Eps 1 Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id
Baca online Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id
Cersil Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id.
ElangTerbangDiDataranLuas Saduran .
Tjan ID PEMBUKAAN Angin topan berhembus kencang, suara menderu menerbangkan pasir kuning dan debu.
Betapa kencangnya angin bertiup, pasir dan debu tak mampu menembus tenda raksasa yang terbuat dari kulit kerbau, Thiat Gi sedang duduk di bawah lentera minyak yang bercahaya redup, sedang menggosok tombak baja miliknya.
Sudah delapan hari angin puyuh yang menakutkan melanda tempat itu, sudah delapan hari pula rombongan onta mereka terjebak di tempat itu.
Demikian sengsara hidup saat itu, sampai onta yang terkuat pun mulai loyo.
Tapi Thiat Gi seperti tombaknya, sadis, tajam, kaku, bersih, dan mengkilap.
Dia berharap Thiat-hiat-sah-cap-lak-ki (Tiga puluh enam penunggang darah besi) pun seperti dia, tidak terpengaruh oleh keadaan, tidak takluk dengan situasi terburuk sekalipun, selalu patuh, taat, disiplin, dan selalu waspada.
Mereka pernah mengalami pendidikan ketat selama tiga belas tahun, jiwa mereka sudah ditempa hingga lebih keras dari baja.
Sekarang mereka sedang melakukan patroli, yang tiap hari mereka lakukan selama tiga belas tahun.
Biarpun angin puyuh berhembus kencang, namun mereka tak pernah melepas kebiasaan itu.
Tuntutan kali ini jauh lebih ketat, lebih keras, sebab barang yang mereka kawal adalah benda yang paling merangsang napsu manusia, merangsang ketamakan manusia sejak zaman bahuela...
lantakan emas murni.
Tiga puluh laksa tahil emas murni!
Harta karun yang fantastik, yang cukup untuk mengundang kehadiran seluruh begal, perampok ulung yang ada di kolong langit untuk berbondong-bondong mendatangi gurun pasir yang kejam ini.
Mau tak mau dia harus lebih waspada, lebih berhati-hati.
Angin puyuh masih berhembus kencang di luar tenda, pasir dan kerikil yang beterbangan menghantam tenda kulit, suaranya persis butiran es batu yang disambitkan dari angkasa.
Thiat Gi bangkit, tubuhnya yang kurus kering masih tetap tegak bagai sebatang pit.
Dua puluh tahun berselang, dengan mengandalkan tombak baja hitamnya ini, ia pernah menyapu tiga puluh dua Hohan dari delapan benteng Liok-lim, kemudian ketika bertarung di tepi sungai Yong-teng, dengan tombaknya dia mengobrak-abrik telaga harimau.
Hingga kini kekuatan maupun ilmu silatnya sama sekali tak pernah surut.
Terhadap diri sendiri maupun terhadap pasukannya, ketiga puluh enam orang pasukan kuda bajanya, dia menaruh rasa percaya diri yang tinggi.
Pada saat itulah, mendadak terdengar suara pekikan lengking berkumandang dari balik hembusan angin kencang, suara pekikan itu berasal dari Ma-luk, orang Tibet yang bertugas jaga kawanan onta.
"Semi kolarkolo!"
Biarpun Thiat Gi tidak mengerti apa yang sedang diteriakkan, namun ia bisa menangkap rasa ngeri, rasa takut yang begitu hebat, perasaan horor yang merasuk ke dalam tulang sumsum orang itu.
Hampir bersamaan, tenda kulit kerbau yang begitu kokoh, mendadak retak, lalu pecah menjadi bubuk halus.
Dalam waktu singkat, pecahan tenda sudah lenyap tergulung oleh hembusan angin puyuh yang keras.
Ketika pasir tajam menghantam wajah Thiat Gi, parasnya sama sekali tak berubah.
Dia masih berdiri tegar di situ bagai sebatang tongkat.
Angin bercampur pasir yang beterbangan di depan matanya bagaikan selapis dinding tinggi yang terjatuh dari langit, membuat orang awam tak mampu melihat pemandangan di sekelilingnya, bahkan tenda yang berada sepuluh langkah di hadapannya pun tak terlihat.
Tapi sayang dia bukan orang awam, dia bukan manusia biasa.
Sepasang matanya yang sudah terlatih lama telah melihat kehadiran ketiga puluh enam orang anak buahnya, berdiri berjajar di hadapannya seperti tiga baris tombak.
Betapa pun kencangnya angin bercampur pasir, betapa pun menakutkan perubahan yang terjadi, mereka tetap dapat menjaga ketenangan.
Di saat bencana menjelang tiba, di saat pertarungan antara mati dan hidup.
"Tenang"
Merupakan semacam senjata paling mustajab.
Apalagi mereka terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, dalam soal ilmu silat, senjata rahasia maupun senjata tajam, latihan yang mereka lakukan jauh lebih tekun, lebih gigih ketimbang siapa pun.
Dia percaya, betapa pun menakutkannya musuh yang datang kali ini, mereka masih sanggup menghadapinya dengan sepenuh tenaga.
Dia pribadi sudah berpengalaman dalam menghadapi ratusan pertarungan baik besar maupun kecil.
Selama ini tak sekali pun ia pernah mundur, apalagi merasa takut menghadapi seseorang.
Tapi entah mengapa pada detik yang amat singkat kali ini, tiba-tiba muncul semacam rasa takut, rasa ngeri yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Semacam perasaan horor yang merasuk hingga jauh ke dalam tulang sumsumnya.
Jeritan keras yang memilukan sudah lenyap tertelan oleh gulungan angin puyuh, di tengah gulungan angin dan pasir mendadak muncul seseorang.
Sejujurnya, yang terlihat oleh Thiat Gi waktu itu bukanlah sesosok manusia, lebih tepat dibilang hanya sesosok bayangan abu-abu gelap yang mirip sukma gentayangan.
Bagian kepala bayangan itu seolah memiliki sepasang tanduk, tanduk macam telinga kucing, tanduk macam hasil sulapan.
Tiba-tiba Thiat Gi merasa tenggorokannya seolah dijejali dengan segumpal bola salju yang membawa bau anyir darah.
"Siapa kau?"
Hardiknya. Tiba-tiba bayangan manusia itu memperdengarkan suara tawanya yang tinggi melengking seperti jeritan kucing, dia hanya mengucapkan enam patah kata.
"Semi kolarkolo!"
Itulah keenam kata yang diteriakkan Ma-luk tadi, sesungguhnya apa arti keenam patah kata itu?
Kenapa begitu menakutkan?
Kenapa terdengar seperti mantera yang mampu membetot sukma manusia?
Sambil menggerakkan tombaknya memberi tanda kepada anak buahnya, Thiat Gi berseru.
"Tangkap dia!"
Perintahnya selalu dipatuhi anak buahnya, belum pernah ada anggota pasukannya yang berani membangkang, tapi kali ini...
ternyata tak ada yang bereaksi, bahkan tak seorang pun yang bergerak.
Kembali bayangan manusia bertanduk memperdengarkan suara tawanya yang seperti kucing, sepasang tangannya bergerak tiada henti.
Tiga puluh enam jagoan yang berdiri tegak bagaikan tombak itu mendadak roboh ke tanah, satu per satu roboh terjungkal, keadaan mereka tak ubahnya seperti boneka kayu yang diikat dengan rangkaian tali dan kini talinya telah ditarik.
Dengan satu gerakan cepat Thiat Gi menerjang maju ke muka, kini ia baru tahu bahwa ketiga puluh enam orang anak buahnya telah berhenti bernapas, bahkan tubuh mereka telah berubah jadi dingin dan kaku.
Rupanya sejak tadi mereka tidak roboh karena ada sebatang tombak yang mengganjal di punggung setiap orang, di balik tombak itu, masing-masing bersembunyi seseorang, seseorang dengan kepala bertanduk telinga kucing.
Napas Thiat Gi nyaris terhenti secara tiba-tiba, mendadak dia melejit ke tengah udara, tombak bajanya bagaikan seekor ular berbisa langsung menusuk ke depan.
Tusukan tombak ini jauh lebih beracun dari pagutan ular berbisa, lebih cepat dari sambaran petir.
Dalam tusukan maut ini, Thiat-tan-sin-jiong (Nyali baja tombak sakti) telah menyertakan segenap kekuatan inti yang dimilikinya, tapi sayang, di saat tusukan maut itu dilontarkan, tahu-tahu bayangan manusia yang berada di hadapannya telah melambung ke udara, kemudian mengikuti gulungan angin puyuh yang berpusing di udara, ia berputar tiada hentinya.
Dalam waktu singkat bayangan manusia itu telah berubah jadi segulung angin berpusing.
Angin tak mungkin terbunuh, tak mungkin tertusuk, apalagi mati.
Sekonyong-konyong Thiat Gi merasa ada segulung angin berpusing menyapu wajahnya, mendadak ada beribu butir pasir lembut yang tajam bagaikan jarum menusuk sepasang matanya, lalu dia tak bisa merasakan apa-apa lagi.
Ooo)dw(ooO Hari ini adalah bulan sembilan tanggal tiga belas.
Bulan sembilan tanggal lima belas, akhirnya badai angin puyuh berhenti bertiup.
Angin puyuh yang melanda wilayah gurun pasir ibarat anak panah yang dilepas pemanah sakti, bagai sabetan golok seorang pembunuh bayaran, datang begitu tiba-tiba, pergi pun begitu mendadak.
Wi Thian-bong melarikan kudanya dengan kencang.
Di sisi pelananya tergantung sebuah wadah anak panah, di pinggangnya tersoreng sebilah golok.
Golok maupun anak panah sama menakutkan seperti hembusan angin puyuh di gurun pasir.
Dia datang karena mendapat tugas menjemput Thiat Gi.
Bagaimana pun tiga puluh laksa emas murni merupakan sebuah umpan yang susah ditampik oleh siapa pun.
Apalagi sahabat dari kalangan hitam, tak seorang pun dari mereka yang bisa mengekang godaan itu.
Dia maupun Thiat Gi merupakan orang dari rombongan yang sama, mereka tak akan membiarkan uang emas yang begitu banyak jumlahnya terjatuh ke tangan orang lain.
Yang ikut serta dalam rombongannya kali ini selain anak buahnya, Sian-hong-sah-cap-lak-pa-to (Tiga puluh enam batang golok angin berpusing), dia pun membawa seorang petunjuk jalan, So-ma namanya.
Andaikata perjalanannya tidak terhadang oleh angin topan yang melanda gurun pasir, sekarang niscaya dia sudah bergabung dengan Thiat Gi.
So-ma adalah saudara sesuku Ma-luk, kemampuan mereka dalam mengenali situasi di gurun pasir pada hakikatnya jauh lebih hebat dibanding kemampuan mereka mengingat celana dalam perempuan.
Dia sudah tahu jalan mana yang akan ditempuh Ma-luk.
Tentu saja dia pun sanggup menemukan rombongan onta yang dibawa Ma-luk.
Tapi sayang, ketika ia menemukan Ma-luk, yang dijumpai hanya jenazah rekannya yang sudah mengering seperti ikan teri.
Dia pun menemukan Thiat Gi beserta ketiga puluh enam orang pasukannya.
Jenazah mereka ditemukan tak jauh dari jenazah Maluk, namun kondisi tubuh mereka sama persis jenazah para Lhama yang hidup di wilayah sana, sebagian besar tubuh sudah habis dilalap burung pemakan bangkai, mereka telah menerima kehormatan dikubur secara alami.
Masih untung ada sebagian jenazah yang telah terkubur di balik pasir, terkubur di bawah lapisan pasir yang tak mungkin terpanik oleh tajamnya paruh burung pemakan bangkai.
Wi Thian-bong berhasil menemukan jenazah Thiat Gi, dia pun berhasil menemukan sebab kematiannya yang tragis.
Kondisi jenazahnya tak jauh berbeda dengan kondisi ketiga belas jenazah lainnya yang tertimbun di bawah pasir, tidak ditemukan luka yang jelas di tubuh mereka, tapi pada wajah setiap orang terdapat tiga buah bekas cakar berdarah, bekas luka seperti dicakar seekor kucing liar.
Mimik muka mereka menunjukkan rasa ketakutan yang luar biasa, rasa ngeri, rasa horor yang jauh lebih menakutkan ketimbang 'kematian' itu sendiri.
Begitu menyaksikan ketiga bekas cakar berdarah itu, tibatiba paras Su-ma menunjukkan rasa ketakutan yang luar biasa, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut, lalu sambil menyembah berulang kali menghadap langit, ia menjerit.
Biarpun Wi Thian-bong tidak mengerti apa yang dia katakan, namun enam patah kata yang selalu diulang-ulang dapat didengarnya dengan sangat jelas.
"Semi kolarkolo!"
Saat itulah dari balik langit yang biru kembali terbang mendekat segerombolan burung elang.
Segerombolan burung elang pemakan bangkai!
Ooo)dw(ooO BAB 1.
BURUNG PEMAKAN BANGKAI Burung elang sedang berputar, berputar di bawah langit nan biru, berputar sambil menunggu saat untuk melahap bangkai tubuhnya.
Hingga kini dia belum mati.
Dia sendiri pun ingin melahap burung elang itu.
Seperti burung-burung itu, dia pun kelaparan, kelaparan setengah mati.
Ketika kehidupan sudah mendapat ancaman, ketika ancaman sudah mencapai satu taraf tertentu, seorang tak jauh berbeda dengan seekor burung elang, mereka samasama berusaha mencelakai lawan demi mempertahankan hidup sendiri.
Dia ingin sekali melompat bangun dan menangkap burung elang itu, ingin mencari sebuah batu untuk menimpuk burung elang itu.
Kalau di hari biasa, hal itu sangat mudah dilakukan, tapi sekarang dia sudah kehabisan tenaga, jangankan menimpuk, mengangkat tangan sendiri pun sudah sulit.
Dia sudah mendekati ajal.
Bila sobat-sobat dunia persilatan tahu dia hampir mati, pasti ada banyak orang yang merasa tercengang, banyak yang sedih, banyak yang kecewa, tapi pasi juga ada banyak orang yang merasa gembira.
Dia bermarga Hong, bernama Wi, tetapi kebanyakan orang memanggilnya "Siau-hong", Siau-hong yang 'tak takut mati'.
Terkadang dia sendiri pun merasa dirinya memang seorang yang tak takut mati, tak takut mati yang aneh sekali.
Dia telah melakukan perjalanan selama belasan hari di tanah luas yang tak ada air, tanah kering-kerontang yang tak ada kehidupan, ransum, serta air persediaannya telah lenyap sewaktu terjadi badai gurun tempo hari.
Kini pada tubuhnya hanya tersisa sebilah pedang sepanjang tiga kaki tujuh inci serta sebuah mulut luka selebar tiga inci tujuh hun.
Satu-satunya kehidupan yang menemaninya sekarang hanyalah "Ci-hu" (Anjing merah).
"Ci hu"
Adalah seekor kuda, kuda pemberian Be Siauhong.
Be Siau-hong adalah pemilik peternakan kuda Lok-jit-becong di wilayah Kwan-tong.
Pengetahuannya tentang kuda jauh lebih mendalam daripada pengetahuan seorang hidung belang terhadap perempuan.
Sekalipun seekor kuda yang paling liar pun begitu terjatuh ke tangannya, pasti dapat dilatihnya menjadi seekor kuda jempolan.
Semua kuda yang ia hadiahkan untuk teman-temannya adalah kuda jempolan, tapi sekarang kuda jempolan yang paling hebat pun sudah hampir roboh ke tanah.
Siau-hong menepuk pelan punggung kudanya, sekulum senyuman seolah tersungging dari balik bibirnya yang merekah.
"Kau tak boleh mati, aku pun tak boleh mati, kita belum lagi berbini, mana boleh mati begitu saja?"
Teriknya matahari ibarat kobaran api yang membara, membakar seluruh permukaan bumi di seputar sana, membuat seluruh kehidupan yang ada hangus terbakar, beberapa ratus li di seputar sana sama sekali tak nampak jejak manusia.
Tapi...
tiba-tiba ia merasa ada seseorang sedang mengikuti dari belakang tubuhnya.
Dia sama sekali tidak melihat orang itu, juga tidak mendengar suara langkah kakinya, namun ia dapat merasakan, merasakan dengan instingnya yang tajam bagai seekor hewan liar.
Kadangkala dia merasa orang itu seolah sudah berada sangat dekat dengannya, dia pun segera berhenti untuk menanti.
Entah berapa besar harapannya saat itu agar bisa bertemu dengan seseorang yang lain, sayang harapan itu sia-sia.
Setiap kali dia menghentikan langkahnya, orang itu pun seakan segera ikut berhenti.
Dia adalah orang persilatan, punya banyak teman, punya banyak musuh, bukan satu-dua orang saja yang berharap dapat memenggal batok kepalanya.
Tapi siapakah orang itu?
Mengapa selalu mengikutinya?
Apakah dia hendak memenggal batok kepalanya di saat ia sudah kehabisan tenaga dan tak berdaya melawan?
Lalu mengapa hingga sekarang belum juga turun tangan?
Apakah orang itu masih was-was dengan pedang yang tersoreng di pinggangnya?
Ia tak sempat berpikir lebih lanjut, apalagi memikirkannya dengan seksama.
Terkadang meski kelaparan dapat membuat akal pikiran orang lebih tajam dan lincah, tapi sekarang ia sudah sedemikian laparnya hingga kekuatan untuk mengumpulkan pikiran pun tak ada.
Kembali ia bergerak maju, bergerak dengan susah payah sebelum akhirnya berhasil menemukan sebuah gundukan pasir yang dapat dipakai untuk menahan sinar matahari.
Ia berbaring di balik bayangan gelap di belakang gundukan pasir, kini elang itu terbang semakin rendah, seolah dia sudah dianggapnya orang mati.
Dia masih belum ingin mampus, dia masih ingin berduel melawan elang itu, bertarung sambil beradu akal, sayang sepasang matanya makin lama semakin tak sanggup dipentang lagi, bahkan pemandangan di depan mata pun telah berubah jadi buram dan kabur.
Pada saat itulah dia menyaksikan seseorang.
Konon berada di tengah gurun pasir, orang seringkali akan melihat gedung bertingkat dan hidangan yang lezat, orang sekarang bilang fatamorgana, seseorang yang hampir mendekati ajal pun katanya akan merasakan juga khayalan semacam ini.
Tapi apa yang dilihatnya sekarang bukan khayalan, bukan fatamorgana, ia benar-benar telah menyaksikan seseorang.
Seorang bertubuh kecil dan kurus, mengenakan jubah putih yang sangat lebar dengan kepala bersorban putih, kemudian ditutup dengan sebuah topi bambu yang sangat lebar.
Di bawah bayangan topinya yang lebar, tampak bentuk wajahnya yang kurus tajam dihiasi sebuah mulut yang lebar dan sepasang mata setajam elang botak.
Siau-hong mengucek matanya berulang kali, meyakinkan diri kalau apa yang terlihat tak salah.
Di tengah gurun pasir yang kejam tak berperasaan, dapat bertemu dengan makhluk sejenis memang merupakan satu kejadian yang patut digembirakan.
Ia segera bangkit untuk duduk, kemudian mengulum senyuman yang kering.
Orang itu tampak menghela napas panjang, kelihatannya ia merasa amat kecewa.
Melihat itu, tak tahan Siau-hong menegur.
"Kesedihan apa yang sedang mengganjal hatimu?"
"Tidak ada!"
"Mengapa menghela napas?"
"Karena aku tak menyangka ternyata kau masih bisa tertawa,"
Jawab orang berjubah putih itu sambil menghela napas. Jarang ada orang kecewa dan menghela napas hanya dikarenakan alasan semacam ini.
"Apa salahnya kalau aku masih bisa tertawa?"
Tak tahan kembali Siau-hong bertanya.
"Hanya ada satu hal yang tak bagus,"
Sahut orang itu.
"Orang yang masih sanggup tertawa berarti tak mungkin cepat mati!"
"Jadi kau berharap aku secepatnya mati?"
"Betul, makin cepat makin baik."
"Oh, jadi selama ini kau menguntit terus karena berharap aku segera mati?"
Seru Siau-hong, kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya.
"Kini, kau seharusnya sudah tahu kalau sedikit tenaga pun tak kumiliki lagi, kenapa kau tidak segera membunuhku!"
"Aku tak punya dendam tak punya permusuhan denganmu, kenapa harus membunuhmu?"
"Kalau memang tak ada dendam maupun permusuhan, kenapa kau berharap aku cepat mati?"
"Karena cepat atau lambat kau bakal mati, bukan hanya aku saja yang berharap kau cepat mati, elang itu pun pasti berharap kau cepat mati!"
Elang itu memang masih terbang berkeliling di atas kepala mereka.
"Jadi kau pun seperti burung elang itu, menunggu untuk melahap daging badanku?"
Tegur Siau-hong.
"Setelah kau mati, cepat atau lambat jenazahmu tetap akan membusuk dan hancur. Sekalipun dimakan elang itu, bagimu toh sama sekali tak ada ruginya."
"Bagaimana dengan kau sendiri?"
"Aku tak ingin melahapmu, aku hanya menginginkan pedang di sampingmu itu."
"Bagaimana pun setelah mati aku tak bisa membawa pedang itu, kau ambil atau tidak, bagiku sama sekali tak rugi apa-apa."
"Tepat sekali."
"Walaupun kau berharap aku cepat mati, namun tak bakal turun tangan membunuhku."
"Aku memang tak pernah membunuh."
"Tapi bila orang itu pasti akan mati dan kenyataan ini tak terbantahkan, maka setelah dia mati, bagi siapa saja yang mengambil barang miliknya, hal ini sama sekali tak akan merugikan."
Kembali orang itu menghela napas panjang.
"Ai, sangat jarang ada orang bisa memahami teori semacam ini, tak kusangka ternyata kau memahaminya."
Siau-hong tersenyum.
"Justru karena banyak teori yang tak dimengerti orang lain baru dapat kupahami, maka selama ini hidupku selalu gembira dan riang."
Tiba-tiba ia melepas pedang yang tergantung di pinggangnya, kemudian sekuat tenaga dilemparkan ke hadapan orang itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Sedikit di luar dugaan orang itu bertanya dengan tercengang.
"Aku ingin menghadiahkan pedang ini untukmu."
"Tapi pedang itu ternama dan mahal harganya."
"Ternyata ketajaman matamu sungguh mengagumkan."
"Kau belum mati, kenapa kau hadiahkan pedang itu untukku?"
"Karena di saat aku hidup dengan penuh kegembiraan, aku pun berharap orang lain ikut gembira."
Sewaktu tertawa dia memang tampak sangat gembira.
"Bagaimana pun aku sudah hampir mati, cepat atau lambat pedang ini tetap akan jadi milikmu, kenapa aku tidak menghadiahkan lebih cepat kepadamu agar kau pun ikut gembira?"
"Aku dapat menunggu,"
Kata orang itu.
"Menunggu kematian bukan pekerjaan yang menyenangkan, terlepas sedang menunggu kematian sendiri atau menunggu kematian orang, keduanya sama-sama tak menyenangkan. Aku tak pernah mau melakukan perbuatan yang tak menyenangkan, aku pun tak ingin orang lain...."
Orang itu menatapnya dengan sepasang mata elangnya yang tajam, tiba-tiba dia ikut menghela napas.
"Ternyata kau adalah manusia yang sangat aneh, aneh setengah mati."
"Tepat sekali pernyataanmu itu,"
Sahut Siau-hong sambil tertawa.
"Tapi bila kau ingin menggunakan cara ini untuk mengetuk hatiku, agar aku menolongmu, maka pemikiranmu itu keliru besar, selama hidup belum pernah hatiku terketuk oleh siapa pun."
"Aku dapat melihatnya."
Sekali lagi orang itu mengawasinya dengan mata melotot, tiba-tiba serunya.
"Sampai berjumpa lagi!"
Seringkali arti kata "sampai berjumpa lagi"
Bukan berarti masih ingin bertemu lagi lain waktu, tapi selamanya tak akan berjumpa lagi.
Gerakan tubuhnya tidak terlampau cepat, dia tak akan menghamburkan sedikit tenaga pun dalam keadaan yang tak perlu.
Sementara pedang itu masih tertinggal di atas tanah.
"Kau telah melupakan pedangmu,"
Seru Siau-hong cepat.
"Tidak, sama sekali tidak melupakan."
"Mengapa kau tidak membawa pergi pedang itu?"
"Bila kau sudah mati, aku pasti akan membawa pergi pedang itu,"
Jawab orang itu.
"Bukankah pedang itu telah kuhadiahkan kepadamu? Masa kau menampiknya?"
"Selama hidup aku belum pernah mau barang milik orang hidup,"
Kata orang itu cepat, kemudian lanjutnya.
"Dan sekarang kau masih hidup."
"Jadi kau tak mau semua barang milik orang hidup?"
"Tidak mau."
"Tapi ada berapa jenis barang yang tak mungkin dimiliki orang mati, seperti misalnya persahabatan."
Orang itu memandangnya dengan sinar dingin, seakan belum pernah mendengar kata "persahabatan".
"Kau belum pernah memiliki sahabat?"
Tanya Siau-hong.
"Tidak!"
Jawaban orang itu singkat dan tegas.
Dia mulai berjalan lagi ke depan, tapi hanya selangkah kemudian berhenti lagi, karena secara tiba-tiba ia mendengar berkumandangnya suara derap kaki kuda yang amat ramai dari kejauhan, suara itu gemuruh seperti suara genderang perang, penuh diliputi hawa pembunuhan yang kental.
Kemudian ia menyaksikan debu beterbangan dari belakang gundukan pasir, ternyata yang datang bukan hanya seekor kuda seorang.
Parasnya yang kurus seketika terlintas perubahan mimik yang sangat aneh, tiba-tiba ia berbaring, berbaring di bawah bayang-bayang gundukan pasir, mengawasi elang pemangsa yang terbang berputar makin lama semakin rendah.
Suara derap kaki kuda semakin mendekat.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar desingan angin tajam bergema membelah angkasa dan melesat ke tengah udara.
Tampaknya sang elang memiliki firasat yang tajam, dia seakan sudah merasakan gejala yang tidak menguntungkan bagi dirinya, ia siap terbang melesat ke tengah angkasa.
Sayang gerakannya terlambat selangkah, di mana angin tajam menyambar, tiba-tiba tubuhnya menggelepar di tengah angkasa, kemudian rontok jatuh ke bawah, meluncur jatuh disertai sebatang anak panah.
Sebatang anak panah berbulu sepanjang tiga kaki menerjang dari bawah sayap kirinya langsung tembus ke punggung kanannya, membuat tubuh elang itu meluncur jatuh dan tak pernah bergerak lagi.
Padahal waktu itu si pemanah masih berjarak tiga puluh tombak dari tempat itu, namun anak panah yang dilepas olehnya dapat menembus tubuh elang itu secara telak.
Sambil menghela napas gumam Siau-hong.
"Terlepas siapa pun orang itu, aku berharap dia datang bukan lantaran sedang mencari aku."
Suasana terasa begitu hening, sepi, langit nan biru serasa makin suram, suara derap kaki kuda telah berhenti di kejauhan sana, debu dan pasir yang beterbangan pun telah mereda.
Elang kelaparan yang sedang menanti untuk makan daging jenazah pun kini hanya bisa menunggu orang lain melahap daging tubuhnya.
Semua irama kehidupan seolah terhenti pada detik itu, namun kehidupan tetap harus berlanjut, suasana hening seperti ini tak mungkin berlangsung terlalu lama.
Tak selang beberapa saat kemudian, suara derap kaki kuda kembali berkumandang, tiga ekor kuda secepat anak panah terlepas dari busur berlari mengitari gundukan pasir dan bergerak mendekat, orang pertama adalah seorang lelaki bermantel hitam dengan ikat pinggang berwarna merah, di sisi pelana tergantung anak panah, dalam genggamannya memegang gendawa, sedang sebilah golok tergantung di pinggangnya.
Baru saja kuda itu berhenti, dia telah berdiri di depan kudanya, manusia dan kuda sama-sama cekatan, yang luar biasa adalah sinar matanya yang tajam menggidikkan, membuat siapa pun tak berani menatapnya kelewat lama.
"Aku bernama Wi Thian-bong."
Suara itu rendah dan berat, penuh keangkeran dan keangkuhan.
Dia hanya menyebut nama sendiri, seolah nama itu sudah cukup menerangkan segala sesuatunya, karena setiap orang seharusnya pernah mendengar namanya dan siapa pun yang pernah mendengar nama itu seharusnya bersikap hormat dan patuh kepadanya.
Tapi dua orang yang sedang terkapar di hadapannya sama sekali tak bergerak, sedikit reaksi pun tak ada.
Sinar mata Wi Thian-bong yang tajam bagai mata golok sedang mengawasi wajah Siau-hong tanpa berkedip, mendadak tegurnya.
"Tampaknya kau sudah berjalan banyak hari di tengah gurun pasir, pasti telah bertemu dengan badai pasir itu."
Siau-hong tidak menjawab, dia hanya tertawa getir. Baginya badai itu pada hakikatnya bagaikan sebuah impian yang sangat buruk.
"Dalam dua hari belakangan, apakah kau telah menjumpai seseorang yang mencurigakan?"
Kembali Wi Thian-bong bertanya.
"Ya, aku telah bertemu seseorang,"
Jawab Siau-hong.
"Siapa?"
"Aku!"
Kontan Wi Thian-bong menarik wajahnya, dia paling tak suka gurauan semacam ini, tegurnya ketus.
"Bila bertemu orang yang mencurigakan, aku hanya mempunyai satu cara untuk menghadapinya."
"Aku tahu."
"Apa yang kau ketahui?"
"Bila bertemu orang yang mencurigakan, kau pasti akan memotong hidungnya, lalu memotong sebuah telinganya, memaksa dia mengakui asal-usul serta identitasnya, kemudian sekali bacok kau habisi nyawanya."
"Apakah kau akan mengatakan juga bahwa dirimu adalah orang yang mencurigakan?"
Ejek Wi Thian-bong dingin. Siau-hong menghela napas panjang.
"Mau mengatakan atau tidak sama saja hasilnya. Bila manusia seperti aku bukan orang yang mencurigakan, siapa lagi yang pantas dicurigai?"
"Kau ingin aku menggunakan cara itu untuk menghadapimu?"
"Bagaimana pun juga aku toh sudah hampir mati, terserah cara apa yang hendak kau gunakan untuk menghadapiku, karena tak masalah lagi untukku."
"Tapi kau bisa saja tak usah mati, asal ada sekantung air sekerat daging, maka nyawamu pasti akan terselamatkan."
"Aku tahu."
"Aku punya air, aku pun punya daging,"
Kembali Wi Thian-bong berkata.
"Aku mengerti."
"Mengapa kau tidak memohon kepadaku?"
"Kenapa aku harus memohon kepadamu?"
"Karena aku dapat menyelamatkan jiwamu!"
Siau-hong segera tertawa.
"Bila kau bersedia menolongku, tak perlu aku memohon kepadamu. Bila kau enggan menolongku, memohon pun tak ada gunanya."
Wi Thian-bong menatapnya tajam, menatap tubuhnya dari atas hingga ke bawah, tapi secara tiba-tiba gendawanya sudah ditarik kencang, anak panah telah terpasang di atas busur dan...
"Sreeeet!", sebatang anak panah telah dilepaskan. Siau-hong tetap tak bergerak, bahkan mata pun tak berkedip, sebab dia sudah melihat sasaran anak panah itu bukan tertuju ke arah dirinya. Anak panah itu dibidikkan ke arah orang berjubah putih bermata elang, yang diarah pun bagian tubuh yang mematikan. Selama ini Wi Thian-bong seakan tak pernah menengok ke arahnya, walau sekejap pun, tapi panah yang dilepaskan tepat mengancam tenggorokannya. Wi Thian-bong berjuluk Nu-ciam-sin-kiong (Panah amarah gendawa sakti) selalu tepat sasaran, tak sekali pun meleset dari targetnya. Tapi kali ini ada pengecualian. Orang berjubah putih itu hanya menggerakkan kedua jari tangannya, tahu-tahu anak panah yang dilepas itu sudah terjepit di antara jari tangannya. Biji mata Wi Thian-bong segera berputar, cahaya setajam sinar golok pun memancar keluar dari balik matanya. Menyusul dua orang pemuda berpakaian ketat yang berada di sisinya telah mencabut golok Sian-hong-to mereka. Tiba-tiba Wi Thian-bong mengayunkan tangan, dengan gagang busurnya yang terbuat dari baja, dia pukul golok di tangan mereka hingga rontok. Kedua orang pemuda itu melengak.
"Tahukah kalian, siapakah orang itu?"
Kata Wi Thianbong sambil tertawa dingin.
"Hmm, hanya mengandalkan kemampuan kalian berdua, berani mencabut golok?"
Kemudian perlahan-lahan ia membalikkan badan, menghadap ke arah orang berjubah putih itu dan lanjutnya ketus.
"Bila kau menyangka dengan berlagak tidur di atas tanah pura-pura mampus, lantas aku tak mengenal dirimu lagi, maka kau keliru besar."
"Jadi kau kenal dia? Siapa dia?"
Tak tahan Siau-hong bertanya.
"Dia adalah Po Eng!"
"Po Eng!"
Siau-hong membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar.
Siapa pun itu orangnya, bila bertemu orang ini, sepasang mata mereka pasti akan terbelalak lebar, karena di dunia persilatan nyaris tiada orang kedua yang lebih misterius daripada orang ini.
Dalam perjalanan hidupnya yang hingar-bingar terdapat banyak kisah cerita, dan setiap kisahnya selalu dipenuhi dengan misteri.
Siau-hong menghembuskan napas panjang, gumamnya.
"Sungguh tak kusangka, akhirnya pada hari ini aku dapat berjumpa dengan Po Eng!"
"Aku pun tak menyangka,"
Sambung Wi Thian-bong.
"Kau punya dendam dengannya?"
"Tak ada."
"Mengapa kau ingin membunuhnya?"
"Karena aku ingin menjajal, benarkah dia adalah Po Eng."
"Kalau dia adalah Po Eng, tak mungkin ia mati tersambar panahmu. Bila dia mati, berarti orang itu bukan Po Eng."
"Tepat sekali."
"Bila ia mati, yang mati tak lebih hanya seorang yang tak tahu diri. Nu-ciam-sin-kiong-can-kui-to (Panah amarah busur sakti golok pemenggal setan) sudah lama malangmelintang di dunia persilatan, meski salah membunuh orang bukanlah sesuatu hal yang luar biasa."
"Benar, bukan hal yang luar biasa,"
Wi Thian-bong membenarkan, kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dingin.
"Demi uang emas sebanyak tiga puluh laksa tahil, biarpun salah membunuh tiga sampai lima ratus orang lagi pun bukan masalah."
"Tiga puluh laksa tahil emas? Dari mana datangnya tiga puluh laksa tahil emas?"
Tanya Siau-hong keheranan.
"Aku tahu dari mana uang itu berasal, tapi tak tahu ke mana uang itu lari."
Hari ini adalah bulan sembilan tanggal enam belas, selisih dari hari kematian Thiat Gi yang mengenaskan serta terbegalnya uang emas baru tiga-empat hari.
Kasus perampokan yang sangat menggemparkan dunia persilatan ini belum ketahuan orang persilatan.
"Apakah kau menyangka dia pasti tahu?"
Kembali Siauhong bertanya. Wi Thian-bong tertawa dingin.
"Po-toakongcu sangat terhormat, kalau bukan lantaran tiga puluh laksa tahil emas, buat apa dia mesti bersusahpayah datang ke tempat gersang yang jauh dari arak wangi dan perempuan cantik?"
Ooo)d*w(ooO BAB 2. PANAH AMARAH "Benar!"
Siau-hong manggut-manggut.
"Po-toakongcu sekali keluar uang, ribuan tahil bisa melayang, selama ini memandang harta bagaikan tahi kerbau, kalau bukan lantaran seringkali memperoleh tambahan dari luar. Dari mana dia peroleh begitu banyak uang yang bisa dihamburkan semau sendiri?"
"Benar,"
Sekali lagi Siau-hong mengangguk, namun setelah dipikir sejenak, tiba-tiba ujarnya.
"Hanya ada satu hal yang kurang tepat."
"Hal apa?"
"Seberapa banyak uang emas tiga puluh laksa tahil? Aku tak tahu karena belum pernah kulihat emas sebanyak itu, aku hanya tahu sekalipun ada orang menghadiahkan emas sebanyak tiga puluh laksa tahil kepadaku pun belum tentu aku sanggup mengangkutnya."
Kemudian setelah tertawa, kembali ujarnya.
"Kau anggap Po-toakongcu seorang diri sanggup mengangkut emas sebesar tiga puluh laksa tahil?"
"Dari mana kau tahu kalau dia hanya sendirian?"
Jengek Wi Thian-bong dingin.
"Aku memang datang lantaran persoalan ini!"
Tiba-tiba Po Eng buka suara. Sekali lagi biji mata Wi Thian-bong berkerut kencang.
"Pengeluaranku memang amat besar,"
Kembali Po Eng berkata.
"Jadi emas itu memang tepat untuk menutup semua ongkos dan pengeluaranku."
"Tiga puluh laksa tahil emas bukan jumlah yang sedikit,"
Seru Wi Thian-bong. Ternyata Po Eng tidak menyangkal.
"Betul, memang bukan jumlah yang kecil."
"Oleh karena itu uang emas sebanyak itu teramat susah disembunyikan walau terjatuh ke tangan siapa pun."
"Memang susah sekali."
"Kalau memang susah disembunyikan, berarti lebih susah lagi untuk mengangkutnya pergi."
Tiga hari setelah kejadian perampokan itu, seluruh kawasan di seputar sana telah dikelilingi para pemburu emas, memang tidak mudah untuk mengangkut tiga puluh laksa tahil emas dari tempat itu tanpa diketahui orang lain.
Wi Thian-bong menatap tajam wajah Po Eng, katanya lagi dengan ketus.
"Oleh karena itu kuanjurkan, lebih baik serahkan semua emas itu kepadaku."
Tiba-tiba Po Eng menutup wajahnya dengan topi yang dikenakan, sama sekali tak menggubris dirinya lagi.
"Dari mana kau bisa tahu kalau emas itu jatuh ke tangannya?"
Tak tahan Siau-hong bertanya lagi.
"Jago yang mengawal emas murni itu adalah Thiat Gi."
"Thiat-tan-sin-jiong (Peluru baja tombak sakti) Thiat Gi?"
Wi Thian-bong manggut-manggut, balik tanyanya.
"Ada berapa banyak jago dalam dunia persilatan yang mampu membunuhnya?"
"Tidak banyak."
"Tahukah kau, di saat emas itu dirampok, Thiat Gi beserta ketiga puluh enam jago thiat-hiatnya mati dalam keadaan mengenaskan?"
"Tidak tahu."
"Dari mana Po-toakongcu bisa tahu?"
Siau-hong tidak bicara lagi.
Wi Thian-bong dengan tangan sebelah memegang busur, tangan yang lain sudah mulai menggenggam gagang golok yang tersoreng di pinggangnya.
Biarpun goloknya belum dicabut dari dalam sarungnya, dari balik matanya telah terpancar napsu membunuh yang jauh lebih menakutkan daripada mata golok.
Kalau bisa Siau-hong ingin sekali menyingkap topi yang menutupi wajah Po Eng, agar dia dapat melihat sorot mata lawan yang menakutkan itu.
Bila golok sudah dilolos dari sarungnya, setan pun dapat ditebas Wi Thian-bong dengan sekali bacokan, apalagi hanya seorang yang menutupi wajahnya dengan topi.
Apalagi dalam kantung kulitnya masih terdapat anak panah, panah amarah yang lebih dahsyat dari guntur, lebih cepat daripada kilat.
Topi itu masih menutupi wajahnya, golok pun masih berada dalam sarung.
Tiba-tiba dari balik gundukan pasir berkumandang suara jeritan ngeri yang memilukan.
"Semi kolarkolo!"
Tentu saja Siau-hong tidak mengerti apa arti teriakan itu, namun ia dapat mendengar jeritan itu dicekam perasaan takut yang luar biasa, rasa takut, ngeri seakan ada seseorang hendak mencabik-cabik tubuhnya.
Ketika ia mendengar jeritan ngeri itu, Wi Thian-bong bagai panah yang terlepas dari busur telah melejit ke depan, melewati gundukan pasir.
Sebetulnya ia sudah tak memiliki kekuatan tubuh lagi, jangankan berdiri, bergerak pun sudah tak sanggup lagi, tapi ia termasuk pemuda yang rasa ingin tahunya sangat kuat, kadang kala rasa ingin tahu merupakan salah satu penggerak kekuatan yang dimiliki manusia, menggerakkan kekuatan terpendam yang paling purba dari makhluk manusia.
Ternyata dia ikut melompat bangun, mengikut di belakang Po Eng, melewati gundukan pasir itu.
Begitu keluar dari gundukan pasir, dia pun menyaksikan sebuah pemandangan seram yang selama hidup tak mungkin akan terlupakan.
Coba kalau lambungnya saat ini tidak berada dalam keadaan kosong, kemungkinan besar ia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya.
Kuda masih berlari kalap, namun tubuh manusia telah terkapar tumpang tindih.
Tiga puluh enam jago pedang kilat angin puyuh anak buah Wi Thian-bong, sudah ada tiga puluh empat orang yang roboh bersimbah darah.
Golok mereka rata-rata belum sempat dicabut dari sarungnya.
Padahal kawanan jago itu merupakan jago golok kilat yang amat tersohor dalam dunia persilatan, namun belum sempat mereka melolos senjata, nyawa mereka sudah melayang di tangan orang.
Kematian orang-orang itu tidak mirip mati di tangan orang lain, tapi mati karena dicakar seekor kucing, sebab pada wajah setiap orang tertinggal tiga buah bekas cakaran kucing yang masih mengeluarkan darah.
Seorang berpakaian Tibet, dengan wajah luyuh dan sayu kini mengejang karena takut dan ngeri yang mencekam, sedang berlutut di atas tanah, mengangkat tinggi-tinggi sepasang tangannya dan berteriak berulang kali ke atas langit.
"Semi kolarkolo!"
Tahun ini Su-ma berusia lima puluh satu tahun, sejak umur tiga puluh empat tahun ia sudah bekerja sebagai penunjuk jalan bagi bangsa Han, kecuali Ma-luk, saudara satu sukunya, jarang ada yang hapal wilayah gurun pasir sehapal dirinya.
Gurun pasir yang tak berperasaan, bagaikan sebuah impian buruk yang menakutkan, walaupun terkadang bisa muncul pemandangan indah yang bisa membuat orang kalap dan gila, namun pada akhirnya hanya kematian yang datang menghampiri.
Baginya kematian sudah bukan merupakan suatu kejadian yang menakutkan, ia sudah terlalu sering menyaksikan tulang-belulang manusia yang mati tercecer di tengah gurun.
Selama hidup belum pernah juga terlihat ia begitu ketakutan, sedemikian takutnya hingga tubuhnya mengejang keras.
Ketakutan pun merupakan semacam penyakit yang sangat menular, seperti penyakit menular yang mematikan, melihat orang lain ketakutan, terkadang diri sendiri pun jadi ikut takut, ketakutan yang membingungkan.
Apalagi tiga puluh enam golok kilat angin puyuh yang nama besarnya telah menggetarkan sungai telaga, ternyata dalam waktu singkat nyaris mati mengenaskan secara bersamaan, peristiwa ini sendiri pun sudah merupakan sesuatu yang amat menakutkan.
Tiba-tiba saja Siau-hong merasakan kaki tangannya ikut dingin, dingin sebeku salju, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, meleleh melalui ujung hidungnya.
Sewaktu ia melompat bangun tadi, Po Eng masih berbaring, wajahnya masih tertutup topi, tapi ketika ia berputar ke balik gundukan pasir, ternyata Po Eng telah berdiri di situ.
Po Eng berdiri dengan wajah hambar, sama sekali tak nampak perubahan mimik mukanya.
Yang mengalir dalam tubuh Po Eng seakan bukan darah yang panas, melainkan air salju, air yang dingin.
Namun Siau-hong seolah mendengar mulutnya sedang menggumam lirih, mengulang mantra menakutkan yang didengarnya berulang kali.
"Semi kolarkolo!"
"Apakah kau mengerti apa arti mantra itu?"
Siau-hong segera bertanya.
"Aku mengerti."
"Apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku?"
"Bersedia."
"Apakah semi artinya beras yang terbuat dari batu kerikil?"
Kembali Siau-hong bertanya.
"Bukan, batu kerikil bukan beras, batu kerikil tak bisa jadi beras, batu kerikil tak bisa dimakan, bila batu kerikil bisa dimakan, tak ada orang yang mati kelaparan di dunia ini."
"Tapi aku seperti mendengar orang itu menyebut semi dan kau pun sempat mengulangnya."
"Itu bahasa Tibet!"
"Apa maksud semi dalam bahasa Tibet?"
"Kucing!"
"Kucing?"
"Ya, kucing!"
Kucing adalah sejenis binatang yang sangat penurut, binatang yang sering dijumpai dalam kehidupan manusia, jangankan orang dewasa, nona kecil berusia enam-tujuh tahun pun berani membopong kucing dalam pelukannya.
Kucing suka makan ikan.
Manusia pun suka makan ikan, makan lebih banyak ikan daripada kucing.
Kucing suka makan tikus.
Banyak orang takut tikus, namun jarang yang takut kucing.
"Apa seramnya seekor kucing? Ikan saja tak takut kucing, ikan hanya takut manusia, manusia yang menangkap ikan."
"Betul."
"Hanya tikus yang takut kucing."
"Tepat sekali!"
Tiba-tiba sinar mata elangnya memancarkan cahaya yang sangat aneh, seakan dia sedang mengawasi sebuah tempat menakutkan di kejauhan yang penuh diliputi kemisteriusan dan keanehan.
Tampaknya Siau-hong pun seakan terbius, terpengaruh oleh situasi penuh misteri ini, ternyata ia tidak bertanya lebih jauh.
Wi Thian-bong masih berusaha keras memulihkan kembali ketenangan Su-ma, minta dia untuk bercerita kembali kisah yang baru saja dialaminya, tapi sayang, orang Tibet yang paling gemar minum arak Cing-ko-ciu (arak dari sorgum) ini masih tetap tak mampu menenangkan hatinya.
Lewat lama kemudian Po Eng dengan nada perlahan baru berkata lebih jauh.
"Konon di ujung dunia terdapat sebuah puncak gunung yang lebih tinggi dari langit, bukan saja puncak gunung itu diselimuti salju abadi yang tak terhingga tebalnya, bahkan di sana pun hidup siluman iblis yang jauh lebih menakutkan dari setan mana pun..."
"Apakah kau maksudkan puncak Cu-mu-lang-ma (Himalaya)?"
Tanya Siau-hong. Po Eng manggut-manggut.
"Siluman iblis yang kumaksud adalah kucing,"
Katanya.
"Walaupun tubuhnya berwujud manusia, namun kepalanya masih tetap berupa kucing."
"Kolarkolo apa artinya?"
"Penyamun, bandit, rampok, semacam rampok yang sangat ganas dan jahat, bukan saja merampok harta kekayaan manusia, dia pun makan daging dan mengisap darah manusia."
Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.
"Kebanyakan mereka adalah orang-orang suku Gorlo yang hidup jauh di perbatasan Tibet, cara mereka hidup, budaya serta dialek bicara jauh berbeda dengan orang lain, bahkan sifat mereka buas, ganas dan barbar, jauh lebih buas dan kejam daripada orang-orang suku Kazak."
Akhirnya dia menambahkan lagi.
"Gorlo dalam bahasa Sansekerta masih memiliki arti lain"
"Apa artinya?"
"Kepala siluman."
Siau-hong menghela napas panjang.
"Ai, siluman iblis bertubuh manusia berkepala kucing, bandit berkepala siluman yang buas, ganas dan barbar...."
Dia pandang Su-ma sekejap, kemudian melanjutkan.
"Tak aneh orang ini ketakutan setengah mati, bahkan sekarang aku pun mulai merasa sedikit takut."
Mendadak Wi Thian-bong menarik tangan Su-ma yang tiada hentinya mengejang keras, jari tangannya satu demi satu dipentangkan dengan paksa.
Ternyata dia menggenggam sebuah panji kecil, di atas panji kecil itu tampak sebuah sulaman yang menggambarkan siluman iblis bertubuh manusia berkepala kucing.
Lagi-lagi Su-ma berlutut di tanah, dia menyembah panji kecil itu berulang kali, sementara mulutnya komat-kamit membaca mantera, setiap kata yang dikatakan tak jauh dari "Semi kolarkolo!".
Kini Siau-hong sudah memahami arti perkataan itu, bandit berkepala kucing!
Akhirnya Su-ma berhasil menenangkan hatinya, dia pun mulai menceritakan semua peristiwa yang disaksikannya barusan.
Ketiga puluh empat orang golok kilat angin puyuh ternyata tewas di tangan bandit berkepala kucing ini.
Mereka muncul secara tiba-tiba bagaikan setan gentayangan, tubuh mereka berwujud manusia tapi berkepala kucing, di atas jidat masing-masing tumbuh telinga kucing yang menyerupai tanduk.
Mereka benar-benar memiliki daya pengaruh iblis yang aneh tapi mematikan, karena itu kawanan jago golok kilat yang sudah lama berlatih diri pun tewas secara mengenaskan di tangan mereka, mereka tak sempat mencabut senjata masing-masing.
Mereka sengaja membiarkan Su-ma tetap hidup, karena mereka ingin orang Tibet ini menyampaikan pesan kepada Wi Thian-bong.
Merekalah yang telah merampok emas itu dan membunuh orang, barang siapa berani melacak dan menyelidiki peristiwa ini, dia bakal mati secara mengenaskan, setelah mati sukmanya akan dibekuk dan dimasukkan ke penjara salju abadi di puncak gunung Cumu-lang-ma hingga sepanjang masa tersiksa oleh dinginnya salju dan tak pernah bisa reinkarnasi kembali.
Langit lambat-laun semakin gelap, seluruh jagat raya seolah secara tiba-tiba diselimuti hawa dingin yang menyayat dan penuh hawa pembunuhan.
Siau-hong ingin sekali mencari arak Cing-ko-ciu untuk menghangatkan tubuh.
Di setiap saku kawanan jago golok kilat angin puyuh itu, meski tidak membawa arak, paling tidak mereka membawa air, sekarang air itu sudah tak berguna lagi bagi mereka.
Tapi para begal kucing bukan saja telah merenggut nyawa mereka, bahkan kantung kulit kambing berisi air yang mereka gembol pun ikut dirampas.
Dengan tenang Wi Thian-bong mendengarkan penuturan Su-ma hingga selesai, tiba-tiba ia membalikkan badan, lalu sambil menatap Po Eng tanyanya.
"Kau percaya perkataannya?"
"Tidak kutemukan alasan mengapa dia harus berbohong,"
Jawab Po Eng tenang.
"Jadi kau percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat makhluk siluman bertubuh manusia berkepala kucing?"
Dengus Wi Thian-bong sambil tertawa dingin.
"Kau tidak percaya?"
"Aku pun tidak percaya,"
Tiba-tiba Siau-hong menyela.
"Tapi aku percaya kalau tiga puluh laksa tahil emas itu pasti dirampok kawanan begal kucing."
"Siapa pun itu orangnya, asal dia mengenakan topeng berwajah kucing, maka dia pun bisa menyebut diri sebagai begal kucing,"
Kata Wi Thian-bong.
"Siapa mampu berbuat begitu?"
Tanya Siau-hong seolaholah menegaskan.
"Siapa orangnya yang dapat membunuh tiga puluh empat orang jago golok kilat angin puyuh dalam sekejap mata? Siapa pula orang yang sanggup menghabisi nyawa Peluru baja tombak sakti beserta ketiga puluh enam orang darah bajanya?"
Wi Thian-bong terbungkam, ia tak mampu bicara lagi.
Sekalipun begal kucing bukan siluman iblis tapi manusia, dia pastilah manusia yang sangat menakutkan.
Bukan saja sepak-terjang mereka tak menentu, bahkan pasti memiliki ilmu silat yang penuh misteri dan hebat.
"Aku hanya percaya satu hal,"
Tiba-tiba Po Eng menyela.
"Soal apa?"
"Bila mereka ingin membunuh seseorang, pastilah hal ini bukan suatu pekerjaan yang terlalu sulit."
Berubah paras Wi Thian-bong. Ditatapnya wajah orang itu dengan pandangan dingin, kemudian Po Eng berkata lagi.
"Ada satu hal lagi harus kau pahami."
"Katakan!"
"Jika aku adalah begal kucing, sekarang kau sudah menjadi orang mati."
Wi Thian-bong tidak bicara lagi, dia membalikkan tubuh langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, Siau-hong mengira dia bakal turun tangan.
Tangan yang digunakan untuk menggenggam golok telah berubah mengejang, setiap ruas, setiap otot jari tangannya telah memutih karena genggamannya yang sangat kuat.
Ilmu goloknya dapat dipastikan berada pada deretan sepuluh besar di antara ilmu golok tersohor lainnya di kolong langit, Golok Pemenggal setannya tajam dan berat, bahkan istimewa panjangnya.
Perawakan tubuhnya pun jauh lebih tinggi besar bila dibandingkan Po Eng.
Sebaliknya Po Eng kelihatan kecil dan lemah, kecuali sepasang matanya yang tajam bagai mata elang, bagian tubuh lainnya kelihatan sangat lemah, khususnya sepasang tangannya itu, jauh lebih halus dan lembut daripada tangan seorang wanita.
Bahkan Siau-hong pun tidak percaya kalau dia sanggup menghadapi Panah amarah busur sakti golok pemenggal setan yang namanya telah menggetarkan kolong langit ini.
Tapi jalan pikiran Wi Thian-bong justru bertolak belakang.
Oleh karena itulah dia pergi, pergi dengan mengajak serta dua orang pengawalnya yang tersisa dari tiga puluh enam golok kilat angin puyuh, berlalu tanpa mengucapkan separah kata pun.
Tak dapat disangkal Wi Thian-bong memang seorang jago yang pandai mengendalikan diri, dia banyak pengalaman dan luas pengetahuannya, bahkan sikapnya dingin dan sadis, pandai melihat gelagat.
Sewaktu berlalu, dia bahkan tidak memandang lagi mayat-mayat yang berserakan di atas pasir, walau sekejap pun, meski mereka adalah anak muridnya, tapi sekarang sama sekali tak berguna.
Siau-hong tak kuasa menahan diri, dia segera bertanya.
"Kenapa kau tidak mengubur mereka terlebih dulu sebelum pergi?"
Jawaban yang diberikan Wi Thian-bong seperti sikapnya sewaktu melakukan pekerjaan lain, membuat orang tercengang dan tanpa kompromi.
"Aku telah mengubur mereka secara massal,"
Katanya.
"Mengubur secara alami!"
Po Eng belum beranjak pergi.
Lagi-lagi dia membaringkan diri, berbaring di belakang gundukan pasir tempat yang ideal untuk berteduh dari hembusan angin, bahkan menggunakan jubah putihnya yang lebar untuk membungkus tubuhnya.
Gurun pasir tak ubahnya bagaikan seorang wanita yang banyak bertingkah, sewaktu panas, dia dapat membakar tubuhmu, tapi ketika dingin, ia dapat membuat peredaran darahmu membeku.
Begitu menjelang malam, gurun pasir yang semula panas gersang bagai api membara akan berubah jadi dingin membekukan badan, ditambah lagi dengan kegelapan yang tiada bertepian, tanpa berisik tanpa menimbulkan suara, seakan telah membinasakan seluruh kehidupan di dunia ini.
Tiada seorang pun bersedia menyerempet bahaya semacam ini.
Kini langit baru saja menjadi gelap, jelas Po Eng berencana untuk tetap tinggal di sana melewatkan malam panjang yang tak berperasaan.
Siau-hong duduk di sampingnya, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa.
"Benar-benar minta maaf."
"Kenapa harus minta maaf?"
"Karena ketika mendusin esok pagi, aku pasti masih hidup, bila kau ingin menunggu kematianku, pasti harus menunggu lama sekali."
Dia telah menemukan bangkai elang yang siang tadi ingin melahap tubuhnya, sekarang ia sedang bersiap melahap bangkai elang itu. Kembali ujarnya sambil menghela napas.
"Sekarang aku baru tahu, ketika berada dalam keadaan terdesak, seorang akan berubah tak bedanya dengan seekor elang pemakan bangkai."
"Di saat biasa pun mereka tak ada bedanya...."
Sela Po Eng.
"O, ya?"
"Setiap hari kau makan daging sapi?"
"Ya, makan!"
"Bukankah daging sapi yang kau makan berasal dari bangkai sapi."
Siau-hong tertawa getir. Dia memang hanya bisa tertawa getir, walaupun perkataan Po Eng tajam, sadis tanpa perasaan, namun perkataannya sukar terbantahkan. Hingga kini "Ci-hu"
Belum roboh.
Ia bisa bertahan sampai sekarang karena Siau-hong telah memberi sisa air terakhir yang dimilikinya untuk kuda itu, meski kuda tergolong binatang namun sifat binatang kuda sangat tipis dibandingkan manusia, paling tidak ia tak doyan anyirnya darah.
Dia pun bukan pemakan bangkai.
Tiba-tiba Po Eng berkata lagi.
"Kau bukan saja mempunyai pedang yang bagus, ternyata mempunyai kuda yang hebat pula."
"Sayangnya aku adalah manusia yang tak terhitung orang baik,"
Sahut Siau-hong sambil tertawa getir.
"Oleh karena itulah orang lain menjulukimu Siau-hong yang tak mau nyawa sendiri."
"Hah, jadi kau tahu?"
Seru Siau-hong agak terperanjat. Kini langit sudah semakin gelap, susah untuk melihat perubahan mimik wajahnya, namun suaranya masih dipenuhi rasa terkejut bercampur keheranan.
"Dari mana kau bisa tahu?"
Teriaknya lagi.
"Hanya sedikit yang tidak kuketahui."
"Apa lagi yang kau ketahui?"
"Kau memang seorang pemuda yang benar-benar tak mau nyawa sendiri, watak keras luar biasa, tulang keras luar biasa, terkadang royal setengah mati, terkadang juga miskin bukan kepalang, ada kalanya menginginkan nyawa orang lain, ada kalanya juga orang lain menginginkan nyawamu."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan hambar.
"Kini paling tidak ada tiga belas orang sedang menguntitmu, menginginkan nyawamu."
Bukannya takut, Siau-hong malah tertawa lebar.
"Hahaha, cuma tiga belas orang?"
Katanya.
"Aku malah menyangka masih ada lebih banyak lagi."
"Padahal tak perlu tiga belas orang datang semua, asal dua orang di antaranya muncul di sini pun sudah lebih dari cukup."
"Dua orang yang mana?"
"Siu-hun-jiu (Tangan maut pencabut nyawa) dan Sui-gin (Air raksa)"
"Air raksa?"
"Kau belum pernah mendengar nama orang ini?"
"Siapa Sui-gin itu? Manusia macam apa dia?"
"Tak seorang pun tahu manusia macam apakah dia, bahkan laki perempuan pun tak ada yang tahu. Aku hanya tahu dia adalah seorang pembunuh, seseorang yang hidup sebagai pembunuh."
"Bukan hanya dia seorang yang hidup sebagai pembunuh."
"Tapi paling tidak harga yang dia minta untuk satu nyawa sepuluh kali lipat lebih mahal dari tawaran orang lain, sebab belum pernah korbannya berhasil lolos dari tangannya."
"Aku sangat berharap dia adalah seorang wanita, seorang nona cilik yang cantik dan menawan. Bila aku harus mati, mati di tangan seorang gadis cantik jauh lebih nyaman dan menyenangkan."
"Mungkin saja dia seorang wanita, mungkin seorang nona kecil yang cantik jelita, tapi mungkin juga dia adalah seorang kakek bangkotan, bahkan seorang nenek peyot."
"Mungkin juga dirimu!"
Siau-hong menambahkan. Po Eng tidak langsung menjawab, ia termenung dulu, lewat lama kemudian baru jawabnya.
"Mungkin juga aku!"
Angin berhembus makin dingin, kegelapan malam semakin mencengkeram seluruh jagat, dua orang itu berbaring tenang di tengah kegelapan malam, masingmasing tak dapat melihat perubahan mimik muka lawannya.
Kembali lewat lama sekali, tiba-tiba Siau-hong berkata lagi sambil tertawa.
"Aku tidak sepatutnya mencurigai dirimu."
"O, ya?"
"Kalau kau adalah Air raksa, sekarang aku pasti sudah menjadi orang mati!"
"Aku belum membunuhmu, mungkin saja karena aku memang tak perlu terburu napsu,"
Kata Po Eng dingin.
"Mungkin."
"Oleh karena itu, begitu ada kesempatan, kau seharusnya segera berusaha membunuhku."
"Kalau kau bukan Air raksa?"
"Lebih baik salah bunuh daripada dibunuh orang."
"Aku pernah membunuh orang, tapi belum pernah salah membunuh orang baik."
"Berarti semua yang kau bunuh adalah orang yang pantas mati?"
"Tepat sekali."
"Tapi aku tahu, paling tidak kau telah salah membunuh seseorang."
"Siapa?"
"Lu Thian-po"
Setelah berhenti sejenak, kembali Po Eng melanjutkan.
"Padahal kau tahu, dia adalah putra tunggal Hok-kui-sinsian (Dewa kaya dan terhormat), kau pun sudah tahu bila membunuh Lu Thian-po, maka dia tak bakal melepaskan dirimu. Tentu kau juga tahu banyak orang persilatan yang bersedia menjual nyawa untuknya."
"Aku tahu."
"Mengapa kau harus membunuhnya?"
"Karena dia pantas mati, pantas dibunuh."
"Tapi setelah berhasil membunuhnya, kau sendiri pun tak bisa hidup lebih lama lagi."
"Sekalipun setelah membunuhnya aku segera bakal mati, aku tetap harus membunuhnya."
Tiba-tiba suaranya penuh diliputi hawa amarah yang kental, terusnya.
"Sekalipun tubuhku bakal dicincang orang hingga hancur berkeping-keping, meski sukmaku bakal dijebloskan ke neraka delapan belas tingkat, aku tetap akan membunuhnya, dia tetap harus mati."
"Asal kau menganggap orang itu pantas dibunuh, apakah kau tetap akan membunuhnya, terlepas siapakah dirinya, semuanya sama saja?"
"Betul, biarpun dia kaisar yang memerintah negeri ini pun aku tetap akan membunuhnya."
Tiba-tiba Po Eng menghela napas, ujarnya.
"Ai, maka saat ini kau hanya menunggu orang lain datang mencabut nyawamu!"
"Aku selalu menunggu, setiap saat setiap detik selalu menunggu."
"Kau tak bakal menunggu terlalu lama,"
Kata Po Eng dengan nada berat dan dalam.
Kegelapan yang tak bertepian, keheningan bagai semuanya telah mati, tiada cahaya, tiada suara, tiada kehidupan.
Siau-hong sendiri pun tahu, dia tak perlu menunggu terlalu lama, dari hati kecilnya telah timbul semacam firasat tak baik.
Air raksa adalah cairan yang dapat menyusup setiap lubang pori, dia tak akan melepaskan setiap kesempatan yang dijumpai.
Air raksa ketika bergerak sama sekali tidak menimbulkan suara.
Asal kau biarkan setetes air raksa mengalir masuk ke dalam tubuhmu, dia akan mengelupas seluruh kulit tubuhmu.
Bila seseorang sampai disebut Sui-gin, air raksa, tentu saja dia mempunyai sebab-musababnya.
Siau-hong sendiri pun tahu, dia pastilah seseorang yang teramat menakutkan!
Luka yang dideritanya tidak terhitung ringan, mulut luka sudah mulai membusuk, darah dan daging seekor elang belum cukup untuk memulihkan kekuatan tubuhnya, berada dalam keadaan seperti ini tampaknya dia hanya bisa menanti datangnya saat kematian.
Menunggu saat ajal sesungguhnya merupakan satu kejadian yang menakutkan, bahkan jauh lebih menakutkan dari 'kematian' itu sendiri.
Tiba-tiba Po Eng bertanya lagi.
"Tahukah kau manusia macam apakah Siu-hun-jiu, si Tangan maut pencabut nyawa?"
"Aku tahu!"
Siu-hun-jiu, si Tangan maut pencabut nyawa berasal dari marga Han, bernama Cang.
Orang ini tidak terlalu sering berkelana dalam dunia persilatan, tapi namanya sangat tersohor, karena dia adalah salah satu dari empat jagoan yang dipelihara Hok-kui-sinsian.
Senjata andalannya adalah sebuah senjata khas yang disebut Tangan maut pencabut nyawa, sudah lama punah dari kalangan dunia persilatan.
Bukan saja jurus serangannya ganas, keji dan mematikan, entah berapa banyak nyawa sudah lenyap di ujung senjata itu.
"Tapi ada satu hal kau pasti tak tahu,"
Ucap Po Eng.
"Soal apa?"
"Dia masih mempunyai julukan lain, semua sahabatnya memanggilnya dengan sebutan itu."
"Apa julukannya?"
"Si buta!"
Buta bukanlah sesuatu yang menakutkan.
Tapi begitu mendengar julukan itu, Siau-hong segera merasakan hatinya seolah tenggelam ke dasar samudra.
Orang buta tak bisa melihat apa-apa, ketika seorang buta hendak membunuh seseorang, dia tak perlu melihat korbannya karena dia tetap dapat menghabisi nyawanya.
Di tengah kegelapan malam seperti ini pun seorang buta tetap dapat membunuh lawannya.
Tiada cahaya bintang, tiada cahaya rembulan, di tengah kegelapan malam yang mudah membuat orang lain putus asa, sepasang mata si buta justru jauh lebih tajam dan lebih menakutkan.
"Sesungguhnya dia sama sekali tak buta seratus persen, tapi tak ada bedanya dengan orang buta lainnya, beberapa tahun berselang sepasang matanya pernah terluka, bahkan...."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, ucapan itu seakan terbabat putus secara tiba-tiba oleh tebasan sebuah golok tajam.
Dalam waktu sekejap Siau-hong merasakan bulu kuduknya berdiri, rasa seram dan ngeri yang luar biasa membuatnya bergidik.
Dia tahu apa sebabnya Po Eng tiba-tiba tutup mulut, karena dia pun telah mendengar suatu suara yang aneh, bukan suara langkah kaki, bukan pula suara dengusan napas, melainkan sejenis suara lain yang aneh.
Semacam suara yang tak bisa didengar dengan telinga, suara yang tak akan bisa ditangkap dengan telinga, semacam suara yang hanya bisa dirasakan dengan insting seekor binatang liar.
Seseorang telah muncul di sana!
Seseorang yang datang untuk mencabut nyawanya!
Dia tak dapat melihat kehadiran orang itu, bahkan bayangannya pun tak tampak, tapi ia dapat merasakan kehadirannya, jarak mereka kian lama kian bertambah dekat.
Jagat raya yang begitu dingin membeku, butiran pasir yang dingin membeku, mata pedang yang dingin membeku.
Siau-hong telah menggenggam pedangnya, menggenggam sangat kencang.
Dia masih belum dapat melihat kehadiran orang itu, bahkan bayangan pun tak tampak.
Tapi ia dapat merasakan semacam hawa pembunuhan yang membetot sukma.
Tiba-tiba ia ia menggelinding ke arah Po Eng berada.
Tadi jelas sekali Po Eng masih berbaring di sana, tidak jauh dari tubuhnya, tapi sekarang ia sudah tak berada di sana.
Tapi di sisi lain pasti telah muncul seseorang, orang itu berada dekat dengannya, sedang siap menanti merenggut nyawanya.
Ia tak berani bergerak lagi, tak berani mengeluarkan sedikit suara pun, tubuhnya seolah makin lama semakin bertambah membeku, makin kaku.
Sekonyong-konyong dia mendengar lagi suara desingan angin tajam yang membelah udara.
Dia sudah mulai mengembara dalam dunia persilatan sejak usia empat belas tahun, selama ini dia mengembara dalam dunia Kangouw bagaikan seekor serigala liar.
Sudah terlampau sering dia merasakan sodokan tinju, pernah ditampar orang, pernah kena bacokan, pernah ditusuk pedang, bahkan pernah mencicipi hajaran berbagai senjata dan Am-gi.
Kini ia dapat mendengar suara desingan angin tajam itu berasal dari sejenis senjata rahasia yang membelah angkasa, sejenis Am-gi yang kecil dan lembut sekali bentuknya.
Biasanya senjata rahasia tajam dan lembut semacam ini ditembakkan dari sebuah alat penembak yang dilengkapi pegas berkekuatan tinggi, bahkan sangat beracun dan mematikan.
Dia tidak berkelit, sama sekali tak bergerak.
Sebab bila bergerak, dia pasti akan mati!
Senjata rahasia itu sudah meluncur tiba, menghajar di atas butiran pasir di samping tubuhnya.
Orang itu sudah memperkirakan ia pasti akan menghindar, pasti akan bergerak, maka senjata rahasia itu bukan diarahkan ke tubuh korbannya, melainkan menghajar jalan mundurnya, ke mana pun dia menghindar, asal bergerak berarti pasti akan mampus.
Untungnya dia tak bergerak, sama sekali tak menghindar.
Ia dapat menangkap suara desingan angin tajam itu bukan ditujukan langsung ke tubuhnya, dia telah memperhitungkan secara tepat maksud dan tujuan orang itu.
Tentu saja dia tidak yakin seratus persen, dalam menghadapi kejadian seperti ini siapa pun tak nanti memiliki keyakinan seratus persen.
Dalam situasi yang kritis seperti ini, dia memang tak punya waktu untuk banyak berpikir.
Sekalipun begitu dia tetap harus bertaruh, menggunakan nyawa sendiri sebagai barang taruhan, menggunakan analisa sendiri sebagai modal taruhan.
Dalam taruhan kali ini, ia berhasil memenangkannya.
Ooo)d*w(ooO BAB 3.
SI BUTA Namun taruhan ini belum selesai, dia harus bertaruh lebih jauh, pihak lawan pasti tak akan melepaskan dirinya begitu saja.
Walaupun kali ini dia menang, tidak menjamin berikutnya akan menang lagi, setiap saat kemungkinan besar dia akan kalah, kalau sampai kalah berarti nyawa harus digadaikan.
Malah kemungkinan besar sebelum sempat melihat jelas tampang lawannya, ia sudah harus menggadaikan nyawanya karena kalah.
Sebetulnya dia sudah siap menghadapi kematian, namun mati dengan cara begini membuatnya tak puas, merasa tidak rela.
Tiba-tiba ia mulai terbatuk-batuk.
Kalau orang batuk tentu akan menimbulkan suara, kalau ada suara berarti ada target, dia telah menelanjangi posisi sembunyi sendiri kepada pihak lawan.
Dengan cepat ia mendengar lagi suara deru angin tajam, segulung angin tajam yang seakan hendak mencabik-cabik tubuhnya.
Dengan satu gerakan cepat dia menerobos maju, menggunakan segenap kekuatan tersembunyi yang dimilikinya untuk menyusup keluar, menyusup keluar dari bawah desingan angin tajam itu.
Tiba-tiba terlihat kilatan cahaya pedang di tengah kegelapan.
Rupanya di saat ia terbatuk lagi, pedangnya telah dilolos dari sarungnya, salah satu di antara tujuh bilah pedang paling tajam di kolong langit.
Di antara kilatan cahaya pedang, terdengar...
"Triiing!", lalu terdengar sebuah benda logam terjatuh ke atas pasir. Setelah suara itu, suasana kembali dicekam dalam keheningan yang luar biasa. Siau-hong tidak bergerak lagi, sampai napas pun seolah ikut berhenti, satu-satunya yang bisa dia rasakan sekarang hanya peluh dingin yang meleleh ke bawah melalui ujung hidungnya. Entah berapa lama sudah lewat, tapi yang pasti masa yang begitu panjang dan lama yang pernah dia alami selama ini, sebelum akhirnya terdengar lagi semacam suara lain. Suara yang sedang ia nantikan selama ini. Begitu mendengar suara itu, sekujur tubuhnya seketika terasa bagaikan dilolos dari kulitnya, perlahan-lahan ia roboh terjungkal ke tanah. Suara yang didengar Siau-hong adalalah suara rintihan yang amat lemah dan lirih serta suara dengusan napas memburu. Hanya manusia dalam keadaan kesakitan setengah mati hingga tak mampu mengendalikan dirilah yang bakal mengeluarkan suara semacam ini. Ia tahu dalam pertempuran ini, lagi-lagi ia telah memperoleh kemenangan, meskipun kemenangan itu diraih dengan susah-payah dan mengenaskan, namun dia tetap berhasil memenangkannya. Ia pernah menang, sering menang, itulah sebabnya dia masih hidup hingga sekarang. Ia selalu berpendapat, bagaimana pun menang dan tetap hidup, paling tidak jauh lebih baik daripada kalah dan menghadapi kematian. Tapi kali ini dia nyaris tak bisa membedakan bagaimana rasanya meraih kemenangan, sekujur tubuhnya secara tibatiba jadi lemas, seluruh tulangnya seakan dilolos, ia merasakan semacam kelemasan yang luar biasa karena seluruh otot dan syarafnya mengendor. Empat penjuru masih diliputi kegelapan luar biasa, kegelapan tanpa tepian, kegelapan yang gampang membuat orang putus asa. Menang atau kalah seakan sama sekali tak ada bedanya, membuka mata atau memejamkan mata pun sama sekali tak ada bedanya. Lambat-laun kelopak matanya terasa makin berat, seakan ingin terpejam rapat, dia tak sanggup mempertahankan diri lagi, karena hidup dan mati seakan sudah tak ada perbedaan pula. Kau tak boleh mati! Selama masih ada secercah kesempatan dan harapan, kau tak boleh melepaskannya begitu saja. Hanya lelaki bermental tempe, lelaki lemah yang akan melepaskan kesempatan untuk tetap hidup. Tiba-tiba Siau-hong tersentak kaget, mendusin dari rasa kantuk dan melompat bangun. Entah sejak kapan dari balik kegelapan tiba-tiba terlihat cahaya. Cahaya terang pun seperti kegelapan, selalu datang secara tiba-tiba, tak pernah jelas dia akan muncul di saat kapan, tapi kau harus merasa yakin, cepat atau lambat sinar terang pasti akan datang juga. Akhirnya dia dapat melihat orang itu, seseorang yang selama ini berusaha merenggut nyawanya. Orang itu pun belum mati. Dia masih meronta, masih bergerak, bergerak dengan susah payah dan lambat, seperti seekor ikan sekarat yang terkurung di tengah gundukan pasir panas. Baru saja dia mengambil semacam barang. Tiba-tiba Siau-hong menerkam ke depan, menerkam dengan sekuat tenaga, karena ia telah melihat barang apa yang berada dalam genggaman orang itu, sebuah kantung terbuat dari kulit kambing yang berisi air. Berada di sini, air adalah nyawa, setiap orang hanya memiliki selembar nyawa. Tangan Siau-hong mulai gemetar keras lantaran gembira, ia menerkam ke depan bagaikan binatang buas, menggunakan cara dan gerakan binatang liar untuk merampas kantung air itu. Air dalam kantung tidak tersisa terlalu banyak, tapi asal masih ada setetes saja, mungkin dapat memperpanjang masa hidupnya. Setiap orang hanya memiliki selembar nyawa, nyawa yang begitu berharga, nyawa yang patut disayang dan dilindungi. Siau-hong menggunakan tangan yang gemetar untuk membuka penutup kantung air itu, bibirnya yang kering nyaris pecah segera merasakan segarnya air, segarnya kehidupan, dia sudah bersiap menikmati setiap tetes air yang berada dalam kantung itu, meneguknya perlahanlahan. Dia akan menikmatinya perlahan-lahan, menikmati segarnya air, menikmati kehidupan ini. Pada saat itulah dia menyaksikan sorot mata orang itu. Sepasang sorot mata penuh penderitaan, putus asa, dan permohonan, sepasang mata sayu orang yang sudah sekarat. Luka yang diderita orang ini jauh lebih parah ketimbang lukanya, dia lebih membutuhkan air itu daripada dirinya. Tanpa air, orang itu pasti akan mati jauh lebih cepat. Sekalipun kedatangan orang itu hendak membunuhnya, namun dalam waktu sekejap, dia seolah telah melupakan hal ini. Sebab dia adalah manusia, bukan binatang buas, juga bukan burung pemakan bangkai. Tiba-tiba ia menemukan seorang dan seekor burung pemakan bangkai, berada dalam kondisi dan situasi seperti apa pun, tetap terdapat perbedaan yang besar. Harga diri seorang, hati nurani seorang serta rasa simpatik selalu amat sulit untuk ditinggalkan, sukar untuk dilupakan begitu saja. Dia pun mengembalikan kantong berisi air itu kepada orang itu, orang yang selama ini berusaha merenggut nyawanya. Walaupun dia pun pernah berniat mencabut nyawa orang ini, namun dalam detik yang singkat, di saat sifat kemanusiaannya menghadapi tantangan yang tak berperasaan, terpaksa dia pun melakukan hal itu. Dia tidak sepantasnya merampas kantung berisi air itu dari tangan seseorang yang hampir menghadapi ajal, terlepas siapa pun orangnya. Ternyata orang itu adalah seorang wanita, menanti dia menyingkap kain kerudung hitamnya untuk meneguk air, Siau-hong baru mengetahui bahwa pihak lawan adalah seorang wanita, seorang wanita yang amat cantik, kendatipun ia tampak pucat-pasi dan layu, namun semua itu justru menambah kecantikan dan lemah-lembutnya. Seorang wanita semacam ini, kenapa bisa muncul seorang diri di tengah gurun pasir yang begitu menakutkan, hanya untuk membunuh seseorang? Dia telah meneguk habis air dalam kantung kulit kambing itu, sedang melirik secara diam-diam ke arah Siauhong, sorot matanya seakan terselip perasaan minta maaf.
"Seharusnya kutinggalkan setengah untukmu,"
Katanya sambil membuang kantung kosong itu ke tanah dan menghela napas.
"Sayang air dalam kantung itu kelewat sedikit!"
Siau-hong tertawa, dia hanya tertawa saja menghadapi ucapan itu, kemudian baru tak tahan tanyanya.
"Kau si Buta atau si Air raksa?"
"Semestinya kau bisa melihat sendiri kalau aku tidak buta!"
Setelah dibasahi oleh segarnya air, sinar matanya yang sejak semula memang cantik, kini nampak lebih cerah dan menawan.
"Jadi kau pun bukan Air raksa?"
Desak Siau-hong lebih lanjut.
"Aku hanya pernah mendengar nama ini, namun tak pernah tahu manusia macam apakah dia,"
Perempuan itu menghela napas pula.
"Padahal aku sendiri pun tidak tahu manusia semacam apakah dirimu, aku hanya tahu kau bermarga Pui (Hong) bernama Wi!"
"Tapi kau datang untuk membunuhku!"
"Aku harus datang untuk membunuhmu, dengan kematianmu, aku baru bisa hidup terus."
"Kenapa?"
"Karena air, berada di tempat seperti ini, tanpa air berarti tak bisa hidup melebihi tiga hari,"
Dia memandang sekejap kantung air di atas tanah.
"Mereka baru bersedia memberi aku air minum bila aku berhasil membunuhmu, kalau tidak, inilah untuk terakhir kalinya aku minum air."
Suaranya penuh diliputi perasaan ngeri dan takut.
"Suatu ketika, aku nyaris mati kehausan karena mereka tidak memberi air kepadaku, selama hidup aku tak pernah akan melupakan perasaan dan siksaan itu. Kali ini, kendatipun aku dapat pulang dalam keadaan hidup, asal mereka tahu kau belum mati, maka mereka pasti tak akan memberi setetes air lagi kepadaku."
Siau-hong tertawa.
"Apakah kau minta aku merelakan batok kepalaku ini agar kau tebas, agar bisa dibawa pulang untuk ditukar dengan air?"
Ternyata perempuan itu ikut tertawa, tertawa dengan lembut tapi mengenaskan.
"Aku pun manusia, bukan binatang, kau bersikap begitu baik kepadaku, tentu saja aku lebih suka mati daripada mencelakaimu lagi."
Siau-hong tidak berkata apa pun, dia pun tak bertanya kepadanya.
"siapa mereka?", dia memang tak perlu menanyakan hal ini. Tentu saja mereka adalah orang-orang yang dikirim Hokkui-sin-sian untuk membunuhnya, kemungkinan besar mereka saat ini sudah berada di sekeliling tempat ini. Po Eng telah pergi! Orang ini tak bedanya dengan angin ribut di tengah gurun pasir, sewaktu datang, tak seorang pun bisa menghalanginya, sewaktu akan pergi, siapa pun tak dapat mencegahnya. Selamanya kau tak pernah bisa menebak kapan dia akan datang, terlebih menduga kapan dia akan pergi. Akan tetapi "Ci-hu"
Masih berada di situ. Matahari sudah mulai muncul dari ufuk timur, akhirnya Siau-hong buka suara.
"Kau tak boleh tetap berada di sini,"
Tiba-tiba ujarnya.
"Apapun yang bakal terjadi, kau harus tetap kembali kepada mereka."
"Kenapa?"
"Karena bila matahari telah terbit, maka dalam radius seribu li di sekeliling tempat ini akan berubah menjadi bara api, sisa air yang kau minum tadi dengan cepat akan terpanggang kering dan menguap."
"Aku tahu, tetap tinggal di sini berarti aku bakal mati kehausan, akan tetapi...."
"Akan tetapi aku tak ingin melihat kau mati, juga tak ingin kau melihat aku mati,"
Tukas Siau-hong cepat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun perempuan itu manggut-manggut dan berdiri, tapi baru bangkit, dia sudah roboh kembali.
Luka yang dideritanya memang cukup parah.
Tusukan pedang Siau-hong tadi dengan telak menghujam di dadanya, hanya selisih dua inci dari letak jantungnya.
Sekarang ia sudah susah berjalan, tenaga untuk berdiri pun tak mampu, bagaimana bisa pulang sendiri?
Mendadak Siau-hong kembali berkata.
"Aku mempunyai seorang teman yang bisa mengantarmu pulang."
Perempuan itu tidak melihat ada teman lain di tempat itu.
"Rasanya di sini hanya ada kau seorang!"
"Yang disebut teman belum tentu harus manusia, aku pun tahu ada banyak manusia yang belum tentu pantas disebut teman."
Perlahan-lahan ia berjalan menghampiri Ci-hu, lalu sambil membelai bulunya ia berkata lebih jauh.
"Aku pun pernah bertemu dengan banyak manusia yang kau anggap sebagai teman, padahal semuanya bukan manusia."
"Oh, jadi temanmu adalah kuda ini?"
Agak terkejut perempuan itu berseru.
"Kau telah menganggap seekor kuda sebagai sahabatmu?"
Kembali Siau-hong tertawa.
"Mengapa aku tak boleh menganggap seekor kuda sebagai sahabatku?"
Senyumannya tampak sangat ewa dan pedih.
"Selama ini aku hidup bergelandangan, tiada sanak tiada keluarga, hanya dia yang selalu mengikutiku, bersamaku, mati hidup selalu bersama, bahkan sampai saat ajal menjelang pun dia tak mau meninggalkan aku, ada berapa banyak sahabat di dunia ini yang lebih setia daripadanya?"
Perempuan itu tertunduk lesu, lewat lama kemudian ia baru bertanya.
"Sekarang, mengapa kau minta dia berpisah denganmu? Minta dia mengantarku pulang?"
"Karena aku pun tak ingin dia menemani aku mati di sini!"
Ditepuknya punggung "Ci-hu"
Perlahan, kemudian terusnya.
"Dia adalah seekor kuda jempolan, mereka tak akan membiarkan dia mampus. Sedang kau pun seorang perempuan yang sangat menarik, mereka pun tak akan benar-benar membuat kau mati kehausan. Dengan membiarkan ia membawamu pulang, maka inilah satusatunya jalan kehidupan untuk kalian."
Perempuan itu mendongakkan kepalanya, menatap kuda itu sekejap, lama kemudian ia baru bertanya lagi.
"Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri? Mengapa kau tak pernah berpikir, apa yang harus dirimu lakukan agar bisa hidup lebih lanjut?"
Siau-hong tidak menjawab, dia hanya tertawa lebar.
Ada sementara pertanyaan memang tak dapat dijawab dan tak perlu dijawab.
Tak tahan perempuan itu menghela napas panjang, menghela napas sambil mengemukakan pendapatnya tentang anak muda itu.
"Kau memang manusia aneh, aneh setengah mati!"
"Memang begitulah aku!"
Matahari telah terbit di angkasa.
Jagat raya tak berperasaan, segala sesuatunya telah berubah jadi bara api, seluruh kehidupan seolah sedang terbakar, terbakar hingga punah, musnah, dan akhirnya mati.
Siau-hong telah roboh terkapar di tengah bara api.
"Ci-hu"
Pun telah pergi, pergi sambil membawa perempuan yang dipaksa datang untuk membunuhnya.
Mungkin dia tak ingin berpisah dengan Siau-hong, tapi ia tak mungkin bisa membangkang perintahnya, karena bagaimana pun dia tak lebih hanya seekor kuda.
Di seputar tempat itu sudah tak nampak lagi kehidupan lain, Siau-hong telah terkapar di atas butiran pasir yang membara, berusaha mempertahankan diri, agar matanya tak terpejam.
Namun dalam pandangan matanya sekarang seluruh jagat raya seolah telah berubah menjadi segumpal bara api.
Dia sadar, kali ini dirinya benar-benar akan mati, karena dia telah menyaksikan khayalan yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang hampir sekarat, tiba-tiba ia saksikan ada satu rombongan kuda dan kereta indah bergerak mendekat, muncul di bawah teriknya cahaya matahari yang berwarna kekuning-kuningan.
Setiap orang yang berada dalam rombongan itu seakanakan memancarkan sinar keemasan seperti cahaya emas murni, tangan mereka membawa kantung emas berisi air, dalam kantung bukan hanya tersedia air, bahkan ada pula arak wangi yang lezat.
Kalau apa yang disaksikan bukan fatamorgana, bukan ilusi yang diciptakan langit untuk menghibur mereka yang sekarat, sudah pasti merekalah urusan yang dikirim akhirat untuk menjemputnya pulang.
Perlahan-lahan dia memejamkan mata, memejamkan matanya yang semakin berat, ia merasa biar harus mati pun, harus mati dengan pasrah.
Hari ini waktu menunjukkan bulan sembilan tanggal enam belas.
Ketika tersadar kembali, Siau-hong segera memastikan dua hal.
Pertama, dia belum mati.
Kedua, dia berada dalam keadaan telanjang bulat.
Berbaring di atas ranjang berlapiskan kulit macan tutul dalam keadaan telanjang bulat.
Ranjang empuk itu berada di sudut sebuah tenda yang maha besar dan indah, di sampingnya terdapat sebuah meja kayu, di atas meja terdapat sebuah baskom yang terbuat dari emas, dalam baskom emas berisikan air yang nilainya jauh lebih mahal dari emas.
Seorang gadis berkerudung sutera bertubuh langsing dan mengenakan baju orang Han, sedang menggunakan selembar handuk yang lembut membasuh tubuhnya memakai air dalam baskom emas.
Tangannya lembut, halus dan indah, gerak-geriknya penuh kelembutan dan teliti, seakan sedang membersihkan sebuah benda antik yang baru dikeluarkan dari gudang rahasia, dia membasuh tubuh pemuda itu dari alis mata, mata, wajah, bibir, badan hingga ke ujung kaki, bahkan semua debu yang menempel pada kuku kaki pun dicuci dan dibersihkan hingga betul-betul bersih.
Seseorang yang baru saja lolos dari lubang kematian, baru saja mengalami berbagai penderitaan karena siksaan tubuh dan cuaca, tiba-tiba menjumpai dirinya berada dalam kondisi seperti ini, bisa dibayangkan betapa terperangah, kaget, keheranan, dan gembiranya pemuda ini.
Perasaan pertama yang dirasakan Siau-hong adalah seolah dirinya telah melakukan satu hal yang amat berdosa.
Di tengah gurun pasir, ternyata ada orang menggunakan air yang lebih berharga dari emas untuk memandikan tubuhnya, kejadian semacam ini bukan saja telah menghambur-hamburkan barang berharga, pada hakikatnya sudah tergotong satu perbuatan dosa besar.
Siapakah tuan rumah di sini?
Siapa yang telah menyelamatkan dirinya?
Dia ingin sekali menanyakan hal ini.
Namun sayang, sekujur tubuhnya terasa lemah tak bertenaga, bahkan tenggorokan pun tetap terasa kering, dahaga nyaris merobek tenggorokannya, mulutnya tetap getir, malah lidahnya pun terasa merekah seperti mau robek.
Perempuan berkerudung asing itu meski telah membersihkan tubuhnya dengan air bersih, namun tak pernah memberinya minum, walau hanya setetes air.
Oleh karena itu perasaan kedua yang timbul dalam hatinya bukan gembira, melainkan rasa gusar yang meluap.
Akan tetapi hawa amarahnya sama sekali tak dilampiaskan, sebab secara tiba-tiba ia menjumpai lagi bahwa di dalam tenda mewah itu bukan hanya ada mereka berdua, masih ada seorang lagi berdiri tenang di sudut tenda, sedang mengawasinya dengan tenang.
Seorang lelaki yang mempunyai harga diri, di bawah tatapan dan pengawasan orang lain ternyata berbaring telanjang bulat, bahkan bagaikan seorang bayi, sedang dimandikan seorang wanita yang teramat asing baginya.
Bisa dibayangkan bagaimanakah perasaannya saat itu?
Siapa pula yang dapat menghadapinya?
Kini perempuan itu mulai menggosok dan memegang bagian tubuhnya yang paling sensitif.
Coba andaikata dia bukan kelewat lelah, dahaga dan lapar, kemungkinan besar napsu birahinya akan terangsang dan terpancing bangkit.
Keadaan semacam ini terlebih lagi membuat orang susah untuk mengendalikan diri.
Sekuat tenaga Siau-hong mendorong tangan perempuan itu, meronta sekuat tenaga untuk duduk, dia ingin sekali meneguk air di dalam baskom emas.
Dia harus minum sedikit air, dengan minum air dia baru bertenaga, sekalipun air dalam baskom itu adalah air bekas mencuci kaki bau, dia tetap akan meneguknya.
Sayang sekali gerakan perempuan itu jauh lebih cepat daripada gerakan tubuhnya, tiba-tiba dia sambar air dalam baskom itu, lalu sambil tertawa cekikikan menyelinap keluar dari tenda.
Siau-hong tak punya kekuatan untuk mengejar, dia pun tak mampu melakukan pengejaran.
Kini dia masih berada dalam keadaan telanjang bulat, lelaki asing yang berdiri di hadapannya pun masih mengawasi gerak-geriknya.
Sekarang dia baru dapat melihat jelas tampang orang itu.
Dulu ia belum pernah berjumpa dengan manusia semacam ini, di kemudian hari pun mungkin dia tak pernah akan bertemu lagi.
Di sudut tenda sebelah depan sana terdapat sebuah bangku yang amat lebar, besar, dan nyaman, orang itu berdiri persis di depan bangku itu namun tidak pernah menempatinya.
Sekilas pandang, orang yang berdiri di tempat itu sama sekali tak ada bedanya dengan orang lain.
Tapi bila kau perhatikan beberapa kejap lagi, maka segera akan ketahuan bila gayanya sewaktu berdiri ternyata jauh berbeda dengan orang mana pun.
Tapi di manakah letak perbedaan itu?
Tak seorang pun dapat menerangkan.
Walaupun dengan jelas ia berdiri di tempat itu, namun justru memberi kesan susah bagi orang lain untuk mengetahui keberadaannya, sebab orang itu seakan telah menyatu dengan bangku di belakang tubuhnya, tenda di atas kepalanya serta permukaan tanah di bawah kakinya.
Peduli di mana pun ia berdiri, seakan tubuhnya selalu menyatu dengan benda dan alam yang berada di sekelilingnya.
Bila kau melihat pada pandangan pertama, dia seakan sama sekali tak bergerak, anggota badannya, tubuhnya, bulunya, setiap bagian tubuhnya dari atas hingga ke bawah, tak satu pun yang bergerak, bahkan detak jantung pun seolah ikut berhenti.
Tapi bila kau perhatikan beberapa kejap lagi, maka akan kau jumpai tubuhnya, setiap bagian organ tubuhnya seakan sedang bergerak bahkan tiada hentinya bergerak.
Bila kau lepaskan sebuah pukulan ke arah tubuhnya, peduli bagian mana pun dari tubuhnya yang kau incar, kemungkinan besar segera akan memperoleh reaksi balasan yang amat menakutkan.
Parasnya pun sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun.
Biarpun dengan jelas ia sedang menatapmu, namun sinar matanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apaapa, seperti benda apa pun tak terlihat olehnya.
Dalam genggaman orang itu terdapat sebilah pedang, sebilah pedang bersarung hitam yang sempit dan panjang.
Pedang itu masih berada dalam sarungnya.
Akan tetapi asal kau memandang sekejap saja, segera akan kau rasakan semacam hawa pedang yang amat menyesakkan napas.
Tangannya meski belum mencabut pedangnya, namun seakan sudah berada di depan tenggorokanmu.
Siau-hong benar-benar tak ingin memandang orang itu lebih lama, apa mau dikata dia justru tak tahan untuk melihatnya lagi.
Orang itu sama sekali tidak bereaksi.
Ketika sedang menatap orang lain, dia seakan sama sekali tak punya perasaan.
Ketika orang lain sedang memandangnya, dia pun seolah sama sekali tak tahu.
Dia seakan-akan sama sekali tak peduli terhadap semua kehidupan yang ada di langit dan bumi, dia pun tak peduli atas sikap pandangan orang terhadap dirinya.
Karena yang dia perhatikan hanya satu hal....
Pedang miliknya!
Tiba-tiba Siau-hong merasakan telapak tangannya telah basah oleh keringat dingin.
Hanya di saat sedang menghadapi duel maut yang menentukan mati hidup, telapak tangannya baru akan basah oleh keringat dingin.
Kini dia tak lebih hanya mengawasi orang itu beberapa kejap, orang itu pun tidak bergerak, sama sekali tidak menunjukkan sikap bermusuhan, mengapa dirinya bisa timbul reaksi seperti ini?
Apakah sejak dilahirkan mereka sudah ditakdirkan harus berhadapan sebagai musuh?
Cepat atau lambat, suatu saat salah seorang di antara mereka harus tewas di tangan lawan?
Tentu saja kalau bisa peristiwa semacam ini jangan sampai terjadi.
Di antara mereka berdua sama sekali tak terikat dendam atau sakit hati, mengapa harus saling berhadapan sebagai musuh bebuyutan?
Anehnya dari dasar lubuk hati Siau-hong justru muncul semacam firasat yang tak menguntungkan, dia seakan melihat ada seorang di antara mereka berdua yang roboh terkapar di tanah, roboh terkena tusukan pedang lawannya, terkapar di tengah genangan darah.
Sayang ia tak dapat melihat siapa di antara mereka berdua yang bakal terkapar.
Suara tawa yang merdu bagai keleningan kembali berkumandang.
Perempuan berkerudung itu muncul kembali dari balik tenda, kali ini dia muncul sambil membawa lagi baskom emas yang tadi.
Suara tawanya indah, merdu dan manis, bukan saja menunjukkan rasa gembiranya, dia pun membuat orang lain ikut gembira.
Sayang Siau-hong tidak gembira.
Dia pun tak habis mengerti mengapa perempuan itu bisa tertawa dengan begitu gembira.
Tak tahan ia pun menegur.
"Dapatkah kau memberi sedikit air minum untukku?"
"Tidak,"
Perempuan itu menggeleng sambil tertawa.
"Air dalam baskom sudah kotor, tak bisa diminum."
"Air kotor pun tetap air, asal ada air, dahagaku pasti hilang."
"Aku tetap tak bisa memberi air untukmu."
"Mengapa?"
"Karena air dalam baskom ini memang bukan diberikan untuk menghilangkan dahagamu."
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya sambil tertawa.
"Kau seharusnya tahu, air adalah benda yang sangat berharga di wilayah gurun pasir, air ini milikku, kenapa harus kuberikan kepadamu?"
"Jadi kau lebih rela air dalam baskom itu dipakai untuk memandikan aku daripada menghilangkan rasa dahagaku?"
"Itu dua masalah yang berbeda."
Mengapa berbeda? Siau-hong sama sekali tak mengerti, semua perkataannya benar-benar membuat orang sukar untuk memahaminya. Untung saja perempuan itu segera memberi penjelasan.
"Memandikan dirimu merupakan kenikmatan bagiku."
"Kenikmatan bagimu? Kenikmatan apa?"
Tanya Siauhong semakin tak mengerti.
"Kau adalah seorang pemuda yang memiliki perawakan tubuh sangat bagus, pertumbuhan badanmu dari ujung kepala hingga ujung kaki sangat bagus, memandikan tubuhmu akan membuat hatiku sangat gembira. Bila membiarkan kau meminumnya, jelas hal ini merupakan masalah lain."
Dia tertawa semakin manis, tambahnya.
"Sekarang apakah kau sudah memahami maksud hatiku?"
Siau-hong ingin sekali tertawa kepadanya, sayang ia tak mampu tertawa.
Kini walaupun dia sudah memahami maksud perkataannya, namun ia tetap tak paham, bagaimana mungkin perempuan itu bisa mengucapkan perkataan semacam ini.
Pada hakikatnya ucapannya itu tak mirip perkataan manusia.
Tapi perempuan itu seakan menganggap apa yang dikatakan sangat masuk akal.
"Air ini milikku, terserah mau kuapakan air ini, karena sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dirimu. Jika kau ingin minum air, cobalah mencari akal sendiri."
Sewaktu tertawa, sepasang matanya kelihatan amat sipit bagaikan sepasang bulan sabit, mirip juga mata kail, hanya saja siapa pun dapat melihat kalau yang ingin dia kail bukanlah ikan, melainkan manusia.
"Bila kau tak berhasil menemukan cara yang baik, kami dapat memberi sebuah petunjuk jalan untukmu."
Kali ini dia berbicara dengan bahasa manusia, karena ucapannya bisa dipahami.
"Dengan cara apa aku dapat menemukan air? Ke mana aku harus mencarinya?"
Siau-hong segera bertanya. Tiba-tiba perempuan itu mengangkat jari tangannya yang putih lembut dan menuding ke arah belakang tubuh Siauhong, katanya.
"Asalkan berpaling, kau segera akan mengetahuinya."
Siau-hong pun segera berpaling.
Entah sejak kapan, ternyata sudah ada seseorang berjalan masuk ke dalam tenda.
Pada hari biasa, sekalipun hanya seekor kucing yang menyelinap masuk, dia pasti akan segera mengetahuinya, tapi sekarang dia kelewat lelah, dahaga, ingin minum air, menanti berpaling ke belakang, dia baru melihat kehadiran orang itu.
Ternyata yang dia jumpai adalah Wi Thian-bong.
Wi Thian-bong dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar, bersikap serius, berpakaian rapi, senyuman selalu menghiasi ujung bibirnya, sepasang mata penuh dengan tekad yang bulat, tekad yang susah dibelokkan.
Berada pada saat apa pun, tempat mana pun, dia selalu dapat memaksa orang lain selalu bersikap hormat dan kagum terhadapnya.
Di hari biasa, semua sepak terjang, semua perbuatan yang dilakukan pun cukup mengundang rasa hormat dan kagum orang lain.
Tahun ini dia berusia lima puluh tiga tahun.
Sejak usia dua puluh satu tahun, ia sudah menjadi Congpiauthau sebuah perusahaan ekspedisi terbesar di wilayah Kwantong, dalam perjalanan kariernya selama tiga puluhan tahun, semua usahanya berjalan lancar, belum pernah mengalami masalah dan musibah yang kelewat besar.
Hingga kemarin malam, untuk pertama kalinya dia telah menghadapinya.
Lenyapnya emas lantakan menjadi bagian tanggungjawabnya, seluruh anak murid kepercayaannya pun nyaris tewas secara mendadak dalam keadaan mengenaskan.
Sekalipun begitu, dia tetap tampil penuh wibawa dan gagah, pukulan yang begitu menakutkan ternyata sama sekali tidak mengubah sikap maupun penampilannya.
Siau-hong segera menggunakan kulit macan tutul untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling vital, kemudian baru mendongakkan kepala menghadap Wi Thian-bong.
"Tak nyana ternyata kau telah menyelamatkan aku."
"Aku tidak menyelamatkan kau,"
Jawab Wi Thian-bong.
"Tak seorang pun dapat menolongmu, hanya kau sendiri yang dapat menyelamatkan dirimu sendiri."
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Kau telah menghabisi nyawa putra tunggal Hok-kui-sin-sian, seharusnya kau mesti menggantinya dengan nyawamu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang seharusnya kau telah tewas di tengah gurun pasir, tewas di tangannya."
Yang dia maksudkan "nya"
Tak lain adalah perempuan berkerudung hitam itu.
"Tahukah kau siapa dia?"
Tiba-tiba Wi Thian-bong bertanya lagi.
"Aku tahu,"
Sahut Siau-hong sambil tertawa.
"Dia pasti menyangka aku tidak mengenalnya lagi, karena waktu aku bertemunya pagi tadi, dia masih merupakan seorang perempuan mengenaskan yang hampir mati, dia dipaksa orang untuk membunuhku, tapi sebaliknya malah termakan sebuah tusukan pedangku, sementara air dalam kantungnya hanya tersisa dua tegukan."
Setelah menghela napas, lanjurnya.
"Karena dia tahu belum tentu usaha pembunuhannya akan berhasil menghabisi nyawaku, maka jauh sebelumnya ia telah menyiapkan jalan mundur, tentu saja dia tak boleh membawa terlalu banyak air di dalam kantungnya, daripada terampas olehku pada akhirnya. Selain itu dia pun harus berlagak sangat mengenaskan, agar hatiku iba dan terenyuh dibuatnya."
Selama ini perempuan berkerudung itu hanya mendengarkan, mendengarkan sambil selalu tertawa, tentu saja suara tawanya jauh lebih riang ketimbang tadi.
"Sejak perjumpaan kali pertama, kau tidak seharusnya mempercayai aku, hanya sayang hatimu kelewat lembek,"
Katanya.
"Sayangnya, hati dia tak pernah lembek!"
Tiba-tiba Wi Thian-bong buka suara lagi. Sui-gin, si Air raksa, ketika membunuh korbannya, ia tak pernah lembek hatinya, tak pernah lembek serangannya.
"Perempuan ini tak lain adalah Air raksa, air raksa yang tiada pori yang tak dapat ditembusi!"
Ternyata Siau-hong sama sekali tak merasa di luar dugaan. Kembali Wi Thian-bong bertanya.
"Tahukah kau, mengapa hingga sekarang dia belum membunuhmu?"
Siau-hong menggeleng, dia memang tak tahu.
"Karena Lu Thian-po telah mati, sementara tiga puluh laksa tahil emas masih tetap ada wujudnya,"
Sahut Wi Thian-bong.
"Apa hubungan Lu thian-po dengan tiga puluh laksa tahil emas?"
"Hanya ada satu hubungan, emas senilai tiga puluh laksa tahil itu milik Hok-kui-sin-sian Lu-sam-ya."
"Peduli siapa pun yang mati, setelah mampus, dia tak lebih hanya sesosok mayat,"
Kata Sui-gin pula.
"Dalam pandangan Lu-sam-ya, tentu saja sesosok mayat tak akan mengungguli emas sebanyak tiga puluh laksa tahil."
Setelah tertawa cekikikan, tambahnya.
"Kalau bukan begitu, mana mungkin dia bisa kaya?"
"Oleh karena itu asal kau dapat membantuku menemukan kembali emas lantakan senilai tiga puluh laksa tahil itu, kujamin dia tak bakal mencarimu lagi untuk menuntut balas"
Sambung Wi Thian-bong.
"Wah, kedengarannya sebuah transaksi yang sangat menarik,"
Teriak Siau-hong.
"Memang sangat menarik!"
Senyuman Sui-gin semakin memikat.
"Kalian selalu menaruh curiga kalau emas itu telah dirampok Po Eng, kebetulan aku kenal, aku segera akan membantu kalian untuk menyelidiki persoalan ini."
"Ternyata kau memang tak bodoh,"
Seru Sui-gin sambil tertawa.
"Asal kau bersedia,"
Ujar Wi Thian-bong pula.
"Apa pun yang kau butuhkan, kami pasti akan menyediakannya untukmu."
"Dari mana aku bisa tahu saat ini Po Eng berada di mana?"
Kata Siau-hong lagi.
"Kami dapat membantumu untuk menemukan jejaknya."
Siau-hong kembali termenung, kemudian ujarnya perlahan.
"Po Eng sama sekali tidak menganggapku sebagai sahabat. Membantu para Piausu menangkap perampok pun bukan termasuk pekerjaan yang memalukan."
"Betul."
"Bila aku tak bersedia menerima tawaran ini, sekalipun kalian tidak membunuhku pun aku tetap akan mati karena kehausan."
Sui-gin menghela napas panjang.
"Benar, siksaan semacam ini pasti teramat tak enak,"
Katanya.
"Maka dari itu rasanya aku harus menerima tawaran kalian ini."
"Betul, kau memang sudah tak ada pilihan lain lagi,"
Suigin membenarkan dengan suara lembut. Kembali Siau-hong menghela napas.
"Ai, rasanya aku memang harus berbuat begitu."
"Dan kau sudah menyanggupinya?"
"Masih belum."
"Apa lagi yang sedang kau pertimbangkan?"
Ooo)d*w(ooO BAB 4. ANTARA HIDUP DAN MATI "Tak ada lagi yang kupertimbangkan."
"Sebenarnya kau menyanggupi atau tidak?"
Desak Wi Thian-bong.
"Tidak!"
Jawabannya langsung, singkat, dan terus terang, singkatnya setengah mati.
Paras Wi Thian-bong sama sekali tak berubah, namun daging di sekitar kelopak matanya mulai mengejang keras, pupil matanya ikut berkerut kencang.
Sebaliknya sorot mata Sui-gin justru menampilkan perubahan yang rumit dan aneh, dia seakan terperangah, seakan juga merasa sangat kagum, sangat menarik hatinya.
"Dapatkah kau beritahu kepadaku, mengapa kau menolak?"
Tanyanya kemudian lembut.
"Karena aku tak suka!"
Jawab Siau-hong santai, ternyata dia masih sanggup tertawa.
Alasan ini bukan saja tak cukup baik, pada hakikatnya tak bisa dibilang sebagai sebuah alasan.
Lantas apa alasan yang sebenarnya?
Siau-hong tak ingin mengutarakannya, selama ini dia selalu bertindak sesuai dengan prinsip yang dianutnya, biasanya sulit bagi orang lain memahaminya, dia pun tak ingin orang lain berusaha memahaminya.
Dalam melakukan pekerjaan apa pun, dia merasa sudah lebih dari cukup asal dia tidak mengingkari prinsip dan keyakinan sendiri.
Sui-gin menghela napas panjang.
"Wi Thian-bong tak nanti membunuhmu, dia tak pernah memaksa orang lain untuk melakukan pekerjaan apapun."
"Kebiasaan semacam ini cukup positif,"
Kata Siau-hong sambil tersenyum.
"Sungguh tak kusangka ternyata dia bisa memiliki kebiasaan sebagus ini."
"Aku pun tak bakal membunuhmu, karena aku telah berjanji tak akan mencelakaimu lagi."
Setelah tertawa, katanya lebih jauh.
"Pegang janji pun merupakan sebuah kebiasaan yang baik, kau pasti tak akan menyangka bukan kalau aku pun memiliki kebiasaan baik semacam ini?"
"Memang tak banyak perempuan yang memiliki kebiasaan baik semacam ini,"
Siau-hong mengakui.
"Kami tak lebih hanya ingin mengantarmu balik ke tempat semula, agar kau bisa berbaring seorang diri sambil menanti datangnya kematian dengan perasaan tenang."
Menunggu mati jauh lebih menderita daripada kematian itu sendiri, jauh lebih tersiksa. Namun Siau-hong tak peduli.
"Sebenarnya aku memang sedang menunggu mati, apa salahnya kalau sekarang menunggu lagi."
"Maka kau masih tetap menolak?"
"Benar!"
Jawabannya masih tetap begitu sederhana, sederhana setengah mati.
Angin puyuh kembali melanda di luar tenda, menerbangkan pasir dan bebatuan.
Dalam waktu singkat, senja akan berlalu dan kegelapan yang membawa datangnya kematian segera akan menyelimuti seluruh jagat.
Di tengah dataran luas yang tak berperasaan ini, nilai sebuah kehidupan memang berubah jadi begitu kecil, rendah dan tak berarti, kalau masih bisa hidup tentu saja harus hidup lebih jauh, kalau tak mampu hidup lagi, apa salahnya mati?
Kembali Siau-hong membaringkan diri, dia seolah sudah bersiap untuk diantar kembali ke tengah terpaan pasir dan menanti datangnya ajal.
Pada saat dia hampir memejamkan mata itulah mendadak terdengar seseorang dengan suara dingin, kaku, dan sangat aneh, bertanya kepadanya.
"Kau benar-benar tak takut mati?"
Tak usah membuka mata pun dia sudah tahu siapakah orang itu.
Selama ini orang itu hanya berdiri tenang di sana, memandangnya dengan tenang.
Sinar matanya tak pernah bergeser sekejap pun ke arah lain, sorot matanya pun tidak memperlihatkan perubahan apa pun.
Sewaktu orang itu memandang Siau-hong, dia seolah seekor kucing yang sedang mengawasi seekor serangga yang sudah terjebak dalam jaring laba-laba.
Mereka bukanlah berasal dari jenis yang sama.
Sesungguhnya kehidupan memang begitu rendah, pergulatan antara mati dan hidup pun tentu saja berubah jadi begitu bodoh dan menggelikan.
Sudah barang tentu perasaannya tak akan tergerak.
Tapi sekarang secara tiba-tiba ia bertanya kepada Siauhong.
"Kau benar-benar tak takut mati?"
Apakah pertanyaan ini diajukan karena selama hidup ia belum pernah bersua dengan orang yang benar-benar tak takut mati?
Siau-hong menampik menjawab pertanyaan itu.
Karena dia sendiri tak yakin dengan jawaban pertanyaan itu.
Namun ia telah berbuat begitu, telah menunjukkan harga diri dan keberanian yang dipilihnya di saat manusia dihadapkan pada dua pilihan yang menentukan, hidup atau mati.
Terkadang memang ada beberapa persoalan yang tak mungkin bisa dijawab dengan perkataan, dan bukan perkataan yang bisa menjawabnya.
Ternyata orang itu dapat memahaminya.
Maka dia tidak bertanya lagi, perlahan-lahan berjalan mendekat, caranya berjalannya ternyata sama anehnya dengan sikapnya sewaktu berdiri.
Orang lain sama sekali tak dapat melihat bagaimana dia bergerak, tapi secara tiba-tiba ia sudah berdiri persis di depan ranjang, ranjang di mana Siau-hong sedang membaringkan diri.
Pedang milik Siau-hong tergeletak di atas meja kayu di samping ranjang.
Tiba-tiba ia bertanya lagi.
"Ini pedang milikmu?"
Pertanyaan ini tak susah untuk dijawab dan tak perlu menampik untuk menjawabnya.
"Benar, itu memang pedangku."
"Jadi kau menggunakan pedang?"
"Benar!"
Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat, secercah sinar bianglala menyebar bagai halilintar.
Siapa pun tak ada yang melihat bagaimana orang itu mengulurkan tangan mengambil pedang dan mencabutnya, tapi pedang yang tergeletak di atas meja tahu-tahu sudah berpindah ke tangannya.
Bahkan pedang itu pun telah dicabut dari sarungnya.
Ketika pedang yang telah lolos dari sarungnya itu berada di tangannya, penampilan orang itu pun ikut berubah, berubah seperti pedang yang berada dalam genggamannya, memancarkan pula cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata.
Cahaya bianglala yang menyilaukan mata itu hanya berlangsung singkat untuk kemudian lenyap tak berbekas, karena pedang yang berada dalam genggamannya tiba-tiba disarungkan kembali.
Penampilan orang itu pun seketika berubah tenang kembali,-lewat lama kemudian sepatah demi sepatah dia berkata.
"Orang di dunia ini menempa berjuta bilah pedang, namun hanya dua-tiga di antaranya yang pantas disebut senjata tajam."
"Pedang mestika, kuda jempolan hanya bisa ditemukan tak dapat dicari, di antara sekian juta paling hanya ada satu, dan itu pun sudah terhitung cukup banyak."
"Pedangmu sangat tajam."
"Sorot matamu pun amat tajam,"
Sahut Siau-hong tersenyum.
"Kau pernah menggunakan pedang ini untuk membunuh orang?"
"Pedang itu hanya membunuh mereka yang memang pantas untuk dibunuh."
"Hanya mereka yang pandai menggunakan senjata tajam, ia dapat membunuh orang tanpa dibunuh, ilmu pedangmu pasti lumayan."
"Masih terhitung lumayan juga."
Kembali orang itu termenung cukup lama, katanya lagi.
"Kalau begitu kau masih tersedia sebuah jalan lain."
"Jalan yang mana? Bagaimana harus kulewati?"
Tak tahan Siau-hong bertanya.
"Gunakan pedangmu untuk membunuh aku,"
Suara orang itu tetap hambar.
"Asal dapat membunuhku, kau boleh tak usah mati."
"Kalau tidak, apakah aku akan mati di ujung pedangmu?"
"Benar,"
Perlahan-lahan orang itu melanjutkan.
"Tidak banyak orang yang pantas mati di ujung pedangku, bila kau dapat mati di ujung pedangku, kematianmu boleh dibilang terhitung terhormat..."
Ucapan itu diutarakan kelewat latah, coba kalau orang lain yang mengatakannya, kemungkinan besar Siau-hong akan tertawa terbahak.
Tentu saja Siau-hong tidak tertawa.
Ia tak bisa menertawakan perkataan itu, sebab ia dapat melihat perkataan orang itu adalah ucapan yang sejujurnya, sebuah ungkapan kata jujur yang amat sederhana dan singkat, tiada yang menonjol, tiada gertak sambal.
Sewaktu dia mengucapkan perkataan itu, dia seolah hanya mengungkap sebuah kenyataan yang sangat sederhana.
Bagaimana pun bisa mati di ujung pedang orang itu jauh lebih baik daripada menunggu kematian sambil berbaring di sana.
Bukankah dapat berduel mati hidup melawan seorang jagoan tangguh macam orang ini merupakan suatu kejadian yang paling didambakan seorang yang belajar ilmu pedang?
Seluruh tenaga terpendam Siau-hong telah terangsang keluar, mungkin hal ini merupakan yang terakhir kalinya, terakhir kali dia menggunakan seluruh tenaga terpendam yang dimilikinya.
Tiba-tiba saja dia melompat bangun, mencengkeram pedang miliknya.
"Kapan? Di mana?"
Teriaknya.
"Menurut kau?"
"Di sini, sekarang juga!"
"Tidak bisa!"
"Sekarang aku berada di sini, pedangku pun berada di sini, mengapa tidak bisa?"
"Karena meski pedang dan dirimu sudah siap, tenaga dan kekuatanmu belum siap,"
Suara orang itu masih hambar tanpa perasaan.
"Bila kubunuh dirimu pada saat dan keadaan seperti ini, sama artinya aku telah membuat malu pedangku sendiri."
Kemudian dengan hambar dia melanjutkan.
"Sekarang, pada hakikatnya kau belum pantas untuk memintaku turun tangan sendiri."
Siau-hong menatapnya lekat-lekat, mendadak timbul perasaan kagum dan hormat yang tak terhingga dari dasar lubuk hatinya.
Dia kagum dan hormat karena dia menghormati diri sendiri.
Rasa hormat ini telah melampaui mati hidup, telah melampaui segala sesuatunya.
Tiba-tiba Siau-hong mengajukan sebuah permohonan, sebuah permohonan yang orang lain pasti menganggapnya latah dan tak tahu diri.
"Berikan kepadaku sekantung air, sekantung arak, sekantung daging, sekantung kue, satu stel pakaian, selembar selimut, tiga hari kemudian datanglah lagi mencari aku."
"Boleh!"
Ternyata orang itu segera menyanggupi.
Wi Thian-bong sama sekali tak bereaksi, dia seakan-akan tak mendengar perkataan itu.
Sebaliknya Sui-gin, si Air raksa seolah hendak melompat bangun sambil berteriak.
"Apa katamu?"
Orang itu membalikkan badan, memandangnya dengan sangat tenang, sekujur badannya, dari atas hingga ke bawah sama sekali tidak memperlihatkan gerakan atau perubahan wajah apa pun, dia hanya bertanya dengan tenang.
"Sudah kau dengar dengan jelas semua perkataanku?"
"Aku telah mendengar sangat jelas,"
Bukan saja sikap Sui-gin segera berubah jadi tenang, bahkan ia menundukkan kepala rendah-rendah.
"Aku telah mendengar dengan jelas."
"Apakah kau masih ada pendapat lain?"
"Tidak ada!"
Air, arak, daging, kue, pakaian, selimut bagi seseorang yang terkurung di tengah gurun pasir boleh dibilang merupakan sebuah barang yang tak ternilai harganya, makna dan manfaat semua itu tak mungkin bisa diurai dengan bahasa dan tulisan bangsa mana pun.
Siau-hong dengan membawa semua barang kebutuhannya telah meninggalkan tenda mereka, meski ia sudah berjalan cukup lama, namun gejolak perasaannya belum juga bisa tenang.
Rasa lapar dan dahaga yang kelewat lama telah membuatnya berubah jadi lebih lemah dari keadaan semula, perasaan seseorang yang lemah memang selalu lebih mudah bergejolak.
Dia sama sekali tidak meminta balik "Ci-hu"
Dari tangan si Air raksa, karena dia memang tak berniat pergi kelewat jauh, dia kuatir tersesat hingga tak dapat menemukan kembali tenda ini.
Dia pun tak ingin orang lain mengira dia pergi jauh, karena dia memang bertekad akan balik kembali.
Namun dia tak mungkin bisa tetap tinggal di sana sambil menunggu pulihnya kesehatannya.
Asal dia bertemu orang itu, segera akan muncul suatu perasaan ancaman yang tak terbendung, dia merasa ancaman itu membuatnya selalu tegang, tak pernah bisa mengendorkan diri lagi.
Dalam tiga hari ini dia harus dapat memulihkan seluruh kekuatan tubuhnya, bahkan kalau bisa, pulih dalam kondisi puncak, dengan kondisi yang prima, ia baru punya harapan untuk berduel melawan orang itu, jika ia tak bisa mengendorkan seluruh syarafnya, berarti dia pasti akan kalah.
Kalah di ujung pedang seorang jago pedang tanpa perasaan, kalau sampai kalah berarti mati.
Angin dingin berhembus kencang, pasir berwarna kuning masih beterbangan di angkasa, malam ini sebuah malam yang membekukan.
Akhirnya ia berhasil melewati malam yang dingin dengan hembusan angin yang begitu kencang dalam sebuah liang batu karang yang tahan angin, sambil meneguk air, minum arak, makan kue, menggigit daging, ia gunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dalam waktu singkat ia terlelap tidur.
Tatkala mendusin dari tidurnya, pada pandangan mata yang pertama ia telah melihat Po Eng.
Malam yang dingin kembali berlalu, baju putih yang dikenakan Po Eng tampak bagaikan sukma gentayangan di remangnya sang fajar, jubah itu seolah terbuat dari bahan yang telah diberi mantera sakti, hingga selamanya tampil putih, bersih dan halus.
Siau-hong tidak merasa tercengang akan kemunculannya, malah sambil tertawa ujarnya.
"Tak disangka kau telah datang."
Padahal kejadian semacam ini bukannya tak bisa diduga, lagi pula munculnya orang ini di tempat mana pun, kapan pun, dia tak bakal merasa tercengang atau keheranan.
Mendadak Po Eng mengajukan satu pertanyaan yang sangat aneh.
"Penampilanku sekarang bila dibandingkan penampilanku saat pertama kali kau berjumpa aku, apakah terdapat perbedaan?"
Ia bertanya.
"Tak ada."
"Tapi kau telah tampil beda."
"Di mana bedanya?"
"Kau kelihatan seperti seorang yang kaya mendadak,"
Sindir Po Eng dengan suara keras.
Siau-hong segera tertawa, kantung kulit kambing tergeletak di sisi tubuhnya, dengan ketajaman mata Po Eng, tentu saja semua benda itu tak akan lolos dari pengamatannya.
Berada di dataran luas yang tak berperasaan semacam ini, bila ada orang bersedia memberi berbagai barang kebutuhan untukmu, tentu saja kau harus membayar untuk semua itu.
Dan kini satu-satunya yang bisa dia bayar untuk semua itu adalah kesadaran serta suara hatinya.
Apakah Po Eng sudah mulai menaruh curiga kepadanya?
Siau-hong tidak memberi penjelasan.
Berada di hadapan manusia semacam Po Eng, memang tak perlu menjelaskan persoalan apa pun.
Tiba-tiba Po Eng berkata lagi sambil tertawa.
"Tapi aku lihat kau si orang kaya mendadak rasanya tak pernah melakukan perbuatan yang memalukan."
Terkadang tidak memberi penjelasan justru merupakan semacam penjelasan yang paling baik.
"Aku tak lebih hanya bertemu seseorang,"
Siau-hong menjelaskan.
"Sementara waktu ini, dia tak ingin membiarkan aku mati dahaga."
"Siapakah orang itu?"
"Seseorang yang tiga hari kemudian bersiap akan membunuhku dengan tangannya sendiri."
"Dia akan membunuhmu dengan apa?"
"Dengan pedang miliknya."
Dengan sorot mata tajam Po Eng memandang sekejap pedang Siau-hong, lalu ujarnya.
"Kau pun mempunyai pedang, kemungkinan besar orang yang bakal terbunuh mati bukan kau, melainkan dia."
"Kemungkinan ini memang ada, tapi rasanya tidak mungkin."
"Kau memiliki sebilah pedang bagus, ilmu pedangmu juga lumayan hebat, seranganmu tidak lambat, tidak banyak orang yang mampu menghindari serangan pedangmu."
"Maka kau pun akan pergi?"
"Karena untuk sementara waktu kau tak bakal mati, aku pun terpaksa harus pergi,"
Suara Po Eng masih dingin dan tajam bagai mata golok.
Menunggu datangnya kematian ataupun mati di tangan orang lain, sama-sama merupakan kejadian yang tidak menyenangkan.
Apakah perasaannya juga sedingin ucapannya?
Dia pergi dari situ, apakah karena dia tahu Siau-hong telah lolos dari ancaman bahaya maut?
Siau-hong meneguk araknya, kemudian meneguk pula air tawar, baru perlahan-lahan mendorong campuran arak itu ke dalam perut.
Dia sangat berharap Po Eng pun bisa minum seteguk dengan cara begitu, sebab minum dengan cara begini selain amat nikmat, bahkan amat bermanfaat bagi semangat maupun kesehatan badan.
Ia tidak mempersilakan Po Eng minum, seperti dia tak akan meminta seorang pejabat yang bersih dan jujur untuk menerima uang sogokan.
Pemberian dari seseorang terkadang malah dianggap sebuah penghinaan oleh orang lain.
Tak disangkal Po Eng telah mengetahui pula akan hal ini, dari balik sorot mata elangnya yang dingin ternyata muncul secercah kehangatan.
"Kau belum pernah bertemu orang itu?"
Tiba-tiba ia bertanya. Siau-hong menggeleng.
"Belum pernah,"
Kemudian setelah termenung, lanjutnya pula.
"Padahal aku mengetahui hampir semua jago pedang kenamaan yang ada di kolong langit, namun tak bisa kuduga siapa gerangan orang itu."
"Tentu saja kau tak akan mengetahuinya,"
Dari balik mata Po Eng terpancar pemikiran mendalam yang mendekati "tingkat tinggi". Lewat lama sekali dia baru berkata lagi perlahan-lahan.
"Karena jago pedang yang sebenarnya memang tak punya nama."
Ucapan ini pun sudah mendekati taraf "tingkat tinggi", Siau-hong masih muda, ia belum dapat mencernanya. Maka tak tahan dia pun bertanya.
"Kenapa?"
Po Eng harus berpikir cukup lama sebelum dapat memberi penjelasan.
"Karena jago pedang yang sesungguhnya hanya mencari inti sari sebuah ilmu pedang, yang dipikirkan hanya tingkatan paling tinggi dan dalam dari sebuah ilmu pedang, kalau bisa mencapai sebuah taraf yang belum pernah dijamah dan diraih jago pedang lainnya. Hatinya sudah begitu tergila-gila dengan pedang, tubuh dan pikirannya telah menyatu dengan pedang, maka musuh yang dia cari pastilah orang yang bisa membantu dia untuk mencapai taraf yang sedang dituju."
Mungkin dia merasa penjelasan ini masih belum cukup membuat orang merasa puas, maka kembali tambahnya.
"Orang semacam ini bukan saja tak akan terjun ke dalam dunia persilatan untuk mencari nama, bahkan terkadang dia telah melupakan nama sendiri."
Siau-hong segera menambahkan.
"Betul, yang terutama baginya adalah tidak berharap orang lain mengetahui nama mereka, sebab bila seseorang mempunyai nama besar, dia tak akan bisa konsentrasi untuk melakukan perbuatan yang disukainya."
Tiba-tiba Po Eng menghela napas panjang, ujarnya.
"Ternyata kau memang seseorang yang amat cerdas, kepintaranmu luar biasa...."
"Tapi sayang orang yang pintar terkadang justru berumur pendek,"
Cepat Siau-hong menambahkan. Suara Po Eng mendadak berubah jadi dingin dan tajam, setajam mata golok.
"Oleh karena itu, tiga hari kemudian aku pasti akan datang untuk mengurus jenazahmu!"
Hari ini sudah bulan sembilan tanggal delapan belas.
Ooo)d*w(ooO Bulan sembilan tanggal dua puluh, hari cerah.
Dalam dua hari belakangan, kalau siang udara amat panas, sedang malam hari udara dingin membekukan, sekalipun kondisi badan Siau-hong makin lama semakin pulih, namun perasaannya justru berubah semakin tegang, gelisah, dan tak sabar.
Hal ini bukan dikarenakan ia merasa sangsi dan ngeri menghadapi duel yang segera akan dihadapinya, tapi karena ia merasa kelewat kesepian.
Sejujurnya dia ingin sekali mencari seseorang dan mengajaknya mengobrol, tapi Po Eng telah pergi dari situ, wilayah seputar ribuan li tak nampak jejak sesosok bayangan manusia pun.
Tegang, kepanasan, persediaan daging dan arak yang berlebihan membuat perasaannya mendadak berubah jadi lebih bersemangat.
Sudah lama, lama sekali ia tak pernah menyentuh wanita.
Terkadang dia bisa tak tahan untuk membayangkan kembali tangan itu, tangan halus, lembut yang sedang meraba setiap inci bagian tubuhnya, menggosok dan membasuhi setiap bagian badannya, termasuk bagian yang vital.
Ia mulai merasa bara api yang membakar dadanya, membakarnya hingga nyaris meledak.
Maka di tengah malam bulan sembilan tanggal sembilan belas, dengan mengikuti posisi bintang di langit sebagai kompas, dia mulai berjalan balik menuju ke arah tenda itu.
Hari ini sudah bulan sembilan tanggal dua puluh, dari balik remangnya cahaya fajar, ia sudah dapat melihat bayangan tenda.
Dia sendiri pun tahu, dengan kondisi badan yang dimilikinya sekarang, ia belum pantas untuk berduel melawan orang itu.
Namun dia enggan menghindar, dia pun tak mungkin mundur dari kenyataan.
Ada begitu banyak orang yang mempercayai takdir, semua beranggapan takdir akan menentukan jalan hidup seseorang.
Tapi ada banyak orang yang tidak tahu bahwa hal yang menentukan jalan kehidupan seseorang seringkali justru watak dan perangai sendiri.
Siau-hong adalah manusia semacam ini, maka dia pun memilih jalan kehidupan itu.
Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke dalam tenda.
Tenda kulit kerbau yang besar dan kokoh itu dibangun di bawah sebuah tebing batu penahan angin.
Ketika tiga hari berselang Siau-hong pergi meninggalkan tempat itu, dalam tenda bukan saja terdapat orang, di sana pun terdapat onta dan kuda, tapi sekarang tak satu pun yang kelihatan.
Kemana perginya mereka?
Kemana perginya onta dan kuda yang demi kelangsungan hidup, telah memikul beban makanan dan air, setiap hari menderita pecut dan siksaan manusia yang tak berperasaan?
Mungkinkah di dalam tenda saat ini hanya tersisa si jago pedang seorang, jago pedang tanpa nama tanpa perasaan yang sedang menunggu kedatangannya?
Menunggu untuk mencabut nyawanya!
Matahari yang terik telah muncul di tengah angkasa.
Butiran air keringat telah membasahi tubuh Siau-hong, mengalir hingga ke ujung bibir.
Butiran keringat yang asin bercampur getir, bila dijilat dengan ujung lidah akan terasa anyir bagaikan darah.
Dalam waktu singkat dia akan benar-benar mencicipi rasanya darah asli.
Darah sendiri!
Selimut, kantong air dan benda lain yang berat telah dia tinggalkan, semua barang yang bakal mempengaruhi kecepatan gerakan telah ia tanggalkan, sambil menggenggam kencang pedangnya ia berjalan masuk ke dalam tenda, bersiap menghadapi musuh yang paling tangguh sepanjang hidupnya.
Di luar dugaan, tak terlihat seorang pun di dalam tenda itu.
Jago pedang tanpa nama, mencabut pedang tanpa perasaan, sekali menyerang seketika mencabut nyawa lawan, bukan saja tusukan pedang itu mengandung seluruh inti sari ilmu pedangnya, terkandung juga seluruh rahasianya.
Tentu saja sewaktu turun tangan, dia enggan ada orang lain menyaksikannya.
Hanya orang mati yang pernah menyaksikan serangan pedangnya, karena siapa pun yang pernah menyaksikan serangan pedangnya, dia harus mati.
Oleh karena itu Siau-hong menduga, Wi Thian-bong serta si Air raksa telah dipaksa meninggalkan tempat itu.
Tapi mimpi pun dia tak menyangka jago pedang tanpa nama itu pun ikut pergi dari situ, terlebih tak habis mengerti mengapa dia harus pergi dari tempat ini?
Mereka berasal dari kelompok yang sama, dalam situasi dan keadaan seperti apa pun tak nanti meninggalkan arena pertarungan dan melarikan diri.
Mungkinkah di tempat itu telah terjadi sebuah perubahan yang mengejutkan?
Terjadi suatu peristiwa yang memaksanya mau tak mau harus pergi meninggalkan tempat itu?
Siau-hong tak dapat menduganya, dia pun tak tahu apa jawabannya.
Segala perabot dan keadaan di dalam tenda masih sama seperti keadaan pada tiga hari berselang, saat ia tinggalkan tempat itu, baskom emas masih berada di atas meja, kulit macan tutul pun masih ada....
Tiba-tiba seluruh otot badan Siau-hong mengejang kencang, dengan satu gerakan cepat dia menerjang ke depan, menghampiri ranjang itu.
Ia telah melihat kulit macan tutul itu sedang bergerak.
Dengan tangan sebelah menggenggam pedang, ia gunakan tangan yang lain, dengan gerakan yang lambat, lambat sekali...
kemudian secepat sambaran kilat mencengkeram dan menarik kulit macan tutul itu.
Tak salah, di bawah kulit macan tutul ternyata terdapat seseorang.
Dia bukan si Air raksa, bukan Wi Thian-bong, terlebih bukan jago pedang tanpa nama.
Orang itu adalah seorang perempuan, seorang perempuan dalam keadaan telanjang bulat.
Sekilas pandang Siau-hong dapat memastikan kalau sebelum ini dia belum pernah bertemu dengan perempuan ini, karena perempuan ini memiliki perbedaan dengan semua perempuan yang pernah dijumpainya selama ini.
Di mana letak perbedaannya?
Sekalipun Siau-hong tak dapat menjelaskan, namun ia dapat merasakannya, semacam perasaan yang begitu dalam, begitu kuat, nyaris menyusup masuk hingga ke tubuh bagian bawahnya.
Dia memang seorang gelandangan.
Tak sedikit perempuan yang pernah dijumpainya, tak sedikit pula perempuan yang pernah bugil di hadapannya.
Tapi tubuh perempuan ini kalah jauh bila dibandingkan dengan tubuh mereka, perempuan-perempuan itu memiliki tubuh yang lebih padat berisi, lebih kenyal, lebih merangsang napsu birahi.
Ia kelihatan selain pucat-pasi, bahkan kurus dan lemah, selain itu perkembangan payudaranya kurang sempurna, namun kesan yang ditimbulkan perempuan ini justru dapat menyusup hingga menyentuh napsu birahi paling purba dari manusia.
Sebab dia pasrah, sama sekali tak memiliki kekuatan untuk melawan, bahkan keinginan untuk melakukan perlawanan pun sama sekali tak ada.
Sebab perempuan ini kelewat lemah, apa pun yang akan dilakukan orang lain terhadapnya, terpaksa ia harus menerimanya.
Setiap lelaki dapat melakukan apa pun yang ingin dia lakukan terhadap perempuan itu.
Bila seorang wanita telah memberi perasaan semacam ini terhadap seorang lelaki, bagi dirinya atau pun bagi orang lain, jelas keadaan itu merupakan sesuatu yang sangat tidak menguntungkan.
Karena perasaan itu sendiri membawa semacam rangsangan yang menggiring manusia untuk melakukan dosa.
Siau-hong menerjang keluar, keluar dari tenda itu walau di luar tenda matahari sedang bersinar terik.
Ia membiarkan tubuhnya terbakar oleh teriknya matahari, sementara kobaran api birahi masih membara dalam lubuk hatinya.
Sudah terlalu lama dia mengendalikan gejolak birahinya, dia tak ingin berdosa lagi.
Butiran keringat mulai mengucur deras, mengendalikan napsu birahi terkadang jauh lebih susah daripada mengendalikan gejolak napsu lainnya.
Ia tidak pergi terlalu jauh, karena masih ada beberapa masalah yang harus dibikin jelas.
Dengan cara apa perempuan itu tiba di situ?
Ke mana perginya Wi Thian-bong sekalian?
Ketika untuk kedua kalinya dia masuk kembali ke dalam tenda, perempuan itu sudah duduk, tubuhnya telah dibungkus dengan kulit macan tutul, ia sedang mengawasi pemuda itu dengan pandangan ngeri, takut, dan seram.
Siau-hong berusaha menghindarkan diri dari tatapan mata perempuan itu.
Dia masih belum dapat melupakan perasaan yang dialaminya tadi, juga belum bisa melupakan tubuh bugil yang tersembunyi di balik kulit macan tutul itu.
Sekalipun begitu, ada beberapa persoalan tetap harus dia tanyakan, pertama-tama dia harus mencari tahu lebih dulu siapakah dirinya.
Setiap satu pertanyaan diajukan, ia segera menjawabnya secara spontan.
Tampaknya perempuan itu belum pernah membangkang, karena dia tidak memiliki kekuatan untuk membangkang, juga tak memiliki keinginan untuk membangkang.
"Siapa kau?"
"Aku bernama Pova."
Suaranya halus dan lembut, biarpun dialek yang dipakai adalah dialek yang biasa digunakan di daratan Tionggoan, namun terkesan aneh dan lucu.
Tampaknya walaupun dia seorang bangsa Han, tak disangkal sejak kecil sudah hidup di gurun pasir, nama yang digunakan pun menggunakan bahasa Tibet.
"Kau adalah anak buah Wi Thian-bong?"
"Bukan!"
"Kenapa kau bisa sampai di sini?"
"Aku datang untuk menunggu seseorang."
"Siapa?"
"Dia bernama Hong, seorang lelaki, seorang lelaki yang sangat baik."
Siau-hong tidak merasa tercengang dengan pengakuannya itu, maka segera tanyanya lagi.
"Kau kenal orang itu?"
"Tidak!"
"Siapa yang menyuruh kau menunggu di sini?"
"Majikanku."
"Siapa majikanmu?"
"Dia pun seorang lelaki."
Ketika menyinggung tentang majikannya, dari balik matanya segera terpancar semacam rasa kagum dan hormat yang luar biasa, seperti rasa hormatnya terhadap para dewata.
"Tapi dia lebih tangguh, lebih kosen daripada seluruh lelaki yang ada di dunia ini, asal dia ingin melakukan sesuatu, tak ada yang tak bisa dia lakukan, asal dia mau, dia pun bisa terbang ke langit nan biru, terbang ke puncak Cumu-lang-ma, karena dia seperti seekor burung elang."
"Burung elang?"
Akhirnya Siau-hong mengerti.
"Bukankah dia bernama Po Eng?"
Perempuan itu datang ke sana karena Po Eng yang menyuruh dia ke situ.
Wi Thian-bong tak berada di sana, tentu saja hal ini dikarenakan mereka telah dipaksa pergi oleh Po Eng.
Dia telah mewakili Siau-hong mengusir pergi Wi Thianbong dan Air raksa, dia pun telah mewakili Siau-hong mengalahkan jago pedang tanpa nama yang menakutkan itu.
Asal ia bersedia, pekerjaan apa pun dapat ia lakukan.
Tiba-tiba Siau-hong merasa sangat gusar.
Dia semestinya merasa berterima kasih, tapi rasa gusar yang membara di dalam dadanya sekarang jauh lebih kuat dari rasa terima kasihnya.
Jago pedang tanpa nama itu adalah lawannya, duel mati hidup yang bakal mereka berdua langsungkan sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan orang lain, sekalipun dia kalah dalam pertarungan, bahkan mati di medan laga, semuanya tak ada urusan dengan orang lain.
Hampir saja dia ingin menerjang keluar, pergi mencari Po Eng, pergi memberitahu orang yang luar biasa itu bahwa ada sementara urusan yang tak boleh diwakilkan siapa pun, ada pekerjaan tertentu yang harus dia lakukan sendiri...
pertarungannya harus diselesaikan oleh dirinya sendiri, harga diri serta martabatnya harus dia sendiri yang lindungi, seperti dirinya melindungi nyawa sendiri.
Peluhnya masih menetes, dia pun masih pirnya darah untuk mengalir, atas dasar apa manusia yang luar biasa itu ingin mencampuri urusannya!
Perempuan itu masih mengawasinya tanpa berkedip, tiada rasa takut lagi di balik sorot matanya, mendadak ia berkata.
"Aku tahu, kau pastilah orang yang sedang kutunggu."
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Aku bisa melihat, kau adalah orang baik,"
Perlahan ia menundukkan kepala.
"Karena kau tidak menjahati aku...."
Sebetulnya manusia itu sama rata sama derajat, setiap orang berhak untuk "tidak dijahati", tapi bagi perempuan ini, bisa tidak dijahati orang sudah merupakan sebuah berkah, sebuah keberuntungan yang langka.
Sudah berapa banyak tekanan, penghinaan dan perkosaan yang dia alami selama ini?
Dari balik perkataan yang diucapkannya sekarang, terkandung betapa besar kesedihan dan kepedihan yang pernah dia alaminya selama ini?
Tiba-tiba rasa gusar Siau-hong lenyap seketika, rasa gusarnya telah berubah jadi rasa kasihan dan iba.
Kembali perempuan itu mengangkat wajahnya, menatap pemuda itu lekat-lekat.
"Aku pun dapat melihat apa yang kau butuhkan sekarang, apa yang kau inginkan segera akan kuberikan semuanya untukmu!"
Detak jantung Siau-hong kembali berdebar keras, perempuan itu telah bangkit, berdiri di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat.
Ketika Siau-hong ingin kabur, ingin menghindarkan diri, perempuan itu sudah menubruk ke dalam pelukannya.
Suara tawanya benar-benar sangat riang, jauh lebih riang daripada seorang pemancing ikan yang memasukkan ikan hasil tangkapannya ke dalam kuali berminyak panas.
Bagaimana pula perasaan sang ikan?
Ooo)d*w(ooO BAB 5.
IKAN DALAM JARING Perasaan pertama yang muncul dalam benak Siau-hong adalah "Tidak percaya", dia tak percaya Pova bakal mengkhianatinya.
Sayang semua ini merupakan kenyataan, seringkali kenyataan jauh lebih menakutkan, jauh lebih sadis dan kejam daripada impian buruk.
Tapi akhirnya dia mengerti juga.
Pova menunggunya di dalam tenda bukan atas perintah Po Eng.
Ternyata majikannya bukan Po Eng, melainkan Sui-gin, si Air raksa.
"Sekarang tentunya kau sudah paham bukan kalau semua ini hanya sebuah perangkap, semua perkataan yang dikatakan nona Sui kepadamu tadi tak satu pun yang merupakan kata sejujurnya, walaupun dia mempunyai suara yang manis bagai madu, namun di balik senyumannya tersembunyi golok, golok yang dapat membunuh tanpa mengeluarkan darah!"
Pova berdiri di samping Sui-gin, apa pun yang dikatakan Sui-gin, Pova hanya mendengarkan dengan tenang. Mendadak ia cengkeram rambut Pova, menekan wajahnya yang pucat-pasi itu ke hadapan Siau-hong.
"Pentang matamu lebar-lebar dan awasi wajahnya, aku berani bertaruh, hingga sekarang kau pasti tak akan percaya kalau dia adalah perempuan semacam ini!"
Siau-hong membuka matanya lebar-lebar, rambut perempuan itu telah mewakilinya menahan cahaya matahari, rambutnya yang panjang terurai di atas wajahnya, sepasang mata perempuan itu tampak kosongmelompong, seakan tak melihat apa-apa, dia pun seolah tak memikirkan apa-apa.
Pada hakikatnya, orang ini seolah hanya tinggal sebuah badan yang kosong, tidak memiliki pikiran, tak punya perasaan, juga tak punya sukma.
Dalam waktu sekejap inilah, Siau-hong telah memaafkan dirinya.
Terlepas dia pernah berapa kali melakukan perbuatan yang menakutkan, dia telah memaafkannya.
"Orang yang punya janji denganmu telah pergi,"
Kata si Air raksa lagi.
"Karena ia sudah tahu kalau kau pada hakikatnya tidak pantas untuk bertarung melawannya. Wi Thian-bong ingin menggunakan kau untuk mencari kembali uang emasnya, sedang aku hanya menginginkan nyawamu."
Setelah menarik napas, perlahan-lahan ia berkata lebih jauh.
"Aku berani bertaruh, kali ini pasti tidak ada lagi orang yang datang menyelamatkan dirimu."
Tiba-tiba Siau-hong tertawa lebar.
"Apa yang kau pertaruhkan? Mempertaruhkan nyawamu?"
Katanya. Sui-gin balas menatap lawannya lekat-lekat.
"Aku hanya menginginkan...."
Perempuan itu tidak menyelesaikan kata-katanya, mendadak senyuman di bibirnya membeku, karena secara tiba-tiba dia telah menyaksikan munculnya sesosok bayangan hitam di atas tanah.
Cahaya matahari memancar masuk dari belakang punggungnya, bayangan hitam itu justru muncul dari belakang tubuhnya, bayangan dari seseorang.
Dari mana datangnya orang itu?
Sejak kapan muncul di sana?
Ternyata Sui-gin sama sekali tidak merasakannya.
Bayangan itu menempel ketat di belakang tubuhnya, bergerak sedikit pun tidak.
Sui-gin tak berani bergerak, ia tak berani bergerak secara sembarangan.
Tangan dan kakinya telah dingin membeku, butir keringat sebesar kacang kedelai telah jatuh bercucuran, butir demi butir bercucuran membasahi jidatnya.
"Siapa kau?"
Akhirnya tak tahan dia bertanya. Bayangan itu tidak menjawab, Siau-hong yang mewakilinya menjawab.
"Mengapa kau tidak berpaling dan melihatnya sendiri?"
Tentu saja wanita itu tak berani berpaling.
Asal dia berpaling, kemungkinan besar ada sebilah pedang yang tajam akan segera menggorok lehernya.
Segulung angin berhembus, mengibarkan jubah panjang bayangan itu.
Dia segera dapat melihat ujung jubah berwarna putih yang jauh lebih putih dari salju di pegunungan nun jauh di sana.
Kembali Siau-hong bertanya.
"Sekarang apakah kau masih akan bertaruh lagi denganku?"
Sui-gin ingin sekali buka suara, namun hanya bibirnya yang gemetar, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan.
Di saat orang lain menyangka dia sudah hampir runtuh karena rasa ketakutan yang luar biasa itulah mendadak perempuan itu melejit keluar lewat samping Pova, kemudian sambil menginjak di atas kepala Pova, dia melejit sejauh tiga tombak dari tempat semula kemudian kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Sampai detik terakhir dia tetap tak berani berpaling untuk memandang sekejap ke arah bayangan yang berdiri di belakang tubuhnya, sebab ia sudah dapat menebak siapa gerangan orang itu.
Di atas puncak Cu-mu-lang-ma yang selalu dilapisi salju abadi, hanya ada seekor burung elang.
Di dataran luas yang tak berperasaan pun hanya ada seorang, konon orang itu adalah jelmaan dari siluman elang, seorang tokoh sakti yang selamanya tak pernah bisa dimusnahkan.
Semua orang yang hidup di tengah gurun pasir, pasti pernah mendengar kisah cerita tentang dongeng ini, begitu juga dengan Sui-gin.
Po Eng tidak mengejar perempuan itu, dia masih berdiri di situ tanpa bergerak, berdiri sambil mengawasi Siau-hong dengan sepasang mata elangnya.
"Kau sudah kalah,"
Tiba-tiba ujarnya.
"Bila ia benarbenar mengajakmu bertaruh, kau sudah kalah."
"Kenapa?"
"Karena apa yang dia katakan memang benar, kali ini memang tiada orang yang bakal menolongmu."
"Bagaimana dengan kau?"
"Aku pun bukan datang untuk menolongmu, aku hanya kebetulan lewat di sini, kebetulan berdiri persis di belakang tubuhnya."
Siau-hong pun menghela napas panjang.
"Ai, apakah selamanya kau tak pernah mau menerima rasa terima kasih orang lain terhadapmu?"
Dia tahu Po Eng tak bakal menjawab pertanyaan ini, maka segera lanjutnya lebih jauh.
"Jika secara kebetulan kau butuh lima lembar sabuk kulit kerbau, kebetulan aku memiliki lima lembar sabuk kulit kerbau dan bisa kuhadiahkan untukmu, aku pun tak ingin kau berterima kasih kepadaku!"
Senyuman mulai nampak dari pancaran mata Po Eng, sahutnya.
"Kebetulan aku memang sedang membutuhkan sabuk kulit kerbau semacam ini."
Siau-hong segera menghembuskan napas lega, katanya kemudian sambil tersenyum.
"Kalau begitu, bagus sekali."
Kulit kerbau yang terikat di keempat anggota badan serta tenggorokan Siau-hong sudah dilepas, Po Eng pun menggabungkan kelima utas sabuk itu menjadi satu, tibatiba ia bertanya.
"Tahukah kau apa yang hendak kuperbuat dengan benda ini?"
"Tidak."
"Akan kuhadiahkan kepada seseorang."
"Dihadiahkan untuk siapa?"
"Untuk seseorang yang setiap saat kemungkinan akan menggantung diri, kalau ingin gantung diri, sabuk kulit kerbau semacam ini paling cocok dipakai,"
Kata Po Eng hambar.
"Aku tak suka membunuh orang, tapi aku pun tak keberatan jika ada seseorang ingin menggantung diri."
Siau-hong tak perlu bertanya lagi siapakah orang itu, dia memang tidak terlalu menaruh perhatian atas perkataan dari Po Eng itu.
Hingga saat ini, dia hanya mengawasi Pova terus tanpa berkedip.
Waktu itu Pova sudah terinjak hingga terbenam dalam pasir, biarpun rambutnya yang hitam masih berkibar terhembus angin, namun seluruh wajahnya telah terbenam di dalam pasir kuning.
Selama ini dia hanya berbaring terus dalam posisi begitu, sama sekali tak bergerak, sama sekali tak mendongakkan kepalanya.
Apakah hal ini dikarenakan ia tak berani mengangkat wajahnya lagi untuk berhadapan dengan Siau-hong?
Sebetulnya Siau-hong ingin sekali pergi begitu saja, pergi tanpa mempedulikan perempuan itu lagi, akan tetapi perasaannya masih terasa sakit sekali.
"Mana pedangmu?"
Kembali Po Eng bertanya kepadanya.
"Tidak tahu!"
Pedang itu memang sudah tidak berada di sampingnya lagi.
"Masih ingin mendapatkan kembali pedangmu?"
"Tentu saja!"
Mendadak Po Eng tertawa dingin, katanya.
"Padahal kau sudah tak menginginkannya lagi, kecuali perempuan ini, kau sudah tak menginginkan yang lain...."
Ternyata Siau-hong tidak menyangkal, tiba-tiba dia mengulurkan tangan, membelai perlahan rambut Pova yang masih berkibar terhembus angin.
Berada di hadapan Po Eng, sebetulnya dia tak ingin berbuat begitu.
Tapi sekarang dia telah melakukannya, ia lakukan semua itu bukan terdorong oleh rasa iba atau simpatik, bukan juga karena luapan emosi sesaat, melainkan karena suatu perasaan yang sukar dijelaskan, sukar dilukiskan dengan perkataan apa pun.
Dia tidak tahu kalau perasaan semacam ini sesungguhnya tak dapat dipahami oleh Po Eng, dia hanya mendengar suara tertawa dingin Po Eng, lalu secara tibatiba suara itu semakin menjauh.
Di kolong langit, di tengah dataran yang begitu luas seolah-olah kini tinggal mereka berdua, walau begitu Siauhong sudah tidak merasakan kesendirian dan kesepian lagi.
Cepat dia membangunkan perempuan itu, mengangkat wajahnya dengan kedua belah tangan, tampak sorot mata Pova kosong dan hampa, tiada perubahan mimik, tiada luapan perasaan, tiada air mata.
Bekas air mata masih memenuhi wajahnya yang kini telah tergesek luka oleh pasir panas, mendadak Siau-hong mengambil keputusan, dia bertekad akan membuat perempuan itu memahami perasaannya.
"Semua ini bukan kesalahanmu, aku tidak membencimu. Terlepas perbuatan apa saja yang pernah kau lakukan dulu, aku tak peduli, selama aku masih bisa hidup, akan kurawat dirimu secara baik-baik, tak akan kubiarkan kau diatur orang, diperintah orang dan dianiaya orang lain."
Pova hanya mendengarkan tanpa bicara, membiarkan air matanya meleleh membasahi pipinya, bukan saja ia tidak memberi penjelasan atas kesalahan yang pernah dilakukan, dia pun tidak menampik kasih sayangnya yang lembut.
Peduli apa pun yang akan dilakukan pemuda itu, dia bersedia menerimanya, rela menuruti semua kemauannya.
Maka Siau-hong pun membopong tubuh perempuan itu, berjalan ke depan dengan langkah lebar.
Tapi berapa jauh dia bisa pergi?
Berapa lama dia bisa hidup?
Siau-hong tak tahu, dia pun tak peduli.
Belum jauh ia berjalan meninggalkan tenda, tiba-tiba terdengar suara keleningan onta, suara keleningan onta yang lebih merdu dari irama dewa-dewi, lebih membangkitkan semangat daripada genderang perang.
Menyusul dia pun menyaksikan satu rombongan pedagang yang mengendrai onta yang begitu besar, rombongan besar yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Begitu banyak onta, begitu banyak barang muatan, begitu banyak manusia....
Orang pertama yang dia saksikan adalah seorang bongkok yang timpang kakinya, putus jari tangannya, berkepala botak, dan bermata satu.
Si bongkok ini tampak tinggi besar dan jauh lebih buas tampangnya daripada kebanyakan orang.
Terhadap manusia semacam ini, dia tak perlu bicara berputar-putar.
"Aku dari marga Hong,"
Dia langsung berterus terang.
"Saat ini tak punya air, tak punya makanan, tak punya uang. Aku sudah tersesat. Karena itu kumohon kalian mau menerimaku, bawa aku meninggalkan wilayah gurun pasir ini!"
Dengan mata tunggalnya yang memancarkan sinar tajam si bongkok mengawasinya lekat-lekat, kemudian bertanya dingin.
"Kalau kau memang tak memiliki apa-apa, kenapa kami harus menerimamu?"
"Karena aku adalah manusia, kalian pun manusia."
Oleh karena ucapannya itu, maka mereka pun menerimanya.
Rombongan pedagang itu berasal dari berbagai ragam bangsa, ada orang Tibet dengan dandanannya aneh tapi indah, ada orang Mongol yang gagah perkasa, ada orang Bhutan yang gemar memakai baju ungu, ada pula bangsa Han yang sudah lama meninggalkan kampung halaman.
Barang dagangan mereka terdiri dari bulu domba, kulit samak, daun teh, garam, obat-obatan, serta dupa wangi.
Adapun tujuan mereka adalah negeri Turfan pada dinasti Tong, kota Tosiamso yang dalam pandangan orang Tibet merupakan kota suci mereka, Lhasa!
Sekalipun kelompok yang mereka bentuk sedikit campuraduk, namun semuanya merupakan kaum pedagang, oleh karena itu kerja sama antar kelompok berlangsung sangat baik dan harmonis.
Ada yang bertugas memberi makan onta, ada yang bertugas mengurus makanan dan minuman, ada yang bertugas mengobati penyakit, ada pula satu kelompok orang yang paling kuat dan buas bertugas sebagai pengawal, pengamat, serta pasukan pemukul serangan musuh.
Si bongkok yang mengizinkan Siau-hong bergabung dalam rombongan ini adalah salah satu di antara kelompok itu.
Siau-hong mendapat tahu kalau pemimpin mereka adalah seorang Tibet yang mempunyai julukan sebagai Pancapanah, sayang selama ini belum pernah menjumpainya karena dia sering berkelana ke empat penjuru dunia.
Selama dia tak berada di tempat, kelompok ini akan dipimpin oleh si bongkok serta seseorang bernama Tong Leng yang berasal dari wilayah Siok (Su-cwan).
Memang bukan pekerjaan gampang untuk mengurusi serta bertanggung-jawab atas keselamatan rombongan besar semacam ini!
Biarpun si bongkok adalah seorang cacat, ternyata gerakgeriknya cepat dan lincah, bahkan memiliki kekuatan yang menakutkan, bungkusan barang seberat beberapa ratus kati ternyata sanggup dia angkat hanya dengan mengandalkan sebelah tangan.
Sejak awal perjumpaan, Siau-hong sudah tahu orang ini adalah seorang jago persilatan yang memiliki kungfu sangat hebat.
Tong Leng adalah seorang lelaki pendiam tapi gerakgeriknya serius, dia memiliki jari tangan yang panjang namun penuh bertenaga, kemungkinan besar merupakan anak murid keluarga Tong dari Su-cwan yang tersohor karena kelihaian senjata rahasia beracunnya.
Kendatipun begitu, setiap kali menyinggung Pancapanah, sikap mereka segera akan berubah amat hormat dan patuh.
Kendati Siau-hong belum pernah bertemu orang itu, namun bisa membayangkan bahwa dia adalah seorang lawan yang tak gampang dihadapi.
Perjalanan yang ditempuh rombongan itu tidak terlalu cepat.
Onta memang bukan termasuk jenis binatang yang gemar berlari, sementara rombongan itu pun tidak punya kepentingan untuk menempuh perjalanan cepat.
Begitu matahari mulai tenggelam di balik gunung, mereka akan mengumpulkan semua onta menjadi satu lingkaran besar, di tengah lingkaran kosong inilah mereka mendirikan tenda untuk berteduh, Siau-hong serta Pova mendapat jatah sebuah tenda tersendiri.
Malam kedua, Siau-hong dapat tidur amat nyenyak.
Berada dalam perlindungan keamanan sebuah kelompok yang begitu ketat dan kuat, tentu saja ia dapat tidur sangat pulas.
Dia berharap Pova pun dapat tidur dengan nyenyak sekali, tapi sampai ia mendusin pada hari kedua, perempuan itu masih duduk bodoh di tempat semula, sekalipun sudah tiada air mata namun ia sudah memperlihatkan reaksi.
Sorot mata yang terpancar menunjukkan perasaannya yang hancur-lebur.
Biarpun selama ini dia tak pernah mengucapkan sepatah kata penyesalan pun, namun sinar matanya telah memperlihatkan seluruh perasaannya, ungkapan hati yang jauh lebih gamblang daripada kata-kata.
Biarpun Siau-hong telah memaafkan dirinya, akan tetapi ia tak dapat memaafkan diri sendiri.
Dia hanya berharap waktu dapat menyembuhkan seluruh luka yang membekas dalam hatinya.
Sewaktu Siau-hong bangun dari tidurnya, hari belum begitu terang tanah, saat itu rombongan onta sudah siap melanjutkan kembali perjalanannya.
Ketika keluar dari tenda, si bongkok telah menantinya.
"Kemarin aku telah menerangkan semua keadaan di sini kepadamu, tentu saja kau sudah paham bukan, setiap orang yang berada di sini harus bekerja."
"Aku mengerti."
"Apa yang dapat kau lakukan?"
"Kau menghendaki aku mengerjakan apa, akan kulakukan."
Si bongkok memandangnya dengan dingin, di antara kilatan cahaya dari balik mata tunggalnya, mendadak secepat kilat dia melancarkan serangan.
Tangan kirinya hanya memiliki dua jari tangan, namun ketika turun tangan, kedua jari itu tiba-tiba saja berubah seperti sepasang pedang, sebilah gurdi dan seekor ular berbisa, ular yang langsung menyergap tenggorokan Siauhong.
Menghadapi datangnya ancaman itu Siau-hong sama sekali tak bergerak, bahkan mata pun sama sekali tak berkedip, menunggu kedua jari tangan itu sudah berada lima inci di depan tenggorokannya, ia baru mulai bergeser, tiba-tiba saja ia sudah menyelinap ke sisi kiri si bongkok.
Waktu itu telapak tangan kanan si bongkok telah melancarkan pukulan, pukulan inilah baru merupakan serangan utamanya, angin serangan yang muncul akibat pukulan itu seketika membuat seluruh tenda bergoncang keras.
Sayang sekali sasaran gempurannya sudah tidak berada pada posisi yang diperhitungkan semula.
Siau-hong sudah tahu serangannya hanya jurus tipuan, biarpun anak muda itu bergerak lamban, namun sesungguhnya cepat luar biasa, arah di mana Siau-hong bergeser justru merupakan posisi yang paling sulit dicapai serangan lawan atau dengan perkataan lain merupakan posisi yang paling lemah dan kosong pertahanannya.
Asal dia melancarkan serangan balasan, niscaya pihak lawan segera akan roboh.
Siau-hong tidak turun tangan.
Dia membiarkan pihak lawan tahu kalau dirinya tak bisa dianggap enteng, dengan "tenang mengatasi gerak, dengan lambat mengatasi cepat, menyerang belakangan tiba duluan", ia perlihatkan ketangguhan dan kelebihan dirinya.
Si bongkok pun tidak lagi melancarkan serangan.
Kedua orang itu berdiri saling berhadapan, saling menatap sampai lama sekali, kemudian si bongkok itu baru berkata perlahan.
"Sekarang aku sudah tahu apa yang bisa kau lakukan."
Sambil membalikkan badan tambahnya.
"Mari ikut aku!"
Sekarang, tentu saja Siau-hong pun sudah tahu pekerjaan apa yang bakal diberikan si bongkok kepadanya.
Demi kelanjutan hidup, demi keluar dari gurun pasir dalam keadaan hidup, terpaksa dia harus melakukannya.
Dia harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperebutkan hak mempertahankan hidup bagi dirinya serta Pova.
Di saat tak boleh mati, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mati, di saat harus hidup, dia pun akan sepenuh tenaga memperebutkannya.
Tong Leng mempunyai perawakan tubuh setinggi lima kaki sedang berat tubuhnya hanya seratus lima puluh satu kati, namun setiap inci tubuhnya dipenuhi otot baja dan tenaga raksasa, setiap otot setiap tulang, setiap syaraf yang dimilikinya selalu terjaga dalam kondisi sehat dan sempurna sehingga setiap saat dapat melancarkan serangan telak yang mematikan.
Biarpun perawakan tubuh anak buahnya rata-rata jauh lebih tinggi dari tubuhnya, namun selama berdiri di hadapannya, ternyata tak seorang pun berani memandang enteng terhadap dirinya.
Di antara kelompok mereka ini, di antaranya bukan saja terdapat para jago gagah dari dunia persilatan, ada juga para jago dari luar perbatasan maupun jago-jago dari bangsa asing.
Dan sekarang, mereka telah ketambahan lagi seorang rekan.
"Dia she Hong,"
Si bongkok mengajak Siau-hong ikut hadir di tempat di mana setiap pagi mereka berkumpul.
"Aku ingin menggunakan dia!"
"Apakah dia berguna?"
Tanya Tong Leng, hanya satu pertanyaan.
"Ya!"
Tong Leng tidak bicara lagi, dia sangat mempercayai si bongkok, selamanya tak pernah banyak bertanya.
Sayang belum tentu orang lain berpandangan begitu.
Kelompok manusia ini terdiri dari kawanan manusia yang sudah terbiasa hidup menyendiri, angkuh, dan enggan mengaku lemah di hadapan orang lain, sifat mereka masih liar, siapa pun tak pernah memandang sebelah mata terhadap orang lain.
Setelah saling bertukar pandang, akhirnya orang pertama yang tampil ke depan adalah Ma Sah.
Lelaki yang bernama Ma Sah ini berperawakan tinggi besar dan kasar, ia memiliki tenaga dalam yang luar biasa kuatnya, termasuk seorang Bu-su kenamaan di wilayah Mongol dan merupakan jagoan hebat ilmu gulat.
Kalau akan mencari masalah dengan orang lain, dialah orang pertama yang selalu tampil lebih dulu.
"Biar aku yang mencoba lebih dulu sampai di mana kehebatan kepandaian silatnya!"
Diiringi suara bentakan nyaring, sepasang tangan besarnya yang kuat bagai banteng itu langsung mencengkeram bahu Siau-hong.
Seketika itu juga tubuh Siau-hong terlempar ke tengah udara.
Ma Sah tertawa terbahak-bahak.
Tapi baru saja tertawa, mendadak ia tak dapat tertawa lagi.
Orang yang baru saja dilempar jauh ke belakang, tahutahu sudah berdiri kembali di posisi semula, bukan hanya balik ke tempat semula, bahkan seakan sama sekali tak pernah bergerak.
"Bocah muda, ternyata hebat juga kepandaianmu."
Ma Sah meraung keras, kembali ia gunakan jurus paling hebat dari ilmu gulatnya.
Konon dengan jurus ini dia pernah membanting mati seekor banteng buas.
Tapi kali ini Siau-hong sama sekali tak bergerak, sepasang kakinya seolah sudah berakar di dalam tanah.
Kembali Ma Sah meraung keras, suaranya nyaring bagai auman binatang buas, seluruh kekuatan yang dimilikinya telah digunakan.
Kali ini Siau-hong mulai bergerak.
Bahunya dikibaskan perlahan, sekonyong-konyong tubuh Ma Sah yang gede bagai kerbau itu sudah berjumpalitan beberapa kali di tengah udara, lalu roboh terbanting ke atas tanah, begitu kerasnya bantingan itu hingga nyaris menciptakan sebuah liang besar di atas permukaan pasir.
Pada saat itulah sekilas cahaya dingin berkelebat di tengah udara, sebilah golok telah dilolos dari sarungnya dan langsung dihujamkan ke arah pinggang Siau-hong.
"Coba dulu kehebatan golokku!"
Orang ini menyerang dulu kemudian baru bersuara, memang begitulah cara seorang pejuang suku Gurkha ketika hendak membunuh orang, Garda merupakan salah seorang dalam pasukan mereka yang paling ganas dan buas.
Bagi mereka, membunuh tetap adalah membunuh, asal dapat membunuh lawan, peduli cara mereka itu gagah atau tidak.
Baru saja suara bentakan bergema, mata goloknya nyaris sudah menusuk pinggang Siau-hong, sayang pergelangan tangannya sudah keburu ditahan oleh Siau-hong, menyusul tahu-tahu golok miliknya sudah berpindah tangan.
"Kau hendak membunuhku, seharusnya aku pun membunuhmu,"
Ujar Siau-hong dengan suara berat.
"Karena kau tak mampu membunuhku, seharusnya kaulah yang mati di tanganku."
Setelah berhenti sejenak, tambahnya.
"Apakah cara ini terhitung sangat adil?"
Saking sakitnya, peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi jidat Garda, ia merasakan pergelangan tangannya nyaris hancur berkeping, sambil mengertak gigi sahutnya cepat.
"Adil!"
Siau-hong tertawa, tiba-tiba ia kendorkan tangannya dan menyarungkan kembali golok itu ke dalam sarung kulit kerbaunya.
"Aku tak boleh membunuhmu karena kau adalah seorang jago pemberani, seorang jago pemberani yang tak takut mati."
Garda melotot besar, melotot sambil mengawasi lawannya tanpa berkedip, mendadak ia meleletkan lidah, meleletkan lidahnya yang panjang, panjang sekali.
Jelas dia bukan sedang membuat muka setan, mimik wajahnya tampak serius dan sangat menaruh hormat.
Kemudian dari sakunya dia ambil keluar selembar kain putih yang terbuat dari sutera, dengan kedua belah tangan dia persembahkan sutera itu dan diletakkan di bawah kaki Siau-hong.
Untung Siau-hong sudah pernah mendatangi banyak tempat di wilayah seputar sana sehingga tidak sampai salah mengartikan maksudnya.
Meleletkan lidah di hadapan orang lain merupakan upacara penghormatan paling tinggi bagi orang Tibet, menandakan mereka menaruh rasa hormat yang luar biasa terhadap dirimu.
Sementara kain putih sutera itu merupakan "Ha-da", benda yang amat dihormati bangsa Tibet, jika seorang mempersembahkan Ha-da kepada orang lain, hal ini mengartikan dia telah menganggap dirimu sebagai sahabatnya yang paling terhormat.
Oleh karena itulah paling tidak di tempat itu Siau-hong sudah mempunyai seorang sahabat yang bisa diandalkan.
Tak ada lagi yang turun tangan, ketika menatap Siauhong sekarang, sorot mata setiap orang sudah jauh berbeda bila dibandingkan dengan tatapannya semula.
Siau-hong mengerti, mereka telah menerima kehadirannya.
Selama ini si bongkok hanya mengawasi tanpa bicara, saat itulah dia baru berkata.
"Julukan untuk kelompok kami adalah 'Panah', sekarang kau sudah menjadi salah satu anggota kelompok Panah, berarti seperti anggota lain, setiap hari mendapat giliran sekali untuk meronda dan piket. Barang dagangan yang kita bawa pulang kali ini tak ternilai harganya. Asalkan ada orang mencurigakan ingin datang membegal barang dagangan kita, kau boleh segera membunuhnya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Kau bahkan boleh menggunakan cara yang digunakan Garda untuk membunuhmu tadi untuk membinasakannya."
"Kau akan mendapat tugas piket senja nanti,"
Ujar Tong Leng kemudian.
"Aku akan mengirim Garda untuk tugas bersamamu, sampai waktunya dia akan pergi menghubungimu."
"Sekarang kau boleh kembali untuk merawat perempuanmu itu lebih dulu,"
Si bongkok menambahkan. Dari balik mata tunggalnya tiba-tiba terlintas senyuman, tambahnya.
"Kelihatannya perempuan itu adalah seorang perempuan baik, di sini jarang ada perempuan, lebih banyak kaum lelaki, jadi kau harus menjaganya ekstra hatihati."
Siau-hong hanya mendengarkan dengan mulut membungkam, kemudian berlalu tanpa bicara. Belum jauh dia pergi, terdengar Tong Leng bertanya kepada si bongkok.
"Ilmu silat yang dimiliki orang she Hong itu sangat hebat, tahukah kau asal-usul ilmu silatnya?"
"Tidak tahu."
"Kau tak bertanya kepadanya?"
"Tidak."
"Kenapa tidak kau tanya?"
"Karena...."
Siau-hong tidak mendengar pembicaraan mereka selanjutnya, karena secara tiba-tiba si bongkok merendahkan suaranya, sedang dia pun sudah pergi jauh.
Rombongan onta kembali melanjutkan perjalanannya, mereka bergerak sangat lamban.
Ada di antara anggota rombongan yang demi sujud hormatnya terhadap tempat suci, mereka bersujud penuh dengan ketulusan hati, setiap tiga langkah satu kali menyembah, lima langkah tiga kali bersujud.
Pova mendapat jatah seekor onta, ia duduk termangu di atas onta dengan pandangan mata kosong, seolah tak ada yang dipikirkan selama ini, seolah juga kelewat banyak yang sedang dia pikirkan.
Sementara Siau-hong sedang memikirkan terus perkataan yang diucapkan si bongkok tadi.
"Kali ini kami sedang membawa barang dagangan yang mahal harganya, asal ada orang mencurigakan yang berusaha mendekat, kau harus segera membunuhnya."
Mau tak mau timbul kecurigaan di hati Siau-hong.
Apakah barang dagangan yang mereka bawa pulang kali ini adalah emas lantakan senilai tiga puluh laksa tahil?
Mungkinkah orang-orang ini adalah begal kucing?
Menggunakan cara semacam ini untuk mengelabui identitas mereka meski tak bisa dihitung terlalu baik, namun untuk mengirim keluar emas sebesar tiga puluh laksa tahil dari gurun pasir, memang tiada cara lain yang lebih bagus lagi daripada cara seperti ini.
Bila para Bu-su dari kelompok Panah mengenakan topeng kepala kucing, bukankah mereka segera akan berubah menjadi begal kucing?
Sekalipun sepak terjang mereka sangat mencurigakan, namun di balik hal itu pun masih terdapat persoalan lain.
Kalau ada rombongan yang begitu besar sedang melakukan perjalanan di gurun pasir, tak mungkin Wi Thian-bong tidak memperhatikan.
Kenapa hingga sekarang Wi Thian-bong belum melakukan suatu langkah serta tindakan terhadap mereka?
Jika mereka benar-benar adalah bandit kucing, mengapa pula mau menerima dirinya sebagai seorang asing yang tak jelas asal-usulnya?
Siau-hong memutuskan untuk tidak berpikir lebih jauh.
Bagaimana pun juga sikap orang-orang itu terhadapnya masih terhitung lumayan, bila bukan mereka yang mau menampungnya, kemungkinan besar saat ini tubuhnya sudah menjadi santapan elang kelaparan.
Yang paling ketat dan keras pengurusannya adalah masalah penggunaan air minum.
Orang yang bertanggung jawab atas masalah ini adalah seorang dari marga Gan, dia bernama Tin-kong, orangnya jujur, adil, tegas, dan sangat pakai aturan.
Selama menempuh perjalanan, tak terhindar tentu ada yang menderita sakit atau tak sehat badan.
Orang yang bertanggung-jawab masalah pengobatan adalah seorang Siucay yang mengembara hingga keluar perbatasan, tubuhnya kurus, lemah, mukanya penyakitan.
Meski dia tak mampu menyembuhkan penyakit yang ia sendiri derita, namun semua orang bersikap hormat kepadanya, mereka memanggilnya Song-lohucu, si tabib Song.
Dalam waktu singkat Siau-hong telah berkenalan dengan mereka, namun selama ini ia tak pernah bertemu Pancapanah yang jejaknya penuh misteri itu, dia pun tak pernah lagi berjumpa dengan Wi Thian-bong.
Tampaknya Wi Thian-bong sama sekali tidak menaruh perhatian kalau di tengah gurun terdapat rombongan onta yang begitu besar.
Senja telah menjelang.
Rombongan onta kembali membuat sebuah lingkaran, tenda-tenda pun mulai didirikan.
Pova kelihatan makin layu, makin lemah dan kusut, walaupun kadangkala secara diam-diam ia mencuri pandang sekejap ke arah Siau-hong, namun tak pernah buka suara.
Untung saja perempuan itu sangat penurut, bila Siauhong memintanya minum, dia langsung minum, bila memintanya tidur, dia pun langsung tidur.
Justru sikap semacam ini membuat perasaan orang makin kecut dan pedih.
Dia sebetulnya ingin sekali menemaninya lebih lama, tapi Garda telah muncul, memanggilnya untuk tugas ronda.
Seluruh barang dagangan telah diturunkan dari punggung onta dan dikumpulkan jadi satu di tengah arena, begitu banyak barang bawaan itu hingga tertumpuk bagai sebuah bukit pasir.
Sejak senja hingga tengah malam, terdapat dua belas orang yang terbagi dalam enam regu ronda, Siau-hong dan Garda merupakan salah satu di antaranya.
Siapa pun itu orangnya, asal bungkusan yang ada di tengah arena dibuka sedikit saja, segera akan diketahui apa isi barang itu.
Sejak awal Siau-hong memang sudah menampik memikirkan persoalan itu.
Emas batangan milik Hok-kui-sin-sian memang kelewat banyak, sudah seharusnya ia membagi sedikit harta kekayaannya untuk orang lain.
Langit makin lama semakin gelap, mereka melakukan perondaan di sekeliling barang dagangan.
Garda selalu secara sengaja berjalan selangkah di belakang, pertanda ia menaruh rasa hormat terhadap Siauhong, selama anak muda itu tidak berbicara, dia pun tak akan buka suara.
Akhirnya Siau-hong buka suara terlebih dulu, ujarnya.
"Dapat kulihat Ma Sah adalah seorang jagoan hebat, apakah dia adalah sahabatmu?"
"Benar,"
Wajah Garda tampak amat berat dan serius.
"Tapi selanjutnya mungkin kita tak pernah akan bertemu lagi dengannya."
"Mengapa?"
Tanya Siau-hong terperanjat.
"Ketika tengah hari tadi, dia minta aku menemaninya pergi berhajat, karena aku tak mau berhajat maka tak jadi ikut, dia pun pergi seorang diri."
Sekilas rasa sedih dan pedih melintas di wajah Garda, terusnya.
"Siapa tahu sejak kepergiannya itu, dia tak pernah balik lagi."
Siau-hong cukup memahami perasaan sedihnya.
Penyebab kematian di tengah gurun pasir memang terlalu banyak, setiap saat kau bisa mati secara mendadak di tengah pasir panas bagaikan seekor anjing liar, kecuali sahabat karibnya, tak bakal ada orang lain yang akan menguatirkannya, terlebih merasa sedih bagi kepergiannya.
Langit semakin gelap, tiba-tiba dari kejauhan berkumandang suara terompet, kemudian tampak dua ekor kuda bergerak cepat mendekati rombongan.
Rupanya dalam barisan ini pun terdapat kuda.
"Mereka adalah orang yang dikirim Tong Leng untuk menemukan jejak Ma Sah,"
Ujar Garda dengan semangat bangkit kembali.
"Ma Sah pasti ikut kembali!"
Cepat dia menyongsong kedatangan kuda-kuda itu.
Betul saja, Ma Sah memang telah kembali, tapi yang kembali bukan Ma Sah dalam keadaan hidup.
Jago gulat yang tiada duanya di kolong langit, jagoan yang memiliki tenaga raksasa itu sudah tewas dengan tulang leher patah, ternyata dia tewas terkena jurus jepitan mematikan dari ilmu gulat.
Siapa yang telah membunuhnya?
Mengapa harus membunuhnya?
Tak ada yang tahu.
Bayangan kematian yang penuh misteri dan menakutkan itu seakan sudah seperti kegelapan yang menyelimuti langit saat itu, mengurung dan mencekik rombongan ini.
Ma Sah tak lebih hanya orang pertama yang menemui ajalnya secara mengenaskan, ketika mereka kembali ke tempat ronda, segera ditemukan korban kedua.
Terdapat begitu banyak jagoan tangguh dalam kelompok Panah, ada yang pandai menggunakan golok, ada yang pandai menggunakan pedang, ada yang menguasai ilmu gulat, tapi hanya satu yang menggunakan ruyung panjang.
Ruyung panjang yang digunakan Sun Liang adalah sebuah ruyung ular berbisa sepanjang satu depa tiga kaki.
Dialah orang kedua yang ditemukan tewas secara mengenaskan, ia mati terlilit oleh ruyung ular milik sendiri.
Hong Hau, rekannya satu regu ikut hilang, hingga keesokan harinya mereka baru menemukan jenazah orang itu.
Hong Hau adalah anak murid perguruan Kim-to-bun, gara-gara terlibat kasus pembunuhan, ia melarikan diri keluar perbatasan.
Senjata yang digunakan adalah sebilah golok pemenggal bukit berpunggung emas.
Goloknya masih kedapatan berada di sana, namun batok kepalanya justru sudah lenyap, batok kepala itu terpenggal oleh golok emas miliknya sendiri.
Dalam satu malam sudah ada tiga orang ditemukan tewas secara mengenaskan, tapi sayang kematian yang penuh misteri baru saja memasuki tahap awal.
Malam semakin larut.
Ketika Siau-hong balik kembali ke tendanya, bukan saja terasa amat lelah bahkan hatinya amat berduka.
Walaupun ketiga orang korban yang tewas secara mengenaskan itu sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya, namun menyaksikan suasana duka yang mencekam rombongan itu, sedikit banyak perasaannya ikut tertekan dan tak leluasa.
Setiap musibah, setiap halangan yang ia alami selama beberapa hari belakangan ini hampir semuanya membuat dia merasa kecewa.
Pembegalan yang misterius, musibah yang mengenaskan, kematian yang tiba-tiba, seakan selalu mengikutinya kemana pun dia pergi.
Dari balik jagat raya yang luas seolah terdapat sebuah kekuatan jahat yang selalu menyatukan dan mengaitkan dirinya dengan semua ketidak beruntungan yang dialaminya selama ini.
Suasana dalam tenda tenang dan gelap, walaupun dia berharap Pova bisa menghiburnya, namun dia dapat memahami perasaan perempuan itu, terlepas apakah dia sudah tidur atau tidak, ia tak berani lagi mengganggunya.
Sambil meraba, ia menemukan selembar permadani, dengan perlahan ia pun membaringkan diri, dia berharap bisa tertidur dalam waktu singkat.
Namun ia tidak tertidur.
Baca Juga: Pisau Terbang Li 4
Baca Juga: Lima Jago Luar Biasa Sin Liong