Eps 2 Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id
Baca online Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id
Cersil Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id.
Tubuh Pova yang halus dan lembut telah bergeser menempel tubuhnya, bukan saja ia dapat merasakan kehangatan perempuan itu, dia pun dapat merasakan tubuhnya yang gemetar tiada hentinya, entah gemetar karena tegang ataukah karena merasa sedih?
Tampaknya perempuan itu tahu kalau Siau-hong butuh hiburan, maka dia pun mengantar tubuhnya.
Di kolong langit dewasa ini, belum pernah ada seorang wanita lain yang bersikap begitu baik dan mesra terhadap dirinya.
Tiba-tiba Siau-hong menjumpai tubuhnya ikut gemetar.
Di saat mereka saling bersentuhan, bukan hanya napsu birahi saja yang terlampiaskan, rasa cinta pun ikut meningkat.
Dia tak pernah menyangka apa yang dilakukannya sekarang dapat berubah menjadi begitu indah.
Ooo)d*w(ooO BAB 6.
PEDANG PENEMBUS HATI Ketika semuanya telah berlalu, dalam hatinya masih penuh dilimuti kehangatan dan kemesraan yang lebih manis dari madu.
Dia pernah memiliki perempuan, namun belum pernah merasakan suasana yang begitu nikmat seperti saat ini.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba perempuan itu berkata lirih.
"Dia adalah ciciku!"
Ternyata Pova buka suara dan berbicara, namun perkataan itu kedengaran sangat aneh.
"Siapakah cirimu?"
Tak tahan Siau-hong bertanya.
"Apakah perempuan keji dan buas itu adalah cirimu?"
Pova manggut-manggut membenarkan.
"Sejak kecil aku sudah ikut dia, apa pun yang dia suruh aku lakukan, pasti akan kulakukan...."
"Dan kau tak pernah membantah atau melawan?"
"Belum pernah terpikir untuk berbuat begitu."
Bukan saja dia tak berani membangkang, bahkan berpikir pun tak berani, itulah sebabnya dia baru melakukan perbuatan semacam itu, akhirnya dia menceritakan semua kepedihan dan kesedihan yang mengganjal hatinya selama ini.
Persoalan apa pun tak perlu dijelaskan lagi, perkataan apa pun tak perlu disampaikan lagi.
Tiba-tiba saja Siau-hong merasa semua kedukaan, kemasgulan, dan semua kemurungan yang mengganjal dalam hatinya, lenyap bagaikan asap yang buyar di angkasa, tiada persoalan lagi di dunia ini yang pantas dia murungkan dan masgulkan lagi.
Dia memeluk tubuhnya erat-erat.
"Mulai hari ini, selama masih hidup, aku tak akan membiarkan kau dianiaya dan dipermainkan orang lain."
"Biarpun sekarang kau berkata begitu, tetapi... bagaimana di kemudian hari?"
Penderitaan yang kelewat lama membuat perempuan itu seolah kehilangan rasa percaya diri.
"Siapa tahu kejadian apa yang bakal kita hadapi di kemudian hari? Siapa tahu saat itu kau pun akan berubah?"
"Peduli peristiwa apa pun yang bakal terjadi di kemudian hari, aku tak bakal berubah, kau harus percaya padaku."
"Aku tak yakin,"
Perempuan itu menempelkan pipinya di wajah pemuda itu, butiran air mata telah membasahi wajahnya.
"Tapi aku percaya!"
Malam yang panjang belum juga lewat.
Cahaya lentera tampak bersinar terang-benderang dari balik tenda terbesar di tempat itu, Tong Leng telah mengumpulkan seluruh anggota keamanan yang dimilikinya, termasuk juga Siau-hong.
Saat itu selisih waktu dengan kematian Hong Hau sudah terpaut empat jam lebih.
Siau-hong telah tidur sejenak untuk melepaskan penat, namun orang lain tidak seberuntung dirinya, semua orang tampak lelah, penat, mengantuk, dan menderita.
Sepasang mata Tong Leng telah dipenuhi dengan jalur darah, namun sikapnya masih sangat tenang.
"Kita sudah mengirim beberapa rombongan untuk melakukan pelacakan di sekeliling tempat ini, dalam radius tiga puluh li tak nampak jejak seorang pun."
Keterangan itu disampaikan dengan penuh keyakinan, sebab dia tahu setiap orang yang diutusnya merupakan jago-jago yang sangat ahli dalam bidang ini, apabila mereka mengatakan dalam radius tiga puluh li tak ditemukan jejak manusia, siapa pun tak bakal menemukan seorang pun.
"Oleh sebab itu pembunuh yang telah menghabisi nyawa Hong Hau sekalian pasti masih berada dalam rombongan kita, sekarang dia pasti berada dalam kelompok ini, satu di antara kita semua."
Setelah berhenti sejenak, dengan nada sedingin salju kembali Tong Leng berkata.
"Tidak banyak jagoan dalam rombongan ini yang bisa membunuh mereka berlima sekaligus."
"Lima orang?"
Seru Siau-hong tanpa terasa.
"Betul, lima orang,"
Jawab Tong Leng dingin.
"Sewaktu kau tertidur tadi, kembali ada dua orang menemui ajalnya, kau pasti tertidur sangat nyenyak sehingga jeritan ngeri menjelang ajal mereka pun tak terdengar."
Siau-hong tidak bicara apa-apa, dia memang tak mampu berkata apa pun. Kembali Tong Leng berkata.
"Asal-usul mereka berlima tidak sama, aliran ilmu silat yang mereka miliki pun berbeda, jadi mustahil mereka bermusuhan dengan orang yang sama pada saat yang sama, maka kematian mereka sudah pasti bukan karena balas dendam."
Namun membunuh orang pasti ada alasannya, tentu ada sumber permasalahannya. Biasanya sumber permasalahan yang membuat orang melakukan pembunuhan hanya ada dua jenis, karena harta atau perempuan.
"Mereka terbunuh pasti dikarenakan ada orang ingin merampok barang dagangan kita,"
Kata Tong Leng lagi. Si bongkok yang selama ini hanya membungkam, kini baru buka suara, katanya.
"Barang dagangan sudah pernah dirampok, bahkan ada belasan bungkusan yang telah dibongkar orang, mungkin mereka ingin memeriksa dulu apakah barang dagangan yang kita bawa pantas untuk dirampok atau tidak."
"Kalau menurut kau, apakah barang-barang itu berharga untuk dirampok?"
"Tentu saja berharga sekali."
"Walaupun barang dagangan ini tak mungkin bisa diangkut satu orang, namun jika ia dapat membantai kita satu per satu, pada akhirnya barang-barang ini akan menjadi miliknya."
Sorot mata Tong Leng selama ini menatap terus Siauhong tanpa berkedip, lanjutnya.
"Walaupun sekarang kita belum tahu siapakah orang itu, tapi kita pasti akan berhasil melacaknya, karena asal-usul setiap orang yang berada dalam rombongan ini telah kami selidiki hingga jelas."
Bukan mencakup setiap orang, masih ada seorang terkecuali. Siau-hong adalah satu-satunya orang yang terkecuali.
"Sebelum pembunuh itu berhasil kita lacak, sementara waktu kita akan tetap tinggal di sini, siapa pun dilarang meninggalkan barisan,"
Kata Tong Leng lebih jauh. Mendadak ia berpaling, ditatapnya Siau-hong dengan sepasang matanya yang memerah, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Khususnya kau, lebih baik untuk sementara waktu jangan meninggalkan tenda walau selangkah pun."
Siau-hong masih tetap tak mampu berbicara.
Semua peristiwa itu baru terjadi setelah keberadaannya di sini, tak heran bila semua orang menaruh curiga kepadanya.
Kini Tong Leng tidak menutupi lagi perasaan curiganya, dengan berterus terang ujarnya lagi.
"Paling baik bila mulai sekarang kau sudah balik ke dalam tendamu."
Baru saja Siau-hong akan beranjak pergi, tiba-tiba ada orang yang mewakilinya berbicara.
Selama ini Garda selalu ingin bicara, tapi dia tak berani buka suara, baru sekarang ia membesarkan nyali sambil berseru.
"Bukan dia, bukan dia!"
"Bukan apa?"
"Bukan orang yang kalian maksudkan, aku bukan buta, bila ia membunuh orang, aku pasti melihatnya."
"Kau pasti melihatnya?"
"Aku selalu mengikuti dia, dia pun selalu mengikuti aku, hubungan kami bagaikan manusia dan bayangan, kami selalu berada di tempat yang sama."
Tong Leng tertawa dingin.
"Ketika kau membopong jenazah Ma Sah sambil menangis, apakah kau melihat berada di manakah dirinya?"
Garda tak sanggup bicara lagi.
Dia memang hanya memiliki satu jalur usus, satu jalur usus dari mulut hingga tembus ke ujung usus, kalau melihat dia akan mengatakan melihat, kalau tidak melihat dia akan mengatakan tidak.
Tong Leng menggunakan tangannya yang dipenuhi otot menonjol untuk mengusap matanya yang memerah, katanya lagi.
"Perkataanku telah selesai kusampaikan, kalian tentu sudah memahami maksud hatiku."
Kemudian sambil mengulap tangan, dia menambahkan.
"Sekarang kalian pergilah."
Semua orang pun beranjak pergi dari situ.
Siau-hong berjalan paling cepat, karena dia tahu ada orang sedang menunggunya, dapat menghibur hatinya.
Baru saja dia memasuki tendanya, baru saja melihat Pova yang tidur melingkar di balik selimut bulu, tahu-tahu terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan.
Kali ini dia belum tertidur, kali ini ia mendengar dengan sangat jelas, suara jeritan ngeri yang memilukan itu berasal dari balik tenda dimana baru saja ia tinggalkan, bahkan itu adalah suara Tong Leng.
Tong Leng sudah mati, menanti mereka tiba kembali dalam tenda, Tong Leng telah tewas.
Sebilah pedang yang tajam berkilat telah menghujam masuk dari depan dadanya hingga tembus ke punggung.
Sebuah tusukan pedang yang langsung menembus jantungnya.
Suasana dalam tenda masih terang benderang bermandikan cahaya.
Tapi serangan itu sangat mematikan, pedang yang menembus jantungnya dalam satu kali tusukan masih tetap tertinggal di atas jenazah Tong Leng.
Cahaya terang yang memantul dari badan pedang, seterang sepasang mata.
Mata seorang gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, mata kucing yang siap menangkap tikus, mata harimau kelaparan yang siap menerkam mangsanya, mata elang yang siap menerkam ayam, mata setan dalam impian buruk.
Bila kau dapat membayangkan bagaimana jadinya bila semua sinar mata itu bercampur-baur jadi satu, maka kau baru bisa membayangkan seperti apakah kilauan cahaya yang memantul dari tubuh pedang itu.
Dari permukaan tanah pun memantul cahaya terang.
Bukan cahaya terang seperti cahaya pedang, tapi kerlipan cahaya tajam yang membawa semacam keremangan, keseraman, dan ketidak-pastian.
Cahaya kerdipan itu berasal dari tiga belas batang senjata besi yang memancarkan sinar kegelapan.
Dari semua orang yang dikumpulkan tadi, kini ada separoh sudah kembali, di antara mereka banyak yang memiliki ketajaman mata luar biasa.
Namun sayang, walaupun mereka dapat melihat benda apa yang memancarkan cahaya, namun tak dapat melihat dengan pasti bagaimana bentuknya.
Di antara mereka segera ada yang berjalan mendekat, mengambil sebatang di antaranya dan diperiksa dengan lebih seksama.
"Jangan disentuh, tak boleh disentuh!"
Tiba-tiba si bongkok membentak keras.
Sayang perkataan itu sedikit terlambat, sudah ada seorang yang memungutnya.
Baru saja benda itu dipungut dan dilihat sekejap, mendadak pupil matanya jadi suram, lalu buyar sinarnya.
Diikuti parasnya mulai berubah, berubah amat suram, berubah jadi warna keabu-abuan yang menyeramkan, sekulum senyuman misterius yang aneh pun tersungging di ujung bibirnya.
Dengan perasaan terperanjat setiap orang mengawasi semua perubahan itu, dia sendiri seakan sama sekali tak merasakan perubahan itu.
Bahkan dia masih bertanya.
"Kenapa kalian mengawasi aku?"
Hanya perkataan itu yang mampu dia ucapkan, begitu selesai bicara mendadak parasnya berubah dan mulai mengejang keras, tubuhnya bagaikan sebuah bola yang tibatiba kehilangan udara, tahu-tahu kempis, layu, dan roboh terjungkal.
Sewaktu roboh ke tanah, parasnya telah berubah jadi hitam, hitam mati, meski senyuman aneh itu masih tersungging di wajahnya.
Dia telah mati, namun dia sendiri seolah tak tahu kalau dirinya telah mati.
Ia seakan masih merasa amat gembira.
Sementara orang lain telah bermandi keringat dingin, hawa dingin serasa merasuk dari ujung hidung hingga tembus ke hati, lalu dari hulu hati tembus hingga telapak kaki.
Bagi yang lebih luas pengetahuannya, mereka segera tahu kalau orang itu sudah keracunan hebat, namun sama sekali tak mengira kalau dia langsung keracunan begitu memungut sebuah benda dari tanah, bahkan racun itu bekerja begitu cepat dan ganas.
Hanya beberapa orang yang tahu kalau benda yang dipungut orang itu adalah senjata rahasia paling beracun dari keluarga Tong di wilayah Su-cwan, senjata mematikan yang selama ini menggetarkan kolong langit.
Apa yang diketahui Siau-hong jauh lebih banyak daripada orang lain.
Bukan saja dia mengetahui betapa menakutkannya senjata rahasia semacam ini, dia pun mengetahui asal-usul pedang itu.
"Inilah Mo-gan (Mata iblis)!"
Si bungkuk mencabut pedang yang menghujam di atas jenazah, tiada bekas darah di ujung pedang itu.
Dari balik mata pedang yang bening bagai air di musim gugur, hanya terlihat setitik codet, codet yang berbentuk bagaikan sebuah mata.
"Mata iblis!"
Ada orang tak tahan untuk bertanya.
"Apakah Mata iblis itu?"
"Pedang ini bernama Mo-gan, si Mata iblis, merupakan salah satu di antara tujuh bilah pedang tertajam di kolong langit dewasa ini."
Pedang mustika ibarat batu permata, tidak seharusnya terdapat cacat apalagi bekas codet.
Tapi terkecuali pedang ini, bekas cacat yang membekas di tubuh pedang malah menambah misterius dan menyeramkan dari pedang itu.
Dengan lembut si bongkok membelai mata pedang, dari balik matanya terbesit setitik cahaya berkilauan.
"Biarpun Tong Leng hanya murid tak resmi keluarga Tong di Su-cwan, namun dia masih terhitung salah satu jagoan paling tangguh di antara beberapa jago keluarga Tong lainnya. Bukan saja serangannya cepat dan tepat, bahkan pernah mempelajari ilmu pedang Sian-wan-kiam (Ilmu pedang dewa monyet) dari Go-bi-pay."
Pedang yang digunakan Tong Leng adalah sebilah pedang lemas, biasanya selalu dililitkan pada pinggang sebagai sabuk, kecepatannya mencabut pedang sama kilatnya seperti dia melepaskan senjata rahasia.
Tangannya selalu terkulai di samping pinggang, asal tangannya bergerak, pedang lemas yang melilit di pinggangnya segera akan menusuk ke depan bagaikan seekor ular berbisa.
Tapi kali ini jangankan melancarkan tusukan maut, kesempatan untuk melepaskan pedang pun tak ada, tahutahu pedang lawan telah menembus hulu hatinya.
Tusukan maut itu betul-betul kelewat sadis, kelewat cepat.
Semua orang yang hadir sadar dan mengerti, mereka tahu, tak seorang pun di antara kawanan jago yang ada dalam rombongan ini mampu menggunakan ilmu pedang setajam, seganas, dan secepat ini.
Bahkan dahulu pun mereka belum pernah melihat pedang setajam ini.
Lalu siapakah pembunuhnya?
Pedang itu milik siapa?
Tiba-tiba si bongkok berpaling, menatap tajam wajah Siau-hong.
"Aku rasa kau pasti pernah mendengar asal-usul pedang ini, bukan?"
Katanya.
"Betul, aku pernah mendengarnya,"
Siau-hong mengakui.
"Benarkah pedang ini sudah terjatuh ke tangan seorang jago pedang muda dari marga Hong?"
"Benar!"
"Dan orang itu apakah bernama Hong Wi?"
"Benar!"
Tiba-tiba mata tunggal si bongkok mengerut kencang, berubah bagaikan sebatang jarum, sebatang jarum yang menusuk mata.
"Bukankah kau adalah Hong Wi?"
Sepatah demi sepatah ia bertanya.
"Betul!"
Begitu jawaban itu dilontarkan, pupil mata semua orang langsung berkerut kencang, detak jantung berdebar makin kencang, keringat dingin pun mulai membasahi telapak tangan.
Dalam waktu singkat hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh tenda.
Siau-hong masih tampil tenang, seakan tak pernah terjadi sesuatu.
"Pedang itu memang milikku, seranganku tak pernah lambat, bukan masalah sulit bagiku untuk membunuh Tong Leng,"
Katanya perlahan.
Debar jantung semakin kencang, ada beberapa tangan yang sudah basah oleh keringat dingin, secara diam-diam mulai menggenggam senjata masing-masing.
Siau-hong berlagak seolah tidak melihat, lanjutnya lagi dengan hambar.
"Hanya saja bila kali ini akulah yang telah membunuh Tong Leng, mengapa kutinggalkan pedang itu? Memangnya aku gila? Kuatir orang lain tak tahu akulah yang telah membunuhnya?"
Setelah menghela napas lanjutnya.
"Tidak mudah untuk mendapatkan pedang itu, tak nanti benda yang kuperoleh secara susah-payah kutinggalkan begitu saja untuk orang lain, terlepas orang itu sudah mati ataupun masih hidup."
"Masuk akal!"
Tiba-tiba si bungkuk berteriak. Perlahan sorot matanya mulai bergeser dari wajah Siauhong menatap wajah setiap orang anak buahnya, menatap mereka satu per satu.
"Bila kalian memiliki sebilah pedang macam begini, selesai membunuh, apakah akan kalian tinggalkan senjatamu?"
Tak akan ada orang berbuat begitu, kendatipun baru pertama kali kau lakukan pembunuhan, tak mungkin orang akan bertindak begitu gegabah, bahkan goblok setengah mati.
Senjata yang pada mulanya sudah digenggam kencang, kini mulai dikendorkan kembali.
Siau-hong ikut menghembuskan napas lega, ia berpendapat si bongkok ini bukan saja amat tegas bahkan selalu berdiri di sisinya, selalu melindunginya secara diamdiam.
Kembali si bongkok berkata.
"Tapi pembunuh itu pun pasti bukan anggota dari rombongan kita, di sini tak ada orang yang sanggup membunuh Tong Leng dengan sekali tusukan, juga tak ada orang yang sanggup merampas pedang itu dari tanganmu."
Siau-hong tertawa getir.
"Sudah hampir dua-tiga hari lamanya aku tak pernah melihat pedang itu lagi,"
Katanya.
"Seharusnya kau pun masih ingat, sewaktu pertama kali kau bertemu aku, pedang itu sudah tidak berada di tanganku lagi."
"Kenapa bisa tidak berada di tanganmu? Lantas di tangan siapa?"
Tanya si bongkok cepat.
Siau-hong tidak langsung menjawab.
Tiba-tiba ia teringat akan Wi Thian-bong, teringat Suigin, si Air raksa, teringat jago pedang tanpa nama yang menakutkan.
Bahkan dia teringat pula Po Eng.
Mereka kemungkinan besar adalah pembunuh Tong Leng, tapi kemungkinan itu pun seakan tak ada.
Di tengah gurun pasir yang nyaris tiada benda atau tumbuhan apa pun yang menghalangi, bukan pekerjaan gampang untuk menyelinap masuk ke dalam tenda secara diam-diam, lalu setelah membunuh mengeluyur pergi secara diam-diam, sesuatu kejadian yang mustahil.
Dia pun percaya dengan kemampuan yang dimiliki kelompok jagoan ini, bila ada orang mendekati tempat itu, tak mungkin mereka tidak mengetahuinya.
Kecuali sang pembunuh telah menyelinap masuk ke dalam rombongan itu, bahkan sama sekali tidak menimbulkan perhatian orang lain.
Tapi hampir semua anggota dalam rombongan ini saling mengenal bahkan berhubungan sangat akrab, rasanya tidak mungkin bagi orang luar untuk bisa menyelinap masuk tanpa mereka ketahui.
Siau-hong merasa tak sanggup menjelaskan semua urusan itu, karenanya terpaksa dia hanya tutup mulut.
Ternyata si bongkok tidak bertanya lebih lanjut, dia hanya memberi tahu padanya.
"Sebelum pembunuh yang sebenarnya ketahuan, lebih baik kau jangan meninggalkan tempat ini, pedang ini pun tak bisa kau bawa pergi."
Kembali Siau-hong menghela napas panjang, sahurnya.
"Sebelum berhasil melacak siapa pembunuh sebenarnya, biar ada orang mengusir aku pergi pun belum tentu aku mau pergi."
Dia memang bicara sejujurnya.
Jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun dapat merasakan bahwa kematian beberapa orang itu sedikit banyak masih ada hubungan dan sangkut-paut dengan dirinya.
Dia pun ingin mencari tahu siapa pembunuh sebenarnya.
Kembali si bongkok berpesan.
"Besok kita tak akan pergi dari sini, siapa pun tak boleh meninggalkan rombongan, semua lelaki berusia di bawah tiga puluh lima tahun, peduli ia pernah belajar silat atau tidak, harus bergabung dalam pasukan keamanan."
Kemudian setelah menghela napas panjang, tambahnya.
"Untung besok Pancapanah sudah kembali."
Malam panjang akhirnya telah tiba di ujungnya, secercah sinar terang mulai muncul dari luar tenda.
Pova masih seperti tadi, tidur meringkuk di sana, menggunakan selimut untuk menutupi kepalanya.
Kali ini dia benar-benar tertidur, bahkan tidur dengan begitu nyenyak.
Bagi seorang lelaki mana pun, ketika baru pulang setelah mengalami kejadian yang menakutkan, di saat melihat ada seorang wanita semacam itu sedang menanti kedatangannya, dia pasti merasakan kehangatan dan kelembutan cinta yang tebal.
Siau-hong telah duduk di sisinya, ingin sekali dia singkap selimut untuk melihat wajahnya, akan tetapi dia pun kuatir akan membangunkan perempuan itu, tapi pada akhirnya ia tak kuasa menahan diri untuk mengulurkan tangannya.
Pada saat itulah tiba-tiba Garda menyusup masuk ke dalam tendanya bagaikan seekor tikus tanah, tangannya menenteng sepasang sepatu laras terbuat dari kulit yang aneh sekali bentuknya.
Dilihat mimik mukanya, ia tampak serius bahkan tegang, mendadak sambil menjatuhkan diri berlutut, ia persembahkan sepasang sepatu laras kulit itu kepada Siauhong.
"Inilah Kapasa,"
Katanya.
"Aku hanya memiliki sepasang Kapasa, seperti kau hanya memiliki sebilah mata iblis."
Biarpun Siau-hong tidak paham apa artinya "Kapasa", namun ia dapat menduga kalau apa yang dimaksud Garda adalah sepasang sepatu bot itu.
Dia kurang begitu memahami kebudayaan serta adat orang Tibet, tapi ia tahu jelas, orang Tibet sangat menghargai sepasang kaki sendiri.
Bila kau ingin mengetahui tingkat status mereka dari dandanan serta cara berpakaian orang Tibet, yang paling gampang adalah memperhatikan sepatu yang mereka kenakan, perbedaan status tinggi dan rendah tak akan terbayangkan oleh orang luar.
Biarpun Siau-hong tidak tahu kalau "Kapasa"
Merupakan jenis sepatu paling terhormat yang dikenakan orang Tibet, bahkan di wilayah Persia pun dianggap sangat terhormat, namun dia dapat melihat kalau Garda sangat menaruh hormat atas sepatunya itu, bahkan telah menjajarkan sepatunya dengan pedang kenamaan yang menggetarkan dunia persilatan.
Kembali Garda berkata.
"Aku belum pernah mengenakan Kapasa itu, karena kakiku bau, keringat kakiku akan mengotori Kapasa, karenanya aku tak layak memakainya. Biarpun sebetulnya aku pun tak berniat menyerahkannya kepada orang lain, tetapi sekarang akan kupersembahkan untukmu."
"Kenapa?"
Tanya Siau-hong keheranan.
"Aku tidak bakal mempersembahkan pedang mata iblis kepadamu, kenapa kau harus mempersembahkan Kapasa milikmu kepadaku?"
"Karena kau akan pergi, pergi jauh, jauh sekali, harus pergi dengan cepat, cepat sekali, untuk itu kau butuh sepasang sepatu laras yang baik untuk melindungi kakimu."
"Kenapa aku harus pergi?"
"Karena Pancapanah segera akan kembali,"
Sahut Garda cepat.
"Orang lain tak berani mencurigaimu karena mereka tak berani mengusikmu, karena orang lain takut kepadamu, takut setengah mati."
Garda menyeka keringatnya dengan ujung baju, lalu terusnya.
"Tapi Pancapanah tak bakal takut, Pancapanah tak pernah takut siapa pun, tak pernah jeri menghadapi siapa pun, begitu Pancapanah muncul, kau pasti akan mati, mati seperti Ma Sah."
Suaranya mulai gemetar karena perasaan ngeri dan takut yang luar biasa, sungguh aneh, seorang prajurit tempur macam dia, mengapa bisa menaruh perasaan takut yang begitu luar biasa terhadap seseorang?
Tak tahan Siau-hong bertanya lagi.
"Pancapanah adalah..."
Belum selesai dia bertanya, tiba-tiba Pova tersentak bangun dari tidurnya, tiba-tiba ia menerobos keluar dari balik selimut dan memandangnya dengan perasaan terkesiap.
"Apa yang baru saja kau katakan?"
"Pancapanah,"
Sahut Siau-hong cepat.
"Aku baru saja akan bertanya pada sahabatku ini, manusia macam apakah Pancapanah itu?"
Tiba-tiba saja tubuh Pova mulai gemetar keras, dilihat dari mimik mukanya, perempuan ini tampak jauh lebih ketakutan daripada Garda. Mendadak dia peluk tubuh Siau-hong erat-erat dan berbisik.
"Apakah Pancapanah benar-benar akan datang? Kalau begitu kau harus segera kabur, cepat lari dari sini."
"Kenapa?"
"Tahukahkah kau siapakah ksatria nomor wahid di puncak Cu-mu-lang-ma? Pernahkah kau mendengar Ngohoa-sin-cian (Dewa panah panca bunga)?"
Suara Pova kedengaran makin serak dan gemetar.
"Pancapanah tak lain adalah Dewa panah panca bunga."
Ooo)d*w(ooO Di tengah gurun pasir yang panas bagaikan tungku api, dari dalam ruangan yang begitu panas hingga susah untuk bernapas, kau masih dapat menyaksikan lapisan salju yang putih nun jauh di puncak gunung yang tinggi di depan sana.
Di saat kau sudah hampir mati karena kepanasan, puncak salju di tempat kejauhan masih dapat kau saksikan dengan jelas.
Hanya dari tempat inilah kau bisa menyaksikan pemandangan aneh semacam ini, maka sekalipun kau bukan orang Tibet, seharusnya kau akan mengerti mengapa jalan pikiran orang Tibet selalu begitu romantis, begitu misterius, begitu penuh khayal.
Pikiran semacam ini tak mungkin bisa terwujud hanya dalam sehari semalam, tapi sesudah melewati penghidupan indah yang begitu romantis dan penuh misterius selama hampir berabad-abad lamanya, tentu saja dari balik semua itu akan muncul banyak sekali dongeng yang menawan hati.
Di antara sekian banyak dongeng yang paling romantis, paling misterius, paling indah, salah satunya adalah cerita tentang Dewa panah lima bunga.
Dalam bahasa Tibet, Dewa panah lima bunga disebut Pancapanah.
Menurut catatan kuno yang tercantum dalam kitab suci kaum Tibet, catatan paling purba yang pernah ditemukan, panah dari Pancapanah adalah "Sebuah panah yang tak pernah meleset, panah yang tajam luar biasa, di balik bulu panah terkandung perasaan yang penuh penderitaan, ujung panah yang mengandung perasaan rindu akan seseorang, sebuah panah yang langsung menembus hulu hati".
Pancapanah mengendalikan kekuatan di alam jagat yang susah dilawan, kekuatan cinta dan napsu.
Pedangnya penuh dihiasi bunga segar, gendawanya adalah serat dari madu.
Dia selalu muda dan tampan.
Dia adalah seorang pemuda paling tampan, paling gagah yang pernah ada di kolong langit.
Ia memiliki lima batang anak panah yang tajam, sebatang panah keras bagai emas, sebatang panah lembut bagai musim semi, sebatang panah yang manja dan genit bagai bunga, sebatang panah yang panas bagai bara api dan sebatang panah yang tajam bagai gurdi.
Tiada seorang pun mampu melawan kekuatannya.
Tentu saja Pancapanah yang dimaksud Pova serta Garda bukan dewa, melainkan seorang, seorang pejuang, seorang ksatria yang sangat dihormati dalam pandangan mereka, seseorang yang memiliki kekuatan melebihi dewa, kekuatan yang tak bisa dilawan siapa pun.
Sayangnya, walaupun Siau-hong ingin mengikuti nasehat mereka dan pergi meninggalkan tempat itu pun keadaan sudah terlambat.
Tiba-tiba dari luar tenda terdengar suara orang berteriak penuh kegirangan.
"Pancapanah telah kembali, Pancapanah telah kembali!"
Pancapanah dengan menuntun kuda putihnya yang tinggi besar telah berdiri di depan tenda, berdiri tenang sambil menerima sorak-sorai memuji dari kaumnya.
Dia sudah tiga hari meninggalkan rombongannya, melewati kehidupan yang sepi penuh penderitaan di tengah dataran luas yang tak berperasaan, namun sorot matahari yang terik, hembusan pasir yang kencang serta rasa lelah yang luar biasa sama sekali tak mampu mengubah sikap maupun penampilan dirinya.
Pakaian yang dikenakan masih tampak bersih dan indah, dia tetap tampil gagah dan penuh wibawa, lebih gagah dari matahari di langit.
Tak seorang pun, tak sebuah persoalan pun yang dapat merobohkan Pancapanah, tak ada pula kesulitan serta mara bahaya yang tak bisa dia taklukkan.
Selamanya tak pernah.
Suasana di dalam tenda gelap dan tenang, tempik-sorak di luar sana telah lama berhenti, bahkan kuda serta onta pun sudah berhenti meringkik.
Karena Pancapanah butuh istirahat, butuh ketenangan.
Biarpun seringkali ia memperoleh pujian dan tempiksorak dari orang lain, namun dia selalu lebih suka berbaring seorang diri dalam kegelapan.
Sejak dilahirkan dia suka hidup menyendiri, dia suka hidup seorang diri, tidak seperti orang lain, suka kemegahan, kekayaan, dan kehormatan.
Dengan tenang ia membaringkan diri di tengah kegelapan, kini tiada orang lain yang bisa melihatnya lagi.
Parasnya yang semula tampan bercahaya, tiba-tiba berubah begitu pucat, begitu lelah, kepucatan yang tak terlukiskan dengan perkataan.
Namun bila ada seorang asing muncul di hadapannya, maka cahaya terang seketika akan mulai membara lagi dari balik mukanya.
Dia tak akan membiarkan kaumnya kecewa, dia tak ingin anggota sukunya kecewa atas penampilannya.
Karena dia seorang bangsa Tibet.
Walaupun dia sudah berulang kali memasuki daratan Tionggoan, di daratan, di Hui-im, bahkan di wilayah mana pun dalam daratan Tionggoan, ia pernah hidup dan tinggal cukup lama di sana, bahkan utara selatan sungai besar pun pernah dijelajahi dan dijamah olehnya.
Namun dia tetap orang Tibet, mengenakan pakaian orang Tibet, makan minum dengan hidangan bangsa Tibet, bahkan sangat menyukai arak dan teh lemak buatan orang Tibet.
Dia selalu bangga karena dilahirkan sebagai orang Tibet.
Kaumnya pun selalu merasa bangga karena memiliki seorang pemimpin semacam dia.
Kini ia sedang menanti kedatangan Siau-hong.
Semua peristiwa yang terjadi dalam dua hari belakangan telah diketahui olehnya, secara ringkas si bongkok telah melaporkan semua kejadian itu kepadanya.
Dugaan dan kesimpulan yang dia ambil pun tak jauh berbeda dengan kesimpulan orang lain, satu-satunya orang yang paling mencurigakan hanya Siau-hong seorang.
Pedang "Mata iblis"
Telah berada dalam genggamannya, dia telah mencabutnya. Sambil membelai mata pedang yang tajam tiba-tiba ia bertanya.
"Pedang ini milikmu? Kau adalah Siau-hong si pencabut nyawa?"
Ia belum sempat melihat wajah Siau-hong, tapi dia tahu ada orang telah muncul di depan tendanya dan dia yakin orang itu pastilah Siau-hong.
Orang yang sepanjang tahun hidup dalam mara bahaya, meski seringkali' memiliki reaksi aneh yang melebihi reaksi seekor binatang buas, namun reaksi dan insting yang dimilikinya tak disangkal jauh lebih tajam dari siapa pun.
"Betul, pedang itu memang milikku,"
Jawab Siau-hong sambil melangkah masuk.
"Akulah Siau-hong si pencabut nyawa."
Pancapanah yang semula masih berbaring tenang, tibatiba melompat bangun dan berdiri tegak persis di hadapannya bagaikan sebuah tiang bendera, sorot matanya yang dingin terasa berkilat dari balik kegelapan.
"Konon di saat orang lain masih ingusan, kau sudah mulai mengucurkan darah segar?"
"Biasanya darah yang mengucur bukan darah yang berasal dari tubuhku."
"Bila ingin orang lain mengucurkan darah, diri sendiri harus mengucurkan darah terlebih dulu,"
Suara Pancapanah kedengaran teramat lembut dan hangat.
"Kini darah Tong Leng telah dingin membeku, bagaimana dengan dirimu?"
"Darahku masih mengalir, setiap saat telah siap untuk mengucur keluar."
"Bagus sekali,"
Suara Pancapanah kedengaran lebih lembut dan hangat.
"Siapa yang telah membunuh, dia harus mati. Dengan darah membayar darah."
Suaranya kedengaran lebih lembut bagai hembusan angin di musim semi, namun suara Siau-hong pun tak kalah tenangnya.
"Sayang sekali orang yang tidak membunuh pun terkadang bisa mati,"
Ucap Siau-hong.
"Bila aku harus mati, sang pembunuh yang sesungguhnya bakal hidup sentosa sepanjang masa."
"Jadi bukan kau yang melakukan pembunuhan itu?"
"Bukan, kali ini bukan,"
Siau-hong menggeleng. Pancapanah memandangnya sampai lama sekali, memandang dengan penuh ketenangan.
"Kau belum melarikan diri, juga tak ingin melarikan diri, sikapmu begitu tenang dan tenteram, dengus napasmu pun lembut dan teratur, kau memang tak mirip seorang yang telah melakukan perbuatan dosa."
Dia seakan sedang menghela napas panjang.
"Ai, hanya sayang dengan mengandalkan gejala semacam itu masih belum cukup untuk membuktikan kalau kau tidak berdosa."
"Lalu bagaimana baru bisa membuktikan?"
Siau-hong segera bertanya. Ooo)d*w(ooO BAB 7. PANAH SAKTI DEWA PANAH Pancapanah termenung tanpa bicara, sampai lama kemudian perlahan-lahan ia baru berkata.
"Aku adalah orang Tibet, orang Tibet biasanya sangat takhayul. Kami selalu percaya orang yang tidak melakukan kesalahan, dia tak bakal mati terbunuh secara penasaran."
Kini fajar telah menjelang tiba, secercah cahaya terang mulai memancar masuk ke dalam tenda, kini dapat terlihat dengan jelas gendewa serta sekantung anak panahnya.
Tiba-tiba dia mengambil gendawa dan anak panahnya sambil berjalan keluar dari dalam tenda.
"Kau pun ikut keluar!"
Katanya.
Sewaktu Siau-hong berjalan keluar dari dalam tenda, ia jumpai di luar sana telah berkumpul banyak orang.
Setiap orang berdiri tenang di sana bagaikan sebuah patung batu, menunggu jagoan mereka menyelesaikan persoalan ini.
Dengan gendawanya, Pancapanah menuding ke arah sebuah tenda lebih kurang lima tombak di hadapannya.
"Sekarang kau berdirilah di sana baru aku mulai menghitung, bila telah mencapai angka lima, aku baru akan mulai turun tangan. Hitunganku tak bakal terlalu cepat, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang kau miliki, tatkala aku selesai menghitung hingga angka lima, kau pasti sudah pergi sangat jauh dari sini."
Kemudian sambil menepuk kantung panah yang tergantung di pinggangnya, ia menambahkan.
"Aku hanya memiliki lima batang panah, bila kau benar-benar tidak melakukan kesalahan, dapat dipastikan tak sebatang panah pun akan berhasil melukaimu."
Tiba-tiba Siau-hong tertawa.
"Dewa panah lima bunga yang tak pernah meleset bidikannya, ternyata ingin menggunakan cara begini untuk membuktikan salah benarnya seseorang, hahaha... sebuah ide yang sangat bagus,"
Katanya. Pancapanah tidak tertawa, ia balik bertanya.
"Bila kau menganggap cara ini tidak bagus, masih tersedia sebuah cara lain lagi."
"Apa caramu itu?"
Sebelah tangan Pancapanah masih menenteng pedang mata iblis milik Siau-hong, tiba-tiba ia menghujamkan pedang itu di atas pasir, tepat di hadapan anak muda itu.
"Gunakan pedang ini untuk membunuhku,"
Ujarnya hambar.
"Asal kau dapat membunuhku, maka tak perlu lagi dibuktikan benar salahnya dirimu. Asal kau dapat membunuhku, peduli perbuatan apa pun yang pernah kau lakukan, tak bakal ada orang yang akan menanyakannya lagi."
Fajar telah menyingsing, cahaya matahari memancarkan sinarnya menyinari seluruh jagat.
Mata pedang memantulkan cahaya terang ketika terkena sinar mentari pagi, begitu juga dengan sepasang mata Pancapanah.
Dia adalah manusia, bukan dewa yang selalu awet muda, kerutan sudah mulai nampak di sudut matanya.
Namun di bawah cahaya sang surya yang baru terbit, dia masih nampak bagaikan dewa.
Siau-hong sangat mempercayai perkataannya.
Orang-orang dari sukunya maupun anak buahnya masih tetap berdiri tenang di sana, peduli apa pun yang dia katakan, mereka selalu taat dan melaksanakannya tanpa membantah.
Mencabut pedang membunuh orang bukanlah satu pekerjaan yang susah.
Selama ini Siau-hong selalu yakin dan percaya dengan kemampuan ilmu pedang miliknya, di saat harus mencabut pedang, dia tak pernah akan mundur apalagi menghindar.
Terdengar Pancapanah kembali bertanya.
"Dari dua cara yang tersedia, cara mana yang kau pilih?"
Siau-hong tidak menjawab, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mulai bergerak ke depan, berjalan menuju ke depan tenda, lebih kurang lima tombak di hadapannya dan berhenti di situ.
Dia telah menggunakan gerakan tubuh untuk menjawab.
Setelah membalikkan badan, ujarnya kepada Pancapanah.
"Sekarang kau sudah boleh mulai menghitung, lebih baik hitung agak cepatan, aku paling takut menunggu terlalu lama."
"Baik!"
Jawab Pancapanah singkat. Semua yang hadir mulai memencarkan diri, meninggalkan sebuah lapangan kosong untuk mereka berdua.
"Satu, dua, tiga, empat...."
Perlahan-lahan Dewa panah lima bunga mencabut anak panahnya yang pertama, gagang panah berwarna kuning emas dengan mata panah berwarna kuning juga.
Bidikan yang tak pernah meleset, panah sakti yang langsung menembus hulu hati, lembut bagaikan angin musim semi, indah bagai sekuntum bunga, panas bagai bara api, tajam bagai ujung gurdi, kokoh bagai emas.
Hitungannya tidak terlampau cepat, tapi akhirnya ia telah menghitung hingga genap angka lima.
Ternyata Siau-hong masih tetap berdiri di tempat, sama sekali tidak bergerak.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, secepat apa pun Pancapanah menghitung, ketika mencapai angka lima, paling tidak ia telah berada belasan tombak dari tempat semula.
Namun ia sama sekali tak bergerak, jangankan beberapa puluh tombak, seinci pun ia tak bergerak.
"Lima!"
Begitu hitungan terakhir diucapkan, semua orang pun mendengar suara desingan angin tajam menderu di tengah angkasa, suara itu begitu tinggi dan tajam bagaikan pekikan serombongan setan iblis.
Setiap orang dapat melihat dengan jelas ketika Pancapanah mencabut anak panahnya yang pertama, secara tiba-tiba kotak panahnya telah kosong.
Ternyata pada saat yang hampir bersamaan, kelima batang anak panahnya telah dibidikkan bersama-sama.
Siau-hong masih tetap tak bergerak.
Desingan angin tajam yang membelah angkasa kini telah berhenti bergema, kelima batang anak panah berwarna keemasan itu telah menancap berjajar di bawah kakinya.
Pada hakikatnya dia sama sekali tidak berkelit.
Entah apakah karena sudah diduga olehnya kalau Pancapanah hanya berniat menjajalnya, maka dia merasa tak perlu untuk menghindar atau karena dia tahu semisal ingin berkelit pun, belum tentu ia dapat meloloskan diri.
Terlepas apa pun yang dia pikirkan, kali ini lagi-lagi dia gunakan nyawa sendiri sebagai barang taruhan.
Dan dalam taruhan kali ini pun dia telah menang.
Akan tetapi bila seseorang tidak memiliki keyakinan dan rasa percaya diri yang begitu membaja, siapa pula yang berani bertaruh macam dia?
Tiba-tiba meledaklah tempik-sorak yang gegap-gempita dari kerumunan orang banyak, dengan cepat Garda menerjang keluar dari balik kerumunan orang, menjatuhkan diri berlutut dan mulai menciumi kakinya.
Dari balik mata Pancapanah yang dingin dan kesepian pun terlintas secercah senyuman.
"Sekarang kau tentu percaya bukan, seseorang yang tak bersalah tak nanti akan mati terbunuh. Asal kau tak melakukan kesalahan, kelima batang anak panah itu tak bakal menembus tubuhmu, terlepas aku adalah Dewa panah lima bunga atau bukan."
Sudah jelas hal semacam ini bukan termasuk takhayul tapi suatu ujian yang amat cerdas, hanya orang yang tak bersalah baru berani menerima ujian semacam ini.
Hanya Siau-hong sendiri yang tahu, seluruh pakaian yang ia kenakan saat ini nyaris sudah basah kuyup.
Hingga kini keringat dingin masih bercucuran tiada hentinya.
Dengan langkah lebar Pancapanah berjalan mendekat sambil menepuk bahunya, dengan cepat tangannya menyentuh peluh dingin yang membasahi punggungnya.
"Hahaha, ternyata kau pun sedikit ketakutan."
"Bukan hanya sedikit rasa takutku,"
Sahut Siau-hong sambil menghela napas.
"Aku ketakutan setengah mati!"
Pancapanah tertawa terbahak-bahak, semua anggota sukunya, semua anak buahnya ikut tertawa.
Sudah terlalu lama mereka tak pernah melihat senyuman menghiasi wajahnya.
Di saat semua orang sedang tertawa dengan penuh keriangan itulah mendadak terdengar lagi suara jeritan yang memilukan, setiap orang dapat mengenali jeritan ngeri itu berasal dari si bongkok.
Tumpukan barang dagangan yang semula tersusun sangat rapi, kini telah berubah sangat kacau, banyak bungkusan yang telah dirobek orang sehingga isinya berupa bahan obat-obatan yang mahal harganya berserakan di mana-mana.
Yang tampak hanya barang dagangan dan bahan obatobatan, sama sekali tak ada lantakan emas murni.
Siau-hong telah memperhatikan kejadian ini, mungkinkah orang yang merobek dan membongkar bungkusan barang dagangan itu bertujuan untuk menyelidiki dan membuktikan sesuatu?
Mungkinkah Wi Thian-bong sekalian telah muncul di seputar sini?
Si bongkok tergeletak di samping sebungkus bahan wangi-wangian, pakaiannya telah berubah jadi merah karena cucuran darah segar, tentu saja darah itu berasal dari darah tubuhnya serta darah rekannya.
Luka tusukan yang mematikan berada tepat di atas dadanya, senjata yang digunakan pun sebilah pedang.
Seketika itu juga Siau-hong teringat si jago pedang tanpa nama tanpa perasaan itu.
Ilmu silat yang dimiliki si bongkok bukan saja sangat tinggi, dari bekas luka yang begitu banyak membekas di tubuhnya, dapat diketahui dia adalah seorang jago berpengalaman yang pernah bertarung ratusan kali.
Lalu siapa yang telah membunuhnya?
Kecuali jago pedang tanpa nama, siapa pula yang sanggup menghujamkan pedangnya dalam sekali tusukan tepat di atas dadanya?
Walaupun tusukan pedang itu sangat mematikan, ternyata si bongkok belum menghembuskan napasnya yang terakhir.
Manusia semacam dia bukan saja kekuatan hidupnya jauh lebih kuat dari orang lain, niat dan keinginannya untuk berjuang hidup pun melebihi siapa pun.
Si bongkok termasuk jenis manusia semacam ini.
Dia masih terengah-engah, meronta, meronta untuk kehidupan sendiri, raut mukanya mengejang karena rasa sakit yang luar biasa dan rasa takut yang mencekam.
Namun dari balik sorot matanya justru memancar perasaan lain, semacam perasaan kaget, curiga, dan keheranan yang bercampur aduk.
Hanya seseorang yang telah menyaksikan suatu kejadian yang dia anggap tak pernah dan tak mungkin terjadilah yang bakal menunjukkan sorot mata semacam ini.
Lalu apa yang telah dia saksikan?
Pancapanah telah membongkokkan tubuh, menjejalkan lemak yang oleh bangsa Tibet dianggap sebagai obat yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit ke dalam mulutnya.
"Aku tahu, kau pasti ada perkataan yang ingin disampaikan kepadaku,"
Ujar Pancapanah sambil menepuk wajahnya, dia ingin menggunakan tepukan itu untuk membangkitkan semangat hidupnya.
"Kau harus mengatakannya, katakan segera kepadaku!"
Kelopak mata si bongkok mulai berdenyut, mulai bergetar, akhirnya dia mengucapkan beberapa patah kata.
"Sungguh tak disangka... sungguh tak disangka...."
"Apa yang tak kau sangka?"
Tanya Pancapanah cepat.
"Tak kusangka ternyata dialah yang telah membunuh orang."
"Siapakah dia? Di mana ia sekarang?"
Dengus napas si bongkok makin memburu, ia sudah tak sanggup mengeluarkan suara lagi, tak mampu menyelesaikan perkataannya.
Hanya mata sebelahnya yang masih bereaksi, terkadang pandangan mata pun bisa berbicara.
Sorot matanya telah dialihkan ke tempat jauh, memandang sebuah tenda yang terletak paling jauh dari sana.
Sebuah tenda dengan bulu elang berwarna hitam tergantung di sudut atasnya, bulu elang berwarna hitam pekat, hitam perlambang penyakit, musibah, dan kematian.
Penghuni tenda itu kebanyakan adalah orang-orang yang sudah sakit parah, terluka parah atau mereka yang sudah sekarat, mendekati saat ajalnya.
Kecuali tabib yang bertanggung jawab menyembuhkan mereka, siapa pun enggan memasuki tenda laknat itu.
Mungkinkah sang pembunuh telah melarikan diri masuk ke dalam tenda itu?
Pancapanah tidak bertanya lagi, dia memang tak perlu bertanya, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya dia telah meluncur ke depan.
Siau-hong segera menyusul dari belakang.
Mereka memasuki tenda itu hampir bersamaan waktu, pada saat yang sama pula mereka jumpai dua orang.
Mimpi pun Siau-hong tak pernah menyangka kalau dia bakal menyaksikan kedua orang itu di dalam tenda.
Bahkan nyaris dia tak mempercayai apa yang telah dilihat sepasang matanya.
Ternyata orang pertama yang dia saksikan adalah Pova, Pova yang seharusnya menunggu kedatangannya di dalam tenda.
Orang kedua yang dijumpainya tak lain adalah Po Eng!
Po Eng berdiri di sana dengan tenang, sikapnya masih dingin, kaku dan sadis, pakaian yang dikenakan masih berwarna putih salju.
Pova tertelungkup setengah melingkar di hadapannya, sinar kaget, ngeri, takut dan horor yang luar biasa terpancar dari balik matanya yang indah.
Kedua orang itu tidak seharusnya berada di dalam tenda, namun kenyataan mereka berada di sana.
Sang pembunuh telah melarikan diri masuk ke dalam tenda ini, sedang tenda itu tiada jalan mundur yang lain, berarti salah satu di antara mereka berdua pastilah si pembunuh itu.
Lalu siapakah di antara mereka berdua yang telah membunuh orang?
Dengan pandangan dingin Siau-hong menatap Po Eng sekejap, kemudian setelah menghela napas panjang ujarnya.
"Aku pun tak menyangka akan dirimu, selama ini aku selalu menganggap kau benar-benar tak pernah membunuh orang."
"Di dunia yang luas ini memang banyak terdapat kejadian yang sama sekali tak terduga,"
Jawab Po Eng tanpa perubahan mimik wajah.
"Lantakan emas murni memang dapat membuat orang melakukan tindakan yang dia sendiri pun tak pernah menyangka."
"Aku tahu, kau pun sedang mencari tumpukan emas itu, tapi kau .."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Saat itu Pova telah menubruk ke dalam pelukannya, dengan air mata berderai dia berbisik.
"Bawa aku pergi, kumohon, bawalah aku pergi dari sini!"
"Aku pasti akan membawamu pergi, kau tidak seharusnya datang ke tempat ini,"
Sahut Siau-hong sambil membelai rambutnya yang lembut. Tapi sayang ia telah datang, datang ke tempat itu.
"Mengapa kau bisa muncul di sini?"
Mau tak mau Siauhong harus bertanya.
"Aku tak tahu,"
Dengan air mata belinang Pova menggeleng.
"Aku benar-benar tak tahu, aku hanya ingin secepatnya pergi dari sini."
"Kau tak boleh pergi!"
Tiba-tiba Pancapanah buka suara, kini suaranya tidak selembut tadi.
"Siapa pun tak boleh membawanya pergi."
"Kenapa?"
Tanya Siau-hong.
"Karena orang yang menginginkan orang lain mengucurkan darah segar, dia sendiri pun harus bermandi darah."
"Siapa membunuh, dia harus mati, dengan darah membayar darah!"
Begitulah peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, terlepas kau berada di daratan Tionggoan, di wilayah Kang-lam atau pun berada di tengah gurun pasir, peraturan tetap peraturan dan harus ditaati.
Siau-hong menggenggam tangan Pova erat-erat, serunya.
"Kau seharusnya dapat melihat, bukan dia pembunuhnya!"
"Kau dapat melihatnya?"
Pancapanah balik bertanya.
"Apa yang telah kau lihat?"
Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraan, katanya lagi.
"Semua orang, semua barang dagangan yang berada di sini berasal dari satu perusahaan dagang."
"Perusahaan dagang mana?"
"Eng-ki!"
"Eng-ki?"
Sepasang tangan Siau-hong mulai terasa dingin.
"Eng dari kata hui-eng, Elang terbang?"
Eng dari hui-eng si elang terbang tak lain adalah Eng dari nama Po Eng. Dengan pandangan terkesiap dia menatap wajah Po Eng, tegurnya.
"Jadi kau adalah Tongcu mereka?"
"Betul, dia adalah majikan yang menyewa kami!"
Sahut Pancapanah.
"Kami bersedia menampungmu pun tak lain gara-gara dia. Kalau tidak, kemungkinan besar tadi kau sudah mati di ujung anak panahku."
Sekujur badan Siau-hong terasa dingin membeku, untung saja tak sampai menggigil. Kembali Pancapanah berkata.
"Sekalipun ingin menelusuri jejak emas murni itu, tak nanti ia akan menggeledah barang bawaan rombongan sendiri, sekalipun barang bawaan sendiri mau digeledah, rasanya dia tak perlu membunuh orang."
Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya dengan dingin.
"Sekarang seharusnya kau sudah tahu bukan siapa yang telah melakukan pembunuhan ini?"
Tangan Pova terasa jauh lebih dingin dari tangan Siauhong, bahkan air matanya terasa jauh lebih dingin dari tangannya.
Dia peluk tubuh Siau-hong erat-erat, sekujur tubuhnya gemetar keras.
Padahal perempuan ini begitu lemah lembut, begitu pasrah, mungkinkah gadis semacam dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin?
Siau-hong tidak percaya.
Biar sampai mati pun Siau-hong tak bakal mempercayai akan kenyataan ini.
"Aku hanya tahu orang yang melakukan pembunuhan itu pasti bukan dia!"
Kata Siau-hong sambil memeluk tubuh gadis itu makin kencang.
"Apalagi tak ada yang menyaksikan sendiri dia melakukan pembunuhan itu."
"Jadi kau baru mau percaya bila sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri?"
Tanya Pancapanah. Tiba-tiba Po Eng menghela napas panjang, selanya.
"Kendatipun kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri pun tak bakal percaya."
Bila Siau-hong adalah seseorang yang memakai akal sehat, bila dia seorang yang bisa memilah masalah dan mengambil kesimpulan secara sehat, sekarang seharusnya semua masalah sudah jelas.
Kenyataan dengan jelas, sudah terpampang di depan mata.
Wi Thian-bong sekalian sejak awal rupanya sudah tahu kalau Po Eng adalah majikan rombongan saudagar ini, dia selalu mencurigai Po Eng menggunakan rombongan saudagar ini sebagai kamuflase untuk mengelabui niatnya mengangkut emas lantakan sebesar tiga puluh laksa tahil yang telah dirampok.
Namun mereka tak berani mengganggu rombongan besar ini.
Hampir semua orang persilatan tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Po Eng tiada taranya, bahkan selama ini belum pernah ada orang yang mampu mengalahkannya.
Sedangkan Dewa panah lima bunga Pancapanah adalah jago nomor wahid yang telah menggetarkan luar perbatasan, ksatria sejati idola bangsa Tibet.
Wi Thian-bong bukan saja menaruh perasaan jeri dan takut menghadapi kedua orang ini, bahkan dia pun harus meningkatkan kewaspadaannya menghadapi setiap orang dalam rombongan ini.
Sebab kemungkinan besar setiap orang yang berada dalam rombongan ini adalah begal kucing, jika benar-benar terjadi pertarungan sengit, sudah pasti mereka tak punya keyakinan untuk meraih kemenangan.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terpaksa mereka melakukan penyelidikan secara diamdiam, mereka ingin mencari tahu apakah emas murni itu berada di dalam bungkusan barang dagangan yang dibawa rombongan ini.
Sebetulnya mereka ingin memperalat Siau-hong untuk melakukan tugas ini.
Siapa tahu Siau-hong justru merupakan seorang yang tak sayang dengan nyawa sendiri, karenanya terpaksa mereka harus mencari akal lain.
Untuk melacak apakah emas murni itu benar-benar berada dalam bungkusan barang dagangan itu, mereka harus mengirim seseorang untuk menyelinap dan membaur ke dalam rombongan ini.
Orang itu harus seseorang yang tak gampang menarik perhatian, seseorang yang tak gampang menimbulkan kecurigaan orang lain.
Selain harus pandai berkamuflase hingga sukar terlacak orang, dia harus memiliki gerakan tubuh selincah kuning, seganas patukan ular berbisa, semantap seekor gajah raksasa, selain harus memiliki kecantikan yang lebih manis dari madu, memiliki kelembutan melebihi air dan sanggup menaklukkan hati Siau-hong.
Karena Siau-hong satu-satunya jembatan penghubung untuk bisa menyusup masuk ke dalam rombongan ini.
Ternyata mereka berhasil menemukan manusia semacam ini.
Pova!
Bila Siau-hong masih memiliki sedikit kesadaran, sekarang dia seharusnya sudah dapat melihat duduk perkara yang sebenarnya.
Tapi sayangnya Siau-hong bukan jenis manusia semacam itu.
Dia bukannya tak memiliki otak dan kecerdasan, hanya saja kecerdasan otaknya kerap kali terhanyut dan tenggelam oleh perasaan emosi.
Dia bukannya tak bisa menduga sampai ke situ, hanya saja pada hakikatnya dia menampik untuk berpikir begitu.
Pada dasarnya dia menampik untuk mengakui bahwa Pova sang pembunuh.
Tentu saja Pancapanah pun dapat melihat akan hal ini.
"Tak ada orang melihat dia melakukan pembunuhan, tak ada orang yang bisa jadi saksi untuk membuktikan dia telah membunuh orang,"
Kata Pancapanah perlahan.
"Akan tetapi kau pun sama saja tak bisa membuktikan kalau dia itu tidak bersalah."
Siau-hong segera memahami maksud hatinya.
"Apakah kau ingin menggunakan cara tadi untuk membuktikan benar salahnya dia?"
Ia bertanya.
"Benar,"
Pancapanah membenarkan.
"Anak panah dari dewa lima bunga tak bakal melukai orang yang tidak bersalah."
Siau-hong segera tertawa dingin.
"Sayangnya kau sama sekali bukan Dewa panah lima bunga yang sesungguhnya, kau tak lebih hanya manusia, pikiran dan hatimulah yang memutuskan apakah dia berdosa atau tidak."
"Untuk kejadian kali ini, apakah kau mempunyai cara lain yang jauh lebih baik?"
Tanya Pancapanah.
Tentu saja Siau-hong tidak memiliki cara lain yang lebih baik.
Di dunia ini sudah tak ada orang lagi yang bisa memikirkan cara apa pun untuk membuktikan kalau perempuan itu tidak bersalah.
Tiba-tiba Pova meronta lepas dari pelukan Siau-hong, katanya dengan air mata bercucuran.
"Walaupun kau pernah berkata, selama dirimu masih hidup maka tak akan kau biarkan orang lain menganiayaku, namun sejak awal pun aku tahu bahwa janjimu itu tak mungkin bisa kau lakukan, setiap persoalan dapat berubah, setiap orang pun dapat berubah."
Kemudian sambil menyeka air mata yang berlinang, lanjutnya.
"Oleh sebab itu mulai sekarang kau sudah dapat melupakan semua janjimu itu, biarkan mereka membunuhku, biarkan aku mati!"
Dia masih tetap begitu lembut dan lemah, begitu penurut, dia masih menggantungkan keselamatannya pada perlindungan Siau-hong.
Kini dia telah menyerahkan seluruh hidupnya, tubuhnya kepada Siau-hong, ia rela mati karena tak ingin menyusahkan Siau-hong.
Biarpun tak seorang pun yang menyaksikan dia telah melakukan pembunuhan, namun setiap orang yang hadir dengan jelas mengetahui akan apa yang telah terjadi.
Tiba-tiba terdengar Po Eng menghela napas panjang.
"Biarkan dia pergi!"
Katanya.
"Kau akan melepaskan dia begitu saja?"
Tanya Pancapanah amat tercengang.
"Bukan hanya membebaskan dia begitu saja,"
Terus Po Eng dengan nada dingin.
"Kau pun harus memberinya sekantung air, sekantung rangsum, dan seekor kuda."
Kemudian dengan hambar tambahnya.
"Berikan seekor kuda tercepat untuknya, aku ingin dia pergi dari sini secepatnya, makin cepat semakin baik."
Pancapanah tidak bicara apa-apa lagi.
Dia memang selalu tunduk kepada Po Eng, seperti orang lain tunduk kepadanya.
Siau-hong pun tidak bicara lagi, setiap tindakan yang dilakukan Po Eng selalu membuat dia tak mampu bicara apa-apa lagi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menarik tangan Pova dan membalikkan badan.
Tiba-tiba Po Eng berkata lagi.
"Biarkan dia pergi, kau tetap tinggal di sini."
"Aku tetap tinggal di sini?"
Siau-hong berpaling.
"Kau minta aku tetap tinggal di sini?"
"Bila kau ingin aku membebaskan dia, maka kau harus tetap tinggal di sini!"
"Inikah syaratmu?"
"Benar!"
Jawaban Po Eng singkat tapi tegas, hal ini sudah merupakan keputusannya yang paling akhir, tak seorang pun dapat mengubah keputusannya itu.
Siau-hong sangat memahami keadaan itu, maka dia pun melepas genggaman Pova.
"Asal aku tidak mati, suatu ketika pasti akan datang mencarimu, aku pasti dapat menemukan dirimu."
Itulah perkataan terakhir yang dia sampaikan kepada Pova, kecuali ucapan itu, apa lagi yang bisa dia katakan?
Pova tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan mulut membungkam ia berlalu dari sana.
Dia tidak berkata apa-apa lagi, pergi dengan mulut membisu.
Siau-hong pun tidak bergerak, dia hanya mengawasi perempuan itu keluar dari sana, mengawasi bayangan punggungnya yang ramping dan lemah lembut dengan pandangan tak berkedip.
Dia berharap perempuan itu berpaling lagi memandangnya, tapi dia pun takut melihat perempuan itu berpaling.
Seandainya ia berpaling, kemungkinan besar dia akan menerjang keluar, tanpa mempedulikan apa pun yang bakal terjadi, dia ikut pergi dari situ bersamanya.
Sayang sekali ia tidak berpaling.
Pancapanah pun telah pergi dari situ, sesaat sebelum meninggalkan tempat itu tiba-tiba dia menyampaikan sepatah kata yang bermakna sangat mendalam kepada Siauhong.
"Bila aku jadi kau, aku pun akan melakukan hal yang sama."
Perkataannya sama sekali tidak mengandung nada sindiran atau ejekan.
"Perempuan semacam dia memang tak banyak jumlahnya."
Ketika hampir keluar dari dalam tenda, kembali dia berpaling sambil menambahkan.
"Tapi bila aku adalah kau, di kemudian hari aku tak bakal mau bertemu lagi dengannya."
Sepasang tangan Siau-hong yang mengepal kencang perlahan-lahan mengendor kembali, kemudian dengan gerakan lamban dia membalikkan badan, berhadapan dengan Po Eng. Dia ingin bertanya kepada orang itu.
"Kalau memang kau bersedia membebaskan dia, kenapa pula harus menahan diriku?"
Namun pertanyaan itu tak sampai diutarakan.
Sepeninggal Pova dan Pancapanah, sikap Po Eng pun tiba-tiba berubah sama sekali.
Tatkala Siau-hong berhadapan dengannya, ia telah roboh terkapar di atas tanah, terkapar di atas kasur empuk yang berlapiskan kulit.
Belum pernah Siau-hong menyaksikan dia begitu lelah dan lemah.
Parasnya pucat-pias tanpa rona darah, namun di atas pakaiannya yang berwarna putih salju telah dibasahi darah segar, noda darah mengotori seluruh dadanya, hanya selisih beberapa inci dari hulu hatinya.
"Kau terluka?"
Teriak Siau-hong.
"Mengapa kau bisa terluka?"
Po Eng tertawa getir.
"Asal dia manusia, tentu saja dapat terluka, jika ada sebilah pedang tajam menghujam dadamu, siapa pun pasti akan menderita luka cukup parah."
Siau-hong semakin terkesiap.
"Orang persilatan mengatakan bahwa kau tak pernah terkalahkan, aku pun tahu, kau memiliki beratus kali pengalaman pertarungan sengit, namun belum pernah kalah walau satu kali pun."
"Setiap masalah, setiap persoalan pasti ada kesatu."
"Siapa yang telah melukaimu?"
Sebelum Po Eng sempat menjawab, Siau-hong telah teringat akan seseorang, bilamana ada orang yang sanggup melukai Po Eng, sudah pasti manusia itulah orangnya.
Jago pedang tanpa nama, pedang tanpa perasaan.
"Jadi kau telah bertarung melawannya?"
Siau-hong segera bertanya. Lama sekali Po Eng termenung, kemudian perlahanlahan ia berkata.
"Aku pernah bertemu dengan tujuh jago pedang paling tersohor di kolong langit, meskipun belum pernah bertarung dengan mereka, namun aku pernah menyaksikan ilmu pedang yang mereka miliki."
Setelah menghela napas panjang, terusnya.
"Di antara mereka, ada yang sudah tua, ada yang hidup terlalu royal, ada yang ilmu pedangnya sudah mundur, tujuh orang jago pedang yang paling tersohor waktu itu, kini kehebatannya telah memudar, sudah menjadi masa lampau, oleh sebab itu aku tak pernah bertarung melawan mereka, karena aku tahu, kemampuanku pasti dapat mengalahkan mereka."
Perkataannya itu bukan sebuah jawaban, maka Siauhong kembali bertanya.
"Bagaimana dengan dia?"
Tentu saja Po Eng juga tahu siapa yang dimaksud "dia"
Oleh Siau-hong.
"Aku telah bertarung melawannya,"
Akhirnya Po Eng menjawab.
"Aku berani jamin, di antara tujuh jago pedang paling tersohor, tak satu pun sanggup menghadapi sebuah tusukannya...."
Tak disangkal, tusukan itulah yang telah melukai Po Eng...
"Selama hidup belum pernah kujumpai ilmu pedang semacam ini, bahkan membayangkan pun belum pernah,"
Perlahan-lahan Po Eng melanjutkan.
"Aku hanya bisa melukiskan tusukan pedangnya itu dengan beberapa patah kata...."
"Perkataan apa?"
"Pasti membunuh! Pasti menang! Pasti mati!"
"Tetapi kau belum mati,"
Siau-hong berusaha menghiburnya, seakan juga sedang menghibur diri sendiri.
"Aku dapat melihat, kau tak bakal mati!"
Po Eng tertawa, di balik suara tawanya penuh mengandung nada ejekan dan sindiran, katanya.
"Mungkin saja aku menahanmu karena aku ingin kau menemaniku di sini, melihat aku mati, karena aku pun pernah berada di sampingmu, menunggu saat kematianmu."
Terkadang sindiran pun merupakan semacam kepedihan, suatu kepedihan hanya bisa disampaikan dengan nada sindiran.
Siau-hong sangat memahami hal itu.
Kecuali terhadap perasaan sendiri, biasanya dia gampang memahami persoalan lain.
Perlahan-lahan dia duduk, duduk di samping Po Eng.
"Aku akan menunggu,"
Katanya.
"Bukan menunggu saat kematianmu tapi menunggu saat kau berdiri."
Matahari yang terik kembali muncul di tengah angkasa, namun suasana dalam tenda justru gelap dan dingin.
Sudah cukup lama Po Eng berbaring sambil memejamkan mata, entah dia sudah tertidur atau tidak, sampai lama kemudian ia baru membuka kembali matanya, menatap Siau-hong dan berkata.
"Ada dua hal aku harus memberitahukan kepadamu."
"Katakan!"
"Si jago pedang tanpa nama itu sesungguhnya bukan tak bernama, dia bermarga Tokko bernama Tokko Ci, bukan Ci tergila-gila karena cinta, tapi tergila-gila pada pedang,"
Ujar Po Eng sambil menghela napas.
"Oleh karena itu kau tak boleh bertarung melawannya, orang yang tergila-gila karena cinta pasti akan mati di ujung pedang orang yang tergilagila karena pedang. Dalam hal ini, kau tak bisa tidak harus mempercayainya."
"Apa masalah yang kedua?"
Siau-hong kembali bertanya. Kembali Po Eng termenung sampai lama sekali sebelum menjawab.
"Kau adalah seorang gelandangan, ada gelandangan yang punya banyak emas, ada gelandangan yang banyak bercinta, ada gelandangan yang suka tertawa, ada pula gelandangan yang suka menangis, walaupun begitu, ada satu kemiripan yang dimiliki setiap gelandangan."
"Kemiripan apa?"
"Perasaan hampa,"
Sahut Po Eng.
"Hidup menyendiri, kesepian, dan kehampaan."
Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya lagi.
"Oleh karena itu, bila seorang gelandangan dapat menemukan seseorang yang dianggap dapat membuat dirinya tidak merasa kesepian lagi, maka keadaan itu ibarat seseorang yang tenggelam dalam air tiba-tiba berhasil memegang sebatang balok kayu, biar sampai mati pun enggan lepas tangan. Sementara apakah balok kayu itu dapat membawanya kembali ke tepian atau tidak, baginya tak peduli, karena dalam hatinya sudah keburu muncul suatu perasaan aman dan tenteram, bagi kaum gelandangan, perasaan tenteram semacam ini sudah lebih dari cukup."
Tentu saja Siau-hong memahami maksudnya.
Apa yang dia katakan tak lain adalah penderitaan Siauhong yang selama ini selalu tersembunyi di dasar hatinya, penderitaan yang tak pernah berani disentuh olehnya.
Seorang diri dengan sebilah pedang berkelana dalam dunia persilatan, kebebasan hidup seorang gelandangan tampak begitu menggairahkan, begitu mengundang decak kagum banyak orang.
Karena selamanya orang lain tak bakal tahu kalau perasaan mereka yang sesungguhnya adalah kehampaan dan penderitaan.
Kembali terdengar Po Eng berkata.
"Akan tetapi balok kayu yang berhasil kau tangkap itu terkadang bukan saja tak dapat membawamu menuju ke tepian, sebaliknya malah bisa membuat kau tenggelam makin cepat, oleh sebab itu di saat harus lepas tangan, kau harus segera melepasnya."
Sepasang kepalan Siau-hong yang semula menggenggam kencang perlahan-lahan mengendor kembali.
"Mengapa kau harus menyampaikan kata-kata semacam itu kepadaku?"
Tanyanya.
"Karena kau adalah sahabatku."
Sahabat?
Ya, sahabat!
Mendengar perkataan semacam itu muncul dari mulut Po Eng, Siau-hong betul-betul merasa terkesiap, bahkan jauh lebih terkesiap dibandingkan ketika ia melihat noda darah di pakaiannya yang berwarna putih bersih, seketika itu juga ia merasakan darah panas menggelora dalam dadanya, menyumbat tenggorokannya, membuat dia tak sanggup berkata-kata.
Po Eng telah duduk, dari sebuah kantung kulit kambing yang tergeletak di samping tubuhnya dia mengeluarkan sebotol arak tawar yang kecut tapi terasa pedas.
"Inilah arak Ku-shia-sau dari jalan utara menuju gunung Thian-san,"
Katanya.
"Arak semacam ini jauh lebih keras dan memabukkan dibandingkan arak yang terbuat dari sorgum."
Diteguknya dulu satu tegukan, kemudian ia serahkan kantung kulit kambing itu ke tangan Siau-hong.
"Apakah kau takut mabuk?"
Tantangnya.
"Hahaha, kalau mati pun tak takut, kenapa mesti takut mabuk?"
Secercah senyuman terlintas dari balik mata Po Eng yang tajam, tiba-tiba saja ia mulai bersenandung.
"... lelaki harus ternama, Arak harus memabukkan. Berbincang setelah mabuk, Isi hati pun semua terpampang."
Ooo)d*w(ooO BAB 8.
JAGO BERILMU TINGGI Itulah potongan bait syair Mira Lesepa seorang penyair Tibet, walaupun amat sederhana, singkat, dan terdiri dari beberapa huruf saja, namun terkandung perasaan campukaduk yang sukar diurai dengan perkataan, macam golakan darah panas dalam tubuh seorang lelaki.
Po Eng tidak mati, Siau-hong pun belum pergi.
Rombongan besar itu kembali melanjutkan perjalanan, akhirnya tibalah mereka di gunung Toa-kit-leng, lebih kurang dua ratus lima puluh li dari tanah suci Lhasa.
Langit sangat cerah, hanya setitik awan tipis yang melayang di udara nan biru, di kejauhan sana terlihat puncak bukit yang berlapiskan salju, perasaan Siau-hong pun nampaknya jauh lebih cerah dan riang.
Akan tetapi dia sama sekali tak dapat melupakan Pova.
Agaknya Po Eng mengetahui akan hal ini.
"Masih ada satu hal lagi yang perlu kuberitahukan kepadamu,"
Suatu hari ia berkata kepada Siau-hong.
"Terserah mau percaya atau tidak, aku tetap harus mengatakannya kepadamu."
"Masalah apa?"
"Pova berarti salju, salju yang telah membeku dan mengeras bagai batu, warna salju adalah putih keperakperakan...."
Setelah berhenti sejenak, Po Eng baru kembali melanjutkan.
"Pova sebenarnya tak lain adalah Sui-gin, si Air raksa yang sebenarnya!"
Siau-hong sama sekali tidak menunjukkan reaksi.
Ia sedang menerawang lapisan salju di puncak bukit di kejauhan sana, pemuda itu seolah tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan Po Eng.
Kembali Po Eng berkata.
"Sebelum tumpukan emas murni yang hilang ditemukan kembali, tak nanti Wi Thianbong akan melepaskan diriku. Putra yang telah mati selamanya tak pernah bisa hidup kembali, Lu-sam pun pasti tak akan melepaskan dirimu."
Setelah berhenti sejenak, perlahan lanjutnya.
"Kini, kelompok panah kita sudah kehilangan setengah anggotanya, mereka tak nanti akan membiarkan kita tiba di kota Lhasa dengan selamat."
Selama dua malam belakangan, setiap kali rombongan mereka sedang berhenti untuk beristirahat, lamat-lamat Siau-hong seakan mendengar ada suara derap kaki kuda yang ramai di kejauhan sana.
Apakah Wi Thian-bong sedang mengumpulkan anak buahnya, bersiap untuk melakukan pertempuran terakhir melawan mereka?
"Di depan sana terdapat sebuah celah sempit, orang Tibet menyebutnya sebagai sumbatan leher,"
Kata Po Eng.
"Bila perhitunganku tak meleset, saat ini mereka pasti sedang menanti kedatangan rombongan kita di sana!" 'Sumbatan leher'. Cukup mendengar namanya, Siauhong sudah dapat membayangkan betapa berbahaya dan ngerinya celah sempit itu. Dengan empat penjuru tertutup dinding curam yang menjulang ke angkasa, andaikata ada musuh bersembunyi dan melakukan sergapan di sana, dapat dipastikan tak akan banyak anggota rombongan mereka yang bisa lolos dalam keadaan selamat. Apalagi musuh yang bersembunyi di sana adalah jago-jago inti kelompok pimpinan Wi Thian-bong.
"Kau siap menerjang ke sana?"
Tanya Siau-hong dengan perasaan kuatir. Po Eng tertawa dingin.
"Mereka memang berharap aku menerjang melalui celah itu, kenapa aku harus memenuhi harapan mereka?"
"Selain celah sempit itu, apakah masih ada jalan lain yang bisa dilewati?"
Kembali Siau-hong bertanya.
"Tidak ada, hanya saja kita bukan harus melewati tempat itu."
"Lalu bagaimana caramu melewatinya?"
"Menunggu, mereka bisa menunggu kedatangan kita, kita pun dapat menunggu kedatangan mereka, menunggu sampai mereka datang sendiri."
"Mereka pasti akan datang sendiri?"
"Pasti, bahkan dalam waktu singkat akan datang, karena kita bisa menunggu, sementara mereka tidak."
"Mengapa?"
"Anak buah yang mereka kumpulkan pasti sedang berada dalam keadaan kenyang dan semangat tempur paling puncak. Mereka telah memperhitungkan pertarungan ini pasti dapat mereka menangkan, begitu berhasil dengan pertarungan ini, mereka akan mulai pesta-pora merayakannya, oleh sebab itu mereka pasti tidak membekal rangsum dan air dalam jumlah banyak, sebab dalam anggapan mereka, selesai pertarungan ini, rangsum dan air yang kita bawa akan menjadi milik mereka."
Setelah mendengus, kembali Po Eng melanjutkan dengan nada dingin.
"Oleh sebab itu mereka tak bisa menunggu, bila kita tidak lewat, merekalah yang pasti datang mencari kita."
"Kemudian?"
"Aku telah menurunkan perintah untuk mendirikan perkemahan di tempat tiga puluh li dari celah sempit itu,"
Sahut Po Eng.
"Sewaktu mereka tidak melihat kedatangan kita, semangat tempurnya pasti akan melemah, apalagi harus menempuh perjalanan sejauh tiga puluh li untuk mencari kita, sudah pasti kekuatannya akan makin lemah. Nah, di sanalah kita sambut kehadiran orang-orang itu, menunggu mereka datang mengantar kematian...."
Bukan saja ia bisa melihat secara tepat, bahkan memperhitungkan segala sesuatunya dengan tepat, bukan hanya bisa mencabut pedang melukai musuh dalam jarak lima langkah, bahkan dapat membuat strategi perang yang jauh lebih unggul daripada menempuh jarak ribuan li.
Mau tak mau Siau-hong harus mengakui bahwa dia memang seorang tokoh silat berbakat aneh yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.
Namun ada satu hal yang membuat Siau-hong tetap kuatir.
"Sekalipun mereka datang kemari, belum tentu kedatangan mereka hanya untuk mengantar nyawa."
"O, ya?"
"Kalau memang Wi Thian-bong sudah bertekad akan menangkan pertarungan ini, sudah pasti dia akan mengerahkan segenap kekuatan inti yang dimilikinya, ditambah Tokko Ci dan Siu-hun-jiu, ada berapa orang di pihak kita yang sanggup mengungguli beberapa orang itu?"
Kembali terlihat darah segar meleleh membasahi baju putih yang dikenakan Po Eng, selewat pertarungan nanti, entah ada berapa banyak darah segar lagi yang akan menodai baju putihnya.
Namun sikap dan penampilannya tetap tenang, tiba-tiba ujarnya.
"Aku tahu, terlepas seberapa besar kesempatan kita dalam pertarungan ini, kau tak bakal pergi meninggalkan aku. Kalau tidak, kau pun tak perlu menguatirkan keselamatanku."
Lagi-lagi Siau-hong merasakan hawa panas menggelora dalam dadanya.
Pengertian dari seorang sahabat selalu membuatnya lebih terharu dibanding persoalan apa pun.
Po Eng menatapnya, sinar mata yang dingin, sadis dan tajam tiba-tiba berubah lebih lembut dan halus, katanya.
"Aku telah terluka, anak buah yang kita miliki pun tidak banyak, tapi kita bukannya sama sekali tak punya kesempatan, karena kita memiliki sebuah benda yang tak mungkin dimiliki Wi Thian-bong sekalian."
Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya.
"Kita memiliki sahabat yang siap sehidup semati, sahabat yang tak akan melarikan diri di saat bahaya maut datang mengancam."
"Apa pun yang bakal terjadi, kali ini kau harus sisakan Tokko Ci untuk diriku!"
Teriak Siau-hong tiba-tiba. Kembali Po Eng menatapnya cukup lama, sekali lagi secercah senyuman melintas dari balik sorot matanya.
"Kali ini mungkin Tokko Ci tak bakal datang."
"Kenapa?"
"Kau pasti suka juga mendengar perkataan yang paling senang diucapkan Pancapanah."
Tentu saja Siau-hong tahu apakah perkataan itu. Bila ingin orang lain mengucurkan darah, diri sendiri pun harus mengucurkan darah.
"Kuakui Tokko Ci adalah jago pedang yang tiada duanya di kolong langit,"
Ujar Po Eng.
"Tapi bila dia ingin aku mengucurkan darah, dirinya pun harus membayar mahal untuk itu."
"Jadi dia pun terluka?"
Siau-hong segera bertanya. Po Eng tidak menjawab pertanyaan itu, hanya ujarnya hambar.
"Peduli bagaimana pun, bila ia berani datang lagi, aku pasti akan menahan dia di sini."
Sebelum senja menjelang tiba, rombongan itu sudah menghentikan perjalanan. Menurut laporan Garda, jarak tempat ini dengan "sumbatan leher"
Hanya selisih dua puluh sembilan li.
Rombongan onta telah berkerumun jadi satu, tendatenda pun telah didirikan, setiap orang sibuk melaksanakan tugas harian yang harus mereka selesaikan, keadaan tak jauh berbeda dengan situasi di hari-hari biasa, seakan mereka sama sekali tak tahu akan kehadiran musuh tangguh.
Kembali seharian penuh Siau-hong tak berjumpa dengan Pancapanah, dalam dua hari belakangan, dia pun tidak mendapat tugas melakukan perondaan, selama ini dia hanya menemani Po Eng, berada dalam tenda dengan puncak tergantung bulu elang berwarna hitam pekat.
Orang yang bertugas mengurus rangsum dan air, Gan Tin-kong dan Song-lohucu telah datang, Po Eng yang mengundang kedatangan mereka, mengundang mereka berdua untuk minum arak bersama.
Tampaknya kegembiraan Po Eng pada hari ini sangat baik.
Arak yang mereka teguk bukan arak Ku-shia-sau, melainkan arak biji-bijian yang keras dan menusuk lidah.
Walaupun arak semacam ini tidak gampang memabukkan, namun sekali mabuk, jangan harap bisa mendusin dengan mudah.
Selewat magrib, dari luar tenda mulai berkumandang suara nyanyian, bagi orang Tibet, nyanyian dan arak memang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya.
Cahaya api mulai menerangi segala penjuru, setiap orang sedang menyanyi, sedang menenggak arak, seakan sengaja membiarkan orang lain menyangka mereka sama sekali tak waspada, sama sekali tak siap.
Namun sekalipun dilakukan persiapan, sekalipun setiap orang waspada, lalu apa gunanya?
Jumlah petarung dalam kelompok ini hanya tersisa tak lebih belasan orang saja.
Menurut suara ringkikan kuda yang terdengar oleh Siauhong, kawanan jago yang berhasil dihimpun Po Eng paling tidak berjumlah sepuluh kali lipat dari jumlah mereka.
Pancapanah telah kembali.
Dia membuktikan kebenaran jalan pikiran Siau-hong, ia telah mengunjungi "sumbaran leher".
"Rombongan pasukan yang saat ini telah berkumpul di sana lebih kurang berjumlah tujuh puluh ekor kuda,"
Jelasnya.
Tujuh puluh ekor kuda berarti tujuh puluh orang jago dengan tujuh puluh jenis senjata tajam, dapat dipastikan setiap senjata yang mereka bawa adalah senjata tajam yang sangat mematikan.
Kembali Pancapanah berkata.
"Mereka hampir semuanya merupakan jago-jago tangguh yang pandai menunggang kuda, di antaranya ada sebagian yang menggunakan senjata tombak panjang, ada sebagian membawa busur dan anak panah, ada pula tujuh-delapan orang di antaranya menggunakan senjata yang tak biasa digunakan orang."
Orang yang bisa menggunakan senjata istimewa tentu memiliki ilmu silat yang sangat tangguh. Terdengar Pancapanah kembali berkata.
"Sesungguhnya orang yang benar-benar menakutkan bukanlah mereka."
"Lalu siapakah yang benar-benar menakutkan?"
Tanya Siau-hong cepat.
"Kecuali tujuh puluh ekor penunggang kuda, ada pula tiga buah tandu yang telah tiba di sini."
Berada di tengah gurun pasir ternyata ada orang naik tandu, bahkan di saat bersiap menyergap musuh tangguh pun masih ada orang yang berada dalam tandu.
"Adakah seseorang di dalam tandu itu?"
Tanya Siau-hong semakin terkesiap.
"Tentu saja ada,"
Pancapanah mengangguk.
"Dalam setiap tandu terdapat seorang."
"Manusia macam apakah mereka?"
"Tentu saja hanya orang-orang luar biasa yang bisa dijemput Wi Thian-bong dengan menggunakan tandu,"
Setelah agak sangsi sejenak, kembali Pancapanah melanjutkan.
"Aku hanya kenal salah seorang di antaranya."
"Siapakah orang itu?"
"Perempuan yang kau anggap tak mungkin membunuh orang."
Seketika itu juga Siau-hong terbungkam dalam seribu bahasa.
Benarkah Pova adalah seorang pembunuh berilmu tinggi yang sengaja menyembunyikan kemampuannya?
Benarkah dia mampu membunuh orang dalam sekejap mata?
Dia tak dapat melihatnya, betul-betul tak dapat melihatnya.
Dia pun tak percaya, bukannya tak dapat percaya, melainkan tak ingin percaya.
Kembali Pancapanah berkata.
"Selain dia, orang kedua adalah seorang cacat yang memiliki sebuah lengan dan sebuah kaki, kaki kirinya dipasang kaki kayu sedang di tangan kanannya menenteng sebuah buntalan kuning, tampaknya buntalan itu cukup berat."
"Berapa usianya?"
Siau-hong segera bertanya.
"Aku tak dapat menilai usianya,"
Sahut Pancapanah.
"Tapi setiap lembar rambutnya telah memutih, putih berkilat bagaikan serat perak, namun wajahnya justru masih putih bersemu merah, pada hakikatnya dia adalah seorang nona cilik."
"Nona cilik?"
Kembali Siau-hong bertanya.
"Kau maksudkan orang ini adalah seorang wanita?"
"Betul, dia adalah seorang wanita."
Paras Siau-hong kelihatan sedikit berubah.
"Lalu siapa pula orang yang ketiga?"
"Tampaknya orang itu adalah seorang buta, sewaktu turun dari tandu harus dituntun orang, tapi justru dialah satu-satunya orang yang mengetahui kalau aku bersembunyi di seputar sana."
Sesudah tertawa getir kembali Pancapanah melanjutkan.
"Hampir saja aku tak bisa pulang kemari."
Siau-hong merasakan hatinya mulai tenggelam.
Dia telah menduga siapa gerangan kedua orang itu, di antara kawanan jago paling tangguh yang terdapat di kolong langit saat ini, nama besar kedua orang itu boleh dibilang menempati deretan sepuluh besar.
Seharusnya Po Eng pun mengetahui identitas kedua orang itu, namun dia sama sekali tidak memberikan reaksi, hanya ujarnya hambar.
"Kau sudah lelah, mari, minumlah arak ini."
Arak yang tidak gampang memabukkan, sekali mabuk akan susah mendusin kembali.
Orang yang paling menawan hati, terkadang justru merupakan orang yang paling menakutkan.
Memang banyak peristiwa dan kejadian seperti ini terjadi di dunia.
Langit sudah semakin gelap, manusia pun sudah mendekati mabuk, cahaya api dalam tenda terasa makin terang benderang, suara nyanyian pun bergema makin nyaring dan lantang.
Sorot mata Po Eng tampak jauh lebih terang dan tajam.
Mengapa dia bisa bersikap begitu tenang?
Apakah dia sudah mempunyai cara untuk menghadapi serbuan orangorang itu?
Siau-hong tak habis mengerti, dia benar-benar tak tahu apa yang akan dia lakukan.
Si manusia buta itu tak disangkal pastilah Siu-hun-jiu.
"Tangan beracun pencabut nyawa, tiada tempat aman untuk nyawa". Bila dia pergi mencari seseorang, kalau orang itu tidak segera melarikan diri, secepatnya persiapkan urusan akhir bagi diri sendiri. Hingga kini hanya beberapa orang saja yang berhasil melarikan diri dari cengkeraman mautnya. Perempuan berambut putih berwajah merah berlengan tunggal berkaki tunggal itu jauh lebih menakutkan lagi, sebab dia hanya terhitung separoh manusia. Separohnya yang lain bukan dewa, juga bukan setan, terlebih bukan manusia. Sebab separoh yang lain sudah termasuk "iblis". Perempuan ini seakan telah terbelah jadi dua oleh semacam ilmu iblis yang sangat menakutkan, separohnya adalah Giok-li, perempuan suci, sementara yang separohnya lagi adalah Thian-mo, iblis langit. Giok-li-thian-mo, perempuan suci iblis langit Liu Hunhun! Tak seorang pun yang tahu seberapa tinggi ilmu silat yang dimilikinya, tak ada pula yang tahu berapa usianya. Tapi setiap orang tahu dengan pasti, setiap saat dia dapat membelah tubuhmu menjadi dua bagian. Gan Tin-kong selamanya tak pernah meneguk arak biar setetes pun, sementara Song-lohucu sudah meneguk tak sedikit arak keras. Yang tidak meneguk arak selalu bersikap serius sementara yang meneguk arak pun merupakan seorang Kuncu, dalam keadaan apa pun, mereka berdua merupakan orang-orang yang pantas dihormati. Tapi setelah tiba saat mencabut golok bersiap adu nyawa, mungkin nilai kedua orang ini sudah tak bisa menandingi nilai Garda. Sebagaimana diketahui Garda adalah seorang petarung, seorang patriot, namun ketika harus berhadapan dengan jago-jago tangguh macam Siu-hun-jiu serta Liu Hun-hun, satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah mati. Sekalipun "kematian"
Merupakan akhir dari semuanya, namun tak akan menyelesaikan persoalan mana pun.
Sekalipun benar-benar dapat menyelesaikan masalah, bukan berarti ada orang bersedia menggunakan cara begini menyelesaikan persoalannya.
Po Eng telah terluka parah, Pancapanah pun bukan dewa, dengan cara apa mereka akan menghadapi serbuan musuh yang begitu tangguh?
Sudah banyak yang dipikirkan Siau-hong, namun ada satu hal yang tak pernah terpikir olehnya.
Mungkinkah Pova akan ikut datang?
Seandainya datang, sikap seperti apakah yang akan dia perlihatkan menghadapi dirinya?
Sikap seperti apa pula yang harus dia lakukan menghadapinya?
Kekasih yang cintanya sehidup semati tiba-tiba berubah jadi musuh bebuyutan yang harus bertarung mati-matian, dengan cara apa dia harus menghadapi situasi semacam ini dan menyelesaikannya?
Siapa pula yang bisa memahami penderitaan serta tekanan batin yang harus dirasakan?
Selama ini Po Eng mengawasi dirinya terus, dia seolah dapat melihat penderitaan batin yang dirasakan saat ini, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia mengangkat cawan araknya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang ramai bergema dari kejauhan.
Tujuh puluh ekor kuda berlari bersama, suara derap kaki yang keras bagai suara guntur yang menggelegar di angkasa, dalam waktu sekejap hawa pembunuhan menyelimuti seluruh jagat.
Namun suara nyanyian yang berkumandang di luar masih bergema tiada hentinya, Po Eng masih tetap duduk tenang tanpa bergerak.
Dalam cawannya masih penuh dengan arak, cawan dengan arak wangi yang tak menetes setitik pun, dia hanya berkata kepada Siau-hong dengan nada hambar.
"Aku tahu, kau paling takut menunggu, ternyata mereka tidak membiarkan kita menunggu terlalu lama."
Kemudian sesudah mengangkat cawan, terusnya.
"Untuk hal itu, kita seharusnya meneguk habis isi cawan arak ini!"
Suara derap kaki kuda bergerak semakin dekat, tampaknya kelompok penyerang itu hanya berlari mengelilingi tenda itu tanpa ada maksud menyerbu masuk.
Orang-orang yang berada di sekitar api unggun masih menyanyi dengan lantang, mereka seakan tidak tahu akan kehadiran kawanan musuh tangguh itu, seolah tidak sadar kalau mati hidup mereka hanya dibatasi soal tarikan napas.
Apakah hal ini dikarenakan mereka menaruh keyakinan dan kepercayaan penuh terhadap Po Eng, percaya dia tak akan membawa mereka menuju jalan kematian, karena itu mereka tetap tenang?
Atau justru karena ketenangan luar biasa yang ditampilkan orang-orang itu, maka musuh tangguh tak berani menyerang secara gegabah?
Mendadak terdengar suara suitan nyaring yang tajam bergema menembus angkasa.
Kuda-kuda jempolan yang sedang berlarian mengelilingi tenda seketika berhenti secara tiba-tiba, begitu suara derap kaki kuda berhenti, suasana pun dicekam dalam keheningan yang luar biasa.
Hawa pembunuhan terasa semakin pekat menyelimuti angkasa.
Tampaknya tujuh puluh ekor kuda jempolan dengan tujuh puluh orang petarung tangguh telah memasang panah di atas gendawa dan melolos golok siap melakukan penyerangan.
Po Eng masih tetap tak bergerak.
Selama pihak lawan tidak bergerak, dia pun tak akan bergerak, dia jauh lebih pandai menunggu, lebih sabar menunggu daripada orang-orang itu.
Siau-hong ingin sekali berjalan keluar melihat keadaan di luar, tapi lagi-lagi Po Eng telah mengangkat cawan araknya.
"Kujamin mereka tak bakal berani menyerbu kemari, sebelum keadaan diketahui secara jelas, mereka tak bakal berani bertindak secara sembarangan."
Kembali dia meneguk isi cawannya hingga habis, lalu terusnya.
"Paling tidak kita masih punya cukup waktu untuk meneguk tiga sampai lima cawan arak lagi."
Baru saja dia menghabiskan secawan arak, kembali terdengar suara suitan yang amat nyaring bergema membelah angkasa, lalu terlihat Garda secara tiba-tiba menerjang masuk ke dalam tenda seraya berteriak.
"Sudah datang!"
Kembali Po Eng memenuhi cawannya dengan arak, kemudian tanyanya dingin.
"Siapa yang telah datang?"
"Wi Thian-bong telah datang,"
Suara Garda terdengar makin tegang dan sedikit panik.
"Selain itu terdapat enam orang menggotong tiga buah tandu ikut datang bersamanya, mereka telah memasuki daerah tenda sebelah barat."
"Berapa orang yang telah datang?"
"Pasukan berkuda lainnya telah mengepung kita rapatrapat, sedang yang masuk ke dalam wilayah tenda hanya beberapa orang itu,"
Sahut Garda.
"Mereka bilang hendak bertemu denganmu."
Po Eng meneguk dulu araknya, kemudian baru berseru.
"Kalau memang kita kedatangan tamu agung, mengapa tidak mempersilakan mereka masuk?"
Mendadak dari luar tenda terdengar seseorang tertawa dingin.
"Kalau sudah tahu ada tamu agung datang berkunjung, mengapa tuan rumah belum keluar menyambut?"
Suara orang ini melengking tapi lembut, seperti ada sebuah jarum tajam yang menusuk telinga.
"Po-toalopan, kau tidak merasa lagakmu berlebihan?"
Kata orang itu lagi. Po Eng mendengus dingin.
"Hm, sejak awal lagakku memang besar,"
Sahutnya.
Dia mengulap tangan memberi tanda, Garda segera menggulung pintu masuk tenda besar itu.
Tampak cahaya lentera menerangi seluruh tempat, suasana di luar tenda terasa terang benderang bagaikan siang hari, di kejauhan sana tampak cahaya pantulan golok dan pedang, sementara suara nyanyian telah berhenti, yang terdengar kini hanya suara ringkik kuda dan onta.
Angin malam berhembus kencang, udara terasa makin dingin membeku, begitu dingin seakan ada golok yang menghujam ke dalam tulang.
Seekor kuda tinggi besar ditambah tiga buah tandu kecil berwarna hijau telah berhenti di luar tenda.
Wi Thian-bong duduk di atas kudanya dengan golok tersoreng di pinggang, anak panah dalam kantung.
Biarpun golok masih berada dalam sarung, biar anak panah masih belum terpasang, namun hawa pembunuhan telah mencekam seluruh jagat.
Ternyata orang yang barusan berbicara bukan dia.
Suara itu muncul dari dalam tandu nomor satu dan kini orang itu sudah turun dari tandunya.
Dia adalah seorang wanita berlengan tunggal berkaki tunggal, rambutnya telah memutih bagai warna perak, tapi wajahnya masih merah segar bagaikan seorang gadis.
Pada kaki kirinya terpasang kaki kayu yang jelek dan kasar, sementara kaki kanannya mengenakan kain celana warna hijau bunga dan memperlihatkan betisnya yang putih, halus dan kenyal.
Tujuh-delapan buah gelang berwarna keemas-emasan menghiasi betisnya itu.
Lengan kirinya telah tertabas kutung, tapi tangan kanannya tampak indah dan mulus, dalam genggamannya terlihat menenteng sebuah buntalan kuning yang tampaknya berat sekali.
Ketika kaki kayunya menginjak tanah, penampilan perempuan itu nampak jelek dan bebal, tapi setelah kaki kanannya menginjak tanah, seketika penampilannya berubah indah dan cantik bagaikan bidadari.
Perempuan ini boleh dibilang tampil dengan dua macam penampilan yang saling bertolak belakang, meski begitu, justru dia dapat tampil begitu indah dan pas, membuat siapa pun yang melihatnya bergidik dan ngeri.
Sejak awal Siau-hong memang sudah pernah mendengar kabar berita manusia macam apakah Thian-mo-giok-li, perempuan suci iblis langit Liu Hun-hun.
Namun setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dia baru tahu apa yang dilukiskan orang selama ini sesungguhnya belum dapat menggambarkan seluruh kesesatan dan kemisteriusan perempuan itu.
Orang yang berada dalam tandu kedua telah muncul pula, dia adalah seorang bertubuh kurus dan hitam, tinggi bagai bambu dan mengenakan baju berwarna hitam pekat.
Sepasang matanya gelap tak bersinar, sepasang tangannya selalu disembunyikan di balik pakaian, seakan dia tak ingin memperlihatkan tangannya kepada orang lain.
Siau-hong tahu dia tak lain adalah si Tangan sakti pencabut nyawa yang nama besarnya telah menggetarkan sungai telaga.
Namun ia tidak terlalu memperhatikan orang ini, karena seluruh konsentrasi Siau-hong telah dialihkan ke arah tandu nomor tiga.
Apakah Pova segera akan tampil dari balik tandu itu?
Jantungnya berdebar keras, berdetak sangat keras, ia merasakan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit yang merasuk hingga ke tulang sumsum.
Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan diri, tidak membiarkan rasa sakit itu tampil di atas wajahnya.
Siapa tahu tak seorang pun yang menampilkan diri dari balik tandu ketiga itu.
Dalam pada itu Wi Thian-bong telah melompat turun dari kudanya dan berjalan masuk ke dalam tenda mengikut di belakang Siu-hun-jiu serta Liu Hun-hun.
Bulu elang berwarna hitam di puncak tenda masih bergoyang terhembus angin, seakan-akan sedang memproklamirkan kepada setiap orang akan arti ketidak beruntungan yang bakal terjadi, penyakit, malapetaka, kematian!
Tapi semua itu sama sekali tak digubris Siau-hong, mau penyakit, mau malapetaka, bahkan kematian sekalipun, dia tak peduli.
Sekarang hanya satu hal yang dia peduli.
Sebetulnya adakah orang di dalam tandu ketiga?
Kalau ada, mengapa tidak keluar?
Kalau tak ada orang, mengapa mereka harus menggotong datang sebuah tandu kosong?
Po Eng masih duduk tak bergerak, tiada perubahan mimik muka pada wajahnya yang pucat-pasi.
"Po-toalopan, ternyata lagakmu memang luar biasa,"
Jengek Wi Thian-bong sambil tertawa dingin.
"Kau keliru,"
Tukas Liu Hun-hun ikut tertawa.
"Sekarang aku sudah tahu lagaknya memang tidak besar."
Tiba-tiba suaranya berubah, berubah lembut, merdu bagai rayuan seorang gadis remaja.
"Dia tidak bangkit menyambut kedatangan kita karena dia sudah terluka, mana boleh kita menyalahkan dirinya?"
Ia menambahkan. Ternyata Po Eng tidak menyangkal.
"Betul, bukan saja sudah terluka, bahkan lukaku sangat parah,"
Sahutnya.
"Padahal kau tak perlu kelewat sedih,"
Suara Liu Hunhun semakin halus dan lembut.
"Selain kau, rasanya belum pernah ada orang kedua yang berhasil menyelamatkan jiwanya dari ujung pedang Tokko Ci."
"Aku sama sekali tak sedih,"
Sahut Po Eng.
"Karena aku tahu keadaan Tokko Ci saat ini pun tidak lebih baik daripada keadaanku."
Ternyata Liu Hun-hun sangat setuju dengan pendapatnya itu.
"Oleh karena itu kau tak bisa dianggap kalah dalam pertarungan kali itu, karenanya Po-toalopan masih tetap merupakan jagoan yang selamanya tak pernah terkalahkan!"
Setelah berhenti sejenak, terusnya lagi dengan lembut.
"Paling tidak hingga sekarang masih belum pernah terkalahkan, kalah satu kali pun belum pernah."
"Bagaimana setelah ini?"
Sela Siu-hun-jiu dingin.
"Setelah ini pun dia tak pernah bakal kalah,"
Sahut Liu Hun-hun sambil tertawa terkekeh.
"Sebab kali ini dia tidak bersedia menyanggupi permintaan kita, pada hakikatnya tak bakal ada lain kali lagi."
"Siapa yang kalian kehendaki?"
Tanya Po Eng kemudian.
"Uang emas sebesar tiga puluh laksa tahil ditambah seseorang."
"Kalian telah mengirim orang untuk melakukan penggeledahan, seharusnya sudah tahu bukan, di sini tak ada emas murni."
"Kalau bukan di sini, lantas di mana?"
Kembali Wi Thian-bong tertawa dingin.
"kecuali kau, mungkin tidak ada orang kedua yang mengetahuinya."
"O, ya?"
"Kami telah mengutus orang melakukan penggeledahan di sekitar wilayah ini,"
Ujar Wi Thian-bong lagi.
"Kecuali kalian, tiada ada orang lain lagi yang mampu merampok tumpukan emas murni itu dari tangan Thiat Gi, oleh sebab itu sekalipun emas lantakan tidak berada dalam barang dagangan yang kalian angkut, dapat dipastikan barangbarang itu telah kalian sembunyikan."
"Ai, buat apa kau galak begitu?"
Sela Liu Hun-hun sambil menghela napas panjang.
"Kalau bertanya secara kasar, dia pasti tak akan mengakuinya."
"Jadi kau punya cara untuk membuatnya mengaku?"
"Biasanya hanya ada satu cara untuk menyelesaikan persoalan semacam ini, biarpun cara ini agak berlebihan namun justru merupakan cara paling kuno, yang paling bermanfaat."
Tiba-tiba suaranya kembali berubah... berubah jadi tinggi melengking dan sadis.
"Siapa menang dia yang kuat, siapa kalah dia bakal mendapat bencana. Bila mereka kalah di tangan kita, sekalipun uang emas itu bukan mereka yang rampok, mereka tetap harus mencari akal untuk menyerahkan tiga puluh laksa tahil emas murni itu kepada kita."
"Hm, agaknya cara ini memang sangat bagus,"
Seru Siuhun-jiu sambil tertawa dingin.
"Aku percaya tidak sulit bagi Po-toalopan untuk menyerahkan emas sebesar tiga puluh laksa tahil."
"Kujamin dia pasti dapat menyerahkan,"
Sahut Liu Hunhun cepat.
"Tapi kami tak ingin menimbulkan banyak korban yang tak berguna,"
Sambung Wi Thian-bong.
"Oleh sebab itu, hanya kami bertiga saja yang datang."
"Mari kita bertaruh tiga babak,"
Kata Siu-hun-jiu.
"Bertaruh emas murni sebanyak tiga puluh laksa tahil serta nasib orang itu."
Cepat Wi Thian-bong menambahkan.
"Asal kau mampu mengalahkan kami bertiga, mulai saat ini kami tak akan mencampuri urusan ini lagi."
"Peduli siapa yang akan kalian pilih sebagai lawan tanding, Siau-hong tetap menjadi milikku,"
Siu-hun-jiu menambahkan pula.
Akhirnya Siau-hong membalikkan tubuh.
Selama ini sudah berapa kali dia berniat menerjang maju, dia ingin memeriksa apakah dalam tandu terdapat seseorang atau tidak, dia ingin membuktikan apakah Pova berada di dalam tandu itu.
Namun berapa kali pula niat itu diurungkan.
Setelah melihatnya, apa yang dapat dilakukan?
Dapat membuktikan apa?
Dapat merubah apa?
Sambil membalikkan badan menghadap Siu-hun-jiu, ujarnya kemudian.
"Akulah Siau-hong, orang yang sedang kau cari. Apakah sekarang juga kau ingin turun tangan?"
Sebelum Siu-hun-jiu menjawab, Po Eng telah mewakilinya.
"Dia tak ingin. Pada hakikatnya dia bukan benar-benar ingin mencari kau sebagai lawan, karena dia sendiri pun tahu, dalam sepuluh gebrakan kau sanggup menghabisi jiwanya di ujung pedangmu."
"Tapi dia secara terang-terangan sudah datang mencariku?"
"Apa yang dia lakukan tak lebih hanya sekedar taktik tempur mereka."
"Taktik tempur? Taktik tempur apa?"
Tanya Siau-hong tak habis mengerti.
"Aku sudah terluka, sedang Pancapanah adalah orang Tibet, mereka selalu menganggap di antara suku Tibet tak pernah ada jago yang benar-benar tangguh,"
Kata Po Eng lagi.
"Maka satu-satunya orang yang harus mereka waspadai hanya dirimu seorang, itulah sebabnya mereka ingin Siu-hun-jiu memilih kau sebagai musuh utamanya, sebab ilmu silat yang dia miliki paling lemah, dengan menggunakan orang paling lemah menghadapi orang paling tangguh sama artinya mereka menyisakan dua babak terakhir untuk orang yang paling tangguh, kemenangan pun sudah dipastikan akan jatuh ke pihak mereka."
Inilah taktik perang yang paling populer zaman Cun-ciu dulu, asal penggunaannya dilakukan tepat waktu, biasanya akan memberikan hasil yang luar biasa.
Tiba-tiba Po Eng berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Tapi sayang penggunaan taktik perang kali ini, mereka telah melakukan kesalahan."
"Di mana letak kesalahannya?"
Tak tahan Wi Thian-bong bertanya.
"Kalian keliru karena pada hakikatnya sama sekali tak bisa menduga siapa jago tangguh yang sesungguhnya."
"Di sini masih ada jago tangguh?"
"Masih ada satu orang,"
Sahut Po Eng.
"Asal dia mau, setiap saat orang itu dapat merampas golok dalam genggamanmu, mematahkan busur dan anak panahmu, bahkan menempeleng tujuh-delapan kali di wajahmu dan menendangmu hingga mencelat!"
Mendengar itu kontan saja Wi Thian-bong tertawa, tertawa terbahak-bahak.
"Jadi kau tak percaya?"
Ejek Po Eng.
"Mana berani aku tidak mempercayai perkataan Potoalopan?"
Sahut Wi Thian-bong cepat.
"Hanya saja, bukan cuma aku tak pernah menyaksikan manusia macam apa yang dikatakan Po-toalopan, bahkan mendengar pun belum pernah."
"Sekarang kau telah mendengarnya, apakah ingin segera bertemu dengannya?"
"Tentu saja, aku ingin sekali."
"Kalau begitu tak ada salahnya kau segera mencabut golokmu, asal kau cabut golokmu, orang itu segera akan kau jumpai."
Wi Thian-bong tidak melolos goloknya.
Golok andalannya tergantung di pinggang, golok pembelah setan yang nama besarnya telah menggetarkan sungai telaga.
Namun kini tangannya telah menggenggam gagang goloknya kencang-kencang.
Cara dan sikapnya sewaktu mencabut golok boleh dibilang begitu ketat pertahanannya tanpa setitik kelemahan pun, gerakan mencabut senjata pun sama tepat dan cepatnya, jarang ada orang persilatan yang sanggup menandinginya.
Setiap kali goloknya dicabut, darah segar pasti akan berhamburan di mana-mana.
Walau begitu, kini dia sama sekali tidak mencabut goloknya.
Di dalam tenda itu, selain mereka bertiga dan Siau-hong, Po Eng, serta Pancapanah, di sana masih hadir dua orang Losianseng.
Gan Tin-kong polos dan jujur, sama sekali tak memiliki kelincahan dan hawa pembunuhan seorang jago persilatan.
Song-lohucu tampak sudah tua, rabun, dan berbadan agak bongkok, dia lebih mirip seorang kakek terpelajar.
Dipandang dari sudut mana pun, kedua orang ini sama sekali tak mirip seorang jago silat berilmu tinggi.
Lalu selain mereka berdua, apakah masih ada orang lain?
Wi Thian-bong tak menemukan orang yang dimaksud, maka dia sama sekali tidak melolos goloknya.
Selama hidup dia belum pernah melakukan perbuatan yang sama sekali tak meyakinkan.
Tiba-tiba Liu Hun-hun menghela napas panjang, ujarnya dengan suara lembut.
"Po-toalopan, kau seharusnya memahami tabiat orang ini, bukan pekerjaan gampang untuk memintanya mencabut golok. Beda sekali dengan aku, gampang sekali bila kau ingin aku turun tangan."
Sekulum senyuman manis kembali tersungging di wajahnya yang merah segar bagai gadis remaja.
"Bukankah kita sama saja akan melihatnya bila aku yang turun tangan?"
"Sama,"
Jawaban Po Eng tegas dan singkat.
"Kalau begitu bagus sekali,"
Seru Liu Hun-hun sambil tersenyum.
Di dalam tenda terdapat dua buah meja pendek serta tempat duduk yang berlapis kulit hewan, perlahan-lahan Liu Hun-hun mengambil tempat duduk, dia letakkan buntalan kain kuningnya di atas meja, lalu membukanya memakai jari tangannya yang putih mulus.
Ia sudah bersiap turun tangan, tak disangkal isi buntalan itu adalah senjata pamungkas andalannya, sejenis senjata pembunuh yang tidak termasuk senjata pembunuh yang bersifat "manusia".
Semacam senjata pembunuh yang hampir mendekati sifat "iblis".
Ooo)d*w(ooO BAB 9.
TANGAN YANG LAIN Buntalan telah dibuka, isi bungkusan itu hanya tiga belas senjata besi yang memantulkan cahaya kehitam-hitaman.
Setiap senjata memiliki bentuk yang aneh, ada yang tampak seperti gelang, ada pula yang berbentuk seperti tulangbelulang.
Siapa pun tak akan pernah melihat bentuk senjata semacam ini, karena pada hakikatnya tak ada jenis senjata macam begini dalam dunia persilatan saat ini.
"Inilah tanganku yang lain!"
Liu Hun-hun menjelaskan. Ia menunjukkan tangannya yang indah, putih dan halus itu, lalu ujarnya lebih jauh.
"Tanganku ini tak jauh berbeda dengan tangan milik orang lain, aku memakai baju, makan nasi, cuci muka, gosok gigi, semuanya menggunakan tangan ini, bahkan terkadang aku pun menggunakan tangan ini untuk meraba tubuh lelaki yang kusukai."
"Apa gunanya tanganmu yang lain?"
Tanya Po Eng. Liu Hun-hun tertawa, mendadak senyumannya berubah jadi begitu sesat, licik, buas, dan penuh misteri.
"Kalian seharusnya dapat melihat, tangan ini sebetulnya bukan tangan manusia."
Setelah berhenti sejenak, sepatah demi sepatah ia melanjutkan.
"Inilah tangan iblis, tangan iblis yang ditempa dengan menggunakan api iblis yang diambil dari neraka tingkat kedelapan belas."
Tiba-tiba ia menggulung ujung bajunya, dari dalam ruas tulang lengan yang telah terpapas kutung itu ia cabut seutas serat kawat berwarna hitam yang terbuat dari baja.
Kemudian dia mengeluarkan ketiga belas jenis benda besi itu dan menyambungnya satu per satu di atas lengannya yang terpapas kutung sehingga terwujud sebuah lengan besi yang aneh dan menyeramkan bentuknya.
Dan paling akhir, dia memasang sebuah cakar yang terbuat dari baja murni.
Kemudian dia pun menggandengkan cakar tadi ke atas serat baja yang dicabut tadi dan menghubungkannya dengan tombol rahasia untuk menggerakkan cakar tadi.
Begitu tali pengontrol terpasang, maka lengan baja berwarna hitam pekat yang semula tak berdarah, tak berdaging dan tak bernyawa itu pun merndadak berubah jadi punya nyawa.
Dalam waktu singkat cakar itu mulai bergerak, mulai menekuk dan mengarah setiap sudut tempat yang dituju.
Semuanya dilakukan dengan lincah, cepat dan cekatan.
Ternyata hubungan terakhir membuat gerakan lengan besi itu jadi sempurna dan leluasa, kemudian cakar itu berputar sambil menekuk dan tahu-tahu sudah mencengkeram lengan besi itu.
Gerakan semacam ini tak mungkin bisa dilakukan oleh siapa pun, namun dia dapat melakukannya.
Karena tangannya itu pada hakikatnya bukan tangan manusia.
Tiba-tiba ia berpaling ke arah Siau-hong dan berkata.
"Dapatkah kau ulurkan tanganmu biar kulihat?"
Siau-hong segera menjulurkan tangannya. Dia memiliki telapak tangan yang besar dan lebar, kuat, kering, jari tangannya panjang tapi penuh tenaga. Sambil tersenyum kembali Liu Hun-hun berkata.
"Kau memiliki sepasang tangan yang indah bahkan sangat berguna, ketika kau gunakan sepasang tanganmu untuk memegang pedang, siapa pun akan sulit untuk menjatuhkan pedang itu dari genggamanmu."
"Pedang yang berada dalam genggamanku memang tak bisa dirontokkan siapa pun,"
Sahut Siau-hong hambar.
"Bagaimana jika tanganmu tak memegang pedang?"
Tanya Liu Hun-hun.
"Dapatkah kau mendapat sebilah pedang dari udara kosong?"
Siau-hong tak bisa, siapa pun tak bisa melakukannya.
"Aku bisa,"
Kata Liu Hun-hun. Lengan besinya sedikit ditekuk, lalu cakarnya menyentil keluar, katanya kemudian.
"Inilah sebilah pedang, aku telah menggunakan pedang ini untuk menembusi tenggorokan dua puluh tujuh orang."
"Dua puluh tujuh orang tak bisa dibilang kelewat banyak,"
Dengus Siau-hong dingin. Kembali Liu Hun-hun tertawa terkekeh.
"Tentu saja orang yang kubunuh bukan hanya dua puluh tujuh orang saja, sebab di dalam tanganku ini tersimpan juga bubuk pemabuk, cairan beracun, serta tiga belas jenis senjata rahasia lainnya, semua senjata itu dapat dilancarkan setiap saat dan merenggut nyawa siapa pun! Tentu saja tak seorang pun yang tahu kapan senjata pamungkas itu akan dilancarkan, apalagi menyerang dari arah mana."
Siau-hong tak berbicara lagi, mulutnya seketika terbungkam dalam seribu bahasa.
Siapa pun itu orangnya, mau tak mau mereka harus mengakui bahwa tangannya ini benar-benar merupakan sejenis senjata pamungkas yang sangat menakutkan.
Sekali lagi Liu Hun-hun menekuk lengan besinya dan cakar baja itu pun untuk kesekian kalinya menyentil ke depan.
"Sreeet!", diiringi desingan angin tajam, papan meja setebal tiga inci seketika tertembus hingga muncul sebuah lubang besar, asap berwarna hijau menyebar keluar dari sekeliling lubang itu.
"Sekarang tentunya kalian sudah melihat bukan, pedangku ini sangat beracun, barang siapa terkena, bukan saja seketika akan mati mengenaskan, bahkan racun ini tak ada obat penawarnya."
Belum selesai dia berkata, sekeliling lubang di atas meja kayu itu mulai terbakar hingga hangus dan retak.
"Kini aku sudah siap turun tangan!"
Kata Liu Hun-hun lagi. Sinar matanya yang menakutkan bagai sengatan kalajengking perlahan-lahan menyapu wajah Siau-hong, Po Eng, dan Pancapanah, kemudian ia baru bertanya pelan.
"Aku harus menghadapi siapa?"
"Aku!"
Sahut seseorang hambar.
"Sejak tadi aku sudah menunggu kau turun tangan."
Ternyata yang berbicara bukan ketiga orang itu, melainkan Song-lohucu yang kelihatannya mustahil mengucapkan perkataan itu.
"Kau?"
Seru Liu Hun-hun dengan tercengang.
"Kau yang akan menghadapi diriku?"
Song-lohucu menghela napas panjang.
"Hai, padahal aku sendiri pun agak takut menghadapi tanganmu itu, terlebih menggunakan tangan semacam itu untuk menghadapi diriku, hanya sayangnya justru di tempat ini hanya ada aku seorang yang dapat menghadapimu."
Liu Hun-hun mengawasi wajahnya, sampai lama kemudian ia baru tertawa lagi.
"Hanya kau yang dapat menghadapku?"
Suara tertawanya kembali berubah jadi sangat lembut.
"Kau siap menggunakan cara apa untuk menghadapiku?"
"Menggunakan tanganku yang lain,"
Sahut Song-lohucu.
"Kau mempunyai sebuah tangan yang lain, aku pun punya."
"Kau pun punya?"
Liu Hun-hun mengawasi sekejap sepasang tangan kurusnya yang tergeletak di atas meja, kemudian ejeknya.
"Kelihatannya sepasang tanganmu sudah berada di sini."
Song-lohucu tersenyum.
"Tanganmu yang lain adalah tangan kedua, sedang tanganku yang lain adalah tangan ketiga,"
Ia tertawa makin riang.
"Sepasang tanganku ini pun tak jauh berbeda dengan tangan milik orang lain, kugunakan untuk berpakaian, makan nasi, cuci muka, gosok gigi, semuanya kugunakan sepasang tangan ini. Kebetulan aku pun bisa menggunakan sepasang tangan ini untuk meraba tubuh perempuan lain...."
Tiba-tiba Pancapanah ikut tertawa.
"Biasanya hanya bagian tertentu dari tubuh perempuan yang kau raba, tak perlu kujelaskan pun orang lain juga tahu,"
Kata Song-lohucu.
"Tapi tanganku yang lain ini beda sekali kegunaannya."
Mendadak senyuman di wajahnya berubah jadi amat misterius, terusnya.
"Apakah kau ingin melihat tanganku itu?"
"Ingin setengah mati,"
Sahut Liu Hun-hun tertawa genit.
"Bagus, kalau begitu lihatlah."
Sepasang tangannya memang tergeletak di atas meja, kini ke sepuluh jari tangannya telah direntangkan.
Dia sendiri pun sedang mengawasi sepasang tangan milik sendiri.
Tentu saja mau tak mau Liu Hun-hun harus memandangnya, begitu juga dengan Wi Thian-bong serta Siu-hun-jiu.
Lampu lentera masih bergoyang terhembus angin, cahaya lampu berkedip tiada hentinya.
Tiba-tiba sepasang tangannya yang kurus kering mulai berubah, bukan saja warnanya berubah, bentuknya ikut berubah.
Tangan yang semula tiada cahaya darah, mendadak berubah jadi kuat, muda, dan penuh tenaga, seakan-akan sepasang kantung kulit kambing yang tiba-tiba dijejali daging segar.
Paras mereka yang menyaksikan kejadian itu pun ikut berubah.
Pada saat itulah mendadak ada sebuah tangan yang lain menjulur keluar secepat sambaran kilat.
"Krakkk!", lengan besi Liu Hun-hun yang perkasa dan menyeramkan itu tahutahu sudah tertangkap. Dari mana munculnya tangan itu? Tangan itu sejak awal memang sudah berada di situ, berada di tubuh Gan Tin-kong, setiap orang dapat melihat tangan itu, namun tak seorang pun yang menyangka kalau tangan itu adalah "tangan lain"
Song-lohucu. Kini lengan baja milik Liu Hun-hun sudah berada dalam cengkeraman Gan Tin-kong.
"Terhitung apa caramu itu?"
Teriak Liu Hun-hun dengan paras berubah.
"Terhitung kau sudah kalah,"
Jawab Song-lohucu sambil tertawa menyengir.
"Dari tiga babak pertarungan, kalianlah yang kalah dalam pertarungan babak pertama."
"Tidak bisa, kejadian ini tak bisa dihitung!"
"Kenapa tak bisa dihitung?"
Song-lohucu balik bertanya.
"Tanganmu yang lain kau sembunyikan di dalam buntalan, sementara tanganku yang lain berada di tubuh orang lain. Tangan kita berdua sama-sama tidak berada di tubuh kita sendiri."
"Tapi kau menggunakan kekuatan dua orang untuk menghadapi aku seorang...."
"Siapa bilang kami berdua turun tangan bersama? Dia yang melancarkan serangan, sementara tanganku sama sekali tak bergerak."
Tiba-tiba saja paras Liu Hun-hun yang merah segar seperti wajah gadis muda berubah jadi begitu tua, seakanakan dia telah menjadi tua dua-tiga puluh tahun dalam waktu singkat.
Tentu saja kejadian ini merupakan sebuah perangkap, dan kini dia sudah tercebur ke dalamnya, apa lagi yang bisa dia perbuat?
Paras Wi Thian-bong berubah hijau membesi, serunya tiba-tiba.
"Kagum, aku sungguh merasa kagum."
"Kau kagum kepadaku?"
Gelak tertawa Song-lohucu kedengaran semakin gembira.
"Tentu saja aku merasa amat kagum dengan kekuatan tenaga dalam dan tenaga pukulanku,"
Ucap Wi Thian-bong sambil berpaling ke arah Gan Tin-kong.
"Tapi aku lebih kagum dengan kecepatanmu turun tangan."
Tiba-tiba ia tertawa dingin lagi, tertawa dingin sambil menengok ke arah Po Eng.
"Aku tetap merasa paling kagum kepada dirimu!"
"O, ya?"
"Seandainya kau tidak mengatakan lebih dulu, sehingga kami beranggapan bahwa di sini terdapat seorang jago lihai yang setiap saat dapat merebut golokku dan menendang tubuhku, tak nanti Liu-hujin akan termakan oleh tipu muslihatmu ini."
Po Eng balas tertawa dingin.
"Kau tetap tak percaya kalau di kolong langit benarbenar terdapat jagoan semacam ini?"
"Di mana orang itu?"
"Dia berada di sini!"
"Siapa dia?"
"Sudah kukatakan, asal kau cabut golokmu, segera akan kau ketahui siapakah orang itu,"
Sahut Po Eng segera.
"Dan kujamin kau pasti tak akan kecewa."
Selama ini Wi Thian-bong selalu tenang dan bertindak hati-hati, dia selalu pandai mengendalikan diri, tak pernah turun tangan secara sembarangan, tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak dia yakini.
Tapi sekarang, mau tak mau dia harus melanggar kebiasaan ini.
Mau tak mau dia harus mencabut goloknya!
"Criiing!", diiringi suara dentingan nyaring, golok telah dicabut dari sarungnya.
Cahaya golok putih bagai salju, bergetar bagai cahaya halilintar, mata golok sepanjang tiga kaki sembilan inci dengan membawa deru angin yang menusuk pendengaran telah dibacokkan ke tubuh Po Eng.
Ia jarang sekali turun tangan secara sembarangan, asal turun tangan, biasanya jarang sekali meleset dari sasaran.
Tak seorang pun dapat melukiskan kecepatan serta daya kekuatan dari bacokannya itu, kecepatan, ketepatan serta keganasannya tak terlukiskan dengan kata-kata.
Dalam bacokan ini, dia telah menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya, sama sekali tidak meninggalkan jalan mundur bagi diri sendiri, dia pun tak ingin membiarkan nyawa lawan tetap tertinggal.
Bila seorang jago tangguh melancarkan serangan, biasanya dia akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, karena mereka harus mempersiapkan jalan mundur lebih dulu bagi diri sendiri dan memposisikan diri pada sudut yang tak terkalahkan.
Wi Thian-bong adalah seorang jago tangguh, dalam bacokan kali ini dia sama sekali tidak mempersiapkan jalan mundur, karena ia beranggapan dirinya tidak membutuhkan jalan mundur.
Po Eng bukan saja sudah terluka, bahkan menghadapinya dengan tangan kosong, apa yang akan dia gunakan untuk menyambut datangnya bacokan golok musuh?
Sekalipun dia sanggup menghindarkan diri, belum tentu memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.
Jika pihak lawan tak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan, mengapa pula dirinya harus mempersiapkan jalan mundur?
Setiap kekuatan yang tersisa sudah seharusnya digunakan semuanya di dalam bacokan maut kali ini, karenanya dia menyerang dengan tak kenal ampun.
Dia berharap dalam sekali bacokan nyawa lawan dapat dihabisi!
Wi Thian-bong adalah seorang jago yang sangat berpengalaman, ia sudah beratus kali menghadapi pertempuran, selama ini pandangannya selalu tepat, perhitungannya pun selalu tepat.
Sayang sekali, kali ini dia telah salah perhitungan.
Po Eng telah menyambut bacokan goloknya, mempergunakan sepasang tangan kosong untuk menyambut datangnya bacokan itu.
Begitu sepasang tangannya ditepuk, mata golok telah dijepitnya kuat-kuat, menyusul tubuhnya melambung ke udara, sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai, tendangan pertama menghajar tangan Wi Thian-bong yang menggenggam golok, tendangan kedua mengancam jalan darah penting di sepasang kakinya.
Berada dalam keadaan begini, mau tak mau Wi Thianbong harus berkelit mundur.
Sewaktu tendangan pertama menyambar tiba, goloknya sudah lepas dari genggaman, ketika tendangan kedua menyusul, terpaksa dia harus berjumpalitan di udara sebelum berhasil meloloskan diri.
Ketika tubuhnya meluncur turun ke bawah, ia sudah berada di luar tenda.
Sementara golok andalannya telah terjatuh ke tangan Po Eng.
Sambil membelai mata golok dengan lembut, jengek Po Eng dingin.
"Sabetan golokmu kurang cepat, golok ini pun kurang bagus."
Sambil berkata, dengan jari tengah menyentil mata golok.
"Krak!", mata golok itu pun gumpil sebagian. Kemudian dengan tangan kanan menggenggam gagang golok, dua jari tangan kirinya menggencet ujung golok itu, sekali lagi...
"Krak!", golok panjang tadi telah dipatahkan menjadi dua bagian. Paras Wi Thian-bong berubah makin hebat, jauh lebih mengenaskan daripada paras Liu Hun-hun tadi. Dengan nada dingin kembali Po Eng berkata.
"Biarpun aku sudah terluka, tidak seharusnya kalian menilaiku kelewat rendah, karena aku belum mati."
"Selama belum mati, tak akan ada orang yang mampu mengalahkan dirimu?"
Tanya Wi Thian-bong sambil mengepal tinjunya kuat-kuat. Jawaban Po Eng masih sama jelasnya seperti jawaban sebelumnya.
"Hingga sekarang memang tak pernah ada."
Jangankan memandang wajah Wi Thian-bong, melirik sekejap pun tidak, sepasang mata elangnya hanya mengawasi diri Siu-hun-jiu tanpa berkedip.
"Kini tinggal kau seorang,"
Ujar Po Eng lebih lanjut.
"Dari tiga babak pertarungan, kalian sudah kalah dua babak, apakah dirimu masih ingin mencoba bertarung?"
"Orang ini milikku,"
Sela Siau-hong tiba-tiba, suaranya meski sangat tenang, namun perasaannya penuh gejolak.
Dua pertarungan yang barusan berlangsung sungguh membuat pergolakan darah di dalam tubuh mendidih dan mengalir kencang.
"Tentu saja orang itu milikmu, bahkan nyawanya juga milikmu,"
Kata Po Eng.
"Asal dia berani turun tangan, dalam tiga jurus pasti akan mampus di ujung pedangmu."
"Tadi kau mengatakan dalam sepuluh gebrakan."
"Sekarang keadaan sudah berbeda,"
Ucap Po Eng dingin.
"Kini nyalinya sudah ciut, semangatnya sudah luntur, untuk menghabisi nyawanya, kau sudah tak butuh sepuluh gebrakan."
Tiba-tiba Siau-hong ikut tertawa dingin, jengeknya.
"Sayang dia sudah tak berani turun tangan."
"Tentu saja dia tak berani."
Siu-hun-jiu hanya berdiri mematung, sama sekali tak bergerak, dia seakan sama sekali tak mendengar pembicaraan yang dilakukan kedua orang itu.
Sekarang bukan saja dia jadi "buta", bahkan tuli pula sepasang telinganya.
Liu Hun-hun yang sudah lama tak bersuara, tiba-tiba menghela napas, katanya.
"Baik bertarung ilmu maupun beradu akal, ternyata kemampuan Po-toalopan memang tiada duanya."
Po Eng tidak menjawab, namun dia seakan menerima sanjungan itu dengan senang hati. Kembali Liu Hun-hun berkata.
"Tapi sepandaipandainya tupai melompat, akhirnya pasti akan jatuh juga."
"O, ya?"
"Biarpun kami sudah kalah, namun belum mati!"
Liu Hun-hun bangkit, sambil memandang kilauan cahaya senjata di kejauhan, terusnya.
"Di luar area perkemahan kalian, kami masih memiliki tujuh puluh orang jago yang sudah terlatih sempurna dan berpengalaman dalam menghadapi berbagai pertempuran."
"Betul,"
Wi Thian-bong segera menambahkan.
"Asalkan kuturunkan perintah, mereka segera akan menyerbu kemari. Dalam waktu singkat bangkai pun akan bergelimpangan, darah pun akan berceceran membasahi tempat ini."
Po Eng tidak menanggapi ancaman itu, tiba-tiba tanyanya.
"Di luar sana, kalian masih memiliki sebuah tandu, tentunya tandu itu tidak berada dalam keadaan kosong, bukan?"
"Tentu saja,"
Sahut Liu Hun-hun.
"Tentu saja kami tak akan menggotong sebuah tandu kosong kemari."
Sekilas senyuman licik dan keji melintas dari balik sorot matanya.
"Kemungkinan besar orang yang berada dalam tandu itu adalah seorang jago tangguh yang belum pernah terkalahkan, mungkin juga tersimpan bahan peledak yang bisa menghancur-leburkan manusia dan hewan dalam radius lima li dari sini."
Kemudian sambil tertawa dia berpaling ke arah Siauhong, terusnya.
"Aku tahu, selama ini kau ingin sekali mengetahui apa isi tandu itu, tapi sayang sebelum sampai pada akhir waktu, tak nanti kami akan memperlihatkan isi tandu itu."
Siau-hong terbungkam tanpa menjawab.
"Sekarang keadaan belum berakhir,"
Kembali Liu Hunhun melanjutkan.
"Karena kami masih punya barang yang dipertaruhkan, masih cukup mampu menantangmu bertaruh lebih jauh."
Bicara sampai di situ ia berpaling ke arah Po Eng dan meneruskan.
"Hanya saja aku harus melihat dulu, apakah Po-toalopan bersedia menggunakan nyawa anak buahnya sebagai barang taruhan."
Po Eng tidak menjawab, dia pun terbungkam dalam seribu bahasa.
Jelas pertaruhan ini merupakan sebuah pertaruhan akbar, yang menjadi barang taruhan kelewat besar, pihak yang kalah sudah pasti akan menderita kerugian yang sangat parah, sementara pihak pemenang pun tetap akan mengalami kerugian besar.
Terlepas kemenangan yang mengenaskan atau kekalahan yang mengenaskan, kedua belah pihak sudah pasti akan sama-sama menderita.
"Aku tahu sulit bagimu untuk mengambil keputusan,"
Kata Liu Hun-hun.
"Kalau keadaan tidak memaksa, kami pun tak ingin memaksamu bertaruh, asal kau bersedia memenuhi dua permintaan kami yang kecil, seketika ini juga kami akan pergi dari sini."
Po Eng tetap membungkam.
"Kami ingin memeriksa barang daganganmu,"
Sambung Wi Thian-bong cepat.
"Memeriksanya bungkus demi bungkus."
Inilah permintaannya yang pertama.
"Kalau toh uang emas itu tidak berada di sini, apa salahnya membiarkan kami memeriksanya sebentar. Aku masih berniat membawa pergi orang ini,"
Liu Hun-hun berseru. Kemudian sambil menuding ke arah Siau-hong, lanjutnya.
"Dia bukan sanak bukan keluargamu, buat apa kau harus beradu nyawa dengan kami hanya dikarenakan dia?"
Akhirnya Po Eng buka suara, katanya.
"Kedengarannya permintaan kalian memang tidak kelewatan."
"Bukan saja tidak kelewatan, bahkan sangat masuk akal,"
Sahut Liu Hun-hun sambil tertawa genit.
"Aku tahu, kau pasti akan mengabulkan permintaan kami ini."
"Aku bersedia pergi bersama kalian,"
Tiba-tiba Siau-hong ikut buka suara. Nada ucapannya tegas dan sama sekali tak ada keraguan.
"Setiap saat aku bersedia pergi dari sini."
Perlahan-lahan Po Eng mengangguk.
"Aku memahami maksudmu,"
Katanya.
"Selama ini kau memang tak pernah mau menyusahkan orang lain, terlebih tak ingin orang yang tak bersalah ikut berkorban demi dirimu."
"Aku memang tidak seharusnya tetap tinggal di sini."
"Tapi kau telah melupakan satu hal."
"Soal apa?"
"Kau tetap tinggal di sini karena akulah yang menahan kepergianmu,"
Ujar Po Eng.
"Setelah aku menahanmu, tentu saja tak akan kubiarkan siapa pun pergi membawamu."
Perkataan itu disampaikan sangat lamban, setiap patah kata seakan sebatang paku yang menancap di atas dinding.
Setiap perkataannya seakan sebatang paku yang menghujam di atas batu cadas.
Paku telah dipantekkan, perkataan pun telah disampaikan, seketika Siau-hong merasakan hawa darah menggelora di dalam rongga dadanya.
Akhirnya Liu Hun-hun menghela napas panjang, tegasnya.
"Jadi kau serius akan mengajak kami bertaruh?"
"Benar,"
Suara Po Eng sangat hambar.
"Sekarang kalian boleh segera menurunkan perintah, suruh ketujuh puluh jagoanmu yang banyak pengalaman dan berani mati itu untuk menyerbu masuk."
Paras Wi Thian-bong berubah kehijauan, peluh dingin membasahi telapak tangannya.
"Kau tidak menyesal?"
Po Eng menolak untuk menjawab.
Menolak untuk menjawab sudah merupakan semacam jawaban, jawaban yang tak akan menimbulkan kesalah pahaman orang lain, juga tak akan menjadi jawaban yang menimbulkan kesalah pahaman.
"Bagus,"
Sambil menggigit bibir Wi Thian-bong berseru.
"Kalau memang kau tak takut mengucurkan darah, mengapa kami harus takut?"
Tiba-tiba dia berpekik panjang, suaranya tinggi melengking dan tajam, seperti jeritan setan liar di gunung terpencil, seperti auman serigala di tengah padang salju.
Inilah tanda rahasia yang telah mereka tentukan, tanda rahasia untuk mulai melakukan penyerangan.
Hawa malam berhembus, meninggalkan udara dingin yang menyayat bagai bacokan golok.
Hawa pedang di tempat kejauhan terasa menyelimuti seluruh angkasa, di bawah cahaya api yang bergoyang, terpancar hawa dingin yang menggidikkan.
Batok kepala berada di atas tengkuk, darah panas menggelora di dalam dada, anak panah sudah berada di atas gendawa, golok pun telah dilolos dari sarungnya.
Kini perintah penyerangan telah diturunkan.
Suara pekikan lengking yang menusuk pendengaran bergema menembus langit malam nan hening.
Ternyata Po Eng masih tetap duduk tak bergerak, kecuali detak jantung dan denyut nadi, nyaris tubuhnya sama sekali tak bergerak.
Hutan golok di kejauhan pun sama sekali tak bergerak, tiada kuda dan jagoan yang menyerbu masuk ke dalam kompleks perkemahan.
Paras Wi Thian-bong mulai berubah, kelompok kekuatan yang dibentuknya sangat ketat dan penuh disiplin, tanda perintah pun amat jelas, peraturan juga sangat ketat.
Selama ini perintah komandonya tak pernah meleset, tak pernah menunjukkan kegagalan.
Mendadak Song-lohucu berkata sambil tertawa.
"Janganjangan telinga kawanan jago yang kau bawa sedikit kurang beres, mungkin mereka tidak mendengar suara teriakanmu."
Wi Thian-bong tidak menanggapi ejekan itu, sekali lagi dia berpekik panjang, kali ini suara pekikannya lebih tajam, lebih melengking dan nyaring.
Buru-buru Song-lohucu menutupi telinga sendiri dengan tangan, serunya lagi sambil menghela napas.
"Seharusnya kali ini biar orang tuli pun pasti akan mendengar suara pekikanmu itu."
Namun pasukan berkuda yang berada di kejauahan masih tetap tak bergerak.
Peluh dingin mulai bercucuran membasahi tubuh Wi Thian-bong, menetes pula di ujung hidungnya.
Tiba-tiba Po Eng buka suara, nadanya dingin bagaikan tusukan jarum, tajam bagaikan sayatan golok.
"Mereka sama sekali tidak tuli!"
"Kalau tidak tuli, mengapa mereka tidak mendengar?"
"Mereka mendengar dengan sangat jelas."
"Kalau mendengar dengan jelas mengapa tidak segera menyerbu masuk ke mari?"
Gumam Song-lohucu sambil mengernyitkan alisnya.
"Kenapa mereka tidak mengayunkan golok dan tombak untuk mencincang kami semua?"
"Karena aku belum meminta mereka untuk datang kemari."
"Harus kau yang memanggil baru mereka akan datang kemari?"
Tanya Song-lohucu lagi.
"Betul, mereka baru akan bergerak jika aku yang memanggil mereka,"
Po Eng membenarkan.
"Aku tak percaya."
"Kau segera akan percaya."
Tiba-tiba Po Eng mengulap tangan memberi tanda sambil berseru.
"Kemari!"
Suara perintahnya tidak melengking, tidak tajam, juga tidak nyaring, namun anehnya begitu perintah diberikan, kawanan manusia berkuda yang berada di kejauhan pun mulai bergerak.
Mereka bergerak lambat sekali.
Tujuh puluh ekor kuda dengan mengangkut seratus empat puluh orang perlahan-lahan berjalan memasuki wilayah perkemahan yang terang benderang bermandikan cahaya.
Di atas setiap kuda itu duduk dua orang.
Orang yang duduk di bagian depan mengenakan pakaian ringkas warna hitam dengan tangan memegang golok, tombak dan panah, mereka tak lain adalah anak buah Wi Thian-bong.
Mereka memang merupakan pasukan yang sudah lama terlatih secara ketat, namun sekarang orang-orang itu hanya duduk tanpa bergerak di atas pelana, duduk kaku bagaikan sebuah patung kayu, tubuh mereka kaku, wajah pun diliputi perasaan ngeri dan takut yang luar biasa.
Karena di belakang mereka masih terdapat orang lain.
Di belakang setiap orang terdapat seorang lain yang sedang menempelkan sebilah pisau tajam persis di pinggang masing-masing.
Dengan cepat Siau-hong menjumpai para pelancong, pedagang, gelandangan yang semula masih bernyanyi keras dalam perkemahan, kini jumlahnya telah berkurang sangat banyak, kalau semula jumlahnya mencapai seratusan orang lebih, maka sekarang tak sampai separohnya.
Karena separoh yang lain kini sudah naik ke atas kuda, naik di atas kuda jempolan tunggangan para jago anak buah Wi Thian-bong, bahkan bagaikan bayangan saja menempel ketat di belakang tubuh kawanan jago itu dan menempelkan sebilah golok yang tajam persis di pinggang orang-orang itu.
Ternyata merekalah petarung sesungguhnya, jagoan sejati.
Gerak-gerik mereka lincah bagai seekor kucing, gesit bagai seekor ular berbisa dan tepat sasaran seperti anak panah yang dilepas Dewa panah lima bunga.
Waktu itu seluruh anak buah Wi Thian-bong sedang menanti datangnya komando penyerangan, mereka sedang memusatkan seluruh perhatian dan konsentrasinya untuk siap melancarkan serbuan, seluruh perhatian dan kekuatan mereka tercurahkan ke arah tenda di mana selembar bulu elang berwarna hitam sedang berkibar.
Pada saat itulah sekonyong-konyong mereka merasa ada seorang telah menyelinap naik ke belakang tubuh mereka, kemudian setiap jago pun merasakan ujung golok yang dingin menusuk tulang telah menempel di pinggang mereka, lalu terdengar ada seorang berbisik dari belakang.
"Jangan bergerak, berani bergerak berarti mati!"
Pertaruhan belum lagi dimulai, mereka sudah menderita kekalahan total.
Kekalahan yang amat fatal!
Pernah ada orang melukiskan Wi Thian-bong sebagai 'Tenang bagaikan bukit, kokoh bagaikan batu karang'.
Tapi sekarang tubuhnya seolah sudah hancur berantakan, hancur-lebur, dan berserakan di tanah.
Sejak lahir hingga kini, belum pernah dia merasakan kekalahan sedemikian mengenaskan.
Senyuman manis yang semula masih menghiasi wajah Liu Hun-hun, kini pun ikut berubah pucat-pasi dan layu, selayu wajah seorang nenek yang baru saja menjanda.
Kini dia sudah bukan setengah manusia lagi, tapi seorang yang utuh, bagian tubuhnya yang termasuk bagian "iblis"
Kini sudah lenyap terkena gempuran kesedihan yang tak berbelas kasihan, hancur-lebur tak berbekas. Po Eng mengawasi mereka dengan pandangan dingin.
"Walaupun kalian kalah namun belum mati, ketujuh puluh orang jagoan yang sudah lama terlatih dan pernah mengalami berbagai pertarungan pun belum satu pun yang mati,"
Katanya perlahan. Kemudian dengan sepatah demi sepatah tanyanya.
"Apakah kalian ingin mati? Apakah kalian ingin ketujuh puluh orang pejuang andalan kalian itu ikut terkubur menemani kematian kalian?"
Pada hakikatnya pertanyaan semacam ini tak perlu dijawab, juga tak seorang pun ingin menjawab. Tapi Siu-hun-jiu yang belum pernah buka suara selama ini justru menjawab cepat.
"Kami tak ingin mati!"
"Tangan beracun mencabut sukma, nyawa pun bakal melayang."
Tapi sayang orang yang suka membunuh, kadangkala justru lebih takut mati ketimbang orang yang dibunuhnya, karena seorang pembunuh seringkali membunuh orang lain karena dia takut mati.
Po Eng tertawa dingin.
"Kini kalian sudah tiba pada saat paling kritis, bukan?"
"Benar."
"Kini kalian masih memiliki sebuah tandu, kemungkinan besar dalam tandu itu tersembunyi seorang jago silat yang sangat tangguh, tapi mungkin juga isinya hanya bahan peledak yang mampu menghancur-leburkan kami semua,"
Kata Po Eng lagi.
"Apakah kalian masih ingin bertaruh lebih lanjut?"
"Kami tak ingin,"
Jawab Siu-hun-jiu cepat.
"Di dalam tandu pun tak ada jago lihai, tak ada pula bahan peledak, hanya...."
Dia tak sempat menyelesaikan kata-katanya.
Tiba-tiba Pancapanah mengayun tinjunya, langsung ditonjokkan ke wajahnya, membungkam mulutnya.
Siu-hun-jiu si tangan sakti pencabut nyawa yang tersohor namanya dalam dunia persilatan ternyata tak sanggup menghindari tonjokan itu, di kolong langit saat ini, mungkin jarang ada yang mampu menghindarkan diri dari tonjokan maut itu.
Oood)*w(ooO BAB 10.
KEKALAHAN TRAGIS Tonjokan itu dilontarkan tanpa kembangan jurus apa pun, juga tidak disertai perubahan yang rumit, pukulan itu hanya memiliki tingkat kecepatan yang luar biasa.
Kecepatan yang menakutkan, sedemikian cepat hingga sukar ditangkap dengan nalar sehat, sedemikian cepat hingga menggidikkan.
Ketika tubuh Siu-hun-jiu roboh terkapar di atas tanah, besar kemungkinan dia sudah tak memiliki sebiji pun gigi yang masih utuh, tulang hidungnya yang retak telah bergeser posisi, darah kental bercucuran keluar dari bibirnya yang robek dan merekah, dia tak jauh berbeda seperti seekor babi yang siap dijagai.
Kecepatan merupakan kekuatan.
Paras setiap orang kembali berubah.
Baru sekarang semua orang dapat melihat kekuatan tubuh Pancapanah yang sesungguhnya.
Dengan pandangan dingin, ditatapnya tubuh Siu-hun-jiu yang roboh terjengkang ke atas tanah, kemudian ia baru berkata.
"Aku bukan murid perguruan kenamaan, aku pun tak pernah mempelajari ilmu silat tingkat tinggi macam kalian, aku tak lebih hanya seorang suku Tibet yang kasar dan tak tahu diri. Dalam pandangan kalian, mungkin aku tak jauh berbeda dengan seekor binatang."
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Tapi apa yang telah kukatakan selalu akan kupegang teguh...."
Siapa pun tak ada yang tahu perkataan apa yang hendak dia ucapkan, juga tak ada yang tahu mengapa dia mencegah Siu-hun-jiu mengungkap rahasia di balik tandu.
Hanya Po Eng seorang yang tahu dengan jelas.
"Apa yang telah dia katakan merupakan apa yang hendak kusampaikan,"
Kata Po Eng kemudian.
"Jadi, semua perkataan yang dia sampaikan mempunyai kekuatan yang seperti ucapanku sendiri."
Mereka saling bertukar pandang sekejap, sorot mata kedua orang itu melukiskan betapa saling menghormat dan saling percayanya mereka berdua.
Perkataan yang kemudian diucapkan Pancapanah segera membuat orang terperangah, tercengang, dan keheranan.
"Kami tak ingin tahu apa isi tandu itu, tak mau mendengar, apalagi melihatnya!"
Nada ucapannya dingin dan kaku, lebih dingin dari bongkahan es.
"Jika ada orang berani mengatakan apa isi dalam tandu itu, bila ada orang membiarkan aku menyaksikan apa yang berada dalam tandu itu, peduli siapa pun dia, aku pasti akan membunuhnya dengan segera!"
Siau-hong memandangnya dengan perasaan tercengang, dia ingin buka suara, namun akhirnya ditahan kembali.
Siapa pun merasa tak habis mengerti mengapa dia harus berbuat begitu.
Dalam pada itu Pancapanah telah berpaling ke arah Wi Thian-bong dan berkata.
"Kini pertempuran di antara kita berdua telah berakhir, kalian telah menderita kekalahan tragis. Berarti kau harus menerima semua syarat yang kami ajukan."
Kini ketenangan dan kemantapan Wi Thian-bong sudah tidak seteguh batu karang lagi. Tangannya mulai gemetar, bibir pun ikut gemetar, lewat lama kemudian ia baru bertanya.
"Apa syarat kalian?"
Pancapanah segera menutup mulut tak bicara lagi, dia mengundurkan diri ke belakang Po Eng.
Dia memiliki kekuatan, namun tak pernah diperlihatkan secara sembarangan, dia memiliki kekuasaan, namun dia pun tak pernah menggunakan secara semena-mena.
Di saat dia harus tutup mulut, belum pernah ia memaksakan diri untuk buka suara.
Berada di tempat mana pun, dalam organisasi macam apa pun, hanya satu orang yang berhak memberi komando.
Sekarang dia telah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, kini dia seperti orang lain, menanti Po Eng menyampaikan perintahnya.
Sesaat kemudian Po Eng baru buka suara, ujarnya.
"Kalian boleh membawa pergi tandu itu, tapi kalian tak bisa pergi begitu saja...."
Dia pun mengemukakan persyaratannya.
"Kalian semua, tak terkecuali, harus meninggalkan sedikit kenang-kenangan sebelum pergi dari sini."
"Kenang-kenangan apa yang harus kami tinggalkan?"
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, suara Wi Thian-bong terdengar parau.
"Tinggalkan semacam barang kenangan yang bisa membuat kalian tak pernah melupakan selamanya, kenangan atas pelajaran pahit yang diterima hari ini!"
Tiba-tiba Po Eng berpaling ke arah Liu Hun-hun, tanyanya.
"Menurut pendapatmu, benda kenangan apa yang harus mereka tinggalkan?"
Dia adalah pemegang komando, setiap kata-katanya yang disampaikan adalah perintah, tak seorang pun berani membangkang apalagi melawannya.
Lantas mengapa dia harus bertanya pada Liu Hun-hun?
Mengapa tidak kepada orang lain?
Hanya bertanya kepada Liu Hun-hun seorang?
Liu Hun-hun sendiri pun tampak tercengang, namun secercah cahaya terang segera memancar keluar dari balik matanya.
Tiba-tiba saja dia memahami maksud Po Eng.
Sewaktu dia memandang Po Eng, seperti seekor rase sedang mengawasi seekor burung elang yang berburu rase, walaupun merasa takut bercampur hormat, namun terselip pula semacam perasaan yang tak akan bisa dipahami orang lain kecuali oleh mereka berdua.
Ternyata mereka berdua sama-sama telah memahami keadaan lawannya.
Agaknya Po Eng pun sudah tahu kalau perempuan itu telah memahami maksud hatinya.
Sambil mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, ujarnya hambar.
"Asal kau sebut, aku pasti akan mengabulkannya."
Liu Hun-hun kelihatan masih sedikit sangsi, tapi kemudian sambil menampilkan senyuman licik dan keji, ujarnya.
"Kami datang bersama-sama, jadi apa yang akan kutinggalkan, mereka pun harus sama-sama meninggalkannya."
Perlahan-lahan dia melanjutkan.
"Aku telah meninggalkan sebelah tanganku!"
Siau-hong pun mempunyai tangan, tangannya dingin dan kaku, sedingin bongkahan salju.
Kini dia pun sudah mengerti maksud Po Eng.
Tampaknya Po Eng telah menduga bahwa perempuan itu bakal berkata begitu, itulah sebabnya dia sengaja bertanya kepadanya.
Dia percaya, di saat ia harus melindungi diri sendiri, perempuan ini pasti tak segan untuk mengkhianati orang lain.
Paras Po Eng sama sekali tak nampak perubahan apa pun, dia tetap tampil kaku, tanpa perasaan.
"Kau sendiri yang berkata begitu,"
Ucapnya dingin.
"Apakah kau anggap cara seperti ini sangat adil?"
"Ya, adil sekali,"
Jawab Liu Hun-hun segera.
Po Eng tidak bicara lagi, dia pun tidak memandang lagi ke arahnya.
Sambil menjepit mata golok dengan kedua jari tangannya, perlahan-lahan ia sodorkan senjata yang berhasil direbutnya dari tangan Wi Thian-bong itu ke hadapan orang itu.
Kini dia tak usah berbicara lagi.
Dalam keadaan begini, apa pula yang bisa diucapkan Wi Thian-bong?
Dia sudah kalah total, menderita kekalahan secara tragis.
Bagi seseorang yang telah menderita kekalahan secara tragis, selain cucuran air mata, hanya ceceran darah saja yang tersisa.
Darah yang tak akan habis bercucuran!
Mata golok terasa dingin dan kaku, begitu pula dengan gagang golok.
Tapi tangannya terasa lebih dingin.
Menggunakan tangannya yang dingin kaku, Wi Thianbong menerima golok itu, lalu mengawasinya dengan sorot mata murung.
Golok itu adalah golok andalannya.
Dia pernah menggunakan golok itu untuk memenggal batok kepala orang, menggorok leher orang, dia pun pernah menggunakan golok itu untuk memotong tangan orang lain.
Tiba-tiba sikapnya berubah jadi tenang kembali, dia telah siap menerima kenyataan ini, karena ia tahu, dirinya tak mungkin lagi bisa menghindarkan diri dari kenyataan itu.
Kenyataan selalu memang keji dan tak berperasaan, tak seorang pun dapat menghindarinya.
Tiba-tiba Wi Thian-bong bertanya.
"Kau menginginkan tanganku yang mana?"
Dia pun tahu, Po Eng pasti menampik menjawab pertanyaan ini, maka dia menggunakan tangan kirinya untuk menggenggam golok dan menjulurkan tangan kanannya.
"Inilah tangan yang kugunakan untuk menggenggam golok dan membunuh orang, akan kuberikan tangan ini kepadamu. Mulai saat ini, aku tak pernah akan menggunakan golok lagi."
Tidak menggunakan golok lagi bukan berarti tak akan membunuh orang lagi. Sepatah demi sepatah kembali Wi Thian-bong melanjutkan.
"Tapi selama aku belum mati, aku bersumpah pasti akan membunuhmu, peduli dengan cara apa pun aku tetap akan membunuhmu. Sekalipun kau telah mengurungi kedua belah tanganku, selama aku masih bisa bernapas, biar harus memakai mulut pun aku tetap akan berusaha menggigit putus lehermu dan mencicipi bagaimana rasanya darahmu!"
Suaranya begitu tenang, tapi setiap patah kata, setiap kalimat justru terkandung hawa kutukan yang menakutkan, seakan-akan kutukan keji yang datang dari neraka, membuat orang merasa bergidik.
Tiada perubahan mimik muka di wajah Po Eng.
"Bagus sekali,"
Sahutnya hambar.
"Aku pasti akan menghadiahkan obat luka terbaik untuk menyembuhkan lukamu itu, agar kau bisa hidup lebih jauh."
Tangan Wi Thian-bong yang menggenggam golok mulai gemetar keras, otot-otot hijau menonjol keluar, dia sudah siap mengurungi lengan sendiri.
"Tunggu sebentar!"
Mendadak Po Eng menghardik.
"Apa lagi yang harus kutunggu?"
"Aku ingin kau menyaksikan sesuatu hal terlebih dulu,"
Kata Po Eng.
"Selesai melihat hal itu, kau baru akan tahu kalau kedatanganmu kali ini sesungguhnya merupakan suatu tindakan yang amat goblok!"
Po Eng segera mengulapkan tangan memberi perintah, seluruh barang dagangan pun segera ditumpuk di depan kemah, setiap buntalan, setiap bungkusan, hampir semuanya telah dibongkar dan dibuka.
Tak ada emas murni di situ.
"Sesungguhnya di sini tak ada emas murni,"
Kata Po Eng.
"Jadi kau tidak seharusnya datang kemari. Perbuatan ini bukan saja kau lakukan dengan sangat goblok, bahkan sama sekali tak menguasai. Kau sendiri pun pasti akan menyesal sepanjang masa!"
Wi Thian-bong hanya mendengarkan dengan tenang, sama sekali tidak menunjukkan reaksi, menanti Po Eng menyelesaikan perkataannya, ia baru bertanya dingin.
"Masih ada perkataan lain?"
"Tidak ada."
"Bagus sekali,"
Tiba-tiba Wi Thian-bong tertawa dingin.
"Padahal kau tak perlu menyampaikan perkataan semacam itu."
Goloknya segera diayunkan ke bawah.
Di saat mata goloknya diayun ke bawah, tiba-tiba ketujuh puluh orang petarung yang berada di atas kuda menjerit kesakitan.
Tujuh puluh orang dengan tujuh puluh buah lengan telah dibabat kutung oleh orang yang berada di belakang mereka.
Mereka mengurungi tangan tangan itu dengan cara yang paling mustajab, sekali tebas langsung kutung.
Sesungguhnya mereka adalah jago-jago tangguh yang sudah lama mendapat didikan ketat, bahkan berani mati dan kaya akan pengalaman pertarungan, tapi kali ini jangankan bertahan, kesempatan untuk melancarkan balasan pun tak ada.
Ringkik kuda bergema memecah keheningan, diiringi debu yang beterbangan rombongan jagoan itu telah kabur meninggalkan tanah perkemahan, tandu-tandu pun telah digotong pergi, tiga buah tandu telah digotong pergi meninggalkan tempat itu.
Makin lama suara derap kuda makin jauh, makin sirap, suara nyanyian tidak terdengar lagi, cahaya lentera yang menyinari tanah perkemahan pun telah padam.
Hari mulai terang tanah.
Sesaat menjelang tibanya sang fajar biasanya merupakan saat yang paling gelap, cahaya lentera masih memancar dengan terangnya dari dalam tenda.
Song-lohucu telah "mabuk", Gan-losianseng pun telah "lelah", mereka yang seharusnya pergi kini telah pergi semua.
Siau-hong belum pergi, dia masih tetap berada di sana.
Akan tetapi dia pun tidak duduk, selama ini anak muda itu hanya berdiri tenang di sana, seakan-akan sama sekali tidak memperhatikan kepergian orang lain, dia pun seakan tidak memperhatikan kehadiran Po Eng dan Pancapanah di tempat itu.
Ada sementara orang, walaupun tubuhnya berada di sana namun dia seakan-akan berada di tempat yang sangat jauh, berada di sebuah tempat jauh yang begitu tenang, damai, tiada dendam, tiada sakit hati, tiada cinta, tiada perasaan.
Perlahan-lahan Po Eng menatap wajah anak muda itu, tiba-tiba tanyanya.
"Apakah kau menganggap aku tidak seharusnya bertindak sekeji ini?"
Tiada jawaban.
"Aku tak peduli bagaimana kau berpikir, asalkan satu hal harus kau pahami terlebih dulu,"
Ujar Po Eng lebih jauh.
"Hubungan kita dengan musuh ibarat kau berhadapan dengan mata golok, tiada perasaan tiada peluang. Seandainya aku yang menderita kekalahan, mungkin nasibku akan jauh lebih mengenaskan."
Kemudian setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan tambahnya.
"Apalagi di dalam pertempuran kali ini, bukan kita yang mencari mereka, adalah mereka yang datang mencari kita. Dalam posisi seperti ini, mau tak mau kita harus bangkit untuk menghadapinya, kalau memang harus melawan maka kemenangan harus berada di pihak kita, terhadap pihak musuh pun tak boleh bersikap lemah dan penuh perasaan."
Teori semacam ini merupakan teori yang baku, teori yang tak dapat berubah, teori yang tak dapat dibantah siapa pun.
"Aku yakin kau pasti memahami teori itu,"
Po Eng menambahkan.
"Aku tidak paham!"
Tiba-tiba Siau-hong berteriak. Dia seperti orang yang baru mendusin dari impian buruk.
"Aku sama sekali tak paham dengan semua yang telah kalian lakukan!"
"Kau merasa tak paham mengapa kami bersikeras minta mereka menggotong pergi tandu ketiga?"
Tanya Pancapanah tiba-tiba, sekulum senyuman menghiasi paras tampannya yang pucat-pias dan lama tak tersentuh senyuman itu.
"Mengapa kalian harus berbuat begitu?"
Memang sudah sedari tadi Siau-hong ingin menanyakan persoalan ini. Pancapanah tidak langsung menjawab pertanyaan itu.
"Kau tidak akan mengerti karena ada banyak persoalan yang tak pernah kau dengar, ada banyak persoalan yang tak pernah kau lihat."
Dia tidak membiarkan Siau-hong buka suara, karena dia harus mengemukakan lebih dahulu perkataan yang harus dia sampaikan.
"Kau tidak mengerti karena usiamu masih muda, masih belum pernah mengalami pengalaman pahit, pengalaman tragis seperti apa yang telah kami jalankan selama ini,"
Sikap Pancapanah berubah amat serius dan bersungguhsungguh.
"Bila kau pun seperti kami, pernah hidup sepuluh tahun di dataran yang luas ini, nyaris mati hampir dua puluhan kali, maka kau pun akan mendengar berbagai kejadian yang tak akan terdengar oleh orang lain, dapat melihat berbagai peristiwa yang tak mungkin terlihat orang lain."
Sikap dan penampilannya yang serius membuat Siauhong mau tak mau harus menenangkan sikapnya.
"Masalah apa yang tak pernah kudengar?"
Tanya Siauhong.
"Apa pula yang telah kalian dengar? Kalian lihat?"
"Tandu ketiga jauh lebih berat daripada dua tandu sebelumnya,"
Pancapanah menerangkan.
"Bahkan dari dalam tandu itu terdengar suara napas dua orang."
Po Eng segera menambahkan.
"Suara napas itu berasal dari napas dua orang perempuan, salah satu di antaranya bernapas dengan sangat lemah."
Siau-hong segera merasa, ternyata masih banyak ilmu yang harus dia pelajari, jauh lebih banyak daripada apa yang diduga dan dipikirkan sebelumnya.
"Dari mana kalian bisa tahu kalau dalam tandu itu berisi dua orang perempuan? Memangnya napas wanita berbeda dengan suara napas kaum lelaki?"
Desak Siau-hong kembali.
"Sama sekali tak ada bedanya,"
Jawab Po Eng singkat. Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Kami tahu dalam tandu itu berisi dua orang wanita karena tandu itu sedikit lebih berat daripada bobot tandu yang diduduki Siu-hun-jiu."
"Kami dapat melihatnya dari bekas pasir yang ditinggalkan pemikul tandu itu,"
Kali ini Pancapanah yang melanjutkan penjelasan itu.
"Walaupun bahan dan bobot tandu-tandu itu sama."
Sesudah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan.
"Siu-hun-jiu adalah jagoan yang berlatih Gwakang, biarpun tubuhnya kurus namun tulang badannya sangat berat, apalagi dia jangkung, paling tidak bobot badannya mencapai seratus dua puluhan kati."
Bobot kedua orang itu bila dijumlahkan, paling tidak hanya lebih berat dua-tiga puluh kati bila dibandingkan dia seorang. Maka kembali Pancapanah memberikan kesimpulan yang sangat aneh.
"Berat badan itu merupakan berat tubuh kedua orang perempuan dijumlahkan jadi satu."
"Mereka adalah dua orang perempuan? Dua orang yang mana? Kau tahu kalau mereka berdua?"
Siau-hong segera bertanya.
"Aku tahu!"
"Pova,"
Kata Pancapanah lagi.
"Salah satu di antaranya pasti Pova!"
Siau-hong belum pernah mendengar nama orang ini, maka segera tanyanya.
"Pova? Siapakah orang itu?"
Tiba-tiba mimik muka Pancapanah berubah jadi sangat sedih.
"Bila kau ingin memahami tentang manusia yang bernama Pova, dengarkan dulu sebuah kisah yang tragis."
Ternyata kisah yang akan disampaikan adalah sebuah kisah tragis, kisah yang memedihkan hati.
Pova adalah seorang perempuan, ia dilahirkan di puncak bukit Cu-mu-lang-ma sebelah utara pada ratusan tahun berselang, dia merupakan seorang wanita suci yang disembah dan dipuja orang-orang suku Gurkha.
Demi menyelamatkan etniknya, dia telah mengorbankan diri sendiri.
Ketika etnik Ni-co yang ganas, buas dan tak tahu malu menyerbu ke dalam desa etnik Gurkha, anggota sukunya tak mampu melawan serbuan itu hingga menderita kekalahan fatal.
Lambang suku Ni-co adalah "merah".
"merah"
Yang membawa anyirnya darah, mereka memang menyukai anyirnya darah dan warna merahnya darah.
Kepala suku Ni-co berhasil menangkap Pova hiduphidup, lalu merogolnya secara brutal.
Perempuan itu tetap menahan diri, menerima setiap siksaan dan penderitaan yang menimpa dirinya, karena ia ingin balas dendam.
Dengan gigi membalas gigi, dengan darah membalas darah, suatu saat akhirnya ia berhasil mendapatkan kesempatan itu.
Bukan saja berhasil menolong kepala suku yang tertawan, dia pun berhasil menyelamatkan seluruh anggota sukunya yang masih hidup.
Tetapi dia harus mengorbankan diri, menyumbangkan selembar jiwanya.
Menanti rakyat etniknya berhasil membawa pasukan besar dan menyerbu masuk ke perkemahan tempat tinggal kepala suku Ni-co, ia ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Dia mati sebagai pahlawan, bukan hanya pahlawan etniknya, pahlawan bangsanya.
Di saat ajal menjelang tiba, dalam genggamannya dia masih memegang selembar kertas yang ditulisnya menjelang ajal untuk sang kekasih, sebuah bait lagu yang berjudul "Kokang".
"Kokang Yang kucinta, kau harus hidup terus. Kau harus hidup, harus waspada, setiap saat waspada, selalu teringat, teringat orang-orang yang suka anyirnya darah. Mereka gemar membunuh. Jangan kau ampuni bila bertemu, usir mereka, usir mereka. Usir sampai ujung samudra, usir sampai ujung gurun, bangunlah kembali negerimu tercinta Biarpun negeri sudah tenggelam, biar sawah ladang telantar. Asal kau rajin berjuang, negeri kita pasti berjaya, sawah ladang kita pasti subur sentosa."
Kekasihnya tidak mengecewakan harapannya, seluruh anggota sukunya tak pernah mengecewakan dirinya.
Negeri yang nyaris musnah kembali berjaya, kembali sentosa, dan makin berkembang.
Untuk memperingatkan pengorbanannya, tulangbelulang serta kertas berisi bait lagu itu dikubur di kuil Pova, di bawah pagoda putih.
Arwahnya selalu dihormati orang, dipuja setiap orang, dan disanjung di mana-mana.
Kisah ini memang sebuah kisah yang tragis, bukan cerita heroik, sebuah cerita yang patut dikenang dan diingat generasi mendatang.
Setiap anak bangsa yang dilahirkan ribuan tahun kemudian, harus selalu ingat, mengenang, dan mewaspadai kisah tragisnya.
Sebab walaupun aturan selalu berlaku, walau kesetiakawanan selalu timbul, namun dunia tak pernah akan terbebas dari manusia-manusia yang haus darah, setiap orang sudah seharusnya meniru cara Pova, tak segan mengorbankan diri demi melenyapkan mereka.
Kini Pancapanah telah menyelesaikan kisahnya.
Siau-hong sama sekali tidak melelehkan air mata.
Bila darah panas telah bergelora di dalam dada seseorang, bagaimana mungkin dia akan melelehkan air mata?
Namun dia tetap bertanya lagi.
"Kalau memang tulangbelulangnya sudah terkubur di bawah pagoda putih, lalu siapa pula Pova yang kalian maksudkan sekarang?"
Jawaban Pancapanah kembali membuat tercengang, terperangah.
"Pova yang kami maksud tak lain adalah perempuan yang selama ini kau anggap sebagai Sui-gin si Air raksa."
Siau-hong tertegun. Pancapanah tampak makin pedih dan berduka, katanya lebih jauh.
"Dia adalah anggota suku kami, ia tahu selama ini Lu-sam berniat menindas kami, seperti suku Ni-co yang keji dan berlumuran darah ingin menindas suku Pova, oleh sebab itu dia tak segan untuk mengorbankan diri demi kesejahteraan sukunya."
Tiba-tiba Po Eng menyela.
"Karena dia bukan saja merupakan anggota sukunya, bahkan merupakan kekasih hatinya, dia rela mengorbankan diri dengan menyusup masuk ke lingkungan musuh sebagai mata-mata, bahkan berusaha menyelidiki kekuatan musuh dan menyelidiki kabar tentang mereka."
Pancapanah segera menggenggam tangan Siau-hong erat-erat, katanya perlahan.
"Aku pun tahu semua yang telah dia lakukan terhadap dirimu, tapi aku jamin dia pasti dipaksa untuk melakukan semua itu, demi aku, demi semua anggota suku kami, mau tak mau dia harus melakukannya."
Siau-hong dapat memahami hal itu, dia balas menggenggam tangan Pancapanah erat-erat dan berkata.
"Aku tidak menyalahkan dia, seandainya aku jadi dia, aku pun akan melakukan hal yang sama."
"Tapi kini rahasianya sudah terbongkar, pihak lawan sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kukirim untuk menyusup ke sana,"
Ujar Pancapanah lagi dengan tangan yang dingin bagaikan es.
"Oleh karena itu mereka mengirim seseorang untuk membawanya kemari,"
Kembali Po Eng menambahkan.
"Ia duduk di dalam tandu itu bersama seseorang, mereka berencana ketika sudah mencapai saat terakhir, dia akan dipergunakan untuk mengancam dan memaksa kita menuruti semua kemauannya."
"Namun mereka pun tidak menyangka bakal menderita kekalahan secepat itu, bahkan kalah secara tragis, oleh karena itu semua perubahan yang terjadi membuat mereka gelagapan dan untuk sesaat tak tahu harus berbuat bagaimana,"
Ujar Pancapanah sambil menahan sedih dan emosi.
"Sekalipun begitu, dia tetap merupakan senjata pamungkas mereka yang terakhir, maka aku tak boleh bertemu dengannya, aku tak boleh membiarkan mereka menggunakan dia sebagai barang ancaman kepadaku."
Itulah sebabnya terpaksa dia harus bertindak tegas, bertindak sebelum mereka sempat berbuat sesuatu!
Bila ada orang membiarkan dia bertemu dengan perempuan itu, dapat dipastikan dia akan membunuh orang itu!
Dalam hal ini, semua orang yakin dan percaya bahwa dia tega untuk melakukannya.
"Mereka pun tak berani bertindak sembarangan, kemungkinan besar di kemudian hari mereka masih dapat memperalat dirinya, maka mereka pasti akan berusaha agar dia tetap hidup,"
Ujar Pancapanah lebih jauh.
"Oleh sebab itu pula, terpaksa aku pun membiarkan mereka menggotong pergi tandu itu secara utuh tanpa tersentuh."
Di dalam tandu itu masih duduk seorang wanita lain, dialah satu-satunya orang yang bisa membongkar rahasia ini.
"Dia pun berada di dalam tandu itu,"
Kata Po Eng kemudian.
"Ia sadar, keselamatan jiwanya seratus persen terjamin, maka ia terlebih tak mau bertindak secara gegabah."
"Sejak semula aku sudah mengenalinya,"
Ujar Pancapanah.
"Tapi aku sama sekali tak mengira kalau dia adalah seorang wanita yang begitu menakutkan."
Tak ada yang menerangkan siapakah "dia"
Itu.
Siau-hong pun tidak bertanya.
Dia tak ingin bertanya, tak berani bertanya dan tak usah bertanya.
Ia sadar, mereka tidak akan mengatakannya karena mereka tak bisa menyebut nama orang itu, tak tega mengatakannya dan tak perlu menyebut namanya.
Mereka tak ingin melukai perasaan Siau-hong.
Dalam hati mereka seolah terdapat sebuah "sumbatan leher", sebuah sumbatan yang sulit untuk ditembus dan dilalui.
Bila kau bersikeras ingin menembusnya, sudah pasti kau akan melukai perasaan orang itu.
Pova, benarkah kau adalah manusia semacam ini?
Mengapa Pova harus mengorbankan diri?
Apa yang diperolehnya dengan pengorbanan yang begitu besar dan luar biasa?
Rahasia apa yang akan diselidikinya?
Apakah ada hubungan dan sangkut-pautnya dengan emas murni yang hilang terbegal?
Rombongan ini sebetulnya merupakan rombongan saudagar biasa, belum pernah ada seorang pun di antara mereka yang memperlihatkan ilmu silat, mengapa dalam waktu singkat mereka sanggup menguasai tujuh puluh orang petarung yang kenyang akan pengalaman?
Song-lohucu serta Gan Tin-kong pun bukan jago-jago hebat berilmu tinggi, mengapa mereka harus menyembunyikan kepandaian kungfunya?
Sebenarnya bagaimana asal-usul mereka?
Rahasia apa di balik semua itu?
Siau-hong tidak menanyakan semua persoalan itu, ia merasa apa yang diketahui sudah terlalu banyak.
Emas murni tidak berada di dalam bungkusan barang dagangan yang dibawa rombongan saudagar ini.
Sementara Po Eng adalah sahabatnya.
Baginya, urusan emas murni sama sekali tak penting, dia pun enggan menaruh perhatian pada masalah itu.
Asal dia tahu ada orang telah menganggapnya sebagai sahabat, hal ini sudah lebih dari cukup.
Bagi seorang gelandangan macam dia, nilai seorang sahabat sejati tak tertandingi oleh benda apa pun.
Fajar telah menyingsing.
Matahari pagi telah muncul di ufuk timur, sejauh mata memandang hanya pasir berwarna keemas-emasan yang menyelimuti seluruh jagat.
Tanah dataran luas yang tak berperasaan, gersang, kejam, dingin yang menggigilkan, panas yang menyengat...
meski begitu, di dataran luas yang tak berperasaan ini pun terdapat bagian yang menawan, seperti kehidupan manusia.
Walaupun dalam sejarah kehidupan manusia sering bertemu dengan peristiwa yang tak berkenan di hati, menghadapi banyak masalah yang susah diurai dan diselesaikan secara baik, namun kehidupan manusia tetap menawan.
Siau-hong dan Po Eng berdiri bersanding di depan perkemahan, mengawasi cahaya matahari yang sedang menyinari dataran luas.
Tiba-tiba Po Eng bertanya.
"Apakah ada suatu tempat istimewa yang hendak kau datangi?"
"Tidak ada,"
Siau-hong menggeleng.
"Aku bisa pergi ke tempat mana pun, aku pun bisa tidak pergi ke tempat mana pun."
"Pernah berkunjung ke tempat suci orang Tibet?"
"Belum."
"Kau ingin ke sana?"
Jawaban Siau-hong segera memunculkan kembali senyuman di balik sorot mata Po Eng yang tajam.
"Aku bisa saja pergi ke tempat yang ingin kudatangi,"
Ucap Siau-hong.
"Aku pun bisa pergi ke tempat yang tidak ingin kudatangi."
"Semisal aku minta kau ke sana, apakah kau akan pergi?"
"Ya, aku pasti pergi."
Rombongan besar pun kembali melanjutkan perjalanan.
Jago-jago yang mampu menaklukkan musuh dalam waktu sekejap kini berubah lagi jadi para saudagar yang sangat sederhana dan bersahaja.
Di antara sepasang punuk onta yang tinggi terdapat sebuah pelana yang terbuat dari kulit kerbau, Po Eng duduk di atas pelana sambil mengawasi Siau-hong yang berada di punggung onta lain, katanya.
"Setelah berjalan satu jam, kita akan tiba di tempat itu."
"Tempat mana?"
"Sumbatan leher!"
Tebing karang menjulang tinggi ke angkasa, dinding karang yang rata dan curam serasa menembus langit nan biru, jalan penghubung yang terbentang di antara sela karang terasa sempit dan kecil bagaikan usus kambing.
Di ujung jalan usus kambing yang sempit, menjulang tebing karang berbentuk aneh, seperti gigi taring seekor serigala lapar, ke arah tebing itulah jalanan sempit tadi terbentang.
Mereka telah tiba di sumbatan leher.
Rombongan bergerak makin lambat, mau tak mau mereka memang harus memperlambat gerakan, dinding karang yang curam, terjal dan menjulang tinggi ke angkasa seakan gerombolan serigala lapar yang siap menerkam mereka.
Siapa pun yang tiba di tempat ini, mereka pasti akan merasakan hatinya bergidik, jantungnya berdebar dan bulu kuduk berdiri.
Detak jatung Siau-hong pun seolah berdebar lebih keras dan cepat, sedemikian kerasnya hingga Po Eng seakan dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.
"Kini kau tentu sudah paham, bukan? Mengapa aku harus bertindak keji dan tegas,"
Ujar Po Eng kemudian.
"Bila aku tidak meminta sebelah tangan mereka, seandainya orang-orang itu balik lagi ke sini dan menghadang di tempat ini, maka jalanan ini akan menjadi jalan kematian buat kita, jalan menuju kematian buat orang-orang kita!"
Sumbatan leher, tanah kematian, jalan kematian! Tiba-tiba Siau-hong merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya.
"Dari mana kau tahu mereka tidak menyiapkan orang lain di tempat ini?"
Tanyanya.
"Tak mungkin mereka masih mempunyai kekuatan lain di tempat ini. Bukan pekerjaan mudah untuk mengumpulkan kekuatan di tengah gurun pasir, Pancapanah telah melacak dan menyelidiki dengan jelas semua gerak-gerik kekuatan mereka, apalagi...."
Ia tidak menyelesaikan perkataan itu karena secara tibatiba ia merasa peluh dingin telah membasahi telapak tangannya.
Tampaknya dia mulai sadar, ternyata di sumbatan leher, di jalan menuju kematian, di tanah kematian ini masih ada orang lain sedang menanti kedatangan rombongan mereka.
Suatu kejadian yang mustahil terjadi, terkadang pun ada kemungkinan bisa terjadi.
Bila dalam hati muncul sumbatan, hati pun akan sedih....
Bila manusia berada di sumbatan, dia pun bakal merasa berduka.
Orang yang sedang berduka terkadang ingin mati, tapi orang yang telah mati tak bakal berduka lagi, hanya orang mati yang tak pernah akan berduka lagi.
Bila di tempat ini masih terdapat kekuatan lain yang tersembunyi, berarti rombongan mereka mirip seseorang yang telah dikalungi seutas tali simpul mati.
Asal mereka muncul dari tempat persembunyian sambil melancarkan sergapan, mereka pun akan tergantung, terjirat lehernya dan mampus.
Tengkuk akan patah, napas akan putus, nyawa pun bakal melayang...
itulah sumbatan leher.
Di balik sumbatan leher dapat dipastikan ada orang sedang bersembunyi siap melancarkan sergapan, tak disangkal mereka telah menapak di jalan kematian, memasuki tanah kematian.
Po Eng yakin apa yang didengarnya tak bakal salah.
Pancapanah pun telah mendengar suara yang didengar rekannya.
Baca Juga: Bara Maharani 7
Baca Juga: Pendekar Baja Gu Long