Ceritasilat Novel Online

Elang Terbang Di Dataran Luas 7

Eps 7 Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Baca online Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Cersil Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id.

"Tapi aku berharap kau mau menunggu sebentar sebelum turun tangan."

Tokko Ci tidak bertanya kepadanya.

"Kenapa?"

Karena Siau-hong telah menjelaskan sendiri.

"Karena aku masih ingin mengetahui satu hal,"

Katanya.

"Bila aku bisa mati setelah selesai menyelidiki persoalan ini, biar mati pun aku akan mati dengan hati lega dan mata meram."

Setelah termenung lagi cukup lama, Tokko Ci baru buka suara.

"Untuk mati dengan perasaan lega pun sudah susah, apalagi bisa mati dengan mata meram, benar-benar tidak gampang."

"Aku mengerti."

"Tapi memang tidak banyak orang yang pantas mati di tanganku,"

Ujar Tokko Ci.

"Oleh karena itu, kukabulkan permintaanmu."

Tiba-tiba tanyanya lagi kepada Siau-hong.

"Persoalan apa yang ingin kau ketahui?"

"Aku hanya ingin tahu apakah emas murni itu benarbenar berada di sini,"

Sahut Siau-hong.

"Kalau tidak, aku benar-benar tak bisa mati dengan mata meram."

"Apakah kau yakin tumpukan emas murni itu sebenarnya memang berada di sini?"

"Aku yakin, karena dengan mata kepala sendiri aku melihatnya, bila kau menggali dari sini, pasti dapat kau jumpai tumpukan emas itu."

Kembali Tokko Ci menatapnya sangat lama.

"Baik! Galilah!"

"Gali?"

Kembali Siau-hong bertanya.

"Gali pakai apa?"

"Gunakan pedangmu,"

Suara Tokko Ci dingin bagaikan salju.

"Kalau kau tak ingin menggunakan pedangmu, gunakan tanganmu!"

Sekali lagi perasaan Siau-hong tenggelam.

Emas itu terkubur sangat dalam, mau digali pakai tangan ataupun menggali dengan menggunakan pedang dibutuhkan tenaga yang sangat besar untuk mencapai tempat di mana emas itu terkubur.

Kini tenaganya hampir ludas, bila dia kehilangan lagi satu bagian kekuatan tubuhnya, berarti kesempatan untuk hidup akan berkurang lagi satu bagian.

Sayang saat ini dia sudah tidak memiliki pilihan lain lagi.

Siau-hong mencabut pedangnya.

Tokko Ci berdiri persis di hadapannya, dalam waktu sekejap itu semisal dia melancarkan tusukan, bisa jadi pedangnya akan segera menembusi jantung Tokko Ci.

Tapi dia tidak berbuat begitu.

Pedangnya langsung ditusukkan ke atas tanah.

Di dalam tanah tak ada emas, jangankan setumpuk emas, biar setahil pun tak ada.

Ternyata Siau-hong sama sekali tak nampak terkejut atau keheranan, seakan-akan persoalan ini sudah dalam dugaannya.

Tokko Ci menatapnya dingin, lalu tanyanya sedingin salju.

"Kau tidak salah ingat tempatnya?"

"Tidak mungkin,"

Jawaban Siau-hong sangat yakin.

"Aku tak bakal salah ingat."

"Jadi sebetulnya tumpukan emas itu memang berada di sini?"

"Seratus persen berada di sini."

"Ada berapa orang yang tahu tempat penyimpanan emas murni ini?"

"Tiga orang."

"Kecuali kau dan Po Eng, siapakah orang ketiga?"

"Pancapanah!"

Pancapanah, seorang pertapa yang kesepian, seorang Enghiong sejati yang sangat dicintai anak bangsa, seorang pengembara yang kesepian, seorang pembela bangsa yang sangat cinta tanah air, seorang pembunuh berdarah dingin, seorang yang tak pernah akan dipahami siapa pun, kecuali dia, tak bakal ada manusia kedua yang memiliki campuran watak yang saling bertentangan seperti ini.

Belum pernah ada yang tahu di manakah dia?

Bakal muncul dari mana?

Akan pergi ke mana?

Juga tak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan?

Terlebih lagi tak ada yang bisa menduga perbuatan apa yang bakal dia lakukan?

Begitu mendengar namanya, paras Tokko Ci pun tampak sedikit berubah, lewat lama kemudian baru ia bertanya kepada Siau-hong.

"Sejak awal kau sudah tahu emas itu disembunyikan di sini?"

"Benar!"

"Apakah kau yang merampok emas murni itu?"

"Bukan."

"Mungkinkah emas murni sebanyak tiga puluh laksa tahil dapat melenyapkan diri?"

"Tidak mungkin."

"Lalu ke mana larinya tumpukan emas murni itu?"

"Tidak tahu."

Tiba-tiba Tokko Ci tertawa dingin.

"Padahal seharusnya dia tahu,"

Katanya.

"Mengapa?"

"Sebab hanya satu orang yang bisa mencuri tumpukan emas murni itu."

"Siapa?"

"Pancapanah,"

Sahut Tokko Ci.

"Hanya Pancapanah yang dapat melakukan semua ini."

Sebenarnya kesimpulan ini sangat cocok dan masuk akal, tapi Siau-hong tidak setuju dengan pendapat itu.

"Kau keliru."

"O, ya?"

"Orang yang bisa memindahkan tumpukan emas murni itu selain Pancapanah masih ada seorang lainnya."

"Siapa?"

"Po Eng,"

Kata Siau-hong.

"Kecuali Pancapanah masih ada Po Eng."

"Jadi kau berpendapat Po Eng telah mencuri tumpukan emas murni itu?"

"Bukan mencuri, tapi mengangkutnya pergi."

"Mengapa harus mengangkutnya pergi?"

Kembali Tokko Ci bertanya.

"Karena dia tak ingin tumpukan emas murni itu terjatuh ke tangan orang lain,"

Jawab Siau-hong.

"Karena dia sendiri pun membutuhkan emas murni itu untuk biaya membalas dendam."

"Kini tumpukan emas itu telah diangkut pergi, apakah kejadian ini mengartikan kalau dia belum mati?"

"Benar."

Sepasang mata Siau-hong berkilauan seperti cahaya sang surya.

"Sejak awal telah kuduga tumpukan emas murni itu tak bakal berada di sini, sebab Po Eng tak bakal mati, tidak gampang bagi siapa pun untuk mencabut nyawanya."

"Tampaknya mengangkut emas murni sebanyak tiga puluh laksa tahil bukanlah satu pekerjaan gampang."

"Tentu saja tak gampang,"

Siau-hong membenarkan.

"Untungnya di dunia ini masih ada sejumlah orang yang selalu dapat melakukan perbuatan yang tak dapat dilakukan orang lain."

"Menurut kau, Po Eng adalah manusia macam itu?"

"Dia memang manusia seperti itu,"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Walau dalam keadaan dan situasi apa pun, dia selalu dapat menemukan orang yang amat setia kepadanya, sedemikian setia hingga tak segan mengorbankan nyawa sendiri baginya."

"Bagaimana dengan kau?"

Tanya Tokko Ci.

"Apakah kau pun bersedia mati demi dia?"

"Aku pun begitu."

Tiba-tiba Tokko Ci tertawa dingin.

"Kalau memang begitu, aku jadi tak habis mengerti,"

Katanya.

"Kau tak habis mengerti,"

Siau-hong balik bertanya.

"Apa yang tidak kau pahami?"

"Hanya ada satu hal yang tidak kupahami,"

Di balik ucapan Tokko Ci, terselip nada sindiran yang tajam bagaikan ujung jarum.

"Kalau memang kau pun bersedia mati demi dirinya, mengapa dia tidak datang mencarimu?"

Perasaan Siau-hong tidak terluka oleh tusukan itu.

"Karena aku telah meninggalkan dia,"

Sahut Siau-hong.

"Dia tidak datang mencariku karena dia tak ingin menyeret aku lagi hingga tergulung ke dalam pusingan masalah rumit ini."

"Karena itu kau sama sekali tidak menyalahkan dia?"

"Tentu saja tidak menyalahkan dia."

"Bila dia datang lagi mencarimu, apakah kau tetap masih bersedia mati demi dirinya?"

"Benar,"

Tanpa berpikir panjang Siau-hong menyahut.

"Tentu saja!"

Matahari sudah terbit, makin lama bergerak semakin tinggi, bayangan runcing batu cadas pun makin lama menyusut makin pendek.

Tiada cahaya matahari berarti tiada bayangan, ketika tengah hari menjelang tiba, bayangan itu malah lenyap tak kelihatan.

Ada banyak kejadian di dunia ini seperti keadaan itu.

Tiba-tiba Tokko Ci menghela napas panjang, suara helaan napasnya bagaikan angin dingin yang berhembus datang dari bukit nun jauh di depan sana dan menggoyangkan dedaunan.

"Po Eng memang seorang luar biasa."

"Dia memang luar biasa."

"Rasanya bukan pekerjaan gampang buat menghabisi nyawanya."

"Tentu saja tidak gampang."

"Bagaimana kalau membunuhmu?"

Tiba-tiba Tokko Ci bertanya kepada Siau-hong.

"Gampangkah kalau ingin membunuhmu?"

Dia menatap Siau-hong Siau-hong pun menatapnya, lewat lama kemudian baru sahutnya.

"Itu harus diperiksa dulu."

"Diperiksa?"

Tanya Tokko Ci.

"Apa lagi yang harus diperiksa?"

"Harus diperiksa dulu, siapa yang akan membunuhku? Kapan hendak membunuhku?"

"Kalau aku yang akan membunuhmu, dan sekarang juga akan kulakukan,"

Tanya Tokko Ci kemudian.

"Apakah hal ini pun sangat gampang?"

Jarang sekali ada orang yang bersedia menjawab pertanyaan semacam ini, tapi dengan cepat Siau-hong telah menjawabnya.

"Benar, memang gampang sekali."

Matahari bergeser makin lama semakin meninggi, tapi di dataran luas yang tak berperasaan, di tempat yang tak begitu luas, di antara Siau-hong dan Tokko Ci, hawa panas yang dipancarkan sang surya seakan sama sekali tak berguna.

Siau-hong merasa kedinginan, makin lama makin bertambah dingin, sampai keringat dingin pun tak mampu meleleh.

Paras Tokko Ci pun lebih dingin dari bongkahan salju.

"Kau sangka aku tak akan membunuhmu?"

Tiba-tiba ia bertanya lagi kepada Siau-hong.

"Aku tahu, kau tak akan membunuhku,"

Jawab Siauhong.

"Kau pernah berkata, asal muncul kesempatan, kau akan membunuhku."

"Kau belum melupakan perkataan ini?"

"Mana mungkin perkataan semacam ini dapat dilupakan?"

Siau-hong menatap sekejap tangan Tokko Ci yang menggenggam pedang.

"Kau adalah seorang pendekar pedang, kini dalam genggamanmu ada pedang, pedang tak berperasaan, jago pedang lebih tak berperasaan, bila sekarang kau membunuhku, bukan saja aku akan mati tak sedih, bahkan aku akan mati dengan perasaan lega."

Dalam genggamannya pun ada pedang, tapi tangan yang menggenggam pedang itu telah mengendor.

Matahari telah terbit di langit timur, Tokko Ci berdiri dengan membelakangi arah timur, jago pedang yang berpengalaman tak akan berdiri menghadap ke arah sinar matahari, apalagi berada di hadapan musuh tangguhnya.

Sekarang dia telah berdiri di posisi yang sangat menguntungkan, telah mendesak Siau-hong berdiri pada posisi yang terjelek.

Siau-hong tetap berusaha keras untuk tidak membiarkan dirinya berdiri persis menghadap ke arah terbitnya matahari, oleh karena itu dia masih dapat mengawasi wajah Tokko Ci.

Saat itu paras Tokko Ci masih kaku dan keras bagaikan batu karang dingin dan keras, tapi sedikit perubahan sudah mulai menghiasi mimiknya.

Semacam perubahan yang bercampur aduk.

Perasaan girang terbesit dari balik matanya.

Peduli siapa pun orang itu, dia akan berubah seperti ini sebelum melakukan pembunuhan, apalagi jika orang yang hendak dibunuhnya adalah musuh tangguh yang jarang ditemui sepanjang hidupnya.

Biarpun pancaran matanya terbesit cahaya hangat karena gembira, tak urung lekukan sedih dan apa boleh buat muncul juga di ujung matanya.

Menggunakan kesempatan dalam kesempitan jelas bukan suatu tindakan yang patut dibanggakan, tapi dia tetap memaksakan diri untuk berbuat begitu.

Bila kesempatan emas lewat, selamanya tak akan kembali lagi, sekalipun pada dasarnya dia enggan membunuh Siau-hong, namun kesempatan emas sebagus ini tak boleh dibiarkan begitu saja.

Siau-hong sangat memahami perasaannya.

Siau-hong tahu, ia bersiap melancarkan serangan mematikan.

Di saat yang kritis dan menegangkan inilah, tiba-tiba paras Tokko Ci kembali mengalami perubahan.

Tiba-tiba parasnya berubah kembali, sama sekali tak berperasaan, sama sekali tak ada luapan emosi.

Dan pada saat bersamaan, perasaan Siau-hong pun seolah ikut berkerut, secara tiba-tiba ia merasa ada seseorang telah menyelinap ke belakang tubuhnya.

Siapakah pendatang itu?

Siau-hong tidak berpaling, dia tak berani berpaling.

Sepasang matanya masih menatap tajam wajah Tokko Ci, tiba-tiba ia menjumpai sorot mata lawannya itu memancarkan perasaan gusar dan penderitaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Kemudian dia pun merasa ada sebuah tangan yang halus, lembut dan hangat menggenggam tangannya yang telah mendingin dan basah oleh keringat dingin.

Tangan siapakah itu?

Siapakah yang telah berdiri di sisinya, persis saat dia paling menderita, saat dia paling kritis dan menggenggam tangannya?

Sudah banyak orang yang dia bayangkan...

Yang-kong, Pova, Soso.

Ooo)d*w(ooO Mereka telah menjalin hubungan perasaan dengan dirinya, tak mungkin mereka akan berdiri menjauh dan menyaksikan dia tewas di ujung pedang orang lain.

Tapi dia tahu dan yakin, yang datang bukanlah mereka.

Sebab dia tahu, walaupun gadis gadis itu baik kepadanya, tapi dia bukanlah satu-satunya orang yang paling penting dalam pandangan hidupnya.

Dalam hati kecil Yang-kong masih ada Po Eng, dalam hati kecil Pova masih ada Pancapanah, dan dalam hati kecil Soso masih ada Lu-sam.

Betapa pun baiknya dia kepada mereka, betapa pun banyaknya perbuatan yang telah dia lakukan untuk mereka, namun setelah berada dalam situasi tertentu, gadis-gadis itu tetap akan kabur meninggalkan dirinya.

Sebab pada dasarnya mereka memang bukan miliknya.

Tapi beda untuk Siau-yan.

Peduli dia membencinya ataukah mencintainya, paling tidak dalam lembar kehidupannya belum pernah ternoda oleh lelaki lain kecuali dirinya.

Sebenarnya pemuda ini tak pernah mementingkan hal semacam ini, namun berada dalam keadaan yang begini kritis, ia baru merasa kalau hal semacam ini sebenarnya sangat penting.

"Kau telah datang?"

Tanyanya lirih.

"Tentu saja aku yang datang!"

Walaupun suaranya terdengar sangat dingin, namun di balik semua itu terselip suatu perasaan yang tak mungkin bisa dipercaya, tak mungkin bisa dipahami kecuali oleh "mereka".

"Mereka"

Sudah bukan berdua lagi, melainkan bertiga. Tokko Ci pun memahami perasaan semacam ini, namun tak tahan ia bertanya juga.

"Mau apa kau kemari? Apakah datang untuk menemaninya pergi mampus?"

"Belum saatnya!"

Dengus Che Siau-yan dingin.

"Pada hakikatnya dia tak akan mati, kenapa aku harus menemaninya pergi mati!"

"Dia tak bakal mati?"

"Tak bakal,"

Siau-yan menegaskan.

"Karena sekarang kami sudah berdua, kau sudah tak punya keyakinan untuk menghadapi kami berdua, karena itu kau tak bakal berani melancarkan serangan."

Tokko Ci tidak buka suara lagi.

Dia pun tidak melancarkan serangan.

Ia tahu, apa yang diucapkan gadis itu memang kenyataan, orang semacam dia tak pernah akan berdebat dengan suatu kenyataan, terlebih turun tangan secara gegabah.

Tapi dia tak pernah mengendorkan kewaspadaan sendiri.

Dia masih tetap berada dalam posisi siap menyerang, setiap saat dia dapat melepaskan sebuah serangan mematikan.

Oleh karena itu dia tidak bergerak, Siau-hong dan Siauyan pun tak berani bergerak.

Tangan mereka saling berpegangan kencang, peluh yang muncul dari telapak tangan Siau-hong mengalir ke telapak tangan Siau-yan.

Mereka berdua seolah telah menyatu, seperti darah yang menyatu.

Siapa pun tak tahu situasi kaku semacam ini akan bertahan hingga kapan.

Matahari sudah jauh di atas angkasa, tiba-tiba cuaca berubah jadi gelap, gelap yang tak masuk akal, gelap yang menakutkan.

Tiba-tiba peluh dingin yang lebih banyak meleleh dari telapak tangan Siau-hong, karena tiba-tiba ia merasakan angin yang berhembus di tubuhnya berubah jadi semakin dingin.

Di tengah gurun pasir yang panas menyengat, tidak seharusnya berhembus angin yang begini dingin.

Terhadap segala sesuatu yang berlaku di dataran luas yang tak berperasaan ini, dia sudah sangat hapal, pada setahun berselang, di tengah udara siang yang begitu panas, dia pun pernah mengalami pengalaman seperti hari ini, tiba-tiba langit berubah gelap, hembusan angin berubah jadi dingin.

Kemudian terjadilah badai pasir yang dahsyat dan menakutkan, tak pernah ada seorang pun yang sanggup melawan, tak seorang pun mampu menghindarkan diri.

Sekarang tak disangkal bakal terjadi badai pasir yang menakutkan, badai segera akan tiba.

Dia masih tetap tak berani bergerak.

Asalkan bergerak sedikit saja, kemungkinan besar akan tercipta keteledoran yang berakibat kematian fatal.

Pedang milik Tokko Ci jauh lebih dekat jaraknya daripada datangnya badai pasir, jauh lebih menakutkan.

Oleh karena itu dia hanya berdiri menanti, menanti datangnya badai pasir, sekalipun dia sadar, bila badai pasir melanda tiba, kemungkinan besar mereka akan mati di situ.

Karena dia tak punya pilihan lain, dia pun tak dapat menghindarkan diri.

Badai pasir ternyata benar-benar melanda tiba.

Hembusan angin makin lama makin kencang, angin kencang membuat pasir beterbangan di angkasa, ketika menghantam di atas badan, terasa bagaikan terbidik beriburibu batang panah.

Ketika badai dengan membawa pasir melanda tiba, Siauhong tahu riwayatnya bakal berakhir.

Walaupun setiap hal telah ia pertimbangkan masakmasak, namun dia tetap tak berani ceroboh, tak berani gegabah.

Setiap kecerobohan sekecil apa pun dapat menciptakan kesalahan yang mendatangkan kematian.

Dia seperti lupa bahwa dirinya sedang berdiri menyongsong datangnya angin topan, badai pasir yang menyapu datang tepat sekali menghajar wajahnya.

Menanti dia teringat akan hal ini, kesalahan besar telah dilakukan dan kesalahan itu tak mungkin bisa dibenahi lagi.

Pedang Tokko Ci bagaikan seekor ular berbisa telah menusuk ke depan, dia hanya menyaksikan berkelebatnya cahaya pedang, kemudian matanya tak sanggup dibuka kembali, bahkan tusukan itu telah melukai bagian tubuhnya yang mana pun dia sudah tak dapat merasakannya.

Ketika tubuhnya roboh ke tanah, dia masih mendengar teriakan Che siau-yan, kemudian tak ada suara yang bisa didengar lagi.

Angin masih berhembus kencang pasir kuning masih menari di tengah angkasa.

Siau-hong seolah mendengar lagi suara teriakan Siauyan, teriakan penuh penderitaan, seolah sedang berteriak minta tolong.

Dia pun seolah melihat Tokko Ci sedang mencabik-cabik pakaian gadis itu.

Padahal dia tidak mendengar apa-apa, tidak melihat apaapa.

Ketika tersadar kembali dari mimpi buruknya, keringat dingin telah membasahi pakaiannya, pemandangan yang terbentang di depan hanyalah lapisan pasir berwarna kuning.

Ternyata dia belum mati.

Apa yang ia dengar, apa yang dia lihat tadi tak lebih hanya ilusi, hanya khayalan dalam mimpinya.

Tapi Che Siau-yan entah sudah pergi ke mana, Tokko Ci pun tak tahu telah pergi ke mana.

Apa yang terjadi dalam mimpinya tadi, kemungkinan besar dapat terjadi dalam kehidupan nyata.

Membayangkan kembali tubuh Tokko Ci yang telanjang bulat berdiri di tengah hembusan angin dingin, menyaksikan bagaimana Siau-yan sedang membasuh tubuh yang bugil itu, tiba-tiba muncul perasaan sakit dan sedih dari dalam hati Siau-hong, perasaan pedih yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Dia harus pergi mencari mereka, harus mencegah terjadinya peristiwa yang tak diinginkan.

Dia ingin meronta untuk bangkit.

Tapi pinggangnya terasa sakit bagaikan disayat pisau....

Entah keberuntungan baginya ataukah ketidak beruntungan?

Ternyata bacokan maut Tokko Ci tak sampai menusuk bagian tubuhnya yang mematikan.

Kini dia masih hidup, tapi dia sendiri pun tak tahu seberapa lama lagi dia masih bisa hidup.

Badai pasir belum lagi lewat, dari mulut lukanya pun darah mulai bercucuran, bibirnya terasa kering, otot dan tubuhnya terasa linu bahkan sakit sekali.

Rangsum serta airnya telah terbang terhembus badai, perempuan yang mati hidup bersamanya mungkin saat ini sedang dipermalukan dan dilecehkan orang lain.

Tubuh luarnya, jiwanya, hampir semuanya merasakan siksaan dan penderitaan yang tak mungkin tertahankan oleh siapa pun.

Dalam keadaan begini, bagaimana mungkin dia dapat hidup terus?

Hanya orang yang pernah mengalami sendiri peristiwa tragis itu baru tahu bahwa untuk bertahan hidup di tengah hembusan badai pasir di wilayah gurun pasir merupakan satu peristiwa yang sulit dan berat.

Siau-hong pernah mempunyai pengalaman semacam ini.

Tempo hari dia nyaris mati di situ, dan kali ini situasi yang dihadapinya jauh lebih runyam daripada keadaan waktu itu.

