Ceritasilat Novel Online

Pedang Dan Kitab Suci 3

Eps 3 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.

"Karena keliwat memikiri suko, tindakan suso itu dapat dimengerti. Sekalipun begitu, suso tetap bersalah tak menurut perintah pimpinan. Untuk itu, biarlah setelah nanti selesai menolong suko, kita putuskan hukumannya. Ciok sipji-ko, harap kau Catat dulu,"

Kata Keh Lok. Lou Ping berkata dalam hatinya, asal suko dapat tertolong, hukuman apa saja yang akan di terimanya, ia rela. Lalu tanyanya pada ke 2 saudara Siang .

"Ngoko dan liokko, adakah kau melihat suko ? Bagaimana dia?"

"Kemaren di Song King kita ber 2 telah berhasil menge jar rombongan kuku garuda yang membawa suko. Karena jumlah mereka banyak-banyak, kita kuatir keprak rumput membikin kaget ular, jadi tak turun tangan dulu. Malamnya dari jendela kami dapat melihat suko tidur dengan enaknya. Dia tak melihat kita. Karena penyagaan sangat kerasnya, maka terpaksa kita tak berani berbuat apa-apa,"

Menerangkan Siang He Ci.

"Kawanan kuku garuda itu bersatu; dengan piauwsu dari Tin Wan piauwkok. Turut penglihatanku, yang bugenya tinggi tidak kurang dari sepuluh orang,"

Siang Pek Ci menambahkan keterangan saudaranya.

Setelah ke 2 saudara Siang atau SeCwan Sianghiap itu habis berkata, tiba-tiba masuklah Ie Hi Tong kedalam ruangan itu, siapa begitu nampak.

Lou Ping segera menegor dengan kaget.

"Rombongan orang Wi itu telah berkemah ditepi sungai sebelah depan sana. Para penyaganya bersenjata lengkap Sebaiknya nanti malam saja kita lakukan pengintipan lagi,"

Kata Tan Keh Lok.

Sekonyong-konyong diluar terdengar gemuruh derap kuda berlari dan berbenger.

Ternyata ada sebuah rombongan penunggang kuda lewat disitu.

Tak lama kemudian masuklah Sim Hi memberi lapor .

"Barusan saja lewat iringkan kereta besar dibawah pimpinan seorang perwira beserta 2 puluhan perajurit."

Habis melapor, kembali, kaCung itu keluar kelenteng untuk pasang mata pula.

"Dari sini ketimur sedikit sekali penduduknya, tepat sekali untuk pekerjaan kita,"

Demikian Keh Lok berunding dengan para kawan.

"Cuma pasukan tentara ini dan rombongan orang Uigor itu entah orang-orang maCam apa, diwaktu kita turun tangan menolong Suko, boleh jadi mereka akan ikut Campur tangan, inilah perlu kita ber-jaga 2 sebelum nya."

Semua orang menyatakan benar atas pendapat pemimpin muda itu. Kata Bu Tim Tojin .

"Liok Hwi Ching, Liok-locianpwe selalu bilang adik-gurunya Thio Ciau Cong betapa hebat, betapa lihai, dikalangan kongouw kita juga sudah lama mendengar nama besarnya 'Hwe-jiu-boan-koan,' sekali ini yang menawan Bun-sute juga dia yang memimpin, kesempatan ini bagus sekali, biarlah aku Bu Tim Tojin Coba 2 menempurnya."

"Ja, Totiang punya tujuh 2 jurus Tui-hun-toat-beng-kiam' tiada bandingannya dijagat, harini jangan sekali 2 lepaskan biangkeladinya si Thio Ciau Cong ini,"

Kata Keh Lok.

"Meski Liok Hwi Ching, Liok-toako sudah putuskan hu-bungan dengan adik-gurunya itu,"

Demikian Tio Pan San ikut bicara.

"tapi ia orang paling setia dan berbudi, baik nya ia masih belum tiba disini, kalau tidak, dihadapannya terang 2an kita membunuh Sutenya (adik-gurunya), rasanya agak kurang leluasa juga."

"Kalau begitu, tidakkah lebih baik lekas-lekas kita berangkat, kira-kira besok pagi kita sudah dapat menCapai Suko,"

Sela Siang He Ci.

"Baiklah,"

Sahut Keh Lok.

"Nah, Goko dan Lakko (kaka kelima dan keenam), silahkan kau menyelaskan bagaimana maCamnya kawanan Cakar-alap 2 (maksudnya kaki tangan pemerintah) dan rombongan Piauthau 2 itu, agar besok bila kita turun tangan sudah ada renCana yang baik."

Memangnya ke 2 saudara Siang itu sudah menguntit kawanan pembesar negeri dan orang-orang Piauhang itu, seluk-beluknya sudah Cukup terang diselidikinya, maka mereka pun menuturkan dengan jelas, bahkan ditambahkannya.

"Kalau malam Suko tidur bersama serumah dengan kawanan Cakar-alap 2 itu dan siang harinya duduk didalam kereta besar, kaki dan tangannya diborgol. Kain tirai keretanya ditutup rapat 2 hingga orang luar pasti tak tahu didalam ke reta itu berduduk tawanan penting. Diwaktu kereta berjalan selalu ada 2 Cakar-alap 2 yang mengawal dikanan-kiri de ngan menunggang kuda, penyagaan keras sekali."

"Dan maCam apakah Thio Ciau Cong itu ?"

Tanya Bu Tim.

"Ia berusia sepuluh-an, perawakannya tegap dan berjenggot pendek 2,"

Kata Siang Pek Ci.

"Tapi, Totiang,"

Sela Siang He Ci tiba-tiba .

"harus kita janyi dulu, kami bersaudara bila kepergok dengan 'kura 2' (istilah olok 2 orang SuCwan, karena ke 2 saudara Siang adalah orang daerah itu) itu lantas melabraknya dahulu, jangan kau nanti omeli kami berebutan dengan kau."

"Haha, rupanya sudah lama tak ketemukan tanding, tangan sudah gatel barangkali ?"

Sahut Bu Tim tertawa.

"Dan kau Samte (adik ketiga), Thay-kek-jiu kepandaian-mu sibudha bertangan seribu ini apakah tidak ingin Cari 'pasaran' juga?"

"Ah, biar si Thio Ciau Cong ini aku serahkan pada kalian saja, tak mau aku merebutnya,"

Sahut Tio Pan San.

Begitulah jago-jago Hong Hwa Hwe itu berunding dengan gosok 2 tangan dan mengepal penuh semangat, setelah mereka isi perut sekedarnya dengan rangsum kering yang ada, segera pula mereka minta Tan Keh Lok memberi perintah.

Memangnya Keh Lok sudah siapkan renCananya, maka berkatalah ia.

"Rombongan orang Uigor itu belum pasti ada hubungannya dengan rombongan hamba negeri itu,"

Maka kita mendahului mereka saja, asal Suko sudah berhasil kita tolong, kitapun tak perlu urus mereka.

Maka Ie-Capsite, kaupun tak perlu menyelidiki lagi, kau dan Cio-Capsahko besok melulu bertugas menCegat perwira itu bersama 20-an perajuritnya itu, asal mereka dirintangi tak dapat mengganggu kita sudah Cukup, jangan banyak-banyak menewaskan d jiwa orang."

Perintah pertama ini segera diterima baik oleh Cio Su Kin dan Ie Hi Tong. Lalu Keh Lok melanyutkan.

"Dan kau, We-kiuko dan Ciok-Capjiko, kalian ber 2 segera berangkat mendahului kawanan Cakar-alap 2 itu, besok pagi 2 menyaga dimulut selat bukit sana, biar siapapun yang datang dari arah timur atau barat, semuanya harus ditahan. Yang -paling penting jalah jangan sampai kawanan Cakar-alap 2 itu lolos lewat selat, bukit itu."

Perintah inipun diterima dengan baik oleh We Jun Hwa dan Ciok Siang Ing, segera mereka keluar dan Cemplak kuda terus berangkat menunaikan tugasnya.

"Bu Tim Totiang, Siang-goko dan liokko, kalian bertiga kusua melajani hamba 2 negeri,"

Kata pula Keh Lok.

"Dan Tio-samko dan Nyo-patko kalian ber 2 melajani orang-orang Piauhang. Suso dan Sim Hi mengarah kereta yang ditumpangi Suko, aku sendiri berada ditengah melihat gelagat, dimana kurang lancar, segera aku membantu kesana."

Pembagian tugas itu telah diterima baik oleh semua orang. Tak terduga mendadak terdengar Ciang Cin ber-kaok 2.

"Hai, hai, Congthocu, lalu apa yang kulakukan? Kau telah lupakan diriku!"

Demikian teriaknya.

"Tidak lupa, tapi justru ada tugas penting perlu minta Sipko yang melakukan, Cuma entah Sipko sanggup memikul resiko tidak?"

Sahut Keh Lok tersenyum.

"Asal kau perintah saja, masakan aku Ciang Bongkok orang takut mati?"

Teriak Ciang Cin bersemangat.

"Mana bisa aku bilang kau takut,"

Sahut Keh Lok.

"hanya aku kuatir kau mabuk arak dan umbar napsumu hingga bikin runyum pekerjaan kita."

"Katakan, lekas katakan, setetes arak saja bila aku me neguknya, biar selanyutnya para saudara memandang hina padaku,"

Teriak Ciang Cin lagi tak sabar.

"Itulah bagus,"

Kata Keh Lok.

"Sekarang ada tiga tugas yang perlu Sipko memikulnya seorang diri. Pertama, kau tinggal menyaga disini, kalau ada hamba negeri atau pasukan tentara yang menuju ketimur, semuanya harus kau tahan ; ke 2, nanti kalau Liok (Hwi Ching) dan Ciu (Tiong Ing) ke 2 Cianpwe tiba, hendaklah lekas kau minta mereka menyusul membantu menempur musuh ; ketiga, begitu kita sudah dapat menolong Suko, kau dan Suso yang akan mengawalnya kedaerah Hwe ketempat guruku Thian-ti-koay-hiap untuk merawat lukanya, selama masih didaerah Kamsiok kita melindunginya sepenuh tenaga, tapi bila sudah lewat Sing-sing-kiap (nama sebuah selat bukit yang berbahaja), kita beramai lantas putar kembali kemarkas besar didaerah Kanglam, dan kewajiban selanyutnya adalah kau yang harus memikul seluruhnya."

Begitulah setiap Keh Lok mengucapkan sepatahkata, segera Ciang Cin mengia sekali penuh girang, terus menerus ia menyatakan baik tugas 2 itu.

Setelah selesai membagi tugas, segera semua orang keluar kelenteng dan Cemlak keatas kuda sambil memberi tanda perpisahan dengan Ciang Cin.

Ketika semua orang melihat kuda putih Lou Ping yang bagus itu, kesemuanya tiada henti-nya memuji.

Karena itu diam-diam Lou Ping berpikir .

"Seharusnya kuda ini mesti dihadiahkan pada Congthocu, tapi engkoku itu (maksudnya suaminya, Bun Thay Lay) sudah terlalu banyak-banyak menderita, nanti kalau dia sudah dapat tertolong, kuda ini akan kuberikan padanya saja, biar dia menjadi girang."

Dalam pada itu Keh Lok telah tanya Ie Hi Tong .

"Di-manakah orang-orang Uigor itu berkemah ? Marilah kita memutar pergi melihatnya."

Segera Hi Tong menunyukkan jalan menuju ketepi sungai, tapi setiba disana, yang tertampak hanya tanah lapang yang sunyi senyap, mana lagi ada perkemahan dan bayangan orang ?

Yang ada tinggal kotoran 2 kuda dan onta yang memenuhi tanah saja.

Hi Tong turun dari.

kuda dan memeriksa kering dan ba-sahnya kotoran 2 binatang itu, lalu katanya.

"Mereka berangkat kira-kira sejam yang lalu."

Semua orang' menjadi heran dan merasa tindak-tanduk orang-orang Uigor itu rada aneh dan penuh rahasia, susah diraba untuk apakah tujuan mereka.

"Marilah kita berangkat !"

Ajak Keh Lok kemudian.

Maka Cepat-cepat sekali mereka keprak kuda, ditengah malam buta yang sunyi, hanya terdengar suara derapan kuda yang ber-detaka.

Karena kuda putih Lou Ping terlalu Cepat-cepat larinya, maka setiap kali ia harus menunggu kawannya agar tidak ketinggalan jauh.

Ketika fajar sudah menyingsing, sampailah mereka ditepi sebuah sungai kecil.

"Para saudara, biarlah binatang 2 tunggangan kita minum air dulu untuk memulihkan tenaga, lewat sejam lagi kukira sudah dapat menCapai kereta tawanan Suko,"

Demikian kata Keh Lok.

Mendengar selekasnya akan bisa bertemu dengan suami nya, seketika darah ditubuh Lou Ping seakan-akan mengalir terlebih santer, jantung memukul keras, wajah bersemu merah.

Waktu Hi Tong melirik orang dan nampak parasnya yang Cemas 2 Cantik itu, sung'guh susah dilukiskan perasaan apa yang dirasakannya saat itu, maka per-lahan 2 ia mendekati Lou Ping dan memanggilnya lirih .

"Suso !"

"Ehm ?"

Sahut Lou Ping.

"Sekalipun jiwaku harus melayang , pasti aku akan mem-bebaskan Suko kepadamu,"

Kata Hi Tong parau. Lou Ping tersenyum, lalu dengan menghela napas pelahan ia berkata.

"Ja beginilah baru benar 2 saudaraku yang baik !"

Seketika pilu rasa hati Hi Tong hingga hampir 2 saja meneteskan air mata, lekas-lekas ia melengos kearah lain.

"Suso,"

Kata Keh Lok tiba-tiba .

"pinyamkanlah kudamu itu kepada Sim Hi, biar dia menyusul kedepan dahulu untuk menyelidiki jejak Cakar-alap 2 dan kemudian balik memberi kabar pada kita."

Mendengar dapat menunggang kuda putih milik Lou Ping itu, alangkah girangnya Sim Hi, segera ia mendekati. Lou Ping dan menanya.

"Ja,. Bun-naynay (nyonya Bun), bolehkah kau?"

"Kajak anak kecil, kenapa tidak boleh?"

Sahut Lou Ping tertawa.

Mendengar itu, tanpa bertanya lagi segera Sim Hi Cem plak kuda putih itu terus berlari pergi seCepat-cepat terbang.

Setelah menunggu kuda mereka Cukup meminum air, ke-mudian merekapun melanyutkan perjalanan dengan Cepat-cepat .

Tak lama, CuaCa sudah terang benderang, dari jauh kelihatan Sim Hi telah kembali dengan kuda putihnya.

"Lekas, kawanan Cakar-alap 2 itu tak jauh didepan, marilah lekas mengejarnya!"

Demikian kaCung itu berteriak-' dari jauh.

Mendengar laporan itu, sungguh girang sekali semua orang, mereka keprak kuda mengudak lagi sepenuh tenaga.

Ketika Sim Hi menukar kembali kuda putih itu kepada Lou Ping, nyonya jelita ini tanya padanya.

"Apakah kau telah melihat kereta yang ditumpangi Suya (tuan keempat)?"

"Ja, ja, sudah melihatnya,"

Sahut Sim Hi sambil mengangguk-angguk.

"Ketika aku ingin melihatnya lebih jelas dan Coba mendekati kereta besar itu, tapi orang-orang Piauhang yang mengawal disamping kereta itu dengan bengis lantas angkat golok menganCam sambil menCuCi maki padaku."

"Biarlah, sebentar pasti mereka akan me-nyembah 2 dan menyebut kau tuan muda dan nenek-moyang kecil padamu,"

Ujar Lou Ping tertawa.

Lalu seCepat-cepat kilat merekapun menguber terlebih Cepat-cepat lagi.

Setelah mengejar 5-enam li pula, lapat 2 kelihatan didepan ada sepasukan orang yang makin lama makin dekat, dan achirnya tertampak jelas adalah seregu tentara yang mengawal sebuah kafilah.

"Mengejar lagi enam-tujuh li lantas kawanan Cakar-alap 2 dan orang-orang Piauhang itu,"

Demikian kata Sim Hi pada majikan nya, Tan Keh Lok.

Ketika semua orang keprak kuda melampaui kafilah itu, begitu Keh Lok memberi tanda, segera Cio Su Kin dan Ie Hi Tong ber 2 memutar kuda mereka terus menghadang ditengah jalan, sedang yang lain-lain meneruskan pengejaran mereka kedepan dengan Cepat-cepat .

Setelah pasukan tentara itu sudah dekat, diatas kudanya Hi Tong lantas memberi hormat, katanya dengan sopan-santun sebagai seorang SiuCay.

"Kalian tentunya sudah Capek lelah, pemandangan disini indah permai, marilah kita duduk 2 dulu sambil meng-obrol 2 saja?"

Tapi seorang perajurit tentara Cing yang paling depan lantas membentaknya.

"Lekas minggir, kau tahu tidak ini adalah keluarga Li-Ciangkun?"

"O, kiranya keluarga pembesar? Kalau begitu lebih 2 harus mengaso dulu,"

Sahut Hi Tong.

"Didepan sana ada 2 setan gantung hitam-putih, jangan 2 nanti malah bikin kaget para nona dan nyonya."

"NgaCo-belo,"

Damperat seorang perajurit lain sambil ajun peCutnya terus menyabet.

"Kau SiuCay berbau keCut ini jangan main gila disini !"

Namun dengan ketawa 2 Hi Tong berkelit, lalu katanya pula.

"Ah, jangan pukul dulu. Kata pribahasa. Seorang jantan pakai mulut tidak pakai tangan. Tapi kau telah gunakan peCut kuda semaunya, inilah bukan perbuatan seorang jantan !"

Sementara itu perwira yang memimpin kafilah itu ketika melihat didepan ada orang menghadang, Cepat-cepat sekali telah keprak kuda maju membentak.

Tapi dengan tertawa Hi Tong memberi hormat lagi, lalu tanyanya.

"Siapakah nama paduka tuan yang mulia, dimana kah kediamannya?"

Nampak keadaan Ie Hi Tong dan Cio Su Kin agak men Curigakan,maka perwira itu menjadi ragu 2 dan tidak lantas menyawab. Dalam pada itu Hi Tong telah keluarkan seruling emasnya, katanya pula.

"Aku yang rendah sedikit mempelajari seni suara, tapi seringkah gegetun belum ketemukan kawan yang paham kepandaianku, kini melihat paduka tuan lain dari yang lain, maukah silahkan turun kuda dulu buat mendengarkan satu lagu sulingku untuk pelipur lara dalam perja-lanan?"

Kiranya perwira itu adalah Can Tho Lam yang mengawal keluarga Li Khik Siu kedaerah Kanglam itu, Ketika dilihat nya seruling emas orang, sungguh terkejutnya tidak kepalang.

Meski ia tidak menyaksikan sendiri waktu Hi Tong bertempur melawan petugas-petugas negeri di Tio-keh-po tempo hari, tapi kemudian iapun mendengar Cerita dari perajuritnya serta pelajan hotel hingga mengetahui "bandit"

Yang melawan dan bahkan membunuh petugas negeri itu adalah' seorang muda ganteng dan membawa seruling emas.

Kini kepergok di tengah jalan, entah apa maksud tujuannya, tapi bila melihat lawan hanya ber 2 orang saja, dalam hati dengan sendirinya tak begitu gentar.

Karena itu, segera Can Tho Lam membentak.

"Kita 'air sungai tak mengairi sumur (maksudnya tiada permusuhan dan sangkutpaut), baiknya ambil ah jalan sendiri 2 dan lekaslah minggir saja !"

"Nanti dulu,"

Jawab Hi Tong.

"Aku ada sepuluh lagu merdu yang sudah lama tak ditiup, harini bisa bertemu orang agung, tanpa merasa menjadi getol, maka terpaksa biar aku pertun jukkan sebisanya. Untuk memberi jalan tidaklah susah, asal sepuluh laguku sudah selesai ditiup, dengan sendirinya aku menghantar selamat jalan paduka tuan."

Habis berkata, tanpa menunggu jawaban orang, segera Hi Tong angkat serulingnya kebibir terus ditiupnya keras-keras.

Can Tho Lam mengarti urusan harini tak mungkin disele-saikan begitu saja, maka iapun tak sabar, begitu tombak nya diangkat, dengan gerakan "oh-liong-jut-tong""

Atau naga hitam keluar dari liang, mendadak ia menusuk keulu hati Hi Tong.

Ternyata serangan itu sama sekali tak diperduli oleh SiuCay berseruling emas itu, ia masih terus meniup sulingnya se enaknya saja, ia menunggu setelah ujung tombak itu sudah mendekat baru mendadak tangan kirinya menyamber gagang tombak musuh, menyusul seruling emas ditangan kanan menghantam sekeras-kerasnya ketengah gagang tombak hingga seketika senjata itu patah menjadi 2, Terkejut sekali Can Tho Lam, Cepat-cepat ia tarik kudanya mundur beberapa langkah, lalu dari seorang perajuritnya disambernya sebilah golok untuk kemudian merangsang maju lagi.

Tapi setelah tujuh-delapan jurus, kembali Hi Tong dapatkan ke-sempatan menutuk dilengan kanannya hingga lagi-lagi senjata Can Tho Lam terlepas dari tangan.

"Nah, sepuluh laguku harini sudah pasti kau mendengar nya,"

Demikian kata Hi Tong sambil tertawa. Lalu seruling diangkatnya dan ditiupnya lagi. Gugup dan gusar Can Tho Lam 2 kali keCundang, ia masih takmau terima, tiba-tiba ia memberi tanda sambil berteriak .

"Maju semua, tangkap dulu keparat ini !"

Mendengar perintah atasannya itu, mau-tak-mau para pe-rajurit itu menyerbu maju.

Namun Cio Su Kin sudah siap, sekali ia lompat turun dari kudanya dan menghadang kedepan, ketika gajuh besi nya diajun, dengan gerak tipu "boat-Chau-sun-Coa"

Atau menyingkap rumput menCari ular, penggajuhnya menyabet pelahan kaki seorang perajurit paling depan, tanpa ampun lagi perajurit itu menyerit dan jatuh terjengkang dia tas sajap penggajuh Cio Su Kin itu.

Apabila lain saat Su Kin mendadak ajun senjatanya keatas keras-keras, bagai layang-layangyang putus benangnya perajurit itu tahu-tahu terbang keangkasa, saking takutnya hingga perajurit itu ber-teriak 2 minta tolong dan kemudian jatuh kedalam rombongan Kawan-kawan nya.

Waktu Cio Su Kin memburu maju pula, idem dito seperti tadi, seperti sekop saja serdadu 2 Cing itu satu persatu kena disekop keudara oleh penggajuh besinya.

Karuan saja serdadu 2 yang berada dibagian belakang sama ketakutan, sekali menyerit, seketika mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu alias lari ter-birit 2.

Meski Can Tho Lam Coba menCegah kekaCauan itu dengan ajun peCut kudanya menyabet serabutan, namun suasana sudah takbisa dikuasai lagi.

Sedang Cio Su Kin merasa kesenangan akan permainan "sekop"

Itu.

tiba-tiba tirai pintu kereta besar didepannya tersingkap, menyusul sesosok awan merah tahu-tahu menubruk datang, berbareng sebilah pedang mengkilap telah menusuk kedadanya.

Namun Su Kin sempat gunakan gerakan "to-poat-sui-yang"

Atau membubut pohon Yang roboh, ujung gagang penggajuhnya mendadak dibalik untuk memukul batang pedang orang.

Tapi lawannya ternyata juga tidak lemah, belum sampai kebentur, orang itu sudah merubah serangan dan ganti menusuk kaki Su Kin.

Ketika sedikit Su Kin geser kaki dan gajuhnya terus me nyerampang dari samping, karena tahu tenaga Su Kin terlalu besar, orang itu tak berani menangkisnya, hanya melompat pergi beberapa tindak.

Waktu Su Kin menegasi, ternyata orang itu adalah seorang gadis berbaju merah.

Dasar Su Kin bertabiat tidak suka banyak-banyak bicara, maka tanpa bersuara kembali ia putar gajuhnya menempur sigadis pula.

Tapi setelah saling gebrak beberapa jurus lagi dan melihat ilmu pedang orang sangat bagus, diam-diam Su Kin merasa heran.

Kalau Su Km heran, maka Hi Tong yang menyaksikan di samping juga terkesima.

Tatkala itu ia sudah lupa meniup serulingnya lagi melainkan memperhatikan terus ilmu pedang sigadis itu, ternyata gadis itu mainkan pedangnya sedemikian rupa hingga sinar putih gulung-gemulung sambung menyam bung tak pernah putus, segera juga Hi Tong dapat menge nalinya ilmu pedang sigadis ternyata adalah "Ju-hun-kiam-hoat"

Dari perguruan sendiri.

Melihat pertarungan itu masih terus berlangsung dengan serunya, ilmu pedang sigadis sangat bagus, sebaliknya tenaga Cio Su Kin besar, hingga seketika susah dibedakan mana bakal unggul atau asor.

Maka mendadak Hi Tong melompat maju, ketika seruling emasnya ia tangkiskan ke-tengah 2 ke 2 senjata yang sedang bertanding itu, berbareng iapun berseru.

"Berhenti !"

Gadis itu dan Cio Su Kin sama-sama mundur selangkah, dalam pada itu setelah menukar lagi senjata tombaknya, Can Tho Lam telah keprak kuda maju lagi hendak membantu sigadis, sedang perajurit 2 Cing itu sama berteriak 2 dikejauhan memberi semangat pada pemimpinnya.

Namun tiba-tiba gadis itu memberi tanda agar Can Tho Lam mundur saja.

"Numpang tanya siapakah nama nona yang mulia? Dan siapakah gurumu?"

Demikian Hi Tong lantas menanya. Gadis itu tertawa.

"Kau tanya, tapi aku justru takmau bilang,"

Sahutnya kemudian.

"Sebaliknya aku tahu kau adalah Kim-tiok-siuCay le Hi Tong, Hi artinya ikan, ikannya dari ikan menggeragap ikan diair keruh, dan Tong artinya sama, samanya dari sama-sama sebagai jantan. Kau menduduki kursi ke-14 dalam Hong Hwa Hwe, betul tidak?"

Terkejut sekali Hi Tong dan Su Kin demi mendengar kata-kata orang yang luCu 2 benar itu hingga seketika mereka saling pandang tak bisa buka suara.

Lebih 2 Hi Tong tertegun oleh karena kata-kata sigadis tadi ternyata menirukan Caranya mem-perkenalkan diri tempo menempur musuh dihotel itu.

Dilain pihak Can Tho Lam juga tidak habis mengerti ketika menyaksikan gadis itu tibatiba berbicara dengan kawanan "bandit"

Itu dengan senyum-simpul tanpa takut.

Begitulah sedang tiga laki 2 dengan heran memandangi seorang gadis yang bermuka berseri-seri, dan seketika bingung entah apa yang harus dibicarakan, tiba-tiba terdengarlah suara derapan kuda yang riuh ramai, perajurit 2 Cing itu tertampak sama minggir memberi jalan, lalu enam penunggang kuda telah menyusul datang dari arah belakang dengan Cepat-cepat .

Orang yang berada paling depan itu berwajah kurus, rambut penuh beruban, nyata ialah tokoh terkemuka Bu-tong-Pai, Liok Hwi Ching adanya.

Tanpa berjanyi Hi Tong dan sigadis tadi ber-sama-sama telah memapak maju, yang satu terdengar memanggil Hwi Ching dengan 'Susiok' (paman guru), sebaliknya yang lain memanggil 'Suhu' (guru), lalu sama-sama melompat turun dari kuda untuk memberi hormat.

"Wan Ci, kenapa kau berada bersama Ie-suheng dan Cio-toako disini?"

Tanya Hwi Ching kemudian. Nyata gadis tadi bukan lain adalah Li Wan Ci, itu murid perempuan Hwi Ching yang nakal dan jail.

"Habis, Ie-suheng memaksa orang harus mendengar tiupan serulingnya, aku tak suka mendengarnya, lalu ia merintangi tak boleh lewat,"

Demikian sahut sigadis.

"Sekarang, Suhu, kau saja yang menimbang siapa yang salah dalam hal ini."

Tentang Liok Hwi Ching menghajar petugas negeri di hotel tempo hari, Can Tho Lam sudah mengetahuinya juga, kini melihat orang mendadak munCul berombongan, hati perwira itu menjadi kebat-kebit tak tenteram.

Kelima orang yang ikut dibelakang Hwi Ching itu ialah Ciu Tiong Ing, Ciu Ki, Ji Thian Hong, Beng Kian Hiong dan An Kian Kong.

Hari itu ketika diam-diam Lou Ping tinggal pergi tengah malam, besok paginya ketika Ciu Ki sudah bangun, gadis ini menjadi kurang senang.

"Hm, kalian orang-orang Hong Hwa Hwe suka pandang rendah orang lain, kenapa kau tidak ikut pergi bersama kau punya Suso (kaka ipar perempuan keempat) saja ?"

Demikian gadis itu mengomel. Karena itu Thian Hong memberi penyelasan sebisanya dan meminta maaf kepada ayah dan gadis she Ciu itu.

"Ia, Cinta suami-isteri mereka yang masih muda, sudah tentu ingin sekali bisa lekas-lekas bersua kembali, kalau ia berangkat lebih dulu, itupun sudah jamak saja,"

Ujar Tiong Ing. Habis ini ia berpaling pada gadisnya dan men Celahnya .

"Dan kau perlu apa harus muring 2?"

"Seorang diri Suso telah berangkat, ia sudah saling kenal dengan kawanan Cakar-alap 2, jangan 2 akan terjadi lagi sesuatu,"

Kata Thian Hong.

"Ja, tidak salah, maka paling baik kalau kita menyusulnya lekas,"

Sahut Tiong Ing.

"Tan-tangkeh suruh aku memimpin regu ini, apabila terjadi apa-apa atas dirinya (maksudnya Lou Ping), sungguh mukaku ini nanti entah harus ditaruh di mana?"

Maka mereka bertiga segera larikan kuda seCepat-cepat terbang, sore hari itu juga mereka sudah bisa menyusul Liok Hwi Ching.

Karena kuatir atas diri Lou Ping, maka berenam mereka menempuh perjalanan seCepat-cepat mungkin tanpa banyak-banyak buang tempo ditengah jalan, sebab itu tak lama rombongan Tan Keh Lok berlalu, segera juga mereka sudah bertemu dengan Ciang Cin yang bertugas menyaga ditempatnya itu, dan ketika mendengar bahwa Bun Thay Lay berada tidak jauh didepan, seCepat-cepat angin segera merekapun menguber terus.

Begitulah, ketika Hi Tong mendengar Wan Ci mengadu biru malah pada Liok Hwi Ching, mau-tak-mau wajahnya menjadi panas rasanya, pikirnya .

"Aku merintangi orang mendengar serulingku, itu memang benar, tapi bilakah pernah aku memaksa kau sinona besar ini?"

Dilain pihak ketika Ciu Ki mendengar penga 2n Wan Ci tadi, dengan sengit ia melotot pula kearah Ji Thian Hong, dalam hati iapun berkata .

