Eps 10 Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong
Baca online Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong
Cersil Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong.
Mereka merasa usul dara2 itu terlalu sembrono, kalau sampai konangan, tentu urusan akan runjam, bukan sadja gagal mengikat perbesanan dengan Se He, bahkan bukan mustahil radja Se He akan mengamuk dan menjatakan perang kepada Tayli.
Rupanja Bwe-kiam dapat menerka apa jang dipikirkan Thian-sik berdua, segera ia berkata pula.
Sebenarnja Toan-kongtju toh mempunjai saudara angkat sebagai Siau-tayhiap dan mestinja tidak perlu mentjari sandaran kepada Se He, tjuma Tin-lam-ong telah memberi perintah sehingga terpaksa mesti diturut.
Dan kalau terdjadi apa2, Siau-tayhiap adalah Lam-ih Tayong dari keradjaan Liau dengan kekuatan militer jang dahsjat, asal beliau mau ikut bitjara, maka segala persoalan tentu dapat diatasi, tidak nanti radja Se He berani main gila kepada keradjaan Tayli.
Sebagai seorang menteri jang dipertjaja dan ikut memegang pemerintahan, sudah tentu Pah Thian-sik bukan seorang bodoh.
Mengenai Siau Hong dapat didjadikan bala bantuan keradjaan Tayli, hal ini memang sudah didalam perhitungannja.
Tjuma sadja dia merasa tidak enak untuk mengutjapkan sendiri.
Kini demi mendengar utjapan Bwe-kiam itu dan Siau Hong djuga mengangguk, maka semangatnja seketika terbangkit.
Pikirnja.
Usul keempat dara tjilik ini tampaknja seperti permainan anak ketjil, tapi selain djalan ini sesungguhnja djuga tiada tjara lain, hanja nona Bok entah suka menerima dan mau menjerempet bahaja atau tidak?
Karena itu, segera ia sengadja berkata.
Usul nona2 ini memang akal sangat bagus, tapi pelaksanaannja benar2 terlalu berbahaja.
Pabila sampai konangan penjamaran nona Bok nanti, tentu ada kemungkinan nona Bok akan tertawan, apalagi disitu hadir kesatria2 dari segenap pendjuru, dalam hal orangnja sudah tentu nona Bok adalah paling tampan, tapi kalau mesti bertanding silat dan mengalahkan mereka, wah, ini agak kurang mejakinkan.
Seketika pandangan semua orang lantas beralih kepada Bok Wan-djing dan ingin tahu bagaimana pendiriannja.
Maka berkatakan Wan-djing.
Pah-siansing, kau tidak perlu memantjing aku dengan kata2mu itu, soalnja engkohku...
engkohku itu...
~ hanja sampai disini, mendadak air matanja lantas bertjutjuran dan tidak sanggup meneruskan lagi.
Rupanja telah terdjadi pertentangan batinnja, teringat olehnja apa jang dilakukan Toan Ki dengan Giok-yan sekarang adalah mirip dengan kedjadian Toan Ki dalam perdjalanan bersama dirinja diwaktu dahulu, tjoba kalau pemuda itu bukan kakaknja sendiri, tentu pemuda itupun takkan mengingkar djandji.
Tapi sekarang Toan Ki sedang ber-tjumbu2an dengan nona lain, sebaliknja dia sendiri hidup kesepian disini, bahkan para kambrat keradjaan Tayli malah minta dia berdjoang baginja.
Dasar watak Bok Wan-djing memang takmau kalah, dikala pikirannja pepet, mendadak ia angkat medja didepannja sehingga terbalik, seketika mangkok-piring petjah berantakan, lalu ia melompat keluar.
Semua orang saling pandang dengan bingung dan merasa kurang senang pula.
Jang paling menjesal adalah Pah Thian-sik, katanja.
Semuanja adalah salahku.
Djika aku memohonnja dengan kata2 halus paling2 nona Bok tjuma menolak sadja permintaanku, tapi karena aku telah sengadja memantjingnja dengan kata2 jang menjinggung perasaannja, maka dia mendjadi marah2.
Begitulah, besoknja semua oran gmasih terus berusaha menemukan Toan Ki, didalam kota tampak sangat ramai dengan hilir-mudiknja pemuda2 gagah dan perlente, mungkin sebagian besar akan ikut dalam perdjamuan malaman Tiongthjiu dalam istana radja nanti.
Sampai petang semua orang telah pulang dan Toan Ki tetap tidak diketemukan.
Maka berkatalah Siau Hong.
Djika Samte sudah pergi dari sini, maka beramai2 kitapun boleh pulang sadja, tak peduli siapa jang akan mendjadi Huma nanti, semuanja tiada sangkut-pautnja dengan kita.
Ja, utjapan Siau-tayhiap memang benar, supaja kita tidak menjaksikan orang lain mendjadi Huma dan menimbulkan rasa penasaran, udjar Thian-sik.
Eh, Tju-siansing, kau sendiri sudah beristeri belum?
demikian tiba2 Tjiong Ling tanja kepada Tju Tan-sin.
Djikalau Toan-kongtju tidak mau mendjadi Huma, kenapa bukan kau sadja jang magang?
Eh, siapa tahu kalau kau akan dianugerahi puteri Se He jang tjantik itu, djika demikian, bukankah djuga akan banjak manfaatnja bagi keradjaan Tayli?
Tan-sin tertawa, sahutnja.
Ai, nona Tjiong ini suka berkelakar sadja.
Sudah lama aku punja isteri dan punja selir, banjak pula putera-puteriku, mana boleh aku ikut2 berlomba berebut puteri seperti kaum muda mereka?
Tjiong Ling melelet lidah dan tidak bitjara lagi.
Sebaliknja Tju Tan-sin lantas menambahi lagi dengan tertawa.
Ja, sajang wadjah nona Tjiong sendiri masih terlalu muda, pipimu dekik pula dan tidak mirip orang lelaki, kalau tidak, wah, tentu kau dapat mewakilkan engkohmu untuk mengikuti sajembara itu...
Apa?
Mewakilkan engkohku?
Tjiong Ling menegas.
Tan-sin merasa telah kelepasan mulut.
Tapi dalam hatinja membatin.
Memangnja kau adalah puteri Tin-lam-ong dari hubungan jang tidak sah, peristiwa jang masih dirahasiakan ini tidak boleh sembarangan kukatakan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang berkata diluar kamar sana.
Pah-siansing, Tju-siansing, marilah kita boleh berangkat sekarang!
Dan dimana kerai tersingkap, masuklah seorang pemuda jang ganteng dan tampan.
Siapa lagi dia kalau bukan Bok Wan-djing jang telah menjamar sebagai pemuda peladjar.
Keruan semua orang terkedjut dan bergirang pula, kata mereka.
He, apa nona Bok sudah bersedia pergi?
Tapi Bok Wan-djing lantas mendjawab.
Tjayhe she Toan bernama Ki, adalah putera pangeran Tin-lam-ong dari Tayli, diharap utjapan kalian sukalah hati2.
Walaupun suaranja njaring merdu sebagai suara wanita, tapi banjak djuga pemuda peladjar jang bersuara lemah-lembut, maka tidak perlu diherankan.
Karena merasa Bok Wan-djing dapat menirukan lagak-lagu Toan Ki, maka tertawalah semua orang.
Rupanja sesudah marah2 sebentar dan pulang kekamarnja dengan menangis, besok paginja setelah di-pikir2 pula, ia merasa tidak enak telah berlaku kasar dihadapan orang banjak, pula ia merasa tertarik djuga djika dia menjamar sebagai Toan Ki untuk ikut berebut puteri Se He dengan djago2 lain.
Dalam hati ketjilnja lapat2 merasa.
Kau (maksudnja Toan Ki) ingin menikah dan hidup bahagia dengan nona Ong, tapi aku djusteru sengadja mewakilkan kau mengambil seorang Tuan Puteri untuk isterimu, biar hidupmu kelak selalu tjektjok diantara dua isteri, dengan begini barulah kau tahu rasa.
Kemudian teringat pula olehnja waktu dia datang kekota Tayli dahulu, dimana ajah Toan Ki djuga dihadapkan pada masalah isteri dan kekasih lain sehingga membuatnja serba salah dan kikuk, kalau sekarang Toan Ki djuga mempunjai seorang isteri Tuan Puteri setjara resmi, maka Giok-yan tentu takkan berhasil mendjadi isterinja jang sah.
Begitulah djalan pikiran kaum wanita.
Kalau dia sendiri tidak bisa mendjadi isterinja Toan Ki, maka diapun tidak mengidjinkan seorang gadis lain dapat hidup bahagia sebagai istennja.
Makin dipikir makin senang, maka dia lantas mengambil keputusan dan bersedia menjamar sebagai Toan Ki.
Dengan demikian, maka tjepat2 Pah Thian-sik dan lain2 lantas ber-gegas2 menjiapkan segala sesuatu jang perlu untuk berangkat menghadiri perdjamuan radja.
Tiba2 Wan-djing berkata.
Siau-toako dan Hi-tiok Djiko, bila kalian sudi ikut aku pergi bersama, aku keperdjamuan itu, maka segala apa aku takkan takut lagi.
Kalau tidak, apabila terdjadi pertempuran, mana aku mampu melawan orang.
Didalam istana rasanja djuga tidak pantas aku sembarangan membidikan panah berbisa untuk membunuh musuh.
Baiklah, aku dan Djite sudah dipesan oleh paman Toan, sudah tentu kami akan membantu sekuat tenaga, sahut Siau Hong dengan tertawa.
Segera semua orang berdandan seperlunja untuk ikut pergi.
Siau Hong dan Hi-tiok menjaru sebagai pengiring dari keradjaan Tayli.
Tjiong Ling dan Bwe-kiam berempat saudara mestinja ingin ikut djuga dengan menjamar sebagai lelaki, tapi Pah Thian-sik telah mentjegah mereka agar djangan ikut, untuk mendjaga penjamaran Bok Wan-djing sadja susah, apalagi kalau ditambah penjamaran mereka berlima, tentu rahasia mereka akan terbongkar.
Karena itu, terpaksa Tjiong Ling dan lain2 menurut.
Sesudah rombongan mereka berada ditengah djalan, tiba2 Pah Thian-sik berseru.
Ai, hampir2 membikin urusan mendjadi runjam.
Bukankah Bujung Hok itupun akan hadir dan ikut berebut mendjadi Huma, dia kenal baik pada Toan-kongtju, lantas bagaimana nanti?
Siau Hong tertawa, katanja.
Pah-heng tidak perlu kuatir.
Bujung-kongtju djuga serupa dengan Samte, diapun telah menghilang tanpa pamit, tadi aku telah mentjari tahu ketempatnja, kulihat Ting Pek-djwan, Pau Put-tong dan kawan2nja djuga sedang kelabakan mentjari Kongtju mereka.
Wah, ini sangat kebetulan, kata semua orang dengan girang.
Sungguh Siau-tayhiap mempunjai pikiran jang pandjang, sampai2 sebelumnja keadaan Bujung Hok djuga telah diselidikinja, udjar Tan-sin.
Bukannja aku bisa berpikir pandjang, sahut Siau Hong.
Aku hanja kuatirkan kepandaian Bujung Hok jang tinggi itu akan merupakan lawan paling tangguh bagi nona Bok, maka...
hehe, hehe!
Kiranja Siau-tayhiap hendak membudjuk dia agar malam ini djangan ikut hadir dalam perdjamuan., kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Agaknja Tjiong Ling merasa bingung atas petualangan mereka itu, dengan mata terbelalak ia tanja.
Sebabnja djauh2 Bujung-kongtju datang kesini djusteru ingin mendjadi Huma, mana mungkin dia dapat dibudjuk olehmu?
Apa memangnja Siau-tayhiap adalah sobat baiknja Bujung-kongtju.
Sobat sih bukan, sela Bok Wan-djing dengan tertawa, Tjuma kepalan Siau-tayhiap terlalu keras baginja, maka dia terpaksa mesti menurut nasihatnja.
Tjiong Ling melongo, baru sekarang dia paham duduknja perkara.
Begitulah, setiba rombongan mereka didepan istana, segera Pah Thian-sik menjodorkan kartu undangan.
Maka tertampaklah Le-poh Siang-si (menteri urusan protokol) keradjaan Se He lantas menjambut keluar sendiri dan menjilakan rombongan Bok Wan-djing kedalam istana.
Ternjata sudah ada lebih seratus pemuda jang telah hadir disitu dan duduk tersebar diruang situ, ditengah ada suatu medja jang dilapisi dengan sutera2 kuning bersulam, mungkin itulah tempat duduk radja Se He sendiri, dikanan-kirinja terdapat pula dua baris medja jang dilapis dengan sutera ungu.
Disebelah kanan sudah berduduk seorang pemuda gagah, bermata besar dan beralis tebal dan memakai djubah merah tua, diatas djubah tersulam dua ekor harimau, dibelakangnja berdiri delapan djago pengawal.
Segera Pah Thian-sik dan lain2 mengetahui pemuda gagah ini tentu adalah pangeran Tjong-tjan dari Turfan.
Segera Le-poh Siang-si menjilakan Bok Wan-djing duduk dibarisan medja sebelah kiri dan tidak ditjampurkan dengan orang lain.
Hal ini menundjukkan bahwa diantara pemuda2 pengikut sajembara ini hanja pangeran Turfan dan pangeran Tayli jang mempunjai kedudukan paling agung, maka radja Se He menghormatinja dengan tjara lain daripada jang lain.
Begitulah para tamu2 be-ramai2 masih terus tiba dan mengambil tempat duduk masing2.
Sesudah semua kursi penuh terisi, lalu dua perwira piket berseru.
Para tamu agung sudah lengkap hadir semua, tutup pintu!
Maka ditengah iringan suara musik pelahan2 pintu istana dirapatkan.
Dan begitu pintu istana tertutup, segara berbaris keluar serombongan pengawal jang bersendjata lengkap.
Menjusul suara musik bergema pula, dua barisan dajang keraton berdjalan keluar dari ruang dalam, tangan masing2 membawa sebuah Hiolo (anglo dupa) ketjil buatan kemala putih, asap tipis tampak mengepul dari Hiolo2 itu.
Semua orang tahu Sri Baginda sebentar lagi akan keluar, maka semuanja lantas diam dan menahan napas.
Paling achir keluarlah empat pengawal berdjubah sulam, semuanja bertangan kosong, lalu berdiri dikedua sisi singgasana radja.
Melihat pelipis keempat pengawal itu semuanja menondjol, maka tahulah Siau Hong pasti mereka adalah djago pengawal radja jang memiliki ilmu silat sangat tinggi.
Lalu satu diantara keempat djago pengawal itu berseru.
Sri Baginda tiba, sambutlah!
Semua orang lantas berlutut dengan kepala menunduk.
Maka terdengarlah suara langkah orang jang keluar dari ruang dalam, lalu duduk diatas singgasana jang sudah tersedia.
Dan sesudah djago pengawal tadi memberi aba2 pula, barulah semua orang berbangkit dan disilakan kembali ketempat duduk masing2.
Waktu Siau Hong memandang si Radja dilihatnja perawakannja sedang sadja, mukanja kereng, agaknja djuga seorang tokoh kesatria didunia persilatan.
Kemudian Le-poh Siang-si telah madju kesamping singgasana sang radja dan membentang sehelai amanat, lalu dibatjanja dengan suara njaring.
Paduka Jang Mulia Sri Baginda Radja menjampaikan terima kasih atas kehadiran tuan2 sekalian, marilah ber-sama2 mengeringkan setjawan!
Para tamu menjampaikan sembah hormat, lalu sama2 mengangkat tjawan masing2.
Tapi radja itu hanja menempelkan tjawannja kebibir sebagai lambang sadja, lalu meninggalkan singgasananja dan masuk kembali keruang belakang.
Segera para pengawal djuga ikut masuk semua kebelakang sehingga dalam sekedjap sadja suasana telah kembali seperti tadi.
Semua orang saling pandang dengan tertjengang, sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa satu kata patah sadja tidak bitjara dan minum setjegukpun tidak, lalu radja itu sudah mengundurkan diri.
Padahal bagaimana wadjah kami seorangpun belum diperiksanja dengan djelas, entah tjara bagaimana dia akan memilih menantunja?
demikian pikir semua orang.
Sekarang silakan para hadirin makan minum setjara bebas, seru Le-poh Siang-si.
Segera pelajan membawakan daharan2 jang sudah tersedia semangkuk demi semangkuk.
Se He adalah negeri pegunungan jang dingin, bahan makanan mereka jang utama adalah daging sampi dan kambing, biarpun namanja perdjamuan keradjaan, tapi jang disuguhkan djuga tidak lebih daripada daging2 sampi dan kambing dalam potongan2 besar.
Melihat Siau Hong berdiri mengawal disampingnja, Bok Wan-djing merasa tidak enak, segera ia berbisik.
Siau-toako, Hi-tiok Djiko, silakan kalian berduduk dan ikut makan minum.
Tapi Siau Hong dan Hi-tiok hanja tersenjum sadja sambil geleng2 kepala.
Wan-djing kenal watak Siau Hong jang paling gemar minum arak, tiba2 ia mendapat akal, ia memberi tanda dan memberi perintah.
Tuangkan arak!
Sebagai pengawal dalam penjamaran, Siau Hong menurut dan menuangkan semangkuk arak.
Boleh kau tjoba rasanja arak ini, kata Wan-djing pula.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, hanja dua-tiga kali tjegukan sadja arak semangkuk penuh itu sudah dihirupnja kedalam perut.
Tjoba semangkuk lagi!
kata Wan-djing pula.
Dan segera Siau Hong minum lagi semangkuk.
Disebelah sana pangeran Turfan itu djuda sedang makan minum.
Sesudah minum beberapa tegukan arak, ia menjambar sepotong daging panggang terus digeragoti dengan lahapnja.
Sesudah daging itu tinggal sekerat tulang belakang, segera ia melemparkan tulang itu kearah Bok Wan-djing dengan lagak seperti tidak sengadja.
Tapi samberan tulang itu ternjata sangat tjepat, njata tenaganja tidaklah ketjil.
Segera Tju Tan-sin melolos kipasnja dan mengipas sekali kearah tulang itu.
Kontan tulang itu terkipas balik dan menjambar kembali kearah pangeran Tjong-tjan.
Tapi seorang djago Turfan keburu menangkap tulang itu sambil memaki dalam bahasanja, se-konjong2 ia angkat sebuah mangkuk besar terus menimpuk kearah Tan-sin.
Sekali ini berganti Thian-sik jang turun tangan, ia memapak dengan sekali pukulan, dimana angin pukulannja tiba, kontan mangkuk itu petjah mendjadi beberapa keping dan berhamburan kembali kearah orang2 Turfan.
Lekas2 seorang djago Turfan lain menanggalkan djubahnja, sekali pentang dan mengebas, tahu2 petjahan mangkuk itu telah kena digulung semua oleh djubahnja, gerak-geriknja ternjata sangat gesit dan tjekatan.
Selagi pertarungan itu akan meningkat, se-konjong2 terdengar suara genta ber-talu2, lalu muntjul dua barisan orang jang ber-matjam2 bentuknja, ada jang tinggi, ada jang pendek, ada jang berdandan ringkas, ada jang berdjubah longgar, semuanja bersendjata dalam bentuk jang beraneka ragam pula.
Seorang pembesar jang berdjubah sulam dan berdjalan didepan, agaknja seperti komandan kedua barisan djago2 itu, segera membentak dengan suara keras.
Perdjamuan ini diadakan didalam istana, hendaklah tuan2 tahu tata-tertib sedikit!
Ini adalah djago2 pilihan dari It-bin-tong negeri kami, djika tuan2 ingin berkelahi, nah, boleh silakan tjoba2 dengan mereka satu-melawan-satu, tapi dilarang main kerubut.
Siau Hong dan lain2 tahu It-bin-tong adalah suatu dewan jang istimewa dari keradjaan Se He, didalam dewan itu terkumpul banjak sekali djago2 silat pilihan dari segenap pendjuru.
Karena itu Pah Thian-sik dan kawan2nja lantas berhenti menjerang, setiap benda jang ditimpukan orang2 Turfan lantas ditangkapnja dan ditaruh diatas medja sendiri, ia tidak balas menimpuk lagi.
Kemudian pembesar berdjubah sulam tadi lantas berkata kepada pangeran Tjong-tjan.
Harap Jang Mulia memberi perintah agar bawahanmu tidak mengatjaukan suasana ketenangan ini.
Melihat djago2 It-bin-tong itu ada ratusan orang djumlahnja, kalau sampai tjektjok dan bertempur, tentu pihaknja takdapat melawan, maka Tjong-tjan lantas memberi tanda untuk menghentikan pengikutnja jang masih ber-teriak2 itu.
Helian-tjiangkun, apakah Tuan Puteri ada sesuatu perintah?
segera Le-poh Siang-si bertanja kepada pembesar berdjubah sulam tadi.
Kiranja pembesar itu adalah Helian Tiat-su, jaitu tokoh jang dahulu pernah memimpin djago2 It-bin-tong menudju ke Tionggoan, tapi disana mereka telah dirobohkan dengan kabut berbisa oleh Bujung Hok jang menjamar sebagai Li Yan-tjong.
Setelah mengalami peristiwa jang merugikan itu, segera Helian Tiat-su membawa rombongannja pulang kandang.
Dia pernah melihat Siau Hong palsu jang disamar A Tju dan pernah kenal Bujung Hok jang disamar Toan Ki, tapi Siau Hong tulen dan Toan Ki palsu jang berada didalam istana sekarang ini tidak pernah dikenalnja.
Mestinja diantara djago2 It-bin-tong itu djuga terdapat Toan Yan-khing, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho, tapi mereka mempunjai rentjananja sendiri dan sudah tentu tidak mau diperalat oleh keradjaan Se He, maka saat ini mereka sedang bertugas dilain tempat sehingga penjamaran Siau Hong dan Bok-Wan-djing itu tidak sampai konangan.
Kemudian Helian Tiat-su lantas berseru.
Menurut titah Tuan Puteri, bila para tamu agung sudah selesai dahar, semuanja disilakan minum teh ke kamar batja di Djin-hong-kok.
Djing-hong-kok itu diketahui adalah istana kediaman Bun-gi Kongtju, puteri Se he jang tjari djodoh sekarang ini.
Keruan para pemuda sangat senang dan bersemangat, dengan undangan itu, teranglah puteri Se He itu ingin memilih sendiri tjalon suaminja.
Pikir mereka.
Biarpun nanti tidak terpilih, paling sedikit djuga dapat melihat wadjah si-tjantik sehingga perdjalanan ini tidak sia2 belaka.
Dasar watak pangeran Tjong-tjan memang paling tidak sabaran, dia jang per-tama2 berdiri dan berseru.
Setiap saat kita dapat makan dan minum.
Tapi sekarang paling perlu kita melihat puteri aju lebih dulu!
Benar!
serentak sebagian besar hadirin menjokongnja.
Segera Tjong-tjan minta Helian Tiat-su membawa mereka ketempat tudjuan.
Mari, pangeran Toan dan para hadirin jang lain!
seru Helian Tiat-su dan didjawab dengan suara sorakan gembira orang banjak.
Demikianlah Helian Tiat-su lantas membawa para tjalon Huma itu menudju kebelakang.
Sesudah menjusur sebuah taman, lalu membelok beberapa kali, kemudian waktu melintas sebuah bukit buatan, tiba2 Bok Wan-djing merasa disebelahnja telah bertambah seorang.
Waktu ia melirik, tanpa merasa ia mendjerit tertahan dalam kagetnja.
Ternjata orang disebelahnja tak-lain-tak-bukan adalah Toan Ki.
Apa kau terkedjut, pangeran?
tanja Toan Ki dengan pelahan dan tertawa.
Apa kau sudah tahu semua?
balas tanja Bok Wan-djing dengan berbisik.
Tahu semua sih tidak, tapi melihat gelagatnja dapatlah menerka sebagian besar persoalannja, sungguh membikin susah kau sadja, sahut Toan Ki.
Bok Wan-djing tjoba mengawasi kanan-kirinja, ia lihat tiada pembesar Se He didekatnja, sebaliknja dibelakang Toan Ki kelihatan ada dua pemuda.
Jang seorang berusia 30-an dengan sikap agak angkuh, jang seorang lagi ternjata sangat tampan dan lebih muda.
Hanja sedikit memperhatikan sadja segera Wan-djing mengenali pemuda tampan itu adalah samaran Giok-yan.
Seketika ia mendjadi gusar, katanja.
Bagus kau, seenaknja kau mengelojor pergi bersama nona Ong, tapi aku jang harus mewakilkan kau menempuh bahaja ini.
Djangan marah dulu, adikku manis, kata Toan Ki.
Kedjadian ini agak pandjang untuk ditjeritakan.
Pendek kata aku telah dilemparkan kedalam sumur oleh orang dan hampir2 mati konjol.
Mendengar pemuda itu mengalami bahaja, seketika rasa perhatiannja melebihi rasa gusarnja, tjepat Wan-djing tanja.
Apa kau tidak terluka?
Kulihat air mukamu agak putjat.
Seperti diketahui, didasar sumur itu Toan Ki telah ditjekik oleh Tjiumoti sehingga susah bernapas, pelahan2 ia sudah hampir tak sadarkan diri.
Sebaliknja Bujung Hok jang mendempel di dinding sumur jang lebih tinggi itu merasa sjukur dan senang, kalau bisa dia berharap Toan ki tertjekik mati sadja.
Sudah tentu jang paling kuatir adalah Giok-yan, meski dia telah menghantam dan menggebuki Tjiumoti, tapi masih tetap tak menolong Toan Ki.
Dalam gugup dan bingungnja, mendadak Giok-yan terus menggigit lengan kanan Tjiumoti.
Ketika se-konjong2 merasa Kiok-ti-hiat dilengan kanan mendjadi kesakitan, Tjiumoti merasa hawa murni jang bergedjolak didalam tubuh dan tak tersalurkan itu mendadak melanda keluar sebagai ban gembos, hawa murni itu mengalir dari telapak tangannja dan masuk keleher Toan Ki jang ditjekiknja itu.
Mestinja Tjiumoti merasa badannja melembung se-akan2 meledak, tapi mendadak gembos, seketika ia merasa segar kembali sehingga djari jang mentjekik leher Toan ki itu pelahan2 djuga mendjadi kendur.
Hendaklah maklum bahwa Tjiumoti benar2 seorang tokoh sakti dalam duni apersilatan jang djarang terdapat, dasar pejakinannja sangat kuat, maka sekali tenaga dalamnja terhimpun, susahlah bagi Toan Ki untuk menjedot tenaganja dengan Tju-hap-sin-kang jang ampuh.
Baru sesudah Giok-yan menggigit sekali ditempat Kiok-ti-hiatnja, dalam kagetnja hawa murni jang bergolak itu lantas membandjir keluar.
Dan sekali hawa murni itu mendapat djalan saluran, maka susahlah tertahan lagi, serentak tenaga itu mengalir kedalam tubuh Toan Ki dengan tak ber-henti2.
Tadinja pikiran Tjiumoti memang sudah mulai katjau dan hampir2 tak sadar, sesudah tenaga dalamnja terkuras keluar hampir separoh, mendadak pikirannja djernih kembali, keruan ia terperandjat.
Wah, tjelaka!
Djika aku punja tenaga murni tersedot terus seperti ini, pasti dalam waktu tak lama lagi aku akan lemas dan mendjadi orang tjatjat.
Karena itu sekuatnja ia berusaha melawan, namun sekarang sudah terlambat.
Sesudah hampir separuh tenaga murninja masuk tubuh Toan Ki, perbandingan kekuatan kedua pihak mendjadi lebih njata lagi, tidak mungkin Tjiumoti dapat melawan, biarpun dia merontak sekuat mungkin tetap takdapat menahan mengalir keluarnja tenaga murni itu.
Sebaliknja Giok-yan mendjadi lega demi melihat akibat gigitannja itu lantas tjekikan Tjiumoti itu mendjadi agak kendur.
Tapi dilihatnja tangan Tjiumoti itu masih tetap memegang leher Toan Ki, segera ia menariknja pula.
Tak terduga tangan Tjiumoti itu sudah seperti terpantek dileher Toan Ki, biarpun dia menarik dan membetot, tetap tangan Tjiumoti takmau lepas.
Walaupun Giok-yan paham (setjara teori) ilmu silat berbagai golongan dan aliran didunia ini, tapi ia tidak tahu ilmu apakah jang digunakan Tjiumoti sekarang ini, karena itu ia pikir ilmu apapun djuga tentu akan merugikan Toan Ki, maka sedapat mungkin ia berusaha hendak menolongnja.
Tjiumoti sendiripun mengeluh, didalam hati ia berharap Giok-yan akan dapat menarik lepas tangannja.
Siapa tahu ketika tangan Giok-yan memegang tangan Tjiumoti, seketika nona itu merasa badannja menggigil, tenaga murninja djuga mendadak tersedot keluar dan tak tertahankan.
Kiranja saat itu Toan Ki sudah pingsan, dengan sendirinja asal ketemu tenaga jang sakti itu tidak kenal kawan atau lawan, asal ketemu tenaga lantas sedot sadja, maka bukan Tjiumoti sadja jang tenaga murninja terisap, bahkan Giok-yan djuga ikut mendjadi korban.
Maka tidak lama kemudian Giok-yan dan Tjiumoti telah djatuh pingsan semua.
Selang agak lama, ketika tidak mendengar suara apa2 dari ketiga orang jang berada dibawah itu, segera Bujung Hok tjoba memanggil beberapa kali, tapi tidak mendapat djawaban.
Pikirnja.
Djangan2 ketiga orang itu sudah gugur bersama?
Lebih dulu ia mendjadi girang.
Tapi segera teringat hubungan baik dirinja dengan Giok-yan, mau-tak-mau ia merasa berduka djuga.
Kemudian terpikir pula olehnja.
Wah, tjelaka!
Kalau mereka tidak mati, dengan tenaga gabungan empat orang mungkin akan dapat keluar dari sini, tapi sekarang tinggal aku seorang, tentu akan susah menjingkirkan batu besar diatas.
Ai, djika kalian ingin mati, kenapa tidak tunggu dulu dan mati diluar sumur sana sadja?
Dan baru ia hendak melompat turun untuk memeriksa keadaan Tjiumoti dan Giok-yan bertiga, tiba2 terdengar ada suara orang bitjara diatas, suaranja berisik ramai, agaknja adalah kaum petani bangsa Se He.
Rupanja mereka berempat telah ribut semalam suntuk didasar sumur itu dan sekarang fadjar sudah menjingsing, banjak kaum petani jang membawa sajur2-an hendak mendjual ke pasar di dalam kota dan lewat disamping sumur itu.
Diam2 Bujung Hok membatin.
Djika aku berteriak minta tolong, para petani itu belum tentu sanggup memindahkan batu2 karang jang besar itu.
Dan bila merasa tak kuat, tentu mereka akan tinggal pergi dan tak peduli lagi.
Djalan paling baik jalah memantjing mereka dengan redjeki.
Maka ia lantas sengadja berteriak.
Hei, semua emas ini adalah milikku, kalian tidak boleh ikut mengangkangi.
Ja, biarlah aku membagi kalian 3000 tahil sadja.
~ Lalu ia berseru pula dengan suara lain jang sengadja di-buat2.
Tidak bisa!
Emas intan sebanjak ini kita ketemukan bersama, sudah tentu harus kita bagi dengan sama-rata.
~ Kemudian ia sengadja membikin suaranja setengah tertahan dan berkata; Sssst, djangan keras2, kalau sampai didengar orang, tentu mereka djuga akan minta bagian dan bagian kita tentu akan berkurang!
Suara tanja-djawab jang sengadja diutjapkan Bujung Hok itu ia siarkan dengan tenaga dalam jang kuat sehingga dapat didengar dengan djelas oleh para petani jang lewat dipinggir sumur itu.
Dasar manusia, siapa orangnja jang mendengar ada redjeki takkan ketarik?
Keruan sadja para petani itu terkedjut dan bergirang pula.
Beramai2 mereka lantas merubungi sumur itu dan serentak berebut untuk menjingkirkan batu2 karang itu.
Meski batu2 karang itu sangat besar dan antap, tapi dengan tenaga gotong-rojong orang banjak, achirnja batu2 itu dapat disingkirkan.
Sudah tentu Bujung Hok sudah ber-siap2, ia tidak menunggu sampai batu2 itu disingkirkan semua, baru sadja kelihatan ada suatu lowongan jang tjukup untuk diterobos, terus sadja ia merembet keatas dan mendadak wuttt, ia terus melajang keluar.
Tentu sadja para petani itu kaget setengah mati karena hanja dalam sekedjap sadja bajangan Bujung Hok itu sudah menghilang dikedjauhan.
Walaupun masih tjuriga dan takut, tapi karena daja tarik harta karun, achirnja para petani itu tetap menjingkirkan batu2 karang, lalu seorang kawan mereka jang paling tabah dikerek kedalam sumur dengan tambang.
Setiba didasar sumur, begitu tangannja meraba segera orang itu dapat memegang badan Tjiumoti.
Memangnja dia sudah was-was dan kebat-kebit, begitu kena meraba badan manusia, segera ia menjangka serangka majat.
Keruan kagetnja tak terkatakan, hampir2 sukmanja terbang meninggalkan raganja.
Tjepat ia menggojangkan tambang dan minta dikerek keatas.
Mendengar didalam sumur itu ada orang mati, seketika para petani itu mendjadi ketakutan dan berlari bubaran, mereka sama kuatir ikut tersangkut perkara pembunuhan, djangan2 harta karun belum diperoleh, tapi sudah masuk bui lebih dulu.
Begitulah sampai dekat lohor, ber-turut2 ketiga orang didalam sumur itu barulah siuman kembali.
Orang pertama jang siuman adalah Giok-yan.
Begitu sadar kembali, jang per-tama2 teringat olehnja adalah Toan Ki.
Meski saat itu adalah siang bolong, tapi didasar sumur itu tetap sangat gelap, ia tjoba meraba dengan tangannja dan dapat menjentuh Toan Ki, segera ia berseru.
Toan-long, o, Toan-long, ba...
bagaimanakah dengan dirimu?
Karena tidak mendapat djawaban Toan Ki, Giok-yan menjangka pemuda itu sudah mati ditjekik Tjiumoti, terus sadja ia menangis sedih, ia angkat majat Toan Ki dan merangkulnja dengan kentjang didepan dada sambil sesambatan.
O, Toan-long, sedemikian baik dan setiamu kepadaku, tapi selama ini aku belum pernah membalas apa2 padamu, baru sadja kita berharap akan hidup bahagia di-hari2 jang akan datang, siapa tahu...
siapa tahu djiwamu sudah melajang ditangan paderi djahat ini...
Utjapan nona ini hanja betul separoh sadja, demikian tiba2 terdengar Tjiumoti menjela, rupanja iapun sudah sadar.
Walaupun Lolap adalah paderi djahat, tapi aku tidak membunuh Toan-kongtju.
Dan pada saat itu Toan Ki telah siuman djuga.
Ia mendengar utjapan Giok-yan jang meresap itu bergema ditepi telinganja, ia mendjadi girang.
Tiba2 ia merasa badannja sendiri berada didalam pelukan sinona, segera ia pura2 masih belum sadar dan tak berani bergerak, kuatir kalau diketahui Giok-yan dan dilepaskan sehingga tidak dapat lagi merasakan nikmatnja dalam pelukan sang kekasih.
Dalam pada itu Tjiumoti telah berkata.
Kekasihmu itu tidaklah kutewaskan, sebaliknja djiwaku jang hampir2 binasa ditangannja.
Air mata Giok-yan lantas bertjutjuran, sahutnja.
Dalam keadaan begini kau masih hendak mengapusi aku?
Ketahuilah bahwa hatiku seperti di-sajat2, lebih baik kaupun tjekik mati aku sadja agar aku dapat menjusul Toan-long dialam baka.
Mendengar utjapan sinona jang tulus iklas dan meresap itu, sungguh girang Toan Ki tak terkira.
Tjiumoti sendiri meski sudah kehilangan tenaga murni, tapi pikirannja masih sangat tjermat, pengalamannja djuga luas dan kenjang makan asam-garam, dari suara napas Toan Ki jang pelahan tapi tertahan itu, segera ia mengetahui pemuda itu sebenarnja sudah sadar, tapi sengadja diam sadja, maka iapun tahu maksudnja.
Tiba2 ia menghela napas pelahan dan berkata.
Toan-kongtju, aku telah salah beladjar ilmu sakti Siau-lim-pay sehingga membikin tjelaka diriku sendiri, untung engkau telah menjedot tenaga dalamku sehingga aku tidak sampai mati konjol seperti orang gila.
Sekarang meski ilmu silatku sudah punah, namun djiwaku telah selamat, untuk ini aku harus mengutjapkan terima kasih atas pertolonganmu.
Toan Ki adalah seorang jang rendah hati, demi tiba2 mendengar paderi itu mengutjapkan terima kasih padanja, tanpa merasa ia terus mendjawab.
Ah, Taysu djangan merendah diri.
Tjayhe punja kepandaian dan kebaikan apa sehingga berani dianggap telah menjelamatkan djiwa Taysu?
Giok-yan mendjadi girang ketika mendadak mendengar Toan Ki sudah sadar kembali, tapi ia lantas tertjengang pula dan paham sebabnja pemuda itu sengadja diam sadja jalah agar dapat berada didalam pelukannja, keruan ia mendjadi girang2 malu, sekuatnja ia dorong pergi Toan Ki dan mentjomel.
Uh, kau ini!
Toan Ki mendjadi malu djuga karena rahasianja terbongkar.
Lekas2 ia berbangkit dan bersandar didinding sebelah.
Tiba2 ia ingat sesuatu dan bertanja.
He, dimanakah Bujung-kongtju?
Ha, aku mendjadi lupa djuga, dimanakah Piauko?
sahut Giok-yan.
Sungguh girang Toan Ki melebihi mendapat warisan demi mendengar kata2 aku mendjadi lupa djuga.
Padahal selama ini perhatian Giok-yan selalu terpusat kepada Bujung Hok seorang, tapi sekarang walaupun sudah selang hampir sehari toh nona itu tidak ingat kepada Bujung Hok, hal itu menandakan bahwa dirinja sekarang sudah bertukar tempat dengan Bujung Hok dilubuk hati sinona.
Tengah Toan Ki riang gembira, terdengar Tjiumoti telah berkata.
Sifat Toan-kongtju sangat tulus dan djudjur, redjeki dikemudian hari pasti tiada takaran.
Hari ini Lolap ingin mohon diri, rasanja kelak susah untuk berdjumpa pula.
Disini ada satu d
Jilid kitab, bila kelak Kongtju kebetulan ada tempo, tolonglah kitab ini suka dikembalikan kepada Siau-lim-si.
Semoga Kongtju berdua hidup bahagia sampai hari tua.
Habis berkata, segera ia menjerahkan kitab Ih-kin-keng kepada Toan Ki.
Apakah Taysu hendak pulang ke Turfan?
tanja Toan Ki.
Mana suka, mungkin pulang kesana, mungkin tidak!
sahut Tjiumoti dengan samar2.
Lalu ia berbangkit, ia tjoba menarik tambang pandjang jang ditinggalkan kaum petani tadi dan ternjata tjukup kentjang, agaknja udjung atas diikat dibatu karang.
Dengan tambang itulah ia lantas merambat keatas dan tinggal pergi.
Sekarang tinggal Toan Ki berhadapan dengan Giok-yan didalam sumur itu, walaupun berada ditempat lumpur tapi hati mereka sangat senang, siapapun tidak punja pikiran buat keluar dari sumur itu.
Pelahan2 tangan kedua orang sama2 mendjulur kedepan, empat tangan saling menggenggam, dua perasaan bersatu.
Sambung ke
Jilid 40 Ini
Jilid 43 Sementara itu hari sudah mulai gelap, beberapa peradjurit pendjaga itu lagi sibuk menjalakan pelita2 disekitar ruangan pendopo itu.
Berkat tjahaja lampu itu Siau Hong dapat melihat tulisan2 diatas kertas jang dibentangkan itu, ternjata tulisan dalam beberapa huruf ketjil itu berbunji.
Bala bantuan sudah tiba, malam ini djuga lepas dari bahaja.
Siau Hong mendengus tanpa bitjara, hanja kepalanja menggeleng pelahan.
Tapi A Tji lantas berkata dengan nada jang di-buat2.
Pasukan kita jang dikerahkan kali ini tidaklah sedikit djumlahnja.
Peradjurit2 kita tangkas dan perbekalan tjukup, sudah tentu kita akan menang dimana pasukan kita tiba, maka djanganlah engkau kuatir.
Tidak, djusteru karena aku tidak ingin banjak menimbulkan korban, makanja aku telah dikurung disini oleh Hongsiang, kata Siau Hong.
Untuk menangkan perang, jang diperlukan adalah perhitungan jang tepat dan siasat jang lihay, mana boleh berpikir tentang korban jang akan djatuh?
udjar A Tji.
Siau Hong tjoba melirik ketiga orang pembudjuk jang lain, kelihatan diantaranja ada jang sedang gojang2 kipas jang mereka bawa, ada jang kebas2 lengan badju setjara sembunji2 se-olah2 kuatir muka asli mereka dikenali orang, terang mereka itu adalah bala bantuan jang dibawa sendiri oleh A Tji.
Dengan menghela napas kemudian Siau Hong berkata.
Ja, aku sangat berterima kasih kepada maksud baikmu, tetapi hendaklah maklum bahwa pendjagaan musuh sangat rapat dan keras, untuk merebut wilajah kedudukan mereka lebih2 tidaklah mudah..................
Belum selesai utjapannja, tiba2 terdengar beberapa peradjurit pendjaga tadi sedang men-djerit2 kaget.
He, ada ular!
Ada ular berbisa!
Darimana datangnja ular2 berbisa sebanjak ini!
Waktu Siau Hong menoleh, benar djuga dilihatnja diambang pintu, dari tjelah2 djendela dan lantai ruangan situ sudah penuh dibandjiri ular2 berbisa.
Binatang2 merajap itu menjusur kian kemari dengan kepala mendongak dan lidah men-desis2, suasana mendjadi katjau balau dan peradjurit2 itu berlari kian kemari untuk menghindari.
Hati Siau Hong tergerak.
Melihat gelagatnja, agaknja kawanan ular ini sengadja dilepaskan oleh saudaraku dari anggota Kay-pang!
Dalam pada itu para peradjurit pendjaga tadi sedang menggunakan sendjata mereka untuk membunuh dan mengusir kawanan ular.
Malahan komandan piket jang mendjaga Siau Hong lantas memberi perintah.
Para peradjurit jang mendjaga Siau-tayong tidak boleh sembarangan menjingkir pergi, jang membangkang akan dihukum mati!
Rupanja komandan piket itu tjukup tjerdik, ia melihat datangnja kawanan ular itu agak aneh dan luar biasa, ia kuatir kalau peradjurit2 pendjaga itu bingung menghadapi kawanan ular dan kesempatan itu akan digunakan oleh Siau Hong untuk meloloskan diri.
Karena perintah itu, terpaksa para peradjurit jang mendjaga disekitar kurungan tidak berani sembarangan bergerak, mereka tetap mengarahkan udjung tumbak mereka kepada Siau Hong jang mengeram didalam kurungan itu.
Namun tidak urung mereka mendjadi kebat-kebit djuga, sambil mengantjam Siau Hong, pandangan merekapun ber-ulang2 diarahkan kepada kawanan ular, bila ada ular jang mendekat lantas mereka bunuh.
Selagi suasana mendjadi katjau, se-konjong2 terdengar pula suara riuh ramai dibelakang istana.
Api!
Ada api!
Kebakaran!
Kebakaran!
Tolong!
Ada kebakaran!
Tolong!
Segera komandan piket tadi berseru.
Kahur, lekas pergi memberi lapor kepada komandan, tanjakan apakah Siau-tayong harus segera dipindahkan atau tidak?
Jang bernama Kahur itu adalah seorang Pek-hu-tiang (kepala seratus orang, pangkat setingkat kapten).
Ia mengiakan dan membalik tubuh.
Baru sadja dia hendak berlari pergi untuk menunaikan tugasnja, tiba2 seorang telah membentaknja didepan pintu ruangan.
Tetap ditempatmu masing2, djangan terkena tipu pantjingan musuh, awas, kalau ada orang menjerbu kesini segera Siau Hong dibunuh dahulu!
Ternjata jang bitjara adalah komandan pasukan pengawal jang hendak dimintai petundjuk itu sudah datang sendiri.
Dia bersendjata golok pandjang dan dengan gagah berdiri didepan pintu.
Se-konjong2 sesuatu bajangan emas berkelebat, seekor ular ketjil berwarna emas telah melajang keatas dan menjambar kemuka komandan pasukan pengawal itu.
Tjepat perwira itu menjampuk dengan sendjatanja, namun lebih dulu sudah terdengar suara mendesingnja sendjata rahasia, seketika ruangan situ mendjadi gelap gulita.
Rupanja ada orang menjambitkan sendjata2 rahasia untuk memadamkan pelita.
Maka terdengarlah komandan pasukan pengawal itu mendjerit ngeri sekali, dia sudah dipagut oleh ular warna emas tadi dan roboh terguling.
Kiranja satu diantara keempat orang pembudjuk palsu tadi adalah Tjiong Ling jang menjamar.
Dia telah melepaskan Kim-leng-tju dan berhasil membinasakan perwira musuh.
Tanpa ajal lagi A Tji lantas mengeluarkan golok mestika, tjepat ia memotong putus rantai besi jang menjambung diatas borgol Siau Hong.
Baru Siau Hong merasa ragu2 apakah dirinja dapat keluar dari kurungan terali besi jang kuat itu, mendadak tanah ditengah kurung besi dimana dia berpidjak itu terasa blong, tubuhnja terasa andjlok kebawah.
Ia dengar A Tji sedang berkata diluar kurungan dengan suara setengah tertahan.
Lekas lari melalui djalan dibawah tanah!
Dan belum lagi kaki Siau Hong menjentuh tanah, tiba2 terasa kedua kakinja telah ditjengkeram oleh sepasang tangan terus ditarik lagi kebawah.
Ketika dapat berdiri tegak dibawah tanah, dilihatnja orang jang menariknja itu adalah Hoa Hek-kin, itu djago tukang gangsir dari Tayli.
Ternjata Hoa Hek-kin telah giat bekerdja selama belasan hari sehingga berhasil menggangsir dan membuat sebuah lorong dibawah tanah jang menembus tepat dibawah kurungan besi Siau Hong.
Segera Hek-kin menarik Siau Hong dan merangkak mundur untuk keluar dari lubang gangsir itu.
Betapa tjepatnja tjara Hoa Hek-kin merangkak ternjata tidak kalah daripada orang berdjalan ditanah datar.
Hanja sekedjap sadja puluhan meter lubang gangsir itu telah dilaluinja, lalu ia memajang Siau Hong untuk berdiri dan menerobos keluar dari liang itu.
Ternjata dimulut liang itu sudah menunggu tiga orang.
Mereka adalah Toan Ki, Hoan Hwa dan Pah Thian-sik.
Begitu melihat Siau Hong telah ditolong keluar dengan selamat, terus sadja Toan Ki menjapa sambil menubruk madju untuk merangkul sang Toako.
Siau Hong tepuk2 punggung Toan Ki, lalu katanja dengan tertawa.
Hari ini barulah aku menjaksikan ilmu sakti Hoa-suto, sungguh aku kagum sekali dan banjak terima kasih.
Sungguh Siaudjin (hamba) teramat bangga atas pudjian Siau-tayong ini, sahut Hoa Hek-kin dengan rendah hati.
Tempat di mana mereka berada itu tidak terlalu djauh dari istana Lam-ih Tay-ong, maka terdengarlah di-mana2 penuh suara teriakan peradjurit Liau jang riuh rendah.
Terdengar pula orang meniup terompet dan lewat dibelakang rumah sana disertai suara teriakan2.
Awas!
Musuh telah menjerang pintu gerbang timur, pasukan pengawal radja harus tetap berada ditempat tugasnja dan tidak boleh sembarangan bergerak!
Siau-tayong, marilah kita terdjang keluar melalui pintu gerbang sebelah barat, adjak Hoan Hwa jang merupakan ahli siasat dari keradjaan Tayli.
Belum lagi Siau Hong mendjawab, tiba2 dari lubang gangsir dibawah tanah itu terdengar suara seruan A Tji jang penuh rasa sjukur dan girang.
Tjihu, tunggu dulu padaku!
~ Menjusul anak dara itu lantas melontjat keluar dari mulut liang seperti kelintji gesitnja.
Djanggut anak dara itu masih penuh djenggot palsu, mukanja penuh debu tanah dan kotor.
Namun bagi penglihatan Siau Hong, sedjak dia kenal A Tji, hanja saat inilah anak dara itu paling tjantik tampaknja.
Segera A Tji melolos pula goloknja hendak memotong borgolnja Siau Hong, tapi borgol itu menempel rapat ditangan Siau Hong, bilamana sedikit kurang tepat tentu akan melukainja.
Maka ia mendjadi ragu2, achirnja ia serahkan sendjatanja kepada Toan Ki dan meminta.
Koko, harap engkau jang memotongnja!
Toan Ki lantas angkat golok itu, dimana tenaga dalamnja disalurkan, dengan mudah sadja borgol besi itu dapat dipapasnja sebagai memotong kaju mudahnja.
Dalam pada itu dari lubang gangsir itu telah menerobos keluar pula tiga orang.
Jang pertama adalah Tjiong Ling, lalu Bok Wan-djing dan orang ketiga adalah seorang anggota Kay-pang berkantong delapan.
Anggota Kay-pang itu adalah ahli memain ular, kawanan ular jang membandjiri ruang tadi adalah hasil pekerdjaannja jang sukses.
Demi melihat Siau Hong telah dapat diselamatkan tanpa halangan suatu apapun, dengan air mata ber-linang2 anggota Kay-pang berkantong delapan itu lantas menjapa.
Pangtju, selama ini engkau ....
~ sampai disini ia tak sanggup meneruskan lagi saking terharunja.
Sudah lama sekali Siau Hong tidak pernah mendengar orang menjebutnja sebagai Pangtju, mau-tak-mau ia mendjadi terharu djuga demi nampak sikap anggota Kay-pang jang sedemikian setia padanja itu.
Sahutnja dengan suara parau.
Sungguh aku sangat berterima kasih atas bantuanmu.
Sungguh bangga dan terharu pula anggota Kay-pang berkantong delapan itu atas pudjian Siau Hong, tak tertahankan lagi air matanja lantas bertjutjuran sebagai hudjan.
Kawan2 kita sudah mulai bergerak dipintu gerbang timur, marilah kita lantas kabur sadja mumpung suasana sedang katjau!
demikian adjak Hoan Hwa.
Dan paling baik Siau Tayong djanganlah perlihatkan dirimu agar tidak dikenali oleh pihak musuh.
Siau Hong mengiakan atas saran itu.
Segera mereka menerdjang keluar melalui pintu depan.
Waktu Siau Hong menoleh, kiranja rumah dimana mereka keluar itu adalah sebuah rumah jang sudah rusak tak terawat dan tidak menarik bila dipandang dari luar.
Karena A Tji sedikit banjak telah menguasai bahasa Tjidan, maka dia lantas ber-teriak2.
Kebakaran!
Kebakaran!
Lekas tolong kebakaran!
Dengan menirukan apa jang dikatakan A Tji itu, segera Hoan Hwa dan Hoa Hek-kin djuga ikut2 berteriak.
Pah Thian-sik memiliki Ginkang jang paling tinggi, maka bila disekitarnja tiada peradjurit Liau, segera ia menjalakan api sehingga dalam sekedjap sadja ada belasan tempat berdjangkit kebakaran lagi.
Begitulah mereka bersembilan terus berlari kepintu gerbang barat.
Toan Ki dan lain2 telah menjaru sebagai orang Tjidan, apalagi suasana didalam kota telah mendjadi katjau-balau sehingga rombongan mereka tidak menimbulkan perhatian orang lain.
Terkadang bila ada pasukan berkuda Tjidan menerdjang tiba, segera mereka menjingkir kepodjok djalan jang sepi dan gelap untuk menghindari.
Sekaligus mereka telah melintasi belasan djalanan kota, terdengar suara terompet berbunji disebelah utara diseling dengan djerit orang jang ramai.
Wah, tjelaka!
Pasukan musuh telah membobol pintu gerbang utara, Hongsiang telah ditawan musuh!
Hongsiang telah ditawan musuh!
Keruan Siau Hong djuga terkedjut, ia berhenti dan berkata.
Apakah betul radja Liau tertawan?
Samte, radja Liau itu adalah saudara-angkatku, biarpun dia tidak setia padaku, tapi tidak boleh aku melupakan budinja, maka ....
maka djanganlah kau mentjelakai dia ....
Tjihu djangan kuatir, kata A Tji dengan tertawa.
Berita tertawannja radja Liau itu adalah siasat kita jang sengadja disiarluaskan oleh para Tongtju dari Leng-tjiu-kiong untuk membingungkan pihak musuh.
Padahal didalam kota Lamkhia ini terdapat pasukan pendjaga jang kuat, radja merekapun dikelilingi oleh puluhan ribu peradjurit, masakah begitu gampang untuk menangkapnja?
O, djadi para pengikut Djite itupun datang djuga?
Siau Hong menegas dengan girang dan kedjut.
Tidak tjuma pengikut2 si Hwesio tjilik sadja jang datang, bahkan Hwesio tjilik itupun sudah tiba, malahan bininja djuga dibawa kemari sekalian, kata A Tji.
Hwesio tjilik apa dan bininja siapa?
tanja Siau Hong dengan bingung.
Masakah Tjihu sudah lupa?
sahut A Tji dengan tertawa.
Hwesio tjilik adalah si Hi-tiok-tju, bininja bukan lain adalah puteri keradjaan Se He jang dimenangkannja dalam sajembara tempo hari.
Hanja sadja puteri itu selalu menutupi mukanja dengan kerudung sehingga selain Hwesio tjilik, orang lain tiada satupun jang boleh melihatnja.
Ketika kutanja si Hwesio tjilik.
Bagaimana matjam binimu itu, dia tjantik atau tidak?
~ Namun si Hwesio tjilik hanja ter-senjum2 sadja dan tidak pernah mendjawab.
Walaupun sedang melarikan diri, tapi tiba2 mendengar hal2 jang menarik itu mau-tak-mau Siau Hong merasa bersjukur djuga bagi Hi-tiok jang berhasil memperisterikan puteri Se He itu, tanpa merasa ia memandang sekedjap kearah Toan Ki.
Seperti diketahui, ketika be-ramai2 mereka pergi ke Se He untuk mengikuti sajembara, sebelum hasil sajembara itu diumumkan, Siau Hong sudah meninggalkan negeri itu lebih dulu.
Rupanja Toan Ki tahu perasaan sang Toako, dengan tertawa ia berkata.
Toako tidak perlu bersangsi, sebab Siaute sama sekali tidak sirik atas kedjadian itu.
Djiko djuga tidak terhitung mengingkari djandji.
Urusan ini memang agak pandjang untuk ditjeritakan, biarlah nanti akan kudjelaskan dengan pelahan2.
Tengah bitjara, kembali mereka telah berlari suatu djarak jang tjukup djauh, tertampak sebuah panggung besar ditengah lapangan didepan sana djuga sedang terbakar, api men-djilat2 dengan hebatnja.
Dua helai bendera jang terpantjang diatas tiang bendera didepan panggung itupun sudah terdjilat api.
Siau Hong mengetahui lapangan itu adalah alun2 terbesar jang berada dikota Lamkhia, biasanja digunakan untuk latihan berbaris peradjurit Liau.
Tapi entah sedjak kapan didirikan panggung besar itu, ternjata ia sendiri tidak pernah mengetahui.
Sri Baginda, setelah podium kebesaran dan bendera keradjaan Liau ini terbakar, ini akan merupakan alamat djelek bagi gerakan militer Liau, mungkin rentjana menjerang keradjaan Song terpaksa harus dipikirkan lagi oleh Yalu Hung-ki demikian kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Mendengar Thian-sik memanggil Sri Baginda dan tampak Toan Ki telah manggut2, keruan Siau Hong ter-heran2.
Segera ia tanya.
Samte, apakah kau...
kau sudah mendjadi radja?
Dengan muram Toan Ki mendjawab.
Ja, setjara mendadak ajah telah meninggal dalam perdjalanan pulang, paman baginda telah meninggalkan tahta pula dan mendjadi paderi dikuil Thian-liong-si, maka Siaute disuruh menggantikan tahtanja.
Padahal Siaute sama sekali tidak punja kepandaian apa2, sungguh memalukan untuk memangku djabatan setinggi ini.
Ai, Samte!
seru Siau Hong terkedjut.
Engkau sekarang adalah kepala negara Tayli, mana boleh engkau sembarangan menghadapi bahaja bagi kepentinganku?
Pabila terdjadi sesuatu halangan, tjara bagaimana aku akan bertanggung-djawab kepada rakjat dan negeri Tayli kalian?
Toan Ki tertawa, katanja.
Tayli adalah sebuah negeri ketjil jang djauh terpentjil didaerah selatan, sebutan radja adalah tjuma nama kosong belaka, dipandang djuga Siaute tidak memper seorang radja, sungguh hanja membikin malu sadja.
Adapun hubungan kita melebihi saudara sekandung, djika Toako ada kesukaran, masakah Siaute boleh tinggal diam tanpa ikut tjampur?
Apalagi Siau-tayong telah berusaha mentjegah radja Liau memerangi keradjaan Song, untuk ini kami rakjat seluruh negeri Tayli ikut merasa berterima kasih padamu, demikian Thian-sik ikut bitjara.
Hendaklah maklum, pabila radja Liau berhasil menundukkan Song, maka langkah kedua sudah tentu akan mentjaplok Tayli pula.
Padahal negeri kami ketjil dan lemah, mana dapat melawan pasukan Liau jang tangkas dan kuat?
Maka Siau-tayong telah menjelamatkan keradjaan Song berarti pula telah menolong negeri Tayli kami.
Kalau sekarang orang Tayli mentjurahkan segenap tenaganja untuk mengabdi kepada Siau-tayong tentunja djuga sudah sepantasnja.
Aku hanja seorang jang paham ilmu silat sadja, soalnja aku tidak tega membiarkan kedua negeri saling perang dan menimbulkan korban jang tak berdosa, mana aku berani anggap berdjasa hanja karena sedikit usahaku itu?
sahut Siau Hong.
Sedang bitjara, tiba2 bagian selatan sana api ber-kilat2 mendjulang tinggi, penduduk dalam ber-kelompok2 ber-bondong2 menjelamatkan diri tertjampur diantara pasukan2 Liau jang tjoba menenangkan suasana.
Terdengar teriakan orang.
Hwesio2 Siau-lim-si dari selatan bersama orang2 gagah jang tidak sedikit djumlahnja telah membobol pintu gerbang selatan!
~ Lalu ada pula jang berteriak.
Lam-ih Tay-ong Siau Hong telah memberontak dan takluk kepada keradjaan Song, radja Liau sudah dibunuh olehnja!
Malahan ada beberapa orang Tjidan lantas menanggapi dengan mengertak gigi.
Siau Hong itu telah mengchianati bangsa dan menjerah kepada musuh, sungguh aku ingin dapat menggigit dagingnja dan mengunjahnja mentah2.
Apa benar Sri Baginda telah dibunuh oleh bangsat maha durdjana Siau Hong itu?
demikian tanja seorang kawannja dengan gugup.
Mengapa tidak benar?
sahut seorang Tjidan jang lain.
Dengan mataku sendiri aku menjaksikan Siau Hong menerdjang kedepan Sri Baginda dan dengan tumbaknja ia telah menusuk dada Sri Baginda sehingga tembus.
Bangsat keparat Siau Hong itu mengapa sedemikian kedjamnja?
Sesungguhnja dia itu orang Tjidan atau bangsa Han?
kata seorang tua dengan sengit.
Konon dia adalah orang Song jang sengadja menjaru sebagai orang Tjidan, bangsat itu benar2 sangat litjin dan kedjam melebihi binatang!
sahut pula kawannja tadi.
Mendengar orang2 itu sambil lari sembari mentjatji maki dan mengutuki Siau Hong, keruan A Tji mendjadi gusar, ia angkat tjambuknja terus menjabet kearah orang Tjidan jang lewat disisinja.
Namun Siau Hong keburu mentjegahnja, sambil meng-gojang2 kepalanja ia berkata dengan suara tertahan.
Biarkan mereka bitjara sesukanja, djangan digubris!
~ Lalu iapun bertanja.
Apakah benar2 para paderi sakti dari Siau-lim-si djuga ikut datang?
Harap Pangtju maklum, ketika nona Toan (A Tji) keluar dari kota Lamkhia, diluar kota dia lantas bertemu dengan Go-tianglo dari Kay-pang kita dan membitjarakan tentang pengorbanan Pangtju, demi untuk menolong djiwa rakjat dan negeri Song kita, katanja Pangtju telah berusaha mentjegah rentjana radja Liau akan menjerbu negeri Song sehingga menimbulkan amarah radja Liau serta ditawan.
Atas tjerita itu Go-tianglo tak dapat mempertjajainja karena Pangtju diketahui adalah orang Tjidan, masakah mungkin pikiranmu tjondong kepada negeri Song kita?
Maka diam2 beliau telah menjusup kedalam kota Lamkhia untuk menjelidiki sendiri persoalan Pangtju ini dan achirnja dapat diketahui dengan pasti bahwa apa jang ditjeritakan nona Toan ternjata benar adanja.
Segera Go-tianglo menjebarkan perintah 'Djing-tiok-leng' (titah bambu hidjau) dan memberitahukan kepada para kesatria Tionggoan tentang kebaikan budi dan djiwa kesatria Pangtju, dan karena terharu dan terima kasih atas keluhuran budi Pangtju itu, maka dengan dibawah pimpinan paderi2 Siau-lim-si itu, para kesatria Tionggoan lantas ber-bondong2 datang keutara sini untuk menolong Pangtju.
Siau Hong mendjadi teringat kepada peristiwa di Tjip-hian-tjeng tempo dulu, dimana dia bertarung dan dikerubut oleh para kesatria Tionggoan sehingga tidak sedikit djago2 silat telah dibunuh olehnja.
Tapi hari ini para kesatria itu djusteru datang untuk menolongnja, sungguh hatinja mendjadi berduka dan berterima kasih pula.
Ja, begitulah, maka dengan tjepat berita tentang Tjihu itu telah disebarkan oleh para pengemis dari Kay-pang sehingga dalam waktu singkat telah diketahui oleh para kesatria di-mana2.
Ai, tjelaka!
Wah sajang, sungguh sajang!
demikian tiba2 A Tji berseru gegetun.
Ada apakah?
tanja Toan Ki kaget.
Wah, aku punja Pek-giok-giok-ting (wadjan kemala hidjau) jang kugunakan untuk memantjing datangnja kawanan ular dan kutaruh diruangan pendopo sana, dalam keadaan ter-buru2 aku mendjadi lupa mengambilnja kembali, sahut A Tji.
Sudahlah, benda jang tak berarti itu buat apa mesti selalu dipikirkan dan dibawa terus kemanapun kau pergi?
udjar Toan Ki dengan tertawa.
Hm, kau anggap wadjan itu benda tak berarti?
Kalau tiada benda mestika itu, tentu kawanan ular itu takkan membandjiri ruangan itu sedemikian tjepatnja dan Tjihu tentu djuga susah untuk meloloskan diri setjara begini mudah, demikian bantah A Tji.
Tengah bitjara, tiba2 terdengar suara riuh ramainja orang bertempur.
Dibawah tjahaja api kelihatan peradjurit2 Liau dalam djumlah besar sedang saling gasak sendiri.
Aneh, mengapa bertempur sendiri ...
udjar Siau Hong dengan heran.
Toako, jang terdapat kain putih dileher mereka itu adalah kawan kita sendiri, kata Toan Ki.
Segera A Tji mengeluarkan sepotong kain putih dan diserahkan kepada Siau Hong, katanja.
Ikatlah dilehermu, Tjihu!
Sekilas pandang Siau Hong merasa bingung djuga untuk membedakan mana adalah peradjurit kawan dan lawan, ia merasa bingung pihak mana jang harus dibunuhnja.
Dan ditengah suasana jang gaduh itu terkadang terdjadi peradjurit2 Liau jang sebenarnja telah saling membunuh.
Sebaliknja peradjurit2 Liau palsu jang pakai tanda kain putih dileher itu dapat mengajunkan sendjata mereka dengan djitu keatas badan peradjurit dan perwira Liau jang tulen sehingga orang2 Liau satu persatu bergelimpangan binasa.
Sambil memegangi kain putih jang diterimanja dari A Tji itu, tangan Siau Hong mendjadi gemetar, dalam hatinja seakan sedang mendjerit.
Aku adalah orang Liau, aku bukan orang Han!
Aku orang Liau dan bukan orang Han!
Betapapun kain putih ini tak dapat dipakai diatas leherku!
Dan pada saat itulah tiba2 terdengar suara mentjitjit ber-ulang2, pintu gerbang barat jang antap itu telah didorong terpentang oleh orang.
Ber-bondong2 Toan Ki dan Hoan Hwa lantas menerdjang keluar dengan mengapit disamping Siau Hong.
Dibawah tjahaja api jang terang benderang itu tertampak djelas anggota2 Kay-pang dalam djumlah besar sudah menunggu diluar kota dengan membawa kuda.
Ketika melihat Siau Hong, serentak mereka bersorak-sorai.
Kiau-pangtju!
Kiau-pangtju!
Ditengah malam gelap tertampak kedua barisan obor lantas menjingkir minggir, lalu seorang penunggang kuda tampak madju kedepan.
Penunggang kuda itu adalah seorang pengemis tua, dengan kedua tangannja terangkat keatas ia memegangi Pak-kau-pang, itu pentung penggebuk andjing jang merupakan benda tanda pengenal Pangtju dari Kay-pang.
Pengemis tua itu ternjata Go-tiang-lo adanja.
Sesudah berada didepan Siau Hong tjepat Go-tianglo melompat turun dari kudanja dan berlutut, katanja.
Go Tiang-hong atas nama para anggota Kay-pang dengan ini mempersembahkan kembali Pak-kau-pang ini kepada Pangtju.
Kami telah gegabah dan goblok sehingga telah banjak membikin susah Pangtju jang tidak bersalah, sungguh kami lebih bodoh daripada hewan, untuk mana dimohon Pangtju suka memberi ampun dan sudilah melupakan apa jang telah lalu dan kembali mendjadi Pangtju kita untuk memimpin kami jang selama ini seperti kanak2 jang kehilangan orang tua.
~ Sembari berkata iapun menjodorkan Pak-kau-pang ketangan Siau Hong.
Siau Hong mendjadi terharu menghadapi kawan2 seperdjoangan dimasa lalu ini, katanja.
Go-tianglo, Tjayhe memang benar2 adalah orang Tjidan.
Sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga atas budi kebaikan kalian.
Tentang kedudukan Pangtju sekali2 aku tidak dapat mendjabatnja.
~ Berbareng iapun membangunkan Go-tianglo.
Go-tianglo adalah seorang jang berhati lurus, ia mendjadi bingung atas sikap Siau Hong itu, katanja sambil garuk2 kepala.
Engkau...
engkau mengaku sebagai orang Tjidan pula dan tak...
tak mau mendjadi Pangtju?
Ah, Kiau-pangtju, sudahlah, djangan kau marah lagi kepada perbuatan kami jang ngawur dahulu itu dan terimalah kembali djabatanmu!
Dalam pada itu terdengar suara tambur perang didalam kota mendadak berbunji menggelegar, terang ada pasukan besar Liau segera akan menerdjang keluar.
Tjepat Toan Ki berkata.
Go-tianglo, marilah kita lekas berangkat, pasukan musuh terlalu kuat, djika mereka sempat menjusun kekuatan tentu kita tak dapat melawannja.
Siau Hong tahu djuga sebabnja orang2 Kay-pang bersama kesatria2 Tionggoan itu dapat unggul sementara adalah karena mereka menjerang setjara mendadak sehingga berhasil, tapi kalau benar2 bertempur melawan pasukan Liau sudah tentu ribuan orang2 Kangouw itu bukan tandingan pasukan Liau jang berdjumlah ratusan ribu dan terlatih dengan baik itu.
Apalagi kalau terdjadi pertempuran tentu akan banjak menimbulkan korban pula, hal ini sangat berlawanan dengan keinginannja, maka ia lantas berkata.
Go-tianglo, urusan Pangtju biarlah dibitjarakan nanti.
Jang penting sekarang lekaslah kau memberi perintah agar para saudara kita segera mundur kebarat sana.
Go-tianglo mengiakan dan segera memberi perintah itu.
Serentak barisan belakang Kay-pang berubah mendjadi barisan depan dan tjepat mengundurkan diri kedjurusan barat.
Tidak lama kemudian Hi-tiok djuga telah menjusul tiba dengan membawa para peradjurit wanita dan 36 Tongtju dan 72 Totju.
Sesudah beberapa li djauhnja, para djago negeri Tayli dibawah pimpinan Siau Tiok-sing dan Tju Tan-sin djuga sudah menjusul datang.
Tapi para kesatria Tionggoan dan para paderi Siau-lim-si tetap tidak kelihatan.
Bahkan sajup2 terdengar pertempuran jang gegap-gempita didalam kota Lamkhia.
Rupanja para kesatria Tionggoan dan para paderi Siau-lim telah kena ditjegat musuh didalam kota, biarlah kita menunggu dulu sementara, udjar Siau Hong.
Tidak lama kemudian suara pertempuran didalam kota tadi makin lama makin keras.
Toan Ki merasa tidak enak, katanja.
Harap Toako tunggu dulu disini, biarlah aku pergi membantu mereka.
Habis berkata ia lantas memimpin para djago Tayli dan memburu kembali kekota Lamkhia.
Sementara itu subuh sudah tiba, tjuatja mulai terang.
Siau Hong sendiri merasa sedih dan kuatir, ia tidak tahu para kesatria Tionggoan itu dapat meloloskan diri atau tidak.
Suara pertempuran semakin dahsjat, para djago negeri Tayli telah menerdjang kembali kedalam pasukan musuh, tapi para kesatria Tionggoan tetap belum kelihatan lolos dari kepungan.
Tiba2 datang seorang kurir anggota Kay-pang dan memberi laporan.
Beberapa ribu peradjurit Liau telah mendjaga rapat pintu gerbang barat, djago2 Tayli tidak dapat menjerbu kedalam kota, sebaliknja para kesatria Tionggoan djuga tidak dapat menerdjang keluar.
Segera Hi-tiok memberi tanda dan berseru.
Orang2 Leng-tjiu-kiong ikutlah padaku untuk memberi bantuan kesana.
~ Segera ia pimpin anak buahnja jang berdjumlah ribuan orang itu dan menerdjang kembali kearah Lamkhia.
Diatas kudanja Siau Hong tjoba memandang kebelakang, tertampak kota Lamkhia penuh diliputi asap jang mengepul tebal, di-mana2 terdapat gumpalan api jang me-njala2, sungguh susah untuk dibajangkan betapa djadinja kota itu didalam kantjah kekatjauan perang itu.
Sesudah ditunggu setengahan djam pula, kembali seorang kurir memberi lapor lagi .
Toan-ongya dari Tayli dan Hi-tiok Siansing dari Leng-tjiu-kiong telah berhasil membobol kepungan musuh dan sudah menjerbu kedalam kota.
Biasanja djika ada pertempuran Siau Hong selalu memimpin dan tampil paling depan tapi sekarang dia hanja menunggu dari djauh, rasanja tjemas dan kuatir pula.
Maka achirnja ia berkata .
Biarlah aku pergi melihatnja !
Tjepat A Tji, Bok Wan-djing dan Tjiong Ling mentjegahnja .
Djangan, djusteru orang Liau lagi intjar dirimu djangan sekali2 engkau menempuh bahaja ini.
Tidak apa2, djangan kuatir, udjar Siau Hong.
Segera ia melarikan kudanja kedepan dengan disusul oleh para anggota Kay-pang.
Sampai diluar pintu gerbang barat kota Lam-khia, tertampak dibawah tembok benteng, ditepi djalan dan disepandjang sungai jang mengelilingi benteng kota itu penuh bergelimpangan majat2 jang be-ratus2 banjaknja.
Ada peradjurit dan perwira Tjidan, ada djuga anak buahnja Toan Ki dan Hi-tiok.
Pintu gerbang kota setengah tertutup, beberapa Totju bawahannja Hi-tiok tampak memutar sendjata mereka sedang mendjaga disamping pintu dan sedang menghadjar peradjurit2 Liau jang menerdjang madju agar mereka tidak dapat menutup pintu gerbang itu.
Tiba2 terdengar suara riuh ramai kuda2 berlari dari sebelah utara dan selatan.
Siau Hong terkedjut, serunja.
Tjelaka, pasukan Liau setjara besar2an hendak mengepung kita dari djurusan2 selatan dan utara.
Tjepat ia melontjat keatas, kakinja memantjal sekali didinding benteng, dengan tenaga dorongan itu tubuhnja lantas mentjelat keatas dan menghinggap diatas tembok benteng, dari situ ia dapat memandang djauh kedalam kota.
Maka tertampaklah bagian barat kota, dalam lingkaran seluas satu li lebih itu terdapat gerombol2an orang disana-sini, njata para kesatria Tionggoan telah dipotong dan di-pisah2kan oleh peradjurit2 Liau jang berdjumlah lebih banjak itu dan sedang dikerubut dalam kelompok2 lebih ketjil.
Walaupun para kesatria Tionggoan itu berilmu silat tinggi, tapi setiap orangnja harus melawan beberapa orang sampai belasan peradjurit Liau jang tangkas, lama kelamaan mereka mendjadi kewalahan djuga.
Dengan berdiri diatas tembok benteng Siau Hong dapat memandang kedalam dan keluar kota.
Ia mendjadi bingung djuga menghadapi suasana pertempuran itu.
Para kesatria Tionggoan jang terkepung itu telah bertempur mati2an demi untuk menolong dia, maka tidaklah mungkin ia menjaksikan para kesatria Tionggoan itu terbinasa dibawah sendjata peradjurit Liau tanpa memberi bantuan.
Tapi kalau dia melompat turun dan menolong mereka, ini berarti dia setjara terang2an bermusuhan dengan pihak Liau dan mendjadi seorang pengchianat bangsa.
Hal ini tidak sadja berdosa kepada leluhurnja sendiri, bahkan selamanja akan ditjatji-maki dan dikutuki oleh bangsanja sendiri.
Djika dia tjuma melarikan diri sadja dan meninggalkan negerinja sendiri, perbuatan demikian paling2 akan dianggap sebagai tidak setia.
Tetapi kalau angkat sendjata dan menjerang bangsa dan negerinja sendiri, ini benar2 perbuatan pengchianatan jang maha berdosa.
Biasanja Siau Hong dapat bertindak tjepat dan tegas, tapi sekarang ia mendjadi serba susah.
Sekilas tertampak olehnja dipodjok bawah benteng sana ada beberapa djago Tjidan sedang mengerubuti dua paderi tua Siau-lim-si.
Salah seorang paderi tua itu bersendjata golok, mulutnja menjemburkan darah, terang sudah terluka parah.
Waktu diperhatikan lebih djauh, segera Siau Hong mengenal paderi tua itu adalah Hian-bing Taysu.
Paderi jang lain bersendjata tongkat dan sedang berusaha mati2an untuk melindungi kawannja jang terluka.
Paderi bersendjata tongkat ini ternjata Hian-sik adanja.
Saat itu dua djago Tjidan sedang angkat parang mereka untuk membatjok kearah Hian-bing.
Segera Hian-bing angkat tangan kanannja dengan maksud hendak menangkis dengan goloknja.
Tak tersangka lukanja sudah teramat parah, baru sadja lengannja terangkat sebatas dada, sungguh tjelaka, rasanja sudah tidak kuat lagi.
Tjepat Hian-sik memberi bantuan, tongkatnja menjampuk, trang-trang, kedua parang musuh telah terbentur balik.
Saking kuat tenaganja Hian-sik sehingga kedua djago Tjidan tak mampu menguasai lagi sendjatanja sendiri, kedua parang itu membatjok dibatok kepalanja sendiri sehingga petjah berantakan.
Sudah tentu Hian-sik sangat girang.
Tapi mendadak terdengar Hian-bing mendjerit, tahu2 pundak kirinja sudah berlumuran darah, ternjata kena dilukai pula oleh musuh.
Kontan Hian-sik balas menjabet dengan tongkatnja sehingga djago Tjidan jang melukai Hian-bing itu terhantam dan remuk tulang dadanja.
Dan karena serangannja jang hendak membela kawan itu, ia sendiri mendjadi kurang pendjagaan, kesempatan itu telah digunakan oleh seorang djago Tjidan jang lain untuk menusukkan tumbaknja kedada Hian-sik.
Tjret, Hian-sik tidak sempat menangkis, perutnja dengan tepat tertusuk tembus dan terpantek diatas dinding benteng.
Namun Hian-sik tidak lantas tewas, dengan tenaganja jang masih ada mendadak ia menggertak sekali, tongkatnja lantas mengemplang kebawah sehingga kepala orang Tjidan itu hantjur lebur dan mati lebih dulu daripada Hian-sik sendiri.
Melihat perut Hian-sik tertembus tumbak musuh dan terang tak bisa hidup lagi, Hian-bing mendjadi bingung sehingga permainan goloknja tak keruan djurusnja, dengan air mata bertjutjuran ia ber-teriak2.
Sute!
Sute!
Darah panas Siau Hong mendjadi bergolak, ia tidak dapat menahan perasaannja lagi, mendadak ia berteriak keras2.
Ini Siau Hong berada disini!
Kalau mau bunuh boleh bunuhlah aku, tapi djangan membunuh orang lain jang tak berdosa!
Berbareng Siau Hong lantas melompat turun kebawah, dimana kakinja melajang, sebelum dia menjentuh tanah, kontan empat djago Tjidan sudah lantas didepaknja hingga mentjelat.
Dan setelah berdiri tegak, tjepat ia menarik Hian-bing dan tangan lain pegang tongkatnja Hian-sik sambil berkata.
Hian-sik Taysu, bantuan Tjayhe ini terlambat datangnja, sungguh dosaku tak terhingga besarnja.
~ Menjusul tongkat jang dipegangnja itu terus disabetkan sehingga dua djago Tjidan terpaksa melompat menjingkir.
Tidak, kami jang telah memfitnah Kiau-pangtju sebagai orang Tjidan adalah lebih besar pula dosa kami, sahut Hian-sik dengan tersenjum getir.
Dan sjukurlah sekarang duduknja perkara dapat dibikin djelas .........
belum selesai utjapannja, sekali kepalanja menunduk ternjata napasnja sudah berhenti.
Sambil melindungi Hian-bing segera Siau Hong menerdjang kearah beberapa djago Tayli jang sedang dikerubut musuh disebelah kiri sana.
Melihat Lam-ih Tay-ong mereka mendadak muntjul dengan gagah berwibawa, mau-tak-mau para peradjurit dan perwira Liau mendjadi djeri.
Sebaliknja Siau Hong lantas kerdjakan tongkatnja, walaupun ia tidak ingin membunuh orang, tapi terluka djuga bila berkenalan dengan tongkatnja.
Peradjurit2 ber-teriak2 ketakutan dan be-ramai2 menjingkir mundur sehingga Siau Hong dapat menerdjang kian kemari dengan tjepat dan leluasa, hanja dalam waktu singkat ia sudah dapat mengumpulkan dua-tiga ratus kesatria Tionggoan jang tadinja bertjerai-berai dan terkepung tadi.
Hendaklah saudara2 djangan terpisah lagi, bergabungklah dalam rombongan besar untuk bertempur bersama!
seru Siau Hong.
Segera ia memimpin dua-tiga ratus orang itu dan bergeser kesana dan kesini, bila ada kawan jang terkepung lantas didekatinja untuk menolongnja keluar.
Maka rombongannja itu makin lama makin bertambah banjak djumlahnja.
Sampai achirnja sudah lebih seribu.
Lalu Siau Hong menggabungkan diri dengan rombongan2 Hi-tiok, Toan Ki dan para kesatria Tionggoan dibawah pimpinan Hian-to Taysu dari Siau-lim-si terus menerdjang kepintu gerbang kota.
Siau Hong mendahului memburu kedepan, dengan gagah ia berdiri diatas pintu gerbang dan membiarkan rombongan2 para kesatria Tionggoan, Tayli dan Leng-tjiu-kiong keluar kota dengan aman.
Pasukan Liau jang mengedjar itu ternjata tidak berani menjerbu madju, mereka hanja ber-teriak2 dari djauh dan gentar terhadap wibawa Lam-ih Tay-ong mereka.
Menunggu sesudah semua orang sudah keluar benteng dengan selamat, paling achir barulah Siau Hong sendiri menjusul keluar kota.
Waktu ia menoleh kebelakang, tertampak majat bergelimpangan di-mana2 dan ber-tumpuk2, entah berapa banjak korban jang djatuh dalam pertempuran sengit itu.
Tiba2 terlihat olehnja diantara majat2 jang menggeletak didalam kota itu terdapat dua perwira wanita Leng-tjiu-kiong jang berlumuran darah dan sedang me-rintih2 dan me-ronta2 hendak berdiri tapi rupanja tidak kuat lagi.
Tanpa pikir Siau Hong menerdjang masuk lagi kedalam kota, ia pegang punggung kedua wanita itu dan dibawa lari keluar.
Tapi tidak seberapa djauhnja, mendadak terdengar suara tambur menggelegar mengguntjang bumi, dua pasukan Liau setjara besar2an telah menjerbu tiba dari arah kanan dan kiri.
Seketika Siau Hong merasa tjemas.
Kedua pasukan musuh itu djumlahnja paling sedikit ada sepuluh ribu banjaknja, sedangkan kawan2 dipihak sendiri sudah bertempur sekian lamanja, kalau tidak terluka tentu djuga sudah terlalu letih, tjara bagaimana akan dapat menghadapi pasukan musuh jang bertenaga baru ini?
Tjepat ia berteriak.
Kawan2 dari Kay-pang mengiring dari belakang, serahkan kuda tunggangan kalian kepada kawan2 lain jang terluka dan biarkan mereka mundur lebih dulu!
Anggota2 Kay-pang mengiakan serentak dan be-ramai2 melompat turun dari kuda mereka.
Lalu Siau Hong berteriak pula.
Pasang Pak-kau-tay-tin (barisan besar menggebuk andjing)!
Maka terdengarlah suara tembang para pengemis jang sedang minta2 sambil mengatur barisan setjara selapis demi selapis.
Hian-to Taysu, Djite dan Samte, lekas memimpin bawahan kalian mundur dulu kedjurusan barat, biarkan kami jang mendjaga dibagian belakang!
teriak Siau Hong lagi.
Dibawah sinar matahari udjung golok dan tumbak pasukan Liau itu tampak gemilapan menjilaukan mata, berpuluh ribu kuda berlari serentak menerdjang tiba, suaranja benar2 menggetar sukma dan menakutkan.
Melihat kekuatan musuh jang luar biasa itu, Hi-tiok dan Toan Ki menaksir Pak-kau-tay-tin jang dipasang anggota Kay-pang itu betapapun djuga susah menahan terdjangan pasukan musuh.
Maka mereka berdua lantas berdiri dikanan-kiri Siau Hong dan berkata.
Toako, kita adalah saudara angkat, kalau ada kesukaran biarlah ditanggung beramai, mati atau hidup harus bersama pula.
Djika begitu, lekas perintahkan bawahan kalian mundur lebih dulu, kata Siau Hong.
Tjepat Hi-tiok dan Toan Ki lantas meneruskan perintah itu kepada anak-buahnja masing2.
Siapa tahu bawahan Leng-tjiu-kiong telah menjatakan tidak mau meninggalkan madjikan mereka didalam keadaan bahaja, lebih2 para djago Tayli djuga tidak mau mengundurkan diri dan membiarkan radja mereka menghadapi maut.
Dalam pada itu pasukan berkuda Liau sudah makin dekat, panah jang dibidikkan sudah hampir mentjapai tempat dimana Siau Hong dan kawan2nja berada.
Hian-to mestinja sudah mundur lebih dulu dengan memimpin para kesatria Tionggoan, tapi sekarang demi nampak rombongan Siau Hong terantjam bahaja, seketika ada beberapa puluh orang diantaranja berlari kembali untuk membantu.
Diam2 Siau Hong mengeluh.
Pikirnja.
Biarpun ilmu silat kawan2 ini sangat tinggi, tapi mereka tidak kenal ilmu peperangan dan tidak tahu disiplin militer, tjara bagaimana mereka akan sanggup melawan pasukan Liau jang berdjumlah besar?
Kematianku adalah tidak mendjadi soal, tapi kalau para kawan djuga dibinasakan oleh peradjurit Liau diluar kota Lamkhia ini, lantas bagaimana aku ...
Selagi bingung dan entah tindakan apa jang harus diambilnja.
Sekonjong2 ditengah pasukan Liau itu terdengar suara gembreng jang njaring dan ditabuh setjara menitir.
Njata itulah tanda menarik mundurnja pasukan.
Begitu mendengar suara titir gembreng itu, seketika pasukan Liau jang sedang menerdjang kedepan itu serentak membalik haluan, kuda mereka berputar, barisan belakang lantas berubah mendjadi barisan muka dan beramai2 mundur ke utara dan selatan, dari arah mana mereka datang tadi.
Siau Hong mendjadi ter-heran2 dan tidak mengerti apa jang sudah terdjadi.
Walaupun pasukan Liau sudah mundur, tapi dilihatnja djauh dibelakang pasukan Liau sana debu mengepul tinggi disertai suara teriakan riuh ramai, rupanja bagian belakang pasukan Liau itu telah digempur oleh pasukan jang lain pula.
Keruan Siau Hong tambah heran.
Mengapa dibelakang pasukan Liau ada pasukan pihak lain lagi, djangan2 terdjadi pemberontakan pula?
Dan siapakah jang memberontak?
Dari muka dan belakang Hongsiang digentjet musuh, tentu keadaannja sangat tidak menguntungkan.
Begitulah djiwa kesatria Siau Hong, baru sadja dia terhindar dari kepungan pasukan Liau, sekarang dia sudah lantas menguatirkan keselamatannja Yalu Hung-ki.
Melihat pasukan Liau mendadak ditarik kembali, segera para anggota Kay-pang ber-teriak2, tapi karena tiada perintahnja Siau Hong mereka tidak berani sembarangan mengedjar dan membunuh musuh.
Waktu Siau Hong melompat dan berdiri diatas kudanja untuk memandang djauh kebagian belakang pasukan Liau, dilihatnja disana banjak berkibar pandji2 warna putih, diudarapun terdjadi hudjan panah dan peradjurit Liau banjak jang terdjungkal djatuh dari kudanja.
Achirnja sadarlah Siau Hong.
Ah, kiranja adalah kawan2-ku dari suku Nuchen jang telah tiba.
Entah dari mana mereka.
Ilmu memanah pemburu2 Nuchen itu sungguh sangat lihay, merekapun sangat gagah dan tangkas dimedan perang.
Setiap seratus orang mereka terbagi mendjadi satu pasukan ketjil, dengan menunggang kuda mereka ber-teriak2 terus menerdjang ketengah-Karena diterdjang setjara mendadak, seketika barisan peradjurit Liau mendjadi katjau balau.
Pula suku Nuchen itu memang tangkas dan gagah berani, panglima Liau dapat melihat gelagat, ia kuatir digentjet pula oleh pasukan jang dipimpin Siau Hong, maka tjepat2 ia memberi tanda menarik mundur pasukannja.
Hoan Hwa berpangkat Suma atau menteri urusan perang, maka dia mahir ilmu kemiliteran.
Ia melihat ada kesempatan bagus, segera katanja kepada Siau Hong.
Siau-tayong, lekas kita serbu sadja, inilah saat jang paling bagus untuk menghantjurkan musuh.
Tapi Siau Hong hanja menggeleng kepala sadja.
Djarak dari sini ke Gan-bun-koan terlalu djauh, kalau kesempatan bagus ini tidak kita gunakan untuk menghantjurkan pasukan Liau, kelak tentu akan membahajakan malah, demikian kata Hoan Hwa pula.
Apalagi djumlah musuh terlalu banjak dan djumlah kita sedikit, kita belum tentu dapat mengundurkan diri dengan aman dan selamat.
Namun Siau Hong tetap menggeleng kepala.
Sungguh Hoan Hwa tidak habis mengerti.
Pikirnja.
Siau-tayong tidak mau menjerang dan membunuh musuh, djangan2 dia masih berharap kelak akan dapat memperbaiki hubungan dengan radja Liau?
Dalam pada itu terlihat orang2 Nuchen dalam kelompok2 ketjil dengan telandjang setengah badan, ada jang bermantelkan kulit binatang, masih terus menerdjang musuh sambil menghudjani panah sehingga musuh kalang kabut.
Ada lebih seribu orang peradjurit Liau jang tidak sempat masuk seluruhnja kedalam kota, semuanja telah dipanah mati dibawah benteng kota.
Pemburu2 Nuchen itu kalau habis membunuh musuh segera buah kepala sang korban dipenggal olehnja dan digantung disabuknja.
Maka diantara orang2 Nuchen itu ada jang membawa puluhan buah kepala jang penuh tergantung dipinggangnja.
Para kesatria sudah banjak berpengalaman dalam pertarungan sengit, tapi pembunuhan setjara kedjam dan biadab seperti orang2 Nuchen ini baru pertama kali ini dilihatnja.
Keruan mereka terkesiap.
Tiba2 diantara pemburu2 Nuchen itu muntjul seorang lelaki tinggi besar sambil ber-teriak2.
Siau-toako, Siau-toako, Wanyan Akut telah datang membantu engkau berkelahi dengan orang Tjidan!
Kiranja dia adalah saudara angkat Siau Hong ketika bertemu dipegunungan Tiang-pek-san dahulu, jaitu Wanyan Akut dari suku Nuchen.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, tjepat ia memapak madju, kedua orang lantas saling rangkul dan berdjabat tangan dengan terharu.
Siau-toako, dahulu engkau telah pergi tanpa pamit, sungguh aku sangat kuatir dan rindu sekali, demikian kata Akut.
Kemudian dari penjelidik dapat diketahui bahwa engkau telah mendjadi pembesar dinegeri Liau, hal inipun tidak mendjadi soal.
Tjuma orang Liau itu sangat litjin, kukira kedudukanmu mungkin tak bisa tahan lama.
Benar djuga, kemarin dulu penjelidik memberi laporan pula, katanja engkau telah dikurung oleh radja Liau keparat itu sebagai binatang, sungguh kami merasa sangat kuatir dan lekas2 memburu kemari.
Sjukurlah Siau-toako ternjata baik2 sadja, kami merasa girang sekali Banjak terima kasih atas bantuan saudaraku sahut Siau Hong.
Baru sekian bitjaranja, tiba2 dari atas benteng telah berhamburan anak panah kearah mereka.
Tjuma djarak mereka tjukup djauh dari tembok benteng, anak2 panah itu tidak dapat mentjapai mereka.
Kurangadjar andjing2 Liau itu, aku sedang bitjara dengan Toako, kenapa mereka sengadja mengganggu, maki Akut dengan gusar.
Habis berkata, ia pentang busurnja, susul menjusul tiga kali membidik ia memanah dari bawah benteng keatas, maka terdengarlah suara djeritan ngeri tiga kali, tiga orang peradjurit Liau kontan terdjungkal kebawah.
Kalau panah peradjurit2 Liau itu tidak dapat mentjapainja, sebaliknja tiga kali panah Akut itu dengan mudah telah menggulingkan tiga orang, maka dapat dibajangkan betapa kuat dan djitu kepandaian memanah djago Nuchen itu.
Keruan peradjurit2 Liau mendjadi ketakutan, sambil ber-teriak2 lekas mereka memasang tameng.
Sementara itu suara tambur didalam kota Lamkhia kedengaran masih gegap-gempita, agaknja pihak Liau sedang menghimpun tenaga lagi.
Segera Akut berseru kepada anak buahnja.
Wahai kawan2, dengarkanlah!
Andjing Tjidan itu rupanja ber-siap2 akan keluar lagi dari lubang andjingnja, hajo kita bersiap untuk membunuhnja dengan se-puas2-nja!
Orang2 Nuchen itu berteriak senang sebagai suara ribuan binatang jang mengaum setjara serentak.
Diam2 Siau Hong mendjadi kuatir.
Kalau peperangan ini sampai berlangsung, maka korban jang akan djatuh dari kedua pihak tentu tidaklah sedikit.
Tjepat katanja.
Saudaraku jang baik, kedatanganmu ini adalah untuk menolong aku dan sekarang aku sudah lolos dari bahaja, buat apa mesti bertempur lagi dengan orang.
Sudah lama sekali kita tidak berdjumpa, marilah kita mentjari suatu tempat jang aman dan tenang untuk bitjara dan minum se-puas2nja.
Benar djuga, marilah kita berangkat, sahut Akut.
Tapi mendadak pintu gerbang kota terpentang, sepasukan tentara Liau berkuda dan berpakaian lapis badja telah menerdjang keluar.
Akut mentjatji-maki.
Ia pentang busur dan memanah, kontan muka seorang perwira jang berada paling depan itu terguling dari kudanja.
Orang2 Nuchen jang lain be-ramai2 djuga melepaskan panah, jang mereka arah selalu bagian muka.
Dasar ilmu memanah orang2 Nuchen itu memang pandai, udjung panah berbisa pula, maka sasarannja jang terkena panah itu tanpa bersuara sama sekali seketika terdjungkal dan binasa.
Hanja dalam sekedjap sadja didepan pintu gerbang kota sudah bergelimpangan beberapa ratus majat bertjampur kuda tumpuk menumpuk sehingga menjumbat pintu gerbang itu.
Peradjurit Liau jang lain mendjadi ketakutan dan tjepat2 menutup pintu dan tidak berani mengedjar lagi.
Dengan memimpin anak buahnja Wanyan Akut masih terus mondar-mandir dibawah benteng sambil mentjatji-maki dan menantang.
Sudah tentu mereka tidak mendapat djawaban.
Marilah kita berangkat, saudaraku!
adjak Siau Hong.
Terpaksa Akut mengiakan.
Tapi dia masih menuding keatas benteng dan berteriak keras.
Dengarkan andjing2 Liau!
Untunglah kalian tidak mengganggu seudjung rambut Toako kami, maka bolehlah djiwa andjing kalian diampuni.
Tjoba kalau tidak, tentu kami meratakan bentengmu dan menumpas habis andjing2 Liau kalian!
Habis itu ia lantas mengikuti Siau Hong kearah barat.
Kira2 belasan li djauhnja, sampailah mereka diatas sebuah bukit.
Akut lantas melompat turun dari kudanja, ia ambil kantong arak dari pelana kudanja dan diberikan kepada Siau Hong sambil berkata.
Silakan minum arak, Toako.
Siau Hong djuga tidak menolak, ia angkat kantong arak itu dan sekaligus ditenggaknja hingga hampir habis, lalu ia kembalikan kepada Akut.
Sesudah Akutpun minum habis sisa arak itu, katanja kemudian.
Toako, daripada pergi kelain tempat jang belum tentu tudjuannja, adalah lebih baik ikut bersama kami kembali kepegunungan Tiang-pek-san, disana kita dapat berburu dan minum arak serta hidup dengan bebas merdeka.
Tapi Siau Hong tjukup kenal sifat Yalu Hung-ki jang angkuh dan tinggi hati, hari ini pasukan Liau telah diterdjang sehingga kotjar-katjir oleh Wanyan Akut dan kawan2nja, bahkan telah ditjatji-maki pula olehnja, untuk semua ini Hung-ki tentu tidak dapat menerimanja dengan mentah2, tapi pasti akan mengerahkan pasukannja untuk bertempur lagi.
Meski orang Nuchen sangat tangkas dan gagah berani, tapi djumlah mereka hanja sedikit, memang belum diketahui akan menang atau kalah, tapi adalah lebih baik kalau pertempuran sengit dapat dihindarkan.
Teringat oleh Siau Hong selama beberapa bulan tinggal di pegunungan Tiang-pek-san dahulu, dimana selain sibuk mengobati A Tji boleh dikata tiada punja rasa kuatir urusan lain, lebih tiada terpikir tentang kedudukan dan kemewahan orang hidup segala.
Dan kalau untuk selandjutnja dapat hidup bersama dengan suku Nuchen rasanja dapat djuga menghindarkan segala urusan jang mengesalkan.
Maka dia lantas mendjawab.
Saudaraku, para kesatria dari Tionggoan ini djauh2 datang kemari adalah karena ingin menolong aku.
Maka biarlah aku mengantar mereka ke Gan-bun-koan dulu, habis itu aku akan kembali kesini untuk berkumpul dengan saudaraku orang2 Nuchen.
Bagus!
seru Akut dengan girang.
Djika begitu biarkan kutunggu sadja didepan sana.
Orang2 Tionggoan itu tampaknja sok tjerewet dan besar kemungkinan bukan manusia baik2, maka akupun sungkan untuk berkenalan dengan mereka.
Habis berkata ia lantas mohon diri dan membawa kawan2nja menudju keutara.
Melihat datang dan perginja orang2 Nuchen itu sebagai angin lesus tjepatnja dan sangat tangkas pula, diam2 para kesatria Tionggoan menganggap orang2 Nuchen itu lebih lihay daripada orang2 Liau.
Untung mereka adalah kawannja Kiau-pangtju, kalau tidak tentu urusan bisa runjam.
Dalam pada itu rombongan2 para kesatria itu sudah bergabung mendjadi satu, mereka ramai membitjarakan suasana pertempuran sengit diluar kota Lamkhia tadi.
Siau Hong lantas memberi hormat kepada para kesatria, serunja.
Banjak terima kasih atas budi pertolongan kalian jang tidak memikirkan dosa Siau Hong dahulu, sebaliknja djauh2 datang kemari untuk menolong diriku, budi ini sungguh susah dibalas selama hidupku ini.
Ah, mengapa Kiau-pangtju berkata demikian, sahut Hian-to selaku pimpinan para kesatria Tionggoan jang menganggap Siau Hong masih tetap Pangtju Kay-pang dan tetap she Kiau.
Padahal apa jang terdjadi dahulu itu hanja karena salah paham belaka.
Apalagi kita sama2 orang Bu-lim dan seharusnja bantu membantu bila ada kesukaran.
Pula Kiau-pangtju telah rela mengorbankan kedudukan jang diagungkan di negeri Liau demi keselamatan ber-djuta2 rakjat Tionggoan, untuk budi kebaikan inilah kami harus menjatakan terima kasih kepada Kiau-pangtju.
Segera Hoan Hwa djuga berkata.
Para Enghiong jang terhormat, menurut pendapatku, mungkin sekali pasukan Liau takkan rela dengan kekalahan mereka tadi, maka mereka masih akan datang mengedjar kita.
Entah apakah diantara kawan2 ada jang berpendapat lain?
Serentak banjak diantara para kesatria itu berteriak.
Bila pasukan musuh berani mengedjar, hajolah kita hadjar mereka lagi, masakah kita mesti takut?
Soalnja bukan takut atau tidak, udjar Hoan Hwa, tapi djumlah musuh terlalu banjak dan djumlah kita sangat sedikit, kalau bertempur ditempat lapang begini akan tidak menguntungkan kita.
Maka menurut pendapatku adalah lebih baik kalau kita mundur dulu kebarat, pertama djarak kita akan lebih dekat dengan pasukan Song dan bila perlu mungkin kita akan mendapat bantuan.
Selain itu makin djauh pasukan musuh mengedjar kita tentu djumlah musuh lebih2 terpentjar dan berdjumlah sedikit, dengan demikian kita akan tjari kesempatan untuk menggempur kembali mereka.
Para kesatria sama menjatakan setudju.
Segera Hi-tiok memimpin anak buah Leng-tjiu-kiong sebagai barisan pertama, menjusul adalah Toan Ki dengan djago2 Tayli, lalu Hianto bersama para kesatria Tionggoan, sedang Siau Hong memimpin anggota2 Kay-pang mengiringi dari belakang.
Empat pasukan itu masing2 berdjarak satu-dua li djauhnja, kurir berkuda kian kemari menjampaikan berita, kalau ada musuh segera dapat saling membantu.
Sesudah menempuh perdjalanan satu hari, malamnja mereka lantas bermalam diudara terbuka, sjukurlah semalam suntuk mereka tidak diganggu oleh pasukan Liau, maka lambat-laun rasa was-was semua orang mendjadi reda.
Esok paginja mereka meneruskan perdjalanan.
Siau Hong jang selalu didampingi oleh A Tji telah tjoba menanjai anak dara itu.
Apakah pemuda she Yu itu masih tinggal di Leng-tjiu-kiong?
Mulut A Tji jang ketjil itu mendjengkit, sahutnja.
Siapa jang tahu?
Tentunja djuga masih disana.
Kedua matanja sudah buta, masakah dia dapat pergi dari pegunungan jang tjuram itu?
Njata nadanja tetap tiada punja rasa perhatian sedikitpun kepada Yu Goan-tji jang telah rela mengorbankan matanja bagi anak dara itu.
Petang hari itu mereka telah sampai di Pek-lok-po, sebuah kota dikaki gunung Ngo-tay-san, disitulah pasukan2 mereka berkemah mengaso.
Hoan Hwa memang mahir ilmu siasat dan pandai mengatur barisan, sepandjang djalan ia telah meninggalkan ber-kelompok2 kesatria jang tangkas untuk mendjaga tempat2 jang strategis, kalau ada djembatan lantas dihantjurkan untuk memperlambat pasukan musuh bila mengedjar.
Sampai hari ketiga, tiba2 terlihat disebelah timur sana asap mengepul tinggi mentjakar langit.
Terang itulah tanda pasukan Liau sedang mengedjar kearah mereka.
Melihat itu, para kesatria kembali ber-debar2.
Ada diantaranja jang sok gagah dan suka bertempur seketika hendak memutar balik kesana untuk membantu regu2 jang ditinggalkan Hoan Hwa itu, tapi mereka keburu ditjegah oleh Hian-to dan Hoan Hwa.
Malam itu rombongan2 mereka bermalam dilereng sebuah gunung.
Sampai tengah malam mendadak mereka dikedjutkan oleh suara teriakan kaget orang.
Seketika para kesatria terdjaga bangun terus menjiapkan sendjata masing2.
Ternjata disebelah utara sana merah membara, entah benda apa jang sedang terbakar sehingga berwudjut lautan api sehebat itu.
Siau Hong saling pandang sekedjap dengan Hoan Hwa, diam2 kedua orang sama2 merasakan alamat jang tidak enak.
Siau-tayong, menurut pandanganmu, bukankah ini pertanda pasukan Liau sedang memutar dari djurusan sana untuk menjerang kemari?
tanja Hoan Hwa.
Radja Liau memang sudah bertekad akan menjerang Song dan sedang mengerahkan pasukannja setjara besar2an, boleh djadi ini adalah pasukannja dari bagian utara, sahut Siau Hong.
Ai, kebakaran besar itu entah telah banjak mengambil korban harta benda dan djiwa rakjat djelata jang tak berdosa!
kata Hoan Hwa dengan menghela napas.
Siau Hong tidak mau mengutjapkan kata2 djelek bagi alamatnja Yalu Hung-ki jang masih dianggapnja sebagai kakak-angkat, tapi dia tjukup kenal watak radja Liau itu, karena telah mengalami kekalahan dibawah serangan orang2 Nuchen, tentu Hung-ki merasa sangat penasaran sehingga rasa dendamnja seluruhnja telah dilampiaskan atas diri rakjat djelata jang tidak bersalah.
Tentu pasukan jang dikerahkan ini tidak kenal ampun lagi, asal ketemu orang tentu dibunuh dan kalau melihat rumah pasti dibakarnja.
Api jang ber-kobar2 dengan hebat itu sampai fadjar sudah menjingsing masih belum djuga padam, sampai sore harinja, kembali disebelah selatan kelihatan api me-njala2 pula.
Dibawah sinar matahari tjahaja api tidak begitu djelas, tapi asap tebal tertampak mengepul tebal menembus awan.
Sebenarnja Hian-to memimpin kawan2nja berdjalan didepan, ketika melihat kebakaran disebelah selatan itu, segera ia menghentikan kudanja dan menunggu ditepi djalan.
Sesudah Siau Hong mendekat, lalu ia bertanja.
Kiau Pangtju, pasukan Liau telah mengepung kita dari tiga djurusan, menurut pandanganmu apakah Gan-bun-koan dapat dipertahankan?
Aku sudah mengirim orang untuk menjampaikan berita kilat ke Gan-bun-koan, tjuma sadja panglima pendjaga benteng itu mungkin terlalu pengetjut dan tiada punja semangat tempur, boleh djadi sulit untuk menahan serbuan pasukan berkuda orang Tjidan.
Siau Hong terdiam, ia merasa susah untuk mendjawab.
Lalu Hian-to berkata pula.
Tampaknja hanja orang Nuchen sadja jang dapat menghadapi ketangkasan orang Tjidan.
Kelak bila keradjaan Song kita berserikat dengan orang Nuchen, dengan digentjet dari utara dan selatan mungkin akan dapat memaksa bangsa Tjidan berpikir dua kali dan tidak berani sembarangan menjerbu keselatan.
Siau Hong tahu maksud paderi Siau-lim-si itu jalah ingin dirinja berusaha menghubungi pemimpin suku bangsa Nuchen, jaitu Wanyan Akut.
Tapi demi teringat dirinja sesungguhnja adalah orang Tjidan, mana boleh bersekongkol dengan bangsa lain untuk menjerang bangsa dan tanah airnja sendiri?
Untuk membelokkan pokok pembitjaraan maka mendadak ia bertanja.
Hian-to Taysu, apakah ajahku baik2 sadja berada didalam kuil agung kalian?
Hian-to tertegun, djawabnja.
Ajah Kiau-pangtju sudah masuk kedalam lingkungan Budha dan menjutjikan diri diruang belakang Siau-lim-si, keberangkatan kami ke Lamkhia kali ini tidak diberitahukan kepada ajahmu supaja tidak merisaukan perasaannja.
Sungguh aku ingin pergi menemui beliau untuk menanjakan sesuatu padanja, kata Siau Hong.
O, Hian-to tidak bersuara lebih landjut.
Aku ingin tanja kepada beliau.
Djikalau pasukan Liau menjerang Siau-lim-si, lantas tindakan apa jang akan dilakukan oleh beliau?
kata Siau Hong.
Sudah tentu beliau akan berbangkit untuk menumpas musuh, membela agama dan menjelamatkan kuil, apa jang perlu diragukan lagi?
udjar Hian-to.
Akan tetapi ajah adalah orang Tjidan, apakah dia mau disuruh membela orang Han untuk membunuh bangsanja sendiri?
Hian-to merenung sedjenak, katanja kemudian.
Pangtju ternjata benar2 orang Tjidan jang telah meninggalkan kegelapan dan menudju kedjalan jang terang, sungguh harus diberi hormat dan mengagumkan.
Taysu adalah orang Han dan selalu anggap Han adalah pihak jang terang dan pihak Tjidan adalah pihak jang gelap.
Sebaliknja bangsa Tjidan kami memandang keradjaan Liau jang djaja adalah pihak jang terang dan keradjaan Song adalah pihak jang gelap.
Padahal leluhur dari bangsa kami telah banjak menderita, kami di-uber2 dan dibunuh oleh suku bangsa Sianbi dan lain2 sehingga terpaksa berlari kian kemari untuk menjelamatkan diri, betapa sengsaranja sungguh susah dilukiskan.
Ketika keradjaan Tong negeri kalian, karena ilmu silat bangsa Han kalian telah berkembang dengan hebat, karena itu tidak sedikit pula kesatria2 bangsa Tjidan kami mendjadi korban lagi dan banjak sekali kaum wanita kami ditjulik dan ditawan.
Sekarang ilmu silat bangsa Han kalian sudah banjak mundur, maka berbalik bangsa Tjidan kami jang akan membunuh kalian.
Djika bunuh membunuh setjara bergilir ini berlangsung terus, bilakah baru akan berachir?
Hian-to menghela napas, katanja.
Hanja kalau segenap radja2 dan penguasa2 didunia ini sudah memeluk agama Budha jang mengutamakan welas-asih kepada sesamanja, dengan demikian barulah didunia ini takkan ada peperangan dan saling bunuh membunuh.
Ja, entah bilakah baru akan tiba saat aman dan damai bagi dunia ini, sahut Siau Hong.
Begitulah rombongan mereka terus menudju kebarat.
Mereka melihat di djurusan2 timur, utara dan selatan rupanja siang dan malam pasukan Liau terus main bunuh dan bakar dimana mereka tiba.
Dengan gusar para pahlawan mentjatji-maki kekedjaman musuh dan bertekad akan melabrak pasukan musuh dengan mati2an.
Pasukan Liau semakin dekat, achirnja kita tentu tiada djalan mundur lagi, demikian udjar Hoan Hwa.
Menurut pendapatku ada lebih baik kita pentjarkan diri sadja agar musuh merasa bingung kemana harus mengedjar kita.
Tjara demikian bukankah berarti kita telah mengaku kalah?
seru Go-tianglo dari Kay-pang.
Hoan-suma, djangan engkau membesarkan kekuatan musuh dan menilai rendah tenaga kita sendiri.
Pendek kata, apakah akan menang atau kalah, kita harus melabrak habis2an andjing2 Liau itu.
Bitjara sampai disini, tiba2 terdengar suara mendesing, sebatang anak panah menjambar dari arah tenggara sana dan kontan seorang murid berkantong lima dari Kay-pang roboh terpanah, menjusul dari balik bukit sana sepasukan Liau lantas menerdjang tiba sambil ber-teriak2.
Rupanja pasukan Liau ini telah menjusul mereka dengan memotong djalan, djumlah pasukan ini kira2 ada 500 orang.
Serbu!
teriak Go-tianglo dan segera mendahului menerdjang musuh.
Memangnja para pahlawan sudah menahan gusar dan dendam sedjak tadi, kini mereka dapat melampiaskan perasaan mereka, segera mereka menjerbu dengan gagah berani.
Karena djumlah dipihak pahlawan2 ini lebih besar daripada pasukan Liau, ilmu silat mereka tinggi2 pula, maka ditengah suara teriakan riuh ramai peradjurit2 Liau telah dilabrak hingga kotjar-katjir, bagaikan membatjok semangka dan memotong sajur tjepatnja, hanja sekedjap sadja 500-an peradjurit Liau itu telah disapu bersih oleh para pahlawan.
Ada belasan orang Bu-su Tjidan sempat mendaki bukit dan hendak melarikan diri tapi merekapun tersusul oleh djago2 silat Tionggoan jang tinggi Ginkangnja dan terbunuh habis pula.
Setelah menangkan peperangan ini, para pahlawan sama bersorak gembira, semangat mereka me-njala2 lebih hebat.
Tapi diam2 Hoan Hwa berkata kepada Hian-to, Hi-tiok, Toan Ki dan beberapa pimpinan lain.
Jang kita basmi ini hanja suatu pasukan Liau jang ketjil, sesudah terdjadi kontak ini, pasukan Liau jang lebih kuat tentu akan membandjir tiba.
Marilah kita lekas mundur pula kebarat!
Baru selesai ia bitjara, mendadak terdengar suara gemuruh disebelah timur sana.
Waktu para pahlawan memandang kearah sana, tertampaklah debu mengepul tinggi hingga mirip awan mendung jang menutupi langit.
Seketika para kesatria hanja saling pandang belaka, keadaan mendjadi sunji senjap, hanja terdengar suara riuh gemuruh itu tambah menggelegar dari djauh.
Terang itulah pasukan induk Liau jang serentak dilarikan untuk menerdjang kemari.
Dari suaranja ini entah berapa ratus ribu djumlahnja.
Para kesatria sudah banjak mengalami pertarungan sengit didunia Kangouw, tapi suara gemuruhnja pasukan besar dilarikan seperti sekarang ini sungguh tidak pernah didengar mereka.
Dibandingkan dengan perang diluar kota Lamkhia, terang kekuatan pasukan Liau sekarang djauh lebih hebat dan susah ditaksir.
Menghadapi suasana medan perang sedemikian ini tanpa merasa hati para kesatria mendjadi ber-debar2 dan kebat-kebit.
Segera Hoan Hwa berseru.
Saudara2 sekalian, kekuatan musuh teramat besar, daripada mati konjol pertjuma, biarlah kita menghindari untuk sementara, asal gunung tetap menghidjau, tak perlu kuatir tiada kaju bakar.
Marilah kita mengundurkan diri untuk mentjari kesempatan buat menggempur kembali.
Segera para kesatria melarikan kuda mereka kearah barat dengan tjepat.
Mereka mendengar suara riuh gemuruh masih terus menggelegar dibelakang mereka tak ber-henti2.
Semalam suntuk mereka tidak mengaso, mendjelang fadjar mereka sudah dekat dengan Gan-bun-koan.
Para kesatria mengeprak kuda mereka lebih tjepat.
Mereka berharap asal dapat melintasi benteng itu, tentu pasukan Liau tidak mudah akan membobol benteng pertahanan jang merupakan perbatasan kedua negeri itu.
Sepandjang djalan ternjata tidak sedikit kuda2 para kesatria binasa keletihan.
Maka ada jang terpaksa berlari dengan Ginkang, ada jang dua orang menunggang satu kuda.
Waktu terang tanah, djarak mereka dengan Gan-bun-koan hanja tinggal belasan li sadja, maka legalah para kesatria.
Mereka lantas melompat turun dari atas kuda, dengan berdjalan kaki mereka memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk melepaskan lelah.
Sebaliknja suara riuh gemuruh berlarinja pasukan besar Liau dibelakang mereka tidaklah berkurang, bahkan bertambah hebat.
Siau Hong menurun kesebelah bukit sana.
Tiba2 dilihatnja sepotong batu karang besar.
Hatinja terkesiap.
Teringat olehnja inilah tempatnja dimana dahulu Hian-tju dan Ong-pangtju memimpin para kesatria Tionggoan menjergap ajahnja dan membunuh ibunja.
Waktu menoleh, dilihatnja didinding karang sana masih djelas penuh bekas tatahan sendjata.
Terang itulah bekas tempat tulisan jang ditinggalkan ajahnja jang kemudian telah dihapus oleh Hian-tju.
Pelahan2 Siau Hong berpaling pula, tertampaklah disebelah dinding karang itu ada sebatang pohon, telinganja se-akan2 masih mendengar suara A Tju jang dahulu sembunji dibalik pohon itu.
Kiau-toaya, djangan engkau memukul lagi, nanti bukit ini akan hantjur kena hantamanmu.
Ia ter-mangu2 sedjenak, tiba2 utjapan A Tju jang lemah lembut dengan djelas bergema pula dalam benaknja.
Sudah lima hari lima malam kunantikan engkau disini, kukuatir engkau takkan datang.
Tapi .
achirnja engkau toh datang djuga.
Banjak terima kasih kepada Thian jang maha murah hati, achirnja engkau telah datang dengan selamat.
Tanpa merasa air mata Siau Hong bertjutjuran, ia mendekati pohon itu dan me-raba2 batang pohon, ia melihat pohon itu sudah djauh lebih tinggi daripada waktu pertemuannja dengan A Tju dahulu.
Sungguh tak terkatakan rasa duka hati Siau Hong, ia lupa kepada segala apa jang sedang terdjadi disekitarnja pada saat itu.
Se-konjong2 terdengar teriakan melengking seorang.
Tjihu, lekas lari, lekas mundur!
Menjusul A Tji telah mendekatinja dan me-narik2 lengan badjunja.
Waktu Siau Hong mengangkat kepalanja, ia melihat dari djurusan2 timur, utara dan selatan telah membandjir pasukan Liau dengan tumbak2 teratjung keatas sebagai hutan bambu.
Njata pasukan Liau itu merapat dalam pengepungan mereka.
Siau Hong mengangguk, katanja.
Baiklah, mari kita mundur kedalam Gan-bun-koan.
Dalam pada itu kesatria2 lain sudah mendahului sampai didepan Gan-bun-koan, tapi ketika Siau Hong dan A Tji sampai disitu, pintu gerbang benteng pertahanan itu masih tetap tertutup rapat, tertampak air muka para kesatria penuh rasa mendongkol dan penasaran.
Diatas benteng kelihatan berdiri seorang perwira pasukan Song dan sedang berkata dengan suara lantang.
Menurut perintah Thio-tjiangkun jang mendjadi komandan pasukan pendjaga benteng Gan-bun-koan ini, bahwasanja bila kalian adalah rakjat tionggoan dan mestinja boleh masuk kedalam benteng tapi entah diantara kalian terdapat tidak mata2 musuh, maka diputuskan kalian harus membuang semua sendjata jang kalian bawa untuk diperiksa satu persatu, sesudah terang kalian adalah orang banjak, maka dengan kebaikan hati Thio-tjiangkun kalian nanti akan diperbolehkan masuk benteng.
Seketika ributlah para kesatria demi mendengar otjehan perwira itu.
Ada jang berkata.
Sungguh tidak pantas.
Kita ber-lari2 sekian djauhnja dan melawan musuh dengan sepenuh tenaga, tapi sampai disini malah ditjurigai lagi sebagai mata2 musuh.
Ja, sebabnja kita membawa sendjata adalah karena ingin membantu kawan untuk melawan pasukan Liau.
Kalau sendjata kita dilutjuti, tjara bagaimana kita dapat berperang lagi?
demikian kata jang lain.
Bahkan ada diantaranja jang berwatak berangasan sudah lantas mentjatji-maki.
Kurangadjar!
Sudah berdjoang mati2an tidak mendapat pudjian sebaliknja ditjurigai setjara tidak beralasan.
Apa benar kita tidak diperbolehkan masuk kedalam benteng atau kita be-ramai2 mesti menjerbu sadja kedalam?
Agar urusan tidak mendjadi lebih runjam, segera Hian-to mentjegah kata2 kasar para kawan.
Lalu serunja kepada perwira tadi.
Harap sukalah memberi lapor kepada Thio-tjiangkun bahwa kami semuanja adalah rakjat Song jang setia dan berdjoang bagi negara.
Pasukan musuh sekedjap lagi akan tiba, kalau mesti pakai memeriksa dan menggeledah segala, mungkin akan berbahaja dan terlambat bagi keselamatan kami.
Rupanja perwira itupun sudah mendengar suara tjatji-maki tidak puas dari para kesatria, pula dilihatnja banjak diantara rombongan Hian-to itu aneka matjam pakaiannja dan tidak mirip dengan rakjat umumnja didaerah Tionggoan, maka perwira itu lantas bertanja lagi.
Hwesio tua, kau bilang kalian adalah rakjat Song jang baik2, tapi kulihat banjak diantara rombongan itu tidak mirip dengan orang Tionggoan kita?
Namun demikian, ja sudahlah, aku akan memberi kelonggaran, mereka jang benar2 adalah rakjat Song akan dibolehkan masuk, sebaliknja mereka jang bukan rakjat Song kita dilarang masuk.
Untuk sedjenak para kesatria mendjadi saling pandang dengan penuh mendongkol.
Hendaklah maklum bahwa anak buahnja Toan Ki itu adalah rakjat keradjaan Tayli, sedangkan anak buahnja Hi-tiok lebih2 tak keruan, mereka adalah gado2, tjampuran dari berbagai bangsa, ada orang Se-ek, ada orang Se He, Turfan, Korea dan lain2.
Kalau sekarang jang dibolehkan masuk benteng hanja rakjat Song sadja, itu berarti sebagian besar anak buah keradjaan Tayli dan Leng-tjiu-kiong tak bisa ikut masuk kedalam.
Terpaksa Hian-to membudjuk lagi.
Mohon kebidjaksanaan Tjiangkun bahwa banjak diantara kawan2 kami ini terdiri dari orang Tayli, Se He dan lain2, mereka semuanja telah membantu kita melabrak pasukan Liau, djadi mereka adalah kawan dan bukan lawan, mengapa mesti di-beda2kan tentang rakjat Song atau bukan?
Kiranja perdjalanan Toan Ki kedaerah utara kali ini telah dirahasiakan dengan sangat rapat, ia tidak ingin diketahui kedudukannja sebagai kepala negara Tayli untuk mendjaga kalau2 mendadak negerinja diserang oleh keradjaan Song atau mungkin djuga dia akan didjebak dan ditawan sebagai sandera.
Sebab itulah dalam djawaban Hian-to itu tidak di-singgung2 tentang didalam rombongannja terdapat seorang tokoh maha penting itu.
Maka terdengar perwira tadi berkata dengan kurang senang.
Gan-bun-koan adalah gerbang terpenting diwilajah utara keradjaan Song, tempat ini merupakan kuntji utama keselamatan negara.
Tjoba lihatlah, pasukan Liau sudah tiba setjara besar2an, kalau aku sembarangan membuka pintu sehingga memberi kesempatan kepada pasukan Liau untuk menjerbu masuk kemari, lalu siapa jang akan bertanggung-djawab atas malapetaka jang akan timbul nanti?
Sungguh mendongkol sekali Go-tianglo, ia tidak tahan lagi, segera ia berteriak.
Kenapa kau hanja membatjot sadja sedjak tadi dan tidak lekas2 membuka pintu?
Kalau kau buka sedjak tadi bukankah saat ini kami sudah didalam benteng dan takkan menimbulkan malapetaka segala?
Perwira itu mendjadi gusar, damperatnja.
Kau pengemis tua bangka ini berani sembarangan kentut didepan tuan-besarmu?
--Dan sekali ia memberi tanda, serentak diatas benteng muntjul ribuan peradjurit pemanah dengan anak panah sudah terpasang dibusurnja serta mengintjar kebawah benteng.
Nah, lebih baik kalian lekas mundur sadja, lekas!
Kalau rewel2 lagi tak habis2 sehingga mengatjaukan pikiran peradjurit kami, segera akan kuperintahkan melepaskan panah, demikian perwira itu mengantjam.
Hian-to menghela napas pandjang dan tidak berdaja menghadapi perwira jang kepala batu dan susah untuk diadjak bitjara itu.
Saat itu para kesatria berada ditengah selat Gan-bun-koan.
Kedua sisi benteng itu adalah tebing bukit jang terdjal meninggi kelangit.
Sebabnja diberi nama Gan-bun-koan atau benteng pintu burung belibis, jaitu sebagai perumpamaan bahwa sekalipun burung belibis djika hendak terbang keselatan djuga terpaksa mesti terbang menjusur selat bukit jang terdjal dan tinggi itu untuk melukiskan betapa berbahajanja benteng itu.
Diantara kesatria2 dan pahlawan2 itu tidak sedikit terdapat djago silat jang memiliki Ginkang jang tinggi, dengan mudah sadja mereka dapat mendaki bukit dan melintas kebalik gunung sana untuk menjelamatkan diri bila dikedjar musuh, tapi sebagian besar pahlawan lainnja tentu tak terhindar dari kebinasaan dibawah sendjata pasukan Liau jang sebentar lagi akan membandjir tiba itu.
Sementara itu pasukan Liau sudah makin dekat, hanja karena terhalang oleh keadaan pegunungan jang luar biasa itu, maka terpaksa mereka mesti menjempitkan kepungan mereka dari kanan dan kiri dan achirnja terpusat mendjadi satu djurusan terus menerdjang madju kedepan.
Suara tambur bergemuruh memekak telinga.
Saat itu jang terdengar hanja suara tambur perang, suara derap larinja kuda tertjampur suara gemerintjingnja suara pakaian perang para peradjuritnja dan suara menderunja pandji2 tertiup angin, sebaliknja tak terdengar sama sekali berisiknja suara manusia, dari ini dapat dibajangkan betapa tegas dan keras disiplinnja pasukan Liau jang kuat itu.
Begitulah sebaris demi sebaris pasukan Liau terus mendesak madju kedepan benteng Gan-bun-koan.
Sesudah mentjapai djarak kira2 satu panahan, lalu barisan2 itu berhenti.
Sepandjang mata memandang, di-mana2 hanja tertampak pandji2 berkibar dan gemilapannja sendjata, entah berapa djumlahnja pasukan Liau jang datang itu.
Melihat keadaan sudah kepepet, Siau Hong merasa tidak dapat tinggal diam lagi.
Segera ia berseru lantang.
Harap para kawan tunggu sementara ditempatnja masing2 dan djangan sembarangan bergerak, biarlah Tjayhe bitjara sendiri dengan radja Liau.
Dan tanpa peduli seruan Toan Ki dan A Tji jang mentjegah maksudnja itu, segera ia memutar kudanja dan dilarikan tjepat kearah pasukan Liau.
Siau Hong angkat kedua tangannja lurus keatas kepala sebagai tanda dia tiada membawa sesuatu sendjata.
Lalu ia berteriak sekerasnja.
Sri Baginda radja Liau jang mulia, Siau Hong ingin bitjara sedikit dengan engkau, harap engkau sudi tampil kemuka!
Dia bitjara dengan menggunakan tenaga dalam jang kuat, maka suaranja dapat berkumandang hingga djauh.
Ratusan ribu peradjurit dan perwira Liau boleh dikata tiada satupun jang tidak mendengarnja dengan djelas.
Mau-tak-mau setiap orang Tjidan itu berubah air mukanja.
Selang agak lama, mendadak terdengar suara gemuruh tambur dan terompet ditengah pasukan Liau, beratus ribu peradjurit Liau itu serentak menjiah kepinggir sebagai ombak terbelah kedua sisi.
Maka tertampaklah delapan buah pandji kuning emas ber-kibar2 tertiup angin dan dilarikan kedepan oleh delapan orang kesatria penunggang kuda.
Dibelakang kedelapan pandji kuning itu menjusul barisan2 bersendjata tumbak, golok dan kapak, pemanah dan golok-tameng.
Sesudah tampil kedepan, lalu barisan2 itu memisah kedua samping.
Habis itu barulah tampak belasan djenderal dengan pakaian perang jang mentereng mengiringkan Yalu Hung-ki madju kedepan.
Serentak peradjurit2 Liau bersorak-sorai.
Banswe!
Banswe!
(Banswe = Hidup).Demikian bergemuruhnja suara sorakan itu se-akan2 menggetarkan lembah pegunungan dan memetjah bumi.
Melihat perbawa musuh sedemikian hebat, keruan peradjurit Song jang mendjaga Gan-bun-koan itu mendjadi terpengaruh dan keder.
Waktu Yalu Hung-ki mendadak angkat golok mestika jang dipegangnja itu keatas, seketika suara gemuruh pasukannja lantas berhenti, bahkan suasana mendjadi sunji senjap, ketjuali suara ringkik kuda jang terkadang terdengar, boleh dikata tiada suara lain lagi.
Sesudah Hung-ki menurunkan kembali goloknja, tiba2 ia berseru kepada Siau Hong.
Siau-tayong, Siau-hiante jang baik, kau bilang akan membawa pasukan Liau kedalam benteng, mengapa sampai saat ini pintu gerbang belum lagi dibuka?
Mendengar utjapan Yalu Hung-ki ini, segera djuru-bahasa jang berada diatas benteng lantas menterdjemahkan arti utjapan itu kepada Thio-tjiangkun, itu panglima pendjaga Gan-bun-koan.
Keruan pasukan Song diatas benteng itu lantas geger, be-ramai2 mereka mentjatji-maki dan mengutuki Siau Hong.
Siau Hong tahu maksud utjapan Hung-ki itu sengadja hendak mengadu-domba agar dia ditjurigai oleh pasukan Song dan tidak berani membuka pintu gerbang benteng untuk memasukkan pahlawan2 Tionggoan itu.
Segera Siau Hong melompat turun dari kudanja, ia melangkah madju sambil berkata.
Baginda, Siau Hong merasa telah mengchianati budi kebaikanmu sehingga Baginda sendiri sampai madju sendiri kemedan perang, sungguh dosaku tak terbilang besarnja.
Baru sekian sadja dia bitjara, se-konjong2 dua sosok bajangan orang melajang lewat dikedua sisinja.
Begitu tjepat kedua bajangan itu sebagai kilat, terus sadja mereka menerdjang kearah Yalu Hung-ki.
Kiranja mereka adalah Hi-tiok bersama Toan Ki.
Rupanja kedua orang itu melihat gelagat tidak menguntungkan urusan hari ini, harus berani bertindak lebih dahulu dengan menangkap radja Liau sebagai sandera (barang djaminan), dengan demikian barulah keselamatan orang banjak dapat terdjamin.
Maka begitu saling memberi tanda, serentak mereka menerdjang madju dari kanan-kiri.
Ketika akan madju kedepan pasukan untuk menemui Siau Hong memangnja Yalu Hung-ki djuga sudah menduga kemungkinan saudara angkat akan menggunakan tipu lama ketika Siau Hong menawan Tjho-ong dan puteranja digaris depan waktu radja muda itu memberontak, maka sebelumnja Hung-ki djuga sudah bersiap siaga.
Benar djuga, sekali ia memberi aba2, serentak tiga ratus peradjurit bertameng lantas merubung madju.
Tiga ratus buah tameng laksana dinding badja jang kuat telah mengadang didepan Yalu Hung-ki.
Bahkan djago tumbak, djago kapak djuga serentak berbaris didepan barisan tameng itu.
Namun sekarang Hi-tiok bukan Hi-tiok djaman dulu lagi, dia sudah memperoleh adjaran murni dari Thian-san Tong-lo dan Li Djiu-sui, dia telah mejakinkan pula seluruh ilmu silat jang terukir didinding Lengtjiu-kiong, betapa tinggi kepandaiannja sekarang boleh dikata tiada bandingannja dan dapat dikeluarkan sesuka hatinja menurut keadaan.
Sedangkan Toan Ki sekarang djuga lain Toan Ki jang dulu, dia sudah memperoleh antero tenaga murni Tjiumoti, betapa hebat Lwekangnja djuga susah diukur.
Apalagi kalau dia sudah keluarkan langkah adjaib Leng-po-wi-poh, biarpun pendjagaan serapat badja djuga dapat ditembusnja.
Begitulah, maka dengan menjelinap kesana dan menerobos kesitu, dengan tjepat dan gesit sekali Toan Ki telah merangsang madju melalui peradjurit2 bertumbak dan berkapak, asal ada sedikit lubang sadja segera diterobos olehnja.
Para peradjurit Liau itu segera menggunakan sendjata mereka untuk membatjok dan menusuk, tapi perbuatan mereka itu berbalik tjelaka, bukan sadja luput mengenai Toan Ki, sebaliknja karena djarak diantara mereka sendiri terlalu dekat, sehingga hampir seluruhnja serangan mereka mengenai kawannja sendiri.
Adapun Hi-tiok djuga lantas bekerdja dengan tjepat, kedua tangannja menjambar kekanan dan kekiri, asal ada peradjurit Liau kena ditjengkeramnja, kontan terus dilemparkannja keluar barisan.
Sambil melempar orang ia terus mendesak madju kearah Yalu Hung-ki.
Mendadak dua perwira Tjidan menerdjang madju, dua tumbak mereka menusuk berbareng kedadanja Hi-tiok.
Se-konjong2 Hi-tiok melontjat keatas, kedua kakinja masing2 mengindjak diatas udjung tumbak musuh.
Kedua perwira Tjidan itu mem-bentak2 sambil mengajun tumbak mereka dengan maksud hendak mendjungkirkan Hi-tiok kebawah.
Tapi dengan memindjam daja guntjangan tumbak2 lawan, Hi-tiok terus melajang keatas udara untuk kemudian lantas menjambar keatas kepala Yalu Hung-ki.
Djadi jang satu selitjin belut dan jang lain setjepat burung terbang, tahu2 Toan Ki dan Hi-tiok sudah menerdjang sampai didekat radja Liau itu.
Keruan Hung-ki terkedjut, tjepat ia angkat golok-mestikanja dan membatjok kearah Hi-tiok jang sedang menubruk dari atas.
Tapi dari atas Hi-tiok sudah lantas mengulurkan tangannja dan menahan diatas golok-mestikanja, berbareng orangnja lantas meluntjur turun, dimana tangannja bergerak, dengan tjepat pergelangan tangan kanan Hung-ki sudah kena dipegang olehnja.
Dan pada saat jang hampir sama Toan Ki djuga sudah menjelinap tiba dari rintangan peradjurit2 Liau dan dapat mentjengkeram tangan kiri Hung-ki.
Ikutlah!
bentak Toan Ki dan Hi-tiok berbareng.
Segera mereka angkat tubuh Hung-ki dari atas kudanja dan melompat kedepan untuk dibawa lari setjepat terbang.
Ditengah djerit kaget dan kuatir perwira dan peradjurit Liau jang riuh ramai itu, seketika mereka mendjadi bingung karena radja mereka sudah kena ditawan musuh.
Ada beberapa pengawal pribadi Hung-ki memburu madju hendak menolong, tapi semuanja kena ditendang mentjelat oleh Hi-tiok dan Toan Ki.
Karena berhasil menawan radja Liau, sungguh girang Hi-tiok dan Toan Ki tak terkatakan.
Mendadak mereka melihat Siau Hong telah memapak tiba, berbareng mereka lantas berseru.
Toako!
Tak terduga mendadak Siau Hong menggerakkan kedua telapak tangannja berbareng, sekaligus ia serang kedua saudara angkat itu.
Keruan Hi-tiok dan Toan Ki terkedjut, tampaknja daja pukulan Siau Hong sebagai gugur gunung dahsjatnja dan susah dielakkan pula.
Terpaksa mereka angkat tangan masing2 untuk menangkis.
Maka terdengarlah suara plak-plok dua kali, empat tangan beradu dan menimbulkan angin jang menderu keras.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Siau Hong untuk memburu madju, ia tarik Yalu Hung-ki kearahnja.
Dalam pada itu pasukan Liau dan kesatria2 Tionggoan djuga telah membandjir madju dari arahnja masing2, jang satu pihak ingin merebut kembali radja mereka dan pihak lain ingin membantu Siau Hong, Hi-tiok dan Toan Ki.
Sudah tentu siapapun tidak menduga bahwa mendadak Siau Hong telah mengadu pukulan dengan kedua saudara-angkatnja.
Karena itulah orang2 kedua pihak sama2 tertjengang.
Segera terdengar Siau Hong berseru lantang.
Djangan bergerak, siapapun djangan bergerak, dengarkan dulu, aku ingin bitjara dengan radja Liau!
Serentak pasukan Liau dan kesatria2 Tionggoan berhenti di tempatnja masing2, kedua pihak sama2 kuatir membikin susah orangnja sendiri, maka mereka hanja ber-teriak2 sadja dari djauh dan tidak berani menerdjang madju, lebih2 tidak berani melepaskan panah.
Dalam pada itu Hi-tiok dan Toan Ki djuga telah menjingkir kira2 beberapa tindak dibelakangnja Yalu Hung-ki untuk mendjaga kalau2 radja Liau itu lari kembali kedalam pasukannja serta untuk merintangi bila ada djago Tjidan memburu madju hendak menolong radjanja.
Saat itu wadjah Yalu Hung-ki sudah putjat pasi, pikirnja.
Watak Siau Hong ini sangat keras, aku telah mengurung dia didalam kerangkeng berterali besi dan menghina dia habis2an.
Sekarang aku berbalik tertawan olehnja, tentu dia akan membalas dendam se-puas2-nja dan mungkin djiwaku takkan diampuni lagi olehnja.
Tak tersangka Siau Hong telah berkata.
Baginda, kedua orang ini adalah saudara-angkatku, mereka takkan membikin susah padamu, djangan kau kuatir.
Hung-ki mendengus sekali dan tidak mendjawab, ia menoleh memandang sekedjap kepada Hi-tiok, lalu memandang sekedjap pula pada Toan Ki.
Djiteku ini bernama Hi-tiok-tju, adalah madjikan dari Leng-tjiu-kiong, dan Samte ini adalah Toan-kongtju dari keradjaan Tayli, demikian Siau Hong memperkenalkan.
Nama2 mereka djuga pernah hamba tjeritakan kepada Sri Baginda.
Ja, ternjata tidak bernama kosong, benar2 sangat hebat!
sahut Hung-ki sambil manggut2.
Kami akan segera melepaskan Sri Baginda kembali ke pasukanmu, tjuma kami ingin mohon sesuatu dari Baginda, kata Siau Hong pula.
Hung-ki hampir2 tidak pertjaja kepada telinganja sendiri.
Pikirnja.
Didunia ini masakah ada urusan sedemikian enaknja?
Ah, ja, tahulah aku, mungkin Siau Hong sudah berbalik pikiran dan akan kembali padaku, maka ia akan mohon aku menganugrahi mereka bertiga dengan pangkat jang tinggi.
Maka dengan muka tersenjum simpul ia mendjawab.
Kalian ada permohonan apa, sudah tentu aku akan memenuhi dengan baik.
Baginda sekarang telah mendjadi tawanan kedua saudara-angkatku ini, kata Siau Hong.
Menurut peraturan bangsa Tjidan kita, untuk bisa bebas Sri Baginda harus memberi tebusan dengan sesuatu.
Seketika Hung-ki mengerut kening.
Apa jang kalian kehendaki?
tanjanja.
Maafkan kelantjangan hamba jang telah mewakilkan kedua saudara-angkatku untuk bitjara dengan terus terang, jang kami inginkan hanja suatu djandji Baginda sadja, sahut Siau Hong.
Kerut kening Hung-ki semakin rapat.
Soal apa?
tanjanja pula.
Kami hanja mohon Baginda suka berdjandji akan segera menarik mundur pasukanmu dan untuk selama hidup Sri Baginda akan melarang setiap peradjurit Liau mendekati perbatasan wilajah antara kedua negeri Liau dan Song.
Toan Ki sangat girang mendengar sjarat jang dikemukakan oleh Siau Hong itu.
Pikirnja.
Asal pasukan Liau tidak melintasi wilajah perbatasannja dengan Song dan dengan sendirinja djuga tak dapat mengantjam negeri Tayli kami.
Karena itu, tjepat iapun berseru.
Ja, betul, asal kau mau berdjandji dan segera kami akan melepaskan kau.
Tapi lantas teringat olehnja bahwa tertawannja radja Liau itu sebagian djuga berkat tenaga sang Djiko dan entah bagaimana pendapatnja tentang sjarat jang dikemukakan Siau Hong itu.
Maka ia lantas bertanja kepada Hi-tiok.Djiko, tebusan apa jang kau inginkan dari radja Tjidan ini?
Hi-tiok menggeleng kepala, sahutnja.
Akupun mengharapkan djandjinja itu sadja.
Air muka Hung-ki tampak bersengut, katanja.
Hm, kalian berani memaksa dan mengantjam diriku?
Dan bagaimana kalau aku menolak permintaanmu?
Djika begitu, tiada djalan lain, terpaksa gugur bersama, kata Siau Hong.
Dahulu waktu kita mengangkat-saudara kita djuga pernah bersumpah untuk hidup dan mati bersama.
Hung-ki tertegun.
Pikirnja.
Siau Hong ini adalah seorang nekat jang tidak kenal apa artinja takut.
Dia berani berkata dan berani berbuat, apa jang sudah diutjapkan selamanja dipegang teguh.
Kalau aku menolak permintaannja, djangan2 dia benar2 menjerang diriku, sungguh tjelaka djika aku mesti binasa ditangan seorang nekat sebagai dia ini.
Karena itulah mendadak ia bergelak tertawa dan berseru dengan lantang.
Dengan djiwaku Yalu Hung-ki ini dapat menjelamatkan ber-djuta2 djiwa dari rakjat kedua negara, haha, saudaraku jang baik, apa kau pandang djiwaku sedemikian tinggi nilainja?
Sri Baginda adalah orang jang diagungkan dinegeri Liau, diseluruh djagat ini masakah ada orang lain jang lebih tinggi nilainja daripada Baginda?
sahut Siau Hong.
Kembali Hung-ki tertawa, katanja.
Djika demikian, dahulu orang Nuchen hanja minta tebusan padaku sebanjak 30 kereta emas, 300 kereta perak dan 3000 ekor kuda, penilaian mereka sesungguhnja terlalu dangkal, bukan?
Siau Hong membungkuk tubuh kepada kakak-angkat itu dan tidak mendjawab lagi.
Hung-ki tjoba menoleh kebelakang, tertampak djago pengawalnja jang paling dekat djuga lebih dari puluhan meter djauhnja, betapapun pasti susah untuk menolong dirinja.
Mengingat djiwanja jang lebih berharga daripada segala benda apapun didunia ini, terpaksa Yalu Hung-ki menerima sjarat jang diadjukan Siau Hong.
Segera ia mengeluarkan sebatang anak panah, ia angkat keatas, sekali tekuk, krak, patahlah anak panah itu terus dibuangnja keatas tanah sambil berkata.
Kuterima sjaratmu!
Banjak terima kasih, Baginda, kata Siau Hong.
Segera Hung-ki memutar tubuh dan hendak melangkah pergi, tapi tertampak olehnja Hi-tiok dan Toan Ki masih mengawasi dirinja dengan sorot mata ber-api2 dan tiada tanda2 mau memberi djalan padanja.
Terpaksa ia menoleh lagi memandang kepada Siau Hong, dilihatnja Siau Hong djuga diam sadja.
Maka tahulah Hung-ki apa maksud mereka, terang mereka masih kuatir kalau2 dirinja mengingkar djandji hanja dengan utjapannja tadi.
Hung-ki lantas melolos golok-mestikanja dan diangkat tinggi keatas, lalu serunja keras2.
Wahai, dengarkanlah para peradjurit dan perwira Liau!
Serentak terdengar tambur perang ditengah pasukan Liau bergemuruh ditabuh, lalu berhenti seketika.
Kemudian Yalu Hung-ki berseru pula.
Sekarang djuga kuperintahkan menghentikan peperangan ini, negeri Song dan Liau adalah negeri bersaudara, maka hari ini djuga pasukan kita lantas ditarik mundur.
Untuk selama hidupku ini aku melarang setiap peradjurit Liau melintasi perbatasan.
~ Habis berkata, ketika golok-mestikanja diturunkan, kembali tambur bergemuruh ditabuh lagi.
Dan baru sekarang Siau Hong membuka suara.
Dengan hormat silakan Sri Baginda kembali ke pasukan!
Hi-tiok dan Toan Ki segera menjingkir kesamping dan memutar kebelakangnja Siau Hong.
Hung-ki merasa girang dan malu pula.
Meski ia ingin lekas2 meninggalkan tempat berbahaja itu, tapi iapun tidak sudi mempertontonkan kelemahannja didepan Siau Hong dan pasukan kedua pihak, maka ia berlaku tenang sedapat mungkin dan melangkah kembali kepihak pasukannja dengan pelahan2.
Segera berpuluh pengawal pribadinja melarikan kuda mereka memapak madju.
Semula langkah Hung-ki masih pelahan, tapi tanpa merasa djalannja makin lama makin tjepat, sehingga achirnja kedua kakinja terasa lemas seakan2 djatuh, djalannja mendjadi ter-hujung2, kedua tangannja bergemetar dan keringat memenuhi dahinja.
Ketika para pengawalnja sampai didepannja dan membawakan kuda tunggangannja, namun sekudjur badan Hung-ki sudah lemas semua rasanja, biarpun sebelah kakinja sudah mengindjak pelana, tapi tidak kuat mentjemplak keatas kudanja.
Tjepat dua pengawalnja menahan bahunja dan mengangkatnja keatas, dengan demikian barulah Hung-ki dapat naik keatas kudanja.
Melihat radja mereka telah kembali dengan selamat, serentak para peradjurit Liau ber-sorak2 lagi riuh rendah.
Dalam pada itu demi mendengar radja Liau memberi perintah kepada pasukannja untuk mundur dan menjatakan selama hidupnja akan melarang setiap peradjurit Liau melanggar perbatasan kedua negeri, maka baik tentera Song diatas benteng maupun para kesatria diluar benteng djuga serentak bersorak gembira.
Semua orang tjukup kenal sifat orang Tjidan jang kedjam dan suka membunuh, tapi selamanja dapat pegang djandji, apalagi sekarang radja Liau sendiri jang mengumumkan djandjinja didepan pasukan kedua pihak, kalau kelak mengingkar djandji, tentu diapun akan dipandang hina oleh rakjatnja sendiri dan tahta keradjaannja mungkin akan guntjang.
Begitulah dengan wadjah guram Yalu Hung-ki merasa malu benar2 karena telah memberikan djandji sebesar itu dibawah antjaman Siau Hong.
Peristiwa ini benar2 sangat menurunkan perbawanja dan memerosotkan pamor keradjaan Liau.
Tapi dari suara sorak-sorai sambutan pasukannja dapat dirasakan pula bahwa apa jang sudah terdjadi itu ternjata tidak mengurangi dukungan para peradjurit dan perwiranja kepadanja.
Ketika ia memandang para peradjuritnja, tertampak wadjah setiap orang bertjahaja dan ber-seri2.
Rupanja para peradjurit itu demi mendengar pasukan mereka segera akan ditarik mundur sehingga terhindar dari kemungkinan mati dimedan perang dan tidak lama lagi akan dapat berkumpul kembali dengan sanak keluarganja, maka mereka mendjadi kegirangan.
Maklum, sekalipun orang Tjidan gagah berani, tapi siapapun tak dapat mendjamin akan mati-hidup setiap orang dimedan perang.
Maka demi mendengar mereka akan terhindar dari bentjana perang, dengan sendirinja mereka sangat senang, terketjuali beberapa perwira diantaranja jang mengimpikan akan mengeduk keuntungan dan naik pangkat dalam peperangan itu.
Diam2 Hung-ki terkesiap.
Kiranja semangat peradjurit2ku djuga sudah bosan perang, kalau aku berkeras mengerahkan mereka menjerbu keselatan, bukan mustahil akupun akan menderita kekalahan ~ Lalu teringat pula olehnja.
Orang2 Nuchen itu benar2 sangat kurangadjar, mereka selalu merupakan antjaman dibelakang punggungku, maka aku harus menumpas dulu manusia2 biadab itu.
Segera ia mengatjungkan golok-mestikanja keatas dan berseru.
Harap Pak-ih Tay-ong memberi perintah, barisan belakang segera berubah mendjadi barisan muka, kita langsung pulang ke Lamkhia!
Serentak genderang berbunji lagi dan meneruskan titah radja itu.
Maka terdengarlah suara sorak-sorai gegap gempita jang makin mendjauh dan makin mendjauh.
Ketika Yalu Hung-ki berpaling, ia melihat Siau Hong masih berdiri ditempatnja tanpa bergerak sedikitpun, sorot matanja tampak tjemas.
Hung-ki tertawa dingin dan berseru.
Siau-tayong, kau telah berdjasa besar bagi keradjaan Song, terang hadiah besar dan kedudukan tinggi sedang menantikan dirimu dalam waktu singkat.
Sri Baginda, mendadak Siau Hong mendjawab dengan suara keras.
Sekali Siau Hong adalah bangsa Tjidan maka untuk selamanja djuga tetap bangsa Tjidan.
Hari ini hamba telah memaksakan kehendak atas Baginda sehingga mendjadi seorang Tjidan jang maha berdosa, untuk selandjutnja apakah Siau Hong masih ada muka untuk hidup didunia ini!
Se-konjong2 ia djemput kedua potong panah patah jang dibuang Hung-ki tadi, sekali tenaga dalam dikerahkan, tjrat-tjrat, mendadak ia tikam ulu hati sendiri dengan kedua potong panah patah itu.
Hung-ki mendjerit kaget dan segera memutar kudanja dan dilarikan beberapa tindak, tapi lantas menghentikan kudanja lagi.
Kedjut Hi-tiok dan Toan Ki tak terkatakan, berbareng mereka melompat madju sambil berteriak.
Toako!
Toako!
Namun kedua potong panah patah itu dengan tepat telah menantjap di ulu hati Siau Hong.
Kedua mata sang Toako tertampak terpedjam rapat, njata orangnja sudah meninggal.
Tjepat Hi-tiok merobek badju sang Toako dengan maksud hendak memberi pertolongan kilat.
Namun luka Siau Hong teramat parah, dengan tepat ulu hatinja tertembus kedua potong panah patah, terang susah untuk dihidupkan lagi.
Terlihat diatas dada sang Toako sebuah kepala serigala jang menjeringai bertaring dan sangat buas tampaknja.
Hi-tiok dan Toan Ki menangis sedih dan memberi hormat terachir kepada sang Toako.
Be-ramai2 anggota2 Kay-pang djuga berkerumun madju untuk memberi hormat.
Kiau-pangtju, seru Go-tianglo sambil me-mukul2 dadanja sendiri, meski engkau adalah orang Tjidan, tapi djauh lebih gagah dan lebih kesatria daripada orang2 Han jang tak berguna sebagai kami ini!
Para kesatria Tionggoan be-ramai2 djuga mengerumuni pahlawan pembela perdamaian itu dan ramai mempertjakapkannja.
Ada jang bertanja.
Kiau-pangtju ternjata benar adalah orang Tjidan?
Djika demikian mengapa dia malah membela pihak Song kita?
Ja, tampaknja ditengah bangsa Tjidan djuga terdapat kaum kesatria dan pahlawan, demikian kata seorang lain.
Sedjak ketjil dia dibesarkan di-tengah2 bangsa Han kita, sehingga dapat menteladani budi luhur bangsa kita, sambung jang lain lagi.
Kalau kedua negara sudah berdamai dan dia sudah mendjadi djuru penjelamat rakjat kedua pihak, mestinja dia toh tidak perlu membunuh diri, demikian pendapat jang lain.
Kau tahu apa?
udjar kawannja.
Meski dia berdjasa bagi keradjaan Song, tapi dia telah dipandang sebagai pengchianat dinegerinja sendiri.
Djadi dia membunuh diri karena takut atas dosanja sendiri.
Takut dosa apa?
Kesatria besar sebagai Kiau-pangtju masakah perlu merasa takut ?
tukas kawannja tadi.
Sebaliknja Yalu Hung-ki mendjadi bingung sendiri demi menjaksikan Siau Hong telah membunuh diri.
Pikirnja.
Dia sebenarnja berdjasa bagi keradjaan Liau atau berdosa ?
Dengan susah pajah dia telah mentjegah aku menjerang wilajah Song, sebenarnja dia berdjoang bagi orang Han atau bagi bangsa Tjidan ?
Sedjak dia mengangkat-saudara dengan aku, selamanja dia sangat setia padaku.
Hari ini dia telah membunuh diri didepan Gan-bun-koan, tampaknja bukan maksudnja karena kemaruk kepada kedudukan di negeri Song sana, habis ....
habis apa sebabnja ?
Maka berderaplah beratus ribu telapak kaki kuda menudju keutara, para perwira Tjidan ber-ulang2 masih menoleh kebelakang untuk memandang tubuh Siau Hong jang menggeletak diatas tanah dan sudah tak bernjawa itu.
Terdengar pula suara berkaoknja burung, serombongan burung belibis sedang terbang dari utara lewat diatas kepala pasukan tentara dan menudju keselatan melintasi benteng Gan-bun-koan.
Makin lama makin mendjauh suara gemuruh derap pasukan Liau itu.
Hi-tiok, Toan Ki dan lain2 masih berdiri ter-mangu2 disamping djenazah Siau Hong, ada jang menangis ter-gerung2, ada jang tjuma mentjutjurkan air mata dengan kepala menunduk.
Tiba2 terdengar djerit lengking seorang wanita muda .
Minggir !
Minggir!
Semuanja minggir!
Kalian sudah menjebabkan kematian Tjihuku, tapi masih pura2 menangis apa segala disini, apa gunanja ?
Sambil berkata wanita muda itu sembari men-dorong2 minggir orang banjak jang berkerumun disekitar djenazah Siau Hong.
Siapa lagi dia kalau bukan A Tji ?
Hi-tiok dan lain2 sudah tentu tidak pikirkan utjapan anak dara jang sebenarnja menjinggung perasaan itu, maka mereka lantas sama menjingkir memberi djalan kepada A Tji.
Untuk sedjenak A Tji ter-mangu2 memandang djenazah Siau Hong, kemudian ia berkata dengan suara halus.
Tjihu, orang2 ini semuanja orang busuk, kau djangan gubris pada mereka, hanja A Tji sadja jang benar2 berlaku baik kepadamu.
Habis berkata ia terus berdjongkok untuk memondong djenazah Siau Hong.
Tapi tubuh Siau Hong sangat tinggi dan besar, separo badannja terpondong, tapi kedua kakinja tetap terseret diatas tanah.
A Tji berkata pula.
Tjihu, aku tahu sekarang kau baru menurut padaku, biarpun kupondong dirimu djuga, kau tak mendorong pergi aku lagi.
Ja, harus beginilah memangnja!
Hi-tiok dan Toan Ki saling pandang sekedjap, pikir mereka.
Agaknja dia terlalu berduka sehingga pikirannja berubah kurang waras.
Lalu Toan Ki tjoba menghiburnja dengan suara halus.
Adikku, setjara kesatria Siau-toako telah gugur, orang meninggal toh tak dapat hidup kembali, hendaklah kau...
kau ...
Tapi A Tji lantas mendorong minggir sambil membentak.
Djangan kau merebut Tjihuku, dia adalah milikku, siapapun tidak boleh menjentuhnja!
Toan Ki menoleh dan mengedipi Bok Wan-djing.
Wan-djing paham maksudnja dan segera mendekati A Tji, katanja dengan pelahan.
Adik ketjil, Siau-toako telah wafat, marilah kita berunding tjara bagaimana sebaiknja untuk memakamkan dia ....
Tak terduga mendadak A Tji mendjerit tadjam sehingga Bok Wan-djing terkaget dan tersentak mundur.
Pergi!
Pergi!
Enjahlah semua!
demikian seru A Tji.
Kaum lelaki bukan manusia baik, kaum wanitanja djuga bukan orang baik!
Kau bermaksud meratjuni Tjihuku, kau suruh dia minum arak sehingga tak bisa berkutik.
Hm, djika kau berani mendekat segera akan kubunuh kau lebih dulu.
Keruan Bok Wan-djing mengerut kening dan geleng2 kepala kepada Toan Ki.
Pada saat itulah tiba2 dilereng bukit disisi kiri benteng Gan-bun-koan sana ada suara teriakan orang.
A Tji!
A Tji!
Ha, aku sudah mendengar suaramu!
Dimanakah engkau sekarang?
Dimana?
Suara itu kedengaran sangat memilukan hati, banjak diantara kesatria Tionggoan itu mengenal suara orang itu, jaitu orang jang pernah mendjadi Pangtju dari Kay-pang dan memakai nama samaran sebagai Ong Sing-thian, aslinja bernama Yu Goan-tji.
Waktu semua orang memandang kearah datangnja suara, maka tertampaklah kedua tangan Goan-tji masing2 memegangi sebatang tongkat bambu, tongkat kiri dipakai sebagai alat pentjari djalan, tongkat kanan sebaliknja menumpang diatas pundak seorang laki2 setengah umur dan sedang muntjul dari kelokan gunung sana.
Hi-tiok dan lain2 mendjadi ter-heran2.
Waktu mereka memperhatikan silelaki setengah umur, kiranja dia adalah Oh-lotoa jang ditugaskan mendjaga Leng-tjiu-kiong oleh Hi-tiok.
Wadjah Oh-lotoa tampak kurus putjat, badjunja tjompang-tjamping dan memperlihatkan sikap jang penasaran karena terpaksa.
Maka tahulah Hi-tiok dan lain2.
Rupanja Oh-lotoa telah dipaksa oleh Goan-tji jang sudah buta itu agar membawanja pergi mentjari A Tji.
Bukan mustahil sepandjang djalan Oh-lotoa telah banjak menderita siksaan Goan-tji.
Untuk apa kau datang kesini?
demikian tiba2 A Tji mendamperat dengan gusar.
Aku tidak ingin melihat kau, tidak ingin melihat kau lagi!
Sebaliknja Goan-tji mendjadi girang, serunja.
Ha, engkau ternjata benar berada disini.
Aku dapat mengenali suaramu, achirnja aku dapat menemukan dikau!
~ Dan ketika dia dorong tongkatnja sedikit, tanpa kuasa lagi Oh-lotoa lantas berlari kedepan setjepat terbang.
Tjepat sekali datangnja Goan-tji dan Oh-lotoa itu, hanja dalam sekedjap sadja sudah sampai disamping A Tji.
Hi-tiok, Toan Ki dan lain2 sedang dalam keadaan tak berdaja, demi nampak datangnja Yu Goan-tji, mereka pikir pemuda ini rela mengorbankan kedua bidji matanja untuk A Tji, dengan sendirinja mereka mempunjai hubungan jang sangat baik, maka boleh djadi pemuda buta ini akan dapat menjadarkan A Tji.
Sebab itulah Hi-tiok dan lain2 lantas menjingkir beberapa tindak lebih djauh dan tidak ingin mengganggu pertjakapan kedua muda-mudi itu.
Maka terdengar Goan-tji telah menjapa.
Nona A Tji, engkau baik2 sadja bukan?
Apa ada orang berani membikin susah padamu?
~ Meski selebar mukanja sudah rusak, tapi dari nada utjapannja itu terang sekali dia merasa sangat girang dan penuh perhatiannja kepada sianak dara.
Aku telah dibikin susah oleh orang lain, apa jang hendak kau lakukan?
sahut A Tji.
Siapakah dia?
tjepat Goan-tji menegas.
Lekas nona katakan padaku, biar aku akan menghadjarnja sampai mampus!
A Tji tertawa dingin, katanja sambil menundjuk para hadirin jang berada disekitarnja.
Itulah, mereka semuanja telah membikin susah padaku, sekaligus boleh kau membunuh habis mereka!
Baik, sahut Goan-tji.
Lalu ia bertanja kepada Oh-lo-toa.
Hei, lau-Oh (Oh si tua), orang2 matjam apakah jang telah berani membikin susah kepada nona A Tji itu?
Wah, banjak sekali djumlahnja, engkau tak sanggup membunuh mereka, sahut Oh-lotoa.
Biarpun tak dapat djuga akan kulakukan, kata Goan-tji.
Habis, siapa suruh mereka berani main gila kepada nona A Tji?
Tiba2 A Tji berkata lagi dengan gusar.
Sekarang aku sudah berada bersama dengan Tjihu, untuk selandjutnja kami takkan berpisah lagi selamanja.
Nah, lekas enjahlah kau, aku tak ingin melihat kau pula.
Sungguh sedih Goan-tji bukan buatan, katanja.
Dja...
djadi engkau tak...
takkan menemui aku lagi....
Ja, ja, tahulah aku, bidji mataku ini adalah pemberianmu, seru A Tji dengan suara keras.
Tjihu mengatakan aku telah utang budi kepadamu, maka aku diharuskan melajani kau dengan baik.
Tapi aku djusteru tidak suka.
Habis berkata, mendadak tangan-kanannja terus mentjongkel kedalam matanja sendiri, terus dikorek keluar bidji matanja, lalu dilemparkannja kepada Goan-tji sambil berteriak.
Ini, kukembalikan padamu!
Sedjak kini aku tidak utang apa2 lagi padamu dan Tjihu tak dapat memaksa aku mengikuti kau pula.
Meski kedua mata Goan-tji sudah buta, tapi demi didengarnja djerit kaget orang2 jang berada disekitarnja, suaranja penuh rasa kuatir dan ngeri, maka tahu djuga dia apa jang telah terdjadi.
Dengan suara parau ia berteriak.
O, nona A Tji, nona A Tji!
Tapi begitu bidji mata sendiri sudah dikorek keluar, segera A Tji memondong djenazah Siau Hong dan melangkah kedepan sambil berkata dengan suara halus mesra.
Tjihu, sekarang kita tidak utang apa2 lagi kepada siapapun.
Dahulu aku telah melukai kau dengan djarum berbisa, tudjuanku jalah ingin engkau selalu berdampingan dengan aku.
Dan sekarang barulah tjita2ku itu terkabul.
~ Sambil bitjara ia terus melangkah semakin djauh kedepan dengan memondong djenazah Siau Hong.
Melihat darah bertjutjuran dari tjekung matanja A Tji hingga membasahi mukanja jang putih tjantik itu, hati semua orang merasa ngeri dan kasihan pula.
Maka ketika melihat anak dara itu berdjalan mendekat semua orang lantas menjingkir kesamping.
A Tji berdjalan lurus kedepan dan pelahan2 sampai ditepi djurang.
Semua orang mendjadi kuatir dan segera ber-teriak2.
Berhenti!
Awas, didepan adalah djurang jang tjuram!
Bahkan Toan Ki djuga terus memburu madju sambil berseru.
Awas adikku, djang ...
~ Namun sudah terlambat, A Tji masih melangkah lurus kedepan, mendadak kakinja mengindjak tempat kosong dan terdjerumuslah anak dara itu bersama djenazah Siau Hong kedalam djurang jang tak terkirakan dalamnja itu.
Tepat pada saat itu Toan Ki djuga telah memburu sampai ditepi djurang tjepat ia ulur tangannja untuk mendjambret, tapi jang kena hanja setjabik kain badju adik perempuannja itu dan orangnja tetap terdjerumus kebawah.
Waktu Toan Ki melongok kedalam djurang, jang tertampak hanja awan belaka jang menutup rapat dipermukaan djurang sehingga tidak diketahui betapa dalamnja djurang itu, bajangan A Tji dan Siau Hong dengan sendirinja tak terlihat sedikitpun.
Para kesatria jang berdiri ditepi djurang semuanja ikut menghela napas gegetun, lebih2 jang berilmu silat agak rendahan mendjadi ngeri membajangkan betapa dalam dan terdjalnja djurang.
Hian-to dan beberapa kawannja jang berusia lebih landjut, mengetahui tjerita tentang dahulu Hian-tju, Ong-pangtju dan lain2 pernah menjergap djago2 Tjidan diluar Gan-bun-koan dan ibunja Siau Hong djusteru terkubur didasar djurang itu.
Tak terduga bahwa beberapa puluh tahun kemudian Siau Hong dan A Tji djuga terkubur pula didalam djurang itu.
Pada saat lain tiba2 terdengar suara genderang berbunji diatas benteng, perwira jang menjampaikan perintah komandannja tadi sedang berseru pula kepada para kesatria.
Atas perintah Thio-tjiangkun, panglima militer benteng Gan-bun-koan, bahwasanja kalian ternjata bukan mata2 musuh dari negeri Liau, maka kalian dapat diidjinkan masuk benteng, tapi kalian harus taat kepada undang2 dan berlaku sopan-santun, dilarang membikin rusuh dan mengatjaukan suasana tenteram, hendaklah kalian maklum.
Tapi para kesatria diluar benteng serentak mendjawab dengan mentjatji-maki, ada jang berteriak.
Persetan dengan perintah panglimamu itu, biarpun mati djuga kami tidak sudi masuk kedalam benteng jang didjaga pembesar andjing matjam kalian itu!
Tjoba kalau pembesar andjing itu tidak bersikap plintat-plintut, tentu djuga Siau-tayhiap takkan tewas seperti sekarang ini!
demikian ditambahkan seorang kesatria lain.
Begitulah be-ramai2 para kesatria mentjatji-maki sambil menuding perwira diatas benteng itu.
Sedangkan Hi-tiok dan Toan Ki telah berlutut dan memberi hormat kearah djurang, lalu pergilah mereka dengan mendaki gunung dan melintasi bukit tanpa menghiraukan siperwira jang mentjak2 diatas benteng karena ditjatji-maki oleh para kesatria itu.
Apa jang terdjadi diluar Gan-bun-koan ini lantas digunakan baik oleh panglima pendjaga benteng itu untuk membuat laporan kilat ke kotaradja, katanja dia telah memimpin sendiri pasukannja dan bertempur mati2an selama beberapa hari menghadapi pasukan Liau jang berdjumlah ratusan ribu orang, berkat lindungan Thian dan Sri Baginda serta semangat tempur para peradjurit, perwira dan bintara, achirnja berhasil membinasakan Lam-ih Tay-ong keradjaan Liau jang bernama Siau Hong dan radja Liau Yalu Hung-ki kemudian mengundurkan diri dengan kekalahan habis2an.
Radja Song sangat girang mendapat laporan itu, segera ia mengirimkan firman jang memberi penghargaan se-tinggi2nja kepada para peradjurit, perwira dan bintara, pangkat mereka seluruhnja dinaikkan setingkat disertai hadiah2 jang besar.
Para pembesar dipemerintah pusat djuga tidak ketinggalan untuk merajakan kemenangan itu setjara besar2an.
Sementara itu Toan Ki telah ambil perpisahan dengan Hi-tiok ditengah djalan, bersama Bok Wan-djing, Tjiong Ling, Hoan Hwa, Pah Thian-sik dan lain2, mereka lantas pulang ke Tayli.
Setiba didalam wilajah negeri Tayli, djauh2 tjalon permaisuri Ong Giok-yan dan para pembesar sudah menantikan dan menjambut mereka.
Ketika Toan Ki bertjerita tentang Siau Hong dan A Tji, Giok-yan mendjadi terharu dan menangis, semua orangpun ikut berduka.
Rombongan mereka terus menudju keselatan, karena Toan Ki tidak ingin membikin kaget kepada penduduk setempat maka rombongannja tidak mengenakan pakaian kebesaran, tapi tetap menjamar sebagai kaum saudagar dan orang pelantjongan.
Sepandjang djalan tiada terdjadi apa2, achirnja sampailah mereka diluar kota-radja Tayli.
Toan Ki ingin pergi ke Thian-liong-si lebih dulu untuk menjampaikan sembah bakti kepada Koh-eng Taysu dan paman bagindanja, Toan Tjing-bing.
Tatkala itu sudah mendjelang magrib, hari sudah mulai gelap.
Ketika lalu disebuah hutan didekat Thian-liong-si, tiba2 ditengah hutan itu terdengar suara teriakan seorang anak ketjil.
Sri Baginda, Paduka Jang Mulia, nah, aku sudah menjembah padamu, mengapa aku tidak diberi permen?
Toan Ki dan lain2 mendjadi ter-heran2.
Mengapa ditempat ini, bahkan seorang anak ketjil dapat mengenali penjamarannja.
Tanpa merasa rombongan mereka lantas membelok kedalam hutan itu untuk melihat siapakah sebenarnja anak ketjil itu.
Tapi mendadak terdengar pula seorang sedang berkata.
Kalian harus berseru.
Dirgahajulah!
Semoga Sri Baginda hidup bahagia dan pandjang umur!
Habis itu barulah akan kuberi permen.
Suara orang itu terdengar sudah sangat dikenal mereka.
Itulah Bujung Hok adanja.
Toan Ki dan Giok-yan terkedjut, tjepat kedua orang bergandeng tangan dan bersembunji dibalik pohon sambil memandang kearah datangnja suara itu.
Maka tertampaklah Bujung Hok sedang duduk diatas sebuah kuburan, kepalanja memakai kopiah radja buatan dari kertas dan sikapnja dibikin keren.
Didepannja ada tudjuh atau delapan orang anak kampung sedang berlutut dan be-ramai2 lagi mengutjapkan.
Dirgahaju!
Sri Baginda bahagia, pandjang umur!
Sambil ber-teriak2 tak keruan menirukan apa jang diadjarkan Bujung Hok tadi sambil tiada hentinja menjembah, malahan sudah ada jang mendjulurkan tangannja sambil berkata.
Mana permennja?
Mana permennja?
Terdengar Bujung Hok telah mendjawab.
Para pengabdiku, silakan bangun.
Sekarang keradjaan Yan kita sudah kubangkitkan kembali dan aku sudah naik tahta, dengan sendirinja para pengabdiku akan mendapat gandjaran jang setimpal menurut djasa masing2.
Lalu ia merogoh keluar segenggam permen dan di-bagi2kan kepada anak2 ketjil tadi.
Anak2 itu ber-djingkrak2 kegirangan sambil berlari pergi, semuanja ber-teriak2.
Besok kita akan datang minta permen lagi!
Maka tahulah Giok-yan bahwa pikiran sang Piauko sudah tidak waras lagi karena gila hormat dan mengimpikan mendjadi kaisar, tapi tak terkabul.
Sungguh hati Giok-yan tak terkatakan dukanja.
Pelahan2 Toan Ki menarik tangan sang kekasih, ia memberi isjarat tangan dan semua orang lantas mundur keluar hutan setjara diam2.
Bujung Hok terlihat masih duduk diatas kuburan tadi dan mulutnja tampak berkomat-kamit tak ber-henti2 entah sedang mengotjeh apa ..........
Tamat
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Rajawali Hitam Kho Ping Hoo
Baca Juga: Alap Alap Laut Kidul 11