Eps 1 Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Laron Pengisap Darah Karya .
Huang Ying Ide Cerita .
Gu Long Terjemahan Tjan ID Bab 1.
Nyawa terbang sukma buyar.
Bulan tiga, hujan gerimis membasahi wilayah Kanglam.
Berdiri seorang diri ditengah guguran bunga.
Burung walet melintas ditengah hujan.
Ketika sepasang burung walet terbang melintas diatas dinding pekarangan, Siang Huhoa masih berdiri seorang diri ditengah halaman.
Butiran air hujan telah membasahi pakaiannya, namun dia seolah belum merasa, wajahnya kusam, kesepian.
Pancaran sinar matanya sayu dan kesepian, dia tidak memandang guguran bunga di sekelilingnya, pun tidak mengejar burung walet yang terbang berpasangan, sorot mata itu hanya tertuju keatas sepucuk surat, surat yang berada ditangannya.
Selembar kertas berwarna putih, dengan tulisan berwarna hitam.
Setiap huruf yang tertera nyaris meliuk tidak beraturan, seakan si penulis surat sedang tercekam rasa takut dan ngeri yang luar biasa, demikian takutnya hingga batang pit juga tidak sanggup digenggam kencang.
Mungkin semuanya adalah sebuah kenyataan.
Sebab surat itu adalah sepucuk surat permohonan minta tolong.
Laron Penghisap Darah tiap hari mengintai, nyawa kami berada diujung tanduk!!!
Betapapun besarnya nyali Siang Huhoa, tidak urung bergidik juga setelah membaca sampai disitu.
"Laron penghisap darah? Apa itu Laron penghisap darah?"
Berapa saat dia termenung, paras mukanya yang semula kusam karena kesepian, kini telah berubah jadi penuh keraguraguan, penuh rasa sangsi, setelah buru-buru menyelesaikan pembacaan surat itu, dia segera beranjak dari tempat itu.
Langkah kakinya amat ringan, seringan bunga yang berguguran.
Diujung kebun bunga sebelah depan, berdiri sebuah gardu kecil, dua orang gadis secantik bunga, selembut tangkainya, sedang duduk santai di dalam gardu.
Suara mereka indah, merdu bagaikan kicauan burung nuri, senyum mereka pun cerah secerah bunga dimusin semi.
Bahkan nama mereka pun mengandung arti yang tidak jauh dari jenis bunga.
Siau-tho mengenakan pakaian serba merah paras mukanya putih lembut, Siau-tho meski mengenakan pakaian yang sederhana, paras mukanya justru lebih mirip bunga Hua ketimbang wajah Siau-tho.
Sebenarnya mereka berdua adalah dua ekor lebah jahat, penyamun wanita yang seringkali malang melintang disepanjang sungai Tiangkang, orang menyebutnya Heng kang It ok Li ong hong (Seonggok lebah ratu dari sungai besar), tapi sekarang, mereka lebih lembut ketimbang kupu kupu, berdiam dalam perkampungan Ban hoa ceng dan selalu melayani kebutuhan Siang Huhoa.
Hal ini bukan lantaran Siang Huhoa pernah selamatkan nyawa mereka, tapi justru karena Siang huhoa adalah idola mereka, Enghiong mereka, kuncu diantara kaum penyamun!
Mereka menyebut diri sebagai budak bunga dari Ban hoa ceng (perkampungan selaksa bunga), pelayan Siang Huhoa.
Sementara Siang Huhoa sendiri selalu menganggap mereka sebagai temannya, sahabat karibnya.
Tidak lebih tidak kurang hanya sebagai sahabat.
Inilah satu-satunya persoalan yang membuat mereka tidak puas.
Biarpun begitu mereka tetap gembira, asal masih bisa berdiam dalam perkampungan selaksa bunga, mereka tetap gembira, tetap merasa puas.
Aneka bunga selalu mekar di perkampungan Ban hoa ceng, mekar di empat musim, begitu pula dengan senyuman diwajah Siang Huhoa, senyum yang riang selalu menghiasi bibirnya sepanjang tahun.
Mereka senang bunga, tapi lebih senang melihat wajah Siang Huhoa yang ramah, dengan senyuman yang memikat hati.
Tentu saja Siang Huhoa tidak selalu tertawa, ada kalanya dia pun tidak tertawa.
Tidak heran kalau saat itu ke dua orang gadis itu dibuat terperanjat setelah melihat Siang Huhoa berjalan mendekat tanpa senyuman dibibir.
Mereka segera sadar, suatu peristiwa yang luar biasa tentu telah terjadi!
Suara canda dan tawanya berhenti seketika, Siau-sin dan Siau-tho serentak melompat bangun dari tempat duduknya.
Siang Huhoa melangkah masuk ke dalam gardu, sambil mengacungkan surat dalam genggamannya, tiba tiba dia bertanya.
"Siapa yang mengirim surat ini kemari?"
"Seorang lelaki setengah umur berdandan kacung, dia mengaku bernama Jui Gi, datang dari Perpustakaan Ki po cay"
Jawab Siau-tho. Baru saja Siang Huhoa akan mengajukan pertanyaan lagi, Siau-sin yang berada disisinya telah menyela duluan.
"Sebetulnya surat dari siapa itu?"
"Pemilik Perpustakaan Ki po cay, Jui Pakhay"
"Apakah dia temanmu?"
"Dulu yaa!"
Siang Huhoa menghela napas riangan.
"Dan sekarang?"
Siau-sin mendesak lebih jauh.
"Sekarang sudah tidak lagi"
Siau-sin tidak bertanya lebih lanjut, dia cukup tahu manusia macam apakah Siang Huhoa itu, bila Jui Pakhay tidak kelewat memuakkan, tidak kelewat memandang hina dirinya, tidak mungkin dia tidak menganggap orang itu sebagai sahabatnya.
"Ada urusan apa dia menulis surat kepadamu?"
Tanya Siautho sesaat kemudian.
"Suruh aku pergi menolong jiwanya"
"Suruh atau minta?"
"Suruh!"
"Memangnya Jui Pakhay belum tahu kalau kau sudah tidak menganggap dia sebagai sahabatmu lagi?"
"Dia sudah tahu"
"Kalau memangnya sudah tahu, kenapa masih berkirim surat?"
Tanya Siau-tho keheranan.
"Sebab ketika masih menjadi sahabatku dulu, dia pernah menolongku satu kali, biarpun aku belum tentu akan mati meski tidak peroleh bantuannya, bagaimanapun aku tetap telah menerima bantuannya, sudah berhutang budi kepadanya"
Setelah berhenti sejenak untuk menukar napas, lanjutnya.
"Dia tahu dan yakin, aku bukan orang yang lupa budi, membalas air susu dengan air tuba!"
"Ooh, jadi dia minta balas jasa budi mu?"
"Setahuku, dia bukan manusia semacam ini, bisa jadi peristiwa yang dialaminya kali ini kelewat horor, kelewat menggidikkan hati, terjadi sangat mendadak sehingga membuat hati dan pikirannya kalut, oleh karena tidak yakin bisa menghadapi ancaman tersebut hingga terpaksa dia datang minta bantuanku"
"Kesulitan macam apa yang dia hadapi sebenarnya?"
Pelan-pelan Siang Huhoa mengalihkan sorot matanya keatas surat yang berada dalam genggamannya, dia bertanya.
"Apakah kalian pernah mendengar sesuatu benda yang disebut Laron penghisap darah?"
"Laron penghisap darah?"
Sambil miringkan kepalanya Siautho berpikir sejenak, ketika tidak peroleh jawaban, dia berpaling ke arah Siau-sin.
Siau-sin sendiri pun balas memandangnya dengan mata terbelalak lebar, tampaknya dia pun tak tahu.
"Apakah kalian sama sekali tidak punya gambaran?"
Tanya Siang Huhoa kemudian setelah melihat tingkah laku ke dua orang gadis itu.
"Sebetulnya benda apakah itu?"
"Aku sendiripun kurang begitu jelas"
Sahut Siang Huhoa. Setelah berpikir sejenak, kembali dia melanjutkan.
"Bila kita telaah tulisan dalam surat itu, semestinya yang dia maksud adalah seekor Laron penghisap darah"
Tiba-tiba Siau-tho mendongakkan kepalanya memandang sebuah belandar berukir yang ada diatas gardu kecil itu.
Seekor kupu-kupu sedang hinggap diatas tiang belandar berukir itu.
Seekor kupu-kupu dengan tujuh warna warni, walaupun bukan berada dibawah cahaya sang surya, namun keindahannya amat menawan hati.
Sebetulnya bukan belandar berukir yang diamati Siau-tho, dia sedang mengawasi kupu kupu yang hinggap disitu.
"Menurut pandanganku, Laron tidak beda jauh dengan kupu-kupu......."
"Dipandang sepintas dari bentuk tubuhnya memang agak mirip"
Tukas Siang Huhoa cepat.
"padahal beda didalam banyak hal, kupu kupu akan hinggap didahan jika malam tiba, sementara Laron akan muncul diwaktu malam, ketika hinggap, sepasang sayap kupu-kupu berdiri tegak dibelakang punggungnya, sedang sayap Laron terpentang di kiri kanan"
Ternyata bukan saja dia memiliki pengetahuan yang luas mengenai bunga-bungaan, pengetahuannya dalam hal serangga pun amat mengagumkan.
"Paling tidak dalam satu hal ada kesamaan"
Kata Siau-tho.
"Hal yang mana?"
Tanya Siau-sin tidak tahan "Serangga-serangga itu tidak suka darah, terlebih menghisap darah"
"Itulah sebabnya aku merasa kejadian ini sangat aneh"
Siang Huhoa menerangkan. Siau-sin dan Siau-tho tertegun, untuk sesaat mereka hanya bisa berdiri termangu. Kembali Siang Huhoa merentangkan suratnya seraya berkata.
"Jui Pakhay sengaja berkirim surat kepadaku karena si Laron penghisap darah itu mengintainya setiap hari, siang maupun malam, keselamatan jiwanya sudah berada diujung tanduk"
Sekali lagi Siau-sin dan Siau-tho tertegun.
"Benarkah ada kejadian seperti ini?"
Seru Siau-tho tanpa terasa.
"Bila kita tinjau dari isi surat ini, rasanya memang benarbenar telah terjadi peristiwa semacam ini"
"Jangan-jangan nama tersebut hanya julukan seseorang?"
Tiba tiba Siau-sin menyela.
"Rasanya sih bukan"
"Tapi anehnya, kenapa Laron penghisap darah itu mencari gara gara dengannya?"
Kembali Siau-tho bertanya. Tiba-tiba Siang Huhoa bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri, setelah bersin berulang kali dengan nada suara yang berubah sangat aneh jawabnya.
"Karena bininya adalah jelmaan Laron penghisap darah, seorang siluman Laron!"
Bukan merasa takut atau ngeri, Siau-sin dan Siau-tho malah tertawa tergelak.
"Aaah, masa kaupun percaya kalau di dunia ini terdapat setan iblis atau siluman?"
Ejek Siau-tho sambil tertawa.
"Aku bicara demikian lantaran isi surat berbicara begitu"
Kata Siang Huhoa cepat, kemudian dia sodorkan surat itu ke tangan mereka.
Serentak Siau-sin dan Siau-tho menerima sodoran surat tersebut, tapi begitu selesai membaca isi surat itu, senyuman mereka seketika hilang lenyap tidak berbekas "Jangan jangan otak Jui Pakhay kurang waras atau tidak beres?"
Gumam Siau-tho dengan wajah hijau membesi.
"Paling tidak pada tiga tahun berselang dia masih waras, kalau sekarang mah aku kurang tahu"
"Berarti sudah tiga tahun kau tidak pernah bersua dengannya?"
"Yaa, tiga tahun lamanya"
Siang Huhoa membenarkan sambil menghela napas panjang, pelan-pelan dia alihkan sorotnya ke angkasa.
"Apakah tiga tahun berselang dia sudah berbini?"
Kembali Siau-tho bertanya. Siang Huhoa menggeleng.
"Maksudmu kau belum pernah berjumpa dengan bininya?"
Siau-tho bertanya lagi.
"Benar, sampai sekarang aku belum pernah bertemu muka"
Siang Huhoa mengangguk.
"tapi tidak lama kemudian kami akan segera berjumpa"
"Berarti kau sudah putuskan untuk berangkat ke sana?"
Siau-tho nampak agak terperanjat.
"Benar, apa pun yang terjadi, aku tetap harus berangkat"
"Kau tidak kuatir bininya benar benar adalah siluman Laron?"
Siau-tho mulai cemberut tidak puas.
"Hingga detik ini aku belum merasa perlu untuk takut"
"Oya?"
"Karena hingga saat ini, seekor Laron penghisap darah juga belum pernah kujumpai"
"Tidak ada salahnya kita ikut meramaikan suasana, toh sudah agak lama kita tidak pernah berjalan-jalan"
Timbrung Siau-sin sambil tertawa. Siang Huhoa tersenyum.
"Tapi sayang, kali ini hanya aku seorang saja yang akan berangkat ke sana"
"Aah....."
Siau-sin mendesis lirih lalu terbungkam seketika.
Siau-tho ikut jadi lemas dan tidak bersemangat lagi.
Mereka tahu apa yang telah diputuskan Siang Huhoa, tidak mungkinada seorangpun yang dapat merubahnya.
"Persoalan ini adalah urusan pribadiku, aku tidak ingin kalian ikut campur di dalam masalah ini"
Sambung Siang Huhoa lagi sambil tertawa. Siau-sin dan Siau-tho tetap terbungkam tanpa bersuara.
"Apakah Jui Gie si penghantar surat itu sudah berlalu?"
Kembali Siang Huhoa bertanya setelah hening sesaat.
"Aku menyuruh dia menunggu jawabanmu di serambi samping"
Jawab Siau-tho. Ternyata orang itu masih menunggu di serambi samping. Rupanya Jui Gie kenal dengan Siang Huhoa , begitu melihat orang itu muncul di dalam serambi, dia segera bangkit berdiri.
"Ternyata memang benar kau"
Sapa Siang Huhoa dengan mata mendelik.
"Tidak nyana Siang-ya masih kenal dengan hamba"
Ujar Jui Gie sambil soja.
"Sewaktu mengabdi kepada Jui Pakhay, rasanya usiamu sudah tidak terlalu muda lagi?"
"Turun temurun hamba selalu mengabdi kepada keluarga Jui"
"Ooh...."
Siang Huhoa kembali manggut-manggut, kemudian dia mengalihkan pembicaraan dan bertanya lagi.
"sebenarnya apa yang telah terjadi di perkampunganmu?"
"Selama berapa hari beruntun majikan selalu di teror Laron penghisap darah, mengerikan sekali............."
Jawaban Jui Gie tergagap seperti orang yang amat ketakutan. Ternyata benar-benar ada Laron penghisap darah!! Siang Huhoa agak tertegun, desaknya kemudian.
"Jadi kaupun sudah pernah bertemu dengan Laron penghisap darah?"
"Belum, belum pernah"
Jui Gie menggeleng.
"Bagaimana dengan penghuni yang lain?"
"Setahuku, mereka pun tidak pernah melihat"
"Berarti hanya Jui Pakhay seorang yang pernah melihat makhluk itu?"
Jui gie tertawa getir.
"Dalam hal ini aku sendiripun kurang begitu jelas"
Kembali Siang Huhoa berpaling sambil bertanya lebih jauh.
"Ketika menyerahkan surat itu kepadamu, apa yang dia katakan?"
"Dia hanya berpesan agar secepat mungkin menyerahkan surat ini ke perkampungan selaksa bunga. Dan dia memang melaksanakan tugas itu dengan amat cepat! Ketika surat itu terkirim masih tanggal tujuh bulan tiga, hari ini adalah bulan tiga tanggal tiga belas. Jarak dari Perpustakaan Ki po cay menuju perkampungan selaksa bunga ternyata bisa ditempuh tidak sampai enam hari. Siang Huhoa berpikir sejenak, lalu katanya lagi.
"Waktu itu, apakah kau menjumpai sesuatu yang tidak beres dengan dirinya?"
"Paras muka majikan sangat tidak sedap dipandang waktu itu, bahkan sepasang tangannya gemetar terus tiada hentinya"
Siang Huhoa tidak bertanya lebih lanjut, sebab dia tahu ditanya pun percuma karena orang ini tidak akan bisa memberi penjelasan yang diperlukan. Tiba-tiba dia berpaling, kemudian perintahnya.
"Siapkan kuda!"
Kakek yang berdiri menanti didepan pintu baru saja menyahut dan siap mengundurkan diri, tiba tiba dari halaman luar sudah berkumandang suara ringkikan kuda.
Ternyata Siau-tho dan Siau-sin telah menyiapkan kuda baginya.
Sambil tersenyum Siang Huhoa segera melangkah keluar diikuti Jui gie yang menguntil ketat di belakangnya.
Kulit tubuh yang putih, gagang pedang berwarna kuning emas dengan sarung pedang berwarna merah tua.
Siau-tho segera membantu Siang Huhoa menggembolkan pedangnya sementara Siau-sin memasangkan mantel ditubuhnya.
Sambil tersenyum Siang Huhoa segera melompat naik ke punggung kudanya.
Lautan bunga menyelimuti seluruh halaman tengah, diluar pintu bunga terhampar bagai menyelimuti langit, hujan gerimis masih berderai ditengah kabut nan tebal, entah berapa banyak bunga yang berguguran tertimpa olehnya.
Dengan sekali bentakan, Siang Huhoa melarikan kudanya menembus lapisan hujan dan kabut yang menyelimuti udara.
Hari ini bulan tiga tanggal dua, kentongan ke dua, rembulan yang melengkung bagai sabit menghiasi langit yang bening bagai permukaan air.
Perasaan hati Jui Pakhay terasa lega dan nyaman bagai ikan yang berenang di dalam air.
Berapa butir mutiara mestika yang bernilai tiga ratus tahil emas murni ternyata laku dijual dengan harga lima ratus tahil emas murni.
Kejadian semacam ini pada hakekatnya merupakan satu kejadian yang layak digirangkan.
Setelah menghantar tamunya hingga didepan pintu gerbang, sambil menggembol uang kertas senilai lima ratus tahil emas murni, dia berjalan masuk dengan langkah yang ringan dan cepat, menelusuri serambi panjang, melalui jalan setapak ditengah kebun bunga dan kembali ke perpustakaannya di halaman paling belakang.
Perpustakaan ini merupakan tempatnya untuk membaca buku, juga merupakan tempatnya untuk menyimpan dan menyembunyikan harta kekayaannya.
Pada dinding samping perpustakaan itu terdapat sebuah pintu rahasia, dibalik pintu terbentang satu susun undak-undakan yang terbuat dari batu, langsung berhubungan dengan sebuah ruang bawah tanah.
Dari pintu rahasia sampai ke ruang bawah tanah, semuanya terdapat tujuh lapis alat jebakan rahasia yang bisa mencabut nyawa siapa pun dalam sekejap mata, selain dia, belum pernah ada orang yang berhasil melalui ke tujuh lapis alat jebakan rahasia itu dengan aman dan selamat.
Dia percaya dan sangat yakin, karena ke tujuh lapis alat jebakan maut itu adalah hasil rancangannya, dia sendiri yang merancang, mencipta, membuat dan dia sendiri pula yang memasangkan.
Dia memang murid paling buncit dari Hiun-cicu, seorang ahli tehnik yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan, hampir semua kepandaian gurunya dalam menciptakan pelbagai peralatan telah dikuasahinya dengan matang, tidak heran kalau ke tujuh lapis alat jebakan maut itu merupakan hasil karyanya yang paling hebat.
Dia percaya dan yakin, ke tujuh buah alat jebakan mautnya sangat dapat diandalkan, diapun sadar betapa dahsyatnya kekuatan penghancur yang dihasilkan alat-alat jebakan itu.
Tombol buka tutup untuk membuka pintu rahasia itu dipasang diatas dinding, dibalik dinding itu tergantung sebuah lukisan antik.
Sebuah lukisan antik dari Tong Pak-hau, padahal lukisan itu tidak ternilai harganya, namun dia hanya menggantungkan dengan begitu saja, karena harta karun yang tersimpan dibalik kamar rahasia, beribu kali lipat lebih berharga daripada lukisan antik itu.
Kini, dia sedang berdiri dihadapan lukisan antik tersebut.
Tertimpa cahaya lentera yang terang benderang, diatas dinding terbias bayangan tubuhnya yang tinggi besar.
Ketika dia mulai menyingkap lukisan tersebut, bayangan tubuhnya juga bagai terbelah dari atas kepala hingga ke bawah, terbelah jadi dua.
Keadaan semacam ini sudah banyak kali dialami, tapi baru kali pertama ini tiba-tiba muncul suatu perasaan yang aneh sekali dalam hati kecilnya.
Bersamaan waktunya, tiba-tiba bayangan tubuhnya hilang lenyap tidak berbekas, lenyap ditengah bayangan aneh yang tinggi besar dan sangat luar biasa.
Bayangan itu sudah pasti bukan bayangan tubuhnya sendiri yang mendadak berubah menjadi besar, raksasa dan sangat aneh.
Sejenis makhluk tiba-tiba sudah muncul dari belakang tubuhnya, merampas bayangan tubuh sendiri yang semula terbias karena pantulan cahaya lentera.
Sejenis makhluk, yang jelas bukan manusia!
Dipandang dengan cara apa pun, bayangan tersebut sudah pasti tidak mirip bayangan manusia, sama sekali tidak mirip, malah kalau mau bicara jujur, bayangan itu mirip sekali dengan bayangan kupu-kupu.
Bayangan itu sama sekali tidak bergerak, dia hanya muncul secara mendadak, terlewat tiba-tiba sehingga mencekam perasaan hatinya.
Agak tertegun Jui Pakhay merendahkan separuh badannya, begitu merendahkan badannya, dia langsung menerobos masuk ke balik ruang rahasia.
Bayangan itu langsung menutupi seluruh wajahnya, hampir bersamaan waktunya dia pun telah melihat suatu makhluk.
Makhluk itu bukan kupu-kupu, melainkan seekor Laron!
Seekor Laron berwarna hijau kemala yang bening dan indah, Laron itu menempel diatas kain penutup diatas lampu lentera yang terletak dimeja tulis.
Dibawah pancaran sinar lentera, dari seluruh tubuh Laron itu seakan memancarkan cahaya seram yang membawa pancaran sinar siluman!
Dibalik pancaran sinar siluman itu tampak sepasang mata berwarna merah darah.
Bukan mata, ternyata bukan sepasang mata!
Benda itu tidak lebih hanya guratan garis merah darah yang berbentuk mata, satu di sebelah kiri satu lagi disebelah kanan sayap Laron hijau itu.
Disekeliling guratan sisik merah darah berbentuk mata itu merupakan guratan-guratan sisik lain yang berwarna merah darah pula, seakan sekujur tubuhnya terdiri dari serat-serat berdarah.
Serat darah itu meliuk-liuk dari bawah membentang sampai di atas dan berkumpul disekeliling "mata"
Itu, sekilas pandang bentuknya mirip dengan sepasang alis mata, sementara garis bulatan dibagian perut Laron hijau itu berbentuk seperti sebuah hidung.
Dengan komposisi semacam ini, pada hakekatnya terbentuklah selembar wajah, wajah tanpa muka, sebuah wajah setan!!
Manusia, rasanya belum tentu bisa memiliki sebuah raut wajah yang begitu menakutkan dan begitu menyeramkannya.
Raut wajah itu ternyata tidak lain adalah sepasang sayap dari Laron itu, diatasnya pun terdapat guratan sisik berwarna merah darah, hanya jumlahnya lebih tipis dan sedikit, sepasang sayapnya ini berbentuk seperti sebuah mahkota kemala hijau yang aneh sekali bentuknya.
Ditengah mahkota kemala hijau itu tentu saja terletak kepala dari sang Laron.
Disebelah kiri kanan kepala Laron itu terdapat sebuah sungut berbentuk sayap, selain itu terdapat pula sepasang benda berbentuk bulat bagaikan bola, inilah sepasang mata yang sebenarnya.
Ternyata sepasang mata inipun memiliki warna yang sama dengan sepasang mata yang tumbuh diatas sayapnya itu, merah bagai pancaran darah segar, bahkan memancarkan pula sinar tajam yang menggidikkan hati Cahaya darah!
Sepasang mata yang memancarkan cahaya darah itu seakan sedang melotot ke arah Jui Pakhay!
Benarkah Laron tersebut sedang mengawasinya?
Jui Pakhay tidak tahu dan tidak yakin, namun paling tidak dia mempunyai perasaan semacam ini.
Tidak heran kalau seketika itu juga timbul perasaan ngeri dan perasaan takut yang luar biasa dari dalam lubuk hatinya.
Semacam rasa ngeri, rasa takut yang belum pernah dialami sebelumnya!
Dia ingin sekali mengalihkan sinar matanya ke tempat lain, namun dalam detik tersebut, tiba-tiba dia menjumpai bahwa sepasang matanya sudah jadi kaku, bahkan sekujur tubuhnya mulai terasa kesemutan, mulai menjadi kaku.
Sepasang mata Laron yang berwarna merah darah itu seakan menyimpan semacam kekuatan iblis yang maha aneh dan maha dahsyat, yang menghisap sepasang mata Jui Pakhay sehingga tidak mampu bergeser.
Kini, bukan Cuma sepasang matanya saja yang terhisap, Jui Pakhay merasa bahkan sukmanya dan nyawanya pun seakan ikut terhisap.
Lambat laun dia mulai merasakan betapa sukmanya, nyawanya perlahan-lahan mulai melambung, mulai melayang meninggalkan rongga badan kasarnya.
Pada detik itulah, dia pun mulai melihat mulut dari Laron penghisap darah itu.
Dari balik mulut Laron merah darah itu menyembur keluar sebatang tabung penghisap yang berwarna merah darah pula, bagaikan sebatang jarum tajam, membiaskan cahaya tajam yang menyilaukan mata ketika terkena cahaya lentera.
Segulung hawa dingin yang menggidikkan hati seketika muncul dari dasar telapak kaki Jui Pakhay dan menyusup naik ke atas kepala, bagaikan tertusuk jarum yang amat tajam, dengan cepat menyusup naik dan menghujam ke ulu hatinya.
Dia sangat terkesiap, amat tercekat perasaan hatinya, kesadaran otaknya seakan menjadi terang kembali, sekujur badannya seakan tercebur ke dalam kolam yang berisi air dingin, nyawanya, sukmanya seolah sudah terbang melayang ke angkasa.
Dari balik matanya sudah mulai terpancar sinar kengerikan, cahaya ketakutan yang luar biasa, tiba-tiba dia seakan sudah teringat dengan suatu kejadian yang amat menakutkan!
Tak kuasa lagi dia menjerit keras.
"Laron penghisap darah!!"
Suara jeritannya parau dan gemetar, sama sekali tidak mirip dengan suara jeritannya dihari hari biasa. Begitu kata "Laron penghisap darah"
Meluncur dari mulutnya, seluruh otot dan kulit wajahnya mengejang keras, seluruh badannya menggigil keras bagaikan orang kedinginan, raut muka itupun sama sekali tidak mirip dengan raut wajahnya.
Dia seakan-akan telah berubah jadi orang lain, menjelma jadi manusia yang berbeda!
"Sreeet!"
Bergema suara robekan yang tersayat oleh suatu benda, tahu tahu di atas kain penutup lampu lentera itu sudah muncul sebuah lubang kecil, tabung penghisap berwarna merah darah dari Laron hijau itu tahu-tahu sudah menancap diatas lubang tersebut.
Tidak dapat disangkal lagi kalau tabung penghisap itu bentuknya memang tidak berbeda jauh dengan sebatang jarum, bahkan dalam kenyataan memiliki ketajaman yang melebihi ujung dari sebatang jarum.
Benda setajam itu tentu saja tidak terlalu sulit untuk menusuk masuk ke dalam tubuh manusia dan menembusnya.
Mengawasi tutup lentera yang tertusuk hingga berlubang itu, Jui Pakhay merasa seakan-akan kulit tubuh sendiripun ikut tertusuk hingga tembus, terasa darah segar sedang terhisap keluar dengan derasnya.
Kini sepasang tangannya mulai dingin membeku, sepasang tangan yang dingin membeku itu sudah ditekan berbarengan ke atas pinggangnya.
Ikat pinggang itu bukan ikat pinggang biasa, dibalik ikat pinggang tersebut tersembunyi senjata tajam andalannya, senjata yang membuat dia tersohor di dalam dunia persilatan, Jit seng coat mia kiam (pedang tujuh bintang pemusnah nyawa).
Pedang lemas sepanjang tiga depa dengan tujuh biji senjata rahasia berbentuk bintang yang tersembunyi di balik senjata tersebut, ketika melepaskan tusukan dengan menyalurkan tenaga dalamnya, maka ke tujuh buah senjata rahasia berbentuk bintang itu akan melesat keluar dengan kecepatan luar biasa, mencabut nyawa lawan disaat musuh sama sekali tidak menduga.
Hingga kini, belum pernah ada seorang manusia pun yang berhasil mempertahankan selembar jiwanya dibawah ujung pedang Jit seng coat mia kiam itu.
"Jit seng toh hun, It kiam coat mia" (tujuh bintang pembetot sukma, satu tusukan mencabut nyawa) begitulah gambaran senjatanya ketika menghadapi manusia, tapi bagaimana pula kehebatannya sewaktu berhadapan dengan seekor Laron? Tabung penghisap telah ditarik kembali, setitik cahaya yang luar biasa tajamnya terbias dari ujung jarum diatas kepala Laron itu. Dari balik keheningan yang mencekam suasana Perpustakaan itu, tiba-tiba bergema suara yang sangat aneh..
"Seeerrr...serrrrr...!"
Sepasang sayap Laron itu mulai bergetar, mulai dikibaskibaskan, perasaan hati Jui Pakhay mulai menyusut, mulai mengecil sementara suara "Seerrr, seerrr"
Itu makin lama semakin bertambah nyaring. Laron hijau yang semula hanya sebesar kepalan tangan, kini berubah selebar telapak tangan... suara "Seerrr, seerrr"
Pun makin lama bergema makin keras dan memekikkan telinga.
Akhirnya seluruh penutup lentera itu sudah tertutup oleh tubuh Laron hijau itu.
Kelopak mata Jui Pakhay makin menyusut, peluh yang bercucuran makin deras, peluh itu peluh dingin.
"Sreeet!"
Diiringi suara kebasan keras, Laron itu mulai terbang meninggalkan penutup lentera, bagaikan setan iblis yang ganas, langsung menerkam ke arah Jui Pakhay.
Sepasang mata diatas kepala Laron itu, sepasang mata bermotif bunga di sayap Laron itu, bagaikan kobaran api yang membara ditengah genangan darah, berkilauan ditengah cahaya api yang membara.
Mendadak jarum penghisap itu kembali disemburkan keluar, bersamaan waktunya pedang pun melepaskan sebuah tusukan kilat.
Laron penghisap darah!!
Jui Pakhay nyaris menjerit ngeri, hampir pecah nyalinya membayangkan kengerian serta teror horor yang terbentang di depan mata, akhirnya dia turun tangan, pedang jit-seng-coat-mia-kiam melancarkan sebuah tusukan maut.
Cahaya pedang yang meluncur bagai sambaran kilat, sinar dingin yang cemerlang bagaikan cahaya bintang, sekali serang tujuh bintang meluncur berbarengan ke arah depan.
Jit seng toh hun, It kiam coat mia (tujuh bintang pembetot sukma, satu tusukan mencabut nyawa).
"Traak, traak, traak"
Tujuh kali dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, ke tujuh batang senjata rahasia berbentuk bintang itu sudah menancap semua diatas permukaan meja.
Ditengah kilatan cahaya pedang yang menyambar diatas penutup lentera, benda itu terpapas kutung jadi dua bagian, tapi.......
"Sreet!"
Satu suara desingan angin melejit tinggi ke tengah udara.
Lidah api dari lentera itu ikut terpapas kutung menjadi dua, terpapas ditengah kilatan cahaya pedang yang menyambar lewat bagai sambaran halilintar, melejit dan terbang ke tengah udara.
Seketika itu juga suasana di dalam ruang perpustakaan dicekam kegelapan yang luar biasa, sementara lidah api dari lentera yang terbelah dan mencelat ke udara itu masih menari-nari di angkasa bagaikan api setan yang membara.
Bagaimana dengan sang Laron?
Dalam waktu singkat tubuhnya berubah bagaikan setan gentayangan membuat tubuh Laron penghisap darah itu berubah menjadi tembus pandang hingga tersisa segulung lingkaran cahaya yang memancarkan sinar terang, ketika tusukan pedang itu menghampiri badannya, lingkaran cahaya itupun turut hilang lenyap tidak berbekas.
Lenyap bagaikan setan iblis!
Jui Pakhay celingukan ke sana kemari, peluh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba serangan pedangnya kembali dilancarkan, menyambut lidah api yang sedang menari ditengah udara dan menggesernya kembali ke atas lentera.
Sekali lagi cahaya lentera menerangi seluruh ruangan, lambat laun suasana ditempat itupun jadi terang benderang, dibawah cahaya lampu, dengan jelas Jui Pakhay menyaksikan bahwa disana, dalam perpustakaan buku itu hanya ada dia seorang.
Tidak ada Laron, nyamuk dan lalat pun tidak nampak seekor pun, apa yang terpampang dihadapan matanya tadi seolah hanya sebuah ilusi, sebuah khayalan yang tidak nyata.
Dia membungkukkan badan, memungut kembali penutup lentera yang terjatuh diatas lantai.
Sebuah lubang tusukan kecil sebesar tusukan jarum, terlihat muncul diatas penutup lentera itu, lubang tersebut tidak lain adalah tempat yang ditusuk oleh Laron penghisap darah itu dengan alat penghisapnya yang tajam.
Jelas peristiwa itu bukan sebuah ilusi, bukan sebuah lamunan atau khayalan!!
Sekujur badan Jui Pakhay mulai gemetar keras, peluh dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Bab 2.
Teka teki seputar Raja Laron.
Bulan tiga tanggal dua, menjelang tengah hari, di tepi telaga.
Air kelihatan jernih berwarna hijau dengan latar belakang bukit nan biru, pepohonan Liu tumbuh rimbun disepanjang tepi telaga, musim semi memang musim yang mudah membuat orang mabuk, membuat orang terpesona.
Perasaan Jui Pakhay sangat murung, kesal dan masgul, jauh lebih murung ketimbang mabuk oleh air kata-kata, kemurungan yang susah terurai, bahkan semakin berusaha dihilangkan, perasaan itu semakin mencekam.
Kejadian semalam masih jelas terbayang di depan matanya, meski kini dia sedang berjalan menelusuri pepohonan Liu yang rindang, namun langkah kakinya terasa berat.
Pemandangan alam nan indah yang terbentang dihadapannya tidak membuat perasaannya tenang, dia bahkan seakan tidak melihatnya, seakan tidak merasakannya.
Dalam keadaan seperti ini, dia memang tidak punya napsu untuk menikmati kesemuanya itu.
Hari ini dia memang sengaja datang kesana, karena ditempat inilah dia akan menemukan Tu Siau-thian.
Tu Siau-thian adalah sahabat karibnya, diapun seorang wakil opas diwilayah itu, seorang jago golok yang handal, selain pintar, kungfunya juga hebat.
Hingga sampai hari ini sudah begitu banyak kasus besar yang berhasil dibongkar olehnya.
Ada orang bilang, bila latar belakang Tu Siau-thian setengah saja melebihi Nyoo Sin, maka yang jadi komandan opas di kota ini bukan Nyoo Sin melainkan Tu Siau-thian.
Menanggapi gurauan semacam ini, Tu Siau-thian tidak pernah memberikan pandangan maupun pendapat pribadinya.
Dia seperti sudah amat puas dengan posisinya sekarang, wakil komandan opas.
Sekarang dia sedang berjalan menuju ke sisi Jui Pakhay, lagak maupun gayanya persis seperti orang yang sedang terbuai karena mabuk oleh keindahan alam di tepi telaga yang rimbun dengan pohon liu itu.
Berbicara sejujurnya, kedatangannya ke tempat itu memang khusus untuk menikmati pemandangan alam disana.
Karena belum lama ini dia berhasil membongkar sebuah kasus kriminal yang sangat berat, dalam kondisi demikian, dia butuh tempat rileks untuk mengendorkan semua otot dan uratnya yang telah cukup lama kencang dan tegang.
Dia baru terperanjat setelah Jui Pakhay berada disisinya, dengan pandangan terkejut bercampur keheranan ditatapnya wajah sahabatnya lekat-lekat.
Dia seperti tertegun, keheranan dan tidak percaya kalau bakal berjumpa dengan Jui Pakhay ditempat seperti ini, dia sangat mengenal siapa Jui Pakhay itu dan tahu pasti apa kegemerannya.
Tempat semacam ini jelas bukan tempat yang cocok bagi Jui Pakhay, dia bukan termasuk type manusia yang bisa menikmati keindahan alam, terlebih kedatangan Jui Pakhay kali ini hanya seorang diri.
Jui Pakhay sedang mengawasi dirinya pula, dia menatap wajah rekannya dengan mimik muka yang sangat aneh, mimik muka istimewa.
Tu Siau-thian semakin keheranan, setelah menyapanya sambil tertawa, dia menegur.
"Jadi kaupun menyukai tempat ini?"
"Tidak terlalu suka"
Jawab Jui Pakhay dengan sorot mata tidak tenang.
"Sungguh aneh, aku tidak menyangka bakal berjumpa dengan kau di tempat semacam ini"
Kembali Tu Siau-thian berseru sambil tertawa.
"Tapi aku dapat menduganya"
"Oya?"
Tu Siau-thian tertegun.
"Aku telah berkunjung ke rumahmu, orang rumah yang mengatakan kalau kau berada disini"
"Ooh, jadi kau sengaja datang kemari karena ada keperluan denganku?"
Seru Tu Siau-thian seperti baru mengerti. Jui Pakhay manggut manggut pelan.
"Persoalan apa yang kau hadapi? Kenapa terburu-buru mencari aku?"
Kembali Tu Siau-thian bertanya keheranan.
"Aku khusus kemari karena butuh petunjukmu tentang satu hal"
Bicara sampai disitu, dia berbalik badan dan kembali berjalan menelusuri jalanan yang baru saja dilaluinya.
Dalam keadaan begini terpaksa Tu Siau-thian mengikuti dari belakang.
Sambil berjalan kembali Jui Pakhay berkata lagi.
"Aku tahu kau sudah banyak mengembara di seantero jagad, pengetahuan dan pengalamanmu sangat luas, banyak kejadian, banyak wilayah yang mungkin tidak pernah diketahui orang, bagimu bukan satu kejadian yang aneh atau paling tidak sama sekali tidak ada bayangan"
"Sebenarnya apa masalahmu?"
Tidak tahan Tu Siau-thian menegur.
"Pernah tahu makhluk yang bernama Laron penghisap darah?"
Tanya Jui Pakhay sambil bersin beberapa kali.
"Laron penghisap darah?"
Tu Siau-thian agak tertegun.
"maksudmu Laron penghisap darah yang banyak hidup di dalam belantara hutan diwilayah Siau-siang?"
"Aaah, rupanya kau tahu juga tentang hal ini"
Seru Jui Pakhay kegirangan.
"Aku memang berasal dari wilayah Siau-siang"
"Bagus sekali....."
"Kenapa secara tiba-tiba kau menanyakan soal makhluk itu?"
Tu Siau-thian bertanya lebih jauh. Jui Pakhay tidak langsung menjawab, kembali dia bertanya.
"Sebenarnya makhluk apakah itu?"
"Salah satu jenis Laron"
Sahut Tu Siau-thian sambil berusaha menekan perasaan heran dan tercengangnya.
"Jadi sama persis seperti jenis Laron pada umumnya?"
"Bentuk luarnya memang sama persis, tapi warnanya sangat berbeda"
"Apa warnanya?"
"Hijau muda"
Tu Siau-thian menerangkan sambil tertawa.
"hijau muda mendekati warna batu kemala hijau, matanya berwarna merah, pada kedua belah sayapnya terdapat pula guratan merah bermotif mata, sepasang mata itupun berwarna merah, semerah darah segar, sementara disekeliling matanya dipenuhi serat-serat merah seperti guratan darah segar"
"Apakah karena sering menghisap darah manusia dan hewan, maka dia berubah menjadi bentuk seperti itu?"
"Ooh, jadi kaupun terpengaruh oleh cerita dongeng itu?"
Seru Tu Siau-thian sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Memangnya berita itu hanya sekedar berita angin?"
"Memang begitulah!"
Seru Tu Siau-thian sambil tertawa dan manggut manggut.
"Kalau memang begitu, kenapa makhluk tersebut dinamakan Laron penghisap darah?"
"Ini disebabkan sepasang matanya yang berwarna merah darah, garis guratan mata yang merah darah serta garis garis darah pada sepasang sayapnya, orang yang kurang tahu beranggapan bahwa merahnya mata tersebut lantaran kebanyakan menghisap darah manusia dan hewan, akhirnya semua orangpun menyebut Laron tersebut sebagai Laron penghisap darah"
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Orang bukan hanya menyebutnya sebagai Laron penghisap darah, malahan ada yang menyebutnya sebagai penyamun bermuka setan"
"Yaa, betul, jika dipandang dari punggungnya makhluk itu memang mirip sekali dengan selembar wajah setan"
Tanpa terasa Jui Pakhay mengangguk membenarkan. Tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa tergelak, selanya.
"Kapan sih kau pernah bertemu setan?"
Jui Pakhay melengak, sesaat kemudian dia menggeleng.
"Belum pernah aku melihat setan"
"Lantas darimana kau bisa membayangkan tampang setan itu seperti apa?"
"Aku sendiripun kurang tahu, aku hanya berpendapat tampang manusia tidak mungkin sejelek dan seseram itu"
Tu Siau-thian kembali tertawa tergelak, terusnya.
"Ada sementara orang menyebut makhluk itu sebagai Laron bermata burung gereja, Laron bermata iblis, hal ini disebabkan pada sepasang sayapnya terdapat guratan merah bermotif mata darah"
"Apakah Laron semacam ini dapat menghisap darah?"
"Tentu saja tidak dapat, sebab guratan merah darah bermotif mata yang tumbuh di sayap makhluk itu sudah ada semenjak lahir"
"Kau yakin?"
Tu Siau-thian tidak menjawab, dia terbungkam. Melihat itu, Jui Pakhay segera menatapnya lekat-lekat Ditatapnya wajah rekannya itu sekejap, kemudian setelah tertawa getir kembali Tu Siau-thian berkata.
"Walaupun aku tidak berani mengatakan yakin, namun hingga detik ini belum satu kalipun menyaksikan ada Laron yang bisa menghisap darah, bahkan mendengar cerita orang pun belum pernah"
"Siapa tahu orang yang benar-benar pernah melihatnya sudah pada mampus semua, mati karena badannya kering, mati karena cairan darahnya telah dihisap habis oleh si Laron penghisap darah itu"
Setelah menarik napas dalam-dalam, lanjutnya.
"Orang mati kan tidak mungkin bisa berbicara"
Tu Siau-thian tertawa getir.
"Mungkin saja apa yang kau katakan itu benar, tapi menurut apa yang kuketahui, jenis Laron itu tidak suka darah"
"Siapa tahu ada pengecualian?"
Sekali lagi Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"Hingga detik ini aku tetap berpendapat bahwa apa yang kau ucapkan itu hanya sekedar berita angin, isapan jempol, hanya sekedar dongeng!"
"Akupun berharap kesemuanya itu hanya sekedar berita isapan jempol belaka"
"Oya...?"
"Paling tidak, aku sudah tidak perlu menguatirkannya lagi"
Lanjut Jui Pakhay.
"Sebenarnya apa yang kau kuatirkan?"
Tanya Tu Siau-thian agak melengak.
"Aku kuatir ada Laron penghisap darah yang menghisap darah tubuhku hingga mengering"
Tu Siau-thian semakin tercengang, dengan perasaan tidak habis mengerti kembali tanyanya.
"Kapan kau telah bertemu dengan Laron penghisap darah?"
"Kemarin malam"
"Kemarin malam?"
Tu Siau-thian semakin tercengang.
"Walaupun aku pernah mendengar cerita dongeng mengenai Laron penghisap darah, namun selama hidup belum pernah berkunjung ke wilayah Siau-siang, akupun belum pernah melihat Laron penghisap darah, tapi kemarin malam..........."
"Atas dasar apa kau yakin kalau makhluk yang kau jumpai semalam adalah Laron penghisap darah?"
Sela Tu Siau-thian cepat. Jui Pakhay menghela napas panjang.
"Karena Laron yang tiba tiba muncul di dalam perpustakaan ku semalam, persis sama seperti Laron penghisap darah yang dilukiskan dalam cerita dongeng"
"Tapi wilayah Siau-siang selisih jauh sekali dari tempat ini, mana mungkin Laron penghisap darah bisa terbang melewati wilayah yang begitu luas hingga tiba disini? Belum pernah kudengar ada kejadian seperti ini"
Seru Tu Siau-thian semakin keheranan.
"Benar, aku sendiripun belum pernah dengar orang bercerita kalau di tempat ini bisa melihat kehadiran Laron penghisap darah"
"Mungkin juga lantaran ketidak sesuaian suasana dan hawa ditempat ini dengan daerah asalnya, walau begitu bukan berarti suasana dan hawa disini tidak mungkin bisa terjadi perubahan, juga tidak menutup kemungkinan ada Laron penghisap darah yang mampu terbang melintasi wilayah yang luas untuk tiba di sini"
Setelah tertawa dan berganti napas, kembali terusnya.
"Padahal meskipun kau telah melihat munculnya seekor Laron penghisap darah disini, bukan berarti kau mesti kuatir setengah mati. Ketika masih berdiam di daerah Siau-siang dulu, akupun sering bertemu dengan Laron penghisap darah, tapi kenyataannya bukankah hingga detik ini aku masih bisa hidup segar bugar?"
"Tatkala kau bertemu dengan makhluk-makhluk tersebut tempo hari, bisa jadi mereka sudah kekenyangan sehingga tidak berniat menghisap darahmu lagi"
Ujar Jui Pakhay.
"Hahaha.. mungkin saja perkataanmu itu benar"
Jui Pakhay tidak ikut tertawa, wajahnya semakin murung, keningnya makin berkerut. Tu Siau-thian merasa kurang leluasa untuk tertawa sendirian, maka sambil berhenti tertawa katanya lagi.
"Aku lihat kau sudah dibikin ketakutan lantaran bertemu dengan Laron penghisap darah semalam"
Jui Pakhay tidak menyangkal, dengan mulut membungkam dia mengangguk berulang kali.
"Memangnya Laron penghisap darah yang kau jumpai semalam ada niat akan menghisap darahmu?"
Tanya Tu Siauthian lebih lanjut. Paras muka Jui Pakhay berubah hebat, sahutnya tegas.
"Yaa, aku memang melihat kalau dia bermaksud demikian!"
"Kemudian, apakah dia sudah menghisap darahmu?"
Ejek Tu Siau-thian lagi sambil tertawa.
Bila dilihat dari lagaknya, dia seakan telah menganggap perkataan dari Jui Pakhay itu sebagai bahan gurauan.
Jui Pakhay masih tetap membungkam, tidak tertawa, pun tidak perduli dengan ejekan dari Tu Siau-thian, ujarnya bersungguh-sungguh.
"Tidak, baru saja dia akan menerkam tubuhku, pedangku sudah melancarkan serangan maut ke tubuhnya"
Kali ini Tu Siau-thian nampak terperanjat, serunya tertahan.
"Untuk menghadapi seekor Laron pun kau telah menggunakan senjata andalanmu?"
Jika ditinjau dari lagak serta logat bicaranya, dia seolah sedang menyindir Jui Pakhay karena membesar-besarkan sebuah masalah yang sesungguhnya kecil.
Jui Pakhay sama sekali tak menggubris, bahkan tambahnya.
"Bukan hanya menggunakan senjata andalanku, bahkan senjata rahasia telah kugunakan juga"
"It kiam jit seng, satu pedang tujuh bintang?"
"Benar, hampir semuanya telah aku gunakan"
Jawab Jui Pakhay serius.
Kini Tu Siau-thian baru benar benar terkesiap, akhirnya dia sadar bahwa apa yang diceritakan Jui Pakhay bukanlah cerita lelucon.
Jit seng toh hun, It kiam coat mia (tujuh bintang pembetot sukma, satu tusukan mencabut nyawa) merupakan kepandaian pamungkas andalan Jui Pakhay, tidak sembarangan jago yang mampu menghadapi nya, selama inipun kepandaian pamungkas ini tidak ikan digunakan bila keadaan tidak terlampau gawat.
"Lantas, bagaimana hasilnya?"
Tanya Tu Siau-thian kemudian.
"Begitu aku lancarkan serangan dengan satu pedang tujuh bintang, tahu-tahu Laron penghisap darah lenyap tidak berbekas"
"Bagaimana lenyapnya?"
Desak Tu Siau-thian.
"Hilang lenyap dengan begitu saja, lenyap secara tiba-tiba bagaikan setan iblis"
"Apakah semalam kau mabuk berat?"
Tegur Tu Siau-thian kemudian sambil menatap rekannya lekat-lekat.
"Tidak, jangan lagi mabuk, minum arak setetespun tidak"
"Berarti kau tidur kelewat awal hingga bermimpi?"
Kata Tu Siau-thian lebih jauh.
"Waktu itu aku baru saja menghantar tamuku pulang, kemudian balik ke perpustakaan dan baru saja akan masuk ke dalam"
Tu Siau-thian membelalakkan matanya lebar-lebar, serunya cepat.
"Kalau memang bukan mabuk kepayang karena pengaruh alkohol, juga bukan bermimpi karena kebanyakan tidur, berarti apa yang kau ceritakan merupakan kejadian yang beneran?"
Jui Pakhay menghela napas panjang.
"Haai, masa sampai sekarang kau masih sangsi dengan perkataanku?"
Tu Siau-thian tertawa getir.
"Kini kau sudah menceritakan semua kejadian dengan begitu nyata, biar masih sangsi juga aku harus mulai belajar menerima ucapanmu sebagai satu kenyataan"
"Padahal kalau bukan mengalami sendiri belum tentu aku percaya kalau peristiwa ini merupakan sebuah kenyataan"
Kata Jui Pakhay pula sambil tertawa getir.
"Kali ini kau datang mencari aku, apakah tujuanmu hanya ingin beritahukan kejadian ini saja?"
"Masih ada dua alasan lain"
"Apa alasanmu yang pertama?"
"Aku ingin tahu secara jelas, apakah benar terdapat makhluk yang disebut Laron penghisap darah?"
"Dan sekarang kau sudah jelas, lantas apa alasanmu yang kedua?"
"Minta petunjukmu, bagaimana cara menanggulangi serangan dari makhluk semacam ini"
Untuk sesaat Tu Siau-thian berdiri termangu, agaknya dia tidak menyangka kalau harus menghadapi permintaan semacam ini. Terdengar Jui Pakhay berkata lebih jauh.
"Sebenarnya cara apa yang paling tepat untuk menanggulangi serangan mematikan dari Laron penghisap darah? Benda apa pula yang paling dipantang Laron penghisap darah semacam ini?"
Tu Siau-thian berdiri melongo, lama kemudian dia baru tertawa getir sembari menggeleng.
"Aku sendiri juga tidak tahu"
Seketika itu juga semangat Jui Pakhay surut kembali, dia jadi lemas dan tidak bernapsu untuk bicara lagi.
"Tapi kaupun tidak usah kelewat kuatir"
Buru buru Tu Siauthian menghibur.
"aku rasa makhluk tersebut belum tentu sangat menakutkan seperti apa yang diceritakan orang"
Tiba-tiba Jui Pakhay berkata lagi.
"Aku masih dengar ada orang bercerita demikian, Laron pertama yang munculkan diri biasanya adalah utusan dari raja Laron penghisap darah, ketika sang raja Laron sudah memilih sasaran yang akan dijadikan korban penghisapan darah, dia akan mengirim utusannya, seakan hendak memberi kabar kepada orang tersebut bahwa dia akan terpilih menjadi korban, maka setelah kemunculan sang utusan, Laron penghisap darah baru akan muncul berikutnya, menanti sang raja Laron sudah menampilkan diri, kawanan Laron itu baru akan menyerang bersama-sama, setiap Laron akan menusukkan tabung suntiknya ke tubuh sang korban lalu beramai-ramai menghisap cairan darah korbannya sampai mengering!"
"Benar, cerita yang beredar memang mengatakan begitu"
Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.
"Aku dengar raja Laron baru akan muncul disaat malam bulan purnama"
"Konon memang begitu"
Kembali Tu Siau-thian mengangguk setelah termenung dan berpikir sejenak. Menyusul kemudian ia berkata lebih jauh.
"Malam ini baru tanggal dua, hingga tanggal lima belas berarti masih ada tiga belas malam"
"Tapi dengan cepat tiga belas malam akan berlalu dengan begitu saja"
"Kalau begitu selama berapa malam nanti cobalah lebih waspada dan berhati-hati, apabila Laron penghisap darah itu muncul kembali, rasanya belum terlambat bagi kita untuk mencari akal guna menghadapinya"
Jui Pakhay tidak bicara lagi, dia terbungkam dalam seribu bahasa.
"Berapa hari lagi, aku pasti akan datang berkunjung ke rumahmu"
Kembali Tu Siau-thian berjanji. Jui Pakhay tetap membungkam tanpa menjawab, mendadak dia menghentikan langkah kakinya. Tanpa terasa Tu Siau-thian ikut menghentikan langkahnya sembari bergumam.
"Mungkin apa yang kau tampak hanya gambar ilusi yang muncul sesaat, karena terpengaruh oleh ilusi tersebut maka kau kira ada Laron penghisap darah hendak menghisap darahmu"
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, dia baru menjumpai kalau sepasang mata Jui Pakhay sedang terbelalak lebar-lebar, dengan wajah tertegun dan mulut melongo dia sedang mengawasi sebuah dahan pohon liu yang tumbuh ditepi jalan.
Tanpa terasa dia mengikuti arah pandangan mata rekannya dan mengawasi pula dahan pohon itu.
Namun dengan cepat paras mukanya berubah hebat, ternyata diatas dahan pohon itu bertengger dua ekor Laron.
Laron hijau yang tubuhnya mengkilat bagaikan batu kemala hijau, diatas sayapnya seakan dipenuhi garis-garis merah darah dengan sepasang mata yang merah membara.
Sepasang mata Laron yang tumbuh diatas kepalanya juga berwarna merah membara, begitu merahnya sehingga mirip dengan darah segar.
Laron penghisap darah!!
Tu Siau-thian tertegun, matanya mendelong, wajahnya berubah hebat, setelah tertegun sesaat tiba tiba dia melangkah maju, dengan satu gerakan cepat dihampirinya dahan pohon Liu itu.
Jui Pakhay mencoba menghalangi namun tidak berhasil, untuk sesaat dia jadi melongo dan tidak sepatah kata pun mampu diucapkan.
Ketika tiba di dekat pohon Liu itu, Tu Siau-thian memperlambat langkah kakinya, begitu dia berhenti melangkah, tangan kanannya secepat kilat menyambar ke depan, mencengkeram seekor Laron penghisap darah yang berada disitu.
Biarpun gerakan serangannya amat cepat, ternyata gerakan Laron penghisap darah itu jauh lebih cepat, belum sempat menyentuh makhluk tersebut, tahu-tahu ke dua ekor Laron penghisap darah itu sudah terbang ke angkasa.
Reaksi maupun ke sensitifan Laron penghisap darah itu ternyata sama sekali tidak berada dibawah kecepatan reaksi kupu-kupu.
Gerakan tubuh Tu Siau-thian semakin cekatan, mendadak dia melambung ke tengah udara sambil melancarkan tiga kali sambaran, akhirnya dengan satu gerakan cepat dia berhasil menangkap Laron penghisap darah itu.
Jangan dilihat gerakan tubuhnya sangat cekat dan kasar, ternyata kekuatan yang digunakan telah diperhitungkan dengan matang, hal ini menyebabkan Laron penghisap darah itu sama sekali tidak sampai tergencet mati walau telah berhasil dicengkeram olehnya, sepasang sayapnya masih bergetar tiada hentinya.
Bubuk Laron berwarna hijau kepucat-pu catan telah memenuhi telapak tangan Tu Siau-thian, melihat itu dia tertawa terbahak bahak.
Tampaknya Laron penghisap darah itu seakan sudah ketakutan setengah mati hingga mendekati gila, sepasang matanya yang merah kini bertambah merah tajam, bahkan seolah sudah mulai melelehkan darah segar.
Sambil tertawa Tu Siau-thian segera berpaling ke arah Jui Pakhay, kemudian ujarnya.
"Bila Laron semacam ini benar-benar pandai menghisap darah, sekarang sudah seharusnya menghisapkan darahku..............."
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat.
Satu tusukan keras yang menimbulkan perasaan sakit yang luar biasa muncul dari ibu jarinya, dengan perasaan terperanjat dia berpaling Tampak olehnya sebuah tabung hisap berwarna merah darah dengan ujung jarumnya yang tajam telah menancap di ibu jari tangannya dan saat itu darah segar miliknya mulai dihisap oleh Laron penghisap darah itu.
Tidak terlukiskan rasa kaget bercampur ngeri yang dialami Tu Siau-thian waktu itu, paras mukanya sampai berubah menjadi hijau membesi.
Ketika dia mulai merasa bahwa darah segar telah dihisap keluar melalui jari tangannya, saat itu pula dia berdiri termangu, benarkah apa yang sedang dialaminya saat ini merupakan sebuah kejadian nyata?
Apakah bukan hanya sebuah ilusi?
Untuk berapa saat dia jadi kebingungan dan tidak bisa membedakan secara jelas.
"Laron penghisap darah!!"
Dengan perasaan takut bercampur ngeri yang luar biasa dia menjerit.
Karena teriakan yang keras disertai perasaan kaget yang luar biasa ini, tanpa sadar genggamannya pada Laron penghisap darah itupun jadi mengendor.
"Sreeet!"
Diiringi desingan angin tajam, Laron penghisap darah itu meloloskan diri dari genggamannya dan terbang ke udara, langsung menyusup ke balik pepohonan Liu yang rindang.
Dalam pada itu, Laron penghisap darah yang ke dua pun sudah terbang lenyap entah ke mana.
Sorot mata Tu Siau-thian tidak pernah terlepas dari tubuh Laron yang sedang terbang ke balik rimbunnya pepohonan.
Menanti bayangan tubuh makhluk itu sudah lenyap dari pandangan, dia baru mengalihkan kembali sorot matanya keatas ujung jari telunjuk sendiri.
Tidak ada darah yang meleleh keluar, diujung jari tangannya hanya tersisa setitik darah segar, namun hal itu sudah cukup membuat pandangan matanya terbelalak lebar.
Jui Pakhay ikut mengawasi ibu jari tangan Tu Siau-thian yang berdarah itu, paras mukanya kini telah memucat bagaikan selembar kertas.
Rasa takut, ngeri dan seram yang mencekam perasaan hatinya sekarang sediktpun tidak berada dibawah perasaan Tu Siau-thian.
Untuk berapa saat lamanya kedua orang itu hanya bisa berdiri termangu tanpa mampu melakukan suatu perbuatan apa pun.
Entah berapa saat sudah lewat, lama kemudian akhirnya Tu Siau-thian memecahkan kesunyian lebih dahulu, katanya.
"Tidak disangka ternyata makhluk ini benar-benar mampu menghisap darah"
Dalam keadaan seperti ini, ternyata dia masih sanggup tertawa walaupun senyuman yang menghiasi bibirnya boleh dibilang sama sekali tidak mirip sebuah senyuman.
Terlebih Jui Pakhay, boleh dibilang dia tidak sanggup tertawa lagi, sambil mengamati ujung jari Tu Siau-thian yang berdarah, gumamnya lirih.
"Kemarin malam hanya muncul seekor, hari ini sudah dua ekor, berapa banyak yang akan muncul besok malam?"
Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang sangat aneh, boleh dibilang sama sekali tidak mirip dengan suara aslinya.
Tu Siau-thian hanya mendengarkan dengan wajah tertegun, hatinya bergidik, bulu romanya tanpa terasa pada bangun berdiri.
Tiba-tiba Jui Pakhay mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Tu Siau-thian, kemudian katanya lirih.
"Begitu kau berhasil menemukan cara yang tepat untuk menanggulangi serangan makhluk itu, cepatlah beritahu kepadaku"
Begitu selesai berkata, ia segera beranjak pergi dari tempat itu dengan kecepatan luar biasa.
"Kau akan ke mana sekarang?"
Teriak Tu Siau-thian keraskeras.
"Aku akan mencari teman-teman yang lain, siapa tahu mereka punya cara untuk menghadapinya"
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, tubuhnya sudah berada jauh sekali.
Tu Siau-thian tidak mengejar, sekujur tubuhnya seolah sudah menjadi kaku dan membeku ditengah rimbunnya pepohonan.
Dia sebetulnya tidak mau percaya kalau kejadian semacam ini merupakan sebuah kenyataan, tapi sekarang mau tidak mau dia harus mempercayainya.
Menjelang tengah hari, kabut tipis makin menyelimuti tepi telaga, membungkus seluruh pepohonan Liu hingga tampak samar.
Dahan Liu bergoyang terhembus angin musim semi, bergerak naik turun ditengah gulungan kabut, sesungguhnya pemandangan saat ini sangat indah, namun dalam pandangan Tu Siau-thian justru terasa menyeramkan dan mendirikan bulu roma.
Dahan pohon Liu yang bergoyang, ibarat kerumunan Laron yang sedang menggeliat, Laron penghisap darah!
--Bulan tiga tanggal tiga, senja telah menjelang tiba, hujan disertai angin membasahi seluruh jagad, membuat udara terasa dingin.
Jui Pakhay duduk termenung seorang diri di dalam ruang kamarnya, kemasgulan dan kemurungan jelas membekas diatas raut mukanya Dia baru saja selesai bersantap, ketika sisa nasi dan sayur dibawa keluar, semuanya utuh seolah tidak satupun yang pernah disentuh olehnya, dalam dua hari belakangan selera makannya memang kurang begitu baik.
Kemarin malam, meski Laron penghisap darah tidak muncul lagi, namun kemunculan dua ekor Laron penghisap darah ditepi telaga siang tadi sudah lebih dari cukup untuk mempengaruhi selera makannya.
Menyaksikan mimik mukanya itu, Gi Tiok-kun ikut hilang selera makannya, jangan lagi bersantap, selera untuk berbicara pun ikut lenyap tidak berbekas.
Gi Tiok-kun bukan orang lain, dia adalah istri Jui Pakhay, usianya sepuluh tahun lebih muda dibandingkan usia suaminya.
Tiga tahun berselang, dia masih nampak bagaikan sekuntum bunga segar yang terhembus angin musim semi, segar dan bergairah sehingga memancing datangnya kupukupu dan serangga, cantik, segar dan menawan hati.
Tapi tiga tahun kemudian, dia nampak jauh lebih tua ketimbang Jui Pakhay.
Meskipun belum tampak kerutan dahinya namun masa remaja seakan sudah jauh meninggalkan dirinya, yang tersisa sekarang hanya sepasang matanya yang jeli, sepasang mata jeli yang masih membawa sebuah kehangatan dari masa remajanya.
Biji matanya yang berkilat ibarat dua gulungan bara api berwarna hitam, masih tetap berkialauan, masih tetap membara.
Siapa pun yang pernah bersua dengannya, pasti dapat menduga kalau penghidupannya selama tiga tahun terakhir pasti kurang nyaman, pasti kurang bahagia.
Kehidupan yang serba kecukupan bukan jaminan dapat menghilangkan semua kemurungan, kemasgulan dan kesengsaraan perasaan hatinya.
Karena orang yang dinikahi sekarang bukanlah orang yang dia ingin nikahi.
Semenjak menikah dengan Jui Pakhay, kehidupannya seolah sudah mati separuh.
Walaupun sampai kini dia belum sampai mati, namun wajahnya, perasaan hatinya tidak berbeda dengan sekuntum bunga yang mulai layu karena tidak pernah mendapat siraman air segar.
Jui Pakhay sama sekali tidak bisa menyelami perasaan hati istrinya, berbeda dengan Gi Toa-ma, ibu angkatnya, orang tua ini sangat memahami perasaan hati anak asuhnya, hanya sayang Gi Toa-ma tidak pernah memikirkan persoalan itu ke dalam hatinya.
Apa yang dipikirkan Gi Toa-ma tidak lebih hanya semacam benda, semacam benda yang bisa digunakan untuk membeli apa-apa, duit!
Dulu, dia sengaja memelihara Gi Tiok-kun karena dia tahu perempuan ini adalah seorang perempuan cantik, setelah tumbuh dewasa nanti, dari tubuhnya dia bisa meraup duit dalam jumlah yang sangat besar.
Itulah sebabnya dia selalu memberikan hidangan dan pakaian terbaik untuk Gi Tiok-kun, melatihnya menyanyi, menari dan memainkan alat musik, dia paksa gadis itu menjual nyanyi tanpa menjual badan, menemani orang minum arak tapi tidak menemani tidur, hal ini bukan dikarenakan dia sayang dengan perempuan ini, tapi ingin menunggu hingga munculnya sang pembeli yang ideal dan sesuai dengan kehendak hatinya.
Ketika tawar menawar mencapai satu angka kesepakatan, maka diapun serahkan Gi Tiok-kun kepada Jui Pakhay bagaikan menyerahkan sebuah barang pesanan saja.
Saat itulah Gi Tiok-kun baru tahu manusia macam apakah Gi Toa-ma dan apa maksud tujuannya, namun dia tidak bisa berbuat lain kecuali pasrah.
Gi Toa-ma punya banyak anak buah dan begundal, terlebih Jui Pakhay, dia adalah seorang jagoan yang luar biasa, bila dirinya menolak perkawinan tersebut, bisa dipastikan hanya jalan kematian yang terbentang di depan matanya Tentu saja dia tidak ingin memilih jalan kematian, sebab usianya masih sangat muda, sewaktu dikawinkan dengan Jui Pakhay, usianya baru mencapai sembilan belas tahun.
Orang muda mana yang tidak menyayangi nyawanya sendiri?
Apalagi seorang gadis yang baru berusia sembilan belas tahun.
Selama ini dia selalu beranggapan bisa menahan semua siksaan batin itu.
namun kenyataan membuktikan dia harus menerima kesemuanya itu dengan susah payah.
Biarpun dia tumbuh dewasa dalam lingkungan pelacuran, gadis ini tidak pernah tertular gaya hidup serta tingkah laku kaum pelacur.
Tapi kesemuanya itu bukan merupakan alasannya yang paling utama, alasannya yang terutama adalah karena hatinya sudah dimiliki orang lain.
Pada malam pertama dia menikah dengan Jui Pakhay, malam pengantin harus dia lalui bagaikan dalam malam siksaan, malam perkosaan, dia merasa bagaikan sedang dinodai orang, diperkosa orang lain, siksaan batin tersebut selalu tersimpan dalam lubuk hatinya hingga detik ini.
Dia tidak menjadi gila sudah merupakan satu mukjizat, bayangkan saja, perempuan mana yang bisa hidup tenteram dalam suasana seperti ini.
Tidak heran kalau kini raut mukanya berubah menjadi cepat tua.
Meski penampilan mukanya hanya lebih tua sepuluh tahun, namun perasaan hatinya sudah lama mati, mati ketuaan.
Tidak seorang manusia pun yang memahami perasaan hatinya, bahkan Jui Pakhay sendiripun sama sekali tidak tahu.
Selama ini dia selalu menunjukkan sikap seakan dia amat mencintai Gi Tiok-kun, selalu berusaha dan berupaya untuk merebut hati perempuan itu, berusaha membuatnya senang, gembira.....
Sayang dua hari ini sikapnya agak berubah, selama dua hari ini dia sama sekali tidak berselera untuk melakukan kebiasaan itu, dia sama sekali tidak punya semangat untuk melakukannya.
Kehadiran Laron penghisap darah telah membuat pikirannya kalut, membuat perasaan hatinya kacau balau.
Mengapa Laron penghisap darah selalu menampakkan diri dihadapannya?
Apakah Raja Laron telah jatuhkan pilihannya terhadapnya?
Laron yang muncul pada malam tanggal satu bulan tiga, apakah dia adalah utusan dari Raja Laron?
Apakah Laron penghisap darah itu adalah utusan khususnya?
Mengapa si Raja Laron justru jatuhkan pilihannya terhadap dia?
Bila seandainya kawanan Laron penghisap darah datang menghisap darahnya, apa yang harus dia lakukan?
Tindakan apa yang harus dia ambil?
Setiap hari setiap waktu dia selalu memikirkan persoalan itu, tidak terkecuali pada saat sekarang.
Butiran air hujan sudah lama berhenti menetes, namun air masih mengalir dari luar jendela, butir air berkilauan ketika tertimpa cahaya lentera, sekilas lewat kemudian lenyap dari pandangan mata.
Dengan pikiran kusut Jui Pakhay mengawasi butiran air diluar jendela, pikiran dan perasaan harinya kusut sekusut tumpukan jerami, tiba tiba cahaya lentera meredup lalu mati, kegelapan segera mencekam seluruh ruangan.
Bagaikan burung yang takut dengan anak panah, Jui Pakhay segera melompat bangun sambil memutar badannya secepat kilat, sorot matanya segera ditujukan ke atas lentera perak diatas meja kecil, tidak jauh dihadapannya sana.
Diatas penutup lentera perak itu bertengger empat ekor Laron penghisap darah, satu disisi kiri, satu di kanan, satu diatas dan satu lagi di bawah, persis membentuk tanda salib.
Empat ekor Laron penghisap darah dengan empat pasang mata pada sayapnya yang berwarna merah darah, seakan akan sedang mengawasi Jui Pakhay tanpa berkedip, mengawasinya dibawah sorot cahaya yang redup......
Tidak diketahui mereka datang dari mana, juga tidak terdengar suara sayap mereka sewaktu terbang memasuki ruangan itu, cahaya lentera hanya terasa redup bagaikan padam secara tiba-tiba lalu mereka telah muncul disana, muncul bagaikan kehadiran setan iblis.
Sepasang mata Jui Pakhay terbelalak semakin lebar, diawasinya ke empat ekor Laron penghisap darah itu tanpa berkedip, kulit, otot dan daging wajahnya mulai mengejang keras lalu berdenyut tiada hentinya.
Tangan kanannya sudah menggenggam kencang pedang Jit seng coat mia kiam, peluh dingin membasahi seluruh jidatnya.
Biarpun senjatanya belum diloloskan, meskipun serangan belum dilancarkan, namun hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh udara.
Ke empat ekor Laron penghisap darah itu seolah belum merasakan datangnya ancaman, mereka tidak bergerak, pun tidak menunjukkan reaksi apapun.
Justru yang dibuat terkejut oleh ulah dan tingkah laku Jui Pakhay adalah Gi Tiok-kun.
Sebenarnya dia sedang duduk terpekur disampingnya, duduk sambil menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak memperhatikan Jui Pakhay, maka ketika suaminya melompat bangun secara tiba-tiba, bangku tempat duduk itu ikut dipukul balik oleh ulahnya.
"Blaaam!"
Ditengah keheningan yang mencekam, suara itu kedengaran amat nyaring dan memekikkan telinga.
Dengan perasaan terkesiap dia mendongakkan kepalanya, dengan cepat perempuan itu telah menyaksikan raut muka Jui Pakhay yang dicekam rasa takut, selembar wajah yang begitu ketakutan dan penuh diliputi rasa gelisah bercampur ngeri.
"Apa yang terjadi?"
Tanpa terasa dia menegur.
"Laron!"
Bisik Jui Pakhay dengan suara gemetar.
"Apa? Laron apa?"
Gi Tiok-kun keheranan.
"Laron penghisap darah!"
"Laron penghisap darah?"
Gi Tiok-kun semakin keheranan. Dia belum pernah mendengar judulan itu, belum pernah tahu makhluk apakah itu.
"Yaa, empat ekor Laron penghisap darah!"
Ulang Jui Pakhay dengan nada parau.
"Di mana?"
"Itu, diatas penutup lentera!"
Seru Jui Pakhay sambil menuding ke depan.
Gi Tiok-kun segera menoleh dan memandang ke arah mana yang ditunjuk.
Tadi dia duduk persis dibawah lentera perak itu, sama sekali tidak merasa kalau diatas penutup lentera itu sudah bertengger empat ekor Laron penghisap darah, ketika cahaya lentera jadi redup tadi, dia pun seakan tidak merasakan kehadiran makhluk-makhluk itu.
Kini, sorot matanya telah dialihkan ke atas penutup lentera itu, perasaan tercengang, keheranan dan tidak habis mengerti terlintas diwajahnya.
Hanya perasaan keheranan, sama sekali tidak terbias rasa takut, atau ngeri atau seram.
Dengan keheranan dia berpaling lagi memandang wajah Jui Pakhay, kemudian serunya.
"Empat ekor Laron penghisap darah yang bertengger di penutup lentera? Mana? Kenapa aku tidak melihatnya?"
Jui Pakhay tertegun, dia tidak sanggup menjawab, sepasang matanya terbelalak semakin lebar.
Dengan sangat jelas dan nyata dia saksikan ada empat ekor Laron penghisap darah, bahkan sekarang pun masih bertengger diatas penutup lentera itu.
Kenapa Gi Tiok-kun tidak melihatnya?
Jangan-jangan sewaktu dia berpaling tadi, ke empat ekor Laron penghisap darah itu sudah menyembunyikan diri?
Dia membelalakkan matanya semakin lebar, serunya gelisah.
"Coba perhatikan lagi dengan seksama"
Gi Tiok-kun mengiakan seraya berpaling, kali ini dia sama seperti Jui Pakhay, membelalakkan sepasang matanya lebarlebar.
Biarpun ukuran badan ke empat ekor Laron penghisap darah itu lebih kecil dari lalat pun, sekarang, seharusnya sudah tidak bisa lolos dari pengamatan matanya.
Dia memeriksa dengan lebih seksama lagi, namun akhirnya tetap menggeleng, ternyata perempuan itu tetap tidak menyaksikan sesuatu apa pun.
"Sudah kau lihat?"
Tidak tahan Jui Pakhay bertanya.
"Belum"
Gi Tiok-kun menggeleng.
"Tapi.... aku melihat dengan jelas, ada empat ekor Laron penghisap darah!"
"Haai, tapi aku tidak melihatnya, walau hanya seekor pun"
Sahut Gi Tiok-kun sambil menghela napas panjang.
Dia tidak mirip lagi berbohong, atau jangan-jangan pandangan mata sendiri yang telah kabur?
Sambil mengucak matanya berulang kali kembali Jui Pakhay berpaling mengawasi penutup lentera itu.
Bab 4.
Gerombolan Laron muncul kembali.
Bulan tiga tanggal tujuh, guguran bunga beterbangan di kebun sebelah timur, kabut pun ikut beterbangan.
Padahal bukan kabut yang beterbangan tapi air hujan.
Air hujan dimusim semi lembut bagaikan serat, kabut tipis menyelimuti seluruh halaman, Jui Pakhay berada pula dalam halaman itu.
Biarpun kerutan alis matanya masih terbesit perasaan ngeri dan ketakutan yang dialaminya semalam, namun perasaan hatinya sudah tidak seberat semalam, karena secara rahasia dia telah menulis sepucuk surat, secara rahasia mengutus Jui Gi untuk menyampaikannya kepada Siang Huhoa.
Sepucuk surat permintaan tolong.
Secara ringkas dia telah menceritakan situasi yang sedang dihadapinya sekarang, menyampaikan juga betapa butuhnya dia akan perlindungan dari Siang Huhoa.
Dia tidak menulis surat kepada orang lain, surat semacam ini hanya diberikan untuk Siang Huhoa seorang.
Hal ini bukan hanya lantaran kepandaian silat yang dimiliki Siang Huhoa sangat hebat, hal inipun disebabkan meski Siang Huhoa adalah seorang penyamun, namun dia adalah seorang penyamun budiman, seorang pendekar pedang sejati yang menjunjung tinggi kebenaran dan kesetia-kawanan.
Sekalipun di dunia ini benar-benar terdapat setan iblis atau siluman jelmaan, dia yakin kawanan siluman itu tidak nanti berani mengusik seorang pendekar pedang sejati.
Dia hanya berharap Siang Huhoa bisa datang tepat pada waktunya, dia sama sekali tidak perlu kuatir bila Siang Huhoa tak mau datang.
Dia sama sekali tidak lupa kalau mereka sudah bukan sahabat lagi, juga belum pernah lupa kalau sewaktu mereka masih bersahabat dulu, dia pernah menyelamatkan selembar nyawa Siang Huhoa.
Siang Huhoa bukan orang yang melupakan budi.
Tentang hal ini dia jauh lebih jelas dari siapa pun.
Bila Siang Huhoa memang bukan orang yang suka melupakan budi, bagaimana mungkin dia tidak akan datang untuk membalas budinya?
Sayang seluruh mental dan kekuatan tubuhnya sudah rontok, sudah hancur berantakan, dia memang tidak bisa menjumpai orang ke dua lainnya yang bisa dimintai pertolongan.
Hujan rintik di musim semi masih turun dengan tiada hentinya, ketika angin berhembus lewat, berpuluh puluh kuntum bunga jatuh berguguran, bunga yang berguguran sekilas tampak bagaikan hujan, bagaikan kabut tipis yang menyelimuti udara.
Mengawasi bunga-bunga yang berguguran, tiba tiba Jui Pakhay merasa amat sedih, perasaan hatinya amat pedih.
Tanpa terasa dia mengambil sekuntum bunga yang rontok.
Diatas putik bunga berwarna putih itu ternyata muncul titik warna merah, merah darah.
Jui Pakhay agak tertegun, belum sempat ingatan ke dua melintas lewat, tiba tiba ujung jari tengahnya terasa amat sakit, sakit sekali, sakit karena tertusuk oleh sebuah benda yang sangat tajam.
Dari balik titik cahaya merah darah diujung putik bunga itu tiba-tiba sudah muncul sebatang jarum tajam berwarna merah darah, sementara putik bunga berwarna putih itu tahu-tahu sudah berubah jadi hijau bening!
Laron penghisap darah!!
Seekor Laron penghisap darah ternyata sedang berdiam diri diatas putik bunga berwarna putih itu, ketika Jui Pakhay mengambil bunga itu, Laron penghisap darah pun menusukkan tabung hisapnya yang tajam, langsung ke ujung jari tengahnya.
Jui Pakhay terkesiap, buru buru dia ayunkan tangannya kuat-kuat, membanting kuntum bunga yang berada dalam genggamannya itu ke atas tanah.
Belum lagi kuntum bunga itu mencapai permukaan tanah, Laron penghisap darah tersebut sudah melejit dan sang bunga dan terbang ke udara.
Hanya didalam waktu singkat makhluk itu sudah terbang ke angkasa dan lenyap dari pandangan mata.
Jui Pakhay segera menghembuskan napas lega.........
tapi sayang hembusan napas leganya kelewat awal dilakukan.
Angin masih berhembus kencang, bunga masih terus berguguran ke tanah, dalam waktu Hekejap diatas bunga yang berguguran itu kembali muncul setitik warna merah, merah d irah.
Dari setiap kuntum bunga yang berguguran itu segera bermunculan titik warna merah darah, setitik merah darah yang berubah menjadi seekor Laron penghisap darah.
Berapa banyak bunga yang berguguran disitu?
Dan berapa banyak Laron penghisap darah yang hinggap diatasnya?
Menyaksikan kesemuanya itu Jui Pakhay mulai merasakan jantungnya berdebar keras, hatinya seakan menyusut kecil, tubuhnya mundur sempoyongan dan mulai menggigil keras bagaikan orang kedinginan.
Setelah mundur sejauh berapa kaki, pedang Jit seng toh hun kiam nya segera diloloskan dan digetarkan ditengah udara hingga tegak kaku.
Kawanan Laron penghisap darah itu serentak terbang meninggalkan guguran bunga-bungaan, lalu sambil memuntahkan jarum tajam penghisap darahnya mereka menyerang tubuh Jui Pakhay habis-habisan.
Rontokan bunga berwarna hijau pucat ditambah sayap Laron berwarna hijau muda dan lidah mata berwarna merah darah, membentuk serangka!
lukisan yang sangat aneh dibalik hujan berkabut itu.
Dalam keadaan begini, Jui Pakhay tidak berminat untuk menikmati keanehan alam itu, sambil membentak gusar kembali pedang Jit seng toh hun kiam nya melancarkan selapis hujan pedang yang menyelimuti angkasa.
"Sreeet, sreet, sreet!"
Air hujan terbelah oleh babatan cahaya pedang, guguran bunga hancur berkeping terhajar angin tajam.
Yang nampak hanya air hujan, hanya guguran bunga yang hancur, sementara puluhan ekor Laron penghisap darah itu tidak satupun yang terhajar hingga rontok ke tanah, hampir semuanya hilang lenyap dengan begitu saja.
Dalam waktu sekejap puluhan ekor Laron penghisap darah itu seakan selapis kabut yang tipis, buyar, hilang dengan begitu saja, seakan menguap ke angkasa, Jui Pakhay sadar, lenyapnya kawanan Laron penghisap darah itu bukan karena kepandaiannya, dia sadar kemampuan yang dimiliki masih belum mencapai taraf sehebat itu, dia pun tahu puluhan ekor Laron penghisap darah itu lagi-lagi hilang lenyap seakan musnahnya setan iblis.
Menghadapi musuh tangguh semacam ini, dia benar-benar dibuat kehabisan akal, dia merasa tidak tahu bagaimana harus berbuat Sambil melintangkan pedangnya di depan dada, dia berdiri kaku ditempat, otot dan kulit badannya mengejang kencang, dalam kelopak matanya meski tak ada air mata, namun serasa ada gerakan yang membuat dia pingin melelehkan air mata.
Meskipun surat permintaan tolong telah dikirim, paling cepat pun butuh enam hari untuk tiba di perkampungan selaksa bunga, seandainya Siang Huhoa langsung berangkat sehabis membaca surat itu, paling tidak dia baru bisa tiba di perpustakaan Ci-po-cay pada tanggal delapan belas bulan tiga.
Itu berarti hati yang ditentukan kawanan Laron penghisap darah itu untuk mulai melancarkan pembunuhan!
Bila Raja Laron sudah menampakkan diri, berarti kawanan Laron penghisap darah itu akan mulai menyerang secara serentak, mereka akan menggunakan badannya sebagai sasaran penusukan jarum jarum penghisap darahnya, lalu menggunakan cairan darah di dalam tubuhnya sebagai bahan konsumsi.
Konon Raja Laron selalu akan muncul disaat bulan sedang purnama, malam bulan purnama berarti malam tanggal lima belas Bila dongeng yang selama ini tersiar merupakan kenyataan, berarti ketika Siang Huhoa tiba disana, kehadirannya sudah terlambat tiga hari, seandainya kawanan Laron penghisap darah itu benar-benar akan menghisap darahnya, waktu itu dia sudah tinggal sesosok mumi, sesosok mayat yang telah mengering.
--Bulan tiga tanggal delapan, malam itu kawanan Laron penghisap darah kembali munculkan diri.
Satu rombongan besar Laron penghisap darah, jumlahnya satu kali lipat lebih banyak ketimbang jumlah yang muncul pada malam sebelumnya, kawanan Laron itu mengelilingi cahaya lentera dan menari-nari kian kemari Jui Pakhay sama sekali tidak menggubris, juga tidak mengusik, ketika kawanan Laron penghisap darah itu sudah beterbangan selama seperminum teh lamanya, bagaikan bayangan setan, lagi-lagi hilang lenyap tidak berbekas.
--Bulan tiga tanggal sembilan, malam itu ketika Jui Pakhay pulang dari bepergian, dia pulang dengan wajah yang muram.
Hari ini sudah berapa kali dia ceritakan kisah Laron penghisap darah itu kepada sebelas orang sahabatnya.
Diantara ke sebelas orang sahabatnya itu ada yang sebagai piausu, ada pedagang bahkan ada pula penjual obat keliling.
Tempat ini merupakan tempat yang dipenuhi dengan pejabat-pejabat tinggi, Komandan opas Nyoo Sin termasuk salah satu orang yang mengetahui kisah horor yang dialaminya.
Sebagian besar orang orang itu merupakan orang yang sudah cukup lama hidup menjelajahi seluruh kolong langit, pengetahuan mereka sangat luas, Jui Pakhay sengaja memberitahukan kejadian ini kepada mereka, tujuannya tidak lain adalah berharap agar mereka bisa mengusulkan kepadanya untuk menghubungi seseorang yang sanggup menghadapi kejadian seperti ini, bahkan kalau mungkin sebuah cara yang ampuh untuk membasmi serangan horor dari kawanan Laron penghisap darah itu.
Tapi alhasil dia merasa sangat kecewa, malahan dia merasa sedikit menyesal.
Kawanan orang-orang itu bukan saja tidak mempercayai apa yang dia katakan, malah dianggapnya dia sedang bergurau, hanya ada dua orang di antaranya yang terkecuali.
Ke dua orang ini menganggap otaknya sudah miring, ada penyakitnya sehingga berpikiran yung bukan-bukan, Jui Pakhay sama sekali tidak membantah ataupun berdebat, dia hanya tertawa getir.
Sebab sejak awal dia sudah menduga, kemungkinan besar akan peroleh hasil seperti ini.
Seandainya peristiwa Laron penghisap darah bukan menimpa dirinya, dia pun sama seperti rekan-rekan lainnya, tidak bakal percaya kalau ada kejadian seperti ini.
Sejak tanggal enam malam, dia sudah tidak berani lagi tidur bersama Gi Tiok-kun.
Selama dua malam sebelumnya, dia selalu tidur seorang diri di dalam perpustakaan bukunya.
Malam ini pun ada rembulan yang bersinar di angkasa.
Jui Pakhay berdiri seorang diri di depan jendela, mengawasi cahaya rembulan yang bening bersih, timbul perasaan sedih dan murung yang amat sangat di dalam hatinya.
Tiba tiba dia merasa sangat kesepian, merasa dirinya hidup seorang diri, sebatang kara.
"Sreet, sreet, sreet"
Tiba-tiba bergema suara gemerisik dari belakang tubuhnya, suara semacam ini sudah tidak terlalu asing lagi baginya.
Setiap kali Laron penghisap darah itu munculkan diri, mereka selalu muncul dengan membawa suara desiran tajam semacam ini.
Suara itu muncul dari kebasan sayap kawanan Laron penghisap darah itu, dengan satu kecepatan luar biasa dia berpaling.
Tapi sepanjang mata memandang hanya kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan, rupanya ketika memasuki ruang perpustakaan dengan perasaan masgul tadi, dia lupa menyulut api lentera.
Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh ruangan, tiba tiba tampak berpuluh puluh bintik cahaya redup berwarna hijau muda, cahaya api yang berkedip kedip persis seperti api setan yang sedang gentayangan.
Dibalik setiap cahaya berwarna hijau itu tampak pula setitik cahaya berwarna merah, walaupun titik cahaya itu kecil dan lembut namun justru amat terang dan mencolong, cahaya darah yang menakutkan!
Berpuluh-puluh titik cahaya hijau bercampur merah darah itu beterbangan di udara bagaikan berpuluh pasang mata setan yang sedang mengintai dan mengawasinya dari balik kegelapan.
Laron penghisap darah!!
Jui Pakhay mulai menjerit di dalam hati, namun tenggorokannya seolah telah tersumbat oleh sesuatu, suara jeritannya sama sekali tidak bisa muncul keluar.
Mendadak ia membalikkan badannya lalu menerjang masuk ke balik kegelapan!
Dia sudah hapal dengan setiap seluk beluk di dalam Perpustakaan bukunya, karena itu dia bisa langsung menerjang ke depan meja tulis, dia masih ingat, diatas meja itu terletak sebuah lentera.
Jui Pakhay segera mengayunkan tangan kirinya.
"PlaakF cahaya api berkelebat lewat, tahu tahu dia sudah menyulut sebuah korek api dan menyulut lampu lentera yang berada di atas meja. Seketika itu juga cahaya lentera yang redup mengusir kegelapan yang mencekam ruangan itu. Bersamaan dengan munculnya cahaya lentera, kerlipan cahaya hijau kemerah-merahan itu hilang lenyap seketika, bahkan suara desingan tajam dari sayap sayap itu pun ikut lenyap tidak berbekas. Tidak nampak seekor Laron penghisap darah pun di dalam ruang baca Perpustakaan buku itu. Ketika sinar hijau kemerah merahan itu sirna tertimpa cahaya lentera, kawanan Laron penghisap darah itupun ikut lenyap tidak berbekas! Sambil memegangi lentera untuk menyinari sekeliling tempat itu, Jui Pakhay mulai bersumpah serapah di dalam hati kecilnya. --Bulan tiga tanggal sepuluh, suasana amat hening, rembulan bersinar lembut, angin berhembus sepoi. Jui Pakhay berbaring seorang diri di dalam perpustakaan bukunya, dia merasa lelah sekali, meski begitu dia belum sampai tertidur pulas. Dia paksakan diri untuk mementang sepasang matanya lebar-lebar, tujuh buah cahaya api sebesar kepalan tangan menyinari ruangan perpustakaan itu. Tujuh buah lentera besar dengan tujuh buah lidah api yang besar menerangi setiap sudut ruangan. Separuh bagian dari lidah api itu terbenam didalam sebuah tabung tembaga yang dipenuhi minyak, tabung tersebut berada diatas sebuah meja kecil, sementara meja kecil itu berada ditengah sebuah tempat yang ceper bentuknya. Kuali ceper itu dipenuhi air, membuat meja kecil itu terbenam didalam air, bahkan tabung tembaga itupun setengah bagiannya terendam air. Tujuh buah lidah api yang besar bersama-sama memancarkan cahaya yang terang benderang, ketika terpantul diatas permukaan air, membuat seluruh ruang perpustakaan itu menjadi terang bagaikan disiang hari. Jui Pakhay harus berpikir satu harian penuh sebelum akhirnya berhasil menemukan jebakan tersebut. Biasanya Laron akan mendekati cahaya api, maka bila ada rombongan Laron yang menghampiri cahaya dan menari hari disekelilingnya, jika penutup lentera diambil, otomatis Laron-Laron itu akan menerjang langsung ke tengah jilatan api. Bila kawanan Laron itu sampai menubruk ke atas jilatan api, dapat dipastikan kawanan makhluk itu akan terbakar, bila di bawah lentera diberi sebaskom air, tidak dapat disangkal lagi binatang-binatang itu pasti akan mati semua. Sementara kawanan Laron yang terluka akan segera tercebur ke dalam air, bila sayapnya sudah basah maka mereka tidak bakal mampu terbang tinggi lagi. Kini, Jui Pakhay hanya berharap kebiasaan I aron penghisap darah menghampiri cahaya api tidak berbeda dengan keadaan pada umumnya. Dia lebih berharap lagi jika api dapat memusnahkan pengaruh sihir, dengan air pun bisa menenggelamkan sihir, asal kawanan Laron penghisap darah itu sudah menubruk ke dalam ipi lalu tercebur ke air maka mereka akan musnah dan lenyap untuk selamanya. Asal dia bisa mendapatkan satu saja bangkai Laron penghisap darah, maka dia dapat menggunakannya untuk membuktikan dihadapan teman-teman lainnya bahwa dia bukan lagi berbohong. Asal kecurigaan mereka bisa dihilangkan, dengan sendirinya rekan-rekannya akan bersedia melakukan penyelidikan, atau bahkan bergabung dengannya untuk bersama-sama menghadapi kawanan Laron penghisap darah itu. Paling tidak dia tidak akan terpencil, tidak akan sendirian seperti keadaannya saat ini. Sekarang dia tidak tidur, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan diri, dia ingin menunggu munculnya kawanan Laron penghisap darah itu, menunggu kawanan makhluk itu masuk perangkap dan bunuh diri. Tiga kali suara kentungan bergema dari luar kamar, ternyata waktu sudah menunjukkan kentongan ke tiga. Jui Pakhay dengan menahan rasa kantuk yang luar biasa berusaha memejamkan sejenak sepasang matanya, sementara perasaan hatinya mulai gelisah, mulai tidak sabar. Berbicara menurut pengalaman yang dirnilikinya di masa lampau, bila kawanan Laron penghisap darah itu akan muncul lagi pada malam ini, sudah seharusnya mereka muncul pada saat ini. Tapi anehnya, hingga sekarang kawanan Laron penghisap darah itu belum juga menampakkan diri. Benarkah kawanan makhluk itu sangat cerdas dan pandai melihat gelagat sehingga tahu kalau disitu telah dipasang sebuah perangkap maut? Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba Jui Pakhay mulai mendengar suara desingan angin tajam. Setiap kali Laron penghisap darah munculkan diri, dia pasti akan mendengar suara aneh semacam ini. Suara itu memang suara sayap Laron penghisap darah ketika berkebas menembusi angkasa. ...............Apakah sudah datang? Jui Pakhay segera merasakan semangatnya bangkit, dia membuka sepasang matanya lebar-lebar. Baru saja dia membuka matanya, tiba tiba dirasakan kelopak matanya berat sekali bagaikan diberi beban besi ribuan kati, beberapa kali dia ingin membuka matanya namun tidak berhasil. Terpaksa dia pejamkan matanya sambil mengatur pernapasan, dia hanya pejamkan matanya tapi berusaha untuk tidak tertidur. Aneh, sebenarnya apa yang telah terjadi? Belum lama berselang dia masih segar bugar, mengapa sekarang berubah jadi lemas tidak bertenaga? Buru buru dia menggerakkan tangannya, mencoba untuk meraba kelopak matanya, siapa tahu biarpun sudah dicoba berapa kali ternyata tangannya sama sekali tidak sanggup untuk digerakkan. Dalam waktu sekejap mata, seluruh tenaga dalam yang dirriiliknya seakan hilang lenyap tidak berbekas. Tidak terlukiskan rasa kaget, ngeri dan takut yang mencekam perasaan hatinya sekarang. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Dia menjerit di dalam hati namun tenaga untuk berbicara pun tidak punya, namun dia masih dapat merasakan, juga masih bisa mendengarkan dengan sangat jelas.
"Sreet, sreett"
Suara desingan makin lama semakin jelas, makin lama semakin bertambah nyaring.
Rupanya kawanan Laron penghisap darah itu mulai beterbangan dalam ruang perpustakaan, mulai menari-nari kian kemari.
Jui Pakhay merasa hatinya makin lama makin gelisah, dia ingin sekali meronta untuk bangkit berdiri, mendadak perasaan kantuk yang luar biasa hebatnya, sedemikian hebatnya sehingga serasa tidak mampu dilawan, menyerang dan mencekam seluruh tubuhnya.
Lambat laun pikirannya mulai kabur, bahkan perasaan nya pun lambat laun ikut lenyap tidak berbekas.
Entah berapa saat sudah lewat, mendadak Jui Pakhay mendapatkan kembali semua kesadaran dan perasaannya.
Begitu kesadarannya pulih kembali, dia mulai mendengar semacam suara, semacam suara yang sangat aneh, seakan ada sesuatu benda sedang menjerit lengking, sedang merintih penuh kesedihan.
Dia ingin sekali melihat berada dimanakah dirinya sekarang, sudah berubah menjadi apakah dirinya?
Sebab dia memang sangat kuatir, kuatir sewaktu tidak sadar tadi kawanan Laron penghisap darah itu sudah memindahkan tubuhnya keluar dan perpustakaan, menghisap darahnya hingga mengering.
Masih untung semua kejadian yang telah dialaminya sebelum tidak sadarkan diri tadi, dia masih teringat semuanya, dia pun amat kuatir dapatkah sepasang matanya dibuka kembali, dapatkah dia menggerakkan tubuhnya lagi.
Dia mencoba untuk membuka matanya, begitu dipentangkan lebar dengan cepat dia memejamkan kembali matanya.
Walau pun hanya membuka matanya sebentar, namun dia menjumpai tubuhnya masih berada di dalam ruang perpustakaan, paling tidak satu hal tidak perlu dikuatirkan lagi.
Biarpun dia sangsi apakah masih berada dalam perpustakaan, walaupun masih ragu apakah perasaannya sudah pulih kembali, asal Laron penghisap darah belum menghisap kering darah dalam tubuhnya, dia percaya dia masih dapat hidup terus.
Dia mencoba membuka matanya lagi, kali ini keadaannya jauh lebih mendingan.
Menanti matanya sudah terbiasa dengan keadaan diseputar sana, paras mukanya pun ikut berubah jadi sangat aneh.
Dia telah menyaksikan sebuah kejadian yang luar biasa anehnya.
Dari tujuh buah lidah api yang membara di tabung tembaga itu ada dua diantaranya sudah terjatuh ke dalam air dan padam, kini tinggal lima buah lidah api yang masih membara.
Lima buah lidah api memancarkan cahaya yang amat terang, membuat seluruh ruangan perpustakaan itu jadi terang benderang bermandikan cahaya.
Dibawah pancaran sinar api, cahaya air sudah tidak nampak sama sekali, sejauh mata memandang hanya selapis cahaya hijau yang berkedip, seluruh permukaan air seakan dilapisi oleh cahaya kemala berwarna hijau.
Diantara kerlipan cahaya kemala hijau terbesit setitik cahaya lain, cahaya terang berwarna merah darah.
Lapisan hijau kemala itu bukan terbentuk dari sebuah lapisan besar, tapi terbentuk karena gabungan dari lembaranlembaran kecil, penggabungan itu tidak terlalu rapi, tidak terlalu rapat satu dengan lainnya.
Ketika cahaya merah darah itu berkedip tiada hentinya, lapisan-lapisan kecil dibawahnya pun ikut bergoncang, bentuknya mirip sekali dengan lapisan sisik ikan.
Tentu saja Jui Pakhay tahu lapisan itu bukan lapisan sisik ikan, dia telah menyaksikan dengan jelas sekali, sisik-sisik bening itu tak lain adalah laron-laron penghisap darah yang mengambang diatas permukaan air, titik cahaya merah darah tidak lain adalah mata laron-laron itu.
Perangkap yang dipersiapkan ternyata mulai membuahkan hasil, kawanan laron penghisap darah itu benar-benar berkumpul begitu berjumpa dengan cahaya api.
Tujuh buah lidah api yang besar dan kasar nyaris telah membakar dan melukai sayap kawanan laron penghisap darah itu, membuat tubuh mereka tercebur ke dalam air dalam baskom.
Tapi kejadian aneh yang berlangsung justru bukan mengambangnya bangkai laron penghisap darah yang memenuhi permukaan air.
Sorot mata Jui Pakhay yang keheranan bukan tertuju ke atas kawanan laron penghisap darah diatas permukaan air, sinar matanya justru terpaku oleh seekor laron penghisap darah yang sedang terbang mengelilingi baskom air itu Laron penghisap darah yang sama namun berbeda dalam keindahan warnanya, bentuk badan laron penghisap darah ini tiga-empat kali lipat lebih besar dari rekannya, sayap ditubuhnya selebar telapak tangan, ketika dikebaskan maka bergemalah suara dengungan yang keras bagaikan kipas yang sedang diayunkan kuat-kuat, sayap itu dikebaskan disekeliling lidah api sehingga membuat jilatan api itu bergoyang tiada hentinya.
Laron penghisap darah itu tidak menerkam ke arah jilatan api yang membara, dia hanya beterbangan naik turun disekeliling api.
Setiap kali tubuhnya bergerak naik turun, maka ada seekor laron penghisap darah yang tercengkeram dari permukaan air kemudian diangkat dan diletakkan disisi baskom air itu.
Ternyata dia sedang memberi pertolongan kepada rekan rekan laron penghisap darah yang terluka bakar dan tercebur ke dalam air.
Sekeliling baskom sudah dibuat basah kuyup, sekitar duatiga puluhan ekor laron penghisap darah yang terluka sedang mengerang dan menggeliat disitu, menggeliat sembari menggetarkan sayapnya Jeritan lengking yang begitu aneh, desisan lirih yang begitu mengibakan hati ternyata berasal dari kawanan laron penghisap darah yang terapung diatas permukaan air dan tergeletak disekeliling baskom itu.
Tatkala kesadarannya pulih kembali, otomatis ketajaman pendengaran-nya pun semakin meningkat tajam, semua suara itu terdengar semakin jelas dan nyata, membuat perasaan hati Jui Pakhay semakin tercekat.
Ditatapnya laron penghisap darah yang luar biasa besarnya itu tanpa berkedip.
Tampaknya upaya pertolongan yang dilakukan laron penghisap darah raksasa itu sudah berlangsung cukup lama, kemunculannya paling tidak disaat kawanan laron penghisap darah lainnya mulai muncul disitu dan menerjang ke arah jilatan api, kalau tidak kenapa tak ada lagi kawanan laron penghisap darah yang menerkam api?
Kenapa tiada lagi kawanan laron penghisap darah yang tercebur ke air?
Begitu sibuknya laron penghisap darah raksasa itu bekerja sehingga rupanya diapun tidak tahu kalau Jui Pakhay sudah mendusin dan sedang menatapnya lekat-lekat, bahkan sudah bersiap sedia melakukan tindak selanjutnya.
Waktu itu, Jui Pakhay memang sudah siap melakukan langkah selanjutnya, tangannya mulai meraba dan menggenggam kencang gagang pedangnya.
Jit seng coat mia kiam miliknya memang selalu berada disisi tubuhnya, gagang pedang memang selalu menempel diantara telapak tangannya.
Tatkala dia selesai menyiapkan perangkap maut itu, pedang jit seng coat mia kiam juga telah dipersiapkan dan diletakkan pada posisi yang paling strategis dan paling gampang untuk digunakan.
Memang sejak awal dia sudah siap melancarkan serangan maut.
Begitu tangannya mulai menggenggam gagang pedang, dia pun mulai sadar kalau tenaga dalam miliknya sama sekali tidak buyar, dia pun tidak merasakan rasa sakit dibagian tubuhnya yang mana pun.
Lalu mengapa dia tidak sadarkan diri?
Apa benar lantaran dia kelewat lelah sehingga tidak sanggup membendung rasa kantuk yang luar biasa ketika mulai menyerang tubuhnya tadi?
Jui Pakhay tidak sempat berpikir lebih jauh, dia memang tidak punya waktu untuk berpikir ke situ, sekarang dia hanya tahu memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk membantai laron penghisap darah raksasa itu.
Bila ditinjau dari bentuk dan sepak teriang laron penghisap darah itu, kalau dia bukan raja laron penghisap darah, sudah pasti merupakan pimpinan dari kawanan laron penghisap darah yang datang menyerang Asal pemimpinnya sudah dibantai, tidak terlalu sulit untuk menghabisi anak buahnya, apalagi kecuali pemimpin laron penghisap darah yang amat besar itu, sebagian besar kawanan laron penghisap darah lainnya sudah terluka parah atau mati atau tergeletak lemas ditepi baskom.
Tanpa pemimpin ditambah jumlah korban yang tewas dan terluka sangat banyak, biarpun raja laron penghisap darah datang untuk menuntut balas, setelah melihat keadaan seperti ini, dia tentu akan mempertimbangkan kembali rencananya.
Itu berarti raja laron penghisap darah akan menunda saat munculnya, tatkala rombongan besar laron penghisap darah itu berdatangan untuk melancarkan serangan, dia percaya Siang Huhoa tentu sudah tiba disana.
Maka dari itu, bila dia ingin menyelamatkan jiwa sendiri maka mau tidak mau saat ini dia harus berusaha untuk membunuh pentolan laron penghisap darah itu, harus dibantai hingga mampus!
Gagang pedang segera digenggam semakin kencang, hawa napsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajah Jui Pakhay, dia sudah siap menyerang, siap melakukan pembunuhan besar-besaran.
Dalam waktu singkat seluruh tubuh Jui Pakhay sudah dilapisi oleh selapis kabut tipis yang berwarna putih.
Cahaya tentera dalam ruangan pun seakan ikut berubah jadi remang karena lapisan kabut.
Tampaknya laron penghisap darah yang sangat besar itu mulai merasakan datangnya hawa pembunuhan yang menekan tubuhnya, tiba-tiba dia menghentikan semua gerakannya kemudian sambil menggerakkan sayapnya dia berbalik menerjang ke arah Jui Pakhay.
Dengan membalikkan tubuhnya, kini Jui Pakhay dapat melihat bentuk laron penghisap darah itu dengan lebih jelas, ternyata laron penghisap darah tersebut benar benar luar biasa besarnya.
Tidak terlukiskan rasa kaget Jui Pakhay setelah melihat kejadian ini, hatinya tercekat, jantungnya berdebar keras, bukan saja bentuk tubuh serangga ini luar biasa besarnya, sepasang matanya pun lebih besar daripada bentuk mata manusia.
Sepasang mata laron penghisap darah itu merah membara, jauh lebih merah dari kentalnya darah, begitu merah seperti lidah api yang membara, selain mencolok juga amat mengerikan dan menggidikkan hati.
Apalagi ketika sepasang mata Jui Pakhay saling bertatapan dengan sorot mata serangga itu, rasa seram dan ngeri yang mencekam perasaan hatinya semakin menjadi-jadi.
Namun kesemuanya itu hanya berlangsung dalam waktu singkat, karena dengan cepat semua perasaannya itu telah diambil alih oleh semacam perasaan yang lain.
Semacam perasaan yang tidak terlukiskan dengan kata, bahkan termasuk Jui Pakhay sendiripun tidak dapat menerangkan bagaimana macam perasaan hatinya saat itu.
Dia hanya merasakan sukmanya seakan sedang bergerak meninggalkan tubuh kasarnya, dia merasa kesadaran otaknya lambat laun makin memudar dan menghilang.
Pedang yang semula sudah digenggam kencang, sudah siap melancarkan serangan mematikan, tahu tahu menjadi lemas kembali bahkan tanpa sadar dia sudah mengendorkan genggamannya.
Baru saja pedang itu terangkat setengah depa, tahu tahu genggamannya sudah mengendor dan melepaskannya, pedang itupun segera terjatuh ke atas kakinya.
Untung saja punggung pedang yang menjatuhi betisnya, bukan mata pedang yang tajam sehingga sama sekali tidak melukainya, walau begitu hawa pedang yang dingin bagaikan es seakan jarum jarum tajam yang menusuk betisnya, menusuk ke dalam syaraf dibalik tulang belulangnya hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
Dengan tubuh merinding dia tersentak kaget dan sadar kembali!
Aaah, tampaknya sepasang mata serangga itu yang membuat ulah!!
Dia segera tersadar kembali apa gerangan yang telah terjadi, hatinya makin tercekat, makin merasa seram.
Apakah serangga itu akan menghisap darahnya?
Apakah sukmanya akan dibetot dan dilarikan??
Aaah tidak!
Aku harus pertahankan hidupku, aku harus mempompa dan membangkitkan kembali semangat tempurku!
Aku tidak boleh terpengaruh lagi oleh kekuatan magic yang terpancar keluar dari sepasang matanya....
Begitulah dia mencoba memperingatkan diri, memberitahu diri sendiri, meskipun sepasang matanya masih saling bertatapan dengan mata laron penghisap darah itu, namun semangat tempurnya harus tetap teguh, seteguh batu karang, syarafnya juga harus tetap mengeras bagai kawat baja.
Orang yang terbiasa berlatih pedang seringkali juga melatih pikiran dan perasaannya, tidak terkecuali dirinya.
Kembali dia menggenggam pedang itu erat erat, sorot mata yang memancar keluar pun kini lebih tajam dari mata senjatanya Kelihatannya laron penghisap darah yang amat besar itu mulai sadar kalau Jui Pakhay telah memperoleh kembali kesadaran otaknya, serangga itupun mulai sadar kalau pengaruh matanya sudah tidak mampu mempengaruhi pikiran lawan, tiba tiba sepasang matanya yang berwarna merah darah itu mulai meredup dan samar.
Tidak selang berapa saat kemudian dia sudah menggerakkan sayapnya dan terbang menuju ke sisi jendela.
Apakah dia sudah menyadari datangnya mara bahaya dan sekarang bersiap untuk melarikan diri?
Pada saat yang bersamaan, Jui Pakhay telah meluncur ke depan langsung menerjang ke arah jendela.
"Nguung.......1"
Pedang jit seng coat mia kiam telah digetarkan hingga menegang kencang, tubuh berpadu dengan pedang segera berubah menjadi sekilas cahaya bianglala dan langsung menerjang ke tubuh laron penghisap darah itu.
Belum lagi ujung pedang mengenai sasaran, hawa pedang yang terpancar keluar telah menderu-deru hingga memadamkan dua lidah api yang masih menyala.
Bersamaan dengan meredupnya suasana dalam perpustakaan buku itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan seseorang yang amat keras, suara itu jelas bukan suara jeritan dari Jui Pakhay.
Suara jeritan itu tinggi melengking dan merdu, jelas suara seorang wanita!
Tapi, darimana munculnya perempuan itu?
Di dalam ruangan perpustakaan itu hanya ada seorang pria, dia adalah Jui Pakhay.
Suara jeritan wanita itu ternyata berasal dari mulut laron penghisap darah yang maha besar itu.
Bersamaan dengan bergemanya jeritan lengking itu, laron penghisap darah yang maha besar itu pun bagaikan setan yang tembus pandang, seluruh tubuhnya mendadak berubah bening lalu menerobos dari daun jendela dan lenyap di luar ruangan sana.
Tusukan maut yang dilancarkan Jui Pakhay pun mengenai sasaran kosong, tubuhnya tahu tahu sudah berdiri disisi baskom besar berisi air itu.
Cahaya api menyinari tubuhnya, juga menyinari pedang dalam genggamannya!
Diujung pedang itu nampak ada cahaya darah, Jui Pakhay coba mendekatkan pedangnya ke depan mata.
Ternyata benar, memang noda darah, setitik noda darah sebesar kacang kedele yang membasahi ujung pedang itu.
Dengan jari tangannya dia mencoba untuk meraba cairan tersebut, memang darah!
Terasa cairan itu masih hangat dan sedikit kental, darah yang masih segar!
Biarpun ujung pedang itu mengenai tempat yang kosong, namun semuanya itu terjadi disaat laron penghisap darah itu belum sempat lenyap dari pandangan mata Mungkinkah tusukan kilatnya berhasil mengenai tubuh laron penghisap darah raksasa itu?
Benarkah cairan darah yang menodai ujung pedangnya sekarang adalah darah dari tubuh laron penghisap darah tersebut?
Tapi anehnya, mengapa darah laron berwarna merah?
Kenapa darah laron terasa hangat seperti darah manusia?
Atau.....
jangan-jangan laron penghisap darah itu benarbenar adalah jelmaan dari siluman laron?
Kalau semuanya merupakan kenyataan, sudah pasti siluman itu adalah siluman laron perempuan!
Bukankah suara jeritan yang terdengar tadi berasal dari suara seorang wanita?
Dengan pandangan terkesima dan ketakutan, Jui Pakhay berdiri termangu disisi baskom air, memandang darah yang menodai jari tangannya sekarang, perasaan ngeri bercampur seram menghiasi seluruh mimik mukanya.
Tanpa sadar dia tundukkan kepalanya sambil menengok, namun perasaan hatinya makin membeku, darahnya semakin dingin, begitu dingin dan membeku bagaikan gumpalan salju abadi.
Sebaskom laron terluka yang menggelepar diatas permukaan air, membiaskan cahaya hijau bening yang mencolok mata, bagai sisik ikan yang menggelepar, kawanan serangga itu masih meronta, masih berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
Sementara suara aneh yang mirip rintihan, bergema makin keras dan nyaring, membuat suasana disekitar situ bukan Cuma menyeramkan, bahkan sangat menggidikkan hati.
Jui Pakhay merasa dirinya seakan-akan sudah terperosok ke dalam neraka jahanam, terperosok dalam suasa seram yang mencekat hati.
Kembali dia menyapu sekeliling tempat itu sekejap, tibatiba pandangan matanya terhenti lagi diatas lantai persis dimuka jendela, lagi-lagi ditemukan bercak darah segar.
Jui Pakhay menarik napas panjang, tubuhnya segera melambung lalu menerobos keluar melalui daun jendela.
Angin malam berhembus kencang diluar jendela sana, rembulan masih tergantung di awang-awang, rembulan yang bersinar terang dan angin yang menderu-deru.
Ketika Jui Pakhay melompat keluar dari jendela, kebetulan rembulan sedang bersembunyi dibalik awan, hal ini membuat suasana diseputar halaman terasa redup dan gelap, angin musim semi yang semula terasa hangat, tahu tahu berubah jadi dingin dan menusuk tulang.
Cahaya lentera yang memancar keluar dari balik ruang perpustakaan masih cukup menerangi sekeliling bangunan, membuat keadaan diseputar sana masih terlihat cukup jelas.
Kembali dijumpai bercak darah diatas lantai, ini membuktikan tusukan yang dilepaskan Jui Pakhay tadi cukup hebat.
Biarpun siluman laron itu sudah hilang lenyap tidak berbekas, lenyap bagaikan setan iblis, namun cairan darah yang meleleh keluar dari mulut lukanya tidak urung membocorkan juga jejaknya yang misterius.
Asal mengikuti bercak darah yang menodai sepanjang jalan, tidak sulit bagi kita untuk menemukan tempat persembunyiannya.
Namun sayang Jui Pakhay sudah tidak sanggup lagi untuk memandang lebih jauh ke depan, karena waktu itu cahaya rembulan telah bersembunyi dibalik awan, seluruh halaman dicekam dalam kegelapan yang mengerikan.
Tiba-tiba dia membalikkan badan lalu menerjang masuk lagi ke dalam ruangan, dalam kamar ada lentera, dia bersiap mengambil lentera untuk kemudian melanjutkan lagi pengejarannya.
Tapi begitu tubuhnya melayang turun, kembali jagoan ini berdiri tertegun.
Baskom berisi air masih tetap seperti sediakala, lidah api dalam tabung tembaga juga masih membara seperti semula, namun kawanan laron penghisap darah yang terluka dan semula tergeletak disekeliling baskon, kini sudah hilang lenyap tidak berbekas, seekor pun tidak nampak.
Bukan begitu saja bahkan sekawanan laron penghisap darah yang semula masih mengapung diatas permukaan air pun kini juga ikut lenyap.
Padahal serangga-serangga itu dalam keadaan terluka, mustahil mereka bisa menggerakkan lagi sayapnya, aneh, mengapa mereka dapat pergi meninggalkan tempat ini?
Terbang?
Jelas tidak mungkin, atau pergi dengan merangkak?
Dengan sebuah lompatan kilat Jui Pakhay mendekati baskom berisi air itu, lalu sambil pentangkan matanya lebarlebar dia periksa seputar tempat itu.
Meski sudah ada empat buah lidah api yang padam dalam tabung tembaga itu, namun masih ada tiga yang hidup dan tetap membakar, cahaya yang terpancar keluar pun sangat terang, membuat dia dapat melihat seputar sana dengan sangat jelas.
Tidak salah, disana memang tidak ada seekor laron pun, namun air bersih yang semula memenuhi baskom itu, kini telah berubah jadi air darah!
Jangan-jangan bangkai dari kawanan laron penghisap darah itu sudah hancur dan berubah jadi air darah?
Dengan perasaan penuh tanda tanya, jagoan itu mencoba mencelupkan ujung pedangnya ke dalam air darah.
Belum sempat ujung pedang menyentuh permukaan air, mendadak air darah dalam baskom itu hilang lenyap.
Yang lenyap hanya darah, bukan airnya.
Baskom itu masih dipenuhi dengan air, air bersih.
Jui Pakhay segera mengurungkan niatnya untuk mencelupkan ujung pedang ke dalam air.
Dengan sigap dia berpaling ke arah jendela, namun bercak darah yang semula menodai permukaan lantai, kinipun hilang lenyap tidak berbekas, seakan sudah meresap ke dasar tanah.
Dengan perasaan tercekat dia periksa tangan sendiri, ujung jarinya sempat memegang noda darah itu bahkan masih dapat merasakan hangatnya darah, tapi.....
ternyata diujung jaripun tidak nampak ada noda darah, jangan jangan semua yang dialami hanya ilusi?
Hanya khayalan?
Atau darah itu memang benar-benar darah iblis?
Jui Pakhay tidak tahu.
Peristiwa aneh ini benar-benar membuatnya tidak habis mengerti dan tidak percaya, namun mau tidak mau dia harus mempercayainya juga Sebenarnya air bersih?
Atau air darah?
Bab 5.
Sakit hati dan Obat hati.
Kalau dia sendiripun tidak percaya, biar diceritakan kepada orang pun ada siapa yang mau mempercayainya?
Dia tertawa getir, yaa!
Dia memang hanya bisa tertawa getir.
--Bulan tiga tanggal sebelas.
Fajar.
Angin timur kembali berhembus kencang, guguran bebungahan rontok bagaikan hujan gerimis.
Jui Pakhay berdiri termangu ditengah guguran bunga.
Dia berdiri kaku ditengah serambi panjang.
Tidak sedikit guguran bunga yang terbawa masuk ke dalam serambi oleh hembusan angin timur, namun dia tidak memungutnya, menggubris pun tidak Dia kuatir dibalik guguran bunga itu hinggap seekor laron penghisap darah, dia takut sewaktu dia pungut bunga tersebut, sang laron akan menusuk tangannya dan menghisap darahnya.
Mengawasi guguran bunga yang berserakan ditanah, perasaan hatinya amat masgul, sedikitpun tak terlintas keriangan musim semi.
Dia tidak merasakan apa-apa, dia tidak punya perasaaan apa pun.
Sorot matanya mendelong seperti orang bodoh, hatinya sudah kaku, sudah membeku, sedikitpun tak ada perasaan apapun.
Rasa takut yang mencekam, teror horor yang berulang, rasa mengantuk, kurang tidur, harus dialami belasan hari secara beruntun, dalam situasi dan kondisi seperti ini, bagaimana mungkin ia dapat mempertahankan diri?
Tidak menjadi gila pun sudah sangat beruntung.
Bahkan dia sama sekali tidak merasa kalau Gi Tiok-kun telah berjalan mendekatinya.
Kelihatannya Gi Tiok-kun sendiripun tidak menyangka akan berjumpa dengan Jui Pakhay di serambi tersebut pada saat sperti ini, padahal serambi itu letaknya sangat jauh dari Perpustakaan buku.
Serambi tersebut selain penuh dengan kelokan dan tikungan, Jui Pakhay juga bukan berdiri ditengah jalan, diapun sama sekali tidak menimbulkan suara apa pun, menanti dia bertemu dengan suaminya, untuk menghindar sudah tidak sempat lagi.
Begitu melihat kehadiran suaminya, paras muka perempuan itu segera menunjukkan perasaan kaget bercampur ngeri, cepat badannya menyusut dan berusaha untuk menghindarkan diri dari pertemuan itu.
Sayang walaupun Jui Pakhay tidak melihat bayangan tubuhnya, namun suara langkah kakinya yang nyaring sudah cukup menarik perhatian suaminya.
Pelan-pelan Jui Pakhay berpaling, namun ketika sorot matanya yang kaku dan mendelong itu bertemu dengan tubuh Gi Tiok-kun, mendadak dia gemetar keras kelopak matanya seketika menyusut kencang.
"Laron............."
Baru mengucapkan sepatah kata, dia segera menghentikan teriakannya di tengah jalan.
Hari ini Gi Tiok-kun mengenakan pakaian berwarna hijau pupus, hijau bagaikan warna kemala, persis seperti warna tubuh sang laron, warna sayap dari laron.
Keadaan Jui Pakhay saat itu tidak ubahnya seperti sang burung yang takut melihat busur, baru menjumpai warna semacam itu dia sudah ketakutan setengah mati, karena secara otomatis dia menghubungkan warna tersebut dengan sang laron penghisap darah.
Tanpa sadar tangannya sudah mulai menggenggam gagang pedangnya kencang-kencang, masih untung dia dapat membedakan kalau bayangan yang muncul adalah seorang manusia, bininya.
Itulah sebabnya teriakannya ditelan kembali separuh jalan, kemudian karena tidak ada lagi bahan pembicaraan maka untuk sesaat dia hanya mengawasi wajah bininya dengan pandangan tertegun.
Gi Tiok-kun sendiripun tidak bicara, perasaan ketakutan bercampur ngeri masih kental menghiasi wajahnya, dia seakan baru saja bertemu dengan seorang manusia sinting, orang gila!
Bila seseorang bertemu dengan orang gila dan sang orang gila memancarkan sinar napsu membunuh yang tebal, apalagi ditangannya menggenggam sebilah pedang tajam, tentu saja siapa pun akan berusaha untuk menghindarkan diri, dan paling baik adalah membungkam diri.
Gi Tiok-kun tidak bersuara, diapun tidak bisa bersuara karena dia tak lain adalah bininya si orang gila.
Begitulah, kedua orang itu saling berhadapan dan saling berpandangan bagaikan sepasang boneka kayu, tak ada yang bicara, pun tak ada yang melakukan suatu tindakan atau gerakan apapun Keadaan mereka berdua sama sekali tidak mirip dengan sepasang suami istri, jangan lagi suami istri, dengan orang asingpun jauh lebih terasa asing.
Dua orang asing yang bersua dipagi hari pun kadangkala akan saling menyapa, tidak mungkin mereka akan berusaha menghindar begitu bertemu dari kejauhan.
Kembali Jui Pakhay merasa amat pedih, akhirnya dia tidak kuasa menahan diri, tegurnya lebih dulu.
"Sepagi ini, kau hendak kemana?"
"Mencari angin di tepi kolam teratai"
"Kenapa? Murung? Masgul?"
Gi Tiok-kun tidak menjawab. Jui Pakhay tidak mendesak lebih jauh, setelah menghela napas panjang kembali ujarnya.
"Bunga teratai memang masih mekar berkembang, mumpung belum layu, kalau ingin menikmati memang sekarang waktunya....."
Walaupun bicara begitu namun kakinya sama sekali tidak bergeser setengah langkah pun, sorot matanya juga tidak pernah beralih untuk mengawasi perempuan itu, dia seakan sama sekali tidak berniat untuk menemani bininya berjalan jalan ke tepi kolam.
Gi Tiok-kun sendiripun tetap membungkam diri, dia masih berdiri mematung.
"Apa lagi yang kau tunggu?"
Kembali Jui Pakhay menegur sambil menghela napas.
"Kau tidak ikut?"
Tanya Gi Tiok-kun lirih.
"Kau berharap aku turut serta?"
Kembali Gi Tiok-kun terbungkam, dia seakan tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Setelah tertawa getir kembali Jui Pakhay berkata.
"Sebenarnya akupun ingin menemani kau berjalan-jalan ke sana, sayang aku masih ada urusan lain yang harus segera diselesaikan, lebih baik kau pergilah seorang diri"
Tertawanya nampak begitu mengenaskan, sorot matanya juga mengenaskan, benarkah dia tidak sanggup untuk ikut serta bersama istrinya?
Benarkah ada urusan penting yang harus segera dia selesaikan?
Gi Tiok-kun tidak bertanya, dengan kepala tertunduk dia melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan tempat itu.
Dengan termangu dan pandangan mendelong Jui Pakhay mengawasi bininya berjalan lewat dari sisi tubuhnya.
Baru berjalan setengah kaki, mendadak perempuan itu mulai mempercepat langkahnya dan buru buru kabur dari situ.
"Tiok-kun!"
Teriak Jui Pakhay lantang.
Teriakan itu sangat mendadak, nada suara yang digunakan pun aneh sekali.
Seketika itu juga Gi Tiok-kun nampak tertegun, langkah kakinya yang mulai diayunkan cepat seketika terhenti, namun dia tidak berpaling.
Begitu memanggil nama istrinya, Jui Pakhay segera bergerak cepat mengejar kearah depan.
Apakah dia telah berubah pikiran dan sekarang berniat menemani Gi Tiok-kun berjalan jalan di tepi kolam bunga teratai?
Menyaksikan suaminya berjalan mendekat, wajah Gi Tiokkun sama sekali tidak menunjukkan perasaan girang atau puas, bahkan berpaling pun tidak.
Menanti suaminya telah menyusul tiba dan berhenti persis disisi tubuhnya, Gi Tiok-kun baru tidak bisa menahan diri, dia berpaling lalu menegur.
"Ada apa?"
Jui Pakhay tidak menjawab, hanya sepasang matanya yang terbelalak lebar mengawasi terus tangan kiri bininya tanpa berkedip.
Waktu itu sepasang tangan Gi Tiok-kun disembunyikan dibalik bajunya, sekarang yang dia tatap adalah ujung bajunya.
Ujung baju berwarna hijau bagaikan kemala itu tampak dihiasi segumpal bercak warna merah yang mencolok, begitu merahnya hingga mirip sekali dengan darah segar.
Kelihatannya Gi Tiok-kun sudah merasa apa yang sedang diperhatikan suaminya, tanpa sadar dia menarik tangan kirinya makin ke dalam, namun gerakan tubuh Jui Pakhay jauh lebih cepat, dengan suatu gerakan kilat dia sudah pegang tangan kiri itu dan menariknya kuat kuat.
Cengkeraman itu nampaknya mengenai bagian tangannya yang sakit, keningnya nampak berkerut dan wajahnya menunjukkan kesakitan yang luar biasa.
Jui Pakhay tidak memperhatikan hal itu, sinar matanya seratus persen tertuju ke ujung baju itu, mendadak ia menegur.
"Kenapa dengan tangan kirimu itu?"
Sekujur tubuh Gi Tiok-kun gemetar keras, agak tersedak sahutnya.
"Tidak apa apa, tidak apa apa......."
"Kalau tidak apa apa, kenapa ada darah yang mengalir? Kenapa sampai baju mu pun ada bercak darahnya?"
"Jangan jangan lenganmu terluka? Darah itu mengalir keluar dari mulut luka di lengan mu?"
Tanpa banyak bicara lagi dia tarik keluar lengan kiri Gi Tiokkun dari balik bajunya, benar juga, lengan yang putih mulus bagaikan pualam itu kini sudah dibalut dengan selembar kain putih.
Kain perban putih itu sudah berubah menjadi merah, basah oleh cucuran darah segar.
"Apa yang terjadi?"
Kembali Jui Pakhay menegur dengan wajah berubah.
"mengapa lenganmu terluka dan mengucurkan banyak darah?"
"Tadi...... tadi aku sedang menjahit pakaian, karena kurang hati hati.... lenganku.... lenganku terkena gunting hingga terluka......."
Sahut Gi Tiok-kun agak tergagap.
Menjahit pakaian?
Kena gunting?
Bagaimana cara dia memegang gunting hingga bisa melukai lengan sendiri?
Mana mungkin sebuah gunting bisa melukai lengannya separah ini?
Satu ingatan melintas dalam benak Jui Pakhay, serunya kemudian.
"Coba aku periksa bagaimana keadaan lukamu itu?"
Tidak menunggu persetujuan dari bininya, ia segera membuka kain perban yang membungkus lengan perempuan itu, benar juga, luka yang dideritanya cukup parah, mulut luka sepanjang lima-enam inci dengan kedalaman dua-tiga mili, cairan darah masih bercucuran dengan derasnya dari mulut luka itu.
Ditinjau dari mulut luka yang begitu dalam, mena mungkin disebabkan terluka oleh gunting?
Dalam sekilas pandangan saja, Jui Pakhay sudah mengetahui kalau luka itu berasal dari luka pedang, air mukanya seketika berubah hebat, dia pingin menjerit, namun tidak sepatah kata pun yang meluncur keluar.
Dia percaya dan yakin, dugaan dan kesimpulan yang dibuat tidak bakal salah.
Tidak seharusnya salah.
Bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan lihay dalam penggunaan pedang, seharusnya bukan pekerjaan yang kelewat sulit untuk membedakan mulut luka itu berasal dari luka pedang atau bukan.
......Tapi.......mengapa dia harus berbohong?
Tanpa sadar sorot mata Jui Pakhay pelan-pelan dialihkan ke wajah perempuan itu, tampak paras muka Gi Tiok-kun dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, apa yang dia takuti?
Apa yang membuatnya merasa ngeri?
Dengan terkesima Jui Pakhay mengawasi bininya tanpa berkedip, rasa takut dan ngeri yang mencekam perasaan hatinya sedikitpun tidak dibawah rasa takut perempuan itu.
......Dia tak mengerti ilmu silat, tidak ada alasan dia menggunakan pedang, tapi mengapa dia terluka?
Mengapa luka yang ada dilengannya berasal dari luka bekas tusukan pedang?
......Jangan jangan.........?
Mana mungkin dia?
Tapi kalau bukan dia, lantas siapa?
......Ditempat ini, dirumah kediaman mereka, siapa yang berani melukainya dengan menggunakan pedang?
Tidak ada orang lain, kecuali aku!
.....Jangan-jangan laron penghisap darah yang amat besar dan muncul dalam perpustakaan semalam adalah jelmaannya?
Jangan-jangan dia jelmaan dari siluman laron?
.....Itu berarti tusukan pedang yang dilancarkan semalam telah mengenai lengannya, darah yang menodai ujung pedangnya, bercak darah dilantai, semua adalah darah yang berasal dari tubuhnya?
.....Tapi....
mengapa bercak bercak darah itu bisa lenyap dalam waktu singkat?
Mungkinkah ketika dia menjelma jadi laron penghisap darah, cairan darah yang mengalir dalam tubuhnya ikut berubah pula jadi darah siluman?
....Kesemuanya ini merupakan kenyataan, jangan-jangan dia memang benar-benar jelmaan dari siluman laron penghisap darah?
Dia adalah seekor siluman laron?
Makin berpikir, Jui Pakhay merasa makin terkejut dan ngeri.
......Bukankah hal ini berarti, untuk menyelamatkan nyawa sendiri, dia harus menghabisi nyawanya?
.....
Tapi, bagaimana pun juga dia adalah istriku, tegakah aku membunuhnya?
Kelopak mata Jui Pakhay mulai bergetar, kulit matanya seakan melompat-lompat, dia memandang sekejap tangan sendiri lalu memandang pula tangan Gi Tiok-kun, akhirnya dia lepaskan genggamannya dan menghela napas panjang.
"Percuma kalau kau hanya membungkus dengan kain perban, si nenek tukang masak mengerti soal luka pisau, pergi dan cari dia, mintalah obat luka luar, kalau tidak mulut luka itu akan membusuk dan semakin parah"
"Baik, aku segera pergi mencarinya"
Akhirnya Gi Tiok-kun mengangguk.
"Bukankah tadi kau bilang mau jalan jalan ke kolam teratai?"
Kembali Jui Pakhay berkata sambil tertawa hambar. Gi Tiok-kun nampak tertegun, tapi akhirnya dia tundukkan kepalanya. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, kembali Jui Pakhay melanjutkan.
"Jalan-jalan mah urusan kecil, lebih baik perhatikan kesehatan badan sendiri, aku rasa luka itu tidak terlalu serius, Liu popo tentu bisa mengobatinya"
"Ehmml"
"Kenapa tidak segera pergi?"
Gi Tiok-kun memang seorang bini yang penurut, dia segera beranjak pergi dari situ.
Memandang hingga bayangan tubuhnya menjauh, sorot mata kesedihan yang terpancar keluar dari mata Jui Pakhay nampak makin tebal dan kental.
Mengawini istri hasil jelmaan siluman laron, siluman yang berusaha menghisap darahnya, sama parahnya sama pedihnya seperti mengawini istri yang membohongi dirinya, tidak setia kepadanya, bila semua kejadian terbukti merupakan kenyataan, jelas hal ini merupakan sebuah tragedi yang amat memilukan hati.
Angin timur kembali berhembus lewat, kembab bunga berguguran, ditengah guguran bunga yang menyelimuti angkasa, kembali Jui Pakhay menghela napas panjang.
Tahun ini bunga berguguran, tahun depan bunga akan kuncup dan mekar kembali, tapi bagaimana dengan perasaan yang mulai retak, hubungan yang mulai renggang, masih adakah kesempatan untuk memperbaiki dan membinanya kembali jadi utuh dan damai?
--Bulan tiga tanggal dua belas, ditengah hujan rintik dan angin kencang, seorang rekan lama telah datang berkunjung.
Orang yang datang sebenarnya bukan sanak, bukan pula keluarga dengan Jui Pakhay, karena orang ini tidak lain adalah kakak misan Gi Tiok-kun.
Sebutan kakak misan atau piauko sering bukan hanya melambangkan seorang piauko yang sebenarnya, terkadang melambangkan juga bekas kekasih lama.
Konon banyak perempuan yang senang menyebut kekasih hatinya sebagai piauko, sebab panggilan ini bukan saja dapat mengurai kesungkanan dalam penyebutan, pun jauh lebih leluasa dan bebas, tidak gampang memancing kasak usuk orang lain.
Tentu saja piauko dari Gi Tiok-kun ini belum tentu piauko macam begitu.
Piauko nya ini bernama Kwee Bok, sepintas lalu memandang usianya mungkin jauh lebih muda ketimbang usia Gi Tiok-kun.
Selain masih muda, dia pun berwajah tampan.
Bukankah pemuda tampan semacam ini merupakan pilihan setiap gadis muda di dunia ini?
Tidak heran kalau Jui Pakhay merasa amat tidak senang dengan kehadiran Kwee Bok.
Setelah sibuk seharian penuh dan menyerahkan urusan lain kepada pegawainya, dia berencana kembali ke Perpustakaan untuk beristirahat, saat itulah Gi Tiok-kun muncul sambil membawa piauko nya Kwee Bok.
Ternyata mereka berdua datang bersama ke Ruang Perpustaan, paling tidak mereka datang berurutan, satu didepan dan yang lain menyusul di belakangnya.
Gi Tiok-kun berjalan dimuka, berulang kali dia berpaling menengok sekejap piaukonya, sementara Kwee Bok menyusul dibelakang, sepasang matanya seakan belum pernah berpisah dari tubuh Gi Tiok-kun yang ramping semampai.
Melihat kesemuanya itu, Jui Pakhay merasa sangat kheki, jengkel bercampur mendongkol, namun dia berusaha menahan diri, emosinya tidak sampai diutarakan keluar.
Masih dengari senyum dikulum dia segera menyapa.
"Siapakah saudara cilik ini?"
"Ooh, dia piauko ku"
Buru buru Gi Tiok-kun memperkenalkan saudaranya.
"Ooh, rupanya piauko mu, siapa namanya?"
"Kwee Bok!"
"Ehmm, aku seperti pernah mendengar nama ini"
"Padahal kau semestinya sudah pernah berjumpa dengannya"
"Apa sewaktu dirumah ibu angkatmu dulu?"
Gi Tiok-kun mengangguk.
"Tidak aneh kalau rasanya pernah bertemu, silahkan duduk!"
Dia mengulapkan tangannya mempersilahkan tamunya duduk, mimik muka serta penampilannya amat sopan.
Bagai terkejut dan tidak menyangka akan perlakuan orang, Kwee Bok nampak salah tingkah dan buru buru duduk disebuah bangku dengan tersipu.
Dengan pandangan dingin Jui Pakhay mengawasi orang itu hingga duduk, meski dimulut dia bicara sungkan padahal hati kecilnya dongkol bukan kepalang, kalau bisa dia pingin menendang pantat sang piauko hingga menggelinding keluar dari pintu.
Meski api cemburu sudah membara dalam hati kecilnya, namun dia berusaha untuk menahan diri, karena dia pingin tahu apa sebabnya Gi Tiok-kun mengajak piauko nya datang menghadap?
Seakan tidak ada kejadian apa pun, dia berkata kepada Kwee Bok.
"Sudah hampir tiga tahun lamanya aku tidak berkunjung ke rumahnya Gi Toama, tidak heran kalau meski sudah pernah bertemu, namun lantaran kejadian sudah kelewat tiga tahun, sekarang aku sudah tidak mengenalinya lagi"
"Tidak berani, tidak berani"
Buru-buru Kwee Bok merendah "Boleh aku tahu ada urusan apa kau datang berkunjung kali ini?"
Sebelum Kwee Bok buka suara, Gi Tiok-kun sudah berebut menjawab duluan.
"Piauko ku adalah seorang tabib kenamaan, sejak kecil dia sudah belajar ilmu pengobatan, pandai periksa nadi, pandai mengobati pelbagai penyakit, dua tahun terakhir da sudah banyak mengobati penyakit orang dan selamatkan jiwa mereka"
"Ooh?"
"Aku lihat pikiran dan kesadaranmu kurang normal, sering mengucapkan kata kata yang aneh dan sama sekali tidak masuk diakal, maka aku sengaja mengundangnya datang untuk memeriksakan kondisi kesehatanmu"
Ternyata inilah alasan kedatangannya.
Bila ditinjau dari perkataan Gi Tiok-kun barusan, dia seakan sama sekali tidak tahu persoalan yang sebenarnya, dia sangka otak Jui Pakhay sudah tak waras, dia sudah dianggapnya gila, edan!
.....Mungkin dia memang bukan jelmaan dari laron penghisap darah?
Dia memang bukan jelmaan dari siluman laron?
.....Benarkah selama berapa hari belakangan, dia benarbenar tidak pernah melihat kawanan laron penghisap darah itu?
.....Benarkah dia sangat memperhatikan kondisi kesehatannya?
Jui Pakhay merasakan hatinya dingin, sekulum senyuman aneh menghiasi wajahnya, seperti sedang tertawa dingin, seperti juga sedang tertawa getir.
Sambil tertawa, ujarnya.
"biarpun perasaanku tidak stabil, gerak gerikku masih tetap normal dan wajar, apa yang kuucapkan juga tidak aneh, aku sama sekali tidak sakit, buat apa kau mencarikan tabib?"
"Diperiksa tabib bukanlah suatu kejadian yang buruk"
Bujuk Gi Tiok-kun sambil menghela napas.
"Kalau kau bersikeras mengatakan aku sedang sakit, penyakit yang kuderita hanya semacam!"
"Apa penyakitmu?"
"Sakit hati"
"Sakit hati?"
Gi Tiok-kun nampak tertegun.
"Yaa. Sakit hati"
Pelan-pelan dia membalikkan badan dan berpaling ke arah Kwee Bok kemudian terusnya.
"tahukah kau sakit hati mesti disembuhkan dengan apa?"
Kwee Bok tertegun. Belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun, Jui Pakhay telah bicara lebih jauh.
"Penyakit lain mungkin harus disembuhkan oleh seorang tabib, tapi sakit hati .....? Aku rasa tidak perlu tabib untuk menyembuhkannya"
Kwee Bok manggut-manggut, baru saja dia akan mengucapkan sesuatu, Jui Pakhay telah berkata lebih jauh.
"Padahal hanya ada satu cara untuk menyembuhkan penyakit semacam ini"
Pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke tempat kejauhan sana, setelah menghela napas panjang, lanjutnya.
"Untuk menyembuhkan sakit hati dibutuhkan tabib penyakit hati, sang tabib penyakit hati bila ingin mengobati sakit hati, diapun harus menggunakan obat hati"
Setelah menghela napas panjang, tambahnya.
"Oleh sebab itu obat hati memang paling susah dicari dan didapatkan dibandingkan dengan obat apa pun"
Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling berpandangan dengan wajah termangu, walau hanya sekali saling berpandangan namun dibalik pandangan tersebut seakan mengandung banyak, banyak sekali maksud yang mungkin hanya diketahui mereka berdua.
Setelah itu sorot mata mereka berdua kembali dialihkan ke wajah Jui Pakhay, hanya kali ini mimik muka yang mereka tampilkan adalah perasaan iba dan kasihan.
Pandangan ke dua orang ini seakan pandangan terhadap seseorang yang telah mengidap penyakit yang amat parah Tentu saja Jui Pakhay dapat melihat perubahan mimik muka mereka berdua, dia segera tertawa, mendadak ujarnya lagi.
"Perkataanku mungkin tidak kalian pahami, mungkin juga dipahami, perduli mau mengerti atau tidak, aku tak ambil perduli"
Sekali lagi dia berpaling menatap wajah Kwee Bok, sambil meletakkan tangannya ke atas meja kecil, ujarnya.
"Kalau memang kau sudah banyak belajar ilmu pertabiban, pandai memeriksa nadi dan membuka resep obat, coba periksakan denyut nadiku, lihatlah apa aku benar-benar telah mengidap penyakit?"
Kwee Bok melirik Gi Tiok-kun sekejap, kemudian baru mengangguk.
"Baiklah, akan kuperiksa!"
Dia tempelkan jari tangannya ke atas pergelangan tangan Jui Pakhay, sementara paras mukanya berubah amat serius, seluruh perhatiannya dipusatkan jadi satu, lagaknya persis seperti seperti seorang tabib pengalaman.
Jui Pakhay tidak menampilkan perubahan mimik wajah apapun, sementara dihati kecilnya diam-diam dia tertawa geli, dia tidak percaya orang itu berhasil menemukan sesuatu penyakit pada dirinya, karena jauh sebelum kejadian ini, dia sudah dua kali memeriksa sendiri seluruh badannya.
Dia yakin kalau badannya sehat dan tidak mengidap penyakit apapun, meski begitu, dia tetap membiarkan Gi Tiokkun dan Kwee Bok melakukan apa mereka mereka kehendaki Sebab dia sudah menaruh curiga, dia ingin tahu permainan busuk apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan kedua orang itu, diapun ingin menjajal apa benar Kwee Bok adalah seorang tabib sakti seperti apa yang dia katakan.
Kalau dibilang seorang pemuda tampan macam dia adalah seorang tabib pintar yang pandai mengobati pelbagai penyakit, siapa pun rasanya tak mau percaya dengan begitu saja.
Sejak awal, Jui Pakhay nampaknya sudah mencurigai setiap tindak tanduk dan perkataan yang diucapkan Gi Tiok-kun Sekalipun begitu, kadangkala wajah seseorang memang tak bisa mencerminkan kehebatan yang dimiliki orang itu.
Pemuda yang bernama Kwee Bok ini bukan saja pandai memeriksa denyut nadi orang, dia bahkan benar-benar memiliki kepandaian pertabiban yang mengagumkan.
Setelah memeriksa denyut nadinya, Kwee Bok memeriksa juga raut wajah Jui Pakhay dengan seksama, tiba tiba sorot matanya berubah jadi aneh sekli.
Melihat perubahan wajah orang, dengan cepat Jui Pakhay merasakannya, buru-buru dia menegur.
"Bagaimana? Apakah aku berpenyakit?"
"Denyut nadinya sangat normal sama sekali tak ada gejala sakit atau menderita suatu penyakit, aku lihat kau hanya kurang tidur saja"
Jui Pakhay agak tertegun, kemudian ia tertawa tergelak.
"Hahahaha....ternyata kau hebat juga, terus terang aku sendiripun mengerti sedikit tentang ilmu pertabiban, menderita sakit atau tidak aku mengetahui dengn jelas sekali"
Kwee Bok tertawa getir.
"Kalau dibiang kau sedang sakit, rasanya penyakitmu memang semacam sakit hati yang baru bisa disembuhkan bila diobati dengan obat hati"
"Hahaha....memang begitulah masalahnya"
"Kalau memang begitu, aku tidak bisa membantumu"
"Untuk mengobati penyakit hati memang tidak dibutuhkan seorang tabib, asal kita bisa menemukan sumber penyakitnya, biar seseorang yang tidak memahami ilmu pertabiban pun, rasanya tidak sulit untuk menemukan cara yag tepat untuk mengobatinya"
"Dan kau telah berhasil menemukan sumber penyakitnya?"
Tanya Kwee Bok ceat. Jui Pakhay manggut manggut.
"Yaa, sejak awal sudah kutemukan"
"Lalu sudah kau temukan cara untuk mengobati penyakit itu?"
"Sudah"
"Waah, kalau begitu kedatanganku sama sekali tidak ada gunanya"
Kata Kwee Bok kemudia sambil menghela napas panjang. Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia tertawa tergelak, katanya lebih jauh.
"Tapi begini pun ada baiknya juga, paling tidak piaumoayku tidak usah kuatir dan risau siang malam"
Sambil tertawa dia mengerling sekejap ke arah Gi Tiok-kun.
Gi Tiok-kun ikut tertawa, hanya tertawanya kelewat dipaksakan, kalau dilihat dari tampangnya seakan dia lebih suka merasa kuatir siang dan malam daripada menjumpai Jui Pakhay tidak menderita sakit.
Seandainya suaminya benar-benar menderita sakit, belum tentu dia akan merasa kuatir siang dan malam.
Dalam hati kecilnya Jui Pakhay berpikir terus sementara penampilan wajahnya justru lain, senyuman mulai menghiasi ujung bibirnya, kepada Kwee Bok ujarnya.
"Aku lihat kedatanganmu memang tepat pada waktunya"
"Oya....?"
Kwee Bok agak tercengang.
"Saat ini aku memang sedang murung bercampur masgul, aku memang butuh seseorang untuk menemani aku minum barang berapa cawan"
Sekali lagi Kwee Bok tertegun.
"Kau sudah makan siang?"
Gi Tiok-kun bertanya pula.
"Belum!"
"Mengerti cara minum arak?"
Sambung Jui Pakhay.
"Berapa cawan mah masih sanggup"
"Bagus sekali!"
Seru Jui Pakhay sambil bertepuk tangan. Dia segera berpaling, belum sempat minta kepada istrinya untuk mempersiapkan perjamuan, Gi Tiok-kun sudah berkata duluan.
"Biar kuperintahkan orang untuk menyiapkan sayur dan arak"
Selesai berkata dia segera berlalu dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Kalau dilihat tampang wajahnya, dia seperti amat gembira karena Kwee Bok bisa tinggal lebih lama lagi disitu.
Sedemikian gembiranya sehingga dia lupa untuk bertanya kepada Jui Pakhay, perjamuan harus disiapkan dimana.
Bab 6.
Malam bulan purnama.
Meja perjamuan telah dipersiapkan dalam ruang samping.
Disitulah Jui Pakhay biasanya menjamu para tamutamunya, paling tidak Gi Tiok-kun masih teringat dengan kebiasaan suaminya ini.
Dia perintahkan orang untuk menyiapkan enam macam hidangan, lima macam hidangan lezat ditambah semacam hidangan lagi yang masih tertutup dengan kain sutera halus.
Dengan sorot mata berkilat Jui Pakhay menyebutkan nama dari kelima macam hidangan itu satu per satu, akhirnya dia berhenti memandang di atas hidangan yang masih tertutup dengan kain sutera itu, tanyanya keheranan.
"Hidangan macam apa lagi yang ada dibalik kain itu?"
"Ooh, hidangn ini adalah bola udang masak madu, sebuah hidangan yang khusus aku masak sendiri"
Sahut Gi Tiok-kun sambil membuka penutupnya.
Bola udang goreng yang ditaburi madu bening diatasnya, dihiasi pula denga mentimun yang hijau sehingga bentuk hidangan ini mirip dengan sebuah mutiara berwarna hijau kemala.
Selain indah bentuknya juga lezat rasanya, jelas Gi Tiokkun sudah menggunakan banyak pikiran dan tenaga untuk mempersiapkan hidangan istimewa ini.
Kwee Bok dengan mata melotot besar sedang mengawasi hidangan bola udang itu tanpa berkedip, wajahnya nampak kerakusannya.
Dilihat dari tampang mukanya, jelas dia merasa tidak asing dengan hidangan tersebut, hunya saja sudah kelewat lama tidak pernah mencicipinya lagi.
Sebaliknya Jui Pakhay justru menunjukkan wajah keheranan, dia sepertinya belum pernah mendengar nama hidangan seperti itu, terlebih diapun tidak tahu kalau istrinya memiliki kepandaian sehebat ini.
Ditatapnya wajah perempuan itu dengan termangu, kemudian baru tegurnya.
"Rupanya kau mempunyai kepandaian dihidang memasak?"
"Kepandaiannya yang paling utama memang dalam bidang ini"
Sambung Kwee Bok sebelum perempuan itu sempat menjawab.
Tidak nyana sang kakak misan ternyata jauh lebih mengerti ketimbang Jui Pakhay yang menjadi suaminya, bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya saat ini.
"Oya.....?"
Serunya kemudian. Kembali Kwee Bok berkata. Bola udang dilapisi madu merupakan hidangan andalannya, buatan dia sangat lezat, sudah tiga tahun aku tidak pernah mencicipinya"
Jui Pakhay merasakan hatinya makin kecut, meski begitu dia sempat tertawa juga, katanya.
"Aneh, aku yang menjadi suaminya malah belum pernah mencicipi"
Meskipun dia masih tertawa namun nada suaranya sudah kedengaran agak berubah, Gi Tiok-kun segera dapat merasakan perubahan itu.
Kwee Bok bukan orang bodoh, tentu saja diapun dapat mendengar perubahan nada suara pembicaraannya, teringat kembali apa yang diucapkan orang itu, kontan wajah pemuda tampan ini berubah menjadi beku.
Setelah tertawa tergelak kembali Jui Pakhay berkata.
"Rupanya lantaran kehadiranmu kali ini, dia khusus turun ke dapur untuk mempersiapkan sendiri beberapa hidangan ini, hahaha.....kelihatannya aku telah membonceng hokkie mu!"
Begitu perkataan tersebut diutarakan, paras muka Gi Tiokkun kontan berubah makin tidak sedap dipandang. Sambil tertawa paksa buru buru Kwee Bok berkata.
"Setelah menikah dengan orang kaya, kebanyakan wanita memang enggan turun tangan sendiri, mungkin lantaran kedatangan aku si piauko kali ini, dia jadi teringat akan kepandaiannya memasak hingga turun tangan sendiri, mungkin dia pingin tahu apakah kepandaiannya masih ada atau tidak......"
Kemudian sambil berpaling ke arah Gi Tiok-kun, terusnya.
"Bukan begitu maksudmu piaumoay?"
Tentu saja Gi Tiok-kun segera mengangguk berulang kali.
"Aaah, kalau begitu aku harus mencobanya, siapa tahu kalau akupun cocok dengan selera masaknya....."
Seraya berkata, kembali dia tertawa tergelak. Melihat suasana mereda kembali, Gi Tiok-kun maupun Kwee Bok diam diam menghembuskan napas lega. Kembali Jui Pakhay berkata sambil tertawa.
"Kita semua kan orang sendiri, kenapa mesti sungkan sungkan? Mari, mumpung masih panas, kita makan bersama"
Sambil berkata, dia segera menyumpit sepotong udang dan digigit ke dalam mulut.
"Ciiit......ciiit....!"
Siapa tahu begitu udang tersebut digigit, bergema suara yang sangat aneh, ternyata bukan udang yang dia gigit melainkan daging seekor tikus.
Bangkai tikus!
Cairan merah darah segera memancar keluar dari daging yang digigit dan mengalir masuk melalui tenggorokannya.
Cairan darah itu membawa semacam bau busuk yang tidak terlukiskan dengan kata, mirip sekali dengan bau busuk dan bangkai tikus yang mulai membusuk.
Semestinya bau udang tidak seperti bau begini, sudah pasti bukan!
Lalu apa isi bola udang berlapis madu itu?
Kenapa baunya mirip bangkai tikus?
Jui Pakhay tidak ingin bersikap kurang sopan dihadapan tamunya, tapi setelah ditahan berapa saat, akhirnya dia tidak kuasa menahan diri lagi.
Cairan berbau busuk itu benar benar membuat perutnya mual, membuat dia pusing dan pingin muntah rasanya....
Dan.....
"Huaaa.....!"
Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan muntahkan keluar bola udang yang ditelannya tadi.
Ketika bola udang terjatuh persis diatas meja, tenhat jelas daging itu telah tergigit hingga nyaris terbelah dua, ternyata isi dibalik bungkusan madu itu bukan daging udang, melainkan seekor laron.
Seekor laron penghisap darah dengan sayap berwarna hijau kemala dan sepasang mata berwarna merah darah.
Bola laron penghisap darah yang dibungkus dengan madu!
Entah laron penghisap darah itu mati karena tergigit atau pada dasarnya memang seekor bangkai laron penghisap darah, yang pasti darah terlihat bercucuran keluar dari tubuh bangkai itu, membasahi lapisan luar madu yang membungkus hidangan tersebut hingga warnanya ikut berubah jadi merah.
Darah yang berwarna merah kental, dengan membawa semacam bau busuk yag sukar dilukiskan dengan kata mengalir masuk melalui tenggorokan Jui Pakhay bau busuk semakin menyebar ke mana-mana.
Masih mending kalau tidak dipandang, begitu dilihat paras mukanya kontan berubah jadi pucat pias bagai mayat.
Sambil berpegangan disisi meja, kontan dia memuntahkan seluruh isi perutnya.
Darah laron penghisap darah yang berbau busuk seketika mengotori seluruh permukaan lantai, bukan cuma itu saja bahkan seluruh isi perutnya ikut tertumpah keluar, membuat Gi Tiok-kun serta Kwee Bok berdiri terkesima.
Sorot mata mereka berdua sama-sama bertuju keatas bola udang yang ditumpahkan Jui Pakhay, namun tiada perasaan aneh atau kaget yang terbesit dari wajah mereka, seakan didalam pandangan mereka, benda itu sama sekali tidak aneh atau menakutkan.
Apakah mereka telah menduga benda apa yang berada dibalik bungkusan madu itu?
Buktinya mereka tidak ikut memakan hidangan tersebut.
Jui Pakhay masih saja memuntahkan isi perutnya, malah sekarang air getir pun ikut tertumpah keluar.
Paras mukanya yang semula pucat keabu-abuan kini telah berubah jadi merah padam, tubuhnya ikut gontai dan lemas lantaran tumpahannya nyaris telah menguras seluruh isi perutnya, dia nampak sempoyongan seakan setiap saat bisa roboh terjungkal.
Tanpa terasa Gi Tiok-kun dan Kwee Bok bangkit berdiri lalu memburu ke depan dengan langkah cepat, baru saja mereka akan memayang tubuh Jui Pakhay, tiba-tiba lelaki itu mendongakkan kepalanya lalu melotot ke arah mereka dengan pandangan buas.
Dipelototi dengan pandangan yang begitu buas, tangan Gi Tiok-kun dan Kwee Bok yang sudah terangkat pun seketika terhenti ditengah jalan, mereka berdua melengak dan berdiri mematung.
Bersamaan dengan berhentinya muntahan, otot dan kulit tenggorokan Jui Pakhay mulai mengejang keras.
Mulutnya masih ternganga, air liur bercampur sisa muntahan masih meleleh dari ujung mulut, sementara butiran peluh sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi seluruh badan, seluruh otot tubuhnya nyaris ikut mengejang keras, tampang dan mimik mukanya menampilkan perubahan yang sangat aneh, entah dia sedang ketakutan atau justru sedang amat gusar.
Mengawasi wajah suaminya, Gi Tiok-kun tertegun berapa saat lalu tegurnya tanpa terasa.
"Kee....kenapa kau?"
Jui Pakhay berusaha mengendalikan ujung bibirnya yang mengejang, dengan susah payah akhirnya bisiknya juga.
"La.....la....ron......."
"Apa? Laron? Laron penghisap darah?"
Mimik muka Gi Tiok-kun menampilkan suatu perubahan yang sangat aneh. Jui Pakhay berusaha miringkan badannya, lalu sambil menuding Gi Tiok-kun katanya dengan suara parau.
"Darimana kau dapatkan begitu banyak laron penghisap darah?"
Baca Juga: Anggrek Tengah Malam Khu Lung
Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 2