Eps 10 Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.
Tanya Pho Ang-soat "Karena sebetulnya kau tidak perlu membunuhnya, hakikatnya kau tiada alasan membunuh dia,"
Ujar Yap Kay, terpancar rasa duka dan seperti tertekan perasaannya. Pho Ang-soat semakin melotot, seolah-olah bara berkobar di dalam matanya, tanyanya.
"Katamu aku tiada alasan membunuhnya?"
"Ya, kau tak punya alasan untuk membunuhnya."
Semakin beringas Pho Ang-soat dibuatnya, dampratnya.
"Seluruh keluargaku terbunuh di tangannya, sudah dua puluh tahun hutang darah ini belum lunas, jika dia punya sepuluh jiwa, aku harus membunuhnya sepuluh kali."
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Kau salah."
"Dimana aku salah?"
"Sasaran bencimu belum tepat."
"Apa benar aku tidak pantas membunuhnya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena orang-orang yang dia bunuh bukan ayah bunda atau familimu, di antara kau dan dia hakikatnya tiada sakit hati apa-apa"
Sudah tentu ucapan Yap Kay ini seumpama gunung meletus.
Sudah pasti takkan ada perkataan dari siapa pun di dunia ini yang begitu mengejutkan dari apa yang diucapkan Yap Kay ini.
Dengan nanar Yap Kay mengawasi Pho Ang-soat, katanya kalem "Kau membencinya, lantaran ada orang yang mendesakmu untuk membenci dia."
Bergetar sekujur badan Pho Ang-soat.
Kalau orang lain yang bicara dengan dirinya, dia takkan mau percaya.
Tapi yang bicara sekarang adalah Yap Kay, dia tahu Yap Kay pasti bukan seorang yang suka mengoceh dan membual.
"Dendam bak sebatang rumput beracun, jika ada orang menanamnya di dalam sanubarimu, dia akan berakar mendalam di dalam hatimu, jadi bukan sejak lahir dia sudah pembawaan bersemayam di dalam sanubarimu"
Demikian kata Yap Kay. Pho Ang-soat mengepal kencang kedua tinjunya, akhirnya dengan paksa dia bersuara.
"Aku tidak mengerti."
"Dendam adalah soal belakangan, oleh karena itu setiap orang boleh saja salah sasaran membenci orang, hanya cinta yang selamanya takkan salah."
Karena haru dan emosi, muka Ting Jun-hong sampai merah membara, mendadak dia berseru.
"Bagus, ucapan bagus, terlalu bagus ucapanmu."
Sebaliknya raut muka Ting Pek-hun semakin pucat, katanya.
"Tapi apa yang dia ucapkan, aku sepatah pun tetap tidak mengerti."
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Seharusnya kau sudah mengerti."
"Kenapa?"
Tanya Ting Pek-hun.
"Karena hanya kau saja yang tahu, bahwa Ting Ling-tiong bukan putra kandung Tinglocengcu."
Kembali berubah air muka Ting Pek-hun, teriaknya.
"Apakah Pho Ang-soat bukan keturunan keluarga Pek?"
"Pasti bukan."
Jawaban ini bagai guntur menggelegar di siang hari bolong. Semua orang terbelalak mengawasi Yap Kay, Ting Pek-hun tergagap.
"Kau... kau bohong."
Yap Kay mandah tertawa saja, tawa yang pahit dan sedih. Dia tidak menyangkal, karena dia tidak perlu menyangkal, siapa pun akan tahu dan yakin bahwa dia tidak membual.
"Darimana kau bisa tahu akan rahasia ini?"
Tanya Ting Pek-hun.
"Ini bukan rahasia,"
Ujar Yap Kay rawan.
"hanya sebuah tragedi yang mengharukan, jika kau sendiri adalah salah seorang yang tersangkut di dalam tragedi ini, cara bagaimana tidak tahu persoalan ini?"
"Kau...."
Teriak Ting Pek-hun tertahan.
"Apakah kaulah putra Pek Thian-ih yang tulen?"
"Aku memang...."
Pho Ang-soat tiba-tiba menerjang maju ke depan dada Yap Kay, gerungnya gusar.
"Kau bohong."
Tawa Yap Kay semakin memilukan. Dia tetap tidak menyangkal, sudah tentu Pho Ang-soat juga tahu bahwa orang tidak membual. Ting Pek-hun bertanya pula.
"Apakah Im Pek-hong sendiri juga tidak tahu akan rahasia ini?"
Yap Kay manggut-manggut, sahutnya.
"Dia pun tidak tahu."
"Karena hal ini memang sengaja harus mengelabui dia."
"Sebetulnya apakah yang telah terjadi?"
Tanya Ting Pek-hun.
BAB 46.
CINTA ABADI Sesaat Yap Kay ragu-ragu, kelihatan hatinya amat tertekan dan berduka.
Sebetulnya dia tidak ingin membeberkan peristiwa ini, tapi sekarang dia dipaksa untuk mengungkapnya secara terbuka.
Ternyata di kala Im Pek-hong bunting, hal ini sudah diketahui oleh Pek-hujin.
Tak lain karena Pek-hujin seorang perempuan yang cerdik pandai dan banyak akal serta tabah, meski dia tahu bahwa suaminya di luar suka main serong, punya gundik, dirinya dimadu, namun lahirnya dia tetap berlaku tenang dan pura-pura tidak tahu.
Karena dia sudah memikirkan suatu cara untuk memutuskan hubungan suaminya dengan perempuan ini, cuma bagaimana juga, anak yang bakal dilahirkan Im Pek-hong tetap adalah keturunan atau darah daging keluarga Pek mereka.
Maka dia tidak akan merelakan darah daging keluarga Pek berada di tangan orang lain, karena jika anak itu tetap berada di samping Im Pek-hong, maka hubungannya dengan Pek Thian-ih selamanya takkan bisa dia putus, cepat atau lambat Pek Thian-ih akhirnya toh harus menilik dan menengok anaknya sendiri.
Oleh karena itu Pek-hujin lantas menyogok dukun bayi yang membantu Im Pek-hong melahirkan.
Dengan seorang anak lain, dia lantas menukar bayi yang baru lahir itu.
Waktu itu Im Pek-hong sendiri sedang dalam keadaan pingsan karena kesakitan di kala melahirkan, sudah tentu tidak pernah disadarinya bahwa oroknya yang baru lahir itu sudah ditukar dan bayi yang dia susui bukan putranya sendiri.
Setelah dia siuman, sudah lama Pek-hujin membawa oroknya itu pulang.
Sebelum Pek-hujin menikah dia punya seorang saudara kandung yang baik sekali, akhirnya adiknya ini menikah dengan seorang Piausu she Yap.
Bernama Yap Ping, sesuai dengan namanya Piausu ini amat jujur dan bersahaja, dalam Bu-lim tidak punya nama tenar, namun dia murid Siaulim-pay lurus dari kalangan preman.
Murid dari perguruan silat yang lurus dan murni, biasanya lebih gampang bercokol mencari kehidupan di dalam masyarakat.
Kebetulan Yap Ping tidak punya anak.
Oleh karena itu, Pek hujin lantas menyerahkan putra Im Pek-hong kepadanya untuk diasuh dan dididik, untuk sementara dia tetap tidak ingin memberitahu hal ini kepada Pek Thian-ih.
Pada waktu itu hanya Pek-hujin dan adik Yap-hujin saja berdua yang tahu akan rahasia ini, sampai pun Yap Ping sendiri pun tidak tahu menahu akan asal-usul putra pungutnya ini.
Orang ketiga yang tahu akan rahasia ini adalah Siau-li Tham-hoa.
yaitu Li Sun-hoan yang sudah terkenal dan dipandang sakti mandra-guna bagaikan dewata pada waktu itu.
Soalnya meski Pek-hujin seorang perempuan yang cerdik banyak akalnya, namun dia bukan perempuan jahat yang punya pikiran sesat.
Di saat dia tahu suaminya memelihara gundik di luaran, setiap perempuan pasti berubah menjadi tabah, pendiam dan banyak pikiran.
Setelah Pek-hujin melaksanakan muslihatnya itu, dalam sanubari nya yang paling dalam merasa menyesal dan berdosa terhadap orok kecil itu.
Dia tahu dengan ilmu silat yang dibekal Yap Ping, meski dia murid didik langsung dari perguruan Siau-lim-pay lurus, jelas takkan bisa mendidik anak itu menjadi seorang tokoh besar yang benar-benar terpandang di dalam Bu-lim.
Besar harapannya setiap warga keluarga Pek seluruhnya bisa menonjolkan diri dan menjagoi dunia persilatan.
Oleh karena itu dia memberitahu rahasia ini kepada Li Sun-hoan, karena Li Sun-hoan pernah berjanji hendak menurunkan kepandaian ilmu timpukan pisau terbangnya kepada seorang putra dari keluarga Pek, Pek-hujin tahu Li Sun-hoan pasti akan menepati janjinya itu.
Dia pun percaya kepada Li Sun-hoan, pasti takkan membocorkan rahasia ini.
Di dunia ini siapa pun takkan ada orang yang tidak percaya kepada Li Sun-hoan, sampai pun musuh besarnya pun tetap percaya akan setiap patah katanya.
Benar juga Li Sun-hoan menepati janjinya, sampai sekarang dia tidak pernah membocorkan rahasia ini.
Tapi dia toh tahu juga, di dunia ini tiada sesuatu rahasia yang bisa selalu mengelabui orang lain, pada suatu ketika kelak anak ini pasti akan tahu asal-usulnya sendiri.
Oleh karena itu sejak bocah itu masih kecil dia sudah memberitahu kepadanya, bahwa dendam kesumat hanya akan membawa sengsara dan kehancuran bagi setiap insan.
Hanya cinta itulah abadi.
Dia mengajarkan kepada bocah itu, cara bagaimana dia harus belajar untuk bisa mencintai sesamanya, jelas pelajaran ini jauh lebih penting dan sukar dari ajaran bagaimana kau harus membunuh orang.
