Eps 4 Sarang Perjudian - Gu Long
Baca online Sarang Perjudian - Gu Long
Cersil Sarang Perjudian - Gu Long.
Di antara rintihan serta dengusan napas yang memburu, tiba-tiba ia berkata lagi.
"Kau tak perlu memeriksa lagi semua perangkap dan jebakan yang berada di depan sana, Pok Ing pasti telah berhasil meloloskan diri."
"Kenapa?"
"Sebab aku telah melihat Hay Ling, dia sudah menyusul ke depan sana, tak nanti dia akan biarkan orang itu tewas di sini."
Bibir Mo Jit-seng pun berdarah, bukan darah miliknya tapi darah Isami. Dengan menggunakan sepasang matanya yang penuh garis berdarah dia awasi perempuan itu sambil menyeringai tawa.
"Sayangnya, dia toh tetap harus mati,"
Katanya.
Benar saja, ternyata Hay Ling telah melepaskan Pok Ing untuk kabur dari situ, perahu telah angkat jangkar dan kembangkan layar, kini sedang melaju menuju ke tengah samudra.
Dengan mata melotot Mo Jit-seng mengawasi Hay Ling, tiada rasa gusar atau sedih yang melintas di wajahnya, dia hanya bertanya kepada gadis itu.
"Kenapa kau tidak mengikutinya pergi dari sini?"
"Karena kau,"
Jawab Hay Ling.
"kau adalah ayahku, juga suamiku, tentu saja aku harus tetap tinggal di sini menemanimu."
"Terlepas lelaki macam apakah diriku ini?"
"Benar."
Mo Jit-seng tersenyum, sambil membelai wajahnya ia berkata.
"Kau memang seorang gadis yang baik hati, orang macam kau pasti akan hidup lama, lama sekali."
"Bagaimana dengan dia?"
"Tentu saja dia pun pasti akan mati,"
Jawab Mo Jit-seng sambil memandang bayangan perahu yang sudah beradu di kejauhan sana.
"bukankah sejak awal telah kukatakan, berada dalam kondisi dan waktu seperti apa pun, dia sudah ditakdirkan untuk mati."
Dia lepaskan Hay Ling dan berjalan menuju ke atas batu karang yang paling tinggi di tepi pantai, mengeluarkan sebuah alat yang di peroleh dari seorang tianglo penyebar agama dari barat dan mulai meneropong ke tengah lautan sana, tampaknya dia ingin menyaksikan sendiri Pok Ing mampus di tengah samudra.
Sekonyong-konyong...
"Blaaaam!!"
Baru saja dia melangkah naik ke atas batu karang, suara ledakan yang disertai kobaran api dan kepulan asap hitam telah meletup ke tengah udara, lamat lamat letupan itu masih bisa dikenali sebagai letupan mercon buatan Po-hoa-tong di Kotaraja.
Seketika itu juga tubuh Mo Jit-seng yang sedang melangkah naik ke batu cadas jatuh terjungkal ke bawah, sekalipun ia sudah berusaha empat kali bersalto di tengah udara namun pada akhirnya karena tenaga tidak memadai sementara dia mulai kehilangan keseimbangan badan, maka tubuhnya pun terjatuh ke bawah, persis menghantam di atas batu-batu karang yang runcing bergerigi.
Dia termasuk seorang yang sensitif, walau hanya sekejap namun dapat diperkirakan bahwa paling tidak di tubuhnya telah menderita delapan buah luka robek dan memar.
Namun hal itu sudah tidak penting lagi.
Sebab ketika dia meneropong ke tengah lautan dengan alat barunya itu telah disaksikan perahu yang ditumpangi Pok Ing sedang tenggelam ke dalam samudra di kejauhan sana, tenggelam secara perlahan-lahan.
Walaupun perahu itu sudah dia persiapkan bagi Pok Ing secara khusus, namun sambungan kayu pada lambung perahu telah dilakukan sedikit perubahan, sambungan yang semula menggunakan paku, kini pakunya sudah dicabuti dan diganti dengan lelehan lilin.
Akhirnya dengan mata kepala sendiri Mo Jit-seng menyaksikan upacara penguburan Pok Ing di tengah samudra.
Mengapa Hay Ling menolong Pok Ing?
Apakah Soatcu dan Jian-tay secara diam-diam telah bersekongkol pula dengan gadis itu?
Tentang persoalan itu, Mo Jit-seng sudah tak berminat untuk menelusuri dan menyelidikinya.
Sekarang dia hanya ingin segera kembali ke kamar tidurnya yang empik dan nyaman, tidur siang sepuas-puasnya sambil merawat luka yang dideritanya.
Baginya, kesehatan pribadi merupakan hal yang terpenting, sementara urusan lain bisa disingkirkan dulu untuk sementara waktu.
Tapi, ketika dia melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya itulah ia sadar, ternyata selama ini dirinya keliru besar.
Ada sementara persoalan ternyata tak mungkin bisa disingkirkan walau untuk sementara pun, sama seperti sementara orang, tampaknya mereka selalu bisa muncul di hadapanmu di saat kau paling tak ingin berjumpa dengan mereka.
Ketika Mo Jit-seng melangkak ke dalam kamar tidurnya, dia pun bertemu dengan Pok Ing!
Ternyata Pok Ing belum tenggelam ke dasar laut, dia justru selangkah lebih awal tiba di dalam kamar tidurnya dan berbaring lebih dulu di atas ranjangnya, bahkan sepasang kakinya diangkat tinggi-tinggi dan sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum.
Dalam pandangan sementara orang, senyuman Pok Ing benar-benar merupakan senyuman yang paling memuakkan.
Bab Penutup Toko milik Tong suhu dibuka dalam sebuah lorong yang sempit, kecil lagi gelap, sudah puluhan tahun ia membuka usahanya di situu, setiap kali ada orang membujuknya pindah rumah, dia selalu menanggapi dengan marah.
Tong suhu adalah seorang berpandangan kuno, dia suka memegang prinsip lama, segalanya dilakukan menurut aturan, bahkan ketika sedang duduk pun dia segan untuk bangkit berdiri, biarpun orang yang datang berkunjung adalah orang paling kaya di kotaraja atau bangsawan paling berpengaruh pun, jarang sekali dia mau bangkit berdiri.
Orang lain pun tidak takut kepadanya, sebab semua orang tahu Tong suhu adalah penjahit nomor wahid di wilayah selatan, sekalipun lagaknya agak sok, ongkos jahitnya sangat mahal, bagi mereka hal semacam ini adalah wajar.
Namun ketika menyaksikan kehadiran kedua orang ini, ternyata Tong suhu melanggar kebiasaannya, dia bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.
Kedua orang ini, yang satu adalah seorang lelaki berperawakan tinggi besar, berkepala botak seperti paruh elang, walaupun jubah hitam yang dikenakan terbuat dari bahan berkwalitas tinggi, namun karena sudah lama kehujanan dan tertimpa terik matahari, kini nampak kuno, jelek dan kusut.
Orang yang datang bersamanya adalah seorang gadis, usianya masih muda, wajahnya amat cantik bahkan kecantikannya melebihi kecantikan manusia pada umumnya, pakaian yang dikenakan gadis itu lebih aneh lagi, dia seolah seseorang yang tak begitu memerhatikan soal pakaian.
Biasanya terkadap manusia semacam ini Tong suhu tak pernah mau peduli, acuh pun tidak.
Tapi hari ini dia telah melanggar kebiasaannya.
Bagaimanapun Tong suhu bukan seorang penjahit yang hanya tahu soal kualitas pakaian dan tidak mengerti menghargai manusia, dalam sekilas pandang saja ia sudah mengetahui kalau dua orang ini memiliki asal-usul yang luar biasa.
Yang lelaki gagah penuh wibawa, yang wanita cantik bak bidadari yang baru turun dan kahyangan, kemungkinan besar adalah seorang putri raja.
Kedatangan mereka ke tempat itu tentu saja hendak membuat pakaian "Aku minta beberapa stel pakaian berduka, sedikit kembangan pun tidak mau, masalah ongkos bukan persoalan, tapi harus segera jadi."
"Seberapa cepat?"
"Paling lambat tak boleh lewat dua hari."
Tong suhu pun mengajukan ongkos yang luar biasa menakutkan, namun mereka terima dengan santai, jangan lagi mengeluh, mengernyitkan dahi pun tidak.
"Tapi kau harus membuatnya cepat, makin cepat makin baik,"
Kata lelaki bermata elang itu tegas.
"karena aku harus segera menghadiri upacara penguburan."
"Orang itu pasti seorang sahabat karibmu?"
"Sesungguhnya dia bukan seorang sakabat karibku,"
Kata lelaki itu sambil tertawa.
"hanya saja aku tak boleh lewatkan upacara penguburan itu, bahkan sama sekali tak boleh terlewatkan!"
"Kenapa?"
"Sebab tanpa aku, upacara penguburan itu sama sekali tak bisa disebut upacara penguburan."
Muncul perasaan ingin tahu Tong suhu, tak tahan tanyanya.
"Sebenarnya upacara penguburan siapakah itu?"
"Upacara penguburanku!"
TAMAT
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Legenda Bulan Sabit 2
Baca Juga: Si Rase Hitam Chin Yung