Ceritasilat Novel Online

Kilas Balik Merah Salju 2

Eps 2 Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Baca online Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Cersil Kilas Balik Merah Salju - Gu Long.

"Sayang golokku bukan barang pameran."

"Apa yang harus kulakukan agar kau mau melolos golokmu?"

Tanya Hun Cay-thian.

"Hanya ada satu alasan aku mencabut golokku."

"Apa alasanmu? Membunuh?"

"Itu pun tergantung manusia macam apa yang harus kubunuh. Bagiku selamanya ada tiga jenis manusia yang pantas dibunuh."

"Tiga jenis?"

"Musuh besarku, Siaujin...."

"Manusia jenis apa lagi?"

Tukas Hun Cay-thian.

"Yang ketiga adalah manusia macam kau, memaksa aku untuk mencabut golok"

Jawab Pho Ang-soat sambil berpaling dan menatapnya dingin.

"Bagus, bagus sekali,"

Hun Cay-thian mendongakkan kepala sambil tertawa terbahakbahak.

"Aku memang sudah menunggu katakatamu itu."

Belum habis suara gelak tawa itu, tangannya sudah menggenggam kencang.

Bunga pedang kembali memancar dari ujung pedang Hoa Boan-thian, garis merah bermunculan dari balik matanya.

Sinar mata yang terpancar dari mata Pho Angsoat jauh lebih cemerlang, tampaknya dia memang sedang menunggu saat itu.

Detik terakhir sebelum dia melolos goloknya.

Pada saat itulah mendadak dari balik keheningan yang mencekam padang rumput berkumandang suara teriakan Kongsun Toan yang keras bagai suara geledek.

"Toa-siocia telah kembali!"

Bab 5. TOA-SIOCIA "Toa-siocia telah kembali!"

Begitu mendengar teriakan itu, Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian segera menarik kembali serangannya, senyum kegembiraan pun menghiasi paras muka Be Khong-cun, muka yang semula masam kini tampak jauh lebih lega.

"Heran, kenapa budak ini bukan pulang dari tadi atau nanti saja baru balik, kenapa dia justru pulang di saat seperti ini,"

Gumam Be Khong-cun, kemudian tanpa berpaling lagi serunya kepada Hoa Boan-thian.

"Tarik senjatamu, masuk."

"Tapi Pho Ang-soat..."

Tidak menunggu Hoa Boan-thian menyelesaikan kata-katanya, Be Khong-cun menukas.

"Kalau Pho-kongcu ingin pergi, siapa yang dapat menghalanginya?"

Habis berkata, dengan langkah lebar Be Khongcun balik kembali ke dalam gedung penerima tamu, tinggal Hoa Boan-thian yang masih mengawasi Pho Ang-soat dengan pandangan ragu-ragu.

Pada saat inilah Yap Kay tertawa tergelak sambil berkata.

"Hoa-tongcu, kau tak usah kuatir, sebelum urusan ini menjadi jelas, biar kau gotong dia memakai tandu besar pun belum tentu dia mau pergi dari sini."

Agak lega juga Hoa Boan thian setelah mendengar kata-katanya itu, sambil menyimpan kembali pedangnya, dia membalik badan dan bersama Hun Cay-thian masuk ke dalam ruangan. Yap Kay bertanya.

"Kalau Toa-siocia sudah balik, lalu siapakah Toa-siocia itu?"

"Toa-siocia adalah putri Lopan kami, Pek Thianih,"

Jawab Hoa Boan-thian sambil tergelak.

"dia bukan lain adalah Pek Ih-ling."

"Oh, jadi dialah Pek-siocia yang sedang dicarikan calon istri oleh Sam-lopan,"

Yap Kay manggut-manggut.

Hoa Boan-thian hanya tersenyum, dia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam gedung penerima tamu.

Kembali Yap Kay termenung sesaat, setelah menatap sekejap Pho Ang-soat, tanyanya sambil tertawa.

"Seandainya Pek-siocia jatuh hati kepadamu, aku tak bisa membayangkan bagaimana sikap Be Khong-cun nanti, apakah mungkin dia masih berusaha akan membunuhmu lantaran kematian Be Hong-ling?"

"Hm, tak ada yang menggelikan dengan hal ini,"

Dengus Pho Ang-soat dingin.

"Aku tahu, kejadian ini memang tak ada yang menggelikan, tapi hubungan antara satu masalah dengan masalah lain rasanya sangat menarik untuk dipikir dan dirasakan."

Kalau dia merasa tertarik, sebaliknya Pho Angsoat sama sekali tidak tertarik, tanpa menggubris rekannya lagi dia balik ke dalam kamarnya.

"He, kau tak ingin masuk dulu untuk menengok Pek-siocia?"

Kembali Yap Kay bertanya sambil tertawa.

"jangan kau sia-siakan kesempatan baik ini."

"Biar kutinggalkan untukmu saja,"

Tanpa berpaling lagi Pho Ang-soat lenyap di sudut ruangan.

Yap Kay tersenyum, lalu mendongakkan kepala memandang angkasa, seakan sedang memikirkan sesuatu.

Saat ini dia belum berminat bertemu Pek-siocia, justru sekarang yang dipikirkan adalah perempuan berambut panjang yang dijumpai dalam mimpinya semalam.

Jenazah yang membujur di atas meja panjang telah disingkirkan, permukaan meja telah digosok hingga mengkilap bagai cermin, bubur pun kini sudah diganti dengan hidangan dan arak.

Kecuali orang-orang Ban be tong, semua tamu yang semalam diundang hampir seluruhnya masih berada di luar gedung penerima tamu, sayur dan arak di hadapan Buyung Bing-cu maupun Hun Cay-thian sekalian sama sekali tak tersentuh, sementara Sam-bu Siansing Loh Loh-san yang gemar meneguk arak, saat ini sudah terkapar lagi di atas meja, tampaknya dia sudah mabuk berat.

Sambil tersenyum Yap Kay balik ke tempat duduknya, menuang cawannya dengan arak dan meneguknya dengan riang.

"Wah, ternyata arak Kao-liang berusia empat puluh tahun,"

Gumam Yap Kay sambil memejamkan mata.

"arak bagus, arak bagus!"

"Tentu saja arak bagus, belum pernah Ban be tong menyuguh tamu dengan arak jelek,"

Tibatiba Loh Loh-san mendongakkan kepala sambil bergumam, setelah itu tertidur kembali.

"Tampaknya Sam-bu Siansing bakal ketambahan satu ketidak mampuan lagi,"

Seru Yap Kay tertawa. Setelah meneguk araknya, kembali dia berkata.

"Heran, berada dimana pun, kapan pun, asal mendengar urusan "

Yang berhubungan dengan arak, dia selalu bisa sadar kembali."

"Tepat sekali,"

Kali ini Loh Loh-san tidak mendongakkan kepala, malah sambil membalikkan badan melanjutkan lagi tidurnya.

"Sepertinya Yap-kongcu memang sahabat karib Sam-bu Siansing!"

Entah sedari kapan Be Khongcun telah muncul kembali dalam ruangan.

"Kami bukan sahabat karib,"

Sahut Yap Kay sambil tertawa.

"mungkin cocok saja karena urusan arak."

Kembali Be Khong-cun tertawa, kemudian kepada semua yang hadir katanya.

"Silakan kalian nikmati dulu hidangan seadanya dan arak tawar itu, setelah beristirahat, nanti malam Cayhe pasti akan menemani kalian minum sampai mabuk."

"Bagaimana dengan Toa-siocia?"

Buyung Bingcu segera bertanya.

"bukankah Toa-siocia telah pulang?"

"Betul, dia memang sudah kembali, tapi saat ini sedang istirahat, maklumlah kan baru menempuh perjalanan jauh, malam nanti akan kuundang juga kehadirannya untuk menemani kalian."

Loh Loh-san yang tertidur mendadak mendongakkan kepala lagi sambil bertanya.

"Bagaimana dengan takaran minumnya?"

"Kalau mimum satu dua cawan masih bisa."

"Bagus sekali, bagus sekali,"

Gumam Loh Lohsan.

"justru yang aku kuatirkan dia enggan minum, apa jadinya kalau dia sampai kuloloh hingga mabuk?"

Selesai bersantap, setiap orang sepertinya sudah balik ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Pho Ang-soat sejak kembali ke kamar hingga kini pun belum pernah menampakkan diri.

Yap Kay tidak kembali ke kamarnya untuk beristirahat, dia pun tidak tinggal di Ban be tong, tapi berkeliaran ke sana kemari hingga tak lama kemudian terlihatlah sebuah kota kecil di kejauhan.

Berjalan menelusuri jalanan kota, dengan matanya yang jeli dan senyuman selalu menghias bibir, dia mengawasi setiap sudut dan setiap orang yang dijumpainya.

Andaikata ada yang memperhatikan gerakgeriknya, maka akan terlihat hari ini paling tidak ia sudah tiga-empat puluh kali menguap, apa mau dikata ia justru bersikeras enggan tidur.

Dia selalu berpendapat, dalam kehidupan seorang hampir tiga puluh persen waktunya hanya dihabiskan, untuk tidur, karena itu bila tidak terpaksa, dia betul-betul enggan naik ranjang untuk tidur.

Begitu dia kemukakan pandangannya itu, segera ada orang bertanya.

"Lalu waktu yang masih ada dua per tiganya lagi digunakan untuk apa?"

"Sepertiganya untuk menelanjangi perempuan,"

Jawab Yap Kay sambil tertawa.

"Dan sisanya yang sepertiga?"

"Sisanya yang sepertiga dipakai untuk menunggu perempuan berpakaian."

Yap Kay gemar sekali berbincang dengan berbagai lapisan orang, dia berpendapat dimana pun kau berada, bertemu dengan orang macam apa pun, pasti ada keuntungan yang bisa diraih dari mereka, oleh karena itu kau harus selalu berhubungan dengan, mereka, dengan begitu kesempatan itu baru bisa kau raih.

Kebetulan saat itu dia sedang lewat di depan sebuah toko penjual kelontong, dia masih teringat, sepuluh tahun berselang tempat itu pun merupakan sebuah toko kelontong.

Pemilik toko kelontong itu adalah seorang lelaki setengah umur, mukanya bulat dan wajahnya selalu tersenyum, setiap kali bertemu orang dia selalu akan berkata.

"Baguslah, jalan saja sesuka hati, toh semua kedai adalah bertetangga."

Lopan yang selalu tersenyum itu bermarga Li, semua orang memanggilnya Li Ma-hou, hanya sayang Li Ma-hou sudah menyeberang ke neraka dan membuka toko kelontong di sana.

Pemilik toko kelontong sekarang she Thio bernama Kian-beng, usianya sekitar empat puluh tahunan, orangnya sangat ramah, apalagi kalau bertemu Siocia, matanya pasti akan berubah tinggal segaris.

Dari bentuk mukanya, di masa mudanya dulu dia pasti termasuk pemuda tampan yang banyak digandrungi cewek, sayangnya lelaki semacam itu biasanya justru mempunyai bini yang wajahnya tidak setara dengan ketampanannya.

Dalam hal ini ternyata dugaan Yap Kay tidak salah, karena dengan cepat dia lihat istri Thio Kian-beng berjalan keluar dari kedainya.

Kalau tidak melihat wajahnya atau hanya mendengar suara langkahnya, Yap Kay pasti mengira ada rombongan gajah sedang berlalu di hadapannya.

Perawakannya tidak lebih tinggi dari bahu Thio Kian-beng, tapi lengannya justru lebih besar dari paha lakinya, raut mukanya pun terhitung cantik, tapi sayang kecantikannya nampak begitu kaku dan bebal, tidak termasuk cewek yang pantas dipandang.

Yap Kay selalu berpendapat cantik buruknya seseorang bukan dinilai dari wajahnya tapi dari hatinya, karena yang penting hatinya mesti baik dan saleh.

Sayang bini Thio Kian-beng termasuk perempuan yang luar dalam sama saja, padahal umurnya sudah mencapai empat puluh tahun lebih, tapi dandanannya tak mau kalah dengan gadis perawan berumur tujuh-delapan belas tahun.

Masih mendingan kalau dia tidak buka suara, ternyata suara perempuan ini bisa membikin orang mencelat sampai ke atap rumah saking kagetnya, nada yang sangat kasar, parau dan keras tanpa daya tarik justru diucapkan dengan gaya manja seorang gadis kecil.

Sekarang dengan gayanya yang manja itulah dia berbicara dengan Thio Kian-beng, membuat semua orang yang mendengar, berdiri bulu kuduknya saking ngeri dan mualnya.

Begitu melihat perempuan itu berjalan keluar, Yap Kay segera mempercepat langkah melewati toko kelontong itu, terhadap suaranya, Yap Kay benar-benar angkat tangan, dia tak ingin mendengar untuk kedua kalinya.

Dia pun menaruh perasaan simpatik terhadap Thio Kian-beng, bagaimana mungkin dia bisa tahan menghadapi bini semacam ini?

Apalagi hidup serumah dengannya hampir puluhan tahun.

Tentu saja Yap Kay pun tahu siapa nama bini Thio Kian-beng itu, dibandingkan dengan orangnya jelas nama yang disandangnya sangat tidak sepadan, karena nama yang dia gunakan seharusnya lebih cocok dipakai untuk nama gadis negeri Hu-sang (Jepang sekarang).

Nama perempuan itu Kang Bi-ying yang artinya sakura cantik di tepi sungai.

Bunga sakura adalah bunga negeri Hu-sang, bentuk badannya pun cocok sekali dengan postur cewek negeri Hu-sang, selain pendek juga gemuk sekali.

Setelah melewati toko kelontong, sampailah di depan toko penjual beras, bila ingin membeli barang kebutuhan yang ada hubungannya dengan bahan pangan, di sinilah tempatnya yang paling pas.

Lamat-lamat Yap Kay masih teringat, pada sepuluh tahun lalu tempat ini bukan toko menjual bahan makanan, tapi sebuah kedai bakmi milik Thio Lau-sit.

Lopan yang membuka toko bahan makanan saat ini bermarga Si, bernama Wi-wi.

Pada hari biasa dia terhitung seorang yang memegang disiplin dan sangat jujur, asal sudah meneguk arak, maka wataknya bisa berubah menjadi orang lain.

Kota kecil ini sesungguhnya termasuk sebuah kota sederhana yang penduduknya hidup berhemat, saat itu waktu belum sampai tengah hari sehingga jarang nampak orang berbelanja di toko bahan makanan itu, tak heran Si Wi-wi terkantuk-kantuk di belakang meja kasirnya.

Menyaksikan lagaknya, kembali Yap Kay tertawa, sepuluh tahun sudah lewat, pemandangan masih seperti dahulu, tapi bagaimana dengan penghuninya?

Orang yang seharusnya mati sejak sepuluh tahun lalu hampir semuanya sudah rriati.

Tapi aneh, entah mengapa orang-orang dari Ban be tong yang seharusnya sudah tewas, kini justru muncul semua, justru hidup kembali dari liang kubur.

Kalau orang-orang Ban be tong telah bangkit dari liang kuburnya, lantas bagaimana dengan Thio Lau-sit, Li Ma-hou...

penduduk asli kota yang telah tiada, apakah mereka pun ikut hidup kembali?

Teringat hal itu, Yap Kay pun teringat pula tujuan kedatangannya ke kota itu, dia mencoba menengok ke seberang jalan, gedung Siang-kilau.

Dia bisa membayangkan, saat itu Siau Piat-li pasti sedang bermain kartu.

Benar saja, belum lagi melangkah ke dalam gedung, ia sudah mendengar suara kartu gading yang sedang dibanting di atas meja.

Sambil tertawa Yap Kay mendorong pintu dan masuk ke dalam, tapi begitu tahu keadaan di sana, ia berdiri tertegun, betul-betul terperangah.

Memang benar ada orang sedang bermain kartu, tapi orang itu bukan Siau Piat-li melainkan seorang perempuan berambut panjang sebahu.

Yap Kay tak tahu bagaimana mesti melukiskan wajah perempuan itu, sejujurnya dia bukan termasuk perempuan cantik, tapi perempuan itu justru menimbulkan gejolak napsu setiap lelaki yang memandangnya.

Dia memiliki tubuh tinggi semampai dengan rambut berwarna hitam pekat yang dibiarkan terurai di bahu, wajahnya berbentuk kwaci dan berwarna putih bersih bagai salju, pipinya semu merah dengan lesung pipi yang cukup dalam.

Biarpun bukan termasuk wanita cantik yang dapat membetot sukma kaum lelaki, namun setiap gerak-geriknya justru menampilkan kematangan seorang wanita dewasa.

Apalagi matanya bulat, tidak terlalu besar, hitam pekat dan membawa cahaya kesepian, seolah-olah dia sedang merana karena hidup kesepian.

Sinar matanya menimbulkan kesan indah bagi semua orang yang memandangnya, begitu indah hingga menimbulkan rasa kasihan, keindahan yang mudah membuat perasaan orang hancurlebur.

Justru karena matanya memancarkan sinar iba dan merana, tak heran setiap lelaki merasa tak tega menganiayanya.

Ia mengenakan pakaian sutera tipis, bagaikan cahaya rembulan menyelimuti seluruh badannya, menimbulkan kesan sayu, tak nyata dan lamatlamat bagi yang memandangnya.

Justru di balik kesan tak nyata, penampilannya mendatangkan perasaan tenang bagai batu karang, lembut bagai hembusan angin dan suci bagaikan putihnya salju.

Begitu muncul perasaan itu di hati Yap Kay, dia merasa seolah ada segulung angin berhembus datang dari jalan raya, meniup punggungnya yang sedang berjalan masuk ke gedung Siang kilau.

Hembusan angin membuat rambutnya yang hitam bergelombang, membuat baju sutera putih yang dikenakan beriak, seakan-akan riak samudra biru yang beriringan.

Tiba-tiba Yap Kay menjumpai sesuatu, ternyata di balik baju sutera yang dikenakan perempuan itu, dia tidak memakai pakaian lain, ternyata perempuan itu dalam keadaan bugil.

Menanti angin berhenti berhembus, Yap Kay merasa bajunya telah basah-kuyup oleh keringat, selama hidup belum pernah dia merasakan keadaan seperti ini, selama hidup dia pun merasa belum pernah bertemu wanita yang dapat membuatnya merasakan hal seperti saat ini ....

"Aku tahu kau pasti Yap Kay,"

Dengan suara yang lembut seperti orang mengigau perempuan itu berbisik.

"Cihu (suami kakak) sering menyinggung tentang kau."

"Cihumu? Apa yang pernah dia katakan kepadamu?"

Senyuman menggoda kembali menghiasi wajah Yap Kay.

"Menurut dia, manusia yang paling berbahaya di tempat ini adalah kau!"

Kembali perempuan itu melempar senyuman yang lembut, selembut air hujan di musim semi.

"dia berpesan agar aku selalu waspada menghadapimu."

"Mewaspadai apa?"

"Mewaspadai gerak-gerikmu,"

Kembali perempuan itu tersenyum manis.

"menurutnya, kemampuanmu merayu wanita tak kalah hebatnya dengan permainan pisau terbangmu, bila sudah bertindak, selamanya tak pernah meleset."

"Oya? Jika begitu Cihumu benar-benar sangat memahami tentang aku,"

Yap Kay tertawa tergelak.

"siapa dia?"

"Aku!"

Entah sejak kapan Siau Piat-li telah turun dari atas loteng, berdiri di mulut tangga sambil tertawa.

"Akulah Cihunya, dia adalah adik iparku."

"Jadi kau telah menikah? Kapan kau menikah?"

Tanya Yap Kay agak melengak.

"Tujuh tahun berselang,"

Siau Piat-li berjalan menuju ke tempat duduknya.

"sayang nasib istriku jelek, dia meninggal pada tiga tahun lalu."

"Cihu, apakah gara-gara aku, kau jadi teringat almarhum Cici?"

Bisik perempuan itu lembut.

"Selama tiga tahun terakhir, hatiku sudah lebih tenang daripada air,"

Siau Piat-li tertawa hambar.

"lebih baik merindukan dia daripada sama sekali tidak."

"Betul, walau rasa rindu baru muncul setelah terjadi perpisahan, namun kemesraan pasti jauh melebihi penderitaan,"

Yap Kay berjalan mendekat sambil mencari sebuah bangku.

"tapi omong-omong kau belum memperkenalkan adik iparmu itu kepadaku, siapa namanya?"

"Aku dari marga So bernama Ming-ming."

"So Ming-ming...."

Yap Kay berbisik.

"Ciciku bernama So Cin-cin."

"So Cin-cin?"

Tiba-tiba Yap Kay tertawa tergelak.

"bila kau mempunyai adik perempuan, dia pasti bernama So Ho-ho."

"Kenapa?"

Tanya So Ming-ming melengak.

"Setelah hari ini (Cin) lalu besok (Ming) dan setelah itu lusa (Ho)."

Kontan So Ming-ming tertawa cekikikan.

"Seandainya kau pernah bertemu Ciciku, pasti akan kau ketahui apa yang dinamakan wanita cantik."

"Untung aku belum pernah bertemu, kau saja sudah begini luar biasa, kalau bertemu lagi dengan Cicimu, bisa jadi aku bakal ribut melulu dengan Cihumu."

"Oh, jadi kau pun termasuk jenis lelaki yang rela berkelahi gara-gara urusan perempuan?"

Tanya So Ming-ming dengan mata terbelalak.

"Kalau itu tergantung siapakah perempuannya dan bagaimana keadaannya."

"Semisalnya aku?"

Tanya So Ming-ming lagi sambil mengedipkan matanya.

"Dia tak bakal berkelahi karena kau"

Siau Piat-li segera mewakili Yap Kay menjawab pertanyaan itu.

"seorang Ting Hun-pin pun sudah cukup membuatnya kepala pusing, apalagi kalau ditambah dirimu, kujamin kepalanya pasti akan lebih besar daripada kepala kerbau."

"Wah, kalau begitu dia kan berubah jadi siluman,"

So Ming-ming ikut tertawa.

"konon di sebuah negara nun jauh di barat sana terdapat rakyat yang menyembah manusia berkepala kerbau sebagai dewanya."

Jangan dilihat penampilan So Ming-ming lemah lembut pantas dikasihani, ternyata setelah bicara, dia lebih lincah dan nakal daripada gadis remaja pada umumnya.

Yap Kay mulai tertarik perempuan itu, sepasang mata banditnya mulai menggerayangi setiap bagian tubuhnya, tanpa terasa dia mulai terbayang apa yang dilihatnya ketika gaun putih sutera itu tersingkap terhembus angin.

Kelihatannya So Ming-ming bisa menduga apa yang sedang dibayangkan Yap Kay, kontan pipinya merah jengah, cepat dia melengos ke arah lain.

Tidak usah meneguk arak pun Yap Kay sudah mulai mabuk.

Poci arak masih tergeletak di meja, tapi isinya sudah berpindah ke dalam perut Yap Kay.

Tiga macam hidangan yang lezat, sepoci arak wangi dan tiga sosok manusia.

Setelah membuka kartu terakhir di atas meja, Siau Piat-li baru bertanya kepada Yap Kay.

"Bagaimana dengan pesta yang diadakan Ban be tong semalam? Siapa pula Be Khong-cun yang muncul kali ini?"

Begitu menyinggung masalah ini, paras muka Yap Kay segera berubah serius, setelah termenung sebentar baru ia berkata.

"Percayakah kau orang yang sudah mati bisa hidup kembali?"

"Hanya ada satu jenis manusia yang bisa hidup kembali setelah mati, tapi orang semacam itu sebenarnya bukan mati sungguh-sungguh, dia hanya menutup jalan napasnya untuk sementara waktu, bila dia membukanya kembali, dengan sendirinya dia pun hidup kembali."

"Mungkin saja orang itu hidup lagi, tapi kan terbatas hanya berapa hari saja, yang aku maksud adalah setelah lewat sepuluh tahun, mungkinkah dia bangkit dan hidup kembali?"

"Tidak mungkin."

"Tapi begitulah kenyataannya."

"Jadi Be Khong-cun telah hidup kembali?"

"Bukan hanya dia, Kongsun toan, Hoa Boanthian, Buyung Bing-cu... hampir semua tokoh yang tersangkut dalam peristiwa sepuluh tahun berselang telah hidup kembali."

Setelah berhenti sejenak Yap Kay kembali menambahkan.

"Kecuali tokoh-tokoh bawah tanah yang ada dalam kota ini."

Yang dimaksud tokoh bawah tanah tak lain adalah Thio Lau-sit, Li Ma-hou dan lainnya.

"Sudah kau perhatikan dengan jelas?"

Tegas Siau Piat-li dengan nada tak percaya.

"mungkin ada orang yang menyaru sebagai mereka?"

"Kau anggap mataku buta?"

Seru Yap Kay sambil menuding mata sendiri.

"seandainya mereka orang yang sedang menyaru, mana mungkin bisa lolos dari ketajaman mataku ini?"

"Jangan-jangan mereka adalah saudara kembar?"

Timbrung So Ming-ming.

"Kalau hanya satu orang, kemungkinan itu memang ada, tapi ini menyangkut banyak orang...."

Yap Kay menggeleng berulang kali.

Siau Piat-li mengambil cawan araknya dan pelan-pelan meneguk isinya, sorot mata yang mendelong mengawasi dinding di hadapannya tanpa berkedip, seolah-olah dia sedang mengawasi suatu tempat yang tak diketahui namanya, suatu tempat yang berada di balik dinding tebal itu.

Sampai lama kemudian baru ia buka suara, nadanya seolah-olah baru saja terkirim tiba dari tempat yang tak diketahui namanya itu.

"Di jagad raya yang luas terdapat sejumlah orang yang memiliki kekuatan misterius yang tak terbayangkan,"

Ujarnya perlahan.

"bahkan sejak belum ada umat manusia pun tenaga misterius itu sudah bercokol di sana."

"Tenaga misterius apakah itu?"

Tanpa terasa Yap Kay dan So Ming-ming bertanya bersama.

"Tak seorang pun yang tahu."

Siau Piat-li kembali menggeleng, sambil meneguk habis sisa arak dalam cawan, katanya pula.

"Yang bisa dijelaskan dalam hal bangkitnya kembali Be Khong-cun dan teman temannya adalah karena terpengaruh kekuatan misterius itu, aku bahkan mulai curiga, jangan-jangan kekuatan misterius itu ada hubungan erat dengan munculnya komet setiap tujuh puluh enam tahun sekali itu."

"Kenapa?"

"Masih ingat, pertempuran mana yang merupakan pertempuran paling menghebohkan dalam sejarah seratus tahun terakhir?"

"Pertempuran berdarah di bukit Thay ping san."

"Betul, lima jagoan gagah dari Thay ping san merupakan jago-jago tangguh yang bernyali besar dan berdarah ksatria, kenapa dalam semalam saja mereka dapat berubah menjadi penjahat yang membunuh orang tanpa berkedip? Tahukah kau apa alasannya?"

"Mungkin mereka telah salah minum obat,"

Jawab Yap Kay sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kalau salah makan obat, masa empat ratusan orang berbareng salah makan?"

Yap Kay hanya angkat bahu sambil menyengir.

"Malam itu jika pemimpin mereka Lian It-hong serta keempat puluh sembilan saudara angkatnya bisa mempertahankan kesadarannya, akibat yang terjadi sungguh tak bisa dilukiskan dengan perkataan."

Malam itu, di saat Lian It-hong dan keempat puluh sembilan saudara angkatnya sedang minum arak sambil begadang, tiba-tiba mereka saksikan keempat ratusan orang saudaranya menunjukkan gejala yang sangat aneh, sepasang mata jadi merah membara, mulut berbuih dan setiap orang memainkan senjata dengan garang, sikap orangorang itu seolah hewan liar yang siap menerkam mangsanya.

Pertempuran sengit itu berlangsung mulai tengah malam hingga keesokan harinya, ceceran darah mengalir dimana-mana, begitu banyak darah yang mengalir hingga menjadi sebuah sungai kecil.

Lian It-hong dan saudara angkatnya bertempur sengit sambil mengucurkan air mata, bagaimana tidak, siapa yang tega membantai saudara seperjuangan sendiri?

Tapi mereka tak berdaya, kalau tidak dibunuh maka dunia persilatan pasti akan mengalami bencana yang jauh lebih menakutkan.

Menurut cerita mereka yang mengurusi tumpukan mayat seusai pertempuran, telah ditemukan tiga ratusan luka di seluruh tubuh Lian It-hong.

Ketika hari sudah terang tanah, tempat itu telah dipenuhi lalat beterbangan, sepintas pandang hanya warna merah yang menyelimuti permukaan, mayat yang membukit benar-benar menyiarkan bau bangkai yang amat busuk.

Yap Kay sadar bila cerita ini berlangsung sejenak lagi, dia pasti akan muntah saking mualnya.

Untung Siau Piat-li tidak melanjutkan kisahnya.

Setelah meneguk secawan arak dan menghela napas, baru ia bertanya.

"Tahukah kau, kapan terjadinya peristiwa pembantaian di gunung Thay ping san?"

"Seharusnya sudah tujuh-delapan puluh tahun lalu."

"Tujuh puluh enam tahun,"

Kata Siau Piat-li lagi.

"tepatnya tujuh puluh enam tahun tiga bulan tujuh hari."

"Apakah pada tahun itu muncul juga sebuah komet?"

"Tepat sekali, waktu itu sebuah komet persis muncul di atas bukit Thay ping san."

"Jadi maksudmu kalapnya para Hohan di Thay ping san karena terpengaruh komet itu?"

"Komet itu mempengaruhi tenaga misterius dan itu merangsang para Hohan di Thay ping san untuk melakukan pertempuran,"

Jelas Siau Piat-li sambil menatap tajam Yap Kay.

Sambil memeras otak Yap Kay memenuhi cawan arak, selama hidup ia tak pernah percaya segala takhayul, tapi percaya bahwa di jagad raya ini memang terdapat suatu kekuatan misterius yang luar biasa, tapi kalau dia disuruh percaya kekuatan misterius itu bisa mempengaruhi manusia seperti apa yang diceritakan Siau Piat-li, dia tetap sangsi dan tak yakin.

Apalagi kalau mengaitkan kejadian itu dengan kemunculan komet yang konon terjadi setiap tujuh puluh enam tahun satu kali, mungkinkah itu?

Masakah tak ada penjelasan lain yang lebih masuk akal?

Kenapa Be Khong-cun sekalian bisa hidup kembali?

Apakah mereka pun dipengaruhi oleh tenaga misterius itu?

Pho Ang-soat tersadar dari tidurnya ketika pintu kamar digedor orang dari luar, cepat dia membuka mata, sementara tangan kirinya menggenggam gagang golok.

"Pho-kongcu, apakah kau masih tidur?"

Terdengar seseorang berbisik lirih. Begitu mendengar suara orang itu, Pho Angsoat langsung mengernyitkan dahinya, dia sudah mengenali suara siapakah itu.

"Begitukah caramu bila memasuki kamar orang? Apakah tak ada cara lain yang lebih sopan?"

Kontan dia menegur. Menyusul berhentinya ketukan, seseorang menyelinap masuk dari luar jendela, kemudian sambil menjura dan tertawa paksa katanya.

"Aku hanya kuatir mengganggu ketenangan tidur Phokongcu "Kau memang sudah mengganggu."

Begitu orang menyelinap masuk, Pho Ang-soat sudah melompat bangun, ditatapnya Buyung Bing-cu yang berdandan perlente itu sambil menegur.

"Ada apa?"

"Aku pun mendengar suara nyanyian itu semalam,"

Ujar Buyung Bing-cu.

"Oya?"

"Sebetulnya aku pun ingin mengikuti Phokongcu memeriksa sumber suara itu, siapa tahu baru saja keluar pintu kamar, seseorang telah menegurku dari arah belakang, jangan mencampuri urusan orang lain, katanya."

"Wah, tak nyana Buyung-kongcu adalah seorang yang sangat penurut,"

Ejek Pho Ang-soat sambil tertawa dingin. Buyung Bing-cu tertawa jengah.

"Begitu ditegur, aku langsung membalikkan badan, tapi tidak kujumpai seorang pun, beruntun aku berganti beberapa macam gerakan, tetap tak berhasil kulihat orang itu."

"Masa kau tidak tahu siapakah dia?"

"Aku hanya tahu dia seorang perempuan."

"Perempuan?"

Kembali Pho Ang-soat tertegun.

"Dari suaranya jelas dia masih muda."

Pho Ang-soat berpikir sejenak, lalu sambil menatap wajah Buyung Bing-cu tanyanya.

"Jadi kedatanganmu khusus untuk memberitahukan persoalan ini kepadaku?"

Sekali lagi Buyung Bing-cu tertawa lebar.

"Menanti aku mencarimu, bayangan tubuhmu sudah tak nampak lagi, baru aku mau masuk kembali ke kamar, tiba-tiba kulihat ada seseorang menyelinap masuk ke kamar Be Hong-ling."

"Darimana kau bisa tahu kamar itu adalah kamar tidur Be Hong-ling?"

Tanya Pho Ang-soat sambil menatapnya dengan sinar mata tajam.

"Aku...."

Sekali lagi Buyung Bing-cu tertawa rikuh.

"terus terang Pho-kongcu, kedatanganku ini adalah untuk mencari kesempatan agar bisa mendekati Be Hong-ling, siapa tahu...."

"Siapa tahu bisa menjadi menantu Ban be tong?"

Sela Pho Ang-soat sambil tertawa dingin. Kal ini Buyung Bing-cu tidak memperlihatkan kerikuhannya lagi, dengan cepat katanya.

"Tak lama setelah orang itu masuk ke dalam kamar, kudengar ada suara orang sedang berbicara, karena heran ber campur curiga, maka aku pun mendekati jendela, begitu kulihat...."

"Apa yang telah kau lihat?"

"Kulihat secara tiba-tiba dia menotok jalan darahnya, kemudian mengayunkan golok...."

Bicara sampai di situ Buyung Bing-cu nampak agak sangsi.

"Dia memenggal batok kepala Be Hong-ling?"

Tanya Pho Ang-soat.

"lalu siapakah orang itu?"

Dengan ketakutan, Buyung Bing-cu memeriksa dulu sekeliling situ, kemudian baru berbisik lirih.

"Orang itu adalah...."

Sekonyong-konyong muncul lima-enam jenis senjata rahasia dari luar jendela, langsung menerjang tenggorokan Buyung Bing-cu.

Begitu mendengar desiran senjata rahasia, secepat kilat Pho Ang-soat mengayunkan pula goloknya.

"Trang, trang, trang" , semua senjata rahasia itu berhasil tersapu rontok ke tanah. Tidak berhenti sampai di situ, dengan satu tendangan dia buka jendela kamar sambil melongok keluar, dia ingin tahu siapa yang berada di luar sana? Pada saat itulah sebatang tombak tahu-tahu sudah menusuk ke bawah dari atap bangunan, suara genteng yang berguguran tertutup oleh suara daun jendela yang tertendang keras. Menunggu Pho Ang-soat menyadari akan hal itu, tombak panjang tadi sudah menusuk batok kepala Buyung Bing-cu hingga tembus ke badannya dan terpantek di atas tanah. Penasaran dengan apa yang terjadi, Pho Angsoat menjebol atap ruangan terus melejit ke tengah udara. Namun sayang yang terlihat hanya bangunan yang berlapis-lapis, tak seseorang pun terlihat di sana. Pho Ang-soat mencoba memeriksa lebih seksama, akhirnya secara lamat-lamat dia saksikan ada seekor kuda sedang berlari kencang menjauhi tempat itu, di atas punggung kuda terlihat seseorang, seseorang yang mirip dengan gumpalan bola api. Dia mengenakan jubah panjang yang sangat longgar, berwarna merah menyala, semerah darah segar, mirip pula sekuntum mawar di bawah terik matahari. Kuda yang ditunggangi berwarna putih, seputih salju. Saat itu sedang berlari kencang menuju padang rumput yang luas. Begitu cepat kuda itu berlari membuat rerumputan beriak bagai gelombang ombak di tepi pantai, rambutnya yang hitam berkibar mengimbangi jubah merahnya yang bergelombang, seluruh tubuh orang itu terlihat basah oleh keringat, tapi gerak-geriknya seakan orang yang sedang diliputi kegembiraan. Akhirnya kuda itu berhenti, bukan karena lelah, melainkan karena di hadapannya telah menghadang seorang aneh, saat itulah baru ia menyadari orang aneh itu memiliki wajah yang begitu putih dan pucat. Sedemikian pucat wajahnya hingga tak beda dengan datangnya kematian. Orang itu berwajah putih pucat dengan biji mata yang hitam kelam. Kemudian dia pun menyaksikan golok yang berada dalam genggamannya. Golok berwarna hitam dengan tangan berwarna putih pucat. Bila dihitung dari waktunya sehabis membunuh orang lalu kabur dengan menunggang kuda, maka seharusnya saat itu dia akan muncul di wilayah sana, itulah sebabnya Pho Ang-soat segera potong kompas dengan menghadang di tempat itu. Bila dari kejauhan orang itu bagaikan segumpal bola api, setelah dekat baru ia melihat jelas orang itu adalah seorang wanita. Pho Ang-soat berdiri bodoh setelah berhasil menghadang persis di hadapannya dan mengetahui siapakah orang itu. Tidak, lebih tepat kalau dikatakan ia berdiri terperangah. Ternyata perempuan berjubah merah yang menunggang kuda putih itu tak lain adalah Be Hong-ling yang pagi tadi baru saja ditemukan tewas dengan kepala terpenggal. Selama beberapa hari belakangan ini Pho Angsoat bertemu dengan begitu banyak jagoan yang hidup kembali dari kematian, tidak seharusnya ia merasa tercengang dengan apa yang dilihatnya. Tapi setelah berjumpa Be Hong-ling, mau tak mau dia terperangah juga dibuatnya. Perempuan itu sama sekali tak tampak tercengang atau kaget, malahan dengan sinar mata yang menawan dia tatap wajah Pho Angsoat lekat-lekat.

"He, siapa kau?"

Tegurnya dengan nada keras.

"Siapa aku?"

Pho Ang-soat tertawa getir.

"kalau tak salah, semalam akulah yang telah memenggal batok kepalamu."

"Memenggal batok kepalaku?"

Perempuan itu terkejut dan heran.

"semalam? Tapi semalam aku tidak berada di sini."

"Semalam kau tidak berada di Ban be tong?"

Tegas Pho Ang-soat makin tercengang.

"Betul, aku baru tiba pagi ini."

"Berarti orang yang kubunuh semalam bukan kau?"

"Terbunuh?"

Tiba-tiba gadis itu seperti teringat akan sesuatu, dengan mata berkilat serunya.

"ah, sekarang aku tahu siapakah dirimu, bukankah kau Pho Angsoat, yang telah membunuh putri Samsiokku?"

"Samsiokmu? Siapa paman ketigamu itu?"

"Siapa lagi, tentu saja Sam-lopan Be Khongcun dari Ban be tong."

"Jadi Be Khong-cun adalah Samsiokmu?"

Pho Ang-soat semakin bingung.

"lalu siapakah kau?"

"Aku?"

Gadis itu tertawa cekikikan.

"aku adalah Pek Ih-ling."

"Kau adalah Pek Ih-ling?"

Pho Ang-soat sangat terkejut. Bab 6. BERTEMU CUI-LONG KEMBALI "Aku adalah Pek Ih-ling!"

Setelah mendengar namanya, Pho Ang-soat hanya bisa menghela napas, ya, selain menghela napas apa lagi yang bisa dia lakukan?

Sudah jelas Pek Thian-ih tak punya anak gadis, satu-satunya keturunan Pek thian-ih adalah Pho Ang-soat, tapi kemudian anak itu berubah jadi Yap Kay.

Gara-gara peristiwa ini, Pho Ang-soat harus menderita hampir lima-enam tahun lamanya, dia harus berjuang mati-matian sebelum berhasil mengatasi kepedihan itu.

Peduli apa pun yang terjadi, ada satu hal Pho Ang-soat percaya seratus persen, Pek Thian-ih Pek-locianpwe tidak mempunyai anak perempuan, satu-satunya putra tunggalnya adalah Yap Kay.

Ketika secara tiba-tiba Be Khong-cun mengumumkan semalam bahwa putri tunggal Pek Thian-ih sedang mencari suami, rasa kaget Pho Ang-soat waktu itu boleh dibilang luar biasa.

Pho Ang-soat percaya, Yap Kay pasti mempunyai pikiran yang sama dengan dirinya, ingin menyaksikan perkembangan selanjutnya kejadian ini, ingin mengetahui permainan busuk apa lagi yang hendak dilakukan Be Khong-cun.

Oleh sebab itu ketika mendengar pengakuan perempuan yang seharusnya Be Hong-ling adalah Pek Ih-ling.

Pho Ang-soat segera menarik kembali perasaan kagetnya dan bertanya.

"Kau adalah Pek Ih-ling? Apakah tak ada orang lain yang mengatakan bahwa dirimu mirip Be Hong-ling?"

"Bukan cuma mirip, malah ada yang mengira kami sebagai saudara kembar,"

Sahut Pek Ih-ling sambil tertawa.

"aku percaya kau tentu sangat terperanjat ketika bertemu aku tadi, pasti kau sangka sudah bertemu setan bukan?"

"Mana ada setan secantik kau?"

Biasanya kata-kata semacam ini hanya bisa keluar dari mulut Yap Kay, tapi kali ini Pho Angsoat pun dapat mengucapkan perkataan itu, bahkan wajah dan telinganya sama sekali tidak berubah merah.

Asal perempuan, kebanyakan pasti suka mendengar orang lain memujinya cantik atau mungkin inilah kelemahan utama wanita?

Biarpun wajah Pek Ih-ling tidak menunjukkan perubahan apa-apa, namun dalam hati kecilnya sudah timbul rasa yang sangat manis, dengan tersenyum dia terima pujian itu.

"Jadi Be Hong-ling benar-benar mati di tanganmu?"

Tanya Pek Th-ling sembari menatapnya.

"Menurut kau?"

"Kau memang mirip seorang pembunuh, tapi aku mempunyai satu firasat bahwa Be Hong-ling bukan tewas di tanganmu."

"Bila Be Khong-cun pun bisa memiliki firasat seperti itu, dunia pasti akan damai dan tenteram,"

Jengek Pho Ang-soat hambar.

"Kalau bukan kau pembunuhnya, mengapa harus kau akui?"

"Siapa bilang aku mengakui?"

"Kalau begitu kenapa tidak berusaha menyangkal?"

"Perlukah berbuat begitu?"

"Paling tidak harus dicoba, aku yakin Samsiok bukan orang yang tak tahu aturan."

"Tak ada bukti yang menunjukkan orang itu bukan mati di tanganku,"

Tiba-tiba Pho Ang-soat teringat Buyung Bing-cu yang belum lama mati dibantai orang.

"Sama juga, mereka tak punya bukti yang bisa menuduh kau sebagai pembunuhnya,"

Kata Pek Ih-ling pula sambil membetulkan rambutnya yang terhembus angin. Pho Ang-soat tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak, tiba-tiba tanyanya.

"Dapatkah kau mengantarku ke kamar Be Hong-ling?"

"Mau apa?"

"Akii ingin melakukan pemeriksaan, siapa tahu berhasil melacak sesuatu jejak?"

"Baiklah,"

Sahut Pek Ih-ling sambil tertawa.

"tapi kau harus mampu mengikuti aku."

Begitu habis bicara, sepasang kakinya segera mengempit perut kudanya dengan kencang, diiringi ringkikan panjang, kuda putih itu kembali berlari kencang.

Memandang bayangan merah yang semakin menjauh, perlahan-lahan Pho Ang-soat menundukkan kepala, memandang kaki kanannya, sekilas perasaan apa boleh buat melintas di wajahnya.

Merah membara.

Hampir semua perabot yang ada di tempat itu berwarna merah darah, termasuk juga kain penutup jendela pun berwarna merah.

Baru pertama kali ini Pho Ang-soat masuk kamar tidur seorang wanita, di saat dia tiba, Pek Ih-ling telah menunggunya di dalam kamar.

Sebetulnya dia bisa saja tiba lebih dulu, tapi ia lebih suka mengikut dari belakang dengan perlahan, entah apakah dikarenakan Pek Ih-ling?

Ataukah dia memang ingin menyiksa sepasang kakinya?

Dari dalam ruangan terendus bau harum seorang gadis perawan, hanya tidak jelas bau harum itu memang sudah ada sejak tadi ataukah berasal dari tubuh Pek Ih-ling?

Pho Ang-soat tak berani membayangkan lebih lanjut, dia harus segera memusatkan perhatian untuk memeriksa keadaan dalam ruangan itu.

Sebuah cermin yang digosok sangat mengkilat terletak di atas meja rias, beberapa kotak pupur tersusun rapi di meja, di samping cermin terdapat pula sebuah vas bunga, di dalamnya tertancap sekuntum bunga kertas berwarna merah.

Seprei maupun selimut terlipat rapi di ranjang, menunjukkan kamar itu pernah dibersihkan dan ditata oleh seseorang, bagaimana mungkin Pho Ang-soat dapat menemukan petunjuk dari kamar yang sudah rapi?

Pek Ih-ling duduk di sudut ranjang, mengawasi Pho Ang-soat dengan penuh rasa riang dan tertarik.

"Aku tak tahu jejak apa yang sedang kau lacak,"

Kata Pek Ih-ling sambil tertawa.

"setahuku, andaikata ada jejak pun sudah pasti telah disingkirkan orang. Benar bukan tebakanku?"

"Setelitinya seseorang, pasti akan teledor juga,"

Dengus Pho Ang-soat hambar.

"orang mati pun dapat bicara apalagi kasus pembunuhan itu berlangsung di sini."

"Darimana kau tahu di tempat inilah kasus pembunuhan itu berlangsung?"

"Coba kau perhatikan lantainya, kelewat berkilat dan bersih, jelas belum lama berselang pernah dicuci seseorang dengan air!"

Kata Pho Ang-soat sambil menuding ke lantai.

"kenapa lantai di kamar lain tak nampak bersih, kenapa hanya lantai di kamar ini saja yang berkilat?"

"Karena lantai ini pernah ternoda darah?"

"Tepat sekali."

Pho Ang-soat berjongkok sambil meraba lantai, tiba-tiba di antara celah batu ia jumpai seutas rambut berwarna putih abu-abu, air mukanya kontan berubah serius.

"Kalau tidak keliru, seharusnya tahun ini usia Be Hong-ling baru dua puluh tahun bukan?"

Tibatiba ujar Pho Ang-soat.

"Tepat umur dua puluh tahun,"

Pek Ih-ling membenarkan.

"Eeh, kenapa kau tanyakan masalah ini?"

"Kalau seorang pemuda berusia dua puluh tahun, mungkin saja rambutnya ada yang mulai memutih, tapi dia adalah gadis berusia dua puluh tahun....."

Sambil menggeleng kepala Pho Ang-soat menyimpan rambut putih itu ke dalam sakunya. Tentu saja Pek Ih-ling pun menyaksikan juga ketika Pho Ang-soat memungut rambut putih itu, serunya.

"Kau menduga rambut putih itu milik sang pembunuh?"

"Kemungkinan benar, kemungkinan tidak benar."

Sambil tertawa Pho Ang-soat bangkit dan membalikkan badan siap beranjak pergi. Pek Ih-ling melengak, tegurnya.

"Secepat itu pemeriksaanmu?"

"Seperti apa yang kau katakan, semua bukti yang tersisa telah diangkut orang, aku rasa rambut ini merupakan satu-satunya jejak yang tersisa."

Begitu selesai bicara, tanpa berpaling dia berlalu meninggalkan tempat itu, tinggal Pek Ihling yang masih berdiri melongo.

Suasana Ban be tong masih tercekam keheningan, tampaknya belum ada orang tahu bahwa Buyung Bing-cu telah mati dibantai orang dalam kamar Pho Ang-soat, coba kalau mereka tahu akan hal ini, semua orang pasti akan menuduhnya sebagai pembunuhnya.

Memang banyak sekali kejadian seperti ini berlangsung di dunia, sekali orang menuduhmu melakukan satu kesalahan, maka selanjutnya biarpun kau berada di posisi benar, mereka tetap akan menuduhmu sebagai orang yang salah.

Dalam keadaan begini, biar kau ingin berkelit atau menyangkal dengan alasan apa pun, belum tentu orang bersedia menerimanya.

Siapakah orang yang dijumpai Buyung Bing-cu?

Kalau sejak awal dia sudah tahu pembunuhnya bukan Pho Ang-soat, lantas mengapa baru mengatakannya sekarang?

Apakah dikarenakan sang pembunuh selalu ada bersama mereka?

Sebab kematian Buyung Bing-cu jelas, sang pembunuh kuatir perbuatannya diketahui orang, maka dia segera mengambil tindakan dengan melenyapkan saksi.

Kalau memang begitu masalahnya, mengapa sang pembunuh tidak sekalian membunuhnya semalam?

Mengapa harus menunggu hingga sore?

Dari kemampuan sang pembunuh memasuki kamar Be Hong-ling tanpa membuat si nona menjerit kaget, jelas pembunuh itu adalah orang yang sangat dikenalnya, bisa jadi mereka pernah bertemu malam sebelumnya dan memang berjanji akan bertemu lagi di sana.

Kalau memang sudah berjanji untuk bertemu lagi, mengapa sang pembunuh harus menghabisi nyawanya?

Mengapa dia membunuhnya?

Jarak antara kamar Be Hong-ling dan Pho Angsoat tidak jauh, tapi karena ia sedang memikirkan masalah itu, maka langkah kakinya lambat sekali.

Tapi justru karena lambat, dia pun mendengar ada suara langkah kaki lain sedang berjalan mendekat, langkah orang itu berasal dari beranda sebelah kiri menuju ke gedung penerima tamu.

Biarpun suara langkahnya ringan, namun jelas berasal dari langkah kaki seorang wanita.

Baru saja ingatan itu melintas, Pho Ang-soat pun segera mengendus bau harum semerbak, harumnya bunga teratai.

Ia segera merasakan bau harum yang khas, bau harum yang begitu dikenal olehnya.

Menyusul bau harum itu, terdengar suara seseorang menghela napas sedih.

Suara helaan napas itu tidak terlampau keras, tapi justru serasa mencekik napas Pho Ang-soat, terasa menyentuh sudut tertentu hat inya.

Suara itu...

mana mungkin berasal dari dia?

Paras muka Pho Ang-soat saat itu entah diliputi rasa bimbang atau telah berubah jadi merah jengah?

Dia hanya merasa hati kecilnya begitu tersentuh, begitu trenyuh oleh helaan napas itu.

Menyusul tampak seseorang bertubuh kecil ramping muncul dari balik daun jendela.

"Siau Pho!"

Terdengar orang itu menyapa lirih.

Begitu jauh suara panggilan itu berasal, tapi terasa begitu dekat, begitu samar, apakah semua ini merupakan kenyataan?

Sudah berapa lama ia tak pernah mendengar suara semacam itu?

Mungkin sudah ratusan tahun, ribuan tahun?

Tanpa sadar Pho Ang-soat membayangkan kembali kejadian di masa silam, kejadian yang dialaminya sepuluh tahun berselang.

Di pinggiran kota yang sama, di tempat yang sama, saat itu Pho Ang-soat baru berusia delapan belas tahun, dengan membawa golok yang telah dikutuk, dengan membawa dendam kesumat yang sudah terpendam selama delapan belas tahun, mendatangi tempat itu.

Pada malam itu, ya, pada malam itu...

ketika ia baru kembali ke kamarnya, Pho Ang-sbat membaringkan diri di atas ranjang tanpa menyalakan lentera, sejak kecil dia memang sudah terbiasa hidup dalam kegelapan.

Sekonyong-konyong muncul sebuah tangan dari balik kegelapan, menggenggam tangannya.

Begitu halus tangan itu, begitu lembut dan hangat genggamannya.

Pho Ang-soat masih berbaring dengan tenang, membiarkan dia menggenggam tangannya...

tentu saja tangan yang tidak digunakan untuk menggenggam golok.

Saat itulah dari balik kegelapan terdengar suara pembicaraan seseorang, suara yang begitu lembut seperti suara impian, berbisik di sisi telinganya.

"Siau Pho, sudah lama aku menunggumu."

Suara itu begitu lembut, manis, begitu muda dan hangat, jelas sekali suara seorang nona.

"Betulkah kau sudah lama menunggu?"

Pho Ang-soat balik bertanya dengan suara dingin.

"Benar, asal kau pasti datang, biar harus menunggu selama apa pun, aku merasa berharga untuk menantinya."

Saat itu Pho Ang-soat belum tahu siapakah nona itu.

"Jadi kau sudah siap?"

Tanyanya lagi.

"Benar, sudah siap, apa pun yang ingin kau lakukan, asal dikatakan pasti akan kulaksanakan."

Pho Ang-soat tidak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan tubuhnya pun sama sekali tak bergerak. Belaian nona itu makin lembut, bisikan suaranya pun makin halus dan merayu.

"Aku tahu apa yang kau inginkan...."

Gadis itu mulai meraba dalam kegelapan, meraba tubuh Pho Ang-soat, mencari kancing bajunya, lalu dengan lembut melepas kancing itu satu per satu...

tiba-tiba saja Pho Ang-soat berada dalam keadaan bugil, biarpun tak ada hembusan angin dalam ruangan, namun otot dan tubuhnya gemetar dan mengejang keras.

"Selama ini kau hanya seorang bocah, mulai saat ini, aku akan membuatmu menjadi lelaki dewasa,"

Kembali gadis itu berbisik lirih.

"sebab ada sementara perbuatan hanya bisa dilakukan oleh seorang lelaki dewasa...."

Bibir gadis itu hangat dan basah, menciumi dada Pho Ang-soat, menciumi pipi dan bibirnya....

Pho Ang-soat masih dapat merasakan belaian hangatnya, biar saat ini tiada angin berhembus di serambi, namun tubuhnya mulai gemetar keras, seolah bunga teratai yang dihembus angin musim semi.

Termangu Pho Ang-soat mengawasi orang di luar jendela, suaranya yang lembut bagai orang mengigau, terdengar selembut di tengah malam waktu itu, walau sekarang di bawah sorot matahari.

Belaian tangan yang halus, ciuman bibirnya yang hangat dan basah, napsu dan harapan yang begitu misterius tapi mesra...

sebenar nya semua itu sudah jauh tertinggal di luar pikiran, seakan berada dalam alam impian, tapi dalam waktu singkat, tahu-tahu telah berubah menjadi kenyataan.

Pho Ang-soat menggenggam kencang sepasang tangannya, seluruh tubuhnya gemetar karena tegang bercampur girang, tapi sorot matanya masih mengawasi bayangan di luar jendela tanpa berkedip-dari balik sorot matanya yang dingin tiba-tiba berubah jadi panas membara.

Kelihatannya bayangan di luar jendela itu pun merasa tubuhnya mengejang karena pancaran sinar mata Pho Ang-soat yang membara, lewat beberapa saat kemudian baru ia berkata.

"Sepuluh tahun telah lewat, pernahkah kau melupakan aku?"

Mana mungkin bisa dilupakan?

Dia adalah wanita pertama yang muncul di hati Pho Angsoat, wanita yang selama ini dicinta dan disayang dengan sepenuh hati, meskipun pada akhirnya dia tahu sikap perempuan itu terhadapnya hanya pura-pura, karena menerima upah untuk melakukannya, namun...

mungkinkah benih cinta yang telah tertanam ditarik kembali?

Seandainya kau pun mengalami pengalaman seperti apa yang dialaminya, apakah kau dapat menarik kembali benih cintamu?

Perasaan cinta yang muncul, ibarat air dalam baskom yang telah dibuang, dia hanya bisa menghentikan tindakannya dan selama hidup tak bakal bisa menariknya kembali.

Sekujur tubuh Pho Ang-soat sudah tidak gemetar lagi, pandangan matanya yang membara kian padam dan sirna, sebagai gantinya muncul kesedihan dan perasaan pilu yang mendalam.

Perasaan pilu dan sedih yang timbul dari dasar sanubarinya yang paling dalam.

Dalam sepuluh tahun terakhir, dialah orang yang paling tak ingin dijumpai, tapi setiap kali mendusin di tengah malam, justru hanya dia yang muncul dalam benaknya.

Cui -long!

Ya, Cui long.

Nama itu seolah awan yang sedang melayang di ujung langit, namun justru mengikuti Pho Angsoat bagaikan bayangan tubuhnya.

Ada penderitaan tentu ada kegembiraan, ada kemasgulan tentu ada pula kemesraan, berapa kali mereka pernah berpelukan dengan mesra?

Berapa kali mereka saling membelai dengan penuh kasih?

Biarpun semuanya telah berlalu, namun perasaan itu selamanya terukir dalam lubuk hati, perasaan cinta yang terbawa sampai alam impian, bagaikan belatung yang menempel di tubuh bangkai, siang malam menggeroboti tubuhnya tanpa henti.

Berapa kali dia ingin menggunakan arak supaya mabuk, tapi mungkinkah ia benar-benar bisa mabuk?

Mungkinkah dengan mabuk semuanya akan terlupakan?

Bagaimana kalau selamanya tak terlupakan?

Apa pula yang bisa dia perbuat bila tak terlupakan?

Bagaimana pula kalau selalu teringat?

Kehidupan, apa yang dimaksud kehidupan?

Manusia hidup hanya merasakan penderitaan, apa benar manusia adalah makhluk yang paling menderita karena cinta?

Justru karena kau pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati, maka baru akan merasakan pula penderitaan yang sesungguhnya.

Inilah salah satu kejadian yang paling membuat manusia sedih dan pilu.

Matahari telah tenggelam di langit barat, awal senja mulai menyelimuti seluruh angkasa.

Bangunan gedung Ban be tong seolah terselubung di balik selapis kain sutera tipis, bayangan manusia di luar jendela bagaikan lukisan tinta yang basah oleh air.

"Sepuluh tahun berselang kau tidak seharusnya kemari, sepuluh tahun kemudian kau pun tidak seharusnya kemari,"

Bayangan manusia itu berkata perlahan.

"kenapa kau tetap datang kemari?"

Kenapa?

Ya, kenapa?

Entah sudah berapa kali Pho Ang-soat bertanya pada diri sendiri, mengapa dia harus ke sana?

Tempat itu bukan desa kelahirannya, tiada sanak keluarganya di situ, di tempat itu hanya ada kenangan.

Kenangan pahit, kenangan yang paling membuatnya menderita dan tersiksa.

Apakah kedatangannya hanya untuk merasakan kenangan yang pahit dan penuh penderitaan?

Tentu Pho Ang-soat tak bakal mau mengakuinya.

Tapi jika tidak mengakui bisa apa?

Kalau mengakui pun bisa apa?

"Walaupun sepuluh tahun berselang Ban be tong berhasil kalian musnahkan, namun Ban be tong yang muncul sepuluh tahun kemudian justru bermaksud memusnahkan kalian dan sekarang kalian benar-benar muncul di sini."

Biarpun perkataan itu diucapkan dari balik jendela, namun masih terdengar begitu halus dan merdu.

"Pergilah, cepat tinggalkan tempat ini, Siau Pho, segala sesuatu yang ada di sini tak mungkin bisa kau bayangkan dengan akal sehat."

Pergi?

Kepergiannya sepuluh tahun berselang harus ditebus dengan penderitaan selama sepuluh tahun.

Setelah menelaah dan merasakannya selama sepuluh tahun, baru ia dapat menyimpulkan bahwa di dunia ini selain terdapat rasa benci dan dendam, sesungguhnya masih terdapat hal lain yang jauh lebih menakutkan daripada benci dan dendam, yakni perasaan cinta.

Rasa benci dan dendam hanya sebatas ingin menghancurkan musuh saja, perasaan cinta justru membuatnya ingin menghancurkan diri sendiri, ingin menghancurkan seluruh dunia.

Penderitaan selama sepuluh tahun membuat dia mengetahui akan satu hal.

Hubungan antara laki perempuan harus diungkap dengan perkataan dan pernyataan.

Bila kau tidak mengungkapnya, mana mungkin orang lain bisa tahu?

Mana mungkin orang lain bisa mengerti?

"Sepuluh tahun berselang aku telah melakukan satu kesalahan, hari ini aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama,"

Pancaran sinar mata Pho Ang-soat masih dibebani perasaan pedih, namun suaranya sudah lebih tenang dan datar. Jelas sekali maksud perkataan itu.

"Sepuluh tahun berselang aku telah salah membiarkan kau pergi, masakah hari ini kembali kubiarkan kau pergi?"

"Kau tak boleh...."

Jelas nona itu pun memahami maksud Pho Ang-soat, dia pun tahu apa yang bakal dia lakukan, tapi untuk mencegahnya sudah terlambat.

Begitu jendela dijebol, Pho Ang-soat menyelinap ke hadapannya, tapi sayang secepat apa pun dia bergerak, Cui long jauh lebih cepat.

Baru saja Pho Ang-soat berdiri tegak, bagaikan bayangan setan Cui long telah lenyap, yang tersisa dalam ruangan hanya bau harum yang tipis.

Seandainya tiada sisa bau harum yang tertinggal, Pho Ang-soat pasti mengira dirinya baru saja mendusin dari mimpi.

Sinar matahari senja menerobos masuk melalui daun jendela yang jebol, menyinari wajah Pho Ang-soat, kini dia sudah tak sedih lagi, emosinya pun sudah tidak bergolak, paras mukanya telah pulih kembali dalam kehambaran dan dingin bagai salju abadi.

Benar-benar bagaikan salju abadi yang tak pernah mencair.

Kepalanya tertunduk, seolah sedang memperhatikan bekas lantai yang digunakannya untuk berdiri, seolah-olah juga sedang putar otak memikirkan sesuatu.

Pada saat bersamaan, Yap Kay pun sedang terjerumus dalam pemikiran yang mendalam.

Biarpun ia sudah balik kembali ke Ban be tong, namun dia bukan duduk dalam kamarnya, melainkan duduk di atap rumah.

Yap Kay duduk di atas atap, duduk persis di samping atap rumah yang jebol ditembus tombak, dia sedang mengawasi posisi lubang itu, tentu saja termasuk semua yang ada dalam ruangan.

Buyung Bing-cu yang mati tertembus tombak sudah tidak nampak lagi, ruangan serta lantai sudah dibersihkan hingga tidak nampak noda darah maupun bekas pertarungan di situ, tentu saja kecuali lubang yang ada di atap rumah.

Kemana perginya mayat Buyung Bing-cu?

Apakah memang telah disingkirkan Yap Kay?

Kalau memang perbuatan Yap Kay, mengapa dia harus memindahkannya?

Kalau bukan, lantas perbuatan siapa?

Pho Ang-soat enggan berpikir banyak, maka tanpa memikirkan lagi persoalan itu, dia pergi meninggalkan gedung penerima tamu dan langsung kembali ke dalam kamarnya.

Tentu saja dia pun dapat melihat kamarnya telah dibenahi hingga rapi dan bersih, jenazah Buyung Bing-cu benar-benar tidak ditemukan di situ.

Tanpa banyak bicara dia membaringkan diri di atas ranjang, pada saat itulah dia melihat sepasang mata Yap Kay.

Yap Kay yang berada di luar lubang melihat dengan jelas Pho Ang-soat masuk ke dalam ruangan, melihat dia membaringkan diri, dia pun melihat orang itu sedang memandang ke arahnya, tapi heran, wajah Pho Ang-soat sama sekali tidak menunjukkan perasaan heran atau tercengang.

Mau tak mau Yap Kay harus mengagumi sikap tenang rekannya itu.

"Memang kau bukan manusia?"

Entah sedari kapan Yap Kay sudah turun dari atap rumah, berjalan masuk ke dalam ruangan, berdiri di depan ranjang sambil mengawasi Pho Ang-soat tanpa berkedip.

"Memang kau bukan anjing?"

Bukannya menjawab Pho Ang-soat malah bertanya, dia bertanya menggunakan nada bicara yang sama.

"Di dalam kamarmu telah terjadi perubahan yang sangat besar, jenazah pun tiba-tiba hilang, masakah sedikit pun kau tidak merasa tercengang dan kaget?"

"Hanya anjing yang tertarik dengan bau bangkai"

Sahut Pho Ang-soat hambar.

"jelek-jelek aku masih terhitung manusia, mana bisa dibandingkan anj ing?"

"Setelah melihat aku berada di atap kamarmu, seharusnya kau pun mengerti bahwa aku tahu jenazah Buyung Bing-cu berada dimana sekarang, kenapa tidak kau tanyakan kepadaku?"

Ujar Yap Kay sambil menarik sebuah bangku dan duduk.

"Aku tahu kau pasti akan memberitahukan kepadaku, kenapa pula harus ditanyakan lagi?"

"Kalau secara tiba-tiba aku tak ingin memberitahukan padamu?"

"Jika begitu ditanya pun tak ada gunanya,"

Tiba-tiba Pho Ang-soat tertawa tergelak.

"berarti kau bukan Yap Kay."

Yap Kay ikut tertawa mendengar kata-katanya itu, ujarnya.

"Aku lihat kau sangat memahami karakterku."

"Sama-sama"

Kembali Yap Kay tertawa, sambil tertawa dia mengambil poci arak dari dalam pelukannya dan meneguk isinya ke dalam mulut.

"Setelah meninggalkan Siau Piat-li, tiba-tiba aku teringat akan satu hal dan perlu ditanyakan kepadamu, karena itu aku pun menuju kamar tidurmu, tapi sebelum aku berjumpa denganmu, tiba-tiba saja kudengar dari dalam kamar berkumandang suara yang mustahil kau lakukan, itulah suara orang sedang buang air, maka aku segera naik ke atap rumah, dengan cepat kutemukan lubang itu, dari lubang atap kusaksikan Kongsun Toan sedang memindahkan jenazah Buyung Bing-cu dari lantai."

"Kongsun Toan?"

Seru Pho Ang-soat melengak.

"Benar,"

Yap Kay manggut-manggut.

"begitu Kongsun Toan keluar pintu, tentu saja aku segera mengikutinya, tapi baru sampai di tengah jalan, kulihat kau serta seorang perempuan sedang berjalan masuk ke kamar tidur Be Hong-ling."

"Kau pasti tidak menyangka siapakah wanita itu bukan?"

"Sebetulnya memang tak bisa kuduga, tapi setelah kulihat raut mukanya, aku pun segera tahu mengapa Be Hong-ling harus mati."

"Oya? Kenapa Be Hong-ling harus mati?"

"Sebab kalau Be Hong-ling tidak mati, Pek Ihling pun mustahil bisa tampil."

Pho Ang-soat menatap wajah Yap Kay lekatlekat, dia sedang menunggu penjelasan darinya.

"Walaupun orang mati dapat hidup kembali, akan tetapi orang hidup tak mungkin bisa awet muda,"

Yap Kay menerangkan.

"sepuluh tahun berselang, dari sekian banyak anggota Ban be tong, hanya Be Hong-ling seorang yang masih hidup, setelah lewat sepuluh tahun, sedikit banyak usianya pasti sudah mulai menggerogoti raut mukanya."

Pho Ang-soat mengangguk tanda setuju.

"Tapi kemunculan Be Khong-cun sekalian sepuluh tahun setelah itu, raut muka mereka sama sekali tak berubah, bahkan sama sekali tidak nampak lebih tua atau berkerut. Bila ingin kejadian berlangsung persis seperti sepuluh tahun berselang, berarti Be Hong-ling harus mati, walau mereka memiliki kemampuan rahasia yang bisa membangkitkan orang dari kematian, namun belum mampu mempertahankan seseorang tetap awet muda seperti sedia kala."

"Oleh karena itu Be Hong-ling harus mati, hingga wanita bernama Pek Ih-ling bisa muncul?"

Sela Pho Ang-soat.

"Seharusnya begitu,"

Setelah meneguk araknya, Yap Kay berkata lebih jauh.

"semua pembicaraan yang kau lakukan dengan Pek Ihling bukan saja telah kudengar, aku pun sempat melihat bagaimana kau mencabut rambutmu sendiri, lalu kau buang ke lantai dan memungutnya kembali dengan mengatakan rambut itu milik pembunuh...."

Ternyata rambut putih yang diambilnya dari lantai adalah rambut Pho Ang-soat sendiri yang sengaja dicabut.

Tapi mengapa dia berbuat demikian?

Apa pula maksud tujuannya berbuat begitu?

"Aku percaya kau pasti sudah tahu mengapa aku berbuat begitu,"

Ujar Pho Ang-soat sambil tertawa.

"Begitu menjumpai kamar itu sudah dibenahi dan dibersihkan, tentu saja kau pun tahu kemungkinan menemukan jejak pembunuh kecil sekali, oleh sebab itu kau sengaja menciptakan jejak untuk pembunuh itu,"

Kata Yap Kay.

"dan kau pun pasti tahu kejadian ini pasti akan terdengar juga oleh sang pembunuh, bila si pembunuh mulai ragu dan ingin menghilangkan saksi, bisa jadi dia akan berusaha membunuhmu."

Kemudian setelah tertawa, lanjutnya.

"Asal dia berani bertindak, kau pun akan mendapat kesempatan untuk menangkapnya."

"Asal pembunuh itu mempunyai kepintaran macam kau, sia-sia saja aku mengorbankan rambutku,"

Pho Ang-soat menghela napas panjang.

"Jangan kuatir, sekalipun dia amat cerdas pun yakin pasti akan melakukan satu tindakan, sebab dia pasti tak mau ambil resiko."

Pho Ang-soat berpikir sejenak, kemudian katanya.

"Bagaimana selanjutnya? Apakah semua yang kusaksikan di beranda tadi kau pun ikut menyaksikan?"

"Tidak, sama seperti kau, aku pun hanya mendengar suara,"

Kata Yap Kay.

"dari tempat persembunyianku, aku hanya bisa melihat situasi di beranda dan susah untuk melihat keadaan di dalam gedung penerima tamu."

Sekali lagi Pho Ang-soat terjerumus dalam pemikiran yang dalam. Setelah memandangnya sekejap, Yap Kay berkata.

"Orang yang telah mati pun bisa hidup kembali, tidak aneh bila ada suara yang sangat mirip."

"Tapi jelas suara itu adalah suaranya, aku sangat yakin suara itu adalah suaranya."

"Sekalipun memang benar dia, lalu apa yang bisa kau perbuat? Dia tak ingin bertemu denganmu, berarti dia mempunyai kesulitan yang susah dijelaskan kepadamu, apa gunanya kau menyiksa diri?"

"Siapa bilang aku sedang menyiksa diri?"

Biarpun paras muka Pho Ang-soat memperlihatkan ketenangan yang luar biasa, namun hatinya sakit, sakit bagai disayat-sayat.

Tentu saja Yap Kay pun mengetahui penderitaan yang dirasakan rekannya, tapi apa pula yang bisa dia perbuat?

Masalah cinta memang tak mungkin bisa dibantu pihak ketiga, terlebih bila urusannya sudah menyangkut perasaan yang telah membekas jauh di dalam lubuk hati.

Selama sepuluh tahun bersahabat, tiada orang yang lebih paham perasaan Pho Ang-soat ketimbang dirinya, biarpun tampaknya dia dingin, hambar dan angkuh, kenyataan perasaan cintanya jauh lebih hangat, jauh lebih gila daripada siapa pun.

Sejak kecil ia sudah dididik menjadi sebuah alat untuk membalas dendam, lambat-laun dia telah membentuk selapis dinding penyekat di dalam hatinya, dinding penyekat yang membuat perasaan sendiri susah untuk diungkap keluar dan perasaan orang pun mustahil bisa menembus masuk ke hatinya.

Oleh karena itu semakin sikapnya dingin dan angkuh, semakin hampa perasaannya, makin kesepian dan merana hatinya.

Khususnya bila tiba malam yang hening, sering dia merasa begitu kesepian hingga nyaris menjadi gila.

Seringkah dia harus begadang karena susah memejamkan mata, setiap kali begitu, dia hanya bisa membelalakkan mata mengawasi kegelapan malam di luar jendela hingga fajar menyingsing.

Sudah berapa kali dia ingin mencari pasangan hidup yang bisa diajak meluapkan perasaan kasihnya, menghilangkan rasa sepinya, saling menghibur, saling mengungkap perasaan, namun pada akhirnya dia tak berani melangkah lebih jauh, dia tak berani mempersembahkan perasaan sendiri.

Belakangan dia seringkah merasa menyesal, menyesal mengapa sikapnya terhadap Cui long begitu keji, bisa jadi selama hidup hanya Cui long seorang yang dicintainya, namun dia tak pernah mau mengakui kenyataan itu.

Heran, mengapa manusia selalu tak pernah bisa menghargai dan menyayangi perasaan yang telah diperolehnya, mengapa baru dia menyesal setelah kehilangan?

Penderitaan semacam ini tak disangkal merupakan penderitaan paling kuno dan paling mendalam bagi umat manusia sejak zaman dahulu kala.

Cahaya terang mencorong masuk dari luar jendela, menyinari tubuh Pho Ang-soat yang masih berbaring di atas ranjang.

Mengawasi orang itu, kembali pandangan sedih melintas di wajah Yap Kay, sesungguhnya dia sama sekali tak punya hubungan dengan orang itu, dia memang hanya seorang biasa, tapi dikarenakan keegoisan generasi sebelumnya, karena dendam kesumat yang keliru, dia telah diubah menjadi sebuah alat balas dendam, alat balas dendam bagi kepentingan orang itu.

Walaupun kemudian Yap Kay mengungkap rahasia itu, sayang sikap dan mental sebuah alat balas dendam telah telanjur melekat di tubuh Pho Ang-soat, membuat Yap Kay tidak mampu lagi untuk menyelamatkan nya, tak mampu mengubahnya....

Kembali Yap Kay meneguk araknya, sampai lama kemudian baru ia bicara lagi.

"Sebetulnya Kongsun Toan termasuk jagoan temperamen, kasar dan berangasan, tapi aneh, Kongsun Toan yang muncul kali ini sama sekali berbeda, apakah kau pun merasakan hal ini?"

Pho Ang-soat hanya mendengarkan, tanpa menjawab.

"Setelah menemukan Buyung Bing-cu tewas di kamarmu, bukan saja dia tidak menyebar luaskan berita ini, malah secara diam-diam menyingkirkan jenazah dan membersihkan kamarmu. Bahkan pagi tadi Be Khong-cun menegurmu, dia tak pernah mengucapkan sepatah katapun, bahkan sampai kau dipaksa turun tangan pun, Kongsun Toan tak pernah menampilkan diri."

Ditatapnya wajah Pho Ang-soat lekat-lekat, kemudian tambahnya.

"Dari tindak-tanduknya yang di luar kebiasaan, kesimpulan apa yang bisa kau ambil?"

"Aku sedang mendengarkan,"

Jawab Pho Angsoat.

"Aku lihat tujuan Ban be tong tak bakal sesederhana itu, hanya bertujuan membunuh kita berdua,"

Ujar Yap Kay lagi.

"kelihatannya mereka lebih menitik beratkan pada kemunculannya kembali dalam Bu-lim, mereka pasti mempunyai rencana busuk yang lebih besar."

"Rencana busuk? Rencana busuk apa?"

Setelah meneguk kembali araknya, Yap Kay baru berkata.

"Bila Ban be tong ingin tampil kembali ke dalam dunia persilatan, berapa banyak uang yang dibutuhkan? Jangankan begitu besar bangunan di tempat ini bisa pulih kembali kemegahannya dalam semalam, cukup dari Be Khong-cun sekalian, benarkah mereka hidup kembali dari kematian?"

Yap Kay menertawakan diri sendiri, lalu katanya lebih jauh.

"Jangankan kau, aku sendiri pun tidak percaya, tapi kita pasti sudah melihatnya dengan jelas bahwa orang-orang itu bukan hasil penyaruan orang lain, mereka benarbenar adalah kelompok yang dulu."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Pagi tadi aku telah bertemu Siau Piat-li, menurut pendapatnya, hidupnya kembali orang-orang itu lantaran terpengaruh oleh kemunculan komet yang terjadi setiap tujuh puluh enam tahun satu kali."

"Terpengaruh komet?"

"Menurut dia, terdapat semacam kekuatan misterius yang maha dahsyat hidup dalam alam jagad kita, dan kekuatan misterius itu setiap tujuh puluh enam tahun satu kali akan terpengaruh oleh kehadiran komet itu,"

Kata Yap Kay sambil tertawa.

"karena kekuatan misterius itulah orang-orang yang telah mati bisa hidup kembali."

Kemudian sambil menatap rekannya ia bertanya.

"Apakah kau percaya?"

Pho Ang-soat tidak langsung menjawab, dia berpikir sebentar, kemudian baru menyahut.

"Ternyata pernyataan Siau Piat-li mirip sekali dengan perkataannya."

"Perkataan siapa?"

"Yan Lam-hui!"

"Yan Lam-hui?"

Yap Kay tertegun.

"Yan Lamhui si penerus Kongcu-ih?"

"Benar."

"Bukankah dia pun sudah mati, mati di ujung golokmu sejak lima tahun berselang?"

"Sudah begitu banyak anggota Ban be tong yang bangkit lagi dari kematian, apalagi hanya seorang Yan Lam-hui,"

Kata Pho Ang-soat hambar.

"Benar juga perkataanmu,"

Yap Kay tertawa geli.

"kapan kau bertemu dengannya? Apa saja yang dia katakan?"

Pho Ang-soat pun segera bercerita bagaimana sekembalinya ke kamar semalam ia mendengar suara nyanyian, bagaimana melakukan pengejaran dan di sebuah gundukan tanah menjumpai peristiwa yang sangat aneh, kemudian Yan Lam-hui muncul....

Matahari telah tenggelam di langit barat, awan keabu-abuan mulai menyelimuti seluruh angkasa, cahaya lentera mulai terlihat dari tempat kejauhan sana.

Pho Ang-soat belum menyulut lentera di dalam kamarnya, mereka berdua masih tenggelam di balik keremangan cuaca.

Sehabis mendengar penuturan Pho Ang-soat, Yap Kay segera terjerumus dalam pemikiran yang mendalam, alisnya berkerut kencang, secercah cahaya mulai muncul dari balik matanya yang cekung.

Pho Ang-soat pun membungkam setelah selesai menceritakan pengalamannya, dengan tenang dia mengawasi Yap Kay, menunggu kesimpulan apa yang akan diambil rekannya itu.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya dia mengambil poci arak dan meneguk isinya, kemudian baru berkata.

"Gumpalan cahaya yang memancar keluar dari balik gundukan tanah berubah menjadi Yan Lam-hui? Benar-benar peristiwa yang tak masuk akal, andaikata bukan kau alami dengan mata kepala sendiri, siapa pun tak bakal percaya."

"Aku yang mengalami sendiri peristiwa itu pun tidak percaya, apalagi hanya mendengar dari cerita orang."

"Konon di tempat kita hidup sekarang masih terdapat dunia lain, pernyataan seperti ini mirip pernyataan Siau Piat-li yang mengatakan terdapat satu kekuatan misterius dalam kehidupan kita."

Yap Kay tertawa.

"Menurut pernyataan Yan Lam-hui, agar bisa memasuki dunia keempat, seseorang harus mati terlebih dulu,"

Ungkap Pho Ang-soat.

"berarti semua penghuni dunia keempat adalah orangorang yang bangkit kembali dari kematian."

"Mungkin semacam Be Khong-cun sekalian?"

Yap Kay menghela napas panjang.

"tampaknya kita hanya bisa melihat peristiwa itu sebagai sebuah kenyataan"

"Kenyataan apa?"

"Kenyataan bahwa di tempat kehidupan kita memang benar-benar terdapat semacam kekuatan misterius yang maha dahsyat, bahwa di sisi kehidupan kita masih terdapat dunia lain yang disebut dunia keempat,"

Kata Yap Kay sambil tertawa.

"kalau tidak, alasan tepat apa lagi yang bisa kita gunakan untuk menjelaskan semua yang telah kita jumpai selama ini?"

Tampaknya hanya kesimpulan itu yang terasa paling cocok sampai saat itu.

Yap Kay memandang sekejap cuaca di luar jendela, ternyata hari telah malam, sudah saatnya bersantap dan saatnya pula Pek Ih-ling hendak berjumpa dengan semua orang.

"Sewaktu makan malam nanti, entah permainan baru apa lagi yang akan diselenggarakan Be Khong-cun?"

Ujar Yap Kay sambil bangkit.

"dari situasi sore tadi, delapan puluh persen orang yang bakal dipilih Pek Ih-ling pastilah kau."

Tidak menunggu Pho Ang-soat bicara, Yap Kay menambahkan.

"Cuma kau jangan keburu senang, siapa tahu bakal muncul kejutan lain."

Habis berkata Yap Kay segera berlalu dengan senyum di kulum, dia yakin mimik muka Pho Angsoat saat ini pasti tak sedap dipandang.

Bagi orang itu, persoalan apa pun boleh dibuat bahan gurauan kecuali masalah yang berhubungan dengan laki perempuan.

Memandang bayangan punggung Yap Kay yang menghilang di balik pintu, Pho Ang-soat menghela napas panjang, gumamnya.

"Kau keliru besar, bila aku tak bisa menghadapi gurauan semacam ini, mana mungkin aku bisa hidup hingga kini?"

"Kau pun keliru,"

Tiba-tiba wajah Yap Kay muncul kembali di depan pintu.

"apakah kau tidak merasa bahwa gundukan tanah itu merupakan kunci dari semua rahasia yang ada?"

Bab 7.

MANUSIA KERDIL Santap malam diselenggarakan di ruang utama Ban be tong.

Ada sembilan orang duduk mengelilingi sebuah meja bundar, sementara dua-tiga puluhan orang berdiri di sekitarnya untuk melayani kebutuhan tamu.

Hidangan yang tersaji di meja pun tidak terlalu banyak, paling hanya tujuh-delapan macam masakan.

Tentu saja semua masakan yang disajikan adalah hidangan khas luar perbatasan, semuanya lezat, tapi yang paling menarik perhatian Yap Kay adalah sekuali kuah panas yang diletakkan persis di tengah meja.

Dalam kuali itu hanya ada daging ayam kampung yang dipotong ditambah arak keras dari pinggiran kota, ketika dicampur di atas tungku, uap panas yang mengepul segera menyebarkan bau arak yang sangat keras.

"Hidangan macam apa ini?"

Tanya Yap Kay setelah mencicipi sesuap kuah ayam arak itu.

"Inilah hidangan paling tersohor di pinggiran kota,"

Jawab Be Khong-cun sambil tertawa.

"orang menyebutnya ayam masak arak."

"Ayam masak arak? Wah, cocok benar nama masakan ini."

Kemudian setelah mengambil semangkuk dan menyuap, kembali tanyanya.

"Kau bilang hidangan ini tersohor di pinggiran kota, kenapa waktu aku datang dulu tak pernah mencicipinya?"

"Sudah berapa lama kau tak pernah berkunjung lagi ke sini?"

Tiba-tiba Hoa Boan-thian bertanya.

"Mungkin sepuluh tahun."

"Tak heran kau belum pernah mencicipinya,"

Seru Hoa boan-thian sambil tertawa.

"hidangan ini baru tercipta tujuh tahun lalu, diciptakan tanpa sengaja oleh Sam-lopan."

"Tujuh tahun berselang?"

"Tahun itu musim dingin terasa luar biasa dinginnya, biar sudah makan apa pun badan belum terasa hangat, tentu saja minum arak bisa menghangatkan badan, tapi kalau kebanyakan bisa mabuk,"

Kata Be Khongcun dengan bangga.

"oleh sebab itu aku pun mulai berpikir, bila kucampur arak keras dengan ayam, selain tak memabukkan, juga dapat membuat tubuh terasa hangat?"

"Maka kau pun mencobanya?"

"Betul, sejak saat itulah muncul hidangan baru yang kunamakan ayam masak arak."

"Sayang sekali hidangan yang begini lezat tak bisa dinikmati oleh Buyung-kongcu,"

Kata Yap Kay hambar.

"aneh, kenapa tidak kulihat Buyung Bing-cu? Apakah dia tidak diundang dalam perjamuan ini?"

Kongsun Toan yang selama ini hanya membungkam tiba-tiba berkata.

"Sore tadi dia harus buru-buru pulang karena mendapat surat penting,"

"Semisal dia hadir di sini, dapat kupastikan dia pun akan memuji kelezatan hidangan ini,"

Kata Yap Kay lagi sambil melirik ke arah Pho Ang-soat sekejap.

Paras muka Pho Ang-soat sama sekali tak mengunjuk perubahan apa pun, dia bersantap dengan wajah dingin, hanya saja ujung matanya beberapa kali seperti sengaja tak sengaja melirik ke arah Be Khong-cun.

Dalam pada itu, Be Khong-cun pun sedang menatap wajah Kongsun Toan dengan penuh amarah.

"Mengapa kau tidak segera melaporkan kejadian ini kepadaku?"

Tegurnya keras.

"Saat itu kebetulan Sam-lopan sedang tidur siang,"

Sahut Kongsun Toan sambil menunduk kepala.

"aku sendiri pun kebetulan sedang repot sekali, hingga masalah ini jadi kelupaan."

"Aku harap kejadian seperti ini jangan terulang lagi."

"Pasti tak akan terulang."

Sekali lagi Be Khong-cun melirik ke arah Kongsun Toan, setelah itu baru mengangkat cawannya dan berkata kepada semua orang sambil tersenyum.

"Biarpun berkurang dengan seorang Buyung Bing-cu, aku percaya ini tak sampai mengurangi kegembiraan kalian."

"Terhadap diriku memang sama sekali tak berpengaruh,"

Kata Loh Loh-san tertawa.

"usiaku sudah tua, apa lagi yang bisa kuperebutkan?"

"Biarpun orang muda lebih tampan dan gagah, sayang mereka belum mapan!"

Tiba-tiba Pek Ihling berkata sambil tertawa.

"Oh, begitu rupanya!"

Sinar berkilat kembali mencorong dari balik mata Loh Loh-san.

"Wah, itu berarti kaum muda harus lebih giat bekerja."

Sela Yap Kay sambil tertawa.

"kalau tidak, beberapa tahun kemudian bila semua nona punya pikiran seperti Pek-siocia, kami bisa mati mengenaskan."

"Memang sudah seharusnya begitu, anak muda zaman sekarang selain ingin menang sendiri dan bertindak semena-mena, nyaris tak ada kelebihan lain."

"Tapi bila kaum muda tidak cari menang sendiri, jadi apa dunia persilatan saat ini?"

Kata Yap Kay sambil tertawa.

"bukankah begitu?"

"Biar muda, biar tua, semuanya memiliki kebaikan dan kelebihan masing-masing,"

Sela Be Khong-cun sambil mengangkat cawan araknya.

"mari kita bersulang satu cawan!"

Begitu mendengar bersulang, tentu saja Loh Loh-san yang paling gembira, tapi sayang takaran minum orang ini sangat cetek, baru beberapa cawan air kata-kata yang pindah ke dalam perutnya, ia sudah mabuk berat.

Pada saat itulah tiba-tiba mereka mendengar suara seruling berkumandang memecah keheningan.

Irama seruling itu lembut dan indah, nadanya halus sedap didengar, tanpa terasa semua orang terperana dibuatnya, semua orang dibuat terbuai dan mabuk kepayang.

Dengan mata yang setengah meram Loh Lohsan mengalihkan pandangan matanya ke arah pintu, menyusul irama seruling yang merdu merayu itu, dari balik kegelapan muncul dua orang, dua orang kerdil.

Ya, benar-benar dua orang kerdil.

Yang seorang adalah seorang kakek kecil sementara yang lain adalah nenek kerdil, mereka mempunyai wajah yang kecil, hidung yang kecil, mulut yang kecil dan seruling kemala putih yang kecil pula.

Yap Kay belum pernah menjumpai manusia yang begitu kerdil, bagian mana pun dari tubuh mereka memiliki bentuk yang jauh lebih kecil.

Walau begitu, bentuk tubuh mereka sempurna, sedikit pun tidak nampak lucu atau jelek.

Si kakek kerdil memiliki wajah yang ramah dengan rambut telah beruban, sementara si nenek memiliki wajah halus, lembut dan amat anggun, sepasang tangannya yang memegang seruling kelihatan begitu halus dan putih, tak ubahnya seperti seruling yang dipegang.

Siapa pun mau tak mau pasti akan mengakui bahwa mereka berdua adalah pasangan serasi, pasangan ideal.

Tak ada orang yang bersuara, begitu juga dengan Yap Kay, barang siapa mendengar irama seruling itu dari kemudian menyaksikan bentuk badan mereka berdua, dapat dipastikan akan termangu dan terperangah dibuatnya.

Hanya Pek Ih-ling terkecuali, begitu menyaksikan kedua orang itu berjalan masuk, sekulum senyuman gembira segera tersungging di ujung bibirnya.

"Lo-siansing, Lo-thaythay, kenapa kalian pun datang kemari?"

"Tentu saja kami harus kemari,"

Jawab si kakek kerdil sambil tertawa.

"masalah ini adalah masalah besarmu, bagaimana mungkin kami tidak ikut kemari?"

Masalah besar?

Masalah besar bagi Pek Ih-ling?

Apakah mereka berdua pun datang kemari lantaran Pek Ih-ling sedang mencari calon suami?

Apakah si kakek kerdil pun ingin turut serta dalam kompetisi ini?

Tiba-tiba Be Khong-cun berdiri, dengan sikap sangat menghormat menjura kepada kakek kerdil itu.

Seolah terperanjat oleh penghormatan itu, si kakek segera berkata.

"Aku tak lebih hanya seorang kakek biasa yang tidak berguna, buat apa kau memberi penghormatan yang begitu besar kepadaku?"

"Setelah berjumpa Hong-locianpwe, mana berani aku bersikap kurang sopan?"

Sahut Be Khong-cun dengan sikap lebih menghormat. Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Yap Kay, ditatapnya kakek kerdil itu dengan terperanjat.

"Hong-locianpwe?"

Gumam Yap Kay dengan nada terkesiap.

"apakah kau adalah Hong-loyacu yang berjuluk Jian li hui hun, ban li cui gwe, sin kiau bu im tui hong siu (seribu li terbang di awan, selaksa li menangkap rembulan, kakek tanpa bayangan pengejar angin)?"

Sambil tersenyum kakek kerdil itu manggutmanggut. Kembali Yap Kay memandang ke arah nenek yang memegang seruling kemala itu, kemudian ujarnya lagi.

"Hong siu gwe po (kakek angin nenek rembulan) selamanya tak pernah berpisah, berarti nenek adalah Gwe-popo si nenek rembulan yang nama besarnya telah tersohor di Seantero jagad"

"Tak kusangka anak muda ini meski masih kecil umurnya namun memiliki pengetahuan yang luas,"

Puji Gwe-popo sambil tersenyum ramah.

"Cianpwe berdua bukannya menikmati hari tua di loteng Poan-gwe-siu-lau, mau apa mendatangi tempat terpencil yang sepi dan jauh dari keramaian ini?"

Kata Be Khong-cun sambil tertawa.

"Apa tujuan Sam-lopan mengumpulkan orang di sini malam ini? Bukankah karena masalah perkawinan Pek-siocia."

Tegur Tui hong siu sambil tertawa.

"Darimana kalian bisa tahu?"

Tanya Be Khongcun agak melengak.

"Tentu saja kami tahu"

Suara tawa Tui hong siu semakin riang.

"mana mungkin kami tidak mengetahui persoalan seperti ini? Bukan begitu Pek-siocia?"

"Ah, tak kusangka masalahku bisa mengusik kehadiran kalian berdua,"

Seru Pek Ih-ling tertawa.

"Anak Ling, jadi kau kenal baik kedua Locianpwe ini?"

Tegur Be Khong-cun terperanjat.

"Dia adalah teman bermain catur Ong-supek, ketika masih tinggal serumah, mereka bahkan sering mengajari aku bermain catur."

"Teman bermain catur? Padahal kami tak lebih hanya orang bawahannya,"

Gwe-popo menerangkan sambil tertawa.

Orang bawahan?

Tokoh maha sakti seperti mereka pun masih menjadi bawahan orang lain?

Lalu manusia macam apa tokoh yang dipanggil Ong-supek itu?

Malaikat seperti apa Ong-supek itu hingga sanggup memiliki bawahan seperti kakek pengejar angin dan nenek rembulan?

Yap Kay benar-benar terperangah dibuatnya, bukan hanya dia, Pho Ang-soat yang selama ini membungkam pun ikut tergerak hatinya.

"Apakah Ong-supek yang menyuruh kalian datang kemari?"

Terdengar Pek Ih-ling bertanya sambil tertawa ringan.

"Selain dia, siapa lagi yang bisa menyuruh aku si tua bangka melakukan perjalanan jauh?"

Omel Tui hong siu.

"tapi seandainya dia tidak menyuruh pun, kami tetap akan kemari, siapa suruh kau adalah kesayangan kami."

"Sejak kepergianmu, kami seperti kehilangan sesuatu,"

Kata Gwe-popo pula sambil tertawa.

"tiap hari mereka berdua berkerut kening saja, sampai main catur pun tak pernah konsentrasi, yang lebih parah lagi, walau sedang main catur namun mereka seperti sedang berlomba menghela napas."

"Ah, bukankah kau pun sama saja, tiap hari hanya bersembunyi dalam kamar, seruling enggan ditiup, sepasang mata merah melulu."

Biarpun usia kedua orang ini sudah mencapai seratus tahun, namun cara mereka bicara tak ubahnya seperti dua anak kecil, membuat siapa pun yang mendengar jadi geli dan tertawa.

Tapi Yap Kay tahu dengan pasti bahwa kedua orang ini bukan terhitung orang yang menggelikan atau menawan, jauh sebelum orang tua Yap Kay mulai pacaran, kedua orang itu sudah merupakan tokoh menakutkan di Bu-lim.

Tui hong siu terkenal karena keras kepala, sementara Gwe-popo tersohor karena tindaktanduknya yang semau hati, tentu saja yang paling menakutkan adalah ilmu silat yang mereka miliki.

Bila watak semau hati Gwe-popo mulai kambuh, biar dia menginginkan rembulan di angkasa pun nenek itu pasti akan berusaha mendapatkannya, sementara Tui hong siu bila menganggap kau harus mati, maka biarpun bersembunyi di kolong ranjang sang kaisar pun jangan harap nyawamu bisa selamat.

Kemunculan mereka berdua yang tiba-tiba, apalagi hubungannya yang begitu akrab dengan Pek Ih-ling membuat Yap Kay merasa bahwa persoalan ini makin lama semakin menarik.

Kelihatannya Gwe-popo pun merasa Yap Kay adalah orang yang menarik, sepasang matanya yang kecil mengawasi terus gerak-geriknya sambil tersenyum.

Selama hidup Yap Kay tak pernah merasa rikuh bila diawasi seorang wanita, tapi sekarang, seandainya di tanah ada lubang, dijamin dia pasti akan segera menerobos masuk untuk bersembunyi.

Tui hong siu sedang mengawasi juga sekeliling ruangan, sinar matanya yang tajam mengamati wajah setiap orang tanpa berkedip, tapi akhirnya berhenti pada wajah Yap Kay.

Belum lagi Yap Kay melakukan sesuatu, mendadak terdengar Gwe-popo berkata.

"Siau ling ji, di antara beberapa orang lelaki yang berada di sini sekarang, bukankah sudah ada seorang yang bisa menjadi calon suamimu?"

"Aku...."

Paras muka Pek Ih-ling kontan berubah merah jengah, bahkan ia tertunduk dengan tersipu-sipu.

"Tua bangka, coba lihat, ternyata ada saatnya juga paras muka Siau ling ji kita berubah merah padam,"

Goda Gwe-popo lagi.

"Ah, dia kan anak perempuan, masakah harus meniru kau, kulit badan yang tak bakal robek biarpun diledakkan!"

"Apa? Kau menuduh kulit mukaku tebal seperti badak?"

"Maksudku, kau adalah seorang perempuan cantik, biasanya perempuan cantik tak bakal merah padam wajahnya."

Ternyata bukan anak muda saja yang suka mendengar ucapan menjilat pantat, tak heran Gwe-popo berseri wajahnya lantaran girang.

Menggunakan kesempatan itu Tui hong -siu berpaling ke arah Pek ih-ling sambil membuat muka setan, dua orang itu pun tertawa terkekehkekeh.

Yap Kay ikut tertawa, tertawa melihat Gwepopo sebenarnya mengetahui tingkah-laku kedua orang itu, tapi berlagak bodoh.

Memang itulah yang dilakukan mereka suami istri, terkadang mata harus melotot, terkadang harus setengah terpejam, saling mengalah memang bukan tindakan bodoh.

Tak disangkal Gwe-popo sangat memahami teori itu, karena itulah meski melihat namun dia tetap berlagak seolah tidak melihat.

Beberapa saat kemudian baru dia mendongakkan kepala sambil berkata.

"Siau ling ji, peduli siapa pun calon yang bakal kau pilih, dia harus lulus dulu dari kami berdua."

Kemudian setelah tertawa lebar, lanjutnya.

"Tapi kalian tak usah kuatir, kami tak bakal menyusahkan dirimu, tentu saja asal kau berhasil lolos dari tiga ujian."

"Tiga ujian? Ujian apa?"

Seru Pek Ih-ling panik bercampur kaget.

"Ujian pertama harus tampan dan gagah penampilannya,"

Kata Gwe-popo sambil tertawa.

"sementara ujian kedua, dia harus dijajal dulu kehebatan ilmu silatnya oleh si tua bangka."

Setelah berhenti sejenak untuk menarik napas, kembali nenek itu menambahkan.

"Sedang ujian ketiga, tentu saja aku si nenek yang akan melakukannya."

"Apa yang akan kau lakukan pada ujian ketiga?"

"Pemeriksaan badan."

"Periksaan badan?"

Pek Ih-ling tertegun.

"bagaimana caramu memeriksa?"

"Bugil, tentu saja harus bugil! Kalau tidak, bagaimana aku bisa melakukan pemeriksaan?"

"Bugil,"

Kali ini Pek Ih-ling benar-benar amat terperanjat.

"suruh dia melucuti semua pakaian dan membiarkan kau memeriksanya?"

"Tentu saja."

"Tapi... sesudah dia telanjang bulat, dengan... dengan cara apa kau hendak memeriksanya?"

Tanya Pek Ih-ling tergagap.

"Akan kuperiksa seinci demi seinci, kalau tidak, bagaimana aku bisa tahu dia berpenyakit atau tidak?"

Seorang lelaki dewasa yang telah melucuti semua pakaiannya hingga bugil harus diperiksa seluruh badannya oleh seorang perempuan, sekalipun usia perempuan itu sudah lewat setengah abad pun, dia masih tetap seorang perempuan, bagaimana pun pasti akan rikuh dan malu.

Begitu Gwe-popo selesai bicara, semua yang hadir terperanjat, khususnya Yap Kay, karena sorot mata Gwe-popo yang menatapnya seakan telah berubah menjadi sepasang tangan yang sedang melucuti pakaiannya satu per satu.

Dia seolah-olah sudah memastikan bahwa Yap Kay yang bakal menjadi suami Pek Ih-ling, oleh karenanya sorot mata yang terpancar penuh selidik.

Dengan susah-payah akhirnya Yap Kay berhasil juga lolos dari sergapan mata Gwe-popo, baru saja dia menghembuskan napas lega, terdengar Gwe-popo sudah bertanya kepada Pek Ih-ling.

"Siau-ling-ji, calonmu yang mana?"

Pek Ih-ling menundukkan kepala, mukanya merah, ia duduk di pojokan dengan perasaan serba kikuk, tapi senyum kegirangan mulai tersungging di ujung bibirnya, senyuman itu persis seperti senyum kemenangan seekor rase kecil yang baru saja berhasil mencuri seekor ayam gemuk.

Sebenarnya siapa yang dia sukai?

Siapa yang bakal dipilihnya sebagai calon pendamping?

Semua hadirin memandang ke arahnya, bahkan Pho Ang-soat yang biasanya membisu tanpa bicara pun tak kuasa ikut melihat, siapa gerangan lelaki yang bakal dipilihnya.

Loh Loh-san yang selama ini mabuk berat pun tiba-tiba jadi sadar kembali, dengan sorot mata penuh harapan dia mengawasi nona itu.

Melihat Pek Ih-ling tidak bersuara, sekali lagi Gwe-popo bertanya.

"Ayo, cepat katakan Siauling-ji!"

Kepala Pek Ih-ling tertunduk semakin rendah, pipinya semakin merah, sampai lama sekali baru dia mengiakan dengan suara yang jauh lebih lembut daripada suara nyamuk.

Tapi begitu dia bersuara, kontan jantung Loh Loh-san nyaris melompat keluar, sekujur badannya jadi lemas tak bertenaga, hampir saja tubuhnya roboh ke kolong ranjang.

"Siapa sebenarnya?"

Teriak Gwe-popo.

"yang berkepentingan tidak gelisah, malah penonton yang panik. Tentunya kau harus mengatakan bukan?"

Be Khong-cun yang selama ini hanya menonton sambil tersenyum tiba-tiba ikut buka suara.

"Kenapa anak Ling ragu-ragu menjawab, mungkin aku mengetahui sedikit alasannya."

"Apa alasannya?"

Tanya Gwe-popo.

"Dia kuatir calon yang dipenujui menampik permintaannya."

"Siapa yang bakal menampik?"

"Andaikata ada yang menampik?"

"Kalau ada yang berani menampik, akan kubunuh orang itu,"

Seru Tui hong siu sambil menarik kembali senyumannya, kemudian sambil menatap wajah semua orang satu per satu, lanjutnya.

"Aku rasa kalian semua sudah mendengar perkataanku dengan jelas bukan?"

Dengan kondisi yang begitu menarik, dengan tulang punggung yang begitu kuat, apalagi si nona pun cantik jelita, siapa yang bakal menampik tawaran itu?

Yap Kay tahu ada seseorang pasti akan menampik, sebab dia sudah melihat orang itu telah bangkit.

Dengan wajah dingin Pho Ang-soat bangkit berdiri, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun beranjak pergi dari situ.

"Mau apa kau?"

Bentak Gwe-popo dengan wajah berubah. Walaupun Pho Ang-soat menghentikan langkah kakinya, namun dia sama sekali tidak berpaling, hanya sahutnya ketus.

"Hari sudah malam."

Habis berkata, kembali ia melangkahkan kakinya yang bebal dan lamban berjalan menuju ke pintu.

Baru saja sorot mata Gwe-popo mencorong tajam, tiba-tiba tubuh Tui hong siu telah tiba di depan pintu dan menghadang jalan pergi Pho Ang-soat.

Malam memang sudah kelam, saat itu pun sudah waktunya untuk tidur, tapi berarti pula dia telah menolak lamaran itu.

Sekalipun Pho Ang-soat tak menjelaskan maksud ucapannya, tapi setiap orang memahami arti ucapan itu, terlebih Tui hong siu.

Setelah menghadang di depan pintu, dengan sorot matanya yang berkilat, meski tak setajam sorot mata Gwe-popo, namun telah dipenuhi hawa napsu membunuh, dia mengawasi lawan tanpa berkedip.

Karena pintu terhadang, terpaksa Pho Ang-soat menghentikan langkah, sinar matanya yang selalu tampak sayu dan kesepian, balas menatap wajah Tui hong siu.

Suasana dalam gedung pun seketika menjadi hening, kalau semula semua orang merasakan kegembiraan maka dalam waktu singkat hawa napsu membunuh seakan sudah menyelimuti seluruh ruangan.

Berada dalam keadaan seperti ini, mestinya Be Khong-cun sebagai tuan rumah harus segera turun tangan melerai, tapi Yap Kay lihat orang itu masih tetap duduk sambil tertawa, sama sekali tak ada niat untuk menghalangi.

Pho Ang-soat masih berdiri tak bergerak, tapi otot hijau di tangan kirinya sudah merongkol, dari balik matanya yang dingin, hambar dan kesepian kembali terlintas perasaan pilu yang mendalam.

Dengan sorot mata penuh Yiapsu membunuh Tui hong siu segera menegur.

"Jadi kau ingin tidur?"

"Benar!"

Jawaban Pho Ang-soat singkat.

"Ingin tidur berarti menampik permintaan?"

Kali ini Pho Ang-soat tidak menjawab.

Terkadang tidak menjawab berarti mengakuinya.

Tui hong siu bukan orang bodoh, oleh sebab itu bukan cuma sorot matanya saja ryang mengandung hawa membunuh, bahkan seluruh tubuhnya telah diselimuti hawa membunuh yang tak berwujud.

Di tengah ketegangan yang mencekam seluruh ruangan, tiba-tiba Yap Kay bertindak, dengan senyum menghiasi wajahnya ia berjalan menghampiri Tui hong siu serta Pho Ang-soat, kemudian ujarnya.

"Masalah perkawinan adalah masalah besar, aku percaya Pek-siocia pun belum tentu bisa mengambil keputusan. Kini malam sudah makin larut, apa salahnya kalau kita beristirahat dulu semalam, kemudian besok pagi masalah ini baru diputuskan Pek-siocia sendiri?"

Tui hong siu berpaling mengawasi Yap Kay, bukan wajahnya yang diperhatikan, tapi posisi yang ditempati pemuda itu, setelah memandangnya sejenak tiba-tiba ia tertawa tergelak.

"Bagus, bagus sekali, ternyata anak muda ini banyak latahnya."

"Tidak berani."

Jangan dilihat Yap Kay hanya berdiri sembarangan di tempat itu, justru posisi yang ditempatinya sekarang amat strategis, bukan saja dia telah menghalangi arah serangan Tui hong siu, bahkan bisa mencegah Gwe-popo melancarkan serangan bantuan pula.

Begitu melihat pemuda itu tampil, perasaan kecewa melintas di wajah Gwe-popo, mendadak dia menghela napas dan berdiri.

"Orang masih muda, kenapa jalan pikirannya belum terbuka?"

Ujar nenek rembulan sambil menghela napas.

"tidak heran umur orang zaman sekarang rata-rata pendek."

Biarpun dia hanya berdiri, namun bagi jago yang pengalaman dapat dilihat dia telah membuka kembali posisi yang semula dihambat Yap Kay.

Begitu nenek itu bergerak, Yap Kay sama sekali tak berkutik, tapi jari telunjuk, ibu jari serta jari tengah tangan kirinya disentilkan sebanyak tiga kali.

Hanya tiga gerakan, tapi cukup membuat Gwepopo tercengang.

Jangan dilihat tiga gerakan sentilan itu amat sederhana, padahal ancaman yang ditimbulkan justru jauh lebih hebat daripada tusukan maut seorang jago pedang.

Pertarungan tanpa wujud semacam ini tentu saja bukan setiap orang dapat merasakan, hanya jago-jago seperti Tui hong siu dan Gwe-popo saja yang sadar, betapa dahsyat dan menakutkan serangan itu.

Tiba-tiba saja keempat orang itu seperti orang yang tertotok jalan darahnya, sama sekali tak berkutik.

Bukan hanya orangnya, bahkan sang angin pun seolah turut tak bergerak, suasana tegang dan serius segera mencekam seluruh ruangan, kecuali keempat orang itu, meski orang lain tak ikut dalam pertarungan, namun mereka ikut merasa keletihan yang luar biasa, seakan mereka pun baru saja ikut bertempur ratusan gebrakan, peluh dingin nyaris membasahi seluruh pakaian mereka.

Entah berapa lama sudah situasi bertahan semacam ini, saat itulah mendadak terdengar Pek Ih-ling menghela napas sambil bangkit.

"Hong-kongkong, Gwe-popo, kalau kalian begitu terus, aku... aku akan....

"Kau mau apa?"

Tanya Gwe-popo.

"Aku mau mati saja"

"Jangan mati,"

Teriak Tui-hong-siu dengan gelisah.

"kalau kau mati, bagaimana pertanggung jawaban kami terhadapnya?"

Yang dimaksudkan sebagai dia tentu saja Ongsupek yang pernah disebut Pek Ih-ling.

"Lantas buat apa kalian memaksa orang terus menerus, seakan aku... aku sudah tak laku kawin saja,"

Seru Pek Ih-ling manja.

"Lalu apa yang harus kami lakukan?"

"Sekarang malam sudah larut, lagi pula kalian berdua baru datang dari tempat jauh, apa salahnya kita beristirahat dulu, sementara urusan lain dibicarakan lagi besok?"

Be Khong-cun yang selama ini membungkam tiba-tiba ikut buka suara, katanya.

"Benar, silakan Locianpwe berdua beristirahat dulu, kalau ada persoalan lebih baik besok saja kita bicarakan lagi!"

Sinar rembulan malam ini nampak cerah dan terang, secerah sinar rembulan di wilayah Kanglam.

Kanglam berada jauh di sana, begitu pula dengan bulan purnama, bedanya kau bisa melihat rembulan asal mau mendongakkan kepala, tapi bagaimana dengan wilayah Kanglam?

Oh Sam tumbuh dewasa di wilayah Kanglam, tapi sudah belasan tahun ia tinggal di daerah pinggiran kota.

Selama belasan tahun belum pernah ia balik ke wilayah Kanglam walau satu kali pun, setiap kali sedang mabuk berat, setiap kali dia bermimpi di tengah malam buta, ia selalu teringat dan terkenang kampung halamannya.

Sampai kapan baru ia bisa kembali ke kampung halaman?

Sampai kapan baru bisa bertemu ayah dan ibu?

Mengapa seorang pengembara selalu begitu jauh meninggalkan kampung halamannya?

Malam ini Sam-lopan dari Ban be tong telah menghadiahkan lima puluh guci arak untuk bawahannya.

Oh Sam dan beberapa orang rekan akrabnya mengusulkan untuk 'bermain' di rumah makan Siang ki-lau di kota kecil seusai menenggak habis isi guci.

Oleh sebab itulah mereka berlima muncul di tengah perjalanan.

Biarpun masih musim panas, namun hembusan angin di tengah malam terasa jauh lebih dingin daripada udara di musim salju.

Tapi Oh Sam berlima sedikit pun tidak merasa kedinginan, mereka membiarkan baju bagian dada terbuka lebar, mungkin karena pengaruh arak?

Atau karena hangatnya suasana di Siang kilau?

Di bawah cahaya rembulan yang terang, dari balik kegelapan di ujung jalan, tiba-tiba mereka melihat ada seseorang berdiri menunggu.

Orang itu mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam, tapi air mukanya justru putih pucat bagaikan mayat.

Apakah dia pun anggota Ban be tong?

Oh Sam memperhatikan orang itu, dia ingin tahu siapa gerangan orang itu agar besok punya bahan cerita untuk mengolok-oloknya.

Oh Sam berlima melanjutkan kembali langkahnya, tapi belum jauh bertindak, tiba-tiba mereka lihat orang itu tidak sama sekali tak bergerak, orang itu masih tetap berdiri di tengah jalan bagaikan patung.

Sesungguhnya selisih jarak antara kedua belah pihak tidaklah terlalu jauh, karena itu dalam waktu singkat Oh Sam sekalian telah tiba di hadapan orang itu.

"He, siapa kau? Mengapa seorang diri berdiri di sini?"

Kata berikut sudah tak sanggup dilanjutkan lagi oleh Oh Sam karena saat ini dia sudah dapat melihat dengan jelas siapa gerangan orang yang berdiri di hadapannya.

Orang itu mengenakan pakaian ketat berwarna hitam, wajahnya putih pucat bagai mayat, ternyata dia bukan lain adalah Hwi thian ci cu yang semalam telah digigit sampai mati oleh setan pengisap darah.

Bukankah dia sudah mati terbunuh?

Bukankah mayatnya sudah dikubur?

Bahkan Oh Sam sendiri yang melakukannya, kenapa sekarang bisa muncul di sini?

Jangan-jangan ....

Mendadak hati Oh Sam bergidik, bulu kuduknya berdiri, dia jadi teringat sebuah dongeng.

Konon orang yang mati digigit setan pengisap darah, pada malam keesokannya akan berubah juga menjadi setan pengisap darah.

Membayangkan dongeng itu, tak kuasa lagi bulu kuduk Oh Sam berlima berdiri, perasaan ngeri, takut segera terpancar keluar dari mata mereka, ditatapnya wajah Hwi thian ci cu tanpa berkedip.

Pada saat itulah mereka lihat Hwi thian ci cu mulai mementang mulut, darah segar meleleh keluar dari sisi bibirnya, sementara dua buah gigi taringnya yang lebih panjang dari jari tangan membiaskan cahaya berkilauan di bawah timpaan sinar rembulan.

Mengikuti melelehnya darah segar, dari balik tenggorokan Hwi -thian ci cu berkumandang suara tertawanya yang menakutkan.

Orang pertama yang teringat untuk kabur tentu saja adalah Oh Sam, beruntung sepasang kakinya masih mau mengikuti perintah, dia kabur dengan begitu cepatnya.

Di saat dia sedang berlarian itulah lamat-lamat terdengar empat kali jeritan ngeri yang memilukan, tampaknya keempat orang rekannya yang tertinggal telah menjadi korban santapan setan pengisap darah itu.

Oh Sam tak berani berpaling, dia kuatir setan pengisap darah itu tahu-tahu muncul di belakang tubuhnya.

Saat itulah mendadak ia mendengar suara aneh berkumandang dari atas kepalanya, suara itu mirip suara burung besar yang sedang mengebaskan sayapnya yang lebar.

Tak tahan lagi dia segera mendongakkan kepala, ternyata bukan seekor burung yang berada di atas kepalanya, melainkan Hwi thian ci cu sedang mementang sepasang tangannya, tangan itu mirip bentangan sayap kelelawar raksasa yang sedang menerkam ke arahnya.

Kontan Oh Sam merasakan kakinya lemas.

"Bruk!" , ia jatuh terduduk di tanah. Dengan cepat Hwi thian ci cu melayang turun, persis turun di hadapannya. Oh Sam masih sempat menyaksikan mimik muka Hwi thian ci cu yang menyeramkan, dia pun menyaksikan sepasang gigi taringnya yang tajam kian lama kian bertambah dekat dengan tengkuknya, menyusul kemudian ia merasa kesakitan yang luar biasa timbul dari leher sebelah kiri. Menyusul rasa sakit itu, dia pun merasa cairan darah dalam tubuhnya mengalir cepat dan menyembur keluar melalui mulut luka di leher sebelah kirinya, lambat-laun dia merasa kakinya lemas, kemudian menyusul badannya, tangannya... tubuhnya seolah sebuah kantung kulit yang mulai mengempis. Tak lama kemudian seluruh tubuh Oh Sam terkapar lemas di tanah, kulit badannya mulai berkerut kencang, mukanya yang makin memucat akhirnya berubah jadi hitam keabu-abuan, seluruh cairan darah di tubuhnya telah terisap habis. Hwi thian ci cu melepas mayat Oh Sam yang layu, kemudian mendongakkan kepala sambil berpekik nyaring, ceceran darah masih meleleh keluar dari ujung bibirnya. Kemudian bagaikan seekor kelelawar raksasa, dia melayang ke udara dan meluncur ke balik kegelapan malam. BAGIAN II. SUARA GOLOK Bab 1. MELOLOH GADIS CILIK "Mana goloknya?"

"Goloknya tak nampak."

"Kenapa?"

"Sebab setelah mendengar suara golok, golok itu pun tak terlihat."

"Suara golok?"

"Betul, begitu mendengar suara golok, sang korban pun segera tewas."

"Oleh sebab itu hanya terdengar suara golok, tapi tidak terlihat goloknya?"

"Benar."

Sekembali ke kamarnya semalam dan berbaring di atas ranjang, Yap Kay baru merasa punggungnya telah basah kuyup oleh keringat dingin.

Membayangkan kembali situasi tegang yang dialaminya dalam gedung tadi, andaikata Pek Ihling tidak melerai secara tiba-tiba, Yap Kay tak bisa membayangkan bagaimana hasil pertarungan itu?

Semenjak lima puluh tahun berselang Tui hong siu maupun Gwe-popo sudah terhitung jagoan nomor wahid di kolong langit, biarpun usianya sekarang bertambah tua, namun kehebatan ilmu silat bukan bisa dibatasi dengan meningkatnya umur seseorang.

Lagipula pada jidat Tui hong siu maupun Gwepopo secara lamat-lamat terlihat cahaya merah, gejala semacam itu baru akan muncul jika tenaga dalam telah dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan.

Dari situasi tadi, posisinya ketika berada dalam gedung itu jauh lebih unggul dari siapa pun, tapi Yap Kay menyadari, kecuali dia bisa melancarkan serangan lebih dulu, begitu turun tangan menggunakan pisau terbang ajaran Siau-li si pisau terbang, ....kalau tidak, lima puluh gebrakan kemudian ia pasti akan menderita kekalahan.

Dari sikap Be Khong-cun semalam, tampaknya dia pun tidak kenal Tui hong siu maupun Gwepopo, dia pun tidak mengetahui hubungan akrab Pek Ih-ling dengan mereka berdua.

Dari pembicaraan Tui-hong-siu, dia pun mendapat tahu bahwa selama beberapa tahun terakhir Pek Ih-ling hidup bersama mereka, dia pun tinggal dengan seorang yang disebut Ongsupek.

Dari sini dapat diketahui bahwa Pek Ih-ling bukanlah Be Hong-ling.

Yap Kay yakin, mustahil gadis itu adalah putri tunggal Pek Thian-ih.

Jangankan Tui hong siu serta Gwe-popo, mungkin orang yang disebut Ong-supek pun tidak mengetahui asal-usul gadis itu.

Lalu siapakah dia?

Bila bisa diketahui asalusulnya, bisa jadi dia pun dapat mengungkap rahasia di balik sepak terjang Ban be tong kali ini.

Tapi, tidak gampang untuk menguak tabir rahasia semacam ini, bila rahasia Pek Ih-ling merupakan kunci semua rahasia itu, maka orang yang melindungi gerak-gerik gadis itu pasti akan bekerja lebih ketat.

Bisa jadi dia harus membayar dengan harga yang tak ternilai agar bisa mengungkap semua rahasia itu.

Matahari telah terbit di ufuk timur.

Sang surya ibarat gadis perawan yang baru mendusin dari tidur, membuka sepasang matanya dengan sayup dan mengawasi kekasih yang berada di sisi pembaringan dengan pandangan lembut.

Langit di sebelah barat masih remang-remang gelap, masih tertutup warna kelabu, secercah cahaya fajar mulai memancar keluar, menyinari kamar tidur Yap Kay.

Semalaman ia tak bisa memejamkan mata, otaknya dipenuhi peristiwa yang terjadi semalam, walau sudah semalam begadang, namun tak terasa mengantuk sedikit pun, sebaliknya ia justru kelihatan gembira dan bersemangat.

Begitu melompat bangun dari ranjang, dia melakukan enam-tujuh puluh gerakan aneh, bagaikan tak punya tulang saja dia melakukan berbagai tekukan yang aneh dan tak masuk akal.

Setelah berbaring semalaman tanpa selimut, keempat anggota badannya sudah hampir membeku kaku saking kedinginan.

Selasai berolah raga, dengan penuh semangat dia membuka pintu kamar, menyongsong datangnya sinar matahari pagi.

Angin fajar berhembus lembut menggoyang dedaunan, embun pagi meleleh ke bawah membasahi permukaan tanah.

Yap Kay berjalan menyusuri pepohonan, menyongsong datangnya sinar pagi, tanpa terasa ia berjalan menuju ke arah rimba lebat.

Yap Kay berjalan dan berjalan terus, dengan langkah perlahan tapi pasti menembus hutan, menuju ke bagian dalam rimbunnya pepohonan.

Tak lama kemudian dari kejauhan ia sudah melihat sebuah gundukan tanah perbukitan, gundukan tanah yang tidak terlalu besar.

Begitu sederhana bentuk gundukan tanah itu, mungkinkah tempat inilah yang dikisahkan Pho Ang-soat dengan segala kejadian aneh dan misterius itu?

Dengan perasaan sangsi Yap Kay mulai berjalan mengitari gundukan tanah itu, memeriksa dan mengamati dengan seksama sekeliling tempat itu, namun tak ada yang ditemukan, bahkan sesuatu yang aneh pun tidak dijumpai di situ.

Ia mencoba meraba permukaan tanah, mengambil segenggam tanah, meski terasa agak lembab namun tanah di situ tak beda jauh dengan tanah di tempat lain, bahkan sewaktu diendus pun tidak dijumpai bau lain.

Yap Kay mulai menepekur, berpikir tiada hentinya, perasaan sangsi mulai muncul pada wajahnya.

"Jangan-jangan aku salah tempat?"

Tidak mungkin, tidak mungkin salah, Yap Kay coba membantah dugaan itu.

Sekali lagi dia amati gundukan tanah itu dengan seksama, heran, mengapa tidak ditemukan pemandangan seperti apa yang dikisahkan Pho Ang-soat?

Atau kedatangannya tidak tepat waktu?

Apakah dia pun harus mendatangi tempat itu di saat fajar hampir menyingsing?

Atau mungkin gundukan tanah itu bagaikan seorang gadis perawan, malu bertemu orang di pagi hari dan hanya muncul di tengah malam?

Teringat akan gadis pemalu, tanpa terasa Yap Kay terbayang So Ming-ming, cewek berbaju putih yang nampak kesepian itu.

Baru saja sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya, Yap Kay segera mendengar suara gadis itu.

"Tak kusangka kau pun tahu di tempat ini terdapat gundukan kecil,"

Tiba-tiba So Mingming muncul dari balik pepohonan yang lebat.

"terlebih tak kusangka kau pun sangat tertarik dengan gundukan tanah itu."

Baru teringat akan seseorang, ternyata orang itu segera muncul di depan mata, kejadian seperti ini benar-benar merupakan kejadian yang menyenangkan.

"Lalu darimana kau tahu di tempat ini terdapat gundukan tanah?"

Yap Kay balik bertanya sambil tertawa.

"apakah kau pun tertarik juga dengan gundukan tanah ini?"

"Tentu saja sangat tertarik, sejak kecil aku sudah terpesona oleh cerita mengenai gundukan tanah perbukitan ini."

"Cerita tentang gundukan tanah?"

Yap Kay langsung merasakan semangatnya bangkit kembali.

"maukah kau bercerita padaku, siapa tahu aku pun bakal kesemsem?"

"Boleh saja aku bercerita, tapi dengan cara apa kau hendak membalas budi ini?"

Suara tawa So Ming-ming semakin mempesona.

"Bagaimana kalau aku traktir makan sampai kenyang atau mengajakmu pesiar ke wilayah Kanglam?"

"Ke Kanglam?"

Sebetulnya Kanglam hanya terdiri dari dua huruf, namun begitu mendengar nama itu, dari balik mata So Ming-ming memancarkan sinar aneh. Melihat keanehan di wajah nona itu, kembali Yap Kay berkata.

"Orang yang belum pernah datang ke Kanglam pasti ingin sekali pergi ke sana, tapi bila sudah berada di Kanglam, kau pasti akan merindukan pinggiran kota."

Tiba-tiba sinar mata Yap Kay pun memancarkan sinar kelesuan dan kemurungan.

Apakah dia sedang rindu kampung halamannya?

Apakah dia sedang membayangkan suasana Kanglam?

Kanglam memang berada dalam alam impiannya, impian yang dipenuhi kemurungan dan kesedihan seorang pengembara.

"Apakah kampung halamanmu adalah Kanglam?"

Suara So Ming-ming terdengar begitu sayu dan sendu, seolah hembusan angin yang terkirim dari wilayah Kanglam.

"Ya, aku dibesarkan di Kanglam."

"Lalu dimana kampung halamanmu?"

Dimana?

Tentu saja di pinggiran kota.

Pinggiran kota adalah kampung halaman Yap Kay, pinggiran kota adalah tempat kelahirannya.

Di pinggiran kota itulah semua impiannya berada, sayang hanya semua impian buruk.

Biarpun impian buruk telah berlalu, namun pinggiran kota masih seperti sedia kala, bagaimana dengan manusianya?

Pek Thian-ih suami istri, orang tua Yap Kay...

mereka...

mereka telah ....

Tiba-tiba ia menggeleng kepala, seolah hendak membuang jauh semua impian buruk itu, tak lama kemudian sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya.

"Sebagai seorang pengembara, empat samudra adalah rumahku, kemana aku mengembara, di situlah rumahku,"

Kata Yap Kay sambil tertawa.

"kembali ke masalah pokok, coba kau ceritakan gundukan tanah itu!"

"Menurut dongeng, zaman dahulu kala di pinggiran jagad, di bagian terujung dari dunia ini terdapat sebuah puncak gunung yang tingginya mencapai langit,"

So Ming-ming mulai bercerita, suaranya seolah datang dari puncak bukit itu.

"di atas puncak gunung itu bukan saja terdapat salju abadi yang tak pernah mencair, di sana pun hidup seekor makhluk aneh yang sangat langka, bahkan terdapat pula siluman iblis yang jauh lebih menakutkan daripada setan bengis."

"Kau maksudkan puncak Cu mu lang ma?"

Tanya Yap Kay.

"Benar, siluman iblis yang tinggal di puncak gunung itu konon adalah roh jahat yang berusia ribuan tahun, bukan saja dia dapat menempel pada benda apa pun, bahkan dapat pula berwujud sebagai manusia."

Sorot matanya yang penuh kemurungan tibatiba memancarkan cahaya yang sangat aneh, seolah dia sedang mengawasi suatu tempat di kejauhan sana yang penuh diselimuti kemisteriusan dan keanehan.

Kelihatannya Yap Kay ikut terpengaruh oleh mimik wajah gadis itu.

"Di saat roh jahat berusia seribu tahun itu tampil dalam wujud manusia, dia pun mendatangi wilayah gunung dan menguasai semua manusia yang hidup di sana,"

Kata So Ming-ming lebih lanjut.

"setelah diperbudak hampir seratus tahun lamanya, muncullah seorang bintang penolong yang membebaskan mereka dari perbudakan, orang itu adalah utusan dari dewa."

"Utusan dari dewa?"

"Begitu tiba di tempat itu, utusan dewa pun bertempur sengit melawan roh jahat berusia seribu tahun itu selama tujuh kali tujuh empat puluh sembilan hari, akhirnya dengan mengandalkan bokor sakti, dia berhasil mengunci roh jahat itu di dalam gundukan tanah perbukitan ini."

"Oh, hanya dikurung? Bukan dibunuh?"

Yap Kay bertanya.

"Roh jahat berusia seribu tahun tak dapat dibunuh, dia hanya terkunci di dalam bokor sakti. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, utusan dewa sempat berpesan wanti-wanti kepada semua orang yang tinggal di situ, katanya gundukan tanah ini tidak boleh digali, kalau tidak, maka roh jahat itu bakal melarikan diri."

"Berarti hingga sekarang roh jahat berusia seribu tahun itu masih terkurung di dalam gundukan tanah perbukitan ini?"

Tanya Yap Kay sambil mengamati gundukan tanah di hadapannya.

"sudah berapa lama roh jahat itu terkurung di sini? Lebih dari seratus tahun?"

"Seratus tahun? Roh jahat itu sudah empat ratus lima puluh enam tahun terkurung di sini."

"Empat ratus lima puluh enam tahun?"

Yap Kay tercengang bercampur kaget.

"heran, kau bisa mengingatnya begitu jelas?"

"Sudah kuhitung,"

Tiba-tiba So Ming-ming tertawa geli.

"sewaktu masih kecil dulu, kakekku pernah memberitahu, tahun pertama sewaktu roh jahat itu tertangkap adalah tahun kemunculan komet yang keenam."

"Kemunculan komet yang keenam?"

"Kemunculan pada tahun ini adalah kemunculan yang ketujuh, bukankah bintang itu muncul setiap tujuh puluh enam tahun satu kali? Berarti sudah empat ratus lima puluh enam tahun."

"Keenam kali? Komet?"

Yap Kay termenung sambil memeras otak, selang sesaat kemudian ia bertanya lagi.

"Kalau begitu tahukah kau sejak tahun pertama kemunculan roh jahat itu hingga tahun pertama ia dikurung oleh utusan dewa, semuanya selisih berapa tahun? Apakah tahun kemunculannya persis pada tahun pertama kemunculan komet?"

"Entahlah, aku kurang jelas,"

So Ming-ming menggeleng.

"aku hanya tahu di saat kemunculan roh jahat itu, di atas langit pernah muncul gejala yang sangat aneh."

"Gejala aneh?"

Gejala aneh seperti apa?

Apakah gejala adanya bintang berekor yang menyapu jagad?

Lamatlamat Yap Kay masih ingat, zaman kuno orang menyebut komet sebagai 'bintang sapu', ini disebabkan bintang itu mempunyai ekor yang sangat panjang menyerupai sebuah sapu, bahkan setiap kali kemunculannya selalu membawa ketidak beruntungan bagi umat manusia.

Ketidak beruntungan seperti apa yang bakal dibawa bintang itu tahun ini?

Apakah hidupnya kembali orang-orang yang telah mati?

Atau seperti dongeng kuno, munculnya roh jahat yang akan mengacau dunia?

Benarkah di dalam gundukan tanah perbukitan itu terdapat roh jahat dari zaman kuno?

Benarkah roh jahat itu masih hidup?

Cahaya matahari yang terik menyelinap melalui celah-celah ranting pepohonan, membuat bayangan dedaunan terpampang persis di atas gundukan tanah.

Berdiri berhadapan dengan gundukan tanah itu, Yap Kay benar-benar tidak percaya akan kebenaran dongeng itu.

Seandainya di dunia ini benar-benar terdapat roh jahat berusia seribu tahun, lalu buat apa orang persilatan melatih diri dengan berbagai ilmu silat sakti dan hebat?

Buat apa pula orang saling gontok mencari nama dan kedudukan?

Sehebat apa pun kungfu yang kau miliki, betapa besarnya kekuasaan yang kau miliki, mampukah melawan cengkeraman iblis roh jahat berusia seribu tahun?

Menghadapi dongeng yang penuh misteri itu, untuk sesaat Yap Kay tak tahu harus mempercayainya atau tidak?

Untuk sesaat dia bimbang, ragu dan penuh tanda tanya.

Mendadak So Ming-ming menatapnya dengan sorot mata yang sayu.

"Kelihatannya kau meragukan omonganku?"

"Bukan meragukan, tapi aku benar-benar sulit mempercayainya,"

Sahut Yap Kay tertawa getir.

"apa yang kau kisahkan sesungguhnya hanya dongeng belaka, kalau belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai semua itu sebagai kejadian sebenarnya?"

Tiba-tiba So Ming-ming tersenyum misterius, katanya.

"Kau ingin membuktikan benar tidaknya? Bukankah teka-teki itu berada dalam gundukan tanah ini, asal kita gali, bukankah semuanya akan jelas?"

"Menggalinya?"

So Ming-ming kembali mengangguk. Sekali lagi Yap Kay mengalihkan pandangan matanya ke atas gundukan itu, setelah lama termenung baru ia berkata.

"Rasanya itulah satusatunya jalan untuk menyingkap tabir rahasia ini."

Ditatapnya So Ming-ming sekejap, kemudian lanjutnya.

"Apakah kau tidak kuatir jika di dalamnya benar-benar bersembunyi roh jahat berusia seribu tahun?"

"Aku tak mau berpikir begitu banyak"

Kata Yap Kay penuh semangat.

"sejak kecil aku selalu berharap datangnya hari seperti ini."

"Tapi bagaimana menggalinya? Pakai tangan?"

Bisa saja menggali dengan tangan, tapi yang jelas bakal membuang banyak waktu, beruntung So Ming-ming telah menyiapkan alat untuk menggali, dari balik rimbunnya pepohonan dia mengeluarkan dua buah cangkul.

Melihat dia telah menyiapkan dua buah cangkul, tanpa terasa Yap Kay tertawa getir, serunya.

"Ternyata kau sudah siap sejak awal, juga yakin aku bakal membantumu menggali."

So Ming-ming tidak menjawab, dia hanya tertawa ringan sembari menyerahkan sebuah cangkul kepada Yap Kay, maka mereka berdua pun mulai menggali tanah.

Di antara bayangan pepohonan yang bergoyang, cangkul kedua orang itu naik turun tiada hentinya, keringat sudah membasahi tubuh mereka, menetes pula di atas permukaan tanah yang lembab.

Makin menggali, paras So Ming-ming makin memperlihatkan kegembiraan yang meluap.

Sinar kegembiraan yang berbaur dengan gejolak emosi yang aneh, membuat gadis itu nampak semakin menarik.

Dia menggali jauh lebih semangat ketimbang Yap Kay, tampaknya dongeng kuno sudah begitu mengakar dalam hatinya hingga mulai tumbuh benih baru, keinginannya untuk menguak tabir rahasia roh jahat berusia seribu tahun terasa jauh lebih bernapsu ketimbang Yap Kay.

Tentu saja Yap Kay pun ingin sekali mengetahui rahasia gundukan tanah itu, namun tujuannya sangat berbeda dengan gadis itu, jika benar seperti apa yang dikatakan Pho Ang-soat, dari balik gundukan tanah itu dapat memancarkan kumpulan cahaya yang bisa berubah bentuk jadi orang, maka dalam gundukan tanah itu sudah pasti terdapat penjelasan yang masuk akal atau telah dilengkapi dengan suatu peralatan yang masuk akal.

Hal itulah yang sangat ingin diketahui Yap Kay, sebab setiap peristiwa yang dijumpainya belakangan ini nyaris tak satu pun dapat dijelaskan dengan akal sehat, benarkah dari balik gundukan tanah yang bersahaja, gundukan tanah yang bisa dijumpai dimana pun, benar-benar tersembunyi roh jahat berumur seribu tahun?

Benarkah dari situ dapat pula memancarkan cahaya yang bisa berubah bentuk menjadi manusia?

Saat itu tengah hari sudah menjelang, sinar matahari sedang memancar dengan teriknya, angin gunung pun terasa berhembus sangat kencang, sedemikian kencang dan tajam bagaikan pisau yang menyayat kulit.

Tak selang lama kemudian, gundukan tanah itu sudah digali hingga rata dengan permukaan tanah dan muncullan lantai yang terbuat dari batu hijau.

Batu lantai itu sama sekali tidak berwarna putih, melainkan berwarna hijau lumut, seakan-akan di masa silam di tempat itu pernah berceceran darah segar.

"Wah, kelihatannya roh jahat berumur seribu tahun itu sudah tertindih hingga berubah jadi sepotong batu hijau,"

Olok Yap Kay sambil tertawa.

"Bukan berubah jadi potongan batu, tapi tertindih di bawah batu hijau itu,"

Sahut So Mingming sambil tertawa pula.

Ketika memegang batu hijau itu, tak kuasa Yap Kay dan So Ming-ming saling berpandangan sekejap.

Seandainya di bawah tanah benar-benar terkurung roh jahat berusia seribu tahun, maka batu hijau itulah tombol pembuka ruang rahasia.

Tak heran mereka berdua nampak sedikit ragu kendati rasa ingin tahu yang kuat menguasai perasaan mereka.

Menyaksikan begitu bergairahnya So Mingming, akhirnya Yap Kay berbisik.

"Mari kita singkirkan batu itu!"

Sambil memperkuat kuda-kuda, kedua orang itu menghimpun tenaga dalam dan segera mengangkat batu hijau itu, ternyata batu hijau yang mereka sangka ringan, kenyataan beratnya bukan kepalang.

Paras muka So Ming-ming yang sudah memerah kini berubah semakin merah padam.

Terpaksa Yap Kay harus menambah kekuatan tenaga dalamnya untuk membantu.

Akhirnya diiringi suara bentakan keras, batu hijau itu terangkat dan bergeser ke samping.

Tak ada asap putih, tak ada kumpulan cahaya, bahkan tak ada suara aneh, hanya bau busuk yang luar biasa berhembus keluar dari balik liang itu.

"Wah, bau sekali!"

Teriak So Ming-ming sambil menutup hidung dan mundur dua langkah.

Yap Kay sendiri mesti tidak ikut menutup hidung, tak urung ia berkerut kening juga.

Sesudah mengusir hawa busuk dari hadapannya, cepat dia melongok ke dalam gua, tapi begitu melihat, alisnya berkerut kencang.

So Ming-ming segera maju mendekat dan ikut melongok ke dalam gua, tapi segera teriaknya.

"Aneh, tak ada apa-apanya!"

Ternyata setelah batu hijau itu disingkirkan, gua di bawahnya tidak dijumpai apa pun kecuali sebuah gua setinggi tubuh manusia, jangankan roh jahat berusia seribu tahun, gerombolan semut pun tak nampak seekor pun.

"Bagaimana mungkin bisa begini?"

Teriak So Ming-ming sambil membelalakkan mata, cahaya gairah yang semula menghiasi wajahnya seketika hilang tak berbekas.

"Jangan-jangan roh jahat itu tak kuasa menahan sabar hingga diam-diam sudah melarikan diri?"

Goda Yap Kay sambil tertawa.

"Ai, sudah mengorbankan begitu banyak tenaga, ternyata tidak ada hasil yang bisa diperoleh,"

Keluh So Ming-ming dengan kesal, ia merasa kecewa sekali.

"Biarpun tak ada sesuatu yang bisa dilihat, paling tidak kita bisa makan."

"Bisa makan? Makan apa?"

Tanya So Ming-ming melengak.

"Tentu saja makan nasi!"

Sebelum hidangan yang dipesan diantar ke meja, So Ming-ming memperhatikan sekejap ruangan rumah makan itu, kemudian bertanya kepada Yap Kay.

"Kenapa kau tidak mengajakku bersantap di rumah makan milik Cihuku? Siangki-lau tersedia aneka hidangan, kenapa kau bukannya bersantap di sana?"

"Ah, pertama, mau apa saja di situ, kita harus turun tangan sendiri, kelewat merepotkan,"

Sahut Yap Kay.

"kedua, bila Siau-siansing melihat kau datang bersamaku, kujamin dia pasti akan menuduhku sebagai si hidung bangor, terus yang ketiga...."

"Masih ada yang ketiga?"

"Betul, di sini jauh dari orang-orang yang kenal denganmu,"

Kata Yap Kay tertawa.

"jadi aku bisa melolohmu hingga mabuk."

"Melolohku sampai mabuk?"

Perasaan tercengang bercampur kaget melintas di wajah So Ming-ming, jangankan orang dewasa, anak kecil usia tiga tahun pun pasti tahu bahwa saat itu dia sedang berlagak.

"kenapa kau ingin melolohku hingga mabuk?"

"Bila seorang lelaki ingin meloloh seorang wanita hingga mabuk, biasanya terdapat beratus macam dalih, tapi aku berani menjamin, dari berapa ratus dalih yang ada, tak satu pun yang bisa menangkan dalih yang akan kukemukakan."

"Dalih apa itu?"

"Sampai waktunya kau pasti akan tahu dengan sendirinya,"

Suara tawa Yap Kay kelihatan begitu misterius.

Sebetulnya So Ming-ming ingin bertanya lagi, kebetulan pelayan datang mengantar arak dan hidangan, terpaksa ia menghentikan katakatanya.

Menanti pelayan berlalu, baru dia berkata.

"Kalau tidak kau katakan, aku tidak mau minum"

"Hanya ada satu cara bila kau ingin mengetahuinya."

"Cara apa itu?"

"Minum saja dulu,"

Sahut Yap Kay tertawa.

"hanya dengan minum arak lebih dulu baru kau akan tahu apa dalih yang akan kukemukakan."

Arak masih ada dalam guci, cawan masih ada di tangan, namun orangnya sudah tergeletak di atas meja.

Sudah hampir satu jam lamanya mereka menenggak susu macan, namun belum ada pertanda mabuk di wajah masing-masing, khususnya So Ming-ming, gadis itu malah terlihat makin meneguk sinar kesepian terpancar makin tebal.

Begitu dia mulai meneguk cawan yang pertama, Yap Kay segera mengetahui bahwa bukan pekerjaan gampang untuk meloloh gadis itu hingga mabuk, bahkan asal dia sendiri bisa bertahan tidak mabuk pun sudah hebat.

Setiap meneguk secawan arak, sayur sesuap segera mengikuti, itulah cara So Ming-ming meneguk air kata-kata, belum sampai satu jam paling tidak ia sudah menghabiskan tiga puluhan cawan arak.

Tiga puluh cawan arak dengan tiga puluh suap masakan, Yap Kay benar-benar sangsi bagaimana mungkin sayur dan arak itu bisa muat dalam perut So Ming-ming, padahal tubuhnya kurus ceking, tak nyana mempunyai takaran minum dan makan yang luar biasa besarnya.

Bagi Yap Kay, minum arak mungkin bukan masalah baginya, tapi kalau disuruh bersantap, dia hanya bisa memegang perut sendiri sambil menggeleng kepala dan menghela napas berulang kali.

"Kenapa kau menghela napas?"

Tanya So Mingming.

"Aku betul-betul seorang lelaki bodoh,"

Ujar Yap Kay.

"ternyata aku meloloh seorang perempuan yang tumbuh dewasa sembari tidur."

Kemudian setelah menghela napas lagi, tambahnya.

"Bukankah sama artinya aku sedang mencari penyakit buat diri sendiri?"

Kontan saja So Ming-ming tertawa cekikikan sehabis mendengar kata-katanya itu, tegurnya.

"Baru minum satu jam, masa kau sudah tak sanggup meneguk lebih banyak?"

"Kalau suruh aku makan hidangan, lebih baik aku menyerah saja,"

Sahut Yap Kay tertawa.

"tapi soal arak? Jangankan baru satu jam, tiga jam lagi pun bukan masalah."

Dia mendongakkan kepala memandang gadis itu, kemudian tambahnya.

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

So Ming-ming tidak segera menjawab, dia tertawa lebih dulu lalu meneguk habis secawan arak, setelah memenuhi kembali cawannya yang kosong baru dia berkata.

"Tahukah kau, sejak usia berapa aku mulai minum arak?"

"Lima belas tahun."

"Keliru, tiga belas tahun. Ketika usiaku baru mencapai tiga belas tahun, sudah banyak orang ingin melolohku sampai mabuk."

"Bagaimana akhirnya? Berapa kali kau berhasil diloloh hingga mabuk?"

Asal kau seorang lelaki, kau pasti ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan ini.

"Kalau dibilang aku tak pernah mabuk garagara diloloh, jelas jawaban itu bohong, menipu orang,"

Kata So Ming-ming sambil tertawa.

"hanya satu kali."

"Satu kali,"

Yap Kay menggeleng sambil menghela napas.

"satu kali pun sudah luar biasa."

Tentu saja So Ming-ming mengetahui apa yang dimaksud Yap Kay, setelah tertawa katanya lagi.

"Kali itu adalah saat Ciciku menikah, aku diloloh Ciciku hingga mabuk."

"Cicimu yang meloloh?"

"Betul."

"Kalau takaran minummu saja sudah cukup membuat orang mati lantaran kaget, berarti kehebatan Cicimu cukup membuat setan pun ketakutan?"

"Sesungguhnya Ciciku memang sudah tersohor sebagai jagoan arak dari Lhasa."

"Lhasa? Kau maksudkan kota suci orang Tibet?"

"Memangnya masih ada kota Lhasa lainnya?"

"Jadi kau dan Cicimu dilahirkan di kota Lhasa?"

"Selain dilahirkan, kami pun dibesarkan di sana,"

So Ming-ming menerangkan.

"kami dua bersaudara dijamin memang ayam kampung dari Lhasa."

"Ayam kampung?"

Sekali lagi Yap Kay dibuat melengak.

"Itu perumpamaan,"

Kembali So Ming-ming menerangkan sambil tertawa.

"orang-orang yang lahir dan dibesarkan di kota Lhasa biasanya dipanggil ayam kampung."

Langit bersambungan dengan bumi, sejauh mata memandang hanya pasir kuning yang beterbangan di angkasa.

Jarang ada makanan dan hidangan yang disajikan di pinggiran kota lolos dari sergapan pasir, setiap suap hidangan yang kau makan sama artinya dengan kau melahap sesuap pasir.

Memang itulah salah satu ciri khas kehidupan di pinggiran.

Masih untung daun jendela yang ada di rumah makan bakmi dimana Yap Kay sedang bersantap saat ini dilapisi dengan kertas tebal, oleh sebab itu sedikit sekali pasir kuning yang tercampur dalam hidangan mereka.

Jendela dengan kertas tebal selain bisa digunakan untuk menahan hembusan pasir, dapat juga mengurangi teriknya panas matahari, hanya saja udara jadi terasa lebih lembab.

Kalau tiada hembusan angin, tentu hawa panas tak bisa terusir.

Banyak sekali kejadian seperti itu berlangsung di dunia ini, ada sisi untung pasti ada sisi rugi, oleh karena itulah sebagai manusia janganlah kelewat pelit dan hitungan.

Yap Kay berulang kali menyeka peluh yang membasahi jidatnya, lalu dengan kipas berusaha mendinginkan badannya yang terasa gerah.

Entah karena sebagai 'ayam kampung' sudah terbiasa dengan udara di situ atau karena sebab lain, So Ming-ming bukan saja tidak berkeringat, malah wajahnya tak nampak merah, napas pun tak terlihat terengah-engah.

"Tampaknya kau memang benar-benar ayam kampung dari wilayah Kanglam,"

Olok So Mingming sambil tertawa.

"padahal saat ini musim panas baru tiba, baru begini sudah kepayahan, apalagi kalau musim panas sudah datang, apa jadinya kau?"

"Apa lagi? Tentu saja mencari tempat untuk berteduh,"

Sahut Yap Kay sambil tertawa.

"atau paling sebagian besar waktuku kugunakan untuk berendam dalam air."

Baru saja So Ming-ming ingin tertawa, mendadak terdengar suara seorang bocah perempuan berkumandang dari luar pintu.

"Jangan kuatir, sampai waktunya siapa tahu orang itu sudah tidak berada di tempat jorok seperti ini."

Begitu suara itu bergema, tahu-tahu So Mingming sudah melihat seorang nenek kerdil sudah berdiri tepat di hadapannya.

Tentu saja Yap Kay tahu siapa gerangan orang ini, tapi dia betul tak habis mengerti mengapa Gwe-popo bisa muncul pula di sana?

So Ming-ming tidak kenal nenek kecil mungil itu, selama hidup belum pernah ia bersua dengan seorang nenek yang sedemikian aneh, bahkan diapun tidak mengira bakal bertemu dengan seorang macam begini.

Nenek kecil mungil itu bukan cuma kelihatan sangat tua bahkan luar biasa mini, ada beberapa bagian tubuhnya kelihatan jauh lebih tua dari siapa pun, ada pula beberapa bagian tubuhnya yang nampak jauh lebih kecil dan mini ketimbang siapa pun.

Nenek itu benar-benar sangat tua dan mini, tapi kulit wajahnya justru lebih halus dan lembut ketimbang wajah seorang bayi, selain putih juga terasa begitu halus dan lembut, semu merah di antara putih dan empuk bagaikan tahu, apalagi suaranya, bukan saja merdu dan halus, bahkan lebih manja dari suara gadis remaja.

So Ming-ming memandang nenek yang serba luar biasa ini, hampir saja dia tertawa geli, sebab si nenek sedang menggunakan matanya yang lembut untuk memandang Yap Kay.

Padahal sejak berusia tiga-empat belas tahun Yap Kay sudah terbiasa diawasi orang, khususnya oleh kaum gadis.

Sampai berumur tiga puluh satu tahun, dia masih sering diawasi orang, diawasi berbagai jenis perempuan.

Jadi sebetulnya dia sudah terbiasa ditatap orang.

Tapi sejak ditatap si nenek semalam, entah mengapa tiba-tiba ia merasa rikuh sekali.

Apalagi sekarang, ia mulai merasa tak leluasa dengan tatapan si nenek itu, pipinya terasa mulai panas dan memerah.

"Apa yang kau pandang?"

Akhirnya tak tahan Yap Kay bertanya.

"Aku sedang memandangmu,"

Jawab si nenek. Yap Kay sengaja menghela napas panjang, katanya.

"Aku sudah tua bangka, buat apa melihatku?"

Gwe-popo tak mau kalah, dia pun sengaja menghela napas sambil menyahut.

"Aku pun sudah nenek-nenek, kalau bukan memandang kakek tua, siapa pula yang kupandang?"

Sebetulnya So Ming-ming tak ingin tertawa, apa mau dikata ia justru tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, secara tiba-tiba ia merasa bahwa si nenek betul-betul seorang yang menarik.

Bab 2.

CINTA KADALUWARSA "Baik-baikkah kau!"

Sapa So Ming-ming kemudian.

"Aku sangat baik, begitu baik sampai tak terkirakan."

"Siapa namamu? Mau apa datang kemari?"

"Aku bukan bermarga siapa, kemari pun tak ada urusan apa-apa,"

Sahut Gwe-popo.

"aku kemari lantaran satu urusan yang sama sekali tak berarti."

"Urusan apa?"

"Coba saja kau tebak,"

Sahut Gwe-popo lagi sambil memutar biji matanya.

"asal tebakanmu betul, aku akan menyembahmu sebanyak tiga ribu enam ratus kali."

"Buat apa kau menyembah begitu banyak? Tentu kau akan lelah!"

So Ming-ming menggeleng.

"aku bertanya justru lantaran aku tak bisa menebak apa maksudmu datang kemari."

"Tentu saja kau tak mampu menebak, selama hidup jangan harap kau bisa menebaknya."

"Kalau memang begitu, kenapa tidak segera kau terangkan?"

"Biarpun sudah kukatakan pun belum tentu kau percaya."

"Coba katakan."

"Baik, akan kukatakan,"

Tiba-tiba Gwe-popo berpaling ke arah Yap Kay, kemudian melanjutkan.

"aku datang kemari lantaran aku ingin menelanjangi kau dan memandang setiap jengkal badanmu dengan seksama."

Kontan So Ming-ming tergelak, mula-mula dia terperangah tapi kemudian rasa geli mengalahkan perasaan tercengangnya, selama hidup belum pernah ia mendengar ocehan sekonyol itu, bahkan mimpi pun tak mengira bakal mendengar lelucon semacam ini.

Yap Kay betul-betul tak mampu tertawa.

Sebetulnya dia masih bisa tertawa, dalam keadaan biasa dia bakal tertawa keras mendengar ucapan semacam itu, sekarang ia terbungkam, benar-benar tak mampu tertawa lagi, sebab dia kelewat memahami tabiat Gwe-popo.

Dia sangat memahami tabiatnya yang bertindak sesuka hati.

Kalau Tui hong siu tersohor karena keras kepala, maka Gwe-popo terkenal karena tindak-tanduknya yang liar.

Teringat akan hal ini, Yap Kay tak sanggup tertawa lagi, namun dia masih mencoba memaksakan diri menampilkan sekulum senyuman.

Masih mendingan jika dia tidak tertawa, begitu tersenyum maka wajahnya kelihatan jelek hingga menyerupai orang sedang menangis "Jangan kau perlihatkan mimik muka seperti itu,"

Buru-buru Gwe-popo mencela dengan penuh rasa sayang.

"sikap semacam itu bisa membuat wajahmu berkerut dan cepat tua."

"Ai... aku lebih suka kulit wajahku saat ini berubah jadi tua dan jelek, seperti wajah kakek berusia sembilan puluh tahun,"

Gumam Yap Kay sambil tertawa getir. Tiba-tiba So Ming-ming menarik kembali senyumannya, dengan sikap yang lebih serius tanyanya kepada Gwe-popo.

"Jadi kau benarbenar akan menelanjangi dia dan menikmati tubuh bugilnya? Sekarang juga? Di tempat ini?"

"Apa salahnya kulakukan sekarang? Memangnya kurang cocok?"

"Jelas tidak boleh dan tidak cocok,"

Teriak Yap Kay gelisah.

"Kenapa?"

"Bukankah Siau-ling-ji belum menunjuk calon suaminya, mana boleh kau telanjangi aku lebih dulu?"

Protes Yap Kay.

"lagi pula sudah dia katakan kau tak boleh melakukannya di siang hari bolong, apalagi di depan umum."

"Baiklah, aku pasti akan membuat kau bugil dengan perasaan ikhlas!"

Kata Gwe-popo kemudian.

Begitu selesai berkata, seperti sewaktu masuk tadi, tahu-tahu Gwe-popo sudah lenyap dari pandangan mata.

Coba seandainya tidak tersisa bau harum tubuhnya, So Ming-ming pasti mengira dia sedang mabuk berat.

Kini Yap Kay bisa menghembuskan napas lega, perasaan tegang pun berangsur mengendor, berulang kali dia meneguk arak untuk meredakan hatinya yang berdebar.

"Dia benar-benar akan melucuti pakaianmu hingga telanjang?"

Tanya So Ming-ming kemudian selesai meneguk arak.

"Jika kau sudah tahu siapa nenek itu, pertanyaan ini pasti tak akan kau ajukan."

"Lalu siapakah dia?"

"Pernah kau dengar nama besar Tui hong siu?"

"Tui hong siu? Belum pernah!"

"Nama Gwe-popo?"

Kembali So Ming-ming menggeleng.

"Aku hanya tahu seorang lelaki bernama Yap Kay, ternyata dia hanya setan bernyali kecil, baru ada seorang nenek ingin menelanjangi dia, ternyata dia sudah ketakutan setengah mati."

Kalau manusia seperti Tui hong siu dan Gwepopo pun sama sekali tidak diketahui olehnya, bagaimana mungkin nona itu bisa memahami perasaan takut Yap Kay?

Oleh sebab itu Yap Kay enggan memberi penjelasan lebih lanjut, dia hanya tertawa getir, hanya meneguk araknya secawan demi secawan.

Tampaknya So Ming-ming tak berniat menyudahi pertanyaannya, kembali ia berkata.

"Siapa pula Siau ling-ji itu? Apakah dia seorang perempuan? Masih muda? Atau sudah neneknenek?"

Yap Kay mengerti, bila tidak ia ceritakan kisah pengalamannya semalam, jangan harap kehidupannya di masa datang bisa dilewatkan dengan tenteram, maka secara ringkas dia pun mengisahkan kembali kejadian semalam.

So Ming-ming termenung sambil melamun selesai mendengar penuturan Yap Kay, dia seakan terjerumus dalam pemikiran yang serius, biar cawan arak di tangan namun tak sekali pun diteguk isinya, sementara sorot matanya memandang ke tempat jauh dengan termangu.

Yap Kay tercengang melihat sikapnya itu, bukankah peristiwa yang berlangsung semalam sama sekali tak ada hubungan atau sangkut-paut dengan dirinya?

Bahkan semua orang yang hadir semalam pun tak ada sangkut-pautnya, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah jadi sangat aneh?

Begitulah, untuk sesaat mereka berdua hanya membungkam dan masing-masing terjerumus dalam pemikiran sendiri-sendiri.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya terdengar So Ming-ming menghembuskan napas panjang, lalu berkata.

"Mungkinkah orang yang dipanggil Ong-supek adalah tua bangka aneh itu?"

"Tua bangka aneh? Tua bangka aneh yang mana? Kau kenal orang itu?"

Tanya Yap Kay. Perlahan-lahan So Ming-ming menarik kembali sorot matanya dan meneguk habis isi cawannya, tapi suaranya seolah masih tertinggal di tempat jauh, ujarnya.

"Di dalam kota Lhasa terdapat sebuah istana yang bernama istana Potala, kurang lebih seratus lima puluh li dari istana Potala ada sebuah bukit yang bernama Cagopoli, di atas bukit inilah terdapat sebuah tempat yang disebut kebun monyet."

Setelah berhenti sejenak untuk menarik napas, kembali gadis itu melanjutkan.

"Pemilik kebun monyet adalah seorang kakek yang aneh, dia sudah berumur seratus tahun, dari marga Ong. Anak-anak yang tinggal di Lhasa biasa memanggilnya sebagai Ong-supek."

"Kebun monyet? Ong-supek?"

Wajah Yap Kay mulai berseri.

"apakah orang tua yang bernama Ong-supek ini amat suka dengan monyet?"

"Bukan hanya suka, bahkan nyaris suka setengah mati, sukanya mendekati gila,"

So Ming ming menerangkan sambil tertawa.

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 14

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert