Eps 7 Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
"Sebelum tetua Jit-koan (masuk berlatih silat) beliau sudah 3 kali mengunjungi Kun-lun menenui Tiong Toa-sianseng untuk mengobrol secara luas, waktu itu pinceng85 selalu ikut, setelah dihitung-hitung tidak terasa sudah lewat 23 tahun."
Bu-go Taysu menghembus nafas panjang. Su Yan-hong masih belum mengerti Bu-go Taysu sudah bersikeras, dia masih bertanya.
"Apakah Taysu bisa mempertemukan aku dengan tamu yang ada di Teng-toh-goan?"
"Oh?"
Bu-go Taysu terpaku.
"Ini adalah kehendak baginda!"
Bu-go Taysu melihat Bu-wie, Bu-wie tertawa dan berkata.
"Ini adalah kehendak Langit!"
"Kehendak Langit sulit ditebak."
Bu-go Taysu melafalkan ayat suci Budha lagi.
Tong-toh-goan (Ruangan mendengar gelombang) yaitu mendengar suara alunan gelombang bambu.
Teng-toh-goan adalah sebuah rumah ber-loteng kecil, bila kita duduk di atas loteng dan angin kencang berhembus lewat, kita seperti duduk di atas sampan yang sedang berjalan di atas gelombang besar.
Wan Fei-yang sudah tidak punya perasaan seperti itu, mungkin karena dia sudah terbiasa atau karena perasaannya sudah mati.
Dia sendiri menganggapnya seperti itu, tapi begitu dia melihat Su Yan-hong, dia tidak bisa menguasai diri dan datang menyambutnya.
"Apa kabar, Hou-tayjin?"
Nadanya masih penuh dengan kehangatan.
"Baik!"
Su Yan-hong memegang erat kedua tangan Wan Fei-yang.
"Lo-te, masalahnya sudah lewat..."
Wan Fei-yang mengangguk.
"Terima kasih Hou-ya sudah menolong nyawaku..."86
"Lagi-lagi kau mengatakan masalah ini lagi, sebenarnya tidak ada hubungannya denganku,"
Su Yan-hong tertawa.
"Tiga tahun yang lalu, ketika di Tai-san saat aku menyambut pukulan Tokko Bu-ti, sekalipun menang tapi nadi-nadiku sudah banyak yang putus, kalau bukan karena bertemu dengan Hou-ya, dan memberikanku obat Cian-lian-ciap-su lalu mengantarkan aku ke Siauw-lim-si, dibantu oleh Bu-go Taysu dengan ilmu tusuk jarum, sehingga membuat nadiku tersambung kembali seperti semula, kalau tidak, walaupun aku tidak mati, aku percaya aku sudah menjadi orang cacat."
Inilah alasan mengapa diam-diam dia mening galkan Fu Hiong-kun, dia sadar kalau dia tidak akan bisa hidup lama, untuk apa membuat Fu Hiong-kun sedih, maka dia hanya bisa bersembunyi, tidak disangka dia bertemu Su Yan-hong, akhirnya dirinya malah tertolong.
"Cian-lian-ciap-su adalah benda yang diberikan pejabat daerah kepada baginda, aku hanya mengambilnya saja! Kalau Bu-go Taysu tidak punya hati seperti Budha walaupun aku mempunyai obat itu pun percuma saja,"
Kata Su Yan-hong sambil tertawa.
"semua sudah berlalu, jangan dibicarakan lagi!"
"Apa tujuan Hou-ya datang kemari kali ini?"
"Sebenarnya aku diperintahkan oleh baginda raja!"
"Bila ada masalah, katakanlah langsung."
"Baginda ingin bertemu denganmu!"
Wan Fei-yang terkejut, lama baru berkata.
"Aku adalah orang desa, tidak tahu sopan santun, lebih baik tidak bertemu dengan baginda!"
"Terus terang saja..."
Dengan serius Su Yan-hong berkata.
"kekuasaan kerajaan sekarang jatuh ke tangan Liu-kun, Liu-87 kun adalah orang serakah di kerajaan, dia selalu menyingkirkan orang yang tidak sependapat dengannya, dan menarik orang-orang sesat, maka baginda ingin kau masuk ke istana untuk membantu beliau!"
"Orang dunia persilatan tidak..."
Su Yan-hong memotong.
"Apakah kau tega melihat negara kita jatuh ke tangan orang licik?"
"Hou-ya, kata-katamu terlalu berat!"
Wan Fei-yang tertawa. Su Yan-hong adalah murid terbaik Tiong Toa-sianseng, ilmu silat dan kepintaran nya lebih tinggi dari orang lain.
"Hou-ya di sana, siapa yang berani membuat baginda susah?"
"Kalau hanya sendiri sulit bertahan.
"Besok Siauw-lim-pai dan Pek-lian-kauw akan bertarung, apakah Hou-ya sudah tahu?"
Wan Fei-yang mengalihkan pembicaraan. Su Yan-hong tertawa.
"Bagaimana pertarungannya menurutmu?"
"Kalah menang sudah terlihat jelas!"
"Oh!"
Su Yan-hong tidak mengerti.
"Aku hanya percaya, yang sesat tidak akan bisa menang dari yang lurus!"
Kata Wan Fei-yang tertawa.
"kepandaian Sin-can Sangjin adalah Kim-kong-sin-hoat (Ilmu pukulan Kim-kong) beliau juga menciptakan Ho-bu-kiu-thian (Sembilan hari bangau menari), dia Pi-koan selama 20 tahun, aku percaya beliau sudah sampai pada taraf bisa menggeser bentuk dan mengganti bayangan. Siauw-lim-si sudah berdiri selama beberapa ratus tahun, mana mungkin beliau dengan mudah terkalahkan?"
"Kalau begitu pertarungan besok, Pek-lian-kauw pasti kalah!"
"Kita lihat saja besok!"
Kata Su Yan-hong. Wan Fei-yang tidak menjawab, tiba-tiba dia berkata.
"Dengar..."
Terdengar suara gagah sedang melantunkan ayat kitab suci, suara ini mengikuti arah angin, Wan Fei-yang berkata sendiri.
"Siauw-lim-si patut disebut Siauw-lim-si, semua orang bersatu, apakah bisa membuatku tidak percaya yang lurus mengalahkan yang sesat, Siauw-lim-si tidak musnah Sin-can Sangjin pasti menang?"
"Dua ekor harimau bertarung pasti ada yang terluka,"
Su Yan-hong menarik nafas.
"melihat keadaan sekarang, orang-orang jahat tampaknya sedang memegang peran, kalau orang dunia persilatan bisa menyingkirkan perbedaan perkumpulan dan bersama-sama membantu membantu kerajaan.."
"Hou-ya mulai lagi!"
Wan Fei-yang memotong kata-katanya dan tertawa.
"Mendengar suara yang melantunkan ayat suci, aku terpikir kalau pesilat di ibu kota biar pejabat bagian tentara atau ekonomi bisa kompak seperti murid Siauw-lim-si, dinasti Beng pasti akan kuat, rakyat akan hidup tenang, tidak akan seperti sekarang ini,"
Ucap Su Yan-hong.
Wajahnya memang tertawa, tapi sorot matanya terlihat penuh kekhawatiran.
Matahari sudah terbit, orang yang melantunkan ayat suci masih belum berhenti.
Di gua Yan-sia, Bu-go Taysu dan para hweesio tidak terlihat lelah, sikap mereka terlihat tenang, berbaris begitu teratur.89 Pintu gua Yan-sia akhirnya terbuka pelan-pelan.
Sinar matahari masuk, menyinari Sin-can Sangjin yang berambut dan berkumis putih, rambutnya terjuntai panjang hingga ke bawah.
Dua ekor bangau berdiri di atas pundaknya, dia tersenyum seperti datang dari Kim-thian tempat bermukim para dewa.
Suara orang melantunkan ayat suci tiba-tiba berhenti, semua hweesio bersorak.
"Tecu menyambut Tianglo Cu-koan."
Sin-can Sangjin melambaikan tangan, bangau putih terbang ke angkasa dan masuk menembus awan putih.
Bu-go Taysu segera membawa satu setel jubah hweesio berwarna merah, berjalan ke depan-nya.
Setelah memakai jubah merah itu, Sin-can Sangjin bertambah gagah, di depan ruangan di atas panggung dia duduk bersila.
Menerima pemberian hormat semua murid Siauw-lim-si.
Lalu dia berkata.
"20 tahun yang lalu aku dan Pek-lian-kauw-cu, Put-lo-sin-sian bertemu di Tai-san, aku memberi khotbah selama 3 hari 3 malam kepada Put-lo-sin-sian, tapi hati Put-lo-sin-sian tidak tergerak sedikit pun dan berjanji bertemu kembali 20 tahun kemudian, hari ini, yang kalah harus membawa semua muridnya masuk ke perkumpulan lawan. Aku percaya Budha selalu ada dan jalan lurus selalu akan menang, maka aku menyetujui perjanjian ini. Murid-murid Siauw-lim-si bila takut kalah dan tidak mau tunduk kepada lawan, boleh pergi dulu meninggalkan Siauw-lim, kami tidak akan mengusut lebih jauh."
Mereka berlutut, tidak ada seorang pun yang meninggalkan tempat, semua sesuai dengan perkiraan Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong, mereka merasa murid Siauw-90 lim memang berbeda dengan murid Pek-lian-kauw, mereka bersungguh-sungguh.
"Baik!"
Sin-can Sangjin tertawa.
"Jit-sat-kim dari Pek-lian-kauw-cu akan membuat rohmu hancur, dengan keadaan kalian sekarang belum tentu kalian kuat bertahan dan mengendalikannya, aku harap kalian keluar dulu dari kuil ini, mengurangi yang terluka dan nyawa yang tidak perlu dikorbankan."
"Tecu mengikuti perintah!"
Jawab semua murid Siauw-lim-si. Sin-can Sangjin melihat Fu Hiong-kun.
"Aku tahu hubungan antara gurumu dan Pek-lian-kauw-cu mengenai apa yang diminta guru-mu, aku tidak ada komentar lain."
Fu Hiong-kun tidak tahu menahu apa yang dituliskan oleh Ku-suthay, tapi dia tetap mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu Sin-can Sangjin melihat Su Yan-hong.
"Apakah Tiong Toa-sianseng masih terus melancong mengelilingi dunia?"
"Selama 20 tahun ini masih tetap seperti itu!"
Jawab Su Yan-hong dengan sikap hormat. Dia adalah keturunan raja Tiong-san dan menjadi pejabat, tapi di dunia persilatan, dia tetap menghormati aturan dunia persilatan.
"Baik!"
Sin-can Sangjin sangat gembira. Waktu itu terdengar suara musik aneh datang dari jauh. ***91 BAB 17
"Put-lo-sin-sian benar-benar menepati janji!"
Kata Sin-can Sangjin.
"kita sambut para tamu..."
Bu-go Taysu melafalkan bacaan Budha, dia yang memimpin barisan menyambut tamu.
Wan Fei-yang yang sedang berada di Teng-toh-goan setelah mendengar alunan musik yang aneh, malah duduk bersila untuk mengatur nafas.
Dan sikapnya makin tenang.
Yang masuk ke lapangan di depan ruang Siauw-lim-si hanya Pek-lian-kauw-cu, Put-lo-sin-sian sendiri.
Dia memeluk kecapi tuanya, pelan-pelan berjalan menuju panggung yang berada di depan Sin-can Sangjin lalu duduk bersila.
Sin-can Sangjin segera membaca.
"O-mi-to-hud..."
Dengan tenang Put-lo-sin-sian meletakkan kecapi tuanya dan tertawa.
"Sin-can Sangjin, apa kabar?"
"Baik!"
"Siong-san Siauw-lim-si sungguh gunung terkenal dan kuilnya sudah kuno, sungguh luar biasa!"
"Kuil Siauw-lim sudah biasa dibuka untuk umum dan kegagahannya bukan hanya Kauwcu yang menyebutkannya!"
"Tapi aku sangat menyayangkan karena besok di saat yang sama seperti sekarang ini, Siong-san Siauw-lim-si akan hancur!"
"Belum tentu!"
"Sin-can Sangjin, kata-katamu 20 tahun lalu apakah kau menyesalinya?"92
"O-mi-to-hud,"
Kata Sin-can Sangjin sambil tertawa.
"hweesio dilarang berkata sembarangan, bila sudah mengeluarkan kata-kata tidak boleh ada penyesalan, apakah Kauwcu..."
"Aku tidak merasa menyesal, pertarungan hari ini kalau tidak bisa menggetarkanmu hingga hancur, maka aku yang kalah!"
Kedua alis putih Put-lo-sin-sian terangkat. Sin-can Sangjin tertawa.
"Budhaku yang baik, suara kecapi Jit-sat memang sangat lihai, tapi belum tentu semua sesuai keinginan Kauwcu!"
"Baiklah, Sin-can Sangjin, aku terima jurus Ho-bu-kiu-thian, kemudian aku akan memecahkan Kim-kong-ting!"
Put-lo-sin-sian tertawa.
"Aku akan menuruti perintahmu!"
Kata Sin-can Sangjin tidak mengganti posisinya.
Put-lo-sin-sian membentak, langit seperti akan terbelah, guntur seperti berbunyi keras, diiringi bentakannya dia meninggalkan panggung itu, langsung menyerang Sin-can Sangjin.
Saat lewat seakan angin berhembus kencang, batu dan pasir beterbangan, murid-murid yang sedang berdiri tampak bajunya terus berkibar tertiup angin.
Sin-can Sangjin memang meninggalkan panggung, tapi posturnya masih tetap bersemedi.
Put-lo-sin-sian menyerang terlebih dulu, kepalan tangan dan kaki sama-sama menyerang, sampai-sampai lututnya pun menjadi alat untuk menyerang.
Tubuhnya seperti tidak bertulang, bisa berputar sesuai dengan keinginannya sendiri dan menyerang musuh dengan arah berbeda.
Ada orang yang melukiskan kelincahan seorang pesilat tangguh seperti seekor landak, sekarang melihatnya seperti93 itu benar-benar memang mirip landak, mungkin hanya Put-lo-sin-sian saja yang seperti itu.
Bu-go Taysu, Fu Hiong-kun, dan Su Yan-hong melihat seluruh bagian tubuh Sin-can Sangjin menjadi sasaran empuk Put-lo-sin-sian juga sangsi apakah gerakan Sin-can Sangjin bisa sama cepatnya.
Sin-can Sangjin tidak menerima juga tidak pasrah sama sekali, sebab dia sudah tidak ada di tempatnya, dia sudah keluar dari sasaran serangan Put-lo-sin-sian.
Gaya duduknya tidak banyak berubah, sekali pun ada kemungkinan tidak secepat Put-lo-sin-sian, tapi dia sanggup melakukannya.
Hanya Put-lo-sin-sian yang tahu alasan sebenarnya karena di matanya Sin-can Sangjin bukan hanya ada satu tapi berubah menjadi beberapa puluh, dia tidak bisa tahu di mana Sin-can Sangjin yang sebenarnya, bila dia salah menyerang akan terjadi hal yang tidak dia inginkan.
Saat pesilat tangguh bertarung tidak boleh membuat kesalahan, Put-lo-sin-sian bergerak dan menyerang dengan cepat, Sin-can Sangjin tidak bisa membalas menyerang.
Gerakannya pelan tapi tepat, dia mulai mengelilingi Put-lo-sin-sian.
Put-lo-sin-sian berubah lagi sambil tertawa berkata.
"Ilmu It-seng-hoan-eng yang hebat..." (meng geser bentuk menukar bayangan), suaranya tenang tidak terganggu dengan perubahan tubuhnya. Sorot matanya segera melihat ke bawah, Sin-can Sangjin memang berubah menjadi puluhan sosok tapi di bawah sinar matahari, bayangan yang ada di bawah hanya ada satu. Bayanga semakin mengecil, kedua tangan Sin-can Sangjin melayang. Dengan jurus bangau naik ke langit, dia segera94 naik ke atas, melihat sorot mata Put-lo-sin-sian melihat ke bawah dia sadar tidak bisa menyembunyikan bentuknya lagi maka dia segera terbang ke atas. It-seng-hoan-eng adalah sebuah ilmu meru-bah tubuh yang didukung dengan perubahan tenaga batin (hipnotis), yang dimaksud tenaga batin seperti ilmu dari Mo-kauw, ilmu mengganti roh. Ilmu keluarga Lamkiong Se-sin-sut dan hipnotis dari Bi-cong. Put-lo-sin-sian tidak mau melihat mata Sin-can Sangjin, maka dia tidak terganggu oleh ilmu sihirnya dan mengambil kesempatan melihat bayangan di bawah sinar matahari, maka kesempatan pun menghilang. Put-lo-sin-sian tidak bergeser, dia tertawa.
"Sin-can Sangjin, kau sudah Jit-koan selama 20 tahun, malah belajar ilmu-ilmu dari Mo-kauw!"
"Budha bukan iblis, iblis bukan Budha, iblis juga Budha, bukan iblis bukan Budha!"
Kata Sin-can Sangjin di tengah-tengah udara tampak terbang.
"Sembarangan bicara!"
Kata Put-lo-sin-sian tertawa dan dia juga naik ke atas.
Sin-can Sangjin terbang seperti bangau, ke dua lengan bajunya seperti bangau yang sedang menari saat bermain di Kiu-thian (tempat para dewa).
Put-lo-sin-sian juga terbang, ke kiri 3 kali ke kanan 3 kali, tapi tetap tidak bisa mengejar Sin-can Sangjin.
Di udara Sin-can Sangjin terus menari-nari seperti seekor bangau, dia terbang di atas kepala Put-lo-sin-sian, kedua tangannya berubah menjadi paruh bangau, kemudian berubah menjadi cakar bangau.
Mematuk dan mencakar, dengan cepat memaksa Put-lo-sin-sian turun.95 Put-lo-sin-sian dengan miring kembali ke arah panggung, kemudian mencengkeram kecapi kunonya, kecapi sudah berada di atas pangkuannya.
Bersamaan waktu Sin-can Sangjin juga turun di panggung sebelah sana.
"Ho-bu-kiu-thian memang hebat, awalnya aku tertipu oleh It-seng-hoan-eng juga Ho-bu-kiu-thian, aku kalah,"
Put-lo-sin-sian tertawa.
Bu-go Taysu, Su Yan-hong, dan Fu Hiong-kun serta murid-murid Siauw-lim melihatnya.
Begitu mendengar kata-kata Put-lo-sin-sian, wajah mereka segera terlihat senang, ilmu silat Sin-can Sangjin lebih tinggi dari yang mereka duga, tadi mereka terlalu tegang, sekarang bisa lebih tenang.
"Aku ingin tahu ilmu Kim-kong-can-ting mu seperti apa?"
"Selama 20 tahun Kim-kong-can-ting (Kim-kong bersemedi) ingin meminta petunjuk Jit-sat-kim I nya Kauwcu!"
"Sobat satu hati sulit ditemui, aku akan I memetik lagunya dengan sungguh-sungguh!"
Put-lo-sin-sian membereskan kecapi kunonya. Sin-can Sangjin melihat, dia segera melambaikan tangan.
"Kalian pergilah keluar!"
Bu-go Taysu melantunkan ayat kitab suci, membawa semua orang keluar.
Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong terpaksa mengikuti dari belakang.
Sin-can Sangjin menurunkan tasbih dari lehernya, memejamkan matanya sambil menghitung butiran tasbih, dia juga melafalkan ayat kitab suci di dalam hati.
Put-lo-sin-sian membereskan bajunya juga membereskan rambutnya yang berantakan.96 Bu-go Taysu duduk bersila di lapangan berum put, dia juga menurunkan tasbih dari lehernya dan dengan diam menghitung, Bu-wie Taysu dan anak buahnya serentak ikut menurunkan tasbih dari leher masing-masing.
Su Yan-hong melihat semua hweesio di sana, kemudian melihat Fu Hiong-kun berpesan.
"Hati-hati, Nona!"
Fu Hiong-kun tidak bersuara, dia duduk di atas batu besar sedang mengatur nafas, siap mena-han nada Jit-sat-kim milik Put-lo-sin-sian.
Waktu dia memetik kecapi dengan asal-asalan untuk mengantarkan para tamu, itu saja sudah membuat hatinya bergetar, sekarang dia harus sepenuh hati mempersiapkan diri.
