Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 4

Eps 4 Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.

"Dunia begitu luas, kita bisa saling mengenal, itulah jodoh yang sangat hebat, apa lagi hubungan darah, kalau bukan karena terpaksa, jangan saling membunuh!"

"Murid mengerti!"

Beng To mengangguk. Sat Kao menarik nafas lagi.

"Kau mengerti prinsip ini, namanya watak bawaan!"

"Suhu seperti terharu?"

Beng To mencoba-coba menyelidik.

Sat Kao tidak menjawab, dia melangkah ke tempat lain, Beng To sangat tahu seperti apa sifat gurunya, dia tidak menjawab, berarti ada kesulitan yang membuatnya tidak mau menjawab atau ada rahasia yang tidak ingin orang lain tahu, maka dia tidak bertanya lagi.

Di tempat sama, banyak genderang besar juga kecil dan berbentuk aneh, Sat Kao duduk di sana dan berkata sendiri.

"Kalau Wan Fei-yang bisa sadar kembali, walau pun tidak bisa bersilat lagi, Pei-pei pasti akan merasa cukup puas."

"Murid akan membuat mereka bisa hidup senang!"

Kata Beng To.48

"Wan Fei-yang tidak akan senang, tapi kita tidak bisa memperhatikan semua pihak!"

Kata Sat Kao.

"Asal Pei-pei senang, yang lain biarkan saja!"

Sat Kao mengangguk.

"Mulai sekarang kau harus berhati-hati dan harus lebih berkonsentrasi, menyedot tenaga dalam Wan Fei-yang yang berbeda dengan yang dulu, dia lebih kuat, kalau tidak berhati-hati kau akan gagal, kau akan terganggu, nyawaku juga akan terancam!"

"Murid mengerti!"

Beng To menarik nafas panjang, pikirannya dipusatkan dengan tenang menunggu Sat Kao menggunakan ilmu guna-guna.

Setelah semua siap, Sat Kao mulai memukul genderang besar juga kecil, sewaktu tangannya melayang lonceng yang menempel di tubuhnya ikut berbunyi, dari hama pelan menjadi cepat, menjadi sebuah musik aneh.

Laba-laba itu mengikuti alunan musik terus merayap, satu per satu mendekati Wan Fei-yang, setiap laba-laba membawa serat sarang laba-laba yang bercahaya.

Mata Sat Kao pelan-pelan dipejamkan.

Dia tidak perlu merasa khawatir dengan aksi laba-laba, dia hanya merasa khawatir dengan reaksi induk serangga, karena mereka bisa kontak batin, hanya berdasarkan perasaan dia bisa melihat reaksi induk serangga itu.

Dia tidak perlu melihat posisi genderang, setiap kali genderang ditabuh nadanya tidak pernah meleset.

Wan Fei-yang tetap tidak bereaksi apa-apa, seperti tidak ada perasaan apa pun, kalau bukan karena sarafnya mati rasa, pasti karena induk serangga itu sudah menguasai syarafnya, dia menyetujui gerakan Sat Kao.49 Mata Sat Kao memang terpejam tapi dari sudut mulut terlihat ada tawa, gerakan memukul genderangnya sangat ringan seperti orang yang sudah terlepas beban.

Suara genderang yang ringan, laba-laba pun bergerak dengan ringan dan lincah, benang sutra laba-laba terlihat lebih terang.

Beng To tidak merasakan perubahan suara genderang karena ekspresi wajahnya tidak mengalami perubahan yang berarti, kalau dia tidak bisa menguasa diri, mana mungkin dia disebut pesilat tangguh.

Lantunan mantera mulai terdengar lagi, karena bebannya sudah terlepas maka Sat Kao melantunkan dengan konsentrasi penuh.

Karena pengaruh mantera laba-laba meloncat tinggi-tinggi, kemudian satu per satu terjatuh tepat ke atas tubuh Beng To, laba-laba itu bergerak dengan kekuatan penuh mungkin datang dari Wan Fei-yang.

Antara Wan Fei-yang dan Beng To tersambung oleh benang sutra laba-laba dan bersamaan waktu laba-laba itu terus merayap ke atas tubuh Beng To.

Benang sutra laba-laba dengan sangat cepat melilit tubuh Beng To.

Beng To tidak merasa ketakutan, dia malah merasa sangat nyaman, seperti berubah menjadi manusia dari kayu.

Sat Kao mulai membuka suara.

"Induk serangga di dalam tubuh Wan Fei-yang mulai mengatur untuk mengeluarkan tenaga dalamnya, kau harus berusaha menyedotnya tapi ingat harus berhati-hati, kalau bisa sedikit demi-sedikit, jika terlalu banyak, tubuhmu yang sedang terluka dalam belum tentu bisa mencerna!"

Beng To mengangguk, Sat Kao berkata lagi.50

"Aku hanya bisa membantumu sampai di sini, setelah tenaga dalam Wan Fei-yang masuk ke dalam tubuhmu, akan terjadi perubahan seperti apa? Itu akan terlihat dari perubahan dirimu!"

Caranya memukul gendang berubah lagi menjadi sangat lembut, suara genderang membuat orang merasa sangat nyaman, kerena suara genderang tidak sekuat tadi laba-laba itu bertambah lincah, mereka masih melilit tubuh Beng To dengan benang sutra laba-laba, kemudian melayang ke tubuh Wan Fei-yang dan melilit tubuh Wan Fei-yang.

Tenaga dalam Wan Fei-yang melalui benang sutra laba-laba ini mengalirkan ke dalam tubuh Beng To.

Menebarkan ilmu silat sebenarnya adalah hal yang sangat menyakitkan, tapi bagi orang yang tidak punya pikiran apa pun, tidak akan merasakan apa-apa.

Keadaan Wan Fei-yang sekarang lebih parah dari orang idiot.

Orang idiot hanya bereaksi lambat, pikiran polos, tapi dia mempunyai perasaan, paling sedikit ada reaksi.

0-0-0 Hari kedua sore, Tong Ling dan Pei-pei baru tiba di daerah sekitar tempat bersembahyang, mereka tidak terlalu terlambat, mereka terlambat sekitar 10 jam lebih.

Mereka tidak merasa terlambat sampai Pei-pei pun mengira Sat Kao dan Beng To pasti membutuhkan sedikit waktu untuk menyiapkan penyedotan ilmu lweekang, tapi tidak disangka setelah mempunyai pikiran itu, dia sadar setiap saat Sat Kao dan Beng To bisa bertindak.51 Sat Kao sampai tidak beristirahat dulu, pada malam itu juga dia langsung memyedot tenaga dalam Wan Fei-yang, yang pasti semua ini di luar dugaan Pei-pei dan Tong Ling.

Mereka berdua masih muda, tidak ada pengalaman, mereka juga tidak tahu, Sat Kao sangat berharap kepada Beng To, kekalahan Beng To membuat Sat Kao sangat terpukul, kalau tidak, mereka pasti akan sadar, Sat Kao akan berhati-hati dan dia tidak akan melakukan kesalahan, hanya waktu yang sering menjadi penyebab terjadinya kesalahan.

Tapi walaupun hanya ada sedikit harapan Tong Ling dan Pei-pei tidak akan melepaskannya.

Mereka menggunakan waktu di perjalanan untuk beristirahat di dalam kereta, walaupun tidur mereka tidak begitu nyaman tapi bagi mereka sudah cukup.

Mereka juga terpikir kereta kuda ini mungkin akan mereka pakai lagi, maka mereka berpesan kepada kusir agar menunggu mereka di daerah ini, Tong Ling sangat percaya diri, dia percaya dalam waktu semalam, semua akan beres dan mereka bisa menolong Wan Fei-yang.

Pei-pei sangat hafal dengan tempat sembahyang itu, dia juga mengerti bagaimana cara menghadapi guna-guna Sat Kao dan menghadapi Beng To yang sudah terluka, seharusnya tidak dengan cara melawan mereka.

Satu-satunya yang mereka khawatirkan adalah Wan Fei-yang yang sudah dikuasai oleh induk serangga milik Sat Kao.

Mereka takut Sat Kao akan membuat Wan Fei-yang menghadapi mereka berdua.

"Walau bagaimanapun kita harus menaklukkan Wan Fei-yang terlebih dulu,"

Sewaktu Tong Ling mengambil keputusan ini Pei-pei sedang berada di tepi jurang di atas tumpukan batu-batuan.52 Letak tempat sembahyang tidak jauh dari jurang itu, dari tempat yang lebih tinggi sangat mudah melihat keadaan tempat sembahyang.

"Memang harus seperti itu!"

Pei-pei sangat setuju.

"kalau pikiran Wan-toako sudah dikuasai oleh induk serangga dia skan menjadi bodoh dan kalau kita menaklukkan dia tidak akan terlalu sulit!"

Tong Ling dengan diam menatapnya.

"Paling sedikit tidak semudah saat kau memasukkan induk serangga itu ke dalam tubuhnya!"

Sepanjang perjalanan, sebenarnya Tong Ling sudah bisa melihat jelas sifat Pei-pei, dia seorang gadis yang baik, tapi karena hati yang cemburu tidak bisa terlepas darinya, asalkan ada kesempatan dia tetap saja menyindir.

Pei-pei mengerti isi hati Tong Ling dan sudah terbiasa mengoloknya, maka dia hanya menundukkan kepala, tidak bersuara.

Melihat dia seperti itu Tong Ling pun merasa olokannya tidak berarti.

Dia kembali melihat ke tempat sembahyang dan bertanya.

"Kau pasti sangat mengenal tempat sembahyang itu!"

"Aku tidak begitu mengenal tempatnya tapi keadaan semua tempat sembahyang hampir sama, jika ingin masuk ke sana bukan masalah besar!"

"Aku hanya khawatir akan membuat mereka terkejut, paling-paling kita hanya akan bertarung mati-matian, hanya kau yang murid Sat Kao setelah bertemu dengan gurumu harus dengan cara apa menghadapinya?"

"Aku..."

Pei-pei tidak bisa menjawab.

"Kenapa denganmu? Apakah kau akan mendengar perintah darinya untuk membantunya meng-atasiku?"

"Mana mungkin aku melakukannya!"

Teriak53 Pei-pei.

"Sampai saat ini aku masih curiga apakah semua ini adalah kenyataan?"

Yang pasti kalimat ini menandakan Tong Ling masih kesal kemudian dia berkata lagi.

"Kita sudah berada di sini, kita pasti harus masuk ke sana dan melihat-lihat keadaan."

Pei-pei mendengar kata-kata Tong Ling seperti itu, dia lebih cemas lagi dengan keadaan Wan Fei-yang, dia merasa cemas juga merasa bersalah.

Dia sangat takut Tong Ling sampai lepas tangan terhadap masalah ini, maka perasaan cemasnya timbul dan langkah-langkahnya menjadi kacau.

Tong Ling sengaja membuat Pei-pei sedih tapi setelah meliha Pei-pei sedih, dia tidak tega, Tong Ling memang bukan gadis berhati keras.

"Tempat sembahyang itu selain ada dua penjahat, masih ada apa di sana?"

Tanya Tong Ling.

"Masih ada Wan-toako..."

Jawab Pei-pei.

"Baiklah, kau anggap dia seperti benda apa?"

Pei-pei tertawa kecut, Tong Ling bertanya lagi.

"Tempat sembahyang begitu luas, tapi tidak ada seorang penjaga pun!"

Pei-pei menjelaskan.

"Di sini adalah tempat suci selain yang bersembahyang biasanya orang-orang tidak berani masuk juga tidak boleh memasuki wilayah ini, sebab takut akan membuat dewa marah dan mendatang-kan bencana!"

"Semua ini pasti permainan gurumu, dia takut masyarakat kalian masuk dan akan ketahuan rencana busuknya!"

"Tapi katanya tempat ini sudah ribuan tahun seperti ini!"54

"Apakah hanya dukun dari suku kalian yang baru boleh masuk dan keluar dari tempat ini?"

Pei-pei mengangguk, Tong Ling bertanya lagi.

"Dari apa yang kau ketahui, dukun mana yang merupakan orang baik-baik?"

Pei-pei tidak bisa menjawab, karena dia juga tidak tahu dan tidak yakin.

"Pastinya tidak ada, jangankan dukun orang yang memelihara serangga pun tidak ada yang baik!"

Dia berkata lagi.

"kalau tidak, sejak lahir dia tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk!"

Ini adalah semprotan kepada Pei-pei, tentu saja Pei-pei mengerti, tapi dia hanya bisa tertawa kecut, sorot mata Tong Ling tampak berputar, dia berkata lagi.

"Saat bagaimana bagi kita untuk masuk ke dalam?"

"Suhu dan Beng To seharusnya sudah berada di tempat rahasia di bawah kamar ini di mana kita akan masuk sekarang, mereka tidak akan tahu!"

"Apakah kau yakin?"

Pertanyaan Tong Ling terdengar sanga tajam.

"Apakah kita bisa masuk secara terang-terangan?"

Tanya Tong Ling lagi.

"Lebih baik kalau kita bisa berhati-hati..."

Pei-pei menatap Tong Ling suaranya jadi rendah.

"Aku siap jika malam ini menyerang secara tiba-tiba, kalau kau tidak setuju kau boleh masuk sekarang, tapi aku tidak akan menemanimu."

"Aku tidak sanggup, jika Cici sudah mengambil keputusan aku akan mengikuti rencana Cici, sekarang kita sudah kelelahan lebib baik kita beristirahat dulu!" 55 Setelah mendengar dan melihat, Tong Ling memberikan reaksi dingin.

"Ingat, kali ini aku setuju datang kemari karena Wan Fei-yang, karena dia pernah menolong-ku, tentu saja jika dia tidak pernah menolongku tapi tetap berdiri di posisi pesilat Tionggoan aku pun tidak akan berpangku tangan, sama sekali tidak ada kaitannya denganmu!"

"Aku mengerti!"

"Jadi jangan memanggilku Cici, aku tidak terbiasa mendengar panggilan itu juga tidak pantas!"

Tong Ling tidak menatap Pei-pei.

"aku, Tong Ling mempunyai nama dan marga, mengapa kau tidak memanggilnya?"

Pei-pei terdiam lalu berbaring di atas sebuah batu besar, hatinya merasa tidak tenang, mana mungkin dia bisa tidur?

Tong Ling pun seperti itu, matanya memang terpejam, dari luar dia terlihat tenang, tapi hatinya sedang bergejolak, dia sedang berpikir.

"Jika Wan Fei-yang bisa dibawa keluar, di mana Pei-pei harus ditaruh?' Tapi walau bagaimana Wan Fei-yang dan Pei-pei sudah menjadi suami istri jika memaksa Pei-pei pergi itu sangat tidak masuk akal. ... biar saja ini kuanggap sebagai balas budi kepada Wan Fei-yang karena pernah menolongku. Akhirnya Tong Ling mengambil keputusan seperti itu, dari alis dan matanya terlihat dia terpaksa melakukannya, sebab sampai saat ini dia tetap tidak terpikir kalau mereka akan kalah. Dia percaya dengan kemampuan ilmu silatnya, dan lebih percaya kepada senjata rahasia Tong-bun dan dia tahu Sat Kao dan Beng To sudah terluka parah, waktu itu saat mereka56 bertemu dengannya mereka telah berbohong kepadanya agar mem-punyai kesempatan untuk melarikan diri, karena mereka tidak berani bertarung dengannya. Setelah beberapa hari berlalu Pei-pei pernah mengatakan Sat Kao belum pulih, sedangkan mengenai Beng To, dia memang pernah memasuki Tong-bun seorang diri, dia juga mempunyai ilmu silat tinggi, sekarang dia sedang menunggu ilmu lweekang Wan Fei-yang untuk di sedot ke dalam tubuhnya baru bisa pulih seperti sedia kala, dia lebih-lebih tidak perlu ditakuti. Dengan permainan duga-menduga, dalam waktu singkat tidak akan terjadi perubahan yang berarti. Tapi sayang, banyak hal sulit diukur dengan peraturan. Perhitungan manusia kalah dibandingkan dengan perhitungan Tuhan, pepatah ini sudah lama berlaku pasti ada artinya dan masuk akal. Malam baru tiba, Pei-pei dan Tong Leng-mulai bergerak. Dengan tubuh yang lincah dan ilmu silat yang mereka miliki, untuk turun ke dasar jurang pasti bukan suatu masalah. Apalagi Tong Ling yang lincah selalu berjalan di depan. Pei-pei sulit mengejarnya, tapi dia tetap berusaha agar tidak tertinggal, di tengah perjalanan dia sudah terjatuh sebanyak 3 kali, setiap kali setelah terjatuh dia segera melompat berdiri seperti tidak pernah terjadi apa-apa dan mengejar Tong Ling lagi. Hatinya hanya dipenuhi dengan keinginan agar Wan Fei-yang cepat-cepat bisa keluar dari tempat itu, masalah lainnya tidak diperhatikan. Setelah tiba di bawah dinding yang menjulang tinggi yang ada tempat sembahyang, Tong Ling baru berhenti, di balik dinding tidak terdengar suara apa pun, Tong Ling segera meloncat ke atas dinding tinggi itu kemudian seperti seekor kucing dia menelungkup di atas dinding itu.57 Di balik dinding sangat sepi, tidak ada seorang pun. Tapi Tong Ling tetap mengawasi tempat itu dengan teliti, mungkin dari kecil dia sudah berlatih senjata rahasia maka matanya menjadi jeli. Di balik dinding tinggi itu tidak terlihat ada lampu, hal ini tidak mengganggunya. Tidak hanya di lapangan yang tidak ada lampu, di balik pintu masuk ke tempat sembahyang pun terlihat gelap, hal ini membuat Tong Ling merasa aneh. Pei-pei mengejar sampai di bawah dinding tinggi itu, dia tidak tahu apakah Tong Ling berhasil masuk atau belum. Sewaktu dia sedang kebingungan di depannya terlihat bayangan seseorang, Tong Ling sudah turun kembali dari dinding tinggi itu dan sekarang berdiri di depan Pei-pei.

"Kau..."

Baru satu kata keluar, mulut Pei-pei langsung ditutup oleh Tong Ling, dia berhenti meronta.

"Menghebohkan sesuatu yang sepele!"

Tong Ling tertawa, dia pun melepaskan tangannya dari mulut Pei-pei.

"apakah benar tempat ini yang kau maksud?"

"Apakah terjadi masalah?"

"Di dalam sana tidak ada lampu juga tidak ada seorang pun,"

Jawab Tong Ling dengan percaya diri.

"aku tidak merasakan ada orang di sana."

"Kecuali saat sembahyang di hari besar, di hari biasa memang tidak ada yang datang!"

"Kau pernah mengatakannya apakah benar seperti itu?"

Pei-pei tertawa kecut.

"Jika Suhu dan Beng To di sana pun mereka tetap akan berada di ruang bawah tanah."

"Dari mana kau bisa memastikan bahwa mereka akan berada di sana?"58

"Tempat rahasia ini adalah satu-satunya tempat rahasia dalam radius ratusan Li! Kalau mereka tidak ada di sini, aku pun tidak tahu harus mencari ke mana!"

"Kalau begitu kita harus masuk ke dalam sana untuk mencari tahu!"

Tong Ling meloncat lagi ke atas dinding.

Pei-pei ikut bergerak walaupun tidak segesit Tong Ling tapi dia tidak sanggup melakukannya tanpa suara seperti Tong Ling, Tong Ling melihat sekeliling, kemudian melayang masuk ke balik dinding.

Dia menempelkan tubuhnya ke dinding dan terus berjalan.

Di tempat yang bisa menyembunyikan tubuhnya dia berhenti sebanyak 2-3 kali, akhirnya mereka tiba di luar tempat sembahyang.

Pei-pei ikut di belakang Tong Ling, sekarang dia berdiri di samping Tong Ling.

"Apakah di dalam tempat sembahyang ini ada serangga yang digunakan untuk guna-guna?"

Tong Ling menatap Pei-pei.

"Kalau pun ada ilmu guna-gunamu akan merasakannya."

"Jika orang yang memelihara serangga atau ulat, tidak ada serangga atau ulat pun tidak ada efeknya. Jika ada serangga, dia harus memilih orang atau menghitung jarak!"

Tong Ling tertawa dingin.

"Ku kira kalian yang menguasai ilmu guna-guna bisa membunuh sampai jarak ribuan Li."

Pei-pei menggelengkan kepala lalu tertawa kecut, dia segera berjalan memasuki ruangan, tapi langsung dicengkeram oleh Tong Ling.

"Ada apa?"

Tanya Pei-pei.

"Kau mau mencelakakan Wan Fei-yang? Mengapa berteriak? Kau ingin semua orang tahu, kita sudah masuk kemari?"

"Apakah aku sudah melakukan kesalahan?"

Tanya Pei-pei dengan suara kecil.

"Kau sembarangan masuk, itu kesalahan besar, apakah kau yakin di dalam tidak ada orang?"

Pei-pei ingin mengatakan sesuatu tapi begitu melihat ekspresi Tong Ling, dia menelan kembali kata-katanya, tidak lama kemudian dia baru bicara.

"Aku tidak berpengalaman..."

Tong Ling memotong.

"Kalau tahu tidak punya pengalaman, jangan banyak bicara, ikut saja di belakangku!"

Pei-pei cepat-cepat bersembunyi di balik punggung Tong Ling.

Tong Ling masuk tanpa banyak pikir, dari awal dia sudah merasa yakin kalau di ruangan itu tidak ada seorang pun, hanya saja dia merasa tidak yakin apakah di dalam ruangan itu ada serangga atau ulat yang dipelihara, di sini adalah tempat sembahyang, tempat di mana dukun sering keluar masuk.

Di bagian dalam tempat sembahyang tampak lebih gelap lagi beberapa kali Tong Ling ingin menyalakan korek api tetapi begitu teringat pada Pei-pei, dia menjauhkan niatnya ini.

Karena dari sudut manapun dia terlihat lebih unggul dari Pei-pei.

Kalau dia menyalakan korek api dia percaya akan menemukan pintu rahasia, tidak perlu Pei-pei yang membawa jalan.

Tapi kalau dia menyalakan korek api ada maksud lain karena dia tidak bisa melihat sesuatu di dalam kegelapan seperti ini.

Pei-pei tidak mengerti perubahan jalan pikiran Tong Ling.

Dia berjalan di dalam kegelapan tanpa arah jelas.

Tapi karena dia sangat berhati-hati maka dia mempercayai apa60 pun yang diputuskan oleh Tong Ling.

Maka sewaktu Tong Ling kembali ke sisinya, dia tidak terlihat terkejut atau takut, dengan pelan dia berkata.

"Pintu rahasia ada di bawah patung Budha!"

"Kau sudah menyebutkannya tadi!"

Tong Ling tertawa dengan dingin katanya lagi.

"Patung Budha di sini sangat banyak!"

Tong Ling merasa seperti melihat banyak patung Budha, tetapi Pei-pei segera berkata lagi.

"Patung Budha yang di sini hanya ada satu!"

Baru saja Tong Ling mau membela diri, Pei-pei sudah berkata lagi.

"Patung Budha hanya ada satu, yang lainnya patung siluman atau para pelayan Budha!"

"Dewa apa yang ada di sini?"

Tong Ling tertawa dingin.

"untuk pertama kalinya aku mendengar dewa yang ada di sini merupakan pelayan Budha atau siluman!"

"Memang dewa guna-guna semua seperti itu!"

"Dewa guna-guna?"

Akhirnya Tong Ling baru mengerti mengapa tidak disebut siluman guna-guna, bukankah siluman melayani pemimpin siluman lagi? Pei-pei tertawa kecut.

"Dari dulu suka bangsa kami menyebutnya seperti itu dan tidak ada yang tidak beres."

"Tentu saja, orang yang percaya kepada siluman dan iblis kalau tidak menganggap siluman sebagai dewa malah akan merasa aneh!"

Sambil bicara Tong Ling mendekati patung Budha itu.

Semua patung siluman yang ada di tempat sembahyang itu berbentuk aneh, orang yang sama sekali tidak mengenal61 ilmu guna-guna benar-benar sulit membedakan mana yang dewa dan mana yang siluman.

Setelah Pei-pei menjelaskan semuanya akhirnya Tong Ling bisa membedakannya.

Patung dewa itu lebih tinggi dari patung lainnya dam wajahnya tampak lebih menyeramkan dan lebih menakutkan.

Setelah tiba di depan patung Budha itu, Tong Ling berhenti.

Dia tidak ingin banyak bertanya, akhirnya dia membuka mulutnya juga.

"Di mana pintu rahasianya?"

Walaupun dia bisa melihat benda di dalam kegelapan, tapi tidak begitu jelas, posisi pintu rahasia juga pasti tidak sama, dia tidak menguasai tombol rahasia apalagi dalam keadaan gelap, mana mungkin dia bisa melihat!

Pei-pei balik bertanya.

"Di mana patung dewanya?"

"Apakah kau buta? Bukankah sekarang aku sudah berada di depan patung Budha?"

Nada bicara Tong Ling terdengar tidak senang.

"sampai sekarang kau masih tampak tidak bersemangat, apakah kau sengaja ingin melawanku?"

"Aku benar-benar tidak melihat di mana patung Budha itu?"

"Tapi kau bisa mengikutiku dari belakang!"

"Karena aku menaruh seekor ulat di bajumu, di dalam kegelapan ulat itu bisa bercahaya!"

Tong Ling menoleh di atas bajunya memang ada benda yang bersinar, memang tidak terlalu terang, tapi di dalam kegelapan bisa terlihat jelas.

"Apakah kau ingin mencabut nyawaku? Kau mulai lagi meletakkan guna-guna di tubuhku!"

Senjata rahasia segera dicengkeramnya lagi.62 Pei-pei sangat terkejut, dia menjelaskan.

"Ulat ini tidak akan melukaimu, dia hanya memberitahu jalan kepadaku, kalau kau tidak suka, aku akan segera mengambilnya kembali!"

Baru saja kata-katanya habis, ulat itu sudah menghilang dari baju Tong Ling, kata Tong Ling dengan suara berat.

"Apa kau akan melukaiku atau tidak, aku tidak tahu, tapi jika kau menaruh kembali benda tadi di tubuhku, senjata rahasiaku tidak akan sungkan lagi, jangan bercanda denganku!"

Pei-pei mengangguk, kata Tong Ling lagi.

"Kau mempunyai ulat yang bisa memancarkan sinar di dalam kegelapan, mengapa kau tidak membuatnya menjadi terang?"

"Aku hanya memelihara 3 ekor ulat semacam ini dan tidak bisa menerangi tempat gelap!"

"Apa maksudmu menerangi semua lampu yang ada di tempat sembahyang?"

"Aku rasa lebih baik menyalakan sebuah lampu untuk menerangi tempat sembahyang, sebab mereka sekarang berada di ruang rahasia, mereka tidak akan melihat..."

"Aku curiga apakah di tempat ini ada orang atau tidak, dari tadi kau berteriak tapi sedikit reaksi pun tidak ada?"

Tanya Tong Ling.

"Pendengaranmu tajam, jika mereka bereaksi kau pasti segera akan tahu, berarti mereka berada di ruang rahasia, sama sekali tidak mendengar..."

Tong Ling menyalakan korek api, ruangan tiba-tiba menjadi terang, Pei-pei menutup matanya dengan kedua tangannya, tapi Tong Ling tidak merasa tidak nyaman, terlihat dia sudah biasa berlatih secara ketat, sepasang63 matanya bukan hanya jeli tapi juga bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan.

Butuh waktu sebentar Pei-pei baru terbiasa, Tong Ling baru bertanya.

"Di mana pintu rahasianya? Kapan kau baru akan membukanya?"

Pei-pei tertawa kecut, dia segera menyibakkan kain pembungkus kepala dan berjalan menuju tempat patung dewa, kemudian dia meletakkan kain di atas ukiran sebuah bola api! "Apakah itu adalah tombolnya?"

Pei-pei mengangguk.

"Kekuatannya harus tepat baru tidak akan mengeluarkan suara!"

Tadinya Tong Ling akan keluar, sekarang dia menarik kembali kakinya, Pei-pei berkata.

"Waktu kecil aku selalu berbohong kepada Suhu supaya bisa keluar saat Suhu sedang berlatih di kamar rahasia, begitu ada kesempatan diam-diam aku akan keluar! Karena takut ketahuan oleh Suhu dan Koko, maka aku keluar atau masuk bisa tidak mengeluarkan suara."

"Aku harap mereka lupa pada masalah ini dan tidak mengubah tombol masuk atau keluarnya!"

Kata Tong Ling.

"Sejak menemukan gua dengan banyak batu di tepi danau, mereka tidak pernah kemari lagi, kali ini kemari mungkin karena terpaksa, itu sudah terjadi beberapa tahun lalu, mungkin mereka sudah lupa!"

Kemudian Pei-pei mulai memutar bola api yang terukir di atas batu itu.64 Beng To dan Sat Kao memang tidak ingat dan tidak terpikir Pei-pei akan datang membawa bahaya bagi mereka berdua.

Beng To adalah kakaknya Pei-pei, Sat Kao adalah gurunya Pei-pei, hubungan mereka sangat akrab, jika Pei-pei menyukai Wan Fei-yang yang pasti dia tidak akan mencelakai kakak dan gurunya.

Karena mereka tahu Pei-pei adalah gadis baik dan jujur, mereka mengira Pei-pei tidak akan mendapatkan orang yang bisa membantunya!

Pei-pei bisa mencari Tong Ling itu benar-benar di luar dugaan mereka.

Hanya beda satu hari, Wan Fei-yang sudah berubah seperti orang lain, wajahnya pucat, seperti tidak berdarah.

Tapi itu bukan karena kulitnya penuh dengan benang serat laba-laba.

Serat benang laba-laba itu terlihat sangat putih dan tembus pandang, tapi laba-laba hitam dan berkilauan malah terlihat menjadi abu-abu seperti Wan Fei-yang, mereka terlihat seperti mati, walau pun seperti itu tapi mereka masih tampak bergetar, terlihat masih bisa bergerak, tidak seperti Wan Fei-yang yang tidak bergerak sama sekali.

Semalam dia terlihat seperti orang idiot, malam ini dia seperti patung manusia, tidak bernyawa.

Beng To pun mengalami perubahan, kulitnya tampak mulai bercahaya dan terlihat berwarna putih keperakan.

Dengan saat dia pertama kali keluar dari kepompong kemudian menghisap banyak tenaga dalam dari banyak pesilat tangguh, terlihat lain sekali.

Pertama kali saat dia memecahkan kepompong dan keluar dari sana, kulitnya berwarna abu keperakan yang aneh, setelah menyedot65 tenaga dalam para pesilat berubah menjadi abu keperakan, sekarang terlihat berubah lagi.

Wajah Sat Kao tidak setegang tadi, tapi dia tetap memejamkan matanya, sepasang tangannya dengan teratur menepuk gendang.

Sejak kemarin malam hingga saat ini dia belum beristirahat sama sekali, dia sudah mencapai tarap sangat lelah.

Karena suara tepukan genderang laba-laba itu masih terus terlihat mondar-mandir, tapi laba-laba itu pun tampak sudah terlihat lelah.

Tujuan Sat Kao adalah membuat laba-laba itu terus merayap hingga memenuhi tubuh Wan Fei-yang, kemudian melalui benang laba-laba itu memancing keluar semua tenaga dalam Wan Fei-yang masuk ke dalam tubuh Beng To.

Dia selalu memperhatikan reaksi dari induk serangga itu.

Ternyata induk serangga itu senang hidup di dalam tubuh manusia, dia tidak peduli perubahan yang terjadi di dalam tubuh manusia, karena itu dia tetap tenang.

Setelah lama dia baru membuka kedua matanya untuk memperhatikan perubahan yang terjadi pada Beng To.

Beng To seperti berada dalam kepompong sutera yang dianyam dari serat laba-laba, setelah sehari semalam benang itu mulai berubah wama menjadi putih keperakan, hanya pada bagian tubuh Beng To, Benang sutera laba-laba yang menyambung ke tubuh Wan Fei-yang tadinya berwarna transparan dan terang sekarang mulai berubah warna menjadi gelap, perubahan ini tidak terlalu kentara, orang biasa tidak bisa melihatnya.66 Tentu saja Sat Kao memperhatikannya, jika Beng To memecahkan kepompongnya dan keluar dia akan tertawa sekeras-kerasnya.

Waktu semakin dekat dengan waktu Beng To memecahkan kepompong, apakah Pei-pei dan Tong Ling terlambat?

Tong Ling dan Pei-pei tidak tahu dalam waktu sehari semalam telah terjadi perubahan begitu besar.

Setelah berhasil membuka pintu rahasia, mereka jadi terkejut sekaligus senang.

Sambil memberitahukan jalan rahasia kepada Tong Ling, mereka terus berjalan menuju kamar rahasia.

Di kedua sisi pintu rahasia terpasang lampu tempel, karena itu mereka bisa dengan cepat tiba di sana, apalagi Pei-pei hafal dengan jalan ke sana, mereka pun berjalan dengan santai.

"Mereka berada di sini,"

Kata Pei-pei.

"Apa gunanya suara genderang itu?"

Kedua tangan Tong Ling memegang senjata rahasia dengan erat lalu dengan tegang bertanya lagi.

"apakah suara genderang itu untuk mengusir serangga?"

Pei-pei mengangguk sikapnya tidak terlihat tegang maupun khawatir, hal ini membuat Tong Ling merasa aneh, dia tertawa dingin.

"Kelihatannya kau sama sekali tidak merasa khawatir."

"Suara genderang itu baru dimulai, begitu lembut dan pelan, kita belum terlambat mencegah!"

"Menyedot tenaga dalam butuh waktu yang panjang!"

"Aku tidak tahu begitu jelas, tapi seharusnya memang seperti itu, kalau tidak, kita tidak perlu bersembunyi di sini!"

"Tapi itu kan sudah dimulai, mengapa suara genderang itu masih ringan dan kau tidak cemas?"

"Mereka baru mulai, ini sangat menguntungkan bagi kita,"

Pei-pei menjelaskan.

"tenaga dalam Wan-toako baru masuk ke dalam tubuh kakakku, dia tidak akan mengalami banyak kerugian, dia sudah dikuasai oleh suara genderang, hanya akan menerima aliran tenaga dalam, dia tidak akan menyerang kita, yang kita hadapi bukan hanya..."

"Bukan hanya gurumu saja, sekarang dia sepenuh hati memukul genderang untuk menguasai Wan Fei-yang, walaupun dia menguasai ilmu guna-guna tapi sulit untuk memperagakannya karena itu lebih mudah menghadapinya,"

Tong Ling segera berlari ke arah suara genderang itu. Sambil mengejar Tong Ling dari belakang Pei-pei berteriak.

"Hancurkan..."

"Menghancurkan genderangnya dulu, sekali dikatakan sudah cukup, aku bukan orang yang mudah lupa!"

Tong Ling tertawa dingin.

"coba kau memberitahu, kira-kira genderang itu diletakkan di mana?"

Setelah berada di depan ruang rahasia, Tong Ling melambaikan tangan memberi isyarat agar Pei-pei membuka pintu rahasia itu.

Kali ini Pei-pei lebih berhati-hati, pintu ruang rahasia lebih rumit, hingga terakhir saat pintu ruang rahasia didorong, tetap terdengar suara berderit, hal ini sudah diberitahukan dahulu oleh Pei-pei, karena sudah ada persiapan walaupun terjadi suara besar, Tong Ling tidak merasa aneh.

Dan pada waktu yang tepat dia berkelebat68 masuk, senjata rahasia berada di tangannya bersamaan waktu dilemparkan.

Ingatan Pei-pei benar-benar bagus, tapi dengan mata jeli Tong Ling dan keputusan yang tepat, dia bisa menguasai jarak dengan tepat.

Tenaganya tidak terganggu.

Sat Kao tidak tahu Pei-pei dan Tong Ling sudah berhasil masuk ke kamar rahasia, setelah pintu dibuka, dia masih tidak sadar, begitu matanya terbuka, gerakan memukul genderang segera berhenti.

Dia melihat Tong Ling yang berkelebat masuk dan melihat senjata rahasia di tangan Tong Ling yang berkelebat.

Tubuhnya langsung ambruk ke samping.

Ini adalah satu-satunya gerakan yang bisa dia lakukan, dia terlalu lelah.

Tapi dia sadar lihainya senjata rahasia itu.

Kalau pun senjata rahasia itu menyerangnya dan dia meloncat, tapi di tengah udara mungkin arahnya bisa berubah, tapi dengan keadaan nya sekarang, sulit untuk menghindari serangan senjata rahasia itu.

Dia melihat senjata rahasia itu tidak diarahkan kepadanya, melainkan untuk memecahkan genderangnya tapi tetap saja dia tidak bisa mencegahnya.

Gerakan menjatuhkan diri ke samping dilakukan karena terpaksa, terdengar suara senjata rahasia berdenting, lalu terdengar suara genderang pecah.

Perkiraannya tidak meleset, ketepatan dan kecepatan senjata rahasia menunjukkan senjata itu berasal dari seorang pesilat senjata rahasia yang hebat.

Setelah melihat yang datang adalah Tong Ling, maka dia tidak merada aneh dengan kelihaian senjata rahasianya.69 Beng To telah menceritakan kepadanya, saat Tong Pek-coan di akhir hayatnya sudah menyerahkan Tong-bun kepada Tong Ling.

Walaupun mereka mempunyai hubungan kakek dan cucu tapi kalau bukan karena ilmu senjata rahasia Tong Ling yang lihai, tidak akan membuat Tong Pek-coan memilih Tong Ling memimpin Tong-bun.

Membuat murid-murid Tong-bun percaya bahwa Tong Pek-coan memilih Tong Ling bukan karena dia cucunya.

Sehingga tidak memperhatikan masa depan Tong-bun.

Maka saat senjata rahasia dilemparkan, dia segera menegakkan tubuhnya dan genderang kecilnya segera terjatuh.

Bersamaan waktu itu hati Sat Kao terasa berat, datang pesilat tangguh di saat begini genting, akibatnya sulit dibayangkan, dia mati tidak masalah, tapi Beng To tidak boleh mati.

Genderang kecil itu terus memancarkan sinar, dilihat dari luar tidak jelas genderang itu terbuat dari apa, apalagi bentuknya sangat aneh.

Semua genderang di sisinya tidak ada yang terkecuali semua pecah karena terkena serangan senjata rahasia Tong Ling.

Ini benar-benar di luar dugaannya, akhirnya terpaksa dia mengeluarkan sebuah genderang dari balik baju bagian dadanya, genderang itu bernama 'Beng-ku' (Genderang nyawa).

Bagi orang yang menguasai ilmu guna-guna, setiap dukun pasti mempunyai sebuah benda yang menyangkut nyawanya, dan ada hubungannya dengan cara dukun itu menguasai ilmu guna-guna, seperti Sat Kao dengan genderangnya dia bisa menguasai serangga.

Benda yang70 menyangkut nyawanya adalah genderang kecil itu, biasanya genderang itu disebut jimat.

Bahan pembuat genderang ini berbeda dengan genderang lainnya.

Genderang kecil itu terbuat dari air liur beracun yang keluar dari berbagai macam jenis ulat dan serangga yang dipeliharanya.

Kemudian ditambah dengan berbagai jenis serangga dan ulat yang dimasak kemudian dijadikan kulit genderang, lebih tebal dan kuat untuk membuat rangka genderang, pembuatannya sangat rumit, ukuran genderang yang besar maupun yang kecil sesuai keinginannya.

Biasanya hanya sebesar kuku jari, karena hanya memakai beberapa jenis serangga untuk membuat genderang, tapi genderang yang sebesar milik Sat Kao sangat jarang.

Karena dia berlatih ilmu lweekang dari Mo-kauw dia terpaksa harus memelihara banyak ulat dan serangga.

Saat 'Beng-ku' dipukul mengeluarkan suara sangat aneh, itu bukan genderang biasa yang bisa mengeluarkan semua serangga dan ulat, tapi semua serangga dan ulat itu harus mengikuti alunan genderang Beng-ku, yang pasti saat ini kondisi Sat Kao terjepit dan nyawanya sedang terancam, biasanya dia jarang memakai Beng-ku, tapi jika sudah dipakai pasti akan berhasil.

Tapi saat ini keadaan sangat berbahaya.

Karena Beng-ku tidak sekuat genderang biasa, kalau tidak berhati-hati memukul, Beng-ku bisa pecah dan semua akan sia-sia.

Maka biasanya dukun selalu membungkusnya dengan benda yang keras agar tidak rusak.

Sat Kao pun seperti itu, membuat genderang agak besar mengeluarkan macam-macam suara untuk menguasai serangga-serangga dan ulat yang dipeliharanya.71 Di kamar rahasia itu hanya laba-laba yang dipakai oleh Sat Kao, tapi laba-labanya terdapat banyak jenis dan terlihat begitu aneh, maka Sat Kao harus memukul berjenis-jenis genderang, dengan cara seperti itu dia baru bisa menguasai berbagai jenis laba-laba itu.

Yang bernama 'Ku' adalah berbagai macam ulat beracun yang saling membunuh kemudian menyedot sarinya, yang paling kuatlah yang akan tersisa, yang paling sederhana pun hanya ada sekitar 2-3 macam jenis ulat dan serangga yang disatukan dan disedot sari-sarinya.

Seperti laba-laba itu sangat rumit, apalagi laba-laba beroman manusia.

Itu adalah serangga beracun yang jarang ada, karena dia sudah menyedot banyak sari dari serangga dan ulat lainnya.

Jika genderang pecah, laba-laba itu tidak bisa dikuasai lagi, walaupun tidak akan mencelaki Beng To tapi tenaga untuk menyedot tenaga dalam Wan Fei-yang pun akan hilang.

Di saat penting seperti ini, jika kurang sedikit ilmunya pun Beng To akan mengalami kegagalan total, pukulan ini mana mungkin bisa ditahan oleh Sat Kao!

Maka tanpa ragu-ragu dia mengeluarkan 'Beng-ku'.

Beng-ku disimpan di sebuah tempat yang terbuat dari besi berbentuk seperti pipa.

Setelah kedua tangan Sat Kao menekan tombol, tutup dari wadah berbentuk pipa itu pun terbuka.

Sat Kao mengambil Beng-ku yang muncul dia segera menepuk Beng-ku itu, walaupun dalam keadaan terburu-buru tapi tenaga yang dikeluarkan untuk menabuh sangat pas.72 Suara genderang aneh segera memenuhi ruangan rahasia itu, laba-laba yang masih menempel di tubuh Wan Fei-yang terlihat bertambah gesit.

Tapi hanya sekejap 'Beng-ku' sudah pecah lagi oleh senjata rahasia Tong Ling, sebenarnya Tong Ling tidak tahu kegunaan Beng-ku itu.

Hanya saja dari sikap Sat Kao dia tahu kegunaan Beng-ku itu bagi Sat Kao, itu adalah jimat bagi Sat Kao.

Maka pertama yang dipikirkan Tong Ling adalah itu pasti suatu senjata sakti atau senjata yang sangat lihai, dan harus segera dihancurkan, maka senjata rahasianya segera melayang.

Tapi dia pun teringat janjinya kepada Pei-pei, tidak akan mencabut nyawa Sat Kao dan Beng To.

Maka dia mengarahkan senjata rahasianya ke arah Beng-ku, dia sangat percaya diri.

Reaksi lamban dari Sat Kao tidak bisa menipu Tong Ling, maka dengan keputusan jeli dan kecepatan yang tepat, semua senjata rahasia itu ditembakkan ke arah Beng-ku.

Sat Kao boleh tidak terluka, tapi Beng-ku baginya adalah benda penting.

Maka waktu itu tangannya diangkat untuk melindungi Beng-ku, dan senjata rahasia itu segera menembus telapak tangannya.

Lima buah senjata rahasia menembus telapak tangan kanannya dan senjata rahasia itu terus melesat ke arah Beng-ku.

Selain 5 senjata rahasia itu masih ada 20 senjata rahasia yang ditembakkan dari sudut berbeda.

25 butir senjata ditembakkan menuju satu sasaran yang sama, yaitu Beng-ku, mana mungkin Beng-ku tidak akan hancur?

Sat Kao segera berteriak histeris, tangan kirinya menekan luka di tangan kanannya, dia seperti ingin menghentikan73 darah yang keluar dari luka itu.

Kali ini reaksinya sangat cepat tapi tetap kalah cepat dengan darah yang mengalir keluar, darah yang keluar seperti air yang menyembur.

Bersamaan waktu itu, laba-laba yang ada di tubuh Wan Fei-yang dan Beng To terlepas.

Dengan cepat mereka merayap ke arah Sat Kao, menyambut darah Sat Kao yang menyembur keluar.

Sepertinya laba-laba berwarna-warni itu adalah serangga yang menjadi parasit dan hidup di tubuh laba-laba itu, semua menyambung ke tangan kanan Sat Kao yang terluka, hanya sekejap darah sudah menghilang.

Darah merah dengan cepat berubah menjadi ungu kehitaman, laba-laba bergerak dengan cepat kembali ke tubuh Sat Kao.

Kejadian aneh berlangsung, waktu seperti berbalik, darah yang keluar seperti kembali lagi masuk ke tubuh Sat Kao.

Itulah darah Sat Kao, di sekeliling sana tidak terjadi perubahan.

Sebenarnya itu bukan darah, melainkan sekelompok ulat, setelah menyedot habis darah yang mengalir, mereka masuk secara berdesak-desakan ke dalam tubuh Sat Kao.

Sat Kao berteriak, semakin lama teriakannya semakin kencang dan memilukan, kedua tangannya terus menggapai-gapai, dia mencoba berdiri tapi lalu ambruk, di seluruh bagian tubuhnya seperti keluar asap, mata Tong Ling pun terlihat bingung.

"Suhu..."

Teriak Pei-pei.

Tapi Sat Kao tidak menjawab, dia sedang sangat kesakitan, tangan kanannya mulai membusuk.

Begitu pun daging di seluruh tubuhnya tidak terkecuali.

Bajunya mulai berlubang dan lubangnya semakin lama semakin membesar, terlihatlah tulang yang berwarna putih.74 Tong Ling bukan seorang yang penakut, tapi dia tetap merinding saat melihat kejadian di depan matanya.

Bagaimana dengan Pei-pei, apakah dia tidak tega melihat kejadian yang menimpa gurunya?

Dia membalikkan tubuh dan tampak gemetar.

Baju Sat Kao dengan cepat sudah hancur.

Di balik bajunya terlihat tulang berwarna putih bukan hanya daging, organ bagian dalamnya pun sudah habis dimakan oleh serangga dan ulat-ulat.

Suara teriakan memilukan dari besar menjadi kecil, kemudian teriakan itu menghilang.

Tapi Tong Ling seperti mendengar bahwa hati Sat Kao menjadi tenang, akhirnya tubuh Sat Kao hanya tersisa tulang belulang.

Tulangnya berwarna ungu kehitaman.

Setelah agak tenang Tong Ling bertanya kepada Pei-pei.

"Apa yang terjadi?"

Pei-pei melihat tulang belulang gurunya kemudian merinding baru menjawab.

"Kau sudah menghancurkan Beng-ku yang merupakan jimatnya, maka serangga dan ulat-ulat itu terlepas kontrol sehingga mereka berbalik menyerang tuannya!"

"Beng-ku? Apakah itu genderang kecil yang terakhir dia keluarkan?"

Pei-pei mengangguk, Tong Ling tertawa dingin.

"Ternyata kalian yang sering memakai guna-guna ada kelemahan yang bisa membuat nyawa melayang!"

"Kalau keadaan tidak darurat, kami tidak akan menggunakan Beng-ku, demi Kokoku, guru sudah mengorbankan nyawanya, walau bagaiamana pun dia adalah guru yang baik!"

"Apakah kau menyesal?"

Tanya Tong Ling. Pei-pei menundukkan kepala.

"Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini!"

"Tidak perlu menyayangi kematian orang seperti dia, tapi bagi kalian yang menjadi muridnya, kalian benar-benar telah kehilangan seorang guru yang baik!"

Hatinya lurus mulutnya bergerak cepat, apa pun yang mengganjal selalu diungkapkannya secara blak-blakan, dia membenci kelakuan Sat Kao, tapi dia juga mengakui Sat Kao adalah seorang guru yang baik!

Kemudian dia berkata lagi.

"Orang yang mahir berenang mati di dalam air, gurumu juga seperti itu! Apakah kau yang menjadi muridnya masih berani memelihara serangga dan ulat untuk guna-guna?"

Pei-pei tertawa kecut.

"Jika sudah memeliharanya, tidak akan bisa berhenti, kecuali ada orang yang mau menerima mereka secara sukarela dan serangga-serangga itu bisa menerima pengganti tuannya juga harus melihat apakah orang itu sanggup menggantikan majikannya yang dulu, kalau tidak, semua hanya sia-sia saja!"

"Kalau begitu, kau akan menunggu serangga dan ulat yang kau pelihara berbalik menggigitmu, seperti yang terjadi pada gurumu?"

Pei-pei terdiam, mata Tong Ling berputar.

"Mengapa masih bengong saja? Cepat ke sana, lihat keadaan Wan-toako!"

Dia sendiri pun berjalan ke arah sana, Pei-pei mengikutinya.

Dia berjalan dulu di depan tapi baru beberapa langkah dia langsung terpaku.

Wan Fei-yang sudah berubah, semua serat dari laba-laba itu sudah terlepas, dan dia muncul dengan wajah aslinya,76 karena sudah tidak ada serat laba-laba maka wajahnya menjadi abu dan keriput, setiap saat seperti bisa mengelupas.

Sampai sekarang Pei-pei belum tahu apa yang telah terjadi.

Tong Ling pun bukan gadis bodoh, dia berteriak.

"Ini bukan awal..."

"Apakah kita sudah terlambat datang?"

Tanya Pei-pei.

"Wan-toako!"

Teriaknya Dia berteriak sambil berlari, tapi Tong Ling tiba-tiba membalikkan tubuh, bersamaan waktu senjata rahasianya sudah dikeluarkan, dia melempar kan ke arah Beng To, setiap butir senjata rahasianya penuh dengan tenaga dalam, lebih kuat dari saat dia melemparkan kepada Sat Kao, suara yang timbul di udara begitu besar hingga siapa pun jadi bergetar.

Walaupun Pei-pei dalam keadaan gugup dan gelisah, dia masih bisa melihat ke belakang dan berteriak.

"Jangan..."

Teriakannya belum selesai senjata rahasia dilemparkan ke arah benang dari sarang laba-laba yang melilit tubuh Beng To, seharusnya berhasil tapi benang laba-laba itu ternyata sangat liat, senjata rahasia yang begitu tajam tidak mampu menembusnya, malah berbalik mental ke arah Tong Ling kembali.

Kata 'jangan' baru diteriakkan Pei-pei, lalu dia melihat hasil dari senjata rahasia yang dilemparnya, dia tampak terpaku lagi.

Tong Ling memang merasa aneh tapi dia tidak kecewa, sebutir senjata rahasia yang berada di tangannya, segera dilemparnya, senjata rahasia itu sangat sederhana, tapi paling bermanfaat.

Karena tidak ada yang dipikirkan dan tenaga dalamnya terkumpul di dalam senjata rahasia ini,77 sehingga saat dilempar bisa membuat sebongkah batu hancur.

Tubuh Beng To adalah tubuh yang dialiri darah dan terdiri dari daging serta otot, mana mungkin bisa menahan serangan senjata rahasia yang begitu tajam?

Tapi dia seperti tidak merasakan dan tidak bergerak sama sekali.

Senjata rahasia sudah sampai, terlebih dulu menyentuh benang laba-laba sepertinya akan tembus, tapi malah berbalik mental dan terjatuh ke bawah.

ooo * ooo78 BAB 10 Akhirnya Tong Ling jadi merasa terkejut, karena tenaga lemparannya sangat jelas tapi sedikit pun tidak berguna, bagaimana mungkin tidak membuatnya terkejut.

Tiba-tiba Pei-pei teringat sesuatu, dia berlari ke arah Tong Ling sambil berteriak.

"Tong Ling, cepat pergi dari sini... kalau tidak, tidak akan keburu!"

Mata Tong Ling tampak berputar.

"Apa yang kau katakan?"

"Tidak diragukan lagi, mereka berhasil sudah menghisap tenaga dalam Wan-toako, kita terlambat kemari!"

"Kalau kita terlambat, mengapa gurumu bisa mati karena senjata rahasiaku?"

Pei-pei menggelengkan kepala.

"Maksudku adalah, kakakku sudah menyelesaikan tahap terakhir, dia harus menunggu waktu yang tepat untuk memecahkan kepompong..."

"Kalau begitu sebelum dia memecahkan kepompongnya, aku akan membunuh dia terlebih dulu!"

Sepasang tangan Tong Leng-bolai memegang senjata rahasia dan berjalan ke arah Beng To. Sambil berlari Pei-pei berteriak.

"Lebih baik kau cepat pergi dari sini, kalau Kokoku sudah memecahkan kepompongnya..."

"Jangan banyak bicara..."

Dalam bentakannya Tong Ling tetap melemparkan senjata rahasia ke arah Beng To.

Tabir senjata rahasia sudah dilemparkan dari semua penjuru, kalau Beng To masih duduk di sana dan tidak bergerak, dia akan terkena oleh senjata rahasia Tong Ling.79 Setiap senjata rahasia menyerang tempat-tempat penting, tidak ada satupun yang meleset, dia benar-benar jago senjata rahasia yang tangguh, melihat bentuk tubuh Beng To, dia bisa menghitung dengan tepat tempat-tempat penting itu.

Kata-kata Pei-pei tertelan kembali, dia melihat Beng To, menurut perkiraannya, senjata rahasianya akan terpental kembali dan terjatuh ke bawah, tapi kali ini yang terjadi malah sebaliknya.

Semua senjata rahasia itu masuk ke dalam benang laba-laba, tidak ada satu pun yang terpental kembali.

Tong Ling yang memiliki penglihatan tajam dam bereaksi cepat, dia segera meloncat.

"Lihat, bukankah aku sudah berhasil!"

Pei-pei terpaku, hal ini terjadi begitu tiba-tiba, membuatnya tidak ada persiapan. Sekarang dia hanya bisa terpaku dan bengong. Tong Ling membalikkan tubuh.

"Aku pernah berjanji tidak akan melukai mereka, tapi kau sendiri sudah melihatnya, aku sudah berusaha, terpaksa..."

Dia belum selesai berkata, dia melihat sinar ketakutan di mata Pei-pei dan dari bola mata Pei-pei dia bisa melihat Beng To yang tadinya duduk sekarang mulai berdiri pelan-pelan.

Hal ini tidak mungkin terjadi, Tong Ling dengan perlahan menoleh ke belakang, Beng To memang sudah berdiri.

Senjata rahasianya masih menancap di benang laba-laba, di bawah sorotan lampu tampak terus bercahaya.

Apakah senjata itu hanya menancap di benang laba-laba dan tidak membuat benang laba-laba itu hancur?

Belum lagi habisa berpikirannya, benang laba-laba yang menempel di tubuh Beng To berubah lagi, tadinya bercahaya80 perak, bersih, dan tembus pandang, pelan-pelan berubah menjadi abu, kemudian mengelupas.

Senjata yang menancap di benang laba-laba yang menempel di tubuh Beng To semua terjatuh ke bawah.

Tubuh Beng To tampak bersih, tidak terlihat ada bekas luka, berarti senjata rahasia itu memang hanya menancap di atas benang laba-laba, tidak ada ekspresi kesakitan, terlihat dari sudut mulutnya seringai, dan senyum senang, masih mengandung cemoohan.

Lama...

Tong Ling baru tersadar dan merasa terkejut.

Senjata rahasianya disiapkan di tangannya dan akan dilemparkan lagi.

Pei-pei yang berada di pinggir masih tampak terkejut dan tidak bersuara sedikit pun.

Pelan-pelan Beng To membuka matanya, saat itu di ruang rahasia seperti lebih terang dari sebelumnya, untuk pertama kalinya Tong Ling melihat sorot mata yang tampak begitu bercahaya, tanpa sengaja dia pun mundur selangkah.

Pei-pei seperti tersadar oleh sorot mata itu, dia berteriak.

"Tong Ling... cepat pergi..."

"Diam..."

Sampai sekarang terlihat dia masih keras kepala.

Beng To tidak melihat ke arah mereka, dia memutar tubuhnya, dia melihat tulang belulang Sat Kao, kemudian dia merangkapkan kedua tanganya dan melakukan Pai.

"Terima kasih, Suhu, karena telah membantu muridmu mencapai tujuan, seumur hidup murid akan terus merasa berterima kasih!"

Dia pun melakukan Pai lagi lalu bersujud di tanah sebanyak 3 kali, sekarang Tong Ling baru melepaskan senjata81 rahasianya berturut-turut, senjata rahasia datang seperti hujan, seperti ada jala besar yang berkilauan, menutupi Beng To.

Beng To seperti tidak merasakan serangannya, dia berdiri, benang laba-laba yang terlepas dari tubuhnya, tiba-tiba melayang dan menganyam kembali, membuatnya berada di dalam jala dan dengan tepat bisa menahan serangan senjata rahasia yang dilepaskan Tong Ling.

Semua senjata rahasia yang dilemparkan tersangkut oleh benang laba-laba, seperti ditelan oleh sarang laba-laba itu tanpa bersuara.

Tong Ling melemparkan lagi senjata rahasianya, bersamaan waktu Beng To tampak berputar, sarang laba-laba mengikuti putarannya, terlihat seperti secarik jala terus melayang dan berputar, menyambut senjata rahasia Tong Ling.

"Kalau kau tidak pergi sekarang, tidak akan keburu lagi!"

Tidak menunggu Tong Ling menjawab, sambil berlari Pei-pei berteriak lagi.

"Kau bukan lawannya, tinggal terus di sini pun tidak akan ada gunanya, cepat tinggalkan tempat ini. Dan beritahu yang lain..."

Sebenarnya Tong Ling sudah tidak berani melemparkan senjata rahasianya lagi setelah mendengar teriakan Pei-pei, dia berpikir semua masuk akal, maka dia pun bersalto, berlari ke depan pintu.

Beng To tertawa, dia membawa sarang laba-laba itu dan terbang di udara, dia ingin menggulung Tong Ling yang masih berada di tengah udara, sarang laba-laba begitu kuat, tidak ada satu pun benang yang putus, benangnya seperti secarik kain sutera begitu lembut dan halus.82 Terlihat Tong Ling akan tergulung, tiba-tiba Pei-pei meloncat tinggi menyambut sarang laba-laba itu, dalam teriakannya dia pun tergulung oleh sarang laba-laba itu.

Tong Ling menoleh, dia mengerti maksud Pei-pei, tujuannya adalah agar dia mengambil kesempatan kabur dari tempat ini.

Maka dia segera menarik pintu rahasia.

Waktu itu terdengar suara kencang di udara, banyak senjata tajam dilemparkan ke atas pintu rahasia.

Semua senjata itu ternyata senjata yang terjatuh yang tadi dilemparkan oleh Tong Ling kepada Beng To.

Reaksi Beng To sangat cepat, melihat Pei-pei meloncat ke atas, dia tahu apa maksud Pei-pei, maka dia segera menggulung kembali tubuhnya, dia mengambil senjata rahasia yang terjatuh ke bawah dan melemparkan ke arah pintu rahasia, terlihat dia seperti tidak menggunakan tenaga besar tapi suara senjata yang terbang terdengar lebih besar dari pada yang dilemparkan Tong Ling.

Tong Ling melihat dari sudut matanya, terlihat senjata rahasia itu seperti bola api, terus terbang ke arahnya, kemudian menghantam ke arah pintu.

Karena tertumbuk senjata rahasia yang ber-bentuk bola api pintu rahasia segera menutup kembali.

Yang pasti lemparan senjata rahasia dari Beng To tidak sehebat Tong Ling, tapi karena tenaga dalamnya sangat kuat.

Maka senjata rahasianya sudah seperti sebuah bola besi, menghantam ke atas pintu, semua tidak sanggup ditahan oleh Tong Ling.

Pintu rahasia itu cukup kuat karena itu tidak sampai hancur.

Kalau tidak, dia bisa keluar melalui lubang dan kabur dari sana, tapi sekarang ini dia terkurung lagi di dalam ruang rahasia.83 Tentu saja dia terkejut, tubuhnya ikut meluncur menabrak pintu ruang rahasia.

Meski tidak sampai terluka, dia sudah tahu sampai di mana dan seperti apa kekuatan tenaga dalam Beng To sekarang, melihat senjata rahasianya yang terpaku di atas pintu dia tampak terkejut.

Karena senjata rahasia itu sudah berubah bentuk.

Mereka saling menempel dan berubah menjadi bola dari logam, separuh menancap di pintu, separuhnya lagi di atas pintu terlihat bersinar dan tidak satu pun yang terjatuh.

Tapi ada untung juga, senjata rahasia itu tidak terjatuh maka Tong Ling tidak sampai terluka karena senjata itu.

Setelah agak tenang, dia berusaha membuka pintu itu, kali ini pintu tidak bergeser sedikit pun, bukan karena telah terhantam senjata rahasia ber-bentuk bola melainkan sebelah tangan Beng To menahan pintu itu.

Tong Ling memang melihat kedatangan Beng To tapi dia datang begitu cepat, benar-benar di luar dugaannya.

Reaksinya bukan reaksi lamban, sebuah senjata rahasia masih berada di tangannya, diayunkan senjata itu memotong leher Beng To.

Beng To tertawa, dia melayangkan tangannya mengambil senjata rahasia itu dan mengayunkannya.

Tong Ling segera ikut bersalto dan terjatuh di tempat tadi di mana Beng To duduk bersemedi.

Pei-pei sudah berhasil keluar dari lilitan sarang laba-laba, dia segera menghadang di depan Tong Ling dan berteriak.

"Kau tidak boleh melukainya..."

Beng To melihat Pei-pei.

"Adikku yang baik, kalau aku mau melukainya, dia tidak akan hidup sampai sekarang?" 84 Pei-pei tampak berpikir, benar juga dia segera berkata.

"Kalau begitu minggirlah, biarkan dia pergi dari sini!"

"Jika begitu, bukankah akan membuat semua kalangan persilatan tahu apa yang terjadi, dan mereka akan bergabung untuk melawanku?"

"Asal kau tidak pergi ke Tionggoan, mereka tidak akan mau jauh-jauh datang mencari ke daerah Biauw..."

"Kalau mereka tahu aku sudah membunuh banyak orang, mereka pasti akan datang kemari mencariku!"

Kemudian dia tertawa dan melanjutkan.

"walaupun mereka tidak mencariku, aku yang akan mencari mereka, lebih baik aku yang ke sana mencari mereka agar mereka tidak ada persiapan sedikit pun, dengan cara itu baru bisa menang!"

"Apakah benar kau ingin berbuat ulah di kalangan persilatan Tionggoan?"

Tanya Pei-pei.

"Pesan terakhir Suhu seperti itu mana mungkin aku sebagai murid tidak melakukannya, kalau tidak melaksanakannya mungkin Suhu tidak bisa tenang di alam sana?"

"Aku yakin tidak ada kebaikan apa pun yang bisa diperoleh!"

"Kalau kau tahu ada kebaikannya, kau tidak akan bergabung dengan orang luar untuk melawanku,"

Beng To menggelengkan kepala.

"tapi kau adalah adikku. Aku tidak bisa menekanmu..."

"Tong Ling adalah teman baikku..."

"Walau bagaimanapun tidak seakrab kau dan Wan Fei-yang!"

Pei-pei terpaku, dia menatap Wan Fei-yang, waktu itu juga Tong Ling berteriak.

"Kau tidak perlu memohon-mohon kepadanya!" 85 Mata Pei-pei tampak berputar, tepat beradu pandang dengan Tong Ling, Tong Ling melambaikan tangannya.

"Jangan mengurusi masalahku!"

"Dia tidak bisa ikut campur!"

Beng To melangkah ke arah Tong Ling sambil tertawa. Pei-pei menghalanginya, dia berteriak.

"Biarkan dia pergi dari sini..."

Langkah Beng To masih belum berhenti, dia mendekati Pei-pei.

"Mengapa kau tidak melihat Wan-toako mu saja!"

"Bagaimana keadaannya?"

"Tenaga dan ilmu lweekangnya sudah berpindah ke dalam tubuhku, dia sudah berubah menjadi orang cacat!"

Memang semua itu berada dalam perkiraan Pei-pei, tapi setelah mendengar jawaban Beng To dia tetap terlihat terkejut. Beng To berkata lagi.

"Tapi kau bisa tenang, dia tidak mengalami bahaya yang pasti dia membutuhkan orang untuk mengurusinya, jadi kalian berdua selamanya bisa daerah Biauw dan tidak perlu khawatir dia akan meninggalkanmu!"

Pei-pei tidak bisa menjawab apa pun, dia hanya merasa terkejut melihat Beng To, Tong Ling yang di sisinya masih terus tertawa dingin.

"Lihatlah, karena kau, Wan Fei-yang yang kuat berubah menjadi seperti apa!"

Pei-pei berbalik melihat Wan Fei-yang, wajah nya terlihat pucat, Pei-pei benar-benar sedih.

Waktu itu Wan Fei-yang tiba-tiba menarik nafas, dia membuka kedua matanya melihat ke arah mereka, matanya tidak bercahaya, tapi sekarang tatapannya sudah tidak86 kosong dan mulai terlihat ada perasaan, terlihat ada kesedihan, tapi tidak ada pilihan lain.

Beng To menoleh, dia tertawa.

"Suhu sudah meninggal, induk serangga yang berada di dalam tubuhnya pasti akan kehilangan kendali, dia tidak akan tinggal di tempat yang dulu, dia akan menjadi benda tidak bertuan, kalau kau tahu bagaimana cara menguasai induk serangga yang ada di dalam tubuh Wan Fei-yang, kau akan tetap membuat Wan Fei-yang hidup dengan senang dan tidak akan jauh-jauh meninggalkanmu!"

Pei-pei menggelengkan kepala.

"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu!"

"Apa yang kau sukai terserah padamu, tapi kau harus berhati-hati, induk serangga yang ada di dalam tubuhnya kalau tidak diatur dengan baik akan mendatangkan bencana!"

Pei-pei berkata sendiri.

"Suhu pernah memberitahu banyak rahasia induk serangga itu tapi juga menutupi banyak hal tentang ini!"

"Jangan salahkan Suhu, kalau memberi tahu banyak mengenai induk serangga itu, bagaimana dengan keselamatannya?"

Beng To tertawa.

"Dan dia juga melihat kita tidak berbakat dalam ilmu guna-guna, dan tidak sanggup memelihara induk serangga, banyak bicara pun percuma saja!"

Pei-pei menundukkan kepala.

"Seharusnya aku mengetahui banyak hal, ternyata tidak sederhana seperti yang kuperkirakan selama ini, tapi kata-kata Suhu seperti itu..."

"Jangan salahkan Suhu, dia melakukan itu karena aku. Walaupun kita kakak beradik muridnya, tapi kita juga harus87 mempunyai pilihan, terkadang dengan terpaksa harus mengorbankan orang lain!"

Pei-pei menarik nafas.

"Kau adalah Kokoku, kalau harus memilih, walaupun kemampuanku berada di atasmu, aku tetap akan memberi kesempatan kepadamu!"

"Adik yang baik, kata-katamu tadi membuat kakakmu tidak bisa bersikap galak kepadamu!"

Beng To tertawa. Pei-pei berteriak dengan senang.

"Kalau begitu, kau setuju untuk membiarkan Tong Ling pergi dari sini?"

Pei-pei benar-benar jujur dalam memohon, yang pasti Tong Ling mendengarnya, maka walau pun dia sangat keras kepala, waktu itu dia tidak sanggup berkata apa-apa.

Beng To kembali melihat Tong Ling, dia menggelengkan kepala.

"Tadi aku sudah menjelaskan, aku tidak akan membiarkan dia meninggalkan tempat ini!"

Dia mulai melangkah lagi.

"Koko..."

Pei-pei terburu-buru menghadang kakaknya.

"Seharusnya kau pergi ke sana untuk melihat keadaan Wan Fei-yang, dia sudah berubah seperti apa!"

"Dia..."

Kedua tangan Beng To sudah menekan pundak Pei-pei terlihat dia tidak menggunakan tenaga yang berarti, tapi tubuh Pei-pei seperti terlempar, dia tidak terlempar ke mana-mana dia jatuh tepat di samping Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang menatapnya, kesadarannya sudah kembali seperti semula, dia segera tahu apa yang telah terjadi, dia merasa sedih atas kemalangannya, tapi dia lebih mengkhawatirkan keselamatan Tong Ling.

Karena dia melihat Beng To tidak berniat baik.88 Dia melihat Pei-pei, dengan terengah-engah dia berkata dengan cepat.

"Bujuk kakakmu..."

Kata-katanya singkat, Wan Fei-yang membutuhkan waktu 3 kali lipat lebih banyak dari orang biasa baru bisa selesai bicara dan tubuhnya terasa lemas dan suaranya makin mengecil, Pei-pei harus menempelkan telinganya agar bisa mendengar dengan jelas.

Sewaktu Pei-pei akan menjawab, Wan Fei-yang tampak seperti kesakitan dan terguling ke bawah.

"Wan-toako..."

Teriak Pei-pei sambil mencengkeram pundak Wan Fei-yang. Wan Fei-yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu, wajahnya terlihat lebih muram lagi, keringat besar-besar keluar dari dahinya.

"Seharusnya dia tidak berbicara dulu, induk serangga itu sudah tidak memiliki tuan, suara kecil akan membuat serangga itu bergetar, kalau dia mati di dalam tubuhmu racunnya akan keluar, waktu itu nyawamu tidak akan tertolong lagi!"

Air mata Pei-pei terus mengalir, Beng To tidak meneruskan kata-katanya, tangannya terayun, 3 buah senjata rahasia disambutnya.

Ternyata diam-diam Tong Ling menyerangnya, tidak disangka walaupun Beng To sedang bicara dengan Pei-pei reaksinya begitu cepat dan lincah, tapi dia tetap tidak putus harapan, 3 buah senjata rahasia yang ada di tangan satunya sekali lagi dilemparkannya.

Mata Beng To tampak berputar, 3 senjata rahasia sudah berputar keluar, tapi bukan melesat kearah Tong Ling melainkan ke arah dinding di sebelah kiri.

Tapi 3 butir89 senjata rahasia Tong Ling tetap terbawa berputar terbang ke arah sana dan menancap ke dalam dinding.

Ini benar-benar seperti sihir, sebenarnya Tong Ling tahu tenaga dalam Beng To akan maju setahap, tapi dia sama sekali tidak menyangka akan maju seperti ini, karena itu dia terkejut.

Beng To tertawa.

"Aku tidak berniat jahat kepadamu, untuk apa kau melakukan hal seperti tadi kepadaku?"

Ucapan Tong Ling belum keluar, Beng To sudah berkata lagi.

"Dulu senjata rahasia dari Tong-bun tidak membuatku merasa terancam, apalagi sekarang! Apakah kau sudah lupa hal-hal yang terjadi di Tong-bun?"

"Menyedot tenaga dalam milik orang lain ke tubuhmu, apakah kau tidak merasa malu?"

"Aku anggota Mo-kauw, tentu tidak akan merasa malu!"

Jawab Beng To dengan santai. Tong Ling terpaku, Beng To berkata lagi.

"Aku tidak akan melukaimu, jadi kau bisa tenang, sebab aku belum pernah melihat gadis secantik dan semanis dirimu!"

Tong Ling merasa merinding dan bersamaan waktu Tong Ling mulai merasakan keanehan dari diri Beng To.

Beng To dengan bernafsu melihat tubuh Tong Ling dari atas sampai ke bawah, lalu dari bawah ke atas lagi.

Semua tempat dilihatnya walaupun Tong Ling tidak berpengalaman dan tidak mengerti, tapi dia merasakan niat Beng To yang tidak baik.

"Sejak bertemu denganmu malam itu, aku tidak bisa melupakanmu, dan terus terpikir mencari waktu untuk ke90 Tong-bun lagi untuk menemuimu!"

Sambil bicara Beng To mendekatinya, nada bicaranya aneh, seperti sedang bermimpi dan mengigau.

Tong Ling terus melangkah mundur, dia jadi mengerti apa yang akan terjadi, ketakutan mulai menghantuinya, dia marah.

"Kau orang sesat, mau apa sekarang!"

"Aku ingin kau tinggal di daerah Biauw!"

"Tidak..."

Jawab Tong Ling singkat.

"Aku tahu untuk membuatmu tinggal di daerah Biauw hanya dengan satu cara!"

Dengan serius Beng To berkata lagi.

"aku akan memper-istrimu!"

Dengan terkejut Tong Ling menatap Beng To, dia sama sekali tidak menyangka kalau Beng To akan berkata seperti itu. Beng To berkata lagi.

"Menurut aturan suku Biauw, pertama kau harus orang Biauw, tapi aku tidak peduli..."

"Tapi aku peduli!"

Teriak Tong Ling.

"Kau khawatir orang tuaku akan marah kalau aku menikahimu? Aku tidak peduli pada mereka!"

Mendengar kata-katanya, rasa marah Tong Ling bertambah besar.

"Aku hanya mempunyai seorang kakek, tapi dia sudah meninggal karenamu!"

Beng To seperti tidak merasa bersalah.

"Kelak aku akan mengurusmu dengan baik, biar kakekmu di alam sana bisa merasa tenang!"

"Kau sembarangan bicara!"

"Apakah kau tidak menyukaiku?"

"Tidak perlu dibahas!"91

"Ilmu silatku sangat tinggi, sekarang sudah menjadi nomor satu du dunia ini!"

Beng To membusungkan dadanya.

"Ilmu lweekangmu hasil mencuri dari Wan Fei-yang. Ilmu silat hebat pun tidak menjadi kebanggaan, maka tidak perlu di besar-besarkan!"

"Di dunia ini siapa yang tahu rahasia ini?"

"Aku tahu! Bukankah itu sudah cukup!"

Tong Ling berkata dengan sikap meremehkan.

"kau adalah siluman sesat, kau masih bisa hidup berapa lama lagi... ingat di luar langit sana masih ada langit yang lebih tinggi lagi!"

Beng To menggelengkan kepala.

"Kelak, kalau kau sudah melihatku berjaya, secara otomatis kau akan lupa..."

"Kau bisa lihat!"

Beng To tertawa tergelak-gelak lagi.

"Ambil keputusan biarkan aku pergi dari sini!"

Kata Tong Ling.

"Tinggallah di sampingku, kau akan melihat seperti apa aku dengan jelas!"

Tong Ling tertawa dingin, 3 buah senjata rahasia sudah dilemparkan ke wajah Beng To, tangan Beng To terangkat menyambut, senjata itu, dengan tenang dan tanpa ragu-ragu berkata.

"Ilmu senjata rahasiamu sudah mencapai taraf tinggi tapi semua itu tidak membuatku merasa terancam!"

Tong Ling melemparkan lagi senjata rahasianya, Beng To tertawa.

"Apa yang telah kuputuskan tidak akan berubah, orang seperti diriku..."

"Aku benci!"

Teriak Tong Ling menyela.

"Tapi kau bisa menyesuaikan diri!"

Beng To terdengar sangat percaya diri.92

"Walau bagaimanapun di mataku kau adalah orang picik!"

Tong Ling tertawa dingin.

"mungkin kau adalah orang Biauw dan tidak mengerti bahasa Han apa yang disebut picik, karena itu kau bisa merasa bangga!"

Alis Beng To tampak berkerut.

"Aku tahu artinya tapi aku tidak menganggap kata-katamu!"

Tong Ling menggelengkan kepaka.

"Orang seperti dirimu tidak banyak, tapi begitu tahu kau adalah orang Biauw, aku tidak merasa aneh!"

"Suku bangsa Han selalu menghina suku Biauw, tidak disangka kau juga orang seperti itu!"

"Karena kau adalah orang Biauw jenis seperti itu!"

"Seperti apa!"

"Paling tidak tahu malu dan paling picik!"

"Apakah kau tahu di mataku kau seperti apa?"

Kata Tong Ling lagi.

"Seperti apa?"

Beng To tahu pasti jawaban-nya bukan kata-kata yang enak didengar, tapi dia tetap penasaran.

"Binatang!"

Tong Ling tidak ragu-ragu menjawabnya. Beng To terpaku, sepasang matanya menjadi terang, tidak diragukan lagi dia mulai marah.

"Kau tahu pasti apa artinya binatang, kalau binatang di mana pun tetap binatang, maka sampai kapan pun aku tidak akan memandangmu!"

Kata Tong Ling dengan marah. Dengan bengong Beng To menatapnya, lama baru bertanya.

"Seharusnya kau tidak berkata seperti itu, paling sedikit kau harus berpikir dulu, mungkin saat sedang berpikir, kau masih memiliki kesempatan untuk melarikan diri!" 93 Tong Ling berpikir, semua kata-kata Beng To masuk akal juga, dia berpikir lagi, rasa dingin muncul dari hatinya. Dia melihat Beng To lagi, akhirnya dia menatap mata Beng To yang dipenuhi dengan nafsu birahi dan terlihat sifat binatangnya, dia membentak.

"Kau..."

"Aku adalah binatang, jadi apa yang akan kulakukan tidak aneh!"

Tong Ling mundur selangkah, tiba-tiba dia bersiul, sejumlah senjata rahasia dilemparkan ke arah Beng To, tubuhnya pun menggulung, melewati bagian atas kepala Beng To, kemudian dia berlari ke arah pintu rahasia, kedua tangan Beng To tampak berputar, dengan tenang menyambut senjata rahasia, tapi tubuhnya bergerak bersamaan, dia mengejar Tong Ling dari belakang.

Tong Ling berhenti di depan pintu rahasia dan menarik pintu itu lalu berlari keluar.

Kali ini Beng To tidak melemparkan senjata rahasia tapi dia cepat-cepat berlari ke depan pintu rahasia dan menahan pintu rahasia itu dengan tangannya.

Tong Ling sudah melemparkan senjata rahasia nya, Beng To bersembunyi di balik pintu, dengan cara seperti itu dia bisa terhindar dari serangan senjata rahasia.

Pei-pei segera datang ke sana, baru saja dia mencengkeram tangan Beng To, Beng To sudah mengibaskan tangannya, Pei-pei melayang dan terjatuh kembali di sisi Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang melihatnya, dia berniat memapah Pei-pei tapi tidak ada tenaga, tubuhnya lemas dan langsung ambruk.

Pei-pei bangun lagi dan sekali lagi berlari ke arah pintu rahasia itu, tapi Beng To sudah keluar dari pintu itu dan94 menutupnya kembali.

Dia mencengkeram pegangan pintu, dari celah dia memencet gagang pintu.

Beng To tahu pegangan pintu itu sudah rusak tapi dia tetap bisa selamanya membendung Pei-pei di dalam ruang rahasia, tentu saja dia tidak ber-maksud seperti itu.

Dia hanya tidak ingin Pei-pei mengganggu dan merusak hubungannya dengan Tong Ling.

Jika Pei-pei berniat membuka pintu itu dia harus menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam, baginya waktu itu cukup untuk mengejar Tong Ling.

Pei-pei mendengar suara pegangan pintu ditekuk, walaupun tidak bisa melihat apa yang Beng To lakukan di balik sana, tapi dia bisa menebak apa yang terjadi.

Dia tahu apa yang diinginkan Beng To, dia juga tahu bahwa sifat Tong Ling yang keras, kelak apa yang akan terjadi?

Terpikir akan masalah ini, Pei-pei merasa cemas dan hanya bisa menangis.

Semakin cemas semakin tidak tahu bagaimana mengatasi masalah ini maka dia terus menggerak-gerakkan dan menggedor-gedor pintu itu, tentu saja semua itu tidak ada gunanya.

Kemudian dengan kepalan tangannya yang kecil dia memukul-mukul pintu, tapi tetap saja tidak ada gunanyna.

Wan Fei-yang tampak telungkup di bawah, dengan sulit dia berusaha membalikkan tubuh, dia melihat Pei-pei seperti itu, dia menarik nafas di dalam hati, dia sadar apa yang akan terjadi, tapi dia benar-benar tidak bisa berbuat apa pun.

Pei-pei tidak sengaja melihat ke arahnya, kemudian dengan cepat berlari ke sisi Wan Fei-yang, sambil meneteskan air mata dia berkata.95

"Wan-toako, apa yang harus kulakukan sekarang?"

Wan Fei-yang menggelengkan kepala.

"Tong Ling bersifat keras, itu sudah pasti..."

Nafas Wan Fei-yang terengah-engah.

"Walaupun kau pergi ke sana, kau tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa."

Kata-katanya belum selesai, rasa sakit membuat daging di seluruh tubuhnya menjadi kram, air mata dan keringat dingin terus mengali, dia berguling-guling di bawah, suara gulingannya seperti mengganggu induk serangga itu maka induk serangga itu terus bergerak-gerak di dalam tubuhnya.

Pei-pei memeluk Wan Fei-yang sambil menangis berkata.

"Wan-toako, jangan bicara lagi, semua... semua gara-gara diriku..."

Wan Fei-yang tidak bicara lagi boleh dikatakan tidak ada reaksi apa pun, tubuhnya kaku, Pei-pei segera melihat Wan Fei-yang, terlihat kedua mata Wan Fei-yang terpejam, dia pingsan.

Dia mencoba meletakkan tangannya di depan hidung Wan Fei-yang, nafasnya terasa sangat lemah, tubuhnya pun dingin.

Kalau bukan karena masih ada sedikit nafas, siapa pun pasti akan mengira kalau dia sudah meninggal.

Kedua tangan Pei-pei mencengkeram Wan Fei-yang dan terus memanggil-manggil, tapi Wan Fei-yang sudah seperti orang mati.

Pei-pei berusaha menenangkan diri, sepa-sang matanya tampak terang seperti batu, sorot matanya melihat Wan Fei-yang, dia putus asa dan tidak bisa berbuat apa-apa.

0-0-096 Perasaan Tong Ling tidak berbeda jauh dengan Pei-pei.

Di belakangnya adalah dinding, di kiri dan kanan tidak ada jalan, tidak seorang pun yang bisa membantunya, jaraknya dengan Beng To tidak ada 10 depa, Beng To masih terus mendekatinya.

Tong Ling adalah seorang gadis yang teliti, sewaktu masuk kemari dia dibawa oleh Pei-pei, karena itu dia tidak memperhatikan keadaan sekeliling, sewaktu akan masuk Pei-pei sudah menggambar sebuah peta dengan sangat jelas, sekarang dia kehilangan arah, dia masuk ke jalan buntu.

Sebenarnya Beng To mengejar Tong Ling dengan buru-buru, membuat Tong Ling tidak bisa berhenti untuk melihat arah dan jalan.

Sekalipun dia mempunyai waktu, tapi Beng To sangat hafal dengan situasi di sana, dan dia menguasai ilmu sangat tinggi, Tong Ling tetap tidak akan lolos dari tangan Beng To.

Sepanjang jalan terdengar Beng To selalu tertawa, sekarang tawanya semakin terdengar, saat jarak mereka tinggal 7 langkah lagi dia pun berhenti.

Kedua tangan Tong Ling penuh dengan senjata rahasia, dia melotot melihat Beng To dan siap melemparkan senjatanya.

Walaupun senjata-senjata itu sama sekali tidak bisa membuat Beng To merasa terancam, tapi ini adalah satu-satunya harapannya.

Setelah Beng To melihatnya, dia tertawa lagi.

"Kalau aku menjadi dirimu, aku tidak akan menaruh harapan pada senjata rahasia ini!"

"Kalau kau mendekat lagi, senjata rahasiaku..."

"Senjata rahasiamu sudah beberapa kali membuktikan tidak bisa membuatku merasa terancam, kau adalah gadis97 pintar, mengapa selalu melakukan hal yang tidak berguna dan berulang-ulang?"

Tong Ling tertawa dingin.

"Senjata rahasia ini hanya tidak berguna untukmu saja!"

"Di sini hanya ada aku saja!"

"Benar, hanya ada kau seorang saja, tapi kau hanya seekor binatang!"

Kedua alis Beng To tampak berkerut.

"Apakah kau ingin dengan senjata rahasia itu menghadapiku seorang diri?"

"Dulu di Tong-bun, kau juga berjalan melalui jalan kematian!"

"Itu bukan jalan kematian!"

Kata Beng To tertawa.

"dengan kemampuan ilmu silatku, di dunia ini tidak ada jalan kematian bagiku!"

"Aku tidak tahu jelas, aku hanya tahu ada jalan kematian, jalan itu pasti jalan kematian!"

Beng To mengangguk.

"Seseorang kalau akan berjalan menuju jalan kematian, itu memang ada, aku pun tidak terkecuali."

"Kau masih muda, mengapa tidak menyayangi nyawamu sendiri?"

Tong Ling belum menjawab, Beng To sudah bertanya lagi.

"Apa yang tidak baik dariku? Apakah aku kalah dari Wan Fei-yang?"

Tong Ling tertawa.

"Tentu saja kau kalah, kau tanyakan kepada Pei-pei maka jawabannya pasti akan sama!"

"MaNa mungkin dibandingkan dengan jawaban Pei-pei, dia mempunyai hubungan yang akrab dengan Wan Fei-98 yang,"

Tiba-tiba Beng To bertanya.

"apakah kau juga mempunyai hubungan yang akrab dengan Wan Fei-yang?"

"Jangan sembarangan bicara!"

Wajah Tong Ling menjadi merah.

"Untung saja tidak ada!"

Beng To menghembuskan nafas lega.

"aku mengira Wan Fei-yang mempunyai jimat apa sehingga semua perempuan menyukainya..."

"Hanya orang picik dan tidak tahu malu dan pikirannya selalu kotor,"

Tangan Tong Ling terayun semua senjata rahasia dilemparkan keluar. Tangan Beng To kiri dan kanan terulur untuk menyambut senjata rahasia itu.

"Akhirnya kau menganggap aku manusia juga."

"Di dunia ini tidak ada orang seperti dirimu, dimarahi picik dan tidak tahu malu tapi kau masih bisa tertawa dan malah merasa bangga!"

"Ku kira kau akan mengerti isi hatiku!"

Tiba-tiba Tong Ling teringat sesuatu, wajahnya menjadi merah lagi, tangan terayun, senjata rahasia dilemparkan lagi.

Beng To membentak, kemudian kedua tangannya bergerak secara horisontal, semua senjata rahasia berganti arah, seperti bertemu dengan batu magnet yang sangat besar, semua masuk ke tangan Beng To, Tong Ling melihatnya, perasaan kecewanya bertambah lagi, tapi kedua tangannya tetap memegang senjata rahasia.

Kedua tangan Beng To dibalik, senjata rahasia yang tadi disambutnya dilemparkan kembali ke arah Tong Ling, teknik perubahanya walau tidak seperti Tong Ling tapi tenaganya stabil, kecepatan tiap senjata rahasia sama, hanya dari arah sudut yang berbeda.99 Senjata rahasia di tangan Tong Ling dilempar kan sangat tepat menuju senjata rahasia yang datang, sebutir pun tidak meleset.

Karena setiap kali senjata rahasia yang dilemparkan jumlah selalu sama, maka tidak ada yang meleset, terlihat kalau penglihatannya sangat tajam, caranya pun sangat tepat.

Kalau dia tidak mempunyai penglihatan atau cara yang tepat, dia tidak akan berani melemparkan senjata rahasia yang datang menyerangnya.

Kalau bukan karena latihan yang ketat, dia tidak akan berani menghadapi Beng To.

Dia sangat mengenal senjata rahasia, maka suara senjata rahasia yang menyerangnya terdengar oleh telinganya dan sadar dia telah tertipu.

Waktu itu Beng To sudah seperti seekor burung besar terbang melewati senjata rahasia dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas, dia menyerang Tong Ling, dia sudah tahu kelemahan Tong Ling.

Dia juga memperhitungkan reaksi Tong Ling maka dia menyerang di saat yang tepat.

Orang itu benar-benar mempunyai otak encer dan berbakat, Sat Kao mempunyai mata sangat lihai, dia tidak salah memilih penerusnya.

Dengan cepat kedua tangan Tong Ling sudah mencengkeram senjata rahasia lagi, reaksinya boleh dikatakan sangat cepat tapi jika dibandingkan dengan Beng To, gerakan Tong Ling masih lambat sedikit.

Dia melempar jatuh satu per satu senjata rahasia yang dilemparkan Beng To, butuh waktu dan pikiran maka reaksi Tong Ling bisa terlambat sedikit itulah alasannya.

Ingin menggunakan waktu begitu singkat juga tidak mudah, kalau tidak mempunyai tenaga dalam dan tenaga100 yang kuat, walaupun waktu bisa dikuasai dengan tepat, dia akan sulit mendarat di depan Tong Ling untuk mencengkeram tangan Tong Ling.

Tong Ling berteriak, kemudian menundukkan kepala, 3 panah sudah dilepaskan dari arah bajunya, tiga panah itu datang tiba-tiba, tapi Beng To sudah turun dengan posisi kaki di bawah, ke tiga panah itu meleset meninggalkannya, begitu Beng To sudah berpijak ke tanah, seringainya semakin terlihat jarak wajahnya dengan wajah Tong Ling tidak lebih dari 1 kaki.

"Lepaskan tanganku..."

Tong Ling meronta. Beng To tertawa dan menggelengkan kepala.

"Mana mungkin aku melepaskanmu!"

"Dengan cara licik itu bukan..."

"Bukankah tadi kau mengatakan kalau aku adalah orang picik?"

"Jatuh ke tangan orang picik mungkin bisa dinasihati dengan bahasa manusia, tapi jatuh ke tangan binatang, apa yang kau katakan tidak aku mengerti!"

Setelah itu Beng To mendekatkan bibir-nya. Kepala Tong Ling terus bergerak dari kiri ke kanan, dia berteriak.

"Binatang! Binatang..."

Beng To tidak marah, dia malah tertawa, dia memegang tubuh Tong Ling dan memutarnya, tubuhnya menekan dinding yang ada di belakangnya, Beng To tertawa senang dan membentak, dinding di belakangnya segera berlubang berbentuk seperti tubuh manusia.

Di balik dinding itu ternyata ada sebuah kamar rahasia lainnya, sepertinya itu adalah sebuah kamar tidur.

Karena di tengah kamar itu ada sebuah ranjang yang terbuat dari batu.101 Beng To mencengkeram kedua tangan Tong Ling kemudian mengangkat tubuh Tong Ling masuk melalui lubang berbentuk manusia itu.

Tong Ling merasa kedua tangannya dipasang borgol, dengan cara apa pun meronta dia tidak bisa terlepas dari cengkeraman Beng To.

Dia ingin menggunakan tenaga dalamnya yang bernama 'Cian-kin-jiu' (Berat seribu kati), dengan kedua kaki berpijak ke tanah, tapi sama sekali tidak bisa dilakukan.

Sekalipun bisa tetapi tetap tidak bisa terlepas dari cengkeraman Beng To.

Melihat ranjang batu itu Tong Ling menjadi ketakutan luar biasa, rasa itu terus menyerang hatinya, dia berteriak histeris.

Beng To tertawa senang.

"Percuma saja berteriak, jika Pei-pei ingin membuka pintu rahasia itu, harus membutuhkan waktu 2-3 jam, jika dia berhasil keluar pun dia tidak sanggup menghalangiku, lebih baik kau bekerja sama denganku, paling sedikit itu akan membuat kita senang!"

"Binatang..."

Tong Ling berteriak.

"Kalau kau hanya bisa marah-marah, lebih baik hentikan dulu, ini sama sekali tidak berguna!"

Beng To mengangkat Tong Ling tinggi-tinggi dan berjalan menuju ranjang itu, mata Tong Ling berlinangan air mata, sekarang dia benar-benar tidak mempunyai cara untuk melepaskan diri lagi.

Dia sudah putus asa.

Setelah menotok nadi di kedua tangan Tong Ling, Beng To baru meletakkan Tong Ling di atas ranjang dan menarik nafas.102

"Menotok nadi di kedua tanganmu membuat masalah menjadi tidak enak, tapi sepasang tangan-mu terlalu lihai dan kau masih mengancam akan bunuh diri!"

"Aku bisa melakukannya!"

"Setelah kau menjadi istriku, aku percaya kau akan berubah pikiran!"

Beng To segera membuka ikat pinggang Tong Ling.

"Kau berani..."

Teriak Tong Ling.

"Di dunia ini tidak ada yang tidak berani kulakukan!"

Kedua tangannya mulai membuka kancing baju Tong Ling.

Tong Ling tidak bisa melawan lagi, air matanya memenuhi wajahnya.

Beng To melihat itu dia malah bertambah senang, sifat binatang yang sudah menempel pada dirinya segera meledak, dia tertawa terbahak-bahak, kemudian menyobek baju bagian dada Tong Ling.

"Hentikan..."

Tiba-tiba Tong Ling berteriak, teriakannya hampir membuat tenggorokannya sobek. Beng To terpaku, suara tawanya segera berhenti.

"Akhirnya kau mau bekerja sama juga!"

Tong Ling menatapnya, bola matanya dilumuri dengan kebencian, pertama kalinya Beng To melihat sorot mata seperti itu dan mengerti isi hati Tong Ling dia pun tertawa.

"Kau yang memaksaku bertindak seperti ini!"

Tong Ling tidak bersuara, sewaktu Beng To akan bergerak lagi, tiba-tiba dia mendengar suara aneh keluar dari mulut Tong Ling, Beng To segera teringat sesuatu, dia menekan mulut Tong Ling.

Beberapa titik terang keluar dari mulut Tong Ling, reaksi Beng To sangat cepat.

Tangannya yang menekan mulut Tong Ling segera diangkat, semua kelebatan sinar itu melesat ke103 tangannya, dia melepaskan tangannya dan melihatnya, di sana tertancap 6 titik benda berbentuk segi delapan berwarna biru kehijauan.

"Senjata rahasia yang sangat beracun!"

Dia mengencangkan telapaknya, 6 titik benda berwarna biru kehijauan itu segera melayang ke arah dinding dan menghilang.

Dari 6 lubang bekas 6 titik itu terlihat keluar darah, berwarna hijau keunguan, tapi segera berubah menjadi merah, kemudian luka itu pun tertutup dan menghilang.

Luka kecil memang merupakan hal penting untuk disembuhkan tapi kekuatan otot dan daging Beng To benar-benar hebat.

"Tidak ada gunanya..."

Beng To menggeleng kan kepala.

"racun apa yang bisa dibandingkan dengan racun laba-laba beroman manusia yang diberi makan serangga atau ulat beracun?"

Meminjam kekuatan laba-laba beroman manusia, dia telah menguasai ilmu lweekang Mo-kauw, kecuali racun yang lebih hebat dari racun laba-laba itu, Racun apapun tidak akan mempan kepadanya, walaupun ada racun seganas racun laba-laba efeknya pun tidak akan terlalu besar, tidak diragukan lagi Beng To mempunyai kekuatan untuk menyesuaikan semua racun.

Tong Ling tidak menjawab, dia hanya bisa melotot, kebenciannya begitu pekat seperti akan membeku.

Wajah cantik itu terlihat menjadi merah, membuatnya bertambah menarik, tapi tawa Beng To segera menghilang, dia mengulurkan tangannya untuk membuka mulut Tong Ling, di dalam mulut sudah berubah warna menjadi ungu kehitaman.104 Senjata rahasia yang ada di dalam mulut Tong Ling tidak diragukan lagi segera dilepaskan keluar, karena Beng To menekan mulutnya maka senjata itu keluar dari mulutnya.

Racun itu tidak berefek bagi Beng To, tapi bagi Tong Ling bisa membuatnya mati, setelah melepaskan senjata rahasia itu dia bisa mengakhiri hidupnya.

Dalam kesulitan seperti ini Tong Ling hanya bisa mati, sebelum melepaskan senjata rahasia dari mulutnya Tong Ling pasti sudah memikirkan dalam-dalam hal ini, kalau tidak dengan sifatnya yang keras dia tidak akan menunggu sampai sekarang.

Terakhir dia lebih memilih mati, Beng To melihat wajahnya berubah dari merah menjadi ungu.

Otot di sudut mulut Beng To terus bergerak-gerak, tiba-tiba dia bertanya.

"Apakah benar aku tidak sebaik Wan Fei-yang?"

Tentu saja Tong Ling tidak bisa menjawab lagi.

"Baiklah, mulai saat ini dan seterusnya aku akan melihat apakah dia lebih melihat Wan Fei-yang atau aku yang lebih banyak!"

Akhirnya Beng To berdiri, dia bersiul panjang, dan berlari ke arah lubang dinding yang berbentuk manusia itu.

Dia tidak keluar melalui lubang itu tapi dinding yang menghalangi jalannya.

Dinding hancur berantakan karena tubrukan yang sangat hebat ini, benar-benar menggetarkan langit juga membuat bumi bergoncang.

Dia keluar dari lorong bawah tanah dan terus berjalan, apa yang menghalangi di depan matanya semua hancur lebur, termasuk pintu lorong.

Sejak lahir kemudian dididik oleh Sat Kao, sifatnya menjadi ekstrim dan keras.

Dia senang melalui jalan pintas, berlatih ilmu silat pun seperti itu, begitu pula dengan hal105 lainnya.

Yang pasti kali ini dia pun akan menggunakan jalan pintas, sederhana dan cepat agar dia bisa terkenal di dunia persilatan Tionggoan.

Di dalam hatinya dia pun menganggap hanya dengan cara demikian baru bisa dengan cepat menggantikan posisi Wan Fei-yang menjadi orang nomor satu di dunia persilatan.

Jalan pintas berarti menggunakan segala cara.

Bagi dunia persilatan Tionggoan, kepergian Beng To dari daerah Biauw merupakan bencana besar.

Dinding hancur, bumi bergetar, tapi Pei-pei tidak peduli, dia hanya mengawasi Wan Fei-yang.

Nafas Wan Fei-yang memang melemah, dia pun tidak sadarkan diri, wajahnya sangat pucat.

Semua ini berada dalam perkiraan Pei-pei, yang dia perhatikan adalah perubahan di bibir Wan Fei-yang.

Bibir Wan Fei-yang sepucat kertas, entah sejak kapan bibirnya mulai gemetar, Pei-pei tampak bengong, dia tidak memperhatikannya, sewaktu dia lebih meneliti, bibir Wan Fei-yang telah terbuka kemudia tertutup, saat dari membuka dan menutup selalu ada asap yang keluar dari mulutnya, membuat orang merasa dingin, seperti pedang dingin yang menusuk tulang.

Hal ini membuat pikiran Pei-pei kembali normal.

Akhirnya Pei-pei bisa memperhatikan induk serangga yang bertubuh transparan sedang bergerak gerak di dalam mulut Wan Fei-yang.

Asalkan dia bisa membuat induk serangga itu keluar, Wan Fei-yang pasti bisa terselamatkan.

Mengingat Wan Fei-yang bisa tertolong Pei-pei mulai merasa senang, mengenai Wan Fei-yang jika bisa diselamatkan akan menjadi apa, Pei-pei sama sekali tidak memikirkannya.106 Sat Kao dan Beng To pernah memberitahu kepadanya, induk serangga itu tidak akan melukai nyawa Wan Fei-yang, tapi untuk bicara pun Wan Fei-yang sudah tidak sanggup, bukankah dia sudah menjadi seperti mayat hidup?

Apa yang dimaksud dengan hidup dan apa yang dimaksud dengan kesenangan di dalam kehidupan ini?

Apalagi sekarang Wan Fei-yang terlihat begitu lemah, apakah dia bisa bertahan dari siksaan induk serangga itu?

Induk serangga itu sepertinya merasakan perubahan fisik Wan Fei-yang dan itu tidak membuatnya tenang, maka dia pun terus bergerak-gerak.

Pikiran Pei-pei sekarang menjadi lamban, setelah lama baru terpikir, kulit kerangnya bisa digunakan untuk mengusir serangga, maka dia pun terburu-buru mengeluarkan dan segera meniupnya.

Di kamar rahasia kecil itu suara kerang yang ditiup Pei-pei terdengar sangat sedih, keadaan hati Pei-pei saat itu memang seperti itu.

Waktu itu mulut Wan Fei-yang sudah terbuka dengan jelas, Pei-pei melihat induk serangga itu berbaring di atas lidah Wan Fei-yang, tapi masih bergerak-gerak, Pei-pei benar-benar merasa senang, dia bertambah kencang meniup kulit kerang itu, dia berharap induk serangga itu bisa terpancing keluar.

Induk serangga itu setiap saat seperti bisa meloncat keluar dari mulut Wan Fei-yang, tapi sampai Pei-pei hampir kehabisan nafas meniup, induk serangga itu masih tetap bercokol di dalam mulut Wan Fei-yang, sepertinya serang menikmati alunan musik kulit kerang yang ditiup Pei-pei.

Pei-pei tidak tahan lagi, dia mengeluarkan tangannya ingin menangkap induk serangga itu.107 Induk serangga itu seperti tidak merasakannya, tapi sewaktu tangan Pei-pei mendekati bibir Wan Fei-yang, serangga itu malah mundur dan masuk lagi ke dalam tenggorokan Wan Fei-yang.

Pei-pei dengan cepat menarik tangannya, induk serangga itu masih berada di dalam tubuh Wan Fei-yang, itu merepotkan, dengan terpaksa Pei-pei meniup kulit kerangnya lagi, induk serangga itu kembali ke tempat tadi.

Pei-pei melihatnya, air mata Pei-pei terus menetes.

Alunan musik yang keluar dari kulit kerang itu terdengar bertambah sedih.

Setelah pikiran Pei-pei agak tenang.

Suara alunan dari kulit kerang itu dari nada tinggi turun menjadi rendah, dari pelan hingga berhenti karena Pei-pei tidak ada tenaga untuk meniupnya lagi.

Di dalam ruangan itu tidak bisa melihat matahari atau rembulan, maka dia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, sebenarnya sudah melewati waktu yang sangat panjang.

Dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi, maka dia berhenti meniup kulit kerangnya.

Tenggorokan Pei-pei terasa kering juga sakit.

Serta ada perasaan seperti akan terbelah, tapi kulit kerang itu masih di depan mulutnya, lama baru diletakannya, mata yang tadinya bersinar putus asa mulai keluar cahaya harapan.

Akhirnya dia mendapatkan sebuah cara.

Satu-satunya cara yang terpikir olehnya dan bisa dia lakukan adalah meletakkan kulit kerang di bawah, kemudian memeluk Wan Fei-yang, dia mendekati bibirnya ke bibir Wan Fei-yang.108 Waktu itu di sekeliling bibirnya tiba-tiba keluar banyak ulat.

Begitu mulut Pei-pei dibuka, ulat ulat itu segera merayap masuk ke dalam mulut Wan Fei-yang.

Sat Kao memberi makan induk serangga itu ulat dan serangga lainnya.

Sekarang induk serangga itu memang tidak membutuhkannya, tapi masih tertarik terhadap serangga-serangga lain dan ulat-ulat, mungkin dia mau keluar karenanya, kalau induk serangga itu senang hidup di dalam tubuh manusia, tubuh Pei-pei menjadi sebuah daya tarik, seseorang yang senang memelihara ulat-ulat dan serangga-serangga, lebih cocok buat induk serangga itu dibandingkan dengan orang yang tidak pernah memelihara serangga.

Kalau bukan karena terjadi perubahan fisik pada diri Wan Fei-yang, sehingga membuat induk serangga itu merasa tidak nyaman, dia tidak akan merayap keluar, semua terjadi karena perubahan keadaan, sebenarnya Pei-pei harus berpikir akan hal itu tapi karena pikiran Pei-pei sangat kacau dan bingung, semua tidak terpikir olehnya.

Memang ini bukan cara yang baik, tenaga dalam Wan Fei-yang sudah tersedot habis oleh Beng To, dia tidak seperti orang biasa, sekarang dia seperti orang lumpuh, sedangkan Pei-pei masih dalam keadaan normal dan sehat, jika induk serangga itu masuk ke dalam tubuhnya, akan membuatnya jadi tidak normal dan tidak sehat.

Bagi Wan Fei-yang ini bukan hal baik, bukan membebaskannya dari induk dari serangga tapi hanya mengalihkannya.

Pei-pei tidak peduli akan hal ini, asalkan Wan Fei-yang bisa hidup nyaman, ditukar dengan nyawanya pun dia tidak peduli.109 Di dunia ini banyak hal tidak masuk akal, seseorang jika ingin melakukan sesuatu dia tidak akan memikirkan jauh-jauh masalah ini.

Jika setiap orang setiap hal yang masuk akal, maka di dunia ini tidak akan ada perasaan dan semua orang tidak akan diatur oleh perasaan.

Akhirnya bibir Pei-pei dan bibir Wan Fei-yang menempel menjadi satu, ini bukan pertama kalinya mereka berciuman, dulu mereka berciuman dilakukan dengan penuh kegembiraan, sekarang Wan Fei-yang telah kehilangan perasaannya, sedang-kan pikiran Pei-pei sedang sangat sedih.

Dia mulai merasakan induk serangga itu bergerak-gerak di mulutnya.

Dia juga merasakan ketakutan dari serangga dan ulat-ulatnya, maka dia merasa tegang sekaligus senang.

Ulat-ulat dan serangga-serangga itu mulai merasakan keberadaan induk serangga, mereka mulai merasa ada bahaya.

Yang pasti induk serangga itu tertarik pada serangga dan ulat-ulat itu, dia siap bergerak, dia adalah induk serangga ulat-ulat itu bukan tandingannya, karena kekuatan mereka berbeda jauh.

Maka ulat-ulat dan serangga-serangga itu hanya menunggu dibunuh atau dimakan.

Pei-pei merasakan kesedihan dan rasa terpaksa dari ulat-ulatnya.

Dia tidak peduli dengan waktu yang berlalu lama, dia sudah ada persiapan di dalam hatinya dan mengambil keputusan untuk menunggu.

Dia selalu bersabar.

Setelah beberapa berlalu dia tidak bisa memperkirakan waktu juga tidak dapat menghitungnya, sampai akhirnya dia110 merasa bibirnya mati rasa, ulat-ulat dan serangga-serangga itu masih terus bergerak gerak.

Perasaannya sudah hilang.

Dia sudah terbiasa maka begitu induk serangga itu mulai masuk ke dalam mulutnya, dia segera merasakannya.

Sebenarnya induk serangga itu berupa segumpal rasa dingin, maka tidak sulit dirasakan tapi tidak mudah untuk ditahan.

Pei-pei sadar dia harus bertahan, maka dia tidak berani bergerak, dari luar tubuh dan bagian dalam tubuhnya dia berusaha agar tidak sampai mengejutkan induk serangga itu, kalau tidak semuanya akan gagal total.

Dia merasakan induk serangga itu sedang menyedot sari-sari dari ulat dan serangga-serangganya, dia juga merasakan induk serangga itu semakin masuk dan masuk ke dalam tubuhnya.

Kemudian dia mulai menghitung seberapa dalam induk serangga itu masuk ke dalam tubuhnya, dia tetap berhati-hati mengatur perubahan pikiran dan beban pikirannya, bisa dikatakan ini adalah hal terberat dalam hidupnya.

Induk serangga itu masih berjalan-jalan di dalam mulutnya, kemudian mulai masuk sedikit demi sedikit, tapi mundur kembali ke tempatnya tadi.

Sepertinya dia sangat berhati-hati dan terus mencari tahu, akhirnya Pei-pei kehilangan posisi induk serangga itu.

Tapi sewaktu induk serangga itu masuk, dia bisa merasakannya lagi.

Mulut dan bibirnya dikatupkan dengan rapat.

Gerakan Pei-pei sangat cepat, tapi induk serangga itu belum masuk, bolak-baliknya induk serangga membuat Pei-pei merasa bersalah.111 Sewaktu bibirnya ditutup, induk serangga itu dengan cepat mundur, Pei-pei bisa merasakannya, maka secara reflek dia mengatupkan giginya, kemudian Pei-pei merasakan giginya dengan tepat menggigit tubuh induk serangga itu, dia juga merasakan induk serangga itu meluncur melewati sela-sela giginya.

Reflek dia mengetatkan giginya bibirnya ditutup dengan rapat, wajahnya dengan cepat digeser.

Rasa kaku di mulutnya mulai terasa, dia membuka mulutnya, dan tercium bau harum seperti wangi madu, dia juga melihat beberapa tetes cairan berwarna hijau tampak berkilau yang muncrat keluar dari mulutnya.

Tapi dia malah merasa senang, karena dia sudah mengambil keputusan mengorbankan segala-galanya.

Beberapa tetes cairan berwarna hijau muncrat ke bawah dan segera merembes masuk ke dalam papan batu yang ada di bawah.

Pei-pei melihat itu hatinya terasa dingin sekaligus benci, dia segera merasa cairan itu melewati sela giginya dan masuk ke dalam daging, kulit, dada, dan bagian tubuh lainnya.

Dia mengira ini semua hanya perasaannya, dia menyeka dahinya, dia melihat cairan hijau lagi, cairan itu segera menghilang dari tangannya, bukan menguap melainkan masuk ke dalam tubuh-nya.

Dia mulai merasa daging di seluruh tubuh serta syaraf-syarafnya kalah perang, lalu cairan itu menetes keluar dari tangannya.

Pei-pei melihat semua itu dengan jelas, dan itu bukan perasaan!

Melainkan kenyataan sebenarnya, ketakutan mulai menyerangnya, apa yang dikatakan Beng To muncul di112 benaknya, dia tertawa kecut, kemudian menoleh melihat Wan Fei-yang, dia merasa senang dan mulai merasa daging di kepalanya mati rasa, tapi dia masih berusaha menggeser tubuhnya.

Akhirnya dia bisa melihat wajah Wan Fei-yang, wajah Wan Fei-yang begitu jelas terlihat, tapi hanya sebentar, kemudian pandangannya menjadi buram.

"Wan-toako..."

Dia berteriak di dalam hati.

Ini adalah reaksi terakhirnya lalu dia roboh dan tidak bangun lagi.

Mata Pei-pei tampak melotot, bola matanya berubah menjadi seperti bola es sebelum meninggal terlihat sinar kesedihan terkumpul di sana.

Wan Fei-yang melihat kesedihan dan rasa senangnya, setelah induk serangga itu keluar dari mulutnya, dia mulai sadar, keadaan yang tadinya terlihat buram sekarang menjadi terang dan jelas.

Akhirnya dia bisa melihat perasaan Pei-pei yang terakhir kepadanya.

Dia tidak mendengar teriakan di dalam hati Pei-pei, tapi dia bisa merasakan kesedihan yang luar biasa dari Pei-pei, sayang dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau dia bisa melarang Pei-pei melakukan semua itu dia akan melakukannya tapi dia sendiri tidak mempunyai tenaga untuk melakukannya.

"Pei-pei..."

Wan Fei-yang tetap tidak bertenaga, Pei-pei tidak bereaksi, kalau dia masih punya perasaan, tentu akan senang.

Wan Fei-yang mulai mengerti, dia ingin menggeser tubuhnya untuk memeluk Pei-pei, tapi tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.

Bukan hanya kaki dan tangannya, jarinya pun tidak sanggup bergerak.113 BAB 11 Sekarang suaranya sudah bisa keluar, tubuhnya mulai terasa nyaman, dia bisa memastikan induk serangga itu sudah meninggalkan tubuhnya.

Di sini selain Pei-pei, siapa lagi yang bisa membantu dia mengeluarkan induk serangga itu, dia tidak tahu dengan cara apa Pei-pei mengeluarkan induk serangga dan mengganti dengan nyawanya.

Masalah ini muncul karena Pei-pei yang memulai, yang menyelesaikannya juga Pei-pei, tidak tampak ada yang salah, terlihat seperti iseng.

Di dunia ini yang terjadi karena keisengan sangat banyak.

Masalah seperti ini terjadi karena banyak alasan.

Wan Fei-yang berkali-kali mencoba bangun tapi dia belum punya tenaga, terpaksa dia berdiam menenangkan diri, setelah hatinya terasa tenang, dia mulai merasakan tenaga yang hilang mulai terkumpul kembali.

Ternyata sisa tenaga yang ada sudah tidak terlalu banyak, ketika Tong Ling dan Pei-pei datang menolong dan mengganggu, Beng To sedang menyedot tenaga dalamnya, saat itu penyedotannya sudah mencapai tahap terakhir, tenaga dalam yang tersisa sudah tidak menarik lagi bagi laba-laba itu, maka dia bisa merasakan masih punya sedikit tenaga dalam.

Dia sangat tahu siapa Tong Ling, kenapa dia datang dia juga bisa menduganya?

Kalau bukan karena ingin menolongnya, Tong Ling tidak akan mau kembali kemari.114 Ketika itu pikirannya terus bergejolak, dia berusaha mengumpulkan kembali sisa tenaga yang masih ada, tapi induk serangga yang masih ada di dalam tubuhnya menjadi halangan besar, apalagi pikiran yang bergejolak semakin membuatnya sedih, tentu saja pikiran ini membuat dia bertambah tidak tenang, sekarang setelah tidak ada yang menghalanginya, dia bisa berpikir tenang sehingga dia mulai bisa mengumpulkan sisa tenaganya Saat ini perasaan yang ada adalah perasaan yang sangat jauh, dia sadar lukanya akan sembuh.

Dia memiliki perasaan hidup kembali.

Dia juga sadar bahwa Thian-can-sin-kang yang telah dilatihnya sekali lagi mengeluarkan reaksi yang kuat, dan dia akan masuk pada tahap hibemasi (Tidur panjang di musim dingin).

Kali ini entah butuh waktu berapa lama?

Dia tidak tahu dan tidak ada waktu untuk menciptakan kepompong.

Kalau tidak bisa menciptakan kepompong, apakah dia akan dilukai sehingga akan mati?

Kali ini dia sangat peduli tapi dia tidak punya kekuatan, karena untuk bergerak pun dia tidak bisa.

Apalagi meninggalkan tempat ini, mencari tempat aman untuk bersembunyi.

Rasa lemas semakin terasa, bukan hanya tubuhnya yang terkuras tenaga dalamnya, semangatnya pun tidak ada, akhirnya dia hanya bisa memejamkan mata, tidak mau melihat Pei-pei supaya bisa menghilangkan bayangan dari benaknya.

Pikirannya kosong, begitu pun dengan otaknya.

Karena tenaga dalamnya sudah disedot maka semua gerakannya menjadi lamban, kulitnya kehilangan cahaya seperti daun layu.115 Tapi lambat laun kulitnya mulai terlihat bercahaya lagi, seperti ada minyak yang keluar dari dagingnya.

Perubahan ini tidak terlalu kentara.

Ulat sutra sudah mengeluarkan seratnya membuat kepompong, sampai keluar lagi dari dalam kepompong membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Bila terjadi perubahan Thian-can-sin-kang di dalam tubuh, manusia membutuhkan waktu cukup lama, dulu Wan Fei-yang pernah mengalaminya.

Kali ini mungkin waktunya bisa lebih pendek, karena sudah ada jalan karena bukan pertama kali, tapi seberapa pendek waktunya Wan Fei-yang tidak tahu.

Yang pasti hal ini tidak bisa diatur Wan Fei-yang sendiri.

Saat hibernasi pikirannya akan kosong, dia tidak akan bisa menghalangi kalau Beng To datang dan bertindak.

Ulat sutera mulai berubah lagi!

Apakah bisa melawan ilmu lweekang aliran Mo-kauw yang Beng To cangkokkan ke dalam tubuhnya?

Tidak ada yang tahu, orang-orang persilatan pun tidak ada yang mengetahui masalah ini.

Hanya kalau bencana sudah datang baru akan membuat mereka tahu bahwa Wan Fei-yang telah tewas pada saat bencana ini datang.

Dulu mereka telah salah paham kepada Wan Fei-yang, sekarang mereka akan tahu, semua itu ulah Beng To.

Tapi mereka tidak akan bisa membendung Beng To.

Yang akan terkena masalah ini pertama kali adalah Kiam-sianseng (Tuan Kiam) dari Hoa-san-pai.

Beng To tidak akan secara diam-diam masuk ke Hoa-san.

Sekarang keadaaannya sudah tidak seperti dulu lagi, dia cukup percaya diri, dia tidak akan mau melakukan perbuatan secara sembunyi-sembunyi lagi, Dia pun tidak akan datang116 sendirian, dia akan membawa sekelompok orang yang bertubuh tegap dari suku Biauw.

Di mata orang-orangnya dia bukan lagi seorang 'manusia' melainkan seorang 'dewa'.

Mo-kauw dengan ilmu sesat yang dikatakan hampir ajaib, di mata orang-orang, punya anggapan yang berbeda-beda.

Ilmu silat Beng To bagi orang awam seperti mereka seperti sebuah ilmu sihir, bisa dikatakan ajaib.

Orang-orang suku Biauw belum pernah melihatnya, mereka percaya dia akan membuat mereka berjaya di Tionggoan apalagi dia adalah pangeran mereka, dari dulu mereka sangat percaya, menjunjung tinggi dan mencintai pangeran mereka.

Mereka mempersiapkan sebuah selendang yang disulam dengan sangat indah, mereka mengangkat Beng To dengan selendang ini.

Baju mereka pun disulam dengan benang berwarna-warni dan tampak bercahaya.

Semua ini seperti yang diinginkan Beng To.

Sekelompok orang itu datang berbondong-bondong ke Hoa-san, murid-murid Hoa-san yang menjaga Hoa-san sudah melapor, murid-murid lainnya dengan cepat berkumpul di depan Ceng-kong mereka dibagi menjadi dua baris.

Hoa-san-pai adalah perkumpulan terkenal, orang yang datang berniat tidak baik tapi masih ada kesopanan.

Setelah menanyakan maksud mereka, murid yang menjaga gunung selain memberi kabar kepada murid-murid lainnya yang di atas gunung, semua menunggu di sana, tidak ada seorang pun yang membawa rombongan itu ke depan Ceng-kong.

Kiam-sianseng sudah menunggu di sana, melihat kedatangan orang-orang Biauw bersama Beng To, hatinya tetap saja bergetar.117 Dia tidak pernah pergi ke daerah Biauw juga belum pernah mendengar ada pesilat tangguh dari suku Biauw yang bernama Beng To.

Tapi dia sama sekali tidak merasa curiga bahwa lawannya adalah seorang pangeran.

Kalau dia bukan seorang pangeran sulit bisa memperlihatkan keangkeran seperti ini.

Walaupun uku Biauw tahu sehebat apa pun identitas seseorang, tetap tidak berpengaruh di Tionggoan, jadi tidak perlu memalsukan identitasnya.

Dalam ingatan Kiam-sianseng, Hoa-san-pai belum pernah berermusuhan dengan orang-orang Biauw, pangeran dari suku Biauw ini menantang Hoa-san-pai, apa tujuannya?

Kiam-sianseng tidak mengerti dia juga tidak terburu-buru ingin bertanya, cara lawan datang seperti ini akan memberi penjelasan kepadanya.

Suara ribut sudah berhenti, sikap orang-orang suku Biauw terlihat cerah dan bersemangat, dari bola matanya terlihat mereka penuh dengan rasa percaya diri.

Murid-murid Hoa-san saling berbisik, sampai akhirnya Beng To membuka suara.

"Kiam-sianseng..."

Sorot mata Beng To meng awasi Kiam-sianseng, suaranya tidak begitu besar, tapi masuk ke telinga setiap orang di sana.

"Ilmu lweekang teman sungguh hebat!"

Kiam-sianseng mengira Beng To sedang memamerkan tenaga dalamnya, dan dia harus mengakui lweekang Beng To memang sangat kuat.

"Bukan teman!"

Sanggah Beng To.

"Kalau begitu kalian adalah musuh?"

Kiam-sianseng tertawa.118

"Bukan musuh juga!"

Beng To menjawab dengan serius.

"asal kau mau tunduk kepadaku, maka hubungan kita adalah tuan dan pesuruh!"

"Selain itu?"

Tanya Kiam-sianseng sambil tertawa.

"Tidak ada!"

Beng To tidak perlu berpikir jauh.

"Yang menurut akan hidup, yang melawan akan mati?"

Kata Kiam-sianseng. Beng To dengan senang mengangguk.

"Benar, yang menurut kepadaku akan hidup yang membangkang harus mati..."

Katanya lagi.

"Aku tidak mengerti budaya Tionggoan, kata-kata tegas membuatku lebih sensitif dan lebih mudah menerima."

"Tapi sayang, di sini bukan wilayah suku Biauw, kau tidak perlu berkata seperti itu!"

"Walaupun di sini bukan wilayah Biauw tapi aku harus mengatakan kata-kata ini!"

"Berarti kali ini kau datang kemari bukan dengan ilmu silat mencari kawan dan tidak akan berdiskusi tentang ilmu silat, melainkan ingin menaklukkan Hoa-san-pai?"

"Ini harus melihat dulu, apakah kalian akan patuh atau tidak!"

"Kalau kami tidak patuh?"

"Terpaksa aku harus membunuh kalian!"

Kata Beng To tidak terlihat bercanda.

"Sekarang aku curiga kau bukan orang dari Biauw!"

"Apa maksudmu?"

Tanya Beng To aneh.

"Hanya orang gila yang bisa berkata demikian dan orang seperti kalian terlihat seperti orang gila!"

Kata-kata Kiam-sianseng membuat murid-murid Hoa-san-pai yang ada di sana tertawa keras.119 Orang-orang Biauw yang datang tidak semua mengerti bahasa Han, yang mengerti langsung memberikan reaksi, yang tidak mengerti setelah mendengar murid-murid Hoa-san tertawa dan melihat reaksi dari teman-temannya, mereka bisa langsung menebak apa yang dikatakan Kiam-sianseng, terlihat mereka marah besar.

Beng To malah terlihat sangat tenang, dengan pelan dia berkata.

"Kata-katamu tidak ada kebaikannya untuk Hoa-san-pai!"

Tentu saja Kiam-sianseng mengerti maksud Beng To, dalam hati dia mulai merasa tidak nyaman, dia adalah orang yang sangat berhati-hati dan tahu aturan, otaknya bisa berpikir cepat dan encer, maka dari dulu dia selalu diundang oleh semua perkumpulan untuk menunjukkan jalan kepada Bu-tong-pai, tapi sekarang dia malah berkata seperti itu.

Dia segera tahu apa alasannya, karena itu adalah pikiran semua orang, dia menganggap suku Biauw adalah suku terbelakang, tidak ada sesuatu yang bisa mereka lakukan.

Kalau merasa tidak yakin apakah mereka akan berani datang ke Hoa-san?

Terpikirkan hal ini Kiam-sianseng jadi bertambah khawatir.

Kata-kata yang sudah terucap keluar seperti air yang tersiram keluar, dengan terpaksa dia berkata.

Belum tentu ada kejelekannya!"

"Yang menurut padaku akan hidup yang membangkang harus mati!"

Beng To berulang kali mengatakannya, dia baru mempelajari kedua kalimat ini.

"Anak muda..."

Kiam-sianseng mengerutkan alis.

"kau terlalu sombong!"

Beng To bereaksi lebih gila lagi.120

"Kalian mau bertarung secara keroyokan atau satu per satu!"

Dua pemuda yang ada di sisi Kiam-sianseng segera mencabut pedang mereka, dan berbarengan berkata.

"Kami datang untuk meminta petunjuk!"

Usia mereka sama, wajah mereka pun mirip, mereka bukan hanya bersaudara kandung juga bersaudara kembar.

Mereka adalah murid Hoa-san-pai yang berhasil melatih ilmu 'Cai-tiap-siang-hui' (Sepasang kupu-kupu pelangi terbang).

Cai-tiap-siang-hui adalah ilmu pedang Hoa-san-pai yang paling sulit dipelajari, untuk mempelajari ilmu pedang ini harus ada dua orang yang secara bersama-sama memainkan ilmu ini, selain itu salah seorang harus memegang pedang dengan tangan kiri dan seorang lagi dengan tangan kanan, tenaga dalamnya harus sama tinggi baru bisa dipadukan dengan tepat, sehingga perubahan jurusnya menjadi sangat dahsyat.

Mencari dua orang dengan tenaga dalam yang sama tinggi tidak sulit tapi menggunakan pedang dengan tangan kiri dan kanan secara bersamaan itu sangat sulit, kebetulan dua saudara kembar ini adalah pasangan kembar sejak lahir, yang satu terbiasa menggunakan tangan kiri sedangkan yang satu lagi terbiasa menggunakan tangan kanan, mereka bermarga Hiang, di Hoa-san-pai nama mereka adalah Hiang Co (kiri) dan Hiang Yu (kanan), sedangkan nama asli mereka sudah terlupa-kan.

Cai-tiap-siang-hui sebenarnya bisa dipelajari oleh satu orang, menggunakan tangan kiri dan kanan memegang pedang, tapi orang itu harus bisa membagi perhatiannya menjadi 2, kalau tidak, maka jurus yang keluar tidak akan sempurna, tidak sehebat kalau dijalankan oleh dua orang.121 Semenjak menemukan dua saudara kembar ini, Kiam-sianseng seperti mendapatkan benda mustika, dia mendidik mereka dengan teliti, akhir-nya dua bersaudara Hiang berhasil menguasai ilmu Cai-tiap-siang-hui dan bisa menjalankan dengan sempurna.

Di depan orang-orang Kiam-sianseng selalu memuji dua bersaudara Hiang ini, karena jika dua bersaudara ini bergabung, di Hoa-san-pai tidak ada seorang pun yang sanggup mengalahkan mereka sampai-sampai dia sendiri pun tidak terkecuali.

Apakah benar, tidak ada seorang pun yang tahu, tapi saat dua bersaudara Hiang ini maju dan melihat sikap Kiam-sianseng yang tenang, tampak dia sangat percaya pada dua bersaudara kembar ini.

Kiam-sianseng tersenyum dan mengangguk.

"Orang yang datang dari jauh adalah tamu, jika bertarung paling sedikit harus ada rasa sungkan, jangan biarkan tamunya merasa tidak enak!"

Kata-kata ini seperti memvonis bahwa Beng To akan kalah oleh dua bersaudara Hiang dan dia ingin dua bersaudara ini jangan membunuh Beng To.

"Tenanglah, Suhu!"

Dua bersaudara itu sama-sama menjawab.

Katanya kalau saudara kembar tentu mempunyai hati dan perasaan yang sama, dua saudara Hiang ini pun tidak terkecuali, bila mereka bicara selalu bersamaan, mereka segera memberi hormat kepada Beng To.

"Murid Hoa-san-pai Hiang Co dan Hiang Yu memberi hormat!"

"Apakah hanya kalian berdua?"

Tanya Beng To. Hiang Co dan Hiang Yu menjawab.122

"Menghadapi satu orang kami melawan berdua, menghadapi 100 orang pun kami tetap berdua!"

Beng To tertawa, lalu membalas.

"Kalian menyerang dengan berapa orang pun aku tetap sendiri!"

Hiang Co dan Hiang Yu saling berpandangan, lalu mereka tertawa dingin.

"Cabut pedang..."

Yang satu menggunakan tangan kiri, yang satu menggunakan tangan kanan, masing-masing mencabut pedangnya.

"Aku tidak perlu pedang!"

Beng To menunjukkan kedua tangannya.

Hiang Co dan Hiang Yu sudah mencabut pedang mereka, saat itu juga Beng To meloncat beberapa depa ke atas, kemudian bersalto di tengah udara sebanyak beberapa kali, gerakannya indah dan kecepatannya bisa menyaingi seekor burung.

Murid-murid Hoa-san-pai melihat semua itu, hati mereka mencelos dan bergetar, wajah Kiam-sianseng memang tidak terjadi perubahan tapi di dalam hati dia pun tergetar.

Orang-orang suku Biauw terus bersorak, ilmu silat Beng To di mata mereka begitu hebat.

Beng To memang sengaja memamerkan ilmu silatnya di depan orang-orangnya, dia hanya mempe ragakan secara asal-asalan, tapi sudah cukup membuat orang-orangnya merasa kagum.

Sekarang menghadapi pesilat tangguh Tionggoan dia harus berusaha lebih keras.

Dia turun tepat di hadapan Hiang Co dan Hiang Yu.

Hiang Co dan Hiang Yu segera mengguna-kan sepasang pedang mereka menunjuk kepadanya, Beng To memutar tubuhnya.123

"Kalau kalian masih terus seperti itu, aku akan mengaku kalah!"

Hiang Co tertawa dingin.

"Kita bukan sedang bermain topeng monyet, untuk apa meloncat ke sana-kemari?"

"Kalau Tuan tertarik, Tuan boleh terus mem-peragakannya, murid-murid Hoa-san tidak akan pelit memberikan uang kecil, kalau peragaan Tuan berhasil mungkin Tuan bisa mendapatkan banyak uang untuk dibawa pulang!"

Kata Hiang Yu. Beng To menggelengkan kepala.

"Kalian orang-orang Tionggoan bila membicarakan seseorang selalu menggunakan keahlian untuk menghina, yang tua seperti itu, yang muda pun tidak berbeda!"

"Kami dua bersaudara ingin melihat ilmu silatmu yang sebenarnya!"

Pedang Hiang Co segera menyerang Beng To.

Hiang Yu pun bersama-sama menyerang Beng To, dengan kecepatan tinggi sepasang pedang bersama-sama menyerang Beng To, yang satu dari kiri yang satu lagi dari kanan, perubahan tubuh mereka juga cepat dan rumit, sepasang pedang mengeluarkan kelebatan hawa dingin, mengurung Beng To dari dalam, jurus yang di lancarkan seperti jurus kosong, tapi dalam kekosongan seperti ada isi!

Melihat dan merasakan kelebatan hawa dingin itu saja sudah membuat mata menjadi silau, bagaimana bisa membedakan mana yang kosong dan mana yang isi!

Tapi bagi Beng To hal ini tidak membuatnya kesulitan!

Begitu kedua tangannya dikebutkan ke arah cahaya itu maka cahaya itu menghilang, kecepatan kedua pedang jadi menurun, seperti tertarik oleh sesuatu, ilmu pedang mereka seperti terhambat.

Dari kelebatan pedang yang menyilaukan124 lalu terlihat bayangan pedang, dan gerakan pedang jadi terlihat jelas.

Terakhir di tubuh pedang terlihat menempel banyak benang seperti serat sutera juga seperti sarang laba-laba, karena benang itu terus mengikuti gerakan ke dua bersaudara maka gerakan mereka pun menjadi terhambat dan lambat Dua saudara kembar ini merasa aneh, saat mereka bersiap-siap ingin membabat putus benang itu, ke dua tangan Beng To sudah menekan sepasang pedangnya.

Ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi, tapi Beng To bisa melakukannya, Hiang Co dan Hiang Yu benar-benar terkejut, mereka segera mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkan ke batang pedang.

Mereka siap membalikkan pedang dan menyapu Beng To, tapi tenaga dalam yang disalurkan seperti air sungai mengalir dan bermuara di laut dan tertelan gelombang laut.

Tenaga dalam mereka tidak bisa terkumpul di batang pedang malah seperti dihisap oleh tenaga tidak terlihat.

Wajah mereka segera berubah dari merah menjadi putih lalu hijau.

Timbul keringat sebesar biji jagung, nafas mereka pun jadi memburu.

Hiang Yu tertawa kecut, Hiang Co pun mempunyai perasaan seperti itu, dia merasa di pegangan pedang ada sesuatu yang membuat tangannya menempel terus dan tidak bisa lepas.

Hiang Co pun pasti demikian, karena itu dia tidak berteriak.

Mata jeli Kiam-sianseng melihat semua itu, dia melihat pedang mereka penuh oleh serat seperti benang sutera atau125 sarang laba-laba, wajahnya segera berubah, dia segera berteriak.

"Berhenti..."

Hiang Co tertawa kecut, jelas mereka tidak bisa memilih, waktu itupun mereka merasa pedang mereka bisa bergerak lagi, maka pedang mereka segera menusuk ke depan!

Tapi Beng To sudah tidak berada di depan mereka, posisi Hiang Co dan Hiang Yu jadi saling berhadapan, pedang mereka saling menusuk ke arah mereka sendiri.

Waktu itu mereka melihat Beng To melepaskan kedua tangannya, kemudian mundur, mereka juga melihat sikap menghina dari mata Beng To.

Yang pasti mereka tahu apa yang bakal terjadi dan apa akibatnya.

Tapi mereka sudah tidak bisa menguasai diri.

Kiam-sianseng tidak sempat menghalangi, reaksinya hanya bisa membuat kedua alisnya terangkat.

Memang hanya itu yang bisa dilakukan, sebab sekejap pedang Hiang Co dan Hiang Yu sudah menusuk ke masing-masing jantungnya.

Pedang masuk sampai ke ujung pegangan, tubuh mereka secara bersamaan roboh.

Di mata mereka ada sekilas rasa malu dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Murid-murid Hoa-san berteriak terkejut, mereka segera mencabut pedangnya, kedua tangan Kiam-sianseng terulur, dia membentak murid-murid Hoa-san supaya tenang, lalu melihat Beng To.

"Tuan ternyata murid Bu-tong Bai!"

Beng To tertawa dingin, katanya.

"Apakah Bu-tong-pai pantas punya murid seperti diriku?"

"Apa hubunganmu dengan Wan Fei-yang?"126

"Dia sudah mengalahkanku, tapi sekarang aku bisa memecahkan jurus Thian-can-sin-kang nya dan sekarang dia sudah menjadi cacat!"

Kiam-sianseng tertawa dingin.

"Jadi kau diam-diam telah belajar Thian-can-sin-kang miliknya!"

"Tidak juga!"

Beng To menatap langit.

"kali ini aku datang ke Tionggoan karena misi penting, aku ingin membuat kalian mengerti bahwa Thian-can-sin-kang bukan milik Bu-tong-pai, tapi milik Mo-kauw, mereka telah mencuri ilmu lweekang Mo-kauw, lalu menambahkannya dengan ilmu mereka sendiri!"

"Oh ya?"

Kiam-sianseng terpaku, baginya ini merupakan sebuah rahasia.

"Kali ini murid-murid dari Mo-kauw bukan hanya akan mengambil kembali ilmu lweekang yang telah dicuri, juga masih ingin memberitahu orang-orang Tionggoan bahwa ilmu silat Mo-kauw tiada tandingannya!"

Kiam-sianseng baru mengerti.

"jadi kau murid dari Mo-kauw, sudah beberapa kali Mo-kauw ingin menguasai Tionggoan tapi selalu gagal, kali ini kalian ingin menggunakan cara licik apalagi?"

Beng To balik bertanya.

"Tadi di depan mata kalian semua, aku telah membunuh dua pesilat tangguh Hoa-san, apakah aku memakai cara licik?"

Kedua alis Kiam-sianseng terangkat.

"Kelihatannya kami telah salah paham pada Wan Fei-yang, dulu yang membunuh mereka adalah..."127

"Benar, semua itu aku yang melakukannya, tapi kalau kalian mengira aku ingin memindahkan malapetaka itu kepada orang lain, itu salah besar!"

"Mengapa waktu itu kau tidak datang secara terang-terangan? Tapi sekarang..."

"Nanti kau akan mengerti sendiri, apakah kau sudah melihat ilmu silatku dengan jelas?"

"Ilmu siluman dan iblis bukan ilmu yang bersih, dan itu bukan kemampuan!"

"Sampai sekarang dunia persilatan Tiong-goan tetap saja bersikap seperti ini, pantas kalian tidak maju-maju, malah mundur!"

"Apakah kau mengira kami harus belajar kepada Mo-kauw... seperti Bu-tong-pai?"

"Walau bagaimanapun Thian-can-sin-kang adalah ilmu dari Mo-kauw yang telah dirobah, tidak merusak aturan langit, memang belajar mencuri itu tidak benar, tapi semangat istimewa ini memang baik dan tidak salah!"

Kali ini Beng To berkata dengan sungguh-sungguh.

"Bu-tong-pai telah banyak mendapat kebaikan tapi mereka malah merahasiakannya..."

"Itulah keburukan dunia persilatan Tionggoan, tidak mau saling menukar ilmu, mengambil kelebihan orang lain, memperbaiki kekurangan sendiri,"

Beng To menggoyangkan kepalanya. Kiam-sianseng menyambung.

"Benar, seperti Thian-can-sin-kang, kalau bisa diajarkan kepada khalayak ramai dan lebih banyak orang yang mempelajarinya, akan bertambah pesilat seperti Wan Fei-yang, kita tidak perlu takut kepada siluman dan iblis yang datang menyerang Tionggoan..."

"Bukan hanya Thian-can-sin-kang, Bahkan ilmu pedang dari Hoa-san-pai..."

Kiam-sianseng segera memotong.

"Ilmu pedang Hoa-san-pai adalah inti sari dari ilmu silat yang didapat hasil jerih payah selama beberapa generasi dari pemimpin Hoa-san-pai, mana mungkin disebarluaskan!"

Begitu kata-katanya terucap keluar, Kiam-sianseng melihat sikap mencemooh Beng To, dia segera mengerti dan berkata.

"Ilmu kami tidak seperti Thian-can-sin-kang, yang didapatkan tanpa melalui kerja keras dan tidak perlu memikirkan generasi atas yang telah bersusah payah menciptakannya!"

Kata Beng To sambil tertawa.

"Kata-kata guruku memang tidak salah, dunia persilatan Tionggoan selama ratusan tahun tetap seperti ini, tidak ada kemajuan sedikit pun, benar-benar tidak ada obat untuk menyembuh-kannya!"

"Siapa gurumu?"

"Sat Kao..."

Beng To menarik senyumannya, perubahan ini membuktikan dia menghormati gurunya, Sat Kao.

"Aku tidak pernah mendengar nama ini, apakah dia adalah anggota Mo-kauw?"

"Orang-orang dunia persilatan Tionggoan akan segera tahu siapa dia dan tahu kalau aku adalah muridnya!"

"Apakah kau mengira kau bisa bertahan di Tionggoan?"

Dengan santai Beng To menjawab.

"Di dunia persilatan Tionggoan banyak orang seperti dirimu, ingin bertahan di Tionggoan bukan hal sulit bagiku!"

"Kau benar-benar sombong, anak muda..."129

"Aku selalu bersikap terang-terangan dan langsung, begitu Hoa-san-pai musnah, orang-orang persilatan Tionggoan akan mengenal siapa aku!"

"Siapa yang menyuruhmu memilih Hoa-san-pai menjadi target pertama?"

Rasa curiga Kiam-sianseng mulai timbul.

"Aku membuat undian untuk menentukan, Hoa-san-pai menjadi sasaran nomor satu, berarti nasib kalian sudah berada di ujung tanduk!"

"Kurang ajar!"

Kiam-sianseng tampak marah.

"Hal yang lebih kurang ajar telah kulakukan!"

Beng To menatap mayat Hiang Co dan Hiang Yu.

"ini adalah kesempatan terakhir bagi Hoa-san-pai..."

Pedang Kiam-sianseng sudah dikeluarkan dari sarungnya, dia memotong kata-kata Beng To, murid-murid Hoa-san-pai semua berkumpul.

"Tidak ada perintahku, siapa pun tidak boleh menyerang!"

Kiam-sianseng memutar tubuhnya, dia membentak murid-murid Hoa-san-pai.

"Kalau mereka tunduk kepadaku, aku tidak akan membuat mereka kesulitan."

Murid-murid Hoa-san-pai menjadi gaduh, mereka kebanyakan anak muda, robohnya dua saudara kembar Hiang Co dan Hiang Yu, tidak membuat mereka takut.

Begitu pedang Kiam-sianseng dikeluarkan, dan melarang mereka bergerak, sorot mata mereka terlihat mereka mempercayai Kiam-sianseng.

Kiam-sianseng sudah malang melintang di dunia persilatan cukup lama, dia selalu bersikap kokoh tidak pernah terjatuh, di Hoa-san-pai tingkatannya adakah yang tertua.130 Sebenarnya sampai di mana kemampuan ilmu silatnya tidak ada seorang pun yang tahu, tapi di mata orang-orang Hoa-san-pai walaupun dia bukan nomor satu di dunia ini, tapi posisinya sudah mendekati posisi itu.

Dia sendiri pun sebenarnya tidak tahu jelas, tapi dia sangat percaya diri, kalau tidak, biasanya sikapnya tidak akan begitu mendewakan.

Dia sangat mengerti Hoa-san-pai sangat mem butuhkannya, jadi kalau tidak percaya diri dia tidak akan berkelana di dunia persilatan.

Memang dia tidak tahu siapa yang bisa mengalahkannya, tapi dia tidak menaruh curiga kalau di dunia persilatan ini ada pesilat tangguh seperti Beng To, dia juga pernah terpikir ada jebakan dan cara licik yang dipasang, kalau tidak berhati-hati akan membuatnya hancur.

Tidak apa-apa kalau dia sampai roboh, tapi Hoa-san-pai akan hancur karenanya.

Apakah dia begitu penting bagi Hoa-san-pai?

Dia tidak berani dan tidak begitu yakin.

Tapi dia sangat tahu, di antara anggota Hoa-san-pai tidak ada yang seperti dirinya, kalau tidak dari awal dia tidak akan diserahi beban seperti ini.

Saat terjadi peristiwa Wan Fei-yang membunuh orang walau tidak ada hubungannya dengan Hoa-san-pai tapi semua perkumpulan datang ke Bu-tong-pai untuk menanyainya, waktu itu dia diundang untuk menegakan keadilan.

Dia terpilih menjadi ketua kelompok, dan itu sangat mengikuti aturan, juga hal yang sangat dia sukai.

Walaupun ada Tong Ling yang tidak berpengalaman dan selalu merintanginya, tapi dia bisa mengurus semua dengan tepat dan tidak mengecewa kan semua orang.131 Apakah Wan Fei-yang adalah korban karena kesalahan orang lain?

Dia sama sekali tidak peduli asalkan masalahnya cepat selesai dan tidak sampai menimbulkan pertumpahan darah.

Semua tidak perlu dia yang bertindak.

Bila masalah tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, dia tidak akan merasa semua ini di luar dugaannya, karena berdasarkan pengalamannya hal yang terjadi jika bisa sesuai dengan harapan sangat minim, hanya saja dia tidak menyangka kalau dulu yang membunuh para pesilat tangguh bukan Wan Fei-yang.

Sekarang pembunuh sebenarnya baru muncul dan mencarinya ke Hoa-san-pai.

Dulu Beng To memang secara tidak sengaja memindahkan malapetaka itu kepada Wan Fei-yang tapi dia masih merasa sedikit khawatir, maka dia tidak berani menampilkan diri secara terang-terangan, sekarang dalam hati dia sudah punya rencana, kalau kata-katanya benar, Wan Fei-yang sudah kalah di tangannya, setinggi apa ilmu silatnya?

Kiam-sianseng tidak mengenal Wan Fei-yang tapi dia tahu Bu-ti-bun, Tokko Bu-ti.

Tokko Bu-ti telah tiga kali mengalahkan ketua Bu-tong-pai, Ci-siong Tojin.

Bu-ti-bun di bawah pimpinannya sangat berjaya dan bisa menguasai seluruh Tionggoan, tapi akhirnya kalah di tangan Thian-can-sin-kang milik Wan Fei-yang.

Setelah Wan Fei-yang tidak menyepi, pesilat berbakat yang muncul sekarang-sekarang ini adalah Beng To.

Dengan cara apa dia bisa mengalahkan Wan Fei-yang tidak ada seorang pun yang tahu.

Tapi kemunculannya sekarang pasti ada yang membuat orang menjadi takut kepadanya.

Melihat cara dia mengalahkan Hiang Co dan Hiang Yu, rasa percaya diri Kiam-sianseng mulai goyah.

Kemampuan132 ilmu silat Hiang Co dan Hiang Yu sangat diketahui oleh Kiam-sianseng, seperti tahu bentuk tangan dan jari tangannya sendiri.

Tapi pertarungan ini tidak bisa dihindari lagi.

Beng To melihat pedang Kiam-sianseng.

"Kau harus menjelaskan dulu!"

"Tenanglah, bila kau roboh, aku tidak akan membiarkan muridku merepotkan orang yang kau bawa!"

Beng To tertawa, karena tawanya bajunya tampak berkibar membuat orang yang melihatnya merasa hati mereka bergetar.

Kiam-sianseng membentak, untuk menutupi tawa Beng To, tapi dia malah bergetar, maka pedang segera digerakan, akhirnya suara pedangnya bisa menutup tawa Beng To.

Begitu tawa Beng To berhenti, tubuhnya segera maju, tangannya ikut bergerak, sambil berkata.

"Lihat pukulan..."

Kiam-sianseng mendorong pedangnya membabat tangan Beng To, tapi baru saja di tengah jalan dia merasa ada gelombang kuat datang melanda, lalu melilit ke arah pedangnya, dia membentak, tenaga dalamnya dikerahkan menahan gelombang yang datang dan melilit pedangnya ke samping, dia tetap meneruskan membabat, telapak tangan Beng To.

Pedang bergerak dengan cepat, keras, juga ganas!

Tapi Beng To seperti tidak mengalami kesulitan, waktu itu telapak tangannya sudah berubah menjadi putih keperakan dan di sekelilingnya seperti ada asap dan kabut yang sedang mengepul.

Kiam-sianseng merasakan tekanan semakin kuat.

Dia semakin sulit mendorong pedangnya, di depan mata banyak133 orang dia jadi merasa malu.

Maka tenaga dalamnya dikerahkan sepenuhnya, disalurkan ke pedangnya.

Tapi pedangnya tetap tidak bisa maju, setelah bertahan lama malah menjadi melengkung, dan tiba-tiba saja pedangnya lurus kembali seperti masuk ke dalam telapak tangan Beng To, ternyata telapak Beng To sudah mencengkram punggung pedangnya sedalam 3 inchi.

Kiam-sianseng mengira dengan tenaga dalamnya yang kuat, ujung pedangnya akan menusuk ketiak Beng To tapi tenaga dalam yang dikerahkan sepenuhnya, seperti masuk ke dalam lautan dan hanya sekejap menghilang.

Pedang masih berada dalam posisi semula, tapi setumpuk benda seperti sarang laba-laba juga seperti serat benang ulat sutera pelan-pelan keluar dari telapak tangan Beng To, kemudian melilit pedang Kiam-sianseng, semakin Kiam-sianseng mengerahkan tenaga dalamnya, benang itu pun semakin bertambah banyak.

Melihat ini, Kiam-sianseng segera menarik kembali pedangnya, tapi pedangnya sama sekali tidak bisa digerakkan, dia mulai merasa tenaga dalam yang dia kerahkan terus keluar dan tidak bisa dihentikan.

Dia juga merasa tenaga dalamnya seperti terus tersedot, awalnya dia masih merasa tidak yakin, akhirnya dia benar-benar merasakannya.

Bisa dikatakan dia mengetahui hal ini dalam waktu sekejap.

Tapi saat ingin menarik kembali tenaga dalamnya, ternyata bukan hal yang mudah.

Seperti kaki yang sudah masuk ke dalam lumpur untuk menarik kembali akan sangat sulit.

Untung itu hanya lumpur bukan pasir penghisap.134 Akhirnya Kiam-sianseng bisa memaksa tenaga yang melilit pedangnya digeser ke samping, sehingga dia bisa menarik kembali tenaga dalam yang dia keluarkan, tapi kekuatannya sudah berkurang banyak, memang tujuannya hanya ingin melepaskan diri dari tenaga yang melilitnya.

Kesannya terhadap sarang laba-laba dan serat benang sutera adalah sama, seperti ada ratusan helai benang yang terus masuk dan hampir melilit dengan rapat dan liat.

Saat Kiam-sianseng terlepas dari tenaga itu, dia melihat ada kabut dan asap mengelilingi telapak tangan Beng To dan terus mengepul.

Seperti ada ribuan sampai puluhan ribu ekor ulat sebesar rambut mengejar dan ingin melilit pedangnya lagi.

Kiam-sianseng mulai merasa tertekan lagi oleh tindakan Beng To.

Walaupun tahu tenaga dalam lawannya sangat hebat dan aneh, tapi sebelum merasakan dan melihat dengan mata kepala sendiri Kiam-sianseng tidak percaya begitu saja, maka telapak tangan kirinya segera menyerang lagi.

Tangan kiri Beng To yang kosong segera dibalik, dia menyambut serangan tangan kiri Kiam-sianseng, seluruh telapaknya sudah menjadi putih keperakan, seperti ada segumpal asap dan kabut.

Asap dan kabut itu seperti ular beracun yang jumlahnya ribuan, sedang masuk dan keluar, setiap saat siap mematuk telapak tangan kiri Kiam-sianseng.

Kiam-sianseng gemetar, telapaknya yang menghantam dirubah jadi menotok, asap dan kabut masih membungkus tangan kiri Beng To, kabut yang menyebar segera berkumpul kembali.

Jari Kiam-sianseng terasa seperti tenggelam di laut,135 dia membentak 3 kali, menyentil dengan jarinya, tapi reaksinya tidak mengubah keadaan.

Perubahan terjadi sangat cepat, saat jari kirinya mendekat, tangan kanan mengikuti gerakan tangan kiri meluncur ke depan.

Sekali lagi Kiam-sianseng membentak dan meloncat ke atas, kali ini tekanan sedikit mengendor, mula-mula Kiam-sianseng merasa senang, tapi perasaan itu hanya sebentar lalu menghilang, hatinya kembali terasa tenggelam, di tengah udara dia malah terpaku dengan posisi kaki di atas.

Karena tangan kanan Beng To masih menempel di pedangnya, dia hanya bisa mengangkat tangan kanannya, tapi pedang Kiam-sianseng tidak bisa terlepas dari genggaman Beng To karena itu posisi tubuhnya seperti capung terbalik.

Kalau dalam keadaan posisi terbalik di tengah udara, tenaga dalamnya pasti sulit untuk dikeluarkan, sebab jika dipaksakan akan menimbulkan masalah lain dan tenggelam dalam berbagai kesulitan.

Hati Kiam-sianseng benar-benar terasa berat.

Murid-murid Hoa-san-pai tidak bisa melihat isi hati Kiam-sianseng tapi mereka bisa melihat jelas tangan kanan Beng To selalu menempel di pedang Kiam-sianseng, mereka seperti bermain akrobat.

Mereka juga melihat Kiam-sianseng berusaha melepaskan pedangnya dari genggaman tangan kanan Beng To, tapi tidak berhasil, dalam hati mereka masih yakin Kiam-sianseng pasti mempunyai cara untuk mengatasinya.

Tangannya tidak berhasil menarik pedangnya, dia sudah memikirkan akibatnya kalau terus mengeluarkan tenaga dalam.136 Beng To seperti tidak merasakan apa pun, dia tetap tersenyum, terlihat tenang dan santai, melihat keadaan itu hati murid-murid Hoa-san-pai menjadi goyah.

Kemudian telapak tangan Beng To mulai diangkat dan disatukan, menjadi sikap seperti 'Tong-cu-pai-kwan-im' (anak kecil menghormat dewi Kwan-im), pedang jadi terjepit diantara kedua telapaknya, ujung pedang itu menunjuk ke arah kepala Beng To asal tidak berhati-hati ujung pedang nisa menancap ke dalam otaknya dan dia akan segera mati.

Sorot mata Kiam-sianseng menatap kepala Beng To, dia sangat percaya dia bisa menancapkan pedangnya kepada kepala Beng To, dia juga melihat jelas kedua tangan Beng To tampak terus menerus bercahaya, asap yang membungkus kedua tangan Beng To mulai terlihat lagi, dalam waktu yang bersamaan ada hawa dingin menyerang wajahnya.

Tangan kiri Kiam-sianseng segera memegang pegangan pedangnya, diiringi bentakan tenaga dalam nya dikerahkan.

Pedangnya seperti bersinar, tenaga dalam Kiam-sianseng yang di salurkan ke pedang itu, tampak bergerak turun tapi tidak sampai 1 inchi sudah berhenti.

Kiam-sianseng merasa ada gelombang kuat yang menahan gerakannya, tapi dia sudah melakukan persiapan, dia masih mempunyai tenaga simpanannya, dia sedang menunggu kesempatan yang tepat.

Tapi dia tidak mempunyai kesempatan, sebab tenaga dalamnya terasa lagi seperti masuk ke dalam laut.

Dalam waktu yang bersamaan telapak tangan Beng To terlihat lebih terang, telapak tangannya seperti bergetar sampai ke pegangan pedang.

Tanpa terasa tenaga dalam Kiam-sianseng sudah dikerahkan seluruhnya bahkan hingga tenaga simpanannya,137 sebenarnya dia sendiri pun tidak merasa, ketika tenaga dalamnya seperti dililit oleh Beng To, dia baru tersadar.

Cadangan tenaga dalamnya sudah di kerahkan, tapi tidak ada hasilnya.

Pedangnya menjadi seperti jembatan penghubung tenaga dalam yang masuk dan keluar, bukan senjata untuk membunuh lagi.

Bagi Beng To bukan merupakan ancaman lagi.

Belum selesai rasa terkejutnya, Kiam-sianseng mulai merasakan tenaga dalam terus mengalir, kedua tangannya seperti ditempel sesuatu, dia melihat tangan Beng To seperti ada asap yang keluar melewati pegangan pedang dan sampai di kedua telapak tangannya.

Terlihat seperti kabut tapi Kiam-sianseng seperti merasakan ada sesuatu, begitu dia melihat lagi ternyata kulit di kedua tangannya sudah ada sarang laba-laba dan benang sutera.

Sarang laba-laba dan benang sutera itu bukan terkumpul di permukaan kulit melainkan seperti masuk ke dalam kulit.

Kiam-sianseng segera mengerti, saat kedua tangannya sudah ditempel benda seperti itu, otomatis dia terkejut dan rasa terkejutnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Tenaga dalam yang tidak berbentuk menjadi berbentuk, kalau bukan karena melihat dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan percaya?

Akhirnya keringat Kiam-sianseng keluar dan menetes ke bawah, tapi di tengah jalan keringat itu sudah menguap dan terbang ke udara.

Tenaga dalamnya segera dipaksakan berkumpul di kedua tangannya, dia berusaha memaksa tenaga dalam lawan yang masuk bisa keluar dari tubuhnya, tapi baru saja tenaga dalam sampai di kedua tangannya, dia segera sadar telah138 berbuat salah, sebab tenaga dalam Beng To yang masuk bukan hanya tidak bisa dikeluarkan malah melilit tenaga dalamnya, kemudian bersama-sama melesak maju, dalam waktu yang bersamaan menyedot tenaga dalamnya agar keluar dari tubuhnya.

Dia benar-benar terkejut dan ingin melepaskan diri dari lilitan tenaga dalam itu, sampai tidak terpikirkan lagi untuk membalas serangan Beng To.

Semakin ingin melepaskan diri, dia semakin terlilit kencang.

Tenaga dalam Beng To semakin masuk ke dalam tubuhnya dan menyedot tenaga dalamnya.

Keringat di dahinya semakin banyak, tubuhnya yang terbalik terasa membeku dan menjadi keras, bajunya pun berkibar ke atas.

Baju Beng To pun berkibar sepasang tangannya menjadi semakin terang.

Asap dan kabut dari tenaga dalam Beng To sudah membungkus setengah tubuh Kiam-sianseng, akhirnya Kiam-sianseng menarik nafas.

"Aku sudah mengerti..."

"Akhirnya kau mengerti, tujuanku adalah membunuh pesilat-pesilat tangguh Tionggoan!"

"Kau menyedot tenaga dalam mereka!"

Kiam sianseng tertawa dingin.

"pantas kau selalu bergerak secara rahasia, tenaga dalam mereka membuatmu bisa mencapai hingga tahap seperti sekarang ini!"

"Salah..."

Beng To tertawa senang.

"semua ini karena jasa Wan Fei-yang!"

"Semua karena Wan Fei-yang?"

Kata Kiam-sianseng tidak percaya.139

"Ilmu lweekang yang kami latih berbeda tapi berasal dari sumber yang sama, maka aku menyedot semua tenaga dalamnya dan membuat ilmu silatku meningkat setingkat demi setingkat!"

"Wan Fei-yang bisa salah perhitungan..."

"Siapa pun ada kekurangan, apalagi Wan Fei-yang hanya manusia biasa."

"Apakah kau tidak...?"

"Aku sangat berhati-hati, kalau tidak, mana mungkin aku bisa begitu mudah mengalahkanmu?"

"Aku belum tentu akan kalah!"

Suara Kiam-sianseng terdengar gemetar karena tenaga dalamnya benar-benar sudah terkuras banyak. Dengan santai Beng To berkata lagi.

"Tenaga dalammu hampir tersedot habis, apakah kau mau menjadi seorang pahlawan?"

"Dari semula seharusnya aku berhati-hati terhadap ilmu Ih-hoa-ciap-bok (Geser bunga sambung kayu) dari Mo-kauw!"

"Kau juga mengerti tentang jurus Ih-hoa-ciap-bok?"

"Mo-kauw sudah beberapa kali menyerang Tionggoan, mereka mengandalkan Ih-hoa-ciap-bok,"

Kiam-sianseng tertawa dingin.

"Berusaha menyedot ilmu lweekang orang lain, membuat dirinya maju walaupun hebat tetapi tetap saja itu seperti pencuri!"

"Ini adalah cara tercepat orang yang tidak mau menjalankan jurus itu adalah orang bodoh!"

Kemudian Beng To menghembuskan nafas panjang.

Kiam-sianseng segera merasakan ada tenaga yang sangat kuat menarik.

Tenaga dalam dari dalam tubuhnya terus di140 tarik keluar dia membentak berusaha menarik kembali tenaga dalamnya, tenaga yang menariknya segera menghilang, tenaga yang datang dari tangan pun sama-sama menghilang.

Kedua tangan Beng To yang menjepit pedang Kiam-sianseng akhirnya dilepaskan.

Begitu tenaga mengikat pedang terlepas, saat itu tenaga dalam Kiam-sianseng tertarik kembali, tubuhnya seperti anak panah melesat ke atas.

Beng To segera memutar kencang tubuhnya, kedua tangannya dirapatkan, timbul angin berputar yang sangat keras lalu pasir dan tanah ikut berputar naik ke atas, pusaran angin itu seperti topan.

Orang-orang suku Biauw berteriak terkejut.

Murid-murid Hoa-san-pai pun tidak ketinggalan ikut berteriak mereka tidak tahu bagaimana keadaan Kiam-sianseng, tapi mereka mengakui ilmu silat Beng To berada di atas Kiam-sianseng.

Kiam-sianseng melihat angin keras yang datang tapi dia sudah tidak bisa menghindar, karena tenaganya sudah habis.

Saat tubuhnya terpental ke atas, tubuhnya sudah tidak bisa di tahan, ingin menetapkan tubuh pun sudah tidak sanggup, apalagi angin keras sudah tiba, maka tubuhnya mengikuti Pusaran angin dan berputar-putar, terus naik ke atas, hingga kedua tangan Beng To dibalik kembali.

Suara yang keluar sangat besar, sewaktu telapak tangannya dibuka udara yang berputar seperti dibom dan pecah berantakan.

Tubuh Beng To yang sedang berputar pun berhenti, dia seperti seekor burung berturut-turut berubah dengan gaya terbang sebanyak 7-8 kali baru mendarat.141 Gaya Kiam-sianseng pun beraneka ragam, tapi tidak seindah Beng To, kaki dan tangannya seperti terlempar kesana dan kemari di tengah-tengah udara.

Karena tidak bisa menguasai diri, dia hanya bisa mengikuti putaran udara.

Akhirnya dia berhasil mendarat ke bawah, yang pasti dia sadar begitu turun kakinya yang akan mendarat dulu, tapi setelah menapak bumi tiba-tiba dia terhuyung-huyung seperti akan jatuh.

Pedang yang masih dipegangnya segera ditancapkan ke dalam tanah, akhirnya dengan pedang dia bisa menahan tubuhnya, membuatnya tidak terjatuh.

Beng To berdiri di depannya, berkata sambil tersenyum.

"Baikkah!"

"Aku kagum..."

Baru saja kata-katanya habis, dari mulut Kiam-sianseng menyembur darah. Beng To menatap langit.

Baca Juga: Tamu Aneh Bingkisan Unik 3

Baca Juga: Alap Alap Laut Kidul 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert