Eps 6 Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
Sesampainya di Sam-goan-kong, hati Wan Fei-yang yang dingin mulai terasa hangat, begitu melihat murid-murid Bu-tong-pai sedang berlatih ilmu silat, hatinya baru merasa agak tenang.
Pek-ciok Tojin sendiri yang mengawasi murid-murid Bu-tong-pai berlatih, karena Wan Fei-yang datang dari arah yang memunggunginya maka dia tidak tahu bahwa Wan Fei-yang sudah berjalan mendekatinya, tapi dia melihat murid-murid Bu-tong-pai satu per satu melotot dan berhenti bergerak, lalu bengong di tempat mereka masing-masing.236 Hatinya bergetar, dia segera menoleh tadinya dia mengira ada musuh kuat yang akan menyerang Bu-tong-pai, setelah melihat yang datang adalah Wan Fei-yang, dia pun segera terpaku.
"Wan Fei-yang..."
Murid-murid Bu-tong-pai di saat yang sama tiba-tiba berteriak, kemudian berlari ke arahnya.
Pek-ciok Tojin pun tidak terkecuali, pertama dia berlari ke hadapan Wan Fei-yang, mencengkeram pundaknya, rasa haru membuatnya tidak bisa bicara.
Murid-murid Bu-tong-pai mengelilingi Wan Fei-yang, ada yang matanya berkaca-kaca, ada yang tidak bisa berkata apa-apa, sebab Wan Fei-yang adalah satu-satunya harapan mereka, tadinya mereka sudah putus asa.
"Ciang-bun Suheng..."
Panggil Wan Fei-yang.
Pek-ciok Tojin tertawa, tadinya dia ingin menangis tapi yang keluar malah tawa, tawa terharu bukan menangis.
Tawanya malah memancing murid-murid Bu-tong-pai lainnya menangis.
Wan Fei-yang melihat mereka, dia pun ikut terharu tapi dia berusaha menguasai diri, sampai semua sudah tenang, baru berkata.
"Aku sudah tahu masalah Beng To!"
"Semua sudah berusaha!"
Jelas Pek-ciok Tojin pelan-pelan. Wan Fei-yang mengangguk.
"Dengan kemampuan ilmu silatnya sulit ada orang yang bisa mengalahkan dia!"
Kemudian dia bertanya.
"Mengapa aku tidak melihat... Pek-ciok Tojin tahu dia menanyakan Kouw-bok, dengan sedih dia menjawab.
"Dia sudah roboh di tangan Beng To!"237
"Seharusnya aku tidak mengganggunya, biar dia hidup tenang di dasar lembah itu!"
"Yang paling membuatnya sedih adalah kau kalah di tangan Beng To..."
Wan Fei-yang menarik nafas, teringat pada percakapan mereka sebelum Kouw-bok kemari. Orang persilatan akan mati! Dia menarik nafas dan berkata.
"Tenaga dalam dan kemampuanku sudah diambil Beng To, tapi aku masih bisa bertahan hidup, perubahan Thian-can-sin-kang memang ajaib, tapi boleh dikatakan aku belum waktunya harus mati."
"Thian-can-sin-kang membuat orang mati bisa hidup kembali, apakah kau sudah menguasai..."
"Selama masih ada sedikit kesempatan hidup, perubahan itu akan terjadi!"
Wan Fei-yang melihat langit, Pek-ciok Tojin ikut melihat ke atas.
"Langit melindungi Bu-tong!"
Wan Fei-yang tertawa kecut, Pek-ciok Tojin bertanya.
"Mengenai membangun gedung, apakah kau sudah mendengarnya?"
"Katanya semua orang setuju membangun gedung untuknya?"
Pek-ciok Tojin mengangguk.
"Ilmu silat kita berada di bawalinya, mau tidak mau harus menyetujui keinginannya, murid-murid Bu-tong-pai mulai berangkat ke sana!"
"Ternyata begitu, tadi aku masih merasa khawatir mengapa murid-murid Bu-tong-pai hanya sedikit..."
"Apakah kau merasa aneh murid-murid Bu-tong-pai yang menjaga Kie-kiam-gan sudah ditarik? Aku melakukan semua ini karena ada tujuan."
"Aku hanya berpikir dari pada bertahan di sana lebih baik kembali ke kuil untuk berlatih ilmu silat."
Wan Fei-yang mengangguk.
"Menurunkan pedang di sana hanyalah satu formalitas, bila Bu-tong-pai ingin dihormati harus punya kekuatan sendiri, jangan melihat angkatan tua kita yang dulu membuatnya. Suheng bisa mengerti, aku yakin Bu-tong-pai pasti akan punya hari baik."
"Apakah Beng To tahu Sute hidup kembali?"
Dia bertanya tapi menjawab sendiri.
"tampaknya dia tidak tahu, kalau tidak, dia akan menunggumu di sini."
"Sekarang kemana dia?"
"Mungkin ke Kai-pang, apakah kau ingin mengejar dan mengajaknya bertarung?"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Aku akan menunggunya di gedung baru yang dia bangun!"
"Apakah kau tidak yakin bisa mengalahkannya?"
"Tidak..."
Wan Fei-yang sedikit mengeluh.
"Dengan Ih-hoa-ciap-bok dia menghisap tenaga dalam orang lain, maka kemampuannya terus bertambah, apakah ada batas tertentu, aku pun tidak tahu jelas, kalau tidak..."
"Kau harus segera mencarinya, kalau tidak, jarak antara ilmu silat kalian akan semakin jauh!"
"Kalau begitu mungkin ilmu silatnya sudah berada di atasku?"
"Kalau kau bisa segera menemukannya, kau bisa menang dengan mantap!"239
"Aku hanya ingin bertarung dengannya secara adil! Hanya dengan cara begitu baru bisa mencuci bersih nama jelek Bu-tong-pai yang dikatakan sudah mencuri ilmu lweekang Mo-kauw. Karena ulah seorang murid Bu-tong-pai maka murid Mo-kauw bisa menguasai ilmu iblisnya, sebenarnya hutang ini sudah bisa diperhitungkan dengan jelas."
Pek-ciok Tojin mengangguk, tanya Wan Fei-yang.
"Setelah Hoa-san-pai, apakah Beng To masih sembarangan membunuh?"
"Tidak, karena itu pula semua orang tidak bergabung untuk melawannya!"
Jawab Pek-ciok Tojin dingin.
"inilah salah satu kepintarannya."
Wan Fei-yang bertanya.
"Dia memilih Kiu-hoa-san untuk membangun gedung, apa tujuannya?"
"Ci-liong-ong menduga, mungkin Kiu-hoa-san adalah tempat di mana suku asing tinggal, di sana dibangun gedung agar lebih terasa ramah."
Wan Fei-yang tidak bertanya lagi karena rasa lelah sudah menyerang hatinya. Pek-ciok Tojin segera bertanya.
"Apakah kau sudah melakukan perjalanan jarak jauh?"
"Tidak jauh juga! Tapi aku ingin pergi ke suatu tempat" . Pek-ciok Tojin tahu Wan Fei-yang ingin pergi ke mana, karena dia tahu Wan Fei-yang seperti apa karena mereka sudah lama bergaul. Kuburan baru, kuburan baru atau lama tetap melambangkan kematian. Wajah dan suara Kouw-bok masih terngiang dengan jelas, walaupun saat mereka berkumpul tidak lama tapi240 kesan orang tua itu kepada Wan Fei-yang begitu mendalam, apa lagi saat dia merasa berada di dunia persilatan tapi tidak bisa berbuat apa-apa, sekarang Wan Fei-yang juga seperti itu. Kalau Kouw-bok masih tinggal di lembah itu tidak diragukan lagi dia akan melewati masa tuanya dengan tenang, itu jelas hidupnya tidak ada artinya, paling sedikit Kouw-bok sudah mempunyai perasaan seperti itu. Mungkin dia sendiri sudah bosan hidup di dasar lembah yang tenang itu. Hanya saja bila Wan Fei-yang tidak muncul, mungkin dia tidak akan naik dan mengabdikan dirinya kepada Bu-tong-pai. Walaupun dia berhak untuk memilih, tidak ada seorang pun yang akan memaksanya, tapi saat melihat kuburannya, Wan Fei-yang tetap merasa bersalah. Saat Kouw-bok kembali ke Bu-tong untuk memimpin Bu-tong, Wan Fei-yang sama sekali tidak menyangka bahwa kematian akan begitu cepat menjemput Kouw-bok. Sambil berjalan Pek-ciok Tojin menceritakan tentang pertarungan sengit saat itu, Wan Fei-yang bisa mengerti apa yang dipikirkan Kouw-bok waktu itu. Di depan batu nisan Kouw-bok dia pun berlutut, menyembah 3 kali, hatinya benar-benar terasa kacau. Pek-ciok Tojin melihatnya.
"Orang yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup kembali, Sute tidak perlu merasa terlalu sedih!"
"Memang Susiok-kong juga sangat kukuh, kematian kadang-kadang tidak bisa membereskan masalah!"
Pek-ciok Tojin menarik nafas.
"Kalau dia sudah menentukan jalan hidupnya, tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya bukan?"
"Bu-tong-pai benar-benar membutuhkan tetua seperti dia,"
Wan Fei-yang teringat pada Yan Cong-thian dan ayahnya Ci-siong Tojin. Pek-ciok Tojin mengangguk.
"Karena Kouw-bok, semua orang jadi bersemangat, dia sangat menguasai ilmu silat Bu-tong-pai, setelah memberi pengertian semua masalah ilmu silat yang sulit bisa diatasi, karena itu ilmu silat murid-murid Bu-tong-pai maju pesat."
"Susiok-kong tinggal di dasar lembah selama puluhan tahun, tidak ada seorang pun yang mengerti jelas ilmu silat perguruannya sebaik dia."
"Susiok-kong tidak bosan-bosannya mengajar dan tidak membedakan murid-murid Bu-tong!"
Pek-ciok Tojin masih terus bercerita.
"aku percaya inilah cita-citanya, dia berharap murid-murid Bu-tong-pai dari atas sampai bawah bisa kompak berlatih dan bisa mengembangkannya!"
"Bu-tong-pai sudah beberapa kali mengalami musibah, banyak pesilat tangguh menunjuk ke Bu-tong-pai, kita harus ulet dan kuat baru bisa berdiri di dunia persilatan!"
Wan Fei-yang menarik nafas.
"Semua murid Bu-tong-pai mengerti, mereka tidak bisa hidup karena nama besar orang yang sudah terkenal di Bu-tong-pai!"
Kata Pek-ciok Tojin.
Sebenarnya Bu-tong-pai sudah beberapa kali kalah oleh Bu-ti-bun, karena Tokko Bu-ti menguasai dunia persilatan maka Bu-tong-pai telah dianggap kalah di mata semua orang, itu wajar dan sudah biasa, tidak ada yang peduli!
Yang pasti selain Bu-tong-pai, perkumpulan lainnya tidak ada yang berani melawan Bu-ti-bun.
Bu-tong-pai yang beberapa kali kalah malah jadi lambang kebenaran, paling sedikit golongan sesat dan siluman menganggapnya seperti242 itu, perkumpulan lurus lain tidak mengaku juga tidak membantahnya.
Bu-ti-bun sangat kuat, kalau hanya menunjuk Bu-tong-pai, perkumpulan mana yang mau ikut campur, mereka takut akan terkena imbasnya, karena Wan Fei-yang telah mengalahkan Tokko Bu-ti maka Bu-tong-pai secara otomatis menggantikan posisi Bu-ti-bun.
Kekuatan Bu-tong-pai seperti apa?
Murid-murid Bu-tong-pai sangat mengerti hal ini, sebenarnya mereka hanya mengandalkan Wan Fei-yang seorang.
Kemunculan Kouw-bok benar-benar membuat mereka senang, mereka benar-benar membutuhkan seorang tetua untuk bertahan dari badai dunia persilatan, maka di bawah petunjuk Kouw-bok murid-muird Bu-tong-pai berubah menjadi rajin.
Beng To naik Bu-tong-san dan memberi tahu Wan Fei-yang sudah kalah di tangannya, bagi murid Bu-tong-pai itu adalah pukulan besar, tapi mereka masih mempunyai Kouw-bok.
Tapi Kouw-bok pun akhirnya roboh, tentu saja murid-murid Bu-tong jadi sangat sedih, tapi mereka tidak loyo, seperti perkataan Pek-ciok Tojin mereka mengerti semangat tetap harus ada.
"Itulah kata-kata Susiok-kong!"
Kata Pek-ciok Tojin. Apa karena ini maka Susiok-kong memilih bertarung mati-matian dengan Beng To?"
"Bagaimanapun juga, semua orang terharu dengan semangat Susiok-kong!"
Kata Pek-ciok Tojin menarik nafas.
"Mungkin kau tidak tahu, semua orang datang dengan sukarela kemari untuk berlatih!"
"Baik sekali...."243
"Yang ingin pergi dari awal sudah pergi, yang tidak pergi tidak merasa ragu lagi, mereka rela hidup atau mati bersama Bu-tong-pai, walau tidak ada yang bisa diandalkan, tapi semangat harus bangkit, hanya kita yang harus mempunyai harapan ke depan. Untung kau pulang dengan bersemangat, membuat semua orang bertambah percaya diri!"
Kata Pek-ciok Tojin. Dia menyambung lagi.
"Beng To secara berturut turut mengalahkan pesilat dari semua perkumpulan yang ilmu silatnya sudah sangat tinggi, mungkin hanya kau yang sanggup mengalahkan dia!"
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu, tapi Pek-ciok Tojin sudah berkata lagi.
"Di sini hanya ada kita berdua, jadi kau tidak perlu merasa sungkan!"
"Di luar langit masih ada langit lain, masih ada orang yang berilmu lebih tinggi lagi, aku belum tentu bisa mengalahkan Beng To, orang yang bisa mengalah kan Beng To tentu masih banyak..."
"Tapi pesilat tangguh seperti yang kau katakan sampai sekarang belum muncul!"
"Apakah kau punya rasa percaya diri bisa mengalahkan Beng To?"
"Ada atau tidak, aku tetap akan mencobanya!"
"Sute..."
"Suheng harus tahu aku bukan orang yang senang bicara sungkan!"
"Walaupun di sini hanya ada kita berdua..."
Kata-katanya belum selesai dari balik semak-semak kiri muncul 2 orang laki-laki separo baya, mereka mengenakan baju hitam dan wajah mereka terlihat mirip.
Pek-ciok Tojin melihat wajah kedua orang itu.244
"Kalian berdua adalah..."
"Dua bersaudara Co dan Yu dari Tong-bun terpaksa masuk ke tempat terlarang Bu-tong-pai, harap maafkan kami!"
Kata sepasang laki-laki berbaju hitam itu.
"Apakah kalian menerima kabar dari sesama murid Tong-bun dan datang kemari?"
"Apakah Wan-tayhiap melihat orang-orang kami?"
Tanya Tong Thian-co.
"Hanya orang kalian yang berjalan dengan jarak denganku, aku buru-buru kemari..."
Wan Fei-yang mengangguk.
"Kami mengerti, di tengah perjalanan murid-murid Tong-bun tidak berani mengambil keputusan!"
Kata Tong Thian-yu.
"Kalian ingin tahu..."
"Mengenai beradaan ketua Tong-bun!"
Tong Thian-yu menarik nafas.
"Tetua kami telah dibunuh oleh Sat Kao dan Beng To, sudah dikuburkan di daerah Biauw, kami sudah menerima kabar ini dari ketua kami melalui surat yang diantar burung merpati. Seharusnya ketua kami sudah berada di Tionggoan, tapi setelah kami menunggu lama tidak terdengar kabar beritanya."
"Demi menolongku, dia kembali ke daerah suku Biauw..."
Jelas Wan Fei-yang.
"Sekarang dia ada di..."
"Dia sudah meninggal,"
Suara Wan Fei-yang terdengar sangat berat.
"Apakah Beng To yang membunuhnya? tanya dua bersaudara Tong Thian-co dan Tong Thian-yu.245
"Dia kalah bertarung dengan Beng To dan akhirnya tertangkap, lalu dengan senjata rahasianya dia berusaha bunuh diri!"
Jawab Wan Fei-yang jujur.
Walaupun 2 bersaudara ini telah menduganya tapi reaksi mereka terlihat sangat terharu.
Kesetiaan murid-murid Tong-bun sangat terkenal di dunia persilatan.
Sebelumnya mereka sudah berusaha mencari keberadaan tetua mereka dan Tong Ling.
"Aku mengebumikan Tong Ling di daerah Biauw!"
Jelas Wan Fei-yang.
"Terima kasih atas bantuan Wan-tayhiap..."
Tong Thian-yu dan Tong Thian-co pun berlutut.
"Dia meninggal gara-gara aku, aku harus melakukan sesuatu untuknya, aku harus membuat perhitungan dengan Beng To!"
"Murid Tong-bun rela membantu!"
"Kata-kata kalian terlalu berat!"
Dengan bersungguh-sungguh Wan Fei-yang berkata lagi.
"aku mengerti isi hati murid-murid Tong-bun, aku juga tidak memandang remeh murid-murid Tong-bun, tapi ilmu silat Beng To berbeda dengan yang lain, semakin banyak orang semakin menguntungkan baginya!"
Tiba-tiba Tong Thian-yu bertanya.
"Apakah ilmu silat orang itu mirip dengan Wan-tayhiap?"
"Thian-can-sin-kang berasal dari perkumpulannya, itu sudah bukan rahasia lagi!"
"Memang senjata rahasia kami tidak bisa membantu Thian-can-sin-kang milik Wan-tayhiap, tentu juga bagi Beng To, kami yang tadinya ingin membantu malah akan membuat Wan-tayhiap terganggu!"
Kata Tong Thian-co.246
"Tapi bila membutuhkan bantuan, kami tetap akan ikut membantu!"
Kata Tong Thian-yu. Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Bila aku mati, semua orang harus bertoleransi, senjata rahasia Tong-bun memang dibutuhkan, mungkin perubahannya akan membuat kalian menang."
"Kami sudah tahu apa yang harus kami lakukan!"
Ucap Tong Thian-yu.
"Apakah ketua kami meninggalkan pesan?"
Tanya Tong Thian-co.
"Kalian harus kompak dan bersatu, sama-sama memuliakan kejayaan perkumpulan!"
Ini adalah isi hati Wan Fei-yang, tapi dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh seperti pesan Tong Ling saja.
Tong Thian-yu dan Tong Thian-co tidak menaruh curiga, setelah mengucapkan terima kasih mereka pun meninggalkan tempat itu, kedudukan mereka berdua di atas Tong Ling, dari kecil mereka melihat Tong Ling tumbuh dewasa dan mereka sangat hafal dengan sifatnya, mereka juga tahu Tong Ling menyukai Wan Fei-yang.
Mereka tidak bisa melarang tindakan Tong Ling, belakangan mereka mengikuti jejak Tong Ling, mereka berharap Wan Fei-yang bisa melindungi Tong Ling.
Sebelum bertemu dengan Wan Fei-yang mereka masih terus berharap.
Setelah melihat Tong Thian-co dan Tong Thian-yu pergi, Wan Fei-yang bertambah sedih lagi.
Pek-ciok Tojin baru bertanya.
"Menurut perkiraan Sute, tindakan apa yang akan mereka ambil?"247
"Berlatih ilmu senjata rahasia membutuhkan kesabaran luar biasa, ilmu senjata rahasia mereka tingkatnya lebih tinggi dari Tong Ling, mereka pasti orang-orang yang sangat tenang dan tidak akan bertindak gegabah!"
"Pasti akan ada suatu tindakan!"
"Berharap sesudah aku mati!"
"Berharap?"
Kata Pek-ciok Tojin, dengan aneh melihat Wan Fei-yang.
"Aku tidak bisa melarang atau menguasai tindakan orang lain, kalau bisa, banyak hal tidak akan terjadi!"
Kata Wan Fei-yang sambil menundukkan kepala. Pek-ciok Tojin juga ikut menundukkan kepala, kemudian Wan Fei-yang dengan suara serak berkata.
"Aku percaya pada nasib!"
Nasib menentukan semuanya bukan manusia yang bisa mengubahnya.
Pek-ciok Tojin merasakan nada bicara Wan Fei-yang yang tidak berdaya juga merasakan hati Wan Fei-yang yang galau, seakan lebih tua darinya yang menjadi Suheng nya.
Tidak lama kemudian Wan Fei-yang baru bicara.
"Tapi aku percaya bantuan yang maha kuasa dan kekuatan sendiri, kalimat ini terus meronta-ronta di dalam hatiku."
"Meronta?"
Pek-ciok Tojin tertawa kecut.
Sebenarnya dia juga punya perasaan seperti itu, hanya saja tidak setajam Wan Fei-yang, dan kehidupannya tidak berliku-liku seperti Wan Fei-yang, bisa dikatakan hidupnya sangat datar.
Perlahan Wan Fei-yang mengangkat kepala.
"Kadang-kadang aku merasa bahwa aku hanya sebuah mainan, karena ini pula maka masalah yang tadinya tenang berubah menjadi beraneka warna dan beraneka ragam..."
"Bagaimanapun hidupmu lebih berarti dibandingkan orang lain!"
Kata Pek-ciok Tojin.
"Tapi aku lebih rela hidup tenang dan hidup wajar!"
Kata Wan Fei-yang sambil tertawa.
"Kalau kau percaya pada nasib, kau harus berterima kasih karena ingin berusaha, kau harus berusaha sampai akhir dan semampu yang kau bisa!"
"Maksudku memang seperti itu!"
Kata Wan Fei-yang sambil berdiri.
Angin kencang meniup bajunya, seperti ingin meniupnya ke atas langit, dia mempunyai perasaan seperti itu, tapi kedua kakinya dengan mantap menapak di sana.
Pastinya angin tidak akan meniupnya, Pek-ciok Tojin melihat Wan Fei-yang, dia menarik nafas.
"Kau benar-benar percaya pada nasib!"
"Aku merasa takut pada nasib,"
Wan Fei-yang menatap langit.
"aku hanya bisa meronta demi diriku sendiri."
"Apakah kau bisa?"
"Tidak bisa,"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"kalau tidak, aku tidak akan merasa seperti sebuah mainan, tapi kalau tidak percaya diri, hidup ini tidak ada artinya."
"Kalau kehidupanku seperti dirimu, mungkin aku bisa lebih mengerti jalan pikiranmu."
"Kehendak Langit sulit diduga, perasaan tidak bisa diapa-apakan, benar-benar sulit diterima!"
"Hati ingin melakukannya tapi tenaga tidak sampai, itu juga salah satu jenisnya!"
Kata Pek-ciok Tojin.
Wan Fei-yang terdiam dan menarik nafas.
Angin kencang terus berhembus, daun yang berjatuhan tampak beterbangan.
Sekarang sudah musim gugur, dalam suasana seperti ini hati siapa pun semakin sedih.249 Wan Fei-yang mencengkeran sebuah daun yang gugur sambil menarik nafas.
"Hidup manusia di alam ini banyak waktu yang tidak bisa diatur olehnya sendiri!"
Pek-ciok Tojin menatapnya seperti sedang melihat orang asing, kata-kata seperti ini biasanya bukan kata-kata dari seorang Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang melepaskan cengkeramannya, angin meniup daun itu hingga terbang dalam pusaran angin.
Bersambung
Jilid 3 Pustaka Koleksi .
Bpk.
Gunawan Aj.
Image Source .
Koh Awie Dermawan Firt Share in .
Kolektor Ebook Pringsewu 1 Desember 2018 16.35 PM12 Judul .
KEMBALINYA ILMU ULAT SUTRA Karangan .
Huang Ying Terjemahan .
Liang Y L Di edit/ sadur .
Adhi H Penerbit .
Tunas Mandiri Jaya Edisi Pertama .
Juli 2010 I S B N / K D T .
978-979-1489-50-8
Jilid KE TIGA Di larang mengutip, tokopi, memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit HAK CIPTA DI LINDUNGI UNDANG-UNDANG3 KEMBALINYA ILMU ULAT SUTRA PERSEMBAHAN .
SEE YAN TJIN DJIN4 KATA-KATA PENULIS Nama, asal usul Wan Fei-yang diambil dari lagu "Tai-hong-ke"
Yang diciptakan oleh Raja Han-cau-cu, Liu Pang.
Tai-hong-ke, Wan-fei-yang artinya Angin topan berhembus, awan beterbangan.
Nama yang tidak biasa, orang yang tidak biasa, dan kehidupan yang menyedihkan dan tidak biasa.
Cerita legendaris mengenai orang ini sudah 3 kali aku menulisnya.
"Thian-can-pian"
Lahir dan tumbuh dalam diri Wan Fei-yang, 3 kali bertarung dengan Tokko Bu-ti, akhirnya menjadi seorang pesilat tidak terkalahkan.
"Thian-can-cai-pian"
Menceritakan asal-usul Thian-can-sin-kang dan cerita mengenai kehidupan Wan Fei-yang.
Masih ada cerita "Thian-liong-koat" (Irama naga langit), menceritakan tentang kematian Wan Fei-yang sebagai penerus Thian-can-pian.
Cerita ini seharusnya sudah lama ditulis, tapi sampai sekarang baru bisa ditulis.
Perasaan hati yang sedang kacau membuat huruf-huruf dan kata-katanya banyak berpengaruh.
Kalau bukan karena perasaan hati menjadi baik, aku tidak akan menulis cerita ini lagi.
Bagaimana perasaan hatiku sekarang ini?
Kacau dan sulit diungkapkan, merasa sepi dan sunyi, dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Pengetahuan dan pengalaman selama beberapa tahun ini, bagi pemuda seperti aku sudah terlalu banyak juga terlalu kejam, tapi aku bisa menyesuaikannya, sehingga aku5 tidak melepaskan niat menulis, akhirnya aku mengangkat pensil dan menulis lagi bagian terakhir roman Wan Fei-yang.
0-0-06 KEMBALINYA ILMU ULAT SUTRA
Jilid KE TIGA BAB 15 Di kabupaten Ceng-yang di bagian selatan ada sebuah gunung bernama Kiu-d-san, tinggi gunung mencapai ratusan tombak, di sana ada sembilan gunung yang berdiri berdempetan, seperti sebuah bunga teratai.
Sewaktu penyair terkenal melancong ke Kiu-hoa-san, bersama penyair satunya lagi yang bernama Sang-bun, mereka menciptakan sebuah puisi.
Puisi itu sebuah puisi biasa, tapi Li-pek adalah seorang penyair yang sangat terkenal, hal ini tidak ada seorang pun yang memungkirinya, gunung Kiu-ci-san yang tidak terkenal setelah dibuatkan puisi oleh seorang penyair terkenal gunung itu pun ikut menjadi terkenal.
Yang pasti gunung itu sendiri memang mempunyai keistimewaan tersendiri.
Lekukan sungai mencapai Ta-tong, dari Ta-tong berjalan darat ke Ceng-yang, dari Ceng-yang menuju utara, mulai masuk ke Kiu-hoa-san.7 Kiu-hoa-san terkenal karena penyair Li-Pek, mendapatkan nama itu karena Kim Jiau-ku.
Kim Jiau-ku adalah dewa tanah.
Empat gunung terkenal di Tiongkok, Bu-tai-san adalah tempat dewa Si Bun-su, Go-bi-san adalah tempat dewa Po-lam, Po-tuo -san adalah tempat dewi Kwan-im, dan Kiu-hoa-san adalah tempat dewa tanah.
Kim Jiau-ku adalah seorang hweesio tinggi dari barat, beliau juga pangeran Sin-lok, pada zaman dinasti Tong, dia bertapa selama 10 tahun lebih, dan pada akhirnya menjadi dewa bumi.
Kim Jiau-ku sebenarnya juga seorang penyair, dia bisa membuat puisi Tionggoan.
Pada zaman dinasti Tong, Cukat Ku membangunkan untuknya sebuah rumah, muridnya pun semakin banyak, dia meninggal saat sedang duduk, setelah meninggal rohnya berbeda dengan orang lain, wajahnya terlihat sangat mirip dengan dewa bumi yang terdapat dalam kitab suci Budha, maka orang-orang percaya kalau beliau adalah dewa bumi yang terlahir kembali.
Karena itu kerajaan Tong memberi nama kuil nya 'Kota Hoa' sejak dinasti Tong, Kiu-hoa-san sudah menjadi tempat suci bagi dewa bumi.
Kim Jiau-ku adalah dewa bumi yang terlahir kembali, dewa bumi adalah dewa yang bagaimana?
Menurut catatan dalam kitab suci Budha, dewa itu adalah dewa Sakyamuni, menolong semua orang yang ada di dunia ini dan sering muncul di neraka untuk menolong orang yang disiksa.
Orang menyebutnya penanggung jawab roh halus di bawah tanah.8 Catatan dewa bumi dalam kitab suci adalah seorang dewa dengan pembawaan tenang dan tidak bergerak seperti bumi, diam berpikir dalam-dalam, dan teliti seperti khazanah, maka dia disebut sebagai dewa bumi.
Mo-kauw pertama kali masuk ke Tionggoan bertekad harus menang, maka tempat yang mereka inginkan menjadi landasan di mana mereka sangat teliti memilih, golongan sesat menganjurkan Kiu-hoa-san.
Sekelompok pesilat sesat ini adalah kelompok orang yang tidak mempunyai pengetahuan dan ingin membuat dunia kacau, mereka hanya tahu kalau Kim Jiau-ku adalah hweesio dari negeri barat dan dari suku berbeda.
Tentang Sin-lok berada di barat atau timur mereka tidak peduli.
Hweesio suku lain dari barat tinggal di Tionggoan dan berkembang menjadi besar, ini sangat cocok dengan keinginan Mo-kauw dari barat.
Kata-kata Mo-kauw barat datang dari neraka, Kim Jiau-ku merupakan sebutan sebagai penanggung jawab roh halus.
Tapi Mo-kauw barat tidak banyak mengetahui tentang budaya Tionggoan juga tidak terpikir kalau itu semua adalah embel-embel golongan sesat di Tionggoan.
Begitu mendengar nama itu mereka menganggap Kiu-hoa-san adalah tempat yang paling cocok, maka mereka pun mulai membangun.
Para pesilat Tionggoan dari aliran lurus mulai merasa aneh, awalnya mereka mengira yang datang adalah hweesio Budha, tapi dengan cepat mereka mengerti ternyata bukan seperti itu.
Sewaktu membangun Kiu-hoa-san, Mo-kauw mulai bergerak, mereka berharap begitu bangunan selesai mereka pun bisa menguasai Tionggoan, dan perkumpulan besar di9 Tionggoan harus ada yang datang untuk mengunjungi dan memberi mereka selamat.
Tapi keinginan mereka semua gagal, seperti pepatah.
"Pohon besar roboh, kera-kera pun bubar."
Akhirnya rumah istimewa itu tidak selesai dibangun.
Ini adalah cerita lama, setelah itu Mo-kauw dari negeri barat beberapa kali menyerang Tiong-goan ingin menguasai dunia persilatan Tionggoan, tapi selalu gagal, maka istana yang dibangun di Kiu-hoa-san tidak pernah disentuh lagi.
Tapi sekarang cita-cita ini bisa dilaksanakan oleh seorang suku Biauw yang bernama Beng To.
Beng To adalah murid Mo-kauw, tapi dia tidak pernah mempunyai hubungan dengan orang-orang dari Mo-kauw, dia juga tidak tahu cara menghubungi mereka, ini adalah salah satu kegagalan gurunya, Sat Kao.
Sat Kao tinggal di daerah perbatasan suku Biauw untuk meneliti ilmu lweekang Mo-kauw, dia tidak tahu kapan baru bisa berhasil, maka dia tidak pernah menghubungi sesama anggota Mo-kauw lainnya.
Selain itu dua tempat itu berjarak sangat jauh, lalu lintas ke daerah Biauw pun tidak leluasa.
Walaupun masalah ini bisa beres, menghubungi temannya pun menjadi masalah.
Yang penting adalah kepercayaan diri.
Sat Kao sebenarnya adalah orang berbakat, tapi dia tidak mempunyai bahan berlatih ilmu lweekang Mo-kauw.
Dia heran dengan kemunculan Beng To, keberhasilan Beng To juga membuatnya terkejut, dalam kegembiraannya dia ingat harus menghubungi murid-murid satu perkumpulan dengannya, hanya satu hal yang belum terpikirkan olehnya.
...
kematiannya begitu cepat menjemput.10 Kalau dia tahu, dia akan cepat mengatur semuanya dengan baik tapi walau bagaimanapun dia tidak salah memilih murid.
Karena kematiannya Beng To tidak mengalami perubahan, dia tetap muncul membawa nama Mo-kauw.
Orang-orang dunia persilatan Tionggoan tidak tahu-menahu tentang hal ini.
Mereka mengira di balik Beng To ada banyak pesilat tangguh dari Mo-kauw, mereka sedang menunggu kedatangan anggota Mo-kauw dan siap bertindak.
Kalau sampai bangunan utama istana Beng To sudah jadi dan akan diadakan upacara, apakah para pesilat tangguh dari Mokauw akan muncul?
Banyak orang yang menaruh curiga.
Istana dibangun di gunung Thian-tai, di sana merupakan tempat dengan pemandangan paling indah di Kiu-hoa-san, sebuah sungai yang jernih mengalir melewati gunung.
Gunung bertumpuk, air sungai mengalir dengan deras, dan tanah hitam pekat menandakan subur, jurang pun terjal seperti ditepis pisau, dengan kedalaman mencapai ratusan tombak.
Semua ini seperti diukir oleh tangan manusia, yang paling aneh, pohon-pohon cemara hijau tumbuh di sela-sela bebatuan, tampak indah seperti bonsai.
Di atas gunung ada sebuah jurang, di sana tertulis.
"Bukan dunia nyata."
Artinya adalah di sana merupakan lingkungan dewa, tapi di mata orang-orang persilatan, di sana adalah tempat iblis.
Istana Beng To sudah selesai dibangun, bisa dikatakan istananya sangat megah, sayang tidak cocok dengan pemandangan sekitar seperti terbang menembus masuk dari langit.11 Bangunan model barat terlihat di gunung terkenal di Tionggoan benar-benar terasa aneh.
Semua sudah berada dalam dugaan Ci-liong-ong, tapi bila sudah berada dalam bangunan itu tidak hanya merasa aneh juga akan terasa tertekan.
Kai-pang dan perkumpulan lainnya ada yang datang, Beng To sudah mengelilingi Tionggoan, dia memang tidak terkalahkan.
Setelah istana selesai dibangun semua merasa sedih, Ci-liong-ong malah tertawa.
Dengan sorot mata heran semua orang menatapnya.
Giok-koan Tojin yang pertama tidak tahan.
"Aku tidak melihat ada yang pantas mem-buat kita senang?"
Kata Ci-liong-ong tertawa.
"Kita membangun istana ini mengikuti denah, bahan yang dipakai pun tidak jauh dengan yang ada di catatan, waktunya pun selesai sesuai perkiraan, perhitungannya sangat tepat, rencananya sangat sempurna, pertama kalinya aku mengalami hal ini juga melihat sendiri, benar-benar mengagumkan!"
"Dari sini terlihat bahwa sesuatu yang disiapkan sempurna dan dilakukan dengan betul, hasilnya akan terasa lebih besar, dari sini kita bisa banyak belajar."
"Inilah hal yang mengerikan dari Mo-kauw!"
Kata Pek-jin Taysu. Ci-liong-ong mengangguk.
"Gerakan Mo-kauw sangat teliti dan rahasia, kalau dikatakan tindakan Beng To tepat sesuai rencana, aku tidak percaya!"
"Tapi sampai sekarang orang-orang dari Mo-kauw belum ada seorang pun yang muncul, bukankah ini aneh?"
Tanya Pek-jin Taysu.
"Apa yang sedang mereka tunggu? Apakah keberhasilan Beng To belum cukup untuk membuat mereka tenang?"
Tanya Ci-liong-ong.
"Berarti ilmu silat Beng To masih mempunyai titik kelemahan yang belum kita lihat!' kata Giok-koan Tojin.
"Mungkin seperti itu!"
Ci-liong-ong berkata.
"tapi kalau begitu, orang-orang Mo-kauw harus melindunginya dari samping, apakah mereka tidak sanggup melakukannya?"
"Mungkin juga!"
Kata Giok-koan Tojin. Pek-jin Taysu menyela.
"Kita kembali ke topik tadi, dengan gaya Mo-kauw kalau ada hal seperti ini seharusnya menghapus semua tindakan menunggu kesempatan ini!"
Ci-liong-ong melambaikan tangan.
"Kita tidak perlu berdebat, kecuali kalau kita menemukan kelemahan Beng To, kalau tidak, apa pun tindakan Mo-kauw, bagi kita sama saja, tidak ada bedanya!"
Pek-jin Taysu menundukkan kepala, Giok-koan Tojin seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak jadi. Seorang anak buah Ci-liong-ong berlari ke arah mereka.
"Apa yang terjadi di sana?"
Tanya Ci-liong-ong.
"Apakah bangunan ada masalah, tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan kita, apakah bagus atau tidak kuat apa peduli kita, apakah istana itu sudah ambruk?"
Tanya Liu Sian-ciu sambil tertawa.
"Tidak ada hubungannya dengan kita, kita sudah membangun istana sesuai dengan denah, kita tidak mengurangi bahan atau yang lain-lain!"
Kata Ci-liong-ong.13 Anah buah Ci-liong-ong sudah berada di depan mereka, dengan tegang dia melapor.
"Sekelompok orang dengan identitas tidak jelas sedang masuk ke dalam istana."
"Mereka dari mana?"
Tanya Ci-liong-ong.
"Mereka datang secara tiba-tiba dan bergerak cepat, jumlah mereka 20-30 orang, begitu melihatnya mereka sudah masuk melewati tembok dan langsung masuk ke dalam!"
"Apakah tidak ada yang mengenali mereka?"
Tanya Ci-liong-ong.
"Mereka memakai mantel dan bertopi, wajah mereka terbenam di dalam topi itu, kami tidak melihat bentuk wajah mereka tapi mereka sangat hafal jalan masuk ke istana!"
"Apa anehnya?"
Ci-liong-ong tertawa.
"Maksudmu, mereka adalah orang-orang Mo-kauw?"
Tanya Giok-koan Tojin.
"Selain mereka siapa yang bisa masuk ke dalam?"
Ci-liong-ong balik bertanya.
"Seharusnya memang seperti itu!"
Kata Giok-koan Tojin.
"hanya mereka yang bertindak mencuri-curi, pura-pura misterius dan berlagak!"
Dia tidak berkesan baik terhadap Mo-kauw karena di depan banyak orang dia dikalahkan oleh Beng To, dia tidak bisa menerima kekalahannya.
Ci-liong-ong dan lain-lain baru mengetahau bahwa orang yang biasanya tenang seperti seekor bangau liar.
Pendeta yang dianggap mengetahui semuanya dengan jelas, ternyata tidak seperti itu.
Dia yang dianggap sangat penting kedudukannya, ternyata jiwanya sempit hingga di luar dugaan mereka.14 Mereka kalah oleh Beng To, menerimanya dengan jiwa yang besar, mereka hanya ingin setelah itu menganalisis kembali kekalahan mereka untuk meningkatkan ilmu silatnya, bila ada waktu bertarung lagi dengan Beng To, tapi Giok-koan Tojin seperti tidak tertarik, dia hanya bicara terus, begitu ada kesempatan pasti akan menyerang Beng To.
hati Giok-koan Tojin begitu sempit, dia tidak akan merasa teman-teman menunjuknya.
Pek-jin Taysu adalah orang yang bisa diajak mengobrol oleh Giok-koan Tojin, melihat sikap Giok-koan Tojin seperti itu dia merasa terkejut, tapi dia telah terbiasa, maka dia hanya berkata.
"Akhirnya orang-orang Mo-kauw muncul juga!"
"Apa pun yang terjadi, semua masalah sudah jelas, kita tidak perlu khawatir lagi!"
Pek-jin Taysu mengangguk.
"Bila mereka masih bersembunyi dan tidak muncul, kita yang rugi, karena dikhawatirkan mereka mempunyai tujuan lain, kita akan cukup pusing!"
"Sekarang mereka pasti mempunyai tujuan lain!"
Kata Giok-koan Tojin dengan dingin.
"Senjata terang lebih mudah ditahan!"
Kata Ci-liong-ong sambil tertawa.
"Kali ini mereka benar-benar datang secara terang-terangan, kalah atau menang menggunakan kepandaian sendiri!"
Kata Pek-jin Taysu.
"Setahuku, dari awal mereka selalu seperti itu, bila kalah mereka akan naik darah karena malu mereka akan bertarung dengan kacau dan berharap akan ada mujizat yang muncul, supaya mereka bisa tenang kembali!"
Kata Ci-liong-ong.15
"Sekarang lebih baik kita tunggu mereka muncul, sesudah tenang..."
Ci-liong-ong tidak membantah, dia hanya tertawa, yang pasti dia tidak tahu bahwa orang Mo-kauw itu tidak seperti yang dia pikirkan, begitu terus terang dan terbuka, seperti Sat Kao tidak hanya perutnya yang dipenuhi dengan rencana busuk, dia pun mengerti kegunaan ilmu guna-guna untuk mencelakai Wan Fei-yang.
Apakah karena tinggal di daerah suku Biauw maka Sat Kao berubah menjadi seperti itu atau sewaktu berada di negeri barat dia memang sudah seperti itu?
Yang pasti hanya Beng To yang tahu, apakah sifat Mo-kauw dari barat sudah berubah, yang pasti kemunculan mereka bagi dunia persilatan Tionggoan hanya ada kesan buruk dan tidak baik, satu Beng To saja sudah cukup merepotkan.
Pek-jin Taysu tidak melayani Giok-koan Tojin, dia melihat Ci-liong-ong, tiba-tiba menarik nafas.
"Jujur saja, aku tidak mengkhawatirkan Beng To atau orang-orang Mo-kauw."
"Bagaimana dengan para pesilat Tionggoan golongan sesat?"
Tanya Ci-liong-ong. Pek-jin Taysu mengangguk.
"Beng To tidak berbeda dengan suku Biauw biasa, mereka pemberani dan senang bertarung, bila bersatu dengan pesilat Tionggoan yang beraliran sesat, lambat laun dia akan melakukan kejahatan!"
"Apakah sampai waktunya tiba kita baru akan bertindak?"
Tanya Giok-koan Tojin. Ci-liong-ong tertawa.
"Sayang kita kalah bertarung dan tidak cepat naik pitam!"16
"Kita lahir di tempat yang ada sopan santunnya, berbeda dengan orang biadab dan kurang ajar,"
Kata Giok-koan Tojin. Ci-liong-ong tertawa dan bertanya kepada anak buahnya.
"Apakah ada orang di dalam istana itu?"
"Tidak ada..."
"Baiklah, paling sedikit bisa mengurangi pertarungan yang tidak diperlukan,"
Kata Ci-liong-ong.
"Begitu Beng To sampai, kita akan tahu lebih jelas!"
Tiba-tiba Thi Gan bertanya.
"Mengapa orang Bu-tong-pai belum ada yang muncul?"
"Murid-murid Bu-tong-pai ada yang datang kemari membangun istana Beng To, berarti dalam masalah ini, tidak ada yang tidak sependapat!"
Kata Ci-liong-ong.
"Apakah akan terjadi musibah lagi?"
"Nasib Bu-tong-pai memang tidak baik!"
Ci-liong-ong melihat murid-murid Bu-tong-pai yang berkumpul di depan istana.
Tidak diragukan lagi, mereka terlihat ketakutan, karena pemimpin mereka, Pek-ciok Tojin sampai saat ini belum muncul.
Waktu itu ada kabar berita yang mengatakan bahwa Beng To berada di kaki gunung.
Beng To duduk di atas kain di pundak orang-orang Biauw, yang pasti kain itu sudah diganti menjadi lebih mewah, bersamaan waktu baju orang-orang Biauw pun sudah diganti, mungkin karena nasihat pendekar-pendekar Tionggoan beraliran sesat, selain itu tidak ada perubahan lain.
Terlihat sejak pertarungan di Bu-tong-san, dia hanya bertekad menaklukkan semua perkumpulan besar Tionggoan.
Pesilat-pesilat golongan sesat itu mengikuti kehendak Beng To juga tidak ada waktu memancing melakukan kejahatan.17 Orang-orang suku Biauw yang mengikutinya, tidak ada yang gugur, berarti tindakannya selama ini sangat berhasil, dia menjadi inti dan dia pun tidak membuat pengikutnya kecewa.
Yang membuatnya merasa menyesal adalah dunia persilatan Tionggoan terpencar di mana-mana.
Jalan lurus yang ditempuhnya terlalu jauh, sampai di istana yang sudah selesai dibangun, dia belum menaklukkan semua pesilat tangguh di Tionggoan.
Walaupun begitu, semua orang sudah mengakui bahwa dia orang nomor satu, yang pasti sebutan ini datang dari para pesilat beraliran sesat.
Awalnya mereka hanya ingin menonton keramaian, sekarang malah merasa cocok dengan Beng To, mereka sepenuhnya mendukung Beng To, juga meren canakan semua hal untuk Beng To, yang merencanakan semakin banyak macamnya.
Semua tidak ditolak oleh Beng To, memang dia tidak merasa ada keburukan.
Karena mereka mem buatnya lebih hafal dengan keadaan dunia persilatan Tionggoan, sehingga semua tindakannya lebih lancar dan lebih berjaya.
Dia hanya menutupi satu hal, mengapa orang-orang persilatan Mo-kauw sampai sekarang belum muncul.
Sebenarnya dia juga ingin menghubungi orang orang Mo-kauw, hanya saja Sat Kao tidak meninggalkan cara bagaimana menghubungi mereka.
Begitu masuk Tionggoan dia merasa bekerja sendiri merupakan hal yang sangat sulit.
Memang orang-orang suku Biauw sangat banyak, sebenarnya pun mereka tidak ada gunanya, maka dari awal dia sudah merasa bimbang sampai orang-orang golong-an sesat datang bergabung.18 Dia bisa melihat kesungguhan orang-orang golongan sesat terhadap Mo-kauw, dia tetap men-jaga rahasia ini, dia adalah orang pintar dan punya seorang guru yang pintar juga.
Orang-orang berbondong-bondong melewati semua pesilat golongan lurus, Beng To melambaikan tangan untuk menyapanya.
Dia tertawa, pesilat golongan lurus melihatnya, hati mereka terasa tidak nyaman, merasa di balik tawa itu penuh dengan kesombongan dan penghinaan kepada mereka.
Yang pasti mereka juga tidak betah melihat orang-orang golongan sesat.
Kain terus digotong hingga ke ruangan utama, upacara akan dilaksanakan di siang hari, masih ada waktu satu jam lagi, maka digunakan oleh Beng To untuk bersiap-siap, dia segera masuk, dia sudah mengerti dengan cara apa bisa mengeluarkan wibawa nya yang tinggi.
Sekarang Beng To sekarang merasa sangat senang sebab istananya sudah selesai dibangun tepat pada waktunya dan para pendekar golongan putih tepat waktunya berkumpul di sini, semua seperti yang dia inginkan, dia benar-benar senang.
Bangun-an sudah jadi walaupun perkumpulan Tionggoan tidak tunduk, tapi untuk sementara mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan Beng To.
Apa yang bisa mereka banggakan lagi.
Saat Bu-ti-bun berjaya pun tidak ada wibawa seperti ini.
Apa lagi para pesilat dari Mo-kauw belum muncul, bila mereka muncul, posisi Mo-kauw di Tionggoan akan lebih mantap seperti pagoda besi.19 Mereka melihat Beng To tidak begitu hafal dengan keadaan dunia persilatan Tionggoan, jika dia mau menerima bantuannya pasti akan banyak keuntungannya.
Baru saja memasuki ruang utama, tawa di wajah Beng To segera menghilang, dia terlihat tidak senang.
Pesilat golongan sesat atau orang-orang suku Biauw semua melihat ke arahnya, mereka mengira dia sedang berpura-pura, hanya ingin mengeluarkan wibawa seorang pemimpin dunia persilatan, juga mengira Beng To mulai belajar berwibawa, maka mereka terdiam.
Dalam suasana serius Beng To turun dari kain yang menggotongnya dan naik ke singgasananya, dia mulai membuka suara.
"Siapa saja yang datang?"
Semua orang tampak terkejut, bersamaan itu 28 orang berbaju hitam seperti kelelawar menggantung telah turun. Semua orang mulai bereaksi, wajah Beng To mulai tersenyum lagi.
"Ternyata ada orang-orang Tong-bun!"
Tong Thian-co dan Tong Thian-yu turun di depan singgasana itu. Ketika orang-orang suku Biauw dan pesilat golongan sesat bersiap-siap ber-tindak, Tong Thian-co sudah mengeluarkan perintah.
"Siapkan senjata rahasia!"
Pesilat golongan sesat di sana ada yang mengenal mereka segera berteriak.
"Hati-hati, mereka adalah Tong-bun-ji-pwe-siu!" (28 bintang Tong-bun) keluarkan semua senjata dari sarung. Waktu itu Beng To melambaikan tangan.
"Tidak perlu kalian yang bertindak!"
Tanpa melihat reaksi pesilat20 golongan sesat, dia langsung bertanya kepada Tong Thian-co dan Tong Thian-yu.
"Apakah kalian datang untuk membuat perhitungan?"
Tong Thian-co balik bertanya.
"Tetua perkumpulan kami, apakah beliau mati di tanganmu?"
"Benar!"
Beng To mengaku.
"Kalau ketua perkumpulan kami..."
"Walaupun dia bunuh diri itupun karena dia jatuh ke tanganku, kalau kalian menuduh pelakunya adalah aku, tidak apa-apa!"
Beng To seperti tidak terjadian apa-apa.
"Kalian masih ingin tahu apa lagi?"
"Tong-bun-ji-pwe-siu ingin mencoba ilmu lweekang iblis milik Tuan!"
Jawab Tong Thian-co.
"Bagaimana kalau kalian kalah?"
"Kedatangan kami kemari dengan tekad siap mati!"
"Baik..."
Beng To tertawa.
"tapi aku tidak mau membunuh, kalau kalian kalah, kalian harus mengaku, itu sudah cukup!"
Tanpa menunggu jawaban Tong Thian-co, Beng To segera berkata kepada orang-orang yang berada di bawah singgasananya.
"Senjata rahasia akan berhamburan di sini, harap kalian menunggu di luar!"
Dia tertawa lagi.
"Untung masih ada 1 jam lagi baru tengah hari!"
Tong-bun-ji-pwe-siu sangat terkenal di dunia persilatan, bila jalanya sudah dibuka burung pun sulit lewat.
Pesilat golongan sesat sangat takut, mereka tidak menyangka Beng To berulah kepada Tong-bun, tapi mereka sangat percaya pada ilmu silat Beng To, maka mereka pun keluar.21
"Apakah ada yang ingin kalian sampaikan lagi?"
Tanya Beng To kepada Tong Thian-co dan Tong Thian-yu.
Dua kepalan tangan yang berisi senjata rahasia mulai dilepaskan dari tangan Tong Thian-co dan Tong Thian-yu, mereka meloncat dan kembali bergantung di atas balkon.
Kedua tangan Beng To seperti tidak sengaja terulur, semua senjata rahasia terbang ke arah kedua tangannya dan menempel di tangannya.
Seperti sebuah jala, yang menjala senjata rahasia itu, tapi Tong Thian-co dan Tong Thian-yu tidak melihat ada jala di sana.
Mereka tahu itu adalah kehebatan tenaga dalam Beng To karena itu mereka tidak merasa aneh.
Dulu mereka pernah bersama Tong Ling mencari Wan Fei-yang untuk membalas dendam, juga pernah melihat hal seperti itu.
Tapi sekarang mereka melihat tenaga dalam Beng To berada di atas Wan Fei-yang.
...Pantas Wan Fei-yang kalah di tangan orang ini, bagaimana keadaan Wan Fei-yang sekarang?
Apakah ilmu silat Wan Fei-yang ada kemajuan?
Apakah dia bisa mengalahkan Beng To?
Mereka merasa sangsi tapi bukan karena itu maka mereka menjadi kecewa.
Isyarat sudah diberikan, 28 orang itu mulai bertindak dari atas atap, satu per satu seperti kelelawar menggantung tapi bukan karena itu membuat kecepatan mereka menjadi lamban, yang pasti hanya terlihat sedikit aneh.
Walaupun posisi mereka terus berganti tapi tidak bergeser secara sembarangan terlihat sangat teratur, jaraknya tidak berubah.
Asal ada yang mengerti pasti akan tahu pergeseran mereka menuruti geseran rasi bintang.
Tapi Beng To sama22 sekali tidak mengerti dan merasa tidak ada keistimewaannya.
Sebenarnya perubahan Tong-bun ji-pwe-siu tidak menbuatnya terganggu, dia tidak merasa bingung.
Sampai posisi duduknya pun tidak berubah, dia menaruh senjata rahasia di sisi meja, kemudian menunggu tanpa bergerak datangnya senjata rahasia yang lain.
Tong Thian-co dan Tong Thian-yu melihat dengan jelas tapi mereka tidak menjadi goyah, mereka datang kali ini memang tidak yakin bisa menang dari Beng To.
Mereka hanya berharap bisa melukai atau menguras tenaga dalam Beng To, dengan cara itu mungkin mereka bisa membantu sedikit pada Wan Fei-yang.
Senjata rahasia itu akhirnya keluar dari 28 arah yang berbeda, gerakan mereka terus berubah-rubah, senjata pun dilepaskan terus menerus.
Senjata berkelebatan menganyam menjadi jala senjata rahasia yang sangat rapat, setiap senjata rahasia mengandung tenaga yang tidak sama, tapi pengaturannya sangat baik.
Beng To tepat berada di tengah-tengah menjadi sasaran setiap senjata rahasia yang melesat, seseorang walaupun mempunyai banyak tangan dan kaki, juga bermata jeli, serta gerakan lincah, ingin dalam waktu bersamaan menyambut semua senjata rahasia bukan hal yang gampang.
Beng To hanya mempunyai sepasang tangan, tapi karena dia mempunyai tenaga dalam yang tinggi dan perubahan yang aneh, sepasang tangan-nya seperti menjadi ratusan bahkan ribuan pasang tangan.
Tenaga dalamnya seperti berhelai-helai benang muncul lagi, untuk melindungi dirinya, dia menjalin jala yang lebih rapat dibandingkan jala senjata rahasia.
Begitu senjata rahasia mendekat, segera terikat oleh tenaga dalamnya,23 tidak ada satu pun yang lolos, bahkan dia masih mempunyai waktu meletakkan senjata rahasia yang diterimanya di meja yang ada di sampingnya.
Tong Thian-co dan Tong Thian-yu juga murid-murid Tong-bun lainnya dari awal sudah tahu tidak gampang jika ingin merobohkan Beng To dengan senjata rahasianya.
Hanya saja mereka tidak menduga Beng To bisa begitu tenang, sampai mereka pun tidak bisa memaksa dia meninggalkan kursi kebesarannya.
Semua di luar dugaan mereka, gerakan Beng To begitu sederhana, mereka sangsi apakah yang mereka lemparkan tadi bukan senjata rahasia melainkan ilusi, mereka seperti sedang bermain-main bukan sedang bertarung antara hidup dan mati.
Gerakan mereka tidak berhenti, terus berubah rubah dari posisi horisontal hingga vertikal atau sebaliknya.
Mereka terus melepaskan senjata rahasia, sampai tas untuk menyimpan senjata rahasia pun kosong, baru berhenti karena terpaksa.
Bersamaan waktu gerakan Beng To pun berhenti, meja yang ada di sampingnya yang ada senjata rahasia tampak menumpuk seperti sebuah gunung, tapi dia tetap tidak terluka sedikit pun, juga tidak melemparkan kembali senjata itu kepada murid-murid Tong-bun.
Senjata rahasia terakhir sudah disambutnya dia malah bertanya.
"Apakah sudah selesai?"
Lama Tong Thian-co baru keluar suara.
"Ilmu yang hebat..."
Beng To tersenyum.
"Kalau tidak mempunyai ilmu hebat, aku tidak akan berani membangun istana ini!"24
"Walaupun kami tidak sudi menerimanya tapi kami mengakui kami telah gagal total..."
Kata Tong Thian-yu.
"Baik, yang aku takutkan adalah orang yang tidak mau menerima kekalahannya dan selalu berbelit belit, kalian tenang saja, kalau bukan terpaksa aku tidak akan membunuh, apa lagi terhadap orang-orang Tong-bun."
"Tapi hutang ini tetap harus diperhitungkan..."
Kata Tong Thian-co.
"Setiap saat kalian boleh datang membuat perhitungan, aku selalu siap, yang pasti harus ada keyakinan terlebih dulu, kalah bukanlah semacam penghinaan, aku tidak mau orang-orang Tong-bun menjadi malu untuk berdiri di dunia persilatan."
Tong Thian-co marah, dia berteriak.
"BengTo..."
Beng To tertawa, memotong.
"Kalian datang jauh-jauh mengantarkan begitu banyak senjata rahasia sebagai hadiah, seharusnya kita bersulang dulu, tapi sayang waktunya tidak tepat, sebab aku masih sibuk!"
Lalu dia melambaikan tangan.
"kalau kalian masih ingin melihat-lihat, boleh menunggu di luar, aku tidak akan lama!"
Tong Thian-co tidak bersuara, semua murid Tong-bun menatapnya, mereka sudah bertekad untuk mati di sini!
Tidak siap meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.
Melihat ilmu Beng To seperti itu mereka merasa kecewa berat.
Tapi mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.
Tong Thian-co mengerti pikiran anak buahnya, dia menarik nafas.
"Kita pergi..."
Dia meloncat turun.25 Tong TTuan-yu dan 27 orang lainnya segera turun dari atap, mengikuti Tong Thian-co keluar dari sana.
Langkah kaki dan pikirannya terlihat sama-sama berat.
Akhirnya Beng To tertawa terbahak-bahak.
Awalnya melihat pesilat golongan sesat keluar dari ruangan, Ci-liong-ong dan lain-lain merasa aneh, sampai terdengar suara bertarung mereka segera mengerti apa yang telah terjadi, hanya tidak mengerti siapa yang datang kemari mencari Beng To untuk bertarung dan memilih waktu sekarang.
"Yang tadi masuk ternyata bukan datang dari Mo-kauw,"
Nada bicara Ci-liong-ong terdengar aneh, begitu juga pikirannya.
"Berarti mereka sahabat dunia persilatan, mereka memilih saat sekarang ini, berarti mereka juga mempunyai maksud tertentu!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Ada maksud atau tidak, sama saja!"
Kata Ci-liong-ong dengan nada malas-malasan.
"Beng To mengusir golongan sesat keluar dari ruangan, pasti dia sudah yakin dan tidak dianggap berat!"
"Apakah kita hanya akan berpangku tangan melihat tontonan?"
Tanya Giok-koan Tojin.
"Jika kita ingin masuk harus melewati pesilat golongan sesat dan orang-orang suku Biauw,"
Kata Ci-liong-ong.
"Siapa mereka?"
"Mereka bukan siapa-siapa, kalau kita melakukan hal seperti itu untuk apa membangun istana ini, tidak perlu menunggu sampai hari ini!"
Giok-koan Tojin mendengar kata-kata Ci-liong-ong seperti mengandung arti lain, maka dia terdiam. Tapi Pek-jin Taysu segera bertanya.26
"Beng To sudah yakin akan menang, walau pun pesilat golongan sesat tidak menghalangi kita masuk tapi aku yakin pertarungannya sudah selesai!"
Ci-liong-ong tertawa.
"Pembicaraan kita terlalu berlebihan..."
Dia berhenti bicara matanya berputar. Seorang anak buahnya datang melapor dengan meriah.
"Orang Bu-tong-pai sudah datang!"
"Sudah datang?"
Ci-liong-ong masih bernada tidak ada perhatian.
"Kecuali Pek-ciok Tojin, masih ada Wan Fei-yang!"
Begitu nama Wan Fei-yang disebut, terdengar nada perkataan anak buahnya berubah menjadi senang dan terharu.
"Apa?"
Bukan hanya Ci-liong-ong, yang lainnya pun merasa sangsi dengan pendengaran mereka maka semua orang menatap anak buah Ci-liong-ong itu.
"Apa yang kukatakan itu kenyataan."
Anak buah Ci-liong-ong ini adalah orang pintar, melihat semua orang melihatnya dia segera menjawab seperti itu.
"Maksudmu, kau benar-benar melihat sendiri sosok Wan Fei-yang?"
Tanya Ci-liong-ong.
"Aku tidak akan salah lihat, bila aku bohong aku rela dihukum!"
Anak buahnya bersumpah. Ci-liong-ong menepuk-nepuk pundaknya.
"Kau sudah lama ikut denganku, aku tahu jelas sifatmu!"
"Tapi kenyataan ini membuat siapa pun tidak akan percaya!"
Kata Ci-liong-ong. Anah buahnya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi Giok-koan Tojin sudah menyela.27
"Apakah ini permainan Bu-tong-pai?"
Pek-jin Taysu melafalkan bacaan Budha.
"O-mi-to-hud, apakah kematian ketua Kouw-bok belum cukup bukti, bisa di buat main-main?"
Giok-koan Tojin terpaku dan menundukkan kepala, dia terdiam, akhirnya dia merasa kata-katanya sudah keterlaluan, apa lagi Kouw-bok sudah berbudi kepadanya! Ci-liong-ong berkata.
"Apakah Beng To juga bisa salah perhitungan sebenarnya Wan Fei-yang belum mati?"
Kata Pek-jin Taysu.
"Dia hanya mengatakan kalau Wan Fei-yang kalah di tangannya, ilmu silatnya sudah menyebar di kalangan dunia persilatan Tionggoan kalau Wan Fei-yang sudah seperti orang cacat tidak mungkin bisa bertahan hidup lagi, dia tidak mengatakan kalau Wan Fei-yang sudah mati!"
"Katanya ada seekor induk serangga yang masuk ke dalam tubuhnya dan menggerogoti roh Wan Fei-yang!"
Kata Liu Sian-ciu.
"Dia belum bisa membuat Wan Fei-yang mati, kabarnya perubahan ilmu Thian-can-sin-kang sangat ajaib..."
Kata Pek-jin Taysu.
"Itu hanya gosip, walau bagaimanapun Wan Fei-yang hidup kembali, karena perubahan Thian-can-sin-kang, jadi tidak perlu merasa aneh,"
Ci-liong-ong tertawa, lalu berkata lagi.
"ilmu lweekang Beng To berasal dari ilmu lweekang Mo-kauw asalnya sama dengan Thian-can-sin-kang, lweekangnya terus menerus mengalir seperti tidak ada habisnya, terlihat ilmu yang sangat ajaib ini, maka Wan Fei-yang tidak gampang mati begitu saja!"
"Tapi,"
Pek-jin Taysu berkata lalu berhenti lagi, sikapnya menjadi aneh, tidak usah diragukan lagi, dia ingin mengajukan pertanyaan.
"Apa yang ingin Taysu katakan?"
Ci-liong-ong bertanya dengan heran.
"Mengenai ilmu menghitung nasib, aku hanya tahu sedikit bagian kulitnya, seharusnya aku tidak merasa begitu yakin,"
Kata Pek-jin Taysu. Ci-liong-ong baru mengerti.
"Maksudmu, dari raut wajahnya mengatakan dia orang yang pendek umur?"
Pek-jin Taysu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia berhenti bicara, sorot mata Ci-liong-ong melihat Liu Sian-ciu, karena dia tahu Liu Sian-ciu juga orang yang mengerti urusan perhitungan nasib, dengan melihat wajah bisa memperkirakannya.
Liu Sian-ciu tertawa kecut.
"Pek-jin Taysu hanya mengerti sedikit maka dia tidak bisa melihat juga memperkirakan."
Kata Liu Sian-ciu lagi.
"Mati dan hidup kembali, apakah bisa dianggap sudah mati satu kali lalu hidup kembali, apakah sama dengan mengubahnya menjadi orang dalam sosok lain, aku tidak mengerti!"
Kata Pek-jin Taysu.
"Melihat wajah dan memperkirakannya, melihat wajah seperti apa muncul dari dalam hati, nasib seseorang tidak akan berubah karena dia sudah melakukan sesuatu!"
Tiba-tiba Ci-liong-ong tertawa.29
"Terlihat kalian berdua berbobot setengah kati dan 500 liang, mengenai perhitungan wajah dan perkiraannya tetap saja masih merasa ragu!"
Liu Sian-ciu tertawa kecut.
"Aku hanya merasa perubahan nasib Wan Fei-yang sangat besar, bila terjadi perubahan lagi itu tidak aneh!"
Kata Ci-liong-ong.
Baru saja kata-katanya habis, Wan Fei-yang, Pek-ciok Tojin dan sekelompok murid Bu-tong-pai sudah muncul.
Terlihat Pek-ciok Tojin dan murid-murid Bu-tong-pai sangat senang, hanya Wan Fei-yang yang terlihat sangat biasa, seperti tidak memiliki perasaan apa pun.
Pesilat golongan sesat dan orang-orang suku Biauw tidak memperhatikan perubahan ini.
Tong-bun-ji-pwe-siu yang baru keluar dari istana dengan kecewa dan murung juga merasa kurang bernafsu.
Melihat sikap mereka Wan Fei-yang sudah tahu, Beng To sudah memenangkan pertarungan lagi.
Memang semua sudah berada dalam dugaannya tapi pesilat golongan sesat dan orang-orang suku Biauw tetap bersorak.
Dengan diam Tong-bun ji-pwe-siu melewati mereka tanpa reaksi, mereka tidak peduli sikap orang-orang itu, mereka sudah sekuat tenaga berjuang tapi tetap tidak sanggup membantu Wan Fei-yang.
Mereka harus mengakui ilmu silat Beng To berada pada taraf seperti dewa dan khawatir, apakah Wan Fei-yang sanggup mengalahkan Beng To.
Dulu ketika mereka ikut Tong Ling ke Bu-tong-san untuk mencari Wan Fei-yang, mereka sudah menyaksikan seperti apa ilmu silat Wan Fei-yang.30 Di benak mereka, ilmu silat Wan Fei-yang dengan Beng To masih berbeda jauh tingkatnya.
Tapi Wan Fei-yang adalah satu-satunya harapan mereka, maka dengan berat hati mereka bisa membayangkan semuanya.
Dari jauh mereka melihat Wan Fei-yang datang, mereka tidak merasa senang malah terasa semakin berat.
Pesilat golongan sesat mengikuti pandangan mata orang-orang melihat ke arah yang dituju, akhirnya mereka melihat sosok Wan Fei-yang, di antara mereka ada yang mengenali Wan Fei-yang, maka tawanya pun segera berhenti dan membeku.
Yang tidak mengenali Wan Fei-yang masih menertawakan Tong-bun-ji-pwe-siu, sampai melihat temannya yang berdiri di sisi mereka bersikap lain, mereka baru tersadar.
Wan Fei-yang tidak menyalami Giok-koan Tojin dan lain-lain, dia terus berjalan ke depan murid-murid Tong-bun, dalam hati Wan Fei-yang, keselamat an murid-murid Tong-bun lebih penting dari pada menyapa Giok-koan Tojin dan lain-lain.
"Apa kabar kalian?"
Wan Fei-yang tidak tahu ada berapa murid Tong-bun yang datang, hanya berharap semua bisa selamat, tidak ada masalah berat yang terjadi. Tong Thian-co tertawa kecut.
"Kabar kami baik, kami sudah berusaha, tapi tetap tidak berdaya."
"Sebenarnya kalau dia berniat membunuh kami, gampang seperti membalikkan telapak tangan, tapi dia tidak melakukannya, mungkin karena terlalu gampang atau hari ini karena dia naik tahta,"
Kata Tong Thian-yu.31
"Sekarang orang itu lebih dewasa dibandingkan dulu ketika aku baru bertemu dengannya!"
Kata Wan Fei-yang.
"Ada sebuah pertanyaan, apakah kami boleh bertanya.."
Kata Tong Thian-yu dengan cepat.
"Kalian harus percaya pertarungan kali ini terjadi antara aku dan dia!"
"Kalau kau tidak percaya diri, kau tidak akan datang!"
Jawab Tong Thian-co.
"Walau pun tidak yakin, aku tetap harus datang!"
"Maaf..angguk Tong Thian-yu.
"Yang minta maaf itu seharusnya aku!"
Kata Wan Fei-yang, dia segera melangkah.
Murid Tong-bun segera menyingkir ke kiri juga ke kanan, Ci-liong-ong terdiam, hanya Pek-jin Taysu yang masih melantunkan O-mi-to-hud.
Pesilat golongan sesat terdiam, mereka segera memberi jalan untuk Wan Fei-yang.
Dengan tenang Wan Fei-yang melewatinya, bumi dan langit seperti ikut membeku.
Beng To merasakan kesepian luar biasa juga berfirasat buruk, dia tahu akan terjadi sesuatu di istana ini, dia tidak tahan lalu berdiri dan berteriak.
"Wan Fei-yang!"
Suaranya serak tidak seperti suara biasanya, dia melihat Wan Fei-yang seperti melihat makhluk aneh.
"Sudah lama kita tidak bertemu!"
Suara Wan Fei-yang tetap terdengar tenang, sikapnya pun seperti itu, bukan karena Beng To mengalami perubahan. Akhirnya Beng To tenang kembali dan duduk.
"Aku sudah bersalah!"32
"Ilmu silatku sudah di ketahui secara luas, apa lagi di dalam tubuhku ada seekor induk serangga, kalau bukan karena Pei-pei mengorbankan nyawanya memancing induk serangga itu keluar, walaupun Thian-can-sin-kang bisa berubah secara ajaib tenaga dalamku tatap akan terganggu oleh induk serangga, tidak bisa dialirkan dengan sempurna, semua percuma saja."
"Pei-pei?"
Beng To tertawa dingin.
"aku lalai tentang ini, Pei-pei benar-benar murahan, sampai-sampai nyawanya sendiri pun dikorbankan."
Wan Fei-yang terdiam, dia hanya memberi tahu bahwa Pei-pei sudah meninggal.
"Seharusnya aku terpikirkan akan hal ini, tapi aku tidak percaya perempuan mana pun yang kau kenal selalu siap berkorban untukmu!"
Beng To tertawa dingin.
Api cemburu naik ke kepala Beng To, dia tidak lupa dengan kata-kata Tong Ling sebelum meninggal.
Tong Ling mengatakan bahwa dia lebih memilih mati karena tidak mau dihina dan diucapkannya dengan mantap, dia tidak bisa melindungi Wan Fei-yang, ilmu Wan Fei-yang seperti apa pun dia tidak tahu dengan jelas, tapi Beng To sudah bertekad mengambil posisi Wan Fei-yang di Tionggoan dan harus menguasai dunia persilatan, sekarang cita-citanya hampir tercapai.
Bila bertanya kepada siapa pun semua akan menjawab bahwa ilmu silat Wan Fei-yang berada di bawah Beng To, tapi ketika dia akan naik tahta dan menerima sembahan orang-orang, Wan Fei-yang muncul.
Apakah dia akan kalah di tangan Wan Fei-yang?
Walaupun dia telah mengalahkan puluhan pesilat tangguh dari puluhan perkumpulan silat, dia juga sadar bahwa ilmu33 lweekangnya berada di atas Wan Fei-yang, tapi setelah berhadapan langsung dengan Wan Fei-yang, dia tidak yakin bisa menang dengan Wan Fei-yang.
Tenaga dalam Wan Fei-yang yang sudah terlatih adalah sejenis dengannya, dengan mudah dia bisa menyedot tenaga dalam Wan Fei-yang dan menggunakannya dengan baik, tapi perubahan ajaib dari Thian-can-sin-kang, membuat Wan Fei-yang seperti terlahir kembali, dia bisa memulihkan tenaga dalamnya, entah sampai pada tahap seperti apa, dia tidak tahu.
Tapi dia tahu dulu ilmu silat Wan Fei-yang seperti apa.
Orang seperti Kiam-sianseng dan Ci-liong-ong bukan lawannya.
Walaupun sekarang dia bisa mengalahkan Wan Fei-yang, tampaknya dia harus membayarnya dengan harga tinggi.
Bila pertarungan ini bisa dihindari, ini lebih baik, tapi Beng To sadar dia tidak akan bisa menghindar, dia juga tidak berkompromi lagi dengan Wan Fei-yang, dia juga tahu pendekar-pendekar di luar sana, baik dari aliran lurus maupun yang sesat sedang menunggu hasil akhir pertarungan ini.
Pertarungan ini dikatakan lebih penting dari pertarungan mana pun.
Bukan hanya karena Wan Fei-yang hidup kembali merupakan suatu mukjizat, asal bisa mengalahkan Wan Fei-yang berarti bisa memukul hancur rasa percaya diri perkumpulan lurus, membuat mereka kecewa dan harus menjaga nama baik mereka.
Dulu dia pernah mengatakan bahwa Wan Fei-yang kalah di tangannya dan sudah kehilangan semua ilmu silatnya.
Sekarang Wan Fei-yang secara sehat walafiat muncul di depan semua orang.
Hal ini sedikit banyak memberikan34 kesan bahwa dia telah berbohong, dia tidak tahu apakah pesilat golongan sesat juga akan berpikir seperti itu.
Setelah dipikir-pikir, dia benar-benar merasa semua ini sangat buruk, tentu saja dia sangat membenci Wan Fei-yang, tapi Wan Fei-yang seperti tidak tahu perubahan perasaan Beng To, dia seperti tenggelam dalam kenangan, lama baru berkata.
"Mereka adalah gadis-gadis baik, masih muda, tapi sayang aku tidak bisa menghalangimu..."
"Apakah ketika Pei-pei memancing induk serangga keluar dari tubuhmu, kau tidak tahu? Beng To tertawa dingin.
"Ketika induk serangga meninggalkan tubuhku, aku baru sadar!"
Beng To memang tahu Wan Fei-yang tidak akan berbohong, tapi dia tetap tertawa dingin.
"Begitu cepat waktu berlalu bukan?"
"Hal yang terjadi di dunia ini memang benar-benar cepat!"
"Kau begitu cepat datang kemari, tidak terlalu awal dan tidak terlalu terlambat!"
"Mungkin aku sudah bosan berkelana di dunia persilatan, walaupun tahu keberadaanmu tapi aku tidak akan mencarimu ke sana!"
"Kau sengaja menunggu aku mengalahkan semua pesilat dari semua perkumpulan, dan ketika aku akan naik tahta kau baru datang?"
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.
"Alasan yang sangat sederhana, kedudukan Bu-tong-pai dunia persilatan sebenarnya tidak tinggi, setelah bertarung dengan Bu-ti-bun mati-matian, pesilat tangguh Bu-tong banyak yang gugur dan selalu ada berita tidak enak35 mengenai Bu-tong, saat kau menggunakan Thian-can-sin-kang mengalahkan Tokko Bu-ti, kalian baru bisa tenang, sekarang rahasia terkuak lagi, ternyata ilmu Thian-can-sin-kang kalian di dapat dari mencuri dari ilmu lweekang Mo-kauw, ingin mengambil kembali yang sudah menghilang bukan hal yang gampang, karena itu kau menungguku setelah mengalahkan semua pesilat dari semua perkumpulan, dengan lagak menolong kau baru muncul."
Wan Fei-yang menggelengkan kepala, Beng To berkata lagi.
"Kau tidak perlu membantah, kau bisa menipu siapa pun tapi tidak akan bisa menipuku."
"Kau..."
"Apakah aku sudah menguak rahasiamu, tapi memang kenyataannya seperti itu, siapa yang tidak ingin menjadi orang nomor satu di dunia persilatan!"
"Itu hanya cita-citamu saja!"
Jawab Wan Fei-yang.
"Aku tidak akan membantahnya kau juga tidak akan membantah, jangankan hanya ada kau dan aku, walaupun semua orang yang ada di luar masuk dan tahu semuanya, aku tidak peduli!"
Beng To berkata sambil tertawa.
"menurut Tong Ling, aku adalah orang picik, sebenarnya kau pun tidak berbeda jauh, sayang umurnya pendek tidak menunggu hingga saat ini, kalau tidak, apa yang akan dia pikirkan ya?"
Wan Fei-yang terdiam, Beng To berkata lagi.
"Kau tidak hanya menunggu dengan santai, kau masih memperalat murid-murid Tong-bun untuk menghabiskan tenaga dalamku terlebih dulu, tapi sayang, ilmu silat mereka terbatas, mereka tidak banyak membantumu!"
"Murid Tong-bun datang kemari untuk bertarung denganmu, itu bukan ideku, memang mereka muncul pikiran36 seperti itu, itu pun aku baru mengetahuinya mengapa sampai sekarang aku baru datang mencarimu, penjelasannya adalah karena aku membutuhkan waktu untuk beristirahat terlebih dulu juga membutuhkan waktu untuk menerangkan semua kejadian kepada Bu-tong-pai!"
"Menerangkan apa yang terjadi setelah kau mati?"
Beng To berkata dengan dingin. Sebenarnya dia hanya berkata tanpa rasa tanggung jawab, tidak disangka Wan Fei-yang malah mengangguk membenarkan.
"Jika karena kematianku ilmu silat Bu-tong-pai menjadi musnah, aku akan menjadi orang yang berdosa kepada Bu-tong-pai, di alam baka sana aku akan malu menghadapi para tetua Bu-tong-pai!"
Suara Wan Fei-yang terdengar sangat tenang, perasaannya begitu jauh seperti datang dari alam baka.
Beng To merasa tidak nyaman mendengarnya, entah mengapa tiba-tiba dia mempunyai perasaan kematian akan menjemputnya dan berkata.
"Selain Thian-can-sin-kang yang pantas diwariskan kepada Bu-tong-pai, masih ada ilmu apa lagi? apa lagi Thian-can-sin-kang kalian dapat mencuri dari perkumpulan kami!"
"Ini memang kenyataan, tapi aku sudah mengembalikan Thian-can-sin-kang kepada Mo-kauw, karena itu pula kau bisa menguasai dunia persilatan!"
Beng To mengerti, itu memang keinginan Sat Kao yang menghisapkan tenaga dalam Wan Fei-yang kepadanya, dia ingin mengatakan sesuatu. Wan Fei-yang sudah menyambung.
"Kami dari Bu-tong-pai mengubah lweekang dari Mo-kauw menjadi Thian-can-sin-kang, kami sudah bekerja37 dengan susah payah, tapi kalian hanya tinggal duduk memetiknya, aku rasa kita sudah impas dan tidak saling berhutang!"
"Enak saja..."
"Aku tidak ingin banyak bicara lagi!"
Wan Fei-yang memotong perkataan Beng To.
"Yang mana yang salah yang mana yang benar, biar orang dunia persilatan yang memutuskannya. Thian-can-sin-kang dari Bu-tong-pai tidak pernah membunuh, maka murid Bu-tong-pai tidak perlu merasa ada ganjalan di hati, aku pun seperti itu!"
"Kali ini kau datang mencariku, apakah kau sudah siap untuk mati?"
"Aku mengaku belum tentu bisa mengalahkanmu, kalau aku hidup dan bisa meninggalkan tempat ini, aku tetap akan mencarimu lagi, kau harus mengerti itu!"
"Ingin menguasai dunia persilatan harus membayar dengan harga yang pantas!"
"Kau tetap belum mengerti!"
Kata Wan Fei-yang.
"Aku hanya mengerti pertarungan kali ini menyangkut hidup dan mati dan tidak bisa memilih, itu saja sudah cukup!"
Beng To menjulurkan tangannya.
"Silakan..."
"Silakan kau dulu..."
Jawab Wan Fei-yang.
Kedua tangan Beng To segera berubah menjadi putih keperakan, wajahnya pun seperti memakai topeng berwarna perak keputihan, perubahannya sangat cepat.
Wan Fei-yang pun menjulurkan sepasang tangannya, tapi tubuhnya tidak terjadi perubahan, kulit wajahnya pun masih sama seperti sebuah giok bersih dan cemerlang, sangat enak dipandang, siapa pun yang melihat akan merasa sangat nyaman.38 Beng To pun merasa seperti itu, dia tidak melihat Wan Fei-yang berubah.
Perubahan ini bagi Wan Fei-yang sangat kentara, dia sendiri merasakannya, orang lain mungkin tidak merasakannya, dari yang biasa berubah menjadi indah.
Semua melihat perubahan Beng To, tapi perubahan yang terjadi pada Wan Fei-yang tidak segampang yang terlihat.
Tenaga dalam Beng To dan pengalamannya sudah maju pesat, sebaliknya dia merasa Wan Fei-yang bukan saja tidak mengalami kemajuan malah kelihatan mundur.
Maka dia mulai tersenyum dan berkata.
"Biar aku mengalah 3 jurus dulu!"
"Tidak perlu!"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Baiklah..."
Beng To mencengkeram senjata rahasia yang ada di atas meja, tangannya belum sampai senjata itu sudah terbang menempel ke tangannya, sekarang tangannya menjadi seperti sebuah bola senjata rahasia...
bola bercahaya!
Bola bercahaya itu segera meledak dan menghasilkan cahaya yang berwarna-warni, lalu dilempar kan ke arah Wan Fei-yang dari seluruh penjuru.
Cahaya pelangi yang dihasilkan dari senjata rahasia, sebutir demi sebutir seperti disambung oleh benang tidak terlihat.
Wan Fei-yang melihat cahaya pelangi datang menghampirinya dengan tenang dia membalikkan tubuh dan melambaikan tangannya, cahaya pelangi yang terpancar begitu tiba di depannya berkumpul kembali, berubah menjadi sebuah bola bercahaya lagi.
Dia melayangkan tangan, bola bercahaya itu terbang ke arah dinding sebelah sana.39 Senjata rahasia itu pelan-pelan melesat dari sana, begitu menurut dan lembut, sama sekali tidak mengandung perasaan keras, sampai-sampai suara jatuhnya pun terdengar nyaring dan enak didengar, seperti sebuah alunan musik.
Wajah Beng To segera tenggelam, tapi dia meloncat ke atas, di udara dia membalikkan tubuh, dengan telapaknya dia menepuk Wan Fei-yang, Wan Fei-yang tidak menghindar, dia malah menjulurkan tangannya menyambut.
Telapak mereka belum saling bersentuhan, tapi sudah keluar sederetan suara juga muncul uap seperti asap dan kabut, tapi begitu dilihat dengan jelas, asap dan kabut seperti kepompong.
Ribuan bahkan ratusan ribu helai benang tidak terlihat membelit menjadi satu, kedua telapak semakin dekat benang tidak terlihat terasa semakin tebal.
Tadinya Beng To ingin meledakkan seperti guntur tapi setelah sampai di atas kepala Wan Fei-yang berubah menjadi lamban, sedangkan bajunya tetap mengeluarkan suara dan terbang.
Dua telapak semakin mendekat, jaraknya tinggal 3 kaki lagi, asap dan kabut seperti sebuah bola kepompong, ratusan ribu helai benang transparan masih menganyam dan berputar, mengeluarkan cahaya putih yang membuat hati ikut terasa dingin.
Baju Wan Fei-yang mulai berkibar, begitu ringan dan lambat, dengan serunya Beng To berbalik.
Bulatan kepompong mengikuti gerakan sepasang telapak, semakin dekat semakin menciut, juga semakin terang lalu berputar semakin kencang.
Waktu Beng To berputar, Wan Fei-yang pun ikut berputar, tapi arahnya berlawanan.40 Bulatan kepompong menciut dan pecah tanpa mengeluarkan suara.
Berhelai-helai tulang terlihat di angkasa, dalam sekejap menghilang.
Beng To meloncat lagi, jarinya menempel di tiang bangunan, tubuhnya dalam posisi menggantung.
Wan Fei-yang berputar dengan arah berlawanan, dia naik dengan miring, lalu menempel di dinding bergeser mengikuti dinding.
Gerakannya dengan ilmu cecak tidak berbeda jauh, seperti punya kekuatan untuk menempel.
Tubuh bagian mana pun begitu mendekat segera menempel, tubuhnya terlihat seringan kapas, dengan cepat naik ke atas.
Beng To mengikuti bentuk tiang horisontal terus bergeser, dia bergeser ke tengah ruangan dan melambaikan tangan.
"Datanglah..."
Wan Fei-yang melayang ke tempat Beng To, setelah dekat Beng To baru menyerang, setiap jurusnya mengandung tenaga dalam penuh, Wan Fei-yang pun seperti itu.
Di dunia persilatan mungkin hanya mereka berdua yang sanggup mengumpulkan tenaga dalam menjadi senjata.
Hanya mereka berdua yang punya tenaga dalam yang sangat tinggi bisa bertarung di tengah-tengah udara.
Asal mereka mengenai tiang atau balkon, tubuh mereka pasti bisa menggantung atau bergeser dengan ringan, benar-benar seperti dewa yang sedang melayang terbang.
Serangan mereka sangat cepat, tubuhnya pun bergeser dengan cepat, segera menyerang dan setelah itu langsung mundur.
Perubahan yang terjadi seperti ilusi.
Tenaga dalam mereka tidak ada habis-habisnya dipakai, melihat baju mereka yang berkibar dapat diketahui bahwa41 mereka sangat kuat.
Tenaga yang kuat sesudah keluar tidak bisa ditarik kembali.
Udara di sekitar sana pun seperti sedang hancur dan mengeluarkan suara seperti guntur.
Mereka tidak seperti sedang bertarung, kalau dibagi antara aliran lurus dan sesat, mereka seperti dewa dan siluman yang sedang bertarung!
Di luar istana pesilat-pesilat beraliran lurus maupun sesat, walaupun tidak bisa melihat pertarungan yang terjadi di dalam, tapi dari suara yang keluar mereka bisa menebak pertarungan itu berlangsung dengan seru, maka mereka hanya diam mendengarkan, semua terpaku seperti orang tolol.
Begitu banyak orang berkumpul tidak ada satu pun suara yang keluar, benar-benar jarang terjadi.
Ci-liong-ong adalah orang yang mempunyai ilmu lweekang paling tinggi, mendengar pertarungan antara Wan Fei-yang dan Beng To, dia sangat memperhatikan, terlihat alisnya naik sebelah, ekspresi nya terlihat lebih banyak berubah dibandingkan dengan orang lain.
Dia yang pertama membuka suara, kemudian menarik nafas.
"Sayang!"
Pek-ciok Tojin gemetar dengan cemas bertanya.
"Apa yang terjadi?"
Dia mengira, Ci-liong-ong telah mendengar Wan Fei-yang mengalami kesulitan. Ci-liong-ong segera mengerti maksudnya dan menggelengkan kepala.
"Aku hanya menyayangkan orang yang berada di tempat pertarungan, tapi tidak bisa melihat pertarungan yang seru!"
"Apa yang Suheng dengar?"
Tanya Bok Touw-toh.42 Ci-liong-ong tertawa kecut.
"Kalau bisa mendengar buat apa aku menarik nafas?"
Bok Touw-toh mengangguk.
"Pertarungan itu walaupun tidak bisa dilihat tapi bisa dibayangkan sangat seru!"
Ci-liong-ong menggelengkan kepala.
"Tampaknya menjadi seorang hweesio pun ada kebaikannya, bisa membuat dirinya menjadi kosong dan bisa berpikir kosong, dan tidak tahu kalau pertarungan itu sangat seru!"
Bok Touw-toh terdiam, Ci-liong-ong melihat ke dalam ruangan dan berkata lagi.
"Sayang..."
"Sayang kenapa?"
Thi Gan bertanya dengan aneh.
"Istana ini dibangun begitu indah tapi setelah bertarung mungkin akan ambruk!"
"Sayang apa, istana ini merupakan penghinaan kepada dunia persilatan Tionggoan, kalau roboh bukankah itu lebih bagus!"
"Masuk akal juga!"
Kata Ci-liong-ong.
"lebih baik seperti itu, setelah pertarungan ini selesai kita butuh waktu untuk berpikir!"
"Di luar gunung sana masih ada gunung lagi, di atas orang masih ada orang yang lebih hebat!"
Pek-jin Taysu melafalkan kitab suci.
"O-mi-to-hud..."
Baru saja ucapannya berhenti, terlihat istana itu sudah ambruk, dari keempat sisinya ambruk ke tengah, debu dan tanah beterbangan.
Beng To dan Wan Fei-yang keluar dari dalam istana.
Semua orang berteriak, teriakannya terjadi begitu alami, tidak ada alasan apa pun.43 Wan Fei-yang dan Beng To tidak bereaksi, kedua tangan menempel, begitu keluar dari istana itu mereka berputar seperti kincir air, melewati kepala semua orang.
Pohon-pohon yang menghalangi semua tampak patah dan tumbang.
Gerakan mereka masih belum berhenti, malah bertambah cepat, mereka melewati gunung dan jurang yang bertuliskan.
"Bukan dunia nyata."
Dari luar terlihat belum ada yang menang atau kalah, tapi sebenarnya sudah terlihat jelas.
Wan Fei-yang sudah mengantongi tiket kemenangan, tenaganya masih terus mengalir tiada henti-hentinya, tidak ada perbedaan dengan waktu pertama bertarung, tetap lancar, sedangkan Beng To tidak.
Walaupun tenaganya masih terus mengalir tapi mulai terasa tersendat dan mulai terlihat kulit di tubuhnya muncul selapis benda seperti sarang laba-laba.
Itu karena tenaga dalamnya baru keluar, lantas dipaksa masuk oleh tenaga dalam Wan Fei-yang, maka tenaga itu membeku di kulit tubuhnya, dia tidak tahu apakah Wan Fei-yang juga merasa seperti itu?
Tapi kulit tubuh Wan Fei-yang licin dan bersih, terlihat dia tidak merasakan apa-apa, hati Beng To mulai gelisah.
Bersamaan waktu perasaan tidak nyaman bertambah, sarang laba-laba yang menempel di kulit tampak semakin banyak dan semakin jelas terlihat.
Kalau keadaan seperti ini terus berlanjut, tubuhnya akan terbungkus oleh kepompong, dia akan mati karena tidak bisa bernafas.
Semakin berpikir dia semakin kacau, semua alasan dan rasa tidak tenangnya akan mengganggu pertarungan, dia akan kalah dalam pertarungan ini, apa lagi tenaga dalamnya44 masih selapis di bawah Wan Fei-yang.
Sarang laba-laba semakin menebal, kulit tubuhnya yang berwarna abu terang sekarang menjadi gelap.
Setelah turun di atas jurang, mereka mulai berhenti bertarung, akhirnya berhenti total, tapi kedua tangan mereka masih menempel.
Cahaya matahari menyinari tubuh mereka berdua, di mata orang-orang, mereka terlihat sama-sama berhasil dan sama-sama kuat.
Tapi di mata Beng To sinar matahari hanya menyinari Wan Fei-yang, dia sama sekali tidak merasakan sinar matahari yang hangat, hanya terasa dingin.
Kemudian dia merasa kesepian dan kesendirian yang belum pernah dia rasakan.
Kalau sekarang ada orang yang bisa membantu, alangkah baiknya.
Tiba-tiba Beng To bisa berpikir seperti itu.
Akhirnya dia sendiri pun merasa aneh.
Dia tahu ini hanya mimpi, dia melihat orang-orang suku Biauw yang dibawanya, mereka begitu perhatian dan berharap jiwa berjuangnya segera muncul kembali.
Dia membentak, tenaga dalam dikerahkan lagi dan terus mengalir ke tangan.
Sarang laba-laba yang telah menempel di tubuhnya hancur lebur menjadi berkeping-keping, cahaya perak sekali lagi berkelip-kelip muncul.
Wan Fei-yang tidak terkejut, dia tetap tenang seperti tadi, ini sangat berbeda dengan dulu.
Suara Beng To lebih kuat dan lihai, tapi di mata semua orang dia sudah kalah dari Wan Fei-yang, walaupun cahaya perak muncul lagi, tapi tetap kalah indah dengan cahaya Wan Fei-yang.45 Ci-liong-ong adalah ahli tenaga dalam, dia bisa melihat lebih jelas dari siapa pun, dengan tenang dia menghembuskan nafas tenang.
Waktu itu bayangan seseorang muncul dari hutan.
Angin keras meniup kain yang membungkus kepalanya.
Muncullah seorang berambut kuning emas, matanya biru dan hidungnya mancung, walaupun umurnya sudah tua tapi tetap terkesan dia tampan dan gagah.
Orang ini membawa pipa yang terlihat sangat aneh, dia mendekat Wan Fei-yang.
Liu Sian-ciu yang lebih berpengalaman segera berteriak.
"Senjata api..."
Teriakannya belum habis terdengar suara seperti petasan, cahaya terang keluar dari senjata api yang dibawa orang itu.
Kecepatan-nya di luar kemampuan manusia, mata orang biasa tidak bisa melihatnya.
Tong Thian-co dan Tong Thian-yu dengan cepat keluar, mereka ingin menghalangi benda itu melesat dengan senjata rahasia mereka, tapi waktu itu mereka baru ingat mereka sudah tidak punya senjata rahasia lagi.
Ci-liong-ong dan Pek-jin Taysu bersama-sama lari, mereka tetap tidak keburu mencegat.
Kekuatan untuk menyelamatkan diri sendiri muncul.
Tiba-tiba Wan Fei-yang dan Beng To berputar lagi, semua karena tenaga dalamnya.
Kelebatan cahaya sudah sampai ke arah Wan Fei-yang, tapi karena dia sedang berputar maka cahaya itu mengenai kepala bagian kiri Beng To dan menembus keluar dari sebelah kanan!
Tenaganya segera buyar, Beng To berteriak memilukan, tubuhnya terlempar, darah keluar dari kepalanya, wajahnya menjadi pucat.46 Perubahan seperti ini di luar dugaan Wan Fei-yang.
Tubuhnya berhenti berputar sorot matanya dengan cepat melihat orang tua berambut pirang yang berada di atas pohon.
Kedua tangannya masih memegang senjata api, dia terpaku melihat Beng To dan tiba-tiba berteriak.
"Mengapa bisa terjadi seperti ini..."
Bahasa yang dipakai adalah bahasa Han-ie, tapi logatnya aneh.
Dia segera berputar kembali ke arah Wan Fei-yang, kedua tangannya bergerak dengan cepat.
Suara letusan terdengar lagi dan cahaya keluar dari ujung senjata api itu.
WaN Fei-yang melihat jelas peluru ditembakkan ke arahnya, kecepatannya di luar dugaan, dia tidak berani menyambut hanya bisa menghindar.
Cara menghindarnya tidak bisa sembarangan dilakukan, walaupun peluru meluncur dengan cepat, dia sanggup menghindar.
Orang tua berambut pirang itu seperti tahu dia tidak akan berhasil, karena itu dia pergi dengan cara terbang.
Wan Fei-yang mengikuti dari belakang, Ci-liong-ong dan lain-lain juga sudah tiba.
Pesilat aliran sesat tidak ikut juga tidak tinggal.
Mereka tidak berjanji tapi tujuan mereka sama, lalu turun gunung.
Pohon besar roboh, kera-kera pun bubar.
Mereka datang bersama Beng To, begitu Beng To roboh mereka pun bubar.
Di depan istana yang sudah ambruk itu hanya tersisa orang-orang suku Biauw, dengan bengong mereka melihat Beng To yang sudah roboh.
Semua terjadi begitu tiba-tiba, membuat orang-orang yang bersifat polos sulit menerima dalam waktu yang singkat.
Beng To merangkak bangun, matanya penuh rasa sedih.
Walaupun dia harus kalah dari Wan Fei-yang, tapi kalahnya47 harus seperti seorang pahlawan, sekarang dia akan mati, mati tanpa kebanggaan.
Dia mengerti orang tua berambut pirang tadi ingin membantunya, dia juga tahu orang tua itu pasti dari Mo-kauw barat, dia menerima bantuan dari orang tua itu, hanya saja peristiwa itu terjadi tidak seperti keinginan manusia, hal yang terjadi benar-benar di luar dugaan.
Sekarang dia harus mengaku bahwa kemampuan Wan Fei-yang masih berada di atasnya, ilmu silat atau pun nasib baiknya.
Orang-orang suku Biauw datang mengelilinginya.
"Angkat aku ke atas kain, kita segera pulang ke perbatasan Biauw!"
Nada bicara Beng To penuh dengan rasa putus asa, sorot mata juga seperti itu.
Itu adalah kata-katanya yang terakhir.
0-0-0 Wan Fei-yang terus mengejar, Ci-liong-ong dan yang lain berada di belakang.
Jalan yang dilalui orang tua berambut pirang tadi adalah jalan buntu, asap putih keluar di belakangnya dengan cepat menyebar.
Asap itu menghalangi pandangan Wan Fei-yang dan lain-lain, membuat mereka tidak bisa melihat apa-apa.
Suara angin menderu seperti guntur, walau pun pendengaran Wan Fei-yang sangat tajam, tapi tetap terganggu oleh suara itu.
Suara angin seperti guntur cukup menutupi suara orang tua berambut pirang ketika bergeser.48 Ci-liong-ong, Pek-jin Taysu, dan Giok-koan Tojin sudah tiba dan melihat situasi.
Mereka segera mengerti mengapa Wan Fei-yang berhenti mengejar.
"Tidak diragukan lagi orang itu dari Mo-kauw barat, mereka seringkali menggunakan cara seperti ini!"
Kata Giok-koan Tojin dengan marah.
"Aku mengerti mengapa orang-orang Mo-kauw barat tidak muncul!"
Kata Ci-liong-ong sambil tersenyum.
"Apakah mereka merasa tidak yakin maka menyerang dengan mencuri-curi?"
Tanya Giok-koan Tojin.
"Salah..."
Ci-liong-ong menggelengkan kepala.
"Karena Beng To tidak menghubungi mereka sama sekali, setelah orang tua berambut pirang itu mendapat kabar baru datang terburu-buru untuk melihat situasi yaitu bila Beng To kalah maka akan menggunakan cara seperti tadi!"
"Kalah atau menang belum terlihat, dia terlalu tergesa-gesa!"
Kata Giok-koan Tojin.
"Beng To sudah kalah!"
Kata Ci-liong-ong. Dia melihat Wan Fei-yang lalu tertawa.
"maaf sudah merepotkanmu..."
"Awalnya semua ini karena aku, jadi harus aku yang membereskannya!"
Kata Wan Fei-yang dengan tenang. Tiba-tiba Ci-liong-ong terpaku dan bersuara.
"O..."
Pek-jin Taysu seperti mengerti lalu melantunkan bacaan Budha. Giok-koan Tojin tidak mengerti, dia bertanya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Ci-liong-ong baru akan menjawab, Tong Thian-co dan Tong Thian-yu sudah datang. Melihat Wan Fei-yang tidak mengalami sesuatu apa pun, dia segera bertanya.
"Wan-tayhiap, senjata rahasia itu?"49 Liu Sian-du menyela.
"Itu adalah senjata rahasia dibuat dari mesin dan bahan peledak!"
"Bukan senjata rahasia?"
Tanya Tong Thian-co.
"Boleh dikatakan senjata rahasia, tapi kekuatannya di atas senjata rahasia biasa!"
Jelas Liu Sian-du.
"Maafkan kami yang kurang pengetahuan!"
Kata Tong Thian-co.
"Kalian harus waspada, aku berani menyambut senjata rahasia kalian, tapi senjata rahasia jenis ini aku tidak percaya bisa menyambutnya sebab gerakannya terlalu cepat!"
"Terima kasih atas pemberitahuannya!"
Tong Thian-co mengangguk.
"Tidak perlu khawatir terhadap masalah Mo-kauw barat ini,"
Giok-koan Tojin menyela dengan dingin. Wan Fei-yang menatap Giok-koan Tojin, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi enggan meneruskan.
"Senjata itu seperti gampang digunakan, kalau diproduksi banyak..."
Ci-liong-ong menyambung.
"Apakah Suheng takut dengan senjata itu mereka akan mengacaukan dunia persilatan Tiong-goan?"
Tanya Bok Touw-toh.
"Sekarang dunia persilatan masuk dalam hitungan apa?"
Ci-liong-ong balik bertanya. Bok Touw-toh terpaku tapi hati Wan Fei-yang tergetar, dia melihat Ci-liong-ong.
"Harap setiap orang bisa sepengertian tetua ini!"
Tidak ada orang yang menjawab, ada yang tidak tahu, ada yang tidak mengerti maksudnya.
Ketua Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin juga datang, setelah melihat situasi sekeliling, dengan senang dia mengucapkan.50
"Selamat, Sute!"
Wan Fei-yang tertawa kecut, dia hanya bisa tertawa. Ci-liong-ong melihat dia dan menghela nafas.
"Aku baru mengerti kau orang seperti apa, aku kagum kepadamu..."
"Lo-cianpwee terlalu memuji!"
Wan Fei-yang sekarang baru melihat tetua dunia persilatan ini tidak berpandangan bobrok, malah mempunyai pandangan bagus.
"Masih ada pekerjaan yang belum beres, mengapa tidak dibereskannya sekarang juga?"
Tanya Ci-liong-ong. Wan Fei-yang membalikkan tubuh lalu melangkah pergi, Pek-ciok Tojin buru-buru bertanya.
"Sute, kau mau ke mana?"
"Ke tempat di mana dia harus pergi!"
Jawab Ci-liong-ong.
"kau boleh khawatir pada orang lain, tapi tidak perlu mengkhawatirkan Sutemu!"
Pek-ciok Tojin melihat Ci-liong-ong, entah apa yang harus dijawab.
"Selamat, selamat..."
Tiba-tiba Pek-jin Taysu berseru.
"Selamat apa?"
Ci-liong-ong bertanya.
"Pinceng sudah lama belajar agama Budha, tetap belum bisa merasa terbebas, sekarang melihat Tuan sedikit berhati Budha dan pengertian, apakah tidak pantas diberi ucapan selamat?"
Tanya Pek-jin Taysu. Ci-liong-ong menggelengkan kepala.
"Taysu mulai menghitung nasib dari wajah lagi!"
Pek-jin Taysu tertawa kecut.
"Siancai... Siancai...."
Bok Touw-toh tertawa dan tersenyum.51
"Menurut Suhu hanya Toa-suheng yang berjodoh dengan Budha, benar-benar tidak salah!"
Ci-liong-ong tertawa kecut.
"Ini bukan hal baik, dari awal aku tidak ada hati mengarah kepada Budha, masuk Bu-tai-san merupakan kesalahan besar!"
"Kalau Toa-suheng tidak berjodoh dengan Budha, tapi berhati Budha pasti ada!"
"Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka?"
Tanya Bok Touw-toh.
Ci-liong-ong tertawa terbahak-bahak, Wan Fei-yang dalam iringan gelak tawa mereka sudah melayang menjauh.
0-0-0 Gunung dan hutan lebat, lembah yang terpencil.
Karena terpencil maka dinding batu itu terjaga dengan baik hingga sekarang, dinding yang penuh lumut setelah dibersihkan oleh Sat Kao lumutnya tidak ada lagi, huruf-huruf yang terukir di sana jadi sangat jelas terlihat.
Sat Kao sangat menghormati dinding batu itu, seperti benda keramat dan suci, setelah dia menguasai ilmu lweekang iblis yang terukir disana, dia tetap merawat dinding batu itu dengan baik, begitu ada waktu segera dibersihkan.
Melihat dinding itu dirawat sedemikian rupa, Wan Fei-yang sangat mengerti isi hati Sat Kao.
Dia merasa ragu-ragu tapi akhirnya tetap menjulurkan tangannya menekan dinding itu, tenaga dalamnya sudah disalurkan.
Huruf-huruf yang diukir di dinding seperti bernyawa, mereka seperti ingin meloncat keluar dari dalam dinding,52 tapi mereka juga seperti menahan kesedihan luar biasa dan berusaha meronta-ronta.
Wan Fei-yang tidak membaca huruf-huruf itu sebab dia tidak mengerti, hanya tahu kalau huruf-huruf yang diukir di dinding itu mengenai ilmu lweekang Mo-kauw.
Setelah 3 kali menyalurkan tenaga dalamnya, akhirnya dia melepaskan tangannya dan melayang mundur, kemudian huruf-huruf yang ada di dinding segera terkelupas selembar demi selembar lalu hancur berantakan di bawah, kecuali dewa kalau tidak, tidak mungkin bisa membuat pecahan batu itu utuh kembali seperti aslinya.
Wan Fei-yang melihat semua itu, dia terharu dan mengerti, orang yang mengukir huruf-huruf di dinding sudah berjuang keras, tapi dia lebih mengerti bila ilmu iblis ini dipelajari oleh orang lain, bagaimana akibatnya?
Waktu itu dia mendengar suara baju ter-sampok angin, tapi dengan cepat menghilang, dia pura-pura tidak mendengar juga tidak menggeser kakinya.
Akhirnya orang itu sudah tidak sabar lagi, sambil menarik nafas dia keluar dari balik semak-semak, ternyata dia adalah orang tua berambut pirang yang tadi menyerang Wan Fei-yang dengan senjata api.
Semua sudah dalam perkiraan Wan Fei-yang, kalau tidak, dia tidak akan tergesa-gesa datang kemari untuk menghancurkan dinding itu.
Dengan bahasa Han yang kaku, orang tua itu berkata.
"Aku sudah berusaha, tapi tetap saja terlambat olehmu, aku tidak sempat mencatat ukiran yang ada di dinding juga tidak sempat menghalanginya, aku memang belum tentu bisa menghalangimu."
"Apakah kau tahu yang telah kau lakukan?53
"Ini adalah hal yang baik, paling sedikit kita bisa mengobrol!"
Jawab Wan Fei-yang.
"Karena sudah menemukan, maka aku datang melakukannya!"
Kata Wan Fei yang lagi sambil menggoyangkan kepalanya.
"Sayang, dinding yang didambakan seluruh kalangan persilatan hancur di tanganmu,"
Orang tua itu menghela nafas.
"kalangan persilatan Tionggoan memang punya ego yang tinggi!"
"Kau salah!"
Wan Fei-yang tertawa.
"aku hanya mengerti racun dan jahatnya ilmu iblis ini!"
"Apakah karena sudah menciptakan seorang musuh kuat bagimu?"
"Sebab bila ingin menguasai ilmu iblis ini membutuhkan tenaga dalam dan harus dibantu dengan banyak tenaga dalam dari pesilat-pesilat tangguh. Sedangkan tenaga dalam yang mereka miliki didapatkan dengan berlatih susah payah, kalau dihisap habis maka orang itu akan menjadi orang cacat kemudian mati!"
"Mungkin dengan waktu yang singkat ini, kau belum mempunyai waktu untuk mengerti keadaan sebenarnya,"
Katanya lagi "Aku mengerti!"
Orang tua berambut pirang itu menarik nafas.
"hanya sayang, penemuan Sat Kao yang begitu penting ini tidak dikabarkan, kalau tidak, semuanya tidak akan terjadi seperti ini!"
"Karena dia sendiri pun tidak yakin, begitu dia yakin, nyawanya sudah berada di ujung tanduk!"
"Semua masalah di dunia ini selalu seperti itu, sulit jika ingin mendapatkan keduanya dengan sempurna, tindakan Beng To pun tidak direncanakan terlebih dulu, sampai kami54 tidak tahu menahu tentangnya, begitu mendapatkan berita aku buru-buru datang kemari tapi keadaan sudah seperti ini!"
Orang tua berambut pirang itu tertawa lemas.
"Sepertinya dunia persilatan Tionggoan belum waktunya musnah!"
"Mengapa semua orang tidak mau hidup dengan damai?"
"Berhasil menaklukkan sesuatu merupakan kegembiraan yang tidak terlukiskan juga mulia, apa lagi bagi kehormatan suku!"
Hati Wan Fei-yang bergetar, masalah ini belum pernah terpikirkan olehnya. Orang tua berambut pirang itu melihatnya tiba-tiba tertawa.
"Sepertinya kau bukan orang jahat, malah terlalu baik, tapi ini bukan hal yang baik!"
Dia tertawa lagi.
"orang baik umurnya tidak akan panjang, kalimat ini kalian sering mengucapkan-nya!"
"Aku hanya ingin hatiku tidak menyesal!"
"Apakah benar kau tidak menyesal?"
Orang tua berambut pirang itu balik bertanya.
***55 BAB 16 Wan Fei-yang terdiam, hatinya menjadi tidak tenang, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Kata orang tua berambut pirang itu lagi.
"Hal yang dilakukan oleh orang baik pasti hasilnya juga baik, tapi hal baik itu mempunyai batasan seperti apa? Kau boleh berpikir-pikir dulu, apakah karena hatimu yang baik pada akhirnya malah membuat dirimu celaka?"
Hati Wan Fei-yang serasa tenggelam, jangan jauh-jauh, masalah Tong Ling dan Pei-pei, bukan-kah mereka meninggal gara-gara dirinya yang berbaik hati?
Orang tua berambut pirang itu seperti bisa membaca pikirannya, dia tertawa lagi.
"Langsung atau tidak langsung sama saja telah membunuh, tidak ada perbedaannya, benar atau salah, baik atau jahat, tidak ada orang yang bisa membedakannya dengan jelas, paling sedikit sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan orang seperti itu!"
"Aku hanya orang biasa!"
"Apakah kau yang mengaku sebagai orang biasa bisa mengubur semua masalah?"
Tanya orang tua berambut pirang itu.
"tampaknya pengetahuanmu tidak luas!"
"Inilah hal yang paling kusesalkan!"
"Aku tidak bisa membedakannya!"
Orang tua berambut pirang itu tertawa.
"Ini bukan hal yang buruk, kenyataan membuatku bosan untuk membedakannya!"
Dari kata-katanya, bisa ditangkap kalau dia orang yang sangat pandai bicara, juga mengerti mengenai perbedaan.56 Tanpa menunggu Wan Fei-yang menjawab, dia melanjutkan lagi.
"Sebenarnya aku bukan orang picik seperti yang kalian kira, aku adalah orang yang berprinsip, paling sedikit orang yang mengenalku selalu berkata demikian!"
Wan Fei-yang terdiam, orang tua berambut pirang itu meneruskan.
"Tapi waktu itu aku sudah tidak tahan dan terpaksa menembakmu!"
"Mungkin Beng To satu-satunya harapan kami, Sat Kao tidak salah memilih, orang itu memang berbakat, hanya saja semua tindakannya tidak terencana, mencari orang seperti itu memang tidak sulit, tapi dari mana bisa mencari lagi ilmu silat ini?"
Orang tua itu melihat serpihan batu dinding, wajahnya terlihat seperti kehilangan.
"Kau harus mengerti isi hatiku!"
Wan Fei-yang mengangguk, kata orang tua itu lagi.
"Ilmu silat Tionggoan memang misterius, walau pun terlihat seperti akan terjadi di penghujung, tapi di saat yang menegangkan mujizat muncul."
"Karena nafas dunia persilatan Tionggoan belum habis..."
"Aku percaya!"
"Tapi sayang, kalian tidak kompak."
"Kami akan kompak dan bersatu!"
"Apakah harus ada pelajaran berat yang kalian alami dulu?"
Orang tua berambut pirang itu tertawa.
"Ini bukan hal yang menggembirakan, lebih baik menghindari hal ini!"
Wan Fei-yang mengangguk, orang yang baru datang dari luar pun bisa melihat masalahnya di mana, tapi orang dunia persilatan Tionggoan sendiri seperti masih bermimpi.
Kalau57 hal ini bukan hal yang menggelikan, itu benar-benar hal menyedihkan.
Orang tua berambut pirang itu tertawa lagi.
"Sayang, kami yang sudah tua ini sudah tidak tertarik terhadap perebutan kekuasaan dunia persilatan Tionggoan, katanya orang yang sudah tua biasanya keras kepala tapi mengerti bagaimana merebut kekuasaan dunia persilatan Tionggoan, tidak penting tapi tetap mengijinkannya!"
Tiba-tiba Wan Fei-yang bertanya.
"Apakah kalian benar-benar mengerti?"
"Itu sebabnya mengapa kami sudah lama tidak muncul di dunia persilatan Tionggoan."
"Pemuda-pemuda kalian sedang melakukan apa?"
"Mereka melakukan hal yang mereka anggap berarti, misalnya mengubah lingkungan hidup, yang sudah ada diteliti lagi untuk diperluas, seperti senjata api ini."
Dari balik pinggangnya orang tua itu mengeluarkan senjata api.
"Bahan peledak kalian sendiri yang menemukannya, tapi kalian berhenti pada tahap awal!"
Hati Wan Fei-yang bergetar, orang tua itu menggelengkan kepala.
"Aku tidak suka barang seperti ini, tapi aku termasuk orang dunia persilatan, senjata api adalah jenis senjata rahasia, memang tidak adil menghadapi orang tanpa senjata di tangan."
"Tapi kau tetap membawa senjata api itu!"
"Aku harus mengakui kehebatannya, walaupun binatang buas menyerangku, dengan tangan kosong aku bisa menghadapinya, mempunyai barang yang ada kegunaannya tanpa harus mengeluarkan tenaga besar, mengapa tidak58 digunakan saja?"
Orang tua itu menancapkan kembali senjata api itu ke dalam ikat pinggangnya.
"Inilah sikap kalian terhadap senjata api!"
"Rata-rata memang seperti itu, yang pasti bila pikiran sedang tidak labil ingin menjaga prinsip bukan hal yang gampang, hati yang serakah tetap berpengaruh!"
"Dengan gosip-gosip yang beredar, tindakan kalian benar-benar berbeda!"
"Gosip adalah gosip, mungkin itu adalah gosip puluhan tahun lalu!"
Orang tua itu seperti bicara sendiri.
"manusia selalu bisa maju!"
"Maju?"
Wan Fei-yang merasa asing dengan kata-kata ini. Orang tua itu melihatnya dan tertawa.
"Di tempat asing kau akan mempunyai perasaan seperti ini!"
"Perasaan apa?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Tidak tahu apa yang disebut kemajuan?"
Orang tua itu menggelengkan kepala.
"terhadap pertama kali masuk Tionggoan dengan kali ini tidak ada perbedaan!"
Wan Fei-yang menjadi bingung, orang tua itu berkata lagi.
"Kalau ada kesempatan kau mesti keluar untuk melihat-lihat, banyak hal yang harus kau lihat sendiri baru percaya!"
Wan Fei-yang bertambah bingung, dia tidak pernah terpikir akan meninggalkan Tionggoan. Orang tua itu melanjutkan lagi.
"Kalian mempunyai pepatah, 'To-Ban-koan-sui, Pu-yu-seng-ban-li-lu' (Membaca ribuan buku, tetap lebih bermanfaat berjalan di luar, akan lebih banyak mendapat kebaikan) keluarlah, pandangan-mu akan bertambah luas!" 59 Baru saja kata-katanya habis, dia sudah tertawa kecut dan berkata sendiri.
"Aku tidak menyangkal, taraf kematangan budi dan perasaan serakah seseorang akan berpengaruh setelah berjalan keluar!"
Wan Fei-yang terdiam, dia masih memikirkan kata-kata orang tua tadi, orang tua itu seperti bicara sendiri.
"Maka orang-orang kami merasa lebih baik jarang mendatangi Tionggoan."
"Kalau tidak, sifat serakah mereka akan semakin besar!"
"Sampai-sampai aku yang sudah tua ini pun bisa bergerak, apa lagi yang muda!"
Orang tua itu tertawa.
"kecuali kalau kalian berusaha keras untuk kuat, kalau tidak... selamanya akan seperti ini, begitu terkena akan meledak!"
Wan Fei-yang mengangguk, orang tua itu tertawa.
"Sebenarnya kata-kata ini bukan kami yang mengucapkannya!"
"Kita adalah orang dunia persilatan!"
"Di negara kami sudah tidak ada lagi dunia persilatan!"
Orang tua itu tertawa.
"orang-orang setua kami, aku percaya merupakan kalangan persilatan generasi terakhir, anak muda kami sekarang ini kebanyakan menganggap berlatih ilmu silat hanya untuk kesehatan tubuh!"
Wan Fei-yang mengangguk, tawa orang tua itu berhenti.
"Sekarang kau boleh menyerangku!"
Dengan aneh Wan Fei-yang menatapnya, orang tua itu tertawa.
"Pertarungan kali ini sangat adil, aku tetap seorang pesilat!" 60 Dadanya dibusungkan, Wan Fei-yang melihat tekadnya dan percaya sampai titik darah terakhir, sampai mati pun dia tidak akan menyerang dengan senjata api. Maka dia jadi bertanya.
"Apakah kau membutuhkan pertarungan ini?"
Orang tua itu terpaku.
"Aku masih belum mengerti kalimatmu tadi, tapi aku akan berusaha untuk mengerti!"
Kata-katanya baru selesai, Wan Fei-yang membalikkan tubuh dan berjalan, gerakannya begitu ringan, tapi hatinya lebih berat dibandingkan ketika datang.
Pengetahuannya terbatas, itu yang paling disesalkan olehnya, banyak hal yang tidak bisa dibaca dengan jelas dan tidak tahu harus dengan cara apa menempatkannya, dia juga mengerti karena itu akan mengganggu cara dan kemampuannya menyampaikan.
Walaupun ada kesempatan belum tentu bisa meraihnya dengan kuat.
Tapi tidak karena itu dia menjadi patah semangat.
Orang tua itu tidak menghadang Wan Fei-yang pergi, dia melihat Wan Fei-yang yang telah pergi jauh, postur tubuh yang tadinya tegak pelan-pelan membungkuk, seperti tiba-tiba menjadi tua.
Dia ingin bertarung, tidak peduli hidup dan matinya, bukan karena dia sudah tua melainkan karena dia masih seorang pesilat.
Di sana, dunia persilatannya sudah tenggelam, karena itu membuat dia...
sebagai orang dunia persilatan lama-kelamaan kehilangan kegagahannya tempo hari.
Apakah dunia persilatan harus bertahan atau tidak, dia tidak tahu, kalau tidak, dia tidak akan begitu bimbang, tidak61 tahu mana yang harus diambil dan mana yang harus dibuang.
Sampai-sampai dia tidak bisa menentukan jalannya sendiri, karena di Tionggoan masih ada dunia persilatan.
Di Tionggoan dia bisa mendapatkan kembali perasaan kebanggaan dan cita-cita luhurnya.
Bila kembali ke negerinya, dia akan menjadi sekelompok orang yang terlupakan.
Tapi di Tionggoan dia termasuk orang dari Mo-kauw, tidak hanya akan didiskriminasi atau disingkirkan, lebih-lebih akan terus dikejar dan nyawanya akan melayang.
Setelah dipikir-pikir dia berpikiran ingin mati di depan Wan Fei-yang.
Ketika dia mencari-cari Wan Fei-yang, gunung sudah sepi, bayangan Wan Fei-yang sudah tidak ada.
Akhirnya dia duduk di atas serpihan dinding, mencabut senjata api dan mengarahkan ke kepalanya.
...
Wan Fei-yang mendengar suara letusan, dia berhenti dan menoleh, di hutan itu burung-burung terkejut lalu beterbangan, dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi firasatnya tidak enak, kedua alisnya pun berkerut.
Dia ingin kembali ke sana untuk melihat, akhirnya dia menekan keinginannya ini, apapun yang terjadi dia tidak bisa menyelamatkan orang tua itu dengan kekuatannya.
Dia sangat mengerti kalau dia hanya manusia biasa, dengan kekuatan terbatas, hal yang terjadi hanya kalau waktu diputar baru bisa berubah, tapi manusia tidak bisa melakukannya.
Firasatnya tidak enak, membuatnya merasa bingung.
Di benaknya orang tua berambut pirang itu bukan hanya mempunyai ilmu silat yang bagus dan sangat berpengalaman, seharusnya dia lebih mempunyai akal sehat.62 Tidak diragukan lagi, orang tua berambut pirang itu adalah seorang pesilat tulen, hanya melihatnya enggan menembakkan senjata api ke arah musuh sudah dapat diketahui sifatnya, karena dia adalah seorang pesilat tulen maka dia bisa memperhatikan masalah yang terjadi di dunia persilatan dan jauh-jauh datang ke Tionggoan.
Seorang pesilat tulen di dunia persilatan kalau tidak berada di dunia persilatan, maka kehidupannya tidak akan berarti.
Wan Fei-yang tidak lupa dengan apa yang dikatakan orang tua berambut pirang, di daerah mereka sudah tidak ada dunia persilatan.
Dia juga ingat pada kata-kata Kouw-bok.
...orang yang berkecimpung di dunia persilatan, melakukan sesuatu di luar kemauannya sendiri.
Pada akhirnya Kouw-bok juga mati di dunia persilatan, apakah orang tua pirang itu juga seperti itu?
Burung terbang melewati kepala Wan Fei-yang dan terbang ke balik awan, akhirnya Wan Fei-yang melangkah lagi dan meneruskan perjalanannya.
...Jalan dunia persilatan.
0-0-0 Malam sudah larut, salju masih terus turun.
Sejak sore salju sudah turun, sudah berlangsung 2 jam lamanya.
Fu Hiong-kun masih berlutut di depan kuil nikoh 'Kou-siu-an' sekarang sudah memasuki hari ketiga.
Salju yang turun menutupi lututnya, karena udara begitu dingin membuat wajahnya menjadi pucat, tapi sikapnya63 masih sangat teguh, bola matanya seperti sudah membeku menjadi es, dia terus menatap pintu yang tertutup rapat.
Angin dingin terus berhembus, dua lampion bergetar tertiup angin.
Di bawah sinar lampu yang redup, tiang di depan kuil tampak terus berkilau, seperti pedang-pedang tajam yang baru dikeluarkan dari sarungnya.
Pedang yang tajam seperti tidak mempunyai perasaan dan begitu hikmat.
Di balik pintu masih ada cahaya lampu, lantunan suara orang membaca kitab suci masih terdengar.
Saat suara orang melantunkan kitab sud berhenti, ada suara yang berkata.
"Suhu..."
"Apakah Hiong-kun masih berlutut di luar?"
Suara tua itu bertanya.
"Lapor Suhu, dia sudah berlutut selama 3 hari 3 malam di luar!"
"Apa gunanya 3 hari 3 malam?"
Suara tua itu mengeluh.
"bila belum mengerti arti kitab suci, berlutut selama 3 tahun pun percuma saja!"
Baru selesai berkata pintu terbuka.
Ku-suthay keluar ditemani oleh 2 nikoh separo baya.
Murid-murid Heng-san-pai tidak banyak, tapi ilmu pedang mereka berbeda, di dunia per-silatan imu pedangnya mempunyai kedudukan yang mantap, hanya saja murid-murid Heng-san-pai adalah hweesio atau nikoh, mereka tidak banyak mengurusi masalah dunia ini, maka tidak dikenal oleh banyak orang.
Semenjak Ku-suthay mencukur rambut dan masuk Kou-siu-an lalu menjadi pemimpin Heng-san-pai, dia jarang keluar tapi orang dunia persilatan selain tahu di Heng-san-pai ada Kwa-suthay, masih ada Ku-suthay.64 Kwa-suthay melanglang buana di dunia persilatan dan kabarnya tidak terkalahkan, tapi di depan orang-orang dia selalu mengatakan ilmu Budha dan ilmu silatnya kalah oleh Sucinya, Ku-suthay.
Dari luar terlihat, Ku-suthay seperti tidak bisa ilmu silat sebab dia selalu memberi kesan ramah dan penuh kasih sayang.
"Pelajaran malam sudah selesai, kalian boleh istirahat dulu..."
Dia menyuruh kedua nikoh itu pergi dan menghampiri Fu Hiong-kun. Di mata Fu Hiong-kun terlihat ada rasa girang, tapi Ku-suthay menggelengkan kepala dan menarik nafas.
"Anak bodoh!"
"Suhu, harap membantu Tecu mencapai tujuan dan membantu Tecu mencukur botak rambut-ku untuk menjadi seorang nikoh..."
Fu Hiong-kun memohon.
"Kau sudah berlutut selama 3 hari 3 malam, berarti tekadmu sudah bulat. Mencukur rambut hanyalah sebuah upacara, yang penting apakah kau berjodoh dengan Budha? Dan apakah kau mengerti ajaran-ajaran Budha? Bagaimana perasaan hatimu sekarang ini?"
Melihat salju yang beterbangan, Fu Hiong-kun menjawab.
"Hati Tecu sebersih salju!"
"Hati sebersih salju?"
Ku-suthay tertawa, dia mengangkat tangan dan menyambut salju yang turun, dia men-cengkeram dan membuka tangannya kembali.
"Di sini mana ada salju?"
Karena salju itu sudah mencair maka menetes di depan Fu Hiong-kun.65 Fu Hiong-kun terpaku, kata Ku-suthay lagi.
"Kau berada di kuil sudah 3 tahun, tapi guru merasa jodohmu dengan dunia sana belum selesai jadi kau tidak cocok menjadi seorang nikoh!"
"Tecu rela selamanya menemani Budha dan seumur hidup tidak menginjak keluar pintu kuil."
Mulut Fu Hiong-kun memang berkata seperti itu tapi hatinya terasa sepi dan sedih, sifat baik hati, yang jahat dan yang baik bisa dibedakan walaupun lahir di perkumpulan sesat di Siau-yau-kok, dia tetap bersih seperti sekuntum bunga teratai, maka ketika di Tai-san di puncak Giok-hong, pertarungan hidup dan mati antara Wan Fei-yang dan Tokko Bu-ti, Fu Giok-su, kakaknya ingin membunuh Wan Fei-yang.
Diam-diam dia keluar untuk melarang.
Fu Giok-su mati ditikam oleh adiknya sendiri, dia merasa sedih, walau bagaimanapun Fu Giok-su adalah kakaknya, satu-satunya orang yang dekat dengannya.
Akhirnya Wan Fei-yang pergi tanpa pamit, sampai sekarang tidak diketahui jejaknya.
Dia tidak tahu mengapa Wan Fei-yang bisa seperti itu, dia berusaha mencarinya tapi dia tidak tahu ke mana Wan Fei-yang pergi.
Dunia sangat luas, ingin mencari seseorang bukan hal yang mudah.
Akhirnya dia putus asa, dengan hati terluka dia masuk Kou-siu-an untuk menjadi murid Ku-suthay sudah berlangsung selama 3 tahun, tapi hatinya masih belum bisa tenang.
Karena itu terpikir untuk mencukur rambutnya untuk menjadi seorang nikoh.66
"Untuk apa?"
Ku-suthay terlihat mengerti isi hati Fu Hiong-kun, dia mengelus-elus kepala Fu Hiong-kun.
"tempat Budha bukan tempat untuk menyembunyikan cinta!"
"Tecu sudah berpikir matang!"
Mata Fu Hiong-kun berkaca-kaca. Ku-suthay tetap menggelengkan kepalanya.
"Aku akan menunggumu 3 tahun lagi, kalau dalam waktu 3 tahun kau masih ingin menjadi nikoh, guru pasti akan membantumu mencapai keinginanmu!"
"Tiga tahun?"
Fu Hiong-kun tertawa kecut.
"Dalam waktu 3 tahun, bila hatimu masih sebersih salju. Kau tidak perlu tinggal di kuil! Berdirilah, ada sesuatu yang harus kau lakukan!"
Dengan terpaksa Fu Hiong-kun berdiri, tapi karena terlalu lama berlutut, setelah berdiri dia tidak bisa berdiri dengan benar, tubuhnya oleng hampir ambruk, untung Ku-suthay segera memapahnya.
Salju masih turun, hati Fu Hiong-kun seperti salju yang jatuh ke atas tanah, tidak bisa berbuat apa-apa.
Sepucuk surat dan sebuah kotak yang sangat indah diberikan kepadanya, setelah menerima kedua barang itu, dia baru melihat sikap aneh Ku-suthay.
Dari dalam kuil terlihat asap terus melayang, sorot mata Ku-suthay menjadi bingung, seperti banyak pikiran.
Nada bicaranya terdengar sangat tidak tenang.
"Tahun depan saat 'Pek-hoa-ki' (Bunga seratus hari), antar surat itu ke Siong-san, Siauw-lim-si, waktu itu kau akan melihat akan ada seseorang bertarung dengan Sin-can Sangjin dari Siauw-lim-si, kalau yang menang adalah Sin-can Sangjin, biarkan saja, kalau bukan, serahkan kotak indah ini kepada orang itu, apakah kau mengerti?"
"Tecu mengerti, siapa orang itu..."
"Sampai waktunya nanti kau akan tahu."
Pelan-pelan Ku-suthay membalikkan tubuh, tiba-tiba dia berlutut di depan altar sembahyang.
"Budha yang baik hati, maafkan Tecu, berhati belum bersih..."
Fu Hiong-kun terkejut dan memapah gurunya berdiri, tapi Ku-suthay sudah menoleh, dari 2 alisnya terlihat dia sangat sedih.
"Jangankan kau, guru yang sudah masuk agama Budha selama 30 tahun pun sampai sekarang masih..."
Dia menggelengkan kepala sambil menarik nafas. Kata-katanya terhenti, Fu Hiong-kun melihat gurunya dengan bengong, dia tidak tahu apa yang mesti dia katakan. Lama hati Ku-suthay baru tenang.
"Masih ada 2 kalimat yang harus kau sampaikan kepada orang itu."
Dia berbisik walaupun di kuil hanya ada dia dan Fu Hiong-kun, tapi tetap merasa tidak tenang.
Setelah mendengar bisikan gurunya, Fu Hiong-kun hanya mengkedipkan mata, tidak ada reaksi berlebihan.
Dengan hati-hati Ku-suthay berpesan lagi.
"Bila dia yang menang, katakan kepadanya, kalimat pertama, kalau dia tidak menang, katakan kalimat kedua, apakah kau mengerti?"
"Tenanglah, Guru!"
Tiba-tiba Fu Hiong-kun menarik nafas.
Ku-suthay menundukkan kepala dan melafalkan ayat kitab suci, dia tidak bicara lagi.
Bulan dua, angin musim semi terasa lembut seperti air, meniup jalanan panjang di kota kecil itu.68 Jalan itu adalah jalan paling ramai di kota kecil ini, tapi sekarang hanya terlihat Fu Hiong-kun yang sedang berjalan seorang diri.
Toko-toko di kedua sisi jalan semua sudah tertutup rapat hingga suasana sangat sepi, Fu Hiong-kun merasa aneh.
Apakah telah terjadi sesuatu?
Baru saja terbersit pikiran itu, terdengar suara tangisan anak kedi, Fu Hiong-kun mengikuti suara itu untuk melihat, dalam jarak beberapa depa darinya di sebuah tiang terlihat ada seorang anak perempuan berumur 5-6 tahun terikat di tiang itu.
Wajah anak perempuan itu pucat, melihat Fu Hiong-kun mendekatinya, dia malah bertambah takut, tangisannya bertambah keras.
Fu Hiong-kun berhenti di depan tiang itu, ketika dia akan meloncat membuka ikatan talinya dan menanyai anak kecil itu, tiba-tiba pintu penginapan itu terbuka.
Fu Hiong-kun segera melihat ke arah itu, terlihat seseorang berbaju mewah keluar dari penginapan.
Orang itu sudah separo baya.
Kumis yang tumbuh di atas bibirnya membuatnya bertambah dewasa, walaupun baju mewahnya tidak terkesan menarik, tapi membuat orang yang melihatnya merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.
Gerakannya tenang, di bawah sinar matahari terlihat wajahnya yang tersenyum enak dipandang.
Fu Hiong-kun mempunyai perasaan kalau dia bukan orang jahat, tapi orang itu mengeluarkan kata-kata aneh.
"Anak ini jangan diusik!"
"Apakah kau yang mengikatnya?"
Fu Hiong-kun mendesak. Orang itu menggelengkan kepala, Fu Hiong-kun bertanya lagi.69
"Siapa kau?"
"Orang yang lewat di sini!"
"Di jalan bertemu dengan ketidak adilan, sudah seharusnya mencabut pedang untuk membantu, tapi kau yang lewat hanya berpangku tangan melihat, sekarang malah menghalangi orang yang ingin menolong,"
Fu Hiong-kun tertawa dingin. Orang berbaju mewah itu tertawa.
"Aku hanya merasa khawatir, kau tidak akan sanggupmenghadapi orang yang akan datang."
"Walau bagaimanapun anak kecil ini patut dikasihani, aku harus menolongnya."
Fu Hiong-kun segera meloncat.
Orang berbaju mewah itu ikut meloncat dan menghalangi Fu Hiong-kun dengan kedua tangan-nya.
Ke lima jari Fu Hiong-kun segera menotok nadi di pergelangan tangan orang itu, reaksi orang itu sangat cepat, dengan jurus 'Hwan-hoa-ho-liu' (Mengganti bunga dan pohon Liu yang melambai) dia menerima 3 jurus serangan dari Fu Hiong-kun.
Mereka naik ke atas sebentar lalu tampak turun, Fu Hiong-kun tertawa dingin.
"Ku lihat kau berilmu tinggi, memang tidak meleset!"
Fu Hiong-kun menyerang lagi dengan tangan nya, orang ini mundur 7 langkah, setelah menerima 10 kali serangannya, dia segera membalikkan tubuh meloncat masuk ke dalam penginapan, Fu Hiong-kun mengejar, dia ikut masuk ke dalam penginapan dan kedua tangan menyerang lagi.
Orang itu menghindar ke kiri dan ke kanan, dengan jurus burung membalikkan tubuh, dia berlari ke belakang Fu Hiong-kun, kemudian menutup pintu dan berkata.70
"Mereka sudah datang!"
Gerakan Fu Hiong-kun jadi berhenti, orang itu meloncat ke depan jendela, membuka sedikit jendela atas, dari lubang kertas dia melihat keluar.
Fu Hiong-kun melihat perbuatannya, dia mendengar sebentar lalu ikut melubangi kertas jendela, melihat keluar.
Jalan sepi tidak ada seorang pun, anak perem puan yang diikat di tiang pun tidak menangis lagi, dia terkejut melihat Fu Hiong-kun dan orang berbaju mewah itu terus meloncat dan berlari.
Angin berhembus lewat, suara baju yang terkena angin terdengar jelas.
4 orang berbaju putih turun dari atap, kemudian diikuti 4 orang yang berbaju merah, 4 orang berbaju biru, dan 4 orang berbaju kuning, terakhir adalah 4 orang berbaju hijau.
Dua puluh orang dengan baju berbeda warna ini mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, dan sepertinya mereka sudah terlatih dengan tekun, dengan cepat mereka membuat sebuah pemandangan menyolok di jalanan itu, berkumpul dan berpencar lagi.
Di jalan masuk menuju jalan panjang ini terlihat asap berwarna-warni, ratusan orang berbaju putih, kuning, merah, biru, hijau keluar dari balik asap berwarna-warni itu, mereka menggotong dua tandu yang tidak tertutup di atas pundak mereka dan berjalan menuju tiang itu.
Masing-masing tandu berisi seorang laki-laki paro baya berbaju perak, berwajah pucat dan tinggi, berkumis juga bertubuh kerempeng, mereka benar-benar seperti mayat hidup.
Wajah kedua orang itu sangat mirip, sikapnya pun mirip, siapa pun yang telah melihat mereka akan merasa takut.71 Tandu diturunkan, mata mereka terbuka.
Warna putih lebih banyak dibandingkan yang hitam, mata mereka seperti siluman sekarang sedang melihat ke arah tiang, kemudian mejamkan mata dan mengangguk bersamaan.
Dua orang berbaju putih segera meloncat ke atas tiang, membuka ikatan yang mengikat gadis kecil itu, kemudian membawa gadis kecil itu turun.
Dua orang berbaju hijau segera membuka karung dan menyambut dua orang berbaju putih itu, dengan tepat memasukkan gadis kedi itu ke dalam karung, mengikat mulut karung lalu melempar ke dalam kotak yang digotong oleh dua orang berbaju biru.
Di dalam kotak kayu itu ada karung yang sama.
Setelah menutup kotak itu barisan mereka berjalan lagi.
Fu Hiong-kun tidak tahan lagi.
"Mereka adalah..."
"Murid-murid Pek-lian-kauw." (Perkumpulan Teratai Putih) jawab orang berbaju mewah dengan suara rendah.
"orang yang digotong di atas pundak adalah bawahan Kauwcu bernama Thian, Te dan Jin (Langit, bumi, manusia), mereka ketua Thian dan Te, bergelar Ku-hai-siang-yauw (sepasang siluman Ku-hai)" .
"Oh ya? Untuk apa mereka menangkap gadis kecil itu?"
Tidak ada jawaban, Fu Hiong-kun melihat ke sisinya, jendela di sebelah sana sudah terbuka, orang itu sudah menghilang, dia meloncat ke sana untuk melihat.
Asap berwarna di jalanan belum menyebar hingga bersih, tapi orang itu sudah menghilang.
Dia berpikir sejenak kemudian dia pun bergerak, dan berlari keluar.72 Sore, Fu Hiong-kun berjalan di sebuah jalan di gunung kecil.
Sore hari awan terlihat indah, tapi Fu Hiong-kun tidak tertarik menikmatinya, dia hanya berkonsentrasi mengawasi barisan orang Pek-lian-kauw.
Dari atas melihat ke bawah, dia bisa melihat dengan jelas, barisan Pek-lian-kauw itu masih terus berjalan.
Fu Hiong-kun tidak tahu mereka akan pergi ke mana juga tidak bisa menebak apa tujuan mereka menangkap gadis kecil itu.
Orang berbaju mewah yang selalu melayang-layang itu pun membuatnya bingung, dengan terpaksa dia harus mengejar mereka untuk mengetahui apa alasan melakukan semua ini.
Orang berbaju mewah tadi sepertinya bukan orang jahat, Pek-lian-kauw dalam bayangannya pun tidak terlalu jahat.
Dia tahu kalau Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan setengah terbuka, kadang-kadang disebut Beng-kauw, terkadang disebut Bi-lek-kauw (Bi-lek=nama dewa) mereka membakar dupa untuk bersembahyang, memasang lampu, juga vegetarian, dan harus melakukan sembahyang di waktu yang dipentingkan, mereka percaya kalau Bi-lek-hud akan turun ke dunia ini untuk menjadi raja Beng di dunia ini.
Sebenarnya nama aslinya adalah Beng-kauw disebut Mo-li-kauw.
Seseorang dari Negara Fo-se, menyatukan namanya menjadi Fo-se-pek-huo-kauw (Agama menyembah api) dengan agama Budha di India, agama Kristen dari Yunani, menjadi sebuah agama baru.
Mereka berpendapat bahwa meraka harus memasang lampu semalam suntuk, dengan berperang melawan kegelapan.
Makanan vegetarian, dengan maksud mereka tidak makan daging, bukan daging73 ayam, sapi, kambing, melainkan kelompok bawang-bawangan.
Di malam tertentu dalam jangka waktu satu bulan harus berkumpul secara rahasia.
Di jaman dinasti Tong mereka sudah masuk Tionggoan, sampai pada dinasti Song ajaran mereka semakin besar kekuatannya dan pernah melakukan pemberontakan melawan pemerintah.
Pek-lian-kauw bisa dikatakan cabang agama Budha yang menyembah O-mi, To-hud, semakin lama agama ini semakin diterima rakyat, apa lagi waktu itu suasana sedang penuh kekacauan.
Sejarah agama Bi-lek paling misterius dan tidak banyak tercatat.
Katanya wajah Bi-lek-hud terlihat sangat ramah dan selalu tersenyum, karena itu dia disebut Siau-hud (Budha tertawa).
(Bi-lek-hud atau Siau-hud adalah Budha berperut besar, biasanya orang Tionghoa bila ke kuil ingin meraba perut atau wajahnya, kabarnya setelah meraba perut dan wajahnya kita akan selalu tertawa, artinya tidak ada yang perlu menekuk wajah lagi) kehidupan dan usaha pun akan lancar.
Bi-lek-hud katanya orang yang kedua setelah Budha Sakyamuni menjadi dewa Budha.
Tiga agama dengan asal usulnya berbeda, pada akhir dinasti Goan selalu digunakan oleh pemberontak melawan kerajaan Goan mengembalikan kejayaan dinasti Song dan menutupi gerakan mereka.
Karena tujuan yang sama lama-kelamaan mereka bersatu dan bercampur dari 3 agama itu.
Fu Hiong-kun mempunyai pengetahuan yang salah.
Melawan dinasti Goan tidak akan bisa mengembalikan kejayaan dinasti Song.
Cu Goan-ciang menyatukan seluruh Tiongkok dan mendirikan dinasti Beng.
Katanya dia pernah dipilih menjadi pemimpin Beng-kauw, Pek-lian-kauw, dan Bi-74 lek-kauw, setelah naik tahta karena jasa masing-masing, dia memberi anugerah kepada 3 agama ini, maka ketiga agama itu tidak muncul lagi.
Semenjak Fu Hiong-kun berkelana di dunia persilatan, untuk pertama kali dia bertemu dengan orang-orang Pek-lian-kauw, dia merasa aneh dengan kemunduran mereka juga mengkhawatirkan keselamatan gadis kecil itu.
Malam semakin terasa dingin, akhirnya murid-murid Pek-lian-kauw berhenti di sebuah lapangan terpencil.
Fu Hiong-kun bersembunyi di sebuah pohon, terus mengawasi mereka.
Di lapangan rumput itu tidak ada yang aneh.
Barisan murid Pek-lian-kauw seperti tidak siap menginap di lapangan berumput itu, tapi mereka berdiri dalam barisan 5 kelompok berwarna, mereka seperti sedang menunggu sesuatu.
Sebelum mereka datang, sebagian murid Pek-lian-kauw sudah berkumpul di sana.
Tidak diragukan lagi ratusan orang dengan jabatan tertinggi adalah Thian-te-sian-cun.
Melihat Siang-cun datang mereka segera menyambutnya.
Sebuah lampu merah menyala di lapangan berumput itu, kemudian disusul lampu biru, kuning , putih, dan hijau.
Lima barisan berwarna dengan warna lampu tidak sama menyala, warnanya sangat jelas, barisan pun terlihat sangat rapi, di dalam pekatnya kegelapan terlihat sangat aneh dan indah.
Cahaya lampu menyinari lapangan berumput itu menjadi terang.
Fu Hiong-kun baru melihat dengan jelas di depan murid-murid Pek-lian-kauw berhenti sebuah lampu emas yang sangat besar, di bawah sinar lampu emas ada sebuah bunga teratai putih yang sangat besar, tapi belum mekar, bunga teratai itu di bawah siraman lampu tampak berkilau.75 Di depan bunga teratai putih itu terlihat ada 3 teratai putih kecil.
Di kiri dan kanan duduk Thian-te-siang-cun, tapi salah satu kursi tampak kosong.
Lampu emas besar itu akhirnya menyala, di bawah cahaya itu terlihat pengikut Pek-lian-kauw bersorak.
"Bunga teratai yang suci, terang, sangat senang, Bi-lek lahir untuk menolong semua orang menjadi baik."
Ketika pengikut Pek-lian-kauw bersorak, teratai putih besar itu mekar di bawah siraman cahaya lampu emas itu.
Di tengah-tengah teratai duduk bersila seorang tua berbaju emas, rambut dan janggutnya sudah memutih.
Ke dua tangan orang tua itu menekan sebuah kecapi tua, kedua alisnya panjang juga putih tampak terangkat, matanya dengan pelan membuka.
Sorot matanya tampak seperti dua kilat, tidak terlihat sedang marah tapi sangat berwibawa.
Sorot matanya melihat tempat duduk teratai yang kosong, pelan-pelan bertanya.
"Manajin-cun?"
Nada bicaranya tidak tinggi tapi setiap orang bisa mendengar dengan jelas.
"Lapor Kauwcu, Jin-cun sudah menghilang selama 3 tahun!"
Jawab Thian-cun dengan cepat.
Orang tua itu adalah orang yang dikabarkan dunia persilatan mempunyai kepandaian sangat tinggi dan tidak bisa diduga kehebatannya.
Identitasnya sangat misterius dan mempunyai julukan 'Pu-lo-sin-sian' (Dewa yang tidak pernah tua) dia adalah Kauwcu dari Pek-lian-kauw yang sudah lama menghilang.
Wajahnya langsung terlihat marah.76
"Selama 20 tahun ini pertama kalinya aku Cu-koan (keluar dari latihan) berani-beraninya dia tidak datang untuk bertemu denganku, apakah aku tidak berharga di matanya?"
Thian-te-siang-cun tidak berani menjawab, pengikut Pek-lian-kauw dan 5 kelompok sewarna lampu pun hanya diam tidak ada seorang pun yang berani menjawab, hingga lapangan berumput itu jadi sepi dan hening.
Put-lo-sin-sian melihat semua orang dan berkata.
"Di malam rapat akbar Pek-lian-kauw, ada dua hal yang harus kalian tahu, 20 tahun yang lalu aku dan Sin-can Sangjin dari Siauw-lim-pai berjanji akan bertarung di Tai-san, semua karena gaya dan pandangan kami berbeda. Pek-lian-kauw dianggap perkumpulan sesat, karena itu kami berjanji 20 tahun kemudian di hari Pek-hoa di Siong-san, kami akan bertarung, yang kalah harus membawa murid-muridnya bergabung dengan perkumpulan lawan, kalau kalian masih curiga kepadaku, silakan tinggalkan Pek-lian-kauw, aku tidak akan memperpanjang masalah!"
"Kepandaian Kauwcu begitu hebat, Pek-lian-kauw pasti menang dan Siauw-lim-pai akan kalah!"
Pengikut Pek-lian-kauw seperti sudah ada pengerti-an yang tidak perlu diungkapkan, mereka serentak berkata dan bersorak.
"Baik sekali, Siauw-lim-pai pasti akan kalah,"
Put-lo-sin-sian tertawa.
"mencukur rambut menjadi hweesio, setiap hari memukul kentongan dan ikan kayu, apakah akan cocok untuk kalian? Kalau aku kalah bertarung dan kalian melihat tanda-tanda yang kuberikan, segera turun gunung dan tinggalkan tempat itu!"
Pengikut Pek-lian-kauw saling pandang tapi tidak bersuara, Put-lo-sin-sian selalu mengaku tidak terkalahkan, sekarang dia bicara seperti itu, apakah dia tidak yakin?77 Sorot mata Put-lo-sin-sian melihat Thian-te-siang-cun.
"Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan terorganisasi, Pek-lian-kauw juga perkumpulan suci, karena dianggap sebagai perkumpulan sesat walau pun aku melakukan Pi-koan (tutup pintu) untuk berlatih silat, tapi apa yang terjadi di dunia persilatan ini aku tetap tahu, seperti tahu detil jari dan tanganku sendiri. Katanya ada banyak pengikut Pek-lian-kauw yang sering berbuat kejahatan, apa-kah itu benar?"
Thian-cun seperti tidak ada masalah yang terjadi, dia menjawab.
"Murid-murid perkumpulan kita mengikuti peraturan dan kebiasaan dengan patuh, banyak gosip mengatakan seperti itu, aku takut ada yang bermaksud jahat!"
Dari balik bajunya Put-lo-sin-sian mengeluarkan sebuah plakat giok, dengan plakat itu dia menghadapi semua orang.
"Di bawah perintah giok hijau ini, kalau ada yang menutupi kenyataan sebenarnya, akan dihukum sesuai peraturan perkumpulan!"
Semua murid Pek-lian-kauw tampak ketakutan dan menyembah.
"Aku tahu selama beberapa hari ini ada orang dengan kata-kata jahat mengancam dan memaksa orang desa yang lugu menyerahkan anak laki-laki dan anak perempuan mereka untuk dilatih yang dikatakan Pek-kut-mo-kang (Umu iblis tulang putih), aku memberikan peringatan terakhir, peri-laku sesat itu segera harus berakhir, kalau tidak, setelah masalah di Siong-san selesai, aku akan membunuh orang seperti itu!" 78 Semua orang terdiam, Thian-te-siang-cun tidak bereaksi apa-apa, sepertinya masalah ini tidak ada hubungan dengan mereka dan tidak tahu menahu tentang hal ini.
"Aku akan memperlihatkan benda itu kepada kalian!"
Put-lo-sin-sian tepuk tangan.
Dua murid Pek-lian-kauw keluar dari hutan dan menggotong sebuah kotak besar, melihat kotak kayu itu wajah Thian-te-siang-cun segera berubah.
Kotak kayu itu diletakkan di depan Put-lo-sin-sian, dua murid Pek-lian-kauw itu segera mundur.
"Inilah benda perkumpulan kita, apa isinya, kalian pasti sudah tahu, cepat keluarkan!"
Put-lo-sin-sian membentak. Empat murid Pek-lian-kauw keluar dari hutan, mereka adalah orang yang tadi menggotong kotak itu ke hadapan Thian-te-siang-cun.
"Orang dan benda curian tertangkap basah, apa yang akan kalian katakan?"
"Kauwcu menyalahkan kami yang tidak bersalah..."
Empat murid Pek-lian-kauw itu segera berlutut.
"Kalian berani bicara lagi!"
Kedua alis Put-lo-sin-sian terangkat.
"biar kalian merasakan apa yang disebut Leng-yan-soh-hun!"
Kata-katanya baru selesai, jari tengah Put-lo-sin-sian menyentil, suara keras memecah langit, 4 murid Pek-lian-kauw tadi telah roboh dan mati seketika.
Semua orang tampak ketakutan, hanya Thian-te-siang-cun terlihat tenang, mereka tahu Put-lo-sin-sian akan melindungi mereka, karena telah menghukum 4 pengkhianat, untuk sementara tidak akan diusut lagi.
Benar saja, Put-lo-sin-sian tidak berkata apa-apa lagi, dia mengibaskan lengan bajunya, angin kencang terus79 menggulung kotak kayu itu belah, tapi dua karung yang tersimpan di dalamnya tidak terganggu.
"Buka ikatannya..."
Pesan Put-lo-sin-sian.
Dua murid Pek-lian-kauw segera membuka ikatan karung dan terpaku di sana, karena di dalam karung berisi 2 ekor babi kecil.
Thian-te-siang-cun dan semua murid Pek-lian-kauw tampak terkejut, Put-lo-sin-sian pun terpaku.
Fu Hiong-kun yang berada di atas pohon melihat semuanya, dia segera berpikir itu tentu prkerjaan orang berbaju mewah itu, kemudian dia melihat 2 ekor babi kecil terus berlarian dan barisan murid Pek-lian-kauw tampak jadi ribut, dia tertawa hingga mengeluarkan suara.
Put-lo-sin-sian segera bereaksi, dua alisnya segera terangkat, kemudian tertawa dingin.
"Menukar matahari dengan bulan, baiklah! Kalau Tuan di depan Siang-cun bisa melakukan jurus ini, berarti Tuan memang hebat, biar mereka tahu di atas langit sana masih ada langit yang lebih tinggi, di atas manusia sana masih ada manusia yang lebih kuat!"
Wajah Thian-te-siang-cun tidak ada ekspresi sedikit pun, tapi dari mata mereka memancarkan aura membunuh.
Fu Hiong-kun tidak bisa melihat reaksi Thian-te-siang-cun, tapi kata-kata Put-lo-sin-sian semua terdengar jelas.
Dia sadar tawanya tadi sudah diketahuii oleh Put-lo-sin-sian.
"Kalian berdua sudah lama mencuri dengar rapat kami, sudah waktunya kalian pergi!"
Kata Put-lo-sin-sian. Fu Hiong-kun merasa aneh, seseorang sudah turun dari atas pohon seperti seekor kera, dia adalah orang berbaju mewah itu.
"Maksudnya adalah kita!"
Wajah orang itu penuh tawa.80 Fu Hiong-kun melihatnya dan tidak bersuara. Kata-kata Put-lo-sin-sian terdengar lagi.
"Malam ini aku ada urusan penting, tidak leluasa melayani kalian, kelak bila ada kesempatan aku akan meminta petunjuk kepada kalian berdua, sekarang dengan iringan suara kecapi ini aku akan mengantarkan tamu-tamu pergi!"
Tawa orang berbaju mewah segera berhenti, dia segera berkata.
"Nona, cepat pergi! Suara kecapi Jit-sat (7 roh jahat) tidak akan bisa membuat kita kuat bertahan!"
Dia segera berlari.
Fu Hiong-kun ingin bertanya tapi suara kecapi sudah terdengar, seperti suara guntur, walaupun tenaga dalamnya lumayan tinggi tapi dia tetap tergetar oleh suara kecapi dan dia merasa bergoyang goyang, dia segera meloncat dari atas pohon.
Dia mencari orang itu tapi sudah tidak ter-lihat jejaknya.
Fu Hiong-kun tertawa kecut sambil menggelengkan kepala.
"Orang itu..."
Suara kecapi terdengar lagi untuk kedua kalinya.
Fu Hiong-kun segera berlari dengan cepat dan menghilang di dalam kegelapan.
Put-lo-sin-sian tidak memetik kecapi untuk ketiga kali, dia membiarkan Fu Hiong-kun dan orang berbaju mewah itu pergi.
Baginya tidak ada hal lebih penting dari pertarungannya dengan Sin-can Sangjin di Siong-san.
Fu Hiong-kun mengendarai kuda dan saat ini dia sudah tiba di Siong-san, setelah melakukan perjalanan selama 3 hari dia berhenti mengikuti aturan Sia-be-pak (tugu turun dari kuda) kemudian berjalan kaki menuju Siauw-lim-si.81
"Hari ini dan esok, Siauw-lim-si tidak menerima tamu, harap Sicu kembali lagi nanti!"
Dua orang hweesio menahan Fu Hiong-kun di luar kuil.
"Aku adalah murid Heng-san-pai dari Kou-siu-an, aku diperintahkan guruku datang kemari untuk menemui pemimpin kalian!"
Fu Hiong-kun mengeluarkan sepucuk surat.
Dua orang hweesio yang bertugas melayani tamu segera melihat surat itu dan saling bertukar pandang.
Yang satu membawa surat itu masuk, yang satu lagi merangkapkan telapak tangannya berkata.
"Harap Sicu menunggu sebentar!"
Baru saja Fu Hiong-kun akan menjawab, dia melihat hweesio yang bertugas melayani tamu, melihat ke arah jauh, mengikuti arah pandangannya.
Benar saja ada orang sedang berjalan mendekatinya, dia adalah orang berbaju mewah itu.
Melihat Fu Hiong-kun ada di situ, orang berbaju mewah terlihat terkejut.
Setibanya di sisi Fu Hiong-kun dia baru berkata.
"Sungguh kebetulan!"
"Ke mana aku pergi, kau juga pasti akan pergi ke sana, benar-benar sangat kebetulan!"
Jawab Fu Hiong-kun dengan santai.
"tapi sayang Siauw-lim-si hari ini dan esok tidak menerima tamu!"
"Benarkah?"
Orang berbaju mewah itu segera berbicara kepada hweesio yang bertugas melayani tamu.
"Aku persilahkan guru melapor, bahwa orang yang datang dari ibu kota sudah tiba!"
Hweesio itu terpaku.
"An-lek-hou..."
Dengan cepat dia memberi hormat. (Hou=gubemur, An-lek= jabatan).82
"Tuan Su sudah datang, kami..."
Orang berbaju mewah melambaikan tangannya.
"Tidak usah seperti itu..."
"Silakan masuk dan duduk di dalam!"
"Di sini pun sama!"
"Orang dunia persilatan harus menghormati aturan dunia persilatan!"
"Biar aku melapor kepada Hong-tiang!"
Kata hweesio itu dan segera membalikkan tubuh dan berlari.
"Apakah Anda An-lek-hou, Su Yan-hong?"
Tanya Fu Hiong-kun.
"Benar!"
Su Yan-hong tampak terkejut.
"Nona..."
"An-lek-hou adalah orang berilmu tinggi juga menguasai sastra tinggi, dan murid Kun-lun-pai Tiong Toa-sianseng, di dunia persilatan ini siapa yang tidak tahu Anda?"
"Oh!"
Su Yan-hong memberi hormat.
"Siapakah nama Nona?"
"Fu Hiong-kun dari Heng-san-pai!"
"Oh!"
Su Yan-hong tidak berkata apa-apa lagi, menilik sikapnya kepada Fu Hiong-kun yang datang dari Heng-san-pai dia punya sedikit kesan.
"Anda tidak menikmati hidup di ibu kota, lalu datang ke Siauw-lim-si, ada keperluan apa?"
Su Yan-hong hanya tertawa, tidak menjawab.
Fu Hiong-kun pun tidak bertanya lagi.
Tidak lama kemudian, sekelompok hweesio keluar dan dalam kuil.
Fu Hiong-kun memang tidak mengenali mereka, tapi dia bisa menebak siapa saja, yang paling depan adalah Hong-tiang Siauw-lim-si, Bu-go Taysu.83
"Lihat! Hongtiang Siauw-lim-si sendiri yang keluar menyambutmu!"
Nada bicara Fu Hiong-kun bertambah dingin. Su Yan-hong hanya tertawa. Tapi begitu tiba di hadapan mereka, Bu-go Taysu malah menyapa Fu Hiong-kun dan bertanya.
"Bagaimana keadaan gurumu? Apakah dia baik-baik saja?"
Fu Hiong-kun merasa terkejut, tapi dia tetap tidak lupa untuk bersikap sopan.
"Baik..."
"Antarkan Nona Fu ke Ceng-sin-goan untuk beristirahat!"
Pesan Bu-go Taysu. Fu Hiong-kun tidak banyak bertanya lagi, setelah di Ku-siu-an selama 3 tahun dia menjadi sangat bisa menguasai diri. Bu-go Taysu berkata kepada Su Yan-hong.
"Hou-ya, silakan ke ruang tamu untuk mengobrol!"
Yang berbicara di ruang tamu hanya ketua Siauw-lim-pai, Bu-go Taysu, tianglo Siauw-lim-si, Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong.
"Baginda sudah beberapa kali memberikan banyak sumbangan, sekarang Hou-ya sendiri yang datang ke Siauw-lim-si, apakah ada firman dari baginda?"
Bu-go Taysu tidak berbelit-belit langsung bertanya.
"Siauw-lim-si adalah tempat belajar agama Budha secara tepat dan lurus, Siauw-lim-si juga tempat asal ilmu silat Tionggoan. Baginda sudah lama berencana menginginkan Hong-tiang datang ke ibu kota untuk mempropagandakan agama Budha, beliau juga ingin mengangkat Taysu menjadi Koksu."
"Pinceng terima kebaikan baginda di dalam hati!"
Bu-go Taysu melafalkan bacaan Budha.
"Maksud baginda terasa tulus dan iklas..."
"Pinceng mengerti, hanya saja pinceng telah mengabdi kepada Budha, maka sudah tidak tertarik pada semua itu..."
Bu-go Taysu berkata sambil menarik nafas.
"apalagi Siauw-lim-si akan menghadapi sebuah halangan, mengurus sendiri pun masih merasa kewalahan."
"Maksud Taysu apakah masalah pertarungan antara Put-lo-sin-sian dan Sin-can Sangjin?"
"Perjanjian pertarungan akan dilakukan esok hari, pertarungan menyangkut hidup dan mati Siauw-lim, maka malam ini di Siauw-lim-si akan diadakan membaca ayat suci Budha untuk menyam-but tetua Siauw-lim Cu-koan (keluar dari tempat latihan silat)."
"Sebelum Sin-can Sangjin Jit-koan, namanya sudah menggetarkan dunia persilatan. Golongan sesat dan siluman sangat takut pada beliau, jadi Taysu tidak perlu merasa khawatir!"
"Aku berharap begitu!"
Bu-go Taysu menarik nafas panjang.
"Baginda..."
Bu-go Taysu melayangkan tangan memotong, dia mengalihkan pembicaraan.
"Apakah keadaan Tiong Toa-sianseng baik-baik saja?"
"Setiap tahun aku pasti pergi ke Kun-lun, Suhu baik-baik saja dan dalam keadaan sehat!"
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 8
Baca Juga: Sepasang Rajah Naga 5