Eps 5 Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
"Walaupun ilmu silatku adalah ilmu sesat, tapi kekuatannya sangat dahsyat cukup membuatku merasa bangga!"
"Aku salut dengan keberhasilanmu dalam ilmu silat!"
Kiam-sianseng menarik nafas.
"tapi sayang pikiranmu tidak lurus!"
"Siapa pun kalau sudah punya ilmu setinggi aku, selalu ingin memperlihatkan dengan rasa bangga, ilmu yang tinggi merupakan manifestasi yang bernilai!"
Kiam-sianseng memuntahkan darah kembali, tiba-tiba pedang yang menahan bobot tubuhnya patah jadi dua bagian.
Dia segera kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan posisi telentang.
Murid-murid Hoa-san-pai segera menghampirinya dengan berteriakan, Kiam-sianseng dengan suara terpatah-patah, berkata.142
"Aku wanti-wanti jangan..."
Darah muncrat lagi dari mulutnya, tanpa sempat melanjutkan dia mengghembuskan nafas terakhir.
Organ dalamnya sudah hancur karena tergetar tenaga dalam Beng To.
Dia bisa bertahan sampai saat ini bukan hal yang mudah.
Dia tersiksa seperti ini mana mungkin tidak tahu bahwa semua murid Hoa-san-pai bukan tandingan Beng To.
Tapi saat dia ingin menurunkan perintah agar tunduk kepada Beng To merupakan hal yang memalukan, tapi kata-katanya sangat sulit terucap keluar.
Dia sudah tidak sempat untuk bicara lagi.
'Aku wanti-wanti, jangan...' kata-katanya sudah tertutup oleh teriakan murid-murid Hoa-san-pai apalagi suaranya sudah sangat lemah.
Melihat murid-murid Hoa-san-pai datang mengepungnya, Beng To terlihat sangat tenang dan berkata.
"Pesan terakhir Kiam-sianseng dia wanti-wanti agar jangan..."
Suara Beng To menang tidak besar tapi murid-murid Hoa-san-pai bisa mendengar dengan jelas tapi mereka tidak peduli dan mulai mengayunkan senjata mereka.
Orang-orang Biauw terus berteriak, tapi tangan Beng To diangkat, mereka segera berhenti, kemudian Beng To membentak.
"Yang menurut kepadaku akan hidup yang melawan harus mati..."
Teriakannya baru selesai, dua pedang sudah sampai di depannya, tapi dua orang murid Hoa-san-pai segera berputar dan terpelanting, yang satu ke kiri yang satu ke kanan.
Kemudian beng To menarik murid-murid yang datang belakangan.
Suara tulang hancur dan patah terus terdengar, puluhan murid Hoa-san-pai terguling karena tertabrak oleh dua143 murid Hoa-san-pai yang terpelanting setelah semua terhenti, seorang murid Hoa-san-pai sudah meninggal.
Beng To seperti seekor kelelawar terbang, bertemu satu murid langsung mencengkeram satu, lalu dilempar ke sebuah tempat, setelah puluhan murid terlempar, terlihat bertumpuk seperti sebuah gunung manusia, mereka terus merintih kesakitan, murid-murid Hoa-san-pai lainnya terlihat terkejut, tentu saja semangat juang mereka pun ikut hancur.
Mereka mulai mundur, waktu itu Beng To tampak bersalto menuju gunung manusia, dia berdiri dengan satu kaki menginjak tubuh salah satu murid Hoa-san-pai dan membentak.
"Apakah kalian akan tunduk kepadaku?"
Salah seorang murid Hoa-san-pai yang berada dalam tumpukan itu segera berteriak.
"Sampai mati pun kami tidak akan tunduk!"
"Aku akan membantu kalian!"
Salah satu kakinya diturunkan, tenaga dalamnya pun dikerahkan.
Gunung manusia itu segera mengeluarkan suara teriakan, suara tulang patah dan berderak terus terdengar, murid-murid Hoa-san-pai yang ada di dalam gunung manusia itu memuntahkan darah, terakhir yang ada di bawah kaki Beng To segera dibunuhnya.
Dalam waktu bersamaan Beng To sekali lagi meloncat dan menari-nari di udara, kedua lengan bajunya dilebarkan kemudian berputar dan kembali ke tempat di mana dia datang dengan cara digotong.
Para prajurit Biauw berteriak gembira, mereka mengangkat golok dan tombak tinggi-tinggi, Beng To melihat dari atas, sisa murid-murid Hoa-san-pai sudah melemparkan senjatanya dan melarikan diri dari sana.144 Beng To tidak memerintahkan orang-orangnya mengejar, dia hanya tertawa, orang-orangnya terus bersorak, membuat gunung itu bergetar.
Murid-murid Hoa-san-pai tahu dalam pertarungan ini mereka telah kalah dan Hoa-san-pai sulit untuk berdiri tegak lagi di dunia persilatan.
Mereka mengaku sedang sial karena Hoa-san-pai menjadi sasaran pertama Beng To, tujuan Beng To adalah menunjukan ilmu silatnya untuk mencari nama, maka dia tidak melarang berita ini disebar luaskan.
Setelah mendengar Hoa-san-pai mengalami musibah, musuh-musuhnya pasti akan datang untuk mengambil kesempatan menyerang mereka, maka selain murid-murid Hoa-san-pai yang masih setia dan siap sehidup semati dengan Hoa-san-pai, kalau tidak, siapa yang berani kembali ke Hoa-san-pai?
Murid-murid yang setia semua sudah mati di bawah kaki Beng To.
Berita ini dengan cepat tersebar luas, semua perkumpulan di Tionggoan sudah tahu, Beng To bertambah gagah, orang-orang Biauw pun berubah jadi pesilat-pesilat tangguh yang sanggup melawan ratusan orang.
Ada yang mengatakan bahwa Beng To dalam satu jurus berhasil membunuh Kiam-sianseng, dan murid-murid Hoa-san-pai hampir mati semua.
Tapi ada juga yang menaruh curiga apalagi orang-orang yang mengenal dan berteman dengan Kiam-sianseng, mereka mengaku orang yang sanggup membunuh Kiam-sianseng tidak diragukan lagi pasti seorang pesilat tangguh, dia secara terang-terangan menantang para pesilat Tionggoan dan pasti memiliki tujuan tertentu.145 Siapa korban berikut Beng To?
Tidak ada seorang pun yang tahu, perkumpulan yang berada di dekat Hoa-san-pai sudah siap siaga dan memerintahkan murid-murid mereka yang berada di luar untuk segera kembali ke perkumpulan mereka.
Dari Ceng-sia-pai, Giok-koan Tojin, Siauw-lim-pai, Pek-jin Taysu, Bu-tai-san, Bok Touw-toh, Tai-ouw-sui-cai, Liu Sian-ciu, Tong-teng-kun-san Ci-liong-ong, Tiam-jong-pai, Thi Gan, enam orang yang namanya terkenal di dunia persilatan, membawa beberapa pesilat tangguh datang ke Bu-tong-san.
Karena waktu yang mereka sepakati dengan Wan Fei-yang sudah hampir habis.
Mereka sudah tahu bahwa Hoa-san-pai sudah dihancurkan oleh seorang pesilat tangguh dari Mo-kauw yang bernama Beng To, mereka memilih pemimpin lain karena Kiam-sianseng sudah tewas di tangan Beng To, karena itu mereka membatalkan tujuan mereka ke Hoa-san untuk melihat keadaan, sebab mereka tahu kalau mereka pergi ke sana, tidak akan ada gunanya dan mereka juga tahu orang yang bernama Beng To menggunakan ilmu silat sejenis Thian-can-sin-kang.
Dari kabar yang mereka dengar, Beng To sudah mengaku bahwa dulu orang yang membunuh banyak pesilat tangguh dari semua perkumpulan adalah dirinya dan tidak ada hubungannya dengan Wan Fei-yang.
Sekarang Wan Fei-yang pun sudah roboh di tangan Beng To.
Thian-can-sin-kang dari Bu-tong sebenarnya mencuri dari ilmu lweekang Mo-kauw, berita ini pasti akan bocor, setelah mendengar kabar ini, Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu, dan Bok Touw-toh jadi mengerti mengapa Wan Fei-yang bisa begitu yakin memberi tahu mereka dan meminta mereka untuk146 kembali lagi ke Bu-tong-san sesuai dengan waktu yang telah disepakati.
Di mata mereka, Wan Fei-yang sudah tahu bukan dia yang melakukannya dan ingin mencuci bersih namanya setelah mereka pergi dia menemui Kouw-bok yang mengetahui rahasia Thian-can-sin-kang, dia pun mencari tahu dan pergi ke perbatasan suku Biauw.
Mereka tidak salah menilai Beng To.
Beng To secara terang-terangan telah membuka rahasia bahwa Bu-tong-pai mencuri ilmu lweekang Mo-kauw, setelah itu dia akan ke Bu-tong-pai untuk membuat perhitungan.
Jadi karena itu mereka langsung datang ke Bu-tong-san menunggu kedatangan Beng To.
Tentu saja Bu-tong-pai telah mendengar kabar itu, kebanyakan murid-murid Bu-tong-pai masih bisa menjaga ketenangan, beberapa kali mereka mendapat bencana besar membuat mereka lebih tegar, mengenai Thian-can-sin-kang yang katanya dicuri dari Mo-kauw, mereka merasa terkejut.
Selain ketua Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin yang mengetahui tentang Thian-can-sin-kang dengan jelas adalah Kouw-bok, karena itu mengenai kepergian Wan Fei-yang ke perbatasan suku Biauw, dia menjadi sangat khawatir.
Wan Fei-yang memang sudah menguasai Thian-can-sin-kang tapi lawan pun menguasai ilmu sejenis, dan asal muasal ilmu iblis itu walaupun beraliran sesat, entah sampai dimana kekuatannya?
Apakah berada di atas Thian-can-sin-kang?
Tidak ada seorang pun yang tahu, sebab ilmu iblis itu baru sekarang muncul.147 Kouw-bok tidak merasa yakin, walaupun dia berpengalaman di segala bidang, dia tidak tahu Thian-can-sin-kang dengan detil, apalagi ilmu iblis itu.
Saat Pek-ciok Tojin datang kepadanya, dia sedang bersemedi di kamar Yan Cong-thian dulu.
Hari sudah sore, semenjak dia kembali ke Bu-tong-san dia selalu mengajarkan ilmu silat kepada murid-murid Bu-tong-pai dengan teliti.
Semua ilmu silat milik Bu-tong-pai pun dikuasainya dengan lancar, dia juga bisa mengerti perubahan-perubahannya, dia mengajarkannya dengan pas.
Sebenarnya dia juga sudah berusaha, ilmu silat murid-murid Bu-tong diajarkan olehnya, bisa dikatakan mereka jadi mengalami kemajuan pesat.
Setelah melalui beberapa bencana, sisa murid-murid Bu-tong tidak diragukan lagi adalah murid-murid yang setia dan mereka sudah bertekad ingin menguasai ilmu silatnya dan mengabdikan diri pada Bu-tong-pai.
Kesuksesan Wan Fei-yang bagi mereka merupakan semacam rangsangan kecuali merasa bangga mereka juga merasa senang.
Inilah hal yang membuat Kouw-bok senang, karena itu dia pun semakin bersemangat mengajari mereka.
Setiap kali kembali ke kamarnya untuk beristirahat, dia merasa tubuhnya lelah, Pek-ciok Tojin sangat mengerti keadaannya, maka tidak pernah mengganggunya, memang sejak Bu-tong-pai kedatangan orang-orang yang dipimpin Kiam-sianseng untuk menanyakan tindakan Bu-tong sampai saat ini mereka terlihat tenang, seperti tidak ada masalah yang terjadi.
Kouw-bok sangat mengerti isi hati Pek-ciok Tojin, sekarang kedatangan Pek-ciok Tojin ke kamarnya karena dia mengetahui sesuatu dan segera terpikir pada Wan Fei-yang.148 Apakah telah terjadi sesuatu pada Wan Fei-yang?
Melihat sikap Pek-ciok Tojin, Kouw-bok tahu bahwa ini bukan berita yang bagus dan dia tetap merasa curiga.
Dengan ilmu silat Wan Fei-yang, siapa yang tidak bisa dia hadapi?
Kouw-bok sepertinya tetap tidak tahu, dia membiarkan Pek-ciok Tojin menceritakan kabar yang telah dia dengar dengan jelas, mendengar bahwa Wan Fei-yang telah dikalahkan Beng To, dia mulai bereaksi.
Selesai bercerita, Pek-ciok Tojin menarik nafas dan berkata.
"Tecu datang saat Susiok-kong sedang beristirahat.."
Kouw-bok segera memotong.
"Semua sudah terjadi, tahu sekarang atau nanti sama saja!"
"Katanya Beng To dengan orang-orangnya sedang menuju Bu-tong-san."
"Hutang lama memang sudah waktunya diperhitungkan."
"Maksud Susiok-kong, kita akan menunggu kedatangan mereka ke Bu-tong-san?"
"Kalau kita mujur ini bukan bencana, kalau bencana kita tidak akan sanggup menghindar lagi!"
Pek-ciok Tojin mengangguk.
"Orang yang bernama Beng To sudah mengatakan akan membuat perhitungan dengan Bu-tong-pai, bila kita menghindar terus, mungkin nanti sulit untuk berdiri di dunia persilatan..." 00 -© -00149 BAB 12
"Pepatah mengatakan. Karena nama kosong maka kita harus memikulnya dengan susah, demi nama kosong ini murid-murid Bu-tong-pai harus menghadapi musibah besar lagi!"
Pek-ciok Tojin terdiam, Kouw-bok menarik nafas lagi.
"Untuk kalangan persilatan, masalah di luar kemauan mereka, maka pepatah seperti ini punya alasan yang kuat!"
Dia bertanya lagi.
"Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu serta yang lain seharusnya sudah tiba!"
"Ada kabar yang mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan kemari!"
"Kabar mengenai Beng To sudah tersebar luas, mereka seharusnya tahu, Wan Fei-yang sudah dijadikan kambing hitam, jadi semua ini tidak ada hubungan dengan Bu-tong-pai!"
"Mereka pasti ingin mencari Beng To untuk membuat perhitungan!"
"Para tetua itu masing-masing mempunyai pendapat, mereka sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah, setelah tahu duduk persoalannya, mereka tidak akan berpangku tangan begitu saja!"
Kata Pek-ciok Tojin.
"Karena mereka masing-masing mempunyai pendapat, mereka pasti akan datang, tapi mungkin masalah akan datang lebih dulu, mereka akan menunggu kita yang membuat perhitungan terlebih dulu dengan Beng To, setelah itu baru mencari Beng To untuk membuat perhitungan lagi!"
"Tidak mungkin!"
Pek-ciok Tojin menundukkan kepala.
"Bu-tong-pai secara berturut-turut sudah mengalami150 musibah, kalau bukan karena Wan Fei-yang, saat mereka datang kemari sudah..."
"Karena menguasai Thian-can-sin-kang, Wan Fei-yang menjadi tersohor juga membuat Bu-tong-pai terkenal, tapi karena Thian-can-sin-kang disalahartikan, maka Fei-yang pergi ke wilayah suku Biauw untuk mencari tahu kenyataan sebenarnya..."
Kouw-bok menarik nafas panjang dan melanjutkan lagi.
"Apakah semua ini karena spekulasi?"
"Kalau dikatakan..."
Kata Pek-ciok Tojin. Kouw-bok menyela.
"Aku mengerti maksudmu, karena Bu-tong-pai dituduh telah mencuri Thian-can-sin-kang untuk menguasai dunia persilatan, kalau Thian-can-sin-kang tenggelam lagi sepertinya itu sangat masuk akal, dulu aku pernah bicara kepada Fei-yang, yang penting Bu-tong-pai tidak menggunakan Thian-can-sin-kang melakukan kejahatan di dunia persilatan..."
"Tapi keinginan Langit tidak bisa di duga, maka ada hal lain yang harus dipertimbangkan!"
Pek-ciok Tojin mengangguk, Kouw-bok menyi pitkan matanya, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, lalu berkata.
"Fei-yang adalah orang baik, apakah menjadi orang baik tidak akan panjang umur?"
"Wan Fei-yang orang yang sangat baik hati, tadinya dia melakukan pengobatan di kaki gunung untuk penduduk di sekitar ini, dan dia ingin melakukannya seumur hidup..."
Jelas Pek-ciok Tojin.
"Orang persilatan tetap orang persilatan,"
Kouw-bok bertanya.
"apakah murid-murid Bu-tong yang ada di atas gunung telah diberitahu mengenai masalah ini?"151
"Tecu memberanikan diri menyuruh mereka memilih, yang ingin tinggal atau ingin pergi dari Bu-tong-san, silahkan mereka yang mengambil keputusan! "
Baik..."
Kouw-bok mengangguk.
"mereka masuk Bu-tong-pai dan belajar ilmu silat Bu-tong-pai, tapi mereka tidak perlu demi Bu-tong-pai sampai harus menjual nyawa!"
"Tapi mereka lebih memilih tinggal di Bu-tong-san!"
Jelas Pek-ciok Tojin.
"Baik juga!"
Kouw-bok tertawa.
"memang jika ingin pergi dari Bu-tong-san mereka pasti sudah pergi dari dulu!"
"Tecu pun berpikir demikian!"
Kata Pek-ciok Tojin.
"Menurut berita yang kudapatkan, Beng To datang ke Hoa-san membunuh Kiam-sianseng serta murid-murid Hoa-san-pai hingga tidak ada satu pun yang tersisa, apakah berarti Hoa-san-pai telah musnah?"
"Kabar yang Tecu dengar pun seperti itu..."
"Kalau itu benar, kabar tidak akan datang begitu cepat karena Beng To ingin membuat namanya tersohor dan dikagumi orang-orang, bila dia ganas dan kejam itu tidak mengherankan!"
"Bagaimana ilmu silat Kiam-sianseng?"
Tanya Kouw-bok lagi.
"Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu dan lain-lain menganggap Kiam-sianseng pemimpin mereka, dia adalah salah satu dari beberapa pesilat tangguh yang ada sekarang ini, yang pasti dari generasi tertinggi!"
Kouw-bok menggelengkan kepala.
"Yang ingin aku ketahui kemampuan ilmu silatnya sampai sejauh mana?"
"Tecu tidak tahu. Kalau tidak salah dia sudah 20 tahun lebih tidak bertarung!"
Jawab Pek-ciok Tojin.152
"Berarti ilmu silatnya tidak terlalu bagus!"
Kouw-bok menarik nafas lagi.
"sebenarnya percuma aku bertanya sebab Fei-yang pun kalah dari Beng To, dari sini dapat diketahui ilmu silat Beng To sudah mencapai tahap tertinggi!"
"Apakah kepandaian Wan Fei-yang berada di posisi tertinggi di Bu-tong-pai?"
Tanya Pek-ciok Tojin.
"Buat apa kau bicara berputar-putar? Langsung saja pada topik yang ingn kau tanyakan, di antara aku dan Wan Fei-yang siapa yang ilmu silatnya lebih tinggi."
"Tecu tidak berani!"
Kata Pek-ciok Tojin gugup.
"Aku bukan lawan Wan Fei-yang!"
Kouw-bok mengaku dengan jujur.
"sebab Wan Fei-yang menguasai Thian-can-sin-kang!"
Pek-ciok Tojin mengangguk, Kouw-bok melanjutkan lagi.
"Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk bicara seperti ini, tapi kalau dikatakan lebih awal atau nanti pun sama saja, kenyataan adalah kenyataan, ilmu silat kalah dari orang lain bukan hal yang buruk!"
Pek-ciok Tojin mengangguk.
"Tecu hanya curiga Thian-can-sin-kang Beng To dengan Thian-can-sin-kang Wan Fei-yang..."
"Wan Fei-yang kalah di tangan Beng To, dengan aturan yang semestinya, kita menduga Wan Fei-yang kalah dalam teknik, hanya saja Beng To dari Mo-kauw."
"Apakah dalam pertarungan itu ada jebakan atau ada alasan lain? Tidak ada seorang pun yang tahu, Wan Fei-yang mempunyai kepandaian yang hebat, tapi dia bersifat jujur, bila dia dijebak dia tidak akan sadar!"
"Itu yang Tecu khawatirkan!"153
"Bila Wan Fei-yang jatuh ke tangan lawan, perubahan yang terjadi pada ilmu silat Beng To seperti apa pun tidak akan aneh!"
"Tecu tidak mengerti!"
Kata Pek-ciok Tojin.
"Ilmu Iweekang Mo-kauw katanya hasil dari Ih-hoa-ciap-bok, mengambil tenaga dalam milik orang lain disedot ke dalam tubuhnya, kemudian dimanfaatkan, kita dari Bu-tong-pai justru merasa cara ini terlalu licik maka mencari alternatif lain, iblis-iblis dari Mo-kauw tidak akan melepaskan jalan pintas ini, sebelumnya sudah banyak pesilat tangguh Tionggoan yang dibunuh, aku yakin semua karena alasan ini!"
"Kalau sampai Wan Fei-yang jatuh ke tangan Beng To..."
Pek-ciok Tojin tampak terkejut.
"Dia tidak akan menyia-nyiakan tenaga dalam Wan Fei-yang yang kuat, apalagi ilmu silat mereka mempunyai dasar yang sama, keuntungan yang didapat pasti sangat banyak!"
Kouw-bok menghela nafas.
"Harap saja dugaan Tecu salah!"
Begitu selesai bicara di depannya terdengar suara, Pek-ciok Tojin dan Kouw-bok tampak terkejut.
Karena di sana adalah tempat terlarang selain ada hal yang penting yang harus dilaporkan kalau tidak, dilarang untuk memukul gentong.
Bu-tong-pai selalu mendapat musibah, kalau terjadi ini pasti bukan hal yang baik.
"Apakah Beng To begitu cepat tiba?"
Kouw-bok seperti mengerti Pek-ciok Tojin, dia berkata dengan santai.
"Kapan pun dia datang sama saja!"
"Tecu terlalu tegang!"
Kata Pek-ciok Tojin terpaku.154
"Tegang bukan hal yang buruk!"
Sewaktu mereka sedang bicara, ada dua murid Bu-tong-pai berumur separo baya berada di luar kamar, tidak menunggu mereka membuka suara, Pek-ciok Tojin sudah bertanya dengan terburu-buru.
"Apa yang terjadi?"
"Pek-jin Taysu dari Siauw-lim-pai, Giok-koan Tojin dari Ceng-sia-pai..."
"Apakah mereka sudah tiba?"
Tanya Pek-ciok Tojin.
"Mereka sedang menunggu di ruangan..."
Kedua murid Bu-tong-pai itu tampak begitu ketakutan.
"Masih ada sisa waktu satu hari lagi sebelum tiba batas waktu yang telah ditentukan, tidak disangka mereka semua sudah tiba dulu!"
"Lapor Ketua, yang datang hanya Giok-koan Tojin serta murid-murid dari Pek-jin Taysu!"
"Mengapa bukan sejak tadi dikatakan dengan jelas?"
Seru Pek-ciok Tojin.
"Kau yang tidak memberi waktu pada mereka untuk menjelaskannya!"
Kata Kouw-bok sambil menggelengkan kepala.
"pikiranmu sedang kacau, jadi bukan salahmu juga!"
Pek-ciok Tojin tertawa kecut.
"Tecu yang salah!"
"Ini bukan suatu kesalahan dan hal seperti ini tidak pantas kau katakan,"
Kouw-bok menggelengkan kepala.
"sebagai ketua perkumpulan kau harus punya wibawa seorang pemimpin!"
Pek-ciok Tojin ingin mengatakan sesuatu, Kouw-bok sudah melambaikan tangannya.155
"Kita ke ruang depan untuk melihat..."
Baru saja kata-katanya selesai, dia turun dari ranjang dan mengambil sebuah tongkat bambu lalu melangkah keluar kamar.
Pek-ciok Tojin dengan cepat mengikuti dari belakang, kedua murid Bu-tong-pai itu dengan cepat mengikuti pemimpin mereka.
Melihat Kouw-bok, Giok-koan Tojin dan Pek-jin Taysu merasa aneh, sebab mereka belum pernah melihat orang tua ini juga tidak tahu bahwa Bu-tong-pai masih punya generasi tua.
Dari sikap Pek-ciok Tojin yang penuh dengan rasa hormat, tidak diragukan lagi urutan generasi orang tua ini berada di atas Pek-ciok Tojin.
Giok-koan Tojin To-jin melihat Pek-jin Taysu yang berada di samping, lalu berkata.
"Generasi atas Bu-tong-pai masih ada siapa lagi?"
"Pinceng tidak tahu."
"Apakah Taysu tidak mempunyai bayangan sama sekali?"
"Tidak ada!"
Pek-jin Taysu mengawasi Kouw-bok lagi. Giok-koan Tojin mengangkat bahu.
"Bu-tong-pai selalu membuat orang-orang bingung dan selalu begitu terus!"
Setelah Kouw-bok duduk, dia melihat Giok-koan Tojin.
"Bagaimana keadaan gurumu, apakah beliau baik-baik saja?"
Giok-koan Tojin tampak terkejut, dia melihat Pek-ciok Tojin, Kouw-bok tertawa dingin.
"Aku bertanya kepadamu!"
"Aku?"
"Apakah Sian-in Cinjin bukan gurumu?"
Giok-koan Tojin benar-benar terkejut, Sian-in Cinjin adalah gurunya tapi sudah meninggal 20 tahun yang lalu, sekarang di Ceng-sia-156 pai generasi dialah yang tertua.
Selama 10 tahun ini tidak ada seorang pun yang menanyakan keadaan gurunya, sekarang tiba-tiba saja ada yang berkata seperti itu, hingga dia merasa aneh, Pek-ciok Tojin yang berdiri di sisi juga merasa aneh dan menyela.
"Dia dari Ceng-sia-pai, Giok-koan Tojin!"
Kouw-bok dengan dingin berkata.
"Aku hanya tahu dia murid Sian-in Cinjin."
Dengan bingung Giok-koan Tojin melihat Kouw-bok, lalu bertanya.
"Apakah Lo-cianpwee sahabat dari almarhum guruku?"
Kouw-bok berkata dengan penuh keharuan.
"Apakah Sian-in Cinjin telah meninggal?"
"Sudah hampir 20 tahun.. Kouw-bok hanya bersuara "Oh!"
Setelah itu baru menatap Giok-koan Tojin lagi.
"Kau juga sudah menjadi seorang tua!"
"Siapa sebenarnya Lo-cianpwee?"
Tanya Giok-koan Tojin, rambut dia semua sudah memutih, di dunia persilatan generasinya sangat tinggi, orang yang usianya lebih tua darinya bisa dihitung dengan jari, tapi orang tua ini walaupun dia sudah berusaha mengingat-ingat tapi sama sekali tidak ada bayangan, tapi Kouw-bok pun sepertinya sedang bercanda.
"Lo-cianpwee..."
Terpaksa dia memanggil. Mata Kouw-bok tampak berkedip.
"Bekas luka di dahimu, kau ingat karena apa?"
Giok-koan Tojin mengelus dahi sebelah kanan, di sana memang ada bekas luka berbentuk bulan, seperti bekas gigitan dan sangat jelas.
Pikirannya kembali menggali ke beberapa puluh tahun yang silam, dia berkata dengan pelan.
"Itu pemberian dari Yan-suheng!'157
"Waktu itu Yan Cong-thian dan kau masih kecil, walaupun bertarung secara persahabatan tapi kalian menyerang secara serius!"
Giok-koan Tojin berteriak.
"Anda adalah orang yang membantu menahan serangan pedang dari Yan-suheng, apakah Anda adalah Pui Siok-siok yang menolongku waktu itu?"
"Tetapi aku tetap terlambat sedikit, kalau saat itu tidak segera menolongmu, sekarang ini mana mungkin aku bisa mengenalimu si anak kecil itu?"
Giok-koan Tojin terpaku, kejadian itu sudah berlalu puluhan tahun berlalu, dia seperti bermimpi, Kouw-bok terlihat terharu.
Pek-jin Taysu yang berdiri di sampingnya tampak terkejut, Giok-koan Tojin terlihat agak tenang, baru bertanya.
"To-heng, Lo-cianpwee ini adalah..."
Giok-koan Tojin berteriak.
"Beliau adalah Bu-tong-thi-han (Laki-laki berhati besi dari Bu-tong-pai), Pui Bu-ki!"
Pek-jin Taysu seperti teringat sesuatu, tapi Kouw-bok sudah berkata lagi.
"Pui Bu-ki sudah tidak ada..."
Tiba-tiba Giok-koan Tojin seperti sadar, dia berteriak.
"Kouw-bok Cinjin..."
Kouw-bok tertawa terbahak-bahak.
"Daya ingatmu tidak jelek!"
"Saat muda Boanpwee pernah datang ke Bu-tong-san mengunjungi Lo-cianpwee, tapi..."
"Aku sedang menyembunyikan diri!"
Kata Kouw-bok sambil mengibaskan rambut panjangnya.
"karena158 menyembunyikan diri, aku bisa melepaskan banyak masalah yang merisaukan hati juga bisa melepaskankan kebajikan dan dendam dunia persilatan, hingga aku bisa bertahan hidup sampai setua ini!"
"Almarhum guruku pernah mengatakan kalau dunia persilatan sangat berbahaya tapi kalau sudah masuk dunia persilatan ingin menarik diri pun bukan hal yang mudah!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Orang persilatan akhirnya pun akan mati di dunia persilatan juga!"
Kata Kouw-bok menghela nafas.
"seperti aku yang sudah tua ini dan sudah menyembunyikan diri sejak lama, tapi pada akhirnya aku harus keluar juga!"
"Kata-kata Lo-cianpwee terlalu berat..."
"Menjadi seorang angkatan tua pasti ada kebaikannya, kalau mengatakan buruk kepada dirinya sendiri, malah dianggap merendahkan diri!"
Kouw-bok berkata dengan nada haru.
Giok-koan Tojin tidak bertanya terus, terhadap angkatan tua yang pernah menolongnya dulu, tidak diragukan lagi dia memang selalu terkenang dan berkesan baik.
Pek-jin Taysu adalah seorang hweesio, tentu saja adatnya lebih tenang, Kouw-bok melihat mereka dan bertanya.
"Apakah kalian sudah tahu masalah Wan Fei-yang?"
"Menurut gosip dunia persilatan, dia mati di tangan Beng To, tapi Boanpwee merasa, pemuda itu seharusnya tidak berumur pendek!"
"Apakah kau bisa Kua-mia (meramal)?"
Tanya Kouw-bok.
"Boanpwee tidak begitu mengerti, jadi tidak merasa begitu yakin!"
Kemudian Giok-koan Tojin berkata lagi.
"dulu di antara kami ada sedikit kesalah pahaman..."159
"Aku tidak menyalahkan kalian, selama beberapa tahun ini Thian-can-sin-kang hanya muncul dari Bu-tong-pai, dan pada generasi sekarang hanya Fei-yang yang menguasainya, sebelum Beng To muncul secara terang-terangan, kalau tidak mencurigai Fei-yang siapa yang akan kalian akan curigai?"
Giok-koan Tojin berpikir sebentar, lalu menatap Kouw-bok, sebelum membuka suara, Kouw-bok malah sudah bertanya.
"Dulu apakah kau tahu bahwa Thian-can-sin-kang seperti yang tersebar di dunia persilatan berasal dari ilmu lweekang Mo-kauw?"
"Maafkan Boanpwee yang tidak sopan!"
Giok-koan Tojin adalah orang yang blak-blakan, tapi di depan Kouw-bok, hatinya yang dipenuhi dengan beban tidak berani sembarangan bicara.
Kouw-bok mengerti jalan pikirannya, dengan tenang dia berkata.
"Ini adalah sebuah kenyataan, tapi bila mau menuntut dengan keras, tidak bisa juga, ilmu dari Mo-kauw itu secara terang-terangan terukir di sebuah tugu di daerah Biauw, dan bercampur dengan ilmu guna-guna, maka tidak semuanya milik Mo-kauw."
"Ilmu lweekang Mo-kauw dan ilmu guna-guna adalah ajaran iblis dan sesat, aku kira..."
Kata Giok-koan Tojin. Kouw-bok menjawab dengan dingin.
"Memang ilmu lweekang dari Mo-kauw ini dicampur dengan ilmu guna-guna, tapi saat di Bu-tong-pai semua sudah diubah, cara berlatih dengan perkumpulan lurus lainnya tidak berbeda jauh!"
"Boanpwee tidak berani menaruh curiga atas apa yang Lo-cianpwee katakan..."
"Berarti kau masih punya sedikit rasa curiga, tapi itu bukan salahmu!"
Kata Kouw-bok lalu bertanya lagi.
"aku ingin bertanya, apakah ada murid Bu-tong-pai setelah menguasai Thian-can-sin-kang melakukan kejahatan?"
"Tidak ada!"
Jawab Giok-koan Tojin dengan tulus.
"Lalu apa bedanya dengan perkumpulan lurus?"
Kouw-bok menarik nafas lagi.
"murid Bu-tong-pai, Wan Fei-yang setelah menguasai Thian-can-sin-kang tidak pernah mencelakai kalangan persilatan, malah menolong orang yang sedang menghadapi bahaya juga memapah orang yang lemah!"
"Boanpwee mengerti!"
"Menurutku kau belum mengerti, kalau tidak, kau tidak akan datang dengan berkelompok ke Bu-tong-san untuk mencela dan menunjuk dosa-dosa Wan Fei-yang!"
Dengan cepat Giok-koan Tojin menjelaskan.
"Sebab orang yang mati itu seperti mati karena Thian-can-sin-kang!"
"Tapi kalian tidak memikirkan sifat Wan Fei-yang dan bagaimana cara dia menghadapi orang!"
"Kami pemah memikirkannya!"
"Tapi kalian ingin memperalat kepandaian Wan Fei-yang untuk membantu kalian mencari penjahatnya!"
Kouw-bok tertawa dingin.
"tidak diragukan lagi itu adalah cara yang sangat baik!"
Wajah Giok-koan Tojin terlihat malu, Pek-jin Taysu akhirnya bicara.
"Maafkan Pinceng menyela, kalau bukan karena terlalu mirip dengan Thian-can-sin-kang, kami tidak akan161 menyulitkan Wan Fei-yang, sebenarnya kami juga tidak salah sasaran, setelah bertemu dengannya, kami baru tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia mencari sampai ke daerah Biauw!"
Itu karena aku belum meninggal, sehingga Wan Fei-yang tahu ternyata Thian-can-sin-kang masih ada banyak rahasia yang belum tersingkap, sebelumnya dia tidak tahu apa-apa."
Kouw-bok tertawa dingin lagi.
"Seperti yang kalian katakan, memang kalian tidak salah sasaran, kalau tidak, dia tidak akan jauh-jauh mencariku untuk menanyakannya dengan jelas!"
"Inilah suatu rahasia, Bu-tong-pai tentu tidak akan mengumumkan ke seluruh dunia, Bu-tong-pai hanya ingin menyelesaikan secara pribadi, kami ingin membantu pun tidak bisa!"
Kata Pek-jin Taysu.
"Kau adalah hweesio yang pengertian!"
Tiba-tiba Kouw-bok menggelengkan kepala dengan terharu.
"kalau mengadu kelincahan lidah, Wan Fei-yang menghadapimu seorang saja sudah sulit apalagi masih ada yang lainnya! Mana mungkin tidak akan membuatnya terjebak?"
Pek-jin taysu terpaku, dia melihat Giok-koan Tojin, Giok-koan Tojin hanya bisa tertawa kecut, dia terpaksa mengakui bahwa pada mulanya dia memang sengaja membuat Wan Fei-yang masuk jebakan dan menyetujui mengejar pembunuh sebenarnya.
Kouw-bok berkata lagi.
"Sebenarnya tidak ada hubungan sedikit pun dengan Wan Fei-yang, tapi dia malah harus memikulnya sendiri, sekali berjanji beratnya seperti memikul banyak emas, walaupun mati tidak akan menyesal, Bu-tong-pai bisa punya murid seperti dia merupakan kebanggaan kami!" 162 Pek-jin Taysu berkata lagi.
"Seharusnya dia menjelaskan kepada kami dan bersama-sama mencarinya ke daerah Biauw untuk mengetahui kenyataan sebenarnya!"
"Salah, seharusnya dia diam-diam mengendalikan tenaga untuk mendorong, akhirnya orang yang bernama Beng To itu akan muncul!"
Kouw-bok berkata sambil melihat Pek-ciok Tojin.
"tapi kita harus menunggu selama 2-3 bulan, padahal kita tidak bisa menunggu lama-lama!"
"Karena kami sama-sama ingin tahu apakah benar ada orang yang telah berlatih dan menguasai ilmu iblis itu?"
Kata Pek-ciok Tojin.
"Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita!"
Kata Kouw-bok.
"apa alasannya, kita sendiri tahu dengan jelas!"
Pek-ciok Tojin mengangguk, kata Kouw-bok sambil tertawa kecut.
"Karena kita percaya pada ilmu silat Wan Fei-yang dan yakin tidak ada masalah yang tidak bisa dibereskan, kita semua harus bertanggung jawab atas kematiannya!"
Pek-ciok Tojin menundukkan kepala, akhirnya Pek-jin Taysu berkata.
"Sebenarnya kami pun bermaksud seperti itu ingin meminjam kepandaian Wan Fei-yang..."
"Taysu lebih jujur!"
Kata Kouw-bok, kemudian dia melanjutkan.
"apakah tujuan kalian datang kemari?"
"Dengan kebiasaan Mo-kauw, kalau tidak kami tidak yakin dia tidak akan bertindak, bila sudah bertindak harus sampai mati baru berhenti, setelah peristiwa Hoa-san-pai, mungkin Bu-tong-pai adalah tujuan mereka berikutnya!"
"Mereka menyerang Hoa-san-pai, Boanpwee percaya mereka ingin memamerkan kekuatan dan wibawa Beng To,163 dengan alasan Bu-tong-pai berutang dan minta membayar kembali, karena dari cara mereka membuka rahasia Thian-can-sin-kang, bisa dibayangkan!"
"Kalau begitu, kalian datang untuk menonton keramaian?"
Tanya Kouw-bok sambil tertawa dingin. Giok-koan Tojin menjelaskan.
"Beng To pernah memberi tahu janji pertemuan antara kami dengan Wan Fei-yang, kalau ada beberapa orang dari beberapa perkumpulan datang ke Bu-tong-san, dia tidak akan melepaskan kesempatan memamerkan wibawa dan kekuatannya, maka kami mengambil kesempatan ini untuk mengadu kepandaian!"
Pek-jin Taysu menyambung.
"Mo-kauw sudah beberapa kali mendatangi dunia persilatan Tionggoan, karena kekompakan perkumpulan silat di Tionggoan mereka kalah dan mundur dari Tionggoan, kali ini pun tidak terkecuali!"
"Begitukah?"
Tanya Kouw-bok. Pek-jin Taysu melafalkan bacaan Budha.
"Pinceng sudah berpesan kepada para murid Siauw-lim-pai yang ikut kemari untuk kembali ke Siauw-lim, dan minta para pesilat tangguh Siauw-lim-pai datang kemari untuk membantu!"
Giok-koan Tojin ikut bicara.
"Murid-murid Ceng-sia-pai pasti setelah mendapat kabar sedang menuju Bu-tong-san!"
Akhirnya wajah Kouw-bok terlihat tenang, dia mengangguk.
"Baguslah, dunia persilatan sudah lama tidak ramai seperti ini!"164
"Asalkan dunia persilatan Tionggoan bersatu Mo-kauw pasti akan gagal..."
Kata Giok-koan Tojin.
"Mungkin kali ini agak berbeda!"
Kata Kouw-bok.
"Lo-cianpwee terlalu mengangkat tinggi Mo-kauw!"
Kata Pek-jin.
"Berdasarkan tindakan Mo-kauw yang kutahu, pada akhirnya akan bertarung secara serabutan, sebab pesilat mereka tidak ada yang sanggup menangani tugasnya secara mandiri dengan pesilat tangguh yang tidak terkalahkan, apalagi dunia persilatan menolak kata sepakat dengan cara saling mengalah!"
Kata Kouw-bok.
"Kali ini pun kami tidak akan berkompromi!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Tapi mereka sudah mempunyai pesilat tangguh yang sangat lihai!"
"Beng To? Tapi dia hanya sendiri!"
"Demi berlatih ilmu iblis itu Beng To sudah banyak membunuh pesilat tangguh, para pesilat yang terbunuh itu menurut Pek-ciok Tojin adalah orang-orang yang sanggup menangani pekerjaan secara sendiri dan mandiri, maka sisa pesilat yang ada di Tionggoan dengan kondisi seperti sekarang sudah tidak banyak lagi!"
Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin harus menyetujui pendapat Kouw-bok. Kouw-bok menatap mereka.
"Seperti apa ilmu silat Fei-yang, aku sendiri pun belum tahu, tapi melihat sifatnya aku percaya dia bukan tipe orang yang memperebutkan nama dan kekayaan!"
"Memang dia bukan tipe orang seperti Tokko Bu-ti, Bu-ti-bun (perkumpulan tidak terkalahkan) didirikan Tokko Bu-ti, dia menantang semua pesilat tangguh dunia persilatan dan165 tidak terkalahkan, banyak kalangan mengira dia benar-benar tidak terkalahkan!"
Kata Giok-koan Tojin. Pek-ciok Tojin menyela.
"Memang semenjak dia mendirikan Bu-ti-bun, selain perkumpulan kami, perkumpulan lain punya dendam atau tidak, setiap 10 tahun sekali diadakan pertarungan, pada pertarungan terakhir dia mencari masalah dengan dunia persilatan dan tidak ada seorang pun yang berani menghadapi Bu-ti-bun!"
"Tapi akhirnya dia kalah oleh Wan Fei-yang, singkat cerita apakah Wan Fei-yang pantas dikatakan tidak terkalahkan di dunia ini?"
Giok-koan Tojin mengangguk.
"Menurut gosip dunia persilatan, Wan Fei-yang adalah pesilat muda yang selama ratusan tahun ini tidak terkalahkan!"
Tiba-tiba Kouw-bok berkata.
"Di mata kalian ini hanya sekedar gosip belum tentu benar!"
"Pertarungan antara Wan Fei-yang dan Tokko Bu-ti katanya tidak ada yang menyaksikan!"
Kata Giok-koan Tojin. Dengan santai Kouw-bok berkata.
"Walau bagaimana pun di atas langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia lainnya, kenyataan membuktikan ilmu silat Beng To berada di atas Wan Fei-yang!"
"Mo-kauw adalah perkumpulan sesat, pertarungan yang terjadi pun belum tentu akan berjalan adil, mungkin Beng To memenangkannya dengan cara licik!"
Kaa Giok-koan Tojin.166
"Kabar akan datang lebih jelas, jika benar ilmu silat Beng To sangat tinggi dan tidak ada yang bisa mengalahkannya..."
Kata Kouw-bok.
"Kita bersatu..."
Kata Pek-jin Tojin.
"Kalau dia menantang kita satu persatu, dan berhasil mengalahkan kita satu persatu bagaimana?"
Tanya Kouw-bok. Pek-jin Taysu terpaku. Kouw-bok menarik nafas.
"Setelah beberapa kali Mo-kauw kalah dari pesilat-pesilat Tionggoan dan tahu memilih cara apa yang cocok untuk mengalahkan pesilat-pesilat Tionggoan, akhirnya mereka memerlukan seorang pesilat tangguh!"
"Menurut kabar, pertarungan yang terjadi di Hoa-san hanya Beng To yang bertarung!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Dari sini dapat diketahui jiwa pahlawan seseorang seperti kertas, bagaimana dengan pesilat tangguh Tionggoan?"
"Apakah harus dengan jumlah banyak orang menyerang dia yang seorang diri?"
Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin tertawa kecut. Kouw-bok berkata lagi.
"Kabarnya orang yang bernama Beng To hanya membawa orang-orang dari suku Biauw!"
Giok-koan Tojin mengangguk.
"Kami sudah menyuruh orang untuk mencari tahu, kabarnya sampai saat ini belum ada orang-orang dari Mo-kauw yang muncul!"
"Apakah mereka masih menyimpan rencana busuk lainnya? Dan sedang menunggu kesempatan lain?"
Kouw-bok menundukkan kepala.167 Giok-koan Tojin mulai melihat keresahan Kouw-bok, dia berkata.
"Lo-cianpwee tidak perlu merasa khawatir..."
Kouw-bok memotong.
"Apakah kalian dulu pernah ikut dalam pertarungan antara pesilat Tionggoan dengan Mo-kauw?"
"Waktu itu Boanpwee masih kecil!"
"Waktu itu pun Pinceng hanya seorang hweesio kecil!"
Pertarungan antara Mo-kauw dengan dunia persilatan Tionggoan sudah berlangsung beberapa puluh tahun yang lalu, hanya orang seumur Kouw-bok dan berhasil menjadi seorang pesilat tangguh baru bisa punya kesempatan untuk ikut!
Kouw-bok melihat Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin, lalu menarik nafas.
"Pantas kalian begitu optimis!"
Dengan aneh Giok-koan Tojin bertanya.
"Memangnya keadaan dulu seperti apa?"
"Awalnya keadaan ilmu silat Tionggoan seperti sepiring pasir, begitu setiap perkumpulan merasa di ambang bahaya, mereka baru mau bekerja sama tapi Mo-kauw telah menyusun rencana, maka pertarungan kali itu dimenangkan dengan susah payah. Boleh dikatakan semua itu karena faktor keberuntungan, yang terluka dan yang mati sangat banyak, setelah sekian lama baru bisa kembali normal, dengan kejadian sebelumnya tidak ada perbedaan."
"Maksud Lo-cianpwee mengenai kekompakan dunia persilatan?"
Tanya Giok-koan Tojin.
"Sekarang pun masih seperti dulu!"
Kouw-bok menarik nafas.168
"Mo-kauw hanya terdiri dari satu perkumpulan tentu lebih kompak..."
Kata Giok-koan Tojin k lagi.
"Salah! Mo-kauw terdiri dari 10 perkumpulan dari barat, tapi mereka sangat kompak!"
"Katanya di tanah barat mereka pun seperti itu, setiap tahun pasti akan memilih sebuah tempat dan saling berunding serta bertanding, yang menang akan merasa bangga, yang kalah pun tidak akan merasa itu adalah sebuah penghinaan!"
Kata Kouw-bok.
"Kalau itu kenyataan, rasanya untuk mencapai tujuan seperti itu bukan hal yang mudah!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Lihatlah dunia persilatan Tionggoan yang sudah terkenal, mereka selalu bersembunyi karena takut kalah dan ambruk, ingin bertukar pikiran dan bertukar ilmu, itu hal yang tidak mungkin, kalau saling sikut itu sudah tidak aneh!"
Giok-koan Tojin dan Pek-jin Taysu mengangguk, ternyata dunia persilatan Tionggoan tetap seperti itu, tidak terjadi perubahan. Kata Kouw-bok.
"Kabarnya setiap perkumpulan Mo-kauw ilmu mereka selalu maju pesat, mungkin alasannya karena mereka bisa menyerap kelebihan ilmu silat Tionggoan kemudian mengubahnya, tapi kita para pesilat Tionggoan selalu menganggap ilmu silat Mo-kauw adalah ilmu sesat dan tidak patut dilihat, maka keadaan kita semakin buruk!"
"Untuk pertama kalinya kami mendengar komentar seperti itu!"
Giok-koan Tojin menarik nafas.
"Sebenarnya semua itu sangat beralasan, kalau dunia persilatan menginginkan nama perkumpulan nya naik paling sedikit ilmu silat mereka harus ada kemajuan,"
Kata Pek-jin Taysu.169
"Tidak mungkin, perkumpulan mana yang mau menerima kelebihan ilmu silat suku Biauw?"
Kouw-bok menarik nafas panjang.
"Pendapat Lo-cianpwee memang tepat..."
"Tapi aku pun baru mengerti mengenai alasan ini."
Kemudian dia tertawa kecut, kalau dia tidak berkepala batu dia tidak akan mempertahankan prinsipnya dan bersembunyi di dasar gunung selama beberapa puluh tahun.
Giok-koan Tojin tidak tahu mengenai hal ini, maka dia tidak mengerti apa yang dipikirkan Kouw-bok tapi Pek-ciok Tojin mengerti, dia memotong.
"Sekarang kalau kita memperbaiki, apakah sudah terlambat?"
"Yang takut tidak akan mau memperbaiki, yang mau diperbaiki tidak akan terlambat!"
Kouw-bok tertawa kecut.
"berpikir memang mudah, tapi prakteknya berbeda!"
Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha.
"Pinceng setuju dengan perubahan ini tapi aku tidak bisa mengambil ketentuan dan nanti setelah kembali ke Siauw-lim-si, aku akan membicarakan masalah ini kepada para tetua di Siauw-lim-si!"
"Boanpwee pun harus mendapatkan persetujuan dulu dari para tetua Ceng-sia-pai!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Apakah kalian tidak mempunyai rasa percaya diri untuk menyakinkan mereka?"
Tanya Kouw-bok. Pek-jin Taysu membaca bacaan Budha lagi, Giok-koan Tojin menarik nafas.
"Tampaknya butuh waktu yang lama!"
Kouw-bok tertawa dingin.
"Angkatan tua seperti mereka sangat keras kepala dan sepanjang tahun tinggal bersembunyi di gunung dan mereka170 tidak tahu jelas keadaan sekarang, ingin menasihati mereka tidak mudah malah cenderung sulit!"
"Asalkan kita terus berusaha pada akhirnya akan berhasil, kita akan menanamkan pola pikir seperti ini kepada murid-murid kami..."
Kata Giok-koan Tojin.
Tiba-tiba dia berhenti bicara, sebab tidak terasa telah mengungkapkan kekhawatiran yang bercokol di dalam hatinya.
Ternyata dia tidak percaya diri bisa menasihati para tetuanya, hanya berharap pada generasi yang lebih muda.
Kouw-bok lebih terharu dibandingkan Giok-koan Tojin, dia menarik nafas panjang.
"Sepertinya sudah tidak bisa melihat hari-hari seperti itu lagi, hanya berharap hari-hari seperti itu datang tidak terlalu lama!"
Kemudian dia berkata.
"Lebih baik kita bersiap-siap, menghadapi kedatangan Mo-kauw!"
"Kecuali kalau dia tidak punya niat menguasai Tionggoan, kalau tidak, dia pasti akan datang pada saatnya!"
Kemudian dia menusuk lurus tongkat bambu yang dipegangnya dan berkata.
"Walau bagaimanapun orang pertama yang menerima pertarungan adalah orang dari Bu-tong-pai!"
"Tenanglah, Lo-cianpwee, kami akan berbuat sekuat tenaga mendukung Bu-tong-pai!"
Kouw-bok terdiam, dengan terharu menatap Giok-koan Tojin.
Orang-orang ini berusaha memperalat Wan Fei-yang berarti ilmu silat mereka di bawah Wan Fei-yang, sedangkan Wan Fei-yang bukan lawan Beng To, apakah orang-orang akan seperti itu juga?171 Apakah Langit iri kepada orang berbakat?
Orang baik jarang ada yang panjang umur.
Teringat pada Wan Fei-yang hati Kouw-bok benar-benar seperti daun yang layu.
0-0-0 Wan Fei-yang masih berada di ruang rahasia di tempat sembahyang, bila ada orang datang, lalu melihat keadaannya sekarang, mereka tidak akan mengenalinya.
Sekarang dia tidak seperti seorang manusia, seperti hidup dan seperti mati.
Sebab tubuhnya sudah terbungkus dalam kepompong ulat sutera.
Kalau di tempat terang mungkin jelas terlihat bahwa di dalam kepompong bersembunyi seseorang.
Di kamar rahasia itu hanya ada sebuah lampu tempel yang selalu menyala dan sekarang sudah padam, di bawah cahaya redup benar-benar sulit melihat benda yang ada di dalam kepompong.
Kepompong itu tidak sekuat kepompong yang benar, begitu kecil, hanya berupa selapis lapisan tipis, bila disentuh mungkin bisa hancur.
Perubahan seperti itu terjadi untuk kedua kalinya.
Pertama sewaktu dia berlatih Thian-can-sin-kang dan Sen Man-cing menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Wan Fei-yang.
Tenaga dalam yang berada di tubuh Sen Man-cing sudah tidak ada gunanya malah menjadi beban, setelah dialirkan ke tubuh Wan Fei-yang, tenaga dalam itu menjadi kekuatan yang dahsyat.
Bisa membantu Wan Fei-yang melancarkan aliran darah ke semua nadi dan tidak berhenti.
Awalnya dia hanya pelan-pelan masuk ke dalam keadaan hibernasi, tenaga dalam yang keluar dari tubuhnya,172 kemudian menjadi benda seperti kepompong, mungkin benda itu bisa melindunginya, tapi efeknya tidak akan keluar paling sedikit dilihat dari luar akan seperti itu.
Saat pertama kali dan sekarang ini dia tidak sampai diserang, semuanya dalam keadaan tenang dan kepompong itu pun berhasil dibuat.
Tapi kulit kepompong sekarang ini dengan kepompong saat pertama mengalami perbedaan.
Waktu itu seperti kepompong ulat biasa, kali ini kepompong mengeluarkan cahaya berwarna kuning muda, kepompong ini seperti dianyam oleh sutera berwarna kuning menjadi kepompong emas.
Di ruang rahasia itu tidak ada angin, tapi kepompong emas itu terus bergerak-gerak, gerakannya tidak seperti tertiup angin dan tidak terjadi di bagian tertentu, hampir di semua bagian kepompong, terlihat berirama.
Sebelumnya Wan Fei-yang sudah tersadar.
Tapi matanya tetap terpejam, sewaktu dalam keadaan hibemasi, dia bernafas melalui kulit, alat pernafasannya setelah dia tersadar baru berfungsi dan melakukan tugas sebagaimana mestinya.
Perubahan yang terjadi tampak begitu alami, Wan Fei-yang sendiri pun merasa tidak ada masalah dengan perubahannya, dia hanya merasa sekarang dia sudah menjadi seperti dewa melayang di dunia dewa!
Tidak terasa tubuh yang berat, tidak merasa ada yang mengekang.
Di sekelilingnya tampak kosong.
Kekosongan ini biasanya digunakan oleh seorang pertapa hingga bisa mencapai tahap seperti ini.
Ada orang yang seumur hidupnya tidak bisa mencapainya, ada yang bisa mencapai tahap ini hanya sebentar, atau melewati nya dengan sangat cepat.173 Sekarang Wan Fei-yang berada dalam keadaan pikiran kosong sampai akhirnya Beng To muncul.
Awalnya hanya berupa titik hitam dan muncul dari kejauhan, tapi semakin lama semakin cepat mendekati Wan Fei-yang.
Akhirnya sudah berada di depan Wan Fei-yang dengan jarak 10 tombak.
Wajah Beng To terlihat bengis dan jahat, dia tertawa terbahak-bahak, kemudian sorot matanya seperti kilat, tawanya seperti guntur, pikiran yang masih kosong segera menghilang dan berubah menjadi merah darah, api besar dari segala penjuru datang membakarnya.
Sepasang tangan raksasa milik Beng To mencengkeram Wan Fei-yang kemudian dengan cepat membungkusnya.
Waktu itu terjadi kegelapan total, tidak ada yang bisa dilihat Wan Fei-yang, tapi dia merasakan tekanan yang kuat, maka dia pun meronta dan berteriak.
Tentu saja semua itu hanya ilusi, Wan Fei-yang terkejut dan segera tersadar karena ilusi menakutkan itu, matanya segera membuka dengan lebar, tenaga di dalam tubuhnya segera melayang keluar, dia membentak.
Kepompong yang membungkus pun segera digetarkannya hingga pecah dan hancur berkeping-keping, Wan Fei-yang yang ada di dalam kepompong tampak berdiri tegak.
Dia segera mengerti apa yang terjadi, hatinya terus bergejolak, seperti ingin menangis.
Dulu dia terluka berat bukan hanya sekali dua kali, bahkan dia pernah hampir mati, tapi dia masih mempunyai sedikit kesempatan untuk hidup kembali.174 Kali ini setelah masuk masa hibernasi (Tidur panjang) dia mulai menduga semua itu karena perubahan Thian-can-sin-kang dan dia mempunyai perasaan untuk hidup, tapi perasaan seperti itu sudah sangat jauh, sekarang boleh dikatakan dia tidak ingat lagi.
Dia tidak menangis, tapi matanya tampak berkaca-kaca, sorot matanya melihat mayat Pei-pei.
Mayat Pei-pei masih tetap di tempat tadi.
Tapi sekarang hanya tinggal tulang belulang, katanya orang yang memelihara guna-guna setelah meninggal harus cepat-cepat dibereskan kalau tidak ulat dan serangga peliharaan mereka akan berbalik menggigit tuannya sampai mati dan tidak bersisa.
Melihat tumpukan tulang belulang putih itu, Wan Fei-yang sempat membayangkan wajah Pei-pei, dia mengenang masa lalu akhirnya air matanya pun menetes.
Wan Fei-yang adalah seorang yang perasaan, Pei-pei bersamanya hanya dalam waktu yang singkat, tapi dia adalah gadis yang paling akrab dengannya, karena Pei-pei dia masuk ke dalam jebakan, tapi Pei-pei sama sekali tidak sadar karena dia sendiri ditipu dan diperalat Sat Kao, tapi terakhir demi dirinya Pei-pei harus mengorbankan nyawanya.
Gadis yang begitu baik berakhir seperti itu, siapa pun jadi terharu, masalah seperti ini sudah beberapa kali terjadi pada Wan Fei-yang, maka Wan Fei-yang tidak merasa bahwa hidup ini tidak perlu dicurigai, tidak karena itu dia berubah.
Dia rela menerima nasib mengaturnya, karena dia mengerti semua ini, manusia tidak akan bisa melawan atau menolaknya.175 Kalau orang baik harus meninggal, dia lebih memilih meninggal dan tidak akan menyesal.
Dia memegang pintu rahasia yang sudah dirusak oleh Beng To, dia berniat membuka pintu itu, dengan kepandaian Wan Fei-yang sekarang ini, itu hal yang mudah dilakukan.
Dia merasa tenaga dalamnya lebih kuat dibandingkan dulu.
Apakah karena ada kemajuan, dia sendiri tidak tahu, tapi dia mulai memperhatikan kulit tubuhnya, kulitnya mengalami perubahan besar, menjadi bersih dan berkilau, sangat enak dan nyaman dilihat.
Perubahan aneh dari Thian-can-sin-kang membuatnya merasa aneh dan terkejut, akibat terjadinya perubahan ini membuatnya terharu.
Setelah keluar dari lorong bawah tanah, dia melihat tempat yang dirusak Beng To dan melihat dinding yang roboh, serta Tong Ling yang terkapar di belakang dinding di kamar rahasia.
Racun yang keras kabarnya merupakan obat pengawet yang sangat bagus, mayat Tong Ling tidak rusak, malah terlihat seperti masih hidup, hanya saja kulit tubuhnya berubah menjadi ungu kehitaman yang terang, seperti patung manusia yang diukir di atas kayu.
Melihat sepasang mata Tong Ling, Wan Fei-yang bisa merasakan hati Tong Ling yang belum mati, dia tambah terharu.
Matanya yang melotot dengan lebar terlihat di bola matanya kalau dia marah dan sedih, dia tampak putus asa.
Tidak ragu lagi, Tong Ling adalah gadis yang baik, karena ingin menolongnya, malah dia yang celaka.
Tidak hanya terharu, Wan Fei-yang pun merasa menyesal.176 Sudah berapa lama Wan Fei-yang berada di sini?
Dimana sekarang Beng To berada?
Dan sudah membuat pekerjaan apa saja?
Akhirnya Wan Fei-yang keluar dari tempat sembahyang itu.
Tempat sembahyang itu tidak terlihat ada orang Biauw yang pernah datang ke sana, Wan Fei-yang memutar sekali tempat sembahyang itu akhirnya dia mengambil keputusan untuk menghancurkan tempat sembahyang itu.
Baginya hal yang mudah setelah melihat tempat itu runtuh menjadi puing-puing, melihat serpihan tembok menjadi sebuah kuburan besar, dia baru meninggalkan tempat itu.
Entah kapan dia akan kembali tapi walau bagaimanapun dia tidak berharap ada orang yang menemukan mayat Pei-pei dan Tong Ling.
Sebelumnya dia tidak merasakan seperti apa mempunyai nyawa yang pendek, kali ini perasaaan itu muncul lebih keras lagi.
Pagi hari, kabut belum sirna, matahari tampak sudah terbit di ufuk timur, kabut itu di bawah siraman sinar matahari berapa lama bisa bertahan?
Nyawa pun seperti kabut, tiba-tiba Wan Fei-yang merasakan perasaan seperti ini, dia teringat pada gurunya, guru sekaligus ayahnya, Ci-siong Tojin pernah mengatakan, dia berharap Wan Fei-yang dalam kehidupannya yang pendek ini bisa melakukan hal-hal yang berarti.
Hal apa yang dilakukan yang baru berarti?
Sampai saat ini Wan Fei-yang masih merasa curiga, tapi sekarang dia tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Angin pagi terasa dingin, yang dirasakan Wan Fei-yang bukanlah dingin melainkan rasa dingin seperti es.177 Selama beberapa tahun ini dia sudah terbiasa mengalami kesepian yang kental, dia juga terbiasa berjalan tanpa pendamping maka perasaan sepinya sudah bisa diatasinya.
Tapi sekarang ini dia mulai merasakan kesepian, dan perasaan ini lebih kuat.
Setelah Beng To menghancurkan Hoa-san-pai, pedang Kiam-sianseng dipatahkan karena orangnya pun sudah meninggal.
Beng To marah karena Bu-tong-pai telah mencuri ilmu lweekang dari Mo-kauw dan sekarang dia membawa para pesilat dari Mo-kauw ke Bu-tong-san untuk membuat perhitungan atas hutang lama...
Kabar ini akhirnya terdengar ke telinga Wan Fei-yang, mungkin kabar yang beredar dibesar-besarkan dari kenyataan sebenarnya tapi bagi Bu-tong-pai semua tidak menguntungkan mereka.
Belum jauh meninggalkan tempat sembahyang, kabar dunia persilatan dengan cepat tersebar, tapi sampai ke tempat ini pun butuh beberapa hari, apakah sekarang Beng To sudah pergi ke Bu-tong-san?
Apa yang akan dia lakukan terhadap Bu-tong-pai?
Wan Fei-yang terpaksa melakukan perjalana siang dan malam, dia tetap berharap saat dia pulang nanti di waktu yang tepat dan bisa menghadang pembunuhan yang dilakukan Beng To terhadap Bu-tong-pai.
Karena menyimpan harapan maka dia bisa berjalan sangat cepat sambil diliputi kecemasan.
Manusia hidup di dalam harapan, jika sebuah harapan hilang bisa muncul harapan lain, jika tidak ada harapan siapa yang bisa bertahan hidup?
Bok Touw-toh dari Bu-tai-san, ketua Tai-ouw-sui-cai, Liu Sian-ciu, ketua Tong-teng-ouw Ci-liong-ong, ketua Tiam-178 jong-pai, Thi Gan, akhirnya tiba di Bu-tong-pai, mereka masing-masing membawa murid dengan jumlah yang lumayan banyak.
Kemunculan Kouw-bok membuat mereka terkejut, tapi mereka tidak seperti Giok-koan Tojin, yang menaruh sikap sangat hormat kepada Kouw-bok.
Kouw-bok memang tidak mempunyai nama populer walaupun ada hanya sedikit.
Tapi setelah lama waktu berlalu dan menghilang, mereka terkejut ternyata di Bu-tong-pai masih ada pesilat tangguh dari generasi atas, maka mereka tidak berani bersikap kurang ajar.
Di mata mereka kemampuan silat Pek-ciok Tojin masih tidak sejajar dengan mereka, mereka berharap Kouw-bok mempunyai ilmu tinggi dan bisa membantu mereka membereskan Beng To.
Kehancuran Hoa-san-pai dan kematian Kiam-sianseng membuat semua orang terkejut, begitu tahu Wan Fei-yang kalah di tangan Beng To, mereka menduga kembali kemampuan silat Beng To, kalau satu lawan satu mereka tidak percaya diri bisa unggul.
Melihat Kouw-bok tampak begitu tenang seperti tidak ada yang di khawatirkan.
Mereka secara tidak sadar menggantungkan harapan kepada Kouw-bok, yang pasti mereka akan mendukung Kouw-bok sebagai orang pertama yang menentang Beng To.
Sedangkan mengenai asal usul Thian-can-sin-kang yang berasal dari Mo-kauw tampaknya mereka tidak tertarik.
Bu-tong-pai adalah perkumpulan lurus, walau pun setiap murid Bu-tong-pai menguasai Thian-can-sin-kang tidak membuat mereka terancam.
Tapi kedatangan Mo-kauw membuat mereka tidak nyaman dan merasa jiwa mereka terancam.179 Dulu saat Mo-kauw menyerang dunia persilatan sehingga mendatangkan musibah, kejadian itu sudah tercatat.
Sekarang dengan kehancuran Hoa-san-pai merupakan bukti yang bisa dilihat langsung.
Tidak ada masalah yang lebih penting dibandingkan melawan Mo-kauw, dulu gerakan Mo-kauw gagal karena kekompakan dunia persilatan Tionggoan, kali ini pun tidak terkecuali.
Mereka sangat percaya diri setelah mendengar Kouw-bok menjelaskan situasinya, mereka mengaku bila bertarung sendiri-sendiri belum tentu bisa menang dari Beng To.
Mereka juga menaruh curiga apakah Beng To sanggup mengalahkan mereka satu per satu.
Apakah yang datang hanya Beng To sendiri yang merupakan pesilat tangguh atau ada yang lainnya?
Apakah para pesilat Mo-kauw akan datang dan mendukung Beng To?
Mereka tidak mendapatkan kabar mengenai Mo-kauw hanya mendapat kabar mereka sepenuh tenaga akan mendukung Beng To.
Kabar seperti ini semakin santer terdengar, para pesilat tangguh yang datang dari perkumpulan lurus terus berdatangan ke Bu-tong-san, banyak kabar buruk yang mereka bawa.
Walaupun demikian, di Bu-tong-san masih terdengar tawa lepas.
Orang yang tertawa lepas ada yang memang sejak lahir seperti itu, ada yang sengaja tertawa karena ingin membangkitkan semangat.
Di luar Bu-tong-san terlihat begitu tenang apalagi sebelum kedatangan Beng To.180 Menurut orang-orang sebelum badai datang biasanya langit terlihat lebih tenang dari biasanya.
Waktu perjanjian antara Wan Fei-yang dan sekelompok orang seperti Giok-koan Tojin dan lain-lain telah tiba.
Wan Fei-yang tidak muncul, itu sudah dalam dugaan mereka, semua merasa kehilangan, apalagi murid-murid Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin dan Kouw-bok lebih-lebih merasakannya.
Matahari sudah bersinar di atas gunung di Sam-goan-kong.
Semua orang berkumpul di depan Sam-goan-kong, kabar sudah menyebar Beng To sudah berada di kaki gunung Bu-tong-san dan sedang bersiap-siap.
Pagi ini orang-orangnya naik gunung maka suara lonceng peringatan sudah terdengar, tidak ada seorang pun yang merasa terkejut, tapi tetap saja merasa jantung berdebar kencang.
Suara lonceng terus berdentang dari jauh mendekat, Beng To akhirnya muncul juga.
Dia duduk di atas orang-orang yang menggotongnya, berbaju dan berjubah merah, rambut panjangnya diikat ke belakang tertiup angin sehingga berkibar, terlihat kuat dan berwibawa.
Tempat di mana dia duduk adalah pundak orang, tampak tempat duduknya telah dipersiapkan dan tampak mewah, orang-orang suku Biauw itu terlihat semakin bersemangat.
Selain orang-orang suku Biauw masih ada sebagian orang dunia persilatan Tionggoan yang masuk Mo-kauw, mereka memang mempunyai nama jelek.
Orang-orang itu tidak sanggup membuat kacau dunia persilatan tapi mereka sudah melakukan banyak kejahatan.
Mereka juga berniat membuat dunia kacau, setelah kesempatan datang tentu saja mereka tidak akan melepaskan kesempatan ini.181 Setelah mendengar Beng To akan bertarung dengan semua perkumpulan dunia persilatan Tiong-goan, mereka tertarik dan merasa senang.
Maka mereka pun datang dari semua penjuru, lalu bergabung di bawah pemimpin Beng To.
Mereka senang mendengar Hoa-san-pai telah hancur, mereka lebih senang saat mendengar Wan Fei-yang telah meninggal.
Di dalam hati mereka Wan Fei-yang melambangkan kebenaran dan Wan Fei-yang adalah orang nomor satu di dunia persilatan Tionggoan.
Mereka tidak pernah melihat Mo-kauw tapi pernah mendengar nama mereka, sangat cocok dengan pola pikir mereka, asalkan bisa mengalahkan semua perkumpulan besar Tionggoan, bisa membuat para iblis sukses, mereka sudah merasa puas.
Tentu saja Beng To tidak menolak mereka yang ingin bergabung, dia ingin melebarkan sayapnya, dia menerima mereka untuk menambah kekuatannya.
Dia duduk di atas pundak orang-orang Biauw.
Otomatis dia terlihat sangat berwibawa.
Dia tidak perlu mengeluarkan apa pun, tapi mendapatkan perasaan seperti ini sudah membuatnya sangat senang.
Karena orang-orang itu terus membuatkan jalan untuknya, maka dia bisa menghindari banyak kesulitan sepanjang jalan, sehingga Beng To merasa lebih nyaman.
Mereka terus menjilatnya, sepanjang jalan mereka tidak hanya mengatur jalan, mereka pun memberikan kehidupan mewah untuk Beng To.
Beng To tidak pernah menikmati fasilitas seperti ini, dia jadi bertambah bersemangat untuk menguasai dunia persilatan dan dia mendengar setelah berhasil menguasai dunia persilatan dia masih akan menikmati banyak hal-hal182 seperti ini, maka semangatnya semakin berkobar dan tekadnya semakin kokoh.
Dulu Sat Kao memang sudah pernah memberikan petunjuk, tapi Sat Kao bukan orang Tiong-goan, mengenai dunia persilatan Tionggoan dia tidak begitu mengerti, dan tujuannya hanya ingin membuat perkumpulannya berjaya, tidak ada tujuan lainnya.
Setelah Giok-koan Tojin melihat orang-orang aliran sesat itu, kekhawatirannya bertambah lagi.
Apa yang mereka lakukan dia sangat hafal, apalagi setelah bergabung dengan Beng To, dia tidak merasa aneh, yang aneh adalah mereka melakukannya dengan cepat.
Bahaya sudah ada di depan mata.
Beng To berhenti di depan Kouw-bok, oranr-orang suku Biauw berteriakan.
Pertama-tama Ci-liong-ong yang memberikan reaksi, dia berkata dengan pelan.
"Apa yang mereka teriakan?"
Thi Gan dari Tiam-jong-pai segera menjawab sambil tertawa.
"Itulah teriakan untuk memamerkan kekuatan dan wibawa, tidak sulit untuk dipelajari!"
Ketua Tai-ouw segera menyambung.
"Mendengar kata-kata Lo-te tadi, apakah kita akan tunduk kepada mereka?"
Thi Gan tertawa.
"Bila ingin tunduk, lebih baik kepada Anda, setiap hari masih bisa makan kepiting gemuk hasil tangkapan Tai-ouw!"
Ci-liong-ong menyambung.183
"Kepiting Tong-teng-ouw tidak buruk, bila bosan dengan kepiting Tai-ouw, Anda boleh datang ke Tong-teng-ouw, ke tempatku!"
Thi Gan tertawa.
"Tampaknya marga Thi masih mempunyai daya tarik, baru membuka suara sudah membuat banyak orang memperhatikan kata-katanya."
Baru selesai bicara, Beng To sudah berteriak.
"Siapa yang mewakili Bu-tong-pai?"
Sebenarnya dia tidak sengaja berteriak dengan kuat, tapi suaranya bisa membuat semua orang yang ada di sana mendengar dengan jelas.
Tawa Thi Gan segera membeku, sebagai seorang pesilat tangguh, mana mungkin tidak mendengar teriakan itu, ilmu lweekang Beng To benar sudah mencapai tahap sangat tinggi.
Pesilat lainnya merasa jantung mereka berdebar kencang, mereka sudah mendengar Hoa-san-pai dihancurkan, mereka masih tidak percaya, mereka mengira semua itu hanya gosip, memang gosip terkadang dibesar-besarkan, tapi itu hanya sebagian, dengan kekalahan Kiam-sianseng oleh orang seperti Beng To, bukan hal aneh.
Wajah Kouw-bok tampak datar, dia hanya menatap Beng To, semua sorot mata melihat Kouw-bok, melihat tongkat bambunya sudah dikeluarkan.
Bekas rautan di tongkat bambu itu masih terlihat jelas, berarti belum lama diraut, dan bentuknya tampak sedikit aneh, semua untuk keleluasaan berilmu silat.
Dia tinggal di dasar lembah dalam waktu yang sangat lama, tentu saja dia menguasai ilmu silat yang bermacam-macam dan bisa digabung-gabungkan.
Semua jurus bisa184 digunakan untuk menghasilkan kekuatan besar.
Pek-ciok Tojin bisa melihat sewaktu Kouw-bok sedang mengajar murid-murid Bu-tong-pai, saat dia membuat tongkat seperti itu, Pek-ciok Tojin merasa aneh, dalam hatinya dia berkata seharusnya Kouw-bok tidak perlu menggunakan senjata lagi.
Tapi setelah tongkat itu selesai diraut, Pek-ciok Tojin baru mengerti, dan tahu bahwa ilmu silat Bu-tong-pai masih banyak perubahannya karena itu Pek-ciok Tojin jadi tambah percaya diri.
Ilmu tongkat yang sudah digubah Kouw-bok, membuat semua murid Bu-tong terpesona melihat gerakannya, tongkat itu bisa bergerak hingga 13 kali perubahan.
Perubahan jurus-jurusnya bisa menambal kekurangan tenaga dalam, tampak Kouw-bok berpikiran seperti itu juga.
Ini adalah pertarungan terakhirnya, maka dia siap mempertaruhkan segalanya.
Maka dia menguras pikiran dan akan mengeluarkan semua ilmu silatnya.
Sebelum membuat tongkat itu dia sudah memilih berbagai macam senjata, tapi tidak ada yang cocok dan terakhir setelah diubah-ubah baru tongkat bambu ini yang sesuai dengan keinginannya.
Dengan tongkat di tangannya membuat dia percaya diri.
Dia mengerti bahwa rasa percaya diri ini melambangkan sesuatu bila tidak ada rasa percaya diri, keberanian untuk bertarung pun tidak ada.
Kouw-bok maju 3 langkah, dia menunjuk Beng To dengan tongkatnya.
"Di Bu-tong-san orang yang mengambil keputusan harus orang Bu-tong-pai!"
"Apakah kau adalah pemimpin Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin?"
Tanya Beng To.185
"Pinto ada di sini!"
Pek-ciok Tojin menjawab dari tempat jauh. Beng To tidak melayani Pek-ciok Tojin, dia bertanya kepada Kouw-bok.
"Kau siapanya Bu-tong-pai?"
"Namaku Kouw-bok..."
Mata Beng To tampak berputar, lalu melihat orang-orang yang ada di sekeliling yang berekspresi terkejut, dia merasa aneh dan bertanya.
"Kayu apa pun boleh (Kouw artinya kayu yang sudah lapuk), yang penting kau bisa mewakili orang lain."
"Masih harus melihat hal lain..."
Beng To tertawa terbahak-bahak.
"Dunia persilatan Tionggoan masih seperti sepiring pasir, tidak bisa dipersatukan!"
Dengan tenang Kouw-bok berkata.
"Untuk sebagian orang yang otaknya sederhana, yang pasti semua itu sama, tidak ada bedanya!"
Beng To terpaku.
"Kau adalah seorang tua bangka yang pandai bicara, akulah orang yang kau maksud berotak sederhana, tujuanku hanya ingin menguasai dunia persilatan Tionggoan, sekarang aku ingin membicarakan tentang hal ini!"
"Apakah hanya bicara saja?"
"Kalau bisa bicara mengapa tidak? Paling sedikit aku bisa mengirit tenaga!"
"Apa maumu?"
Tanya Kouw-bok.
"Memilihku sebagai pemimpin dunia persilatan, memberiku sebuah gedung besar!"
Beng To seperti dengan enteng mengucapkan.
"bila gedung itu sudah jadi, dan aku sudah menjadi pemimpin dunia persilatan, semua orang186 harus datang untuk memberikan ucapan selamat kepadaku, nanti setiap tahun di hari yang sama, kalian harus menyuruh orang mengantarkan hadiah untukku, tapi tenang saja, kalau tidak ada hal penting aku tidak akan membuat kalian kesulitan!"
Kouw-bok sama sekali tidak memberikan reaksi, semua orang terdiam karena semua itu sudah ada dalam pikiran mereka, maka mereka tidak merasa aneh.
Beng To menunggu sebentar, melihat semua orang tidak ada seorang pun yang mengeluarkan pendapat.
Dia segera tertawa.
"Kalau kalian diam, berarti hal ini akan dijalankan seperti yang kukatakan!"
"Lelucon seperti ini jarang ada kesempatan bagi kami untuk mendengarkannya, maka reaksi kami lamban, ingin tertawa pun tidak sempat, yang pasti reaksi yang lainnya pun sama!"
Kouw-bok baru berhenti bicara, Giok-koan Tojin dan yang lain segera tertawa terbahak-bahak, mereka benar-benar tidak menyangka Kouw-bok ternyata penuh rasa humor.
Ci-liong-ong tertawa dan berkata kepada Liu Sian-ciu yang ada di sisinya.
"Jahe tua tetap yang paling pedas!"
"Aku rasa Beng To tidak akan kuat mendengar tawa ini!"
Kata Liu Sian-ciu. Benar saja, wajah Beng To segera berubah murung.
"Baiklah, kita tidak perlu bicara lagi!"
Dengan santai Kouw-bok berkata.
"Masakah ini tidak bisa dibereskan hanya dengan bicara!"
Tongkat yang ada di tangannya segera diletakkan di187 bawah.
"Merebut kekuasaan dunia persilatan bila tidak dengan kekuatan, dulu belum ada sekarang pun tidak mungkin ada!"
"Tujuanku adalah tidak ingin membuat semua orang malu, jadi kalau kalian tidak sudi menerima kebaikanku, aku tidak bisa berbuat apa-apa!"
"Kau bisa menghancurkan Hoa-san-pai mana mungkin kau peduli pada perkumpulan lain di dunia persilatan Tionggoan?"
"Itu berbeda!"
"Kalau Hoa-san-pai tidak dihancurkan, semua orang tidak akan peduli padaku, tapi aku memilih Hoa-san-pai bukan karena alasan lain, hanya karena Hoa-san-pai sedang bernasib sial!"
"Seharusnya kau memilih Bu-tong-pai!"
Kata Kouw-bok.
"Awalnya aku bermaksud seperti itu, tapi Bu-tong-san terlalu jauh, aku tidak sempat!"
Beng To tertawa lagi.
"Apalagi aku yakin setelah aku mengalahkan Wan Fei-yang itu sudah cukup!"
"Apa benar Wan Fei-yang mati di tanganmu?"
"Ilmu silatnya sudah menyebar ke mana-mana, dan dia sudah seperti orang cacat, di dalam tubuhnya masih ada induk serangga yang akan terus menggerogoti rohnya, dengan demikian apakah masih ada kesempatan untuk hidup?"
"Apa maksudmu dengan induk serangga?"
Tanya Kouw-bok.
"Diberitahupun kau belum tentu mengerti, lebih baik tidak usah dibicarakan!"
Kata Beng To.
"Dari awal aku sudah curiga Mo-kauw seperti kalian pasti akan menggunakan cara licik menyerang Wan Fei-yang..." 188 Beng To baru sadar dia sudah salah bicara, dengan cepat dia membela diri.
"Dengan kemampuan ilmu silatku sekarang, Wan Fei-yang bukan tandinganku lagi, untuk apa menggunakan cara licik, induk serangga masuk ke dalam tubuhnya dengan bebas, itu tidak perlu dirisaukan!"
"Apa yang kau katakan kami terpaksa harus mempercayainya!"
Kouw-bok terpaksa menjawab seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi dia tidak tertarik, dia hanya ingin tahu hidup dan matinya Wan Fei-yang. Oooo oooO189 BAB 13
"Kalian jangan lupa. Thian-can-sin-kang milik Bu-tong-pai adalah ilmu yang dicuri dari ilmu lweekang Mo-kauw, kalau sudah diadu akan tahu mana yang bagus dan mana yang jelek!"
"Ilmu lweekang Mo-kauw mengandalkan ilmu guna-guna dan menyedot tenaga dalam orang lain menjadi miliknya sendiri. Thian-can-sin-kang milik Bu-tong-pai sudah mendekati ilmu-ilmu perkumpulan lurus, orang yang berlatih Thian-can-sin-kang mengandalkan usaha sendiri dan tidak usah melanggar aturan langit!"
Sebenarnya Kouw-bok tidak terlalu mengerti ilmu Thian-can-sin-kang, karena itu dia mengatakan Thian-can-sin-kang harus mengandalkan kekuatan sendiri, tapi Beng To tidak mengerti, sambil tertawa dingin berkata.
"Walau bagaimana pun Thian-can-sin-kang adalah ilmu lweekang Mo-kauw!"
"Memang kenyataannya begitu!"
Kouw-bok mengangguk.
"di antara murid-murid Bu-tong-pai hanya Wan Fei-yang yang berhasil menguasai ilmu ini. Kau sudah mengambil ilmu Wan Fei-yang lalu menanamkannya di tubuhmu sendiri, jadi kita tidak saling berhutang!"
Beng To memotong.
"Aku datang bukan untuk membuat perhitungan, kalau tidak, perkumpulan pertama yang harus dihancurkan adalah Bu-tong-pai, aku datang kemari karena di sini banyak orang penting dunia persilatan Tionggoan, setahuku mereka bisa mewakili perkumpulan mereka, kesempatan seperti ini tidak banyak!"
Berhenti sebentar tanyanya lagi.
"Apakah kalian tertarik berbicara denganku?"190
"Katanya orang Biauw bersifat terbuka dan selalu terus terang, Tuan bukan tipe orang seperti itu, kau orang yang pelupa!"
Beng To terpaku lalu tertawa.
"Benar, tadi aku yang tidak mau mengobrol dengan kalian, tapi ada satu hal yang harus aku jelaskan!"
"Sebelum kau bertanya, tidak ada yang tertarik dengan apa yang akan kau katakan!"
"Tidak disangka, usiamu sudah tua tapi masih bisa berkata dengan jujur dan terus terang!"
"Apalagi anak muda, tentunya harus lebih jujur dan terus terang!"
Kouw-bok menunjuk Beng To dengan tongkatnya.
"Bagaimana denganmu dulu?"
Tanya Beng To.
"Aku yakin semua orang tidak ada yang setuju!"
Kata Kouw-bok. Tentu saja semua setuju dengan perkataannya, sorot mata Kouw-bok jatuh ke wajah Pek-ciok Tojin. Pek-ciok Tojin segera maju selangkah dan berkata.
"Murid..."
Baru saja kata 'murid' diucapkan, Kouw-bok segera memotong.
"Kalau aku roboh, kau harus bisa mengambil keputusan..."
Wajah Pek-ciok Tojin berubah, kata-kata Kouw-bok sudah jelas, dia siap bertarung dengan Beng To hingga titik darah penghabisan.
Giok-koan Tojin mendengar semuanya, terhadap tetua Bu-tong-pai ini dia jadi bertambah hormat.
"Kau adalah ketua perkumpulan, kau harus tahu apa yang harus kau lakukan!"
Kata Kouw-bok.
"Murid mengerti..."
Pek-ciok Tojin menarik nafas.191 Tongkat Kouw-bok diayunkan, dia meloncat tinggi, layaknya seekor burung, naik dan turun secara alami, tidak diragukan lagi ilmu lweekangnya sudah mencapai tahap yang tinggi.
Bersamaan waktu Beng To meloncat meninggalkan bahu orang-orang Biauw-nya.
Di tengah udara dia tampak berputar dengan pose yang sangat indah.
Gerakannya lancar dan penuh dengan tenaga, tempat yang di mana dia lewat tampak debu dan tanah beterbangan.
Setelah melakukan gerakan sebanyak 18 kali, dia baru mendarat, dia turun di depan Kouw-bok dengan jarak 10 depa, orang-orang dari aliran sesat bersorak-sorak, sampai Beng To menginjak tanah mereka baru berhenti bersorak.
Walaupun tidak ada sorakan keadaan Beng To tetap menarik perhatian Kouw-bok dan lain-lain, mereka tahu Beng To sengaja memamerkan kekuatan dan wibawanya, tapi melihat dia begitu kuat dan gagah perkasa, mereka tidak bisa berkata apa-apa.
Tongkat Kouw-bok menunjuk Beng To.
"Ilmu yang bagus!"
"Apakah kau menerima kekalahanmu?"
"Orang Biauw tetaplah orang Biauw!"
Kouw-bok tetap menunjuk Beng To dengan tongkatnya.
"Kalian selalu menganggap rendah orang orang Biauw, hari ini aku akan menunjukan pada kalian bahwa orang Biauw tidak sebodoh yang kalian kira selama ini!"
Tiba-tiba Kouw-bok menarik nafas, dia tidak bermaksud seperti itu, karena Beng To sangat lancang, orang memuji bagus dia segera menganggap orang itu telah mengakui kekalahannya, tidak bisa menerima kerendahkan hatinya.192 Maka kalimat itu bisa terucap keluar, setelah merasa bersalah tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya.
"Karena kau sudah tua, aku akan mengalah tiga jurus!"
"Sudah lewat dari 3 jurus!"
Kata Kouw-bok.
Beng To terpaku, kemudian tertawa keras, dia langsung menyerang dan Kouw-bok melayang menyambut serangannya, di tengah udara tongkat sudah digerakkan, 6 jurus inti sari ilmu silat Bu-tong-pai dan perubahan tongkatnya segera dikeluarkan, tongkat dan orang seperti menyatu.
Sasaran tongkat adalah tempat-tempat penting di tubuh Beng To dan serangannya sangat tepat.
Tenaga dalam Kouw-bok dilancarkan terus menerus melalui tongkat itu, asal terkena pukulan tongkat Kouw-bok walaupun tenaga dalam Beng To bisa melindungi tubuhnya, tetap saja akan cedera.
Jelas sekali, Kouw-bok ingin bertarung mati-matian, maka seluruh tenaga dalamnya dikerahkan.
Dia berharap bisa menyelesaikan pertarungan ini dalam waktu yang singkat.
Orang-orang yang berkerumun di sana, semua terkejut melihat kemampuan silat Kouw-bok.
Tidak terkecuali Beng To, dia merasa Kouw-bok adalah seorang pesilat tangguh yang pertama ditemuinya.
Perubahan jurus tongkatnya benar-benar membuat mata orang-orang di sana berkunang-kunang dan membuat siapa pun tidak bisa menduga arahnya.
Murid-murid Bu-tong-pai yang menonton, matanya tidak berkedip sedetik pun, ada yang melihat seperti tergila-gila dan mabuk, mereka hafal dengan jurus-jurus yang dipakai193 oleh Kouw-bok.
Tapi mereka tidak menyangka, jurus-jurus itu bisa dipakai secara bervariasi.
Tentu saja Pek-ciok Tojin pun sangat mengerti, dia adalah pemimpin Bu-tong-pai, walaupun belum menguasai semua ilmu silat Bu-tong-pai, tapi dia sudah membaca semua buku mengenai inti sari ilmu silat Bu-tong.
Sebab hanya seorang pemimpin baru berhak melakukan hal ini.
Di juga tahu, tongkat itu dibuat sendiri oleh Kouw-bok, sekarang dia bisa melihat dengan jelas kegunaan tongkat itu.
Semakin dilihat dia merasa semakin khawatir, sebab perubahan jurus tongkat Kouw-bok sudah mencapai titik terakhir, tapi Beng To masih bisa meng hadapi Kouw-bok dengan tenang.
Giok-koan Tojin dan yang lainnya bermata jeli dan berpengalaman banyak, mereka menonton pertarungan dangan mata tidak berkedip.
Walaupun merasa terkejut dengan perubahan jurus tongkat Kouw-bok, mereka juga melihat ancaman dari tongkat Kouw-bok kepada Beng To semakin melemah.
Tapi mereka tidak melihat ada keanehan apa dari ilmu silat Beng To.
Dua jurus telapak Beng To tidak terlihat rumit, malah cenderung terlihat sederhana, tapi dia mampu di saat yang tepat mencegat serangan Kouw-bok.
Tongkat Kouw-bok selalu mendekati jalan darah Beng To tapi sekarang serangan itu menjadi melamban.
Dia sepertinya tahu Beng To akan mencegatnya, maka dia terpaksa mengubah jurusnya, menyerang ke tempat lain, dengan harapan bisa mendapatkan peluang lebih bagus.
Tapi kejadian sebenarnya bukan seperti itu.
Tongkat Kouw-bok sama sekali tidak bisa menyerang masuk, baru akan mendekat, segera diusir oleh tenaga dalam Beng To.194 Tenaga dalam itu sebenarnya tidak kuat juga tidak mengumpul, seperti benang laba-laba, hanya begitu serangan mendekat terasa serangannya dililit, maka Kouw-bok dengan terpaksa menarik mundur tongkatnya.
Sedikit banyak Kouw-bok mengetahui kekuatan Thian-can-sin-kang.
Perubahan ini pasti mendekati perkiraannya, kalau sudah terlilit sulit untuk melepaskannya, dan Beng To akan mengambil kesempatan ini untuk masuk!
Setelah ratusan jurus berlalu hati Kouw-bok mulai terasa dingin, dia mulai merasa Beng To seperti laba-laba besar yang diam di sarangnya.
Jika ingin mengalahkan dia harus menghancurkan sarangnya terlebih dulu.
Tapi berresiko dililit oleh sarang laba-laba itu, malah kalau tidak berhati-hati dia akan terperosok masuk ke dalam lilitan sarang laba-laba dan menunggu untuk dibunuh.
Kouw-bok merasa rasa ingin matinya semakin lama semakin dekat.
Pertemuan ini seperti sebuah jarum tajam yang menusuk hatinya yang terdalam, membuatnya merasa dingin juga sakit.
Dia membentak dengan suara besar!
Bumi dan langit seperti akan pecah oleh bentakannya.
Dia terbang, tongkat dan tubuhnya seperti sebuah anak panah terus melesat ke arah dada Beng To.
Sarang laba-laba itu seperti sudah tertusuk dan terbuka, maka tongkatnya bisa langsung mengancam keselamatan Beng To.
Tapi perasaan seperti itu hanya sebentar, tiba-tiba dia merasa tongkatnya tidak hanya tidak bisa menusuk masuk, malah tongkat dan dirinya bersama-sama sudah dililit oleh sarang laba-laba, dia melihat tongkatnya sudah berada dalam genggaman Beng To dan dijepit dengan kuat.195 Sekali lagi dia membentak, semua tenaga dalamnya dialirkan ke tongkatnya, dengan seluruh kekuatan dia menusuk Beng To.
Saat itu dia merasa ada tenaga besar menghisapnya melalui tongkat, sekali dia mengangkat tenaga dalamnya, segera terasa tenaga dalamnya diikat dan dibawa kembali oleh tenaga yang menghisapnya.
Jalannya tenaga dalamnya seperti masuk ke lautan luas.
Dia segera mengerti apa yang terjadi, dia berteriak.
"Kau sudah berlatih hingga tahap Pek-coan-cu-hai!" (Beratus dataran berkumpul di laut). Tanpa menunggu jawaban Beng To dia membentak lagi, dia mengeluarkan ilmu Sin-liong-si-sui (Naga sakti menghisap air), berusaha menghisap kembali tenaga dalamnya yang sudah keluar. Sin-liong-si-sui adalah ilmu Iweekang Bu-tong-pai yang sulit dipelajari, karena sulit dipelajari setelah menguasai jurus ini pun jarang digunakan maka murid-murid Bu-tong-pai tidak tertarik berlatih ilmu ini. Ilmu ini dilatih Kouw-bok saat dia berada di dalam lembah, karena bosan dan tidak ada pekerjaan, maka dia melatih semua kepandaiannya, termasuk ilmu Sin-liong-cu-hai. Bisa dikatakan dia adalah murid Bu-tong-pai yang paling menguasai ilmu ini. Sewaktu berada di dalam lembah dengan ilmu ini dia mengerahkan tenaga dalamnya menghisap ikan sampai keluar dari dasar danau, dia sendiri pun mengira ilmu ini tidak ada gunanya, tidak disangka hari ini dia mempunyai kesempatan menggunakannya. Hisapannya benar-benar berhasil, maka tenaga dalamnya dengan cepat di tarik kembali. Karena bangga dan puas diri gerakan tubuhnya berubah menjadi enteng.196 Wajahnya pun tersenyum tapi semua itu hanya berlangsung sebentar kemudian membeku kembali. Sebab tenaga dalam yang kembali bukan sedikit dan perlahan melainkan bergelombang. Awalnya seperti mengalir lama-lama bergolak dan bertentangan, saling tarik menarik! Kouw-bok sadar dia tidak akan bisa menerima tenaga dalam yang berkumpul dan saling tarik menarik seperti ini, segera dia mengambil keputusan, dengan kedua tangannya dia menggetarkan tongkat dan berencana mundur. Ini adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Tapi di antara keduanya ada tongkat, di tongkatnya seperti ada banyak benang yang tidak terlihat dan saling mengikat. Walaupun dia sudah meronta untuk melepaskan diri tapi sudah terlambat sedikit. Tongkatnya seperti sudah dipasang alat peledak setelah disulut akan meledak dan akan hancur menjadi serpihan. Tubuh Kouw-bok tergetar dan terhuyung-huyung, telunjuk, ibu jari, dan jari tengahnya hampir putus karena tergetar, dia bersiul, tubuhnya bergerak seperti kincir angin, berputar-putar di udara lalu menerjang ke arah Beng To. Beng To tidak menghindar, kedua telapaknya diturunkan, tubuh Kouw-bok yang masih berputar-putar segera berhenti. Kedua kakinya yang masih berputar berada di tangan Beng To, bersamaan waktu siulannya berhenti, tubuh bagian atas Beng To berputar, sedang tangan kirinya sudah menempel di atas kepala Kouw-bok. Lalu kedua tangan Beng To menepuk, tubuh Kouw-bok terbanting, tangan kirinya menancap ke dalam tanah sampai pergelangan tangannya, kaki kanan Beng To menginjak pundak Kouw-bok dan bertanya.197
"Apakah kau menerima kekalahanmu?"
Kata-katanya baru selesai, tubuh Kouw-bok berputar, tangan kanannya menyabet ke tenggorokan Beng To, jurus yang dipakainya tidak ada dalam catatan ilmu silat.
Karena tubuhnya berputar tangan kirinya pun putus karena terpilin, tapi jurus ini bisa dikeluarkan dengan sempurna.
Jurus ini benar-benar membuat Beng To terkejut, tapi reaksinya pun sangat cepat, kedua tangannya segera menghantam tangan kanan Kouw-bok.
Tangan Kouw-bok hancur, lengannya terlepas dari bagian pundak sebab pukulan Beng To menggunakan kekuatan penuh.
Saat kedua telapaknya menghantam, tenaga dalam yang memenuhi tubuhnya, keluar melalui tangan kanannya, tangan kiri Kouw-bok yang diinjak Beng To sekarang semuanya sudah melesak masuk ke dalam tanah.
Tenaga dalam yang masih masuk ke dalam tubuh Kouw-bok, menghantam organ dalam Kouw-dok sehingga hancur.
Darah muncrat keluar dari mulutnya dia langsung mati seketika.
Akhirnya semua berakhir seperti itu.
Yang pasti semua itu di luar dugaan Beng To.
Setelah menghancurkan Hoa-san-pai, dia tidak berniat membunuh lagi karena dia berpikir, kalau semua pesilat tangguh terbunuh hingga habis, menjadi nomor satu di dunia pun tidak akan ada artinya lagi.
Jika dia bukan orang yang menyukai keramaian, dia tidak akan muncul dengan cara sepert ini.
Yang pasti dia berpikir bila dia banyak membunuh, lawan akan merasa benci dan sedikit banyak akan mengganggunya saat dia menguasai dunia persilatan.198 Keberanian Kouw-bok bukan hanya Beng To yang merasa ini di luar dugaannya, semua orang yang ada di sana pun merasa seperti itu.
Saat itu suasana menjadi hening, entah karena terkejut atau karena alasan lain.
Pek-ciok Tojin yang pertama yang bereaksi, dia segera berkata.
"Ketua Bu-tong-pai ingin minta pelajaran!"
Kemudian dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, tangan kiri memegang pedang lalu maju ke depan.
Sorot mata Beng To jatuh ke wajah Pek-ciok Tojin, sikap gilanya muncul lagi, sambil tertawa dia berkata.
"Apakah di Bu-tong-pai tidak ada pesilat tangguh lainnya lagi?"
Pek-ciok Tojin menekan kemarahannya. Dia menunjuk Beng To dengan pedangnya.
"Silakan..."
Jurus pedang segera diperagakan itulah jurus Bu-tong-pai yang murni, sebab dia mempelajari ilmu pedangnya dengan tekun maka begitu diperagakan sudah terlihat kegagahannya.
Beng To melayang mundur dan bertanya.
"Bagaimana perbandingan antara ketua Hoa-san-pai dan ketua Bu-tong-pai?"
Pek-ciok Tojin tidak menjawab, kegagahan ilmu pedangnya bertambah nyata, dia mengejar Beng To tapi selalu dalam jarak setengah kaki.
"Kiam-sianseng bukan lawanku, apalagi kau!"
Kata Beng To.
Walaupun Beng To sedang bicara tapi jarak mereka tidak berubah.
Beng To mulai melayang, Pek-ciok Tojin ikut meloncat, jurus pedangnya terus berubah, 13 kali199 pedangnya menyerang.
Setiap kali menyerang selalu mengarah tempat lemah di tubuh Beng To.
Tubuh Beng To selalu ada kelemahan bila pedang Pek-ciok Tojin masuk pasti akan membuat nyawa Beng To terancam, tapi jarak setengah kaki tidak bisa diperpendek lagi.
Tubuh Beng To terus berputar naik mengikuti jurus pedang, ke kiri atau ke kanan, terkadang saat tubuhnya di udara tampak ringan seperti kapas, seperti terapung di awan, seperti karena dikejar oleh pedang Pek-ciok Tojin dia memang menjadi seperti itu.
Giok-koan Tojin dan yang lainnya melihat situasi yang terjadi, mereka meneteskan keringat dingin, di tengah udara Beng To seperti tidak menggunakan tenaga sama sekali.
Dan juga terlihat begitu tangannya terulur dia bisa mencengkeram tubuh Pek-ciok Tojin dan langsung mencabut nyawanya.
Saat Beng To ber-tarung dengan Kouw-bok.
Yang mana yang kuat dan yang mana yang lemah tidak terlihat.
Begitu Pek-ciok Tojin menghadapi Beng To yang bagus dan yang buruk segera terlihat.
Sebab ilmu silat mereka terlalu jauh, Pek-ciok Tojin sangat mengetahui hal ini.
Maka sewaktu tangan kanan Beng To menekan ke atas kepalanya, dia tidak merasa semua itu di luar perkiraannya.
Tenaga di dalam tubuhnya bersamaan waktu menyebar, jurus pedangnya pun terhenti bukan untuk menyerang, tapi tenaga untuk mengangkat pedang sudah tidak ada.
Saat pedangnya terjulur ke bawah, semangat berjuangnya pun ikut runtuh, bukan karena dia tidak punya keinginan untuk melawan melainkan karena jarak ilmu silatnya terlalu jauh.
Tubuh Beng To sama sekali tidak terkena serangan pedangnya, bagaimana mereka bisa200 bertarung?
Hanya sedikit tenaga yang bisa terkumpul di kedua kakinya, dia mempunyai perasaaan bila Beng To ingin membuatnya berlutut dia lebih memilih kedua kakinya dipatahkan atau mati di sana.
Beng To menekan kepala Pek-ciok Tojin dengan tangannya, dia seperti seekor capung yang sedang terbang, dia memang bermaksud menyuruh Pek-ciok Tojin berlutut untuk mengikis semangat para pendekar.
Tetapi dia juga melihat perasaan Pek-ciok Tojin seperti itu maka dia tidak memaksa, hanya bertanya.
"Apakah kau menerima kekalahanmu?"
Pek-ciok Tojin diam, dia harus mengakui kalau ilmu silat Beng To berada di atasnya, sudah menguasai ilmu silat begitu tinggi memang membuat siapa pun akan kagum.
Tetapi dalam situasi seperti ini, mana mungkin dia akan berkata seperti itu.
Walaupun senjata sudah dipegang di tangan, murid-murid Bu-tong-pai tidak berani bergerak.
Giok-koan Tojin dan yang lainnya pun tidak berani berbuat apa-apa, secepat apa pun gerakan mereka tetap akan kalah dari Beng To.
"Apa pun yang terjadi, kau harus mengakui kalau kau telah kalah di tanganku!"
Kata Beng To kepada Pek-ciok Tojin.
"Bila ingin membunuhku, sekaranglah saatnya!"
Pek-ciok Tojin tertawa dingin.
"Di saat gedung diresmikan, aku masih butuh para pemimpin perkumpulan datang untuk memberikan selamat kepadaku!"
Beng To tertawa, dia turun dari atas tubuh Pek-ciok Tojin, kemudian mengangkat Pek-ciok Tojin membuat posisi kepala Pek-ciok Tojin di bawah dan kaki di atas.201 Orang-orang suku Biauw dan golongan sesat bersorak-sorak atas kemenangan Beng To.
Ilmu silat Pek-ciok Tojin memang tidak bagus tapi dia tetap seorang pemimpin Bu-tong-pai.
Pertarungan ini dimenangkan Beng To dengan indah.
Dalam suara sorakan itu terlihat tangan Beng To mendorong Pek-ciok Tojin sehingga posisi Pek-ciok Tojin kembali ke tempatnya.
Setelah Pek-ciok Tojin terlepas dari pengaruh Beng To, di tengah udara dia memberontak, tapi tubuhnya tetap tidak bisa dikuasai.
Tubuhnya berbalik dan tepat berada di tempatnya tadi.
Dengan wajah menghadap ke arah Beng To, hanya kedua kakinya sedikit lagi akan menginjak tempat di mana tadi dia berdiri tadi.
Ini saja sudah membuatnya malu, dan membuat semua pendekar terkejut.
Murid-murid Bu-tong-pai berdatangan untuk memapah Pek-ciok Tojin, Pek-ciok Tojin tampak berdiri dengan tenang di sana, dia melambaikan tangan.
"Aku tidak apa-apa!"
Sekarang tenaga dalamnya sudah terkumpul, setelah mengatur nafas tidak ada yang tidak terasa tidak nyaman. Beng To seperti tahu dan berkata.
"Tenang saja, aku tidak melukaimu!"
Pek-ciok Tojin menatap Beng To, dia tidak tahu harus berkata apa. Kata Beng To.
"Biasanya ketua sebuah perkumpulan adalah orang yang ilmu silatnya tertinggi di perkumpulannya, mengapa ketua Bu-tong-pai bukan Wan Fei-yang atau Kouw-bok yang tadi?"
Pek-ciok Tojin merasa sedih, bukan karena ilmu silatnya lebih rendah dari Kouw-bok atau Wan Fei-yang melainkan202 karena terharu.
Karena Bu-tong-pai sudah beberapa kali mengalami musibah, para pesilat tangguh Bu-tong-pai banyak yang terluka dan gugur, maka dengan kemampuan ilmu silatnya yang hanya sampai di sana, dia bisa menjadi seorang ketua.
Giok-koan Tojin menyela.
"Setiap perkumpulan mempunyai aturan dalam memilih ketua mereka, hal ini tidak ada hubungannya dengan Mo-kauw!"
"Aku hanya merasa aneh, siapa berikutnya! Kau?"
Beng To tertawa.
"Pinto Giok-koan Tojin!"
Giok-koan Tojin mencabut pedangnya.
"Giok-koan Tojin dari Ceng-sia-pai!"
Pedangnya tidak diragukan lagi pedang yang bagus. Begitu dia mencabut pedang dari sarungnya, tampak sinar terang dan berkilau, sahut Giok-koan Tojin.
"Harap kau mengeluarkan senjatamu!"
Dia adalah pesilat dari kalangan lurus, begitu tangannya memegang senjata tajam, dia tidak mau mengambil keuntungan pada saat musuh tidak memegang senjata. Tapi Beng To hanya tertawa.
"Dengan kemampuan ilmu silatku, kau masih mengira aku butuh pecahan tembaga dan rongsokan besi?"
"Pedang yang ada di tanganku ini bukan pedang biasa, dia keras dan tidak terpatahkan, Ceng-sia-pai terkenal dengan ilmu pedangnya..."
"Silahkan kau memakai pedang itu!"
"Aku sudah menjelaskan, aku tidak ingin mengambil keuntungan darimu!"203
"Walaupun pedangmu kuat, asal aku menggunakan pedang apa pun, pedangmu pasti akan putus!"
"Ayo..."
Beng To memberi isyarat. Giok-koan Tojin mengangkat pedangnya, pedang itu seperti bertambah terang, Beng To melihat nya dan berkata.
"Pedang itu benar-benar pedang bagus, hanya sayang aku tidak menguasai ilmu pedang yang bagus, kalau tidak, aku akan tertarik pada pedangmu!"
Giok-koan Tojin membentak, pedang dan tubuhnya terbang ke arah Beng To, ilmu pedang Ceng-sia-pai terkenal karena tubuhnya yang ringan, sekarang Giok-koan Tojin benar-benar seperti seorang dewa.
Beng To melihat ilmu pedang tosu ini lebih bagus dibandingkan ilmu pedang Pek-ciok Tojin.
Dia memang berkata seperti itu tapi sepertinya terjadi sesuatu, sepasang tangannya terjulur ke bawah hingga Giok-koan Tojin mendekat.
"Awas pedang!"
Giok-koan Tojin adalah orang lurus, tidak lupa memperingati Beng To.
"Aku tidak buta!"
Beng To menyambut serangan Giok-koan Tojin kedua tangannya menepuk, tapi tidak terdengar suara sedikit pun.
Jarak masih jauh, tapi Giok-koan Tojin sudah merasakan kekuatan telapak Beng To.
Perasaannya seperti ada ribuan atau puluhan ribu tekanan, tapi tidak terkumpul menjadi satu, dia belum pernah menyentuh tenaga seperti ini, bisa dikatakan belum pernah terdengar, rasa terkejut membuatnya gentar.
Dia mulai merasakan tekanan angin pukulan dengan berat ribuan bahkan puluhan ribu kati, kekuatan ini melilit204 pedangnya, ilmu pedang yang tadinya ringan dan melayang sekarang berubah menjadi lamban.
Benar-benar seperti sulap, sekarang dia jadi mengerti, tadi pada awalnya Kouw-bok bertarung dengan lancar, kemudian menjadi lamban dan tidak bertenaga semua karena tekanan yang tidak terlihat.
Pikirannya segera berputar, pedangnya segera digerakkan, dia berusaha menepis tekanan ini dan menepis Beng To.
Kalau benda tidak berbentuk ditepis dengan pedangnya yang tajam, itu sangat mudah, tapi sekarang yang terjadi adalah pertarungan tenaga dalam, walaupun pedangnya sangat tajam, percuma saja.
Pedang mengeluarkan cahaya berkilau tapi hanya bisa berkilau di depan Beng To sebanyak 3 kali.
Orang yang tidak tahu akan mengira Giok-koan Tojin sedang memamerkan kepandaiannya.
Orang yang bisa melihat akan terkejut karena tenaga dalam Beng To begitu kuat.
Ci-liong-ong (Raja naga ungu) bisa melihatnya, Pek-jin Taysu menarik nafas.
"Tidak disangka pemuda ini begitu kuat!"
Liu Sian-ciu ikut nimbrung.
"Giok-koan Tojin memang mempunyai senjata tajam, tapi jika tenaga dalamnya seimbang, dia bisa menang, jika tidak sulit untuk mengembangkan kemampuannya!"
Ci-liong-ong menggelengkan kepala.
"Orang menggunakan tenaga dalam sebagai senjata sangat banyak, tapi mereka tidak sekuat dia!"
"Pedang Giok-koan Tojin sama sekali tidak bisa mendekatinya, itu saja sudah membuatnya tidak terkalahkan!"
Kata Liu Sian-ciu.205
"Kalau tidak terkalahkan bukan berarti dia akan menang!"
Ci-liong-ong memang tidak ingin mengatakannya tapi dia sudah kelepasan bicara akhirnya malah tertawa kecut.
Semua orang merasa hati mereka menjadi berat.
Hati Giok-koan Tojin serasa tenggelam, perubahan ilmu pedangnya sudah mencapai tahap terakhir, tenaga yang tidak terlihat tetap tidak bisa diatasi, malah dia merasa kakinya seperti menginjak lumpur, setelah perasaan seperti itu muncul, jurus pedangnya pun ikut berhenti.
Inilah reaksi orang yang masuk ke dalam lumpur, setelah merasa terkejut dan kacau kemudian akan kembali tenang.
Katanya bila sudah muncul perasaan seperti itu, semakin meronta akan semakin tenggelam dan tidak bisa bergerak, kemungkinan gerakan akan lebih lamban.
Giok-koan Tojin mulai merasa pedang di tangannya tidak begitu berat lagi, dengan cepat dia menarik pedangnya kembali.
Begitu pedangnya bergerak, perasaan kaki yang seperti masuk ke lumpur terasa lagi, dan lebih hebat, kemudian Giok-koan Tojin memperhatikan wajah Beng To, tampak dia sedang tertawa dan sikapnya penuh dengan ejekan.
Waktu itu Beng To membuka suara.
"Aku rasa lebih baik pedang itu kau lepaskan dan kau mengaku kalah!"
Giok-koan Tojin tampak terkejut dan marah, pedang dicabut, terlihat Beng To bergeser ke depan.
Seperti tertarik pada ilmu pedang Giok-koan Tojin.
Inilah kesempatan Giok-koan Tojin mengeluarkan ilmu pedangnya menyerang Beng To.
Jarak antara Beng To dan pedangnya sangat dekat.206 Ilmu pedang Giok-koan Tojin sudah berada pada tahap pedang dan tubuh menyatu, berarti pedangnya bisa berjalan dulu, sayang sekarang pedangnya dililit oleh tenaga tidak terlihat.
Waktu itu dia mempunyai suatu perasaan aneh, dia melihat kedua tangan Beng To mendekati pedangnya, asalkan bisa memutar tangannya dia bisa menepis putus kedua tangan Beng To.
Tapi pedang yang dipegangnya seperti diganduli ribuan kati benda, tenaganya sudah siap tapi bergerak dengan lamban.
Akhirnya pedangnya bisa diputar balik, hanya saja dia kalah cepat dari kedua tangan Beng To, sabetan pedangnya tidak mempan, malah dijepit oleh kedua tangan Beng To.
Dia merasakan ada tenaga dalam yang mengalir ke pedangnya sehingga pedang seperti terjepit oleh dua ekor kepiting baja.
Beng To tetap bicara dengan tenang.
"Giok-koan Tojin, kau sudah kalah!"
Giok-koan Tojin membentak, tangan kirinya segera memegang pedang, dia mendorong pedangnya, pedang bertambah berkilau, kedua tangan Beng To menjadi terang, cahaya yang berkilau membuat hati siapa pun menjadi dingin.
Di sana seperti ada sesuatu, tapi Giok-koan Tojin tidak bisa melihatnya dia hanya merasa nafasnya sesak.
Kedua tangan Beng To masih maju, Giok-koan Tojin melihatnya mendekat, tapi dia tidak merasakan apa pun dia merasa ada tenaga tidak terlihat jatuh ke atas tubuhnya.
Tampaknya dari awal memang sudah ada dan sudah melingkupi Giok-koan Tojin, karena itu dia merasa nafasnya menjadi sesak.
Sekarang benda itu seperti bertambah berat,207 jika orang biasa dari tadi sudah roboh.
Karena Giok-koan Tojin pernah berlatih ilmu kura-kura beristirahat, maka dia bisa bertahan.
Tapi sampai kapankah dia bisa bertahan?
Dia sendiri tidak tahu hanya terpikir kalau kematian Kouw-bok begitu menyedihkan tapi terlihat gagah.
Beng To terus mengawasi perubahan sikap Giok-koan Tojin, akhirnya dia menggelengkan kepala.
"Kalian para orang tua jika tidak diberi pelajaran tidak akan mau menundukkan kepala!"
Kata-katanya terhenti, kedua tangannya di longgarkan, Giok-koan Tojin segera merasa terlepas dari tekanan, baru saja jurus-jurus pedangnya siap digunakan, tapi tubuh dan pedang seperti terbawa oleh tenaga tidak terlihat, terbang ke atas, dia bersiul panjang, kemudian kedua tangannya terus berputar, setelah tubuhnya berputar-putar di udara, akhirnya jurus pedangnya bisa diperagakan, tenaga tidak terlihat bisa ditepis hingga terbelah, tubuh dan pedang akhirnya mendapat kebebasan.
Kenyamanan yang dirasa tidak terlukiskan, Giok-koan Tojin bersiul panjang di udara dia terus berputar, kemudian seperti seekor burung dia pun turun.
Ci-liong-ong dan yang lainnya menyaksikan semua itu, mereka bersorak.
Bersamaan waktu itu kedua tangan Beng To bertepuk, tenaga dalam Beng To gelombang demi gelombang menerjang Giok-koan Tojin yang sedang turun dari atas.
Giok-koan Tojin menyambut tenaga tepukan Beng To, satu demi satu lalu berhenti, siulannya pun terputus, tubuhnya terangkat oleh keluatan telapak Beng To sehingga dia naik lagi ke atas.208 Kemudian Beng To meloncat, sekali lagi menepuk tangannya, tenaga dalam yang kuat terus menerjang Giok-koan Tojin, tubuh Giok-koan Tojin naik lagi ke atas hingga 3 kali.
Tenaga dalam Giok-koan Tojin berada di bawah Beng To, apalagi di tengah udara dia tidak punya kesempatan untuk mengeluarkan tenaganya, maka perbedaannya pun semakin jauh.
Tubuh Giok-koan Tojin semakin naik, apa yang Beng To inginkan dia tidak tahu dan tidak bisa berbuat banyak.
Tubuh Beng To jungkir balik di udara, kedua tangannya secara bergantian mendorong, yang satu mendorong ke bawah yang satu lagi mendorong Giok-koan Tojin, hanya sekejap sudah membuat tubuh Giok-koan Tojin naik setinggi 10 tombak, orang orang Biauw dan golongan sesat jadi bersorak-sorak, Ci-liong-ong dan Pek-ciok Tojin sudah tidak bisa tertawa, wajah mereka berubah terus.
Apa yang sedang diperbuat Beng To, mereka tidak mengerti, mereka hanya tahu bila Giok-koan Tojin sampai terbanting ke bawah, tentu akan berakibat fatal.
Setelah sampai pada ketinggian 5 tombak Beng To baru turun, gayanya saat turun tidak begitu indah, tapi tidak diragukan lagi sangat tenang dan tanpa mengeluarkan suara.
Saat itu juga Giok-koan Tojin turun, dia turun dengan keadaan kalang kabut, ilmu meringankan tubuhnya sebenarnya bagus tapi terjatuh dari tempat setinggi itu belum pernah dialaminya, ditambah terganggu tenaga dalam Beng To, tubuhnya jadi tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Karena gugup pedangnya otomatis menunjuk ke bawah.209 Pedang turun terlebih dulu, tubuhnya mengikuti dengan kencang, dengan kemampuan ilmu silatnya asal ada peluang luncuran tubuhnya tentu bisa diperlambat.
Sewaktu dia sedang berpikir, Beng To sudah melayang dan kedua tangannya menghantam, dia tidak akan bisa menghindari serangannya, yang membuatnya menyesal dia tidak punya kesempatan menyambut serangan.
Ci-liong-ong dan yang lainnya melihat dengan jelas.
Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka melihat Beng To menyerang Giok-koan Tojin.
Anehnya serangan ini tidak mengeluarkan suara, Giok-koan Tojin jelas-jelas dihantam oleh telapak Beng To tapi dia tidak bereaksi apa pun, hanya terlihat tubuhnya berguling-guling seperti sebuah bola yang padat akhirnya dia turun dengan posisi berdiri.
Wajah Giok-koan Tojin terlihat murung tapi dia tampak tidak terluka, dia juga bisa berdiri dengan tegak lalu menarik nafas panjang.
"Tenaga dalam orang ini tidak terukur, aku bukan lawannya, pantas Wan Fei-yang bisa kalah darinya!"
Ci-liong-ong dan Pek-jin Taysu baru merasa tenang, sebab Giok-koan Tojin terlihat tidak kurang sesuatu, tidak ada yang terluka sedikit pun. Pek-jin Taysu tertawa kecut.
"Dia sengaja memamerkan kepandaiannya!"
"Dia ingin menunjukan bahwa kemampuannya sudah mencapai tingkat seperti itu, kita tidak bisa berkata apa-apa lagi!"
Kata Ci-liong-ong. Tiba-tiba Liu Sian-ciu bertanya kepada Giok-koan Tojin.
"Menurutmu, kalau kita bergabung, apakah kita bisa mengalahkan dia?" 210 Tanpa berpikir lagi Giok-koan Tojin langsung berkata.
"Bertarung satu lawan satu pada akhirnya mungkin akan berakhir seperti diriku, seharusnya aku tidak berkata seperti ini, tapi tenaga dalam orang itu benar-benar tidak terukur, kita tidak bisa mendekatinya sama sekali, punya senjata di tangan pun percuma, kalau kita bergabung dan menyerangnya, mungkin tenaga dalamnya tidak akan bisa menguasai ke seluruh penjuru, tapi mungkin..."
Giok-koan Tojin berhenti bicara. Kata Liu Sian-ciu.
"Jika bergabung kita mungkin kita bisa mengalahkan dia, tapi itu baru kemungkinan, walau bagaimana nama kita akan tercoreng, sebab dengan jumlah banyak menghadapi lawan yang berjumlah sedikit, nama kita jadi tidak enak untuk disandang!"
"Aku sudah terpikirkan akan hal ini!"
Kata Giok-koan Tojin.
"saat Mo-kauw menyerang Tiong-goan, selalu berhasil dikalahkan oleh pesilat Tiong-goan, maka mereka akan bersama-sama menyerang terlebih dulu!"
"Itu karena setiap kali menyerang satu lawan satu, lebih banyak kalahnya dari pada menangnya, maka dengan terpaksa mencoba-coba dulu, tapi keada an sekarang sangat berbeda,"
Ci-liong-ong tertawa kecut.
"dengan adanya Beng To yang begitu kuat, mana mungkin mereka tidak akan memperalatnya?"
"Benar..."
Jawab Pek-jin Taysu, dia teringat pada perkiraan Kouw-bok, Giok-koan Tojin pun demikian. Dia menarik nafas.
"Perkumpulan bisa melakukannya tapi kita tidak, kalau tidak, di dunia ini tidak akan ada berbedaan antara yang sesat dan yang lurus,"
Lalu dia melanjutkan lagi.
"lawan211 datang dengan jantan menantang kita, kita pun harus dengan jujur menyambut tantangan mereka!"
"O-mi-to-hud!"
Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha, sorot mata Giok-koan Tojin menatap Pek-jin Taysu, dia menggelengkan kepala.
"Tadi aku hampir mati!"
Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha lagi.
"Kalau keahliannya tidak setinggi lawan, kalah adalah hal biasa, itu bukan suatu penghinaan, hanya saja kita sudah tua, mungkin tidak akan mengalami kemajuan lagi!"
"O-mi-to-hud..."
Sekali lagi Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha, dia sangat emosi.
Giok-koan Tojin kalah dalam pertarungan ini, l lalu berpikir untuk bergabung dan menyerang Beng To, cara ini bagi orang lain lebih terpikir lagi.
Tawa Beng To memecah keheningan.
"Berikutnya siapa?"
"Pek-jin Taysu dari Siauw-lim-pai.. Pek-jin Taysu membawa singkupnya dan mendekati Beng To.
"Menurut kabar Siauw-lim-pai mempunyai 72 ilmu istimewa yang sangat terkenal, hari ini aku senang punya kesempatan menyaksikannya,"
Kata-kata Beng To terdengar sangat sungkan, tapi tidak terlihat dari sikapnya.
"72 jurus Siauw-lim, aku hanya mempelajari 45 jenis saja,"
Singkup Pek-jin Taysu mulai bergerak, jurus 'Kang-mo-cap-pwee-sut' sudah dikeluarkan (18 jurus penakluk iblis).
Singkup tidak setajam pedang Giok-koan Tojin, tapi beratnya 10 kali lipat dari pedang Giok-koan Tojin.
Disapukan oleh kedua tangan Pek-jin Taysu, gerakannya cepat dan menimbulkan gelombang keras, tempat yang212 dilewatinya tampak debu dan tanah beterbangan dengan hebat, sungguh membuat siapa pun jadi gentar.
Tapi senjata apa pun bagi Beng To tidak ada bedanya.
Sesudah Pek-jin Taysu menyerang hingga jurus ke-9, singkup sudah tidak bergerak dengan leluasa, akhirnya dia mengerti apa yang dikatakan Giok-koan Tojin 'tidak terukur' sekarang dia pun harus mengakui bahwa benar-benar tidak terukur.
Singkup sudah tidak bisa digunakannya lagi.
Selain hanya menghabiskan tenaga dalam, dia merasa tidak ada gunanya.
Tapi ingin membuang singkup itu pun bukan hal yang mudah.
Kekuatan tidak terlihat dari Beng To seperti mengikat kedua tangan dan singkup itu.
Akhirnya singkup berhasil ditancapkan ke tanah, baru kekuatan itu menghilang dan bisa bertarung dengan tangan kosong.
Tenaga dalamnya segera disalurkan ke jari tengah tangan kanannya, kemudian diringi 'Say-cu-houw' (auman singa) jari tengahnya menunjuk dada Beng To.
'Say-cu-houw' dan 'Kim-kong-ci' (Jari Kim-kong) adalah salah satu dari 72 jenis ilmu istimewa Siauw-lim, ilmu ini sulit dilatih dan sulit berhasil sampai tahap memuaskan jika bukan karena Pek-jin Taysu luar biasa sabar, dia tidak akan melatih kedua jenis ilmu ini.
Pek-jin Taysu bisa melatih kedua ilmu ini sampai tingkat atas.
Auman itu membuat angin dan awan seperti ikut terkejut, Beng To juga terpaku, saat itu Kim-kong-ci segera menyerang Beng To.
CES CES terdengar, Pek-jin Taysu merasa tenaga dalam Beng To yang keluar, terpecah oleh kekuatan Kim-kong-ci nya.213 Tapi perasaan Beng To sangat tajam, reaksinya pun sangat cepat, segera tangan kanannya mengepal, dia menyambut Kim-kong-ci yang menyerangnya.
Kepalan tangan kanannya dijulurkan, warnanya putih tidak seperti kulit manusia biasanya, tidak diragukan lagi semua tenaga dalamnya sudah ter kumpul di sana.
Arah Kim-kong-ci milik Pek-jin Taysu tidak berubah dan menusuk kepalan tangan kanan Beng To, Pek-jin Taysu tahu jika dia menyerang bagian lain tentu akan lebih baik hasilnya.
Tapi dia juga tahu Beng To akan merobah gerakan dengan cepat, akhirnya Kim-kong-ci tetap akan mengenai kepalan Beng To, Pek-jin Taysu juga tahu semakin lama bertarung kekuatan Kim-kong-ci akan semakin melemah.
Sewaktu dia sedang berpikir, jari dan kepalan tangan sudah mengenainya, tapi dia melihat jarak jarinya dengan kepalan Beng To masih ada 3 inchi lagi.
Kemudian jarinya merasa seperti mengenai sebuah benda kuat dan liat.
Pek-jin mengeluarkan aumannya dan Kim-kong-ci bisa masuk sedalam 1 inchi lagi.
Bersamaan waktu Beng To pun membentak, kemudian kepalan tangan kanannya didorong ke depan, dia memang tidak pernah berlatih Say-cu-houw tapi tenaga dalamnya sangat kuat, bentakannya menggetarkan langit dan bumi, bahkan bisa menutupi auman Pek-jin Taysu.
Bersamaan waktu tubuh Pek-jin Taysu tergetar oleh kepalan tangan Beng To hingga terdorong sejauh 2 depa.
Kepalan tangan kiri Beng To menusul menghantam, kedua kepalan tangannya silih berganti menghantam sebanyak 7 kali dan membentak beberapa kali, memaksa Pek-jin Taysu mundur hingga 10 depa.
Suara yang keluar besar dan kuat, tidak ada yang bisa menandingi.214 Pek-jin Taysu mundur dan terus mundur lagi.
Karena kekuatan tenaga dalam Beng To, Kim-kong-ci tidak bisa dikeluarkan kedahsyatannya, dia menarik nafas panjang, Beng To tidak menyerang lagi, terlihat dia tertawa.
"Apakah Taysu mengaku kalah?"
"Terimalah jurus kakiku 'Kwan-im-cu'!" (Kaki Kwan-im), Pek-jin Taysu mengangkat kaki kirinya, dia berdiri dengan sebelah kakinya, melayang ke atas, kemudian kaki kanannya menendang Beng To. Kwan-im-cu termasuk salah satu dari 72 jurus Siauw-lim-si, kekuatannya berada di atas Kim-kong-ci, bila tidak punya tenaga dalam yang kuat, tidak akan bisa memperagakan ilmu ini. Yang pasti sekarang Pek-jin Taysu tidak menyimpan semua perubahan Kwan-im-cu dia sudah bergerak tidak tanggung-tanggung di tengah udara. Ketika tendangan belum habis tendangan kedua sudah dikeluarkan secara berturut-turut sebanyak 36 kali, menyerang dari seluruh penjuru yang berbeda. Ada serangan kosong ada yang isi, siapa pun sulit untuk menduganya. Beng To pun tidak bisa menduga serangannya, tapi tenaga dalamnya terus berputar, tubuhnya seperti dibungkus oleh sebuah kantong kuat dan berangin, tendangan Pek-jin dari arah mana pun baginya tidak ada bedanya. Begitu pun bagi Pek-jin Taysu, setelah tendangannya habis, tidak menunggu Beng To datang membalas langsung kembali ke tempat semula.
"Apakah kepandaian Taysu hanya begitu saja?"
Kata Beng To tertawa215 Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha.
"Kang-mo-cap-pwe-sut, Kim-kong-ci, Say-cu-houw, Kwan-im-cu, sudah kukeluarkan, tapi kau lihat sendiri hasilnya seperti ini!"
"Tidak disangka Taysu mau bicara jujur!"
Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha lagi, dia berkata kepada Ci-liong-ong dan Liu Sian-ciu.
"Seumur hidupku pertama kali aku bertemu dengan pesilat yang begini tangguh, tenaga dalamnya kuat dan aneh, dia tidak bergerak tapi saat kita ingin mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuh kita, ternyata tidak mudah. Apalagi dia bisa setiap saat mengatur tenaga dalamnya menyerang kita!"
"Apakah kita harus menerima kekalahan ini?"
Tanya Ci-liong-ong. Pek-jin Taysu menggelengkan kepala.
"Aku mendukung semua orang bergabung dan bertarung dengannya, mungkin ada salah satu dari kita bisa melihat diamana kelemahannya!"
Ci-liong-ong tertawa.
"Maksudku pun seperti itu, dia tidak memakai senjata tapi bisa mengalahkan kita, dia juga tidak terlihat lelah, dan tampak dia juga belum mengeluarkan seluruh tenaganya, hanya dengan ini saja dia sudah bisa menyombongkan dirinya, kita harus mengakui kepandaian kita masih berada di bawahnya, melihat keadaannya kita masih harus bertarung sekali lagi, bila kita bisa mendapatkan kelemahannya, itu lebih bagus!"
Pek-jin melantunkan bacaan Budha, Ci-liong-ong berkata.
"Sekarang giliran naga malas meluruskan otot-ototnya!"
Baru saja kata-katanya habis, seluruh tubuhnya sudah mengeluarkan bunyi berderak seperti kacang goreng, semua orang tahu bahwa dia berlatih ilmu 'Cap-sa-tay-po' dan216 sudah mencapai taraf golok dan tombak tidak bisa menembus tubuhnya.
Tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat ke-12, dia bisa melukai orang dengan daun atau bunga, baginya keahlian seperti ini hanya masalah kecil.
Dari awal dia sudah ingin mencoba bertarung ilmu lweekang dengan Beng To tapi Ci-liong-ong memang bersifat malas, melihat ada orang yang berebut ingin bertarung dengan Beng To, dia lebih suka melihat saja dari pinggir, dan melihat seberapa kuat Beng To sebenarnya.
Hingga saat ini dia belum bisa melihat dan merasa menyesal mengapa bukan dia yang pertama yang bertarung dengan Beng To, kalau saja dia yang pertama bertarung, itu akan lebih meringankannya, dan rasa percaya dirinya lebih tinggi.
Tapi sekarang rasa percaya dirinya sudah hilang walau dia tetap akan berusaha, tidak percaya diri bukan berarti tidak mempunyai peluang, Karena itulah tawa dan gerakannya terlihat malas-malasan.
Baru melangkah satu langkah, Thi Gan dari Tiam-jong Pai berkata.
"Lebih baik kau perhatikan dulu, biar aku yang bertarung dulu!"
Dia segera meloncat keluar, saat Ci-liong-ong melihatnya, dia tertawa.
"Semua orang tahu ilmu meringankan tubuh Tiam-jong-pai paling bagus, aku ingin merebut pun tidak akan bisa!"
Kalimatnya belum selesai, Thi Gan sudah melewati kepala Beng To, tangannya memegang sepasang Yan-leng-to dan terjulur ke bawah.
(Pisau berbentuk bulu ekor burung walet).217 Pisau itu benar-benar seperti ekor burung walet begitu tipis seperti kertas khusus untuk memecahkan tenaga dalam.
Thi Gan selalu memperhatikan Beng To, juga memperhatikan saat Giok-koan Tojin bicara kepada Pek-jin Taysu, satu-satunya kesimpulan yang dia dapatkan adalah tenaga dalam Beng To sangat kuat dan berada di puncaknya.
Jika ingin mengalahkan dia harus menghancurkan kantong pelindungnya, saat Kim-kong-ci dan Sau-cu-houw keluar secara tiba-tiba hampir membuat Pek-jin Taysu berhasil tapi akhirnya tetap kalah, bagi Thi Gan bukan karena kepandaian Pek-jin Taysu kurang bagus, melainkan karena Kim-kong-ci nya kurang tajam dan kurang cepat.
Kalau gerakannya lebih cepat ditambah dengan adanya senjata tajam, mungkinkah bisa berhasil mengalahkan Beng To?
Thi Gan pun tidak tahu, tapi dia percaya kegunaan sepasang Yan-leng-to nya dan tentu saja percaya pada kecepatannya.
Waktu itu dia merasa tenaga dalam Beng To dan tenaga pisaunya dengan cepat terpisah dan pisaunya bisa menepis kepala Beng To, tapi itu hanya sebentar, kemudian perasaan itu sudah menghilang.
Sebab begitu Yan-eng-to bertemu dengan tenaga yang kuat langsung mental, begitu mental gerakan tubuhnya jadi terganggu, tadinya Yan-leng-to bisa bergerak maju dan lurus, sekarang menjadi miring dan terbang ke atas.
Sewaktu dia turun, dia melihat sepasang pisau nya seperti telah tertempel sesuatu, hingga pisau itu menjadi gelap.
Dia terkejut, dari sudut matanya dia melihat Beng To sudah berlari ke arahnya.218 Kecepatan Beng To masih berada di atasnya, ketika sepasang pisau menyambutnya, saat itu Beng To sudah menghampiri Thi Gan.
Tenaga kuat segera datang menerjang.
Sepasang pisau itu dengan cepat diayunkan, tapi tenaga dalam yang datang menerjang membuat tubuhnya menjadi miring, Beng To pun lewat di sisinya, Thi Gan menyapu ke belakang dengan pisaunya, tapi tenaga besar sudah mengenai pinggangnya, membuat tubuhnya naik.
Di udara dia merubah gerakan sebanyak 7 kali, tiba-tiba dia melihat Beng To di atas kepalanya, tubuhnya sudah berubah secara total, tapi Beng To belum merubah gerakannya, dari belakang Beng To menepuk punggungnya.
Tepukan ini sangat keras hingga Thi Gan berteriak, tubuhnya berguling-guling di udara, lalu terbanting ke bawah ke tempat di mana dia berdiri tadi.
Giok-koan Tojin dan Pek-jin Taysu dengan cepat berlari ke tempat Thi Gan jatuh, dengan baju yang digulung mereka mengangkat tubuh Thi Gan yang terbanting.
Thi Gan turun dengan cara berguling-guling, wajahnya benar-benar terlihat marah, kedua pisaunya dimasukkan ke dalam sarungnya, sepatah kata pun tidak terucap keluar.
Ci-liong-ong mengerutkan alisnya.
"Lo-te..."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan..."
Kata Thi Gan sambil marah.
"orang itu sengaja memamerkan kepandaian dan kekuatannya, hanya ingin mempermalukan kita di hadapan banyak orang."
Ci-liong-ong tersenyum.219
"Sekarang aku mengerti, jika tenaga dalam seseorang sangat dalam maka ilmu meringankan tubuhnya pun pasti bagus!"
"Prinsip apa itu?"
Tanya Thi Gan tertawa dingin.
"Aku tidak bisa ilmu meringankan tubuh maka tidak akan mengerti seperti dirimu, tapi aku percaya dengan tenaga dalam ada hubungannya!"
Thi Gan terdiam, Ci-liong-ong melihat Liu Sian-ciu.
"Kalau kau mau keluar duluan, aku tidak akan menentang!"
Liu Sian-ciu menggelengkan kepala.
"Aku belajar ilmu silat terlalu banyak tapi tidak ada yang bisa kukuasai dengan baik, ilmu pedangku jauh dari Giok-koan To-heng, tendanganku tidak bisa menyaingi Pek-jin Taysu, ilmu meringankan tubuhku tidak seperti Thi Gan, kau masih punya tenaga dalam yang bisa diperagakan, sedangkan aku tidak tahu harus memperagakan ilmu apa."
"Sifatmu tetap seperti itu tidak mau melakukan jika tidak yakin."
Kata Ci-liong-ong tersenyum.
"Kali ini aku tidak punya keyakinan!"
"Kalau begitu aku tidak enak memaksamu bertarung!"
Ci-liong-ong dengan sikap malas-malasan berjalan ke depan Bok Touw-toh.
"Bagaimana denganmu?"
Bok Touw-toh tertawa kecut.
"Yang aku pelajari adalah ilmu lweekang, tapi tenaga dalam Toa-suheng jauh lebih baik dariku!"
Ci-liong-ong tertawa dan berjalan lagi, dia adalah orang Bu-tai-pai, di kalangan persilatan itu sudah bukan rahasia lagi. Beng To menatapnya lalu bertanya.220
"Apakah kau adalah orang yang paling kuat tenaga dalamnya?"
"Tidak juga"
"Lawanku yang paling kuat dalam mengadu tenaga dalam adalah Wan Fei-yang, apakah kau pernah bertarung dengannya?"
"Belum pernah, karena itu aku berani keluar."
"Kau lebih tenang dibandingkan yang lain!"
"Berlatih ilmu lweekang membutuhkan kesabaran, semakin sabar maka tenaga dalamnya akan semakin bagus jika tenaga dalam bagus kesabaran pun akan baik, dengan kesabaran yang baik, maka orang pun akan semakin tenang,"
Ci-liong-ong tertawa.
"kalau berlatih tenaga dalam tidak tenang maka akan tersesat!"
"Apakah benar seperti itu?"
"Inilah teori dari perkumpulan lurus, kau dari Mo-kauw tidak akan mengerti, kalau kami menamakannya berlatih hingga tersesat kalian menamakannya apa?"
Beng To terpaku.
"Kau tidak mengerti!"
Kata Ci-liong-ong.
"Apa yang perlu dimengerti?"
"Tidak juga..."
"Ku rasa itu hanya sebuah prinsip sederhana, orang sepertimu yang memiliki ilmu lweekang tentunya harus mengerti!"
"Aku tidak mengerti dan kesabaranku pun kurang bagus!"
"Kalau begitu, aku harus curiga bahwa tenaga dalammu tidak didapat karena berlatih sendiri!"
Ci-liong-ong bertanya lagi.221
"Apakah benar kau bisa mendapatkan tenaga dalam melalui Ilmu Ih-hoa-ciap-bok yang kau peroleh dari Mo-kauw? Memindahkan tenaga dalam orang lain yang didapat dengan susah payah dengan mudah kau masukkan ke dalam tubuhmu sendiri?"
"Apakah kau tertarik?"
"Sebenarnya kesabaranku kalah dari Pek-jin Taysu, sifat dan pembawaanku sejak lahir sudah malas. Aku tidak senang menendang-nendang atau pukul memukul, maka aku memilih berlatih tenaga dalam yang dalam tidur pun bisa dilakukan. Orang yang malas bila memiliki cara berlatih begitu ringan, mana mungkin tidak tertarik?"
"Kau melihat dengan teliti!"
Beng To mengangkat tangan kanannya menghadap ke arah Ci-liong-ong.
Kulitnya sudah kembali normal, yang di maksud dengan normal tetap saja tidak senormal orang biasa.
Ci-liong-ong ikut mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya lebih besar dan lebar dibandingkan orang biasa dan berwarna merah tua.
Begitu melihat telapaknya sudah terlihat ilmu luar dan dalam orang ini sudah ada dasarnya dan sudah berhasil.
Beng To melihatnya, tapi dia seperti tidak mempermasalahkan.
Secara berturut-turut dia sudah mengalahkan begitu banyak pesilat tangguh, kalau tidak percaya diri, itu baru aneh.
Ilmu lweekangnya mulai dikerahkan, awalnya di tengah-tengah telapak tangannya muncul warna perak, kemudian dengan cepat meluas, seperti di dalam telapak tapi juga seperti di luar telapak, di bawah siraman sinar matahari terlihat sangat menarik perhatian.
Ci-liong-ong melihat semua itu dengan jelas.
Dia hanya menaruh sedikit curiga dengan penglihatan matanya,222 dia tidak begitu mengerti tentang tenaga dalamnya.
Tapi dia tidak pernah melihat atau mendengar jenis tenaga dalam seperti ini.
Tenaga dalam Beng To bisa dipaksa keluar dari tubuhnya dan menjadi sebuah benda berbentuk.
Tadi Ci-liong-ong mengira dia sudah melihat dengan jelas, sekarang dia baru merasa walaupun sudah dekat dengan Beng To tapi dia belum bisa melihat dengan jelas.
Perubahan tenaga dalam Beng To sangat cepat, maka Ci-liong-ong mengerti mengapa Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin tidak bisa mendekati Beng To.
Tenaga dalamnya sangat aneh, dia bisa membuat Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin dalam jarak 3 depa tidak bisa mendekatinya.
Beng To memang bertarung dengan tangan kosong, tapi sebenarnya dia seperti sedang mencengkeram sebuah senjata yang bisa memanjang atau memendek, bisa berbentuk bulat atau pun persegi, bisa menyerang juga bisa bertahan.
Mo-kauw bisa melatih muridnya hingga menjadi seperti ini, apakah perkumpulan lurus Tionggoan sudah waktunya harus musnah?
Ci-liong-ong sedang menaruh curiga waktu itu telapak tangan Beng To sudah berubah warna menjadi perak, di dalam telapaknya terlihat titik berwarna perak itu semakin membesar dan terus berputar-putar di tengah.
Pelan-pelan bergeser ke depan, bersamaan waktu Ci-liong-ong merasa tertekan.
Dia menarik nafas, lalu menghembuskannya.
Menarik nafas lagi, tangan kanannya semakin lama terlihat semakin merah dia menyambut tangan kanan Beng To.223 Masih berjarak satu kaki Ci-liong-ong semakin mulai merasakan terkena sesuatu, dia membentak dan menendang, tangan kiri dan kanannya bergerak.
Tapi titik berwarna abu itu tidak memudar, malah terus berputar, akhirnya tangan kanan Ci-liong-ong bisa mendekat dan mengenai cahaya perak itu dan cahaya perak itu segera menjadi terang.
Hal ini membuat Ci-liong-ong terpaku, dia merasa pusing, walaupun dia tidak mundur tapi dia merasa harus mundur.
Mulutnya menganga karena terkejut, cahaya abu itu tidak memudar, malah meledak menjadi benang dengan pelan menyebar, dan menyebar membentuk lingkaran dan menutupi Ci-liong-ong.
Dengan sekuat tenaga Ci-liong-ong memaksa tenaga dalam mengalir ke tangan kanannya karena tenaga dalam mengalir, bajunya tampak berkibar dan mengeluarkan suara.
Tenaga Beng To yang mengeluar kan ribuan atau puluhan ribu benang seperti terhalang oleh tenaga dalam Ci-liong-ong.
Gerakan maju untuk menutupi Ci-liong-ong terhenti dan benang-benang itu pun bergetar.
Ci-liong-ong merasa kepalanya bertambah pusing, benang-benang berwarna perak mulai menganyam dan dengan pelan membentuk sarang laba-laba.
Apakah semua nusi atau Kenyataan' Ci-liong-ong sedang menaruh curiga dan bersamaan waktu tenaga dalamnya terus mengalir ke telapak tangan kanannya.
Jala perak sudah berhenti dianyam, tapi tidak bisa hancur oleh tenaga dalamnya, berarti bila tenaga dalamnya tidak menyambung, jala itu akan menghampirinya.
Karena jala perak berhenti menganyam dia akan segera menyebar ke seluruh penjuru, kemudian menutupi tangan224 kanan Ci-liong-ong semakin kecil dan mengecil lalu menghilang.
Ci-liong-ong mengerti itu bukan menghilang melainkan karena mata tidak bisa melihat walaupun tenaga dalam sebagaimana kerap dan kuat tapi tetap tidak akan bisa melawan benang-benang yang ribuan jumlahnya dan lebih kecil dari jarum dan lebih kuat untuk menyerang.
Hatinya mulai terasa dingin, segera muncul pikiran untuk mundur, tapi saat itu dia mulai merasakan tangan kanannya seperti dilem.
Apakah ini ilusi atau kenyataan?
Dia sendiri pun tidak yakin, tapi dia tidak akan mundur, kalah pun dia akan menerimanya.
Tenaga dalamnya masih keluar, ilmu Iweekang 'It-tiauw-liong' (seekor naga) nya dikeluarkannya dengan sempurna dan habis-habisan.
Tapi itu hanya berlangsung sebentar, dia mulai merasakan tenaga dalam Beng To membentuk benang ribuan bahkan ratusan ribu helai di tubuhnya, perasaan yang paling keras adalah di tangan kanannya, tenaga yang keluar segera dililit kemudian dibagi menjadi ribuan helai.
Tenaga dalam Beng To masuk ke dalam tubuhnya, membuat tenaga dalamnya menjadi lamban dan tidak mengalir dengan lancar.
Bisa dikatakan hampir berhenti, sebaliknya tenaga dalam Beng To semakin melilit semakin kencang, lalu mulai menyebar ke bagian atas tangan.
Ci-liong-ong benar-benar terkejut, dia mencegah tenaga dalam yang mengalir ke tangannya dan mengumpulkannya di tubuhnya.
Tapi walau bagaimanapun dia berusaha tetap tidak bisa membendung masuk tenaga dalam Beng To yang seperti225 ribuan helai benang dan bersamaan waktu dia melihat tawa Beng To seakan-akan sedang mengoloknya.
"Kau sudah tidak punya tenaga untuk menahan tenaga dalamku!"
Nada bicara Beng To tidak terjadi perubahan walaupun tenaga dalamnya keluar dan berubah-rubah.
Baginya tidak terjadi gangguan apa pun, dia sudah mencapai pada taraf apa yang selama ini dia inginkan, inilah tahap tertinggi.
"Benarkah..."
Ci-liong-ong hanya bisa mengucapkan kata-kata ini, selebihnya dia mulai merasakan sulit meneruskan kalimatnya.
"Tenaga dalamku masih terus berubah, apakah kau mau tahu perubahannya seperti apa?"
"Oh..."
Ci-liong-ong terlihat curiga tapi dia ingin tahu dan perubahan seperti apa pada Beng To. Beng To menatap Ci-liong-ong dan melihat keinginannya.
"Perubahan berikutnya adalah menghisap tenaga dalam, mungkin itu hal yang paling membuatmu tertarik!"
"Apakah... harus... menerima... menerima nasihat... tersebut..."
Ucapan Ci-liong-ong terpatah-patah tapi masih terdengar gagah, sebenarnya dia terpaksa bicara seperti itu.
Semua pesilat tidak bisa mendengar, mereka merasa Ci-liong-ong penuh wibawa dan gagah perkasa, tapi Pek-jin Taysu menggelengkan kepala.
"Dia sudah kalah!"
Dengan penuh rasa curiga Liu Sian-ciu berkata.
"Dia bicara dengan penuh wibawa, aku melihat dia masih bisa bertahan!"
"Bicara pun sudah terpatah-patah, dia masih bisa bertahan berapa lama?"
Liu Sian-ciu terpaku dan berkata.226
"Aku tidak berharap akan ada mujizat yang muncul, tapi dia adalah harapan kita satu-satunya..."
Dia tidak meneruskan kata-katanya karena dia mulai melihat wajah Ci-liong-ong terus berubah, keringat terus menetes dari dahinya.
*** BAB 14 Tenaga dalam Ci-liong-ong sudah dililit keluar oleh tenaga dalam Beng To.
Sisa tenaga dalamnya berkumpul untuk menyelamatkan tangan kanannya tapi tenaga ini terlilit kembali dan seperti sedang ditarik oleh benang yang jumlahnya ribuan helai.
Bila tenaga dalamnya sudah dililit keluar dari tubuhnya Ci-liong-ong akan mengalami luka dalam atau kehabisan tenaga, butuh waktu lama untuk pulih kembali.
Yang membuatnya terkejut adalah sisa tenaga dalamnya pun akan terhisap hingga bersih.
Selain hal ini, muncul perasaan bersalah, kalau tidak, dia tidak bisa membayangkan akan menjadi orang cacat.
Bila dasarnya hancur butuh waktu lama baru bisa pulih kembali.
Ci-liong-ong benar-benar tidak bisa membayangkannya, dia meronta ingin keluar dari jeratan benang yang jumlahnya ribuan helai, tetapi semakin dia meronta semakin dililit dengan kuat.
Sekarang malah menjalar ke tangan kiri.
Tawa Beng To terdengar semakin jahat, tiba-tiba dia bertanya.
"Sekarang kau tahu memang ada tenaga dalam seperti ini!"227 Beng To berkata lagi.
"Dulu selain Wan Fei-yang, kau adalah orang yang mempunyai tenaga dalam paling kuat, bila aku mengambil tenaga dalammu, maka aku akan bertambah kuat!"
"Oh...."
Ci-liong-ong berkeringat.
"Tapi sekarang walaupun tenaga dalammu tidak ada, tenaga dalamku akan terus mengalir karena dia bisa bertumbuh sendiri. Tahap penghisapan sudah berlalu, berarti tenaga dalammu tidak akan ada gunanya lagi bagiku, selain itu aku juga sudah tidak tertarik!"
"Apa maumu sekarang?"
Tanya Ci-liong-ong sambil menarik nafas.
"Apa mauku..."
Beng To tertawa.
"kalau kau berteriak di depan semua orang bahwa kau telah kalah, aku akan melepaskanmu!"
Wajah Ci-liong-ong memucat. Beng To berkata lagi.
"Kali ini aku datang ke Bu-tong-san hanya untuk menebar kekuatan, tidak ada rencana lainnya!"
"Marga Beng..."
Ci-liong-ong sangat marah.
"Kesabaranku ada batasnya, kau tahu itu, kalau kau diam saja aku tidak akan menunggu lebih lama lagi!"
Dada Ci-liong-ong berdebar kencang, pikirannya kacau, dia mulai merasa tenaga di tangan kanannya mulai keluar.
"Aku terima kekalahan..."
Kata-kata ini baru terucap keluar, wajah Ci-liong-ong segera berubah menjadi ungu kemerahan.
Dia sangat berpengalaman, kalah atau menang adalah hal biasa, hanya saja selama 20 tahun ini dia tidak pernah kalah.
Dia adalah ketua Tong-teng-ouw yang mempunyai 36 cabang.
Menginginkan dia tunduk dan bicara dengan nada memohon sungguh tidak mudah, apa lagi228 berteriak di depan banyak orang, 'aku terima kalah!' sungguh hal yang sulit.
Orang-orang Biauw dan golongan sesat bersorak-sorak.
Suara mereka memenuhi lembah dan naik hingga menembus awan.
Beng To segera melepaskan cengkeramannya, dan perasaan tenaga yang ditarik berhelai-helai benang menghilang sangat cepat.
Ci-liong-ong segera merasa terlepas dari segala beban, sisa tenaganya yang sedikit ditarik kembali ke dalam tubuhnya, dengan cepat membesar dan masuk ke tempat semula.
Semua perubahan terjadi begitu cepat dan alami.
Ci-liong-ong tidak perlu mengatur nafas bisa merasa sudah pulih kembali.
Dia menarik nafas, kembali ke posisi semula, terdengar Beng To tertawa terbahak-bahak.
Orang-orang suku Biauw dan golongan sesat Tionggoan terus bersorak, mereka bersama-sama menghampiri Beng To.
Orang-orang suku Biauw menganggap Beng To seperti dewa.
Sedikit pun tidak merasa semua terjadi di luar dugaan, golongan sesat Tionggoan tadinya masih ragu, mereka datang hanya untuk melihat keramaian, bila terjadi peristiwa tidak sesuai dengan harapan mereka, maka setiap saat mereka bisa kabur, sekarang mereka merasa senang, lebih senang dari orang-orang Biauw bahkan sudah mencapai tahap gila.
Tentu saja Ci-liong-ong dan yang lainnya jadi menundukkan kepala, mereka seperti ayam jago yang kalah229 adu.
Hanya Pek-jin Taysu yang masih bisa menjaga ketenangannya.
"Kali ini Mo-kauw benar-benar senang dan lega."
Giok-koan Tojin melihat Pek-jin Taysu lalu diam. Pek-jin Taysu berkata lagi.
"Kalah atau menang itu hal biasa, kesempatan ini bisa kita ambil untuk mawas diri."
"Apakah kau tahu kalau kekalahan kita kali ini berdampak apa?"
Tanya Giok-koan Tojin.
"Kalau Beng To hanya memamerkan kekuatan dan wibawa perkumpulannya, seharusnya tidak berdampak jelek!"
Jawab Pek-jin Taysu.
"Bagaimana dengan nasib dunia persilatan Tionggoan nantinya..."
Kata Giok-koan Tojin. Tiba-tiba Ci-liong-ong memotong.
"Aku setuju dengan pendapat Pek-jin heng, ada saingan baru akan mengalami kemajuan, apa lagi tampaknya Beng To bukan orang yang sangat jahat!"
Giok-koan Tojin mengangguk.
"Melihat keadaan sementara, memang seperti itu!"
"Maksudmu, kau khawatir golongan sesat Tionggoan akan berbuat kejahatan?"
"Sifat-sifat orang seperti itu harus dimengerti!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Percuma saja kita khawatir, apakah kita harus masuk Mo-kauw lalu menasehati Beng To agar menjadi orang baik?"
Liu Sian-ciu tidak bisa berkata apa pun.
"Inilah cara yang baik!"
Kata Pek-jin Taysu. Ci-liong-ong menggelengkan kepala.230
"Apakah kalian tidak melihat Beng To bersifat iblis dan sesat, tidak diobok-obok oleh golongan sesat Tionggoan pun tetap tidak akan menjadi lurus!"
Pek-jin Taysu terdiam, tentu saja dia sudah melihat kenyataannya.
"Melihat keadaan dunia persilatan Tionggoan saat ini aku rasa sulit mencari orang yang bisa mengalahkan Beng To, tapi semua ilmu silat pasti ada kelemahannya..."
"Maksudmu adalah..."
Thi Gan dengan cepat memotong.
"Beritahu semua pesilat tangguh dari semua perkumpulan seperti apa keadaan hari ini, apakah kita bisa mencari kelemahannya, kemudian bersama-sama mencari cara untuk memecahkannya!"
Kata Ci-liong-ong.
"Terpaksa kita harus menggunakan cara ini!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Kalau tidak mendapatkannya?"
Tanya Liu Sian-ciu.
"Harus melihat seberapa besar bencana yang akan dia lakukan, bila mencapai taraf di mana semua orang sudah tidak tahan lagi, waktu itu semua orang harus berkumpul dan dengan sekuat tenaga mengusirnya dari Tionggoan!"
Kata Ci-liong-ong.
"Apakah sekarang semua orang bisa bertahan atas kegagalan ini?"
Tiba-tiba Giok-koan Tojin bertanya.
"Ilmu silat kita di bawahnya, hanya saja dia bukan orang Tionggoan!"
Kata Ci-liong-ong. Hati Giok-koan Tojin bergetar, dia merasa di balik kata-kata Ci-liong-ong ada maksud lain, dia segera melafalkan "O-mo-to-hud!"
Mata Ci-liong-ong berputar.231
"Sekarang kita dengarkan dulu apa yang diinginkan orang Mo-kauw yang tidak terkalahkan itu, mereka ingin kita melakukan apa?"
Beng To sudah kembali ke atas kain yang ada di pundak orang-orang suku Biauw, kedua tangannya melayang, sorakan riuh segera berhenti. Pelan-pelan dia berkata.
"Aku sudah memilih tempat, aku akan meninggalkan gambar kemudian aku akan mengunjungi beberapa perkumpulan besar di Tionggoan, aku harap setelah membereskan pekerjaanku, kalian harus bersiap-siap membangun!"
"Tenanglah, apa yang sudah kami janjikan akan kami melaksanakan!"
Kata Ci-liong-ong.
"Dengan kondisi tenaga dan dana perkumpulan Tionggoan sekarang, itu hal yang mudah didapat!"
Kata Beng To.
"Tenanglah!"
Kata Ci-liong-ong.
"Apa yang harus kukatakan?"
Beng To berpikir sebentar baru berkata lagi.
"Terima kasih!"
Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
Kata-katanya terdengar sangat sungkan tapi tawanya penuh penghinaan.
Semua pesilat golongan putih marah mendengar tawanya itu tapi apa boleh buat, keahlian mereka di bawah orang yang menertawakan mereka.
Lukisan gedung yang akan dibangun diterima oleh Ci-liong-ong, setelah Beng To dan lain-lain turun gunung mereka baru membuka lukisan itu.
Begitu melihat lukisan itu mereka terkejut dan berseru.
"Astaga!"
Giok-koan Tojin dan lain-lainnya segera mendekat, setelah melihat lukisan itu mereka benar-benar terkejut.232 Lukisan itu sangat bagus dan teliti, sampai-bahan-bahan dan campuran bangunan pun tertulis semua, termuat terhitung dengan jelas, dan cara membangun pun tertulis jelas di sana.
Itu bukan bangunan ala Tionggoan, hanya melihat denahnya sudah dapat dirasakan kemegahan gedung ini.
Ci-liong-ong melihat lukisan itu sekilas dan berkata pelan-pelan.
"Denah bangunan ini dibuat dengan teliti juga menghabiskan waktu yang sangat panjang, orang yang merancang bangunan ini pasti bukan orang Tionggoan!"
"Apakah kau menduga Beng To orang Biauw itu bisa merancang rumah?"
Tanya Thi Gan.
"Dia tidak terlihat seperti orang yang bisa merancang dan menggambar bangunan!"
Kata Ci-liong-ong.
"Dia dari suku bangsa Biauw, dia juga murid Mo-kauw dari negeri barat."
"Apakah ini bangunan dari negeri barat?"
Tanya Thi Gan.
"Sepertinya begitu!"
Sorot mata Ci-liong-ong tampak berputar.
"aku merasa aneh, sampai sekarang Mo-kauw dari barat belum muncul hingga saat ini!"
"Mungkin sesudah beberapa kali dipukul kalah oleh dunia persilatan Tionggoan, maka mereka tidak percaya diri!"
Jelas Giok-koan Tojin.
"Atau mereka mempunyai rencana busuk, diam-diam menyiapkan segalanya, bila Beng To kalah mereka akan segera bertindak!"
Kata Liu Sian-ciu.
"Aku juga merasa seperti itu!"
Kata Ci-liong-ong.
"setelah mengalami beberapa kali kegagalan, mereka pasti akan lebih berhati-hati!"
"Pantas kau selalu melarang kita bergabung untuk menghantam Beng To!"
Kata Giok-koan Tojin.233 Dengan santai Ci-liong-ong berkata.
"Aku menentang karena Beng To selalu bertarung sendirian!"
"Apakah orang-orang Mo-kauw diam-diam.."
"Ini hanya dugaan, sebab gaya Mo-kauw selalu seperti itu, kalau mereka tetap seperti itu berarti mereka tidak percaya kepada Beng To, kalau Beng To sampai kalah mereka diam-diam akan mundur dan menunggu kesempatan datang lagi."
Tiba-tiba Ci-Liong-ong "
Kita tidak perlu sembarangan menduga-duga, orang-orang Mo-kauw muncul atau tidak sekarang apa bedanya, bukankah Beng To sudah mendapat kemenangan dari kita semua?
Giok-koan Tojin terdiam, Liu Sian-ciu bertanya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, apakah benar kita harus pergi ke Kiu-hoa-san untuk membangun gedung yang dimintanya?"
"Kita sudah berjanji untuk melakukannya!"
Kata Ci-liong-ong sambil tertawa.
"apakah kita melakukan hal yang salah?"
Liu Sian-ciu terpaku, Pek-jin Taysu menyela.
"Walau bagaimana semua ini bagi kita merupakan semacam tenaga untuk membangitkan tekad berjuang!"
Ci-liong-ong menatap langit dan tertawa, dia setuju dengan apa yang dikatakan Pek-jin Taysu, membangitkan semangat juang, apakah akan berhasil?
Beng To bukan hanya sudah mengalahkan dia, juga memukul hancur kepercayaan dirinya.
Bagaimana dengan yang lain?234 Saat Wan Fei-yang kembali ke Bu-tong-san, Beng To sudah meninggalkan Bu-tong-san hampir sebulan lamanya.
Bersamaan waktu Ci-liong-ong dan lain-lainnya juga telah meninggalkan Bu-tong-san.
Murid-murid Bu-tong-pai yang pergi ke Kiu-hoa-san untuk membantu membangun gedung itu pada hari ke-3 baru berangkat.
Ruangan utama gedung itu sudah ditentukan.
Berarti hari itulah hari di mana Mo-kauw dari negeri barat masuk ke Tionggoan.
Tampak semua tindakan Beng To sudah direncanakan dan diatur dengan rapi, pastinya semua itu adalah ide Sat Kao.
Walau pun sekarang Sat Kao sudah mati tapi Beng To tetap mengikuti rencana semula, apakah karena dia menghormati gurunya ataukah masih ada rencana lainnya, hanya dia sendiri yang tahu.
Orang-orang dunia persilatan Tionggoan atau pesilat golongan sesat semua mengira di belakang Beng To ada banyak pesilat tangguh dari Mo-kauw, mereka menunggu waktu yang tepat untuk bertindak, setelah beberapa kali gagal mereka bisa menyembunyi kan kekuatan mereka.
Bila kemunculan Beng To adalah gerakan awal dari Mo-kauw, apa gerakan berikutnya?
Semua orang dunia persilatan mengkhawatirkan keadaan ini.
Tidak terkecuali golongan sesat.
Di pagi hari angin masih berhembus dingin, siang dan malam Wan Fei-yang terus melakukan perjalanan, akhirnya dia sampai juga di Bu-tong-san, hatinya terasa agak tenang.
Sepanjang jalan banyak berita yang sudah didengarnya.
Semua mengatakan Beng To telah membawa banyak orang-orang golongan sesat naik ke Bu-tong-san, mereka membuka puasa tidak membunuh, sampai ayam dan anjing pun tidak235 ketinggalan.
Awalnya dia curiga kalau gosip itu hanya dibesar-besarkan, tapi setelah beberapa kali mendengar, rasa percaya dirinya mulai goyah karena kesan Beng To terlalu buruk untuknya.
Setibanya di daerah dekat Bu-tong-san, gosip seperti itu tidak terdengar lagi dan di sana terlihat sangat tenang, walaupun mereka hanya rakyat kecil tapi bila di Bu-tong-san telah terjadi sesuatu mereka pasti akan terganggu karenanya.
Setelah masuk wilayah Bu-tong-pai, suasana memang tenang tapi ketenangan ini bukan ketenangan biasanya.
Setelah sampai di dekat batu Kie-kiam-yan (batu tempat melepas pedang) tidak ada seorang pun murid Bu-tong-pai yang berjaga, untuk pertama kalinya Wan Fei-yang melihat keadaan seperti ini, dia menjadi sangat khawatir.
Sesudah lama melakukan perjalanan dan tidak beristirahat, sebenarnya dia sudah merasa sangat lelah, dia sadar bila sudah terjadi sesuatu pun, cepat-cepat ke sana percuma saja, tapi dia tetap ingin cepat-cepat tiba di Bu-tong-san.
Baca Juga: Suling Pusaka Kumala 3
Baca Juga: Si Rase Hitam Chin Yung