Ceritasilat Novel Online

Kilas Balik Merah Salju 1

Eps 1 Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Baca online Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Cersil Kilas Balik Merah Salju - Gu Long.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com Kilas Balik Merah Salju BIAN CHENG DHAO SHENG THE SOUND OF THE SABRE IN A BORDER TOWN Karya .

Gu Long Saduran Tjan ID BAGIAN I.

DI TEPI KOTA Bab 1.

DONGENG KUNO Konon di langit terdapat sebuah bintang terang, yang muncul satu kali setiap tujuh puluh enam tahun.

Setiap kali muncul selalu mendatangkan bencana bagi umat manusia.

Tahun ini adalah saatnya muncul kembali.

Ruang Ban be tong di wilayah Kwan tang.

Sebuah gedung yang cemerlang, gemerlapan.

Banyak orang memuja dan mengaguminya.

Entah sejak kapan gedung Ban be tong telah terlupakan?

Telah menjadi kenangan sebuah kemenangan?

Telah menjadi tempat tanpa kegiatan dan mulai dilapisi debu dan pasir.

Sebaris pagar kayu, pagar yang terbuat dari batang kayu setinggi tiga kaki, berdiri mengelilinginya hingga seakan terpisah dari padang rumput, terus menjelujur hingga ke ujung lain yang berada nun jauh di sana, mengelilingi bangunan yang berderet begitu rapat, seperti taburan bintang di tengah kegelapan malam.

Entah sejak kapan pagar kayu itu pun telah tertelan dan tenggelam di balik rumput ilalang yang tumbuh liar.

Apalagi bangunan di balik pagar, kondisinya sudah lapuk, berantakan dan hancur, lapisan debu yang tebal nyaris menyelimuti seluruh lantai dan dinding rumah, membuat seekor anjing yang semula berwarna putih dan meringkuk di sudut ruangan, kini berubah jadi anjing berbulu hitam.

Sorot matanya kehilangan kelincahan serta kepekaan sebagai seekor binatang, sekarang nyaris tak mirip lagi sebagai seekor anjing.

Mungkin anjing inilah satu-satunya kehidupan yang masih tersisa dalam gedung Ban be tong.

Tak tahan Yap Kay menggeleng kepala sambil menghela napas.

Bukankah kelaparan merupakan salah satu cara penyelesaian kehidupan yang tepat?

Tetapi bukan termasuk salah satu cara yang paling keji dan menakutkan.

Sejak zaman kuno, bukankah cara menghabisi kehidupan yang paling keji, jitu, menakutkan dan paling purba adalah pembunuhan yang dilakukan manusia?

Manusia membunuh manusia, manusia membunuh semua kehidupan, bukankah cara ini terhitung cara yang paling tepat?

Sam-lopan dari Ban be tong, Be Khong-cun.

Kongsun Toan yang bicara seperti namanya, bicara terputus-putus.

Sim Sam-nio yang tak segan tidur menemani musuh besarnya demi membalas dendam.

Be Hong-ling yang mencampur-baurkan cinta dan dendam...

masih ada lagi banyak orang, bukankah semuanya kehilangan nyawa lantaran Yap Kay dan Pho Ang-soat?

Sepuluh tahun.

Ya, sepuluh tahun sudah lewat!

Selama sepuluh tahun, berapa banyak manusia yang muncul di dunia persilatan?

Berapa banyak orang yang mati karena nama, berapa banyak jago yang patah tumbuh hilang berganti?

Berapa banyak waktu dan musim yang berlalu begitu saja di tengah senyuman Yap Kay?

Lalu bagaimana pula dengan Pho Ang-soat?

Sudah sepuluh tahun, apakah dia pun telah berubah?

Berubah semakin murung?

Makin masgul?

Makin menyendiri dan angkuh?

Atau berubah semakin hambar memandang nama dan pahala, semakin bisa menyelami perasaan manusia?

Atau mungkin dia masih seperti dulu, acuh terhadap orang lain, malang melintang seorang diri?

Udara malam sangat bersih, cahaya bintang bertaburan di angkasa, mendampingi bulan purnama yang bergayut di ujung langit Suasana malam amat hening, langit bumi terasa tenang penuh kedamaian, begitu tenangnya sampai katak-katak musim panas yang biasanya suka berdendang kini terbungkam, seolah-olah sudah ter hanyut dalam tidurnya.

Yap Kay duduk bersila di lantai, bersandar pada tiang bendera yang berdiri tegak di tepi pintu gerbang, sepasang matanya menerawang ke udara malam yang bersih, menatap terpesona, seolah-olah sedang menantikan sesuatu.

Apakah sedang menunggu seseorang?

Siapakah yang bakal mendatangi tempat yang sepi dan terlupakan itu?

Datang hanya untuk bersua dengannya?

Angin berhembus lembut, selembut belaian tangan sang kekasih yang sedang membelai kerut wajah Yap Kay.

Sang anjing yang sedang meringkuk di sudut dinding seakan mem biarkan angin malam membelai tubuhnya, ia meringkuk di sana sambil menikmati keheningan malam.

Menyaksikan tingkah-laku anjing itu, tak tahan Yap Kay mulai tertawa ringan, kemudian perlahan-lahan memejamkan mata.

Pada saat itulah mendadak dari balik kegelapan malam di langit utara berkelebat sekilas cahaya yang menyilaukan mata.

Yap Kay membuka matanya, mendongak memandang ke langit utara.

Setelah muncul dari balik kegelapan malam di langit utara, cahaya itu bergerak makin cepat dan makin menyilaukan mata, bergerak dengan meninggalkan ekor cahaya yang panjang sekali, menggores langit dan berderak menjauh ke langit selatan.

Ternyata sebuah komet!

Komet yang muncul sekali setiap tujuh puluh enam tahun.

Keindahan cahayanya tak tertandingi oleh keindahan cahaya bintang mana pun.

Meskipun sinarnya hanya bertahan sejenak, namun keindahan dan terangnya terkenang sepanjang masa.

Biarpun dengan cepat lenyap di balik kegelapan malam di langit selatan, namun keindahan dan kecantikannya akan selalu terkenang dalam hati Yap Kay.

"Cantik!"

Gumam Yap Kay.

"pemandangan langka seperti ini tak cukup dilukiskan hanya dengan perkataan cantik."

Pada saat bersamaan, di dalam sebuah loteng di sebuah kota kecil, tak jauh dari Ban be tong, seseorang sedang duduk pula di depan jendela, duduk bermain kartu sambil menikmati keindahan alam itu.

Langit nan biru terbentang begitu bersih, sementara pasir kuning membentang di daratan sejauh mata memandang.

Begitu luasnya pasir kuning seakan bersambungan dengan ujung langit.

Angin mulai berhembus kencang, berhembus hingga ke ujung langit.

Begitu pula manusianya, dia pun berada nun jauh di ujung langit.

Yap Kay seolah baru datang dari ujung langit berjalan begitu perlahan menelusuri jalan raya, berjalan menuju ke arah satu-satunya rumah makan yang terdapat di sana.

Entah berasal darimana, sekuntum bunga terbawa hembusan angin dan jatuh di atas tanah.

Bunga itu seakan datang dari ujung langit bergulingan dihembus angin bercampur pasir kuning ....

Yap Kay mengulurkan tangan, memungut guguran bunga itu.

Putik bunga telah berguguran, hanya tersisa beberapa biji kelopak bunga paling bandel yang masih bertahan, masih bertengger kaku.

Yap Kay memandang sekejap bunga dalam genggamannya, lalu sambil tertawa dia kebutkan pakaian dekilnya yang seharusnya sudah pantas dimasukkan ke dalam tong sampah, kemudian menyisipkan bunga itu ke bajunya.

Lagaknya seperti seorang lelaki romantis yang berdandan rapi, kemudian menyisipkan sekuntum bunga merah paling indah di jubah suteranya yang halus dan mahal Dengan senyum puas dia mendongakkan kepala, membusungkan dada dan berjalan masuk ke dalam rumah makan dengan langkah lebar.

Begitu mendorong pintu, ia segera melihat Pho Ang-soat.

Betul, Pho Ang-soat dengan goloknya.

Tangannya kelihatan begitu pucat, sementara goloknya kelihatan begitu hitam.

Hitam pekat bagaikan datangnya kematian.

Apakah putih pucat pun melambangkan semakin dekatnya elmaut?

Golok hitam berada dalam genggamannya, dalam genggaman tangan yang putih pucat.

Yap Kay mulai memperhatikan golok Pho Angsoat, lalu memandang tangannya, setelah itu dari tangan ia beralih memperhatikan wajahnya.

Paras muka orang itu masih tetap seperti dulu, pucat-pias, sedang sepasang matanya masih tetap memancarkan cahaya kehitaman yang penuh misteri.

Warna hitam yang indah berkilat, bersih tapi penuh kemisteriusan.

Begitu melihat Pho Ang-soat, Yap Kay tersenyum, lalu berjalan menghampirinya sambil tertawa tergelak, ia berjalan ke hadapan Pho Angsoat, kemudian duduk.

Waktu itu Pho Ang-soat sedang bersantap.

Yap Kay masih ingat, ketika untuk pertama kalinya bersua Pho Ang-soat sepuluh tahun lalu, di tempat yang sama, saat itu dia pun sedang bersantap.

Cara makannya pun aneh, makan sesuap nasi baru kemudian ayur sesuap, makannya pun lambat, karena dia makan menggunakan sebelah tangan.

Tangan kirinya tak pernah digunakan untuk hal lain, tangan itu selalu menggenggam goloknya.

Peduli sedang melakukan pekerjaan apa pun, belum pernah dia melepas goloknya itu.

Kini Yap Kay mulai mengawasi Pho Ang-soat.

Gerakan sumpit Pho Ang-soat tidak berhenti lantaran itu, dia masih tetap menyuapi mulutnya dengan nasi dan sayur, sama sekali tak ada niat untuk berhenti makan.

Umpama saat itu ada delapan puluh orang jago pedang dengan delapan puluh bilah pedang tajam yang tertuju ke tubuhnya pun, dia tak bakal berhenti bersantap.

Tapi bagaimana kalau ada delapan puluh orang gadis cantik?

Delapan puluh orang gadis cantik yang berbugil ria di hadapannya?

Yap Kay memandang wajah Pho Ang-soat, tibatiba ia tertawa lagi, tegurnya.

"Kau tak pernah minum arak bukan?"

Pho Ang-soat tetap menunduk memperhatikan makanan di mejanya, juga tidak menghentikan sumpitnya, perlahan-lahan dia habiskan sisa nasi dalam mangkuknya, kemudian baru meletakkan sumpit, mendongakkan kepala ia balas memandang wajah Yap Kay.

Senyuman Yap Kay persis seperti cahaya matahari yang mendadak muncul dari balik badai pasir.

Sebaliknya mimik muka Pho Ang-soat lebih dingin dari bongkahan salju di musim dingin.

Dia balas memandang Yap Kay, lama kemudian baru sahutnya sepatah demi sepatah.

"Aku tidak minum arak "

"Biarpun kau tidak minum, bagaimana kalau mentraktir aku minum barang satu dua cawan?"

"Kau sendiri punya duit, kenapa aku harus mentraktirmu?"

"Justru arak gratis merupakan arak yang paling enak dinikmati,"

Yap Kay tertawa tergelak.

"apalagi kalau kau yang traktir, jelas arak itu akan menjadi arak langka."

"Aku tak suka minum arak, juga tak suka mentraktir orang minum arak"

Jawaban Pho Ang-soat diucapkan sangat lamban, seolah setiap patah katanya harus melalui pertimbangan yang matang sebelum diucapkan, seakan setiap patah kata yang diucapkan dari mulutnya, dia merasa wajib untuk mempertanggungjawabkan Oleh sebab itu dia tak ingin salah bicara, walau hanya sepatah kata saja.

Tentu saja Yap Kay mengetahui hal ini, maka dia pun menanggapi sambil tertawa.

"Kelihatannya selama hidup tak ada harapan bagiku untuk menikmati arak gratismu."

Biarpun Pho Ang-soat dan Yap Kay terhitung sahabat karib, namun di antara mereka berdua seakan terpisah oleh sebuah jarak yang tak kelihatan, membuat hubungan mereka berdua seperti dua orang asing yang tak pernah saling kenal.

Pho Ang-soat menatap Yap Kay, memandangnya sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya.

"Belum tentu, mungkin kau punya kesempatan untuk menikmati arak gratisku."

"Kesempatan? Kesempatan apa?"

"Arak kegirangan."

"Arak kegirangan?"

Yap Kay terperanjat.

"arak kegiranganmu? Dengan siapa? Cui long?"

Begitu nama itu disebut, Yap Kay sendiri merasa menyesal, bahkan mengumpat dirinya sebagai telur busuk yang tolol, sebab kembali dia saksikan penderitaan dan siksaan batin yang luar biasa terlintas pada mata Pho Ang-soat.

Sepuluh tahun sudah berlalu, masakah dia masih belum dapat melupakannya?

Mampukah dia melupakannya?

Perempuan pertama dalam hidupnya, cinta pertama dalam hatinya, siapa pula yang dapat melupakannya?

Mungkin orang lain bisa, tapi tidak untuk Pho Ang-soat.

Bukan lantaran dia kelewat bodoh, bukan pula karena dia mabuk tapi rasa cintanya terhadap perempuan itu kelewat dalam.

Barang siapa cintanya kelewat dalam, seringkah rasa sedih dan sakit yang dideritanya akan lebih berat dan parah.

Makin dalam menggunakan perasaan, makin tersayat penderitaan.

Kalau memang saling mencintai, mengapa pula harus saling melukai hatinya?

Perlahan-lahan Pho Ang-soat menundukkan kepala, sorot mata sayu mulai menerawang kosong ke sana kemari, rasa sakit dan derita yang terpancar dari balik matanya pun kian bertambah kental.

Menyaksikan keadaannya itu, Yap Kay ingin sekali berlagak seolah berjiwa besar, ingin mengucapkan satu-dua patah kata senda-gurau, tapi dia benar-benar tak tahu darimana harus mulai.

Untunglah pada saat itu muncul seorang yang membantunya menyelesaikan kerumitan itu.

"Kenapa kau selalu ingin ditraktir orang minum arak?"

Suara itu datang dari mulut tangga.

"apakah kau sudah lupa, terkadang mentraktir orang minum arak pun merupakan suatu kenikmatan tersendiri?"

Tak perlu berpaling pun Yap Kay tahu siapa pembicara itu, segera sahutnya sambil tertawa.

"Siau Piat-li wahai Siau Piat-li, rupanya kau masih hidup."

Tempat ini adalah sebuah tempat yang sangat aneh.

Di sini terdapat tempat judi tapi bukan sarang perjudian, di sini pun terdapat arak tapi bukan rumah makan.

Malahan setiap saat terdapat perempuan yang siap melayani keinginanmu, tapi tempat ini pun bukan sarang pelacuran.

Tempat ini adalah satu-satunya tempat hiburan yang terdapat di kota kecil ini.

"Ko ih wan lok" (tempat bermain sepuasnya). Di tengah ruangan yang luas berjajar enam belas meja, meja mana pun yang kau pilih, kau dapat menikmati hidangan serta arak yang paling bagus. Di bagian belakang ruangan besar itu terdapat anak tangga yang menjulang tinggi ke atas, tak ada yang tahu tempat apakah di atas loteng, juga tak ada yang ingin naik ke sana, sebab apa pun yang kau butuhkan, apa pun yang kau inginkan, semuanya sudah tersedia di bawah loteng. Di mulut tangga, sepanjang tahun selalu tersedia sebuah meja persegi rada kecil, di belakang meja selalu berduduk seorang lelaki setengah umur berdandan rajin dan perlente. Orang ini selalu duduk seorang diri di situ, selalu bermain kartu seorang diri, jarang ada orang melihat dia melakukan pekerjaan lain, juga jarang ada yang melihat ia bangkit dari tempat duduknya. Kursi yang dia duduki sangat besar, lebar dan nyaman, di sisi bangku tersandar dua batang tongkat yang terbuat dari kayu merah, di tempat yang paling gampang baginya untuk meraih. Walaupun banyak orang berlalu-lalang di hadapannya, namun ia tak pernah menaruh perhatian, bahkan jarang sekali mengangkat wajah untuk menengoknya sekejap, seolah-olah baginya perbuatan apa pun yang dilakukan orang lain sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya. Padahal dialah tuan rumah tempat itu, namanya Siau Piat-li. Dan tempat itu disebut Siang ki lau. Sambil tertawa Yap Kay berpaling, dalam sekejap ia sudah melihat Siau Piat-li yang sedang duduk di mulut tangga, dia masih sama seperti sepuluh tahun berselang, sama sekali tak berubah, yang berbeda hanya rambut yang mulai beruban serta lebih banyak kerutan di wajahnya. Entah berapa banyak kegembiraan, berapa banyak penderitaan, berapa banyak rahasia dan berapa banyak ketidak berdayaan yang telah menggurat di setiap kerutan wajahnya, tapi sepasang tangannya masih tetap lembut dan halus, selembut tangan seorang gadis remaja. Pakaian yang dikenakan masih kelihatan mewah dan mentereng, cawan arak terbuat dari emas terletak di atas meja, cawan itu dipenuhi arak berwarna kuning kecoklat-coklatan yang memancarkan cahaya lembut bagai batu permata. Saat itu dia sedang menjajarkan kartunya di atas meja, berjajar membentuk sebuah Pat-kwa. Sambil bermain dia balas memandang Yap Kay dan melempar senyumannya. Tentu saja Yap Kay masih tertawa, ujarnya dengan tersenyum lebar.

"Orang mengundangku adalah satu persoalan, sementara aku mengundang orang adalah persoalan lain."

"Betul,"

Sahut Siau Piat-li.

"memang sama sekali berbeda."

"Oleh sebab itu aku akan mengundang, mengundang setiap orang yang sedang berada dalam gedung ini."

"Sayang, saat ini hanya ada tiga orang dalam gedung ini,"

Siau Piat-li menghela napas.

"kau pun seakan telah melupakan sesuatu."

Saat itu di dalam gedung memang hanya tinggal tiga orang, tapi apa yang telah dilupakan Yap Kay?

Yap Kay benar-benar tak habis mengerti, dia langsung bertanya, kalau tidak ditanyakan bagaimana tanggung jawabnya terhadap diri sendiri nanti?

"Apa yang kulupakan?"

"Kelihatannya kau lupa, bila ingin mengundang orang, yang penting kau harus punya uang."

"Uang? Jadi kau anggap aku tak mirip orang yang menggembol uang?"

"Tepat sekali, kau memang tak mirip,"

Sahut Siau Piat-li sambil tertawa.

"pada hakikatnya kau lebih mirip orang miskin yang benar-benar sudah kere habis."

"Jika aku mengundang orang, belum tentu harus membawa uang,"

Tiba-tiba Yap Kay menyela.

"Tak perlu uang? Mau dibayar pakai apa?"

"Hutang,"

Kembali Yap Kay tergelak.

"masa kau lupa aku bisa berhutang di sini?"

"Berhutang? Itu sudah lewat, kejadian pada sepuluh tahun lalu."

"Sekali berhutang, dua kali pun berhutang, setahun berhutang, sepuluh tahun pun tetap hutang,"

Yap Kay tertawa tergelak.

"apalagi aku tak pernah mengemplang hutang, setiap berhutang pasti kulunasi. Aku termasuk tamu yang bisa dipercaya. Buat tamu yang bisa dipercaya, lumrah kan jika berhutang agak banyak? Bukankah begitu Siau-lopan?"

Aturan darimana itu?

Mungkin aturan seenaknya macam begitu hanya bisa dikemukakan oleh Yap Kay.

Kalau sudah bertemu orang semacam ini, bayangkan sendiri, apa yang bisa dilakukan Siau Piat-li?

Dia hanya bisa tertawa getir.

Ya, selain tertawa getir, apalagi yang bisa diperbuat Siau Piat-li?

Pada saat itulah Pho Ang-soat yang selama ini hanya menepekur dalam kesedihan tiba-tiba buka suara.

"Yang aku maksud minum arak kegirangan, bukanlah arak kegiranganku."

"Aku tahu."

Jawaban Yap Kay dan Siau Piat-li diucapkan hampir bersamaan, begitu selesai bicara, mereka saling bertukar pandang sambil tertawa. Kemudian Siau Piat-li pun berkata.

"Oh, jadi arak kegirangan yang kau maksud adalah arak kegirangan Yap Kay dan Ting Hun-pin? Jika Yap Kay jadi mengawini Ting Hun-pin, dia pasti akan mengundangmu mencicipi arak kegirangannya."

"Betul,"

Dengan nada amat tenang Pho Angsoat berkata kepada Yap Kay.

"selama hidup aku tak pernah mengundang orang lain minum arak, namun asal kau menikah, aku pasti akan mengundang."

Pho Ang-soat bukannya tak pernah minum arak, ia pernah minum, bahkan pernah mabuk selama empat-lima hari di rumah seorang perempuan yang hidupnya tergantung dari jualan daging.

Dia bisa minum, bisa mabuk, tentu saja lantaran cinta.

Dan biasanya hanya cinta sepihak yang membuatnya begitu menderita dan tersiksa.

Sejak mabuk berat itu, hingga kini dia tak pernah lagi minum arak, jangankan minum, mencicipi pun tidak.

Dia selalu berpendapat walaupun mabuk arak bisa melupakan semua penderitaan, namun bila sudah sadar, penderitaan masih tetap utuh bahkan jauh lebih berat dan mendalam.

Mabuk arak belum mendusin, kemurungan mendusin lebih dahulu.

Hanya orang yang pernah minum arak, baru bisa membayangkan keadaan itu?

Arak memenuhi cawan dan cawan itu berada di tangan Yap Kay sambil menikmati harumnya arak, dia menyaksikan Siau Piat-li bermain kartu.

Perlahan-lahan Siau Piat-li menyusun kartunya menjadi bentuk Pat-kwa, matanya mengawasi kartu-kartu itu tanpa berkedip.

Paras mukanya yang tirus penuh kerutan nampak murung dan serius, sampai lama kemudian baru ia mendongakkan kepala sambil menghela napas panjang.

"Apa yang telah kau saksikan,"

Yap Kay bertanya.

"betulkah kau bisa melihat banyak kejadian melalui deretan kartumu itu?"

"Benar."

"Lalu apa yang kau saksikan hari ini?"

Siau Piat-li tidak langsung menjawab, dia mengangkat cawan emasnya sambil pelan-pelan dihirup, matanya memandang ke atas dinding dan menerawang jauh ke depan.

Selang sesaat kemudian baru ia meletakkan cawannya dan menyahut.

"Ada sebagian bencana yang tak mungkin bisa dihindari, ya... sama sekali tak bisa dihindari "

Bencana? Bencana apa?"

Tanya Yap Kay tak habis mengerti.

"Bencana alam,"

Sahut Siau Piat-li sambil menarik pandangan matanya dan dialihkan ke wajah Yap Kay.

"bencana alam susah diramal!"

Setelah menghela napas panjang, kembali lanjutnya.

"Tahukah kau, di atas langit terdapat sejenis komet yang mempunyai ekor panjang, panjang sekali?"

"Ya, tahu. Komet itu bernama Hui seng."

"Betul, komet itu muncul setiap tujuh puluh enam tahun satu kali, setiap kali muncul selalu mendatangkan bencana besar bagi umat manusia."

"Kemunculan komet akan mendatangkan bencana? Bencana macam apakah itu?"

"Entahlah, terlepas bencana macam apa yang bakal terjadi, yang pasti bencana itu akan mendatangkan ketidak beruntungan bagi seluruh umat manusia"

Yap Kay termenung beberapa saat, kemudian katanya.

"Semalam, aku pun sempat melihat komet itu."

"Ya, aku pun melihatnya, cahaya yang ditinggalkan komet itu begitu tajam dan berkilauan, benar-benar indah hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata."

Kali ini dia mengalihkan sorot matanya dari tempat kejauhan ke wajah Yap Kay, gumamnya.

"Entah bencana apa yang dibawa komet kali ini untuk umat manusia?"

"Peduli bencana apa pun, tak ada hubungannya denganku,"

Tiba-tiba Pho Ang-soat menyela.

"Salah besar,"

Tukas Siau Piat-li sambil menatap tajam wajah Pho Ang-soat.

"menurut hasil perhitungan kartu, bencana besar yang bakal terjadi kali ini justru punya sangkut-paut erat dengan dirimu."

"Menyangkut diriku?"

Pho Ang-soat tertawa dingin, rasa tak percaya menyelimuti wajahnya.

"kalau memang ramalan kartu itu sangat manjur, kenapa kau tidak meramal untuk dirimu sendiri...."

Tiba-tiba Pho Ang-soat menghentikan perkataannya, mata yang tajam dialihkan ke arah pintu gerbang.

Yap Kay pun mengalihkan perhatiannya ke pintu.

Tidak ada hal yang aneh di depan pintu gerbang, di sana hanya berdiri seseorang, seorang lelaki yang mengenakan pakaian ringkas.

Sesudah memandang Yap Kay dan Pho Angsoat sekejap, ia maju selangkah sambil menegur.

"Maaf mengganggu, boleh tahu apakah kalian berdua adalah Pho-kongcu dan Yap-kongcu?"

"Akulah Yap Kay, ada urusan apa?"

"Majikan kami ingin berbincang-bincang dengan kalian."

"Siapa majikanmu?"

"Sam lopan,"

Jawab orang itu sambil tersenyum.

"Sam lopan dari Ban be tong"

"Sam lopan dari Ban be tong?"

Ular Yap Kay melengak. Bukankah Ban be tong sudah hancur dan tinggal puing-puing yang berserakan? Darimana munculnya Sam lopan dari Ban be tong? "Tolong tanya, siapakah Sam lopan dari Ban be tong?"

Kembali Yap Kay bertanya.

Lelaki berbaju ringkas itu tertegun, dipandangnya Yap Kay sekejap, kemudian sekali lagi tertawa.

Kali ini dia benar-benar tertawa, dianggapnya setiap orang sudah seharusnya tahu siapakah Sam lopan dari Ban be tong.

"Sam lopan adalah Be Khong-cun,"

Sahutnya sambil tertawa.

Yap Kay tertegun, Pho Ang-soat pun ikut tertegun.

Be Khong-cun?

Bukankah Be Khong-cun sudah tewas sepuluh tahun berselang, tewas dalam Ban be tong, tewas di hadapan Yap Kay, kenapa sekarang bisa muncul lagi di sini?

Mungkinkah Be Khong-cun yang sekarang berbeda dengan Be Khong-cun yang dulu?

Siau Piat-li sendiri pun merasa heran, kepada orang itu tanyanya.

"Be Khong-cun yang mana?"

"Siaulopan, memangnya kau sudah mabuk berat di siang hari bolong begini,"

Orang berpakaian ringkas itu tertawa tergelak.

"tentu saja sahabat karibmu Be Khong-cun, bukankah putri Sam-lopan kami sering datang ke sini untuk mengobrol denganmu?"

Semakin mendengar ocehan orang itu, Yap Kay semakin terperanjat, dengan mata terbelalak lebar tegasnya.

"Bukankah putri Sam-lopan bernama Be Hong-ling?"

"Benar,"

Jawab orang itu sambil tertawa.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Mana mungkin seorang yang telah mati, kini muncul kembali bahkan mengundang mereka untuk berkunjung?

"Pulanglah dan beritahu Sam-lopan, kami pasti akan tiba tepat waktu,"

Akhirnya Yap Kay berkata kepada orang itu.

"Terima kasih."

Hingga bayangan punggung orang itu lenyap di balik pintu, rasa kaget dan tercengang yang meliputi wajah Yap Kay belum juga luntur, begitu pula dengan Pho Ang-soat.

Siau Piat-li sendiri dengan wajah murung sedang memandang ke tempat jauh tanpa berkedip.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Tanya Yap Kay setelah meneguk secawan arak.

"Asal datang ke sana, bukankah semuanya akan jelas?"

Sahut Siau Piat-li sambil meneguk pula secawan arak.

"tampaknya bencana besar yang bakal terjadi kali ini memang ada sangkutpautnya dengan kalian berdua. Ramalan kartuku sungguh tepat."

"Kau sangka kejadian inilah bencana besar yang dibawa komet itu?"

Senyuman ringan kembali menghiasi bibir Yap Kay.

"Semoga saja bukan!"

Sahut Siau Piat-li hambar.

Bab 2.

WAKTU BERJALAN TERBALIK Bagaimana mungkin Be Khong-cun yang sudah tewas sejak sepuluh tahun berselang bisa muncul lagi, bahkan mengundang tamu?

Mungkinkah Be Khong-cun yang sekarang adalah Be Khong-cun yang lain?

Tempat undangan adalah Ban be tong, apakah gedung Ban be tong yang telah tinggal puing berserakan itu yang dimaksud?

Menjamu tamu di tengah reruntuhan bangunan?

Tampaknya berbagai pertanyaan yang membingungkan ini hanya bisa terjawab setelah malam nanti, setelah mereka tiba di gedung Ban be tong.

Cahaya bianglala memancar masuk dari arah barat, persis menyinari Ban be tong.

Yap Kay berdiri di bawah sinar senja, mengawasi cahaya berwarna kemerah-merahan itu sambil termenung.

"Begitu indah matahari senja, hanya sayang sudah mendekati magrib."

Lalu apa pula bedanya dengan kehidupan manusia?

Kalau kehidupan manusia hanya sesaat, hanya numpang lewat, lantas buat apa manusia mesti meributkan sesuatu yang kosong?

Buat apa saling gontok hanya untuk memperebutkan nama dan kedudukan yang sama sekali tak berarti?

Sekalipun diributkan, lalu untuk apa?

Jika menang bagaimana dan andaikata kalah pun mau apa?

Yap Kay menghela napas panjang, baru saja akan beranjak dari situ, tiba-tiba ia saksikan ada seseorang sedang berjalan dari depan, menghampiri ke arahnya.

Pho Ang-soat sedang berjalan dari arah depan.

Ia berjalan sangat lamban namun sama sekali tak berhenti, biarpun malaikat elmaut sudah menunggu di hadapannya pun dia tak bakal menghentikan langkahnya.

Caranya berjalan sangat aneh bahkan cendereng istimewa, kaki kiri maju selangkah lebih dulu kemudian kaki kanan baru mengikuti secara perlahan-lahan, sepintas cara melangkahnya kelihatan begitu sulit.

Biarpun tampak sengsara, namun ia sudah menempuh perjalanan yang tak terhitung jauhnya, pernah mengarungi jalan raya yang tak terhitung panjangnya, semuanya itu dia lakukan sendiri, selangkah demi selangkah.

Kalau berjalan dengan cara begini, sampai kapan baru dia akan tiba di tempat tujuan?

Pho Ang-soat tidak tahu, bahkan tak pernah membayangkannya, sekarang ia sudah berjalan sampai di sini, bagaimana selanjutnya?

Benarkah di depan sana kematian telah menunggunya?

Yap Kay coba mengamati Pho Ang-soat, dilihatnya cara berjalan Pho Ang-soat selalu memandang ke tempat jauh.

Mungkinkah di kejauhan sana, terdapat seseorang yang sudah begitu terukir dalam lubuk hatinya, seseorang yang selalu diimpikan siang malam, sedang menanti kedatangannya?

Kalau memang begitu, kenapa pula sorot matanya nampak begitu dingin, begitu hambar?

Sekalipun ada perasaan yang terpancar, yang pasti perasaan itu bukan perasaan cinta yang hangat, melainkan penderitaan, dendam kesumat dan kesedihan.

Sudah lama hal itu berlangsung, mengapa ia masih belum dapat melupakannya?

Matahari senja telah condong ke langit barat, sang manusia berada di bawah cahaya senja.

Hawa dingin dan sepi menyelimuti seluruh jagad, membuat matahari senja pun ikut berubah warna lantaran kesepian, berubah menjadi putih dan memilukan.

Begitu juga dengan sang manusia.

Di tangan Pho Ang-soat masih tergenggam sebilah golok.

Tangan yang pucat dengan golok berwarna hitam pekat.

Bukankah warna pucat dan hitam merupakan warna yang melambangkan semakin dekatnya kematian?

Kematian, bukankah merupakan juga puncak dari semua kehampaan dan kesepian?

Kini dari balik kehampaan dan kesunyian yang terpancar dari balik tatapan mata Pho Ang-soat, seolah terlihat kematian itu.

Benarkah kematian akan terjadi di kaki langit dimana matahari senja sedang tenggelam?

Peternakan kuda Lok-jit, gedung Ban be tong!

Pho Ang-soat memandang gedung Ban be tong di kejauhan, begitu pula Yap Kay.

Langit semakin gelap, namun dilihat dari kejauhan, bangunan Ban be tong lamat-lamat masih nampak dengan nyata.

Benarkah Ban be tong sedang menuju ke alam kematian?

Tanpa terasa Yap Kay terbayang kembali kejadian pada sepuluh tahun lalu, saat dia melalui jalan yang sama pergi ke Ban be tong, hanya waktu itu dia naik kereta, sementara kali ini berjalan kaki.

Dari dalam kereta tiba-tiba ia mendengar suara nyanyian yang aneh, suara nyanyian itu muncul dari tengah semak belukar.

Orang itu bersenandung dengan nada pedih, seperti orang sedang merintih, seperti juga sedang menangis, tapi ketika diamati lebih seksama, suara itu lebih mirip orang sedang berdoa.

Langit cerah, bumi cemerlang, air mata bagai darah, manusia dicekam kepedihan, seorang dalam gedung selaksa kuda, golok bisa patah, manusia bisa duka.

Langit cerah, bumi cemerlang, air mata bagai darah, manusia dicekam kepedihan, seorang dalam gedung selaksa kuda, jajigan mimpi bisa balik ke desa Kegelapan malam semakin mencekam.

Tanah pegunungan yang luas terasa makin sepi, makin dingin dan makin lebar, gedung Ban be tong masih bersembunyi di balik kegelapan malam yang tiada batas.

Sambil mengawasi angin berpasir yang sedang berhembus di tengah kegelapan malam, Yap Kay pun berkata sambil tersenyum.

"Dulu di dalam gedung Ban be tong tersimpan tiga ribu guci arak wangi, entah bagaimana keadaannya sekarang? Apa mungkin masih tersimpan arak wangi?"

Perkataan itu seakan ditujukan kepada Pho Ang-soat, tapi seperti juga Yap Kay sedang bergumam. Ternyata Pho Ang-soat bukan cuma mendengarkan, malah kali ini dia pun menjawab.

"Aku hanya tahu Be Khong-cun telah mampus, sudah mampus sejak sepuluh tahun lalu,"

Sahut Pho Ang-soat hambar.

"malam ini pun kita tak perlu pergi ke sana"

"Tapi kita tetap akan ke sana,"

Yap Kay tertawa.

"sebab kita ingin melihat siapa gerangan yang menjadi Be Khong-cun, apakah dia bangkit dari liang kubur? Ataukah ada orang lain yang menyaru sebagai dirinya?"

Senyuman Yap Kay seakan tak pernah padam, ujarnya pula sambil tertawa.

"Kalau Be Khong-cun masih hidup, entah bagaimana dengan Hun Caythian, Kongsun Toan, Hoa Boan-thian serta Sambu Siansing Loh Loh-san, mungkinkah mereka masih sehat wal'afiat?"

Sudah jelas orang-orang itu telah lama mati, mengapa Yap Kay mengatakan mereka masih sehat wal'afiat?

Mungkinkah dia sudah tahu akan rahasia di balik peristiwa ini?

Angin malam berhembus makin kencang.

Di tengah hembusan angin, selain pasir yang beterbangan, tercium bau harum bunga dari ujung bukit, terdengar pula suara ringkik kuda serta suara roda yang berputar kencang.

Begitu mendengar suara ringkik kuda, suara tawa Yap Kay makin nyaring dan cerah.

"Benar, memang beginilah gaya orang Ban be tong,"

Katanya.

"kalau menyambut tamu pasti dengan kereta kuda, jika tidak, hal ini bisa menjatuhkan pamor Ban be tong."

Baru selesai dia berkata, sebuah kereta hitam yang dihela delapan ekor kuda telah muncul dari balik kegelapan dan berhenti tepat di depan Yap Kay serta Pho Ang-soat.

Kereta hitam itu persis sama dengan kereta kuda yang dipakai untuk menjemput mereka pada sepuluh tahun berselang, bahkan kedelapan ekor kuda yang digunakan pun tak jauh berbeda.

Sebuah panji segitiga berwarna putih tertancap di atas kereta, di tengah panji itu tertera lima huruf sulaman yang amat besar.

"Kwan tang Ban be tong"

Baru saja Yap Kay memperhatikan panji itu, pintu kereta telah dibuka orang, disusul munculnya seseorang dari dalam ruang kereta, seorang lelaki setengah umur berbaju putih bersih bagai salju.

Begitu melihat wajah orang itu, kontan senyuman Yap Kay berubah jadi kaku, dengan sorot mata tercengang setengah tak percaya diawasinya orang itu tanpa berkedip.

Walaupun tiada senyuman yang menghiasi wajah Pho Ang-soat, mukanya pun ikut berubah, dia hanya mengawasi lelaki setengah umur berbaju putih itu dengan mata mendelong.

Siapakah sebenarnya orang itu?

Mengapa kemunculannya membuat Yap Kay berdua memperlihatkan mimik muka seaneh itu?

Begitu turun dari kereta, lelaki setengah umur itu langsung menjura dan menyapa.

"Cayhe Hun Cay-thian mohon maaf yang sebesar-besarnya karena datang terlambat."

Ternyata orang ini adalah Hun Cay-thian.

Tapi...

bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Bukankah dia sudah tewas sejak sepuluh tahun berselang?

Bagaimana mungkin dapat muncul kembali?

Sebetulnya orang ini Hun Cay-thian atau setan gentayangan?

Raut mukanya tidak jauh berbeda dengan wajahnya sepuluh tahun lalu, masih tetap bulat, putih tanpa kumis dan jenggot, malah sewaktu tidak tertawa ia nampak imut-imut menyenangkan, usianya masih sekitar empat puluh tahunan.

Biarpun sepuluh tahun berselang ia belum mati, seharusnya saat ini usianya sudah mencapai lima puluh tahun, sedikit banyak paras mukanya pasti berubah, biarpun ia memiliki kemampuan merawat muka, mana mungkin tiada kerutan yang tertampak di wajahnya?

Tapi kenyataan sekarang mukanya benar-benar tanpa kerutan, wajahnya tetap putih gemuk dan halus bagai sebuah cermin.

Kali ini Yap Kay bukan cuma tertegun, ia benarbenar berdiri bodoh, untuk sesaat ia tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Mungkinkah seseorang yang telah mati bisa bangkit dan hidup kembali?

Satu kejadian yang mustahil dan tak masuk akal, tapi sekarang justru terpampang di hadapan Yap Kay.

Angin malam berhembus mengibarkan ujung baju Hun Cay-thian yang berwarna putih, namun dalam pandangan Yap Kay, Hun Cay-thian justru bagaikan roh gentayangan yang muncul dari balik kegelapan malam, tak kuasa lagi ia bergidik dan bersin beberapa kali.

Pho Ang-soat pun sedang mengawasi Hun Caythian, mendadak ia maju ke depan dan menegur.

"Kau benar-benar Hun Cay-thian?"

"Betul!"

"Lantas siapa Hun Cay-thian yang tewas sepuluh tahun lalu?"

Giliran Hun Cay-thian yang melengak, dengan wajah tak mengerti dan penuh keraguan ia balas menatap wajah Pho Ang-soat, lalu bisiknya.

"Aku sudah mati? Mati sejak sepuluh tahun lalu?"

"Betul, Hun Cay-thian sudah mampus sepuluh tahun lalu!"

Jawab Pho Ang-soat kata demi kata.

"Mati dimana? Mati di tangan siapa? Masakah mati di ujung golokmu?"

"Bukan, mati di ujung pedang Be Khong-cun."

"Sam-lopan Be Khong-cun?"

Tiba-tiba Hun Caythian tertawa tergelak.

"Pho-kongcu, pandai amat kau bergurau, hampir saja membuat aku tersedak saking gelinya."

Sebetulnya Pho Ang-soat masih ingin bicara lagi, tiba-tiba Yap Kay tertawa pula, sambil tergelak dia menepuk bahu Hun Cay-thian berulang kali.

"Siapa suruh kau datang terlambat, itulah sedikit hukuman dari Pho-kongcu,"

Kata Yap Kay.

"tentunya Hun-heng tidak marah bukan?"

"Mana mungkin aku marah? Datang terlambat memang pantas mendapat hukuman."

Sudah jelas semua ini adalah kenyataan, mengapa Yap Kay masih berusaha merahasiakannya? Hun Cay-thian memandang Yap Kay sekejap, lalu katanya sambil tersenyum.

"Tentu kau adalah Yap Kay, Yap-kongcu bukan?"

"Kau kenal aku?"

"Rasanya belum kenal."

Sepuluh tahun lalu mereka pernah bertemu, mengapa dia mengatakan tak kenal? "Kalau memang tidak kenal, darimana tahu aku adalah Yap Kay?"

"Biarpun usiamu masih muda, tapi seorang diri kau sanggup membongkar rahasia-siangkoan Siau-sian, menghancurkan Kim ci pang, siapa yang tidak tahu dan mendengar peristiwa besar itu?"

Sahut Hun Cay-thian sambil tertawa.

Beberapa peristiwa itu baru terjadi beberapa tahun berselang, terjadi setelah Be Khong-cun sekalian tewas, jika Hun Cay-thian sudah mati sejak sepuluh tahun lalu, darimana dia bisa tahu semua kejadian ini?

Dia jelas sudah mati!

Dan sekarang Hun Cay-thian muncul dalam keadaan segar-bugar, sama sekali tak mirip mayat yang baru bangkit dari liang kubur, mungkinkah ada orang lain yang telah menyaru sebagai dirinya?

Bila orang itu sedang menyaru, seharusnya tak mungkin bisa lolos dari ketajaman mata Yap Kay maupun Pho Ang-soat.

"Silakan naik kereta,"

Hun Cay-thian mempersilakan. Yap Kay hanya tersenyum sebagai jawaban, tapi sebelum naik ke kereta tiba-tiba dia berpaling sambil ujarnya kepada Pho Ang-soat.

"Apakah kau masih seperti sepuluh tahun berselang, berjalan kaki?"

Pho Ang-soat tidak menyahut, dia menjawab pertanyaan itu dengan tindakan, kaki kiri melangkah lebih dulu kemudian kaki kanan mengikut, dengan langkah kakinya yang aneh dan istimewa dia berjalan menuju ke balik kegelapan.

"Dia tak mau naik kereta?"

Tanya Hun Caythian keheranan.

"Tidak, dia lebih suka berjalan kaki."

Memandang bayangan punggung yang semakin menjauh, kembali Hun Cay-thian berkata.

"Kelihatannya kaki dia bemasalah?"

"Benar, kakinya kena polio, sudah sejak kecil,"

Sahut Yap Kay.

"Polio?"

Ruang kereta itu sangat nyaman dan bersih, paling tidak bisa menampung delapan orang sekaligus, tapi kini hanya ditempati Yap Kay dan Hun Cay-thian berdua.

"Entah masih ada tamu lain tidak?"

Yap Kay bersandar pada dinding kereta dengan sepasang tangannya sebagai bantal.

"Seharusnya masih ada tiga orang, hanya tidak jelas apakah Hoa-tongcu diundang tidak?"

"Hoa-tongcu?"

Berkilat mata Yap Kay.

"Hoa Boan-thian Hoa-tongcu?"

"Kau kenal?"

"Seharusnya kenal,"

Yap Kay tertawa.

"sayang kedatanganku sepuluh tahun lebih lambat"

"Apa maksudmu?"

"Kalau kedatanganku sepuluh tahun lebih awal, bukankah kami pasti sudah saling mengenal?"

Sahut Yap Kay tertawa lirih.

"Kalau memang berjodoh, akhirnya pasti akan bertemu, cepat atau lambat sama saja."

"Betul, perkataanmu betul separoh,"

Yap Kay manggut-manggut.

"eh, omong-omong, apakah dalam kereta tersedia arak wangi?"

"Ada, pasti ada,"

Hun Cay-thian tertawa tergelak.

"ada tamu agung macam kau, mana boleh tak tersedia arak?"

Dari dalam sebuah laci Hun Cay-thian mengambil keluar dua cawan kristal dan sebotol arak Tiok yap cing.

Begitu tutup botol dibuka, bau harum semerbak pun segera tersiar ke seluruh ruang kereta.

Sambil menarik napas dalam, seru Yap kay dengan penuh rasa puas.

"Wah, arak Tiok yap cing yang telah berusia empat puluh tahun lebih."

"Baru mengendus baunya sudah tahu-tahun pembuatannya, bagus, bagus sekali, tampaknya Yap-kongcu memang jagoan minum susu macan,"

Gumam Hun Cay-thian sambil menuangkan arak ke cawan.

"Suka minum memang betul, kalau dibilang jagoan, rasanya belum tentu."

Setelah menerima cawan arak, Yap Kay tidak langsung meneguk isinya, diendusnya lebih dulu tepi cawan, baru dia meneguk habis isi cawannya.

Begitulah cara setan arak menikmati minumannya, memang begitulah salah satu cara menikmati arak keras.

Biarkan bau pedas arak menelusuri lubang hidung masuk ke tenggorokan, kemudian setelah tenggorokan terbiasa dengan bau arak, sekali tenggak habiskan isi arak itu.

Dijamin pedas dan panasnya susu macan tak bakal terasa.

Malam terasa semakin kelam, yang terdengar saat itu hanya ringkik dan derap kaki kuda yang memecah keheningan.

Memandang keluar jendela, Yap Kay menghela napas panjang, gumamnya.

"Ai, mungkinkah malam ini ada orang yang akan bersenandung untuk menambah kegembiraan?"

"Bersenandung untuk menambah kegembiraan? Oh, ternyata Yap-heng suka permainan semacam ini? Jangan kuatir, Cayhe bisa atur untukmu."

"Terima kasih Hun-heng, sayang yang ingin kunikmati bukanlah seperti apa yang kau bayangkan."

"Lalu apa yang ingin kau nikmati?"

Yap Kay masih bersandar santai di dinding ruang kereta, lalu sambil mengetuk jendela di sisinya dia mulai bersenandung.

"Langit cerah, bumi cemerlang, air mata bagai darah, manusia dicekam kepedihan, seorang dalam gedung selaksa kuda, jangan mimpi bisa balik ke desa" . Lambat-laun paras Hun Cay-thian mulai berubah, tapi Yap Kay masih tetap memicingkan mata sambil tersenyum, menanti suara senandungnya sirna, baru ia berkata sambil menyeringai.

"Apakah Hun-heng pernah mendengar lagu ini sebelumnya?"

"Lagu yang indah, dengan syair yang menggugah hati, selain Yap-heng, mungkin orang lain...."

"Sayang, bukan aku yang menulis syairnya, lagu itu pun bukan hasil ciptaanku,"

Yap Kay tertawa.

"aku tak lebih hanya mengulang lagu itu satu kali."

"Oh, lantas siapa yang menciptakan lagu itu?"

"Sudah mati."

"Sudah mati?"

"Benar, sudah mati sepuluh tahun berselang. Kalau orangnya sudah mati dan masa silam tak akan kembali lagi, rasanya Hun-heng tidak keberatan bukan bila Cayhe mengulang sekali lagi lagu itu?"

"Bisa mendengar Yap-heng bersenandung pun sudah merupakan satu kejadian langka, masa aku malah menegur?"

Buru-buru Hun Cay-thian menyahut.

"apalagi lagu itu jauh lebih enak didengar dibanding isu tentang Ban be tong yang tersiar di luaran."

"Ternyata Hun-heng memang seorang lelaki berjiwa besar, kebesaranmu sungguh mengagumkan."

Hun Cay-thian tersenyum, belum sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Yap Kay bertanya lagi.

"Boleh aku tahu, apakah malam ini Samlopan akan menjamu tamunya di ruang tamu?"

"Darimana Yap-heng bisa tahu?"

Sekilas rasa kaget melintas di wajah Hun Cay-thian.

"Ban be tong begitu luas, wilayahnya terbentang dari timur ke barat, walau berangkat waktu fajar menyingsing dengan menggunakan kuda tercepat pun, paling tidak sampai lohor baru tiba di ujung yang lain,"

Kata Yap Kay.

"jika Ban be tong tidak memiliki gedung penerima tamu, memangnya Sam-lopan berkeinginan mengundang kami untuk sarapan pagi?"

"Wah, tidak kusangka dengan usiamu yang masih begitu muda, ternyata memiliki kecerdasan luar biasa, sampai urusan sepele dan tetekbengek pun diperhitungkan secara matang, Cayhe betul-betul merasa kagum."

"Ah"

Kembali Yap Kay bergumam.

"tentu saja aku tahu jelas, bukankah sepuluh tahun lalu pernah datang satu kali kemari."

"Apa kau bilang?"

"Ah, tidak apa-apa"

Yap Kay tertawa.

"aku hanya bertanya, tentunya kita sudah hampir sampai gedung penerima tamu bukan?"

"Betul, gedung penerima tamu berada di depan sana "

Semalam gedung Ban be tong masih berupa puing bangunan terbengkalai, puing kotor yang penuh dikelilingi semak belukar.

Tapi bagaimana dengan malam ini?

Mungkinkah hanya berselisih semalam segala sesuatunya telah berubah?

Yap Kay tak bisa membayangkan bangunan macam bagaimana Ban be tong nanti.

Kalau semua penghuninya saja telah...

sekalipun kini mereka telah bangkit dari liang kubur?

Yap Kay tertawa getir, semua kejadian yang dialaminya hari ini mungkin merupakan kejadian paling misterius, paling aneh bahkan paling horor yang pernah dialaminya sepanjang hidup.

Suara ringkik kuda lamat-lamat berkumandang masuk ke dalam ruang kereta, Yap Kay melongok keluar jendela, alis matanya segera bekernyit, ketika dilihatnya ada begitu banyak cahaya lentera yang bermunculan dari balik kegelapan malam.

Dia masih ingat, di luar gedung penerima tamu Ban be tong memang terdapat banyak cahaya lentera yang menerangi suasana, tapi dia masih ingat juga semalam tak setitik cahaya api pun di tempat itu.

Lalu darimana datangnya lautan cahaya lentera?

Keadaan Ban be tong saat ini jauh berbeda dibanding keadaan semalam.

Kereta berhenti di depan pagar kayu, pintu gerbang berbentuk setengah busur berdiri tegak di balik kegelapan, sebuah tiang bendera berdiri tegak di balik pintu, mengibarkan panji kebesaran Ban be tong.

Dua deret lelaki kekar berbaju putih berdiri berjajar dengan kedua belah tangan lurus ke bawah, begitu kereta kuda berhenti, empat orang lelaki itu segera tampil ke depan membukakan pintu kereta.

Turun dari kereta, Yap Kay memeriksa sekeliling tempat itu, tanpa terasa dia menarik napas panjang, ternyata benar, hanya dalam semalam Ban be tong telah berubah seratus delapan puluh derajat.

Bukan saja telah berubah seperti keadaan pada sepuluh tahun berselang, bahkan suasana terbengkalai, suasana mengenaskan yang ditemuinya semalam, kini sudah lenyap tak berbekas.

Selayang pandang, yang terlihat bersih, rapi, gagah dan mentereng, sedikit pun tidak mirip bangunan kuno yang sudah terbengkelai hampir sepuluh tahun lamanya.

Hun Cay-thian ikut turun dari kereta, ia berdiri di samping Yap Kay dengan wajah penuh kebanggaan.

"Bagaimana menurut pendapatmu keadaan tempat ini?"

Tanya Hun Cay-thian sambil tersenyum.

Sepuluh tahun lalu, ketika pertama kali Yap Kay tiba di tempat itu, pertanyaan itu pula yang diajukan Hun Cay-thian untuk pertama kalinya, tak disangka sepuluh tahun kemudian, kejadian yang sama kembali terulang.

Waktu itu Yap Kay menjawab.

"Aku merasa sudah sewajarnya bila seorang lelaki sedang sukses, Sam-lopan bisa mencapai taraf hidup seperti ini, rasanya tidak menyia-nyiakan perjuangan hidupnya."

Dan sekarang Yap Kay tak ingin menjawab yang sama, dia ingin memberikan jawaban yang sedikit berbeda.

"Sudah pasti Sam-lopan adalah seorang luar biasa, kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa menciptakan keajaiban seperti sekarang ini?"

"Dia memang seorang luar biasa, namun bukan pekerjaan gampang untuk bisa mencapai kesuksesan seperti hari ini."

"Benar, rasanya bukan hanya kata gampang saja yang bisa melukiskan keadaan sebenarnya,"

Yap Kay menghela napas panjang.

Benar sekali, kalau bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa bakal percaya dengan pengalaman yang sedang dialami Yap Kay saat ini?

Yap Kay tertawa getir, mendadak biji matanya berputar, sesudah berpikir sejenak ia berbalik menghampiri kusir kereta yang sedang tertunduk sambil menyeka keringat, setelah menepuk bahunya, sambil tersenyum dia menegur.

"Kau pasti lelah sekali!"

Kusir kereta agak tercengang, tapi segera jawabnya sambil tertawa paksa.

"Ah, hal ini sudah menjadi kewajiban hamba."

"Padahal seharusnya kau bisa ikut duduk santai di dalam ruang kereta,"

Tukas Yap Kay.

"buat apa mesti menyiksa diri?"

Setelah tertegun beberapa saat, kusir kereta itu melepas caping lebarnya sembari tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, bagus sekali, pandangan mata yang sangat tajam, sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan."

"Kau bisa menerobos keluar dari dasar kereta di saat kereta sedang dilarikan kencang, bahkan berhasil menotok jalan darah kusir itu dan mengganti pakaian miliknya, kecepatan serta ketelitianmu dalam bekerja boleh dibilang lembut bagai serat, cepat bagai sambaran kilat."

"Darimana kau tahu siapa diriku?"

Kembali kusir kereta itu tercengang.

"Di kalangan Kangouw kecuali kau Hwi thian ci cu (laba-laba terbang), siapa pula yang mempunyai gerakan selincah dan secepat itu?"

Lagi-lagi seseorang yang seharusnya sudah mati, tapi sekarang secara membingungkan telah hidup kembali.

Hwi thian ci cu terbahak-bahak, ia segera melepas pakaian putih dari tubuhnya hingga tampak pakaian ringkasnya yang berwarna hitam pekat, kemudian menjura kepada Hun Cay-thian, ujarnya.

"Untuk permainan tololku, harap Hunsiangcu jangan marah."

"Aku sudah senang kau bersedia hadir, silakan masuk,"

Jawab Hun Cay-thian sambil tersenyum.

Hembusan angin malam di pinggir kota terasa kencang sekali, untung cahaya rembulan lembut dan terang seperti cahaya rembulan di wilayah Kanglam, bahkan terasa jauh lebih suram dan sunyi.

Cahaya rembulan membiaskan bayangan tubuh Hun Cay-thian hingga panjang, mengawasi bayangan itu tiba-tiba Yap Kay teringat akan satu hal, dia teringat cerita orang tua di kala dirinya kecil dulu, konon setan tak punya bayangan.

Yang mempunyai bayangan sudah pasti bukan setan, berarti Hun Cay-thian tak mungkin setan.

Kalau bukan setan lantas apa?

Mayat hidup?

Sekali lagi Yap Kay tertawa getir, selama hidup ia tak pernah percaya takhayul, tidak percaya orang setelah mati akan berubah jadi setan, tapi yang dialaminya hari ini membuat dia bingung, tak habis mengerti, tak mampu menemukan suatu alasan yang cocok untuk menjelaskan semua kejadian ini.

Orang yang telah mati pada sepuluh tahun berselang, satu per satu muncul kembali di hadapannya, semua peristiwa yang pernah terjadi dulu, satu per satu terulang kembali di hadapannya.

Apakah waktu sedang berjalan terbalik?

Atau.....

Setelah melalui sebuah halaman yang sangat luas, di ujung jalan ada pintu besar yang tertutup, kedua daun pintu terbuat dari kayu putih.

Biarpun pintu dalam keadaan tertutup, Yap Kay percaya sebentar lagi pasti akan dibuka orang dan seseorang bagaikan malaikat langit bakal berdiri tegak di depan pintu.

Orang itu wajahnya pasti penuh cambang dan mengenakan baju serba putih, sebuah sabuk kulit kerbau besar terlilit di pinggangnya dan sebilah golok melengkung bersarung perak yang aneh bentuknya terselip di dalamnya.

Cara bicara orang ini persis sama seperti namanya, dia bernama Kongsun Toan.

Yap Kay masih ingat perkataan pertama yang dia ucapkan sepuluh tahun lalu, dia berkata.

"Apakah semua tamu telah datang?"

Yap Kay pun masih ingat, suaranya keras dan nyaring bagaikan guntur yang menggelegar di angkasa, membuat telinga semua orang mendengung keras.

Benar saja, baru tiba di depan pintu gerbang, pintu kayu putih yang semula tertutup segera terbuka lebar, di antara cahaya lentera yang memantul keluar, terlihat seseorang berdiri tegak di depan pintu.

Tepat sekali, orang itu benar-benar berpakaian serba putih, hanya saja perawakan tubuhnya tidak tinggi kekar seperti malaikat langit, wajah pun tidak bercambang, bahkan di pinggangnya tidak nampak golok lengkung berbentuk aneh dengan sarung peraknya.

Orang itu bukan Kongsun Toan melainkan Hoa Boan-thian.

Melihat kemunculan Hoa Boan-thian, kembali Yap Kay berdiri melongo, ternyata kejadian hari ini tidak sama persis seperti kejadian sepuluh tahun berselang, berarti waktu bukan sedang berputar balik.

Orang-orang yang bermunculan di sana kebanyakan adalah mereka yang sudah mati sepuluh tahun lalu, yang membingungkan mereka telah bermunculan di hadapan Yap Kay, mengulang kembali semua adegan dan kejadian seperti yang berlangsung sepuluh tahun berselang, namun tidak semua kejadian sama seperti dulu.

Terlepas kejadian aneh apa yang bakal terjadi malam ini, Yap Kay mulai tertarik, mulai terkesan.

Sekulum senyuman baru saja tersungging di ujung bibir Yap Kay, sambil tertawa Hun Caythian bertanya kepada Hoa Boan-thian.

"Mana Sam-lopan?"

"Ada dalam gedung utama."

Tiba-tiba Yap Kay bertanya sambil tertawa.

"Apakah semua tamu telah datang?"

"Termasuk kalian, sudah empat orang yang hadir,"

Jawab Hoa Boan-thian.

"tinggal menunggu satu orang lagi"

"Satu orang yang belum hadir tentunya orang aneh yang datang ke kota bersamaku bukan?"

"Asal kau masuk ke dalam, bukankah semuanya akan menjadi jelas?"

Sahut Hoa Boanthian tertawa.

"Masuk akal, heran, urusan segampang ini pun tak bisa kupikir, sudah sepantasnya didenda tiga cawan arak."

"Arak dan sayur telah disiapkan, Sam-lopan juga telah menunggu di gedung utama, silakan,"

Seru Hoa Boan-thian sambil menyingkir ke samping.

"Terima kasih."

Baru berjalan dua langkah, mendadak Yap Kay berhenti seraya berpaling, tanyanya kepada Hun Cay-thian.

"Aku dengar siapa pun dilarang membawa senjata waktu memasuki gedung Ban be tong apakah kau perlu menggeledah tubuhku?"

"Siapa yang berkata begitu? Sejak didirikan hingga kini, Ban be tong sudah mempunyai sejarah sepanjang empat puluh tahun, pertarungan besar maupun kecil sudah tak terhitung dengan jari, masa kami kuatir orang yang masuk Ban be tong menggembol senjata?"

"Lagi-lagi masuk akal, tampaknya malam ini aku harus mabuk sampai mati dalam gedung Ban be tong."

Diiringi gelak tawa, kembali Yap Kay mengayunkan langkah masuk ke balik pintu.

Di balik pintu gerbang ada penyekat, setelah melalui sekat itu, tibalah dia di ruang gedung utama.

Gedung utama masih sama seperti dulu, bentuknya juga masih sama, biarpun sepuluh tahun lalu Yap Kay pernah berkunjung ke situ ia masih dibuat kesemsem oleh kemegahan dan kementerengan bangunan itu.

Pada dinding sebelah kiri gedung utama tergantung lukisan besar, menggambarkan beberapa puluh ekor kuda sedang berlarian, ada yang sedang meringkik, ada yang sedang berlari kencang, setiap ekor kudanya gagah, indah dan seakan-akan hidup.

Pada sisi dinding yang lain tertera tiga huruf raksasa yang tingginya melebihi manusia, setiap huruf ditulis dengan gaya yang indah dan menawan, seindah naga yang sedang beterbangan di angkasa.

Ketiga huruf itu berbunyi.

"Ban be tong" . Di bagian tengah gedung berjajar rapi meja panjang yang terbuat dari kayu putih, meja panjang itu disambung jadi satu baris persis seperti sebuah jalan raya, sementara di kedua sisi meja berjajar empat ratus bangku yang terbuat juga dari kayu putih. Tapi kini di antara jajaran bangku yang tersedia hanya di tempati dua orang. Yap Kay pernah bertemu mereka dulu, Buyung Bing-cu serta Sam-bu Siansing Loh Loh-san. Di ujung meja terdapat sebuah bangku besar dan lebar, di sana duduk seorang berbaju putih. Biar dalam gedung tak ada orang lain pun Yap Kay tahu, orang itu masih tetap akan duduk dengan sopan dan beraturan, biarpun bangku itu ada sandarannya, namun punggungnya tetap akan tegak lurus bagaikan sebuah tombak. Orang itu pun masih sama seperti dulu, duduk seorang diri di sana, duduk dengan jarak yang begitu jauh dari setiap orang yang hadir. Begitu jauh dia menjaga jarak dengan semua kehidupan duniawi, sampai dengan umat manusia pun menjauh. Tapi bagaimana jaraknya dari saat kematian? Yap Kay mencoba memperhatikan dari kejauhan, biarpun ia masih nampak gagah dan bersemangat, namun garis kesendirian dan kesepian sudah nampak jelas membekas di raut mukanya. Orang itu seolah sudah memisahkan diri dari segala keramaian duniawi, tiada kegembiraan, tiada kenikmatan, tiada sahabat. Kini tampak ia sedang termenung, entah sedang mengenang pertarungan gagahnya di masa lampau? Atau sedang merasakan penderitaan karena kesepian dan kesendirian? Atau.... Orang itu tak lain adalah pemilik Kwan tang ban be tong, Be Khong-cun. Ya, dia memang Be Khong-cun. Mimik mukanya sama seperti dulu, begitu juga dengan raut wajahnya, malah secercah sinar kepedihan yang berada di balik matanya pun masih seperti dulu. Biarpun orangnya masih duduk di sana, namun dia seolah-olah mempunyai jarak yang begitu jauh dengan setiap orang. Benar, dia seakan begitu jauh meninggalkan semua benda perasaan yang ada di dunia fana ini. Begitu masuk ke ruang utama, Hoa Boan-thian langsung berjalan menghampiri dengan langkah lebar, ketika tiba di samping Be Khong-cun, dia sedikit membungkuk dan membisikkan sesuatu. Saat itulah, seolah baru tersadar dari impian, ia segera bangkit, menjura seraya berkata.

"Silakan teman-teman, silakan duduk."

Menunggu semua orang mengambil duduk, Be Khong-cun baru berkata lagi sambil tertawa.

"Ada pun maksudku mengundang kalian pada malam ini adalah "

Untuk kejadian yang pernah berlangsung sepuluh tahun lalu,"

Suara orang menukas dari arah pintu.

"karena putra Pek Thian-ih datang mencarimu untuk menuntut balas bukan?"

Dengan tercengang semua orang berpaling ke arah pintu, hanya Yap Kay seorang yang tidak berpaling, karena dia tahu siapa yang sedang berbicara.

Selain Pho Ang-soat, siapa lagi yang bisa mengucapkan perkataan semacam itu?

Tak kuasa Yap Kay tertawa getir, namun sorot matanya masih menatap tajam Be Khong-cun, dia ingin tahu perubahan apa yang bakal ditunjukkan orang itu setelah menghadapi kejadian seperti ini, apa pula reaksi yang akan dilakukannya.

Tidak ada!

Ternyata Be Khong-cun sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun, dia hanya menggunakan sorot matanya yang serius dan tajam untuk menengok ke arah pintu, mengawasi Pho Ang-soat.

Hoa Boan-thian segera melompat bangun, ditatapnya Pho Ang-soat yang berada di depan pintu dengan penuh amarah, tegurnya.

"Siapa kau? Berani amat bicara kasar di hadapan Ban be tongcu?"

"Pho Ang-soat!"

Teriak Hun Cay-thian pula sambil menggebrak meja.

"mau bergurau boleh saja, tapi jangan kelewatan!"

Menghadapi caci-maki Hun Cay-thian maupun Hoa Boan-thian yang keras dan kasar, Pho Angsoat tetap tak menggubris, jangankan menanggapi, melirik sekejap pun tidak, baginya kecuali Be Khong-cun, di tempat itu seolah tak ada orang lain.

Dengan sorot mata tajam dan tak berkedip, Pho Ang-soat mengawasi wajah Be Khong-cun, kemudian selangkah demi selangkah maju menghampirinya.

Sekalipun dia pincang, biarpun caranya berjalan nampak bebal, tolol dan lambat, namun setiap orang yang hadir dalam gedung itu seakan tidak melihat kecacatan itu, karena benda bersinar lain yang berada di tubuhnya telah menutupi seluruh kekurangan itu.

Semua orang sedang mengawasi golok dalam genggamannya.

Golok berwarna hitam pekat!

Golok pekat bagaikan datangnya elmaut.

Padahal tangan yang menggenggam golok itu putih pucat, sepucat tubuh orang yang sekarat.

Perhatian semua orang tertuju pada golok dalam genggaman Pho Ang-soat.

Semua orang percaya dan yakin, golok itu golok kematian.

Golok itu tidak dilengkapi sarung yang indah, tiada hiasan yang menyolok atau menarik perhatian.

Sarung golok hanya terbuat dari dua lembar bambu berusia ribuan tahun, gagang golok pun terbuat dari balok kayu biasa.

Bentuk senjata itu seolah memberi kesan hanya sebuah mainan anak-anak, begitu sederhana, begitu jelek dan tidak menarik.

Tapi setiap orang sadar, golok itu jelas bukan golok mainan anakanak.

Bila ingin menghentikan semua kehidupan yang ada di dunia ini, golok itu pasti akan melakukannya dalam sekejap mata.

Lantas bagaimana dengan setan?

Apakah golok itu pun dapat menghabisi nyawa setan dalam sekejap?

Sambil menatap wajah Be Khong-cun tanpa berkedip, dengan langkah kaki yang lambat dan bodoh, selangkah demi selangkah maju mendekat, tangan kiri Pho Ang-soat menggenggam kencang golok itu, sedemikian kuat hingga nampak otot-ototnya merongkol hijau.

Dengus napas setiap orang semakin memburu, menyusul langkah kaki Pho Ang-soat yang semakin mendekati sasaran Tiba-tiba semua orang menghembuskan napas lega, wajah yang tegang pun berangsur mengendor, karena saat itu Pho Ang-soat telah menghentikan langkahnya.

Dia berhenti bukan karena sudah tiba di hadapan Be Khong-cun, dia terpaksa berhenti karena di hadapannya secara tiba-tiba muncul sebilah golok lain.

Sebilah golok melengkung tak beraturan, sebilah golok dengan bentuk yang aneh.

Kongsun Toan!

Akhirnya Kongsun Toan muncul.

Seharusnya orang itu muncul di pintu gerbang, seharusnya dia menghadang di depan pintu gerbang, menghalau orang-orang bersenjata yang ingin memasuki Ban be tong, tapi sekarang dia muncul di dalam gedung dengan membawa golok lengkungnya yang berbentuk aneh, di tangan kirinya dia masih menggenggam sebuah cawan emas.

Pho Ang-soat sama sekali tidak memandang wajah Kongsun Toan, dengan sorot mata dingin dan kaku dia hanya mengawasi golok lengkung yang menghadang jalannya.

Begitu juga dengan Kongsun Toan, sorot matanya yang tajam sedang mengawasi golok Pho Ang-soat tanpa berkedip.

"Tak seorang pun boleh membawa pedang memasuki Ban be tong,"

Dengan suara berat tapi tegas Kongsun Toan berkata.

"begitu pula tak seorang pun boleh membawa golok datang kemari."

Pho Ang-soat tidak langsung menjawab, beberapa saat kemudian perlahan-lahan baru ia berujar.

"Belum pernah ada?"

"Belum pernah!"

"Bagaimana dengan kau?"

Sinar mata Pho Angsoat berhenti pada golok lengkungnya.

"jadi kau bukan terhitung manusia?"

Berubah hebat paras Kongsun Toan, otot-otot hijau merongkol. Pada saat itulah Be Khong-cun yang duduk di bangkunya mendadak mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, serunya.

"Bagus, pertanyaan yang sangat bagus "

Cawan emas di tangan kiri Kongsun Toan telah diremas hingga gepeng, sementara isi cawan meluap keluar, tercecer di antara telapak tangannya yang hitam bagai besi baja, raut wajahnya sudah mulai mengejang lantaran marah bercampur mendongkol "Bagus, ternyata punya keberanian, punya nyali,"

Gelak tawa Be Khong-cun berubah jadi senyuman.

"apakah dia Pho Ang-soat Phokongcu, yang seorang diri berhasil membongkar rahasia Pek-kongcu dengan mengandalkan goloknya?"

Ketika Pho Ang-soat bertarung melawan Kongcu Gi, peristiwa itu terjadi sepuluh tahun sebelum Ban be tong dihancurkan.

Bila Be Khong-cun sudah mati sejak sepuluh tahun lalu, darimana dia bisa mengetahui kejadian ini?

Kembali sorot mata Pho Ang-soat dialihkan ke wajah Be Khong-cun.

"Pho-kongcu,"

Kembali Be Khong-cun berkata sambil tertawa.

"kalau sudah datang, mestinya berilah muka padaku, silakan duduk."

Kongsun Toan berpaling, dengan mata melotot mengawasi Be Khong-cun katanya.

"Bagaimana dengan goloknya?"

"Aku hanya melihat orangnya, mana goloknya? Aku tidak melihat goloknya,"

Jawaban Be Khongcun sangat hambar.

Perkataan itu mengandung arti yang sangat dalam, apakah dia maksudkan wibawa orangnya telah menutupi kehadiran goloknya?

Ataukah dia ingin mengatakan bahwa ancaman bahaya yang sebenarnya bukan datang dari goloknya melainkan dari orangnya?

Kongsun Toan mengertak gigi, otot-otot badannya mengejang menahan emosi, tiba-tiba ia menghentakkan kaki ke lantai, lalu dia sarungkan pula goloknya dan duduk kembali di bangkunya.

Loh Loh-san yang selama ini hanya mendekam di meja seolah sedang mabuk air kata-kata, mendadak menggebrak meja dan tertawa terbahak-bahak.

"Bagus! Perkataan yang bagus."

Saat itu dia masih mendekam di meja, tidak jelas masih mabuk atau sudah tersadar kembali, tangannya meraba ke seluruh permukaan meja, kembali gumamnya.

"Mana arak? Aneh, kenapa di tempat ini gampang sekali menemukan golok dan pedang, belum pernah tersedia arak yang melimpah?"

Be Khong-cun tersenyum, lalu katanya.

"Sebenarnya tujuanku mengundang kalian tak lain hanya ingin mengajak mabuk bersama."

"Apakah tak akan bubar sebelum mabuk?"

Sambil mendongakkan kepala yang masih mengantuk Loh Loh-san mendongakkan kepala.

"Tepat sekali."

"Kalau sudah mabuk, apakah boleh bubar?"

"Tentu."

"Ah, kalau begitu hatiku pun lega,"

Loh Loh-san menghela napas panjang. Kembali ia sandarkan kepalanya di meja dan bergumam.

"Arak? Mana araknya? Apakah dalam Ban be tong tidak ada arak?"

Yap Kay yang selama ini membungkam ikut menimbrung.

"Dalam gudang bawah tanah Ban be tong tersedia tiga ribu gentong arak wangi, jika hanya kau seorang yang menikmatinya, mungkin kau bisa mabuk sampai mati."

"Kalau soal itu Yap-heng tak perlu kuatir, Ban be tong bukan saja tempat berkumpulnya para pemabuk, bahkan manusia macam Cayhe pun masih sanggup menemanimu meneguk beberapa cawan,"

Kata Hoa Boan-thian sambil tertawa.

"Sungguh?"

Sengaja Yap Kay membelalakkan mata.

"Wah, kalau dalam Ban be tong benarbenar telah berkumpul begitu banyak jagoan tangguh, tampaknya malam ini aku bakal mampus di sini."

"Kalau setan arak memang banyak, siapa bilang ada jago tangguh?"

Senyuman Hoa Boanthian tampak membeku kaku.

"Yang kau maksud tentu jago tangguh minum arak,"

Lagi-lagi Loh Loh-san buka suara.

"Jika ada begitu banyak orang yang bakal mengajak aku minum, aneh kalau aku tak mati lantaran mabuk."

"Ah, tujuan Sam-lopan mengundang kalian tak lain hanya ingin menyaksikan kehebatan kalian,"

Akhirnya Hun Cay-thian buka suara.

"meski hanya untuk minum arak, itu kan hanya untuk basa-basi, siapa bilang kami berniat meloloh kalian sampai mabuk?"

"Tapi aku tetap merasa takut."

"Takut apa?"

"Takut kalian bakal melolohku sampai mabuk."

Bab 3.

ADIK PEREMPUAN YAP KAY Cawan arak terbuat dari emas, gentong arak yang sangat besar berisi arak berwarna hijau pupus.

Di samping arak, berbagai hidangan yang mahal dan lezat pun sudah tersedia di atas meja.

Orang pertama yang menggerakkan sumpit adalah Buyung Bing-cu, sedang orang pertama yang meneguk arak bukan Loh Loh-san melainkan Kongsun Toan.

Begitu arak dihidangkan, Kongsun Toan langsung meloloh tenggorokannya dengan dua belas cawan, karena hawa amarahnya tadi tak terlampiaskan, terpaksa dia gunakan arak untuk melampiaskan kemarahannya itu.

Semakin banyak minum wajahnya berubah semakin tak sedap dipandang, dalam keadaan seperti ini lebih baik tidak mencari gara-gara atau mendekatinya, kalau tidak, dia bisa meledak seperti gudang mesiu yang terbakar.

Pho Ang-soat sama sekali tidak meneguk arak, sumpit juga tak pernah menyentuh hidangan, tangan kirinya masih tetap menggenggam golok, matanya yang cekung bagai sebuah jeram masih mengawasi Be Khong-cun tanpa berkedip.

Hanya mulut dan tangan Yap Kay yang tak pernah berhenti, sebentar dia menyumpit hidangan, sebentar menenggak arak, orang ini memang hidup santai dan gembira.

Bahkan matanya pun memancarkan cahaya kegembiraan, gayanya seperti lagi menghadiri pesta perkawinan kerabatnya saja.

Sambil makan dia memperhatikan semua orang yang hadir di situ, mula-mula ditatapnya Loh Lohsan, bergeser ke wajah Hoa Boan-thian, kemudian beralih ke wajah Buyung Bing-cu dan akhirnya berhenti di wajah Be Khong-cun.

Entah disengaja atau tidak, kebetulan waktu itu sinar mata Be Khong-cun pun sedang menatap ke arah Yap Kay, begitu sorot mata kedua orang itu saling bertemu, ibarat dua komet yang saling bentur, percikan bunga api segera memancar keluar dari mata mereka berdua.

Tiba-tiba Be Khong-cun tersenyum, senyuman terpaksa, paling tidak dalam pandangan Yap Kay, dia seakan mempunyai beribu patah kata yang hendak diucapkan.

Namun Be Khong-cun hanya tersenyum saja, berlagak meneguk arak untuk mengalihkan pandangannya, dia seolah kuatir Yap Kay berhasil membaca rahasia hatinya.

Lalu apa yang dia kuatirkan?

Yap Kay mulai tertarik, sepantasnya yang kuatir adalah Yap Kay, apalagi setelah melihat orang-orang yang seharusnya sudah tewas sejak sepuluh tahun lalu tiba-tiba hidup kembali, bahkan bisa makan minum dengan wajar, tidak mati semaput saking kagetnya pun sudah terhitung lumayan.

Tapi kenyataan sekarang, justru Be Khong-cun yang merasa takut, merasa kuatir, tidak heran kejadian seperti ini langsung menarik minat dan perhatian Yap Kay.

Sepuluh tahun berselang, pada malam yang sama, tempat yang sama dan orang-orang yang sama berkumpul menjadi satu, tujuan Be Khongcun tak lain adalah ingin menemukan putra Pek Thian-ih.

Lalu bagaimana dengan malam ini?

Apakah kejadian lama terulang kembali?

Apakah tujuannya juga mencari putra Pek Thianih?

Bila kejadian dulu benar-benar akan terulang lagi, kejadian berikut seharusnya Buyung Bing-cu mulai mendendangkan lagu.

"...golok kehilangan ketajaman, manusia kehilangan perasaan...."

Tapi dari keadaan Buyung Bing-cu saat ini, sama sekali tak nampak gejala dia siap bersenandung.

Kalau semua kejadian terulang kembali, mengapa berbeda?

Yap Kay memandang wajah Loh Loh-san, tapi Sam-bu Siansing sudah roboh kembali di atas meja, bahkan mulai mendengkur keras setelah menghabiskan dua cawan arak.

Dia coba memperhatikan pula wajah Hoa Boanthian, Hun Cay-thian serta Hwi thian ci cu, walaupun wajah mereka bertiga pun dihiasi senyuman, namun senyuman mereka justru jauh lebih jelek, jauh lebih tak sedap dilihat ketimbang sewaktu tertawa.

Yap Kay tertawa getir, tampaknya pesta arak malam ini bakal tidak meriah.

Baru ingatan tadi melintas lewat, tiba-tiba Be Khong-cun angkat bicara, katanya.

"Golok kuda dari Kwan-tang tiada duanya di seluruh dunia, entah pernahkah kalian dengar pameo ini?"

Ini dia, akhirnya sampai juga pada pokok masalah, Yap Kay mulai membetulkan posisi duduknya dan siap menyambut datangnya pokok permasalahan yang akan dibahas.

"Perguruan Sin to tong (golok sakti) dan Ban be tong sudah lama malang melintang, siapa yang tidak kenal, siapa yang tidak tahu,"

Kata Hwi thian ci cu sambil tertawa.

"Lopan, tampaknya kau sedang bergurau."

"Aai.... kejadian itu sudah berlangsung pada dua puluh tahun berselang"

Be Khong-cun menghela napas panjang.

"sejak ketua perguruan Sin to tong, Pek Thian-ih meninggal dunia, selama dua puluh tahun terakhir, nama besar perguruan Sin to tong sudah jadi legenda dalam sejarah."

"Apa sebabnya Pek-locianpwe bisa mati?"

Pertanyaan itu diajukan oleh Buyung Bing-cu.

Sebetulnya Yap Kay pun ingin mengajukan pertanyaan itu, karena dia ingin mendengar bagaimana Be Khong-cun akan menjawab pertanyaan itu.

Tiba-tiba saja Be Khong-cun terbungkam, sampai lama kemudian baru ia menghela napas panjang, sahutnya.

"Peristiwa paling menjemukan yang sukar dihindari manusia bukankah mati tua atau mati lantaran sakit?"

Dia meneguk isi cawannya, membiarkan arak hangat perlahan-lahan mengalir melalui tenggorokan menuju ke lambung, setelah itu terusnya.

"Pek-heng selama hidup belum pernah melakukan perbuatan memalukan atau merugikan orang, biarpun dia 'mati muda', namun kematiannya amat tenang dan penuh kegembiraan, sebab dia pergi tanpa menderita siksaan atau rasa sakit apa pun."

Jawaban yang tidak betul!

Jawaban ngawur!

Setiap orang Bu-lim tahu dengan jelas bahwa Pek Thian-ih tewas oleh intrik busuk Be Khong-cun, mengapa sekarang dia berkata begitu?

Yap Kay yang tak kuasa menahan diri, langsung saja memprotes.

"Bukankah Peklocianpwe mati lantaran intrik dan rencana busuk seseorang?"

"Ah, kabar berita yang tersiar dalam Kangouw ibarat daun yang gugur karena hembusan angin, tak seorang pun berani memastikan kebenarannya,"

Be Khong-cun menjawab hambar.

"kalau betul dia tewas karena intrik dan rencana busuk, mana mungkin aku tidak berduka dan ikut berkabung? Mana mungkin aku berpeluk tangan tanpa melakukan sesuatu?"

Oleh karena pihak lawan bersikeras dengan perkataannya, mau tak mau Yap Kay hanya bisa mendengarkan lebih jauh, dia ingin tahu permainan apa lagi yang akan dilakukan orang itu.

"Untung saja Pek-heng masih mempunyai keturunan, paling tidak dia punya seorang putri untuk melanjutkan keturunannya,"

Lanjut Be Khong-cun sambil tersenyum.

"Punya seorang putri?"

Bukan cuma Yap Kay, bahkan Pho Ang-soat pun ikut terperanjat hingga berteriak dengan mata terbelalak lebar.

"Benar!"

"Boleh tahu berapa usia putri Pek-locianpwe itu?"

Tanya Yap Kay kemudian.

"Tidak tua, juga tidak muda, tahun ini tepat berusia dua puluh tahun,"

Kembali dia menghela napas, lalu meneguk isi cawannya.

"Ada pameo, kawin dengan ayam ikut ayam, kawin dengan anjing ikut anjing. Anak Lelaki meneruskan nama marga, anak perempuan mengikuti marga suami, jadi hal semacam itu jamak dan tidak aneh, hanya saja lantaran hal ini...."

"Pek-locianpwe tak mampu melanjutkan keturunan,"

Sambung Buyung Bing-cu.

"Benar,"

Ujar Be Khong-cun manggut-manggut.

"sebagai saudara baiknya, masakah aku tega membiarkan peristiwa ini berlangsung? Oleh karena itulah aku... aku...."

"Jadi maksud Sam-lopan, kau ingin mencarikan menantu untuk putri tunggal Pek-locianpwe?"

Kembali Buyung Bing-cu menyela.

"Rasanya apa yang bisa kulakukan sebagai saudaranya hanyalah begitu"

Kembali Be Khongcun manggut-manggut.

"tapi sayang, selama ini dia hidup di pinggiran kota, jarang keluar rumah, apalagi sebagai seorang gadis muda, kurang leluasa baginya untuk sering tampil... untung saja... untung saja hari ini...."

"Untung saja hari ini secara kebetulan muncul kami beberapa orang di sini,"

Sambung Yap Kay sambil tertawa.

"oleh karena itu Sam-lopan khusus mengundang kami dan ingin mencarikan menantu untuk Pek-locianpwe?"

"Benar sekali."

Benarkah Pek Thian-ih mempunyai seorang anak gadis?

Kalau sepuluh tahun berselang dia mengumpulkan orang-orang itu di Ban be tong karena ingin menemukan jejak putra tunggal Pek Thian-ih, maka sepuluh tahun kemudian, kembali dia mengumpulkan orang-orang itu karena ingin mencarikan calon suami untuk putri tunggal Pek Thian-ih.

Tak kuasa lagi Yap Kay tertawa geli, seingatnya dia tak pernah mempunyai saudara perempuan, lalu darimana munculnya seorang adik perempuan?

Dan siapa pula namanya?

"Siapa namanya?"

Tanya Yap Kay kemudian.

"Pek Ih-ling."

Buyung Bing-cu menuang sisa arak ke lantai, kemudian baru mendongakkan kepala memandang Be Khong-cun seraya berkata.

"Menantu ikut mertua, aku rasa banyak lelaki yang enggan hidup satu rumah dengan mertuanya."

"Itulah sebabnya mas kawin yang ditawarkan termasuk sedikit istimewa,"

Ucap Be Khong-cun sambil tertawa.

"Bagaimana terhitung istimewa?"

Tampaknya Buyung Bing-cu mulai tertarik dengan tawaran itu.

"Karena selain memperoleh separoh kekayaan Ban be tong, masih ada lagi kitab pusaka ilmu golok sakti warisan Pek Thian-ih."

Separoh bagian kekayaan Ban be tong pun sudah terhitung sebuah tawaran yang menggiurkan, apalagi ditambah kitab pusaka ilmu golok sakti warisan Pek Thian-ih, rasanya tak seorang lelaki pun yang bakal menolak tawaran ini.

Tak kuasa kembali Yap Kay tertawa lebar, ia sudah menangkap sinar tamak yang terpancar dari mata Buyung Bing-cu.

Bahkan Loh Loh-san yang setengah hidupnya sudah terbenam dalam liang kubur pun jadi mendusin dari mabuknya dan menunjukkan gairah serta kerakusan yang luar biasa.

Sementara reaksi Hwi thian ci cu meski tidak sejelas kedua orang rekannya, namun dari balik sorot matanya telah terpancar pula sinar aneh.

Mas kawin yang begitu menggiurkan jika ditambah dengan si nona cantik bak bidadari dari kahyangan, jelas tawaran itu luar biasa!

Rasanya hampir semua orang sudah tergoda oleh pernyataan itu, namun pada akhirnya Yap Kay juga yang mengajukan pertanyaan.

"Syarat yang kau ajukan memang menarik, tapi bagaimana pula dengan wajah orangnya?"

"Tak usah kuatir, biarpun belum terhitung cantik bak bidadari dari kahyangan, namun lebih dari cukup untuk membuat kalian ter belalak dengan mulut melongo."

"Boleh tahu syarat apa yang Sam-lopan ajukan dalam sayembara pencarian calon menantu ini?"

Tanya Buyung Bing-cu.

"Urusan ini menyangkut kebahagiaan sepanjang hidup, aku tak bisa melakukannya seperti mainan anak-anak, tentu saja keputusan terakhir tetap berada di tangan yang bersangkutan."

"Lalu mana orangnya?"

Tanya Yap Kay.

"sampai kapan kita baru dapat bersua dengan si nona yang cantik manis itu?"

Sambil tertawa Be Khong-cun mengalihkan sinar matanya keluar jendela, mengawasi kegelapan malam yang menyelimuti angkasa, menyaksikan bintang nun jauh di ujung langit.

Melihat sinar yang cemerlang menyusup keluar dari balik awan yang sedang bergerak, kembali sorot mata Be Khong-cun bersinar tajam.

"Kini malam sudah semakin kelam, lebih baik kalian pergilah istirahat dulu,"

Katanya tertawa.

"aku percaya besok pagi Pek Ih-ling pasti sudah muncul di sini."

Segulung angin berhembus, menyingkirkan awal tebal yang menyelimuti cahaya rembulan.

Berada di pinggiran kota yang sepi, berada di tengah malam yang hening dan suram, siapa pula yang dapat tidur nyenyak?

Sepasang mata Yap Kay melotot lebar, melotot sembari mengawasi kegelapan malam di luar jendela sana, saat ini dia tak lagi bisa tertawa.

Senyum manis yang selalu tersungging di ujung bibirnya memang selalu akan hilang sirna tiap kali dia berada seorang diri dan tak ada orang lain.

Dia belum tidur, meskipun Ban be tong hening, namun jalan pikirannya masih bergolak, bergelora bagaikan ada ribuan prajurit berkuda yang sedang berlari bersama, hanya sayang tak seorang pun yang tahu persoalan apa yang sedang dia pikirkan.

Dengan santai dia membelai tangan sendiri, membelai ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya yang sudah mengeras bagai batu karang, begitu pula dengan telapak tangannya yang telah dilapisi kulit tebal, bekas yang tertinggal karena lama menggenggam pisau.

Siau-li si pisau terbang memang selalu melepas pisau terbangnya menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dilepas disertai tenaga murni yang kuat.

Lantas dimana pisaunya?

Dia tak pernah membawa pisau.

Apakah karena pisaunya disembunyikan di dalam hati?

Pho Ang-soat berbaring di atas ranjang.

Dia pun belum tertidur, di tangannya masih tergenggam golok hitamnya.

Cahaya rembulan yang sendu menyinari wajahnya yang pucat dan kaku, membuat lekukan dan guratan di wajahnya terpampang semakin jelas.

Sepasang matanya yang tajam namun membawa rasa kesepian yang tiada tara, sedang mengawasi langit-langit ruangan.

Seekor serangga sedang merangkak di langitlangit, sorot mata Pho Ang-soat bergerak kian kemari mengikuti gerakan serangga itu.

Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka orang, dengan senyum di kulum Yap Kay melangkah masuk.

"Belum tidur?"

Tegurnya.

"Apakah kau tak tahu aturan, harus mengetuk pintu dulu sebelum memasuki kamar orang lain?"

Ujar Pho Ang-soat dingin.

"Aku tahu kau belum tidur,"

Yap Kay menarik sebuah bangku untuk duduk.

"kan kau bukan termasuk orang yang takut rahasiamu diketahui orang lain, jadi apa salahnya aku langsung masuk kemari."

Yap Kay bukan muncul dengan tangan hampa, dia membawa arak dan cawan, setelah menuang secawan, mengendusnya dan meneguknya, katanya pula.

"Bagaimana pandanganmu atas kejadian itu?"

"Kejadian yang mana?"

Pandangan Pho Angsoat masih pada serangga itu, seolah serangga itu jauh lebih menarik ketimbang Yap Kay.

"Tentu saja kejadian yang menyangkut Be Khong-cun, Hoa Boan-thian, Ban be tong serta yang lain. Apa pendapatmu atas semua peristiwa yang telah terjadi pada malam ini?"

"Aku harus mengucapkan selamat kepadamu!"

Tiba-tiba Pho Ang-soat berseru.

Begitu santai hal itu diucapkan, membuat Yap Kay nyaris tersedak oleh arak yang baru diteguknya, cepat dia seka ceceran arak di tepi bibirnya, lalu mengawasi rekannya dengan mata terbelalak.

"Apa kau bilang? Bisa diulang sekali lagi?"

"Aku harus menyampaikan selamat kepadamu."

"Mengucapkan selamat kepadaku? Kegembiraan apa yang sedang ku alami hingga pantas mendapat ucapan selamat?"

Seru Yap Kay ter tegun.

"Kau sudah mendapat adik perempuan, masa peristiwa semacam ini tak boleh disebut kejadian yang menggembirakan?"

Sekali lagi Yap Kay tertegun, akhirnya dia tertawa getir dan meneguk habis sisa araknya.

"Jadi menurut pendapatmu, peristiwa yang terjadi malam ini adalah kejadian lumrah?"

Ujar Yap Kay sambil tertawa getir.

"seakan pula sepuluh tahun berselang kita tak pernah mendatangi Ban be tong dan Be Khong-cun serta jago lainnya belum tewas?"

Pho Ang-soat tidak menjawab pertanyaan itu, dia kembali mengalihkan sorot matanya mengawasi serangga yang sedang berjalan di langit-langit.

"Jadi kau pun masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, menggembol golok datang kemari untuk menuntut balas? Sementara aku pun masih seperti dulu, seorang gelandangan yang suka mencampuri urusan orang lain?"

Imbuh Yap Kay. Mendengar ucapan itu, mata Pho Ang-soat nampak mengejang sejenak, namun mulutnya tetap membungkam, sama sekali tak bergerak.

"Jika kejadian pada sepuluh tahun lalu harus terulang kembali, seharusnya perempuan itu adalah adikmu,"

Kata Yap Kay lagi sambil tersenyum.

"jadi sepantasnya akulah yang harus menyampaikan selamat kepadamu."

Sudut bibir Pho Ang-soat kembali nampak mengejang, tapi sayang Yap Kay tak menyaksikan hal itu karena pada saat itulah tiba-tiba terdengar pekikan ngeri.

Belum lewat suara jeritan itu, tubuh Yap Kay bagaikan anak panah terlepas dari busur telah menerobos keluar melalui jendela, begitu daun jendela terbuka, bau anyir darah yang memualkan segera berhembus masuk Pho Ang-soat mengernyitkan alis, kemudian perlahan duduk terus turun dari pembaringan, berjalan keluar pintu.

Begitu tiba di luar pintu, ia pun menyaksikan Buyung Bing-cu dan Loh Loh-san baru saja keluar dari pintu kamarnya, yang tidak nampak hanya Hwi thian ci cu, pintu kamarnya masih tertutup rapat.

"Barusan seperti ada orang menjerit kesakitan?"

Ucap Buyung Bing-cu sambil menatap Pho Ang-soat. Yang ditatap sama sekali tidak menjawab, dia hanya berpaling ke arah datangnya jeritan itu.

"Apa yang telah terjadi?"

Seru Loh Loh-san pula, kelihatannya ia belum seratus persen tersadar dari mabuknya.

"Asal kita datangi tempat itu, bukankah semua akan jelas?"

Sambil berkata Buyung Bing-cu segera bergerak menuju ke arah tempat yang sedang dipandang Pho Ang-soat, sementara Loh Loh-san segera mengikut di belakangnya.

Menanti mereka sudah berjalan jauh, Pho Angsoat baru menyusul dari belakang dengan langkahnya yang bebal lambat dan aneh.

Hingga sekarang tabiatnya yang tak suka berjalan mendahului orang lain masih dipelihara dengan baik, baginya seolah selama hidup dia hanya mau berjalan mengikut dari belakang.

Mungkinkah hal ini disebabkan karena dia kuatir ada orang bakal memenggal tengkuknya dari belakang?

Meskipun begitu mendengar suara jerit kesakitan Yap Kay segera berjalan menuju ke sana, ternyata dia bukan orang pertama yang tiba di tempat kejadian.

Sewaktu tiba, di sana sudah hadir empat orang, satu orang sudah mati dan tiga orang masih hidup.

Hoa Boan-thian, Kongsun Toan serta Hun Caythian sama-sama mengawasi mayat yang tergeletak di tanah tanpa berkedip, wajah mereka bertiga penuh dicekam perasaan curiga, kaget dan ngeri.

Padahal ketiga orang itu termasuk jago yang sudah banyak pengalamanan menghadapi berbagai peristiwa, jangankan cuma sesosok mayat, korban yang pernah kehilangan nyawa di tangan mereka pun sudah tak terhitung jumlahnya, tapi mengapa mereka mengunjuk mimik muka seperti itu?

Ketika Yap Kay tiba di tempat kejadian, ketiga orang itu masih piea belum bergerak, sorot mata mereka masih tetap mengawasi mayat itu tanpa berkedip.

Dengan keheranan Yap Kay berjalan mendekat, tetapi setelah menyaksikan mayat itu, sama seperti ketiga orang lainnya, sorot matanya ikut terpaku tanpa berkedip.

Siapa sebenarnya sang korban?

Jenazah siapakah dia?

Mengapa jenazah itu bisa menimbulkan reaksi yang begitu luar biasa dari orang-orang itu?

Bukan sang korban yang membuat mereka tercengang dan ngeri, tapi mimik muka mayat itulah yang membuat mereka bergidik dan ngeri.

Rembulan telah condong ke tepi langit, namun cahaya lembut yang terpancar masih cukup terang menyinari jagad raya, terutama menyinari raut muka Hwi thian ci cu.

Selama hidup belum pernah Yap Kay menyaksikan raut muka seseram dan mengerikan ini, apalagi wajah sesosok mayat.

Mimik muka Hwi thian ci cu mengejang lantaran ketakutan, wajahnya yang pucat tak ubahnya seperti bunga salju di tengah musim dingin yang membeku.

Belum pernah Yap Kay menjumpai kulit muka sesosok mayat yang bisa berubah jadi putih pucat seperti itu, apalagi menyaksikan kulit seseorang macam kulit badan Hwi thian ci cu saat ini.

Hwi thian ci cu selama ini tersohor karena ilmu meringankan tubuhnya, kulit serta otot tubuhnya sangat lentur bagaikan seekor kuda jempolan, lantaran sudah terlalu lama kena cahaya sang surya, kulit itu telah berubah warnanya menjadi hitam berkilat.

Tapi sekarang otot dan daging tubuhnya sudah berubah jadi daging gembur yang lunak, kulitnya seakan sebuah balon udara yang kehilangan gas, menyusut dan berkerut menempel jadi satu di atas tulang badan.

Ternyata mayat itu nyaris mengering, darah yang semula mengalir dalam tubuhnya, kini hampir semuanya telah terisap keluar.

Yap Kay berdiri termangu sambil mengawasi mayat Hwi thian ci cu, kepandaian silat apakah yang mampu mengisap darah seseorang hingga habis?

"Kau pernah menyaksikan kematian semacam ini sebelumnya?"

Gumam Hoa Boan-thian.

"Belum pernah,"

Kongsun Toan menggeleng.

"Coba kalian lihat,"

Ujar Hun Cay-thian pula.

"tiada bekas luka di tubuhnya, jangan-jangan dia mati lemas karena ketakutan?"

Sementara tanya jawab sedang berlangsung, Yap Kay sudah berjongkok memeriksa jenazah itu dengan lebih seksama, akhirnya ia berhasil menjumpai bekas luka di tengkuk sebelah kiri.

Kedua mulut luka itu berbentuk bulat dan besarnya tak lebih sebutir kacang kedelai, bekas darah kering masih menempel di sekeliling mulut luka itu.

"Luka bekas apa ini?"

Seru Hoa Boan-thian berempat serentak, perhatian mereka sama-sama dialihkan ke kedua bekas luka itu "Dari keadaan jenazah, tampaknya darah di dalam tubuhnya telah terisap hingga kering melalui kedua bekas luka itu,"

Hun Cay-thian berkata.

"Tapi senjata apa yang digunakan? Rasanya belum pernah kujumpai bentuk senjata di dalam Kangouw yang meninggalkan bekas luka semacam itu,"

Ujar Kongsun Toan pula. Yap Kay yang selama ini hanya membungkam tiba-tiba buka suara, katanya lirih.

"Itu bekas gigitan!"

"Bekas gigitan?"

"Benar, mulut luka itu jelas terbentuk dari bekas gigitan."

"Gigitan?"

Satu perubahan aneh mendadak melintas di wajah Hoa Boan-thian.

"jadi maksudmu... dia... darah dia terisap ...."

"Benar, diisap setan pengisap darah!"

Paras muka semua orang berubah hebat.

Menurut dongeng orang kuno, konon bila ada orang mati yang jenazahnya dilompati kucing hitam pada masa tujuh kali tujuh hari sejak kematiannya, maka mayat itu dapat berubah menjadi mayat hidup.

Mayat hidup semacam ini biasanya akan bangkit dari kubur dan mengejar korbannya dengan melompat-lompat.

Ada pula dongeng lain yang mengatakan jika seseorang yang telah meninggal dan kebetulan dikubur di "liang serigala" , maka setelah melalui tujuh kali tujuh empat puluh sembilan hari, di saat mayat itu telah mengisap kekuatan inti matahari dan rembulan, maka sesudah seratus hari kemudian, jenazah akan hidup kembali dan bangkit dari liang kubur.

Ketika tengah malam menjelang tiba, di saat cahaya rembulan sedang bersinar terang, mayat hidup itu akan menjebol peti mati untuk melompat keluar dari liang kuburnya dan pergi mencari manusia bagai mangsanya.

Dengan mengandalkan sepasang taringnya yang panjang, mayat itu akan menggigit urat nadi manusia dan mengisap habis darahnya.

Mayat hidup semacam ini biasanya disebut setan pengisap darah.

Konon setan pengisap darah ini tidak bisa dibunuh dengan menggunakan senjata apa pun, hanya bisa dimusnahkan bila jantungnya ditusuk dengan kayu bunga Tho yang diruncingkan ujungnya.

Selapis awan gelap bergerak pelan menutupi cahaya rembulan di tengah kegelapan yang mencekam, terasa pula hembusan angin utara yang kencang, mendatangkan hawa dingin yang menggigilkan.

Tak kuasa Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian bergidik, bulu romanya berdiri, tanpa terasa mereka menggigit bibir, entah karena kedinginan?

Atau mungkin karena ketakutan?

"Ah, apa yang kau katakan tak lebih hanya dongeng yang beredar di kalangan rakyat,"

Bantah Kongsun Toan.

"mana mungkin ada kejadian seperti itu?"

"Rasanya hingga saat ini kita harus mengakui cerita itu sebagai kenyataan,"

Kata Yap Kay pula.

"memang kau masih mempunyai penjelasan yang lain?"

"Aku tidak percaya!"

Yang mengucapkan perkataan itu adalah Pho Ang-soat, walaupun dia berjalan paling akhir, di belakang Buyung Bing-cu, namun tiba tidak selisih banyak.

"Oya?"

Yap Kay mulai tertawa.

"jadi kau tak percaya Hwi thian ci cu tewas karena diisap darahnya oleh setan pengisap darah?"

"Aku tidak percaya di kolong langit ini terdapat setan pengisap darah"

Kembali Pho Ang-soat menegas sambil mengawasi dua lubang darah di tengkuk Hwi thian ci cu.

"Lantas menurut kau, bekas luka itu disebabkan jenis senjata seperti apa?"

Tanya Hoa Boan-thian.

"Aku tidak tahu!"

Hembusan angin malam di pinggiran kota terasa semakin dingin, begitu dingin bagaikan berada di puncak gunung salju, ditambah sinar rembulan yang begitu sayu dan pucat, membuat suasana di tempat itu terasa makin menggidikkan.

Loh Loh-san memandang kembali jenazah yang terkapar di hadapannya, lalu dengan suara gemetar bisiknya.

"Konon orang yang tewas karena diisap darahnya, dia akan berubah pula jadi setan pengisap darah pada keesokan harinya, dan dia pun akan mencari korban lain untuk diisap darahnya...."

"Betul, bahkan dia akan dikuasai dan dikendalikan setan pengisap darah sebelumnya,"

Imbuh Hun Cay-thian.

"Aku pun pernah mendengar dongeng semacam ini,"

Yap Kay tertawa tergelak.

"tampaknya kita harus menunggu sampai esok malam untuk membuktikan apa benar bakal muncul setan pengisap darah lainnya."

"Andaikata benar-benar muncul... apa yang harus kita lakukan?"

Tanya Loh Loh-san dengan suara masih gemetar.

"Ya, apa boleh buat, jika benar-benar muncul setan pengisap darah, terpaksa kita hanya bisa kabur, aku dengar setan semacam ini usah dibunuh."

Loh Loh-san tidak buka suara lagi, tapi setiap orang dapat mendengar dengan jelas kedua baris giginya sedang saling beradu aking takutnya.

"Menurut apa yang kutahu,"

Tiba-tiba Buyung Bing-cu berkata.

"cara untuk membunuh setan pengisap darah semacam ini hanya ada satu yakni meruncingkan batang kayu bunga Tho, kemudian gunakan kayu itu untuk menusuk jantungnya."

"Kalau begitu besok kita semua menyiapkan sebatang kayu bunga Tho untuk berjaga-jaga"

Sela Yap Kay sambil tergelak.

Saat itu jarak dengan terang tanah sudah tak lama lagi, dengan cepat jenazah Hwi thian ci cu digotong masuk ke gudang bawah tanah Ban be tong.

Dengan tubuh letih, setiap orang pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Yap Kay belum juga bisa memejamkan mata, sambil mementang mata lebar-lebar dia mengawasi keluar jendela tanpa berkedip.

Alisnya berkerut kencang, setiap kali sedang menghadapi masalah dan perlu pertimbangan, alisnya selalu bekernyit kencang.

Dalam keadaan begitulah pikir punya pikir, tanpa terasa dia pun terlelap tidur.

Tak lama kemudian, dari luar jendela tampak ada segumpal kabut tebal perlahan-lahan bergerak memasuki ruangan itu, dalam waktu lingkat seluruh ruangan telah diselimuti oleh kabut tebal.

Dari balik kabut muncullah seseorang, seorang wanita bertubuh ramping dan berambut sepanjang bahu.

Perempuan itu berdiri lurus di balik ketebalan kabut yang dingin membeku, seolah-olah sejak dulu hingga sekarang dia selalu berdiri kaku di sana, seolah-olah baru saja melumer dari balik kebekuan bongkahan es yang keras.

Biarpun orang itu lebih dingin dari bongkahan salju, namun justru ringan dan mengambang bagaikan segumpal kabut.

Lamat-lamat terlihat dia adalah seorang wanita, tapi sayang tak terlihat jelas bagaimana raut wajahnya, yang tampak hanya dia mengenakan pakaian seputih kabut, raut mukanya terselubung di balik asap putih.

Perempuan di balik kabut itu hanya berdiri kaku sambil menatap Yap Kay yang masih berbaring di ranjang, lama kemudian baru ia menghela napas panjang.

Seandainya waktu itu Yap Kay berada dalam keadaan mendusin, dia pasti akan merasakan hatinya hancur lantaran helaan napas itu.

Tak ada orang yang bisa melukiskan betapa pedihnya helaan napas itu, tapi setiap orang pasti dapat menangkap bahwa di balik helaan napas itu terselip beribu patah kata yang ingin disampaikan, terselip rasa kangen yang luar biasa, terselip pula rasa kesal dan menggerutu yang mendalam.

Setelah menghela napas panjang, kembali perempuan di balik kabut itu bergumam.

"Ada begitu banyak peristiwa di dunia ini yang tak mungkin bisa dibayangkan siapa pun di dunia ini."

Setelah berhenti sejenak, kemudian lanjutnya.

"Kau harus percaya bahwa di jagad raya yang amat luas ini terdapat sebuah kekuatan misterius yang tak mungkin dimiliki umat manusia pada umumnya, kau tak boleh mencari kekuatan itu apalagi bertarung melawan kekuatan misterius itu, ingat baik-baik pesanku ini."

Kabut putih kelabu yang menyelimuti orang berbaju putih kelabu pula, membuat orang itu seolah menghilang, begitu samar-samar, begitu tak nyata.

Manusiakah dia?

Ataukah roh gentayangan?

Dalam keadaan sadar, sikap Pho Ang-soat selalu dingin, angkuh dan acuh terhadap setiap orang, bagaimana sikapnya sewaktu tidur?

Ia merebahkan tubuh miring ke samping dengan kaki ditekuk dan pinggang melengkung, raut mukanya memancarkan sinar ketidak berdayaan seorang anak-anak, bahkan dari balik matanya yang terpejam lamat-lamat terpercik juga secercah harapan.

Apa yang dia harapkan?

Kasih sayang keluarga?

Kehangatan persahabatan?

Ataukah kemesraan percintaan?

Jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun belum tentu dapat menjawab pertanyaan ini, semisal tahu pun dia tak bakal mengatakan kepada orang lain, apalagi minta dia mengakuinya.

Dari balik wajah Pho Ang-soat yang dibalut keletihan, secara lamat-lamat masih dapat ditemukan jiwa kekanak-kanakannya yang polos, ketika melihat sikapnya sewaktu tidur saat ini, dia tak ubahnya seperti seorang anak nakal yang terlelap tidur karena kelelahan, begitu nyenyaknya dia tertidur seakan walau ada guntur yang menggelegar di sisi telinganya pun tak bakal membuatnya mendus in.

Hembusan angin menjelang fajar biasanya terasa paling dingin, juga terasa paling kencang, membuat daun jendela terpentang lebar.

Dari luar jendela lamat-lamat berkumandang suara nyanyian yang seakan datang dari neraka, suara itu melantun di tengah hembusan angin, melayang dan menggaung, seperti suara yang bergema di dalam jeram sangat dalam.

"Di ujung jalan buntu, tak nampak kau kembali, Baru melangkah dijalan kematian, nyawa keburu putus."

Begitu suara nyanyian berkumandang, tiba-tiba Pho Ang-soat membuka matanya, mementang matanya lebar-lebar dengan cahaya berkilat, sementara otot-otot hijau merongkol pada tangan kirinya yang menggenggam golok.

"Bunga belum layu, Rembulan belum gumpil, Dimana bulan purnama memancarkan cahayanya? Apakah menyinari bunga mawar di tepi hutan."

Ketika suara nyanyian itu sekali lagi berkumandang, kening Pho Ang-soat bekernyit makin kencang, dia merasa sangat mengenal bait lagu itu, seakan-akan baru saja mendengarnya di suatu tempat.

"Di ujung jalan buntu, Tak nampak kau kembali, Tengah malam kentongan ketiga, Putus napas hilang nyawa."

Begitu mendengar bait syair terakhir, mencorong sinar tajam dari balik mata Pho Angsoat, sekarang dia tahu siapa pembawa nyanyian itu.

Yan Lam-hui!

Betul, dia adalah Yan Lam-hui yang dilatih Kongcu Gi untuk menjadi bonekanya.

Baru saja keningnya mengendor, sekali lagi dia mengernyitkan alis, bahkan mengernyit lebih kencang, Pho Ang-soat belum melupakan satu hal.

Pho Ang-soat belum lupa Yan Lam-hui tewas di ujung goloknya.

Kalau bukan Yan Lam-hui yang membawakan nyanyian itu, lalu siapa yang barusan bersenandung?

Siapa yang dapat membawakan lagu itu?

Mengapa dia datang ke pinggiran kota untuk membawakan lagu itu?

Apakah dia khusus datang ke situ hanya untuk membawakan lagu itu?

Khusus bersenandung agar Pho Ang-soat dapat mendengarnya?

Untuk mencari jawaban berbagai pertanyaan itu, tampaknya dia harus segera menjumpai orang yang melantunkan lagu itu.

Mengikuti asal suara nyanyian itu, dengan cepat Pho Ang-soat berjalan keluar meninggalkan Ban be tong, kelihatannya orang itu berada di tengah hutan.

Menanti ia memasuki hutan, Pho Ang-soat baru sadar ternyata hutan itu sangat lebat, sejauh mata memandang hanya pepohonan tinggi yang menyelimuti sekeliling tempat itu.

Setelah membetulkan pakaiannya, selangkah demi selangkah Pho Ang-soat berjalan menembus kegelapan malam, semakin dalam dia menembus hutan, semakin jelas suara nyanyian itu terdengar.

Ternyata benar, suara nyanyian itu berasal dari balik hutan lebat, tapi siapa yang membawakan lagu itu?

Bab 4.

IRAMA LAGU BAYANGAN SETAN Angin malam berhembus kencang, menggoyang dedaunan yang rimbun hingga tampak bagai tangan raksasa yang sedang mencabik ke sana kemari.

Dengan pandangan mata tajam Pho Ang-soat berjalan menelusuri pepohonan, bergerak menghampiri sumber suara nyanyian itu.

Tak lama kemudian tibalah dia di sebuah tanah lapang yang luas, di saat itu pula suara nyanyian tiba-tiba berhenti.

Tiada seseorang pun yang terlihat di sana, kecuali sebuah gundukan tanah kecil, tak nampak bayangan apa pun.

Bagaimana mungkin bisa terjadi?

Sudah jelas suara nyanyian itu berasal dari sana, mengapa tak nampak seorang pun?

Suara nyanyian itu baru berhenti setelah Pho Ang-soat melangkah masuk ke tanah lapang itu, dia tak percaya ada orang mampu bersembunyi dari hadapannya dalam waktu secepat itu.

Atau mungkin orang itu bersembunyi di suatu tempat?

Misalnya bersembunyi di pohon?

Atau di tempat gelap?

Atau...

bersembunyi di balik gundukan tanah kecil itu?

Baru saja Pho Ang-soat bersangsi dengan penuh tanda tanya, mendadak suara nyanyian itu kembali berkumandang.

Kali ini Pho Ang-soat dapat mendengar suara itu dengan jelas, bahkan berani memastikan dari arah mana suara itu berasal.

Ternyata suara nyanyian itu berasal dari belakang gundukan tanah itu!

Sambil tertawa dingin Pho Ang-soat perlahanlahan berjalan ke depan, melewati gundukan itu.

Tapi begitu tiba di balik gundukan tanah itu, lagi-lagi dia dibuat terperanjat, ternyata tak nampak seorang pun di balik gundukan itu, mungkinkah suara nyanyian itu jelas bersumber dari situ?

Sekali lagi Pho Ang-soat pasang telinga mendengarkan lebih seksama, kali ini dia benarbenar terkesiap, ternyata suara nyanyian itu berasal dari dalam tanah.

Dari dalam gundukan tanah kecil itu telah muncul suara nyanyian yang begitu menggidikkan bagaikan suara dari neraka, mungkinkah tanah kecil ini adalah pintu masuk menuju neraka?

Mungkinkah suara itu adalah jeritan sukma gentayangan yang berusaha kabur dari dalam neraka?

Seperti apakah neraka itu?

Siapa yang pernah mendatanginya?

Benarkah orang yang telah mati arwahnya akan gentayangan bahkan tersesat ke dalam neraka?

Benarkah neraka terdiri dari delapan belas tingkat yang dijaga pasukan manusia berkepala kerbau berwajah kuda?

Benarkah terdapat raja akhirat yang mengatur kematian dan penitisan kembali umat manusia?

Pho Ang-soat tidak percaya segala cerita takhayul, tapi apa mau dikata, kejadian yang ditemuinya belakangan ini justru sukar diterima akal sehat.

Orang yang telah mati sejak sepuluh tahun berselang, ternyata satu per satu muncul di hadapannya dalam keadaan hidup.

Kemudian dari balik tanah gundukan perbukitan kecil ini bisa muncul pula suara nyanyian seperti jeritan dari dalam neraka.

Seandainya semua kejadian itu bukan dialaminya sendiri, siapa pula yang mau percaya?

Tapi setelah percaya, apa pula yang bisa dilakukan?

Diawasinya tanah gundukan itu lekat-lekat, lalu dengan tangan kanan dia mencoba meraba permukaan tanah, dia ingin membuktikan benarkah gundukan tanah itu asli atau bukan.

Begitu jari tangannya menyentuh permukaan tanah, ia segera sadar bahwa gundukan tanah itu betul-betul asli.

Bersamaan dengan itu, mendadak terjadi goncangan kuat dari balik tanah, diikuti munculnya beribu garis cahaya yang memancar dari balik gundukan.

Mengikuti munculnya pancaran cahaya, terdengar pula suara raungan gusar yang memekakkan telinga.

Cahaya yang terpancar dari dalam tanah itu mirip semburan api yang terang benderang dan menyilaukan mata, mirip pula dengan pancaran cahaya komet yang terlihat dari kejauhan.

Dengan terperangah Pho Ang-soat mengawasi pancaran cahaya yang menembus pepohonan itu, pekikan dan raungan gusar yang berkumandang tak ubahnya seperti teriakan dan jeritan beriburibu setan iblis dari neraka, membuat hati siapa pun bergidik dan ketakutan.

Pada saat Pho Ang-soat masih tertegun dan terbelalak dengan mulut melongo itulah mendadak pancaran beribu cahaya itu berubah bentuk dan muncullah seseorang.

Mula-mula hanyalah sesosok bayangan yang lamat-lamat, tapi lambat-laun semakin jelas pakaian yang dikenakan, rambutnya, tangan kakinya dan terakhir terlihat jelas kerut wajah seseorang.

Ternyata kumpulan beribu cahaya yang menyilaukan mata itu kini sudah berwujud seseorang.

Benar, sesosok manusia hidup!

Menyaksikan manusia yang terbentuk dari kumpulan cahaya itu, Pho Ang-soat bergidik, hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari lubuk hatinya dan menyebar ke seluruh badan, ditatapnya orang itu dengan penuh rasa kaget, tercengang bercampur ngeri.

Orang itu balas menatap Pho Ang-soat, bukan saja wajahnya penuh senyuman, bahkan pancaran sinar matanya pun penuh dengan senyuman, sayang walau dia tersenyum namun senyuman itu belum cukup untuk melenyapkan rasa ngeri Pho Ang-soat.

Dengan mata terbelalak Pho Ang-soat masih mengawasi orang itu, dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian ditatapnya pula pedang merah darah yang berada dalam genggaman tangan kiri orang itu.

Begitu merah menyala pedang itu melebihi merahnya darah, tapi segar dan indah bagaikan bunga mawar.

Itulah pedang mawar, ya, pedang mawar milik Yan Lam-hui.

Ternyata manusia yang terwujud dari kumpulan cahaya itu tak lain adalah Yan Lam-hui, Yan Lam-hui yang telah tewas di ujung golok Pho Ang-soat beberapa tahun berselang.

"Apa kabar?"

Sapaan Yan Lam-hui masih terdengar memikat, seakan mempunyai daya tarik. Pho Ang-soat dengan jelas mendengar sapaan itu, namun untuk sesaat tak tahu bagaimana harus menjawab.

"Baru berpisah beberapa tahun, masa kau sudah lupa padaku?"

Senyuman Yan Lam-hui nampak semakin mengental.

"aku adalah Yan Lam-hui ! "

"Sebenarnya kau...."

Suara Pho Ang-soat agak gemetar.

"Manusia atau setan?"

Yan Lam-hui menyeringai.

"jika penilaian itu dilakukan oleh bangsa manusia macam kau, seharusnya saat ini aku sudah terhitung sebagai setan."

"Bangsa manusia?"

Sejelek-jeleknya Pho Angsoat, dia tetap seorang jago kosen, dalam waktu singkat ia berhasil mengendalikan gejolak hatinya dan kembali bersikap tenang.

"jadi kau bukan terhitung manusia?"

"Yang masih hidup adalah manusia, setelah mati tentu saja berubah jadi setan."

"Kalau begitu kau termasuk golongan setan?"

Pho Ang-soat mulai tertawa dingin.

"Sewaktu mati, memang aku sempat menjadi setan,"

Ujar Yan Lam-hui sambil tertawa.

"beruntung sekali aku telah bertemu Pangeran kegelapan."

"Pangeran kegelapan? Siapa Pangeran kegelapan?"

"Di antara alam yang dihuni golongan manusia dan alam yang dihuni golongan setan, masih terdapat sebuah alam lain yang tak akan bisa kalian bayangkan, nah, alam itulah yang dikendalikan dan diurus Pangeran kegelapan."

"Oh, jadi dimana letak alam itu?"

"Berada di antara langit dan bumi, berada di antara kau dan aku. Alam itu persis berada di sisimu, hanya sayang kau tak akan bisa menemukannya."

"Lalu apa yang harus kulakukan agar dapat melihatnya?"

"Asal kau sudah menjadi penghuni alam itu atau Pangeran kegelapan telah menganggukkan kepalanya,"

Sahut Yan Lam-hui sambil tertawa tergelak.

Awan gelap telah menyelimuti angkasa, sinar rembulan pun lenyap dari pandangan mata.

Di tengah kegelapan itulah lamat-lamat terlihat seolah ada cahaya biru yang menyebar dari badan Yan Lam-hui, cahaya aneh yang membuat perasaan orang bergidik dan seram.

Dengan tatapan tajam Pho Ang-soat mengawasi gerak-gerik Yan Lam-hui, benarkah antara alam manusia dan setan masih terdapat alam lain yang tak terbayangkan oleh akal manusia?

Seperti apakah alam yang dimaksud?

Siapa pula penghuninya?

Manusia?

Atau setan?

Atau mungkin sebangsa dewa-dewi?

Selama hidup belum pernah Pho Ang-soat percaya bahwa di dunia ini terdapat dewa-dewi atau setan, dia anggap kepercayaan semacam itu hanya takhayul, omong kosong.

Tapi apa mau dikata, justru setiap peristiwa yang dijumpainya belakangan ini, membuatnya mau tak mau harus menerima semua takhayul itu sebagai suatu kenyataan.

Orang-orang yang sudah mati, satu per satu muncul kembali di hadapannya, muncul dalam keadaan hidup.

Dari dalam gundukan tanah yang sangat biasa ternyata terpancar beribu cahaya.

Dan cahaya yang terpancar ternyata dapat berbentuk seseorang, bahkan seseorang yang sudah mati.

Tapi semua peristiwa itu bukan inti masalah yang membuat Pho Ang-soat tercengang.

Yang membuatnya terperangah, kaget dan ngeri adalah terdapatnya alam lain di antara alam kehidupan manusia, alam misterius yang selama ini tidak diketahui siapa pun.

Lalu disebut apakah alam misterius yang tidak diketahui itu?

Surga?

Neraka?

Atau dunia maya yang selama ini sering dibicarakan umat persilatan?

"Bila benar-benar terdapat alam seperti ini, apa nama alam itu?"

Tanya Pho Ang-soat kemudian.

"disebut apa pula penghuni yang tinggal di alam itu?"

"Dunia keempat"

Yan Lam-hui menerangkan.

"penghuninya disebut manusia maya, oleh karena itu dunia keempat disebut juga dunia maya"

"Apa syaratnya untuk masuk ke dunia keempat itu?"

"Tidak dibutuhkan syarat apa pun, sama sekali tak dibutuhkan syarat,"

Yan Lam-hui tertawa.

"yang terpenting ada jodoh atau tidak."

"Jodoh?"

"Betul, jodoh, siapa yang berjodoh maka pintu alam kita akan terbuka untuknya."

"Kalau tidak berjodoh?"

"Kalau tidak berjodoh maka silakan hidup berlanjut di dunia yang penuh kepedihan ini,"

Sahut Yan Lam-hui sambil tertawa.

"oleh karena itulah aku harus mengucapkan selamat kepadamu."

"Mengucapkan selamat kepadaku? Kenapa?"

Kembali Pho Ang-soat melengak.

"Karena kau adalah orang yang berjodoh, itulah sebabnya kau dapat mendengar suara nyanyianku, datang kemari dan berjumpa dengan Utusan Cahaya."

"Utusan Cahaya?"

"Bukankah tadi kau saksikan ada pancaran cahaya? Nah, akulah pancaran cahaya itu, Utusan Cahaya adalah diriku."

"Hanya orang berjodoh yang dapat bertemu Utusan Cahaya? Hanya Utusan Cahaya yang dapat membimbingku memasuki dunia keempat?"

"Betul."

"Setelah tiba di dunia keempat, apa pula yang bisa kudapat?"

Jengek Pho Ang-soat sambil tertawa dingin.

"Jadi dewa? Jadi manusia abadi yang tak bisa mati?"

"Benar, dan masih ada lagi, kau akan memperoleh kekayaan yang berlimpah,"

Sambung Yan Lam-hui.

"apa pun yang bakal kau peroleh, sudah lebih dari cukup untuk menimbulkan badai besar di dunia Kangouw."

"Apa yang kau sampaikan merupakan imingiming yang bisa membuat orang tergiur, terpikat, tapi sayang di dunia ini masih terdapat jenis manusia lain, manusia yang tak terpikat oleh semua itu,"

Kata Pho Ang-soat hambar.

"Aku tahu, manusia macam kau memang tak bakal terpikat oleh kekayaan dan emas,"

Yan Lam-hui tertawa.

"tapi bagaimana dengan tawaran menjadi manusia abadi? Masa kau tidak tertarik menjadi manusia abadi yang tak bisa mati?"

"Sayang aku hanya tahu bahwa manusia harus hidup penuh makna, daripada hidup abadi sebagai sesosok boneka, lebih baik hidup berpuas ria selama beberapa tahun."

"Bukankah lebih baik hidup daripada mati, meski hidup di bawah kendali?"

"Benarkah begitu?"

Pho Ang-soat tertawa dingin.

"benarkah semua penghuni dunia keempat adalah manusia abadi yang tak bisa mati?"

"Kalau tidak bernyawa, mana mungkin bisa mati?"

"Bukankah kau sudah pernah mati satu kali?"

Jengek Pho Ang-soat sambil menatap dingin dirinya.

"Karena setiap orang yang ingin memasuki dunia keempat, dia wajib mati satu kali."

"Oh, jadi kalau aku ingin bergabung dengan kalian, maka aku wajib mati terlebih dulu?"

"Betul, tinggalkan badan kasarmu yang tak berguna dan sisakan arwahmu yang suci bersih, hanya semua yang suci bersih yang dapat memasuki dunia maya."

"Rupanya kedatanganmu sebagai Utusan Cahaya pada malam ini adalah ingin menjemput aku pulang ke langit barat?"

Yan Lam-hui tertawa hambar, perlahan-lahan dia mencabut pedangnya yang berwarna merah darah.

Begitu pedang itu dilolos dari sarungnya, meski tiada cahaya sang surya, namun cahaya pedang itu amat menyilaukan mata seperti pantulan cahaya matahari, lembut dan indah bagai sinar rembulan.

Hawa pedang mulai menyelimuti wajah Pho Ang-soat, hawa membunuh pun semakin mengental.

Pho Ang-soat belum juga bergerak, tangan kirinya menggenggam kencang goloknya yang hitam pekat.

Golok hitam yang melambangkan kematian.

Bukankah warna merah darah pun melambangkan kematian?

Golok belum lagi diloloskan dari sarung, tapi paras muka Pho Ang-soat telah berubah semakin memucat, dia mengawasi pedang di tangan Yan Lam-hui tanpa berkedip, mimik mukanya tanpa perasaan sementara biji matanya menyusut kecil.

Yan Lam-hui balas menatap lawannya, sorot matanya yang berkilat bagai cahaya bintang di tengah malam memancarkan semacam perasaan aneh, entah perasaan itu melambangkan kegembiraan seorang yang baru terlepas dari penderitaan?

Ataukah perasaan pedih karena ketidakberdayaan.

Perlahan-lahan Pho Ang-soat mendongakkan kepala dan balas menatap matanya.

Ketika tatapan mata mereka saling bertemu, terjadilah benturan bunga api yang menyebar di tengah kegelapan malam, seperti dua komet yang tiba-tiba saling bentur.

Tiba-tiba Pho Ang-soat berkata.

"Kau sudah dua kali kalah di tanganku, buat apa mesti mencari kekalahan untuk ketiga kalinya?"

Mata Yan Lam-hui menyusut, tahu-tahu pedangnya melancarkan sebuah tusukan.

Cahaya pedang segera menyebar ke seluruh langit, secepat sambaran kilat pedang itu meluncur ke muka, memancarkan hawa senjata yang dingin bagaikan es.

Sebaliknya gerakan golok hitam justru sangat lambat.

Biarpun kelihatan lamban, namun belum lagi cahaya pedang itu menerobos masuk, tahu-tahu golok itu sudah menerobos lebih dulu ke balik cahaya pedang dan membendung seluruh ancaman itu.

Dalam waktu singkat di angkasa hanya tampak cahaya pedang yang merah membara bagai darah serta mata golok yang putih memucat.

Satu tebasan cahaya golok yang sangat tawar, setawar air telaga di musim semi, dan sedingin hawa musim salju berkelebat, ya, hanya satu kelebatan saja, tahu-tahu bunga pedang yang semula menyelimuti angkasa kini telah lenyap.

Rupanya tebasan golok Pho Ang-soat telah berhasil memunahkan serangan maut Yan Lamhui.

Seolah-olah ilmu silat Yan Lam-hui sama sekali tidak mengalami kemajuan, biarpun orangnya telah hidup kembali namun ilmu silatnya justru telah mati.

Dengan lenyapnya ancaman cahaya pedang, seharusnya Pho Ang-soat merasa gembira dan bangga, ternyata tidak, alisnya justru berkerut kencang, malah raut mukanya memperlihatkan perubahan yang aneh.

Kendatipun dia berhasil memunahkan jurus pedang Yan lam-hui, namun dia justru dapat merasakan bahwa hawa pedang yang terpancar dari tubuh lawannya jauh lebih tebal dan kental.

Begitu jurus pedangnya jebol, Yan Lam-hui segera tertawa seram yang mengerikan, bagaikan suara raungan dari neraka, berbareng cahaya hijau yang menyelimuti badannya kian bertambah tebal dan menguat.

Di tengah tawa seramnya, sekali lagi Yan Lamhui melancarkan sebuah tusukan.

Kali ini tiada cahaya pedang yang menyelimuti angkasa, tiada kecepatan bagai sambaran kilat, tapi hawa pedang yang terpancar justru makin tebal, makin rapat.

Tusukan pedang itu datang secara lamban, tiada bunga pedang yang terlihat kecuali getaran keras pada ujung senjata.

Begitu melihat getaran ujung pedang lawan, serta-merta Pho Ang-soat mundur selangkah.

Baru saja kakinya melangkah mundur, ujung pedang yang bergetar tiada hentinya itu tahu tahu memancarkan cahaya tajam berwarna hijau tua.

Sinar hijau itu meluncur ke depan, menembus udara dan langsung mengancam dada musuh.

Beruntun Pho Ang-soat harus menggunakan tiga macam gerakan tubuh yang berbeda sebelum berhasil lolos dari ancaman cahaya hijau itu, tapi sayang dia tak berhasil menghindari tusukan pedang Yan Lam-hui.

Ujung pedang menyambar, darah segar segera muncrat kemana-mana.

Darah segar berwarna merah, semerah pedang mawar dalam genggaman Yan Lam-hui.

Ternyata bahu kiri Pho Ang-soat telah tersambar ujung senjata lawan hingga muncul sebuah mulut luka berdarah.

Luka itu cukup dalam, meski tak sampai menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Sambil mengertak gigi Pho Ang-soat mengayunkan goloknya dengan tangan kanan, melepaskan bacokan kilat.

Bacokan itu bukan ditujukan kepada lawan, tapi dibabatkan langsung ke bahu kiri sendiri.

Ketika mata golok berkelebat, kulit daging di bahu kirinya segera tersayat.

Kembali darah menyembur dari bekas sayatan itu, kini Pho Ang-soat baru merasakan kesakitan yang luar biasa, namun dia justru menghembuskan napas lega.

Tak lama setelah kulit daging bahu yang tersayat itu jatuh ke tanah, tiba-tiba terdengar suara mencicit bergema dari sayatan itu, dalam waktu singkat sayatan kulit daging tadi berubah jadi hitam pekat, lalu dalam sekejap melumer dan berubah jadi cairan berwarna hitam pekat.

Racun!

Ya, hanya tubuh yang terkena racun baru akan menimbulkan gejala seperti ini.

Mengawasi cairan hitam yang membusuk di atas tanah, Pho Ang-soat tertawa dingin, jengeknya.

"Rupanya penghuni dunia keempat pun pandai menggunakan akal busuk, bahkan pintar sekali memakai racun."

Yan Lam-hui tidak menjawab, sekali lagi dia memperdengarkan suara tawanya yang menyeramkan, pedang dalam genggamannya kembali melancarkan tusukan.

Kali ini tidak menunggu ujung pedang lawan bergetar, golok Pho Ang-soat telah bergerak lebih dahulu.

Tiada bunga golok, tiada hawa golok, yang terjadi hanya sekali bacokan, bacokan dari atas ke bawah, dari gerak cepat berubah jadi lambat.

Di tengah cahaya pedang berwarna merah, terbias selapis cahaya golok yang sangat tipis.

Dimana cahaya golok berkelebat, tahu-tahu pedang Yan Lam-hui telah berubah menjadi dua bagian dan terpisah ke kiri kanan.

Ternyata bacokan golok itu telah membelah pedang mawar menjadi dua bagian.

Pedang itu terpapas kutung jadi dua bagian, setengah bagian masih berada dalam genggaman Yan Lam-hui dan setengah bagian yang lain rontok ke tanah Tiba-tiba Yan Lam-hui mengepalkan tangan kirinya, sambil menjulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya, dia membuat satu guratan lingkaran aneh di tengah udara dan mulutnya komat-kamit, kemudian ia berteriak.

"Terbang!"

Kurungan pedang yang semula tergeletak di tanah itu tiba-tiba meluncur ke udara bersamaan dengan suara bentakan Yan Lam-hui, lalu dengan kecepatan tinggi meluncur ke arah Pho Ang-soat.

Kutungan pedang itu meluncur begitu mantap dan bertenaga, seolah-olah terdapat tangan tak tembus pandang yang sedang menggenggamnya dan ditusukkan ke tubuh lawan.

Pedang yang semula sebilah mendadak berubah jadi dua potong, satu bagian berada di tangan Yan Lam-hui, bagian yang lain terbang melancarkan serangan maut.

Inilah ilmu pedang tingkat tinggi, ilmu pedang yang dikendalikan tenaga dalam.

Selama ini kehebatan ilmu itu hanya ada dalam dongeng atau cerita orang, sama sekali tak disangka hari ini dari Yan Lam-hui dapat disaksikan kenyataan itu, setelah bangkit dari matinya terbukti ilmu silat orang ini bertambah lihai dan sakti.

Seorang Yan Lam-hui dengan sebilah pedang saja sudah begitu susah dihadapi, apalagi sekarang, setelah bertambah lagi dengan sebuah ancaman yang datang dari udara, Pho Ang-soat merasakan tekanan yang semakin berat.

Terpaksa dengan sekuat tenaga dia hadapi ancaman yang datang dari depan maupun belakang dengan sekuat tenaga.

Manusia aneh dengan jurus serangan aneh dan ujung pedang yang telah dipoles racun keji...

semakin bertarung, suara tawa Yan Lam-hui semakin bertambah nyaring.

Semakin nyaring suara tawa lawan, peluh dingin yang membasahi jidat Pho Ang-soat makin bertambah deras.

Pedang terbang itu sekali-kali melancarkan tusukan maut ke tubuh Pho Ang-soat, baru selesai dia menghindari ancaman pedang terbang itu, ancaman pedang Yan Lam-hui menyusul tiba.

Sambil membalikkan badan Pho Ang-soat melayangkan bacokan, siapa tahu pedang terbang itu tiba-tiba berbalik arah dan menyambar lagi dari belakang tubuhnya.

Ancaman itu datang tanpa menimbulkan suara, secara diam-diam pedang itu membokong ke arah batok kepala Pho Ang-soat.

Berhubung jurus serangan yang dilancarkan Yan Lam-hui sangat ganas dan hebat, Pho Angsoat harus menggunakan seluruh kemampuan dan perhatiannya untuk menghadapi, ditambah pula punggungnya tidak bermata, hakikatnya dia sama sekali tidak tahu pedang terbang itu sedang berbalik arah mengancam tubuhnya tanpa menimbulkan suara.

Sekalipun tahu juga sulit baginya untuk menghindarkan diri, sebab sekalipun dia mampu menghindari serangan pedang terbang itu, belum tentu berhasil menghindari serangan pedang Yan Lam-hui.

Di saat yang paling kritis itulah sarung golok di tangan Pho Ang-soat tahu-tahu menerobos keluar lewat bawah ketiak dan....

"Traang!" , percikan bunga api memancar dari sarung golok berwarna hitam itu, tahu-tahu pedang terbang itu sudah menerobos masuk ke dalam sarung golok itu. Cepat Pho Ang-soat mengayunkan tangan kirinya, sarung golok berikut pedang terbang itu turut bergeser ke samping, cepat dia berjongkok lalu berputar, secepat kilat ia meloloskan diri dari tusukan pedang Yan Lam-hui. Setelah itu dia membalikkan tangannya, dimana cahaya golok berkilauan, ia songsong datangnya cahaya pedang lawan. Tidak terjadi benturan antara golok dan pedang, meski cahaya pedang datang begitu cepat, namun gerakan golok jauh lebih cepat. Ujung pedang Yan lam-hui nyaris menembus tenggorokan Pho Ang-soat, selisihnya tak lebih dari satu inci. Biarpun hanya satu inci, namun satu inci yang bisa menyebabkan nyawa melayang. Gara-gara selisih satu inci itulah kembali cahaya golok Pho Ang-soat berkelebat, kemudian terdengarlah jeritan ngeri yang menyayat hati diikuti percikan darah segar. Di tengah semburan darah yang memancar kemana-mana, tubuh Yan Lam-hui mundur tiga langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya sama sekali tak bergerak. Pho Ang-soat pun tidak bergerak, hanya tetesan darah menetes dari ujung goloknya. Tidak ditemukan sedikit luka pun di tubuh Yan Lam-hui, hanya sepasang matanya memancarkan cahaya sayu, menatap Pho Ang-soat tanpa berkedip. Sinar mata tak percaya, namun di balik rasa tak percaya terselip juga perasaan percaya. Pho Ang-soat sama sekali tak bergerak, dia pun sama sekali tidak menatap Yan Lam-hui.

"Mana mungkin... mana mungkin?"

Terdengar Yan Lam-hui bergumam t i ada hent inya.

Kemudian tertampaklah butiran darah perlahan-lahan mengucur dari jidat di antara kedua alis matanya, mengalir lewat bulu mata, turun ke tenggorokan dan membasahi perutnya.

Sekali lagi cahaya golok berkelebat, kali ini tubuh Yan Lam-hui yang dibabat.

Bersamaan dengan munculnya lelehan darah, tubuh Yan Lam-hui berikut pedangnya segera membelah diri menjadi dua, persis seperti pedangnya tadi.

Kembali Yan Lam-hui mundur tiga langkah, tapi belum langkah keempat, tubuhnya sudah terbelah jadi dua dan roboh terkapar di tanah.

Sampai tubuhnya roboh di atas tanah, paras muka Yan Lam-hui masih mengunjuk rasa tidak percaya, rasa ngeri dan takut yang luar biasa.

Perlahan-lahan Pho Ang-soat bangkit, memandang wajah Yan Lam-hui yang terbelalak tak percaya, dia mendengus dingin, jengeknya.

"Ternyata penghuni dunia keempat pun tetap bisa mati."

Pho Ang-soat memungut sarung goloknya sambil menyarungkan kembali senjatanya, lalu dengan menggunakan langkahnya yang aneh dan khas, perlahan-lahan meninggalkan gundukan tanah itu menuju keluar hutan.

Saat itulah cahaya pertama sang surya mulai memancar dari ufuk timur, menembus awan tebal, menyinari hutan nan gelap, membuat butiran embun yang tersisa di dahan dan dedaunan membiaskan cahaya yang menyilaukan mata.

Butiran embun kecil terhimpun membesar lalu menetes dari atas dahan, menetes persis di atas mata Yan Lam-hui.

Tiba kembali di Ban be tong, hari mulai terang tanah.

Pho Ang-soat tetap berjalan lamban, tibatiba ia menjumpai satu kejadian aneh, biarpun sudah terang tanah namun suasana dalam Ban be tong masih sunyi sepi, jangankan menjumpai seseorang, sedikit suara pun tidak terdengar.

Mana penghuninya?

Kemana mereka telah pergi?

Jangan-jangan setelah malam berlalu, keadaan Ban be tong akan pulih seperti keadaan malam sebelumnya?

Mungkinkah mereka yang seharusnya telah mati, kini kembali masuk ke liang kubur?

Sekali lagi Pho Ang-soat memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, bangunan Ban be tong masih tegak megah, tak nampak bangunan itu berubah jadi puing yang terlupakan, namun masih tetap tak kelihatan seorang pun.

Aneh!

Benar-benar sangat aneh!

Kemana perginya Yap Kay?

Bukankah dia senang berkeliaran dan berhura-hura di sembarang tempat?

Mengapa tidak nampak batang hidungnya?

Pho Ang-soat berkerut kening, rasa heran dan curiga mencekam hatinya, tapi ia tidak menghentikan langkahnya, selangkah demi selangkah berjalan balik ke tempat penginapan.

Setelah tiba di luar penginapan, kembali ia jumpai satu peristiwa aneh.

Dari balik daun jendela bangunan penginapan yang megah, terbias begitu banyak bayangan manusia, ternyata di dalam gedung itu telah berkumpul begitu banyak manusia, hanya anehnya, tak seorang pun yang bersuara.

Belasan orang berkumpul jadi satu tapi tak terdengar sedikit suara pun, biasanya keadaan seperti ini menunjukkan satu kemungkinan yaitu telah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan.

Padahal kalau dihitung dari munculnya suara nyanyian fajar tadi, hingga dia balik saat ini, selisih waktunya tak lebih hanya satu jam, mungkinkah dalam waktu yang amat singkat ini Ban be tong kembali didera peristiwa besar?

Begitu masuk ke ruang utama, benar saja, ia saksikan hampir semua orang sedang berkumpul di sana, dengan kening berkerut kencang setiap orang mengawasi Pho Ang-soat yang sedang melangkah masuk dengan pandangan serius, mimik muka mereka menunjukkan ketegangan yang luar biasa, seakan mereka memandang Pho Ang-soat bagai malaikat penyebar maut.

Bukan cuma orang-orang itu, bahkan Yap Kay yang selalu banyak bergurau dan banyak bicara pun kini sedang termenung seperti memikirkan suatu masalah berat.

Dengan sorot mata yang tak kalah tajamnya Pho Ang-soat balas memandang wajah orangorang itu, terakhir sorot matanya berhenti pada wajah Be Khong-cun yang masih duduk di ujung meja panjang.

Tak nampak perubahan di wajah Be Khong-cun, dia masih duduk dengan wajah hambar, bahkan sepasang matanya yang bersinar pun kini nampak redup.

Perhatiannya tidak tertuju ke wajah Pho Ang-soat melainkan sedang mengawasi segumpal kain putih yang tergeletak di atas meja panjang persis di hadapannya.

Kini Pho Ang-soat baru tahu, ternyata gumpalan kain putih itu adalah tubuh manusia.

Kain putih itu penuh berlepotan darah, cairan darah yang membasahi masih nampak merah menyala, masih kelihatan basah dan belum mengering, menandakan tubuh orang itu belum lama digotong ke sana.

Tubuh orang itu sudah tidak bergerak sama sekali, kemungkinan besar telah mati, mati belum lama berselang.

Siapakah orang itu?

Sekali lagi Pho Ang-soat mengalihkan sorot matanya ke wajah setiap orang yang hadir, Yap Kay, Kongsun Toan, Hoa Boan-thian, Buyung Bing-cu, Loh Loh-san...

hampir semuanya hadir di situ, lalu siapakah manusia di balik balutan kain putih itu?

Semua orang duduk mengelilingi meja panjang, di hadapan mereka tersedia semangkuk bubur sayur, bubur panas yang masih mengepulkan asap putih, namun tak seorang pun yang menggerakkan sumpit untuk mulai bersantap.

Di tempat itu masih tersisa satu mangkuk bubur yang belum ada pemiliknya, perlahan Pho Ang-soat berjalan ke sana, mengambil tempat duduk, mengambil sumpit dan mulai bersantap.

Menunggu sampai dia selesai bersantap, dengan suara hambar Be Khong-cun baru berkata.

"Selamat pagi!"

Tentu saja perkataan itu ditujukan kepada Pho Ang-soat, oleh karena itu Pho Ang-soat pun menyahut.

"Saat ini sudah tidak pagi lagi!"

"Ya, memang sudah tidak pagi. Aku hanya ingin tahu, sebelum kentongan keempat lewat semalam, hampir setiap orang berada di dalam kamarnya, bagaimana dengan kau?"

"Aku tidak berada dalam kamar."

"Kau pergi kemana?"

Pho Ang-soat mendongakkan kepala, memandang Be Khong-cun dengan pandangan dingin, lalu jengeknya sinis.

"Memangnya aku wajib melaporkan keberadaanku kepada Samlopan?"

"Ya, harus,"

Jawab Be Khong-cun kata demi kata.

"Kenapa?"

"Demi manusia yang berbaring di atas meja."

"Siapa orang itu?"

"Masa kau tidak tahu?"

Be Khong-cun menatap tajam wajahnya.

"Memangnya aku harus tahu?"

"Tentu saja, karena sejak kentongan keempat semalam, hanya kau yang tidak berada dalam kamar."

"Karena aku tak ada di kamar, maka aku harus tahu siapakah orang itu?"

"Sejak peristiwa pembunuhan yang terjadi semalam, baik Loh-siansing maupun Buyungkongcu, Yap-kongcu serta beberapa orang lainnya, semuanya kembali ke kamar masingmasing untuk beristirahat, kehadiran mereka di kamar bisa dibuktikan"

Kata Be Khong-cun dengan sorot mata tajam.

"sebaliknya kau? Sejak kentongan keempat semalam, kemana kau pergi? Siapa yang bisa membuktikan kehadiranmu?"

Ada satu orang yang bisa menjadi saksi, bahkan satu-satunya saksi yang mengetahui kemana Pho Ang-soat telah pergi, dia bukan lain adalah Yan Lam-hui yang telah bangkit dari matinya, tapi sayang orang itu sekali lagi telah menemui ajal di ujung goloknya.

Kini tak seorang pun yang bisa bertindak sebagai saksi.

"Tidak ada!"

Jawab Pho Ang-soat kemudian tenang.

Mendadak Be Khong-cun tidak bertanya lagi, hawa membunuh segera terpancar dari balik matanya, lalu terdengar suara langkah kaki yang berat bergema dari belakang Pho Ang-soat.

Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian sedang berjalan menghampirinya.

"Silakan Pho-heng!"

Kata Hoa Boan-thian dingin.

"Persilakan aku kemana?"

"Silakan keluar."

"Tunggu sebentar,"

Yap Kay yang membungkam selama ini tiba-tiba berkata.

"paling tidak sebelum dia keluar, berilah kesempatan kepadanya agar bisa melihat siapa yang berada di balik balutan kain putih itu."

"Tidak usah dilihat pun dia pasti tahu,"

Jengek Hoa Boan-thian dingin.

"Sebelum masalah menjadi jelas, sebelum ada bukti yang pasti, atas dasar apa kau menuduh dialah pembunuhnya?"

"Kecuali dia, siapa lagi "Biarkan dia melihat,"

Mendadak Be Khong-cun menukas.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Pho Ang-soat berjalan menghampiri ujung meja panjang, lalu pelan-pelan menyingkap kain putih bernoda darah itu.

Di balik balutan kain putih membujur kaku tubuh seseorang, tapi sayang, biarpun Pho Ang soat telah menyingkap kain putih itu namun tidak tahu siapakah dia, sebab mayat itu tanpa kepala.

Bagaimana mungkin orang bisa mengenali sesosok mayat tanpa kepala?

Pho Ang-soat hanya tahu, mayat itu adalah mayat seorang wanita, itu pun berdasarkan pakaian yang dikenakan.

"Dia tewas karena batok kepalanya dikutungi dengan golok,"

Ujar Be Khong-cun dengan wajah pedih bercampur gusar.

"tahukah dimana batok kepalanya sekarang?"

"Siapa dia?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Dia adalah Be Hong-ling"

Kali ini Yap Kay yang menjawab.

"Be Hong-ling?"

Pho Ang-soat melengak.

"Sekali tebas batok kepala melayang, bukan saja harus dilakukan dengan golok yang tajam, dibutuhkan juga ilmu menebas yang luar biasa,"

Kata Be Khong-cun lagi.

"Pho Ang-soat wahai Pho Ang-soat, kau memang tak malu disebut Pho Ang-soat!"

Perlahan-lahan Pho Ang-soat berhasil menenangkan diri, sikapnya tetap dingin, hambar bahkan seolah membawa nada mengejek.

"Atas kejadian ini, apakah kalian masih ingin mengucapkan sesuatu lagi?"

Tanya Be Khong-cun setelah menyapu sekejap wajah seluruh hadirin. Tiada orang yang bicara lagi, tapi semua orang sedang menatap Pho Ang-soat, sinar mata mereka terpancar rasa sedih dan sayang.

"Hanya ada sepatah kata saja,"

Mendadak Pho Ang-soat berkata.

"Katakan!"

"Bagaimana kalau Sam-lopan salah membunuh orang?"

"Kalau salah membunuh, kita bisa membunuh yang lain lagi."

Perlahan Pho Ang-soat manggut-manggut.

"Masih ingin mengucapkan sesuatu lagi?"

Desak Be Khong-cun.

"Tidak ada"

Panji besar Ban be tong berkibar kencang di bawah teriknya sinar matahari.

Saat itu banyak orang sedang berdiri di bawah teriknya sang surya.

Setelah Pho Ang-soat berjalan keluar meninggalkan ruangan, Hoa Boan-thian, Hun Cay-thian, Be Khong-cun serta para jago lainnya beruntun ikut keluar meninggalkan ruangan, tak seorang pun yang bersuara, suasana terasa hening dan sepi.

Anehnya, Kongsun Toan yang selama ini temperamental dan gampang mengumbar emosi ternyata tidak ikut, Yap Kay merasa heran.

Semenjak masih berada dalam ruangan, Kongsun Toan tak pernah berbicara, sepatah kata pun tidak, mengapa ia bersikap begitu?

Yap Kay merasa semakin tertarik hal ini, dia adalah orang terakhir yang meninggalkan gedung penerima tamu, tiba di bawah teriknya sang surya, dia pun menengadah sambil menarik napas panj ang.

"Udara hari ini sangat cerah dan segar,"

Ujar Yap Kay kemudian sambil tersenyum.

"dalam cuaca secerah dan sesegar ini, aku rasa tak seorang pun ingin mati."

"Sayangnya, terlepas udara cerah atau tidak, setiap orang bisa mati mendadak,"

Be Khong-cun menambahkan.

"Benar, memang tak salah perkataanmu itu,"

Kembali Yap Kay menghela napas. Be Khong-cun membalikkan badan, berhadapan dengan Pho Ang-soat, lalu tanyanya.

"Selewat kentongan keempat semalam, sebenarnya kau pergi kemana?"

"Ke suatu tempat dimana tak ada manusia,"

Sahut Pho Ang-soat hambar.

"Sayang, sayang!"

Tiba-tiba Hoa Boan-thian meluruskan tangannya ke bawah, menepuk pelan ikat pinggang kulitnya.

"Cring!" , sebilah pedang lemas yang terbuat dari baja putih segera tercabut dari sarungnya dan menjadi kaku dan lurus.

""Pedang bagus!"

Puji Yap Kay tanpa terasa.

"Bagaimana kalau dibandingkan golok itu?"

Ejek Hoa Boan-thian sambil melirik golok di tangan Pho Ang-soat.

"Tergantung berada di tangan siapa golok itu,"

Sahut Yap Kay sambil tertawa.

"Jika berada di tanganmu?"

Tanya Be Khongcun tiba-tiba.

"Dalam genggamanku tak pernah ada golok, aku pun tak pernah memakai golok."

"Hanya menggunakan pisau terbang...."

Nama besar Siau-li si pisau terbang memang bukan nama kosong.

Selama seratus tahun belakangan, tak pernah ada jagoan persilatan yang meragukan perkataan itu.

Yap Kay adalah satu-satunya ahli waris Li Sunhuan, tak seorang pun pernah memandang enteng pisau terbangnya.

"Mana pisau terbangmu?"

Tanya Be Khong-cun lagi.

"Ini pisauku."

Sepasang tangan Yap Kay yang semula kosong, entah sejak kapan dan entah berasal darimana, tahu-tahu sudah menggenggam sebilah pisau terbang.

Begitu pisau terbang berada dalam genggaman, sinar berkilauan pun memancar dari balik mata Yap Kay.

Tanpa sadar semua orang bersama-sama mundur selangkah, rasa hormat, takut dan ngeri terlintas di balik mata setiap jago.

Cahaya pisau berkelebat, kembali pisau terbang itu lenyap dari pandangan mata, sepasang tangan Yap Kay sudah kosong melompong.

"Aku tak suka membunuh orang menggunakan pisau terbang,"

Ujar Yap Kay sambil tertawa.

"sebab aku sangat menikmati suara tulang remuk, apalagi suara kulit disayat."

"Kau pernah mendengar suara ujung pedang yang sedang menembus kulit daging seseorang?"

Tanya Hoa Boan-thian.

"Belum pernah."

"Suara yang ditimbulkan pun sangat enak didengar"

Kata Hoa Boan-thian.

"Kapan kau akan mengundangku untuk menikmatinya?"

"Sebentar lagi kau akan mendengarnya."

Hoa Boan-thian menggetarkan pedangnya, ujung senjata segera memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Hun Cay-thian telah melolos pula pedangnya, ia bergeser menuju ke belakang Pho Ang-soat.

Menghadapi datangnya ancaman, Pho Ang-soat sama sekali bergeming, tangan kirinya pun tidak nampak menggenggam kencang goloknya, dia hanya berdiri di tempat dengan tenang, sorot matanya mengawasi pasir kuning di bawah kakinya.

Sikapnya yang begitu santai seolah-olah tak tahu Hoa Boan-thian sekalian sedang bersiap hendak membunuhnya, seakan-akan kejadian itu sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya.

Be Khong-cun pun tidak bergerak, meskipun sudah berdiri saling berhadapan dengan Pho Angsoat, namun sinar matanya masih sering melirik ke arah Yap Kay.

Apakah dia kuatir Yap Kay ikut campur urusan ini dan membantu Pho Ang-soat?

Atau kuatir Yap Kay melepas pisau terbangnya secara tiba-tiba?

Cerahnya sinar matahari fajar di pinggiran kota seakan secerah senyuman Yap Kay saat itu.

Sambil tersenyum ujar Yap Kay kepada Pho Ang-soat.

"Pergilah dengan perasaan lega, pasti ada orang yang akan mengurus masalah akhirmu, aku pun tak akan lupa membawa beberapa poci arak wangi untuk menyambangi tanah kuburanmu."

Matahari memancarkan sinarnya semakin terik.

Hembusan angin kencang menerbangkan pasir kuning, sejauh mata memandang hanya warna emas yang menyelimuti angkasa.

Biarpun langit sangat cerah dan terang benderang, namun justru diliputi hawa membunuh yang menakutkan.

Di tempat itu meski kehidupan tiada hentinya tumbuh, namun setiap saat kehidupan itu mungkin bisa musnah.

Kehidupan memang keras, ganas dan sama sekali tak berperasaan, siapa kuat dialah pemenang.

Hoa Boan-thian menggetarkan pedangnya, menciptakan lima kuntum bunga pedang, Pho Ang-soat masih tak bergerak, berdiri ketus di antara Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian, sikapnya yang begitu dingin ibarat bongkahan salju abadi yang tak pernah mencair.

Benar, sebongkah salju abadi yang tembus pandang!

Sekalipun sedang berdiri di tengah deru badai pasir dan teriknya matahari, dia masih berdiri tak bergerak, seakan gangguan itu sama sekali tak mempengaruhinya, walau ia berdiri di medan seperti apa pun, selalu berdiri kokoh bagaikan bongkaran salju abadi.

Hun Cay-thian menggenggam kencang gagang pedangnya, gagang pedang yang semula dingin kini telah berubah jadi panas membara, butiran peluh telah membasahi telapak tangannya, mengucur dari jidatnya, seluruh tubuhnya seolah mulai terbakar di bawah teriknya matahari.

"Cabut golokmu!"

Bentakan Hun Cay-thian pun membara bagai jilatan api. Pho Ang-soat masih belum bergerak, biarpun begitu otot-otot hijau pada lengan kirinya sudah mulai merongkol.

"Cabut golokmu!"

Butiran peluh mulai bercucuran dari jidat Hoa Boan-thian, membasahi sudut matanya, membasahi batang hidungnya, membuat pakaian yang menempel punggungnya basah kuyup.

Apakah Pho Ang-soat tidak berpeluh?

Tangannya masih memegang sarung golok dalam posisi yang sama, hanya otot-otot hijaunya nampak semakin merongkol.

Tiba-tiba Hoa Boan-thian meraung keras.

"Cabut golokmu!"

"Sekarang bukan saat yang tepat untuk mencabut golok,"

Jawab Pho Ang-soat sangat hambar.

"Sekarang adalah saat paling tepat untuk mencabut golok,"

Jerit Hoa Boan-thian lagi.

"aku ingin melihat, apakah masih ada noda darah di mata golokmu?"

Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 9

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert