Eps 7 Bara Maharani - Khu Lung
Baca online Bara Maharani - Khu Lung
Cersil Bara Maharani - Khu Lung.
"Kenapa kaupun bisa datang ke kota Wi-im?"
"Aku selalu mengikuti di belakang Siau Koan-jin mu ini,"
Sahut Cu Tong, sorot matanya berputar dan melanjutkan.
"Hoa hiantit. apakah aku boleh ajukan satu permintaan?"
"Kalakan sajalah loocianpwee!"
Cu Tong menghela napas panjang.
"Aku mempunyai seorang sahabat karib yang disebut 'Pek-lek-sian' atau disebut Dewa geledek oleh orang-orang Bulim, ia mempunyai seorang murid yang bernama Bong Pay, tahun ini berusia dua puluh satu tahun dan hidup terlantar di dalam dunia persiiatan. Sebetulnya aku ada maksud membawa dirinya disisiku, apa daya ia punya pandangan lain terhadap diriku, ia tak sudi berada didekatku"
"Siau Koan-jin,"
Sambung Hoa In dengan cepat.
"si dewa geledek Chin jiya adalah sahabat karib serta saudara angkat dari Cu-Tau-ya, jadi orang jujur dan berjiwa pendekar, dengan loa-ya kitapun mempunyai hubungan yang intim"
"Kalau begitu Bong toako adalah saudaraku sendiri. Cu locianpwe, kini Bong toako berada dimana?"
Cu Tong menghela napas panjang.
"Selama ini ia hidup gelandangan di kota Wi Im, ketika aku hendak tengok dirinya tadi, kutemui bahwa ia sudah terperosok di dalam kuil Tiong-goan-koan"
"Kuil Tiong-goan-koan? Semestinya kuil dari pihak Thong-thian-kauw?"
Cu Tong mengangguk.
"Diam-diam aku sudah menengok keadaannya, sekarang ia berada dalam keadaan sehat dan sebenarnya akan kuselamatkan jiwanya, tapi sayang pertama ia benci melihat tampangku dan kedua, aku tak tahu bagaimana musti mengatur dirinya. karena itu terpaksa aku harus mohon bantuan dari Hoa hiantit untuk melakukan pekerjaan ini"
"Ooo... kau orang tua tak usah sungkan-sungkan, siautit sebagai seorang anggota muda sudah memastikannya melakukan pekerjaan ini,"
Pemuda itu berpikir sebentar lalu melanjutkan.
"menolong orang bagaikan menolong api, mari sekarang juga kita pergi menolong Bong toako...."
Tapi dengan cepat ingatan lain berkelebat dalam benaknya, teringat olehnya bahwa usia Bong Pay jauh lebih besar dari dia sendiri, bagaimana selanjutnya ia akan mengatur kehidupannya?
Sekembalinya ke dalam kota, terdengar Cu Tong menghela napas dan berkata kembali.
"Watak Bong Pay selalu berangasan dan kasar, setelah ia punya pandangan lain terhadap diriku sulitlah bagiku untuk mendidik dirinya. Hoa hiantit. Kau masih muda dan gagah perkasa, mungkin ia bisa menaruh hormat kepadamu, Bila demikian adanya aku berharap agar kau suka mengingat pada hubungan angkatan yang lebih tua dan baik-baik merawat dirinya."
"Locianpwee tak usah kuatir, siautit pasti akan berusaha dengan segenap tenaga."
Rupanya Co Tong merasa amat lega hatinya, ia segera tersenyum.
"Bila hiantit bisa baik-baik membimbing dirinya, kemungkinan besar bocah itu bisa unjukkan kegagahannya dan memupuk kembali nama baik perguruannya....!"
Melihat begitu besarnya perbatian jago tua itu terhadap keturunan sahabatnya, dalam hati Hoa Thianhong segera berpikir.
"Loocianpwee ini betul-betul memiliki jiwa yang besar dan hati yang lapang, begitu setia kawan ia terhadap sahabatnya sampai terhadap anak muridnyapun diperhatikan benar-benar bila Pek-leksian mengetahui akan hal ini dia tentu akan beristirahat dengan hati tenteram."
Tiba-tiba Cu Tong ambil keluar sebuah bungkusan kecil terbuat dari kertas minyak, sambil diangsurkan ke depan katanya.
"Hoa hiantit, bungkusan ini berisikan sebagian kecil dari kitab ilmu pukulan yang berhasil kutemukan dimasa yang silam, meskipun hanya terdiri dari tiga jurus dua gerakan, namun kehebatannya luar biasa sekali. Aku harap hiantit suka mempelajari lebih dahulu kemudian wariskanlah kepada Bong Pay"
Hoa Thian-hong simpan baik-baik bungkusan kertas minyak itu ke dalam saku. lalu tanyanya.
"Kenapa kitab ilmu pukulan ini tidak langsung diserahkan ke tangan Bong toako?"
"Aaaai..... dia tidak mengerti tulisan dan isi kitab itupun terdiri dari bahasa kuno yang sulit untuk dipahami, bila kau serahkan kitab itu kepadanya, dari mana ia bisa mempelajarinya?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung dihadapan mereka muncullah sebuah bangunan kuil yang indah dan megah, papan nama dengan tulisan 'Tiong-goan-koan' terbuat dari tinta emas nampak terpanjang diatap bangunan tersebut Cu Tong membawa kedua orang itu menuju ke kuil bagian belakang, setelah loncat masuk lewat tembok pekarangan mereka berputar-putar di halaman belakang, hingga akhirnya sampailah mereka diluar pintu sebuah kebun katanya.
"Hiantit, masuklah ke dalam untuk menolong Bong Pay, sedang aku akan membantu secara diam-diam, dihadapan pemuda dogol itu jangan sekali2 kau sebut namaku"
Hoa Thian-hong mengiakan, ia segera masuk ke dalam kebun sambil pikirnya di dalam hati.
"Bong toako itu benar-benar seorang manusia aneh. sampai Cu locianpwee yang menjadi cianpweenya malahan takut kepadanya ketika dia angkat kepala, pemuda itu segera berdiri tertegun. Bangunan loteng tinggi yang berada dalam kebun itu mempunyai corak yang persis sama dengan kuil It-goankoan di kota Cho-ciu, yang berbeda hanyalah di bawah undak undakan batu tertanam sebuah tonggak besi setinggi beberapa depa, pada tonggak tadi terbelenggu sebuah rantai baja sebesar telur itik yang panjangnya mencapai tujuh depa, pada ujung rantai tadi tampaklah seorang pria kekar yang berwajah hitam pekat bagaikan pantat kuali dan memakai baju compang-camping bagaikan pengemis sedang duduk terpekur. Kalau di kuil bagian depan banyak sekali peziarah yang berdoa dan pasang hio suasana di kuil bagian belakang amat sunyi sekali seakan akan tak terdapat seorang manusiapun disitu. Ketika mendengar suara langkah manusia, pria yang dirantai di atas tonggak itu segera membuka matanya dan berpaling. Hoa Thian-hong berjalan menghampiri kehadapannya. di bawah sorot cahaya lentera ia lihat orang itu punya potongan wajah persegi empat, sepasang alisnya tebal dan meletik ke atas, matanya yang cekung memancarkan cahaya tajam, hidungnya mancung dan badannya kekar tak terasa dalam hati ia memuji.
"Sungguh kekar dan gagah orang ini, andaikata tubuhnya tidak dirantai mungkin ia kelihatan jauh lebih keren....!"
Dalam pada itu pria kekar itu sudah melotot ke arah Hoa Thian-hong berdua dengan pandangan tajam tibatiba tanyanya.
"Kalian adalah pemuja dewa yang datang untuk pasang hio, ataukah kaki tangan anjing Thongthian-kauw?"
"Semuanya bukan,"
Sahut pemuda itu sambil menggeleng.
"Aku bernama Hoa Thian-hong, kedatanganku kesini bukan lain adalah untuk mencari seorang kakakku yang bernama Bong Pay, apakah saudara tahu ia dikurung dimana?"
"OOH....! Kau yang bernama Hoa Thian-hong? jadi kau yang mengadakan Lari Racun di kota Cho-ciu?"
Seru pria kekar itu dengan mata melotot besar. Hoa Thian Houg tersenyum dan mengangguk.
"Tolong tanya siapakah nama saudara?"
"Akulah Bong Pay, ketika berada di pertemuan Pak-Beng-Hwee tempo dulu, aku sempat bertemu dengan bapakmu Hoa Goan-siu"
Tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, disusul seseorang menegur dengan suara berat.
"Siapa yang sedang berbicara dengan Bong Pay?"
Hoa Thian-hong berpaling, dia lihat dari balik ruangan berjalan keluar seorang toosu muda, dengan cepat pemuda mengedip memberi tanda kepada Hoa In sedang ia sendiri sambil menggape serunya.
"Siau sian-tiang, cepat datang kemari,! orang ini hendak memutuskan rantai untuk melarikan diri....."
"Omong kosong,"
Jengek toosu muda itu sambil tertawa dingin.
"kau anggap rantai besi itu adalah rantai biasa"
Sambil mengomel ia berjalan menghampiri kedua orang itu, siapa tahu belum sempat ia berbuat sesuatu tiba-tiba Hoa In telah ayunkan telapaknya menotok jalan darah toosu muda itu.
Tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, toosu itu segera menggeletak tak berkutik di atas tanah.
"Kepandaian silat yang bagus!"
Puji Bong Pay dengan sinar mata berkilat.
"Eee, siapa namamu?"
"Aku bernama Hoa In, pengurus rumah tangga dari perkumpulan Liok Soat Sanceng!"
Melihat orang she-Bong itu bicara keras dan nyaring, Hoa Thian-hong kuatirkan lebih banyak musuh yang datang kesitu, buru-buru ia berjongkok sambil katanya.
"Bong toako, mari biar siaute periksa rantai ini."
Ujung rantai itu berada di atas leher Bong Pay, ketika Hoa Thian-hong sedang meraba benda tersebut, tiba-tiba pemuda she-Bong itu ayunkan telapaknya mengirim satu pukulan ke arah dadanya, Hoa Thian-hong terkejut, bila dibicarakan dari soal ilmu silat maka sekalipun orang yang menyerang adalah jago nomor satu ditolong langit, ia masih mampu untuk menandinginya selama beberapa saat, yang diandalkan hanya sebuah jurus pukulan 'Kunsiu-ci-tauw' belaka.
berbicara tentang ilmu pukulan dan ilmu tendangan boleh dibilang pengetahuannya cetek sekali.
Sekarang setelah dilihatnya serangan tersebut muncul secara mendadak, dalam keadaan kepepet tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri, terpaksa ia gunakan telapak kirinya untuk menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Tentang jurus telapak ini Hoa Thian-hong telah melatihnya hingga hapal diluar kepala.
Plooook!
di tengah benturan nyaring, sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya.
Pemuda itu segera merasakan telapak tangannya bergetar keras, namun tubuh mereka berdua tetap berdiri tegap tak berkutik, agaknya kekuatan mereka seimbang satu sama lainnya Tampak Bong Pay tertawa lebar dan memuji.
"Kau memang sangat lihay, dalam bentrokan ini telapak kiri yang telah kau pergunakan"
"Bong toako memang bukan orang bodoh,"
Batin Hoa Thian-hong.
"Cuma wataknya terlalu berangasan dan ugal ugalan!"
Berpikir demikian, ia lantas mendekati tonggak besi itu dan menyambar rantai tersebut, kemudian dibetotnya sekuat tenaga, Telapaknya terasa sakit dan panas, sedang rantai tersebut masih tetap utuh seperti sedia kala, ternyata betotannya itu tidak menghasilkan apa-apa "Hey sahabat, kalau kau mampu memutuskan rantai itu, aku Bong Pay pun sanggup melakukan hal itu,"
Ejek Bong Pay dengan suara lantang. Hoa In segera maju ke depan, katanya.
"Rantai ini bukan ditempa dari besi baja biasa, Siau Koan-jin menyingkirlah ke samping, biar budak yang coba membetot putus rantai ini."
Hoa Thian-hong geleng kepala, pikirnya di dalam hati.
"Bong toako terlalu jujur dan lugu, andaikata aku tidak unjukan sedikit kepandaian mungkin dia akan pandang rendah diriku, baiklah aku harus unjuk kelihaianku!"
Karena berpikir demikian, hawa murninya segera dihimpun ke dalam telapak, setelah pusatkan perhatiannya ke arah tongkat besi itu sekuat tenaga ia betot rantai tadi ke belakang.
Rantai baja itu benar-benar luar biasa Criiing!"
Di tengah suara dentingan nyaring, rantai itu sama sekali tidak putus sebaliknya tongkat baja yang tertanam di bawah tanah terbetot patah jadi dua bagian oleh senjata hawa murni Hoa Thian-hong yang maha hebat itu.
Bentakan gusar bergema memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur masuk ke dalam gelanggang Melihat orang itu adalah seorang toojin berusia pertengahan, Hoa In segera menyongsong kedatangannya.
Baru saja pihak lawan meloloskan pedang yang tersoren di bahunya untuk menghadapi segala kemungkinan, Hoa In telah bertindak lebih duluan, telapak tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu jalan darah kakunya sudah tertotok Sementara itu Hoa Thian In yang telah berhasil mematahkan tongkat baja segera merasakan telapaknya panas dan kaku, ia gosok-gosok telapaknya sambil berseru.
"Bong toako, rantai besi ini benar-benar luar biasa sekali, bagaimana dengan rantai dilehermu?"
Belum habis dia berkata Bong Pay sudah loncat bangun dari atas tanah, telapaknya menyambar rantai tersebut kemudian.....
"Weees!"
Senjata itu dihajarkan ke atas punggung toojin setengah baya tadi.
Pemuda she-Bong ini bukan saja memiliki kekuatan yang luar biasa, bahkan gerak-geriknya lincah dan enteng, begitu rantai itu diayun toojin setengah baya tadi terhajar telak punggungnya.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya akibat serangan itu yang ditujukan ke arah seseorang yang tertotok jalan darahnya, toojin itu mendengus berat, tulang punggungnya segera patah jadi dua bagian, sedang tulang dadanya patah lima batang.
Baik Hoa Thian-hong maupun Hoa In sama-sama tertegun menyaksikan peristiwa yang sama sekali berada diluar dugaan ini, mereka tak sempat menghalangi perbuatannya itu lagi.
terlihatlah toojin itu muntah darah segar dan jiwanya sukar dipertahankan lebih lanjut.
Rupanya Bong Pay sudah dipengaruhi oleh nafsu membunuh yang berkobar kobar, ia loncat ke muka dan rantainya kembali diayun menghajar toosu muda yang lain.
Hoa Thian-hong bertindak cepat tangan kirinya berkelebat mencengkeram pergelangannya sambil berseru.
"Bong toako, buat apa kau musti?"
Desiran angin tajam menderu deru, mendadak Bong Pay ayunkan ujung rantainya itu menghantam ke atas kepala pemuda Hoa.
"Wataknya memang betul-betul berangasan"
Batin pemuda kita, tangan kanannya segera bergerak mencekal ujung rantai itu, tegurnya sambil tertawa.
"Bong toako, masa siaute pun hendak kau hantam?"
Sinar mata Boag Pay berapi-api, dengan penuh kegusaran teriaknya.
"Kalau tidak kau lepaskan rantai itu, aku akan menyumpahi dirimu!"
Hoa Thian-hong benar-benar takut orang kasar itu memaki dirinya dengan ucapan yang tak genah, cepatcepat ia lepas tangan dan mundur selangkah ke belakang.
Bong Pay berdiri agak tertegun.
tapi akhirnya dia putar badan dan lari menuju ke ruang loteng.
Rupanya Hoa In merasa sangat tidak puas dengan sikap pemuda she-Bong itu, dengan alis berkerut omelnya.
"Keparat cilik ini benar-benar goblok dan sembrono, dia adalah seorang jago pemberani yang tak berotak, di kemudian hari entah berapa banyak kesulitan yang bakal ia perbuat!"
Yang diperhitungkan serta dipikirkan oleh kakek tua she Hoa ini hanyalah untung rugi bagi majikan mudanya, ia merasa tak senang hati karena urusan Bong Pay ini, dalam anggapannya mencampuri urusan manusia sembrono itu hanya akan mendatangkan banyak kerepotan bagi majikan mudanya saja, oleh sebab itu dia ada maksud mengajak Hoa Thian-hong jangan mencampuri urusan itu lagi.
Tapi Hoa Thian-hong segera berkata.
"Kita telah mengabulkan permintaan dari Cu Locianpwee, bagaimanapun juga janji yang telah kita ucapkan tak boleh disesali kembali!"
Habis berkata ia gerakkan badannya dan berkelebat menuju ke arah ruang loteng, terdengar teriakanteriakan keras berkumandang datang, Bong Hay sambil membentak gusar memutar rantai besinya secara kalap.
tiga orang toojin berusia pertengahan sambil putar pedangnya melakukan perlawanan selangkah demi selangkah terdesak keluar dari ruang loteng itu.
"Sudah terjadi keributan begini lama, kenapa belum nampak juga seorang jago lumayan yang munculkan diri?"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"Masa kuil Tiong-goan-koan yang begini besar, hanya dipimpin oleh beberapa orang itu saja?"
Ketika dia mendongak kembali, terlihatlah Bong Pay memutar rantai bajanya makin kencang, keberaniannya luar biasa sekali, sekalipun harus melawan tiga orang musuh sekaligus namun sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda akan menderita kalah, Ia segera mendekati toosu muda tadi dan membebaskan jalan darahnya, setelah itu tanyanya.
"Siapakah hong-tiang dari kuil Tiong-goan-koan ini? Kenapa sampai sekarang belum juga unjukkan diri?"
Toosu muda ini tahu bahwa Hoa Thian-hong sangat lihay, terutama kehebatannya dalam membetot patah tiang tonggak besi itu.
begitu totokannya di bebaskan ia segera putar badan dan kabur dari situ.
Hoa In yang berdiri disisinya segera ayun telapaknya mencengkeram bahu toosu muda itu, bentaknya.
"Hidung kerbau cilik! Sudah kau dengar belum pertanyaan yang kami ajukan?"
"Aduuuh....!"
Toosu muda itu menjerit kesakitan, dengan badan terbongkok2 menahan rasa sakit ujarnya setengah merengek.
"Apakah yang hendak sicu berdua tanyakan?"
"Aku tanya siapakah ketua kalian? Kenapa tidak nampak dia unjukan diri?"
Agaknya semangat toosu itu bangkit kembali, sambil busungkan dada ia menjawab.
"Ketua dari kuil kami adalah Thamcu sektor tengah sekte agama Thong-thiankauw, gelarnya Hian Leng Cinjin! dia adalah seorang jago yang tersohor namanya di kolong langit"
"Tak usah banyak cerewet"
Bentak Hoa In gusar.
"Sekarang dimana orangnya?"
Mendadak dari tempat kejauhan terdengar Bong Pay membentak keras, ketika semua orang berpaling tampaklah ia sedang ayun rantai besinya membentur ujung pedang seorang toojin, letupan bunga api diiringi suara gemerincing yang amat nyaring segera bergema, pedang dalam genggaman Toojin itu seketika terlepas dari genggamannya.
Melihat kesempatan yang sangat baik itu Bong Pay tak mau sia-siakan peluang itu, rantainya diayun dan langsung dibacok ke atas wajah orang tadi.
Dua orang toojin lainnya buru-buru ayunkan pedangnya berusaha untuk menolong jiwa rekannya itu, namun sayang gerakan mereka terlambat satu langkah, jeritan ngeri yang menyayat hati seketika berkumandang ke tengah udara, raut muka toojin tadi hancur berantakan dengan darah berceceran di atas lantai setelah termakan hantaman rantai itu, ia roboh ke atas tanah sekarat, rintihan ngeri mendirikan bulu roma...
Setelah berhasil dengan serangannya, kembali Bong Pay membentak keras, sambil putar senjata rantainya ia menerjang ke arah dua orang toojin lainnya Menyaksikan betapa dahsyat dan bengisnya pihak lawan pecahlah nyali kedua orang toojin tadi, pemainan pedang mereka kontan jadi kacau tak karuan, mereka berusaha untuk melarikan diri apa lacur permainan rantai itu sangat dahsyat, hal ini membuat mereka jadi kalang kabut dan berkaok-kaok minta ampun.
Sudah lama aku dengar para toojin dari sekte agama Tong Thian melakukan tindakan sewenang wenang terhadap rakyat biasa, dosa mereka sudah bertumpuk tumpuk, ditambah pula Bong toako ini sudah lama dikurung, disiksa dan dihina.
rasa bencinya terhadap mereka sudah tak terlukiskan lagi dengan kata-kata bila ini hari aku tidak biarkan ia mengumbar hawa nafsunya, Orang itu pasti tak mau berdiam diri begitu saja"
Ia sendiri pernah mencicipi bagaimanakah tersiksanya bila seseorang dihina dan dipermainkan, ia dapat menyelami perasaan orang semacam ini, maka Hoa Thian-hong pun tidak menghalangi perbuatan Bong Pay untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.
Kepada toosu muda itu kembali ia membentak.
"Ayoh cepat menjawab, Hian Leng Toojin sekarang berada dimana?"
Dua orang toojin yang berhasil dilukai Bong Pay.
seorang patah tulang punggungnya dan yang lain hancur wajahnya, mereka belum putus napasnya tapi berbaring disitu sambil merintih kesakitan.
Menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan itu, toosu muda tersebut merasakan sukmanya seakan akan terbang tinggalkan raganya, dengan suara gemetar ia segera menjawab.
"Kaucu kami telah menurunkan titah untuk memanggil seluruh anak murid perkumpulan kami berkumpul semua di markas besar, Koancu kami dengan membawa seluruh anak muridnya telah berangkat ke kota Leng-An fajar tadi!"
"Kalau ditinjau keadaan ini, rupanya kehadiran pasukan besar perkumpulan Hong-im-hwie menuju selatan telah diketahui pula oleh pihak sekte agama Thong-thian-kauw,"
Kata Hoa In! Hoa Thian-hong mengangguk.
"Ehmmm..,l Thongthian-kauw bukanlah sebuah perkumpulan agama yang tidak terdapat orang pandai"
Jeritan ngeri berkumandang susul menyusul, permainan rantai baja Bong Pay dalam waktu singkat telah berhasil menghajar pula batok kepala kedua orang toojin itu sehingga pecah dan mengucurkan darah segar, dengan lengan putus kaki patah mereka roboh tak berkutik lagi di atas tanah.
Tanpa berpaling Bong Pay langsung menerjang masuk ke dalam bangunan loteng itu.
Menyaksikan tingkah laku orang itu, Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya, dalam hati ia membatin.
"Dia pasti sedang pergi mencari kunci untuk membuka borgol rantai yang membelenggu lehernya. Kepada toosu muda itu ia segera bertanya.
"Siapa saja yang masih berada di dalam loteng?"
"Hanya dua orang toosu cilik"
"Apakah disitu terdapat alat jebakan serta alat rahasia lain?"
"Tidak ada!"
Melihat raut wajah toosu muda itu telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat dan ketakutan setengah mati, Hoa Thian-hong jadi tidak tega. segera ujarnya.
"Cepatlah menyingkir jauh jauh dari sini, bila kau tidak bertobat dan baik-baik jadi manusia..... Hmmm! lain kali aku tak akan mengampuni jiwamu lagi."
Toosu muda itu mengangguk tiada hentinya ketika Hoa In melepaskan cengkeramannya, toosu muda tadi segera kabur terbirit-birit dari situ.
Rintihan kesakitan yang memilukan hati bersahut sahutan memenuhi seluruh angkasa, suasana di sekitar tempat itu jadi mengerikan sekali.
Lama kelamaan Hoa Thian-hong jadi tidak tega sendiri, kepada Hoa In dia lantas bertanya.
"Apakah keempat orang ini masih ada harapan untuk ditolong?"
Hoa In tertegun lalu menggeleng.
"Tiada harapan lagi untuk hidup, yang seorang di sebelah sana itu mungkin masih ada harapan untuk hidup. cuma sekalipun bisa lolos dari kematian dia bakal hidup sebagai seorang cacad!"
"Aaai...! bagaimanapun akhirnya toh mati, lebih baik cepat-cepatlah menghantar keberangkatan mereka untuk pulang ke rumah neneknya!"
Hoa In mengangguk, dia segera berkelebat maju ke depan telapaknya diayun berulang kali, dalam sekejap mata keempat orang toojin yang menggeletak di atas tanah dalam keadaan terluka parah itu menghembuskan napas yang terakhir.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis kaum wanita yang amat ramai bergema datang dari balik ruangan loteng muncullah serombongan gadis-gadis muda yang menangis dengan penuh kesedihan, di belakangnya mereka menyusul pula serombongan pria yang jumlah keseluruhannya mencapai delapan puluh orang lebih.
Rombongan pria wanita itu semuanya berada dalam kondisi mengenaskan, tubuh mereka kurus ceking tinggal kulit pembungkus tulang, yang pria berwajah tampan sedang yang gadis berwajah cantik rupawan.
Sekilas memandang bisa diketahui bahwa orang-orang itu sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat.
Hoa In adalah seorang jago kawankan, meninjau keadaan tersebut dengan cepat ia bisa memahami apa yang sudah terjadi.
Ketika dilihatnya rombongan pria dan wanita itu celingukan kesana kemari dengan wajah ketakutan, ia segera membentak keras.
"Kalian semua ikutilah diriku!"
Hoa Thian-hong tertegun dan dalam Waktu singkat iapun tahu apa yang telah terjadi, diapun lantas berkata.
"Hoa In, coba carilah di ruang atas loteng apakah da sedikit harta benda yang berharga? Kalau ada, ambillah dan bagikan kepada mereka semua!"
"Kalian semua harap tunggu sebentar!"
Teriak Hoa In kemudian dengan suara keras.
Ia segera putar badan dan berkelebat masuk ke dalam ruang loteng.
Cahaya api berkilauan memenuhi seluruh angkasa, di tengah kilatan cahaya terang tampaklah Bong Pay dengan membawa sebuah obor sedang membakar ruang loteng yang megah itu, dalam sekejap maka seluruh bangunan telah tenggelam dibalik amukan api yang berkobar-kobar.
Tiba-tiba Bong Pay menerjang keluar dari balik lautan api, dengan gerakan bagaikan kilat ia menerjang ke arah kuil bagian depan.
"Bong toako!"
Pemuda kita berteriak keras.
Namun Bong Pay sama sekali tidak menggubris panggilan itu, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik bangunan.
Melihat pemuda itu tak menggubris panggilannya, Hoa Thian-hong lantas berpikir di dalam hati.
"Aaai, bagaimanapun di tempat ini toh tak ada jago lihay, biarlah dia berbuat sekehendak hatinya"
Si anak muda she-Hoa ini merasa malu dan menyesal atas kejadian yang telah berlangsung di hadapannya ia tidak mengira kalau di dalam kuil kaum toosu ini terkurung begitu banyak gadis muda dan pria tampan ia semakin tak menduga kalau tempat suci semacam ini sebenarnya merupakan suatu tempat mesum yang menjijikkan, karena itu ia merasa tak enak untuk menghalangi perbuatan Bong Pay, sambil berdiri menjublak ia pandang jilatan api yang sedang membakar seluruh bangunan kuil itu.
"Siau Koan-jin, terimalah ini!"
Mendadak Hoa In berteriak dari atap loteng.
"Weess... weess...!"
Dua buah buntalan besar segera meluncur ke bawah loteng dengan cepatnya.
Hoa Thian-hong sambut buntalan tadi, ketika dibuka ternyata isinya berupa intan permata dan emas murni, buru-buru benda tersebut dibagi-bagikan kepada kaum gadis dan pria tampan yang mendapat celaka itu.
Jilatan api bergerak dengan cepatnya menyebar keempat penjuru, dalam waktu singkat ruang loteng bagian terbawahpun sudah menjadi lautan api, Hoa In tiba-tiba loncat turun dari atas loteng sambil membawa dua bungkusan besar berisi alat-alat yang terbuat dari emas dan perak, hardiknya dengan suara keras.
"Jangan menangis, jangan dorong mendorong...."
Suasana di halaman belakang kacau balau penuh dengan jeritan serta tangisan, tiba-tiba dari bagian depan kuilpun terjadi kegaduhan, suara teriakan manusia makin ramai dan api berkobar memenuhi seluruh kompleks kuil Tiong-goan-koan tersebut.
"Rupanya cukup banyak siksaan serta penderitaan yang dirasakan bocah itu hingga dia jadi kalap"
Ujar Hoa In sambil tertawa.
"Bong toako adalah seorang lelaki yang berjiwa panas, melenyapkan kuil ini sama artinya dengan membasmi bibit penyakit bagi rakyat kecil daerah sekitar sini"
"Toosu-toosu siluman dari Thong-thian-kauw adalah manusia cabul yang suka main perempuan dan homoseks, aku rasa di setiap kuil di daerah kekuasaan sekte agama Thong-thian-kauw semuanya melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk macam ini"
"Kalau demikian adanya, sekte agama Thong-thiankauw adalah suatu perkumpulan kaum durjana,"
Seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.
"Mungkin kejahatan yang mereka lakukan jauh di atas perbuatanperbuatan dari Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua orang itu telah selesai membagi bagikan emas perak serta intan permata itu kepada para korban, maka dipimpinlah orang-orang itu keluar dari halaman kebun dan menyuruh cepat-cepat bubar.
Dalam pada itu peristiwa terbakarnya kuil Tiong-goankoan telah menggemparkan seluruh kota, banyak rakyat dari empat penjuru berduyun duyun datang ke sekitar situ menonton kebakaran, para Jemaah berusaha keras menolong api membuat suasana jadi kalut dan kacau tak karuan.
Menanti para korban yang berhasil ditolong telah bubar semua, Hoa Thian-hong berdua baru balik lagi untuk mencari jejak Bong Pay, seluruh ruangan kuil telah tenggelam di tengah amukan api, dengan gerakan tubuhnya yang cepat mereka berkelebat kesana kemari mencari jejak pemuda she-Bong tersebut Ujung baju tersampok angin bergema tiba, empat sosok bayangan manusia dengan gerakkan cepat mendadak muncul dari arah depan, ketika kedua belah pihak saling berpapasan mereka semua pada tertegun dibuatnya.
Di bawah sorot cahaya api, terlihatlah keempat orang itu bukan lain adalah Ang Yap Toojin, Ngo Ing Toojin, Cing Si-cu serta Giok Teng Hujien dari perkumpulan Thong-thian-kauw.....
Setelah terjadi bentrokan fisik dengan rombongan Jin Hian, keempat orang itu secara diam-diam mengawasi terus gerak-gerik dari musuhnya itu, ketika baru saja tiba di kota Wi-im, tiba-tiba mereka temukan kuil Tiong-goankoan kebakaran, keempat orang itu segera sadar bahwa suatu peristiwa yang tak diiginkan telah terjadi.
Buru-buru berangkatlah mereka menuju kesitu, siapa tahu kedatangan mereka justru telah berpapasan dengan Hoa Thian-hong berdua.
Begitu bertemu dengan pemuda she-Hoa Ang Yap Toojin seketika naik darah.
sambil tertawa seram teriaknya.
"Kau yang bakar kuil Tiong-goan-koan ini?"
"Kalau benar mau apa?"
Sahut Hoa Thian-hong tawar. Giok Teng Hujien tertawa merdu.
"Eeei.... kenapa sih kau suka main gila? too-koan ini toh indah dan megah, kenapa musti dibakar habis?!"
"Hmmm, dalam kuil ini terjadi perbuatan mesum yang amat menjijikkan, kuil sebagai tempat pemujaan kaum dewata telah digunakan sebagai gudang untuk menyimpan gadis tak berdosa. Justru siaute merasa muak melihat tempat seperti ini maka sengaja kubakar sampai habis. Apa cici ada petunjuk lain?"
"Sudahlah.... kau tak usah berlagak sok di hadapanku!"
Seru Giok Teng Hujien sambil tertawa.
"aku berani taruhan, api ini bukan kau yang lepaskan.....! bukan begitu?"
"Saudara Hoa, diantara kita toh pernah berjumpa beberapa kali,"
Ujar Ngo Ing Toojin pula.
"Bolehkah pinto mengetahui siapa yang telah melepaskan api ini?"
Hoa In tidak ingin melihat majikan mudanya memikul dosa orang lain, dengan hati tak senang ia segera berkata.
"Kami bukanlah manusia-manusia rendah yang suka menjual teman, kalau kamu semua ingin mencari orang yang melepaskan api, sana carilah sendiri!!...."
Meskipun hanya dua tiga patah kata saja, tapi dengan cepat ia telah mencuci bersih segala tuduhan yang ditimpakan kepada mereka berdua. Kembali Giok Teng Hujien tertawa ringan.
"Too-yu sekalian, api ini pasti dilepaskan oleh musuh bebuyutan kita kaum cecunguk dari perkumpulan Hong-im-hwie, mari kita geledah sekeliling tempat ini mungkin jejaknya masih bisa tertangkap!"
Serunya.
"Bong Pay bukan tandingan dari beberapa orang ini,"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"sekarang aku telah menyanggupi Cu locianpwee untuk merawat serta melindungi dirinya, bagaimanapun juga aku harus menghadapi kejadian ini dengan tegas."
Berpikir demikian, dengan suara lantang ia lantas berseru.
"Cici, setelah kau temukan orang yang melepaskan api itu. apa yang hendak kalian lakukan?"
"Bocah bodoh!"
Sahut Giok Teng Hujien dengan alis berkerut.
"Jin Hian bukanlah manusia baik-baik, kenapa sih musti bergaul dengan dirinya?"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Cici terus terang saja kukatakan, api ini bukanlah perbuatan dari Jin Hian"
"Tentu saja, Jin Hian adalah seorang pimpinan dari suatu perkumpulan besar, tentu saja dia tak akan turun tangan sendiri, Too-yu sekalian, ayoh berangkat!"
Menyaksikan sikap Giok Teng Hujien yang begitu hangat dan mesra terhadap diri Hoa Thian-hong, makin dilihat Ang Yap Toojin merasa semakin gusar, api cemburu membakar hatinya dan niat jahat segera muncul dalam benaknya, dengan suara keras dia segera membentak.
"Hoa Thian-hong! ayoh ngaku terus terang, apakah api ini kau yang lepaskan?"
Hoa Thian-hong sendiripun naik darah melihat kekasaran musuhnya, ia menjawab dengan nada ketus.
"Sedari tadi toh aku orang she-Hoa sudah mengatakan bahwa api itu akulah yang lepaskan, apa telingamu sudah tuli?"
Ketika terjadi persengketaan sewaktu berada di tengah jalan tempo dulu, Ang Yap Toojin pernah memaki Hoa Thian-hong sebagai orang yang tuli, maka sekarangpun si anak muda itu memaki telinganya telah tuli pula.
Ang Yap Toojin segera tertawa seram.
"Too-yu bertiga, ini hari pinto bersumpah akan cabut selembar jiwa manusia she-Hoa ini, harap too-yu bertiga suka melayani pengurus perkampungan itu, urusan selanjutnya serahkan saja kepada pinto untuk dibereskan sendiri."
Selesai berkata ia cabut keluar pedang mustika yang tersoren di atas bahunya.
Berbicara sampai disana sorot mata semua orang tanpa terasa dialihkan ke atas wajah Giok Teng Hujien, jelas dalam peristiwa yang terjadi hari ini perempuan tersebut mempunyai peranan yang amat penting.
Andaikata ia setuju dengan cara kerja Ang Yap Toojin, itu berarti posisi akan berubah jadi empat lawan dua, meskipun menang kalah masih sulit untuk ditentukan, namun pertarungan masih bisa dilangsungkan.
Sebaliknya kalau ia nampik dan sebaliknya akan membantu Hoa Thian-hong, maka posisinya akan menjadi tiga lawan tiga, jelas posisi di pihak Thong-thiankauw amat lemah, apalagi Soat-ji rase salju dalam bopongannya masih belum masuk hitungan.
Giok Teng Hujien sama sekali tidak menanggapi pertanyaan itu, ia malahan menuding ke arah lain sambil berseru.
"Coba kalian lihat, pohon dan bunga telah termakan api, sebentar lagi seluruh kuil akan tenggelam di tengah lautan api dan kita tak akan mendapatkan tempat berpijak lagi"
"Giok Teng Too-yu!"
Hardik Ang Yap Toojin dengan penuh kegusaran.
"Pinto ingin bertanya kepadamu, dalam pertempuran yang akan terjadi pada malam ini Hujien akan berpihak kemana?' "
Aku berdiri di pihak perkumpulan Thong-thian-kauw,"
Sahut Giok Teng Hujien dengan wajah berubah.
"Tetapi, Hoa Thian-hong adalah saudara angkatku, maka Soat-ji ku harus berdiri di pihaknya'"
Semua orang tertegun sehabis mendengar perkataan itu, siapapun tahu kelihayan Soat-ji makhluk aneh itu, kehebatannya cukup menandingi kelihayan seorang jago silat kelas satu.
Bila Hoa Thian-hong berdua sampat mendapat bantuan Soat-ji, maka kekuatan mereka pasti akan bertambah lipat ganda.
dan Giok Teng Hujien seandainya bekerja setengah tengah dan tidak menyerang dengan sepenuh tenaga, bukankah mereka bertiga orang toosu tua bakal mati konyol?
Kuil-kuil yang didirikan di tempat luaran di bawah kekuasaan perkumpulan Thong-thian-kauw memang amat banyak sekali, tapi struktur organisasinya lapuk dan tidak ketat.
Hoa Thian-hong sendiripun tidak tahu kedudukan Giok Teng Hujien yang lebih tinggi atau Ang Yap Toojin yang lebih tinggi di dalam perkumpulan itu, tetapi setelah mengetahui bahwa perempuan itu secara terang terangan berpihak kepadanya, sedikit banyak ia merasa hatinya rada lega.
Sebaliknya Ang Yap Toojin makin cemburu dan naik darah setelah mendengar keputusannya itu, dengan sorot mata bengis ia segera berseru.
"Hoa Thian-hong, seandainya kau menganggap dirimu seorang lelaki jantan pria sejati.... ayoh terimalah tantanganku untuk berduel!"
Hoa In teramat gusar, ia takut Hoa Thian-hong tak kuat menahan sindiran itu dan menerima tantangan lawan.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya segera bekerja Cepat dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Demi majikan mudanya.
kakek tua she-Hoa ini tanpa berpikir panjang segera lancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Sau-yang-Ceng-khie-nya yang lihay.
Ang Yap Toojin sekalian tak pernah menyangka kalau ilmu maha sakti dari Hoa Goan-siu yang pernah menggemparkan seluruh kolong langit itu bisa muncul di tangan seorang pelayan tua, terkesiap hati mereka bertiga menjumpai serangan itu.
Rupanya Ang Yap Toojin sekalian menyadari akan kelihayan lawannya, melihat begitu dahsyat datangnya ancaman buru-buru pedangnya dipindahkan ke tangan kiri, telapak kanan diangkat ke depan dan serentak mereka bendung datangnya ancaman itu Hoa Thian-hong naik pitam, ia tak sudi berpeluk tangan belaka.
Melihat serangan dahsyat dari Hoa In telah dilancarkan iapun segera menggerakkan sepasang telapaknya menyerang Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu yang berdiri di dekatnya.
Tindakan yang dilakukan beberapa orang itu semuanya dilakukan dengan kecepatan laksana sambaran kilat....
Blaam!
terjadi benturan keras bergeletar memenuhi angkasa, Hoa Thian-hong, Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu secara beruntun mundur beberapa langkah ke belakang.
Hoa In takut majikan mudanya cedera, dalam kerepotan telapak kirinya dimiringkan ke samping, separuh bagian tenaga serangannya segera dihantamkan ke arah tubuh Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu.
Kendati begitu Ang Yap Toojin masih belum mampu untuk menahan diri, termakan oleh pukulan yang sangat hebat itu badannya segera mencelat ke belakang darah kental mengucur keluar dari panca inderanya membuat keadaan toosu itu mengerikan sekali.
Dalam waktu singkat Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu sama-sama menderita Iuka dalam yang parah darah panas bergolak dalam dada mereka membuat kedua orang itu buru-buru pejamkan mata dan mengatur pernapasan.
Keadaan Ang Yap Toojin paling parah.
tubuhnya menggeletak di atas tanah dengan sepasang mata terpejam rapat, mukanya pucat pias bagaikan mayat, napasnya kempas-kempis dan lirih sekali.
Hoa Thian-hong sendiripun merasa jantungnya berdebar dan napasnya tersengal-sengal lama sekali ia baru berhasil menguasai diri.
Hoa In segera menghampiri ke sisi tubuhnya.
"Siau Koan-jin, bagaimana keadaanmu?"
Tegurnya gelisah.
Buru-buru telapak kanannya ditempelkan ke atas punggung pemuda itu.
segulung hawa murni segera menyusup masuk ke dalam tubuhnya "Api sudah hampir menyumbat jalan keluar kita, mari kita undurkan diri lebih dahulu dari sini,"
Kata Hoa Thianhong kemudian setelah berhasil menenangkan diri, sorot matanya segera melirik sekejap ke arah Giok Teng Hujien.
"Kau memang amat pandai bikin gara-gara,"
Omel perempuan itu sambil tertawa.
"Coba kau lihat, sekarang apa yang musti cici sampaikan kepada kaucu nanti tentang peristiwa ini"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Cici, bila kau ada niat tinggalkan jalan sesat menuju ke jalan yang benar, seketika ini juga siaute akan cabut selembar jiwa Ang Yap Toojin untuk memotong jalan mundurmu.
"Kurang ajar! apa sih yang dimaksudkan tinggalkan jalan sesat menuju ke jalanan yang benar? Siapa yang bersih tetap bersih, siapa yang kotor tetap akan kotor cici yakin belum pernah melakukan perbuatan yang memalukan orang."
"Aaai... kalau memang cici selalu berpikiran sesat dan tak mau mendusin dari kedosaan, siautepun tidak akan bicara lebih banyak lagi,"
Ia berpaling dan serunya.
"Hoa In, ayoh kita pergi."
Kedua orang itu putar badan dan segera berlalu, tibatiba disini mereka bertambah lagi dengan seseorang, dia bukan lain adalah Bong Pay yang sedang dicari.
Hoa Thian-hong jadi amat kegirangan dia tarik lengan pemuda itu dan diajak bersama-sama membelok ke sebelah kiri.
Dalam pada itu setiap ruangan dalam bangunan kuil itu telah termakan api, jalan maju ketiga orang itu segera tersumbat sama sekali, hawa begitu panas terasa menyengat badan membuat peluh mengucur keluar dengan derasnya, dengan susah payah akhirnya mereka bertiga berhasil juga mendekati tepi dinding pekarangan dari kuil itu.
Mendadak terdengar Jin Hian tertawa tergelak sambil serunya.
"Hoa Loo-te, dimanakah cicimu serta ketiga orang toosu hidung kerbau itu?"
Pemuda kita segera mendongak, ia lihat di atas dinding pekarangan berdiri sederetan panjang jago-jago lihay dari perkumpulan Hong-im-hwie, kecuali Jin Hian, Cia Kim serta Cho Bun-kui, keempat puluh orang pengawal golok emas pun telah hadir semua di tempat itu.
Di bawah sorot cahaya api nampak kilatan senjata berkilauan, dalam keadaan siap siaga dengan senjata terhunus para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie itu memblokir seluruh daerah yang tidak terjamah oleh api.
Hoa Thian-hong sama sekali tidak gentar menghadapi kejadian ini, dengan langkah yang tetap ia dekati dinding pekarangan tersebut, sekali enjot badan tubuhnya langsung melayang ke arah mana Jin Hian berada.
Dengan kencang Hoa In mengikuti di sisi majikan mudanya, hawa sakti Sau-yang-ceng khie dihimpun ke dalam sepasang telapak, asal Jin Hian menunjukkan tanda-tanda tidak beres, ia segera akan lancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.
Terdengar ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie itu tertawa terbahak-bahak, kaki kanannya melangkah satu tindak ke samping memberikan sebuah tempat berpijak bagi lawannya, dengan cepat Hoa Thian-hong serta Bong Pay sekalian telah hinggap di atas tembok pekarangan itu.
Beberapa waktu kemudian.
dari kejauhan tampaklah Ceng Si-cu memayang Ang Yap Toojin yang terluka parah dilindungi Giok Teng Hujien serta Ngo Ing Toojin di kedua belah sisinya muncul pula di tempat itu.
"Hoa Loo-te"
Jin Hian segera berseru sambil tertawa.
"Kalau bekerja janganlah kepalang tanggung, bagaimana kalau kita bekuk pula ketiga orang peria dan seorang perempuan itu agar tak bisa keluar dari tempat ini?"
Hoa Thian-hong tidak menjawab, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Sementara itu keempat puluh orang pengawal golok emas telah membentak keras.
"Berhenti!"
Keempat sosok bayangan manusia itu segera menghentikan langkah kakinya, Ngo Ing Toojin dengan suara gusar menegur.
"Jien Tang-kee, apa yang hendak kau lakukan?"
"Hmmm..... jalan sempit, kita selalu berjumpa, tentu saja aku hendak menahan kalian,"
Sorot matanya dialihkan ke samping dan melanjutkan.
"bagaimana menurut pendapat Hoa Loo-te?"
Hoa Thian-hong tertawa lantang, pikirnya.
"Memang lebih baik toosu-toosu siluman dari Thong-thian-kauw dibunuh habis oleh kaki tangannya, cuma bagaimana dengan cici yang tak kuketahui nama aslinya ini.....!"
Puluhan pasang mata para jago sama-sama dialihkan ke atas wajahnya, dalam keadaan begini tak sempat baginya untuk berpikir panjang lagi, segera sahutnya.
"Pertikaian antara perkumpulan Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw tidak ingin kucampuri, bila Jien Tangkee ada maksud menahan mereka silahkan turun tangan sendiri"
Bicara sampai disitu sorot matanya berkilat mengerling sekejap ke arah Giok Teng Hujien, maksudnya agar perempuan itu bisa menerjang ke arahnya.
Giok Teng Hujien adalah seorang gadis yang cerdas, menyaksikan keadaan itu dia segera berkata.
"Setan cilik, seorang pria sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, kalau kau punya keberanian lindungilah cicimu, kalau tidak lebih baik jangan turut campur, aku tidak ingin mengajak kau main pat-pat gulipat!"
Merah jengah selembar wajah si anak muda itu, setelah tertegun sejenak ia berkata kembali.
"Selamanya siaute bekerja tampa menghendaki merusak nama baik orang lain, sekalipun aku bukan enghiong akupun tak ingin pura-pura jadi hohan, sekalipun hubungan pribadi kuperhatikan tetapi kepentingan umum akan kuutamakan lebih dulu"
La berhenti sejenak, kemudian dengan suara yang tegas ia melanjutkan.
"Dalam peristiwa yang terjadi hari ini, siaute akan menjamin keselamatan dari cici untuk tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, aku harap cici dapat menjaga diri baik-baik sehingga tidak menyianyiakan jerih payahku untuk melihat diri cici."
Giok Teng Hujien tersenyum.
"Seandainya pikiranku masih sesat dan bekerja lagi untuk pihak Thong-thiankauw?"
"Mungkin orang yang akan membunuh cici adalah siaute sendiri"
"Kau berani?"
Seru perempuan itu sambil mencibirkan bibirnya. biji matanya yang jeli mengerling ke arah Ngo Ing Toojin dan memberi tanda agar bersiap sedia melakukan penerjangan.
"Tunggu sebentar?"
Tiba-tiba terdengar Jin Hian berseru.
"Hoa Loo-te, bila cicimu berhasil lolos dari sini, bukankah urusan akan semakin berabe? Terbakarnya kuil Tiong-goan-koan pasti akan dikatakan olehnya sebagai hasil karya dari perkumpulan Hong-im-hwie"
"Haaah... haaah... antara perkumpulan Hong-im-hwie dengan Thong-thian-kauw toh sudah berhadapan sebagai musuh, kenapa Jien Tang-kee musti risaukan urusan sekecil ini?' "
Akulah yang membakar kuil Tiong-goan-koan!"
Tibatiba Bong Pay berteriak lantang.
"Siapa yang tidak puas, carilah aku orang she Bong untuk dimintai pertanggungan jawabnya!"
Semua orang segera alihkan sorot matanya ke arah pemuda itu, tetapi setelah diketahuinya bahwa orang yang barusan berteriak bukan lain adalah seorang pria dekil yang lehernya masih diborgol oleh rantai baja yang kasar dan panjang, tak tertahankan lagi semua orang segera mendongak dan tertawa terbahak bahak, Watak Bong Pay amat berangasan dan kasar, melihat semua orang menertawakan dirinya, dengan penuh kegusaran ia segera berteriak.
"Kalau mau tertawa tertawalah sekeras-kerasnya, kalau mau berkelahi, ayoh tunjukkan kepala kalian!"
Tentu saja semua orang tak memandang sebelah matapun terhadap dirinya, mendengar teriakan itu gelak tertawa para jago terdengar semakin keras Hoa Thian-hong menyadari akan rendahnya ilmu silat yang dimiliki Bong Pay, dengan kepandaiannya yang cetek itu pemuda tadi masih belum mampu untuk berduel melawan salah seorangpun di antara para pengawal golok emas.
Karena takut ia turun ke gelanggang secara gegabah hingga mencari Kesulitan bagi diri sediri, sambil mencekal pergelangannya ia lantas berseru.
"Bong toako, jangan gubris urusan tetek bengek yang sama sekali tak berguna itu."
Kemudian ia menoleh dan berkata kembali.
"Ngo Ing Tootiang, harap sampaikan kepada kaucu kalian, katakanlah untuk peristiwa kebakaran ini ia boleh catat atas namaku!"
"Pinto akan mengingatnya!"
Hoa Thian-hong segera berpaling ke arah Jin Hian dan menantikan keputusannya. Ketua dari perkumpulan Hong-im-hwiee ini bukanlah seorang manusia bodoh, dalam hati ia segera berpikir.
"Kenapa aku musti repot2 untuk turun tangan sendiri? Kalau dilihat keadaan Ang Yap toosu hidung kerbau itu, jelas ia terluka parah di tangan pemuda itu. Baiklah aku akan biarkan dia tetap hidup di kolong langit agar di kemudian hari bisa merupakan bibit bencana bagi bangsat cilik itu"
Berpikir begitu ia lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Haaah.... haaah.... haaah kalian anggap aku she-Jin adalah manusia macam apa? Sebelum berjumpa muka dengan Thian Ek si toosu tua itu aku tak sudi ributribut dengan anak buahnya"
Diam-diam Hoa Thian-hong geli juga melihat sikapnya itu, ia segera menyingkir ke samping dan berseru.
"Cici, baik-baiklah menjaga diri. kita berjumpa lagi di kota Leng An nanti"
"Aku takut sebelum tiba di kota Leng An kau sudah mati terlebih dahulu oleh serangan bokongan dari Jien Tang-kee"
Kata Giok Teng Hujien sambil tertawa.
Rasa benci malaikat berlengan delapan Cia Kim terhadap Giok Teng Hujien maupun terhadap Hoa Thianhong adalah sama-sama mendalamnya, hanya sayang ia tak berani melanggar perintah Jin Hian maka selama ini ia tak sempat mencelakai kedua orang itu.
Sekarang setelah mendengar sindiran tersebut, ia segera tertawa dingin serunya dengan marah.
"Hujien, lebih baik cepat-cepatlah pulang ke kota Leng An, bila kau berani berlagak tengik lagi dihadapanku... Hmmm, hati-hati1ah bila serangan bokongan dari perkumpulan Hong-im-hwie segera akan unjukkan kehebatannya...."
Giok Teng Hujien tertawa ewa, ia ulapkan tangannya ke arah Ngo Ing Toojin berdua, maka berkelebatlah tubuh ketiga orang itu lewat disisi Hoa Thian-hong....
Pemuda she-Hoa itu melirik sekejap ke arah Ang Yap Toojin dalam dukungan Ceng Si-cu, ia lihat sepasang mata toosu tua itu terpejam rapat-rapat, giginya mengatap satu sama lainnya, wajahnya kuning pucat dan mengerikan sekali keadaannya, dalam hati ia lantas berpikir.
"Begitu lihaynya ilmu Sau-yang-ceng-khie seharusnya aku melatih ilmu tersebut sedari dulu...,dulu...."
Dalam waktu setingkat beberapa orang dan sekte agama Tong Jin Kau itu sudah lenyap dari pandangan. Jin Hian segera ulapkan tangannya dan berseru.
"Hoa Loo-te, persoalan di tempat ini telah selesai, mari kita kembali ke penginapan!"
"Silahkan Jien Tang-kee!"
Jin Hian melompat turun terlebih dahulu dari atas tembok pekarangan, Cho Bun-kui memberi tanda kepada para pengawal golok emas dan secara beruntun keempat puluh orang jago itu melayang turun pula dari atas tembok dan membentuk barisan berbanjar empat, dengan rapi dan teratur mereka mengikuti di belakang komandannya.
Hoa Thian-hong sambil menggandeng tangan Bong Pay menyusul di belakang rombongan jago-jago dari perkumpulan Hong-im-hwie, katanya di tengah jalan.
"Bong toako, aku dengar katanya kau hidup sebatang kara tanpa sanak tanpa tempat tinggal, bagaimana kalau kita bersahabat dan mengembara di dunia persilatan bersama-sama?"
Bong Pay tertegun mendengar ucapan itu, kemudian nyeletuk.
"Kepandaian silatmu hebat sedang ilmu silatku cetek sekali, mana mungkin kita bisa melakukan perjalanan bersama-sama?"
"Sahabat bisa berkumpul bila saling setia kawan, asal tujuan dan cita-cita kita sama apa bedanya antara ilmu silat yang .tinggi dan ilmu silat yang rendah"
Tapi Bong Pay tetap menggeleng.
"Kepandaian silatku kecil tapi watakku terlalu besar, bila jalan bersama dirimu maka tentu banyak kerepotan yang akan kutimbulkan untukmu!"
"Ehmmm.... bocah ini rupanya tahu diri juga,"
Pikir Hoa In di dalam hati.
"Kalau begitu hanya perangainya saja yang kasar dan berangasan. sedang otaknya sama sekali tidak tumpul"
Tanpa terasa sikap serta pandangannya terhadap pemuda itu berubah lebih baik beberapa bagian.
Memandang raut wajah Bong Pay yang dipenuhi oleh garis-garis kekesalan dan kemurungan, Hoa Thian-hong pun berpikir di dalam hati.
"Ketika diadakan pertemuan Pek Beng Hwee, ayahku mati dalam medan pertempuran sedang ibuku dalam keadaan terluka parah berhasil lolos dari kepungan kesemuanya adalah berkat bantuan dari para sahabat karib, aku lihat Bong toakopun seorang keturunan dari golongan ksatria, aku tak boleh memandang rendah dirinya karena ilmu silat yang ia miliki terlalu rendah!"
Ia lantas menggenggam tangan Bong Pay dan berseru.
"Bong toako, kau maupun aku adalah keturunan dari kaum ksatria, marilah kita angkat saudara dan hidup bersama mati berbareng, mari kita bekerja sama membangun suatu pekerjaan besar yang berguna bagi seluruh umat dunia....!"
Bong Pay merasa amat terharu mendengar perkataan itu. tetapi setelah tertegun beberapa saat lamanya kembali ia menggeleng.
"Kalau berbuat begitu, aku pikir rada kurang baik"
"Kenapa?"
Tanya Hoa Thian-hong tidak habis mengerti.
"Usiaku tebih tua tapi kepandaianku kecil, sedang kau usia muda kepandaian lihay, bila kita harus angkat saudara maka akulah sang kakak dan kau sang adik, kepandaianku tak mampu melampaui dirimu, mana mungkin aku bisa memberi petunjuk kepadamu..."
"Sungguh tak nyana Bong toako meskipun kasar orangnya cermat otaknya....."
Pikir Hoa Thian-hong. Dengan wajah serius ia lantas berkata.
"Siaute toh sudah pikir sejak tadi, persahabatan hanya didasarkan oleh rasa setia kawan dan hubungan batin yang cocok, asal tujuan dari cita-cita kita sama perduli amat dengan kepandaian yang lebih lihay atau kepandaian yang lebih lemah"
Untuk kesekian kalinya Bong Pay menggeleng.
"Yang aku maksudkan kepandaian bukan hanya terbatas dalam hal ilmu silat belaka,"
Katanya.
"Lalu apa yang dimaksudkan Bong Toako?"
Rupanya Bong Pay tidak tahu bagaimana musti menjawab pertanyaan itu, setelah termenung senjenak ia berkata.
"Usiamu masih sangat muda, sekalipun ilmu silatmu lihay tak mungkin kelihayannya mencapai setinggi langit. tetapi bukti menunjukkan bahwa orangorang dari pihak Hong-im-hwie berlaku sungkan kepadamu, para toosu siluman dan Thong-thian-kauw juga jeri kepadamu, menurut penglihatanku inilah baru yang dinamakan kepandaian sesungguhnya."
"Tentu saja begitu,"
Batin Hoa Thian-hong.
"Mau tundukan hati orang, tidak dapat hanya mengandalkan ilmu silat saja."
Dalam hati berpikir begitu, diluaran ia segera menjawab.
"Ooo...! Kiranya kau maksudkan tentang soal itu. Siaute mendapat perlindungan dari pengurus perkampunganku yang sangat lihay dalam ilmu silat, berkat kelihayannya itulah tak ada orang yang berani menganiaya diri siaute."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, sampailah beberapa orang itu di depan penginapan.
Jin Hian sekalian segera masuk ke dalam kamar sedang sepuluh orang pengawa golok emas yang tinggal disana ikut masuk pula ke dalam penginapan, sisanya setelah menghantar pulang ketua mereka segera berlalu dari situ.
"Bong toako"
Ujar Hoa Thian-hong kemudian.
"Urusan tentang angkat saudara kita bicarakan lagi kemudian hari saja, kita berteman dulu untuk sementara waktu, bagaimana menurut pendapatmu?"
Bong Pay mengangguk "Baiklah, bila kau merasa bosan dengan tampangku, aku segera pergi dari sini.
Hoa Thian-hong tersenyum, masuklah ketiga orang itu ke dalam kamar.
Setelah berada di tempat kebakaran beberapa waktu lamanya Semua orang merasa haus, pemuda she Hoa pun ambil dua cawan air teh dan sebuah diantaranya diserahkan ke tangan Bong Pay, katanya.
"Bong toako, silahkan minum air teh"
Waktu itu adalah bulan tujuh musim panas, teh dingin merupakan minuman yang paling segar untuk keadaan demikian.
Bong Pay segera menerima cawan air teh itu dan sekali teguk menghabiskan isinya.
Hoa Thian-hong yang minum secucupan dengan cepat merasakan lidahnya jadi kaku dan pedas, rasanya aneh sekali, ia jadi terperanjat.
Melihat Bong Pay hendak penuhi pula cawannya dengan air teh tangannya segera berkelebat ke muka menahan cawan itu.
Dalam pada itu Hoa In sedang keluar pintu untuk mencari cawan.
melihat gerak-gerik Hoa Thian-hong sangat aneh, buru-buru tegurnya.
"Siau Koan-jin, apakah air teh itu tidak bersih?"
"Masih mendingan"
Sahut sang pemuda sambil tersenyum.
"katakanlah kepada Jien Tang-kee bahwa aku terlalu rakus hingga perutku terasa mules, mintakan dua biji obat sakit perut darinya."
"Obat pemberian dari Jin Hian mana boleh diminum!"
Seru Hoa In dengan alis berkerut.
"biarlah kucarikan seorang tabib saja....."
Habis berkata ia lantas melangkah keluar dari kamar.
"Eeei... eee... kenapa musti pergi terlalu jauh? Cari saja Jien Tang-kee!"
Kembali pemuda itu berseru sambil tertawa.
Hoa In melongo kemudian sambil menghela napas ia geleng kepala dan menuju ke kamar Jin Hian.
Hoa Thian-hong perhatikan sekejap cawan air teh itu, sewaktu tidak menemukan sesuatu tanda ia menoleh pula ke arah Bong Pay ditemuinya sorot mata pemuda itu tetap jeli dan sama sekali tak berubah, segera diambilnya cawan air teh pemuda itu dan dicicipi sedikit, ternyata rasanya kaku dan pedas, sama sekali tak enak diminum.
Sementara itu Bong Pay sendiri telah merasakan pula gejala yang tidak beres, matanya segera melotot dan ia berseru.
"Apakah Jien loo-ji telah main gila dengan air teh kita?"
"Bagaimana rasanya teh dalam cawan Bong toako itu?"
"Air teh, yaah air teh, sedikitpun tidak ada rasanya!"
Hoa Thian-hong tersenyum, ia ambil poci teh itu dan dihisapnya satu tegukan, ternyata air teh disana rasanya biasa saja sedikitpun tiada pertanda yang mencurigakan, maka sadarlah dia apa yang telah terjadi.
"Ooooh...! rupanya bubuk racun itu dipoleskan dalam cawan air teh itu hingga air teh dalam poci sama sekali tidak terganggu, kalau ditinjau dari lambatnya daya kerja racun itu, jelas bukanlah racun dari jenis yang terlalu lihay, Sebagai seorang pemuda yang kebal terhadap racun, perduli racun yang jahat dari jenis apapun asal masuk ke dalam mulutnya ia segera akan merasa pedas dan kaku, pengalaman yang lain membuktikan bahwa pertanda itu tak mungkin salah lagi. SESAAT kemudian Hoa In muncul kembali di dalam kamar sambil membawa dua pil, ujarnya.
"Siau Koan-jin, Jin Hian telah memberi dua buah pil untukmu, aku lihat pil ini sama sekali tak berbeda dengan obat yang diberikan kepada Chin Giok-liong tempo dulu"
Setelah kupecahkan siasat busuknya, mungkin lain kali ia tak akan berani main gila lagi kepadaku!"
Pikir Hoa Thian-hong.
Meskipun dalam hati berpikir begitu, untuk menghindari siasat buruk berantai dari orang she-Jien itu.
ia segera ambil sebutir obat diantaranya dan di kunyah dalam mulut, setelah dirasakan obat itu sama sekali tidak mengandung rasa kaku atau pedas seperti halnya gejala keracunan, ia baru serahkan obat penawar yang lain ke tangan Bong Pay.
"Bong toako!"
Ia berkata.
"telanlah obat penawar ini!"
Bong Pay amat percaya terhadap ucapan pemuda ini, tanpa banyak curiga ia terima obat itu dan segera ditelan ke dalam mulut kemudian ia baru mengomel dengan suara jengkel.
"Jin Hian tua bangka itu benar-benar licik, sungguh memalukan manusia macam itu bisa, dianggap sebagai seorang pimpinan dari suatu perkumpulan besar"
"Siau Koan-jin"
Ujar Hoa In pula dengan wajah murung.
"serangan secara blak-blakan bisa dihindari, serangan bokongan sukar dilewatkan. lebih baik kita berpisah saja dari rombongan merek"
Hoa Thian-hong termenung sejenak, lalu menggeleng.
"Aku pikir lebih aman bagi kita untuk tetap menggabungkan diri dengan rombongan mereka, sebab dengan begitu kita hanya perlu berjaga jaga terhadap serangan bokongannya dia seorang, sebaliknya kalau perjalanan kita lakukan secara berpisah maka bukan saja kita musti waspada terhadap mereka, kitapun harus waswas terhadap bokongan dari orang-orang Thong-thiankauw "
Ucapan dari Hoa kongcu sedikitpun tidak salah,"
Sahut Bong Pay dengan alis berkerut.
"Aku orang she-Bong akan menuntun kuda bagimu. mari kita genjot Hian Loo-ji sampai keok."
Begitu nyaring dan keras ucapan itu sehingga hampir semua tamu yang menginap dalam rumah penginapan itu dapat mendengar ucapannya.
"Bong toako kalau kau tidak merasa direndahkan, itulah bagus sekali,"
Ujar Hoa Thian-hong sambil tertawa.
"hanya sikapmu terlalu sungkan justru membuat hubungan kita serasa lebih renggang."
Sembari berkata ia hancurkan dua buah cawan yang beracun itu dan dihuang keluar jendela.
Hingga saat itu di atas leher Bong Pay masih terborgol sebuah rantai besi panjang tujuh depa, Hoa Thian-hong serta Hoa In harus bekerja keras beberapa waktu lamanya sebelum rantai tersebut berhasil dicopot dan dilepaskan dari leher orang.
Bertiga mereka bersantap di dalam kamar kemudian Boan Pay pindah ke kamar sebelah untuk mandi dan tidur.
sedang Hoa In sambil membawa rantai itu berkata.
"Siau Koan-jin, beristirahatlah dulu aku ingin jalan2 sebentar diluaran"
"Tengah malam buta begini, mau apa kau keluar kamar?"
"Aku lihat rantai ini kuat dari aneh, aku ingin mencari tukang besi untuk menempa rantai ini jadi sebilah pedang"
Hoa Thian-hong pikir benar juga ucapan itu, maka ia mengangguk.
Sepeninggalnya Hoa In ia tutup pintu dan ambil keluar bungkusan kertas minyak untuk yang diserahkan Cu Tong kepadanya itu.
Ketika dibuka ternyata isinya berupa setengah
Jilid kitab yang isinya cuma lima enam lembar, kertasnya warnanya kuning dan agak kumala, sepintas dilihat sudah bisa diketahui bahwa buku itu sudah berusia lama sekali.
Pada halaman pertama buku itu terlihatlah empat huruf kuno yang berbunyi.
"Ci-Yu-Jit-Ciat"
Atau Tujuh kupasan dari Ci-Yu.
Hoa Thian-hong merasa semangatnya bangkit, ia duduk di dekat meja memasang lampu lentera dan membuka halaman berikutnya.
Pada ujung halaman tertera tulisan "Bab pertama menyerang menyebabkan mati" , di bawah judul itu tertulis tulisan kecil yang rapat dan penuh semuanya membicarakan tentang bagaimana cara-cara mengendalikan serangan secara jitu dan tepat.
Halaman berikutnya merupakan gambar-gambar manusia yang disertai dengan keterangan lengkap Hoa Thian-hong yang memeriksa sepintas lalu segera menemukan bahwa isi kitab itu hanya terdiri dari tiga jurus serangan belaka, semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang dilakukan baik ada kesempatan maupun tidak ada kesempatan, baik menyerang secara halus maupun kekerasan, tetapi yang diarah semuanya merupakan tempat-tempat penting di tubuh manusia, serangan tidak terbatas pada kepalan belaka, tapi mencakup pula menyerang dengan telapak, dengan bacokan maupun dengan totokan jari.
Jilid 18.
Rasa Cinta Pek Kun Gie SEMAKIN memperhatikan isi kitab itu Hoa Thian-hong semakin kesemsem hingga akhirnya ia mengulangi lagi dari permulaan, sambil mempelajari diam-diam diapun mulai meraba inti sari dari pelajaran tersebut.
Entah lewat berapa saat lamanya, Hoa In muncul kembali di dalam kamar itu, ketika melihat pemuda tersebut belum tidur ia lantas menegur.
"Hari sudah pagi waktu menunjukkan kentongan kelima, apakah Siau Koan-jin belum tidur??"
"Ehmmm, ayam toh belum berkokok"
"Ayam telah berkokok sejak tadi..."
Hoa In dekati meja dan bertanya kembali.
"Ilmu silat apakah itu? Berguna tidak bagi Siau Koan-jin....??"
"Oooh.... suatu ilmu aliran silat yang luar biasa hebatnya...."
Melihat pemuda itu sedang kesemsem Hoa In-pun tidak berani mengganggu kembali, ia sediakan air teh lalu menyingkir ke samping untuk bersemedhi.
Ketika fajar telah menyingsing, pelayan muncul menghidangkan air teh.
Tetapi perhatian Hoa Thian-hong masih tetap terjerumus di dalam ilmu silat, hingga akhirnya kepada Bong Pay ia berkata.
"Bong toako, bukankah gurumu telah meninggal dunia hingga toako tiada orang yang memberi petunjuk? ilmu silat yang di miliki pengurus perkampunganku ini didapati dari leluhurku, bila kau punya kegembiraan tak ada salahnya bila minta petunjuk darinya."
"Bakatku tidak bagus, watakku berangasan. dan tidak sabaran, aku takut pengurus tua merasa tidak sabar untuk memberi petunjuk kepadaku."
"Bocah ini jujur dan gagah,"
Pikir Hoa In dalam hati,"
Bila aku bisa mendidiknya secara baik-baik. akhirnya ia akan menjadi seorang pembantu yang baik buat Siau Koan-jin."
Agaknya semua persoalan yang ia pikirkan hanya ditujukan demi kebaikan majikan mudanya. berpikir sampai disana dengan senang hati ia lantas berkata.
"Engkoh cilik. asal kau mau belajar akupun dengan senang hati akan menurunkan kepandaian silatku padamu."
Hoa Thian-hong jadi sangat girang mendengar perkataan itu, ujarnya.
"Selama berkelana di dalam dunia persilatan, ilmu silat adalah merupakan senjata yang paling ampuh, setiap saat kemungkinan besar kita bisa dikerubuti oleh musuh dalam jumlah yang lebih banyak, mari kita mulai berlatih sekarang juga, jangan sampai membuang waktu dengan percuma"
Itu hari kecuali di tengah hari pergi 'lari racun', sepanjang waktu Hoa Thian-hong mengurung diri di dalam kamar sambil mempelajari ketiga jurus serangan, ampuh itu, setelah dipertimbangkan berulang kali akhirnya ia ambil keputusan, ilmu tadi baru akan diwariskan kepada Bong Pay setelah ia dapat menguasai kepandaian tersebut.
Malam harinya rombongan melanjutkan perjalanan tinggalkan kota Wi-Im menuju ke selatan, seperti semula keempat puluh orang pengawal golok emas berangkat lebih duluan dan menanti di kota paling depan, sedang Jin Hian serta Hoa Thian-hong sekalian enam orang menyusul dari belakang.
Rantai besi yang didapatkan dari leher Bong Pay itu oleh Hoa In telah dibikinkan sebilah pedang raksasa yang amat besar, ketika Hoa Thian-hong menjajal senjata tersebut terasalah olehnya meski tidak seberat pedang baja miliknya yang hilang di markas besar perkumpulan Sin-kie-pang, tetapi benda itu secara paksa masih dapat menahan getaran tenaga dalamnya hingga tidak sampai patah.
Hari itu tibalah mereka di kota Ko-Yu dan bermalam disitu.
Bong Pay dengan berlagak hendak membeli barang di kedai, seorang diri ternyata telah menyusup ke dalam kuil 'Tiong-goan-koan' milik perkumpulan Thongthian-kauw, karena para jago lihaynya telah ditarik pulang semua ke kota Lang-An ditambah pula rasa dendamnya yang berkobar-kobar, setelah melepaskan semua perempuan yang disekap di dalam kuil itu, di tengah hari bolong ia segera melepaskan api dan membakar pula kuil itu hingga hancur sama sekali.
Menanti Hoa Thian-hong mengetahui kejadian ini, sudah tak sempat lagi baginya untuk mencegah perbuatan itu.
Melihat kenyataan bahwa dendamnya dengan pihak Thong-thian-kauw kian hari kian bertambah dalam hati pemuda itu hanya bisa mengeluh sambil tertawa getir.
Suatu senja rombongan Jin Hian sekalian telah menyeberangi sungai Tiangkang dan menginjakkan kakinya di wilayah Kanglam suasanapun seketika berubah sama sekali.
Tampak Cu Goan-khek, Seng Sam Hau.
Siang Kiat serta seluruh jago yang terpandang dalam perkumpulan Hong-im-hwie hadir semua jadi satu rombongan, di samping itu terdapat pula lima puluh orang jago lainnya termasuk keempat puluh pengawal golok emas maka rombongan Hong-im-hwie yang berkumpul ditepi sungai meningkat jumlahnya jadi beberapa ratus orang.
Setelah mendarat barisan berangkat memasuki kota Ceng-kang-shia, suara derap kaki kuda yang ramai bergema bagaikan guntur di tengah hari, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa seolah-olah medan pertempuran yang sedang melangsungkan pertumpahan darah.
Hoa Thian-hong bertiga yang berada diantara rombongan besar itu merasakan dirinya bagaikan sebuah sampan kecil di tengah amukan ombak, sekalipun nyali pemuda itu amat besar tak urung gelisah juga dibuatnya.
Setelah masuk ke dalam kota, pasukan besar perkumpulan Hong-im-hwie itu behenti di depan sebuah bangunan rumah yang besar dan megah, semua orang loncat turun dari kuda dan mengiringi Jin Hian masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba Jin Hian menghentikan langkahnya, kepada para pengiring disisinya ia berseru.
"Hoa kongcu akan ditempatkan dimana?"
"Lapor toako"
Sahut seorang pria setengah baya.
"siauwte mengosongkan ruang barat tempat itu sengaja kami sediakan untuk Hoa Kongcu.."
Jin Hian mengangguk, sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong ujarnya.
"Loo-te, bila pelayanan kurang memadai harap kau suka secara langsung mencari aku."
"Terima kasih atas perintahmu!"
Seorang pria baju hijau segera maju dan memberi hormat ujarnya.
"Hoa kongcu, silahkan ikut diriku menuju ke ruang barat untuk beristirahat....!"
Hoa Thian-hong memberi hormat kepada Jin Hian lalu mengikuti di belakang pria tadi menuju ke ruang barat, disana empat orang pelayan perempuan telah siap menyambut kedatangannya.
"Aku bernama Lie Sim"
Ujar pria baju itu memperkenalkan diri.
"aku mendapat tugas untuk melayani kongcu. bila kau ada permintaan harap kongcuya suka sampaikan kepadaku"
"Terima kasih!"
Lie Sim memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruang barat.
Ruangan itu merupakan sebuah bangunan yang tersendiri, bangunannya luas dengan suasana yang tenang, setelah memandang sebentar sekitar tempat itu Hoa In berkata.
"Rupanya Jin Hian akan berdiam agak lama ditempat ini, kalau ditinjau dari sikapnya mungkin ia tiada maksud untuk meneruskan perjalanannya menuju ke selatan"
Melihat kakek itu murung bercampur kesal, Hoa Thianhong segera menghibur. katanya.
"Persoalan ini merupakan suatu masalah besar yang akan merubah situasi di dalam dunia persilatan, banyak sekali masalah yang pelik tercakup dalam soal itu dan tidak dipahami oleh kita, tetapi toh kita sudah sampai disini, marilah kita hadapi setiap perubahan dengan sikap tenang tak perlu kita terlalu merisaukan akan soal ini"
"Aku amat merisaukan keselamatan dari Siau Koanjin,"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Berjuang demi menegakkan keadilan ibaratnya bekerja sebagai pengawal barang kiriman. setiap hari harus bergelimpangan di ujung senjata dan adu kepalan, soal bahaya sudah bukan kejadian yang asing lagi bagi manusia macam kita ini"
Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu berpaling tampaknya.
"Bong toako, siaute mempunyai tiga jurus ilmu totokan, bagaimana kalau kita pelajari secara bersama?"
Dengan cepat Bong Pay menggeleng.
"Sebelum pertemuan besar Pek Beng Hwee, suhu secara terburuburu telah turunkan ilmu kepandaian andalannya 'Pek Lek-ciang' kepadaku itu waktu usiaku masih terlalu kecil dan dasarku amat cetek ditambah pulu otakku bebal, sekalipun secara dipaksakan aku masih ingat permainan ilmu telapak itu namun belum pernah kepandaian tadi kupelajari secara baik. setelah mendapat petunjuk dari pengurus tua beberapa hari belakangan ini pikiranku terasa bertambah terbuka, aku ingin melatih dulu ilmu telapak milik suhuku sehingga matang, kemudian baru mempelajari ilmu silat yang lain."
"Rangkaian ilmu telapak itu merupakan kepandaian ampuh dari Pek-lek-sian, sewaktu dia berkelana dan angkat nama di dalam dunia persilatan"
Sambung Hoa In cepat.
"bila ilmu tersebut bisa dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, sama saja kau bisa menjagoi kolong langit tanpa tandingan menurut penilaianku memang sudah sepantasnya kalau ilmu silat dari perguruan sendiri dilatih dulu sampai matang."
Hoa Thian-hong mengangguk, ujarnya kemudian.
"Mara bahaya setiap kali akan muncul dijalan sebelah muka, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah jangan sampai peristiwa dalam pertemuan Pek Beng Hwe terulang kembali, mari kita gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menggembleng diri!"
"Tapi dengan andalkan kita beberapa orang....."
Tetapi setelah dilihatnya raut wajah majikan kecilnya menunjukkan kebulatan tekadnya, ucapan yang telah meluncur keluar segera ditelan kembali.
Dalam ruang barat tersedia empat orang pelayan perempuan yang khusus untuk melayani kebutuhan beberapa orang itu, Hoa In memandang majikannya bagaikan barang mustika, semua keperluannya masih tetap dilayani sendiri olehnya, selesai bersantap Hoa Thian-hong mengunci diri kembali di dalam kamar untuk mendalami ilmu 'Ci Yu Jit Ciat' sedang Bong Pay di bawah mengawasi Hoa In berlatih ilmu telapak diluar halaman.
Meskipun pelayan tua itu tidak mengerti akan jurus silat dari ilmu telapak Pek-Lek-ciang, namun dengan pengetahuannya yang luas setiap kali Bong Pay mengalami kesulitan ia dapat memecahkannya secara jitu.
Ketika senja telah menjelang dan ketiga orang itu sedang bersantap, tiba-tiba Lie Sim datang melapor katanya ada orang mohon bertemu.
Setelah menanyakan raut wajah tamunya, Hoa Thianhong buru-buru munculkan diri di depan pintu untuk menyambut kedatangan tamunya.
Yang datang berkunjung semuanya terdiri dari tiga orang-mereka adalah Ciong Lian-khek, Chin Giok-liong serta seorang tauto jubah putih berikat kepala perak.
Ciong Lian-khek dengan pedang tersoren di punggung ujung baju sebelah kosong kegagahannya masih nampak seperti sedia kala, Cuma sorot matanya memancarkan cahaya berapi api, seakan-akan ia sedang merasa amat gusar.
Hoa Thian-hong segera memburu maju ke depan dan memberi hormat kepada Ciong Lian-khek.
Jago buntung itu menahan badannya sambil berseru.
"Mari kita berbicara di dalam kamar saja"
Hoa Thian-hong mengangguk dan menoleh ke arah tauto tua berambut putih itu, sambil memberi hormat katanya.
"Toa suhu, baik-baikkah kau? boanpwee mengira kau si orang tua telah meninggalkan diriku"
Tauto berambut putih itu tertawa ramah.
"Akupun merupakan salah seorang rekan dari mendiang ayahmu, setelah kau punya keberanian untuk menghadapi kekacauan di depan mata, kenapa aku musti sayang dengan rongga badanku yang kosong ini??"
Hoa Thian-hong tersenyum, ia gandeng tangan Chin Giok-liong dan naik ke atas undak-undakan, mereka berpandangan sambil tersenyum, semua rasa kangen seketika lenyap dalam senyuman itu.
Setelah semua orang ambil tempat duduk Hoa In mengamat amati tauto berambut putih itu beberapa kejap, tiba-tiba teriaknya dengan suara keras.
"Eeei....toa suhu, bukankah kau adalah Cu In Taysu??"
"Sedikitpun tidak salah. aku adalah Cu In"
Sahut Tauto tua itu sambil tertawa.
"Loo Koan-kee (pengurus tua) ilmu sakti Sau-yang-ceng-kiemu sudah hampir memadahi kehebatan dari Hoa Tayhiap tempo dulu, hal ini patut dibanggakan dan dipujikan."
"Aaaat, hamba telah tua,"
Sambil berkata pengurus she-Hoa itu melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong, secara lapat-lapat, wajahnya terlintas rasa murung yang mendalam.
Cu In Taysu termenung beberapa saat lamanya.
Tibatiba ia menghela napas dan berkata pula.
"Melihat kau berdiri di belakang keponakan Hoa tanpa terasa terbayang kembali olehku akan Hoa Taybiap dimasa yang silam, waktu itu dimana kalian berdua muncul Hoa Tayhiap bagaikan rembulan di langit, memberikan suasana tenang dan damai bagi setiap orang, kau yang berdiri di belakangnya menunjukkan sikap yang gagah dan berwibawa. Kini justru keadaan itu malah sebaliknya, majikan mudamu ini kokoh dan kebal laksana sebuah bukit. sebaliknya kau berwajah murung, kesal dan tidak tenteram. Aaaai..."
Helaan napas itu mengandung arti yang sangat mendalam, tiba-tiba ia membungkam. Teringat akan majikannya, Hoa In tertunduk dengan wajah sedih. sambil menghela napas katanya.
"Kejadian yang telah lampau tak akan kembali lagi, meskipun Siau Koan-jin memiliki kecerdasan yang luar biasa, lapi betapa hebatnya musuh yang harus dihadapi, mungkinkah dengan tenaga kita beberapa orang keadilan bila ditegakkan kembali? dan dia,."
Ternyata tak mau mendengarkan nasehatku.."
Diam-diam Hoa Thian-hong mengamati raut wajah semua jago.
Ia lihat Cu In Taysu menunjukkan raut wajah yang sedih, Ciong Lian-khek tenang bagaikan air telaga, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apapun.
Chin Giok-liong juga tenang dan alim bahkan Bong Pay yang biasanya binalpun saat itu bungkam dalam seribu bahasa.
Tanpa terasa ia lantas berpikir di dalam hati.
"Masa depan amat suram. mereka semua tidak mempunyai rasa percaya pada diri sendiri, tapi karena aku seorang meski tahu bukan tandingan mereka paksakan diri untuk muncul pula di gelanggang, sikap ini walaupun patut dihargai tetapi berjuang tanpa semangat darimana bisa menyelesaikan persoalan??"
Kendati dalam hati merasa kesal tapi perasaan itu tidak sampai diperlihatkan ditempat luaran, sambil tertawa nyaring ujarnya.
"Hoa In, bukankah tempo dulu kau adalah sahabat karib dari Toa suhu ini,kenapa sewakiu berjumpa muka di tengah jalan tempo hari, kalian telah saling bertempur??"
"Dahulu kepala taysu gundul kelimis dan kini memelihara rambut, dulu senjata yang dipergunakan adalah toya Pat-Poo sian-ciang sedang kini yang dipakai adalah senjata sekop bergigi. dulu sekarang bagaikan dua orang yang berbedi, dari mana aku bisa ingat??"
Cu In Taysu tertawa sedih.
"Sejak bertempur di Pak Beng, sahabat karib dan rekan2 seperjuangan banyak yang mati binasa, aku yang berhasil melepaskan diri dari maut sungguh merasa tak punya muka untuk hidup sebagai manusia"
Mendengar pembicaraan yang berlangsung selalu gagal untuk membangkitkan semangat orang, Hoa Thianhong segera tertawa lantang dan berkata.
"Locianpwee, meskipun aku tidak becus tetapi aku rela memberikan sebutir batok kepalaku kepada kawanan manusia laknat itu bila cianpwee sekalian pada mengundurkan diri dari dunia persilatan semua hingga aku jadi sebatang kara, bukankah kawanan durjana itu akan mentertawakan kita sebagai orang-orang pengecut??"
Tertegun hati Cu In taysu mendengar perkataan ini, sambil tertawa ia lantas berkata.
"Ucapan Hoa Si-heng sedikitpun tidak salah, bagaimanapun juga aku harus berbuat sesuatu hingga bisa melegakan hati para jago yang telah berpulang"
Hoa Thian-hong tersenyum, sambil menuding ke arah Bong Pay dia memperkenalkan.
"Bong toako ini adalah anak murid dari Pek-lek Sian cianpwee, semoga taysu serta Cing-lian cianpwee suka menyayangi dirinya dan sering memberi petunjuk yang berguna."
"Menunggu bimbingan dari cianpwee berdua!"
Seru Bong Pay sambil bangkit berdiri. Cu In taysu menghela napas panjang.
"Aaai....! Sepasang dewa dari dunia persilatan adalah orang-orang yang penuh emosionil harap hiantit jangan memandang kami sebagai orang luar"
Ketika itulah Lie Sim muncul kembali di dalam ruangan sambil membawa sepucuk surat, sambil bongkokkan badan memberi hormat katanya.
"Lapor Hoa kongcu, dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang ada sepucuk surat yang disampaikan kepadamu!"
"Oooh....perkumpulan Sin-kie-pang pun sudah kirim orang kesini??"
Pikir pemuda itu dengan alis berkerut. Ketika surat itu dibuka dan dibaca isinya dengan cepat hatinya terasa tercekat, ternyata isi surat itu amat singkat sekali, yakni berbunyi demikian.
"Ditujukan kepada Hoa Kongcu pribadi Mengharapkan kedatangan saudara untuk menghadiri perjamuan kecil, sangat menantikan kedatangan saudara. Tertanda, Pek Siau-thian"
Hoa Thian-hong serahkan itu ke tangan Cu In taysu sekalian, kemudian kepada Lie Sim ujarnya.
"Beritahu kepada pengantar surat itu, aku akan tiba pada saatnya!"
Lie Sim mengiakan dan mengundurkan diri.
"Aaaah, aneh sekali! Kenapa Pek Siau-thian bisa sampai pula di tempat ini??"
Seru Hoa In dengan nada tercengang.
"Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah tiga kekuatan besar yang menguasai wilayah Tionggoan dewasa ini, bila Hong-imhwie terbentur sengketa dengan pihak Thong-thiankauw, tentu saja Pek Siau-thian juga hadir di tempat kejadian, hanya kedatangannya yang begini pagi membuat orang lantas bisa menduga bahwa latar belakangnya tidaklah sederhana"
"Bila Jin Hian tidak bersekongkol dengan Pek Siauthian, tak mungkin ia berani membawa pasukan besarnya menyerang ke selatan"
Terdengar Ciong Liankhek berseru.
"Siapa tahu kalau mereka berdua telah berkomplot dan sama-sama kirim jago untuk menyapu pihak Thong-thian-kauw"
"Akupun berpendapat demikian"
Sambung Cu In taysu. Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri dan memberi hormat ujarnya.
"Cianpwee berdua, engkoh berdua. harap kalian suka menunggu sebentar disini dan aku akan pergi sebentar"
"Siau Koan-jin, kau benar-benar akan penuhi janji??"
Seru Hoa ln "Aku bahkan ingin bertemu dengan Thian Ik-cu, sayang Ia tak mungkin akan mengundang diriku"
"Kalau mau pergi marilah kita pergi bersama-sama, daripada seandainya pembicaraan tidak cocok dan terjadi pertarungan, kita harus menelan kekalahan yang mengenaskan"
"Tak usah! Kenyataan telah menunjukkan bahwa pihak lawan lebih kuat daripada kita, seandainya benar terjadi pertarungan kita sudah pasti akan menderita kerugian, bila terlalu banyak orang yang pergi malahan suasana terasa kikuk"
Cu In taysu serta Ciong Lian-khek cuma bisa saling berpandangan dengan mulut membungkam, dalam keadaan begini mereka sendiripun tak tahu apa yang musti dilakukan.
Tiba-tiba Bong Pay mendeprak meja sambil berseru dengan nada gegetun.
"Aaai! ilmu silat kita tak becus. keadaan begini jauh lebih enak mati dari pada hidup"
"Aku toh pergi memenuhi janji dan bukan pergi berkelahi,"
Hibur Hoa Thian-hong dengan suara lembut, ..Bagaimana kalau Bong toako ikut siauwte pergi menjumpai orang itu??"
"Tidak. aku tak mau pergi. daripada nantinya cuman bikin malu dirimu saja!"
Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang setelah berpamitan dengan semua Hoa In ambil pedang bajanya di dalam kamar lalu mengikuti dari belakang.
Sekeluarnya dari pintu besar, tiba-tiba seseorang menyongsong ke depan sambil memberi hormat, ketika Hoa Thian-hong mengenali Orang itu sebagai Oh Sam ia segera berdiri tertegun, tegurnya.
"Apakah nona kalian juga telah tiba di wilayah Kanglam??" ' Oh Sam mengangguk tidak menjawab Dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie segera muncul orang yang menyediakan kuda Hoa Thian-hong loncat naik ke atas punggung kuda dan bersama Oh Sam berlalu disitu. Tiga ekor kuda dengan cepatnya lari menuju keluar kota dan tiba ditepi sungai, setelah berlarian beberapa saat ditepi sungai sampailah mereka di depan rombongan perahu yang berjajar2 sepanjang pantai sejauh setengah lie lebih, pada ujung seratus buah perahu itu berkibar sebuah panji kuning yang bersulamkan huruf 'Pek' yang amat besar. Diam-diam Hoa Thian-hong merasa terperanjat. pikirnya.
"Oooh ... rupanya baik perkumpulan Sin-kiepang maupun pihak Hong-im-hwie telah mengerahkan seluruh pasukannya datang kemari, ditinjau dari keadaan tersebut jelaslah sudah bahwa kedua buah perkumpulan itu telah bersatu padu untuk bekerja sama membasmi Thong-thian-kauw, tidak aneh kalau Jin Hian melakukan perjalanan tanpa menyembunyikan jejaknya, dan diapun tiada rencana untuk melakukan sergapan..."
Oh Sam membawa kedua orang itu menuju ke pantai dan naik ke atas sebuah perahu.
"Hoa kongcu telah tiba!"
Dari ujung geladak seseorang berseru nyaring. Suara itu dengan cepat disampaikan pula secara berantai hingga kedatangan Hoa Thian-hong telah diketahui oleh semua orang dalam waktu yang amat singkat.
"Organisasi perkumpulan Sin-kie-pang paling ketat dan peraturannya paling sempurna,"
Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.
"Kekuatan mereka luar biasa sekali dan tak boleh dipandang enteng"
Dalam pada itu Oh Sam telah membawa kedua orang itu melewati beberapa buah perahu perang dan naik ke atas sebuah perahu besar yang berlabuh di tengah sungai, ketika pemuda itu baru saja tiba di atas geladak tampaklah horden pintu perahu itu tersingkap dan sesosok bayangan manusia langsung menubruk ke arah Hoa Thian-hong.
Dengan ketajaman matanya pemuda itu dapat mengenali bayangan tadi sebagai Pek Kun-gie, sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, tahu-tahu sepasang telapaknya sudah kena ditangkap oleh gadis itu.
Dengan wajah bersemu merah dan memancarkan cahaya berseri-seri Pek Kun-gie berseru sambil tertawa.
"Aku melihat dirimu sewaktu kau masuk ke dalam kota, tapi waktu itu aku tidak memanggil dirimu."
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, dari balik tubuh gadis itu ia lihat seorang kakek tua berjubah ungu sambil bergendong tangan dan wajah dihiasi senyuman melangkah keluar dari ruangan.
Buru-buru ia tarik kembali tangannya sambil menjura, katanya.
"Loo pengcu, sejak berpisah baik-baikkah kau?? Aku orang she Hoa menghunjuk hormat bagimu" ' Kakek tua itu bukan lain adalah Pek Siau-thian, ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang yang nama serta pengaruhnya secara lapat-lapat jauh di atas kehebatan dari Jin Hian maupun Thian Ik-cu. Dahulu ia pernah berjumpa dengan si anak muda itu, sekarang setelah dilihatnya Hoa Thian-hong yang berdiri di hadapannya jauh berbeda dengan keadaan Hong-po Seng dahulu, bukan saja orangnya bertambah tinggi kekar terutama sekali gerak-geriknya yang begitu gagah dan mencerminkan kewibawaannya yang amat besar membuat jago tua she-Pek ini diam-diam bergetar hati kecilnya. Dengan sorot mata yang tajam Pek Siau-thian mengamati pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian sambil tersenyum ujarnya.
"Tidak leluasa bagi kita untuk bercakap-cakap disini. Hati-hati! Silahkan masuk ke dalam ruangan untuk minum air teh" . Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda yang berjiwa besar, walaupun mereka baru berpisah dua tahun namun terhadap peristiwa ditancapkannya jarum racun Suo-huntok ciam, di atas bahunya telah dilupakan sama sekali olehnya. habis memberi hormat ia segera melangkah masuk ke dalam ruang perahu. Pek Kun-gie dengan gerak-gerik yang manja membuntuti terus di sisi tubuhnya, senyuman menghiasi wejahnya yang cantik membuat Hoa In diam-diam menggerutu terus. Ruang perahu itu amat lebar dan luas, perabot dan perawatan yang diatur dalam ruangan itu nampak indah dan megah. sebuah meja perjamuan dengan sepoci arak dan empat lima macam sayuran telah tersedia disana, sepintas memandang keadaan mirip sekali dengan keadaan dalam rumah tangga biasa. sedikitpun tidak. menunjukkan sikap seorang tamu terhadap sesama orang kangouw.
"Yaya... baik-baikkah kau?"
Seorang dayang kecil yang cantik muncul dari balik ruangan dan memberi hormat. Melihat dayang itu adalah Siauw Leng, Hoa Thianhong segera ulapkan tangannya sambil tertawa.
"Budak nakal, tak usah banyak adat,"
Siauw Leng bangkit dan buru-buru tarikkan kursi bagi tamunya.
Setelah semua orang ambil tempat duduk Pek Kun-gie baru melirik sekejap ke arah pedang baja yang tersoren di pinggang Hoa In, dengan mata terbelalak serunya.
"Eeei....... kapan sih secara diam-diam kau telah menyusup ke markas besar lagi??"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Dia bernama Hoa In,"
Katanya, dahulu ikut kakekku dan sekarang merupakan satu-satunya sanak yang sangat menyayangi siaute, pedang baja itu adalah pemberian darinya"
"Aku ingin lihat"
Seru Pek Kun-gie manja.
"Siau Koan-jin benar-benar kehangatan,"
Pikir Hoa In di dalam hati.
"katanya ia punya hubungan yang sangat akrab dengan nona Chin Wan-hong, diapun main kasakkusuk dengan Giok Teng Hujien, sekarang kenapa diapun punya hubungan yang begitu akrab dengan puteri Pek Siau-thian?? Sungguh membingungkan sekali......."
Dalam hati berpikir demikian, tapi diluaran ia cabut keluar pedang baja itu dan diangsurkan ke depan.
Sebetulnya ia kenal baik dengan Pek Siau-thian yang hadir disitu lagipula tingkat kedudukan mereka berbeda, maka sekalipun sudah bertemu mereka sama-sama berlagak tidak kenal, bahkan melirik sekejappun tidak..
Sementara itu Pek Kun-gie telah menerima pedang baja tadi, sesudah ditimang2 sebentar ujarnya sambil tertawa.
"Oooh..... kiranya pedang ini cuma enam puluh dua kati, kalau begitu beratnya lebih ringan enam kati setengah"
"Pedang baja yang kumiliki tempo dulu terbuat dari besi murni yang tak mempan dibacok golok mustika maupun pedang mustika,"
Ujar Hoa Thian-hong menjelaskan.
"sedang pedang ini mengandung tiga bagian besi campuran, tentu saja jauh berbeda satu sama lainnya"
"Lain hari bila aku telah kembali ke markas besar, pedang bajamu itu pasti akan kuusahakan untuk merebutnya kembali"
"Ciu It-bong pikirannya terlalu picik, dia ingin mencabut jiwamu. maka lebih baik janganlah kau usik dirinya..."
"Huuuh.... akan kubikin dia mati kelaparan terlebih dulu!"
Seru Pek Kun-gie sambil mencibirkan bibirnya, selesai berkata ia tertawa cekikikan dan tunduk tersipu sipu.
Pek Siau-thian yang selama Ini hanya duduk membungkam di sisi meja, setelah menyaksikan keadaan putrinya itu tanpa terasa ia lantas berpikir.
"Pedang besi macam itupun dipermainkan dengan begitu sayang..... rupanya budak ini sudah terpikat hatinya kepada Hoa Thian-hong"
Apa yang dipikirkan jago tua ini sedikitpun tidak salah, memang begitu hubungan cinta antara muda-mudi.
Bila tidak ada rasa cinta maka sekalipun intan permata di depan mata belum tentu ia sudi memandang sekejappun, sebaliknya sudah jatuh cinta maka meskipun hanya sebiji kancing di atas bajupun akan berubah jadi amat berharga.
Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang tinggi hati, setelah mengalami pelbagai liku liku secara mendadak ia jatuh cinta terhadap diri Hoa Thian-hong, sebagai gadis yang belum pengalaman sama sekali dalam hal bercinta ia tak pernah berpikir lebih jauh lagi tentang kesulitan2 seseorang bercinta, dia anggap Hoa Thian-hong yang tidak menunjukkan sikap menampik tentulah berarti bahwa diapun sudah jatuh cinta pula terhadap dirinya urusan selanjutnya berarti tiada persoalan lagi Karena pikiran semacam inilah membuat hubungan mereka berdua kian lama kian bertambah rapat, sikapnya terhadap Hoa Thian-hong pun semakin bebas dan terbuka, ia anggap pemuda itu sebagai sahabat kentalnya yang paling rapat.
Pek Siau-thian adalah seorang lelaki yang pernah terjungkal di dalam lautan cinta, melihat putrinya menanam bibit cinta pada pemuda tersebut hatinya jadi terkesiap, sambil tertawa paksa segera ujarnya.
"Anak Gie, hormatilah secawan arak kepadanya lalu pergilah mengontrol daerah sekitar tempat ini."
Merah jengah selembar wajah Pek Kun-gie, dia angkat cawan araknya sambil tersenyum ke arah si anak muda itu, Hoa Thian-hong buru-buru angkat cawan dan meneguk habis isinya.
Angin berrbau harum berkelebat lewat bagaikan burung walet Pek Kun-gie mengundurkan diri dan ruangan itu.
Pek Siau-thian segera ulapkan tangannya ke arah Siauw Leng.
dayang cilik itupun segera undurkan diri.
"Rahasia besar apa sih yang hendak ia bicarakan dengan diriku?"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati kenapa Pek Kun-gie serta Siauw Leng harus menyingkir dari sini?"
Melihat Pek Siau-thian tetap membungkam dalam seribu bahasa, terpaksa kepada Hoa In katanya.
"Pergilah keujuag perahu dan berjaga disitu, sebelum mendapat ijin dari Pek pangcu siapapun dilarang masuk ke dalam ruangan" .
"Penjagaan yang diatur di tempat ini toh amat ketat, siapa yang sanggup menerjang masuk kemari?"
Bantah Hoa In dengan rasa tidak senang hati. Hoa Thian-hong jadi serba salah, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dengan wajah membesi serunya.
"Kenapa sih kau tak mau menuruti perkataanku? Apakah aku harus mengundang ayah dan kakekku lebih dahulu? Hoa In tertegun, dengan sorot mata dingin ia menatap sekejap ke arah Pek Siau-thian kemudian baru selangkah demi selangkah mengundurkan diri dari ruangan itu. Sepeninggalnya Hoa In, Pek Siau-thian baru tersenyum dan berkata.
"Menurut apa yang kuketahui, ayahmu maupun kakekmu belum pernah bersikap sedemikian kasarnya terhadap pelayan tua itu."
Hoa Thian-hong menghela napas panjang.
"Kecuali ibuku dia adalah satu-satunya orang yang paling erat hubungannya dengan boanpwee, rasa setianya kepadaku luar biasa dan memandang diri boanpwee lebih berharga dari jiwanya sendiri, cuma Sayang ia tak mau mendengarkan perkataanku membuat boanpwee terpaksa harus bersikap marah lebih dulu...."
Ia tertawa getir dan geleng kepala.
"Waktu selalu berubah, keadaan sekarang jauh berbeda dengan keadaan tempo dulu, hal ini membuat boanpwee merasa bersedih hati"
Pek Siau-thian angkat cawan araknya dan berkata.
"Hiantit adalah seorang pemuda berbakat yang sukar dibandingkan dengan manusia biasa, persoalan yang pernah terjadi dimasa yang silam lebih baik tak usah kita ungkap kembali. Marilah aku hormati secawan arak untukmu, kemudian aku masih ada satu urusan hendak dibicarakan dengan dirimu"
"Hoa Thian-hong angkat cawannya dan menghirup habis isinya, kemudian ia menyahut.
"Silahkan pangcu utarakan persoalanmu itu!"
Pek Siau-thian tarik napas panjang-panjang, dengan suara dalam ia berkata.
"Isteriku adalah seorang perempuan dari keluarga Thia, baik bakat maupun budinya sangat mengagumkan. Dua puluh tahun berselang ia mempunyai nama besar yang sejajar dengan nama ibumu. orang kangouw sebut mereka berdua sebagai Bulim Ji-bi atau dua orang cantik dari dunia persilatan"
"Kalau ibunya tidak cantik dari mana bisa lahir seorang putri macam Pek Kun-gie yang begitu jelita??"
Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.
"sekalipun tak usah dikatakan hal ini sudah bisa diduga"
Pek Siau-thian merandek sebentar. lalu sambungnya.
"Keindahan dari isteriku terletak pada budi pekertinya, tentang raut wajahnya tak usah dibicarakan lagi"
"Bila ada kesempatan dan ada jodoh, boanpwee pasti akan menyambangi bibi serta mohon petunjuk darinya,"
Kata Hoa Thian-hong dengan sikap yang hormat. Pek Siau-thian menghela napas panjang.
"Kami suami isteri berdua mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Soh-gie dan yang bungsu bernama Kun-gie, mereka berdua adalah saudara kembar yang mempunyai wajah bagaikan pinang dibelah dua, satu sama lain sedikitpun tak ada bedanya"
"Boanpwee pernah mendengar tentang persoalan ini dari mulut Jin Hian"
Sela si anak muda itu. Sepasang mata Pek Siau-thian segera memancarkan cahaya tajam.
"Apakah Jin loo-ji menaruh curiga bahwa puteranya yang tolol itu mati ditangan puteri sulungku Soh-gie?"
Hoa Thian-hong mengangguk.
"la memang mencurigai puteri sulungmu itu,"
Jawabnya terus terang. Sepasang gigi Pek Siau-thian seketika bergemerutukan keras, matanya melotot dan wajahnya berubah jadi merah padam. Lama sekali rasa gusar itu baru reda kembali.
"Kalau ditinjau dari sikapnya yang begitu gusar, bukankah urusan ini nampak semakin rumit??"
Pikir Hoa Thian-hong dengan hati terkesiap. Terdengar Pek Siau-thian dengan suara dingin berkata kembali.
"Hoa hiantit, lima belas tahun berselang istriku merasa tidak puas dengan perbuatanku, dalam keadaan sedih bercampur marah dia telah cukur rambut jadi pendeta, kedua orang putriku pun dibagi jadi dua, putri sulung, Soh-gie ikut ibunya masuk ke dalam kuil, selama lima belas tahun terakhir belum pernah ia tinggalkan pintu rumah barang selangkahpun jua."
"Ooooh... sungguh tak nyana toa siocia begitu berbakti pada orang tua, sungguh mengagumkan"
Puji Hoa Thianhong dengan hati bergetar keras.
"Aaaai.... putriku yang bungsu Kun-gie karena sedari kecil sudah terbiasa manja, sikapnya memang rada ugal2an, tapi putri sulungku Soh-gie amat alim dan soleh, tak mungkin ia bisa melakukan perbuatan tercela semacam ini"
Dengan dada berombak menahan emosi. air muka Pek Siau-thian berubah jadi dingin dan menyeramkan, sepatah demi sepatah serunya.
"Hiantit, putri sulungku telah difitnah Orang secara keji hingga nama baiknya ternoda, peristiwa ini. merupakan suatu kejadian yang amat besar, mungkin saja Jin Hian sanggup membunuh diriku, tetapi akupun percaya masih memiliki kemampuan untuk membunuh dirinya. namun perduli siapapun yang bakal hidup, fitnahan ini harus diselesaikan dulu dan noda yang telah melekat pada nama baik putriku harus dicuci bersih lebih dahulu! "
Suasana seram dan penuh nafsu membunuh segera menyelimuti seluruh ruang perahu itu membuat Hoa Thian-hong merasa bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
"Seandainya nama baik putri bungsuku Kun-gie yang ternoda, aku tak akan merasa terlalu sedih"
Ujar Pek Siau-thian lagi dengan suara seram.
"Putri sulungku Sohgie adalah seorang gadis yang suci dan belum pernah terjun ke dalam dunia persilatan, karena kesalahanku dia sudah harus ikut menderita"
Ia tarik napas panjang-panjang lalu melanjutkan.
"Sekalipun aku harus mengikat permusuhan dengan banyak orang, meskipun aku harus bunuh mati semua orang yang ada di kolong langit, aku tak rela putri sulungku itu ternoda oleh sebutir debupun" . Pikir Hoa Thian-hong jadi goyah, pikirnya.
"Ia merasa berdosa terhadap isterinya maka seluruh rasa kasih sayangnya dicurahkan kepada putri sulungnya yang mendampingi sang istri selama ini, bila persoalan tersebut tidak dibikin jelas sehingga duduknya perkara jadi terang. dalam dunia persilatan entah bakal berubah jadi bagaimana?"
Berpikir sampai disatu, dengan wajah serius ia lantas berkata.
"Persoalan tentang miripnya raut wajah pembunuh itu dengan wajah nona Kun-gie adalah berasal dari mulut boanpwee atas terjadinya persoalan ini boanpwee merasa amat menyesal" . Pek Siau-thian ulapkan tangannya memotong ucapan tersebut. katanya.
"Kalau kau mengatakan mirip, sudah pasti wajah pembunuh itu mirip sekali dengan putriku ucapan yang diutarakan anak keturunan keluarga Hoa tak mungkin salah, tentang soal itu aku sama sekali tidak menaruh curiga"
Ia berhenti sejenak, lalu dengan suara yang tenang sambungnya.
"Hiantit, seluruh peristiwa itu sudah pasti diatur oleh seorang yang sangat cerdik, sekalipun Thian Ik-cu si toosu tua itupun belum tentu mempunyai kecerdikan sampai begitu tinggi. apa tujuan orang itu sukar untuk diketahui oleh siapapun. Selama ini kau toh hanya menceritakan apa yang telah kau lihat, aku sama sekali tidak mengalihkan rasa gusarku ke atas tubuhmu"
Hoa Thian-hong merasa Pek Siau-thian yang berada di hadapannya ini tiba-tiba berubah jadi amat tua, kakek itu kelihatan amat kesal dan mendongkol tapi semua perasaan itu tak tersalurkan keluar, membuat ia sedih dan amat menderita.
Dengan pihak Sin-kie-pang boleh dibilang Hoa Thianhong mempunyai dendam dan sengketa, hubungannya dengan Pek Kun-gie pun amat kabur sebentar seperti kawan sebentar seperti lawan.
Sekalipun demikian ia merasa penasaran bila melihat ada orang dibuat penasaran tanpa bisa berkutik.
Pikirannya dengan cepat berputar.
"ia segera teringat kembali akan Pui Che-giok dayang kepercayaan dari Giok Teng Hujien itu, dayang tersebut memiliki sebilah pisau belati yang persis seperti alat yang digunakan untuk membunuh Jin Bong, Benarkah dayang itu yang melakukan pembunuhan?? Kalau bukan lalu siapakah pembunuhnya?? Kecuali saudara kembar, siapa pula yang memiliki raut wajah mirip Pek Kun-gie??"
Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian berkata dengan suara tegas.
"Hoa-hiantit, pembunuh itu pastilah berasal dari kalangan kaum lurus dan jelas bukan hasil perbuatan dari anak murid perkumpulan Thong-thiankauw!!...."
Mula mula Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian dengan pikiran yang tidak tenang dan perasaan penuh curiga ia berkata.
"Siapakah diantara kalangan lurus yang dapat menggunakan siasat semacam ini?? Pembunuh itu pernah mengadakan hubungan kelamin dengan Jin Bong, itu berarti urusan menyangkut nama baik seorang gadis, siapa yang kesudian melakukan perbuatan hina semacam ini??" 000O000 Pek Siau-thian mendengus dingin.
"Bagi seseorang yang punya tujuan membalas dendam, sekalipun harus korbankan jiwapun rela apalagi hanya melakukan perbuatan semacam itu?? Aku rasa siapapun dapat melakukan tindakan seperti ini"
Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa panjang lanjutnya.
"Dalam dunia persilatan pada dasarnya memang tiada perbedaan antara yang putih dengan yang hitam, yang kumaksudkan sebagai orang dari kalangan lurus adalah orang dibalik layar yang mendalangi terjadinya peristiwa berdarah ini bukanlah seseorang yang tergabung dalam tiga besar dunia persilatan"
"Lo-pangcu, atas dasar apa kau bisa mengatakan bahwa pembunuh itu bukan berasal dari pihak Thongthian-kauw??"
Seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut. Pek Siau-thian tertawa seram.
"Aku telah mengadakan janji persahabatan dengan Jin Hian, karena persoalan itu maka perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie yang keadaannya ibarat api dan air bisa bekerja sama untuk melenyapkan Thong-thian-kauw lebih dulu, kemudian baru menentukan nasib sendiri. aku rasa tentang hal ini Thian Ik-cu pasti memahami sejelas jelasnya, sekalian dia punya ambisi untuk merajai kolong langit tapi belum memiliki kekuatan untuk melawan Sinkie-pang dan Hong Im Hwte. maka dari itu pastilah sudah dalang di belakang layar dalam peristiwa berdarah ini bukanlah dirinya!...."
"Oooh....! Kiranya di antara tiga partai besar dalam dunia persilatan terdapat hubungan yang sensitif, lalu siapakah pembunuh itu? Kenapa alat untuk melakukan pembunuhan itu bisa berada di tangan Pui Che-giok itu mempunyai raut wajah yang mirip sekali dengan dua bersaudara she-Pek?? Sungguh aneh"
Pikir Hoa Thianhong dalam hati.
Setelah berpikir pulang pergi ia tetap merasa bahwa Pui Che-giok dayang kepercayaan dari Giok Teng Hujien adalah satu-satunya yang akan ia selidiki.
Maka diapun alihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.
"Kedatangan loo-pangcu ke wilayah Kanglam kali ini apakah sedang bekerja sama dengan Jin Hian untuk melenyapkan pihak Thong-thian-kauw??"
Pek Siau-thian mengangguk.
"Inilah pekerjaan pertama yang dilakukan kami sejak perkumpulan Sin-kiepang bekerja sama dengan Hong-im-hwie" .
"Tahu diri tahu keadaan musuh, setiap bertempur pasti menang, aku rasa apa tindakan Thong-thian-kauw ternyata pangcu sudah mengetahui bukan??...."
"Andaikata Hiantit adalah Thian Ik toosu tua itu, apa yang hendak kau lakukan untuk menghadapi situasi semacam ini?"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Siautit tak tahu bagaimana kekuatan yang sebenarnya dari pihak Thongthian-kauw, sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan ini" .
"Kekuatan dari Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah seimbang satu sama lain, sekalipun berbeda juga sedikit sekali" . Hoa Thian-hong termenung sebentar lalu menjawab.
"Kalau Thong-thian-kauw harus satu lawan dua sudah pasti mereka tak akan tahan, bila siautit yang jadi mereka maka akan kugunakan siasat menggeser pantai melompati perahu. sebelum Lo-pangcu serta Jin Hian sempat mendekati kota Leng An. di tengah jalan akan kuserang lebih dulu salah satu pihak yang terlemah agar kalang kabut dan pusing kepala..,"
Sambil tersenyum Pek Siau-thian segera gelengkan kepalanya.
"Persoalan mengenai Tiga besar dunia persilatan selamanya memang tak bisa diraba oleh orang luar, tindakan yang dilakukan baik oleh Thian Ik-cu, Jin Hian maupun diriku sendiri sering kali jauh diluar dugaan orang lain!..."
"Lo-pangcu, bagaimana kalau kau terangkan cara kerja kalian hingga membuka pikiran boanpwee yang bebal"
Seru Hoa Thian-hong dengan sepasang alis berkerut. Pek Siau-thian tertawa.
"Tiga golongan besar berdiri saling bermusuhan, siapa yang turun tangan lebih dulu dialah yang bakal rugi, siapapun tidak ingin menguntungkan pihak yang lain sebelum tiba pada waktunya untuk adu senjata siapa yang mencari garagara lebih dulu dialah yang akan bertindak sebagai pelopor, keadaan ini selalu tetap dan tak akan berubah untuk selamanya"
"Bila Thian Ik-cu tidak mencari siasat bagus untuk menghadapi situasi semacam ini, dan andaikata pasukan musuh sudah berada di depan mata, bukankah waktu itu keadaan sudah terlambat??"
"Pertarungan antar perkumpulan jauh berbeda dengan pertempuran antar dua negara, sekalipun pasukan sudah berada di depan mata itu bukan berarti pertempuran segera akan berlangsung, mungkin saja ketika tiba pada waktunya keadaan sama sekali berubah karena mungkin aku akan bekerja sama dengan Thian Ik-cu untuk melenyapkan perkumpulan Hong-im-hwie, mungkin juga Jin Hian bekerja sama dengan Thian Ik si toosu tua itu untuk merontokkan perkumpulan Sin-kie-pang"
"Jika demikian keadaannya, bukankah itu berarti bahwa mereka sudah mempermainkan kesetiaan kawan serta janji yang telah diucapkan"
Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.
"Rupanya mereka lebih mementingkan keuntungan pribadi dari pada hubungan persahabatan!"
Terdengar Pek Siau-thian tertawa keras dan berkata lebih lanjut.
"Urusan yang ada di dunia bagaikan orang bermain catur, perubahan yang kemudian terjadi sukar diduga sejak semula. mungkin saja setelah pasukan dari tiga golongan bertemu satu sama lainnya tiba-tiba tujuan berubah dan ditujukan untuk menghadapi Hiantit, siapa tahu bukan??"
Hoa Thian-hong merasa terkejut, tapi diluaran sambil tertawa paksa katanya.
"Loo pangcu, kenapa kau musti menakut-nakuti diri boanpwee dengan ucapan semacam itu?? Boanpwee toh tidak lebih hanya seorang pemuda yang baru saja terjun ke dalam dunia persilatan, mana begitu tinggikah perhatian kalian pada diriku??"
"Pendapat hiantit keliru besar"
Kata Pek Siau-thian sambil tertawa ewa.
"Ibumu masih hidup di kolong langit sedang hiantit merupakan mustika dalam kolam. cukup berbicara dari keadaan sekarang sudah jelas menunjukkan bahwa pengaruhmu amat besar tiap hari pengaruhmu itu berkembang semakin luas, bila dibiarkan berlarut larut maka keadaanmu akan jadi amat berbahaya"
Peluh membasahi seluruh tubuh Hoa Thian-hong, selanya.
"Ibuku tawar terhadap perebutan nama dan kedudukan, sedangkan boanpwee masih muda dan tiada berpengalaman hanya dibantu oleh seorang pelayan tua masa dikatakan pengaruhnya berkembang, pengaruh apa yang berkembang??"
Ucapan Pek Siau-thian tiba-tiba berubah jadi amat santai, ia tertawa dan berkata.
"Mega membuntuti naga angin membuntuti harimau, betulkah hian-tii seorang diri??"
Dia angkat cawan araknya dan berkata lebih lanjut sambil tertawa.
"Hiantit, bila tiga golongan besar mengurung kau ditempat ini maka tidak sampai tiga bulan seluruh jago lihay dari kalangan lurus baik itu kenal atau tidak mereka akan berduyun-duyun datang kemari. waktu itu tiga golongan akan bekerja sama dan membasmi mereka semua dari muka bumi, bukankah hal ini bagus sekali??"
Makin didengar Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin terkejut, pikirnya di dalam hati.
"Ucapannya memang sangat masuk diakal, Cu Tong locianpwee serta Ciong Lian-khek beberapa orang jago bukankah menguatirkan keselamatanku karena mengingat di atas nama baik ayahku?? Seandainya aku benar-benar terjatuh ke tangan pihak musuh, Para jago dari kalangan lurus sudah pasti tak akan berdiam diri belaka, bila mereka munculkan diri untuk menolong aku niscaya perbuatan mereka itu sama artinya terjerumus dalam siasat lawan, bahkan kemungkinan besar jiwa ibukupun akan terancam."
Ia adalah seorang pemuda yang cerdas, setelah berpikir sebentar ia segera menyadari akan lihaynya kejadian itu, iapun tahu Pek Siau-thian sengaja menakutnakuti dirinya tentulah didasari tujuan tertentu, maka sambil menenangkan hatinya ia berkata.
"Terima kasih atas petunjuk yang diberikan oleh Lo-pangcu, bila aku boleh bertanya bagaimanakah pendapatmu mengenai cara untuk menghindarkan diri dari bencana ini??"
Pek Siau-thian angkat kepala dan tertawa terbahak bahak.
"Haaaah..... haaaaah..... haaaah....... kalau memang hiantit bertanya secara terus terang, akupun akan beberkan pendapatku sebagaimana yang kupikirkan, satu-satunya jalan yang terbaik bagimu adalah pergi sejauh-jauhnya dari sini dan jangan mencampuri lagi urusan pertikaian ini"
"Bila perahu berada di tengah sungai, maju atau mundur adalah sama-sama jauhnya, boanpwee tak mungkin bisa lolos dari sini lagi"
"Kalau memang demikian adanya maka lebih baik hiantit secepatnya menyatakan sikap dan secara resmi mengumumkan bahwa kau telah bergabung dengan salah satu kelompok diantara tiga golongan besar. Hanya berbuat demikian saja kau baru dapat menghindari gencetan dari tiga pihak"
"Kalau didengar dari pembicaraan tersebut, rupanya ia suruh aku bergabung dengan pihak Sin-kie-pang..."
Pikir pemuda itu. Dalam hati berpikir demikian, diluaran ia berkata.
"Dari pihak Thong-thian-kauw aku cuma kenal Giok Teng Hujien seorang, hanya perkenalan itu mendalam maka tak mungkin bagiku bergabung dengan dirinya, apa lagi Ang Yap Toojin punya permusuhan dengan diriku, bergabung dengan pihak Thong-thian-kauw sudah tak mungkin lagi bagi diriku"
Pek Siau-thian tertawa, selanya.
"Hiantit telah melakukan perjalanan jauh bersama-sama Jin Hian, aku Iihat hubungan kalian bagaikan sahabat yang intim"
"Kematian Jin Bong sedikit banyak melibatkan pula diri boanpwee,"
Kata Hoa Thian-hong sambil tertawa ewa.
"Jin Hian bukanlah seorang manusia yang berjiwa besar, dendam sakit hatinya itu suatu saat pasti akan dibalas, sekarang boanpwee sudah sadar. ia menahan diriku selama ini bukan lain adalah menggunakan aku sebagai umpan untuk memancing kedatangan para jago dari kalangan lurus hingga bisa berhubungan dengan dirinya, dan dapat dipergunakan tenaganya."
Pek Siau-thian mengangguk, ujarnya sambil tersenyum.
"Termasuk aku sendiri, pemimpin dari tiga golongan besar bukanlah manusia baik-baik...."
Hoa Thian-hong tertegun, pikirnya.
"Kau berkata demikian. bukankah itu berarti bahwa pembicaraan yang berlangsung selama ini hanya omong kosong belaka....."
Sementara kedua orang itu masih berbincang hal yang tak berguna, tiba-tiba horden tersingkap dan muncullah Pek Kun-gie serta Hoa In. Air muka Pek Siau-thian seketika berubah bebat, tegurnya.
"Gie-ji, kenapa kau tak mau dengarkan perkataanku??"
Dengan kepala tertunduk dan nada sedih Pek Kun-gie menjawab.
"Ayah, kukatakan secara terus terang kepadanya, dia bukanlah manusia yang gampang dipaksa oleh ancaman"
Hoa Thian-hong jadi sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, secara tiba-tiba ia merasa bahwa urusan yang dihadapinya saat ini jauh lebih serius daripada apa yang diduganya semula, rasa curiga segera muncul membuat hatinya jadi tak tenteram.
Rupanya Pek Siau-thian sedang mengalami kesulitan besar, air mukanya berubah beberapa kali, sambil mencekal cawan lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa.
Setelah tertegun sesaat tiba-tiba Pek Kun-gie berjalan ke depan dan duduk disisi Hoa Thian-hong, tanyanya dengan suara lirih.
"Apakah kau telah mempunyai ikatan perkawinan dengan Chin Wan-hong?"
Perkataan itu diucapkan amat lirih bagaikan bisikanbisikan nyamuk dan dengan kepala tertunduk rendah2, tapi bagi Hoa Thian-hong bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong sekujur tubuhnya bergetar keras.
Pada saat itulah Pek Siau-thian berbatuk ringan lalu berkata.
"Hiat-tit, marilah kita buka kartu dan berbicara sekarang terang-terangan"
"Boanpwee akan turut perintah!"
"Perpisahanku dengan istriku sudah merupakan suatu kejadian yang tak beruntung bagi keluargaku, putri sulungku Soh-gie difitnah orang dan sekarang putriku yang bungsu Kun-gie pun menemui persoalan, aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi atas keluargaku."
"Aku dapat memahami kesulitan yang sedang dialami oleh lo-pangcu!"
"Tapi sayang putriku Kun-gie tak tahu diri, dan ia ingin menggunakan kedudukannya, muda dan mudi memang sukar untuk dihindari hal ini harus disalahkan kepada kami yang jadi orang tuanya tak bisa mendidik secara baik-baik dimasa yang lalu hingga sekarang jadi kelabakan sendiri. Sekarang urusan sudah jadi begini, aku tak bisa menghalangi pun tak bisa memenuhi harapannya coba hiantit berpikir bila aku tak bisa selesaikan persoalan ini bukankah orang kangouw akan mentertawakan ketidakbecusanku??"
Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, ia tak tahu apa yang musti dikatakan pada waktu itu.
Urusan ini menyangkut nama baik Pek Siau-thian.
menyangkut pula nama baik Pek Kun-gie, bila sepatah kata saja Hoa Thian-hong salah berbicara maka dalam malunya Pek Siau-thian berdua tentu akan berubah jadi gusar dan mendendam terhadap dirinya.
Untuk beberapa saat lamanya suasana dalam ruangan itu jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, Hoa Thian-hong jadi serba salah dan tak tahu apa yang musti dikatakan, sedang Pek Kun-gie dengan sepasang matanya yang jeli menatap terus wajahnya tanpa berkedip tubuhnya nampak agak gemetar.
Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian berkata kembali.
"Hiantit, urusan sudah jadi begini, bila kau tidak menampik tawaranku ini dan tidak kecewa dengan putriku yang jelek aku ingin menjodohkan dirinya kepadamu"
Agaknya untuk mengucapkan beberapa patah kata itu dia harus mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya, habis berkata ia menghembuskan napas panjang dan menyambung lebih jauh dengan suara lemah.
"Semula akupun seorang manusia yang kasar. atas jerih payahku yang tak kenal lelah akhirnya aku berhasil juga membangun suatu usaha yang besar seperti hari ini. Sekarang aku merasa usiaku telah tua sedang keturunan belum ada, bila hiantit tidak menampik maka aku akan gunakan perkumpulan Sin-kie-pang ini sebagai mas kawin dari putriku. asal putriku telah kawin maka akupun akan berlega hati. Bukankah dengan demikian Hiantit pun dapat melanjutkan pula keturunan dari keluarga Hoa??"
Soal perkawinan ini kecuali didasari oleh kecantikan wajah Pek Kun-gie yang luar biasa serta rasa sayangnya terhadap putri sendiri, di samping itu disertakan pula suatu gertakan yang amat besar.
Hoa Thian-hong yang berada dalam posisi terjepit.
terutama sekali menghadapi keributan dari kelompok tiga besar, sepantasnya kalau ia terima tawaran itu dengan serang hati.
Hoa In adalah pelayan tua dari tiga keturunan keluarga Hoa dia sayang majikan mudanya melebihi sayang pada jiwanya sendiri, ketika mendengar Pek Siauthian ajukan pinangan jantungnya segera berdebar keras.
Ia merasa dengan asal usul majikan mudanya yang cemerlang, tidak pantas kalau ia kawin dengan putri seorang manusia kasar tapi iapun merasa sulit untuk menganjurkan majikannya menampik mengingat situasi yang sedang mereka hadapi berbahaya sekali.
Sebaliknya bila dia anjurkan majikannya untuk menerima pinangan itu, berarti sebuah perkumpulan besar ada harapan jatuh ke tangan majikannya, dengan kemampuan dari majikannya itu ia merasa kemungkinan besar di kemudian hari seluruh kolong langit akan menjadi milik keluarga Hoa.
Pikir bolak-balik merasa serba salah, untuk beberapa saat pelayan tua inipun tak tahu apa yang musti dilakukan.
Tiba-tiba Pek Kun-gie menggenggam tangan Hoa Thian-hong, dengan suara gemetar tanyanya.
"Thian Hong, apakah kau telah mempunyai janji dengan Chin Wan-hong untuk sehidup semati??"
"Sama sekali tidak......"
Ia berhenti sejenak, tiba-tiba sambil berpaling ke arah Pek Siau-thian lanjutnya lebih jauh.
"Aku merasa amat terharu dan berterima kasih sekali atas perhatian serta kasih sayang dari lopangcu......"
"Sebagai seorang pria sejati hidup sebagai pendekar mati sebagai pahlawan tiada persoalan yang perlu dikuatirkan. Hiantit! Kau sebagai seorang jago yang luar biasa sepantasnya kalau menjawab secara tegas, menerima atau menampik harap dikatakan secara terus terang"
"Ketika boanpwee hendak meninggalkan rumah tempo dulu,"
Ujar Hoa Thian-hong dengan tenang.
"ibuku telah menyampaikan beberapa buah urusan kepadaku, diantaranya adalah melarang aku kawin lebih dulu"
"Kenapa?"
Sela Pek Kun-gie sambil membelalakkan matanya dari pihak keluarga Hoa, toh tinggal kau seorang...."
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Ibu takut akan tenggelam dalam kesenangan keduniawian hingga membuka masa mudaku dengan begitu saja."
"Aku tak pernah terikat dendam permusuhan dengan keluarga Hoa kalian,"
Terdengar Pek Siau-thian berkata pula.
"sedang ibumu adalah seorang pendekar wanita aku percaya ibumu tak akan menampik perkawinanmu dengan putriku. Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda yang amat berbakti kepada orang tuanya, kata2 dari ibunya itu sudah melekat dalam2 di hati sanubarinya, sejak terjun ke dalam dunia persilatan belum pernah ia pikirkan masalah perkawinannya. Walaupun begitu diapun takut ucapannya menyakiti Pek Siau-thian berdua, maka dengan wajah tenang ia melanjutkan.
"Soal perkawinan adalah urusan yang diatur oleh orang tua, biar ibuku sudah menyanggupi perkawinan ini, tentu saja boanpwee tak akan menampik!"
"Jadi kalau begitu, hiantit pribadi telah menyetujui perkawinan ini??"
Sambung Pek Siau-thian dengan cepat. Melengak Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, ia segera menggeleng dan menjawab.
"Boanpwee sejak terkena racun keji Teratai empedu api, selama hidup tak bisa beristri dan beranak lagi, dalam keadaan begini boanpwee tak pernah memikirkan tentang soal pernikahan, sebab aku tidak ingin merusak kehidupan gadis manapun akibat dari keadaanku ini"
Apa yang diucapkan olehnya merupakan kenyataan sekalipun Pek Siau-thian cerdas dan banyak akal tak urung dibikin gelagapan juga, ia tak tahu apa yang musti dikatakan dalam keadaan begini.
Pek Kun-gie yang duduk disisi ayahnya jadi teramat gelisah menyaksikan hal itu, setelah ditunggunya sebentar namun tidak kedengaran ayahnya buka suara untuk menanggapi perkataan tadi, ia semakin cemas lagi sehingga tanpa sadar ia berseru.
"Thian Hong, aku juga bukan seorang perempuan yang terlalu mementingkan soal-soal sepele, apalagi kita semua merupakan jagojago yang pernah belajar silat, asal kau tidak menampik diriku serta memandang rendah aku orang she-Pek, sekali pun telah menikah suami istri, tetap masih bisa hidup rukun dan penuh kedamaian, apa sangkut pautnya keadaan itu dengan racun teratai empedu api yang mengeram dalam tubuhmu itu??"
Sebagai gadis muda sama sekali belum punya pengalaman, terhadap arti perkawinan dan hubungan kelamin pandangannya sangat jauh dan hambar apalagi api cinta yang berkobar dalam hatinya terhadap diri Hoa Thian-hong telah merasuk ke tulang sumsum, ucapan yang dia utarakan keluar semuanya muncul dari hati sanubari yang murni dan tiada maksud paksaan.
Hoa Thian-hong sendiri masih kabur pandangannya terhadap persoalan itu, bagi dirinya perkataan yang diucapkan gadis itu juga dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan sama sekali tidak janggal.
Lain halnya dengan Pek Siau-thian yang sudah banyak pengalaman serta mengerti mendalam akan arti cinta yang sebenarnya antara lelaki dari wanita, meskipun cintanya murni namun hubungan badaniahlah yang mempererat serta memperdalam cinta itu, tanpa berbuat demikian lama kelamaan cinta itu bakal luntur dan akhirnya patah.
Tentu saja sebagai orang tua dia merasa agak canggung untuk menjelaskan soal hubungan pribadi lelaki dan wanita itu kepada putrinya.
Bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, setelah berpikir sebentar dia lantas berkata.
"Hiantit, putri dari Pek Siau-thian bukanlah gadis yang tidak laku untuk dikawinkan dengan orang lain, jawablah secara terus terang dan terbuka, andaikata kadar racun Teratai empedu api yang mengeram di dalam tubuhmu dapat dipunahkan, apa yang hendak kau lakukan?"
Ragu ragu hati Hoa Thian-hong mendapat pertanyaan itu, pikirnya di dalam hati.
"Enci Wan-hong pernah melepaskan budi pertolongan terhadap diriku, walaupun diantara kami tak pernah terikat oleh suatu hubungan apapun, namun boleh dibilang hati kami sudah bersatu, andaikata aku punya kesempatan untuk mencari istri dan menikah sepantasnya kalau kupilih dirinya sebagai istriku, tapi bagaimana pula dengan tawaran Pek Siauthian ini? Apa yang musti kau lakukan?"
"Sebagai pria yang amat kuat rasa kesetiakawanannya, sulit bagi pemuda ini untuk melupakan setiap kebaikan yang pernah di berikan Chin Wan-hong terhadap dirinya, tetapi diapun mengetahui mara bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya pada saat ini, bila jawabannya tepat maka kemungkinan besar keluarga Hoa akan mengikat hubungan famili dengan keluarga Pek, sebaliknya kalau dia salah bertindak maka pertumpahan darah pasti tak akan terhindar, Pek Siauthian tentu akan memandang dirinya sebagai musuh besar yang paling dibenci, sedang kehidupan Pek Kun-gie pun akan ikut hancur di tangannya,"
Berpikir akan seriusnya masalah ini, ia segera bangkit dan memberi hormat, ujarnya dengan wajah serius.
"Racun keji Teratai empedu api adalah racun yang tak mungkin bisa dipunahkan. tiada kemungkinan bagiku untuk terbebas dari pengaruh racun ini, karenanya terhadap masalah perkawinan yang merupakan masalah besar boanpwee harap kita bisa berbicara sesuai dengan kenyataan, omong kosong hanya akan mencelakai orang lain serta mencelakai diri sendiri. Aku harap Lo-pangcu suka mempertimbangkan masak-masak tentang persoalan ini, janganlah disebabkan salah bertindak mengakibatkan semua orang ikut menderita."
Pek Siau-thian tidak berputra dan belum pernah menerima murid, terhadap diri Hoa Thian-hong boleh dibilang dia memandang tinggi dan serius, apa daya persoalan ini menyangkut kebahagiaan hidup putrinya sepanjang masa karena itu dalam keadaan begini terpaksa ia musti lakukan segala sesuatu apapun dengan harapan bisa memaksa pemuda itu menuruti keinginannya.
"Ayah!"
Terdengar Pek Kun-gie berseru.
"kau orang tua jangan terlalu memaksa dirinya, akupun tidak terburu nafsu untuk menikah. biarlah aku menunggu tiga sampai lima tahun lagi ...."
"Seandainya ada orang hendak mencelakai jiwanya, apakah kau dapat berpeluk tangan belaka membiarkan dia mati terbunuh??"
Seru Pek Siau-thian dengan suara dingin.
"Tentang soal itu aku harap Lo-pangcu tak usah merisaukan diri,"
Tukas Hoa Thian-hong dengan cepat.
"boanpwee telah menyerahkan nasibku atas pengaturan takdir, aku tidak akan menyusahkan diri kesayanganmu" .
"Itu toh menurut jalan pemikiranmu, kalau dia akan mencampuri urusanmu itu apakah kau mampu untuk menghalangi atau mencegahnya??"
"Sekalipun putri bakal mati, tak nanti aku menyusahkan ayah!"
Ujar Pek Kun-gie. Pek Siau-thian mendengus dingin.
"Hmm! pendapat seorang bocah cilik seandainya ada orang hendak membinasakan dirimu, kau anggap aku bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kau dijagal orang?"
Dalam hati Pek Kun-gie merasa amat sedih, namun sambil menekan perasaan pedih itu di dalam hati katanya terhadap diri pemuda itu.
"Thian Hong, kau harus ingat bahwa Jin Hian adalah manusia licik yang sangat berbahaya, melakukan perjalanan bersama dia cepat atau lambat pasti akan terbokong olehnya, lebih baik kau tak usah kembali kesana berdiamlah saja di tempat ini" .
"Dlsitu masih ada dua orang cianpwee yang sedang beristirahat, jika aku tidak kembali, rasanya aku akan kehilangan rasa hormatku sebagai angkatan yang lebih muda......"
Habis berkata ia putar badan dan segera mohon diri kepada diri Pek Siau-thian.
Ketua dan perkumpulan Sin-kie-pang itu sama sekali tidak menahan dirinya, ia segera mengantar tamunya keluar dari ruang perahu.
Pek Kun-gie bagaikan burung kecil yang jinak menempel terus disisi badan Hoa Thian hingga sampai ke atas daratan mereka hanya saling berpandangan belaka dengan mulut membungkam, banyak persoalan yang hendak mereka bicarakan namun siapapun tak tahu musti berbicara dari mana lebih dahulu Hoa Thian-hong terburu-buru hendak tinggalkan tempat itu, setelah termenung sebentar akhirnya ia berseru.
"Nona Pek...."
"Apakah kau musti memanggil diriku dengan sebutan nona Pek??"
Sela Pek Kun-gie dengan nada yang murung bercampur sedih. Hoa Thian-hong menghela napas panjang, bisiknya lirih.
"Sejak jaman dahulu orang yang terlalu romantis akan berakhir dengan rasa kebencian kau adalah manusia cerdik, janganlah di sebabkan soal sepele menyebabkan masa mudamu hilang dengan begitu saja, di kemudian hari kau akan merasa menyesal karena sikapmu itu"
Pek Kun-gie menggeleng.
"Aku telah membuat jaring untuk membelenggu diriku apa daya?? Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi"
Dengan murung bercampur sedih Hoa Thian-hong menghela napas panjang ia termenung beberapa saat lamanya, akhirnya sambil mengempos semangatnya berkata.
"Dewasa ini banyak masalah dunia persilatan yang sedang terjadi tiada waktu bagiku untuk mengurusi soal cinta serta hubungan pribadi antara muda dan mudi, ambillah keputusan buat dirimu sendiri! andaikata aku sampai mengecewakan dirimu janganlah salahkan kalau aku tak kenal budi..."
Bicara sampai disitu ia segera putar badan dan berlalu dari situ.
Rasa cinta yang bersemi dalam tubuh Pek Kun-gie telah berkembang biak, ia tak mungkin bisa disadarkan hanya dengan sepatah dua patah kata belaka, dengan termangu-mangu ia berdiri menjublek di tempat semula, sorot matanya memancarkan kebingungan serta kebodohan.........
Oh Sam sejak semula telah menunggu disitu, ia segera menuntun kuda bagi pemuda itu Hoa Thian-hong berdua dengan cepat loncat naik ke atas punggung kuda dan melarikannya menuju ke arah kota.
Ketika hampir tiba di pintu kota, tiba-tiba tampaklah Ciong Lian-khek sambil membawa Chin Giok-liong serta Bong Pay menyongsong kedatangannya dari arah depan, Hoa Thian-hong segera meloncat turun dari kudanya sambil berkata.
"Cianpwee, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, boanpwee punya rencana untuk berangkat lebih dahulu ke kota Leng An, aku ingin pulang ke rumah untuk menyampaikan hal ini kepada cianpwee sekalian"
Jilid 19. Perubahan sikap Chin Pek Cuan "EEI...... situasi pada saat ini sangat tegang dan kritis sekali, mau apa kau berangkat lebih dahulu ke kota Leng An?"
Tegur Ciong Lian-khek dengan nada tercengang.
"Sikap perkumpulan Hong-im-hwie serta Sin-kie-pang misterius dan tidak terbuka pihak Thong-thian-kauw tetap tenang dan tidak menggerakkan tentaranya, hal ini merupakan suatu keadaan yang tidak umum dan luar biasa sekali, boanpwee punya rencana untuk berangkat lebih dahulu ke kota Leng An guna melihat keadaan, di samping berusaha pula untuk menemukan pembunuh dari Jin Bong, dari pada andaikata terjadi perubahan yang tak terduga kita semua jadi kelabakan dibuatnya."
"Apa yang kau maksudkan sebagai perubahan yang tak terduga?"
Tanya Ciong Lian-khek dengan alis berkerut, tindakanmu yang lupa akan tugas dan memikirkan masalah lain yang sama sekali tak ada gunanya untuk menyelidiki sang pembunuh, apakah bertujuan untuk mendapatkan pedang mas itu?"
"Dalam pembicaraan yang berlangsung barusan, Pek Siau-thian telah memberi bisikan kepadaku, katanya kemungkinan besar perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-imhwie serta Thong-thian-kauw akan bersatu padu kembali untuk bersama-sama menghadapi kekuatan kaum pendekar kalangan lurus yang mulai menghimpun kembali itu. Jika peristiwa ini sampai terjadi maka kita semua bakal mati konyol dan bercerai berai, Oleh sebab itulah boanpwee ingin melakukan penyelidikan lebih dahulu untuk mengetahui siapakah pembunuh dari Jin Bong serta membongkar persoalan ini, sekalipun Jin Hiat punya watak seperti kura2 dalam keadaan begini dia tentu akan berusaha untuk membalaskan dendam bagi kematian puteranya, asal kekuatan tiga partai telah terpecahkan itu berarti pihak kita akan memperoleh jalan kehidupan!"
Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan pihak perkumpulan Sin-kie-pang?"
Tegur Ciong Lian-khek dengan wajah murung.
Pek Siau-thian mengajukan tawaran kepadaku untuk menikah dengan putrinya, tetapi telah boanpwee tolak dengan menemukan kesulitan sesungguhnya yang sedang kuhadapi.
"Aaai... kalau bukan berbesan tentu bermusuhan apakah kalian telah bentrok satu sama lainnya?"
Hoa Thian-hong menggeleng.
"Rasa cinta Pek Kun-gie yang berakar sukar dilenyapkan dalam waktu singkat, Pek Siau-thian sendiri sebenarnya ingin menarik diriku berpihak kepadanya, tetapi berhubung dalam tubuh boanpwee masih mengandung racun jahat ia merasa tidak lega untuk benar-benar mengawinkan putrinya kepada boanpwee, karena rumitnya persoalan inilah membuat ia tak sanggup mengambil keputusan... dan boanpwee pun segera mohon pamit dalam keadaan begitu.
"Cukat racun Yau Sut adalah manusia yang paling lihay, apakah bangsat cilik itu ikut berbicara?"
"Sewaktu berada ditepi sungai Hoang-hoo tahun berselang, ia pernah turun tangan keji terhadap boanpwee sehingga memaksa aku harus menelan Teratai Racun Empedu api untuk bunuh diri dalam pertemuan tadi Pek Siau-thian tidak mempertemukan diriku dengan manusia she-Yau itu!"
Ciong Lian-khek mengangguk, setelah termenung beberapa saat lamanya dia berkata kembali.
"Kota Leng-An merupakan basis pertahanan yang paling kuat dari pihak perkumpulan Thing Thian Kauw, terutama sekali dalam keadaan begini seluruh jago lihay dari perkumpulan itu sudah berkumpul disana, andaikata kau ingin pergi ke situ lebih dahulu aku rasa lebih baik kita berangkat bersama-sama"
Hoa Thian-hong segera tertawa.
"Boanpwee ada maksud menghubungi Giok Teng Hujien lebih dahulu jika terlalu bayak yang pergi bukan saja kurang leluasa bahkan tindakan kita ini mungkin akan mencurigakan hati Jin Hian"
Walaupun pemuda ini hanya seorang angkatan muda belaka tetapi justru dialah pemimpin dari himpunan kekuatan diluar tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan kendati Ciong Lian-khek sekalian adalah para orang gagah yang sudah lanjut usia namun semangat jantan mereka dimasa lampau telah hilang lenyap sama sekali, kemunculan mereka pada saat inipun tidak lain karena merasa tak tega membiarkan pemuda itu melakukan perjuangan seorang diri.
Karena itulah tanpa sadar Hoa Thian-hong telah dipandang sebagai otak serta pemimpin mereka, dalam menghadapi masalah besar ataupun kecil kebanyakan mereka tidak kukuh dalam pendirian dan lebih banyak menuruti rencananya, Terdengar Bong Pay berseru.
"Dalam perkumpulan Thong-thian-kauw tak terdapat seorang manusia baikpun, tindak tanduk Giok Teng Hujien tidak beres dan namapun tidak punya, dia merupakan manusia yang paling berbahaya Hiat-te, yang paling keji di kolong langit adalah hal perempuan, kau musti selalu waspada untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan!"
"Terima kasih atas petunjuk dari toako"
"Aku sedang memperingatkan kepadamu siapa. yang memberi petunjuk?"
Sela Bong Pay dengan mata melotot Hoa Thian-hong tersenyum, dia menjura ke arah tiga orang itu, sambit tinggalkan kudanya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki pemuda itu lari menuju ke dalam kota.
Hoa In telah berhasil merubah tabiat dari majikan mudanya ini, dia tahu setelah pemuda itu mengambil keputusan sulitlah baginya untuk merubah keputusannya itu, maka diapun tidak banyak bicara dengan cepat pelayan tua ini menyusul di belakangnya.
Malam itu juga Hoa Thian-hong berdua melanjutkan perjalanannya menuju ke selatan, tidak sampai satu hari mereka telah tiba diluar kota Leng An.
Hoa In adalah jago kawakan, dia tahu markas besar dari perkumpulan Thong-thian-kauw bernama 'It-goankoan' dan letaknya berada di keresidenan Chee-Thong, kuil It-goan-koan dalam kota Leng-An tidak lain adalah markas dari sektor atas.
Maka dia lantas mengajak Hoa Thian-hong masuk ke dalam kota lebih dahulu untuk mencari penginapan dan beristirahat.
Kuil It-goan-koan markas besar perkumpulan Thong-thian-kauw terletak di atas sebidang tanah yang luasnya mencapai ribuan bau, bukan saja luas sekali bangunan lotengpun bersusun2 dengan rapatnya, bangunan itu bukan saja kokoh bahkan nampak begitu megah dan melebihi keraton kaisar di ibu kota.
Kentongan kedua baru saja lewat, dua sosok bayangan manusia nampak berkelebat ke tempat kegelapan dibawah tembok pekarangan, kedua orang itu bukan lain adalah Hoa Thian-hong serta Hoa In.
Hoa In mencabut keluar pedang baja yang terselip di pinggangnya, lalu berbisik lirih.
"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siau Koan-jin belum mencapai taraf kesempurnaan, andaikata jejakmu ketahuan oleh pihak lawan berusahalah sedapat mungkin cepat-cepat mengundurkan diri dari bangunan kuil ini, daripada kita harus bertempur di dalam kuil dan terjebak dalam kepungan yang terlalu tangguh"
Hoa Thian-hong mengangguk, setelah menyelipkan pedang baja itu di pinggangnya ia segera meloncat masuk kebalik tembok pekarangan.
Hoa In berebut berjalan di depan, ia berkelit ke kiri mengigos ke kanan, akhirnya sampailah ditengah-tengah sebuah ruang istana yang besar, ketika memasuki ratusan tombak jauhnya kemudian dengan cepat mereka temukan disetiap sudut bangunan itu terpencar penjagaan yang sangat ketat, toojin bersoren pedang melakukan perondaan di sekitar sana dan cahaya lampu menyinari setiap sudut ruangan membuat tempat menjadi terang benderang.
Walaupun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Hoa Thian-hong berdua cukup lumayan,tak urung dibikin kesulitan juga oleh situasi tersebut, setiap saat kemungkinan besar jejaknya ketahuan.
Dengan enteng kedua orang itu menyusup ke balik sebuah hioloo besar yang tingginya melebihi manusia, dari situ sorot mata mereka dengan tajam mengawasi keadaan di sekelilingnya untuk menantikan kesempatan baik guna maju lebih ke depan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, lima orang toosu cilik berjubah merah yang menyoren pedang pendek di punggungnya dan berusia antara empat lima belas tahun munculkan diri dari sudut tikungan sebelah kanan.
Dari langkah kaki serta sorot mata yang tajam dari kelima orang toosu cilik itu bisa ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat mereka lihay sekali sementara Hoa Thian-hong masih tertegun menyaksikan keadaan tersebut, disisi telinganya terdengar suara Hoa In yang lembut bagaikan suara nyamuk berkumandang datang.
"Kekuatan yang dimiliki lima orang bocah cilik itu luar biasa sekali. mereka mampu menandingi empat orang pengawal pribadi golok emas dari Jin Hian!"
Kembali terdengar suara langkah manusia yang lirih berkumandang datang, dari arah lain muncul pula lima orang toosu cilik dan berbelok ke arah samping kiri.
"Bocah-bocah cilik itu bertugas melakukan patroli di sekitar ruang kuil ini"
Bisik Hoa In kembali.
"hanya tidak kuketahui berapa banyak jumlah mereka!"
Tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong belum berhasil mencapai pada puncak ia tak berani buka suara dan terpaksa hanya mengangguk belaka, pikirnya.
"Giok Teng Hujien menyebut kedudukannya sebagai pengontrol pusat dari kesepuluh sektor, kedudukannya pasti tidak rendah. Entah dia memiliki tempat kediaman yang pasti atau tidak?"
Tiba-tiba Hoa In ulapkan tangannya sambil enjotkan badan dan melayang sejauh puluhan tombak dari tempat semula, Hoa Thian-hong segera mengepos tenaga dan buru-buru mengejar dari belakang mereka berdua dengan andalkan nyali yang besar serta kepandaian yang tinggi kembali menyusup masuk ke dalam ruang tengah melewati penjagaan yang amat ketat itu.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, kedua orang itu berhasil melewati ruang tengah dengan penjagaan yang amat ketat tadi tampak diluar ruangan sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun, dengan perasaan kecewa mereka segera berkelebat menuju ke belakang kuil disisi halaman.
Suara langkah kaki manusia kembali berkumandang datang, buru-buru kedua orang itu menyembunyikan diri ke tempat kegelapan, tampak dua orang toosu cilik berjalan di depan, di belakangnya mengikuti seorang kakek berkerudung hitam dengan langkah kaki yang enteng.
Di belakang tubuh kakek berkerudung tadi mengikuti pula seorang manusia orang itu berperawakan kurus kecil dan bentuknya mirip beruk, seperti halnya dengan sang kakek di depan, diapun mengenakan kain kerudung hitam di atas wajahnya.
Biji mata yang nampak dari luar memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati.
Keempat orang itu berjalan masuk dari kuil depan, dengan mengikuti lorong kecil langsung menuju ke arah kuil belakang.
Ketika lewat di depan Hoa Thian-hong berdua, pemuda itu mengamati beberapa saat tubuh kakek berkerudung yang ada di paling depan itu, dia merasa sikapnya yang gagah serta bentuk tubuhnya yang kekar seolah-olah pernah dikenal olehnya hanya untuk beberapa saat tak teringat olehnya siapakah orang itu.
Setelah keempat orang itu lewat.
Hoa In segera memberi tanda bersama-sama Hoa Thian-hong mereka menguntit dari tempat kejauhan, setelah melewati sebuah ruang besar lagi sampailah mereka dihadapan sebuah ruang tamu yang lebar cahaya lampu menyinari seluruh ruang tadi hingga nampak terang benderang, dibawah pohon diluar ruangan berdiri sejajar sepuluh orang toojin berusia pertengahan yang menyoren pedang di punggungnya Di dalam ruang tamu itu pada dinding sebelah belakang tersedia meja sembahyang.
Di atas meja sembahyangan berdiri sebuah arca berbaju emas yang tingginya mencapai beberapa tombak, semuanya merupakan toosu-toosu yang berwajah agung.
Dibawah meja sembahyang terdapat sederetan kasur untuk semedi, di atas kasur semedi tadi duduklah tiga orang toosu tua, mereka semua memakai kopiah kebesaran dengan jubah berlambangkan Pat kwa emas, jenggot panjang terurai sepanjang dada dengan di tangannya memegang sebuah senjata kebutan di belakang mereka masing-masing berdiri seorang toosu cilik yang memegang sebilah pedang pusaka.
Berhubung jaraknya amat jauh Hoa Thian-hong tidak sempat menangkap suara pembicaraan di dalam ruang itu, baru saja ia hendak menyusup maju lebih ke depan tiba-tiba Hoa In menarik tangannya sambil berbisik.
"Toosu tua yang duduk di tengah ruangan itu bernama Thian Seng-cu, dia adalah seorang jago lihay yang berasal satu perguruan dengan Thian Ik-cu ketua perkumpulan Thong-thian-kauw, lebih baik kita jangan bergeser terlalu dekat, hati-hati kalau jejak kita sampai ketahuan"
"Apakah kau dapat menangkap suara pembicaraan mereka?"
"Siau Koan-jin tak perlu gelisah, biarlah kuheningkan cipta dan pusatkan pikiran mungkin saja pembicaraan mereka bisa kutangkap!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung kakek berkerudung itu sudah dipersilahkan masuk ke dalam ruangan, setelah memberi hormat dengan Thian Seng-cu sekalian dia pun duduk di atas kasur untuk semedi, sedangkan pria kurus kecil yang mirip beruk tadi hanya berdiri saja dibelakang kakek itu, rupanya dia adalah pembantu orang tadi.
Setelah masing-masing pihak saling mengucapkan beberapa patah kata rendah, mendadak Thian Seng-cu merogoh ke dalam sakunya dan mengambil keluar sepucuk surat yang mana segera diterima oleh kakek berkerudung tadi.
Kakek itu segera menyimpan surat tersebut ke dalam saku.
setelah berbicara beberapa patah kata dengan Thian Seng-cu tiba-tiba dia angkat kepala dan melepaskan kain kerudung hitam yang menutupi wajahnya.
Hoa Thian-hong yang dapat melihat pula raut wajah orang itu segera merasa terkejut, hampir saja ia menjerit saking kagetnya.
Ternyata kakek berkerudung hitam itu bukan lain adalah ayah dari Chin Giok-liong serta Chin Wan-hong Telapak pasir emas Chin Pek-cuan dari kota Kengciu.
Hoa Thian-hong merasa terkejut bercampur curiga, otaknya berputar keras berusaha untuk memecahkan kecurigaannya itu, tetapi ia tak berhasil mendapat jawabannya, ia tak tahu apa sebabnya Chin Pek-cuan bisa tiba di tempat itu, bahkan wajahnya berkerudung dan tingkah lakunya misterius sekali, kalau ditinjau keadaannya jelas ia sedang melakukan suatu tugas yang dibebankan kepadanya.
0000O0000 Hoa Thian-hong hanya dapat melihat orangnya tak dapat mendengar suaranya, ia merasa gelisah sekali dan berulang kali menoleh ke arah Hoa In dengan harapan pelayan tuanya bisa.
memberi keterangan.
Tetapi Ketika itu Hoa In sendiripun picingkan matanya dengan alis berkerut, kalau ditinjau keadaannya nampak diapun dibikin bingung oleh keadaan di depan mata.
Lama kelamaan Hoa Thian-hong tak kuat menahan diri, segera bisiknya dengan suara lirih.
"Loo-ting itu adalah Chin Pek-cuan dari kota Keng-ciu kau kenal tidak dengan dirinya?"
Hoa In mengangguk tanda kenal."Apa yang mereka bicarakan?"
"Rupanya Chin Lo-ji telah menggabungkan diri dengan pihak perkumpulan Sin-kie-pang, dia mendapat tugas dari Cukat racun Yau Sut datang kemari. Rupanya orang she-Yau itu telah berkhianat dan mencari persekongkolan dengan pihak luar, mereka sering kali mengucapkan kata-kata "
Menyerang diluar dugaan"
Hasil dibagi sama rata, hanya tidak kuketahui dia mengajak pihak Thongthian-kauw untuk bersama-sama menyerang Hong-imhwie, ataukah bekerja sama untuk memberontak di dalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang sendiri...."
"Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini benar-benar luar biasa berbahayanya"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati"
Entah apa sebabnya Chin Pek-cuan bisa bergabung dengan Yau Sut?
pihak Hong-im-hwie telah bersepakat dengan perkumpulan Sin-kie-pang untuk bekerja sama melenyapkan Thong-thian-kauw, namun secara diamdiam mereka sendiripun berusaha main setan, keadaan begini justru malah menguntungkan pihak Thong-thiankauw yang mengadu domba dari tengah dan menjadi nelayan beruntung yang menunggu hasil"
Tiba-tiba tampak Chin Pek-cuan mengenakan kembali kain kerudung hitamnya, setelah mengucapkan beberapa patah kata dengan Thian Seng-cu ia segera bangkit berdiri dan mengundurkan diri dari situ.
Pria kurus kecil yang menyerupai beruk itu masih tetap mengikuti dibelakang tubuhnya, sedang dua orang toosu cilik berbaju merah tadi berjalan dipaling depan.
Hoa In jago pengalaman yang teliti dalam setiap gerakan, dia tidak ingin menyaksikan majikan mudanya menempuh bahaya, maka ditunggunya sampai Chin Pekcuan sekalian lewat lebih dahulu kemudian baru berbisik.
"Siau Koan-jin, jago lihay di dalam kuil ini banyak tak terhitung jumlahnya, tujuan dari kedatangan kita kali ini adalah mencari Giok Teng Hujien, aku rasa lebih baik kita tak usah berkeliaran secara membabi buta sehingga kemungkinan besar kita akan menemui bahaya ditangkap atau terkepung...."
Hoa Thian-hong sendiripun merasa pula tegang serta seriusnya keadaan ketika itu, dia mengangguk.
"Baiklah, kita selidiki dahulu persoalan dari Chin Pek-cuan. Besok baru kita selidiki lagi tempat tinggal dari Giok Teng Hujien"
Hoa In jadi amat kegirangan.
dengan melalui jalan semula mereka segera mengundurkan diri keluar dari kuil tersebut.
Mereka berdua ngeloyor keluar lewat sisi ruangan kemudian lari ke pintu kuil dan dari sana menyembunyikan diri ke sudut gelap dekat dinding perkampungan, dari sana mereka lihat Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil seperti beruk itu sudah naik ke atas kuda dan lari menuju ke arah kota Leng An.
"Bila aku lakukan pengejaran pada saat ini, jejak kami pasti ketahuan"
Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.
"baiklah biar kutunggu sebentar lagi"
Rupanya Hoa In sendiripun berpendapat demikian pula, mereka berdua segera berdiam diri beberapa saat lamanya.
Menanti derap kaki kuda sudah menjauh dan kedua orang toosu cilik berbaju merah itu sudah masuk kembali ke dalam kuil mereka baru berangkat melakukan pengejaran.
Dengan kecepatan gerak mereka berdua, sekalipun kuda jempolan dalam waktu singkat berhasil pula disusul oleh mereka.
Setelah mengejar beberapa saat lamanya telinga mereka dapat menangkap suara derap kuda jauh disebelah depan sana, Hoa Thian-hong merasa semangatnya berkobar.
Ia segera mengerahkan tenaganya lebih besar dan mengejar lebih cepat lagi.
"Kita hanya berusaha merampas surat ataukah menangkap sekalian dengan orangnya?"
Tiba-tiba Hoa In bertanya. Hoa Thian-hong termenung sejenak, kemudian jawabnya.
"Biarlah kujajaki dahulu jalan pikiran mereka, kemudian kita baru bertindak!"
"Bukankah hubungan Siau Koan-jin dengan putrinya erat sekali?"
Tanya Hoa In sambil tersenyum. Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong.
"Enci Wan-hong sangat baik terhadap diriku, Chin toako-pun orang baik. sedang Chin Pek-cuan dahulu merupakan seorang ksatria yang gagah perkasa, entah apa sebabnya sekarang malah berkomplot dengan Yau Sut manusia licik itu?"
"Lain dulu lain sekarang dewasa ini dunia adalah milik kaum laknat dari golongan hitam, mencari perlindungan terhadap keselamatan sendiri pada pihak yang kuat sudah menjadi kebiasaan setiap orang"
"Aaah.. duduk perkara yang sebenarnya toh belum kita ketahui, janganlah kita menuduh orang secara sempurna,"
Kata Hoa Thian-hong. Mendengar perkataan itu Hoa In segera berpikir.
"Pastilah Siau Koan-jin amat mencintai nona itu, maka ia selalu berusaha untuk melindungi bapaknya"
Berpikir demikian, dengan wajah serius ia lantas berkata.
"Seandainya Chin-lo-ji benar-benar sudah berubah perangainya, lebih baik Siau Koan-jin jangan berhubungan dengan putrinya, dan jangan Kau gubris pula putri dari Pek Siau-thian"
Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba ia temukan bahwa tembok kota sudah berada diambang pintu, dengan cepat ia hentikan langkah kakinya sambil berkata.
"Tunggu sebentar, coba kita lihat apakah mereka masuk ke dalam kota atau tidak?', Terlihatlah Chin Pek-cuan serta pria berbadan kurus kecil yang menyerupai beruk itu memutar haluan, mereka melarikan kuda tunggangannya menuju ke arah utara. Hoa Thian-hong siap melakukan pengejaran, tetapi sebelum ia sempat bergerak tiba-tiba dari atas tembok kota melayang turun tiga sosok bayangan manusia. dan segera mengejar dibelakang orang she Chin itu. Setelah menanti sejenak kemudian. Hoa Thian-hong hendak melakukan pengejaran tetapi dari sudut tembok kota kembali menyusup keluar sesosok bayangan manusia. bagaikan segulung asap ringan orang itu segera menyusul dari belakang mereka bertiga. Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya. ia menunggu sampai orang terakhir itu sudah mencapai kejauhan ratusan tombak baru mulai mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun mengejar dari belakang.
"Aaai... jaman sekarang benar-benar sudah mendekati jaman edan"
Gumam Hoa In dengan suara lirih.
"di mana-mana yang dijumpai hanya persoalan yang membingungkan dan tidak diketahui ujung pangkalnya"
"Manusia dari kalangan hitam telah terbagi jadi tiga kekuatan besar ditambah. pula kita manusia gentayangan yang tercerai berai membuat suasana bertambah kacau, banyak orang melakukan tindakan pagar memakan tanaman tentu saja jamannya semakin berubah mendekati jaman edan "
Seandainya kita berhasil menemukan rahasia pribadi dari Yau Sut, perlukah kita bongkar rahasia itu?"
Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian jawabnya sambil tertawa.
"Seandainya kita benar-benar berhasil menangkap basah rahasia pribadinya, maka Yau Sut tidak akan disebut sebagai Cukat racun lagi"
Dia menghela napas panjang, setelah termenung sebentar terusnya.
"Kau tidak punya kesabaran sedang pikiranku kurang cermat, semua perbuatan kita dimasa lampau harus dirubah kalau tidak maka urusan besar tak mungkin bisa kita selesaikan!"
Tiba-tiba suara derap kaki kuda disebelah depan kedengaran amat kacau, disusul ringkikan kuda serta bentakan gusar berkumandang datang.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa terkejut, ia segera menatap tajam ke arah depan, tampaklah bayangan manusia disebelah depan itu laksana kilat berkelebat beberapa kali ke muka dan seketika itu juga jejaknya lenyap tak berbekas.
"Kita telah berjumpa dengan jago lihay kelas satu!"
Bisik Hoa In dengan wajah agak berubah.
"Mari kita tengok dulu kemudian baru mengambil keputusan!"
Kedua orang itu berputar ke sisi kiri dan diam-diam menyusup ke depan, setelah bersembunyi dibelakang sebatang pohon pendek terlihatlah ketika itu Chin Pekcuan serta pria seperti beruk itu telah loncat turun dari kudanya, dihadapan mereka berdiri tiga orang kakek baju hitam, pakaian mereka merupakan pakaian ringkas dan di pinggang tersoren senjata tajam.
Sinar mata Hoa Thian-hong dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia berusaha mencari tempat persembunyian dari orang lihay tadi, namun walaupun sudah dicari setengah harian belum ditemukan juga.
Terdengarlah Chin Pek-cuan dengan suara gusar membentak keras.
"Apa maksud kalian mengejar diriku? dalam biji mata yang bersih tak ada pasirnya, kalau ada urusan katakanlah sejujurnya"
Kakek baju hitam yang berada di tengah mendengus dingin.
"Hmm! Melakukan perjalanan dengan wajah berkerudung merupakan pantangan terbesar dalam dunia persilatan, lo-yamu ingin melihat raut wajahmu yang sebenarnya agar bisa menambah pengetahuan!"
"Haaah....baaah..... haaah..... kau menyebut diri sebagai Lo-ya, rupanya bajingan-bajingan dari perkumpulan Sin-kie-pang!"
Kakek baju hitam itu tertawa dingin.
"Heeh... heeh... heeh... heeeh ... tua bangka sialan! rupanya kau seorang jago kawakan juga. Tidak salah! Kami tiga orang lo-ya adalah pelindung hukum dari perkumpulan Sin-kie-pang, kau hendak turun tangan sendiri ataukah lo-ya mu yang harus mewakili dirimu?"
"Hmmm, sudah banyak tahun aku tak pernah menjagal anjing"
Ejek Chin Pek-cuan dengan nada menghina.
"Bila kau merasa usiamu terlalu panjang, maju sajalah! akan kulayani keinginanmu itu."
Bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, kakek baju hitam yang ada disebelah kiri menerjang maju ke depan, lengannya berkelebat dan mencakar wajah orang she Chin itu.
Chin Pek-cuan mendengus dingin.
kaki kirinya mundur setengah langkah ke belakang diikuti telapaknya diayun dan langsung menghantam kemuka.
"Ooooh.... kiranya berlatih ilmu Kim-see-ciang. luar biasa juga tenaga dalamnya!"
Seru kakek yang pertama tadi.
Sementara perkataan itu diucapkan, dua orang dalam gelanggang telah saling bertempur empat jurus lebih, angin pukulan menderu-deru dan pertarungan berlangsung dengan serunya.
"Chin Pek-cuan melakukan pekerjaan atas dasar perintah rahasia dari Cukat beracun Yau Sut. tetapi sekarang ia bergebrak pula dengan para jago dari Sinkie-pang, itu berarti yang dilakukan olehnya adalah urusan pribadi Yau Sut sendiri!"
Pikir Hoa Thian-hong. Terdengar Hoa In berbisik dengan suara lirih.
"Rupanya ilmu silat yang dimiliki Chin Pek-cuan telah memperoleh kemajuan yang pesat!"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Makin tingkat usianya, makin cekatan hidup seorang manusia, hal itu sudah jamak!"
Sementara itu Chin Pek-cuan telah menerjang maju ke depan.
secara beruntun dia lancarkan delapan sembilan jurus serangan, kakek baju hitam tadi terdesak hebat dan tak mampu mempertahankan diri, membuat dia harus kirim satu pukulan untuk menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras Ploook....pukulan Kim-see-ciang yang dilatih Chin Pekcuan dengan sempurnanya itu berhasil menghajar telak tubuh lawan.
Dalam keadaan begini tentu saja kakek baju hitam itu tak mampu pertahankan diri, ia mendengus berat dan tubuhnya terpental sejauh satu tombak dari tempat semula persendian tulang kanannya terlepas dan separuh tubuhnya kontan jadi kaku.
Menyaksikan rekannya terluka kakek baju hitam yang buka suara tadi jadi amat gusar.
ia membentak sambil ayunkan tangan kirinya ke depan.
Sekilas cahaya keemas-emasan berputar bagaikan roda dan meluncur ke arah batok kepala Chin Pek-cuan dengan kecepatan bagaikan kilat.
Chie Pek Cuan adalah jago kawakan yang berpengalaman luas, mendengar deruan angin tajam yang meluncur datang ia segera mengetahui bahwa serangan tak boleh disambut dengan kekerasan, ia merandek dan menyusup ke arah samping.
Cahaya emas yang menyilaukan mata....memenuhi seluruh angkasa, dari samping....kiri kanan depan maupun belakang serentak meluncur datang roda2 emas yang tajam.
Chin Pek-cuan mendengus dingin, sepasang bahunya bergeser dan menggunakan suatu gerakan yang manis ia berhasil melepaskan diri dari serangan gabungan keempat buah roda emas itu, telapaknya diayun dan secepat kilat ia balas mengirim satu pukulan gencar ke arah kakek yang menyerang dengan roda emas tadi.
Diam-diam Hoa Thian-hong bersorak memuji.
pikirnya.
"Sejak meninggalkan kota Keng-ciu. rupanya ia telah mendapat pendidikan ilmu dari orang lihay!"
Terdengar Hoa In berbisik lirih.
"Chin Pek-cuan kekurangan serangkaian ilmu pukulan yang dahsyat, kalau tidak niscaya ia sudah berhasil angkat nama dan menjadi jago Bu-lim yang disegani orang"
Dalam hati Hoa Thian-hong juga berpendirian demikian.
ia mengangguk tanda membenarkan.
Sementara itu tampak kakek beroda Ngo-heng-lun itu ayunkan kembali tangan kanannya, mendadak dalam telapak telah bertambah dengan sebilah pedang emas yang memancarkan cahaya tajam, dua tangan menggunakan enam macam senjata tajam, dengan gencar dan hebatnya ia layani setiap pukulan Kim-seeciang yang dilancarkan Chin Pek-cuan.
"Kakek tua itu bernama Ciong Tiau-gak, dia merupakan seorang jago kosen dalam dunia persilatan"
Bisik Hoa In.
"katanya permainan roda ditangan kirinya merupakan hasil ciptaan sendiri yang ditekuni serta dilatih sendiri tanpa bimbingan guru pandai"
Hoa Thian-hong mengerutkan sepasang alisnya.
"Sewaktu ada di kota Cho-ciu, pernah kusaksikan dia bertempur melawan rase salju milik Giok Teng Hujien, ilmu silatnya memang luar biasa, tanpa mendapat bimbingan guru dia berhasil melatih ilmu silatnya mencapai taraf begitu tinggi. hal ini benar-benar bukan suatu pekerjaan yang gampang"
"Chin Pek-cuan"
"Ketika berlangsungnya pertemuan Pak Beng Hwee, dialah orang yang membawa keluar jenazah ayah, dia adalah tuan penolong dari keluarga Hoa kita, aku berharap kau jangan bertindak kurang adat terhadap dirinya......"
Mendengar perkataan itu Hoa In nampak tertegun, lalu jawabnya.
"Aku benci kepadanya karena perbuatannya yang tidak benar"
"Bagaimana duduk perkara toh belum jelas sepatah dua patah kata tak bisa menyimpulkan keseluruhan dari masalah itu, kau jangan menuduh orang dengan hal yang bukan-bukan"
Tiba terdengar Ciong Tiau-gak membentak keras, tangan kirinya menyerang secepat kilat, lima buah roda emas dengan cepat berputar ke depan membokong dari depan dada belakang punggung lawan, sedangkan pedang lemas ditangan kanannya mengirim satu tusukan kilat ke arah lambung kakek she-Chin tersebut.
Lima buah roda emas mengepung secara berbareng, cahaya tajam ketika menyilaukan mata dan desiran tajam memekikkan telinga, tusukan pedang lemas yang dilancarkan belakangan tiba lebih duluan keganasan serta ketajamannya mengerikan sekali, sekilas memandang siapapun tahu bahwa serangan itu amat luas luar biasa.
Menghadapi mara bahaya langkah kaki Chin Pek-cuan sama sekali tidak kalut, melihat cahaya tajam mengurung disekeliling tubuhnya, sepasang bahu segera bergerak dan menyusup keluar dari lingkaran cahaya dalam repotnya telapak diayun ke depan menghantam punggung Ciong Tiau-gak.
Hoa Thian-hong yang menyaksikan dua kali kakek she-Chin itu berhasil lolos dari ancaman dengan mempergunakan gerakan yang sama, dalam hati segera mengerti pikirnya "Tidak aneh kalau ilmu silatnya mendapat kemajuan yang pesat, rupanya ia sudah memperoleh penemuan aneh dan mendapat didikan ilmu dari orang pandai."
Berpikir demikian, dia lantas berbisik kepada Hoa In.
"Gerakan tubuhnya sangat aneh dan lihay sekali, tahukah kau asal usulnya?"
Hoa In menggeleng.
"Diantara gerakan langkah yang tersohor di kolong langit, belum pernah kujumpai gerakan semacam ini"
Hoa Thian-hong segera alihkan sorot matanya ke arah pria berbentuk seperti beruk itu, ujarnya kembali.
"Bentuk tubuh manusia berkerudung yang kecil kurus itu aneh sekali."
Belum habis bicara, tampaklah olehnya kakek baju hitam lainnya dari perkumpulan Sin-kie-pang telah merogoh sakunya dan ambil keluar sebatang garpu pendek yang sangat beracun setelah menyaksikan rekannya tidak berhasil menangkan pihak lawan, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung menerjang ke belakang tubuh Chin Pek-cuan.
Traaang!
baru saja kakek baju hitam itu mendekati belakang punggung kakek she Chin itu, mendadak tubuhnya terhenti dan garpu pendek beracun yang dicekalnya itu terjatuh ke atas tanah.
Chin Pek-cuan segera memutar tubuhnya sambil membentak keras, telapaknya langsung dihantam ke arah dada musuh.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata.
Ciong Tiau-gak tidak sempat berpikir panjang lagi, tangan kirinya laksana kilat melancarkan serangan, roda Ngo-heng-kim lun langsung dihantamkan ke tubuh musuh.
Gerakan senjata aneh ini jauh lebih cepat dari pada desiran senjata rahasia.
sebelum pukulan Chin Pek-cuan bersarang di tubuh lawan, cahaya tajam yang disertai dengungan nyaring sudah berada di depan mata, terpaksa ia batalkan pukulannya sambil mengigos kesamping.
Dalam sekejap mata Chin Pek-cuan telah terlibat kembali dalam pertempuran sengit melawan Ciong Tiaugak, kakek baju hitam tadipun segera memungut garpu racunnya yang terjatuh ketanah.
sinar matanya dengan sangsi memandang sekejap ke arah pria seperti beruk tadi kemudian celingukan kakiri dan kanan.
Hoa Thian-hong serta Hoa In saling bertukar pandangan sekejap, dengan ketajaman mata mereka berduapun tak mampu menyaksikan pria itu melakukan gerakan apapun tetapi empat tombak sekeliling sana tak ada orang, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pria seperti beruk itulah yang telah main gila dengan menimpuk jatuh senjata tajam milik kakek baju hitam tadi, hanya saja tidak terlihat gerakan apakah yang dia pergunakan.
Ciong Tiau-gak adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman melihat keadaan tidak beres segera timbul niat untuk mengundurkan diri, pedang lemasnya segera diputar melindungi tempat penting di tubuhnya, ia berkata.
"Sahabat karib ini hari aku orang she-Ciong merasa telah berjumpa dengan musuh tangguh, gunung nan hijau tidak berubah air yang biru tetap mengalir, lain kali kita lanjutkan kembali pertarungan ini"
Serangan dari kelima buah roda emasnya segera diperketat, ia siap mendesak musuhnya untuk mencari pulang guna mengundurkan diri. Chin Pek-cuan segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah.... haaah.... kawan, bila berjodoh walaupun berpisah ribuan li akhirnya bertemu juga, aku harap kau tak usah pergi lagi!"
Sembari berkata gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah, tampak ia melayang dengan kecepatan bagaikan kilat, tubuhnya menerobos kesana kemari diantara kelima buah roda emas tersebut, dua buah telapak bajanya dengan gencar bagaikan hujan badai menyerang musuhnya habis2an.....
Dalam sekejap mata Ciong Tiau-gak terdesak dibawah angin, kelima buah roda emasnya tak mampu dipergunakan lagi, bukan menolong benda itu malahan menjadi beban baginya.
Semua serangan lawan terpaksa harus ditangkis dan dibendung dengan mempergunakan pedang lemas di tangan kanannya.
Melihat Ciong Tiau-gak menderita kekalahan, kakek baju hitam yang lain tidak berpikir panjang lagi, garpu pendeknya segera diputar dan untuk kedua kalinya menerjang kembali ke depan.
Kakek yang terluka tadipun segera ayun pula tameng bajanya dan ikut menerjang ke depan.
Terdengar pria berbadan seperti beruk itu memaki dengan suara yang tinggi melengking.
"Anak iblis yang tak tahu malu!"
Sambil berseru tubuhnya segera maju dan menerjang ke depan.
Dalam sekejap mata bentakan serta teriakan berkumandang memecahkan kesunyian, sebuah pukulan keras yang dilancarkan Chin Pek-cuan bersarang telak di atas bahu kiri Ciong Tiau-gak, membuat kakek itu bersama-sama dengan senjatanya terlempar sejauh satu tombak lebih dari tempat semula.
Ilmu pukulan Kim-see-ciang yang dia yakini sanggup digunakan untuk menghancurkan batu nisan, Ciong Tiaugak yang termakan oleh pukulan itu tulang bahunya seketika hancur berantakan.
Keadaan dari dua orang kakek baju hitam yang lain jauh lebih aneh lagi, dengan senjata yang masih terhunus mereka menggeletak ditanah tanpa bisa berkutik, peluh membasahi tubuhnya dan suara rintihan bergema memecahkan kesunyian.
Sikap Ciong Tiau-gak jauh lebih gagah, ia bangkit berdiri dengan susah payah kemudian sambil menahan sakit disimpannya kembali pedang lemas itu, tanpa memunguti kembali senjata roda emasnya yang tersebar ditanah dia berjalan menghampiri dua orang rekannya yang menggeletak tak bisa bangun itu, setelah memeriksa sebentar keadaan mereka berdua ia segera bangkit berdiri.
Terhadap Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil yang ada disana ia berlagak bodoh dan sama sekali tidak menengok barang sekejappun.
Chin Pek-cuan mendengus dingin, sinar matanya berputar memandang sekejap ke arah pria berbadan seperti beruk itu.
Pria itu membisikkan sesuatu kesisi telinganya, Chin Pek-cuan segera kelihatan agak tertegun dan putar badan kemudian teriaknya.
"Sahabat-sahabat darimanakah yang telah datang bila tidak munculkan diri lagi jangan salahkan kalau aku tak akan menemani lebih jauh"
"Sungguh lihay orang ini"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati"
Tanpa berpaling dia sudah tahu kalau dibelakang tubuhnya ada orang yang menguntil.
Tampaklah dari balik sebuah pohon besar kurang lebih beberapa puluh tombak dihadapannya meloncat keluar seseorang, setelah berjalan beberapa langkah kemuka tiba-tiba dia alihkan sorot matanya ke arah tempat persembunyian dari Hoa Thian-hong berdua, Melihat hal itu Hoa In segera menyumpah dengan hati mendongkol.
"Nenek anjing sialan rupanya dia lebih cerdik dari kita berdua!!"
Hoa Thian-hong tersenyum, dia tahu tempat persembunyiannya sudah ketahuan, maka dia lantas bangkit dan berjalan keluar dari balik pohon.
Tiba-tiba Hoa In menyusul maju ke depan, bisiknya dengan suara lirih.
"Siau Koan-jin harap waspada, bajingan tua itu bernama Yan-san It-koay dia adalah salah satu tulang punggung dari perkumpulan Hong-imhwie!!"
Hoa Thian-hong mengerutkan sepasang alisnya yang tebal, ia menoleh dan menatap wajah manusia aneh dari gunung Yan-san itu, tampaklah sepasang matanya cekung ke dalam dengan hidungnya menghadap atas, raut wajah berwarna kuning hangus dan jeleknya luar biasa.
Ketika itu sampai melototkan matanya Yan-san It-koay pun sedang mengawasi Hoa Thian-hong berdua dengan pandangan tajam.
pada saat yang hampir bersamaan ketiga orang itu sama-sama muncul di tengah kalangan Chin Pek-cuan serta pria seperti beruk itu melirik sekejap ke arah pedang baja yang tersoren di pinggang, wajah mereka segera menunjukkan suatu sikap yang aneh.
Ciong Tiau-gak sendiripun nampak agak tertegun ketika menjumpai kemunculan Hoa Thian-hong secara mendadak disitu, untuk beberapa saat lamanya sorot mata semua orang sama-sama ditujukan ke arah pemuda itu.
Tiba-tiba terdengar kembali suara ujung baju tersampok angin secara lapat-lapat berkumandang datang.
semua orang merasa terkejut dan sama-sama berpaling.
Bayangan manusia berkelebat lewat dan sama-sama munculkan diri di tengah kalangan, orang yang barusan datang berjumlah dua belas orang, sebagian besar diantaranya mengembol pedang dipunggung Orang pertama yang munculkan diri terlebih dahulu bukan lain Thian Seng-cu dari perkumpulan Thong-thiankauw, sedang separuh lainnya berdandan seperti manusia biasa, usianya di atas empat puluh tahunan Setibanya di tengah kalangan kedua golongan manusia yang berbeda itu masing memencarkan diri dan berdiri pada kelompok yang berbeda.
Menyaksikan siapa yang telah datang, Ciong Tiau-gak seketika merasa semangatnya berkobar, dengan cepat ia maju menghampiri kakek baju kuning dan memberi hormat.
"Tongcu, kebetulau sekali kedatanganmu itu...!"
Serunya.
"Aku sudah tahu"
Jawab kakek baju kuning sambil ulapkan tangannya.
Dia memberi tanda dan dua orang segera munculkan diri, kakek baju hitam yang menggeletak di atas tanah dan tak bisa berkutik itu dengan cepat dibopong keluar dari gelanggang.
Hoa In yang mengenali siapakah kakek baju kuning itu, dengan ilmu menyampaikan.
suara segera berbisik kepada Hoa Thian-hong.
"Tua bangka itu she-Ho bernama Kee Sian, orang-orang menyebutnya sebagai Poan Thian jiu si tangan sakti pembalik langit, dia merupakan Tongcu ruang Thian Leng Tong dari perkumpulan Sin-kie-pang, nama besarnya dikenal oleh setiap orang dan tidak berada dibawah nama besar Cukat racun Yau Sut...."
Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya ke arah orang itu dia lihat dada tangan sakti pembalik langit Ho Keesian amat bidang dengan perut buncit, alisnya tebal dan matanya besar, sinar mata tajam memancar keluar dari balik kelopak matanya dan kelihatan mengerikan sekali.
Dalam hati segera pikirnya.
"Kegagahan orang ini mengerikan sekali, dia bisa menduduki jabatan sebagai Tongcu ruang Thian Leng Tong, ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali"
Dalam pada itu si tangan sakti pembalik langit Ho Keesian telah menyapu sekejap wajah seluruh jago yang hadir ditempat itu, sambil melangkah maju dua tindak ke depan tegurnya dengan suara dingin.
"Saudara yang mana telah memberi pelajaran kepada saudara saudaraku? disini aku orang she Ho mengucapkan banyak terima kasih lebih dahulu"
Chin Pek-cuan tertawa keras.
"Haaaah.... haaaah.... haaaah..... akulah yang telah melukai beberapa orang loo-ya itu karena pengaruh oleh emosi, harap Ho Tongcu suka memberi maaf!"
Dengan sorot mata yang dingin tangan sakti pemba1ik langit Ho Kee-sian mengawasi wajah Chin Pek-cuan dari atas hingga ke bawah, lalu mendengus dingin.
"Hmmm! Kau mempunyai orang dengan wajah berkerudung, aku rasa aku orang she Ho tak usah mengajukan pertanyaan atas namamu lagi."
"Aku cuma seorang prajurit kecil yang tak bernama, sekalipun kau ingin tahu nama ku juga tak ada gunanya."
"Tua bangka itu pandai mempergunakan ilmu telapak Kim-see-ciang!"
Teriak Ciong Tiau-gak dengan gusar.
"rupanya dia adalah manusia she-Chin dari kota Kengciu!"
Ho Kee-sian telapak sakti pembalik langit mengerutkan sepasang alisnya yang tebal.
"Berapa hebatnya sih Chin Pek-cuan itu? Masa kalian bertiga bukan tandingannya?"
Ia berseru.
Haruslah diketahui Chin Pek-cuan adalah seorang jago dari kalangan lurus yang sangat luas pergaulannya, ia merupakan seorang manusia kenamaan yang diketahui setiap orang, tetapi ilmu silat yang dimilikinya cuma biasa2 saja dan orang mengetahui akan hal ini.
Hoa Thian-hong yang mengikuti jalannya peristiwa itu dari sisi kalangan makin memandang ia semakin kebingungan.
Thian Seng-cu baru saja bertemu muka dengan Chin Pek-cuan bahkan menyerahkan pula sepucuk surat kepadanya, tetapi kini ia datang bersama-sama Ho Keesian sekalian dan sikapnya ternyata pura2 tidak kenal dengan orang she Chin tersebut.
Sedang Yan-san It-koay adalah seorang jago lihay kelas satu di dalam dunia persilatan sepantasnya ilmu silat yang dia miliki jauh di atas Ho Kee-sian maupun Thian Seng-cu dan semestinya mereka bertiga kenal satu sama lainnya, tetapi sekarang mereka tidak saling menyapa sedang Yan-san It-koay pun tiada maksud mengumbar hawa amarah.
kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang aneh sekali.
Terdengar Ciong Tiau-gak berkata kembali.
"Lapor Tongcu, jago lihay yang sebenarnya adalah manusia kurus yang bongkok itu sedang si tua bangka ini cuma bonekanya belaka"
Mendengar perkataan itu tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian segera berpaling, dengan sorot mata yang tajam ia menatap pria kurus kecil yang menyerupai beruk tadi jengeknya sambil tertawa dingin.
"Heeeh.... heeeh... ternyata kau berulah manusia lihay yang tak mau unjukkan diri tak nyana kalau aku orang she-Ho sudah salah melihat."
"Hmm! omong kosong"
Dengan pria kurus kecil seperti beruk itu dengan nada sinis.
Mendengar ucapan itu tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian jadi teramat gusar, sambil menerjang ke depan dia kirim satu pukulan dahsyat, serunya.
"Aku orang she-Ho ingin mencoba dahulu sampai dimanakah kelihayan yang kau miliki...."
Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 4
Baca Juga: Anak Naga 4