Eps 1 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.
Su Kiam in Siu Lok (Puteri Harum dan Kaisar) Atau Pedang dan Kitab Suci Karya . Khu Lung Penerbit . Melati Jakarta
Jilid 1 DENGAN menunggang kuda, tampak seorang tua tengah mendatangi sambil "bernyanti-nyanyi kecil.
Dia berusia lebih kurang enam puluh tahun.
Rambutnya dan jengotnya masih kuat dan gagah kelihatannya.
Diatas pelana kuda, dia tampak makin keren.
Cuaca sudah hampir gelap.
Pada jalan diluar perbatasan yang di laluinya itu, selalu iring-iringan kereta dan pengiring-pengiringnya, hanya rombongan burung gagak yang terbang kesarangnya.
Orang-orang berjalan lainnya sudah tak tampak lagi.
Setelah sesaat mengawasi alam sekelilingnya, orang tua itu terus memecut kudanya untuk mengejar iring-iringan kereta disebelah depan, siapa gerang dia itu ?
Untuk mengetahui sedikit riwayatnya, baiklah kita mundur dulu untuk menengok kisah dibawah ini.
Pada musim rontok tahun ke-28 dari kerajaan Ceng (Kian Liong) karena berjasa mengamankan daerah itu (Inkiang) maka pemerrintah Ceng.
Adapun ciangkun-li khik siu, telah dinaikkan pangkat dan dipindahkan ke Ciatkang.
Begitu menerima firman, khik siu segera berangkat lebih dulu dengan barisan pengawalnya ke Ciatkang belakangan barulah keluarganya menyusul.
Di dalam ilmu perang Li Khik-siu sangatlah mahir.
Maka tak heran kalau makin lama kedudukannya menanjak, ibarat musim penghidupan khik siu adalah sedang berada dalam musim semi yang gilang gemilang.
Tapi manusia tak luput dari kedudukan, orang dalam kedudukan seperti dia pun masih ada juga hal yang disusahkan, yakni tak dapat keturunan laki-laki.
Dia hanya diberkahi seorang puteri yang kini berusia sembilan belas tahun.
Untuk memperingati tempat kelahirannya, maka puterinya itu dinamakan Li Wan Ci, ketika anak itu lahir, Khik siu masih menjabat sebagai Hu-Ciangkun di Siangse.
Walaupun begitu, Khik siu sangat sayang putrinya seperti mustika, meskipun ayahnya seorang peperangan, tetapi putrinya adalah seorang gadis yang cantik jelita.
Makin remaja, Li-siocia bertambah nyata keelokannya.
Siocia itu wajahnya serupa sang ibu, sedang wataknya turun dari ayahnya.
Jika ayahnya sedang berlatih memanah atau menunggang kuda, pasti Wan Ci selalu ikut.
Melihat putrinya gemar ilmu perang, khik-siu mengajarinya beberapa macam ilmu golok dan tombak.
Disamping itu, dia minta pada perwira-perwira sebawahannya yang pandai untuk memberi pelajaran pada Wan Ci.
Sudah tentu perwira-perwira itu bersungguh-sungguh hati memberikan kepandaiannya pada putri dari atasannya itu.
Dalam usia tiga belas atau empat belas tahun, kepandaian Wan Ci sudah boleh juga, sepuluh atau 2 puluh orang biasa, tak mudah dapat mendesak dia.
Malah dalam waktu latihan, tak jarang Wan Ci telah dapat menyampok jatuh senjata dari orang-orang bawahan ayahnya.
Dalam keadaan begitu dengan tertawa Khik siu mendamprat orangnya itu yang dikatakan tak punya guna.
Disamping itu diam-diam dia gembira dalam hati melihat kemajuan putrinya itu.
Hanya saja kegirangan itu lekas juga diganti dengan elahan nafas, dia merasa getun, bahwa anak yang pandai dalam bun dan bu itu sayang lah bukan seorang pria.
Ketika menanjak pada usia empat belas, mendadak sentak Wan Ci, tak mau datang ke tempat latihan lagi.
Sangka khik siu putrinya yang gundah menginjak dewasa itu mungkin sungkan untuk gelang-gulung dengan lain kaum.
Dala hal itu, diapun tak dapat menjalahkan putrinya.
Tetapi hal yang sebenarnya bukanlah demikian, ternyata Wan Ci dengan diam-diam telah belajar silat yang lebih tinggi.
Hingga dalam lima belas tahun lamanya, ia telah menjadi seorang ahli iwekang yang lihay, sungguh bukan lain ialah Liok Hwi Cing, penunggang kuda yang telah dituturkan diatas itu tadi.
Liok Hwi Cing adalah cianpwe angkatan tua yang termasuk dalam golongan atas dari cabang Bu tong Pay.
Mengapa dia bisa menjadi suhu dari Li Wan Ci itu adalah karena suatu sebab yang terjadi secara kebetulan saja.
Pada musim panas Kian Liong tahun delapan belas genaplah Wan Ci berusia empat belas tahun.
Ketika ayah nya menjabat dinas di Shangse dia telah mengundang seorang guru sekolah untuk memberi pelajaran surat pada putrinya, Liok Hwi Cing, demikian nama guru itu, adalah seorang terpelajar yang luas pengetahuannaaya.
Dia tinggal di tempat kediaman Li Khik siu, Wan Ci sangat hormat pada gurunya, dan hubungan antara guru dan murid sangat akrabnya.
Pada suatu hari, hawa terasa panas sekali, sehabis tidur siang.
Wan Ci pergi ke kamar gurunya untuk belajar.
Ketika dia melalui gang, ternyata keadan di sekeliling situ masih tampak sunyi.
Waktu sudah menunjukkan jam tiga lohor seharusnya pelajaran sudah dimulai.
Wan Ci tak mau sembarangan, ia terus masuk kedalam kamarnya sang guru, ia menduga karena panasnya hawa, mungkin gurunya itu keenakan tidur.
Menghampiri jendela .
tetapi begitu ia mengintip kedalam, bukan main terkejutnya ia itu.
Ternyata gurunya tidak tidur, tetapi sedang duduk bersila diatas kursi.
Tangannya diayunkan pelan-pelan keatas, dan terdengarlah semacam bunyi tepukan lemah, seperti suatu benda yang terbentur pada tembok.
Wan Ci mengikutkan pandangannya kearah bunyi itu.
Ketika diawasi dengan seksama, ternyata pada tembok dihadapan Liok losunya itu terdapat puluhan ekor lalat yang tampak menempel tersusun rapi sekali.
Wan Ci merasa heran mengapa lalat itu menempel tak bergerak pada tembok.
Apalagi berjajar dengan rapinya.
Teringat ia, bahwa jajaran barisan lalat itu seperti susunan barisan yang dilihatnya jika ayahnya sedang melatih orang-orangnya di lapangan.
Kembali ia memandang tajam-tajam dan barulah diketahui bahwa pada badan setiap lalat ternyata menancap sebatang jarum emas yang halus seperti rambut.
Jarum itu sedemikian lembutnya hingga hampir tak terlihat oleh Wan Ci dari tempat yang agak jauh itu.
Hanya karena dari sebelah jendela lainnya, sinar matahari menyorot masuk, maka tampak sinar mengilau dari jarum yang terbuat daripada emas itu.
Sementara itu masih ada beberapa ekor lalat yang beterbangan dalam kamar.
Tapi setiap kali tangan Liok-losu berayun terdengarlah suara "piok dan kembali pula seekor lalat terpaku pada tembok.
Sifat itu kanak-kanak Wan Ci segera timbul.
Ia sangat tertarik dengan permainan itu, serentak melangkah ke pintu, ia terus menerobos kedalam sambil berteriak.
"Liok-losu, ajarilah aku permainan itu !"
Ditempat kediaman Lie khik siu, dalam beberapa tahun ini Liok Hwi Ching telah berhasil menyembunyikan diri, karena gangguan lalat, ketika itu dia gunakan Hoe yong ciam diam untuk membasminya.
Tapi tak dikira kalu perbuatannya itu telah kena di ntip oleh ineecu-nya murid perempuan.
Dan ketahuanlah rahasianya.
"Ho, kalau sudah bangun. Hari ini mari kuceritakan tentang riwayat dari Sing-ling koen!"
Demikian Hwi Cing berseru dengan angker. Nyata dia akan berdaya untuk menutupi rahasianya.
"Liok-losu, kau ajarilah dulu permainan tadi baru nanti mulai pelajaran."
"permainan apa?"
Tanya Hwi Cing berlagak pilon.
"Memukul lalat!"
Dengan berkata begitu, ia sudah mengambil kursi, terus loncat keatas untuk memeriksa dengan tegas lalat yang menempel ditempel ditembok itu.
Jarum itu satu demi satu dicabutnya terus digosok bersih dengan kertas untuk diberikan kembali pada gurunya seolah-olah ia akan memaksa sang guru untuk mengajarinya seketika itu juga.
Wan Ci tergolong anak remaja, anak-anak tidak, dewasapun bukan, ia seorang gadis cantik yang lincah dan cerdas.
Ayah bunda serta orang-orangnya.
Ia berkeras minta diajari permainan itu, belum mau sudah kalau gurunya belum meluluskan.
Liok Hwi-ehiong seorang pandai yang matang dalam pengalaman.
Lima puluh tahun lamanya dia mengarungi samudera hidup yang penuh dengan gelombang percobaan, kini berhadapan dengan gadis muridnya, yang lincah dan cerdas itu, dia kewalahan.
Hati menolak, tapi mulut berat untuk mengatakan.
"Baiklah, besok pagi-pagi, kau datang kemari, nanti kuajari, siang ini kau tak usah belajar, pergilah bermain-mai n. tapi ingat, sekali-kali jangan kau uarkan tentang permainanku tadi. Kalau sampai bocor, aku tak mengajarnya!"
Akhirnya Hwi Ching berkata dengan suara tak lempias.
Karena girang, dengan tak mengucap apa-apa Wan Ci berlari keluar.
Liok Hwi Cing adalah seorang Tayhiap dari cabang Bu Tong Pay semasa mudanya ia berkelana di wilayah Kanglam menjalankan perbuatan mulia namanya sangat berkumandang dikalangan sungai telaga (jangouw), dulunya dia adalah orang penting dari Cu Long Pang.
Cu long-pang adalah sebuah persekutuan rahasia yang menentang kerajan Ceng, dalam pertengahan tahun Yong Ceng, pengaruhnya sangat meluas, karena baginda Yong Ceng melakukan tindakan tangan besi, maka pada permulaan pemerintahan baginda Kian Liong, keadan Cu Liong-pang morat-marit tak karuan.
Orang-orang penting banyak dibinasakan, atau yang sempat lolos terus menyembunyikan diri sedari waktu itu hancurlah inti kekuatan dari Cu liong-pang itu.
Liok Hwi Ching lolos ketapal batas sebelah barat, ketika itu istana telah mengirimkan pahlawan-pahlawannya untuk menangkapnya.
Tapi berkat kecermatan dan kepandaian silat yang tinggi, maka ia berhasil dapat meloloskan diri.
Namun Pemerintah Ceng tak pernah berhenti dari usahanya untuk menangkapnya.
"Tempat persembunyian yang paling aman, pertama jalan lingkungan istana, ke 2 berada di kota besar dan ketiga mengumpat di hutan". Dia mengambil jalan yang pertama dan dengan berkedok sebagai guru sekolah, dia umpatkan diri dikediaman Li Khik-su seorang panglima. Kawanan kuku garuda (kaki tangan) pemerintah sengaja memusatkan penguberannya kekalangan lioklim (persilatan), gereja-gereja, piauw-hang (kantor piaowkok) atau tempat-tempat perguruan silat. Mana mereka dapat mengira, bahwa seorang guru sekolah ditempat perajurit tinggi, adalah seorang buronan penting yang kepandaiannya tinggi. Liok Hwi Ching mempunyai tiga orang saudara sepeguruan. Tea Suheng bernama Ma Cin, Hwi Ching jatuh nomor 2 sutenya ialah Thio Ciauw ong Ma Cia adalah seumpama mega mengambang atau burung Ho hutan, dia senang berkelana, maka walaupun dia itu adalah Ciang bu-jin ahli waris dari Bu tong Pay, tapi dia seolaholah tak mau mengurus soal-soal dalam kaumnya. Sebaiknya, Thio Ciauw Cong adalah seorang pemuda yang bersemangat, dan gagah berani, karena itulah suhunya sangat menyayanginya. Hampir seluruh kepandaian dan rahasia ilmu silat cabang Bu Tong Pay telah diturunkan padanya. Liok Hwi Ching yang maju dalam ilmu silat maupun ilmu surat. Dengan kecerdasan otaknya berpuluh-puluh tahun dia pendam dirinya untuk meyakinkan sungguh-sungguh. Jerih payahnya itu ternyata tak sia-sia. Dia merupakan seorang ahli iwekang yang jarang ada tandingannya. Dengan ilmu silatnya "bu kok hian kun"
Senjata rahasia jarum hu yong cim dan ilmu pedang cwan bun-kiam, namanya telah menggetarkan kalangan sungai telaga.
Diantara ketiga saudara seperguruan itu.
Mo Cin lan yang paling kurang sendiri kepandaiannya.
Thio Ciauw Cong kemaruk dengan pangkat.
Dia bekerja pada pemerintah Cheng.
Berkat kepandaiannya yang tinggi, dia telah peroleh tanda jasa.
Liok Hwi Ching adalah seorang pecinta negeri.
Biar bagaimana dia tidak mau berhamba pada pemerintah Ceng.
Dan karena berlainan pendirian itulah maka dia telah bentrok dengan sutenya dan sedari saat itu putuslah tali persaudaraan mereka.
Kembali menceritakan Li Wan Ci, ia betul-betul mentaati pesan suhunya untuk tidak sebarkan soal permainan yang akan diajarkan padanya itu keesokan harinya pagi-pagi ia sudah berada dimuka pintu kamar suhunya, tapi begitu masuk suhunya ternyata tidak ada, yang kelihatan hanya secarik kertas yang diletakkan diatas meja.
Buru-buru Wan Ci memungut dan membacanya.
"Wan Ci muridku, kau gemar ilmu pedang disamping ilmu surat, mendengar suara khim kau dapat menyelami setiap getaran talinya, sungguh aku beruntung mendapatkan murid secerdas kau itu, hanya sayang kepandaianku terbatas, maka jodoh kitapun habis sampai disini saja, mudah-mudahan dibelakang hari kita bisa berjumpa lagi, aku percaya masa depanmu pasti gilang-gemilang, sekian dariku Liok Koo"
Liok Koo adalah nama samaran dari Hwi Ching, Wan Ci masih memegang surat itu, ia tak dapat berkata suatu apapun.
Ketika tiba-tiba daun pintu terdorong lebar-lebar dan masuklah seorang dengan langkah sempoyongan.
Betapa kaget Wan Ci ketika didapti bahwa orang itu tak lain adalah gurunya yang disangka telah mengucapkan selamat berpisah itu, wajah Hwi Ching pucat lesi seperti tak berdarah separoh tubuhnya penuh berlepotan tanda darah, dengan paksakan diri dan pada lain saat ia segera buang dirinya keatas kursi itu.
"Liok losu"
Seru Wan Ci dengan kaget. Hwi Ching tampaknya berusaha untuk menguasai diri, katanya .
"Tutup pintu, jangan bersuara!"
Hanya itu saja yang dia ucapkan dan selanjutnya ia membisu lagi.
Wan-ci adalah seorang gadis keturunan panglima perang, ketabhannya telah banyak diuji dalam permainan pedang dan tombak, betapapun terkejutnya, ia tetap dapat melakukan perintah gurunya untuk menutup pintu.
Hwi Ching tampak menghela napas panjang lalu berkata lagi .
"Wan Ci kita telah menjadi murid dan guru selama tiga tahun, selama itu kita telah mendapat kecocokan. Kukira jodoh kita akan putus sampai disini saja tak tahunya aku telah terbentur karang, soal ini menyangkut jiwaku, dapat kah kau berjanji untuk tidak mengatakan pada orang lain?"
Dalam berkata-kata itu tampak mata Hwi Ching bersinar-sinar menatap wajah muridnya.
"losu, aku patuh sahut Wan Ci"
"katakan pada ayahmu aku sakit perlu beristirahat setengah bulan."
Wan Ci mengiakan, maka sang suhu lalu melanjutkan kata-katanya lagi.
"Bilang juga pada ayahmu bahwa tak usah diundangkan sin she aku sendiri bisa mengobati."
Sampai disitu kembali Hwi Ching berhenti lagi, setelah berselang beberapa saat tiba-tiba dia berseru .
"sekarang tinggalkan aku sendiri."
Setelah Wan Ci keluar, Hwi Ching cepat-cepat mengambil obat luka terus dibeberkan kepundak kirinya, lalu dibalut dengan kain.
Tapi ternyata dia terluka dalamnya, begitu pandangan matanya dirasakan gelap, mulutnya segera muntahkan darah segar.
Sebagai seorang yang berpengalaman, dia ketahui kecerdasan sang murid itu suatu tempo akan dapat menimbulkan hal-hal yang tak di nginkan.
Karena itu dia telah peringatkan pada muridnya supaya dapat berhati-hati dalam setiap langkahnya.
Hwi Ching tak punya barang apa-apa.
Kecuali beberapa potong pakaian dan sebatang pek liong kiam.
Kesemuanya itu dengan mudah dapat dia rngkas dalam sebuah pauhok.
Nanti tengah malam dia akan berangkat.
Selagi dia nantikan sang waktu dengan bersemadhi tiba-tiba tanda waktu pukul 2 kali, itulah waktu yang dianggapnya tepat, maka dia nyalakan pelita untuk berkemas-kemas, tapi sekonyong-konyong diluar jendela terdengar ada suara daun rontok dan menyusul dengan itu, terdengar suara tertawa yang aneh.
Cepat dia tiup padam pelita itu, terus meloloskan Pek-liong kiam dari pinggangnya.
Disaat Itu terdengarlah suara orang berseru keras-keras dari luar jendela.
"Liok Loo haoji oarang tua, makin tua makin tak genah. Kau kira dapat menghabiskan sisa hidupmu dengan menyaru guru sekolah disini? Anak manis, hayo kau ikut kita ke kotaraja untuk pangku jabatan yang mulia!"
Hwi Ching seorang jago kenamaan yang banyak pengalaman.
Dia tahu bahwa orang itu bukan lawan yang empuk, dan bahwasanya jumlah mereka tentu banyak pula.
Kalu dia gegabah menerobos keluar, tentu celaka.
Diam-diam dia gunakan bik-houw kang, ilmu cecak merayap di tembok untuk menuju wuwungan.
Dia sawut palang jendela terus ditariknya putus.
Membarengi jatuhnya genteng-genteng kebawah dia lantas loncat keatas wuwungan.
Tiba-tiba pada sat itu terdengar sebatang anak panh yang disabitkan dengan tangan berkesiuran menyambar, disusul dengan keras.
"Bagus, jangan lari !"
Hwi Ching buang tubuhnya kesamping, seraya dengan pelan-pelan ia menegur.
"Sahabat mari ikut aku !"
Dia menggunakan ilmu berjalan cepat lari kearah pinggir kota. Benar juga tiga sosok bayangan telah mengikutinya. Kira-kira berlarian tujuh li jauhnya tiba-tiba seseorang pengejarnya berseru.
"He, orang tua she Liok, kau kan seorang kangouw kenamaan mengapa berlaku begitu pengecut. Jangan mimpi dapat melarikan diri kau. Liok Hwi Ching tak mau menyahut, dia mempunyai rencana sendiri, mengingat keadaan waktu waktu itu adalah soal mati hidup, sengaja dia pancing musuh-musuhnya kesebuah bukit karang yang terletak ditepi kota yang sepi. Ternyata perhitungan Hwi Ching itu tepat musuh terdiri dari tiga orang. Hwi Ching sengaja akan bawa mereka ketempat yang sepi. Ke 2 kalinya ia akan jajal ilmu menentengi tubuh mereka dan ketika kalinya, dia akan mengetahui jumlah musuh-musuhnya untuk menjaga kemungkinan dibokong. Ketika akan mulai menanjak ketas Hwi Ching tetap kencangkan langkah. Dan sampai distu dapatlah dia mengetahui sampai dimana kepandaian musuh-musuhnya itu, ternyata mereka ada yang dapat tetap berlari cepat, ada yang terbelakang. Ketika melihat Hwi Ching merendek dan berputar dari ketiganyapun tak berani mendatangi dekat-dekat. Mereka segera mengatur siasat diri dalam kedudukan segitiga, yang seorang berada imuka dan ke 2 kawannya mengikuti dari belakang. Dibawah sinar rembulan, Hwi Ching dapat melihat jelas musuh-musuhnya, yang berada dimuka sendiri adalah seorang tua yang pendek dan kurus. Dia memegang sepasang badi-badi yang ekor burung seriti yang panjangnya kurang dari satu jengkal. Dibelakangnya adalah seorang yang tinggi dan kawannya lagi seorang yang gemuk pada saat itu berkatalah si kurus tadi .
"Liok Loenghiong, sudah lama kita bertemu adakah kau masih ingat kepada pecundangmu Ciao Bun Ki dulu itu ?"
Hwi Ching terkesiap.
Dia tak habis mengerti mengapa orang she Ciao itu mencari dia pada waktu begini.
Ciao Bun Ki adalah pemimpin nomor tiga dari kwantong Liok Mo, enam iblis dari wilayah Kwanteng, sepuluh tahun yang lalu bertengkar mulut, dia pernah bertempur dengan Liok Hwi Ching masih kenal kasihan dengan tak mau membunuhnya dan hanya memukulnya saja, dia tak menyangka kalau orang she Ciao akan menuntut balas padanya.
Sebenarnya Ciao bun ki sedang diutus oleh Ceng untuk menjalankan suatu tugas ke Thian san.
Dengan tak disengaja dia dapat mendengar bahwa Liok Hw Cing musuhnya itu bersembunyi ditempat kediaman keluarga Li Khik siu-ciangkun.
Dengan membawa 2 jago kosen dari kantor congtok Shan see dan kamsiok, tanpa memberitahukan pembesar setempat, malam itu ia datangi tempat Hwa Ching bersembunyi.
Dalam beberapa tahun itu, Bun ki telah berusaha keras untuk meyakinkan ilmu pukulan "Pi peh Chiu"
Ia dipecundangi dalam pertempuran tangan kosong dan kinipun ia akan mencuci hinaan itu dengan tangan kosong pula. Maka berkatalah Hwi Ching dengan merangkap ke 2 tangan selaku menghormat.
"Kiranya Ciao Bun Ki sampai sepuluh tahun tak jumpa, hampir aku tak dapat mengenalinya. Ke 2 saudara ini siap ? Dan nasehat apa yang Ciao-samko hendak berikan padaku?"
"Hmmm"
Bun Ki perdengarkan suara hidung dan sambil menunjuk seorang gemuk ia berkata .
itulah saudara angkatku Lo sin, yang orang beri julukan yaitu sebagai Thiat Pi Lo Han orang gagah tangan besi.
Dan menunjuk pada orang yang tinggi, dia berkata .
"dan ini adalah Giok poan-koan Ha jin-liong. Hayo kalian mau lebih dekat kesini!"
Lo sin dan Ho jin liong menghampiri seraya merangkapkan ke 2 tangan, katanya "maaf, Liok-cianpwe."
"Sungguh tak mengira kalau ditempat yang begini sepi telah menerima kedatangan kalian bertiga, entah pengejaran apa yang samwie hendak berikan kepadaku?"
"Liok-loenghiong"
Sahut Bun Ki dengan tawar.
"lima belas tahun yang lalu aku telah menerima pelajaran darimu, karena memang kepandaianku masih cetek, barrangkali karena aku orang yang berkepala keras, maka dalam beberapa tahun ini aku telah belajar lagi beberapa jurus ilmu silat.
"kucing kaki tiga. Untuk itu aku akan minta petunjuk darimu termasuk bantuan pribadi. Ke 2 kalinya, berkat namamu yang tersohor itu pemerintah telah mengundang kau untuk sesuatu jabatan penting. Untuk ini lah kita bertiga, sengaja datang buat menyampaiakan sekalian untuk memberi selamat padamu, dan ini termasuk urusan negara."
Sampai pada saat itu mengertilah Hwi Ching kedudukan yang ia hadapi.
Kalau hal itu terjadi pada beberapa puluh tahun yang lalu mungkin ia takkan tahan lagi.
Tapi keberangasannya itu telah terbawa pergi dengan bertambahnyanya sang waktu.
Dengan tenag ia kembali merangkapkan ke 2 tangannya dan berkata .
"Ciao samya, kau dan akuadalah orang-orang tua yang sudah berumur lima atau enam puluh tahun kesalahanku tempo dulu itu dengan setuus hati bersama ini kuhaturkan maaf !"
Demi ucapannya itu Hwi Ching membungkukan badan dihadapan orang she Ciao itu. Tiba-tiba si tinggi, Ho Jin long perdengarkan suara hidung lalu memaki dengan kasarnya .
"Cis, tak tau malu!"
Mata Hwi Ching cepat mengalihkan kearah orang she Ho itu, dipandangnya tajam-tajam.
"Aku Liok Hwi Ching, sedikitpun tak ada nama dikalangan kangouw, selama itu belum pernah kuterima hinaan dari siapapun juga, katanya, dan kembali menghadap kearah Ciao Bun Ki dia lanjutkan kata-katanya.
"Ciao samya, tadi kau sebutkan kunjunganmu ini untuk urusan pribadi dan negara. Apa yang terjadi dulu, Cuma menuruti nafsu darah muda saja. Untuk untuk perbuatanku itu, telah kuhaturkan maaf padamu. Mengenai urusan negara, aku Liok HwiChing bukanlah tergolong orang yang berkulit tebal umau menjadi kaki tangan pemerintah Boan. Kalau kau berkenan mau sekerat tulang tua ini menjadi hamba mereka, hmm.... Silakan mengambilnya. Ucapan itu membuat ketiga orang itu menengak.
"kalian boleh serentak maju bertiga, atau satu-satu, lanjut Hwi Ching dengan angker. Kemudian dia melirik pada si tinggi dan berkata pula.
"Kulihat lebih baik Ho Ya in yang maju lebih dulu."
"Kau terlalu banyak mulut."
Demikian tiba-tiba si gemuk Lo Sin berseru, terus lompat menonjok muka Hwi Ching.
Hwi Ching tampaknya tenang-tenang saja, tetap tak bergerak.
Ketika kepalan seorang hampir mengenai mukanya sebat luar biasa, tangan kanannya menghantam lawannya.
Lo sin terkejut sekali atas gerakan orang yang demikian sebatnya itu.
Buru-buru dia mundur tiga tindak.
Hi Ching tak mau mengejar, setelah menangkap semangat, Lo sin gunakan Ngo beng kun untuk kembali menyerang.
Pada saat itu, Cio Bun Ai dan Ho-jin liong sudah menyingkir kepinggir.
Mereka telah mempunyai rencana Ciao Bun ki telah bertekad untuk membalas sakit hati.
Beberapa tahun dia rela belajar mati-matian dalam ilmu Thiat pi peh tangan besi.
Dia pernag dirubuhkan Hwi Ching dengan Bukek hian kong-kun.
Biar bagaimana, sakit hati itu tak pernah dilupakan.
Dia suruh Lo sin Ho Jin liong tempur Hwi Ching lebih dulu, agar tenaganya berkurang.
Sedang dalam pikiran Ho Jin Liong terbentang jasa besar yang akan diberikannya oleh cangtok, apabila dia berhasil menangkap buronan yang penting itu.
Hwi Ching dan Lo sin telah bertempur dengan seru.
Ngo heng kun berdasarkan jurus-jurus menyerang.
Serangan pertama dilancarkan, disusul dengan ke 2.
Begitu seterusnya serangan susul-menyusul tak putus-putusnya.
Ngo heng kun merupakan ilmu silat gwakang yang paling lihay!
Dengan ilmu itulah Liok-sin berdaya merangsek lawannya.
Permainan ilmu silat Hwi Ching tenang dan cepat.
Dalam sekejap saja, ke 2nya telah bertempur puluhan jurus, tiba-tiba Hwi Ching menghilang.
Buru-buru dia berputar kebelakang, karena ternyata Hwi Ching sudah berada disitu, dalam kegugupannya dia akan sambut lengan Hwi Ching.
Lo sin sangat andalkan tenaganya yang besar, dia tak kuatir bersampokkan dengan lawan.
Namun hanya dengan sekali berkibas tangan lagi ........
, sedang lengan bahu Hwi Ching pun tidak dapat disentuhnya.
Lo sin mkin bingung.
Dia robah permainannya dengan ilmu silat "Lin na chiu".
Dengan sepasang tangan dia menyerang.
Tapi Hwi Ching tetap tak berganti permainan dan tetap pula dia melesat kesana-kemari.
Beberapa jurus kemudian Lo-sin menganggap mendapat kesempatan.
Dia kirim pukulan tangan untuk itu dia pastikan Hwi Ching akan mengegos kekiri, maka dia susulkan tangan kiri lawan.
Dia untuk kegirangannya pundak lawan telah kena tercengkeram.
Tapi kesudahannya ternyata lain seperti yang diharapkannya.
Kalau dia tadi luput mencengraman, itu malah baik.
Tapi setelah dia mencengram kena tubuhnya yang gemuk itu lantas seperti "dum"
Begitulah kedatangan suara, ketika tubuhnya jatuh ditanah tiga tombak jauhnya.
Seketika itu matanya berkunang-kunang terus duduk numprah ditanah, seperti tak bertulang ia terlongong-longong terpesona.
Hanya mulut saja yang masih bisa memaki.
"setan alas kurang ajar, kau gunakan ilmu iblis apa ....?"
Ternyata tadi Hwi Ching menggunakan ilmu iwekang yang disebut "cap-i sip pat-tiap"
Sentuh pakaian delapan belas kali rubuh.
Begitu musuh menjamah pakaiannya maka akan terlemparlah dia, sebenarnya ilmu itu hanya berdasarkan pinjam kekuatan lawan saja.
Meski Hwi Ching belum dapat menyakinkan ilmu itu dengan sempurna sehingga begitu orang menyentuh pakaiannya begitu dia akan rubuh, namun karena Lo-sin telah gunakan kekuatan besar untuk mencengkeram, maka dengan mudah Hwi Ching dapat terjungkal dengan telak.
Melihat Lo sin numprah ketanah segera Bun Ki kerutkan alis serunya perlahan-lahan .
"Lo hiante bangunlah lekas-lekas!"
SebaiknyaHo Jin hong tanpa berkata apa-apa terus maju menyerang Hwi Ching dengan gerakan "Song liong-jiang cu"
Sepasang naga berebut mustika.
Kembali Hwi Ching perlihatkan kegesitan dengan menghilang dari npandangan musuh.
Dan berbarengan itu, Ho-jin liong rasakan pundaknya ditepuk dari belakang dan satu suara berkata.
"kau belajar sepuluh tahun lagi."
Dengan cepat Jin liong berputar kebelakang tapi ternyata Hwi Ching tak tertampak disitu.
Ketika Jin Liong akan berbalik badan lagi, tahu-tahu ke 2 pipinya telah ditampar dari belakang dan satu suara kembali berkata .
"nih rasakan ......bocah kurang ajar, sekali ini kuajar adat."
Sebenarnya Ho jin liong lebih diatas dari Lo sin.
Tetapi karena dia tadi telah berlaku kurang ajar, Hwi Ching tak mau kasih hati.
Dia sengaja gunakan permainan istimewa untuk mempermainkan Jin liong.
Melihat Jin liong babak belur mukanya dan disana-sini terlihat benjot, Ciao Bun Ki melesat maju, belum orangnya datang, angin pukulannya sudah tiba.
Liok Hwi Ching mengetahui sekarang dia berhadapan dengan orang ketiga dari Kwan-tung liok mo, yang kepandaiannya jauh beberapa tingkat dari kawn-kawannya tadi.
Dia tak berani berlaku ayal lagi, lalu keluarkan ilmu silat dari cabangnya yakni Bu tek hiat-kong kun, untuk melayani dengan hati-hati.
Ho jin liong mau membantu Bun Ki tapi karena mereka bertarung dengan rapatnya terpaksa dia tak mendapat kesempatan untuk menceburkan diri kedalam pertarungan itu.
Ciao Bun Ki keluarkan ilmu andalannya "Thiat pi peh chiu"
Pukulan tangan besi...... dan hebatnya pukulan ini, asal tersentuh maka cacatlah si korban.
"Thiat pi-peh chiu"
Dari Ciao Bun Ki adalah warisan dari keluargaBan di Lok yang, kini dengan jurusnya yang disebut "Chiu hoen ngo hian"
Tangan memetik senar kelima dia menyerang Hwi Ching.
Gerak serangan nampaknya lemah gemulai tak bertenaga, tapi kelemahan, tapi dibalik kelemahan itu terkandung tenaga yang luar biasa kerasnya.
Dan begitu dekat ke badan musuh jari-jarinya itu berubah seperti besi kerasnya.
Memang "Thiat pi peh chiu"
Ini adalah gabungan antara "thiat-sat-ciung"
Pukulan pasir besi dengan "eng jiao kong"
Cengkeraman kuku garuda.
"bagus....!"
Seru Hwi Ching sambil gunakan houw jong-po"
Gerakan harimau melangkah untuk mengegos kesamping sambil majukan langkah kesisi lwan.
Disitu segara dia pakai tangan kanannya untuk memukul lengan.
Bun ki buru-buru miringkan tubuh sambil pentang tangannya, itulah gerakan "pi peh ci bun"
Pi poh (nari) menutup muka.
Tangan kiri melindungi badan tangan kanan dijulurkan, memakai ke 2 jari untuk menotok.
Hwi Ching menurunkan tubuhnya kebawah dalam pada itu dia gunakan pukulan Iwekang, in ciang untuk mebalas.
Hwi Ching akan menempuh jalan kebajikan.
Dia tak tega untuk menghapuskan jerih payah Bun ki puluhan tahun ini dalam mempelajari ilmunya.
Karenanya dia hanya gunakan separoh tenaga untuk memukul.
Maksudnya supaya orang she Ciao itu dapat insyaf, dan sampai disitu akan mundur sendiri.
Tapi justru maksud baik itu, telah berbalik mencelakakan Hwi Ching sendiri.
Karena tak gunakan sepenuh tenaga, gerakan Hwi Ching menjadi lambat, Ciao Bun ki mengerti bahwa lawan telah berlaku murah hati, kesempatan ini takkan dilewatakan begitu saja.
Ketika tangan Hwi Ching masih belum ditarik untuk melindungi bagian dada yang terbuka.
Tba-tiba dengan gerakkan "liucwan-hee-san"
Air sumber mengalir kebawah gunung, kelima jari Bun Ki telah menyodok kebawah pulung hati Hwi Ching dengan sekuat-kuatnya.
Dalam Keadaan tak yang terduga sama sekali, Hwi Ching tak keburu menghindar.
Dia telah terkena tangan jahat dari thiat pi peh yang ganas.
Namun dia adalah jago besar daru bu tong pay.
Walaupun menderita kerugian, tak menjadi gugup.
Cepat dia tarik ke 2 tangannya untuk menangkis serangan berikutnya dari Bun Ki.
Setelah itu dia mundur tiga langkah.
Dengan tak mengucapkan apa-apa, dia empos semangatnya.
Dia tak berani marah, karena tahu bahwa dia luka dalam parah.
Kalau dia terlalu turutkan nafsu tentu binasa!
Mendapat hati, Bun Ki tak mau menyudahi sebelum musuhnya dapat mengaso untuk memulihkan tenaga, dia terjun lagi dengan "botol perak pecah"
Dan "kudabesi kabur"
Serangan berantai dari jurusjurus thiat pi-peh chiu yang lihay.
Dalam keadaan memaksa, apa boleh buat lagi.
Dengan bersuit keras, Hwi Ching mencabut pek lieng kiam.
Bun Ki cepat-cepat loncat kesamping dan berseru .
"Pundak rata, majulah ....! si tua akan mengadu jiwa!"
"pundak rata"
Adalah sebutan yang berarti "kawan"
Tak perlu diulang lagi Ho Jin liong dengan sepasang go kao kiam, maju menyerang tenggorokan Hwi Ching.
Go-kao kiam, walaupun disebut pedang, tapi bentuknya adalah sepasang gaetan.
Hanya pada ujung gaetan itu didampingi sebatang pedang.
Maka dapat digunakan dalam permainan kao dan kiam.
Melihat orang menggunakan sepasang gaetan, tahulah Hwi Cing bahwa kepandaian lawannya itu tentu tidak lemah, segera diapun gunakan "heng hwa jun-houw"
Dan "sam boan-gwat" 2 jurus serangan dari ilmu pedang jwan-hun-kiam.
Pada saat itu, dengan melolos chit ciat konpian, pian baja dari tujuh ros-rosan.
Lo sin turut menyerang.
Ternyata dia sungguh-sungguh bertenaga kuat.
Hwi Ching tak berani berbenturan senjata menagkis, dia hanya menghindar sembari mencari lubang untuk memapas jari seorang she Lo itu.
"Ah, yah!..."
Lo sin perdengarkan seruan kaget, terus loncat menghindar.
Dulu semasa belajar bugee pada keluarga Han di Lok-Yang, ilmu senjata thiat pi-peh tersebut telah dipelajarinya denga sempurna, pi-peh adalah semacam alat tetabuhan seperti harpa ke 2 sisinyatajam.
Di waktu melakukan penyerangan, bisadipergunakan sebagai kampak.
Untuk bertahan diri dapat sebagai perisai.
Badan pi peh itu berlubang, disitu terdapat 2 belas biji pi peh ting paku yang ujungnya tajam sekali.
Setelah mendapat pelajaran thiat pi peh dari keluarga Han, Ciao Bun Ki mendapat beberapa kesukaran.
Pi peh itu sebenarnya adalah tetabuhan yang biasanya dipetik oleh wanita?
Di kalangan kangouw, banyak mendapat cemoohan orang karena senjatanya itu, dia mencari akal untuk mengganti pi peh itu.
Dengan sebuah thiat-pay.
Bentuknya meski berlainan dengan pi-peh, tapi cara memainkannya tak ubah bedanya dengan pipeh.
Merasa belakang kepalanya ada sambaran angin, Hwi Ching melejit kesamping.
Dan secepatnya dia kirim bacokan.
Ketika Bun Ki menggalangkan thiat-paynya untuk menangkis, pek liong kiam melorot turun terus menyerang lagi.
Setiap ilmu silat tangan kosong maupun dengan senjata apa saja apabila akan menyusuli serangan yang ke 2, tentu lebih dulu menarik serangan yang pertama.
Tidak demikian dengan ilmu Hwi Ching, disitulah letaknya kelebihan ilmu pedang Jwan hoen pian dari Hwi Ching.
Bagaimanapun musuh akan menangkisnya serangan ke 2 tetap akan menyusul tanpa mesti menarik lebih dulu.
Dalam tiga kali susul menyusul itu, dilancarkan, musuh pasti terkurung dalam sinar pedang yang berkelebat.
Pada saat itu, jangankan dapat membalas, sedang untuk menangkis saja tentu kewalahan.
Melihat Bun Ki kerepotan, Jin liong dan lo sin segera maju menyerang dari belakang secara berbarengan.
Senjata sebatang pay dan sepasang siangkao maju bersamaan untuk mengurung Hwi Ching.
Setelah sekian lama, dada Hwi Ching terasa muali sakit, insyaf lah ia, bahwa luka dalamnya mulai menyerang.
Wlaupun jwan bun kiamnya sangat lihay, tetapi dikeroyok oleh tiga orang dia agak repot, juga.
"tak nyana kalau Liok Hwi Ching hari ini akan binasa ditangan kawanan tikus, pikirnya membatin. Kalau mengingat bagaimana kebaikanny, telah dibalas dengan kebusukan itu, marahlah di. Dengan mengumpulkan seluruh semangat dia membuka jalan darah untuk lolos. Kelak apabila lukanya sudah sembuh akan dicarinya Kwantung Liok mu untuk menuntut balas. Habis mengambil keputusan dia tak mau bertempur mati-matian, hanya tenangkan semangatnya. Ketenangan inilah yang menjadi pokok dari ilmu silat Iwekang. Juga sinar pek-liong kiam mengurung dirinya rapat-rapat, sehingga musuh tak berani mendekati.
"Ciao samya, kita kepung dia terus, biarkan dia mati kelelahan!"
Seru Lo sin.
"Benar, sebentar lagi Lo hiatee boleh kutungi kepalanya untuk dipersembahkan pada contok sahut yang diajak bicara. Pedangnya sih bagus amat, Ciao samnya berikan saja padaku, seru Ho jin liong. Mereka bertiga salaing "mengipasi hati"
Hwi Ching, seakan-akan menggapnya sebagai seorang mati yang diperebutkan warisannya.
Memang mereka sengaja berkata-kata dengan keras agar Hwi Ching panas hatinya.
Hwi Ching mengirim 2 kali serangan kearah Lo sin.
Seketika lo sin mundur, terbukalah sebuah lubang.
Dan kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Hwi Ching dengan gerakan "hujan dicurahkan dari langit dan melesat keluar kalangan.
"Celaka, si tua akan lari"
Seru Lo sin dengan kaget. Hwi Ching terus keluar "pat poh kam sian"
Ilmu lari cepat sembari berlompatan, meluncur ke bawah gunung.
"Pat poh-kam sian"
Telah diyakinkannya selama berpuluh-puluh tahun, maka begitu sang kijang lepas dari jerat, jangan harap ketiga orang itu dapat memburunya.
Sebat sekali Ciao bun Ki menekan alat diatas thiat-paynya, dan seketika itu, tiga batang pi poh ting meluncur kearah Hwi Ching.
Tapi dengan cekat Hwi Ching putar pek-liong kiamnya untuk menyampok ke 2 batang pi peh-ting yang menjurus kemukanya, menyusul dia enjot sepasang kakinya loncat keatas, kembali sebatang pi peh ting mengarah kakinya dapat dihindari.
Sebagai seorang kangouw kawakan, Hwi Ching cukup mengetahui bagaimana lihaynya paku pi peh ting itu, paku itu ujungnya menurun kebelakang, begitu menyusup kedaging sukar untuk dicabut.
Kalu memaksa akan dicabut tentu dagingnyapu nikut terbetot keluar.
Karena itu pi peh ting tak boleh ditangkap dengan tangan berbahaya sekali, senjata rahasia macam begini hanya dipakai oleh kaum persilatan dari golongan hitam saja.
Setelah berhasil mengelit pi peh ting, Hwi Ching berniat hendak meneruskan larinya.
Tapi sekonyong-konyong dia tergelincir terus sempoyongan, mulutnya terasa hendak muntah, dadanya sakit sekali.
Dan berbarengan itu, dia rasakan matanya berkunang-kunang.
Melihat orang yang jalannya tak teratur, tahulah Ciao Bun Ki bahwa luka dalam Hwi Ching mulai menyerang.
Diam-diam dia menjadi girang, terus mengeroyoknya lagi.
Demikianlah mereka berempat segera bertempur lagi.
Terasa bagi Hwi Ching bahwa gerakkan tangan kanannya itu tentu disusul dengan rasa sakit dada kirinya.
Untuk itu, buru-buru dia pindahkan pedangnya ke tangan kiri.
Justru inilah yang membingungkan lawan, permainan pedang dengan tangan kiri dari Hwi Ching adalah jurus-jurus kebalikan dari permainan tangan kanan.
Karena bingung sat itu Bun Ki mundur beberapa tindak.
Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Hwi Ching, siap lalu dengan gerak "pek-hong koan jit"
Bianglala menaungi matahari, dia serang Ho jin liong.
Nampak serangan yang berbahaya itu Jin-liong menghindar kekanan.
Inilah satu kelesalahan besar bagi orang yang tak mengerti permainan pedang tangan kiri.
Begitu dia loncat kekanan, pek liongkiam sudah membabatnya, beruntung pada saat berbahaya itu, Jin liong tah kehilangan akal, cepat dia buang diri ketanah, terus bergulung menyingkir.
Baru saja Hwi Ching akan memburu, dara arah belakang terus ada angin menyambar, kon pian Lo-sin sudah bergerak "Thay san jik ting"
Telah melayang datang. Hwi Ching dengan tenang, begitu pian hampir tiba dibadanya segera ia bergerak, sebat luar biasa tangannya diulur untuk menotok jalan darah "hiat boen hiat"
Seraya tubuh lawannya terasa lemas tak bertenaga, tangannya tak kuasa lagi mencekal kon piannya lebih kencang pian menyerusuk kesamping menghantam batu terus membal balik.
Justru pada saat itu, tiga batang paku "pi peh ting"
Dari Bun ki menyambar dari arah belakang, jarak dengan punggung Hwi Ching sudah demikian dekatnya, bagaimanapun ia akan berkelit kekanan atau kekiri, sudah tak keburu, sebat luar biasa, ia sembat tubuh Lo sin yang numprah ditanah, terus diputarnya sebagai perisai (tameng) "Cieet ......"
Tanpa ampun lagi tiga batang anak panah pi-peh ting, 2 menusuk dada dan satunya menyusup perut, tanpa berkutik putuslah nyawa Lo-sin.
Melihat senjatanya berbalik mencelakan kawan sendiri, meluaplah kemarahan Bun Ki, lalu ia memutar thiat pay dan menyerang Hwi Ching dengan beringas.
Pada sat itu, Ho jin liong sudah bangkit tapi Hwi Ching tak mau memberi kesempatan padanya.
Dia serang lagi dengan pek hong kiamnya, hingga buru-buru Jin liong mundur setindak.
Dan pada detik itu, thiat pay Bun ki sudah melayang datang.
Kalau memutar tubuh untuk menangkis thiat-pay, tentu Ho Jin liong dapat kelonggaran bergerak menyerang.
Walaupun musuh telah berkurang satu, tapi belum berarti ancamannya itu sudah terhindar.
Karenanya pada lain saat ujung thiat-pay telah menowel pundak Hwi Ching dengan meninggalkan lubang luka yang besar.
Tapi selagi Bun ki kegirangan dengan hasil thiat paynya, dan pek liong kiam telah melayang-layang diudara, langsung menyambar Jin liong.
Dalam kagetnya, Jin liong sepat angkat go-kao kiamnya.
Memang benar, dengan berbuat begitu dia dapat menangkis pek liong kiam, tetapi Hwi Ching telah melemparkan sedemikian hebatnya, dan tak dapat dicegah lagi pek liong kiam meluncur dengan pesatnya, bersarung kedalam dada terus keluar dari punggung dan matilah Jin liong, seolah-olah terpantek pada tanah.
Demikianlah kalau Liok Hwi Ching, jago tua dari Bu Tong Pay sedang mengumbar nafsu.
Dan secepatnya dia balik memutar diri, Bun ki belum sempat menarik thiat paynya seketika itu juga orang she Ciao merasakan mukanya kesakitan hebat, sontak matanyapun menjadi gelap.
Ternyata ketika Hwi Ching berbalik, dia telah sambitkan lima batang jarum emas hu yong ciam ke muka Bun Ki.
Pada jarak yang begitu dekat dan dengan kecepatan luar biasa, jarum yang sehalus itu tak mungkin dapat dihindari, seketika itu juga sepasang mata Bun Ki telah menjadi buta.
Sudah terlanjur dirasuki kebencian membarengi, selagi Bun Ki mendekap mukanya dengan tangan Hwi ching menghampiri.
Sekali kepalan nya menghantam sepenuh tenaga, tak ampun lagi terpelantinglah tubuh Bun Ki beberapa tindak terus roboh tak beryawa lagi.
Demikianlah Hwi Cing telah tumplek seluruh kepandaiannya.
menotok, menyambit pedang dan jarum emasnya hu yang ciam.
Dalam sekejap waktu saja, dia sikat ketiga lawannya.
Tapi ketika itu, dia sudah tidak kuat lag, hampir dia kehabisan tenaga, karena lelah akibat luka dalamnya yang makin menghebat sakitnya.
Angin diatas tegalan gunung itu kini semakin menusuk tulang.
Rembulan perlahan-lahan bersinar remang-remang dilangit disana hanya tampak tiga mayat menggeletak.
Yang bergelimpangan diantara batu-batu yang berserak-serakan, suara burung hantu menambah keseraman suasana malam itu, sekalipun Hwi Ching jago kosen, tak urung dia ngeri juga.
Cepat dia sobek bajunya untuk membalut luka dipundaknya.
Dengan berdiri tegak, ia empos semangatnya.
Dia selalu berhati-hati dan cermat dicabutnya jarum-jarum bu yoang ciam pada muka Bun Ki, lalu disimpannya baik-baik, setelah itu dia lempar ketiga mayat itu kedalam jurang.
Sat itu Hwi Ching telah kehabisan tenaga, apalagi badannya belumuran darah.
Jika pergi ketempat penginapan tentu menimbulkan kecurigaan orang.
Diputuskan kembali lagi ke gedung Ci Khik-siu, untuk tukar pakaian dan membersihkan noda-noda darah, setelah itu ia akan berangkat lagi.
Tak disangkanya sepagi itu, Wan Ci sudah berada di kamar Hwi Ching.
Apa boleh buat, ia pesan buat sang murid untuk jangan menceritakan apa-apa pada orang lain.
Begitu Wan ci sudah berlalu dari kamarnya.
Hwi Ching segera merebahkan dirinya keatas ranjang.
Dadanya makin menghebat sakitnya dan sesaat itu juga dia pingsan tak ingat orang.
Entah sudah beberapa lama, ketika dia akan membuka mata, serasa badannya seperti didorong orang.
"Losu, .... losu ......"
Demikian terdengar suara didekat telinganya, ternyata yang berdiri dimuka ranjang, adalah Wan Ci, wajahnya sangat cemas.
Disamping masih ada seorang, yang ternyata adalah seorang sin she.
Setelah dirawat 2 bulan dan berkat pokok latihan Iwekang yang sempurna, serta atas desakan Wan Ci pada ayahnya untuk mengundang sinshe pandai, luka dalam dari Hwi Ching jadi sembuh kembali.
Selama 2 bulan itu, boleh dikata sehari penuh Wan Ci berada di kamar gurunya untuk merawat, orang-orang memuji Wab Cisebagai siocia yang berbakti pada orang tua dan gurunya.
Tapi sebenarnya Wan Ci memang mengandung maksud lain.
Sedari ia mencuri lihat permaianan jarum hu cong ciam dan keesokan harinya menyaksikan pemandangan yang aneh itu, tahulah Wan Ci bahwa gurunya itu tentu bukan guru sekolah sewajarnya.
Karena itu dia rawat sang guru dengan luar biasa capeknya.
Setelah Hwi Ching sembuh, Wan Ci tak mau menyinggung soal permintaannya mengenai ilmu Hu yong ciam, malah ia hanaya bertanya.
"Liok losu, kapan kita mulai pelajaran lagi? .... apakah losu masih menceriata sejarah pula.
"besok pagilah"
Jawab Hwi Ching setelah termenung sejenak. Keesokan harinya, Hwi Ching suruh pelayan membelikan suatu barang, setelah benda itu dibuka.... ini jarum hu yong siam, katanya pada sang murid.
"Wan Ci, kau betul pandai. Aku ini orang apa, walaupun samar-samar kau sudah mengetahui, tapi belum semuanya. Kali ini kumendapat halangan. Kau telah begitu sabar merawat tentu akupun merasa juga, semula aku akan tinggalkan tempat ini, sekarang aaku berubah pikiran, ilmu permainanku hu yong ciam itu sekarang akan kuajarkan padamu."
Seperti dapat lotere, kegirangan Wan ci tak terhingga. Cepat ia menjongkok ketanah kemudian memberi hormat samapai tiga kali. Hwi Ching hanya nampak tersenyum. Tiba-tiba dia berkata keren sekali .
"Kutahu kau ini tajam perasannya. Beruntunglah kau dapat kesempatan untuk mempelajari ilmu dari kaumku ini. Dalam beberapa tahun hatiku pun maju mundur saja. Bakat yang kau miliki itu sebenarnya jarang sekali ada, kau telah mengangkatku guru. Apakah kau sanggup mentati peraturan-peraturan kaumku, apakah kau sanggup melakukannya...?"
"Aku tentu tak berni melanggar titah, suhu"
Sahut Wan Ci.
"Kalau kelak kau pergunakan kepandaian itu ditempat yang salah tentu akan kuambil jiwamu!"
Kata-kata yang terakhir itu diucapkan Hwi Ching dengan nada yang angker, hingga Wan Ci bergidik, tak berani berkata sepatah katapun juga.
Begitulah, sejak saat itu Hwi Ching lalu menurunkan ilmu Bu Tong Pay pada Wan Ci, banyak pelajaran yang diterima Wab Ci.
Bagaimana cara memusatkan tenaga dan pikiran, pokok dasar yang penting dalam latihan, tiga puluh 2 jurus ilmu silat Tong Kun, melatih tenaga, pukulan dan akhirnya silat Bu tek hian kong kun yang lihay itu.
Setelah kesemuanya sempurna, lalu diberi latihan cara memusatkan pandangan mata, pendengaran telinga, dan cara melepas berbagai senjata rahasia, seperti peluru dan panah tangan dan sebagainya.
Dua tahun kemudian, berkat ketekunan dan kecerdasan Wan Ci, iapun mendapat kemajuan yang sangat pesat sekali.
Diam-diam Hwi Ching merasa girang mendapat murid yang sedemikian cerdasnya, selang 2 tahun pula, dia turunkan ilmu pedang jwan bun kiam dan senjata rahasia jarum huyong ciam.
Pada akhir tahun kelima, Wan Ci telah dapat mempelajari kesemuanya itu.
Yang kurang padanya, terletak pada kelincahan dan kuranganaya pengalaman bertanding.
Ternyata iapun pegang teguh janjinya.
Selama itu ia tidak pernah memberitahukan kepda orang lain.
Setiap hari pada waktu-waktu tertentu ia pergi ketaman untuk berlatih.
Oleh karena kegemaran belajar silat itu sudah diketahui orang banyak, maka tak ada orang yang memperdulikannya.
Selama lima tahun itu, bintang Khik-liu tetap cemerlang.
Ia terus dinaikan pangkatnya menjadi ciangkun jenderal.
Sebagaimana telah diutara diatas, karena jasa dalam mengamankan daerah Hi Sinkiang dia dipindah ke Ciatkang untuk memangku jabatan yang lebih tinggi, begitulah dia berangkat dulu, baru kemudian keluarganya menyusul.
Wan ci dilahirkan dan dibesarkan di perbatasan barat.
Kini ia harus ikut sang ayah pindah ke Kanglam yang indah pemandangannya, ia merasa girang sekali dan mohon suhunya supaya suka ikut serta.
Hwi Ching sudah lama tinggalkan daerah pedalaman Tionggoan, dan memang dia ada keinginan untuk menengok kesana.
Dia terima baik ajakan muridnya itu.
Begitulah dengan rombongan yang terdiri dari sepuluh buah lebih kereta.
Hwi Ching ikut boyong ke Kanglam dengan keluarga LI.
Li Thay-thay ibunyaWan Ci, duduk dalam sebuah tandu?
Wan Ci yang selama menempuh perjalanan jauh itu terus duduk dalam tandu, lama-lama merasa jemu dan kesal hatinya.
Tapi sebagai seorang puteri seorang panglima, tentulah tak pantas kalau menunggang kuda sendiri, mondar mandir kian kemari.
Ia terus berhenti, dan memakai pakaian sebagai seorang pria.
Sia-sia ibunya melarang karena wataknya memang keras, apa yang dimaukan tak dapat dicegah.
Berdandan sebagai pria, ternyata ia sangat cakap tampaknya.
Lie than thay hanya dapat menghela nafas dan terpaksa menurutkan kemauan putrinya.
Li Khik siu telah mengirim kira-kira 2 puluh orang pengawal pribadinya, untuk mengawal keluarganya itu.
Pemimpin pengawal itu bernama Can Tho Lam, kira-kira berusia empat puluh tahun, memelihara jengot pendek.
Tubuhnya tegap dan sikapnya gagah sekali, senjatanya adalah sebatang tombak hok hap jiang.
Pangkatnya itu diperoleh berkat kegagahannya.
Dia orangnya jujur dan cakap bekerja, menjadi orang kepercayaan dari Li Khik siu.
Sampai pada jalanan dipegunungan, hari hampir gelap.
Menurut keterangan kusir, sepuluh li lagi ada sebuah kota yaitu Song Tat Loh, sebuah kota diluar perbatasan.
Disitulah rombongan keluarga Li akan bermalam.
Tiba-tiba dari depan, Hwi Ching mendengar bunyi derap kuda, disusul dengan debu yang mengepul.
Dua ekor kuda putih lari menghampiri kearah itu, malah sesaat itu mereka mencongklang dengan pesatnya.
Ke 2 penunggangnya telah lewat disisi rombongan keluarga Li, terus membalap hilang.
Diatas kudanya, Hwi Ching sama-sama melihat keadan ke 2 orang itu, yang seorang berperawakan tinggi, sedang kawannya seorang kate pendek.
Orang tinggi itu alisnya panjang, hidungnya mancung.
Wajahnya putih bersih.
Sedang yang pendek nampaknya bergegas-gegas sekali, mereka menunggang kuda dengan gagah.
Hwi Ching keprak kudanya untuk menghampiri Wan Ci, katanya dengan berbisik-bisik.
"Wan Ci, kau melihat orang itu.
"Bagaimana, apakah mereka itu orang-oarang Hoklim shu..?"
Dengan ucapan itu Wan Ci maksudkan bahwa itu tentu bangsa begal, dan ia ingin benar menjajal ilmu yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun ini.
"Itu sih pasti, Cuma kalu dilihat kepandaiannya, mereka itu bukan orang-orang Hoklim yang tak berarti,"
Sebut Hwi Ching.
"Masa, mereka punya kepandaian yang berarti?"
Menegasi Wan Ci.
"Dilaihat dari caranya naik kuda, mereka bukan orang sembarangan."
Jawab suhunya.
Ketika rombongannya hampir tiba di Song Tat Poh, tiba-tiba terdengar pula kuda menderap dan ternyata ada lagi 2 penunggang kuda lain yang menghampiri disisi kereta, terus kabur dengan pesatnya.
.Eh, aneh juga"
Seru Hwi Ching seorang diri.
Ketika itu hari sudah gelap, jalanpun sudah sepi.
Disebelah muka tampak terlihat Song Tat Poh.
Dalam keadaan begitu, aneh benar kalau masih ada orang yang keluar dari kota Song tat Poh tersebut kecuali tidak ada urusan yang penting yang begitu serius.
Tak berselang berapa lama rerotan rombongan sudah memasuki kota, Cam Tho Lun si Pemimpin Pengawal, segera mencari rumah penginapan yang besar, ternyata rumah penginapan bernama "Hotel An Thong."
Beberapa pelayan menyambut dengan sibuk sekali.
Meliahat rombongan tamunya utu, keluarga pembesar negeri, mereka berebutan mengunjuk perlakukan yang luar biasa hormatnya.
Hwi Ching mengambil sebuah kamar sendiri, sedang Wan Ci tidur sekamar dengan Li Thay-thay.
Sehabis makan, Hwi Ching lalu mengasoh.
Tiba-tiba diantara kesunyian malam itu, terdengarlah gonggongan kawanan anjing.
Dan sesaat kemudian samar-samar dia mendengarbunyi, derap kaki kuda.
Diam-diam ia berpikir.
"Dalam waktu beni larut malam, mengapa ada orang naik kuda dengan sibuknya. Sebenarnya ada urusan penting apakah mereka itu?"
Saat itu, teringatlah ia akan keempat orang menunggang kuda yang dijumpainya sore tadi.
Kelakuan mereka benar-benar aneh.
Memikir sampai disitu, derap kuda itu makin dekat kedengarannya dan malahj nyata berhenti dimuka pint hotel itu dan sesaat kemudian pintu terdengar diketok.
"Tuan tentu lelah, mari silakan masuk. Arak dan makanan sudah tersedia semua!"
Demikian kedengaran pelayan berkata setelah membukakan pintu.
"Hayo lekas beri makan kudaku ini, habis makan kita masih akan melanjutkan perjalanan lagi."
Seru seorang dengan kasar.
Dengan ketakutan si pelayan menyahut berulang-ulang.
Segera terdengar derap tindakan kaki masuk kedalam rumah.
Nyata mereka itu terdiri dari 2 orang.
Diam-diam Hwi Ching dapat menaksir bahwa ditinjau dari caranya menaik kuda, orang-orang itu tentu berkepandaian tinggi.
Dia yang selama beberapa tahun tinggal diluar perbatasan, diam-diam merasa heran juga dengan adanya perubahan-perubahan dalam daerah Tionggoan.
Secara sembunyi, dia keluar dari kamarnya, melalui ruangan Sam Hap Wan, ia berputar kearah belakang gedung penginapan tersebut.
Benar juga, disitu ia dengar si orang kasar yang berbicara tadi itu, berkata.
"Thio samko, kau katakan Siao Tocu itu masih muda belia, masa dia dapat mengatasi lain-lain saudara. Pada saat itu, Hwi Ching telah menyusup kebawah jendela, sebetulnya ia tak suka mencuri dengar urusan pribadi orang lain. Hanya karena ia curiga atas sikap orang yang aneh itulah ia terpaksa lakukn hal yang tak disukainya itu. Tak ada jeleknya kalau ia berlaku hati-hati .
"Kalau terpaksa, tentu dapat mengatasi? Habis kalu memang begitu, pesan lotenkeh mau tak mau siao tosu harus menjalani. kita harus melindunginya, demikian terdengar seorang mengutarakan pendapatnya. Suara orang itu sangat lantang, kata-katanya mantap. Tahulah Hwi Ching, bahwa orang tersebut mahir Iwekang, mengetahui ke 2 orang yang berada dalam kamar itu bukan orang sembaranagan, Hwi Ching tak beranai membuat lubang pada kertas jendela, cukup mendengar dari luar saja! Kata si kasar pula! Udah barang tentu, samko. Cuma saja kali ini apakah Siao tocu turun dari gunung? "kali ini kiongcu pertama dan ke 2 masing-masing dan Gwan-sam long sama keluar menyambut tentu Siao tocu terpaksa masti keluar, kta yang seorang. Mendengar suara tersebut, hati Hwi Ching bergetar. Rasanya suara itu sangat dikenalinya, merenung sejenak, segera ia teringat tentu orang itu Lo Pan San seorang sahabat karibnya dalam perserikatan Cu-liong Pang dulu. Orang tersebut lebih muda sepuluh tahun darinya, dia toa tecu murid kepala ahli waris dari golongan Tay kek bun. Pernah semasa masih sama di Cu Liong pang dia berlatih dengan orang she Tio itu. Dan ke 2nya saling mengagumi kepandaian masing-masing. Kalau sampai sekarang sudah salaing berpisah belasan tahun, tentunya orang itu sudah hampir lima puluh tahun umurnya sesudah Cu Liong pang bubar, entah orang she Tio itu berada dimana. Tak dinyana kalau hari ini dia dapat menjumpai diluar perbatasan. Bertemu dengan sahabat karib, Hwi Ching girang tak terkira, tapi pada sat itu dia hendak menegurnya, tiba-tiba lampu dalam kamar itu dipadamkan. Dan menyusul, sebatang panah kecil Siu Ci melesat keluar dari dalam kamar. Siu Ci terang tak ditujukan pada Hwi Ching dan pada saat itu, tampak sesosok bayangan berkelebat. Dengan mengulur tangan orang itu, telah menyanggapi dengan jitu sekali. Tampak orang tersebut mengulur tubuhnya seraya hendak berteriak, tapi Hwi Ching telah mendahului bergeser menghampiri, katanya dengan berbisik-bisik.
"Jangan berisik, ayo ikut aku!"
Ternyata orang itu Wan Ci, Li Wan Ci liteecunya sendiri.
Keadaan dalam kamar sunyi-sunyi saja.
Tak ada orang yang mengejarnya.
Cepat Hwi Ching menarik tangan muridnya untuk menyelinap pergi terus menuju ke kamar yasang murid.
Ternyata liteecunya mengenakakan pakaian untuk berjalan malam dan menyaru sebagai seorang pria.
Melihat itu Hwi Ching agak mendongkol disamping geli juga dengan suara keren.
"Wan Ci, kau tahu orang apakah dalam kamar itu. Kau kira akan gegabah untuk tempur mereka kah ... ?"
Pertanyaan shunya itu, membuat Wan Ci termunung tak dapat menjawab apa-apa. Masa mereka berani melepas Siu Ci padaku"
Akhirnya Wan Ci dapat menyahut setelah termenung beberapa saat.
Memang begitulah perangai seorangnya, taunya hanya kesalahan orang lain, sedangkan kesalahannya mencuri dengar pembicaraan orang lain itu tak disinggung-singgung.
Padahal kesalahannya sendiri merupakan pantangan besar di kalangan persilatan.
"ke 2 orang itu kalu bukan dari golongan holim, tentulah orang-orang perserikatan salah seorang dari mereka aku mengenalnya. Kepandaiannya tak dibawahku. Mereka tentu punya urusan penting, maka begitu bergegas memburu perjalanan siang malam. Siu ciam itu tak sungguh-sungguh akan mencelakan kau. Hanya untuk memperingati supaya kau jangan usil dengar urusan orang lain, hayo .... kau lekas tidurlah. Pada sat Hwi Ching berkata itu terdengar suara pintu terbuka, menyusul dengan berderapnya kaki kuda, ke 2 orang aneh itupun sudah kabur jauh. Karena Wan Ci telah berlaku sembrono, maka Hwi Ching segera batalkan niatnya menemui sahabat lamanya itu agar tidak menimbulkan kecurigaan orang. Keesokan harinya, kembali rombongan keluarga Li meneruskan perjalanannya. Berselang sejam kemudian, mereka sudah meninggalkan kota Song Tat Poh itu.
"Losu, didepan kembali ada orang mendatangi.
"Tiba-tiba Wan Ci berseru. Tepat pada saat itu, 2 penunggang kuda bulu merah tampak mendatangi dengan pesatnya. Karena kejadian semalam Wan Ci dan suhunya bersukap hati-hati. Ke 2 ekor kuda itu ternyata bersamaan satu sama lain. Dan yang mengherankan ke 2 penunggangnyapun juga serupa benar. Mereka sama-sama berusia empat puluh tahun, perawakannya tinggi. Kurus, mukanya kuning, matanya menjolek kedalam! Nyata bahwa ke 2nya itu adalah sepasang saudara kembar.
Jilid 2 KETIKA lewat disisi rerotan kereta ke 2 orang itu melirik kearah Wan Ci, sebaliknya si nona pun malah berbalik mengawasi dengan mata melotot.
Ia menghentikannya kudanya, dana bersikap seolah-olah seperti siap untuk berkelahi.
Tapi ke 2 orang tersebut tidak memperdulikannya, begitu cambuknya dikeprakkan, kudanya terus kabur kearah barat.
Huh, darimana munculnya sepasang setan kuning itu berseru Wan Ci, sebaliknya tampak terkejut, lalu mengawasi kebokong dari ke 2 penunggang kuda tersebut.
Nyata benar mereka itu tampaknya seperti 2 batang bambu yang menancap diatas kuda.
"Ayo kiranya mereka, tiba-tiba Hwi Ching berseru ketika ia teringat akan sesuatu.
"Liok losu, kau kenal mereka, cepat-cepat Wan Ci bertanya.
"Mereka tentulah secihwan song hiap, yang orang kongouw sebut Hek bu siang dan Pek bu-siang, setan gantung hitam dan putih.
"Ha, orangnya aneh gelarnyapun aneh, mengapa tak digelari saja sebagai Bu siang Kun"
Seru Wan Ci dengan mengolok.
"Anak perempuan tak boleh bicara sembarangan. Walaupun wujudnya aneh tapi kepandaiannya tak boleh dibuat main-main, kata Hwi Ching. Aku belum pernah bertemu muka dengan mereka. Tapi kabarnya mereka adalah sepasang saudara kembar. Mereka tidak pernah berpisah satu sama lainnya. Malah untuk memelihara kerukunannya, ke 2nya tak mau kawin, mereka berkelana untuk melakukan kebaikan. Orang yang orang yang taroh perindahan memberi gelaran Seechwan siang hiap, sedang yang memberi poyokan menyebutkan Hek bu siang dan Pek bu-siang.
"Kata orang ke 2nya itu mirip satu sama lain. Namun ada cirinya, yakni yang tua itu tumbuh andeng-andeng diekor matanya. Karenanya ia digelari orang sebagai Hek bu-siang, sedang adiknya tak punya andeng-andeng dan dinamakan Pek bu-siang. Nama mereka sebenarnya adalah siang ho co dan mereka adalah murid-murid dari Hwi lu tojin dari golongan Heng seng pay. Setelah Hwi Lo tojin meninggal, mungkin di kangouw tak ada orang yang menandingi mereka dalam ilmu Hek sat ciang. Pukulan pasir hitam. Ke 2nya adalah begal-begaldari seechwan yang sangat terkenal mengambil harta si kaya untuk diberikan pada si miskin. Hanya tangan mereka kelewat kejam sekali, karena mendapat julukan yang tak sedap didengar itu.
"Untuk apakah mereka menuju kperbatasan sini?"
Tanya Wan Ci.
"Akupun tak mengerti. Memang selamanya mereka tak pernah berkunjung keperbatasan", demikian Hwi Ching menerangkan.
"Sepasang Bu-siang itu apabila beranai mengganggu aku, biarkan mereka rasakan pek-liong kiam kepunyaan ssuhu itu, kata Wan Ci. Tadi ke 2 orang melirik pada Wan Ci, untuk itu ia merasa dongkol, coba tak dicegah suhunya, tentu sudah dimakinya orang itu.
"Ke 2 saudara itu jika berkelahi selalu bersama, baik hanya melawan seorang musuh atau sepuluh orang. Kata Hwi Ching!. Mungkin tulang tua dari suhumu ini, tak dapat melawan mereka. Selagi Hwi Ching mengucap begitu, dari arah depan kembali terdengar kaki kuda. Kembali ada lagi 2 orang penunggang kuda mendatangi, malah kali ini juga kukway lagi. Yang satu adalah seorang tojin dan kawannya adalah seorang bongkok, tojin itu memanggul sebatang tiang kiam pedang panjang, wajahnya putih pucat seperti orang yang habis sakit, lengan bajunya sebelah kirinya diselipkan kedalam pinggang. Sedangkan bongkok berpakaian mentereng sekali. Melihat romannya begitu jelek, namun masih berlagak seperti kongcu-koncuan, Wan Ci tak dapat menahan ketawanya, katanya .
"Suhu, lihat si bongkok tua itu"
Untuk mencegah muridnya, Hwi Ching terlambat.
Begitu dengar orang mengejeknya, si bongkok segera melototkan matanya.
Begitu mengeprak kuda, ia lalu ulurkan tangan untuk menyambar si nona centil itu.
Rupanya sitojin sudah menduga, kalau kawann itu akan marah dan turun tangan, maka cepat sekali ia hadangkan cambuk untuk menahan sang kawan, serunya .
"Ciong sutee, jangan membikin onar. Kesemuanya itu berlaku dalam sekejap mata saja. Pada lain saat, kuda si tojin dan si bongkok sudah menconglang jauh. Ketika Wan Ci menoleh kebelakang untuk melihatnya, ternyata si bongkok sudah berusaha untuk lepaskan tangannya, dari hadangan si tojin. Dan dengan gerak "To.cai-kim ciong"
Dia buang diri berjumpalitan kebelakang, teus loncat ke tanah.
Hanya tiga kali lncatan, tahu-tahu dia sudah dibelakang Wan Ci.
Wan Ci sudah siap-siap dengan pedangnya untuk memapaki tangan musuh.
Tapi ternyata si bongkok itu berlaku aneh.
Dan tak langsung menyerang, hanya mengulurkan tangan kirinya untuk menjambret bulu ekor kudanya Wan Ci.
Kuda yang tengah laridengan kerasnya itu, tiba-tiba seperti terpaku tak bisa bergerak lagi.
Kuda tersebut mengangkat kakinya keatas, untuk berusaha berusaha menyeret si pengganggu.
Namun ternyata si bongkok itu memilki tenaga sakti.
Dia tetap tak bergeming, malah, berbarenga tangan kanannya menebas, ekor kuda dan terpapas kutung seperti di potong pisau.
Dan barulah pada saat itu, kuda Wan Ci dapat berlari kemuka lagi.
Kaget si nona taak terkira.
Hampir saja ia dilempar jatuh oleh kudanya sendiri.
Ketika ia hendak mengirim tebasan pedang kebelakang ternyata jaraknya sudah jauh dengan si bongkok.
"dilain sat, secepat kilat si bongkok lari mengejar kuda tunggangannya yang masih tetap lari sendirian itu, sekali enjot ia sudah berada diatas pelana kudanya, terus lenyap tak berbekas lagi. Dipermainkan begitu, Wan Ci panas sekali hatinya, saking gusarnya ia sampai menangis sembari mewek-mewek seprti anak kecil ia menyerukan sang suhu. Semua kejadian itu, ternjadi didepan mata Hwi Ching, sebagai seorang kagouw ulung, ia cukup dapat menimbang. Kesalahan ada dipihak muridnya sendiri, dan untuk itu sebenarnya ia akan memberi teguran pedas. Tapi ketika melihat sang murid mengucurkan air mata, ia dapat berlaku sabar, dan tidak jadi menyemprotnya. Pada saat itu sekonyong-konyong, dari arah depan terdengar seorang berteriak.
"Aku, Bu Wi Yang, Aku, Bu Wi Yang. Mendengar suara itu, Wan Ci Heran, lalu bertanya.
"Suhu, apa artinya itu? "itulah pengawal kantor Piauw-kok yang sedang menjalankan tugasnya, setiap piauw-kok tentu mempunyai pekerjaan yang tuganya untuk meneriakan pemimpin Piauw-koknya. Agar dengan demikian sahabat-sahabt dari persilatan segera mengenalnya, dan tidak mengganggu. Pekerjaan Piauw-kok untuk mengantar barang, 2 apertiaga bagian mengandadalkan hubungan baik dengan kalangan hoklim. Dan selebihnya baru mengandalkan pada kepandaian si piausu. Makin luas pergaulan sipiauwthao makin terjaminlah keselamatan barang-barang bawaannya. Karena kebanyakan, memandand muka sipiauwsu, kaum hoklim tentu segan mengganggu. Andai kata kau yang menjadi piauwnya tentu banyak orang yang akan mengganggu, dan walaupun kau punya kepandaian sepuluh kali lipat dari sekarang karena sikapmu tadi dan jangan harap kau akan selamat mengantar barang, jelas Hwi Ching. Demikianlah panjang lebar Hwi Ching memberikan nasehat dan keterangan pada liteecunya, sekalian secara halus ia menjewernya. Wan ci mengerti akan kata-kata suhunya itu, dan pikirnya tak mau kalah !"
"Siapa sih yang sudi menjadi pauwsu dalam hati, namun tak berani mengutarakan untuk membatah suhunya. Malah ia unjuk ketawa seraya berkata .
"Suhu, massfkan aku yang salah, Piauw-kok manakah yang diteriakkan oleh orang itu ...?"
"Itu, Tin Wan Pauw kok dari Pekkhia, dia daerah utara dia yang terbesar, cabang-cabangnya berada di kota Hong Thian, Kee Lam, Khayhong dan Thay Gwan. Pemimpin piauwtao Ong Wi yang dari Wi Tin Ho, usianya sudah hampir tujuh puluh tahun. Tin Wan piau-kok sudah berdiri selama empat puluh tahun, tapi dia masih belum mau pensiun menikmati hari tuannya !"
"Suhu kau kenal dengan cong piauw thoanya, iyu ?"
Tanya Wan Ci.
"Aku pernah bertemu dia. Dengan sebatang golok Pat Kwa too dan ilmu pukulan Pat Kwa-ciang, ketika itu ia menjagoi dikalangan persilatan."
"kalau begitu harap nanti suhu suka perkenalkan aku dengannya, agar aku dapat berkenalan dengan loo enghiong itu!"
Seru Wan Ci dengan bersemangat.
"Mana ia mau keluar mengantar. Tolol betul kau ini!"
Merasa dirinya selalu dipersalahkan oleh sang suhu. Wan Ci agak mendongkol, ia mengakui bahwa sangat asing dengan keadaan di kangouw, justeru itulah dia kepingin mengetahuinya.
""Aku tak mengerti, seharusnya dikasih tahu kenapa masti disemprot?"
Begitulah ia mengerutu didalam hati, cepat ia keprak kudanya, memburu kearah kereta yang ditumpangi ibunya, disitu ia akan menghibur kemendongkolannya, ia menjadi kaget tak terkira, sewaktu-waktu mengetahui separoh bulu ekor kudanya sudah kutung, sekalai menebas dapat mematahkan sebatang tombak tak mengherankan, tapi mengapa bulu ekor kuda yang sedemikian lemasnya itu, dapat dikibas kutung dengan tangan kosong.
Sebenarnya akan ditanyakannya hal ini pasa suhunya, namun ia masih mendongkol, maka segera ia keprak lagi kudanya menghampiri pemimpin pengawal Can Tho Lam, katanya .
"Can Samciang, ekor kudaku entah bagaimana tadi, kutung separoh, sungguh tak sedap dilihat mata."
Tho Lam mengerti maksud si nona.
"Entah bagaimana, kulakukan ini sangat binal sekali, aku tak dapat mengatasinya, siocia punya kepandaian naik kuda yang bagus sekali, bantulah aku untuk menjinakkan, sukakah socia?"
Demikian tanyanya pura-pura.
"Dikuatirkan aku pun akan gagal,"
Kata Wan Ci merendah. Begitulah ke 2nya segera saling tukar tunggangan. Ternyata kuda Thio Lam itu demi mendengar perintah, sedikitpun tak berani membantah tidak seperti yang dikatakan Thio Lam tadi.
"Siocia kau sungguh hebat, sedang kuda itu pun menurut padamu."
Kata Thio Lam memuji.
Orang piauw kok yang berteriak-teriak itu makin dekat dan tak lama kemudian ternyata terlihat sebuat rerotan yang terdiri dari lebih dari 2 puluh buah.
Kuatir kalau ada kenalannya, buru-buru Hwi Ching bersembunyi kebelakang rombongan, ia pakai topi rumput yang lebar untuk menutupi separoh mukanya, dan diam-diam ia pasang mata pada rombongan piaukok itu.
Ketika saling bersimpangan, ternyata dalam rombongan piuwkok itu tak kurang dari tujuh atau delapan orang piuwsu.
Kata salah seorang diantaranya .
"Kalau menurut omongan Han Toako, Ciao Bun Ki samko sudah ada beritanya."
Terkejut sekali Hwi Ching dan cepat-cepat ia pandang lagi piawsu itu dengan tajam, muka orang itu brewok, kulitnya kehitaman, dibelakang pinggannya mengendong sebuah pauwhok merah, serta sepasang senjata yang aneh bentuknya, yaitu disebut Ngo beng Lun semacam roda.
"Apakah mereka itu bukan Kwantong Liok Mo"
Pikir Hwi Ching Kwantong Liok Mo atau enam iblis dari Timur tembok besar, yang disebut itu, selain Ciao Bun Ki, dia memang belum pernah berjumpa.
Kabarnya yang kelima iblis itu tinggi kepandaiannya, yang kelima yakni bernama Giam See Cui dan yang keenam Giam See Ciang, ke 2nya bersenjatakan roda Ngo heng lun.
Mereka adalah dari golongan Siao Lim pay.
Terasalah pada Hwi Ching, bahwa kali ini dia bakal bersamplokan dengan murid-murid siao lim pay yang lihay.
Diam-diam dia gelisah.
Kalau saja mereka mengetahui tentang kematian Ciao Bun Ki, tentu sangat berbahaya untuk dirinya.
Apalagi kini dia sedang mengantar rombongan keluarga Li dan terutama adalah Wan Ci muridnya yang berwatak keras dan suka membikin keonaran.
Itu.
Tentu sukar untuk mengelakan pertempuran dengan kawanan iblis kwantong itu.
Kalau dilihat glagatnya, mereka untuk menangkap dirinya.
Dianatara rombongan piawsu itu ada Tio Pan-san salah seorang sahabat lamanya.
Tentu orang itu takkan tega mencelakan dirinya.
Bertujuan apa mereka menuju ke barat, Hwi Ching tak mengerti.
Kalau Hwi Ching sedang memutar otak untuk mencari tahu, sementara Wan Ci ketika itu, sudah bertukar kuda dengan Thio Lam telah merasa geli melihat kuda yang kini dinaiki oleh orang she Can itu, yang separoh ekornya hilang.
Ia hentikan kudanya untuk menunggu sang suhu lalu katanya dengan tertawa .
"Suhu mengapa dimuka sudah tak ada orang yang mendatangi lagi. Dari kemarin samapai hari ini, sudah ada lima pasang orang berilmu menuju ke Barat. Aku masih ingin melihat beberapa lagi. Ucapan itu seperti menyadarkan Hwi Ching dari lamaunan.
"Ah, aku sungguh tolol"
Seru Hwi Ching sembari menpuk pahanya.
"Mengapa aku sampai lupa, beribu li menyambut san kepala naga itu!"
"Apa yang dimaksud dengan beribu li menyambut kepala naga"
Itu, suhu? Tanya si murid.. ...
"Itu, suatu upacara besar-besaran di kalangan kangouw atau dalam suatu perkumpulan. Biasanya terjadi atas diri enam orang pemimpin teratas, satu demi satu mereka keluar untuk menyambut sang pemimpin dalam upacara yang besar dan lengkap. Malah terdiri dari 2 belas, sepasang demi sepasang mereka menyambutnya. Tadi sudah keluar lima pasan, nanti tentu masih ada lagi sepasang.
"Mereka itu tergolong dalam perkumpulan apa, shu....?"
"Entahlah, akupun belum mengetahuinya."
Sahut Hwi Ching.
"Tapi seechwan song hiap dan bongkok itu orang-orang yang berkepandaian tinggi. Mereka anggota perkumpulan itu. Pengaruhnya tentu besar jangan kau coba mengila dengan mereka, mengerti?"
Mulut mengiyakan, tapi hati Wan Ci tak tunduk.
Ia perhatikan betul-betul pasangan yang akan datang nanti.
Lewat tengah hari ternyata masih belum tampak orang yang diharapkan itu, Hwi Ching diam-diam merasa aneh juga, karena hal itu sungguh diluar kebiasaan yang pernah diketahui.
Tapi dia tak usah menunggu terlalu lama, segera terdengar juga suara kaki kuda mendatangi.
Anehnya mereka itu tidak datang dari arah belakang.
Menyusul bunyi kelenengan keledai, debu tampak mengepul keatas dan rombongan besar dari kaum musafir atau pedagang-pedagang di daerah gurun pasir tampak menghampiri.
Setelah dekat, tampak berpuluh-puluh ekor keledai dan kira-kira tiga puluh ekor kuda dari suku bangsa Wi.
Rata-rata mereka berhidung tinggi dan matanya cekung kedalam, mukanya brewokan dan kepalanya dibungkus dengan kain putih.
Pedagang-pedagang Wi datang dari daerah Hwee, dimana penduduknya sebagian besar orang-orang muslim.
Mereka pergi ke daerah Tianggoan untuk berdagang.
Hal ini adalah kejadian yang biasa karenanya tak menarik perhatian Hwi Ching.
Tapi pada saat itu, tiba-tiba dari rombongan tersebut namapak seorang gadis yang berpakaian kuning, menunggang kuda putih.
Gadis itu cantik sekali berseri-seri memikat mata.
Ia memakai topi tinggi, diatasnya tersampir sebuah bulu burung.
Menambah keanggunan semakin tampak.
Kalau Hwi Ching hanya sepintas saja memandang gadis WI yang cantik itu, Wanci mengawasi dengan teliti penuh pesona.
Ia yang dilahirkan di daerah perbatasan itu, belum pernah melihat wanita ayau, apalagi secantik gadis itu.
Usia gadis itu sebaya dengan Wan Ci, kira-kira delapan belas atau sembilan belas tahun.
Dibalik pinggangnya terselip badi-badi, sedangkan rambutnya dikuncir dibiarkan menjulur keatas bahunya.
Warna pakaian kuning telur tepinya disulam dengan benang emas.
Diatas pelana seekor kudaputih, ia mirip dengan lukisan yang indah.
Seorang wanita cantik, tentu menggundang perhatian pria.
Tapi dalam pandangan sesama kaum wanita, hanya menimbulkan kekaguman yang tak terhingga.
Ketika gadis Wi itu lewat disisinya, Wan Ci segera menguntit dengan mata tak terkesiap.
Si gadis Wi melihat dirinya dikuntit dan diawasi oleh seorang pemuda Han.
Wan Ci waktu itu menyamar sebagai laki-laki, sontak mukanya menjadi merah, tiba-tiba berseru.
"Ayah."
Seorang Wi yang bertubuh tinggi dan berewokan, cepat keprak kudanya untuk menghampiri. Begitu dekat ia lalu tepuk pundak Wan Ci, katanya.
"Eh, sobat kecil, mau kemana..sih?"
Wan Ci perdengarkan suara, huh.
Ia masih belum sadar kalau dirinya waktu itu berdan dan seperti seorang pemuda.
Dalam keadaan begitu, sudah tentu tak pantas kalau seorang gadis diawasi sedemikian itu.
Si gadis mengira Wan Ci adalah seorang pemuda yan tak tahu adat, segera ia pakai cambuk untuk mengaet bulu suri kuda Wan Ci, begitu ia tarik sekeras-kerasnya , seketika kuda itu kesakitan dan berjingkarak-jingkrak hingga Wan Ci hampir jatuh.
Menyusul cambuk ditangan si gadis berkelebat diudara, jebolan bulu suri itu berhamburan kemana-mana.
Wan Ci panas hatinya, cepat ia ambil sebatang Piauw, lalu ditimpukan ke punggung si gadis.
Namun ia tak sungguh-sungguh hendak melukai si gadis, maka berbareng dengan piauw itu melayang, cepatcepat ia berseru .
"He, nona kecil, awas ada piaw!"
Tubuh si gadis kelihatan dimiringkan kekiri, maka lewtlah piauw itu disisi tubuhnya, begitu piauw terpisah satu tombak dimukanya, cambuk si gadis Wi itu kembali disabetkan, dengan secara mengagumkan ujung cambuk itu melilit piauw dan terus ditarik kembali untuk disambut dengan tangan, segera ia pun menjadi gusar, bentaknya .
"He, bocah kurang ajar terimalah piauwmu kembali. Angin menderu, dan piauw itu lurus menyambar kearah dada Wan Ci. Wan Ci juga tak mau memperlihatkan kelemahan dengan tangan kosong, ia tangkap piauw itu. Kalau rombongan orang Wi bersorak begitu melihat si gadis menangkap piauw dengan cambuknya, sebaliknya wajah si ayah berubah cemas. Dia membisiki beberapa patah kata pada gadisnya, dan gadisnya pun mengangguk mengiayakan beberapa kali. Dengan demikian, ia tidak memperdulikan Wan Ci Lagi, terus melarikan kudannya kemuka, di kuti oleh rombongan keledai berpuluh-puluh itu. Tak beberapa lama, mereka dapat mendahului rerotan kereta yang membawa keluarga Li Thay-thay itu.
"Sekarang belumkah kau merasa bahwa diluar langit, diatas orang masih ada orang lagi. Gadis tadi umurnya sama denganmu, bukankah kepandaiannya tadi harus kau akui?"
Demikian Hwi Ching mencemoohkan muridnya.
"Anak Wi itu, siang dan malam berada diatas pelana kuda, sudah barang tentu permainan cambuk sangat bagus, tapi belum tentu kalau ia sungguh-sungguh mempunyai kepandaian bantah Wan Ci.
"Masa tidak?"
Sahut Hwi Ching dengan mengoda Menjelang sore, tibalah mereka dikota Poh Liong Kit. Disitu hanya ada sebuah penginap besar, yaitu penginapan "Tong Lat"
Dimuka pintunya tergantung sebuah papan yang bertuliskan "Lin Wan Piauw kok"
Nyata bahwa rombongan piawsu itu tadi, menginap di penginapan itu.
Di napi oleh 2 rombongan besar pelayan-pelayannya nampak sibuk sekali, sehabis cuci muka Hwi Ching kelihatan membawa sebuah tempat teh masuk kedalam ruangan.
Disitu dilihatnya ada 2 buah meja yang sedang dikepung beberapa orang yang tengah makan dan minum, mereka adalah kawanan piuwsu tadi.
Malah pauwsu yang mengendong pauw hok merah itu tadi juga nampak duduk disitu.
Hwi Ching berlagak melihat keatas, maka kedengaran salah seorang piawsu itu tertawa dan berkata .
"Giam ngo-ya, kalau kau dapat membawa kitab itu dengan selamat sampai ke kota raja, maka Yaum Ciangkun akan memberikan hadiah beberapa rtus tail kepadamu? Waktu itu harap jangan lupa undang kami buat daharan yang besar!"
Mendengar itu diam-diam Hwi Ching berpikir dalam hatinya.
"Betul dia adalah orang kelima dari Kwan Tong Liok Mo si Giam sengui.
"Hadiah besar hah, siapun tak berani memastikannya, demikian sahut she Giam itu. Ucapan itu tiba-tiba diputus oleh sebuah suara aneh dari sesorang .
"Ya, yang dikuatirkan adalah hadiah itu akan tenggelam pada si penerima terus."
Hwi Ching melirik pada orang itu. Orang itu mukanya menakutkan, badannya kurus kering, dia juga seorang piauwsu rupanya.
"Hem, jengek she Gui dengan kurang senang."
"Tong Si Ho, lidahmu itu betul-betul beracun, kata piauwsu yang pertama-tama bicara tadi.
"Ya, deh, jika tak mau dikatakan tenggelam, nah, biarlah aku bilang ganjalan itu nanti akan berwujud si cantik manis yang sedia dipanggil sahut Tong Siu Ho yang ternyata bermoral rendah. Mendengar kata-kata orang makin tak sopan Giam Se tak tahan lagi, kontan ia memaki.
"Ibumu saja yang kupanggil nanti"
"Baik, dan nanti aku nanti kau sebut ayah anagkat, kata Tong Siu Ho yang bermuka tebal sambil cengar-cengir. Hwi Ching menjadi sebal mendengar kata-kata orang yang koor-kotor itu. Pikirnya lantas hendak menyingkir, tapi tiba-tiba didengarnya Tong Siu Ho buka suara lagi.
"Giaw Ngo-ya tuan kelima kalau bergurau biarlah kita bergurau, tapi bila sungguh-sungguh tentu juga sungguh-sungguh. Nah, paling penting jagalah baik-baik pauw hok di punggungmu itu saja, jangan terus kau ributi ganjaran. Yang belum kau terima itu kali ini Tin Wanpiau kiok kita benar-benar sedang diuji!"
Mendengar orng menjadikan "Pauwhok"
Atau buntalan sebagai barang cerita, waktu Hwi Ching menengas nyata pauhok yang dimaksudkan tergemblok di punggung Giam Se-gui terbungkus kain kuning dan tak seberapa besarnya maka dapat ditaksir barang didalamnya tentu kecil-kecil saja.
Sementara itu didengarnya Giam se-Gui itu telah menjawab.
"Tong siaocu, kau jangan ngelantur terus. Kali ini hasil yang diperoleh Giam yaymu yang telah mendapatkan kitab itu, bukankah cukup membikin mereka setengah mati. Aku Giam se-gui, betul-betul memakai modal kepandaian buat mendapatkananya. Tak seperti sebangasa cecurut yang menggamblok orang selain hanya dapat gegares makanan biasanya Cuma berlagak saja!"
"Ya, ya, Kwantong Liok Mo, sih memang terkenal hebat, hanya sayang sedikit sam mo iblis setelah telah dikerjai orang, dengan tanpa diketahui siapakah adanya musuh itu, kata Tong siu-ho pula. Seketika Giam See-gui menggebrak meja.
"Siapa bialang aku tak tahu! Itu tentu perbuatan orang Hong Hwa Bwee!"
Teriaknya sengit.
Kembali Hwi Ching merasa heran.
Yang membunuh Ciao Bun Ki salah seorang Kwantong Liok Mo, adalah dia.
Mengapa mereka timpakan kesalahan pada kaum Hong Hwa Bwee.
Apakah perkumpulan Hong Hwa Bwee -bunga merah itu?
Ketika itu Hwi Ching berjalan sampai keruang dalam.
Dia pura-pura mengagumi bunga-bunga yang tumbuh tak seberapa jauh jaraknya dengan kawanan piauwsu itu.
Tong sin tak mau kalah mengadu lidah katanya lagi .
"Sayang aku tak bertulang keras bisaku hanya gegares makanan, kalu aku seorang pemberani tentu siang-siang sudah aku bikin perhitungan dengan orang"
Dibikin panas begitu, tubuh Giam see-gui gemetar, hingga tak dapat mengucap sepatah perkataan appun. Melihat itu buru-buru salah seorang piauwsu menyelutuk.
"Cong-tho cu atau ketua umum, Hong Hwa Bwee, Hong Hwa Bwee, si Le Ban Teng bulan yang lalu sudah meninggal dunia di Bu-Sik. Setiap orang Hong Hwa Bwee itu, suatu hal yang tak ada buktinya. Coba siapa yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri? Kau cari balas pada orang, tapi orang itu tak merasa melakaukan apa daya kita?"
Dengan sahautan begitu, Tong sin-ho kemekmek, buru-buru ia menerangkan lagi.
"Hong Hwa Bwee sih kita tak berani main gila. Tapi untuk orang-orang Bwee masa kita jerih. Kita sudah dapat merampas kitab yang bagi mereka dianngap melebihi jiwanya itu. Kalau kelak Jauw ciangkun minta tebusan uang atau ternak berapa saja, mereka tentu meluluskan. Giam ngo ya, percaya Jauw ciangkun tentu akan menghadiahi kau seorang gadis Bwee, yang cantik bukan main. Baru saja orang she Tong yang pandai bicara itu hendak menghabisi ucpannya, sepulung tanah malah melayang tepat masuk kedalam mulutnya, belum sempat ia berteriak kesakitan, 2 orang piawsu sudah melesat memburu keluar. Diam se-gui pun bangkit, seraya meloloskan senjatanya mengikuti keluar. Tapi ternyata mereka hanya hendak menjaga bungkusan pauwhok yang dibungkus dengan kain merah itu saja. Mereka tak mau mengejar kuatir terkena tipu musuh yang disebut, memancing harimau keluar gunung.
"Bajingan!"
Bangsat. Demikian Tong Sin ho memuntahkan pulungan tanah tadi dari mulutnya, seraya tak putus-putusnya memaki-maki.
"Selama ini kukira bangsa anjing saja yang makan kotoran, tapi hari ini betul-betul aku tambah pengalaman bahwa orangpun ternyata makan tanah! Seru Giam See Gui mengejek. Pada saat itu, ke 2 piauwsu yang mengejar tadi yakni Tee Ing Hing yang bersenjatakan Hwan pian dan Ci Ceng Lun yang memegang golok, tampak masuk kedalam katanya .
"Bangsat itu lolos entah kemana larinya!"
Semuanya telah dilihat dengan mata kepala Hwi Ching.
Bagaimana Teng Siu Ho yang bermulut tipis itu, kini seperti monyet kena terasi.
Untuk itu hampir-hampir Hwi Ching tak kuat menahan gelinya.
Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat diatas ujung tembok.
Ia pura-pura tak melihatnya, dan berlagak orang yang sedang mencari angin diserambi luar.
Ketika itu hari sudah gelap, Hwi Ching sembunyi di pojok tembok sebelah barat dari ruang tamu.
Pada saat itu, tampak sebuah bayangan loncat turun dari pojok rumah.
Begitu enteng gerakannya, dan begitu menginjak tanah, terus melesat kesebelah timur.
Tadi ketika Tong siu ho rasakan "daharan"istimewa, Hwi Ching sudah menduga bahwa sipelemparnya itu tentu sangat lihay.
Kuat dugannya bahwa bayangan itulah orangnya.
Untuk mencari tahu, Hwi Ching segera menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menguntitnya.
Dia masih memegang porot tempat teh.
Berpuluh-puluh tahun dia yakinkan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tak tampak gerakannya berjalan.
Maka orang yang di kutinyapun sampai tak merasa.
Dalam sekejap saja, ke 2nya sudah berlari sampai lima atau enam li.
Bayangan itu tubuhnya ramping dan gerakannya gemulai, mirip dengan seorang wanita.
Tapi ilmu meringankan tubuhnya tinggi juga.
Melewati sebuah tikungan gunung sampai pada sebuah hutan dan bayangan itu menyusup kedalam.
Hwi Ching memburunya terus.
Di hutan itu ternyata penuh dengan daun-daun layu yang sudah rontok ditanah, maka begitu kaki menginjak, tentu timbulkan suara berkeresekan.
Takut kalau bayangan itu sampai mengetahui, Hwi Ching kendorkan langkahnya.
Tapi pada lain saat, dia telah kehilangan arah bayangan itu.
Ada sebuah larangan untuk kaum kangouw bahwa "bertemu dengan hutan tak boleh memasuki"
Dan karena hutan itu sangat lebatnya mudah sekali dibokong musuh.
Hwi Ching sangsi pikirnya akan mundur saja.
Tapi justeru ketika itu, rembulan muncul dari balik awan, menerangi seluruh hutan itu.
Tampak olehnya sesosok bayanagan kuning, sudah melintasi keluar dari hutan sebelah sana.
Dengan tak berayal lagi, Hwi Ching terus mengikuti.
Dia bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar.
Diseberang sana ternyata adalah sebuah lapangan rumput yang luas.
Disitu terdapat delapan atau sembilan buah tenda.
Dia merasa aneh dan coba untuk maju mengintip.
Tadi sekonyong-konyong tampak 2 orang penjaga menghampiri kejurusannya.
Cepat-cepat ia menghindar.
Dengan gerakan, yan-sam co cun, burung seriti tiga kali menyelundup keair ia loncat bersembunyi dibelakang seekor keledai yang berada diluar tenda.
Untunglah penjaga itu tak melihatnya.
Dengan ilmu yang tinggi dan nyali besar, ia menyelonong kebelang kemah terbesar yang berada di tengah-tengah.
Disitu ia mendekam.
Kedengaran didalam kemah tersebut ada orang tengah bercakap-cakap dengan asyik sekali menggunakan bahasa Wi, yang diucapkan dengan cepat sekali.
Wlaupun Hwi Ching bertahun-tahun tinggal diperbatasan tapi ia tak mengerti bahasa itu.
Pelahan-lahan ia singkap kain tenda dibawah kakinya, lalu mengintip kedalam, tampak Didalamnya dipasangi 2 buah pelita yang ditaruh ditengahnya.
Orang-orang yang tengah bercakap-cakap didalam itu, ternyata adalah pedagang-pedagang bangsa Wi yang ditemuinya siang tadi.
Yang tengah bicara ketika itu ternyata adalah si nona baju kuning yang bukan lain adalah bayangan yang diburunya tadi.
Setelah merendek sebentar, nona itu tampak mengeluarkan sebilah badi-badi dari pinggangnya.
Nona itu pakai badi-badinya untuk menusuk jari telunjuknya.
Maka bertetes-tetelah darah kelihatan bercucuran.
Perbuatan itu dituruti oleh kawanan orang Wi yang mengores jarinya dengan goloknya masing-masing.
Orang yang dipanggil ayah oleh si nona itu, segera mengangkat cawan araknya, serta dengan suara lantang dia mengucapkan beberapa patah perkataan.
Apa yang Hwi Ching dengar hanya dapat menangkap perkataan "Qur"an"
Dan kampung halamannya."
Juga nona baju kuning ikut angkat bicara suaranya nyaring dan terang, untuk itu Hwi Ching bisa juga sedikit-sedikit menangkapnya.
"Jika tak dapat merampas balik Kitab Suci "Qur"an"
Aku bersumpah biar matipun aku tak mau balik ke kampung halaman."
Sumpah itu di kuti oleh orang-orang Wi dibawah sinar pelita.
Hwi Ching menyaksikan bagaimana kesungguhan wajah mereka itu sehabis mengucapkan sumpahnya mereka samamengangkat cawan dan mngeringkannya, mereka lalu berbisik-bisik seolah-olah sedang berunding masalah yang penting.
Sampai disitulah Hwi Ching tak dapat mendengar dengan jelas.
Mungkin mereka merunding daya apa untuk dapat merebut kembali kitab suci "Qur"an"
Itu.
Dugaan Hwi Ching ini ternyata tidak salah.
Rombongan orang-orang Wi itu ternyata kaum musafir dari daerah utara gunung Thian san.
Kali ini mereka datang dengan jumlah besar-besar kira-kira ada 2 ratus ribu orang.
Mereka terdiri dari kira-kira 2 puluh orang Wi, orang tinggi yang dipanggil ayah oleh si gadis itu.
Dia berkepandaian tinggi, adil dan bijaksana.
Ditaati dan dijunjung oleh bangsanya.
Nona baju kuning itu, adalah puterinya namanya Hwee Cing Tong.
Ia adalah murid kesayangan dari Kwan Bing Bwee, isteri dari Thian san Ki Hiap Tan Ceng Tik.
Karenanya ia telah dapat mewarisi ilmu silat yang sejati dari cabang Thian San Pay.
Thian san Ki Hiap Tan Ceng Tik dan isterinya Kwan Bing Bwee, adalah jago-jago Thian san pay sukar dicari tandingannya, suami isteri itu digelari seperti Thian san siang eng, sepasang garuda dari Thian san.
Ke 2 suami isteri itu aneh sekali.
Mereka sudah berusia enam puluh tahun lebih, tapi bila berjumpa, tentu bercidera, sebaliknya kalau saling berpisah, mereka saling merindukan.
Seringkali Hwee Ceng Tong datang sama tengah, tapi ternyata selalu tak digubris.
Ia suka dengan pakaian kuning.
Kopiahnya selalu ditancapi bulu burung cuhung, karenanya ia mendapat julukan bagus, Cu oh W sam, atau si Bulu hijau berbaju kuning.
Orang-orang Wi itu hidup berkelana, tak punya tempat tinggal tetap.
Ketika kekuasaan Pemerintah Ceng meluas sampai kedaerah Wi, mereka dibebani dengan pajak yang memberatkan.
Bermula Bok tok loh masih mudah dan membayarnya.
Tapi ternyata pembesar-pembesar negeri itu telah menyalahkan gunakan kekuasaannya untuk mengeduk keuntungan, hingga bangsa Wi itu, betul-betul menjadi payah.
Bok Toh Lon bermupakat dengan bangsanya, merasa mereka betul-betul akan rudin.
Beberapa kali merek mengirim utusan kepembesar di Le-li guna minta keringanan yang didapat malah pemerintah Ceng menaruh kecurigaan keras.
Jenderal besar Yauw Hwi Ceng mengetahui adanya kitab Quran, yang menjadi pusaka suku bangsa Wi yang beragama islam itu.
Menggunakan kesempatan ketika Bok Tok lun sedang bepergian, beberapa pengawal kelas satu telah dikirim untuk merampas kitab suci itu.
Dengan kitab itu ditangan pemerintah Ceng tak dikuatirkan akan terjadinya pemberontakan dari suku itu.
Piauwhok yang dibungkus kain merah dibelakang punggung Giam se-gui itu terisi kitab suci tersebut.
Rapat besar ditengah gurun yang diadakan Bok toh lun telah ambil keputusan bahwa mereka telah bertekad bulat, untuk merampas kembali kitab pusaka itu.
Mengetahui bahwa gerak-gerik orang Wi itu tak ada sangkaut pautnya dengan dirinya, Hwi Ching segera akan berlalu.
Tiba-tiba dilihatnya orang-orang Wi itu bersama-sama melakukan sembayang (sholat).
Buru-buru dia bangkit, gerakkannya ini tak luput dari pengawasan mata Hwee Ceng tong yang tajam dan tampak berbisik diteklingga ayahnya.
"Ayah, diluar ada orang mengintai"
Omongannya itu di kuti dengan loncatan keluar tenda.
Nampak ada sesosok bayangan lari keluar hutan, ia segera ayun tangannya untuk melepas sebuah thi lian cu senjata rahasia berbentuk seperti biji teratai.
Mendengar sambaran angin dari arah belakang, Hwi Ching mengegos tubuhnya kesamping sambil mencekal theekoan, ia ulur ibu jari dan telunjuk untuk buka tutupnya, sesaat kemudian Thi-lian cu itu meluncur masuk kedalam tekoan, tempat the.
Dengan tak menoleh sedikitpun, Hwi Ching percepat larinya untuk kembali ke kamarnya, sampai disana semua orang sudah tidur semua.
"Losianseng sampai begini lama, kemana saja tadi, tanya seorang pelayan. Hwi Ching hanya menjawab sembarangan saja. Di kamar ia periksa Thi Lian-cu itu, yang terbuat dari baja murni, diatasnya terdapat ukiran bulu burung, piauw itu dimasukkan dalam sakunya. Keesokan harinya, rombongan piauwsu itu berangkat lebih dulu, si petugas yang berteriak Aku Bu Wi yang, disepanjang jalan, kembali berteriak lagi, dimukanya ada bendera Pat-kwa can Tin-wan paiaw-kok! Barang-barang yang diantar oleh kantor Piauw hang tersebut ternyata tak seberapa banyak, yang penting piawsu itu dapat melindungi Thiam See Gui. Terang bahwa barang merah itulah satu-satunya barang berharga yang harus di jaga. Seleng setengah jam kemudian, rombongan Can som ciang yang mengawasi Li thay-thay pun berangkat. Tengah hari tibalah mereka di Oei yan-cu. Dari situ harus melalui jalan diatas gunung yang menanjak dan berkelok-kelok. Mereka rencanakan sore harinya sudah dapat melintasi jalan itu mencari penginapan di desa Sam to-ko yang terletak di kaki gunung sebelah sana. Jalanan gunung itu sangat sukar dan berbahaya. Wan Ci dan Cian som ciang berada dibelakang di Thay-thay. Mereka kuatir kalau keledai yang menarik kereta nyonya pembesar itu akan terpeleset masuk ke jurang yang dalam. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di mulut lembah Oh Kiem. Disitu kelihatan rombongan Piauwsu Tin Wan Piuw-kok melepaskan lelah. Juga Cam som ciang perintahkan rombongannya untuk beristirahat. Ke 2 samping dari selat Oh Kiem adalah gunung-gunung yang tinggi. Jalanan disitu sangat menanjak sekali. Jadi orang harus berhenti diatas bukit. Hwi ching berada disebelah belakang sendiri. Dia selalu membelakangi supaya jangan dilihat oleh kawanan piauwsu iti. Setelah memasuki mulut lembah tampaklah barisan rombongan piuwhang dan rombongan keluarga Li itu seperti seekor ular panjang, melingkar-lingkar keatas. Orang dan binatang-binatang sama menahan napas untuk mengerahkan tenganya. Segera mata Hwi Ching yang jeli dapat melihat sebuah bayangan berkelebat diatas puncak gunung seperti lakunya seorang mata-mata yang tengah menginti. Dan tepat pada saat itu terdengar bunyi kelenengan keledai, serombongan orng Wi dengan menunggang kuda, tampak berjalan turun dari arah depan dengan laju. Orang-orang piuwhang berteriak-teriak, supaya mereka orang Wi mempertahankan kudanya.
"Hai, sobat, mau cari mati, ya ?"
Seru Tong siu-ho Sekejap saja orang-orang Wi itu sudah berada didepan, tiba-tiba beberapa dari mereka kedengaran seperti menyanyi dengan keras sekali suaranya jauh berkumandang dilembah, dari ke 2 samping puncank gunung, kelihatan ada orang yang mendadak berdiri, maka nyanyian itupun berhenti.
Belum habis orang-orang piuwhang itu terkejut, tiba-tiba dari rombongan orang-orang wi itu terdengar suitan, dan 2 penunggang kuda segera kaburkan binatangnya kearah Giam See Gui.
Terang mereka hendak menyerang pada Giam See-gui dan menyusul empat penunggang keledai dari Wi tampak mengepung Giam See-Gui dari empat jurusan.
Melihat gelagat kurang baik, Kwantong hok-mo hendak meloloskan senjatanya, tapi sekonyong-konyong keempat orang Wi itu mengayunkan senjatanya untuk menyerang Giam See-gui, senjata mereka aialah gembolan besar yang tak kurang dari empat ratus kati beratnya.
Nyata bahwa keempat orang Wi sangatlah kuat.
Betapun lihaynya kepandaian Giam see-gui, namun penyerang itu dilakukan dengan cara mendadak, empat buah gembolan menghantam dari empat jurusan, andaikata ia keburu menangkis yang dimuka, yang dibelakang dan kanan kirinya sukar dihindari, maka seketika itu juga hancurlah kepala Giam see-gui.
Dari dalam rombongan orang Wi, melesatlah seorang nona berbaju kuning, sebat luar biasa ia loncat turun dari kudanya terus menyawut puhok dipunggung Giam see gui, tapi ketika ia gunakan pedang untuk memotong tali pauhok itu, sebuah sambaran angin menyerangnya.
Nona itu ternyata Hwee ceng tong, tak mau berpaling untuk menangkis, dengan hanya melejit kesamping ia terus bekerja memotong tali, tapi penyerang itu sangat sebat juga, belum sempat ceng liong mengulurkan tangan untuk menyambar piuwhok, kembali pedang berkelebat menghantam pinggangnya.
Ceng tong tidak berdaya berkelit, terpaksa ia putar pedangnya untuk menangkis segera letikan api muncrat dari 2 bilah pedang yang berhantaman itu.
Diam-diam gadis Wi itu mengakui lihaynya lawan.
Dan dia makin berhati-hati.
Kembali ia ulur tangan kirinya untuk betot pauwhok yng masih dipunggung Giam see-gui yang sudah jadi mayat itu, tapi lagi-lagi pedang pnjang musuh menusuk lengannya cepat sekali.
Ceng tong menarik tangan kirinya untuk digerakkan menurut jurus serangan dan pedang ditangan kanan menyusul sodokan.
Ketika ia mendongakkan kepala untuk mengawasi penyerang yang telah tiga kali merintangi itu, ternyata orang itu bukan lain dari anak muda cakap yang berlaku kurang adat kepadanya itu dulu.
Marahlah ia, lalu mengirimkan serangan yang bertubi-tubi.
Si penyerang bukan lain ialah Li Wan-ci yang menyamar sebagai lelaki.
Melihat rombongan pedagang Wi menyerang rombongan Pauhang ia sebenarnya akan tinggal diam dan saling berkelahi.
Tapi tiba-tiba dilihatnya seorang gadis berpakaian kuning, loncat ketengah untuk merampas pauhok Giam See-Gui.
Dia itu yang kemaren menjebol bulu suri kudanya, dan ia pulalah yang dipuji setinggi langit oleh suhunya.
Darah remajanya, tak kenal kalah.
Wan-ci sungguh penasaran sekali.
Ia tak ambil pusing siapa yang benar dan siapa yang salah diantara rombongan yang sedang bertempur itu.
Pokoknya ia maukan si gadis Wie itu.
Dengan menggunakan ilmu mengentengkan tubuh ia hampiri si gadis itu untuk diajak berkelahi.
Tiga serangan berantai dari Ceng tong telah dapat dipunahkan oleh Wan Ci.
Melihat itu, Ceng Tong heran juga kaum Wie itu mengetahui juga bahwa pauwsu-pauwsu itu lihay-lihay semua.
Dengan kekerasan, mungkin gagalah rencannya untuk merampas kitab suci itu.
Dipilihnya mulut selat Oh Kimyang sangat berbahaya itu, untuk mengadakan sergapan yang tak terduga begitu berhasil, mereka segera akan kembali ke daerahnya.
Tak dinyana, rencana yang sudah kelihatan berhasil itu dikacau oleh Wan ci.
Nampak permainan Wan ci itu lihay.
Ceng tong segera ambil keputusan cepat.
Ia tak boleh hanyut terlalu dalam pertempuran itu, sekonyong-konyong ia merubah permainan pedangnya.
Ia keluarkan ilmu simpanan Pedang Thian san Pay yang disebut Sam hu kiam.
Dengan itu ia desak wan-ci hingga beberapa kaki harus mundur.
Ilmu pedang "Sam hu-kiam"
Adalah ilmu dari kaum Thian san-pay juga boleh dikata tak pernah diturunkan. Dinamakan "Sam hu"
Tiga bagian ialah gerakan serangan hanya digunakan sepertiga bagian dari sasarannya, setiap kali musuh akan menangkis gerakan pedang tersebut sudah berganti setiap jurus terdiri dari tiga serangan, ruwet dan sukar untuk ditangkis.
Ilmu pedang itu hanya terdiri dari jurus-jurus dan serangan saja.
Ketika lawan gunakan serangan, yaitu jurus salju sungai hendak meleleh, Wan-ci hendak congkelkan ujung pedangnya keatas, pikirannya hendak gunakan "It tiok-liang"
Sebatang hio untuk menangkis.
Tapi ternyata serangan musuh hanya sepertiga bagian, belum lagi pedang itu sampai kesasarannya Ceng tong sudah merubah gerakannya dengan Cian-li-liok-sat, pasir mengalir beribu li pedang yang mulanya lurus menyerang kini berubah dilintangkan untuk memapas.
Wan-ci gugup buru-buru jungkirkan pedangnya untuk melindungi diri.
Tapi kembali ia dibingungkan oleh gerakan serangan pedang lawan.
Belum lagi papasannya sampai kembali gadis Wi itu merubah gerakannya dalam "Angin menggulung rumput."
Dari ats pedangnya diturunkan untuk menebas paha Wan-Ci. Wan-ci kaget, terus mundur selangkah. Tapi pada saat itu dengan gerakan "Angkat obor menyundul langit"
Ceng tong mengibaskan pedangnya keatas maju menyerang pundak kiri sang lawan. Ketika Wan-ci bergerak menangkis, lagi-lagi lawan merubah gerakkannya dengan jurus "Swat tiong ki-lian"
Bunga teratai ditengah-tengah salju, demikian hebat dan luar biasa setiap gerak serangan dari "Sam hu kiam"
Hingga musuh bingung dibuatnya.
Walaupun ke 2 nona itu sudah bertempur beberapa jurus, namun senjatanya tak pernah beradu, sepintas mereka memainkan pedang seperti anak-anak sedang bermain.
Ceng Tong menyabet dengan cepat tetapi setiap sabetannya itu tak pernah diteruskan sampai kena, namun Wan-ci sangat sibuk dibuatnya.
Ia terus-menerus mundur sulit baginya untuk menghadapi.
Kalau ia tak menangkis kuatir lawan betul meneruskan serangannya, tapi begitu ia menangkis, lawan batal menyerang dan ganti jurus.
Ternyata ia kalah jauh dalam kesebatan dengan lawan.
Wan ci terkejut dan bingung sebenarnya ilmu pedangnya "Jwan-hun kiam"
Cukup sempurna asal saja ia melawannya dengan hati yang mantap, dan tak akan kalah semudah itu.
Tapi karena ia baru saja mempelajarinya, jadi ia belum pengalaman dalam pertempuran tadi.
Melihat gerakan musuh tiga kali lebih sebat dari dirinya, ia goyah hatinya.
Karena tak mungkin melawan, ia lantas loncat mundur dan Ceng tong sendiripun tak mau mengejar.
Cepat-cepat ia membalikan badan, ternyata dihadapannya ada seorang yang bertubuh kecil kurus.
Orang itu berdiri disamping mayat Giam see-gui sambil mengenggam pauwhok merah berisi kitab suci itu.
Tanpa tanya ini itu, Ceng tong mengirimkan serangan pedangnya.
"Aya, Tong-toaya hendak pulang."
Demikian orang itu berteriak.
Dialah si mulut tipis Long siu Ho, ia tak mau melayani dan terus loncat.
Namun, ceng tong terus mengejar dan kembali pedangnya diayunkan.
Tapi sebilah Ngo-heng lun menyambut pedang Ceng Tong itu dan terus didorongnya, itulah Giam see ciang.
Kiranya Bok Toh Lun mengatur siasatnya dengan cerdik.
Dibelakang dan muka ia gunakan onta-onta untuk memisahkan orng-orang Piuwhang, agar mereka tak dapat berandeng berkelahi.
Pemimpin Wi itu sendiri naik kuda dengan memutar golok panjang, ia serang Tee Ing Bing dan Chi Ceng Lun, 2 orang piuwsu.
Menghadapi 2 orang lawan, ia perhebat rengsekannya.
Tapi pada saat itu, Giam See ciang mulai mengamuk, keenam Kwantong Liok-mo itu rata-rata berkepandaian tinggi.
Melihat kakaknya dibinasakan orang Wi, ia murka sekali.
Dia meluncur dari kudanya, loncat melewati onta.
Ia sabetkan Ngo heng lunnya kepada seorang Wi yang memegang gembolan.
Begitu gencar hantamannya itu, sehingga seketika itu orang Wi terjungkal dari ontanya.
Seorang wi lain maju menghadang.
Menunggu gembolannya melayang datang, Giam see ciang miringkan tubuhnya.
Ngo heng lun dipindahkan ketangan kiri, ia ulurkan tangan kanannya untuk menyawut membokong siorang Wi, terus dibetotnya kebawah.
Gembolan itu beratnya hampir seratus kati dan orang Wi itu tenaganya kuat sekali, justeru selagi orang Wi itu mengerahkan seluruh kekuatannya.
Giam see-ciang, meminjam kekuatan lawan, terus dibantingnya ke tanah.
Gembolan itu tepat jatuh kedada tuannya, dan di ringi jeritan yang keras, terus muntah darah binasa lah saat itu juga.
Dengan mengunakan kecerdikannya Tong-siu-ho memanfaatkan kekacauan itu, dia melihat suatu kesempatan yang baik,.
Dengan sebat dia loncat kearah mayat Giam see-gui untugambil Pauwhok yang berharga itu.
Ketika Hwee Ceng Tong, memburu Tong siu-ho dengan cepat Giam see ciang menghadangnya.
Di tengah perlawannya dengan Giam see ciang, Ceng Tong selalu waspada kalau-kalau pemuda tampan itu akan datang lagi.
Tiba-tiba dari arah celah gunung terdengar bunyi seruling yang keras sekali itu pertanda untuk mundur dari pihak Wi.
Pada suatu kesempatan, Ceng Tong nampak ia melirik kepada Tong siu-ho yang melarikan diri dengan cepatnya kearah puncak gunung, dengan mengeluarkan ilmu pedang "Sam-hu-kiam, ia mendesak Giam see ciang sampai mundur 2 tindak, segera nona itu loncat dan terus mengejar Tong siu Ho keatas puncak gunung.
Sementara itu suara seruling terus bergema dengan kerasnya.
Dan tiba-tiba terdengar ayahnya, Bok Toh Lun, berseru keras .
"Ceng Tong lekas kemabali !"
Ceng tong berpaling mendegar seruan ayahnya, lantas ia hentikan lagnkahnya, terus terus memerintah kawannya untuk mengotong kawan-kawannya yang telah binasa untuk dinaikan keatas kuda.
Sekali lagi bunyi seuling terdengar keras, tiba-tiba rombongan orang wi itu menerob turun.
Namun dibawah sana berpuluh serdadu Ceng sudah siap menghadang ditengah jalan, dan Tho-lam sam ciang larikan kudanya kemuka, dengan laintangkan tombaknya ia membentak.
"Berandal yang bernyali tikus mau bikin huru-hara, ya ?"
Sebagai sahutan, si nona baju kuning menimpukkan 2 biji thi-lian-cu untuk mengarah ke 2 belah tangan penghadangnya itu.
Begitu terdengar suara berdering tombak can tho-lam cu lepas jatuh.
Bok Toh Lun membuka jalan dengan pedangnya yang panjang.
Orang-orangnya pun maju menyerang tentara Ceng tersebut.
Gelombang serangan orang-orang Wi itu ternyata dapat mematahkan perintangnya.
Tentara Ceng terpaksa menyingkir untuk memberi jalan.
Giam see ciang dan Tee ing bing memburu lagi, terus berhantam dengan si nona baju kuning.
Pada saat itu sekonyong-konyong dari rombongan orang Wi menerobos keluar seorang penunggang kuda, sambil berseru "
"I-moay, kau mundur dulu !"
Pemuda itu adalah kakak dari Ceng Tong, bernama Hwee A lo.
Dengan tombak, dia hadang ke 2 piauwsu yang akan menyerang adiknya itu.
Dengan begitu dapatlah Ceng Tong loncat keatas seekor kuda.
Ke 2 kakak beradik itu sembari bertempur sambil mundur, tiba-tiba dari 2 puncak gunung kedengaran seruling berbunyi lagi.
"Hwee A In dan adiknya putar kudanya kebelakang terus lari Giam see ciang masih terus mengejar. Karena gemes Ceng Tong sambitkat 2 biji Thi-lian-cu kemuka pengejarnya itu, giam see ciangpun memutar ngo heng-lunnya untuk menangkis. Berbarengan saat itu, dari atas puncak gunung berglindingan batu-batu kebawah beberapa diantaranya tepat mengenai rombongan tentara Ceng, hingga ada beberapa yang mengeluarkan darah. Dalam kekacauan itu rombongan pedagang Wi berhasil meloloskan diri. Begitu mereka sudah jauh, Giam see ciang segera mendekakap mayat kakaknya itu, ia menangis tersedu-sedu, setelah dibujuk oleh Chi ceng lun dan Tee Ing bing, barulah ia mau berhenti. Orang-orang piauwhang lalu menaruh mayat-mayat kawannya ke dalam kereta, kalau kawan ada yang bersedih kehilangan saudara, adalah Tong siu ho yang nampak unjuk muka berseri-seri kegirangan.
"Kalau bukan Tong-toaya yang cekatan, dia matipun akan penasaran.
"demikian ia membual."
Ketika ke 2 rombongan tengah bertempur dengan seru tadi Hwi Ching hanya mengawasi saja dipinggir.
Ketika Wan Ci didesak mundur oleh nona bangsa Wi tadi, dan karena turut campurnya anak itu sehingga kitab Qur"an gagal dirampas orang-orang Wi, Hwi-Ching jadi uring-uringan.
Setelah keadaan disitu mulai sepi, dan tak ada seorangpun menghaturkan ucapan terima kasih kepada wan Ci merasa kurang senang, sedang sewaktu Tong siushu nampak dandanan Can Tho Lam seperti seorang bu-koan atau menghampiri untuk memperkenalkan diri.
Sedikitpun dia tak ambil perhatian pada Wan-ci.
Sudah barang tentu Wan-ci makin mendelu.
Ditambah lagi suhunya memberi tegoran pedas.
"Orang-orang Piauwhang itu banyak dari golongan jahat, yang tergolong baik-baik mengapa kau usil membantu mereka !"
Benar-benar Hwi Ching murka, Wanci yang didamprat tak berani angkat kepalanya.
Ketika sampai di puncak, di waktu magrib nanti tentu sudah sampai di Sam To kao, sebuah kota yang sedangsedang saja besarnya kata kusir.
"Hotel terbesar di Sam To kao ialah hotel An Tong."
Setelah masuk kota, baik rombongan piauwhang maupun rombongan Li Thay-thay, sama-sama menuju hotel tersebut. Tapi begitu sampai dimuka pintu seorang pelayanpun tak ada yang menyambut.
"Apakah semua pelayan-pelayan disini semuanya mampus ?"
Demikian Tong siu-ho dari rombongan Piauwhang berteriak dengan marah-marah.
Mendengar itu Wan-Ci kerutkan jidatnya, karena selama ini, belum pernah melihat orang yang sedemikian kasarnya.
Rupanya rombongan yang sudah letih dalam perjalanan itu tak sabar lagi.
Mereka terus mau memasukinya, tapi tiba-tiba pada saat itu dari arah dalam terdengar suara beradu.
Wan ci adalah yang paling usl dan selalu ingin mengetahui sesuatu lebih dulu, ia terus menerobos masuk.
Tapi ternyata ruangan hotel itu tak kelihatan manusia.
Baru setelah masuk keruang dalam, dilihatnya wanita muda dengan rambut terurai tengah bertempur dengan empat lelaki.
Dengan gelisah wanita itu memainkan golok panjang ditangan kiri dan golok pendek ditangan kanan.
Nampaknya ia berkelahi dengan mati-matian.
Jelas bagi Wan ci, bahwa keempat orang lelaki itu berusaha keras memasuki sebuah kamr disitu, sedang wanita itu coba menghalangi dengan nekad.
Keempat orang lelaki itu tinggi kepandaiannya, satunya memainkan tongkat, seorang lagi menyoren pedang sedang yang lainnya menggunakan kui thao-to.
Waktu itu Hwi Ching pun sudah menyusul masuk keruangan itu.
Pada sat itu, orang yang bersenjatakan sepasang tongkat itu tampak mengangkat senjatanya untuk dihajarkan di kepala si wanita.
Wanita muda tersebut tak mau menyambutinya dan hanya menghindar kekiri, justeru saat itu Jwan pian musuh mengarah pinggangnya, dengan ksebat luar biasa wanita itu memapak dengan golok ditangan kirinya kearah jwan pian, seheingga seketika ituitu juga pian lalu menggulung ke bawah.
Buru-buru wanita itu menarik goloknya.
Tapi justru dengan demikian sangat berbahaya, kui thao0to dari salah seorang lawan menebas dan disusul pedang musuh lainnya mengarah kepunggung si wanita.
Wanita itu cepat-cepat menangkis serangan pedang tersebut.
Tapi karena menghadapi 2 macam serangan, posisinya sangat berbahaya.
Benar pedang dapat di tangkis tapi kui thao-to sudah keburu datang.
Sukarlah kiranya menghadapi kui thao-to yang menyambar sebelah pundaknya.
Pundak wanita termakan golok kui thao-to, namun ia tetap pentang mundur.
Ketika lengannya bergerak-gerak memainkan senjata, darah dilukanya bercucuran membasahi lantai.
"tangkap hidup-hidup! Jangan sampai ia berlaku nekad, teriak orang yang bersenjatakan jwan-pian sambil terus mempergencar serangannya. Melihat keadan yang pincang itu, Hwi Ching marah, timbulah hati keutamya. Tanpa mengingat tugas berat yang sedang dijalankannya ia kan taan Urun tangan. Kini orang yang memegang sepasang tongkat itu, tampak menyabetkan tongkatnya dan dalan gugupnya wanita itu menangkis dengan golok pendek. Dan ketika pedang lawan datang, ia pakai golok yang satunya unt menangkis K menahan. Tapi ternyata si penyerang yang memakai pedang itu sangat lihay. Apalagi karena pundaknya sudah terluka berkuranglah tenaga si wanita itu. Begitu pedang dan golong yang saling bentur, tangan si wanita tergetar hebat dan goloknya panjang jatuh. Musuh tak mau sia-siakan. Ketika terbuka, maka pedang terus disarangkan dengan hebat. Si wanita cepat-cepat berkelit kekanan. Tusukan pedang dapat dihindari, tapi musuh yang bersenjatakan KKUi -thao -to tadi segera melesat maju untuk menerobos masuk kedalam kamar itu. Melihat keadaan yang begitu berbahaya, si wanita menjadi nekad. Dengan tak memperdulikan senjata-senjata yang menyerangnya dari empat jurusan, ia merogoh dadanya dan dengan sebat menawurkan 2 batang hui-too kearah punggung seorang musuh yang tengah menerobos masuk ke kamarnya utu. Orang tersebut mengira bahwa wanita itu tentu masih sibuk menghadapi ketika lawannya, mana ia terus maju dengan mantap. Begitu terasa sambaran angin dibelakangnya, ia coba berkelit, tapi sudah terlambat. Sebatang hui-too masih dapat dia hindari dengan kepalan.. tapi hui-too yang lain tepat menyusup ke punggungnya. Masih untung kekuatan wanita itu banyak berkurang karena luka dipundaknya , tak urung orang itu menjerit hebat, terus melangkah mundur. Pada saat itu kembali wanita gagah mendapat hantaman tongkat dipahanya, sehingga dia terhuyung-huyung, namun ia tetap nekad untuk menghadang di depan pintu kamarnya.
"Wan-ci, kau lekas bantu dia, kalau kalah aku bantu !"
Hwi Ching perintahkan muridnya Tak usah diulang lagi, wan-ci loncat dengan pedangnya.
"Empat orang laki-laki mengerubuti seorang wanita, sungguh memalukan !"
Demikian teriaknya segera.
Melihat ada orang datang menyelak, dan berbareng pada saat itu diruangan tampak banyak orang-orang piuwhang dan tentara negeri, keempat orang itu buyar semangatnya, begitu terdengar suitan berbunyi, mereka berempat segera loncat kabur.
Wajah wanita muda itu pucat lesu, dengan menyandar pada pintu ia menggasoh npas.
"Wan-ci menghampiri lalu bertanya.
"Ada apakah?"
"Mengapa mereka menghina Nyonya ?"
Tapi belum sempat wanita itu menjawab, Gan Tho Lam telah menghampiri Wan-ci sambil berseru .
"Thay-thay menyuruh siocia datang kesana,"
Lalu dengan setengah berbisik pemimpin barisan pengawal itu berkata pula.
Mendengar siocia kesana.
Nampak Can Tho lam mengenakan pakaian opsir tinggi, wajah wanita itu bertambah pucat, tanpa perdulikan pertanyaan Wan-ci terus masuk kedalam.
Terbentur dengan tembok, lunak wan-ci kurang puas, ia berpaling pada Can tho lam dan katanya .
"baik, aku akan segera datang.
"tapi ia menghampiri suhunya lebih dulu, ia lalu bertanya ?"
"Mengapa merek bertem dengan sengit, suhu ?"
"Biasanya ada dendam, pembalasan sakit hati, karena urusan belum putus, kiranya keempat orang itu tentu akan datang lagi suhut sang guru. Wan-ci hendak menegasi tetapi tiba-tiba terdengar seseorang datang dengan memaki-maki kasar.
"Keparat, kau kata tak ada kamar. Apa takut aku tak bayar, ya ?!"
Kalau menilik suara ialah Tong siu-ho. Lantas terdengar pula seorang pelayan berkata "
"Long at koanya harap jangan marah dulu.kita mana berani menghina koanya.tapi memang sungguh-sungguh ruangan atas beberapa kamarnya, sudah orang lain.
"Siapa yang berada dikamar atas coba kulihat seru orang itu dengan ketus. Dan sembari berkata dia terus melangkah keruangan dalam. Justru pada saat itu si wanita muncul lagi dari kamarnya dan sedang berkata pada seorang pelayan lain . Toako, tolong, bawakan air panas kemari. Begitu nampak rangnya, semangat Tong-siu ho seperti terbelot, walaupun wajah sionya muda itu pucat namun tak mengurangkan kecantikannya, tong siu-ho terpesona. Hanya matanya saja yang kedap-kedip. Si wanita cantik berbicara dalam dialeg utra dengan tekukan orang selatan.
"Selama Ceng toaya lewat di daerah ini berulang-ulang, belum pernah aku menginap di hotel kelas 2. Kalau ruangan atas sudah penuh, biarlah kupakai ruangan ini saja !"
Sambil berkata itu Tong siu-ho menghampiri kearah kamar si wanita. Dan selagi ia menutup pintu Siu-ho menerobos masuk.
Jilid 3
"A D U H !"
Si wanita menjerit kesakitan ia coba menghadang, tapi luka dipahanya itu memaksa ia untuk duduk kembali dengan rasa sakit yang hebat.
Memang hantamana tongkat tadi menyebabkan ia terluka berat.
Ketika Siu-Ho masuk, didapatinya laki-laki berbaring diatas pembaringan.
Karena kamar itu tak ada penerangannya, wajah orang itu tak tampak jelas.
Hanya kepalanya saja yang tampak dibalut kain putih, begitu pula tangan kanannya dibalut dan di kat pada leher, sedang sebelah kakinyapun dibalut juga.
Jadi boleh dibilang orang seperti mayat yang dibungkus kain puti, begitu melihat ada orang masuk dia segera menegur dengan suara lemah.
"Siapa ?"
"Aku orang She Tong-piauwsu dari Tin-wan Piauwkok. Karena kamar semua sudah penuh kumohon kau perbolehkan aku tidur disini, wanita itu siapa, iasteri atau kenalanmu saja ?"
"kau pergi saja, kata orang itu dengan nadahambar. To siu ho mengerti bahwa orang tersebut terluka berat, sedang satunya tadi hanya seorang wanita. Dia tak mau sia-siakan kesempatan itu, lalu cengar-cengir berkata .
"jangan gitu dong, biar kita tidur bertiga. Jangan kuatir, tak nanti menyaplok lukamu !"
Karena murkanya itu sampai gemetar badannya.
"Toako, jangan umbar nafsu, kita tak boleh cari mush baru lagi, seru si wanita dengan lemah kemudian katanya pada Tong siu-ho harap kau lekas keluar !"
"Apa keluar ?"
Menemani kau kan lebih enak bukan ?"
Sahut siu-ho dengan lagak tengik "kau kemarilah,"
Tiba-tiba laki-laki itu berseru .
"Bagaimna, kau lihat aku ini cakap tidak?"
Kata siu-ho sambil melangkah maju.
"Kurang jelas, mau lebih dekat lagi!"
Kata lelaki itu Dengan tertawa siu-ho maju beberapa tindak lagi, katanya .
"lihat yang terang dong, inilah yang dikatakan si bagus memboyong si cantik."
Belum selesai ucapannya, tiba-tiba laki-laki itu bangun dari pembaringan dansebat luar biasa tangan kirinya dijulurkan menotok jalan darah, Khi ia hiat.dengan mengungang sisa kekuatannya dalam Iwekang dia hantam pundak si ceriwis itu.
Seperti mega tertiup angin, tubuh siu-ho melayang sisa terlempar keluar mengerusuk jatuh dilantai halaman.
Dia menjerit-jerit, tapi tak dapat berkutik, karena ditotok Tiam tadi, tak dapat berkuti, karena ditotok tadi, sun loo-sam dan petugas yang berteriak-teriak di sepanjang jalan buru-buru menghampiri untuk mengangkatnya.
"Tong Toaya, jangan mengganggu mereka."
Rupanya mereka adalah orang Hong Hwa-Hwee kata Kun Lo sam bisik.
"A.....a ..... kakiku tak bisa bergerak Hong Hwa Wee bagaimana kau tahu ?"
Seru Tong siu-ho dengan mengucurkan keringat dinhgi. Kata pemilik hotel.
"Ini, tadi empat orang dari kantor Pembesar sini akan mengkap mereka, tapi dapat dipukul mundur, Loo sam memberi keterangan. Ketika mendengar ribut-ribut itu orang-orang piauwhang semua melihat keluar.
"Ada apa sih!"
Seru Giam See ciang menghampiri.
"Giam liokko, aku ditikam oleh orang Hong Hwa Bwee, kau tolonglah teriak Siu-ho sambil meringis sakit."
"Giam See-ciang kerutkan jidatnya. Dia tarik tangan siu-ho terus panggulnya, Lo-tong masuk kemari !"
See ciang akan menjaga nama Tin-wan piauwkok maka ia tak mau orang ketawa ada piauwsu Tin wan piuwkok dihajar orang sampai tak bisa bangun, tapi dia terkejut juga ketika didalam kamar ia lepaskan Siu-ho turun ternyata masih saja ia numprah ditanah.
"Tubuh ku lemas tak bertenaga sun loo sam kurang ajar, kau tak mau gendong aku ? teriak siu-ho pula. Baru kini Giam see ciang tahu bahwa kawannya itu terkena totokan orang, lalu ditanyainya.
"Kau berkelahi dengan siapa tadi ?"
Dengan mata melotot dan muka kecut, Siu-ho tunjuk kearah kamar wanita tadi, katanya "Dengan seorang telur busuk disitu !"
Kawanan Hong Hwa Hwee, belum sempat orang mengurus perbuatannmu membunuh Cio Bun Ki samya kini kau coba main gila dengan Tong Toayamu ini.
Demikian sengaja siu-ho ingkit kematian Cio-bun ki samya dari Kwantong Liok-mo di depan Giam see Ciang agar panas hatinya.
"Tong-toaya, jangan memaki-maki saja. Jangan cari perkara dengan orHong Hwa-Hwee sekali kita kesalahan pada mereka sukar kiranya tugas kita sebagai piuwsu akan dapat aman. Semula Giam see ciang termakan akan bualan Siau-ho tadi, ia bermaksud akan menjajal orang tersebut. Tapi ketika teringat bahwa musuh pandai menotok, apalagi kini ia seorang diri dan telah ditinggal mati oleh kakaknya Giam See Gui, maka ia tarik mundur niatnya itu. Ketika itu tampak Chi Ceng lun piauwsu mendatangi, segera dia bertanya pada Sun Loo sam si tukang teriak di jalan itu.
"Apa kau tak salah lihat pada orng Hong Hwa Hwee ?"
Sun Loo Sam mendekati Chi piauwsu, lalu bisiknya .
"Setelah keempat pahlawan kantor pembesar berlalu, maka kasir hotel ini menerangkan bahwa sepasang suami isteri itu adalah pesakitan penting. Untuk mereka ber 2lah, kerajaan sengaja mengurus beberapa jagoannya menangkapnya kemari. Kasir itu telah dipesan bila sewaktu-waktu ke 2 orang itu hendak berlalu, supaya lekas-lekas melaporkan kepada pembesar setempat, semuanya itu, telah kudengar tadi."
Chi Ceng lun berusia lima puluh tahun lebih.
Lama dia terjunkan diri dikalangan piuwhang.
Meskipun bugeenya tak terlalu tinggi, tapi dia luas sekali pengalamannya, segera ia memberi isyarat mata pada Giam See Ciang, lalu bersama-sama mengangkat Tong Siu Ho.
"Golongan apa sih,"
Tanya She Giam.
"Orang Hong Hwa Hwee, baik mengalah. Nanti setelah menolong Tong Siu-ho, kita rundingkan lagi."
Balas Chi piauwsu kemudian tanyanya pada sun Loo sam.
"Adakah kau saksikan pertempuran tadi ?"
"Wah, hebat sekali, seorang wanita muda memegang 2 batang pedang, sebatang panjang ditangan kiri dan sebatang yang pendek di tangan kanan. Keempat orang laki-laki itu tak dapat mengalahkannya. Sebenarnya mereka berempat menang angin Cuma mereka sengaja memperpanjang pertempuran untuk melelahkan si wanita."
Tutur Loo sam.
"itulah murid dari keluarga Lou, yang digelari Sin To Lou Keh. Ia pandai melepas huito bukan ?"
"Ya, ya, benar, tangannya sakti sekali,"
Kata Loo sam "Ah, kiranya Sutangkeh ketua keempat berada disini kata Chi piauwsu pada Giam See ciang.
Habis itu mereka tak bicara apa-apa lagi.
Bertiga mereka menggotong Tong siu-ho masuk kedalam kamar Kali ini Hwi Ching menyaksikan semua kejadian.
Ketika ketiga piauwsu itu berunding, dia tak dapat mendengar jelas.
Tapi 2 patah kata dari Chi piauwsu itu dapat didengarnya betul.
Pada saat itu Wan Ci muncul disitu lalu mendekati suhunya seraya katanya .
"Suhu, kapan kau ajarkan ilmu tiam hiat padaku ? coba itupun unjukkan kepandaian begitu"
Hwi Ching tak menggubris, dia hanya berkata seorang diri ."Tentunya anak keturunan dari Sin to lou keh si Golok sakti keluarga Lou. Ah aku tahu tak boleh tinggal diam.
"Siapa Sin To Lou Kee itu ? tanya Wan-ci.
"Sin To Lou Goan Thong adalah sahabat karibku, kabarnya ia sudah meninggal. Wanita yang bertempur itu tadi gunakan jurus-jurus ilmu golok dari Lou Goan hong kalau bukan puterinya tentulah muridnya."
Dalam pada itu, Ci Ceng Lun dan Tee Ing-Bing ber 2 piauwsu dengan mengotong Tong Siu-ho tampak menuju kekamar si wanita tadi. Diluar kamar, Sun Loo sam lebih dulu batuk-batuk lalu berseru keras-keras.
"Chi Tee dan Tong bertiga piuwsu dari Tin wan-piauwkok mohon berkunjung pada Su-tong kee dari Hong Hwa Hwee. Begitu gerendel pintu terbuka, si wanita muda berdiri diambang pintu ia mengawasi keempat tetamunya itu, sun loo-sam buru-buru memberikan tiga buah kartu nama, namun si wanita tersebut tak mau menerimanya, malah terus membalikkan diri masuk kedalam. Rupanya ia berunding dengan suaminya, tak lama kemudian nampaka keluar lagi seraya menyilahkan tetamunya masuk. Selama di dalam, wanita itu tetap berdiri disamping sang suami. Walaupun keempat tetamunya itu mengerahkan jubah panjang dan tak membekal senjata apa-apa, tapi tuan rumah tetap curiga.
"Saudara kami ini, tadi telah kesalahan pada tuan untuk itu datang menghaturkan maaf, demikian Thi Ceng Lun membuka pembicaraan seraya menjura di kuti pula oleh Tee Ing Bing dan Sun-lo sam. Namun si lelaki itu tetap berbaring ditempatnya, maka berbisiklah wanita itu padanya.
"Koko, orang-orang Tin-wan piuwkok haturkan maaf padamu. Laki-laki itu tak menyahut apa-apa,.
"Bun Tia-hay-hay, meskipun aku belum pernah bertemu padamu, tapi sudah lama dengar su tang-kah dan namamu yang kesohor. Pemimpin piuwkok kita Win Tin-ho ni ong hui Thing dan ayahmu si to-lou looya, mempunyai hubungan baik, saudara kita yang satu ini memang sembrono sekali ..........
"Ssssst, dia terluka dan baru teridur. Nanti jika sudah bangun akan kusampaikan maksud kunjungan kalian padanya. Harap kau orang jangan anggap kita tak tahu adat, tapi karena ia terluka hebat, sudah hampir 2 hari ia tak bisa tidur, sahut si wanita memutuskan omongan orang. Dan wajahnya mengunjuk seperti orang berduka. Chi ceng lun dapat menerima alasan itu, karena memang dilihatnya seluruh tubuh orang itu dibalut kain, kemudian katanya .
"Bun su tang-keh lukanya bagaimana ?"
Aku ada membawa obat kiem sana yok untuk segala macam luka, demikian Chi cengn berkata untuk mengambil hati orang.
Si wanita rupanya mengerti maksud orang, lalu berkata "Terima kasih, kita sudah punya obat.
Tuan yang terkena tiam ini, tak terluka berat.
Kalau nanti suamiku sudah bangun, akan kusuruh pelayan memanggil tuan."
Mendengar orang suka menolong, keempat tamu itu lalu undurkan diri.
"Eh, nanti dulu. Mengapa tuan-tuan tahu nama kami, tiba-tiba wanita itu bertanya "Sepasang Wan-yang-to dan golong terbangmu huito orang kangaouw manakah yan gtak mengetahuinya ? dan lagi, kalau bukan Bun Su-tong kee, siapa lagi yang mempunyai kepandaian Tiam-hiat itu. Serta pula kalian ber 2 berkumpul menjadi satu, maka tentulah Pan-lui Chiu Bun Lay dan Wan yang to laou Ping adanya."
Sahut Ceng Lun.
Wanita muda tersebut tersenyum simpul.
Ia puas mendengar orang junjung dirinya dan suaminya.
Melihat mereka keluar kembali Wan-ci kambuh penyakitnya untuk belajar ilmu Tiamhiat ia mendongkol karena sampai sebegitu jauh suhunya masih belum mengajarnya ilmu tersebut, ia masuk kedalam kamar untuk mencari akal bagaimana caranya agar sang suhu mau menurunkan pelajaran itu.
Habis dahar pagi ia temani ibunya berbincang-bincang sebentar, ibunya memperingatinya agar jangan nanti dijalanan membuat keonaran lagi, dan melarang menyamar sebagaia laki-laki lagi, tapi Wan-ci hanya ganda tertawa saja.
"Ma bukanlah kau sering menggerutu tak punya anak lelaki ? kalau kini aku menjelma menjadi seorang laki-laki mengapa kau tak bergirang ?"
Ibunya kalah separuh, lalu masuk kekamar dan tidur.
Ketika wan ci juga akan masuk tidur, tiba-tiba didengarnya di halaman sana seperti ada orang mengetuk jendela dengan perlahan-lahan dan menyusul terdengar seorang sedang bisik-bisk.
"Bocah, keluarlah aku ada yang akan diomongkan denganmu."
Cepat-cepat Wan-ci menyambar pedang, terus loncat kehalaman, dimana sebuah bayangan orang, kedengaran berseru pula.
"Anak setan, kalau kau ada nyali, mari ikut aku."
Wan-ci adalah ibarat anak kambing yang tak takut harimau tanpa curiga apa-apa, dia loncat keluar tembok buat mengikutinya.
Baru saja kakinya menginjak tanah, sebuah pedang berkelabat menghantamnya.
Cepat wan-ci hadangkan pedangnya untuk menangkis dan cepat menanyai .
"Siapa kau ?"
"Aku adalah Cui-ih Wi sam Hwee Ceng Tong Eh, sahabat kita orang sebagai air Sungai tak mengganggu air sumur. Mengapa kau ganggu kami hingga urusan kami yang besar itu terlantar ?"
Kini baru Wan-ci tahu dengan jelas bahwa bayangan yang melintangkan pedang ke tanah itu adalah si nona baju Kuning yang pernah bertempur dia waktu tempo dulu.
Ia tak dapat menjawab teguran si nona itu.
Memang ia tak punya alasan, mengapa harus mengacau urusan itu.
Namun ia malu untuk mengaku salah, maka dicarinya alasan katanya .
"Urusan dunia adalah urusan manusi semua, memang siaomaymu itu paling suka campur urusan orang lain kau tak terima ? Baiklah aku akan mohon pelajaran pedangmu lagi. Ucapan itu dibarengi dengan serngan pedang kearah si nona. Dengan murka si nona segera angkat pedangnya untuk menangkis. Wan-ci sebenarnya tahu bahwa ilmu pedangnya tak nempel dengan sang lawan, tapi ia sudah punya rencana, sembari berkelahi ia terus mundur, sambil melihat letak tempat yang akan dilaluinya. Ia terus mundur, hingga sampai kekamar suhunya. Dan pada saat itu berteriaklah ia dengan kuat-kuat.
"Suhu, Suhu aku akan dibunuh orang."
"Hem, kedengaran si nona mencemoohkannya."
"Manusia tak punya guna, mana aku sudi mengotori tanganku untuk membunuh manusia macam kau itu. Aku hanya hendak memberi pelajaran padamu, agar selanjutnya kau jangan usilan dengan urusan orang lain !"
Habis mengucap itu, Ceng Tong segera balikkan diri terus berlalu.
Tetapi wan-ci tak mau melepaskan, ia segera loncat menikam punggung lawannya.
Maka Ceng tongpun lantas putar tubuh dan pedangnya untuk bersilat lagi dengan sam hun kiamnya karuan wan-ci kerepotan.
Tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki mendatangi dari arah belakang.
Ia pastikan bahwa itu tentu suhunya.
Liok Hwi Ching, maka membarengi saat Ceng Tong menikamkan pedangnya kearah dadanya.
Wan-ci dengan sebat loncat bersembunyi dibelakang suhunya.
Melihat adanya bahaya mengancam apa boleh buat Hwi Ching angkat pedangnya buat menangkis.
Ilmu pedang Ceng Tong sangat cepatnya.
Tanpa berkata apa-apa, ia kirim sepuluh jurus serangan bertubi-tubi.
Selama itu ia heran bahwa sekalipun permainan jago tua itu tak berbeda dengan anak muda atau Wan-ci tadi, namun ia tak dapat berbuat apa-apa.
Ia bergerak makin seru lawan makin perlahan.
Dan setelah beberapa jurus lagi.
Kini ia berbalik dari menerjang menjadi diserang.
Ketika itu wan-ci berada disamping.
Dengan seksama ia awasi jalannya pertempuran anatara suhunya dan nona Baju Kuning itu.
Dengan begitu tercapailah maksudnya mencuri lagi beberapa kepandaian dari suhunya, apabila suhu itu betul-betul masih menyimpan beberapa macam ilmu.
Tapi ia menjadi kecele "Jwan hun kiam sut"
Yang dimainkan oleh sang suhunya itu dapat bergerak dengan mantap dan mahir sekali. Betul-betul dia dapat menguasai permainannya dengan sempurna sekali. Pokok tujuan dari "sam-hun-kiam"
Yakni untuk menghantam kelambatan musuh dengan kecepatan, agar musuh menjadi kalang kabut.
Namun Hwi Ching tak mau mengekor gerakan musuh hingga setelah berselang beberapa jurus lagikedudukan mereka menjadi terbalik.
Sampai disini insyaflah Ceng Tong bahwa kini ia menghadapi seorang angakatan tua yang kenamaan, ia harus dapat bertindak sebat.
Dengan asap digurun pasir dan meliwis jodoh dipadang pasir ia merangsek hebat untuk menagkis, sebat luar biasa Ceng Tong memutar diri untuk lari.
Namun Jwan hu-kiam sut dari Hwi Ching bagaikan hujan yang tak kenal putus, sekali terlibat, jangan harap dapat terlepas.
Apa boleh buat Ceng Tong terpaksa melayani dengan mendelu hati.
Melihat kesempatan bagus itu.
Wan ci lalu masukkan pedangnya dan dengan ilmu silat tangan kosong Bu-kekihian-kang-kun, ia terjunkan diri dalam kalangan, sudah barang tentu Ceng Tong makin ripuh dibuatnya.
Wan ci memang nakal, ia tak sungguh-sungguh mengarah serangannya dibagian yang berbahaya dari lawannya, caranya berkelahi pun hanya seperti orang bercanda.
Dengan tangan kosong, ia jotos kesana, menpuk kesini.
Ia memang hanya mau membalas hinaan ketika bulu suri kudanya dijebol tempo hari itu.
Menurut kaum muslim, pergaulan anatara laki-laki dan perempuan sangat dibatasi.
Wanita yang keluar rumah tentunya harus menggunakan kerudung untuk menutupi mukanya.
Namun bagaimnapun karena menjalankan tugas penting terpaksa aturan itu dikesampingkan oleh Ceng Tong.
Ceng tong adalah seorang gadis yang memegang teguh kesucian, ia gusar sekali melihat kelakuan yang tak senonoh dari wan-ci yang dikiranya seorang pemuda itu.
Karena marahnya kemudian ia lengah.
Dan hampir ujung pedang Hwi Ching menyambar kemukanya.
Dengan tersipu-sipu nona itu tundukkan kepalanya seraya menangkiskan pedang.
Tapi tiba-tiba dari arah belakang, wan-ci berseru keras-keras, liaht pukulan !"
Dengan gerak "Ayam liar menotol beras"
Wan-ci menghantam pundak kiri si nona. Dan ketika lawannya berusaha untuk menggunakan tipu "Kim Na-hwat"
Untuk menyambut tangan Wan-ci yadari belakang ini dengan sabetnya meneruskan jotosannya kearah dadanya, kalau saja pukulan itu mengenai sasarannya, orangnya pasti akan terluka berat.
Walaupun Ceng Tong terkejut, namun ia sudah tak berdaya untuk menarik ke 2 tangannya yang dipakai untuk menangkis serangan Hwi Ching dan serangan Wan-ci.
Namun Ceng Tong tak menjadi gugup dan segera tarik tubuhnya kebelakang, walaupun tak dapat lolos sama sekali dari musuh, tapi sedikitnya dapat mengurangi tenaga hantamannya.
Tapi ternyata wan-ci tak sungguh-sungguh memakai tenaga, begitu tangannya tiba kedada ia terus menjamahnya keras-keras bagian badan tersebut, habis itu dengan tertawa terbahak-bahak ia buru menarik kembali tangannya.
Itulah hinaan besar bagi seorang wanita, apa lagi seorang gadis suci seprti Ceng Tong, seumur hidup belum pernah ia alami peristiwa yang sangat memalukan itu, dengan meluap-luap ia tikam Wan-ci dan ketika anak jahil itu berkelit, ia barengi lagi membacok.
Betul-betul Ceng-tong umbar kemarahannya ia tak pedulikan sama sekali akan seranga Hwi Ching, seluruh perhatiannya dicurahkan untu merangsek Wan ci saja.
Untung Hwi Ching mempunyai pikiran lain, ia mengetahui permainan pedang Ceng-tong tempo hari itu sangat bagus, dia hendak mencobanya saja, ia tak ada niat sama sekali untuk melukai si nona.
Melihat orang tak pedulikan serangannya, iapun tak mau merangsek lagi serta terus mearik balik serangannya.
Serangan Ceng Tong yang gencar itu sampai tak memberi kesempatan bagi wan Ci untuk menarik pedangnya, ia terus-menerus mundur, tapi pada saat itu ia masih sempat menggoda.
"Aku telah merabanya, kau mau bunuhpun tak bergunalah !"
Ceng Tong keluarkan ilmu simpanannya yang disebut Onta sakti berkaki ajaib begitu ujung pedang hampir mengenai, secepatnya diganti dengan ilmu pedang istimewa dari Hian san pay, yakni "hay-si sim lou,"
Selekas itu juga hanya sinar pedang yang tampak bergulunggulung sehingga mata wan-ci menjadi berkunang-kunang.
Nampak muridnya menghadapi bahaya, Hwi Ching tak berayal lagi terus maju menyambut serangan itu, baru saja wan-ci dapat mengasoh sebentar, ia sudah mulai tertawa dan menggoda lagi.
"Ah, sudahlah jangan marah-marah, kau kawin sama aku, bereslah !"
Sampai disitu tak kuatlah Ceng Tong menahan amarahnya saking gemasnya tak dapat melabrak wan-ci dia menjadi kalap.
Ketika Hwi Ching menusuk, ia tak mau menangkis tapi bahkan ajukan badan untuk menubruknya.
Kaget Hwi Ching bua namapak si nona hendak bunuh diri.
Cepat-cepat dia tarik balik pedangnya dan mendorong pundak Ceng Tong hingga sampai sempoyongan lima tindak kebelakang, dia loncat memburu seraya berkata .
"Nona jangan kesal hati."
Karena bingung dan mendongkol Ceng Tong sampai mencucurkan air mata. Dengan tak berkata apa-apa ia terus berlalu.
"Nona jangan buru-buru pergi. Aku ada sedikit omongan seru Hwi Ching seraya memburu pada nona itu?"
Perintah Hwi Ching sambil berpaling kearah wan-ci. Dengan cekikikan, Wan-ci menghampiri tapi ketika dekat, Ceng Tong tiba-tiba mengirimkan tinjunya.
"Aduh, tak kena Wan-ci berkelit dengan tertawa, sembari begitu ia tarik kopiahnya dan menjulurlah rambutnya yang bagus.
"Lihatlah aku ini seorang pria atau wanita ?"
Hampir saja Ceng Tong mati terkejut ketika menyaksikan keadaan si pemuda yang sangat ia benci itu.
Ia tak tahu, mengungkapkan perasaannya apah ia girang atau kah harus marah lagi.
Yang nyata ia tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi.
"Inilah Liteecuku murid perempuan ia memang anak nakal sampai aku sendiripun kewalahan mengurusnya. Urusan tadi sebenarnya akupun tak mengetahuinya, harap kau jangan salah sangka."
Demikian Hwi Ching memperkenalkannya.
Sembari Berkata Itu, Hwi Ching hendak menjura, tapi cepat-cepat Ceng Tong mengoskan muka tak mau menerimanya.
Ia tetap tak mau mengucapkan apa-apa, nyata kemarahannya masih belum padam sama sekali.
"Thian San Siang Eng masih apamu ?"
Tanya Hwi Ching tanpa pedulikan sikap orang kepadanya. Ceng Tong kerutkan jidatnya, tapi tetap membandel tak mau bicara.
"dengan Thian San Siang Eng ........, Tut ciu tan Ceng Tik dan Swat hu Kwan Bing Bwee aku mempunyai hubungan yang rapat. Kata orang bukan tergolong orang luar."
Menneruskan Hwi Ching.
"Twat Tiau adalah suhuku. Akan kulaporkan pada suhu dan sukong, bahwa kau seorang cianpwe menghina orang muda. Bukan saja menyuruh murid untuk mengganggu aku bahkan kau sendiri turun tangan."
Kata Ceng Tong mengambek.
Sembari mengucapkan begitu, Ceng Tong mengawasi tajam-tajam pada Hwi Ching dan wan-ci, lalu berjalan pergi.
Tapi baru saja ia berjalan beberapa tindak, didengarnya Hwi Ching berseru lantang "Eh, kau melapor suhumu, tapi akan kau katakan bagaimana nanti ?
siapakah orangnya yang menghina kau itu?"
Ceng tong seperti diguyur air. Memang ia tak tahu she dan nama orang yang menghina itu. Ia terpaksa hentikan langkahnya, lalu bertanya .
"nah, kalau begitu kau ini siapa?"
Hwi Ching mengurut jenggotnya, setelah itu dia tertawa dan bertanya.
"kamu ber 2 seperti anak-anak saja, sudahlah, ini muridku, Li Wan Ci dan aku adalah Bian Li ciam Liok ....."
Mendaak Hwi Ching memutuskan omongannya sendiri, ia teringat bahwa selama ini ia menyembunyikan diri dengan cermatnya, sehingga Wan Ci sendiri belum mengetahui she dan namanya yang sebenarnya, tapi segera sambungnya .
"Ah, kau bilang saja Cian Li Ciam dari Bu tong pay menghaturkan selamat pada suhumu, yang telah beruntung mendapatkan murid yang baik sekali."
"Ah, seorang murid yang baik? Aku telah dipermainkan orang secara begini, bukankah berarti menghilangkan suhu dan sukongku itu, sahut Ceng Tong dengan gemas dan putus asa.
"Nona, jangan kau anggap karena telah terkalahkan dalam tanganku tadi lalu merasa malu. Orang yang dapat melayani aku sampai berpuluh-puluh jurus seperti kau tadi, jarang sekali ada, sekalipun dikalangan kangouw, selama itu aku tahu bahwa Thian San Siang Eng tak mau menerima murid. Tapi permainanmu yang kusaksikan tadi itu, betul-betul warisan atau ajaran dari Siang Eng. Dan hal itu telah kubuktikan ketika kita bertempur tadi, bagaimana dengan sukongmu, apakah dia masih sering minum cuka dari suhumu? Habis mengucap itu Hwi Ching tertawa tergelak-gelak. Karena sampaipun urusan pribadi dari suhu dan sukongnya diketahuinya, insyaflah Ceng Tong bahwa jini ia berhadapan dengan seorang cianpwe angkatan tua. Namun ia masih tak mau tunduk katanya .
"kalau betul kau adalah sahabat suhuku mengapa suruh muridmu mengganggu aku. Karena dialah hingga kitab suci itu terlepas lagi. Ku tak percaya kau seorang yang baik. Terus ia langkahkan kakinya lagi, nyata ia tak mau kalah adu lidah. Dengan cerdiknya ia desak Hwi Ching.
"Adu pedang kalah, bukanlah hal yang memalukan. Tapi kitab suci sampai tak dapat merampasnya kembali, barulah yang dikatakan sebagai hinaan, kalah menang apalah faedahnya untuk seseorang, itulah yang harus kita tempur mati-matian demikian kata Hwi Ching tiba-tiba. Ceng Tong seperti orang yang disadarkan dari kehilapan. Dengan serta merta ia menuju kehadapan Hwi Ching untk memberi hormat, katanya .
"Siuwtet seorang bodoh, mohon locianpwe suka memberi petunjuk, sebagai jalan untuk merampas kembali kitab suci itu dari genggaman anjing-anjing itu. Untuk budi locianpwe itu, pasti seluruh bangsaku akan berterima kasih tak terhingga."
Ceng Tong terus jatuhkan diri untuk memberi penghormatan, tapi buru-buru dicegah oleh Hwi Ching.
"karena perbuatanku yang ugal-ugalan itulah sampai membikin kapiran urusanmu. Cici kau jangan kuatir, kubantu padamu untuk mendapatkan kitab suci itu kembali. Mari kita pergi sekarang juga "Wan-ci mendesak. Hwi Ching menyetujui ajakan muridnya itu, untuk itu terlebih dahulu kita selidiki keberadaannya. Begitulah diputuskan, Hwi Ching berada diluar sementara Ceng Tong dengan wan Ci masuk kedalam hotel. Tadi wan Ci tampak Tong siu Ho masih menggendong bungkusan merah itu dibelakangnya. Dia ajak Ceng tong menuju kamar si ornag seh Tong itu. Pintu kamar itu menyala, maka ke 2 nona itu lalu lebih dulu sembunyi diri disudut tembok untuk mendengarkan pembicaraan orang dalam kamar itu. Terdengar jelas bagaimana Tang Siu-ho mengoceh tak karuan dan sesaat kemudian menjadi diam kembali.
"Tio thay jin.
"kau sungguh hebat sebentar saja kau telah sembuhkan Tong He-see kita ini, tiba-tiba kedengaran seorang piauwsu berkata.
"Sekalipun mati, tak akan aku mau diobati oleh orang Hong Hwa hwee itu, kedengaran Tong siu-ho membual.
"kalau juh-jauh hari tahu Tio thay-jin kita datang kemari, tak nanti kita sampai merendahkan diri meminta pada dia, Hmmm, sungguh sial, seru Chi piauwsu. Saat itu terdengar suara gagah dari seorang lantas katanya .
"Coba tunjukkan aku sepasang suami isteri itu. Besok pagi kalau Loo Go sudah datang, kita akan turun tangan, orang-orang itu memang sebangsa kantong nasi saja, masa empat orang mengerubuti seorang perempuan saja tak mampu mengalahkan."
Saat itu wan ci tak sabar lagi.
Ia mencari lobang pada kertas jendela untuk mengintip kedalam.
Ternyata di kamart itu terdapat enam orang.
Seoraang yang berusia empat puluh tahun lebih, nampaknya sangat keren dan gagah sekali.
Mungkin dialah yang dipanggil Tio tayjin itu.
Sepasang biji matanya bersinar tajam.
Nyata orang itu sangat lihay sekali iwekangnya.
Diam-diam Wan-ci heran mengapa orang pemerintahan, terdapat begituan .
"Loo Tong serahkan pauwhok itu padaku, kawanan orang islam itu tentu tak mau berhenti, mungkin di jalan nanti kita mendapat rintangan."
Kata Giam See Ciang. Dengan sikap ayal-ayalan Siu-ho melepas pauwhoknya, nyata sekali ia segan untuk meyerahkannya.
"Ayo, kau tak perlu kuatir, aku takkan merebut pahalamu, yang penting biarlah kitab itu dapat tiba di kota raja dengan selamat dan nanti kita enak semua."
Kata See ciang pula.
Mendengar itu Wan ci kaget, sekali piauwhok itu berada ditangan she Giam itu, sukarlah untuk merebutnya karena ia itu ilmunya lihay sekali, cepat ia mengasah otak mencari akal ia berbisik beberapa patah kata di dekat telinga Ceng Tong.
Ia sendiri lalu melepas kopiahnya, rambutnya diuraikan kemuka, lalu memakai sapu tangan untuk menutupi separuh mukanya, setelah itu ia menjemput 2 lembar genteng terus ditimpukkan kearah jendela.
Genteng itu menyambar padamkan pelita di dalam kamar, dan secepat itu tampak lima ososok tubuh loncat keluar, malah salah seorang yang berada dimuka sendiri kedengaran berseru.
"Siapa yang bernyali besar itu?"
Ceng Tong mengerti maksud kawannya, dengan bersuit keras, ia loncat melewati temok.
Mengira itulah sang pengacau, piauwsu-piauwsu itu segera mengejarnya.
Setelah piauwsu itu menghilang, Wan ci menerobos masuk kedalam kamar.
Hampir setengah harian Siu-ho menderita ditotok, dan kini baru saja ia sembuh, sudah tentu badanny lemas.
Dengan berlalunya kawan-kawannya tadi, tahu-tahu ada seorang sangat aneh rambutnya terurai kemuka, setan bukan orang bukan.
Malah makhluk itu berjingkrak-jingkrak dengan mulut berkecat-kecat tk karuan artinya .
Saking takut dan kagetnya, Siu-ho lemah lunglai tulang sendinya.
Cepat sekali makhluk itu menyawut pauwhok siu-ho, lalu dengan masih bersuit cuwat-cuwit dia berobot keluar.
Sekarang kita tengok kawanan pauwsu yang tengah mengejar bayangan hitam tadi, di saat lain tiba-tiba Tio tayjin hentikan larinya dan berkata .
"Celaka kita telah terjebak, memancing harimau keluar sarang. Ayo, lekas kembali.!"
Kawan -kawannya pun seperti tersadar.
Ketika memburu kedalam kamar, didapatnya Siu-ho dalam keadaan yang lucu.
Dia jungkir balik dari atas pembaringan, terlongong-longong seperti patung.
Baru setelah dipaksa kawan-kawannya ia dapat menceritan tentang makhluk seperti setan yang mengambil pauwhoknya tadi.
"Ngaco, berpuluh-puluh tahun kuberkelana di kangouw, belum pernah kujumpai seorang setan, bentak Thio taijin dengan gemasnya Wan-ci ketika itu sudah lompat tembok, ia bersuit pelan-pelan dan dari tempat kegelapan muncul 2 sosok bayangan yang datang menyambutnya. Mereka adalah Hwi Ching dan Ceng Tong.
"Pauwhok telah kurampas kembali, harap jangan disalahkan lagi ......."
Tapi belum habis Wan-ci menyatakan kegirangannya itu, tiba-tiba Hwi-Ching berseru.
"Awas dibelakangmu!"
Baru wan-ci hendak kebelakang pundaknya telah ditepuk orang, cepat ia pakai tangan kirinya untuk menangkap penyerangnya,tapi ia kalah sebat dari orang itu yang lenih dulu telah menarik tangannya.
Wan ci terkejut hatinya.
Insyaflah ia betapa lihay musuhnya itu sehingga tak merasa dirinya dihunus dari belakang.
Buru-buru ia bernalik diri.
Tampak olehnya seorang setengah tua yang tinggi perawakannya tengah berdiri dihadapannya begitu dekatorang itu berdiri dibelakangnya, karena terkejutnya Wanci sampai mundur 2 tindak dan berbarengan itu ia lemparkan pauwhok kepada Ceng Tong sambil berseru "Terimalah barangmu, Cici !"
Habis itu ia menatap kepada si orang tadi siap untuk menghadangnya.
Tetapi tak disangka, kalau gerakan musuh itu sedemikian sebatnya, pauwhok melayang dia membarengi mengenjot kakinya untuk menyawut.
Melihat itu wan-ci menjadi terkejut dan gusar, seketika itu diserangnya orang itu, sedang dilain pihak, Ceng Tong segera menyerangnya dari belakang.
Dengan tangan kiri menggengggam pauwhok orang itu keluarkan ilmu silat "Koo Soe-ping"
Sebuah ilmu silat cabang Voe Tong pay yang digerakan dengan tenaga yang berisi, sekejap saja Wan ci dan Ceng Tong kena di desak mundur sampai beberapa tindak.
Wan ci segera mengetahui bahwa musuhnya itu adalah orang mengobati Tong Siu-ho, yakni yang disebut Tio Tai-jin, Ko su-pang.
Adalah ilmu silat pertama yang dipelajari oleh wan Ci selama ia berguru pada Hwi Ching, selama itu ia tak menyangka, bahwa ilmu silat itu telah begitu mahir dan berbahaya sekali ketika dijalankan oleh orang she Tio tersebut.
Menghadapinya, sampai-sampai Wan Ci harus mengerahkan kepandaiannya.
Pada suatu kesempatan ia berpaling kearah suhunya, tapi ternyata suhunya itu entah kemana perginya.
Juga Tio tayjin merasa terkejut tampaknya jurus-jurus permainan Wan ci adalah serupa dengannya.
Dia nantikan sampai wan Ci memainkan jurus, To Ki-liong ia tak mau berkelit.
Begitu miringkan tubuh, ia juga gunakan gerak To ki-liong untuk menyambutnya.
Sama jurusnya, tapi lain sekali kekuatan penggeraknya, kesemutan, sakitnya bukan kepalang.
Kakinya sempoyongan untuk mencegah jatuh terpaksa Wan Ci loncat kesamping.
Nampak kawannya menghadapi bahaya, Ceng Tong cepat loncat menghampiri seraya mengulurkan tangan untuk menahan tubuh sang kawan yang hampir saja rubuh itu, sembari berbuat begitu, tangan kanannya mengacungkan pedang kearah musuh.
Maksudnya untuk menjaga jika musuh maju menyerang.
"He, bocah katakan .... suhumu orang she Ma atau she Liok!"
Seru orang itu dengan lantang.
"Biarlah kutipu ia, pikir wan Ci. Maka sahutnya "Suhuku orang she Ma, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Bagus betul perbuatanmu itu, berjumpa dengan susiok tak mau menjalankan peradatan.".
"Mendengar bahwa orang itu ternyata adalah paman guru Wan Ci, maka hilanglah harapan Ceng Tong untuk dapat merampas kembali kitab suci itu. Sekali kakinya mengenjot, ia loncat setombak jauhnya, terus berlari. Wan ci terkejut bukan main, terus buru-buru mengejar. Tapi baru ia mengejar beberapa puluh tindak, dilihatnya langit mendung sekali. Kilat pun berkelebat diudara. Ia ngeri sekali, dan tak berani mengejar terus. Tapi ketika kembali ketempatnya tadi, dilihatnya orang she itu sudah tak berada disitu lagi. Iapun cepat-cepat loncat tembok terus masuk, dan baru saja ia melangkah kedalam kamarnya, hujan turun dengan lebatnya. Hujan ternyata t sampai pagi. Nampak hujan masih turun lebat. Wan ci menuju ke kamar Li Thay-thay dan mengatakan bahwa rombongan mereka terpaksa tak dapat berangkat. Habis makan pagi, wan Ci menghampiri kamr suhunya dan menuturkan tentang kejadian semalam. Menengar penuturan muridnya, tampak Hwi Ching mengerut dan dahinya seperti berpikir dalam-dalam.
"kau tak bilang kau muridku, itulah baik-baik."
Katanya kemudian.
Melihat wajah gurunya berubah serius wan Ci tak berani menanyakan lebih jauh.
Orang yang disebut Thio -taijin itu, memang sutenya Hwi Ching yang bernama Thio Ciauw Tiong.
Orang kangouw menyebutnya "Lebih baik ditusuk tombak tiga kali, asal jangan berjumpa dengan she Thio."
Loo Ong, dimaksudkan "Wi-tin-ho-ni"
Ong Hwi Yang Poan-koan Thio Ciauw Tiong.
Ke 2 orang itu yang seorang menjadi piauwsu dan yang satunya menjadi pembesar negeri adalah orang-orang yang memusuhi orang-orang gagah di kalangan Bu-lim.
Mereka sangat sombong, karena andalkan kepandaian yang tinggi.
Hwi Ching mempunyai tiga orang saudara seperguruan, suhunya kelewat sayang pada murid yang bungsu, sehingga Ciauw Tiong ilmunya lebih lihay dari suheng-suhengnya.
Sejak Hwi Ching putus persaudaraan dengn sutenya itu, baru kali ini dia berjumpa.
Ketika sutenya bertempur dengan Wan Ci dan Ceng Tong, dia menyingkir ketempat gelap.
Dia tak menduga kalau dalam sepuluh tahun ilmu silat Ciauw tiong maju begitu pesat.
Diam-diam dia mengakui bukan tandingan sutee itu.
Dengan adanya orang selihay itu dalam barisan kuku garuda Pemerintahan Ceng, maka bertambah tangguh keadaan mereka.
Sepanjang pendengaran Wan Vi maka diketahuilah bahwa Ciauw Tiong datang kesitu untuk menangkap pesakitan penting dari Pong Hwa Hwee.
Bagaimana nanti mereka dapat lolos dari tangan manusia kejam itu ?
Hawa udara pada permulaan musim Chiu rontok sangatlah panasnya.
Dan rupanya hujan terus-menerus tah henti-hentinya sifat kanak-kanak masih belum terlepas dari Wan Ci.
Untuk mengeram diri dalam kamar saja sungguh menjemukan.
Maka pergilah ia menengok kamar orang Hong Hwa Hwee.
Keadan disitu ternyata sepi-sepi saja, karena Tin Wan Piauwkok juga belum juga berangkat.
Beberapa orang piawsu tengah duduk bercakap-cakap di ruangan tengah.
Hanya orang she Thio yang katanya adalah susioknya itu tak nampak.
Tiba-tiba dari luar, terdengar derap kuda mendatangi.
Kuda itu ternyata berhenti dimuka pintu hotel, dan seorang yang dandanannya seperti anak sekolahan, bertindak kedalam.
Oleh jongos ia disuruh masuk kedalam.
Perawakan anak sekolahan itu tinggi kurus sepasang matanya bening sekali dinaungi oleh alis yang bagus.
Di daerah luar perbatasan jarang terdapat seorang pemuda tampan seperti dia itu.
Melamun sampai disitu, merahlah selebar muka Wan Ci, maka buru-buru ia melengoskan kepala.
Dengan tenang dan nikmat pemuda itu duduk menghadapi arak.
Ketika itu kembali dari arah luar terdengar derap kuda mendatangi lagi.
Melongok dari jendela Wan Ci mengenali keempat orang yang datang itu.
Mereka adalah pengeroyok Hou ping, si wanita gagah pada beberapa hari yang lalu itu lekas Wan ci masuk memberi tahukan suhunya, lalu mereka abersama-sama melihat dari jendela untuk melihat perubahan apa yang akan terjadi.
Dari keempat orang tersebut, yang bersenjatakan pookiam rupanya pemimpinnya, ia panggil pelayan dan menanyakan dengan berbisik, setelah itu lalu meminta arak.
"Bangsat, Hong Hwe itu belum pergi, kita makan dulu nanti baru bekerja!"
Kata orang yang membawa pookiam itu. Rupanya kata-kata itu terdengar oleh si pemuda itu, wajahnya kelihatan berubah ia melirik pada keempat orang itu tajam-tajam.
"Harus kita bantu wanita itu tidak guru?"
Tanya Wan ci tiba-tiba.
"kau jangan sembarangan bergerak, tunggu perintahku dulu,"
Jawab Hwi Ching sembari memandang si anak sekolahan itu.
Pada saat itu, pemuda tadi telah menghabiskan daharannya lalu memindahkan bangkunya keserambi, kemudian mengeluarkan sebatang seruling, terus ditiupnya nyaring-nyaring.
Wan ci kenal seruling itu memainkan lagu "Thian cing-soa"
Atau sunyi senyap dipadang pasir.
Meniup seruling Wan ci menganggap biasa saja tapi yang membuatnya heran, seruling itu bercahaya keemasan, seperti terbuat daripada emas.
Perjalanan di daerah utara sangatlah tak aman, sebatang seruling mas cukup akan menarik perhatian penjahat.
Wan ci mengambil keputusan, akam memperingatkannya nanti.
Juga keempat orang itu, merasa heran atas kelakuan si pemuda sekolahan itu.
Habis makan tiba-tiba si pembawa pookiam yang ternyata bertubuh kate itu loncat keatas meja lalu berteriak keras-keras.
"Kami adalah hamba negeri yang diutus oleh pemerintah agung untuk menangkap pesakitan penting dari Hong Hwa Hwee, saudara-saudara sekalian harap menyingkir dulu. Habis berpidato orang tersebut loncat turun lagi, terus akan menuju ke kamar Lou Ping untuk kesitu, terus akan menuju melalui jalan dimana si pemuda sekolahan itu sedang duduk menyuling, dengan acuh tak acuh enak-enakan meniup serulingnya terus.
"He sahabat, jangan menghalangi jalanan"
Kata si pendek itu, rupanya ia agak sungkan terhadap seorang sekolahan, kalau saja orang biasa tentu sudah dilemparkannya. Tampa pemuda itu tenang menurunkan serulingnya dan berkata .
"Tuan-tuan mengatakan akan menangkap pesakitan penting, sebenarnya apakah kesalahan mereka itu? Kikira lebih baik dilepaskan saja, dari pada nanti tuan banyak repot."
"Hayo enyahlah, jangan kau campuri urusan orang!"
Bentak si pendek dengan marahnya sembari maju selangkah. Pemuda itu masih tenang-tenang saja, malah dengan ramahnya ia mengajak mereka minum bersama-sama , katanya .
"harap tuan-tuan jangan buru-buru, aku sebagai tuan rumah, mengundang tuan-tuan minum bersama buat mengikat tali apersahabatan, tentunya tuan takkaaana menampik, bukan?"
Orang itu tidak dapat bersabar lagi, dengan mnjulurkan tangan ia dorong pemuda itu sambaiaal aaamembentak .
"Bangsat, sungguh menjemukkan!"
Ketika tangan hampir mengenai, tahu-tahu pemuda itu menggeliat tubuh dan berteriak-teriak .
"Aduh, jangan turun tangan keras-keras."
Seperti orang sempoyongan kena pukulan, dia gentayangan ngerusuk kemuka dengan serulingnya. Tibatiba serulingnya ditusukan kedada kiri si pendek seketika itu juga si pendek jatuh numprah ke tanah.
"Astaga jangan, jangan lakukan penghormatan begitu, aku tak berani menerimanya!"
Teriak pemuda sekolah itu dengan lalu mencegah.
Bagi mata seorang ahli, tentu segera mengerti bahwa pemuda itu telah gunakan ilmu menotok untuk mempermainkan orang itu, kalau tadinya Wan ci menaruh kekuatiran, kini berbalik girang bukan main melihat permainan sianak muda itu.
"Susiok, jangan-jangan dia si kepala Hong Hwa Hwee!"
Bisik yang memgang Jwan-pian, seorang dari empat lelaki tadi, pada kawanny.
Mendengar itu, ke 2 lawannya itu terkejut sekali, terus mundur beberapa langkah.
Pada saat itu, si kepala hamba pergi yang kena tertotok tadi, tak dapat berkutik lagi oleh kawannya yang memegang jwan-pian ia terus tarik kesamping.
"Adakah Tuan ini orang she Tan? Siautocu dari Hong Hwa Hwee itu?"
Tanya seorang tua yang dipanggil susiok tadi.
"Sungguh telingga kalian itu tajam sekali hingga dapat mengetahui bahwa siautocu Hong Hwa Hwee itu orang she Tan. Memang mata itu ada kalanya lebuh tajam dari pisau. Tapi kali ini betul-betul kuberada, aku inilah orang She Le bernama Hi Tong. Le artinya, aku, Hi ialah ikan didalam empang, sedang huruf Tong, berarti, sama. Aku yang rendah ini hanya salah seorang yang tak berarti dari Hong Hwa Hwee. Kursiku hanya keempat belas dari urutan kedudukannya. Pemuda itu dengan tertawa menerangkan dirinya, setelah itu ia angkat keatas serulingnya dan berkata pula.
"Adakah kalian tak mengenal diriku ini?"
"Oh, kau adalah Sim Liok siu thay, bukan?"
Kata si hamba serdadu "Jangan keliwat menjunjung tinggi diriku itu, kepandaianku masih belum berarti apa-apa, jangan kalian salah menganggap aku sebagai sautocu dari Hong Hwa Hwee, salah-salah diriku bisa celaka nanti.
Sudara bukankah Kepala Opas Pak Khia Go Kok Tong atau Go jiya yang sangat kesohor itu?"
"Benarlah, karena ternyata orang Hong Hwa Hwee, hayo tempurlah aku!"
Sahut orang tua tadi.
Seruan Go Kok Tong itu dibarengi dengan melayangnya pedang.
Nyata betul bahwa orang she Ho itu bukan kosong namanya.
Gerakannya, mengandung tenaga dalam yang hebat sekali.
Go Kok Tong adalah kepala polisi dari Pak Khia.
Telah banyak perkara pembunuhan gelap yang dapat dibikin terang, sehingga tidak sedikit penjahat besar yang telah binasa dalam tangannya, karena kuatir pembalasan dari mereka yang telah hutang jiwa itu.
Beberapa tahun yang lalu dia sudah undurkan diri.
Tapi ketika sutitnya yang bernama Pang Hi, bersama beberapa siuwi atau pahlawan keraton, mendapat firma untuk menangkap pesakitan penting dari Hong Hwa Hwee, dia tak dapat menolak permintaan supaya membantunya.
Orang yang bersenjatakan Jwan-pian itulah si Pang Hwi.
Orang yang memegang golok kui-tao-to bernama Ciang Thian siu sedang yang membawa tongkat ialah Han Joeu Lim.
Mereka adalah pentolan-pentolan polisi dari Tan Ciu.
Sebenarnya antara polisi Pa khia lam Ciu terdapat suatu persaingan halus, masing-masing berebut pahala.
Tapi ternyata hasilnya Ciang Thian siu diam-diam Pang Hwi yang baik itu merasa girang karena saingannya roboh tapi dia kuatir juga akan dihajar musuhnya itu.
Pada saat itu, dengan sebatang suling mas, Le Hi Tong melayani Go Kok Tong, Pang Hwi dan Ciang Thiau-siu.
Ada kalanya suling itu digunakan sebagai pian, tapi dilain saat digunakan untuk menotok jalan darah.
Malah dilain saat mirip dengan permainan pedang.
Ketika pentolan hamba negeri itu, tak dapat berbuat banyak.
Malah mereka kelihatan repot sekali menjaga diri.
Baik Hwi Ching maupun Wan-ci, nampaknya girang dengan jalannya pertempuran itu, kata si nona.
"Dia gunakan ilmu pedang Jwan hun-kiam."
Hwi Ching anggukkan kepalanya dan berpikir Jwan-hun kiam adalah ilmu tunggal dari cabang Boe tong pay.
Pasti dia murid dari Toa Suheng Ma Cin.
Memang dugaan Hwi Ching itu tidak salah.
Le Hi Tong adalah murid kesayangan dari Ma Cin.
Dia anak dari seorang ternama, karena terkena fitnahan orang dan meninggalkan penjara.
Dengan bertekad bulat Hi Tong berguru pada Ma Cin setelah selesai dalam pelajaran ilmu silat dia pulan ke kampungnya dan membunuh tuan tanah yang jahat itu.
Dan sejak itu dia berkelana di kangouw sampai akhirnya dia masuk dalam gerakan Hong Hwa Hwee.
Dia otaknya memang cerdas apa saja dapat dipelajarinya dengan cepat.
Karena kecerdasannya itu, di Hong Hwa Hwee diserahi tugas penghubung dan pemberi warta.
Kali ini sebenarnya dia sedang menjalankan perintah Siaotocu ketua muda, untuk suatu urusan di Lok-yang.
Sama sekali dia tak mengetahui bahwa Pan Lui ciu Bun Thay-thay dan Wan yang to Tao Ping telah kepergok musuh dan terluka beristirahat di hotel tersebut.
Karena kata-kata keras yang diucapkan Go Kok Tong akan menangkap orang Hong Hwa Hwee, itulah yang mendesak ia untuk turun tangan melindungi kawannya.
Ketika mendengar tiupan seruling tadi, tahulah Lao ping bahwa Kim Tiok siucay seruling emas, telah datang.
Le Hi Tong memberi perlawanan seru pada ketiga pengeroyok itu.
Orang-orang Piauwkok pun sama akeluar melihat ramai-ranai itu.
"Kalau aku suruh 2 orang saja yang melayani sedang yang seorang bisa gunakan senjata rahasia Tong Siu Ho,"
Si mulut usil itu berkata.
Dia lihat pang Hwi mengendong busur maka secara tak langsung ia mengingatkannya karena ia masih dendam dengan orang Hong Hwa Hwee.
Pang Hwi seperti tersadar, loncat keluar kalangan dia enjot kakinya keatas meja sekali menjambret busur melayanglah beberapa biji pelor kearah Le Hi Tong.
Dengan Lincahnya Le Hi Tong berkelit, namun kedudukannya berbahaya karena dia masih menangkis serangan musuh, pedang dari Go Kok Tong dan Golok Ciang Tian siu berbarenan menyambar.
Ketika Hi Tong berusaha menangkisnya agaknya terlambat sedikit.
Ujung pedang Go Kok Tong menowel krowak jubahnya.
Agak kesima Hi Tong dan kelalaian sesat itu saja harus dibayar dengan benjol kening tersambar sebuah pelor.
Kesakitan itu telah mengendorkan gerakannya, justeru sebaliknya ke 2 lawannya itu makin memperhebat serangannya.
Kini Hi Tong hanya kuasa membela diri, tak dapat membalas menyerang.
Namun Ia tak sampai gugup, ilmu silatnya cukup lihay, sembari tangan kanan memegang seruling, 2 jari tangan kirinya dipakai untuk menotok jalan darah dibawah tetek Go kok tong.
Terkejut juga Go Kok Tong melihat kepandaian yang mengagumkan dari sianak uda itu.
Tapi secepat itu pula Hi Tong mengganti totokan menjadi pukulan terus diayunkan kemuka Ciang Thian siu.
Malah golok dipakai untuk menangkis pukulan dari Hi Tong, seketika itu juga Hi Tong berlaku lambat untuk menarik tangannya.
Melihat kesempatan yang bagus, dari menangkis Thian siu teruskan goloknya untuk menyerang, tetapi ia baru sadar ternyata musuh hanya melakukan pancingan sehingga ia terlambat, secepat kilat si anak muda itu mengayunkan sulingnya kemuka, maka terjungkal ah Thian siu ke tanah.
Sebelum Hi tong menyusul kemplangannya, lantas tercegah oleh datangnya Pedang Co kok tong dan pelor Pang Hwi yang datang menyambar.
Pertempuran terus berlangsung dengan serunya, ketika itu Thian Siu sudah bagkit kembali.
Selagi Hi Tong mencurahkan perhatian menangkis pedang dan menghindari pelor, ia tumplek seluruh kekuatannya dalam gerakan Tok hiat san, golok dihantamkan ke batok kepala orang, serangan itu hebat sekali, sukar bagi Hi Tong untuk menghindarinya.
Tapi sekonyong-konyong tangan Thian siu terasa sakit sekali.
Berbarengan dengan terdengarnya suara mendering, goloknya terpental jatuh ke tanah.
Selagi ia masih bengong karena terkejutnya.
Tahu-tahu sebatang hui to telah bersarang di dadanya.
Tanpa berkaok-kaok lagi, ia roboh binasa seketika.
Ketika berpaling kebelakang, tampak olehnya, Wan yang to Lau ping sudah berdiri disitu dengan menggenggam sebatang Huito.
Kini tumbuhlah semangatnya.
Kalau ada Lou Ping tentunya sang suami pun berada disekitar situ.
Dengan Pat-lui chiu Bun thay-thay disampingnya, mudahlah untuk membereskan kawanan kuku garuda ini.
Demikian anggapan Kim Liok siucay Le Hi Tong, sama sekali ia tak mengira kalau Bun Thay-thay dalam keadaan luka berat, tak dapat bergerak apa-apa.
"Su-so, kau bereskan dulu orang yang melepaskan pelor itu seru Hi-Tong. Ucapan itu dituruti oleh Lau Ping dengan kirimkan sebatang Huito. Dengan tergesa-gesa Pang Hwi pakai busurnya untk menangkis.
"Trang !"
"Busur patah menjadi 2, tapi Huito itu tetap masih ada kekuatannya menyambar lengan Pang Hwi, serasa terbang semangatnya dan berseru keras-keras. Susiok, berhenti, angin keras!"
Itulah sandi pertanda untuk mundur karena setelah itu Pang Hwi brbalik bahkan terus lari Go Kok Tong merangsek hebat dan ketika Hi Tong terpaksa mundur, dia sambar han Jun Lim yang terkapar ditanah, sambil memanggulnya terus dibawa pergi.
Le Hi tong tak mau mengejar, hanya kembali menempelkan sulingnya kemulut lagi untuk ditiupnya.
Dalam pandangan wan Ci, siaucay itu aneh sekali.
Tapi bukan demikian sebenarnya.
Kali ini Hi Tong tak meniup sulingnya dengan cara diaalangkan, tapi pegangnya secara dilurskan kebawah.
Begitu mulut meniup, maka dari lobang sulin itu melesatlah sebatang anak panah kecil lurus menyambar musuh yang tengah lari tunggang langgang itu.
Pang Hwi berkelit dengan tundukkan kepalanya kebawah, tapi tidak demikian dengan Han Jun Lim, pantatnya telah tertancap anak panah itu menjeritlah dia dengan kesakitan hebat.
Sehabis itu Hi Tong menanyakan pada Lou Ping dimana suaminya sekarang.
"mari ikut aku, jawab lou Ping. Dengan gunakan palang pintu sebagai tongkat untuk menahan pahanya yang terluka itu, Lou ping membawa Hi Tong ke kamarnya. Sedang di lain pihak, ketika Go Kok Tong berlari-lari sembari memanggul han Joen Lim yang terluka itu sampai diluar pintu hotel, tiba-tiba dia bertabrakan dengan seseorang. Berpuluh-puluh tahun Co Kok Tong meyakinkan ilmunya, kekuatan kakinya teguh bagaikan besi. Tapi bukan main terkejutnya ketika saling berbenturan dengan orang itu, dia sampai terdorong mundur beberapa tindak. Untuk menyelamatkan diri supaya tidak terjatuh terpaksa ia lemparkan kawan yang dipanggulnya itu. Celaka bagi Han Joen Lim, karena sudah terluka oleh huito ditambah lagi anak panah yang menancap dipantatnya kini tubuhnya dilemparkan ketanah, karuan panah itu amblas masuk dalam daging hingga ia menjerit-jerit kesakitan. Ketika Kok-Tong mengawai, ternyata orang itu adalah kepala Gi Lim-kun Thio Ciauw Cong. Dari marah, kini ia berbalik menjadi girang bukan main.
"Astaga, Thio tay-jin. Rombongan kita tak berguna."
Segera ia menyapa.
Adat Ciauw cong sangat tinggi.
Dia tak mu menyahu dengan kata-kata, hanya perdengarkan suara Hmmm saja, sekali tangan kirinya kirinya ia sanggapi Han Joen Lim, tangan kanannya segera memijat perutnya, lalu menepuk pahanya.
Heran juga, seketika itu Joen Lim rasakan kakinya leluasa bergerak lagi.
"Apakah buronan itu sudah lari? Ciauw Cong bertanya "Belum, masih disana,"
Sebut Kok Tong.
"Hm, sungguh besar nyalinya. Membunuh hamba negeri masih begitu berani tinggal di hotel, jengek Ciauw Cong. Sambil berkata itu, Ciauw Cong berjalan menuju ke ruangan dalam. Dihampirinya Ciang Thian Siu yang sudah tak bernyawa itu. Huito yang menancap didadanya dicabut dan dimasukkan kedalam kantongnya.
"Thio-tayjin tiamcu tinggal di kamar itu."
Demikian Pang Hwi memberi keterangan, sambil menenteng jwan piannya ia belaku sebagai penunjuk jalan.
Ketika rombongan Ciauw cong sudah bersiap akan memasuki kamar Bun Thay-thay, sekonyong-konyong dari sebelah kamar lain loncat keluar seorang pemuda dengan memegang sebuah pauwhok merah, Pauwhok dia lambaikan pada Ciauw Cong, sambil berseru.
"He, sudah kurampas lagi !"
Tanpa melihat sikap orang, pemuda itu terus berjalan keluar, sesaat itu terkejut juga hati Ciauw cong.
Dia anggap rombongan piawsu itu hanya seperti kantong nasi saja.
Pauwhok yang berisi Al-Qur"an itu dapat dia rampas dan diserahkan kepada mereka, tapi ternyata mereka tak mampu menjaganya.
Karena waktu sedang menghadapi urusan penting, dia tak mau kejar si pemuda, terus akan melanjutkan serbuannya tadi.
"Entah pelajaran kucing berkaki tiga darimna yang telah tak malu menyebut diri sebagai susiok itu."
Cis, tak tahu malu tiba-tiba terdengar seseorang berseru keras-keras.
Ternyata itulah si pemuda.
Kiranya ia berhenti disebelah sana, dan menghina Ciauw Cong.
Nama Ciauw Cong mengetarkan dunia kangaouw.
Baik golongan putih maupun golongan hitam, sangat menyegani, selam itu belum pernah ia dihinakan orang.
Seketika itu juga, meluaplah darah Ciauw Cong, sekali loncat dia terjang si pemuda itu.
Yang ternyata adalah wan Ci, maksud Ciauw cong akan dibekuknya anak itu, untuk diberi hajaran lalu akan diserahkannya pada Tao suhengnta, Ma Cin.
Dia menduga anak itu tentu murid Tao-suhengnya.
Bagai diuber setan, larilah Wan-ci sekeras-kerasnya.
"Bocah edan kau mau lari kemana,"
Seru Ciauw Cong sembari mengejar.
Tapi si anak muda itu telah melenyapkan diri, entah kemana.
ketika Ciauw Cong berniat hendak menyelesaikan urusannya tadi, dengan mengeluarkan kata-kata ejekan yang memerahkan kuping.
Apa boleh buat, dia mengejar lagi.
Dengan demikian semacam permainan kejar-kejaran.
Kalau dia berhent juga, dengan tak lupa mengeluarkan kata-kata yang mengejek.
"Akan kubekuk dulu si bangsat itu, baru nanti kukejar urusan itu."
Dem Kian Ciauw Cong berpikir, dan dia segera gunakan ilmunya berlari cepat untuk mengejarnya.
Karena bernafsu betul-betul, maka jarak antara dia dengan wan-ci semakin dekat.
Sampai disini wan Ci jadi semakin bingung.
Ia lari, lari terus kelereng gunung.
Tapi sekali Ciauw Cong enjot kakinya keras-keras dia sudah berada dibelakang wan ci.
Punggungnya segera ia jambret.
Saking kagetnya, Wan Ci berontak sekuat-kuatnya.
Dan karena itulah, maka telah kerowak sebagaian sebagian, tergenggam dalam tangan Ciauw Cong.
Cepat-cepat Wan ci mengambil keputusan.
Dilemparkannya pauwhok itu kedalam saluran air dibawah gunung, sambil berseru .
"Pergilah ambil sendiri."
Yakin bahwa pauwhok itu berisi kitab Al-Qur"an, Ciauw Cong sangat kuatair kalau sampai jatuh keair tentu rusak.
Tanpa pikir panjang lagi, dia loncat turun dari lamping gunung, untuk mengambilnya.
Melihat itu Wan Ci tertawa tergelak-gelak terus kembali pulang.
Ternyata pauwhok itu sudah basah sebagian, maka tersipu-sipulah Ciauw Cong membukanya untuk melihat kitab kena air tersebut.
Alangkah terkejutnya ia ketika dilihat isinya, ternyata bukan Al-Qur"an isinya melainkan 2 buah buku hotel, yaitu daftar nama-nama tamu dan catatan kas, seketika itu juga ia memaki-maki.
Saking marahnya, rambut Ciauw Cong seperti berdiri.
Kebesaran namanya berpuluh-puluh tahun itu, ditumpas dengan olok-olok si anak muda seharai itu saja.
Dengan gemas dilemparkannya lagi Pauwhok itu kedalam salauran air.
Karena kalau sampai ketahuan orang, tentu hilanglah, mukanya.
Dengan menahan kemarahan, ia bergegas kembali, setiba di hotel dilihatnya Pauwhok berisi Qur"an itu masih menggemblok dibelakang punggung Giam See Ciang.
Betapa malunya, untung hanya dia sendiri tidak ada orang lain yang mengetahuinya.
"Adakah pauwhok mu itu pernah diganggu orang?"
Tanyanya untuk mencari kebenarannya.
"Tidak ada,"
Jawab See ciang.
Walaupun demikian, see ciang mengundang Ciauw Cong kekamar untuk bersama-sama memeriksanya.
Karena ia menduga, kalau sampai Tayjin tersebut sampai menanyakan, tentulah ada sebabnya.
Tapi teryata kitab itu masih terdapat didalam pauwhok tak kurang suatu pun.
Ciauw Cong memanggil pelayan untuk ditanya keterangan tentang orang-orang Hong Hwa Hwee seperti sudah tak kelihatan disitu juga tak ada pertempuran apa-pa lagi.
"Percuma kerajaan memelihara orang-orang itu. Baru kutinggal sebentar saja, orang-orang itu sudah dapat meloloskan diri, seru Ciauw Cong dengan murkanya.
"Giam laote"
Mari ikut aku dan saksikan aku sendiri yang akan menagkap pesakitan itu.
Ciauw Cong segera menuju ke kamar yang ditempati Bun Thay-thay, sedang Giam See Ciang menjadi serba sulit.
Karena terus terang saja dia jerih terhadap anggota Hong Hwa Hwee yang pengaruhnya besar itu.
Tapi diapun tak berani menolak ajakan Thio tayjin yang lihay dan berpengaruh itu.
"Penjahat Hong Hwa Hwee, hayo serahkan diri, tiba-tiba Ciauw Cong berseru dimuka pintu kamr prang tangkapan itu. Sampai beberapa sat lamanya tak ada jawaban apa-apa.
"bangsat pengecut betul kau!"
Ciauw Cong mengulangi seruannya sambil ia memaki-maki.
Dia ayunkan kakinya, dan terbukalah pintu itu lebar-lebar.
Kiranya pintu memang tidak dipalang dari dalam.
Didalamnya tak kelihatan seorangpun juga.
"Ha, buronan sudah kabur!"
Seru Ciauw Cong dengan kaget. Langsung dia menerobos masuk masuk tapi kamar itu kosong melompong. Hanya diatas pembaringan tampak segunduk selimut yang menyerupai orang besarnya.
Jilid 4 DENGAN ujung pedang, dia singkap selimut itu.
Dan untuk mengejarnya, disitu 2 orang sudah menggeletak saling berhadapan.
Dengan ujung pedang ia towel orang tersebut, tetapi mereka tak bergerak.
Ketika diawasi dengan seksama, ternyata ke 2 orang itu tak bernyawa lagi dengan muka pucat pasi dan sepasang biji matanya yang melotot.
Kiranya ke 2 orang itu, adalah Han Joen Lim dan pak Hwi anggota opas dari pak Khia.
Nyata mereka telah lama menjadi mayat, karena baunya menusuk hidung Ciauw Cong, tubuh mereka tak terdapat tanda-tanda luka ataupun bekas darah.
Baru stelah diperiksa dengan teliti dapat diketahui bahwa batok kepala telah hancur.
Tahulah Ciauw Cong bahwa mereka dibinasakan oleh pukulan Iwekang dari seorang ahli yang berkepandaian tinggi.
Diam-diam dia kagum pada Pan Lui Chiu Bun Thay-Thay yang diduga adalah pembunuhnya itu.
Walaupun orang she Bun itu terluka berat namun dia masih dapat menggerakkan tenga pukulan yang sedemikian dasyatnya itu "Pan Lui Chiu"
Si tangan gledek itu betul-betul tak bernama kosong.
Tapi dimanakah Go Cok Tong?
Dan juga suami Bun Thay thay itu.
Ciauw Cong panggil jagos untuk ditanyai tapi mereka tak dapat memberi keterangan apa-apa.
Yang nyata Ciauw Cong salah duga kali ini.
Karena yang membinasakan Joen Lim dan Pang Hwi bukanlah Bun Thay thay.
Pada waktu Le Hi Tong dalam keadaan terjepit sukar baginya menghindari bahaya, Liok Hwi Ching diam-diam telah melepaskan huyong tiam yang tepat mengenai tangan Ciang Thian siu hingga goloknya sampai terpental jatuh.
Dan disitulah Lou ping menyusuli dengan huitonya untuk menamatkan riwayat orang she Chiang itu.
Juga ketika Go Kok Tong memanggul Han Joen Lim lari tadi Hwi Ching yang dulunya mengira itu sang sutit Hi Tong bakal terlepas dari ancaman ternyata dibikin kaget dengan munculnya Ciauw Cong.
"Suhu yang merampas pauwhok malam itu adalah dia apakah suhu mengenalnya?"
Tanya Wan Ci. Hwi Ching hanya mengeluarkan suara "hmm"
Saja karena dia sedang memikirkan suatu daya lalu katanya pada sang murid.
"Kau lekas-lekas pancing dia supaya meninggalkan tempat ini sejauh mungkin. Kalau-kau kembali lagi aku tak berada disini, besok pagi kau teruskan saja perjalananmu nanti kususul. Wan ci hendak bertanya lagi, tapi buru-buru Hwi Ching mencegahnya dan serta merta disuruhnya cepat pergi. Wan ci yang lincah dan cerdas itu segera mendapat akal bagaimana menjalankan perintah suhunya itu. Ia ambil sehelai kain merah, dan dengan tak setahu pegawai hotel segera ia ambil 2 buah buku. Dengan itulah ia berhasil mengelabui Ciauw Cong. Hwi Ching cukup yakin dan percaya akan kecerdasan muridnya itu. Dia tahu juga bahwa meskipun suteenya mempunyai ilmu yang lihay, tetapi dalam kecerdasan masih kalah dengan litecunya itu. Dia yakin tentu sang murid tidak sampai mengalami bahaya apa-apa. Disamping itu, diapun tahu bahwa Ciauw Cong tak bakal mencelakai Wan ci, mengingat bahwa Li Khik Siu adalah seorang pembesar tinggi. Dan yang paling menentramkan hati, ialah tabiat Ciauw Cong apabila mengetahui bahwa musuhnya adalah seorang wanita, tentunya ia akan berlalu tanpa menggangu. Ternyata perhitngan Hwi Ching itu sedikitpun tak melesat. Pada waktu itu Ciauw Cong tetap tak mau gunakan senjata rahasia, karena dia masih menyangka Wan Ci adalah murid dari toasuhengnya Ma Cin. Bagaimnapun dia tetap tak berlaku kejam. Sewaktu Ciauw Cong keluar untuk memburu Wan Ci, Hwi Ching segera menghampiri kamar Bun thay-thay dan mengetok pintunya. Dari dalam kamar terdengar suara orang menanyakan.
"Siapa?"
"Aku seorng sahabat dari Lo Gwan Tong Lou Ngoya akan menyampaikan sebuah kabar penting jawab Hwi Ching."
Untuk beberapa saat, tak ada jawaban apa-apa dari dalam juga pintunya tidak kelihatan dibuka.
Rupannya mereka tengah berunding.
Selagi begitu, Go Kok Tong dengan ketiga kawannya kelihatan menghampiri.
Rupanya mereka menyelidiki letak kamar dari Bun Thay-thay.
Heran mereka itu dibuatnya ketika menampak ada seorang berdiri dimuka pintu kamar Bun Thay thay.
Justeru pada saat itu pintu tampak dibuka dan muncul ah Le Hi Tong diambang pintu, katanya "Locianpwe ini siapa?"
"Aku ini sosiokmu Bian Li Ciam Liok Hwi Ching."
Agak bersangsi Hi Tong ketika itu.
Memang dia tahu bahwa dirinya mempunyai seorang susiok tapi selama itu belum pernah ia mengenalnya.
Jangan bersuara, aku akan bikin kau percaya ayo lekas sembunyi sana, seru Hwi Ching berbisik ketika nampak orang masih sangsi kepadanya.
Mendengar itu, kecurian Hi Tong makin bertambah, dia tetap menghadang diambang pintu.
Nampak sikap bandel itu, Hwi Ching ulurkan tangan kirinya untuk menepuk pundak Hi Tong, buru-buru mengegos kesamping menjulur kearah lambung orang.
Dengan gerak "Lan Ca-ih"
Pelan-pelan didorongnya tubuh Hi Tong.
"Lan ca-ih"
Sebenarnya jurus pertama dari ilmu silat Bu Tong pay, sama sekali Hi Tong tak mengira, bahwa jurus itu ditangan Hwi Ching merupakan gerakan yang luar biasa kuatnya, hingga dia sampai terdorong beberapa tindak.
Dalam kekagetannya, berserulah Hi Tong dalam hatinya.
"Betul, betul inilah susiokku."
Justru ketika itu Lou Ping dengan sepasang goloknya siap untuk menerjang, buru-buru Hi Tong membuat gerakan tangan sambil mencegah.
"Suso, tahan!"
Pada saat itu, Hwi Ching melambai-lambaikan tangannya kepada ke 2 orang itu, maksudnya menyurh mereka menyingki. Habis itu, dia sendiri terus keluar untuk menyambut Go Kok Tong dan kawan-kawannya.
"Hai, orang dalam kamar ini sudah melarikan diri hayo kau periksa kemari!"
Tanpa curiga ap-apa, Go Kok Tong menerobos masuk di kuti oleh Han Joen Lim dan Pang Hwi, sampai disitu, barulah Hwi Ching turut masuk.
Palang pintu dipasang.
Pada waktu itu, ketika melihat disudut kamar tampak Le Hi Tong dan kawan-kawannya, terkejutlah Kok Tong bertiga.
Dia serukan ke 2 kawannya untuk mundur segera.
Han Joen Lim dan pang Hwi menurut, tapi baru mereka berputar diri, tiba-tiba ke 2 belah tinju Hwi Ching menyambutnya.
Dan seketika itu remuklah batok kepala ke 2nya.
Otak Kok Tong cepat bekerja, dalam keadaan terkurung itu lekas ia mengambil keputusan.
Sambil melindungi batok kepalanya dengan ke 2 tangan, dia mengenjotkan diri loncat ke arah jendela yang terbuka.
Dan untuk itu, hampir saja ia berhasil.
Tapi celakanya, ketika hampir lolos Bun Thay-thay yang dilewati diatas kepalanya cepat bangun dan mengirimkan pukulannya yang terkenal itu.
Tepat mengenai pundak lawan.
Tenaga pukulan Pan lui chiu itu luar biasa dasyatnya.
Seketika itu juga, pundak kanan Kok Tong telah putus.
Namun menahan kesakitan hebat Kok Tong tetap berlaku nekad untuk loncat keluar jendela itu.
Menyusul itu, huito Lou Ping menyambar dari belakang., syukur Kok Tong sudah lebih dahulu menjaganya.
Begitu ke 2 kakinya menginjak tanah, ia enjotkan lagi kesamping.
Walaupun tak sampai ia binasa, tak urung jua pundak kirinya terpapas juga.
Dengan mengerek gigi menahan kesakitan hebat Kok Tong terus lari terbirit-birit.
Sampai disini, lenyaplah kecurigaan Lou ping dan Hi Tong serta merta mereka berlutut dihadapan Hwi Ching.
Sedang Bun Thay-thay yang masih rebah dipembaringan, buru-buru berkata .
"Locianpwe, maafkanlah aku tak dapat turun untuk menjalankan peradatan."
"Ah, tak perlu banyak peradatan. Apa hubunganmu dengan To Gwan Thong lau ngoya?"
Tanya Hwi Ching sembari memandang kearah Lou Ping.
"Mendiang ayahku, locianpwe."
Sahut Lou Ping.
"Gwan Thong laote adalah sahabat karibku, tak nyana kalau dia sudah mendahuluiku,"
Kata Hwi Ching dengan suara rawan. Mendengar itu, berlinanglah air mata Lou Ping. Iapun terkenang akan ayahnya yang tercinta itu.
"kau adalah murid dari Ma-suheng bukan ? bagaimna dengan suhumu itu? Tanya Hwi Ching pada Hi Tong.
"Atas berkah susiok dia tak kurang suatu apa pun, memang suhu pernah mengatakan tentang diri susiok yang katanya sudah saling berpisah berpuluh-puluh tahun lamanya. Dia selalu terkenang dan mencari tahu kediaman susiok."
"Suhumu adalah seorang yang setia, akupun sangat terkenang. Tahukah kau bahwa susiokmu yang satunya lagi kini mencari kau ajuga?"
"Thio Ciauw Cong susiok?"
Tanya Hi Tong dengan membelalakan mata. Hwi Ching menganggukan kepalanya. Bun tahay lay ketika mendengar nama thio Ciauw Cong, terguncanglah hatinya dan tak sengaja meluncurkan kata-kata.
"Ah, ......", melihat itu buru-buru Lou ping memapaknya untuk mebelai-belaianya.
"Kalau aku mempunyai seorang isteri sepertinya sekalipun sakit berat tak menjadi soal, diam-diam Hi Tong melamun sendiri ketika melihat kelakuan Lou Ping yang nampak sangat terbuka terhadap suaminya itu. Dia terus melamun yang bukan-bukan, ketika itu Hwi Ching tiba-tiba membuyarkan lamunannya dan berkata .
"Suteku itu memang berwatak rakus dan rendah. Dia merupakan titik hitam dalam cabang kita, hanya saja ilmu silatnya terlampau lihay. Apalagi dia jauh datang dari Pekhia menuju kedaerah perbatasan ini tentunya mempunyai tulang punggung penjagaan yang sangat kuat sekali. Kini lebih baik menyingkir dari dia saja. Besok kita ajal lagi beberapa kawan untuk mencarinya. Lohu sendiri juga tak dapat mencuci noda dari kalangan ku biarlah rerangka tulang-tulang tua ini dihancurkan saja."
Paras Hwi Ching terlihat sungguh-sungguh dan sikap khasatria.
"Kita semua hanya menurut apa yang Liok lopeh rasa baik."
Kata Lou ping seraya memandang Bun thay tay, yang mengangguk setuju pula. Hwi Ching angsurkan sepucuk surat pada Lau Ping. Diatas sampulnya tertulis kata-kata .
"dihaturkan yang terhormat Thiat tan Cang ciu Ciu liong Ing lo enghiong."
Membaca itu giranglah hi Lou ping, terus menanyakan hubungan Hwi Ching dengan orang she Ciu tersebut. Belum sempat Hwi Ching menjawab, berserulah Bun Thay lay .
"Ciu long tiong yang manakah itu?"
"Ciu Tiong Ing,"
Sahut isterinya "Adakah dia tinggal di daerah ini?"
Tanya Thay lay pula "Lohu dengan Ciau Lo-enghiong belum pernah berjumpa, namun kita sama-sama mengenal nama masing-masing.
Dia adlah seorang gagah yang benar-benar bersifat jantan dan tinggi budi pekertinya, dia tinggal didesa Thay tan Ching 2 puluh lie dari sini.
Maksudku agar Bun Thay lay sementara ini beristirahat dulu kesitu, sembari kita suruh menyampaikan berita pada kawan-kawan laute untuk selekasnya datang menjemput laote,"
Kata Hwi Ching.
"Entah bagaiamna pendapat Bun laote,"
Menegasi Hwi Ching ketika tampak muka orang menunjukkan kesangsian.
"jalan yaang locianpwe tunjukkan itu, memang paling baik. Hanya saja diri siautit ini seumpama orang yang mendukung lautan darah. Kalau Kian Liong Lojin belum menyaksikan kematian Siautit, rasanya dia takkan makan tidur dengan enak. Ciu Lo enghiong telah lama kita kenal namanya. Dia adalah pemimpin dari kalangan loklim daerah barat utara. Kejujurannya tak dapat disangsikan lagi. Maka meskipun dengan kaum kita, dia belum mengenalnya, tapi tentu akan menerima siautit dengan tangan terbuka. Hanya saja, coba locianpwe pikir, bukankah dengan begitu dia akan tersangkut-sangkut. Dia yang sudah aman dan tentram bertempat tinggal di daerah sini, bukankah artinya kita akan mencelakakannya, jika sampai berurusan dengan pembesar negeri?"
"harap Bun laote jangan berpikiran begitu."
Sahut Hwi Ching "Kita kaum persilatan hanya menjunjung "CI"
Kebajikan.
Untuk kepentingan sahabat, rela pula kita korbankan jiwa, apalagi hanya harta benda.
Kalau saja Lo-To enghiong kelak mengetahui kita mendapat kesukaran disini dan tidak pergi kepadanya, bukankah sebaliknya dia akan marah karena merasa dipandang rendah?"
"Selembar jiwa siutit ini memang sudah kusediakan, biarlah kawanan kuku garuda itu mengambilnya,"
Masih Bun Thay lay coba membantah. Locianpwe mungkin tak mengetahui "Dosa"
Yang ditumpahkan pada siutit itu keliwat besar sekali. Makin orang itu sahabat karib kita, makin kita tak mau merembet-rembetkan."
"Baiklah, kini kusebutkan seorang tentunya kau mengenalnya"
Kata Hwi Ching pula "Thay Kok lay yang bernama Thio poa san itu pernah apa dengan mute?"
"Itulah sam-tong ke ketua ketiga dari perkumpulan kita!. seru Thay Lay.
"Bagus. Memang apa yang dikerjakan oleh orang-orang Hong Hwa Hwee, tidak kuketahui. Tapi nyata saja, Thio Poa san hiante kawanan sehidup semati. Ketika zaman perjuangan antara hidup dan mati dari Cu Liong Pang, kita berjuang bahu membahu melebihi saudara sekandung. Kalau dia adalah salah seorang dari Hong Hwa Hwee, pastilah tujuan perkumpulan itu mulia adanya, kau paling banyak hanya membunuh bangsa pembesar saja. Ah, bukankah hari ini aku telah membunuh 2 orang pembesar juga!"
Habis berkat itu Hwi Ching menyepakkan kakinya ke mayat Pang Hwi.
"kalau diomongkan, urusan siutit ini panjang sekali, kelak kalau siutit masih diberkahi bisa berjumpa dengan Locianpwe lagi, pasti akan siutit ceritakan. Kali ini Kian Liong loji telah mengirim delapan orang siwi kelas satu untuk menangkap kami suami isteri. Di Ciucwan kami bertempur, dan siutit telah terluka parah. Berunyung titlimu keponakan perempuan, dapat membinasakan 2 orang musuh dengan huitonya, hingga kami dapat lolos kemari. Tapi tak kusangka Pemimpin Ci-lim kun pengawal istana, Thio Ciauw Cong juga datang kesini. Sekalipun siutit binasa, Kian Liang masih takkan puas, selama masih belum mencapai maksudnya."
Dari ucapan itu Hwi Ching dapat menduga bahwa thay lay ini tentulah orang yang mengetahui sekitar rahasia Kaisar Cang Tiauw itu.
Karena kalau tidak begitu, masakan Kian Liong begitu bernafsu sekali untuk menangkapnya.
Kagum juga hati Hwi Ching atas sikap jantan dari orang she Bun itu, yang sekalipun dalam kesukatan besar, masih tak mau membuat orang lain terlibat.
Diam-diam Hwi Ching akan gunakan siasat gertak, untuk memaksanya agat mau menyingkir ke Thiat tan Chung, katanya .
"Bun laote kau tak mau menyeret orang lain itu bagus. Behitulah sifat seorang satria, hanya saja aku merasa sayang.
"Apa yang locianpwe sayangkan itu? Buru-buru Bun Thay-tay bertanya.
"kau tak mau menyingkir, apakah kau kira kita bertiga tega untuk tinggalkan kau? Bahkan aku hendak memuji mereka serta memperkecil kekuatan kita, tapi yang nyata, dengan ikut sertanya suteku itu, pasti bukan lawannya isterimu. Dan hengtemu meskipun aku seorang tua yang bodoh, namun tak mau korban kan jiwaku, kalau kita bertiga jatuh siapakah yang membawamu lari? Bagi seorang tua yang sudah hidup senam puluh tahun seperti aku ini, mati tak perlu disayangkan. Tapi bagaimna dengan Lou ping, sutitku yang menjadi istrimu itu? Hanya karena menurut sikapmu untuk menunjukkkan kejantananmu itu, haruskan turut binasa sampai disini saja. Keringat dingin membasahi kepala Boan Thay Lay mendengar kata-kata jago tua itu, kata-kata itu menusuk kehati, tapi memang benar tak dapat dibantahkan. Melihat keadaan suaminya buru-buru Lou ping mengeluarkan sapu tangan untuk mempesut keningnya, sembari memegang sebelah tangana suaminya yang terluka aitu. Sejak berumur lima belas tahun Bun Thay lay sudah mulai berkelana dikalangan kangouw, sungai telaga. Selama itu entah sudah berapa banyaak pembesar bangpak dan orang jahat yang dibasminya. Tapi kini tangan ampuh itu serasa lemah lunglai, sewaktu berada ddalam genggaman tangan isterinya yang halus itu, seketika berkatalah ia denga patuhnya.
"Nasihat locianpwe itu memanng benar, tadi siautit khilaf, selanjutnya terserah saja bagaimna locianpwe akan mengaturnya. Hwi ching mengunjukkan surat yang akan diserahkan pada Ciu Cong Ing nanti. Disitu hanya dinyatakan ada beberapa sahabat dari Hong Hwa Hwee yang akan minta berteduh dengan tak menyebut nama Bun thay-lay dan kawan-kawannya. Menyambuti surat itu, Bun Thay lay lalu menghela napas, lalu berkata .
"Dengan kedatangan kita ke Thiat tan chung ini, berarti Hon Hwa Hwee tambah seorang injin penolong lagi. Kiranya ada sesuatu anggar-anggar dalam Honh Hwa Hwee yang menyatakan bahwa, budi tentu dibalas, sakit hati tentu dihimpas. Barang siapa yang melepas budi pada Hong Hwa Hwee biar bagaimana juga tentu akan dibalas sampai akhir. Tapi celakalah bagi mereka yang memusuhinya. Besar atau kecil, setiap dendam tentu akan diperhitungkan. Karena itulah, orang-orang Tin Wan piauwkok menjadi tergetar hatinya, sewaktu mengetahui dengan siapa mereka berhadapan. Atas pertanyaan Hwi Ching siapa yang disuruh memberi warta pada Hong Hwa Hwee pusat, menjawablah Hi Tong.
"Dari tiga tempat dalam setiap tiga daerah kita mempunyai 2 belas orang Ceng dan Hohiangcu ketua dan wakil ketua selagi Bun Sutongkeh dan Lou cap it tongkeh yang berada disini. Semua hiangcu sudah berkumpul di Anse. Mereka akan menganjurkan Sao-tocu untuk segera mengambil alih tampuk pimpinan. Dengan alasan masih muda kurang pengalaman, saotocu tentu akan menolak dan meminta agar Hi tong ke Bu Tim totianglah yang memegang pimpinan. Bu tim totiang juga dengan tegas menolaknya, sehingga mereka kini masih berdebat disana. Tinggal menunggu kedatangan Bun Sutongkeh dan Lou cap it tongkeh, pemilihan ketua umum itu akan segera dilangsungkan. Tak dinyana, kalau ke 2 tongke ini terlibat kesulitan disini. Jadi sebenarnya para hiangcu itu tengah mengharap kedatangan ke 2 Tongkeh ini. Hi tong berhenti sejenak dan berpaling pada Bun tahy lay, sambil berkata .
"sebenarnya aku diutus oleh Saotocu ke Lok yang untuk menjelaskan kesalah pahaman ini kepada ahli waris keluarganyaBan. Tapi berhubung tak ada orang lain, biarlah aku saja yang pergi ke Anse untuk menyampaikan warta. Bagaimana pendapat Suko?"
Dalam Hong Hwa Hwee kedudukannya jauh lebih rendah dari Bun Thay lay, setiap persoalan dia harus tunduk kepada yang lebih tingkatannya.
Tapi sewaktu Bun Thay lay belum sempat membuka mulut, Hwi Ching telah mendahului berkata .
"Menurut pendapatku, kamu bertiga sebaliknya lekas-lekas berangkat ke Thiat Tan Chung, setelah itu, Le Hiantit cepat menuju Lok-Yang . urusan memberi kabar ke Anse serahkan sajaa padaku. Kini waktu sangat singkat dan mendesak, harap kalian segera berangkat sekarang!"
Bun thay-lay menurut saja. Dari dalam sakunya, dia mengeluarkan setangkai bungai sulaman warna merah Honghwa terus diserahkan pada Hwi Ching, katanya.
"Locianpwe, setiba di Anse kau pakailah bunga ini, tentu bakal aada orang yang akan mengantarkan locianpwe nanti."
Lou ping lalu membantu suaminya bangun sementaraa Hi Tong meletakkan ke 2 mayat itu ditempat tidur kemudian ditutupi dengan selimut, sedang Hwi Ching segera bertindak keluar terus melarikan kudanya menuju ke barat.
Karena tak keburu mencegah, pelayan hanya mengawasi dengan melongo saja.
Dengan Hi Tong sebagai pembuka jalan Lou Ping menyambar sebatang Palang pintu yang digenggamnya disebelah tangan, sedang sebelah tangannya yang lain memegang suaminya keluar dari kamar.
Hi Tong lemparkan uang perak lima tail kearah meja pengurus hotel, lalu berseru .
"Inilah uang kamar dan makan kami. Dan dalam kamar ada benda yang sangat berharga sekali. Awas kalau kalian sampai berani mengambilnya. Si pengurus hotel tersipu mengiayakan sedang pelayan mempersiapkan kuda, tangannya sampai gemetaran. Tak berapa lama setelah tiga orang Hong Hwa Hwee itu berlalu, muncul ah Wan Ci sehabis menipu Ciauw Cong dengan buntalan palsu tadi. Baru saja ia melangkah masuk pintu hotel, dilihatnya seorang penunggang kuda keluar dari hotel itu, orang itu tentulah piawsudari Tin Wan Piauw kok Tong Siu Ho, Wan Ci terus saj bertukar pakaian, lalu mengawani Li Thay-thay. Sementara itu Le Hi Tong bertiga dengan kencangnya melarikan kudanya menuju ke Thiat Tan Chung. Ketika bertanya pada seseorang penduduk, barulah diketahui bahwa tempat tujuan itu sudah tak berapa jauh lagi. Diam-diam Lou Ping terhibur hatinya, sekali meneduh ke Thiat Tan Chung jiwa suaminya pasti tertolong. Thiat tan Ciu-Tiong Ing namanya harum di dunia persilatan. Di daerah barat utara, baik golongan hitam maupun golongan putih, sama turuti perindahan, sedikitnya orang akan sungkan menggeledah rumahnya, apalagi kalau bala bantuan Hong Hwa Hwee sudah datang, sekalipun kawanan kuku garuda berjumlah besar, pasti dapat dilayani. Selagi Lou Ping bergembira dengan renungannya dari arah muka tampak tiga penunggang kuda mendatangi. Yang 2 ternyata muda-muda, tapi seorang sudah berjenggot putih, wajahnya kemerah-merahan dan membawa sepasang Toa thiat tan semacam gempolan. Di persimpangan, orang tua gagah itu melepaskan pendangannya kearah Bun Thay lay dengan rupa heran. Tapi karena kuda itu berlari cepat, maka sebentar saja mereka sudah terpisah jauh satu dengan lain.
"Suku-susa, orang itu tadi mungkin Thiat tan ciu tiong-ing! Tiba-tiba Hi Tong berseru.
"Bagaimna kau bisa mengetahuinya?"
Tanya Lou Ping "Bukankah dia membawa senjata sepasang Thiat-tan tadi?"
"Sepertinya memang dia orangnya, Bun Thay lay menyelak. Tapi kita belum pernah berjumpa dan dia agaknya terburu-buru mungkin ada urusan penting. Menghadang dan menanyakan nama orang ditengah jalan, kurang pantas. Kita terus saja pergi ke Thiat tan chung dulu!"
Sekejap saja sampailah mereka ke Thiat Tan chung.
Ternyata desa itu sekelilingnya dilingkari sebuah sungai kecil yang pada ke 2 tepinya ditumbuhi pohon itu.
Diluar desa terdapat sebuah benteng disitu terpampang sebuah jembatan gantung.
Kesemuanya menambah keangkeran desa tersebut.
Cong teng cepat menyambut mereka dan mempersilakan masuk ke dalam, sesaat kemudian keluar seorang muda yang kalu ditilik sikapnya seperti pengurus rumah tangga itu.
Dia memperkenalkan dirinya sebagai she Song nama San Beng.
Sewaktu diketahui bahwa ketiga tetamunya itu adalah orang-orang penting dari Hong Hwa Hwee San Beng agak terperanjat.
Katanya .
"Kudengar perkumpulan Jiwi itu berkedudukan di Cang-lam dan jarang sekali bergerak ke daerah ini. Entah samwi ada keperluan apa hendak menemui lochungcu, sayang lochungcu kita sedang pergi. Sengaja pengurus rumah itu berlaku demikian tawar karena dia menyaksikan kedatangan ketiga tetamunya itu, karena setahunya majikannya tak ada hubungan dengan perserikatan Hong Hwa Hwee. Mendengar orang yang dicari tak dirumah sedang sikap yang menyambut ia itu tak begitu mengasih Bun tahy lay tak mau mengunjukkan surat dari Hwi Ching. Dan sedianya dia akan berlalu dari situ, katanya .
"Karena Ciu Loenghiong tak dirumah, kitapun akan kembali saja sebenarnya kita pun tak ada urusan penting dan hanya sekedar akan mengunjungi Ciu loenghiong yang namnya sudah lama kami dengar itu."
Melihat orang itu sudah bangkit dari kursinya buru-buru San Beng mencegahnya.
"Harap tuan jangan tergesa-gesa dulu, tunggu setelah hidangan sekedarnya."
Segera San Beng memerintahkan seorang congceng untuk menyiapkan daharan.
"Mohon dengan sangat samwi suka beristirahat sebentar lagi karena kalau samwi diketahui loenghiong tentu aku dimarahi tak mau menjamu yang terhormat,"
Demikian kata San Beng ketika dilihatnya Bun Thay-lay menolak dan sudah akan berlalu. Berbarenan pada saat itu, keluarlah conceng dengan embawa senampan "daharan"
Terdiri dari 2 buah kantong masing-masing terisi tiga puluh tail perak.
"Bun-nya harap kau tak menampik barang yang tak berharga ini. Dari tempat yang begitu jauh samwi berkunjung kemari,"
Sungguh menyesal kami tak dapat memberi pelayanan yang memuaskan, maka haraplah suka terima ini sekedar ongkos perjalanan nanti."
Demikian kata San Beng.
Mendengar itu, hampir meledaklah dada Bun Thay-lay karena gusarnya.
Dia merasa terhina karena dikira akan minta bantuan ongkos, selama dia merantau di kangouw orang selalu minta bantuan kepadanya dan tak pernah dia minta pertolongan orang.
Melihat wajah suaminya berubah, buru-buru Lou Ping menjawil tangan suaminya, memberi tanda agar jangan umbar kemarahan.
Bun Thay-lay dapat menguasai perasaannya, ia mengambil potongan perak itu dan berkata .
"Kita datang kemari bukan hendak minta bantuan ongkos, ong-pengyu terlalu memandang rendah orang."
Buru-buru san Beng mengucap kata-kata merendah.
Tapi dalam hatinya dia tersenyum, melihat ucapan sang tamu yang minta bantuan, tapi ternyata mengambil kantong uang.
Dia tahu juga akan kebesaran nama dari Hong Hwa Hwe maka kali ini uang pemberiannya itu, luar biasa besarnya.
"terima kasih, kita minta diri,"
Kta Bun Thay-lay seraya menaroh kembali kantong uang kedalam nampan.
Bukan main terkejutnya san Beng ketika melihat bagaimana uang perak itu telah berubah menjadi semacam kue perak, insyaflah ia kan kehilagfannya melihat orang, jika saja sampai mencari urusan.
Cepat ia panggil seorang congteng dan disuruhnya lapor pada Toa naynay nyonya besar didalam sedang ia sendiri terus mengantar sang tamu keluar dengan tak putus-putusnya meurkan maaf.
Setelah ketiganya naik lagi keatas kudanya, Lou Ping mengeluarkan eceran emas kira-kira sepuluh tail ternyata untuk diberikan pada ketiga congteng yang telah mempersiapkan kudanya itu.
"Bikin repot saja. Inilah sekedar untuk samwi minum arak! Demikian kata Lou ping dengan sewajarnya. Sepuluh tail eceran jauh lebih besar jumlahnya dari pemberian San Beng tadi. Congteng itu keima, sekalipun seumur hidupnya ia menghemat belanjanya, tak nanti dapat berjumlah sekian banyak. Emas ditangannya, masih saja ia tak percaya pada dirinya. Sehingga iapun lupa urkan terima kasih kepada yang memberi, sedang Lou ping hanya tertawa saja, terus menaiki kudanya. Melihat wajah suaminya berubah, buru-buru Lou Ping menjawil tangan suaminya, memberi tanda agar jangan umbar kemarahan. Bun Thay-lay dapat menguasai perasaannya, ia mengambil potongan perak itu dan berkata .
"Kita datang kemari bukan hendak minta bantuan ongkos, ong-pengyu terlalu memandang rendah orang."
Buru-buru san Beng mengucap kata-kata merendah.
Tapi dalam hatinya dia tersenyum, melihat ucapan sang tamu yang minta bantuan, tapi ternyata mengambil kantong uang.
Dia tahu juga akan kebesaran nama dari Hong Hwa Hwe maka kali ini uang pemberiannya itu, luar biasa besarnya.
"terima kasih, kita minta diri,"
Kta Bun Thay-lay seraya menaroh kembali kantong uang kedalam nampan.
Bukan main terkejutnya san Beng ketika melihat bagaimana uang perak itu telah berubah menjadi semacam kue perak, insyaflah ia kan kehilagfannya melihat orang, jika saja sampai mencari urusan.
Cepat ia panggil seorang congteng dan disuruhnya lapor pada Toa naynay nyonya besar didalam sedang ia sendiri terus mengantar sang tamu keluar dengan tak putus-putusnya meurkan maaf.
Setelah ketiganya naik lagi keatas kudanya, Lou Ping mengeluarkan eceran emas kira-kira sepuluh tail ternyata untuk diberikan pada ketiga congteng yang telah mempersiapkan kudanya itu.
"Bikin repot saja. Inilah sekedar untuk samwi minum arak! Demikian kata Lou ping dengan sewajarnya. Sepuluh tail eceran jauh lebih besar jumlahnya dari pemberian San Beng tadi. Congteng itu keima, sekalipun seumur hidupnya ia menghemat belanjanya, tak nanti dapat berjumlah sekian banyak. Emas ditangannya, masih saja ia tak percaya pada dirinya. Sehingga iapun lupa urkan terima kasih kepada yang memberi, sedang Lou ping hanya tertawa saja, terus menaiki kudanya. Tak lama Lou Ping lahir, ibunya kemudian meninggal. Ayahnya Sin To, si golok sakti, Lou Gwan Thong adalah seorang begal tunggal, seorang diri, ia menyatroni pembesar-pembesar rakus. Pernah pada suatu malam, dia gedor rumah pembesar Ceng hingga namanya menggetarkan seluruh sungai telaga. Setiap akan bekerja, lebih dahulu dia selidiki keadan pembesar itu kejahatannya dan kerakusannya, sekali turun tangan, hasilnya tentu memuaskan. Terhadap putrinya yang tunggal itu, dia sangat sayang seperti mustika, sebenarnya dia berwatak kasar tapi karena kecintaannya sedimikian besar, terpaksa Lou Gwan Thong, yang seperti air saja. Mudah membuang mudah mencari. Karena itulah maka Lou Ping terdidik dengan kebiasan gampang mengeluarkan uang untuk disedekahkan. Dalam kebebasan memakai uang, mungkin putra-putri bangsawan tak akan dapat menyamai dengan putri dar Raja begal itu. Ciri khas Lou Ping, ialah sejak kecil ia suka tertwa, apabila sedikit saja mendengar hal-hal yang lucu ia akan tertawa terus hingga setengah harian. Justeru sifat-sifat itulah yang menyenangkan hati setiap orang. Sekalipun sudah menikah dengan Bun Thay lay tetap saja tak berubah. Bun thay lay lebih tua sepuluh tahun dari isterinya. Adatnya kaku dan keras, selain pemimpin kaum Hong Hwa Hwe Le Ban Thing, isterinyalah orang ke 2 yang dia mau dengar kata-katanya. Maka seperti ditampar mukanya, merah padamlah wajah San Beng melihat cara tamu perempuannya itu memberikan hadiah. Ketika Bun Thay lay bertiga akan melarikan kudanya, tiba-tiba terdengarlah bunyi lonceng bertalu-talu. Menyusul dengan itu, datanglah seorang penunggang kuda dengan bergegas-gegas. Begitu loncat turun orang itu memberi hormat pada Bun Thay lay katanya .
"Ternyata samwi benar-benar datang ke Thiat tan chung, mari silakan masuk kedalam."
"Tadi kami sudah banyak merepotkan, lain hari saja kami berkunjung lagi."
Jawab Bun thay lay karena heran atas sikap orang itu.
"Tadi sewaktu bertemu dijalan, Locungchu mengatakan samwi pasti akan berkunjung ke Thiat Tan chung, malah saat itu juga sebenarnya lochungcu sudah akan kembali pulang. Tapi karena ia sedang mempunyai urusan yang sangat penting, maka disuruhnya siaute pulang dulu untuk menyambut samwi. Lochungcu paling suka bergaul dengan para sahabat, dia cukup mengetahui, bahwa samwi adalah enghiong-enghiong yang terhormat. Dia pesan, biar bagaimna juga malam nanti tentu akan pulang dan memintanya agar samwi suka beristirahat dulu disini. Juga Lochungcu menyampaikan maafnya, karena terpaksa tak dapat menyambutnya sendiri, demikian kata orang itu dengan ramahnya. Nampak bahwa orang itu, betul-betul salah seorang dari ketiga penunggang kuda yang dijumpai tadi, apalagi ucapannya sangat sungguh-sungguh, redalah kemarahan Bun Thay-lay. Orang itu bernama Beng Kian Hiong, teucu murid pertama dari Thiat tan Cu Tiong ing. Dengan laku hormat sekali, ia segera memimpin ketiga tamunya masuk. Sedang San Beng hanya mengawasi saja dengan perasaan tak enak. Ketika sudah ber 2an dan menghidangkan teh. Seorang congteng berbisik kedekat telinga Kian Hiong, lalu bangkit dan berkata .
"Sunio isteri suhu mengundang Li henghiong ini untuk beristirahat keruangan dalam."
Dengan diantar oleh cengteng, Lou Ping masuk kedalam disambut oleh seorang bujang perempuan.
"Astaga, ada tetamu kita tak menyambutnya"
Tiba-tiba seru dari arah muka. Menyusul kemudian keluar seorang wanita kira-kira berumur empat puluh tahun, lantas kemudian membimbing tangan Lao Ping, sambil berkata dengan ramahnya.
"Tadi orangku mengatakan ada tetamu dari Hong Hwa Hwe berkunjung kemari dan hanya sebentar saja lalu pergi, sungguh aku menyesal, syukur kalian datang kembali. Hayo, tinggal ah disini Habis itu ia berpaling pada pelayannya dan berkata pula, Nyonya ini sungguh cantik sekali bukan? Sampai siocianya kita semuanya ini ia tak bisa menempil dengan dia. Diam-diam Lou Ping berpikir bahwa nyonya itu sungguh ceriwis, tapi sangat ramah, maka iapun menjawabnya .
"Toanay-nay ini, bagaimana kuharus menjemputnya, saomay sendiri orang she Lou, kemudian menjadi anggota keluarga she Bun. Atas pertanyaan itu menyahuti seoraang dayang. Inilah nyonya majikan kami. Kiranya wanita itu adalah isteri ke 2 dari Chiu Tiong Ing. Isteri Ciu Tiong Ing yang pertama telah meninggal dan tinggalkan 2 orang putera. Tapi putera-puteranya karena ada perselisihan dalam kalangan kangouw, mereka juga telah meninggal. Isteri yang sekarang ini memberikan Liong Ing seorang puteri. Ciu Ki namanya, kini sudah berusia delapan belas tahun. Ciu Ki ini mewarisi adata ayahnya, suka membikin onar diluaran. Urusan penting yang membuat Tiong Ing begitu terburu-buru juga karena soal puterinya itu yang telah melukai orang. Maka Tiong Ing perlu untuk meminta maaf. Nay-nay itu karena hanya mempunyai seorang puteri, tampaknya masih berduka. Mungkin Ciu Tiong yang sudah lanjut usianya itu, takkan mempunyai keturunan putra lelaki lagi tapi dugaan itu meleset. Dalam usia lima puluh empat tahun ternyata Tiong Ing masih diberkahi seorang putera. Dapat dibayangkan bagaimna girangnya hati sepasang suami isteri yang sudah mendekati tua itu. Begitulah setelah semuanya duduk, nyonya rumah lantas suruh Pelayan pergi memanggil sang putra. Tak selang beberapa lama, keluar lah seorang anal lelaki yang berwajah bersih dengan sepasang mata yang bundar bening, sedang gerakkannya lincah sekali Lou Ping percaya bahwa anak itu tentunya sudah mendapat didikan silat selama beberapa tahun. Begitu menampak Lou Ping anak itu segera memberi hormat.
"Tahun ini aku berumur sepuluh tahun dan namaku Ciu Ing Kiat,"
Sahut anak itu atas pertanyaan Lou Ping. Lou ping meloloskan sebuah mainan mutiara dari gelangnya diberikan pada Ing Kiat, katanya .
"Menyesal aku tak membawa varang apa-ap, mainan mutiara ini kau pakailah diatas kopiahmu. Melihat Mutiara itu sangat besar, tentu berharga mahal sekali maka buru-buru Teonaynay suruh puteranya mengahaturkan terima kasih. Justeru pada saat itu tiba-tiba seorang dayang bergegas-gegas masuk sambil berseru .
"Bun Naynay, Bun-ya tak sadarkan diri harap kau lekas menengoknya!"
Toanynay buru-buru perintahkan or Angnya untuk memanggil sinshe sedangkan Lou Ping terus mengikuti dayang itu keluar.
Kiranya luka yang diderita Bun Thay-lay itu sangan berat.
Tadi karena gusar dia gunakan tenaganya untuk memijat gepeng uang perak.
Kala itu dia tidak merasa apa-apa tapi kini rasa sakit mulai menyerang dengan hebat dan pingsanlah dia.
Namun wajah suaminya pucat tak berdarah menjeritlah Lou Ping.
Kira-kira setengah jm lagi, barulah Bun Thay-lay dapat membuka matanya.
Beng Kian Hiong cepat memerintah Congteng naik kuda untuk memanggil sinse, setelah itu agar memberikann kabar pada Locongchu, bahwa tetamunya itu sudah berada di rumah.
Sembari memberikan pesanan itu, Kian Hiong mengikuti samapai dimuka pintu gerbang desa.
Baru setelah Congteng itu lenyap dengan kudanya, dia merasa lega hatinya.
Tapi ketika dia hendak masuk ke rumah lagi, tiba-tiba dilihatnya dibalik pohon, nampak ada sebuah bayangan berkelebat.
Mungkin orang itu mengira bahwa penghuni rumah telah mengetahui tempat persembunyiannya itu.
Kian Hiong berlaku tenang saja, terus berjalan masuk.
Tetapi secepatnya dia menuju kebelakang rumah, lalu buru-buru lari keatas paseban untuk melihat pemandangan.
Dari situ dia mengawasi kearah pohon itu tadi.
Tampaklah saat itu orang yang berada dibalik pohon itu, kelihatan berendap-endap bertindak keluar.
Ternyata orang itu mondar-mandir diluar halaman pedesaan itu.
Orang itu memiliki badan sangat kurus.
Melihat sikapnya yang takut diketahui orang, nyatalah bukan orang baik-baik.
Buru-buru Kian Hiong turun dari paseban itu, lalu mendapatkan Cu Ing Kiat.
Kelihtan ia membisiki beberapa patah kata pada anak itu.
Ia pun berualng-ulang mengucapkan, bagus ......
bagus......
bagus sambil mengikuti dibelakang Kian Hiong.
Ketika Kian Hiong dan Ing Kiat berada diluar desa, berkatalah Jian Liong dengan tertawa, Baiklah, sudara cilik, aku takut padamu, jangan kejar lagi.
Sambil berkata begitu Kian Hiong terus lari dan diburu Ing Kiat dengan teriakan yang keras.
"Ha, kau lari kemana? Mau nakal urik Ya! Hati-hati kutampar kepalamu nanti? Kata Ing Kiat. Kian hiong mengeluarkan gerak-gerak untuk menggoda, sementara Ing Kiat terus mengejarnya, tingkh mereka seperti anak-anak sedang mainpetak umpat. Kian Hiong lari menuju ketempat persembunyian orang itu, hampir saja ia jingkrk karena terkejut. Orang itu pura-pura kesasar jalan dan lekas-lekas tampakkan diri sambil bertanya .
"He, sahabat, dimana jalan ke Sam To Kao ya ?"
Kian Hiong tak ambil perduli terus menerjang orang itu hingga sampai terhuyung-huyung tiga empat tindah. Karuan saja orang itu gusar dan membentak .
"He, dimana matamu?"
Kiranya orang itu bukan lain ialah piauwsu dari Tin Wan Piauwkok.
Tong siu Ho.
Rupanya ia masih terkenang akan suara tertawa Lou Ping yang merdu itu.
Sekalipun pernah mendapat pelajaran dari Bun Thay-lay bertiga keluar dari hotel, dia segera menguntitnya dengan diam-diam dari kejauhan.
Iapun melihat, bagaimana Bun masuk ke Thiat tan chung, sebentar sudah keluar dan lalu masuk lagi terus tak kembali keluar lagi.
Dia mengambil keputusan untuk menyelidikinya, baru nanti pulang melaporkan.
Dia tak mau lagi sebagai orang yang tahu makan tak tahu kerja, selagi dia tengah melakukan pengintipan itu, tiba-tiba dipergoki dan diseruduk oleh Kian Hiong.
Serudukan itu sebenarnya tidak berarti apa-apa baginya tapi dia orangnya licik.
Dia tahu bahwa orang akan menjajaki dirinya, karena itu dia pura-pura berlaku seperti orang tak mengenal ilmu silat.
Begitu sempoyongan kebelakang dia terus jatuhkan diri berusaha bangun dengan susah payah kelihatannya.
Buru-buru Kian Hiong haturkan maaf dan katanya "Aku dengan saudara kecil ini sedang bergurau main-main, dan tak sengaja telah menyeruduk jatuh tuan, tidak sampai sakit bukan?"
"Tanganku yang sebelah ini sakit sekali, aduh? Siu Ho mainkan Holanya"
Melihat itu buru-buru Kian Hiong tarik lengan Siu-ho di ajak masuk untuk diberi obat.
Dengan tetap berpura-pura untuk kesakitan, siu bo masuk kedalam desa itu.
Kian Hiong bawa siu-bo kesebuah ruangan di sebelah timur.
Habis itu lantas ia tanya orang-orang.
"Tuan akan pergi ke sam to-kauw. mangapa melalui sini?"
"Benar, memang aku hendak mengatakan tentang itu. Tadi seorang pengembala kambing menunyukkan aku jalan kesini nanti tentu kuhajar bangsat itu, sahut Siu ho "Hola, sudahlah. Harap singkapkan bajumu biar kuperiksa apa kau luka tidak! ujar Kiang-Hiong Sampai disini, siu ho menyadi kerupukan. dia tahu dengan alasan memeriksa luka, orang akan menggeledah badannya Apa boleh buat ia kasihkan dirinya, syukur sebuah badi-badi yang diselipkan didalam kaus kakinya, tak sampai ketahuan. Begitulah setelah diperiksa ternyata tak ada apa apa. maka siu-ho dilepaskannya pulang selagi berada dalam desa itu. Tong siu ho pasang mata untuk menoari jejak ou-ping, tapi ternyata tak dapat di ketahuinya! Sahabat, kau tahu disini temnpat apa? Tiba-tiba Kian-hiong bertanya karena curiga atas sikap orang yaug jelilitan itu.
"Kalau ini Tang hui bio nama kelenteng mengapa tak ada posatnya?"
Sahut siu ho berlagak pilon. Setelah mengantar sampai ke jembatan gantung berserulah Kian Hong kemudian, sahabat kalau ada waktu datanglah kembali!"
Ketika itu Kuatkah Siu Ho menahan perasaannya kembali mulutnya yang kotor itu membual pula, katanya sungguh sial, seorang keponakanku yang baru saja belajar jadi tabib, sedikit sedikit sudah suka buka baju dan periksa orang, Mendengar ocehan yang tak karuan artinya itu, Kian Hiong melengak.
Dia merasa bahwa orang itu dengan tak langsung memaki dirinya dengan tertawa-tawa dia gaplok pundak orang terus masuk kembali.
Digaplok begitu, tulang Siu Ho rasanya seperti lepas, Tak putus-putusnya dia memaki panyang pendek, terus mcnyeplak kudanya pulang kehotel.
Di hotel kelihatan Thio Ciauw Cong, Go Kok Tong dan beberapa piauwsu sedang asik berunding, disamping itu masih ada tujuh atau delapan orang yang Siu Ho belum kenal.
Rupanya mereka tengah menduga-duga kemana larinya Bun thay lay cs dan siapa orang tua yang membunuh Hao lun Lim dan Pang Hwi itu.
Dengan bangga Siu ho ceritakan hasil penyelidikannya tadi, suduh tentu bagian dimana ia dipale oleh Kian Hiong itu.
dilewatkan.
Merdengar itu Ciouw Cong girang sekali.
"Lekas kita kesana, Tong-toate harap kau tunyukkan jalan."
Biasanya Ciauw Bong hanya memanggil lotong, Tong tua, tapi kini, karena gembira, ia menyebut, laote.
Dengan bangga Siu-Ho meluluskannya.
Tangan Kok tong yang patah itu.
sudah di sambung oleh sinshe.
Dia segera kenalkan Siu-ho pada kawan-kawan baru itu.
Baca Juga: Pedang Kayu Cendana 5
Baca Juga: Badik Buntung 9