Dengan hati-hati Sin-can Sangjin memerintah kan semua orang keluar dari kuil.
Fu Hiong-kun tidak menganggapnya berlebihan.
Akhirnya kedua tangan Put-lo-sin-sian menekan senar kecapi.
Suaranya seperti guntur membuat tanah bergetar.
Tubuh Sin-can Sangjin bergetar tapi dia segera menenangkan diri, wajahnya tidak berubah, Put-lo-sin-sian melihatnya, dia tertawa dingin, jarinya diputar, suara kecapi berdenting lagi.
Dari alunan pelan hingga mengencang, begitu gagah lalu seperti bisa menggeser gunung, menumpahkan air laut.
Burung-burung yang diam di sana segera beterbangan, daun-daun terus berguguran.
Suara kecapi dipetik dengan tenaga dalam, tidak hanya mendesak hati dan roh, juga bisa membunuh makhluk hidup di dunia ini.97 Sin-can Sangjin seperti tidak punya perasaan, tasbih diputar dengan teratur, bibirnya terus bergetar, dia diam melafalkan ayat kitab suci.
Suara kecapi terdengar keras dan aneh, seperti dipetik asal-asalan tapi jika didengar dengan teliti seperti ada nadanya.
Sepertinya ini adalah alunan musik paling aneh juga penuh dengan hawa siluman.
Sin-can Sangjin tidak mendengar petikan kecapi, awalnya dia hanya melafalkan ayat kitab suci, kemudian dia juga tidak melafalkannya, dia sudah berada pada tahap kosong, semua kosong.
Suara kecapi semakin lihai, semakin aneh, juga penuh dengan hawa siluman.
Bu-go Taysu tidak sekuat Sin-can Sangjin, dari luar terlihat tidak berperasaan tapi dalam hati mulai terkejut dan mulai mengeluarkan keringat dari dahinya.
Ekspresi Su Yan-hong semakin serius, alis Fu Hiong-kun berkerut, tidak sulit melihat dia tampak sedang berusaha menjaga ketenangan.
Para hweesio memiliki reaksi tidak sama, ada yang tubuhnya bergoyang, ada yang menutup telinga, ada yang berguling-guling di padang berumput itu.
Semakin Put-lo-sin-sian memetik kecapi terdengar semakin cepat, jarinya terus menari-nari di atas senar.
Jarinya terlihat semakin putih dan semakin mengkilat, akhirnya menjadi 10 batang giok.
Sin-can Sangjin tetap memejamkan mata, tangannya tetap menggulir tasbih, gerakannya semakin pelan, daun yang gugur semakin banyak.98 Akhrinya dari dahi Fu Hiong-kun keluar keringat, kedua tangan tidak bisa menutup telinganya, dan SRAAT, tusuk konde yang ada di kepal-anya tiba-tiba putus dan melesat keluar.
Su Yan-hong terkejut, dia mengangkat tangan dan tepat bisa menyambut tusuk konde itu, lalu tertawa kecut kepada Fu Hiong-kun.
Fu Hiong-kun segera melihat ke tempat lain.
Su Yan-hong tidak bisa bicara, dengan cepat dia memejamkan mata untuk bersemedi, dahinya pun mulai berkeringat.
10 jari dan wajah Put-lo-sin-sian berubah menjadi warna hijau giok.
Dia masih memetik kecapi, 10 jarinya berubah menjadi 10 cahaya yang bergerak, suara kecapi yang kencang sudah membuat makhluk dalam radius ratusan depa di sekitarnya mati.
Daun habis berguguran, semua nadi putus, kulit pohon mulai layu dan terbelah terus mengeluarkan suara.
Sin-can Sangjin yang ada di depan Put-lo-sin-sian tidak bisa tidak mengalami perubahan.
Tasbih berputar dengan pelan tapi masih terus berputar.
Di sana terdengar ada burung bangau berteriak, bangau yang telah terbang menembus awan, waktu itu dia terbang kembali ke gua Yan-sia.
Sin-can Sangjin yang sudah bergaul 20 tahun bersemedi di sana belum lagi mendekat, bangaunya sudah terbujur mati di bawah.
Sin-can Sangjin seperti mendengar teriakan bangau itu, dia ingat bangau itu baru menetaskan telur dan melahirkan bangau-bangau kecil.99 Sepasang bangau putih terbang kembali karena masih ada 4 ekor bangau kecil itu, 2 bangau dewasa tidak bisa terhindar dari kematian, apa lagi 4 ^ ekor bangau kecil.
Sin-can Sangjin pernah berpikir atas keselama tan murid-murid Siauw-lim-si, tapi dia lalai terhadap ® 4 ekor bangau kecil itu.
Bukan manusia saja yang bernyawa, karena itu ^ Sin-can Sangjin membuka matanya, dia melihat pohon yang sudah layu dan terbelah serta sepasang bangau k yang sudah terbujur mati.
Kemudian melihat Put-lo-sin-sian, dia merasa sorot matanya tajam dan dingin.
Waktu itu suara kecapi yang aneh serta dipenuhi hawa siluman mengambil kesempatan masuk.
Sekali demi sekali menghantam ke dalam jantungnya, pikirannya jadi pecah dan tidak bisa dikumpulkan kembali.
Seorang hweesio selalu mementingkan hati yang baik, sepasang bangau itu sudah menemaninya j selama 20 tahun dan membantunya berlatih ilmu 'Ho-bu-kiu-thian’, di antara mereka telah terjalin persahabatan yang dalam, apa lagi 4 ekor bangau kecil itu.
Manusia adalah manusia, pasti akan ada sifat lalainya, terhadap Put-lo-sin-sian dia terpikir harus mempunyai tenaga dalam yang kuat untuk menahan alunan Jit-sat-kim.
Dia terpikir keselamatan akan manusia, tapi lalai dengan nyawa burung bangau.
Mendengar teriakan burung bangau itu, membuatnya teringat pada kelalaiannya, hingga terlupa pada alunan Jit-sat-kim, teriakan burung bangau membuat kematian datang menjemputnya.
Ketika konsentrasinya buyar, lantunan ayat kitab suci sudah menghilang dari otaknya.
Tasbih yang sedang100 dihitungnya pun berhenti, ketika dia ingat pada Put-lo-sin-sian dan ingin mengembalikan konsentrasinya, semua sudah terlambat.
Alunan kecapi telah masuk ke dalam syarafnya, nadi-nadinya dengan cepat membengkak.
Keringat mulai keluar, begitu keluar meng-uap menjadi asap putih.
Wajahnya mulai berubah, dari merah muda menjadi merah tua, dari merah tua menjadi merah darah.
Put-lo-sin-sian melihat perubahan Sin-can Sangjin dengan jelas, kedua tangannya memetik lebih cepat lagi.
Kumis dan rambutnya pun tersibak, suara kecapi sudah menutupi bumi ini.
Bukan hanya bumi dan langit, sampai awan pun sepertinya ikut berubah warna.
Yang dilihat Sin-can Sangjin adalah merah, kemudian menjadi gelap, cairan di dalam tubuhnya sudah habis dan mengering, darahnya pun hampir kering.
Cahaya kulitnya semakin menghilang, wajahnya memancarkan kesedihan.
Tasbih yang di pegang nya tiba-tiba putus, tangan kanannya bersamaaan tergeletak ke bawah, jari tengah seperti ulat pelan-pelan mengukir di atas papan batu menuliskan ‘bangau putih'.
Put-losin-sian menghentikan petikan kecapinya, dia tertawa panjang tiga kali menghadap langit.
Fu Hiong-kun, Su Yan-hong, Bu-go Taysu, dan Bu-wie Taysu tampak terkejut.
Mereka segera berlari masuk, para hweesio mengikuti mereka.
Bu-go Taysu berhenti di bawah panggung, melihat abu mayat yang terbang dihembus angin, hatinya benar-benar bergejolak dan terharu.
"O-mi-to-hud, tetua sudah pergi!"
Dia berlutut di bawah.101 Para hweesio berlutut dan membacakan ayat kitab suci, bumi dan langit hanya berisi kesedihan.
Put-lo-sin-sian menatap langit.
Setelah suara bacaan doa berhenti, dia tertawa dengan sombong.
"Bu-go Taysu, pada pertarungan kali ini sebenarnya Sin-can Sangjin sangat beruntung, karena berada di tempatnya sendiri, banyak pendukung juga waktu yang tepat, tapi dia tetap saja kalah, sekarang apa yang akan Siauw-lim-pai katakan?"
"Tidak ada satu kata pun yang perlu diucapkan!"
Bu-wie Taysu menarik nafas panjang dan membaca ayat kitab suci.
"Cepat buka jubah hweesio kalian dan hancurkan tasbih lalu caci maki kepada Budha sebanyak-banyaknya!"
Kata Put-lo-sin-sian sambil menunjuk patung Budha. Semua hweesio berteriak, Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun benar-benar marah.
"Budhaku yang baik, Siauw-lim akan mengalami musibah, aku yang menjadi ketua Siauw-lim tidak sanggup menolong murid-murid, aku malu menjadi ketua Siauw-lim, hanya dengan kematian baru bisa menjaga kesucian hati kepada Budha!"
Dia tertawa sedih, telapaknya dibalik menghantam kepalanya lalu roboh dan berhenti bernafas.
Tidak ada seorang pun yang sempat menghadang, teriakan terdengar dari semua penjuru.
Put-lo-sin-sian seperti tidak ada kejadian apa-apa, dia tertawa dingin.
"Bu-wie, bagaimana denganmu?"
Bu-wie Taysu melihat para hweesio Siauw-lim lainnya.
Di antara hweesio-hweesio itu ada yang marah dan mengepalkan tangan, ada yang menundukkan kepala kehilangan semangat.102 Sorot mata Bu-wie berputar.
"Ketua sudah mengorbankan diri untuk menjaga kesucian Budha, seharusnya aku ikut tapi aku adalah pelindung Siauw-lim, aku harus ber-pesan jelas terlebih dulu, kalau kalian ingin masuk Pek-lian-kauw untuk melindungi nyawa kalian, aku tidak akan melarangnya. Kalau menolak, biar aku membereskan semua masalah di Siauw-lim terlebih dulu lalu kita sama-sama ikut tetua dan ketua Siauw-lim pergi ke alam sana!"
Put-lo-sin-sian tertawa terbahak-bahak, dia melihat semua hweesio.
"Siapa yang ingin hidup, harap berdiri!"
Semua terdiam tidak ada yang bersuara, seorang hweesio muda berdiri dan berjalan ke balik punggung Put-lo-sin-sian, ada ke satu pasti ada ke dua, ke tiga, tidak banyak, jumlah mereka hanya 14 orang.
Semua hweesio melihat mereka dengan sorot mata mengejek.
Put-lo-sin-sian dengan tertawa melihat 14 orang hweesio itu.
"Aku pernah berkata, buka baju hweesio kalian, hancurkan tasbih yang menggantung di leher kalian dan caci maki Hud-cu (patung Budha)."
Awalnya 14 orang hweesio itu tampak ragu, akhirnya mereka mulai membuka baju hweesio mereka. Dalam barisan hweesio itu banyak yang masih muda, mereka tampak marah.
"Pengkhianat.. ."
Ada dua orang hweesio muda segera menerjang kepada Put-lo-sin-sian, yang satu berteriak.
"Siluman, aku akan bertarung denganmu!" 103 Sebenarnya mereka sudah menyerang sekuat tenaga tapi ilmu silat mereka terlalu jauh. Masih di udara, dia sudah disentil oleh Put-lo-sin-sian dan terbanting hingga jatuh dan langsung mati.
"Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar dan ternama, tidak disangka banyak orang yang tebal muka dan tidak tahu malu dan setelah berjanji malah tidak ditepati!"
Put-lo-sin-sian tertawa dingin.
"Siapa yang tidak terima, ayo serang aku!"
Tiga orang hweesio segera keluar, Fu Hiong-kun lebih cepat dibanding mereka, Bu-wie Taysu lebih cepat lagi. Bu-wie Taysu mencegat Fu Hiong-kun dan membaca.
"O-mi-to-hud, ini adalah urusan Siauw-lim-si dengan Pek-lian-kauw, harap Sicu jangan campur tangan!"
"Guru..."
"Jangan berlama-lama di sini!"
Bu-wie Taysu menarik nafas.
"murid Siauw-lim-si boleh mati, tapi jangan melakukan penghinaan kepada perguruan kami!"
Tiga orang hweesio mundur dengan penuh kemarahan, Put-lo-sin-sian melihat 14 orang hweesio itu.
"Hancurkan tasbih-tasbih dan caci maki sang Budha!"
"Put-lo-sin-sian, kau jangan terlalu senang dulu!"
Terdengar suara seseorang. Put-lo-sin-sian melihat Su Yan-hong yang entah kapan sudah berada di atas panggung.
"Siapa kau?"
"Orang yang suka ikut campur masalah orang lain!"
"Apakah kau sanggup ikut campur?"
Put-lo-sin-sian tertawa dengan sombong.
"Aku hanya bertanya, apakah Anda orang yang menepati janji?"104
"Kau kira Pek-lian-kauw sama dengan Siauw lim-si?"
Put-lo-sin-sian tertawa.
"kata-kataku bisa dipegang..."
"Dengan cara apa Sin-can Sangjin Cianpwee dan Anda, menentukan menang atau kalah?"
"Apakah kalau suara Jit-sat-kim tidak membuat lawan menjadi abu lalu terbang tertiup angin, berarti kau yang kalah?"
Dengan sombong Put-lo-sin-sian tertawa.
"Kecuali abu, apa yang bisa kau cari?"
"Potongan telapak!"
Su Yan-hong meng-korek-korek abu mayat, ada potongan baju hweesio, di bawah jubah ada potongan tangan, walaupun terpotong tapi tidak hancur, karena menemukan potongan tangan itu, dia meloncat naik ke panggung.
Begitu melihat potongan tangan itu, tawa Put-lo-sin-sian segera membeku.
Su Yan-hong berteriak.
"Walaupun Sin-can Sangjin sudah meninggal, tapi tangannya masih utuh, berarti beliau yang memenangkan pertarungan ini!"
Semua hweesio tampak bengong, kemudian mereka berlutut, air mata pun menetes.
"O-mi-to-hud!"
Bu-wie Taysu berkata dengan terharu.
"aturan Budha tidak terbatas, Siauw-lim-si tidak akan musnah!"
"Tidak disangka..."
Rambut dan kumis Put-lo-sin-sian tampak bergetar.
"Sin-can Sangjin adalah keledai botak yang licik, lebih licik dariku, dia sudah tahu Kim-kong-can-ting tidak akan bisa mengalahkan105 suara Jit-sat-kim, tapi tetap saja dia mengumpul-kan semua tenaga di telapaknya, hari ini aku kalah tapi dengan tindakan mulia!"
"O-mi-to-hud..."
Bu-wie Taysu mengatupkan kedua telapaknya.
"Kauwcu benar-benar menjaga janjinya, kami kagum kepadamu!"
Jantung Put-lo-sin-sian berdebar-debar, dia berkata sendiri.
"Alunan suara Jit-sat-kim tetap tidak terkalah kan!"
Bu-wie melafalkan bacaan Budha lagi, Put-lo-sin-sian tiba-tiba melambaikan lengan bajunya.
"Sudah terjadi seperti ini, tidak perlu banyak bicara lagi, aku akan mengembalikan para pengkhianat ini kepadamu untuk dibereskan."
Wajah 14 orang hweesio yang tadi berpaling tampak pucat, mereka segera berlutut di depan Bu-wie Taysu. Tidak menunggu mereka memohon ampun, dia sudah berkata dengan tenang.
"Selama ribuan tahun ini, orang hanya mati satu kali, aku tidak menyalahkan kalian yang ingin meninggalkan Siauw-lim, kalian harus mengoreksi kesalahan kalian sendiri."
Empat belas orang hweesio itu terlihat malu, mereka menyembah 3 kali, kemudian merangkak ke belakang kuil. Bu-wie Taysu membalikkan tubuh berjalan ke depan Su Yan-hong dan berlutut.
"Terima kasih..."
"Jangan begitu!"
Su Yan-hong meloncat turun dari atas panggung dan memapah Bu-wie Taysu I berdiri. Hweesio yang lain pun ikut berlutut. Put-lo-sin-sian tertawa dingin.106
"Suara kecapi ku tidak terkalahkan, tapi bisa-bisanya kalah karena sebuah potongan tangan, Siauw-lim-si tidak musnah, aku mengakui cara Budha benar-benar tidak terbatas!"
"Cara Budha memang tidak terbatas, Sin-can Sangjin memang belum bisa mengerahkan tenaga penuh memenangkan pertarungan, itu adalah alasan mengapa beliau kalah,"
Suaranya terdengar jelas keluar dari arah Yan-sia-tong.
Mendengar suara itu hati Fu Hiong-kun berdebar-debar, suara, wajah, juga tawa Wan Fei-yang yang terukir sekali di dalam hatinya, mana mungkin bisa terlupakan?
Yang datang emang Wan Fei-yang, kedua tangannya membawa 4 ekor mayat bangau kecil, datang seperti awan berjalan.
Sorot mata Fu Hiong-kun terasa membeku, mimpi pun dia tidak menyangka kalau dalam waktu 3 tahun kemudian dia akan bertemu Wan Fei-yang di sini.
Dia ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar, kata "Wan-toako"
Hanya sampai di tenggorok-an sudah tersendat, tiba-tiba dia ingin menangis.
Matanya berkaca-kaca, tapi akhirnya dia bisa menahan tidak menangis.
Wan Fei-yang pun melihat Fu Hiong-kun, dia terpaku, tapi sorot matanya sekejap kembali melihat Put-lo-sin-sian.
"Siapa kau?"
Kata Put-lo-sin-sian sambil menyi pitkan matanya. Dia melihat pemuda itu ber-beda dengan yang pemuda biasanya, apa lagi tenaga dalam nya berada di atas Su Yan-hong.
"Bu-tong Wan Fei-yang..107
"Wan Fei-yang?"
Kata Put-lo-sin-sian sedikit terkejut.
"kau adalah Wan Fei-yang yang telah mengalahkan Tokko Bu-ti, orang-orang menyebutmu sebagai orang nomor satu di dunia ini."
"Mereka terlalu memuji! Di luar gunung masih ada gunung yang lebih tinggi, di atas orang masih ada orang yang lebih hebat!"
"Kata-kata ini tidak pantas diucapkan oleh anak muda, kalau seorang pemuda berpikir seperti itu bagaimana dia bisa dengan leluasa melanglang dunia. Tadi menurutmu Sin-can Sangjin belum mengeluarkan seluruh tenaganya, dari mana kau bisa tahu?"
Wan Fei-yang mengambil bangau yang sudah mati dari bawah pohon, dengan tenang dia meloncat ke atas panggung. Meletakkan mayat bangau itu di atas baju Sin-can Sangjin.
"Sin-can Sangjin Lo-cianpwee ketika bertapa di Yan-sia-tong, setiap hari hanya ditemani bangau-bangau ini selama 20 tahun, kemudian melihat suara Jit-sat-kim sudah membunuh semua makhluk di dunia ini, dia teringat pada 4 ekor bangau kecil yang ada di Yan-sia-tong..."
"Ini adalah suatu kelalaian,"
Put-lo-sin-sian memotong.
"seorang hweesio harus sangat teliti, menolong semua makhluk, tapi dia hanya tahu harus i menolong nyawa manusia tapi nyawa bangau terlupakan, dosa ini tidak bisa diampuni."
"Karena dia mengkhawatirkan nyawa para bangau, maka pikiran Sin-can Sangjin terpecah, maka suara kecapi bisa mengambil kesempat-an..."
"Itu karena kestabilannya tidak cukup, jika I Kim-kong-can-ting sudah mencapai pada tingkat j tertinggi, Tai-san108 longsor pun tidak akan berpengaruh, karena bangau putih itu Sin-can Sangjin tergoyahkan, seorang hweesio atau nikoh memang harus berhati hati, tapi masih kurang tingkatannya, lebih-lebih lalai dan belum sekuat tenaga berusaha, maka menyebabkan kematiannya jangan salahkan orang lain,"
Put-lo-1 sin-sian tertawa.
"Jika Kim-kong-can-tng seperti ini, walau pun tidak kalah, karena nyawa Bangau akan kalah oleh j orang lain, aku yang salah bicara satu kalimat, kalah I atau menang ditentukan oleh tubuhnya yang sudah menjadi abu!"
Wan Fei-yang terdiam, Put-lo-sin-sian ber-kata lagi.
"Yang menang, tidak menang, yang kalah pun tidak kalah. Jago nomor satu di dunia persilatan, masih suara kecapi Jit-sat-ku..."
Tiba-tiba dia ber-henti bicara, matanya berkedip, dia melihat Wan Fei-yang dari bawah ke atas, dari atas ke bawah.
Hati Bu-wie Taysu tergerak, suara lantunan bacaan Budha keluar lagi.
Wajah Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun tampak berubah, apa yang dipikirkan Put-lo-sin-sian gampang ditebak oleh mereka.
Put-lo-sin-sian tertawa.
"Sin-can Sangjin adalah nomor satu dari Siauw-lim-si, semua orang di dunia persilatan tahu. Setelah 20 tahun bersemedi, seperti aku, orang yang mengingat kita sudah tidak banyak, kalau mengatakan nomor satu akan dikatakan memberi julukan untuk dirinya sendiri, teman-teman dunia persilatan tidak akan terima."
Wan Fei-yang menarik nafas panjang, dia sangat mengerti ada nada jengkel datang lagi.109
"Pertarungan antara aku dan engkau tidak bisa dihindari lagi!"
Kata Put-lo-sin-sian.
"menurut orang dunia persilatan Thian-can-sin-kang sangat aneh dan misterius di antara murid-murid Bu-tong-pai hanya kau saja yang menguasainya. Sampai-sampai ilmu iblis dari Tokko Bu-ti pun bisa kalah, kesempatan ini jarang ada, maka aku harus meminta petunjuk kepada orang nomor satu di dunia persilatan ini!"
"Apakah orang dunia persilatan memang harus seperti itu?"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Tidak bertarung juga tidak apa-apa, asal kau mengaku kepada dunia luar bahwa kau kalah dariku, ilmu silat Bu-tong-pai kalah dari ilmu silat Pek-lian-kauw, kelak bila anak murid Bu-tong bertemu anak murid Pek-lian-kauw kalian harus bersembunyi!"
Put-lo-sin-sian bicara dengan santai.
"Apakah Kauwcu tidak ingin beristirahat dulu..tanya Wan Fei-yang.
"Sin-can Sangjin tidak menghabiskan tenaga dalamku, kalau sekarang harus beristirahat dulu, berarti selama 20 tahun ini aku sia-sia bersemedi!"
Put-lo-sin-sian menjawab dengan sombong.
Wan Fei-yang segera duduk bersila, seperti tidak sengaja melihat ke arah Fu Hiong-kun.
Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, walau pun tidak bicara tapi sinar yang mengandung perhatian sudah terlihat dari sorot matanya.
Bu-wie Taysu dan para hweesio dalam lantun an bacaan ayat suci mundur dari sana.
Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong berjalan paling belakang.
Tiap maju selangkah, Fu Hiong-kun selalu menoleh ke belakang.
Hatinya terasa kacau, apakah Wan Fei-yang bisa bertahan terhadap suara Jit-sat-kim milik110 Put-lo-sin-sian, dia tidak yakin.
Dia pernah menyaksi kan kehebatan Thian-can-sin-kang, tapi suara Jit-sat-kim tadi bisa menggetarkan roh, tetap membuatnya khawatir.
Setelah di luar kuil, Bu-wie Taysu menggelengkan kepala.
"Tidak disangka Put-lo-sin-sian yang telah berumur senja, masih suka berpetualang dan galak!"
"Kalau tidak, perjanjian bertemu setelah 20 tahun tidak akan ditepatinya dan bersikukuh ingin bertarung dengan Sin-can Sangjin Lo-cianpwee!"
Su Yan-hong tertawa kecut.
"kalah atau menang seseorang, apakah begitu penting? Bu-wie Taysu mengerti maksud Su Yan-hong.
"Tadi Put-lo-sin-sian hanya mengaku di mulut, tapi dalam hati dia tidak terima, dia tidak akan menyuruh murid-murid Pek-lian-kauw untuk bergabung ke Siauw-lim-pai, bila dia sendiri bergabung dengan Siauw-lim-si, malah akan menjadi malapetaka bagi Siauw-lim!"
"Lalu harus dengan cara apa mengatasinya?"
Tanya Fu Hiong-kun.
"Kecuali dia mau menerima Budha di dalam hatinya..."
Alis Fu Hiong-kun berkerut, dia mulai tidak berkonsentrasi. Su Yan-hong seperti merasakannya, dengan cepat berkata.
"Nona, hati-hati!"
Kata-katanya belum selesai, alunan suara kecapi sudah datang, baru dimulai saja sudah seperti suara guntur menggelegar.
Fu Hiong-kun seperti baru terbangun dari mimpi, dia duduk bersila di atas batu besar untuk mengatur nafas.
Tidak hanya 10 jari, semua tangan sudah berubah menjadi warna giok, matanya pun seperti memancarkan cahaya hijau melihat Wan Fei-yang.111 Jari yang jatuh di atas senar pun bercahaya hijau, suara kecapi yang tajam terus menusuk telinga siapa pun, suara Jit-sat-kim dalam tahap ini adalah tahap yang paling tinggi.
Tadi ketika Put-lo-sin-sian menggetarkan Sin-can Sangjin dia menggunakan tenaga sebanyak 90%, sekarang hampir mencapai 100%, maka keringat mulai keluar dari pori-porinya, otot di tangan dan dahi-nya bermunculan seperti cacing yang sedang merayap.
Tapi Wan Fei-yang yang berada di depannya, sedikit keringat pun tidak keluar, sikapnya begitu tenang, suara kecapi seperti tidak terdengar dan tidak dia terganggu, perasaan lain pun tidak terlihat.
Tampaknya tenaga dalam Wan Fei-yang berada di atas Kim-kong-can-ting.
Sin-can Sangjin sudah puluhan tahun menjadi seorang hweesio, semua bisa dianggap kosong dan ilmu Kim-kong-can-ting adalah ilmu yang harus di gunakan dengan konsentrasi penuh dan hati yang tenang.
Wan Fei-yang masih begitu muda, mana mungkin punya kekuatan begitu mantap.
Hal ini membuat Put-lo-sin-sian merasa aneh, dia melihat Wan Fei-yang, dia menambah tenaga lagi pada jarinya.
Suara Jit-sat-kim sudah berada pada nada tertinggi.
Waktu itu mata Wan Fei-yang terbuka, dia membentak dengan keras.
Kerasnya suara Wan Fei-yang tidak terlukiskan, tidak hanya bisa menutup suara kecapi juga seperti palu besi memukul hati Put-lo-sin-sian.
TUNG, TUNG, TUNG, 3 kali berbunyi, senar Jit-sat-kim putus 3 helai, kulit jarinya pun terluka.112 Kedua alis Put-lo-sin-sian terangkat, dia memetik sisa 4 senarnya, cara memetiknya hampir seperti orang gila.
Wan Fei-yang menarik nafas panjang, lalu membentak lagi.
Dan 3 senar mengikuti bentakan Wan Fei-yang terputus lagi, 10 jari Put-lo-sin-sian jadi memetik tempat kosong, wajahnya berubah dan terus berubah lagi, keringat terus menetes dari dahi-nya, tiba-tiba terdengar suara aneh, ternyata jarinya jatuh di senar terakhir juga senar paling kasar, dia menarik dan memetik senar itu dengan gila.
Dalam keadaan seperti itu otomatis senarnya mengeluarkan suara aneh, tapi kekuatannya sangat hebat dan kencang tadi seperti tidak pernah ada.
Rambut Wan Fei-yang yang panjangnya sebahu segera beterbangan.
Sorot matanya dengan cepat melihat senar terakhir, tiba-tiba dia meloncat, bersamaan waktu membentak lagi.
Senar itu segera putus dan mengeluarkan asap putih dengan cepat menyebar.
Sampai asap putih itu menghilang, kecapi yang bernama Jit-sat-kim sudah berubah menjadi hitam hangus.
Wajah Put-lo-sin-sian menjadi pucat, dia roboh di belakang kecapinya, jarinya terus mengeluarkan darah, dia berusaha merangkak bangun, mulutnya dibuka dia pun memuntahkan darah segar.
Wan Fei-yang terbang ke atas kemudian turun di sisi Put-lo-sin-sian.
Dari balik baju bagian dada dia mengeluarkan sebuah botol, kemudian mengeluarkan sebutir obat memapah Put-lo-sin-sian bangun.
Tapi Put-lo-sin-sian menggelengkan kepala.
"Tidak ada gunanya lagi.."
Tapi Wan Fei-yang tetap menaruh obat itu ke dalam mulutnya, Put-lo-sin-sian terpaksa menelannya. Kemudian dia menggelengkan kepala.
"Nada Jit-sat-kim seharusnya melukai musuh bukan melukai tuannya, bila dia tidak bisa melukai musuh, dia pasti akan melukai tuannya, semua nadiku sudah tergetar putus, sekalipun dewa yang datang untuk menolongku sudah tidak ada gunanya lagi."
Ada suara orang melantunkan bacaan Budha.
Bu-wie Taysu sudah membawa hweesio-hweesio kem bali, tapi Fu Hiong-kun segera melewati mereka.
Langkah-langkah Fu Hiong-kun belum benar, karena dia baru bisa menenangkan hatinya, dia mengkhawatirkan keselamatan Wan Fei-yang, karena itu dia tidak berkonsentrasi, untung tenaga dalamnya kuat, kalau tidak, dia sudah terluka oleh Jit-sat-kim.
Su Yan-hong mengikuti Fu Hiong-kun, karena dia merasa kali ini dia menghadapi nada kecapi yang sangat sulit, dia mengira karena ilmu lweekangnya sedikit berkurang tidak terpikir yang lain, dia juga siap menolong.
Tapi Fu Hiong-kun begitu cepat sudah kembali seperti asal, semua benar-benar di luar dugaannnya.
Melihat Wan Fei-yang selamat, hati Fu Hiong-kun baru tenang.
Tidak saat melihat Put-lo-sin-sian, dia segera teringat pesan gurunya, dengan cepat dia berlari ke atas panggung.
Put-lo-sin-sian melihat Bu-wie Taysu dan para hweesio, tiba-tiba dia tertawa.
"Katanya nasib Siauw-lim-si sangat baik, ternyata benar, tapi yang mengalahkanku bukan dari Siauw-lim, melainkan dari Bu-tong..."
Dia berhenti sejenak bertanya kepada Wan114 Fei-yang.
"kau adalah pesilat nomor satu, benar-benar tidak salah!"
Kata-katanya baru selesai, dia memuntahkan darah lagi. Fu Hiong-kun sudah berada di atas panggung, dia berjongkok di depan Put-lo-sin-sian.
"Boanpwee adalah murid Heng-san-pai Fu Hiong-kun."
Put-lo-sin-sian terpaku matanya berputar.
"Kau..."
"Guru memerintahkanku membawa sebuah kotak kecil."
"Kau anak murid Kou-siu-an?"
"Betul!"
Fu Hiong-kun mengeluarkan kotak itu. Mata Put-lo-sin-sian melihat kotak kecil itu. Daging di sudut matanya terus bergetar, tiba-tiba dia bertanya.
"Apakah dia masih mengingatku?"
Fu Hiong-kun tidak menjawab, karena dia tidak tahu harus menjawab apa.
Kedua tangan Put-lo-sin-sian bergetar mengambil kotak itu dan membukanya.
Barang yang berada di dalam kotak adalah sebuah tusuk konde emas, setelah Put-lo-sin-sian melihat dia sangat terharu dan berkata sendiri.
"Dia masih menyimpan tusuk konde ini..
"Masih ada kata-kata yang ingin guru sampai kan kepada Lo-cianpwee..."
"Cepat katakan..."
Fu Hiong-kun membisikan kata-kata yang ingin disampaikan Ku-suthay.
Mata Put-lo-sin-sian tampak berkaca-kaca, dia mengambil tusuk konde itu dan memegangnya dengan erat menghadap langit, bibirnya bergetar tapi tidak ada perkataan yang keluar dari mulutnya.115
"Lo-cianpwee..."
Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu.
"Ini kehendak Langit!"
Kata Put-lo-sin-sian menarik nafas panjang.
"Kalau dia mengatakan 20 tahun yang lalu, mana mungkin aku berubah jadi seperti ini?"
Lalu dia menundukkan kepala.
"jaga gurumu baik-baik!"
"Pasti, Lo-cianpwee tenang saja!"
Put-lo-sin-sian tertawa, tawa tidak bisa berdaya.
"Tidak tenang pun tetap harus tenang!"
Hatinya jadi tenang, dia mendengar suara orang-orang, terakhir melihat wajah Bu-wie Taysu.
"Mau Siauw-lim, mau Bu-tong, kekalahanku hari ini kuterima dengan lubuk hatiku yang terdalam, sekarang sesuai dengan perjanjian, semua murid Pek-lian-kauw akan naik gunung untuk mengikuti kalian percaya pada Budha, harap kalian bisa mendidik mereka, dan aku akan mati dengan tenang!"
"O-mi-to-hud, kami akan berusaha keras membantu mereka!"
Kata Bu-wie Taysu, kedua tangan nya dirangkapkan menjadi satu dan membaca bacaan ayat kitab suci.
Put-lo-sin-sian segera mengeluarkan sebatang mercon dari balik baju bagian dadanya, kemudian dia menembakkannya ke atas, mercon meletus di tengah angkasa.
Keluar gambar sebuah bunga teratai berwarna merah, lama terpampang di angkasa.
Setelah gambar bunga teratai memudar dan menghilang, tetap tidak ada reaksi apa pun.
Akhirnya Put-lo-sin-sian curiga.
"Kauwcu..."
Akhirnya Su Yan-hong tidak tahan lagi.
"kurasa mereka tidak akan naik gunung!" 116 Put-lo-sin-sian melihat Su Yan-hong, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Apakah kau pernah menyuruh orang menukar anak kecil dalam karung dengan babi kedi?"
"Maaf!"
Su Yan-hong tidak menolak tuduh-an ini.
"Kau curiga terhadap isyarat yang ku-keluar-kan?"
Su Yan-hong menggelengkan kepala.
"Boanpwee... jangan percaya apa yang dikatakan ketua cabang, Kauwcu sudah bersemedi selama 20 tahun..."
"Ada yang tidak tahu..."
"Tidak tahu apa?"
"Pengikut Pek-lian-kauw sekarang tidak seperti dulu lagi, mereka membuat bencana di dunia persilatan bukan sekali dua kali saja, sekarang Kauwcu sudah kalah, mereka menjadi pengkhianat dan mendirikan perkumpulan lain!"
"Maksudmu apakah Thian-te-siang-cun?"
"Orang dunia persilatan menyebut mereka 'Ku-hai-siang-yau' (Sepasang siluman menderita), Boanpwee kalau tidak tahu sifat mereka tidak akan bertindak..."
Put-lo-sin-sian tampak berpikir sebentar, dia menarik nafas.
"Aku tahu, hati mereka sudah tidak beres dan menunggu setelah peristiwa Siong-san baru akan dibereskan, sekarang..."
Dia menarik nafas dan melihat Su Yan-hong.
"Siapakah Tuan?"
"Su Yan-hong."
"Baiklah..."
Put-lo-sin-sian tampak sedang berpikir.
"aku lihat kau adalah orang yang berdiri di atas keadilan..."
"Bila Kauwcu ada pesan katakan saja!"117
"Aku harap kau bisa membantuku menyelesaikan satu masalah!"
"Boanpwee akan berusaha!"
"Bila aku mati nanti, pengikut Pek-lian-kauw pasti akan berubah total, Thian-te-siang-cun akan terus mempelajari ilmu iblis Pek-kut, sekarang mereka sudah menguasai ilmu itu, bila mereka bertambah tinggi tingkatnya akan lebih sulit meng-hadapi mereka, maka harus secepatnya mencari mereka mewakiliku membereskan masalah perkumpulanku!"
Put-lo-sin-sian segera mengeluarkan giok dan memberikannya pada Su Yan-hong.
"Ini adalah Pi-giok-leng (Perintah giok hijau), biasanya dipegang oleh Kauwcu, melihat Pi-giok-leng seperti melihat orang.."
"Tapi Boanpwee sudah masuk perkumpulan Kun-lim-pai..."
"Kalau begitu kau cari orang yang bisa menjadi penerusku. Pek-lian-kauw sudah berdiri selama ratusan tahun, tidak boleh hancur di tanganku!"
Suara Put-lo-sin-sian semakin melemah, dia terus memuntahkan darah. Su Yan-hong melihat keadaannya seperti itu, dia tidak tega mengembalikan Bi-gok-leng, akhirnya dia mengangguk.
"Kauwcu, tenang saja!"
Put-lo-sin-sian tertawa.
"Pi-giok-leng ini.. Kata-katanya terputus, darah menyembur lagi, dia menggelengkan kepala, kemudian menatap tusuk konde itu. Perasaannya jadi haru dan sedih, dia tertawa. Itulah tawa terakhirnya, setelah itu dia sudah memejamkan mata, jiwanya sudah melayang, tapi tubuhnya masih berdiri tegak dan tidak bergeming.118 Bu-wie Taysu menarik nafas panjang, suara lantunan ayat kitab suci keluar lagi dari para hweesio, suara itu menggetarkan bumi dan langit. Su Yan-hong melihat Pi-giok-leng yang ada di tangannya, dia juga melihat Put-lo-sin-sian, meli-hat abu mayat Sin-can Sangjin yang ada di atas panggung, dia menarik nafas panjang. Sorot mata Fu Hiong-kun beralih dari tangan Put-lo-sin-sian yang masih terus memegang tusuk konde ke wajah Wan Fei-yang. Wan Fei-yang menatap langit, wajahnya datar, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaannya, Fu Hiong-kun pun tidak terkecuali. 0-0-0 Di pondok kedi. Wan Fei-yang mengantar Su Yan-hong keluar dari Siauw-lim-si, sampai di depan pondok kecil itu mereka baru berhenti. Fu Hiong-kun berada di sisinya, dia benar-benar takut kehilangan Wan Fei-yang lagi! Sampai sekarang dia baru mengerti mengapa Ku-suthay selalu menolak mencukur rambutnya menjadi nikoh, karena terhadap Wan Fei-yang dia benar-benar mencintainya dengan sangat dalam. Sepanjang perjalanan Su Yan-hong selalu diam, sekarang baru membuka suara untuk bertanya.
"Apa Lo-te sudah mengambil keputusan?"
Wan Fei-yang tertawa.
"Hou-ya tidak perlu bertanya lagi!"119
"Hari ini kita berpisah, entah kapan baru bisa bertemu lagi!"
Kata Su Yan-hong.
"Bila ada jodoh kita pasti akan bertemu lagi!"
"Betul!"
Su Yan-hong tertawa.
"bila kau datang ke ibu kota jangan lupa pada Kang-thiat-say-cu (Singa baja) bermarga Su, orang lain akan mem-beritahu di mana bisa mencariku!"
Wan Fei-yang mengangguk, Su Yan-hong berkata kepada Fu Hiong-kun.
"Nona, bila ada kesalahan yang telah kuper-buat, mohon maafkan aku, marga Su selalu seperti itu, ingin berubah sangat sulit, aku kembali kan tusuk konde ini kepadamu!"
Dari balik bajunya dia mengeluarkan tusuk konde milik Fu Hiong-kun yang sudah patah dan melesat keluar karena kecapi Jit-sat.
"Hou-ya berkata terlalu berat!"
Fu Hiong-kun mengambil tusuk kondenya, dia menatap Wan Fei-yang.
"Kalau tahu Hou-ya adalah teman Wan-toako, aku tidak berani berbuat macam-macam!"
Mata Fu Hiong-kun memancarkan kelembutan, tapi Wan Fei-yang seperti tidak merasakannya, dia hanya menatap Su Yan-hong.
Su Yan-hong pamit, setelah dia tidak ter-lihat lagi.
Wan Fei-yang baru melihat Fu Hiong-kun.
"Sekarang semua sudah selesai, apa rencanamu berikutnya?"
"Bagaimana denganmu sendiri?"
Fu Hiong-kun balik bertanya.
"Aku sudah terbiasa di Teng-toh-goan selama 3 tahun ini, kurasa lebih baik aku tinggal di Siauw-lim-si!"
Nada bicara Wan Fei-yang sangat dingin.120 Fu Hiong-kun seperti tidak mendengar, dia menundukkan kepalanya.
"Sekarang aku baru mengerti kata-kata guruku!"
"Apa yang dikatakan beliau?"
"Katanya jodoh di dunia fanaku belum berakhir, aku tidak cocok menjadi nikoh!"
Wan Fei-yang terpaku.
"Kau ingin menjadi nikoh?"
"Sekarang sudah tidak lagi!"
Fu Hiong-kun menggelengkan kepala.
"aku sudah lama belajar ilmu ketabiban, harus melayani pasien yang miskin!"
Tidak bisa dipungkiri bukan ini yang dia ingin sampaikan kepada Wan Fei-yang. Wan Fei-yang pura-pura tidak mengerti, hanya mengangguk.
"Benar, kau masih muda harus menyayangi dirimu sendiri, kau berhati baik, pasti akan hidup bahagia!"
"Apakah aku masih bisa hidup bahagia?"
"Pasti bisa!"
"Maksudmu, kau tidak akan meninggalkanku lagi?"
Akhirnya Wan Fei-yang mengerti, di wajahnya muncul raut kesedihan.
"Hiong-kun..."
"Selama 3 tahun ini walaupun aku berada di Kou-siu-an, tapi hatiku tetap..."
"Hiong-kun..."
Wan Fei-yang memotong kata-kata Fu Hiong-kun.
"Aku sudah putus dari jodoh di dunia fana, dan tidak ingin memikirkan percintaan lagi."
"Aku tahu, aku memang tidak pantas untukmu..."
Kepala Fu Hiong-kun ditundukkan.121
"Salah, seharusnya aku yang mengucapkam kata-kata tadi, hanya saja di dalam hatiku, kau selalu menjadi adikku!"
Fu Hiong-kun tiba-tiba mengangkat kepalanya.
"Apakah kau belum pernah..."
"Seumur hidup aku hanya menyukai 2 orang gadis, yang satu adalah Sumoiku, Lun Wan-ji, yang satu lagi adalah adik perempuanku Tokko Hong..
"Mereka sudah meninggal!"
Fu Hiong-kun memegang tiang pondok, tubuhnya terus gemetar.
"Benar, tapi mereka akan selalu hidup di dalam hatiku selamanya!"
"Wan-toako, untuk apa kau terus menyiksa diri seperti ini?"
Mata Fu Hiong-kun tampak berkaca-kaca, sambil menggelengkan kepala dia terus mundur.
Wan Fei-yang tidak menoleh, dia berdiri tegak tidak bergerak, tubuhnya seperti terbuat dari besi.
Akhirnya Fu Hiong-kun menangis, kedua tangan menutupi wajahnya dan dia berlari keluar dari pondok.
Wan Fei-yang mendengar tangisan Fu Hiong-kun yang telah menjauh, dia benar-benar hancur, kepalannya melayang dia memukul tiang pondok itu kemudian memeluk tiang itu, nafasnya ngos-ngosan.
"Hiong-kun..."
Matanya berkaca-kaca, dia terbatuk dan muntah darah.
"Wan-tayhiap..."
Bu-wie Taysu keluar dari hutan bambu dan berlari ke depan Wan Fei-yang, dia segera memapahnya.
"Guru..."
Wan Fei-yang melihat Bu-wie Taysu dan menggelengkan kepala.
"Suara Jit-sat-kim tidak bisa dianggap remeh, dari awal aku sudah melihat ada yang tidak beres!"
Bu-wie mengeluh.
"karena itu aku selalu mengawasimu..."122
"Kita tinggalkan tempat ini dulu..."
Kata Wan Fei-yang.
"Nona Fu sangat mencintaimu, mengapa kau menolak cintanya?"
"Guru adalah hweesio, jangan pedulikan hubungan antara laki-laki dan perempuan."
"Seorang hweesio harus berhati baik, hweesio juga berharap orang yang saling mencintai, bisa menikah, Nona Fu pandai dan cantik..."
"Guru harus tahu, aku sedang terluka berat, hidupku tinggal sebentar lagi..."
Akhirnya Wan Fei-yang mengatakan rahasianya.
"Apakah karena suara Jit-sat-kim milik Put-lo-sin-sian?"
"Tidak juga!"
Kata Wan Fei-yang menarik nafas.
"ketika di Giok-hong-teng, dalam pertarungan antara aku dan Tokko Bu-ti, aku terluka oleh ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat, saat itu kebetulan bertemu dengan Su Yan-hong, dia memberikan Cian-lian-ciap-su dan mengantarkanku ke Siauw-lim-si untuk menjalani pengobatan tusuk jarum dari Bu-go Taysu, menyambungkan nadi yang terputus, selama 7 tahun ini sudah pulih sekitar 70-80%..."
"Jadi belum sembuh total?"
Bu-wie Taysu baru mengerti.
"Karena Jit-sat-kim, syarafku putus lagi, walau pun ada Cian-lian-ciap-su, atau melakukan tusuk jarum, sulit disambung kembali."
Kemudian Wan Fei-yang meminta satu hal supaya Bu-wie Taysu bisa membantunya.
"Wan-tayhiap sangat berbudi kepada perkumpulan kami, jangankan satu hal, puluhan atau ratusan hal pun aku akan..."
"Guru terlalu berat mengatakannya...."
"Silakan katakan..."123
"Bila Hiong-kun datang mencariku lagi, katakan aku sudah pergi."
"Ini..."
"Guru, aku harap Anda bersedia membantuku,"
Wan Fei-yang lalu muntah darah lagi.
"Baik, baik,..."
Bu-wie Taysu dengan cepat mengangguk.
"kau sudah terluka, jangan sampai hatimu terlalu bergejolak."
"Aku merepotkan Guru!"
Wan Fei-yang melihat langit, matanya berkaca-kaca. Dia memang orang yang penuh perasaan. Bu-wie berteriak.
"Di perkumpulan kami tersimpan buku milik Tat-mo-couw-su kami tentang syaraf dan urat, kata nya kalau bisa mengerti artinya bisa mencuci tulang sumsum dan menyambungkan urat, tapi orang tersebut harus mempunyai tenaga dalam yang kuat, bila otaknya tidak encer juga tidak akan mengerti, Wan-tayhiap boleh mencobanya."
"Guru..."
"Wan-tayhiap adalah orang jujur dan terus terang, tidak perlu banyak bercerita lagi waktunya sudah mendesak, cepat ikut aku ke tempat penyimpanan buku."
Wan Fei-yang mengangguk, semangat juangnya mulai muncul lagi.
0-0-0 Bulan naik dan turun, malam akhirnya pergi.124 Fu Hiong-kun duduk terdiam di atas batu itu sudah semalaman dia di sana, air matanya sudah mengering.
Melihat matahari terbit, hati yang dingin mulai muncul api.
Dia turun dari batu itu dan berlari ke arah Siauw-lim-si.
Hweesio penerima tamu mengantar Fu Hiong-kun ke Teng-toh-lou.
Tapi orangnya sudah pergi, loteng itu pun kosong, Fu Hiong-kun merasa aneh.
Tiba-tiba Bu-wie Taysu muncul.
"Apakah Nona Fu belum turun gunung?"
Bu-wie taysu menghela nafas di dalam hati, tapi dari wajahnya tidak terjadi perubahan apa-apa.
"Guru..., Wan-toako, dia..."
"Dia sudah pergi!"
"Ke mana?"
"Dia tidak mengatakannya."
Fu Hiong-kun melihat Teng-toh-lou dengan bengong.
"Dia sudah pergi, dia pergi.. Bu-wie taysu menarik nafas.
"Jodoh atau tidak ditentukan oleh Tuhan, kalau tidak berjodoh percuma saja memaksa, kalau jodoh, suatu hari kalian akan bertemu kembali!"
Fu Hiong-kun mengangguk.
Dalam alunan suara membaca ayat kitab suci, dia pun meninggal kan Siauw-lim-si.
Ke manakah dia pergi, dia sendiri pun tidak tahu.
0-0-0 Di ibu kota, di sisi jalan banyak pedagang kaki lima, barang yang dijual termasuk makanan, mainan, dan pakaian, pejalan kaki berlalu lalang keadaan sangat ramai.125 Su Yan-hong tidak suka berjalan di jalan besar karena terlalu banyak orang mengenalnya.
Walaupun dia mengenakan baju biasa tapi karena dia orang yang ramah, maka orang yang mengenalnya terus menyapa dan memberi hormat kepadanya.
Menurutnya dunia ini sangat aman, tapi itu hanya di luar saja.
Sebenarnya di ibu kota penuh dengan bahaya.
Sepulangnya dari Siauw-lim-si, dia tidak bisa mengundang Wan Fei-yang datang ke ibu kota, setibanya di ibu kota dia merasa tenaganya sangat terkuras.
Tapi sekarang berjalan di jalanan besar, dia tampak tenang dan wajahnya penuh tawa, semua karena Ih-lan.
Ih-lan adalah putrinya, sekarang baru berusia 8 tahun, cantik dan pintar, lucu juga polos.
Setiap kali melihat putrinya dia selalu merasa senang dan gembira, tapi juga merasa sedih.
Ketika berusia 2 tahun Ih-lan sudah kehilangan ibunya, ayah dan putri hidup bersama.
Dia menjadi pejabat kerajaan, selalu berbuat baik, setiap ada waktu senggang dia akan menemani putrinya.
Sekarang Ih-lan berlari ke jalan untuk melihat-lihat, ayahnya pasti tidak akan menolaknya.
Dia bisa berkumpul dengan putrinya hanya dengan waktu yang sangat terbatas.
Jalanan ramai pasti menarik perhatian anak kecil, apa lagi Ih-lan selalu hidup dalam gedung pejabat dan jarang main ke luar.
Maka di tangannya penuh dengan barang belanjaan, ada kincir angin, ada makanan, tawa pun tidak pernah hilang dari mulutnya.
Melihat putrinya gembira Su Yan-hong ikut gembira.126 Di depan jalanan banyak orang sedang berkumpul, terdengar suara simbal.
"Ayah, aku ingin ke sana!"
Ih-lan menarik tangan Su Yan-hong untuk berjalan ke sana.
"Di sana hanya tukang obat, tidak ada yang bisa kita lihat,"
Su Yan-hong menggelengkan kepala, tapi karena Ih-lan terus meminta, maka mereka pun berjalan ke sana.
Ih-lan segera masuk ke dalam kurumunan orang itu, tubuhnya kecil tapi lincah, maka dia tidak mengalami kesulitan.
Su Yan-hong hanya melihat dari luar.
Yang memukul simbal adalah seorang orang tua.
Rambut dan kumisnya sudah memutih, tapi mempunyai hidung merah dan besar, kepala dan wajahnya bundar, kakinya yang pendek berdiri di sana seperti sebuah boneka.
Orang tua dengan perawakan seperti itu ternyata mempunyai gerakan yang lincah, dia seperti seekor kera, meloncat kesana kemari, kadang-kadang bersalto.
Simbal di tangannya terus dipukul, suaranya menggetarkan sekitarnya.
Ekspresi wajahnya pun terus berubah, kadang gembira, kadang terkejut, kadang marah kadang senang, di dalam kerumunan terdengar ada yang berteriak, teriakannya membuat siapa pun yang mendengar menjadi khawatir dan membuat terdiam, tidak lupa mengambil arak yang ada di dalam Ho-lou (tempat arak terbuat dari labu) dan meminum araknya.
Pemuda yang sedang mengikuti suara simbal pertunjukan membuat orang khawatir.
Sama-sama bersalto tapi pemuda itu seperti tidak bertulang, karena dia bisa bersalto beratus-ratus kali,127 kadang-kadang tubuhnya berubah men-jadi bulat, kaki dan tangan menyambung, kemudian seperti bola meloncat ke atas kemudian meloncat ke sebuah bambu dengan panjang 6 depa yang ditancap kan di bawah, di atas bambu dia masih terus beratraksi, tiba-tiba seperti akan terjatuh ke bawah, tapi dia hanya terjatuh setengah tiang, lalu kembali lagi ke atas bambu lagi.
Variasi gerakannya sangat banyak dan orang-orang banyak yang bertepuk tangan.
Ih-lan tertawa sambil berteriak, sepasang tangannya sampai merah karena bertepuk tangan dengan semangat.
Turun dari tiang bambu dia masih beratraksi sebelum turun, wajahnya tidak menjadi merah juga tidak ngos-ngosan, rambut yang berkibar membuatnya terlihat hidup.
Wajahnya memberi kesan nakal tapi tidak membuat orang membencinya, sepasang mata besarnya penuh tawa.
Ketika orang tua itu sudah turun, dengan suara yang serak dia berkata.
"Hadirin dan saudara-saudara!"
Pemuda itu mengikutinya bicara tidak lupa memukul simbal.
"Hari ini kami, guru dan murid berada di ibu kota pada hari ke-6 walaupun bukan hari pertama, tapi kami tetap masih merasa asing, apalagi muridku ini nafsu makannya sangat besar, uang yang kami cari tidak cukup untuk mengisi perutnya, sekarang tidak hanya perut gurunya yang kosong, begitu juga muridku, maka kami kemari terpaksa beratraksi lagi."
"Suhu..."
Pemuda itu memukul simbal sambil berkata.
"kami datang untuk menghibur para saudara!"
"Apakah kau tidak takut ditertawakan?"
"Suhu, murid sudah salah bicara apa?"
"Kau hanya bisa berbuat seperti tadi, sayang.."128
"Sayang kenapa?"
"Langkahmu kurang mantap, malah terlihat sedikit mengambang!"
"Di kaki yang mana?"
Dengan suara rendah pemuda itu berkata lagi.
"aku lapar, pastinya kakiku jadi lemas!"
Para penonton tertawa, tapi telinga orang tua itu sepertinya bermasalah, dia segera bertanya kepada pemuda itu.
"Apa yang kau katakan tadi pada penonton?"
"Tidak ada apa-apa!"
"Hanya beratraksi sedemikian rupa kau sudah minta uang kepada para penonton?"
Orang tua itu mengambil tiang bambu satu lagi. ***129 BAB 18 Pemuda itu melihat gurunya membawa tongkat bambu, dia segera meloncat-loncat seperti kera dan tangannya bergoyang.
"Walaupun atraksi murid tidak bagus, kalau Suhu mau memukulku harus dilakukan di rumah, jangan di depan banyak orang karena semua akan melihatnya...."
"Kau tahu kalau atraksimu tidak bagus, seharusnya kau bertambah gesit?"
Orang tua itu seperti ingin memukul pemuda itu dengan tongkat bambu, tapi ketika bambu itu diangkat ke atas segera lepas dan terbang, tepat jatuh di atas tiang bambu di mana pemuda itu beratraksi tadi.
Bambu itu bergoyangan di atas, pemuda itu ingin menyambutnya, tapi bambu tidak jatuh dari atas tiang bambu tadi.
"Suhu, ada apa?"
"Cepat naik ke atas!"
"Naik?"
Wajah pemuda itu seperti memucat, suaranya pun bergetar.
"Suhu, itu sangat tinggi..."
"Semakin tinggi semakin seru!"
"Tapi murid takut!"
Pemuda itu menutup dada dengan tangannya.
"Dasar tidak berguna, biasanya guru mengajarimu seperti apa?"
Orang tua itu marah dan matanya melotot.
"Suhu belum pemah mengajarkanku harus merangkak begitu tinggi!"
Tiba-tiba pemuda itu seperti teringat sesuatu dan berkata.130
"Lebih baik Suhu beratraksi sebentar, biar murid tahu caranya bisa naik setinggi itu."
Dia bertanya kepada penonton.
"Hai penonton, apakah kalian setuju?"
Penonton berteriak baik, orang tua itu seperti ingin memperlihatkan ilmunya, dia mengambil arak yang ada di dalam buli-buli dan meminumnya, lalu menggosok-gosok kedua tangannya dan maju.
"Baik, kalian lihatlah baik-baik!"
Dia berjalan seperti bebek mabuk, setelah mendekati tiang bambu dia memeluk bambu itu dengan kedua lengannya.
Pemuda itu terus memukul simbal, kemudian kedua kaki orang tua itu menjepit batang bambu.
Bambu bergoyang-goyang, tapi batang bambu paling atas tidak terjatuh.
"Baik sekali..."
Pemuda itu bersorak dan memukul simbal lagi.
Kaki orang tua itu terjulur dan ditarik, dia mulai naik ke atas tiang bambu setinggi 3 kaki.
Simbal dipukul lagi.
Orang tua itu terus merangkak ke atas dengan kalang kabut, akhirnya dia terjatuh.
Penonton tertawa.
Simbal dibuang, pemuda itu menutup mata tidak berani melihat, orang tua itu bangun dan menggosok-gosok pinggangnya, kata-nya.
"Aku sudah tua, apa lagi tadi aku sudah 1 minum arak!"
Belum selesai bicara dia terpelanting ke bawah, pemuda itu malu melihatnya, tapi orang tua itu segera mengambil simbal yang tadi dibuang lalu memukul-nya sekuat tenaga.
Pemuda itu terkejut, dia mencengkeram bambu itu.131 Orang tua itu memukul simbal lagi, pemuda 1 itu dengan kalang kabut naik ke atas bambu pertama, kemudian naik lagi ke tiang bambu kedua.
"Baik..."
Orang tua itu berteriak, dia menendang batangan bambu yang ada di bawah ke atas udara.
Batang bambu terjatuh lagi ke batang bambu kedua, dengan posisi tepat.
Orang tua itu tidak berhenti memukul simbal, gerakan pemuda itu juga tidak berhenti.
Dia naik semakin tinggi, batang kedua sudah selesai dipanjat, lalu ke batang ketiga, dan sampai di paling ujung.
Simbal berhenti dipukul, pemuda itu seperti baru tersadar kalau dia sekarang berada di tempat setinggi itu, dia berteriak dan memejamkan mata, seperti kera mengerutkan tubuhnya, gerakannya membuat batangan bambu terus bergoyang.
Tiga batang bambu disambung sehingga panjangnya ada 18 depa, pemuda itu tergantung di sana.
Benar-benar sangat berbahaya, walaupun bambu bergoyang-goyang dia tidak terjatuh.
Semua orang berteriak dan bertepuk tangan serta bersorak.
Pemuda itu tertawa, matanya terbuka, seperti seekor ayam dia berdiri dengan sebelah kakinya kemudian masih memperagakan Cui-pat-sian (jurus mabuk).
Ilmu mabuk ini lucu juga sulit, di tanah datar pun sulit diperagakan, apa lagi di atas batangan bambu.
Pemuda itu tidak minum arak, tapi dia benar-benar seperti sedang mabuk dan tampak lucu.
Semua ini membuat para penonton takut sekaligus ingin tertawa.132 Su Yan-hong tersenyum, dia melihat semua itu dengan teliti dan tahu pemuda itu mempunyai ilmu tinggi, bukan orang yang benar-benar mencari makan dengan menjual ilmu.
Dia juga melihat wajah pemuda itu penuh dengan keseriusan dan lurus, maka dia tersenyum.
Akhirnya atraksi sudah selesai, pemuda itu meloncat, hal ini membuat penonton terkejut lagi.
Semua orang berteriak, Ih-lan keluar dari kerumunan itu.
Pemuda itu terjatuh di tengah-tengah dia masih berputar-putar beberapa kali, kemudian beberapa kali turun dengan mantap tidak ada sesuatu yang terjadi.
Sorakan penonton terdengar uang pun dilempar ke arahnya, orang tua itu mengucapkan terima kasih.
Simbal dibalikkan, tubuh berputar, uang yang dilempar semua disambut dengan simbal.
Sepasang tangan Ih-lan terus merogoh saku mencari uang, dia baru ingat tidak membawa uang, dan mencari ayahnya, pemuda itu sudah berdiri di depannya.
"Adik kedi, aku pinjam manisan yang ditusuk itu, boleh tidak?"
Orang tua itu menyambut uang yang dilempar dan tepat berada di sisinya, dia segera menyela.
"Jangan berikan kepadanya, dia rakus..."
Tapi Ih-lan tetap memberikan manisan itu kepada pemuda itu, orang tua itu segera menutup matanya.
"Kau akan bermain sulap?"
Tanya Ih-lan.
"Dari mana kau bisa tahu?"
Pemuda itu balik bertanya.
"Aku tahu kau pasti akan bermain dengan baik!" 133 Pemuda itu baru akan menjawab, orang tua yang melihat dari sela-sela jarinya segera berkata.
"Kalau bermain sulap uangnya masuk perut itu bukan hal yang baik!"
"Aku tidak percaya pada kata-katamu!"
Kata Ih-lan.
Orang tua itu mengangkat bahunya, dia merentangkan tangannya artinya apa boleh buat, hal ini membuat penonton tertawa lagi.
Dalam suara penonton tawa pemuda itu melempar manisan ke udara dan berteriak.
"Lihat baik-baik!"
Sepasang mata Ih-lan melihat dengan melotot, pastinya para penonton lainnya juga melihatnya.
Waktu itu ada dua prajurit berbaju mewah datang, dengan dua tangan dilipat di depan dada melihat pemuda itu.
Kedua tangan pemuda itu terus berputar, tusukan manisan itu terus dilempar-lempar dan dia mengelilingi lapangan satu kali, kemudian kembali di depan Ih-lan.
Ih-lan tetap melihat manisan di tangan pemuda itu, tapi hanya sekejap manisan yang ditusuk itu sudah menghilang.
Kedua tangan pemuda itu dikepalkan, dia meletakkannya di depan Ih-lan, dan menyuruhnya menebak, Ih-lan segera berteriak.
"Di tangan kiri!"
Pemuda itu membuka kepalan tangan kirinya, tapi manisan itu tidak ada. Eh-lan berteriak lagi.
"Di tangan kanan!"
"Tidak ada!"
Kepalan tangan kanan dibuka, memang tidak ada di sana.
"Di mana manisanku?"
Tanya Ih-lan dengan aneh.134
"Yang pasti sudah berada di dalam perutnya!"
Orang tua itu mengeluh sambil menggelengkan kepala.
"Suruh dia membuka mulutnya, mungkin masih ada yang tersisa!"
Tidak menunggu Ih-lan meminta, pemuda itu sudah membuka mulutnya, tapi tidak ada apa-apa di sana.
"Di mana?"
Ih-lan melihat pemuda ini.
"Ada pada salah satu dari mereka,"
Pemuda itu melihat ke arah penonton. Ih-lan mengikuti pandangan mata pemuda itu berputar.
"mana mungkin?"
"Kau tidak percaya?"
Ih-lan menggelengkan kepala, pemuda itu bersalto keluar dan sekali lagi bersalto, berhenti di depan prajurit berbaju mewah itu, tapi wajahnya tetap melihat ke arah Ih-lan. Ih-lan lari ke sana.
"Kembalikan manisanku!"
"Ada di sini,"
Pemuda itu melihat prajurit yang berdiri di sebelah kiri.
"ada di tubuh tuan prajurit ini!"
Prajurit itu mengerutkan alisnya, pemuda itu sudah mencabut sesuatu dari punggungnya, ternyata manisan yang ditusuk itu.
Tapi begitu melihat prajurit berbaju mewah itu, para penonton tidak berani tertawa, tapi Ih-lan tidak peduli, dia bertepuk tangan.
Setelah manisan ditarik dari punggungnya, kedua alis prajurit berbaju mewah itu terangkat, dia terlihat ingin marah.
Pemuda itu tidak peduli, dia berjalan ke arah Ih-lan, tapi tangan kiri prajurit sudah memegang pundaknya, terlihat dia tidak bisa kabur lagi, tapi pundak pemuda itu seperti tidak135 sengaja bergeser ke samping, segera cengkeraman prajurit itu meleset.
"Siau-cu (bocah)..."
Prajurit itu sudah melang kah keluar.
"Anda mengenalku?"
Pemuda itu terlihat seperti terkejut. Orang tua itu tertawa dan mendekat.
"Ternyata kalian sudah saling kenal dan bersekongkol memainkan sulap ini!"
Dua prajurit berbaju mewah itu segera marah.
"Lo-thauw-ji (orang tua)."
Orang tua itu terpaku dan bengong.
"Mengapa kau juga mengenalku? Bagaimana kita bisa terlepas dari rasa curiga orang-orang?"
"Lo-thauw-ji..."
Bentak prajurit itu.
"jangan sembarangan bicara, sejak kapan aku mengenal kalian berdua?"
"Tapi Anda mengetahui namaku adalah Lo-thauw-ji sedangkan muridku adalah Siau-cu."
Wajah orang tua terlihat aneh, seperti tidak sedang ber-gurau.
"Sembarangan!"
Bentak prajurit satu lagi. Lo-thauw-ji membalikkan tubuh lalu melihat pemuda itu.
"Dari dulu aku sudah menyuruhmu mengganti nama, kau selalu tidak mau dan tidak percaya ada yang tahu kalau namamu adalah Siau-cu."
"Aku percaya,"
Ih-lan tertawa.
"Siau-cu, Lo-thauw-ji."
Orang tua itu tertawa senang. Siau-cu bersalto ke depan Ih-lan.
"Adik kecil, manisan ini kukembalikan pada-mu.
"Namaku Ih-lan."
Ih-lan mengambil manisan itu dan menggigit.
"Siau-cu, kau juga makan..."
Siau-cu menggelengkan kepala.
"Aku dipaksa makan kepalan!" 136 Kata-katanya belum selesai, dua prajurit berbaju mewah sudah berada di belakangnya. Kepalan menyerangnya, Siau-cu menghindar, dia tertawa.
"Tidak perlu terlalu serius!"
"Apakah kau sudah memakan nyali singa, dan jantung harimau sehingga berani mengolok-olok kami!"
Prajurit itu menyerang Siau-cu dengan kaki dan tangannya.
Siau-cu sangat lincah, kedua tangannya terus bergoyang dan menghindar, sepertinya dia sangat terpojok tapi bisa menghindar dengan sangat pas.
Walaupun kaki dan kepalan tangan prajurit itu bergerak sangat cepat, tapi tetap tidak mengenai sasaran.
"Siau-cu, ternyata kau benar-benar punya ilmu tinggi, pantas kau berani bercanda dengan kami!"
Dengan jurus mabuk Siau-cu mengelilingi dua prajurit itu dengan tenang, dia hanya menghindar tapi tidak membalas.
Penonton jarang melihat pertarungan sebenar nya, kecuali yang penakut, yang lainnya tidak bubar malah berteriak memberi semangat.
Ih-lan tidak pergi dari sana, dengan tenang dia melihat aksi itu.
Dua prajurit, 2 lawan 1, mereka tidak bisa mengenai Siau-cu, bajunya pun tidak sanggup mereka raih, mereka naik darah karena malu, saling memberi isyarat langsung kedua-duanya mencabut golok.
Penonton melihat mereka sudah menggunakan senjata, mereka buru-buru pergi dari sana, tapi Ih-lan masih di sana, Siau-cu melihatnya, dia meloncat dan berteriak.
"Siau-moi-moi, jangan menonton lagi, cepat pulang."
Ih-lan melihat dua prajurit itu lalu menggelengkan kepala.137
"Aku tidak takut kepada mereka!"
Dua prajurit itu sudah mendekat, dua golok mendekat dan menepis, bentakan terdengar.
"Berhenti!"
Su Yan-hong keluar dari kerumunan orang, dia tidak marah tapi terlihat berwibawa.
"Ayah..Ih-lan berlari lalu memeluk Su Yan-hong.
"kedua orang itu bukan orang baik-baik."
Su Yan-hong menuntun tangan Ih-lan, lalu berjalan ke depan. Dua prajurit melihatnya segera terlihat ketakutan, dengan cepat menyimpan golok mereka dan memberi hormat. Su Yan-hong melambaikan tangan.
"Adik ini hanya senang bermain sulap, tidak berniat jahat, kenapa kalian begitu serius melayaninya?"
Dua prajurit itu sadar mereka bersalah juga tahu siapa Su Yan-hong, mereka segera menunduk kan kepala tidak berani membela diri.
"Pergilah,"
Su Yan-hong melambaikan tangannya. Dua prajurit itu menghembuskan nafas panjang dan terburu-buru pergi dari sana. Lo-thauw-ji segera datang.
"Luar biasa, luar biasa,"
Dia berkata lagi kepada Siau-cu.
"kau tidak punya wibawa, lihatlah tuan ini, hanya beberapa kalimat saja sudah membereskan masalah."
Siau-cu mengangkat bahu.
"Mereka satu jalan, jadi gampang membereskannya!"
"Apakah betul?"
Lo-thauw-ji melihat Su Yan-hong.
"Lo-cianpwee,"
Su Yan-hong memberi hormat.
"muridmu mempunyai ilmu tinggi, kalau tidak karena menaruh kasihan, tidak mungkin mereka bisa ada kesempatan mencabut golok, tidak perlu menungguku sampai berbicara tadi." 138 Orang tua itu balik bertanya.
"Siau-cu, kau punya kemampuan, mengapa tidak membuat mereka terguling?"
"Suhu, apakah kau sudah mabuk, mana mungkin muridmu ini berani membuat orang kerajaan marah!"
"Orang kerajaan?"
Lo-thauw-ji seperti tiba-tiba tersadar, dan dia bersikap takut.
"Kalian berdua..."
Su Yan-hong sekali lagi memberi hormat.
"aku belum menanyakan marga dan nama kalian."
"Aku Lo-thauw-ji, dia Siau-cu."
Lo-thauw-ji tiba-tiba bergemetar.
"kau bertanya dengan serius, apakah akan mencari kami..."
Su Yan-hong tertawa kecut.
"Aku hanya ingin berteman dengan kalian berdua!"
Orang tua itu seperti terkejut, tapi Siau-cu tertawa dingin.
"Tidak perlu, kami hanya tukang obat, yang berjualan obat di dunia persilatan, kami tidak menjalin tali keakraban dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya."
Dia segera membereskan barang-barangnya, Ih-lan mendekati Siau-cu.
"Kapan kau akan beratraksi lagi?"
"Kalau tidak ada orang yang mencari gara-gara, setiap hari aku pasti datang kemari!"
Dia melihat Ih-lan, Siau-cu bisa tertawa.
"Baik, besok aku akan datang lagi kemari!"
Ih-lan tertawa dan berloncat-loncat.
"Kalau bisa jangan datang bersama ayahmu!"
"Mengapa?"139
"Lagaknya terlalu besar, kalau dia ada di sini tidak akan ada seorang pun yang berani datang untuk melihat atraksi kami!"
"Aku mengerti!"
Su Yan-hong tahu guru dan murid ini mempunyai ilmu tinggi, dia berharap bisa berteman dengan mereka, tapi sepertinya mereka tidak suka, jadi dia tidak bisa memaksa, dia percaya pada jodoh, kalau berjodoh mereka bisa menjadi sahabatnya.
Entah apa sebabnya, dia tiba-tiba teringat pada Fu Hiong-kun.
Kembali ke rumah hari sudah sore.
Penjaga pintu yang melihat Su Yan-hong pulang, mereka merasa aneh, tapi Su Yan-hong tidak menaruh di hati, dia berpesan kepada Ih-lan.
"Cuci bersih tanganmu, nanti ayah akan bermain denganmu lagi."
"Pasti..."
Ih-lan sangat senang.
Dengan hati ringan Su Yan-hong masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk, dia mulai merasa ada yang tidak beres.
Pelan-pelan keanehan di dalam rumah mulai terlihat, ada yang bengong, ada yang terus mengedip kan mata kepada Su Yan-hong.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Su Yan-hong, dia mendengar suara baju tertiup angin, kemudian terdengar suara kencang berhembus.
Dia tahu ada yang datang, dengan tenang dia menghindar.
Yang menyerang adalah seseorang dengan baju panjang berwarna hitam, kepalanya ditutup oleh kantung kain hitam, tubuhnya bergerak lincah, sekali menyerang tidak mengena140 sasaran, dia segera bersalto, dua tangan dengan 10 jari dilipat seperti cakar, jurus 'Mong-say-hu-touw' (Singa buas menang kap kelinci) sudah dikeluarkan sekali lagi dia menyerang Su Yan-hong.
Melihat orang itu menyerangnya, dalam hati Su Yan-hong sudah tahu orang itu sebenarnya, apa lagi terlihat baju kuning keluar dari balik baju panjang hitamnya, dia merasa lebih yakin, dia tidak langsung menyambut malah mundur.
Orang itu mengejar Su Yan-hong terus, meng hantam dengan kepalan, menepis dengan telapak, menendang dengan kaki, serangannya kerap dan ganas, membuat Su Yan-hong terus mundur, di belakangnya ada dinding dan tidak ada jalan mundur lagi.
Terpaksa harus membalas, tapi tetap serangannya lebih sedikit dari pada beijaga, dia sengaja mengalah 18 jurus dan terjatuh di sebuah kursi, bila sekali lagi diserang senjaga akan terguling dari kursi.
Orang dengan wajah ditutup itu seperti tahu apa yang akan dilakukan Su Yan-hong, dia tertawa terbahak-bahak dan berhenti menyerang lalu membuka baju hitam dan penutup kepalanya.
Di balik baju itu ternyata orang berbaju raja dan memakai topi raja.
Bersamaan waktu seorang kasim kecil dan sekelompok pengawal keluar dari dua arah dan berlutut sambil berseru.
"Baginda semoga sehat selalu,"
Sebenarnya orang itu adalah raja sekarang bernama Cu Hou-coh, beliau adalah anak tunggal dari Raja Kauw-cong, dilahirkan dari Permaisuri Cong.
Usia 15 tahun sudah naik tahta, sekarang usianya belum mencapai 19 tahun.
Raja Kauw-cong mempunyai anak tunggal, maka di anggap pusaka, permaisuri Cong sangat menyayanginya.
Apa lagi Raja Kauw-cong adalah anak yatim, semasa kecil pernah141 melewatkan hidup yang menyedihkan, maka dia sangat memanjakan anak tunggal ini, otomatis anak ini tumbuh menjadi orang yang selalu hidup di bawah ketiak orang tua, juga sangat nakal, dua kali lebih nakal dibandingkan dengan anak biasa sampai baginda merasa malu kepada rakyatnya, tapi keadaan sudah terlambat, dia hanya berharap anak buahnya bisa mendidiknya kembali ke jalan yang benar, menjadi seorang raja yang baik.
Bagi Raja Cu Hou-coh, orang-orang yang mendidiknya tidak sebaik 8 kasim yang mengurusnya.
Delapan kasim itu disebut 'Pat-houw' (8 macam) mereka adalah Ma Gong-ceng, Kao Hong, Lok Hiang, Wie Min, Ciu Ku, Ku Ta-gong, Thio Gong, dan Liu Kun.
Mereka ada yang baik ada yang buruk.
Ilmu silat mereka pun ada yang tinggi ada yang biasa, salah satu dari mereka yang paling jahat dan licik adalah Liu Kun.
Orang-orang ingin menjatuhkan Pat-houw, tapi raja mengeluarkan pengaruhnya.
Pat-houw tidak jatuh malah posisinya lebih kuat, yang paling kuat tentu saja Liu Kun, dia tidak hanya mengangkat dirinya menjadi ketua dewan jenderal, dia masih menjadi komandan prajurit wilayah ke-12.
Kekuasa annya sangat besar.
Dewan jenderal bisa ikut rapat rencana ketentaraan negara, apa lagi kekuatan militer sudah berada di tangannya.
Boleh dikatakan kedudukan Liu Kun kuat seperti Tai-san.
Yang menjadi raja malah seperti Liu Kun, karena raja memberi hak kepada dia.
Setelah 3 tahun lebih bertahta raja ini mulai mengerti, maka dia sering mencari Su Yan-hong.142 Keluarga Su Yan-hong secara turun temu-run mengabdi pada negara, Su Yan-hong pun tidak terkecuali.
Setelah melihat raja berusaha keras, dia lebih giat lagi.
Saat bergurau seperti sekarang ini sudah biasa di terima Su Yan-hong, bagi seorang raja bergurau seperti ini memang sangat mustahil dan memalukan, tapi dibandingkan berkuda atau ber-buru kelinci, ini akan lebih aman!
Su Yan-hong pun tahu kalau raja ini penuh semangat, dan mengerti kalau raja bergurau seperti ini pasti ada tujuan lain.
Dia ingin berlutut tapi raja segera memapah.
"Tidak usah!"
Baginda duduk dan tertawa.
"Jika tidak ingin mencoba ilmu yang sebenarnya, beberapa kali kau pura-pura kalah, tidak seru!"
"Kepandaian Baginda semakin bagus!"
"Tidak sebagus murid Kun-lun-pai!"
Baginda tertawa. Waktu itu Ih-lan masuk, melihat Baginda dia segera tertawa, tangan kecilnya dilambaikan dan ingin mendekat. Su Yan-hong segera membentak.
"Ih-lan, harus sopan santun!"
Baru saja Ih-lan ingin mengatakan sesuatu, dia segera berlutut dan menyembah.
"Baginda, Ih-lan memberi hormat kepada Baginda!"
Baginda menggendong Ih-lan.
"Kali ini aku datang tergesa-gesa, lupa membawakan makanan dan mainan untukmu!"
"Kedatangan Baginda kali ini, apakah.
"Tiba-tiba aku hanya merasa sudah lama tidak bertarung secara bersahabat, sekarang aku mencarimu ingin mengajakmu keluar kota untuk berburu!"
"Baginda mempunyai hobi seperti itu, hamba akan menemani Baginda."
"Apakah Ih-lan ingin ikut juga melihat-lihat keramaian?"
Baginda bertanya kepadanya.
"Tentu saja ingin, apakah ayah akan mengijin kan aku ikut?"
"Berburu adalah permainan orang dewasa!"
Su Yan-hong berkata lagi.
"orang yang berhubung-an dengan kaisar yang bernama Lu Kian baru memperlihatkan surat-suratnya kepada Baginda, apakah Baginda sudah membacanya?"
Kasim kecil yang bernama Siau-te-lu terlihat tegang. Baginda seperti tidak sengaja menghalangi pendangan Siau-te-lu kepada Ih-lan, dengan dingin melihat Su Yan-hong. Seperti tidak sengaja menjawab.
"Siapa yang tertarik pada benda itu, biar Liu Kun yang membereskannya."
Su Yan-hong adalah orang yang sangat pintar melihat, dia mengerti dan tertawa.
"Banyak orang yang bercerita tentang hal ini..."
"Biarlah mereka yang urus, besok pagi kita lihat panah siapa yang lebih cepat!" 0-0-0 Orang di atas kuda terlihat penuh semangat dan kehidupan. Kuda yang ditunggangi adalah kuda paling bagus, teknik menunggang kudanya mem-buat kuda ini bertambah bercahaya. Kuda melaju seperti naga, seperti naga dalam diri manusia. Kemegahan Su Yan-hong tidak tertandingi.144 Di dalam hutan tidak ada binatang buas, hanya ada binatang seperti kelinci dan rusa jenis binatang yang tidak menyerang manusia. Baginda selalu menyukai berburu, dalam berburu beliau bisa mendapatkan rangsangan. Orang-orang yang mengurusnya tidak bisa menghalangi niatnya, mereka boleh mencegah Baginda melakukan hal yang mengandung bahaya, tapi tidak bisa menghalangi hobi berburu Baginda. Walaupun tempat berburu di sana sangat aman, tapi pasukan yang datang mengawal baginda jumlahnya sampai ratusan, mereka berada di kiri dan kanan baginda mengawasi. Kasim kecil Siau-te-lu terus mengikuti di kiri dan kanan, tapi begitu perburuan sudah dimulai, dia tertinggal jauh. Kuda dan teknik menunggang kuda membuatnya tertinggal. Baginda dan Su Yan-hong bersama-sama mengejar seekor rusa. Kuda mereka berlari dengan cepat. Panah mereka bersamaan waktu melesat meninggalkan busur. Melesat seperti bintang ter-jatuh dan mengenai tubuh rusa. Rusa itu sudah terluka dan berlari lebih cepat lagi. Hanya sebentar Siau-te-lu sudah tertinggal dan tidak terlihat batang hidungnya. Rusa yang terluka setelah berlari sebentar lalu mati di balik semak-semak. Baginda dan Su Yan-hong jongkok di pinggir rusa mati itu, tawa mereka segera berhenti.
"Yan-hong, apakah kau tahu kau hampir membuat bencana?"
Suara Baginda menjadi berat.
"Apakah mengenai orang yang berhubungan dengan kaisar?"145
"Surat itu jatuh ke tangan Liu Kun."
Baginda menarik nafas.
"Liu Kun sudah membangun pagar di sisiku, kelak bila bicara denganku, harus hati-hati."
"Apakah Siau-te-lu orangnya?"
"Betul... Liu Kun sudah mengatur orang ini untuk mengawasiku!"
"Orang itu sangat keterlaluan, dia mulai berani secara terang-terangan menambah kekuatan, kalau tidak segera dihentikan akan sangat berbahaya!"
"Bagaimana cara menghentikannya?"
Kata Baginda tertawa kecut.
"sekarang dia sangat berani, tidak takut pada siapa pun. Pastinya aku harus bertanggung jawab, dia menjadi seperti itu karena diriku juga."
"Tapi ini sudah menjadi sebuah bukti, sekarang tidak ada gunanya lagi, lihat saja, dia menamakan dirinya sendiri Kiu-cian-sui (9.000 tahun, Baginda=10.000 tahun) terlihat ambisinya sangat besar, Yan-hong, sekarang aku harus mengandal-kanmu lagi!"
"Tenanglah, Baginda!"
Su Yan-hong ter-paksa berkata seperti tu.
"Kalau aku bisa tenang, itu lebih baik!"
"Mungkin aku tidak akan bisa membantu!"
Baginda terlihat sedih.
"aku harap dia bisa kuat!"
Kemudian matanya berputar, dia tertawa terbahak-bahak.
Tidak perlu melihat pun Su Yan-hong tahu kasim kecil Siau-te-lu sudah mendekati mereka, dia merasa sedih.
Tapi dia tetap bisa tertawa, tertawa lepas, karena dia tahu hanya dengan cara seperti itu baru bisa menutupi semua ini.
Pastinya orang yang menghubungi Kaisar, Lu Kian tidak sekuat besi, dia setia, berani bertingkah, berani bicara, maka146 dia disebut sebagai penghubung Kaisar terbuat dari besi.
Dia adalah seorang pelajar, tidak perlu berlatih ilmu silat untuk menjaga diri, sekarang dia dihajar hingga berdarah.
Di kedua sisinya ada kasim, mereka adalah orang yang dipercaya Liu Kun, bila menggunakan alat penyiksa, tidak ada perasaan sedikit pun.
Lu Kian terus berteriak kesakitan, dua kasim yang memukul seperti tidak mendengar teriakannya, setelah puas baru berhenti.
4 orang kasim yang memegang kaki dan tangan baru melepaskannya.
Lu Kian bernafas ngos-ngosan, dia meronta dan berteriak, akhirnya dia merangkak.
Waktu itu dua barisan kasim keluar dari ruangan, di tengah-tengahnya adalah Liu Kun.
Melihat dari sudut mana pun tidak terlihat dia mirip orang jahat, kalau tidak begitu dia tidak akan mendapatkan kepercayaan dari kaisar dan bisa menduduki posisi seperti sekarang.
Dia orang Soa-sai, bermarga Than, marganya jarang ada, ketika dia baru dikebiri, dia menjadi murid seorang kasim bermarga Liu, maka marganya pun diubah menjadi Liu, kemudian oleh Kaisar Sian-cong, dia diberi tugas mengurus pelacur yang diakui oleh pemerintah.
Maka Kaisar Sian-cong waktu itu selalu mencarinya, dia jadi sangat disukai oleh Kaisar.
Katanya kematian Kaisar Sian-cong disebabkan terlalu banyak makan obat kuat, seharusnya Liu Kun yang bertanggung jawab akan hal ini, tapi tidak ada seorang pun yang berani mengusut perkara ini.
Sampai pada jaman Kaisar Siau-cong, karena kehidupan pribadinya sangat serius, jadi tidak membutuhkan orang147 seperti Liu Kun, dan kedudukannya digeser ke dekat kuburan Sian-cong, sampai seka-rang Kaisar telah tumbuh dewasa dan senang main, setelah mengetahui Liu Kun sangat hafal dalam bidang ini, dia menarik kembali Liu Kun ke istana.
Kesempatan begitu baik pasti tidak akan dilepaskan Liu Kun, dia berusaha mengubah cara membuat Kaisar ini semakin menyukainya.
Dalam hati kecil Kaisar, tidak ada orang yang lebih baik dari pada Liu Kun, Liu Kun berusaha merangkak naik, walaupun harus menggunakan segala cara.
Pejabat kerajaan semua takut kepadanya dan menganggap dia sebagai Kiu-cian-sui, hanya Lu Kian yang tidak, dia menulis surat kepada Kaisar mengungkapkan kesalahannya, jadi mana mungkin Liu Kun akan melepaskannya.
"Sebetulnya kau tidak takut!"
Kata-kata ini keluar, Liu Kun segera duduk. Kasim yang ada di belakang sudah menyiapkan kursi untuk mengkordinasi gerakannya.
"Liu Kun pengkhianat, penjahat!"
Lu Kian marah.
Liu Kun sama sekali tidak takut, jangankan Lu Kian yang telah terluka parah, jika di kiri dan kanannya banyak pendukung, dia pun tidak takut, apa lagi sekarang ada Hongpo Tiong dan Hongpo Ih yang selalu melindungi dia.
Dua bersaudara itu adalah keturunan Hong-po, mereka masing-masing menggunakan sepasang Poan-koan-pit, di dunia persilatan di juluki Im-yang-pit (Pena Im-yang), mereka sudah tinggal di istana selama beberapa tahun, mereka adalah 2 pesilat tangguh di antara 5 pesilat lainnya.
Di istana148 dia dipimpin langsung oleh Liu Kun, mereka sangat setia kepada Liu Kun.
Mereka tidak takut kepada Lu Kian, dan segera berteriak.
"Diam..."
Dan Lu Kian pun pingsan.
Tidak usah diberitahu kasim di sebalah kiri dan kanan segera menyiram Lu Kian dengan air.
Lu Kian terbangun kembali, kali ini dia tidak sanggup bergerak lagi, tapi dia tetap terlihat marah.
"Pengkhianat, penjahat..."
"Kau benar-benar pemberani, kau kira aku tidak berani membunuhmu?"
"Keluarga Lu tiga generasi secara turun temur-un adalah pejabat yang jujur, kami diberi kebaikan oleh kerajaan, kalau kau mau membunuh-ku, aku tidak takut kecuali Kaisar sendiri yang memberi perintah!"
"Apakah benar?"
Liu Kun tertawa. Lu Kian ingin mengatakan sesuatu, tapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya pingsan kembali.
"Kembalikan dia ke rumah!"
Kata Liu Kun dengan suara hidung.
"Baik..."
Empat orang kasim segera menarik Lu Kian keluar dari sana.
"Di mana Kaisar sekarang?"
Tanya Liu Kun.
"Lapor Kiu-cian-sui, kaisar berada di rumah Pau!"
"Baik..."
Liu Kun tertawa lagi.
"kita pergi ke rumah Pau Pang. jangan lupa suruh Tiang Seng ikut!"
"Baik, Kiu-cian-sui!"
Mendengar panggilan itu, Liu Kun merasa sangat gembira, memang jarak Kiu-cian-sui hingga Ban-sui masih ada 1.000 Sui, tapi dia tidak perlu merasa cemas karena kesempatan belum datang.149 Kalau dia tidak sabar, tidak akan mendapatkan posisi setinggi sekarang.
Pau Pang adalah tempat Kaisar bermain, berada di belakang kuil Sie-tan, di jalan kecil sana, ada Vila Li-kong-pie-goan.
Membangun vila Li-kong-pie-goan itu juga ide Liu Kun, dibangun dan direncanakan oleh Goan Te orang Vietnam.
Goan Te sudah berada di Tiongkok selama 4 generasi, keluarganya secara turun temurun membangun istana kerajaan, keahliannya membangun sangat tinggi, sampai generasinya, sayapnya lebih diperlebar lagi.
Tidak diragukan lagi dia adalah orang berbakat dalam bidang arsitek, ditambah lagi dia adalah anak buah Liu Kun yang selalu memper-jelas Goan Te, karena hobi Kaisar ini maka istana dibangun dengan struktur aneh, kuat, leluasa, dan indah.
Dari luar melihat rumah yang ada di kiri dan kanan sangat biasa, tapi setelah masuk, terlihat aneh.
Pintu-pintu, air, gunung, hutan buatan semua ada, jalan pun sambung-menyambung.
Istana ini benar-benar sangat misterius, Dana untuk membangun, kuli bangunan, butuh berapa pun selalu ada, maka istana ini dengan cepat selesai dibangun.
Kaisar sendiri yang memberi nama ’Tai-su' kolam di depan "
Tian Go ruang rahasia bernama 'Houw-pang' (Kamar Harimau), Kaisar secara tidak sengaja melihat harimau dan macan tutul, maka dia mengubahnya menjadi 'Pau Pang' (kamar Pau).
Memang Kaisar sangat menyukai tempat itu, tapi tidak ada hati untuk menikmatinya, apa lagi sekarang ini.
Selama beberapa tahun ini apa yang dilakukan Liu Kun sangat dipahaminya, dia juga tahu masalah Lu Kian, dan itu akan membuat Liu Kun datang kemari, maka begitu Siau-te-150 lu melapor, dia tidak terkejut, malah merasa lebih plong.
Walaupun dia mulai bisa bersabar, tapi semakin cepat masalah beres maka akan semakin baik.
Kaisar tidak merasa aneh dengan kemuncul-an Tiang Seng, karena kasim ini memang orang kepercayaan Liu Kun dan sekarang dia menjadi gubernur Tong-tiang.
Dia tidak menyukai kasim ini, tapi dia harus mengakui, kasim ini mempunyai ilmu tinggi dan tahu itu alasan Liu Kun menyukainya Liu Kun membawa anak buahnya itu di sampingnya, sepertinya dia mempunyai tujuan yang harus dicapai.
Kaisar berharap Liu Kun jangan bersikap keterlaluan, jangan membuat dia merasa sulit menjadi Kaisar.
Setiap saat wajah Liu Kun yang merah dan lembab selalu tersenyum, sebaliknya wajah Tiang Seng selalu pucat seperti baru sembuh dari sakit berat.
Setahun penuh wajahnya pucat tidak terlihat ada darah, kecuali sepasang matanya selalu penuh dengan urat-urat merah, di sekeliling matanya ber-wama merah, sepertinya sengaja dilukis tapi sejak lahir memang seperti itu.
Umurnya belum terlalu tua, tapi rambut putihnya lebih banyak dari rambut hitam, alisnya pun seperti itu, ada orang yang bilang karena ilmu lweekang yang dilatihnya.
Katanya ilmu lweekang yang dilatihnya adalah ilmu lweekang aliran sesat.
Apa pun yang dikatakan orang, kesan yang diberikan adalah sesat dan jahat.
Siau-te-lu tahu keadaan ini, dia segera keluar meninggalkan Kaisar, Liu Kun, dan Tiang Seng.
"Lu Kian bersekongkol dengan kekuatan dunia persilatan golongan hitam, diam-diam memperbesar kekuatan dan berencana memberontak!"
Liu Kun terus terang.151
"Apakah betul?"
Kata Kaisar pura-pura.
"Kami sudah menyelidikinya dengan teliti, harap Baginda segera menurunkan perintah, menghukum dia!"
"Berencana memberontak... dosa besar, harus dibunuh!"
"Apakah ada buktinya?"
"Tiang Seng adalah bukti kuat, karena dia bertanggung jawab menyelidiki masalah ini, maka semua bukti sudah di tangannya!"
"Oh!"
Kaisar mengerutkan alis.
"Jangan sampai terlambat, hamba sudah menyiapkan surat perintah, Baginda bisa melihatnya."
Liu Kun membawa surat. Kaisar mengambilnya, dia mengerutkan alis.
"Selama 3 generasi Lu Kian adalah pejabat yang setia, memang dosa selama hidup tidak bisa diampuni, dosa mati pun tidak bisa dilaksanakan, bagaimana kalau dia menjadi tentara di perbatasan?"
"Dia merencanakan memberontak, seharusnya seluruh keluarganya dipenggal, sekarang hanya tinggal membunuh Lu Kian, hamba sudah memikirkan banyak hal untuk Baginda."
"Cepat buatkan tinta untuk Baginda!"
Pesan Liu Kun kepada Tiang Seng.
Sebenarnya tinta sudah dibuat, Tiang Seng segera memberikan Pit kepada Kaisar.
Kaisar tahu ini sudah mereka rencanakan maka dia mengambil Pit tapi tetap bengong, setetes tinta menetes ke bawah dan menjadi sebuah noda tinta.
Liu Kun melihatnya.
"Kau tidak hati-hati, cepat minta maaf pada Baginda."152
"Hamba pantas mati, hamba pantas mati..."
Tangan Tiang Seng membersihkan noda tinta di atas meja, dua tangannya menjadi hijau dan dia menge-lap meja, meja langsung menjadi putih. Kaisar melihat itu dan wajahnya berubah. Liu Kun membentak.
"Mundur..."
Tiang Seng mundur ke belakang Liu Kun. Liu Kun baru berkata.
"Silakan, Baginda..."
Akhirnya kaisar berkata.
"Bila Lu Kian berniat ingin memberontak, dia pantas mati!"
Pit pun akhirnya turun. Setelah Lu Kian pulang, dia kembali pingsan, begitu sadar, dia benar-benar sudah sadar dan bisa berpikir banyak, dia langsung berteriak.
"Tan-ji..."
"Aku di sini!"
Lu Tan dari awal selalu berada di sisi ranjang Lu Kian. Hati Lu Kian agak tenang, dengan nada marah dia berkata.
"Liu Kun adalah seorang penjahat..."
Kata-kata berikutnya belum menyambung, dia hampir pingsan lagi.
"Ayah, jaga dirimu baik-baik, kita punya banyak kesempatan!"
"Penjahat ini benar-benar jahat, aku yakin surat-suratku tidak akan sampai ke tangan Kaisar!"
"Hari ini dia sudah memukulkan 80 papan kepadaku, mungkin dia hanya melampiaskan sedikit, tapi dia adalah orang licik, aku yakin dia tidak akan berhenti sampai di sini!"
"Ada putramu di sini, ayah bisa tenang!"
Lu Kian melihat wajah putranya, dia ber-pesan.153
"Jangan gegabah!"
Dia tahu putranya bersifat membela keadilan, melindungi orang yang diperlaku kan dengan tidak adil, bisa membedakan mana yang !
benar dan yang mana yang salah, dari kecil dia diantar ke Bu-tong-san dan sudah menguasai ilmu tinggi.
Lu Kian sering merasa bangga mempunyai putra seperti dia, walau pun hanya putra tunggal ini, tapi dia tidak seperti orang biasa terlalu memanjakan kepada putranya, kalau tidak dia tidak akan mengantarkan putranya ke Bu-tong-san, dia sering mendorong putranya melakukan hal yang berarti, tapi tidak kali ini.
"Orang-orang takut kepada Liu Kun, tapi aku tidak!"
Lu Tan mengepalkan tangannya.
"Di istana banyak pesilat tangguh, apa lagi Liu Kun, kau hanya sendiri, apa gunanya?"
"Aku akan berhati-hati..."
"Kalau sekali pukul tidak kena, tidak akan ada kesempatan lagi, kalau sampai jatuh ke tangan Liu Kun, akibatnya tidak terbayangkan!"
"Ayah sering mengajarkanku, walau mati tapi harus ada artinya..."
"Kematian ada yang berat seperti Tai-san, ada yang ringan seperti bulu. Orang yang ingin membunuh Liu Kun sangat banyak, maka dia sudah mempersiapkan segalanya, ingin membunuh dia sangat sulit!"
Lu Kian menarik nafas.
"keluarga Lu selama 3 generasi adalah pejabat yang setia, semua orang tahu tentang ini, dia menjerumuskan aku, dosa karena memenggal sekeluarga besar kita, tapi kali ini hanya aku yang dipenggal, tidak akan berdampak pada keluarga lain!" 154 Lu Tan tidak terpikir hal ini, setelah mendengar kata-kata ayahnya dia terpaku.
"Ingat ayah bisa seperti ini karena keras kepala dan terlalu percaya diri.
"Kita pergi dari sini..."
"Tidak bisa!"
Lu Kian menggelengkan kepala.
"kalau kita pergi berarti kita melarikan diri setelah berbuat kesalahan, saat itu masuk laut pun tidak akan bisa mencuci bersih nama baik kita, apa lagi Liu Kun sudah mempersiapkan semuanya..."
Kata-katanya belum selesai, suara teriakan Seng-ci-to sudah terdengar (perintah kaisar).
"Ayah..."
Wajah Lu Tan berubah.
"Mereka datang begitu cepat!"
Lu Kian malah tertawa.
"hidup atau mati ditentukan oleh nasib, pejabat jahat dan tidak setia akan mendapat karma."
Kemudian dia membentak.
"Pelayan, bantu aku berganti baju untuk menerima perintah baginda!"
Keluarganya tergesa-gesa masuk, Lu Tan terdiam, dia berlutut di belakang Lu Kian.
Dengan tenang Lu Kian mengganti dengan baju bagus dipapah oleh keluarganya dia masuk ke ruang tamu.
Lu Tan melihat ayahnya, dia melotot, hatinya dipenuhi kemarahan, siap meledak.
Di sisinya ada secangkir arak yang telah diberi racun, maksudnya Lu Kian harus bunuh diri.
Hongpo Tiong dan Hongpo Ih datang bersama-sama, dari sisi terlihat tekad Liu Kun.
Lu Kian menerima perintah Baginda, cangkir arak diambilnya dan tertawa dingin.155
"Lu Kian mati tidak apa-apa, hanya sayang kekuasan akan diambil alih oleh kasim, kerajaan Beng akan hancur di tangan kasim jahat ini!"
"Diam..."
Hongpo Tiong berteriak.
Lu Kian melihat Hongpo Tiong, dia tidak marah tapi penuh dengan wibawa.
Hongpo Tiong tidak tahan mundur beberapa langkah.
Lu Kian tidak bicara apa-apa lagi, arak beracun segera diteguknya hingga habis.
0-0-0 Malam sudah larut, di rumah makan itu hanya tersisa 3 orang tamu.
Sebenarnya Lu Tan baru datang belum begitu lama tapi 3 poci arak sudah habis di minum, dia mulai terlihat mabuk.
Seorang tua dan Siau-cu si penjual obat dari tadi sudah berada di sana.
Waktu itu Lo-thauw-ji sudah mabuk dan tertidur di meja, suara mengoroknya terdengar seperti guntur.
Siau-cu sedang makan kacang, dia melempar kacang tinggi-tinggi, semua kacang masuk ke dalam mulutnya, tidak ada yang meleset.
Mereka tidak melihat Lu Tan, walaupun Lu Tan menggebrak meja mengeluarkan suara menggetarkan langit, tapi mereka tetap tidak bereaksi.
Lu Tan menggoyang poci dan berteriak.
"Pelayan, bawa arak!"
Pelayan sangat berpengalaman, dia tahu tamu yang sedang mabuk seperti ini jangan sampai membuatnya marah, buru-buru mengantarkan arak.156 Baru saja Lu Tan mengambil poci arak, kacang yang digenggam seseorang terjatuh di atas meja, dia melihat ke atas, Siau-cu sedang tertawa.
"Minum arak sendirian seperti ini, akan cepat mabuk."
"Pergi..."
Lu Tan melayangkan tangan. Siau-cu menggelengkan kepala.
"Aku orang yang tidak bisa mendengar orang minum arak terus mengomel."
Dia tidak pergi malah duduk di depan Lu Tan. Lo-thauw-ji seperti sedang mengigau.
"Untuk apa minum arak? Kalau tidak ada gunanya untuk apa minum arak?"
Dengan dingin Lu Tan menatap Lo-thauw-ji, Siau-cu berkata.
"Dia adalah Suhuku, jangan lihat dia mabuk dan sembarangan bicara, sebenarnya banyak hal yang sangat masuk akal yang dikatakannya."
"Apa hubungannya semua ini denganku!"
Lu Tan melambaikan tangan.
"Kita tidak saling kenal, lebih baik kau pergi, jangan menghalangi aku minum arak!"
Dia mengangkat poci siap minum lagi, tapi entah bagaimana pocinya sudah direbut Siau-cu.
"Semua adalah sahabat, apakah kau tidak mengerti?"
Siau-cu minum setegak arak.
"Kembalikan!"
Lu Tan ingin merebut poci itu kembali tapi poci berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan, kemudian dari tangan kanan ke tangan kiri Siau-cu, bersalto tiga kali di udara, kemudian turun dan duduk bersila di atas meja.
Sebenarnya Lu Tan tidak peduli pada poci arak itu, tapi setelah kedua tangannya selalu tidak mengenai sasaran.
Hati157 yang selalu ingin menang mulai muncul, dia menyerang Siau-cu dan berteriak.
"Kukembalikan padamu..."
Poci arak didorong ke depan Lu Tan.
Ketika Lu Tan ingin mengambilnya, Siau-cu menariknya kembali dan pada kesempatan ini dia mengambilnya dan bersalto dari atas Lu Tan.
Lu Tan membentak, dia berputar, kakinya menendang Siau-cu yang sedang turun, tapi dalam situasi seperti itu Siau-cu masih sempat berputar dan turun ke meja yang lain.
"Ilmu yang bagus, pantas berani mengolok diriku dengan jurus Bu-tong 'Pat-kwa-yu sin-ciang'." (Tangan dan tubuh berpindah-pindah) dia segera datang merebut arak yang ada di dalam poci. Dari kiri ke kanan Siau-cu terus menghindar, tapi tidak selincah tadi. Ketika Lu Tan akan mencengkeram poci itu, poci dilempar ke atas, Lu Tan ikut meloncat, Siau-cu pun tidak kalah cepat. Mereka bergerak sangat cepat, tapi ada tangan yang lebih cepat dari mereka. Ada orang yang mengambil kesempatan ketika mereka sedang berebut poci yang akan terjatuh, dia adalah Lo-thauw-ji. Poci diambil dan langsung meloncat ke atas tiang, dengan posisi setengah tubuh di atas tiang setengah tergantung, dia minum arak.
"Arak di dalam poci ini benar-benar enak pantas kalian berdua berebut."
Kedua matanya setengah terpejam, seperti dalam mabuk dan belum sadar.
Tubuhnya bergoyang-goyang sepertinya setiap saat akan terlempar ke bawah.
Melihat orang tua berkelakuan seperti itu Siau-cu terlihat biasa-biasa saja, tapi Lu Tan sudah melepaskan kata-katanya.158
"Jangan minum arak lagi!"
Lo-thauw-ji mendengar dan melihat ke bawah, dia seperti lupa masih tergantung di atas, dan segera berdiri.
Lu Tan tergesa-gesa akan menyambutnya, tapi orang tua itu seperti seekor belut, berputar di tengah-tengah udara dan meloncat kembali ke atas tiang, kemudian minum arak lagi.
"Arak yang harum, arak yang enak..."
Dia menggoyang-goyang kepalanya.
"sebenarnya aku sudah kenyang, tapi arak ini begitu enak, sayang bila disia-siakan begitu saja!"
Lu Tan sadar bahwa orang tua itu benar-benar mempunyai kepandaian yang hebat, dia tertawa kecut.
"Anak muda, bagaimana kalau menemani Lo-thauw-ji minum?"
"Suruh Siau-cu saja yang menemani Anda!"
Lo-thauw-ji melihat Siau-cu.
"Maksudmu Siau-cu? Tidak! Tidak! Minum 3 cangkir langsung mabuk, tidak seru!"
Siau-cu segera berbisik kepada Lu Tan.
"Jangan percaya pada kata-katanya, bila taruhan minum, dia yang mabuk terlebih dulu!"
"Tidak pernah terjadi seperti itu, aku tahu ketika aku mulai mengerti minum arak, dia masih bergelut dengan dewa kematian, nasi yang di makannya lebih sedikit dari arak yang kuminum! Cepat, bawa cangkir kemari!"
Lu Tan segera membawa cangkir arak lalu diletakkan di atas meja.
Lo-thauw-ji meloncat ke atas, mulut poci di kebawahkan, arak tumpah dengan pas secangkir pun tidak ada yang tumpah.
Lu Tan terkejut, tenaga dalam Lo-thauw-ji begitu tinggi benar-benar di luar dugaannya.159
"Lo-cianpwee...."
Baru saja sebutan ini keluar. Lo-thauw-ji sudah turun di depannya.
"Panggil aku Lo-thauw-ji..."
Orang tua itu mengangkat poci arak dan berkata lagi.
"mari bersulang...."
Dia menghabiskan arak di dalam poci, kecepatannya benar-benar jarang ada. Lu Tan masih terpaku di sana. Siau-cu dengan cepat menutup setengah wajahnya dan berteriak.
"Celaka..."
"Lihat, siapa yang berani bertanding minum denganku?"
Lo-thauw-ji menggoyangkan poci kosong nya.
"Sekarang giliranmu..."
Ketika Lu Tan akan minum, tiba-tiba Lo-thauw-ji sudah terguling ke bawah.
"Lo-cianpwee..."
Lu Tan berteriak. Tapi suara ngorok Lo-thauw-ji sudah terdengar keluar, Siau-cu menepuk pundak Lu Tan.
"Tidak apa-apa, tadi memang sudah mabuk, sekarang dia minum lagi, maka dia bertambah mabuk!"
Lu Tan ingin mengatakan sesuatu, tapi Siau-cu sudah berkata.
"Takaran minum sudah ada dari lahir, ditambah latihan dari lahir, tidak diukur dengan usia, Lo-thauw-ji selalu tidak mengerti aturan ini, dia mengira karena dia lebih tua minum pun pasti lebih kuat dibandingkan denganku, sebenarnya tidak seperti itu!"
Kemudian dia mengambil arak Lu Tan dan meminumnya.
Baru saja selesai meneguk, cangkir-nya dikembalikan kepada Lu Tan, Lu Tan beniat mengambilnya, Siau-cu sudah terjatuh ke bawah sambil membawa cangkir araknya.
"Kau..."
Lu Tan tertawa kecut.160 Pelayan melihat semuanya, dia menggelengkan kepala. Melihat reaksi Lo-thauw-ji dan Siau-cu seperti ini sepertinya bukan pertama kalinya terjadi.
"Apa pekerjaan mereka?"
Tanya Lu Tan pada pelayan.
"Tukang obat!"
Dia mulai bercerita.
"biasanya mereka bisa mabuk selama 1-2 jam lalu sadar kembali tidak perlu khawatir."
Lu Tan berpikir sebentar, melihat Siau-cu dan Lo-thauw-ji yang masih tergeletak di bawah, dia tertawa kecut.
"Semua makanan dan minuman mereka, biar aku yang bayar!"
Dari balik bajunya dia mengeluarkan uang dan meletakkanya di atas meja, kemudian dia keluar dari rumah makan itu. Pelayan melihat Lu Tan pergi, dia menggaruk-garuk kepala.
"Aneh!"
Ketika pelayan ingin menyimpan uang perak itu tanpa menimbang-nimbang berat uang perak itu.
"Sungguh royal, uang perak ini paling sedikit bisa beli 3 poci arak terbaik."
Pelayan itu terpaku, uang dan tempat arak yang seperti Ho-lou sudah diserahkan kepada pelayan, Lo-thauw-ji berpesan.
"Siram semua arak ke dalam Ho-lou."
Pelayan itu tertawa kecut.
Tadinya jalanan ramai, sekarang karena sudah malam para pejalan kaki sudah tidak ada.
Tapi tiupan angin malam tidak membuat Lu Tan bertambah sadar, pikirannya malah bertambah kacau dan tidak tahu harus pergi ke mana.
Bila dia pulang ke rumah, dia akan teringat pada ayahnya, akan bertambah sedih dan marah, niatnya161 membunuh Liu Kun akan semakin berkobar, dari mana dia harus mulai.
Dari kecil dia sudah belajar ilmu silat di Bu-tong-san dan mulai mandiri, tapi mandiri dan terkucil adalah dua hal berbeda, yang dia rasakan sekarang dia terkucil.
Terkucil dan tidak ada yang membantu, sampai orang yang bisa diajak bicara pun tidak ada, maka dia ingin minum arak untuk membuang semua kecemasannya.
Dia tidak tahu Liu Kun adalah orang yang punya rencana panjang, bila ingin melayani seseorang, dia pasti akan mencari tahu asal-usul orang itu, maka di keluarga Lu Kian orang yang dia layani adalah Lu Tan.
Hanya Lu Tan yang bisa membuat Liu Kun merasa terancam.
Bila mencabut rumput tidak sampai akarnya, begitu angin musin semi berhembus rumput akan tumbuh lagi.
Lu Tan adalah akar dari keluarga Lu Tan yang sangat berbahaya, mana mungkin Liu Kun akan melepaskannya begitu saja!
Yang bertanggung jawab atas masalah Lu Kian adalah Hongpo Tiong dan Hongpo Ih, sekarang mereka berdua berada di sebuah rumah makan, yang ikut bersama mereka adalah seorang laki-laki separo baya bertopi caping.
Laki-laki setengah baya itu terlihat pendek dan kekar.
Sepasang mata di bawah topi caping mengeluarkan cahaya dingin, seperti mata seekor ular beracun.
Melihat sorot mata seperti itu, Hongpo Heng-te tidak merasa tidak dingin tapi gemetar, dan sangat berharap orang itu cepat-cepat pergi.
Laki-laki separo baya itu baru masuk, dia segera bertanya.
"Apakah dia sudah datang?"162
"Kau datang tepat pada waktunya!"
Hongpo Tiong melihat ke jalan.
"pemuda berbaju putih itu adalah Lu Tan!"
Setelah laki-laki separo baya itu melihat Lu Tan dia malah berkata.
"Sebenarnya kalian bisa menyerangnya!"
"Apakah kau lupa, posisi kami seperti apa?"
"Dengan kedudukan kalian bergerak di ibu kota memang sangat tidak leluasa!"
Kata dia tertawa.
"sebenarnya menjadi seorang pejabat bukan hal enak!"
"Untung kami punya teman sepertimu!"
"Ada uang ada kawan!"
Laki-laki setengah baya itu sangat jujur.
"Uang sudah kami bayarkan kepadamu!"
"Tenanglah!"
"Lam-touw-pak-to..." (Pencuri selatan peram pok utara) kata-kata Hongpo Tiong terucap keluar, laki-laki setengah baya itu sudah melambaikan tangan memotong.
"Harus mengatakan Pak-to-lam-touw!"
Laki-laki setengah baya itu segera memperbaiki urutan penyebutannya.
"Kalau Pak-to tidak tenang, siapa yang bisa tenang?"
Kata Hongpo Tiong.
Pak-to tidak bicara lagi, dia berdiri dan berjalan keluar.
Keahlian Lam-touw-pak-to masing-masing adalah ilmu mencuri atau merampok, semua orang dunia persilatan sangat takut kepada mereka, apa lagi terhadap Pak-to.
Lam-touw mencuri perhiasan dan mereka mempunyai prinsip kuat, sebenarnya mereka adalah orang yang membela keadilan.
Tapi Pak-to selain merampok perhiasan, dia juga merampok kepala orang.
Ada uang apa pun jadi.
Kadang-kadang dia juga menjadi pembunuh bayaran, maka Hongpo Heng-te (dua bersaudara Hongpo) bisa mencarinya.163 BAB 19 Semakin mereka berjalan tampak jalanan semakin sepi, memang ingin pergi menuju kediaman keluarga Lu harus melalui lereng bukit ini.
Bila siang hari, di sini adalah tempat bermain anak-anak dan sangat ramai, tapi pada malam hari, tempat ini berubah menjadi sebuah tempat yang seperti ada setannya.
Pak-to ternyata sangat hafal dengan situasi di sini, karena itu dia memilih tempat ini untuk membunuh.
Lu Tan tidak tahu bahaya sudah berada di depan mata.
Setelah ada angin berhembus rasa mabuknya barulah hilang, Pak-to sudah turun dari sebuah pohon besar, goloknya dengan cepat menepis ke belakang kepalanya.
Baju Pak-to diikat kencang, maka saat bergerak tidak menimbulkan angin keras dan tidak mengeluarkan suara.
Serangan golok ini cukup mem buat siapa pun mati, dengan cara ini Pak-to sudah banyak mencabut nyawa orang.
Saat Lu Tan merasa ada yang menyerangnya, golok sudah sangat dekat dengannya, dengan cara apa pun menghindar pasti akan terkena serangan golok itu.
Waktu itu sebuah batu melesat dan mengenai mata golok.
Golok terpukul ke pinggir, Pak-to segera siap siaga, goloknya dilintangkan di depan dada.
Lu Tan melihatnya.
"Siapa kau?"
Pak-to tidak melayani dia, matanya terus berkedip, dia sedang mencari orang yang menghalangi niatnya. Dari arah batu terdengar suara seorang tua, menjawab pertanyaan Lu Tan.164
"Orang menyebutnya Pak-to, dia adalah perampok tunggal, asal melihat uang dia akan tertawa, kali ini dia akan merampok kepalamu!"
Mendengar suara itu, wajah Pak-to segera mengencang.
"Siapa yang menyuruhmu membunuhku? Liu Kun kah?"
Bentak Lu Tan. Pak-to bertanya kepada suara itu.
"Apakah itu dirimu?"
Seseorang turun dari pohon besar, dia adalah Lo-thauw-ji yang tadi mabuk dan berbarengan minum arak di rumah makan itu, dia membawa Ho-lou sambil meneguk arak dan menjawab.
"Kau benar-benar tidak ada kemajuan, sekarang malah menjadi budak seorang kasim, malah teman-teman dunia persilatan menjejerkan namaku dengan namamu!"
Hati Lu Tan berteriak.
"Ternyata Lo-cianpwee adalah bagian Lam-touw-pak-to, Lam-touw-nya!"
"Apakah kau tidak mendengar jelas?"
Lam-touw memelototi Lu Tan.
"Lam-touw adalah Lam-touw, mengapa harus memanggil berbarengan!"
Lu Tan ingin menjawab, Pak-to sudah tertawa dingin.
"Lo-thauw-ji, kita seperti air sungai, tidak mengganggu air sumur..."
"Air sungai atau air sumur sama-sama air, apakah kau tidak mengerti?"
Kata Lam-touw tertawa.
"pantas tidak mengerti, orang di dunia ini harus mengurusi hal yang terjadi di dunia ini!"
"Betulkah kau akan ikut campur?"
"Betul!"
Lam-touw minum arak lagi.
"Apa hubunganmu dengannya?"165
"Arak yang kuminum sekarang adalah dia yang membelikannya!"
Lam-touw menepuk Ho-lou yang berisi arak.
"Aku bisa memberimu untuk membeli arak!"
Uang perak segera dilemparkan oleh Pak-to. Lam-touw seperti ingin menyambut uang yang terbang tapi tiba-tiba dia berputar menendang uang yang terbang itu.
"Uangmu terlalu kotor, arak pun akan menjadi gila arak, mungkin aku tidak akan pirnya anak atau cucu, singkat kata tidak akan punya keturun-an!"
Pak-to menyambut uangnya kembali, dia menarik nafas.
"Kau tetap seperti dulu, tidak mau lepas,"
Dia bertanya.
"sudah berapa lama kita tidak bertarung?"
"Siapa yang tertarik mengingat hal seperti itu?"
"Kecuali bertarung, setiap kali kita bertemu selalu tidak ada hal yang bisa kita lakukan."
"Karena kau senang bertengkar!"
Lam-touw menggulung lengan bajunya.
Pak-to menarik nafas, lalu dengan golok di tangan dia terbang menghampiri dan menepis Lam-touw.
Kilatan golok seperti salju yang turun, ini adalah jurus 'Swat-hoa-kai-teng' (Salju menutup kepala).
"Jurus Swat-hoa-kai-teng yang bagus!"
Lam-touw memeluk Ho-lou dan berputar ke belakang Pak-to, kemudian Ho-lou didorong ke depan, menghantam punggung Pak-to.
Pak-to menghindar dengan cara telungkup ke bawah kemudian berguling, golok berputar untuk menepis kaki Lam-touw.
"Baik... jurus Lo-su-poa-hen (Pohon tua melipat akar),"
Lam-touw tertawa.
"kau masih seperti dulu, tidak punya166 jurus baru!"
Dia memeluk Ho-lou-nya lalu berguling ke bawah untuk meng-hindari serangan.
Pak-to hanya diam, tubuh dan goloknya terus terus berguling.
Awalnya masih terlihat sosoknya dalam kelebatan sinar golok.
Lama-kelamaan tidak terlihat lagi begitu juga dengan golok, yang terlihat hanya cahaya terang.
Golok digunakan begitu dahsyat dan gerakan berubah begitu cepat, yang pasti Lu Tan bisa melihat ilmu golok ini bukan seperti yang dikatakan Lam-touw 'Swat-hoa-kai-teng, Lo-su-poa-hen', begitu sederhana, maka jantungnya berdebar kencang.
Kalau dia bukan Lam-touw, semua ini pasti akan menjadi masalah besar.
Pengalamannya di dunia persilatan tidak banyak, ilmu golok seperti milik Pak-to, pertama kali dilihatnya.
Cara Lam-touw mengatasi serangan pun di luar dugaannya, Lam-touw sebaliknya dengan Pak-to, tubuhnya malah bergerak semakin pelan.
Lu Tan dengan jelas melihat perubahan Lam-touw juga dengan jelas melihat Lam-touw mengantarkan Ho-lou ke dalam kelebatan cahaya dan kemudian Ho-lou itu hancur, cahaya tiba-tiba menghilang kemudian terlihat golok dan tubuhnya.
Pak-to memegang golok, dengan cara bersalto dia keluar dari lingkaran pertarungan.
Waktu itu bagian bawah Ho-lou sedang ditekan ke tangan yang memegang golok.
Walaupun Lu Tan melihat tapi tidak yakin Pak-to telah ditahan oleh Ho-lou hingga meninggalkan arena pertarungan atau malah dia sendiri yang berniat meninggalkan arena pertarungan.
Lam-touw tidak mengejar, dia meloncat dan minum arak lagi, sambil tertawa melihat Lu Tan.167
"Tubuh dengan golok bisa berubah menjadi sebuah cahaya, yang sanggup melakukan hal seperti itu tidak banyak!"
Lu Tan setuju, walaupun dia tidak pernah melihatnya. Kalau Lam-touw sudah berkata seperti itu, pasti ada buktinya.
"Aku tidak suka dengan gaya hidupnya, tapi aku tetap menikmati golok kilatnya!"
Lam-touw menghembuskan nafas panjang.
"Untung aku tidak begitu mabuk, kalau sudah mabuk, aku tidak bisa membedakan di mana cahaya paling lemah berada, itu akan membuatku celaka!"
Pak-to meloncat ke atas sebuah pohon besar, dia tidak melihat Lam-touw, dia hanya diam. Lu Tan dengan perhatian mendengar.
"Cahaya paling lemah adalah tempat di mana kita memegang golok, hanya menyerang titik ini pasti akan berhasil, tapi kalau kurang jeli melihat dan tubuhnya kurang lincah, sebelum golok dan tubuhnya menjadi gulungan cahaya kau harus menyerang terlebih dulu!"
Kata Lam-touw kepada Lu Tan, tapi matanya terus melihat ke arah Pak-to.
"Terima kasih atas ajaran Lo-cianpwee!"
Kata Lu Tan.
"Kalau kau tidak percaya diri, lebih baik kabur!"
Tiba-tiba dia menggelengkan kepala.
"tidak! Jangan kabur, lebih baik aku memohon kepadanya!"
Lu Tan ingin melarang, tapi Lam-touw sudah berteriak kepada Pak-to.
"Bagaimana? Apakah persoalan ini sampai di sini saja?"
Pak-to tertawa dingin, Lam-touw berteriak lagi.
"Aku tidak suka setiap hari membuntuti pemuda ini juga tidak suka setiap hari bertemu orang jahat seperti mu!" 168 Maksudnya apa Pak-to setuju, kalau tidak dia akan terus melindungi Lu Tan. Pak-to hanya bertanya.
"Apakah kau tahu siapa dia?"
Lam-touw malah balik bertanya.
"Apakah kau tidak tahu dia adalah putra Lu Kian?"
Lu Tan tertawa kecut, Lam-touw pun menggelengkan kepala dan berkata sendiri.
"Orang menyebut Lu Kian sebagai orang yang berhubungan dengan Kaisar dari besi, dia mengira dia benar-benar terbuat dari besi..."
"Ayahku..."
Lam-touw memotong kata-kata Lu Tan.
"Kecuali harus mati, aku tidak melihat perilakunya seperti itu, apa gunanya?"
Lu Tan terpaku, orang tua yang ada di depan matanya selalu minum arak dan selalu mabuk, jarang bisa berpikir jernih, tepi ternyata pikirannya lebih jernih dari orang lain. Tiba-tiba Pak-to menyela.
"Kau tahu terlalu banyak!"
"Aku tahu apa?"
"Orang dunia persilatan lebih baik mengurusi dunia persilatan!"
"Aku memang orang dunia persilatan?"
Lam-touw seperti baru teringat, dia menggaruk-garuk kepalanya.
"bagaimana denganmu?"
Pak-to menarik nafas.
"Yang ingin membunuh dia adalah Liu Kun, bila aku tidak membunuhnya, orang lain..."169
"Aku hanya minta kau jangan mengganggu nya!"
Lam-touw tertawa.
"Tiga tahun yang lalu, sewaktu di Sie-ouw, kau pernah menolong nyawa ibuku..."
"Apa?"
Lam-touw terpaku. Melihat reaksinya, dia seperti tidak tahu siapa yang telah ditolongnya. Pak-to dengan ringan berkata lagi.
"Kita adalah musuh, sampai mati pun tidak akan akur, tapi semua begitu kebetulan, begitu banyak kebajikan dan dendam."
Lam-touw menggelengkan kepala.
"Aku tahu kau bukan orang yang minta balas budinya, tapi walau bagaimana pun masalah malam ini harus kita hapuskan!"
Kata Pak-to. Begitu kata-katanya habis, dia seperti mengikuti arah angin melayang dan pergi entah ke mana.
"Mengapa semua bisa begitu kebetulan?"
Rambut putihnya dicakar-cakar menjadi seperti sarang ayam.
"Lo-cianpwee!"
Lu Tan datang menghampirinya.
"Apakah kau sudah dengar, Liu Kun tidak akan melepaskanmu, maka ambil kesempatan ini untuk menghindarinya!"
"Aku tidak takut..."
"Kau tidak takut, tapi aku takut!"
Alis Lam-touw dikerutkan tiba-tiba dia bertanya.
"kalau kau mati begitu saja, apakah akan ada gunanya?"
Lu Tan terpaku, Lam-touw menepuk-nepuk pundaknya.
"Kalau sudah terpikir beritahu aku, otakku ada penyakitnya jadi tidak lancar berputar dan tidak bisa berpikir!"
Setelah itu dia pergi ke bawah lereng.170 Lu Tan mengejar, Lam-touw menoleh, lalu kedua tangannya terus digoyangkan.
"Jangan terus mengikuti, aku tidak takut mati, tapi takut direpotkan!"
Tiba-tiba dia menampar dirinya sendiri.
"Mati berat seperti gunung Tai, ringan seperti bulu, apakah kau tidak mengerti dan tidak takut mati?"
Dia marah kepada dirinya sendiri, tapi Lu Tan seperti disiram oleh seember air dingin.
Dia ingat pesan terakhir ayahnya, mengapa bisa begitu mirip dengan kata-kata Lam-touw.
Saat terakhir ayahnya sudah sadar, apakah dia yang menjadi putranya harus mengulangi kesalahannya?
Mati seperti ini apa gunanya?
Sekarang kemana dia harus pergi?
Apa yang harus dia laku-kan sekarang?
Hatinya terasa kacau saat dia sadar Lam-touw sudah pergi entah ke mana.
Dia tidak tahu harus pergi ke mana, kakinya diangkat, dia malah berjalan menuju rumahnya.
Setelah melewati lereng gunung dan masuk ke sebuah gang, jalan ini adalah jalan pintas, tapi begitu masuk Lu Tan segera menyesal, karena dia sudah merasa ada hawa membunuh, tangan kanan tidak sengaja sudah berada pada pegangan pedang.
Pedang belum dicabut dari sarungnya.
Hongpo Heng-te sudah keluar dari 2 sudut gang.
Pena berada di tangannya, seperti sudah memvonis kematian Lu Tan.
"Ternyata kalian!"
Pedang sudah ada di genggamnya.
"Nasibmu lumayan bagus!"
Hongpo Tiong tertawa.
"tapi hanya lumayan saja!"171
"Lam-touw dan kau berjalan berbeda arah, kau bisa memilih jalan ini buat kami dua bersaudara merasa semua ini di luar dugaan, kalau Lam-touw tidak tenang dan kembali mencarimu, dia tidak akan kemari! Malam ini kau harus mati!"
"Tadinya kami tidak ingin membunuhmu dengan tangan kami, tapi bila keadaan cocok, tidak apa-apa juga."
Hongpo Tiong mulai melangkah ke depan. Hongpo Ih mengikutinya.
"Kau harus menyalahkan ayahmu mengapa dia mengirimmu ke Bu-tong-san, kalau kau tidak menguasai ilmu silat, paling sedikit sekarang kau tidak akan mati!"
Lu Tan tertawa dingin.
Dia melindungi dada dengan pedangnya, Hongpo Heng-te sudah bergerak.
Dengan Poan-koan-pit mereka nenotok jalan darah vital Lu Tan, Lu Tan menyerang mereka seorang demi seorang, sebab kalau tidak dia akan diserang oleh 2 orang sekaligus, tapi ilmu silatnya di bawah Hongpo Heng-te.
Dia sudah menyerang 21 jurus, tapi serangan nya tidak membuat Hongpo Tiong mundur, sewaktu dia akan mengeluarkan jurus ke-22 Hongpo Ih sudah datang menyerang.
Mereka sengaja menyerang cepat agar tidak muncul banyak kerepotan, serangan mereka sangat ganas dan kejam, hanya beberapa kali menyerang baju Lu Tan sudah berlubang empat.
Gang itu panjang juga sempit, menyerang dengan pedang tidak akan leluasa, tidak seperti Poan-koan-pit yang kecil dan gampang digerakkan, apa lagi dua bersaudara itu biasa bekeija sama, maka Lu Tan merasa tertekan sekali, beberapa kali dia berada dalam bahaya.172 Hongpo Heng-te memilih tempat ini untuk membunuh Lu Tan, tentu saja mereka tahu kelebihan Lu Tan, setiap senjata mereka menyerang selalu menimbulkan bahaya besar, semakin dekat kekuatannya semakin besar, sekarang Lu Tan berada dalam kondisi krisis.
Pedang panjang sulit disapukan ke kiri dan ke kanan.
Hanya dengan langkah Tai-ci, pedangnya bisa berputar untuk melindungi dirinya, bersamaan waktu tubuhnya ikut berputar dengan cepat.
Dia bukan tidak mau bertarung, tapi keadaan tidak menguntungkan baginya, bertarung pun percuma, dia mulai tenang dan bisa berpikir, bertarung harus mempunyai berarti, lawannya adalah Liu Kun bukan Hongpo Heng-te.
Sekarang yang dipikirkan adalah bagaimana caranya meloloskan diri dari mereka.
Tampak Hongpo Heng-te seperti tahu apa yang sedang dia pikirkan, mereka membentak bersama-sama.
"Mau kabur ke mana? Tidak akan segampang itu..."
Sepasang Poan-koan-pit Hongpo Ih menghadang bagian bawah Lu Tan dan maju lagi menusuk ke arah kedua kaki Lu Tan.
Tempat itu tidak terjaga oleh Lu Tan terpaksa Lu Tan meloncat naik, tubuh dan pedangnya ber putar di udara, kepala di bawah dan kaki di atas.
Perubahan ini sudah ada dalam perhitungan Hongpo Heng-te, karena itu Poan-koan-pit yang satu menyerang nadi penting yang satu lagi mencegat jurus pedang Lu Tan.
Reaksi Lu Tan sangat lincah, tangan kiri dengan gaya cakar Harimau mencakar ke atas dinding, pedang menyerang ke kiri dan ke kanan, menahan 4 Poan-koan-pit, lalu tubuhnya berbalik naik ke atas genting.173 Waktu itu Poan-koan-pit yang ada di tangan Hongpo Heng-te bersama-sama dilemparkan ke arah Lu Tan, ujung pena itu disambung dengan seuntai rantai, karena ada rantai maka serangan Poan-koan-pit bisa mencapai lebih jauh.
Hal ini membuat Lu Tan terkejut, dia mengira Hongpo Heng-te tidak bisa melihat perubahan pada dirinya, tapi setelah sadar sudah masuk perangkap, untuk merubah gerakan pun dia sudah tidak keburu.
Tapi pedangnya masih berusaha melakukan manuver walaupun dia tahu hanya sepasang Poan-koan-pit yang bisa ditahan, sisa dua lagi pasti akan mengenai tubuhnya, walaupun tidak mengenai tempat penting tapi karena Poan-koan-pit tersambung dengan rantai, maka dia bisa terpelanting dan Poan-koan-pit akan langsung menyerang lagi.
Saat sedang berpikir Poan-koan-pit sudah datang menyerangnya dan bersamaan waktu, dia merasa kaki kanannya seperti mengencang, lalu melayang ke atas.
Empat Poan-koan-pit lewat di depannya, saat dia masih terkejut, tubuhnya sudah mendarar di atas genting.
Pedangnya siap menyerang.
Tiba-tiba dia merasa ada yang mencengkeram kakinya, segera dia melepaskan cenekeraman itu dan berguling menjauh, kemudian bersalto dan berdiri tegap.
Lu Tan tidak jelas melihat wajahnya tapi dari perubahan tubuhnya dia tahu siapa orang itu dan berteriak.
"Siau-cu..."
Siau-cu tertawa, dia menekan bibir dengan jarinya dan berbisik.
"Jangan keras-keras, bila mereka tahu, bias repot!" 174 Lu Tan tahu bahwa Siau-cu sedang bercanda, dia hanya bisa tertawa kecut, sebab Hongpo Heng-te sudah mengejar ke atas genting mana mungkin mereka tidak tahu.
"Siapa sobat di atas?"
Hongpo Tiong menunjuk Siau-cu dengan Poan-koan-pitnya. Reaksi Siau-cu tampak terkejut.
"Bukan Tong-tiang, bukan Sie-tiang, juga bukan Lei-tiang." (Pabrik timur, pabrik barat, pabrik dalam).
"Tapi kau berani melawan orang Lei-tiang,"
Hongpo Ih tertawa dingin.
"Aku tidak melakukan itu!"
Siau-cu menggoyangkan tangannya.
"Untuk ini Lo-thauw-ji bisa menjadi saksi, dia hanya senang bermain, bukan secara sengaja, juga bukan tidak mempunyai maksud!"
Suara malas-malasan terdengar dari jauh.
Hongpo Heng-te mengikuti suara itu dan melihat ke arah sana, terlihat Lam-touw membawa Ho-lou sedang berbaring di atas genting.
Wajah mereka segera berubah, mereka tahu seberapa tinggi ilmu Pak-to tapi setelah bertemu dengan Lam-touw, Pak-to harus mengalah, jadi kesimpulannya Lam-touw adalah orang yang sulit dihadapi.
Kalau yakin bisa menang, tadi di lereng gunung mereka pasti sudah bertarung, apa lagi sekarang ditambah dengan Siau-cu.
"Tidak sengaja berarti punya maksud!"
Jawab Siau-cu. Kata-kata ini membuat Lam-touw sadar, dia berteriak.
"Apa yang harus kulakukan? Biar Suhu minta kepada mereka supaya mereka mau memaafkanmu..."175
"Tidak perlu..."
Hongpo Tiong dengan dingin memotong.
"kami dua bersaudara berat mendapat permintaan maaf ini!"
Lam-touw terpaku kemudian tertawa.
"Lo-thauw-ji hanya bicara asal-asalan, apakah kalian percaya?"
Hongpo Heng-te terpaku, tapi Siau-cu menghibur mereka.
"Jangan masukkan ke dalam hati apa yang dikatakan, Suhuku memang seperti itu, orangnya selalu sableng dan senang bercanda!"
Kata-katanya belum selesai, Lam-touw sudah bersalto di atas dan mendarat di depan Siau-cu "Kau tidak sopan kepada orang yang lebih tua!"
Lam-touw menampar Siau-cu. Siau-cu bersalto ke belakang. Hongpo Heng-te berteriak.
"Aku bantu dengan mulut, kalian bantu dengan tangan!"
Hongpo Heng-te tertawa dingin, Poan-koan-pit mereka sama-sama menyerang Lam-touw yang datang.
"Kalian adalah orang yang melayani kasim, mengapa mau saja mendengar perintah Siau-cu?"
Lam-touw menunjuk Siau-cu.
"Apakah kau juga ingin masuk perkumpulan untuk menjadi murid kasim?"
Dengan cepat Siau-cu bicara. Dia seperti ingin memukul Siau-cu.
"Siapa bilang aku seperti itu, untuk membuktikan Siau-cu tidak bermaksud seperti ini, maaf, Siau-cu terpaksa harus menyerang kalian berdua!"
Siau-cu menendang punggung Hongpo Heng-te.176 Hongpo Heng-te menghindar ke kiri dan ke kanan, mereka memutar tubuh untuk menghadapi Siau-cu. Lam-touw sudah datang dan berteriak.
"Walau bagaimanapun dia adalah murid Lo-thauw-ji, sebelum semuanya jelas, kalian tidak boleh menyerangnya dengan senjata, kalau..."
Kata-katanya belum selesai, Poan-koan-pit milik Hongpo Heng-te sudah menyapu kepadanya. Lam-touw berputar-putar dan berteriak dengan terkejut.
"Baik, ternyata ini salah satu jebakan, senjata kalian untuk menghadapi Lo-thauw-ji."
Sepasang Poan-koan-pit menyerang bertambah cepat, Lam-touw terus berputar-putar. Sampai di depan Siau-cu dia menjulurkan tangannya.
"Pinjam penamu sebentar, hari ini Lo-thauw-ji harus menghajar muridku yang tidak sopan ini!"
Tangan terulur kepada Hongpo Ih.
Hongpo Ih hanya melihat ada bayangan tangan bergerak, tahu-tahu sepasang tangan Lam-touw sudah berada di depan, mencengkeram Poan-koan-pit dari tangan kanannya.
Karena terkejut tangan kanan ditarik dengan cepat, tapi pena di tangan kiri sudah menyerang tangan kanan Lam-touw, jurus tangan kanan Lam-touw hanya bergerak setengah jalan langsung berubah dan tangannya tepat menyambut Poan-koan-pit yang menyerang tangan kirinya.
Tangan kiri Hongpo Ih yang memegang pena segera merubah jurus, tapi nadi di pergelangan tangannya sudah terasa kaku, ke lima jarinya pun membuka, pena sudah jatuh ke tangan Lam-touw.
Hongpo Tiong dengan jelas melihat tangan kanan Lam-touw terulur dan jari tengah menyentil nadi di pergelangan.
Dia ingin berteriak "Hati-hati!"
Tapi sudah tidak keburu.177 Lam-touw melihat Poan-koan-pit di tangannya.
"Jenis pena ini tidak bisa dipakai untuk menulis!"
"Apakah Suhu ingin memperagakan ilmu kaligrafi?"
Tanya Siau-cu.
"Aku ingin menutup mulutmu dengan tulisan!"
Lam-touw melotot.
"Begitu seriuskah?"
Tanya Siau-cu.
"untung pena ini hanya untuk menotok jalan darah!"
"Menotok jalan darah?"
Lam-touw melihat Hongpo Ih.
"Aku ingin menotok Kang-tai-hiat!"
Hongpo Ih terpaku.
"Jalan darah itu bukan.. ."sambil menghindar.
"Yang penting jalan darah,"
Lam-touw mengayunkan penanya dan membentak lagi.
"Ku-ci-hiat, Leng-ho-hiat, Tai-yang-hiat..."
Apa yang diucapkan dengan jalan darah yang ditotok sama sekali berbeda, tapi terlihat dia lancar-lancar saja bergerak.
Pena di tangannya tidak meno-tok jalan darah yang disebut tapi menotok jalan darah lain dan tidak meleset.
Terhadap jalan darah yang disebut Hongpo Ih sangat hafal karena terlalu hafal maka mendengar teriakan jalan darah yang dimaksud Lam-touw.
Dia merasa bingung, sewaktu dia sadar sudah terlambat, keterlambatannya ini cukup membuatnya kalang kabut.
Lam-touw hanya menotok 17 jalan darah di tubuh Hongpo Ih, walaupun Hongpo Ih tidak ter-luka tapi cukup membuatnya terkejut.
Dia mengakui gerakan tangan Lam-touw memang sangat cepat, asal Poan-koan-pit bergerak, dia akan tertotok, bagi Lam-touw itu adalah hal yang sangat mudah.178 Hongpo Tiong melihat jelas bahwa Lam-touw tidak bersungguh-sungguh ingin mencelakakan mereka, dia hanya sedang bercanda dengan Hongpo Ih.
Dia tidak mengerti, gosip yang beredar mengatakan tangan orang ini sangat cepat dan ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tahap tinggi, di waktu malam bisa masuk ribuan rumah, pagi-pagi bisa mencuri di ratusan rumah, sedangkan ilmu silatnya biasa saja, tapi setelah melihatnya sekarang, ilmu silat Lam-touw ternyata berada di atas mereka tampak dia merupakan salah satu pesilat tangguh di dunia persilatan, yang bisa bersaing dengannya, sepertinya tidak banyak.
Tapi apa hubungan orang ini dengan keluarga Lu?
Hongpo Tiong tidak tahu, tapi bisa dipastikan Jika mereka ingin membunuh Lu Tan yang berada dalam lindungan Lam-touw, walaupun Lam-touw tidak melukai mereka, tapi kalau terus bercanda seperti itu benar-benar tidak ada gunanya.
Akhirnya Hongpo Tiong menyerang, dia melayangkan tangan dan berteriak.
"Hong-kin-ce-ho!"
Hongpo Ih segera meloncat menjauh, Lam-touw tertawa.
"Kalau ingin kabur ya kaburlah, tidak perlu berteriak Ce-ho, Ce-ho, apakah kau lupa kau adalah pejabat bukan orang dunia persilatan?"
Hongpo Heng-te tidak melayaninya, mereka segera berlari dengan cepat, mereka mengira Lam-touw akan mengejar mereka, siapa yang tahu Lam-touw bukan hanya mengejar, dia juga seperti ingin berada di belakang Hongpo Ih.
Hongpo Ih mendengar ada angin serangan, Tubuhnya berputar dengan cepat, sepasang Poan-koan-pit segera179 menyerang Lam-touw, Hongpo Ih pun tidak bergerak lambat.
"Pena ini bila disimpan oleh Lo-thauw-ji pun tidak akan ada gunanya, kukembalikan saja kepadamu!"
Pena dimasukkan ke tangan Hongpo Ih, Hongpo Ih terkejut langsung mencengkeramnya, Lam-touw sudah bersalto kembali.
"Lo-toa..."
Hongpo Ih tertawa kecut.
"kita..."
"Kepandaian kita tidak sebaik orang lain, kita harus mengakuinya,"
Hongpo Tiong tertawa kecut. Mereka berdua tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Lam-touw tidak mengejar mereka, dia berlari ke depan Lu Tan. Tiba-tiba bertanya.
"Ada pepatah mengatakan, 'Tidak men-dengar nasehat orang tua, akibatnya apa.'."
"Aku tahu!"
Siau-cu segera menyambung, tapi Lam-touw sudah menamparnya. Reaksi Siau-cu memang cepat, dia bersalto ke belakang Lu Tan, masih tertawa berkata.
"Ternyata yang ditanya adalah kau, tapi kau boleh tidak menjawabnya!"
Lu Tan tertawa kecut, dia memberi hormat.
"Terima kasih Lo-cianpwee sudah menolongku!"
Lam-touw menggelengkan kepala.
"Lo-thauw-ji hanya merasa 2 bocah tua itu mudah untuk dipermainkan, aku tidak bermaksud menolongmu!"
"Lo-cianpwee..."
"Panggil aku Lo-thauw-ji,"
Lam-touw melihat Lu Tan.
"kau tidak perlu menyambung-nyambungkan seperti apa hubungan kita!"
Siau-cu menyela.180
"Liu Kun pasti akan membunuhmu, lebih baik kami tidak mempunyai hubungan apa pun dengan mu, itu akan lebih aman!"
"Betul!"
Lam-touw memuji.
"kau sudah lama i ikut denganku akhirnya bisa menguasai ilmu tahu diri!"
Baca Juga: Raja Silat 5
Baca Juga: Patung Emas Kaki Tunggal 10