"Hm, memangnya ada berapa orang baik-baik didalam Hong Hwa Hwe kalian? Kemudian Hwi Ching telah berkata pada Wan Ci.

"Urusan didepan nanti sangat berbahaja, baiknya kalian tinggal sementara disini jangan sampai mengagetkan Thay-thay (nyonya besar). Bila urusanku sudah selesai, dengan sendirinya aku akan datang mencari kau."

Mendengar didepan nanti bakal ada ramai 2, tapi sang Suhu tak perkenankan dia ikut perdi, maka mulut Wan Ci yang mungil menyengkit, tanpa menyawab.

Namun Hwi Ching pun tak menghiraukannya, ia ajak semua orang mengudak pula terlebih Cepat-cepat .

Kembali mengenai Keh Lok tadi, ia memimpin rombong annya mengejar terus kedepan, setelah 4 -5 li lagi, lapat 2 kelihatan iring 2an orang didepan terbaris menjadi satu garis lurus sedang menyelayahi gurun Gobi yang luas.

Segera dengan pedang terhunus Bu Tim Tojin mendahului menguber kedepan sambil berteriak .

"Ayo, kejar Cepat-cepat !"

Setelah lebih satu li lagi, bangun tubuh orang-orang didepan makin lama makin nyata, tiba-tiba Lou Ping keprak kuda terus menyerobot maju, hanya sekejap saja musuh disusulnya.

Dengan golok kembar ditangan, ia bermaksud melampaui musuh dulu untuk kemudian baru putar balik mencegat.

Tak terduga mendadak didepan sana riuh ramai orang ber-teriak 2, beberapa puluh ekor onta dan kuda telah me nerdyang datang dari arah timur kebarat.

Karena tak menduga-duga, lekas-lekas Lou Ping tahan kudanya dengan maksud melihat kawan atau lawan kafilah yang me nerdyang datang ini.

Sementara itu iring 2an petugas negeri itupun sudah berhenti dan ada orang sedang mem-bentak 2 menegur.

Tapi barisan penerdyang itu makin depat makin Cepat-cepat , senjata gemilapan ditangan penunggang 2 kuda itu segera menyerbu kedalam pasukan tentara itu hingga terjadilah pertempuran gaduh.

Lou Ping menjadi heran sekali, ia tidak mengerti dari mana datangnya bala bantuan itu.

Sementara itu Tan Keh Lok dan lain-lain sudah menyusul datang juga, be-ramai 2 mereka maju lebih dekat untuk menyaksikan pertempuran sengit itu.

Sekonyong-konyong dari depan sana seorang penunggang kuda mendatangi dengan Cepat-cepat , setelah melingkari medan per-tempuran ke 2 pihak itu, orang itu terus menuju kearah jago-jago Hong Hwa Hwe ini.

Setelah dekat, achirnya semua orang dapat mengenalinya bukan lain ialah Kiu-beng-kim-pa-Cu, We Jun Hwa, simacan tutul bernyawa sembilan itu.

Setelah sampai dihadapan Keh Lok, segera Jun Hwa berseru .

"Congthocu, bersama Cap-ji-long aku menyaga dimulut selat bukit sana, tapi telah diterdyang orang-orang Uigor ini, kami ber 2 tak mampu menahannya, terpaksa aku memburu datang memberi lapor, siapa tahu mereka malah sudah saling gebrak dengan kawanan Cakar-alap 2 itu, inilah sungguh aneh sekali!"

"Bu Tim Totiang, Tio-samko dan Siang-si Siang-hiap (ke 2 pendekar she Siang),"

Demikian Keh Lok segera mengatur siasat.

"kalian berempat lekas menyerbu kesana merampas dahulu kereta tawanan Bun-suko itu, yang lain-lain jangan turun tangan dulu, biar kita lihat gelagat saja."

Sekali mengia, Bu Tim Tojin berempat terus keprak kuda mengerbu kedepan.

"Kawan dari golongan mana ?"

Bentak 2 opas ketika melihat datangnya empat orang itu.

Namun Tio Pan San menyawabnya segera dengan 2 buah pisau seCepat-cepat kilat, yang satu menembusi tenggorokan dan yang lain menancap diperut, ke 2 opas itu seketika kena dibereskan.

Tio Pan San berjuluk "Jian-pi-ji-lay"

Atau sibudha bertangan seribu, sebab biasanya mukanya berseri-seri selalu, wajahnya welas-asih dan hatinya lemah, sebaliknya tubuhnya penuh membawa senjata-nyata rasia seperti piau, anak panah, batu sambitan dan peluru besi dan maCam 2 lagi, Cepat-cepat dan jitu sambitannya hingga orang susah mengarti Cara bagaimana sepasang tangannya itu sekaligus bisa menggunakan senjata-nyata rasia yang begitu banyak-banyak.

Setelah empat orang itu menerdyang sampai mendekati kereta besar, dari depan tiba-tiba seorang Uigor yang pakai ubel 2 kepala telah menusuk dengan tombaknya.

Namun se dikit mengegos, Bu Tim tidak balas menyerang, melainkan terus menerdyang lebih dekat kereta besar sasaran mereka.

Ketika seorang Plauwsu angkat goloknya membaCok, sekali Bu Tim menangkis, seCepat-cepat kilat pedangnya terus me motong kebawah hingga empat jari Piauwsu itu tertabas putus, saking sakitnya hingga Piauwsu itu terjungkir jatuh dari kudanya.

Pada saat itu juga Bu Tim mendengar samberan angin dari belakang, ia tahu ada musuh membokong, tanpa berpaling lagi ia ajun pedangnya dari bawah keatas, tahu-tahu pedangnya melalui bawah bahu musuh terus menerabas keluar dari pundak kanan, nyata opas yang membokong itu telah terpapas sebelah lengannya mulai dari bahu sampai dipundak, bahkan sebagian kepalanya pun terkupas, hingga darah munCrat bagai air leding.

Cara Bu Tim menghajar musuh itu disaksikan dengan jelas oleh ke 2 saudara Siang dan Tio Pan San dari belakang, mereka sama memuji atas ketangkasan imam berlengan satu yang lihai itu.

Begitu juga, ketika orang-orang Piauhang melihat ilmu pedang Bu Tim mengejutkan, belum sampai bergebrak 2 kawan dipihaknya sudah melayang jiwanya, keruan nyali mereka peCah hingga be-ramai 2 ber-teriak 2 .

"Angin ken tyang , lari !"

Tiba-tiba seorang Piauwsu yang bertubuh kurus kecil telah membilukkan kereta besar, sekali peCutnya bekerja, kereta keledai telah dilarikan Cepat-cepat.

Tatkala itu ke 2 pendekar Siang dengan senjata Cakar-terbang mereka sudah saling gebrak melawan tujuh-delapan orng Uigor yang maju merintanginya.

Sedang Tio Pan San ketika kereta besar dibilukkan hendak lari, segera bersama Bu Tim Tojin mereka mengudak.

Setelah rada dekat, Pan San mengeluarkan sebutir batu "Hui-hong-Ciok,"

Batu belalang terbang, Cepat-cepat sekali ia sambitkan kebelakang kepala Piauwsu itu hingga tepat mengenai sasaran dan darah berCipratan, saking sakitnya orang itu ber-kaok 2, tapi banyak-banyak juga akal liCik Piauwsu itu, tiba-tiba ia keluarkan sebilah hadi 2 terus ditanCapkan sekuat-kuatnya kepantat keledai, karena kesakitan, karuan binatang itu berlari kesetanan.

Pan San menjadi gusar, ia peCut kudanya lebih ken tyang , mendadak ia enyot tubuh terus menubruk kebebokong kuda tunggang Piauwsu itu, dan baru saja duduk diatas kuda, berbareng tangan kanannya sudah pegang per gelangan tangan Piauwsu itu terus diangkat keatas, la ajun 2 dulu tubuh orang diudara, lalu dilemparkan sekuatnya ke arah kereta keledai yang masih berlari Cepat-cepat didepan itu.

Dengan tepat Piauwsu itu jatuh diatas kepala keledai penarik kereta itu, begitu jatuh, secara mati 2an ia merangkul kentyang 2 kepala binatang itu.

Karena kaget, pula matanya tertutup oleh rangkulan si Piauwsu, keledai itu berjingkrak 2 dan me-ronta 2 terus membalik arah malah.

Dengan Cepat-cepat Bu Tim dan Pan San seg'erapun sudah datang hingga keledai itu dapat diberhentikan.

Waktu Pan San ulur tangannya menarik punggung Piauwsu itu, dengan keras ia banting orang ketepi jalan.

"Sam-te gunakan orang sebagai senjata, sungguh hebat Caramu ini!"

Demikian Bu Tim memuji.

Waktu Tio Pan San menarik tirai kereta dan melongak kedalam, namun keadaan dalam kereta ternyata gelap gelita tak terang, hanya lapat 2 seperti ada seorang yang merebah didalam dengan tubuh berselimut.

"Su-te (adik keempat), benar kau bukan? Kami telah da tang menolong kau!"

Segera Pan San berseru. Tapi orang itu hanya bersuara lemah sekali, habis itu tak kedengaran apa-apa lagi.

"Kau hantar kembali Su-te dulu, biar aku yang menCari Thio Ciau Cong untuk bikin perhitungan,"

Kata Bu Tim.

Habis ini ia keprak kuda menerdyang lagi kemedan pertempuran.

Mula 2 orang-orang Piauhang melarikan diri kearah timur, tapi ketika melihat Bu Tim menerdyang datang lagi, dengan ber-teriak 2 mereka putar haluan kabur kebarat.

Thio Ciau Cong, wahai Thio Ciau Cong!

Dimanakah kau keparat ini, kenapa tidak lekas unyuk diri!"

Segera Bu Tim ber-teriak 2 menantang.

Tapi meski diulangi lagi, masih belum ada juga orang menyahut.

Maka kembali ia menerdyang kearah gerombolan musuh.

Melihat Bu Tim mengudak datang lagi, para Piauwsu dan hamba 2 negeri menjadi ketakutan tidak kepalang hingga semangat seakan-akan terbang ke-awang 2, mereka ber-teriak 2 terus lari sipat-kuping tunggang-langgang.

Dilain pihak para jago menjadi girang ketika melihat Tio Pan San membawa kembali kereta besar yang mereka arah itu, be-ramai 2 mereka memapaknya.

Dengan tak sabar Lou Ping telah mendahului kehadapan kereta itu, ia melom-pat turun dari kudanya terus menyingkap tirai kereta.

"Toako!"

Serunya dengan suara ter-putus-putus.

Tapi ternyata tiada sahutan orang didalam kereta.

Kaget luar biasa Lou Ping, tanpa pikir lagi ia menerobos kedalam kereta terus menarik selimut yang menutupi sesosok tubuh orang itu.

Sementara itu para jago Hong Hwa Hwe yang lainpun sudah datang, mereka sama melompat turun dari kuda terus merubung maju hendak melihat keadaan Bun Thay Lay yang mereka rindukan itu.

Disebelah sana ke 2 pendekar Siang melihat kereta tawanan sudah dapat mereka rampas, tentu saja mereka tak sabar lagi menempur terus orang-orang Uigor yang tak jelas asal-usulnya itu, sekali ke 2 saudara Siang itu bersuit, Cakar-terbang mereka diajun memaksa orang-orang Ui itu mundur, lalu mereka putarkuda terus kabur pergi.

Orang-orang Uigor itu rupanya melulu bertugas merintangi orang yang bermaksud mendekati saja, maka ketika melihat ke 2 saudara Siang itu undurkan diri, sama sekali mereka tidak mengejar, melainkan terus ikut menerdyang ketengah medan pertempuran yang masih berlangsung dengan serunya itu.

Tatkala itu Bu Tim Tojin masih menerdyang kesana kemari, seorang kusir kereta yang lambat larikan diri kembali telah kena dibaCoknya hingga terguling.

Bu Tim tak berniat membunuhnya, maka ia tarik tali kendali kuda melompati tubuh orang terus ber-teriak 2 menantang pula.

"Ayo, Hwe-jiu-boan-koan, dimana kau, pengeCut, kenapa tidak lekas keluar !"

Hwe-Chiu poan-koan adalah gelaran Thio Ciauw Cong. Tapi yang munCul bukan dia, melainkan seorang Wi yang tinggi besar, bermuka brewok.

"Imam liar darimanakah berani mengaduk disini!"

Demikian segera orang itu membentak.

Tanpa menyawab, pedang Bu Tim berkelebat menyabet nya.

Untung orang Wi itu sebat menangkis.

Tapi sebelum dia keburu menarik kembali goloknya, Bu Tim susuli sabetan kearah kanan dan kiri, Cepat-cepat nya bukan terkira.

Karena tak sempat menangkis, orang Wi itu jepitkan kaki keperut kuda, sudah itu tubuhnya ia buang kebawah untuk menyusup kebawah perut kuda.

Dengan Cara berjum palitan melalui perut tunggangannya itu, barulah dia berhasil lolos dari tabasan Bu Tim.

Namun tak urung dia kucurkan keringat dingin, dan dengan andalkan kepandai annya berkuda, orang Wi itu larikan kudanya dengan dia sendiri masih menggelantung dibawah perut si kuda.

"Kau dapat menghindari tiga tabasanku, betul-betul seorang hohan. Akupun tak mau mengambil jiwamu lagi", kata Bu Tim dengan tertawa. Dan dia kembali menyerbu kearah rombongan lain. Ketika SeChwan Sianghiap tadi mengantar kereta menuju kesebelah barat, mereka nampak dari arah muka ada kira-kira delapan penunggang kuda menghampiri. Itulah rombongan Ciu Tiong Ing dan Liok Hwi Ching. Tapi belum lagi mereka mendekati kereta besar, Lou Ping telah menyeret keluar orang yang berselimut dalam kereta itu tadi, terus dilemparkan kebawah, lalu terdengar nyonya itu membentak.

"Pan-lui-Chui Bun toaya dimana?"

Dan belum habis kata-kata diuCapkan, nyonya itu sudah ber CuCuran air mata.

Ketika orang Hong Hwa Hwe sama memeriksanya, ternyata orang itu adalah seorang lagi-lagi setengah tua yang mukanya kurus.

Tangannya kanan dibalut dan digantung pada lehernya.

Lou Ping segera mengenalnya sebagai kepala polisi Pak khia yang terkenal yaitu Go Kok Tong, itu orang yang telah ditabas putus sebelah lengannya oleh Bun Thay Lay sewaktu pertempuran di "Thio-ke-poh dulu itu.

Lou Ping segera mendupaknya, maksudnya akan mena-nyakan keterangan, namun karena terlalu menahan perasaan gusar dan Cemas, ia sampai tak dapat mengucap apa-apa.

Sebaliknya begitu menusukkan gaetannya pada paha Go Kok Tong, Wi Jun Hwa segera membentak dengan bengis nya.

"Dimana Bun-ya? Kalau kau membisu, akan kutabas kakimu ini!"

"Thio Ciauw Cong, sibangsat itu, sudah membawanya jauh sekali,"

Jawab kepala polisi itu dengan gemasnya.

"Ia suruh aku tinggal dalam kereta ini, kukira kalau dia bermaksud baik suruh aku beristirahat dulu. Tidak tahu nya manusia liCik itu menggunakan tipu 'kim-sian-toat-kak' (tonggeret bertukar kulit). Aku dijadikan korban untuk dia yang akan menerima pahala dikotaraja. Bangsat, Coba lihat saja, dia bisa selamat atau tidak nanti !"

Demikian kepala polisi itu menyumpahi dan memaki kalang kabut. Pada saat itu, rombongan 2 Hong Hwa Hwe sudah tiba semua, maka berserulah Tan Keh Lok .

"Tangkap semua kuku garuda dan orang-orang piauwkok, jangan ada satu yang bisa lolos. Mari kita kaCip mereka dari 2 jurusan."

Begitulah Tan Keh Lok dengan Thio Pan San, Siang-si Song-hiap, Nyo Seng Hiap, Wi Jun Hwa, Cio Su Kin dan Sim Hi, menerdyang dari jurusan selatan.

Sedang Ciu Tiong Ing bersama Liok Hwi Ching, Ji Thian Hong, Lou Ping, Ie Hi Tong, Ciu Ki, Beng Kian Hiong dan An Kian Kong, menyerbu dari jurusan utara.

Bagaikan jepitan besi, rombongan Hong Hwa Hwe itu segera mengepung kawanan kuku garuda, piauwsu dan orang-orang Wi.

Selagi orang-orang Wi itu tengah bertempur seru dengan orang-orang piauwkok, tiba-tiba Thio Pan San beberapa kali mengibas kibaskan ke 2 tangannya.

Seketika itu 2 orang kaki tangan pemerintah terjungkal dari kudanya.

Kini tahulah orang-orang Wi itu, siapa lawan siapa kawan.

Mereka sama ber tereak 2 kegirangan.

Malah orang Wi brewok yang pernah tempui Bu Tim itu tadi, majukan kudanya untuk mendekati rombongan Hong Hwa Hwe, lalu serunya .

"Entah rombongan enghiong mana yang datang membantu ini. Disini Cayhe (aku yang rendah) menghaturkan maaf dan terima kasih."

Habis mengucap, dia angkat tinggi goloknya selaku memberi hormat. Tan Keh Lok Buru-buru merangkap tangan untuk balas menghormat, katanya .

"Saudara-saudara, mari kita ber-sama-sama menggempur musuh !"

Kini dengan turunnya komando sang pemimpin, majulah orang-orang Hong Hwa Hwe dengan serentak.

Karena beberapa kawan yang diandali sudah banyak-banyak yang binasa, maka dengan serta merta orang-orang negeri dan piauwsu 2 itu sama menyura minta diampuni jiwanya sambil tiada hentinya memanggil.

"Yaya, CouwCong"

Atau kakek moyang . Demikian riuh rendah mereka meratap membahasakan dengan pelbagai sebutan yang menyunyung sekali.

"Bun naynay,"

Tiba-tiba Sim Hi berseru girang kepada Lou Ping.

"mereka benar 2 telah memanggil kakek moyang padaku seperti katamu tadi."

Saat itu hati Lou Ping risah tak keruan, kata-kata si-kaCung itu sedikitpun tak didengarnya.

Di-tengah-tengah suasana yang kaCau itu, sekonyong-konyong Bu Tim lari keluar dari gundukan orang-orang , terus bertereak keras-keras.

"Hai, mari kauorang datang kemari. Lihat betapa bagus permainan pedang anak perempuan itu !"

Semua anggauta Hong Hwa Hwe telah sama mengetahui bahwa ilmu pedang toh-beng-kiam-hoat imam itu jarang ada la wannya.

Orang-orang dikalangan Rimba persilatan yang dapat menangkis tiga sabetan pedangnya itu, jarang sekali.

Kini dia sendiri sampai keluarkan pujian ilmu pedang orang lain, dan terutama adalah seorang gadis.

Mereka kaget dan dengan penuh keheranan sama datang untuk melihatnya.

Orang Wi brewok itu mengucap beberapa patah perkataan Wi, maka rombongan orang-orang Wi itu sama menyingkir ketepi, hingga bersama orang-orang Hong Hwa Hwe kini merupakan sebuah lingkaran.

"Cbng-thocu, Thio Ciauw Cong tak berada disini. Orang yang memainkan roda ngo-heng-lun itu boleh juga tampak nya,"

Kata Bu Tim pada Tan Keh Lok. Ketua Hong Hwa Hwe itu juga datang melihat. Cerita disitu ada seorang nona berbaju kuning tengah bertempur seru de ngan seorang laki 2 kate.

"Nona itu bernama Hwe Ceng Tong, murid dari Thian-san Siang Eng,"

Demikian Hwi Ching mendekati Tan Keh Lok seraja memberi keterangan.

"Dan si kate yang memegang ngo-heng-lun itu adalah Giam Se Ciang, salah seorang dari Kwantong Liok Mo."

Tergerak hati Tan Keh Lok mendengarnya.

Thian-san Siang Eng, sepasang burung_ elang dari Thiansan, adalah sepasang suami isteri Tut-Ciu Tan Ceng Tik dan Swat-tiau Kwan Bing Bwe.

Mereka adalah angkatan tua dari kalangan persilatan didaerah Hwi.

Dengan gurunya, Thian Ti koay-hiap mereka tak berhubungan, sekalipun tidak bermusuhan tapi ke 2 fihak sedapat mungkin tak mau berjumpa.

Tan Keh Lok dengar bahwa Thian San Pai punya ilmu pedang sam-hunkiam sangat istimewa sekali.

Maka kali ini dia perhatikan sekali permainan nona itu.

Memang ternyata gerak serangan sinona itu luar biasa serunya, sehingga orang she Giam itu harus melajani mati 2an.

Sedang dalam pada itu orang-orang Wi bersorak sorai untuk membantu semangat sinona.

Malah ada beberapa orang yang nampak ma ju menghampiri dan siap akan turut bertempur.

"Tahan, aku hendak bicara!"

Tiba-tiba orang she Giam itu bertereak seraja mundur selangkah.

Rombongan orang Wi makin rapat menghampiri.

Dengan menghunus senjata, mereka siap akan menyerbu.

Cepat-cepat sekali Giam Se Ciang pindahkan sepasang senjatanya keta ngan kiri, dan tangannya kanan sebat sekali menarik sebuah buntalan dari belakang punggungnya.

Dengan mengangkat tinggi-tinggi senjatanya dia bertereak .

"Kalau kaurang memaksa andalkan jumlah besar untuk menindas aku, bungkusan ini akan kurusakkan !"

Mendengar itu terkejutlah orang-orang Wi itu.

Serentak mereka mundur beberapa tindak.

Rupanya insaf bahwa dirinya susah lolos dalam kepungan orang-orang Wi dan Hong Hwa Hwe yang sedemikian kuatnya, maka Se Ciang hendak Cari akalan.

Maka katanya lagi .

"Kauorang berjumlah besar, tentu mudahlah untuk membunuh aku. Tetapi aku, orang she Giam, pun berhati baja. Jangan harap kauorang bisa menCapai maksudmu. KeCua-li kalau mau bertanding satu lawan satu, kalau aku sampai kalah, baru dengan suka rela kuserahkan pauwhok ini. Kalau tidak dengan Cara begitu, aku siap untuk hanCur binasa ber-sama-sama dengan bungkusan ini. Nah, kauorang boleh pikir 2 lagi."

Kiao Li-kui Ciu Ki adalah orang pertama yang merasa panas telinganya, tanpa tunggu lagi, ia loncat kedalam kalangan seraja berseru .

"Baiklah, aku yang menantang dulu !"

Habis itu dengan putar goloknya, nona berangasan itu akan maju menyerang, tapi ayahnya Buru-buru menariknya kembali dan katanya.

"Disini berkumpul banyak-banyak Cianpwe 2 yang gagah perkasa, mengapa kau mau perlihatkan ketololanmu ?"

Sementara itu sinona baju kuning melambaikan tangan nya kepada Ciu Ki dan serunya.

"Biar aku dulu yang melajani, kalau gagal, barulah CiCi bantu".

"Jangan kuatir. Kulihat kau ini orang yang baik, tentu aku suka membantumu", jawab Ciu Ki dengan gagahnya.

"Hm, budak tolol. Ia bugenya lebih tinggi dari kau, apa-apaan kau mau bantu dia", ayahnya menegur dengan bisik-bisik.

"Apa dia tak mau kubantu?"

Bantah sinona yang bandel itu.

"Pauwhok yang berada ditangan piauwsu she Giam itu berisi kitab suCi dari orang-orang Wi, maka nona itu tentu akan merebutnya dengan tangannya sendiri", menerangkan Liok Hwi Ching. Baru setelah mendengar itu, Ciu Ki mengerti dan mau diam.

"Siapa yang hendak maju dulu. Nah sudah dirunding belum", kata Giam Se Ciang dengan Congkak.

"Biarlah aku lagi yang melajanimu!"

Seru Hwe Ceng Tong.

"Kalau kau kalah apa perjanyiannya"! "Kalah menang, kau harus tinggalkan kitab itu disini. Kalau menang, kau boleh pergi. Tetapi kalau kalah, nah tinggal ah saja disini dengan kitab itu!"

Jawab sigadis.

Dengan ucapan itu, Ceng Tong terus mulai menyerang.

Giam Se Ciang mengeluarkan ilmu permainan roda yang disebut ngo-heng pat-kwa, terdiri dari enam4 jurus.

Kembali orang disuguhkan pertandingan senjata yang seru dan menarik.

Tan Keh Lok melambaikan tangan memanggil Hi Tong datang, katanya .

"Sipsu-te, kau lekas-lekas berangkat untuk memburu jejak suko. Kita nanti menyusul."

Hi Tong Buru-buru keluar dari situ untuk naik kudanya.

Tapi ketika berpaling dia menampak Lou Ping tengah tundukkan kepala seperti orang ngelamun.

Sedianya Hi Tong akan meng hampirinya untuk menghibur, tapi pada lain saat, dia keprak kudanya terus kabur.

Sementara itu dalam pertandingan seru itu betul-betul permainan sam-hun-kiam nona Ceng Tong itu luar biasa sebat-nya.

Belum ujung pedang menusuk datang, sudah ditarik dan diganti serang'an lagi.

Demikian terjadi pada tiap 2 gerak serangannya.

Beberapa kali Giam Se Ciang berusaha untuk menyampok pedang sinona, tapi selalu tak berhasil.

Bu Tim, Liok Hwi Ching, Tio Pan San adalah achli 2 pedang yang kenamaan.

Kini mereka mengawasi seraja tak putus-putusnya memberi komentar.

Jilid 9

"SERANGAN kearah pundak lawan tadi, Cepat-cepat nya sudah Cukup, hanya kurang tepat,"

Kata Bu Tim.

"Tentunya dia tak dapat menyamai kesempurnaan permainanmu. Tapi waktu kau masih berumur seperti dia, apa juga sudah seperti dia lihainya?"

Tanya Tio Pan San dengan tertawa.

"Nona itu betul-betul mempunyai gaja penarik, sehingga menawan symphati orang-orang ,"

Bu Tim juga ketawa.

Memang kata-kata tojih itu tepat.

Karena Tan Keh Lok sendiri, setelah menyaksikan permainan orang, segera tertarik dan mengaguminya.

Tampak olehnya, meskipun nona itu dahinya berketesan kerirgat, namun semahgatnya masih tetap gagah, gerak kaki dan tangannya masih tetap teratur seperti biasa.

Tiba-tiba Ceng1 Tong merobah permainannya.

Kini ia menye rang dengan gerak "hay-si-Cin-lou"

Yaitu salah satu ilmu pedang Thian San Pai yang lihai sekali.

Gerak serangannya, sukar diduga.

Hingga kembali orang-orang sama kagum dibuatnya.

Selagi mereka terbenam dalam keasjikannya, tiba-tiba pedang sinona berkelebat laksana kilat Cepat-cepat nya menikam pundak lawan.

Karena terkejut dengan tikaman yang tepat mengenai pundaknya itu, Giam Se Ciang menyerit keras seraja loncat mumbul, dan menCelat beberapa tindak kebelakang.

Serunya.

"Aku mengaku kalah, kitab ini kukembalikan padamu!"

Terus dia ambil pauwhok yang terbungkus kain merah itu.

Dengan kegirangan luar biasa, Ceng Tong tampil kemuka untuk menerima kitab Alqur'an yang dipandang sebagai kitab suCi suku bangsanya itu dari tangan orang.

Siapa duga mendadak Se Ciang menarik muka terus membentak.

"Nih, ambil!" -Berbareng itu tangannya yang lain tahu-tahu mengajun, tiga buah senjata rasia "hui-Cui"

Atau bor terbang seCepat-cepat kilat menyamber kedada Ceng Tong-.

Menghadapi kejadian yang sama sekali tak ter-sangka 2 itu, untuk hindarkan diri rasanya terlalu susah, baiknya Ceng Tong masih sanggup mendojongkan tubuhnya kebelakang dengan gaja "thi-pan-ki"

Atau jembatan papan besi, tubuhnya seakan-akan melengkung terbalik kebelakang, dengan demikian ketiga bor itu menyamber lewat semua diatas mukanya.

Namun Giam Se Ciang tidak berhenti begitu saja, baru tiga buah bor pertama dihamburkan, menyusul tiga buah bor yang lain sudah ditimpukkan lagi.

Tatkala itu Ceng Tong sedang berdojong kebelakang, tampaknya pasti akan tertimpa bahaja, menyaksikan itu, para orang Wigor sangat kuatir dan gusar pula atas kekejian musuh, maka be-ramai 2 mereka telah mehjerbu maju.

Dalam pada itu bila Ceng Tong telah menegak kembali, tiba-tiba didengarnya suara "Creng-Creng-Creng"

Tiga kali, ketiga buah bor tadi sudah jatuh ketanah seperti kena dihantam senjata rasia apa-apa dan jatuhnya tepat ditepi kaki Ceng Tong, gadis ini berkeringat dingin bila tahu bahaja apa yang tadi menganCam dirinya.

Cepat-cepat sekali ia hunus pedangnya, sementara itu Giam Se Ciang sudah merangsang maju bagai kerbau gila dan senjata rodanya terus menghantam.

Karena tak sempat ganti gerakan lagi, terpaksa Ceng Tong angkat pedang menangkis, maka saling beradulah ke 2 senjata itu, sebuah roda tajam menindih kuat 2 dari atas dan pedang menyang gah keras-kerasdari bawah hingga seketika keadaan menjadi saling tahan.

Lama-lama tenaga Se Ciang yang lebih besar, achirnya rodanya "Ngo-heng-lun"

Sudah menindih turun mendekati kepala sigadis.

Nampak berbahaja, selagi para ksatria hendak maju menolong, sekonyong-konyong tangan kiri Ceng Tong menCabut keluar sebilah pedang pendek yang bersinar menyilaukan dari ping gangnya, seCepat-cepat kilat pula ia tubleskan senjata itu keperut Giam Se Ciang.

Tanpa ampun lagi Se Ciang menyerit keras, kontan pula orangnya roboh kebelakang.

Melihat keCekatan sigadis, kembali semua orang berbareng bersorak memuji.

Dilain saat, Ceng Tong Cepat-cepat melolos pauhok merah yang menggamblok dibelakang punggung Giam Se Ciang.

Dalam pada itu, sibrewok pun juga mendatangi, seraja katanya.

"Bagus, nak!"

Ceng Tong segera angsurkan pauwhok kepadanya, dengan menyungging senyuman yang manis, ia berseru dengan serta merta.

"Ayah!"

Memang sibrewok itu adalah ayah Hwe Ceng Tong, jakni Bok To Lun.

Dengan chidmat, dia angsurkan ke 2 tangan untuk menyambutinya.

Sementara itu, Ceng Tong menCabut lagi badi 2 yang nanCap di tubuh Giam Se Ciang.

Dalam pada itu satu anak lelaki kira-kira berumur 15 tahun loncat turun dari kuda terus lari ketengah lapangan.

Dia Cepatcepat memungut tiga buah benda berwarna putih yang bundar bentuknya, terus diserahkan pada seorang muda, siapa lalu memasukkan kedalam kantongnya.

"Kiranya yang melepas senjata rahasia untuk memunahkan huiCui dari orang she Giam tadi, dialah orangnya!"

Pikir Ceng Tong.

Tersurung oleh suatu perasaan yang aneh, ia melirik ke-arah penolongnya.

Tampak olehnya, bagaimana wajah orang itu berseri 2 bagaikan batu giok.

Sepasang matanya ber-sinar 2 bagaikan bulan purnama.

Mengenakan pakaian yang longgar dan tangannya menenteng sebatang kipas.

Begitu Cakap dan agung nampaknya.

Kebetulan anak muda itupun mengawasi kearahnya, maka terbentrok sinar mata ke 2nya..

Sianak muda nampak ber senyum padanya dan dengan ke-merah 2an Ceng Tong tundukkan kepalanya, terus lari mengikut ayahnya.

Kepada sang ayah ia membisiki bebrapa patah perkataaan, dan ayah nya itu nampak menganggukkan kepalanya.

Bok To Lun maju menghampiri kuda pemuda tersebut, lalu menyura dihadapannya.

Pemuda itu Buru-buru loncat turun dari tunggangannya, terus tersipu-sipumembalas hormat.

"Atas budi kongcu yang telah menyelamatkan jiwa anakku, aku haturkan beribu terima kasih. Mohon tanya, siapakah nama kongcu yang mulia ?"

Tanya Bok To Lun.

"Aku yang rendah ini orang she Tan nama Keh Lok. Salah seorang saudara kita telah ditangkap oleh kawanan kuku garuda dan orang-orang piauwsu itu, maka kita beramai datang menolongnya. Tetapi sayang nya, kita masih belum berhasil. Kitab pusaka dari rakjat tuan kini telah dapat terampas kembali. Untuk itu aku turut bergirang dan haturkan selamat."

Pemuda itu memang bukan lain adalah ketua dari Hong Hwa Hwe Bok To Lun panggil putera puterinya datang dan disuruhkannya menghaturkan terima kasih pada sang penolong.

Begitu dekat, agak heran Tan Keh Lok memikirkannya.

Kalau sang kakak, Hwe A In bertelinga lebar, muka penuh brewok, adalah adiknya, Hwe Ceng Tong, begitu manis sikapnya.

Wajahnya laksana bunga yang sedang mekar di musim semi, Cantik berseri-seri bagaikan embun pagi.

Kalau tadi dari jarak agak jauh, Tan Keh Lok mengagumi per mainannya pedang, kini setelah saling berdekatan semangat anak muda itu seperti dibetot melihat keCantikan yang wajar dari nona itu.

Sehingga untuk sesaat itu, dia kesima terlongong-longong.

"Jika tadi bukan siangkong (tuan) yang menolong, tentu jiwaku sudah lenyap. Budi siangkong itu, akan terukir dalam hatiku se-lama-lamanya,"

Demikian sigadis.

"Ah"

Tan Keh Lok seperti orang yang dibangunkan dari tidurnya.

"Telah lama kudengar 'sam-hun-kiam' dari Cabang Thian San Pai sangat sempurnanya. Tadi setelah kusaksikan sendiri betapa ilmu itu nona mainkan, betul-betul hebat tak tertara. Tadi Cayhe telah kelepasan tangan jail, untuk itu sudah merasa berSyukur kalau nona tak marah, mengapa malah nona berlaku sungkan menghaturkan terima kasih?"

Ciu Ki, si nona berangasan itu, merasa sebal mendengar ke 2a orang muda itu begitu saling bersungkan.

"Ilmu pedangmu memang lebih hebat dari aku, tapi ada satu hal yang akan kuajarkan padamu,"

Ciu Ki memotong pembicaraan orang.

"Harap CiCi memberi petunyuk,"

Sahut Ceng Tong.

"Yang bertempur dengan kau tadi orangnya liCin. Kau terlalu percaya padanya hingga hampir terpedaya. Memang kebanyak-banyakan orang lelaki itu banyak-banyak akal muslihatnya, lain kali haruslah kau ber-hati-hati terhadap mereka,"

Demikian kata Ciu Ki.

"CiCi benar. Kalau bukan Tan kongcu yang menolong, tentu jiwaku sudah melayang ,"

UjarCeng Tong.

"Apa sih Tan kongcu itu ? Oh, kau maksudkan dia. Dia adalah Congthocu Hong Hwa Hwe -O, ja, Tan .... Tan toako, tadi senjata apa yang kau gunakan untuk memukul huiCui orang itu. Mana kasih lihat padaku,"

Tanya Ciu Ki kepada Tan Keh Lok.

"Ini sebenarnya hanya biji 2 Catur,"

Kata Keh Lok seraja mengeluarkan 2 biji Catur dari kantongnya.

"Timpukanku jelek sekali, harap nona Ciu jangan menertawakannya."

"Siapa yang menertawai kau ? Permainanmu bagus sekali. Selama dalam perjalanan, ayah tak sudah 2nya memuji padamu. Kiranya ada beberapa bagian ucapannya itu benar,"

Sahut Ciu Ki.

Ketika mendengar anak muda itu adalah Cong-thocu dari sebuah perkumpulan, heranlah Ceng Tong.

Ia kelihatan ber-bisik-bisik pada ayahnya, siapa beberapa kali meng-ia-kannya.

Pada waktu orang-orang Hong Hwa Hwe sudah membereskan hamba 2 negeri dan orang-orang piauwkiok.

Yang menyerah dikumpulkan, yang mati dikuburkan dan yang luka-luka diberinya obat, antara nya piauwsu yang dipapas kutung sebelah tangannya oleh Bu Tim, jakni Chi Ceng Lun.

Lain piauwsu yang dibinasakan dengan panah tangan oleh Thio Pan San, jakni Te Ing Bing.

Dan yang dilempar oleh Pan San jakni Tong Siu Ho entah kemana lenyapnya.

Kali ini Tin Wan piawkok menderita kerugian kehilangan 2 orang piauwsu yang binasa dan 2 yang luka-luka.

Pembesar 2 Pembesar 2 polisi dari Pakkhia dan Thian-Cin ada tujuh atau delapan yang meninggal dan terluka.

Saat itu Bok To Lun menghampiri Tan Keh Lok seraja berkata.

"Berkat bantuan Congwi eng hiong sekalian, tugas berat kita telah selesai. Menurut keterangan kongcu, masih ada seorang eng hiong yang belum tertolong. Aku bermaksud suruh putera dan puteriku serta beberapa orangku untuk membantu kongcu. Terserah apa saja yang kongcu akan suruh mereka kerjakan. Hanya saja kepandaian mereka itu masih rendah, entah kongcu suka meluluskan tidak?"

"Sungguh kita merasa berterima kasih sekali,"

Seru Tan Keh Lok dengan gembira. Lalu dia perkenalkan mereka pada sekalian saudara-saudaranya.

"Ilmu pedang totiang hebat bukan buatan. Seumur hidup belum pernah kuberjumpah dengan ke 2nya. Masih untung, tadi totiang berlaku murah, kalau tidak ha."

Kata Bok To Lun pada Bu Tim.

"Sungguh tadi aku berlaku kurang ajar, harap dimaafkan,"

Sahut Bu Tim meminta maaf.

Orang Wi paling mengindahkan sama orang-orang gagah.

Sewaktu mengetahui bagaimana kelihaian Bu Tim, Tio Pan San, Tan Keh Lok, SeChwan Siang Hiap dan lain-lain.-nya, mereka sama kagum dan berebutan memberi hormat pada orang-orang gagah itu.

Sedang mereka berbicara, tiba-tiba dari arah barat terdengar suara derapan kuda yang riuh, ketika semua orang menoleh, maka tertampaklah seorang sedang mendatangi dengan Ce pat, sesudah dekat, Cepat-cepat sekali orang itu melompat turun dari kuda dan ternyata adalah satu pemuda rupawan.

"Suhu!"

Tiba-tiba pemuda itu menyapa Liok Hwi Ching.

Nyata ia adalah Li Wan Ci yang kini telah menyamar sebagai lelaki pula.

Wan Ci memandang sekitarnya, Ie Hi Tong tak dilihatnya, tapi Hwe Ceng Tong dapat dilihatnya, maka Cepat-cepat ia berlari mendekati gadis itu sambil memegang kentyang tangan orang dengan mesra.

"Kemana kau telah pergi malam itu? Sungguh bikin aku menjadi kuatir! Kitab suCi itu sudah dapat direbut kembali belum?"

Demikian serentetan perta nyaan Wan Ci.

"Baru saja dapat direbut kembali, lihatlah itu!"

Sahut"

Ceng Tong gembira sambil menunyuk kepada buntalan merah diatas punggung sang kaka. Melihat itu, Wan Ci merenung sejenak, tiba-tiba katanya.

"Kau telah membuka dan memeriksanya belum? Apakah kitab itu benar 2 berada didalamnya?"

"Kami ingin berdoa dulu kepada Al ah untuk berterima kasih kepada kebesaranNya, habis itu baru membuka kitab suCi itu,"

Sahut Ceng Tong.

"Tapi, menurut aku, paling baik membuka dan memeriksanya dulu,"

Ujar Wan Ci.

Mendengar kata-kata sigadis ini, Bok Tok Lun menjadi ragu 2, lekas-lekas ia buka buntalan merah itu dan memeriksanya, tapi ia menjadi melongo, karena isinya hanya setumpukan kertas rosokan saja dan sekali 2 bukan kitab suCi Alkur'an yang mereka agungkan itu.

Melihat itu, para orang Uigor itu menjadi gusar hingga mengumpat habis-habisan keliCikan musuh.

Begitu pula Hwe A In segera tarik seorang kusir Piau-hang yang masih meringkuk diatas tanah, lebih dulu ia persen orang sekali tempilingan, habis itu baru ia membentak.

"Kemana kitab itu telah dilarikan?' Bilang, lekas bilang!"

Karuan kusir itu kesakitan sambil memegang mukanya hingga seketika susah menyawab.

"Katakan, lekas,"

Bok Tok Lun ikut membentak sambil angkat goloknya.

"Tak mengaku terus terang, biar aku penggal dulu kepalamu!"

"Am...... ampun, bu...... bukan aku, tapi perbuatan ka...... kawanan piauthau itu, aku sen........ sendiri tidak tahu soalnya,"

Demikian kusir itu menyawab dengan ketakutan sambil menunyuk kearah Chi Cing Lun yang masih menggeletak itu. Segera juga Ho A In menyeret bangun Chi Cing Lun dan membentak gusar.

"Kawan, katakan saja, kau ingin hidup atau mati?"

Namun Chi Cing Lun ternyata Cukup bandel, bukannya menyawab, tapi ia malah pejamkan mata tak menggubris.

Tentu saja Ho A In menjadi murka, ia angkat bogem nya dan segera hendak gebuk orang pula.

Baiknya Ceng Tong telah menarik baju sang kaka pelahan, hingga kepalan A In yang sudah diangkat itu pelahan 2 diturunkan kembali.

Ternyata meski tabiat Ho A In ini kasar dan berangasan, tapi terhadap 2 adik perempuannya ia paling menghormat dan menCintai.

Adik perempuan yang besar jalah Ceng Tong, sedang adik perempuan ke 2 bernama Kasri yang berparas Cantik molek tiada taranya, digurun pasir orang menyebutnya "Hiang Hiang Kongcu"

Atau si Puteri Harum. Ia tak bisa silat, maka urusan perebutan kitab suCi ini ia tidak ikut datang. Begitulah, maka Ceng Tong lalu tanya Wan Ci.

"Dari mana kau bisa mengetahui isi buntalan itu bukan kitab suCi?"

"Aku pernah mengapusi mereka, maka aku pikir tentunya merekapun bisa meniru,"

Sahut Wan Ci dengan tertawa.

Kemudian Bok Tok Lun membentak Ci Cing Lun pula agar mengaku, namun tetap Cing Lun bilang kitab suCi itu sudah digondol pergi oleh salah seorang Piausu yang lain.

Bok Tok Lun masih sangsi 2 atas pengakuan orang, segera ia perintahkan bawahannya menggeledahi semua kereta dan muatannya, namun sedikitpun tak tertampak bayangan kitab yang diCari itu, ia kualir kitab suCi telah dirusak musuh, maka keningnya terkerut rapat, suatu tanda sangat masgul.

Disebelah sana Li Wan Ci lagi menanyai keadaan sang Suhu semenyak berpisah.

Kata Hwi Ching.

"Urusan itu kelak akan kuCeritakan, kini lekasan kau kembali saja, nanti ibumu akan berkuatir lagi atas dirimu, dan tentang kejadian disini ini sekali 2 jangan kau Ceritakan pada orang lain."

"Sudah tentu aku takkan Ceritakan, Suhu, apa kau kira aku masih anak kecil yang tak mengarti apa-apa?"

Demikian sahut sigadis secara aleman.

"Dan siapakah orang-orang ini, Suhu, kenapa tak kau perkenalkan padaku?"

"Aku kira tak usah saja, lekasan kau kembali saja,"

Kata Hwi Ching setelah berpikir.

Nyata ia pikir Wan Ci adalah puteri seorang panglima dan tentunya tidak CoCok tindak tanduknya dengan para pahlawan 2 terpendam ini, maka tak perlu mereka berkenalan.

Sebaliknya Wan Ci ternyata lantas ngambek, mulutnya yang mungil menyengkit, lalu katanya pula dengan aleman.

Suhu tak sukai murid sendiri dan terima lebih suka pada seorang Sutit yang disebut Kim-tiok-siuCay segala.

Baiklah, Suhu, sekarang aku pergilah!" -Habis berkata, ia menyura sekali, lalu Cemplak kudanya untuk pergi, ketika kudanya melalui samping Hwe Ceng Tong, tiba-tiba Wan Ci membungkuk merangkul dipundak Ceng Tong dan dengan bisik-bisik omong beberapa patah-kata padanya.

Karena itu terlihat Ceng Tong tertawa ngikik sekali, lalu Wan Ci me meCut kudanya terus kabur kebarat.

Kesemua itu telah disaksikan sendiri oleh Tan Keh Lok, ketika dilihatnya pemuda rupawan itu berhubungan begitu rapat dengan Ceng Tong, entah mengapa, dalam hatinya timbul semaCam perasaan yang susah dilukiskan, karena itu ia hanya terkesima saja.

"Congthocu,"

Tiba-tiba Thian Hong mendekatinya.

"bukankah kita harus merundingkan Cara bagaimana harus menolong Suko?"

Karena teguran itu, barulah Keh Lok terkejut, lekas-lekas ia tenangkan diri dan menyahut.

"Ja, ja, benar. Sim Hi, lekasan kau gunakan kuda putihnya Bun-sunaynay pergi mengundang kembali Ciang-sipya."

Perintah itu diterima Sim Hi yang terus berangkat pergi. Lalu Keh Lok membagi tugas pula.

"We-kiuko, kau pergi kemulut selat bukit itu untuk bergabung dengan Cap-ji-long, Coba selidiki pula sekitar sana dan laporkanlah kesini malam nanti."

Segera We Jun Hwa pun berangkat menunaikan tugas.

"Dan malam ini biarlah kita bermalam terbuka saja disini buat menunggu berita yang mereka bawa kembali, besok pagi 2 kita meneruskan pengejaran lagi,"

Kata Keh Lok achirnya kepada semua orang.

Karena sehari penuh mereka bikin perjalanan, ditambah pertempuran hampir setengah hari, mereka menjadi sangat lelah dan lapar.

Disebelah sana segera Bok Tok Lun memerintahkan beberapa orang Uigor memindahkan beberapa tenda dan dipasang ditepi jalan, dari tenda itu dibagi beberapa buah untuk perkemahan jago-jago Hong Hwa Hwe itu, kemudian mereka menghantarkan lagi daging 2 sampi dan kambing yang sudah mereka masak.

Sehabis dahar, Tan Keh Lok menghadapkan Go Kok Tong pula untuk ditanyai.

Tapi masih tiada habis-habisnya Go Kok Tong menCaCi maki Thio Ciau Cong, ia bilang kereta itu sela manya dipakai Bun Thay Lay, belakangan mungkin Thio Ciau Cong mengetahui jejak musuh yang selalu menguntit dan bermaksud merampas kereta itu, maka disuruhnya menggantikan duduk didalam kereta sebagai jebakan.

Lebih dari itu ia tak tahu.

Waktu Keh Lok mendatangkan Ci Cing Lun dan didesak nya pula agar mengaku, tapi masih tetap tanpa hasil sedikit pun.

Setelah tawanan 2 itu digusur pergi lagi ketempat tahanan, kemudian Thian Hong, itu Khong Beng dari Hong Hwa Hwe, lantas berunding pada Keh Lok.

"Congthocu,"

Katanya.

"manusia she Ci itu bersinar mata menCurigakan, sikapnya pun kelihatan liCik, aku kira biar malam nanti kita men Coba 2 padanya."

"Baik!"

Sahut Keh Lok, akur.

Habis itu dengan suara pelahan merekapun berunding renCana yang harus dijalankan.

Sampai hari sudah gelap, ternyata We Jun Hwa dan Ciok Siang Ing ber 2 tiada satupun yang kembali melapor, karuan semua orang menjadi kuatir.

"Besar kemungkinan mereka telah mendapatkan jejak-nya Suko, maka telah menguntit terus, ini malah suatu tanda baik,"

Demikian pendapat si Khong Beng.

Karena itu, para jago-jago itu sama mengangguk membenarkan.

Setelah mengobrol tak lama lagi, kemudian merekapun tidur diatas tanah dalam perkemahan itu.

Orang-orang dari Tin Wan Piaukiok dan hamba 2 negeri yang tertawan itu telah di kat semua tangan-kaki mereka dan ditidurkan diluar kemah, setengah malam pertama dijaga Cio Su Kin, dan setengah malam ke 2 Thian Hong yang dinas menyaga.

Setelah sang dewi malam sudah menggeser sampai di-tengah-tengah Cakrawala, telah tiba waktunya Thian Hong yang berjaga, maka Khong Beng dari Hong Hwa Hwe ini telah keluar menggantikan Su Kin, ia sendiri setelah mengontrol sekeliling perkemahan mereka, lalu ia berduduk ditempatnya sambil membelebat tubuhnya dengan sehelai selimut.

Kebetulan sekali Ci Cing Lun merebah disamping Thian Hong, tadi ketika Thian Hong hendak berduduk, entah seng-aja entah tidak, pahanya telah kena di nyak dan karena sakit, Cing Lun jadi tersadar.

Selagi Cing Lun lajap 2 hendak terpulas pula, tiba-tiba dide-ngarnya Thian Hong sudah mulai menggeros, tampaknya sudah tertidur nyenyak.

Ia menjadi girang, ia Coba geraki ke 2 tangannya, ternyata tali pengikatnya tidak begitu ken tyang , maka setelah dipentang dan meronta beberapa kali, achirnya ke 2 tangannya sudah terlepas.

Dengan hati-hati ia berdiam sejenak, bahkan bernapas pun sementara ditahan, ketika suara gerosan Thing Hong ter-nyata makin keras, tidurnya bertambah nyenyak, pe-lahan 2 Cing Lun membuka lagi tali pengikat kakinya, setelah da-rah anggota 2 badannya itu sudah berjalan lancar, pelahan 2 dan hati-hati sekali ia berdiri, lalu selangkah demi selangkah ia berjalan pergi secara ber-indap 2.

Sampai dibelakang kemah, Cing Lun melepaskan tambatan seekor kuda, lalu dengan ber-jinyit 2 ia jalan kejalan besar, ia pasang kuping, namun keadaan sekiling sunyi senyap, diam-diam ia bergirang, sebab kaburnya ini tiada orang yang mengetahui, dengan pelahan ia tutun kudanya mendekati kereta besar yang pernah ditumpangi Go Kok Tong itu.

Keadaan kereta itu sudah jungkir balik ditanah, keledai penariknya sudah dilepas orang.

Pada saat itu juga, dari salah satu kemah tiba-tiba melesat keluar suatu bayangan orang dan dengan diam-diam menguntit, ia bukan lain adalah si Li Kui wanita, Ciu Ki adanya.

Ciu Ki tidur sekemah bersama Ceng Tong dan Lou Ping, ke 2 orang yang belakangan ini karena masing-masing pu nya pikiran, maka gulang-guling masih takbisa pulas.

Ciu Ki yang tertidur lebih dulu telah mimpi seakan-akan dirinya terjeblos masuk suatu lobang jebakan dan dengan susah payah ada orang menariknya keatas, waktu ia tegasi, ternyata penolong itu adalah Ji Thian Hong, ia menjadi ma rah terus ribut mulut padanya, tapi karena ribut 2 itu iapun tersadar dari impiannya.

Dan begitu ia mendusin, segera didengarnya diluar kemah ada suara berjalannya orang dan kuda, waktu ia mengintip, dilihatnya Ci Cing Lun yang lagi hendak kabur.

Lekasan saja ia samber goloknya terus mengejar keluar kemah.

Setelah beberapa langkah ia mengudak dan pikirnya hendak berteriak, sekonyong-konyong dari belakang seseorang telah menubruk datang terus menekap kentyang 2 mulutnya yang sudah mulai terpentang itu.

Terkejut sekali Ciu Ki, kontan juga ia baliki goloknya terus membabat kebelakang, tapi orang itu sangat Cepat-cepat , tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terpegang hingga sen jatanya dapat ditahan kembali.

"Jangan bersuara, nona Ciu, aku adanya!"

Demikian seru orang itu dengan suara tertahan.

Mendengar itu adalah suaranya Thian Hong, goloknya tak jadi dipakai, tapi kepalan kiri sigadis masih dipukulkan juga hingga dengan tepat sekali mengenai dada kanan Thian Hong.

Karena pukulan itu, setengahnya memang sangat sakit, tapi setengahnya pura-pura juga, terus Thian Hong jatuhkan diri kebelakang.

Karuan Ciu Ki berbalik kaget, lekas-lekas ia berjongkok dan menanya dengan suara pelahan .

"He, gi mana keadaanmu ? Habis, siapa suruh kau tekap mulutku ? Ada orang hendak kabur apa kau tak melihatnya?"

"Ja, ja, jangan bersuara, kita ikuti dia,"

Sahut Thian Hong lirih.

Segera mereka merangkak 2 dan pelahan 2 menggeser ma ju.

Sementara itu terlihat Ci Cing Lun lagi membongkar bantal dudukan kereta besar itu hingga terdengar suara gemelutak 2 kali seperti suara papan yang dijugil, lalu dari bawah papan dikeluarkannya sebuah kotak kaju terus dimasukkan kedalam bajunya.

Tapi selagi Cing Lun hendak Cemplak keatas kudanya, Cepat-cepat sekali Thian Hong telah mendorong Ciu Ki sambil berteriak .

"Lekas Cegat dia !"

Gadis itupun sebat luar biasa, sekali enyot tubuh, segera orangnya melesat kedepan.

Mendengar suara orang, Cing Lun menjadi kaget, baru saja sebelah kakinya menginyak pelana kuda dan tubuhnya belum sempat Cemplak keatas, sebelah kakinya yang lain ia gunakan lebih dulu untuk mendepak bebokong kuda-nya, karena kesakitan, binatang itu meringkik sekali terus raembudal beberapa tombak kedepan.

Tentu saja Ciu Ki tak mau lepaskan, ia mengudak se Cepat-cepat angin, tatkala itu Cing Lun sudah baliki tubuhnya keatas punggung kudanya, melihat sigadis mengejar, tiba-tiba ia ajun tangannya sambil membentak.

"Awas, piau !"

Karena itu Ciu Ki rada terganggu larinya karena harus ber-jaga 2 bila senjata rasia musuh menyamber datang; tak terduga bentakan Ci Cing Lun itu hanya gertak sambel saja, hakibatnya semua senjatanya pada waktu tertawan sudah diluCuti semua.

Dan sebab Ciu Ki tertegun sejenak, maka Cing Lun telah larikan kudanya lebih jauh lagi.

Karuan Ciu Ki menjadi gugup karena terang tak mampu memburu lagi dan musuh segera akan lolos.

Begitu pula saking senang rupanya, Ci Cing Lun telah ketawa ter-bahak 2.

Siapa duga, belum lenyap suara tertawanya, tahu-tahu Ci Cing Lun terjungkir jatuh dari kudanya.

Terkejut terCampur girang Ciu Ki melihat kejadian itu, Cepat-cepat ia memburu maju terus menginyakkan sebelah kakinya digigir Ci Cing Lun, dengan ujung goloknya ia tatapi punggungnya.

Sementara itu Thian Hong pun sudah menyusul tiba.

"Coba kau periksalah apa isinya kotak didalam bajunya itu,"

Demikian katanya pada sigadis. Segera Ciu Ki merogoh keluar kotak kaju itu dari baju orang, waktu ia buka, ternyata isinya penuh bertumpuk ber-lapis 2 kulit domba seperti di

Jilid menjadi suatu kitab, ia balik 2 halaman kulit domba itu dibawah sinar bulan yang Cukup terang, ternyata tulisan didalamnya sangat aneh, se hurufpun tak dikenalnya.

"Lagi-lagi tulisan aneh 2 dari Hong Hwa Hwe kalian, aku tak mengarti, nih, lihat sendiri,"

Demikian kata Ciu Ki kemudian sembari melemparkan kitab itu ke-arah Thian Hong. Waktu Thian Hong menyang gapi dan sesudah diperiksa, segera ia berkata dengan girang.

"Wah, nona Ciu, sekali ini jasamu sungguh tidak kecil, kitab ini besar mungkin adalah Alqur'an milik orang-orang Uigor itu, lekas kita pergi menCari Congthocu."

Tapi baru mereka membalik tubuh, tahu-tahu Tan Keh Lok sudah kelihatan mendatangi.

"He, Tan-toako, kenapa kaupun sudah datang?"

Tegur sigadis heran.

"Lihatlah kau, lekas, kitab apakah ini?"

Segera juga Thian Hong angsurkan kotak kaju, setelah Keh Lok memeriksanya, katanya kemudian.

"Ini sembilan bagian adalah kitab Alqur'an itu. Beruntung kau berhasil menCegat larinya musuh, sungguh kami berpuluh orang laki 2 tak bisa menempili kau sedikitpun."

Mendengar Thian Hong dan ketua Hong Hwa Hwe itu sama-sama me muji, besarlah hati Ciu Ki.

Ingin ia menyawab dengan kata-kata merendah, tapi tak tahu bagaimana mesti mengucap kannya.

Tak berselang berapa lama, bertanyalah ia pada Thian Hong.

"Sakit tidak tadi itu?" -Ia maksudkan puku lannya tadi.

"Nona benar 2 kuat!"

Sahut Thian Hong dengan tertawa.

"Salahmu sendiri,"

Kata Ciu Ki.

Habis itu dia angkat kakinya dan suruh Ceng Lun bangun, tapi piauwsu ini ternyata tak berani berkutik.

Karena mendongkol, Ciu Ki mendupak nya lagi, namun dia tetap tak mau berg-erak.

Dengan tersenyum Tan Keh Lok membungkuk dan pijit 2 paha orang seraja memerintahkannya bangun.

Baru setelah itu sipiauwsu tersebut bisa merangkak berdiri.

Kini baru mengertilah Ciu Ki, lalu dipungutnya sebuah biji Catur dan dengan merengut diserahkan pada Tan Keh Lok.

"Ini biji Caturmu. Memang siapa yang tak tahu kelihai-anmu menimpuk jalan darah dengan biji Catur. Hem, mentang 2 bisa mengelabui orang saja. Memang orang-orang Hong Hwa Hwe itu bukan orang baik-baik ,"

Demikian ia mengomel. Buru-buru Tan Keh Lok menyelaskan bahwa yang berjasa tetap sinona yang telah dapat merintangi sipiauwsu.

"Kalau dia tak gugup karena kau kejar, tentu dia bisa menghindari timpukanku,"

Ujar ketua Hong Hwa Hwe itu. Dasar aleman, Ciu Ki puas hatinya. Dalam pada itu ia minta Thian Hong peristiwa pemukulannya tadi jangan diberitahukan pada ayahnya.

"Apa halangannya kalau dikasih tahu?"

Kata sipemuda.

"Awas, kalau berani begitu, selamanya aku tak bicara lagi padamu!"

AnCam sigadis.

Thian Hong hanya meringis.

Begitulah Ceng Lun segera digusur untuk diserahkan pada Bok To Lun.

Kepala orang Wi ini menjadi sangat kegirangan, karena kitab suCi mereka telah dapat diketemukan kembali.

Seluruh orang-orang Wi itu sama berlutut untuk menghaturkan terima kasih pada Tan Keh Lok.

"Yang berjasa mendapatkan kembali kitab itu, adalah nona Ciu Ki. Kita tak berani terima penghargaan yang begitu besar dari lotiang. Karenanya harap loenghiong suka ajak kembali putera dan puterimu, maaf, kami tak berani menerima pernyataan bantuan loenghiong itu."

Ucapan ini telah membikin kaget Bok To Lun dan ke 2 anaknya.

Karena maksudnya yang baik mengapa telah diterima salah oleh ketua Hong Hwa Hwe itu.

Berulang 2 Bok To Lun mendesaknya, tetapi Tan Keh Lok tetap menolaknya.

Melihat itu Ceng Tong memberi isjarat pada ayahnya, tak usah mendesaknya lagi karena orang itu tetap tak mau.

Ketika kembali kedalam rombongannya, Thian Hong memberitahukan pada Ciu Tiong Ing, bahwa kali ini Ciu Ki sangat berjasa dapat merampas kembali kitab Qur'an.

Tiong Ing girang hatinya dan memandang pada puterinya dengan penuh kebanggaan.

Tetapi tiba-tiba Thian Hong men jerit kesakitan.

"Ada apa laote?"

Tanya Tiong Ing.

"Anu, tadi aku telah dipukul orang,"

Sahut sipemuda.

"Siapa yang memukul dan bagaimana, apa terluka?"

Tanya Tiong Ing pula kuatir.

"Tidak luka, tapi Cukup sakit juga. Siapa lagi kalau bukan perbuatan telur busuk itu. Dia memang kejam sekali tangannya,"

Sahut Thian Hong lagi. Tiong Ing dan lain-lain' kawannya mengira bahwa si "telur busuk"

Itu, tentu Ceng Lun. Maka Seng Hiap segera menghampiri terus menCekek leher baju sipiauwsu, bentaknya .

"Jadi kau masih berani memukul orang?"

"Au...... Oh, bukan akulah!"

Teriak piauwsu itu. Buru-buru Thian Hong menCegahnya.

"Pat-te, sudahlah, orang yang berbuat tentunya merasa sendiri."

Dengan gemas, Ciu Ki melirik pada Thian Hong, katanya dalam hati. ,,Hm, sikate kembali ber-belit 2 untuk memaki aku."

Begitulah keesokan hari, rombongan orang Wi telah minta diri pada orang-orang Hong Hwa Hwe untuk pulang ketempatnya.

Perpisahan itu dirasakan berat oleh ke 2 fihak.

Malah dengan memimpin tangan Ceng Tong, Ciu Ki menghampiri Tan Keh Lok seraja berkata .

"Nona itu orangnya Cantik dan bugenya lihai. Ia mau membantu, mengapa kau tampik?"

Tan Keh Lok tak dapat menyawab apa-apa.

"Tan kongcu tak mau kita orang sampai dapat bahaja. Dia memang bermaksud baik. Apalagi kita memang sudah rindu dengan ibu dan adik dirumah dan ingin selekasnya pulang. CiCi Ciu, sampai berjumpa lagi!"

Kata Ceng Tong sembari melambaikan tangan dan terus pergi.

"Tuh, karena kau menampik, maka ia sampai menguCur kan air mata. Kau memang suka pandang sebelah mata pada lain orang. Kau bikin sakit hatinya."

Kata Ciu Ki.

Tan Keh Lok terlongong-longong tak dapat menyahut.

Hanya matanya tetap tak terkesiap memandang bayangan sinona gagah itu.

Setelah agak jauh, tiba-tiba Ceng Tong memutar kudanya kembali.

Dan ketika nampak Tan Keh Lok masih terlongong-longong mengawasinya, sembari menggigit bibir Ceng Tong melambaikan tangannya.

Melihat itu, seperti terbanglah semangat Tan Keh Lok.

Tanpa disadarinya, dia maju menghampiri.

Ceng Tongpun Buru-buru loncat turun dari kudanya.

Dan untuk sesaat itu mereka saling berhadapan muka dengan pandangan yang berarti.

KeDua-2nya tak dapat mengucap apa-apa.

"Kongcu telah menolong jiwaku, pun kitab suCi itu adalah kongcu yang bantu mendapatkannya kembali. Maka sekalipun bagaimana kongcu memperlakukan diriku, aku tetap tak sakit hati,"

Kata Ceng Tong achir 2nya. Sembari berkata begitu ia loloskan sebatang pedang pendek dari pinggangnya dan katanya lagi .

"Pedang ini adalah pemberian suhuku. Menurut kata beliau, dalam pedang ini tersimpan sebuah rahasia yang besar. Beratus tahun pedang ini pindah dari satu kelain tangan, tetapi tak ada orang yang dapat memeCahkan rahasia itu. Kita berpisah, entah kapan bertemu lagi. Pedang ini kuharap kongcu suka menerimanya. Kongcu adalah seorang budiman, mungkin dapat memeCahkan rahasia itu."

"Pedang ini adalah sebuah pusaka, sebenarnya aku tak berani menerimanya. Namun untuk menghormat kehendak nona, terpaksalah kuterima dengan rendah hati,"

Kata Tan Keh Lok. Nampak Tan Keh Lok berkata dengan suara sember dan wajah yang saju, setelah merenung sejenak, berkatalah Ceng Tong pula .

"Aku tahu mengapa kau tak ijinkan aku ikut bantu menolong Bun suya. Bukanlah karena kemaren kau melihat aku berCakap 2 dengan seorang pemuda begitu asjiknya, maka kini kau meremehkan diriku begitu rupa? Anak muda itu adalah murid dari Liok Hwi Ching locianpwe, kau tanya saja pada Liok locianpwe siapa dan bagaimana anak muda itu orangnya. Sampai disitu Coba kau renungkan apakah aku ini betul-betul seorang gadis yang tak tahu harga diri !"

Habis berkata begitu, Ceng Tong keprak kudanya untuk menyusul rombongannya.

Baru setelah bayangan sinona lenyap kedalam rombongan orang-orang Wi, tersedarlah Tan Keh Lok dari kesimanya.

Diapun Buru-buru berlalu, maksudnya akan me nanyakan keterangan sinona itu pada Liok Hwi Ching.

Tapi pada saat itu, tiba-tiba dilihatnya ada, seorang penunggang kuda mendatangi.

"Siaoya, Ciang-sipya sudah datang. Dia membawa seorang tawanan!"

Demikian teriak orang itu yang ternyata Sim Hi adanya.

"Menawan siapa?"

Tanya Tan Keh Lok.

"Sesampai dikuil itu, kulihat Ciang-sipya sedang CeCok ramai dengan seorang. Begitu melihat aku berkuda putih, orang itu katakan akulah sipenCuri kudanya. dan terus mem baCok. Kami ber 2 lalu mengerojoknya. Orang itu sebenarnya lihai sekali, tapi aku menggunakan sedikit tipu dan achirnya kami dapat merobohkannya."

"Tipu apa yang kau lakukan?"

Tanya Keh Lok.

"Aku tawur matanya dengan pasir, hingga sipya mudah membekuknya!"

Sahut Sim Hi.

Tan Keh Lok menanyakan nama orang tangkapan itu, tapi Ciang Bongkok keburu sudah datang sembari menurunkan seseorang dari kudanya.

Kaki dan tangannya di kat dengan tambang.

Kiranya orang itu ialah Han Bun Tiong, orang yang kudanya diCuri oleh Lou Ping tempo hari itu.

Tan Keh Lok Buru-buru perintahkan Sim Hi lepaskan ikatannya, dan meminta maaf kepada orang she Han itu, kemudian dipersilahkan untuk mengasoh kedalam tendanya.

Belum berapa lama duduk disitu, tampaklah Lou Ping masuk.

Dan sekonyong-konyong berbangkit orang she Han itu, terus memaki kalang kabut .

"Kaulah perempuan bangsat yang Curi kudaku, terang bahwa kau orang disini ini memang komplotan jahat !"

"Kau Han Bun Tiong toaya bukan ? Nah, kita saling tukar kuda dan aku menambahi uang, jadi berarti kau sudah untung, mengapa marah-marah lagi ?"

Enak saja Lou Ping menyahutnya.

Atas pertanyaan Tan Keh Lok, Lou Ping lalu Ceritakan tentang halnya tukar menukar kuda putih itu dulu.

Sekalian orang-orang sama geli mendengarnya.

Maka berkatalah Keh Lok kemudian.

"Sudahlah, harap suso kembalikan kuda itu pada Han-ya, dan Han-ya tak perlu mengembalikan uang itu. Bagaimana luka dipaha Han-ya? Ayo, Sim Hi, lekas kau ambilkan obat untuk Han-ya itu !"

Bun Tiong berkurang amarahnya dan akan menyatakan terima kasihnya, tapi tiba-tiba Lou Ping menyelak.

"Congthocu, aku tak setuju! Dia itu siapa kau tahu? Dia adalah orang dari Tin Wan piauwkiok !"

"Masa ja ?"

Tanya Tan Keh Lok dengan terkejut.

Lou Ping segera serahkan surat Ong Hwi Yang, pemilik Tin Wan Piauwkiok, kepada sang Congthocu.

Sebaliknya dari yang diharap, Tan Keh Lok hanya Cukup sekali membuka, lalu melihatnya lagi dan diserahkan pada Bun Tiong, kata tak ada sangkut pautnya dengan Hong Hwa Hwe"

Mendengar itu, melengaklah sekalian orang.

Dengan ber bangkit dan tegak berdiri, Liok Hwi Ching menuturkan apa yang telah terjadi ketika itu.

Sebagai reaksi, berisiklah suasana dalam tenda, itu dengan kutuk makian dari orang-orang Hong Hwa Hwe kepada alamat Ciao Bun Ki.

Hanya Han Bun Tiong yang sebentar 2 berobah wajahnya, serta tak dapat mengucap apa-apa.

Sementara itu Liok Hwi Ching melanyutkan lagi.

"Dan kalau Han-ya berkeras akan membalas sakit hati suhengmu, sekarangpun aku bersedia untuk menemani. Sekali lagi kutandaskan, bahwa soal ini tidak ada sangkutan apa-apa dengan Hong Hwa Hwe Jika orang-orang Hong Hwa Hwe nanti sampai ada yang membantu, itu berarti menghina padaku."

Habis berkata begitu, Hwi Ching berpaling kearah Lou Ping, untuk minta senjata Han Bun Tiong. Begitu thiat-pi-peh Bun Tiong diterima oleh jago tua itu, maka ber-katalah dia .

"Ketika Han Ngo Nio menCiptakan ilmu Thiat-pi-peh, namanya sangat semerbak dikalangan Persilatan. Dia dianggap sebagai seorang pendekar wanita. Tetapi kini, haa "

Sembari mengelah napas, Hwi Ching kerahkan lwekang kearah tangannya. Sekali badan pi-peh itu dipijitnya, seketika itu juga berobah menjadi sebuah papan besi yang gepeng.

"Kita kaum persilatan, kalau tak mengabdi kepada tanah air atau sekurang-kurangnyanya melakukan perbuatan yang mulia, bukankah sia-siasaja segala ilmu kepandaiannya itu?"

Kata Hwi Ching pula ber-api 2.

"Kalau kesemuanya tak dapat dilakukan, nah lebih baik sembunyikan diri menjadi rakjat yang baik. Hm, aku paling benCi pada kawanan kuku garuda, kaki tangan piauwkiok yang mengantar barang-barang ha-ram pada pembesar-' rakus. Bila orang yang bermodal ilmu silat terima menjadi budak dari kawanan pembesar yang menindas rakjat, kalau ketemu aku, hem, sekalipun aku, Liok Hwi Ching, usiaku sudah mendekati lubang kubur, tapi aku akan gunakan hari 2 sisa hidupku itu, untuk membasmi mereka !"

Hwi Ching tampaknya sangat angker sekali. Darah mu danya kembali mengalir memenuhi semangatnya. Dan dalam dia ber-kata-kata itu, tangannya tetap "mengerjai"

Thiat-pi-peh itu.

Maka begitu ucapannya habis, thiat-pi-peh itu sudah menjadi semaCam thiat-hoan, gelangan besi.

Ucapan jago tua itu, telah merasuk kedalam sanubari Bun Tiong.

Selama ini, belum pernah dia bertemu dengan lawan yang dapat menandingi bugenya.

Tapi sekali ini saja, dia telah mendapat hajaran ber-turut 2.

Dari Lou Ping Ciang Bongkok, Sim Hi dan kini dengan mata kepala sendiri dia saksikan bagaimana Hwi Ching telah memijit mijit gepeng senjatanya yang sangat diandalkan itu, seperti orang yang memenCet tanah liat (lempung) saja.

Sampai saat itu, barulah dia betul-betul merasa tunduk dan jerih.

Sebaliknya Ciang Su Kin, terkilik hatinya.

Dia sambuti thiat-hoan itu, lalu di pijit 2 dan ditariknya hingga menjadi sebatang tongkat.

Sebelah ujungnya disodorkan kehadapan Seng Hiap.

"Eh, kau mau adu kekuatan dengan aku?"

Tanya Seng Hiap.

Begitu Su Kin mengangguk, Seng Hiap terus pegang tongkat itu dan mulailah ke 2nya saling tarik 2an.

Ternyata ke 2nya sama unggulnya, dan yang nyata, tongkat itu makin lama makin panyang .

Orang-orang yang menyaksikan sama kagum.

"Ah, sudahlah. Koko ber 2 sama kuatnya. Mari berikan pi-peh itu padaku !"

Kata Tan Keh Lok, melerai ke 2 orang tersebut. Ciu Ki dan Lou Ki merasa geli dan tertawa, ketika ketua itu masih menyebut tongkat itu, dengan "pi-peh."

"Totiang, Ciu locianpwe, Siang ngo-ko, kauorang bertiga harap berada disebelah sini,"

Kata Tan Keh Lok setelah menerima tongkat.

"Dan kau Tio samko, Siang liok-ko bersama aku disisih sana. Mari kitaorang ber-main-main ."

Ciu Tiong Ing dengan tertawa menurut. Jadi ke 2 ujung tongkat itu kini dipegangi masing-masing oleh tiga-orang.

"Mereka ber 2 telah menarik besi sampai panyang , kini kita bikin pendek lagi seperti semula,"

Kata Keh Lok pula.

"Nah, satu, 2, tiga !"

Begitu mendorong, maka besi itu menjadi pendek lagi. Orang-orang yang melihatnya ramai ber-sorak 2.

"Sudahlah, Cukup. Inilah yang dikatakan diatas langit masih ada langit'. Aku, Han Bun Tiong, kalau hari ini masih hidup besok aku akan pulang kekandang-untuk bertani saja,"

Demikian Han Bun Tiong sambil menghela napas. Setelah diperintahkan sang ketua, berhentilah kelima orang itu yang sedang "dolanan"

Itu.

"Kita telah merusak senjata sdr. Han, harap sdr. maaf kan,"

Kata Tan Keh Lok. Karena sedang menguCurkan keringat, Bun Tiong tak dapat menyahut apa-apa maka berkatalah ketua Hong Hwa Hwe itu pula.

"Aku yang rendah ini akan omong beberapa patah padamu entah sdr. suka mendengarkan entah tidak ? Setelah Bun Tiong mengiakan, berkatalah pula Tan Keh Lok.

"Sedari dulu, orang yang penasaran itu mudah diberi mengerti, tapi sukar diajak damai. Suheng Han-ya itu me-mang Cari kematiannya sendiri. Jadi Liok Cianpwe itu tak bersalah. Dengan memandang mukaku harap Han-ya tak mengganyel pada Liok locianpwe dan selanyutnya men jadi sahabat saja."

"Jadi jiwa suhengku itu dikorbankan begitu saja ?"

Seru Bun Tiong dengan geramnya.

"Sebenarnya tugas Ciao sam-ya itu adalah untuk men Cari aku. Maka aku akan menulis surat mengabari saudaraku dirumah. Harap Han-ya katakan saja bahwa Ciao samya telah berhasil menemui aku. Tetapi sepulangnya, ditengah jalan Ciao samya telah dibunuh orang, Dari agar samya tetap terima hadiah yang sudah dijanyikan itu. Bun Tiong berdiam diri, agaknya tak puas dia.

"Namun Han-ya berkeras untuk menuntut balas, baiklah aku yang akan mengawani Han-ya bermain beberapa jurus ilmu 'thiat.pi-peh,"

Kata Keh Lok. Dan sekali tangannya di ajun, tahu-tahu 'pi-peh' yang dipegangnya tadi masuk menancap kedalam tanah.

"Orang she Han itu insaf kalau dia sekali 2 takkan lolos dari orang-orang Hong Hwa Hwe yang rata-rata bugenya tinggi-tinggi itu. Maka katanya.

"Kalau begitu, silahkan kongcu mengatakannya."

"Nah, beginilah baru bisa disebut ksatria sejati,"

Ujar Keh Lok. Lalu ia suruh Sim Hi mengambilkan alat 2 tulis dan sekejap saja sepuCuk surat telah diselesaikannya terus diserahkan pada Han Bun Tiong.

"Sebenarnya Ong-Congpiauthay suruh aku membantunya menghantar suatu barang kawalannya ke Pakkhia, dari Pak khia kemudian akan mengawal pula barang 2 mestika berharga hadiah kerajaan kekediaman kongcu di Kanglam,"

De demikian kata Bun Tiong.

"Tapi hari ini setelah saksikan kepandaian sakti kalian, ha, sedikit kepandaianku ini benar 2 main kaju dirumah tukang mebel. Untuk mana, harta mestika yang akan dihantar kekediaman kongcu itu, siapa lagi yang berani menginCarnya sekejap? Maka sekarang juga biarlah aku mohon diri."

Mendengar ini Keh Lok menjadi ketarik.

"O, apakah Han-ya sedianya akan mengawal barang kerumahku?"

Tanya-nya segera.

"Menurut keterangan Piauwkiok yang disampaikan padaku,"

Demikian Bun Tiong menutur.

"katanya Hongsiang telah hadiahi banyak-banyak sekali benda 2 mestika kerumah kongcu dan piauwkiok kami yang disuruh mengawalnya kekanglam. Tapi harini aku terjungkal disini, mana aku ada muka lagi menCari sesuap nasi dikalangan bu-lim, biarlah sesudah keluarga Ciao-suheng sudah kubereskan, segera aku pulang kekampung untuk bertani dan tak berkeCimpung didunia kangouw lagi."

"Han-ya suka dengar nasehat dari Liok locianpwe itulah baik sekali. Ayo, Siem Hi, kau undang keluar beberapa kawan itu untuk bertemu dengan Han-ya,"

Kata Keh Lok. Segera Sim Hi membawa masuk Ci Ceng Lun dan beberapa orang dari Tin Wan piauwkiok yang mereka tawan itu. Dan begitu berhadapan dengan Bun Tiong, mereka sama pandang memandang.

"Dengan memandang muka Han-ya, harap Han-ya sekalian ajak mereka pergi. Cuma saja, apabila kelak mereka masih melakukan hal 2 yang tidak baik, harap Han-ya maafkan kalau kami tak berlaku"

Sungkan lagi,"

Kata Keh Lok achirnya.

Bun Tiong hanya dapat menghaturkan terima kasih saja, tanpa berkata lain-lainnya.

Tan Keh Lok minta mereka tinggal lagi sehari disitu, sedang dia segera ajak rombongannya berangkat.

tengah perjalanan, Hwi Ching pikir mungkin sekali orang-orang piauwkiok itu akan mengadakan pembalasan terhadap rombongannya muridnya, Li Wan Ci.

Untuk menyaga kemungkinan itu, ia katakan pada Keh Lok bahwa ia akan berjalan dibelakang saja.

Demikianlah Hwi Ching segera putar kudanya untuk kembali kearah barat.

Sedang Tan Keh Lok rupanya tak sempat menanyakan tentang diri dari murid Hwi Ching, seperti yang dikatakan oleh Ceng Tong itu, maka ia sangat masgul.

Kembali berCerita tentang Ie Hi Tong.

Pemuda ini diperintahkan menyelidiki jejak rombongannya Bun Thay Lay, sepanyang jalan ia menyelidiki secara diam-diam, tapi sedikit pun tak diperoleh tanda-tanda, sampai achirnya.

tibalah ia dikota KengCiu yang terhitung suatu kota besar yang ramai subur dipropinsi Kamsiok.

Setelah mendapatkan hotel, Hi Tong melanCong kebagian kota lain dan masuk kesuatu kedai arak untuk minum sendirian, saking sepinya, ia menjadi sesalkan naslbnya sendiri, teringat olehnya suara dan wajah Lou Ping yang menggiurkan, pikirannya menjadi bergolak.

Perasaan rindunya ini sudahlah terang tiada harapan dan sekali 2 tidak patut me mikirkannya lagi, namun aneh, entah mengapa selalu tak bisa dilupakannya.

Ketika dilihatnya didinding rumah minum itu penuh Corat-Coret orang-orang yang pernah berkunyung kesini, tiba-tiba kesukaannya bersjair pun timbul, ia suruh pelajan menye diakan alat 2 tulis, ia menuliskan sebuah sajak diatas dinding itu sebagai pelepas masgulnya.

Setelah beberapa Cawan arak mengalir pula kedalam perutnya, rasa keselnya menjadi ber-tambah 2, ber-ulang 2 iapun bersanyak .lagi selaku seorang SiuCay, dan sesudah puas, selagi ia hendak membajar buat pergi, tiba-tiba didengar nya suara tangga loteng berdetak dan 2 orang telah naik keatas.

Mata Hi Tong Cukup tajam, sekilas saja dapat dikenali orang yang berada didepan itu seperti pernah dilihat nya entah dimana, maka lekas-lekas ia melengos kejurusan lain, baru saja berpaling, segera juga teringat olehnya bahwa orang itu adalah petugas negeri yang pernah saling gebrak di Thiat-tan-Chung tempo hari.

Beruntung orang itu lagi asjik mengobrol dengan kawan nya hingga Hi Tong tak dilihatnya.

Sesudah berada diatas loteng, ke 2 orang itu memandang sekeliling ruangan dulu, lalu memilih suatu tempat yang berdekatan dengan jendela, dan tepat berdampingan dengan mejanya Hi Tong.

SiuCay berseruling emas itu Cukup Cerdik, ia mendekap diatas meja pura-pura mabuk, waktu pelajan menegurnya iapun pura-pura tak sadar dan tak menyawabnya.

Ke 2 orang itu mula 2 pasang omong sedikit hal 2 yang tak penting, kemudian seorang telah berkata .

"Swi-toako, kali ini kalian berhasil menawan buronan penting, sungguh jasa kalian tidak kecil, entah nanti hadiah apa yang Hong-siang (baginda) akan berikan padamu."

"Ah, hadiah apa saja aku tak pikir lagi, yang kuharap asal tawanan itu bisa dihantar sampai HangCiu dengan selamat,"

Demikian orang she Swi itu menyawab.

"Pikir saja, kami berdelapan jago pengawal tinggalkan kotaraja, tapi kini hanya ketinggalan aku seorang diri yang kembali, pertarungan disana tempo hari, sungguh, bukan aku senga ja membesarkan orang dan menurunkan pamor sendiri, tapi kalau aku ingat apa yang terjadi itu benar 2 masih ngeri dan mengkirik !"

"Tapi sekarang kalian berada bersama Thio-taijin, tentu takkan terjadi apa-apa lagi,"

Ujar orang yang duluan.

"Ja, benar juga, tapi karena itu pula, jasa ini telah jatuh ditangan orang-orang Gi-lim-kun (pasukan kotaraja), dan kita jago-jago pengawal yang telah kehilangan muka,"

De mikian sahut orang she Swi.

"Eh, Lau Cu, tawanan ini kenapa tak digiring ke Pakkhia, tapi digusur ke HangCiu untuk apakah?"

"Hal ini kebetulan aku tahu,"

Sahut orang she Cu itu bisik-bisik.

"EnCi-ku ada didalam istananya menteri Lauw, hal ini kau sudah tahu bukan? Dari kabar yang dia kirim padaku, katanya Hongsiang segera, akan berangkat ke Kanglam (daerah selatan). Kini tawanan itu dikirim ke HangCu, mungkin Hongsiang sendirilah yang akan memeriksanya nanti."

"O, jika begitu, kalian berenam ter-gesa 2 datang dari ibukota, apakah perlunya untuk menyampaikan titah?"

Tanya orang she Swi itu sambil meneguk araknya.

"Ja, dan sekalian membantu kalian,"

Sahut siorang she Cu.

"Pengaruh Hong Hwa Hwe didaerah Kanglam terlalu besar, tak boleh tidak kita harus berlaku waspada."

Mendengar sampai disini, diam-diam Hi Tong berSyukur.

Sungguh kalau bukan kebetulan dapat didengarnya, maka bila Bun-suko oleh mereka diam-diam digiring kedaerah Kanglam, bukankah para kawan akan keCele karena semuanya menuju ke Pakkhia, dan hal itu bukankah menjadi runyam malah.

Dalam pada itu didengarnya jago pengawal she Cu tadi telah berkata pula.

"Swi-toako, sebenarnya dosa apakah buronan itu hingga Hongsiang sendiri yang akan memeriksanya?"

"Itu. akupun tidak tahu,"

Sahut siorang she Swi.

"Tapi menurut perintah atasan, bila sampai tak berhasil menawan nya, sekembali kami kekotaraja pasti akan dihukum peCat, bahkan buah kepala dapat dipertahankan tidak masih susah diduga. Ha, apa kau kira menCari sesuap nasi sebagai Si-wi (jago pengawal keraton) itu mudah diperoleh?"

"Tapi yang sudah terang Swi-toako telah berdirikan pahala, biarlah aku memberi selamat tiga Cawan arak dahulu,"

Ujar siorang she Cu dengan tertawa.

Habis itu ke 2 orang itu saling suguh-menyuguh dengan riangnya.

Obrol punya obrol, sampai achirnya Cerita mereka pun beralih mengenai soal perempuan, katanya wanita utara lebih Cantik dan yang lain bilang gadis diselatan lebih manis.

Sesudah kenyang dan setengah mabuk, kemudian orang she Swi itu menyelesaikan rekening untuk pergi, sebelum melangkah pergi, ketika melihat Ie Hi Tong mendekap diatas meja, maka dengan tertawa ia telah meng-olok 2.

"Ha, orang sekolahan apa gunanya, baru tiga Cawan masuk perut sudah sekarat seperti babi mampus !"

Hi Tong tak menggubris, ia tetap pura-pura mabuk, ia tunggu sesudah orang pergi, lekas-lekas iapun letakkan sepotong uang perak diatas meja terus ikut turun dari loteng kedai arak itu, dari jauh ia kintil ke 2 orang tadi, ia lihat mereka terus masuk kekeresidenan KengCiu, untuk selanyutnya tak kelihatan keluar lagi.

Hi Tong menduga tentu mereka berdiam digedung pembesar itu, ia kembali kekamar hotelnya, ia mengaso untuk kumpulkan tenaga.

Setelah tengah malam, ia tukar pakaian peranti jalan malam, seruling emasnya pun tak ketinggalan, lalu.

diam-diam ia melintasi jendela terus menuju kerumah pembesar itu.

Sesudah sampai dibelakang keresidenan, ia melompati pagar tembok, sekitarnya gelap gelita, hanya dari jendela diruangan sebelah timur tertampak ada Cahaja pelita.

Dengan ber-jinyit 2 ia mendekatinya, waktu ia mendengarkan, ternyata ada suara orang berbicara didalam.

Pelahan 2 ia basahi kertas yang menutupi jendela (karena hawa dingin, dimusim dingin di Tiongkok umumnya menempelkan kertas sebangsa kertas lajangan diruji jendela untuk menolak hawa dingin -Gan KL.) hingga berwujut suatu lobang kecil.

Apabila ia Coba mengintip, maka ia menjadi terkejut.

Ternyata didalam ruangan itu penuh berduduk orang-orang , Thio Ciau Cong duduk di-tengah-tengah dan dike 2 sisinya adalah kawanan Si-wi dan opas 2 setempat, satu orang yang berdiri dengan mungkur lagi mendamperat habis-habisan, menilik suara nya, terang ialah Bun Thay Lay.

Hi Tong Cukup kenal bahaja karena yang berada didalam itu adalah tokoh 2 Kangouw semua, maka tak berani ia mengintip lebih lama, ia mendekam kebawah untuk mendengarkan dengan Cermat.

Ia dengar Bun Thay Lay sedang mendamperat .

"Hm, kalian sebangsa budak 2 yang terima menjadi anying alap 2 bangsa asing ini, meski Bun-toaya harini jatuh ditanganmu, namun pasti ada orang yang bakal balaskan sakit hatiku, kelak biarlah dilihat manusia-siaberhati binatang seperti kalian ini bagaimana achirnya !"

Kemudian terdengar seorang buka suara dengan berat dan dingin, katanya.

"Bagus CaCi makimu ! Kau adalah Pan-lui-Chiu (tangan geledek), telapak tanganku sudah tentu tak selihai kau, tapi harini biar kau mengiCipi juga rasa nya tanganku !"

Mendengar lagu perkataan orang, diam-diam Hi Tong berkua tir, pikirnya .

"Suko mungkin akan dihina orang. Ia adalah orang yang paling dihormat dan diCintai Suso, mana boleh ia dihinakan segala manusia rendah?"

Karena itu, lekas-lekas ia mengintip lagi melalui lobang tadi, ia lihat seorang laki 2 yang bertubuh kurus dyang kung dan mengenakan baju hijau panyang telah angkat telapak tangannya dan mendekati Bun Thay Lay.

Ke 2 tangan Thay Lay diringkus, dengan sendirinya tak bisa berkutik, saking murkanya hanya giginya yang keretak-keretuk tergigit.

Dan selagi orang itu angkat tangannya hendak dihantamkan, tanpa ajal lagi Hi Tong masukkan seruling emasnya kelobang tadi terus ditiup, segera sebuah anak panah se Cepat-cepat terbang menyamber kedepan dan dengan tepat me nanCap dimata kiri orang itu.

Kiranya orang itu bukan lain ialah Ciangbunyin (ketua) dari Gian-keh-khn di SinCiu, Gian Pek Kian adanya.

Karena lobang mata kirinya terkena panah, saking sakit nya hingga Gian Pek Kian berguling-guling dilantai.

Sementara itu seluruh ruangan menjadi kaCau, kembali sebuah panah Hi Tong menancap pula dipipi kanan seorang Si-wi, menyu sul mana kaki Hi Tong melayang , pintu ruangan itu dide paknya terpentang dan orangnya terus menyerbu kedalam.

"Kawanan Cakar-alap 2 jangan mentang 2, nih, datanglah jago Hong Hwa Hwe buat menolong kawan!"

Demikian Hi Tong membarengi membentak dan kontan serulingnya sudah tutuk roboh seorang opas yang berdiri disamping Bun Thay Lay.

SeCepat-cepat kilat pula SiuCay berseruling emas itu lorot belatinya yang terselit dipinggangnya, ia tabas putus semua tali pengikat saudara angkat itu.

Dalam keadaan kaCau balau itu, Thio Ciau Cong sudah banyak-banyak berpengalaman, ia tidak menjadi gugup, iapun tak urus Bun Thay Lay dan Ie Hi Tong, tapi dengan pedang terhunus ia berdiri diambang pintu ruangan itu untuk menahan larinya tawanan sekalian menahan musuh dari luar bila ada.

Jilid 10 DALAM pada itu karena sudah terlepas tali pengikatnya, semangat Bun Thay Lay menjadi terbangkit, saat itu seorang jago pengawal keraton lagi menubruk kearahnya, sedikit Thay Lay meng'egos, berbareng tangan kirinya membalik menggablok keiga kanan orang, maka terdengarlah suara "kraak," 2 tulang iga orang itu telah patah dihantam.

Melihat betapa lihainya Bun Thay Lay, para jago-jago pengawal yang lain menjadi jeri tak berani maju.

"Suko, lekas kita terdyang keluar!"

Seru Hi Tong.

"Apakah para saudara sudah datang semua?"

Tanya Thay Lay.

"Belum, hanya Siaote seorang diri,"

Sahut Hi Tong.

Thay Lay tak berkata lagi, ia hanya mengangguk.

Luka dilengan kanan dari pahanya ternyata masih parah dan gerak-geriknya belum leluasa, terpaksa dengan bersandaran Hi Tong mereka berjalan menuju kepintu ruangan itu.

Ketika 4-5 jago pengawal Coba merangsak maju, namun kesemuanya dapat ditahan oleh seruling emas Hi Tong.

Setelah dekat pintu keluar, nmun Ciau Cong sudah memapak maju.

"Tinggal saja disini!"

Bentaknya segera sambil pedangnya terus menusuk keperutnya Bun Thay Lay.

Karena gerak-geriknya masih kaku, Thay Lay tak sempat menghindari, terpaksa iapun membarengi menyerang, dengan ke 2 jari tangan kiri seCepat-cepat kilat ia tutuk ke 2 mata musuh dengan tipu "ji-liong-jio-Cu"

Atau 2 naga berebut mestika. Karena itu, terpaksa Ciau Cong menarik kembali sen jatanya untuk menangkis, dan mau-tak-mau iapun memuji;

"Bagus !"

Begitulah, ke 2 orang itu sama Cepat-cepat dan sama tangkas nya hingga sekejap saja mereka sudah saling gebrak tujuh-delapan jurus.

Tapi Bun Thay Lay hanya menggunakan sebelah tangan saja, jakni tangan kiri, gerak-gerik kakinya pun tak bebas, dengan sendirinya achirnya ia menjadi payah, maka setelah beberapa jurus lagi, ia telah kena digeblak sekali pundaknya oleh Thio Ciau Cong hingga tak bisa berdiri tegak lagi, ia jatuh terduduk, Dilain pihak, sambil menempur musuh Hi Tong sembari memikir juga.

"Hidupku seterusnya hanya akan menderita saja, harini biar aku, korbankan jiwaku untuk menolong keluar Suko, dengan meminyam tangan Cakar-alap 2 ini untuk menghabiskan sisa hidupku, dengan begitu agar Suso tahu bahwa aku Ie Hi Tong bukanlah manusia yang tak berbudi. Kalau aku korbankan jiwa untuk kebahagiaannya, rasanya matipun tidak Cuma 2 !"

Nyata karena Cinta sepihak, daripada terus menderita batin, dalam keadaan begini Hi Tong menjadi nekad.

Maka setelah ambil keputusan itu, saat itu dilihatnya Bun Thay Lay jatuh terpukul oleh Ciau Cong, tanpa pikir lagi Hi Tong baliki serulingnya terus menghantam, serangan ini membikin Ciau Cong mau-tak-mau harus menangkisnya.

Dengan begitu keadaan Bun Thay Lay jadi sedikit longgar Hingga ia sempat meronta bangun lagi, mendadak ia baliki tubuh terus menggertak, karena suara geledek itu, para jago pengawal dan opas 2 itu menjadi tertegun hingga tanpa merasa mundur beberapa tindak.

"Suko, lekas kau lari!"

Teriak Hi Tong sambil seruling emasnya berputar kentyang , sama sekali ia tak menangkis atau menghiraukan serangan lawan, tapi selalu ia menginCar dan menyerang tempat 2 berbahaja musuh.

Karena kenekadan pemuda ini, seketika Thio Ciau Cong menjadi kewalahan malah hingga terpaksa ia terdesak mundur beberapa tindak.

Melihat ada lowongan, Cepat-cepat sekali Bun Thay Lay me nyelinap keluar ruangan itu meninggalkan para Si-wi yang ber-teriak 2 terperanyat karena tawanan penting berhasil lari.

Sementara itu Hi Tong yang bertahan mati 2an diambang pintu, pada tubuhnya ber-ulang 2 sudah terkena 2 tusukan Ciau Cong, tapi pemuda itu masih tetap tak hiraukan diri sendiri, melainkan masih melontarkan tipu 2 serangan yang mematikan.

"He, apa kau sudah bosen hidup ? Siapa yang mengajar kan pertempuran Cara begini? bentak Ciau Cong tak sabar.

"Hm, memang aku tak ingin hidup lagi, paling baik kalau kau bisa membunuh aku!"

Sahut Hi Tong tertawa pedih.

Dan setelah beberapa jurus pula, kembali lengan kanan Hi Tong terluka, namun ia gantikan tangan kiri yang memainkan seruling dan sedengkalpun masih tak mau mundur.

Tatkala itu para Si-wi ber-ramai 2 sudah merubung maju juga, tiba-tiba Hi Tong menubruk pada seorang yang berada paling depan, ketika jago pengawal itu memapak dengan sekali baCokan, ternyata Hi Tong sama sekali tak menghiraukan, sebaliknya serulingnya ditutukan keras-keraskedada orang itu, tanpa ampun lagi jago pengawal itu roboh terguling, tapi berbareng itu pundak kiri Hi Tong juga kena dibaCok.

Bagai banteng ketataon dan seluruh tubuh berlepotan darah, Hi Tong terus ajun serulingnya melabrak musuh dengan sengit, dibawah sinar pedang dan bayangan golok yang sam ber-menyamber, kembali terdengar lagi suara seperti periuk peCah, ternyata batok kepala seorang jago pengawal lain telah remuk dihantam serulingnya.

Tapi makin lama lingkaran kepungan para Si-wi itu makin Ciut, dibawah hujan senjata yang gaduh itu, lagi-lagi paha Hi Tong telah kena dihantam toja musuh, karena ini, tak sanggup lagi ia bertahan, ia teruling.

Namun begitu, ia tak menjadi gentar, tiba-tiba seruling emasnya dibuangnya sambil tertawa panyang , lalu ia pejamkan mata untuk menantikan ajalnya.

Tapi karena berhentinya ini, seketika pula orangnya lantas jatuh pingsan.

Pada saat itulah, mendadak diluar pintu ruangan itu terdengar bentakan orang yang keras .

"Tahan !"

Waktu semua orang menoleh, ternyata orang itu adalah Bun Thay Lay yang lagi berjalan masuk kembali pelahan 2, sikapnya gagah berwibawa, sinar matanya tajam, tapi tiada seorang lain yang dipandangnya sekejap, melainkan terus mendekati Ie Hi Tong yang menggeletak dilantai dengan berlumuran darah itu.

Apabila diperiksanya luka Hi Tong yang parah, tak tahan lagi jago Hong Hwa Hwe yang perkasa itu menCuCurkan air mata terharu.

Ia Coba memeriksa pernapasan Hi Tong yang ternyata masih baik-baik , barulah ia rada lega, ia ulur tangan kirinya untuk membangunkan Hi Tong, tiba-tiba ia berpaling terus membentak pula .

"Lekas ambilkan obat luka untuknya ?"

Dibawah pengaruh Bun Thay Lay yang berwibawa, betul juga ada orang yang telah pergi mengambilkan obat luka.

Dengan mata kepada sendiri Thay Lay saksikan mereka membalut luka Hi Tong serta digotong masuk ruangan dalam, kemudian barulah ia mungkur sambil ulurkan ke 2 tangannya dan berkata .

"Nah, sekarang kalian ikatlah !"

Para Si-wi itu masih ragu 2, tapi sesudah diberi tanda oleh Thio Ciau Cong, kemudian seorang diantaranya mendekati Bun Thay Lay.

"Takut apa ? Kalau aku maukan jiwamu, sejak tadi 2 sudah beres, masa perlu aku harus membohongi dulu? seru Bun Thay Lay melihat sikap orang yang sangsi 2 itu. Baru setelah melihat tangan Bun Thay Lay betul-betul tak mau bergerak, siwi tersebut. terus memborgolnya dan membawa nya kedalam kamar tutupan lagi. Malam itu Ciauw Cong keluarkan perintah, bahwa ke jadian tadi tidak boleh diuwarkan ke-mana 2. Siapa yang melanggar, akan dihukum berat. Esok harinya, Ciauw Cong sendiri pergi melihat Ie Hi Tong, ia lihat pemuda itu masih tidur dengan nyenyaknya, sesudah menanya kaCung yang melajani, barulah diketahui obat dari sinshe telah diseduh dan diminumkan Hi Tong. Sore harinya Hi Tong tampak agar segar, Ciauw Cong lantas tanya padanya.

"Gurumu she Liok atau she Ma?"

"Guruku yang berbudi itu ialah 'Cian-li-tok-hing-kiap' she Ma dan bernama Cin,"

Sahut Hi Tong.

"Betul ah kalau begitu, aku adalah susiokmu Thio Ciauw Cong,"

Kata Ciauw Cong. Hi Tong sedikit mengangguk tanda mengarti.

"Apakah kau anggota Hong Hwa Hwe?"

Tanya Ciauw Cong pula. Kembali Hi Tong angguk-angguk.

"Ai, seorang baik-baik begini, kenapa bisa tersesat begitu jauh,"

Ujar Ciauw Cong sambil menghela napas.

"Pernah apakah Bun Thay Lay dengan kau? Kenapa kau ingin me nolongnya tanpa pikirkan jiwanya?"

Hi Tong pejamkan mata tak menyawab. Lewat sejenak, barulah ia berkata.

"Dan achirnya ia dapat kutolong juga, kini matipun aku rela."

"Hm,"

Jengek Ciauw Cong mendadak.

"dibawah tanganku kau pikir bisa menolong orang sesukamu?"

Terkejut Hi Tong oleh jawaban itu.

"Jadi ia tidak berhasil larikan diri?"

Ia menegas.

"Ia bisa larikan diri? Ha, jangan kau mimpi!"

Sahut Ciauw Cong.

Lalu ia berusaha menanya terus, tapi Hi Tong telah pejamkan matanya lagi tak menggubrisnya pula, bahkan tidak antara lama pemuda itu terdengar mendengkur.

Ciauw Cong tersenyum kewalahan.

"Sungguh satu pemuda yang keras kepala,"

Katanya. Lalu iapun pergi."

Setiba dikamar sebelah, Ciauw Cong ajak Swi Tay Lim, Gian Pek Kian, Seng Hing dan beberapa siwi dari Pakkhia a.l.

Cu Co Im, sama-sama berunding.

Setelah memberi perintah seperlunya, masing-masing disuruh mengasoh.

Sehabis makan malam, kembali mereka pura-pura memeriksa Bun Thay Lay, yang dibawanya kesuatu ruangan.

Ruangan itu diterangi dengan lilin-lilin yang besar dan terang Cahajanya.

Kemaren malam, sebenarnya Ciauw Cong akan melakukan peperiksaan sungguh-sungguh pada Bun Thay Lay, tapi telah di-aduk 2 oleh Hi Tong.

Malam ini, dia akan melakukan peperiksaan pura-pura, dan sebelum itu, dia telah siapkan bayhok (barisan pendam) lengkap dengan anak panahnya.

Begitu orang-orang Hong Hwa Hwe datang menolong, mereka tentu disambut dengan hangat.

Tapi se malam 2an itu, tak ada suatu bayanganpun yang kelihatan datang.

Pada hari ke 2 pagi 2 sekali, seorang serdadu melaporkan bahwa Hoangho (Sungai' Kuning) telah banyir.

Air meluap 2 sampai tinggi.

Ciauw Cong segera titahkan anak buahnya supaya lekas berangkat.

Bun Thay Lay dan Hi Tong dimasukkan kedalam 2 buah kereta besar.

Tapi baru saja rombongan akan berangkat, datanglah Go Kok Tong, Ci Ceng Lun, Han Bun Tiong dan rombongannya.

Atas pertanyaan Ciauw Cong, Go Kok Tong dengan geramnya menuturkan apa yang telah dialami dari orang-orang Hong Hwa Hwe "Giam liokya bugenya lihai, bagaimana bisa terbinasa dalam tangan seorang gadis.

Sungguh mengherankan,"

Kata Ciauw Cong.

Mendapat laporan dari Go Kok Tong bahwa buge dari setiap orang Hong Hwa Hwe itu lihai-lihai, tambahkan pula mendapat bantuan dari rombongan orang Wi, maka ber-pikir 2lah Ciauw Cong.

Achirnya dia minta bantuan pada Congpeng (pembesar militer) dari KengCiu sebanyak-banyak 400 orang tentara pilihan guna memperkuat pengawalan orang tangkapan yang penting itu.

Congpeng Buru-buru siapkan jumlah tersebut.

Dia perintahkan hu-Ciang Co Ling dan somCiang Peng Bong Sian untuk memimpin barisan pilihan itu.

Sampai dikota Song-keng, mereka mengasoh.

Keesokan harinya setelah meninggalkan kota sekira 2 atau tiga puluh li, mereka melihat ada 2 orang lelaki yang buka baju sedang duduk mengasoh dibawah pohon.

Didekat mereka tertambat pada dahan puhun, ada 2 ekor kuda yang bagus.

Dua orang serdadu Ceng rupanya menjadi ketarik, maka mereka lantas Cari 2 perkara dan menghampiri seraja membentak.

"He, kuda 2 ini asal Curian dari mana?"

"Kami adalah rahajat yang taat pada undang 2, mana kami mau menCuri,"

Jawab salah seorang dari mereka yang bermuka, tampan seraja tertawa.

"Kita sangat Cape, pinyamilah kudamu itu,"

Kata salah seorang tentara, Ceng tersebut.

"Tentu takkan membikin Celaka kudamu, jangan kuatir,"

Temannya menambahi.

"Baik, kalau Cong-ya suka menunggangnya, tentu saja boleh,"

Sahut orang tadi. Lalu mereka melepaskan tambatan kuda dan berkata pula.

"Cong-ya, hati-hatilah, jangan sampai dilempar jatuh !"

"Masa naik kuda saja bisa jatuh, jangan bicara sem barangan,"

Kata serdadu yang satunya.

Dengan langkah lebar ke 2 serdadu itu menghampiri untuk pegang tali les.

Tapi sekonyong 2 pantat salah seorang serdadu itu ditendang orang, sedang muka kawannya pun ditampar orang.

Dan pada lain saat ke 2 serdadu itu dilontarkan kejalanan.

Maka gaduhlah kalangan tentara Ceng itu.

Ke 2 orang aneh itu menCemplak kudanya terus menghampiri kearah kereta besar.

Malah salah seorang diantara nya yang bermuka Codet pakai sebelah tangan untuk me nyingkap tenda kereta, terus dipotongnya dengan goloknya sambil berseru.

"Apakah Suko ada didalam?"

"Ah, Cap-ji-long !"

Demikian sahutan dari dalam kereta "Suko, kami pergi dulu, kau jangan kuatir, Kawan-kawan kita sudah sampai disini,"

Demikian seru orang itu pula.

Suara sahutan dari dalam kereta itu sudah diputus dengan suara beradunya senjata diluar kereta.

Orang yang barusan berkata itu diserang oleh 2 musuh yaitu Seng Hing dan Co Leng dan pasukan Ceng pun menyerbu datang.

Tapi setelah dapat menangkis mundur, ke 2 orang itu terus keprak kudanya melarikan diri.

Malam itu rombongan Ciauw Cong bermalam di Kengsui.

Keesokan harinya, pagi 2 sekali tiba-tiba terjadi kegaduhan dalam rombongan tentara itu.

Pemimpinnya, Co Ling dan Peng Bong Sian Buru-buru keluar memeriksa.

Dan betapakah terkejutnya demi melihat ada sepuluhan lebih serdadu yang berlumuran darah menjadi majat ditempat tidurnya.

Entah siapa yang membunuhnya.

Begitulah dengan berlaku hati-hati sekali, mereka meneruskan lagi perjalanannya,, dan malamnya bermalam di HengCiok, sebuah kota besar.

Tiga buah hotel disewanya, masih belum Cukup dan meminyam lagi beberapa rumah penduduk.

Tengah malam tiba-tiba timbul kebakaran.

Ciauw Cong perintahkan semua si-wi supaya tetap menyaga ke 2 orang tawanannya, jangan sampai tertipu musuh.

Api itu makin besar dan tiba-tiba datanglah Co Leng melapor.

"Ada kawanan perampok, anak buah kita sudah bertempur dengan mereka !"

Tapi dengan tenang Ciauwj Cong minta supaya ia (Co Ling) saja yang keluar memimpin perlawanan, karena semua si-wi tetap menyaga orang tawanan.

Hanya disuruhnya Swi Tay Lim dan Cu Co Im ber 2 supaya menyaga diatas rumah itu.

Setelah berselang beberapa lama, hiruk pikuk itu, menjadi sirap lagi.

Co Ling melapor bahwa kawanan rampok itu memakai tutup muka.

Mereka tidak merampas uang, tapi hanya mau membunuh anak buah saja, dan memang kesudahannya ada enam atau tujuh puluh serdadu luka-luka dan meninggal.

Dengan adanya gangguan itu, Ciauw Cong tunda keberang katannya sampai besok.

Dalam penyalanan pada besok paginya, pemandangan alam sepanyang yang dilaluinya, sangat indah.

Ternyata jalanan itu berada di-tengah-tengah 2 buah bukit dan jalanan dimuka me-lingkar 2 seperti ular yang panyang .

Tiba-tiba dari atas bukit disebelah muka, kelihatan ada seorang penunggang kuda membalap turun dan ketika hampir dekat dia bertereak 2.

"He dengarlah ! Jangan lanyutkan perjalananmu, disi ni ada siluman jahat. Ayo, balik saja, biar selamat !"

Orang itu berpakaian baju kain kasar, pinggangnya dilihat dengan tali rumput, mukanya kuning, alisnya berdiri.

Sungguh wajah yang menyeramkan pandangan mata.

Sehabis bertereak begitu, dia turun bukit, terus menyelinap disisih rombongan tentara negeri.

Ketika orang itu sudah pergi, tiba-tiba dibarisan belakang, ada seorang serdadu Ceng yang menyerit dengan keras, roboh ditanah terus mati.

Rombongan pasukan itu, terke jut dan sama mengerumuninya, tapi ternyata sikorban tersebut.

tak mendapat luka suatu apa.

Karuan saja, mereka ketakutan setengah mati.

Setelah berjalan kembali, lagi-lagi sipenunggang kuda tadi munCul, dan bertereak pula dengan keras .

"He, dengarkan Kawan-kawan , kau orang bakal berhadapan dengan siluman jahat, mengapa tak mau kembali saja ? Percayalah nyawamu semua pasti diCabut."

Seruan ini betul-betul membawa pengaruh.

Terutama bagi serdadu 2 yang sama terkejut, mengapa orang itu kembali munCul dari arah muka, sedang tadi sudah pergi kebela kang.

Bukit disitu, tak ada lain jalanannya, tambahan pula mengapa begitu Cepat-cepat dia sudah berada disebelah muka lagi.

Ketika orang itu turun bukit lagi, serdadu 2 sama me nyingkir jauh-jauh.

Tidak demikian dengan Cu Co Im, sang pemimpin.

Begitu orang itu berada dekat, dia segera hadangkan goloknya untuk menCegat .

"Sahabat, berhentilah !"

Orang itu seperti tak menghiraukan.

Dengan enak saja dia ajunkan tangannya kanan untuk menggaplok pundak Co Im.

Cepat-cepat Co Im tangkiskan goloknya, tapi seperti terbentur dengan benda keras, goloknya itu terpental jatuh.

Dan orang itu seperti tak terjadi apa-apa, terus larikan kudanya.

Ketika orang itu sudah melalui rombongan tentara negeri, maka kembali ada seorang serdadu yang menyerit hebat dan roboh binasa.

Sekarang betul-betul keadaan rombongan serdadu itu menjadi panik.

Ciauw Cong perintah sekalian si-wi untuk menyaga kereta tawanan, dan dia sendiri lalu pergi me meriksanya.

"Thio taijin, orang itu manusia atau setan?"

Tanya Co Im sembari me-mijat 2 luka dipundaknya.

Melihat wajah Co Im menjadi puCat, Ciauw Cong lantas menyuruhnya buka baju, ternyata pada pundaknya terdapat luka sebesar telur itik.

Ciauw Cong kerutkan ji datnya, diambilnya sebungkus obat lalu disuruhnya minum.

Dia perintah seorang serdadu untuk memeriksa tubuh ka wannya yang binasa itu, betul juga pada badannya terdapat luka sebesar telur itik.

Nyatalah itu bekas sidik dari kelima jari.

Ciauw Cong suruh mengubur majat 2 sikorban itu, tetapi tak seorangpun yang berani.

Apa boleh buat dia perintahkan semua pasukan untuk bantu ramai 2 menguburnya.

"Thio taijin, manusia itu betul-betul mengherankan. Dia menuju kemuka, tapi begitu Cepat-cepat dia sudah berada dibe lakang lagi"

Sampai 2 Swi Tay Lim utarakan kekuatirannya. Ciauw Cong juga tak bisa menyawab apa-apa. Setelah berpikir sejenak, barulah dia dapat berkata .

"Sdr. Cu, ke 2 orang serdadu itu terang terbinasa oleh pukulan 'hek-soa-Ciang' (pukulan pasir hitam). Orang-orang kan-gouw yang achli dalam ilmu pukulan itu, sedikit sekali jum lahnya, masa aku tak kenal?"

"Berbicara tentang 'hek-soa-Ciang' kiranya hanyalah Hui Lo tojin yang paling menyagoi. Tapi dia kini sudah menutup mata. Apakah tadi itu roch tojin tersebut ?"

Tanya Swi Tay Lim.

"Ah, betul ah !"

Seru Ciauw Cong dengan tepuk 2 paha-nya.

"Dialah murid Hui Lo tojin itu. Orang biasa gelarkan mereka Hek Bu Siang dan Pek Bu Siang. Jadi ke 2 sau dara kembar itulah yang menyaru sebagai setan pengganggu."

Semua si-wi yang mendengar disebutnya ke 2 persaudaraan tersebut., atau yang kita kenal sebagai SeeChwan Sianghiap, menjadi keder hatinya.

Tapi untuk jangan mengunyuk kan kelemahan, mereka pura-pura berlaku tenang.

Ketika malam itu mereka bermalam di Hek-siong-poh, Co Ling litahkan supaya diadakan penyagaan ronda yang kuat.

Tapi keesokan harinya, para peronda itu, tidak kelihatan munCul.

Ketika disuruh periksa, ternyata peronda 2 itu sudah sama menggeletak tak bernyawa lagi.

Pada setiap tubuh si korban, ditempeli selembar uang-kertas sembayangan.

Kini peCahlah semangat pasukan negeri itu Malah ada sepuluh orang lebih serdadu yang diam-diam melarikan diri.

Hari itu rombongan Ciauw Cong sampai kepunCak Oh-kiaonia.

Inilah punCak bukit yang kesohor paling berbahaja didaerah Kam Keng.

Waktu itu justeru bulan sembilan, maka udarapun mulai turun salju.

Ketika melintasi bukit tersebut, terpaksa serdadu 2 itu harus berjalan dengan saling tarik tangan, karena kuatir tergelinCir jatuh kedalam ju rang yang sangat Curam.

Justeru selagi orang tengah memusatkan perhatiannya untuk berjalan dengan hati-hati, tiba-tiba dari arah muka terdengar suara Cuwat-Cuwit, dan dilain saat lalu berobah menjadi suitan yang nyaring dan panyang , berkumandang jauh di-lembah 2 dan bikin bulu roma orang berdiri.

Men-dengar itu sekalian serdadu sama merandek.

"Ayo, kemarilah kalau mau bertemu dengan malaekat elmaut. Kalau mau hidup kembalilah!"

Demikian ber-ulang 2 terdengar suara teriakan orang.

Peng Bong Sian segera pimpin beberapa orang, untuk maju menerdyang dengan berjalan kaki.

Baru saja mem biluk disebuah tikungan, sebuah anak panah telah menancap didada seorang serdadu, siapa segera menyerit dan terjungkal kedalam jurang.

Peng Bong Sian gemas, untuk membikin besar hati anak buahnya, dia maju kedepan.

Tapi bukan dia, hanya tiga orang anak buahnya yang kembali "termakan"

Oleh anak panah. Ketika pasukan itu merandek, munCul ah satu orang dari lamping bukit, dengan suaranya yang menyeramkan orang itu berteriak .

"Yang maju akan bertemu dengan elmaut, yang mundur akan selamat !"

Tidak tunggu lagi, berlarilah sekalian serdadu itu berebut duluan.

Peng Bong Sian murka, terus menyabet roboh seorang anak buahnya sendiri.

Dengan begitu, suasana dapat diatasi lagi.

Tapi yang sudah ketlanyur melarikan diri, kira-kira enam tujuh puluh orang itu, sudah tak nampak bayangantija lagi.

"Kau orang jagalah kereta tawanan itu, biar kutemui ke 2 persaudaraan Siang itu,"

Kata Ciauw Cong pada Swi Tay Lim.

"Apakah disitu Siang-si Sianghiap? Disini aku Thio Ciaw Cong memberi hormat,"

Kata Ciauw Cong setelah maju kemuka.

"Wah, harini rupanya Siang-kui (setan kembar) akan bertemu dengan Poan-koan (gelaran Ciauw Cong)!"

Sahut orang itu dengan tertawa dingin.

Dan dengan ucapan itu, tangan kanan orang telab me nyambar.

Karena keadaan tempat itu sempit sekali, tak ada jalan untuk Ciauw Cong berkelit.

Terpaksa dia kerahkan lwekang untuk menyambut dengan tangan kiri.

Dan berbareng itu, tangannya kanan menyulur kemuka untuk menampar.

Orang itupun tak tinggal diam, tangannya kiri diulurkan untuk menangkis.

Jadi kini 2 pasang tangan saling ber bentur.

Tapi Ciauw Cong dapat berlaku sebat.

Dia robah gerakannya dengan Cepat-cepat untuk menyapu paha kiri lawannya.

Karena tak keburu menghindar, orang itu berlaku nekad.

Dia rangkapkan ke 2 tangannya untuk ditotokkan ke 2 belah jalan darah "thay-yang-hiat."

Dengan miringkan tubuh Ciauw Cong maju 2 tindak.

Dan orang itupun juga miringkan tubuhnya maju menyerang.

Demikian ke 2nya saling menerdyang .

Malah saking dahsyatnya, begitu kepelan berbentur, ke 2nya sama terpental beberapa kaki kebela kang.

Hanya kini kedudukannya berobah.

Ciauw Cong beralih kesebelah timur, sedang orang itu berada disebelah barat.

Selagi begitu, tiba-tiba Peng Bong Sian pentang busurnya ke-arah orang itu.

Tapi dia ternyata lihai sekali.

Tangan kirinya menangkis serangan Ciauw Cong, tangannya kanan men jumput ujung panah gelap itu.

Dan menggunakan kesempatan kosong itu dia Cepat-cepat -' berpaling kebelakang untuk menimpuk kembali panah itu.

Peng Bong Sian dapat menghindari dengan tundukkan kepalanya, tapi seorang serdadu dibelakangnya telah menyerit roboh.

"Siang-si Siang-hiap, betul-betul tak bernama kosong,"

Memu ji Ciauw Cong.

Belum lama ucapan itu dikeluarkan, Ciauw Cong rasakan ada angin menyambar dari arah belakang.

Dan ketika dikelit, ternyata munCul pula seorang kurus berparas kuning, yang mirip dengan orang satunya tadi.

Serangannya pun tak kalah serunya.

Kini Ciauw Cong dikerojok 2, dari muka dan belakang.

Ngeri orang melihat ketiga orang itu bertempur.

Karena pada jalanan yang sesempit itu, sekali salah gerakannya, pasti akan terpelanting jatuh kcdalam jurang yang sangat tebing itu.

Sekalipun Seng Hing dan Co Im membawa 2 ratusan serdadu, tapi mereka tak dapat memberi bantuan apa-apa pada Ciauw Cong.

Paling banyak-banyak serdadu 2 itu hanya dikerahkan untuk ber-sorak 2 membantu keangkeran.

Setelah berpuluh jurus liwat, sekonyong-konyong salah seorang lawan miringkan bahunya untuk bentur Ciauw Cong, siapa Cepat-cepat mundur selangkah.

Melihat itu orang yang satunya Cepat-cepat menghantamnya.

Dan berbareng itu, yang lainnya pun mengirim tendangan.

Jadi yang satu mendorong yang lain menendang, maka Ciauw Cong teranCam terpental kedalam jurang.

Untuk menghindari tendangan, Ciauw Cong mundur selangkah, dengan begitu kakinya yang sebelah sudah tak menginyak batu karang lagi dan tergantung diatas jurang.

Sekalian serdadu sudah sama menyerit ketakutan.

Dalam pada itu, lawan yang seorang tadi, pukulannya sudah menyamber datang.

Bagi Ciauw Cong kini tak ada jalan lolos lagi.

Dalam keadaan terdesak, sering orang timbul dayanya.

Demikian pula Ciauw Cong.

Dengan gunakan "kin-na-hoat,"

Ilmu menangkap senjata musuh dengan tangan kosong, dia Cepat-cepat menyawut pergelangan tangan mu suhnya, terus diangkatnya.

Orang itu berusaha untuk pegang pergelangan tangan Ciauw Cong, tapi karena tubuhnya mengapung diudara, maka kekuatannya berkurang, dan dapatlah dia dilemparkan oleh Ciauw Cong kedalam jurang.

Melihat itu, gemuruhlah sorak sorai sekalian serdadu.

Orang itu, yang ternyata adalah Siang He Ci, tidak menjadi gugup.

Ditengah udara dia tendangkan kakinya keatas untuk berjumpalitan.

Dan dalam pada itu, dia segera keluarkan alatnya "hui-Cao"

Dikibaskan keatas.

Hui-Cao, atau Cakar terbang, adalah semaCam Cengkeram panyang bertali dan gunanya untuk mengait.

Begitu saudaranya mengeluarkan hui-Cao, Siang Pek Ci-pun segera mengeluarkan juga, lalu dibandringkan kebawah.

Dan begitu ke 2 hui-Cao berkaitan, maka dengan Cepat-cepat Siang Pek Ci menariknya keatas.

Dengan demikian tak sampailah Siang He Ci jatuh kedalam jurang yang Curam itu.

,,Hwe-jiu-poan-koan memang benar 2 lihai, sungguh aku merasa kagumi!"

Kata Siang Pek Ci seraja merangkap ke 2 tangannya.

memberi hormat.

Dan tanpa menunggu penyahutan orang, dia segera mengajak kandanya untuk berlalu.

Semua serdadu sama berisik membicarakan pertempuran yang seru itu.

Ada yang memuji kelihaian Ciauw Cong, ada yang menyayang kan mengapa tak lemparkan saja orang sho Siang itu kejurang.

"Buge Thio taijin sungguh hebat sekali,"

Seru Swi Tay Lim seraja menghampiri.

"Apakah taijin tak terluka?"

Ciauw Cong tak menyahut dan Coba mengatur napasnya dulu. Dan baru berselang beberapa saat, dia berkata.

"Tidak apa-apa."

Tapi ketika memeriksa pergelangan tangannya dia menjadi terkejut.

Disitu terdapat bekas Cap lima jari yang ke-merah 2an seperti terbakar kelihatannya.

Begitulah setelah melalui pegunungan Oh-kiao-nia, mereka a,kan masuk wilayah Bun-lan.

Kuatir dengan rintangan 2 musuh, Ciauw Cong tak mau ambil jalan besar, tapi berputar melalui jalan kecil.

Sebenarnya Co Ling sudah mempunyai renCana bagaimana untuk menghadapi kawanan penggang gunya, tapi karena Ciauw Cong sudah memutuskan renCana begitu, apaboleh buat dia menurut saja.

Ketika mendeka,ti tepi sungai Hong-ho, dari jauh sudah terdengar suara ombak yang gemuruh, setelah agak lama pula, barulah tiba sampai di Angsia, suatu tempat penyebe rangan.

Tatkala itu hari sudah petang, hari sudah remang-remang, hanya air sungai yang mengalir santar ketimur itu bergemuruh men-dampar 2 tepi, air sungai yang butek itu bagai air mendidih yang bergulung-gulung gemulung.

"Malam ini juga kita harus menyeberang, melihat keadaan sungai yang berbahaja, sedikit tertahan mungkin bisa runyam,"

Demikian kata Thio Ciau Cong pada pengiringnya.

Lalu ia perintahkan perajuritnya pergi menCari kapal tambangan, tapi sudah diCari setengah harian tiada suatu pun yang didapatkan, sementara itu hari sudah gelap.

Selagi Ciau Cong merasa gopoh, tiba-tiba dari hulu sungai sana bagai panah Cepat-cepat nya sedang melunCur datang 2 perahu.

Tentu saja Ciau Cong-menjadi girang, segera perajurit-'nya ber-teriak 2 dan ke 2 perahu itupun pelahan 2 mentepi.

"Hai, tukang perahu, lekas kau menyeberangkan kami, nanti dihadiahi banyak-banyak 2,"

Segera Peng Bong Sian berteriak dulu. Maka terlihatlah dari bagian belakang salah satu perahu itu berdiri seorang laki 2 kekar sambil memberi tanda dengan tangannya.

"Eh, apa kau bisu?"

Tanya Peng Bong Sian mendongkol.

"Tiunama, mau naik lekas naik, tak mau naik bilang tak naik, peduli apa kau banyak-banyak bicara,"

Demikian terdengar orang itu menyahut. Ternyata orang itu telah memaki dengan "Tiunama"

Dan kata-kata Kongfu lain yang susah dimengarti, agaknya tukang perahu itu adalah orang Kongfu.

Karena itu, Bong Sian tak mengurusnya lagi, ia minta Ciau Cong dan para Si-wi mengiringi 2 kereta besar itu naik keatas kapal dulu.

Tapi ketika Ciau Cong mengamat-amati situkang perahu itu, ia lihat kepala orang gundul botak tiada seberapa rambutnya, urat daging lengannya kentyang kuat dengan spir-nya yang menonyol, suatu tanda tenaganya pasti besar luar biasa, malahan penggajuh yang dipegangnya itu tertampak hitam antap seperti bukan terbuat dari kaju.

Seketika pikirannya tergerak, ia sendiri tak bisa berenang, hal ini ia harus hati-hati jangan sampai terpedaya.

Sebab itu, maka katanya kemudian pada Bong Sian .

"Peng-taijin, silahkan kau saja naik dulu dengan 20 pe-rajuritmu."

Bong Sian mengia, terus naik keatas perahu yang sudah menunggu.

Begitu pula perahu yang lain juga ditumpangi beberapa puluh perajurit, tukang perahu sebelah sana menutupi separoh wajahnya dengan sebuah Caping, maka tak jelas air mukanya.

Ketika ke 2 perahu itu sudah bergerak, saking santarnya air sungai, perahu 2 itu didajung dulu kehulu sungai, setelah belasan tombak baru kemudian ganti haluan ketengah sungai.

Ternyata ke 2 tukang perahu itu sangat mahir, dengan selamat beberapa puluh perajurit itu sudah mereka seberangkan dan kembali datang buat menyeberangkan yang lain.

Sekali ini adalah gilirannya Cho Ling yang pimpin pera juritnya naik keatas perahu.

Tapi baru saja perahu 2 itu berpisah dari gili 2, tiba-tiba dari belakang sana terdengar suara suitan panyang , lalu sahut-menyahut disana sini.

Lekas-lekas Thio Ciau Cong memerintahkan perajuritnya tersebar dan mengitari kereta besar di-tengah-tengah, busur panah mereka siapkan untuk menyaga segala kemungkinan.

Tatkala itu bulan baru mulai menongol, maka terlihatlah dari arah 2 timur, barat dan utara munCul belasan penunggang kuda secara terpenCar.

"Ada apa? segera Ciau Cong kaprak kudanya memapak sambil membentak. Pendatang 2 itu lantas berjajar lurus dan pelahan 2 mendekat, seorang diantaranya lalu tampil kemuka, pada tangannya tidak terdapat senjata, hanya sebuah kipas lempit putih kelihatan dikibasnya pelahan 2.

"Apakah yang berhadapan inilah Hwe-Chiu-poan-koan Thio Ciau Cong?"

Ta nyanya segera.

"Ja, betul Cayhe (aku yang rendah) adanya,"

Sahut Ciau Cong.

"Dan tuan siapa ?"

"Haha, Suko kami berkat penghantaran kalian sampai di sini, kini tak berani bikin sibuk lebih lama lagi, maka se ngaja datang buat menyambutnya,"

Demikian kata orang itu tanpa menyawab.

"O, kalian adalah orang Hong Hwa Hwe?"

Tanya Ciau Cong pula.

"Dikalangan kangouw orang bilang ilmu silat Hwe-Chiu-poan-koan tiada taranya, siapa tahu pandai juga menduga sesuatu seperti dewa,"

Sahut orang itu tertawa.

"Ja, memang kami orang Hong Hwa Hwe !"

Habis berkata, tiba-tiba orang itu bersuit panyang dengan keras sekali, karena tak menduga-duga hingga Ciau Cong pun dibikin kaget.

Dan karena suitan itu, segera terdengar tukang 2 perahu tadipun membalasnya dengan sekali suitan.

Cho Ling yang berduduk didalam perahu itu, ketika melihat ditepi sana kedatangan musuh, memangnya hatinya lagi kebat-kebit tak .

tenteram, tiba-tiba didengarnya pula situ kang perahu bersuit panyang , karuan wajahnya semakin puCat bagai majat.

Mendadak tukang perahu itu palangkan penggajuhnya hingga lajunya perahu tertahan, lalu katanya dalam bahasa Kongfu .

"Nah, saudara-saudara yang baik, aku kira paling selamat lekasan masuk air saja."

Sudah tentu Cho Ling tak paham akan bahasa Kwitang orang, hanya matanya terpentang lebar 2 sambil ter-nganga.

Sementara itu didengarnya pula suara nyanyian nyaring merdu dari situkang perahu yang sana, begini lagunya .

Sejak kecil Thayouw tempat beta dibesarkan, bunuh orang berapa banyak-banyak selamamja tak sungkan; Golok membaCok pembesar korup pasti terbasmi, perahu terguling perajurit Cing masuk sungai!

Mendengar nyanyian itu, karuan hati Cho Ling semakin ketakutan.

Apabila kemudian suara nyanyian itu berhenti, segera terdengar situkang perahu itu berseru .

"Capsahte, Ayolah turun tangan !"

Lalu situkang perahu yang ditumpanginya ini memberi sahutan sekali dalam basa Kongfu.

Meski dalam ketakutan, namun Cho Ling masih Coba angkat tombaknya terus menyerang situkang perahu lebih dulu.

Namun Cepat-cepat sekali tukang perahu itu sudah melompat kedalam sungai, begitu pula tukang perahu sebelah sa napun melompat kedalam air, hingga karena kehilangan sipengemudi, ke 2 perahu itu terus ber-putar 2 ditengah sungai.

Karuan Cho Ling dan perajurit 2 Cing itu ber-teriak 2 ketakutan.

Disebelah sana hamba 2 negeri yang berada didaratan itu ada yang lagi ber-jaga 2 atas serbuan musuh, ada pula yang tak tahan menyaksikan suara teriakan didalam perahu yang ter-dampar 2 ditengah sungai yang keras arusnya itu, ke 2 perahu itu kelihatan bergontyang beberapa kali lagi, lalu mendadak terbalik, dalam keadaan panik dengan suara je ritan penumpang 2nya itu, tiada ampun lagi pembesar dan perajurit 2 itu sudah terCemplung semua dan terhanyut arus sungai.

Sebaliknya ke 2 tukang perahu tadi ternyata sangat mahir berenang, tiada seberapa lama mereka sudah berada ditepi sungai lagi.

Tapi karena santarnya arus air, ketika mendarat ke 2 tukang perahu itu sudah berada dijarak ratusan tombak dibawah hulu sungai sana, segera perajurit 2 Cing didaratan itu menghamburkan panah, tapi karena jaraknya sudah jauh, pula dimalam gelap gelita, sasaran tak terang, tentu saja tiada yang kena.

Namun aneh juga, ke 2 tukang perahu itu bukannya larikan diri, tapi malah memapak menuju kepasukan tentara Cing itu.

Dalam pada itu diam-diam Thio Cian Cong lagi berSyukur, tadi kalau bukan dirinya berlaku waspada, pasti sekarang sudah menjadi setan didalam sungai.

Lekas-lekas ia tenangkan diri, lalu dengan suara keras ia membentak orang tadi .

"Ha, kalian sepundyang jalan terus membunuh perajurit 2 dan pembesar negeri, dosamu itu sekali 2 tak bisa diampuni, kini kedatanganmu malah kebetulan. Nah, katakan dulu, siapakah kau dalam Hong Hwa Hwe ?"

"Tak perlu kau tanya padaku,"

Sahut orang itu tertawa.

"bila kau kenal senjataku, dengan sendirinya kau tahu siapa aku." -Habis berkata, enteng sekali ia telah melompat turun dari kudanya, lalu serunya .

"Sim Hi, mana, ambilkan kesini !"

Segera Sim Hi membuka buntalannya dan menyodorkan 2 maCam senjata ketangan ketua umum Hong Hwa Hwe, yaitu Tan Keh Lok.

Thio Ciau Cong segerapun melompat turun dari kudanya sambil lolos pedangnya, ia mendekati orang beberapa tindak dan selagi ingin menegasi wajah lawan itu, tiba-tiba dari be-lakangnya menyerobot maju satu orang.

"Thio-taijin, biar aku saja yang membereskan dia,"

De mikian kata orang itu.

Ternyata orang itu adalah jago pengawal Cu Co Im.

Kebetulan, pikir Ciau Cong, biar orang dipakai perCobaan dulu baru kemudian ia maju sendiri.

Maka ia lantas mun dur lagi sambil berkata .

"Baiklah, Cuma harus ber-hati-hati."

Segera pula Cu Co Im itu maju lebih dekat terus membentak .

"Hai, kawanan berandal, besar amat nyalimu berani merampas tawann kerajaan, terimalah golokku ini !" -Berbareng itu goloknya lantas membaCok keatas kepala Keh Lok. Dengan sendirinya Keh Lok angkat senjata ditangan ki-rinya untuk menangkas. Dibawah sinar bulan, Cu Co Im dapat melihat bentuk senjata yang dipakai lawannya sangat aneh, jakni sebuah tameng, tapi diatas tameng itu tumbuh sembilan buah paku berkait tajam, asal goloknya kebentur tameng itu, pasti akan terkait tak terlepas. Karena itu, ia menjadi kaget, lekas-lekas ia tarik kembali goloknya. Namun tameng yang digunakan Tan Keh Lok itu dapat digunakan untuk menangkis serta untuk menyerang, ketika orang tarik kembali senjatanya, sekalian ia membarengi menekan kebawah. Cepat-cepat Cu Co Im ajun goloknya kesamping buat memotong bahu kiri lawan. Namun Keh Lok telah baliki tameng nya lagi buat mengkait terus menyojoh kedepan. Karena itu terpaksa Cu Co Im mundur 2 tindak. Tak terduga, mendadak tangan kanan Keh Lok mengajun, tahu-tahu lima utas tali telah menyamber kedepan, disetiap ujung tali itu terikat sebuah bola baja yang kusus digunakan peranti menutuk tiga enam jalan darah utama ditubuh orang. Terkejut luar biasa Cu Co Im melihat senjata hebat itu, ia, kenal bahaja apa yang menganCam, lekasan saja ia meloncat pergi, siapa duga ujung tali orang seperti bermata saja, tahu-tahu pungg'ungnya terasa pegal, jalan darah "Ci-tong-hiat"

Dipunggungnya ternyata sudah kena tertutuk, diam-diam Cu Im mengeluh, namun sudah terlambat, ke 2 kakinya sudah tergubet oleh tali orang.

Apabila Keh Lok menarik talinya terus diangkat dan dilepaskan pula, maka.

tak ampun lagi tubuh Cu Co Im seperti didorong saja terus membentur kesebuah batu Cadas dan tampaknya segera bakal kepala peCah dan otak berantakan.

Melihat gerakan musuh diwaktu melompat turun dari kuda tadi, Thio Ciau Cong sudah tahu sebelumnya bahwa Cu Co Im jauh bukan tandingan lawannya, ia saksikan pertarungan yang hanya makan waktu 2-tiga jurus itu lantas Co Im terlempar akan membentur batu, maka tanpa pikir lagi ia melesat maju terus menghadang didepan batu Cadas itu, sekali ia ulur tangan, Cepat-cepat kunCir Cu Co Im kena ditariknya terus diangkat, lalu ia tepuk "tan-tian-hiat"

Dadanya buat melepaskan tutukan musuh tadi.

"Saudara Cu, baiknya kau mengaso saja dulu,"

Demikian kata Ciau Cong kemudian.

Namun saking ketakutan dan sudah peCah nyalinya, maka' Cu Co Im hanya terCengang tak sanggup menyawab.

Sementara itu sambil menghunus pedang pusakanya 'ih pek-kiam' lantas Thio Ciau Cong melompat kehadapan Tan Keh Lok.

"Usiamu semudah ini, tapi sudah memiliki kepandaian bagus. Hai, anak muda, siapakah gurumu?"

Segera ia menegur.

"Huh, mentang 2 lebih tua, tanya orang semaunya!"

Tiba-tiba Sim Hi menyela sebelum Keh Lok menyawab.

"Dan kau sendiri, siapa gurumu?"

Tentu saja Ciau Cong menjadi gusar.

"Anak benal kurangajar, berani kau ngaCo-belo,"

Damperatnya kontan.

"Ah, tentunya kau marah karena kau tak kenal senjata KonCu kami bukan?"

Ejek Sim Hi tiba-tiba .

"Baiklah, asal kau menyura tiga kali padaku, segera juga aku beritahu-kan padamu."

Namun Ciau Cong tak menggubrisnya lagi, sekali pe dangnya bergerak, Cepat-cepat sekali ia menusuk kebahu kanan Tan Keh Lok.

Tetapi tali ditangan kanan Keh Lok tiba-tiba diajun keatas terus melilit dibatang pedang musuh, berbareng tameng ditangan kiri didorong kedepan buat menghantam muka Thio Ciau Cong.

Dan begitulah segera Ciau Cong keluarkan "Ju-hun-kiam-hoat"

Yang hebat dari penguruannya untuk menempur senjata-nyata aneh Tan Keh Lok dengan sengit.

Sementara itu ke 2 tukang perahu tadi sudah berlari sampai didepari perajurit 2 Cing, segera hamba 2 negeri itupun menghamburkan anak panah lagi, namun dapat disam pok jatuh oleh ke 2 orang itu.

Kiranya mereka bukan lain jalah 'Tang-thau-gok-hi' Cio Su Kin, sibuaja berkepala tembaga, dan dibelakangnya itu yang telah menCopot Caping serta mantelnya hingga kelihatan pakaian renangnya yang hitam mulus, ke 2 tangannya mengunus sepasang golok, nyata ialah 'Wan-yang-to' Lou Ping, sigolok kembar Tatkala itu Cio Su Kin telah putar penggajuh besinya menyerbu kedalam pasukan musuh, 2 perajurit paling depan telah kena dikeperuk olehnya hingga batok kepalanya peCah berantakan, karuan yang lain-lain sama ketakutan hingga lari menyingkir.

Dengan Cepat-cepat pula Lou Ping mengikut dibelakang ka wannya terus menerdyang sampai disamping kereta besar.

Seng Hing yang berjaga tidak jauh disitu, dengan senjata tojanya "Ce-bi-kun"

Segera menghadang maju dan menempur Cio Su Kin. Sebaliknya Lou Ping telah berlari kesebuah kereta besar itu terus menarik tirai penutupnya sambil berteriak menanya .

"Toako, apakah kau berada didalam ?"

Tak terduga yang berada didalam kereta itu adalah Ie Hi Tong yang luka parah itu, ketika dalam keadaan sadar-tak-sadar pemuda itu mendengar suaranya Lou Ping, ia me nyang ka dirinya sedang berada dalam mimpi, tapi mengira pula dirinya sudah mati dan berjumpa dengan Lou Ping diacherat, maka dengan girang ia menyawab .

"Ah, kau pun sudah datang?"

Sebaliknya dalam keadaan Buru-buru Lou Ping mendengar bukan suara sang suami, meski suara orang itu Cukup dikenalnya, namun tak sempat dipikir pula, Cepat-cepat ia berlari mendekati kereta yang ke 2.

Dan selagi ia hendak menyingkap tirai kereta buat meli hatnya, sekonyong-konyong sebuah senjata "Ku-gi-to,"

Sejenis golok yang bergigi seperti gergaji, telah membabatnya.

Namun Lou Ping sempat menangkis dengan golok kanan, berbareng golok ditangan kiri kontan balas menyerang 2 kali susul-menyusul kepundak kanan dan paha kiri musuh.

To-hoat atau ilmu golok Lou Ping ini menurut Cerita di turun dari Han Se Tiong, itu panglima terkenal dijamannya Gak Hui diahala Song, diwaktu Han Se Tiong menggempur tentara Kim, ia gunakan senjata golok panyang ditangan kanan yang bernama "Toa-Che"

Atau sihijau tua, dan golok pendek ditangan kiri yang bernama "Sio-Che"

Atau sihijau muda, dengan sepasang golok itu entah berapa, ba nyak tentara Kim yang tewas ditangannya.

Dan Lou Ping ternyata kidal, jakni tangan kiri lebih bebas dari tangan kanan, maka ayahnya Sin-to, sigolok sakti, Lou Goan-thong telah tyang kok ilmu golok itu dan diajarkan pada puterinya yang tunggal ini, maka golok ditangan kanan Lou Ping hanya memainkan jurus-jurus ilmu golok yang biasa saja, tapi golok pendek ditangan kiri dapat berubah tiada habis-habisnya hingga merupakan suatu keahlian tersendiri didunia persilatan.

Dalam pada itu dibawah sinar bulan bila Lou Ping mengenali musuhnya itu adalah satu diantara delapan jago pengawal yang pernah mengembut dan menangkap suami nya di LanCiu tempo hari, tak tertahan lagi ia menjadi murka hingga serangan-'nya bertambah gencar.

Kiranya penyerang dengan "Ku-gi-to"

Itu ialah Swi Tay Lim, ia sudah kenal betapa lihainya 'hui-to' atau pisau terbang sinyonya jelita ini, maka ia putar senjatanya sedemikian Cepat-cepat nya agar Lou Ping tak sempat melepaskan senjata rasianya itu.

Tak lama pula, ada 2 jago pengawal lain telah memburu datang membantu, begitu pula pasukan tentara itupun lantas merubung maju hingga Cio Su Kin dan Lou Ping terkepung rapat.

Sekonyong 2 terdengar suitan, dan dari arah timur serta utara menyerbulah sekawanan penunggang kuda kearah itu.

Yang dimuka sendiri adalah Wi Jun Hwa, lalu dibelakang nya Ciang Bongkok, Nyo Seng Hiap dan Ciu Ki.

Dibawah hujan panah dari tentara Ceng, Jun Hwa tampak memutar sepasang siangkao (gaetan) untuk melindungi Kawan-kawan nya.

Tapi sebatang anak panah telah menyusup tepat dileher kudanya hingga seketika binatang itu binal dan menendang se orang serdadu.

Dengan sebat, Jun Hwa loncat turun terus menerdyang .

"Aduh, aduh "

Demikian suara jeritan ber-ulang 2.

Dua orang serdadu menyerit dan roboh.

Habis itu, Jun Hwa langsung meny erang Swi Taij Lim, siapa terpaksa tarik serangannya pada Lou Ping dan terus menangkis lawannya yang baru itu.

Dalam pada itu si Bongkok, ,Seng Hiap dan Ciu Ki telah amuk habis-habisan rombongan tentara itu hingga lari pontang panting.

Pertempuran dalam gegap gempita itu, tiba-tiba tampak sebuah tongkat 'Ce-bi-kun' melayang ke udara.

Itulah senjata nya Seng Hing, salah seorang si-wi yang ditugaskan membantu Ciauw Cong.

Karena ingin menyudahi pertempurannya de-ngan si-wi tersebut, Cio Su Kin telah menangkis sekuat-kuatnya, dan kesudahannya senjata pahlawan istana itu terlempar keudara, sedang orangnya pun terus angkat langkah panyang !

Si-wi yang menjadi lawan Lou Ping pun telah mendapat 2 luka, darah membasahi seluruh tubuhnya, namun dia tetap berkelahi.

Tiba-' dia rasakan ada angin menyambar dari belakang.

Ketika dia berputar kebelakang, tahu-tahu sebatang kong-pian sudah meng-anCam mukanya.

Buru-buru dia menangkis dengan goloknya, tapi gempuran kong-pian begitu dahsyatnya hingga goloknya terlempar lepas dari tangannya.

Dengan sebat, dia lemparkan tubuh untuk bergelundungan ditanah, tapi tak urung punggungnya kena didupak kaki lawannya.

Begitu bebas, Lou Ping kembali menyerbu kearah kereta yang nomor 2, terus disingkap tendanya dan melongok kedalam.

"Siapa?"

Tanya suara dari dalam kereta itu.

Sungguh suara itu terasa begitu merdu merasuk kedalam kalbu Lou Ping.

Dengan serta merta ia loncat masuk dan mendekap orang didalam itu yang memang nyata adalah Bun Thay Lay.

Nyonya muda yang gagah itu, menangis tersedu-sedu karena girang dan terharu.

Bun Thay Lay pun terharu kegirangan, hanya karena tangan dan kakinya diborgol dia tak dapat berbuat apa-apa.

Di-tengah-tengah pertempuran berdarah itu, sepasang suami isteri itu tak menghiraukan apa-apa keCuali hanya menumpahkan perasaan masing-masing.

"Suko, kita antar kau pulang!"

Tiba-tiba berbareng dengan gontyang nya kereta, Ciang Bongkok melompat kedalam dan terus duduk ditempat kusir.

Dan kereta segera akan dilarikan kejurusan utara.

Beberapa si-wi dengan nekad Coba akan menyerbunya, tapi dihadang oleh Seng Hiap, Jun Hwa, Su Kin dan, Ciu Ki berempat.

Apa boleh buat, kawanan si-wi itu mundur, lalu perintahkan barisan serdadu untuk melepas panah.

Karena malam gelap, sebatang anak panah berhasil me nanCap dipundak Seng Hiap yang segera menyerit kesakitan.

"Pat-ko, kau bagaimana?"

Tanya Jun Hwa. Dengan digigit pakai gigi, panah itu telah diCabutnya sendiri. Lalu Su Kin menggerung keras-keras.

"Akan kubasmi kawanan budak itu !"

Tanpa hiraukan lukanya, dia terdyang kawanan serdadu itu.

Jun Hwa pun ikut 2an mengamuk, hingga dalam beberapa saat ada tujuh delapna serdadu yang roboh.

Lain-lainnya terus melarikan diri, dikejar oleh ke 2 orang Hong Hwa Hwe tersebut.

Sedang dari arah sana, Beng Kian Hiong dan An Kian Kong sudah siap menyambutnya.

Sekali lepas pelurunya, Kian Hiong telah berhasil merobohkan beberapa orang, ada yang matanya luka, hidungnya bengkok dan lain-lain.

Keadaan makin gaduh tak karuan.

Su Kin dan Ciu Ki melindungi kereta, sedang Ciang Bongkok menghentikan kereta itu pada sebuah tanyakan untuk melihat pertempuran antara ketuanya dengan pemimpin kawanan kuku garuda.

"Bagaimana pertempuran itu?"

Tanya Thay Lay.

"Congthocu sedang tempur Ciauw Cong,"

Sahut Lou Ping.

"Apa, Congthocu?"

Menegasi suaminya.

"Kau tak tahu, bahwa siaothocu sekarang sudah menjadi Congthocu kita,"

Sahut sang isteri.

"Bagus kalau begitu. Manusia Thio Ciauw Cong itu sangat lihai, jangan sampai Congthocu kena apa-apa dengan dia,"

Kata pula Thay Lay dengan, kuatir. Lou Ping melongok keluar dari tenda untuk melihat ja lannya pertempuran.

"Apa thocu sanggup melajaninya?"

Kembali Bun Thay Lay utarakan kekuatirannya.

"Senjata dari Cong-thocu1 lihai sekali. Tangan kiri memegang tun-Pai (perisai atau tameng), dan yang kanan lima utas tali yang berujung bola baja. Coba dengarlah bagaimana bola itu Menderu-deru suara samberannya."

"Apa, ujungnya di kat dengan bola baja? Jadi dia bisa pakai tali untuk menotok jala.n darah?"

Menegasi Bun Thay Lay.

"Ha, Ciauw Cong kini dikepung oleh kelima tali Congthocu!"

Seru Lou Ping.

"Apakah tenaga thocu Cukup kuat?"

Tanya suaminya.

"Rupanya samberan talinya sudah mulai pelahan."

Lou Ping tak menyahut, tiba-tiba ia berjingkrak dan berseru keras.

"Bagus, pedang Ciauw Cong terkait oleh tun-Pai, bagus, bagus, sabetan tali kali ini tentu berhasil. Aja, Celaka !"

"Bagaimana?"

Sela Thay Lay.

"Pedang orang itu ternyata sebuah pokiam. Dua buah gaetan dari tun-Pai itu telah terpapas kutung. Ah, Celaka talipun tersabet kutung bagus, hai, serangan itu luput. Celaka, gaetan kembali putus, kini Cong-thocu pakai tangan kosong untuk melajaninya, wah, manusia itu kejam sekali. Bagus, kini Bu Tim totiang maju. Cong-thocu mundur."

Mendengar itu legahlah hati Bun Thay Lay.

Dia tahu bahwa tojin itu ilmu pedangnya lihai sekali.

Selama mendengari keterangan jalannya pertempuran itu tadi, Bun Thay Lay sampai mengeluarkan keringat dingin karena menguatirkan keselamatan pemimpinnya.

Pada lain saat terdengarlah suara tereakan yang mengagetkan dari orang banyak-banyak, maka bertanyalah Bun Thay Lay pada isterinya.

"Totiang mengeluarkan ilmu permainannya Tui-hun to-beng-kiam, santernya bukan main, Ciauw Cong selalu main mundur-mundur saja,"

Kata Lou Ping.

"Coba lihatlah,, apakah kakinya itu masih menginyak pada langkah pat-kwa?"

"Ah, dia melangkah ke kian-wi, kini ke kian-kiong lalu menginyak Cin-wi, benarlah, bagaimana kau bisa menge tahuinya?"

Tanya Lou Ping dengan heran.

"Manusia itu bugenya tangguh sekali, kujakin dia tentu bukan mundur sewajarnya. Dalam salah satu jurus ilmu pedang kaum Bu Tong Pai ada yang di gunakan untuk melelahkan tenaga musuh dengan main mundur-mundur setelah itu baru balas menyerang. Sekarang dia tentu akan menginyak kelangkah pat-kwa, sayang , sayang !"

"Sayang apa?"

Tanya sang isteri.

"Sayang aku tak dapat menyaksikan. Orang yang bisa men jalankan ilmu pedang itu, tentu sempurna sekali kepandaian nya. Dmu itu baru dikeluarkan bila betul-betul bertanding dengan musuh yang tangguh. Pertempuran seperti itu, jarang sekali kita bisa menyaksikannya."

"Totiang kini gunakan ilmu tendangan lian-hoan-bi-jong-thui yang lihai tak tertara, koko!"

Tiba-tiba Lou Ping berseru.

"Ja, karena dia kekurangan sebelah tangan, maka dia jakinkan kakinya dengan sempurna untuk menutup kekurangan itu. Kuingat, ketika bertempur dengan kaum Ceng Ki Pang, diapun gunakan ilmu tendangan itu untuk menga lahkannya,"

Kata Bun Thay Lay.

Kiranya semasa mudanya Bu Tim Tojin telah penuh berkeCimpung dalam pertempuran.

Banyak-banyaklah sudah dia melakukan gerakan besar.

Bugenya lihai, ambeknya tinggi.

Kawanan pembesar betul-betul tobat terhadapnya.

Tetapi ketika pada suatu hari dia berjumpa dengan seorang gadis dari keluarga seorang pembesar, entah apa sebabnya, dia telah jatuh hati.

Gadis itu sebenarnya tak mau membalas Cinta nya, tapi karena mendapat anyuran ayahnya, ia pura-pura mau menerima kunyungan Bu Tim pada suatu malam.

"Kau sebenarnya tak sungguh-sungguh menyintai aku,"

Demikian gadis itu mainkan aksinya. DiCengkeram oleh asmara yang ber-kobar 2, Bu Tim bersumpah kerak-keruk. Gadis itu tetap tertawa .

"Kaum lelaki itu, memang mudah saja mengucapkan sumpah. Kalau kau betul-betul Cinta padaku, kau kutungilah sebelah tanganmu."

Tanpa berpikir panyang , pemuda yang dimabuk asmara itu, segera menCabut pedang dan menabas kutung lengan kirinya.

Berbareng pada saat itu, keluarlah barisan bayhok kawanan polisi, untuk merejengnya.

Karena sakitnya, Boe Tim pingsan tak sadarkan diri, dan dengan mudah dapatlah dia ditawan.' Boe Tim di jatuhi hukuman panggal kepala.

Ketika saudara seperguruannya mengetahui, mereka ber sarekat dengan orang-orang gagah untuk merampok penyara dan menolongnya.

Juga sigadis sekeluarga ditawan untuk menunggu putusan Bu Tim.

Orang menduga Bu Tim tentu akan bunuh mati mereka atau tetap akan memperisterikan gadis tersebut.

Tapi ternyata tidak demikian.

Melihat wajah gadis yang diCintainya itu, hati Boe Tim luluh.

Disuruhnya melepaskan gadis dan keluarganya semua, dan dia dengan diam-diam pergi dari kota kediamannya itu, ia mengasingkan diri dan tirakat menjadi imam.

Sekalipun sudah menyuCikan diri, namun adatnya masih belum berobah.

Karena itu dia diminta menjadi pembantu dari Ie Ban Thing yang waktu itu mulai mendirikan Hong Hwa Hwe Pada suatu ketika Hong Hwa Hwe telah bentrok dengan Ceng Ki Pang.

Dan ke 2 fihak sama-sama setuju menCari penye lesaian dengan adu silat.

Kaum Ceng Ki Pang mengejek Bu Tim hanya bertangan satu.

Karena marahnya, Bu Tim sumbar minta dikerojok.

Dan benar, malah dengan mengikat tangannya yang tinggal satu itu dengan tali dia gunakan ilmu tendangan 'lian-hoan-bi-jong-tui' yang lihai itu untuk merobohkan beberapa jago fihak musuhnya.

Melihat itu fihak Ceng Ki Pang merasa kagum dan menyatakan menggabung dalam Hong Hwa Hwe Thiat-tha Nyoo Seng Hiap sebenarnya dulu adalah orang Ceng Ki Pang.

Di Hong Hwa Hwe kini dia menduduki kursi no.

delapan.

Baiklah hal itu kita tinggalkan dulu dan menenengok keadaan Lou Ping yang menjadi juru bicara untuk suami nya mengenai jalannya pertempuran itu.

Katanya .

"Tindakan kaki Ciauw Cong kini agak kalut melajani tendangan totiang. Sekarang dia sudah menginyak jalan pat-kwa".

"Bagus, dia belum pernah bertemu dengan tandingannya. Kali ini tentu Ciauw Cong mengetahui sampai dimana-mana kelihaian orang-orang Hong Hwa Hwe kita."

Kata Thay Lay. Tapi pujian itu telah dijawab dengan tefeakan .

"Celaka"

Dari Lou Ping, sudah tentu Bun Thay Lay kaget dan Buru-buru menanyakannya.

"Totiang telah sibuk berkelit kesana sini, orang itu entah sedang melepas senjata rahasia apa, rupanya sangat kecil sekali!"

Sahut sang isteri. Bun Thay Lay pusatkan perhatiannya untuk mendengarkah dan ternyata suara yang bersiutan itu lemah sekali kedengarannya.

"Ah, itulah jarum hu-yong-Ciam dari Bu Tong Pai yang paling lihai !"

Tiba-tiba serunya. Dalam pada itu, karena berhenti ditanyakan, maka kereta itu mundur beberapa tombak kebelakang. Kemudian lagi-lagi Lou Ping berkata .

"Totiang telah memutar pedangnya bagaikan kitiran Ce-patnya. Jarum 2 itu satupun tak ada yang mengenai. Kini ke 2nya bertempur lagi, dan kembali totiang menang angin. Tapi Ciauw Cong sangat kuat dalam pemaelaan."

Bun Thay Lay segera minta isterinya membuka tali ikatan kaki dan tangannya.

Karena itu barulah Lou Ping ingat, lekas-lekas ia melakukan apa yang diminta.

Tiba-tiba diluar terdengar suara gemerentyang yang keras sekali, maka Buru-buru Lou Ping melongok keluar.

"Wah, Celaka, pedang totiang telah dipatahkan. Orang she Thio itu betul-betul lihai. Eh, koko, aku telah memperoleh seekor kuda bagus untukmu,"

Dalam suasana yang mendesak itu tiba-tiba ia teringat akan kuda putihnya.

"Ah, salah, mengapa harus ter-Buru-buru . Coba kau lihat lagi totiang", kata Bun Thay Lay dengan tersenyum.

"Kali ini totiang berhasil menendang paha lawan, dan orang itu mundur beberapa tindak dan kini Tio samko yang melajani".

"Totiang sekalipun sudah menjadi orang beribadat, tapi adatnya masih suka umbar kemarahan dengan memaki-maki. Kau tuntun aku keluar, kuduga Tio samko tentu akan adu senjata rahasia dengan Ciauw Cong". Lou Ping sedianya akan menuntunnya tapi terjata luka dipaha dan lengan suaminya itu begitu hebat, hingga dia sampai menyerit ketika akan berbangkit. Lou Ping minta suaminya supaya mengasoh didalam kereta itu saja, biar ia yang menyampaikan tentang jalannya pertempuran itu. Bun Thay Lay pernah mejakinkan "am ki thing hong sut", mendengarkan samberan angin dari senjata rahasia. Maka begitu ada semaCam bunyi menderu lantas dia mengatakan bahwa itulah "siu-Cian" (panah kecil) dan lain saat ia berseru .

"Ah, itulah hui-hong-Ciok (batu belalang terbang)."

"Bukan, tadi dia menyambuti semua senjata rahasia yang dilepaskan oleh Tio samko, dan kini dia mengemba likannya. Ah, samko betul-betul mempunyai seribu tangan, bagaimana dalam sekejap saja dia bisa sambitkan sekean banyak-banyak senjata rahasia. Ha, betul-betul seperti hujan, kasihan, lebih baik orang she Thio lari sembunyi saja,"

Demikian Lou Ping.

Selama memberi komentar itu, Bun Thay Lay menampak bagaimana aju dan menarik wajah isterinya itu, dan tanpa terasa hatinya bergontyang keras.

Sampai 2 dia terlunCur untuk memanggilnya.

Dengan bersenyum manis, Lou Ping berpaling kearah suaminya.

Sedang pada saat itu, Tio Pan San telah mengeluarkan senjata simpanannya, jakni yang satu disebut "hui-liong-pik"

Dan yang lain "hui-yan-gin."

Dia arah lawannya dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Tio Pan San adalah orang UnCiu dari wilayah Ciatkang.

Semasa kecilnya dia pernah ikut ayahnya untuk berdagang ke Lam Yang, Didaerah Lam Yang itu dia merasa ketarik dengan semaCam senjata karet dari penduduk peribumi yang kalau dilemparkan bisa kembali sendiri.

Pan San adalah murid dari Thay Kek Bun, keistimewaannya terletak dalam soal senjata rahasia.

Kesan dari senjata penduduk Lam Yang itu, telah mendorongnya untuk menCiptakan semaCam senjata yang disebutnya "hui-liong-pik"

Atau naga melilit. Dan "hui-yan-gin"

Atau burung walet perak itu, adalah juga dari hasil pejakinannya yang mendalam.

Jilid 11 CIAUW CONG pindahkan pedangnya ketangan kiri, tangan itu dia gunakan untuk menyampok pergi datang semua senjata rahasia yang kecil 2.

Sedang tangannya kanan tak putus-putus menyang gapi kemudian mengembalikan senjata-nyata rahasia yang agak besaran.

Tiba-tiba dia kaget menampak ada semaCam senjata yang berlegat-legot melunCur dari udara akan menyambar mu kanya.

Kuatir senjata itu beraCun, Ciauw Cong tak berani memegang kepalanya tapi menyemput ekornya.

Dia tak mengira kalau "naga"

Itu bagaikan naga hidup saja.

Begitu tangan Ciauw Cong menyawut, benda itu berputar kembali terus melayang balik kepada tuannya, siapa segera menyam-butinya lagi dan lalu menyambitkannya pula.

Bukan main terkejutnya Ciauw Cong.

Kini dia tak mau"

Menyang gapi dan hanya akan memakai pedangnya untuk menyampok. Tapi tiba-tiba dari arah kanan dan kiri, 2 buah "hui-yan-gin"

Menyambarnya.

Buru-buru Ciauw Cong enyot kaki loncat tinggi-tinggi sehingga ke 2 senjata itu menemui tempat kosong.

Tapi diluar dugaan, begitu mengenai tanah, hui-yan-gin itu membal keatas menyambar pada Ciauw Cong.

Karena tak keburu berkelit, Ciauw Cong kerahkan lwekangnya dan berhasil menyambutinya yang sebuah.

Tapi yang sebuah lagi, tak keburu dihindarinya dan menyusup kedalam pahanya.

Melihat lawannya terluka Tio Pan San memburu untuk menikamnya lagi.

Untuk itu, Ciauw Cong gunakan pedangnya.

Karena tahu bahwa dia berhadapan dengan pokiam, Pan San mengegoskan tubuh, hingga pedangnya menempel disisih pedang musuh.

Dia gunakan ilmu "menyedot"

Dari Thay Kek Kiam, hingga pedang Ciauw Cong tertarik kesamping.

Atas gerakan itu, tersentaklah hati Ciauw Cong.

Semula dia akan gunakan kepandaiannya yang menggetarkan setiap orang itu untuk menundukkan lawan, tak tahunya malah pahanya terluka senjata musuhnya.

Melihat gelagat jelek, dia tak mau melanyutkan pertempuran lebih lama lagi.

Dia menatap kearah Kawan-kawan nya, tapi ternyata rombongan si-wi sudah ter-birit 2 lari.

Begitu pula kereta tawanan, pun sudah direbut musuh.

Karena gelisah, dia desak musuh dengan tiga kali serangan.

Begitu orang mundur, dia Cabut senjata rahasia yang me nanCap dipahanya, terus ditimpukkan pada lawan.

Pan San tundukkan kepalanya untuk menghindar, tapi saat itu telah digunakan oleh Ciauw Cong untuk memburu kearah kereta tawanan.

Sewaktu melihat Ciauw Cong terluka, Lou Ping me-nari 2 karena riangnya.

"Sipsu-tee Hi Tong bagaimana? Dia terluka berat apa tidak?"

Tanya Bun Thay Lay.

"Siapa? Sipsu-tee, dia terluka?"

Sahut sang isteri.

Belum ucapannya itu habis, Ciauw Cong menyerbu kedalam kereta.

Dan berbareng dengan itu, Lou Ping menyerit kaget, karena sepasang goloknya terpental disampok Ciauw Cong, jatuh dimuka kereta.

Rombongan orang-orang HONG HWA HWE segera mengepung kereta itu.

Ciu Tiong Ing lantas menyeli nap kemuka dan tegakkan goloknya besar untuk menghadang.

"Bagus, manusia semaCam kau berani datang ke Thiat-kee-Chung untuk mengambil orang. Betul-betul kau tak pandang mata pada lohu ini. Tidakkah kau mengerti akan aturan kangouw atau bu-lim?"

Teriak orang tua itu segera.

Melihat yang berdiri dihadapannya seorang tua yang berjenggot putih dan gagah sikapnya, tahulah Ciauw Cong bahwa dialah tentu ketua dari kaum persilatan daerah barat laut si Thiat-tan Ciu Tiong Ing.

Dia tak mau berlaku ajal lagi terus menikamnya.

Tiong Ing Cepat-cepat balikkan goloknya, untuk menangkis serangan musuh dengan gigir golok.

Gerakan pedang Ciauw Cong linCah dan keras.

Begitu dia tarik ujung pedang, gigir golok musuh telah tergurat beberapa dim dalamnya.

Berbareng pada saat itu, Ciu Ki, Ciang Bongkok, Ji Thian Hong dan ke 2 persaudaraan Siang dengan menghunus senjatanya masing-masing telah berbareng menyerbu pada Ciauw Cong.

Dengan gerakan "hun-heng Cin-nia,"

Mega menghalang punCak gunung Cin-nia, Ciauw Cong putar pedangnya ling-bik-kiam hingga merupakan suatu lingkaran.

Karena jerih dengan pokiamnya, orang-orang HONG HWA HWE itu sama menarik senjatanya.

Ciauw Cong memilih lawan yang terlemah, jakni menyerbu pada Ciu Ki.

Nona ini Buru-buru angkat goloknya untuk menabas kepala orang, tapi gerakan Ciauw Cong lebih sebat.

Tangannya kiri memegang pergelangan tangan sinona dan dilain saat golok sinona sudah dapat direbut.

Melihat itu, tak terkira terkejutnya Tiong Ing.

SeCepat-cepat itu juga, ke 2 thiat-tannya telah susul menyusul menghantam punggung Ciauw Cong.

Dan berbareng pada saat itu juga, Tan Keh Lok telah melepas tiga butir biji Catur kearah "jwan-ma,"

"Kwan-gwan"

Dan "Ciok-ti"

Tiga jalan darah yang berbahaja.

Sampai disini kederlah hati Ciauw Cong.

Dia tergetar melihat bagaimana dalam gelap itu, musuh dapat menyambit kearah jalan-darah, maka Cepat-cepat dia putar leng-bik-kiam-nya untuk menyampok ketiga biji Catur itu.

Tapi pada detik itu, gembolan Tiong Ing sudah menyambar datang.

Cepat-cepat dia putar tubuhnya untuk menyang gapi gembolan yang datang pertama.

Tapi tidak tahunya gembolan ke 2 yang datang belakangan malah menimpah tepat di dadanya.

Tiong Ing dapat meng'angkat nama karena mengandel dengan thiat-tannya itu.

Dia mempunyai suatu gerakan yang istimewa.

Yaitu gembolan yang dihantamkan lebih dulu gerakannya pelan, dan menyusul belakangan malah lebih keras dan Cepat-cepat .

Karena itulah kebanyak-banyakan, musuh tak mengira sama sekali.

Begitu pun Ciauw Cong, seketika dia rasakan dadanya sesak dan sakit sekali sampai tubuhnyapun menjadi tergetar.

Dengan menahan napas, dia kibaskan ke 2 tangannya untuk menolak Ciang Bongkok dan Ji Thian Hong, dan dari situ terus lari kearah kereta.

Lou Ping hendak menyambut dengan golok panyang .

Tapi sekali tangkis, goloknya itu telah terpapas kutung oleh poo-kiam Ciauw Cong, siapa meneruskan gerakannya loncat keatas dan menCengkeram pundak Lou Ping.

Dengan Ceng keraman baja itu, Lou Ping tak kuasa menggerakkan goloknya pendek lagi.

Namun ia masih dapat tamparkan tangannya kiri untuk menyotos muka lawannya.

Orang-orang HONG HWA HWE kaget dan kuatir, mereka berbareng datang menolong.

Tapi seCepat-cepat itu, Ciauw Cong telah lemparkan Lou Ping kearah ke 2 saudara Siang dan Tiong Ing.

Sudah tentu mereka dengan gugup menyang gapinya, karena kuatir jangan 2 Lou Ping sampai terluka.

Tiba-tiba Ciauw Cong kedengaran menggerung.

Punggung nya kena dihantam Bun Thay Lay sekali.

Syukur bugenya sempurna, dan Bun Thay Lay masih dalam keadaan sakit, jadi tenaganya sangat berkurang, kalau tidak tentu remuklah sudah jerohan orang she Thio itu.

Sekalipun begitu, sakitnya bukan kepalang.

Dan justeru hantaman ke 2 dari Bun Thay Lay menyambar datang lagi, karena tak keburu berkelit, Ciauw Cong Buru-buru tarik selimut yang dipakai orang untuk membungkus kepala Bun Thay Lay, dengan itu dia pakai untuk merangkum tangan Bun Thay Lay.

Menyusul tangannya diulur untuk notok jalan darah tawanannya yang seketika itu segera pingsan tak dapat berkutik.

Dengan menyeret Bun Thay Lay kemuka kereta, berserulah Ciauw Cong .

"Bun Thay Lay berada dalam tanganku, siapa yang berani maju, tentu lebih dulu kubunuh saudaramu ini !"

Untuk membuktikan anCamannya, Ciauw Cong tandaskan pokiamnya kebatang leher tawanannya.

"Koko!"

Lou Ping menyerit seraja menubruk maju, tapi keburu ditarik oleh Hwi Ching. Sedang ketika habis mengucap itu, Ciauw Cong rasakan mulutnya terasa anyir, dan sekali batuk, dia muntahkan darah segar.

"Ciauw Cong, kau masih kenal aku apa tidak?"

Demikian seru Hwi Ching tiba-tiba sambil tampil kemuka.

Ciauw Cong sudah lama berpisah dengan suhengnya itu, apa lagi malam itu gelap, jadi tak dapat dia segera me ngenalnya.

Hwi Ching Cabut pek-liongkiamnya,"

Ujungnya ditekuk sampai mengenai tangkainya, kemudian dilepaskan HALAMAN YG HILANG "Wi kiuko, Ciang sipsamko, Beng toako, An toako, kau serbulah kawanan serdadu-itu!"

Tiba-tiba Tan Keh Lok mem beri perintah segera juga Wi Jun Hwa dan lain-lain. lakukan pe rintah itu. Berbareng pada saat itu, seorang pemuda tiba-tiba tampil dari belakang Hwi Ching dan berseru .

"Aku juga ikut !"

Dan tanpa menunggu sahutan, ia terus mengikuti rom bongan penyerbu itu.

Tan Keh Lok tampak mengangkat alis dan bersenyum.

Kiranya dialah Li Wan Ci, murid Hwi Ching, yang menyaru sebagai lelaki itu.

Ketika Hwi Ching tinggal dibelakang untuk menyaga kemungkinan pembalasan dari Go Kok Tong cs, dia telah berjumpa dengan muridnya.

Karena beberapa hari itu ia saksikan pertempuran yang menarik, maka setengah me maksa Wan Ci minta ikut suhunya.

Apa boleh buat, Hwi Ching lebih dulu menyuruhnya berjanyi takkan bertindak sembarangan sebelum mendapat ijin dari suhunya, baru setelah itu diajaknyalah ia.

Begitulah Wan Ci tinggalkan sepuCuk surat kepada Li thay-thay, menerangkan bahwa ia akan berangkat ke Hang-Ciu lebih dulu, untuk menemui ayahnya.

Dan ketika suhu dan murid ber 2 ini tiba justeru pertempuran antara orang HONG HWA HWE dan Ciauw Cong sedang berlangsung.

Hwi Cing melarangnya ikutsan, sudah barang tentu gadis itu menjadi kurang senang.

Maka begitu Wi Jun Hwa dipe rintahkan menyerbu, tanpa menghiraukan apa-apa, ia terus ikut saja.

Sementara itu Keh Lok memberi beberapa pesanan pula pada kawan^nya, mereka sama mengiakannya.

Segera Tio Pan San melompat maju, sekali tangan mengibas, 2 buah pa nah telah menancap pada sepasang mata keledai yang menarik kereta Ciauw Cong.

Dengan bebenger keras, binatang itu binal dan me-lonyak 2 keatas.

Ciang.

Bongkok berlari maju menuju kebelakang kereta.

Dengan sekuat-kuatnya dia tarik kereta itu hingga tak dapat berjalan lebih lanyut.

Siang He Ci dan Siang Pek Ci ber 2 berada disebelah kanan dan kiri kereta.

Mereka menyerang Ciauw Cong dengan senjatanya.

Dan ketika Ciauw Cong menangkis, Seng Hiap membarengi loncat kedalam kereta untuk merampas Bun Thay Lay.

Cepat-cepat Ciauw Cong menghantamnya, tapi Seng Hiap telah miringkan tubuh, gunakan pundaknya untuk menerima pu kulan lawan, lalu dengan nekad dia membopong Bun Thay Lay.

Untuk melindungi Seng Hiap dari hajaran Ciauw Cong lebih jauh, maka Bu Tim dan Thian Hong menobros masuk dari belakang dan terus menyerang pung gung Ciauw Cong.

Sedang Tan Keh Lok ajak Sim Hi loncat keatas kereta, dari situ mereka membungkukkan badan untuk menghantam kebawah.

Jadi kini Ciauw Cong diserang dari semua jurusan, kanan kiri, muka belakang dan atas.

Melihat Seng Hiap dapat menerima pukulannya dengan tak merasa apa-apa, terkejutlah Ciauw Cong.

Dia duga anak muda itu punya ilmu thiat-po-san.

Ketika Seng Hiap nekad merampas Bun Thay Lay, Ciauw Cong jambak punggung bajunya dengan tangan kiri, sedang tangannya kanan dia pakai untuk menangkis serangan ke 2 persaudaraan Siang.

Sehabis itu, dia empos semangatnya untuk melemparkan tubuh Seng Hiap yang besar itu keluar kereta.

Hwe-Chiu-poan-koan Thio Ciauw Cong seakan-akan ber mata enam, bertelinga delapan.

Dalam keadaan yang genting itu, tetap dia masih dapat mendengar samberan senjata dari atas pajon dan dari belakang kereta.

SeCepat-cepat dia Condongkan tubuh kemuka sembari men dongak, tangan kirinya sudah menyemput serangkum 'hu-yong-Ciam'.

Dan dengan miringkan tubuh, dia segera tawur kan jarum 2 itu kepajon dan belakang kereta.

Tan Keh Lok yang mengerti bahwa musuh tentu melepaskan senjata rahasia, Buru-buru hadangkan tun-Painya kemuka.

Tidak demikian dengan Sim Hi yang terus menyerit dan melorot turun ketanah.

Buru-buru Tan Keh Lok loncat kebawah untuk memeriksanya.

Sehabis itu, Ciauw Cong ganti mengarah kebelakang kereta.

Tapi dengan sebat luar biasa, Bu Tim telah buang dirinya keluar untuk mendahului samberan hu-yong-Ciam.

Karena tak .sesebat itu, Thian Hong Coba gunakan selimut untuk melindungi diri.

Tapi ternyata jarum 2 itu dapat menyusup terus, masuk kedalam, pundaknya.

Rasa sakit ke semutan menyerang dengan hebatnya dan karena tak tahan, terpelantinglah dia kebawah.

Untung Ciang Bongkok keburu menyang gapinya.

"Chit-ko, bagaimana kau?"

Tanya saudara angkat itu. Tapi baru saja bertanya begitu, dia sendiri rasakan pundaknya sakit bukan main. Ternyata sebatang anak panah telah memakannya.

"Saudara-saudara sekalian hendaklah berkumpul rapat 2,"

Seru Keh Lok.

Dalam pada itu panah sudah menghambur dari belakang.

Sambil sebelah tangannya memegang pundak Bu Tim, Ciang Bongkok berusaha menangkis hujan panah itu dengan tangan kanannya.

Bu Tim larang si Bongkok bergerak, lalu menCabut batang panah yang menancap dipundaknya itu, kemudian dibalutnya dengan robekan ujung bajunya.

Pada saat itu, jelaslah kini untuk fihak manakah bala bantuan itu datang.

Bagaikan arus gelombang, ribuan barisan tentara Ceng telah menghampiri datang.

Kini semua anggauta HONG HWA HWE sudah bertempur dengan berkumpul, maka bertanyalah Tan Keh Lok .

"Siapa diantara 2 orang dari saudara-saudara yang sedia menyerbu?"

Bu Tim dan Wi Jun Hwa serentak menyatakan kesediaan nya.

"Baiklah, kini kita harus lekas-lekas berpenCar, untuk mundur kebelakang bukit disebelah sana."

Dan setelah memberi perintah itu, kembali Tan Keh Lok berseru.

"Tio samko, Siang ngo-ko dan liok-ko, kita serang lagi kereta itu !"

Begitulah Bu Tim dan Wi Jun Hwa menobros hujan panah itu.

Dengan tangan kosong, Bu Tim dapat merampas sebatang pedang, dengan senjata itu dia ikut Jun Hwa untuk membuka jalan darah.

Dalam sekejab saja, ke 2 nya telah menyusup jauh kedalam barisan musuh.

Tapi biar bagaimana gagahnya ke 2 jago itu, mereka tak kuasa membendung arus tentara Ceng yang membanyir itu.

Sebaliknya Ciauw Cong girang dan bangun lagi semangat nya.

Tapi diapun insyap bahwa lukanya berat, dan justeru seperti yang dikuatirkan, benar 2 Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya kembali menyerang lagi.

Ciauw Cong tak berani berlaku ajal, terus angkat tubuh Bun Thay Lay keatas, untuk di bolang-balingkan.

Sedang ketika itu berpuluh 2 barisan kuda telah menerdyang Tan Keh Lok dengan goloknya.

Apaboleh buat, Keh Lok berempat segera mundur kebelakang bukit.

Disitu sudah berkumpul lengkap semua orang HONG HWA HWE Hanya Bu Tim dan Jun Hwa yang masih belum datang.

Dan juga lain rombongan yang terdiri dari Thian Hong, Ciu Ki, Wan Ci, Ciu Tiong Ing dan Beng Kian Hiong.

Ketika Tan Keh Lok menanyakan mereka, maka Ciang Bongkok yang masih rebahan ditanah, Cepat-cepat menyahut.

"Chit-ko (Thian Hong) terluka, apakah ia belum kembali? biarlah kususumja."

Tanpa menghiraukan luka dipundaknya yang masih belum baik itu, si Bongkok berbangkit, menyembat sepasang kam paknya terus akan lari.

Tapi ternyata masih sempojongaci jalannya.

Melihat itu Buru-buru Ciok Siang Ing menCegahnya dengan mengatakan dia saja yang pergi.

Cio Su Kin se rentak menyatakan mau ikut.

"Cio sipsamte, kau bersama suso supaya menyerang ketepi sungai, dan sediakanlah perahu 2'."

Demikian Keh Lok me la.rang Su Kin ikut Siang Ing menCari Thian Hong.

Hati Lou Ping terasa kosong dan bingung, tanpa berkata apa-apa ia ikut Su Kin kesana.

Sedang Ciok Siang Ing dengan membekal golok, terus naik kuda untuk berangkat.

Kini daerah pertempuran itu se-olah 2 penuh terisi.

dengan tentara Ceng, hingga sukarlah bagi Siang Ing, dimanakah Thian Hong itu kini sedang berada.

Apaboleh buat, dia terpaksa membuka kepungan musuh untuk menCarinya.

Tetapi belum lagi berapa lama Siang Ing pergi, Ciu Tiong Ing dan Beng Kian Hiong sudah tampak datang kebelakang bukit itu.

Buru-buru Keh Lok menanyakan kepada Tiong Ing, kemanakah puterinya.

Tiong Ing kaget dan Cemas, dia hanya meng-geleng 2kan kepalanya.

Tiba-tiba Hwi Ching pun sibuk sambil membanting 2 kaki, katanya.

"Muridku itupun hilang, biar kumenCarinya."

An Kian Kong menyatakan ikut, Tan Keh Lok minta Tio Pan San, Siang-si Siang-hiap, Nyo Seng Hiap dan Beng Kian Hiong berlima untuk menyaga tempat itu, sedang Sim Hi dan si Bongkok yang terluka disuruhnya mengaso.

Habis itu pemimpin HONG HWA HWE tersebut loncat keatas kudanya terus me nyerbu kedalam barisan pemanah musuh.

Sekali memban dring, bola bajanya telah dapat merobohkan 2 orang serdadu pemanah.

Dan seCepat-cepat itu, dia rampas ke 2 busur mereka.

Dengan bertereak 2 barisan Ceng menyerbu dengan tombak nya.

Tapi mereka segera dihajar dengan tiga buah bola baja dari Tan Keh Lok yang menghantam kian kemari.

Pada setiap hantaman, terdengarlah rintihan dari mereka yang roboh atau terpental busurnya.

Sekejab saja, pemimpin muda itu telah dapat merampas delapan busur, terus melarikan kudanya mundur.

Tiba-tiba keadaan dibelakang kawanan barisan kuda itu men jadi kaCau.

Dan pada lain saat, tampaklah beberapa penunggang kuda mengamuk.

Yang dimuka, ternyata adalah Bu Tim tojin, yang gunakan ilmu pedang 'Cui-hun-to-beng-kiam.' Mengikut dibelakangnya adalah An Kian Kong dan Wi Jun Hwa, Hanya saja yang tersebut.

belakangan ini, badan nya telah berlumuran darah.

Tan Keh Lok kaget tak terkira, terus maju mengham piri.

Melihat bagaimana keempat orang itu mengamuk seperti banteng ketaton, pasukan Ceng jerih dan terpaksa membuka jalan untuk kasih mereka lari kebelakang bukit.

Setelah menerimakan busur 2 rampasan tadi kepada Tio Pan San, Tan Keh Lok Buru-buru menengok Jun Hwa.

"Karena kehabisan tenaga, kiu-te (Jun Hwa) menggigau tak ingat orang,"

Menerangkan Bu Tim.

Dan betul juga Jun Hwa masih melantur ber-kaok 2 akan membunuh semua tentara musuh itu.

Kembali Tan Keh Lok menanyakan tentang Thian Hong cs.

Tanpa men jawab, Bu Tim berbangkit akan pergi lagi.

Tan Keh Lok menambahi keterangannya, bahwa Ciu Ki dan murid dari Liok Hwi Ching juga belum diketahui berada dimana.

Ketika nampak Bu Tim munCul lagi, seorang Cian-Cong (pemimpin barisan kuda) maju menombaknya.

Tapi dengan sekali gebrak saja, sambil berkelit dan menabas, Bu Tim telah dapat membikin roboh Cian-Cong itu.

Melihat sang pemimpin binasa, bujarlah sekalian anak buahnya.

Kembali Bu Tim meneruskan menCari Kawan-kawan nya.

Tiba-tiba ia melihat segundukan tentara tengah ber-tereak 2 dengan gemparnya.

Rupanya mereka sedang mengepung se seorang.

Cepat-cepat Bu Tim jejak perut kudanya untuk meng hampiri.

Kembali ada seorang Cian-Cong menghadang.

Tapi belum sempat membuka mulutnya menegur, tahu-tahu sinar putih berkelebat dan lehernya telah tersabet pedang.

"Cap-ji-long (Ciok Siang Ing), jangan takut, ji-komu sudah disini,"

Demikian seru Bu Tim.

Cok Siang Ing sedang melajani tiga orang perwira musuh, sedang tentara 2 itupun membantu untuk menombakinya.

Siang Ing betul-betul ripuh sekali, untuk sekean lama masih dapat ia bertahan, tapi lama-lama habislah tenaganya.

Tapi ketika mendengar seruan Bu Tim.

seketika kembalilah seluruh semangatnya.

"Sudah dapat menemukan Chitko (Thian Hong) belum ?"

Tanyanya dengan gembira.

"Kau serbu saja kemuka, jangan hiraukan yang belakang,"

Sebaliknya Bu Tim kedengaran memberi peringatan padanya.

Siang Ing betul-betul menyalankan seruan ji-konya itu.

Se lagi ia dapat maju kemuka, tiba-tiba dari arah belakang ter dengar jeritan yang menyeramkan.

Siang Ing berpaling kebelakang, dan nampak ketiga perwira tadi sudah terhampar binasa.

Diam-diam dia tunduk akan kelihaian ji-konya itu.

Tadi hampir setengah harian, ia tempur ketiga perwira itu, tapi belum dapat keputusan.

Tidak disangka, bahwa Cu kup dengan beberapa gebrak saja, Bu Tim telah dapat membereskan mereka.

Begitulah dengan selamat, ke 2nya bisa datang kebelakang bukit.

Namun Thian Hong, Ciu Ki dan Wan Ci tetap belum kelihatan disitu.

Sementara itu fihak tentara sudah dapat mengetahui bukit tempat persembunyian orang-orang HONG HWA HWE itu.

Seorang pat-Cong (perwira) dengan membawa ber-puluh 2 anak buah, segera melakukan sergapan.

Tio Pan San, Siang-si Siang-hiap dan Beng Kian Hiong adalah achli pelepas senjata rahasia.

Begitu busur dijam bret, maka belasan serdadu itu segera roboh.

Melihat itu, Kawan-kawan nya sama mundur, hanya menyaga ditempat yang agak jauh.

Lalu Keh Lok tuntun kudanya mendaki keatas bukit dan minta agar Kian Hiong suka bantu memegang les binatang itu, lalu ia berdiri diatasnya untuk memandang kesekeliling nya.

Diketahuinya bahwa rombongan besar tentara negeri telah berangkat menuju kebarat, dan hanya meninggalkan beberapa ratus anak buahnya untuk mengepung bukit itu.

Tiba-tiba terdengar bunyi terompet, dan sebuah rerotan yang mirip dengan sisik naga kelihatan bergerak datang.

Dari Cahaja obor yang dibawa oleh rombongan tentara itu, tam paklah sebuah bendera yang tertuliskan huruf besar 2.

"Ceng-se-tay-Ciangkun Yauw Hui."

Barisan ini sama me nunggang kuda teji yang besar 2.

Mereka sama menghunus sangkur dan tombak.

Dan gemerinCingnya gerakannya itu, menandakan bahwa pasukan itu diperlengkapi dengan baju baja.

Bu Tim makin gelisah, terus akan keluar lagi untuk men Cari Thian Hong cs.

Siang He Ci Coba menCegahnya, namun tojin itu tetap tak menghiraukan dan terus keprak kudanya.

Kawanan tentara itu Cukup kenal akan kelihaian sitojin yang selama pertempuran tadi telah berhasil membinasakan seorang"

Som-Ciang, seorang yu-kip dan seorang Cian-Cong.

Maka serentak mereka menghujani anak panah.

Bu Tim tarik les kudanya, lalu memotong kebawah dari samping bukit.

Dan sebelum kawanan barisan pemanah sempat menarik busurnya, tahu-tahu telah diterdyang oleh tojin itu.

Buru-buru mereka menyerang dengan senjatanya.

Bu Tim membolang-balingkan pedangnya, dan disana sini terdengar jeritan bebrapa serdadu yang kena terbabat.

Se telah dapat menyisihkan barisan pengepung itu, Bu Tim iarikan kudanya kesana sini memutari daerah pertempuran itu, namun tak juga Thian Hong kelihatan.

Tiba-tiba sebatang panah menyusup kearah perut kudanya, dan berbareng dengan robohnia binatansr itu, Bu Timpun terlempar jatuh.

Seorang Cian-Cong Cepat-cepat membarengi dengan tabasan golok, tapi Bu Tim keburu tendangkan kaki keudara untuk loncat kebelakang pelana penyerang nya.

Sekali sodok, terlemparlah Cian-Cong itu ketanah.

Kini balik kita tengok' pada rombongan orang-orang HONG HWA HWE yang masih berada dibelakang bukit.

Mereka gelisah me mikirkan Thian Hong.

Sekalipun tak dinyatakan, tapi hati masing-masing sama kuatir jangan 2 Thian Hong binasa dalam kanCah pertempuran yang gaduh itu.

Sekonyong-konyong terdengar derap kuda berlari datang.

Yang per-tama 2 munCul ke-bukit itu, jalah Cio Su Kin, siapa kedengaran ber-kaok 2 dengan kerasnya.

"Lekas mundur, lekas, thiat-ka-kun (barisan baju besi) sedang menyerbu kemari!"

Kiranya Ceng-se tayCiangkum Yauw Hui menerima firman kaisar Kian Liong untuk memimpin tentaranya kedae rah Hwe.

Agar supaya suku bangsa Hwe itu jangan sam pai keburu menimbulkan huru-hara, maka 'thiat-ka-kun' itu berjalan siang-malam.

Hari itu kebetulan mereka telah sampai ketempat ini.

Ketika pasukan perintisnya melapor, bahwa dimuka ada kawanan berandal yang menghadang.

Sekalipun jumlahnya kecil, tapi agaknya berandal itu lihai, hingga telah dapat membinasakan seorang perwira som-Ciang dan yu-ki.

Yauw Hui titahkan lekas-lekas mernburu kesana, ia lebih dulu kirim hu-Ciang, wakilnya Ong Pun Liang untuk memberesi "perampok"

Itu.

Dengan membawa 500 pasukan berbaju baja, Ong Pun Liang msmimpin penyerbuan.

Mengetahui kelihaian barisan itu, Cio Su Kin yang telah dititahkan untuk menyaga tepi sungai, Buru-buru lari kebukit.

Tan Keh Lok bertindak tegas.

Dia perintahkan untuk me lakukan penyergapan ketepi sungai.

Semuanya pun telah siap.

Hanya Ciu Tiong Ing kiranya yang masih memikiri puterinya.

Namun apaboleh buat, dalam suasana pertempuran semaCam itu, kiranya tak ada waktu luang untuk menCarinya.

Beng Kian Hiong, An Kian Kong, Ciok Siang Ing bergan tian mendorong Wi Jun Hwa keatas kuda.

Pada saat orang-orang HONG HWA HWE sudah siap diatas kudanya, pasukan baju baja sudah munCul.

Untuk menghindari diri dari barisan itu, Siang-si Siang-hiap dan Kawan-kawan nya| ambil jalan dari sebelah kanan bukit.

"Thiat-ka-kun menggunakan sin-kiong (panah sakti) yang dahsyat sekali tenaganya. Lebih baik kita tobros kawanan tentara Ceng itu,"

Demikian ajak ke 2 saudara Siang.

Dan mereka ber 2 segera menjadi pembuka jalan untuk menerdyang .

Ke 2 saudara Siang itu kini berganti senjata dengan sebatang golok dan yang satunya memakai tombak.

Begitulah mereka mulai membuka jalan darah, menuju ketepi sungai.

Melihat orang-orang HONG HWA HWE itu menyelinap kedalam rombongan tentara Ceng, barisan 'thiat-ka-kun' itu tak berani melepas panah, karena kuatir akan melukai kawannya sendiri.

Apaboleh buat terpaksa mereka mundur.

Dengan begitu kini tepi sungai Hoangho itu, penuh dengan tentara Ceng, barisan 'thiat-ka-kun' dan menyusul orang-orang HONG HWA HWE Cio Su Kin terus terjun kedalam sungai, untuk men Cari perahu.

Sedang Lou Ping Buru-buru menambatkan beberapa buah perahu pada sebuah tempat tambatan.

Lebih dulu dia angkut si Bongkok dan yang luka-luka masuk kedalam perahu.

"Ayo, kita lekas-lekas naik perahu! Totiang, Tio samko, Ciu-loenghiong, mari kita berempat", demikian seru nyonya muda itu. Tapi belum dia sempat menghabisi perintahnya, sebatang sin-kiong (panah kuat) telah menyambar.

"Celaka!"

Seru Bu Tim ketika tampak 'thiat-ka-kun' itu telah tiba dan menyerang.

Keempat tokoh itu, segera membalik badan untuk tempur barisan istimewa itu.

Bu Tim ajunkan pedang mengarah tenggorokan seorang serdadu 'thiat-ka-kun.' Tapi untuk ke kagetannya, pedang Bu Tim itu tak dapat menusuk masuk.

Kiranya mata pedang tojin itu sudah agak mandul, apalagi memang baju serdadu itu terbuat dari baja murni.

Dan sebagai pembalasan tombak 2 dari barisan 'thiat-ka-kun' itu telah melayang bagaikan hujan kerasnya.

Bu Tim lempar pedang dan gunakan tangannya untuk menyampok sebuah tombak, hingga terpental keatas udara.

Sedang Ciu Tiong Ing pun memburu untuk menghantam roboh beberapa musuh.

Tio Pan San yang masih punya be lasan tang-Chi (uang tembaga) dan thi-lian-Ci, Cepat-cepat me nimpukkan .pada mereka.

Namun bagaikan tak kena apa-apa, barisan baju baja itu tetap menyerbu.

Bu Tim yang pada saat itu telah dapat merebut sebatang tombak, terus menusukkannya kearah muka seorang dari mereka, yang seketika itu segera terjungkel.

Ternyata hanya bagian badan tentara itu saja yang ditutup dengan basja, sedang mukanya terdapat lubang 2 untuk mata dan hidung.

Oleh karenanya, Pan San kini mengarahkan senya tanya ke-bagian 2 tersebut.

Beberapa orang serdadu thiat-ka-kun sama menyerit dan menutupi mukanya.

Mata mereka telah kena tertimpuk buta.

Sedang orang-orang HONG HWA HWE, selain Tan Keh Lok berempat, se muanya sudah naik keatas perahu.

Thiat-ka-kun, selain mempunyai perlengkapan yang istimewa, pun telah mendapat gemblengan istimewa.

Betapapun ganasnya musuh, namun jago-jago HONG HWA HWE hanya berjumlah se-dikit, maka serdadu 2 'thiat-ka-kun' itu tetap maju menyer gap.

Tampak oleh Tan Keh Lok seorang perwira yang tengah memberikan perintah diatas kudanya, dengan gerakan "bu rung walet menyelundup keair"

Tan Keh Lok berloncatan menghampiri.

Perwira itu, adalah hu-Ciangkun Ong Pun Liang.

Begitu melihat ada sinar putih berkelebat datang, daripada membuang tempo untuk mengawasinya, dia lebih suka mengajunkan golok untuk menabasnya.

Tapi tabasan nya mengenai tempat kosong, sedang pergelangan tangannya dirasakan sakit sekali.

Malah untuk kekagetannya, goloknya telah dirampas dan tahu-tahu dia telah dikaet dan dilemparkan ketepi sungai.

"Tio samko, sambutilah ini!"

Teriak Keh Lok.

Cepat-cepat juga Tio Pan San menyang gapi tubuh si huCiang kun itu, Bu Tim dan Ciu Tiong Ing tahu akan maksud Keh Lok Cepat-cepat mereka lari ketepi sungai dan segera Pan San lemparkan tubuh tawanan itu kepada Bu Tim dan Bu Tim meneruskan kepada Ciu Tiong Ing.

Yang belakangan ini, setelah me-lempar 2kan tubuh orang beberapa kali keatas, lalu melemparkan kedalam sungai didekat perahu.

Su Kin tertawa gelak 2 menyaksikan kesemuanya itu, dia mem bungkuk untuk menyambret rambut Ong Pun Liang lalu diangkatnya naik kedalam perahu.

Di-tengah-tengah gegap gempita tereakan serdadu 2 Ceng, Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya enyot kakinya melayang kedalam perahu, yang terus dikajuh ketengah oleh Su Kien dan Lou Ping.

Tentara Ceng segera ber-teriak 2 terus menghujani panah, tapi dapat dipunahkan oleh orang-orang dalam perahu itu.

Dibawa oleh arus sungai Hoangho yang sedang naik airnya itu, sekejap saja 2 perahu yang memuat orang-orang HONG HWA HWE itu sudah hampir hilang dari pemandangan.

Karena tak berdaya, pasukan Ceng itu terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Diantara yang terli ka senjata rahasia, ternyata si Bongkok yang paling berat sendiri.

Sedang Sim Hi yang terkena jarum, dasar boCah, me-ngiang 2 tak berhentinya.

Sebagai acini senjata rahasia, Pan San pun achli juga dalam me ngobatinya.

Kawan-kawan nya yang terluka itu telah ditolong se periunya.

Selama dalam perjalanan "itu, Lou Ping seperti orang kehilangan semangat.

Dia pikiri suaminya yang masih diCengkeram dalam kuku garuda, disamping itu Thian Hong, Ciu Ki, Hwi Ching dan muridnya serta Hi Tong, belum di ketahui dimana rimbanya.

Suasana dalam perahu itupun, tampak bermurani sedih.

Tan Keh Lok totok jalan darah Ong Pun Liang supaya tersedar, lalu ditanyainya tentang tujuan pasukan 'thiat-ka-kun' itu.

Karena masih gelagapan, Pun Liang tak dapat menyawab, hal mana telah menimbulkah kemarahan Seng Hiap yang memberi persen sekali gaplokan.

"Ayo, kau bilang lekas,"

Bentak sipegoda besi itu.

"Ja, ja, aku bilang ja, bilang apa ?"

Sahut pembesar sial itu gelagapan.

"Untuk apa pasukanmu berjalan siang dan malam itu ?"

Bentak Keh Lok.

"Ceng-se tayCiangkun Yauw Hui menerima firman untuk selekasnya menggempur daerah Hwe, karena kuatirkan orang Hwe keburu mengendus berita dan terus mengadakan persiapan, maka kami harus berjalan Cepat-cepat ,"

Pembesar itu mengaku.

"Rakjat Hwe selama ini patuh 2 saja, mengapa akan di serang ?"

Tanya Keh Lok pula.

"Entahlah, ini aku tak mengetahui,"

Kata Ong Pun Liang.

Karena itu Keh Lok mengadakan analisa dari jumlah pa-sukan 'thiat-ka-kun,' jalan yang ditempuhnya dan maksud gerakan itu.

Dan Ong Pun Liang memberi keterangan dari apa yang diketahuinya.

"Perahu, menepi !"

Tiba-tiba Keh Tok berseru keras-keras.

Begitu perahu rapat pada tepi, rombongan orang HONG HWA HWE loncat kedarat.

Pada saat itu aruspun makin menghebat.

Keh Lok perintah Seng Hiap mengawal Pun Liang, lalu ka tanya kepada Siang-si Siang-hiap .."Ngo-ko dan liok-ko, harap kalian kembali kesana lagi.

Awasilah keadaan Bun-suko dan Carilah Chit-ko dan Ciu-sioCia serta Liok-locianpwe dan muridnya.

Dan kalau sam pai mereka ada yang kena apa-apa, ah, rupanya itupun sudah takdir."

Ke 2 persaudaraan Siang itu mengiakan serta berangkat kearah barat.

"Capji-ko, aku akan minta tolong padamu,"

Kata Keh Lok pada Ciok Siang Ing seraja terus menulis sepuCuk su rat.

"Tolong serahkan surat ini kepada Bok To Lun loeng hiong dari suku Wi itu. Sekalipun baru berkenalan, tapi tak boleh kita biarkan mereka teranCam bahaja. -Suso, pinyamilah kudamu itu pada Capji-ko."

Lou Ping menuju kehaluan perahu untuk menuntun kudanya.

Kalau semua orang HONG HWA HWE telah sama meninggal kan kudanya, adalah Lou Ping yang tetap tak mau berpisah dengan kuda yang disayang inya itu.

Demikian dalam 2 hari saja, sampailah Siang Ing kedaerah Wi.

Setelah men dengar kisikan pimpinan HONG HWA HWE itu, Bok To Lun tak berani berlaku ajal dan mempersiapkan penyagaan seperlunya.

Rombongan HONG HWA HWE itu meneruskan pelajarannya lagi hingga 20 lie jauhnya.

Setelah sampai ditepian sana, Keh Lok ajak semua saudara-saudaranya mendarat, tapi lebih dulu di suruhnya Su Kin ikat erat 2 huCiangkun Ong Pun Liang di dalam perahu, perahu mana didorongnya supaya berlajar terus ditengah sungai.

Kini kita tengok keadaan Ciu Ki yang telah ketinggalan dari rombongannya itu.

Ia tetap bertempur dengan gagah nya, Beberapa serdadu telah dirobohkan.

Tapi tentara Ceng itu makin lama makin bertambah jumlahnya.

Karena gu gup, nona tersebut.

segera keprak kudanya untuk loloskan diri.

Tapi baru berselang tak berapa jauh, kembali dia berpa pasan dengan serombongan tentara.

Ia tak mau menempur nya, dan memutar balik lagi.

Dalam kegelapan malam itu, entah terkena benda apa, tiba-kuda itu tersrimpet jatuh.

Sedang nona itu sendiri, karena sudah Cape dan gelisah, tak kuasa untuk menahan diri lagi, terus ngerusuk terlem par kebawah.

Kepalanya terbentur tanah keras-kerasdan ping sanlah ia.

Syukur karena gelap, serdadu 2 Ceng tak dapat mengetahuinya.

Entah sudah berselang berapa lama, ketika membuka mata, ia rasakan mukanya sejuk sekali terkena tetesan air yang menurun dari kepalanya.

Kiranya malam itu turun hu jan.

Dengan serentak dia loncat bangun, tapi seCepat-cepat itu ia melihat ada seorang didekatnya, tanpa pikir golok disam bernya terus hendak ditabaskannya.

Tapi serentak, ke 2nya sama menyerit kaget.

Kiranya orang tersebut.

bukan lain ialah Bu-Cu-kat Ji Thian Hong.

"Nona Ciu, mengapa kau disini ?"

Tanya pemuda itu. Sekalipun biasanya ia sangat membenCi, tapi dalam keadaan seperti waktu itu, girang jugalah Ciu Ki. Sampai 2 ia menguCurkan air mata.

"Ayahku dimana ?"

Tanyanya kemudian.

Tiba-tiba Thian Hong memberi isjarat supaya menelungkup ketanah karena ada musuh mendatangi.

Begitulah dengan merajap, ke 2 orang itu bersembunyi dibalik segundukan tan ah.

Ketika itu sudah hampir fajar, jadi mereka dapat melihat jelas pemandangan disekitar situ.

Dilihatnya berpuluh 2 serdadu Ceng tengah menggali lobang untuk mengubur Kawan-kawan nya yang telah meninggal itu sambil tak putus-putusnya penyumpahi dan me-maki-maki.

Selesai dengan itu, seorang kepalanya berseru .

"Tio Tek Piauw, Ong Seng, Coba kau lihat disekitar sana masih ada majat kawan kita atau tidak ?"

Ke 2 serdadu itu berdiri diatas tempat yang agak tinggi. Mereka melihat Thian Hong dan Ciu Ki ber 2 tertelung kup di tanah.

"Masih ada 2 lagi disana '."

Seru ke 2 serdadu itu.

Dianggap majat, Ciu Ki marah sekali, terus akan loncat bangun.

Tapi Buru-buru Thian Hong menCegah untuk me nunggu sampai mereka menghampiri.

Ke 2 serdadu itu datang dengan membawa sekop.

Ciu Ki dan Thian Hong terus pura-pura seperti orang mati.

Begitu ke 2 musuhnya sudah dekat, dengan sebat ditusuknya dengan golok.

Tanpa berkaok lagi, putuslah jiwa ke 2 serdadu yang malang itu.

Karena sudah sekean lama tak kembali, maka pat-Cong (perwira) itu sambil memaki melarikan kudanya menyusul.

"Kau jangan bersuara, akan kurampas kudanya,"

Bisik Thian Hong.

Ketika melihat ke 2 serdadunya binasa, terkejutlah pat Cong itu.

Dia akan bertereak, tapi Thian Hong sudah me lesat dan menabasnya.

Karena tak sempat melolos senjata, pat-Cong itu pakai tali lesnya untuk menangkis.

Tapi seperti batang pisang, les dan kepala pat-Cong itu segera meng gelinding ketanah.

Cepat-cepat Thian Hong teraki Ciu Ki untuk loncat keatas pelana kuda, sedang ia sendiri membuntuti dari belakang dengan ber-laris.

Sementara itu, rombongan serdadupun sudah mengetahui dan mengejarnya.

Lari belum berapa jauh, pundak Thian Hong yang terkena jarum dari Ciauw Cong itu makin te rasa menghebat sakitnya.

Karena tak tertahan, dia jatuh pingsan.

Bum 2 Ciu Ki menghampiri batik.

Dia loncat tu run, lalu diangkatnya tubuh Thian Hong keatas kuda terus dilarikan se-kentyang 2nya.

Rombongan serdadu Ceng itu ber-tereak 2 mengejarnya, tapi sudah ketinggalan jauh.

Setelah jauh, barulah Ciu Ki kendorkan larinya.

Dilihatnya muka Thian Hong puCat seperti kertas dan napasnya sangat lemah.

Apaboleh buat, ia terpaksa merangkul ping gang orang yang dibenCinya itu supaya jangan jatuh, dan terus melarikan kudanya kesebuah jalanan kecil.

Tiba-tiba didepan membentang sebuah hutan, kesitulah nona itu menyusup.

Ia turun sedang Thian Hong ditaruhnya diatas pelana kuda yang dituntunnya pelan-pelan buat menCari kesebuah tempat untuk mengaso.

Ia lihat Thian Hong masih belum sadar, setelah berpikir sejenak, tak dapat lagi ia sungkan tentang prija dan wa nita, terpaksa ia pondong pemuda itu dan diletakkan pada suatu tanah rumput, ia sendiripun berduduk buat mengaso dan membiarkan kudanya makan rumput.

Seorang nona yang berusia belum ada 20 tahun, tapi kini seorang diri berduduk dirimba sunyi, orang didepannya ini mati atau hidup masih belum bisa diketahui, karena tak berdayanya itu, tanpa tertahan Ciu Ki menjadi berduka terus menangis tersedu-sedu, air matanya setetes 2 membasahi mukanya Thian Hong.

Sesudah dibaringkan ditanah sejenak, lambat laun Thian Hong telah siuman, mula 2 ia menyang ka hari hujan lagi, tapi ketika matanya pelahan dibuka, tiba-tiba dilihatnya sebuah wajah yang manis dengan sepasang mata bendo merah tepat berhadapan dengan dia, air mata orang masih terus menetes kemukanya.

Thian Hong merengek karena pundak kirinya terasa sakit pula, ia menyerit aduh.

Mei hat orang telah mendusin, Ciu Ki menjadi girang, tiba-tiba ia lihat air matanya sendiri berketesan pula dipipi orang, lekas-lekas ia keluarkan saputangan untuk membersih kannya.

Tapi baru saja tangannya diulur, mendadak ia ter sadar dan ditarik kembali lagi.

"Kenapa kau jadi merebah didepanku sini, mestinya se dikit kesana,"

Demikian ia malah salahkan orang. Thian Hong tak menyawabnya, tapi merengek pula dan meronta hendak bangun.

"Sudahlah, bolehlah kau merebah disini,"

Kata sigadis pula.

"Dan bagaimana kita sekarang ? Kau adalah 'Bu-Cu-kat,' ayah selalu bilang kau banyak-banyak tipu akal, nah, sekarang kau berusahalah !"

"Pundakku lagi sakit tidak kepalang, apapun aku takbisa berpikir lagi. Nona, Cobalah, tolong kau memeriksanya,"

Kata Thian Hong.

"Aku tak mau,"

Sigadis. Namun demikian, toh tidak urung ia berjongkok buat memeriksanya, Setelah dilihatnya sejenak, lalu katanya pula.

"Ah, baik-baik saja tiada apa-apa, pula tak berdarah."

Thian Hong bangun berduduk, dengan ujung golok dita ngan kanan ia sobek sebagian kain baju dipundaknya, lalu ia sendiri melirik untuk memeriksanya.

"Rupanya disini terkena tiga buah jarum emas hingga sampai meresap ketu langku."

"Lantas bagaimana baiknya ?"

Tanya Ciu Ki.

"Marilah kita kekota untuk menCari tabib."

"Jangan,"

Sahut Thian Hong.

"Semalam sudah terjadi ribut 2, siapa lagi penduduk kota yang tak tahu, dengan dan danan kita ini, pula menCari tabib buat mengobati luka, apakah ini bukan 'ular menCari gebuk' ? Sebenarnya jarum ini harus dikeluarkan dengan batu penyedot (besi semberani), tapi kemanakah harus menCari benda ini. Sudahlah, silahkan kau pakai golokmu untuk membelih daging pun dakku dan menCabutnya keluar."

Meski sudah bertempur sengit semalaman dan tidak sedi-kit musuh yang dibunuhnya, tapi kini bila Ciu Ki diharus kan membelih daging dipundaknya Thian Hong, hal ini malah bikin sigadis menjadi ragu 2.

"Aku sanggup bertahan, lakukanlah nanti dulu,"

Kata Thian Hong lalu menyeberet beberapa potong kain bajunya dan diserahkan pada sigadis dan menanya .

"Apakah kau membawa geretan?"

Ciu Ki Coba merogoh kantong senjata rasianya, lalu jawabnya.

"Ada, buat apakah?"

"Kau kumpulkan sedikit rumput atau daun kering untuk dijadikan abu, sebentar bila jarumnya sudah diCabut, abu itu untuk memoles lukanya, lalu dibalut dengan potongan kain,"

Kata sipemuda. Ciu Ki kerjakan apa yang dipinta itu, ia kumpulkan ba nyak rumput dan daun kering hingga menghasilkan setum pukan besar abu.

"Sudah Cukup, abu sebanyak-banyak itu Cukup untuk seratus luka rasanya,"

Ujar Thian Hong tertawa. Siapa tahu sigadis mendadak ngambek.

"Ja, ja, memangnya aku sibudak tolol, baiknya kau lakukan sendiri saja!"

Demikian omelnya.

"Ja, sudah, anggaplah aku salah omong, jangan kau marah, nona,"

Sahut Thian Hong tertawa.

"Hm, kaupun bisa mengaku salah?"

Jengek sigadis.

Ha bis itu, dengan tangan kanan ia angkat goloknya dan tangan kirinya Coba me-raba 2 pundak orang untuk menCari dima na tempat jarum itu menancap.

Tapi dasar anak gadis, baru pertama kali inilah tangan bersentuhan dengan tubuh lelaki, maka begitu 'kontak' seketika juga ia tarik kembali lagi, saking malunya hingga seluruh wajahnya merah.

Melihat orang mendadak malua, Thian Hong menjadi heran.

"Eh, apa yang kau takuti?"

Tanyanya.

"Apa yang kutakuti? Kau sendirilah yang takut. Berpa ling kesana, jangan memandang kemari!"

Sentak gadis itu.

Betul juga Thian Hong berpaling kearah lain.

Lalu Ciu Ki penCet keras-kerasdaging pundak orang dimana jarum menancap, ujung goloknya ia tusukkan dan pelahan 2 diko rek sedikit, segera juga darah segar mengalir.

Dengan kertak gigi Thian Hong bungkam dalam seribu basa untuk menahan sakit, keringat ber-butir-butir bagai kede lai besarnya memenuhi jidatnya.

Setelah Ciu Ki korek sedikit daging pundak, ekor jarum itupun lantas kelihatan, ia Cepit dengan 2 jarinya terus dengan Cepat-cepat diCabut keluar sebuah.

Wajah Thian Hong puCat lesi bagai kertas, tapi ia masih Coba berkelakar.

Katanya.

"Sayang jarum ini tak ber mata dan tak bisa disusupi benang, kalau tidak, ha, kebe tulan dapat dihadiahkan pada nona untuk menyulam."

"Huh, aku justru tak bisa menyulam,"

Sahut Ciu Ki.

"Tahun lalu mak (ibu) pernah suruh aku belajar, tapi baru sekali-2 tisikan aku sudah patahkan jarum, bahkan su teranya pun tersobek. Mak mengomeli daku, aku bilang . ,Mak, aku tak bisa, ajarkanlah daku'. -Dan tahukan kau apa dia bilang, Coba kau terka?"

"Tentu saja ia bilang . ,Mari sini, aku ajarkan kau',"

Kata Thian Hong.

"Mana bisa, ia justru bilang. ,Aku tiada tempo'. Bela kangan baru kuketahui bahwa ia sendiri ternyata juga tidak bisa menyulam,"

Demikian sigadis menerangkan. Thian Hong ter-bahak 2 geli, dan tengah mereka berCa kap, kembali sebuah jarum dapat diCabut lagi.

"Kemudian aku berkeras minta ibu mengajarkan pada ku,"

Tutur Ciu Ki lebih lanyut.

"dan karena sudah kewa lahan, achirnya ibu berkata. 'Awas, jika berani rewel lagi, biar aku bilangkan ayahmu menghajar kau'. Iapun bilang. 'Kau tak bisa menyulan, hm, lihat saja kelak sampai disini tiba-tiba sigadis tak meneruskan lagi. Kiranya waktu itu ibunya berkata. lihat saja kelak kau tak mendapatkan ibu mertua." -Tentu saja kata-kata begitu tak enak diketahui Thian Hong, maka mendadak ia tak melanyutkan. Siapa duga Thian Hong justru masih ingin tahu, maka ia mendesak.

"Lalu, ia bilang 'lihat saja kelak' apa lagi?"

"Ah, jangan tanya sudah, aku tak suka banyak-banyak Cerita pula,"

Sahut sigadis.

Dan sembari berCakap, tanpa berhenti ber-turut 2 Ciu Ki sudah menCabut keluar semua ketiga jarum itu, ia poles luka itu dengan abu yang tersedia dan dibalut pula dengan kain.

Apabila dilihatnya pemuda itu meski terluka dan menderita sakit tidak kepalang, tapi masih sanggup berkelakar tanpa merintih sedikitpun, mau-tak-mau diam-diam Ciu Ki pun menga guminya.

"Sungguh tidak nyana meski tubuhnya pendek, tapi ternyata seorang ksatria benar 2. Coba kalau aku, bila ada orang mengkorek dagingku, mungkin sejak tadi 2 aku sudah berteriak memanggil ibu!"

Demikian ia membantin. Dan bila teringat pada ayah-bundanya, tiba-tiba ia menjadi berduka. Tatkala itu tangannya berlepotan darah, maka katanya pada Thian Hong.

"Kau merebah lagi sementara disini jangan bergerak, biar aku pergl menCari sedikit air minum."

Setelah dipandangnya keadaan tempat itu, lalu gadis itu berlari keluar rimba, tak jauh dapat diketemukannya sebuah sungai kecil, oleh karena habis hujan lebat, maka air sungai mengalir dengan derasnya.

Ia menCuCi bersih noda darah ditangannya kedalam sungai, ketika ia berjongkok ditepi sungai hingga wajahnya mendadak terCermin didalam air, ia lihat rabutnya serabutan, bajunya basah lagi kumal, mukanya pun penuh darah dan kotor, hakibatnya tak berupa wajah manusia lagi, maka pikirnya.

"Celaka, wajah seperti setan ini telah dapat dilihatnya semua."

Lekas-lekas ia CuCi bersih air mukanya dan menggunakan air sungai sebagai Cermin, jarinya digunakan sebagai sisir dan rambutnya lalu dipintalnya menjadi kunCiran, ia raup air sungai pula untuk diminumnya.

Dalam hati ia pikir tentu Thian Hong sangat hausnya, namun tiada alat wadah air, apa daya?

Setelah bingung sejenak, tiba-tiba pikirannya tergerak, ia keluarkan satu bajunya dari buntalannya dan diCuCi bersih, ia rendam baju itu hingga basah benar 2, dengan ini ia pikir dibawa kembali untuk diperas airnya buat minum Thian Hong.

Sementara itu, Thian Hong yang ditinggalkan, bila tadi ia masih bisa berkelakar dengan sigadis untuk menahan diri, tapi kini sesudah sendirian, rasa sakit dipundaknya tak tertahan lagi.

Bila kemudian Ciu Ki telah kembali, sementara ia sudah kesakitan hampir 2 pingsan.

Melihat wajah pemuda itu meski di-bikin 2 seperti sama sekali tak merasakan apa-apa, tapi dapat Ciu Ki menduga pasti tidak enak sekali, karena itu, rasa kasih sayang seketikapun timbul.

Ia suruh Thian Hong mengap, lalu air bajunya yang basah itu diperasnya kedalam mulut orang, habis itu dengan lirih ia menanya.

"Apakah sangat sakit?"

Belum pernah Ciu Ki bersuara begitu halus terhadap Thian Hong, karena itu untuk sesaat pemuda itu terkesima.

Sejak berumur 2belas-1tiga tahun, Thian Hong sudah luntang-lantung di kangouw, segala maCam penderitaan, sifat ma nusia yang dingin dan kehidupan manusia yang tak adil telah dirasakan semuanya.

Dan karena godokkan pengalaman 2 itu, dari benCinya kepada semua ketidak-adilan itu, tak terasa ia menjadi umbar diri denyg-an, tindak-tanduknya, yang bebas.

Dasar pembawaannya Cerdlk pandai, maka menghadapi segala apa selalu ia mendahului mengatasi orang, apa yang diaturnya boleh dikata selalu jjtu dan perhitungannya selalu tepat, oleh sebab itulah ia mendapatkan julukan "Bu-Cu-kat"

Atau si Khong Beng.

I Sering sudah dikalangan lkangouw disaksikannya banyak-banyak tokoh-pahlawan banyak-banyak yang l tergoda _oleh paras elok hingga berachir dengan berantakan, Weperti saudara angkatnya yang ke 2, yaitu Bu Tim Tojin yang pernah gagal juga dalam perCintaan, kesemuanya itu selalu dibuat Cermin olehnya dan menjadi pantangan pula baginya.

Oleh sebab itu, meski usianya sudah dikata mendekati masa "jejaka tua,"

Namun bila kebentur wanita, selalu ia berusaha menghindarinya se jauh mungkin.

Baca Juga: Naga Merah Bangau Putih Kho Ping Hoo

Baca Juga: Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert