Eps 2 Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.
"Laron penghisap darah? Dimana lagi kau jumpai laron penghisap darah?"
Gi Tiok-kun menghela napas panjang. Dengan jari tangan yang gemetar keras Jui Pakhay menunjuk ke arah bola udang bungkus madu diatas piring, serunya.
"Kau.....kau bilang.... masakan apa itu?"
"Bukankah bola udang bungkus madu?"
Sahut Gi Tiok-kun setelah tertegun sejenak.
"Bola udang? Hahaha.....bola udang.....?"
Jui Pakhay tertawa seram.
"benarkah dibalik bungkusan madu itu berisi bola udang?"
"Haii.....kalau bukan bola udang lantas apa?"
"Apa? Laron! Laron penghisap darah!"
Gi Tiok-kun gelengkan kepalanya berulang kali tanpa komentar lagi. Kembali Jui Pakhay berkata.
"Kau sengaja masuk ke dapur mempersiapkan secara khusus hidangan bola udang bungkus madu, sebetulnya hidangan ini kau siapkan untuk siapa?"
Sekali lagi Gi Tiok-kun gelengkan kepalanya dengan mulut terbungkam.
"Mana ada laron penghisap darah?"
Sela Kwee Bok tibatiba.
"Itu dia! Masa kau tidak melihat......"
Teriak Jui Pakhay gusar.
Sembari berkata, dia menuding kearah bola udang yang baru saja dimuntahkan ke atas meja.
Tadi, bola udang itu berbentuk seekor laron penghisap darah, tapi sekarang telah berubah jadi cairan lebah berwarna kuning emas.
Dalam sekejap mata itu pula mendadak dia merasa mulutnya yang semula berbau sangat amis dan busuk, kini telah berubah jadi harum semerbak seperti harumnya patih bunga.
Jui Pakhay berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar........
entah berapa lama sudah lewat, kemudian sinar matanya baru pelan-pelan dialihkan ke wajah Gi Tiok-kun berdua.
Saat inilah dia telah menyaksikan dua orang "manusia"
Yang sangat menakutkan!
Dua orang manusia dengan wajah berwarna hijau kemala, sepasang mata tanpa pupil berwarna merah darah dan bola mata yang menyerupai berapa sarang tawon yang bergabung menjadi satu.
Kalau mereka adalah manusia, kenapa begitu seram tampangnya?
Siluman!
Pekik Jui Pakhay dalam hati kecilnya.
Belum sempat suara jeritannya terlontar keluar, ke dua siluman menyeramkan itu sudah lenyap tidak berbekas, termasuk juga bayangan tubuhnya, bilang lenyap seakan sudah menguap ke udara.
Yang lebih tepat sebenarnya yang hilang lenyap hanya raut wajah mereka berdua yang menyeramkan itu.
Ke dua lembar wajah siluman itu sebenarnya tidak lenyap dengan begitu saja, yang benar wajah itu sudah tidak lagi berwarna hijau, matanya tidak lagi berwarna merah dan biji matanya yang hitam tidak lagi melotot keluar.
Dua lembar wajah siluman itu telah berubah jadi dua lembar wajah manusia lagi, wajah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok.
Raut muka berwarna hijau kemala, mata berwarna merah darah, pada hakekatnya mereka berdua merupakan jelmaan dari laron penghisap darah.
Jangan jangan mereka berdua adalah jelmaan dari siluman laron penghisap darah?
Jui Pakhay merasa darah yang mengalir dalam tubuhnya seolah membeku, ditatapnya wajah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok dengan pandangan kaku.
Sebaliknya Gi Tiok-kun dan Kwee Bok juga sedang menatap Jui Pakhay tanpa berkedip, begitu melihat dia berpaling, Kwee Bok segera menegur.
"Dimana sih laron penghisap darah nya?"
Jui Pakhay tidak menjawab, namun sinar matanya lagi lagi mencerminkan perasaan takut dan ngeri yang luar biasa. Akhirnya Gi Tiok-kun menghela napas panjang, seraya berpaling ke arah Kwee Bok katanya.
"Begitulah kondisinya, berulang kali dia ribut mengatakan telah melihat laron penghisap darah, menurut pendapatku ada baiknya kau periksakan dulu denyut nadinya, mungkin sekarang kau sudah bisa menemukan penyebab penyakitnya"
"Yaa, aku memang punya maksud begitu"
Kwee Bok mengangguk. Baru dia maju dua langkah dan siap memegang nadinya, mendadak terdengar Jui Pakhay menjerit sekeras kerasnya sambil berteriak.
"Jangan dekati aku!"
Teriakan itu sangat aneh dan sangat menggidikkan hati. Kwee Bok nyaris mati lantaran kaget, sambil paksakan diri tertawa katanya.
"Lebih, baik biarkan aku periksa dulu nadimu"
"Apa yang perlu dilihat?"
Sahut Jui Pakhay dingin.
"sekarang...... sekarang aku semakin mengerti......."
Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling bertukar pandangan sekejap, seakan mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Jui Pakhay.
"Laron penghisap darah....... wahai laron penghisap darah! Sebenarnya apa salahku dengan kalian.....?"
Setelah bergumam sendirian, tiba-tiba dia mendongakkan kepala nya dan tertawa seram Wajahnya diliputi kedukaan, dibalik gelak tertawanya terselip pula perasaan pedih dan sedih yang luar biasa.
Kembali Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling bertukar pandangan, tiba tiba mereka berdua menghela napas panjang.
"Kelihatannya penyakit lamanya telah kambuh lagi"
Bisik Gi Tiok-kun sambil menarik napas panjang. Kelihatannya Jui Pakhay ikut mendengar gumaman itu, mendadak serunya sambil tertawa pedih.
"Yaa betul, penyakit lamaku kambuh kembali!"
Begitu selesai bicara, mendadak dia membalikkan tubuh dan kabur dari situ.
--Air dalam kolam teratai terasa dingin bagaikan es.
Jui Pakhay menggunakan sepasang tangannya meraup segenggam air kemudian diguyurkan ke wajah sendiri, gejolak emosinya yang menggelora tadi lambat laun menjadi tenang kembali, perasaan hatinya saat ini tidak ubahnya seperti rerumputan di musim semi.
Ketika Gi Tiok-kun kawin denganku, dia bukan dalam status seorang gadis perawan, walaupun lantaran amat mencintainya aku tidak membongkar rahasia tersebut, juga tidak membuat perhitungan dengan Gi Toa-ma, namun kejadian ini selalu menjadi ganjalan dalam hatiku, aku selalu berharap suatu ketika nanti bisa menemukan orang yang telah merenggut mahkota kegadisannya.
Jangan jangan orang itu adalah kakak misannya, Kwee Bok?
Siapa pun orangnya, bila dia bisa memperoleh gadis secantik dan semenarik Gi Tiok-kun, dapat dipastikan orang itu akan berusaha untuk mempertahankan kepemilikannya, Kwee Bok tidak berani berebut denganku waktu itu dan membiarkan pujaan hatinya kawin denganku, dapat dipastikan karena dia merasa takut untuk berhadapan denganku sehingga tidak berani menampilkan diri dan berebut denganku.
Selama tiga tahun ini bisa jadi dia telah pergi mempelajari semacam ilmu sesat, dan kali ini dia sengaja kembali ke sini untuk merebut Gi Tiok-kun dari tanganku, atau mungkin kemunculan kawanan laron penghisap darah itu ada hubungan dan sangkut pautnya dengannya?
Siapa tahu dialah pawang dari laron penghisap darah?
Siapa tahu semua peristiwa aneh yang terjadi selama ini adalah hasil karyanya?
Mungkinkah mereka berdua memang jelmaan dari siluman laron penghisap darah?
Mungkinkah Kwee Bok memang sengaja membiarkan Gi Tiok-kun kawin denganku, agar setelah saatnya tiba dia bisa muncul dalam wujud aslinya dan menghisap darahku, mencabut nyawaku?
Kalau apa yang diduga memang merupakan satu kenyataan, tujuan mereka jelas tidak akan sedemikian sederhana, mungkinkah hal ini dikarenakan darah yang mengalir dalam tubuhku merupakan sebuah mestika yang luar biasa?
Karena itu mereka tidak segan membuang waktu selama tiga tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya?
Kalau bukan karena itu, lantas apa tujuan mereka yang sebenarnya?
Semakin dipikir, Jui Pakhay merasa pikirannya semakin kalut.
Kalau tujuan mereka benar benar berniat akan mencelakai aku, jelas akupun tidak boleh berlaku sungkan lagi terhadap mereka, terlepas dia manusia asli atau jelmaan dari siluman laron penghisap darah, yang penting semuanya harus dibunuh, dibantai sampai habis!
Begitu napsu membunuhnya muncul, tanpa sadar Jui Pakhay meraba gagang pedang yang tersoren dipinggangnya.
Tapi kesemuanya itu hanya dugaanku sendiri, analisaku sendiri, tanpa diperkuat dengan bukti dan fakta, lebih baik tunggu lagi selama beberapa hari, siapa tahu dalam satu dua hari mendatang aku akan menemukan bukti yang menunjukkan bahwa mereka memang berencana akan membunuhku, nah saat itulah aku baru akan turun tangan.
Berpikir sampai disitu, lambat laun Jui Pakhay mulai mengendorkan kembali genggamannya, genggaman atas gagang pedangnya.
Dia putuskan akan menunggu satu hari lagi.
--Bulan tiga tanggal tiga belas, malam ini rembulan nampak tidak utuh, meski tidak terlalu benjol namun masih sebesar setengah bulatan jendela.
Kertas daun jendela ruang Perpustakaan yang menghadap ke arah rembulan telah berubah warnanya menjadi putih kepucat pucatan, pucat seperti wajah sesosok mayat.
Seorang diri Jui Pakhay bersandar diujung pembaringan, dengan tenang mengawasi kertas jendela yang berwarna putih kepucat-pucatan, paras mukanya saat itu berwarna putih juga, putih pucat seperti mayat.
Wajahnya nampak sangat letih, sepasang matanya terbelalak lebar.
Setelah sibuk seharian penuh, dia telah menelusuri hampir setiap sudut ruangan di perkampungan itu, setiap barang milik Gi Tiok-kun sudah diperiksa secara diam diam dan seksama.
Tapi dia tidak berhasil menemukan bukti apa pun, juga tidak berhasil menemukan sesuatu benda yang mencurigakan, bahkan seekor laron penghisap darah pun tidak dijumpainya.
Mungkinkah mereka sudah menduga kalau aku bakal melakukan penyelidikan sehingga bertindak lebih awal dengan menyembunyikan semua benda yang membawa persoalan?
Mungkinkah sarang dari kawanan laron penghisap darah itu bukan berada di perkampungan ini tapi di tempat lain?
Sejak pagi hingga petang dia sudah menyibukkan diri seharian penuh, tapi tidak seekor laron penghisap darah pun ditemukan dan sekarang, baru saja dia merebahkan diri, kawanan laron penghisap darah itu sudah muncul kembali.
Kawanan laron penghisap darah yang mengerikan itu muncul diluar ruangan perpustakaannya, kebasan sayap mereka yang bising kedengaran amat menusuk telinga, apalagi di tengah keheningan malam seperti ini, suara itu menambah seram dan ngerinya suasana.
Mereka seakan terbang datang dan rembulan.
Sinar rembulan yang memancar diatas kertas jendela membiaskan pula bayangan tubuh mereka yang kecil.
Bayangan laron-laron itu beterbangan bagaikan gerombolan setan iblis yang sedang menari, dari jauh semakin mendekat, dari besar menjadi kecil!
Cahaya rembulan sudah dihancurkan oleh tarian bayangan sang laron, kertas jendela pun seakan ikut hancur diterjang oleh tarian binatang binatang itu.
Namun Jui Pakhay masih menahan diri, dia masih berusaha tidak bergerak, tidak melakukan sesuatu tindakan apa pun.
Entah berapa lama sudah lewat, suara kebasan sayap dari kawanan laron penghisap darah itupun berhenti secara mendadak, bukan hanya suaranya hilang lenyap, bayangan tarian mereka pun ikut terhenti, suasana serasa menjadi hening dan sepi.
Beribu ribu ekor bayangan laron seakan seluruhnya mendekam tenang, mendekam tanpa bergerak diatas kertas jendela yang putih memucat itu.
Kertas jendela bukan lantaran kejadian ini lalu berubah jadi suram, jadi gelap, sebaliknya malah tampak lebih hijau bersinar, hijau dari ebongkah batu kemala.
Cahaya rembulan menyinari tubuh laron laron itu, membuat kawanan binatang itu seakan bermandikan cahaya putih.
Paras muka Jui Pakhay yang putih memucat tiba tiba berubah jadi hijau membesi, mendadak badannya melejit ke udara, melompat bangun dari ujung pembaringan.
"Sreeet!"
Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia hinggap didepan jendela, jendela dengan beribu buah bayangan laron.
Dengan mata yang melotot besar diawasinya kawanan laron penghisap darah itu tanpa berkedip, dia akan menunggu sampai kawanan binatang itu benar-benar jadi tenang sebelum mengambil sesuatu tindakan.
Sementara tubuhnya masih melambung, sepasang tangannya sudah siap melancarkan serangan, begitu kakinya hinggap di tanah, sepasang tangannya itu langsung melepaskan sebuah bacokan, menghajar daun jendela itu.
Begitu bacokan sudah dilepas, tangan kanannya berputar pula cepat dan "Criiing!"
Dia sudah meloloskan pedangnya.
Dia sudah bersiap sedia menghadapi serbuan dari kawanan laron itu ketika daun jendela terbentang lebar karena bacokan mautnya tadi.
Siapa tahu sama sekali diluar dugaannya, kawanan laron penghisap darah yang semula menempel penuh diatas kertas jendela, kini sudah hilang lenyap tidak berbekas, lenyap seakan menguap menjadi asap.
Namun dihalaman luar, dibalik kabut tebal yang menyelimuti kegelapan malam, seakan terlihat ada ribuan titik cahaya berkedip mirip api setan sedang bergoyang menarikan tari samba disana, cahayanya berwarna hijau yang menggidikkan hati.
Jui Pakhay tidak melakukan pengejaran, tapi rasa duka, rasa gusar bercampur aduk dalam lubuk hatinya dan tercermin jelas diraut mukanya.
Mendadak dia mengayunkan kepalan tinjunya, menghantam daun jendela dihadapannya kuat-kuat.
"Braaak...!"
Seluruh daun jendela hancur berantakan terhajar pukulan itu, sayang hancurnya jendela tidak menguraikan rasa duka dan gusar yang mengganjal dalam hatinya.
Walaupun dia tidak tahu mengapa kawanan laron penghisap darah yang menampakkan diri secara beruntun selama berapa hari ini tidak melakukan tindakan lebih jauh, walaupun dia tidak tahu apakah hal ini merupakan kebiasaan dari kawanan laron tersebut atau karena takut dan jeri terhadapnya, tapi ada satu hal yang dia ketahui secara pasti, jika keadaan demikian dibiarkan berlangsung terus maka pada akhirnya dia akan menjadi orang gila, orang yang tidak waras otaknya karena gangguan jiwa.
Bila seseorang harus hidup berkepanjangan dalam suasana teror, suasana horor dan suasana ketakutan yang begitu mencekam, lambat laun rasa percaya diri orang tersebut akan luntur dan memudar, kesadaran otaknya juga akan hancur berantakan, pada akhirnya kalau bukan jadi pemurung, tentu menjadi orang yang tidak waras olaknya.
Masih untung hari ini baru bulan tiga tanggal tiga belas, lusa baru bulan tiga tanggal lima belas.
Konon ketika bulan sedang purnama setiap tanggal lima belas, raja laron akan munculkan diri untuk menikmati keindahan alam dan menghisap sari cahaya dari langit.
Ketika raja laron sudah menampakkan diri, maka saat itulah semua masalah, semua persoalan akan berakhir.
Ini berarti dia masih harus hidup selama dua hari lagi dalam suasana penuh teror, penuh horor seperti ini.
Jui Pakhay hanya berharap selama dua hari ini dia masih dapat mempertahankan kejernihan otaknya, dia berharap tidak sampai berubah jadi orang sinting, orang gila yang tidak waras otaknya.
Walaupun disaat berakhirnya semua masalah dan semua persoalan sama artinya saat berakhirnya kehidupan dia, namun paling tidak, saat itu dia sudah tak perlu lagi menghadapi teror dan horor yang menegangkan pikiran seperti saat ini.
Rasa takut karena teror dan horor kadangkala memang jauh lebih menyiksa daripada menghadapi kematian itu sendiri.
--Bulan tiga tanggal empat belas, saat itu matahari sore sudah mulai condong ke langit barat.
Jui Pakhay sedang duduk santai ditengah halaman barat, duduk dibawah cahaya matahari senja yang mulai redup, pada saat itulah seorang pelayannya muncul diiringi Tu Siau-thian.
Dengan dandanan seorang wakil opas Tu Siau-thian munculkan diri disitu, wajahnya nampak letih dan penuh debu.
Begitu melihat kehadiran orang tersebut, dengan penuh kegirangan Jui Pakhay maju menyambut seraya berseru.
"Saudara Tu, kenapa baru muncul sekarang? Kau tahu, aku sudah hampir gila karena menantikan kehadiranmu!"
Dengan penuh tenaga Jui Pakhay menepuk bahu Tu Siauthian, tepukan yang merupakan luapan rasa gembiranya.
Tapi tepukan itu menyebabkan pula debu dan pasir beterbangan ke udara.
Jui Pakhay nampak agak tertegun, sepasang tangannya segera terhenti ditengah jalan.
Buru-buru Tu Siau-thian menyingkir ke samping, lalu sahutnya sambil tertawa tergelak.
"Jika kau tepuk lebih jauh, maka tubuhmu pun akan ikut bermandikan debu dan pasir"
Setelah tertegun sesaat Jui Pakhay baru bertanya.
"Sebenarnya kau datang dari mana? Mengapa seluruh tubuhmu bermandikan pasir dan debu? Memangnya kau menongol dan dalam tanah?"
"Hahaha.... tentu saja aku bukan baru nongol dari dalam tanah, baru saja aku pulang dari menempuh perjalanan jauh, seharian penuh berjalan ditengah pasir yang menderu"
"Oooh... jadi selama sepuluh hari terakhir kau sedang pergi? Ke mana kau pergi selama ini?"
"Ke Hong-yang!"
"Karena urusan dinas?"
Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.
"Sudah kau selesaikan tugas kantormu itu?"
Kembali Jui Pakhay bertanya.
"Yaaa, sudah selesai"
"Lantas kenapa kau masih nampak terburu-buru?"
"Sebab aku terburu-buru kemari karena ingin berjumpa denganmu"
"Oya?"
"Jadi kau anggap aku sudah melupakan sama sekali urusan tentang laron penghisap darah itu?"
"Yaa, kelihatannya aku memang berpendapat begitu"
Jui Pakhay mengangguk membenarkan.
"Ooh, jadi kau anggap aku termasuk manusia yang tidak akan memperdulikan keselamatan jiwa rekan sendiri?"
"Bukan begitu maksudku"
Ujar Jui Pakhay serius.
"tapi kejadian ini memang tidak masuk akal, susah membuat orang lain percaya, sekalipun kau benar-benar tidak memikirkannya dihati, aku juga tidak bakal salahkan dirimu"
"Seandainya secara tidak sengaja aku tidak bertemu dengan dua ekor laron penghisap darah ditepi telaga tempo hari, bahkan secara tanpa sengaja tertusuk oleh salah satu diantaranya, mungkin aku benar benar tidak akan memikirkannya dihati"
"Kau sudah menemukan cara yang paling jitu untuk menghadapi kawanan binatang itu?"
"Belum!"
"Lantas mau apa kau datang kemari mencari aku?"
"Coba lihat kau, kenapa watakmu berubah jadi begini rupa?"
Seru Tu Siau-thian cepat, kemudian setelah memperhatikan sekejap wajah rekannya, dia berkata lebih jauh.
"sekarang, tampaknya kau tetap sehat tanpa kekurangan sesuatu apa pun?"
Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir. Kembali Tu Siau-thian berkata.
"Seandainya apa yang diceritakan orang selama ini benar, Raja laron baru akan muncul pada malam tanggal lima belas dikala bulan sedang purnama, hari ini toh baru tanggal empat belas, maka kepulanganku kali ini masih pada aatnya, aku masih cukup waktu untuk membantumu menghadapi serangan kawanan laron penghisap darah tersebut"
"Haai, walaupun kepulanganmu tepat pada aatnya, tapi aku kuatir kau tidak bisa membantu apa apa kepadaku"
Tu Siau-thian melengak, serunya.
"Kalau didengar dari perkataanmu barusan, seakan dalam sepuluh hari terakhir kau sudah banyak mengalami kejadian yang aneh?"
"Benar, sudah terlalu banyak"
Jui Pakhay mengangguk membenarkan.
"Apakah kawanan laron penghisap darah itu kembali menampakkan diri?"
"Bukan hanya menampakkan diri, bahkan ctiap kali kemunculannya jumlah mereka tambah lama tambah banyak, sewaktu muncul !ugi semalam, aku lihat jumlah mereka sudah mencapai ribuan ekor"
Agak berubah paras muka Tu Siau-thian, tanpa sadar serunya.
"Masa kejadian seperti ini bukan hanya sebuah dongeng belaka?"
"Yaa, tampaknya bukan, semua sudah menjadi sebuah kenyataan, aku telah melihat dan mengalaminya sendiri"
"Mereka terbang, datang dari mana?"
Tiba tiba Tu Siauthian bertanya lagi.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu"
"Apakah mereka menyerangmu?"
Tu Siau-thian bertanya lebih jauh.
"Tidak, mereka hanya menebar teror dan horor, mungkin begitulah kebiasaan mereka, mungkin juga merupakan perintah dari si Raja laron, sebelum tiba tanggal lima belas, sebelum bulan jadi purnama, sebelum raja laron menampakkan diri, mereka dilarang melakukan suatu tindakan apa pun"
"Bagaimana dengan kau sendiri"
Desak Tu Siau-thian.
"Apakah kau tidak melakukan sesuatu tindakan terhadap mereka?"
"Sudah, aku telah melakukan suatu tindakan"
"Tidak mampu mencegah mereka? Tidak mampu menghadapi mereka?"
"Bukan cuma tidak mampu mencegah mereka, pada hakekatnya sama sekali tidak berguna"
"Memangnya mereka tidak takut dengan bacokan golok atau sambaran pedang?"
"Betul, persis seperti kejadian pertama kali dulu"
"Apakah mereka mendadak hilang lenyap bagaikan bayangan setan setiap kali kau siap melakukan sesuatu tindakan?"
Jui Pakhay menghela napas panjang.
"Haai...... pada hakekatnya mereka memang jelmaan dari setan iblis"
Bisiknya. Tu Siau-thian termenung sambil berpikir sejenak, lalu tanyanya.
"Pernah berpikir, sejak kapan kau usik kawanan makhluk itu?"
Tampaknya Jui Pakhay tidak mengira kalau rekannya akan mengajukan pertanyaan seperti itu, untuk sesaat dia terbelalak dengan wajah tertegun. Kembali terdengar Tu Siau-thian berkata.
"Pernah kau berpikir, ada begitu banyak manusia di dunia ini, mengapa mereka justru menjatuhkan pilihannya kepadamu? Jelas mereka pasti mempunyai alasan tertentu, maka aku pikir asal kita memahami alasan mereka, urusan akan lebih gampang untuk diatasi dan diselesaikan"
Jui Pakhay tertawa getir, dia seperti akan mengucapkan sesuatu tapi kemudian niat tersebut diurungkan.
Dengan kepala tertunduk kembali Tu Siau-thian berpikir, dia seakan tidak menaruh perhatian atas perubahan sikap yang ditampilkan Jui Pakhay, tanyanya lebih jauh.
"Kebanyakan mereka muncul di mana?"
"Nyaris tidak pernah sama, setiap kali muncul mereka selalu memilih tempat penampilan yang berbeda"
"Semalam mereka muncul di mana?"
Desak Tu Siau-thian lagi.
"Diluar ruang perpustakaan"
"Beberapa hari berselang, mereka muncul di mana?"
Jui Pakhay segera menutup mulutnya rapat-rapat, dia seperti enggan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Sudah lupa?"
Tanya Tu Siau-thian.
"Memangnya aku mirip seorang pelupa?"
Teriak Jui Pakhay.
"Berarti ada kesulitan bagimu untuk bicara terus terang?"
Sekali lagi Jui Pakhay menutup mulutnya rapat-rapat.
"Bila tidak keberatan, katakanlah terus terang"
Pinta Tu Siau-thian.
"siapa tahu dari keterangan yang kau ungkap nanti aku bisa menemukan titik kelemahan dari laron penghisap darah tersebut dan merancangkan siasat untuk menghadapinya, sebaliknya bila kau enggan mengungkapnya, aku kuatir aku benar-benar tidak akan bisa membantu apaapa lagi"
Sekali lagi Jui Pakhay tertawa getir, katanya.
"Ada sementara persoalan biar sudah kuungkap pun belum tentu kau mau mempercayainya"
"Aaah belum tentu, coba saja kau utarakan"
Tapi Jui Pakhay hanya terbungkam sambil termenung, sampai lama sekali dia belum juga memberikan tanggapan.
Tu Siau-thian tidak merecokinya, dia hanya menunggu disisinya dengan tenang.
Bab 7.
Bianglala melintas dalam keremangan.
Jui Pakhay termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
Melihat sikapnya yang serba ragu, Tu Siau-thian segera menukas.
"Kalau memang kau anggap sulit untuk diutarakan, yaa sudahlah, aku tidak akan memaksamu lebih jauh"
"Ada satu hal aku perlu mengatakannya kepadamu"
Ujar Jui Pakhay sambil tertawa pahit.
"Katakan saja, akan kudengarkan"
"Setiap kali kawanan laron penghisap darah itu menampakkan diri, tidak setiap kali aku sedang berada seorang diri, tapi selain aku, orang lain yang turut hadir ditempat kejadian sama sekali tidak melihat kehadiran mereka, coba kau bayangkan, aneh tidak kejadian ini?"
"Aaah, masa ada kejadian seperti ini?"
"Masa saudara Tu juga tidak percaya dengan penuturanku?"
"Bukan begitu"
Cepat cepat Tu Siau-thian menggeleng.
"tapi jika hal ini merupakan kenyataan, berarti kawanan laron penghisap darah itu memang benar-benar merupakan jelmaan dari setan iblis"
Tiba-tiba ia tertawa getir, setelah termenung sejenak, terusnya.
"Tapi..... apa benar di dunia ini terdapat setan iblis atau siluman? Aku tidak percaya!"
"Aku sendiripun tidak percaya kalau di dunia ini terdapat setan iblis ataupun siluman, tapi.... dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan bagaimana ribuan ekor laron penghisap darah itu munculkan diri secara bersamaan waktu, bahkan selain aku seorang, kenyataannya orang lain tidak ikut melihat, lantas..... bagaimana penjelasannya dengan peristiwa ini?"
Tu Siau-thian tidak mampu memberi penjelasan, tentu saja dia hanya bisa membungkam diri. Kembali Jui Pakhay berkata.
"Kecuali mereka yang hadir bersama aku waktu kejadian, aku pun sudah bertanya kepada seluruh penghuni perkampungan ini, tapi jawaban mereka sama, semuanya bilang tidak tahu, kalau hal tersebut bukan merupakan kenyataan maka satu satunya penjelasan adalah mereka semua sedang berbohong kepadaku!"
"Berapa saat berselang, bukankah kau pernah bilang bahwa seluruh penghuni perkampungan ini amat setia kepadamu?"
"Betul, waktu itu aku memang pernah berkata begitu. Waktu itu aku bisa berkata demikian karena aku selalu melupakan akan satu hal"
"Melupakan apa?"
"Hati manusia memang sukar diduga!"
Sahut Jui Pakhay sambil menghela napas.
"Apakah kau tidak merasa kalau perkataan itu muncul karena luapan emosi?"
Kembali Jui Pakhay menghela napas panjang.
"Andaikata mereka semua benar benar setia kepadaku, tidak membohongiku, urusan ini malah lebih mudah penyelesaiannya"
"Oya?"
"Sebab tinggal tiga kemungkinan yang perlu dibahas, pertama kawanan laron penghisap darah itu memang benarbenar jelmaan dari siluman, karena itu hanya aku sang korban yang bisa melihat kehadirannya"
"Kalau tidak lantas kenapa?"
"Berarti akulah yang sedang berbohong, sengaja mengarang cerita bohong, sengaja menakuti orang dengan cerita horor, atau kalau tidak berarti otakku ada yang kurang beres, segala sesuatu yang kuucapkan hanya muncul dari ilusiku, dari khayalanku saja"
"Waah, bukankah hal ini berarti juga bahwa otak ku pun tidak beres?"
Seru Tu Siau-thian sambil tertawa tergelak.
Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya menghela napas berulang kali.
Perlahan-lahan Tu Siau-thian mengalihkan sinar matanya ke ujung jari sendiri, ujung jari yang terluka karena tusukan laron penghisap darah, mendadak senyumannya hilang lenyap, katanya.
"Belum tentu kawanan makhluk itu merupakan jelmaan dari setan iblis, tapi wujud dan keberadaan mereka itu nyata dan benar benar ada"
Dia memang amat mempercayai pandangan mata sendiri, apalagi saat itu dia sempat menangkap seekor laron penghisap darah dan mencengkeramnya dalam genggaman Bukankah ujung jarinya telah ditusuk oleh laron penghisap darah itu?
Masa kejadian itupun hanya sebuah ilusi?
Sebuah khayalan?
Bila otaknya waras, bila pikirannya tidak sinting, tidak gila, semestinya otak Jui Pakhay pun waras dan tidak ada masalah.
Tapi.......apa yang telah terjadi dalam sepuluh hari itu?
Mengapa Jui Pakhay enggan menceritakannya keluar?
Mengapa dia harus merahasiakan semua pengalamannya?
Tanpa terasa sorot mata Tu Siau-thian beralih kembali ke wajah Jui Pakhay, dia menemukan rekannya sedang berdiri dengan mata mendelong, bukan sedang mengawasinya tapi sedang memandang ke tempat kejauhan sana.
Sebenarnya apa yang sedang dia perhatikan?
Tanpa terasa pandangan mata Tu Siau-thian mengikuti arah mata Jui Pakhay dan ikut berpaling.
Dengan cepat dia pun menyaksikan sepasang laron!
Mata yang merah padam bagai darah dengan sepasang sayap yang hijau bagai pualam.
Laron penghisap darah!
Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian bersin berulang kali, bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Dibawah sinar matahari senja yang berwarna kuning keemas-emasan, sepasang laron penghisap darah itu nampak lebih cantik, lebih menarik dan sangat aneh.
Mereka terbang berpasangan dan menari di antara kelompok bunga-bunga an yang mekar.
Kelopak bunga nampak berguguran, bergetar ditengah hembusan angin senja yang dingin, apakah bunga bunga itu pun berfirasat?
Apakah mereka pun tahu kalau kehadiran sepasang laron penghisap darah itu membawa petaka, membawa bencana besar sehingga mereka ketakutan dan gemetaran?
Ternyata benar juga, bencana memang segera tiba.
"Weeesss....!"
Diiringi desingan angin tajam, mendadak bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya tubuh Jui Pakhay meluncur ke depan, menerjang ke tengah gerombolan bunga itu.
Belum lagi tubuhnya tiba, serangan pedangnya sudah dilancarkan duluan, pedang jit seng coat mia kiam bagaikan titiran air hujan telah berhamburan disekeliling tempat itu.
Seketika itu juga segerombol bunga-bunga hancur dan berguguran terbabat sambaran pedang yang tajam, apakah sepasang laron penghisap darah itupun ikut tercincang dan mati dengan tubuh hancur?
Ketika serangannya berakhir, tubuh Jui Pakhay ikut melayang turun ke bawah, hujan pedang telah merontokan sebagian besar kuncup bunga ditaman itu.
"Criiing....!"
Pedang telah disarungkan kembali, seluruh gerakan tubuh Jui Pakhay ikut berhenti, berdiri mematung ditengah guguran bunga, sepasang matanya terbelalak lebar dan sinar matanya berkilauan.
Hampir pada saat yang bersamaan Tu Siau-thian ikut melayang turun disamping tubuh Jui Pakhay, segera tegurnya.
"Saudara Jui, bagaimana?"
Jui Pakhay mengalihkan sorot matanya menatap tajam wajah Tu Siau-thian, lalu tegurnya.
"Barusan, apakah kau pun ikut melihat ada sepasang laron penghisap darah?"
Tu Siau-thian mengangguk tanpa menjawab.
"Apakah kau sedang membohongi aku? Kembali Jui Pakhay bertanya dengan suara dalam.
"Aku rasa tidak ada alasan untuk membohongi dirimu, apalagi sekarang bukan saat yang tepat untuk bergurau"
Mendadak Jui Pakhay mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring. Gelak tertawa itu kontan membuat Tu Siau-thian tertegun, tidak tahan lagi diapun menegur.
"Hey, apa yang kau tertawakan?"
"Aku benar benar merasa gembira, benar benar merasa riang"
"Oya?"
Sekali lagi Tu Siau-thian tertegun. Sambil tertawa Jui Pakhay berkata lebih jauh.
"Bila sekali lagi hanya aku seorang yang melihatnya, berarti otakku memang benar benar kurang beres, tapi sekarang kau pun ikut melihatnya bahkan melihat untuk kedua kalinya, hal ini membuktikan bahwa laron penghisap darah memang benar-benar nyata, memang ada makhluk semacam ini di dunia kita, aku sendiripun tidak percaya kalau di dunia ini ada kejadian yang kebetulan, otak kita berdua sama-sama sehat, sama sama tidak ada masalah, tidak mungkin bukan secara kebetulan dikala untuk ke dua kalinya kita berada bersama, kita berdua telah sama sama melihat seeekor makhluk yang tidak mungkin ada di dunia ini"
"Yaa, aku pikir otak kita seharusnya memang tidak ada masalah......."
Ujar Tu Siau-thian sambil mengangguk.
"Sewaktu aku melancarkan serangan pedang tadi, apakah kau sempat menyaksikan sepasang laron penghisap darah itu kabur dari balik jaring pedang?"
Tiba-tiba Jui Pakhay menukas.
"Rasanya tidak pernah"
Tu Siau-thian menggeleng.
"Padahal seluruh tubuh mereka sudah terkurung didalam jaring pedang"
Ujar Jui Pakhay dengan gemas.
"tapi begitu aku mulai mempersempit jaring pedang itu, mereka seakan berubah jadi tembus pandang dan lenyap dengan begitu saja bagaikan setan iblis!"
Tu Siau-thian tertawa getir, sorot matanya dialihkan keatas permukaan tanah.
Dia hanya berharap bisa menemukan sebuah saja bangkai laron, sebab hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa laron penghisap darah itu sudah mati karena tusukan pedang tersebut dan apa yang dikatakan Jui Pakhay tidak lebih karena akibat pandangan matanya yang mulai kabur.
Tapi apa yang dia temukan?
Hanya hancuran daun-daunan, juga hancuran bunga yang berserakan dimana mana.
Diantara hancuran daun dan bunga itu tidak ditemukan bangkai laron, jangan lagi tubuhnya, biar selembar sayapnya yang kecil pun tidak ada.
Tu Siau-thian segera mengebaskan ujung bajunya, membuat daun-daunan dan bunga-bungaan itu segera beterbangan ke angkasa, namun bangkai laron yang dicari satupun tidak ditemukan, dibawah tumpukan daun dan bunga ternyata memang tidak ditemukan bangkai makhluk kecil itu.
Lantas ke mana perginya laron penghisap darah itu?
Masa mereka benar-benar dapat lenyap bagaikan setan iblis?
Apa benar mereka memang jelmaan dari setan iblis atau siluman?
Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian menghela napas panjang, begitu juga dengan Jui Pakhay, dia pun menghela napas tiada hentinya.
"Apa yang hendak kau lakukan sekarang?"
Tiba tiba Tu Siau-thian bertanya.
"Menunggu mati!"
Jawaban dari Jui Pakhay ini singkat tapi jelas.
"Apa?"
Tu Siau-thian nampak seperti tertegun.
"besok sudah tanggal lima belas, berarti kau masih mempunyai waktu satu hari"
"Kau anggap waktu yang tinggal satu hari itu sudah lebih dari cukup untuk menemukan suatu cara yang tepat untuk menghadapi serangan itu?"
"Tapi paling tidak kau toh bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi jauh, pergi tinggalkan tempat ini, atau mungkin mencari sebuah tempat yang rahasia dan bersembunyi sementara waktu, muncullah selewatnya tanggal lima belas"
"Kalau aku kabur dari sini, sejak awal aku sudah pergi meninggalkan tempat ini"
"Lalu.... kenapa kau tidak pergi dan sini?"
Tanya Tu Siauthian keheranan.
"Seandainya kawanan laron penghisap darah itu benarbenar jelmaan dari iblis atau setan, biar ke mana pun aku pergi, mereka tetap masih bisa menemukan jejakku"
Sekali lagi Tu Siau-thian berdiri termangu, apa yang dikatakan Jui Pakhay memang sangat masuk di akal.
Menurut cerita orang kuno, setan iblis itu tahu segalanya dan mampu melakukan apa pun, mau kabur dan bersembunyi ke dasar tanah pun tidak ada gunanya, sebab akhirnya akan ditemukan juga.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Tu Siau-thian, buru buru serunya.
"Kau bisa kabur ke biara atau kuil Buddha untuk menghindarkan diri"
"Kau anggap aku tidak pernah berpikir sampai ke situ?"
Jui Pakhay balik bertanya sambil tertawa.
"Menurut apa yang kuketahui, setan iblis pasti akan menghindari tempat tempat suci seperti biara atau kuil Buddha"
"Aku pun tahu kalau diseputar sini banyak terdapat biara atau kuil Buddha"
"Memangnya sudah kau coba cara ini? Sudah tahu dan yakin kalau cara tersebut sama sekali tidak bermanfaat?"
"Aku hanya mengetahui satu hal"
"Apa?"
"Walaupun diseputar tempat ini banyak terdapat biara atau kuil Buddha, namun belum uda sebuah tempat pun yang benar-benar merupakan biara atau kuil Buddha yang sangat tenang, juga tidak seorang pendeta suci pun yang terdapat disini"
Tu Siau-thian tidak mencoba untuk membantah apa yang dikatakan Jui Pakhay, tebagai seorang opas, dia memang cukup tahu keadaan diseputar wilayah itu, tidak ada orang kedua yang lebih jelas ketimbang dirinya.
Apa yang diucapkan Jui Pakhay memang benar dan merupakan satu kenyataan.
Maka setelah menghela napas panjang, ujarnya.
"Yaaa, kalau mau bicara jujur, berapa banyak biara dan kuil suci yang terdapat didunia ini? Berapa banyak pendeta suci yang menghuni di sekeliling kita?"
"Apalagi semakin tinggi ajaran To, semakin tinggi pula pengaruh sesat"
Sambung Jui Pakhay cepat.
"sekalipun aku benar benar bersembunyi didalam biara suci, biarpun ada seorang pendeta suci yang mendampingiku, apakah kesemuanya ini menjamin kalau si Raja laron tidak akan munculkan diri?"
"Maka kau lebih suka menunggu kemunculan si Raja laron disini?"
"Betul, terus terang, aku sendiripun ingin sekali bertemu dengannya!"
Kata Jui Pakhay sambil manggut-manggut.
"Oya?"
"Lebih baik lagi bila tiba pada saatnya nanti dia bisa muncul dengan wujud sebagai manusia, dapat berbicara seperti manusia dan memberi kesempatan pula kepadaku untuk berbicara dan mengeluarkan seluruh isi hatiku"
"Kau ingin bertanya kepadanya, mengapa kau yang dipilih sebagai korbannya?"
Sekali lagi Jui Pakhay tertawa sedih.
"Asal dia bersedia memberikan sedikit keterangan kepadaku, aku pun rela mempersembahkan darahku kepadanya, mempersembahkan dengan ikhlas"
Tu Siau-thian tidak bicara lagi, dia tertunduk dengan mulut membungkam.
"Aku hanya menuntut sebuah penjelasan"
Sambung Jui Pakhay lagi perlahan.
"Yaa, aku sendiripun berharap bisa mendengar sebuah penjelasan"
Tanpa terasa Tu Siau-thian menambahkan.
"Kalau itu agak sulit, sebab disaat aku memahami semua duduknya persoalan, saat itulah ajalku akan tiba, orang mati kan tidak bisa menyampaikan kabar apa apa"
"Besok malam aku akan mendampingimu setiap saat setiap detik, asal kau diberi penjelasan maka aku pun pasti akan mendengarnya juga"
Ujar Tu Siau-thian sambil tertawa.
"Jangan, jangan sekali kali kau berbuat begitu!"
Cegah Jui Pakhay.
"Kenapa?"
"Sebab kau adalah sahabatku, kau tidak seharusnya mempertaruhkan nyawamu demi seorang teman macam aku"
"Semakin kau berkata begitu, aku semakin harus menyerempet bahaya ini"
Jui Pakhay tidak berbicara lagi, dia hanya mengawasi rekannya dengan mata melotot. Terdengar Tu Siau-thian berkata lebih jauh.
"Bila kau sudah anggap aku sebagai sahabatmu, kenapa aku tidak boleh memandang kau sebagai temanku? Ketika melihat teman sedang menghadapi kesulitan, masa aku harus berpeluk tangan belaka?"
"Tahukah kau, siapa pun itu orangnya, bila dia berada bersama aku besok malam, besar kemungkinan dia pun akan dijadikan target sasaran dan kawanan laron penghisap darah itu?"
Tu Siau-thian mengangguk.
"Tahukah kau, bila apa yang dikatakan orang benar, kemungkinan besar kawanan laron itu akan menghisap darah dalam tubuhmu hingga mengering?"
Kembali Jui Pakhay berkata. Untuk kedua kalinya Tu Siau-thian mengangguk.
"Kalau sudah tahu begitu, kau masih tetap bersikeras akan menyerempet bahaya?"
Sambung Jui Pakhay. Sekali lagi Tu Siau-thian mengangguk. Mendadak Jui Pakhay menepuk bahu Tu Siau-thian keras keras, serunya sambil tertawa tergelak.
"Hahaha.... sahabat karib, sahabat karib!"
"Jadi kau sudah mengijinkan aku untuk mendampingimu besok malam?"
Tanya Tu Siau-thian.
"Tidak, aku masih tetap menolak!"
Tiba tiba Jui Pakhay menghentikan gelak tertawanya, kemudian setelah menatap wajah Tu Siau-thian sesaat, terusnya.
"bila kuijinkan kau mendampingiku, berarti aku lah yang tidak setiakawan"
Sambil menggeleng berulang kali, Tu Siau-thian menghela napas panjang.
"Aaai.... kau terlalu kolot, terlalu kaku dan keras kepala"
"Betul, memang begitu watakku sejak lahir"
"Tapi sampai waktunya aku tetap akan datang, kau toh tidak mungkin bisa mengusirku"
Tiba tiba Tu Siau-thian tertawa.
"Karena kau adalah seorang opas?"
"Benar, aku bertanggung jawab untuk menghentikan setiap pembunuhan yang bakal terjadi diwilayahku"
"Tapi berbicara dari kedudukanku dalam masyarakat, masa dikala aku sedang tidur pun kau bisa masuk ke kamarku seenaknya?"
"Baiklah, kalau begitu besok malam aku akan berjaga-jaga diluar kamarmu saja"
Kata Tu Siau-thian sambil tertawa "Apakah ada sesuatu yang bisa mengubah rencanamu itu?"
"Tidak ada"
Dengan perasaan apa boleh buat Jui Pakhay menghela napas panjang, ujarnya kemudian.
"Asalkan kau tidak menyerbu masuk ke dalam kamarku ketika gerombolan laron itu muncul, semestinya diluar pintu merupakan sebuah tempat yang sangat aman"
Tu Siau-thian segera tertawa tergelak. Terdengar Jui Pakhay berkata lebih jauh.
"Aku tahu, kau tidak bakal memiliki kesabaran seperti itu, jangan lagi gerombolan laron itu sudah menampakkan diri, asal di dalam kamarku terdapat sedikit gerakan pun mungkin kau sudah menyerbu masuk ke dalam"
"Hey, sejak kapan kau tahu dengan begitu jelas tentang watakku?"
Jui Pakhay tidak menanggapi pertanyaan itu, dia hanya bertanya.
"Besok, jam berapa kau akan datang kemari?"
"Semakin awal tentu saja semakin baik"
"Besok, seharian penuh aku akan tetap berdiam di dalam perpustakaan ku"
"Ehmmm, memang tidak salah pilih, pemandangan diluar perpustakaanmu memang cukup indah"
"Memang indah, mungkin pemandangan dikala malam bulan purnama jauh lebih indah lagi, hanya sayang hawa pasti dingin dan angin pasti bertambah kencang"
"Kalau udara terlalu dingin, aku bisa mengenakan pakaian lebih"
"Haai, tidak kusangka kau lebih keras kepala ketimbang aku"
Keluh Jui Pakhay sambil gelengkan kepalanya berulang kali. Tu Siau-thian hanya tertawa saja, kemudian dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya.
"Aku masih bermandikan debu dan berwajah letih, kenapa kau tidak memberikan pernyataan apa pun?"
"Semestinya aku harus menjamu kedatanganmu dari tempat yang jauh, hanya sayang perasaan hatiku saat ini sedang kurang baik sehingga aku merasa segan untuk melakukan sesuatu apa pun"
"Kalau begitu aku mesti mohon diri lebih dulu?"
Jui Pakhay sama sekali tidak berminat untuk menahannya lebih jauh, dengan menunjukkan perasaan menyesal katanya.
"Bila aku masih tetap hidup selepasnya besok malam, aku pasti akan menjamumu besar besaran dan mengajakmu mabuk selama tiga hari tiga malam"
"Sampai waktunya, jangan lupa kau keluarkan semua arak simpananmu!"
"Asal kita dapatkan kesempatan seperti ini, kau anggap aku merasa sayang untuk mengeluarkan barang barang simpananku?"
Sahut Jui Pakhay sambil tertawa pedih. Menyaksikan mimik wajah rekannya yang begitu mengenaskan, tentu saja Tu Siau-thian tidak bisa bicara apa apa lagi, katanya kemudian sambil menghela napas.
"Padahal kau tidak perlu begitu kuatir....."
"Aaai.....apa mungkin aku tidak kuatir?"
Tu Siau-thian tidak bicara lagi, diapun segera berpamitan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Jui Pakhay benar benar tidak menghantar kepergjan rekannya, bahkan dia hanya berdiri mematung ditempat, bergerak sedikitpun tidak.
Matahari senja sudah condong diluar jendela kecil, menyinari tanah lapang diluar dinding pekarangan.
Walaupun malam belum menjelang, namun cuaca lambat laun bertambah gelap dan suram, angin malam yang dingin pun mulai berhembus kencang.
Segulung angin berhembus lewat menyibak mantel panjang yang dikenakan Jui Pakhay, menyibak pula tumpukan daundaunan yang berada disisi kakinya.
Diatas daun terdapat bercak darah, darah itu darah kental, walaupun hanya setetes namun memancarkan sinar yang menyilaukan.
Ketika cahaya darah siluman itu berkelebat lewat kemudian lenyap, daun itu kembali berbalik dan jatuh kembali ke tempat semula.
Jui Pakhay membalikkan badan, sorot matanya mengawasi bayangan tubuh Tu Siau thian yang lenyap di balik pintu didepan situ, ketika kakinya bergeser itulah cahaya darah kembali menampakkan diri.
Bercak darah yang terlihat kali ini bukan berada diatas daun-daunan, juga bukan hanya setitik saja.
Segumpal bercak darah membasahi permukaan lantai, darah itu kental dan bersinar aneh, sebenarnya darah apa itu?
Darah muncul dari bawah kaki Jui Pakhay, mungkinkah darah tersebut adalah darah yang meleleh dari tubuhnya?
Kalau benar darahnya, mengapa dia berdarah?
Darah itu kental bagaikan cairan lem yang telah menggumpal, lamat-lamat terendus pula bau amis yang aneh, bau yang sukar dilukiskan dengan kata, cahaya darah yang aneh membuat suasana disekeliling tempat itu terasa seakan menyeramkan.
Mimik muka Jui Pakhay tiba-tiba mengalami perubahan, raut wajahnya seakan ikut berubah jadi aneh karena pengaruh suasana itu.
--Bulan tiga tanggal lima belas, hujan rintik-rintik membasahi bumi disaat senja menjelang datang, ketika malam semakin mencekam jagad, hujan rintik itu seakan buyar terhembus angin malam yang kencang.
Perlahan lahan rembulan mulai muncul dari balik awan gelap, sinar yang redup mulai merambah seluruh jagad.
Tanggal lima belas saat bulan purnama, rembulan nampak bulat bagai cermin.
"Aneh...."
Mendadak Tu Siau-thian seperti menemukan sesuatu.
"kenapa seawal ini rembulan sudah menampakkan diri?"
Tidak kuasa dia merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri hingga bersin berulang kali.
Rembulan yang berada diangkasa seakan mendatangkan hawa dingin yang membekukan tubuh, mendatangkan perasaan dingin, aneh, seram bagi siapa pun yang melihatnya.
Sekarang dia sedang berada di dalam perpustakaan Ki po cay.
Karena sejak awal Jui Pakhay sudah meninggalkan pesan, maka begitu Tu Siau-thian muncul disitu, pelayan segera menghantarnya ke ruang perpustakaan dan meninggalkannya di depan ruangan itu.
Memang inilah kehendak Tu Siau-thian sendiri, dia ingin berjaga jaga didepan gedung.
Pelayan itu segera pergi meninggalkan tamunya seorang diri, karena Jui Pakhay telah berpesan pula, bila Tu Siau-thian sudah tiba disana, maka siapa pun dilarang mendekati lagi ruang perpustakaan itu.
Dia memang sengaja berbuat demikian agar tidak menyeret orang lain ke dalam kancah kekalutan ini.
Tu Siau-thian cukup memahami maksud dan niat rekannya itu, maka dia bukan datang seorang diri, dia muncul didampingi dua orang rekan opas lainnya, Tan Piau dan Yau Kun.
Kedua orang ini merupakan opas opas andalannya, anak buah yang sangat dipercaya olehnya, mereka miliki kepandaian silat yang cukup tangguh.
Pintu ruang perpustakaan berada dalam keadaan tertutup rapat, biarpun cahaya lentera telah menerangi ruangan itu, namun tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun berada disitu.
Pelan pelan Tu Siau-thian mengalihkan sorot matanya keatas pintu, dia sedang mempertimbangkan haruskah mengetuk pintu ruang perpustakaan atau tidak, dia pingin menyapa Jui Pakhay rekannya itu sekalian memeriksa bagaimana kondisi dalam ruangan itu sekarang.
Belum lagi dia melakukan sesuatu, mendadak pintu ruangan dibuka orang.
Sambil memegangi pintu ruangan dengan kedua tangannya, Jui Pakhay melongok keluar dari balik ruangan, namun dia tidak bertindak keluar dari situ.
Maka sorot mata Tu Siau-thian pun beralih keatas wajah rekannya, tapi dengan cepat dia merinding sambil bersin berulang kali.
Baru berpisah satu hari, raut muka Jui Pakhay telah berubah hebat, kini air mukanya tampak putih memucat, bahkan pucat kehijauan persis seperti wajah sesosok mayat, ketika tertimpa sinar rembulan yang redup, membuat raut muka itu tampil menyeramkan, persis seperti wajah siluman.
Tampaknya sebelum membukakan pintu dia sudah tahu akan kehadiran Tu Siau-thian, tapi diapun seakan baru sekarang tahu akan kehadiran rekannya, suara maupun mimik mukanya nampak dingin, kaku dan sangat aneh.
"Apa yang telah terjadi?"
Buru-buru Tu Siau-thian bertanya.
"Apa yang terjadi?"
Jui Pakhay nampak agak melengak.
"tidak ada kejadian apa apa disini, kenapa kau mengajukan pertanyaan yang aneh?"
"Masa kau tidak merasa kalau wajahmu nampak jelek sekali?"
Jui Pakhay tertawa getir.
"Kalau orang tidak bisa tidur barang sekejap pun sepanjang malam, seharian penuh mesti bersiap dalam suasana tegang dan panik, apakah tampangnya masih bisa tampil bagus dan enak dipandang?"
"Apa yang kau sibukkan seharian ini?"
"Mencatat semua peristiwa yang telah kualami selama belasan hari ini dalam sebuah kitab catatan......."
"Boleh aku melihatnya?"
"Boleh sih boleh, tapi bukan sekarang"
"Kalau bukan sekarang, aku harus menunggu sampai kapan?"
Desak Tu Siau-thian lebih jauh.
"Tunggu setelah aku mati"
Tu Siau-thian tertegun, berapa saat lamanya dia hanya bisa berdiri mematung tanpa mengucapkan sepat ah kata pun. Dengan sedih Jui Pakhay berkata lebih jauh.
"Seandainya aku tidak jadi mati, maka akan kuusut peristiwa ini hingga tuntas dan melakukan penyelesaian sesuai dengan caraku sendiri"
"Bagaimana kalau kau keburu mati duluan?"
Seru Tu Siauthian tanpa sadar.
"Cepat atau lambat kau pasti akan menemukan kitab catatanku itu, dengan membaca seluruh rangkaian peristiwa yang kucatat dalam kitab itu, kau bakal paham sendiri hal ikhwal terjadinya peristiwa ini dan tidak sulit untuk menemukan latar belakang yang sebenarnya atas kematianku itu"
Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Kenapa tidak kau tunjukkan kepadaku sekarang saja? Siapa tahu aku akan menemukan cara penanggulangan yang belum terpikirkan sebelumnya, siapa tahu dengan cara tersebut nyawamu masih bisa diselamatkan?"
Jui Pakhay menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya.
"Kitab catatan tersebut hanya boleh dibaca setelah aku mati"
"Buat apa sih kau gunakan nyawa sendiri sebagai taruhan untuk membuktikan kebenaran dari semua peristiwa ini?"
Seru Tu Siau-thian dengan mata terbelalak.
"Sebab hanya cara inilah merupakan satu satunya cara yang terbaik"
"Jadi kau sudah bosan hidup?"
"Siapa yang tidak bosan hidup bila tiap saat tiap detik harus hidup dalam suasana horor dan penuh teror?"
Tu Siau-thian memperhatikan rekannya sekejap, mengawasi dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya, kemudian bergumam.
"Aku lihat kau sudah mirip dengan orang gila........"
"Aku justru berharap diriku benar-benar bisa berubah menjadi orang gila!"
Sesudah tertawa getir, lanjutnya.
"Kalau aku berubah menjadi orang gila maka aku tidak perlu menguatirkan persoalan apa pun, juga tidak perlu tersiksa oleh perasaan apa pun, aku tak usah takut, tak perlu kuatir, tak usah tegang dan ketakutan, tak usah marah atau sedih......."
Sekali lagi Tu Siau-thian tertegun. BAB Bayangan Laron Berlapis-lapis Dari dalam sakunya Jui Pakhay mengeluarkan sepucuk surat, sambil disodorkan ke depan, ujarnya.
"Aku sempat menulis sepucuk surat ini."
"Surat? Apa yang akan kau perbuat dengan surat ini?"
"Untuk kuserahkan kepadamu."
"Buat aku?"
Tu Siau-thian tercengang.
"Bukan, surat itu bukan untukmu,"
Jui Pakhay menggeleng.
"Lantas, kenapa kau serahkan kepadaku?"
"Karena aku sudah tidak punya kesempatan untuk keluar lagi dari tempat ini, sedang sekelilingku juga tidak ada seorangpun orang yang bisa kupercaya, maka dari itu terpaksa kugunakan kesempatan ini untuk menyerahkannya kepadamu, tolong bantu aku untuk sampaikan surat tersebut kepada alamat yang kumaksud."
"Aku harus menghantar surat ini kemana?"
"Ke kantor polisi."
"Serahkan kepada siapa?"
"Kepada penguasa setempat, Ko Thian-liok!"
Tampaknya Tu Siau-thian sangat tercengang dengan sikap rekannya itu, buru buru dia bertanya lagi.
"Sebenarnya apa isi surat ini?"
"Sebetulnya bukan sebuah surat, lebih tepatnya sebuah surat wasiat."
"Surat wasiat?"
"Aku minta tuan Ko untuk mengaturkan semua harta warisanku sepeninggalku nanti."
"Ooh...."
"Tentu saja bila aku masih bisa hidup sampai esok pagi, surat tersebut tidak perlu kau sampaikan lagi, segera kembalikan kepadaku,"
Jui Pakhay menambahkan sambil tertawa paksa.
"Maksudmu, untuk sementara waktu kau minta aku untuk menyimpankan surat wasiat ini?"
"Benar."
Tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa tergelak.
"Hahaha... aku kuatir sepeninggal gerombola laron penghisap darah itu, aku sendiripun telah berubah jadi sesosok mayat kering, kalau sampai begitu, tentu saja aku tidak bisa sampaikan suratmu itu kepada yang bersangkutan."
"Kalaupun kau telah berubah jadi sesosok mayat mengering, toh masih ada dua orang anak buahmu."
"Siapa tahu mereka akan senasib pula dengan diriku?"
Ucap Tu Siau-thian sambil berpaling sekejap memandang ke dua orang anak buahnya.
"Oooh, tidak kusangka hatimu begitu mulia...."
Tu Siau-thian menghela napas panjang, ujarnya.
"Kalau sampai kau dengan andalanmu jit-seng-toh-hun, Itkiam-coat-mia tujuh bintang pencabut nyawa, pedang sakti perenggut sukma pun masih tidak yakin bisa hidup, bagaimana mungkin sepasang tombak pendeknya ditambah ruyung bajanya mampu menandingi kehebatan pedang tujuh bintang pencabut nyawamu?"
"Belum tentu gerombolan laron penghisap darah itu akan menyerang kalian, seandainya kalian pun tertimpa musibah hingga mati semua, aku yakin surat tersebut pun akan turut musnah, jadi tidak perlu dipermasalahkan."
Tu Siau-thian tidak mengerti, dia mengawasi rekannya dengan termangu. Buru-buru Jui Pakhay menjelaskan.
"Sebab selain surat itu, aku masih mempersiapkan lagi sepucuk surat dengan isi yang sama sekali berbeda, surat itu kutaruh menjadi satu dengan kitab catatanku itu, bila kita semua harus mati bersama, tiga hari kemudian pun surat tersebut tetap akan sampai ke tangan pejabat Ko."
Tu Siau-thian semakin tidak mengerti, dia semakin tertegun. Terdengar Jui Pakhay berkata lagi.
"Tiga hari lagi seorang sahabatku akan tiba di sini, dalam keadaan apa pun dia pasti akan muncul di tempat ini, dengan kecerdasan otaknya, aku yakin dia pasti akan menemukan kitab catatan beserta surat wasiatku itu, di atas surat sudah kucantumkan nama si penerimanya dengan jelas, aku percaya dia akan membantu aku untuk menyampaikannya."
"Tampaknya kau termasuk orang yang sangat berhati-hati."
"Kalau seseorang sudah berada dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin dia tidak berhati-hati?"
"Boleh aku tahu, siapa sih temanmu itu?"
Tiba-tiba Tu Siauthian bertanya.
"Siang Hu-hoa!"
"Apa? Siang Hu-hoa?"
Begitu nama tersebut disebut, paras muka Tu Siau-thian, Tan Piau maupun Yau Kun segera berubah hebat.
"Memangnya kalian belum pernah mendengar nama sahabatku itu?"
Tanya Jui Pakhay sambil melirik ke tiga orang itu sekejap.
"Aku rasa tidak banyak lagi jago dalam persilatan yang tidak pernah mendengar nama dari sahabatmu itu."
"Betul,"
Jui Pakhay mengangguk berulang kali.
"nama besarnya memang cukup tersohor di dalam dunia persilatan, aku lihat di antara jagoan pedang yang ada di dunia saat ini, mungkin dialah jagoan nomor wahid."
Kelihatannya Tu Siau-thian sependapat dengan ucapan rekannya, katanya.
"Walaupun aku belum pernah berjumpa dengan orang ini, pun belum pernah melihat ilmu pedangnya, tapi di dalam dunia persilatan saat ini rasanya memang belum ditemukan orang ke dua yang sanggup menandingi kehebatannya."
"Kalian pasti tidak menyangka bukan kalau aku mempunyai seorang sahabat yang hebat macam dia?"
"Aku sudah kenal denganmu bertahun-tahun lamanya, tapi baru pertama kali ini kudengar cerita tersebut."
Jui Pakhay tidak bicara lagi, dia termenung dan terbungkam mulutnya. Kelihatannya Tu Siau-thian tidak merasakan perubahan aneh di wajah rekannya itu, kembali ujarnya.
"Menurut apa yang kudengar, konon sahabatmu itu tinggal di perkampungan selaksa bunga Ban-hoa-sanceng?"
Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya mengangguk.
"Aku rasa selisih jarak dari perkampungan Ban-hoa sanceng sampai di sini tidaklah terlampau jauh,"
Kembali Tu Siau-thian berkata.
"Dengan menunggang kuda tercepat pun butuh enam hari untuk sampai di sini."
"Apakah kau tidak berusaha menghubunginya sejak awal?"
"Tanggal tujuh aku baru mengutus Jui Gi untuk membawa suratku berangkat ke perkampungan Ban-hoa sanceng."
"Jui Gi?"
"Mestinya kau tidak asing dengan orang ini!"
"Yaa, rasanya aku ingat kalau ada manusia seperti ini."
"Keluarganya turun temurun selalu bekerja melayani keluarga Jui, aku percaya seratus persen dengan orang ini, karenanya dialah yang kuutus untuk pergi menjumpai Siang Hu-hoa."
"Seharusnya kau utus dia lebih awal lagi, mungkin saat ini dia sudah tiba di sini."
"Kalau bukan betul-betul terpaksa, semestinya aku tidak ingin pergi mencarinya...."
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.
"Sebab... sebetulnya kami sudah tidak bersahabat lagi"
"Oya?"
Jui Pakhay tidak menjelaskan lebih jauh, dia alihkan sorot matanya ke atas surat itu dan katanya.
"Surat ini sudah disegel dengan lak merah dan bukan kali pertama kukirim surat semacam ini kepada ko thayjin, biarpun belum tentu dia mengenali gaya tulisanku, tapi bila disejajarkan dengan surat yang lama, bentuk maupun modelnya persis sama."
"Kau kuatir ada orang mengganti atau merubah isi surat wasiatmu itu?"
Tegur Tu Siau-thian sambil tertawa.
"Yaa benar, aku memang menguatirkan hal ini, itulah sebabnya di atas segel tersebut sengaja kuberikan cap pribadiku sebanyak dua kali."
Kemudian setelah tertawa paksa, lanjutnya.
"Surat wasiat yang telah dirancang macam begini, tentunya tidak bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bukan?"
Tu Siau-thian tidak langsung menjawab, ujarnya setelah menghela napas.
"Kalau dibilang otakmu sudah tidak waras, kau sudah jadi orang gila, kenapa jalan pemikiranmu masih begitu teliti dan cermat?"
Jui Pakhay ikut menghela napas panjang, tapi dia tidak berkata apa-apa, suratnya segera dilontarkan ke depan.
Ketika Tu Siau-thian menerima surat tersebut, dengan cepat dia menutup kembali pintu ruangannya, oleh sebab itu dia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Serta-merta sorot matanya dialihkan ke atas surat itu, diperiksanya sekejap dari depan ke belakang, dari atas hingga ke bawah, memang surat itu merupakan sepucuk surat yang sangat rapat dan tertutup.
Dengan sangat hati-hati Tu Siau-thian menyimpan surat itu ke dalam sakunya, lalu setelah mengerling sekejap ke arah dua orang pembantunya, dia berkata lagi.
"Di sebelah sana terdapat gardu, mari kita berjaga-jaga di dalam gardu itu saja."
Waktu itu sisa cahaya senja sama sekali sudah lenyap dari pandangan, rembulan yang bulat di ujung langit sana nampak masih bening bagaikan air.
??> Bangunan gardu itu berada di tengah pepohonan dan bebungaan, namun daun-daunan dan pohon-pohonan tersebut sama sekali tidak menutupi pandangan orang ke empat penjuru, tidak terlampau sulit untuk melihat keadaan ruang perpustakaan dari situ, sebaliknya dari ruang perpustakaan pun tidak sulit untuk memandang ke arah gardu.
Di tengah gardu itu terdapat sebuah meja yang terbuat dari batu dan beberapa buah bangku dari batu pula.
Tu Siau-thian segera memilih sebuah bangku yang persis menghadap ke arah ruang perpustakaan dan duduk, perasaan hatinya mulai tegang bercampur sedikit panik.
Tan Piau dan Yau Kun duduk di sisi kiri kanannya.
"Komandan,"
Ujar Yau Kun kemudian.
"kalau didengar dari nada pembicaraan orang she-Jui itu, tampaknya di sini benarbenar terdapat makhluk yang disebut laron penghisap darah itu?"
"Dalam kenyataan memang ada!"
"Apakah komandan juga telah menjumpai sendiri makhluk itu?"
"Betul, sudah bertemu sebanyak dua kali"
Tu Siau-thian mengangguk.
"Benarkah makhluk itu adalah laron yang bisa menghisap darah?"
Desak Yau Kun lebih jauh. Sekali lagi Tu Siau-thian mengangguk. Berubah paras muka Yau Kun, serunya.
"Kalau dilihat jawaban komandan yang begitu meyakinkan, apakah kau pernah juga dihisap darahnya oleh makhluk itu?"
Untuk kesekian kalinya Tu Siau-thian mengangguk.
"Waktu itu yang muncul hanya seekor, baru saja laron penghisap darah itu mulai menghisap darahku, segera kukebaskan tanganku hingga terlepas gigitannya."
Kali ini paras muka Yau Kun benar-benar berubah hebat, seketika dia terbungkam. Tan Piau yang berada di sisinya tidak tahan untuk ikut menimbrung, tanyanya.
"Bagaimana sih ceritanya hingga orang she-Jui itu direcoki makhluk tersebut?"
"Aku sendiripun kurang begitu jelas."
"Dia sendiri juga tidak tahu?"
"Bila kudengar dari logat bicaranya, jelas dia tahu secara pasti, Cuma dia enggan untuk mengatakannya, seakan ada kesulitan yang sukar diterangkan."
Setelah berhenti sejenak, tambahnya.
"Cuma, sekalipun dia enggan berbicara pun tidak jadi masalah, sebab pada malam nanti, besar kemungkinan kita akan peroleh sebuah jawaban yang jelas."
"Tampaknya malam sudah menjelang tiba...."
Tu Siau-thian mengalihkan pandangan matanya ke luar gardu, benar saja, kegelapan malam mulai menyelimuti seluruh jagad.
Halaman mulai terselubung dalam kegelapan, hanya sedikit cahaya remang terlihat memancar keluar dari balik ruang perpustakaan.
Lambat laun Tu Siau-thian bertiga pun terkepung di balik kegelapan, dalam suasana seperti ini mereka bertiga tidak banyak bicara lagi.
??> Malam semakin larut, bulan yang purnama pun lambat laun semakin bergeser ke tengah angkasa.
Cahaya lentera yang menyorot keluar dari balik jendela ruang perpustakaan makin bertambah terang-benderang, seluruh daun jendela seakan berubah jadi memutih karena bermandikan sinar.
Bayangan tubuh Jui Pakhay kelihatan lamat-lamat, ada kalanya dia nampak berdiri, ada kalanya berjalan kian kemari, ada kalanya berputar-putar saja dalam ruangan seperti semut yang kepanasan di atas kuali.
Biarpun tidak terdengar suara apa pun, walau hanya bayangan tubuh Jui Pakhay yang nampak, namun Tu Siauthian bertiga dapat ikut merasaan ketidaktenangan, kepanikan serta ketidaksabaran orang itu.
Tanpa sadar mereka bertiga pun ikut panik, ikut tidak tenang, tidak sabar, sampai kapan kawanan laron penghisap darah itu baru akan munculkan diri?
??> Malam bertambah larut, rembulan semakin tinggi menerawang, juga nampak semakin bulat.
Sinar rembulan yang dingin menyinari seluruh permukaan bumi, kabut tipis mulai membungkus seluruh halaman.
Entah darimana datangnya kabut itu, tidak tahu pula sejak kapan kemunculannya, di bawah cahaya rembulan lapisan kabut tipis itu seakan menyebarkan hawa dingin yang menggidikkan hati.
Tu Siau-thian bertiga seolah sudah kaku karena kedinginan, mereka sama sekali tak bergerak, cahaya rembulan yang ikut membeku seolah tak pernah bergeser pula dari jendela ruang perpustakaan.
Kini cahaya lentera yang muncul dari balik jendela nampak semakin terang, seluruh permukaan jendela seolah telah berubah jadi putih bersih karena lapisan salju.
Bayangan tubuh Jui Pakhay masih tertera pula dari balik jendela, sesosok bayangan tubuh yang sama sekali tak bergerak.
Bila ditinjau dari bayangan yang memantul, tampaknya Jui Pakhay sedang duduk di sisi lentera, betapa panik dan gelisahnya seseorang ada saatnya juga untuk bersikap tenang.
Kentongan pertama, kentongan ke dua, kentongan ke tiga....
Kini rembulan sudah berada tepat di atas angkasa, bening bulat bagaikan sebuah cermin, sebuah bulan purnama yang amat sempurna.
Suara kentongan sekali lagi berkumandang, tiba-tiba...
rembulan itu seakan retak dan mulai merekah....
Selapis awan yang berbentuk sangat aneh tiba-tiba melayang datang, seakan ada sebuah tangan iblis yang muncul entah dari mana dan secara tiba-tiba menerkam sang rembulan dan mencabik-cabiknya.
Awan itu berwarna merah pekat, merah bagaikan genangan darah segar.
Kini sang rembulan seakan sudah tercebur ke dalam sebuah bak berisi darah, rembulan yang merah darah....
Saat itu Tu Siau-thian kebetulan sedang menengok ke angkasa, sebenarnya dia ingin menikmati indahnya bulan purnama, namun yang terlihat olehnya adalah bulan purnama yang berwarna merah, merah darah kental.
Perasaan bergidik segera mencekam seluruh hatinya, sungguh aneh, mengapa awan dan rembulan yang muncul pada malam ini tampak begitu aneh?
Kini cahaya rembulan sudah sama sekali lenyap di balik awan berwarna merah darah itu.
Dan pada saat itu pula bayangan tubuh Jui Pakhay yang berada di tepi jendela mulai menunjukkan sebuah reaksi yang luar biasa.
Diikuti kemudian sebuah jeritan ketakutan yang sangat menggidikkan hati.
"Laron penghisap darah!"
Suara jeritan dari Jui Pakhay, akhirnya laron penghisap darah itu muncul juga! Sorot mata Tu Siau-thian segera dialihkan kembali ke arah ruang perpustakaan diikuti "Criiing!"
Terdengar suara pedang yang diloloskan dari sarungnya berkumandang memecahkan keheningan.
Semua suara itu jelas muncul dari balik ruangan, sedemikian nyaringnya suara itu sehingga Tu Siau-thian bertiga yang berada di dalam gardu pun dapat mendengar dengan jelas sekali.
Malam itu memang malam yang kelewat sepi.
Bayangan pedang, bayangan manusia melejit hampir pada saat yang bersamaan, tiba-tiba seluruh cahaya lentera di dalam ruang perpustakaan itu padam.
Seketika itu juga kegelapan yang luar biasa mencekam seluruh bangunan perpustakaan itu.
Tu Siau-thian tidak berayal lagi, segera bentaknya.
"Cepat!"
Golok telah diloloskan dari sarungnya, hampir pada saat yang bersamaan dia sudah melayang keluar dari gardu itu, langsung menerjang ke arah ruang perpustakaan.
Reaksi dari Tan Piau dan Yau Kun cukup cepat juga, Yau Kun segera membalikkan kedua lengannya meloloskan sepasang tombak yang tersoren di punggungnya.
"Criiiing!"
Tan Piau juga telah meloloskan senjata ruyung bajanya yang selama ini melilit di pinggangnya, hampir pada waktu yang bersamaan ke dua orang itu sudah menerjang keluar dari gardu dan mengikuti di belakang komandannya.
Dalam satu kali lompatan Tu Siau-thian sudah melayang turun tepat di depan pintu ruang perpustakaan, segera teriaknya keras.
"Saudara Jui!"
Tiada jawaban, suasana dalam ruang perpustakaan sangat hening, amat sepi, keheningan yang amat menakutkan! "Bagaimana komandan?"
Bisik Yau Kun kemudian ketika tiada reaksi dari dalam ruangan itu.
"Kita dobrak!"
Perintah Tu Siau-thian. Begitu selesai bicara, kaki kanannya langsung melayang ke depan dan "Duuuk!"
Menghajar di atas pintu ruangan.
"Braaak!"
Pintu ruangan segera jebol terhajar tendangan dahsyat itu.
Sambil memutar goloknya membentuk selapis cahaya perlindungan yang membungkus seluruh tubuhnya, Tu Siauthian siap menerjang masuk ke dalam.
Kini pintu ruangan sudah terbuka, seandainya gerombolan laron penghisap darah itu menerjang keluar dari balik ruangan maka lapisan cahaya golok itu dapat dipakai untuk sementara waktu memblokir serbuannya.
Di luar dugaan tidak ada laron penghisap darah yang muncul dari balik ruangan, jangan lagi segerombolan, seekor pun tidak nampak.
Suasana di balik pintu sangat gelap, sedemikian gelapnya hingga sulit melihat keadaan di sekelilingnya dengan jelas.
Tu Siau-thian memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dia menjatuhkan diri ke lantai dan berguling masuk ke dalam ruangan, mengikuti gerakan itu cahaya golok diputar sedemikian rupa untuk melindungi tubuhnya.
Tidak usah diperintah lagi, Yau Kun dan Tan Piau segera mendobrak jendela yang berada di kiri dan kanan ruangan, lalu yang satu melintangkan sepasang tombaknya untuk melindungi badan, yang lain memutar ruyungnya langsung menerjang masuk ke dalam ruang perpustakaan melalui jendela yang terbuka itu.
Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah tertelan di balik kegelapan.
Kegelapan hanya berlangsung dalam waktu singkat, tibatiba berkelebat sekilas cahaya terang, sebuah korek api telah disulut orang.
Tu Siau-thian memang bukan opas kemarin sore yang miskin pengalaman, korek api ternyata berada di dalam genggamannya.
Kini dia telah bangkit berdiri, mengangkat tinggi korek api tersebut dengan golok di tangan kanannya melintang di depan dada, sorot matanya yang tajam tiada hentinya bergeser memeriksa sekeliling tempat itu.
Sementara itu Tan Piau dan Yau Kun telah menyulut pula dua obor, suasana di dalam ruang perpustakaan pun kembali jadi terang-benderang.
Sekarang semuanya sudah terlihat jelas, di dalam ruang perpustakaan itu kecuali dia bersama ke dua orang anak buahnya, di situ tak nampak hadir orang ke empat.
Lalu ke mana perginya Jui Pakhay?
??> Lampu lentera masih berada di atas meja, namun penutup lampu itu sudah terbelah jadi dua, begitu pula dengan sumbu api lentera, sumbu itu terbelah juga jadi dua bagian.
Tampaknya tusukan kilat yang dilancarkan Jui Pakhay dengan pedangnya telah membelah penutup lampu itu hingga terpapas menjadi dua bagian.
Bacokan pedang itu tepat membelah penutup lampu, tentu saja Jui Pakhay mempunyai alasan yang kuat untuk berbuat begitu.
Dia memang bukan orang gila, bukan orang yang tidak waras otaknya, ...
Laron penghisap darah!
Waktu itu dia memang berteriak kaget.
Laron penghisap darah!
Mungkinkah laron itu muncul di sekitar atau di atas penutup lampu itu?
Karena makhluk penghisap darah itu muncul di sana, maka serangan pedangnya ditujukan ke arah sana dan membuat penutup lampu serta sumbu lampunya terpapas jadi dua?
Untung sumbu lampu itu tidak terpapas habis dan masih bisa disulut, Tu Siau-thian segera menyulut kembali lampu lentera itu.
Dengan cepat cahaya lampu menerangi seluruh sudut ruang perpustakaan, kini suasana jadi terang benderang bagaikan di tengah hari.
Tu Siau-thian dapat melihat setiap benda yang ada dalam ruangan dengan jelas, Jui Pakhay memang benar-benar tidak berada dalam ruang perpustakaan.
Tidak nampak bayangan manusia, yang kelihatan justru bercak darah, bercak darah itu berada di tepi lampu lentera, di bawah cahaya sinar lampu yang terang.
Darah itu berwarna merah cerah, cahaya darah yang membawa hawa sesat, mungkinkah berasal dari darah manusia?
Atau darah laron?
Darah laron biasanya tidak berwarna, atau mungkin darah laron penghisap darah adalah pengecualian?
Kalau bukan berasal dan darah laron, berarti darah itu adalah darah yang meleleh keluar dari tubuh Jui Pakhay.
Bercak darah masih tersisa di atas meja, tapi ke mana perginya orang itu?
Tu Siau-thian mencoba mengambil darah itu dengan ujung jarinya kemudian diendus sebentar, setelah itu gumamnya.
"Kalau ditinjau dari baunya, darah ini semestinya darah manusia."
Sudah belasan tahun dia bekerja sebagai seorang opas, sudah tidak terhitung jumlah penjahat yang jatuh ke tangannya, tentu saja kawanan penyamun itu tidak akan menyerah dengan begitu saja, ini membuat kehidupannya selama belasan tahun ini ibarat masuk keluar di antara kehidupan dan kematian, bahkan dia sendiripun sampai lupa sudah berapa banyak pertarungan yang dia lakukan.
Dengan pengalaman semacam ini, otomatis bau anyirnya darah manusia sudah sangat dikenal olehnya, karena golok andalannya entah sudah berapa kali mesti berpelepotan darah kental.
Tapi sekarang, dia tidak yakin akan penemuannya, dia tidak yakin kalau bercak darah itu berasal dari darah manusia.
Biarpun sudah dua kali dia menjumpai laron penghisap darah, namun tidak sekali pun pernah melihat darah dari kawanan laron itu.
Kawanan laron penghisap darah itu menghisap darah manusia, berarti darah yang terhisap akan tersimpan di dalam tubuhnya, mungkinkah lantaran menghisap darah manusia maka darah yang mengalir dalam tubuh laron penghisap darah itu berubah jadi darah manusia?
Atau mungkin cairan darah yang berada dalam tubuh laron penghisap darah pada hakekatnya sama persis seperti darah manusia?
Tu Siau-thian tidak berpikir lebih jauh, dia kuatir pikirannya bertambah kalut, dewasa ini masih ada persoalan lain yang jauh lebih penting daripada persoalan tersebut, persoalan yang butuh penyelesaiannya.
Terlepas rekannya masih hidup atau sudah jadi mayat, yang paling penting saat ini adalah menemukan dulu Jui Pakhay.
Setelah menyimpan korek apinya, dia ambil lentera dari atas meja dan menerangi sekeliling ruang perpustakaan itu dengan seksama.
Dengan bergesernya dia, cahaya lentera pun ikut bergeser, dia telusuri seluruh ruang perpustakaan, menggeledah dan meneliti setiap bagian dari ruangan itu.
Sudah barang tentu Tan Piau dan Yau Kun tidak berpangku tangan belaka, tempat yang telah diperiksa Tu Siau-thian, sekali lagi mereka periksa dan geledah dengan seksama.
Dengan pemeriksaan dan penggeledahan seperti ini, biarpun tubuh Jui Pakhay tiba-tiba berubah tinggal berapa inci pun rasanya tidak sulit untuk ditemukan oleh mereka bertiga.
Seorang manusia dengan perawakan setinggi tujuh depa, bila tiba-tiba berubah menjadi berapa inci saja tingginya maka hanya ada satu jawabannya, Jui Pakhay pasti telah bertemu dengan siluman atau dia sendirilah sang siluman itu.
Tadi dia berteriak kaget, meneriakkan laron penghisap darah, seandainya dia benar-benar telah berjumpa dengan siluman, semestinya siluman itu adalah seekor siluman laron penghisap darah!
Masa benar bukan hanya dongeng saja?
Masa di dunia ini benar-benar terdapat setan iblis dan siluman?
Untuk ke tiga kalinya Tu Siau-thian menggeledah seluruh ruangan, selain pintu, jendela pun dia periksa satu per satu dengan seksama.
Pintu ruangan perpustakaan masih berada dalam posisi terkunci dari dalam, pintu itu terbuka lantaran jebol terhajar tendangannya, sementara Tan Piau dan Yau Kun menerjang masuk melalui daun jendela.
Ini berarti seluruh ruangan perpustakaan itu dalam keadaan terkunci dari dalam, sama sekali tidak ada akses keluar yang mungkin bisa dipergunakan.
Biar Jui Pakhay punya sepasang sayap pun mustahil dia bisa terbang meninggalkan ruangan itu tanpa membuka jendela atau pintu, apalagi ruang perpustakaan berada di bawah pengawasan yang ketat dari mereka bertiga.
Tidak mungkin dia meneriakkan laron penghisap darah tanpa sebab musabab yang jelas, dia baru menjerit keras karena telah berjumpa dengan laron penghisap darah tersebut.
Jeritan itu penuh dengan rasa takut, kaget, ngeri dan seram, jeritan yang sangat memilukan hati.
Sekalipun tidak sempat menyaksikan perubahan mimik mukanya, meski mereka hanya sempat mendengar suara jeritannya, tapi tidak sulit bagi mereka untuk membayangkan betapa ketakutannya orang itu.
Padahal bukan untuk pertama kalinya dia berjumpa dengan laron penghisap darah.
Seandainya yang muncul waktu itu hanya berapa ekor laron penghisap darah, tidak nanti dia akan berteriak sekeras itu, tidak ada alasan baginya untuk menunjukkan rasa takutnya yang luar biasa.
Jangan-jangan pada saat yang bersamaan di dalam ruang perpustakaan telah muncul berjuta-juta ekor laron penghisap darah yang secara serentak menyerangnya?
Bila hal tersebut merupakan kenyataan, kenapa kawanan laron penghisap darah itu bisa lolos dari pengawasan Tu Siauthian bertiga?
Dengan cara apa mereka memasuki ruang perpustakaan dan mereka masuk melalui jalan yang mana?
Kelihatannya hanya hembusan angin yang bisa membawa mereka masuk ke dalam ruang perpustakaan melalui celahcelah pintu dan jendela yang apa, kendatipun bentuk tubuh kawanan laron penghisap darah itu lebih tipis dari kertas, mungkinkah dalam waktu yang relatip singkat mereka bisa masuk secara bersama?
Mungkinkah berjuta-juta ekor laron itu bisa menyusup masuk dalam waktu singkat?
Sebenarnya laron penghisap darah yang dijumpai Jui Pakhay adalah laron penghisap darah macam apa?
Atau jangan-jangan...
yang muncul waktu itu adalah raja sang laron?
Rajadiraja dari kawanan laron penghisap darah?
Mungkinkah suasana seram yang mencekam tempat tersebut tatkala kemunculan sang raja laron, seribu bahkan selaksa kali lipat lebih menakutkan, lebih menyeramkan ketimbang keseraman yang dijumpainya ketika melihat kemunculan laron penghisap darah untuk pertama kalinya dulu?
Sejak dia menjerit kaget untuk pertama kalinya, hingga dia mencabut pedangnya, menerjang ke muka, padamnya cahaya lentera sampai kemunculan Tu Siau-thian bertiga dengan mendobrak pintu, semua kejadian tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Kalau benar Jui Pakhay gagal di dalam serangannya, kalau dia memang tewas dibantai kawanan laron penghisap darah, andaikata mayatnya sudah dibawa kabur kawanan makhluk seram itu, lalu...
dengan cara apa mereka membawanya pergi?
Melalui jalan mana mereka kabur dari situ?
Memangnya tubuh Jui Pakhay tiba-tiba menguap seperti segumpal kapur?
Menguap di dalam ruang perpustakaan dan hilang lenyap dengan begitu saja?
Kejadian ini jelas bukan sulap, hanya sulap yang bisa berbuat begitu.
Benarkah di kolong langit memang terdapat setan iblis dan siluman?
Tu Siau-thian berdiri mematung, mengawasi bercak darah di atas meja dengan termangu, dia merasa sekujur badannya terasa sangat dingin, seolah-olah baru saja dia tercebur ke dalam kolam yang berisi bongkahan salju beku.
Tubuhnya dingin kaku bahkan menggigil keras, namun jidatnya basah oleh keringat, tentu saja keringat dingin!
??> Bulan tiga tanggal enam belas, Tu Siau-thian masih melanjutkan penggeledahannya, seluruh bangunan perpustakaan Ki-po-cay hingga ke seluruh halaman di sekeliling bangunan itu telah digeledah dan diperiksa dengan seksama.
Selain Tan Piau dan Yau Kun, kali ini dia melibatkan pula sepuluh orang anggota opas lainnya.
Tu Siau-thian bahkan turunkan larangan, barangsiapa yang terlibat dalam tugas ini dilarang membocorkan kejadian tersebut kepada siapa pun.
Sebelum melalui pembuktian yang jelas dan ditemukannya fakta, dia tidak ingin membocorkan berita yang sangat aneh dan menyeramkan itu kepada khalayak ramai, dia tidak ingin terjadinya kehebohan dan kegaduhan dalam kehidupan masyarakat.
Walaupun perintah itu dijalankan tegas, tidak urung cerita burung beredar juga di seantero kota dengan cepatnya.
Siapa yang telah membocorkan rahasia ini?
Siapa yang telah menyebarkan berita burung itu?
Tu Siau-thian tidak punya waktu untuk mengusut kejadian itu, dia pun tidak membiarkan siapa pun mencegah atau menghalangi pemeriksaan dan penggeledahan yang dilakukan.
Seharian penuh mereka menggeledah setiap jengkal tanah yang ada di seputar gedung perpustakaan Ki-po-cay, namun bayangan tubuh Jui Pakhay masih tetap menjadi tanda tanya besar.
Kalau seseorang sudah mati, seharusnya ada mayat yang ditinggalkan.
Mungkinkah kawanan laron penghisap darah itu sekalian melahap mayat tubuhnya setelah menghisap kering cairan darah yang mengalir dalam tubuhnya?
??> Bulan tiga tanggal tujuh belas, lingkup penggeledahan diperluas, kini mereka telah memeriksa setiap tempat yang ada dalam kota itu.
Usul ini bukan muncul dari Tu Siau-thian, melainkan atas perintah dari Ko Thian-liok, penguasa tertinggi kota itu.
Sebagaimana diketahui, Ko Thian-liok termasuk sahabat karib Jui Pakhay.
Di kota tersebut Jui Pakhay bukan saja termashur sebagai seorang hartawan yang kaya raya, dia pun termasuk seorang tokoh masyarakat yang berstatus sosial tinggi dan sangat terpandang.
Berita tentang hilangnya sang hartawan segera menyebar ke seantero tempat, kini semua penduduk kota ikut mengetahui kabar tersebut, maka tak sedikit penduduk yang mulai bergabung dan ikut serta dalam pencarian itu.
Tapi alhasil, pencarian itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
??> Bulan tiga tanggal delapan belas, atas perintah Ko Thianliok dilakukan penggeledahan sekali lagi dalam gedung perpustakaan Ki-po-cay, penggeledahan kali ini bukan dipimpin oleh Tu Siau-thian melainkan langsung oleh atasannya, Nyo Sin.
Akhirnya Nyo Sin harus turun tangan sendiri, dia pimpin langsung penggeledahan dan pemeriksaan tersebut.
Selama ini Nyo sin memang selalu berpendapat dia jauh lebih teliti ketimbang Tu Siau-thian, bahkan jauh lebih teliti dan cekatan ketimbang siapa pun.
Tu Siau-thian tidak pernah membantah pandangan seperti itu, tiap kali Nyo sin hadir di tempat kejadian, dia memang sangat jarang mengemukakan pendapat pribadinya.
Dia bukan termasuk orang yang gila nama, dia pun tidak pernah ambil perduli bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya.
Selama sepuluh tahun berbakti, dia hanya tahu setia pada tugas dan taat pada kewajiban.
Angin berhembus sepoi di pagi hari yang cerah itu, dengan langkah lebar Nyo Sin berjalan di paling depan, baju kebesarannya tampak berkibar ketika terhembus angin.
Tiba di depan pintu utara, dengan suara yang lantang Nyo sin segera menghardik.
"Siapa yang akan masuk untuk mengabarkan kehadiranku?"
Tu Siau-thian segera mengiakan dan melangkah maju ke depan, saat itulah pintu utama Ki-po-cay dibuka orang, seorang kacung cilik menongolkan kepalanya dari balik pintu.
Teriak dari Nyo Sin memang sangat keras, suaranya ibarat guntur yang menggelegar di siang hari bolong, teriakannya paling tidak bisa bergema hingga sepuluh kaki jauhnya.
Sementara Tu Siau-thian sedang berbincang-bincang dengan kacung cilik itu, mendadak dari ujung jalan kedengaran suara kelenengan yang amat merdu bergema tiba.
Suara keleningan itu berasal dari kepala seekor kuda, begitu merdu dan nyaringnya suara tersebut membuat semua orang tanpa terasa sama-sama berpaling.
Dua ekor kuda berlari cepat di sudut jalan sana, tapi dalam waktu singkat ke dua ekor kuda tunggangan itu sudah berjalan mendekat.
Suara kelenengan yang merdu itu ternyata berasal dari kuda tunggangan yang pertama.
Kuda berbulu merah dengan kelenengan berwarna kuning emas, penunggangnya adalah seorang pemuda tampan berbaju putih dengan sebilah pedang mestika bergagang emas bersarung kulit ular tersoren di pinggangnya, seorang pemuda gagah yang nyaris mirip seorang pangeran.
Siang Hu-hoa!
Bab 9.
Tujuh bintang pencabut nyawa.
Akhirnya Siang Huhoa muncul juga ditempat itu.
Begitu suara kelenengan berhenti berdenting, kuda berbulu merah itupun berhenti berlari tepat di depan pintu perpustakaan Ki po cay dan "Wees!"
Dengan sebuah gerakan tubuh yang enteng Siang Huhoa sudah melompat turun dari kudanya.
Jui Gi yang menyusul ketat di belakangnya segera melompat turun juga dari kudanya dan berdiri persis di belakangnya, tubuh yang semula tegak bagai batang pit kini sudah terbongkok seperti udang ebi.
Maklum, kondisi badannya jelas tidak mampu menandingi Siang Hu-hoa, apalagi secara beruntun dalam dua belas hari dia mesti menempuh perjalanan jauh, tiap hari harus menghabiskan waktunya duduk di pelana kuda sambil menempuh perjalanan jauh.
Untuk itu semua dia sudah dua kali berganti kuda, jadi harus disyukuri kalau pinggangnya tidak sampai patah dua lantaran itu.
Dengan menuntun kudanya terburu buru dia berjalan disamping Siang Hu-hoa.
Waktu itu Siang Huhoa sama sekali tidak memperdulikan dirinya lagi, jagoan muda ini sedang mengalihkan sorot matanya ke arah Nyo Sin, memandangnya dengan sinar kaget bercampur tercengang.
Kalau tidak terjadi suatu peristiwa besar, todak nanti sepagi ini sudah berkerumun begitu banyak opas di depan pintu rumah, ini kejadian yang sangat lumrah, orang bodoh pun pasti akan menyadari juga.
Lantas, apa yang telah terjadi?
Baru saja Siang Huhoa akan mengajukan pertanyaan, Nyoo Sin dengan lagaknya yang angkuh sudah melotot ke arahnya sambil berteriak.
"Siapa kau?"
Biarpun lagaknya masih menunjukkan gaya seorang pejabat, namun nada suaranya sudah tidak segalak tadi.
Dandanan maupun cara berpakaian Siang Hu-hoa sudah menunjukkan kalau dia bukan berasal dari keluarga sembarangan, biasanya dia memang tak pingin cari masalah dengan orang yang berasal dari keluarga luar biasa.
Bukannya menjawab Siang Hu-hoa malah balik bertanya.
"Siapa pula dirimu?"
"Komandan tertinggi dari pasukan opas kota ini!"
Jawab Nyo Sin sambil membusungkan dadanya.
"Ohh.....Nyo Sin?"
"Haah, kau juga kenal aku?"
Nyo Sin tampak melengak.
"Tidak kenal, hanya kebetulan ditengah perjalanan tadi Jui Gi sempat menyinggung tentang dirimu"
"Oooh....kau belum menyebutkan namamu!"
Ujar Nyo sin kemudian, lagak orang ini memang tak bisa terlepas dari kebiasaannya sebagai seorang pejabat negara, lagak tengik.
Baru saja Siang Huhoa akan menjawab, Jui Gi yang berada disampingnya telah menyela duluan.
"Nyo tayjin, dia adalah sahabat majikan kami......."
"Siapa namanya?"
Tukas Nyo Sin cepat.
"Siang Hu-hoa!"
"Siang Huhoa?"
Kali ini nada suara Nyo Sin penuh diliputi rasa kaget, heran dan tidak percaya, tampaknya dia pun merasa tidak asing dengan nama besar tersebut. Tu Siau-thian segera memburu maju ke depan, sapanya.
"Oooh, rupanya saudara Siang, kemarin saudara Jui sempat menyinggung tentang dirimu, dia bilang kau pasti akan datang kemari"
Siang Hu-hoa berpaling, diawasinya Tu Siau-thian sekejap lalu balik bertanya.
"Kau adalah Tu Siau-thian, saudara Tu?"
Tu Siau-thian manggut m anggut.
"Rupanya saudara Jui pernah menyinggung tentang aku dihadapanmu"
Katanya.
"Konon kau adalah sahabat paling akrab dari saudara Jui?"
"Kalau bicara soal keakraban, mungkin hubungan kami masih kalah jauh dibandingkan hubunganmu dengannya, aku baru kenal dia sekitar tiga tahun yang lalu"
"Keakraban suatu hubungan persahabatan tidak dinilai dari pendek panjangnya masa perkenalan, ada orang yang begitu berjumpa lantas hubungan jadi akrab, ada pula yang sudah berkenalan sejak sepuluh tahun berselang, tapi hubungannya tidak lebih hanya sekedar teman"
"Perkataanmu memang ada benarnya juga, Cuma tak terbantahkan bahwa hubungan persahabatanmu dengannya jauh lebih kental dan akrab ketimbang hubunganku denganhnya"
"Atas dasar apa kau berkata begitu?"
"Seperti contohnya dalam peristiwa ini, dia tidak pernah mau menjelaskan kepadaku secara terperinci, tapi dia justru siap berterus terang kepadamu, agar kau bisa melakukan penyelidikan baginya"
"Oya?' Siang Hu-hoa tampak agak tertegun kemudian berpikir dengan wajah sangsi. Dia memang tidak mengerti dengan ucapan Tu Siau-thian itu, apa makna dibalik kesemuanya itu? "Kemudian bila ditinjau dari sudutmu"
Ujar Tu Siau-thian lebih jauh."
Begitu Jui Gi datang menyampaikan kabar, nyatanya kau segera berangkat menuju kemari, bila bukan disebabkan hubungan kalian yang begitu akrab, mana mungkin kau sudi berbuat demikian?"
Siang Hu-hoa tertawa hambar, dia segera mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.
"Sepagi ini kalian semua sudah bergerombol ditempat ini, apakah dalam gedung perpustakaan Ki-po-cay sudah terjadi peristiwa yang amat serius?"
"Betul!"
"Apakah majikanku sudah ketimpa musibah?"
Sela Jui Gi tak tahan. Sebelum Tu Siau-thian sempat menjawab, tiba tiba Nyo Sin menyela dari samping.
"Darimana kau bisa tahu kalau majikanmu ketimpa musibah?"
"Aku hanya menduga"
"Tepat amat dugaanmu itu"
Jengek Nyo Sin lagi sambil tertawa dingin. Berubah hebat paras muka Jui Gi setelah mendengar perkataan itu, tanyana dengan perasaan terperanjat.
"Bagaimana keadaan majikanku sekarang?"
Nyo sin tidak menjawab pertanyaan itu sebaliknya malah bertanya lagi.
"Sejak kapan kau tinggalkan gedung perpustakaan Ki-pocay?"
"Bulan tiga tanggal tujuh"
"Ke mana?"
"Mendapat perintah dari majikanku untuk menghantar sepucuk surat ke perkampungan Ban-hoa sanceng"
"Untuk diberikan kepada siapa?"
Kembali Nyo Sin mendesak. Seraya berpaling ke arah Siang Hu-hoa, sahut Jui Gi.
"Untuk pemilik perkampungan Ba-hoa sanceng, tuan Siang!"
"Selama tenggang waktu ini, apakah secara diam diam kau pernah berbalik kemari?"
Sekarang Jui Gi baru merasa kalau Nyo sin sedang mengintrogasi dirinya, seakan sudah menganggapnya sebagai seorang tersangka, sambil tertawa getir diapun berkata;
"Nyo tayjin, jarak antara Ki-po-cay dengan perkampungan Ban-hoa-sanceng itu sangat jauh, untuk pulang pergi dibutuhkan waktu paling tidak dua belas hari"
"Apa betul begitu?"
"Nyo tayjin, kalau tidak percaya dengan perkataan hamba, silahkan utus orang untuk membuktikannya, setiap rumah penginapan yang hamba gunakan masih tercatat rapi, tayjin bisa telusuri semua tempat untuk mencocokkan perkataan hamba"
"Tidak usah"
Nyo Sin segera mengulapkan tangannya.
"Jadi Nyo tayjin sudah percaya?"
"Terlalu awal untuk berkata begitu"
Jui Gi menghela napas panjang, sementara dia ingin berkata lagi, Siang Hu-hoa sudah menukas duluan.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan saudara Jui?"
"Dia sudah lenyap selama dua hari"
Kata Tu Siau-thian.
"Kejadiannya berarti pada malam tanggal lima belas?"
Tanya Siang Hu-hoa terperanjat.
"Benar"
Kembali Nyo Sin menyela pembicaraan itu, tanyanya kepada Siang Hu-hoa.
"Darimana kau bisa tahu kalau peristiwa tersebut terjadi pada malam tanggal lima belas?"
"Sebab dua hari berselang tepat tanggal lima belas, Raja laron punya kebiasaan munculkan diri di malam tanggal lima belas, persis saat bulan sedang purnama"
Begitu pernyataan itu diutarakan, paras muka Nyo sin dan Tu Siau-thian seketika berubah sangat hebat.
"Darimana kau bisa tahu kalau saat itu si Raja laron telah menampakkan diri?"
Desak Nyo Sin lagi.
"Siapa bilang aku tahu?"
"Tadi, bukankah kau berkata Raja laron muncul pada malam tanggal lima belas, disaat bulan sedang purnama......."
"Tadi aku kan bilang si Raja laron punya kebiasaan berbuat begitu"
"Jadi kaupun mengetahui tentang kebiasaan sang raja laron?"
"Kalau cerita dongeng tentang laron penghisap darah pun kuketahui, masa kebiasaan sang raja laron tidak kupahami?"
Sambil m anggut manggut Tu Siau-thian segera berkata.
"Atas dasar apa kau merasa yakin kalau lenyapnya Jui Pakhay ada hubungan yang sangat erat dengan laron penghisap darah?"
"Belum pernah kugunakan kata yakin!"
"Kau tidak pernah menyebut?"
Kembali Nyo Sin berseru.
"lantas darimana kau bisa tahu kalau ke dua hal itu saling berhubungan?"
"Apakah di dalam surat yang ditulis saudara Jui untukmu, dia sudah menyinggung tentang peristiwa aneh yang telah dialaminya pada permulaan bulan?"
Kembali Tu Siau-thian menyela. Siang Hu-hoa manggut manggut membenarkan.
"Apa yang ditulis dalam suratnya?"
"Laron penghisap darah tiap hari mengintai, nyawa kami berada diujung tanduk!!!"
"Karena itu kau buru buru datang kemari?"
"Yaaa, dan kelihatannya kedatanganku sedikit agak terlambat"
"Apa lagi yang telah dia katakan kepadamu"
Kembali Tu Siau-thian bertanya.
"Semua kejadian yang dialaminya sejak tanggal satu hingga tanggal enam telah dia sampaikan kepadaku secara terperinci dan jelas"
Berbinar sepasang mata Nyo Sin sesudah mendengar jawaban tersebut, baru saja dia akan menimbrung, Tu Siauthian telah berkata duluan.
"Tanggal dua aku bersama dia berada ditepi telaga, saat itulah kami telah berjumpa dengan dua ekor laron penghisap darah, salah satu diantar anya malah sempat menggigit ujung jariku, apakah dia juga menyinggung tentang peristiwa ini?"
"Benar, dia sempat menyinggung soal ini"
Jawab Siang Huhoa, kemudian sambil menatap wajah orang dengan sorot mata tajam, terusnya.
"Apa benar telah terjadi peristiwa semacam ini?"
"Benar, sama sekali tidak bohong"
Tu Siau-thian mengangguk. Agak berubah air muka Siang Hu-hoa.
"Jadi di kolong langit benar benar terdapat makhluk semacam laron penghisap darah?"
Tegasnya.
"Memang nyata ada!"
"Kelihatannya kau begitu yakin?* "Aku sangat yakin, karena aku memang berasal dari wilayah Siau-siang"
"Oooh......."
"Laron semacam itu memang merupakan makhluk khas dari hutan seputar wilayah Siau-siang, sudah sejak jaman dulu makhluk tersebut hidup disana"
"Mereka benar benar pandai menghisap darah?"
"Kalau soal ini mah aku kurang yakin...."
Bisik Tu Siauthian.
"Kalau kutinjau dari isi surat yang ditulis saudara Jui, kelihatannya laron itu selain pandai menghisap darah, bentuknya pun sangat aneh, khas dan memiliki warna yang sangat indah"
"Kalau dibilang bentuknya aneh, khas dan berwarna indah, rasanya dia memang tidak berbohong"
Tu Siau-thian menegaskan. Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Tidak usah melihat makhluk tersebut dengan mata kepala sendiripun, kita bisa membayangkan betapa aneh dan indahnya binatang itu dari nama-nama yang diberikan orang"
"Ooh, mereka punya banyak nama? Apa saja?"
"Di wilayah Siau-siang, kebanyakan orang menyebutnya laron penghisap darah, tapi ada juga yang menyebut laron berwajah setan, laron bermata iblis, laron bermata burung hantu"
"Bagaimana sih bentuk laron itu?"
Tidak tahan Siang Hu-hoa bertanya lebih jauh.
"Bentuk luarnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan laron, tapi warnanya sangat berbeda, laron penghisap darah mempunyai tubuh berwarna hijau kemala, sepasang sayapnya berwarna hijau pula"
"Hijau kemala itu warna yang cantik dan indah, kenapa dikatakan menyeramkan?"
"Sebab dibalik warna hijau yang menyelimuti seluruh badannya, khusus pada bagian sayapnya justru penuh ditebari garis garis merah darah yang mencolok, diatas sepasang sayapnya itu terdapat pula garis merah yang berbentuk seperti mata, mata berwarna merah darah sehingga sekilas pandang mirip sekali dengan sepasang mata hantu yang berlumuran darah"
"Oooh, tidak aneh kalau ada begitu banyak nama sebutan"
Sekarang Siang Hu-hoa baru paham. Tu Siau-thian kembali mengalihkan pokok pembicaraan, ujarnya.
"Peristiwa yang terjadi selama berapa hari belakangan memang terasa aneh sekali, bukan Cuma aneh bahkan sulit dipercaya dengan akal sehat"
"Ehmmm, aku pun sependapat dengan pandanganmu itu, mana mungkin di dunia ini terdapat setan hantu atau siluman dan sebangsanya, mana mungkin istrinya adalah jelmaan dari laron penghisap darah? Mana ada siluman laron di jagat raya ini?"
Begitu perkataan itu diutarakan, suasana pun berubah jadi gempar, hampir semua yang hadir dibuat terperanjat dan keheranan.
"Siapa bilang istrinya adalah jelmaan dari laron penghisap darah? Siapa bilang dia adalah siluman laron?"
Tidak kuasa Nyo Sin berteriak keras.
"Apakah dia menulis begitu di dalam suratnya?"
Tanya Tu Siau-thian pula. Kini giliran Siang Hu-hoa yang melengak.
"Jadi kau tidak mengetahui secara keseluruhan peristiwa yang terjadi waktu itu?"
Dia balik bertanya. Ternyata Tu Siau-thian tidak menyangkal akan hal itu.
"Berarti kau hanya tahu peristiwa yang terjadi pada tanggal satu saja?"
Kembali Siang Hu-hoa bertanya "Dia pernah menyinggung soal peristiwa yang dialami pada tanggal satu malam, tapi kemudian sejak tanggal tiga aku mendapat tugas hingga mesti pergi dari sini, ketika balik lagi waktu sudah menunjukkan tanggal empat belas bulan tiga malam"
"Pada tanggal empat belas dan lima belas, apakah kau pernah bersua dengannya?"
"Selama dua hari ini kami selalu bersama......."
"Ketika bertemu, apakah dia sempat mengatakan sesuatu kepadamu?"
Tu Siau-thian menggeleng.
"Aku pernah bertanya, tapi dia sepertinya enggan untuk menjawab"
Katanya.
"Bila kutinjau dari apa yang kau utarakan tadi, seakan kau sudah tahu secara jelas semua persoalan ini?"
Perasaan menyesal sempat melintas diwajah Tu Siau-thian, sahutnya kemudian.
"Kalau bukan begitu, tak nanti aku bisa mengorek keterangan sebanyak itu"
"Sudah berapa lama kau bekerja di kantor pengadilan (laksan-bun)?"
"Sepuluh tahun lebih"
"Tidak heran kalau kaupun berhasil mengorek keterangan dari mulutku, tampaknya kau selalu menggunakan cara seperti ini untuk mengorek keterangan dari para tersangka"
"Cara sih bukan Cuma itu saja, masih banyak macam"
"Waah, kalau begitu aku mesti lebih waspada lagi jika harus berbicara lagi dengan orang orang dari kalangan kalian dikemudian hari"
Tu Siau-thian tidak menanggapi ucapan itu, kembali dia mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya.
"Apa lagi yang saudara Jui terangkan didalam suratnya kepadamu?"
Sebelum Siang Hu-hoa menjawab, Nyo Sin sudah menimbrung lagi dengan suara keras.
"Apakah surat itu masih kau simpan?"
"Masih!"
"Kau bawa dalam sakumu?"
"Tidak"
"Sekarang surat itu berada di mana?"
"Perkampungan Ban-hoa sanceng"
"Kau taruh dimana dalam perkampunganmu itu?"
"Dalam kamar bacaku!"
Jawab Siang Huhoa ketus, ditatapnya pembesar itu sekejap dengan pandangan dingin.
"Kalau begitu akan kuutus anak buahku untuk pergi mengambilnya"
"Sayang kecuali aku sendiri, tidak pernah ada orang lain yang sanggup mengambil dan membawa pergi benda apa pun yang tersimpan dalam kamar bacaku di perkampungan Banhoa san-ceng"
Mendengar perkataan itu, Nyo Sin kontan tertegun dan tidak sanggup berkata-kata lagi. Siang Hu-hoa tidak menggubris dia lagi, seraya berpaling ke arah Tu Siau-thian, ujarnya.
"Ketika lenyap tidak berbekas, kebetulan saudara Jui sedang berada di mana?"
"Di dalam ruangan perpustakaannya, Ki po cay!"
"Apakah di dalam ruang perpustakaan waktu itu hadir orang lain?"
"Rasanya sih tidak ada"
"Diluar perpustakaan?"
"Aku dan ke dua anak buahku berjaga-jaga disitu"
"Apa yang sedang kalian bertiga lakukan waktu itu?"
"Lantaran kuatir pada malam tanggal lima belas benarbenar akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, maka aku mengajak dua orang anak buahku untuk bersiaga disini, maksud kami, bila terjadi sesuatu kegaduhan maka kami bisa segera memberi bantuan"
"Kalau memang bermaksud begitu, kenapa kalian tidak sekalian bergabung dengannya di dalam ruangan?"
"Sebab dia bersikeras menampik tawaran kami"
"Oya?"
"Alasannya, dia tidak ingin ada teman yang mempertaruhkan jiwa demi dirinya"
"Maka dari itu kalian bertiga hanya bisa berjaga jaga diluar perpustakaan?"
Tu Siau-thian mengangguk membenarkan.
"Sebenarnya bagaimana kisah kejadian itu?"
Tanya Siang Hu-hoa lagi.
Waktu itu kami bertiga berjaga didalam gardu diluar halaman perpustakaan itu sambil mengawasi gerak gerik disekeliling tempat itu, sejak kentongan pertama hingga kentongan kedua, dari kentongan ke dua hingga kentongan ketiga, selama itu suasana sangat tenang, tapi begitu tiba pada kentongan ke tiga........."
"Apa yang terjadi?"
"Tiba-tiba terdengar jeritan kaget dari dalam ruang perpustakaan"
"Kalian yakin dia yang menjerit?"
Tu Siau-thian mengangguk.
"Waktu itu bayangan tubuhnya menempel diatas kertas jendela, begitu berkumandang suara jeritan, bayangan tubuhnya segera melejit ke udara diikuti suara gemerincing senjata yang diloloskan dari sarung!"
"Apa yang dia teriakkan?"
"Hanya tiga kata, laron penghisap darah!"
"Apa pula yang terjadi sesudah dia meloloskan pedangnya?"
Tanya Siang Huhoa lebih jauh.
"Tubuh dan pedangnya melejit bersama ke udara!"
"Ehmmm, itulah tujuh bintang pencabut nyawa, pedang sakti perenggut sukma, biarpun selama tiga tahun belakangan ilmu tersebut tak pernah dilatih lagi, namun bukan setiap orang mampu menghadapi serangan maut itu"
"Sayang musuh yang dia hadapi kali ini bukan manusia"
Sela Tu Siau-thian.
"Setelah dia melancarkan serangan dengan pedangnya, apa pula yang terjadi?"
"Tiba tiba seluruh cahaya lentera di dalam perpustakaan padam, disusul kemudian semua suara yang semula gaduh mendadak jadi hening, sepi dan tidak kedengaran sedikit suara pun, ketika kami bertiga menerjang masuk dengan menjebol pintu, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas, yang kami jumpai hanya dua buah sayatan bekas bacokan senjata diujung meja tepi lentera serta sebercak darah kental"
"Bisa jadi bercak darah itu berasal dari darah musuh, setelah berhasil pukul mundur musuhnya, dia segera melakukan pengejaran"
Kata Siang Hu-hoa.
"Tapi semua pintu dan jendela berada dalam keadaan tertutup, kami saja masuk dengan menjebol pintu sementara semua jendela terkunci dari dalam, dengan cara apa dia meninggalkan ruangan ini?"
"Kalian yakin tidak keliru?"
Siang Hu-hoa mulai mengerutkan dahinya.
"Kami sudah memeriksanya berulang kali dan yakin tidak salah"
Siang Hu-hoa tidak bicara lagi, dia mulai termenung sambil memutar otak. Setelah menghela napas panjang Tu Siau-thian berkata lagi.
"Kecuali didalam waktu yang relatip singkat dia sudah dimakan kawanan laron penghisap darah itu hingga tulang belulangnya pun ikut termakan, atau dia terkena kekuatan siluman dari si Raja laron hingga badannya menguap jadi asap, kalau bukan begitu, dia pasti memiliki ilmu penembus dinding, kalau tidak, tak mungkin dia bisa meninggalkan perpustakaan itu tanpa kami ketahui......."
"Perpustakaan itu berada dimana?"
Tiba tiba Siang Hu-hoa bertanya.
"cepat bawa aku ke sana"
Belum sempat Tu Siau-thian memberikan jawaban, Jui Gi yang berada disampingnya telah menyela duluan.
"Siang-ya, ikuti hamba"
Dia segera berjalan meninggalkan tempat itu.
Tampaknya dia jauh lebih gelisah ketimbang Siang Hu-hoa.
Tanpa banyak bicara Siang Hu-hoa mengikuti di belakangnya.
Dengan cepat mereka berdua berjalan melewati disisi Nyoo Sin, sewaktu lewat mereka sama sekali tidak menggubris pembesar itu, seakan mereka sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap orang ini.
Bagaimana mungkin Nyo Sin bisa menela rasa mendongkolnya, baru saja dia hendak menghardik, Tu Siauthian yang tiba disampingnya segera menyela.
"Komandan, kita pun harus segera masuk"
Nyo Sin mengiakan seraya berpaling, ditatapnya Tu Siauthian dengan mata melotot, tampaknya dia segera akan mencaci maki anak buahnya ini. Tampaknya Tu Siau-thian tahu gelagat, buru buru ujarnya lagi.
"Nama besar Siang Hu-hoa sudah amat termashur dalam dunia persilatan, baik ilmu silatnya maupun kecerdasan otaknya konon jarang yang bisa menandingi, asal dia mau membantu, aku yakin kasus ini bisa terkuak lebih cepat dan gampang"
Nyo Sin tertawa dingin.
"Memangnya tanpa bantuan dia, kasus ini akan sulit terkuak dan terselesaikan?"
Sahutnya tidak terima.
"Bukan begitu maksudku, kalau ada jalan pintas kenapa kita mesti berputar? Komandan, tentunya kau paham akan teori ini bukan?"
"Darimana kau bisa tahu kalau jalan yang bakal kutempuh bukan jalan pintas? Dan penyelidikanku tak bakal lebih awal mengungkap kasus ini?"
Tu Siau-thian tertawa hambar, katanya.
"Aku hanya tahu sampai sekarang kita masih tetap berada disini, kalau memang komandan bisa menemukan kunci dari seluruh persoalan dalam sekilas pandangan, aku yakin kita pasti akan lebih cepat mengungkap kasus ini"
"Nah, begitu baru masuk akal"
Seru Nyo Sin sambil manggut. Dia segera berpaling sambil memberi tanda, serunya.
"Ayoh anak anak, ikuti aku!"
Dibawah pimpinan Nyo Sin, berangkatlah kawanan opas itu menuju ke gedung perpustakaan Ki-po-cay.
Tentu saja tak ada orang yang menghalangi kepergian mereka, dimana Jui Gi dan Siang Hu-hoa bisa masuk, mereka pun dapat memasuki juga.
Jui Gi adalah kepala pengurus rumah tangga, disaat Jui Pakhay tidak ada dirumah, kecuali Gi Tiok-kun, urusan apa pun yang terjadi disana dapat dia putuskan sendiri.
Kini Gi Tiok-kun sama sekali tidak munculkan diri, besar kemungkinan belum ada orang yang menyampaikan berita buruk ini kepadanya hingga dia sama sekali tidak mengetahui akan terjadinya peristiwa ini.
--Angin timur berhembus sepoi ditengah halaman, bunga dan dedaunan tampak berguguran dan mengotori permukaan tanah.
Ketika menelusuri jalan setapak ditengah taman itu, tidak tahan Nyo Sin berkata lagi.
"Aku adalah komandan opas diwilayah ini, perduli dia seorang jago kenamaan dari dunia persilatan atau bukan, tanpa seijin diriku siapa pun dilarang memasuki tempat kejadian kasus barang setengah langkah pun, kalau tidak aku bisa menjatukan tuduhan sebagai tersangka yang mencurigakan terhadap dirinya!"
"Semestinya memang begitu"
Sahut Tu Siau-thian sambil tertawa.
"tapi sayang hingga sekarang keluarga Jui tidak ada yang melaporkan kejadian ini kepada pengadilan"
Nyo Sin tertegun.
"Sekarang posisi kita tidak jauh berbeda dengan posisinya"
Tu Siau-thian berkata lebih jauh.
"kita semua sama sama masuk kemari dengan status sebagai teman Jui Pakhay, jadi kita datang bukan untuk menyelidiki kasus ini tapi datang untuk menjenguk teman"
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Kini Jui Pakhay tidak ditempat, nyonya rumah juga tidak nampak, maka bila Jui Gi si kepala rumah tangga merasa tidak senang menerima kita sebagai tamunya, jangankan memasuki perpustakaan itu, mau berdiam lebih lama disini pun mungkin akan jadi masalah besar, sebab setiap saat dia berhak untuk mempersilahkan kita keluar dari sini"
"Tapi.....bukankah Jui Pakhay telah lenyap?"
"Kalau mereka bersikeras mengatakan tidak, apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita bisa meminta Jui Pakhay tampil keluar dan bertemu dengan kita semua"
"Kalau mereka mengatakan bahwa tuan rumah tidak ingin menerima tamu, apa yang bisa kita perbuat? Atau kalau mereka mengatakan tuan rumah sedang bepergian, apa pula yang bisa kita perbuat?"
"Tapi.....bukankah kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri........"
"Tuduhan tanpa bukti sama sekali tidak ada kekuatan hukumnya, apalagi kejadian semacam itu memang sulit dipercaya dengan akal sehat"
"Lalu........."
Nyo sin mulai kelimpungan.
"Kecuali keluarga Jui melaporkan kasus kejadian ini ke pengadilan, atau kita temukan mayat, kalau bukan begitu kehadiran kita tetap berstatus sebagai tamu"
"Lalu bagaimana baiknya?"
Tanya Nyo Sin kemudian agak tergagap.
"Biarkan saja Siang Hu-hoa yang berperan"
"Kalau sampai dia yang memperoleh pahala, kita bisa kehilangan muda"
"Dia adalah seorang anggota persilatan, sekalipun sudah berjasa, apa gunanya?"
"Ehmm, benar juga perkataan itu"
"Seandainya dia yang bekerja keras dan berhasil mengungkap kejadian yang sebenarnya, buat kita hal ini lebih banyak untungnya daripada rugi"
Kembali Tu Siau-thian berkata.
"Ehrnmm, betul juga"
Nyo Sin m anggut m anggut, ditinjau dari mimik mukanya, dia seakan sudah punya rencana sendiri.
Tentu saja Tu Siau-thian dapat melihat semua perubahan mimik muka itu dengan jelas, buru buru ujarnya lagi.
"Tapi demi martabat dan harga diri, tentu saja dalam bidang ini kitapun mesti ikut berusaha, kalau bisa tentu saja komandan mesti bertindak lebih dini sehingga bisa mendahului dia"
"Sudah pasti harus begitu"
Nyo Sin manggut manggut sambil mempercepat langkah kakinya.
Setelah memasuki pintu berbentuk setengah bulan dan melewati gardu ditengah halaman, tibalah mereka di depan gedung perpustakaan.
Nyo Sin dan Tu Siau-thian langsung melangkah masuk ke dalam ruang gedung.
Pintu yang jebol masih tergeletak ditanah, hancuran daun jendela pun masih berserakan disekeliling sana, segala sesuatunya masih berada dalam posi-semula.
Cara kerja Siang Hu-hoa sangat berhati-hati, dia sama sekali tidak menggeser benda apa pun yang ada disitu, ketika Nyo Sin dan Tu Siau-thian berjalan masuk ke dalam ruangan, dia sedang berdiri didepan meja sambil bergendong tangan, seluruh perhatiannya tertuju pada bercak darah yang tertinggal diatas meja.
Bercak darah itu sudah menghitam, sementara Jui Gi berdiri disamping Siang Hu-hoa walaupun sorot matanya justru tertuju ke wajah orang itu.
Tiba tiba Siang Hu-hoa mengernyitkan dahinya.
Melihat hal itu Jui Gi segera bertanya.
"Siang-ya, menurut pandanganmu apakah noda itu berasal dari darah manusia?"
"Rasanya sih mirip, tapi darah lama atau darah baru tidak ada bedanya, jadi lebih baik kita tanyai dulu opas Tu"
Dia tidak perlu berpaling sebab Tu Siau-thian sudah menghampiri mereka dengan langkah cepat. Begitu mendekat Tu Siau-thian segera menjawab.
"Aku rasa itu darah manusia, tapi seperti juga kalian, aku pun tidak yakin seratus persen"
"Kenapa tidak terlalu yakin?"
Tu Siau-thian tertawa getir.
"Walaupun aku pernah bertemu laron penghisap darah namun belum pernah menyaksikan darah dari laron laron penghisap darah tersebut, aku tidak bisa membedakan apakah darah dari laron penghisap darah sama seperti darah dari manusia!"
"Sebelum terjadinya peristiwa ini, apakah kalian tidak pernah berjumpa dengan laron penghisap darah?"
Tanya Siang Hu-hoa kemudian.
"Belum pernah"
Tu Siau-thian menggeleng.
"Setelah kejadian, apakah kalian juga tidak melihat laron penghisap darah itu terbang pergi dari hadapan kalian?"
Sekali lagi Tu Siau-thian menggeleng.
"Juga tidak"
Sahutnya.
"sewaktu kami menerjang masuk dengan menjebol pintu, tidak seekorpun laron penghisap darah yang kami saksikan"
"Dan dia juga sudah lenyap tidak berbekas?"
Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan. Siang Hu-hoa menyapu sekejap sekeliling ruangan, kemudian tanyanya lagi.
"Waktu itu apakah posisi dan keadaan didalam perpustakaan persis seperti keadaan saat ini?"
"Benar, aku berusaha agar segala sesuatunya tetap berada pada posisi semula"
"Selama dua hari terakhir, aku percaya kalian pasti sudah mendatangi tempat ini dan melakukan pelacakan secermat mungkin"
"Segala sesuatunya telah kami periksa dengan seksama"
Tu Siau-thian membenarkan. Kemudian setelah menyapu sekeliling tempat itu sekejap, terusnya.
"Gedung perpustakaan ini tidak terlalu luas, untuk memeriksa dan melacak setiap jengkal tanah di dalam Ki-pocay ini tidak perlu waktu satu hari"
"Ehm, bila kutinjau dari ungkapanmu itu, berarti setiap jengkal tanah di dalam gedung Ki-po-cay ini sudah kalian lacak dan periksa dengan seksama?"
Untuk kesekian kalinya Tu Siau-thian mengangguk.
"Kemarin, lingkup penyelidikan kami malah sudah diperluas hingga ke setiap sudut tempat di dalam kota"
"Apa berhasil menemukan sesuatu?"
"Tidak, dia seakan sudah berubah jadi segulung asap, seonggok debu yang terbang melayang dan menyebar ke angkasa, hilang lenyap dari permukaan bumi"
Dengan kening semakin berkerut Siang Hu-hoa mulai berjalan mondar mandir dalam ruangan, sembari berjalan gumamnya tiada hentinya.
"Jelas jelas gedung perpustakaan ini berada dalam keadaan terkunci, bagaimana mungkin di dalam waktu yang amat singkat seorang manusia yang begitu besar bisa hilang lenyap tidak berbekas, memangnya ini sulapan? Memangnya dia punya ilmu siluman?"
"Kau pun percaya dengan segala macam ilmu siluman atau setan iblis?"
Dengan pandangan keheranan Tu Siau-thian mengawasinya.
"Tentu saja tidak percaya"
Jawaban Siang Hu-hoa sangat hambar.
"Kalau tidak, lantas bagaimana penjelasanmu tentang peristiwa ini?"
Siang Hu-hoa tidak menyahut, sesungguhnya dia memang tidak tahu bagaimana mesti memberikan penjelasannya, mendadak dia menghentikan langkah kakinya lalu berputar berapa kali disekeliling dinding ruangan.
Bab 10.
Pintu rahasia.
Sorot mata Tu Siau-thian ikut bergerak menyusul gerakan pemuda itu, tiba-tiba dia berseru.
"Aaah. Ada beberapa hal hampir saja aku lupa untuk menyampaikan kepadamu"
"Soal apa?"
Siang Huhoa segera menghentikan langkahnya.
"Malam tanggal lima belas, ketika aku bersama ke dua orang anak buahku sedang berjaga di luar gedung Perpustakaan, tiba-tiba dia membuka pintu dan berjalan keluar, dia mengundangku untuk berbicara"
"Apa saja yang dia katakan?"
Buru-buru Siang Huhoa bertanya.
"Dia memberitahu kepadaku bahwa Jui Gi sudah diutus ke perkampungan Ban hoa sanceng untuk mengundang kehadiranmu, dia bilang kau pasti akan tiba disini"
"Selain itu?"
"Dia pun berkata kalau sebuah catatan terperinci yang berisikan semua kejadian yang dialaminya selama belasan hari ini telah dipersiapkan dan disimpan menjadi satu dengan sepucuk surat"
"Dimana disimpannya?"
"Dia tidak beritahu, katanya dengan kecerdasan dan kemampuanmu seharusnya tidak susah untuk menemukannya"
Mendengar itu Siang Huhoa segera tertawa getir, namun dia tidak berkata-kata. Setelah berhenti sejenak, kembali Tu Siau-thian berkata.
"Katanya, asal kau berhasil mendapatkan kitab catatan itu dan membaca isinya maka semua kasus peristiwa ini akan terkuak lebih jelas, tidak sulit bagimu untuk menemukan latar belakang yang sebenarnya dari kematiannya!"
"Kalau kudengar dari penjelasanmu itu, seolah dia sudah tahu bakal mati, sudah tahu kalau keselamatan jiwanya terancam, tapi, kenapa dia tidak mencari suatu tempat yang aman dan mengungsi untuk sementara waktu?"
Gumam Siang Hu-hoa dengan kening berkerut.
"Sebab dia beranggapan mau lari ke ujung dunia pun tidak ada gunanya, sebab dia tidak akan bisa lolos dari musibah ini"
Setelah menghela napas panjang, kembali meneruskan.
"Tampaknya dia seolah-olah sudah yakin kalau kawanan laron penghisap darah itu adalah jelmaan dari setan iblis, bukankah orang kuno selalu berkata, setan iblis adalah makhluk yang serba tahu dan serba bisa?"
Tanpa terasa Siang Huhoa ikut menghela napas panjang.
"Menurut apa yang kuketahui"
Ujarnya.
"selama ini dia bukan termasuk manusia yang terlalu percaya dengan setan iblis, kenapa dalam waktu singkat pandangan dan prinsipnya bisa berubah drastis?"
Setelah memandang lagi sekeliling tempat itu sekejap, kembali dia bergumam.
"Gedung perpustakaan Ki po cay bukan terhitung sebuah tempat yang kelewat kecil, memangnya gampang untuk menemukan sepucuk surat dan sebuah buku catatan dari dalam gedung sebesar ini?"
"Kalau dalam hal ini tentu saja kau tidak perlu kuatir"
"Oya?"
"Sewaktu dia membuka pintu dan mengajak aku berbicara, dia bilang surat dan buku catatan itu telah selesai dipersiapkan, setelah itu dia tidak pernah melangkah keluar dari gedung perpustakaannya, itu berarti surat dan kitab catatan itu seharusnya masih berada di dalam ruang perpustakaan ini"
"Memangnya segampang itu analisamu?"
"Aku rasa analisa ku ini bukan sederhana"
"Bukankah kalian telah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk memeriksa dan melacak setiap jengkal tanah disini? Apa hasilnya? Apakah berhasil menemukan sesuatu?"
Tu Siau-thian segera terbungkam, tidak bisa menjawab. Siang Hu-hoa berkata lebih jauh.
"Diantara kalian adakah seseorang yang mengerti soal alat rahasia?"
Tu Siau-thian menggeleng.
"Apakah kau mempunyai kesan tentang seseorang yang bernama Hiankicu?"
Kembali Siang Huhoa bertanya.
"Apakah Hiankicu yang kau maksud adalah seorang ahli tehnik yang amat tersohor itu?"
"Benar, dialah yang kumaksud"
"Apa hubungannya dengan Hiankicu?"
"Dia justru murid adalah terakhir dari Hiankicu"
"Murid penutup?"
Tu Siau-thian tertegun.
"rasanya belum pernah kudengar dia mengungkap tentang hal ini"
Tapi kemudian setelah tertawa tambahnya.
"Sekalipun dia mengerti tentang alat rahasia dan menyembunyikan barang-barang itu dalam sebuah bilik yang dilengkapi alat rahasia, tapi setelah melalui pelacakan dan pemeriksaan yang begitu seksama dari kami semua, sehebat dan serapi apapun alat rahasia tersebut semestinya tempatnya sudah berhasil kita temukan"
"Apa benar begitu?"
Siang Huhoa tertawa. Sinar matanya dialihkan ke bawah, lalu tambahnya.
"Kalian sudah memeriksa seluruh permukaan lantai?"
"Kalau bisa dibalik, seluruh lantai gedung ini sudah kami balikan"
"Atap ruangan?"
"Seluruh atap pun sudah kami periksa"
"Apakah seluruh dinding ruangan ini ada yang mencurigakan?"
"Sama sekali tidak"
Jawab Tu Siau-thian, kemudian setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu tambahnya.
"Setiap benda, setiap jengkal tanah ditempat ini sudah kami periksa dengan sangat teliti, andaikata dipasang alat rahasia, dimana dia menaruhnya?"
"Dia bisa memasangnya di segala tempat"
"Oya?"
Perasaan ragu melintas diwajah Tu Siau-thian. Tiba-tiba Siang Hu-hoa bertanya lagi.
"Apakah gara-gara perkataanku tadi, kau baru terbayang kemungkinan di tempat ini sudah terpasang alat rahasia?"
"Tempo hari sudah kupertimbangkan kemungkinan itu, tapi tidak terlalu yakin"
"Oleh sebab itu dalam pemeriksaanmu yang lalu, kemungkinan besar, banyak tempat yang kau lewatkan karena kelalaian, kau mesti tahu, tombol rahasia yang dirancang oleh ilmu rahasia Hiancicu tidak gampang ditemukan"
"Atas dasar apa kau begitu yakin kalau disini sudah terpasang alat rahasia?"
Tanya Tu Siau-thian mendadak.
"Sebab dibalik perkataannya, secara diam-diam dia sudah memberi tanda"
"Berarti kau telah menemukan sesuatu?"
Siang Huhoa menggelengkan kepalanya sebagai pertanda jawaban, kembali dia menggeser langkah kakinya.
Kali ini dia menggeser langkah kakinya dengan lebih lambat, sementara sinar matanya berubah jadi lebih tajam dan lebih mencorong.
Dia sebentar bergeser, sebentar berhenti, hampir seluruh ruangan dijelajahi satu putaran lagi sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan itu.
Tu Siau-thian dan Jui Gi mengikuti terus di belakangnya, Nyo Sin yang melihat itu tanpa sadar dia juga mengikuti pula di paling belakang.
Matahari memancarkan sinar emas menyinari seluruh halaman, kabut tipis tampak masih melayang diantara pepohonan dan bunga.
Setibanya diluar pintu, Siang Hu-hoa mundur lagi sejauh tiga kaki hingga tiba didepan gardu itu, kini dia berada dua depa jauhnya dan pintu ruangan.
Tu Siau-thian segera menghampiri seraya berseru.
"Malam itu kamipun berdiri didalam gardu tersebut sambil mengawasi gerak gerik di dalam ruang perpustakaan"
"Ehmmm, posisi ini memang cukup strategis"
Sahut Siang Hu-hoa sambil mengangguk.
"satu satunya kelemahan adalah tidak bisa melihat jelas keadaan di belakang ruang perpustakaan"
"Masih untung bagian belakang ruang perpustakaan adalah sebuah dinding tembok, disitu juga tidak ada jendelanya"
Sela Tu Siau-thian "Moga-moga saja disitu tidak ada pintu rahasianya"
Siang Hu-hoa nyelutuk.
"Pintu rahasia?"
Tu Siau-thian melengak keheranan.
Siang Hu-hoa tidak berkata apa apa lagi, dengan langkah lebar dia berjalan balik ke arah ruang perpustakaan.
Tu Siau-thian, Jui Gi dan Nyo Sin segera mengikuti di belakangnya, mereka bertiga seakan telah berubah menjadi anak buahnya lelaki itu.
Ternyata Siang Hu-hoa tidak jadi masuk ke dalam ruang perpustakaan melainkan berjalan mengelilingi seputar gedung.
Gedung perpustakaan itu dikelilingi taman bunga yang sangat luas, waktu itu aneka bunga sedang mekar dengan indahnya.
Meskipun bulan ke tiga sudah berjalan setengahnya namun saat itu memang sedang musim bunga berkembang, mekarnya aneka bunga membuat suasana disitu begitu tenang dan nyaman.
Sayang Siang Hu-hoa tidak berminat untuk menikmati keindahan alam, dia hanya berhenti sejenak di bagian belakang gedung perpustakaan itu.
Di bagian belakang gedung ditanam sebatang pohon mawar dan beberapa batang pohon pisang-pisangan.
Gedung perpustakaan itu dibangun menghadap ke timur, waktu itu sinar sang surya yang baru terbit belum lagi mencapai bagian belakang bangunan itu.
Waktu itu sinar mata Siang Hu-hoa sedang tertuju pada dinding di belakang pohon mawar serta permukaan tanah dialas rak mawar.
Setelah berhenti sejenak kembali dia beranjak pergi, mengitari sudut lain dari gedung itu kemudian balik ke pintu depan.
Kini sekulum senyuman telah menghiasi ujung bibirnya, langkah kakinya jauh lebih ringan dan cepat, seakan setelah berjalan mengelilingi bangunan itu, dia berhasil menemukan sesuatu.
Waktu itu Tu Siau-thian berjalan mengikuti di belakang Siang Hu-hoa, tentu saja dia tidak sempat melihat jelas senyuman itu, dia hanya melihat langkah kaki lelaki tampan itu lebih ringan dan lebih cepat.
Dia segera mempercepat langkahnya mendampingi Siang Huhoa, kemudia bisiknya.
"Siang-heng, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"
Siang Hu-hoa tidak menjawab, dia hanya mengangguk sambil meneruskan langkahnya masuk ke dalam ruang perpustakaan.
Nyo Sin yang berada di belakang dapat mendengar semua pembicaraan itu dengan jelas dan melihat dengan jelas pula, dia segera percepat langkah kakinya, sewaktu memasuki pintu ruangan, dia sudah berebut untuk masuk mendahului Tu Siauthian.
Siang Huhoa sama sekali tidak menggubris tingkah laku orang ini, dia tetap berjalan masuk ke dalam ruangan dan baru berhenti setelah berada didepan dinding kurang lebih tiga depa dihadapan pintu masuk, perlahan-lahan sorot matanya dialihkan ke atas dinding itu dan menelitinya dengan seksama.
Dinding itu penuh bergantungan lukisan kuno, selain itu juga tergantung dua buah ukiran kayu yang besar lagi tua.
Kedua lembar ukiran kayu itu sama bentuknya, setengah kaki lebar dengan satu kaki tingginya dan masing-masing terpaku di kiri kanan dinding.
Ukiran yang berada disebelah kiri menggambarkan seorang dewi Jian nien Kwan im sementara ukiran disebelah kanan melukiskan seorang Milek Hud.
Walaupun ukiran itu sangat halus dan indah namun bukan hasil karya dari pengukir kenamaan.
Kembali Siang Hu-hoa memeriksa sekeliling dinding itu, lagi lagi sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya.
Buru-buru Nyo Sin menyusul ke samping Siang Huhoa, setelah mengerling sekejap ke arah lelaki itu, serunya.
"Aku rasa dibalik dinding ini ada hal yang mencurigakan"
"Oooh, jadi kau pun berpendapat demikian?"
Seru Siang Huhoa seraya berpaling. Nyo Sin tidak menjawab, dia hanya mengelus jenggot sendiri seraya manggut-manggut.
"Menurut pendapatmu, bagian mana yang mencurigakan?"
Kembali Siang Huhoa bertanya "Dinding itu!"
Siang Hu-hoa segera tertawa hambar dan tidak bertanya lebih jauh.
Walaupun gerak gerik Nyo sin menunjukkan seolah dia menemukan sesuatu, namun setelah ditanya, segera ketahuan kalau dia tidak tahu apa-apa selain soal dinding itu.
Tu Siau-thian segera memburu maju, tanyanya.
"Saudara Siang, sebenarnya apa yang kau temukan?"
"Hanya masalah dinding ini"
Sahut Siang Huhoa sambil mengalihkan kembali sorot matanya keatas dinding.
Waktu itu sorot mata Tu Siau-thian sudah tertumpu pula pada dinding ruangan, namun setelah diperhatikan sekian lama dia tidak berhasil menemukan sesuatu yang aneh, serunya lagi seraya menggeleng.
"Sebenarnya apa yang aneh dengan dinding ini? Aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan"
"Sekilas pandang dinding ini memang kelihatannya wajar dan tidak ada yang aneh, padahal dibalik semuanya, justru terdapat ketidak wajaran yang amat besar"
"Jangan-jangan diatas dinding ini tersembunyi sebuah lubang rahasia?"
"Bisa jadi sebuah lubang rahasia tapi bisa juga sebuah pintu rahasia, yang jelas sebuah lubang masuk yang berhubungan dengan ruang rahasia dibelakang dinding itu"
"Ruang rahasia di belakang dinding?"
Seru Tu Siau-thian tertegun.
"Sekalipun di belakang dinding benar benar tersembunyi sebuah ruang rahasia, rasanya hal ini bukan sesuatu yang patut diherankan"
Kontan Tu Siau-thian tertawa terbahak-bahak, serunya.
See Yan Tjin Djin "Hahahaha......
tapi di belakang dinding itu hanya terdapat sebuah rak yang berisi bunga mawar serta beberapa batang pohon pisang-pisangan"
"Menurut perkiraanmu, seberapa tebal dinding tembok itu?"
Tiba-tiba Siang Hu-hoa bertanya.
"Ketebalannya paling banter dua depa, bagian tengah yang kosong hanya satu depa, kalau benar disitu ada ruang rahasianya berarti luas ruangan itu hanya satu depa. sama sekali tidak cukup untuk berdiri seorang manusia pun, masa ruangan semacam inipun patut disebut sebuah ruang rahasia?"
"Bagaimana kalau ruangan itu mempunyai luas empat-lima depa?"
"Maksudmu ruang kosong yang terdapat dibalik dinding ini mempunyai luas mencapai empat lima depa?"
"Bahkan bisa jadi lebih dari itu"
"Atas dasar apa kau merasa begitu yakin?"
Tidak tahan Tu Siau-thian berseru.
"Sewaktu melangkah di dalam ruang perpustakaan tadi, secara diam-diam sudah kuukur panjang lebar dari seluruh ruangan, kemudian setelah aku berjalan mengelilingi halaman luar gedung ini, tiba-tiba kutemukan sesuatu hal"
"Temukan apa?"
Desak Tu Siau-thian.
"Walaupun sekilas pandang lebar ruang dalam dan halaman luar gedung perpustakaan ini hampir seimbang, namun dalam kenyataan panjangnya terdapat selisih yang cukup besar, panjang ruang dalam perpustakaan itu ternyata tujuh-delapan depa lebih luas ketimbang panjang di halaman depan, kemudian ketebalan dinding di bagian belakang perpustakaan itu rata-rata mencapai dua depa, ini berarti masih ada selisih empat sampai lima depa, lalu ke mana larinya selisih tersebut?"
Seketika itu juga Tu Siau-thian jadi paham. Terdengar Siang Hu-hoa berkata lebih jauh.
"Semula kukira bagian belakang perpustakaan itu mungkin cekung ke dalam sepanjang berapa depa, tapi setelah kuperiksa ternyata bukan begitu keadaannya, ini menunjukkan hanya ada satu kemungkinan yakni tempat seluas empat lima depa yang hilang itu kemungkinan besar tersembunyi di belakang dinding itu"
Sambil menuding ke arah dinding dihadapannya, kembali dia berkata.
"Kecuali orang gila, kalau tidak, mustahil seorang normal akan membuat sisi dinding ruangannya setebal tujuh delapan depa, oleh sebab itu aku yakin dibalik dinding ini pasti terdapat ruang kosong, ruangan itu tentu seluas empat lima depa dan lebih dari cukup untuk digunakan berbuat sesuatu"
Mendengar sampai disitu, tanpa terasa Nyo Sin menyela.
"Kalau benar di belakang dinding ini terdapat ruang rahasia, lalu pintu rahasianya berada dibagian dinding yang mana?"
Sebelum Siang Hu-hoa menjawab, Tu Siau-thian sudah menyahut duluan.
"Menurut analisaku, besar kemungkinan berada dibelakang ke dua ukiran kayu itu"
"Betul, aku pun berpendapat demikian"
Siang Huhoa manggut manggut. Kemudian sambil meraba ukiran Milek Hud itu, dia berkata lagi.
"Sejak awal aku sudah mencurigai ke dua ukiran kayu itu"
"Apakah lantaran ke dua ukira kayu itu tidak serasi digantung bersama dengan sebuah lukisan diatas dinding yang sama?"
Siang Huhoa berpaling dan memandang Tu Siau-thian sekejap, katanya.
"Menggantungkan sebuah lukisan tangan diatas dinding sudah merupakan satu hal yang tidak serasi"
"Aku tidak mengerti soal lukisan"
"Kalau memang begitu, kenapa bisa timbul perasaan kurang serasi dalam hati kecilmu?"
Sebuah pertanyaan dari Siang Huhoa yang kedengaran sangat aneh.
"Bukan baru kali ini saja kulihat bentuk ukiran semacam ini..........."
"Lalu biasanya di mana kau menjumpai ukiran semacam ini?"
"Dalam kuil!"
"Bisa saja sebagai umat Buddha dia membeli ukiran tersebut dan digantungkan di rumahnya untuk disembah"
"Sekalipun begitu, jarang ada yang menggantungkan dalam ruang perpustakaan, apalagi menurut apa yang kuketahui, dia bukan penganut Buddha"
Siang Huhoa kembali manggut-manggut. Terdengar Tu Siau-thian berkata lagi.
"Meskipun sejak awal aku sudah merasakan sesuatu yang kurang serasi dengan tempat ini, namun tidak menaruh curiga lebih jauh, sebab belakang dinding itu adalah halaman terbuka, dinding disebelah situ tidak kujumpai sesuatu celah, juga penuh ditumbuhi lumut hijau hingga mustahil terdapat ruang rahasia dibaliknya, permukaan tanah disekeliling tempat itupun tidak meninggalkan jejak pernah diinjak manusia"
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Apalagi selama berapa waktu belakang, otaknya hanya dipenuhi bayangan setan iblis dan siluman, aku mengira dia sengaja memindahkan ukiran Buddha itu kemari karena ingin mengatasi rasa takut dan seramnya terhadap gangguan setan iblis"
"Tapi rasanya kedua buah ukiran kayu itu tidak mirip baru saja digantungkan disitu"
"Soal itu aku kurang jelas, sebab sejak lima belas hari berselang aku sudah tidak pernah lagi masuk ke dalam perpustakaan ini"
Sorot matanya kembali dialihkan keatas dinding itu, katanya lagi.
"Bagaimana pula lukisan yang tidak serasi bisa tergantung disitu?"
"Coba kau perhatikan lukisan itu"
Ujar Siang Huhoa sambil menuding sebuah lukisan diantaranya yang tergantung diatas dinding.
"menurut kalian, berapa harga lukisan itu?"
Tu Siau-thian tertawa getir, dia bukan orang yang gemar lukisan, mengerti saja tidak, darimana bisa tahu berapa harga dari lukisan itu? Kembali Siang Hu-hoa berkata.
"Kalau kau membawa lukisan itu ke toko, toko mana pun diseantero negeri, maka kau segera dapat menjualnya dengan harga dua sampai tiga ribu tahil perak"
"Wouw... mahal amat, lukisan siapa sih?"
Seru Tu Siauthian tanpa sadar.
"Tong Pek-hauw!"
"Ooh... pantas begitu mahal"
Biarpun dia tidak mengerti soal lukisan, nama besar Tong Pek-hauw sudah lama diketahuinya dan dia sadar bahwa orang itu memang seorang pelukis terkenal.
Setelah memandang sekejap sekitar tempat itu, ujarnya lagi.
"Ditempat ini paling tidak terdapat dua puluhan lukisan semacam ini, padahal setiap lukisan bernilai beberapa ribu tahil perak, bukankah sama artinya kalau dijumlahkan seluruhnya sudah bernilai tiga puluh ribu tahil perak? Gila, barang yang begini berharga dia hanya menempelkan diatas dinding, jangan jangan pemilik tempat ini sudah sinting atau tidak waras otaknya?"
"Lagi-lagi kau keliru besar"
Tukas Siang Huhoa hambar.
"kecuali lukisan buah tangan dari Tong Pek-hauw, jika kau bisa menjual gabungan lukisan yang lain senilai seratus tahil perak saja, kau sudah kuanggap luar biasa hebatnya"
"Maksudku lukisan-lukisan yang lain paling banter hanya laku tiga-empat tahil perak?"
"Malah ada empat lukisan diantaranya tidak bakal laku lebih dari satu tahil perak"
Dengan keheranan Tu Siau-thian menatap wajah Siang Huhoa, dia seakan merasa kagum, tapi seakan juga merasa tercengang dibuatnya. Dengan tenang Siang Hu-hoa berkata lagi.
"Sebab ke empat buah lukisan itu adalah buah karya dia sendiri"
"Waah, kelihatannya kalian memang bersahabat karib hingga dalam sekilas pandang saja kau dapat mengenali lukisan mana yang merupakan hasil karyanya sendiri"
"Menerut spa yang kau katakan, berarti tidak susah untuk bersahabat karib dengannya bukan!"
Tu Siau-thian tidak mengerti dengan ucapan tersebut, dia hanya berdiri melongo. Tampaknya Siang Hu-hoa tahu akan kebingungan orang, segera dia memberi penjelasan.
"Dia sudah meninggalkan nama sendiri diatas ke empat lukisan itu, asal mau diperhatikan dengan lebih seksama, tidak sulit untuk mengetahuinya"
Tu Siau-thian segera menghela napas panjang, mau tidak mau dia mesti merasa kagum atas kejelian orang ini, manusia teliti dan cermat macam Siang Hu-hoa memang merupakan sesuatu yang langka.
Sejak hadir dalam ruang perpustakaan hingga sekarang, Siang Hu-hoa hanya menghabiskan waktu yang amat singkat, tapi hasil penyelidikannya ternyata jauh lebih banyak ketimbang pemeriksaan nya yang dilakukan selama berharihari.
Bukan cuma begitu, pemeriksaan yang berhari hari itu bahkan sama sekali tidak membuahkan hasil apa-apa.
Terdengar Siang Hu-hoa berkata lagi.
"Bagi orang yang sama sekali tidak tertarik dengan lukisan, tidak aneh bila tidak terlalu memperhatikan soal seperti itu"
"Benarkah lukisan hasil karyanya tidak laku barang setahil perak pun?"
Tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa.
"Harga tersebut menurut penilaianku, dalam pandanganku lukisan hasil karyanya memang tidak laku satu tahil pun"
Setelah tertawa lebar, lanjutnya.
"Dia memang hebat dalam bermain pedang, namun soal lukisannya.......amat payah!"
"Menurut apa yang kuketahui, dia bukan termasuk orang yang tidak suka menyembunyikan sesuatu dihadapan orang"
Siang Huhoa mengangguk.
"Bukan hanya dalam soal intan permata dan mutu manikam, dalam masalah lukisan pun dia punya selera tinggi dan sangat memperhatikan hal hal yang detil, bagi seorang ahli yang mengerti nilai sesuatu benda, masa dia tidak tahu kalau lukisan tersebut adalah lukisan asli dari pelukis Tong Pek-hauw?"
Setelah mengalihkan kembali sorot matanya keatas lukisan itu, katanya lebih jauh.
"Sampai detik ini belum pernah kujumpai ada orang yang berani menggantungkan sebuah lukisan ternama disembarangan tempat, kalau dibilang tujuannya untuk mempamerkan kekayaan, tidak ada alasan untuk menggantungkannya ditempat ini, apalagi sejak tiga tahun berselang dia telah berhasil mengumpulkan tiga lukisan yang lain dari Tong Pek-hauw, kalau ingin pamer kekayaan, paling tidak seharusnya dia gantungkan ke empat lukisan kenamaan itu sekaligus, kenapa sekarang yang digantungkan cuma satu? Bukankah kejadian ini sangat aneh?"
"Itu berarti dia punya maksud lain"
Seru Tu Siau-thian.
"Benar, tombol pembuka pintu rahasia tersebut kalau bukan terletak diatas ke dua ukiran kayu itu, besar kemungkinan berada di belakang lukisan antik dari Tong Pekhauw"
Baru selesai dia berkata, Nyo Sin yang berada disampingnya telah memburu maju ke depan dan menyingkap lukisan antik dari Tong Pek-hauw itu.
Gerak geriknya sangat berhati hati, lamban dan seakan sangat menguras tenaga, seperti sedang memegang dua-tiga ribu tahil perak dalam genggamannya.
Siang Hu-hoa tidak berusaha untuk mencegah, dia membiarkan Nyo Sin berulah, sorot matanya justru mengikuti gerak gerik pembesar itu dan dialihkan keatas dinding di belakang lukisan.
Tidak ada lekukan atau tonjolan apapun ditempat itu, permukaan dinding kelihatan rata dan halus.
"Mana tombol rahasianya?"
Seru Nyo Sin kemudian tertegun. Siang Huhoa memburu maju ke depan, setelah diperhatikan sekejap tiba-tiba dia menekan beberapa kali diatas permukaan dinding itu.
"Ternyata memang berada disini"
Serunya dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Sudah kau temukan? Di mana?"
Sela Nyo sin.
"Itu dia, dibalik dinding"
"Kalau begitu biar kuperintahkan orang untuk membongkar dinding ini"
"Tidak usah"
Siang Hu-hoa menggeleng, setelah tertawa lanjutnya.
"tidak gampang menjumpai kesempatan semacam ini, mari kita kenali lebih jauh kehebatan dan keampuhan alat rahasia yang dirancang berdasarkan ajaran Hiankicu"
Tangannya segera diputar lalu ditabokkan ke tengah dinding itu.
Pukulan tersebut sama sekali tidak menggunakan tenaga, tapi begitu tangannya menempel diatas dinding terdengar suara mantap yang sangat aneh, jelas dalam pukulan tadi dia telah sertakan tenaga dalam yang kuat.
"Triiing!"
Dentingan aneh seketika bergema dari balik dinding, meski suaranya lirih dan lemah namun Nyo Sin maupun Tu Siau-thian dapat mendengarnya dengan jelas.
Rupanya ketika Siang Hu-hoa melepaskan pukulannya tadi, mereka telah menghimpun tenaga sambil pasang mata baikbaik.
Seluruh ruangan perpustakaan itu tercekam dalam keheningan yang luar biasa, menyusul suara dentingan itu, bergema suara gemerutuk yang panjang, suara itupun kedengaran sangat jelas.
Lapisan dinding dimana tergantung dua buah ukisan kayu yang melukiskan Kwan-Im bertangan seribu dan Milek Hud itu segera bergeser ke samping kiri dan kanan, ternyata dinding dengan dua ukiran kayu itu merupakan dua buah pintu rahasia.
Suasana dibalik pintu itu sangat gelap, tapi luasnya memang sekitar empat-lima depa, dibelakang itu terdapat lagi sebuah lapisan dinding, dinding berwarna hitam gelap.
Gelap dan suramnya suasana dibalik pintu rahasia itu mungkin disebabkan warna hitam pekat yang mendominasi warna ruang rahasia itu.
Siang Huhoa memandang sekejap ke pintu sebelah kiri kemudian menengok pula pintu disebelah kanan, untuk berapa saat lamanya dia hanya bisa berdiri tertegun.
Munculnya dua buah pintu rahasia yang sekaligus tampaknya jauh diluar dugaan lelaki tampan ini, dia tidak habis mengerti, sebuah pintu saja seharusnya lebih dari cukup, kenapa harus dibuatkan dua buah pintu rahasia?
Lalu pintu yang manakah merupakan pintu masuk yang sebenarnya?
Apa pula gunanya pintu rahasia ke dua?
Bab 11.
Kwan-Im bertangan seribu.
Tanpa terasa Siang Hu-hoa termenung berapa saat lamanya, untuk sesaat dia tidak tahu apa yang mesti dilakukan, begitu juga dengan Tu Siau-thian, dia hanya berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.
"Heran"
Tiba tiba Nyo Sin berkomentar setelah memperhatikan wajah Siang Hu-hoa sekejap.
"kenapa kau begitu menguasahi tentang alat rahasia di sini?"
"Dia adalah sahabat karibku, sudah banyak waktu kita sering jalan bersama, apa yang dia ketahui paling tidak aku ketahui juga sebagian, ini toh bukan suatu kejadian yang aneh"
"Menurut anggapanmu, kita mesti masuk melalui jalan rahasia yang mana?"
Nyo Sin memperlunak nada suaranya.
"Aku belum bisa memastikan"
"Padahal gampang sekali pemecahannya"
Ujar Nyo Sin kemudian.
"kita masuk saja melalui salah satu pintu rahasia itu, kalau salah masuk, keluar dan berganti dengan pintu yang lain, urusan kan beres"
Selesai bicara dia langsung melangkah masuk melalui pintu rahasia yang bergambar Kwan-im bertangan seribu.
"Hati-hati!"
Teriak Siang Hu-hoa ketika menyaksikan ulah pembesar itu.
Dengan satu gerakan cepat dia melesat maju ke depan dan menyambar bahu Nyo Sin.
Waktu itu Nyo sin baru saja melangkah masuk ke dalam pintu rahasia, begitu mendengar bentakan Siang Huhoa, dia segera berpaling dengan hati kaget, belum sempat berbuat sesuatu, seluruh badannya sudah dibetot Siang Huhoa dan menariknya ke samping pintu luar.
Hampir pada saat yang bersamaan terdengar suara desingan angin tajam membelah angkasa, dua tiga puluhan batang anak panah mendadak meluncur keluar dari dalam ruang rahasia dan meluncur keluar dengan cepatnya.
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga Khu Lung
Baca Juga: Legenda Bunga Persik 3