Aku.......... aku menemukan sepotong siopia-siopia, lalu aku memakannya. Dan......... dan waktu aku menggigit, ham.......... hampir saja gigiku rompang......."

Dasar pikiran Yan-khek memang sangat tajam, walaupun penuturan pengemis kecil itu terputus-putus dan tak jelas, tapi segera terpikir olehnya.

"Jangan-jangan Go To-it itu telah menyembunyikan medali ini didalam siopia-siopia?"

Tapi segera ia menyangsikan hal itu.

Siapa saja yang mendapatkan medali ini tentu akan menjaganya melebihi jiwanya sendiri, maka mungkin benda sepenting ini ditaruh begitu saja didalam siopia-siopia?

Nyata ia tidak dapat membayangkan betapa kepepetnya suasana waktu itu.

Karena datangnya berandal Kim-to-ce itu terlalu mendadak dan sekaligus sudah mengepung Hau-kamcip dengan rapat sehingga sedikitpun Go To-it tidak sempat mencari suatu tempat penyimpanan yang baik untuk menyembunyikan medali wasiat itu selain dipencet kedalam siopia-siopia yang akan dipanggangnya dan akhirnya terbuang ditepi selokan, hal ini sebenarnya jauh lebih selamat daripada disimpannya dimanapun juga.

Sebab itu meski kawanan berandal Kim-to-ce sudah mengobrak-abrik seluruh kedai siopia-siopia itu, dengan sendirinya tidak terpikir oleh mereka untuk memeriksa isi siopia-siopia yang berserakan diatas tanah itu.

Begitulah dengan sorot mata berkilat, Cia Yan-khek memandang sipengemis kecil, lalu bertanya pula.

"Siapa namamu?"

"Aku........... aku bernama Kau-cap-ceng,"

Sahut jembel cilik itu.

"Apa? Kau bernama Kau-cap-ceng? Hahahaha! Masakah didunia ini ada orang memakai nama demikian?"

Demikian Cia Yan-khek menegas dan terbahak-bahak, ia geli setengah mati, masakah ada orang bernama Kau-cap-ceng atau anak anjing. Tapi sipengemis kecil lantas menjawab.

"Ya, betul, ibu memanggil aku Kau-cap-ceng."

Watak Cia Yan-khek adalah pendiam, tapi keji dan culas.

Tertawa baginya boleh dikata adalah sesuatu yang mahal, berapa kali dia tertawa dalam setahun dapatlah dihitung dengan jari.

Tapi sekarang dia benar-benar geli oleh karena keterangan sipengemis cilik itu, ia tertawa terpingkal-pingkal.

Pikirnya.

"Dikampung memang banyak orang memberi nama kecil yang aneh-aneh kepada anak-anak mereka dengan maksud agar sianak lekas besar dan selamat, misalnya nama sianjing, sibabi, sikucing, dan lain sebagainya, tapi tiada orang yang sengaja memanggil anaknya sendiri sebagai ‘anak anjing’, memangnya apa ibunya kawin dengan anjing? Hahahaha!"

Begitulah dia terbahak-bahak geli. Dan karena melihat dia tertawa, sipengemis kecil menjadi ikut-ikut tertawa.

"Dan siapa nama ayahmu?"

Tanya Yan-khek pula dengan menahan tertawanya.

"Ayah? Aku........ aku tidak punya,"

Sahut sijembel sambil menggeleng.

"Habis dirumahmu ada siapa lagi?"

"Aku, ibuku, dan.... dan masih ada si Kuning."

"Siapa si Kuning itu?"

"Si kuning adalah anjing, seekor anjing,"

Sijembel menerangkan.

"Karena ibuku hilang, aku lantas mencarinya, si Kuning selalu mengintil dibelakangku, tapi kemudian dia telah pergi mencari makan, lalu menghilang juga. Aku telah mencarinya kesana kemari dan tidak ketemu."

"Kiranya bocah ini seorang tolol, tampaknya diketemukannya medali ini hanya secara kebetulan saja. Biarlah kusuruh dia memohon sesuatu padaku untuk memenuhi sumpahku dahulu dan habis perkara,"

Demikian pikir Yan-khek. Maka ia lantas bertanya.

"Coba, apa yang ingin kau mohon........."

Baru sekian ucapannya, mendadak ia tahan kata-kata yang belum tercetus dari mulutnya itu. Pikirnya.

"Kalau anak tolol ini mohon padaku untuk mencarikan ibunya, bahkan minta aku mencarikan anjingnya si Kuning itu, lantas kemana aku harus mencarikan? Ibunya tentu sudah minggat bersama lelaki lain dan si Kuning itu besar kemungkinan sudah disembelih orang, kalau soal-soal sulit ini dikemukakannya kepadaku kan bisa berabe? Jika aku diminta membunuh sepuluh atau dua puluh jago silat tentu akan jauh lebih mudah daripada disuruh mencari dia punya anjing si Kuning itu."

Begitulah, sesudah merenung sejenak, akhirnya ia sudah mendapat akal, segera katanya pula.

"Nah, begini, coba dengarkan. Tak peduli siapa yang menyuruh kau membicarakan sesuatu padaku, maka sekali-kali jangan kau katakan, kalau kau tidak berani berkata, seketika juga kupenggal kepalamu! Nah, tahu tidak?"

Hendaklah maklum bahwa tentang kejadian Cia Yan-khek mengambil kembali medali wasiat dari tangan sipengemis cilik itu, tentu dalam waktu singkat berita itu akan tersiar juga didunia persilatan.

Sebab itulah Cia Yan-khek kuatir kalau sijembel cilik diakali orang serta menyuruhnya mengajukan sesuatu permohonan pada dirinya, dan karena terikat oleh sumpahnya dahulu terpaksa ia tidak dapat menolak.

Tapi Yan-khek masi belum lega, ia menegas lagi.

"Apa kau sudah ingat betul-betul pesanku tadi? Apa, coba katakan!"

"Kau bilang, tak peduli siapapun yang suruh aku mengatakan apa-apa padamu, maka sekali-kali aku tak boleh bicara, bila aku mengatakan, segera kau akan memenggal kepalaku,"

Ulang sijembel.

"Ya, betul,"

Ujar Yan-khek.

"Anak tolol ternyata tidak terlalu tolol. Nah, sekarang ikutlah padaku."

Dari tempat yang sepi itu mereka kembali kejalan raya.

Tidak lama kemudian sampailah mereka disebuah kedai penganan ditepi jalan.

Cia Yan-khek membeli dua buah bakpau dan segera dimakannya sendiri.

Ia coba melirik sijembel cilik itu dengan harapan bocah itu akan bersuara memohon makan padanya.

Untuk mengiming-iming, Yan-khek sengaja makan bakpau itu dengan lahap, lidahnya berkecak2 keras dan sambil tiada hentinya memuji akan kelezatan bakpau itu.

Sedang bakpau satunya yang masih dipegang disebelah tangan lain sengaja diiming-iming pula didepan hidung sijembel.

Pikirnya.

"Pengemis cilik ini sudah bisa mengemis makan pada orang, mustahil sekarang dia tidak mengiler kepada bakpau yang kumakan ini? Asal dia membuka mulut mengemis padaku dan aku memberikan bakpau ini padanya, maka ini berarti sumpahku atas medali wasiat itu sudah terpenuhi, dan untuk selanjutnya aku akan dapat hidup senang dan bebas tanpa ikatan sesuatu apapun."

Memangnya perut sipengemis cilik juga sudah lapar, sekarng diiming-iming sepotong bakpau yang enak itu, tentu saja dia mengiler dan ingin memakannya.

Cuma, aneh juga, biarpun hatinya kepingin setengah mati, biji lehernya sampai naikturun dan menelah ludah berulang-ulang, namun sebegitu jauh ia tetap tidak membuka mulut untuk mengemis.

Sampai akhirnya Cia Yan-khek sendiri merasa tidak sabar menunggu, sedangkan bakpau yang dimakannya sudah habis, segera bakpau kedua itu dijejalkan lagi kedalam mulut dan tangannya lantas mengambil lagi bakpau yang masih hangathangat dinampan sipenjualnya.

"Akupun ingin dua potong bakpau,"

Tiba-tiba sipengemis cilik, berkata kepada penjual bakpau dan tanpa menunggu jawabah tangannya lantas mencomot bakpau yang sangat diinginkan itu.

Pemilik kedai itu memandang kepada Cia Yan-khek, maksudnya ingin tahu apakah Cia Yan-khek mau mengakui bakpau yang dimakan jembel cilik itu atau tidak.

Yan-khek lantas mengangguk.

Diam-diam ia bergirang.

"Bagus, sebentar bila penjualnya minta pembayaran padamu, ingin kulihat kau terpaksa akan minta bantuanku atau tidak?"

Tertampak sijembel telah makan bakpau satu demi satu dengan lahapnya, seluruhnya telah dimakannya empat biji. Akhirnya dia berkata.

"Kenyang sudah, tidak makan lagi!"

Cia Yan-khek sendiri hanya makan dua biji bakpau dan tidak makan lagi. Katanya kepada sipenjual.

"Berapa duitnya?"

"Dua picis satu biji, enam biji bakpau seluruhnya 12 picis,"

Sahut sipenjual.

"Tidak, masing-masing membayar sendiri-sendiri. aku makan dua biji, aku hanya bayar empat picis saja,"

Kata Yan-khek sembari memasukkan tangan kedalam saku untuk mengambil uang. Tapi sekali merogoh saku dia lantas melongo. Rupanya dia sendiri "tong-pes"

Alias kantong kempes karena siangnya dia habis makan-minum dikota Khay-hong dan sangunya sudah terpakai habis.

Keruan ia meringis dan serba susah.

Tengah ia merasa bingung, tiba-tiba sijembel cilik mengeluarkan serenceng uang perak dan diserahkan kepada penjual bakpau, katanya.

"Seluruhnya 12 picis, aku yang membayar semua."

Cia Yan-khek menjadi tercengang.

"Apa? Kau mentraktir aku?"

Tanyanya.

"Ya, kau tidak punya uang dan aku banyak uang, apa halangannya mentraktir kau beberapa biji bakpau saja?"

Sahut sijembel sambil tertawa.

Sipenjual bakpau juga terheran-heran, cepat ia memberikan beberapa potong uang receh tembaga sebagai kembalinya.

Segera sijembel cilik memasukkan uang receh itu kedalam saku.

Ia pandang Cia Yan-khek dan menantikan perintahnya.

Mau tak mau, Cia Yan-khek menyengir.

Pikirnya.

"Watakku biasanya sangat kukuh, biarpun cuma makan minum juga tidak sudi menerima pemberian orang lain. Siapa duga hari ini malah ditraktir makan bakpau oleh jembel cilik ini."

Segera ia mengajaknya berangkat. Sambil berjalan iapun bertanya.

"Darimana kau tahu aku tidak punya uang?"

Sipengemis cilik menjawab dengan tertawa.

"Dirumah-rumah makan aku sering melihat orang merogoh saku hendak mengambil uang, tapi tangan yang sudah masuk didalam kantong itu sampai lama sekali tidak keluar-keluar lagi, sebaliknya air mukanya berubah sangat aneh, seperti menyengir dan seperti meringis. Jika demikian wajahnya, maka dapat dipastikan orang itu tentu tidak punya uang. Setiap tukang gegares percuma dirumah makan selalu demikian keadaannya."

Kembali Cia Yan-khek menyengir ewa. Pikirnya.

"Kurang ajar, jadi kaupun anggap aku sebagai tukang gegares yang tidak mau bayar?" – Segera ia bertanya lagi.

"Dan darimana kau mencuri uang sebanyak itu?"

"Kenapa mesti mencuri?"

Sahut sijembel cilik.

"Ini adalah pemberian sinyonya baik hati yang berbaju putih tadi."

"Sinyonya baik hati berbaju putih?"

Yan-khek menegas. Tapi ia lantas paham, tentu Bin Ju yang dimaksudkan. Tidak terlalu jauh mereka berjalan, tiba-tiba Yan-khek mengangkat pedang putih milik Bin Ju itu dan berkata.

"Pedang ini sangat tajam, tadi hanya sekali tabas saja sebatang pohon telah kutumbangkan. Kau menyukai pedang ini tidak? Kalau kau minta, tentu akan kuberikan padamu."

Sesungguhnya dia merasa sebal berkumpul terlalu lama dengan pengemis kecil yang kotor dan bodoh itu, maka diharapnya bocah itu mau mengajukan sesuatu permohonan padanya dan terpenuhilah sumpahnya dahulu.

Tak terduga sijembel cilik itu telah menggeleng kepada dan menjawab.

"Tidak, aku tidak mau. Pedang ini adalah milik nyonya berbaju putih yang baik hati itu. Dia adalah orang baik, aku tidak mau mengambil barangnya."

Yan-khek lantas perlihatkan pedang hitam, ia ayun kesamping sekenanya dan kontan sebatang pohon ditepi jalan lantas tertabas kutung. Lalu katanya.

"Apa kau minta pedang hitam ini saja?"

"Tidak, pedang hitam ini adalah milik tuan berbaju hitam tadi,"

Kembali sijembel cilik menggeleng kepala.

"Tuan dan nyonya itu adalah serombongan, aku tak boleh mengambil barang mereka."

"Eh, Kau-cap-ceng, kau suka bicara tentang setia kawan juga,"

Jengek Cia Yan-khek.

"Apa artinya setia kawan?"

Tanya sijembel dengan bingung. Yan-khek hanya mendengus sekali saja dan tak gubris lagi padanya. Pikirnya.

"Jika kau tak paham, tiada gunanya kuterangkan padamu."

Baca Juga: Golok Sakti 4

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert