Eps 2 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.
Mendengar nama-nama mereka bercekatlah siu ho dalam hatinya, Kiranya mareka adalah jaga jago tersohor dari kalangan peisilatan.
Orang yang memakai jubah kuning itu, ialah si bin si wi Swi Tay lim, sedangkan lain lainnya ialah Cong houw tauw dari The Lin onghu Pan Ging Lan cong-Teng dari kota raja seng-bing.
Ahli waris dari Gan keh pang di Holam.
Gan Pek Kian dan beberapa kepala polisi yang kenamaan dari Thiancin dan Paoting Untuk menangkap Bun Tbay Lay, para ahli Silat kenamaan bangsa boan munpun Han dan daerah utara sama berkumpul dideaa sekecil seperti Sam tao hauw itu Dengan bersiap-siap rombongan jago-jago kuku garuda itu menuju ke Thiat tan-cung.
Kini kita ganti menengok keadaan Liok Hwi-ching Dengan menempuh hujan salju, besar, dia larikan kudanya kearah barat.
Melalui puncak gunung tersebut dia dapatkan bekas bekas darah dan pertempuran orarg orang Wi dengan orang-orang dari piauwkok kemarin itu, sudah hilang disapu hujan.
Dalam sekejap saja dia sudah menempuh empat atau lima puluh li dan sampailah kesebuah pasar kecil, Karena kudanya kelihatan sudah kelihatan lelah maka dengan pelan pelan masuklah dia kesitu.
Sebenarnya hari belum terlalu gelap, dapatlah ia meneruskan perjalanan lagi, tapi ternyata kudanya mengeluarkan busa dan mulutnya, napasnya kemas-kemis, tiba-tiba diujung 2 ekor kuda teugah melongok kesana-kesini seperti tengah menanti seseorang.
Melihat ke 2 ekor kuda itu badannya tinggi dan besar besar, bulunya mengkilap, timbulah.
rasa kepingin dalam hati Hwi Ching.
segera ia menghampiri orang itu.
adakah kuda itu dijualnya.
Orang Wi tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dari kantong kejunya Hwi-ching merogoh keluar uang kira-kira empat puluh tail, Namun orang Wi itu tetap menggeleng-gelengkan, kepalanya, Hwi Ching penasaran, ditumplaknya seluruh isi kantongnya yang ternyata berisi enam atau tujuh keping perak terus diangsurkau semua pada orang itu.
Kini malah orang itu membuat gerakan tangan menyuruh Hwi Ching pergi.
Maksudnya kuda itu tak dijual.
Dengan putus asa Hwi ching kembali masukkan peraknya itu dalamKantongnya.
Tiba-tiba orang Wi itu dapat melihat diantara perak-perak itu sebuah thi lian ci.
piaiw biji teratai, segera tangan diulurkan untuk menyemputnya, dan bulu-bulu itu ban ci itu diawasinya tajam-tajam Thi lian ci itu adalah milik Hwe Ceng tong yang dipakainya untuk menimpuk Hwi ching dan dapat ditangguhnya dengan teh konya Dengan gerakan orang Wi itu bertanya dari mana Hwi Ching memperoleh piauw tersebut.
Dengan gerakan tangan pula, Hwi.chiag menyatakan ia mendapatnya dari sahabatnya seorang nona bangsa Wi yang kepalanya tertancap bulu burung dan memegang sebatang pokiam.
Orang Wi tersebut mengangguk anggukan kepalanya, lalu menyerahkan, thi ban ci pada Hwi Ching lagi, habis itu dia tuntun seekor kuda, terus diberikan pada Hwi-ching, sudah tentu Hwi ching girang sekali, lalu merogoh uang peraknya lagi.
Tapi orang itu tetap Goyang-goyang tangannya dan hanya menuntun kuda Hwi-ching semula terus dituntunnya pergi.
"Sungguh nona itu mempunyai pengaruh besar sekali dikalangan suku Wi. sampaikan sebuah thi lian cinya saja sudah dianggap sebagai tanda perintah demikian pikir Hwi Ching. Memangnya orang tadi adalah seorang warta dari suku Wi yang dikepalai oleh ayah Ceng tong dalam gerakkannya untuk merebut kembali kitab Al-Our'an, pada setiap pos mereka menyiapkan orang yang membawa kuda, untuk alat-alat penmberian warta. Dia mengira karena membawa thi lian ci dari Ceng Tong, tentulah Hwi ching itu salah seorang pembantu mereka. Oleh karena itulah tanpa sangsi sangsi lagi kudanya diberikan. Dengan kuda baru itu Hwi Cbing meneruskan perjalanannya lagi, sampai kekota disebelah depannya dia bertemu lagi dengan seorang Wi yang yang membawa kuda. Ketika kembali dia unyukan thi lian ci, dapatlah dia berganti kuda baru. apalagi pada setiap kaki belakang kuda selalu terdapat cap tanda, maka pergantian kuda itu barjalan dengan mudahnya. Selama di atas pelana kuda itu, Hwi Ching hanya makan ransum kering dan tidak tidur. Dalam sehari semalam, ia dapat menempuh jarak enam ratus li lebih. Maka pada hari ke 2 sore tibalah ia di Anse, pusat pertemuan anggauta-anggauta Hong-hwa-hwee. Begitu memasuki kota, ia pasang bunga merah sulaman dari Lou Ping di lubang bajunya. Bagaimanapun tinggi bugee Hwi Ching, namun ia habis melakukan perjalanan nonstop dari jarak sedemikian jauhnya itu, tak urung dia merasa lelah juga, baru saja dia berjalan beberapa tindak, segera ada 2 orang bercelana pendek mengundangnya makan ke ciulauw. Dalam ciulauw, rumah minum, yang seorang lalu temani Hwi Ching minum arak, sedang yang lainnya dengan laku hormat sekali meminta diri. Orang yang menemani minum itu juga berlaku sangat menghormat. Dia tak berani banyak bertanya, dan hanya pesan sayuran untuk kawan arak. Ketika habis menenggak tiga cawan arak, tiba-tiba dari luar masuk seorang yang terus memberi hormat pada Hwi Ching siapa buru-buru berbangkit untuk membalasnya. Orang itu mengenakan jubah kain hijau, kira-kira berumur tiga puluh tahun, sepasang matanya mengeluarkan sorot berapi-api, sikapnya berkewibawaan. Mengetahui siapa adanya, Hwi Ching berkatalah orang itu.
"Oh, kiranya Liok-locianpwe dari Bu-tong-pay, sering kudengar Tio Pan San samko sebut-sebut nama locianpwe, kini sungguh beruntung dapat berjumpa."
"Siapakah nama laoko yang mulia?"
Tanya Hwi Ching.
"Aku yang rendah ialah Wi Jun Hwa,"
Sahut orang itu. Dalam pada itu, orang yang menemani Hwi Ching minum tadi segera minta diri juga.
"Siautocu dan para hengte kami, semua sama berkumpul di sini. Kalau diketahui locianpwe datang, pasti siang-siang mereka akan menyambutnya. Entah apakah locianpwe sudi meringankan kaki untuk menemui mereka,"
Kata Jun Hwa.
"Bagus, memang kedatanganku ini perlu menyampaikan suatu hal yang penting pada saudara-saudara sekalian,"
Sahut Hwi Ching. Begitulah, Jun Hwa segera bawa Hwi Ching keluar ciulauw. Anehnya pemilik ciulauw itu tak minta bayaran padanya. Dengan menunggang kuda mereka menuju keluar kota.
"Bunga merah yang locianpwe punya itu adalah milik Bun-suko, bunga itu mempunyai empat buah sumbar,"
Kata Wi Jun Hwa di tengah jalan.
Ketika Hwi Ching periksa bunga merah yang dipakainya, memang perkataan Jun Hwa itu benar.
Tak berapa lama, tibalah mereka di sebuah biara.
Yang menyolok pemandangan, di muka dan di belakang biara itu tumbuh pohon-pohon tua yang menyulang ke langit, sehingga menambah keangkeran tempat itu.
Di muka biara tergantung sebuah papan yang tertulis empat buah huruf "Giok-hi-to-wan".
Di muka itu tampak ada 2 orang tojin menyaganya.
Begitu melihat Wi Jun Hwa, mereka bersikap menghormat sekali.
Oleh Jun Hwa, Hwi Ching dipersilahkan masuk dan satu imam kecil segera membawa teh.
Ketika Jun Hwa membisiki telinganya, imam itu kelihatan mengangguk-angguk kepalanya lalu masuk ke dalam, sesaat Hwi Ching mengangkat cawan akan diminum, tiba-tiba dari ruangan dalam terdengar seseorang berseru.
"Liok-toako, betul kau membuat mati rindu."
Belum kumandang ucapan itu hilang, orangnya sudah muncul. Dia bukan lain ialah kawan seperjuangannya dulu Tio Pan San, sobat lawas saling bertemu, sukar dilukiskan bagaimana kegirangannya.
"Beberapa tahun ini toako bersembunyi dimana, bagaimana bisa datang kemari?"
Demikian pertanyaan susul-menyusul keluar dari mulut Pan San.
"Tio-hiante, baik kita bicarakan dulu urusan penting yang menyadi tugasku ini,"
Tiba-tiba Hwi Ching berkata dengan bersungguh-sungguh, kalian punya Bun-su-tangkeh ini berada dalam kesulitan besar."
Habis ini lantas Hwi Ching ceritakan apa yang sudah terjadi. Dalam pada itu tiba-tiba diluar terdengar suara seseorang yang sedang berteriak.
"Suko, kakak keempat dalam bahaya, hayo lekas kita menolongnya, biar aku yang berangkat dulu!"
"Yang an kau begini gegabah, tunggu putusan siautocu dulu,"
Cegah Wi Jun Hwa.
Tapi orang itu tetap ngotot.
Begitu Pan San menarik tangan, Hwi Ching melihat, ternyata orang yang membuat ribut-ribut itu adalah seorang bongkok, seketika itu teringatlah Hwi Ching pada si Bongkok yang memapas ekor kuda Wan Ci dulu itu.
Sementara itu Jun Hwa telah mendorong si Bongkok ke hadapan Hwi Ching dan berkata.
"Hayo lekas kau temui Liok-locianpwe!"
Menghampiri ke muka Hwi Ching, si Bongkok mengawasinya dengan tak mengucap apa-apa.
Mengira kalau orang masih ingat akan hinaan Wan Ci tempo hari, Hwi Ching akan memintakan maaf.
Tapi tiba-tiba si Bongkok membuka mulut.
"Kau tempuh jarak enam ratus li dalam sehari hanya karena akan menyampaikan berita dari Bun-suko, sungguh aku oang she Ciang merasa berterima kasih sebesar-besarnya!"
Berbareng dengan ucapannya, si Bongkok segera jatuhkan diri ke tanah dengan berkui sampai empat kali.
Karena tak keburu menegahnya, Hwi Ching juga berlutut untuk membalas hormat.
Secepat-cepat habis memberi hormat, si Bongkok lalu bangkit, katanya.
"Tio-samko, Wi-kiauko, aku akan pergi dulu!"
Tio Pan San coba akan mencegahnya, tapi si Bongkok terus menerobos keluar dan sudah berada di pintu bundar yang berada di halaman. Tapi mendadak tangannya dipegang orang.
"Kau akan kemana?"
Demikian tegur orang itu.
"Menengok suko dan suso, hayo kau ikut aku,"
Sahut si Bongkok.
Anehnya orang itu betul-betul mengikutinya.
Kiranya si Bongkok adalah orang she Ciang nama Cin.
Wataknya berterus terang, sejak lahir dia bercacad namun memiliki tenaga luar biasa.
Dia seorang murid Siau-lim-pay yang jempolan.
Karena cacadnya itu dia paling benci orang memperolokkan bongkoknya.
Tapi kalau berbicara dengan orang, selalu ia menyebut dirinya "Ciang-thocu"
Atau Ciang si bongkok. Namun sekali-kali yang an orang mengatakan "bongkok"
Dan memperolok-olokkannya, karena dia tentu akan keluar tanduknya betul-betul nanti.
Lebih-lebih kalau orang itu bisa bugee, tentu diajaknya pibu (bertanding silat).
Di kalangan Hong-hwa-hwee hanya pada Lou Ping yang dia mau dengar katanya.
Karena lain-lain orang selalu menertawakan, adalah Lou Ping yang paling mengerti hatinya, paling mengasihani cacadnya itu.
Begitu rupa Lou Ping merawati si Bongkok, sehingga seperti saudaranya sendiri.
Maka begitu mendengar Bun Thay Lay suami-isteri mendapat kecelakaan, meluaplah amarah Ciang bongkok, terus akan pergi menengoki saja.
Ciang bongkok dalam Hong-hwa-hwee, jatuh pada urutan no..Yang memegang tadi, yaitu Ci Thian Hong, orang nomor tujuh dalam Hong-hwa-hwe.
Meskipun dia orangnya pendek kecil, tapi banyak akal.
Dialah kunsu, juru pemikir, dari Hong-hwa-hwee.
Di samping itu, lihay juga bugeenya, lwekang maupun gwakang serta segala ilmu senyata.
Kalangan kangouw memberi dia sebuah julukan sebagai "Bu-cu-kat"
Atau si Khong Beng dari Hong-hwa-hwee.
Baru setelah Tio Pan San menutur, tahulah Hwi Ching siapa ke 2 orang itu.
Pada saat itu pun para Tangkeh, pemimpin daerah, sama berturut-turut keluar.
Mereka adalah para orang-orang gagah yang sudah ternama.
Semuanya banyak yang sudah dilihat Hwi Ching di tengah perjalanan itu.
Kepada mereka, Tio Pan San tuturkan perihal Bun Thay Lay.
Ji-tangkeh, pemimpin ke 2, yang hanya berlengan satu, yaitu Bu Tin tojin berkata.
"Mari kita temui siautocu!"
Segera mereka menuju ke halaman belakang, masuk ke sebuah rumah besar.
Tembok di ruangan itu terukir sebuah papan tioki, catur yang besar.
Pada jarak 2 tombak ada 2 orang sedang duduk di atas dipan, tengah minum teh sambil berkelakar.
Kiranya mereka tengah main tioki ke arah tembok papan catur yang seperti terpaku itu, biji-biji tioki itu melekat di situ.
Selama ini, belum pernah Hwi Ching melihat orang main tioki dengan cara begitu.
Pada saat itu, biji-biji tioki hitam dan putih tengah berpusat pada sebuah lingkaran.
Rupanya pada jurus-jurus yang menentukan, dimana putih dalam kedudukan menyerang.
Yang mainkan biji hitam adalah seorang kongcu (pemuda) muda yang mengenakan jubah putih.
Wajahnya berseri terang, mengunyukkan masih berdarah bangsawan, sedang yang main biji putih, adalah seorang tua yang dandanannya sebagai seorang desa.
Melihat ke 2 orang tersebut sedang asyik main tioki, orang-orang Hong-hwa-hwee itu tak berani mengganggunya.
Sekali lihat, tahulah Hwi Ching bahwa kepandaian tioki dari kongcu itu di atas si orang tua.
Tapi entah karena apa koncu itu main mengalah saja.
Tiap kali si orang tua melontarkan biji tiokinya, biji-biji itu menancap dalam-dalam ke papan tembok.
Diam-diam Hwi Ching terkejut dalam hati, pikirnya.
"Orang itu entah enghiong ternama siapa, kecepat-cepat annya melempar senyata rahasia belum pernah kulihat ada yang melebihi."
Berselang beberapa waktu lagi, kini jelaslah Hwi Ching.
Ternyata kongcu itu tak terlalu perhatikan posisi ratunya, tetapi diam-diam dia perhatikan cara melempar biji tioki dari si orang tua itu.
Pada saat itu kedudukan putih payah sekali, sekali hitam jalan, habislah putih.
Dan ini pun diketahui oleh kongcu tersebut.
Tapi ternyata lemparan itu tak tepat, biji tiokinya agak miring tak dapat menancap dengan betul.
"Ha, kau mengaku kalah sajalah!"
Si orang tua tertawa terkekeh-kekeh sembari meletakkan biji tioki terus berbangkit. Nyata ia takut kalah. Kongcu itu juga tidak mau berbantahan, dengan tersenyum ia berkata.
"Besok kalau ada kesempatan, aku main lagi dengan suhu."
Melihat rombongan orang-orang itu, si orang tua tersebut tak mau menegur atau memberi hormat, hanya dengan langkah lebar terus melangkah keluar pintu.
Setelah itu berkatalah Tio Pan San pada si kongcu,"Siautocu, ketua muda, inilah orang yang pernah kukatakan itu, Liok Hwi Ching toako,"
Habis ini katanya pula pada Hwi Ching.
"Liok-toako, inilah siautocu kita, mari sama-sama berkenalan saja."
"Siaucit she Tan, nama Keh Lok, harap lopeh suka kasih pengunyukan,"
Pemuda itu berkata dengan merendah.
Tersipu-sipu Hwi Ching membalas juga dengan kata-kata merendah.
Diam-diam ia perhatikan siautocu itu jauh berbeda sikapnya dengan rombongan anak-anak buahnya yang kasar-kasar itu.
Tio Pan San lalu tuturkan keadaan Bun Thay Lay dan minta pendapat dari siautocu tersebut.
Tapi siautocu hanya berpaling pada Bu Tim tojin dan berkata.
"Harap totiang suka memberi keputusan."
Tiba-tiba dari sebelah belakang Bu Tim, ada seorang gagah yang berseru dengan kerasnya.
"Bun-suko mendapat kesukaran, seorang luar, telah begitu memerlukan memberi warta dari tempat yang begitu jauh. Tapi sebaliknya kita sendiri masih tolak-menolak mengenai siapa yang harus menyadi ketua. Apakah sesudah Bun-suko terlanyur hilang jiwanya, kau orang baru tak main tolak-tolakan lagi? Pesan mendiang lotangkeh, siapa yang berani membantahnya? Siautocu, kalau kau tak mengindahkan pesan gihu, ayah angkatmu, nyata kau tak berbakti pada beliau. Juga sekiranya kau memandang rendah pada kita orang, para hengte sekalian dan tak mau menyadi tocu, biarlah Hong-hwa-hwee yang beranggautakan tujuh puluh ribu orang ini dibubarkan saja."
Ternyata orang yang bersuara keras ini, bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, dia adalah orang yang menduduki kursi ke delapan dari pimpinan Hong-hwa-hwee, yakni Nyo Seng Hiap.
Mendengar itu, sekalian orang pun turut meminta pada si kongcu.
"Kita adalah seumpama ular yang tak punya kepala. Kalau siautocu tetap menolak lagi, kita semua tentu menyesal. Dalam soal Bun-suko, kita menurut perintah siautocu."
"Dalam tujuh puluh ribu anggauta Hong-hwa-hwee ini, siapa yang tak mau dengar kata siautocu, biar dia rasakan kelihayan pedangku,"
Seru Bu Tim dengan lantangnya.
Mendengar desakan dari orang banyak, Tan Keh Lok tak enak hati, sepasang alisnya terangkat, seperti tengah memikir sesuatu.
Melihat itu, Siang Hek Ci adalah seorang dari Siang-hiap berkata dengan suara berpengaruh pada adiknya.
"Hengte, betul-betul siautocu tak menghargai kita. Mari kita ber 2 tolong dulu Bun-suko kemari, baru nanti kita pulang ke Sechwan."
"Koko benar, aku setuju,"
Balas sang adik Siang Pek Ci. Sampai di sini terdesaklah Keh Lok. Kalau ia tetap berkeras menolak, pasti akan mengecewakan orang banyak. Apa boleh buat, katanya.
"Bukan aku keras kepala, tapi mengingat umurku begitu muda, kurang pengalaman, kurang pengetahuan, tentu tak pantas memegang jabatan penting itu. Tapi karena kalian semua menghendaki demikian, apalagi marhum gihuku pun telah meninggalkan pesan, apa boleh buat terserah kehendak saudara sekalian."
Seketika itu orang Hong-hwa-hwee gempar karena girangnya, bahwa siautocu telah menerima angkatan itu.
"Upacara pengangkatan, biar nanti kita langsungkan di paseban Cong-hiang-tong di Thayouw. Sekarang harap congtocu bersembahyang dulu pada couwsu, untuk menerima lenghoa, lencana jabatan,"
Kata Bu Tim.
Hwi Ching cukup tahu bahwa sesuatu pelantikan tentu mempunyai upacara istimewa.
Sebagai orang luar dia tak enak berada di situ.
Habis memberi selamat pada Keh Lok, dia undurkan diri.
Oleh Tio Pan San dia dibawa ke kamarnya sendiri, supaya beristirahat dulu.
Jilid 5 KETIKA bangun dari tidurnya, ternyata hari sudah malam. Berkata Pan San.
"Tadi congtocu bersama sekalian saudaraa sudah berangkat ke Thio-ke-poh. Karena toako masih tidur, aku disuruh mengawani, besok pagi kita berangkat menyusul."
Hampir lebih sepuluh tahun saling berpisah, malam itu ke 2nya bicara dengan uplek sekali menuturkan riwajatnya masing-masing selama itu. Berbicara tentang HONG HWA HWE bertanyalah Hwi Ching.
"Kau orang punya congtocu itu masih begitu muda usianya, tak ubah dengan seorang kongcu, bagaimana semua sama tunduk?"
"Urusan itu agak panjang untuk diceritakan. Toako, kau mengasuh lagi dulu, besok dalam perjalanan akan kuceritakan,"
Sahut Pan Sin.
Sekarang marl kita tengok keadaan rombongan Thio Ciauw Cong yang dibawa ke Thiat-san-chung oleh Tong Siu Ho, itu piauwsu dari Tin Wan piauwkok.
Tiba dimuka chung (desa) itu.
Ciauw Cong perintah seorang congteng melapor pada chungcu supaja keluar menyambut utusan pemerintah.
Congteng itu tak berani berajal, terus bertindak masuk.
Tapi dicegah oleh Ciauw Cong.
Rupanya dia insjaf betapa kedudukan tuan rumah itu sebagai pemimpin kaum persilatan daerah barat utara.
Karenanya dia tak mau gegabah, katanya pada congteng.
"Sahabat, tahan dulu. Bilanglah pada chungcu bahwa kita datang dari kotaraja, perlu bertemu dengan chungcu (kepala perkampungan) sendiri !"
Mengucap begitu, Ciauw Cong mengerlingkan matanya pada Go Kok Tong, siapa cukup mengerti maksudnya.
Dengan membawa membawa beberapa orang polisi dia menuju ke belakang desa itu untuk menyaga apabila Bun Thay Lay sampai lolos.
Mendengar laporan congteng, Kian Hiong segera menge tahui bahwa rombongan kuku garuda itu tentu hendak meng usut tempat persembunyian Bun Thay Lay.
Segera dia suruh Song San Beng, sipengurus rumah, untuk menemui dulu, sedang dia sendiri lalu Buru-buru mendapatkan Bun Thay Lay.
"Bun-ya, diluar ada kuku garuda dari golongan liok-san-mui. Apa boleh buat, kuminta samwi lekas-lekas bersembunyi saja,"
Demikian tuturnya.
Dia lalu memapak Bun Thay Lay menuju ke sebuah thia (paviljon) yang berada di kebun belakang.
ber 2 dengan Ie Hi Tong, Kian Hong menggeser sebuah meja batu yang berada di situ.
Segera di bawah situ tampak sebuah papan besi yang di kat dengan rantai.
Ketika rantai ditarik, papan besi itu terangkat dan ternyata disitu tampak sebuah gowa dibawah tanah.
Melihat itu Bun Thay Lay marah dan serunya .
"Aku Bun Thay -Lay-bukan orang yang takut mati dan temaha hidup. Bersembunyi didalam gowa ini, sekalipun da pat menyelamatkan diri, tapi tentu tak luput akan diterta wakan orang nanti."
"Mengapa Bun-ya berkata begitu. Taytianghu bisa keras bisa lembek, menurut gelagat. Bun-ya menderita luka parah dan sementara bersembunyi, siapa yang akan menertawakan nya?"
Ujar Kian Hiong.
"Terima kasih, Beng-heng. Harap saja kau bukakan pintu belakang. Biar kita berlalu dari sini, agar tak merembet-rembet Beng-heng sekalian orang dalam rumah ini,"
Bun Thay Lay tetap berkeras.
Pada saat itu, diluar pintu belakang terdengar tereakan orang minta dibukai pintu.
Berbareng itu dari depan, ter dengar suara berisik dari rombongan orang yang mengham piri.
Ketika mereka akan menobros masuk, San Beng coba akan menghalangi, tapi sia-sia saja.
Karena mengindahkan nama dari Ciu Tiong Ing, Ciauw Cong hanya memakai alasan akan melihat-melihat kedalam chung yang dikatakan sangat indah pemandangannya itu.
"Kita hanya ingin menyaksikan sendiri betapa keindahan chung ini yang kesohor bagusnya itu. Harap saudara Song suka mengantai kita,' kata Ciauw Cong. Mengetahui bahwa Thiat-tan-chung sudah terkepung rapat, naiklah darah Bun Thay Lay, katanya pada isteri dan saudaranya itu.
"Mari kita bahu membahu menobros keluar!"
Lou Ping nyatakan siap, ia terus memegang lengan tangan suaminya yang terluka itu.
Kctika itu dengan memegang golok dalam tafigan kiri, Bun Thay Lay siap akan mener yang keluar.
Tapi mendadak dia rasakan tubuh isterinya gemetar.
Dan ketika dipandangnya, ternyata sepasang mata nya pun berlinang-linang air mata, wayahnya berduka sekali tampaknya.
Seketika itu luluhlah hati Bun Thay Lay, dan dengan serentak dia berkata.
"Baiklah, kita bersembunyi saja."
Kian Hiong girang mendengar keputusan yang tiba-tiba itu.
Begitu ketiga tamunya itu masuk kedalam gowa, cepat-cepat -cepat-cepat dia tutup papan besi itu dan dengan 2 congteng digesernya pula meja batu itu keatas.
Ciu Ing Kiat, putera Ciu Tiong Ing yang masih kecil itu, juga turut membantunya.
Setelah tak ada tandas yang mencurigakan, Kian Hiong perintahkan congteng membuka pintu belakang.
Tapi ter nyata Go Kok Tong tak mau masuk dan hanya menunggu diluar pintu itu saja.
Pada saat itu, rombongan Ciauw Cong pun sudah masuk kesitu.
Melihat Tong Siu Ho juga berada dalam rombongan itu, berkatalah Kian Hiong dengan menyindir .
"Oh, kiranya seorang koan-loya (pembesar negeri), tadi aku sudah berlaku kurang adat."
"Aku hanyalah seorang piauwtauw dari Tin Wan piauw kok, loheng jangan salah kira,"
Sahut Siu Ho. Setelah itu dia berpaling pada Ciauw Cong dan berkata .
"Dengan mata kepalaku sendiri, kulihat mereka masuk kesini. Thio taijin, harap perintahkan menggeledah."
"Kita adalah penduduk baik-baik, Ciu lochungcu adalah seorang tuan tanah yang menuntut penghidupan halal, mana berani menyembunyikan bangsa bersandal. Tong-ya ini sengaja mempitenah saja,"
San Bing Buru-buru memberikan bantahan tegas.
Dia tahu bahwa Bun Thay Lay bersembunyi ditempat yang aman, maka sengaja dia keluarkan kata-kata yang menantang itu.
Juga bertanyalah Kian Hiong dengan berlagak pilon .
"Hong Hwa Hwe adalah sebuah perkumpulan di Kang Lam, mengapa mereka berada diperbatasan sebelah barat utara ini? Piauwtauw ini berkata dengan seenaknya sendiri saja, masa taijin sekalian mau mempercayainya?"
Thio Ciauw Cong adalah seorang kangouw kawakan.
Dia tahu bahwa Bun Thay Lay tentu sembunyi di Thiat-tan-chung.
Kalau menggeledah berhasil, masih mendingan, tapi kalau sampai tak dapat menemukannya, apakah Ciu Tiong Ing akan mau sudah?
Jago she Ciu itu luas pengaruhnya dikalangan rimba persilatan, dengan demikian, bukankah akan dapat melakukan pembalasan?
Memikir sampai disitu, Ciauw Cong menyadi ragu-ragu.
Sebaliknya Siu Ho berpikir, kalau kali ini gagal, tentu dia akan diejek dan di-kata-katai oleh kawan-kawannya.
Tiba-tiba dia ter ingat akan Ciu Ing Kiat.
Seorang anak kecil tentu tak dapat berbohong.
Cepat-cepat dia tarik lengan Ing Kiat.
Tapi anak itu, karena mengerti bahwa Siu Ho itu bukan orang baik-baik, dengan getas segera menarik tangannya.
"Kau tarik aku mau apa?"
Bentak bocah itu.
"Adik cilik, kau bilanglah, dimanakah adanya ketiga te tamu itu, aku nanti beri ini untuk beli permen,"
Kata Siu Ho sambil merogoh keluar beberapa biji uang perak. Ing Kiat jebikan bibir, memperlihatkan muka mengejek, katanya.
"Kau angg'ap aku ini siapa? Ayahku adalah Thiat-tan Ciu Tiong Ing! Aku tak sudi terima uang'mu yang berbau itu !"
Karena malu, Siu Ho menyadi gusar, lalu berteriak .
"Ayo kita geledah saja rumah ini, dan ringkus sekali bocah ini !"
"Kau berani dengan ayahku, Thiat-tan Ciu Tiong Ing?"
Kata Ing Kiat tak gentar.
Pada saat itu berobahlah air muka Thio Ciauw Cong.
Dia duga anak itu pasti mengetahui tempat persembunyian Bun Thay Lay.
Dia pikir, hanya dari mulut anak itulah akan bisa didapat keterangan.
Tapi meskipun kecil, anak itu sangat berani.
Tak jerih digertak, tak mempan dibujuk.
Tapi akan coba dibujuknya juga.
"Ketiga tamu itu, bukankah sahabat ayahmu?"
Ciauw Cong mulai pasang perangkap. Tapi Ing Kiat tak kena diakali, sahutnya .
"Aku tak tahu apa-apa."
"Kalau sampai kita dapat menemukan ketiga orang itu, t.idak saja ayahmu, juga kau sendiri dan mamahmu semua akan dihukum mati !"
"Ha!"
Seru Ing Kiat dengan kerutkan alisnya.
"Ayahku adalah Thiat-tan Ciu Tiong Ing, masa dia jerih padamu?"
Ciauw Cong tobat betul-betul.
Dia lalu merogoh sakunya, pikirnya akan mengambil uang mas untuk diberikan pada anak itu.
Tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah benda bundar.
Dengan girang, cepat-cepat -cepat-cepat benda itu dikeluarkannya.
Ternyata benda itu ialah sebuah cian-li-king (teropong).
Ketika Ciauw Cong meninggalkan kotaraja untuk me nangkap Bun Thay Lay, Hok Gong An, pemimpin Gi-lim-kun (pengawal istana) menghadap padanya, untuk menyampai kan perintah istimewa dari kaisar, bahwa bagaimana juga pesakitan itu harus dapat ditangkap dan dibawa kekota raja.
Untuk itu kaisar istimewa menghadiahkan sebuah teropong padanya.
Saat itu Ciauw Cong memasang teropong dimatanya, untuk melihat sekeliling tempat itu, habis itu dia berkata pada Ing Kiat .
"Kau pasanglah benda kemukamu, dan cobalah lihat ke jurusan sana."
Kuatir orang akan menipunya, Ing Kiat cepat-cepat -cepat-cepat tarik tangannya. Tapi Ciauw Cong kembali melihatnya sendiri, seraja tak putus-putusnya memuji.
"Wah, alangkah indahnya, sungguh bagus sekali !"
Biar bagaimana Ing Kiat tetap seorang anak kecil.
Hati nya melonyak-loyak ingin melihatnya juga.
Maka begitu Ciauw Cong mengangsurkan teropong itu untuk ke 2 kalinya, cepat-cepat -cepat-cepat Ing Kiat menyambutnya.
Begitu dipasang dimatanya, dia berjingkrakjingkrak kaget.
Gunung jauh disebelah muka itu seperti pindah dihadapannya.
Pohon-pohon jelas tampaknya.
"Kau naik dimeja situ untuk melihat sana,"
Kata Ciauw Cong dengan ramahnya.
Ing Kiat loncat keatas meja batu, untuk melihat dengan teropong.
Orang yang sedang berjalan dijalanan, tampaknya jelas berada dihadapannya.
Sampaipun mulut dan mata mereka kelihatan jelas juga.
Ketika teropong itu diambil nya, oranga berjalan itu tampaknya keci s dan samar-samar.
Bolak-balik dia awasi benda ajaib itu sampai sekian lama.
Habis itu dengan merasa sayang , dia kembalikan lagi pada Ciauw Cong.
"Kau inginkan ini?"
Tanya Ciauw Cong ketika menyam butinya.
Sambil berpaling kesamping memandangi Kian Hiong dan San Beng, anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ciauw Cong seketika juga mengetahui bahwa pernyataan itu ber lawanan dengan hatinya, karena takut pada ke 2 orang itu.
Maka cepat-cepat ditariknya Ing Kiat kesamping, lalu tanyanya.
"Asal kau kasih tahu ketiga orang itu bersembunyi dimana, benda itu akan menyadi kepunyaanmu !"
"Aku tak tahu,"
Sahut Ing Kiat dengan berbisik.
"Kaubilanglah, aku tak nanti katakan pada lain orang. Ayahmu pun tentu takkan mengetahuinya,"
Kata Ciauw Cong dengan berbisik juga. Hati Ing Kiat nampak guncang tapi dia tetap gelengkan kepalanya.
"Siaosute, masuklah kedalam, jangan main-main ditaman ini,"
Tiba-tiba kedengaran Kian Hiong berseru keras.
"Baiklah,"
Sahut Ing Kiat, lalu katanya pula pada Ciauw Cong.
"Beng suko panggil aku."
Namun Ciauw Cong masih pegangi tangan Ing Kiat, dan teropong itu disodorkan dihadapannya. Ing Kiat nampak gi rang sekali dan segera bisiknya lagi.
"Kalau aku sampai memberitahu, nanti ayah tentu membunuh aku."
"Kau tak usah menyahut, kalau kuajukan pertanyaan, cukup kau memberi isjarat dengan manggut atau gelengkan kepala saja", Ciauw Cong makin mendesak. Dan habis berkata itu, dia serahkan teropong pada Ing Kiat. Mulanya anak itu agak sangsi sesaat, tapi achirnya dite rimanya benda itu.
"Apakah mereka bersembunyi dikamar mamahmu?"
Ciauw Cong terus tak mau buang tempo dan mulai ajukan pertanyaan. Ing Kiat gelengskan kepalanya.
"Apakah mereka digudang padi?"
Kembali anak itu geleng-gelengkan kepala.
"Dikebun sini?"
Kini tampak Ing Kiat manggut 2kan kepala dengan pelan-pelan .
Karena nampak Ciauw Cong menyeret sutenya kesebelah samping dan terus tak putus-putusnya menanyai, Kian Hiong kuatir jangana anak itu kelepasan omong, karena itu dia menghampirinya.
Melihat bahwa dalam taman itu yang ada hanya gunung-gunungan palsu, empang dan sebuah rumah kecil, Ciauw Cong segera mendesaknya .
"Dibagian mana mereka bersembunyi?"
Ing Kiat tak menyawab, hanya ekor matanya saja terus melirik kearah rumah gardu disebelah itu.
"Di gardu itu?"
Tanya Ciauw Cong.
Ing Kiat anggukkan kepalanya.
Nampak itu, Ciauw Cong tak mau bertanya lagi, terus menghampiri gardu itu.
Setelah diperiksanya, ternyata gardu itu hanya dikelilingi oleh langkan (pagar jeruji) bercat me rah.
Mustahil orang bersembunyi disitu.
Loncat keatas langkan, Ciauw Cong memandang kepuncak gardu, tapi disitu tak ada apa-apanya.
Karenanya, dia terpaksa loncat turun lagi dan untuk sesaat itu dia kelihatan berpikir.
Tiba-tiba .
ter gerak pikirannya, segera dengan tersenyum dia berkata pada Kian Hiong .
"Beng-ya, aku yang rendah ini meski berkepandaian rendah, tapi aku memiliki sedikit tenaga, harap Beng-ya suka member! petunyuk !"
Mengira karena tak dapat mencari orang lalu marah dan mengajak berkelahi, walaupun fihak musuh jumlahnya banyak, Kian Hiong tak perlihatkan kelemahan, katanya .
"Sungguh aku tak berani menerima kehormatan itu. Silakan loya memberi pengajaran tentang apa saja, tangan kosong maupun berscnyata."
Mendadak Ciauw Cong tertawa keras, kemudian katanya.
"Kita orang adalah sahabat baik. Dengan senyata maupun tangan kosong, bukanlah akan merusak perhubungan. Biar kita pakai cara begini. lebih dulu aku yang mengangkat meja batu itu, baru nanti Bun-ya juga mencobanya. Ka lau aku sampai tak dapat mengangkatnya, harap Bun-ya tidak buat tertawaan."
Kian Hiong terkejut bukan kepalang.
Tapi dia tak berdaya untuk mencegahnya.
Bahkan dari rombongan tetamu itu sendiri, yaitu Swi Tay Lim, Seng Hing dan lain-lain.
sama merasa heran mengapa Thio taijin itu akan mengadu kekuatan dengan anak muda itu.
Malah pada saat itu, Ciauw Cong sudah menyingkap lengan bajunya terus memegang meja batu yang berkaki bundar itu.
Dengan kerahkan tenaganya, sekali angkat, maka meja yang seberat 400 kati itu segera beralih keatas sebelah tangan dari pembesar kuku garuda itu.
"Thio taijin sungguh mempunyai kekuatan yang luar biasa!"
Demikian pujian berkumandang diantara rombongan kuku garuda.
Belum lagi sorak pujian itu lenyap kumandangnya, mereka segera bertereak kaget.
Meja batu terangkat, maka dibawahnya itu kelihatan sebuah papan besi.
Dalam pada itu Bun Thay Lay bertiga yang berada dalam lobang dibawah tanah itu.
Bermula didengarnya suara berisik dari sejumlah orang yang mondar mandir diatasnya.
Apa yang diucapkan oleh orang itu tak dapat didengar jelas olehnya.
Justeru dia gelisah, tiba-terdengar sebuah benda jatuh yang mengeluarkan suara hebat, dan menyusul dengan itu, sinar terang masuk kedalam gowa tersebut.
Nyata papan besi penutup lobang guwa itu telah diangkat orang.
Diantara hiruk pikuk suara orang yang menyatakan keka getannya itu, terdengar seorang telah membentak dengan suara berat.
"Sahabat baik, keluarlah !"
Ternyata Ciauw Cong tak berani gegabah masuk kedalam lobang.
Karena menaati titan kaisarnya untuk menangkap hidup orang buronan itu, sudah barang tentu tak boleh gu nakan senyata rahasia.
Dia hanya menyaga dimulut gowa, sembari siapkan senyatanya dan berseru memerintahkau keluar, Saat itu berkatalah Bun Thay Lay pada isterinya .
"Kita telah dijual oleh orang Thiat-tan-Chung. Maukah kau luluskan permintaanku ?"
"Koko, kau katakanlah,"
Sahut Lou Ping cemas.
"Nanti apa saja yang kuminta, kau lakukanlah,"
Kata Thay Lay. Dengan berlinang-linang air mata, Lou Ping memanggut.
"Aku, Pan-lui-chiu Bun Thay Lay berada disini, kau orang ributi apa?"
Ben tak Thay Lay segera. Mendengar suara gagah dari orang tangkapannya, itu, kawanan kuku garuda terdiam sejenak.
"Pahaku terluka, Ayo kau beri tali supaja kau dapat tarik aku keluar!"
Seru Bun Thay Lay pada orang-orang diatas.
Ciauw Cong akan perintahkan Kian Hiong mengambil tambang, tapi ternyata anak muda itu sudah tak tampak disitu.
Maka Buru-buru dia suruh cengteng yang mengambilkan nya.
Oleh Seng Hing sebelah ujung tambang itu dilontarkan kedalam guwa, untuk menarik Bun Thay Lay.
Tapi begitu Bun Thay Lay kakinya menginyak tanah diluar guwa, dia segera sentak tambang itu sekeras-kerasnya, hingga terlepas dari tangan Seng Hing.
Menyusul dengan bentakan menggeledek, tambang itu dikibaskan kedepan.
Aneh, tambang yang lemas itu, seketika berobah kaku, menyului kemuka.
Itulah gerak "lepas membalik jubah,"
Salah suatu gerakan yang lihay dari ilmu jwan pian.
Orang nya berputar kekanan, tapi tambang dari arah kiri menyapu kekanan.
Menderu-deru angin samberannya, hebatnya bukan main.
Pian atau jwan-pian, adalah senyata yang paling sukar dijakinkan.
Untuk belajar ilmu golok hanya diperlukan waktu setahun, tapi untuk ilmu pian orang harus.
belajar sampai enam tahun.
Tapi ditangan Pan-lui-chiu Bun Thay Lay, tambang itu seakan-akan merupakan pian yang berbahaja, me layang kearah orang banyak.
Karena tak menduga saraa sekali kawanan kuku garuda itu tak keburu menangkis, dan hanya Buru-buru merundukkan kepalanya untuk mengelit samberan tambang itu.
Si cumi-cumi Tong Siu Ho adalah orang yang pernah merasakan tangan Bun Thay Lay.
Dia sudah kapok betul-betul.
Maka begitu melihat Bun Thay Lay terangkat naik keatas, dia tersipu-sipumenyelinap kebelakang rombongannya, agar jangan terlihat oleh si Tangan Geledek itu.
Pikirnya dia tentu akan aman.
Tapi ternyata justeru sebaliknya.
Makin berada di belakang, makin celaka.
Kawan-kawannya yang berada dimuka begitu melihat tambang menyambar, terus menunyukkan kepala untuk menghindari.
Sebaliknya, bagi orang she Tong itu, tahu-tahu tambang sudah berada dimukanya.
Untuk me nyingkir terang sudah tak keburu, maka karena gugupnya, dia Buru-buru membalikkan badan untuk lari.
Namun sudah terlambat.
Tambang itu tepat menghantam punggungnya, dan seketika itu juga robohlah dia.
Jago bayang kari Swi Tay Lim dan ketua cabang Can-khe-kun yaitu Gan Pek Kian, yang satu memegang golok dan yang lain menggenggam sepasang gelangan besi, maju menyerbu Bun Thay Lay.
Nampak suasana sudah genting, Ie Hi Tong segera seru kan Lou Ping untuk loncat keatas.
Bagaikan seekor meliwis, dia apungkan badannya keatas titian, terus menyerang pada congpeng Seng Hing.
Yang belakangan ini gunakan permai nan tongkat dari Siao Lim Pai.
Tapi berhadapan dengan kim-tiok (seruling mas) yang lebih pendek, tongkat congpeng itu tak berdaya.
Lou Ping setindak demi setindak, naik titian yang menuju keatas tanah.
Tetapi mulut gowa terjaga oleh seorang yang bertubuh tinggi besar, Lou Ping segera lepaskan sebuah huito.
Orang itu tampak diam saja.
Baru ketika huito ham pir tiba dimukanya, dia ulurkan tiga jari tangannya untuk menyumpit tangkai huito.
Tepat sekali sumpitannya itu, karena ujung huito hanya terpisah beberapa dim saja dimuka hidungnya.
Menampak bag-aimana orang menyambuti huitonya, Lou Ping terkesiap.
Dengan memutar sepasang goloknya ia meno bros keluar untuk menghampiri suaminya.
Tapi siorang tadi, begitu nampak pelepas huito itu ternyata ada seorang wanita yang cantik, dia terus maju menghadangnya.
Orang itu bukan lain ialah jago Bu Tong Pai yang kosen jakni, Thio Ciauw Cong.
Ciauw Cong beradat tinggi.
Dia tak mau gunakan pedang untuk berkelahi dengan seorang wanita.
Ia hanya pakai huito Lou Ping tadi untuk menyerangnya tiga kali berturut-turut.
Benar permainan kaki Lou Ping tidak begitu lincah, tetapi permainan sepasang goloknya adalah warisan dari keluarga nya yang telah dijakinkan dengan sempurna.
Dalam jurus kelima, pundak Ciauw Cong kelihatan dijulurkan kemuka untuk menyerang lengan lawannya.
Dari situ terus disapukan kekiri untuk menahan sepasang golok Lou Ping, lalu dengan sekuat-kuat didorongnya.
"Dalam kedudukan tubuhnya miring", apalagi didorong oleh kekuatan yang mana dasyat dari Ciauw Cong, seketika itu terlemparlah Lou Ping, jatuh kembali kedalam gowa. Dilain fihak, menghadapi ke 2 lawan yang tangguh itu, luka Bun Thay Lay kambuh lagi. Rasa sakit menyerang dengan hebat, sehingga semangatnya serasa terbang. Bagai banteng ketaton ia menyerang kesana-sini dengan kalapnya. Sedang Hi Tong dengan permainannya kim-tiok, segera berada diatas angin. Melihat jurus-jurus permainan kim-tiok itu mengandung ilmu pedang jwan-hun-kiam, dan jurus-jurus tutuk annya mirip dengan kaumnya, Ciauw Cong merasa heran. Ketika akan ditanyainya, tiba-tiba dengan gerak "pek-hun-jong-kauw"
Hi Tong desak mundur Seng Hing terus loncat ke-dalam gowa.
Kiranya waktu bertempur dengan Seng Hing tadi, Hi Tong tujukan perhatiannya pada Lou Ping.
Dia kaget ketika nampak Lou Ping jatuh kembali kegowa, sehingga dia Buru-buru loncat menolongnya.
Tapi ternyata Lou Ping sudah tegak berdiri tak kurang suatu apa.
"Bagaimana, apa terluka?"
Tanya Hi Tong kuatir.
"Tidak apa-apa, kau lekas keluar lagi membantu suko,"
Sahut Lou Ping.
"Mari kupimpin kau keatas,"
Kata Hi Tong.
Pada saat itu Seng Hing sudah menyaga di mulut gowa.
Dengan membolang balingkan tongkat, dia cegah mereka supaja tak bisa keluar.
Melihat isterinya tak bisa keluar, sedang tenaganya.
rasanya sudah tak tahan lagi, Bun Thay Lay buang dirinya kebelakang Seng Hing dan secepat-cepat kilat ia ulurkan jarinya menotok pinggang siwi (pahlawan, istana) tersebut.
Begitu tubuh Seng Hing lemas ngusruk, Bun Thay Lay barengi menubruk dan mendekap tubuh itu sambil berseru.
"Ayo turunlah !"
Dua-2nya, Bun Thay Lay dan Seng Hing sama-sama jatuh kedalam gowa. Seng Hing ternyata tertutuk jalan darahnya "kian-ceng-hiat,"
Sehingga numprah seluruh kekuatannya.
Kini dia terlempar kedalam gowa, apalagi ditindihi Bun Thay Lay, sudah tentu ke 2nya tak dapat bangun.
Buru-buru Lou Ping mengangkat suaminya bangun.
Wayah Bun Thay Lay pucat seperti tak berdarah, keringat mem basahi seluruh kepalanya.
Tapi begitu nampak wayah isteri nya, Bun Thay Lay paksakan untuk bersenyum.
Namun berbareng dengan suara batuknya, segumpal darah segar muntah dari mulutnya, tepat menyembur kujup dada baju Lou Ping.
Hi Tong mengarti maksud Bun Thay Lay, maka dia berkaok keras-keraskesebelah atas .
"Kasih kita jalan keatas !"
Ciauw Cong melihat ilmu silat Hi Tong terang adalah dari kaumnya, sedang dengan mata kepala sendiri dia saksi-kan bagaimana dengan menderita luka berat, Bun Thay Lay masih dapat melajani 2 lawan yang tangguh, diam-diam timbul rasa sayangnya.
Sehingga setelah mendorong jatuh Lou Ping, dia tak mau turun tangan lagi.
Tapi rasa sayang nya itu dibujarkan dengan rasa kaget yang besar, ketika melihat Seng Hing turut terjerumus kedalam gowa.
Ketika dia akan terjun kebawah, tiba-tiba terdengar seruan Hi Tong tadi.
Apa boleh buat, dia perintahkan orang-orang nya berhenti, untuk mem beri jalan pada orang-orang tangkapannya.
Pertama-tama yang keluar dari gowa, ialah Seng Hing itu pahlawan istana yang istimewa dikirim untuk menangkap Bun Thay lay.
Ujung leher bajunya dicengkeram oleh Lou Pin, dengan sebelah tangannya memegang sebatang golok yang ditujukan pada punggung.
Baru kemudian Hi Tong yang memayang Bun Thay Lay.
"Siapa berani bergerak, dia akan menyadi majat!"
Seru Lou Ping sembari mendorong Seng Hing keluar.
Diantara pagar senyata yang lebat, keempat orang itu berjalan kearah pintu belakang.
Melihat ada tiga ekor kuda tertambat pada puhun liu disebelah sana, giranglah hati Lou Ping.
Diam-diam ia berSyukur pada langit dan bumi.
Memang tiga ekor kuda itu adalah kepunyaan Go Kok Tong tadi.
Melihat buronan penting akan dapat meloloskan diri Ciauw Cong segera ambil putusan.
Kematian Seng Hing tak men jadi soal baginya, yang terutama Bun Thay Lay harus dapat ditangkap dan dibafwa ke Pakkhia.
Tentu dia mendapat pahala besar.
Diam-diam dia pungut tambang yang dilemparkan ketanah oleh Bun Thay Lay tadi.
Dengan gunakan nuikang, dilontarkan nya gulungan tambang itu kemuka, dan tepat menyirat badan Bun Thay Lay.
Sekali sentak, tertariklah Bun Thay Lay terlepas dari tangan Hi Tong.
Mendengar suaminya menggeram, Lou Ping sampai lupa untuk menghabiskan jiwa Seng Hing.
Cepat-cepat dia balik untuk menolong Bun Thay Lay.
Tapi betisnya tadi mendapat luka yang tak enteng.
Baru berjalan 2 tindak, robohlah dia.
"Lekas lari, lekas lari!"
Bun Thay Lay menereaki isterinya.
"Koko, aku akan mati didampingmu saja!"
Sahut Lou Ping. Mendengar isterinya membandel, marahlah Bun Thay Lay.
"Bukanlah tadi kau sudah berjanyi akan menurut perintahku?"
Belum sempat dia mengachiri kata-katanya, Swi Tay Lim dan orang-orang nya sudah maju meringkusnya.
Hi Tong cepat-cepat loncat memburu, dia pondong Lou Ping terus menobros keluar pintu.
Seorang hamba negeri yang coba menghadangnya, telah ditendang roboh oleh Ie Hi Tong.
Nampak suaminya tertangkap, luluhlah semangat Lou Ping, matanya berkunang-kunang dan seketika tak bisa menguasai diri.
Hi Tong cepat-cepat mengangkatnya dibawa lari ke arah puhun Liu.
Syukur Lou Ping sudah tersedar, maka begitu dinaikkan keatas pelana seekor kuda.
Hi Tong menyuruhnya lepaskan huito.
Gan Pek Kian dan 2 orang kepala polisi juga sudah memburu sampai keluar pintu taman, justeru pada saat Lou Ping melepas tiga batang huito.
Sekali terdengar jeritan seram, seorang kepala polisi tadi terjungkal roboh.
Untuk sejenak, Gan Pek Kian kesima.
Menggunakan kesempatan ini, Hi Tong dengan sebatnya melolos lis kuda yang di katkan pada puhun.
Setelah dia sen diri sudah naik, lalu ketiga ekor kuda itu dilarikan keluar.
Lebih dulu yang seekor dia taruh dimuka pintu taman, dengan kepalanya dihadapkan kearah taman.
Sekali dia pukul bebokong kuda itu dengan kim-tioknya, kuda itu membinal lari masuk kedalam lagi.
Maka ketika Pek Kian hendak mengejar, dia harus terpaksa menyingkir dulu dari ter jangan kuda itu.
Pada lain saat dia sudah dapat memburu keluar, Hi Tong dan Lou Ping sudah lari jauh-jauh.
Setelah kira-kira enam tujuh li dan dibelakang tak ada yang mengejarnya, barulah Hi Tong dan Lou Ping mengendorkan lari kudanya.
Kira-kira tiga empat li lagi, tiba-tiba tampak tiga empat penunggang kuda mendatangi dari arah muka.
Yang dimuka sendiri adalah seorang tua berjenggot putih, yang bukan lain adalah Thiat-tang Ciu Tiong Ing sendiri.
Begitu nampak Hi Tong ber 2, Tiong Ing segera berseru .
"Liatwi hohan, harap berhenti dulu, aku sudah mengun dang seorang sinshe."
Sebagai jawaban, Lou Ping menyabitkan sebatang huito.
Sudah barang tentu tak terkira kaget Tiong Ing., Karena tak menyangka, dia sudah tak keburu menangkisnya.
Syukur dia masih dapat menengkurupkan badannya keatas pelana, hingga huito itu hanya lewat diatas punggungnya saja.
An Kian Kong, murid ke 2 Tiong Ing yang berada dibelakang, Buru-buru angkat goloknya untuk menangkis.
"Trang", huito itu melayang kesamping, tepat menancap kesebuah puhun liu. Baru saja Tiong Ing akan bertanya, tiba-tiba ia telah dida hului Lou Ping lagi dengan dampratannya .
"Kau ini memang penyahat tua yang berhati serigala! Kau telah membikin celaka suamiku, sekarang aku hendak mengadu jiwa denganmu". Dengan memaki dan menangis, Lou Ping ajukan kudanya untuk menyerang. Selagi Tiong Ing terlongong-longong tak habis mengerti, adalah muridnya An Kian Kong yang men jadi marah lalu putar goloknya untuk menyambut. Tapi burua dipegang lengannya oleh sang suhu, yang melarangnya tak boleh gegabah dulu. Juga difihak Sana, Hi Tong mencegah perbuatan Lou Ping itu, katanya .
"Yang perlu ialah mencari jalan untuk menolong suko. Baru setelah itu kita bakar Thiat-tan-chung nanti". Rupanya Lou Ping kena diomongi, dan memutar balik ku danya. Sebelum pergi, ia sengaja meludah keras-keras, untuk unyuk kemarahannya. Selama mengangkat nama dikalangan Sungai Telaga, Tiong Ing selalu mengutamakan budi dan kebajikan. Dia selalu mengalah dan suka bergaul. Maka orang-orang dari golong an hek-to dan pek-to memuji semua pada Tiong Ing. Kini mimpipun tidak, kalau dia sampai dimaki habis-habisan dan di sabit hoeito oleh seorang wanita. Tapi dia dapat berpikir panyang, tentu ada sebab-sebabnya wanita itu sampai berbuat begitu. Dari congteng yang memanggil sinshe kekota tadi, dia mendapat keterangan bahwa toa-naynay dan Kian Hiong menyambut tetamunya itu dengan baik-baik . Karena tak mendapat jawaban yang memuaskan, Tiong Ing terus keprak kudanya menuju ke Thiat-tan-chung. Begitu tiba dirumah, seorang conteng cepat-cepat memberi hormat dan menyambut. Nampak sikap dari orang-orang dirumah beda dari biasanya, Tiong Ing segera menduga, tentu dirumah ada terjadi hal 2 yang luar biasa.
"Lekas panggl Kian Hiong kemari,"
Perintah. Tiong Ing pada seorang cengteng.
"Beng-ya sedang melindungi toa-naynay dan siaoya (tuan muda) yang bersembunyi disebuah gunung dibelakang,"
Ja wab cengteng itu.
Mendengar itu, keheranan Tiong Ing makin merangsang Syukur ada beberapa cengteng yang menuturkan tentang tertangkapnya Bun Thay Lay.
Mendengar itu terkejutlah Tiong Ing, tanyanya .
"Siapa yang telah membocorkan tempat persembunyian itu pada orang-orang negeri?"
Centeng-centeng itu terdiam sejenak, tak ada yang berani me nyahut, meluaplah kemarahan Tiong Ing, cambuk diangkat dihajarkan kemuka mereka.
Melihat suhunya sedang marah-marah An Kian Kongpun tak berani mencegah.
Setelah beberapa cambukan, Tiong Ing lalu jatuhkan diri dikursi.
Ke 2 gembolan thiat-tan, sampai berkerontangan, sedang centeng-centeng itu diam membisu saja.
"Kau orang berada disini perlu apa? Lekas panggil Kian Hiong!"
Teriak Tiong Ing gusar. Berbareng ucapan itu, Kian Hiong tampak sudah muncul disitu, dan memberi hormat pada suhunya.
"Siapa yang membocorkan rahasia itu, bilanglah."
Demikian pertanyaan yang pertama-tama diajukan Tiong Ing dengan penuh kegusaran hingga tak dapat melampiaskan kata-katanya.
Menampak itu, Kian Hiong tak berani mengaku terus terang.
Setelah berpikir sebentar, berkatalah dia .
"Kawanan kuku garuda itu sendiri yang ' mengetahuinya."
"Ngaco! Gowa ditanah itu sangat terahasia sekali tem patnya, bagaimana mereka dapat mengetahuinya? Kian Hiong tak dapat menyawab. Adalah pada saat itu, mendengar suaminya marah-marah, Ciu-naynay dengan memimpin puteranya datang akan menasehatnya. Ketika Tiong Ing melihat puteranya membawa sebuah teropong, timbul ah ke curigaannya, terus dipanggilnya anak itu. Dengan takut-takut Ing Kiat menghampiri ayahnya.
"Barang itu kau dapat dari mana?"
Ing Kiat tak berani menyahut.
"Ayo, lekas bilang!"
Seru Tiong Ing seraja mengangkat cambuknya. Saking takutnya, Ing Kiat mau menangis tapi tak berani. Dia hanya memandang sang ibu, siapa segera maju menghampiri sambil berkata .
"Harap loyacu jangan marah-marah dulu. Puterimu yang mem bikin mendongkol hatimu, mengapa kau hardik anak kecil yang tidak bersalah apa-apa ini?"
Tiong Ing tak ambil mumet kata-kata isterinya itu, dia cam bukkan pecutnya itu keatas, dan berseru keras-keras.
"Kalau kau tak menyahut, tentu kubunuh kau, anak durhaka !"
"Loyacu, kau makin lama makin tak keruan omonganmu. Dia kan anak kandungmu sendiri, mengapa kau maki-maki anak durhaka?"
Ciu naynay mulai sengit.
Kian Hiong dan semua orang sama geli mendengarnya, tetapi mereka tak berani tertawa.
Tiong Ing mendorong isterinya, disuruh menyingkir, lalu mengulangi pertanyaannya lagi kepada Ing Kiat.
"Anak, kau bilanglah. Kalau kau ambil kepunyaan orang, kembalikanlah, besok kubelikan sendiri,"
Demikian Ciu nay-nay turut menanyainya.
"Bukan aku mencuri milik orang,"
Sahut Ing Kiat.
"Jadi diberi orang, ah itu lebih 2 tak mengapa. Ayo kau bilang pada ayahmu, siapa yang memberinya?"
Kata sang ibu.
"Rombongan koanyin (pembesar negeri) tadi yang mem beri,"
Sahut Ing Kiat dengan suara pelan.
Tiong Ing tahu bahwa teropong adalah benda berharga buatan luar negeri.
Kawanan pembesar negeri datang keru mah penduduk, kalau tak merampas binatang ternak atau lain-lain barang, sudah mendingan.
Kalau sampai mereka meng hadiahkan benda yang berharga itu, tentu ada maksudnya.
Ditilik dari sikap sekalian cengteng dan Kian Hiong tadi, tahulah Tiong Ing sekarang, siapa yang membocorkan ra hasia gowa persembunyian dibawah tanah itu.
Seketika kepalanya seperti digujur air dingin, sehingga bulu romanya berdiri.
Lalu katanya dengan suara tak lampias .
"Mari kau berikan itu padaku."
Setelah teropong itu disambutinya, dengan tanpa melihat lagi, Tiong Ing lemparkan teropong itu sekuat-kuatpada tembok, sehingga seketika itu juga, teropong hancur ber keping-keping.
"Mari ikut aku,"
Katanya sembari menyeret tangan anaknya, terus dibawa ketempat ruangan peranti belajar silat.
Ciu naynay mengikuti dari belakang.
Diam-diam ia heran, mengapa kali ini suaminya marah-marah sedemikian besarnya.
Setelah terdiam sejurus, bertanyalah Tiong Ing .
"Tetamu kita yang bersembunyi didalam lubang dibawah tanah, bukankah kau yang memberitahukannya ?"
Dihadapan ayahnya, selamanya Ing Kiat tak berani ber bohong. Saat itu diapun menganggukkan kepalanya. Mendengar itu, Tiong Ing berpaling kearah isterinya sambil berkata .
"Kau sulut lilin dimeja tempat arwah leluhur kita dan meja couwsu kita."
Dengan tak mengerti maksudnya, Ciu naynay mengerja kan perintah suaminya.
Ciu Tiong Ing adalah murid Siao Lim Pai, couwsu yang dipujanya ialah Tat Mo couwsu.
Didepan meja couwsu, Tiong Ing menyulut hio dan bersem bahyang .
Juga puteranya disuruhnya bersembahyang .
Dibawah sinar lilin, tampaklah olehnya akan wayah sang putera yang berseri-seri bagaikan rembulan itu, cakap dan menimbul kan rasa kasih.
Diam-diam hatinya terasa seperti di ris-iris sembilu.
"Apakah kau masih berhutang uang pada orang, atau meminyam barang orang yang belum kau kembalikan?"
Tanyanya pada sang putera.
"Tidak."
"Adakah kau membuat sesuatu janyi pada orang?"
"Aku telah menyanyikan pada adik kecil dari keluarga Beng, untuk memberi telur burung Tadi dibelakang gunung kutelah mendapatkan beberapa biji, masih belum kuberikan padanya."
Sembari berkata itu, Ing Kiat merogoh keluar sebuah bungkusan diberikan pada ayahnya. Oleh Tiong Ing barang itu diletakkan diatas meja.
"Nanti biarlah aku sendiri yang menyerahkannya, harap kau jangan kuatir."
Kata-kata Tiong Ing pada, saat itu, sangat lemah lembut. Ma-lah dielus-elusnya kepala puteranya itu dengan penuh kasih sayang, katanya .
"Kau Pai (memberi hormat dengan angkat ke 2 tangan) pada ibumu, untuk menghaturkan terima kasih bahwa ia telah mengandungmu selama sepuluh bulan dan merawatmu sampai sepuluh tahun."
Ing Kiat mengerjakan apa yang diperintah ayahnya.
Kini Ciu naynay baru insjaf apa yang akan diperbuat oleh suami nya itu.
Seketika ia menangis menggerung-gerung.
Puteranya segera didekap, biar bagaimana takkan dilepaskannya.
Tiong Ing senderkan diri dikursi.
Nampak isterinya me meluk sang putera dengan menangis tersedu-sedu itu, hatinya seperti dibetot.
Setelah beberapa waktu, Tiong Ing segera bangkit menghampiri.
Melihat itu Ciu naynay makin me meluk kencang-kencang, serunya .
"Kau bunuhlah kita, ibu dan anak ber 2 saja. Tanpa dia, akupun tak mau hidup lagi."
Setelah meremkan mata sejenak, berkatalah Tiong Ing dengan suara sember.
"Kau lepaskanlah dia."
Tapi Ciu naynay halangkan badannya kedepan pula.
"Masih sedemikian kecilnya dia sudah temaha keuntungan, lupakan kebajikan. Apakah besok tidak bakal menyadi orang yang melanggar pantangan Tuhan? Anak yang sema cam itu, makin berkurang makin baik bagi kita,"
Kata Tiong Ing dengan keren. Sembari. mengucap begitu, dia tarik Ing Kiat, lalu diang katnya naik. Ciu naynay bergulung-gulung terus berkui didepan suaminya, clan meratap .
"Loyacu, kau ampuni dialah. Biarlah dia pergi dari Thiat-tan-chung sini, untuk selama-lamanya."
Tanpa menyahut apa-apa, Tiong Ing diam-diam kerahkan semangatnya, lalu menamparkan tangannya kearah jalan darah "thian-ling-kay"
Pada batok kepala puteranya. Berbareng dengan suara "plak,"
Ke 2 biji mata anak itu melotot keluar, dan putuslah jiwanya seketika itu.
Melihat putera kandung yang dikasihinya telah meninggal, Ciu naynay bagaikan seekor macan betina yang kehilangan anak, terus menyerang suaminya.
Tiong Ing mundur selang kah.
Ciu naynay lari ketempat rak senyata, menyembat sebatang golok, lalu dihajarkan kekepala suaminya.
Saat itu hati Tiong Ing penuh dengan rasa sesal dan duka.
Dia tak mau berkelit atau menyingkir.
Dengan meramkan mata, berserulah ia.
"Ya, biarlah. Kita semua mati, ada lebih baik."
Melihat kelakuan suaminya itu, tangan Ciu naynay ber balik lemas.
Golok dilempar, terus lari keluar sambil tekap mukanya.
Sekarang kita tengok keadaan Lou Ping dan Ie Hi Tong yang telah meninggalkan Thiat-tan-chung itu.
Karena kuatir kesamplokan dengan kuku garuda, mereka ambil jalan di jalan kecil yang sepi.
Kira-kira berjalan sampai sepuluh li, haripun sudah gelap.
Daerah didekat perbatasan situ, memang sunyi senyap.
Jangankan rumah penginapan, sedangkan rumah petanipun tak nampak barang sebuah.
Syukur ke 2nya adalah orang-orang kangouw, yang sudah biasa dengan keadaan begitu.
Tidak ada rumah, sebuah batu karang yang besarpun, boleh untuk tempat istirahat.
Disekitar tempat itu, tumbuh beberapa gundukan rumput.
Hi Tong lepaskan kudanya untuk makan rumput, lalu memakai golok Lou Ping untuk memotong beberapa genggam rumput, yang ditumpuknya selaku kasur diatas tanah.
Katanya .
"Kini tempat tidur sudah ada, sayang masih kurang ran sumnya, dan tiada air pula. Maka untuk malam ini terpaksa kita harus tidur dengan perut kosong". Pikiran dan hati Lou Ping selalu pada suaminya. Sekalipun dihidangkan daharan yang lezat-lezat, juga tak dapat ditelannya. Ia terus menerus menepas air mata. Sedapat mungkin Hi Tong menghiburnya dengan mengatakan, bahwa Liok susiok nya tentu sudah sampai ke Ansee, dan bahw.asanya bala ban tuan Hong Hwa Hwee akan segera tiba untuk merampas kembali Bun Thay Lay. Lama kelamaan terhibur jugalah hati Lou Ping dan ter tidurlah ia. Malam itu ia bermimpi berjumpa dengan sua minya, yang segera memeluk dan menciumnya dengan kasih mesra. Dengan penuh kegirangan, Lou Ping biarkan suaminya memelukinya dan tanyanya .
"Betapa kuselalu pikirkan dirimu, koko. Bagaimana de ngan lukamu?"
Bun Thay Lay makin memeluknya kencang-kencang dan menciumnya dengan bernapsu.
Selagi semangat Lou Ping me layang 2, tiba-tiba ia terkejut dan bangun.
Dibawah sinar kelap kelip dari bintang-bintang, yang memeluk badannya ternyata bukan suaminya tetapi Ie Hi Tong.
Bukan main kagetnya Lou Ping, ia meronta se-kuatnya, namun Hi Tong tetap memeluknya kencang-kencang dan katanya .
"0, betapa aku telah merindukan dikau !"
Karena malu dan gusar, Lou Ping segera menamparnya.
Seketika itu Hi Tong termangu-mangu.
Kembali Lou Ping men jotos dadanya, serta berontak melepaskan diri dari pelukan nya.
Dengan gerak "lan-lu-bak-kun"
Keledai malas mengge lundungkan diri, ia bergelundungan kesamping terus akan melolos sepasang goloknya dari pinggang.
Tapi ternyata golok itu telah diambil Hi Tong dan diletakkan disamping.
Kembali ia kaget, dan terus merogoh kantong huitonya, yang untungnya masih ada 2 batang.
Dengan menggeng gam ujung huito, ia berseru dengan kerennya.
"Apakah maksudmu sebenarnya?"
"Suso, kau dengarlah perkataanku,"
Sahut Hi Tong.
"Siapa yang kau sebut suso itu? Pantangan dalam Hong Hwa Hwe itu bagaimana, coba kau bilang!"
Bentak Lou Ping.
Hi Tong tundukkan kepala, tak berani menyahut.
Lou Ping walaupun biasanya selalu tertawa riang, namun dia selalu pegang aturan dengan keras.
Mana ia mau sudah diperlaku kan begitu macam, maka dengan suara bengis ia mendesak pula.
"Locu dari Hong Hwa Hwe orang she apa?"
"Hong Hwa Hwe locu sebenarnya orang she Cu,"
Sahut Hi Tong.
"Apakah yang dijunyung oleh para saudara-saudara?"
Tanya pula Lou Ping.
"Pertama, menyunyung azas Tho Wan Kiat Gi (sumpah persaudaraan ditaman) dari Lauw Pi, Kwan Kong dan Thio Hwi. Ke 2, memuja pada Ngo-kong-say-siang Ciong-ji-long (sumpah setia kawan). Ketiga, menghormat pada sepuluhdelapan orang gagah dari Liang-san,"
Sahut Hi Tong.
Kiranya tanya jawab tersebut adalah merupakan anggar 2 yang penting dari Hong Hwa Hwe.
Setiap ada anggauta baru masuk, mengadakan pengangkatan sumpah atau menyatuh kan hukuman partai, maka datanglah orang pimpinan atas untuk melakukan tanya jawab secara serieus.
Orahg-orang sebawahan yang tersangkut, harus menyawabnya.
Dalam HONG HWA HWE Lou Ping menempati kedudukan yang lebih atas dari Hi Tong.
Ia bertanya, sekalipun bagaimana rasa hati Hi Tong, tapi dia tak boleh tidak harus memberi ja waban.
Kembali Lou Ping bertanya .
"Apakah keempat macam golongan orang yang akan di basmi oleh HONG HWA HWE?"
"Kesatu. kawanan budak pem. Boanciu. Ke 2. pembesar rakus pemeras rakjat. Ketiga. segala okpa dan wangwe penindas. Keempat. Orang yang temaha kekajaan dan melu pakan kebajikan."
Lou Ping kerutkan jidatnya sejenak, lalu serunya kembali .
"Apakah larangan (pantangan) besar dari HONG HWA HWE ?"
"Siapa yang menakluk pada Cengtiau, siapa yang meng hina pada pimpinan atas, siapa yang menghianati kawan, siapa yang kemaruk harta gemar paras cantik akan. menerima hukuman mati."
"Kalau kau insjaf, lekas-lekas jalankan "sam-to-liok-tong,"
Akan kuantarkan kau kepada saothocu. Kalau tidak insjaf, kau melarikan diri saja, agar jangan sampai tertangkap oleh Cap-ji-long Kwi Kian Chiu,"
Kata Lou Ping kembali.
Menurut peraturan HONG HWA HWE, barang siapa yang berbuat kesalahan besar, dan telah menginsjafinya, dimuka sidang dewan pimpinan boleh menyalankan hukuman.
tusuk paha tiga kali.
Tusukart itu harus menembus kedaging.
Inilah yang dinamakan sam-to-liok-tong, tiga golok enam lubang.
Habis itu harus menghaturkan maaf pada tho-cu daerah dan hiang-cu yang menyalankan hukuman itu.
Apabila dosanya me mang besar sekali, pun sukar untuk mendapat keampunan.
Kwi Kian Chiu sebenarnya orang she Ciok nama Siang Ing.
Dalam HONG HWA HWE dia menduduki tempat ke 2belas.
Tugasnya chusus untuk memimpin sidang pemeriksaan hukuman.
Hati nya dingin tak kenal kasihan, tangannya kejam.
Seorang yang berdosa, takkan lolos dari tangannya, sekalipun dia hendak lari keudiung langit.
Karenania berouluh ribu ang gauta HONG HWA HWE (Hong Hwa Hwe) bila mendengar nama Kwi Kian Chiu atau setanpun takut melihatnya, tentu merasa seram.
Boleh dikata anggauta HONG HWA HWE semua adalah orang-orang gagah dari kalangan Sungai Telaga.
Kalau mereka tidak mengada kan aturan-aturan partai yang keras, tentu tak dapat menguasai sekean banyak anggautanya.
Tatkala itu berkatalah Hi Tong dengan serta merta .
"Kau bunuh sajalah aku! Aku akan puas mati ditanganmu."
Mendengar itu, makin meluaplah kemarahan Lou Ping. Ia anggap Hi Tong tetap ngelantur.
"Kau tak meng'etahui bag'aimana dalam lima enam tahun ini, aku selalu menderita karena kau. Pada waktu aku mengangkat sumpah dipeseban Cong-hiang-tong, begitu pertama kali kumelihat kau, hatiku sudah bukan menyadi milikku lagi,"
Kata Hi Tong, lebih jauh.
"Itu waktu masa kau tak tahu bahwa aku sudah menyadi kepunyaan Bun suko?"
Tanya Lou Ping.
"Memang benar. Namun aku tak dapat menguasai diriku lagi. Karena itulah maka aku selalu jauhkan diri. Ada apa saja, tentu aku minta cong-tho-cu untuk menyuruh aku saja yang mengerjakan. Lain-lain saudara anggap betuis aku menyual jiwa untuk perkumpulan, karenanya aku mendapat banyak penghargaan. Tapi hal yang sebenarnya, aku hanya berusaha menyauhkan diri darimu. Namun dimana saja kuberada, pikiranku selalu ada padamu."
Habis berkata itu, Hi Tong menyingkap lengan bajunya yang kiri, sembari maju selangkah, dia berkata pula .
"Aku benci diriku, mengutuknya pula mengapa hatiku seperti binatang. Pada saat aku marah itu, segera kupaksa badis untuk menusuk lenganku ini. Kau lihatlah."
Diantara sinar remang-remang dari bintang-bintang, tampak lengan Hi Tong itu penuh dengan bekas luka tusukan.
Demi menampak itu, lemaslah hati Lou Ping.
Melihat bagaimana bibir Lou Ping ber-gerak-gerak, seperti sukar untuk mengucap, tahulah Hi Tong bahwa wanita pujaannya itu tergerak hatinya.
Dia ulurkan tangan untuk menarik tangan Lou Ping, tapi yang tersebut belakangan ini cepat-cepat mundur selangkah, dan tundukkan kepala tak berkata apa-apa.
"Seringkali aku sesalkan Tuhan, mengapa tak memper temukan kita pada sebelum kau menikah. Dan mengapa kini menitahkan aku bertemu padamu? Baik usia dan rupa, kita ber 2 sembabat sekali. Kiranya jauh lebih baik kau ikut aku daripada Bun suko,"
Hi Tong meraju. Sebenarnya Lou Ping mengasihani penderitaan anak muda itu, tapi waktu dengar nama suaminya dibawa-bawa, marahlah ia.
"Bun suko? Dalam hal apa kau nempil dengan Bun suko? Dia adalah seorang hohan yang berambekan tinggi, tidak seperti kau begini "
Lou Ping tak mau lanyutkan kata-kata untuk memaki orang.
Dengan perdengarkan suara jemu, dengan berpincangan ia menghampiri kudanya, terus naik keatasnya.
Hi Tong Buru-buru menghampiri untuk bantu menaikkannya, tapi dibentak Lou Ping yang menyuruhnya menyingkir.
"Suso, kau hendak kemana ?'"
Tanya Hi Tong hampa.
"Tak perlu kau tahu. Suko sudah tertangkap, akupun tak mau hidup lagi kembalikan golokku itu,"
Kata Lou Ping. Dengan tundukkan kepala, Hi Tong serahkan golok wan yang-to pada Lou Ping. Melihat sikap Hi Tong yang seperti orang hilang pikiran itu, timbul ah rasa kasihan Lou Ping, lalu katanya .
"Asal selanyutnya kau bekerja sungguh-sungguh untuk perkum puian, soal tadi takkan kuceritakan pada siapapun juga. Akupun akan berusaha sekuat-kuat untuk bantu mencarikan seorang nona yang cantik dan kosen untukmu !"
Habis mengucap, dengan perdengarkan ketawanya, Lou Ping terus keprak kudanya.
Memang sifat suka ketawa dari Lou Ping sukar dirobah, dan inilah yang membikin celaka Hi Tong.
Dia kira, dengan ketawa itu Lou Ping masih memberi kemungkinan harapan.
Lama dia awasi bajangan orang yang dipujanya dengan tegak berdiri.
Pikirannya me-layang-layangjauh tak keruan.
Setelah berjalan sementara jauhnya, bimbanglah hati Lou Ping.
Menuju kebarat untuk menggabungkan diri dengan bala bantuan HONG HWA HWE, atau ketimur untuk menolong suaminya.
Dalam keadaan menderita luka, terang ia tak kan dapat menolong suaminya.
Tapi kalau ia menuju keba rat, sedang suaminya dibawa makin lama makin jauh kearah timur, hatinya tak tega.
Dalam kebimbangannya itu, ia melarikan kudanya tanpa tujuan tertentu.
Kira-kira berjalan dapat delapan li jauhnya, karena percaya Hi Tong bakal tak sampai dapat mengganggu, ia lalu cari tempat meneduh dan tidur disitu.
Sejak kecil mengikut ayahnya Lou Gwan Thong, dan setelah menikah turut suaminya Bun Thay Lay, ke 2nya jago-yang bugenya menggetarkan orang, dan begitu sayang padanya.
Karena itu selama di Rimba Persilatan, Lou Ping hanya selalu mengalami pertempuran dan menang, tak per nah ia menderita kekalahan.
Kali ini betul-betul ia mengalami kegoncangan hati yang hebat.
Suami tertangkap, ia sendiri terluka, tambahan pula dipermainkan Ie Hi Tong.
Memikir sampai disitu, ia menangis tersedu-sedu.
Sampai sekean lama, barulah ia tertidur.
Malam itu badannya panas, dan tak putus-'nya menggigau minta minum.
Keesokan harinya, penyakitnya tambah berat.
Ia paksakan diri untuk bangun, tapi rasanya kepala seperti mau pecah, maka terpaksa berbaring lagi.
Sampai matahari selam, ia merasa haus dan lapar, namun ia tak kuasa untuk naik keatas kudanya.
Kalau mesti mati disini masih tak mengapa, tapi sungguh kecewa sekali, aku tak dapat berjumpa dengan Bun toako lagi.
Demikian ratapnya.
Tiba-tiba matanya terasa berkunang-kunang dan terus jatuh pingsan.
Entah sudah berselang berapa lama, ketika tersedar didengarnya orang berkata .
"Ah, sudah mendusinlah seka-rang !"
Seorang gadis yang matanya lebar, kehitam-hitaman kulitnya, alisnya tebal dan kira-kira berusia 1delapan tahun nampak girang ketika tahu Lou Ping sudah bangun.
Ia suruh seorang buyang nya untuk memberikan bubur pada Lou Ping, siapa pun terus memakannya.
Setelah semangatnya sudah banyak segaran, Lou Ping haturkan terima kasih serta menanyakan nama penolongnya.
"Aku she Ciu, kau mengasohlah lagi. nanti kita omong-omong pula,"
Sahut gadis itu sambil meninggalkan ruangan itu. Ketika Lou Ping bangun lagi ternyata hari sudah malam. Tiba-tiba didengarnya ada seorang wanita berkata .
"Mereka sangat tak pandang mata pada kita, begitu berani menggeledah Thiat-tan chung, biarlah aku yang memberi hajaran dulu". Mendengar itu, terkejutlah Lou Ping. Masa ia berada di Thiat-tan-chung lagi? Saat itu masuklah 2 orang, yang ternyata adalah gadis itu dan seorang buyang . Ketika gadis itu menyingkap kelambu, Lou Ping pura-pura meremkan mata. Gadis itu segera menuju ketembok untuk mengambil golok. Lou Ping kaget, tapi segera ia girang setelah mengetahui wan-yang-tonya terletak diatas meja dekat pembaringannya situ. Kalau gadis itu berani menyerang, ia akan dului dengan sebuah tabasan, dan terus akan merat pergi.
"Siocia kau tak boleh meneryang bahaja lagi, loyacu (majikan tua) kini lagi bersusah hati, jangan kau mem buat ia marah", tiba-tiba buyang itu berkata. Kini tahulah Lou Ping, bahwa siocia itu adalah puterinya. Ciu Tiong Ing. Memang benar dialah puteri Tiong Ing yang bernama Ciu Ki. Tabiatnya seperti sang ayah, gemar belajar bugee, dan suka memberantas hal 2 yang tidak adil. Kalangan bulim (persilatan) daerah barat utara memberinya gelaran sebagai "Kiu Li Kui."
Li Kui adalah salah seorang pahlawan Liangsan yang berangasan adatnya.
Hari itu setelah memukul roboh seseorang, ia tak berani pulang.
Baru besoknya setelah kemarahan ayahnya sudah reda, pulanglah ia.
Ditengah jalan dilihatnya Lou Ping terlantar ditanah, maka terus dibawanya pulang.
Mendengar kata-kata buyang nya itu, Ciu Ki merandek seben tar, tapi ia tak ambil perduli, terus lari keluar, di kuti oleh sang buyang .
Lou Ping karena merasa semangatnya sudah pulih kembali, terus bergegas-gegas turun dari pembaringan dan mengenakan pakaian.
Lebih dulu ia "gasak"
Sebiji bahpao yang berada diatas meja, dan 2 biji lagi ia masukkan kedalam kantong, lalu menyelinap keluar.
Mengetahui tempat itu berbahaja, Lou Ping mengambil Thiat-tan-chung sudah akan menghadapi kemusnaan, mengapa masih mau berlagak,"
Kata Siu Ho dengan tertawa dingin.
Memang sedari Bun Thay Lay tertangkap, hati Beng Kian Hiong selalu kuatirkan Thiat-tan-chung akan terembet.
Kini mendengar ucapan Siu Ho itu, dia Buru-buru memberita hukan pada Tiong Ing.
Dengan menenteng senyata thiat-tan, keluarlah Tiong Ing dengan gusarnya.
"Siapa yang bilang Thiat-tan-chung akan musna, lohu akan minta pengajaran padanya,"
Teriak jago tua. itu segera sesudah berhadapan dengan tamunya. Ban Khing Lan Buru-buru mengeluarkan sehelai surat lalu diletakkan diatas meja, lalu katanya .
"Ciu lounghiong, silahkan baca."
Sembari berkata itu, orang She Ban tersebut.
masih menekan ujung surat itu, seakan-akan dia kuatir Tiong-Ing akan me rampasnya.
Begitu melihatnya, ternyata Tiong Ing mengetahui bahwa surat itu adalah surat Liok Hwi Ching kepadanya yang meminta pertolongan supaja sukte.
memberi perlindung an pada Bun Thay Lay bertiga.
Surat itu didapatinya dari dalam baju Bun Thay Lay, sewaktu dia digeledah.
Swi Tay Lim sebagai orang kangouw kawakan, segera tahu siapa Liok Hwi Ching itu.
Dialah"
Juga seorang pesa kitan negara yang penting.
Kini ternyata mempunyai hubung an dengan orang-orang Thiat-tan-chung.
Kaki tangan penjajah itu, orang-orang yang termaha uang dan banyak akal, mereka tak mau laporkan pada fihak atasan, tapi akan mendatangi Ciu Tiong Ing untuk memerasnya.
Dan uang itu akan dibaginya rata.
Mereka jakin tentu Tiong Ing mudah dikeruk uangnya.
Oleh karena Seng Hing, Swi Thay Lim dan lain-lain.
adalah orang-orang yang ada nama pada pemerintah, maka mereka segan untuk menonyolkan diri.
Dan untuk keperluan itu, disuruhnya Ban Khing Lan dan Tong Siu Ho ber 2 yang mengerjakan.
Melihat surat itu, agak terkesiap juga Tiong Ing, tanya nya.
"Bagaimana maksud kalian ?"
"Kita sangat hargakan akan nama Cioe loenghiong yang harum itu. Apabila surat ini sampai jatuh ketangan fihak atasan, tentunya loenghiong akan maklum sendiri akibatnya. Kawan-kawan kita berpendapat, akan mengikat tali persahabatan dengan loenghiong. Pertama akan membakar surat ini, ke 2 takkan melaporkan pada fihak atasan bahwa loenghiong ternyata bantu melindungi Bun Thay Lay", Ban Khing Lan mulai mainkan lidahnya.
"Sungguh aku merasa berterima kasih pada saudara-saudara sekalian,"
Buru-buru Tiong Ing berkata. Setelah omong-omong beberapa hal lagi, maka dengan secara tak langsung berkatalah Ban Khing Lan.
"Hanya kali ini kita keluar, telah menggunakan banyak sekali ongkos-ongkos perjalanan sehingga kita tertindih dengan hutang. Kita harap dengan memandang pada sesama golo ngan persilatan, loenghiong suka memberi sedikit bantuan. Untuk itu sungguh kita berSyukur sekali."
"Hm,"
Jengek Tiong Ing sembari menangkat alisnya demi mengetahui apa maksud orang.
"ltu tak berjumlah banyak, hanya enam atau tujuh laksa tail perak. Di tempat ini Ciu loenghiong mempunyai sawah dan tanah yang luas sekali. Jumlah yang sedemikian kecil itu, dirasa tentu tak menyadi soal,"
Demikian Ban Khing Lan menambahi pula. Mengetahui dirinya akan dipelecet, marahlah Tiong Ing seketika, serunya .
"Jangan lagi memang aku tak punya uang begitu banyak, sekalipun punya juga akan kuperuntukkan mengikat tali persahabatan dengan orang-gagah yang mempunyai ambek perwira."
Dengan kata-katanya itu, bukau saja menolak, tapi pun ber arti mendamprat orang. Tong Siu Ho hanya tertawa dan katanya .
"Memang kita ini golongan siaojin (kaum rendah) yang tak punya guna. Untuk membangun sebuah daerah semacam Thiat-tan-chung, terang kita tak mampu. Namun kalau disuruh membumi hanguskan "
Belum habis kata-kata itu diucapkan, seseorang menobros masuk dan membentak nyaring .
"Ayolah, nonamu justru ingin melihat cara bagaimana kau hendak menghancurkan Thiat-tan-chung ini."
Orang ini ternyata adalah Kiao Li-Kui Ciu Ki adanya.. Tiong Ing mengedipkan mata, terus menuju keluar ruangan di kuti oleh puterinya. Dia membisiki beberapa patah kata didekat telinga Ciu Ki .
"Kau bisiki Kian Hiong dan Kian Kong, ke 2 kuku garuda ini jangan sampai bisa keluar dari Thiat-tan-chung."
"Bagus, makin mendengarkan pembicaraan mereka, makin menarik,"
Ciu Ki tampak gembira karena bakal bisa melabrak orang. Setelah Tiong Ing kembali kedalam, berkatalah Ban Khing Lan .
"Karena Ciu loenghiong tak menyukai kedatangan kita, maka kitapun akan berlalu."
Habis berkata begitu, dia segera robek-surat Liok Hwi Ching tadi.
Ciu Tiong Ing tertegun dibuatnya, karena tak mengira orang she Ban itu akan berbuat begitu, Malah orang tersebut berkata dengan tenang .
"Ini sebenarnya hanya turunannya saja. Biar kurobek saja, agar jangan dilihat orang. Aselinya berada ditangan Thio taijin."
Jilid 6 DENGAN ucapan itu dia mau artikan "
"Bukti kedosaanmu sudah ditangan kita, sekalipun kau bunuh kita ber 2, juga sia-sia saja."
Justeru dalam saat yang tegang itu, dari luar pintu Lou Ping menyerang dengan huito kearah Siu Ho.
Sekalipun Tiong Ing amat benCi Siu Ho, tapi dia tak mau orang itu sampai binasa dirumahnya.
Tanpa mengetahui dulu siapa penyerangnya, Tiong Ing perlu menolong jiwa orang itu.
Hampir bersamaan waktunya, thiat-tan ditimpukkannya, tepat mengenai tangkainya.
Meskipun huito itu agak membeluk jalannya, tapi ujungnya tetap menyasar kebahu kiri Siu Ho.
Sebaliknya, karena nampak orang melindungi musuhnya, memakilah Lou Ping dengan lantangnya .
"Bagus kau, bangsat tua yang sudah menganiaya suamiku. Mari kau bunuhlah aku sekali!"
Dengan berpintjangan, Lou Ping menobros masuk terus menyerang Tiong Ing dengan sepasang wan-yang-tonya. Karena tak memegang senjata, Tiong Ing sembat sebuah kursi untuk menangkisnya, katanya.
"Sabarlah, kita bicara dengan pelan-pelan dulu!"
Lou Ping sudah bertekad untuk mengadu jiwa.
Dengan tak hiraukan omongan.
Orang, ia segera menyerang gencar dengan ilmu golok warisan ayahnya.
Sepasang goloknya merangsang dalam jurus-jurus serangan hebat.
Tiong Ing insyap bahwa orang-orang HONG HWA HWE menuduh dia menyual Bun Thay Lay.
Untuk itu dia berusaha akan menyelaskan, karenanya dia tak mau balas menyerang dan hanya main mundur saja.
Lou Ping makin gencar memainkan sepasang goloknya, dan pada saat itu Tiong Ing sudah terdesak sampai keujung tembok.
Selagi dia dalam keadaan yang beru saja itu, tiba-tiba Lou Ping merasa ada sambaran angin memukul dari arah belakang.
Cepat-cepat ia bungkukkan tubuh seraja sabetkan sebelah goloknya kebelakang kepala.
Menyusul dengan itu, kembali ada angin menyambar, maka Buru-buru Lou Ping gerak kan goloknya yang panyang untuk membabat kaki orang.
Begitu orang itu loncat mundur, Lou Ping terus berputar badan.
Ternyata penyerangnya itu ialah puterinya Ciu Tiong Ing.
"Kau seorang perempuan yang tak tahu membalas kebaik an. Dengan baik-baik kutolong kau, tetapi berbalik kau akan membunuh ayahku!"
Demikian damperat Ciu Ki pada Lou Ping.
"Kau orang Thiat-tan-Chung hanya berkedok kebaikan palsu. Suamiku telah kau aniaya. Kau minggirlah, aku tak kan mengganggumu!"
Kata Lou Ping, siapa lalu berpaling kearah Tiong Ing dan terus menyerangnya lagi.
Tiong Ing angkat kursi untuk menangkis, maka Buru-buru Lou Ping menarik pulang senjatanya.
Menyusul dengan itu ia menyerang lagi tiga jurus serangan berantai.
Tiong Ing berkelit kian kemari dan ber-ulang 2 berseru supaya Lou Ping berhenti menyerang.
Ciu Ki menjadi gusar terus maju menghadang Lou Ping.
Dan kini ke 2nya saling bertempur dengan seru!.
Dalam hal pengalaman, Lou Ping lebih atas dari Ciu Ki.
Tapi karena ia terluka tambahan pula pikirannya kusut, maka setelah bertempur sampai tujuh atau delapan jurus.
Lou Ping mulai keteter.
"Berhenti!"
Seru Tiong Ing tiba-tiba ."
Tetapi.
ke 2 orang yang tengah bertempur itu tak meng hiraukan seruan itu, sementara itu Ban Khing Lan Buru-buru menolong Cabutkan huito yang menancap dibahu Siu Ho dan dibalutnya.
Ke 2nya juga menyaksikan pertempuran antara ke 2 jago betina itu.
Karena puterinya tak dengar kata, marahlah Tiong Ing.
Diangkatnya kursi terus akan dihantamkan ketengah untuk memisah, tetapi tiba-tiba terdengar suara yang aneh dan menyusul sebuah bayangan bundar menobros masuk.
Dengan bersenjatakan sepasang kampak, seorang kate tahu-tahu terus menghantam Ciu Ki dengan sehebat-hebatnya.
Ciu Ki loncat menghindar, lalu dengan gerakan "sin-liong-to-ka"
Naga sakti mengibas sisik, ia balas menabas pundak orang. Namun orang itu tinggal diam saja. Dia hanya pakai tangkai kampak untuk menangkis.
"Trang."
Ben turan itu menggetarkan tangan Ciu Ki, malah begitu keras sampai kesemutan rasanya dan goloknya terlepas.
Dengan sebat, Ciu Ki loncat mundur 2 tindak.
Dibawah sinar lilin yang menerangi ruangan tersebut., dilihatnya sang lawan itu adalah seorang bongkok yang aneh sekali potongan tubuhnya.
Si Bongkok tak mau mengejarnya, hanya memandang kearah Lou Ping.
Demi melihat kesajangannya, hati Lou Ping bukan buatan girangnya, serunya .
"Sip-ko!"
"Su-ko dimana?"
Balas menanya si Bongkok. Lou Ping menunyuk pada Tong Siu Ho bertiga, lalu berseru .
"Dia dianiaya oleh orang-orang ini. Sip-ko (kakak kesepuluh), kau balaskanlah sakit hatinya!"
Mendengar itu, dengan tanpa tanya apa-apa, si Bongkok Ciang Cin terus menyerang Tiong Ing, siapa karena tak membekal senjata apa-apa, terus loncat keatas meja dan berseru .
"Berhenti dulu!"
Tapi Ciang Cin menyusuli lagi membabat kaki Tiong Ing.
Apa boleh buat, Tiong Ing terpaksa loncat kebawah lagi.
Karena si Bongkok menghantam dengan sekuat-kuatnya, maka kampaknya itu menancap beberapa dim kedalam meja, dan untuk sesaat sukar untuk ditariknya.
Adalah pada saat itu, Kian Hiong dan Kian Kong yang mendapat laporan, segera bergegas datang.
Kian Kong lalu mengangsurkan senjatanya kim-pui toa-to pada sang suhu.
Juga nona Ciu Ki yang beradat berangasan, nampak Lou Ping dan si Bongkok begitu kurang ajar, segera berseru .
"Beng toako, An samko, jangan kasih lepas kawanan berandal yang mengaCau Thiat-tan-Chung ini."
Bertiga mereka segera menyerang pada Ciang Cin. Si Bongkok tidak gentar, tiba-tiba iapun berteriak .
"Ayo, Chit-ko, lekas kau keluar menemui suko. Kalau masih ayal-ayalan, akan kudamprat leluhurmu!"
Kiranya bersama Bu-Cu-kat Ji Thian Hong, Ciang Cin terus menempuh perjalanan siang malam untuk lekas-lekas menuju ke Thiat-tan-Chung.
Ketika sampai di Thiat-tan-Chung, hari sudah malam.
Thian Hong sebenarnya akan menyerahkan karcis nama untuk minta bertemu dengan Ciu Tiong Ing.
Tetapi si Bongkok tanpa bilang apa-apa, terus menobros masuk saja.
Apa boleh buat, Thian Hong terpaksa mengikutinya.
Dan ketika dia baru sampai, tahu-tahu si Bangkok sudah bertempur dengan Ciu Ki, Kian Hiong dan Kian Kong.
Maka ketika si Bongkok menereakinya, dia Buru-buru menghampiri kesamping Lou Ping.
Saat itu Lou Ping dengan napas tersengal-sengal memutar sepasang goloknya terus akan menyerang Tiong Ing.
Begitu melihat Thian Hong, ia menjadi girang sekali.
Dengan adanya kursi itu disitu, tentu bereslah urusannya.
Menuding pada Tong Siu Ho dan Ban Khing Lan, segera ia berseru .
"Merekalah yang mencelakakan suko"
Biasanya Thian Hong selalu bersikap hati-hati.
Tapi kali ini karena mendengar sukonya dianiaya orang, tanpa berpikir panyang lagi dia terus menyerang Siu Ho dengan senjatanya.
Bagi Siu Ho dan Ban Khing Lan sebenarnya sangat girang melihat orang HONG HWA HWE bertempur dengan orang Thiat-tan-Chung.
Mereka memperhitungkan orang HONG HWA HWE yang hanya tiga orang itu, tentu akan kalah.
Dan pada saatnya mereka baru akan turun tangan untuk membekuknya, untuk menCari pahala.
Malah Siu Ho tetap merindukan Lou Ping, dan selama itu dia awasi dengan mata tak terkesiap.
Maka dia begitu gelagapan, ketika Thian Hong loncat membacok.
Syukur dia masih bisa berlaku sebat untuk menangkis dengan goloknya.
Perawakan Thian Hong yang pendek kecil itu, sembabat sekali dengan Siu Ho.
Tapi dalam buge, Thian Hong lebih unggul.
Beberapa kali Siu Ho terpaksa mundur saja.
Malah dilain saat, tangan kiri Thian Hong yang pegang tongkat besi dikibaskan keluar, menyusul tangan kanan yang memegang golok ditikamkan ke lawan.
Siu Ho Buru-buru berkelit ke kiri.
Tapi dia hanya memperhatikan serangan disebelah atas dan lupa menyaga serangan musuh yang menikam dari bawah.
Maka sekali pahanya termakan golok, piauwsu itu segera berguling-guling ketanah.
Ketika Thian Hong akan menyusulkan tongkatnya, tiba-tiba terasa ada angin menyambar punggungnya.
Karena tak ke buru memutar diri, dia terus inyak dada Siu Ho untuk loncat kemuka.
Dan secepat-cepat kilat dia memutar badan, untuk menangkis senjata Ban Khing Lan yang hendak membokong tadi.
Dengan sepasang senjata ping-thi-tiam-kong-jwan (semaCam golok runCing) dikotaraja pernah Khing Lan jatuhkan sepuluh orang lebih jago-jago silat yang ternama.
Dengan keangkeran itulah dia baru dapat menyabat Cong-kauw-sip dari The-ong-hu (istana pangeran The).
Senjata itu dia jakinkan selama 2 tahun.
The jin-ong karena akan mengangkat dia ke kedudukan yang lebih tinggi, lalu titahkan dia mengawani Ciauw Cong, agar bisa mendirikan pahala.
Dengan Thian Hong, dia menemui perlawanan yang seru.
Meski sudah puluhan jurus, belum ada yang menang dan ka lah.
Khing Lan makin bernapsu.
Kalau sampai tak dapat mengalahkan si kate itu, dia pasti akan ditertawakan oleh Siu Ho.
Maka segera dengan gerak "khong jiok gay ping"; burung gereja pentang sajap, dia tikam Thian Hong dengan bernapsu sekali.
Thian Hong menghadangkan tongkatnya besi, sedang golok dia tabaskan kemuka lawan.
Dengan thi-jwan ditangan kanan, Khing Lan menangkis, diteruskan memapas kepala.
Kalau Thian Hong tak keburu menarik kepalanya kebelakang, pasti akan tepapas, karena ujung thi-jwan itu hanya terpisah satu dim dengan kepalanya.
Diam-diam Thian Hong me ngakui akan kelihaian sang musuh.
Kini dia berganti Cara nya bertempur.
Karena tubuhnya pendek, maka dia tujukan serangannya kekaki lawan.
Golok dan tongkat dirangkapkan kebawah untuk memotong ke 2 paha orang.
Khing Lan menegakkan sepasang thi-jwannya untuk me lindungi sang kaki.
Tetapi tak disangkanya, serangan Thian Hong itu hanya kosong belaka.
Betul golok masih diteruskan menabas, tetapi tongkat Cepat-cepat berganti arah, lurus menotok muka lawan.
Betul?
Khing Lan tak berdaya lagi untuk menangkis, maka terpaksa dia gunakair gerak "thiat pian kiao"
Jembatan gantung, untuk buang dirinya kebelakang.
Benar dia dapat lolos dari bahaja, tapi keringat dingin membasahi sekujur badannya.
Dan bertempur lagi dalam beberapa jurus, dia merasa kewalahan.
Dilain partai, Ciang Cin berkelahi seperti seekor kerbau mengamuk.
"Kian Kong, Cepat-cepat kau tutup pintu desa, wftenyaga ja ngan ada musuh yang bisa masuk,"
Seru Kian Hiong. Namun sepasang kampak Ciang Cin makin gencar, hingga untuk beberapa saat itu Kian Kong tak dapat lepas keluar gelanggang, Melihat itu berserulah Ciu Ki .
"An-jiko, lekas kau pergi, biar sibongkok ini aku yang melayani!"
Dikatakan "bongkok,"
Hinaan yang paling dikutuknya se umur hidup itu, meluaplah dada Ciang Cin. Dia mengge rung dan mengerang. Ciu Ki dan Kian Hiong perhebat serangannya, maka dapatlah Kian Kong loncat keluar.
"Semua harap berhenti dulu, dengarlah penyelasan lohu ini,"
Tiba-Tiong Ing berseru. Kiang Hiong dan Ciu Ki menaati, terus mundur beberapa tindak. Begitupun Thian Hong juga mundur, dan serunya .
"Ciang sipte, berhentilah. Dengarkan penyelasannya."
Tetapi si Bongkok tak ambil perduli, terus menyerang saja.
Ketika Thian Hong akan maju menCegahnya, tiba-tiba Ban Khing Lan menghantam punggungnya dengan thi-jwan.
Karena tak menyangka.
Thian Hong tak keburu menyaganya.
Cepat-cepat dia tarik badannya, tetapi bahunya terhantam, hingga sampai dia terhuyung-huyung.
Serunya dengan penuh ke marahan .
"Bagus, kamu orang-orang Thiat-tan-Chung memang banyak-banyak tipu muslihat. Dia salah sangka, mengira Ban Khing Lan itu orang Thiat-tan-Chung. Biasanya dia itu tenang orangnya. Tapi dibokong begitu, dia marah betul-betul. Bahunya yang sebelah kiri karena terluka, dia tak dapat mainkan tongkatnya besi lagi. Dengan hanya memakai sebatang golok di tangan kanan, dia serang Ban Khing Lan. Walaupun lengkapnya harus memakai tongkat, namun dia tetap gunakan ilmu golok "ngo-houw-toan-bun-to."
Tetapi gerakannya kurang linCah, karena luka dibahunya itu sangat mengganggu sekali.
Disebelah sana Ciang Cin masih mengamuk, adalah Siu Ho yang enak 2 berdiri agak jauh.
Dengan mulut berkemak-kemik tak lampias, dia tuding 2 kearah Lou Ping.
Karena huitonya hanya tinggal sebatang, Lou Ping tak mau sembarangan melepas.
Dia Cuma mengangkat goloknya untuk mengejar Siu Ho, siapa berlari-lari memutari meja seperti lakunya anak main godak.
"Kau jangan keliwat galak, suamimu kan sudah mening gal, lebih baik kau menikah dengan Tong-toaya ini saja,"
Serunya sembari berlarian.
Hati Lou Ping memang sudah gelap, mendengar kata-kata Siu Ho itu, ia kira suaminya betul-betul sudah meninggal.
Seketika itu pandangannya terasa gelap, kepalanya berat terus roboh tak ingat orang.
Melihat itu, tersipu-sipu.
Siu Ho lari menolong nya.
Tapi kini Ciu Tiong Ing sudah tak kuasa menahan kemarahannya lagi.
Dengan kim-pui toa-to, dia juga berlari memburu kearah Lou Ping.
Maksudnya akan menghajar Siu Ho yang kurang ajar itu.
Tetapi kalau memang sudah seperti digaris, maka kesala han faham itu makin menjadi-jadi.
Justeru pada saat itu, menobroslah seseorang kedalam ruangan itu dengan berseru keras-keras.
"Kau berani melukai suso-ku mari kita mengadu jiwa."
Dengan sepasang siang-kao (gaetan) orang itu menyerang Tiong Ing dari 2 jurusan, kearah tenggorokan dan ke bawah perut.
Nampak wajah gagah, perwira dari orang itu, dan gerakannya begitu linCah sekali, Tiong Ing merasa segan.
Dia hanya menangkis pelan-pelan sambil mundur setindak katanya .
"Saudara ini siapa, harap suka beritahukan nama dulu!"
Orang itu tak mau menyawab dan hanya membongkokkan badan untuk memeriksa Lou Ping yang wajahnya puCat seperti kertas itu.
Ketika dirasakan hidung Lou Ping masih mengeluarkan napas.
Cepat-cepat didorongnya keatas kursi, sedang wan-yang-to diletakkan disisinya.
Melihat orang-orang yang bertempur itu makin seru dengan tak menghiraukan permintaannya, Tiong Ing marah.
Tapi pada saat itu, dari luar terdengar seseorang bertereak keras sekali.
Menyusul itu terdengar gemerenCingnya suara senjata ber adu.
Tak lama kemudian, munCul ah An Kian Kong dengan menderita kekalahan, dikejar oleh seseorang.
Segera Tiong Ing mengetahui bahwa orang itu bertubuh gemuk dan tinggi.
Tangannya memegang sebatang pian yang beratnya tak kurang dari tiga 0 kati.
Kian Kong ternyata tak berani saling berhantam senjata dengan orang itu.
"Pat-te, kiu-te. Kalau hari ini kita tak basmi orang-orang Thiat-tan-Chung, sungguh tak legah sekali,"
Thian Hong berseru kepada sigemuk itu.
Orang itu bernama Thiat-tha Nyo Seng Hian, orang nomor delapan dalam HONG HWA HWE Sedang yang sikapnya gagah tadi ialah Kim-paoCu Wi Jun Hwa, menempati kedudukan nomor sembilan.
Meng hadapi setiap pertempuran, terutama dengan tentara negeri, Jun Hwalah yang selalu paling berani sendiri se-olah 2 akan menantang maut.
Tapi anehnya, selama itu belum pernah dia mendapat luka berat, hingga Kawan-kawan nya mendiuluki dia "Kim-pa-Cu"
Atau macan tutul bernyawa sembilan.
Ke 2 orang itu, aclalah bantuan HONG HWA HWE dari gelombang ke 2.
Sampai di Thiat-tan-Chung, sudah hampir tengah malam.
Mereka segera nampak, pintu Thiat-tan-Chun terang benderang dengan kawanan Cengteng yang membawa obor dan senjata, seakan-akan menghadapi musuh besar.
Segera Jun Hwa maju berseru .
"Orang she Nyo dan she Wi dari HONG HWA HWE akan mohon meng hadap pada Ciu loenghiong, harap saudaraa suku tolong melaporkannya."
Mendengar bala bantuan HONG HWA HWE datang, sedang didalam pertempuran sedang berlangsung dengan hebatnya, An Kian Kong tak mau kasih mereka masuk, perintahnya malah ke pada para Cengteng .
"Lepas panah!"
Kira-kira 2puluhan Centeng segera pentang busur dan se ketika itu segunduk panah muntah keluar.
Dengan gusar, Jun Hwa dan Seng Hiap putar senjatanya untuk menangkis.
Malah Jun Hwa angot penyakitnya, terus menyerbu kearah hujan panah itu.
Melihat Caranya dia terdyang ba haja, Centeng-centeng itu ketakutan sendiri.
Yang tak keburu menyingkir, kena keterjang .
Juga Nyo Seng Hiap ikut menerdyang , tapi dihadang Kian Kong dengan goloknya.
Seng Hiap bertubuh tinggi besar, bertenaga kuat sekali.
Gerakan piannya, terbitkan deru angin yang keras.
Kian Kong tak berani menangkis dan hanya loncat menghindar.
Setelah ada kesempatan, baru dia kirim baCokan.
Sekalipun Seng Hiap berbadan gemuk, tapi gerak annya tetap gesit.
Dengan gerak "membabat ribuan serdadu"
Dia menyabet sekuat-kuatnya.
"Trang,"
Demikian golok dan pian saling beradu dan Kian Kong segera rasakan tangannya ke semutan sakit sekali.
Goloknya terpental keatas.
Seng Hiap memang tak berniat mengambil jiwanya, maka setelah lawan lari, tak dikejarnya dan hanya loncat dari tembok desa terus masuk kedalam Thiat-tan-Chung.
Karena tak kenal jalanan, sedang hari amat gelap, telah menyem patkan Kian Kong mengambil goloknya lalu menghadangnya lagi.
Kini pemuda itu berkelahi dengan hati-hati, namun dalam beberapa gebrak saja, lagi-lagi gigir goloknya telah kena disabet pian Seng Hiap, sampai bengkok.
Begitu sembari memberl perlawanan, Kian Kong terus mundur sampai keruangan tengah.
Ketika Seng Hiap mengi rim sabetan kearah muka, Kian Kong tarik kepalanya ke belakang, lalu mengangkat sebuah meja untuk ditangkiskan.
Sebelah ujung meja segera terpapas kutung, ber-keping-keping bertebaran.
Melihat itu Ciu Tiong Ing leletkan lidahnya dan diam-diam memuji akan kelihaian jagos HONG HWA HWE Dan pada saat itu Kian Kong sudah mandi keringat, beberapa jurus lagi tentu berbahaja jiwanya.
Maka bertereaklah Tiong Ing se kuat 2nya .
"Para enghiong dari HONG HWA HWE, dengarlah lohu akan bicara."
Jun Hwa dan Seng Hiap segera berhenti, malah Jun Hwa memperingatkan Thian Hong yang waktu itu tengah bertempur dengan Ban Khing Lan, supaya berhenti juga. Tapi Thian Hong malah bertereak keras-keras.
"Awas, jangan kena ditipu!"
Belum ucapan itu selesai, Ban Khing Lan benar menyerang lagi.
Kuku garuda kuatir kalau nanti fihak Thiat-tan-Chung bergabung dengan orange HONG HWA HWE Karena itu, dia tak mau kasih kesempatan untuk mereka berbicara.
Namun Jun Hwa ternyata sudah berjaga 2.
Tak mau dia mundur meng hindar, sebaliknya malah menyambutnya dengan serangan juga.
Melihat itu Khing Lan kaget.
Nyata musuh tak hirau kan jiwa.
Dan Buru-buru dia tarik kembali piannya.
Saat itu setelah menolong Lou Ping hingga tersedar lagi, memakilah Thian Hong dengan gusarnya .
"Kalangan kangouw sama memuji kau sebagai orang yang sangat berbudi tinggi, tak tahunya kalau seorang licik yang sombong. Kau atur tipu daya yang rendah, adakah itu perbuatan seorang enghiong?!"
Tahu juga Tiong Ing bahwa mereka salah paham, namun dia marah juga dimaki begitu, teriaknya tak tahan .
"Kau orang-orang HONG HWA HWE, terlalu menghina orang!"
Dia singkap jubahnya dan menyerukan sang murid supaya mundur.
"Kian Kong mundurlah, biar aku siorang tua meminta pengajaran dari para orang gagah yang ternama itu,"
Demikian teriaknya. Setelah Kian Kong mundur, Tiong Ing maju dengan me megang golok, katanya .
"Saudara yang ini siapa?"
Nampak yang tampil kemuka seorang tua berjanggut putih, Seng Hiap Buru-buru rangkapkan ke 2 tangan memberi hormat sambil berkata .
"Aku yang rendah ini ialah Thiat-tha Nyo Seng Hiap,"
"Pat-ko, tak usah kau terlalu merendah, situa inilah yang menipu suko,"
Demikian sekonyong-konyong Lou Ping berseru.
Mendengar keterangan itu, kagetlah Seng Hiap dan Jun Hwa ber 2.
Malah setelah dapat mendesak Ban Khing Lan mundur, Jun Hwa berputar badan terus menyerang Tiong Ing.
Sepasang gaetan bagaikan angin menyerang perut orang.
Dengan kerahkan lwekang, Tiong Ing tanCapkan goloknya kebawah untuk menangkis, maka membal ah gaetan Wi Jun Hwa.
Bahwa buge lawan memang tangguh sudah diketahui oleh Jun Hwa.
Tidak mundur, tapi dia malah menyerbu.
Sedang Ciang Cin yang dikerojok Kian Hiong dan Ciu Ki, masih bertarung dengan gigihnya.
Dengan napas ter engahs, Kian Kong akan membantunya.
Jadi kini si Bongkok dikerubuti tiga.
Sementara itu, Seng Hiap mendapat lawan Ban Khing Lan.
Dalam partai sana, ternyata beberapa kali Tiong Ing mem beri kelonggaran, tapi rupanya Jun Hwa tak mengetahui dan tetap tak mau mundur.
Golok Tiong Ing dibolang-baling kan dengan sebatnya, maka terpental ah gaetan Jun Hwa yang sebelah kiri.
Melihat bagaimana hebat permainan golok jago Thiat-tan-Chung itu, tahulah Thian Hong bahwa dia harus lekas-lekas bantu Jun Hwa.
Namun sekalipun Tiong Ing orangnya tua, tapi dia tetap tak kalah menghadapi 2 jago HONG HWA HWE itu.
Malah kini golok diputarnya sedemikian santernya, hingga badannya seperti ditutup dengan gulungan sinar putih, makin lama, makin gagah orang tua itu.
Menampak fihaknya masih belum menang, berserulah Thian Hong keras-keras.
"Ngo-ko, liok-ko, bagus kau orang pun sudah datang, lekas lepas api. Bakar saja Thiat-tan-Chung ini, urusan belakang!"
Ini sebetulnya adalah siasat dari sikanCil Thian Hong, untuk memeCah pikiran lawan.
Sebenarnya ngo-ko dan liok-ko dari HONG HWA HWE jakni Siang He Ci dan Siang Pek Ci belum datang kesitu.
Ke 2 saudara ini masih menyalankan perin tah Cong-tho-Cu ke Thio-ke-po untuk mengawasi gerak-gerik kawanan kuku garuda dikota raja.
Tipu seruan itu ternyata berhasil.
Oranga Thiat-tan-Chung sama terkejut.
Malah karena berajal, Tiong Ing hampira termakan gaetan Wi Jun Hwa.
Setelah semangatnya kem bali, Tiong Ing lancarkan serangan golok "sam-nyo-gay-thay"
Tiga ekor kambing menerdyang gunung.
Serangan berantai dari tiga jurus itu, dapat memaksa Thian Hong dan Jun Hwa mundur beberapa langkah.
Menggunakan kesempatan itu, Tiong Ing enyot tubuhnya keambang ruangan, maksudnya akan Cegat musuh yang hendak melepas api.
Namun bagaikan bayangan, Jun Hwa tetap membayang i nya.
Orangnya belum sampai, gaetannya sudah tiba, menusuk Tiong Ing.
Tiong Ing memutar toa-tonya.
Begitu sepasang gaetan lawan membal, dia teruskan membaCok.
Malah bukan begitu saja.
Kaki kanan jago tua ini disapukan berbareng tangan kirinya menyotos.
Wi Jun Hwa Buru-buru loncat ke samping.
Tapi tangan kiri Tiong Ing dijulurkan menyadl kuku alap 2, untuk dipukulkan kebahu lawan.
Gerakan ini dinamai "sam-hap,"
Salah sebuah jurus istimewa dari pukulan "ji long tam san"
Atau Ji-long menyelidiki gunung, salah satu tipu dari Siao Dim Pai.
Tadi Jun Hwa hanya pusatkan perhatian pada ilmu golok lawan, dan lengahlah dia bahwa musuh sekonyong-konyong menyusuli pukulan tangan kosong.
Menghadapi serangan golok, kaki dan pukulan tangan, benar 2 Jun Hwa keripuhan.
Yang 2 masih dapat dia hindari, tapi yang ketiga dia kewalahan.
Seketika dirasakan sebelah bahunya itu seperti tertimpa mar-til.
Itu saja Tiong Ing masih berlaku murah, hanya menggunakan seperempat tenaganya, kalau tidak, tentu si Kim-pa-Cu itu terluka berat.
Namun sekalipun demikian, tak urung Jun Hwa sempojongan beberapa tindak.
Kiranya orang she Wi ini betul-betul bandel.
Belum sang kaki berdiri jejak, sudah dienyotkan lagi kemuka, berbareng dalam gerak "burung hong memutari sarang"
Sepasang gaetannya merangsang tubuh Tiong Ing. Nampak serangan itu, marahlah Tiong Ing, serunya .
"Engko kecil, padamu aku tak punya hutang dendam seperti membunuh ayah atau merebut isteri, mengapa kau begini bernapsu? Aku sudah berlaku murah, kau seharusnya mengerti!"
"Kau telah membunuh soeko sekalipun aku tak dapat menang, tapi kau tahu tidak, aku ini ialah Kiu-beng Kim-pa-Cu (si macan tutul yang punya sembilan nyawa)?"
Demikian Jun Hwa menyahut berbareng menyerang. Melihat orang tak tahu diri, Tiong Ing mendongkol hatinya. Tapi kalau lihat kegagahan orang, dia merasa sayang juga, katanya pula .
"Selama lohu hidup hampir enam tahun ini, belum pernah melihat setan yang tak sayang jiwanya semacam kau ini!"
"Makanya hari ini kau disuruh melihatnya!"
Jawab Jun Hwa.
Berbareng gaetan menusuk, golok Thian Hong pun me nabas.
Mendadak Tiong Ing apungkan diri keatas, toatonya dibarengkan membabat senjata lawan.
Mata golok, mema-pas kedalam, sikutnya berbareng menyodok, tepat mengenai tulang rusuk lawan.
Inilah jurus ilmu silat Siao Lim Pai yang disebut "Lui-he-Ciu."
Kalau dengan sepenuh tenaga, patahlah tulang rusuk orang. Sekalipun begitu, Jun Hwa keluarkan keluhan sakit, terus jongkok kebawah.
"Kiu-te, kau mundurlah"
Seru Thian Hong. Jun Hwa paksakan berbangkit lagi, dengan mendeliki Tiong Ing, dia angkat sepasang gaetan untuk menyerang lagi.
"Kau ini betuia tak patut dikasihani!"
Bentak Tiong Ing.
"Lekas lepaskan api, Cap-ji-long, kau jaga pintu bela kang, jangan kasih orang lolos!"
Tereak Thian Hong dengan keras.
Demi tereakan itu, guntyang lah pikiran Ciu Ki, dia tak mau melajani si Bongkok lagi dan pikirnya akan membunuh biangkeladi dari kerusuhan ini.
Dengan segera dia menyerang Lou Ping.
Sejak mendengar suaminya binasa teraniaya, dengan sa dar tak sadar Lou Ping duduk dikursi.
Bagaimana hiruk pikuk orang-orang bertempur didalam ruangan besar, baginya hanya seperti melihat bayangan 2 berkelebat kian kemari.
Pi-kirannya kosong sama sekali, tak tahu apa yang sedang berlangsung disekitarnya situ.
Dan ketika golok Ciu Ki melayang tiba, Lou Ping hanya memandangnya dengan tersenyum simpul saja.
Wajahnya seperti orang menangis urung.
Melihat wajah yang demikian sajunya, batal ah Ciu Ki menyerang.
Ia ambil sepasang golok wan-yang.to, lalu diangsurkan kepada Lou Ping dan katanya.
"Ayo kita bertempur!"
Dengan acuh tak acuh, Lou Ping menyambuti senjata nya.
Dan Ciu Ki Coba 2 membaCoknya pelan-pelan , untuk menge tahui apakah nyonya itu menangkis apa tidak.
Kembali Lou Ping tertawa, dengan sembarangan saja ia gunakan golok pendek ditangan kanannya untuk menangkis, sedang goloknya panyang dibuat balas menusuk.
Melihat itu Ciu Ki mengelah napas legah, serunya .
"Nah, begitu, Ayo kau berdirilah!"
Lou Ping menurut, tetapi luka dipahanya itu memaksa dia harus duduk lagi.
Demikian maka yang satu duduk dan pi kirannya kosong, sedang yang satunya berdiri dan bernapsu sikapnya, segera adu senjata.
Baru beberapa jurus, ber teriaklah Ciu Ki tak sabar .
"Ayo, yang keras! Siapa yang akan bermain-main denganmu?"
Dia jengkel melihat sikap orang yang acuh tak acuh itu.
Dengan orang begitu, ia tak sudi bertempur.
Dan pada saat itulah dia dengar tereakan Thian Hong untuk melepas api, maka nona itu segera tinggalkan Lou Ping terus lari keluar.
Baru saja melangkah keambang pintu, diluar sudah ada orang yang membentaknya .
"Hem, mau lolos ja?"
Dengan kaget, Ciu Ki loncat balik kebelakang.
Diantara sinar lilin, ternyata ada 2 orang tengah mengadang dimulut pintu.
Orang yang membentak itu, mukanya putih seperti salju, sinar sepasang matanya seram seperti iblis.
Ciu Ki hendak mengawasi orang yang satunya, tapi ia merasa aneh, sinar mata iblis itu, seakan-akan mempunyai pengaruh besar sekali, hingga ia tak berani mengalihkan pandangannya.
Tanpa terasa, ia memaki .
"Huh, setan getajangan!"
Tak terduga orang itu menyawab dengan dingin .
"Benar, aku inilah Kui Kian Chiu!"
Selama ini Ciu Ki tak takut pada siapapun, tetapi mendengar suara orang yang begitu dingin menyeramkan, betul-betul ia sampai bergidik, tapi ia Coba tabahkan diri dan mem bentak .
"Apa kau kira aku takut padamu?"
Ucapan itu untuk menutupi kejerihannya.
Dan berbareng mulut mengucap, tangan mengajun kan golok kearah kepala orang.
Dengan sikap yang dingin, orang itu menangkis dengan goloknya.
Sepasang matanya tetap menatap sinona dengan tajamnya.
Ternyata gerakan orang yang le mah, adalah gerakan seorang achli lwekang.
Diam-diam Ciu Ki berCekat hatinya.
Ia paksakan lagi, untuk menabas.
Orang itu benarlah algojo HONG HWA HWE yang bernama Kui-kian-Chiu Cap-ji-long Ciok Siang Ing.
Dia sebenarnya murid Cabang Pat Kwa Bun.
Setelah masuk HONG HWA HWE, sering ia minta pelajaran silat pada sam-tang-keh Tio Pan San.
Pan San ajarkan ilmu golok Thay Kek padanya.
Namanya saja persaudaraan angkat, tapi sebenarnya mereka ber 2 itu adalah guru dan murid.
Dengan ketenangan dan kelemahan gerak Thay Kek, segera Kui-kian-Chiu dapat menguasai permainan lawan.
Sedang dilain partai, Kian Hiong dan Kian Kong rasanya tak ungkulan lagi melawan si Bongkok Ciang Cin.
Juga permainan sepasang ping-thi-tian-kong-jwan dari Ban Khing Lan telah dipatahkan oleh pian Seng Hiap.
Orang she Ban ini tak berani bertempur lagi, dan hanya ber-putar 2 diseke liling meja sembari memper-olok 2 lawan yang berbadan gemuk, tak bisa mengejarnya.
Sedang si Tong Siu Ho entah lari kemana, Pihak Thian-tan-Chung hanya Tiong Ing-lah yang berada diatas angin menghadapi Thian Hong dan Jun Hwa.
Pikir Tiong Ing, setelah dapat menundukkan ke 2 lawannya itu, dia baru akan jelaskan duduknya perkara.
Demikianlah golok dimainkannya makin gencar, hingga ke 2 anak muda itu terpaksa mesti main mundur-mundur saja.
Selagi begitu, tiba-tiba tampak seorang melesat maju, dengan sekali teriak.
"Mari aku saja yang temani kau main-main !"
Tahu-tahu senjatanya sebatang gajuh besi terus menghantam.
Senjatanya sebilah kajuh besi, tapi gerakannya "Lou Ti Sim mengamuk dengan tongkatnya".
Jadi thiat-Ciang dipakai seperti tongkat.
Dalam tipu "Chin Ong pian Ciok"
Chin Ong menghajar batu, thiat-Ciang itu dari belakang punggungnya sendiri terus menghantam pundak lawan, hebatnya bukan buatan.
Melihat tenaga orang sangat besar, Tiong Ing mengegos kekiri, dari situ dia balas membaCok.
Orang itu Buru-buru me megang thiat-Ciang dengan ke 2 tangan untuk dipalang kan dan terus disapukan.
Itulah jurus "kim Coa kiam gwat"
Ular mas memotong rembulan, Cepat-cepat dan keras sekali.
Ciu Tiong Ing adalah murid Siao Lim Pai.
Dia kenal serangan lawan itu, ia miringkan tubuh untuk berkelit, dan nampak alisnya dikerutkan, seperti orang yang tengah me mikir sesuatu.
Sambil bertempur, dia terus mundur-mundur, tapi sikap kakinya tak berobah.
Pada saat itu tampak Ban Khing Lan lari menghampiri.
tiba-tiba secepat-cepat kilat, Tiong Ing mem balik tangan, membaCok kepala Khing Lan.
Kiranya tahulah Tiong Ing, bahwa salah faham orang-orang HONG HWA HWE tidak bisa diterangkan karena selalu digagalkan Ban Khing Lan.
Terhadap ke 2 kuku garuda jg akan memeras uangnya itu, Tiong Ing memang marah betul.
Tapi kalau mesti bertentangan dengan orang-orang pemerintah, itulah berba haja.
Berpuluh tahun dia hidup dengan tenang dan bahagia, sekali bentrok tentu hanCur berantakan.
Tiong Ing seorang tuan tanah yang kaja.
Dua puluh tahun dia berusaha keras dan berhasil mengumpulkan harta.
Sawah dan ladangnya sangat banyak sekali.
Sudah tentu, sedapat mungkin dia tak mau berbuat kesalahan pada Ban Khing Lan.
Disamping itu, untuk HONG HWA HWE dia telah bunuh anaknya sendiri, tetapi ternyata mereka tak kenal adat, sekurang-kurangnya menghormatinya sebagai orang yang lebih tua.
Kalau dia mau, dengan segera dapat dia pecundangi mereka, baru nanti memberi penyelasan.
Tapi ternyata orang-orang HONG HWA HWE makin lama makin banyak-banyak, dan pertempuran makin berkobar hebat.
Kalau diteruskan, tentu akan ada korban yang jatuh.
Dan salah faham itu tentu berobah menjadi permusuhan benar 2-Kini jago tua itu berkeputusan, untuk membasmi biangkeladinya yaitu Ban Khing Lan, baru nanti semuanya beres.
Disabet golok besar dari Ciu Tiong Ing, terbanglah semangat Ban Khing Lan.
Cepat-cepat dia mundur selangkah, tapi dalam pada itu Seng Hiap sudah memburu dari belakang.
Orang she Ban itu, Cepat-cepat enyot tubuhnya keatas meja, lalu berseru keras-keras.
"Bun Thay Lay Sudah kita tangkap, tentu pemerintah sedikitnya akan memberi hadiah selaksa tail perak, kau akan bunuh aku untuk mengkangkangi sendiri hadiah itu?"
Ban Khing Lan memang liCin.
Dia Cukup faham akan maksud Ciu Tiong Ing.
Karena itu, dia tetap akan adu orang-orang Thiat tan-thjung dengan orang-orang HONG HWA HWE dan dilepas kannya lidah beraCun itu.
Tadi sewaktu Tiong Ing membaCok Khing Lan, orang-orang tertegun sejenak dan berhenti berkelahi.
Tapi ketika men ngar kata-kata Ban Khing Lan, dalam suasana yang penuh dengan hawa pembunuhan itu, mereka tak dapat berpikir dengan dingin.
Dengan mengerang, si Bongkok Ciang Cin mengampak Tiong Ing lagi.
Sesak napasnya Tiong Ing rasanya, karena murka.
Namun dia tak berdaya untuk menyelaskan, dan terpaksa mengang kat golok untuk menangkisnya.' Adalah Thian Hong yang masih-bisa berpikir jernih.
Dia tahu bagaimana dalam per tempuran tadi Tiong Ing selalu berlaku murah, dia duga tentu ada sebab-sebabnya, maka Cepat-cepat ia berseru.
"Kiu-te jangan bertindak sembarangan!"
Namun napsu membunuh sudah menguasai diri si Bongkok, hingga tak didengarnya seruan itu.
Orang yang menggunakan thiat-Ciang (kajuh besi) adalah Thong-tauw-ngo-hi Ciang Su Kin.
Dengan thiat-Ciangnya itu dia sabet pinggang Tiong Ing, siapa Buru-buru miringkan tubuh untuk berkelit.
Tapi pada saat itu, dari arah belakang Seng Hiap melepaskan kong-pian untuk memukul pundaknya.
Merasa ada samberan angin dari belakang, Tiong Ing putar goloknya untuk menangkis, dan begitu berbenturan, lengan ke 2nya sama-sama terasa kesemutan.
Nyo Seng Hiap, Ciang Cin dan Ciang Su Kin adalah HONG HWA HWE punya "tiga samson"
Tenaganya luar biasa kuatnya.
Waktu Tiong Ing berbenturan senjata lagi dengan Ciang Cin, untuk ke 2 kalinya, tangannya merasa kesemutan.
Dan pada saat itu, thiat Ciang Ciang Su Kin pun menghan tam golok Tiong Ing, tak ampun lagi golok jago Thiat-tan-Chung terpental dari tangannya, melesat keatas menancap pada tiang penglari dan ter-katung 2 disitu.
Kian Hiong/Kian Kong ber 2 sangat terkejut ketika nampak senjata suhunya terlepas.
Serentak mereka akan membantunya, tapi Cepat-cepat dihadang oleh Wi Jun Hwa dengan sepasang gaetannya.
Jago Siao Lim Pai itu tak gugup sekalipun goloknya sudah terlepas.
Sebat luar biasa dia melesat kearah Seng Hiap.
Dengan gerak "kiong-Cian-jong-kun"
Busur terbentur kepalan, tangan kiri menyawut tangkai pian, sedang tangan kanan membarengi dengan sebuah jotosan kedada Seng Hiap.
Sudah tentu Seng Hiap gelagapan atas kesebatan jago tua itu.
Dalam gugupnya dia gunakan ilmu "tangan kosong merebut senjata,"
Untuk merebut kembali kong-piannya. Dengan ke 2 tangan dia kerahkan tenaganya untuk mem betot, dan akan berhasil. Tapi dadanya tak keburu dijaga, dan "bluk"
Pukulan Tiong Ing menimpahnya.
Kiranya Seng Hiap sangat andalkan akan ilmu thiat-poh-san (weduk) yang telah dijakinkan dengan sempurna.
Sekalipun tidak mempan dengan tombak atau golok, apalagi kalau senjata biasa, kebanyak-banyakan tentu takkan mempan.
Gelarannya "thiat-tha"
Itu berarti dia seumpama menara besi kokohnya.
Tenaga pukulan Tiong Ing adalah laksana palu yang dapat meremukkan kepala kerbau.
Dia kaget bukan terkira, se waktu melihat Seng Hiap tak kurang suatu apa.
Walaupun sebenarnya, sakitnya terasa disunsum dan jantung.
Dia burus sedot ambekannya, untuk menahan sakit.
Berbareng itu dia membetot kongpian yang masih dipegang Tiong Ing dengan sekuat tenaganya.
Sedang Tiong Ing pun tak kurang eratnya menarik.
Hingga sesaat itu, terjadilah tarik me narik.
Selagi begitu, Ciang Cin dan Ciang Su Kin berbareng ajunkan senjatanya kepada Tiong Ing.
Dalam saat 2 yang berbahaja itu, Tiong Ing segera lepaskan pegangannya, serta dengan sebat tangannya kanan mengangkat meja terus dilemparkan kearah Ciang Cin dan Su Kin.
Dan menyusul dengan itu, Kian Hiong loncat kepinggir untuk lepaskan bcberapa pelor, maksudnya untuk menahan ke 2 lawan yang mengancara suhunya itu.
Begitu dilemparkan, lilin diatasnya segera padam.
Seketika itu timbul ah suatu pikiran pada Kian Hiong.
Berturut-turut dia lepaskan pelor untuk membunuh mati semua penerangan lilin diruangan itu, hingga keadaan disitu menjadi gelap gulita.
Semua orang yang bertempur menjadi gelagapan, lalu sama-sama mundur kebelakang.
Seluruh pertempuran berhenti semua.
Sampaipun untuk bernapas, mereka sama tak berani, takut ketahuan musuh.
Selagi dalam kesunyian suasana yang tegang itu, tiba-tiba dari luar ruangan terdengar Inagkah kaki orang mendatangi, dan ketika pintu terbuka, masuklah seorang yang membawa obor.
Dandanan orang itu seperti anak seko lahan, sebelah tangannya yang satu memegang sebatang suling.
Begitu masuk dia terus berdiri tegak disamping dan mengangkat obornya tinggi 2.
Diantara sinar obor, masuklah tiga orang pula.
Seorang tojin, menggemblok pookiam, lengan bajunya yang sebelah kiri diselipkan pada pinggang nya.
Ternyata dia hanya berlengan satu.
Yang seorang lagi mengenakan jubah tipis, wajahnya berseri-seri seperti batu giok, dandanan dan sikapnya seperti kongcu.
Dibelakangnya mengikut seorang boCah dari belasan tahun umurnya.
Keempat orang itu yaitu Kim-tiok siuCay Ie Hi Tong, Cwi-hun toh-beng-kiam Bu Tim tojin dan Cong-thocu (ketua umum) yang baru dari HONG HWA HWE ialah Tan Keh Lok.
BoCah itu adalah pelajannya.
Saat itu Thian Hong berbisik kepada Wi Jun Hwa .
"Awas, jagalah jangan sampai orang-orang Thiat-tan-Chung bisa ada yang lolos."
Ke 2nya melingkar kebelakang Tiong Ing dan orang-orang Thiat-tan-Chung.
Kian Kong tahu maksud musuhnya itu, dengan gusar dia maju selangkah, untuk menegurnya tapi Buru-buru diCegah suhunya dengan berbisik .
"Jangan bersuara, lihat apa mereka kata."
Saat itu tampak I Hi Tong membawa 2 lembar karcis, maju kehadapan ketua Thiat-tan-Chung, setelah memberi hormat lalu berseru .
"Cong-thocu HONG HWA HWE Tan Keh Lok dan ji-tangkeh Bu Tim tojin akan mohon bertemu dengan Ciu loenghiong dari Thiat-tan-Chung". Kian Hiong maju menyambutinya untuk diserahkan pada suhunya. Melihat surat itu ditulis dengan kata-kata merendah a.l. Tan Keh Lok dan Bu Tim membahasakan diri seba gai orang tingkatan bawah, Tiong Ing Buru-buru rangkap ke 2 tangan memberi hormat seraja berkata .
"Kunyungan tamu 2 yang terhormat kedesa ini, menyesal jauh. 2 tak dapat kusambut. Mari silahkan duduk."
Tiong Ing perintah orang-orang nya supaya mengatur lagi meja kursi dalam ruangan itu yang sama sungsal sumbal tak ke ruan.
Demikianlah setelah sudah rapih dan lilin-lilin pun dinya lakan ke 2 fihak segera ambil tempat duduk masing-masing.
Pada rentetan fihak tamu tampak duduk menurut urut 2an kedu dukannya.
Tan Keh Lok, Bu Tim, Ji Thian Hong, Nyo Seng Hiap, Wi Jun Hwa, Ciang Cin, Lou Ping, Ciok Siang Ing', Ciang Su Kin, Ie Hi Tong.
Dan Sim Hi, itu pelajan Tan Keh Lok, berdiri dibelakang tuannya.
Pada saat itu Hi Tong mengerlingkan matanya kearah Lou Ping, siapa nampak kepuCat 2an wajahnya.
Dia menduga-duga adakah kejadian malam itu, sudah diketahui oleh Ciok Siang Ing.
Dia lihat roman algojo ini begitu keren sekali.
Kiranya setelah Lou Ping berlalu, Hi Tong seperti orang yang kehilangan semangat dan Cemas.
Hampir 2 hari dia ubek-ubekan disitu untuk menCari Lou Ping.
Kalau sampai bertemu musuh, tentu berbahajalah Lou Ping, karena pahanya masih luka.
Maksudnya dia akan memberi perlindungan secara bersembunyi.
Namun sia-sialah dia menCarinya itu, karena Lou Ping waktu itu sudah berada di Thiat-tan-Chung.
Pada malam ketiga, bukan Lou Ping yang dijumpainya melainkan Cong-thocu Tan Keh Lok dan ji-tangkeh Bu Tim tojin.
Segera ke 2 pemimpin HONG HWA HWE menjadi sangat gu sar, ketika diberitahukan bahwa Bun Thay Lay telah "di jual"
Oleh orang-orang Thiat-tan-Chung. Berkata sang Cong-thocu ;
"Sekalian heng-te kita sudah menuju Thiat-tan-Chung, siapa tahu mereka bakal tertipu oleh Ciu Tiong Ing. Seba-liknya kita pergi kesana dulu, baru nanti kita tolong Bun suko."
Bu Tim setuju.
Mereka tiba di Thiat-tan-Chung justeru diruangan itu sedang dilakukan pertempuran sengit dan te-pat Kian Hiong lepaskan pelor mem-bunuh 2i lilin.
Maka Hi Tong segera nyalakan obor.
Begitulah difihak tuan rumah, duduklah Ciu Tiong Ing, Beng Kian Hiong, An Kian Kong dan Ciu Ki.
Melihat ge-lagatnya ke 2 fihak akan mendapat penyelesaian, diam-Ban Khing Lan menyelinap kepintu.
Tapi ketika dia akan nyelo-nong keluar, Thian Hong loncat kemulut pintu menghadang-nya, katanya .
"Jangan pergi dulu, kita bicara secara terang."
Melihat fihak lawan berjumlah besar, dia tak berani menentang dan terpaksa balik kembali.
Setelah ke 2 fihak sama memperkenalkan nama, tahulah tuan rumah bahwa tetamunya itu adalah orang-orang kenamaan dalam kalangan liok-lim.
Tapi diam-diam jago tua itu merasa heran nampak Cong-thocu mereka yang masih begitu muda, dan yang lebih mirip dengan seorang kongcu dari pada seorang pemimpin besar yang anggotanya semua jago-jago kangouw yang gagah.
Orang-orang HONG HWA HWE tampak menghormat sekali pada Cong-thocu muda itu, hingga diam-diam Tiong Ing menjadi tak habis mengerti.
Sebaliknya nampak orang senantiasa mengawasi saja, dikiranya akan menaksir kepandaiannya, maka marahlah Cong-tho-Cu itu, katanya dengan dingin .
"Karena bertempur dengan kuku garuda dan mendapat luka-luka berat, su-tang-keh Pan Lui Chiu Bun Thay Lay terpaksa datang meneduh kemari. Demi persahabatan kaum bu-lim, Ciu locianpwe teiah begitu baik untuk memberi pertolongan. maka dari HONG HWA HWE disini aku haturkan terima kasih."
Sembari berkata begitu, dia berbangkit untuk menyura.
Ciu Tiong Ing tersipu-sipu membalas hormat, dan diam-diam dia kagum atas ketajaman ucapan anak muda itu, yang nyata-nyata menyewernya secara halus.
Dilain fihak Bu Tim dan Hi Tong pun sangat kagum dan diam-diam merasa girang bahwa kini HONG HWA HWE betul-betul mempunyai seorang pemimpin yang ber kewibawaan dan luas pandangannya.
Tidak demikian dengan si Bongkok Ciang Cin yang tak mengetahui arti sebenarnya dari ucapan sang thocu, maka berserulah dia keras-keras.
"Cong-thocu, situa itulah yang menCelakai Bun suko!"
Wi Jun Hwa yang duduk disisihnya Buru-buru menarik bajunya dan melarangnya jangan mengaCau pembicaraan. Tan Keh Lok seperti tak mendengarnya, dan dengan sopan san tun berkata lagi.
"Bahwa pada tengah malam buta saudara-saudara kita telah me ngunyungi tempat locianpwe, adalah memang tak pantas, harap locianpwe suka maafkan. Itulah disebabkan karena kita mendapat kabar Bun suko mendapat kesukaran dan Buru-buru akan menyemputnya. Dan entah bagaimana keadaan penyakit Bun suko itu, mungkin locianpwe sudah panggilkan sinshe, mohon locianpwe suka bawa kita orang kepadanya."
Habis mengucap begitu, pemimpin muda itu berbangkit, dan seluruh rombongan HONG HWA HWE pun ikut berbangkit.
Seketika itu Ciu Tiong Ing kemekmek, tak dapat memberi penyahutan.
Disaat itulah Lou Ping berseru dengan nyaring .
"Suko telah dibinasakan mereka, Cong-thocu, kita minta orang tua itu mengganti jiwanya."
Ciang Cin, Nyo Seng Hiap, Wi Jun Hwa dan lain-lainnya serentak menggerung, dengan melolos senjata masing-masing, mereka menghampiri kemulta. Dengan tabah Beng Kian Hiong pun berdiri lalu berkata .
"Bun-ya datang kemari, memang ada soalnya"
"Nah, kalau begitu harap Beng-ya antarkan kita kepadanya."
Thian Hong memutus omongan orang.
"Ketika Bun-ya, Bun naynay dan Ie-ya ini datang kemari, lo-ChungCu kita sedang tak berada dirumah. Akulah yang menyuruh orang mengundang sinshe ke Thioke-poh, hal ini Bun naynay dan Ie-ya tentu mengetahuinya. Kemudian da tanglah petugas-petugas pemerintah. Kami merasa malu tak dapat melindungi sehingga Bun-ya sampai tertangkap. Tan tangkeh, kalau menganggap kita kurang sempurna memberi penyambutan, memang kita akui. Kalau mau bunuh, bunuh lah. Aku orang she Beng jika sampai jerih, bukan seorang hohan. Tetapi kalau sekalian tangkeh menuduh loChungCu kami menyual sahabat, itulah kurang pantas!"
Lou Ping-serentak maju kemuka, seraja menuding ia memaki .
"Orang she Beng, kau masih tak malu menyebut hohan. Coba jawablah, kau suruh kita sembunyi dalam gowa yang demikian rapatnya, kalau sebelumnya tidak ada perjanyian, masa mereka bisa mengetahui persembunyian kita? Disemprot begitu, Kian Hiong tak dapat menyawab. Per istiwa Ciu Ing Kiat kena dipikat untuk menyual rahasia, orang-orang Thiat-tan-Chung merasa malu semua. Biar bagaimana takkan diCeritakan pada orang luar. Maka berkatalah Bu Tim pada Ciu Tiong-Ing .
"Waktu peristiwa itu terjadi mungkin benar 2 Ciu lochungcu tak berada dirumah. Tetapi kata orang "naga harus punya kepala, orang punya pemimpin."
Soal kejadian di Thiat-tan-Chung kita hanya dapat meminta pertanggungan jawab loChungCu saja, maka sukalah memberi jawaban."
Tiba-tiba Ban Khing Lan yang bersembunyi dipinggir berseru dengan lantang .
"Anaknyalah yang membuka rahasia itu, mengapa dia tak mau serahkan anaknya itu pada kau orang?"
"Ciu locianpwe, benarkah itu?"
Tanya Tan Keh Lok sambil melangkah setindak lagi.
Ciu Tiong Ing orangnya jujur, sekali-kali tak mau omong justa.
Dia anggukkan kepalanya.
Sesaat itu terdengarlah suara berisik dari orang-orang HONG HWA HWE, dan mereka makin mera pat, sambil menantikan tindakan sang!
thocu lebih lanyut.
Tan Keh Lok palingkan pandangannya kearah Ban Khing Lan, tanyanya dengan keren.
"Siapakah dia, belum sempat menanyakan gelaran saudara?"
"Dia adalah salah seorang kawanan kuku garuda yang telah menangkap Bun suko!"
Menyelutuk Lou Ping.
Tanpa mengucap apa-apa, dengan tenang ketua HONG HWA HWE itu maju kemuka Ban Khing Lan dan tiba-tiba dia ulurkan tangan merampas kong-jwan orang she Ban itu, terus dilemparnya.
Dan tak kurang sebatnya, tahu-tahu ke 2 tangan anggauta kuku garuda itu telah ditelikung kebelakang punggungnya, kemu dian Cukup dipegangi dengan tangannya kiri saja.
"Aduh, aduh!"
Khing Lan mengerung kesakitan, tapi dia tak berdaya untuk berontak lagi.
Gerakan Tan Keh Lok itu luar biasa sebatnya, sehingga orang-orang tak dapat mengetahui gerakan apakah yang diguna kan tadi.
Ban Khing Lan bukan sembarang jago, bugenya lihai sekali.
Hal ini disaksikan oleh orang-orang HONG HWA HWE sendiri.
Tapi kini ditelikung oleh pemimpin muda itu, dia tak dapat berkutik sama sekali.
Hal itu bukan saja menajubkan orang-orang Thiat-tan-Chung, sekalipun orang-orang HONG HWA HWE sendiri sama kemekmek dan terkejut.
Karena selama ini hanya di ketahui bahwa Cong-thocunya itu adalah achliwaris satuanya dari Thian Ti koayhiap, tapi bugenya sebegitu jauh, belum pernah mereka lihat dengan mata kepala sendiri.
"Dimana kau bawa Bun suya?"
Bentak Tan Keh Lok. Ban Khing Lan membisu, malah mengunyukkan sikap yang sombong, Tan Keh Lok totokkan jarinya kearah orang, seraja bentaknya .
"Kau bilang tidak?"
Ban Khing Lan mengeluh kesakitan, dan menyerit .
"Kau hendak menyiksa orang Cara begini, bukanlah laku seorang hohan kalau mau bunuh, bunuhlah"
Ucapan itu terhenti dengan berketesnya butir-butir keringat dari atas kepalanya, ketika Tan Keh Lok kembali menotok jalan darah "jwan-ma-hiat."
Kali ini Ban Khing Lan betul-betul tak dapat bertahan lagi, lalu bisiknya dengan lemah .
"Aku bilang ......... aku bilang."
Waktu Tan kembali menotok "khi-ie-hiat"-nya, meluncur kan beberapa patah kata dari mulut Khing Lan .
"Kalau ingin menolong dia, harus pergi ke Pakkhia."
"Dia belum binasa,"
Seru Lou Ping dengan menahan napas.
"Sudah tentu belum, dia kan pesakitan penting, siapa yang berani membunuhnya!"
Sahut siorang she Ban.
"Omonganmu ini boleh dipercaya?"
Kembali Lou Ping menegasi.
"Masa aku berani menyustaimu."
Karena dihadapi oleh rasa girang yang meluap-luap, Lou Ping roboh tak ingat diri.
Hi Tong segera ulurkan tangan hendak membangunkannya, tapi seCepat-cepat itu pula dia tarik kembali sang tangan.
Adalah si Bongkok yang Buru-buru memapahnya seraja berseru .
"Suso, kau kenapa?"
Disamping itu dia melirik kearah Hi Tong, karena merasa heran atas kelakuannya barusan. Berbareng pada saat itu Tan Keh Lok perintahkan pada pelajannya untuk mengikat Ban Khing Lan.
"Saudara-saudara sekalian, yang terpenting kita tolong Bun suko dulu. Perhitungan disini besok kita bereskan lagi."
Semua orang-orang HONG HWA HWE nyatakan setuju.
Pada waktu itu Lou Ping yang sudah tersedar dan duduk dikursi, sampai kucurkan air mata karena girangnya.
Tan Keh Lok lalu tinggalkan tempat itu.
Ciang Cin tetap memapah Lou Ping yang masih pintyang itu.
Ketika berada diluar, Cong-tho-Cu itu mengangkat tangan lagi dan berkata pada tuan rumah .
"Maaf, banyak-banyak membikin repot. Budi tentu terbalas dan takkan kami lupakan. Kelak kita berjumpa lagi."
"Hem,"
Demikian Tiong Ing perdengarkan suara hidung. Dia tahu sehabis menolong Bun Thay Lay, orang-orang HONG HWA HWE itu pasti akan datang membikin perhitungan lagi.
"Kalau kauorang tetap buta dengan kenyataan, akupun tak jerih,"
Demikian pikirnya.
"Habis menolong Bun suko, akulah Ciang bongkok, yang pertama-tama akan minta pengajaran dari enghiong hohan Thiat-tan-Chung ini,"
Seru Ciang Cin.
"Dengan kawanan anying atau beruang saja masih kalah tingkatannya, maCam apa disebut enghiong!"
Seru Seng Hiap. Mendengar itu marahlah Ciu Ki, puteri Tiong Ing, serunya .
"Kau maki siapa?"
"Kumaki orang tua yang tak punya perikemanusiaan dan yang tak becus urus rumah tangganya,"
Balas Seng Hiap tak kurang sengitnya. Kiranya meskipun si "menara besi"
Ini mempunyai ilmu thiat-pohsan, namun jotosan Tiong Ing yang kena dadanya tadi, sakitnya bukan kepalang. Tambahan lagi Bun Thay Lay ternyata "dijual"
Oleh putera musuhnya itu makin meluaplah kebenCiannya dan mendamprat sekena-kenanya. Ciu Ki yang beradat berangasan itu segera melangkah maju dan balas mendampratnya .
"Telur busuk macam kau, berani menista ayahku!"
"Hah! Budak perempuan ini!"
Bentak Seng Hiap seraja berlalu, karena dia paling benci bertengkar dengan orang perempuan. Karuan Ciu Ki makin berkobar amarahnya, masa ia disa makan seperti budak hina. Memburu maju, berserulah ia .
"Kau mau apa?!"
"Panggil kakamu, katakan aku Thiat-tah Nyo Seng Hiap mau bertemu!"
"Ha, kakaku?"
Balas Ciu Ki dengan heran.
"Ada soal jual sahabat, akan ada juga soal minta bertemu sahabat. Kokomu kan sudah menyual Bun suko, habis dia bersembunyi dimana?"
Wi Jun Hwa ikut mengomong.
Ciu Ki tetap tak mengerti maksud orang, karena ia tak merasa punya koko.
Sebaliknya Kian Hiong segera mengeta hui bahwa karena mendengar kata beracun dari Ban Khing Lan, oranga HONG HWA HWE itu telah salah faham.
Karena keadaan sudah memaksa, maka Kian Hiong bertekad akan mewakili suhunya, dan berserulah dia keras-keras.
"Liatwi kalau masih ada perkataan apa-apa, silahkan nyata kan sekarang, agar besok tak usah merepotkan liatwi untuk berkunyung kemari lagi!"
"Kita akan minta berjumpa dengan koko dari nona ini,"
Ciang Cin ikut bicara.
"Kau, si bongkok ini, sudah edan barangkali. Mana aku punya koko?"
Ciu Ki mendamprat dengan sengit. Dikatakan "bongkok"
Begitu, Ciang Cin menggerung, terus ulurkan sepasang tangan Cakar garuda untuk meraum muka sinona.
Ciu Ki Cepat-cepat menabas dengan goloknya dan peCahlah pertempuran.
Ciang Cin dengan ilmu silat tangan kosong "lin-na-kang"
Melajani Ciu Ki yang memainkan golok. Juga Wi Jun Hwa kibaskan siang-kaonya, sambil berseru .
"Beng-ya, mari kita main-main sebentar!"
"Silahkan Wi-ya mulai lebih dulu!"
Sahut Kian Hiong. Menyusul dengan itu, disana Ciang Su Kin pun mulai bertempur dengan Kian Kong.
"Kalau kawanan penyual teman ini tetap merintangi, kita bakar saja rumahnya ini!"
Tereak Seng Hiap. Pertempuran makin seru, disana sini terdengar gemeren Cingnya senjata beradu. Melihat itu tak kuasalah Ciu Tiong Ing menahan hatinya katanya pada pemimpin HONG HWA HWE .
"Bagus, HONG HWA HWE hanya pandai gunakan lidah melukai hati orang dan mengandalkan jumlah besar untuk menindas."
Seketika itu bersuitlah Tan Keh Lok keras-kerasseraja mene puk tangan 2 kali. Tiba-tiba pertempuran berhenti, dan orang HONG HWA HWE mundur berdiri dibelakang pemimpinnya. Berkatalah Tan Keh Lok .
"Ciu loenghiong memaki kita andalkan jumlah banyak-banyak untuk menCari kemenangan. Aku yang rendah ini seorang diri akan mohon pengajaran loenghiong!"
"Itulah bagus,"
Sahut Tiong Ing.
"Tadi kita sangat meng agumi gerakan Tan tangkeh, dan mengakui bahwa sifat eng-hiong itu sudah kentara sedari masih berusia muda. Lohu ingin sekali menerima pelajaran. Entah tangkeh mau ber main-main dengan senjata atau tangan; kosong saja?"
"Golok kan sudah menancap di penglari, bagaimana mau bertanding dengan senjata,"
Ciok Siang Ing berkata dengan tajam.
Dan memang ucapan itu telah memerahkan telinga Tiong Ing.
Semua kepala sama mendongak keatas penglari, memang benar disitu tertanCap sebatang kim-pwe toa-to.
Tiba-tiba ada sebuah bayangan mengapung keatas.
Dengan sebelah tangan memegang tiang bandar, sebelah tangan satunya menCabut golok itu.
Dan enteng laksana kapas, bayangan itu melayang turun lagi, terus menghampiri dihadapan Tiong Ing dan me nekuk separoh lututnya seraja mengangsur senjata itu keatas kepalanya, katanya .
"Ciu lo-thay-ya, inilah golokmu."
Melihat bayangan itu ternyata Sim Hi, pelajan Tan Keh Lok, orang-orang sama terkesiap.
Tidak dikira kalau boCah yang masih begitu hijau, ilmunya mengentengi tubuh sudah se demikian lihainya.
Diunyuki permainan begitu, Tiong Ing makin merah wa jahnya.
Dia hanya perdengarkan suara "hm,"
Tanpa menghiraukan Sim Hi, dia berkata pula pada ketua HONG HWA HWE .
"Tan tangkeh silahkan memakai senjata, lohu akan melayani dengan tangan kosong saja."
Waktu itu Kian Hiong Cepat-cepat menyambuti golok yang diangsurkan oleh Sim Hi, lalu membisiki suhunya .
"Suhu tak boleh menuruti kemarahan, pakailah senjata untuk tempur dia."
Kiranya Kian Hiong kuatir betul-betul suhunya akan melajani senjata musuh dengan tangan kosong, itu tentu berarti rugikan namanya.
Pada saat itu Sim Hi, sudah mengambil keluar senjata, terus diangsurkan pada majikannya.
"Cong-thocu, dia mau adu tangan kosong, baik thocu juga pakai tangan kosong untuk mengalahkannya,"
Bisik Thian Hong.
Ternyata dia ini beranggapan lain.
Bahwa tanda-tanda mengun jukkan kalau Ciu Tiong Ing itu lebih bersikap bersahabat daripada bermusuhan terhadap HONG HWA HWE Sekali gunakan sen-jata, tentu bakal ada yang mati atau terluka.
Rasanya dengan tangan kosong lebih sesuai.
Ke 2 kalinya, dia pernah rasakan kelihaian permainan golok Tiong Ing, yang meskipun dikerojok bersama Wi Jun Hwa, tetap tak terkalahkan.
Apalagi dia tak ketahui ba gaimanakah ilmu senjata dari Cong-thocunya.
Tadi yang disaksikannya ialah gerakan tangan Tan Keh Lok sewaktu menelikung Ban Khing Lan, memang lihai dan sebat sekali.
Jadi terang, kalau ilmu silat tangan kosong dari pemim pinnya itu sangat lihai.
Dengan berkelahi tangan kosong, dia bermaksud agar Cong-thocu bisa merebut kemenangan.
Tan Keh Lok menyetujui anyuran Thian Hong, dan katanya pada tuan rumah sembari tak ketinggalan merangkap ke 2 tangannya .
"Aku yang rendah akan mohon beberapa jurus gerakan tangan kosong dari Ciu lo-eng-hiong. Harap lo-enghiong berlaku murah."
"Ah, Tan tangkeh terlalu merendah", sahut Tiong Ing. Ciu Ki tampil kemuka untuk bantu meloloskan jubah ayahnya, sambil membisikinya .
"BoCah itu mahir tiam-hiat, harap ayah berlaku hati-hati."
Nona ini kelihatan marong wajahnya.
Sebenarnya ia di liputi kemarahan hebat, hanya musuh berjumlah banyak-banyak, dan rata-rata mereka bugenya lihai-lihai.
ia pun menginsyapi gen tingnya suasana saat itu.
"Kalau sampai terjadi apa-apa atas diriku, pergilah kau pada Kho sioksiok-mu di Lan Ciu. Dikemudian hari jangan sekali-' kau terbitkan onar lagi."
Tiong Ing memberi pesanan pada puterinya dengan suara bisik-bisik.
Dengan hati berat, Ciu Ki angguk-anggukkan kepalanya.
Kala itu Song San Beng sudah perintahkan kawanan Congteng untuk menyingkirkan meja dan kursi-kursi di ruangan itu, sehingga kini merupakan sebuah ruangan kosong yang luas.
Pada empat penyuru, dipasanglah lilin-lilin besar yang menyinari ruangan itu dengan terang sekali.
Ciu Tiong Ing tampak tampil ditengah-tengah, merangkap ke 2 tangannya, dia berkata .
"Harap silahkan memulai."
Dengan tiada menukar jubahnya yang panyang , Tan Keh Lok dengan tenang menghampiri ditengah-tengah. Sembari meme gang kipas yang terus dikipas-kipaskannya, katanya dengan lan tang.
"Aku yang rendah ini kalau sampai kalah, tentu akan mengundang semua Cianpwe dari kalangan persilatan daerah barat utara sini untuk menyaksikan penghaturan maaf kita kepada loenghiong. Dan selanyutnya anggota-anggota HONG HWA HWE tak kan menginyak didaerah Kamsiok sini."
"ucapan Tan tangkeh ini terlalu berat,"
Jawab Tiong Ing. Tan Keh Lok mengangkat alisnya, lalu bertanya .
"Tetapi sebaliknya kalau lo-Cianpwe yang "salah tangan,"
Lalu bagaimana?"
Jago Thiat-tan-Chung itu dangakkan kepalanya seraja tertawa. Dengan menguruti jenggotnya dia menyahut .
"Seluruh penghuni Thiat-tan-Chung, tua muda, bersedia serahkan jiwa pada Hong Hwa Hwe!"
"HONG HWA HWE meskipun hanya sebuah perkumpulan kecil yang tak berarti, tapi dapat juga membedakan budi dengan ke jahatan. Bagaimana kita disuruh membunuh orang-orang yang tak ikut berdosa? Kalau aku beruntung dalam pertandingan ini, kita akan berlaku kurang ajar untuk minta agar locianpwe suka serahkan putera locianpwe yang memboCor kan tempat persembunyian Bun suko itu. Kalau kelak Bun suko dapat kita tolong dengan selamat, aku menyamin tak kan mengganggu seujung rambutnya dan akan mengantar kan kembali kesini. Tetapi kalau sampai Bun suko kena apa-apa maaf, kita terpaksa suruh dia mengganti jiwa,"
Demikian kata Keh Lok.
Mendengar disebut-sebutnya sang putera, teringatlah Tiong Ing akan kecintaan ayah dan anak, dan tak terasa matanya mengembeng air mata.
Tapi pada lain saat sambil mengulap mukanya, dia berkata .
"Sudah jangan banyak-banyak berkata, silahkan mulai!"
Tan Keh Lok selipkan kipasnya kedalam dada, berdiri te gak dia rangkap ke 2 tangan dan berkata.
"Silahkan!"
Semua mata mengawasi pemimpin muda itu dengan tak terkesiap.
Diam-diam mereka kagum atas sikapnya yang agung perbawa itu.
Ciu Tiong Ing menaati peraturan Siao Lim Pai, tangan kiri dibuka, tangan kanan mengepal.
Dia tahu sebagai angkatan muda, ketua HONG HWA HWE itu pasti tak mau menyerang dulu.
Maka diapun tak mau tunggu lama-lama lagi, terus menyerang muka sitetamu dengan gerak "Co Cwan hoa Chiu."
Pukulan itu luar biasa kerasnya, kepalan belum tiba anginnya sudah menampar muka. Tan Keh Lok bergerak dengan "han kee poh,"
Tangan kanan menyampok pukulan Tiong Ing, berbareng tangan kirinya menyikut lambung orang. Pukulan ini adalah ilmu silat Siao Lim yang disebut "tan hong tiao yang"
Burung hong meng hadap matahari.
Gerakan itu membuat kesima semua orang.
Mereka sama tak mengira kalau pemimpinnya itupun dapat gunakan ilmu silat Siao Lim Pai untuk lajani ilmu silat dari Cabang Siao Lim yang diyakinkannya berpuluh tahun itu.
Sampaipun Ciu Tiong Ing sendiri merasa heran.
Jilid 7 DEMIKIAN jurus demi jurus.
Tan Keh Lot berkelahi dengan ilmu silat Siao Lim Pai yang dimainkannya dengan mahir sekali.
Sehingga walaupun namanya bertempur, tapi nyatanya mereka itu seperti orang berlatih karena gerakan masing-masing sama sumbernya.
Lebih sepuluh jurus telah berlangsung, tapi masih belum ada yang terdesak.
Ciu Tiong Ing adalah seorang jago Siao Lim Pai yang telah mencapai punCaknya kesempurnaan.
Gerak kaki dan tangannya, senantiasa mengeluarkan deru samberan angin.
Ke lebihan ilmu silat Siao Lim Pai, adalah dalam hal kesebatan.
Demikianlah Tiong Ing makin lama makin gesit.
Pada saat itu dia bersilat dengan gerakan "jong-siao lim"
Yang terdiri dari tiga tujuh jurus.
Baru sampai separoh, Tan Keh Lok segera terdesak.
Selagi begitu Tiong Ing berseru keras sembari memutar tubuhnya kekiri, dari situ dengan gerak secepat-cepat bintang jatuh, dia rangsang lawannya.
Tan Keh Lok buru-mundur selangkah, namun biar bagaimana, orang-orang Hong Hwa Hwe sama mengeluarkan jeritan tertahan, karena hampirs saja pemimpin muda itu tak dapat loloskati diri.
Kini Tan Keh Lok tidak lagi gunakan Siao Lim Kun, tap"!
berganti dengan "ngo-heng-lian-hoan-kun"
Juga salah suatu ilmu silat yang lihai dari; Siao Lim Pai. Dalam salah satu jurusnya yang dinamakan "oh-liang-jay-kwa"
Naga hitam menyambar semangka, dia hajar dada orang.
"Bagus!"
Seru Ciu Tiong Ing sembari masih tetap gunakan jurus ilmu silat Siao Lim Kun untuk memusnahkan serangan.
Setelah lewat beberapa jurus, mendadak Tan Keh Lok ganti menyerang dengan "pat-kwan-yu-sim-Ciang,"
Menyerang sana-sini sambil ber-putar 2.
Karena jubahnya berge rombongan, maka diantara sinar lilin, tampaknya seperti sepuluh buah bayangan yang mengitari lawan.
Ciu Tiong Ing Cukup berpengalaman, dengan tenang dia sambut setiap serangan, hingga lawan tak dapat berbuat banyak-banyak.
Ketika Ciu Tiong Ing kirim sebuah serangan lagi, Tan Keh Lok gunakan lweekang untuk pegang tangan orang.
Gerakan itu adalah dari ilmu silat Thay Kek Kun yang disebut "ji hong si pit".
Tan Keh Lok bergerak dalam gerakan Thay Kek Kun, de ngan ketenangan melajani kekerasan, dengan kelemahan me nundukkan kekuatan.
Dia halau setiap serangan, dia enyahkan setiap tipu gerakan.
Pada waktu itulah mata semua orang baru sama terbuka dengan penuh kekaguman.
Sejak dulu ilmu silat Thay Kek Pai mempunyai sifata keistimewaan sendiri, dan sedikit saja yang dapat memiliki sempurna.
Sekalipun muda usia ketua HONG HWA HWE itu, tetapi ternyata dia mempunyai ilmu gwakang dan lwekang yang sempurna.
Suatu hal yang jarang terdapat dikalangan kangouw.
Thiat-tan Ciu Tiong Ing, jago Siao Lim yang kawakan itu, terpaksa harus melajani dengan hati-hati.
Memang nampak nya gerakan ke 2 lawan itu lambat, tapi dimata achli silat, pertempuran itu lebih dahsyat dari semula.
Sampai pada jurus ke 2, ke 2nya masih belum mengunyukkan mana yang lemah.
Tiba-tiba Tan Keh Lok berganti Caranya berkelahi.
Kini dia gunakan ilmu silat Tiang Kun dari kaum Bu Tong Pai, se bentar pula dengan ilmu silat "toa-lin-na-hwat"
Yang terdiri dari tiga enam jurus, lalu dengan "hun-Ciat-Cho-kut-Chiu"
Dan lain saat lagi dengan ilmu silat Gak-ke san-Chiu.
Baik kawan maupun lawan sama terpesona, tak habis-habisnya mengagumi.
Bahwasanya pemimpin muda dari HONG HWA HWE itu kaja dengan pelbagai ragam ilmu silat, yang kesemuanya sukar dan jarang dapat dijakinkan.
Dan mereka sama me nantikan dengan perhatian, ilmu silat apa lagi yang akan dikeluarkannya.
Ciu Tiong Ing tetap bertekun menggunaklm ilmu silat Siao Lim Kun, dan nampaknya dia tak jsatfhpai keteter.
Ber puluh tahun berkelana dikalangan Sungai Telaga, jenis ragam ilmu silat dari Cabang apa saja telah diketahui dan dijumpainya.
Sekalipun achli yang mahir dengan berbagai ilmu silat seperti Tan Ken Lok tersebut belum p'ernah di lihatnya, tapi dengan mengandal pada Siao Lim Kun, dia dapat melajaninya dengan tak sampai kewalahan.
Suatu saat, jago Siao Lim Pai itu tiba-tiba melangkah se tindak, sebat luar biasa, dia kirim pukulan kiri kekaki lawan.
Dan selagi anak muda itu akan menarik tubuh, tahu-tahu lawan telah gunakan gerakan "li-hi-bak-thing"
Ikan lehi menggoyang angsan."
"Rett"
Tahu-tahu jubah Tan Keh Lok pada bagian dada telah rowak seperti terbeset.
"Maaf!"
Seru Ciu Tiong Ing. Muka Tan Keh, Lok merah padam. Cepat-cepat ke 2 jarinya akan menotok jalan darah "jwan-ma-hiat"
Dari lawan, namun lawan telah bersiap, maka ke 2nya terlibat lagi dalam pertempuran yang gigih.
Kembali pada saat itu orang-orang sama ke-heran 2an lagi.
Karena mereka tak tahu ilmu silat apa yang digunakan oleh ketua muda itu, ilmu "Toa-kim-na-Chiu"
Dicampur dengan tiamhiat (totokan). Tangan kiri bergerak dalam "Cat-kun,"
Tapi tangan kanannya bergerak dalam "Bian-Ciang"
Pukulan kapas. Gerak serangannya seperti "pat-kwa-Ciang,"
Tapi gerak penyagaannya seperti Thay Kek Kun.
Gerak ragamnya, seperti tak keruan, kaCau balau, sehingga mata orange yang mengikutinya sama berkunang-kunang.
Kiranya ilmu silat itu adalah Ciptaan dari Thian Ti koay-hiap, Wan Su Siao, yang disebut "peh-hoa-jo-kun"
Ilmu silat ratusan bunga.
Thian Ti Koayhiap sejak muda gemar belajar buge.
Dia merantau jauh sekali untuk mengunyungi dan berguru pada guru 2 yang ternama, sehingga mahirlah dia akan peibagai Cabang ilmu silat.
Setelah itu dia menetap didaerah Sinkiang, untuk menyembunyikan diri.
Disitulah dia mulai mejakinkan ilmunya, mengambil kele bihan dari sesuatu Cabang ilmu silat, mehtyang kok sana-sini dan achirnya terCiptalah "peh-hoa-jo-kun"-nya itu.
Ilmu silat ini bukan saja sukar diduga"
Tapi juga mempunyai keistimewaan sendiri, yaitu yang terletak pada gerakan "jo"
Salah.
Benar jurus-gerakannya hampir serupa dengan apa yang terdapat dalam Cabang ilmu silat yang terdapat di kalangan kangouw, tetapi sebenarnya tidak sama.
Bermula lawan tentu mengira bahwa serangannya itu adalah tipuan, tetapi dia nanti akan menjadi kaget setelah menangkis dan dapatkan bahwa serangan itu bukan seperti yang diduganya.
Untuk mejakinkan ilmu silat luar biasa ini, orang harus mahir dalam ilmu gwakang dan lwekang, kim-na-kang, tiamhiat dan ilmu mengentengi tubuh.
Sejak Thian Ti koay-hiap Ciptakan ilmu tersebut, dia sendiri belum pernah meng gunakannya.
Dan murid tunggal satu-nya, ialah Tan Ken Lok ini.
Begitu Tan Keh Lok keluarkan "peh-hoa-jo-kun"-nya, orang-sama menyaksikan perobahan pada jalannya per-tempuran itu.
Dengan sepasang tangannya, Ciu Tiong Ing berusaha untuk menangkis dan melindungi mukanya.
Dan sembari begitu, dia terus mundur-mundur saja.
Dia bingung untuk menduga gerak serangan anak muda itu.
Bukan saja gerakannya aneh, pun pukulannya, totokan jarinya, mengandung jurus' 2 dari ilmu golok dan pedang.
Betul-betul dia gelagapan.
Ketika melihat ayahnya terdesak kalah, Ciu Ki sibuk seka li, lalu berseru keras.
"Ilmu silat apa yang kau keluarkan itu? Sungguh gila! Katanya adu silat, mengapa kau gunakan pukulan yang tak keruan maCamnya itu?"
Baru saja dia berseru begitu, dari luar ruangan masuk lah 2 orang sambil bertereak.
"Tahan!"
Ternyata mereka, bukan lain adalah Liok Hwi Ching dan Tio Pan.
San.
Tapi justeru orange Hong Hwa Hwe akan membuka mulut kepada ke 2 orang ini, tiba-tiba terdengarlah dari arah luar seorang berseru dengan keras sekali.
"Api.. ada api! Lekas padamkan kebakaran!"
Dan berbareng dengan tereakan itu, api sudah menyilat masuk ke ruangan itu.
Ketika itu Tiong Ing sedang dirangsek oleh Tan Keh Lok, begitu mendengar tereakan rumah dan seluruh isinya dima kan api, dia terkesiap juga dan untuk sesaat pikirannya bujar memikirkan hal itu.
Cukup sesaat saja, sekonyong-konyong paha kirinya terasa kesemutan, dan dia merasa kakinya le mas.
Ternyata "hu hi hiat"
Atau jalan darah dipahanya, telah kena tertotok orang.
Ciu Tiong Ing, jago tua yang telah berpuluh tahun malang melintang dikalangan Sungai Telaga dengan belum pernah dijatuhkan orang itu, kini sempojongan akan roboh kebelakang.
"Ayah!"
Demikian dengan Cepat-cepat Ciu Ki memburu untuk memapahnya, sembari melintangkan goloknya untuk melin dungi sang ayah, bilamana musuh akan menyerangnya lagi.
Tapi sebaliknya Tan Keh Lok tak mau memburu, dia ha nya mundur selangkah, seraja berkata.
"Bagaimana kata Ciu loenghiong sekarang?"
"Baik, aku mengaku kalah. Anakku kuserahkan, mari ikut aku", balas Tiong Ing dengan murkanya. Dengan dipapah oleh puterinya, Tiong Ing menuju keluar ruangan. Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching dan sekalian orange HONG HWA HWE sama mengikuti Tiong Ing. Melintasi 2 buah ruangan, tampaklah api makin besar. Dalam malam yang gelap gulita, api itu menyulang keydara, merah marong diantara kabut asap yang ber-gumpal 2 memenuhi angkasa itu. Beng Kian Hiong, An Kian Kong dan Song San Beng siang 2 sudah me ngepalai kawanan Congteng untuk memadamkan api.
"Saudara-saudara, kita bantu memadamkan api dulu!"
Kedengar an Ji Thian Hong mengajak Kawan-kawan nya.
"Hem, kau yang suruh orang melepas api, sekarang pura-pura mau menjadi orang baik-baik , ja?"
Ciu Ki mendamprat.
Tadi iapun mendengar, Thian Honglah biangkeladi yang memerintahkan membakar, mengingat itu, dengan tanpa hiraukan musuh berjumlah besar ia angkat goloknya untuk monyerang orang itu.
Thian Hong bi ru 2 menyingkir.
Ciu Ki makin kalap, dan terus akan mengubernya.
Tapi telah diha dang Tio Pan San yang memberi nasehat untuk berlaku tenang dulu.
Sekalipun Ciu Ki ber-jingkrak 2 meronta-ronta, tapi dengan hanya menyempitkan tangan pada gigir golok, Pan San telah membuatnya tak berdaya.
Tiong Ing tak hiraukan hal itu dan terus melangkah ke belakang.
Orang-orang HONG HWA HWE menjadi terkesiap, ketika menge tahui bahwa ruang itu adalah tempat lingtong (ruangan je nazah).
Dua batang lilin putih, menyinarkan Cahajanya yang pudar, hingga keadaan ruangan itu sangat menyeramkan sekali.
Begitu Tiong Ing menyingkap kain selubung putih, maka tampaklah sebuah peti mati yang hitam warnanya.
Tutup peti itu ternyata masih belum dipaku.
Kiranya sete lah puteranya meninggal, karena Ciu Ki masih belum pu lang, maka Tiong Ing belum mau menutup peti itu dulu, agar nanti.
Ciu Ki dapat kesempatan untuk melihat adiknya untuk yang penghabisan kali.
"Bahwa anakku telah memboCorkan tempat persembunyian Bunya, itu meniang benar. Dan kini kau orang akan mem bawa anak itu, baiklah, mari ambil ah dia!"
Demikian kata Tiong In; dengan suara tak lancar.
Nyata jago tua Itu masih terkenang akan putera yang dikasihinya itu.
Menampak seorang jenazah anak kecil ter hampar didalam peti mati, orang-orang HONG HWA HWE itu tak habis herannya.
Maka berserulah Ciu Ki.
"Adikku adalah seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun. Dia sebetulnya belum mengerti apas dan telah menunyuk kan tempat persembunyian orang she Bun itu. Ketika ayah pulang, dia begitu murka dan sampai tegah untuk membu nuh dengan tangannya sendiri. Karena inilah maka sampai ibuku marah dan meninggalkan rumah. Bukankah ini meng girangkan hati kalian? Kalau masih belum puas, Ayo orang HONG HWA HWE, bunuhlah kita, ayah dan anak ber 2, Ayo!"
Seketika itu orange HONG HWA HWE sangat menyesal sekali, alas perbuatan mereka terhadap orang tua Ciu Tiong Ing yang ternyata seorang perwira yang menyunyung tinggi rasa ke adilan dan peri kebajikan itu.
Rasa sesal, terharu dan menghormat itu, memenuhi dada setiap orang HONG HWA HWE, se hingga ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap.
Si Bongkok Ciang Ciu adalah orang pertama yang meng unyukkan ketulusan hatinya.
Melangkah kemuka, dia segera menyura dihadapan Ciu Tiong Ing, seraja berkata.
"Loya, tadi telah bersalah besar terhadapmu, aku Ciang"
Bongkok, dengan ini meminta maaf se-besar 2nya. Habis berbuat begitu, kembali dia menghadap kearah nona Ciu Ki untuk menyura dan berkata pula.
"Nona, maafkanlah aku. Seterusnya panggil ah aku "bong-kok"
Sekehendak hatimu, tak sekali-kali aku berani marah."
Mendengar itu, Ciu Kie tertawa urung.
Pada saat itu ber-turut 2 Tan Keh Lok, orang yang pernah memaki orang tua itu jakni Lou Ping, Nyo Seng Hiap, Chi Thian Hong dan lain-lain orang HONG HWA HWE, sama datang menyura untuk menghaturkan maaf pada Tiong Ing.
Jago tua yang keras hati ini tersipu-sipumembalasnya.
Berkata pemimpin HONG HWA HWE.
"Kebajikkan yang Ciu loenghiong tumpahkan pada HONG HWA HWE, akan kita ukir sampai mati. Saudara-saudara sekalian, kita perlu lekas padamkan api, Ayo lekas bertindak!"
Mereka serentak menyingsingkan lengan baju.
Tapi ternyata api berkobar dengan hebatnya, sehingga langit seperti dibakar warnanya.
Genteng 2 berguguran ketanah, belandar dan penglari roboh disana sini, gegap gempita dihimpit dengan tereakan kawanan Conteng yang riuh itu.
Propinsi Anse, terkenal daerah "sarang"
Angin.
Setahun penuh, tak ada seharipun yang tak berangin.
Angin bukan sembarang angin, tapi angin besar yang ki at sekali.
Diki pasi oleh sang angin, tambahan lagi air sangat sukarnya, maka api itu rasanya susah untuk dipadamkan.
Thiat-tan-Chung yang megah luas itu, sebentar lagi akan menjadi tumpukan puing rata dengan tanah.
Adalah dalam keadaan begitu, Ciu Tiong Ing tetap meme gang peti mati puteranya, sikapnya seperti orang yang tak sadar.
Api sudali menyilat masuk kedalam ruangan, sedang Wi Jun Hwa, Ciok Siang Ing, Cio Su Kin dan lain-lain.-nya sama berusaha untuk memadamkannya.
Nampak ayahnya seperti orang yang kehilangan semangat itu, berserulah Ciu Ki.
"Ayah, Ayo kita keluar dari sini!"
Ciu Tiong Ing tak mengacuhkan, dia hanya memandang dengan tak terkesiap pada peti mati puteranya.
Tahulah kini orange itu, bahwa ayah yang sengsara itu tak tegah untuk lepaskan peti mati jenazah puteranya itu dimakan api.
Tiba-tiba Ciang Bongkok membungkukkan badannya dan berseru pada Seng Hiap.
"Pat-ko, kau letakkan peti keatas punggungku sini!"
Seng Hiap menurut, begitu peti diang-kat terus ditumpang kan keatas punggung si Bongkok siapa terus mendukungnya keluar.
Dengan dipapah puterinya, Tiong Ing berjalan keluar di kuti oleh rombongan HONG HWA HWE Mereka beristirahat disebuah lapangan diluar Chung.
Tak berselang berapa lama, ter dengarlah suara gemuruh keras dari tiang penglari wuwung an rumah yang jatuh ketanah.
Karena tak berdaya untuk memadamkan api, sekalian orang sama berkerumun disebelah Tiong Ing.
"Astaga! kuku garuda itu masih didalam sana!"
Tiba-tiba Sim Hi bertereak dengan kaget. Dan dia terus loncat akan menolongnya, tapi diCegah oleh orang banyak-banyak.
"Orang yang banyak-banyak dosanya itu, biarkan saja terbakar hangus disitu,"
Seru Ciok Siang Ing.
"Sayang , orang piauwkok itu diberi kemurahan,"
Tiba-tiba Lou Ping bertereak.
"Siapa. dianya?"
Tanya Tan Keh Lok. Lou Ping Ceritakan halnya Tong Siu Ho, si Cumi-cumi itu. Juga Kian Hiong menuturkan tentang kedatangan orang itu untuk menyelidiki Thiat-tan-Chung.
"Benar, tentu dialah yang melepas api!"
Kata Thian Hong.
Semua orartg pun menduga, tentu perbuatan orang she Tong itu.
Pada suatu kesempatan Thian Hong mengerlingkan matanya kearah Ciu Ki, siapa juga justeru melirik Thian Hong.
Maka bertemulah sinar dari ke-empat mata!
Buru-buru ke 2nya membuang muka karena jengah.
"Kita harus tangkap orang itu,"
Tan Keh Lok nyatakan pikiran, lalu memerintah.
"Chi jit-ko, Nyo patko, Wi kiuko, Ciang sipko, kauorang berempat leicas peCahkan diri menuju keempat jurusan. Dapat menawan atau tidak, dalam satu jam harap sudah kembali lagi kemari!"
Keempat orang itu bergegas-gegas menyalankan perintah Sedang disebelah sini, tampak Liok Hwi Ching pasang omong dengan Ciu Tiong Ing.
Mereka sama mengagumi satu sama lain.
Pada saat itu kembali Tan Keh Lok meng haturkan maaf pada Ciu Tiong Ing seraja berkata.
"Karena HONG HWA HWE maka loenghiong sampai mengalami ke adaan begini. Budi loenghiong akan kami balas sekuat usaha kami. Tentu kita Cari Ciu lothaythay supaya dapat kembali pada loenghiong. Thiat-tan-Chung sudah menjadi abu, H.H H. yang akan membangunnya. Kerugian dari sekalian saudaraa Cengteng, HONG HWA HWE yang mengganti. Harap semuanya jangan kuatir."
Nampak Thiat-tan-Chung menjadi abu, Tiong Ing meng elah napas. Berpuluh 2 tahun membangun, habis dalam se malam. Tetapi mendengar ucapan pemimpin HONG HWA HWE itu, Buru-buru dia menyahut.
"Jangan Tan tangkeh mengucap begitu. Harta benda adalah barang titipan. Kalau kau tetap beranggapan begitu, sama saja artinya dengan menghina aku, tidak mau meng anggap aku sebagai sahabat,"
Demikian katanya.
Ciu Tiong Ing paling gemar bergaul.
Dia saksikan bagai mana tadi orang-orang HONG HWA HWE mati 2an berusaha menolong api, dan bagaimana sikap mereka yang begitu mengindahkan padanya, diam-diam hatinya terhibur.
Sekalipun Thiat-tan-Chung musna, tapi dia dapatkan pengganti yang berharga.
tali per sahabatan dengan begitu banyak-banyak orang gagah.
Setelah diadakan pemeriksaan, selain hanya kira-kira sepululian prang yang luka terbakar, yang mati atau luka berat saja tidak ada.
Ketika kemudian Song San Beng sampaikan kata-kata pemimpin HONG HWA HWE itu pada sekalian Cengteng, mereka menjadi terhibur juga.
Selagi orang masih sibuk, datanglah Wi Jun Hwa dan Ciang Bongkok melapor pada Tan Keh Lok bahwa Tong Siu Ho tak dapat diketemukan sekalipun sudah diCari sampai enam atau tujuh li jauhnya, Tidak berapa lama, Thian Hong dan Seng Hiap pun munCul, dengan tangan kosong juga.
"Tidak apa, dia. kan orangnya Tin Wan piauwkok, biarkan dulu besok kita urusi lagi,"
Habis berkata begitu Tan Keh Lok berpaling kearah Tiong Ing, katanya.
"Ciu locianpwe, untuk sementara ini sekalian Cengteng itu akan disuruh kemana?' ' "Soal ini, besok pagi sesudah keadaan tenang, kita pikir kan lagi,"
Kata siorang tua.
"Siaotit ada usul, harap ioCianpwe suka pertimbangkan,"
Tiba-tiba Thian Hong menyelak.
"Jit-ko kita ini terkenal sebagai Bu Cu Kat, dia banyak-banyak sekali akalnya,"
Kata"
Tan Keh Lok setengah bersendagurau. Melirik pada Thian Hong, nona Ciu Ki perdengarkan suara hidung, lalu berkata pada Kian Hiong.
"Beng toako dengarlah, ada orang yang melebihi hebatnya dari Cu Kat Liang, banyak-banyak akal, pun bisa buge!"
Kian Hiong hanya tersenyum, maka berkatalah Tiong Ing.
"Ji-ya, Coba kau bilanglah."
"Kukira setelah orang she Tong itu melarikan diri dan orang she Ban itu tak kelihatan kembali, kawanan kuku garuda itu pasti akan melapor pada pembesar negeri. Me nurut pendapatku, lebih baik orang-orang Thiat-tan-Chung ini menuju ke barat saja, untuk menantikan suasana kalau sudah agak reda. Kalau kita ketimur menuju kota Ti Kim Wi, rasanya kurang leluasa."
Tiong Ing setuju, katanya.
"Benar, lotit memang tak ke Cewa sebagai Bu Cu Kat. Besok kita berangkat ke Anse. Disana aku punya sahabat yang rasanya takkan keberatan menerima kita untuk beberapa hari saja."
Mendengar ayahnya malah memuji Thian Hong, Ciu Ki mendelu hatinya.
Walaupun sekarang sudah nyata bahwa Thian Hong bukan yang membakar Thiat-tan-Chung, tapi entah bagaimana, ia benCi pada orang itu.
Makin melihat, makin muak rasanya.
Setelah mengumpulkan semua Cengteng dan keluarganya yang berjumlah enam 2 orang itu, maka Tan Keh Lok menyerah kan sepuCuk surat pada Song San Beng seraja berkata.
"Kali ini saudara-saudara menderita kerugian besar, untuk itu aku merasa menyesal sekali. Untuk menetap di Anse, tentunya saudara-saudara semua memerlukan ongkos, maka dengan ini suka lah kiranya mcnerima sedikit pemberian yang tak bcrarti ini."
Begitu melihat surat itu, terkejutlah Song San Beng, se hingga untuk sesaat dia tak dapat berkata apa-apa. Kian Hiong mendekatinya, dan tampak olehnya pada surat itu terdapat tulisan yang berbunyi.
"Dengan surat ini harap diberikan sepuluh ribu tail perak". Dibawah tulisan itu, terdapat tanda tangan yang bagus, entah apa bunyinya.
"Tan tangkeh, kebaikanmu itu kita terima dengan senang hati, tapi uang yang begini banyak-banyak, menyesal kami tak dapat menerimanya,"
Kata Kian Hiong.
"Setiba di Anse harap Song-ya pergi kekuil Giok Hi To Kwan untuk mengambil uang tersebut. Untuk keluarga Beng-ya dan An-ya masing-harap diserahkan seribu tail. Song-ya sendiri harap mengambil 500 tail. Sedang untuk enam 2 saudara itu, masing-masing supaya diberi seratus tail. Selebihnya silahkan pakai untuk ongkos jalan,"
Menerangkan Tan Keh Lok.
Bermula Beng Kian Hiong mau menolak, tapi telah dide sak oleh anak muda pemimpin itu.
Kian Hiong memandang kearah suhunya, akan minta pertimbangan.
Sifat Ciu Tiong Ing adalah tangan terbuka.
Dia paling benCi orang yang main sungkan 2an, maka katanya.
"Karena itu sudah menjadi kehendak Tan tangkeh, kau terima saja dan lekas haturkan terima kasih."
Apa boleh buat mereka Cepat-cepat haturkan terima kasih.
Adanya Tan Keh Lok tak menghaturkan apa-apa pada Ciu Tiong Ing dan puterinya, karena sangat menghargainya.
Untuk Itu legahlah hati jago tua itu.
"Tan tangkeh, betul-betul kau mengliargai mukanya seorang tua ini,"
Kata Tiong Ing seraja menepuk bahu ketua HONG HWA HWE itu.
Tiong Ing titahkan San Beng segera ajak rombongannya berangkat ke Anse untuk meneduh ketempat kediaman Go tay koan-jin dulu.
Kelak setelah urusannya selesai, mereka akan dipanggil lagi.
"Ayah, jadi kita tak ikut pergi ke Anse?"
Tanya sang puteri.
"Mana bisa, Bun suya tertangkap ditempat kita, bukankah kita ikut bertanggung jawab untuk monolongnya?"
Mendengar maksud ayahnya akan ikut membebaskan Bun Thay Lay, giranglah hati Ciu Ki, Kian Hiong dan Kian Kong.
"Maksud mulia dari Ciu locianpwe, sangat kita jun jung dengan rasa terima kasih yang se-besar 2nya,"
Demikian Tan Keh Lok Buru-buru menyang gapi.
"Tapi menolong Bun suko itu adalah soal pembunuhan dan perlawanan pada kekuasa an pemerintahan. Liatwi sekalian adalah rakjat baik-baik yang hidup dengan tentram, jauh berbeda dengan orang-orang peran taUan kangouw seperti kita orang ini. Bukankah hal itu sangat tak leluasanya?"
Kita hanya akan mohon petunyuk dan renCana dari Ciu lo Cianpwe saja. Tentang membasmi kawanan kuku garuda, menolong Bun suko, biarlah kita sendiri saja yang mengerjakannya."
Thiat-tan Ciu Tiong Ing mengelus mengurut jenggotnya, lalu katanya.
"Tan tangkeh, kau tak perlu kuatir akan merembet 2 kita orang. Kalau kau menolak kehendakku yang akan menolong seorang sahabat itu, artinya kau menganggap sepi padaku!"
"Ciu loenghiong adalah seorang lelaki yang mulia ambe kannya. Semua orang kangouw sama mengetahui dan meng hormatinya,"
Liok Hwi Ching ikut menimbrung."
Andai kata dia bukan seorang begitu, aku yang belum mengenalnya tentu tak berani gegabah menyuruh Bun su-ya meneduh ke tempat kediaman bei au!"
Tan Keh Lok termenung sejenak, lalu katanya.
"Begitu tinggi keluhuran budi Ciu loenghiong, kita seluruh anggauta HONG HWA HWE takkan lupa sampai mati."
Malah Lou Ping seketika itu maju menghampiri dan ber lutut dihadapan Ciu Tiong Ing, katanya dengan serta merta.
"Loya rela membantu, aku atas nama keluarga Bun dengan ini haturkan beribu terima kasih."
"Bun naynay, kau legahkan hatimu. Kalau tak dapat me nolong Bun suya aku bersumpah tak mau jadi orang lagi,"
Kata Tiong Ing seraja tersipu-sipumengangkat nyonya muda itu bangun.
Habis itu dia minta pada Tan Keh Lok supaya lekas mengeiuarkan perintah untuk berangkat.
Dengan ucapan merendah, Tan Keh Lok minta lagi agar Tiong Ing dan Hwi Ching, 2 jago tua itu, memberi petunyuk, Sudah barang tentu Hwi Ching menolak dan minta agar ketua itu sendiri yang mengeluarkan perintah sendiri dengan segera.
"Kalau begitu baiklah", demikian aehirSnya Tan-Keh Lok berkata.
"Saudara-saudara sekalian, lebih dulu kita bersembahyang pada Hong Hwa loCu kita!"
Seru Tan Keh Lok pada orang-orang nya.
Dia suruh ambilkan sebuah pakaian baru, untuk ganti pa kaiannya yang telah robek didada itu, setelah itu dia pimpin saudara-saudaranya untuk bersujud menghadap kearah selatan.
Mereka memberi hormat (Paikui).
sampai tiga kali.
Selesai itu, baru pemimpin muda itu memberikan perintahnya.
Apr yang membakar Thiat-tan-Chung sudah padam, hanya sana sini terdengar suara kretekan tangkai 2 potongan kaju yang masih dimakan lelatu.
Dengan chidmat, sekalian orang-orang HONG HWA HWE itu mendengari perintah ketuanya.
Pertama.
Sebagai pelopor dimuka, ialah Kim-tiok siuCay, Ie Hi Tong dan SeChwan Siang hiap Siang He Ci dan Siang, Pek Ci sebagai penghubung untuk memberi warta tentang keadaan Bun Thay Lay.
Rombongan ke 2 terdiri dari.
Cian-pek ' Ji-lay Tib Pan San sebagai pemimpin dengan anggautanya.
Sipemberani Ciang Cin, Kui-kiam-Chiu Ciok Siang Ing.
Rombongan ketiga, pemimpinnya.
Cui-hun-to-bing-kiam Bu Tim tojin dengan anggauta.
Thiat-ta Nyo Seng Hiap, Thong thao-ngo-hie Ciang Su Kin.
Rombongan keempat dipimpin sendiri oleh Tan Keh Lok dengan anggauta.
Kiu-beng kim-pao-Cu Wi Jun Hwa, clan sikaCung Sim Hi.
Rombongan kelima dipimpin.
Bian-li-Ciam Liok Hwie Ching dengan anggauta.
Sin-tan-Cu Beng Kian Hiong, Tok-ka-houw An Kian Kong.
Rombongan keenam dipimpin.
Thiat-tan Ciu Tiong Ing, dengan anggauta.
Kio Li-kui Ciu Ki, Bu-Cu-kat Chi Thian Hong dan Wan-yang-to Lou Ping.
"Ie su-sip-te, harap segera berangkat. Saudara lain-lainnya supaya mengasoh lebih dulu. Besok kita berangkat ke Thio-ke-poh, lalu berpenCaran kita memasuki Kao-ko-kwan untuk mengadakan rapat lagi,"
Demikian Keh Lok achirnya.
Dan setelah memberi hormat kepada sekalian; saudara, berangkatlah Ie Hi Tong dengan rombongannya.
Baru saja kudanya berjalan beberapa langkah, dia berpaling kearah Lou Ping, siapa kelihatan menundukkan kepalanya.
Rupanya nyonya muda itu sedang terbenam dalam renungan lain, sedikitpun tak mengacuhkan akan keberangkatan Hi Tong itu.
Anak muda itu mengelah napas panyang , terus mengeprak kudanya berlari dengan kentyang .
Masing-masing orang lalu menCari tempat, untuk mengasoh.
"Chi jit-ko, kita telah membuat Ciu loenghiong menjadi berantakan rumah tangganya. Kepergian kita untuk menolong suko kali ini, harap kau taroh perhatian, agar supaya pembesar 2 negeri jangan sampai mengetahui tentang ikut nya loenghiong itu dalam rombong'an kita ini. Selain itu, suso telah terluka, untuk kepentingan suko, ia tentu akan ber tempur mati 2an nanti. Inipun harap kau berdaya untuk menCegahnya. Sebaiknya rombongan jit-ko ini jangan berjalan dengan Cepat-cepat, kalau bisa supaya jangan sampai ikut bertempur,"
Kata pula Keh Lok.
Chi Thian Hong menyatakan akan memperhatikart nasehat ketuanya itu.
Baru saja mereka tidur 2 jam, hari sudah terang tanah.
Cian-pik ji-lay Tio Pan San segera pimpin rombongannya berangkat.
"Sip-ko, jangan kau terbitkan onar dijalan, jangan banyak-banyak minum arak,"
Lou Ping memesan Ciang Bongkok.
"Suso, harap jangan kuatir. Sebelum suko tertolong, aku tak mau menenggak setetes arakpun juga,"
Sahut si Bongkok.
Si Bongkok Ciang Cin itu kiranya seorang setan arak.
Begitu masuk, dia sering gegeran dengan orang.
Tetapi bila perlu, diapun dapat menCegah minum.
Inilah kelebihan dia.
Beberapa waktu kemudian, rombongan 2 dari Bu Tim tojin, Tan Keh Lok dan Liok Hwi Ching ber-turut 2 berangkat.
Yang terachir, barulah rombongan Ciu Tiong Ing.
Setiba di Thio-ke-po, penduduk disitu sudah mendengar berita kebaka ran di Thiat-tan-Chung, dan ber-dujun 2lah mereka datang menghibur Ciu Tiong Ing, Sampai ditempat ini Ciu Tiong Jng berpisahan dengan Song San Beng yang disuruhnya me mimpin rombongan Cengteng pergi ke Anse.
Sedang jago tua itu terus melanyutkan perjalanannya ke timur.
Disepanyang jalan, Ciu Ki tetap ributs bertentangan dengan Thian Hong saja.
Dimata gadis berangasan itu, segala gerak-gerik Thian Hong itu serba salah.
Sekalipun ayahnya ber-ulang 2 mendampratnya, Lou Ping juga ber-kali 2 menasehatnya, malah Thian Hong sendiripun suka mengalah, namun anak itu tetap memusuhinya saja.
Lama-lama Thian Hong jengkel juga, pikirnya.
"Hanya karena memandang muka ayahmu, maka aku mau mengalah, masa aku sungguh-sungguh jerih padamu? Di kalangan kangouw,-enghiong mana yang tak mengindahkan aku, Bu Cu Kat ini? Dasar sial, kini aku mesti menelan rongrongan seorang budak semaCam dia!"
Sengaja dia memperlambat kudanya, hingga berada di belakang mereka.
Rupanya dia mendongkol, dan tak mau bicara.
Kalau menginap dirumah penginapan, sehabis makan dia terus masuk tidur.
Tak mau dia pasang omong dengan mereka.
Begitulah pada hari yang ketiga, rombongan Ciu Tiong Ing ini sudah melalui kota Ka-ko-kwan.
Nampak puterinya tak mau mendengar kata itu, beberapa kali Tiong Ing telah memberi dampratan.
Betul saat itu dihadapan sang ayah, Ciu Ki berjanyi menurut, tapi begitu kelihatan Thian Hong, kumatlah penyakitnya untuk meng ajaknya bersetori pula.
Diam-diam Tiong Ing terkenang akan isterinya.
Apabila ia itu disini, pasti akan dapat mengajar adat pada puterinya yang bengal itu.
Tetapi kini dimanakah sang isteri itu, diapun tak mengetahuinya.
Memikir sampai disini, jago tua itu berduka hatinya.
Tambahan pula tampak bagaimana Thian Hong berada di sebelah belakang dengan sikap yang mengunyuk kejeng kelan itu, dia makin tak enak hatinya.
Malam itu sampailah mereka di SouwCiu, lalu menCari rumah penginapan yang terletak didekat pintu kota sebelah timur.
Thian Hong kelihatan pergi dan tak lama lagi dia kembali, lalu berkata kepada Ciu Tiong Ing dan Lou Ping.
"Ie sipsu-ko belum dapat menCium jejak Bun suko, juga belum bercljumpa dengan Sejwan Sianghiap."
"Bagaimana kau bisa tahu? Jangan ngelantur, ja!"
Ciu Ki tahu-tahu sudah memutus keterangan orang. Thian Hong tak mau menyawab, hanya melirik dengan ekor matanya kearah gadis yang dibenCinya.
"Daerah sini terkenal dengan araknya yang kesohor. Ayo, jit-ya pergi dengan aku ke warung arak Heng Hwa Lauw diseberang jalan sana untuk minum,"
Kata Tiong Ing.
"Baiklah, locianpwe,"
Sahut Thian Hong.
"Ayah, aku ikut!"
Seru Ciu Ki tak mau ketinggalan. Thian Hong ketawa.
"Apa maCam, ketawa! Masa aku tak boleh ikut?"
Ciu Ki iototkan matanya. Thian Hong melengoskan kepalanya, seperti tak dengar apa-apa.
"Ki moaymoy, kita sama-pergi dah! Siapa yang tak mem bolehkan orang perempuan minum ar.ak di Ciulauw?"
Kata Lou Ping dengan tertawa.
Ciu Tiong Ing ternyata seorang ayah yang berpandangan bebas, dia tak melarang puterinya.
Begitulah keempat orang itu terus menuju ke Heng Hwa Lauw dan memesan bebe beberapa hidangan dan arak.
Air sumber di Souw-Ciu dengan apa arak 2 itu dimasaknya, ternyata sangat jernih sekali.
Karena itu, untuk daerah barat utara, arak SouwCiu kesohor lezatnya.
Begitu menCiCipi, mereka segera menga kui akan kehebatanya arak disitu.
Pelajan kembali menghi dangkan nampan bakpja keluaran SouwCiu yang kenamaan itu.
Pia itu empuknya seperti kapas, putih meletak meng giurkan selera.
Selama makan pia itu, tak putus-putusnya mulut Ciu Ki me-muji 2 kelezatannya.
Karena diwarung situ banyak-banyak orang, mereka tak mau menyinggung urusari Bun Thay Lay.
Hanya pemandangan alam "sepanyang tempat yang telah dlaluinya itulah yang dijadikan bahan omong-omong mereka.
Tiba-tiba Ciu Tiong Ing berkata pada Thian Hong.
"Pemimpin HONG HWA HWE Tan tangkeh itu masih begitu muda usianya, mirip dengan seorang kongcu, tetapi dia paham dengan "ilmu silat berbagai Cabang, sungguh jarang terdapat. Ketika bertanding . dengan aku tempo hari itu, pada saat 2 terachir dia gunakan ilmu silat yang luar biasa aneh nya, entah apa itu namanya. Adalah Chi-ya mengetahuinya?"
Sebenarnya Ciu Ki pun sudah lama menyimpan pertanyaan itu, maka dia menaroh perhatian besar untuk jawabannya.
"Sebenarnya akupun baru pertama kali itu berjumpa dengan Tan tangkeh Kecil, mendiang le lotangkeh telah meng antarkannya ke gunung Thian San untuk belajar silat pada Thian Ti koayhiap disana. Ilmu silat itu, kurasa adalah Cip taan dari koayhiap sendiri,"
Menerangkan Thian Hong.
"Hong Hwa Hwe yang pamornya begitu kesohor didaerah Kang-lam, pemimpinnya seorang kongcu, bermula aku tak percaya. Tapi belakangan setelah mengenalnya baik dalam perCakapan maupun pertempuran, barulah kuketahui bahwa selain bugenya tinggi, juga pengetahuannya luas sekali. Seorang pemimpin yang tepat dan Cakap. Memang orang tak boleh diukur dari usianya."
Mendengar jago tua itu tak habis-habisnya memuji ketuanya, Thian Hong dan Lou Ping merasa girang.
Begitulah mereka #a|fang omong dan minum arak dengan gembira sekali.
Hanya Lou Ping begitu terkenang akan nasib suaminya yang belum ada ketentuannya itu, nampaknya selalu berduka saja.
"Dalam beberapa tahun ini, banyak-banyak sekali jago-jago baru yang munCul dikalangan persilatan. Dengan begitu akan tetaplah bersemarak keharuman Sungai Telaga, patah tumbuh hilang berganti. Hilang yang tua 2, yang muda 2 tetap tampil meng g'anti. Misalnya seperti kau sendiri, laote, yang paham bun dan bu itu, memang jarang terdapat di kangouw. Maka harap kau jangan sia-siakan bakatmu itu, untuk melakukan suatu pekerjaan besar", kata Tiong Ing lebih jauh. Thian Hong tersipu-sipumeng-iakan dan haturkan terima kasih. Sebenarnya jawaban "ja"
Dari Thian Hong diperun tukkan anyuran Tiong Ing supaya "melakukan pekerjaan besar"
Itu. Tak tahunya, Ciu Ki telah menduga salah. Dengan perdengarkan suara ejekan dari hidung menggerutu lah si-Centil itu.
"Huh, dipuji orang, masa ja, ja"
Saja!"
Setelah meminum seCawan lagi, kembali Tiong Ing berkata.
"Konon kudengar mendiang Ie lotangkeh itu adalah seorang achli Siao Lim Pai yang jempolan, dengan begitu sama de ngan kaumku. Scbenarnya telah lama aku berhasrat mengun jungi untuk berkenalan. Namirn karena dia tinggal di Kanglam dan aku berada didaerah barat utara, maka be lumlah dapat kulaksanakan. Dan harapanku itu kini tak mungkin terpenuhkan lagi, setelah beliau meninggal itu. Be berapa kali kuberusaha untuk menyelidiki sumber kaum lotangkeh itu, tapi selalu gagal saja."
"Semasa hidupnya marhum Ie lotangkeh tak pernah me nyebut asal kaumnya, baru setelah beliau akan menutup mata, menerangkan bahwa dulu dia belajar buge digereja Siao Lim Si di Hokkian,"
Jawab Thian Hong.
"Akupun seorang murid Siao Lim Si juga,"
Kata Tiong Ing seraja mengangkat Cawannya. Dia kerutkan jidatnya sejcnak, lalu bertanya lagi.
"Almarhum itu punya Ciri 2 apa pada mukanya?"
"Sampai pada usia enam0 tahun, marhum masih kelihatan ga gah. Hanya pada ujung keningnya sebelah kanan terdapat sebuah bekas luka besar, hingga alisnya sebelah kanan tidak ada lagi."
Mendengar penuturan Thian Hong itu, sekonyong-konyong Cawan arak Ciu Tiong Ing terlepas jatuh kelantai, dan jago tua itu kelihatan menguCurkan air mata. Katanya dengan suara sember.
"Oh, suheng, suheng. Memang sudah kuduga tentu kau, tetapi rupanya kau me-nyia 2kan jerih payahku."
Melihat perobahan dan sikap Tiong Ing yang luar biasa itu, Thian Hong sangat terkejut.
"Laote, Bun naynay, apakah kau orang tahu bahwa Ie lotangkeh-mu itu bukan orang she Ie?"
Tanya Tiong Ing ke mudian.
"Ja, dia orang she Sim,"
Sahut Thian Hong. Kembali Tiong Ing keluarkan seruan tertahan, katanya.
"Benar, dia memang she Sim. Namanya sebenarnya jalah Sim Ju Ko, dia adalah suhengku. Hubungan kita, suheng dan sute ber 2, sangat mesra sekali. Apalagi dikemudian hari karena melanggar peraturan, dia telah diusir oleh suhu. Sejak itu aku tak mendengar lagi tentan'g beritanya. Kese luruh polosok Sungai Telaga kumenCarinya, tapi tetap tak ada orang yang mengetahulnya. Kukira karena putus asa, dia tentu menyembunyikan diri. Tak tahunya kalau dia sudah merobah she dan namanya dan telah mendirikan suatu ge rakan yang begitu mulia tujuannya itu. Dulu pernah kude ngar bahwa ketua dari HONG HWA HWE itu orang dari golongan Siao Lim Pai, untuk membuktikan prasangkaku, maka kutulis sepuCuk surat. padanya. Tapi dengan katas yang sungkan, dia telah membalas suratku itu dengan sikap seperti mem perlakukan seorang yang baru dikenalnya. Karena kukenal sifat suhengku yang jujur dan sayang padaku itu, aegera kupercaya bahwa dengan jawaban itu, teranglah bahwa ketua HONG HWA HWE itu bukan suheng. Dan karenanya, tak kuse lidiki lebih jauh. Oh, suheng, mengapa kau perlakukan sutemu ini begitu dingin?"
Sampai disitu kembali nampak Tiong Iftg berduka, lalu katanya pula.
"Kalau siang 2 kuketahui dia, tentu biar bagaimana ku periukan berkunyung ke Kanglam. Kini orangnya sudah me ngasoh kealam baka, dan harapanku untuk menyumpainya takkan terlaksana se-lama-lamanya."
"Ie lotangkeh berbuat begitu, tentu ada sebabhja. Dia paling gemar bergaul, kalau sampai dia tak mau kenal lo Cianpwe, tentulah bukan sewajarnya,"
Kata Thian Hong.
"Huh, orange HONG HWA HWE itu, paling suka memandang sebelah mata pada orang, jangan kata dalam hatinya. CiCi Ping, aku tak mengatakan kau lho,"
Tiba-tiba Ciu Ki menyelak. Thian Hong tak menghiraukannya.
"Sewaktu meninggal, dia herpesan apa?"
Tanya Tiong Ing.
"Disini banyak-banyak orang, dan penurunan itu panyang sekali. Baik malam nanti kita lanyutkan perjalanan, dan memilih suatu tempat sepi yang CoCok untuk kita pasang omong lagi. Aku sendiripun mempunyai beberapa soal, karena Ciu locianpwe adalah sute dari Ie lotangkeh tentunya mengeta hui juga riwajat semasa mudanya. Aku akan mohon beberapa pengunyukan dari locianpwe,"
Kata Thian Hong. Ciu Tiong Ing setuju, lalu menyuruh pelajan membikin perhitungan.
"Harap tunggu sebentar, aku akan turun kebawah dulu,"
Kata Thian Hong.
"Laote, akulah yang menjadi tuan rumah, tak usah kau yang bajar,"
Sera Tiong Ing.
"Baik,"
Jawab Thian Hong terus turun kebawah loteng.
"Hem, sikunyuk jual lagak!"
Ciu Ki tak kuat untuk tak memberi komentar.
"Anak perempuan tak boleh sembarangan bicara!"
Damprat ayahnya.
"Ki moaymoay,"
Kata Lou Ping.
"Jit-ko kita itu orang yang paling banyak-banyak akal, kau Cari urusan dengan dia, hati-hati lah tentu dia akan membalas kau."
"Seorang laki 2 yang lebih kate dari aku, masa mesti dibuat jerih!"
Sahut sigadis.
Ciu Tiong Ing akan mendampratnya lagi, tapi segera tak jadi sebab dengan suara tindakan kaki.
Itulah Thian Hong yang segera mengajak mereka berangkat lagi.
Begitu sete lah mengambil baranga bekalannya, ke-empat orang itu me neruskan perjalanannya lagi.
Untung pintu kota masih belum keburu ditutup.
Sekejap saja mereka berempat telah melalui tiga 0 lie, dan Ciu Tiong Ing lalu ajak rombongannya untuk mengasoh dibawah gerombolan puhun yang tumbuh ditepi jalan.
Kala itu, keadaan disitu sunyi senyap.
Tapi ketika Thian Hong akan membuka mulut, tiba-tiba jauh dari arah sebelah sana, terdengar suara seperti bunyi telapak kuda.
Cepat-cepat a dia tem pelkan kupingnya ketanah, lalu katanya.
"Ada tiga ekor kuda, lari menghampiri kemari."
Atas isjarat Tiong Ing, mereka segera membawa kudanya bersembunyi dibalik batu besar.
Tidak berselang berapa lama, betul juga ada tiga ekor penunggang kuda lalu disitu untuk menuju kearah timur.
Diantara sinar rembulan, tampak ke tiga penunggang kuda itu memakai ikat kepala putih dan jubah berkembang, dan danannya menyerupai orang Wi.
Pada kuda masing-masing terselip golok.
Setelah mereka lenyap dari pemandangan, barulah Tiong Ing mengajak duduk ditempatnya tadi.
Bahwa selama mereka meninggalkan Thiat-tan-Chung boleh dikata siang ma lam terus berjalan, hingga tak ada waktu untuk ber-Cakap 2.
Maka kesempatan ini digunakan oleh Tiong Ing untuk me nanyakan pada Lou Ping mengapa Bun Thay Lay sampai bisa ditangkap oleh pemerintah Ceng Tiauw.
Segera Lou Ping memberi keterangan sbb..
"Perkumpulan kita HONG HWA HWE merupakan duri dimata peme rintah Ceng, itulah sudah terang. Tetapi anehnya, kali ini mereka telah mengirimkan banyak-banyak sekali jagoanya yang ber kepandaian tinggi untuk menangkap sampai dapat pada Bun suko. Dan hal itu merupakan lain perkara lagi. Kira-kira pada pertengahan bulan jl., Ie lotangkeh buru~> datang ke Pak khia dengan mengajak kita ber 2 suami isteri. Sampai di kota raja tersebut., diam-diam lotangkeh suruh kita untuk menyelun dup keistana untuk menemui kaisar Kian Liong. Sudah barang tentu kita terkejut dan menanyakan keperluannya. Namun lotangkeh tak mau menerangkannya. Lalu suko men jelaskan, bahwa hongte itu sangat galak sekali, sebaiknya undang juga Bu Tim totiang, Tio samko, SeChwan Siang-hiap dan lain-lain datang ke Pakkhia untuk ber-sama-sama memasuki ista na. Pula mengundang Chit-ko (Thian Hong) supaya merenCanakan penyerbuan itu."
Mendengar itu, Ciu Ki melirik pada Thian Hong dan berkata dalam hati.
"Huh, masa orange begitu banyak-banyaknya, sama membutuhkan kepandaian sikate ini?"
"Pendapat suya itu memang tak salah,"
Demikian Tiong Ing berkata.
"Ja, tapi Ie lotangkeh menerangkan bahwa urusan menemui Kian Liong kali ini sangat penting sekali artinya. Kalau terlalu banyak-banyak yang masuk istana, salaha menerbitkan salah faham hebat. Suko tak berani membantahnya lagi. Begitulah malam itu kita ber 2 memasuki istana. Suko yang terus menyelinap kedalam dan aku yang menyaga diluar. Saat itu kita sangat gelisah sekali. Kira-kira 2 jam kemudian suko munCul kembali, dan kami terus pulang dengan selamat. Ke esokan harinya kami tinggalkan Pakkhia menuju ke Kang lam. Ditengah jalan, diams kutanyakan suko tentang perter muannya dengan baginda Kian Liong. Menurut suko, dia telah berhasil menghadap baginda, tetapi karena soal itu adalah soal yang maha penting yaitu gerakan untuk mero bohkan pe merintah Boan Ceng, maka dia tak mau menerangkan lebih jauh padaku. Hal itu bukan karena ia tak mempercayai diriku, tapi ia kuatir nanti malah membahajakan diriku saja, maka akupun tak mau mendesaknya."
"Tanggung jawab suheng memang besar sekali,"
Seru Tiong Ing.
"Setiba di Kanglam, kita lalu berpisahan. Kami kembali ke Thayouw, dan lotangkeh pergi ke HangCiu,"
Kembali Lou Ping melanyutkan keterangannya.
"Sampai berpuluh tahun, dia tak dapat melupakan ke nangannya,"
Seru Tiong Ing mengelah napas.
"Kenangan apa sih?"
Timbrung Ciu Ki.
"Mana kau tahu?"
Sahut sang ayah.
"Justeru karena itulah aku bertanya,"
Si Centil menyang gapi.
Tiong Ing tak hiraukan.
Melihat itu Thian Hong meri ngis ewah, keruan saja Ciu Ki mendongkol ke-malu 2an.
Sejak dia kembali dari HangCiu, sikapnya berobah sekali.
Kelihatannya dia berobah lebih tua sepuluh tahun.
Sepanyang hari dia tak mau bicara.
Dan lewat beberapa hari kemudian lalu jatuh sakit.
Kata suko.
karena orang yang diCintai lotangkeh meninggal dunia, maka dia sangat berduka sekali .............."
Mengucap sampai disini, Lou Ping dan Thian Hong sama menguCurkan air mata, juga Ciu Tiong Ing tampak ber linang 2. Mengulap air matanya, Lou Ping berkata.
"Sebelum menutup mata, lotangkeh telah panggil hiangCu dari Iwe-sam-tong dan gway-sam-tong, dan meninggalkan pesanan supaya Siaothocu (Tan Keh Lok) yang harus menggantikan kedudukannya. Ditandaskannya, bahwa disitu lah letak bangunnya kembali kerajaan Han."
"Saothocu membahasakan apa dengan kau orang punya lotangkeh itu?"
Tanya Ciu Tiong Ing.
"Dia adalah anak angkat lotangkeh. Siaothocu adalah pute ra dari Tan Siang Kok di Hayling. Dalam usia 15 tahun, saothocu telah lulus dalam ujian kiatgoan. Tak lama ke mudian, lotiangke membawanya keluar dan mengirimkannya ke Hwe Poh untuk belajar buge pada Thian Ti koayhiap. Urusan ini, boleh dikata semua orang kangouw sama me ngetahuinya. Tentang bagaimana seorang kongcu dari ge dung Caysiang bisa mempunyai ayah angkat seorang bulim, kita sendiri tak mengetahuinya."
"Mungkin Bun suya mengetahuinya,"
Kata Tiong Ing.
"Rupanya diapun tak tahu,"
Sahut Lou Ping.
"Ketika akan menut.up mata nampak lotangkeh mempunyai suatu rahasia besar dan minta bertemu dengan siaothocu. Tapi karena perjalanan begitu jauh, maka telah tak keburu lagi. Da-lam pesanannya lotangkeh minta supaya ketua dan waktu ketua dari keenam tong (daerah) supaya menyemput saothocu untuk merundingkan gerakan besar. Disamping itu, lotang-keh diam-diam bisiki suko supaya lekas-lekas menemui saothocu sen diri untuk menyampaikan pesan rahasianya. Tapi apa laCur, ditengah perjalanan suko mesti menghadapi benCana begini "
Sampai disini, suara Lou Ping menjadi sember, tapi ia paksakan berkata lagi.
"Kalau sampai suko kena apa-apa pesan lotangkeh tentu takkan ada lain orang yang meneruskannya."
"CiCi Ping, kau jangan bersedih. Kita tentu dapat me nyelamatkan suya,"
Seru Ciu Ki menghiburnya. Lou Ping Buru-buru tarik tangan Ciu Ki, dan paksakan bersenyum dengan saju.
"Bagaimana Bun suya bisa terluka?"
Tanya Tiong Ing pula "Kita orang ber-ganti 2 secara bergelombang menuju ke perbatasan sebelah barat utara untuk menyambut saothocu.
Kita ber 2 suami isteri, jatuh pada gelombang yang paling achir.
Setiba di SouwCiu, sekonyong-konyong ada delapan orang pahlawan kelas satu (si wi) yang menCari kita dirumah penginapan.
Mereka mengatakan membawa titah dari baginda agar kita lekas menghadap ke Pakkhia.
Suko menyawab, bahwa nanti setelah menyambut saothocu, barn nanti akan pergi kekota raja.
Dengan kata-kata halus, kedelapan siwi itu menasehati agar suko lebih meng'utamakan firman keizer daripada uru san partai.
Namun suko tetap membantahnya.
Demikianlah karena sama-sama kerasnya, pertempuran tak dapat dihindari lagi.
Kedelapan siwi itu adalah pahlawan 2 pilihan dari istana.
Dengan tertentu, kita makin terdesak.
Suko umbar kema rahannya.
Dengan bernapsu dia telah dapat merobohkan 2 orang siwi.
Malah saking gemasnya dia pukul binasa yang tiga orang.
Sedang yang 2 lainnya telah kena hui to-ku.
Karena melihat gelagat tak baik, salah seorang dari mereka segera kaburkan diri.
Sekalipun kita berhasil dapat menghalau mereka, tapi suko juga mendapat beberapa luka yang ber bahaja.
Karena selama pertempuran itu, dia selalu berada dimukaku, sehingga dengan begitu, sedikitpun aku tak sampai terluka."
Ciu Ki terlongong-longong mendengari bagaimana Lou Ping menuturkan dengan gaja periuh bersemangat tentang kega gahan suaminya melawan kedelapan siwi itu.
Setelah berhenti sejenak, Lou Ping meneruskan penuturannya lagi.
"Karena tak dapat tinggal lama-di SouwCiu, kita terus menuju ke Ka Ko Kwan. Sebenarnya sampai di Thio-ke-po saja suko sudah tak kuat meneruskan perjalanan lagi, dan terpaksa menginap dihotel untuk merawat luka-nya. Apa yang kita harapkan jalah solekasnya saothocu dan rom bongan saudara-kita sudah dapat kembali dan melalui tempat situ. Tapi diluar dugaan, kawanan kuku garuda dari Pakkhia dan LanCiu terus mengejar kami. Dan bagaimana kelanyutannya, kukira kauorang sudah dapat mengetahui sendiri."
"Kian Liong loji mengapa begitu takut dan benCi suko. Kalau begitu keselamatan suko untuk sementara tentu ter jamin, kuku garuda itu takkan berani mengganggu seorang tawanan yang ' begitu penting sebagai dia,"
Kata Thian Hong.
"Pikiranmu itu benar, laote,"
Sahut Tiong Ing.
"Mengapa daripada lekas-pergi ke Thio-ke-po untuk me numpas kawanan kuku garuda dan menolong Bun-ya kauorang malah menuju ke Thiat-tan-Chung untuk mengumbar tangan jahatt"
Tiba-Ciu Ki menyelak. Ciu Ki masih ingat peristiwa pambakaran rumahnya, karena gara 2 HONG HWA HWE itu. Dalam kesempatan itu, dia sem prot Thian Hong, orang yang dulu menyuruh lepaskan api itu.
"Budak perempuan, jangan omong sembarangan!"
Bentak ayahnya. Thian Hong tetap tulikan telinga dan lanyutkan penuturannya.
"Karena saothocu main sungkan tak mau terima keang katannya sebagai Congthocu, maka mereka sampai terlam bat beberapa hari belum ada keputusannya. Dan lagi kita tak menyang ka kalau orang berani menepuk lalat dimulut sepasang suami isteri harimau seperti suko dan suso yang lihai bugenya itu."
"Kau digelari orang sebagai Bu Cu-kat, mengapa tak beCus menduganya?"
Kembali Ciu Ki menyentil. Karena sungkan dengan sang ayah, Thian Hong tak dapat melampiaskan kemendongkolannya kepada gadis yang genit itu. Paling 2 dia bungkem dengan unyuk muka keCut.
"Kalau jit-ya ini sudah bisa menduganya, kita kan tak bisa berkenalan dengan saudara-saudara dari HONG HWA HWE Terutama dengan seorang bun-bu-Coan-Cay (pandai ilmu surat dan buge) sebagai Tan tangkeh itu,"
Buru-buru Tiong Ing menutupi kesungkanan Thian Hong. Berpaling kearah Lou Ping dia bertanya pula.
"Siapakah pasangan Tan tangkeh itu? Puteri atau sioCia keluarga bangsawan atau lihiap dari kalangan persilatan?"
"Tan tangkeh belum punya pilihan!"
Sahut Lou Ping. Ciu Tiong Ing termenung sesaat.
"Ciu locianpwe, kapankah kita minum arak-kebahagiaan dari adik Ki?"
Tanya Lou Ping dengan tertawa. Tertawalah Tiong Ing mendengar itu, katanya.
"Budak itu tolol dan lantyang , siapa yang sudi? Kalau dia mendapat pasangan orang tua saja sudah untunglah!"
Maka tertawalah Lou Ping.
"Tunggu saja setelah nanti urusan menolong suko selesai, tentu akan kuajak suko untuk menCarikan pasangan buat adik Ki. Tanggung kauorang tua tentu puas."
"Kalau kauorang terus omongi diriku, aku akan berjalan dulu sendiri,"
AnCam Ciu Ki. Semua yang mendengarnya sama tersenyum. Malah karena tak tertahan, Thian Hong tertawa gelak 2. Sudah barang tentu Ciu Ki menjadi marah.
"Kau tertawai siapa?"
Bentaknya.
"Aku tertawa pakai mulutku sendiri, ada sangkutan apa denganmu?"
Balas Thian Hong. Ciu Ki orangnya paling suka berterus terang, dia tak bisa simpan ganyelan dalam hatinya, lalu sahutnya pula.
"Hm, apa aku tak mengerti ketawamu itu? Kau orang bermaksud jodohkan aku pada Tan Ken Lok. Dia kan kongcu seorang sinsiang, tidak setimpal dapat aku? Kou orang-orang HONG HWA HWE begitu me-nyanyung 2 dia seperti anak mas, aku tak ambil pusing. Ketika bertempur dengan ayah, dia pura-pura sungkan, tapi sebenarnya dia jahat sekali. Biar aku tak kawin seumur hidup, daripada dapat suami orang yang banyak-banyak tipu muslihatnya itu!"
Tiong Ing marah disamping merasa geli juga. Dia Coba menCegah, tapi puterinya tak mau hiraukan, dan berham buranlah kata-kata itu dari mulutnya.
"Sudahlah, sudah. Kelak suami adik Ki tentu seorang ho han yang jujur dan pandai bicara, bagaimana, puaskah kau locianpwe,"
Tanya Lou Ping menggoda Tiong Ing.
"Budak tolol, apa tak malu diketawai Chit-ya? Ha, sudahlah mari kita tidur, besok kita berangkat pagi 2,"
Kata Tiong Ing. Demikianlah mereka berempat segera mengambil selimut dan tidur dibawah puhun besar situ.
"Ayah, apa kau membekal makanan? Aku lapar sekali,"
I.iba 2 Ciu Ki berbisik.
"Tidak bawa. Kau lekas tidurlah, besok kita berangkat pagian dan singgah di Song-king,"
Jawab Tiong Ing.
Tak berapa lama, menggeroslah sudah orang tua itu dengan nyenyaknya.
Sebaliknya, karena lapar Ciu Ki masih bergulak-gulik tak dapat tidur.
Menoleh pada Lou Ping, pun orang itu sudah pulas.
Tiba-tiba dilihatnya Thian Hong bangun, dan diam-diam kelihatan menghampiri ketempat kudanya.
Heran Ciu Ki dibuatnya, dan diam-diam dia mengawasi perbuatan si kate;tu.
Karena gelap, tak dapat dilihatnya dengan jelas apa yang dikerjakan Bu Cu-kat, hanya samara seperti dia itu mengambil pauwhok dari atas kudanya.
Dan ketika duduk kembali, dia pakai selimut untuk menutupi badan, dengan sedapnya dia berkemak-kemik mengunyah sesuatu.
Mei hat Itu, dengan gemas Ciu Ki balikkan tubuh meng hadap kearah lain.
Tak sudi ia melihatnya.
Tapi Thian Hong betul-betul menyengkelkan.
Tidak saja dia sengaja mengunyah dengan makin kerasnya, tapi juga tak putus-putusnya sang mulut ber-keCap 2 memuji kelezatan makanannya itu.
Karena tak tertahan lagi, Ciu Ki Coba 2 menCuri lihat makanan apa yang dikunyah sikate itu.
Kalau ia tidak ber buat begitu itu sih malah baik.
Tapi begitu dia Coba 2 meng intainya, maka tak tertahan lagilah air liurnya mengalir.
Rasa laparnya makin menagih dengan hebatnya.
Kiranya tangan sikate itu tengah memegang sebuah ben da putih 2 dan disampingnya masih ada setumpuk lagi.
Tak salah lagi, itulah bakpia dari SouwCiu yang luar biasa lezatnya.
Kiranya sewaktu Thian Hong pamitan turun dari loteng Heng Hoa Lauw kemaren itu perlunya akan beli pia itu.
Karena.
biasanya selalu mengajak setori saja, maka se kalipun sangat kepingin, tapi Ciu Ki tak berani meminta nya.
Paling banyak-banyak ia hanya meng-harap 2 supaya Thian Hong itu lekas tidur, baru nanti pianya dapat digasak.
Syukur kalau ia sendiri bisa iekas 2 tidur.
Tapi kejadiannya malah sebaliknya.
Tiba-tiba hidungnya tersampok dengan bau arak yang mar biasa harumnya, dan menyusul terdengar berkeru Cukan arak turun ditenggorokan Thian Hong, disela dengan elahan napas kepuasan.
Serasa tak tertahan lagi, maka berserulah Ciu Ki dengan uring 2an.
"Setan apa malam 2 buta menenggak arak itu? Ayo jangan mabuk 2an disini!"
"Boleh, boleh "
Sahut Thian Hong sambil meletakkan guCi araknya, terus menggelundung tidur.
Tapi Bu Cu-kiat itu memang tukang mengili hati orang.
Sengaja guCi itu tak disumpalnya dan ditarohkan disisih kepalanya.
Sudah tentu baunya terbawa angin ke-mana 2.
Sewaktu diwarung arak Hong Hoa Lauw kemaren, tahulah dia bahwa Ciu Ki seorang nona yang dojan minum, maka sengaja dia mempermainkannya begitu.
Ciu Ki ketika itu betul-betul mati kutunya, matanya merem melek tak bisa tidur.
Untuk mendamprat, tak ada alasan nya.
Tapi kalau disuruh diam saja, betul-betul tak kuat hatinya.
Kembali ia balikkan muka kesebelah sana, mata dan hidungnya ditekap dengan selimut.
Tapi dia tak dapat lama-lama berbuat begitu, karena lekas juga ia merasa engap.
Maka kembali ia berbalik lagi.
Tiba-tiba diantara sinar rembulan dilihatnya sepasang gembolan yang terletak disebelah ayahnya, berkeredepan mengeluarkan Cahaja.
SeCepat-cepat kilat timbul ah suatu pikiran dalam hati sinona.
Cepat-cepat ia ulurkan tangan menyemput sebuah gembolan, terus ditimpukkan kearah guCi arak Thian Hong.
"Prukk... guCi peCah berantakan dan arak menyiram basah selimut Thian Hong. Namun Thian Hong rupanya sudah tidur pulas, dan tak menghiraukannya. Karena melihat ayahnya masih menggeros dan Lou Ping pun tak ada suaranya, maka Ciu Ki lalu me rangkak untuk mengambil kembali gembolan tadi. Tapi begitu tangannya diulur, tiba-tiba Thian Hong membalikkan badannya, sehingga gembolan itu tertindih dibawahnya, dan berbareng itu dia menggeros keras-keras. Bukan main terkejutnya Ciu Ki. Cepat-cepat ia tarik tangannya. Bagaimana bebasnya ia bergaul, namun ia tetap seorang sioCia yang tak dapat melepaskan rasa malunya. Untuk merogoh gembolan yang tertindih badan Thian Hong itu, rasanya masih belum sampai hatinya. Namun kalau tak diambil, tentu sikate akan bawa gembolan itu untuk diadu kan pada sang ayah, dari siapa tentu ia akan didamprat. Apaboleh buat dia lebih suka dimaki sang ayah daripada mesti menyentuh badan orang yang dibenCinya itu, maka ia terus balik tidur ketempatnya lagi. Tapi pada saat itu, tiba-tiba didengarnya Lou Ping tertawa. Seketika itu merah padam lah wajah Ciu Ki, sehingga tengkuknya dirasakan panas. Karena ia rasa Lou Ping tentu mengetahui perbuatannya menghampiri tempat Thian Hong tadi. Karena bingung me mikirkan, semalam itu hampir ia tak dapat pulas tidurnya. Keesokan harinya, pagi 2 sekali sebenarnya Ciu Ki sudah bangun, tapi dia diam saja membungkus diri dalam selimut. Begitu terang tanah, Ciu Tiong Ing dan Lou Ping bangun, dan sebentar pula Thian Hong-. Tapi tiba-tiba pemuda itu ber-teriak.
"Ai, ai, benda keras apa yang tertindih dibawahku ini?"
Mendengar itu, Buru-buru Ciu Ki sesapkan kepalanya kedalam selimut lagi.
"Ah, Ciu loya, gembolanmu menggelinding kemari! Wah, Celaka! guCi arakku tersampok peCah! Benarlah, tentu sikunyuk kecil diatas gunung karena membau arak lalu tu run kemari. Dan sewaktu melihat gembolan loya, lalu dibuat main-main . Karena kurang hati-hati, sampai menyatuhi guCi arak. Kunyuk itu betul-betul kurang ajar!"
Kembali Thian Hong menggerutu seterigah memaki.
"Hahaha, laote memang suka meluCu. Mana di tempat ini ada monyet,"
Kata Tiong Ing dengan ketawa.
"Kalau bukan kera, tentulah perbuatan bidadari dari kahijangan,"
Lou Ping menimbrung.
Ke 2nya sama-sama tertawa.
Mendengar mereka tak sing gung 2 peristiwa semalam, legahlah hati Ciu Ki, namun ia benCi pada Thian Hong yang mengatakan ia seekor kunyuk.
Ditengah jalan Thian Hong membagikan pianya pada ka wan 2nya, tapi Ciu Ki menolak.
Setiba dikota Song King, mereka singgah kesebuah rumah makan untuk tangsel perut.
Sekeluarnya dari kota tersebut, Thian Hong dan Lou Ping tiba-tiba menghampiri kaki tembok dari sebuah rumah.
Ketika Ciu Ki ikut 2an mengawasinya, ternyata disitu terdapat Co retan huruf 2 dan gambar orang-orang an, persis tulisan kanak 2.
Selagi Ciu Ki ke-heran 2an, berkatalah Lou Ping.
"SeChwan Sianghiap telah dapat menemukan jejak suko. Ini dia tinggalan tulisannya!"
"Bagaimana kau tahu, apa sih artinya Corat-Coret itu?"
Tanya Ciu Ki.
"Inilah tanda rahasia dari HONG HWA HWE untuk sesuatu pemberi taan, dan itulah tulisan SeChwan Sianghiap,"
Kata Lou Ping seraja pakai kakinya untuk menghapus tulisan itu.
Demikianlah dengan semangat ber-nyala 2, keempat orang itu segera meneruskan perjalanannya lagi.
Terutama Lou Ping berCahaja wajahnya.
Setelah menempuh kira-kira 50 li mereka berhenti untuk mengasohkan kuda, lalu kembali meneruskan lagi.
Keesokan harinya dimana jembatan Chit-to-kauw, kembali mereka dapatkan pertandaan dari Ie Hi Tong yang mengatakan sudah dapat menggabung lagi dengan SeChwan Sianghiap.
Setelah dirawat beberapa hari, luka Lou Ping sudah boleh dikata sembuh.
Sekalipun masih belum seperti biasa jalan nya, tapi sudah tak memerlukan tongkat lagi.
Memikir tak lama lagi akan sudah berjumpa dengan suaminya, rasanya Lou Ping sudah mau meloncat hatinya.
Ia larikan kuda untuk menCongklang kemuka lebih dulu.
Jilid 8 MENYELANG petang, mereka sudah sampai ke Liu-Cwan-Cu.
Lou Ping maunya akan terus, tapi Thian Hong yang ingat akan pesan sang ketua, Buru-buru menCegahnya dengan alasan kudanya akan menjadi kepayahan nanti.
Lou Ping menuruti, dan malam itu mereka menginap disebuah hotel.
Semalam itu, Lou Ping bergulak-gulik tak bisa tidur, sedang hujan rintik 2 membasahi bumi.
Terkenang ia akan peristiwa malam ketiga dari perkawi nannya dengan Bun Thay Lay, dia dititahkan Ie lotangkeh pergi kekota Kahin untuk menolong seorang janda yang hendak diCemarkan oleh seorang tuan tanah.
Setelah ber hasil, pada tengah malam itu mereka meneduh diatas paseban Jan Oe Lauw di telaga Lam-ouw, minum arak sambil menik mati turunnya sang hujan.
Pada saat itu, sembari memimin tangan isterinya yang baru dikawin itu, Bun Thay Lay me nyanyi dengan gembira.
Saat 2 itulah yang memenuhi lubuk kenangan sinyonya muda itu.
Tiba."
Tergerak pikiran Lou Ping.
"Karena sungkan menemani keluarga Ciu anak dan ayah ber 2, maka Chit-ko tak mau Cepat-cepat meneruskan perjalanan. Kalau begitu, mengapa aku tak mau berangkat dulu sendiri?"
Demikian ia membatin.
Keinginan itu menguasai hatinya, terus serentak ia bangun mengemasi senjata dan bekalnya, lalu menuliskan tanda-tanda tulisan diatas meja untuk Thian Hong, menerangkan meng apa ia berangkat lebih dulu, sekalian supaya dimintakan maaf pada Ciu Tiong Ing dan puterinya.
Karena kuatir membangunkan mereka, Lou Ping meng ambil jalan loncat dari jendela, terus melepaskan kudanya, mengenakan baju hujan dan melarikannya dengan pesatnya.
Menyelang fajar, sampailah ia ke Tin-bin dan mengasoh sebentar.
Kudanya betul-betul kelihatan lelah sekali, apa boleh buat ia menunggu sampai setengah jam.
Setelah kira-kira berlari tiga empat puluh li lagi, tiba-tiba kudanya mendeklok ketanah.
Dengan was 2 Lou Ping Buru-buru menarik kendalinya, Syukur kudanya itu tak jatuh, namun sekalipun begitu, ta hulah ia bahwa kudanya itu sudah tak dapat disuruh berlari lagi, atau tentu akan mati kelelahan.
Apa boleh buat, ter paksa Lou Ping menyalankan binatang itu dengan pelahan 2 sekali.
Belum berapa jauh berjalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kuda yang menghampiri dengan pesatnya.
Dan pada lain saat seekor kuda putih menCongklang disisih nya, pesat memberosot kemuka.
Karena larinya seCepat-cepat angin, Lou Ping sampai tak dapat mengawasi dengan jelas, orang maCam bagaimanakah sipenunggang itu.
Belum habis Lou Ping ter-heran 2, kuda putih itu sudah lenyap dari pe mandangan.
Karena kudanya sudah kuat lagi, maka kembali dilarikan nya.
Tiba disebuah dusun, dilihatnya pada muka sebuah rumah tertambat seekor kuda yang bulunya putih meletak seperti salju.
Ditiup angin silir-'; suri kuda itu membelaia, betuia seekor kuda yang luar biasa bagus dan garangnya.
Se-konyonga kuda itu bebenger keras sekali, hingga kudanya Lou Ping sampai berjingkrak mundur.
Tak salah lagi, itulah kuda yang lari pesat melaluinya tadi.
Disebelahnya tampak seorang lelaki tengah menyikat bulunya.
"Kalau kudapat naiki kuda luar biasa itu, tentu akan dapat kususul suko dengan segera. Kuda sebagus itu, tentu pemi liknya tak mau menyualnya. Sebaiknya kuCemplak saja, tanpa bilang 2. Namun orang yang memiliki seekor kuda seperti itu, tentu mempunyai kepandaian buge yang tinggi."
Demikian Lou Ping me-nimbanga dalam hatinya.
Karena sejak kecil ia ikut ayahnya -Lou Gwan Thong si Golok Sakti -berkelana dikalangan Sungai Telaga, maka segala Cara 2 untuk nielakukan perampasan, ia sampai faham.
Begitu mengambil keputusan, segera ia mengambil sumbu dari dalam tasnya, lalu disulutnya dengan batu api yang dititiknya dengan besi.
Habis itu ia keprak sang kuda memburu kearah kuda putih yang di-inCarnya itu.
Begitu hampir dekat, dia sabitkan sebatang hui-to, golok terbang kearah tiang kaju dimana tali les kuda putih itu ditambatkan.
Berbareng dengan putusnya tali les itu, kuda Lou Pingpun sudah berada disamping sikuda putih.
Sebat luar biasa, wanita puteri begal tunggal Lou Gwan Thong yang termashur itu, sumpalkan sumbu ketelinga kudanya sendiri, begitu mcnyabet dengan tali les, dia barengi gunakan gerakan "Cian-liong-seng-thian"
Naga menCelat keatas udara, ia buang tubuhnya keatas pelana sikuda putih.
Karena terkejut, kuda putih itu membinal dan bebenger keras sekali.
Sekali kaki menyejak, bagaikan anak panah terlepas dari busur, menCongklanglah kuda luar biasa itu dengan pesatnya.
Cara puteri Lou Gwan Thong menCuri kuda itu, luar biasa sebatnya dan gapahnya.
Sehingga karena kesima, si pemilik itu hanya terlongong-longong mengawasi saja.
Baru setelah tersedar apa yang telah terjadi, dia sibuk tak ke ruan dan Buru-buru mengejarnya.
Tapi sungguh sial.
Kuda Lou Ping yang ditinggalkan itu tadi, karena telinganya terbakar dengan api sumbu 2, segera ber-jingkrak 2 tak keruan, me nyepak kesana, menggigit kemari.
Sehingga untuk beberapa saat tertahanlah sipemilik kuda putih itu, tak dapat mengejarnya.
Tapi orang itupun lihai juga, sekali enyot dia apung kan tubuhnya melompati kuda binal itu, terus lari mengejar lagi.
Mei hat dirinya dikejar, Lou Ping yang sudah lari jauh itu segera tahan kudanya, dirogohnya sebuah uang mas, begitu dilemparkan kearah sipengejar, ia bertereak dengan keras sekali.
"Kita tukar tambah binatang tunggangan. Kudamu lebih bagus, uang mas ini selaku tambahanku!"
Orang itu menyerit dan memaki dengan kalap, terus mengejar sekuat-kuatnya.
Lou Ping tertawa geli.
Begitu ke 2 kakinya menyepit keras-keras, kuda putih itu melesat lagi seperti anak panah.
Dan sekali melesat, sudah berpuluh tombak jauhnya.
Yang dirasakan Lou Ping, hanyalah angin yang men-deru-deru disamping telinganya, puhun 2 sebaris demi sebaris lalu disisihnya, dusun dan perkampungan silih ber ganti dijelayahinya.
Sekalipun sudah lari beberapa jam, sedikitpun kuda itu tak kelihatan lelah, dan tetap seperti terbang larinya.
Ketika tiba disebuah kota, berhentilah Lou Ping pada sebuah rumah makan.
Setelah ditanyakan, barulah diketa huinya bahwa kota itu disebut Sat King, kira-kira sepuluh0 lie jaraknya terpisah dari dusun dimana ia berhasil menCuri kuda itu.
Lou Ping sayang sekali dengan kuda sakti itu.
Diberinya sendiri kuda itu makan rumput, sembari mem-belai 2 bulu surinya.
Tiba-tiba disisih pelana situ tampak sebuah kantong kain.
Tadi karena ter-Buru-buru , ia tak dapat mengetahuinya.
Ketika diambil, kantong itu ternyata amat berat isinya.
Dan setelah dibuka, ternyata berisi sebuah senjata pie-peh besi.
Diam-diam Lou Ping terkejut.
"Kiranya kuda itu milik keluarga Han dari kota Lokyang yang bergelar Thiat-pie-peh-Chiu itu. Mungkin akan ada buntutnya dibelakang hari."
Begitu berkata Lou Ping pada dirinya sendiri. Selain senjata tersebut., terdapat juga 2 tiga puluh tail perak dan sepuCuk surat. Sampul surat itu dituliskan beberapa huruf dan berbunyi.
"Harap diterima sendiri oleh Han Bun Tiong toaya. -Dari orang she Ong."
Karena ternyata sampul itu sudah terobek, maka tak kepalang tanggung, Lou Ping lalu mengambil keluar surat didalamnya. Pertama kali melihat nama sipengirim ternyata adalah "Hwi Yang,"
Agak terkesiaplah Lou Ping.
Tapi di lain saat, ia merasa girang, karena tahulah ia sekarang bahwa keluarga pemilik kuda putih itu ternyata punya hubungan dengan Ong Hwi Yang, itu pemilik dari Tin Wan piauwkok, piauwkok yang justeru akan diCarinya itu.
Diam-diam ia me nyesal, mengapa mesti memberi pengganti sebiji uang mas pada orang yang menjadi kawan musuhnya itu.
Surat itu berbunyi, minta supaya Han Bun Tiong lekas pulang karena persaudaraan orang she Giam minta bertemu.
Agar supaya lekas Bun Tiong dapat tiba kekota raja, maka dia (Ong Hwi Yang) istimewa mengantar seekor kuda sakti.
Selain untuk tugas melindungi angkutan barang 2 berharga, juga ada urusan dagang yang penting sekali, agar Bun Tiong sendiri yang mengantarnya ke Kanglam.
Tentang benar tidaknya Ciao Bun Ki dibinasakan orang-orang Hong Hwa Hwe, baik dipertangguhkan untuk diselidiki lagi lain waktu."
Demikian maksud surat itu, maka berpikirlah Lou Ping.
"Ciao Bun Ki adalah murid dari keluarga Han si Thiat pi-peh dari Lok-yang. Dikalangan kangouw keras tersiar omongan, bahwa dia terbunuh oleh kaum kita. Tapi hal itu tak benar adanya. Dan untuk menghilangkan salah faham, CongthorigCu telah mengutus sip-su-te (I Hi Tong) pergi pada keluarga Han di Lokyang untuk menyelaskannya. Barang penting apakah yang dikawal Tiri Wan piauwkok ke Kanglam itu ? Baiklah"
Setelah nanti suko bebas akan ku ajaknya untuk membuat perhitungan pada orang-orang piauwkok tersebut. yang telah bantu menangkap suko."
Girang dengan apa yang diketahuinya waktu itu, Lou Ping bisa makan lebih banyak-banyak.
Ketika melanyutkan perjalanan nya lagi, ternyata hujan masih belum reda.
Rupanya kuda itu mengerti apa yang dibisikkan oleh Lou Ping tadi.
Karena kini dia makin Cepat-cepat larinya serta tak sebinal tadi.
Dalam sekejap saja entah sudah berapa banyak-banyaknya penunggang kuda lain dan kereta 2 yang telah dilampauinya.
Sehingga Lou Ping sendiri berbalik merasa kuatir, salah 2 bisa kesasar jalan nanti.
Ketika akan ditahannya sang kuda agar agak pelahan sedikit, sekonyong-konyong ada seseorang loncat ketengah jalan untuk menghadang, sembari mengangkat tangannya keatas kepala.
Karena kaget, kuda itu sampai berjingkrak mundur.
Belum keburu Lou Ping akan menegurnya, orang itu menghampiri seraja memberi hormat, katanya .
"Bun su-naynay, Siaoya berada disini !"
Kiranya penghadang itu ialah Sim Hi, kaCungnya Tan Keh Lok.
Dengan girang sekali, Lou Ping Buru-buru loncat dari atas kudanya.
Dan Cepat-cepat sekali anak itu menyang gapi les kuda putih tersebut., terus dituntunnya seraja memuji .
"Dimana Bun su-naynay dapat beli kuda yang begini bagus ? Tadi masih jauh kulihat kau mendatangi, tapi sekejap saja sudah sampai disini dan hampir saja ku tak dapat menghadangmu."
Lou Ping hanya tersenyum saja, sebaliknya menyawab pertanyaan orang, ia malah berbalik bertanya .
"Apa sudah ada berita tentang Bun suya?"
"Siang ngoya dan Siang liokya menerangkan sudah melihat Bun suya. Mereka sama berada didalam,"
Kata Sim Hi seraja membawa Lou Ping kesebuah kuil rusak yang berada ditepi jalan situ.
Lou Ping tak sabaran lagi.
Ia serahkan kudanya pada Sim Hi, dan terus berlari masuk.
Tampak diruangan dalam sudah berkumpul Tan Keh Lok, Bu Tim, Thio Pan San, ke 2 saudara Siang dan beberapa saudara lagi.
Waktu melihat Lou Ping, mereka sama berbangkit.
Menghadap pada sang ketua, Lou Ping menerangkan bahwa karena tak dapat menahan hatinya maka ia berangkat lebih dulu.
Untuk itu, ia minta maaf.
Baca Juga: Bagus Sajiwo 1
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga Chin Yung