Hanya orang yang betul-betul mengerti akan makna ajarannya ini baru dia setimpal mempelajari Siau-li si pisau terbang punya kepandaian.
Dan hanya orang yang benarbenar bisa meresapi makna yang murni dari ajaran ini, baru dia bisa berhasil dengan gemilang.
Setelah pupuk dasar ini dia pelihara dan bina betul di sanubari anak itu, baru dia benar-benar menurunkan kepandaian mujizat dari pisau terbangnya kepada Yap Kay.
Sungguh merupakan suatu kisah yang mengenaskan.
Selama ini Yap Kay tidak mau menceritakan kisah ini, karena dia tahu latar belakang peristiwa ini yang sesungguhnya, dan cerita itu pula secara langsung akan melukai lahir batin orang lain.
Sudah tentu orang yang terkena langsung pukulan lahir batin ini adalah Pho Ang-soat.
Pho Ang-soat sudah melepaskan kedua cengkraman tangannya, selangkah demi selangkah dia menyurut mundur, seakan-akan berdiri pun tak kuat lagi.
Bahwasanya dia lahir tumbuh dan dewasa hanya karena dendam kesumat, sekarang keadaannya mirip benar dengan seorang yang berdiri di atas tali terentang tinggi tergantung di tengah udara, tiba-tiba kehilangan keseimbangan badan dan terjerumus jatuh serta terbanting keras di tanah.
Dendam kesumat memang membuat dia menderita, tapi derita itu teramat serius, agung dan suci.
Sekarang dia merasa bahwa dirinya terlalu menggelikan.
Terlalu kasihan sehingga menggelikan.
Belum pernah dia merasa kasihan akan pribadinya sendiri, karena betapa pun sengsara dan derita yang dia alami, paling tidak dia tetap bangga akan keluarganya Namun sampai detik ini, siapa sebetulnya ayah-bunda kandungnya toh dia tetap tidak mengetahui.
Waktu Cui long mangkat, dia kira dirinya mengalami suatu peristiwa yang paling mengenaskan di seluruh jagat ini.
Baru sekarang pula dia sadari ternyata masih ada tragedi lain yang lebih mengenaskan, nasib yang jelek serta takdir yang buruk.
Yap Kay mengawasinya, sorot matanya menampilkan rasa sesal dan menderita pula.
Sebetulnya rahasia baru dia ketahui di waktu Yap-hujin sudah dekat ajalnya, karena Yap-hujin berpendapat setiap manusia mempunyai hak untuk mengetahui asal-usul riwayat hidupnya sendui demikian pula Yap Kay, dia harus dan punya hak untuk tahu.
Pho Ang-soat pun seorang manusia, dia pun harus dan punya hal untuk tahu akan hal ini.
"Sebetulnya sudah lama aku harus memberitahu kepadamu,"
Ujar Yap Kay masgul.
"Beberapa kali sudah hampir kukatakan, namun selalu.... Sungguh dia bingung tak tahu cara bagaimana dia harus melimpahkan isi hatinya, namun Pho Ang-soat tidak memberi kesempatan kepadanya. Sorot mata Pho Ang-soat beralih ke arah lain, sengaja menghindari bentrokan pandangan dengan Yap Kay, namun cepat sekali dia mengucapkan dua patah kalimat.
"Aku tidak akan menyalahkan kau, karena kau toh tidak salah...."
Sejenak dia ragu-ragu, akhirnya dia mengatakan pula kalimat yang takkan pernah bisa dilupakan oleh Yap Kay.
"Aku pun tidak akan membencimu, aku pun takkan membenci siapa lagi."
Sebelum ucapannya berakhir, dia sudah putar tubuh, beranjak turun ke bawah loteng, gaya jalannya kelihatan tetap aneh dan lucu, gerak-geriknya lamban dan seperti kebodohan-bodohan, seolah-olah dia memang dilahirkan untuk mengalami tragedi yang memilukan ini.
Yap Kay mengawasinya, dia tidak berusaha menahannya, setelah dia berada di bawah loteng, baru dia bersuara keras.
"Kau pun tidak salah, hanya dendamlah yang salah, dendam kesumat itu memangnya sudah salah sejak permulaan."
Pho Ang-soat tidak berpaling, seakan-akan malah dia seperti tidak mendengar seruan Yap Kay.
Tapi setelah dia tiba di bawah loteng, badannya ternyata sudah tegak kembali.
Walau langkah kakinya lamban lucu dan kebodohan-bodohan, namun dia terus beranjak ke depan, tidak pernah berhenti dan berpaling ke belakang.
Dia pun tidak roboh karenanya.
Beberapa kali sampai Pho Ang-soat sendiri sudah menduga dirinya bakal tersungkur roboh, tapi kenyataan dia tetap beranjak tegak tak tergoyahkan.
Mendadak Yap Kay menghela napas, mulutnya menggumam sendiri.
"Dia akan sembuh dan baik pula."
Ting Jun-hong sebaliknya mengawasi dia, sorot matanya membayangnya kekalutan pikiran dan amat prihatin. Yap Kay berkata pula.
"Sekarang dia tak ubahnya seperti orang yang terluka parah, tapi asal dia masih bertahan hidup, betapa pun parah dan dalam luka-lukanya, akan datang suatu hari dia akan sembuh dan sehat kembali."
Tiba-tiba dia tertawa, serta menambahkan.
"Manusia ada kalanya mirip dengan cecak, umpama kau memutus ekornya, cepat sekali ekornya itu akan tumbuh seperti sedia kala."
Ting Jun-hong ikut tertawa, ujarnya tersenyum.
"Perumpamaanmu ini baik sekali, sungguh sangat baik."
Mereka berpandangan, tiba-tiba terasa dalam sanubari masing-masing akan pengertian yang mendalam akan pribadi orang.
Seolah-olah bagai kawan yang sudah karib beberapa tahun lamanya.
Ting Jun-hong berkata.
"Sebetulnya kau tidak ingin membeberkan peristiwa ini?"
"Sebetulnya aku selalu dibayangi perasaan, setelah aku membeberkan rahasia ini, bagi siapa pun tidak akan membawa manfaat."
"Tapi sekarang jalan pikiranmu itu sudah berubah."
Yap Kay manggut-manggut, ujarnya.
"Karena sekarang aku sudah menyadari, pengorbanan yang kita pertaruhkan untuk peristiwa ini sudah terlalu besar."
"Oleh karena itu kau ingin mengakhiri persoalan ini?"
Kembali Yap Kay manggut-manggut. Tiba-tiba Ting Jun-hong berpaling dan mengawasi Ting Pek-hun.
"Jika kau tidak mati, apakah persoalan inipun boleh berakhir sampai di sini?"
"Sebetulnya dia memang tidak perlu mati,"
Sahut Yap Kay.
"Lho, kenapa?"
"Umpama dia sudah melakukan kesalahan, sejak lama dia sudah membayar kesalahannya itu."
Ting Jun-hong diam saja.
Dia setuju akan jawaban ini.
Hanya dia saja yang tahu betapa pengorbanan yang sudah dipertaruhkan oleh adiknya, Ting Pek-hun, adalah sedemikian mengenaskan.
Yap Kay mengawasinya, tiba-tiba dia tertawa, ujarnya.
"Tentunya kau pun tahu bahwa dia takkan mati, benar tidak?"
Sekilas Ting Jun-hong melengak bimbang, akhirnya dia manggut-manggut, katanya.
"Benar, dia takkan mati, dan tidak perlu mati...."
Melotot kaget Ting Pek-hun mengawasi Engkohnya ini, teriaknya tertahan.
"Kau... apakah...."
Ting Jun-hong menghelas napas, ujarnya.
"Sejak pertama aku sudah tahu bahwa kau sudah menyiapkan arak beracun untuk dirimu sendiri, maka...."
"Maka kau menukar botol berisi arak beracun itu?"
Desak Ting Pek hun dengan mendelik haru.
"Seluruh bahan obat-obatan dan arak beracunmu kuganti seluruhnya, umpama kau habiskan seluruh poci arak itu, paling kau akan jatuh mabuk dua hari."
Dengan tersenyum dia lantas meneruskan.
"Seorang kolot seperti aku ini ada kalanya bisa juga melakukan tindakan lucu dan menggelikan."
Lama sekali Ting Pek-hun mematung dengan mata terbelalak tiba-tiba dia terkial-kial. Ting Jun-hong tertegun, tanyanya.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Aku sedang menertawakan aku sendiri."
"Menertawakan kau sendiri?"
Ting Jun-hong keheranan.
"Kalau toh Im Pek-hong tidak mampus, kenapa aku harus mencari jalan pendek?"
Tawanya kedengaran nyaring dan sendu, sampai sukar dibedakan tertawa atau menangis.
"Baru sekarang aku tahu, dia harus lebih dikasihani daripadaku, sampai pun putranya sendiri siapa pun dia tidak tahu, kalau dia boleh bertahan hidup, kenapa aku tidak mau hidup?"
"Kau memang harus bertahan hidup,"
Kata Ting Jun-hong.
"Setiap orang harus mempertahankan hidupnya."
Ting Pek-hun tiba-tiba menuding Be Khong-cun.
"Lalu bagaimana dia?"
"Dia kenapa?"
"Kalau arak yang kuminum bukan arak beracun, lalu arak yang dia minum bukankah...."
"Arak yang kau biarkan dia minum, tak lain hanya arak anggur yang sudah tersimpan tujuh tahun belaka."
Mendadak rona muka Be Khong-cun berubah hebat.
"Mungkin dia sudah tahu bahwa kau hendak menghadapinya,"
Kata Ting Jun-hong.
"Oleh karena itu melihat di atas mejaku ada arak, dia lantas menenggaknya habis,"
Ujar Ting Pek-hun. Ting Jun-hong manggut-manggut, katanya.
"Tentunya kau pun harus tahu, sebetulnya dia tidak sembarangan mau minum arak begitu saja."
"Maka selanjutnya dia lantas pura-pura pikun seperti orang benar-benar keracunan, menunggu cara bagaimana aku hendak menghadapinya."
"Cara bagaimana kau hendak menghadapinya?"
Ting Pek-hun tertawa getir, sahutnya.
"Kalau toh sudah kuberitahu kepadanya, bahwa arak itu kuracik dengan daun ganja."
"Tentunya dia pun tahu seseorang yang sudah makan rumput ganja, bagaimana pula reaksinya."
"Maka dia sengaja pura-pura berlaku pikun seperti orang gila, bukan saja dia menipu dan mengelabui aku, sekaligus dia pun sudah menipu dan mengelabui orang-orang yang ingin membunuhnya."
Kembali raut muka Be Khong-cun diliputi gelisah, kaget dan ketakutan, tiba-tiba dia mencabut sebatang pisau dari dalam sepatu panjangnya terus membalik tangan menusuk ke dada sendiri.
Pada saat itu juga, tampak sinar kilat berkelebat.
Pisau di tangannya itu tiba-tiba terpental jatuh, tentunya terpukul jatuh oleh pisau terbang sepanjang tiga dim tujuh mili.
Bergegas Be Khong-cun berpaling, dia mendelik kepada Yap Kay, suaranya serak.
"Kau... apa kau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk mati saja?"
Yap Kay berkata tawar.
"Aku hanya ingin tanya, kenapa pula mendadak kau ingin mati?"
Terkepal jari-jari Be Khong-cun, serunya.
"Apakah mati pun aku tidak bisa?"
"Jika kau minum arak beracun, apakah jiwamu sekarang masih hidup?"
Be Khong-cun terkatup mulutnya, dia tak berani menyangkal.
"Justru karena arak itu tidak beracun, sekarang kau malah ingin mati, bukankah perbuatanmu ini teramat lucu dan menggelikan?"
Be Khong-cun tidak mampu menjawab.
Mendadak dia pun menyadari kejadian ini memang lucu dan menggelikan, begitu jenaka sampai ingin rasanya dia menangis tergerung-gerung sepuasnya.
Yap Kay berkata pula.
"Kau kira rumput ganja itu bisa membikin kau melupakan segala derita dan dendam sakit hati, apakah orang lain juga bakal melupakan dendam dan sakit hatinya terhadap kau?"
Be Khong-cun mengakui akan kebenaran arti ucapan Yap Kay, memang dia berpikir demikian. Setelah menghela napas Yap Kay berpidato lagi.
"Sebetulnya kecuali rumput ganja itu, masih ada sebuah benda di dunia ini sama saja dia pun bisa membuat kau lupa akan derita dendam kesumat."
Tak tahan Be Khong-cun bertanya.
"Apakah itu?"
"Itulah 'pengampunan'."
"Pengampunan?"
"Kalau toh kau sendiri tidak kuasa mengampuni dirimu, orang lain mana bisa mengampuni kau?"
Yap Kay mengoceh terus.
"Tapi seseorang bilamana dia sudah dapat benar-benar mengampuni orang lain, baru dia bisa mengampuni pribadinya sendiri, oleh karena itu jika benarbenar sudah mengampuni orang lain, orang lain pun akan mengampunimu."
Tertunduk kepala Be Khong-cun.
Tidak sukar untuk meresapi kebenaran ajaran filsafat ini.
Di dunia kehidupannya, selamanya dia berpendapat bahwa membalas dendam jauh lebih tepat dari pengampunan, itu lebih memperlihatkan kebesaran jiwa laki-laki.
Tapi mereka lupa untuk benar-benar bisa melaksanakan 'Pengampunan' ini, bukan saja harus memiliki sanubari yang bajik dilembari cinta kasih nan suci, dia pun harus punya keberanian pula, keberanian yang lebih besar daripada membalas dendam.
Sungguh hal ini jauh lebih sulit tercapai daripada membalas dendam itu sendiri.
Untuk selamanya Be Khong-cun tidak akan mengerti akan Tripusaka ajaran Nabi Khong-cu ini.
Oleh karena itu, meski orang lain sudah mengampuni dia, dia toh tetap tidak bisa mengampuni dirinya sendiri.
Dia menderita, menyesal, mungkin bukan lantaran kesalahan dosa dan perbuatan jahatnya, adalah karena seluruh dosa dan kesalahannya sudah terbeber dan diketahui orang banyak.
"Seharusnya rahasia ini selamanya pun takkan mungkin diketahui orang lain, seharusnya aku bisa bekerja lebih baik...."
Jari-jarinya terkepal kencang, keringat dingin bercucuran membasahi sekujur badannya.
Penyesalan macam apa pun, sama saja bisa membikin orang menderita dan sengsara.
Mendadak dia menubruk ke depan, direnggutnya guci arak di atas meja kecil sana, dengan lahapnya dia habiskan sisa arak yang masih di ada dalamnya.
Lalu pelan-pelan dia rebah telentang, mabuk tak sadarkan diri.
Mengawasi keadaan orang, tiba-tiba timbul rasa simpatik dan kasihan yang tak terlukiskan dalam sanubari Yap Kay.
Dia tahu orang ini selanjutnya takkan pernah mengalami hidup bahagia dan gembira meski hanya sehari saja.
Orang seperti dia, sudah tidak perlu orang lain berusaha menghukumnya, karena dia sudah menghukum dirinya sendiri Sunyi tenteram dalam rumah itu Segala pertarungan dan derita sudah berselang.
Bisa melihat dan menghadapi suatu tragedi yang dimulai dari permusuhan, terakhir karena adanya pengampunan, sungguh tak usah diragukan betapa riang dan gembira hati setiap orang.
Mengawasi Yap Kay, muka keriput Ting Jun-hong menjadi cerah, sorot matanya pun cemerlang.
Penuh diliputi perasaan yang tak kuasa diutarakan dengan kata-kata.
Jelas itu bukan rasa terima kasih saja, namun semacam perasaan agung yang lebih tinggi daripada terima kasih dan hormat.
Baru saja dia hendak membuka suara, dilihatnya putri bungsunya berlari naik ke atas loteng.
Muka Ting Hun-pin yang pucat kelihatan gugup, katanya dengan napas tersengal-sengal.
"Samko sudah pergi."
Tiba-tiba teringat olehnya bahwa Lok Siau-ka pun adalah Samkonya, maka cepat sekali dia menambahkan.
"Kedua Samko sama-sama pergi."
"Dua Samko?"
Tanya Ting Jun-hong mengerut kening.
"Ting Ling-tiong pergi sendiri, kita berusaha menahannya, tapi dia bertekad mau pergi."
Yap Kay dapat memahami perasaan hati Ting Ling-tiong.
Dia merasa dirinya tak ada muka untuk tinggal lebih lama di sini, dia harus melakukan darma bakti untuk menebus dosa-dosanya.
Memangnya Ting Ling-tiong adalah pemuda bajik dan bijaksana.
Asal dia diberi kesempatan untuk memulai dengan baik, kelak dia pasti akan bertindak dengan baik pula.
Untuk ini Yap Kay cukup yakin dan mengerti, dia pun percaya kepadanya.
Karena mereka memangnya satu keturunan dari tunggal ayah lain ibu.
Ting Hun-pin berkata pula.
"Lok Siau-ka pun pergi, dibawa pergi seseorang."
"Dia tidak mati?"
Tanya Yap Kay.
"Kita semula mengira luka-lukanya takkan tertolong lagi,"
Demikian tutur Ting Hun-pin.
"tapi orang itu bilang dia masih punya cara untuk mempertahankan hidupnya."
"Siapakah orang itu?"
Tanya Yap Kay pula.
"Aku tidak mengenalnya, sebetulnya kita pun tidak mengizinkan dia membawa Lok... Loksamko pergi, tapi kita tak mampu berbuat apa-apa untuk merintangi dia."
Terunjuk rasa kaget dan takut pada mimik mukanya, tuturnya lebih lanjut.
"Selamanya belum pernah aku melihat ada orang yang memiliki kepandaian silat setinggi itu, cukup hanya mengebas tangan perlahan saja, kita semua tak mampu mendekati badannya."
"Orang macam apakah dia?"
Desak Yap Kay "Seorang laki-laki berlengan satu, mengenakan jubah panjang warna kuning dari kain yang aneh, sepanjang matanya seperti abu-abu yang kaku mati, belum pernah kulihat mata semacam itu."
Ting Jun-hong berjingkat dari kursinya, teriaknya.
"Ki Bu bing."
Ki Bu-bing. Nama ini seolah-olah juga membawa kekuatan iblis yang menyedot pikiran orang, berkata Ting Jun-hong.
"Dia tidak punya sanak tiada kadang, dia pun tak punya teman, Lok Siau-ka selamanya akan dia pandang sebagai anak sendiri, jika dia mau membawa Siau-ka pergi, Siau-ka pasti takkan mati."
Agaknya orang tua ini sedang menghibur hatinya sendiri.
Tiba-tiba disadari oleh Yap Kay bahwa orang tua ini bahwasanya tidak mirip dengan laki-laki tua dingin kejam seperti yang sering dia dengar di luaran.
Mukanya yang semula kaku dingin lambat-laun menampilkan gejolak hatinya, mulutnya komatkamit menggumam.
"Kalau dia sudah kemari, seharusnya dia menemui aku."
Yap Kay tertawa dingin, ujarnya.
"Dia takkan kemari, karena dia tahu ada seorang murid Siau-li Tham-hoa berada di sini."
"Apakah kau kira dia tetap belum melupakan sakit hatinya terhadap Siau-li Tham hoa?"
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Ada sementara persoalan yang selamanya takkan bisa dilupakan, karena...."
Karena Ki Bu bing adalah manusia sejenis Be Khong-cun, selamanya dia takkan bisa meresapi arti suci dari "pengampunan" , demikianlah batin Yap Kay, tidak dia utarakan, karena dia tidak mengharap setiap orang yang hadir di sini bisa berbuat seperti dirinya, mengutamakan cinta kasih kepada sesama manusia.
Pada saat itulah, daun jendela yang semula tertutup tiba-tiba terbuka oleh hembusan segulung angin kencang yang aneh.
Lalu dia mendengar seorang berkata di luar jendela.
"Sejak tadi aku sudah berada di sini, sayang sekali kau tidak melihatku."
Suaranya dingin dan congkak, setiap patah katanya diucapkan pelan-pelan, seakan-akan dia tidak biasa melimpahkan isi hatinya dengan tutur kata yang semestinya.
Untuk menunjukkan jalan pikirannya, biasanya dia menggunakan cara lain yang lebih langsung.
Jalan pikirannya selamanya tidak perlu dimengerti orang lain.
Ki Bu bing.
Hanya mendengar suara perkataan orang, Yap Kay lantas tahu bahwa Ki Bu bing berada di luar.
Pelan-pelan dia membalik badan, maka dilihatnya seorang laki-laki berpakaian serba kuning seperti batang tombak tegapnya berdiri di bawah pohon Liu di pinggir empang.
Raut muka orang tidak dilihatnya, hanya tampak sepasang matanya yang aneh, sepasang mata yang mencorong dingin berkilat seperti sinar mata binatang buas.
Sepasang mata itupun sedang mengawasi Yap Kay, tanyanya.
"Kau inikah Yap Kay?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Kau tahu aku ini siapa?"
Tanya Ki Bu bing.
Yap Kay manggut-manggut pula.
Agaknya dia tidak rela bila Ki Bu-bing mengira dirinya pemuda ceriwis oleh karena itu bila tidak perlu bersuara selamanya dia tidak buka mulut.
Lama sekali Ki Bu bing menatapnya, mendadak dia menghela napas panjang.
Yap Kay amat kaget, sungguh tak pernah terbayang olehnya bahwa laki-laki inipun punya saat untuk menghela napas panjang.
Berkata Ki Bu bing pelan-pelan "Sudah beberapa tahun aku tidak berjumpa dengan Li Sun hoan, selama ini aku selalu mencarinya."
Mendadak dia tarik suara dan berkata lantang.
"karena aku ingin mencarinya untuk bertanding mengadu kepandaian apakah pisau terbangnya yang cepat atau pedangku yang lebih cepat."
Yap Kay diam, dia hanya mendengarkan saja. Ternyata Ki Bu bing menghela napas pula, ujarnya "Tapi sekarang aku sudah merubah niatku, tahukah kau kenapa?"
Sudah tentu Yap Kay tidak tahu.
"Karena kau?"
Jawab Ki Bu bing sendiri.
"Karena aku?"
Yap Kay melengak keheranan.
"Setelah melihat kau, baru aku insaf bahwasanya aku memang tidak bisa mengungguli Li Sunhoan."
Sorot matanya yang dingin dan suaranya yang kaku tiba-tiba berubah amat mendelu dan rawan, lama sekali baru dia melanjutkan.
"Lok Siau-ka hanya tahu membunuh orang, tapi kau....tiga kali turun tangan, ketiganya berusaha menolong jiwa orang."
Pisau memangnya alat peranti membunuh orang.
Tahu cara bagaimana menggunakan pisau membunuh orang, tidak sulit, tapi untuk bisa mengerti cara bagaimana menggunakan pisau menolong jiwa orang, sungguh suatu hal yang sukar dilakukan.
Sungguh Yap Kay tidak nyana bahwa Ki Bu bing tahu juga akan makna ini.
Kehidupan sebatangkara nan sunyi, agaknya sudah menggugah kesadaran laki-laki yang tak berperi cinta kasih dan membunuh manusia sebagai kegemarannya.
Mendadak Ki Bu bing bertanya pula.
"Tahukah kau akan Pek siau seng?"
Yap Kay manggut-manggut.
Daftar alat senjata adalah merupakan koleksi buku karya Pek-siau-seng, di dalam lembaran sejarah buku karyanya itu sudah meninggalkan lembaran yang tak mungkin dihapus lagi.
Berkata pula Ki Bu bing.
"Walaupun dia bukan seorang lurus, namun buku karyanya itu cukup obyektif dan adil."
Yap Kay percaya.
Sesuatu yang tidak adil, takkan lama bisa bertahan.
Tapi buku karya Pek siau seng tentang senjata-senjata itu tetap bertahan dan masih menjadi bahan pembicaraan serta diakui segala lapisan dunia persilatan sampai sekarang.
"Siangkoan Kim-hong memang mati di tangan Li Sun-hoan, tapi ilmu silatnya, memang kenyataan lebih unggul dari Li Sun-hoan."
Yap Kay pasang kuping mendengarkan.
Pertempuran Siangkoan Kim-hong melawan Li Sun-hoan sudah menjadi lembaran legenda bagai cerita dewata saja di kalangan Kangouw.
Dongeng memang cerita yang paling mengasyikkan, tapi sering-sering tidak sesuai dan lepas dari kenyataan.
Ki Bu bing berkata.
"Li Sun-hoan dapat membunuh Siangkoan Kim-hong, bukan lantaran ilmu silatnya, adalah karena keyakinannya."
Selamanya Li Sun-hoan percaya dan yakin benar, bahwa setia dan keadilan lurus pasti bisa mengalahkan sesat dan kejahatan, kebenaran dan keadilan selalu akan hidup di dalam sanubari kehidupan manusia umumnya.
Oleh karena itu dia menang.
Ki Bu bing berkata pula.
"Waktu mereka bergebrak, hanya aku seorang saja yang menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, aku bisa menilai betapa ilmu silatnya, kenyataan memang tidak setinggi kepandaian Siangkoan Kim-hong, selama itu aku tetap tidak mengerti, cara bagaimana dia bisa menang. Tapi sekarang aku sudah mengerti, nilai sejati dari sesuatu senjata sebetulnya tidak terletak pada senjata itu sendiri, namun terletak pada apa yang dilakukan olehnya"
Yap Kay mengakui akan kebenaran komentar ini.
"Bahwa Li Sun-hoan bisa membunuh Siangkoan Kun liong adalah bukan lantaran dia ingin membunuh orang sehingga dia dipaksa turun tangan, apa yang dia lakukan terhadap Thian, dia tidak berdosa terhadap sesama manusia dia tidak bertindak jahat, oleh karena itu dia takkan bisa dikalahkan."
Seorang bila dia bertempur, berjuang demi keadilan dan kebenaran maka dia takkan bisa dikalahkan. Ki Bu bing berkata lebih lanjut.
"Jika Pek siau seng juga tahu akan teori ini, maka dia harus mencantumkan nama Li Sun-hoan di tempat paling atas, pisau terbangnya nomor satu di seluruh jagat."
Yap Kay mengawasinya, tiba-tiba timbul rasa hormat dan segannya terhadap seorang yang sukar diselami dan dijajaki harkat dan jiwanya.
Siapa pun dia bila sudah mengetahui akan pengertian yang mendalam ini, dia patut dihormati.
Ki Bu bing tetap mengawasinya, katanya pula.
"Oleh karena itu bila sekarang ada orang mau membuat daftar urutan senjata, maka dia harus mencantumkan pisaumu sebagai nomor satu dan tiada tandingan di seluruh jagat. Karena apa yang kau lakukan barusan, siapa pun takkan mampu melakukannya, maka nilai dari pisaumu itu jelas dan pasti takkan ada senjata lain yang bisa mengunggulinya. Hembusan angin berlalu, meniup daun pohon melambai, bayangan Ki Bu bing seolah-olah ikut lenyap tertiup hembusan angin ini. Memangnya dia orang yang susah diraba, mirip dengan angin yang tidak bisa dipegang. Yap Kay tegak berdiri menyongsong hembusan angin, terasa dadanya bergolak dan mendidih, lama sekali sukar diredakan. Ting Hun-pin berdiri di samping mengawasinya terlongong, sorot matanya pun menunjukkan rasa cinta dan hormat. Perasaan perempuan memang aneh, jika kau tidak mendapat penghormatan mereka, maka kau pun takkan memperoleh cinta kasihnya. Mereka, kaum perempuan, jauh berbeda dengan laki-laki. Laki-laki bisa jatuh hati dan bercinta kasih terhadap sesamanya karena mereka kasihan dan simpatik, perempuan hanya cinta terhadap laki-laki yang dihormatinya saja. Jika kau melihat perempuan mencintai seorang laki-laki karena rasa kasihan, maka kau boleh berkepastian, cintanya itu tidak akan murni, jelas takkan bertahan lama. Sudah tentu Ting Jun-hong dapat meraba isi hati putrinya, dia sendiri pun merasa bangga akan sepak terjang anak muda yang satu ini Pemuda seperti ini, siapa pun yang menghadapinya pasti akan merasa bangga. Ting Jun-hong menghampiri ke sampingnya, katanya.
"Sekarang tentunya kau tidak perlu menyembunyikan riwayat hidupmu."
Yap Kay manggut-manggut, sahutnya.
"Tapi aku pun tidak bisa melupakan budi luhur keluarga Yap yang mengasuh dan mendidikku sampai sebesar ini."
"Kecuali kau,"
Kata Ting Jun-hong.
"Mereka tidak punya putra yang lain?"
"Mereka tidak punya anak."
"Oleh karena itu kau tetap she Yap."
"Ya, tetap she Yap."
"Yap berarti daun dan Kay terbuka?"
"Benar, Yap Kay."
"Tentunya kau heran kenapa aku menanyakan semua ini kepadamu, tapi tidak bisa tidak aku harus bertanya, karena...."
Dia berpaling kepada putrinya serta mengawasinya dengan tersenyum, katanya lebih lanjut kalem.
"Karena aku tinggal punya putri bungsu ini, jika aku harus menyerahkan dia kepada orang lain, paling tidak aku harus tahu siapa orang yang kupasrahi, siapa she dan namanya."
SEKARANG dia sudah tahu pemuda ini bernama Yap Kay. Dia yakin seluruh umat persilatan di kolong langit ini, cepat sekali pasti akan tahu akan kebesaran namanya. T A M A T
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 8
Baca Juga: Pedang Ular Emas 5