Jika dia bukan Siau-hong, mungkin dia sendiri pun tak ingin hidup lebih lanjut.

Jika seseorang telah kehilangan keberanian serta semangat juang untuk mempertahankan hidup, siapa lagi yang bisa membiarkan dia hidup lebih lanjut?

Dia adalah Siau-hong.

Tak hentinya dia memberitahu diri sendiri.

Dia harus hidup terus, harus hidup terus!

Seluruh jagat terlapis pasir berwarna kuning, siapa pun tak dapat membedakan saat itu sebenarnya sedang pagi hari atau sudah malam hari?

Siau-hong berbaring di atas butiran pasir yang dingin membeku, badai pasir nyaris mengubur tubuhnya.

Dia benar-benar kelewat lelah, dia kelewat banyak kehilangan darah, kalau bisa, dia ingin sekali memejamkan mata dan tidur sejenak.

Kegelapan yang hangat dan lembut, mimpi yang indah dan manis, betapa indahnya tempat itu!

Mendadak Siau-hong membuka matanya, sekuat tenaga dia menggeliat sambil merangkak, dengan jidatnya sekuat tenaga ia gesek pasir-pasir yang kasar, membuat ia tersadar kembali karena rasa sakit yang menyusup hingga ke lubuk hati.

Sebab dia tahu, bila ia sampai tertidur, kemungkinan besar dia akan mati terkubur di bawah gundukan pasir kuning!

Ia tak sampai tertidur.

Darah bercucuran dari jidatnya yang terluka, darah meleleh pula dari mulut lukanya di pinggang, tapi ia sudah tersadar kembali, sadar sesadar-sadarnya....

Asal menemukan setitik air, dia pasti dapat hidup lebih jauh.

Di tengah gurun pasir yang tak berperasaan, di tengah badai pasir yang begini dahsyat, kemana dia harus pergi menemukan air?

Tiba-tiba Siau-hong melompat bangun, sekuat tenaga dia berjalan maju beberapa langkah, ketika tubuhnya sekali lagi roboh ke tanah, dia pun merangkak maju bagaikan seekor cecak.

Karena dia telah menemukan lagi secercah harapan untuk mempertahankan hidupnya.

Mendadak ia teringat kembali kawanan manusia yang semalam tewas di ujung pedangnya serta ujung pedang Tokko Ci.

Orang-orang itu sudah berjaga lebih dari sehari di tempat itu, dapat dipastikan mereka membekal air dan rangsum.

Ketika ingatan itu melintas bagaikan aliran listrik, tibatiba pemuda itu merasakan timbulnya satu kekuatan dari dasar badannya.

Benar saja, dengan cepat ia berhasil menemukan sesosok mayat dan menemukan kantung yang terikat di pinggang mayat itu.

Di dalam kantung itu terdapat tiga keping uang perak yang sangat berat serta hancuran perak.

Selain uang, dalam kantung itu pun ditemukan sebuah Tangan emas, tangan emas yang digunakan Lu-sam untuk memberi perintah kepada anak buahnya.

Lu-sam!

Lagi-lagi Lu-sam, Hok-kui-sin-sian Lu-sam!

Musuh besar yang dendamnya lebih dalam dari samudra, musuh tangguh yang harus dibantai dan dicincang hingga hancur berkeping.

Tapi saat ini Siau-hong seolah sudah melupakan sebuah dendam kesumat, karena pikiran dan perasaannya telah dikuasai oleh perasaan lain yang jauh lebih kuat.

Harapan untuk hidup terus memang selalu menjadi keinginan nomor satu bagi seluruh umat manusia.

Di dalam kantung kulit itu tak ditemukan air.

Kantong air lainnya ditemukan telah robek tertusuk pedang, orang yang merobek kantung air itu kemungkinan besar adalah Siau-hong sendiri.

Peristiwa ini benar-benar merupakan sebuah sindiran yang amat memilukan.

Tapi Siau-hong tidak berpikir ke situ.

Dia tak berani untuk berpikir.

Karena dia tahu, bila seseorang berpikir terlalu banyak, mungkin makna yang muncul akan membuat dia menilai lain tentang suatu kehidupan.

Baginya, dalam saat dan keadaan seperti ini, selembar nyawa sesungguhnya sama sekali tak ternilai harganya, selamanya tak bisa digantikan oleh benda apa pun.

Maka dia pun mulai merangkak lagi.

Tiba-tiba jantungnya berdebar keras, sebab bukan saja dia telah menemukan lagi sesosok mayat yang lain, bahkan dia pun telah meraba kantung kulit berisi air yang tergantung di pinggangnya.

Kantung air itu penuh dan padat, sepadat payudara seorang gadis perawan.

Siau-hong tahu, dia sudah tertolong.

Pemuda itu mulai menjulurkan tangannya yang dingin dan gemetar, ingin melepaskan kantung kulit itu, tapi pada saat bersamaan, dia kembali mendengar suara lain.

Tiba-tiba ia mendengar suara debaran jantung seseorang debaran jantung yang cepat.

Ternyata jantung orang itu masih berdetak, ternyata orang itu belum mati.

Siau-hong segera menghentikan tangannya, tangan itu seolah-olah membeku dan kaku secara tiba-tiba.

Mengambil kantung air dari tubuh sesosok mayat demi menyelamatkan nyawa sendiri, hal semacam ini bukanlah suatu perbuatan yang memalukan.

Tapi merampas kantung air dari seorang hidup yang sedang sekarat dan sama sekali kehilangan kekuatan untuk melawan, jelas hal ini merupakan satu masalah lain.

Siau-hong masih tetap Siau-hong.

Peduli berada dalam situasi dan kondisi seperti apa pun, dia selalu menjadi dirinya sendiri, karena dia selamanya tak akan kehilangan jati diri...

tak akan kehilangan hati nurani, dia pun tak pernah akan merubah prinsip hidupnya, apalagi melakukan perbuatan yang jelas memalukan dan tak bisa dimaafkan.

"Orang mati"

Yang belum mati itu mendadak bertanya kepadanya dengan suara yang aneh dan sangat lemah.

"Di dalam kantung kulitku masih ada air, mengapa kau tidak mengambilnya?"

"Karena kau belum mati,"

Jawab Siau-hong.

"Kau pun membutuhkan air itu!"

"Betul! Aku belum mati, tapi asal kau hadiahkan sebuah tusukan lagi, aku pun akan jadi orang mati."

Lalu tanyanya lagi kepada Siau-hong.

"Kalau memang kau menginginkan air milikku, mengapa tidak kau bunuh aku?"

Siau-hong menghela napas panjang.

"Aku tak boleh membunuhmu, aku tak boleh membunuh orang hanya dikarenakan alasan semacam ini!"

"Tapi sebetulnya kau memang ingin membunuhku,"

Kata orang itu.

"Seharusnya aku telah mati di tanganmu."

Ooo)d*w(ooO BAB 33. KASUS ANEH PAT KA-KEH (JALAN DELAPAN SUDUT) "Waktu itu kau hendak membunuhku, tentu saja aku akan membunuhmu,"

Sahut Siau-hong.

"Tapi sekarang "Kenapa sekarang?"

"Sekarang bukan saja aku tak bisa membunuhmu, bahkan akan menyelamatkan jiwamu."

"Kenapa?"

"Karena kau sudah menjadi seorang yang hampir mati, sudah sama sekali kehilangan kekuatan untuk melawan,"

Kata Siau-hong.

"Bila aku membunuhmu, sekalipun aku bisa hidup terus, aku akan hidup dengan perasaan tak tenang."

"Jadi sekarang hidupmu sangat tenteram?"

"Hidupku selalu tenteram,"

Jawab Siau-hong.

"Karena aku sadar bahwa diriku tidak berhutang kepada siapa pun, tidak menyalahi siapa pun."

"Jadi kau lebih suka mati daripada melakukan perbuatan yang tak bisa dimaafkan orang lain?"

"Perbuatan yang tak bisa kumaafkan pun, tak bakal kulakukan."

Orang itu terengah-engah, napasnya memburu, tiba-tiba ia memperdengarkan suara rintihan keputus-asaan, suara erangannya seperti seekor hewan buas yang menjumpai dirinya terperosok ke dalam perangkap yang dalam.

"Aku salah!"

Rintihnya.

"Aku telah melakukan kesalahan."

"Kesalahan apa yang telah kau lakukan?"

Orang itu tidak menjawab pertanyaan itu, hanya tiada hentinya berbisik.

"Kau masih belum berubah, kau masih Siau-hong yang dulu, aku tidak sepantasnya... tidak sepantasnya...."

Suara rintihannya makin lama semakin rendah, makin lama semakin lemah dan lirih.

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku adalah Siau-hong? Dari mana bisa tahu kalau aku belum berubah?"

Tanya Siauhong.

"Kau tidak sepantasnya kenapa?"

Orang itu sudah tak mampu menjawab pertanyaannya lagi.

Dengus napasnya yang kian melemah, dia semakin terengah-engah, bahkan mulai batuk tiada hentinya.

Siau-hong segera melepaskan kantong air milik orang itu, dia ingin memberinya air minum, sayang napasnya yang terengah dan batuknya yang keras membuat orang itu tak mampu meneguk air yang disuapkan ke mulutnya.

Langit semakin gelap, dengan menggerayang dia mengeluarkan secarik kain dari sakunya, lalu dibasahi kain tadi dan perlahan ia teteskan air itu di atas bibirnya yang mengering.

Akhirnya orang itu dapat berbicara lagi.

"Aku telah berbuat salah kepadamu,"

Katanya.

"Aku pun telah melakukan kesalahan terhadap engkoh Eng."

Perkataan yang dia ucapkan membuat Siau-hong terperangah, terkejut, hingga lama sekali tak mampu berkata-kata. Lewat lama kemudian ia baru bertanya.

"Jadi kau pun kenal Po Eng? Kesalahan apa yang telah kau lakukan? Siapakah kau?"

Tiada jawaban, tiada reaksi dari orang itu.

Ternyata ketika Siau-hong mengajukan pertanyaan itu, napas dan detak jantungnya telah berhenti, orang itu telah menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Perlahan Siau-hong membentangkan kain yang telah dibasahi tadi dan ditutupkan ke atas wajah orang itu.

Sekarang dia sudah tahu orang ini pasti mempunyai hubungan yang dalam dengan dirinya, mempunyai hubungan yang mendalam dengan Po Eng.

Tapi sayang ia tak dapat mengingat siapakah orang itu?

Deru angin badai masih berhembus kencang, dia sudah tak mendengar lagi suara bisikan orang itu.

Langit bertambah gelap.

Harus menanti sampai kapan langit baru terang kembali, badai pasir baru berhenti?

Siau-hong mengambil kantung air itu, kemudian meminumnya dua teguk.

Sesungguhnya dia bukan benar-benar ingin minum air dalam kantung itu, di saat meneguk air, dia sama sekali tak berpikir perbuatan apa yang sedang dilakukannya.

Dia minum air dalam kantung kulit itu tak lebih hanya sebuah reaksi yang lumrah, karena dia harus hidup lebih jauh.

Kemungkinan besar orang itu adalah sahabatnya, bahkan baru saja tewas di tangannya.

Bila dia terbayang akan hal ini, bila dia tahu siapakah orang itu, mungkin ia rela mati kehausan daripada meneguk air di dalam kantung kulit itu.

Biarpun saat itu langit bertambah gelap, bukankah sesaat sebelum terbitnya sang surya merupakan saat yang paling gelap?

Kini langit sudah mulai terang, deru angin pun sudah semakin mereda.

Tiba-tiba saja Siau-hong dapat melihat wajah orang itu, kain yang menutupi wajahnya telah terbang terhembus angin, kini terpampanglah sebuah wajah yang penuh penderitaan, siksaan dan penyesalan.

Seketika itu juga Siau-hong merasakan hatinya tenggelam, darah yang mengalir di tubuhnya seolah jadi dingin dan membeku.

Ternyata orang itu tak lain adalah Gharda.

Di saat ia dicurigai orang hingga nyaris tak ada jalan keluar, dialah satu-satunya orang yang masih menganggap dirinya sebagai sahabat.

Kain yang dia pergunakan untuk menutupi wajah orang itu tak lain adalah "Hata"

Yang dipersembahkan orang ini kepadanya sambil berlutut.

"Hata"

Yang melambangkan persahabatan abadi serta rasa hormat yang tinggi.

Kini orang itu telah mati di ujung pedangnya, ternyata dia masih meneguk habis air dalam kantung kulit miliknya.

Kenapa Gharda belum mati?

Kenapa ia bisa muncul di sini?

Kenapa bisa bergabung menjadi anak buah Lu-sam?

Kenapa ia menuduh dirinya bersalah?

Kenapa dia pun berkata kalau telah melakukan kesalahan terhadap Siauhong dan Po Eng?

Tak satu pun persoalan itu yang dipikirkan Siau-hong.

Persoalan yang terpikirkan olehnya saat ini adalah mimik muka yang tulus dari Gharda ketika mempersembahkan satu-satunya sepatu laras kulit kesayangannya dalam tenda yang sempit dan memintanya untuk melarikan diri.

Bila saat ini ada orang yang sempat melihat wajah Siauhong, dia pasti akan sangat terperanjat.

Karena raut wajahnya saat ini nyaris telah berubah seperti wajah sesosok mayat.

Karena parasnya pun diliputi perasaan sedih, menderita, dan penyesalan.

inikah yang disebut kehendak takdir?

Mengapa kehendak takdir selalu memojokkan orang ke dalam jalan buntu yang penuh ketidak-berdayaan?

Mengapa selalu mempermainkan umat manusia agar melakukan perbuatan yang sebenarnya biar mati pun tak bakal dilakukan?

Badai telah mereda, jenazah pun telah dikubur.

Bagi Siau-hong, kejadian ini bukan merupakan pengalamannya yang pertama, ia pernah mengalami serangan badai, dia pun pernah mengubur jenazah lawan, satu-satunya perbedaan kali ini adalah jenazah yang dia kubur bukan jenazah musuhnya, melainkan mayat dari seorang sahabatnya.

Seorang sahabat yang tewas di ujung pedangnya.

Dengan menggunakan pedang sebagai tongkat, Siauhong berusaha menempuh perjalanan.

Sejujurnya dia sendiri pun tak tahu kemana harus pergi, karena dia tak punya tujuan, tak tahu harus ke mana, terlebih lagi dia pun tak tahu sampai kapan dia bisa bertahan.

Tiada air, tiada rangsum, tiada tenaga, apa pun tak dimiliki, bahkan niat untuk mempertahankan hidup yang sangat penting pun ikut lenyap karena perasaan sesal yang mendalam, setiap saat kemungkinan dia akan roboh, bila roboh maka selama hidup jangan harap bisa bangkit lagi.

Mengapa dia masih berjalan terus ke depan?

Karena Siau-yan.

Dia seolah-olah mendengar suara Siauyan, suara rintihan yang penuh penderitaan dan kepedihan.

Kali ini pun dia masih belum dapat memastikan apakah suara yang didengarnya itu benar atau hanya ilusi?

Maka dari itu selama masih memiliki satu bagian kekuatan, selama masih bisa melangkah maju, dia tak pernah akan menghentikan langkahnya.

Dia harus menemukan jawaban yang pasti.

Akhirnya dia pun berhasil menemukannya.

Di saat dia nyaris roboh untuk selamanya tak mampu bangkit lagi, dia telah melihat Che Siau-yan.

Matahari kembali muncul di tengah angkasa, dataran luas pun berubah jadi panas membara bagaikan sebuah tungku api.

Tiba-tiba Siau-hong menjumpai gadis itu sedang berjalan menuju ke arahnya, sambil bertelanjang kaki ia berjalan di atas pasir yang membara, seluruh pakaian yang dikenakan telah tercabik-cabik robek.

Rambutnya yang hitam terurai lepas, wajahnya yang cantik pucat-pias dan membengkak karena pukulan, air mata membasahi mata dan pipinya.

Ketika memandang lagi ke depan, dia pun dapat menyaksikan Tokko Ci.

Ia berdiri dalam keadaan telanjang bulat, berbaring di bawah teriknya matahari, pedangnya terlepas pada jarak yang dapat diraih oleh tangannya.

Dia kelihatan begitu lepas dan kendor, kendor karena kepuasan.

Siapa pun yang menyaksikan keadaan itu pasti dapat membayangkan peristiwa apa yang barusan terjadi di situ.

Apa yang disaksikan Siau-hong dalam mimpi buruknya ternyata telah terjadi dalam kehidupan nyata.

Kemungkinan besar peristiwanya jauh lebih menakutkan, jauh lebih tragis, jauh lebih meremukkan hati daripada apa yang dilihatnya dalam mimpi buruknya tadi.

Siapakah yang dapat melukiskan, bagaimana perasaan seseorang ketika hatinya betul-betul sedang hancur dan remuk?

Siau-hong pun tak dapat melukiskan, tapi dia telah merasakan.

Siau-yan berjalan menuju ke hadapannya, menatapnya dengan termangu, di balik matanya yang basah oleh air mata, terselip pula perasaan yang siapa pun tak dapat melukiskan, tapi siapa saja ikut merasa remuk-redam setelah melihatnya.

Tiba-tiba Siau-hong menerkam ke muka.

Siau-yan merentangkan sepasang tangannya menyambut pelukan pemuda itu, tapi Siau-hong hanya menerjang lewat dari hadapannya, dia langsung menerkam ke arah Tokko Ci.

Tentu saja dia bukan ingin merangkul dan memeluk Tokko Ci.

Ia menerjang ke depan karena dalam genggamannya ada pedang, dia ingin sekali menusuk leher Tokko Ci yang berbaring telanjang dan mengakhiri kehidupannya.

Kepedihan, gusar dan benci telah merangsang setiap bagian tubuhnya, karena itulah dia masih memiliki cukup kekuatan untuk menghujamkan pedangnya.

Namun dia sendiri pun tahu, sisa tenaga yang dimilikinya sudah tidak terlalu banyak.

Pedang Tokko Ci masih tergeletak di tempat yang dapat diraihnya.

Ketika tusukan pedangnya gagal menembus tenggorokan lawan, kemungkinan besar pedang Tokko Ci akan menembus dadanya.

Ia tahu akan hal itu, tapi dia tak peduli, sedikit pun tak peduli.

Tusukan pedang Siau-hong tidak menembus tenggorokan lawan, bukan karena Tokko Ci telah meraih pedangnya dan menghujamkan pedangnya lebih dulu di atas dadanya.

Tusukan itu tidak dilanjutkan karena dia merasa sangat keheranan.

Arah yang ditusuk pedangnya adalah bagian dada Tokko Ci, bagian mematikan yang akan merenggut nyawanya jika tertusuk.

Tapi sewaktu pedangnya menusuk ke bawah, ternyata Tokko Ci tidak berusaha meraih pedangnya, bahkan dia sama sekali tak bergerak, parasnya sama sekali tak berubah.

Jangankan berubah, sedikit perubahan mimik muka pun tak ada, dia seolah mayat yang telah mengering.

Sebuah peristiwa yang sangat aneh!

Paras Tokko Ci memang selalu tanpa emosi, selalu tidak menunjukkan perubahan apa pun.

Tapi anehnya, mimik muka yang kaku tanpa perasaan saat ini, terasa berbeda sekali dengan mimik muka tanpa perasaan yang diperlihatkan di masa lampau.

Karena di saat tanpa perasaan pun tetap ada penampilan, bahkan dapat memberi kesan kuat bagi siapa pun yang melihat.

Dulu, wajah Tokko Ci yang tanpa perasaan itu selalu menimbulkan kesan menakutkan dan menyeramkan bagi siapa pun yang melihatnya.

Tapi sekarang, kesan yang tampil di wajahnya sama sekali berbeda.

Kini paras tanpa perasaannya hanya memberi kesan penderitaan dan tersiksa bagi siapa pun yang melihatnya, semacam penderitaan yang hanya muncul di saat seseorang merasakan kegagalan, kekalahan dan keputus asaan.

Dia adalah pemenang, dia terkuat, dia yang menguasai segalanya, merampas semuanya.

Sebagai seorang pemenang, mengapa dia tampilkan penderitaan dan siksaan seperti ini?

Siau-hong tidak habis mengerti, itulah sebabnya dia tidak melanjutkan tusukan itu.

Walaupun belum ditusukkan lebih jauh, setiap saat dia dapat melanjutkan tusukan pedangnya.

Ujung pedang miliknya telah berada di atas tenggorokan Tokko Ci, selisih jaraknya dengan tenggorokan Tokko Ci paling hanya satu inci.

Paras Tokko Ci masih menambilkan mimik keputusasaan dan penderitaan, bahkan memberi kesan seolah dia sangat berharap tusukan pedang Siau-hong dapat segera menembus tenggorokannya, agar dia tewas di bawah teriknya matahari.

Apakah dia ingin mati?

Hanya seorang pecundang, seorang yang kalah dalam segalanya, baru ingin mati, mengapa dia ingin mati?

Siau-yan pun sedang mengawasi Tokko Ci.

Pakaian yang dikenakan gadis itu sudah tercabik-cabik, wajahnya sembab karena pukulan, tapi sewaktu menatap orang itu, tiada perasaan marah dan kebencian di balik matanya, sebaliknya ia justru memperlihatkan ejekan, cemoohan, dan rasa iba.

Tiba-tiba gadis itu maju, menarik tangan Siau-hong yang menggenggam pedang dan berkata.

"Mari kita pergi dari sini! Orang ini sudah tak berguna, kau tak perlu lagi membunuhnya."

"Tidak berguna?"

Siau-hong tidak mengerti.

"Kenapa tidak berguna?"

"Karena dia sudah bukan seorang lelaki,"

Suara Siau-yan penuh ejekan dan cemoohan.

"Dia ingin memperkosa aku, sayangnya dia tak mampu, dia sudah tak berguna."

Tokko Ci masih berbaring di sana, berbaring di atas butiran pasir yang membara, berbaring di bawah teriknya matahari.

Siau-hong telah pergi, meninggalkan musuhnya begitu saja di tengah gurun.

Seorang lelaki yang sudah tak berguna, seorang lelaki yang sudah bukan lelaki, memang tak berharga untuk dibunuh orang lain.

Sekalipun mereka juga tahu, membiarkan dia berbaring seperti itu akan membuat seluruh badannya terbakar jadi arang membuat dagingnya terpanggang di saat matahari tenggelam sore nanti.

Mereka tetap pergi dari situ, kecuali dia sendiri, di dunia ini sudah tak ada orang lain yang dapat menyelamatkan jiwanya.

Che Siau-yan menerima satu stel pakaian yang diberikan Siau-hong kepadanya, lalu dikenakan untuk menutupi tubuhnya yang nyaris telanjang.

Biarpun kondisinya tampak mengenaskan, namun sikapnya jauh lebih tenang daripada Siau-hong.

"Sekarang kita akan pergi ke mana?"

Tanyanya. Siau-hong termenung dia mengawasi sekejap dataran luas yang panas membara, lalu mengawasi pula sepasang tangannya yang kosong. Lewat lama kemudian dia baru bertanya.

"Sekarang kita akan pergi ke mana?"

"Ke mana kau ingin pergi, ke sana kita akan pergi,"

Jawaban Siau-yan begitu ringan dan santai, seolah dia tak tahu kalau saat itu mereka sudah tidak memiliki segalanya, setiap saat kemungkinan besar akan roboh ke tanah.

Kembali termenung sampai lama, Siau-hong baru berkata.

"Aku ingin kembali ke Lhasa."

"Kalau begitu, kita kembali ke Lhasa,"

Jawaban Siau-yan masih enteng sekali.

"Sekarang juga kita kembali."

Siau-hong menatapnya, tiba-tiba ia tertawa, tertawa getir.

"Dengan cara apa kita kembali?"

Dia bertanya.

"Merangkak? Ataukah digotong orang?"

Ternyata Siau-yan ikut tertawa, tawanya terasa sangat misterius.

Siau-hong benar-benar tidak habis mengerti, dalam keadaan seperti ini kenapa dia masih bisa tertawa, namun dengan cepat dia jadi paham.

Sebab saat itu Siau-yan telah memindahkan sebuah batu cadas besar, seperti seorang pemain sulap, dari bawah batu cadas itu terdapat sebuah lubang gua, dari dalam liang dia mengeluarkan tiga buah kantung kulit yang sangat besar, sekantung rangsum, satu stel pakaian, dan sekantong air.

Dengan terkejut Siau-hong memandang ke arahnya, tibatiba ia menghela napas panjang.

"Tiba-tiba saja aku merasa kau mirip seseorang,"

Katanya.

"Ada banyak hal yang mirip."

"Kau mengatakan aku mirip siapa?"

"Pancapanah,"

Sahut Siau-hong.

"Enghiong Hohan nomor wahid di gurun pasir, Pancapanah yang selamanya tak pernah diduga dan diraba sepak terjangnya oleh siapa pun."

"Masa aku mirip dia?"

"Karena kau pun seperti dia, mau pergi ke mana pun, selalu menyiapkan jalan mundur bagi diri sendiri,"

Siauhong menerangkan.

"Oleh sebab itu, selamanya kalian tak bakal bisa dipojokkan orang lain hingga kehabisan jalan."

Che Siau-yan ikut tertawa, entah sejak kapan tiba-tiba dia berubah menjadi lebih mirip Yang-kong, berubah jadi seorang bocah perempuan yang gemar tertawa. Sambil tertawa tanyanya kepada Siau-hong.

"Sekarang apakah kita sudah boleh berangkat ke kota Lhasa?"

"Benar,"

Siau-hong mengangguk.

"Sekarang kita boleh berangkat."

Ooo)d*w(ooO Lhasa masih tetap Lhasa yang dulu.

Seperti kota kuno lain yang mempunyai sejarah panjang, gerusan sang waktu, puing akibat peperangan, perubahan dan peristiwa besar, tak satu pun dapat mengubah kota besar yang kuno ini.

Benteng batu yang membentang dari istana Potala hingga bukit Chagebu dipenuhi bangunan loteng, ruang semadi, halaman kuil dan batu prasasti, sebuah pemandangan kota yang sangat menawan.

Lorong dan jalanan di dalam kota masih penuh berjejal manusia yang berlalu-lalang, kawanan pengemis tua yang lemah masih bertebaran mencari sedekah, sambil membaca doa mohon kemurahan hati dari para peziarah.

Sampah-sampah pun masih menumpuk di sepanjang jalan, tapi kotornya jalan tak sampai mempengaruhi keindahan kota.

Balik ke kota itu, Siau-hong merasa seolah dia kembali ke desa kelahirannya, wilayah Kang-lam.

"Sekarang kita akan ke mana?"

Siau-yan bertanya lagi.

"Kita pergi ke jalan Pat-ka-keh!"

Jalan Pat-ka-keh (Sudut delapan) merupakan pusat perdagangan kota, hampir semua kantor dagang besar berkumpul di tempat ini, mau membeli barang apa pun, kau bisa mendapatkannya di situ.

"Mau beli apa kau ke situ?"

Kembali Siau-yan bertanya.

"Tidak membeli apa-apa."

"Kalau tidak membeli apa-apa, mau apa ke sana?"

"Mengunjungi sebuah kongsi perdagangan,"

Jawab Siauhong.

"Kantor dagang Eng-ki."

"Eng-ki? Bukankah kantor dagang milik Po Eng?"

"Dulu miliknya."

"Dan sekarang?"

"Sekarang sudah bukan menjadi miliknya."

"Kalau sekarang sudah bukan menjadi miliknya, mau apa kau ke sana?"

Tampaknya Siau-yan sudah bertekad mencari tahu hingga jelas.

"Pergi mencari seseorang,"

Jawab Siau-hong perlahan.

"Bertanya tentang beberapa masalah."

Kemudian sambil menatap wajah Siau-yan terusnya.

"Bila kau enggan ke sana, tunggulah aku di sini."

Tentu saja tak mungkin dia tidak ikut pergi.

Maka mereka pun menelusuri jalan raya yang sangat ramai itu, dari kedua sisi jalan terendus bau asam susu yang pekat, sedemikian pekatnya nyaris membuat orang susah bernapas, cahaya matahari yang menyilaukan mata ditambah hembusan angin berpasir, nyaris membuat sepasang mata mereka sukar dipentang lebar.

Aneka ragam barang dagangan dijual di pasar, dari daun teh sampai dupa wangi.

Satu-satunya yang berbeda di sana adalah orang yang berlalu-lalang di jalanan itu seakan telah berubah.

Jalan raya ini pun tak jauh berbeda seperti jalan raya lain, orang yang berlalu-lalang di sana secara garis besar terbagi jadi dua bagian, bagian pertama adalah orang yang bertempat tinggal di sana dan bagian kedua adalah orang yang datang dari luar daerah.

Dulu, Siau-hong pernah melewati jalanan ini, dia selalu merasa wajah setiap orang di sana selalu memancarkan kegembiraan, kecukupan dan kebahagiaan, menunjukkan kehidupan maupun usaha dagang mereka sangat memuaskan dan kehidupan mereka pun selalu dipenuhi rasa percaya diri.

Tapi hari ini, penampilan mereka sama sekali berubah, berubah jadi sedikit ketakutan, sedikit kasak-kusuk, sewaktu memandang ke mata orang lain, mereka selalu menunjukkan sikap curiga dan waspada, bahkan setiap orang tampak amat ketakutan.

Semua kantor dan toko di sepanjang jalan ini merupakan kantor perdagangan kaya, kehidupan orang-orang itu pun selama ini makmur tanpa masalah apa pun.

Lalu apa sebabnya mereka ketakutan?

Apa yang mereka takuti?

Sewaktu Siau-hong merasakan hal ini, Siau-yan pun merasakan hal yang sama.

Dia menarik ujung baju Siau-hong, lalu bisiknya lirih.

"Pasti sudah terjadi suatu peristiwa di jalanan ini, pasti sebuah peristiwa yang amat menakutkan."

Kemudian tanyanya lagi.

"Apakah kau memperhatikan mimik muka orang lain sewaktu memandang dirimu?"

Tentu saja Siau-hong pun memperhatikan hal ini.

Mimik orang lain ketika memandang ke arahnya, seperti memandang dewa penyakit yang setiap saat mungkin akan menyebarkan penyakit lepra ke seluruh penduduk kota.

Suasana ramah, rezeki baru tumbuh.

Sebagai pedagang, tidak seharusnya mereka mempergunakan sorot mata semacam ini untuk menatap orang lain.

Peristiwa apa lagi yang telah terjadi di sana?

Apakah ada hubungannya dengan Siau-hong?

Perasaan Siau-hong saat itu kembali tenggelam.

Mendadak ia terbayang peristiwa kebakaran yang melanda tempat tinggal Po Eng, kemudian kantor dagang Eng-ki berganti pemilik, sewaktu dia bersama Yang-kong melalui jalanan itu, orang lain pun menggunakan sorot mata semacam ini memandang mereka.

Mungkinkah kali ini terjadi lagi suatu peristiwa besar di kantor dagang Eng-ki?

Apakah orang-orang itu masih mengenalinya, masih ingat kalau dia adalah sahabat Po Eng?

Mungkinkah Po Eng telah kembali ke sana dan melakukan pembalasan yang adil tapi kejam terhadap musuh besarnya?

Peristiwa semacam ini bukannya tidak mungkin terjadi.

Apa yang hendak dilakukan Po Eng sesungguhnya memang tak pernah bisa diduga siapa pun.

Seandainya Siau-hong tiba kembali di kantor dagang Eng-ki dan menyaksikan Po Eng telah duduk di belakang meja kasir, saat itu Siau-hong pasti tak akan merasa kelewat terkejut.

Dia selalu berpendapat, tiada perbuatan di dunia ini yang tak mungkin bisa dilakukan Po Eng.

Siau-hong segera mempercepat langkahnya, detak jantungnya ikut berdebar kencang.

Kalau bisa, dia ingin dalam sekali langkah telah tiba di pintu gerbang kantor Engki.

Jika dia tahu peristiwa apa yang telah terjadi di kantor dagang Eng-ki, biar kau gotong dia dengan tandu, melecuti dia dengan cambuk pun belum tentu dia mau masuk ke kantor itu.

Pintu gerbang kantor Eng-ki berada dalam keadaan terbuka, dari kejauhan orang sudah dapat melihat situasi di dalam toko.

Dalam toko itu ada lima orang, mereka sedang melakukan satu perbuatan.

Selama ini kantor dagang Eng-ki adalah sebuah kantor dagang yang termasyhur dan ramai transaksi dagangnya, tentu saja semua pegawai toko pandai bekerja dan harus selalu bekerja.

Kelima orang itu sedang bekerja, suatu kejadian yang tak aneh, kalau mereka tidak sedang bekerja, itu baru aneh namanya.

Namun ketika Siau-hong coba memperhatikan, ternyata ia tak berhasil menyaksikan pekerjaan apa yang sedang mereka lakukan, siapa pun itu orangnya, tak mungkin mereka dapat mengetahui pekerjaan apa yang sedang dilakukan orang-orang itu, apalagi hanya memandang dalam sekejap.

Sebab pekerjaan yang mereka sedang lakukan sangat aneh, bukan saja dalam situasi seperti apa pun tak akan dilakukan orang bahkan boleh dibilang dalam sejarah hidup sulit bagi siapa pun untuk menyaksikan kejadian itu.

Oleh karena itu sekalipun kau telah menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan, belum tentu percaya kalau mereka sedang melakukan perbuatan itu.

Mereka sedang membantai orang!

Di tengah hari bolong, di sebuah jalan raya yang ramai dilewati orang, di dalam sebuah kantor dagang yang terbuka lebar pintu gerbangnya, ternyata mereka sedang membunuh orang.

Siapa sedang membunuh siapa?

Ada dua orang sedang membunuh dua orang lainnya.

Kemudian masih ada seseorang lagi berdiri di sisi arena, menyaksikan mereka membunuh orang.

Siau-hong segera menerjang ke depan, tapi sebelum memasuki pintu gerbang ia sudah dibuat tertegun, melongo.

Karena orang pertama yang dilihatnya ternyata adalah dia sendiri.

Kecuali sedang berdiri di depan cermin, kali ini dia benar-benar telah melihatnya, bahkan melihat dengan jelas sekali.

Ternyata Siau-hong telah melihat diri sendiri, seseorang yang wajah dan potongan badannya seperti diri sendiri.

Waktu itu Siau-hong masih berdiri di depan pintu gerbang Eng-ki, tapi di dalam kantor ternyata ada seorang Siau-hong lagi yang berdiri di depan meja kasir sambil menyaksikan orang lain membunuh orang.

Siau-hong bukan anak kembar, dia pun tak punya saudara, darimana datangnya Siau-hong kedua?

Tak disangkal Che Siau-yan pun merasa amat terperanjat.

Ketika Siau-hong terperangah, dia pun ikut terperangah, sekuat tenaga gadis itu menarik tangan Siau-hong sambil berseru.

"Aku telah melihatmu!"

"O, ya?"

"Aku melihat kau berada di kantor dagang di seberang sana."

"O, ya?"

"Tapi sudah jelas kau berada di sampingku, kenapa bisa muncul di kantor dagang itu?"

Tanya Siau-yan kepada Siauhong.

"Masa kau seorang dapat berubah jadi dua orang?"

Siau-hong tertawa getir, hanya tertawa getir.

Siapa pun itu orangnya, mereka pasti hanya bisa tertawa getir setelah mendengar pertanyaan itu, sebab persoalan ini kelewat aneh, kelewat fantastik, kelewat tak masuk akal.

Namun ketika Siau-hong dapat melihat dengan jelas orang yang terbunuh dan orang yang membunuh, jangankan bicara, ingin tertawa getir pun sudah tak mampu.

Mimik mukanya menunjukkan seolah badannya dibacok orang secara tiba-tiba, dan bagian tubuh yang dibacok adalah ruas tulangnya yang paling sensitip.

Yang melakukan pembunuhan ada dua orang, seorang pria, seorang wanita.

Orang yang mereka bunuh pun ada dua orang, mereka pun seorang pria dan seorang wanita.

Lelaki sang pembunuh ternyata bukan lain adalah "Po Eng".

Perempuan sang pembunuh ternyata adalah Yang-kong.

Orang yang sedang dibunuh Po Eng adalah Pancapanah!

Sedangkan orang yang dibunuh Yang-kong adalah Pova.

Seorang lain, Siau-hong sedang mengawasi Po Eng dan Yang-kong membunuh Pancapanah dan Pova, tiada kesan atau niat orang itu untuk mencegah terjadinya pembunuhan itu.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Siapa yang tahu kejadian apakah itu?

Sesungguhnya kejadian itu adalah sebuah peristiwa yang amat sederhana.

Di dunia ini ada banyak sekali kejadian yang dalam penampilan tampak sangat rumit dan misterius, padahal amat sederhana.

Terkadang sedemikian sederhananya hingga sangat menggelikan.

Mengapa bisa muncul dua orang Siau-hong?

Karena Siau-hong lain yang berada dalam kantor dagang itu adalah manusia lilin, manusia yang terbuat dari lilin.

Mengapa Po Eng akan membunuh Pancapanah?

Mengapa Yang-kong akan membunuh Pova?

Karena mereka pun manusia lilin.

Lima orang yang berada dalam kantor dagang itu semuanya merupakan manusia yang terbuat dari lilin, biarpun bentuknya sangat hidup dan sempurna, namun semuanya palsu.

Semua persoalan yang membingungkan akhirnya memperoleh penjelasan, biarpun jawabannya amat sederhana, namun sama sekali tidak menggelikan.

Karena Siau-hong segera teringat persoalan yang jauh lebih banyak.

Siapa yang telah membuat manusia lilin itu?

Mengapa harus melakukan perbuatan semacam ini?

Apa maksud dan tujuannya?

Selama ini dalam kantor dagang Eng-ki selalu banyak pegawai dan pekerja, mengapa sekarang hanya tersisa lima orang gadungan yang terbuat dari lilin?

Ke mana perginya yang lain?

Siau-hong melanjutkan langkahnya ke depan, kembali dia menyaksikan tiga orang.

Ketiga orang itu berdiri agak jauh, di sudut ruangan, seorang pria, seorang wanita dan seorang bocah.

Yang pria adalah Lu-sam, yang perempuan Soso, bocah kecil itu berada dalam gendongan Soso.

Lu-sam berwajah tampan, Soso berwajah cantik bak bidadari, bocah yang berada dalam pelukan perempuan itu mengenakan pakaian kembang-kembang, mengenakan topi merah, meski baru berumur dua-tiga bulanan, tubuhnya cukup gemuk dengan telinga lebar, sangat menawan.

Tentu saja ketiga orang itu pun manusia gadungan, manusia yang terbuat dari lilin.

Sekalipun mereka bukan terbuat dari lilin, semisal Lusam benar-benar berdiri di tempat itu, Siau-hong tetap tak berani menerjang masuk ke dalam.

Karena dia sama sekali tidak lupa kepada peristiwa yang terjadi dalam rumah batu di dusun terpencil tempo hari.

Tak diragukan bocah yang sedang digendong Soso adalah anaknya, darah dagingnya, darah yang mengalir dalam tubuh bocah itu berasal dari darah dalam tubuh sendiri.

Sekalipun apa yang dilihatnya sekarang hanya seorang bocah yang terbuat dari lilin, namun raut muka bocah itu pasti mirip dengan wajah asli bocah itu.

Seorang bocah yang sangat menawan, Siau-hong sangat berharap dapat maju dan memeluknya.

Bila peristiwa ini terjadi pada dua tahun berselang peduli Lu-sam itu asli atau palsu, peduli bocah itu asli atau palsu, Siau-hong pasti sudah menerjang masuk ke dalam.

Tapi Siau-hong yang sekarang sudah bukan Siau-hong dua tahun berselang.

Ia telah belajar bersabar.

Dia harus sabar, harus berpikiran dingin, karena beberapa patung lilin itu bukan hanya melulu manusia lilin, di balik semua itu pasti masih tersimpan rahasia dan intrik lain yang menakutkan.

Persoalan yang paling penting adalah.

"Siapa yang telah membuat manusia lilin itu? Mengapa manusia lilin itu harus diletakkan dan dipamerkan di sana?"

Siau-hong berusaha menenangkan diri, berusaha mendinginkan otak dan perasaannya, maka dia pun mulai memperhatikan beberapa persoalan lainnya.

Sebetulnya Eng-ki seperti kantor dagang lainnya, di depan pintu kantor selalu berkerumun para penjaja keliling serta pengemis, ditambah di dalam kantor berjajar beberapa orang lilin dengan pakaiannya yang menyolok serta tingkah laku yang menyeramkan, seharusnya tontonan semacam ini akan semakin menarik perhatian banyak orang.

Tapi kini dalam radius beberapa tombak di sekeliling kantor itu tak nampak seorang pun, semua orang begitu tiba di sekitar sana, segera berusaha menghindar, bahkan menyingkir jauh-jauh, tingkah-laku mereka seolah kuatir, bila salah melangkah ke tempat yang sial itu maka bencana besar segera akan menimpa mereka.

Tapi setiap orang memperhatikan semua gerak-gerik yang terjadi dalam kantor dagang itu, mengawasi dari kejauhan, semua orang melirik ke arah manusia lilin dalam kantor dengan sorot mata ngeri, takut, kaget dan penuh curiga, seakan-akan semua orang telah menganggap bendabenda itu sebagai manusia hidup yang punya darah dan daging yang setiap saat bisa menggunakan pedang lilinnya untuk menusuk tenggorokan orang menghujam jantung orang dan merenggut nyawa mereka.

Siau-hong pun diam-diam menarik ujung baju Siau-yan, menariknya mundur dari situ, mundur hingga ke dalam kerumunan manusia.

Lagi-lagi kerumunan manusia membubarkan diri, menghindar, menjauh, peduli kemana pun mereka pergi, kerumunan manusia selalu menghindar dan menjauh.

Mendadak Siau-yan bertanya kepada Siau-hong.

"Tahukah kau, mengapa semua orang berusaha menghindari dirimu?"

Sebelum pemuda itu menjawab, gadis itu telah menjawab sendiri pertanyaannya.

"Karena di dalam kantor dagang itu terdapat juga patung lilin yang berwajah dirimu."

Kesimpulannya adalah.

"Karena orang yang membuat manusia lilin itu bisa menciptakan karya seninya seperti wajahmu, sudah pasti dia adalah orang yang sangat kau kenal."

Maka dia pun bertanya lagi kepada Siau-hong.

"Dapatkah kau terka, kira-kira siapakah dia?"

Siau-hong tidak menerka.

Dia seakan sama sekali tak terpikir akan hal itu.

Seorang lelaki berjubah Persia, berwajah hitam yang berdagang bahan wangi-wangian segera menghindar jauhjauh begitu melihat Siau-hong berjalan menuju ke arahnya.

Mendadak Siau-hong menarik tangannya dan menegur dengan suara rendah.

"Aku kenal kau, masa kau tidak kenal aku?"

Orang tua itu terperanjat, sekuat tenaga ia menggeleng, sahutnya dengan logat Han yang kaku.

"Tidak kenal, sama sekali tak kenal."

Siau-hong tertawa dingin.

"Sekalipun kau tidak kenal aku pun tidak masalah, asal kau bisa memahami perkataanku, peduli kau kenal aku atau tidak, bagiku sama saja."

Dia genggam lengan orang tua itu kuat-kuat, kemudian melanjutkan.

"Dengarkan baik-baik, ada beberapa pertanyaan akan kuajukan kepadamu, bila kau bersedia menjawab, ada uang perak untukmu, tapi kalau kau enggan menjawab, akan kupatahkan lenganmu itu."

Ooo)d*w(ooO BAB 34.

MANUSIA LILIN Dua cara yang dia gunakan untuk menghadapi orang tua itu merupakan cara yang paling bermanfaat sejak zaman dahulu kala.

Peluh dingin telah membasahi jidat orang tua itu saking sakitnya, sepasang mata yang mulai rabun pun sudah melihat cahaya perak.

Berada dalam situasi seperti ini, jarang sekali ada orang yang masih menutup mulutnya.

Siau-hong menarik orang tua itu keluar dari kerumunan manusia, menyeretnya ke sebuah sudut lorong yang sempit dan sepi, kemudian dengan suara berat ia bertanya.

"Dari mana datangnya manusia-manusia lilin dalam kantor dagang Eng-ki?"

"Tidak tahu."

Siau-hong mencengkeram lengan orang tua itu lebih keras, kontan kakek itu kesakitan, saking sakitnya nyaris air mata jatuh bercucuran.

"Aku betul-betul tak tahu,"

Kembali orang tua itu berkata.

"Kemarin pagi, begitu pintu gerbang Eng-ki dibuka, manusia-manusia lilin itu sudah berada di sana."

Siau-hong menatapnya tajam, sampai dia yakin kalau jawaban orang tua itu sejujurnya, ia baru mengendorkan gencetan tangannya.

"Ke mana perginya para pegawai Eng-ki?"

"Entahlah,"

Sahut si kakek.

"Sejak kemarin pagi, aku sudah tidak melihat mereka."

"Seorang pun tak terlihat?"

"Ya, seorang pun tak terlihat."

"Jadi sejak kemarin pagi, di dalam kantor dagang Eng-ki hanya ada beberapa sosok manusia lilin itu?"

Tanya Siauhong.

"Tak seorang hidup pun yang terlihat?"

"Tidak ada,"

Jawaban orang tua itu sangat meyakinkan.

"Sama sekali tidak ada!"

Organisasi Eng-ki berjalan sangat rahasia dengan jangkauan yang amat luas, kecuali pejuang berani mati di bawah asuhan Po Eng yang menyamar jadi pegawai kantor, orang yang sering berada di kantor untuk melakukan transaksi dagang dan jual beli pun paling tidak mencapai ratusan orang.

Seratusan orang hidup yang punya darah dan daging, tentu saja tak mungkin lenyap hanya dalam satu malam saja.

Lalu ke mana perginya mereka?

Siau-hong kembali berpikir, setelah itu dia ulangi kembali pertanyaannya yang mungkin sudah diulang beberapa kali.

"Jadi maksudmu, sejak kemarin pagi hingga sekarang, hanya beberapa orang lilin itu yang berada dalam kantor dagang Eng-ki?"

"Rasanya memang begitu."

Sesudah berpikir pula beberapa saat, kakek itu baru berkata lebih lanjut.

"Karena sejak kemarin pagi hingga sekarang, kecuali beberapa orang lilin itu, siapa pun tak pernah melihat ada manusia hidup yang berjalan di dalam kantor dagang Eng-ki."

Kembali Siau-hong bertanya.

"Tahukah kau, di dalam kantor dagang Eng-ki seringkali terdapat banyak sekali barang dagangan yang mahal harganya?"

"Aku tahu,"

Kakek itu mengangguk.

"Semua orang juga tahu."

"Kalau memang di dalam kantor hanya ada beberapa orang lilin yang berjaga, memangnya tak ada orang yang punya pikiran jahat untuk menyatroni barang berharga dalam gedung itu?"

"Pernah ada yang berpikiran begitu,"

Sahut si kakek.

"Sejak kemarin pagi hingga sekarang, paling tidak sudah ada lima-enam rombongan manusia yang mencoba menyatroni."

"Lalu ke mana perginya orang-orang itu?"

Tanya Siauhong keheranan.

"Mereka sudah mampus,"

Kakek itu segera menarik tengkuk sendiri.

"Baru saja memasuki pintu gerbang Eng-ki, mereka telah mampus."

"Asal ada orang memasuki pintu gerbang itu?"

Ulang Siau-hong tercengang.

"Peduli siapa pun orang itu?"

Si kakek manggut-manggut, dari setiap kerutan di wajah tuanya seolah keringat bercucuran, keringat dingin.

Tanpa terasa tangan Siau-hong mulai meraba gagang pedangnya, ia merasa dari belakang punggungnya seolah ada angin dingin yang mendesir.

Sejujurnya dia tak percaya dengan kejadian ini, namun mau tak mau dia harus mempercayainya, maka kembali pemuda itu bertanya.

"Apa yang menyebabkan kematian orang-orang itu? Kini jenazahnya berada di mana?"

Kakek itu tidak menjawab pertanyaan itu, dia pun tak perlu menjawab, sebab pada saat itu di jalan Pat ka-keh kembali terjadi suatu peristiwa yang amat menakutkan.

Dari kerumunan manusia di kejauhan sana mendadak terjadi kegaduhan yang luar biasa.

Lima orang lelaki kekar bertelanjang dada dan mengenakan kulit kambing untuk melindungi bagian vitalnya berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Lima orang lelaki kekar dengan sebelas macam senjata yang luar biasa.

Lelaki pertama berdada lapang berperut buncit, tangannya membawa sebuah lencana baja yang beratnya mencapai lima puluhan kati.

Wajahnya hijau dengan cambang memenuhi dagunya, dia memiliki sepasang lengan yang besar, kekar, dan berotot.

Lelaki kedua berpundak lebar berpinggang ramping.

Pada pinggangnya terlilit sabuk kulit selebar telapak tangan dengan lima buah kampak tersoreng di sana, sebilah kapak besar dengan empat kapak kecil.

Lelaki ketiga beralis tebal bermata besar, dagunya dicukur klimis.

Pada punggungnya tergantung sebilah trisula baja yang lebih panjang dari perawakan tubuhnya, di tangannya membawa tongkat iblis sementara di pinggangnya terselip sebilah golok kepala setan yang amat tebal.

Senjata yang digunakan lelaki keempat tak lebih hanya sebilah pedang biasa, meski perawakan tubuhnya tinggi kekar, namun tampangnya bersih dan cukup tampan.

Lelaki kelima bertangan kosong, sepasang tangannya nyaris mencapai lutut, bukan saja ukuran lengan itu panjangnya istimewa, bahkan telapak tangannya lebih besar satu kali lipat daripada telapak tangan orang biasa.

Walaupun dia tidak membawa senjata, namun pada ikat pinggangnya penuh bergelantungan aneka macam barang yang tak jelas benda apakah itu, tidak diketahui pula ada berapa banyak jenis barang yang tergantung di situ, sementara pada tengkuknya melingkar segulung tali panjang begitu besar gulungan tali itu hingga kalau dilihat dari kejauhan, seperti gerobak penjaja keliling yang menjual aneka macam barang.

Kelima orang lelaki kekar itu tidak berteriak maupun membentak, mereka pun tidak turun tangan, begitu tiba di situ langsung berdiri siaga, gaya serta penampilan mereka sangat menggetarkan hati setiap orang.

Begitu mereka tampil, suasana pun jadi hening seketika.

Tampak kelima orang itu saling bertukar pandang sekejap, kemudian tampak lelaki pertama buka suara lebih dulu.

"Lotoa, beberapa manusia lilin itulah yang membuat ulah, saudara-saudara dari Cing Siau-lin tewas di tangan mereka."

"Masakah manusia lilin pun bisa membunuh orang?"

Sang Lotoa tertawa dingin.

"Sialan, memang kau anggap kita sudah bertemu setan?"

"Peduli mereka akan berubah jadi apa, lebih baik kita hancurkan dulu patung-patung lilin itu."

"Ide bagus."

Lelaki bersenjata pedang itu meski berwajah paling tampan, ternyata gerakan tubuhnya paling cepat, tahu-tahu dia telah melolos pedangnya dan siap melakukan serangan.

Lelaki bersenjata kapak segera mencegah ulahnya.

"Tunggu sebentar!"

"Setelah tiba di sini, apa lagi yang harus kita tunggu?"

"Tunggu sejenak, lihat dulu kemampuanku!"

Lelaki bersenjata pedang itu tidak berebut lagi, sebab Lotoa mereka pun menyetujuinya.

"Baik, kita saksikan dulu kebolehan Lo-ji."

Bukan mereka saja yang menyaksikan, orang lain pun ikut menonton, semua orang ingin melihat dengan cara apa Lo-ji mereka turun tangan.

Gerakan tubuh Lo-ji tidaklah terlalu cepat, mula-mula dia maju dua langkah lebih dulu dengan gerakan lamban, dari ikat pinggangnya ia meloloskan sebilah kapak yang panjangnya hanya sepuluh inci, dengan ibu jarinya yang dilumuri air ludah, dia basahi mata kapak...

mendadak ia bungkukkan badan sambil mengayunkan tangannya....

"Plaak!", desingan angin tajam membelah angkasa, kapak kecil dalam genggamannya telah terlepas dari tangannya dan membacok ke arah batok kepala Pancapanah. Kungfu semacam ini teramat langka, jarang ada jago persilatan yang mempelajari ilmu semacam ini, karena kekuatan sebilah kapak jauh lebih besar daripada jenis Amgi mana pun. Bukan hanya besar kekuatannya, kecepatan gerak pun luar biasa, biar seekor harimau atau hewan buas pun tak bakal tahan menghadapi ayunan kapak mautnya itu. Pancapanah sama sekali tak bergerak. Pancapanah itu tak lebih dari sebuah manusia lilin, tentu saja ia tak mampu bergerak, akan tetapi ayunan kapak maut itu pun sama sekali tidak mengenai batok kepalanya. Kepandaian semacam ini seperti mempelajari ilmu pisau terbang, yang paling susah dipelajari adalah menyerang tepat sasaran. Ilmu itu baru dianggap berhasil apabila dari jarak tiga puluh langkah, kau sanggup membelah sebiji buah Tho dengan lemparan kapakmu. Tak diragukan lagi, kungfu yang dimiliki lelaki itu telah mencapai tingkatan seperti itu, bukan saja serangannya cepat, bahkan tepat sasaran. Setiap orang dapat menyaksikan dengan jelas, begitu kapak itu dilontarkan, batok kepala manusia lilin itu pasti akan terbelah jadi dua bagian. Anehnya, lemparan kapak itu justru mengenai sasaran kosong. Entah dikarenakan tenaga yang digunakan lelaki itu kurang kuat ataukah disebabkan alasan lain, baru saja lemparan kapak terbangnya tiba di atas kepala Pancapanah, tiba-tiba saja dia kehilangan sasaran, lalu bagaikan sebuah layang-layang yang putus tali, kapak terbang tadi mencelat ke arah samping dan...

"Praak!", menancap di atas meja kasir. Berubah paras Lo-ji. Begitu pula dengan saudara angkat lainnya. Berputar biji mata sang Lotoa, sengaja dia mengumpat dengan kata-kata kotor.

"Dasar bajingan tengik, makan daging lebih banyak agar tanganmu lebih bertenaga, maknya, kau justru pergi main nona, main sampai tangan lemas kaki lemas, sialan, betul-betul memalukan."

Hijau membesi paras Loji, tidak menunggu hingga umpatan sang Lotoa selesai, lagi-lagi dia melontarkan sebilah kapak terbang.

Kali ini dia menyerang lebih cepat dan lebih tepat sasaran, tenaga yang dipergunakan pun jauh lebih besar.

Kapak itu segera melesat membelah angkasa, di mana desingan angin menyambar, tiba-tiba...

"Buuk!", gagang kapak tahu-tahu patah jadi dua bagian, begitu kehilangan tenaga keseimbangan, kapak itu pun rontok ke tanah. Lotoa masih mengumpat, kali ini dia mengumpat lebih ganas dan kotor. Namun sepasang matanya mengawasi terus sekeliling tempat itu, sebab dia bersama saudara-saudaranya memahami dua hal. Sebilah kapak yang terbuat dari kayu kwalitas tinggi tak mungkin patah jadi dua tanpa sebab. Sampai di manakah kekuatan tenaga sambitan yang dimiliki Lo-ji, tentu saja mereka tahu dengan sangat jelas, kalau dibilang ia menyambit sasarannya sampai meleset, pada hakikatnya keadaan itu bagaikan matahari terbit dari langit barat. Tak mungkin tanpa sebab gagang kapaknya bisa patah jadi dua, tak mungkin sambitan kapaknya meleset dari sasaran, lalu apa yang sebenarnya telah terjadi? Penjelasan yang paling masuk akal adalah hadirnya seseorang. Ada seseorang, dari sebuah sudut yang tak gampang terlihat orang lain, dengan sebuah ilmu yang tak gampang diketahui orang, telah melepaskan sejenis senjata rahasia yang tak mudah terlihat orang lain, sambitan senjata rahasia itu memukul miring sambitan kapak pertama Lo-ji, kemudian mematahkan gagang kapak pada sambitan yang kedua. Tidak diragukan lagi orang itu pasti seorang jago tangguh, jago daripada para jago. Besar kemungkinan orang itulah yang telah meletakkan manusia-manusia lilin itu di sana. Walaupun kelima orang bersaudara itu berpikir demikian, namun mereka sama sekali tidak bereaksi, karena mereka tak dapat melihat kehadiran orang itu, tak melihat pula senjata rahasia yang digunakan? Mereka hanya melihat Siau-hong. Siau-hong sendiri pun sedang mencari, mencari orang yang berhasil mematahkan gagang kapak. Belum lagi dia berhasil menemukan orang itu, orang lain telah datang mencarinya. Orang pertama yang datang menghampirinya adalah pemuda berperawakan paling tinggi besar, berwajah tampan, dan menggembol pedang itu. Dia menatap Siau-hong beberapa saat, tiba-tiba tegurnya sambil tertawa.

"Baik-baikkah kau? Rasanya aku pernah bertemu denganmu."

"O, ya?"

"Rasanya tadi aku telah bertemu dengan kau, bertemu dengan dirimu di suatu tempat yang lain."

"O, ya?"

Tanya Siau-hong.

"di mana kau pernah bertemu aku?"

"Di kantor dagang itu,"

Kata pemuda berpedang itu cepat.

"Wajahmu mirip dengan wajah yang ada di sana...."

Siau-hong tertawa, sambil meraba wajah sendiri dia tertawa.

"Aku sendiri pun merasa agak mirip,"

Kemudian tanyanya kepada pemuda itu.

"Siapa namamu?"

"Aku disebut Lo-su!"

"Lo-su?"

Kembali Siau-hong bertanya.

"Lo-su siapa?"

"Lo-su dari Lotoa kami."

"Siapa pula Lotoa kalian?"

"Seseorang yang tak pandai membunuh orang,"

Kata Losu.

"Dia hanya bisa menghajar orang seringkali tubuh orang yang dihajarnya hancur-lebur jadi bubur daging."

Siau-hong menghela napas.

"Kalau begitu, dia pasti sangat lelah."

"Sangat lelah?"

"Siapa pun itu orangnya, menghajar tubuh orang lain hingga hancur jadi bubur tentu membutuhkan tenaga ekstra, masa dia tidak lelah?"

Losu tertawa dingin, mendadak tanyanya lagi kepada Siau-hong.

"Mana senjata rahasiamu?"

"Senjata rahasia apa?"

Siau-hong balik bertanya.

"Senjata rahasia yang menghajar kapak tadi."

"Aku tidak mempunyai senjata rahasia,"

Siau-hong masih tertawa.

"Kalau aku memiliki senjata rahasia, bukan kapak yang kusambit."

"Bukan menyambit kapak, lalu menyambit apa?"

"Menyambit manusia,"

Siau-hong tertawa gembira.

"Menyambit tubuh manusia pasti jauh lebih menarik daripada menyambit kapak."

Lo-su pun tertawa.

Mereka berdua sama-sama tertawa, tapi siapa pun dapat melihat mereka bukan benar-benar merasa geli.

Di saat sedang tertawa tergelak, tatapan mata mereka tertuju pada tangan lawan.

Tangan yang menggenggam pedang.

Gelak tawa Lo-su jauh lebih keras daripada gelak tawa Siau-hong mendadak tanyanya lagi.

"Kau pun pandai menggunakan pedang?"

"Bisa sedikit,"

Sahut Siau-hong.

"Hanya sedikit sekali."

"Bagus, kebetulan aku pun mengerti soal pedang, aku pun hanya mengerti sedikit."

Begitu perkataan itu diucapkan, semua orang pun memahami maksud ucapannya.

Lo-su telah memastikan kalau Siau-hong ada sangkutpautnya dengan beberapa manusia lilin dalam kantor dagang Eng-ki.

Sekalipun dia bukan jagoan yang merontokkan kapak terbang, paling tidak dari dirinya ia bisa memaksa munculnya jagoan itu.

Siau-hong sama sekali tidak menyangkal, karena dia tahu menyangkal pun tak ada gunanya.

Pedang berada dalam genggaman Lo-su, begitu pula dengan Siau-hong.

Lo-su berencana hendak menggunakan pedangnya untuk memaksa Siau-hong mengatakan rahasia itu.

Siau-hong pun tidak berusaha berkelit atau menghindarkan diri.

Tinggi badan Lo-su tujuh kaki satu inci, kaki maupun tangannya sangat besar, namun gerakan tubuhnya gesit dan lincah, otot dan daging rubuhnya tampak sangat kenyal.

Sebaliknya Siau-hong bukan saja tampak pucat dan sayu, bahkan kelihatan lemah sekali.

Siapa kuat siapa lemah sudah jelas terpampang di depan mata, setiap orang berpendapat Siau-hong pasti akan menderita kekalahan.

Terkecuali Che Siau-yan.

Hanya dia yang tahu kalau Lo-su tak bakal sanggup menghadapi tiga jurus serangan Siau-hong.

Diiringi bentakan nyaring, tampak cahaya pedang berkilauan di udara, dalam waktu singkat Lo-su telah melancarkan delapan buah tusukan, di balik setiap jurus serangan terselip jurus serangan lainnya yang terangkai menjadi delapan buah serangan berantai, jurus serangan itu tampak jauh lebih ganas dan dahsyat ketika digunakan lelaki tinggi besar ini.

Tapi sayang, jangankan melukai tubuh lawan, menyentuh ujung baju Siau-hong pun tak sanggup.

Siau-hong hanya melepaskan sebuah tusukan.

Dia memutar badan, mencabut pedang, dan melepaskan sebuah tusukan, tahu-tahu serangannya sudah mengancam tenggorokan Lo-su.

Lelaki tinggi besar itu harus mengerahkan seluruh tenaganya sebelum berhasil menghindarkan diri dari serangan itu.

Ia melambung ke tengah udara dan berjumpalitan beberapa kali, walaupun berhasil menghindari tusukan maut itu, namun tak dapat memilih jalan mundur sesuai dengan kehendak hati.

Sewaktu badannya melayang turun, ia telah berada dalam kantor dagang Eng-ki.

Di dalam kantor dagang Eng-ki hanya ada beberapa orang lilin yang tak bernyawa, tak punya perasaan, dan sama sekali tak bisa bergerak.

Tapi begitu tubuhnya melayang turun, sinar matanya segera memancarkan perasaan tercengang ngeri, dan takut yang luar biasa, setiap bagian otot dan daging tubuhnya mulai menyusut karena takut, mendadak kehilangan kekenyalannya, berubah jadi kejang, kaku, dan layu.

"Lo-su, cepat mundur! Cepat mundur!"

Saudara-saudara angkatnya serentak berteriak lantang.

Sebetulnya dia sendiri pun ingin mundur dari situ, hanya sayang keadaan sudah terlambat.

Dia berusaha meronta, masih mencoba menerjang maju, menggunakan pedang yang berada dalam genggamannya untuk membacok dan menusuk manusia-manusia lilin tak bernyawa itu.

Tapi dalam waktu yang teramat singkat itulah seluruh persendian, seluruh ruas tulang yang ada di tubuhnya seolah kehilangan kendali, bukan hanya air mata dan ingus yang meleleh, air seni dan kotoran pun ikut meleleh, lambat-laun tubuhnya semakin berkerut dan akhirnya menggumpal jadi sebuah bulatan.

Hanya saja dia belum tewas, masih tersisa sedikit napas dalam dadanya, mendadak dia membentak keras, dengan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya dia melontarkan pedang dalam genggaman ke depan.

Tampak cahaya pedang berkelebat.

"Bruk!", pedang itu langsung menghujam di atas dada Po Eng, menusuk masuk dari dada dan tembus di belakang punggungnya. Sayangnya Po Eng yang terkena tusukan pedang tak lebih hanya manusia yang terbuat dari lilin. Dalam pada itu Lo-su sudah roboh ke tanah, tubuhnya semakin menyusut, seorang lelaki yang dulunya tinggi besar, dalam waktu sekejap telah berubah jadi sesosok manusia kering, manusia yang kehabisan darah dan kehilangan daging tubuh. Oleh karena itu dia sudah tak dapat menyaksikan hasil lemparan pedangnya itu. Tapi saudara-saudaranya belum mati, tiba-tiba saja paras mereka menampilkan perasaan ngeri, takut, seram, dan tercengang yang aneh, sebab mereka telah menyaksikan sesuatu. Setiap orang yang sepasang matanya masih bisa melihat, segera memperlihatkan perubahan mimik muka yang sama, bahkan tak terkecuali Siau-hong sendiri. Karena dia pun seperti mereka, telah menyaksikan suatu peristiwa yang meski telah disaksikan dengan mata kepala sendiri, namun sukar dipercaya dengan akal sehat. Mereka menyaksikan Po Eng sedang mengucurkan darah segar! Bukankah Po Eng yang berada di sana hanyalah sebuah manusia lilin yang tak bernyawa, tak berperasaan dan tak punya darah? Mengapa dari tubuhnya bisa mengucurkan darah segar? Po Eng benar-benar sedang berdarah, darah segar! Setetes demi setetes darah mengalir melewati ujung pedang, lalu dari ujung pedang meleleh ke lantai. Dia sama sekali tak bergerak, mimik mukanya tidak pula menunjukkan perubahan apa pun. Karena dia tak lebih hanya sebuah manusia lilin, paling tidak dipandang dari luar, dia memang sesosok manusia yang terbuat dari lilin. Namun bila ditinjau dari sudut pandang lain, siapa pun tahu, sesosok manusia lilin tak mungkin bisa mengucurkan darah. Sama sekali tak mungkin, mustahil bisa terjadi! Lalu dari mana datangnya darah? Apakah manusia lilin itu hanya penampilannya saja sebagai manusia lilin, padahal sesungguhnya bukan? Kalau manusia lilin ini sesungguhnya bukan manusia lilin, mengapa penampilannya justru sesosok manusia lilin? Sebuah pertanyaan yang membingungkan, sebuah pemikiran yang membingungkan juga, sedemikian membingungkan sehingga terkesan menakutkan. Tiba-tiba Siau-hong merasakan sekujur badannya dibasahi keringat dingin, karena dari dalam hatinya muncul pula sebuah pemikiran yang menakutkan dan membingungkan. Tiba-tiba ia menerjang maju. Dia ingin menerjang masuk ke dalam kantor dagang Eng-ki untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini. Dia hanya ingin mencari jawaban dari persoalan ini dan melupakan perkataan yang pernah disampaikan orang tua itu padanya. Asal kau memasuki pintu gerbang Eng-ki, maka nyawamu bakal melayang, peduli siapa pun itu orangnya. Ucapan itu terdengar amat tak masuk akal, jarang ada orang yang mempercayainya, tapi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian Losu, siapa pun harus mempercayai ucapan itu, siapa pula yang tak mau mempercayainya? Mimik wajah Lo-su menjelang kematian terlihat begitu ketakutan dan ngeri, sebuah penampilan yang tak mungkin bisa terlupakan untuk selamanya. Sayang Siau-hong telah melupakannya. Dalam waktu sekejap dia seolah telah melupakan segalanya, semua kejadian yang membangkitkan rasa sedih, gusar, ngeri, dan takut, sudah tak dapat lagi mempengaruhi jalan pikirannya. Dalam waktu sekejap dia hanya menguatirkan satu hal, seseorang. Po Eng! Tengah malam yang sepi, dingin dan berkepanjangan di tengah gurun, arak yang lebih keras daripada hembusan angin gurun, persahabatan yang lebih kental dari arak, semua itu tak akan terlupakan selamanya. Seorang lelaki harus ternama. Meneguk arak harus mabuk. Berkeluh-kesah setelah mabuk, itulah ucapan paling sejati. Po Eng di manakah kau sekarang? Masih hidupkah kau? Ataukah telah mati? Mengapa kau bisa mengucurkan darah? Siau-hong bukan seorang Enghiong. Jarang sekali ada orang menganggapnya sebagai Enghiong, dia sendiri pun tak ingin menjadi seorang Enghiong. Dia hanya berharap bisa menjadi seorang biasa, melakukan pekerjaan biasa, melewati hari-hari dengan kehidupan yang biasa. Tapi dia memiliki jiwa pemberontak. Setiap kali menyaksikan kejadian yang tak adil, melihat tingkah laku manusia yang tak adil, dia akan berontak, tanpa berpikir panjang dan tanpa peduli segala resiko dia pasti akan berusaha membuat adil masalah yang terjadi di depan mata, membuat orang-orang yang berbuat tak adil bisa menerima keputusannya. Siau-hong pun memiliki semangat, semangat yang membuatnya tak pernah menyerah, tak pernah bertekuk lutut. Jika orang lain tidak memaksanya, dia akan tampil sebagai manusia damai, tak ingin ribut dengan orang, tak ingin pula berebut dengan orang lain, dalam semua masalah. Tapi bila ada yang memaksanya, semangat itu akan muncul. Di saat semangat itu timbul, peduli orang lain sedang merayunya atau sedang mengancamnya, dia tak peduli, biar ada golok yang dipalangkan di atas tengkuknya pun dia tak peduli. Belakangan sikap Siau-hong sudah jauh lebih tenang, setiap orang yang pernah kenal dengannya berpendapat bahwa dia jauh lebih tenang, jauh lebih pandai mengendalikan diri. Dia sendiri pun beranggapan dirinya jauh lebih tenang sudah banyak belajar cara untuk mengendalikan diri. Ada banyak kali dia selalu membuktikan akan hal itu, tapi sekarang tiba-tiba saja ia kehilangan kendali, tiba-tiba saja emosinya meledak-ledak. Dia seolah sudah melupakan sama sekali peringatan yang selalu muncul di hati kecilnya, seolah tak menggubris lagi kata nasehat hati sanubarinya. Apabila dikarenakan urusan pribadi, belum tentu dia akan bersikap seperti ini. Tapi demi sahabat, demi Po Eng, setiap saat dia dapat meninggalkan segalanya. Setiap saat ia dapat menumbukkan kepala sendiri ke atas dinding biarpun di atas dinding terdapat tiga ratus delapan puluh batang paku yang tajam pun dia tak peduli, ia tetap akan menumbukkan kepalanya ke dinding. Karena begitulah wataknya, sejak lahir dia telah mempunyai tabiat dan jiwa semacam itu, Siau-hong memang selalu Siau-hong yang nekat, Siau-hong yang tak takut mati. Mengapa manusia lilin dapat melelehkan darah? Jawaban yang paling masuk akal hanyalah satu. Di balik manusia lilin pasti terdapat seseorang, seorang yang bisa berdarah, bukankah hanya manusia hidup yang dapat melelehkan darah? Ketika masih kecil dulu, Siau-hong pernah mendengar sebuah cerita, sebuah cerita yang amat menakutkan. Zaman dahulu, dahulu sekali, di dalam sebuah negeri yang amat jauh, hidup seorang Taysu pembuat manusia lilin, setiap manusia lilin hasil karyanya tak jauh berbeda seperti manusia hidup, khususnya bila manusia lilin itu berwajah seorang gadis, hampir setiap pria yang melihatnya akan terpikat dan jatuh cinta. Pada saat bersamaan, dari beberapa desa pelosok negeri itu tersiar berita kalau seringkali ada sekawanan gadis yang hilang secara misterius, opas paling tersohor dan paling berpengalaman pun gagal menelusuri kasus ini serta menemukan jejak kawanan gadis yang hilang itu. Kasus yang penuh misteri itu akhirnya berhasil dibongkar oleh seorang ibu yang sedang bersedih hati, terbongkar tanpa sengaja. Ibu ini nyaris jadi gila karena kehilangan anak gadisnya, untuk menghibur hati istrinya yang sedih, sang suami pun mengajaknya berjalan-jalan ke kota besar. Di dalam kota besar itu hidup seorang familinya yang berduit, kebetulan saudaranya kenal baik dengan Taysu pembuat patung lilin itu, maka mereka pun diajak ke bengkel kerjanya untuk menikmati hasil seninya yang maha indah. Tatkala sang ibu melihat salah satu patung lilin yang berjajar di sana, tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri. Karena mereka saksikan patung lilin itu persis sama dengan wajah putrinya, bahkan di bawah remangremangnya cahaya lentera, pada hakikatnya patung lilin itu persis sama dengan putrinya. Ketika tersadar kembali dari pingsannya, dia pun memohon kepada Taysu itu agar menjual patung lilin itu kepadanya, berapa pun harga yang diminta, sang ibu bersedia membelinya, sekalipun dia harus menjual seluruh harta kekayaan miliknya. Tapi permintaan itu ditolak sang Taysu. Hasil karya sang Taysu tak akan diberikan kepada siapa pun dengan harga berapa pun. Sang ibu yang sedih amat kecewa dan pedih, ketika bersiap akan pergi meninggalkan tempat itu, mendadak satu kejadian yang menakutkan berlangsung di depan mata. Patung lilin bocah perempuan itu tiba-tiba melelehkan air mata, air mata berwarna merah, air mata darah. Ibu yang teramat sedih itu tak sanggup mengendalikan diri lagi, tanpa pikir panjang ia menubruk ke muka, memeluk patung lilin itu. Tiba-tiba patung lilin hancur, lapisan luarnya retak kemudian hancur, ternyata di dalamnya berisi sesosok tubuh manusia, walaupun bukan manusia hidup, namun sesosok manusia yang punya daging dan darah. Dan orang yang berada dalam patung lilin itu tak lain adalah putri sang ibu yang hilang. Maka rahasia sang Taysu pun terbongkar, ternyata semua hasil karyanya terbuat dari manusia hidup yang diberi lapisan lilin. Ketika masih sangat kecil dulu, Siau-hong pernah mendengar sebuah cerita, sebuah cerita yang amat menakutkan. Menurut cerita kuno, bila seseorang mati di negeri orang, mati penasaran, sewaktu bertemu dengan sanak keluarganya, dari tubuh jenazahnya akan mengalir keluar darah, darah yang meleleh dari ke tujuh lubang inderanya. Oleh sebab itu orang mati bukan berarti pasti tak akan mengeluarkan darah lagi. Kisah semacam ini sudah begitu mengakar dalam benak Siau-hong, karena itu begitu melihat darah meleleh dari patung lilin Po Eng, tiba-tiba saja dia teringat akan kisah itu. Apakah patung lilin Po Eng pun dibuat dengan cara yang sama dengan kisah cerita itu? Benarkah di balik patung lilin itu adalah Po Eng asli? Teringat akan hal ini, Siau-hong pun segera menerjang maju. Dia harus menemukan jawaban dari pertanyaan ini, bagaimana pun juga dan apa pun yang bakal terjadi, dia harus menemukan jawabannya. Tentang keselamatan sendiri, mengenai mati hidupnya, pada hakikatnya dia sama sekali tak peduli. Oleh sebab itu pada detik terakhir, dia telah melupakan semua persoalan lain, dia telah membuang jauh semua persoalan lain yang mengganjal hatinya selama ini. Orang-orang yang berdiri di luar kantor dagang Eng-ki sama sekali tak menyangka kalau Siau-hong bakal menerjang masuk ke dalam kantor, meski dengan mata kepala sendiri ia telah menyaksikan kematian Losu yang tragis, termasuk Che Siau-yan. Tapi pemuda itu telah menerjang masuk ke dalam gedung. Sungguh cepat gerakan tubuhnya, jauh lebih cepat dari bayangan kebanyakan orang, tapi setelah menerjang ke dalam, mendadak dia menghentikan gerakannya, seolaholah terkena sihir secara tiba-tiba, badannya sama sekali berhenti bergerak. Target sasarannya selama ini adalah patung lilin Po Eng yang mengeluarkan darah. Tapi ketika badannya terhenyak dan berhenti secara tibatiba tadi, sorot matanya justru berpaling mengawasi patung lilin yang lain. Di saat sepasang matanya menatap patung lilin itulah tiba-tiba tubuhnya terhenyak lalu berhenti. Setelah itu wajahnya menunjukkan mimik muka yang sangat aneh, mimik muka seperti wajah Lo-su menjelang kematiannya. Sorot matanya dipenuhi rasa ngeri dan kaget, otot dan daging wajahnya mengejang, lalu seolah menyusut. Apa yang telah dilihatnya? Apa yang terlihat oleh Siau-hong, kecuali dia sendiri, siapa pun tak akan percaya, bahkan dia sendiri pun sulit untuk mempercayainya. Tiba-tiba saja dia menyaksikan sepasang mata milik sendiri. Dia pun telah melihat mimik muka dan sorot mata sendiri yang tak mungkin bisa diceritakan dengan perkataan. Semacam perasaan benci, dendam, dan penuh cemoohan. Siapa yang dapat memandang dirinya menggunakan sorot mata semacam ini? Tentu saja yang dilihat Siau-hong bukan dirinya sendiri, dia hanya menjumpai patung lilin yang nyaris tak jauh berbeda dengan dirinya. Tapi pada detik itu pula, dia benar-benar mempunyai perasaan semacam itu, benar-benar merasa dia sedang menatap diri sendiri, seolah secara tiba-tiba dirinya terbelah jadi dua orang. Suatu kejadian yang mustahil, tak mungkin terjadi. Ooo)d*w(ooO BAB 35. BUKAN ANAKMU Sekalipun kau sedang bercermin pun, seharusnya kau tahu kalau orang yang berada di balik cermin bukanlah dirimu yang sesungguhnya, bayangan di balik cermin hanya sebuah bayangan, sebuah ilusi. Peristiwa semacam ini hanya bisa terjadi dalam impian, bahkan biasanya adalah impian buruk. Sekarang Siau-hong bukan sedang bermimpi. Dia tak ingin memandang diri sendiri. Tapi tubuhnya telah terhenti, sinar matanya telah terhisap oleh kemunculan dirinya yang lain. Tiba-tiba saja muncul perasaan ngeri dan seram yang luar biasa, dia ingin secepatnya melarikan diri, kabur meninggalkan tempat itu. Tapi tubuhnya sudah tak mampu bergerak lagi, sinar matanya sudah tak sanggup bergeser lagi. Saat itulah tiba-tiba ia merasakan matanya sakit sekali, seperti ada sebatang jarum yang menusuk matanya, membuat seluruh badannya terpantek mati di atas tanah. Ia merasa sekujur badannya seolah-olah sakit sekali, linu, kaku, dan mati rasa, ia dapat merasakan semua siksaan itu. Tapi sayang ia sudah sama sekali kehilangan kekuatan dan kemampuan untuk bergerak. Apakah begini pula perasaan Lo-su menjelang kematiannya? Dia seolah mendengar Che Siau-yan sedang berteriak memanggil, suaranya dipenuhi rasa panik, gelisah, cemas, dan perhatian. Tapi ia sudah tak dapat mendengar lebih jelas lagi. Biarpun tangannya masih menggenggam pedang Mogan, namun tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan tusukan. Karena dia sudah sama sekali dikuasai sepasang mata dirinya yang lain, ia sudah melihat neraka dari balik mata itu. Bara api masih menyala dengan garangnya, nyala api seolah muncul dari empat penjuru. Langit runtuh tanah merekah, batu pasir beterbangan di seluruh angkasa. Semua patung lilin yang tak bernyawa itu mendadak memperoleh kehidupan di tengah baranya api, tiba-tiba mereka melompat bangun dan berlompatan menuju ke arah kerumunan manusia. Suasana jadi panik, kegaduhan terjadi di mana-mana, menyusul terdengar jeritan ngeri yang memilukan berkumandang silih berganti. Cahaya darah mulai memercik di tengah jilatan api. Tempat ini bukan neraka, juga bukan khayalan dari balik neraka. Siau-hong tahu semuanya bukan suatu kenyataan. Tapi dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Setelah menyaksikan pemandangan yang sangat menakutkan, dia pun jatuh tak sadarkan diri, sebelum mengetahui dengan jelas apa gerangan yang sebenarnya terjadi, ia sudah jatuh tak sadarkan diri. Ooo)d*w(ooO Samudra nan biru. Gulungan ombak nan biru. Matahari bersinar cerah, memantul di atas permukaan air laut yang tenang. Di bawah cahaya sang surya, gulungan riak kecil lembut dan hangat bagaikan kerlingan mata seorang kekasih. Kerlingan mata kekasih pun lembut dan hangat, selembut gulungan riak nan biru. Semua ini bukan ilusi, bukan khayalan, Siau-hong menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Sewaktu tersabar kembali, yang terlihat olehnya hanya warna serba biru, begitu biru, begitu indah, begitu lembut. Di tempat ini sama sekali tak ada lautan, yang dia saksikan pun bukan riak ombak. Ia menjumpai cahaya matahari, cahaya matahari berwarna biru. Ketika tersadar, Siau-hong melihat Yang-kong sedang menatap ke arahnya, menatap begitu halus dan lembut bagaikan riak ombak. Benarkah semua ini? Benarkah bukan ilusi? Bukan khayalan? Yang-kong, mengapa kau bisa berada di sini? Siau-hong tidak percaya. Jangan-jangan tempat ini adalah neraka? Mungkinkah aku telah sampai di neraka? Bukankah dalam neraka pun terkadang akan muncul suatu pemandangan indah? Seperti fatamorgana yang dilihat mereka yang tersesat di tengah gurun pasir? Ingin sekali Siau-hong mengulur tangan untuk mengucek mata. Tapi tangannya terasa lemas, sedemikian lemasnya hingga sama sekali tak bertenaga. Tangannya kemudian dapat terangkat, ini dikarenakan Yang-kong telah menggenggam tangannya. Tangan yang dingin, air mata yang dingin. Air mata telah meleleh, membasahi wajah Yang-kong. Dalam waktu sesaat itu, dia seakan tak pernah akan melepaskan kembali genggamannya pada tangan Siauhong. Tapi apa mau dikata, ia justru dengan cepat melepaskannya kembali. Sebab selain mereka berdua, di dalam ruangan yang lembut dan hangat itu masih hadir tiga orang lainnya. Akhirnya Siau-hong dapat menyaksikan kehadiran ketiga orang itu. Dua orang dewasa dan seorang anak-anak. Orang yang berdiri di ujung ranjang Siau-hong adalah Che Siau-yan. Dia hanya berdiri tenang di tempat itu, berdiri sambil mengawasi Siau-hong dan Yang-kong, mengawasi setiap gerak-gerik, perubahan mimik muka mereka berdua. Sementara dia sendiri sama sekali tak memperlihatkan perubahan apa pun, dia seolah sudah kaku, sudah mati rasa. Apa yang bisa ia perbuat? Apa yang bisa dia katakan? Selain dia masih hadir seorang yang lain, berdiri jauh di sudut ruangan, ia berdiri sambil membopong seorang bocah. Perempuan itu mengenakan baju berwarna abu-abu muda, wajahnya yang putih sama sekali tidak berbedak, rambutnya yang hitam digulung jadi sebuah sanggul, sepasang matanya yang indah memancarkan perasaan duka yang tawar dan apa boleh buat. Dalam gendongannya terlihat seorang bocah yang mengenakan baju warna merah. Soso! Ternyata Soso pun hadir di sana. Tak diragukan, bocah yang berada dalam bopongannya tak lain adalah putra Siau-hong. Siau-hong merasakan hatinya sakit, sakit seperti ditusuk jarum tajam. Mengapa Soso berada di situ? Mengapa Yang-kong berada di situ? Di manakah ia sekarang? Mengapa ia bisa berada di situ? Apakah semua kejadian yang dilihatnya di kantor dagang Eng-ki hanya sebuah ilusi? Atau mungkin kejadian sungguhan? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ke mana perginya patung-patung lilin yang misterius dan menakutkan itu? Yang paling membuat Siau-hong tak dapat melupakan tentu saja sepasang mata itu, sepasang mata penuh kebencian. Dia tidak menanyakan semua persoalan itu, sebab dia sama sekali tak tahu pertanyaan itu harus ditujukan kepada siapa. Ranjang yang lembut, seprei yang bersih, ingin sekali berbaring terus di sana, berbaring sepanjang hidup. Tapi mau tak mau dia harus bangkit.... Akhirnya dia meronta bangkit, mengulurkan sepasang lengannya, seolah ingin memeluk salah seorang di antaranya. Di situ hadir tiga orang wanita. Tiga orang wanita yang pernah mempengaruhi jalan hidupnya, yang membuat dia tak pernah dapat melupakan untuk selamanya. Ketiga orang wanita itu pun pernah menjalin hubungan dan perasaan yang aneh, kacau dan mendalam dengan dirinya. Lalu siapa yang akan dirangkulnya saat ini? Siau-yan mengharapkan pelukan dari Siau-hong. Soso pun mendambakan pelukan Siau-hong. Tapi Siauhong menubruk ke arah Soso. Yang dia rangkul dan peluk bukan Soso, melainkan bocah yang berada dalam gendongan Soso. Dia peluk bocah yang belum pernah dilihat sebelumnya itu kencang-kencang. Air mata, tentu saja air mata jatuh berlinang membasahi wajah Siau-hong. Bukankah seorang Enghiong pantang melelehkan air mata? Siau-hong melelehkan air mata, apakah dikarenakan dia bukan seorang Enghiong? Siau-hong mencintai Soso, tapi mereka telah berpisah dalam waktu yang amat panjang. Siau-hong mencintai Siau-yan, tapi semacam perasaan lain selalu tumbuh di dasar hatinya, suatu saat mereka pasti akan berpisah. Satu-satunya hubungan yang terjalin, khususnya terjalin dari sedarah sedaging hanya anak dia sendiri. Anak dia bersama Soso, anak yang berada dalam gendongannya. Tiba-tiba ia merasakan, perasaannya terhadap bocah yang berada dalam rangkulannya itu kacau dan mendalam. Cinta kasih bukan berarti tak akan menipis dan menghilang, tapi cinta yang selama hidup tak pernah menipis, tak pernah menghilang justru jarang sekali. Cinta kasih gampang sekali memudar lalu menghilang, lenyap tak berbekas. Dipisahkan oleh gunung nan tinggi, sungai nan panjang dan jurang nan lebar, cinta kasih seseorang akan memudar secara lambat, kemudian lenyap di tengah dunia yang keji. Sorot mata Siau-hong, sorot mata yang lembut, kini semuanya ditumpahkan ke wajah bocah itu. Si bocah dengan membelalakkan matanya yang bening balas menatapnya dengan polos. Tiba-tiba Siau-hong merasakan hatinya amat sakit, sakit sekali seperti ditusuk jarum. Karena secara tiba-tiba bocah itu mengulum tertawa, tawa bocah itu seperti senyuman Soso. Sekali lagi Siau-hong memeluk bocah itu dan mendekap di dalam pelukannya. Siau-hong memandang Siau-yan sekejap, lalu memandang pula Soso. Di dalam benaknya segera terlintas bayangan di sana ia hidup berbahagia bersama kedua orang perempuan itu. Semua kegembiraan, kesenangan, tak pernah akan terlupakan sepanjang masa. Perasaan cintanya terhadap kedua orang perempuan itu pun kalut tapi mendalam. Che Siau-yan menggunakan sorot mata yang aneh mengawasi wajah Siau-hong tanpa berkedip. Tidak demikian dengan sorot mata Soso, tak ada keanehan ataupun rasa tercengang, karena dia sangat memahami perasaan Siau-hong. Karena dia adalah ibu dari anak itu, Siau-hong adalah ayah dari anak itu, cinta seorang ibu terhadap putranya seperti seorang ayah mencintai anaknya. Di tengah kesulitan, setelah lolos dari musibah, ketika tiba-tiba ia menjumpai dirinya sudah mempunyai anak, lalu ketika secara tiba-tiba bersua dengan bocah itu,. Semua pukulan batin serasa datang saling menyusul dan langsung menyentuh kantung air matanya. Dengan pandangan penuh perasaan cinta, Soso memandang sekejap Siau-hong serta bocah yang berada dalam pelukannya, tiba-tiba perempuan itu merasakan segumpal aliran hangat muncul dalam lubuk hatinya. Dia selamanya tak pernah menduga kalau kasih sayang seorang ayah pun begitu mendalam, begitu mengharukan. Selama ini dia hanya tahu kasih seorang ibu. Cinta seorang ibu itu alami, sejak hamil, sejak jabang bayi terbentuk dalam rahimnya, akan muncul semacam perasaan yang aneh dan khas dalam tubuh sang ibu dan perasaan itu dengan cepat akan berubah menjadi cinta kasih. Sebelum sang bayi dilahirkan ke dunia ini, dia telah memperoleh kasih sayang dan perhatian penuh dari ibunya. Berbeda sekali dengan kasih sayang seorang ayah. Seorang ayah baru akan mencintai anaknya setelah dia melihat sang jabang bayi lahir dari rahim ibunya, setelah turun ke dunia ini. Sejak pandangan pertama melihat putranya, saat itulah cinta seorang ayah telah dimulai. Cinta seorang ibu itu merupakan takdir, sementara cinta seorang ayah harus dipupuk mengikuti berjalannya sang waktu. Cinta seorang ayah kepada putranya merupakan semacam cinta yang harus dipelajari. Yang membuat Soso sangat terharu adalah setelah menyaksikan betapa mendalamnya perasaan cinta Siauhong terhadap putranya. Tiba-tiba ia menerjang maju dan memeluk Siau-hong serta bocah itu erat-erat. Dengan lemah lembut Siau-hong mengalihkan tatapan matanya ke wajah Soso, sinar matanya terlintas pula perasaan terima kasihnya yang mendalam. Berterima kasih kepada perempuan itu karena telah memberi keturunan kepadanya. Setelah mempunyai keturunan, biar mati pun dia tak akan menyesal. Setelah mempunyai keturunan, perasaannya menjadi lebih cerah, lebih terbuka. Dia tak perlu takut lagi menghadapi kematian, dia pun tak perlu takut menghadapi ancaman bahaya maut. Setiap saat ia bisa saja pergi mati, demi Po Eng, demi Soso, demi Yang-kong, demi Che Siau-yan. Ketika baru mendusin dari pingsannya tadi, Siau-hong mengira dirinya telah dijebloskan ke dalam neraka, tapi sekarang dia tahu, dirinya sama sekali tidak masuk ke dalam neraka. Orang yang masuk ke dalam neraka sudah pasti bukan dirinya. Sekalipun masuk ke dalam neraka, yang dia masuki tak lain adalah neraka "Kalau bukan aku yang masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka". Sebab secara tiba-tiba ia bertekad untuk melakukan "Kalau bukan aku yang masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka". Dia bertekad akan menyelidiki dan mengungkap peristiwa ini hingga jelas dan tuntas. Sekalipun harus membayar mahal, sekalipun harus berkorban dan kehilangan nyawa, dia tetap bertekad akan menyelidiki peristiwa ini, mengungkap siapa dalang yang menyiapkan semua intrik dan rencana busuk ini. Dia tahu dan percaya, kasus ini pasti terungkap, sebab dia sudah tak punya beban lagi, sudah tak ada yang dirisaukan lagi. Jalan pikirannya pun tak akan mengalami pukulan hingga berantakan karena terancam oleh bayang-bayang kematian. Bagi seseorang yang tak takut langit tak takut bumi, ilmu pedangnya pasti dapat digunakan hingga mencapai kemampuan seratus persen. Dia tahu, sekarang adalah saatnya untuk mengajukan pertanyaan. Tapi ia tidak bertanya apa-apa. Dia membopong anaknya terlebih dahulu. Siau-hong bukan nabi, dia tak akan bisa jadi seorang nabi, dia pun tak ingin menjadi nabi. Di sudut paling rahasia hati kecilnya, mungkin saja dia ingin sekali memeluk Che Siau-yan terlebih dahulu. Karena dia adalah lelaki pertama bagi gadis itu, dia telah mempersembahkan keperawanan yang paling berharga, kesuciannya untuk lelaki ini. Dalam hal seperti ini, bukan saja sulit bagi seorang wanita untuk melupakannya, begitu juga bagi seorang lelaki. Di sudut lain yang paling rahasia dari hati kecil Siauhong dia pun ingin memeluk Yang-kong. Baginya Yang-kong adalah seorang gadis yang bukan saja cantik jelita bahkan seorang gadis yang buta karena cinta, dia tahu sepanjang hidup tak mungkin dia pernah bisa memperoleh gadis ini secara utuh. Tapi dia menyukai gadis itu, bukan hanya suka, bahkan sangat menghormatinya. Dia telah mencampur adukkan perasaan cintanya terhadap Yang-kong dengan persahabatannya dengan Po Eng. Siau-hong pun seorang lelaki. Soso juga seorang wanita, seorang wanita yang sangat feminim, bahkan boleh dibilang setiap inci tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya kelewat berbau wanita. Siau-hong tak mungkin bisa melupakan perempuan ini. Perasaan cintanya, kelembutan hatinya, pelukan dan rayuannya, tak mungkin bisa terlupakan oleh lelaki mana pun. Jadi kalau ditanya sejujurnya, sesungguhnya orang yang paling ingin dipeluknya saat ini adalah Soso. Tapi kenyataan, dia memeluk dan menggendong putranya terlebih dulu. Hal ini bukan dikarenakan cinta seorang ayah, hubungan perasaan seorang ayah dan anak harus dipupuk dan tumbuh dari berjalannya sang waktu, butuh dipupuk dan dibina. Dia memeluk bocah itu terlebih dulu mungkin karena dia berharap adanya keseimbangan, semacam cinta kasih yang seimbang, semacam keseimbangan yang dapat membuat gejolak hatinya stabil dan memperoleh ketenangan. Bagaimana pun juga dia telah melakukan hal ini. Diam-diam Che Siau-yan mundur ke belakang, perlahanlahan Yang-kong duduk kembali, duduk di atas bangku dekat pembaringan. Mendadak Soso tertawa, suara tawanya aneh sekali. Di balik suara tawanya seakan terselip sindiran dan cemoohan yang amat keji, seperti tatapan matanya saat itu. Dia menatap Siau-hong sambil tertawa, mendadak tanyanya.

"Kau sangka bocah itu benar-benar adalah putramu?"

"Memangnya bukan?"

"Bukan,"

Jawab Soso.

"Tentu saja bukan."

Kemudian dengan suara dingin lanjutnya.

"Kenapa kau tidak mencoba untuk berpikir, mana mungkin Lu-sam akan mengembalikan bocah ini kepadamu?"

Siau-hong tertegun, terperangah.

Dia tahu Soso bukan sedang berbohong tapi dia pun tidak melepaskan bocah yang berada dalam bopongannya, keadaannya seperti seorang yang kalap di air dan memegang sebuah benda yang dia sendiri pun tahu kalau benda itu bukan balok kayu yang bisa membuatnya terapung, namun dia tetap tidak mau melepaskannya.

Senyuman yang menghiasi wajah Soso mendadak berubah lagi seperti sedang mengenakan sebuah topeng.

"Lu-sam minta aku membawa bocah ini untuk berjumpa dengan dirimu, dia minta aku memberitahukan kepadamu kalau anakmu sudah tumbuh sebesar ini. Tumbuh sehat dan menyenangkan seperti bocah ini."

Tangan Siau-hong mulai dingin, mulai kaku. Kembali Soso tertawa dingin.

"Sebelum ini, pernahkah kau berjumpa dengan anakmu itu?"

Tanyanya.

"Belum pernah!"

Jawab Siau-hong.

Dia adalah seorang jujur, mungkin belum bisa terhitung orang baik, tapi dia sangat jujur.

Selama ini dia belum pernah berpikir tentang anaknya, karena dia belum pernah berjumpa dengan anaknya itu.

Hubungan mereka sebagai ayah dan anak belum terjalin perasaan cinta, rasa sayang belum tumbuh di antara mereka berdua.

"Kau tahu kalau aku telah mengandung anakmu,"

Kembali Soso bertanya.

"Tapi kau belum pernah memikirkan tentang dirinya."

Siau-hong harus mengakui akan hal ini.

Tapi sekarang dia sudah mulai memikirkan dia, karena terhadap bocah itu dia telah memiliki gambaran yang jelas dan utuh.

Begitulah sifat manusia.

Terlepas sifat manusia itu baik atau jahat, di balik sifat manusia tentu terdapat titik kelemahan.

Tak diragukan Lu-sam telah memegang titik kelemahan manusia.

"Lu-sam minta aku memberitahukan kepadamu,"

Ujar Soso lagi.

"Bila kau ingin berjumpa dengan anakmu, maka kau harus melakukan satu pekerjaan dulu baginya."

"Pekerjaan apa?"

Mau tak mau Siau-hong harus bertanya.

"Dia minta aku melakukan pekerjaan apa?"

Sebelum Soso sempat buka suara, dari luar sudah terdengar seseorang mewakilinya menjawab.

"Dia minta kau membantunya membunuh aku."

Suara Pancapanah!

Suara yang begitu tenang, juga begitu hangat, asal mendengarnya sekali, tidak mudah bagimu untuk melupakannya.

Selamanya tak pernah ada yang tahu kapan dan dari mana Pancapanah akan muncul.

Pancapanah selalu tampak masih muda.

"Muda"

Bukan melambangkan usianya, tapi melambangkan semacam bentuk, semacam wujud.

Dia tampak begitu muda karena dia selalu tampak begitu kokoh, kuat, dan bertenaga.

Peduli di mana pun, kapan pun, kemunculannya selalu sama.

Sekalipun dia baru merangkak keluar dari rawa-rawa berlumpur pun dia selalu terlihat seperti sebilah pedang yang baru keluar dari tungku api, kering, bersih, berkilat, dan tajam.

Sekalipun dia baru merangkak keluar dari tumpukan mayat dan lumuran darah musuh, dia terlihat bersih dan sama sekali tak berbau anyir darah.

Satu-satunya perbedaan yang dia tunjukkan kali ini adalah dia membawa sekantung arak.

Sekantung kulit kambing arak wangi.

Dia berjalan mendekat, duduk di sebuah kursi dekat sebuah meja kecil, kemudian sambil menatap Siau-hong katanya.

"Duduk!"

Siau-hong pun duduk. Dia serahkan bocah itu ke tangan Soso sebelum duduk, duduk tepat di hadapannya. Pancapanah meletakkan kantung berisi arak itu ke atas meja kecil.

"Arak ini bernama Ku-shia-sau,"

Dia bertanya kepada Siau-hong "Kau pernah meneguknya?"

"Pernah,"

Sahut Siau-hong.

Tentu saja ia pernah minum arak itu, Po Eng paling suka minum arak jenis ini.

Arak ini bila diteguk seperti darah panas yang mengalir di tubuh lelaki sejati.

Dengan jari tangannya dia membuka penutup kantung kulit kambing itu, kemudian meletakkan kantung tadi di belakang tengkuk.

Pancapanah meneguknya lebih dulu satu tegukan besar, kemudian baru menyerahkan kantung arak itu ke tangan Siau-hong.

"Kau minumlah!"

Siau-hong pun ikut meneguk satu tegukan besar, satu tegukan yang amat besar, kemudian kembali lagi giliran Pancapanah.

Mereka sama sekali tidak memandang Soso maupun Yang-kong, seakan-akan di dalam ruangan itu sama sekali tak hadir orang ketiga.

"Kau pernah meneguk arak ini,"

Kata Pancapanah.

"Tentu masih ingat dengan nyanyiannya, bukan?"

"Aku masih ingat."

"Kalau begitu kau nyanyi dulu kemudian baru aku."

Maka Siau-hong pun mulai bersenandung.

"... lelaki harus ternama, Arak harus memabukkan. Berbincang setelah mabuk, Isi hati pun semua terpampang"

Lagu itu disenandungkan sekali demi sekali, selesai satu tegukan arak, lagu pun dinyanyikan satu kali.

Nyanyian mereka sekental arak, arak yang mereka minum sekental darah.

Lagu bisa dinyanyikan tiada habisnya, tapi arak pada akhirnya habis diteguk.

Mendadak Pancapanah menggebrak meja.

"Aku tahu,"

Teriaknya sambil menatap Siau-hong.

"Aku tahu kau belum pernah menganggap aku sebagai sahabatmu."

"Oh!"

"Kau selalu menganggap hanya Po Eng sahabat karibmu?"

"Dia memang sahabat karibku,"

Sahut Siau-hong.

"Bukan saja dia adalah sahabatku, juga sahabat karibmu."

"Lalu mengapa selama ini dia tak pernah datang mencarimu? Juga tidak mencari aku?"

Pancapanah menatap tajam wajah Siau-hong.

"Tahukah kau mengapa begitu?"

Siau-hong mengambil kantung arak, lalu meneguknya sampai puas.

Ia tak dapat menjawab pertanyaan ini, kecuali Po Eng pada hakikatnya tiada orang lain yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Dia sendiri pun sudah berulang kali mengajukan pertanyaan yang sama, belakangan dia sudah tak pernah bertanya lagi, karena persoalan itu selalu akan melukai perasaan sendiri.

Pancapanah pun tidak bertanya lebih lanjut.

Dia mulai meneguk arak, yang dia teguk tidak lebih sedikit daripada Siau-hong.

Siau-hong sama sekali tak menyangka Pancapanah yang selalu tampil dingin, kaku bagaikan batu karang ternyata pandai pula meneguk arak dalam takaran banyak.

Dia menggenggam kantung kulit kambing itu erat-erat, tidak lagi memberi kesempatan kepada Pancapanah untuk meneguknya, ada banyak persoalan harus dia tanyakan dulu hingga jelas sebelum mereka berdua sama-sama mabuk berat.

Kembali terdengar Pancapanah bertanya lagi.

"Apakah kau telah melihat dengan jelas beberapa buah patung lilin yang berada dalam kantor Eng-ki?"

Siau-hong memang sudah melihatnya dengan sangat jelas.

"Sebelum ini, pernahkah kau saksikan patung lilin yang diciptakan begitu indah, hidup, dan mempesona?"

"Belum pernah."

"Tentu saja belum pernah!"

Kata Pancapanah.

"Patung lilin semacam ini pada hakikatnya belum pernah muncul di daratan Tionggoan."

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Karena di kolong langit dewasa ini hanya satu orang yang bisa menciptakan patung lilin sedemikian sempurnanya,"

Kata Pancapanah lagi.

"Pada hakikatnya hanya satu orang."

"Siapakah orang itu?"

"Longhud Leadkin!"

Sebuah nama yang aneh dan istimewa, siapa pun yang pernah mendengar nama aneh ini, pasti akan selalu mengingatnya di dalam hati.

"Longhud Leadkin,"

Sekali lagi Pancapanah mengulang nama itu.

"Aku yakin dan percaya kau pasti belum pernah mendengar nama orang ini."

Siau-hong memang belum pernah mendengar nama itu.

"Dia bukan bangsa Han?"

"Bukan,"

Pancapanah menggeleng "Dia orang Persia, tapi selama ini tinggal di sebuah negeri yang disebut Inggris."

"Inggris?"

Selama hidup belum pernah Siau-hong mendengar nama negeri pulau itu.

"Berada di manakah negeri Inggris itu?"

"Di ujung langit, sudut samudra, sebuah tempat yang belum pernah kita singgahi."

"Mengapa patung-patung lilin hasil karyanya bisa sampai di sini?"

"Karena orang yang disebut Longhud Leadkin sekarang telah berada di sini,"

Pancapanah menerangkan.

"Bagaimana mungkin dia bisa sampai di sini?"

"Karena ada yang mengundang kedatangannya, dia adalah seorang tokoh aneh, di kolong langit belum pernah ada manusia kedua yang dapat menandingi kesempurnaan hasil karyanya, tapi dia pun butuh penghasilan untuk menunjang hidupnya, asal ada orang berani membayar mahal, tempat mana pun akan dia kunjungi."

"Siapa yang mengundang kedatangannya?"

"Rasanya di kolong langit dewasa ini hanya satu orang yang bisa mengundang kehadirannya,"

Kata Pancapanah.

"Seharusnya kau bisa menebak sendiri, siapa orang yang kumaksud."

Siau-hong telah menduga siapakah orang itu. Di kolong langit dewasa ini, hanya satu orang yang sanggup mengeluarkan biaya besar, dan hanya satu orang yang bisa melakukan perbuatan semacam ini.

"Kau maksudkan Lu-sam?"

"Kecuali dia, siapa lagi?"

"Mengapa Lu-sam secara khusus mengundang kehadiran Longhud Leadkin kemari?"

Kembali Siau-hong bertanya.

"Apakah hanya dikarenakan ingin membuat beberapa buah patung lilin?"

"Benar."

"Mengapa Lu-sam harus berbuat begitu?"

"Karena berbagai alasan,"

Ujar Pancapanah.

"Tapi tujuannya yang paling utama adalah dia ingin menggunakan patung-patung lilin itu untuk membunuh orang."

"Membunuh siapa?"

Padahal pertanyaan itu tidak seharusnya ditanyakan dan tak perlu ditanyakan, tapi Pancapanah tetap menjawabnya.

"Bunuh kau, bunuh aku, bunuh Po Eng!"

Beberapa buah patung lilin yang tak bernyawa, tak punya darah daging, bahkan bergerak pun tak sanggup, mana mungkin bisa membunuh orang? Pancapanah segera menjelaskan.

"Patung lilin itu kosong semua, di dalam setiap patung bersembunyi satu orang, di antaranya ada jagoan menggunakan racun, ada pula jagoan senjata rahasia."

Racun yang mereka pergunakan tentu saja racun ganas yang tak berwarna, tak berbau, agar siapa pun tidak menyadarinya.

Senjata rahasia yang mereka pergunakan pun merupakan senjata rahasia yang dibidikkan dengan tabung jarum berpegas tinggi, agar orang lain tidak melihat datangnya ancaman.

Dalam hal ini, Siau-hong telah menduganya.

"Oleh karena itu siapa pun yang berani memasuki pintu gerbang Eng-ki, mereka bakal mati secara mendadak."

"Benar, siapa pun yang berani memasuki pintu gerbang Eng-ki, mereka pasti akan tewas secara mengenaskan."

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.

"Bila korban yang berjatuhan semakin banyak, tentu saja kami pun akan mendapat kabar, peduli berada di mana pun, kami pasti akan mendengar berita ini."

Sambil manggut-manggut Siau-hong berkata pula.

"Bila kita mengetahui berita ini, tentu saja tak akan tahan untuk tidak datang melihat."

"Jika kita belum mengetahui rahasia patung-patung lilin itu, begitu masuk ke dalam gedung, nyawa kita pasti akan melayang."

Siau-hong harus mengakui kebenaran hal ini, dia sendiri nyaris sudah pernah mati satu kali.

"Untung kau dapat mengetahui rahasia itu."

"Benar, aku telah mengetahui rahasia itu,"

Pancapanah membenarkan.

"Oleh karena itu aku belum mati, kau pun belum mati."

Siau-hong menghembuskan napas panjang, tak tahan kembali tanyanya.

"Masih ada satu hal yang tidak kupahami."

"Soal apa?"

"Sepasang mata itu,"

Siau-hong teringat kembali dengan ular berbisa itu.

"Aku tak lebih hanya memandangnya sekejap, mengapa tubuhku seolah sudah keracunan?"

"Oh, jadi masalah itu yang tidak kau pahami?"

"Ya, aku tidak mengerti."

"Padahal persoalan itu bukan sesuatu yang sulit dijelaskan,"

Tiba-tiba Pancapanah balik bertanya kepada Siau-hong.

"Kau pernah bertemu dengan orang yang terkena penyakit mata?"

"Pernah."

"Pernah kau perhatikan mata mereka?"

"Terkadang aku pernah memandangnya beberapa kejap."

"Bagaimana perasaanmu setelah melihatnya?"

"Aku akan merasakan mataku ikut tak nyaman, seperti ada ganjalan."

"Bila kau memandangnya lebih lama, bisa jadi dirimu pun akan ikut terjangkit penyakit mata yang sama,"

Kata Pancapanah.

"Bila kau pikirkan lebih seksama, pasti akan kau menjumpai pengalaman semacam itu."

Siau-hong memang pernah mengalami hal seperti ini.

"Tapi aku tak habis mengerti, mengapa bisa begitu?"

"Ini dikarenakan kau telah keracunan."

"Keracunan?"

Gumam Siau-hong keheranan.

"Dari mana bisa keracunan?"

"Karena di dalam mata orang itu terdapat sejenis racun yang bisa ditularkan kepada orang lain, paling tidak terdapat dua tiga macam penyakit mata yang memiliki daya tular sangat tinggi."

"Tapi aku tak lebih hanya memandangnya dua kejap."

"Memandang dua kejap sudah lebih dari cukup."

"Kenapa?"

Ooo)d*w(ooO BAB 36. SAATNYA MASUK NERAKA "Karena racun semacam ini memang ditularkan melalui mata, asal kau memandangnya sekejap, maka kau pun ikut tertular,"

Kata Pancapanah.

"Di kolong langit masih terdapat banyak macam racun penyakit (virus) yang dapat menyebar dan menular pada orang lain. Asalkan kau berada dalam satu ruangan dengan sang penderita, maka besar kemungkinan kau bakal tertular juga penyakit yang sama."

Penjelasannya amat teliti dan jelas.

"Bila ada orang mampu menggunakan racun penyakit itu dan menciptakannya menjadi semacam obat racun, maka cukup kau pandang sekejap pun, dirimu sudah ikut keracunan."

Kembali Pancapanah berkata.

"Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang gampang dilakukan, tapi aku tahu memang ada orang yang telah berhasil menciptakan obat racun semacam ini."

Akhirnya Siau-hong mengerti.

Dia pernah menyaksikan orang-orang yang mati dalam keadaan berlutut, sampai ajalnya tiba pun mereka masih belum tahu bagaimana dirinya bisa keracunan.

Sebelum mendengar penjelasan dari Pancapanah, dia pun seperti mereka, mimpi pun tak pernah menyangka kalau di kolong langit bisa terdapat obat beracun yang begitu menakutkan.

Mendadak Pancapanah bertanya lagi kepadanya.

"Kau masih ingat bocah perempuan yang senang membopong anjing putih kecilnya?"

Tentu saja Siau-hong masih ingat.

"Dialah yang bersembunyi di dalam patung lilin itu,"

Pancapanah menerangkan.

"Oleh sebab itu, walaupun kau hanya memandangnya sekejap, namun sudah terkena racunnya. Racun jahat tak berwarna, tak berwujud, dan tak berbau."

"Karena itu siapa pun yang berani memasuki pintu kantor dagang Eng-ki, mereka segera mati secara mengerikan?"

"Benar."

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh Pancapanah berkata pula.

"Semua itu bukan ilmu sihir, bukan ilmu tenung, tapi racun jahat yang berhasil diramu setelah melakukan penelitian dan percobaan yang berat dan sulit, untuk menghindari keracunan saja sudah teramat sulit, apalagi berusaha memunahkannya."

"Tapi pada akhirnya kau berhasil juga mematahkan serangan itu."

"Aku pun harus berpikir cukup lama, merencanakannya cukup lama."

"Cara apa yang kau gunakan?"

"Menyerang dengan api!"

Kata Pancapanah.

"Hanya menyerang dengan api, mereka baru bisa dimusnahkan."

Kembali ia menjelaskan.

"Aku sengaja merontokkan kapak terbang Lo-ji karena kuatir kehadiran mereka akan mempengaruhi rencanaku, tapi aku tidak menyangka kalau kau akan menyerbu masuk tanpa memikirkan resikonya."

Ditatapnya Siau-hong sekejap.

"Semula kusangka kau adalah seorang yang tenang dan pandai mengendalikan diri."

Siau-hong tertawa getir.

Sebetulnya dia sendiri pun mengira dirinya begitu.

Sekarang, tentu saja Siau-hong sudah mengerti, kobaran api di dalam neraka yang dilihatnya bukan sebuah ilusi, bukan sebuah khayalan.

Jilatan api telah melelehkan patung-patung lilin, menghancurkan bangunan rumah, orang yang bersembunyi di dalam patung lilin pun terpaksa harus melarikan diri.

Asal mereka kabur dari balik patung lilin, siapa pun jangan harap bisa lolos dari bidikan panah sakti panca bunga.

"Aku masih mempunyai satu persoalan lagi yang tak kupahami,"

Tiba-tiba Siau-hong berkata lagi.

"Masalah apa?"

"Kalau kau memang sudah tahu di balik patung lilin ada orang, mengapa kau tidak langsung menggunakan panahmu untuk membidik mati mereka?"

Pancapanah menatap wajah Siau-hong, sinar matanya dipenuhi cemoohan dan sindiran, tanyanya dingin.

"Tahukah kau siapa saja yang bersembunyi di balik patung lilin itu?"

"Aku tidak tahu."

"Aku sendiri pun tidak tahu, oleh karena itu aku tak berani berbuat begitu,"

Kata Pancapanah.

"Seandainya aku melakukannya, bukan saja sepanjang hidup bakal menyesal, kau pun akan membenciku sepanjang hidup."

"Kenapa?"

Pancapanah tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia balik bertanya.

"Tahukah kau siapa yang telah bersembunyi di balik patung lilinnya Soso?"

"Tidak tahu."

"Orang itu adalah dia sendiri,"

Pancapanah menjelaskan.

"Lu-sam telah menyembunyikan dia beserta anaknya di dalam patung lilin dia sendiri, tujuannya agar kita membunuh mereka."

Kembali dia bertanya kepada Siau-hong.

"Waktu itu kau masih belum tahu apakah bocah ini anakmu atau bukan, bila aku membunuh mereka ibu beranak dengan panahku, apa yang bakal kau lakukan?"

Siau-hong melengak, tertegun, kaki dan tangannya terasa dingin membeku.

Sebenarnya dia selalu menganggap dirinya telah belajar banyak, sekarang ia baru tahu bahwa dirinya masih harus belajar lebih banyak lagi.

Ia menatap orang di hadapannya yang hangat tapi kasar, kejam, dan penuh persahabatan itu, tiba-tiba muncul perasaan kagum dan hormat yang sebelumnya tak pernah timbul dalam hatinya.

Pancapanah berkata lagi.

"Jauh-jauh Lu-sam mengundang kehadiran Longhud Leadkin untuk membuat patung-patung lilin itu, tujuannya bukan saja ingin memancing dan membunuh kita, Lu-sam pun tahu, kita bukan orang yang gampang masuk perangkapnya."

"Jadi dia masih mempunyai tujuan lain?"

"Tentu saja,"

Pancapanah tertawa dingin.

"Dia ingin menciptakan kesalah-pahaman dan dendam kesumat di antara kita."

Siau-hong tutup mulut, menunggu dia melanjutkan perkataannya.

"Po Eng adalah manusia hebat,"

Ucap Pancapanah lebih jauh.

"Ilmu silatnya, kecerdasan otak, serta kemampuannya mengendalikan anak buah, belum pernah tertandingi oleh siapa pun, tapi secara tiba-tiba dia diserang orang hingga mengalami kekalahan dan kehancuran, bukankah orang lain mengira dia telah dikhianati, dijual oleh rekannya?"

"Benar!"

Siau-hong mengakui.

"Orang lain pasti berpendapat, orang yang bisa mengkhianatinya pastilah sahabatnya terdekat."

Pancapanah kembali meneguk arak.

"Padahal selama puluhan tahun terakhir, akulah satusatunya sahabatnya yang paling dekat."

Kembali Siau-hong tutup mulut rapat rapat.

"Mungkin termasuk kau sendiri pun menaruh curiga kalau akulah yang telah mengkhianatinya,"

Ujar Pancapanah lebih jauh.

"Ada banyak jejak dan gejala yang membuat kau berpikir begitu, yang lebih penting lagi tentu menyangkut emas murni itu."

Siau-hong termenung, tidak menjawab.

Harus diakui, dia memang pernah berpikir begitu, hanya tiga orang yang mengetahui tempat persembunyian emas murni itu, kini emas itu lenyap, sementara dia sendiri belum pernah menyentuh emas itu, sedang Po Eng pun tak nanti akan mencuri emas milik sendiri, tentu saja orang yang paling mencurigakan adalah Pancapanah.

"Andaikata Po Eng masih hidup, bisa jadi dia sendiri pun berpendapat begitu,"

Ujar Pancapanah.

"Bila ada kesempatan, mungkin saja dia akan membunuhku di ujung pedangnya."

Sekali lagi dia mengangkat cawannya ke arah Siau-hong dan berkata lebih jauh.

"Sekalipun dia percaya kepadaku, kau pun akan berpikir demikian, ketika kau menyaksikan patung-patung lilin itu, mungkin kau sudah berpikir akan hal ini."

Siau-hong tak dapat menyangkal.

Sewaktu melihat patung lilin Po Eng yang sedang menusuk patung lilin Pancapanah, bukan saja ia berpendapat demikian, bahkan menaruh curiga bahwa patung-patung lilin itu merupakan perencanaan Po Eng, rencana untuk memancing kedatangan Pancapanah.

Pada saat yang bersamaan, dia pun pernah menaruh curiga bahwa hal ini merupakan bagian dari perencanaan Pancapanah untuk memancing kehadiran Po Eng, lalu membunuhnya.

Sebuah senja yang tenang dan indah, sebuah bilik ruangan yang tenang dan senyap, dua orang perempuan cantik, seorang bocah yang baru tertidur, dua buah lentera yang baru disulut, sekantung arak yang hampir habis, sebuah rahasia yang mengejutkan, semua ini menciptakan suasana yang tak mungkin bisa diterima dan dipahami orang lain.

Berada dalam suasana seperti ini, Siau-hong sendiri pun tak tahu apakah dia sedang sadar atau mabuk?

Sedang mabuk atau sadar?

Kembali Pancapanah bertanya kepadanya.

"Sekarang apakah kau sudah mengerti?"

"Sudah."

"Kau tahu, sekarang telah tiba saat apa?"

Siau-hong menggeleng, dia memang tak tahu, dia sama sekali tidak paham apa maksud Pancapanah itu. Maka Pancapanah pun memberitahukan kepadanya.

"Sekarang sudah saatnya untuk turun ke neraka."

"Turun ke neraka?"

Tanya Siau-hong.

"Siapa yang akan turun ke neraka?"

"Kau!"

Pancapanah meneguk habis tetesan terakhir arak dalam kantung, terusnya.

"Kau yang akan turun ke neraka!"

Ooo)d*w(ooO Malam semakin kelam, cahaya lentera makin terang malam semakin larut, sinar lentera semakin memancarkan sinarnya menerangi seluruh sudut ruangan.

Ada banyak kejadian di dunia seperti keadaan itu.

Pancapanah mengeluarkan selembar peta dan diletakkan di atas meja, selembar peta yang terbuat dari kulit kambing.

"Peta ini meliputi daerah Giok-bun-kwan dan sekitarnya, termasuk gurun Gobi hingga puncak suci kota Lhasa,"

Pancapanah menerangkan.

"Peta ini meliputi sebuah wilayah yang sangat luas, kira-kira mencapai lima laksa, lima ribu li."

Kembali dia berkata.

"Namun di wilayah yang amat luas ini, tidak banyak tempat yang berpenduduk dan ada kehidupan."

Lukisan peta itu tidak terlalu detil, tidak ada gambar sungai, telaga maupun pegunungan, yang ada hanya lingkaran tinta merah yang menunjukkan kota atau desa penting.

Kembali Pancapanah bertanya kepada Siau-hong.

"Coba kau hitung, ada berapa lingkaran merah yang terdapat di lembaran peta ini?"

Siau-hong telah menghitungnya, maka segera menjawab.

"Semuanya berjumlah seratus sembilan puluh satu."

Pancapanah manggut-manggut tanda benar. Kemudian dia pun berkata lagi.

"Keseratus sembilan puluh satu lingkaran itu merupakan sarang rahasia Lu-sam."

Kemudian tambahnya pula.

"Hingga kini walaupun kita berhasil menemukan begitu banyak sarang rahasianya, tapi aku percaya meski Lu-sam masih memiliki kantor cabang atau sarang rahasia lainnya pun, jumlah itu sudah tidak banyak lagi!"

"Aku percaya akan hal itu."

Sekarang dia sudah percaya seratus persen dengan kemampuan yang dimiliki Pancapanah.

"Sekarang kita harus berhasil menemukan Lu-sam, persoalan apa pun baru bisa diselesaikan apabila berhasil menemukan dirinya."

"Betul!"

"Aku percaya kita pasti dapat menemukan dirinya di tempat-tempat itu."

Siau-hong pun percaya, sayang tempat yang harus mereka cari kelewat banyak.

"Tahukah kau, sebenarnya dia bersembunyi di sarang rahasianya yang mana?"

Tanya Siau-hong.

"Tidak tahu, tak seorang pun tahu,"

Pancapanah menggeleng.

Siau-hong tertawa getir.

Seratus sembilan puluh satu desa dan kota yang tersebar di wilayah begitu luas, bagaimana mungkin mereka dapat menemukannya?

"Walaupun kita telah berhasil menyelidiki tempat di mana Lu-sam mungkin bersembunyi, akan tetapi selama ini kami tak pernah turun tangan pergi mencarinya,"

Kata Pancapanah.

"Kenapa?"

"Sebab kami tahu tak akan berhasil menemukan dirinya!"

Pancapanah menjelaskan.

"Kita tidak memiliki kekuatan manusia sebanyak itu, kekuatan yang bisa terbagi menjadi seratus sembilan puluh satu rombongan dan secara terpisah pergi mencarinya, sekalipun kita berhasil menemukan jejaknya, kekuatannya saat itu pasti kecil sekali."

Siau-hong setuju dengan pendapat itu.

"Tempat persembunyian Lu-sam pasti dilengkapi dengan penjagaan yang amat ketat, biarpun ada orang kita berhasil menemukan jejaknya, belum tentu mereka sanggup memberi perlawanan,"

Ujar Pancapanah lagi.

"Sekali kita gagal menggropyoknya, jangan harap kita bisa menemukan lagi tempat persembunyiannya dengan gampang."

"Tepat sekali."

"Oleh karena itu kita tak boleh bertindak secara gegabah, apalagi menggebuk rumput mengejutkan ular, kita tak boleh melakukan perbuatan yang tidak yakin akan berhasil."

"Jadi sekarang kau sudah punya keyakinan?"

Tak tahan Siau-hong bertanya.

"Saat ini paling tidak aku telah menemukan sebuah cara untuk menghadapinya."

"Cara apa?"

"Sekarang walaupun kita masih belum berhasil menemukan dia, namun kita bisa menggiring orang itu agar menampakkan sendiri jejaknya."

"Kau benar-benar mempunyai keyakinan untuk melakukannya?"

Tak tahan kembali Siau-hong bertanya. Pancapanah manggut-manggut, sinar mata setajam elang selicik rase segera terpancar dari tatapannya, dengan suara dalam ia bertanya.

"Inginkah kau mendengarkan rencanaku?"

"Ingin, tentu saja ingin!"

Sahut Siau-hong.

"Pertama, kita harus menyiarkan berita agar Lu-sam tahu bahwa kita telah berhasil melacak keseratus sembilan puluh satu tempat persembunyiannya,"

Kata Pancapanah.

"Bahkan tak ada salahnya kita sebar-luaskan gambar peta ini, agar dia percaya bahwa kita benar-benar memiliki kemampuan itu."

"Yang kedua?"

"Setelah menderita kekalahan total kali ini, dia pasti tak akan berani memandang enteng kekuatan kita lagi."

"Aku percaya dia tak pernah memandang enteng dirimu,"

Kata Siau-hong.

"Siapa pun tak ada yang berani memandang enteng dirimu!"

"Ketika dia mengetahui kita sudah mulai bersiap melakukan pergerakan, dia pasti akan memperketat penjagaan,"

Lanjut Pancapanah.

"Peduli ke mana pun pergi, dia pasti akan segera menghimpun seluruh jagoan anak buahnya untuk mengintil di belakangnya."

Siau-hong segera memahami maksud tujuannya....

"Asalkan dia mulai menggerakkan anak buahnya, kita pun segera akan berhasil melacak berada di manakah dirinya."

"Betul,"

Sambil tersenyum Pancapanah manggutmanggut.

"Begitulah rencana yang kurancang."

Ditatapnya wajah Siau-hong lekat-lekat, kemudian katanya lagi.

"Hanya saja, pergerakan kita kali ini sangat berbahaya, Lu-sam kaya raya dan luas pengaruhnya, jagoan yang menjadi anak buahnya juga banyak sekali, kita masih belum punya keyakinan untuk memenangkan pertarungan ini."

"Aku mengerti."

"Tapi kita tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini,"

Kata Pancapanah lagi.

"Mungkin inilah kesempatan kita untuk terakhir kalinya."

"Aku mengerti, walaupun tahu bakal masuk neraka, kita tetap harus berangkat!"

"Betul!"

"Tapi kau tak boleh pergi,"

Ujar Siau-hong.

"Kau masih ada tugas lain yang harus dikerjakan, kau tak boleh ikut menyerempet bahaya ini!"

"Benar,"

Pancapanah mengakui secara gamblang "Maka dari itu, aku hanya akan mengirim kau seorang."

Setelah menatap wajah Siau-hong lanjutnya.

"Bila salah satu di antara kita berdua harus mati, terpaksa aku biarkan kau saja yang pergi mati."

Reaksi Siau-hong aneh sekali. Dia tidak marah, tidak emosi, tidak pula membangkang, atau membantah, katanya hambar.

"Baik! Aku yang pergi."

Ooo)d*w(ooO Bangunan rumah berwarna kuning emas, dinding berwarna kuning emas, lantai berwarna kuning emas, atap rumah berwarna kuning emas.

Hampir setiap benda yang berada dalam bangunan rumah itu berwarna kuning emas.

Kuningnya seratus persen kuning emas, sama dengan warna emas murni, dijamin tak ada bedanya.

Karena bangunan rumah itu beserta keempat dinding dan atapnya terbuat dari emas murni, permukaan tanah pun dilapisi batu bata terbuat dari emas murni.

Setiap benda yang ada di sana, semuanya terbuat dari emas, bahkan meja kursi sampai jendela pun terbuat dari lapisan emas murni.

Karena pemilik rumah ini amat menyukai emas murni.

Setiap orang pasti menyukai emas, tapi sedikit sekali orang yang bisa bertempat tinggal di rumah seperti ini.

Biarpun emas murni itu menyenangkan, namun kelewat dingin, kelewat keras, kelewat tak berperasaan.

Kebanyakan orang lebih suka duduk di sebuah bangku biasa, duduk di samping jendela kayu sambil minum arak dengan cawan yang terbuat dari batu kristal.

Tapi tuan rumah pemilik bangunan ini amat menyukai emas murni.

Emas murni yang dimiliki pun paling banyak di kolong langit, belum ada orang kedua yang dapat menandingi jumlah emas miliknya.

Pemilik bangunan itu tak lain adalah Lu-sam.

Bangku yang terbuat dari emas murni meski terasa dingin dan keras, namun Lu-sam duduk dengan begitu nyaman, jauh lebih nyaman daripada duduk di atas kasur.

Seorang diri duduk dalam bangunan itu, menyaksikan semua benda yang terbuat dari emas murni, melihat cahaya emas yang berkilauan, biasanya merupakan saat yang paling menggembirakan hatinya.

Dia suka sekali duduk seorang diri di sana, karena dia tak ingin orang lain ikut menikmati kegembiraannya, seperti dia tak ingin membagikan emas itu kepada siapa pun.

Maka teramat jarang ada orang berani memasuki rumah itu, tidak terkecuali orang yang paling dekat pun.

Tapi hari ini ada pengecualian.

Kadar emas dari cawannya jelas lebih kental daripada kadar alkohol dalam arak yang diteguknya.

Lu-sam perlahan-lahan meneguk arak dari cawannya, kemudian meletakkan sepasang kakinya yang bersih dengan kuku yang rapi di atas meja berlapiskan emas, ia membiarkan tubuhnya berbaring santai, membiarkan seluruh otot badannya mengendor.

Hanya di tempat ini dia baru bisa minum arak, karena hanya orang yang paling dipercaya mengetahui letak tempat ini, khususnya selagi minum arak, tak pernah ada orang yang berani mengusiknya.

Tapi hari ini, ketika dia siap meneguk arak untuk cawan kedua, tiba-tiba terdengar ada orang mengetuk pintu, bahkan tanpa menunggu izin darinya, ia sudah membuka pintu sambil melangkah masuk ke dalam.

Lu-sam amat tak suka, namun perasaan tak senangnya itu sama sekali tak diperlihatkan pada wajahnya.

Hal ini bukan karena orang yang mengetuk pintu sambil melangkah masuk adalah orang kepercayaannya, Biauswan.

Mimik mukanya sama sekali tak menunjukkan perubahan apa pun, hal ini dikarenakan dia memang bukan seseorang yang suka memperlihatkan rasa gusar, senang, atau sedihnya kepada orang lain, bahkan sewaktu mendapat kabar bahwa putra tunggalnya tewas di tangan Siau-hong pun, parasnya sama sekali tidak memperlihatkan rasa sedih, gusar, maupun dendam.

Dia memang tidak seperti Pancapanah.

Paras Pancapanah selalu tampil sekeras batu granit, tak pernah memperlihatkan perasaan apa pun.

Wajah Lu-sam dihiasi perasaan, hanya saja perasaan yang tampil di wajahnya seringkali tidak sama dengan apa yang dipikirkan di dalam hati.

Sekarang biarpun ia merasa tak suka, namun wajahnya masih dihiasi senyuman penuh kegembiraan.

Sambil tersenyum dia bertanya kepada Biau Swan.

"Apakah kau pun ingin meneguk secawan arak? Ingin duduk dulu sambil menemani aku minum secawan?"

"Tidak ingin,"

Jawab Biau Swan.

"Tidak mau!"

Dia tidak seperti tuannya, apa yang dipikir dalam hati segera tampil dan tertera jelas di wajahnya.

Sekarang mimik mukanya seperti orang yang barusan mengalami musibah, seperti melihat rumahnya kebakaran.

"Aku tak ingin minum arak, aku pun tak ingin minum,"

Sahutnya.

"Aku bukan datang lantaran ingin minum arak."

Lu-sam tertawa.

Dia suka orang yang polos dan selalu berterus terang, walaupun dia sendiri bukan manusia semacam itu, tapi dia suka dengan manusia seperti ini, karena dia selalu beranggapan, manusia semacam ini paling gampang dikendalikan.

Oleh karena dia sendiri bukan manusia seperti ini, maka dia angkat Biau Swan sebagai orang kepercayaan.

"Lalu karena urusan apa kau datang kemari?"

Tanyanya kemudian.

"Karena sebuah masalah besar,"

Sahut Biau Swan.

"Karena manusia yang bernama Pancapanah."

Lu-sam masih tersenyum.

"Masalah yang menyangkut Pancapanah, tentulah masalah besar."

Dia tuding bangku di hadapannya.

"Duduklah dulu, bicaralah perlahan-lahan."

Kali ini Biau Swan tidak menuruti anjurannya, dia tidak duduk di bangku yang ditunjuk.

"Pancapanah telah berhasil melacak keseratus sembilan puluh satu kantor cabang kita, bahkan telah menurunkan perintah untuk menghimpun seluruh kekuatan dan mulai melancarkan serangan."

Bukan saja paras Lu-sam sama sekali tak berubah, gayanya sewaktu duduk pun tidak berubah, hanya tanyanya hambar.

"Kapan dia siap melancarkan serangan?"

"Perintah Pancapanah selalu tersebar secepat angin!"

Kata Biau Swan.

"Kini dia telah menurunkan perintah, berarti tak sampai sepuluh hari kemudian kita sudah akan memperoleh jawaban."

Lu-sam harus mengakui hal ini.

"Benar, perintah dari orang ini bukan saja akan menyebar secepat angin, bahkan perintahnya berbobot melebihi bukit karang."

Kembali dia meneguk araknya, kemudian baru bertanya kepada Biau Swan.

"Menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tanpa pikir panjang Biau Swan segera menjawab.

"Sekarang kita harus segera mengumpulkan seluruh kekuatan yang dimiliki di tempat ini."

"O, ya?"

"Walaupun tak sedikit jagoan tangguh yang dimiliki Pancapanah, tapi dia harus memecahnya menjadi seratus sembilan puluh satu rombongan,"

Kata Biau Swan.

"Bila kita bisa mengumpulkan semua jagoan paling tangguh di tempat ini dan menanti kedatangan mereka, kali ini dia bakal mampus."

Ketika mengucapkan perkataan itu, tak kuasa wajahnya menampilkan perasaan bangga, karena dia beranggapan idenya sangat bagus, bahkan percaya idenya terbagus.

Jalan pikiran kebanyakan orang seperti yang dia pikirkan, semua orang pasti akan setuju dengan usulannya itu.

Lu-sam sama sekali tidak bereaksi.

Cahaya emas masih berkilauan, arak dalam cawan pun memantulkan cahaya keemasan, ia memandang sekejap cahaya emas dalam cawan araknya, lewat lama kemudian baru mengucapkan perkataan yang sangat aneh.

Tiba-tiba ia bertanya kepada Biau Swan.

"Sudah berapa lama kau bekerja ikut aku?"

"Sepuluh tahun,"

Walaupun Biau Swan tidak mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba Lu-sam menanyakan masalah itu, namun dia menjawabnya juga dengan jujur.

"Ya, genap sepuluh tahun!"

Mendadak ia mengangkat wajah menatap orang itu, mengawasi wajahnya yang jelek, polos, jujur, dan kaya akan perubahan mimik muka itu. Setelah menatapnya cukup lama, Lu-sam baru berkata lagi.

"Tidak benar."

"Tidak benar? Bagian mana yang tak benar?"

"Bukan sepuluh tahun,"

Kata Lu-sam.

"Seharusnya sembilan tahun sebelas bulan, harus menunggu sampai tanggal tiga belas bulan depan, kau baru genap sepuluh tahun."

Biau Swan menarik napas dingin, perasaan kagum tampil di wajahnya.

Dia tahu, daya ingat Lu-sam memang selalu hebat, namun dia tak menyangka kalau kehebatannya telah mencapai tingkatan yang begitu mengejutkan.

Lu-sam menggoyang perlahan arak yang masih tersisa dalam cawannya, membiarkan pantulan sinar emas lebih berkilauan.

"Peduli bagaimana pun, waktumu mengikuti aku sudah terhitung cukup lama,"

Kata Lu-sam.

"Sudah sepantasnya bila kau mengetahui manusia macam apakah diriku ini."

"Sedikit banyak aku memang tahu."

"Tahukah kau apa kelebihanku yang paling utama?"

Tanya Lu-sam lagi. Sementara Biau Swan masih mempertimbangkan, Lusam telah menjawab lebih dulu.

"Kelebihanku yang paling utama adalah bersikap adil."

Kemudian katanya lagi.

"Aku tak boleh bersikap tak adil, orang yang bekerja ikut aku paling tidak ada delapansembilan ribu orang, bila aku tak adil, bagaimana mungkin orang lain mau tunduk kepadaku?"

Biau Swan harus mengakui hal ini, Lu-sam memang orang yang sangat adil dalam melakukan pekerjaan apa pun.

Bahkan dia selalu membedakan secara jelas siapa yang harus dihukum dan siapa yang harus mendapat penghargaan.

Tiba-tiba Lu-sam bertanya lagi.

"Masih ingatkah kau apa yang pernah kukatakan sewaktu akan masuk kemari?"

"Kau mengatakan, siapa pun dilarang memasuki pintu rumah ini, peduli siapa pun orangnya."

"Apakah kau manusia atau bukan?"

"Aku manusia."

"Sekarang apakah kau telah masuk kemari?"

"Aku beda,"

Kata Biau Swan panik.

"Aku harus menyampaikan urusan penting."

Lu-sam segera menarik wajahnya. Di bawah pantulan cahaya keemasan, wajahnya seolaholah berlapiskan juga emas murni.

"Aku hanya bertanya padamu, sekarang apakah kau telah masuk kemari?"

"Benar,"

Biarpun dalam hati merasa tak puas, namun Biau Swan tak berani membantah. Kembali Lu-sam bertanya.

"Tadi apakah aku menyuruh kau duduk menemani aku minum arak?"

"Benar."

"Apakah kau sudah duduk?"

"Belum!"

"Sudah menemani aku minum arak?"

"Belum!"

"Masih ingatkah aku pernah berkata, setiap perkataan yang kuucapkan merupakan perintah?"

"Aku masih ingat."

"Tentunya kau pun masih ingat bukan, apa yang harus dilakukan orang yang berani membangkang perintahku?"

Selesai mengucapkan perkataan itu, Lu-sam tak pernah lagi memandang wajah Biau Swan yang polos, jujur tapi jelek itu, seakan di dalam ruangan itu sudah tak ada lagi manusia yang bernama Biau Swan.

Waktu itu paras Biau Swan telah berubah lebih putih dari kertas, dia mengepal sepasang tinjunya kencangkencang hingga semua otot hijaunya menonjol, kalau dilihat dari tampangnya, kalau bisa dia ingin menonjok hidung Lu-sam hingga berdarah.

Tapi ia tidak berbuat begitu, dia tak berani.

Dia tak berani bukan lantaran dia takut mati.

Dia tak berani karena sejak tiga tahun berselang dia telah beristri, kini istrinya telah melahirkan seorang putra untuknya.

Seorang bocah yang putih, gemuk dan menyenangkan, pagi tadi pun baru saja belajar memanggil "ayah"

Kepadanya.

Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai mulai bercucuran membasahi wajah Biau Swan.

Dia menggunakan tangannya yang berotot hijau untuk mencabut sebilah pisau belati dari sakunya, pisau yang tipis tapi tajam, kemudian menghujamkan pisau itu ke hulu hati sendiri.

Seandainya peristiwa ini terjadi pada tiga tahun berselang, dia pasti akan menggunakan pisau belati itu untuk menusuk hulu hati Lu-sam, terlepas akan berhasil atau tidak, ia tetap akan mencobanya.

Tapi sekarang ia tak berani, untuk mencoba pun tak berani.

Putranya yang menawan, senyumannya yang manis, suara panggilan "ayah"

Yang lucu dan menggelikan.

Mendadak Biau Swan menusukkan pisau belatinya, langsung menusuk hulu hati sendiri.

Ketika tubuhnya roboh terkapar, dalam pandangan matanya seolah muncul sebuah pemandangan yang sangat indah.

Dia seolah menyaksikan putranya menginjak dewasa, lalu tumbuh menjadi seorang pemuda yang sehat dan kekar.

Dia seolah menyaksikan istrinya yang meski tidak terlalu cantik, tapi sangat lemah lembut itu sedang memilih calon menantu untuk putra mereka.

Walaupun dia pun tahu, pemandangan semacam ini tak lebih hanya ilusi menjelang kematiannya, namun dia justru percaya bahwa apa yang dilihatnya bakal menjadi kenyataan.

Karena dia percaya "Lu-sam yang adil"

Pasti akan merawat dan memperhatikan kehidupan mereka berdua.

Dia percaya kematiannya tak akan sia-sia, dia pasti memperoleh imbalan yang setimpal.

Lu-sam masih belum mendongakkan kepala, bahkan dia sama sekali tidak menengok ke arah pembantunya yang setia.

Hingga darah di ujung pisau yang menancap di hulu hati Biau Swan mulai mengering, ia baru memanggil perlahan.

"Sah Peng."

Lewat beberapa saat kemudian dari luar pintu baru terdengar seseorang menyahut.

"Sah Peng menanti perintah."

Biarpun jawabannya tidak terlalu cepat, juga tidak terhitung lambat, sekalipun pintu dalam keadaan terbuka, namun dia tak pernah melangkah masuk ke dalam.

Karena dia bukan Biau Swan.

Dibandingkan Biau Swan, dia adalah manusia yang berbeda, setiap perkataan yang pernah diucapkan Lu-sam, dia belum pernah melupakan sepatah kata pun, tak pernah melupakan satu kali pun.

Sebelum Lu-sam memberi perintah kepadanya untuk masuk, sampai mati pun dia tak bakal memasuki pintu ruangan itu.

Setiap orang menganggap ilmu silatnya tak mampu menandingi kemampuan Biau Swan, dia pun tampak tidak secerdas Biau Swan, perbuatan dan pekerjaan apa pun yang dia lakukan juga tidak segairah, tidak sesetia Biau Swan.

Tapi dia selalu percaya, dirinya pasti dapat hidup lebih lama ketimbang Biau Swan.

Tahun ini Sah Peng berusia empat puluh delapan tahun, perawakan tubuhnya kecil kurus, wajahnya biasa saja, dalam dunia persilatan pun sama sekali tak punya nama.

Karena pada hakikatnya dia memang tidak menginginkan nama kosong dalam dunia persilatan, dia selalu berpendapat "nama besar"

Hanya mendatangkan kesulitan dan kemasgulan.

Ia tidak minum arak, tidak berjudi, hidangannya seharihari sangat sederhana, pakaian yang dikenakan pun amat bersahaja.

Tapi dia mempunyai uang deposito sebesar lima puluh laksa tahil yang disimpan di rumah uang Su-toa-che-ceng di wilayah Sam-say.

Walaupun semua orang menganggap ilmu silatnya tak mampu melebihi Biau Swan, namun Lu-sam tahu tenaga dalam, ilmu pukulan maupun senjata rahasia yang dimiliki orang ini sedikit pun tidak berada di bawah kemampuan seorang jago kenamaan.

Hingga kini dia masih hidup membujang.

Karena dia berpendapat, sekalipun seorang tiap hari harus makan telur ayam, bukan berarti di rumah harus memelihara ayam sendiri.

Menanti Lu-sam memberikan perintah, Sah Peng baru melangkah masuk ke dalam ruangan, langkahnya tidak terlampau cepat, namun langkah kakinya tak bisa dianggap sangat lambat.

Setiap kali Lu-sam bertemu dengannya, dari balik tatapan matanya selalu terlintas perasaan puas.

Siapa pun itu orangnya, bila memperoleh seorang anak buah semacam ini, mau tak mau pasti akan merasa puas sekali.

Mereka sama sekali tidak menyinggung kematian Biau Swan, seakan-akan di dunia ini sesungguhnya tak pernah ada manusia semacam ini yang pernah hidup di situ.

Kembali Lu-sam bertanya kepada Sah Peng.

"Tahukah kau Pancapanah telah menurunkan perintah untuk menyerang kita?"

"Aku tahu."

"Tahukah kau sekarang apa yang harus kita lakukan?"

"Tidak tahu."

Persoalan yang dia harus tahu, Sah Peng tak pernah mengatakan tak tahu, persoalan yang tidak seharusnya diketahui, dia pun tak akan mengatakan tahu.

Berada di hadapan Lu-sam, lebih baik jangan bersikap kelewat bodoh, tapi jangan pula memperlihatkan amat cerdas.

"Apakah sekarang kita harus mengumpulkan semua orang kita kemari?"

Lagi-lagi Lu-sam bertanya.

"Tidak!"

Jawab Sah Peng.

"Kenapa?"

"Sebab hingga sekarang Pancapanah masih belum tahu di mana kau berada,"

Sahut Sah Peng.

"Bila kita tidak memberitahukan kepadanya, selama hidup jangan harap dia bisa tahu."

Kemudian tambahnya lagi.

"Bila kita berbuat begitu, sama artinya kita telah memberitahukan kepadanya."

Lu-sam tersenyum.

"Kalau soal semacam ini pun telah kau pahami, seharusnya tahu juga bukan apa yang harus kita lakukan sekarang."

"Aku tidak tahu,"

Jawab Sah Peng "Aku telah berpikir, tapi aku tak tahu harus berbuat apa agar tepat."

Ooo)d*w(ooO BAB 37. MENCIPTAKAN PERANGKAP Tawa Lu-sam sangat riang.

"Tampaknya meski kau jauh lebih pintar ketimbang Biau Swan, namun tak bisa dianggap kelewat pintar."

Sah Peng sangat setuju dengan pendapat itu. Selama hidup dia memang tak pernah berniat menjadi seorang pintar, paling tidak sejak berusia tiga belas tahun, dia tak pernah mempunyai keinginan itu.

"Pancapanah sengaja mengumumkan rencana untuk melakukan penyerbuan, tujuannya tak lain agar kita membocorkan jejak kita sendiri,"

Kata Lu-sam.

"Oleh karena itu kita tak boleh berbuat begitu, tak boleh mengabulkan keinginannya."

"Benar."

"Tapi kita pun tak boleh melepaskan kesempatan baik ini,"

Kata Lu-sam lebih jauh.

"Pancapanah adalah seekor rase tua, untuk menangkap rase tua ini, kita tak boleh melepaskan kesempatan ini."

"Benar."

"Oleh sebab itu kita harus menciptakan perangkap lain, agar dia terjerumus sendiri ke dalamnya."

"Benar."

Arak di dalam cawan telah kosong, Lu-sam memenuhi lagi cawannya dengan arak.

Dia tak pernah membiarkan orang lain menuangkan arak baginya, arak yang dituangkan orang lain baginya belum pernah diminumnya, biar seteguk pun.

"Biarpun anak buah Pancapanah hampir semuanya merupakan pejuang yang terlatih, namun di antara sekian banyak, tidak ada jagoan tangguh yang sesungguhnya,"

Setelah termenung sejenak, Lu-sam menambahkan.

"Hanya satu orang terkecuali."

"Siapa?"

"Siau-hong,"

Jawab Lu-sam.

"Hong Wi!"

Kembali ujarnya.

"Selama ini aku selalu memandang rendah kemampuannya, tapi sekarang aku baru tahu, orang ini bagaikan sebuah bola karet, bila kau tidak menyentuhnya, dia seakan sama sekali tak berguna, bila kau memukulnya satu kali, bisa jadi dia akan melompat secara tiba-tiba, makin kuat kau memukulnya maka dia akan melompat semakin tinggi, bisa jadi akhirnya dia akan melompat naik ke atas kepalamu dan merenggut nyawamu."

"Benar,"

Sahut Sah Peng.

"Kelihatannya dia memang manusia semacam ini, karena itulah orang lain menyebutnya Siau-hong yang tak punya nyawa."

"Kau mengetahui jejaknya?"

"Aku tahu."

"Dalam dua hari belakangan dia berada di mana?"

"Di Lhasa, dalam gedung Hui-eng-lau, yaitu tempat yang digunakan kantor dagang Eng-ki untuk menjamu tamunya."

Kembali Lu-sam mengawasi kilauan cahaya emas dalam cawannya, lewat lama kemudian ia baru bertanya lagi.

"Tahukah kau nomor tiga, nomor tiga belas dan nomor dua puluh tiga, selama berapa hari ini berada di mana?"

"Aku tahu."

"Dapatkah kau mencari mereka sampai ketemu?"

"Bisa!"

Jawab Sah Peng.

"Dalam enam jam, aku pasti telah menemukan mereka."

"Bagus sekali."

Sekali teguk Lu-sam menghabiskan isi cawannya.

"Begitu berhasil menemukan mereka, segera bawa menghadapku di loteng Yan-cu-lau."

"Baik."

"Tahukah kau pekerjaan apa yang ingin kuminta kepada mereka untuk lakukan?"

"Tidak tahu."

"Pergi membunuh Siau-hong, aku ingin mereka pergi membunuh Siau-hong."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya.

"Tapi ada satu hal kau harus ingat, jangan biarkan mereka bertiga turun tangan bersama."

Ketika Lu-sam ingin membunuh orang, dia selalu melakukan dengan segala cara, jelas Siau-hong bukan seorang jagoan yang gampang untuk dihadapi.

Bila mereka bertiga turun tangan bersama, tak diragukan kekuatan itu jauh lebih kuat daripada kekuatan satu orang, kesempatan untuk berhasil pun jauh lebih besar.

Tapi Lu-sam tidak ingin berbuat begitu.

Mengapa dia harus melakukan hal itu?

Sah Peng tidak bertanya.

Dia tak pernah bertanya mengapa, peduli seaneh apa pun perintah yang diberikan Lu-sam, dia harus menurut, taat, dan melaksanakannya.

"Nomor tiga".

"Nomor tiga belas"

Dan "Nomor dua puluh tiga"

Tentu saja bukan tiga buah angka, melainkan tiga orang.

Tiga orang pembunuh berilmu tinggi, setiap saat tugas mereka hanya menanti perintah Lu-sam untuk melakukan pembunuhan.

Mereka hidup karena harus membunuh orang demi Lusam.

Mereka bisa hidup, karena mereka membantu Lu-sam membunuh orang.

Di suatu tempat yang teramat rahasia, di dalam ruang bawah tanah yang dibangun dari batu granit, di dalam sebuah peti besi yang hanya bisa dibuka oleh Lu-sam, terdapat sebuah kitab catatan.

Kitab catatan itu tak pernah disiarkan kepada umum.

Dalam kitab catatan itu tertera bahan dan data lengkap mengenai ketiga orang itu.

Nomor dua puluh tiga.

Nama.

Oh Toa-leng.

Jenis kelamin.

laki laki.

Usia.

dua puluh satu.

Daerah asal.

Cikang, Hangciu.

Orang tua.

ayah, Oh Cu-jong.

Ibu, Sun Yong.

Saudara kandung.

tidak ada.

Anak istri.

tidak ada.

Begitulah data lengkap mengenai manusia nomor dua puluh tiga.

Oh Toa-leng di dalam kitab catatan itu.

Orang-orang yang bekerja untuk Lu-sam selamanya hanya memiliki data yang singkat dan sederhana.

Namun di dalam kitab catatan lain yang hanya bisa dilihat Lu-sam, data mengenai manusia dua puluh tiga Oh Toa-leng jauh berbeda.

Dalam kitab catatan khusus itu, semua detil tentang manusia yang bernama Oh Toa-leng itu dijabarkan lebih jelas dan lengkap.

Setiap orang pasti memiliki sisi lain, beginilah sisi lain dari Oh Toa-leng.

Oh Toa-leng, lelaki, dua puluh tiga tahun.

Ayahnya koki dari perusahaan ekspedisi Yong-lip-piau-kiok, ibunya seorang ibu susu dalam perusahaan ekspedisi Yong-lip-piaukiok.

Itulah data lengkap tentang Oh Toa-leng, sekalipun tidak terhitung kelewat banyak, namun sudah lebih dari cukup.

Cukup artinya, bila kau adalah seorang yang cukup cerdas dan cukup berpengalaman, tidak sulit bagimu untuk mengorek lebih banyak lagi persoalan tentang orang itu dari data yang tersedia.

Organisasi yang dipimpin Lu-sam besar, luas dan sangat rahasia, tidak gampang untuk bergabung menjadi anggota organisasi ini.

Bila kau bisa masuk ke dalam organisasi itu dan mendapat nomor rahasia, berarti ilmu silatmu pasti luar biasa hebatnya.

Ketika berusia enam belas tahun, Oh Toa-leng sudah menjadi seorang jago ampuh di antara jago lihai lainnya, dengan mengandalkan sebilah pedang ia berhasil mengalahkan jago-jago yang orang lain anggap tak mungkin dia kalahkan.

Seorang anak koki dan ibu asuh ternyata pada usia enam belas tahun telah berhasil menjadi seorang jago kelas wahid dalam dunia persilatan, tentu saja banyak penderitaan yang dia rasakan, telah melakukan banyak sekali pekerjaan yang tak mungkin dilakukan orang lain dan tak akan dilakukan orang lain, bahkan dia memiliki tekad pantang mundur.

Namun sejak bergabung ke dalam organisasi yang dipimpin Lu-sam, dia telah berubah menjadi seorang tak bernama, seorang yang hanya memiliki nomor rahasia.

Siapa pun itu orangnya, mereka pasti tak akan rela meninggalkan nama dan kedudukan yang diperoleh dengan cucuran air mata dan darah begitu saja, Oh Toa-leng bisa berbuat begitu, tentu saja karena dia mempunyai kesulitan yang terpaksa.

Dia telah banyak membunuh orang yang tidak seharusnya dibunuh, melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya dia kerjakan, karena bagaimana pun juga dia tetap tak bisa melupakan bahwa dirinya hanya putra seorang koki dan ibu asuh.

Justru karena dia tak pernah bisa melupakan asalusulnya yang rendah dan hina, maka dia pun melakukan banyak sekali perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan, karena itulah dia baru bergabung ke dalam organisasi pimpinan Lu-sam.

Banyak sekali kejadian di dunia ini berlangsung seperti itu, karena ada sebab baru muncul akibat, ada akibat pasti ada sebab.

Oleh karena asal-usulnya sangat rendah dan hina, dia baru mati-matian berjuang untuk tampil lebih terhormat, terhadap siapa pun dan persoalan apa pun jiwanya selalu dikuasai sifat memberontak, membangkang sehingga di dalam pandangan orang lain, dia dianggap seorang pembangkang, seorang pemberontak.

Ilmu pedangnya seperti orangnya, temperamen, berpandangan sempit, dan penuh sifat membangkang.

Berbeda halnya dengan keluarga Tu Yong, dia memiliki latar belakang yang bertolak belakang dengan Oh Toa-leng.

Peduli berada dalam buku catatan mana pun, Tu Yong selalu tampil sebagai manusia yang amat normal, latar belakang keluarga, serta pendidikan dasar yang diperolehnya sangat baik.

Nomor tiga belas.

Nama.

Tu Yong.

Jenis kelamin.

Lelaki.

Usia.

tiga puluh.

Daerah asal.

Kamsiok, Siciu.

Ayah.

Tu An.

Ibu.

Tan Siok-tin, telah meninggal.

Istri.

Cu Kui-hun.

Keturunan.

seorang putra, seorang putri.

Tu An, ayah Tu Yong adalah seorang Piausu dan saudagar paling berhasil di wilayah Kiang-pak, membangun usaha dari nol, ketika berusia dua puluh tujuh tahun telah berhasil mengumpulkan harta kekayaan berjuta tahil.

Ibu Tu Yong sudah lama meninggal, ayahnya tidak pernah menikah lagi, bahkan tak pernah kendor mendidik putranya.

Di saat Tu Yong berusia tujuh tahun ayahnya mengundang tiga orang sastrawan dan dua orang Bu-su, serta seorang jago dari Bu-tong untuk mendidik dan melatih ilmu silatnya, dia berharap di kemudian hari anaknya bisa menjadi seorang pemuda Bun-bu-coan-cay.

Tu Yong tak pernah membuat ayahnya kecewa, sejak muda dia sudah menguasai ilmu sastra, ilmu pedangnya pun memperoleh didikan dari jago Bu-tong sehingga pada akhirnya oleh umat persilatan ia disebut sebagai angkatan muda Bu-tong-pay yang paling sukses.

Istri Tu Yong pun berasal dari keluarga persilatan, selain cantik, orangnya halus, lembut dan saleh, pada saat masih berusia lima belas tahun, ia telah kawin dengan Tu Yong hingga dianggap orang sebagai wanita yang punya rezeki.

Putra Tu Yong cerdas dan berbakti, orangnya jujur dan tahu aturan, belum pernah ia melakukan perbuatan yang menimbulkan perasaan sedih bagi ayah ibunya.

Kalau benar Tu Yong memiliki keluarga yang begini bahagia, mengapa dia melepaskan segala sesuatu yang dimilikinya dan malah bergabung dengan organisasi di bawah pimpinan Lu-sam?

Tentu saja ada orang pernah mengajukan pertanyaan ini padanya, suatu kali di saat sedang mabuk berat ia sempat menjawab.

"Karena aku sudah tak sanggup menerima semua itu."

Dengan kehidupan seperti ini, rumah tangga seperti ini dan lingkungan semacam ini, apa lagi yang tak sanggup dia terima?

Bila kau memahami segala sesuatu tentang dirinya lebih mendalam, kau segera akan mengerti apa sebetulnya yang membuat dia tak tahan.

Ayahnya kelewat tangguh, kelewat mampu bekerja, kelewat punya duit, dan kelewat ternama.

Sejak berusia belasan tahun, segala kebutuhan dan segala keinginannya telah tersedia untuknya, tak ada lagi persoalan di dunia ini yang dapat membuatnya risau atau kuatir.

Sejak kecil ia sudah terdidik menjadi seorang bocah yang tahu aturan, dia pun belum pernah melakukan suatu perbuatan yang membuat ayahnya kuatir atau bingung.

Kehidupan baginya seolah sudah ditentukan, ia sudah diatur agar menjadi manusia bahagia, manusia yang berhasil, memiliki keluarga bahagia, memiliki pekerjaan yang sukses, punya kedudukan, punya nama.

Tapi semua itu dia peroleh bukan berkat perjuangan sendiri, melainkan karena tergantung pada kehebatan ayahnya.

Banyak orang di dunia persilatan yang iri kepadanya, banyak juga yang mengaguminya, tapi orang yang benarbenar kagum dan menaruh hormat kepadanya tidak banyak.

Oleh sebab itulah dia ingin melakukan beberapa perbuatan yang bisa menarik perhatian orang, agar pandangan orang lain terhadap dirinya berubah.

Bila kau ingin melakukan perbuatan semacam ini dengan tergesa-gesa, kau pasti akan melakukan kesalahan besar.

Tidak terkecuali Tu Yong.

Mungkin dia bukan benar-benar ingin melakukan perbuatan semacam itu, tapi akhirnya dia tetap melakukannya.

Oleh sebab itu dia pun terpaksa harus bergabung dengan organisasi pimpinan Lu-sam.

Ilmu pedangnya seperti orang lain, berasal dari perguruan kenamaan, jarang melakukan kesalahan, tetapi sekali berbuat salah akibatnya tak terselesaikan.

Tak diragukan Oh Toa-leng dan Tu Yong merupakan dua jenis manusia dengan karakter yang berbeda, mengapa sekarang mereka bisa bergabung dalam organisasi yang sama, melakukan pekerjaan yang sama sifatnya?

Persoalan ini rasanya sulit untuk memperoleh jawaban yang tepat.

Mungkinkah ini yang disebut nasib?

Kemauan takdir?

Terkadang kemauan takdir dapat membuat seseorang mengalami kejadian aneh yang sukar diduga dan diramalkan sebelumnya.

Kemauan takdir pun seringkali membuat seseorang terjerumus ke dalam situasi yang memedihkan tapi juga menggelikan, membuat orang sama sekali tak ada kesempatan untuk memilih.

Namun orang yang benar-benar pemberani dan punya nyali, selama hidup dia tak mau tunduk dan takluk pada kemauan takdir.

Dari berbagai kesulitan yang dialami, mereka telah belajar bersabar, belajar menahan diri, belajar menahan diri dalam situasi yang paling pelik, begitu muncul kesempatan, mereka segera akan membusungkan dada dan melanjutkan perjuangannya untuk meronta dan memberontak.

Selama mereka belum mati, mereka akan menemukan kesempatan untuk mendongakkan kepala.

Tak diragukan Lim Ceng-hiong termasuk jenis manusia yang berbeda dari kedua rekannya.

Dia adalah orang Hokkian.

Di wilayah Hokkian, marga Lim adalah marga mayoritas penduduk, Lim Ceng-hiong pun merupakan nama yang sangat umum dan biasa, hampir di setiap kota, setiap desa, setiap dusun pasti ada orang yang bernama Lim Ceng-hiong.

Baca Juga: Rahasia Ciok Kwan Im 4

Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert