Eps 6 Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id
Baca online Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id
Cersil Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id.
Mereka sebenarnya merupakan orang-orang yang seharusnya sudah mati, yang kemudian dikumpulkan Pancapanah dari berbagai daerah, setelah melewati penyaringan dan pemeriksaan yang ketat dan berlapis, pada akhirnya mereka ditampung dalam satu wadah.
Setelah melalui pendidikan yang ketat selama lima tahun, setiap jago telah berubah jadi "lebih beracun dari ular berbisa, lebih garang daripada macan kumbang, lebih licik daripada rase dan lebih kejam daripada serigala".
Baik itu tua atau muda, lelaki atau wanita, gemuk atau kurus, semuanya sama saja.
Pancapanah percaya penuh atas kemampuan dan kesetiaannya.
Bila ia sudah memberikan perintah untuk tidak membiarkan seorang hidup keluar dari rumah makan itu, maka dia yakin dan percaya, biar orang itu adalah ibu kandungnya pun, jangan harap dia bisa keluar dari situ dalam keadaan hidup.
Tak seorang pun dapat keluar dari rumah makan itu.
Pada hakikatnya tak ada orang yang bisa berjalan keluar dari rumah makan.
Jangankan seorang, biar seekor tikus pun tak ada.
Tapi sekarang Lu-sam sudah tak berada di rumah makan itu lagi, Sejak kabur ke bawah loteng, dia seolah hilang begitu saja.
Seorang yang terdiri dari darah dan daging, mengapa bisa lenyap secara tiba-tiba?
Menurut analisa Pancapanah.
"Di bawah loteng pasti ada lagi sebuah lantai yang berhubungan langsung dengan lorong bawah tanah."
Kali ini dugaannya tak salah.
Ooo)d*w(ooO BAB 27.
MENGAPA TIDAK KEMBALI?
Dalam waktu singkat dia berhasil menemukan mulut lorong rahasia itu, hanya sayang ketika ia berhasil menemukan tempat itu, mendadak...
"Blaam!", terdengar suara ledakan keras yang diiringi percikan batu dan pasir menyebar ke empat penjuru, tahu-tahu lorong rahasia itu sudah tersumbat mati. Beberapa saat kemudian semua orang telah meninggalkan wilayah itu, mereka berangkat menuju ke sebuah dusun yang sangat terpencil. Rombongan pembunuh yang mampu menghabisi nyawa orang tanpa berkedip ini dalam waktu singkat telah berubah menjadi rakyat biasa yang sama sekali tak menyolok perhatian, menjelang fajar orang-orang itu sudah membubarkan diri seperti segenggam debu yang terhembus angin, tiba-tiba saja lenyap secara misterius. Siapa pun tak tahu apakah di kemudian hari masih dapat bertemu mereka, siapa pun tak tahu bila bersua lagi di kemudian hari apakah mereka masih dapat mengenali orang-orang itu. Padahal mereka memang rombongan manusia yang tak ada "masa di kemudian hari", tak ada "masa kini", juga tak memiliki "masa lalu". Ooo)d*w(ooO Angin sedang berhembus di luar jendela. Pasir kuning beterbangan terbawa angin, ketika menghantam di atas jendela yang berlapis kertas tebal, terdengar suara gemericik yang ramai. Ada arak, arak berada dalam poci, ada orang duduk di depan poci. Tapi Siau-hong tidak minum, setetes pun dia tidak minum, begitu pula dengan Pancapanah. Mereka harus berada dalam keadaan sadar, bahkan berharap pihak lain pun tetap sadar. Sebab siapa pun di antara mereka berdua, mempunyai banyak persoalan yang hendak dibicarakan, mempunyai banyak masalah yang harus diurai dan diberi penjelasan, bahkan pihak yang satu harus mendengarkan dengan seksama. Orang yang berbicara adalah Pancapanah.
"Sejak awal aku sudah tahu bahwa Hoapula serta si huncwe besar telah disuap Lu-sam, karena itulah aku sengaja mengirim dirimu ikut serta dalam rombongannya."
Ada sementara orang, kalau bicara tak suka berputarputar, begitu buka suara langsung pada pokok persoalan. Pancapanah adalah manusia jenis ini.
"Karena aku pun seperti kau, aku pun tak mampu menemukan Lu-sam, tapi aku harus menemukan dirinya,"
Pancapanah menjelaskan lebih jauh.
"Oleh karena itulah, terpaksa aku memperalat dirimu untuk memancing kemunculannya."
Dia dan Siau-hong terhitung sahabat, namun sewaktu mengucapkan kata "memperalat", dia sama sekali tidak merasa canggung ataupun merasa menyesal.
Siau-hong sendiri pun tidak menunjukkan perasaan sedih dan gusar, hanya sahutnya hambar.
"Dia memang berhasil kupancing keluar, dalam hal ini perhitunganmu memang tidak meleset."
"Dalam hal ini, aku memang jarang sekali salah perhitungan."
Siau-hong mengulurkan tangannya menggenggam kencang cawan araknya, tapi kemudian dilepas kembali, tanyanya.
"Di mana ia berada sekarang?"
Pertanyaan ini diajukan Siau-hong dengan berat hati, sebab sesungguhnya dia tak ingin mengajukan pertanyaan itu.
"Sekarang ia telah melarikan diri,"
Sahut Pancapanah hambar.
"Setelah kau peralat aku untuk memancing kemunculannya satu kali, mungkinkah kau akan berhasil menemukannya lagi di kemudian hari?"
Kembali Siau-hong bertanya.
"Tidak,"
Pancapanah menggeleng "Di kemudian hari aku masih tetap tak mampu menemukannya."
"Oleh sebab itu persoalan ini boleh dibilang sedikit pun tak ada gunanya."
"Tampaknya memang begitu."
Kembali Siau-hong menggenggam cawan araknya.
"Bagimu, mungkin kejadian ini hanya sebuah peristiwa yang sama sekali tak berguna, tapi bagaimana dengan akii? Tahukah kau, berapa besar pengorbanan yang harus kubayar untuk peristiwa ini?"
Pertanyaan itu diajukan sangat berat, seolah dia harus mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk mengajukan pertanyaan ini.
"Aku tahu!"
Jawaban Pancapanah amat singkat.
"Prak!", diiringi suara nyaring, cawan arak itu diremas hancur, hancur berkeping. Pancapanah masih menatap Siau-hong dengan tatapan mata yang sama, dingin, hambar, sedikit pun tidak terselip perasaan malu, menyesal atau iba.
"Aku tahu kau pasti akan membenciku. Demi melaksanakan satu perbuatan yang aku sendiri pun tak yakin akan berhasil, bukan saja telah membuat kau menderita dan tersiksa, bahkan menyusahkan pula ibumu serta Yang-kong."
Dengan nada dingin dan hambar, kembali ia melanjutkan.
"Tapi bila kau anggap aku bakal menyesal, maka dugaanmu itu salah besar!"
Siau-hong meremas hancuran cawan itu makin kencang, darah mulai meleleh dari telapak tangannya.
"Kau tidak menyesal?"
"Sedikit pun aku tak menyesal,"
Pancapanah membenarkan.
"Bila di kemudian hari masih ada kesempatan semacam ini, aku tetap akan melakukannya kembali."
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Asal dapat menemukan Lu-sam, peduli apa pun yang harus kulakukan, aku tetap akan melakukannya. Biar tubuhku bakal terjerumus ke dalam neraka tingkat kedelapan belas pun aku tak bakal mengernyitkan alis mata."
Siau-hong terbungkam. Sambil menatap wajah pemuda itu, kembali Pancapanah berkata.
"Aku percaya kau pasti dapat memahami maksudku, karena kau sendiri pun ada kalanya tak segan terjun ke dalam neraka."
Siau-hong tak dapat menyangkal.
Walaupun dia tak memahami tingkah laku manusia yang bernama Pancapanah serta semua hal yang dia lakukan, namun dalam hal ini dia pun tak dapat menyangkal.
Siapa pun tak dapat menyangkal akan hal ini, setiap orang pasti akan mengalami saat dimana dia rela masuk ke dalam neraka sekalipun.
Cawan arak dalam genggamannya telah hancur, namun di atas meja masih tersedia cawan dan arak, meski kau kehilangan sanak keluarga dan kekasih, namun di dunia masih terdapat sanak keluarga lain.
Siapa pun tak dapat menjamin di kemudian hari mereka pun akan begitu akrab seperti sanak keluargamu yang telah tiada.
Oleh karena itu selama seseorang masih hidup, dia harus berusaha untuk tetap hidup.
Kalau memang bertekad akan hidup terus, maka tak perlu menggerutu, mengeluh atau menyalahkan orang lain.
Di atas meja masih tersedia cawan dan arak, Pancapanah segera mengisi penuh cawan dengan arak lalu disodorkan ke hadapan Siau-hong.
"Minumlah secawan lebih dulu, masih ada yang hendak kusampaikan kepadamu."
"Sekarang apa masih ada yang perlu dibicarakan lagi?"
"Ada!"
"Baik, akan kuminum."
Dengan sekali tegukan Siau-hong menghabiskan isi cawannya, kemudian berkata.
"Sekarang kau boleh mulai bicara."
Tatapan mata Pancapanah sangat dalam, lebih dalam daripada telaga dingin di bawah air terjun, siapa pun tak dapat meraba apa yang sedang dipikirkannya pada saat ini.
"Sekarang apakah kau sudah memahami semua maksudku?"
Tanyanya kepada Siau-hong.
"Benar."
Jawaban Siau-hong tegas, tandas, dan singkat. Siapa tahu kembali Pancapanah menggeleng katanya.
"Kau tidak mengerti, paling tidak masih ada satu hal yang tidak kau pahami."
"Dalam hal apa?"
"Oleh karena aku hendak memperalat dirimu untuk memancing Lu-sam muncul dari tempat persembunyiannya, tentu saja aku selalu mengawasi semua gerak-gerikmu,"
Pancapanah menerangkan.
"Peduli Lu-sam pergi ke mana pun, peduli kau berada di mana pun, aku selalu mengawasi dan mengintil terus."
Siau-hong percaya akan hal ini.
Bila Pancapanah tidak mengawasi dan mengintil secara ketat, mana mungkin Lu-sam bisa menderita kekalahan total pada hari ini?
Paras Pancapanah pun menunjukkan mimik dingin, sadis, dan hambar.
"Aku selalu menguntitmu, selalu mengawasi gerakgerikmu, bagaimana mungkin aku bisa tak tahu berada di manakah orang-orang terdekatmu?"
Kemudian sambil menatap Siau-hong dengan dingin dan hambar, terusnya.
"Coba jawab, mana mungkin aku bisa tak tahu?"
Siau-hong selalu berharap dirinya pun bisa meniru keadaan Po Eng maupun Pancapanah, berada dalam kondisi dan situasi macam apa pun selalu dapat mengendalikan ketenangan diri.
Tapi sekarang ia sama sekali tak sanggup mengendalikan diri lagi, tubuhnya melompat bangun, saking paniknya hampir dia membalikkan meja di depannya.
Sambil menggenggam lengan Pancapanah kuat-kuat, teriaknya.
"Jadi kau tahu? Tahu berada di manakah mereka sekarang?"
Perlahan-lahan Pancapanah mengangguk.
"Sekarang mereka telah berada di suatu tempat yang aman, tak mungkin mengalami rasa takut atau gangguan apa pun."
"Mereka berada di mana?"
Desak Siau-hong.
"Mengapa kau tidak membiarkan aku pergi menjumpai mereka?"
Pancapanah mengawasi lengan kanannya yang dicengkeram Siau-hong hingga pemuda itu melepaskan genggamannya, ia baru menjawab.
"Yang-kong telah mengalami shok yang luar biasa, dia stress berat karena ketakutan dan kaget, butuh istirahat cukup panjang, sementara waktu lebih baik kau tak usah menjumpainya."
"Ini keinginannya atau keinginanmu?"
Siau-hong mulai emosi, hatinya mulai bergolak.
"Peduli keinginan siapa, hasilnya tetap sama, demi kebaikan dirinya."
Setelah berhenti sejenak, kembali Pancapanah berkata.
"Bila dia berjumpa denganmu, sudah pasti perjumpaan ini akan membangkitkan kembali kenangan yang memedihkan, tak gampang untuk menenangkan dan menenteramkan kembali gejolak perasaannya."
Dengan cara apa Lu-sam menyiksanya? Sehingga gadis itu mengalami penderitaan yang luar biasa? Siau-hong merasakan hatinya sakit bagaikan ditusuktusuk.
"Aku mengerti,"
Sahurnya.
"akulah yang telah mencelakainya, bila tak bertemu denganku, hal ini justru bermanfaat dan menguntungkan baginya."
Ternyata Pancapanah menyetujui perkataannya itu.
Apa yang dikatakan memang sebuah kenyataan, kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada tusukan ujung jarum atau sayatan mata pisau.
Siau-hong mengepal sepasang tangannya, lewat lama kemudian baru bertanya.
"Tapi bagaimana dengan ibuku? Apakah aku pun tidak seharusnya pergi menjumpainya?"
Kemudian dengan suara parau tanyanya lagi.
"Apakah kau pun kuatir aku melukai perasaannya?"
"Kau sudah seharusnya pergi menjumpai ibumu, hanya saja...."
Pancapanah bangkit, membiarkan hembusan angin bercampur pasir menerpa wajahnya.
"Hanya saja kau selamanya tak bisa bertemu lagi dengannya."
Siau-hong seakan ingin melompat, tapi sayang seluruh ruas tulang tubuhnya, setiap otot dalam tubuhnya seolah membeku dan mati rasa dalam waktu singkat.
"Lu-sam telah membunuhnya?"
Suara teriakannya parau dan menyeramkan.
"Benarkah perbuatan Lu-sam?"
"Perbuatan Lu-sam atau bukan, sama saja,"
Sahut Pancapanah.
"Setiap orang tentu akan mengalami kematian satu kali, bagi orang yang tersiksa dan hidup menderita, kematian justru merupakan saat istirahat yang paling abadi."
Apa yang dia katakan pun merupakan kenyataan, hanya saja cara penyampaiannya yang kelewat sadis.
Siau-hong benar-benar tak tahan, dia ingin menerkam ke depan dan menghajar wajahnya yang kaku tanpa emosi itu hingga babak belur.
Tapi dia benar-benar tidak salah, Siau-hong pun tahu orang itu tidak salah.
Kembali Pancapanah berkata lebih lanjut.
"Aku tahu kau masih ingin bertemu seseorang lagi, tapi kau pun tak boleh bertemu lagi dengan dirinya."
Yang dimaksud tentu saja Soso.
"Mengapa aku tak boleh bertemu dengannya?"
Teriak Siau-hong.
"Apakah dia pun sudah mati?"
"Dia belum mati,"
Pancapanah menggeleng.
"Bila dia mati, bagimu malah jauh lebih menguntungkan."
"Kenapa?"
"Karena dia adalah perempuan milik Lu-sam. Dia berbuat begitu tak lebih karena ingin menuntut balik seorang putra bagi Lu-sam."
Arak masih berada dalam poci, tapi bagaimana dengan air mata?
Tiada air mata!
Kalau darah pun telah mengering, dari mana datangnya air mata?
Siau-hong mengawasi cawan araknya yang telah kosong dengan termangu, dia merasa dirinya seperti cawan kosong itu, sama sekali tak berguna, sama sekali tak memiliki apa pun.
Apa yang dikatakan Pancapanah jelas merupakan sebuah kenyataan, sekalipun apa yang diucapkan makin lama semakin sadis tanpa perasaan, namun kenyataan memang selamanya tak akan berubah.
"Banyak manusia di dunia ini yang mengalami nasib seperti dirimu, demi orang tua, istri, sahabat dan sanak keluarga, harus menahan penderitaan dan siksaan karena pisah hidup maupun pisah mati!"
Kata Pancapanah lebih jauh.
"Hanya bedanya, ada sementara orang yang sanggup mempertahankan diri, ada pula yang tak sanggup melanjutkan hidup."
Dia awasi Siau-hong tiba-tiba tatapan matanya menunjukkan kehangatan seperti ketika Lu-sam membicarakan soal ikan mas Ghardu.
"Bila seseorang ingin mencapai sebuah target, sebuah tujuan, ingin melakukan apa yang ingin dia lakukan, maka harus mempertahankan diri, harus berjuang untuk tetap hidup,"
Katanya.
"Terlepas seberapa besar penderitaan dan siksaan yang harus dialaminya, terlepas seberapa besar pengorbanan yang harus dia berikan, ia harus tetap hidup, harus tetap mempertahankan diri."
Lalu apa targetnya? Apa tujuannya? Apa yang ingin dia lakukan? Siau-hong tidak menanyakan hal hal itu, hanya tanyanya kepada Pancapanah.
"Apakah kau sanggup mempertahankan diri?"
"Aku sanggup,"
Jawaban Pancapanah begitu tegas dan tandas, ibarat paku baja yang dipakukan ke atas batu cadas.
"Aku pasti akan mempertahankan diri! Harus hidup terus!"
Kemudian tambahnya.
"Orang-orang yang ikut bersamaku pasti akan menemani aku bertahan terus, tapi kau...."
Mendadak tanyanya kepada Siau-hong.
"Mengapa kau tidak balik saja ke wilayah Kang-lam?"
Kembali Siau-hong merasakan hatinya mulai sakit, sakit bagaikan ditusuk jarum, pertanyaan Pancapanah kali ini telah melukai hatinya.
"Kenapa kau minta aku kembali ke Kang-lam?"
Ia balik bertanya.
"Kau sangka aku tak punya kemampuan untuk menemanimu bertahan hidup?"
Pancapanah tidak langsung menjawab pertanyaan itu, hanya ujarnya dengan nada hambar.
"Kau adalah orang baik, karena itu sepantasnya balik ke Kang-lam."
Ia tidak memberi kesempatan kepada Siau-hong untuk bertanya, tiba-tiba dengan suara seperti bongkahan salju yang mencair, terusnya.
"Karena Kang-lam pun merupakan tempat yang indah, orang yang hidup di wilayah Kang-lam yang banyak air dan banyak cinta, pasti jauh lebih lembut dan romantis perjalanan hidupnya!"
Lalu dengan suara dingin tambahnya.
"Tempat ini merupakan dataran luas yang tak berperasaan, manusia yang hidup di tempat ini pasti jauh lebih kejam, buas, dan tak berperasaan daripada apa yang kau bayangkan. Kau tak pernah dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan di tempat ini, lagi pula di sini pun tak ada lagi tempat yang berharga untuk kau kenang dan kau rindukan."
Sambil berpaling ke arah Siau-hong, desaknya.
"Mengapa kau tak mau kembali?"
Ooo)d*w(ooO Angin masih berhembus kencang di luar jendela.
Di wilayah Kang-lam tak akan ada hembusan angin sekencang ini, angin kencang yang menerpa di atas badan terasa bagaikan sayatan pisau.
Perkataan yang diucapkan Pancapanah pun setajam hembusan angin.
Sepasang mata Siau-hong seakan tak sanggup dipentang karena terhembus angin, tapi secara tiba-tiba ia bangkit.
Sekuat tenaga ia berusaha berdiri tegak, setegak tiang bendera.
"Aku akan pulang,"
Katanya kemudian.
"Tentu saja aku harus pulang."
Ketika Siau-hong dengan menggembol pedang berjalan keluar, Gharda telah menyiapkan kuda untuknya.
Pedangnya adalah Mo-gan miliknya, kudanya pun kuda Cihu miliknya.
Semua yang telah hilang kini muncul kembali dan balik ke tangannya.
Sewaktu datang, ia membawa pedang itu dan menunggang kuda itu, dan sekarang dengan menggembol pedang yang sama, kuda yang sama, ia siap berangkat pulang.
Biarpun dataran luas kejam tak berperasaan, namun dia masih tetap hidup.
Apakah dia sudah seharusnya merasa gembira dan puas?
Benarkah apa yang hilang, semuanya telah kembali?
Siapa pula yang tahu apa yang sebenarnya hilang darinya?
Gharda menyerahkan tali les kuda ke tangannya, memandang pemuda itu tanpa bicara, seolah ada banyak perkataan yang hendak disampaikan, tapi akhirnya hanya beberapa patah kata yang diucapkan.
"Kau tampak kurus,"
Katanya. Lama sekali Siau-hong termenung, kemudian baru menjawab.
"Benar, aku memang kurus!"
Selesai perkataan itu, mereka berdua sama-sama tidak bicara lagi, Siau-hong segera melompat ke atas pelana kudanya.
Malam telah tiba, hembusan angin semakin kencang, seluruh jagat raya diselimuti kegelapan yang pekat.
Sewaktu dia melompat ke atas pelana kuda, Gharda ikut lenyap di balik kegelapan malam, yang tersisa hanya bayangan punggungnya yang tipis, sepintas terlihat begitu lemah, begitu letih.
Dia ingin sekali memberitahu kepadanya.
"Kau pun lebih kurus."
Tapi kuda Ci-hu telah meringkik panjang sambil bergerak meninggalkan tempat itu, bagaikan segulung angin kencang kuda itu menembus kegelapan malam yang tak bertepian.
Suara ringkikannya terdengar penuh keriang gembiraan, sebab walaupun dia adalah seekor kuda jempolan, bagaimana pun tetap hanya seekor kuda, kuda yang tak akan memahami perasaan sedih, pedih dan kesepian yang dirasakan manusia.
Selain itu, meski dia hanya seekor kuda, namun masih belum melupakan budi kebaikan majikan lamanya di masa silam.
"Tak nyana kau masih kenal padaku aku."
Sambil memeluk kepala kudanya, Siau-hong berbisik, bagaimana pun dia masih tetap memiliki teman, teman yang selamanya tak terpisahkan.
Asalkan dia teman sejati, apa salahnya kendati dia hanya seekor kuda?
Kang-lam berada sangat jauh, sejauh dalam impian.
Malam yang panjang pun baru dimulai, saat itu bayangan punggung yang remang telah lenyap, namun dari kejauhan sana sudah terlihat sinar bintang yang berkilauan.
Biarpun dataran luas tak berperasaan, cahaya bintang masih tetap lembut dan berkilauan.
Cahaya bintang di Kang-lam pun seperti itu.
Kau adalah orang baik, tapi sayang kau kelewat lemah, manusia semacam dirimu pada hakikatnya tak berguna bagiku.
Kini Lu-sam pun menganggap kau tak berguna lagi, setiap saat dia dapat melenyapkan dirimu, aku pun tak perlu membuang banyak tenaga untuk melindungi seseorang yang tak berguna, karena itu lebih baik kau pergi saja.
Kata-kata semacam itu tak sampai diutarakan Pancapanah, dia pun tak perlu mengutarakannya.
Siauhong cukup mengerti sampai di mana bobot dirinya dalam penilaian orang lain.
Selama ini sikap Pancapanah terhadap dirinya sangat baik, namun sejak pertemuan pertama, ia sudah tahu mereka tak bakal menjadi sahabat, Pancapanah tak pernah menganggapnya sebagai seorang sahabat.
Karena pada hakikatnya Pancapanah memandang sebelah mata terhadap dirinya.
Kecuali terhadap Po Eng, mungkin dalam sejarah hidupnya Pancapanah tak pernah pandang sebelah mata terhadap orang lain.
Po Eng, di manakah kau?
Rumah demi rumah terlalui, di manakah jalan untuk kembali?
Kang-lam berada jauh di ujung dunia, tapi Siau-hong tidak terburu-buru untuk menempuhnya, dia tak berencana menikmati musim semi di wilayah Kang-lam.
Setelah balik ke sana, apa pula yang akan dilakukan?
Untuk siapa musim semi dinikmatinya?
Lapisan salju di atas puncak bukit belum lagi mencair, jalanan becek dan basah.
Meski bayangan kota telah muncul di depan mata, namun cuaca sudah mulai berubah jadi gelap.
Seorang pemuda yang tampaknya tidak terlalu kekar sedang mendorong kereta beroda tunggal berjalan di depannya.
Di atas kereta duduk istri dan putrinya, di samping mereka terlihat buntalan dan peti kuno, sang istri dengan tatapan mata lembut dan penuh rasa kasihan mengawasi suaminya yang sedang bersusah-payah mendorong kereta melewati tanah yang becek.
Kereta beroda tunggal sangat jarang dijumpai di tempat ini, sepasang suami istri ini pasti datang dari tempat jauh, bisa jadi mereka datang dari Kang-lam dan ingin mencari kehidupan baru di tempat yang asing ini.
Mereka masih muda, tidak takut hidup susah, mereka masih memiliki cita-cita dan harapan sebagai orang muda.
Ketika Siau-hong mengikut di belakang mereka, kebetulan terdengar sang istri sedang bertanya kepada suaminya.
"Long-ko, mau istirahat sebentar?"
"Aku tidak apa-apa."
Yang dikuatirkan sang suami bukan dirinya, ia bertanya pada bininya.
"Kau sendiri tidak apa-apa, bukan?"
Ternyata dialek yang mereka pergunakan adalah dialek Kang-lam yang sangat kental, ketika terdengar oleh Siauhong, ia segera merasakan kehangatan yang luar biasa.
Hampir saja dia tak tahan untuk berhenti, menanyakan kabar tentang Kang-lam, bertanya apakah mereka membutuhkan bantuannya.
Tapi dia tidak berhenti karena secara tiba-tiba satu pikiran yang aneh dan sangat menakutkan muncul dalam hati kecilnya.
Siapa tahu sepasang suami-istri ini adalah pembunuh yang dikirim Lu-sam, bisa jadi di balik kereta beroda tunggal itu tersembunyi senjata yang mematikan, kemungkinan besar sang putri dan istrinya yang duduk dalam kereta akan melancarkan serangan senjata rahasia yang mematikan, membidik mati kuda tunggangannya.
Hanya orang yang terjangkit penyakit curiga baru akan memiliki pemikiran semacam ini, bertemu siapa pun selalu waspada dan menaruh rasa curiga yang amat besar.
Sebetulnya Siau-hong bukan termasuk manusia semacam ini, namun setelah mengalami begitu banyak kejadian yang menakutkan, mau tak mau dia harus lebih hati-hati dalam menghadapi setiap keadaan.
Oleh karena itu dia sama sekali tidak berhenti, juga sama sekali tak berpaling, saat ini dia hanya ingin meneguk secawan arak beras yang tidak terlalu memabukkan.
Kota ini merupakan sebuah kota yang ramai dan cukup besar, ketika tiba dalam kota itu waktu sudah menjelang malam, saat semua orang mulai memasang lampu.
Di tepi jalan besar dekat pintu kota terdapat sebuah warung arak, warung arak pertama yang akan terlihat oleh siapa pun yang memasuki kota itu.
Ketika dua cawan arak telah mengalir masuk ke dalam perutnya, tiba-tiba Siau-hong merasa jalan pikirannya tadi sangat menggelikan.
Bila suami-istri tadi adalah pembunuh yang diutus Lusam untuk menghabisi nyawanya, seharusnya merupakan kesempatan terbaik bagi mereka untuk turun tangan.
Tiba-tiba Siau-hong merasa sedikit menyesal, bisa bertemu orang sedusun di suatu tempat yang ribuan li jauhnya merupakan suatu kejadian langka dan tak mudah.
Mungkin inilah alasan mengapa dia memilih warung arak itu, bisa jadi dia ingin menunggu kedatangan mereka, mencari tahu berita tentang desanya, bisa mendengar dan menikmati dialek desanya.
Tapi sayang ia tak menemukan orang yang ditunggu.
Padahal jalan itu tak ada simpangannya, sedang suami istri itu jelas sedang menuju ke kota itu.
Sekalipun perjalanan mereka tempuh dengan sangat lamban, menurut perkiraan Siau-hong, seharusnya mereka sudah tiba di sana.
Namun mereka tak pernah muncul, tak pernah terlihat.
Sebagai perantau yang berada di negeri orang, seringkali seorang perantau memiliki perasaan yang sukar dilukiskan dengan perkataan terhadap perantau lainnya, apalagi perantau yang berasal dari dusun yang sama.
Kendati Siauhong tidak kenal sepasang suami-istri itu, namun dia tetap menguatirkan keselamatan jiwanya.
Mengapa mereka belum juga tiba?
Mungkinkah telah terjadi peristiwa yang tak diinginkan?
Mungkinkah sang suami yang telah menempuh perjalanan ribuan li sudah tak sanggup mempertahankan diri, ataukah putrinya yang cantik terserang penyakit?
Siau-hong memutuskan untuk menunggu beberapa saat lagi, jika mereka belum datang juga, dia akan balik ke jalanan semula untuk melihat keadaan.
Kembali ia menunggu selama setengah jam lamanya, namun belum nampak juga bayangan tubuhnya.
Orang yang berlalu-lalang di jalanan semakin sedikit, karena bagi orang awam, saat dan kondisi seperti ini sudah tak cocok lagi untuk melakukan perjalanan.
Siau-hong bukan manusia biasa, sinar matanya jauh lebih tajam dan terang dibandingkan orang pada umumnya.
Ia tidak menjumpai sepasang suami-istri itu, tapi melihat seorang gadis yang menunggang keledai seorang diri.
Biarpun langit sudah gelap, namun ia masih dapat melihat gadis itu bukan saja masih muda dan cantik, bahkan sangat anggun dan menawan.
Dipandang sepintas, usianya paling baru enam-tujuh belas tahunan, memakai baju berwarna hijau.
Sambil duduk di atas pelana, ia gunakan sebelah tangan memegang tali les keledai sedang tangan yang lain digunakan memegang rambut sendiri yang berkibar terhembus angin.
Sewaktu berjumpa Siau-hong, dia seakan sedang tertawa, tapi seakan juga tidak tertawa.
Seekor kuda dan seekor keledai dengan cepat saling bersimpangan, Siau-hong tak sempat melihat terlalu jelas, dia merasa seakan pernah melihat wajah gadis itu, apa mau dikata justru tak jelas di manakah mereka pernah bertemu.
Dia bukan Pova, bukan Soso, bukan Yang-kong, juga bukan perempuan-perempuan yang dahulu pernah menjadi pacar Siau-hong ketika masih di Kang-lam.
Lalu siapakah dia?
Siau-hong tidak memikirkannya lebih jauh, dia pun tidak terlalu menaruh perhatian.
Seorang pengembara yang tak punya akar memang seringkali akan bertemu dengan perempuan-perempuan yang seakan pernah dikenalnya.
Burung lelah kembali ke hutan, pelancong lelah masuk penginapan, jalan raya yang semestinya sudah mulai tenang itu tiba-tiba berubah menjadi sangat tidak tenang.
Mendadak terjadi kegaduhan di depan sana, selain suara teriakan manusia, terdengar pula ada bocah sedang menangis.
Setelah berjalan maju lagi beberapa saat, dari tepi jalan ia dapat menyaksikan berkilaunya cahaya lentera, terdengar pula ada orang dengan nada gugup, kaget, panik bercampur gusar sedang berteriak.
"Siapa yang begitu keji? Siapa?"
Terdengar suara manusia yang berteriak kalut, yang berbicara bukan hanya satu orang, tapi Siau-hong tidak mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
Tapi satu firasat jelek telah melintas dalam benaknya, dia seolah sudah melihat sepasang suami-istri muda yang berasal dari Kang-lam itu sedang tergeletak di tengah genangan darah.
Ternyata benar saja, tampak sepasang suami-istri itu telah terkapar, tergeletak di pinggir jalan, walaupun anggota badannya belum mendingin, namun detak jantung dan pernapasannya telah terhenti.
Di tepi jalan terparkir sebuah kereta keledai, dua ekor kuda kurus dan enam-tujuh orang pelancong yang sedang mengerubungi jenazah mereka berdua, sementara putrinya telah dibopong seorang yang berbaik hati dan menggunakan sepotong gula-gula untuk menghentikan isak tangisnya.
Dia menangis tak lain karena dibuat terkejut dan ketakutan, bukan lantaran sedih atau terluka.
Karena gadis itu masih kecil, belum mengerti sedihnya perpisahan, apalagi pisah mati.
Dia belum tahu orang tuanya telah dibunuh orang, karenanya hanya dengan sepotong gulagula telah membuatnya berhenti menangis.
Tapi bila ia telah menginjak dewasa nanti, bila teringat akan kejadian malam ini, gadis itu pasti akan terjaga dari tidurnya di tengah malam dan menangis sedih.
Saat itu biar ada setumpuk gula-gula di hadapannya pun tak nanti dapat menghentikan isak tangisnya.
Bila seseorang "tidak tahu", maka dia tak akan menderita, tak akan sedih.
Tapi bukankah "tidak tahu"
Justru merupakan penderitaan dan kepedihan terbesar bagi manusia?
Di atas tanah tak ada darah, begitu pula di atas jenazah mereka, siapa pun tak tahu mengapa secara tiba-tiba suamiistri muda itu bisa tergeletak mati di tepi jalan.
Hingga Siau-hong menerobos masuk ke dalam kerumunan orang, meminjam sebuah lentera dari tangan seseorang dia baru melihat setitik bekas darah di atas dada kedua orang itu.
Mulut luka yang mematikan berada di atas hulu hati mereka, mulut luka bekas tusukan pedang, sebuah tusukan maut yang sangat mematikan.
Bukan saja tusukan pedang ini bersih dan cekatan, bahkan sangat tepat sasaran.
Biar begitu, tidak banyak darah yang meleleh, mulut luka pun tidak terlalu dalam.
Satu tusukan yang pasti mematikan, karena itulah tidak perlu menggunakan tenaga kelewat besar.
Ilmu pedang itu begitu sempurna dan tepat sasaran, betul-betul amat mengerikan serta menakutkan!
Mendadak Siau-hong teringat kembali dengan dua tokoh sakti yang sering didengarnya dalam dongeng, Sebun Juisoat dan Tionggoan It-tiam-ang.
Tionggoan It-tiam-ang adalah jagoan pada zaman Coh Liu-hiang, pembunuh gelap yang paling menakutkan pada zamannya, orang itu pun merupakan jago pedang paling menakutkan pada saat itu.
"membunuh tanpa melihat darah, di bawah pedang hanya setitik merah". Sewaktu menusukkan pedang, dia tak pernah mau menggunakan tenaga yang berlebihan, tapi serangannya selalu tepat sasaran dan mematikan. Sebun Jui-soat adalah sahabat Liok Siau-hong yang paling dihormati, tapi dia pun lawan Liok Siau-hong yang paling disegani. Ooo)d*w(ooO BAB 28. ADU KECERDASAN Tidak gampang membuat Liok Siau-hong menaruh hormat di samping merasa segan, ada banyak orang menganggap ilmu pedang yang dimiliki Sebun Jui-soat telah melampaui kemampuan Tionggoan It-tiam-ang, bahkan telah mencapai puncak kesempurnaan di mana "tiada aku, tiada kau, tiada perasaan, tiada pedang". Hanya orang yang telah mencapai tingkatan itu baru bisa mengendalikan tenaga pada pedang sedemikian tepat dan sempurna. Tapi tidak banyak orang yang dapat mencapai tingkatan seperti ini, biasanya setelah tercapai tingkat kesempurnaan semacam ini, orang itu akan semakin tak sembarangan membunuh orang. Bila kau tak pantas membuatnya mencabut pedang, biar kau berlutut memohon kepadanya, jangan harap dia sudi melukai seujung rambutmu. Lalu siapakah pembunuh sepasang suami-istri itu? Tentu seorang yang ilmu pedangnya telah mencapai puncak kesempurnaan, mengapa pula harus turun tangan menghabisi nyawa suami-istri yang begitu bersahaja? Tak ada yang melihat apa penyebab kematian suami-istri itu, juga tak ada yang tahu siapakah mereka, terlebih tak ada yang mengerti betapa menakutkannya tusukan pedang yang sangat mematikan itu. Tak heran banyak orang bertanya kepada Siau-hong.
"Siapakah mereka? Siapa kau? Apakah kau kenal dengan mereka?"
Sebenarnya Siau-hong pun mempunyai banyak masalah yang ingin ditanyakan kepada orang-orang itu, tapi dia tak bertanya, sebab secara tiba-tiba satu kejadian aneh kembali ditemukan, tiba-tiba ia merasa seakan pernah kenal dengan perempuan yang duduk di atas kereta beroda tunggal sambil menggendong bocah perempuan itu.
Dua orang yang sama-sama tak berakar, di saat baru mendusin dari mabuk arak, di saat kehilangan dan kesepian, di saat ingin mencari orang untuk diajak berkeluhkesah, pertemuan yang tak disengaja harus diakhiri dengan satu perpisahan.
Setelah lewat lama kemudian, dalam satu kesempatan mereka bertemu lagi tanpa sengaja, kedua belah pihak sama-sama merasa seakan pernah kenal, mungkin hanya sekilas pandang, mungkin hanya saling melempar senyuman dan kemudian berpisah kembali, karena mereka lebih suka memendam sekelumit perasaan itu di dalam hati.
Sedikit perasaan yang tawar, sedikit kesedihan yang tawar, begitu indah, begitu mengagumkan.
Tapi sekarang, Siau-hong sama sekali tak memiliki perasaan itu, bukan disebabkan perempuan yang serasa pernah dikenal itu telah meninggal, melainkan karena di antara mereka berdua pada hakikatnya tidak memiliki sekelumit perasaan semacam itu.
Dia sama sekali sudah tak teringat lagi di mana dan kapan pernah bersua dengan perempuan itu, seperti dia pun tak teringat lagi siapakah gadis penunggang keledai yang berpapasan muka dengannya tadi.
Namun di saat dia siap untuk tidak memikirkannya lagi, tiba-tiba dia pun teringat akan sesuatu.
Karena secara tiba-tiba dia menyaksikan kaki milik perempuan itu.
Dalam hubungan antara lelaki dan wanita.
"kaki"
Tak bisa dianggap sebagai satu hal yang penting namun ada banyak lelaki yang senang mengawasi kaki milik wanita.
Padahal Siau-hong sama sekali tidak memperhatikan kaki milik perempuan itu, dia sedang mengawasi sepatu yang dikenakannya.
Gaun yang dikenakan wanita itu sangat sederhana dan biasa, gaun yang terbuat dari kain satin tipis, gaun panjangnya yang berwarna hijau tepat menutupi bagian kakinya..
Kini perempuan itu sudah terkapar di tanah, karena itulah kakinya baru terlihat jelas.
Ternyata dia mengenakan sepasang sepatu laras kecil dan mungil, asal orang persilatan yang berpengalaman, segera akan diketahui kalau di balik sepatu laras itu terdapat lapisan baja berbentuk segi tiga yang disembunyikan di ujung sepatu larasnya itu.
Sepatu laras semacam ini biasanya disebut laras pedang, seperti anak panah yang disembunyikan di balik baju, sepatu laras semacam ini pun termasuk senjata yang sangat mematikan.
Perempuan yang mengenakan sepatu semacam ini biasanya pernah berlatih ilmu tendangan Lian-hoan-wanyan-tui atau ilmu sebangsanya.
Tiba-tiba Siau-hong teringat kalau perempuan ini tak lain adalah si nona berkepang yang tempo hari menendang hancur tenggorokan si pelayan muda dari warung penjual kue.
Walaupun hari ini rambutnya tidak dikepang sedang dandanan maupun caranya berpakaian pun tampak lebih dewasa dan sopan.
Siau-hong yakin apa yang dilihatnya tak bakal salah.
Oleh karena itu suami-istri ini sudah pasti bukan datang dari wilayah Kang-lam, mereka adalah jago yang dikirim Pancapanah.
Tentu saja mereka pun bukan suami-istri sungguhan, mereka hanya ingin menggunakan cara itu untuk merahasiakan identitas serta aksinya.
Sepasang suami-istri dari desa asing, dengan membawa bocah yang masih kecil melakukan perjalanan, harus diakui penyamaran semacam ini merupakan cara yang paling baik.
Biasanya tugas yang harus dilakukan orang-orang semacam ini adalah melakukan pembunuhan gelap.
Beberapa hal ini tak perlu diragukan lagi kebenarannya, hanya persoalannya sekarang adalah siapa yang hendak mereka bunuh?
Jika sasaran yang hendak dibunuh adalah Siau-hong, mengapa tadi mereka tidak turun tangan?
Sudah jelas tadi mereka telah memperoleh kesempatan yang sangat baik, bagi pembunuh berpengalaman yang pernah dilatih secara ketat dan keras, semestinya mereka tahu kesempatan emas segera akan lewat bila tidak dimanfaatkan.
Jawaban terbaik untuk pertanyaan ini adalah sasaran yang hendak mereka bunuh bukan Siau-hong, sudah pasti bukan Siau-hong, karena walaupun Pancapanah bukan sahabat Siau-hong dia pun bukan musuh besar Siau-hong, tak punya ikatan dendam atau sakit hati apa pun dengan pemuda itu.
Lalu siapa yang hendak mereka bunuh?
Siapa pula yang telah membunuh mereka?
Mereka adalah pembunuh terlatih yang dididik Pancapanah secara rahasia, bila tidak terpaksa, Pancapanah tak nanti mengutus mereka melakukan pembunuhan.
Oleh sebab itu tugas yang mereka emban kali ini pasti sangat rahasia dan amat mendesak, tak disangkal sasaran yang hendak mereka bunuh pastilah seseorang yang sangat berbahaya bagi posisi Pancapanah dan harus dimusnahkan secepatnya.
Biarpun teman Pancapanah tidak terlalu banyak, musuh yang dimiliki pun tak banyak, tapi mengapa di kota kecil yang meski makmur dan ramai tapi terletak di pinggir perbatasan ini dia tak segan mengorbankan banyak tenaga, pikiran, dan biaya untuk membunuh seseorang?
Siapakah orang itu?
Pertanyaan yang lebih penting lagi adalah mengapa di dalam kota kecil yang meski ramai tapi sangat terpencil ini bisa muncul seorang jago pedang yang sanggup menghabisi nyawa pembunuh yang telah dilatih Pancapanah selama banyak tahun hanya dalam sekali tusukan?
Ooo)d*w(ooO Malam sangat gelap, pejalan kaki sudah makin jarang, lentera yang redup menyinari kegelapan.
Di bawah lentera terdapat arak, arak panas, arak yang belum diteguk, Siau-hong duduk di tepi lentera.
Masih banyak persoalan yang harus dipikirkan, masih banyak masalah yang wajib dia pertimbangkan, tapi dia tidak memikirkannya.
Yang ia pikirkan sekarang adalah sebuah persoalan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan persoalan ini, seseorang yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan masalah ini.
Yang dia pikirkan sekarang adalah gadis berusia enamtujuh belas tahunan, berpakaian ketat berwarna hijau yang menunggang keledai seorang diri.
Si nona yang seakan pernah dikenal, seolah pernah dijumpai sebelumnya.
Dia yakin dan percaya bahwa apa yang diduganya tak bakal salah.
Gadis itu belum pernah berhubungan dengannya, sama sekali tak ada ikatan perasaan atau cinta lama dengannya, tapi apa mau dikata dia justru memikirkan nona itu.
Walaupun dia ingin sekali memikirkan persoalan yang lebih berharga, tapi pikirannya selalu kembali pada bayangan si nona yang duduk di atas pelana keledai sambil mengulumkan senyum tak senyum itu.
Mengapa begitu?
Sebetulnya dia sedang tertawa atau tidak?
Kalau tertawa, mengapa pula harus tertawa?
Seorang gadis muda yang sama sekali tak dikenal, mengapa harus melempar senyuman untuk seorang pria asing?
Kalau tidak tertawa, mengapa seorang gadis muda mengulum senyum tak senyum terhadap seorang lelaki asing?
Bila mereka benar-benar saling mengenal, mengapa setelah tertawa ia tidak tertawa lagi?
Setelah tidak tertawa kemudian tertawa?
Malam yang dingin telah mencapai ujung, lentera yang redup hampir padam, para pelancong yang tertidur pulas sudah saatnya bangun, mereka yang belum tidur pun seharusnya sudah mulai naik ke atas pembaringan.
Siau-hong sudah merasa amat letih.
"Plok!", suara yang sangat perlahan, perlahan sekali, bunga cahaya memudar dan lentera pun padam. Lentera minyak belum lagi disulut, langit pun belum terang tanah, ruang losmen yang dingin, sepi dan menyendiri, tiba-tiba berubah semakin dingin, semakin gelap. Siau-hong berbaring di tengah kegelapan, berbaring di atas pembaringan yang dingin dan kaku... tiba-tiba ia menangkap suara yang perlahan, perlahan sekali, sedemikian perlahan seperti suara lentera sewaktu padam tadi. Dia tidak mendengar suara lain, bahkan tidak menyaksikan apa-apa, tapi setiap bagian tubuhnya yang punya perasaan, setiap otot yang bisa merasakan, setiap syaraf yang bisa merasakan, tiba-tiba mengejang kencang. Karena secara tiba-tiba ia merasakan hawa pembunuhan yang sangat tebal dan kuat. Hawa pembunuhan itu tak bisa ditangkap, tak bisa diraba, tak bisa didengar, tak bisa pula dilihat. Hanya manusia yang sudah sering membunuh, hanya senjata yang sering digunakan untuk membunuh, baru dapat memancarkan hawa pembunuhan semacam ini. Hanya manusia yang sering membunuh dengan membawa senjata yang sering dipakai untuk membunuh baru memiliki hawa pembunuhan yang begitu tebal dan kuat. Hanya manusia macam Siau-hong pula yang dapat merasakan hawa pembunuhan semacam ini. Meski seluruh otot dan syaraf tubuhnya telah mengejang, namun dengan satu gerakan cepat dan cekatan dia telah melompat bangun dari atas pembaringan yang dingin dan kaku. Pada saat tubuhnya melejit dari atas pembaringan bagaikan ikan Lehi meletik di tengah arus sungai Hongho, dia baru menyaksikan sekilas cahaya pedang yang seharusnya ditusukkan ke atas ranjangnya. Seandainya dia bukan Siau-hong, seandainya dia tidak memiliki pengalaman yang menakutkan dan berharga, seandainya dia tidak merasakan hawa pembunuhan yang amat tebal itu.... Maka nasibnya saat ini pasti sangat tragis, dia pasti akan mengalami nasib seperti suami-istri muda yang mati terbunuh di pinggir jalan dan sekarang dia pun sudah mati terbunuh di atas ranjangnya. Cahaya pedang berkelebat, suara pedang pun bergema.... Pedang tak bersuara, suara pedang yang terdengar Siauhong adalah suara ujung pedang yang menembus dasar pembaringan. Ketika ia mendengar suara itu, ujung pedang telah menembus papan kayu. Tempat di mana ujung pedang itu menghujam tak lain adalah letak jantungnya sewaktu berbaring, tapi kini ujung pedang itu hanya menembusi sebuah papan kayu yang tebal. Terlepas pedang macam apakah itu, yang pasti pedang itu berada dalam genggaman seseorang. Terlepas manusia macam apakah orang itu, yang pasti orang itu berada di tepi pembaringan. Karena tubuh Siau-hong sedang meletik bagaikan seekor ikan Lehi, seluruh bagian tubuhnya saat itu sedang diliputi tenaga yang luar biasa. Mendadak ia melejit balik kemudian menerjang ke bawah, menerkam ke tempat yang menurut perkiraannya dipakai untuk persembunyian sang pembunuh. Ternyata perhitungannya tak meleset, dia berhasil menangkap seseorang. Oleh karena ujung pedang masih menancap di atas papan, gagang pedang masih berada dalam tangan orang itu. Maka Siau-hong pun berhasil menangkap orang itu. Terkaman Siau-hong yang keras membuat orang itu roboh ke lantai, sementara Siau-hong yang masih mencengkeram tubuhnya ikut pula roboh ke bawah. Mereka berdua sama-sama roboh ke lantai, sama-sama terjungkal ke bawah, namun apa yang dirasakan kedua orang itu sama sekali berbeda. Mengapa begitu? Orang yang diterkam Siau-hong itu semula mengira tusukan pedangnya pasti akan berhasil menghabisi nyawa lawan, siapa tahu bukan saja bokongannya gagal, bahkan berhasil dirobohkan lawan, bisa dipastikan selain terkejut bercampur ngeri, dia pun merasa sangat kecewa. Siau-hong jauh lebih terperanjat, karena secara tiba-tiba ia menjumpai bahwa orang yang berhasil dirobohkan dan dipeluk erat-erat itu ternyata adalah seorang wanita. Seorang perempuan yang sangat harum, lembut, dan mungil. Ia tak dapat melihat perempuan itu, tak dapat melihat pakaian apa yang dikenakan perempuan itu, tak dapat melihat bagaimana wajah perempuan itu, tapi ia dapat menyaksikan sepasang matanya. Sepasang mata yang indah dan bercahaya. Sepasang mata yang seolah pernah dilihat sebelumnya. Mereka berdua sama-sama punya mata, mata mereka berdua sama-sama melotot besar. Siau-hong yakin pernah bertemu dengan perempuan itu, yakin pernah menyaksikan sepasang matanya, sayang ia tak ingat dimanakah mereka pernah bersua, tak teringat di tempat mana mereka pernah bertemu.
"Siapa kau?"
Siau-hong menegur.
"Mengapa ingin membunuhku?"
Tiba-tiba perempuan itu tertawa, tertawa yang sangat aneh, tertawa sangat manis dan menawan.
"Ternyata kau tak ingat siapakah aku?"
Perempuan itu tertawa cekikikan.
"Kau memang bukan manusia, kau seorang telur busuk."
Di saat ia tertawa paling manis, di tangannya telah bertambah lagi dengan sebuah senjata mematikan yang diarahkan ke tenggorokan Siau-hong.
Setiap wanita tentu memiliki tangan.
Perempuan itu banyak jenisnya, tangan perempuan pun banyak jenisnya.
Ada sementara wanita yang cerdas, justru memiliki sepasang tangan yang bodoh.
Ada sementara wanita yang halus dan mungil, justru memiliki sepasang tangan yang kasar.
Perempuan ini bukan saja cantik bahkan amat bersih, pakaian yang dikenakan seolah baru saja diambil dari tukang jahit, rambutnya pun seolah baru saja disisir dan disanggul dengan rapi, bahkan dasar sol sepatu yang dikenakan tak nampak noda tanah atau lumpur.
Anehnya, di balik kuku jari tangannya justru terdapat lumpur.
Di tangannya ia menggenggam seekor ulat kecil, seekor ulat kecil berwarna hitam.
Dengan ujung jari tangannya yang runcing dia jepit ulat kecil itu dan ulat kecil tadi ditempelkan di atas tenggorokan Siau-hong.
"Tahukah kau benda apakah ini?"
Tanyanya kepada Siauhong.
Pertanyaan ini sesungguhnya tak perlu dijawab Siauhong, dia pun malas menjawabnya, jangankan orang dewasa, bocah berusia tiga tahun pun pasti tahu benda itu adalah seekor ulat kecil.
Terdengar perempuan itu kembali berkata.
"Kalau kau anggap benda ini tak lebih hanya seekor ulat kecil, maka dugaanmu itu keliru besar."
"O, ya?"
Siau-hong balik bertanya.
"Apakah bukan seekor ulat kecil?"
Gadis pemegang ulat itu tertawa merdu, sahutnya.
"Tentu saja seekor ulat, biar orang yang amat bodoh pun seharusnya dapat mengenali benda ini adalah seekor ulat kecil, cuma... ulat pun ada banyak jenisnya."
"Lalu ulatmu termasuk jenis yang mana?"
"Ulatku termasuk jenis yang bisa makan manusia,"
Sahut gadis itu.
"Asal kulepaskan tanganku, dia akan menerobos masuk ke dalam tenggorokanmu, menyusup ke dalam nadi darahmu, menyusup ke dalam tulang-belulangmu, kemudian akan mengisap semua cairan dalam otakmu, mengisap darahmu dan mengisap sel-sel tubuhmu."
Setelah tertawa cekikikan, kembali terusnya.
"Manusia makan burung, burung makan ulat, kejadian semacam ini lumrah dan tak ada yang aneh, tapi terkadang ada juga ulat yang bisa makan manusia."
Siau-hong ikut tertawa, karena dia sudah teringat siapa gerangan gadis cilik ini.
Sewaktu berada di Lhasa, ketika berada dalam biara kuno yang penuh misteri, ketika berada di bawah cahaya lentera yang redup dan sejak lama sudah mempesona berapa banyak manusia, berada di depan altar batu hijau yang telah menghitam karena asap dupa para pesiarah, gadis inilah yang telah membawanya ke depan lukisan iblis wanita yang sedang mengisap otak manusia, dialah yang memaksanya angkat sumpah di hadapan lukisan itu.
Dia pula yang sewaktu di kota Lhasa membawanya mengunjungi rumah burung yang misterius, pergi menjumpai Tokko Ci.
Waktu itu dia tampil sebagai seorang bocah lelaki yang dekil penuh dengan lumpur.
Tapi sekarang dia adalah seorang gadis cantik yang bersih dan mempesona, kecuali ujung kuku tangannya berlepotan lumpur.
Sebetulnya kedua orang itu mustahil merupakan satu orang yang sama, tapi Siau-hong yakin kali ini dia tak bakal salah melihat.
"Aku mengenalimu,"
Seninya kemudian.
"Aku telah mengenali dirimu."
"Kau memang seharusnya telah mengenaliku,"
Ternyata gadis cilik itu sama sekali tak berniat menyangkal.
"Kalau kau tak mengenaliku, bukan saja kau adalah telur busuk, pada hakikatnya lebih mirip seekor babi, babi mampus."
Gadis itu tertawa cekikikan, seakan seorang gadis cilik yang sedang bergurau dengan seorang bocah lelaki sahabat karibnya.
Tapi tatapan matanya sama sekali tak ada senyuman, sama sekali tidak menampilkan niatnya untuk bergurau.
"Tadi aku telah berkata, asal kulepaskan genggamanku maka ulat kecil ini segera akan mengisap cairan tubuhmu hingga kering."
Lalu tanyanya kepada Siau-hong.
"Percayakah kau dengan perkataanku ini?"
"Aku percaya."
"Kau ingin kulepaskan tanganku?"
"Tidak!"
"Kalau begitu kau harus melepaskan aku terlebih dulu,"
Dengan dagunya yang halus, gadis itu menggesek tangan Siau-hong yang sedang mencekik lehernya.
"Mencekik cara begini membuat tubuhku sangat tak nyaman"
Siau-hong ikut tertawa, sebab bukan saja dia telah mengenali siapakah gadis kecil ini, bahkan ada banyak persoalan yang seharusnya tak dipahami, kini telah dipahami semua.
Gadis kecil itu berada di sekitar tempat ini, tak disangkal Tokko Ci pasti berada pula di sekitar tempat ini.
Tokko Ci adalah musuh besar Pancapanah, kemungkinan besar orang inilah yang dianggap Pancapanah sebagai musuhnya yang paling menakutkan.
Perempuan yang memakai sepatu berlapis pedang bisa jadi merupakan orang yang diutus Pancapanah untuk membunuh Tokko Ci.
Bukan membunuhnya, tapi mencari info, karena bukan pekerjaan mudah bagi Pancapanah untuk mengutus orang yang bisa menyelidiki sepak-terjang Tokko Ci.
Sekalipun hanya bermaksud mencari info, tapi pada akhirnya tewas secara mengenaskan di ujung pedang gadis cilik ini.
Pedang pembunuh yang tajam meski sudah dirontokkan dari genggaman, namun ulat beracun yang sangat mematikan justru masih berada di tangannya.
Siau-hong masih tertawa, gadis kecil itu justru sudah tidak tertawa lagi, dengan sepasang matanya yang besar bulat diawasinya wajah pemuda itu tanpa berkedip.
"Sudah jelas kau dengar semua perkataanku tadi?"
"Jelas sekali,"
Jawab Siau-hong.
"Aku telah mendengarnya dengan sangat jelas."
"Kau tak akan melepaskan aku?"
"Tidak."
Mencorong sinar tajam dari balik mata gadis cilik itu, ditatapnya Siau-hong dengan gemas, lalu tanyanya jengkel.
"Kau ingin mampus?"
"Tidak!"
"Mengapa kau tidak melepaskan aku?"
Desak si nona.
"Karena tiga alasan,"
Sahut Siau-hong.
"Pertama, kau datang untuk membunuhku, bila aku tak melepaskan dirimu, paling kita berdua mati bersama. Sebelum aku menemui ajalnya, tengkukmu pasti telah kuparahkan. Sebaliknya bila aku lepas tangan, kau pasti tak akan melepaskan aku, maka tengkukmu tak bakal patah sementara aku tetap harus mampus."
"Masuk akal."
"Kedua,"
Lanjut Siau-hong.
"Rasanya kau sedang mengancamku, kebetulan aku adalah orang yang paling tak suka diancam."
"Ketiga?"
"Tak ada ketiga,"
Jawab Siau-hong "Peduli bicara dengan siapa pun, dua alasan itu sudah lebih dari cukup."
Sekali lagi gadis cilik itu tertawa.
"Tak heran orang lain menyebutmu Siau-hong yang tak sayang nyawa,"
Katanya sambil menatap pemuda itu.
"Ternyata kau benar-benar tak sayang nyawa sendiri."
Sehabis mengucapkan perkataan itu, tiba-tiba dia melakukan satu tindakan yang sama sekali di luar dugaan siapa pun, mendadak ia menggencet ulat kecil itu hingga mati.
Biasanya orang yang bisa melakukan satu tindakan yang membuat orang lain tercengang dan sama sekali tak menyangka, tentu akan merasa bangga dan gembira atas ulahnya itu.
Tidak terkecuali gadis cilik itu.
Ia menatap wajah Siau-hong dan tertawa sangat riang.
"Aku percaya kau pasti tak akan menyangka, mengapa aku bukan saja tidak melepaskan ulat kecil itu di atas tenggorokanmu, sebaliknya malah menggencetnya sampai mati."
Siau-hong memang sama sekali tak menyangka. Gadis itu tidak membiarkan Siau-hong harus memeras otak untuk mencari jawabannya, karena ia segera menjelaskan alasannya mengapa berbuat begini.
"Karena meski harus membunuhmu, aku akan membunuh dengan menggunakan pedangku, bukan menggunakan ulat kecil ini,"
Lalu sambil membusungkan dada, terusnya dengan angkuh.
"Aku adalah seorang jago pedang, bila jago pedang ingin membunuh, dia seharusnya menggunakan pedang miliknya."
Mau tak mau Siau-hong harus mengakui hal ini, dia pun mau tak mau harus mengakui bahwa gadis cilik itu sudah terhitung seorang jago pedang.
Siapa pun itu orangnya, asal dapat menggunakan ilmu pedang sehebat itu, membunuh orang tepat pada bagian yang mematikan, membunuh dalam waktu singkat, dia sudah terhitung seorang jago pedang, seorang jago pedang kelas wahid.
Tapi jago pedang kelas wahid ini tiba-tiba tertawa cekikikan, suara tertawanya terdengar masih kekanakkanakan.
"Apalagi ulat kecil itu tak lebih hanya ulat biasa yang baru saja kutangkap dari atas tanah, bila kulepaskan di atas tenggorokanmu, paling kau hanya akan merasa sedikit geli, paling hanya merasa terperanjat saja, kaget sesaat."
Kali ini Siau-hong benar-benar tidak menyangka. Diperbodoh orang lain jelas bukan suatu kejadian yang menggelikan, paling tidak ia sendiri tak akan merasa geli. Kembali gadis cilik berkata.
"Padahal aku pun tidak bersungguh hati ingin membunuhmu, aku tak lebih hanya ingin menjajal pedangku di atas tubuhmu, menjajal apakah aku mampu membunuhmu."
Siau-hong menatapnya dingin, lalu bertanya.
"Dan sekarang kau telah menjajalnya?"
"Ehm."
"Kau sanggup membunuhku?"
"Rasanya tak sanggup."
"Bagaimana kalau aku yang mencoba?"
"Mencoba apa?"
"Mencoba apakah aku mampu membunuhmu?"
"Tidak, tidak ingin!"
Teriak gadis kecil itu.
"Aku sama sekali tak ingin!"
Kali ini Siau-hong tertawa.
Tapi di saat dia mulai tertawa itulah mendadak pemuda itu melakukan pula sebuah tindakan yang sama sekali di luar dugaan.
Tiba-tiba dia lepaskan tangannya yang masih mencekik tengkuk gadis itu, kemudian menabok pantatnya keraskeras.
Kontan saja gadis cilik itu menjerit, suara teriakannya jauh lebih keras dari semula.
"Kenapa kau memukulku?"
"Kau hendak membunuhku, kenapa aku tak boleh menabok pantatmu?"
"Kenapa kau harus memukul bagian tubuhku yang di sana?"
"Kalau kau seorang gadis suci, tentu saja aku tak boleh menabok bagian tubuhmu itu. Kalau kau adalah seorang jago pedang, terlebih aku tak boleh menabokmu,"
Kata Siauhong.
"Sayangnya, di dalam pandanganku kau tak lebih hanya seorang bocah cilik yang tubuhnya berlepotan lumpur dan suka bermain ulat kecil dengan hidung penuh ingus."
Kemudian sambil memukul pantatnya, sekali lagi dia berseru.
"Sekarang pergilah!"
Kali ini gadis itu tidak tertawa lagi.
Seorang gadis yang mulai dewasa, seorang jago pedang yang sanggup mencabut senjatanya membunuh orang, ternyata masih dianggap orang sebagai seorang bocah ingusan, semisal ada orang merasa geli akan kejadian ini pun, yang pasti gadis itu tak sanggup tertawa.
Namun dia pun tidak beranjak pergi.
Mendadak dia melompat bangun, melambung di udara, berjumpalitan berulang kali dan dalam waktu singkat ia telah mencabut pedangnya yang menancap di atas ranjang.
Sewaktu tubuhnya melayang turun ke lantai, pedang telah tergenggam di tangannya.
Setelah pedang berada dalam genggaman, senyuman yang tampil di wajah nona itu pun berubah.
Tiba-tiba Siau-hong teringat kembali kepada Po Eng, di tengah malam yang hening, di saat selesai meneguk arak, Po Eng pernah mengucapkan sesuatu perkataan yang sulit dimengerti olehnya saat itu.
"Pedang milik seorang jago pedang, terkadang mirip dengan uang. Dalam beberapa hal boleh dibilang nyaris sama."
"Seperti uang?"
Tanya Siau-hong tak mengerti.
"Kenapa pedang bisa mirip uang?"
"Apakah seorang jago pedang memiliki pedang seperti seseorang memiliki uang dalam sakunya. Terkadang dapat merubah segala penampilannya,"
Perkataan itu dirasakan Po Eng kurang gamblang, kurang jelas, karena itu dia menjelaskan lagi.
"Bila seorang jago tak berpedang seperti seseorang tak beruang sebuah kantung beras yang tak berisi berat, untuk bangkit pun tak mampu."
Siau-hong sangat memahami perkataan Po Eng itu, karenanya hingga sekarang dia tak pernah melupakannya.
Kini si nona cilik itu telah bangkit, tiba-tiba sikapnya berubah jadi sangat tenang, sangat mantap, dingin, dan tak berperasaan.
"Tadi kau memang mempunyai peluang untuk membunuhku, tapi sekarang keadaan telah berbeda,"
Kata gadis itu.
"Tadi aku gagal dalam serangan bukan dikarenakan ilmu pedangku tak mampu mengungguli dirimu, apakah sekarang kau masih ingin mencobanya?"
Pedang milik Siau-hong tidak tergembol di badan, masih berada di atas ranjang tapi sekali sambar ia dapat mengambil pedang miliknya itu.
Sejak ia mendapatkan kembali pedang itu untuk terakhir kalinya, belum pernah dia taruh pedang itu di tempat yang tak terjangkau tangannya.
Dengan sorot mata tajam gadis kecil itu mengawasi tangannya.
"Akan kuberi kesempatan kepadamu untuk mencabut pedang,"
Katanya.
Haruskah ia mencabut pedangnya?
Atau jangan?
Ingatan itu melintas dalam sekejap, ia harus mengambil keputusan secepatnya.
Dalam waktu relatif singkat, Siau-hong tidak bisa mengambil keputusan, dia teringat banyak persoalan yang sangat aneh.
Ia sedang bertanya pada diri sendiri.
Jika dia adalah Po Eng, dalam situasi seperti ini akankah dia mencabut pedangnya?
Dia pun memberi jawaban untuk diri sendiri, tidak mungkin.
Karena bocah perempuan ini masih belum bisa memaksa Po Eng mencabut pedangnya, dia belum pantas.
Siau-hong pun kembali bertanya pada diri sendiri, andaikata....
Pancapanah, dalam keadaan dan situasi seperti ini, mungkinkah dia mencabut pedangnya?
Dengan cepat jawaban yang ia berikan untuk diri sendiri adalah, tidak mungkin!
Sebab bila Pancapanah benar-benar berada di sini, sejak tadi bocah perempuan itu sudah menjadi orang mati, pada hakikatnya Pancapanah tidak perlu melolos pedangnya karena gadis itu sudah menjadi orang mati.
Ketika Pancapanah hendak membunuh orang, buat apa dia mesti mencabut pedangnya?
Siau-hong bukan Pancapanah, juga bukan Po Eng.
Dia mencabut pedangnya, perlahan-lahan menggunakan tangannya untuk mencabut pedang.
Lawannya, dengan mimik wajah yang sangat aneh mengawasi dia melolos pedang Mo-gan, ternyata ia tidak melakukan penyerangan.
Bila sepasang pedang saling bentur, tentu akan muncul percikan bunga api.
Ketika dua orang yang hidupnya tergantung pada pedang saling berhadapan dengan pedang terhunus, suasana saat itu pasti dipenuhi hawa pedang dan hawa pembunuhan.
Namun di antara mereka berdua tak ada keadaan seperti itu, meski pedang berada dalam genggaman Siau-hong.
Biarpun di tangannya ada pedang, namun hatinya tak ada pedang begitu juga dengan sorot matanya.
"Kau minta aku mencabut pedang kau ingin menggunakan pedang untuk mencobaku,"
Tanyanya kemudian kepada nona itu.
"Mengapa hingga sekarang kau belum turun tangan?"
Ooo)d*w(ooO BAB 29. BARTER Gadis cilik itu menggunakan sikap yang sangat aneh, mengawasi pedang dalam genggamannya, lewat lama kemudian baru berkata.
"Sewaktu aku berusia tujuh tahun, mendiang ayahku pernah memberitahukan kepadaku, bila ingin belajar pedang, aku harus mengingatnya selalu bahwa pedang adalah senjata tajam untuk membunuh manusia, merupakan senjata pembunuh, bila tidak dalam keadaan terpaksa, jangan sekali-kali mencabutnya secara sembarangan. Bila pedang di tanganmu telah dilolos dari sarungnya, sekalipun kau tak ingin membunuh orang, bisa jadi karena hal ini orang lain akan membunuhmu."
"Apa yang dia katakan memang sangat masuk akal,"
Siau-hong menyetujui.
"Seseorang yang dengan gampang mencabut pedangnya, dia pasti bukan seorang yang pandai menggunakan pedang."
"Kini pedang dalam tanganku telah dilolos dari sarungnya, aku seharusnya siap melancarkan serangan,"
Kata gadis cilik itu lagi.
"Sayang saat ini aku justru tak dapat turun tangan."
"Kenapa?"
Tanya Siau-hong.
Dia masih belum mengatakan mengapa dirinya tak dapat turun tangan, dia pun tak perlu bicara lagi, sebab pada saat itulah gadis itu turun tangan melancarkan serangan.
Dalam detik antara hidup dan mati, mendadak Siauhong teringat akan persoalan yang tidak seharusnya dia pikirkan.
Lagi-lagi dia teringat akan Po Eng.
Di tengah malam yang gelap, sepi, dan dingin, Po Eng pernah mengucapkan perkataan yang selama hidup tak pernah akan terlupakan olehnya.
"Pedang di tangan seorang jago pedang terkadang mirip dengan barang taruhan di tangan penjudi,"
Kata Po Eng.
"Seorang penjudi tulen tak bakal sembarangan memasang taruhan, bila dia ingin bertaruh, bukan saja harus bertaruh secara tepat, bertaruh secara telengas, bahkan harus bisa menahan sabar."
Sabar adalah menunggu, menunggu datangnya kesempatan baik. Po Eng kembali berkata.
"Di saat orang lain mengira kau tak bakal turun tangan, biasanya inilah peluang terbaik bagimu."
Tak disangkal bocah perempuan ini pun pernah mendengar perkataan yang sama dari ayahnya, bahkan seperti Siau-hong, dia pun selalu mengingat pesan itu.
Dia telah membuat Siau-hong menyangka ia tak bakal turun tangan, oleh sebab itu dia menunggu terus hingga detik ini baru turun tangan.
Tenang bagaikan bukit Thay-san, bergerak bagai kelinci gunung, tidak menyerang berarti melindungi diri, begitu menyerang pasti tepat sasaran.
Inilah prinsip yang dipegang seorang jago pedang.
Begitu melancarkan tusukan, serangan itu harus mematikan, sasaran yang diarah pun bagian mematikan di tubuh lawan, serangannya pasti membawa hawa pembunuhan yang mengerikan.
Tusukan yang dilancarkan gadis itu bukan hanya demikian saja.
Serangannya selain cepat, juga tepat sasaran, ilmu pedangnya bukan saja memiliki perubahan yang luar biasa bahkan sangat mematikan bagi lawannya.
Namun serangan yang dilancarkan nona cilik ini tidak cukup ganas, ilmu pedangnya juga kurang ganas.
Biarpun Siau-hong belum pernah menyaksikan ilmu pedang Tokko Ci, juga belum pernah melihat gadis itu melancarkan serangan, namun Siau-hong dapat membayangkannya.
Asal kau pernah melihat manusia yang bernama Tokko Ci, mungkin kau dapat membayangkan bagaimana bentuk ilmu pedangnya dan bagaimana caranya melancarkan serangan.
Tentu saja tak banyak orang yang pernah menyaksikan dia melancarkan serangan, sebab orang yang pernah melihatnya sebagian besar telah mampus di ujung pedangnya.
Kalau dilihat dari kemampuan si nona cilik ini membunuh salah seorang pembunuh gelap yang dikirim Pancapanah hanya dalam sekali tusukan, tak disangkal ilmu pedang yang dimilikinya telah mendapat seluruh intisari ilmu pedang milik Tokko Ci, tapi tusukan yang dilancarkan saat ini sedikit pun tidak mirip.
Siau-hong mulai merasa sedikit keheranan.
Yang lebih mengherankan lagi adalah setelah gadis itu melepaskan sebuah tusukan, mendadak ia menghentikan lagi gerak serangannya.
"Sekarang apakah kau sudah mengetahui, apa sebabnya tadi aku tak bisa turun tangan?"
Tanya si nona kepada lawannya. Siau-hong tidak menanggapi. Kembali gadis itu berkata.
"Ilmu pedang yang kupelajari adalah ilmu pedang untuk membunuh orang, bila aku akan membunuhmu, ilmu pedang itu baru berkhasiat."
"Jadi tadi kau tak ingin membunuhku?"
Siau-hong balik bertanya.
"Sebetulnya aku ingin membunuhmu, menggunakan nyawamu untuk menyembahyangi pedangku,"
Sahutnya.
"Tapi kemudian aku telah berubah pikiran."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin mengajakmu barter."
"Barter?"
Tanya Siau-hong.
"Barter apa?"
"Tentu saja sebuah barter yang tidak merugikan kedua belah pihak,"
Sahut gadis cilik itu.
"Hanya barter semacam ini baru bisa terwujud."
Membicarakan sebuah barter yang sama-sama tidak merugikan kedua belah pihak dengan seorang bocah perempuan, jelas kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang sangat menarik.
Siau-hong ingin sekali bertanya kepadanya.
Barter apakah yang dimaksud?
Apa yang hendak dibarter?
Bagaimana harus dibicarakan?
Belum sempat dia bertanya, tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara ayam berkokok, kertas jendela pun sudah mulai nampak memutih.
Betapa pun panjangnya malam yang gelap, pada akhirnya langit tentu akan menjadi terang kembali.
Begitu langit mulai terang, ayam pun mulai berkokok, kertas jendela pun akan memutih.
Siapa pun yang mendengar suara ayam berkokok pasti tak akan menganggap kejadian itu merupakan suatu peristiwa yang menakutkan, tak mungkin lantaran hal itu dia jadi amat terperanjat.
Tapi bocah perempuan itu tiba-tiba melompat bangun, bagaikan seekor kelinci yang terkena bidikan anak panah, tiba-tiba ia melompat keluar melalui daun jendela.
Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, dia telah mengucapkan sesuatu perkataan yang sangat aneh, perkataan yang membuat orang merasa tak mengerti, tak paham.
"Aku harus pergi,"
Katanya.
"Tapi kau tak boleh ikut pergi, malam nanti aku pasti akan datang lagi, mungkin begitu langit jadi gelap, aku telah datang kemari."
Mengapa dia harus pergi?
Mengapa begitu mendengar suara ayam berkokok gadis cilik itu segera pergi?
Di saat ayam mulai berkokok, sang surya sebentar lagi bakal terbit.
Apakah dia seperti setan dan sukma gentayangan lainnya, takut cahaya matahari?
Takut setelah matahari terbit, dia akan segera berubah menjadi segumpal darah kental?
Oleh karena itu dia harus menunggu sampai malam baru berani balik lagi ke dunia ramai, paling tidak harus menunggu setelah langit jadi gelap?
Sebenarnya gadis cilik itu manusia atau setan?
Barter seperti apa yang hendak dia bicarakan dengan Siau-hong?
Apakah semacam barter jual beli sukma gentayangan?
Ooo)d*w(ooO Kegelapan malam kembali menyelimuti angkasa.
Siau-hong sedang menunggu, menanti kedatangannya.
Duduk menanti di dalam ruang losmen yang sempit, gelap dan lembab semacam ini, terlepas yang dia tunggu itu manusia atau setan, yang pasti suasana saat itu tentu sangat tidak menggembirakan.
Siau-hong cukup bersabar, cukup mampu menahan diri.
Dia tak tahu kapan bocah perempuan itu akan datang lagi, tidak tahu pula dia akan datang darimana.
Datang dari luar jendela ataukah masuk lewat pintu?
Atau jatuh dari atas genteng rumah atau mungkin menerobos masuk lewat dinding ruangan?
Atau mungkin juga turun dari langit atau menongol dari bawah tanah?
Pada hakikatnya Siau-hong enggan memikirkannya, dia pun tak sanggup untuk menebaknya.
Pemuda itu hanya duduk menanti di dalam kamarnya.
Langit sudah gelap, kegelapan malam telah menyelimuti angkasa, lewat lama kemudian ia baru mendengar suara orang mengetuk pintu.
Ternyata benar-benar ada orang mengetuk pintu kamarnya, hanya saja orang yang mengetuk pintu bukan si nona cilik yang pernah kabur terbirit-birit fajar tadi.
Yang mengetuk pintu adalah seorang bocah lelaki, bocah lelaki yang dekil, usianya paling hanya delapan-sembilan tahun, tapi pakaian yang dikenakan justru jubah longgar terbuat dari sutera yang biasa dikenakan pria dewasa.
Siau-hong merasa sangat keheranan, kenapa pelayan rumah penginapan membiarkan seorang bocah datang dan mengetuk pintu kamarnya?
Yang lebih mengherankan lagi, pelayan penginapan justru berdiri di samping bocah lelaki itu, bukan saja tidak menghalangi bahkan sikapnya terhadap sang bocah justru amat sungkan dan menaruh hormat.
Mungkinkah bocah kecil ini pun mempunyai asal-usul yang luar biasa?
Tak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya, Siau-hong segera bertanya.
"Apakah kau datang mencariku?"
"Bukan mencarimu, memangnya mencari siapa?"
Jawab si bocah garang.
"Kalau bukan datang mencarimu, kau sangka aku datang mencari kura-kura telur busuk?"
Siau-hong tidak menjadi gusar, dia malah sedikit geli, hanya saja suara tawanya tak diutarakan.
"Siapa yang menyuruh kau datang mencariku?"
Ia bertanya.
"Tentu saja Lotoa kami,"
Jawab si bocah sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Dia minta aku membawamu pergi menjumpainya."
"Siapa Lotoa kalian? Dia berada di mana?"
"Asal ikuti saja aku, kau pasti akan tahu dengan sendirinya. Hm, kalau tak berani ikut, berarti kau memang cucu kura-kura hidup."
Selesai berkata dia langsung membalikkan badan dan kabur dari situ.
Terpaksa Siau-hong mengikut di belakangnya, bukan lantaran kuatir dianggap cucu kura-kura hidup, melainkan karena dia telah menebak siapa gerangan Lotoa bocah itu.
Langit sudah sangat gelap.
Sekalipun ada bintang yang bertaburan, cahaya bintang terasa begitu tipis dan tawar, sekalipun ada rembulan, cahaya rembulan pun terasa hambar.
Arah jalan di depan sana secara lamat-lamat tidak terlalu jelas.
Bocah cilik yang berlari di depan, tiba-tiba lenyap dari pandangan mata.
Tentu saja dia bukannya terbang ke langit atau menerobos masuk ke dalam tanah, hanya secara tiba-tiba menerobos masuk ke dalam sebuah kuil yang sudah bobrok.
Terpaksa Siau-hong ikut menerobos masuk ke dalam kuil itu.
Ternyata dalam ruang kuil bobrok itu terdapat cahaya, bahkan terendus pula harumnya arak dan daging panggang, daging panggang yang amat harum.
Tujuh-delapan belas orang bocah lelaki tampak mengerumuni api unggun yang dipakai untuk memanggang daging, mereka terdiri dari bocah remaja yang belum menginjak dewasa, pakaian yang dikenakan beraneka ragam dan kelihatan sangat aneh, bahkan apa yang dilakukan orang-orang itu pun beraneka ragam dan aneh.
Apa yang mereka kerjakan saat ini bila dilakukan kaum dewasa, jelas hal ini tidak aneh atau lucu, tapi mereka tak lebih hanya bocah remaja yang belum menginjak dewasa.
Seorang bocah yang tampaknya berusia paling besar bahkan paling dekil, duduk bersila di atas meja altar dalam kuil, dengan sepasang matanya yang bulat besar dia mengawasi sekeliling ruangan.
Bocah yang mengajak Siau-hong segera menuding ke arah altar sambil berbisik.
"Dialah Lotoa kami."
Tentu saja Lotoa mereka tak lain adalah bocah yang bermain ulat di rumah burung atau si nona berpedang yang menunggang keledai.
Daging wangi kini sudah tak wangi lagi karena telah berpindah ke dalam perut, tentu saja daging yang sudah masuk perut tak bakal wangi lagi, yang ada tinggal bau busuk.
Siau-hong memandang sekejap kawanan bocah yang sedang makan daging, minum arak, bermain judi di tepi api unggun, lalu dengan kening berkerut tegurnya.
"Apakah mereka adalah saudaramu?"
"Benar, semuanya adalah saudaraku,"
Sahut si nona kecil yang tempo hari bermain ulat, semalam bermain pedang dan malam ini hidungnya penuh ingus sambil menyengir.
"Aku adalah Lotoa mereka."
"Kenapa kau biarkan mereka melakukan perbuatan semacam itu?"
"Kenapa aku tak boleh membiarkan mereka melakukannya?"
"Perbuatan semacam itu hanya pantas dilakukan kaum dewasa,"
Ucap Siau-hong.
"Sementara mereka masih kecil, masih kanak-kanak."
"Kalau begitu apakah aku harus memberitahukan kepada mereka, perbuatan semacam ini hanya bisa mereka lakukan setelah dewasa nanti?"
Siau-hong tidak berbicara lagi. Mendadak gadis cilik itu menghela napas, ujarnya.
"Jika orang dewasa tak senang melihat bocah cilik melakukan perbuatan semacam ini, lebih baik kaum dewasa pun tidak melakukan hal yang sama. Bila orang dewasa setiap hari melakukan perbuatan semacam itu, bagaimana mungkin para bocah tidak menirunya?"
Siau-hong tertawa getir.
Ia merasa perkataan gadis cilik itu mencari menangnya sendiri, apa mau dibilang dia gagal menemukan alasan tepat untuk membantah perkataannya, terpaksa mengalihkan pokok pembicaraan, katanya.
"Sebenarnya barter macam apa yang hendak kau bicarakan semalam?"
Padahal dia masih mempunyai banyak persoalan yang hendak ditanyakan kepada gadis cilik ini.
Mengapa dia langsung kabur begitu mendengar suara ayam berkokok?
Mengapa dia selalu menyamar menjadi seorang bocah lelaki yang amat dekil?
Di manakah Tokko Ci saat ini?
Apakah ilmu pedangnya telah mencapai puncak kesempurnaan?
Apakah luka yang dideritanya telah sembuh?
Semua pertanyaan itu tidak diajukan Siau-hong karena secara tiba-tiba ia merasa sangat tertarik dengan usul barter bocah perempuan itu.
Sebagian besar orang tentu akan merasa sangat tertarik dengan barter yang diajukan bocah perempuan ini.
"Akan kucari sebuah tempat yang aman, rahasia dan nyaman untuk tempat tinggalmu,"
Ujar si nona kepada Siauhong "Setiap hari aku pun akan membuatkan beberapa macam hidangan yang lezat untukmu, bahkan akan kucucikan juga pakaianmu yang kotor."
Siau-hong mulai tertawa.
Sebenarnya dia ingin sekali bertanya kepada bocah perempuan ini, apakah dia sudah siap kawin dengannya.
Bukankah perkawinan pun merupakan semacam barter?
Bukankah semua pekerjaan yang hendak dilakukan bocah perempuan itu untuk Siau-hong merupakan tugas seorang istri terhadap suaminya?
Dengan sorot mata tak berkedip nona cilik itu menatap wajah Siau-hong.
Dia seolah ingin tertawa, namun tak jadi tertawa.
"Bila kau anggap aku ingin kawin denganmu, maka dugaanmu itu keliru besar,"
Ujar si nona lagi.
"Kau tak bisa menganggap diriku sebagai seorang perempuan."
"Lalu aku harus menganggapmu sebagai apa?"
Siau-hong sengaja bertanya.
"Anggap aku sebagai gurumu."
"Guru?"
Siau-hong tak tahan untuk tertawa.
"Apa yang bisa kau ajarkan kepadaku?"
"Ilmu pedang,"
Sahut si nona tegas.
"Aku dapat mengajarkan seluruh ilmu pedang Tokko Ci kepadamu."
Siau-hong mulai merasa agak terperanjat.
"Maksudmu, selain menanak nasi dan mencuci pakaian untukku, kau pun akan mengajarkan rahasia ilmu pedang milik orang lain kepadaku?"
"Benar, memang begitu maksudku."
"Kau bukan sedang bergurau?"
"Bukan."
Sikap serta caranya berbicara memang sedikit pun tak mirip orang sedang bergurau. Sikap Siau-hong pun segera ikut berubah, berubah menjadi serius.
"Barter itu terwujud bila ada imbal balik dari kedua belah pihak,"
Siau-hong pun bertanya.
"Apa yang kau inginkan dariku."
"Ilmu pedang,"
Jawab gadis cilik itu.
"Aku pun ingin kau mewariskan ilmu pedangmu kepadaku."
Kembali dia berkata.
"Aku ingin memenggal batok kepala Tokko Ci untuk membalas dendam sakit hati ayahku, kau pun ingin mengalahkan dia. Tapi dengan ilmu pedang yang kupelajari sekarang, jangankan memenggal kepalanya, memotong selembar rambutnya pun tidak gampang."
Mau tak mau Siau-hong harus mengakui kebenaran perkataan ini.
"Hanya dengan berbuat begitu kita baru punya harapan,"
Ujar gadis itu lebih jauh.
"Barter ini sangat berguna dan bermanfaat bagi kita berdua."
Dalam hal ini pun Siau-hong harus mengakui akan kebenarannya. Dia pun mulai mempertimbangkan, namun tak butuh waktu lama untuk pertimbangannya kali ini.
"Kalau begitu bila aku enggan menyanggupi usulmu itu, berarti aku adalah seorang telur busuk tolol,"
Katanya.
"Apakah kau memang telur busuk tolol?"
"Tidak, aku bukan."
Maka mereka pun melaksanakan barter itu.
Daging telah selesai dipanggang, bocah perempuan membagikan sepotong besar daging untuk Siau-hong, kemudian dengan tangannya yang penuh minyak bercampur lumpur, ia tepuk bahu anak muda itu kuat-kuat.
"Sekarang kita sudah bukan teman biasa lagi, kita adalah rekan kerja,"
Katanya.
"Kujamin kau tak bakal menyesal."
Siau-hong tertawa.
"Sekarang kita sudah bukan sahabat biasa lagi, tapi hingga kini aku masih belum mengetahui siapa namamu."
Bocah perempuan itu tertawa geli.
"Aku bermarga Che, sewaktu menjadi bocah lelaki, namaku adalah Siau-cong."
"Kalau sedang jadi anak perempuan?"
"Namaku Siau-yan."
"Sudah jelas kau adalah seorang gadis cilik, kenapa harus berperan menjadi bocah lelaki?"
Kembali Siau-hong bertanya. Siau-yan menatapnya lekat-lekat.
"Apakah kau ingin aku bicara sejujurnya?"
Dia bertanya.
"Tentu saja."
"Baik, kalau begitu kuberitahukan kepadamu,"
Ujar Siauyan.
"Bila Tokko Ci tahu aku adalah bocah perempuan, sejak dulu nyawaku sudah melayang di ujung pedangnya."
"Kenapa?"
"Karena ilmu pedang yang dipelajari Tokko Ci selain ganas, sesatnya luar biasa, setiap beberapa waktu dia harus melampiaskan kegilaannya, sebab kalau tidak, dia sendiri yang bakal jadi edan,"
Siau-yan menerangkan.
"Biasanya dia melampiaskan napsunya dengan melakukan pembunuhan."
Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.
"Kalau ia tak dapat membunuh orang, maka napsunya akan dilampiaskan di tubuh wanita. Jika dia tahu aku adalah seorang wanita, dapat dipastikan dia akan datang mencariku. Bila aku menolak melayaninya, bisa ditebak nyawaku akan melayang di ujung pedangnya."
Selama ini dia selalu menatap wajah Siau-hong, menatapnya dengan sorot matanya yang berbinar.
Walaupun sedang membicarakan suatu peristiwa yang memalukan, namun gadis itu sendiri sama sekali tak nampak rikuh atau malu mengutarakannya.
Mendadak Siau-hong merasa kagum terhadap gadis cilik ini.
Seorang gadis muda ternyata sanggup membicarakan masalah semacam itu di hadapan seorang lelaki, keberanian dan keterbukaan gadis ini benar-benar membuat orang merasa sangat kagum.
Siau-yan masih menatapnya tanpa berkedip.
"Kau masih ada persoalan apa lagi yang ingin ditanyakan kepadaku?"
Siau-hong memang masih mempunyai banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepadanya.
Apakah Tokko Ci telah berhasil mempelajari ilmu pedangnya?
Saat ini Tokko Ci berada di mana?
Namun dia tidak menanyakannya.
Dengan memakai daging yang berada dalam tangannya, ia sumbat mulut sendiri.
Dalam perjalanan hidup siapa pun, suatu saat dia pasti akan mengalami perubahan yang datang mendadak, seperti persoalan lainnya, perubahan itu ada yang baik ada pula yang jelek, ada yang membuat orang menari-nari gembira, ada pula yang membuat orang sedih dan berduka.
Dalam persoalan perasaan, cinta munculnya tiba-tiba, begitu pula dengan benci dan dendam, dalam kehidupan pun terkadang ada beberapa persoalan yang dapat mengubah perjalanan hidup seseorang.
Terlepas perubahan itu membawa kebaikan atau keburukan, namun pada prinsipnya hanya terdapat dua perbedaan itu.
Dalam perjalanan berlangsungnya perubahan ini, seringkali bisa terjadi suatu peristiwa yang membuat orang tak dapat melupakannya seumur hidup.
Jalan hidup Siau-hong secara tiba-tiba mengalami perubahan, dari kehidupan yang penuh gejolak dan ancaman maut yang bisa datang setiap saat, mendadak berubah menjadi kehidupan yang tenang aman, dan penuh kedamaian.
Che Siau-yan sama sekali tidak membohonginya, dia benar-benar mencarikan sebuah tempat yang benar-benar aman, tenteram, tersembunyi yang berada di tengah sebuah tanah perbukitan kecil, di tepi sungai dengan aliran air yang jernih, di bawah pepohonan yang rindang di mana ia telah mendirikan sebuah rumah kayu kecil untuk ditempati pemuda itu.
Hidangan yang dimasak gadis cilik ini pun benar-benar hebat, bakpao kukusannya padat berisi, bakmi yang dibuatnya kurus dan gurih, nasi yang ditanaknya harum dan pulen, bahkan daging yang dimasaknya begitu empuk, gurih, dan lezat.
Ternyata dia pun benar-benar turun tangan sendiri mencuci pakaian Siau-hong, bahkan bukan hanya sekali dia mencucinya.
Memiliki sebuah rumah tinggal yang begitu tenang dan indah, memiliki sebuah rumah kecil yang hangat dan nyaman, bahkan setiap hari ada seorang gadis cantik yang menemaninya berbincang dan bergurau...
bagi seorang perantau macam Siau-hong, perubahan hidup semacam ini boleh dibilang benar-benar sebuah perubahan yang amat besar.
Dia belum pernah mempunyai rumah, tapi sekarang dia telah memilikinya, hanya dia sendiri pun tahu bahwa kehidupan semacam ini setiap saat bisa berakhir.
Ketika mereka berhasil mempelajari ilmu pedang semuanya akan berakhir.
Berbicara dari sudut pandang lain, ilmu pedang tak ubahnya seperti ilmu kaligrafi, bukan saja harus punya "jiwa", punya "gaya"
Dan punya "niat", bahkan harus memiliki "teknik"
Dan "seni".
Setiap goresan pit harus didahului dengan "niat", begitu pula setiap gerakan pedang harus didahulu dengan "niat", sementara setiap perubahan yang kemudian mengikuti, tergantung seberapa besar teknik dan seni yang bisa kita kembangkan.
Jiwa dan niat merupakan takdir, sementara teknik dan seni merupakan hasil tempaan di kemudian hari.
Maka Siau-hong pun berlatih dengan tekun dan bersungguh hati.
Banyak sekali cara menggunakan tenaga serta perubahan gerak jurus dalam ilmu pedang Tokko Ci yang belum pernah didengar maupun diduga sebelumnya.
Biarpun perubahan dalam ilmu pedang tak banyak jumlahnya, namun setiap perubahan betul-betul di luar dugaan siapa pun.
Setiap perubahan gerakan pedang bukan saja mengandalkan teknik gerakan tangan, bahkan harus memiliki semacam "kekuatan".
Kalau tak punya hawa, maka tak akan muncul tenaga.
Yang paling hebat dan unik dari ilmu pedang Tokko Ci adalah caranya mengerahkan hawa dan tenaga.
Hawa tak mungkin dikeluarkan dari tempat yang seharusnya, pedang pun tak boleh muncul dari posisi di mana senjata itu harus bergerak.
Ketika hawa dan tenaga berada di pergelangan tangan, sekali tusuk, pedang akan menembus dada.
Dan inilah teknik yang paling hebat, teknik yang hanya bisa diperoleh dari berlatih secara tekun.
Dalam beberapa waktu ini dia seolah telah melupakan Yang-kong serta Po Eng, seolah sudah melupakan semua orang yang seharusnya tak mungkin terlupakan.
Tentu saja dia bukannya benar-benar melupakan mereka, ia justru berusaha melarang pikirannya mengenang dan membayangkan mereka.
Untuk mempelajari ilmu pedang, bukan saja harus berlatih dengan tekun, bahkan harus memiliki bakat alam.
Tidak sedikit orang yang berlatih tekun, tapi tak banyak orang yang memiliki bakat alam.
Bagi beribu bahkan berjuta orang yang ingin tampil ternama dalam dunia persilatan, khususnya bagi pemuda belum dewasa yang ingin menjadi tenar.
"pedang"
Bukan saja merupakan sejenis benda tajam untuk membunuh orang, benda itu pun lambang "kematangan".
"kedewasaan"
Serta "kedudukan".
Sejak beribu tahun berselang, sejak pedang pertama berhasil ditempa manusia, ada berapa banyak pemuda yang rela berlatih tekun demi berhasilnya mempelajari ilmu pedang.
Namun dari sekian banyak manusia, ada berapa banyak di antaranya yang berhasil?
Kalau dibilang Siau-hong adalah pemuda yang sangat berbakat dalam mempelajari ilmu pedang, tak disangkal begitu pula dengan Che Siau-yan.
Tak sampai tiga bulan kemudian, gadis cilik ini telah berhasil mempelajari seluruh ilmu pedang Siau-hong yang seharusnya dia pelajari dan berharga untuk dipelajari.
Tiga bulan kemudian, frekuensi kedatangannya di rumah tinggal Siau-hong sudah tidak sebanyak dahulu lagi.
Ketika gadis cilik itu tidak muncul, pasti ada orang lain yang akan mewakilinya mengantar hidangan untuk Siauhong.
Orang yang bertugas mengantar nasi untuknya tak lain adalah bocah kecil yang pertama kali mengajak Siau-hong berkunjung ke kuil bobrok.
"Aku bernama Toa-nian,"
Bocah kecil itu memperkenalkan diri.
"Karena aku dilahirkan pada tanggal satu bulan satu, pas orang sedang merayakan tahun baru, maka aku dinamakan Toa-nian."
Toa-nian menerangkan bahwa dia telah berusia tiga belas tahun, namun kalau diperhatikan potongan badan serta wajahnya, paling dia baru berusia delapan-sembilan tahunan.
"Sejak kecil aku tak pernah makan kenyang, berpakaian cukup, karena itulah bentuk badanku selalu kelihatan kecil dan tak pernah tumbuh,"
Kembali Toa-nian memberitahukan keadaan dirinya kepada Siau-hong.
"Aku tahu, banyak orang mengejek dan mengumpatku di belakang diriku, mengatakan perutku kebanyakan air busuk sehingga badanku tak pernah tumbuh, tak pernah jadi tinggi, tapi sedikit pun aku tak peduli."
Nada serta gaya bicaranya begitu dewasa, jauh melebihi usianya sekarang.
"Bagiku, cukup asal mereka tidak mengejek dan memaki di hadapanku."
"Oh, jadi mereka tak pernah mengejek dan memaki di depanmu?"
"Satu kali pun belum pernah,"
Toa-nian menggeleng.
"Karena mereka tidak berani."
Siau-hong menatap wajahnya, memperhatikan mukanya yang bulat, mengawasi mimik dewasa yang tampil di wajahnya. Tak tahan akhirnya dia bertanya.
"Apakah di tempat ini ada banyak orang yang takut kepadamu?"
Terbayang sikap hormat yang diperlihatkan pelayan losmen terhadapnya, karena itulah Siau-hong mengajukan pertanyaan itu. Cepat Toa-nian menggeleng.
"Yang mereka takuti bukan aku, melainkan takut kepada Lotoa kami,"
Ia membusungkan dada dan melanjutkan.
"Berani kujamin, tak seorang pun di tempat ini yang berani mengganggu."
"Kenapa?"
"Karena dia bakal sial bila berani mengganggunya."
"Bagaimana sialnya?"
"Ada orang yang dicukur gundul jenggotnya di tengah malam buta, ada pula yang kehilangan sepasang bulu matanya ketika bangun dari tidurnya di pagi hari,"
Toa-nian menerangkan.
"Lo-sanse si pemilik pegadaian yang malam sebelumnya menendang dia satu kali, keesokan harinya menjumpai kaki sendiri telah membengkak besar seperti kaki babi."
Rasa bangga kembali menghiasi wajahnya yang bulat.
"Sejak peristiwa itu, tak seorang pun di tempat ini yang berani mengganggu kami, sebab semua orang tahu kami adalah saudaranya."
Siau-hong tertawa lebar.
"Wah, tampaknya kemampuan Lotoamu betul-betul hebat, kalian pasti akan sangat gembira karena memiliki seorang Lotoa semacam dia."
"Tentu saja gembira,"
Jawab Toa-nian.
"Bukan saja dia telah memberi makan kepada kami, memberi pakaian untuk kami, bahkan dalam hal apa pun dia selalu memperhatikan kebutuhan kami."
"Dia bersikap begitu baik kepada kalian, dengan cara apa kalian akan membalas budi kebaikannya?"
"Biarpun saat ini kami belum mampu membalas budi kebaikannya, namun setelah kami dewasa nanti, kami pun bisa melakukan banyak hal baginya,"
Dengan mata melotot, Toa-nian berkata penuh keseriusan.
"Asalkan dapat membuatnya gembira, perbuatan dan pekerjaan apa pun pasti akan kami lakukan. Walau dia menyuruh kami pergi mati pun, kami pasti akan melakukannya."
Seperti orang yang telah dewasa, dia menghela napas panjang, terusnya.
"Sayangnya saat ini kami masih belum cukup dewasa, hanya urusan kecil yang bisa kami perbuat baginya, hanya bisa mengantarkan barang lari ke sana kemari, mencari berita di mana-mana...."
Kemudian sambil membusungkan dada dan bertampang sungguh-sungguh, terusnya.
"Bila di sekitar tempat ini kedatangan orang asing, orang pertama yang tahu akan kehadirannya tentulah Lotoa kami. Jika di atas bumi terjadi suatu peristiwa yang aneh, dia pula yang nomor satu mengetahuinya."
Dalam hati kecilnya diam-diam Siau-hong menghela napas.
Tiba-tiba ia menjumpai bahwa gadis cilik itu selain berotak cerdas, punya kemampuan untuk bertindak, bahkan ambisinya sangat besar.
Mungkin ambisinya jauh lebih besar daripada apa yang dibayangkan setiap orang.
Beberapa bulan kembali lewat, malam yang panjang kini telah berlalu, udara yang panas dan kering lambat-laun berubah menjadi sejuk.
Udara semacam ini paling cocok untuk tidur berlamalama.
Tapi tidur Siau-hong tidak terlalu nyenyak, setiap bangun pagi, bukan saja bibir dan tenggorokannya terasa kering, sepasang matanya berubah pula jadi merah darah.
Baru selesai mandi dengan air dingin, Toa-nian telah muncul mengantar sarapan.
Pertanyaan pertama yang diajukan Siau-hong adalah.
"Bagaimana dengan Lotoa kalian?"
Sebetulnya frekuensi pertemuan antara mereka berdua makin lama sudah semakin berkurang, kali ini hampir dua bulan lamanya mereka tak pernah saling bersua.
"Aku pun tak tahu di mana ia berada,"
Jawab Toa-nian.
"Kalau dia tidak datang mencari kami, tak seorang pun dari kami yang tahu di manakah dia berada."
"Kau tidak berbohong?"
"Aku belum pernah berbohong,"
Toa-nian melototkan matanya.
"Aku adalah anak kecil, sedang kau adalah orang dewasa, kalau anak kecil berbohong, mana mungkin tidak diketahui orang dewasa."
Biarpun Siau-hong merasa agak gelisah, namun mau tak mau dia harus mempercayai ucapannya.
"Kau tentu ada saat berjumpa dengannya, bila bertemu dengannya lagi, katakan, suruh dia secepatnya datang kemari."
"Mau apa datang kemari?"
"Ada urusan penting aku hendak bicarakan, sebuah urusan yang amat penting."
"Dapat kau beritahukan kepadaku?"
"Tidak bisa,"
Siau-hong melototkan juga matanya.
"Lebih baik anak kecil tak usah banyak bertanya tentang urusan orang dewasa."
Toa-nian tidak bertanya lagi walau hanya sekecap pun, tanpa banyak bicara ia segera beranjak pergi dari situ, seperti seorang bocah penurut yang sangat jujur dan polos.
Tapi dia sendiri tahu kalau dirinya sama sekali tak polos, juga tak jujur, sebab bukan saja dia telah berbohong, bahkan setiap perkataan yang dikatakan adalah bohong.
Dia sendiri pun tahu, bohong itu tak baik, namun dia sama sekali tak merasa berdosa, sebab dia berbohong demi Lotoa mereka.
Lotoa mereka sedang menunggunya di dalam hutan di sebelah depan sana.
Musim gugur yang sejuk, hutan pohon waru yang rindang dan hening.
Daun berwarna merah memenuhi seluruh hutan, merah bagaikan bara lidah api.
Che Siau-yan duduk bersila di bawah sebatang pohon, pakaiannya amat dekil, begitu pula dengan wajahnya yang penuh ingus, begitu kotor dan jorok sehingga andaikata ia bercermin pun sering lupa kalau sesungguhnya dirinya adalah seorang gadis yang cantik.
Dia sendiri tahu dirinya adalah seorang gadis, sudah bukan anak-anak lagi, tentu saja bukan seorang bocah lelaki.
Namun setiap kali sedang menyamar sebagai bocah lelaki, dia selalu memiliki kemampuan untuk membuat dia sendiri pun lupa kalau sesungguhnya dia adalah seorang perempuan tulen.
Dalam hal ini dia sendiri pun merasa amat puas.
Saudara-saudaranya belum pernah ada yang tahu kalau Lotoa mereka sebenarnya adalah seorang wanita, tapi gadis itu tahu kalau di antara anak buahnya ada beberapa orang sudah berubah jadi lelaki dewasa, mereka sudah mempunyai biji di tenggorokannya, sudah punya jakun, seringkali di tengah malam buta secara diam-diam mereka telah belajar melakukan perbuatan yang seharusnya dilakukan para lelaki dewasa.
Ia tahu, tapi pura pura tak tahu, berlagak pilon.
Ada kalanya dia bahkan tidur bersama mereka, malah ketika melihat mereka melakukan masturbasi, dia sendiri sama sekali tak tertarik, sama sekali tak tergerak hatinya.
Dalam hal ini, dia merasa amat puas terhadap kemampuan sendiri.
Sewaktu Toa-nian datang, dia sedang menangkap seekor ulat kecil yang baru muncul dari dalam tanah dan mempermainkan ulat itu.
Sebetulnya ia tak senang dengan ulat, bukan saja tak senang bahkan cenderung muak, benci.
Baik terhadap ulat besar ataupun ulat kecil, dia merasa muak semua.
Namun seringkali dia justru bermain dengan ulat.
Karena dia selalu berpendapat, cara terbaik untuk melatih diri adalah sering memaksa diri melakukan perbuatan yang sebenarnya amat tak disukai.
Dia pun tak suka kepada Toa-nian.
Dia selalu merasa bocah lelaki ini seperti sebiji buah belum masak yang telah dipetik dari pohon, bukan saja tak indah dipandang, juga tak enak dimakan.
Tapi ia yakin dan percaya, Toa-nian pasti tak tahu kalau dia tak menyukai dirinya, sebab setiap kali berjumpa dengan bocah lelaki itu, dia selalu tampil dengan wajah riang dan gembira, sebab Toa-nian selalu berguna baginya, boleh dibilang dia merupakan satu-satunya orang di antara para saudara lainnya yang paling berguna.
Begitu Toa-nian berjumpa dengannya, bagaikan tikus bertemu kucing, tampang nakal dan binalnya kontan hilang.
Dengan sikap sopan, penuh aturan dan jujur ia berdiri di hadapan gadis itu sambil memberi laporan.
"Aku telah mengantar nasi ke sana, bahkan telah menyerahkan langsung ke tangannya."
"Sewaktu ke sana, apa yang sedang dilakukan Siauhong?"
"Dia sedang mandi dengan air dingin."
"Kemarin sore, malam sebelumnya, tengah hari tiga hari berselang, ketika kau ke sana, bukankah dia pun sedang mandi dengan air dingin?"
Ooo)d*w(ooO BAB 30. MENCOBA ILMU PEDANG "Benar,"
Jawab Toa-nian.
"Belakangan orang ini berubah jadi orang yang suka kebersihan, tiba-tiba saja dia suka mandi, bahkan setiap hari bisa mandi beberapa kali dengan air dingin."
Mendadak Siau-yan tertawa, tertawanya nampak sedikit misterius.
"Orang lelaki yang suka mandi dengan air dingin belum tentu dikarenakan suka akan kebersihan,"
Katanya.
"Kalau bukan karena suka kebersihan, lalu karena apa?"
Tanya Toa-nian dengan mata mendelik.
"Ah, kau masih kecil, mana mengerti,"
Tukas Siau-yan cepat.
"Lebih baik jangan bertanya urusan orang dewasa."
Setelah menggencet ulat di tangannya sampai mati, ia bangkit, menggeliat, kemudian tanyanya lagi kepada Toanian secara tiba-tiba.
"Menurut kau, belakangan apakah ada yang berbeda dengannya dibandingkan dulu?"
"Rasanya ada sedikit perbedaan,"
Sahut Toa-nian setelah mengedipkan matanya beberapa kali.
"Belakangan wataknya berubah sangat temperamen, suka kasar, dan marah, tapi semangatnya justru lebih kendor ketimbang dulu, sepasang matanya selalu memerah, sepertinya tiap malam ia tak bisa tertidur nyenyak."
"Apakah hari ini dia tidak menanyakan aku?"
"Selama satu bulan belakangan, setiap kali bertemu aku, maka perkataan pertama yang diucapkan adalah bertanya apakah aku telah bertemu dengan dirimu,"
Toa-nian menjelaskan.
"Hari ini dia malah bersikeras hendak menjumpaimu, sebab katanya dia mempunyai urusan yang teramat penting untuk dibicarakan denganmu."
Tiba-tiba ia tertawa, terusnya.
"Kalau dilihat dari tampangnya, dia seakan bakal segera mampus bila tak bertemu lagi denganmu."
Siau-yan ikut tertawa, suara tawanya misterius dan gembira. Melihat itu tak tahan Toa-nian bertanya lagi.
"Apakah kau tahu, ada urusan apa dia ingin mencarimu?"
"Aku tahu,"
Siau-yan tersenyum.
"Tentu saja aku tahu."
"Kalau kau tak ke sana, apakah dia benar-benar akan mati?"
"Biarpun tidak mati, sudah pasti akan sangat sedih dan tersiksa,"
Suara tawa Siau-yan terdengar semakin gembira.
"Aku yakin belakangan ini kehidupannya makin hari semakin tersiksa, makin hari semakin menderita, menderitanya setengah mati."
Tertawanya memang nampak sangat gembira, tapi siapa pun tak tahu mengapa dia begitu gembira, apalagi ketika tertawanya makin riang, parasnya berubah makin memerah.
Biasanya hanya gadis yang tergerak hatinya, parasnya akan berubah jadi merah dadu.
Jika hatinya tak pernah tergerak, mengapa pipinya bisa berubah jadi merah dadu?
Kembali Toa-nian bertanya.
"Apakah kau hendak pergi menjumpainya?"
"Aku akan menjumpainya."
"Kapan?"
"Hari ini,"
Tiba-tiba warna semu merah di pipinya lenyap dari wajah Siau-yan.
"Sekarang juga aku akan ke sana!"
Mendadak dia melompat naik ke atas dahan pohon, dari sebatang dahan ia cabut sebilah pedang.
Menanti tubuhnya melayang kembali ke bawah, parasnya telah berubah jadi putih pucat, seputih kertas, tampangnya saat ini seperti wajah orang-orangan terbuat dari kertas yang biasanya dipakai untuk menutupi muka mayat.
Dengan perasaan terkesiap Toa-nian memandang wajahnya, sebab belum pernah ia jumpai perubahan yang begitu besar pada wajah seseorang, apalagi dalam waktu yang amat singkat.
Selama ini nyalinya terhitung cukup besar, tapi sekarang tanpa sadar tubuhnya mundur beberapa langkah, dia seolah kuatir Lotoanya mendadak mencabut pedang dan dihujamkan ke tenggorokan atau dadanya.
Bukan tanpa alasan dia merasa sangat ketakutan.
Hanya orang yang akan menghabisi nyawa orang lain baru akan memiliki paras seperti tampang Lotoanya sekarang.
Ia tidak berusaha melarikan diri, sebab dia tahu orang yang hendak dibunuh Lotoanya bukan dia, tapi dia pun tak pernah menyangka kalau Lotoanya akan membunuh Siauhong.
Selama ini dia selalu menyangka mereka adalah sahabat, sahabat yang sangat akrab.
Dengan kencang Siau-yang menggenggam gagang pedangnya, lalu menatap bocah lelaki itu dengan pandangan dingin, mendadak tegurnya.
"Mengapa kakimu gemetar?"
"Aku takut,"
Jawab Toa-nian, di hadapan Lotoa mereka, dia tak pernah berani berbohong.
"Apa yang kau takuti?"
Kembali Siau-yan bertanya.
"Takut aku?"
Toa-nian manggut-manggut. Dia tak berani menyangkal, namun dia pun tak berani mengakuinya. Tiba-tiba Siau-yan tertawa, di balik senyuman itu seolah terselip juga hawa pembunuhan yang tebal.
"Sejak kapan kau jadi takut terhadapku?"
"Tadi!"
"Kenapa?"
"Karena..."
Toa-nian tergagap.
"Karena tadi kau kelihatan sangat menakutkan, seperti ingin membunuh seseorang."
Kembali Siau-yan tertawa.
"Apakah sekarang aku masih bertampang hendak membunuh orang?"
Tanyanya. Toa-nian tak berani buka suara lagi, ia terbungkam. Kembali Siau-yan menatapnya sampai lama sekali, akhirnya sambil menghela napas katanya.
"Kau pergilah, lebih baik cepat pergi, pergi semakin jauh semakin baik."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Toa-nian sudah lari meninggalkan tempat itu.
Larinya tidak terhitung cukup cepat, sebab kedua belah kakinya sudah keburu lemas, bahkan celananya pun sudah basah karena tanpa sadar telah terkencing.
Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu perasaan yang aneh dan sangat menakutkan.
Tiba-tiba ia merasa Lotoanya dalam saat yang amat singkat tadi seolah benar-benar akan mencabut pedangnya untuk membunuh dia.
Menanti Toa-nian telah kabur sangat jauh, perlahanlahan Siau-yan baru melepaskan genggaman pada gagang pedangnya.
Telapak tangan gadis cilik ini pun basah, basah oleh peluh dingin yang jatuh bercucuran.
Sebab dia sendiri pun tahu, dalam waktu yang teramat singkat tadi, peduli siapa pun yang sedang berdiri di hadapannya, kemungkinan besar akan mati terbunuh di ujung pedangnya.
Ilmu pedang yang dipelajarinya memang ilmu pedang yang khusus untuk membunuh.
Selama beberapa waktu belakangan, dia selalu merasakan satu dorongan kekuatan yang membuatnya ingin sekali membunuh manusia, terutama pada detik yang sekejap tadi, hawa napsu membunuh dan hawa pembunuhan seakan telah menembusi ujung pedangnya.
Nona itu sadar, ilmu pedangnya telah berhasil dilatih hingga puncak kesempurnaan, tak disangkal ilmu pedang yang dipelajari Siau-hong pun pasti sudah mencapai pula pada puncaknya.
Karena perasaan mereka berdua sama-sama gelisah, sama-sama merasakan satu dorongan yang sangat kuat.
Tengah hari.
Siau-yan tidak pergi mencari Siau-hong.
Pedangnya masih disarungkan, sementara si nona itu telah tiba di puncak sebuah bukit.
Tempat ini merupakan sebuah bukit terjal yang belum pernah didaki manusia, pada hakikatnya tak ada jalan menuju ke puncak bukit.
Di belakang hutan belantara, di dalam sebuah bukit yang tenang terdapat sebuah kolam air bersih, dari tempat inilah mata air yang mengalir di belakang rumah kayu yang ditinggali Siau-hong.
Seringkali Siau-yan berkunjung ke sana.
Hanya tempat inilah menjadi wilayah yang sepenuhnya milik dia pribadi.
Hanya di tempat ini dia dapat berpikir secara bebas, bisa berbuat dan melakukan apa pun menurut suara hati sendiri, karena tak bakal ada orang yang datang mengusiknya.
Dia yakin, kecuali dirinya seorang, belum pernah ada orang lain yang pernah datang ke situ.
Kini musim gugur telah tiba, meskipun air dalam kolam yang disinari matahari terasa sedikit hangat, namun tidaklah kelewat dingin.
Ketika kakinya direndamkan ke dalam air, sekujur badannya akan gemetar karena kedinginan, rasa dingin yang menyusup dari telapak kakinya hingga ke hati, rasanya seperti sang kekasih yang sedang menarik kakinya.
Dia amat menyukai perasaan semacam ini.
Di dalam hutan belukar terdapat batu karang, di bawah batu karang tersimpan sebuah buntalan, dialah yang menyembunyikan buntalan itu di situ, sudah cukup lama tersimpan di sana dan sekarang dia baru mengambilnya keluar.
Isi buntalan itu adalah pakaian miliknya, dari pakaian dalam sampai gaun luar, semuanya tersedia lengkap, bukan saja setiap stel masih baru, bahkan terbuat dari kain sutera yang halus lembut, selembut kulit tubuh seorang perawan.
Persis juga seperti kulit tubuhnya.
Dari dalam buntalan itu dia mengeluarkan pakaiannya satu stel demi satu stel, semua pakaian dibentang di atas sebuah batu yang telah dicuci bersih dengan air kolam, kemudian menindih dengan pedangnya.
Kemudian dia pun melepaskan pakaian yang dikenakan satu per satu, melepas kain yang mengikat kencang di atas payudaranya, kemudian dalam keadaan telanjang bulat dia terjun ke dalam air kolam yang hangat tapi segar itu, dia merasa tubuhnya seakan-akan dipeluk erat oleh kekasih hatinya yang tak berperasaan, tapi terasa romantis baginya.
Dalam waktu singkat sepasang payudaranya mulai mengencang dan berdiri, sepasang pahanya ikut mengejang.
Ia senang sekali dengan perasaan semacam ini.
Perlahan gadis itu memejamkan mata, membelai seluruh badan sendiri, hanya dia yang tahu bahwa dirinya telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang matang.
Dari kolam itulah air mengalir ke bawah, mengalir ke belakang rumah kayu yang ditempati Siau-hong.
Tiba-tiba ia teringat saat itu kemungkinan besar Siauhong pun sedang menggunakan air yang sama untuk mengguyur tubuhnya.
Mendadak satu perasaan yang tak terlukiskan dengan kata muncul dalam hati kecilnya, muncul dari hati langsung turun ke bawah hingga merangsang telapak kaki.
Lewat tengah hari.
Siau-hong dalam keadaan basah kuyup melompat keluar dari dalam air di belakang rumahnya, ia membiarkan hembusan angin musim gugur mengeringkan tubuhnya.
Semasa masih muda dulu, dia sering menggunakan cara seperti ini untuk mengendalikan perasaannya, bahkan seringkali berkhasiat.
Tapi sekarang, hingga tubuhnya telah mengering, hingga hawa dingin merasuk ke dalam tulang, hatinya masih tetap panas.
Apakah hal ini disebabkan ia telah berhasil mempelajari ilmu pedang Tokko Ci, maka dirinya ikut berubah seperti Tokko Ci, setiap saat kalau tidak membunuh orang maka hawa murninya sukar terlampiaskan.
Dia tak pernah berpikir secara cermat akan hal ini.
Dia tak berani berpikir ke situ.
Hanya bercelana pendek, sambil menenteng pedangnya dia berlari menuju ke dalam hutan di mana biasa ia berlatih.
Hutan ini pun seperti hutan di depan sana, daunnya telah berubah jadi merah, semerah bara api.
Semerah cucuran darah segar.
Siau-hong melolos pedangnya, pedang Mo-gan seolah sedang melotot ke arahnya, seakan menembus pikiran dan perasaannya, menyaksikan pikiran sesat yang sudah lama terpendam di dasar hatinya dan selama ini dikendalikan sekuat mungkin.
Pikiran sesat semacam ini sesungguhnya memang merupakan dosa paling purba dari setiap manusia, kau dapat mengendalikannya tapi jangan harap dapat memusnahkannya.
Dengan satu tusukan kilat Siau-hong melancarkan sebuah serangan ke depan, yang ditusuk adalah sebatang pohon.
Daun di atas pohon telah berguguran, gugur tanpa meninggalkan selembar daun pun, tapi ujung pedangnya tetap menembus batang pohon itu.
Seandainya pohon itu punya jantung, tak disangkal jantung pohon pasti sudah tertembus oleh tusukannya.
Bila yang ditusuk adalah manusia, tusukan kali ini pasti merupakan sebuah tusukan yang mematikan!
Tangannya masih menggenggam gagang pedang, setiap lembar otot hijau pada punggung tangannya menonjol, seperti ular-ular berbisa.
Apakah di dalam hatinya pun terdapat ular berbisa yang siap menerkam dirinya?
Pedangnya belum sempat dicabut ketika ia mendengar ada orang sedang bertepuk tangan, ketika berpaling, terlihat Che Siau-yan telah muncul di tempat itu.
Waktu itu Siau-yan sedang bersandar pada sebatang pohon di belakang tubuhnya,.
Sinar sang surya yang menerobos turun dari balik dedaunan persis menyinari raut mukanya yang cantik.
"Kiong-hi, Kiong-hi,"
Seru gadis itu.
"Kau telah berhasil mempelajari ilmu pedangmu."
Perlahan-lahan Siau-hong membalikkan badan dan menatapnya.
Wajahnya tampak cantik dan segar, pakaian yang menempel di tubuhnya bagaikan kulit yang menempel di badan, begitu ketat, begitu lekat sehingga payudaranya yang montok kelihatan menonjol nyata, begitu pula dengan pinggangnya yang ramping.
Sebetulnya Siau-hong tak ingin menatapnya dengan cara begitu, tapi sekarang dia telah menyaksikan bagian tubuhnya yang tidak seharusnya terlihat.
Sinar aneh tiba-tiba saja memancar dari balik matanya, bahkan dengus napas pun terdengar mulai kasar dan memburu, lewat lama kemudian ia baru bertanya.
"Bagaimana dengan kau? Apakah ilmu pedang yang kau pelajari pun telah sukses kau kuasai?"
Siau-yan tidak mencoba menghindari tatapan matanya, dia pun tidak berusaha berkelit dari pertanyaan itu.
"Benar,"
Jawabnya.
"Ilmu pedang yang kupelajari pun telah berhasil kukuasai, karena kau sudah tak bisa mengajarkan apa-apa lagi untukku."
Jawabannya bukan saja langsung dan blak-blakan, bahkan sangat tegas dan mengena.
Siau-hong berusaha keras untuk tidak memandang bagian tubuh kaum wanita yang tidak seharusnya terlihat oleh kaum lelaki.
"Aku memahami maksudmu,"
Katanya kemudian.
"Kau memahami?"
Tanya si nona.
"Lalu apa yang kumaksud?"
"Kini aku sudah tak punya ilmu yang bisa kuajarkan lagi kepadamu, sebaliknya kau pun tak memiliki kepandaian yang bisa diajarkan kepadaku, oleh karenanya perjanjian barter di antara kita berdua telah berakhir."
Dengan berakhirnya perjanjian barter, berarti kehidupan semacam ini pun telah berakhir, hubungan kerja di antara mereka berdua pun terputus sampai di sini saja.
Siau-hong berusaha keras mengendalikan diri.
"Aku minta kau datang kemari karena ingin memberitahukan kepadamu bahwa aku sudah siap pergi dari sini."
"Kau tak boleh pergi,"
Tukas Siau-yan cepat.
"Paling tidak sekarang kau belum boleh pergi."
"Kenapa?"
"Karena kita masih harus pergi mencari Tokko Ci."
Tiada Tokko Ci pada hakikatnya tak mungkin ada perjanjian barter, kini perjanjian di antara mereka telah berakhir, tapi hutang piutang mereka dengan Tokko Ci belum diperhitungkan.
"Oleh karena itu paling tidak ada seorang di antara kita yang harus pergi mencarinya,"
Kata Siau-yan sambil menatap tajam wajah Siau-hong.
"Dan hanya boleh ada satu orang yang pergi mencarinya."
"Kenapa?"
"Karena aku adalah aku dan kau adalah kau, alasan kita pergi mencarinya sama sekali berbeda,"
Cahaya matahari yang menyinari wajah Siau-yan telah bergeser ke tempat lain, kini parasnya tampak pucat-pias, suaranya juga dingin bagaikan bongkahan es. Dengan nada dingin, kembali lanjutnya.
"Sesungguhnya di antara kita berdua sama sekali tak terikat hubungan apa pun, urusanku tentu saja harus kuselesaikan sendiri, kau tak dapat mewakili aku dan aku pun tak dapat mewakili dirimu."
"Jadi kau yang pergi atau aku yang pergi?"
"Siapa yang hidup, dia yang pergi."
"Tapi rasanya hingga saat ini kita berdua masih hidup semua."
"Sayangnya seorang di antara kita berdua yang tak bakal berumur panjang,"
Siau-yan menarik matanya hingga nampak menyeramkan.
"Aku lihat salah satu di antara kita berdua yang sebentar lagi bakal tergeletak mati di sini."
"Siapa yang bakal mati?"
"Siapa yang kalah, dialah yang mati,"
Gadis cilik itu menatap sekejap tangan Siau-hong yang menggenggam pedang.
"Kau punya pedang, begitu pula dengan aku. Kau telah berhasil mempelajari ilmu pedangku, aku pun telah berhasil mempelajari ilmu pedangmu."
"Jadi sekarang telah tiba saatnya untuk menentukan siapa kuat siapa lemah di antara kita berdua?"
"Benar."
"Siapa yang kalah, dia harus mati?"
"Benar,"
Siau-yan membenarkan.
"Yang tangguh yang hidup, yang lemah harus mampus. Bukankah hal ini sangat adil?"
"Benar, cara ini memang sangat adil,"
Sahut Siau-hong dengan tegas dan tandas.
Terlihat cahaya pedang berkilat, dua bilah pedang samasama telah dicabut.
Biarpun ilmu pedang yang mereka pelajari sama, namun jenis kelamin mereka berbeda, kondisi badan mereka berbeda, kecerdasan serta jalan pikiran mereka pun tidak sama.
Sekalipun jurus serangan yang mereka gunakan persis satu dengan lainnya, namun sesaat setelah turun tangan, perubahan dan reaksi yang timbul pun sama sekali beda.
Mati hidup menang kalah di antara mereka berdua pun ditentukan dalam waktu yang teramat singkat.
Mendadak Siau-yan bertanya lagi.
"Apakah kau ada pesan terakhir yang hendak dititipkan kepadaku?"
"Bagaimana dengan kau sendiri?"
Siau-hong balik bertanya.
"Aku tak ada pesan terakhir,"
Siau-yan tertawa lebar.
"Karena aku tak bakal mati."
"Kau yakin?"
"Tentu saja,"
Kembali Siau-yan tersenyum.
"Kalau tidak, buat apa aku datang kemari?"
Sebetulnya Siau-hong ingin tertawa, namun dia tak sanggup tertawa, karena secara pribadi dia sama sekali tak punya keyakinan untuk memenangkan pertarungan ini.
Sebaliknya gadis cilik itu, lawan tangguhnya, justru begitu yakin dan percaya diri.
Sesaat menjelang berlangsungnya pertarungan yang menentukan mati hidup, rasa percaya diri jelas merupakan salah satu penyebab yang menentukan menang kalah seseorang.
Kembali Siau-yan bertanya.
"Tahukah kau, mengapa kau pasti bakal kalah?"
"Tidak!"
"Karena kau adalah seorang lelaki,"
Jawaban Siau-yan terdengar aneh sekali. Siau-hong tidak mengerti, maka tak tahan tanyanya.
"Oleh karena aku lelaki, maka aku pasti kalah?"
"Benar, memang begitulah keadaannya."
"Kenapa?"
"Karena kau telah mempelajari ilmu pedang milik Tokko Ci,"
Jawab Siau-yan.
"Pernah kukatakan, ilmu pedangnya selain tangguh, sesatnya bukan kepalang, setiap waktu harus mencari pelampiasan untuk menghilangkan gejolak napsu birahi dalam tubuh, tanpa pelampiasan mustahil pikiranmu bisa tenang dan stabil."
Gadis itu sengaja menghela napas sambil melanjutkan.
"Tapi kau selama ini tak ada tempat untuk melampiaskan napsu birahimu, karena itulah belakangan sifatmu makin lama semakin berubah, berubah jadi panik dan tak tenang, biar sehari mandi sepuluh kali dengan air dingin pun sama sekali tak ada gunanya."
Kembali gadis itu tertawa lebar.
"Jika mengendalikan perasaan sendiri pun tak sanggup, bagaimana mungkin dia bisa menghadapi seorang lawan tangguh yang menakutkan?"
Dengan nada mengejek Siauyan tertawa.
"Bagaimana mungkin kau tidak kalah!"
Kembali otot hijau menonjol keluar di tangan Siau-hong yang menggenggam pedang, keringat dingin telah membasahi telapak tangannya.
Dia sendiri pun telah menyadari akan hal ini.
Walaupun dia pun tahu gadis cilik itu sengaja berkata demikian karena ingin menggoyahkan keyakinan serta rasa percaya dirinya, apa mau dikata ia tak mampu melakukan bantahan.
Jika keyakinan dan rasa percaya diri seseorang telah goyah, bagaimana mungkin dia sanggup mengalahkan lawannya dalam menghadapi pertarungan mati hidup ini?
Siau-yan menatapnya tanpa berkedip.
"Oleh karena itulah aku bertanya kepadamu, apakah ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan? Apakah kau masih ada persoalan yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
"Hanya ada satu perkataan,"
Sahut Siau-hong setelah berpikir sejenak.
"Sekalipun kau dapat mengalahkan aku, pada akhirnya pasti akan mati juga di ujung pedang Tokko Ci."
"Kenapa?"
Jawaban Siau-hong sama anehnya seperti apa yang dikatakan gadis cilik itu tadi.
"Karena kau adalah seorang wanita!"
Katanya.
"Justru karena kau seorang wanita, maka selama hidup tak pernah mempunyai kesempatan untuk mengalahkan dirinya."
Siau-yan tidak habis mengerti, tak tahan tanyanya.
"Kenapa?"
"Karena ilmu pedangnya memang ampuh dan amat sesat, setelah lewat lima bulan, aku merasa ada segumpal hawa murni yang membeku dalam tubuhku!"
Ia mengawasi tangan si nona yang menggenggam pedang.
"Tapi kau tidak memilikinya,"
Lanjut Siau-hong "Karena kau adalah wanita, pada hakikatnya kau tak pernah bisa memiliki kekuatan inti yang terbaur dalam ilmu pedangnya, gumpalan hawa murni yang terbentuk dari cairan mani lelaki."
Tangan Siau-yan sebetulnya lembut, putih, dan halus, tapi sekarang otot hijau menonjol pada tangannya yang menggenggam pedang, senyum di wajahnya ikut lenyap.
"Bagaimana pun juga, aku tetap harus mencobanya!"
Dia menggetarkan ujung pedangnya.
"Oleh sebab itu, sekarang juga aku akan menggunakan kau sebagai sasaran percobaanku!"
Waktu itu langit mulai berangsur jadi gelap, di tengah kegelapan itulah tiba-tiba tampak sekilas cahaya pedang melesat.
Bersamaan dengan mendesingnya hawa pedang, daun ranting berguguran ke tanah, hawa pedang sungguh menyesakkan dada.
Pertarungan antara jago tangguh biasanya paling menarik.
Di tengah pertarungan, berbagai perubahan yang mengguncang sukma serta perubahan jurus yang di luar dugaan seringkali bisa membuat orang terpana, terpesona seperti orang mabuk.
Seperti juga pertarungan antara Sebun Jui-soat melawan Pek-hun-shiacu Yap Koh-seng di kota terlarang pada hari Tiong-yang tempo hari, sejak tiga bulan berselang berita itu sudah tersebar luas di seantero jagat.
Bukan satu pekerjaan yang mudah untuk ikut menyaksikan jalannya pertarungan akbar itu, sebagian besar orang sulit memperoleh kesempatan bagus itu.
Perubahan dalam permainan jurus, kehebatan dalam setiap perubahan yang terjadi, pada hakikatnya tak dapat dilukiskan dengan perkataan maupun tulisan.
Kecuali hadir sendiri di tempat kejadian, berusaha menelaah sendiri keadaan yang berkembang kalau tidak, sulit untuk memahami dan meresapi setiap rangsangan dan setiap perubahan yang terjadi.
Oleh karena itu bagi kebanyakan orang, yang benarbenar menyedot perhatian bukanlah jalannya pertarungan itu, melainkan akhir dari pertarungan.
Tak ada orang yang ikut menyaksikan jalannya pertarungan antara Siau-hong melawan Siau-yan, juga tak ada yang ikut merasakan rangsangan dan perubahan tiap gerakan yang terjadi dalam pertarungan itu, tentu saja tak ada orang yang bisa menggambarkan situasi saat itu.
Tapi tak disangkal, akhir dari pertarungan ini merupakan masalah yang paling diperhatikan setiap orang.
Siapa yang bakal memenangkan pertarungan ini?
Andaikata Siau-hong kalah, benarkah dia segera akan mati di tempat itu?
Sebaliknya kalau Siau-hong yang menang, mungkinkah dia akan membunuh lawannya di ujung pedang sendiri?
Gejolak perasaan Siau-hong sangat labil, tentu saja serangan yang dilancarkan tak mungkin stabil dan mantap.
Bukan saja perubahan jurus serangan sukar diduga, peredaran hawa murni pun sukar dikendalikan.
Tapi dalam pertarungan ini dialah yang keluar sebagai pemenang.
Sebab pengalaman bertarungnya jauh di atas pengalaman gadis itu, dia pun lebih sabar dan bertenaga.
Andaikata pertarungan ini bisa menentukan menang kalah hanya dalam belasan gebrakan, tak disangkal pemenangnya pasti Che Siau-yan.
Tapi sayang selisih kekuatan dan kemampuan mereka berdua tidaklah kelewat besar, siapa pun tak dapat merobohkan lawan hanya dalam beberapa puluh jurus.
Oleh karena itu begitu waktu semakin berkepanjangan, tatkala pertarungan sudah mencapai seratus lima puluh gebrakan, Siau-hong tahu, dialah yang bakal keluar sebagai pemenang.
Seratus lima puluh gebrakan kemudian, Siau-yan sendiri pun tahu dirinya bakal kalah.
Lambat-laun aliran hawa muminya makin tak lancar, perubahan jurus serangan pun seringkali tak sesuai dengan kehendak hati.
Yang lebih penting lagi adalah munculnya bayangbayang gelap dalam hati gadis itu.
Sekalipun kau dapat mengalahkan aku, kau pasti akan tewas di ujung pedang Tokko Ci.
Mau tak mau dia harus mengakui kenyataan ini.
Orang yang benar-benar akan dia kalahkan bukanlah Siau-hong, melainkan Tokko Ci, oleh karena itu terhadap menang kalahnya pertarungan ini, dia sudah tidak menaruh harapan yang terlalu besar.
Yang lebih penting lagi adalah di bawah tekanan bayangbayang kegelapan itu, dia seolah sudah lupa kalau kekalahannya merupakan saat kematiannya!
Karena itulah dia kalah.
"Trang!", sepasang pedang saling beradu. Percikan bunga pedang bertebaran ke empat penjuru, pedang yang semula berada dalam genggaman Siau-yan kini sudah terbang, lepas dari tangannya, sementara ujung pedang Siau-hong sudah menempel di atas tenggorokan gadis cilik itu. Menanti hawa pedang yang dingin dan menggidikkan mulai menusuk permukaan kulit lehernya, nona itu baru teringat akan perjanjian yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Siapa kalah, dia harus mati! Dalam waktu yang singkat itulah rasa ngeri dan menyeramkan dari kematian seakan sebuah tangan setan sedang mencekik lehernya, mencengkeram tubuhnya, meremas sendi tulangnya, menggagahi tubuh dan sukmanya. Dia masih muda, selama ini belum pernah merasa takut akan datangnya kematian. Hingga detik ini, dia baru mengerti betapa menakutkan kematian. Rasa ngeri umat manusia menghadapi kematian sesungguhnya merupakan salah satu rasa ngeri terbesar yang dimiliki umat manusia selama ini. Karena "mati"
Merupakan berakhirnya segalanya, merupakan saat kehilangan segala sesuatunya.
Perasaan ngeri dan takut yang mencekam perasaannya membuat seluruh sel kehidupan Che Siau-yan mengalami perubahan yang sangat aneh.
Lidah, bibir dan tenggorokannya mendadak berubah jadi sangat kering.
Seluruh otot tubuh, seluruh sendi tulang berubah jadi kesemutan, kaku dan mati rasa.
Pupil matanya berkerut, bulu kuduknya bangkit, seluruh syaraf tubuhnya seakan kehilangan kendali, kehilangan kemampuan untuk menguasai diri.
Bahkan detak jantung serta dengus napasnya seakan bertambah cepat satu kali lipat.
Yang lebih aneh lagi adalah di saat terjadinya perubahan itu, mendadak dia merasakan pula satu dorongan emosi yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Napsu birahinya mendadak berkobar dan menyala bagai jilatan api, menyala karena gesekan otot tubuhnya yang tiba-tiba berkerut.
Pakaian yang dia kenakan saat ini tak lebih hanya pakaian yang sangat tipis, sedemikian tipisnya sampai tubuhnya yang sedang gemetar pun kelihatan sangat jelas.
Dia ingin sekali bertanya kepada Siau-hong.
"Mengapa kau masih belum membunuhku?"
Tapi gadis itu tak bertanya, karena dia tak mampu mengendalikan otot leher dan lidahnya.
Dia tidak bertanya karena secara tiba-tiba ia saksikan terjadinya perubahan yang aneh dan menakutkan pada tubuh Siau-hong.
Perubahan ini membuat detak jantungnya berdebar semakin cepat.
Gadis itu memejamkan mata, tak berani memandang sewaktu matanya terpejam, dengus napasnya ikut berubah jadi rintihan, wajah yang pucat-pasi ikut berubah pula semerah bunga Tho.
Saat ini dia sudah tahu Siau-hong tak bakal membunuhnya, dia pun tahu apa yang diinginkan anak muda itu.
Kini dia sudah dapat merasakan hawa panas serta dengus napas Siau-hong, dia pun merasakan tindihan tubuh lawan di atas tubuh sendiri.
Gadis itu tak dapat menampik, dia pun tak ingin menampik.
Tentu saja dia tak berusaha menampik, karena sejak awal dia telah menduga semua itu akan berakhir dengan kejadian seperti ini.
Tiba-tiba saja gadis itu mengendorkan tubuhnya, mengendorkan seluruh ketegangan otot tubuhnya, mengendorkan segala sesuatunya.
Sebab dia tahu, hanya dengan cara inilah baru akan memperoleh pembebasan, semacam pembebasan yang nyaris mirip "kematian".
Hari ini adalah bulan delapan tanggal lima belas, ulang tahun Che Siau-yan.
Dia dilahirkan pada malam Tiong-ciu, tapi hingga dia memperoleh pembebasan dan membuka matanya kembali, gadis itu baru teringat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, dia baru teringat kalau hari ini adalah hari Tiongciu.
Sebab begitu dia membuka mata, terlihatlah bulan purnama tergantung di atas langit, rembulan yang begitu bulat, begitu terang benderang, jauh lebih terang daripada bulan yang dilihatnya semalam.
Setelah itu dia baru melihat Siau-hong.
Waktu itu Siau-hong berdiri di bawah sinar rembulan.
Sinar rembulan tampak begitu bening, bersih dan tenang, begitu pula dengan pemuda itu.
Kini pemuda itu sudah pulih kembali dalam ketenangan, telah mengendorkan seluruh otot tubuhnya, dia seolah telah membaur dan menyatu dengan alam semesta.
Alam semesta itu abadi dan selamanya tak pernah berubah, sementara orang itu pun seolah mendekati keabadian, mendekati ketenangan, kedamaian yang abadi dan tak pernah berubah.
Siau-yan ingin sekali memberitahu kepadanya.
"Sekarang ilmu pedangmu sudah benar-benar sempurna."
Tapi gadis itu tidak mengucapkannya, karena secara tibatiba ia merasa air mata telah menggenang dalam kelopak matanya dan nyaris meleleh membasahi pipinya.
Walaupun dia kalah, dia tahu dirinya selama hidup tak pernah dapat mengalahkan Tokko Ci, selama hidup tak bakal mencapai puncak kesempurnaan dalam ilmu pedang....
Tapi dia telah membantu seorang lelaki melewati batasan itu, membantunya mencapai puncak kesempurnaan.
Bahkan di dalam tubuhnya telah mengalir nyawa lelaki itu, nyawa mereka berdua telah menyatu, telah membaur menjadi satu.
Kemenangannya berarti kemenangan dirinya pula.
Langit lambat-laun jadi terang, cahaya rembulan pun makin lama semakin tawar.
Entah berapa lama telah lewat, gadis itu baru berbisik lirih kepada Siau-hong.
"Sekarang kau sudah dapat pergi mencari Tokko Ci."
Siau-hong sama sekali tidak memberikan reaksi.
Gadis itu pun tak tahu apakah Siau-hong mendengar kata-katanya, tapi yang pasti dia telah mendengar suara ayam berkokok.
Seperti tempo hari, begitu mendengar suara ayam berkokok, tiba-tiba gadis itu melompat bangun, seperti setan perempuan yang takut bertemu cahaya matahari, begitu mendengar suara ayam berkokok, dia langsung melarikan diri secara tiba-tiba dan lenyap di balik lapisan kabut yang tebal.
Kali ini Siau-hong tidak membiarkan gadis itu melarikan diri, dengan cepat dia melakukan pengejaran.
Rupanya di saat ayam berkokok, saat itulah Tokko Ci bangun dari tidurnya.
Setiap makhluk yang disebut manusia memang tak boleh kurang tidur, dia pun manusia, meski sedang tertidur lelap pun, setiap saat dia harus menjaga kesadarannya.
Tempatnya berbaring adalah sebuah pembaringan yang terbuat dari batu, sempit, kecil, dingin dan keras, yang dimakan pun hidangan yang sederhana dan murah.
Dia tak pernah mengizinkan tubuhnya hidup berkecukupan dan menikmati kenyamanan.
Beginilah kehidupan seorang jago pedang sejati, jauh lebih pahit, jauh lebih menderita daripada kehidupan seorang pendeta yang hidup mengasingkan diri, kebiasaan yang telah terjalin sangat lama membuat dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Dia selalu berpendapat, bila kau ingin mendapatkan semacam kehormatan dan kehebatan, maka kau harus membayar dengan penderitaan, harus tiada hentinya mencambuk diri.
Belum pernah ada orang tahu dengan cara apa dia mempelajari ilmu pedangnya, dia sendiri pun enggan menyinggung persoalan ini.
Tak dapat disangkal pengalamannya yang penuh derita dan siksaan mengandung begitu banyak keringat, air mata, dan darah.
Sebab dia bukan murid perguruan kenamaan, dia pun tak memiliki latar belakang keluarga persilatan, untuk mencapai tingkatan yang luar biasa, dia harus membayar dengan keringat, air mata dan darah.
Kini dia berhasil menguasai ilmu pedang.
Dengan mengandalkan sebilah pedang dia telah malang melintang di wilayah utara maupun selatan dan selama ini belum pernah bertemu tandingan.
Hingga akhirnya dia bersua Po Eng.
Po Eng, di mana kau sekarang?
Dengan tubuh telanjang bulat dia bangun terduduk di atas ranjang, seperti sesosok mayat hidup yang tiba-tiba bangkit dari dalam peti mati.
Parasnya pucat-pasi tanpa perubahan mimik, selama ini kecuali dalam genggamannya terdapat pedang, orang ini tak ubahnya sesosok mayat hidup, mayat sungguhan.
Inilah hasil dari puasanya selama banyak tahun, tak pernah ada seorang pun yang lebih memahami bahwa kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang amat menyiksa, belum pernah ada manusia lain yang lebih paham bahwa seseorang harus mengeluarkan tenaga yang amat besar agar dapat mengendalikan gejolak perasaan serta napsunya.
Suasana di luar jendela masih dicekam kegelapan, kebanyakan umat manusia masih terlelap dalam tidurnya.
Tapi dia tahu, di saat ia berjalan keluar dari ruang kamarnya, Siau-cong si ulat kecil pasti telah menunggunya di depan pintu, siap melayani semua kebutuhannya.
Setiap pagi, dia selalu meminta si ulat kecil untuk mencuci bersih seluruh bagian tubuhnya, membantu dia mengenakan pakaian.
Karena dia tahu, harapan terbesar bocah ini adalah membunuh dia di ujung pedangnya!
Dia tak akan membiarkan peristiwa semacam ini terjadi.
Tapi dia pun membutuhkan kehadiran bocah ini untuk mencambuknya, untuk merangsangnya, dia selalu berpendapat, bila ingin menjadi yang tercepat maka dia baru bisa berlari kencang bila ada sebuah cambuk.
Bocah ini adalah cambuknya!
Karena itu dia menahan bocah ini, tiada hentinya menyiksa dia, mempermalukan dia, agar dia tak pernah dapat mengangkat kepala di hadapannya, selama hidup tak mampu mendongakkan kepala.
Ooo)d*w(ooO BAB 31.
GILA PEDANG CINTA PUTUS Bila setiap hari kau harus melayani seseorang bagaikan seorang budak, maka dirimu sendiri pun akan merasa selama hidup tak pernah bisa mengunggulinya.
Inilah jalan pikiran Tokko Ci, dan merupakan juga taktik perangnya.
Hingga hari ini, dia selalu beranggapan bahwa taktik perangnya berhasil.
Hari ini, ketika ia keluar dari kamarnya, ternyata budaknya tidak seperti hari-hari biasa, menantinya di depan pintu.
Dari kejauhan terdengar lagi suara ayam berkokok, jagat raya tetap gelap gulita, angin yang meniup di atas tubuhnya yang telanjang terasa dingin bagaikan disayat pisau.
Pedang telah berada dalam genggaman Tokko Ci.
Kini dia telah mengggenggam pedangnya, pedang itu selalu terletak di tempat yang bisa diraihnya dalam sekali sambaran tangan.
Hembusan dingin makin menyayat badan.
Ia berdiri di tengah hembusan angin dingin, hingga cahaya fajar mulai membelah kegelapan malam, dia baru melihat seseorang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.
Dia segera mengenali ilmu meringankan tubuh yang digunakan orang itu, namun dia tidak melihat bahwa orang itu adalah si bocah cilik ingusan yang senang bermain ulat kecil.
Yang dilihatnya sekarang adalah seorang gadis, seorang gadis cantik yang sudah lama tak pernah dilihatnya.
"Siapa kau?"
Begitu pertanyaan diajukan, dia pun segera mengenali siapa gerangan gadis cantik itu. Bila kau menemukan "Bocah"
Yang setiap hari melayanimu bagaikan seorang budak tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis cantik, sementara kau pun masih seperti dahulu, berdiri telanjang bulat di hadapannya, bagaimanakah perasaanmu saat itu?
Apa pula reaksimu?
Tokko Ci sama sekali tak beraksi.
Dia masih berdiri di sana dengan tenang, wajahnya sama sekali tak menampilkan perubahan apa pun, hanya ujarnya dingin.
"Kau datang terlambat."
"Benar,"
Jawaban Siau-yan pun dingin dan hambar.
"Hari ini aku datang terlambat."
Tokko Ci tidak berbicara lagi. Setiap hari dia selalu menggunakan gaya yang sama, berdiri di sana membiarkan "dia"
Memandikan dirinya, hari ini gayanya tetap tidak berubah.
Siau-yan pun seperti dahulu, mengambil segantang air, perlahan berjalan mendekat, matanya seperti dahulu, menatapnya tanpa berkedip.
Satu-satunya perbedaan pada hari ini adalah di antara mereka berdua telah bertambah lagi dengan kehadiran orang lain.
Tangannya yang dingin telah dicelupkan ke dalam air dingin dalam gantang, ia telah mengeluarkan selembar kain yang basah.
Pada saat itulah Siau-hong telah muncul.
Baru saja Siau-yan menarik keluar tangannya dari dalam air, tangan itu telah digenggam erat.
Tangan Siau-hong bergerak secepat pagutan ular berbisa, sorot matanya agak bebal karena marah yang memuncak, sinar mata itu jadi bebal.
Tegurnya kepada Siau-yan.
"Jadi kau terburu-buru balik kemari karena harus melakukan pekerjaan ini?"
"Benar,"
Jawab Siau-yan.
"Setiap hari aku harus melakukan pekerjaan ini, setahun tiga ratus enam puluh lima hari, terkadang dalam sehari harus melakukan dua kali."
"Mengapa kau harus melakukan pekerjaan ini?"
"Karena dia menyuruh aku melakukannya, karena dia sengaja hendak menyiksaku, sengaja hendak mempermalukan aku...."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, sebab suara gadis itu sudah jadi parau, lambat-laun tak sanggup mengendalikan diri lagi.
Tokko Ci mengawasi mereka berdua, tiba-tiba beberapa kerutan aneh timbul di atas wajahnya.
Dia sudah dapat melihat hubungan di antara mereka berdua.
Tiba-tiba saja parasnya berubah seperti sebuah topeng putih yang mulai retak dan robek.
Apakah hal ini disebabkan dia merasa tertipu, menyerahkan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya kepada orang lain?
Perlahan-lahan Siau-hong berpaling, menatap tajam wajahnya.
Di antara mereka berdua seharusnya tiada ikatan dendam maupun sakit hati, tapi sekarang dari balik mata Siau-hong telah terpancar api amarah yang membara.
"Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah tahu bahwa salah satu di antara kita berdua bakal tewas di ujung pedang lawan,"
Ujar Siau-hong. Ternyata Tokko Ci sependapat dengan perkataan itu, dia mengangguk.
"Aku pun sependapat, cepat atau lambat suatu hari hal ini pasti akan terjadi."
"Pernahkah kau berpikir, kapan hal ini akan terjadi?"
"Sekarang,"
Jawab Tokko Ci.
"Tentu saja sekarang."
Kemudian dengan hambar lanjutnya.
"Sekarang di tanganmu ada pedang, begitu juga dengan aku."
Oleh karena di dalam genggamannya ada pedang, walaupun dia berdiri dalam keadaan telanjang bulat, namun mimik mukanya begitu angker dan serius seperti tampang seorang panglima perang yang sudah siap maju ke garis depan.
Pupil mata Siau-hong pun mulai berkerut dan menyusut.
Mendadak Tokko Ci bertanya lagi.
"Pernahkah kau bayangkan, siapa di antara kita yang bakal mati?"
Tidak membiarkan Siau-hong buka suara, dia telah menjawab pertanyaan itu terlebih dulu.
"Kaulah yang bakal mati! Pasti kau."
Retakan pada topeng berwarna putihnya telah hilang, kini mimik mukanya kembali berubah jadi dingin tanpa perasaan apa pun.
"Tapi kau tak boleh mati,"
Kembali Tokko Ci melanjutkan.
"Kau masih harus mencari Yang-kong, harus mencari Po Eng harus mencari Lu-sam, budi dendammu belum selesai, tanggung jawabmu belum berakhir, mana mungkin kau boleh mati!"
Suaranya makin dingin menggidikkan.
"Oleh karena itu aku yakin hari ini kau pasti tak akan turun tangan, kau pun tak berani turun tangan."
Cahaya sang surya telah menembusi lapisan awan, di bawah sorot sinar matahari paras Siau-hong seolah ikut berubah seperti mengenakan topeng berwarna putih.
Sekarang telah tiba saat mereka untuk melakukan pertarungan, pertempuran menentukan mati-hidup, menang-kalah di antara mereka berdua, melarikan diri sebelum bertempur tak mungkin dilakukan seorang lelaki sejati.
Tapi dia masih sempat mendengar dirinya sedang berkata.
"Betul, aku tak boleh mati."
Bahkan dia sendiri pun mendengar ucapannya itu seolah datang dari tempat yang teramat jauh.
"Bila aku tak yakin bisa menghabisi nyawamu, aku tak boleh turun tangan secara sembarangan."
"Apakah kau yakin bisa membunuh aku?"
Tanya Tokko Ci.
"Tidak,"
Siau-hong menggeleng.
"Oleh karena itu, hari ini aku memang tak boleh turun tangan."
Setelah mengucapkan perkataan itu, Siau-hong sendiri pun merasa amat terperanjat.
Setahun yang lalu, sampai mati pun dia tak bakal mengucapkan perkataan semacam itu, tapi sekarang dia telah berubah.
Bahkan dia sendiri pun menemukan kalau dirinya telah berubah.
Dengan terperanjat Siau-yan menatapnya, paras gadis ini berubah pucat lantaran gusar yang meluap.
"Kau tak bisa turun tangan atau tidak berani?"
"Aku tidak bisa dan tidak berani."
Tiba-tiba Siau-yan menerjang ke muka, lalu mengguyurkan air dingin ke atas kepalanya.
Siau-hong sama sekali tak bergerak, ia membiarkan dirinya basah kuyup di sana.
Sambil menatap gusar, separah demi separah kembali Siau-yan berteriak nyaring.
"Kau manusia atau bukan?"
"Aku manusia,"
Jawab Siau-hong.
"Justru karena aku manusia maka hari ini aku tak akan turun tangan."
Ternyata suaranya masih tetap tenang dan dingin.
"Karena setiap manusia hanya memiliki selembar nyawa, begitu pula dengan aku."
Belum selesai dia mengucapkan kata-kata itu, sebuah tempelengan keras Siau-yan telah bersarang di wajahnya.
Tapi dia tetap melanjutkan ucapannya, tatkala perkataan itu selesai diutarakan, Siau-yan telah pergi, bagaikan seekor burung walet yang terluka, gadis itu pergi dari situ dengan gerakan cepat.
Siau-hong masih juga tak bergerak.
Dengan dingin Tokko Ci menatap pemuda itu, tiba-tiba tanyanya.
"Mengapa kau tidak mengejarnya?"
"Dia toh akhirnya akan kembali ke sini, mengapa aku harus mengejarnya?"
"Kau tahu kalau dia bakal kembali?"
"Aku tahu,"
Suara Siau-hong tetap dingin dan tenang.
"Tentu saja aku tahu."
"Mengapa dia harus kembali?"
"Karena dia tak akan melepaskan dirimu, seperti kau tak akan melepaskan aku serta Po Eng,"
Jawab Siau-hong. Setiap patah katanya diucapkan sangat lamban, sebab dia harus berpikir lebih dulu bagaimana caranya mengemukakan maksudnya, agar lawan bisa memahami dengan jelas.
"Takdir bagaikan sebuah rantai, ada kalanya akan merantai orang-orang yang sebetulnya tak ada hubungan,"
Siau-hong menerangkan lebih lanjut.
"Dan sekarang kita telah dirantai menjadi satu."
"Kita?"
Tanya Tokko Ci.
"Siapa yang kau maksudkan sebagai kita?"
"Kau, aku, dia, Po Eng,"
Sahut Siau-hong.
"Mulai sekarang, peduli ke mana pun kau pergi, aku pasti akan muncul di sekitarmu."
"Mengapa?"
"Karena aku tahu kau pun seperti aku, hendak mencari Po Eng"
Kata Siau-hong.
"Karena itu aku percaya, ke mana pun aku pergi, kau pun pasti berada di sekitarku."
Kemudian ia menambahkan lagi.
"Asal kita berdua belum mati, dia pasti akan datang mencari kita berdua."
Tiba-tiba Tokko Ci tertawa dingin.
"Kau tidak kuatir aku membunuhmu?"
Ejeknya.
"Tidak, aku tidak takut,"
Jawab Siau-hong hambar.
"Aku tahu, kau pun tak akan turun tangan."
"Kenapa?"
"Karena kau pun tak yakin bisa membunuhku!"
Matahari telah tinggi di angkasa, menyinari sepasang mata Siau-hong, menyinari juga mata iblis pedangnya. Tiba-tiba Tokko Ci menghela napas panjang gumamnya.
"Kau telah berubah."
"Benar, aku telah berubah."
"Dahulu aku belum pernah memandang kau sebagai musuh tangguhku, tapi sekarang Tokko Ci seolah sedang menghela napas.
"Sekarang mungkin ada orang menyangka kau telah berubah menjadi seorang lelaki lemah, tapi aku justru menganggap dirimu telah menjadi seorang jago pedang."
Jago pedang tak berperasaan, juga tak ada air mata. Siau-hong benar-benar telah menjadi manusia tak berperasaan. Kembali Tokko Ci berkata.
"Perkataanmu tak salah, mulai sekarang mungkin kita benar-benar telah terantai jadi satu, oleh karena itu kau harus lebih waspada."
"Aku harus lebih waspada?"
Tanya Siau-hong "Apa yang harus kuwaspadai?"
"Mewaspadai aku,"
Sahut Tokko Ci dingin.
"Mulai sekarang, begitu ada kesempatan aku pasti akan membunuhmu."
Perkataannya bukan ancaman, juga bukan gertak sambal.
Dipandang dari sudut tertentu, pada hakikatnya ucapan itu sudah terhitung semacam rasa hormat, semacam pujian.
Karena dia telah menganggap Siau-hong sebagai lawan tangguh, musuh sejati, musuh yang mungkin akan mengancam jiwanya.
Memang bukan sesuatu yang mudah untuk memaksa Tokko Ci mempunyai pandangan semacam ini.
Oleh karena itu secara tiba-tiba Siau-hong mengucapkan sepatah kata yang meski dipahami mereka berdua, namun orang lain pasti akan merasa perkataannya aneh sekali.
"Terima kasih!"
Katanya tiba-tiba.
Bila ada orang ingin membunuhmu, mungkinkah kau akan mengucapkan terima kasih kepadanya?
Tentu saja tidak mungkin!
Karena kau bukan Tokko Ci, kau pun bukan Siau-hong.
Semua perbuatan dan tingkah-laku mereka pada hakikatnya memang tak mungkin bisa dipahami orang lain.
Sinar matahari telah memancar dari jendela.
Perlahan-lahan satu demi satu Tokko Ci mengenakan pakaiannya.
Selama ini Siau-hong hanya berdiri di muka pintu sambil mengawasinya, setiap gerakannya ia saksikan dengan seksama, seakan seorang pawang kuda sedang mengawasi kudanya berlatih.
Sebaliknya Tokko Ci sama sekali tidak memperhatikan dirinya.
Ada sementara orang, walaupun sedang melakukan perbuatan apa pun selalu menampilkan sikap serius, begitu konsentrasi, dia seolah-olah tak peduli sikap orang lain.
Tokko Ci adalah manusia jenis ini.
Padahal semua perhatian, semua konsentrasinya tidak seratus persen tertuju pada perbuatan yang sedang dilakukan, ketika sedang mengenakan pakaian pun dia masih memikirkan ilmu pedangnya.
Mungkin dari sebuah gerakan kecil ketika sedang mengenakan pakaian, tiba-tiba ia dapat memahami sebuah perubahan yang luar biasa hingga menciptakan satu gerakan yang luar biasa.
Pedangnya persis berada di tempat di mana tangannya dapat menjangkau setiap saat.
Selesai berpakaian Tokko Ci baru membalikkan badan menghadap Siau-hong, katanya.
"Aku sudah tak dapat tinggal lagi di tempat ini."
"Aku tahu!"
"Sekarang aku akan pergi."
"Aku akan mengikutimu."
"Kau keliru,"
Sela Tokko Ci.
"Peduli ke mana pun kau pergi, aku akan selalu mengikutimu."
Siau-hong tidak berbicara lagi, separah kata pun tidak bicara.
Ia membalikkan badan dan berjalan keluar dari pintu ruangan, berjalan menuju ke bawah cahaya matahari.
Waktu itu cahaya sang surya telah menyinari seluruh jagat raya.
Bagaimana dengan Yang-kong?
Bagaimana dengan Po Eng?
Apakah mereka masih dapat melihat sinar matahari, masih dapat bernapas bebas di bawah sinar matahari?
"Kalau hendak mendongkel sebatang pohon, kita harus mendongkelnya dari mana?"
"Tentu saja dari akarnya."
"Terlepas apa pun yang hendak kau dongkel, apakah harus dimulai dari akarnya?"
"Benar!"
"Lalu di mana letak akar permasalahan kita?"
"Di mana tumpukan emas itu dibegal, di sanalah letak akar semua permasalahan."
"Jadi emas lantakan itu adalah rahasia dari semua akar permasalahan?"
"Benar."
Maka Siau-hong pun balik kembali ke gurun pasir, kembali ke tanah daratan yang tak berperasaan.
Teriknya matahari, hembusan badai berpasir, penderitaan, siksaan panas kembali menyiksanya seperti dulu.
Di tempat itu keringatnya pernah bercucuran, darahnya pernah berceceran, bahkan selembar jiwanya nyaris terkubur di tempat ini.
Dia sangat membenci tempat ini, bukan hanya benci bahkan merasa takut, merasa ngeri, anehnya dia justru menaruh perasaan yang begitu kental, perasaan yang bahkan dia sendiri pun tak dapat menjelaskan.
Sebab tempat ini meski jelek, sadis dan tak berperasaan, namun justru meninggalkan banyak kenangan yang menyedihkan dan indah, bukan saja membuat dia tak dapat melupakannya seumur hidup bahkan telah mengubah sejarah kehidupannya.
Selama ini Tokko Ci selalu mengintil di belakangnya, mereka berdua selalu menjaga jarak tertentu, jarak di mana kedua belah pihak dapat saling melihat dan memandang.
Namun mereka berdua jarang sekali berbicara.
Makan minum mereka amat sederhana, tidurnya amat jarang, terkadang dalam dua tiga hari belum tentu mereka saling bersapa, belum tentu mengucapkan sepatah kata pun.
Sehari setelah memasuki wilayah gurun pasir, Tokko Ci baru bertanya kepada Siau-hong.
"Tahukah kau di mana emas itu berada?"
"Aku tahu,"
Jawab Siau-hong singkat. Hingga sore hari kedua, Siau-hong baru bertanya kepada Tokko Ci.
"Masih ingatkah kau tempat di mana kita berjumpa untuk pertama kalinya?"
"Aku masih ingat."
"Emas lantakan itu berada di sini."
Selesai mengucapkan perkataan itu, mereka berdua tidak buka suara lagi, seolah mereka berpendapat perkataan yang diucapkan sehari ini sudah kelewat banyak.
Tapi pada pagi hari ketiga, kembali Tokko Ci bertanya kepada Siau-hong "Apakah kau masih belum berhasil menemukan tempat itu?"
Atas pertanyaan ini, Siau-hong sama sekali tidak menjawab, memasuki hari keempat, ketika mereka tiba di bawah sebuah tebing karang pelindung angin, anak muda itu baru buka mulut.
Sambil menuding batu karang yang menonjol tinggi bagaikan pagoda runcing, tanyanya kepada Tokko Ci.
"Kau masih ingat dengan batu cadas itu?"
"Aku masih ingat."
Maka Siau-hong pun menghentikan perjalanannya, mencari sebuah tempat di belakang batu cadas yang terlindung dari terpaan angin dan mulai melahap hidangan pertamanya untuk hari ini.
Kembali lewat lama kemudian Tokko Ci baru bertanya lagi.
"Apakah emas itu berada di bawah sini?"
"Tidak."
"Mengapa kau berhenti di sini?"
Perlahan-lahan Siau-hong menghabiskan sepotong kue, kemudian baru jawabnya.
"Emas murni itu disembunyikan Po Eng dan Pancapanah, seharusnya hanya mereka berdua yang mengetahui rahasia ini."
"Tapi sekarang kau pun tahu."
"Karena Po Eng pernah mengajakku pergi ke tempat di mana ia menyembunyikan emas lantakan itu,"
Jawab Siauhong.
"Ketika ia mengajakku ke sana, waktu itu malam sudah tiba, padahal waktu berangkat hari masih terang tanah."
Ia mendongakkan kepala dan memandang sekejap batu tajam yang runcing itu, kemudian melanjutkan.
"Waktu itu matahari baru terbit, bayangan batu cadas itu menyinari tempat di mana emas itu tersimpan."
Tokko Ci tidak buka mulut lagi.
Dia tahu Siau-hong sengaja berhenti di sana karena tujuannya adalah menunggu terbitnya sang surya esok pagi.
Kini dia sudah tak perlu bertanya apa-apa lagi.
Sementara Siau-hong tak tahan mulai bertanya pada diri sendiri.
"Mengapa aku harus memberitahukan rahasia ini kepadanya? Sebetulnya pertanyaan ini merupakan satu persoalan yang sukar untuk dijawab, tapi dengan cepat Siau-hong telah menemukan jawaban untuk pertanyaannya sendiri. Dia memberitahukan rahasia ini kepada Tokko Ci bukan saja karena dia percaya Tokko Ci bukanlah seorang yang kemaruk harta, bukan orang yang gampang tergiur karena melihat emas murni. Alasan yang paling utama adalah dia menganggap emas lantakan itu sudah tidak berada di tempat di mana Po Eng menyimpannya. Siapa pun tak tahu dari mana datangnya jalan pikiran seperti itu, tapi dia percaya dan sangat yakin kalau dugaannya tak bakal salah. Matahari senja telah tenggelam di langit barat, malam panjang yang sepi dan dingin segera akan menyelimuti dataran luas yang tak berperasaan. Mereka membuat api unggun dan masing-masing duduk bersila di sudut yang berseberangan, duduk mengawasi jilatan api yang membara sambil menunggu terbitnya sang surya. Tak disangkal, malam ini merupakan malam yang terpanjang terdingin dan paling susah dilewati ketimbang malam mana pun di tengah gurun yang pernah mereka alami, mereka berdua sama-sama terasa penat. Pada saat Siau-hong hampir memejamkan matanya, mendadak terdengar suara desingan angin yang tajam dan pendek bergema lewat di tengah udara. Kemudian dia pun menyaksikan munculnya cahaya matahari berwarna kuning di tengah jilatan api, cahaya itu dari kuning berubah jadi merah, lalu dari merah berubah jadi hijau menyeramkan. Di tengah cahaya api berwarna hijau itu, seakan-akan terdapat beberapa bayangan hijau yang sedang bergerak kian kemari, lalu secara tiba-tiba berubah jadi asap ringan dan menyebar ke empat penjuru. Menanti asap tipis itu lenyap, jilatan api telah padam, jagat raya hanya tersisa kegelapan pekat yang tiada batasan, seolah-olah tak pernah lagi muncul cahaya terang. Siau-hong tidak bergerak, begitu pula dengan Tokko Ci. Bagi pandangan mereka, menyaksikan perubahan yang muncul secara tiba-tiba dan mengejutkan itu seolah merupakan kejadian yang sudah biasa dan bisa muncul setiap saat, sama sekali tak ada yang aneh. Lewat lama kemudian tumpukan api unggun yang semula telah padam itu mendadak meletupkan kembali cahaya api yang terang benderang. Menanti cahaya api dari warna kuning emas berubah jadi warna hijau menyeramkan, dari tengah jilatan api seakan muncul sesosok bayangan manusia yang membumbung tinggi ke angkasa, tapi begitu mencapai ketinggian tertentu, lagi-lagi bayangan itu berubah jadi asap tipis. Asap itu menyebar ke empat penjuru menyusul cahaya api pun padam, mendadak dari balik kegelapan terdengar seseorang berbicara. Suara itu mengalun di udara, seakan ada seakan tiada, seperti suara manusia, seperti juga suara setan.
"Hong Wi, Tokko Ci, kalian pergilah!"
Demikian suara itu.
"Lebih baik cepatlah pergi, makin cepat makin baik."
Tokko Ci masih belum ada reaksi, tidak demikian dengan Siau-hong.
"Siapa kalian?"
Tanyanya santai.
"Kenapa kami harus pergi?"
Baru habis dia bertanya, segera terdengar seseorang menjawab.
"Kami bukan manusia."
Jawaban pertama berasal dari sisi barat, suara yang menggaung di angkasa, seperti suara manusia seperti juga bukan. Kemudian dari arah timur kembali berkumandang suara yang sama.
"Sejak Chi-yu mati dalam peperangan dan harta karun digali keluar dari tempat penyimpanannya, setiap harta karun yang ada di dunia ini selalu dijaga sukma gentayangan dan malaikat iblis."
Dari arah selatan bergema pula suara yang sama, hanya kali ini suaranya terdengar berasal dari tempat yang lebih jauh.
"Kami adalah sukma gentayangan yang membantu Po Eng menjaga harta karun emas murni ini."
Suara yang berada di sebelah utara segera menyambung.
"Kami semua adalah orang-orang yang tewas dalam pertempuran demi membela Po Eng, sewaktu hidup kami adalah pasukan berani mati, setelah mati pun jadi setan ganas, kami tak akan mengizinkan siapa pun mengusik harta karun emas murninya."
"Kalau kami tak pergi dari sini?"
Kembali Siau-hong bertanya dengan hambar.
"Kalau begitu kalian akan mati di sini,"
Jawab suara yang di sebelah barat.
"Bahkan mati dalam keadaan mengenaskan."
"Aku memahami maksudmu,"
Sahut Siau-hong.
"Sayangnya aku tak percaya dengan semua perkataan kalian, biar hanya sepatah kata pun."
Dari empat penjuru tak terdengar lagi suara manusia berbicara...
peduli yang bicara itu manusia atau setan, tak satu pun yang buka suara lagi.
Api unggun yang sebelumnya telah padam, kini berkobar lagi jilatan cahaya apinya.
Baru saja sinar api berwarna kuning emas itu berkilauan, mendadak dari balik kegelapan bermunculan enam-delapan belas sosok bayangan manusia.
Menanti cahaya api itu berubah jadi semu merah, bayangan manusia itu sudah melayang turun di atas tanah, ada bayangan yang mengeluarkan bunyi gemeratak sewaktu menginjak tanah, ada pula yang menimbulkan suara seperti tulang-belulang retak.
Karena bayangan manusia yang bermunculan itu meski berbentuk manusia, tapi sekarang ada di antaranya yang telah berubah jadi dingin kaku, ada pula yang telah berubah jadi tulang-belulang, begitu terjatuh ke tanah, tulangbelulang itu pun berantakan.
Terdengar suara yang mengalun dari sebelah barat itu bergema lagi.
"Kalian tidak percaya perkataan kami?"
"Aku tidak percaya,"
Jawab Siau-hong cepat.
"Sepatah kata pun aku tak percaya!"
"Kalau begitu tak ada salahnya kau lihat dulu kawanan manusia itu,"
Ujar orang yang di sebelah selatan.
"Karena dengan cepat dirimu akan berubah menjadi seperti mereka, mereka pun...."
Perkataan itu tak sampai diselesaikan karena Tokko Ci yang selama ini tak ada reaksi, kini sudah mulai menunjukkan reaksinya.
Semacam reaksi yang membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa sangat terperanjat.
Pada saat itulah tiba-tiba tubuhnya melambung ke tengah udara, lalu bagaikan sebatang anak panah melesat ke depan dan meluncur ke arah selatan, arah di mana munculnya suara itu.
Sebelah selatan hanya tampak kegelapan yang pekat.
Bersamaan dengan lenyapnya bayangan tubuh Tokko Ci di balik kegelapan, terdengarlah jeritan ngeri bergema dari arah selatan.
Saat itulah Siau-hong ikut bergerak cepat, seperti pula sebatang anak panah, dia melesat ke depan.
Ketika dari arah selatan berkumandang jerit kesakitan, tubuhnya telah tiba di atas sebuah batu cadas di sisi barat.
Sebelah barat pun merupakan kegelapan yang pekat, mendadak terlihat cahaya golok berkelebat dari balik kegelapan, lalu secepat kilat membacok kaki Siau-hong.
Siau-hong tidak menangkis, tidak menghindar, pedangnya diayunkan cepat, mata pedang menempel di mata golok musuh, begitu berhasil mematahkan gagang golok, dia pun membabat pula tangan yang menggenggam golok hingga putus jadi dua.
Seketika itu juga dari balik kegelapan di sisi barat berkumandang suara jerit kesakitan, begitu menjerit suara itu berhenti seketika.
Ternyata ujung pedang telah menembus jantung musuh.
Begitu jeritan itu berhenti, Siau-hong segera mendengar Tokko Ci sedang bersorak dengan nada dingin.
"Tusukan pedang yang cepat, serangan yang sangat keji!"
"Sama-sama!"
Jawaban Siau-hong tepat sekali.
"Tapi aku tak habis mengerti mengapa kau harus turun tangan sekeji itu,"
Tanya Tokko Ci.
"Apakah kau tahu dia bukan anak buah Po Eng?"
"Aku tahu."
"Dari mana kau tahu?"
"Anak buah Po Eng tak pernah ada yang berani memanggil namanya,"
Siau-hong menerangkan.
"Semua memanggilnya engkoh Eng."
"Tak kusangka kau begitu teliti."
Di balik ucapan Tokko Ci sama sekali tidak terselip nada menyindir.
"Bagi manusia semacam kita, teliti merupakan satu kewajiban, dengan begitu hidup kita baru bisa lebih lama."
Mereka berdua sama-sama termasuk manusia yang tak senang bicara, perkataan semacam itu pun bukan sepatutnya dibicarakan dalam situasi dan kondisi seperti ini.
Langit gelap bagaikan tinta bak, siapa yang berbicara maka dia pula yang jejaknya segera ketahuan, kemungkinan besar berbagai jenis senjata dan Am-gi akan datang menyerang dari berbagai arah.
Setiap serangan yang dilancarkan, kemungkinan besar akan merupakan gempuran yang sangat mematikan.
Berada dalam kondisi dan situasi semacam ini, orang yang berpengalaman akan menutup mulut rapat-rapat, mereka baru turun tangan setelah pihak lawan tak dapat mengendalikan diri.
Siau-hong maupun Tokko Ci merupakan orang-orang yang berpengalaman.
Mereka sudah beratus kali menghadapi pertarungan, sudah terbiasa keluar masuk antara mati dan hidup, pengalaman yang mereka miliki boleh dibilang jauh lebih luas ketimbang siapa pun.
Kalau memang begitu, mengapa dalam kondisi seperti ini mereka justru membicarakan persoalan yang tidak seharusnya disinggung saat ini?
Sebenarnya pertanyaan ini pun merupakan persoalan yang susah untuk dijawab, namun jawabannya sederhana sekali.
Mereka sengaja membocorkan sasaran dengan bersuara tak lain karena mereka berharap pihak lawan akan turun tangan melancarkan serangan.
Langit begitu gelap bagaikan tinta, musuh tangguh pun berada di sekeliling tempat itu, bila musuh tidak melancarkan serangan lebih dahulu, bagaimana mungkin mereka bisa tahu di mana pihak musuh menyembunyikan diri?
Sebenarnya apa yang mereka lakukan sekarang merupakan salah satu taktik untuk memancing musuh masuk perangkap.
Kali ini siasat perang yang mereka lakukan membuahkan hasil.
Baru selesai mereka berbicara, serangan lawan telah dimulai.
Serangan pertama datang dari arah utara.
Jika Siau-hong bukan Siau-hong, dia sudah mampus dalam serangan ini!
Tapi sayang dia adalah Siau-hong.
Dia sudah punya pengalaman sebanyak sembilan belas kali menghadapi ancaman jiwa, bila reaksinya sedikit lebih lambat, ia sudah mati sembilan belas kali.
Dia belum mati karena itu dia mendengar desingan angin itu, sekilas suara angin yang perlahan, lembut tapi sangat tajam.
Sekilas suara angin yang sangat cepat datang dari arah utara dan mengancam bagian tubuh pentingnya, bagian tubuh yang sangat mematikan.
Siau-hong segera menggerakkan pedang, seketika meletup tujuh titik cahaya bintang dari ujung pedang.
Di saat pedangnya berhasil merontokkan serangan ketujuh jenis senjata rahasia itu, kembali muncul segulung angin tajam menusuk ke arah pinggangnya.
Serangan yang menusuk tiba bukan berasal dari Am-gi, melainkan tombak, sebilah tombak panjang yang paling tidak berbobot tiga-empat puluh kati, menusuk tanpa menimbulkan sedikit suara pun dari balik kegelapan, ketika mencapai satu depa dari pinggang Siau-hong, mendadak gerak serangannya menjadi sangat cepat.
Tatkala Siau-hong merasakan datangnya desingan angin tajam dari ujung tombak, mati hidup sudah tinggal sekali tarikan napas.
Cepat dia menarik napas dalam-dalam, tubuhnya mendadak melejit ke tengah udara.
Ujung pedang telah merobek pakaiannya, sambil berjumpalitan di tengah udara, pedang panjangnya segera menciptakan bianglala cahaya.
Dan saat itulah dia menyaksikan wajah seseorang.
Cahaya pedang yang dingin menyinari wajah orang itu, wajah persegi penuh cambang yang mengejang kuat karena rasa takut dan ngeri yang luar biasa, sepintas wajah itu mirip sebuah lukisan yang berkerut nyaris robek.
Tatkala cahaya pedang kembali berkilat, wajah itu sudah tak terlihat lagi, sejak itu lenyaplah orang itu dari muka bumi.
Di tengah kilauan cahaya pedang dan tombak, selembar nyawa lenyap begitu saja seakan nyawa seekor lalat atau seekor nyamuk di bawah tepukan tangan, lenyap untuk selamanya.
Bila kau tidak mempunyai pengalaman menghadapi kejadian seperti ini, selamanya kau tak bakal menyangka bahwa nyawa manusia terkadang bisa berubah jadi begitu rendah dan sama sekali tak ada nilainya.
Serangan pertama belum selesai, serangan kedua telah dimulai, ketika serangan kedua kembali menemui kegagalan, masih ada serangan ketiga.
Gempuran yang datang bagaikan gulungan ombak samudra, sekali demi sekali menggulung tiba tiada habisnya, seakan-akan gempuran itu tak pernah akan berakhir.
Setiap kali gempuran datang, kemungkinan besar ada nyawa yang bakal melayang, setiap kali serangan kemungkinan besar akan menjadi serangannya yang terakhir kali.
Ooo)d*w(ooO BAB 32.
BADAI PASIR Ujung mata Siau-hong sudah mulai terasa pedih dan sakit, karena peluh telah meleleh masuk ke dalam matanya.
Dia ingin sekali mengusap air mata itu, tapi sayang tak bisa.
Setiap gerakan yang tidak perlu, kemungkinan besar dapat menciptakan keteledoran dan kesalahan yang fatal, kesalahan yang menyebabkan hilangnya selembar nyawa.
Kecuali melancarkan serangan, menangkis atau menghindar, gerakan lainnya sama sekali tak perlu dan tak penting.
Setiap jengkal otot di tubuh Siau-hong mulai terasa linu dan sakit, seakan-akan semua ototnya telah menegang bagaikan senar busur yang dipentang lebar-lebar.
Ia sadar, situasi semacam ini tidak baik, sedikit pun tidak menguntungkan, dia ingin sekali mengendorkan syarafnya.
Sayang pemuda itu tak dapat melakukannya.
Mengendor sesaat kemungkinan besar akan mendatangkan kemusnahan abadi.
Sesungguhnya ada berapa banyak pembunuh yang bersembunyi di balik kegelapan?
Sampai kapan gempuran mereka baru akan berhenti?
Sekonyong-konyong serangan berhenti sama sekali.
Siapa pun tidak tahu sejak kapan serangan itu berhenti, seperti siapa pun tak bisa memastikan kapan tetesan hujan terakhir akan jatuh ke bumi.
Udara serasa dicekam bau anyir darah yang menggidikkan dan memualkan perut siapa pun, jagat raya telah pulih kembali dalam keheningan dan kesunyian.
Napas Siau-hong terasa tersengal-sengal.
Ketika mendongakkan kepala, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, kabut pagi yang putih bagaikan susu terlihat menyelimuti permukaan tanah, secara lamat-lamat ia dapat menyaksikan mayat yang membujur kaku di antara batuan cadas, mayat itu membujur seperti sebuah boneka yang hancur dan retak.
Gempuran telah berakhir, mara bahaya telah lewat, langit pun segera akan terang tanah.
Rasa letih yang disebabkan mengendornya seluruh otot dan syaraf tubuh, tiba-tiba saja membelenggu dan memeluknya bagaikan rangkulan tangan iblis.
Ia merasakan seluruh badannya seolah dilolos.
Tapi pemuda itu tak roboh, karena cahaya sang surya telah muncul dari balik awan di ufuk timur, memancarkan sinarnya yang keemas-emasan, menyinari batu cadas, menyinari bebatuan yang tinggi, memantulkan bayangan puncak tebing itu ke atas permukaan tanah.
Siau-hong berlarian ke depan, sekuat tenaga dia melontarkan pedangnya ke atas ujung batuan cadas itu.
Ujung pedang segera menghujam di atas batu, begitu keras membuat gagang pedang bergoyang tiada hentinya.
"Di sini!"
Teriak Siau-hong dengan suara parau karena gembira.
"Emas murni itu berada di sini!"
Emas murni itu berada di sini.
Di sinilah akar rahasia dari semua persoalan.
Setelah berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, siapa pun pasti tak akan bisa mengendalikan gejolak emosi dan kegembiraannya.
Tiba-tiba saja seluruh ototnya mengejang keras, keringat dingin membasahi telapak tangannya, pupil matanya tibatiba menyusut karena ngeri dan seram.
Tokko Ci berdiri tepat di hadapannya, mengawasi dengan pandangan dingin, ujung pedang dalam genggamannya persis akan menembus jantungnya bila ia melancarkan serangan.
Lambat-laun matahari semakin meninggi ke angkasa, tapi perasaan Siau-hong justru semakin tenggelam.
Dia belum melupakan ucapan Tokko Ci.
Asal ada kesempatan, aku akan membunuhmu.
Sekarang kesempatan emas baginya telah datang!
Tentu saja Tokko Ci pun tahu, begitu juga dengan Siauhong.
Asal Tokko Ci menyodokkan pedangnya ke depan, dia nyaris tak bisa menangkis maupun menghindar.
Dalam genggaman Tokko Ci masih ada pedang, noda darah di ujung senjatanya belum mengering, otot hijau di tangannya yang menggenggam pedang terlihat menonjol.
Akankah dia melancarkan tusukan mematikan itu?
Pedang milik Siau-hong pun berada di tempat di mana tangannya dapat meraih, tapi dia tidak meraihnya.
Pemuda itu tahu, asal tangannya meraih pedang itu, niscaya dia akan tewas di ujung pedang Tokko Ci.
Namun bila ia tidak meraihnya, mungkin nasib akhir yang dialami pun akan sama saja.
"Bila aku jadi kau, sekarang aku pasti akan turun tangan,"
Tiba-tiba Siau-hong berkata.
"Maka dari itu, seandainya kau membunuhku, aku pun akan mati tanpa menyesal."
Tokko Ci tidak buka suara, dia pun tidak bereaksi.
Orang yang akan membunuh biasanya memang tak akan banyak berbicara.
Berbeda keadaannya bagi orang yang setiap saat bakal mati dibunuh orang lain.
Bila dapat berbicara lebih banyak sepatah kata saja, dia pasti akan berusaha untuk mengutarakannya, sekalipun sebagai taruhan nyawanya hanya bisa hidup sebentar saja.
Baca Juga: Pendekar Baja 5
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 2