Ceritasilat Novel Online

Elang Terbang Di Dataran Luas 8

Eps 8 Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Baca online Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Cersil Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id.

Ia dilahirkan di sebuah tempat dekat pesisir pantai Hokkian, wilayah yang paling sering disatroni perompak Jepun, konon di usianya yang keenam belas, dia pernah membantai perompak Jepun sebanyak seratus tiga puluhan orang dengan mengandalkan sebilah golok panjang.

Dalam bahasa Jepun, dia disebut sebagai "Masa", begitu menyinggung nama "Masa", kawanan perompak dari Jepun segera akan pecah nyali dan melarikan diri terbirit-birit.

Kemudian lambat-laun perompak Jepun berhasil ditumpas, maka dia pun meninggalkan desa kelahirannya dan mengembara ke seantero jagat.

Dalam dunia persilatan, ia tidak memperoleh hasil yang terlalu membanggakan.

Ini disebabkan dia tidak memiliki latar belakang keluarga yang baik, dia pun bukan berasal dari perguruan kenamaan, ke mana pun dia pergi, pekerjaan apa pun yang dia lakukan, selalu dicemooh dan tak bisa diterima di mana pun.

Maka beberapa tahun kemudian nama "Masa"

Pun lenyap dari peredaran dunia persilatan, manusia yang bernama Lim Ceng-hiong pun ikut lenyap tak berbekas.

Setelah itu di dunia persilatan muncul seorang pembunuh bayaran yang kejam tak berperasaan, walaupun bekerja sebagai pembunuh namun tidak pernah membunuh orang untuk kesenangan.

Dalam buku catatan milik Lu-sam, dia tercatat dengan nomor tiga, hal ini menunjukkan ia sudah lama sekali bergabung dengan organisasi pimpinan Lu-sam ini.

Nomor tiga.

Nama.

Lim Ceng-hiong, julukan Masa.

Jenis kelamin.

laki-laki.

Umur.

empat puluh tiga tahun.

Asal.

Hokkian.

Asal-usul keluarga.

tak jelas.

Sejak berusia dua puluh lima tahun, Lim Ceng-hiong mulai menggunakan pedang.

Waktu itu dia sudah bukan seorang pemuda, sudah tidak memiliki dorongan emosi dan kehausan untuk belajar pedang.

Tentu saja dia pun tidak memiliki bimbingan guru serta sistim pendidikan yang penuh disiplin seperti yang dialami Tu Yong, bisa jadi dia sama sekali tidak paham tentang intisari sebuah ilmu pedang.

Akan tetapi dia kaya akan pengalaman.

Pengalaman yang dimilikinya mungkin jauh lebih banyak daripada pengalaman Oh Toa-leng digabungkan dengan pengalaman Tu Yong sekalipun, bekas bacokan yang menghiasi tubuhnya pun jauh lebih banyak daripada gabungan bekas bacokan kedua orang itu.

Dari pengalamannya bertarung melawan perompak Jepun di kala masih muda dulu, ia berhasil menciptakan sebuah ilmu pedang khusus yang merupakan gabungan ilmu pedang daratan Tionggoan dengan ilmu samurai dari negeri Jepun.

Biarpun ilmu pedangnya tidak banyak kembangannya, perubahan pun tidak terlalu banyak, namun manfaatnya luar biasa.

Tak dapat diragukan lagi nomor tiga, nomor tiga belas, dan nomor dua puluh tiga merupakan jago-jago lihai andalan Lu-sam.

Ketiga orang itu melambangkan tiga jenis manusia dengan perangai dan karakter yang berbeda, ilmu silat dan ilmu pedang yang dimiliki ketiga orang itu pun sama sekali tak sama.

Dengan memberi perintah kepada mereka bertiga untuk membunuh Siau-hong, tindakan Lu-sam ini boleh dibilang tepat sekali.

Perintah dari Lu-sam memang tak pernah tidak tepat.

Anehnya, mengapa ia tidak membiarkan mereka bertiga turun tangan bersama?

Bukankah bila mereka bertiga turun tangan berbareng maka kesempatan menang jauh lebih besar daripada bila menyerang satu per satu?

Di manakah letak maksud dan tujuannya?

Tak ada orang yang tahu apa maksud tujuannya, tak ada yang tahu apa rencananya.

Tak ada yang tahu, tak ada yang berani bertanya.

Bukan saja Sah Peng tidak bertanya, Oh Toa-leng, Tu Yong, serta Lim Ceng-hiong pun tidak bertanya.

Ketika Sah Peng berhasil menemui ketiga orang itu, dengan perkataan yang paling sederhana ia sampaikan perintah Lu-sam.

"Lopan perintahkan kalian untuk membunuh Hong Wi,"

Ujar Sah Peng.

"Minta kalian bertiga menyerangnya satu per satu."

Jawaban ketiga orang itu pun amat singkat.

"Baik!"

Kemudian dalam waktu yang paling singkat, mereka berhasil menemukan Siau-hong.

Biarpun masih belum ada orang yang mengetahui rencana Lu-sam, namun pergerakan telah dimulai.

Tak diragukan, anak buah Pancapanah pun sudah mulai dengan pergerakan mereka.

Maka masa perencanaan pun telah berakhir, masa pergerakan dimulai...

tentu saja pergerakan secara total.

Malam yang cerah, tiada bintang, tiada rembulan, tiada hujan, tiada angin.

Ruangan agak gelap karena cahaya lentera remangremang.

Lentera remang-remang karena Siau-hong memang sengaja memutar sumbu api menjadi yang terkecil.

Dia selama ini merupakan orang yang suka terang dan terbuka, tapi sekarang dia lebih suka berada seorang diri di balik kegelapan.

Hal ini bukan dikarenakan dia mempunyai banyak persoalan yang harus dipikirkan, juga bukan dikarenakan saat ini dia sedang mulai melakukan pergerakan atas sebuah perencanaan yang telah diputuskan.

Ada sementara manusia yang sangat terbuka dan tak sudi hidup kesepian, ketika berada di suatu saat tiba-tiba bisa berubah jadi suka akan kesepian dan kesendirian.

Begitulah perasaan Siau-hong saat ini, selama beberapa hari belakangan dia selalu bersikap demikian.

Dia mempunyai banyak persoalan yang ingin disampaikan kepada Yang-kong, dia pun mempunyai banyak masalah yang ingin ditanyakan kepada Soso.

Tapi akhirnya dia tidak bertanya, tidak mengatakannya, bahkan dia sama sekali tak mau duduk berduaan dengan mereka.

Mungkin saja dia sedang menghindar.

Sekalipun menghindar tak akan menyelesaikan persoalan apa pun.

Namun peduli siapa pun, dalam perjalanan hidupnya pasti akan menghadapi saat untuk menghindar.

Menghindar berarti beristirahat.

Siapa pun tentu butuh istirahat, terutama di saat perencanaan telah diputuskan, di saat suatu gerakan segera akan dimulai.

Di tengah kegelapan malam tak berbintang, tak ada rembulan, tak ada hujan inilah mendadak di tengah hembusan angin berkumandang suara napas, suara napas yang sedang bergerak mendekat.

Yang pasti bukan dengus napas satu orang, Siau-hong dapat memastikan paling tidak ada tiga orang, paling banyak pun hanya empat orang.

Hanya suara dengusan napas, tiada suara langkah kaki.

Tapi hal ini paling tidak membuktikan akan dua hal.

Peduli Siau-hong berada dalam kondisi apa pun, telinganya masih tetap tajam.

Peduli yang datang tiga orang atau empat orang, mereka pasti jago lihai yang memiliki ilmu silat hebat!

Sebab langkah kaki mereka jauh lebih ringan daripada dengusan napasnya.

Waktu itu Siau-hong sedang berada di sebuah rumah penginapan.

Sejak Pancapanah memutuskan untuk melaksanakan rencananya, dia telah pindah ke rumah penginapan itu.

Sebuah rumah penginapan yang sepi dan terpencil, dalam rumah penginapan itu pun dia memilih halaman belakang yang sepi dan jauh dari keramaian orang.

Pemilik losmen maupun para pelayannya setiap saat dapat muncul di halaman belakang itu.

Orang-orang yang berlalu-lalang di sekeliling dusun pun terkadang bisa muncul dan tersesat di sana.

Hanya saja saat ini malam sudah larut, sebagian besar orang sudah tertidur, orang yang belum tidur pasti mempunyai alasan khusus sehingga belum tidur.

Bila bukan disebabkan alasan khusus, tak mungkin suara langkah kaki seseorang jauh lebih ringan daripada suara napas.

Paling tidak hal ini membuktikan akan satu hal.

Beberapa orang yang datang saat itu pasti mempunyai tujuan khusus sehingga mereka muncul di situ.

Berada dalam saat seperti ini, tempat seperti ini, tak mungkin ada orang datang mencari Siau-hong untuk minum arak, main catur, atau mengobrol.

Sekalipun ada orang datang untuk mengajaknya mengobrol, tak mungkin mereka datang bertiga, bahkan berempat.

Lalu ada urusan apa mereka datang mencari Siau-hong?

Jawaban yang pasti hanya ada semacam...

mereka datang untuk membunuh Siau-hong, di tengah kegelapan malam tak berbintang, tak ada rembulan, tak ada hujan, hanya ada angin seperti ini merupakan saat yang tepat untuk melakukan pembunuhan, apalagi Siau-hong berada dalam bilik yang gelap dan terpencil.

Tentu saja Siau-hong pun berpikir ke situ.

Maka dengan satu gerakan cepat dia melompat bangun, kemudian menggenggam pedang Mata iblis miliknya.

Namun dia belum bergerak, belum melancarkan serangan.

Suara napas makin lama semakin dekat, sekarang dia pun dapat mendengar suara langkah kaki mereka, semacam suara langkah kaki yang hanya bisa didengar oleh manusia macam dia.

Semacam suara langkah kaki dari orang yang pernah berlatih tekun ilmu meringankan tubuh atau ilmu pedang.

Siau-hong pun dapat mendengar ada beberapa orang yang bergerak menghampirinya.

Yang datang ada empat orang, tak salah, empat orang, empat orang yang pernah berlatih tekun ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang tingkat tinggi.

Peluh dingin mulai bercucuran membasahi telapak tangannya.

Karena dia tak yakin mampu menghadapi keempat orang itu, bila mereka melancarkan serangan bersama, sedikit pun dia tak yakin bisa menghindarkan diri dari bencana besar ini.

Yang membuat dia tidak menyangka adalah ternyata langkah kaki itu tidak berjalan menuju ke arah biliknya, tapi berhenti lebih kurang dua puluh tombak dari ruang tidurnya.

Menanti terdengar lagi suara langkah kaki yang bergerak mendekat, tinggal suara langkah satu orang.

Langkah kaki maupun dengus napas orang ini jauh lebih berat daripada suara yang terdengar tadi, hal ini membuktikan orang itu merasa amat tegang, bahkan jauh lebih tegang daripada Siau-hong.

Kalau tujuan kedatangannya untuk membunuh Siauhong, mengapa dia datang seorang diri?

Mengapa rekan-rekannya tidak ikut bersama dia, turun tangan bersama?

Siau-hong bingung, tak habis mengerti.

Namun dia pun tak punya waktu untuk berpikir lebih jauh karena langkah kaki orang itu telah sampai di muka jendela kamarnya.

Angin berhembus dari dataran tinggi di seberang sana melewati tanah pertanian yang subur dan gembur, daun jendela bergetar karena hembusan, bukan hembusan angin yang lewat, melainkan karena dengus napas orang itu.

Hal ini membuktikan ia berdiri begitu dekat dengan daun jendela.

Dengan cepat Siau-hong berhasil menyimpulkan satu hal...

tak diragukan, orang ini pastilah seorang temperamental, gampang emosi, biarpun ilmu silatnya cukup tangguh, melakukan pekerjaan semacam ini pun bukan untuk pertama kalinya, namun dia tetap tak bisa mengendalikan emosi, gampang dipengaruhi perasaan.

Menyimpan kekuatan menunggu kedatangan lawan, dengan ketenangan mengatasi gerak.

Setelah berulang kali merasakan mati hidup, Siau-hong sangat memahami apa arti perkataan itu.

Maka dari itu dia tetap menjaga ketenangannya, bahkan wajib mempertahankan ketenangan.

Ketenangan, bukan kepala dingin.

Siau-hong tak dapat mempertahankan kepala dinginnya, sebab sesungguhnya dia pun termasuk orang yang gampang panas, gampang emosi, naik darah.

Saat ini debar jantungnya bertambah cepat, dengus napas pun ikut memburu.

Mendadak dari luar jendela terdengar seseorang memanggil namanya.

"Siau-hong Hong Wi!"

Walaupun ia sedang tertawa dingin, namun suaranya terdengar parau lantaran tegang.

"Aku tahu, kau belum tidur, bahkan tahu akan kedatanganku!"

Siau-hong tidak menjawab, ia masih mempertahankan ketenangan hatinya.

"Aku datang untuk membunuhmu!"

Kembali orang itu berkata.

"Seharusnya kau pun tahu aku datang untuk membunuhmu!"

Kemudian tanyanya kepada Siau-hong.

"Kenapa kau masih belum keluar?"

Siau-hong belum bergeming dia masih tetap mempertahankan ketenangan hatinya.

Bukan hanya menjaga ketenangan, dia pun berusaha berkepala dingin, kini dia sudah tahu orang ini jauh lebih emosional ketimbang dirinya dulu.

Kertas jendela yang berwarna putih telah basah sebagian bahkan bergetar sangat keras, karena dengus napas orang itu bertambah cepat dan memburu.

Kau hendak membunuhku, tentu saja aku pun mau tak mau harus membunuhmu.

Dalam keadaan seperti ini masih emosional, jelas suatu peristiwa yang sangat tidak menarik.

"Blaam!", akhirnya daun jendela dijebol orang, tampaklah sebuah wajah yang hijau membesi, amat tampan, amat muda, muncul di depan mata.

"Aku bernama Oh Toa-leng!"

Ia memperkenalkan diri.

"Aku datang untuk membunuhmu!"

Menggunakan sepasang matanya yang tajam tapi dipenuhi serat berwarna merah darah, ia pelototi wajah Siau-hong, kemudian teriaknya lagi.

"Mengapa kau masih belum keluar?"

Siau-hong tertawa.

"Adalah kau yang ingin membunuhku, bukan aku yang ingin membunuhmu, kenapa aku mesti keluar?"

Dia balik bertanya kepada anak muda itu.

Oh Toa-leng tak mampu berkata-kata lagi.

Dia telah bersiap mencabut pedangnya, telah bersiap menyerbu masuk ke dalam.

Pada saat itulah tiba-tiba ia saksikan cahaya pedang berkelebat, selama ini belum pernah ia saksikan cahaya pedang secepat ini, cahaya pedang yang begitu menyilaukan mata.

Terpaksa ia bergerak mundur, menghindar lalu bersamaan dia mencabut pedang sambil melancarkan serangan balasan.

Semua reaksi dan gerakan tubuhnya tidak terhitung kelewat lambat, hanya sayang ia tetap terlambat satu langkah.

Terlihat cahaya pedang berkelebat, serangan yang semula mengancam tenggorokan tiba-tiba berubah arah, kini serangan itu langsung menusuk ke jantungnya.

inilah bagian tubuh yang paling mematikan, siapa tertusuk, dia pasti akan mati seketika, tak mungkin bisa ditolong lagi.

Karena kau ingin membunuhku, mau tak mau aku pun harus membunuh dirimu!

Sesaat sebelum jantung Oh Toa-leng berhenti berdetak, akhirnya dia memahami satu hal.

Hidup sebagai seorang yang sederhana dan biasa, sesungguhnya bukan satu kejadian yang menyedihkan apalagi memalukan.

Dia tak seharusnya datang membunuh, karena sesungguhnya dia bukanlah orang yang senang membunuh orang lain.

Karena dia kelewat emosi, kelewat tak mampu mengendalikan diri.

Seorang yang sederhana dan biasa, tapi memaksakan diri untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan, kejadian seperti inilah yang pantas disedihkan.

Angin masih berhembus.

Di balik kegelapan di kejauhan sana, masih ada tiga orang berdiri tenang di situ.

Mereka datang bersama Oh Toa-leng namun kematian Oh Toa-leng seolah sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan mereka.

Ketiga orang itu masih menatap Siau-hong, menatapnya tanpa berkedip.

Tatkala Siau-hong membunuh Oh Toa-leng dengan sebuah tusukan kilatnya, mereka mengawasi dan mengikuti setiap gerakan itu dengan seksama, tak satu adegan pun yang terabaikan.

Ooo)d*w(ooO BAB 38.

SERANGAN PENUH Setelah lewat lama sekali, kembali ada satu orang di antara ketiga orang itu yang berjalan mendekat.

Cara orang ini berjalan tampak aneh sekali.

Tentu saja dia pun datang untuk membunuh Siau-hong.

Tapi caranya sewaktu berjalan seperti seorang murid yang datang menghadap gurunya, bukan saja lembut, halus, sopan, penuh aturan, bahkan tampak sedikit takut-takut.

Sekilas pandang Siau-hong sudah mengetahui kalau orang ini pernah mendapat pendidikan ketat, bahkan sejak kecil sudah hidup disiplin.

Tapi bila ditinjau dari sudut pandang lain, tak diragukan dia pun merupakan seorang yang sangat menakutkan.

Biarpun langkah kakinya mantap, namun tubuhnya dipenuhi dengan kewaspadaan tinggi, setiap saat selalu memelihara sikap siap tempur, sedikit pun tidak memberi peluang kepada musuhnya untuk melakukan serangan bokongan.

Walaupun sepasang lengannya dibiarkan mengendor, tapi tangannya selalu berada di dekat gagang pedangnya.

Sepasang mata orang itu pun selalu menatap tangan Siau-hong, tangan yang menggenggam pedang.

Ada banyak orang berpendapat, di saat dua jago lihai siap bertarung, mengawasi terus tangan lawan merupakan sebuah tindakan yang bodoh, tidak cerdas.

Karena banyak orang berpendapat, dari tangan lawannya tak mungkin kau bisa menemukan atau menyaksikan apa pun.

Sebagian besar orang berpendapat, di saat menghadapi pertarungan, seharusnya sorot mata lawanlah yang patut diperhatikan, tapi ada pula sebagian orang berpendapat, mimik muka lawanlah yang patut diperhatikan dengan seksama.

Padahal pandangan orang-orang itu kurang tepat, karena mereka telah mengabaikan beberapa hal.

Untuk melakukan pembunuhan, orang butuh tangan.

Tangan memperlihatkan perasaan, kadang malah membocorkan banyak rahasia.

Banyak orang mungkin bisa menyimpan baik-baik gejolak perasaan serta rahasianya, bahkan dapat membuat diri sendiri berubah menjadi buah keras yang susah diteropong, agar orang lain tak dapat menemukan semua rahasia yang tak ingin diketahui orang lain melalui perubahan wajah serta tatapan matanya.

Tapi berbeda sekali dengan tangan.

Bila kau saksikan otot hijau di tangan seorang menonjol, di saat urat nadinya menonjol nyata, segera akan kau ketahui perasaannya saat itu pasti sedang amat tegang.

Bila kau saksikan tangan seseorang sedang gemetar, maka segera akan kau ketahui, bukan saja merasa tegang, orang itu pun merasa takut, ngeri, gusar bercampur emosi.

Semua itu tak mungkin bisa dikendalikan, tak mungkin bisa dirahasiakan, karena semua itu merupakan sebuah reaksi yang spontan, reaksi tubuh yang alami.

Oleh sebab itu seorang jagoan sejati pasti akan memperhatikan tangan lawan ketika sedang menghadapi pertarungan mati hidup.

Tak diragukan, orang ini pun merupakan seorang jago tangguh yang sudah banyak melakukan pertarungan dan banyak pengalaman, bukan saja gerak-geriknya tepat, jalan pikirannya pun sangat tepat.

Siau-hong balas menatapnya, namun tidak menatap tangannya, karena Siau-hong tahu, orang semacam ini tak mungkin melancarkan serangan terlebih dulu.

"Jadi kau pun datang untuk membunuhku?"

Tanya Siauhong kemudian.

"Benar."

"Kau kenal aku?"

"Tidak!"

"Ada dendam sakit hati denganku?"

"Tidak ada!"

"Mengapa kau ingin membunuh aku?"

Pertanyaan ini bukan sebuah pertanyaan yang bagus, ada banyak orang membunuh orang lain tanpa membutuhkan alasan apa pun.

Namun Siau-hong tetap mengajukan pertanyaan itu, karena dia butuh waktu untuk mengendalikan gejolak hatinya, dia pun butuh waktu untuk lebih banyak memahami tentang orang ini.

Mungkin dikarenakan alasan yang sama, ternyata orang itu segera memberikan jawabannya....

"Aku hendak membunuhmu karena kau adalah Siauhong Siau-hong yang tak takut mati, kau boleh saja merenggut nyawa orang lain, apa salahnya kalau orang lain pun datang untuk merenggut nyawamu?"

Kemudian balik tanyanya.

"Cukupkah alasanku ini?"

"Cukup, sudah lebih dari cukup."

Selesai mengucapkan perkataan itu, Siau-hong pun turun tangan lebih dahulu.

Sebab dia tahu, orang ini tak bakal melancarkan serangan lebih dahulu, rekannya telah memberi sebuah pelajaran yang sangat baik baginya.

Dia pun ingin belajar dari Siau-hong, ingin menghimpun tenaga mempersiapkan diri, dengan tenang mengatasi gerak.

Sayang lagi-lagi dia melakukan perhitungan yang salah, gerak serangan Siau-hong betul-betul kelewat cepat, jauh lebih cepat daripada apa yang dibayangkan.

Di mana cahaya pedang berkelebat, percikan darah menyebar ke empat penjuru, pedang Mo-gan tahu-tahu sudah menusuk tenggorokan orang itu.

Pedang adalah benda mati, manusialah yang hidup, sebuah tusukan yang sama kadangkala mendatangkan hasil yang berbeda.

Bukan dada, melainkan tenggorokan.

Bagi seseorang yang mempelajari pedang, bila ingin hidup lebih lama daripada orang lain, dia harus belajar menghidupkan dulu pedang yang berada dalam genggamannya.

Tak diragukan Siau-hong telah mempelajari tahap itu.

Karena itu dia masih hidup, musuhnya yang roboh terjungkal, roboh terkapar sebelum memperoleh kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.

Sebab dia telah mengetahui musuhnya bukan seorang yang gampang dihadapi, belum pernah menduga dalam satu serangan akan mengenai sasaran.

Kecepatan gerak dan ketepatan menganalisa yang ditunjukkan kali ini sama sekali di luar dugaan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Ini membuktikan ilmu pedangnya kembali telah memperoleh kemajuan pesat.

Dari balik kegelapan seolah ada orang menghela napas, helaan napasnya seperti suara orang bertepuk tangan, dipenuhi rasa kagum dan pujian.

"Kalian tentu datang untuk membunuhku, bukan?"

Ujar Siau-hong sambil menatap kedua orang di balik kegelapan.

"Tak ada salahnya kalian turun tangan bersama-sama."

Satu orang tetap berdiri tak bergerak, sedang orang yang lain mulai berjalan maju dengan langkah lambat.

Dia berjalan sangat lambat, jauh lebih lambat daripada orang yang barusan tewas di ujung pedang Siau-hong.

Dia tidak langsung berjalan menuju ke hadapan musuhnya.

Siau-hong menatapnya, menatap setiap gerak-geriknya, menatap sepasang matanya yang berkilat.

Sekonyong-konyong Siau-hong menyadari kalau dia salah.

Orang ini bukan datang untuk membunuhnya, orang kedualah pembunuh yang sesungguhnya.

Kehadiran orang ini tak lebih hanya untuk memecah perhatian Siau-hong.

Dia tak berpedang juga tiada hawa membunuh.

Bagaimana dengan orang kedua?

Dalam waktu yang amat singkat inilah ternyata orang itu telah hilang tak berbekas.

Tak mungkin seorang yang terdiri dari darah dan daging akan hilang begitu saja, namun siapa pun tak tahu ke mana dia telah pergi.

Orang di hadapannya itu telah berjalan menuju ke bawah sebatang pohon, berdiri di situ dengan santai.

Ia tampilkan sikap sebagai seorang penonton yang baik, penonton yang mengamati reaksi Siau-hong, bahkan sepasang matanya yang berkilat terselip senyuman acuh, sama sekali tidak menguatirkan keselamatan rekannya.

Biarpun orang ini datang bersama ketiga orang lainnya, namun dia seakan sama sekali tidak memikirkan mati hidup orang-orang itu, kehadirannya tak lebih hanya ingin menyaksikan dengan cara apa Siau-hong menghadapi mereka.

Tentu saja dia bukan sahabat Siau-hong, namun dia pun tidak mirip musuh besar pemuda itu.

Sikapnya yang sangat aneh, aneh tapi penuh kehangatan, seperti baju abu-abu yang dikenakannya.

Sikap Siau-hong pun sangat aneh.

Dia memperhatikan terus orang yang berdiri di bawah pohon itu, terhadap musuh menakutkan yang tiba-tiba hilang lenyap malah sama sekali tak acuh, perhatian sedikit pun tidak.

Dia malah tertawa kepada orang itu, manusia berbaju abu-abu itu pun balas tertawa, sapanya dengan sopan.

"Baik-baikkah kau?"

"Aku tidak baik,"

Jawab Siau-hong "Baru saja menikmati tidurku, tanpa sebab musabab datang beberapa orang ingin membunuhku, mana mungkin aku bisa baik?"

Manusia berbaju abu-abu itu menghela napas, bukan saja menyatakan persetujuannya, bahkan menyatakan pula simpatiknya.

"Bila aku yang sedang berbaring tidur di ranjang, tibatiba muncul tiga orang yang akan membunuhku, aku pun akan merasa sial sekali."

"Hanya tiga orang yang ingin membunuhku?"

"Hanya tiga orang."

"Bagaimana dengan kau?"

Tanya Siau-hong.

"Apakah kau pun datang untuk membunuhku?"

Sekali lagi manusia berbaju abu-abu itu tertawa.

"Kau semestinya bisa melihat sendiri kalau aku bukan datang untuk membunuh,"

Katanya.

"Antara kita tak pernah terikat dendam atau sakit hati, mengapa aku harus membunuhmu?"

"Mereka pun tak punya ikatan dendam atau sakit hati denganku, mengapa datang untuk membunuhku?"

"Mereka hanya melaksanakan perintah."

"Perintah siapa?"

Tanya Siau-hong lagi.

"Lu-sam?"

Manusia berbaju abu-abu itu menggunakan senyuman untuk menjawab pertanyaan ini.

"Bagaimana pun juga, dua di antara mereka bertiga kini sudah tewas di ujung pedangmu"

"Bagaimana dengan orang ketiga?"

"Tentu saja orang ketiga merupakan orang paling menakutkan, jauh lebih menakutkan bila dibandingkan dua orang digabung."

"O, ya?"

"Orang pertama yang kau bunuh itu bernama Oh Toaleng, orang kedua bernama Tu Yong,"

Manusia berbaju abu-abu itu menerangkan.

"Ilmu pedang yang mereka miliki tidak lemah, pengalaman membunuh pun sangat luas dan matang, tapi aku sama sekali tidak menyangka kau mampu mencabut nyawa mereka hanya dalam satu gebrakan saja."

Sesudah menghela napas dan tersenyum, terusnya.

"Ternyata kehebatan ilmu pedangmu jauh di luar perhitungan mereka."

Siau-hong ikut tersenyum.

"Mungkin juga dikarenakan ilmu pedang yang mereka miliki ternyata jauh lebih cetek daripada apa yang mereka perkirakan."

"Tapi orang ketiga jauh berbeda!"

"O, ya?"

"Orang ketiga inilah baru pembunuh sejati, tahu dan mengerti bagaimana cara membunuh."

"O, ya?"

"Dua orang pertama tewas di ujung pedangmu, karena mereka tak mengerti apa yang disebut, tahu kekuatan sendiri tahu kekuatan lawan,"

Kata orang berbaju abu-abu itu lagi.

"Bukan saja mereka kelewat memandang tinggi kemampuan sendiri, bahkan kelewat rendah menilai kemampuanmu."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Tapi orang ketiga sangat menguasai tentang dirimu, baik latar belakang keluarga, ilmu silat maupun pengalamanmu, ia paham seperti memahami jari tangan sendiri, sebelum datang untuk membunuhmu, dia telah melakukan penyelidikan yang jelas dan teliti, bahkan telah menyaksikan semua gerakan yang kau lakukan untuk membunuh orang tadi."

Siau-hong harus mengakui akan hal ini.

"Tapi bagaimana dengan kau sendiri?"

Tanya manusia berbaju abu-abu itu lagi.

"Berapa banyak yang kau ketahui tentang orang ini?"

"Sedikit pun aku tidak tahu."

"Ai, itulah, dalam hal ini kau sudah berada di bawah angin!"

Manusia berbaju abu-abu itu menghela napas. Siauhong pun kembali harus mengakui.

"Sekarang kau berdiri di sebuah tempat lapang yang sangat terbuka,"

Kata manusia berbaju abu-abu itu lebih jauh.

"Dari empat penjuru, orang dapat melihat kehadiranmu dengan sangat jelas."

Lalu tanyanya kepada Siau-hong.

"Tahukah kau di mana ia berada? Sudah kau lihat keberadaannya?"

"Aku tidak melihatnya,"

Jawab Siau-hong.

"Tapi mungkin saja aku dapat menebaknya."

"O, ya?"

"Dia pasti sudah menyelinap ke belakang tubuhku,"

Ujar Siau-hong lebih jauh.

"Pada saat aku memusatkan seluruh perhatian di tubuhmu tadi, dia telah menyelinap ke samping kemudian berputar ke belakang tubuhku."

Manusia berbaju abu-abu itu menatapnya, perasaan kagum terpancar dari balik matanya.

"Dugaanmu tepat sekali,"

Katanya.

"Sekarang besar kemungkinan dia telah berdiri di belakangku, mungkin juga sudah berada begitu dekat jaraknya dengan tubuhku, bahkan kemungkinan besar dalam sekali gerakan tangan ia dapat membunuhku."

"Karena itu kau tak berani berpaling ke belakang."

"Betul, aku memang tak berani berpaling,"

Siau-hong menghela napas.

"Sebab kalau aku berpaling maka gerakan tubuhku pasti akan muncul titik kelemahan, dan dia pun mempunyai kesempatan untuk membunuhku."

"Kau tak ingin memberi kesempatan kepadanya?"

"Tentu saja tak ingin."

"Tapi sayangnya meski tidak berpaling pun dia tetap mempunyai kesempatan untuk membunuhmu,"

Ujar manusia berbaju abu-abu itu.

"Membunuh orang dari arah belakang selalu jauh lebih gampang daripada membunuhmu dari arah depan."

"Biarpun lebih gampang, tidak terhitung kelewat gampang."

"Kenapa?"

"Sebab aku belum mati, aku bukan orang mati,"

Siauhong menerangkan.

"Aku masih mempunyai telinga untuk mendengar."

"Apakah mendengarkan desingan angin waktu dia menyerang?"

"Benar!"

"Bila dia menyerang dengan sangat lambat, bukankah serangan itu tidak disertai desingan angin?"

"Betapa pun lambatnya serangan yang dia lancarkan, aku tetap dapat merasakannya,"

Ujar Siau-hong hambar.

"Sudah belasan tahun aku berlatih pedang, belasan tahun berkelana dalam dunia persilatan, kalau soal sekecil ini pun tak dapat merasakannya, bagaimana mungkin aku bisa hidup hingga sekarang?"

"Masuk akal,"

Manusia berbaju abu-abu itu setuju.

"Sangat masuk akal!"

"Oleh sebab itu bila dia ingin turun tangan membunuhku, lebih baik pertimbangkan dulu akibatnya."

"Akibat?"

Tanya manusia berbaju abu-abu itu lagi.

"Akibat apa?"

"Dia menginginkan nyawaku, aku pun menghendaki nyawanya,"

Suara Siau-hong terdengar dingin dan hambar.

"Sekalipun dia dapat membunuh aku di ujung pedangnya, aku pun tak akan membiarkan dia pulang dalam keadaan hidup."

Manusia berbaju abu-abu itu menatapnya sampai lama sekali, kemudian baru bertanya perlahan.

"Kau benar-benar yakin mempunyai kemampuan seperti ini?"

"Tentu saja yakin!"

Sahut Siau-hong.

"Bukan saja aku percaya bahwa aku memiliki kemampuan itu, bahkan dia pun pasti percaya."

"Kenapa?"

"Kalau dia tidak menganggap aku memiliki kemampuan itu, mengapa hingga sekarang belum juga turun tangan?"

"Mungkin dia masih menunggu, menunggu hingga datangnya kesempatan yang lebih bagus sebelum turun tangan."

"Dia tak akan bisa menunggu."

"Kalau begitu sekarang kau tidak seharusnya mengajak aku berbicara."

"Kenapa?"

"Ketika berbicara dengan siapa pun, daya konsentrasimu pasti akan buyar, saat itu dia tentu akan memperoleh kesempatan untuk turun tangan."

Siau-hong tersenyum, tiba-tiba tanyanya kepada manusia berbaju abu-abu itu.

"Tahukah kau apa yang telah terjadi di sekitar sini tadi?"

"Tidak tahu!"

"Aku tahu,"

Kata Siau-hong.

"Di saat kau berjalan menuju ke bawah pohon itu tadi, di atas pohon ada seekor tupai yang menerobos masuk ke dalam liang, tupai itu membuat enam lembar daun berguguran, sewaktu kita mulai berbicara, di semak belukar sebelah kiri terdapat seekor ular sawah sedang menelan seekor ayam hutan, lalu seekor musang berlarian dari bawah bukit menuju ke arah seberang jalan, disusul kemudian sepasang suami-istri yang tidur di penginapan bagian belakang terbangun, sedang kucing peliharaan Lopan penginapan ini mencuri ikan di dapur."

Dengan perasaan terkejut manusia berbaju abu-abu memandang ke arah Siau-hong, serunya kaget.

"Benarkah apa yang kau katakan?"

"Tak mungkin salah, peduli aku sedang melakukan apa pun, jangan harap gerak-gerik yang terjadi pada radius dua puluh tombak di sekelilingku dapat lolos dari pendengaranku."

Manusia berbaju abu-abu itu menghela napas panjang.

"Untung kedatanganku bukan untuk membunuhmu,"

Ujarnya sambil tertawa getir.

"Kalau tidak, kemungkinan besar saat ini aku pun sudah tewas di ujung pedangmu."

Siau-hong tidak menyangkal hal ini. Lagi-lagi manusia berbaju abu-abu itu bertanya kepada Siau-hong.

"Kalau kau sudah tahu dia ingin membunuhmu, sudah tahu pula dia berada di belakangmu, mengapa kau tidak turun tangan lebih dulu menghabisi nyawanya?"

"Karena aku tak perlu terburu-buru, yang terburu-buru justru dia,"

Kembali Siau-hong tersenyum.

"Dia datang untuk membunuhku, bukan aku yang ingin membunuhnya, tentu saja aku lebih dapat mengendalikan diri ketimbang dirinya."

Untuk kesekian kalinya manusia berbaju abu-abu itu menghela napas panjang.

"Aku kagum kepadamu, betul-betul kagum kepadamu! Bila kita bukan bersua dalam kondisi dan situasi seperti ini, aku sungguh berharap dapat bersahabat dengan dirimu."

"Mengapa sekarang kita tak boleh bersahabat?"

"Karena aku datang bersama mereka, sedikit banyak kau pasti menaruh perasaan was-was terhadapku."

"Kau salah besar!"

Siau-hong menggeleng.

"Kalau aku tak bisa membaca maksud hatimu, buat apa mengajakmu berbicara?"

"Jadi sekarang aku masih dapat bersahabat denganmu?"

"Mengapa tidak boleh?"

"Tapi kau sama sekali tak tahu siapakah diriku, bahkan namaku pun tidak kau ketahui!"

"Bolehkah kau beritahukan kepadaku?"

"Tentu saja boleh."

Manusia berbaju abu-abu itu kembali tertawa, tertawa sangat gembira, katanya.

"Aku she Lim bernama Cenghiong, semua temanku memanggil aku sebagai Masa."

"Masa!"

Nama itu tentu saja tak akan memancing perasaan keheranan dan curiga Siau-hong, ada banyak sekali di antara teman-teman Siau-hong yang mempunyai nama jauh lebih aneh daripada nama itu.

"Aku she Hong, bernama Wi."

"Aku tahu!"

Kata Lim Ceng-hiong.

"Sudah lama aku mendengar namamu."

Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Siau-hong.

Di tangannya sama sekali tak ada pedang, dari ujung rambut hingga ujung kaki sama sekali tidak terpancar hawa membunuh barang sedikit pun.

Ia berjalan menghampiri Siau-hong tak lebih karena ingin bersikap lebih akrab, hal semacam ini jelas merupakan satu kejadian yang lumrah, karena Siau-hong telah menganggapnya sebagai sahabat.

Siau-hong memang orang yang senang bersahabat.

Dia tak pernah bersikap waspada terhadap seorang sahabat, tentu saja sekarang pun tidak.

Ketika hampir tiba di hadapan Siau-hong, tiba-tiba paras orang itu berubah, jeritnya lirih.

"Hati-hati, hati-hati belakangmu."

Tak tahan Siau-hong berpaling...

siapa pun itu orangnya, berada dalam keadaan seperti ini, dia pasti tak tahan untuk tidak berpaling.

Pada saat Siau-hong baru saja berpaling itulah, tiba-tiba dari balik saku Lim Ceng-hiong menghunus sebilah pedang.

Sebilah pedang lemas yang terbuat dari baja asli, begitu digetarkan di udara segera menusuk belakang tengkuk Siauhong bagaikan pagutan seekor ular berbisa.

Tengkuk kiri sebelah belakang.

Waktu itu Siau-hong berpaling ke belakang dari arah sebelah kanan, dalam keadaan seperti ini, tentu saja tengkuk belakang sebelah kirinya berada dalam posisi "pintu kosong".

"Pintu kosong"

Adalah istilah yang biasa digunakan umat persilatan, maksudnya tempat itu seperti sebuah pintu gerbang dalam keadaan terbuka lebar, tiada penjagaan, tiada halangan, asal kau senang maka kau bisa masuk sesuka hatimu.

Di tengkuk belakang sebelah kiri tiap orang terdapat sebuah nadi besar, merupakan nadi penting, jika nadi penting itu sampai terpapas putus, kau akan mengalami pendarahan hebat dan akhirnya tewas tak tertolong.

Bagi seorang pembunuh yang berpengalaman, dia tak akan turun tangan bila kesempatan yang meyakinkan tidak datang.

Tak diragukan Lim Ceng-hiong telah memegang baikbaik kesempatan emas ini, kesempatan yang dia ciptakan, ia yakin kali ini serangan mautnya tak bakal meleset.

Dalam hal ini dia merasa sangat yakin, maka orang itu sama sekali tidak mempersiapkan jalan mundur bagi diri sendiri.

Maka dia pun mati, mati di ujung pedang Siau-hong!

Bukankah Siau-hong berada dalam keadaan tidak siap?

Bukankah dia sedang berpaling dan tidak waspada, bahkan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk berkelit maupun menangkis?

Lim Ceng-hiong telah memperhitungkan hal ini, dia pun sudah mengincar hal itu secara baik-baik.

Ketika ia melepaskan tusukan mautnya tadi, perasaannya seakan seorang pemancing ikan yang sudah merasakan kailnya bergetar, tahu sang ikan sudah menyambar kailnya.

Mimpi pun dia tak menyangka, pada detik yang terakhir itulah tiba-tiba Siau-hong melancarkan pula sebuah tusukan, menusuk masuk dari suatu posisi yang sama sekali tak terduga sebelumnya.

Belum sempat pedangnya menggorok tengkuk belakang Siau-hong, tusukan pedang Siau-hong telah menembus jantungnya.

Ketika pedang Siau-hong menembus jantungnya, pedang miliknya hanya selisih satu inci dari belakang tengkuk Siauhong.

Hanya selisih satu inci, satu inci yang lebih dari cukup.

Terkadang selisih jarak antara mati hidup seseorang hanya terpaut tak sampai satu inci, seringkali menang kalah seseorang pun hanya selisih satu inci, oleh sebab itu buat apa mempermasalahkan urusan yang lebih besar?

Mata pedang yang dingin melesat lewat dari sisi tengkuk Siau-hong, waktu itu tangan Lim Ceng-hiong yang menggenggam pedang sudah keburu kaku dan mati rasa.

Tiba-tiba terdengar suara helaan napas dan tepukan tangan berkumandang dari belakang tubuh Siau-hong.

"Hebat,"

Seseorang berseru sambil menghela napas.

"Betul-betul hebat, luar biasa."

Suara itu selisih jauh dari tempat Siau-hong berdiri, karena itu Siau-hong membalikkan badan.

Sewaktu berpaling tadi, ia sama sekali tidak melihat di belakang tubuhnya ada orang, waktu itu matanya hanya melihat Lim Ceng-hiong dan pedang orang itu.

Sekarang dia telah melihatnya.

Seseorang berdiri di balik kegelapan di kejauhan sana, terpaut sebuah jarak yang cukup jauh dan aman bagi dirinya maupun Siau-hong.

Karena Sah Peng tak pernah membiarkan orang lain menaruh prasangka buruk dan rasa curiga besar terhadap dirinya.

"Sebetulnya kusangka kau bakal mampus,"

Katanya sambil menghela napas.

"Sungguh tak disangka, dialah yang mati."

"Aku sendiri pun tidak menyangka."

"Sejak kapan kau baru tahu bahwa dialah orang ketiga yang benar-benar akan membunuhmu?"

"Ketika ia berjalan mendekat,"

Sahut Siau-hong.

"Waktu itu bahkan aku pun mengira kau sudah bersedia untuk bersahabat dengannya, dari mana kau bisa tahu kalau dia ingin membunuhmu?"

"Karena sewaktu berjalan, langkahnya kelewat hati-hati, seolah takut sekali kakinya menginjak mati semut di lantai."

"Apa salahnya dengan jalan berhati-hati?"

"Hanya satu kesalahannya,"

Jawab Siau-hong.

"Bagi orang persilatan macam kami, biar menginjak mati tujuh ratus ekor semut pun tak bakal ambil peduli, kenapa dia harus sangat berhati-hati, tentu saja terkecuali dia sedang berjaga-jaga terhadapku."

"Masuk akal."

"Hanya orang yang berniat akan mencelakai orang lain, dirinya baru waspada terhadap orang lain."

"O, ya?"

"Aku pernah mempunyai pengalaman semacam ini,"

Ujar Siau-hong lebih lanjut.

"Biasanya orang yang tertipu, justru mereka yang berniat akan mencelakai orang lain."

"Kenapa?"

"Oleh karena mereka tidak mempunyai ingatan untuk mencelakai orang, karena itu baru tak ada ingatan untuk berjaga-jaga. Bila kau pernah mempunyai pengalaman seperti ini, pasti akan memahami pula maksudku."

"Aku paham maksudmu, tapi tidak mempunyai pengalaman seperti itu,"

Kata Sah Peng.

"Karena aku tak pernah mau mempercayai siapa pun."

Dia menatap Siau-hong sekejap, lalu tersenyum.

"Mungkin karena kau pernah mengalami pengalaman seperti ini, pernah mendapat pelajaran yang menyakitkan, maka sekarang kau pun belum mati."

"Mungkin saja begitu,"

Siau-hong mengangguk.

"Membodohi aku satu kali, tapi kesalahan ada pada dirimu, membodohi aku dua kali, kesalahan berada di pihakku. Jika setelah mengalami satu kali pelajaran, kau masih tak tahu waspada, maka manusia semacam ini memang pantas mati."

"Sebuah ungkapan yang bagus sekali."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Tiba-tiba Siau-hong bertanya.

"Apakah kau pun datang untuk membunuhku?"

"Bukan."

"Kau anak buah Lu-sam?"

"Benar."

"Datang bersama mereka?"

"Benar,"

Sah Peng mengangguk.

"Kami datang kemari atas perintah Lu-sam, hanya perintah yang kami dapatkan berbeda."

"O, ya?"

"Kalau mereka bertiga mendapat perintah untuk membunuhmu, maka aku hanya mendapat perintah untuk datang melihatmu."

"Melihat apa?"

"Melihat bagaimana membunuh orang,"

Kata Sah Peng.

"Peduli mereka yang membunuh dirimu atau kau yang membunuh mereka, aku harus menyaksikan dengan jelas."

"Sekarang kau telah melihatnya dengan jelas?"

"Benar."

"Kalau begitu, sudah waktunya bagimu untuk pergi dari sini?"

"Benar, tapi sebelumnya aku ingin memohon sesuatu kepadamu."

"Mohon apa?"

"Biarkan aku membawa kembali tubuh mereka,"

Kata Sah Peng.

"Peduli mereka mati atau hidup, aku harus membawanya pulang."

Kepada Siau-hong tanyanya lagi.

"Apakah kau bersedia?"

Siau-hong tertawa.

"Ketika masih hidup, mereka sama sekali tak berguna bagiku, setelah mati apa pula gunanya bagiku?"

Kepada Sah Peng tanyanya kemudian.

"Mengapa aku harus menahan mayat mereka?"

"Jadi kau izinkan aku membawanya pulang?"

Siau-hong manggut-manggut.

"Hanya aku pun berharap kau bisa melakukan satu hal untukku."

"Apa?"

"Aku harap sekembalimu dari sini, beritahu Lu-sam, suruh dia baik-baik menjaga diri, baik-baik menjaga kondisi badan hingga sewaktu aku pergi menemuinya, dia masih hidup sehat walafiat."

"Dia pasti tetap sehat,"

Jawab Sah Peng.

"Selama ini dia memang sangat pandai menjaga diri."

"Bagus sekali,"

Siau-hong tersenyum.

"Aku betul-betul berharap dia masih tetap hidup ketika aku pergi menjumpainya."

Sah Peng ikut tersenyum.

"Aku berani menjamin, untuk sementara waktu dia tak bakal mati."

Tentu saja Lu-sam tak bakal mati.

Dia selalu percaya dirinya masih dapat hidup lebih panjang daripada orang mana pun yang sebaya dengan dirinya.

Dia selalu percaya uang adalah segalanya, selalu menganggap pekerjaan di dunia ini tak akan beres tanpa uang, bahkan termasuk kesehatan serta keselamatan jiwanya.

Terlepas jalan pikirannya benar atau salah, paling tidak hingga sekarang dia masih bisa hidup sehat sentosa.

Nomor tiga, tiga belas dan dua puluh tiga telah mati semua, tampaknya kejadian ini sudah berada dalam dugaannya.

Kalau sudah tahu mereka bertiga pasti mati, mengapa masih menyuruh mereka bertiga mengantar kematiannya?

Mengapa tidak membiarkan mereka turun tangan bersama?

Dalam persoalan ini, Sah Peng sendiri pun tak habis mengerti.

Sah Peng hanya tahu satu hal, semua tugas yang diserahkan Lu-sam kepadanya harus dia laksanakan dengan baik, betapa pun sulitnya persoalan itu, tugas tetap harus diselesaikan.

Lu-sam minta dia membawa pulang ketiga orang itu, baik dalam keadaan hidup maupun mati.

Sah Peng telah melaksanakannya.

Bila mereka telah tewas di ujung pedang Siau-hong, Lusam mewajibkan dia untuk membawa pulang ketiga jenazah itu dalam empat jam, agar ia dapat memeriksa mayat-mayat itu.

Sudah jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk dilaksanakan, tapi Sah Peng terbukti dapat melakukannya.

Mereka tewas di saat fajar menyingsing menjelang tengah hari, Lu-sam telah memeriksa mayat mereka bertiga.

Dalam keadaan dan situasi apa pun, jangan sampai sepak-terjangmu diketahui dan dikuntit orang.

Tugas ini tentu saja jauh lebih sukar, Pancapanah serta Siau-hong pasti tak akan melepaskan setiap kesempatan untuk melacak tempat persembunyian Lu-sam, apalagi kesempatan ini kemungkinan besar merupakan kesempatan terakhir kalinya.

Bahkan tugas sesukar ini pun Sah Peng dapat melaksanakannya.

Dia percaya dan yakin, tak seorang pun dapat melacak jejak Lu-sam dari sepak-terjangnya.

Bahkan dia berani menggunakan batok kepala sendiri sebagai barang taruhan.

Mengapa dia begitu yakin?

Dengan cara apa dia laksanakan ketiga tugasnya itu?

Tentu saja Pancapanah tak akan melepaskan kesempatan ini, sebelum Siau-hong menghabisi nyawa Masa, Pancapanah telah mengumpulkan semua jago-jagonya yang paling berpengalaman dan paling hebat ilmu meringankan tubuhnya untuk berkumpul di sana dan menyebar mereka di sepanjang jalan itu untuk melakukan pengawasan.

Setelah Sah Peng mengangkut mayat-mayat itu, setiap tempat yang disinggahi, setiap perbuatan yang dia lakukan, mereka telah memeriksa dan menyelidikinya dengan sangat jelas, bahkan tempat-tempat kecil yang tampaknya tak ada hubungan dengan persoalan ini pun sama sekali tidak dilepas.

Dalam hal ini mereka telah membuat laporan terperinci dan teliti.

Sah Peng menggunakan sebuah kereta besar yang disewanya dari pasar untuk mengangkut ketiga jenazah Oh Toa-leng sekalian.

Sejak malam sebelumnya dia telah menyewa kereta itu dan membayarnya dengan harga lima kali lipat daripada harga biasa, bahkan minta sang kusir untuk menunggu di sekitar tempat itu.

Lo-ong sang kusir kereta sudah dua-tiga puluh tahunan bekerja di bidang ini, dengan mereka sama sekali tak ada hubungan maupun sangkut-paut apa pun.

Ditinjau dari hal ini, bisa disimpulkan bahwa dia telah membuat persiapan jauh sebelumnya, dia pun sudah menduga kalau ketiga orang itu besar kemungkinan tak akan balik dalam keadaan hidup.

Toko penjual peti mati terbesar di kota itu bernama "Liuciu Thio-ki".

Ooo)d*w(ooO BAB 39.

GERAK LANGKAH KEDUA Begitu fajar menyingsing, Sah Peng telah membawa ketiga jenazah itu ke toko peti mati Thio-ki, dengan biaya dua kali lipat lebih mahal, dia membeli tiga buah peti mati milik orang lain yang terbuat dari kayu berkwalitas tinggi.

Setelah itu dia pun langsung mengawasi sendiri para pegawai Thio-ki memasukkan ketiga sosok jenazah itu ke dalam peti mati, walaupun telah menggunakan rempahrempah harum anti pembusukan, dia melarang siapa pun untuk menyentuh mayat mereka, bahkan pakaian yang dikenakan pun sama sekali tidak diganti.

Kemudian dia pun membawa sendiri ketiga buah peti mati itu menuju ke kompleks pemakaman terbesar di kaki bukit luar kota, dengan mengajak seorang Suhu Hong-sui terkenal, ia memilih sebidang tanah kubur.

Tanah yang dipilih berada di kaki bukit, sedang petugas yang menggali kubur pun orang-orang yang berpengalaman, tak sampai satu jam kemudian, semua peti mati sudah masuk ke tanah.

Dalam satu jam batu nisan telah selesai dibuat, bahkan tertera dengan jelas nama Oh Toa-leng, Tu Yong, serta Lim Ceng-hiong.

Setelah itu Sah Peng mengawasi sendiri pemasangan batu nisan, bahkan membakar uang kertas sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Ia berdiri cukup lama di depan kubur sebelum pergi, meneguk tiga cawan arak dan kelihatannya meneteskan air mata.

Ketika meninggalkan kompleks tanah pekuburan itu, tengah hari pun belum menjelang.

Semua yang dia lakukan sangat wajar, semuanya merupakan pekerjaan yang dilakukan demi seorang sahabat yang telah meninggal, sedikit hal yang mencurigakan pun tidak ada.

Tapi tengah hari baru lewat, Lu-sam telah menyaksikan ketiga sosok mayat Oh Toa-leng.

Ooo)d*w(ooO Dengan sikap yang sangat tenang Pancapanah mendengarkan laporan anak mudanya, setelah termenung cukup lama ia baru mengangkat wajah dan bertanya kepada Siau-hong yang duduk di hadapannya.

"Kalau memang Lusam mengutus tiga orang untuk membunuhmu, mengapa ia tidak membiarkan mereka turun tangan bersama?"

"Sebetulnya aku sendiri pun tidak paham,"

Jawab Siauhong.

"Tapi sekarang aku sudah memahami niatnya."

"Coba kau jelaskan."

"Pertama, jagoan lihai anak buah Lu-sam amat banyak jumlahnya, ketiga orang itu bukan kekuatan utama untuk melakukan penyerangan, mati-hidup mereka sama sekali tak dipedulikan Lu-sam."

"Betul."

"Kedua, sekalipun mereka bertiga turun tangan bersama, belum tentu mereka dapat membunuhku, apalagi kemungkinan aku pun mempunyai teman yang membantu."

"Betul,"

Pancapanah mengangguk.

"Dalam hal ini aku yakin Lu-sam pun pasti dapat melihat dengan jelas, selama ini dia enggan melancarkan serangan total kepada kita lantaran dia tak pernah bisa menilai kekuatan kita sebenarnya, apalagi sama sekali tak mampu menemukan aku."

Pancapanah memang bagaikan segulung angin, jejaknya jauh lebih sukar dilacak ketimbang Lu-sam.

"Walaupun sasaran utama Lu-sam adalah aku, bukan kau,"

Ujar Pancapanah lebih jauh.

"Tapi sekarang dia pasti menduga kau adalah penyerang utama yang kuandalkan, oleh sebab itu dia harus menyelidiki dulu kemampuan ilmu silat yang kau miliki."

"Betul, tujuannya mengutus ketiga orang itu pasti bermaksud hendak menyelidiki kemampuan ilmu silatku."

Kemudian ia menambahkan.

"Aliran ilmu pedang yang dimiliki ketiga orang itu berbeda, cara mereka membunuh pun berbeda."

"Dia sengaja mengutus mereka, tujuannya tak lain adalah ingin melihat dengan cara apa kau menghabisi nyawa mereka, dari caramu bertindak akan ketahuan aliran ilmu pedang yang kau miliki."

"Karena dia memang ingin sekali membunuhku dengan tangan sendiri,"

Kata Siau-hong sambil tertawa getir.

"Agar tercapai tujuannya ini, mengorbankan tiga nyawa tentu bukan masalah besar baginya."

"Bila dia benar-benar bertujuan begitu, berarti dalam setengah hari dia sudah harus dapat melihat jenazah mereka bertiga."

"Kenapa?"

"Sebab dia harus memeriksa mulut luka yang mematikan itu, dari sana baru bisa memahami caramu turun tangan,"

Pancapanah menerangkan.

"Apabila selisih waktunya kelewat lama, mulut luka itu tentu akan menyusut hingga berubah bentuk."

"Aku pun telah berpikir begitu,"

Kata Siau-hong "Ketika tempo hari Pek-hun-shiacu Yap Koh-seng mematas kutung setangkai bunga, dari bekas sayatan pada tangkai bunga itu Sebun Jui-soat dapat meraba tinggi-rendahnya ilmu pedang yang dia miliki."

"Cerita semacam ini bukan dongeng, bukan cerita menjelang tidur, seorang jago yang benar-benar sempurna ilmu pedangnya, dia pasti dapat melakukan hal semacam ini."

"Aku percaya, tapi aku tak percaya ilmu pedang yang dimiliki Lu-sam telah mencapai tingkat kesempurnaan seperti ini."

"Bukankah kau sendiri pun pernah berkata, jagoan yang menjadi anak buahnya banyak tak terhingga, sekalipun dia sendiri belum mampu, di sampingnya pasti ada jagoan yang sanggup berbuat begitu."

Siau-hong termenung sejenak, kemudian katanya.

"Sekarang aku jadi semakin tak mengerti."

"Apa yang tidak kau mengerti?"

"Kalau memang Lu-sam terburu-buru ingin melihat mulut luka yang mematikan di tubuh ketiga sosok mayat itu, mengapa salah satu anak buahnya justru terburu-buru ingin mengubur jenazah mereka?"

Sebuah persoalan yang penting sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijelaskan.

Namun Pancapanah seolah sudah mengetahui jawabannya.

Tiba-tiba ia berpaling ke arah orang yang barusan memberi laporan itu, kemudian bertanya.

"Ketiga sosok mayat itu dikubur di mana?"

"Di kaki bukit di luar kota."

"Siapa yang memilihkan bidang tanah kubur itu?"

"Seorang Suhu Hongsui, dia she Liu bernama Liu Samgan."

"Di hari biasa apa kesenangan orang ini?"

"Suka berjudi, dia selalu menganggap dirinya bukan saja getol berjudi bahkan bisa menghitung secara tepat, tapi sayangnya dari sepuluh kali main judi, sembilan kali di antaranya kalah total."

"Apakah dia selalu butuh banyak uang?"

"Benar."

Pancapanah segera tertawa dingin, mendadak ujarnya kepada Siau-hong seraya berpaling.

"Beranikah kau bertaruh denganku?"

"Bertaruh apa?"

"Aku berani bertaruh, saat ini manusia yang bernama Liu Sam-gan itu pasti sudah mati."

Pancapanah belum pernah bertemu dengan Liu Samgan, bahkan baru pertama kali ini mendengar namanya disebut orang.

Tapi ia berani bertaruh, bukan saja saat ini orang itu sudah mati, bahkan ia berani bertaruh orang ini tewas pada satu jam berselang.

Dia mengajak Siau-hong bertaruh apa saja, bahkan caranya bertaruh pun sangat ngawur.

Namun Siau-hong menolak untuk bertaruh.

Biarpun Siau-hong tak tahu dengan cara apa dia bisa mengetahui Liu Sam-gan telah tewas, tapi ia tahu, belum pernah Pancapanah melakukan pekerjaan yang tidak diyakininya.

Siau-hong percaya, bila Pancapanah berani bertaruh dengan orang lain, dia pasti tak bakal kalah.

Ternyata tak salah, Pancapanah memang tidak kalah.

Liu Sam-gan betul-betul sudah mati, mati di atas pembaringan sendiri.

Tidak sampai setengah jam, orang yang diutus untuk melakukan penyelidikan telah kembali, membuktikan kebenaran peristiwa itu.

"Liu Sam-gan tewas ditusuk tenggorokannya dengan sebatang sumpit, orang yang membunuhnya bertindak bersih tanpa meninggalkan jejak atau bekas apa pun, malah orang yang berada di seputar sana sama sekali tak mendengar suara gaduh."

Pancapanah sedikit pun tidak merasa heran, semua kejadian sudah berada dalam dugaannya. Yang keheranan justru Siau-hong. Tak tahan dia pun bertanya kepada Pancapanah.

"Dari mana kau bisa tahu kalau dia pasti sudah mati?"

Pancapanah tidak menjawab, dia hanya tertawa hambar.

"Masih ada satu hal lagi yang ingin kupertaruhkan denganmu, mau bertaruh apa saja tak masalah,"

Katanya.

"Kali ini persoalan apa yang ingin kau pertaruhkan?"

"Aku berani bertaruh ketiga buah peti mati Oh Toa-leng dan kawan-kawan saat ini sudah tidak berada di dalam liang kuburnya."

Sambil berpaling ke arah Siau-hong, tambahnya.

"Percayakah kau?"

Siau-hong tidak percaya.

Orang mati sudah dimasukkan ke dalam peti mati, peti mati pun sudah masuk ke liang kubur, bagaimana mungkin secara tiba-tiba bisa menghilang?

Atas dasar apa Pancapanah berani menantangnya bertaruh?

Hampir saja Siau-hong tak kuasa menahan diri dan menerima tantangannya itu.

Masih untung ia dapat menguasai diri.

Sebab kalau dia benar-benar bertaruh maka dia segera akan menderita kekalahan, berapa pun yang dia pertaruhkan bakal habis.

Ternyata peti mati Oh Toa-leng bertiga benar-benar sudah tidak berada di dalam liang kubur mereka.

Liang kubur itu dalam keadaan kosong.

Tiga buah peti mati yang terbuat dari kayu berkwalitas tinggi tentu saja lenyap dari tempat itu.

Lalu ke mana perginya ketiga buah peti mati itu?

Banyak kejadian aneh di dunia ini yang tampaknya rumit dan membingungkan, padahal jawabannya terkadang justru sangat sederhana.

Begitu pula dalam kejadian ini.

Ternyata peti mati itu sudah diangkut orang melalui lorong bawah tanah.

Di bawah tanah kubur di kaki bukit itu rupanya sudah disiapkan lorong bawah tanah yang amat panjang.

Terdengar Pancapanah bertanya lagi kepada Siau-hong.

"Sekarang tentunya kau sudah paham bukan, mengapa aku berani memastikan Liu Sam-gan telah mati?"

Siau-hong membungkam, sama sekali tak bersuara.

Sekalipun dia sudah mengerti pun tak bakal buka suara.

Karena dia menyadari sesuatu, selama berada di hadapan Pancapanah lebih baik dia tutup mulut rapat-rapat.

Karena itu terpaksa Pancapanah memberi penjelasan sendiri.

"Orang yang bertugas mengubur ketiga peti mati itu bernama Sah Peng, biarpun dia tak ternama dalam dunia persilatan, namun orang itu justru salah satu pembantu yang paling diandalkan Lu-sam."

Siau-hong telah mengetahui hal ini.

"Sejak awal dia telah menyiapkan tanah pekuburan itu, di bawahnya telah digali lorong bawah tanah yang sangat panjang,"

Kembali Pancapanah menjelaskan.

"Untuk menghindari agar kita tidak dicuriga, maka dicarinya Liu Sam-gan sebagai tameng."

Ia berhenti sejenak, kemudian tambahnya.

"Saat ini Liu Sam-gan sedang butuh uang, maka Sah Peng pun membelinya dengan sejumlah uang, tentu saja setelah urusan beres, dia pun dibunuh untuk menutup mulut."

Menggunakan sebatang sumpit untuk membunuh seseorang tanpa menimbulkan suara gaduh, tak diragukan cara Sah Peng turun tangan jauh lebih tepat sasaran, jauh lebih keji daripada cara Masa melancarkan serangan.

"Akan tetapi kecerdasan otaknya jauh lebih menakutkan daripada caranya melakukan pembunuhan,"

Ujar Pancapanah lagi.

"Karena dia mampu menemukan cara seperti ini."

Cara ini tak disangkal merupakan satu-satunya cara untuk meloloskan diri dari pelacakan dan pengejaran anak buah Pancapanah.

Dan hanya dengan cara ini pula, ketiga sosok mayat itu dapat diantar ke tempat tinggal Lu-sam dalam waktu yang paling singkat.

Akhirnya Siau-hong buka suara, ujarnya.

"Bagaimana pun juga, ketiga buah peti mati yang berisikan tiga sosok mayat itu tak mungkin terbang sendiri, mau dikirim ke mana pun ketiga buah peti mati itu pasti ada orang yang menggotongnya."

"Betul."

"Untuk menggotong tiga buah peti mati yang begitu berat, mau menuju ke mana pun, sedikit banyak mereka pasti akan meninggalkan jejak." .

"Menurut akal sehat seharusnya memang demikian."

"Mengapa kita tidak melakukan pengejaran berdasarkan jejak yang ditinggalkan?"

"Bila kau ingin melakukan pengejaran, kami segera akan berangkat,"

Kata Pancapanah.

"Hanya saja aku tetap ingin menantangmu untuk bertaruh satu kali."

"Bertaruh apa?"

"Aku berani bertaruh mereka pasti tak akan berhasil melacak jejak ketiga peti mati itu."

Kali ini Siau-hong masih tetap menolak untuk bertaruh.

Kalau kuburan itu terletak di sebelah selatan kompleks tanah pekuburan, maka jalan keluar dari lorong rahasia itu berada di sisi utara bukit.

Di seputar mulut gua tentu saja tertinggal banyak jejak.

Karena di sekitar tempat itu baik berupa tanah berumput atau tanah lumpur, untuk mengangkut tiga buah peti mati yang berat pasti akan meninggalkan banyak jejak di atas permukaan tanah.

Terlepas mereka mau digotong oleh manusia maupun diangkut dengan kereta.

Akan tetapi bila kali ini Siau-hong menerima tantangan Pancapanah untuk bertaruh, maka Siau-hong tetap bakal kalah.

Sebab tak jauh dari pintu lorong itu terdapat sebuah sungai kecil, meskipun arus airnya tidak begitu deras, namun tidak sulit untuk mengangkut ketiga buah peti mati itu dengan menggunakan rakit yang terbuat dari kulit kambing.

Mau air sungai, air telaga ataupun air laut, di atas air tak mungkin akan meninggalkan jejak apa pun.

Seseorang yang sedang dikejar, asal dia terjun ke dalam air maka biar dilacak anjing pemburu yang paling hebat, memperoleh pendidikan paling disiplin pun, jangan harap jejaknya akan terendus lagi.

Langit nan biru, pegunungan nan hijau, aliran sungai dengan arus yang perlahan, ada sederet daun kering mulai berguguran dari sebatang pohon besar.

Di bawah pohon berkerumun manusia, manusia dalam jumlah banyak...

hanya ada manusia, tak ada peti mati.

Ketika Siau-hong dan Pancapanah baru berjalan keluar dari lorong bawah tanah, seseorang segera datang menghampiri mereka.

Seseorang yang amat tahu aturan, caranya berjalan amat beraturan, pakaiannya beraturan, lagak maupun caranya berbicara sangat beraturan, pekerjaan dan perbuatan apa pun yang dilakukan, tak pernah meninggalkan kesan berlebihan.

Dahulu Siau-hong pernah bertemu dengan manusia semacam ini, tapi dia sama sekali tak menyangka akan bertemu lagi dengan manusia semacam ini di tempat seperti ini pula.

Congkoan atau pegawai suatu keluarga persilatan kenamaan, Ciangkwe sebuah rumah makan yang tersohor dan bersejarah, seringkali merupakan orang-orang semacam ini.

Karena biasanya mereka berasal dari seorang kacung kecil, sejak masih kecil sudah mendapat pendidikan yang luar biasa disiplin dan ketatnya, harus berjuang dan bersusah payah merangkak sebelum akhirnya berhasil mencapai posisi semacam ini sekarang.

Maka dari itu mereka tak akan melakukan perbuatan yang melampaui aturan, tak akan membuat siapa pun merasa muak dan benci.

Manusia semacam ini mengapa bisa muncul di tempat seperti ini?

Kini orang itu telah berjalan mendekat, sambil tersenyum memberi hormat kepada Siau-hong dan Pancapanah.

"Hamba Lu Kiong,"

Katanya.

"Lu dari huruf mulut yang ditumpuk dan Kiong yang berarti menghormati."

Meskipun senyuman dan sikapnya sangat menghormat, namun memberi kesan sedikit tengik.

"Sam-ya secara khusus mengutus hamba untuk menanti kedatangan kalian berdua."

"Sam-ya?"

Tanya Siau-hong.

"Lu-sam maksudmu?"

"Benar."

"Kau tahu siapakah kami?"

"Hamba tahu."

"Mau apa dia perintahkan kau menunggu kami di sini?"

Kembali Siau-hong bertanya.

"Apakah ingin mengajak kami pergi menemuinya?"

"Terus terang, biarpun hamba sudah bertahun-tahun mengikuti Sam-ya, namun hamba belum pernah tahu dengan jelas di mana Sam-ya berada."

Ia berbicara dengan tulus dan jujur, sekalipun seorang wanita yang besar rasa curiganya pun pasti akan beranggapan bahwa dia bukan sedang bicara bohong.

Yang lebih aneh lagi, perempuan yang banyak curiga terkadang justru merupakan orang pertama yang mempercayai persoalan yang tidak dipercayai orang lain, mempercayai masalah yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Siau-hong maupun Pancapanah tidak mengidap penyakit banyak curiga.

Mereka bukan kaum wanita.

Tapi mereka percaya semua perkataan yang diucapkan Lu Kiong bukan kata-kata bohong sebab orang yang berbohong di hadapan mereka segera akan ketahuan.

Karena itu kembali Siau-hong bertanya.

"Ada urusan apa Lu-sam minta kau datang mencari kami?"

"Sudah cukup lama Sam-ya beradu kemampuan dengan kalian berdua, telah lama beliau tak pernah saling bersua dengan kalian,"

Kata Lu Kiong.

"Oleh sebab itu, dia sengaja mengutus hamba untuk menunggu kedatangan kalian berdua di sini dan secara khusus mengundang kalian untuk bersantap."

"Dia mengundang kami bersantap?"

"Benar, hanya sebuah undangan makan biasa, sebagai pertanda rasa hormat kami."

Mengapa Lu-sam mengundang makan Pancapanah dan Siau-hong?

Mungkinkah langkah yang diambil pun merupakan sebuah perangkap?

Apakah di dalam hidangan telah mereka campuri dengan racun jahat tanpa wujud, tanpa bentuk, tanpa bau?

Siau-hong memandang ke arah Pancapanah, Pancapanah pun memandang ke arah Siau-hong.

"Pergi ke sana?"

"Aku akan pergi, aku pasti akan ke sana,"

Jawab Pancapanah.

"Kenapa?"

"Karena sudah lama aku tak pernah diundang orang makan."

Lu Kiong tidak berbohong, Lu-sam memang mengundang Siau-hong dan Pancapanah untuk bersantap.

Tapi ditinjau dari sudut pandang lain, undangan makanan ini justru sangat istimewa.

Pancapanah adalah seseorang yang sangat istimewa, dia suka menyendiri, suka berkelana.

Selama ini dia sudah terbiasa hidup seorang diri di tengah gurun yang sepi, kejam dan tak berperasaan, dengan jagat raya sebagai selimut, tanah dataran sebagai ranjang, asal bisa digunakan untuk menangsal perut, dia akan melahap semuanya.

Karena dia harus melanjutkan hidup.

Tapi yang paling dia sukai bukanlah daging, rangsum kering atau kue dan sebangsanya.

Dia paling suka dengan bawang, sejenis bawang yang punya rasa khas, bawang sebagai teman nasi, khususnya nasi putih yang baru keluar dari kuali.

Bagi seseorang yang sepanjang tahun hidup bergelandangan di tengah gurun, nasi putih merupakan hidangan paling istimewa yang dirindukan.

Hidangan yang disiapkan Lu Kiong atas perintah Lusam tak lain adalah nasi putih dan bawang.

Siau-hong pun seorang pengembara.

Seorang pengembara yang tak punya akar seperti daun yang berguguran terhembus angin, seperti enceng gondok yang terapung di atas permukaan air.

Tapi setiap kali tersadar dari mabuk di tengah malam buta, di saat ia tak bisa memejamkan mata, yang paling dipikirkan saat itu adalah rumahnya, ibunya.

Dia pun pernah punya rumah.

Rumahnya sederhana dan miskin, nyaris sulit baginya untuk hidup menikmati daging.

Tapi cinta kasih seorang ibu terhadap putra tunggalnya selalu tak pernah akan berubah walau dikarenakan alasan apa pun.

Ibunya seperti ibu-ibu yang lain, selalu berharap putranya dapat tumbuh tinggi besar, sehat, dan kuat.

Oleh sebab itu asal ada kesempatan, ibunya selalu akan membuatkan hidangan kecil yang lezat dan bergizi untuk dirinya.

Orak-arik telur, daging cacah masak Pek-cay, osengoseng kecap pedas, telur asin daging kukus.

Semua hidangan itu hanya hidangan kecil yang amat sederhana di wilayah Kang-lam, tapi merupakan hidangan yang paling disukai Siau-hong semasa kecil dulu.

Ternyata Lu-sam memerintahkan Lu Kiong untuk menyiapkan hidangan itu.

Selain daripada itu, tentu saja Lu-sam pun menyiapkan arak untuk mereka berdua.

Walaupun setiap peminum arak mempunyai kegemaran dan minuman favorit yang berbeda, tapi arak yang benarbenar jempolan pasti akan disukai setiap orang.

Arak yang disiapkan Lu-sam untuk mereka berdua benar-benar semacam arak yang berkwalitas tinggi, asal kau seorang peminum, pasti akan suka arak wangi ini.

Pancapanah meneguk dulu satu cawan, kemudian baru bertanya kepada Lu Kiong yang melayani di sisinya.

"Apakah kau merasa keheranan?"

"Heran soal apa?"

"Heran, karena aku tak kuatir arak ini sudah dicampuri racun jahat?"

"Hamba tidak merasa heran,"

Jawab Lu Kiong.

"Sebab jika Sam-ya mencampurkan racun dalam arak hanya untuk membokong panah sakti panca bunga, bukankah perbuatannya itu sama artinya dengan memandang diri sendiri kelewat rendah?"

"Tepat sekali,"

Kembali Pancapanah meneguk secawan arak.

"Kau memang tak malu mengikuti Lu-sam selama banyak tahun, hanya saja kau masih tetap salah mengartikan satu hal."

"Soal apa?"

"Kau sangka Lu-sam benar-benar ingin mengundang kami untuk bersantap?"

"Memangnya bukan?"

"Tentu saja bukan!"

Tegas Pancapanah.

"Dia mengundang kami bersantap tak lain agar kami memahami satu hal, yakni dia sangat mengetahui segala sesuatu tentang kami, bahkan hidangan dan kesukaan kami pun dia ketahui dengan sejelas-jelasnya."

Setelah menghela napas, tambahnya.

"Orang lain mengatakan Po Eng adalah seorang jagoan hebat, padahal Lu-sam pun sama saja."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Mendadak Siau-hong bertanya.

"Aku?"

Sekali lagi Pancapanah menghela napas.

"Bila kau bertanya manusia macam apakah diriku, maka kau telah salah bertanya."

"Kenapa?"

"Karena aku sendiri pun tak pernah bisa memahami tentang diriku sendiri."

Pancapanah tidak membiarkan Siau-hong bertanya lebih lanjut, balik tanyanya.

"Bagaimana dengan kau sendiri? Tahukah kau manusia macam apakah dirimu sendiri?"

Siau-hong tidak menjawab, Pancapanah telah mewakilinya menjawab.

"Kau adalah manusia aneh, seorang yang sangat aneh."

"O, ya?"

"Kau adalah orang Kangouw, seorang pengembara, sering kali harus mengadu nyawa dan bercucuran darah hanya gara-gara urusan orang lain."

Siau-hong mengakui akan hal itu.

"Kau suka minum arak, suka perempuan, supel, emosional,"

Ujar Pancapanah lebih lanjut.

"Tapi barusan aku tiga kali menantangmu bertaruh, tak sekalipun kau terima tantanganku itu."

"Aku tak suka bertaruh."

"Justru karena kau tak suka bertaruh, maka aku baru heran,"

Sela Pancapanah.

"Padahal tak seorang pun di antara manusia macam kau yang tidak suka bertaruh."

"Sebenarnya aku pun senang bertaruh, hanya saja aku bertaruh dengan semacam manusia."

"Sahabatmu?"

"Salah! Aku hanya minum arak bersama temanku."

"Lalu dengan manusia macam apa kau bertaruh?"

"Musuhku!"

"Apa yang sering kalian pertaruhkan?"

"Bertaruh nyawa."

Pancapanah tertawa lebar.

"Aku memahami maksudmu, tapi belum paham benar manusia macam apa dirimu itu,"

Katanya.

"Memangnya aku masih memiliki sesuatu yang aneh?"

Tanya Siau-hong.

"Tentu saja ada,"

Jawab Pancapanah.

"Ada banyak lelaki yang selalu memandang penting kaum wanita daripada teman, tapi kau berbeda."

"O, ya?"

"Sikapmu terhadap sahabatmu memang selalu hebat, tapi sikapmu terhadap perempuanmu sangat jelek, peduli perempuan itu kau sukai atau tidak, semuanya sama saja."

"O, ya?"

"Semisal Yang-kong. Dia seharusnya terhitung sahabatmu."

Siau-hong mengakui.

"Tapi selama dua hari ini, kau selalu berusaha menghindari pertemuan dengannya,"

Kata Pancapanah.

"Hal ini dikarenakan dia adalah seorang wanita, bahkan sedikit banyak kau agak menyukainya."

Siau-hong tidak menyangkal.

"Ada lagi Soso,"

Ujar Pancapanah lebih jauh.

"Terlepas perempuan macam apakah dia, yang pasti dia telah melahirkan anak untukmu, terlepas dia datang karena apa, sekarang dia toh sudah datang."

Dia pun bertanya kepada Siau-hong.

"Tapi bagaimana sikapmu terhadapnya? Kau bertemu dia seakan bertemu setan hidup saja, asal kau lihat dia datang menghampirimu, kau pun langsung melarikan diri."

Siau-hong terbungkam, tidak menjawab. Tapi ia tidak menutup mulutnya rapat-rapat, karena dia meneguk araknya cawan demi cawan, orang yang menutup mulut rapat-rapat tentu saja tak bisa minum arak.

"Masih ada Che Siau-yan,"

Untuk kesekian kalinya Pancapanah berkata.

"Bagaimana pun juga, aku rasa sikapnya terhadapmu cukup baik, tapi bagaimana sikapmu terhadapnya?"

Setelah menghela napas, lanjutnya.

"Ketika ia pergi, kau sama sekali tidak menegur atau bertanya apa-apa kepadanya, kau seolah sama sekali tak menaruh perhatian, tak peduli ke mana dia mau pergi, tak peduli matihidupnya."

Tiba-tiba Siau-hong meletakkan cawan araknya, kemudian sambil menatap tajam wajah Pancapanah, katanya.

"Sekalipun aku perhatikan mereka, lalu apa gunanya? Apa yang bisa kukatakan kepada mereka? Dapat melakukan apa untuk mereka?"

"Tapi paling tidak kau seharusnya memberikan sedikit pernyataan atau perhatian? Pernyataan kalau kau kuatir dan perhatian terhadap mereka."

"Dengan cara apa aku harus memberikan pernyataan itu?"

Kembali Siau-hong memenuhi cawannya dengan arak.

"Kau minta aku berlutut, berlutut di hadapan mereka, mohon mereka memaafkan aku atau menumbukkan kepalaku ke tembok, menumbukkan kepalaku hingga berdarah-darah?"

Pancapanah tak mampu berbicara lagi. Kelihatannya Siau-hong sudah mulai mabuk.

"Sekalipun aku melakukan semua itu, lalu kelakuanku itu bisa menandakan apa?"

Kepada Pancapanah tanyanya lebih jauh.

"Apakah aku harus berbuat begitu baru dapat dianggap sebagai suatu pernyataan cintaku kepada mereka?"

Pancapanah tak sanggup menjawab. Kembali Siau-hong bertanya.

"Bila kau jadi aku, apakah kau akan berbuat begitu?"

"Tidak!"

Akhirnya Pancapanah menghela napas panjang.

"Aku tak akan melakukan hal itu."

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku pun akan seperti dirimu, apa pun tidak kulakukan,"

Pancapanah memenuhi juga cawannya dengan arak.

"Bila tiba saat terdesak, mungkin kita akan pergi mati demi mereka, tapi dalam keadaan sekarang, kita memang tak perlu melakukan apa pun."

Mimik wajahnya berubah berat dan serius, terusnya.

"Seorang lelaki, seorang yang benar-benar lelaki, terkadang urusan apa pun akan dia lakukan, tapi terkadang terhadap urusan apa pun dia tak akan melakukannya."

"Betul, memang begitulah."

Pancapanah kembali menghela napas panjang, dia mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya.

"Mungkin inilah kepedihan yang harus dialami oleh manusia macam kita."

Lu kiong yang selama ini berdiri melayani mereka tibatiba ikut menghela napas panjang.

"Padahal setiap orang tentu memiliki kepedihan,"

Katanya.

"Seperti contohnya manusia macam hamba, walaupun kami harus menumpang hidup dan setiap saat jiwa kami akan melayang, namun kami pun memiliki kepedihan yang mengganjal hati."

"Kalau begitu tak ada salahnya kau katakan."

"Hamba tak dapat mengatakannya."

"Kenapa?"

"Karena manusia macam hamba, melakukan perbuatan apa pun selalu tak bebas, biarpun dalam hati merasa sedih, perasaan itu hanya boleh tersimpan dalam hati dan tak boleh diungkap,"

Kata Lu Kiong "Mungkin inilah kesedihan terbesar bagi manusia macam kami."

Tiba-tiba parasnya memperlihatkan perubahan yang sangat aneh, seolah-olah dia telah mengambil keputusan.

"Tapi biarpun orang semacam itu suatu ketika dapat melakukan satu-dua macam perbuatan yang dia sendiri pun tak habis mengerti, mengucapkan beberapa kata yang mungkin dia sendiri kebingungan, meski setelah mengatakannya jelas dia akan menyesal, namun dia tetap akan mengutarakannya."

"Apa yang ingin kau katakan?"

Tanya Siau-hong.

"Barusan apakah kalian berdua menyinggung soal nona Che?"

"Benar."

"Nona Che Siau-yan yang kalian maksudkan apakah dahulu lebih suka berdandan menjadi anak lelaki?"

"Benar."

"Bila dia yang kalian maksudkan, maka mulai sekarang kalian tak perlu menguatirkan keselamatan jiwanya lagi."

"Kenapa?"

Tanya Siau-hong lagi.

"Karena saat ini dia hidup berkecukupan,"

Kata Lu Kiong sambil tertawa, tertawa yang sangat dipaksakan.

"Mungkin jauh lebih baik daripada apa yang kalian bayangkan."

Siau-hong menatapnya, lewat lama baru bertanya.

"Tahukah kau di mana dia sekarang?"

"Hamba tahu."

"Bisa dikatakan?"

Kembali Lu Kiong termenung cukup lama, akhirnya dia menghela napas panjang.

"Sebetulnya hamba tak ingin mengatakannya, tapi sekarang rasanya aku harus mengatakannya."

Katanya lebih jauh.

"Nona Che telah diterima Sam-ya menjadi adik angkatnya, bahkan Sam-ya telah menjadi walinya untuk mencarikan dia jodoh yang cocok."

Paras Siau-hong sama sekali tak berubah, bahkan reaksi sedikit pun tak ada, dia hanya menghabiskan tiga cawan arak, meneguk dengan sangat cepat.

"Mau tunangan?"

Sehabis meneguk tiga cawan arak, Siau-hong baru bertanya.

"Dia tunangan dengan siapa?"

"Hamba pun kurang jelas,"

Sahut Lu Kiong.

"Hamba hanya tahu calon suaminya adalah seorang jago pedang ilmu pedangnya sangat hebat, konon sudah menjadi jago pedang nomor wahid di kolong langit."

"Triiiing!", cawan arak di tangan Siau-hong hancur berkeping.

"Tokko Ci?"

Tanyanya.

"Apakah orang yang kau maksud adalah Tokko Ci?"

"Rasanya memang dia."

Siau-hong tidak bertanya lagi, dia pun tidak buka suara lagi.

Mulutnya seolah-olah telah dibekap oleh sebuah tangan yang tak berwujud, dijahit dengan jarum yang tak terlihat, bukan saja tidak bicara lagi, arak pun tidak diminum lagi.

Sementara Pancapanah tak tahan, segera berseru.

"Jadi sekarang Tokko Ci berada bersama Lu-sam?"

"Mereka memang sahabat karib, selama ini Sam-ya selalu menaruh hormat kepadanya."

Kemudian setelah berpikir sejenak, ujarnya lagi.

"Tokkosianseng memang manusia aneh, sekembalinya kali ini dia seperti berubah semakin aneh, setiap hari dari pagi hingga malam dia selalu duduk kaku di situ, sepatah kata pun tak pernah bicara, hingga melihat kemunculan nona Che, keadaannya baru sedikit mendingan."

Pancapanah tertawa dingin, sambil berpaling ke arah Siau-hong, katanya.

"Sekarang aku baru paham."

"O, ya?"

Ooo)d*w(ooO BAB 40. RAHASIA RUMAH KAYU "Lu-sam minta Oh Toa-leng bertiga menjajal ilmu pedangmu, karena Tokko Ci ternyata berada di sini."

"Oh?"

"Kalau dibilang di kolong langit masih ada orang yang dapat melihat ilmu pedangmu dari mulut luka mereka yang mampus, tak diragukan lagi orang itu pastilah Tokko Ci."

"Oh?"

Tiba-tiba Pancapanah menghela napas panjang katanya.

"Kau tak boleh ke sana, sama sekali tak boleh ke sana."

"Tak boleh ke mana?"

Tanya Siau-hong bingung.

"Sebenarnya aku telah mengambil keputusan, asal ada berita tentang Lu-sam, maka aku segera akan memimpin anak buahku untuk melancarkan serangan, tapi sekarang kau sudah tak boleh ikut."

"Kenapa?"

"Kau seharusnya tahu kenapa?"

"Aku tidak tahu."

"Ada Che Siau-yan dan Tokko Ci di sana, bukankah kau hanya akan mengantar kematian."

Siau-hong termenung, lewat lama sekali, tiba-tiba ia tertawa, tiba-tiba tanyanya kepada Pancapanah.

"Orang semacam kita ini, apakah setelah mati bakal masuk neraka?"

Pancapanah tak dapat menjawab, dia pun tak ingin menjawab, tapi ujarnya juga.

"Aku hanya tahu, kita pasti mempunyai banyak teman yang berada dalam neraka, oleh sebab itu bila mati nanti, aku lebih suka masuk ke dalam neraka."

Siau-hong tertawa terbahak-bahak.

"Begitu pula dengan aku,"

Katanya.

"Kalau neraka pun telah siap kita datangi, tempat mana lagi yang tak boleh dikunjungi?"

Banyak orang suka tertawa.

Ada banyak orang disukai, orang yang disukai semuanya akan tertawa, tertawa gembira.

Karena tertawa seperti bedak wangi yang mahal harganya, bukan saja dapat membuat tampil cantik, juga dapat membuat orang merasa gembira.

Tapi tertawa pun ada banyak macam.

Ada orang menggunakan nyanyian lantang sebagai pengganti menangis, ada orang menggunakan tertawa kalap sebagai pengganti nyanyian, ada orang yang suara tertawanya bahkan jauh lebih pedih dan mengenaskan daripada tangisan, ada pula yang suara tertawanya mungkin lebih gusar dari auman amarah.

Menanti Siau-hong selesai tertawa, tiba-tiba Pancapanah bertanya kepada Lu Kiong.

"Apakah kau pun sering tertawa?"

"Aku jarang tertawa."

"Kenapa?"

"Karena sering kali aku tak bisa tertawa,"

Sahut Lu Kiong.

"Terkadang aku ingin tertawa, tapi tak bisa tertawa, tak berani tertawa."

Pancapanah menatapnya tajam, sampai lama kemudian dia baru mengucapkan perkataan yang sangat aneh.

"Kalau begitu aku berharap sekarang juga kau tertawa, sekalipun tak ingin tertawa pun kau harus tertawa."

"Kenapa?"

"Sebab kalau sekarang kau tidak tertawa, lain kali meski kau benar-benar ingin tertawa pun mungkin sudah tak dapat tertawa."

Lu Kiong memang ingin sekali tertawa, namun otot dan kulit wajahnya tiba-tiba jadi kaku.

"Kenapa?"

Kembali tanyanya.

"Pernahkah kau melihat orang mati tertawa?"

Pancapanah balik bertanya.

"Belum pernah."

"Tentu saja belum pernah,"

Suara Pancapanah sedingin es.

"Karena hanya orang mati yang benar-benar tak bisa tertawa."

"Tapi sekarang rasanya aku belum mati."

"Betul, tentu saja sekarang kau belum mati,"

Kata Pancapanah.

"Tapi pernahkah kau berpikir, berapa lama aku akan membiarkan kau hidup?"

Paras Lu Kiong sama sekali tak berubah, karena wajahnya sudah tak bisa berubah jadi lebih jelek dan tak sedap dipandang. Paras Siau-hong yang berubah, tak tahan tanyanya kepada Pancapanah.

"Kau ingin dia mati?"

"Sedap orang tentu akan mati,"

Jawab Pancapanah hambar.

"Lebih lambat sedikit apa manfaatnya? Lebih cepat sedikit apa pula salahnya?"

"Tapi aku tak habis mengerti mengapa kau ingin membunuhnya?"

"Karena ada beberapa persoalan aku pun tak mengerti...."

"Soal apa?"

"Ada banyak persoalan yang tidak kupahami,"

Kata Pancapanah.

"Yang terutama adalah aku tak habis mengerti kenapa Lu-sam mengutus manusia semacam dia untuk menahan kita."

"Kau anggap dia bermaksud menahan kita?"

"Tentu saja, hanya manusia macam dia yang dapat menahan kita."

"Kenapa?"

"Karena bukan saja dia tahu aturan dan sopan, bahkan pandai sekali mengungkap suara hati seseorang. Hanya manusia yang tulus dan jujur yang bisa menahan kita."

Kepada Siau-hong tanyanya.

"Tapi apa sebabnya Lu-sam menahan kita di sini? Apakah lantaran dia kuatir kita melacaknya lebih jauh? Ataukah karena dia sudah menyiapkan perangkap di sekitar tempat ini?"

Di sepanjang pesisir sungai berkumpul banyak orang, ada yang sedang membuat api, ada yang sedang memasak air, tapi paling banyak orang sedang memasak sayur, karena setiap hidangan harus dimasak oleh seorang ahli, seorang ahli dalam memasak jenis hidangan itu.

Pancapanah memandang sekejap sekitar sana, lalu katanya.

"Jago lihai yang membunuh orang tak berkedip belum tentu bisa membuat api memasak air, juga belum tentu bisa membuat hidangan lezat atau mengiris daging, tapi orang yang bisa membuat api, memasak air, mengiris daging belum tentu bukan jagoan lihai yang membunuh orang tak berkedip."

Kepada Siau-hong tanyanya.

"Benarkah perkataanku ini?"

Siau-hong tak bisa mengatakan salah. Pancapanah memperhatikan seorang lelaki kekar berkepala botak dan berbaju hijau yang sedang menjepit arang panas.

"Mungkin saja orang ini adalah seorang jago lihai dari dunia persilatan. Bisa jadi jepitan arang yang berada dalam genggamannya merupakan sebuah senjata yang lihai dan maha dahsyat,"

Katanya.

"Sedangkan orang yang sedang memanggangkan daging bercampur bawang itu bisa jadi di waktu lain sering memanggang daging manusia."

Siau-hong tak bisa mengatakan kalau hal itu tidak mungkin.

"Bisa jadi setiap saat orang-orang ini akan melancarkan serangan terhadap kita, bisa juga setiap saat akan mencincang kita jadi irisan daging tipis atau memanggangnya jadi daging panggang,"

Kepada Siau-hong tanya Pancapanah kemudian.

"Betul bukan perkataanku ini?"

Bagaimana mungkin Siau-hong bisa mengatakan salah? Tiba-tiba Pancapanah tertawa.

"Hanya saja belum tentu mereka pasti akan melakukan hal ini, mungkin tempat ini bukanlah sebuah perangkap, mungkin ketiga buah peti mati itu sudah pergi jauh, mungkin tidak kuatir terkejar oleh kita, karena itulah aku baru merasa agak keheranan."

"Apa yang kau herankan?"

"Heran mengapa Lu-sam bisa mengutus seorang yang begitu tahu aturan, begitu sopan, bahkan pandai bicara jujur untuk melayani kebutuhan kita di tempat ini,"

Sahut Pancapanah.

"Oleh karena itu, aku ingin bertanya kepadanya."

"Kau sangka dia tahu?"

"Mungkin dia memang tak tahu, sekalipun tahu pun belum tentu dia bersedia mengatakannya."

Siapa pun pasti yakin dan percaya, semua anak buah Lusam pasti merupakan orang-orang yang bisa menyimpan rahasia rapat-rapat. Siau-hong sendiri pun percaya akan hal ini.

"Oleh sebab itu terpaksa aku harus membunuhnya,"

Pancapanah menghela napas panjang.

"Peduli dia tahu atau tidak, toh tak mungkin dia akan bicara terus terang, lalu kenapa aku tak boleh membunuhnya?"

Dia berpaling menatap Lu Kiong, lalu tambahnya.

"Ketika Lu-sam memerintahkan kau kemari, dia pasti telah terpikir begitu, bukan?"

Ternyata Lu Kiong mengakui.

"Sam-ya memang telah berpikir begitu."

"Lalu mengapa masih tetap mengutusmu kemari,"

Pancapanah merasa sedikit tercengang.

"Mengapa pula kau bersedia kemari?"

"Karena Sam-ya minta aku datang, maka aku pun datang,"

Jawab Lu Kiong.

"bila Sam-ya minta aku mati, aku pun akan mati."

"Aku sangat kagum kepadanya,"

Pancapanah mengangkat cawan dan meneguk habis isinya.

"Terhadap siapa saja yang bisa menyuruh orang lain mati demi dirinya, aku selalu merasa kagum."

Lu Kiong tertawa lebar. Sebetulnya di waktu biasa dia seringkali tak bisa tertawa, tapi sekarang dalam situasi seperti ini, dia justru tertawa tergelak.

"Tapi dia telah menduga, aku tak bakal mati."

"Oh?"

Pancapanah seperti makin keheranan.

"Dia benarbenar bisa memperhitungkan secara tepat kalau kau tak bakal mati?"

"Benar!"

"Atas dasar apa dia begitu yakin?"

"Karena Sam-ya telah memperhitungkan, orang semacam kalian berdua sebagai Enghiong, Hokiat, pasti tak akan membunuh seorang budak macam diriku, dan lagi kalian berdua membunuhku pun sama sekali tak ada gunanya."

"Memangnya dalam keadaan hidup kau berguna bagi kami?"

"Mungkin saja tak berguna,"

Kata Lu Kiong.

"Mungkin juga masih ada sedikit kegunaan."

"Sedikit yang mana?"

Mendadak Lu Kiong menutup mulut rapat-rapat, sepatah kata pun enggan berbicara lagi.

Dia hidup mungkin tak ada gunanya, mungkin juga masih ada sedikit kegunaan.

Sekarang walaupun dia enggan mengatakannya, mungkin di kemudian hari dia akan mengatakannya.

Tapi kalau sekarang dia mati, di kemudian hari bahkan mungkin untuk selamanya, dia tak akan berbicara lagi.

Lagi-lagi Pancapanah mengangkat cawannya sambil memuji.

"Aku pun sangat kagum kepadamu, sebab kau memang seorang yang pintar, aku selalu mengagumi orang pintar, selamanya tak pernah mau membunuh orang pintar."

Setelah menghela napas, tambahnya.

"Hanya saja secara kebetulan aku pernah membunuh beberapa orang di antaranya."

Tiba-tiba tanyanya kepada Siau-hong.

"Menurut dugaanmu, mungkinkah aku membunuhnya?"

Pada saat Pancapanah mengajukan pertanyaan itu, nyaris hampir pada saat yang bersamaan ada seseorang menggunakan pertanyaan yang sama, sedang bertanya kepada seorang yang lain.

Waktu itu orang yang mengajukan pertanyaan itu sedang berdiri di atas tebing sambil menghadap ke arah sungai, berada di depan sebuah jendela kecil yang sangat rahasia letaknya, dalam sebuah bangunan kecil yang rahasia, di antara batu karang dan balik pepohonan lebat.

Jarak orang itu dengan Pancapanah selisih jauh, jauh sekali.

Pancapanah tak dapat melihat dia, tapi semua gerakgerik Pancapanah seolah dapat dilihat orang itu dengan jelas sekali, bahkan semua pembicaraan Pancapanah pun seolah terdengar semua olehnya.

Orang itu adalah Lu-sam.

Di atas tebing di seberang sungai, di balik batu cadas, di tengah pepohonan lebat, terdapat sebuah bangunan kecil yang amat rahasia.

Sebuah bilik kayu yang kecil dan sukar ditemukan siapa pun.

Sekalipun ada orang yang menemukan tempat itu, belum tentu mereka menaruh perhatian, karena dilihat dari penampilannya, bangunan kecil itu sama sekali tidak memiliki keistimewaan yang memancing perhatian orang.

Sekalipun ada pelancong atau pemburu yang tersesat dan tanpa sengaja tiba di tempat itu pun, mereka tak akan menemukan suatu keistimewaan dari rumah kayu kecil ini, terlebih tak ada yang menyangka Hok-kui-sin-sian Lu-sam berdiam di sana.

Tapi Lu-sam memang berada dalam rumah kayu itu.

Bukan hanya Lu-sam, Che Siau-yan pun ada di sana.

Rumah kayu itu dibangun menggunakan kayu pohon Siong yang kuat dan kering, bukan saja tidak dicat, bangunan itu pun hanya memiliki sebuah jendela yang sangat kecil.

Di dalam rumah kayu itu terdapat sebuah ranjang kayu, sebuah meja kayu, tiga buah bangku kayu, sebuah almari kayu dan di bagian belakang dilengkapi sebuah dapur kecil.

Bila kau sering melakukan perjalanan di daerah pegunungan atau hutan, tentu sering melihat ada banyak rumah kayu semacam ini tersebar di atas perbukitan.

Biasanya tempat tinggal para pencari kayu, pemburu, pertapa serta orang pelarian berdiam di rumah semacam ini.

Namun bangunan rumah kayu ini sedikit berbeda.

Rumah kayu ini bukan tempat tinggal penebang kayu maupun pemburu, juga bukan tempat tinggal siapa pun.

Rumah kayu ini merupakan liang rahasia milik Lu-sam, bahkan boleh dibilang tempat rahasia terpenting di antara tempat-tempat rahasia lainnya.

Dinding kayu maupun meja tak ada yang dicat.

Che Siau-yan duduk di sebuah bangku kayu dekat meja yang tidak dicat, ia sedang mengawasi Lu-sam.

Gadis itu merasa amat keheranan.

Selama ini dia selalu menganggap dirinya adalah seorang yang pintar, jarang sekali urusan di dunia ini yang tidak dipahami olehnya.

Kenyataan dia memang pintar dan tahu segalanya.

Tapi kini dia tak habis mengerti, apa yang sebenarnya sedang dilakukan Lu-sam?

Waktu itu Lu-sam sedang berdiri di depan satu-satunya jendela bilik kecil itu, tangannya menggenggam sebuah tabung bulat kecil.

Sebuah tabung bulat kecil yang panjangnya sekitar 60 senti, besar ruasnya lebih besar sedikit dari cawan arak, tapi pada bagian ujungnya sedikit lebih ramping dari bagian badan.

Tabung bulat itu diambil Lu-sam dari dalam almari yang terbuat dari kayu.

Sebenarnya isi almari kayu itu hanya beberapa stel pakaian kasar, namun sewaktu jari tangan Lu-sam menekan suatu dalam almari itu, tiba-tiba dari balik almari terpental keluar selembar kayu, di bawah kayu tadi muncul sebuah laci kecil, laci bercahaya keemas-emasan itu dilengkapi tujuh buah gembok.

Dari dalam laci kecil yang terkunci itulah dia mengambil keluar benda berbentuk tabung bulat itu.

Sambil berdiri di depan jendela, Lu-sam memicingkan mata sebelah kirinya lalu menempelkan bagian tabung bulat yang kecil itu di atas mata kanannya, sedang bagian tabung yang lebih besar diarahkan keluar jendela.

Begitulah dia berdiri di sana dengan posisi tegak, agaknya sedang mengamati sesuatu, bahkan berdiri cukup lama.

Lu-sam memang orang yang tidak gampang memperlihatkan perubahan emosinya, jarang sekali ada orang yang bisa melihat perubahan mimik wajahnya serta menduga jalan pikirannya.

Tapi saat ini mimik mukanya menunjukkan banyak perubahan, seakan-akan dari balik tabung kecil itu dia dapat menyaksikan banyak kejadian yang menarik, seperti seorang bocah kecil yang memakai teropong.

Lu-sam sudah bukan anak-anak lagi.

Tentu saja teropong kecil itu bukanlah teropong mainan anak-anak.

Che Siau-yan benar-benar tak dapat menduga apa yang sedang disaksikan orang itu?

Dia pun tak habis mengeti apa yang sedang ia lakukan?

Tiba-tiba Lu-sam berpaling sambil tertawa, ia sodorkan teropong kecil itu ke tangan si nona.

"Kemarilah, coba kau ikut melihat."

"Melihat apa?"

Tanya Siau-yan.

"Melihat teropong kecil itu?"

Dengan cepat si nona menampik.

"Tidak, aku tak mau melihat."

Dia benar-benar tak habis mengerti, apa bagusnya melihat memakai teropong kecil itu. Tapi Lu-sam bersikeras menariknya untuk melihat.

"Kau harus melihatnya,"

Kata orang itu.

"Kujamin kau pasti akan melihat banyak kejadian yang menarik."

Siau-yan tidak percaya, tapi dia pun tidak lagi menampik.

Ketika ia meninggalkan Siau-hong dan memutuskan untuk bergabung dengan Lu-sam, gadis itu telah memutuskan untuk tidak bersikukuh dalam menghadapi setiap masalah.

Dia telah memutuskan untuk menjadi seorang gadis yang pintar dan penurut, sebab manusia semacam ini tak bakal rugi.

Sebuah teropong kecil yang terbuat dari bahan emas, bukan saja bagus bentuknya, di kedua sisi tabung dipenuhi dengan ukiran bunga terbuat dari emas murni, tak diragukan benda itu pasti mahal harganya, apa mau dibilang ia justru tak dapat menebak apa kegunaannya?

Lu-sam meminta Siau-yan untuk memegang teropong itu dengan gaya seperti yang dia lakukan tadi, menggunakan kedua belah tangannya memegang ujung atas dan ujung bawah tabung itu, kemudian setelah mengarah keluar jendela, mata kanannya ditempelkan di ujung teropong sementara mata kiri dipejamkan.

"Aku tahu, kau adalah seorang bocah perempuan yang teramat pintar,"

Ujar Lu-sam sambil tersenyum.

"Tapi aku berani jamin, kau pasti tak akan menyangka apa yang bisa kau lihat melalui teropong kecil ini."

Ternyata Siau-yan memang benar-benar tak menyangka.

Mimpi pun dia tak menyangka kalau melalui teropong kecil itu, dia dapat melihat Siau-hong.

Siau-hong, Siau-hong yang tak takut mati.

Dia selalu menganggap diri sendiri adalah seorang wanita yang tak berperasaan, jauh lebih tak berperasaan daripada perempuan mana pun di dunia ini.

Karena dia memang teramat pintar, sejak banyak tahun berselang dia sudah tahu kalau kelewat gampang jatuh cinta merupakan suatu kejadian yang sangat menderita.

Dia selalu berusaha untuk melupakan Siau-hong.

Tapi mana ada perempuan di dunia ini yang bisa melupakan lelaki pertama dalam hidupnya dalam waktu singkat?

Sejak ia menyaksikan sikap Siau-hong terhadap Yangkong dan Soso, menyaksikan perasaannya terhadap mereka berdua, ia telah mengambil keputusan, dia harus meninggalkan lelaki ini secepatnya.

Lelaki yang nekat ini seakan seorang tak berperasaan, tapi apa mau dikata, dia justru sangat berperasaan, dibilang sangat berperasaan, dia justru sama sekali tak berperasaan.

Secara diam-diam dia pun mengundurkan diri dari bilik kecil itu, mundur dari lingkaran mereka yang rumit, sebab dia tahu, bila tetap tinggal di sana, dia akan berubah semakin menderita, semakin risau, semakin pedih hatinya.

Selamanya dia enggan menyiksa diri sendiri.

Sejak saat itu dia sudah tak ingin lagi bertemu dengan Siau-hong.

Bertemu lebih baik tak berjumpa, sekalipun masih ada bibit cinta, biarlah bibit cinta itu dipendam sebagai kenangan di masa mendatang.

Tapi kini sewaktu dia menggunakan teropong kecil itu untuk mengintip, ternyata Siau-hong yang tak berperasaan tiba-tiba muncul lagi di depan mata.

Di bagian tengah teropong itu merupakan ruang kosong, sementara di kedua belah ujungnya ditempeli lembaran benda yang bening seperti kristal.

Ketika dia mengangkat teropong itu dengan menempelkan bagian yang ramping di atas mata kanannya dan mengarahkan ujung yang lebih kasar ke depan jendela.

Siau-hong si manusia nekat itu tahu-tahu sudah muncul di hadapan matanya.

Lu-sam mengawasi terus wajahnya, tidak jelas apakah dia ingin tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadap Siauhong dari perubahan wajah serta reaksinya.

Dia tahu, saat ini si nona pasti telah melihat Siau-hong namun gadis itu tidak menunjukkan perubahan apa pun, sedikit reaksi pun tak ada.

Tangannya masih tetap mantap seperti tadi, parasnya pun sama sekali tidak mengalami perubahan.

Che Siau-yan tahun ini baru berusia enam belas tahun, tapi dia telah melatih diri seolah sudah berusia lebih dari tujuh belas tahun.

Kepada Lu-sam dia hanya bertanya.

"Benda apakah ini?"

Yang dia tanyakan adalah teropong yang berada di tangannya.

"Aku sendiri pun tak tahu benda apakah itu,"

Jawab Lusam.

"Yang kuketahui benda ini berasal dari negeri Inggris yang jauh sekali dari sini, hingga kini belum ada nama untuk benda itu, sebab sejak dulu belum pernah benda ini beredar di daratan Tionggoan, hingga kini kecuali aku seorang hanya kau yang pernah melihatnya."

"O, ya?"

"Tapi sekarang benda itu sudah mempunyai sebuah nama,"

Dengan bangga Lu-sam tersenyum.

"Karena aku telah memberi sebuah nama untuk benda itu."

"Apa namanya?"

"Sebetulnya aku akan memberi nama Jian-li-gan-cing (Mata cermin seribu li),"

Ujar Lu-sam.

"Tapi nama itu kelewat udik, bahkan terdengarnya seperti benda mestika dalam dongeng."

Kemudian terusnya.

"Padahal ini bukan dongeng, benda itu nyata dan betul-betul bermanfaat, kegunaannya yang paling utama adalah bisa melihat tempat jauh seperti di depan mata, oleh sebab itu kuputuskan akan memberi nama Bong-wan-keng (cermin melihat jauh) untuk benda ini."

"Bong-wan-keng? Sebuah nama yang bagus,"

Puji Siauyan.

"Benda ini memang barang bagus."

Siau-yan sangat setuju.

"Oleh sebab itu benda dan nama pasti akan turuntemurun hingga ribuan tahun."

Biarpun Siau-yan sedang berbicara, namun matanya tak pernah bergeser dari teropong di tangannya, dia seakan tak mau melewatkan setiap gerak-gerik Siau-hong. Tiba-tiba Lu-sam berkata lagi.

"Aku tahu, kau pernah mempelajari semacam ilmu langka yang jarang sekali orang mempelajarinya."

"Pelajaran apa?"

"Membaca bahasa bibir."

Ini pun sebuah nama baru yang sangat aneh, karena itu Lu-sam segera memberi penjelasan.

"Asal kau dapat melihat gerak bibir seseorang waktu berbicara, kau akan segera mengetahui apa yang sedang dia bicarakan."

"Kau sepertinya banyak tahu tentang urusanku."

Ketika mengucapkan perkataan itu, Che Siau-yan sama sekali tidak memperlihatkan rasa tidak senangnya, malah sambil tertawa lanjutnya.

"Kau pasti tahu cukup banyak, kalau tidak, bagaimana mungkin kau mau menampungku?"

Lu-sam pun tertawa.

"Tampaknya kita berdua sama-sama saling memahami. Oleh karena itu aku percaya di kemudian hari kita pasti dapat lebih akrab."

Kemudian ia bertanya lagi.

"Sekarang siapa yang sedang berbicara?"

"Pancapanah!"

"Apa yang sedang dia katakan?"

"Dia sedang keheranan,"

Jawab Che Siau-yan.

"Dia tak habis mengerti mengapa kau utus manusia macam Lu Kiong untuk melayani mereka."

Lu-sam tersenyum.

"Apa lagi yang dia bicarakan?"

"Dia bilang, orang-orang yang kau kirim untuk memasakkan hidangan buat mereka, kemungkinan besar setiap orangnya merupakan jago-jago berilmu tinggi,"

Kata Siau-yan.

"Dia pun berkata, bisa jadi japitan api yang digunakan petugas api merupakan sejenis senjata yang sangat lihai."

Mendengar itu Lu-sam menghela napas.

"Orang bilang Po Eng adalah seorang jagoan tangguh, menurut pendapatku, kehebatan Pancapanah sedikit pun tidak berada di bawah kemampuan Po Eng."

Mendadak tanyanya lagi.

"Coba terka, mungkinkah dia akan membunuh Lu Kiong?"

Che Siau-yan tertawa.

"Sekarang dia pun sedang bertanya kepada Siauhong, menanyakan pertanyaan yang sama."

"Apa jawaban Siau-hong?"

"Separah kata pun Siau-hong tidak menjawab."

"Kalau menurut kau?"

"Aku pun seperti Siau-hong, perbuatan yang dilakukan manusia macam kau serta Pancapanah, selamanya tak pernah bisa kami pahami."

Dengan sepasang jari tangannya yang panjang, bersih dan terawat, Lu-sam membetulkan ikat pinggang berwarna emasnya, lewat lama kemudian baru bertanya.

"Jadi menurutmu, aku adalah manusia sejenis Pancapanah?"

Che Siau-yan tidak menjawab pertanyaan itu, sementara Lu-sam pun seakan tidak ingin dia menjawab pertanyaan itu. Kembali lanjutnya.

"Bila aku menjadi Pancapanah, aku tak bakal membunuh manusia macam Lu Kiong."

"Kenapa?"

"Pertama, karena manusia seperti Lu Kiong tidak berharga baginya untuk turun tangan sendiri. Kedua, karena di kemudian hari mungkin Lu Kiong bakal berguna baginya."

"Tadi Lu Kiong sendiri pun berkata begitu."

"Tapi di luar itu masih ada satu hal lagi yang jauh lebih penting."

"Soal apa?"

"Pancapanah enggan membunuh Lu Kiong karena dia tak mau menyerempet resiko."

"Menyerempet resiko?"

Tanya Siau-yan.

"Resiko apa?"

"Pancapanah tidak salah melihat, orang-orang yang kuutus untuk memasak sayur, memanggang daging dan membuat api, semuanya memang jago-jago berilmu tinggi."

"O, ya?"

"Orang yang menambah kayu bakar dan membuat api itu punya julukan sebagai si Kepiting"

Lu-sam menerangkan.

"Jepitan besi yang dia gunakan untuk menambah kayu bakar itu memang merupakan senjata andalannya, bukan saja dapat menjepit senjata lawan, pelindung tangannya masih memiliki kegunaan lainnya."

"O, ya?"

"Begitu senjatamu terjepit, pelindung tangan di atas jepitannya itu segera akan memantul ke depan, asal dia sedikit membalikkan tangan, maka senjatanya akan segera menembus jantungmu."

Kemudian katanya lebih lanjut.

"Senjata jepitan itu merupakan senjata andalannya, tidak banyak orang persilatan yang pernah melihatnya, sebab tak sampai satu tahun ia terjun ke dalam dunia persilatan, aku telah menampungnya. Sungguh tak kusangka ternyata Pancapanah pun dapat mengetahuinya."

"Apakah orang yang memanggang daging itu di hari biasa benar-benar sering memanggang daging manusia?"

"Orang itu mempunyai julukan sebagai Cha-cu(Garpu), siapa pun orangnya, asal bertemu dengannya, orang itu seakan seperti kena tusukan garpu, selamanya jangan harap bisa terlepas lagi."

"Kemudian dia akan menggunakan garpunya untuk mengantar orang itu ke atas panggangan dan memanggangnya?"

"Benar!"

Lu-sam membenarkan.

"jika kau terkena garpunya, mungkin dia tidak benar-benar mengantarmu ke atas api untuk memanggangnya, tapi perasaanmu waktu itu pasti tak jauh berbeda, bahkan mungkin jauh lebih menderita dan tersiksa daripada dipanggang di atas api."

"Siapa pula orang-orang yang lain?"

"Orang-orang itu pun hampir sama dengan mereka, hampir semuanya merupakan jago-jago berhati keji, telengas, dan membunuh orang tanpa berkedip."

"Mengapa mereka takluk dan tunduk kepadamu?"

"Karena mereka kelewat kejam, karena itu baru tunduk padaku,"

Sahut Lu-sam.

"Sebab kecuali bergabung dengan kelompokku, pada hakikatnya mereka sudah tak bisa pergi ke tempat lain lagi, tak ada tempat berpijak bagi mereka dalam dunia persilatan."

Che Siau-yan menghela napas.

"Terhadap orang yang suka membunuh, tentu saja orang pun tak akan melepaskan mereka."

"Tepat sekali."

"Jadi Pancapanah tidak membunuh Lu Kiong, karena dia menguatirkan orang-orang itu?"

Tanya Siau-yan.

"Hal ini teramat penting"

Kata Lu-sam.

"Selama ini Pancapanah adalah seorang yang sangat berhati-hati, perbuatan yang tidak perlu tak mungkin akan dia lakukan, urusan yang tidak yakin berhasil dia terlebih tak akan melakukannya!"

"Lalu bagaimana dengan kau?"

Kembali Che Siau-yan bertanya.

"Selama ini kau selalu berniat melenyapkan Pancapanah, mengapa tidak kau manfaatkan kesempatan ini untuk turun tangan?"

"Karena kesempatan ini tidak bisa terhitung amat baik."

"Kenapa?"

"Kemungkinan besar Pancapanah telah mempersiapkan jebakan di sekitar sini, dengan mengandalkan si Kepiting dan si Garpu sekalian, belum tentu mereka sanggup menghabisi nyawa Pancapanah."

Lu-sam menambahkan pula.

"Karena tempat itu sesungguhnya bukan jalan mati, jalan mundur berada di empat penjuru, sekalipun ia tak mampu mengungguli pertarungan, mundur dari situ masih lebih dari cukup."

"Kalau memang sudah tahu begitu, mengapa kau harus memilih tempat semacam itu untuk mengundangnya?"

Lusam menghela napas panjang.

"Kau anggap Pancapanah itu manusia seperti apa?"

Katanya.

"Kalau bukan mengundangnya di tempat seperti itu, mana mungkin dia mau datang?"

"Kalau begitu aku semakin tak mengerti,"

Kata Che Siauyan ikut menghela napas. Yang tidak dia pahami adalah.

"Kau sendiri sama sekali tak bermaksud memanfaatkan kesempatan ini untuk turun tangan membunuhnya, kau pun tahu dia sendiri juga tak bakal turun tangan...."

"Betul."

"Lalu kenapa kau masih mengutus Lu Kiong dan orangorang itu untuk menahan Pancapanah dan Siau-hong di tempat itu?"

"Karena aku ingin mengawasi gerak-geriknya, selama ini sepak terjang Pancapanah ibarat setan gentayangan, lagi pula dia selalu bekerja seorang diri, manusia macam dia boleh dibilang merupakan manusia paling misterius dalam dunia persilatan selama seratus tahun terakhir."

Dalam hal ini siapa pun tak dapat menyangkal.

"Oleh karena itu terpaksa aku harus menciptakan kesempatan semacam ini, kemudian menggunakan teropong jarak jauh yang kuperoleh dari pedagang Persia dengan menukarnya memakai kuda jempolan berkeringat darah serta golok mestika milik Cho Cho dari akhir dinasti Han yang pernah dipakai untuk membunuh Tong Cuo, untuk mengawasi gerak-gerik serta caranya berbicara."

Che Siau-yan menghela napas panjang.

"Jadi kau membayar mahal untuk semua ini tak lain tujuannya hanya ingin melihat dan memperhatikan gerakgeriknya?"

Ooo)d*w(ooO BAB 41. MULUT LUKA YANG MEMATIKAN "Benar!"

Kata Lu-sam.

"Tahu kekuatan sendiri, tahu kekuatan lawan, setiap pertarungan baru bisa dimenangkan. Dia adalah satu-satunya musuh yang sanggup menghadapiku, jika manusia macam apakah dia pun tidak kupahami, mana mungkin pertempuran ini bisa kumenangkan?"

"Kau benar-benar menganggap dia sebagai musuh paling tangguh yang pernah kau jumpai?"

"Betul."

"Bagaimana dengan Po Eng?"

"Po Eng?"

Lu-sam tertawa.

"Po Eng tak cukup menguatirkan diriku."

"Kenapa?"

Tak tahan Che Siau-yan bertanya.

"Semua orang menganggap Po Eng sangat hebat, kenapa kau malah memandang enteng orang ini?"

Lu-sam tidak langsung menjawab, ia termenung sambil berpikir lama sekali, kemudian baru menjawab pertanyaan itu.

"Po Eng jauh berbeda dengan Pancapanah,"

Kata Lusam.

"Meskipun Po Eng adalah seorang jagoan kosen, tapi watak dasarnya tidak kejam, dia suka kedamaian, dia terpaksa membunuh orang karena tak lebih untuk mencegah agar tidak jatuh korban lebih banyak, dia bertarung tak lebih karena ingin memusnahkan pertarungan yang lebih besar, meskipun penampilannya kejam tak berperasaan, sesungguhnya dia berhati lembek dan orang baik."

"Bagaimana dengan Pancapanah?"

"Pancapanah jauh berbeda,"

Kata Lu-sam.

"Sejak lahir dia memang hidup sebagai seorang petarung, bahkan setiap pertarungan harus menang. Dia tak segan membayar mahal, tak segan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, baginya harus menang dan hanya boleh menang, tak boleh kalah. Kalau tak bisa menang berarti mati, tak tersedia pilihan lain."

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, lanjutnya.

"Padahal aku selalu menyukai manusia yang bernama Po Eng, bahkan selalu menaruh hormat kepadanya. Jika dia tidak mati, di kemudian hari mungkin kita akan menjadi sahabat."

"Kalau dia tidak mati?"

Tak tahan Che Siau-yan bertanya.

"Apakah kau menganggap dia sudah mati?"

Lu-sam mengangguk.

"Kau yang membunuhnya?"

Tanya Che Siau-yan lagi. Lu-sam menggeleng.

"Bukan pekerjaan gampang untuk membunuh Po Eng, bahkan aku sendiri pun tak sanggup."

Setelah menghela napas, terusnya.

"Karena aku adalah musuhnya, bukan sahabatnya."

"Berarti kau anggap hanya sahabatnya yang dapat membunuh dia?"

"Betul, Pancapanah!"

Tegas Lu-sam.

"Hanya Pancapanah yang bisa membunuhnya, tak ada orang lain!"

"Mengapa kau berpendapat begitu?"

Tanya Siau-yan.

"Bukankah selama ini mereka adalah rekan seperjuangan, sahabat karib, mengapa Pancapanah membunuhnya?"

Perlahan Lu-sam mengeluarkan tangannya, dalam genggamannya terlihat sepotong emas murni yang berkilauan.

"Karena benda ini!"

"Emas murni?"

Seru Siau-yan.

"jadi kau anggap Pancapanah membunuh Po Eng lantaran emas murni?"

Sambil mengawasi emas murni yang berada dalam tangannya, Lu-sam manggut-manggut.

"Sejak zaman dahulu kala, entah ada berapa banyak manusia yang mati terbunuh gara-gara benda ini."

Kemudian sambil menatap Siau-yan dan manggutmanggut, lanjutnya.

"Apakah kau anggap alasan ini masih tidak cukup?"

Tentu saja alasan ini lebih dari cukup, hanya saja Che Siau-yan masih juga tidak mengerti. Maka kembali Lu-sam menjelaskan.

"Berkat kerja sama dan perencanaan mereka berdua, emas murni itu berhasil mereka rampok dariku, tapi mereka berdua mempunyai tujuan yang berbeda."

"Di mana letak perbedaan itu?"

"Po Eng merampok emas milikku karena ingin mencegah aku menggunakan emas itu untuk mewujudkan cita-citaku,"

Kata Lu-sam.

"Oleh karena itu, dia hanya ingin mengubur emas itu untuk selamanya. Selama masih hidup, dia tak akan membiarkan siapa pun pergi menyentuhnya."

Setelah berhenti sejenak, kembali Lu-sam melanjutkan.

"Tapi Pancapanah ingin menggunakan emas murni itu untuk menggempurku, memenangkan pertarungan melawanku, dia anggap mengubur emas untuk selamanya dan tidak memanfaatkannya merupakan satu tindakan yang sangat goblok."

"Sayang ia tak berhasil membujuk Po Eng,"

Akhirnya Siau-yan mengerti.

"Sementara perintah Po Eng pun tak berani dia lawan."

"Betul, oleh karena itu terpaksa dia harus membunuh Po Eng, bahkan membuat skenario yang sempurna agar orang mengira akulah yang telah membunuh Po Eng!"

"Jika bukan kau yang membunuh Po Eng, mengapa kau akui di depan khayalak ramai?"

"Kenapa aku harus menyangkal?"

Lu-sam tertawa dingin.

"Bukan pekerjaan gampang untuk membunuh Po Eng bukan setiap orang dapat membunuhnya, bila orang lain mengira akulah yang membunuhnya, bukankah kejadian ini merupakan suatu hal yang membanggakan? Kenapa aku harus menyangkal?"

Tiba-tiba dari balik senyumannya terlintas keseriusan yang luar biasa.

"Apalagi sudah terlalu banyak orang yang bukan mati di tanganku, tapi tercatat atas namaku, jadi apa salahnya kalau ditambah satu orang lagi?"

Selama ini sebenarnya mata Che Siau-yan belum pernah bergeser dari teropong di tangannya, tapi sekarang ia berpaling, menatap tajam wajah Lu-sam, seolah dari perubahan mimik wajahnya dia ingin menilai benar tidaknya perkataan itu.

Tapi ia tidak menemukan apa-apa, karena itu tanyanya lagi.

"Dari mana kau bisa tahu Pancapanah membunuh Po Eng karena persoalan itu? Dari mana kau bisa mengetahui jalan pikirannya?"

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, jarang ada orang bersedia menjawab persoalan yang ada sangkutpautnya dengan rahasia pemikiran seseorang.

Ternyata Lu-sam bersedia, bahkan menjawabnya dengan cepat.

"Karena perkataanmu tepat sekali, aku dan Pancapanah memang merupakan manusia sejenis,"

Ujar Lu-sam.

"Dulu aku sendiri pun tidak tahu, tapi setelah diawasi dengan seksama, akhirnya aku baru menyadari akan hal itu."

"Padahal seharusnya sejak awal kau sudah tahu akan hal ini, sebab di antara kalian berdua memang banyak terdapat kesamaan,"

Sela Siau-yan.

"Jangankan kau, bahkan aku pun sudah mengetahuinya sejak dulu."

"O, ya?"

"Kalian berdua sama-sama manusia tangguh dan berambisi menjagoi dunia persilatan,"

Kata Siau-yan lebih jauh.

"Bahkan kalian berdua sama-sama orang yang suka menyendiri, meskipun dapat membuat orang lain mati demi kalian, namun tak memiliki seorang sahabat pun. Karena selama hidup kalian tak pernah mempercayai siapa pun."

Lu-sam tertawa hambar.

"Mungkin karena alasan itu pula maka kami baru bisa hidup hingga sekarang."

Che Siau-yan tertawa hambar.

"Mungkin dikarenakan alasan ini pula, meski kalian masih hidup, walaupun kalian memiliki segalanya, namun hidup kalian tak pernah gembira, tak pernah bahagia."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Lu-sam balik bertanya sambil menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

"Apakah kau bukan manusia semacam ini?"

Che Siau-yan menghindari pertanyaan ini, dia balik bertanya kepada Lu-sam.

"Sudah cukup lama kau awasi dia, bahkan mengawasi dengan seksama, apa yang telah kau lihat?"

Lu-sam pun tidak menjawab pertanyaannya itu, dia malah balik bertanya.

"Bila sepanjang tahun seseorang hidup mengembara di tengah gurun yang tak berbelas kasihan, tak ada air, tak ada teman... menurut pendapatmu, manusia macam apakah dia?"

"Dia pasti seorang berwatak aneh, nyentrik, seperti binatang buas, penampilannya tentu sangat kurus dan dekil."

Siapa pun tentu berpendapat begitu.

Kekurangan makanan jelas akan menyebabkan tubuh jadi kurus dan lemah, air minum yang lebih berharga dari mustika, untuk minum pun harus berhemat, bagaimana mungkin dia bisa membersihkan badan?

Jelas badannya pasti sangat dekil dan bau.

"Menurut pandanganmu, apakah Pancapanah mirip seperti orang yang kau lukiskan?"

"Tidak, dia sama sekali tidak tampil seperti itu."

Pancapanah kelihatan tampan, gagah bahkan sangat sehat, sama sekali tidak tampak seperti seorang yang kekurangan gizi.

Pakaian yang dikenakan selalu rapi dan bersih, dibandingkan dengan orang yang sangat perhatian pada penampilan di kotaraja pun, dia tampak jauh lebih rapi, necis, dan trendi.

Bahkan rambut dan kuku pun dirawat bersih, rapi dan berkilat.

"Masih ada satu hal lagi yang lebih aneh!"

"Soal apa?"

"Apa yang kau katakan tadi betul,"

Ujar Lu-sam.

"Bila seseorang mengembara sepanjang tahun, sepak terjangnya pasti mirip binatang buas, perangainya akan berubah jadi kasar, liar, dan semaunya sendiri."

"Betul."

"Tapi Pancapanah sangat berbeda,"

Kata Lu-sam.

"Tadi aku telah mengamatinya cukup lama, kujumpai semua gerak-gerik dan tingkah-lakunya amat beraturan, sedikit keteledoran pun tak dia lakukan, sekalipun seorang keturunan keluarga ternama pun sewaktu bersantap tak akan sesopan dan begitu tahu aturan macam dia."

Che Siau-yan menghela napas panjang.

"Ternyata tidak sedikit yang berhasil kau temukan."

"Aku percaya, kau pun pasti dapat melihat hal ini. Tak perlu menyangkal lagi."

Che Siau-yan tidak menyangkal, dia pun tak dapat menyangkal.

"Sekarang aku ingin bertanya kepadamu,"

Ujar Lu-sam lagi.

"Dari beberapa persoalan kecil tadi, bisakah kau melihat rahasia Pancapanah?"

"Rahasia apa?"

Siau-yan balik bertanya tanpa berkedip.

"Melihat rahasianya dari beberapa hal tadi?"

Lu-sam menatapnya, menatap gadis itu lama sekali, seolah-olah dia pun sedang melihat apakah nona itu sedang berbohong.

Tapi dia pun tak berhasil melihatnya.

Atas hal itu, jelas dia merasa amat tak puas, tapi lanjutnya lagi.

"Pakaian yang dikenakan bersih dan rapi, tubuhnya sehat, hal ini membuktikan bahwa sepanjang tahun dia mengembara di gurun pasir, namun belum pernah kekurangan rangsum serta air."

Di dataran luas yang kejam dan tak kenal ampun, dari mana Pancapanah bisa memperoleh rangsum dan air yang berkecukupan?

Tak disangkal kejadian ini sangat aneh dan mencurigakan, namun Siau-yan tidak bertanya, dia hanya mendengarkan dengan tenang Lu-sam melanjutkan perkataannya.

"Tingkah lakunya begitu sopan dan tahu aturan, bukan saja menunjukkan dia tahu tata krama, bahkan punya wibawa,"

Ucap Lu-sam lebih jauh.

"Semua ini membuktikan dia bukanlah manusia menyendiri yang kesepian seperti apa yang dibayangkan orang selama ini."

"O, ya?"

"Di saat orang lain menyangka dia seperti seekor serigala liar yang sedang bergelandangan, siapa tahu dia justru sedang berkumpul dengan sejumlah orang."

"Sejumlah orang?"

"Orang-orang yang kagum kepadanya, hidup tergantung dia, orang yang setiap saat siap mati demi dia."

"Oh?"

"Oleh karena dia harus berkumpul dengan orang-orang seperti ini, maka semua tindak-tanduknya, semua sepak terjangnya harus teratur dan penuh disiplin,"

Kata Lu-sam.

"Sebab dia harus menggunakan tingkah-laku sendiri sebagai contoh untuk orang lain."

"Semua ini menandakan apa?"

"Menandakan bahwa dia pasti memiliki sarang rahasia di tengah gurun pasir, sarang yang dipakai untuk tinggal."

Setelah berhenti sebentar, tambahnya.

"Di kolong langit tak ada manusia kedua yang lebih hapal tentang situasi di wilayah gurun ini selain dia, hanya dia yang bisa menemukan tempat seperti itu dan cuma dia yang mengetahui rahasia ini."

"Bahkan Po Eng pun tidak tahu?"

"Tentu saja Po Eng tidak tahu, dia menggunakan tempat itu untuk melatih sekawanan manusia yang setiap saat rela mati demi dirinya, di tangan orang-orang itulah Po Eng menemui ajalnya."

Dia mendongakkan kepala.

"Sekarang dia pasti menginginkan agar aku pun tewas di tangan orang-orang itu."

Ada semacam orang yang gejolak perasaan dan jalan pikirannya seolah setiap waktu dapat berubah. Tak diragukan Lu-sam adalah manusia semacam ini. Tiba-tiba dia tertawa, benar-benar tertawa.

"Biarpun Pancapanah setiap waktu ingin membunuhku, tapi aku tak pernah membencinya,"

Kata Lu-sam.

"Sebab aku pun ingin membunuhnya, setiap waktu ingin membunuhnya."

Tawa Lu-sam kelihatan sangat gembira.

"Dia ingin membunuhku, aku pun ingin membunuhnya, tapi di antara kita berdua sama sekali tak terikat dendam sakit hati. Aku tidak membencinya, dia pun belum tentu membenci aku."

Keinginan membunuh seseorang memang tak selalu dikarenakan dendam atau sakit hati. Che Siau-yan sangat memahami hal ini.

"Aku tahu, orang yang kau benci bukan Pancapanah, orang yang kau benci adalah seorang yang lain."

"Siapa yang kubenci?"

"Siau-hong!"

Jawab Siau-yan cepat.

"Bukan saja kau membencinya, Tokko Ci pun membencinya, bahkan bisa jadi Pancapanah pun membencinya."

"Kenapa?"

"Karena kalian tahu ada sebagian orang sangat menyukainya,"

Kata Siau-yan.

"Semua orang tahu, orang yang patut dikasihani pasti mempunyai bagian yang paling menjengkelkan, orang yang banyak dicintai orang pasti banyak pula yang membencinya."

Tentu saja Lu-sam memahami teori ini, perbedaan antara cinta dan benci memang tipis. Senyuman yang menghiasi wajahnya mendadak lenyap.

"Aku tahu kau sangat membenci Siau-hong,"

Kata Siauyan lagi.

"Pancapanah pasti mengetahui juga hal ini."

"Hm!"

"Oleh sebab itu ketika Pancapanah menurunkan perintah untuk melancarkan gempuran, dia pasti akan menggunakan Siau-hong sebagai motor utama dalam gerakannya kali ini."

"Kenapa?"

"Karena dia tahu, sekalipun kau mengerti bahwa tujuan penyerangannya kali ini adalah mencari jejakmu, kau tetap akan masuk perangkap,"

Kata Siau-yan.

"Sebab kau pun seperti dia, ingin menggunakan kesempatan ini untuk menghabisi nyawa Siau-hong."

Kemudian dengan hambar dia menambahkan.

"Karena itu kali ini Siau-hong pasti bakal mati."

Lu-sam adalah seorang yang cermat dan teliti.

Seseorang bila bangkit dari modal dengkul lalu tumbuh menjadi orang paling kaya di negeri itu, biasanya dia adalah seorang yang cermat dan teliti.

Terhadap setiap orang, setiap persoalan yang ada di sekelilingnya, dia pasti akan memeriksa dan menganalisa secara amat cermat.

Tapi sekarang dia seakan sama sekali tak menaruh perhatian terhadap reaksi Siau-yan atas masalah itu, seolah dia sama sekali tak tahu hubungan perasaan antara gadis itu dan Siau-hong.

Hanya saja secara tiba-tiba dia alihkan pokok pembicaraan.

"Sekarang apakah Siau-hong dan Pancapanah telah pergi?"

"Benar."

"Mereka tidak membunuh Lu Kiong?"

"Tidak."

"Mereka pun tidak membawa Lu Kiong?"

Che Siau-yan menggeleng.

"Sebenarnya kusangka Pancapanah pasti akan membawa serta Lu Kiong, karena dia anggap Lu Kiong di kemudian hari masih berguna, sungguh tak disangka ia tidak melakukan hal itu."

Lu-sam tersenyum.

"Cara kerja manusia macam Pancapanah terkadang memang tak dapat diduga siapa pun."

"Tapi kau telah menduganya,"

Kata Siau-yan.

"Apa yang hendak dia lakukan, tampaknya hanya kau seorang yang dapat menduganya."

Senyuman Lu-sam tampak lebih misterius, gembira, dan cerah. Tiba-tiba ia bertanya kepada Che Siau-yan.

"Apakah semua tindakan yang akan kulakukan dapat kau tebak seluruhnya?"

Ooo)d*w(ooO Pancapanah tidak mabuk.

Di hari biasa dia jarang minum arak, juga jarang ada orang melihat dia minum arak, tapi arak yang diminum hari ini jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang, sebagian besar orang pasti mengira dia bakal mabuk.

Namun ia tidak mabuk.

Dia begitu sadar dan segar seperti baru saja memanjat pohon kelapa dan menikmati kelapa muda.

Siau-hong tidak sesadar rekannya, di tengah setengah mabuknya dia nampak begitu murung.

Mereka berjalan menelusuri jalan setapak di sebuah tanah perbukitan yang sepi, angin yang berhembus menyiarkan bau harumnya rumput dan dedaunan.

Tiba-tiba Pancapanah mengajukan sebuah pertanyaan kepada Siau-hong, pertanyaan yang aneh.

"Apakah Lu-sam seekor babi?"

"Bukan,"

Siau-hong menggeleng.

"Dia lebih aneh daripada setan."

"Mengapa tanpa sebab dia menggunakan banyak pikiran dan tenaga untuk mengundang kita makan gratis?"

"Aku tidak tahu."

"Sebetulnya aku pun tidak tahu,"

Jawab Pancapanah.

"Tapi sekarang aku sudah mengerti, dia sengaja menahan kita di situ karena dia ingin mengawasi aku secara tenang. Ingin melihat manusia macam apakah diriku ini."

"Dia dapat melihat kehadiranmu?"

"Biarpun kita tak dapat melihat dia, tapi aku percaya dia pasti dapat melihat kehadiran kita,"

Ujar Pancapanah.

"Bersembunyi di sebuah tempat yang amat jauh, mengintip secara diam-diam. Bahkan bukan melihat dengan memakai matanya."

"Bukan melihat dengan mata, lantas melihat dengan apa?"

"Menggunakan semacam cermin yang istimewa."

"Cermin?"

"Tentu saja bukan cermin seperti yang biasa kita pakai, bahkan kurang cocok kalau dikatakan sebuah cermin."

Setelah menarik napas, terusnya.

"Tapi aku hanya bisa mengatakan begitu, sebab aku tak bisa menemukan istilah lain yang lebih cocok."

Kemudian kepada Siau-hong tanyanya.

"Masih ingatkah kau, dari mana datangnya orang yang membuat patung lilin itu?"

"Konon berasal dari sebuah negeri yang sangat jauh."

"Aku berani bilang, di negeri yang letaknya sangat jauh itu, terdapat seorang aneh yang sangat pintar, dia berhasil menciptakan sebuah cermin sihir yang misterius dan hebat, yang bisa melihat hal-hal di tempat jauh yang tak mungkin terlihat orang lain, seperti mata seribu li yang sering kita dengar dalam dongeng,"

Kata Pancapanah. Kemudian tambahnya.

"Dia pasti sedang melihat kita secara diam-diam menggunakan cermin sihir itu."

"Buat apa melihat kita?"

"Memperhatikan sikap kita, mengawasi gerak-gerik kita, melihat manusia macam apakah kita berdua ini?"

Ujar Pancapanah.

"Sebab tahu sendiri tahu pihak lawan, semua pertempuran baru bisa dimenangkan, dia pasti telah menganggap kita sebagai lawan tandingnya."

Kemudian sambil menatap Siau-hong, ujarnya lagi.

"Terutama kau, karena dia sangat membencimu!"

Siau-hong termenung tidak bicara.

"Oleh karena dia membencimu, bersumpah akan membunuhmu dengan tangan sendiri, maka kali ini dia pasti akan termakan oleh siasatku, pasti akan memperlihatkan jejaknya,"

Kata Pancapanah.

"Sebab rasa benci yang membara terkadang bisa membuat orang menciptakan keteledoran dan kesalahan yang tak bisa dimaafkan."

"Oh?"

"Lu -sam bukan babi, dia setan iblis, setelah secara sengaja kita umumkan perintah untuk melakukan penyerbuan dengan sepenuh tenaga, dia pasti dapat menduga pula kalau kita hendak menggunakan cara ini untuk melacak jejaknya."

Setelah berhenti sejenak, tambahnya.

"Jangankan dia, kau dan aku pun semestinya dapat menduga akan hal ini."

Mau tak mau Siau-hong harus mengakui kebenaran ucapan itu.

"Tapi dia tetap akan masuk perangkap,"

Ucap Pancapanah.

"Sebab dia pun ingin menggunakan siasat ini untuk menjalankan siasatnya, memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuhmu dengan tangan sendiri."

"Oh?"

"Oleh sebab itu dia pasti telah menghimpun seluruh inti kekuatannya di sini, dia ingin menunggu kedatangan kita kemudian meringkus kita."

"Aku pun berpendapat begitu."

"Sayang rasa bencinya terhadap dirimu kelewat dalam, karena itu tak bisa dipungkiri dia pasti akan melakukan kesalahan, paling tidak melakukan dua kesalahan."

"Dua kesalahan yang mana?"

"Pertama, dia pasti memandang enteng kekuatan kita,"

Ujar Pancapanah dengan penuh keyakinan.

"Padahal orangorang yang telah kulatih secara khusus jauh lebih hebat daripada apa yang dia bayangkan. Bila kekuatan kami menyerang secara serentak dan bertarung melawan anak buahnya, kemungkinan unggul buat kita jauh lebih besar ketimbang pihaknya."

"Yang kedua?"

"Dia pasti mengira aku ikut pergi, padahal aku tidak ikut. Sebab kita sudah yakin akan menang, aku justru akan melakukan pekerjaan lain, mumpung dia sedang menghimpun seluruh kekuatannya di sini, agar seusai kalah dalam pertarungan ini, dia tak punya jalan mundur."

"Jadi kau anggap kali ini kita pasti menang?"

Tanya Siauhong.

"Apakah kau sudah melupakan Tokko Ci?"

Bukan menjawab, Pancapanah balik bertanya.

"Masa kau benar-benar percaya dengan ucapan Lu-sam, mengira Siau-yan dan Tokko Ci betul-betul sudah bergabung dengan dia?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi.

"Lu Kiong adalah pembantu yang sudah banyak tahun mengikuti dia, mengapa dia harus memberitahukan rahasia ini kepada kita? Buat kita, apa kegunaan Lu Kiong?"

Siau-hong termenung tidak menjawab.

"Sebenarnya aku pun pernah berpikir begitu, kemungkinan besar Tokko Ci telah bergabung dengannya,"

Kata Pancapanah lagi.

"Tapi setelah mendengar perkataan Lu Kiong, aku malah tidak berpikir begitu."

Setelah tersenyum, terusnya pula.

"Oleh karena itu aku telah memperhitungkan, kali ini kau pasti berhasil, Lu-sam pasti mampus."

Baru saja mereka tiba di sebuah simpang tiga, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang, tampak seekor kuda berlari cepat melalui samping jalan.

Masih berada beberapa tombak jauhnya, si penunggang kuda berbaju hijau itu telah melompat turun dari kudanya.

Kuda cepat yang sudah terlatih itu seketika berhenti berlari, sedangkan sang penunggang kuda segera berlutut di hadapan Pancapanah sembari mempersembahkan secarik kertas.

Orang itu mempunyai gerakan tubuh yang lincah dan cepat, meski memiliki perawakan tubuh yang gemuk.

Siau-hong merasa seakan pernah bertemu orang itu, tapi merasa juga seolah tak pernah melihat.

Menanti ia mendongakkan kepala, Siau-hong baru teringat bahwa dia adalah si perempuan gemuk yang membunuh pegawai toko cita ketika berada di jalan raya tempo hari, hanya saja hari ini dia tampil dengan dandanan seorang pria.

Tentu saja dia tak lain adalah salah satu pembunuh yang telah dilatih Pancapanah selama banyak tahun.

Gulungan kertas yang dia sodorkan tak jauh berbeda dengan peta yang pernah diperlihatkan Pancapanah kepada Siau-hong, di atasnya tertera letak sarang rahasia milik Lusam, hanya bedanya dalam kertas gulungan kali ini tergambar sebuah lingkaran tinta warna merah.

Pada lingkaran itu tertera pula banyak sekali gambar panah.

Semua panah mengarah ke satu titik.

Posisi yang dilingkar dalam peta itu mungkin adalah sebuah kota besar, tapi mungkin juga sebuah sungai, sebuah hutan atau sebuah tanah perbukitan.

Pancapanah segera merentangkan gulungan kertas itu.

"Apakah Lu-sam telah menghimpun seluruh kekuatan intinya di tempat ini?"

"Benar!"

Jawabannya sangat meyakinkan. Maka Pancapanah segera memberi perintah.

"Kalau begitu semua orang kita harus tiba pula di tempat itu lusa pada jam Cu-si (jam 12 tengah malam)."

"Baik!"

"Sebelum jam Cu-si, kalian harus sudah berkumpul di dalam hutan di luar kota itu,"

Kata Pancapanah lagi.

"Kurang satu orang, aku akan mengambil semacam barang dari tubuhmu, mungkin hidungmu, mungkin tanganmu, mungkin juga kakimu."

Kemudian dengan nada dingin lanjutnya.

"Mungkin juga batok kepalamu!"

"Baik!"

Setelah menerima perintah Pancapanah, orang itu melompat naik lagi ke atas kudanya dan bergerak meninggalkan tempat itu.

"Di manakah tempat yang dimaksud?"

Tanya Siau-hong kemudian.

"Sebuah kota kecil yang sangat ramai, disebut kota Ohki,"

Pancapanah menerangkan.

"Sebelum jam Cu-si hari lusa, lebih baik kau pun berkumpul di sana, kalau tidak...."

"Kalau tidak, apakah kau pun akan memungut semacam barang dari tubuhku?"

Cepat Pancapanah menggeleng.

"Bila kau tidak datang, mungkin akulah yang akan memungut semacam barang dari tubuhku,"

Kata Pancapanah sambil tertawa getir.

"Dan barang itu kemungkinan besar adalah batok kepalaku."

Ooo)d*w(ooO BAB 42.

LORONG RAHASIA Langit belum gelap, namun suasana di dalam rumah kayu yang jelek itu sudah terasa gelap.

Lu-sam duduk di sudut ruangan di balik kegelapan, wajahnya yang tanpa perubahan tampak sedang terpekur memikirkan sesuatu.

"Sekarang Pancapanah pasti sudah mendapat laporan dari anak buahnya, tahu kalau aku telah menghimpun seluruh kekuatanku di kota Oh-ki,"

Kata Lu-sam perlahan.

"Dia pasti mengira aku pun berada di kota Oh-ki, karena aku takut Siau-hong maka akan kugunakan siasat melawan siasat dengan memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuh Siau-hong dengan tanganku."

Setelah tertawa, lanjutnya.

"Pancapanah pandai menganalisa keadaan dan mengatur siasat, tapi kujamin kali ini dia pasti salah memperhitungkan satu hal."

"Soal apa?"

"Dia pasti tidak percaya kalau Tokko Ci betul-betul berada di sini."

"Tokko Ci betul-betul berada di sini?"

Tidak menunggu Lu-sam menjawab, Che Siau-yan bertanya lebih lanjut.

"Kau benar-benar akan menjodohkan aku dengannya?"

"Perkawinan adalah sebuah kejadian yang aneh, terkadang bukan hanya bertujuan untuk menyatukan lelaki dan perempuan."

"Lalu karena apa?"

"Karena untuk senjata, anak gadis kaum miskin menggunakan perkawinan sebagai senjata guna memperoleh jaminan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang, sementara anak gadis kaum kaya menggunakan perkawinan untuk menambah posisi serta kekuasaan sendiri."

Ditatapnya Che Siau-yan dengan sinar mata setajam jarum, kemudian terusnya.

"Kau sendiri seharusnya tahu, sesungguhnya aku menikahkan dirimu dengan Tokko Ci demi kebaikan dan keuntunganmu maupun keuntunganku!"

"Tapi hingga sekarang aku belum bertemu dengan dia."

"Kau ingin bertemu dengannya?"

Mendadak Lu-sam bangkit.

"Baik, ikuti aku."

Di dalam rumah kayu jelek itu terdapat sebuah almari kayu jelek, ketika almari itu dibuka, lalu menekan sebuah tombol rahasia, segera muncullah sebuah pintu rahasia.

Setelah memasuki pintu rahasia itu, tibalah mereka di sebuah dunia lain.

Sebuah dunia yang gemerlapan dengan cahaya emas, sebuah dunia yang bertaburkan emas murni.

Ada tiga orang di dalam ruangan berlapis emas itu, seorang lelaki muda, seorang lelaki berusia agak dewasa, dan seorang lelaki setengah umur yang rambutnya telah memutih.

Yang muda bertubuh jangkung dengan pakaian yang indah dan mewah, bukan saja dia tampak tampan, bahkan sangat angkuh.

Orang yang berusia lebih dewasa kelihatan halus dan sopan, tak diragukan dia adalah orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Sedangkan orang berusia pertengahan sangat biasa dan umum, tak berbeda dengan lelaki mana pun yang pernah kau jumpai di tengah jalan raya di dunia ini.

Hanya bedanya perawakan tubuhnya lebih kekar dan berotot, bukan saja kelihatan kekar, bahkan lemak di perut pun sama sekali tak tampak.

Ketiga orang itu jelas berasal dari latar belakang yang berbeda, hanya ada satu persamaan di antara mereka.

Ketiga orang itu sama-sama membawa pedang, pedang yang digembol berada di samping tangannya, dalam sekali sambar mereka dapat segera melolos senjata itu.

Ternyata Tokko Ci tidak berada dalam ruangan itu, sedang ketiga orang itu belum pernah dijumpai Che Siauyan sebelumnya.

Lu-sam segera memperkenalkan orang-orang itu.

"Mereka adalah pembantu setiaku, rata-rata merupakan jago pedang kelas satu dalam dunia persilatan,"

Katanya.

"Sayang di tempatku sini tidak berlaku nama, yang ada hanya nomor."

Nomor mereka adalah empat, empat belas dan dua puluh empat.

Dibandingkan nomor tiga, tiga belas dan dua puluh tiga, mereka kalah satu tingkat.

Sebab mereka memiliki banyak persamaan dengan ketiga orang yang diutus Lu-sam untuk membunuh Siau-hong, bukan saja watak dan latar belakangnya sama, bahkan aliran pedang yang dimiliki pun tidak jauh berbeda.

"Aku minta mereka menanti perintahku di sini, karena aku pun ingin menyuruh mereka pergi membunuh seseorang."

"Siapa yang akan dibunuh?"

Tanya Siau-yan.

Lu-sam tidak langsung menjawab pertanyaan itu.

Kembali dia memencet sebuah tombol rahasia dan terbukalah sebuah pintu rahasia lain.

Di belakang pintu merupakan sebuah lorong panjang yang gelap dan lembab.

"Berjalanlah lurus ke depan, setibanya di ujung sebelah sana akan kau jumpai sebuah pintu, pintu itu tidak dikunci, seseorang duduk di belakang pintu, asal kau buka pintu itu, segera akan kau jumpai dia."

Kemudian Lu-sam pun langsung memberikan perintahnya, singkat tapi tegas.

"Aku minta kau pergi membunuhnya! Sekarang juga!"

Nomor empat pun seperti anak buah Lu-sam lainnya, hanya tahu menerima perintah, tak pernah bertanya apa alasannya. Tentu saja dia pun tak akan bertanya siapakah orang yang harus dibunuhnya.

"Baik,"

Sahut orang itu.

"Sekarang juga aku berangkat."

Selesai mengucapkan perkataan itu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia langsung menerobos masuk ke dalam lorong gelap itu.

Gerak-geriknya cekatan, bahkan amat lincah.

Hanya saja dia nampak sedikit emosi.

Hal ini terbukti dari paras pucatnya yang berubah sedikit memerah karena gejolak emosi dalam hatinya.

Dengus napas pun kelihatan berubah sedikit lebih cepat dan memburu daripada waktu biasa.

Inilah untuk terakhir kalinya orang lain menyaksikan raut muka serta perubahan wajahnya.

Sejak menerobos masuk ke dalam lorong gelap itu, dia tak pernah muncul lagi.

Sekarang setiap orang sudah tahu kalau dia tak bakal balik lagi dalam keadaan hidup.

Sudah cukup lama dia pergi, lama sekali, manusia macam dia seharusnya tidak butuh waktu selama ini untuk membunuh seseorang, peduli siapa pun korbannya.

Dalam rentan waktu yang begini lama, peduli pekerjaan apa pun yang harus dilakukan, saat ini hasilnya sudah seharusnya diketahui.

Mati!

Inilah satu-satunya hasil akhir.

Tiada orang yang buka suara, juga tiada rasa duka atau sedih yang menghiasi wajah semua orang.

Sebab peristiwa semacam ini bukanlah suatu kejadian yang pantas disedihkan.

Setiap orang pasti akan mati, apalagi bagi manusia macam mereka.

Bagi mereka.

"kematian"

Bagaikan seorang perempuan, seorang perempuan yang sudah lama mereka anggap memuakkan, seorang wanita yang meski mereka anggap memuakkan tapi justru sukar untuk ditinggalkan, karena itu setiap hari mereka menunggu kedatangannya, menanti saat itu benar-benar telah tiba, mereka tak akan merasa terkesiap dan takut, mereka pun tak akan merasa gembira.

Sebab mereka tahu, cepat atau lambat dia pasti akan datang.

Terhadap persoalan semacam ini, mereka nyaris merasa sudah kaku, mati rasa.

Ternyata Lu-sam kembali menunggu cukup lama.

Entah dikarenakan perasaan kasihannya terhadap selembar nyawa manusia atau karena dia menaruh hormat dan takut terhadap datangnya kematian.

Paras Lu-sam tampak jauh lebih serius ketimbang wajah Che Siau-yan serta kedua orang lainnya.

Malahan dia masih saja mencuci sepasang tangannya yang sebetulnya sudah sangat bersih dan memasang sebatang hio di atas tungku terbuat dari emas murni.

Setelah itu dia baru berpaling ke arah nomor empat belas.

Kata Lu-sam.

"Karena nomor empat gagal, sekarang terpaksa kau harus melaksanakannya."

"Baik."

Nomor empat belas segera menerima perintah itu.

Dia selalu berusaha mengendalikan diri, selalu mengendalikan diri dengan baik.

Namun setelah menerima perintah itu, tubuhnya, wajahnya, sedikit banyak nampak berubah juga, berubah karena gejolak emosinya.

Sesuatu perubahan yang tidak mudah diketahui dan dirasakan orang lain.

Kemudian dia pun mulai bertindak.

Pada mulanya dia bergerak sangat lamban, hati-hati, cermat, dan amat lambat.

Dia mulai memeriksa diri sendiri.

Pakaiannya, ikat pinggangnya, sepatunya, tangannya, pedangnya.

Dia cabut pedangnya, lalu dimasukkan kembali, dicabut lagi dan dimasukkan kembali.

Hingga dia menganggap setiap benda yang menempel di tubuhnya telah siap dan sempurna.

Hingga dia menganggap semuanya sudah memuaskan, dia baru menerobos masuk ke dalam lorong gelap itu.

Gerak-geriknya tetap lincah dan cekatan, bahkan jauh lebih terlatih daripada rekannya tadi.

Namun dia pun tak pernah kembali.

Kali ini Lu-sam menunggu jauh lebih lama, kemudian baru mencuci tangannya di baskom emas dan menyulut sebatang hio.

Bahkan dia menghela napas tiada hentinya.

Berhadapan dengan nomor dua puluh empat, parasnya berubah makin serius, kembali dia mengeluarkan perintah singkat.

Karena dia tahu, berbicara dengan manusia sebangsa dua puluh empat, kelewat banyak bicara itu tak ada gunanya, sebab yang lain akan dianggap sampah.

Dia hanya mengucapkan dua kata.

"Kau pergilah!"

Dengan membungkam dua puluh empat menerima perintah ini, sepatah kata pun tidak bicara.

Tentu saja dia tak akan seperti nomor empat.

Begitu menerima perintah, sikapnya seperti orang yang kebakaran alis mata.

Dia pun tidak seperti nomor empat belas, memeriksa dulu semua persiapannya, memeriksa apakah semuanya berjalan lancar, lalu memeriksa pula pedangnya, apakah mulus sewaktu dicabut.

Sudah ada dua orang yang tak pernah balik lagi setelah memasuki lorong gelap itu.

Kedua orang itu adalah pembunuh tangguh, jagoan lihai yang pandai menggunakan pedang.

Kedua orang itu adalah rekannya, sudah lama sekali dia hidup bersama mereka berdua.

Dia pun tahu mereka bukanlah manusia yang gampang dihadapi.

Tapi setelah menerima perintah itu, dia seperti baru saja menerima undangan dari orang lain yang mengundangnya makan, bahkan undangan makan dari seorang sahabatnya yang paling akrab.

Suasana di balik lorong masih tampak gelap dan lembab.

Tak terdengar suara apa pun, tak terlihat gerakan apa pun.

Bagaikan seekor ular raksasa yang sedang mementang mulut lebar-lebar, dengan tenang menelan dua orang bahkan suara sewaktu menelan pun sama sekali tak terdengar.

Nomor dua puluh empat sudah siap berjalan masuk ke dalam lorong.

Sikapnya masih begitu tenang bukan saja parasnya tidak berubah, dia pun sama sekali tidak melakukan persiapan apa puin.

Dia melangkah tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat, lagaknya tak berbeda seperti hendak bersantap di rumah teman yang jaraknya tidak terlampau jauh.

Pernah dia berpikir, korban yang kali ini bakal ditelan lawannya tubuh berikut tulang kemungkinan besar adalah dirinya?

Sekarang dia telah berjalan sampai di mulut lorong, siapa pun pasti mengira dia bakal langsung melangkah masuk ke dalam.

Siapa tahu secara tiba-tiba ia berhenti, perlahan membalikkan badan, mendongakkan kepala dan menatap Lu-sam.

Pancaran matanya tiada luapan perasaan, juga tiada perubahan apa pun, dia hanya berkata.

"Aku belajar pedang sejak berusia tujuh tahun, pada usia tiga belas tahun, sebelum selesai belajar pedang, aku telah belajar membunuh orang."

Suaranya datar tanpa emosi.

"Bahkan aku benar-benar telah membunuh satu orang."

"Aku tahu,"

Lu-sam tersenyum.

"Pada usia tiga belas tahun, kau berhasil menusuk mati tukang jagal Liok yang paling buas dan jahat di desamu di tengah jalan pasar yang ramai."

"Tapi sepanjang hidup tidak banyak manusia yang kubunuh,"

Kata nomor dua puluh empat.

"Karena aku tak pernah suka mencari gara-gara, aku pun tak pernah mengikat tali permusuhan dengan orang lain."

"Aku tahu."

"Yang lebih penting lagi, sebetulnya aku tidak suka membunuh."

"Aku tahu."

"Kau membunuh orang tak lebih karena harus hidup terus."

"Aku membunuh orang tak lebih karena harus makan, setiap orang perlu makan, aku pun manusia,"

Kata nomor dua puluh empat.

"Meskipun membunuh orang demi sesuap nasi bukanlah suatu kejadian yang menyenangkan, tapi ada sementara orang yang hidup lebih sengsara karena demi sesuap nasi mereka harus melakukan pekerjaan yang jauh lebih menyiksa."

Dengan hambar dia melanjutkan.

"Oleh karena aku membunuh orang demi sesuap nasi, maka setiap kali melakukan pembunuhan harus ada imbal baliknya, belum pernah terkecuali satu kali pun."

"Aku tahu."

"Biarpun kau menampung aku di saat identitasku terbongkar dan dikejar musuh, namun kau pun tidak terkecuali,"

Kata nomor dua puluh empat lebih jauh.

"Kau seharusnya tahu juga berapa hargaku untuk membunuh satu orang."

"Aku tahu,"

Lu-sam tersenyum.

"Sudah kusiapkan sejak tadi."

Dia berjalan menghampirinya, lalu menyerahkan batang emas yang dipegangnya selama ini ke tangan nomor dua puluh empat.

"Aku pun mengetahui peraturanmu, sebelum membunuh, harus membayar separoh dulu,"

Kata Lu-sam.

"Aku rasa sebatang emas ini sudah cukup, bukan?"

"Sudah cukup,"

Sahut nomor dua puluh empat.

"Emas lantakan ini bukan saja kadarnya tinggi, bahannya juga bagus, tak mungkin tidak laku dijual, tapi bila seseorang sudah hampir mati, apa gunanya emas lantakan buat dia?"

Biarpun berkata begitu, dia tetap memasukkan emas itu ke dalam sakunya. Mendadak ujarnya lagi.

"Aku masih ingin memohon satu hal lagi kepadamu."

"Minta apa?"

"Bila aku mati nanti, tolong jangan cuci tanganmu dan memasang hio lagi, sebab kau telah membayar lunas."

Perkataan itu seperti belum selesai diucapkan, tapi dia telah membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam lorong gelap itu.

Bayangan punggungnya kelihatan lebih panjang dari perawakan badannya, namun dengan cepat dia lenyap di balik kegelapan.

Apakah dia pun pergi untuk tak kembali lagi?

Che Siau-yan mengawasi orang itu hingga bayangannya sama sekali lenyap di balik kegelapan, kemudian ia baru menghela napas.

"Orang ini benar-benar aneh."

"O, ya?"

"Kelihatannya dia sudah tahu kalau kepergiannya kali ini pasti mati, bahkan dia pun tahu, bila seseorang telah mati, emas lantakan berkwalitas tinggi pun tak ada gunanya,"

Kata Siau-yan.

"Tapi dia justru harus menerima dulu pembayaran emas itu dari tanganmu, mengapa dia berbuat begitu."

"Karena demi prinsip hidupnya."

"Prinsip hidup?"

"Prinsip hidup adalah peraturan,"

Kata Lu-sam.

"Walaupun dia tahu bakal mati, namun dia tetap harus melaksanakan tugas ini. Kalau memang harus melaksanakan, berarti dia harus menerima dulu pembayaran emas murni itu, karena hal ini merupakan peraturannya."

Di balik nada ucapannya, sama sekali tak terselip sindiran atau nada cemoohan.

"Bagi seseorang yang memegang prinsip hidup, peraturan itu tak boleh dilanggar, peduli dia hidup atau mati, semuanya sama saja."

Perkataan itu diucapkan serius, bahkan terselip perasaan hormat dan kagumnya.

"Menurutmu, orang semacam ini terhitung orang bodoh ataukah orang pintar?"

Tanya Siau-yan kemudian.

"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, manusia semacam ini makin lama semakin bertambah sedikit."

"Kau amat menyukai manusia semacam ini?"

"Benar."

"Mengapa kau tetap memintanya pergi mengantar kematian?"

"Dari mana kau tahu kalau dia pergi untuk mati?"

Lusam balik bertanya.

"Dari mana kau bisa tahu kalau yang bakal mati pasti dia, bukan orang yang akan dibunuhnya?"

Dia menatap tajam wajah Siau-yan, kemudian lanjutnya.

"Jangan-jangan kau tahu siapa yang aku minta dia untuk dibunuh?"

Che Siau-yan tidak bicara lagi.

Beberapa saat kemudian ia terbungkam, dia murung dan gelap segelap lorong rahasia itu.

Lorong rahasia itu masih tak terdengar sedikit suara pun, tidak terlihat pula sesuatu gerakan.

Nomor dua puluh empat tak pernah kembali, sampai lama sekali dia tetap belum kembali.

Tiba-tiba Lu-sam berkata.

"Tampaknya kita harus pergi makan?"

"Makan?"

Siau-yan seperti terperanjat.

"Kau hendak makan?"

"Makan bukanlah sesuatu yang aneh, setiap orang butuh makan,"

Kata Lu-sam.

"Kalau sudah waktunya makan, kita harus makan, bagaimana pun perkembangan dari suatu persoalan, kita harus makan dulu sebelum membahasnya kembali."

"Apakah hal ini merupakan prinsipmu?"

"Benar."

Ooo)d*w(ooO Arak berada dalam sebuah poci yang terbuat dari emas, cawan pun terbuat dari emas murni.

Ketika arak anggur dari Persia dituang ke dalam cawan terbuat dari emas, meski tidak dapat membiaskan cahaya terang namun terendus bau harumnya yang semerbak.

Bahkan mendatangkan suatu keindahan yang luar biasa.

Siapa bilang kaya-raya bukan suatu keindahan yang luar biasa?

Hidangan pun diletakkan dalam piring yang terbuat dari emas murni.

Peralatan makan yang serba emas, dikombinasikan dengan hidangan yang lezat.

Bukan hanya indah dan lezat saja, pada hakikatnya merupakan sebuah kombinasi yang sempurna.

Cara dan gaya Lu-sam ketika bersantap pun mendekati sempurna.

Bisa bersantap malam dengan seorang semacam ini, seharusnya merupakan satu kejadian yang menggembirakan.

Namun Che Siau-yan sedikit pun tak punya selera untuk bersantap.

Dia bukan merasa kuatir karena keselamatan si nomor dua puluh empat.

Juga bukan sedang menguatirkan orang yang akan dibunuh nomor dua puluh empat.

Dia hanya merasa di saat orang lain pergi membunuh seseorang, sementara kau masih bisa menikmati hidangan lezat dan arak wangi, kejadian seperti ini benar-benar tak masuk akal, suatu tindakan yang kelewatan.

Lorong yang gelap masih hening dan sepi.

Akhirnya Lu-sam menyelesaikan hidangan malamnya, kemudian mencuci tangan dalam sebuah baskom emas.

Air dalam baskom emas itu bukan air biasa, melainkan air teh.

"Hari ini menu kita adalah udang dan kepiting"

Lu-sam menjelaskan.

"Untuk menikmatinya, kita harus mengelupas udang dan kepiting dengan tangan sendiri, dengan begitu kita baru betul-betul bisa menikmati lezat dan nikmatnya udang dan kepiting. Karena itu hanya mencuci tangan dengan air teh, bau amis di tangan kita baru bisa hilang."

"Bagaimana dengan membunuh orang?"

Tiba-tiba Siauyan bertanya.

"Membunuh orang?"

Tampaknya Lu-sam masih belum paham betul maksud perkataan itu.

"Apakah membunuh orang pun seperti menikmati udang dan kepiting? Harus turun tangan sendiri baru bisa menikmati kenyamanan dan kenikmatannya?"

Tanya Siauyan. Sebuah pertanyaan yang telak, namun jawaban Lu-sam pun tak kalah hebatnya.

"Kalau soal itu tergantung."

"Tergantung apa?"

"Tergantung siapa yang akan kau bunuh. Ada kalanya kau cukup menyuruh orang lain pergi membunuhnya, tapi ada sementara orang kau harus turun tangan sendiri baru merasakan kenikmatannya."

"Selesai membunuh?"

Tanya Siau-yan lagi.

"Kalau kau telah membunuh sendiri, selesai membunuh harus mencuci tanganmu dengan apa agar bau anyir darah bisa hilang?"

Tak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu, tak ada juga yang bersedia menjawab.

Lu-sam dengan menggunakan selembar saputangan putih mengeringkan tangannya, perlahan-lahan ia bangkit kemudian berjalan pula memasuki lorong gelap itu.

Dia sama sekali tidak mengajak Che Siau-yan.

Sebab dia tahu, Siau-yan pasti akan mengintil di belakangnya.

Apa yang sebenarnya telah terjadi dalam lorong itu?

Pintu masuk lorong terbuat dari kayu berbentuk timbangan.

Makin ke dasar semakin mengecil, ketika sampai di pintu masuk, luas gua tinggal dua kaki.

Siau-yan yang berperawakan tubuh kecil pun perlu memiringkan tubuh untuk memasukinya.

Oleh karena itulah meski di luar cahaya lentera amat terang benderang, namun cahaya yang terang tak dapat menembus hingga ke dasar lorong.

Begitu masuk ke dalam, segala sesuatunya tak terlihat lagi, bahkan melihat kelima jari tangan sendiri pun susah.

Mengapa Lu-sam harus membangun lorong itu begitu rahasia?

Bayangan tubuh Lu-sam telah lenyap di balik kegelapan.

Baru saja Siau-yan maju sambil meraba kiri kanan, terdengar Lu-sam berseru.

"Lebih baik kau jangan berjalan lurus ke depan."

"Kenapa?"

"Karena lorong ini tidak lurus. Dalam lorong terdapat tiga puluh tiga buah tikungan, bila kau berjalan lurus ke depan, pasti akan membentur dinding hidungmu bisa ringsek."

Setelah berhenti sejenak, terusnya hambar.

"Aku tahu, mungkin saja kau tak percaya, dilihat dari depan, lorong ini memang kelihatannya lurus hingga ke dasar, bila tak percaya, silakan saja dicoba sendiri."

Che Siau-yan tidak mencobanya, sebab dia tahu dalam kegelapan orang mudah melakukan kesalahan, mudah membuat dugaan yang keliru.

Orang bisa menganggap lurus itu belok, belok itu lurus.

Bisa membuat orang sukar untuk membedakan antara lurus dan belok, bisa membuat hidung orang jadi ringsek.

Biarpun dia masih muda, tapi gadis ini pun tahu, banyak kejadian di dunia ini yang tak berbeda dengan ruang yang gelap.

Gampang membuat kau menduga salah, membuat kau sukar untuk membedakan mana yang lurus, mana yang belok, mana benar mana salah.

Ooo)d*w(ooO BAB 43.

HARTA KARUN Misalkan saja, jalan pikiran seorang Kuncu gadungan, benar salahnya selalu sudah diduga.

Tapi gadis ini tak punya ingatan seperti itu, dia tak ingin melakukan perbuatan seperti itu.

Dia tak ingin membuat hidungnya ringsek, dia pun tak ingin membuat hidung orang jadi ringsek.

Oleh karena itu dia melakukan sebuah pilihan yang pintar.

Dia mengambil korek api dan membuat obor.

Begitu cahaya menyinari lorong, segera terlihatlah cahaya emas yang menyilaukan mata.

Ternyata kedua belah dinding lorong itu terbuat dari batu bata emas yang besar ukurannya.

Tak jauh di depan sana terlihat sebuah belokan.

Lu-sam sedang berdiri di sana, menggunakan semacam sikap yang aneh sedang mengawasinya.

"Tak kusangka ternyata kau membawa korek api."

"Tentu saja kau tak akan menyangka,"

Sahut Siau-yan sambil tersenyum.

"Walaupun kau telah mengirim orang untuk menggeledah seluruh barang milikku, sayang orangorangmu sama sekali tak menyangka kalau sebuah korek api telah kusembunyikan di dalam tusuk kondeku."

Sebuah tusuk konde yang indah dengan sebuah tabung lembut tempat untuk menyembunyikan korek api.

Dalam keadaan seperti ini, nilai dari korek api itu mungkin jauh melebihi nilai tusuk konde itu sendiri.

Lu-sam segera menghela napas panjang.

"Apakah di sakumu masih tersimpan benda-benda lain? Sejumlah barang aneh yang tak terduga oleh siapa pun?"

"Jika kau ingin tahu, lebih baik geledahlah tubuhku sekali lagi."

Sambil menatap tajam wajah Lu-sam, dia angkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Pakaian yang dia kenakan tidak terlalu banyak, padahal bentuk tubuhnya makin lama sudah makin matang.

Sorot mata yang terpancar dari matanya tidak jelas mengandung godaan?

Ataukah sebuah tantangan?

"Bagaimana pun juga aku dapat memberikan jaminan,"

Kata Siau-yan.

"Barang paling aneh yang berada dalam tubuhku saat ini bukanlah sebatang korek api."

Lu-sam tertawa, tertawanya lebih cenderung tertawa getir.

"Aku percaya,"

Kata Lu-sam.

"Aku percaya seratus persen."

Tikungan di dalam lorong itu banyak sekali, Lu-sam kembali melanjutkan perjalanan ke depan, sementara Siauyan mengikut di belakangnya.

Pantulan sinar keemasan membias dari kedua belah dinding lorong.

Tak bisa disangkal, lorong ini merupakan sebuah lorong yang termahal di kolong langit saat itu.

Tapi si nona tidak bertanya apa-apa kepada Lu-sam.

Dia tidak bertanya mengapa membangun lorong itu?

Dia tahu di balik lorong itu pasti tersimpan sebuah rahasia besar yang tak boleh diketahui siapa pun.

Bila Lu-sam tidak mengatakannya sendiri, jangan harap orang lain bisa mengetahuinya.

Karena itu dia tidak bertanya apa pun, tapi secara tibatiba ia merasakan tubuhnya sangat tidak leluasa, bahkan makin lama terasa semakin tak nyaman.

Dia tak habis mengerti darimana datangnya perasaan tak nyaman itu?

Biarpun lorong itu gelap gulita, namun obor yang berada di tangannya tidak padam, selama berjalan dalam lorong itu pun dia merasa napasnya lancar sekali.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa di suatu tempat yang rahasia dalam lorong bawah tanah itu, pasti terdapat beberapa tempat untuk pergantian udara yang dikendalikan oleh semacam cara yang luar biasa.

Itulah sebabnya udara dapat selalu berputar dan berganti, ruangan tetap kering, dingin bahkan sangat bersih.

Begitu bersihnya seperti sebuah baju yang sudah tiga hari direndam dalam air sabun dan dicuci sampai enam-tujuh belas kali.

Mendadak Che Siau-yan menemukan kalau perasaan tak nyaman itu ternyata berasal dari hal itu.

Bersih sebetulnya merupakan satu kebaikan, sebuah kejadian yang membuat hati orang senang.

Sebetulnya keadaan seperti itu tak akan mendatangkan ketidak nyamanan, tapi tempat itu benar-benar kelewat bersih.

Pada hakikatnya begitu bersih hingga membuat orang tak tahan.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Che Siau-yan tetap tak habis mengerti.

Tiba-tiba Lu-sam bertanya kepadanya.

"Apakah kau merasa sedikit aneh? Apakah merasa sedikit kurang nyaman?"

"Benar."

"Tahukah kau mengapa bisa merasakan begitu?"

Tanya Lu-sam lagi.

"Tidak tahu,"

Siau-yan mengakui terus terang.

"Aku betul-betul tak habis mengerti."

Dia sangka Lu-sam pasti akan menjelaskan masalah itu. Tak disangka ternyata Lu-sam mengajukan satu pertanyaan lagi, pertanyaan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pertanyaan yang pertama.

"Tahukah kau di antara seluruh benda yang ada di kolong langit, benda apakah yang paling bersih?"

Kali ini Lu-sam menjawab sendiri pertanyaan itu.

"Benda itu tak lain adalah emas. Di antara sekian banyak benda di dunia ini, tak satu benda pun yang bisa mengungguli kebersihan emas."

Lorong rahasia itu dibangun dengan emas murni.

Mau tak mau Che Siau-yan harus mengakui, tempat itu memang luar biasa bersihnya.

Tapi Lu-sam segera mengajukan lagi pertanyaan lain yang jauh lebih luar biasa.

"Di kolong langit pun terdapat banyak jenis manusia, tahukah kau manusia jenis mana yang paling bersih?"

Lagi-lagi dia menjawab sendiri.

"Orang mati. Manusia terbersih di kolong langit adalah orang mati."

Kembali Che Siau-yan mau tak mau harus mengakui.

Semua orang mati selalu dimandikan dulu hingga bersih sebelum dimasukkan ke dalam peti mati.

Walaupun dia adalah manusia terkotor sekalipun.

Dalam hal ini lagi-lagi Siau-yan harus mengakuinya.

Dia pun segera menjadi paham atas persoalan yang tadi tidak dia pahami.

"Kau merasa tempat ini aneh dan tidak nyaman, ini disebabkan tempat ini kelewat bersih,"

Kemudian Lu-sam menjelaskan lebih jauh.

"Karena tempat ini biasanya hanya ada emas murni dan orang mati."

Emas memang merupakan benda langka yang sangat jarang dan sedikit jumlahnya di dunia ini.

Sebuah benda yang sangat bersih, bahkan sebagian besar orang menganggap benda ini adalah jenis yang paling menyenangkan.

Orang mati pun manusia, betapa pun menakutkannya dia, setelah mati, tak mungkin dia bisa mencelakai orang lain.

Sebuah lorong yang dibangun dengan emas murni.

Sejumlah orang mati yang tak mungkin bisa mencelakai orang lain.

Sesungguhnya tak ada bagian yang membuat orang merasa ketakutan.

Tapi secara tiba-tiba Siau-yan merasakan kengerian yang luar biasa terhadap tempat itu, lewat lama kemudian dia baru bertanya.

"Apakah tempat ini sebuah kuburan?"

"Kuburan?"

Lu-sam tertawa tergelak.

"Dari mana kau bisa membayangkan tempat ini sebuah kuburan? Dari mana kau bisa berpikir aku membangun kuburan buat orang lain dengan emas murni?"

Jarang sekali dia tertawa tergelak seperti ini.

Suruh dia membangun kuburan bagi orang lain dengan menggunakan emas miliknya, jelas kejadian seperti ini merupakan suatu peristiwa yang sangat menggelikan.

Peduli siapa pun orangnya, membangun kuburan bagi orang lain dengan menggunakan emas murni jelas merupakan satu kejadian yang tak masuk akal, suatu kejadian yang tak mungkin terjadi.

Anehnya, kalau tempat ini bukan kuburan, mengapa sering ada orang mati di situ?

Lagi-lagi Che Siau-yan tidak habis mengerti.

"Sebenarnya tempat apakah ini?"

Tanyanya kemudian.

"Sebuah gudang harta!"

Jawaban Lu-sam seketika membuat Siau-yan terperangah.

"Kau mengatakan tempat ini adalah gudang harta?"

Tegas nona itu.

"Gudang harta untuk menyimpan semua harta kekayaanmu?"

"Benar,"

Dengan ujung jarinya Lu-sam membelai bata emas yang menempel di atas dinding lorong.

Belaiannya seperti seorang ibu membelai putra tunggalnya.

Dari mimik mukanya bahkan tampil perasaan puas luar biasa, perasaan puas karena napsu yang terpenuhi.

"Aku berani jamin, emas murni yang kusimpan di tempat ini paling tidak tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah emas di mana pun di dunia ini,"

Kata Lu-sam.

"Andaikata kujual seluruh emasku dalam waktu yang bersamaan, maka harga emas di setiap negeri yang ada di dunia ini pasti akan hancur dan turun drastis."

"Aku percaya!"

Tak tahan Che Siau-yan ikut membelai bata emas pada dinding lorong itu.

"Sepanjang hidupku belum pernah kusaksikan emas murni dalam jumlah sebanyak ini."

"Bukan hanya kau seorang yang belum pernah lihat, orang yang benar-benar pernah melihat emas ini pun mungkin tak ada beberapa orang."

"Karena orang yang lewat di sini seringkali sudah menjadi orang mati?"

"Benar, kecuali berada dalam situasi khusus, biasanya hanya orang mati yang bisa memasuki tempat ini."

"Kau gunakan orang mati untuk menjaga emasmu itu?"

Tanya Siau-yan keheranan. Kembali Lu-sam tertawa, pertanyaan ini memang sangat lucu dan menggelikan.

"Sejak zaman kuno hingga sekarang, memang hanya sejenis manusia yang bisa disuruh menjaga emas murni."

"Jenis yang mana?"

"Orang mati! Hanya orang mati yang akan menjagakan emas murni milik orang mati, karena dia sudah mati; emas murni itu apakah akan dirampok orang atau tidak, baginya sudah tak penting lagi."

Jawabannya ini sama sekali tidak menggelikan.

Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 5

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert