Eps 4 Anak Naga - Chin Yung
Baca online Anak Naga - Chin Yung
Cersil Anak Naga - Chin Yung.
Lim Mei suan mengerutkan kening.
"Kalau tidak salah, malam itu aku mendengar suara suling yang bernada aneh, kemudian terdengar pula suara angin mendesir-destr. setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Han Liong, begitu banyak anak gadis mengidap penyakit ini. sebetulnya penyakit apa?"
Tanya hartawan Lim.
"Bukan penyakit"
Thio Han Liong menjelaskan.
"Melainkan semacam racun. Aku justru masih tidak habis pikir, siapa yang menyebarkan racun itu siapa yang terkena racun itu, akan menjadi gila. Tapi tidak mungkin hilang begitu saja, pasti ada yang menculik-"
"Kalau begitu,"
Ujar hartawan Lim dengan kening berkerut-"Itu pasti perbuatan penjahat-"
"Tidak salah, itu memang perbuatan kaum penjahat"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Dalam beberapa malam ini-aku yakin penjahat itu akan ke mari. oleh karena itu. Kakak harus pindah ke kamar lain, aku akan menempati kamar ini"
"Han Liong..."
Hartawan Lim menatapnya strata bertanya "Perlukah aku mengundang beberapa piauwsu (Pesilat PenjualJasa) untuk membantumu?"
"Tidak perlu"
Thio Han Liong menggelengkan kepala. Sementara nyonya hartawan Lim terus mendengarkan dan memandang Thio Han Liong dengan kagum, lama sekali barulah membuka mulut.
"Han Liong, tadi engkau menggunakan cara apa untuk membuat putriku memuntahkan racun itu?"
"Aku menggunakan Iweekang, Bibi/ Thio Han Liong memberitahukan.
"Sebab kalau aku tidak menggunakana Iweekang, Kakak Mei Suan pasti tidak tertolong lagi"
Nyonya hartawan Lim manggut-manggut.
"Apakah tiada obat penawar racun itu?"
"Ada"
Thio Han Liong mengangguk.
"Tapi begitu terkena raaun itu, harus segera diberikan obat penawarnya. Kalau sudah lewat beberapa hari, tiada gunanya.Maka tadi aku menggunakan Iweekang untuk mendesak raaun itu keluar dari mulut Kakak Mei Suan"
"Adik Han Liong,"
Ucap urn Mei Suan.
"Terima kasih atas pertolonganmu yang telah menyelamatkan nyawaku, aku... aku telah berhutang budi kepadamu"
"Jangan berkata begitu, Kakak"
Thio Han Liong tersenyum.
"Ayahmu orang yang baik hati-tentunya kalian pasti dilindungi Thian yang Maha Kuasa"
Di saat mereka sedang bercakap-cakap, muncullah jongos tua membawa tiga bungkus obat.
"Dewa muda, bagaimana cara menggodok obat ini?"
Tanyanya-"Paman tua"
Wajah Thio Han Liong kemerah-merahan.
"Jangan memanggilku dengan Dewa muda, namaku Thio Han Liong, panggil saja namaku"
"Ya."
Jongos tua itu mengangguk. Thio Han Liong memberitahukan cara-cara menggodok obat itu "dimasak sampai kering obat itu, harus ditunggu"
Pesannya.
"ya."
Jongos tua segera pergi untuk menggodok obat itu "Han Liong"
Hartawan Lim memegung bahunya seraya berkata.
"Kami berhutang budi kepadamu."
"Sudah impas,"
Sahut Thio Han Liong sambil tertawa-"Sudah impas?"
Hartawan Lim tercengang-"Apakah yang sudah impas?"
"Tadi aku makan di sini, kemudian aku menolong Kakak Mei suan. Nah, bukankah sudah impas?"
"Han Liong...."
Hartawan Lim menggeleng-geleng-kan kepala.
"oh ya, lebih baik kita mengobrol di ruang tengah-"
Mereka menuju ruang tengah, lalu mulai mengobrol lagi. Nyonya hartawan Lim memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Engkau berasal dari kota mana dan siapa ke dua orangtuamu?"
"Aku berasal dari sebuah pulau di Laut utara, ke dua orangtuaku melarangku menyebut nama mereka,"
Jawab Thio Han Liong.
"Engkau belajar ilmu pengobatan itu dari siapa?"
Tanya nyonya hartawan urn lagi.
"Aku belajar dari ayahku. Sejak kecil aku sudah mulai belajar ilmu pengobatan dan mengenai racun."
"oooh"
Nyonya hartawan Lim manggut-manggut.
"Pantas engkau begitu hebat"
"Adik Han Liong"
Lim Mei Suan menatapnya dengan tersenyum.
"Kalau begitu engkau pasti mengerti ilmu silat, ya, kan?"
Thio Han Liong mengangguk.
"Bolehkah engkau mengajarku ilmu silat?"
Tanya Lim Mei suan mendadak.
"Kakak Mei suan,"
Sahut Thio Han Liong sambil menggelengkan kepala.
"Tidak gampang belajar ilmu silat, lagipula membutuhkan waktu."
"Itu tidak apa-apa. Engkau boleh tinggal di sini,"
Ujar Lim Mei suan sungguh-sungguh.
"Betul,"
Sela hartawan um.
"Han Liong, engkau boleh tinggal di sini mengajar Mei suan ilmu silat."
"Paman, aku masih harus melanjutkan perjalanan."
Thio rtan Liong memberitahukan.
"Tinggal di sini beberapa bulan, tidak akan mengganggu perjalananmu kan?"
Ujar Ltm Mei suan sambil tersenyum.
"Itu...."
Thio Han liong tampak ragu.
"Han Liong, aku tidak punya adik, maka alangkah menggembirakan kalau engkau tinggal di sini beberapa bulan sebagai adikku."
"Kakak Mei Suan-, padahal ibumu masih muda dan bisa punya anak lagi lho. Kenapa ibumu tidak mau punya . anak lagi?"
"Han Liong...."
Wajah nyonya hartawan Lim agak kemerahmerahan.
"usiaku sudah hampir empat puluh tahun lagipula...."
"Kenapa?"
Thio Han Liong heran.
"Aku tidak bisa punya anak lagi. Kata tabib, peranakanku tidak kuat, maka akan menyebabkan keguguran apabila aku hamil lagi."
Nyonya hartawan Lim memberitahukan.
"oh?"
Thio Han Liong menatapnya.
"Bibi, bolehkah aku periksa nadimu? "
"silakan"
Sahut nyonya hartawan Lim. Thio Han Liong segera memeriksa nadi wanita itu Berselang beberapa saat kemudian ia manggut-manggut seraya berkata.
"Kata tabib memang tidak salah, peranakan Bibi tidak kuat, bahkan terganggu pula oleh datangnya haid yang tidak cocok."
"Han Liong,"
Tanya nyonya hartawan Lim penuh harap.
"Apakah aku masih bisa punya anak?"
"Mudah-mudahan"jawab Thio Han Liong.
"Aku akan coba mengobati Bibi-mudah-mudahan Babi bisa punya anak lelaki"
"oh?"
Wajah nyonya hartawan Lim langsung berseri.
Thio Han Liong segera membuka resep obat, lalu diberikan kepada hartawan Lim.
Hartawan Lim langsung menyuruh salah seorang pelayannya untuk pergi membeli obat "Han Liong, kalau isteriku bisa hamil lagi-aku...
aku,.."
Hartawan Lim memandangnya.
"Paman,jangan bilang berhutang budi lagi"
Ujar Thio Han Liong.
"Aku mahir ilmu pengobatan, maka harus kugunakan untuk menolong sesama."
"Han Liong"
Hartawan urn tampak terharu sekali-"Engkau memang anak baik-" -ooo00000ooo-Malam harinya, Thio Han Liong menempati kamar Lim Mei suan.
Pemuda itu tidak tidur, melainkan duduk bersila di tempat tidur.
Ketika mulai larut malam, sayup-sayup didengarnya suara sultng yang bernada aneh, membuat kepalanya terasa pusing sekali, segeralah ia mengerahkan Kiu yang sin Kang dan setelah itu rasa pusing di kepalanya mulai hilang.
Kemudian ia mendengar suara desiran angin, bahkan terdengar pula suara ioiongan anjing, itu membuat sekujur badannya merinding.
Kreeeek Daun jendela di kamar itu terbuka perlahan-lahan., Thio Han Liong cepat-cepat membaringkan dirinya, namun matanya mengarah ke jendela-itu.
setelah daun jendela itu terbuka, tampak dua sosok bayangan berkelebat ke dalam dan langsung menuju tempat tidur.
Di saat itulah secara mendadak Thio Han Liong meioncat bangun.
Ke dua orang itu terkejut.
Mereka mengenakan pakaian serba merah, wajah mereka pun merah menyeramkan.
"siapa kalian?» bentak Thio Han Liong.
"Di mana gadis itu?"
Tanya salah seorang dari mereka.
"Di mana gadis itu?"
Thio Han Liong memperhatikan mereka, la terheran-heran, karena ke dua orang itu tampak tak berperasaan dan tatapan mata mereka kosong seakan terpengaruh semacam ilmu hitam.
"siapa kalian?"
Thio Han Liong mencoba bertanya lagi.
"Di mana gadis itu? Kami harus membawanya pergi Di mana gadis itu?"
Yang satunya mendekati Thio Han Liong.
Thio Han Liong terpaksa mundur selangkah sambil mengerahkan Kiu yang sin Kang.
Di saat bersamaan, terdengar lagi suara suling yang bernada aneh itu.
Begitu suara suling mengalun, mendadak ke dua orang itu berubah beringas dan sekonyong-konyong mereka menyerang Thio Han Liong dengan pukulan yang mematikan.
Thio Han Liong berkelit ke sana ke mari, kemudian balas menyerang dengan Kian Kun Taylo le-Ke dua orang itu bertambah ganas menyerang Thio Han Liong, kelihatannya sama sekali tidak menghiraukan nyawa sendiri.
Berselang beberapa saat kemudian, nada suling itu berubah, ke dua orang itu melesat pergi melalui jendela.
Thio Han Liong pun melesat pergi untuk menyusul mereka, namun begitu sampai di luar, ke dua orang itu telah lenyap ditelan kegelapan malam.
Thio Han Liong berdiri termangu-mang u di situ la tidak habis pikir, siapa ke dua orang itu dan siapa peniup suling, yang suaranya mempengaruhi ke dua orang tersebut.
Cukup lama Thio Han uong berdiri, lalu kembali ke dalam kamar melalui jendela itu Akan tetapi, tiada seorang pun berada di kamar itu Padahal tadi ketika bertarung dengan ke dua orang itu, telah menimbulkan suara hiruk pikuk, tapi kenapa tiada seorang pun yang bangun?
Mendadak Thio Han liong tersentak karena teringat akan satu hal, yakni suara suling itu Mungkin seisi rumah itu telah terpengaruh oleh suara suling itu, sehingga lelap semua dalam tidur.
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala, la duduk dipinggir tempat tidur dan terus berpikir mengenai ke dua orang itu serta suara suling tersebut.
Tak lama kemudian, hari pun mulai terang.
Tok Tok Tok Terdengar suara ketukan pintu.
"siapa?"
Kata Thio Han Liong.
"Aku"
"oh. Kakak Mei suan"
Thio Han Liong segera membuka pintu kamar itu "selamat pagi-Kakak Mei suan"
"Pagi-Adik Han Liong"
Sahut Lim Mei suan sambil tersenyum lembut. Kemudian ia terbelalak karena melihat kamar itu berantakan tidak karuan.
"Ah? Kenapa kamar ini berantakan?"
"semalam aku bertarung dengan dua orang...."
Thio Han Liong memberitahukan tentang kejadian itu "Haah?"
Wajah LimMeisuan berubah pucat "Kalau aku yang berada di dalam kamar ini, tentunya aku sudah diculik"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kakak Mei suan, ke dua orangtuamu sudah bangun?"
Tanyanya.
"sudah"
Gadis itu mengangguk.
"Mereka sedang duduk di ruang tengah. Mari kita ke sana"
"Baik-"
Ujar Thio Han Liong kemudian mengikuti Lim Mei suan ke ruang tersebut.Begitu melihat Thio Han Liong, ke dua orangtua Lim Mei suan langsung tersenyum.
"Han Liong, bagaimana tidurmu semalam? Bisa pulaskah?"
Tanya hartawan Urn.
"Kamar itu berantakan"
Sahut Lim Mei suan memberitahukan.
"Karena semalam Adik Han Liong bertarung dengan dua orang...."
"oh?"
Air muka hartawan Lim berubah-"Ke dua penjahat itu bermaksud menculik Mei suan?"
"Ya-"
Thio Han Liong mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "
Ke dua penjahat itu berpakaian serba merah dan wajah mereka tampak merah sekali, kelihatannya mereka dikendalikan oleh suara suling.
Aku justru tidak habis pikir, siapa ke dua penjahat dan siapa peniup suling itu"
"Heran?"
Gumam hartawan Lim.
"Kenapa kami sama sekali tidak mendengar suara apa pun?"
"Karena terpengaruh oleh suara suling itu, sehingga semuanya menjadi pulas sekali, maka tidak mendengar suara apa pun,"
Ujar Thio Han Liong.
"Han Liong...."
Hartawan Lim menatapnya dengan penuh rasa terima kasih-"Engkau sungguh pintar, menyuruh Mei suan pindah ke kamar lain, engkau yang menempati kamar itu"
"Aku sudah menduga akan hal ini, Paman"
Thio Han Liong tersenyum.
"Maka menyuruh Kakak Mei sudah pindah ke kamar lain."
"Han Liong...."
Hartawan Lim menatapnya dengan penuh harap.
"Engkau tinggal di sini beberapa bulan, sekaligus mengajar Mei suan ilmu silat"
"Itu...."
"Adik Han Liong, engkau jangan menolak"
Ujar Lim Mei suan.
"Kalau engkau menolak, kami sekeluarga pasti kecewa sekali."
"Baiklah-"
Thio Han Liong mengangguk-"Terima kasih. Adik Han Liong,"
Ucap Lim Mei suan sambil tersenyum.
Dua bulan lamanya Thio Han Liong tinggal di rumah hartawan, selama itu, urn Mei suan telah berhasil menguasai ilmu silat yang diajarkan Thio Han Liong.
Ternyata Thio Han Liong mengajarnya Kiu Im Pek Kut jiauw.
Hari itu, usai makan mereka duduk di ruang tengah sambil bercakap-cakap-Tiba-tiba nyonya hartawan Lim berkata dengan suara rendah-"Aku-aku sudah dua bulan tidak datang.
"Tidak datang apa?"
Tanya hartawan Lim heran sambil memandangnya.
"Dasar goblok"
Nyonya hartawan Lim melotot-"Tentunya tidak datang bulan-"
"oh? Apakah»,-"
Wajah hartawan Lim, berseri-"Bibi-biar aku periksa sebentar,"
Ujar Thio Han Liong, lalu memeriksa nyonya hartawan Lim dengan teliti sekali-Kemudian ia manggut-manggut seraya berkata sambil tersenyum.
"Kuucapkan selamat kepada Paman dan Bibi"
"Han Liong"
Tanya hartawan Lim kurang percaya.
"Apakah isteriku telah hamil?"
"Betul."
Thio Han Liong manggut-manggut "Bibi sudah hamil dua bulan. Aku akan membuka resep obat, untuk memperkuat kandungan Bibi."
"Ha ha ha"
Hartawan Lim tertawa gembira.
"Mudah-mudahan anak lelaki Ha ha ha»."
"Adik Han Liong"
Lim Mei suan tertawa.
"Engkau boleh menjadi tabib khusus kandungan lho-"
"Kakak Mei suan...."
Wajah Thio Han Liong agak kemerahmerahan.
"Han Liong, terima kasih,"
Ucap nyonya hartawan urn.
"Kami sangat berterima kasih kepadamu."
"Bibi-..."
Thio Han Liong tersenyum, lalu memandang Lim Mei suan seraya berkata.
"Ilmu silat yang kuajarkan itu sangat lihay dan dahsyatsetiap jurusnya pasti mematikan pihak lawan, oleh karena itu, kalau engkau tidak terpaksa janganlah mengeluarkan ilmu silat itu"
"Ya."
Lim Mei suan mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Kini Bibi sudah hamil, Kakak.Mei Suanpun sudah menguasai ilmu silat yang kuajarkan, maka...."
"Adik Han Liong"
Lim Mei suan menatapnya dalam-dalam.
"Engkau ingin berpamit kan?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Kapan engkau akan melanjutkan perjalananmu?"
"sekarang."
"Apa?"
Lim Mei suan terbelalak-"sekarang? Kenapa begitu cepat? Adik Han Liong, jangan begitu cepat"
"Kakak Mei suan, sudah dua bulan lebih aku tingoal di sini,"
Ujar Thio Han Liong.
"Kini sudah waktunya aku melanjutkan perjalananku, tidak boleh dkunda-tunda lagi."
"Begini,"
Ujar hartawan Lim mengusulkan.
"Lusa saja engkau melanjutkan perjalananmu, ini permintaan kami."
"Baiklah."
Thio Han Liong mengangguk-Dua hari kemudian, Thio Han Liong berpamit Hartawan Lim masih berusaha menahannya.
begitu pula lim Mei suan.
Akan tetapi-Thio Han Liong terus menolak secara halus.
Hartawan Lim memberikannya beberapa ratus taelperaki sedangkan urn Mei suan mengantarnya sampai di luar rumah.
"Adik Han Liong, kapan engkau akan ke mari menengokku lagi?"
Tanya Lim Mei suan dengan mata basah.
"Kakak Mei suan"
Thio Han Liong tersenyum.
"Aku pasti ke mari menengokmu kelak-"
"Jangan bohong ya?"
"Ya"
Thio Han Liong mengangguk-"Kakak Mei suan, sampai jumpa"
"Adik Han Liong, selamat jalan"
Ucap urn Mei suan dengan air mata meleleh deras-"Jangan lupa ke mari lagi menengokku"
"ya-"
Thio Han wong tersenyum, lalu melangkah pergi. setelah Thio Han Liong tidak kelihatan, barulah oadis itu kembali masuk ke rumah-"ibu--"
Lim Mei suan memeluk ibunya sambil menangis-"Dia -dia sudah pergi-entah kapan dia akan ke mari menengokku?" -ooo00000ooo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Bab 16 Tewas Terkena Pukulan Aneh setelah meninggalkan rumah Hakim souw, Tan Giok Cu terus melanjutkan perjalanannya menuju ke gunung Bu Tong dengan menunggang kudanya.
Ketika berada di tempat sepimendadak muncul belasan orang berpakaian serba putih, yang bagian dada terdapat sulaman gambar seekor naga hitam.
Ternyata mereka para anggota He Liong Pang.
Dua orang di antara mereka pernah akan membunuh Hakim souw.
"Tuh"
Salah seorang dari mereka menunjuk Tan Giok Cu.
"Gadis itu mengalahkan kami bertioa-"
"oh?"
Pemimpin mereka terbelalak-"Gadis itu baru berusia belasan, bagaimana mungkin dapat mengalahkan kalian bertiga?"
"Dia lihay sekali,"
Bisik si Hidung Besar itu "Ilmu pedangnya sangat hebat-"
"Ngmm"
Pemimpin itu manggut-manggut lalu berseru.
"Kepung gadis itu"
Para anak buahnya langsung mengepung Tan Giok Cu, dan gadis itu segera meloncat turun dari punggung kudanya-"Hmm"
Dengusnya dingin.
"Mau apa kalian?"
"Ha ha ha"
Pemimpin itu tertawa gelak-"Gadis cantik, aku dengar kepandaianmu lihay sekali Karena itu, aku ingin mencobanya"
"Lebih baik kalian pergi, jangan menggangguku"
UjaHan Giok Cu-"Aku tidak mau melukai kalian"
"Gadis cantik"
Pemimpin itu menatapnya dengan penuh hawa nafsu.
"Dari pada engkau mati di ujung pedangku, bukankah lebih baik engkau bersenang-senang denganku? ya, kan?"
"Diam"
Bentak Tan Giok Cu gusar sambil menghunus pedangnya.
"Kalian sungguh jahat ini aku terpaksa membunuh kalian"
"Ha ha ha"
Pemimpin itu tertawa gelak-"serang dia"
Para anak buahnya langsung menyerang Tan Giok Cu dengan berbagai macam senjata, tapi gadis itu menangkis dengan pedang pusakanya, sehingga terdengarlah suara benturan senjata yang amat nyarlng.
Teang Teang...
setelah itu, terjadilah pertempuran yang amat dahsyat.
Para anggota Hek Liong pang itu berkepandaian cukup tinggi-maka Tan Giok Cu agak kewalahan.
"Ha ha ha"
Pemimpin itu tertawa terbahak-bahak-"Gadis cantik lebih baik engkau menyerah Kalau tidak, tubuhmu yang mulus itu pasti terluka"
"Hmm"
Dengus Tan Giok Cu.
Mulailah ia mengeluarkan ilmu pedang Giok Li Kiam Hoat.
Di saat bersamaan, mendadak berkelebat sosok bayangan ke arena pertempuran itu, yang ternyata seorang pemuda-Tanpa berkata sepatah katapun, ia langsung menyerang para anggota Hek Liong Pang itu dengan sengitnya-"Nona"
Seru pemuda itu-"Jangan khawatir, aku datang membantumu"
"Terima kasih"
Sahut Tan Giok Cu-Pedang di tangan pemuda itu berkelebat ke sana ke mari, kemudian terdengarlah suara jeritan di sana sini pula dan tampak beberapa anggota Hek Liong Pang terkapar bermandi darah.
"Ha a a h -?"
Betapa terkejutnya pemimpin itu Kemudian ia memekik keras sambil menyerang pemuda itu dengan pedangnya-"Bagus"
Pemuda itu tertawa sambil berkelit, kemudian balas menyerang dengan sengit.
Terjadilah pertempuran yang amat seru dan tegang di antara mereka berdua-Berselang beberapa saat, kemudian terdengarlah suara jeritan yang menyayatkan hati-"Aaakhi."
Pemimpin itu menjerit kesakitan, ternyata sebelah lengannya telah kutung dan darah bCQar,v ""[ja pun mengucur deras.
Begitu melihat pemimpinnya terluka, mereka langsung berhenti menyerang Tan Giok Cu, dan berdiri mematung di tempat.
"Cepatlah kalian enyah dari sini"
Bentak pemuda itu "sebutkan namamu, sobat"
Sahut pemimpin itu dengan wajah pucat pias dan meringis-ringis menahan sakit.
"Aku bernama ouw yang Bun."
"Bagus Kelak kita akan berjumpa lagi"
Ujar pemimpin itu, lalu berjalan pergi dengan badan agak sempoyongan dan ditkutipara anak buahnya dari belakang.
"Ha ha ha"
Pemuda itu tertawa gelak lalu memandang Tan Giok Cu seraya bertanya.
"Nona, siapa engkau dan kenapa bertempur dengan para anggota Hek Liong Pang itu?"
"Namaku Tan Giok Cu. Mereka menghadangku di sini, akhirnya terjadi pertarungan."
Tan Giok Cu memberitahukan.
"Belum lama ini ada tiga anggota Hek Liong Pang ingin membunuh Hakim souw, tapi aku berhasil menyelamatkannya...."
"oooh"
Pemuda itu manggut-manggut. Ternyata begitu, secara tidak langsung kini pihak Hek Liong Pang telah memusuhimu. Nona, engkau harus berhati-hati"
"ya"
Tan Giok Cu mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Eh?"
Pemuda itu terbelalak.
"Aku telah menolongmu, kenapa engkau tidak menanyakan namaku?"
"Kenapa aku harus menanyakan namamu?"
Tan Giok Cu balik bertanya dengan nada heran.
"Lho?"
Pemuda itu tertegun.
"Aku telah menolongmu, jadi kita pun sudah menjadi teman. Maka seharusnya engkau menanyakan namaku."
"Kalau begitu, siapa namamu?"
"Kenapa seperti dipaksa sih?"
Pemuda itu menggaruk-garuk kepala, kemudian memberitahukan.
"Namaku ouw yang Bun, guruku adalah Tong Koay-Oey su Bin. usiaku delapan belas tahun, sudah yatim piatu."
"oooh"
Tan Giok Cu manggut-manggut.
"Nona Giok Cu"
Ouw yang Bun menatapnya sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar di bawah pohon?"
"Baiklah-"
Tan Giok Cu mengangguk. la merasa tidak enak kalau menolaki karena pemuda itu telah membantunya-Mereka berdua duduk di bawah pohon, ouw yang Bun memandangnya seraya bertanya.
"Nona Giok Cu, siapa gurumu?"
"Guruku Bibi sian sian."
"Engkau fAariyicrp,\Ar\A.a.\fl"
Mana?"
"Wauruav^ Kuburan Tua."
"Hah?"
Ouw yang Bun terbelalak.
"Aku tidak pernah mendengar tentang perguruan itu Kuburan Tua... janganjangan auruvAU mayat hidup?"
"Betul. Guruku memang mayat hidup,"
Sahut Tan Cu dan menambahkan.
"sebab guruku tinggal di dalam kuburan tua."
"Iiiih"
Ouw yang Bun tampak merinding.
"Engkau juga pernah tinggal di dalam kuburan tua?"
"Ya."
Tan Giok Cu mengangguk,-"Hah?"
Ouw yang Bun tersentak-"jangan-jangan engkau juga mayat hidup?"
"Hi hi hi"
Tan Giok Cu tertawa cekikikan saking geli-"Aku memang mayat hidup. Engkau takut?"
"Mayat hidup yang cantik jelita, tentunya aku tidak takut-"
Ouw yang Bun tertawa.
"Ha ha ha -"
"Ha ha ha Hu hu hu Htk hik hik"
Terdengar suara tawa yang aneh
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "He he he -"
"siapa?"
Bentak Tan Giok Cu sambil bangkit dari tempat duduknya lalu menengok ke sana ke mari sekaligus meraba gagang pedang pusakanya.
"Jangan takut. Nona Dia adalah guruku yang suka menakuti anak kecil-Itu memang kebiasaan buruk guruku."
"siauw Koay (siluman Kecil), engkau berani mencela gurumu?"
Mendadak muncul seorang tua, yang tidak lain adalah TOng Koay-Oey su Bin.
"Guru"
Panggil ouw yang Bun sambil tertawa.
"Aku siluman Kecil, Guru adalah siluman besar-sedangkan nona ini adalah mayat hidup-Ternyata kita satu keluarga Ha ha ha..."
"Hei Murid kurang ajar"
Bentak TOng Koay.
"setengah mati aku mencarimu, engkau malah berduaan dengan gadis itu di sini"
"Guru...."
Ouw yang Bun mcnyengir.
"Cengar-cengir"
TOng Koaw melotot.
"Engkau pemuda bloon. Mana ada oadis uang akan jatuh cinta kepadamu? Gadis itu begitu cantik dan lemah gemulai, engkau malah bilang dia adalah mayat hidup Dasar-.."
"Dia mengaku sendiri, katanya gurunya adalah Bibi Sian Sian yang tinggal di dalam kuburan tua."
"Apa?"
Tong Koay terbelalak.
"Kuburan tua?"
"Ya."
Ouw Yang Bun mengangguk-"Gadis cantik"
Tong Koay menatapnya dengan penuh perhatian.
"Gurumu berbaju kuning dan selalu didampingi para pengiringnya?"
"ya, Cianpwee-"
Tan Giok Cu mengangguk.
"ya ampun"
Tong Koay menepuk keningnya sendiri "Aku tidak takut menghadapi siapa pun, namun justru paling takut menghadapi gurumu, oh ya, gurumu berada di sekitar sini?"
"Guruku tidak meninggalkan kuburan tua,"
Sahut Tan Giok Cu-"ooooh"
Tong Koay menarik nafas lega-"Terus terang, kalau aku melihat gurumu, kepalaku langsung pusing tujuh keliling-"
"Memangnya kenapa?"
Tanya Tan Giok Cu heran.
"Entahlah-"
Tong Koay menggelengkan kepala, dan itu membuat Tan Giok Cu tertawa geli-"Guru"
Ouw Yang Bu memberitahukan.
"Tadi aku bertarung dengan para anggota Hek Liong Pang."
"oh?"
Tong Koay mengerutkan kening.
"Kenapa engkau bertarung dengan mereka?"
"sebab mereka mengeroyok nona ini, maka aku turun tangan menoiongnya"
Sahut ouw Yang Bu sambil tertawa.
"Kalau para anggota Hek Liong Pang itu mengeroyok seorang neneki tentunya engkau akan berpeluk tangan. Ya, kan?"
"Aku pasti berpeluk tangan, sebab guru pasti turun tangan menolong nenek itu,"
Jawab ouw yang Bu, lalu berlari ke belakang Tan Giok Cu.
"Engkau...."
TOng Koay melotot.
"Hm Cuma berani bersembunyi di belakang kaum wanita, dasar tidak jantan"
"Guru,"
Tanya ouw yang Bu-"Ada urusan apa sehingga membuat guru rhati-matian mencariku?"
"Mau mengajakmu pergi makan enak"
Sahut TOng Koay-"Ke dapur istana menyantap hidangan-hidangan kaisar?"
Tanya ouw yang Bun.
"Betul,"
Sahut TOng Koay sambil tertawa gelak-"Ha ha ha hidangan di sana lezat-lezat. Ayoh kita ke Kotaraja"
"Tidak mau ah"
Ouw yang Bun menggelengkan kepala.
"Apa?"
TOng Koay melotot.
"Engkau berani tidak menuruti perkataanku? ingat, aku adalah gurumu"
"Aku ingat. Guru, tapi...."
Ouw yang Bun melirik Tan Giok Cu.
"Aku... aku merasa berat berpisah dengan dia."
"Yah, ampun Baru berkenalan sudah begitu macam, apalagi sudah lama"
TOng Koay menggeleng-telengkan kepala.
"saudara ouw yang,"
Ujar Tak Giok Cu sungguh-sungguh-"Engkau harus menuruti perkataan gurumu, jadi murid tidak boleh melawan guru-Itu tidak baik-"
"Betul.. betul-"
Ouw yang Bun manggut-manggut "Kalau begitu, aku harus ikut guruku ke Kota raja?"
"ya."
"Tapi kita akan berpisah kan?"
"Kelak kita akan berjumpa lagi-"
"Baiklah-"
Ouw Yang Bun mengangguk-"Nona Giok Cu, kita akan berjumpa kembali kelak. Jangan melupakan aku lho"
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa terbahak-bahak-"Itu pesan yang amat menyentuh hati Ha ha ha-"
Tong Koay melesat pergi-dan ouw YRng Bun langsung mengikutinya-Tan Giok Cu berdiri termangu-ma-ngu di tempat-Mendadak ia tersentak lalu bergumam-"Sebetulnya aku tidak boleh berjanji kepadanya berjumpa kembali kelak, sebab dalam hatiku hanya terdapat Thio Han Liong seorang.
Tidak apa-apa, akan kujelaskan kepada ouw Yang Bun kelaki bahwa aku sudah punya kekasih-"
Usai bergumam begitu, barulah Tan Giok Cu meninggalkan tempat itu sambil tersenyum-senyum.
Ternyata ia teringat akan tingkah laku guru dan murid itu.
Tan Giok Cu melanjutkan perjalanannya menuju gunung Bu Tong.
Kini ia sudah memasuki sebuah lembah-Kudanya tidak berani berlari kencang, karena banyak batu curam di lembah itu.
Mendadak kening gadis itu berkerut, lalu menoleh ke kiri sambil pasang kuping-Ternyata barusan ia mendengar suara rintihan di balik sebuah batu-setelah pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian, ia mendengar lagi suara rintihan itu-Segeralah ia meloncat turun dari punggung kudanya dan cepat-cepat melesat ke tempat itu.
Dilihatnya lelaki tua terkapar di situ sedang merintih-rintih.
"Paman kenapa?"
Tanya Tan Giok Cu.
"Nona kecil,"
Sahut lelaki tua itu "Tolong--tolong antar aku"
"Paman mau ke mana?"
Tan Giok Cu menatapnya.
"Namaku In... In Lie Heng. Dadaku... dadaku terpukul."
Ternyata lelaki tua itu In Lie Heng, salah seorang murid guru besar Thio sam Hong.
"Nona kecil, tolong... toiong antar aku ke gunung...."
"Ke gunung apa?"
"Ke gunung Bu TOng. Aku... aku adalah murid Thio sam Hong."
"Apa?"
Tan Giok Cu terbelalak.
"Paman adalah murid Guru Besar Thio sam Hong?"
"Ya."
In Lie Heng mengangguk.
"sungguh kebetulan sekali"
UjaHan Giok Cu memberitahukan.
"Aku memang ingin kegunung Bu TOng."
"oooh"
In Lie Heng manggut-manggut.
la tidak banyak bertanya karena kondisi badannya lemah sekali.
Tan Giok Cu segera memapahnya ke tempat kudanya, lalu mengangkatnya ke punggung kuda itu setelah itu, barulah ia meloncat ke atas dan kuda itu pun berjalan perlahan meninggalkan tempat tersebut.
Dua hari kemudian, sampailah mereka di kaki gunung Bu TOng.
Mendadak muncul belasan orang, yang begitu melihat In Lie Heng, langsung terbelalak.
"Guru Guru..."
"Paman guru Paman guru-.."
Ternyata mereka para murid In Lie Heng dan murid saudara seperguruannya-Keadaan In Lie Heng membuat mereka cemas sekali-"Nona, biar kami yang membopong guru ke atas,"
Ujar beberapa orang itu.
"Iya"
Tan Giok Cu mengangguksalah seorang yang bertubuh kekar langsung membopong In Lie Heng-Kuda itu pun mengikuti mereka dari belakang.
Para murid Bu Tong sama sekali tidak bertanya apa pun kepada Tan Giok Cu, sebab mereka sangat mencemaskan In Lie Heng.
Beberapa murid Bu Tong itu langsung mengerahkan ginkang melesat ke atas, begitu pula Tan Giok Cu dan lainnya, sampai di depan siang Cing Koan (Kuil Bu Tong Pay), tampak beberapa orang tua berdiri di sana.
"sutee"
Panggil mereka serentak-"Kenapa engkau?"
"suheng, aku--"
In Lie Heng menyahut "Cepat bopong dia ke dalam"
Seru Jie Lian Ciu. In Lie Heng langsung dibopong ke sebuah kamar, diikuti song wan Kiauw dan lainnya, sedangkan Tan Giok Cu tidak ikut mereka masuk-la berjalan mondar-mandir di depan kuil.
"Nona, masuk saja ke dalam"
Ujar seorang murid Bu Tong.
"Terima kasih,"
Ucap Tan Giok Cu, lalu melangkah ke dalam dan langsung duduk di ruang depan.
Berselang beberapa saat, muncullah song Wan KiauwJie Lian ciu danjie Thay Giam.
sedangkan Thio song Kee masih berada di dalam kamar itu "Nona, bagaimana sutee kami terluka?
Di mana Nona bertemu dia dan siapa yang melukainya?"
Tanya song Wan Kiauw-"Ketika aku melewati sebuah lembah, aku mendengar suara rintihan, maka aku mendekati suara rintihan itu -"
Jawab Tan Giok Cu memberitahukan dan menambahkan "siapa yang melukainya, aku sama sekati tidak tahu."
"oooh"
Song Wan Kiauw manggut-manggut-"Terima kasih atas kebaikan Nona mengantarnya pulang-"
"Tidak usah berterima kasih, sebab kebetulan aku memang ingin ke mari,"
Ujar aadis itu.
"oh?"
Song Wan Kiauw menatapnya dalam-dalam.
"Nona ke mari ada urusan penting?"
Tanyanya.
"Aku ke mari ingin mencari Thio Han Liong. Bu-kankah dia berada di sini?"
Sahut Tan Giok Cu sambil menengok ke sana ke mari.
"Apakah engkau temannya?"
Tanya Jie Lian ciu.
"Ya."
Tan Giok Cu mengangguk.
"Kami adalah kawan baik"
"Nona"
Jie Thay Giam menatapnya tajam.
"engkau kau murid siapa, bolehkah memberitahukan kepada kami?"
"Guruku adalah Bibi sian sian."
"siapa Bibi sian sian itu?"
Tanya Jie Thay Giam.
"Paman Bu Ki kenal guruku,"
Jawab Tan Giok Cu.
"Guruku yang memberitahukan kepadaku."
"Gurumu berasal dari perguruan mana?"
Tanya Jie Lian ciu.
"Perguruan Kuburan Tua,"
Jawab Tan Giok Cu jujur-"Perguruan Kuburan Tua?"
Jie Lian ciu mengerutkan kening.
"Nona, engkau jangan mempermainkan kami Dalam rimba persilatan tiada perguruan tersebut-"
"Di belakang Ciong Lam san, terdapat Kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali dan Pasangan Pendekar, tidak muncul lagi di dunia Kang-ouw-"
Tan Giok Cu membaca syair tersebut.
"Apa?"
Song Wan Kiauw tampak terkejut-"Kuburan Mayat Hidup, Burung Kajawali dan Pasangan Pendekar -"
"Ya-"
Tan Giok Cu mengangguk-"
Mereka adalah kakek dan nenek moyang guruku-"
"ooooh"
Song Wan Kiauw manggut-manggut-"Aku sudah tahu-"
"Nona,"
Sela jie Lian ciu.
"Harap engkau tunggu sebentar, sebab kami harus berusaha menoiong In lie Heng"
"Ya"
Tan Giok Cu mengangguk-"oh ya, di mana Han Liong? Aku ingin menemuinya-"
"Akan kami memberitahukan nanti-"
Sahut Jie Lian ciu-"SdR.fiyfi.V"
Oj kami harus ke dalam lagi-engkau tunggu saja di sini"
"Ya"
Tan Giok Cu mengangguk lagi. Jie Lian ciu dan lainnya segera masuk ke dalam-Thio song Kee masih duduk di pinggir tempat tidur menjaga In Lie Heng-"Bagaimana?"
Tanya Jie Lian ciu-"In Lie Heng sudah siuman?"
"Belum."
Thio Song Kee menggelengkan kepala-"Lebih baik kita beritahukan kepada guru."
Biar aku yang beritahukan kepada guru,"
Sahut song wan Kiauw dan segera berjalan ke ruang meditasi-Berselang beberapa saat kemudian, song Wan Kiauw sudah kembali ke kamar itu bersama Thio sam Hong-"Guru"
Jie Lian Ciu dan lainnya langsung memberi hormat.
"Dari tadi ini Lie Heng belum sadar?"
Tanya Thio sam Hong sambil menatap In Lie Heng yang terbaring di tempat tidur dalam keadaan pingsan dan wajahnya tampak merah sekali-Thio sam Hong mendekatinya, lalu membuka bajunyaseketika juga mereka terbelalak,karena melihat ada tanda merah di dada In Lie Heng, kelihatannya seperti bekas terpukul-"Aaah -"
Thio sam Hong menghela nafas panjang.
"Pukulan apa yang mengenai dada In Lie Heng?"
"Bekas itu merah bagaikan darah,"
Ujar song wan Kiauw.
"Apakah Guru pernah mendengar tentang ilmu pukulan itu?"
Thio sam Hong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mulai memeriksa In Lie Heng dengan cermat sekali, setelah itu, Thio sam Hong menghela nafas panjang lagi.
"Guru, bagaimana keadaan Sutee?"
Tanya song Wan Kiauw cemas.
"sulit ditolong. Guru cuma mampu menyadarkannya dengan Iweekang, sama sekali tidak mampu mengobatinya,"
Sahut Thio sam Hong dengan wajah murung, lalu sepasang telapak tangannya ditempelkan di dada In Lie Heng.
Lama sekali Thio Sam Hong menyalurkan Iweekangnya ke dalam tubuh In Lie Heng.
Ketika In Lie Heng mulai membuka matanya, Thio sam Hong berhenti menyalur Iweekangnya lagi "In Lie Heng,"
Tanya Thio sam Hong lembut.
"siapa yang melukaimu?"
"Guru.... Guru..."
Sahut In Lie Heng terputus-putus dan suaranya pun lemah sekali.
"Htat... Htat..."
"Htat (Darah) apa?"
Tanya Thio sam Hong cepat.
"Htat.... Htat...."
Mendadak kepala In Lie Heng terkulai dan nafasnya pun putus seketika.
"sutee sutee"
Teriak song Wan Kiauw dengan air mata bercucuran.
"satee -"
"Aaaah -"
Thio sam Hong menghela nafas panjang.
"Bu Tong Cit Hiap kini cuma tertinggal empat orang. Thio Cut san mati bunuh diri, Goh seng Kok mati di tangan song Ceng su, dan kini In Lie Heng mati terkena pukulan aneh-oh ya, siapa yang mengantarkan Lie Heng pulang?"
"seorang gadis remaja bernama Tan Giok Cu"
Sahut Jie Lian ciu memberitahukan.
"Dia masih berada di ruang depan. Guru mau menemuinya?"
"Ng"
Thio sam Hong mengangguk, lalu berjalan ke luar menuju ruang depan. Walau Tan Giok Cu tidak kenal Thio sam Hong, namun begitu melihat guru besar itu, ia langsung bersujud di hadapannya.
"Thay suhu, terimalah hormatku"
Ucapnya.
"Gadis kecil, bangunlah"
Ujar Thio sam Hong sambil duduk-Tan Giok Cu segera bangkit berdiri-Thio Sam Hong menatapnya tajam, kemudian mempersilakan nya duduk-"Terima kasih,"
Ucap Tan Giok Cu lalu duduk-"Gadis kecil, engkau yang membawa In Lie Heng pulang?"
Tanya Thio sam Hong lembut-"Ya-"
Tan Giok Cu mengangguk-"Di mana engkau melihat In Lie Heng?"
Tanya Thio sam Hong lagi "Di sebuah lembah -"
Jawab Tan Giok Cu dan menutur tentang itu "Kebetulan aku memang ingin ke mari-"
"oh? Apa ada sesuatu penting engkau ke mari?"
"Aku ke mari ingin menemui Han Liong."
"Hmmm"
Thio sam Hong manggut-manggut.
"Tapi -dia sudah berangkat ke kuil siauw Lim sie-"
Tan Giok Cu tampak kecewa sekali-"Aku terlambat ke mari Kalau tidak, aku pasti bertemu dia."
"Gadis kecil"
Thio sam Hong menatapnya seraya bertanya.
"Engkau punya hubungan apa dengan Han Liong?"
"Kami adalah kawan baik. Ketika masih kecil, dia pernah tinggal di rumahku. Dia baik sekali kepadaku dan aku pun baik kepadanya,"
Sahut Tan Giok Cu dengan jujur dan menambahkan.
"Tapi sudah lama kami tidak bertemu. Belum lama ini dia ke rumahku, namun aku belum pulang. Ketika aku pulang, dia justru sudah berangkat ke mari, maka aku menyusulnya ke mari."
"oooh"
Thio sam Hong manggut-manggut.
"Gadis kecil, engkau murid siapa?"
"Bibi sian sian adalah guruku,"
Jawab Tan Giok Cu, kemudian membaca syair.
"Di belakang Ciong Lam san, terdapat Kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali dan pasangan Pendekar, tidak muncul lagi di dunia Kang-ouw."
Ternyata gurumu keturunan sin Tiauw Tayhiap dan siauw Liong Li. Ini sungguh di luar dugaan"
Ujar Thio sam Hong dan menambahkan.
"sin Tiauw Tayhiap Yo Ko pernah mengajarku beberapa jurus ilmu pukulan, itu... itu sudah seratus tahun lebih. Aku masih hidup, namun tiga muridku telah meninggal duluan." (bersambung keBagian 09)
Jilid 9
"Thay Suhu,"
Tanya Tan Giok Cu.
"Bagaimana keadaan Paman tua itu?"
"Dia sudah meninggal,"
Sahut Thio Sam Hong singkat.
"Haaah?"
Tan Giok Cu terbelalak.
"Paman tua itu sudah meninggal?"
"ya."
Thio Sam Hong mengangguk dengan wajah murung.
"Dadanya terpukul oleh semacam ilmu pukulan anehi entah ilmu pukulan apa itu?"
Thay Suhu, aku terlambat membawa Paman tua itu ke mari, sehingga...."
Tan Giok Cu menundukkan kepala.
"Gadis kecil"
Thio Sam Hong menghela nafas.
"Engkau tidak terlambat membawanya pulang, sebab muridku itu masih sempat mengucapkan beberapa patah kata."
"Paman tua itu mengucapkan apa?"
Tanya Tan Giok Cu.
"Dia mau memberitahukan tentang orang yang melukainya, namun sudah tidak keburu, hanya mengucapkan Hiat saja,"
Jawab Thio Sam Hong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hiat?"
Tan Giok Cu bingung.
"Thay Suhu tahu apa artinya?"
Thio Sam Hong tersenyum getir.
"Aku sama sekali tidak tahu apa artinya. Aaahhhh..."
Thio Sam Hong menghela nafas panjang.
"Itu merupakan suatu teka-teki. Aku justru tidak habis pikir, bagaimana In Lie Heng bisa bentrok dengan orang itu. Mungkinkah In Lie Heng mengetahui rahasia orang itu, maka In Lie Heng dibunuh untuk menutup mulutnya?"
"Itu memang mungkin,"
Sahut Jie Lian ciu.
"guru, perlukah kami pergi menyelidikinya?"
"Akan dirundingkan nanti,"
Ujar Thio sam Hong, kemudian memandang Tan Giok Cu seraya bertanya.
"gadis kecil, apa rencanamu sekarang?"
"Thay suhu, aku mau berangkat ke kuil siauw Lim sie menyusul Kakak Han Liong,"
Jawab Tan Giok Cu sambil menundukkan kepala.
"Aku..-aku rindu sekali kepadanya."
"Ngmmm"
Thio sam Hong manggut-manggut.
"Baik-lah-Apabila engkau berjumpa Han Liong, beritahukan kepadanya bahwa kami di sini sangat rindu kepadanya."
"Ya."
Tan Giok Cu mengangguk sekaligus berpamit.
Bab 17 Berjumpa Dan Mencurahkan isi Hati Dijalanan gunung siauw sit san, tampak seekor kuda berjalan santai-seorang gadis remaja duduk di punggungnya sambil menengok ke sana ke mari menikmati keindahan alam di gunung itu.
Bukan main cantiknya gadis remaja itu siapa dia?
Tidak lain adalah Tan Giok Cu.
Berselang beberapa saat, terdengarlah suara gemuruh air terjun.
Tampak beberapa buah air terjun di gunung seberang, sedangkan kuda itu terus mendaki-setelah melewati beberapa tikungan, tampak sebuah kuil yang amat megahi itulah kuil siauw Lim sie.
"Mudah-mudahan Kakak Han Liong masih berada di dalam kuil itu"
Ucap Tan Giok Cu dalam hati, lalu ia meloncat turun dari punggung kudanya.Ia menambatkan kudanya di sebuah pohon, setelah itu barulah mendekati pintu kuil itu.
"omitohud"
Ucap salah seorang Hweeshio yang sedang menyapu di situ.
"Nona...."
"Taysu"
Tan Giok Cu tersenyum.
"Aku ingin bertanya, apakah Thio Han Liong berada di dalam kuil?"
"Maaf, aku tidak tahu,"
Jawab Hweeshio itu.
"Kalau begitu -."
Tan Giok Cu melangkah ke arah pintu kuil itu.
"Aku akan ke dalam untuk menemui Hong Tio (Ketua)."
"Nona"
Hweeshio itu segera menghadangnya.
"omitohud Kaum wanita dilarang masuk di kuil kami."
"Apa?"
Tan Giok Cu tertegun.
"Kenapa kaum wanita dilarang masuk?"
"Ini adalah peraturan kuil siauw Lim sie, turun-temurun sudah hampir seribu tahun."
Hweeshio itu memberitahukan.
"Aku tidak perduli peraturan itu,"
Ujar Tan Giok Cu.
"Pokoknya aku harus masuk-"
"Nona-..."
"Engkau berani menghadangku?"
Tan Giok Cu melotot.
"omitohud Aku... aku...."
Hweeshio itu berdiri mematung di tempat
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Tan Giok Cu melangkah ke dalam pintu itu-sayup,sayup didengarnya suara Liam Keng (Membaca doa) dan disaat itu pula muncul beberapa Hweeshio tingkatan Goan, yang semuanya menatapnya dengan tajam.
"omitohud"
Ucap salah seorang Hweeshio yang bergelar Goan Liang.
"Kenapa Nona begitu lancang memasuki kuil kami? Ayoh cepat keluar"
"Aku ingin menemui Hong Tio,"
Sahut Tan Giok Cu.
"Kalau begitu, silakan Nona menunggu di luar saja"
Ujar Goan Liang Hweeshio menegaskan.
"Jika Nona tidak mau keluar, kami terpaksa.."
"Kuil siauw Lim sie sangat terkenal di kolong langit, tapi para Hweeshionya justru tidak tahu aturan. Kalau kalian berani mengusirku, aku pun terpaksa melawan."
"omitohud"
Ucap Goan Liang Hweeshio-"
Harap Nona mentaati peraturan kuil kami"
"Aku ingin bertanya, kenapa kaum wanita dilarang masuk di kuil siauw Lim sie?"
Tanya Tan Giok Cu mendadak-"sebab kuil siauw Lim sie adalah tempat tinggal para Hweeshio,"
Jawab Goan Liang Hweeshio-"Kalau ada kaum wanita memasuki kuil siauw Lim sie, berarti godaan bagi kami-"
"Hi hi hi"
Tan Giok Cu tertawa geli-"Lucu sekali, sebetulnya godaan tersebut timbul dari dalam hati kalian.
seandainya tiada kaum wanita ke mari, namun kalian membayangkan kaum wanita, itu pun sudah merupakan suatu godaan, bahkan juga merupakan dosa bagi kalian."
"omitohud -""
Goan Liang Hweeshio menundukkan kepala. Di saat bersamaan, muncullah Kong Ti Seng Ceng. Begitu melihat Tan Giok Cu, padri tua itu terbelalak-"
Omitohud"
Ucapnya sambil mengerutkan kening.
"Nona kecil, kenapa engkau memasuki kuil kami?"
"Tidak boleh ya?"
Sahut Tan Giok Cu.
"Memang tidak boleh-"
Kong Ti Seng Ceng tersenyum-"Peraturan di sini, kaum wanita dilarang masuk"
"Kalau begitu, peraturan itu harus dihapus,"
Ujar Tan Giok Cu.
"Lho?"
Kong Ti Seng Ceng menatapnya.
"Kenapa peraturan itu harus dihapus?"
"Peraturan yang tak masuk akal, maka harus dihapus,"
Sahut Tan Giok Cu dan bertanya.
"Paderi tua, aku ingin bertanya. Para Hweeshio menyembahyangi apa di dalam kuil ini?"
"Sang Buddha."
"Apakah kaum wanita tidak boleh menyembahyangi sang Buddha?"
"Tentu boleh-"
"Kalau begitu -"
Tan Giok Cu tertawa kecil.
"Kenapa kaum wanita dilarang memasuki kuil ini?"
"Itu -."
Kong Ti Seng Ceng terbungkam.
"Tadi Hweeshio itu bilang -."
Tan Giok Cu menunjuk Goan Liang.
"Kaum wanita memasuki kuil ini merupakan godaan bagi mereka, maka kaum wanita dilarang masuk-"
"Betul, betul-"
Kong Ti Seng ceng mengangguk "Padri tua, apakah para Hweeshio siauw Lim Sie tidak pernah membayangkan kaum wanita?
Kalau pernah, itu merupakan suatu dosa lho Maka percuma melarang kaum wanita memasuki kuil ini."
"omitohud"
Ucap Kong Ti Seng Ceng sambil menatapnya-"gadis kecil, siapa engkau dan mau apa engkau ke mari?"
"Namaku Tan Giok Cu-Aku ke mari ingin menemui Kakak Han Liong-"
Gadis itu memberitahukan.
"Aku sudah ke gunung Bu Tong, namun Thay suhu bilang Kakak Han Liong pergi kemari."
"omitohud"
Kong Ti Seng Ceng tersenyum.
"Ternyata engkau ingin menemui Han Liong. Namun sayang sekali, dia sudah pergi bersama Seng Hwi."
"Seng Hwi? siapa dia?"
"Dia adalah--"
Ketika Kong Ti Seng Ceng mau menjelaskan, mendadak terdengar suara seruan.
"Kong Ti Seng Ceng Seng Hwi datang menghadap"
Air muka Kong Ti Seng Ceng langsung berubah-Di saat bersamaan berkelebat sosok bayangan ke hadapan Kong Ti Seng Ceng, kemudian berlutut di situ.
"omitohud --"
Kong Ti Seng Ceng tercengang.
"Seng Hwi --"
"Kong Ti Seng Ceng, aku ke mari mohon pengampunan,"
Ujar Seng Hwi sambil menangis terisak-isak-"Aku telah salah membunuh para Hweeshio siauw Lim sie, aku minta dihukum-"
"omitohud"
Ucap Kong Ti Seng Ceng.
"Kini engkau telah sadar akan kesalahanmu, maka aku harus mengampunimu, omitohud Seng Hwi, bangunlah"
Terima kasih. Seng Ceng."
Seng Hwi bangkit berdiri.
"Paman"
Panggil Tan Giok Cu mendadak-"Di mana Kakak Han Liong? Padri tua itu bilang Kakak Han Liong pergi bersamamu. Dia berada di mana sekarang?"
"Nona kecil -."
Seng Hwi terbelalak.
"siapa engkau?"
"Namaku Tan Giok Cu."
Gadis itu memberitahukan.
"Kakak Han Liong adalah kawan baikku."
"oooh"
Seng Hwi manggut-manggut "Dia lelah meninggalkan tempat tinggalku, katanya mau ke desa -."
"Ke desa mana?"
"Kedesa Hok An."
"oh"
Wajah Tan Giok Cu langsung berseri.
"Dia menuju ke rumahku, aku harus segera pulang."
Tan Giok Cu membalikkan badannya, lalu melangkah pergi.
"Nona kecil, siapa gurumu?"
Tanyanya.
"Di balik Ciong Lam san, terdapat Kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali dan Pasangan Pendekar, tidak muncul lagi di dunia Kang-ouw"
Sahut Tan Giok Cu membaca syair tersebut.
"omitohud"
Ucap Kong Ti Seng Ceng sambil manggutmanggut-Itu sungguh di luar dugaan omitohud " -ooo00000ooo-Tan Giok Cu memacu kudanya sekencang-kencang-nya.
gadis itu tidak membuang waktu, karena ingin cepat-cepat sampai di rumah-Begitu terbayang Thio Han Liong, gadis itu tersenyum-senyum sendiri "Kakak tampan, kita akan bertemu Kita akan bertemu"
Berselang beberapa saat kemudian, kuda itu mulai memasuki sebuah rimba, sudah barang tentu larinya agak perlahan.
Tiba-tiba berkelebat belasan bayangan ke arah Tan Giok Cu, kemudian melayang turun di hadapan kudanya.
Tan Giok Cu terkejut dan cepat-cepat ia menghentikan kudanya.
Tampak belasan orang berpakaian serba putih, dibagian dada terdapat sulaman gambar seekor naga hitam.
"Hek Liong Pang lagi Hek Liong Pang lagi"
Tan Giok Cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Nona"
Salah seorang berusia empat puluhan memberi hormat.
"Namaku Lie Bun yauw, pemimpin regu Angin dari perkumpulan Hek Liong pang"
"Jadi kenapa?"
Tanya Tan Giok Cu dingin.
"Ketua kami mengutus kami mengundang Nona ke markas,"
Sahut Lie Bun yauw-"Harap Nona sudi ikut kami"
"Kalau aku tidak mau ikut?""
"Nona"
Lie Bun yauw menatapnya
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "
Kami terpaksa akan menggunakan kekerasan terhadap Nona"
"oh?"
Tan Giok Cu segera meloncat turun dari punggung kudanya kemudian menatap Lie Bun yauw seraya berkata.
"Aku tidak pernah bermusuhan dengan pihak Hek Liong Pang, tapi kenapa kalian selalu mencari gara-gara denganku?"
"Bukankah Nona telah melukai beberapa anggota Hek Liong pang?"
Sahut Lie Bun yauw-"Itu dikarenakan mereka ingin membunuh Hakim souw,"
Ujar Tan Giok Cu dan menambahkan.
"Engkau adalah pemimpin regu Angin, seharusnya engkau menghukum anggota yang bertindak sewenang-wenang."
"Justru itu, ketua ingin bertemu dengan nona"
"Maaf,"
Ucap Tan Giok Cu.
"Aku tidak punya waktu karena aku harus segera pulang-Tidak bisa ikut kalian ke markas"
"Kalau begitu--"
Kening Lie Bun yauw berkerut-"
Kami terpaksa menggunakan kekerasan untuk menangkapmu"
"Apa boleh buat"
Sahut Tan Giok Cu sambil menghunus pedang pusakanya-"Aku terpaksa melawan"
"Baik"
Lie Bun yauw manggut-manggut, lalu berseru kepada para anak buahnya.
"Tangkap dia"
Para anak buah Lie Bun yauw langsung menyerang Tan Giok Cu dengan berbagai macam senjata-gadis itu bersiul panjang sekaligus berkelit dan menangkis, sehingga terjadilah pertarungan yang amat seru dan tegang.
Lie Bun yauw menyaksikan pertarungan itu dengan mata tak berkedip-Perlu diketahui, para anak buahnya rata-rata berkepandaian tinggi, sebab mereka adalah regu Angin.
Akan tetapi, Tan Giok Cu adalah murid kesayangan yo sian sian, yang berkepandaian amat tinggi.
Maka walau dikeroyok belasan orang, ia masih dapat bergerak gesit dan balas menyerang.
Namun puluhan jurus kemudian, Tan Giok Cu tampak mulai kewalahan, Itu dikarenakan ia kurang berpengalaman, lagipula mulai lelah.
"Ha ha ha"
Lie Bun yauw tertawa gelak-"Nona, lebih baik engkau menyerah"
"Omong kosong"
Sahut Tan Giok Cu dan terus mengadakan perlawanan. Mendadak terdengar suara bentakan keras yang memekakkan telinga, sehingga mengejutkan semua orang yang ada d i situ.
"Berhenti"
Tampak sosok bayangan melayang turun di hadapan Tan Giok Cu. Ternyata seorang pemuda berwajah sangat tampan, berusia tujuh belasan tahun.
"Kenapa kalian mengeroyok seorang gadis?"
Tanya pemuda itu sambil menuding para anggota Hek Liong pang.
"Anak muda"
Bentak Lie Bun yauw-"siapa engkau? Kenapa engkau mencampuri urusan kami?"
"Kalian mengeroyok seorang anak gadis, maka aku harus turut campur"
Sahut pemuda itu.
la berdiri membelakangi Tan Giok Cu, jadi tidak begitu memperhatikan gadis itu.
Akan tetapi, ketika mendengar suara bentakan itu, hati Tan Giok Cu tersentaki karena merasa kenal akan suara itu.
otomatis ia terus memperhatikan pemuda tersebut.
"HiA"
Dengus Lie Bun yauw-"Anak muda Mungkin engkau belum tahu siapa kami, maka engkau berani bertingkah di hadapan kami"
"Tentunya kalian dari perkumpulan golongan hitam Kalau tidaki bagaimana mungkin mengeroyok seorang gadis?"
Sahut Thio Han Liong dingin.
"Anak muda siapa namamu?"
Lie Bun yauw menatapnya tajam.
"Namaku Thio Han Liong"
Di saat itulah terdengar suara seruan girang. Ternyata Tan Giok Cu yang berseru sambil mendekati Thio Han Liong.
"Kakak tampan Kakak tampan"
"Hah?"
Thio Han Liong tertegun dan langsung membalikkan badannya, terus memperhatikan gadis yang di depannya.
"Engkau...."
"Kakak tampan Aku adalah adik manismu, engkau sudah lupa ya?"
Tan Giok Cu tersenyum.
"Adik manis Adik manis-..."
Thio Han Liong tertawa gembira-"Engkau sudah besar dan cantik sekali"
"Kakak tampan"
Tan Giok Cu tersenyum manis.
"Engkaupun sudah besar dan bertambah tampan, aku... aku...."
"Hei"
Bentak Lie Bun yauw.
"Kalau mau berpacaran,jangan di sini Kalian...."
"Adik manis,"
Tanya Thio Han Liong.
"siapa mereka, kenapa mereka mengganggumu?"
"Mereka adalah para anggota Hek Liong Pang. mereka terus memusuhiku..."
Jawab Tan c-iiok Cu dan menutur tentang kejadian di kuil Hok Tek Cin sin.
"Maka hingga sekarang pihak Hek Liong Pang terus memusuhiku."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Adik manis, engkau jangan khawatir Aku akan membantumu mengusir mereka."
"Anak muda"
Ujar Lie Bun yauw sambil mengerutkan kening.
"Lebih baik engkau jangan turut campur urusan ini, sebab ketua yang mengutus kami mengundang nona itu ke markas"
"Pokoknya kalian tidak boleh mengganggunya"
Tegas Thio Han Liong.
"Ayoh, cepatlah kalian enyah dari sini"
"Ha ha ha"
Lie Bun yauw tertawa gelak.
"Anak muda, engkau memang ingin cari penyakit"
Pemimpin regu Angin itu lalu memberi aba-aba kepada para anak buahnya, dan seketika juga mereka menyerang.
"Kakak tampan, engkau tidak pakai senjata?"
Tanya Tan Giok Cu sambil mengayunkan pedang pusakanya menangkis serangan-serangan itu.
"Cukup dengan tangan kosong saja,"
Sahut Thio Han Liong sambit tersenyum, sekaligus menggunakan ilmu Kian Kun Taylo Ie-Kini Tan Giok Cu tampak bersemangat sekali, sehingga Giok Li Kiam Hoat yang dikeluarkannya itu bertambah lihay dan dahsyat.
Kira-kira puluhan jurus kemudian, belasan anggota Hek Liong Pang mulai terdesak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Berhenti"
Seru Lie Bun yauw mendadak-la tahu kalau pertempuran itu dilanjutkan, para anak buahnya pasti celaka, oleh karena itu, ia menyuruh mereka berhenti, kemudian mendekati Thio Han Liong sambil memberi hormat.
"Kepandaianmu sungguh mengagumkan. Kami tidak sanggup melawan kalian berdua, maka akan kulaparkan kepada ketua, sampai jumpa"
Lie Bun yauw dan para anak buahnya segera meninggalkan tempat itu, sedangkan Thio Han Liong dan Tan Giok Cu masih berdiri di situ, lalu saling memandang.
"Kakak tampan"
Panggil Tan Giok Cu dengan suara rendah dan mesra.
"Adik manis"
Sahut Thio Han Liong sambil menatap lembut. Tak disangka kita bertemu di sini."
"Kakak tampan, kini kita sudah besar. Betutkah engkau tetap menyukaiku?"
"Tentu."
Thio Han Liong mengangguk-"Bagaimana engkau terhadapku?"
Tanyanya.
"Aku -aku menyukaimu melebihi dulu,"
Sahut Tan Giok Cu perlahan sambil menundukkan kepala.
"Dulu aku menyukaimu, kini -justru mencintaimu-"
"Adik manis"
Thio Han Liong menggenggam tangannya
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "
Aku pun mencintaimu-Ke dua orang tuamu sudah tahu itu"
"oh?"
Tan Giok Cu tersenyum gembira-"
Kakak tampan, kepandaianmu bertambah tinggi lho"
"Adik manis"
Thio Han Liong tersenyum-"Ilmu pedangmu sungguh lihay dan hebat-Aku kagum sekali-"
"oh?"
Tan Giok Cu tertawa dan memberitahukan.
"Kakak tampan, aku menyusulmu ke gunung Bu Tong dan siauw Lim sie-"
"Adik manis"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala-"Kenapa engkau tidak menunggu di rumah saja?"
"Aku -aku rindu sekali kepadamu, maka -."
"Adik manis, aku pun rindu sekali kepadamu, syukurlah kita berjumpa di sini"
"oh ya"
Tan Giok Cu memberitahukan.
"Paman tua bernama In Lie Heng telah meninggal."
"Apa?"
Bukan main terkejutnya Thio Han Liong.
"Kakek In telah meninggal?"
"Ya."
Tan Giok Cu mengangguk dan menutur tentang kejadian itu.
"Siapa yang melukai Kakek In?"
Mata Thio Han Liong mulai basah.
"Entahlah-"
Tan Giok Cu menggelengkan kepala.
"sucouwmu bilang, sebelum menghembuskan nafas penghabisan. Kakek In menyebut 'Hiat', entah apa artinya?"
"sucouwkujuga tidak tahu apa artinya?"
"ya. sucouwmu tidak tahu sama sekali. Menurut aku..."
Ujar Tan Giok Cu.
"Itu mungkin julukan orang yang melukai Kakek In, Sayang Kakek In keburu menghembuskan nafas penghabisan, maka tiada waktu untuk menyebut lengkap julukan itu"
"Ngmm"
Thio Han Liong manggut-manggut-"
Orang itu pasti berkepandaian tinggi sekali-Kalau tidak, bagaimana mungkin bisa melukai Kakek In? sebab Kakek In berkepandaian tinggi sekali-"
"Benar."
Tan Giok Cu mengangguk-"Kita harus menyelidikinya kelak-sekarang kita harus pulang."
"Ha ha ha"
Mendadak terdengar suara tawa, kemudian muncul seorang pemuda yang ternyata ouw yang Bun, murid kesayangan Tong Koay-Oey sun-Bin.
"Nona kecil, tak disangka kita bertemu di sini."
"saudara ouw yang"
Tan Giok Cu tersenyum.
"Mari kuperkenalkan, dia adalah Kakak Han Liong."
"Oh?"
Ouw yang Bun menatap Thio Han Liong dengan penuh perhatian, lama sekali barulah ia memberi hormat.
"saudara Han Liong, selamat bertemu Namaku ouw yang Bun."
"saudara ouw yang,"
Sahut Thio Han Liong sekaligus balas memberi hormat.
"Selamat bertemu"
"saudara ouw yang"
Tanya Tan Giok Cu.
"Bukankah engkau pergi ke Kota raja bersama gurumu?"
"Di tengah jalan aku kabur."
Ouw yang Bun tersenyum.
"Sebab aku... aku ingin menemuimu."
"Kenapa engkau ingin menemuiku?"
Tanya Tan Giok Cu heran.
"Karena...."
Wajah ouw yang Bun agak kemerah-merahan.
"Aku... aku rindu sekali kepadamu."
"Eh?"
Tan Giok Cu mengerutkan kening.
"Engkau...."
Sementara Thio Han Liong diam saja.
"Nona kecil."
Ujar ouw yang Bun berterus terang.
"sejak pertama kali bertemu denganmu, aku... aku sudah suka kepadamu. Wajahmu terus muncul di pelupuk mataku, maka aku...."
"Saudara ouw yang...."
Tan Giok Cu menggeleng-gelengkan kepala-"Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah punya kekasih."
"Nona, engkau sudah punya kekasih?"
Wajah ouw yang Bun berubah pucat.
"Pemuda inikah kekasihmu?"
"ya-"
Tan Giok Cu mengangguk.-"Dia memang lebih tampan dariku, kalian berdua merupakan pasangan yang serasi-Tapi...."
Ouw yang Bun menatap Thio Han Liong dalam-dalam-"Belum tentu kepandaiannya lebih tinggi dariku, aku ingin menguji kepandaiannya-"
"saudara ouw yang...."
Tan Giok Cu menghela nafas panjang.
"saudara Han Liong"
Tanya ouw yang Bun bernada menantang.
"Beranikah engkau bertanding denganku?"
"saudara ouw yang"
Thio Han Liong tersenyum lembut.
"Engkau harus tahu, sejak kecil aku dan Giok Cu sudah merupakan kawan baik, sedangkan engkau baru kenal dia-"
"Walau aku baru kenal dia, namun aku sudah jatuh cinta kepadanya,"
Sahut ouw yang Bun.
"Karena dia bilang engkau adalah kekasihnya, maka aku ingin menguji mu-"
"saudara ouw yang -"
Thio Han Liong menggelenggelengkan kepala.
"Tiada artinya kita bertanding."
"Ha ha ha ha"
Terdengar suara tawa yang memekakkan telinga, mendadak muncul seorang tua, yang tidak lain Tong Koay-oey Su Bin.
"Muridku, kenapa engkau tidak mau ikut guru ke Kota raja?"
"Guru -."
Wajah ouw yang Bun tak sedap dipandang.
"Aku -."
"Kini engkau sudah bertemu gadis cantik itu, tapi kenapa wajahmu masih masam begitu?"
Tong Koay "Wng garuki Garuk kepala.
"Guru, jangan terus bergurau Aku lagi kesal nih,"
Sahut ouw yang Bun.
"Kesal?"
Tong Koay tampak bingung.
"gadis cantik itu sudah berada di hadapanmu, tapi kenapa engkau masih kesal?"
"Dia sudah punya kekasih-"
Ouw yang Bun memberitahukan.
"Itu membuat hatiku terasa sakit sekali."
"Pemuda itukah kekasihnya?"
Tanya Tong Koay sam-bil menatap Thio Han Liong dengan penuh perhatian.
"ya."
Ouw yang Bun mengangguk-"oleh karena itu, aku ingin bertanding dengan pemuda itu"
"Bagus, bagus"
Tong Koay tertawa gembira.
"Pemuda itu kelihatan berisi juga. Engkau memang harus bertanding dengan dia"
"Ha ha ha..."
"Paman Tua"
Tan Giok Cu mengerutkan kening.
"seharusnya Paman Tua mencegah, tapi sebaliknya malah setuju. Bagaimana sih?"
"Itu cuma bertanding, bukan bertarung mati-matian,", sahut Tong Koay.
"Lagipula belum tentu kekasihmu itu akan kalah, jadi engkau tidak perlu cemas."
"Tapi -"
Tan Giok Cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak muda"
Tong Koay menatap Thio Han Liong dengan mata tak berkedip-"Engkau memang tampan, Sayang kenapa agak pengecut?"
"Cianpwee"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Kenapa Cianpwee bilang aku agak pengecut?"
"sebab...."
Tong Koay tertawa.
"Engkau tidak berani bertanding dengan muridku. Nah, bukankah engkau agak pengecut?"
"Cianpwee jangan salah paham. Aku bukan pengecut,"
Ujar Thio Han Liong memberitahukan.
"Melainkan aku tidak mau bertanding dengan murid Cianpwee, sebab tiada gunanya kami bertanding."
"Menguji kepandaian masing-masing,"
Sahut Tong Koay dan melanjutkan.
"Juga menambah pengalaman kalian, Itu sangat bermanfaat bagi kalian berdua. Aku akan jadi wasit pokoknya tidak akan berat sebelah-"
"Cianpwee-."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku...."
"Anak muda,"
Potong Tong Koay cepat.
"Kalau engkau tidak mau bertanding dengan muridku, berarti engkau pengecut. Ha ha ha..."
"Cianpwee"
Hati Thio Han Liong mulai panas.
"Baiklah aku akan bertanding dengan muridmu, tapi hanya menggunakan tangan kosong saja."
"Bagus, bagus"
Tong Koay manggut-manggut.
"Kalian bertanding cukup dengan tangan kosong saja. Ayoh, kalian cepat mulai"
Thio Han Liong dan ouw Yang Bun berdiri berhadapan, kemudian mulai mengerahkan Lweekang masing-masing.
"Anak muda, engkau boleh menyerang duluan"
Seru Tong Koay.
"sebab engkau lebih muda dari muridku"
"Maafl"
Ucap Thio Han Liong pada ouw yang Bun, lalu mulai menyerangnya dengan ilmu Thay Kek Run.
"Anak muda"
Tong Koay tertawa.
"Ha ha Ternyata engkau murid Bu Tong Pay"
Sementara ouw yang Bun yang diserang itu berkelit dengan cepat sekali, kemudian mulai balas menyerang, maka pertandingan itu menjadi seru menegangkan.
Tan Giok Cu menyaksikan pertandingan itu dengan penuh perhatian, gadis itu yakin Thio Han Liong akan menang.
Tak terasa pertandingan itu sudah lewat puluhan jurus, namun mereka berdua terus bertanding seimbang.
Tong Koay kelihatan penasaran sekali karena muridnya masih belum dapat mengalahkan Thio Han Liong.
"Muridku"
Serunya memberitahukan.
"gunakan ilmu Bu seng uh In (Tiada suara Ada Bayangan)"
Kenapa Tong Koay menyuruh muridnya mengeluarkan ilmu tersebut?
Ternyata dengan ilmu itu.
Tong Koay telah mengalahkan song wan Kiauw.
ouw yang Bun segera mengeluarkan ilmu tersebut menyerang Thio Han Liong, itu membuat Thio Han Liong mulai terdesak-"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa gembira, namun kemudian justru terbelalak-Itu dikarenakan mendadak ouw Yang Bun balik terdesak oleh tangkisan dan serangan Thio Han Liong, wajah Tong seketika berubah agak pucat dan segera berseru.
"Berhenti"
Thio Han Liong dan ouw yang Bun langsung berhenti-Mereka tidak mengerti kenapa Tong Koay menyuruh mereka berhenti bertanding.
"Anak muda"
Tong Koay menatap Thio Han Liong dengan tajam sekali.
"Engkau adalah kakak seperguruan gadis itu?"
"Bukan."
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Anak muda"
Tong Koay tampak tidak senang.
"Engkau jangan membohongi aku, sebab aku mengenali ilmu silatmu itu."
"cianpwee"
Thio Han Liong tersenyum.
"Bukankah tadi Cianpwee juga mengatakan aku adalah murid Bu Tong Pay?"
"Karena engkau menggunakan ilmu Thay Kek Kun. Namun barusan engkau mengeluarkan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw, itu adalah ilmu rahasia Nona Yo sian sian atau guru gadis cantik ini."
"Cianpwee, barusan aku memang mengeluarkan ilmu tersebut,"
Sahut Thio Han Liong jujur.
"Tapi aku bukan kakak seperguruan Giok Cu. Kalau Cianpwee tidak percaya, silakan bertanya kepadanya"
"Paman Tua"
Ujar untuk Tan Giok Cu.
"Kakak Han Liong memang bukan kakak seperguruanku. Aku sendiri pun bingung, bagaimana dia bisa ilmu rahasia perguruanku."
"oh?"
Tong Koay terbelalaki kemudian menatap Thio Han Liong seraya bertanya.
"Anak muda, siapa yang mengajarmu ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw itu?"
"Bibi ci jiak"
"Ci Jiak? siapa dia?"
Gumam Tong Koay lalu bertanya.
"Anak muda, siapa ayahmu?"
"Ayahku adalah Thio Bu Ki"
"Ha a a h -?"
Mulut Tong Koay ternganga lebar.
"Pantas kepandaianmu begitu tinggi. sudahiah Muridku kalah-.."
"Guru"
Ouw yang Bun tampak tidak senang.
"Aku belum kalah-"
"Muridku,"
Ujar Tong Koay sungguh-sungguh-"Kalau pertandingan itu dilanjutkan, engkau pasti kalah -"
"Kenapa?"
Tanya ouw yang Bun penasaran.
"Sebab engkau tidak akan sanggup menghadapi ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw itu."
"guru...."
"Sudahlah"
Tandas Tong Koay lalu berkata kepada Thio Han Liong.
"Anak muda, pertandingan barusan itu akan dilanjutkan kelak Ha ha ha"
"Cianpwee»..""
"Muridku"
Tong Koay menarik ouw yang Bun,. kemudian melesat pergi seraya tertawa gelaki "Ha ha ha Anak muda, muridku akan bertanding denganmu lagi kelak Ha ha ha..."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Tan Giok Cu menatapnya dengan penuh rasa heran.
"Kakak tampan,"
Tanyanya dengan suara rendah-"Siapa yang mengajarmu Kiu Im Pek Kut Jiauw?"
"Bibi Ci Jiak"
"Bibi Ci Jiak?"
Tan Giok Cu kelihatan kurang percaya-"Mungkin Ci Jiak bukan nama asli bibimu itu-"
"Bibiku itu memang bernama Ciu Ci Jiak Dia juga tinggal di Pulau Hong Hoang to-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Berapa usianya sekarang?"
"Empat puluhan."
"Kalau begitu...."
Tan Giok Cu menggelengkan kepala.
"Dia bukan Kwee In Loan, bibi guruku."
"Adik manis"
Thio Han Liong tertegun.
"Engkau masih punya bibi guru?"
"Ya."
Tan Giok Cu mengangguk. Kemudian menceritakan juga tentang Kwee In Loan, berdasarkan apa yang didengarnya dari gurunya.
"Bibi guruku berusia lima puluhan."
"ooohi Thio Han Liong manggut-manggut.
"Adik manis, gurumu kenal ayahku."
"guruku sudah memberitahukan."
Tan Giok Cu tersenyum.
"Sesungguhnya guru mencintai ayahmu, tapi pada waktu itu ayahmu sudah punya kekasih.-.."
"Ternyata begitu"
Thio Han Liong juga tersenyum.
"Tapi ayahku tidak menceritakan tentang itu"
"Mungkin ayahmu tidak tahu, sebab guruku mencintainya secara diam-diam,"
Ujar Tan Giok Cu dan menambahkan.
"karena ayahmu sudah punya kekasih, maka guruku menjauhinya-"
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut-"Kakak tampan, mari kita berangkat"
Ajak Tan Giok cu-"Baik""
Thio Han Liong mengangguk.
Kemudian mereka meloncat ke atas punggung kuda--ooo00000ooo-Beberapa hari kemudian, Thio Han Liong dan Tan Giok Cu sudah memasuki desa Hok An.
Betapa gembiranya gadis itu, karena sebentar lagi akan bertemu ke dua orang tuanya.
Tan Giok Cu membelokkan kudanya memasuki pekarangan, setelah itu barulah mereka meloncat turun dari punggung kuda itu.
"Ayah.. Ibu Ayah Ibu..."
Serunya sambil berlari ke dalam rumah.
Sedangkan Thio Han Liong mengikutinya dari belakang dengan wajah ceria-Tan Ek seng dan Lim soat Hong menghambur keluar.
Begitu melihat Tan Giok Cu.
berserilah wajah mereka.
"Nak"
Panggil Lim soat Hong.
"Ibu"
Tan Giok Cu langsung mendekap di dada Lim soat Hong.
"Nak"
Lim soat Hong membelainya denganpenuh kasih sayang.
"Engkau sudah pulang bersama Han Liong."
"Paman, Bibi"
Panggil pemuda itu sambil memberi hormat.
"Han Liong...."
Tan Ek seng memandangnya denganpenuh kegembiraan, kemudian tertawa gelak-"Ha ha ha, kalian berdua,..."
"Duduklah, Nak"
Bisik Lim soat Hong. Tan Giok Cu mengangguk. lalu memandang Tiiio Han uong seraya berkata.
"Kakak tampan, silakan duduk"
"Terima kasih. Adik manis"
Thio Han Liong tersenyum sambil duduk.
"Syukurlah kalian telah datang"
Ujar Tan Ek seng.
"Giok Cu, ibumu terus memikirkan kalian."
"Nak"
Lim soat Hong tersenyum.
"Engkau bertemu Han Liong di gunung Bu Tong ya?"
"Bukan."
Tan Giok Cu menggelengkan kepala.
"Kami bertemu di tengah jalan, sedang sama-sama menuju ke mari"
"oooh"
Lim soat Hong manggut-manggut.
"Kini kalian sudah berkumpul dan kalian pun sudah dewasa. Nah, bagaimana perasaan kalian berdua?"
"Maksud Ibu?"
Tan Giok Cu tidak mengerti.
"Perasaan apa?"
"Apakah kalian... saling mencinta?"
Sahut Lim soat Hong sambil menatap mereka dengan penuh perhatian.
"Ibu...."
Wajah Tan Giok Cu langsung memerah.
"Jawablah dengan jujur Aku adalah ibumu, maka engkau tidak usah malu-malu,"
Ujar Lim soat Hong.
"Ibu, kami... kami memang saling mencinta."
Tan Giok Cu menundukkan kepala dalam-dalam.
"Bagus, bagus"
Lim soat Hong gembira sekali-"Itu yang kami harapkan. Bagus, bagus"
"Ha ha ha"
Tan Ek seng tertawa gembira-"Giok Cu, ceritakan pengalamanmu ketika pergi mencari Han Liong"
"Ayah, aku --"
Tan Giok Cu memberitahukan.
"Aku telah bentrok dengan pihak Hek Liong Pang."
"oh?"
Tan Ek seng mengerutkan kening.
"Kenapa engkau bentrok dengan para anggota perkumpulan itu?"
"Karena..."
Tutur Tan Giok Cu mengenai semua kejadian itu, bahkan juga tentang ouw yang Bun.
"yaaah"
Tan Ek seng menghela nafas panjang.
"Berkecimpung dalam rimba persilatan, tentunya tidak akan terluput dari berbagai kejadian, yang penting kalian berdua harus berhati-hati. urusan besar kalian perkecil, dan urusan kecil kalian tiadakan saja"
"ya"
Sahut Tan Giok Cu dan Thio Han Liong serentak.
"Han Liong,"
Tanya Tan Ek seng.
"Apa rencanamu selanjutnya, apakah engkau akan kembali ke pulau Hong Hoang To?"
"Mungkin belum,"jawab Thio Han Liong.
"sebab aku masih harus pergi ke gunung soat san untuk mencari Teratai saiju."
"Untuk apa Teratai saiju itu?"
Tanya Lim soat Hong heran.
"Untuk mengobati wajah ke dua orang tua ku"
Jawab Thio Han Liong dan menutur tentang kejadian yang menimpa orang tua nya.
"ooooh"
Tan Ek seng dan Lim soat Hong manggutmanggut.
"Kakak tampan,"
Ujar Tan Giok Cu.
"Kalau engkau berangkat ke gunung soat san, aku harus ikut."
"Adik manis...."
Thio Han Liong memandang ke dua orang tua gadis itu seraya bertanya.
"Bagaimana menurut Paman dan Bibi?"
"Kini Giok Cu telah besar, tentunya kami tidak bisa mengekang kebebasannya,"
Ujar Tan Ek seng dan menambahkan.
"Lagipula kalian sudah saling mencinta, itu membuat kami tidak bisa melarangnya."
"Ayah"
Wajah Tan Giok Cu langsung berseri.
"Ayah dan Ibu memperbolehkan aku ikut Kakak tampan ke gunung Soat san?"
"yaah"
Lim soat Hong tersenyum.
"Seandainya kami melarang, bagaimana engkau?"
"Aku tetap ikut,"
Sahut Tan Giok Cu jujur.
"Nah"
Lim soat Hong menghela nafas panjang.
"Bagaimana mungkin kami melarangmu? percuma kan?"
"Ibu -"
Tan Giok Cu menundukkan kepala.
"Nak,"
Lim soat Hong tersenyum lembut.
"Dulu ibu pun pernah ikut ayahmu berkelana, akhirnya menetap di desa ini."
"Giok Cu"
Tan Ek seng menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"yang penting, kalian jangan berbuat yang bukan-bukan, setelah berhasil memperoleh Teratai salju, kalian berdua harus segera pulang."
"ya."
Tan Giok Cu dan Thio Han Liong mengangguk.
"sekarang...."
Lim soat Hong tersenyum.
"Mari kita makan dulu, sebab perut kalian terus berbunyi dari tadi"
"Ibu, kami sudah lapar sekali,"
Ujar Tan Giok Cu sambil tertawa kecil.
"Dari kemarin perut kami belum diisi dengan makanan apa pun."
"oh?"
Tan Ek seng tertawa gelak-"Ha ha ha..."
Hampir dua bulan Thio Han Liong tinggal di rumah Tan Giok Cu.
selama itu mereka berdua terus berlatih, terutama ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw.
Maka tidak heran, kalau ilmu yang mereka miliki mengalami kemajuan pesat.
"Adik manis,"
Ujar Thio Han Liong seusai berlatih-"sudah hampir dua bulan aku tinggal di sini-sekarang sudah waktunya kita berangkat ke gunung soat san."
"Kalau begitu, kita harus memberitahukan kepada ke dua orang tuaku,"
Sahut Tan Giok Cu.
"Ngmm"
Thio Han Liong manggut-manggut "Adik manis, bagaimana kalau kita memberitahukan sekarang?"
"Baik-"
Tan Giok Cu mengangguk,-Mereka masuk ke rumah-Kebetulan Tan Ek seng dan Lim soat Hong sedang duduk di ruang tengah-"Kalian sudah usai berlatih?"
Tanya Lim soat Hong lembut-"Ya-"
Thio Han Liong dan Tan Giok Cu mengangguk. kemudian gadis itu berkata.
"Ayah. Ibu...."
"Mau bilang apa. Nak?"
Tanya Lim soat Hong.
"Kakak Han Liong memberitahukan kepadaku, bahwa dia akan berangkat ke gunung soat san."
Tan Giok Cu memberitahukan.
"sudah hampir dua bulan dia tinggal di sini."
"Ngmmm"
Lim soat Hong manggut-manggut sambil memandang suaminya.
"Jadi-..."
Tan Ek seng menatap putrinya.
"Engkau juga mau ikut ke gunung soat san kan?"
"Ya, Ayah-"
Tan Giok Cu mengangguk-"Han Liong"
Tan Ek seng memandangnya seraya bertanya.
"Kapan engkau akan berangkat?"
"Besok-"
"Besok?"
Tan Ek seng dan isterinya sating memandang, lama sekali barulah Tan Ek seng manggut-manggut.
"Baiklah-"
"Terima kasih, Paman"
Ucap Thio Han Liong.
"Tapi kalian harus ingat"
Pesan Tan Ek seng sambil memandang mereka.
"Setelah memperoleh Teratai salju, kalian harus segera pulang"
"Ya-"
Thio Han Liong dan Tan Giok Cu mengangguk.
"Dan juga -"
Tambah Lim soat Hong.
"Han Liong, engkau harus baik-baik menjaga Giok Cu"
"ya,Bibi."
"Kalian sudah saling mencinta, tentunya juga harus saling mengerti dan saling melindungi. Tidak boleh terjadi cemburu buta, dan ada apa-apa harus sating menjelaskan. Tidak boleh diam dan disimpan dalam hati, sebab itu akan menghancurkan cinta kasih kalian. Mengerti?"
Ujar Lim soat Hong.
"Mengerti."
Thlo Han Liong dan Tan Giok Cu mengangguk.
Tan Ek seng dan Lim soat Hong memberi nasehat dan pengertian kepada mereka berdua, keesokan harinya berangkatlah mereka menuju gunung soat san dengan menunggang kuda.
Bab 18 Perundingan Di Markas Hek Liong Pang sebetulnya siapa ketua Hek Liong?
Ternyata seorang wanita berusia lima puluhan yang masih tampak cantik tapi dingin sekali, la adalah Kwee In Loan atau kakak seperguruan yo sian sian.
Namun kira-kira dua puluh lima tahun lalu, ia telah diusir oleh kedua orang tua yo sian sian, karena sering melakukan kejahatan.
Dalam kurun waktu selama itu, sama sekali tiada kabar beritanya.
"Lie Bun yauw, kenapa engkau tidak dapat membawa Tan Giok Cu ke mari?"
Tanya Kwee In Loan sambil menatapnya dingin
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Maaf Ketua"
Jawab Lie Bun yauw.
"Kami berusaha menangkap gadis itu, tapi mendadak muncul seorang pemuda membantunya."
"oh?"
Kwee In Loan mengerutkan kening.
"siapa pemuda itu?"
"Dia bernama Thio Han Liong. Kepandaiannya tinggi sekali, maka kami tidak sanggup melawannya."
Lie Bun yauw memberitahukan dengan kepala tertunduk-"Hmm"
Dengus Kwee In Loan dingin-"oh ya, bagaimana dengan tugasmu mengundang Si Mo-Buyung Hok ke mari?"
"Dia menyatakan pasti memenuhi undangan Ketua,"
Jawab Lie Bun yauw-"Dia akan datang secepatnya."
"Bagus, bagus"
Kwee In Loan tertawa gembira.
"Kalau Si Mo bersedia bergabung dengan kita, berarti Hek Liong Pang bertambah kuat."
"Betul, Ketua."
Lie Bun yauw mengangguk.
"Juga berarti secara resmi Hek Liong Pang berdiri dalam rimba persilatan"
Ujar Kwee In Loan.
"Nama Hek Liong Pang harus sejajar dengan siauw Lim Pay, Bu Tonng Pay atau Kay Pang. Pokoknya Hek Liong Pang harus menguasai seluruh golongan hitam."
"Ketua"
Tanya Lie Bun yauw mendadak.
"Bagaimana seandainya Si Mo tidak mau bergabung dengan kita?"
"Berarti dia musuh kita"
Sahut Kwee In Loan singkat.
"oh ya, engkau harus menyelidiki siapa Tan Giok Cu dan Thio Han Liong."
"ya. Ketua."
Lie Bun yauw mengangguk. Di saat bersamaan, terdengarlah suara seruan di luar yang saling menyusul bergema ke dalam markas Hek Liong Pang.
"Si Mo dan muridnya sudah datang"
"Si Mo dan muridnya sudah datang..."
Wajah Kwee In Loan langsung berseri. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan terdengarlah suara tawa yang memekakkan telinga.
"Ha ha ha Ketua Hek Liong Pang, aku ke mari memenuhi undanganmu"
Tampak Si Mo berjalan ke dalam bersama seorang pemuda berusia delapan belasan. pemuda itu cukup tampan, tapi wajahnya pucat pias dan tak berperasaan.
"selamat datang, Si Mo"
Ucap Kwee In Loan sambil tertawa gembira.
"Silakan duduk"
"Terima kasihi terima kasih -"
Ucap Si Mo sambil duduk lalu memperkenalkan.
"Ketua Hek Liong Pang, ini adalah murid kesayanganku, namanya Kwan Pek Him,"
"oooh"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Ketua Hek Liong Pang, terimalah hormatku"
Ucap Kwan Pek Him sambil memberi hormat.
"Duduklah"
Sahut Kwee In Loan.
"Terima kasih"
Ucap Kwan Pek Him lalu duduk.
"Si Mo"
Kwee In Loan menatapnya.
"Bagaimana keputusanmu tentang usulku? Bukankah engkau bilang akan dipikirkan?"
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak.
"Memang sudah kupikirkan sekaligus kupertimbangkan."
"Jadi bagaimana keputusanmu?"
"Ketua Hek Liong Pang,"
Sahut Si Mo serius.
"Tentunya engkau tahu, aku adatah ketua golongan hitam, seandainya aku bersedia gabung dengan Hek Liong pang, lalu siapa yang menjadi ketua?"
"Akan kita rundingkan bersama,"
Sahut Kwee In Loan sambil tersenyum, kemudian menyuruh Lie Bun yauw menyajikan makanan dan minuman untuk menjamu Si Mo dan muridnya itu.
setelah semua makanan dan minuman disajikan, mulailah mereka bersantap sambi bersulang.
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa seraya berkata.
"Terus terang aku sangat menyukai Pek yun Kok (Lemhah Awan putih) ini, sebab tempat ini tenang dan amat rahasia pula-Markas Hek Liong sungguh aman berada di lembah ini"
"Benar."
Kwee In Loanjuga tertawa, kemudian mereka bersulang lagi.
"Si Mo siapa yang akan menjadi ketua, engkau atau aku?"
"Begitu -""
Si Mo mulai serius.
"Kita berdua ternaksa harus bertanding untuk menentukan kepandaian siapa yang lebih tinggi."
"oooh"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Aku mengerti maksudmu, siapa yang lebih tinggi kepandaiannya, dialah berhak jadi ketua, bukan?"
"ya."
Si Mo mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "yang lebih rendah kepandaiannya tentunya menjadi wakil ketua. Engkau setuju?"
"Itu cara yang paling adil."
Kwee In Loan mengangguk dan bertanya.
"Kita menggunakan senjata atau tangan kosong untuk bertanding?"
"Cukup dengan tangan kosong saja,"
Sahut Si Mo-"Baik""
Kwee In Loan manggut-manggut-"Bagaimana kalau kita mulai bertanding sekarang?"
"Tidak usah terburu-buru."
Si Mo tertawa-"Perut kita masih kenyang, tidak baik bertanding sekarang. Kita harus duduk beristirahat sejeNak, setelah itu barunh kita mulai bertanding."
Kwee In Loan tersenyum-sejenak kemudian, mereka saling memandang dan manggut-manggut.
"Nah,"
Ujar Si Mo sambil bangkit berdiri-"Sekarang kita boleh mulai bertanding."
"Baik."
Kwee In Loanjuga bangkit berdiri. Mereka berjalan ke tengah-tengah ruangan itu, lalu berdiri berhadapan dan saling memberi hormat.
"Si Mo"
Ujar Kwee In Loan sambil tersenyum.
"saat ini aku adalah tuan rumahi maka engkau boleh menyerang duluan."
"Baik."
Si Mo mengangguk.
lalu mulai menyerang dengan jurus jurus biasa.
Kwee In Loan berkelit dengan santai, sementara Kwan Pek Him dan Lie Bun yauw menonton dengan penuh perhatian.
Lewat dua puluh jurus, pertandingan itu mulai seru menegangkan, karena Si Mo mengeluarkan ilmu andalannya, begitu pula Kwee In Loan.
Tampak badan mereka berkelebatan laksana kilat.
Kini mereka bertanding dengan sungguh-sungguh.
"Puluhan jurus kemudian, Si Mo mulai mengeluarkan ilmu Ha Ho Kang, sedangkan Kwee In Loan mengeluarkan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw. Si Mo menjongkokkan badannya, kemudian mendadak meloncat ke arah Kwee In Loan. Ketua Hek Liong Pang itu tertawa panjang, dan seketika badannya mencelat ke atas. Di saat bersamaan, ia pun menjulurkan jari tangannya ke arah ubun-ubun Si Mo-Betapa terkejutnya Si Mo-la tidak sempat berkelit, maka terpaksa mengangkat sepasang tangannya untuk menangkis-Plaaak Terdengar suara benturan. Si Mo berhasil menangkis serangan itu, namun jari tangan Kweein Loan berhasil menyentuh ubun-ubunnya, Itu pertanda kepandaian Kwee In Loan lebih tinggi.
"Ketua Hek Liong Pang"
Ujar Si Mo sambil memberi hormat.
"Kepandaianmu lebih tinggi dariku, engkau berhak menjadi ketua."
"Si Mo"
Sahut Kwee In Loan.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, engkau menjadi wakil ketua."
"Terima kasih,"
Ucap Si Mo-"Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, kemudian ke duanya mulai bersulang lagi sambil tertawa gembira-"
Si Mo, kapan engkau akan bergabung di sini?"
Tanya Kwee In Loan sambil menatapnya.
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"Tentunya sekarang. Bukankah tadi engkau sudah bilang aku adalah wakil ketua?"
"Bagus, bagus"
Kwee In Loan tertawa gembira.
"Mulai saat ini, Hek Liong Pang akan menguasai seluruh golongan hitam. Perkumpulan kita akan bersaing dengan siauw Lim dan Bu Tong Pay."
"Betul."
Si Mo manggut-manggut.
"Kalau begitu, kita harus meresmikan berdirinya Hek Liong Pang dalam rimba persilatan."
"setuju."
Kwee In Loan mengangguk.
"Pokonya kita harus mengembangkan Hek Liong Pang." -ooo00000ooo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Di saat mereka berdua sedang bercakap-cakap sambil bersulang, mendadak terdengar suara terikan di luar-"Ada musuh datang Ada musuh datang..."
Suara seruan itu membuat Kwee In Loan dan Si Mo saling memandang dengan penuh keheranan, bagaimana mugkin Pek yun Kek kedatangan musuh?
sekonyong-konyong berkelebat sosok bayangan merah, disusul pula dengan suara tawa cekikikan.
"Hi hi hi Asyik, ada arak wangi"
Kemudian muncul seorang gadis berusia lima belasan berpakaian merah-gadis itu cantik jelita, namun kelihatan agak liar.
"Eeeeh?"
Kwee In Loan terbelalak-"gadis liar, siapa engkau dan mau apa engkau ke mari?"
"Hi hi hi"
Gadis berpakaian merah itu tertawa nyaring.
"Engkau adalah ketua Hek Liong Pang?"
"Betul"
Kwee In Loan mengangguk sambil menatapnya dengan penuh perhatian, la yakin, gadis remaja itu berkepandaian tinggi.
"Engkau...."
Gadis berpakaian merah itu menunjuk Si Mo seraya berkata.
"Tampangmu begitu seram, engkau pasti Si Mo yang amat jahat itu"
"He he he"
Si Mo tertawa terkekeh-kekehi "Tidak salah, aku memang Si Mo yang amat jahat, gadis kecil, mau apa engkau ke mari?"
"Jalan-jalan,"
Sahut gadis berpakaian merah itu sambil tersenyum, kemudian duduk di kursi yang kosong.
"Eh? Kenapa aku tidak disuguhi arak wangi? Aku ini tamu lho"
"Lie Bun yauw"
Seru Kwee In Loan.
"cepat suguhkan arak wangi untuk gadis itu"
"ya, ketua"
Lie Bun yauw segera menyuguhkan arak wangi untuk gadis berpakaian merah itu.
"Terima kasih,"
Ucapnya dan langsung meneguk arak wangi itu.
"Wuah sungguh wangi sekali arak ini"
"gadis liar"
Kwee In Loan menatapnya seraya bertanya.
"Sebetulnya siapa engkau?"
"Aku bernama Ciu Lan Hio, usiaku enam belas tahun"
Sahut gadis berpakaian merah. sementara itu, Kwan Pek Him, murid Si Mo itu terus memandang gadis tersebut dengan mata tak berkedip, bahkan sepasang matanya menyorotkan sinar aneh.
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa cekikikan.
"Pemuda muka pucat, kenapa engkau memandangku dengan cara begitu? Engkau harus tahu lho Aku ini bukan anak domba atau anak kelinci, melainkan bunga yang berduri."
"Aku.."
Kwan Pek Him tergagap-gagap-"Nona, namaku Kwan Pek Him, murid kesayangan Si Mo-"
"Aku tidak tanya"
Sahut ciu Lan Hio.
"Nona, aku...."
Kwan Pek Him menundukkan kepala. Ternyata ia sangat tertarik pada gadis itu.
"Hi hi hi"
Ciu Lan Nio tertawa cekikikan lagi.
"Dasar pemuda pingitan gurunya jahat muridnya pasti begitu"
"Hei gadis liar"
Bentak Si Mo dengan wajah merah padam karena gusar-"siapa gurumu? Kenapa engkau berani kurang ajar terhadapku?"
"Si Mo"
Sahut Ciu Lan Hio.
"Orang lain memang takut kepadamu, namun aku tidak-Terus terang, kepandaianku tidak berada di bawah kepandaianmu-"
"Engkau--"
Si Mo menudingnya dengan tangan agak bergemetar karena emosi sekali.
"Aku harus menghajarmu"
"Tenang Si Mo" -ujar Kwee In Loan. Ternyata diam-diam ketua Hek Liong Pang itu sangat menyukai Ciu Lan Nio.
"Dia adalah gadis kecil, tidak perlu diladeni."
"Ketua Hek Liong Pang, engkau bernama Kwee In Loan kan?"
Tanya Ciu Lan Nio mendadak-"Kok -"
Ketua Hek Liong Pang terbelalak-"Engkau tahu namaku?"
"Merah membara, muncul cari korban,"
Ujar Ciu Lan Nio-"Tentunya engkau tahu siapa guruku, bukan?"
"Haaah?"
Wajah Kwee In Loan langsung berubah hebat-"Engkau datang dari Kwan c\wr (Luar Perbatasan)?"
"Ya"
Ciu Lan Nio mengangguk.
"Engkau adalah muridnya?"
Tanya Kwee In Loan lagi.
"Betul."
Ciu Lan Hio tersenyum.
"Ingat Engkau tidak boleh menyebut nama guruku"
"Ya."
Kwee In Loan mengangguk.
"Oh ya, gurumu berada di Tionggoan?"
"Tidak salah-"
Ciu Lan Hio manggut-manggut.
"guru-ku memang berada di Tionggoan, aku disuruh ke mari untuk melihat-lihat."
"Lan Nio,"
Ujar Kwee In Loan sungguh-sungguh-"Kalau gurumu mau menjadi ketua Hek Liong Pang, aku bersedia menyerahkan jabatanku kepadanya-"
"guruku sama sekali tidak berniat mau menjadi ketua Hek Liong Pang, namun berniat menjadi Bu Lim Beng Cu (Ketua Rimba Persilatan)."
Ciu Lan Hio memberitahukan sambil tersenyum-"oleh karena itu, guruku akan menundukkan ketua siauw Lim dan Bu Tong Pay, sebab siauw Lim dan Bu Tong Pay sangat terkenal dalam rimba persilatan."
"oooh"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Lan Hio, kalau engkau bertemu gurumu, tolong sampaikan salamku kepadanya"
"Baik"
Ciu Lan Hio mengangguk. kemudian memandang Si Mo seraya bertanya.
"Kenapa engkau dari tadi terus melototi aku? Tidak senang aku duduk di sini? Mau bertarung dengan aku?"
"Dasar gadis liar tak tahu diri Engkau berani kurang ajar terhadapku?"
Kelihatannya kegusaran Si Mo sudah memuncak-"Biar bagaimanapun aku harus menghajarmu"
"Tenang Si Mo"
Ujar Kwee In Loan.
"Jangan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan"
"Tapi -"
"Tenanglah"
Kwee In Loan memberi isyarat kepadanya, agar tidak sembarangan bertindak-"guru,"
Ujar Kwan Pek Him.
"gadis itu masih kecil, guru tidak usah meladeninya."
"Eh?"
Si Mo terbelalak-"Tumben engkau membelanya? Tentu ada apa-apa. ya kan?"
"guru, aku...."
Kwan Pek Him menundukkan kepala.
"oooh"
Si Mo manggut-manggut.
"guru tahu, guru tahu Ha ha ha--."
"Hei"
Bentak Ciu Lan Hio.
"Pemuda muka pucat, engkau jangan bilang jatuh hati kepadaku lho"
"Nona Ciu...."
Kwan Pek Him menatapnya dengan -mata berbinar-binar-"Aku memang sudah jatuh hati kepadamu."
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa cekikikan.
"Hatimu mau jatuh dimana terserah, pokoknya aku tidak akan menerima hatimu itu"
"Nona Ciu...."
Kwan Pek Him tampak kecewa sekali.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berteman?"
"Tak usah ya"
Sahut Ciu Lan Hio, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Ketua Hek Liong Pang, terima-kasih untuk arak wangi itu Aku mau pergi, sampai jumpa kelak"
"Lan Hio,"
Pesan Kwee In Loan.
"Jangan lupa sampaikan salamku kepada gurumu"
"Cerewet amat sih"
Sahut Ciu Lan Hio, lalu melesat pergi laksana kilat.
"Nona Ciu..."
Seru Kwan Pek Him memanggilnya.
"Jangan melupakan aku..."
"Murid gendeng"
Si Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"gadis itu sudah jauh, percuma engkau berseru memanggilnya, dia tidak akan, dengar."
"Aaaah?"
Kwan Pek Him menghela nafas panjang.
"guru, aku sudah jatuh hati kepadanya"
"Dasar murid gendeng"
Si Mo menggeleng-gelengkan kepala lagi.
"gadis itu tidak mau memungut hatimu, itu berarti dia tidak akan mencintaimu.".
"Aku punya cara..."
Ujar Kwan Pek Him.
"Si Mo,"
Ujar Kwee In Loan serius.
"Jangan memikirkan yang bukan-bukan terhadap"gadis itu"
"Kenapa?"
Si Mo heran.
"Si Mo--"
Kwee In Loan menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau tidak tahu siapa guru gadis itu. Kalau engkau tahu, pasti akan melarang muridmu mendekatinya."
"siapa guru gadis itu?"
"Aku tidak berani menjwbut nama maupun julukannya,"
Sahut Kwee In Loan memberitahukan.
"MEkipun kita berdua bergabung, mungkin masih tidak sanggup melawannya."
"Apa?"
Si Mo terbelalak.
"Itu bagaimana mungkin?"
"Pernahkah engkau mendengar tentang Kwan Gwa (Luar Perbatasan)?"
Tanya Kwee In Loan mendadak-"Luar Perbatasan?"
Si Mo mengerutkan kening, kemudian mendadak air mukanya tampak berubah hebat.
"Merah membara, muncul mencari korban. Apakah dia?"
"Benar."
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Haaah..?"
Si Mo kelihatan terkejut sekali, kemudian memandang muridnya seraya berkata.
"Pek Him, pokoknya engkau tidak boleh mendekati gadis berpakaian merah itu"
"Kenapa?"
Tanya Kwan Pek Him.
"Kalau engkau sudah tidak menyayangi batok kepalamu, silakan mendekatinya"
Sahut Si Mo.
"guru...."
"Diam"
Si Mo menatapnya tajam.
"Jangan cari penyakit, lebih baik engkau jauhi gadis itu"
"ya, guru."
Kwan Pek Him mengangguk. sekonyong-konyong terdengar suara tawa yang agak keras bergema ke dalam rumah itu, kemudian terdengar pula Stupyp seruan.
"Ketua Hek Liong Pang, bolehkah kami masuk?"
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"Tong Koay, Lam Khie silakan masuk"
"Wuah Bukan main"
Terdengar suara seruan lagi-"Kim Si Mo sudah menjadi setengah tuan rumah di sini Ha ha ha..."
"Maka aku berani mempersilakan kalian masuk"
Sahut Si Mo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Ayoh masuk. jangan malu-malu"
Berkelebat tiga sosok bayangan ke dalam, ternyata adalah Tong Koay Oey Su Bin, Lam Khie-Toan Thian Hie dan ouw yang Bun murid Tong Koay-"silakan duduk"
Ucap Kwee In Loan sambil menatap mereka-"Terima kasih."
Ucap Tong Koay dan Lam Khie-Kemudian mereka bertiga duduk.
"Lie Bun yauw, cepat suguhkan arak wangi untuk mereka"
Ujar Kwee In Loan.
"ya. Ketua."
Lie Bun yauw segera menyuguhkan arak wangi untuk mereka.
"Ha ha ha"
Lam Khie tertawa gelak-"Terima kasih, Terima kasih sungguh menggembirakan hari ini, perutku akan diisi dengan arak wangi Ha ha ha -"
"Kalian berdua berjanji untuk ke mari?"
Tanya Kwee In Loan sambil tersenyum.
"Tentunya kalian ingin bergabung dengan kami, bukan?"
"Ketua Hek Liong Pang,"
Sahut Tong Koay setelah meneguk arak wangi yang disuguhkan Lie Bun yauw-"Aku dan Lam Khie tidak berjanji ke mari, hanya kebetulan bertemu di mulut Lembah Awan putin, maka kami bersama ke mari"
"ooooh"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Kalian berdua mau bergabung dengan kami?"
Tanyanya.
"seandainya kami mau bergabung, lalu apa jabatan kami?"
Tong Koay balik bertanya sambil tersenyum.
"Kini Si Mo adalah wakil ketua"
Sahut Kwee In Loan memberitahukan.
"Kalau kalian mau bergabung dengan kami, otomatis kalian sebagai Pelindung Hukum dan Pelaksana Hukum."
"Cukup tinggi jabatan itu,"
Tong Koay manggut-manggut.
"Tapi kami ke sini hanya ingin melihat-lihat saja, tidak berniat mau bergabung, harap kalian maklum"
"Hmm"
Dengus Si Mo dingin-"
Jadi kalian ke mari ingin mengacau?"
"Lho?"
Lam Khie tertawa.
"Kami ke mari secara baik-Baik. kenapa engkau malah bilang kami mau mengacau? Kalau bicara yang benar, jangan asal bicara"
"Lam Khie"
Si Mo melotot.
"Walau engkau keturunan Lam Ti-Toan Hong ya, tapi aku tidak takut kepadamu lho"
"Aku tidak suruh engkau harus takut kepadaku, namun kalau engkau ingin bertarung denganku tentu aku bersedia"
Ujar Lam Khie dan menambahkan.
"Engkau jangan terus melotot, nanti sepasang biji matamu akan meloncat ke luar"
"Engkau -."
Si Mo berkertak gigi.
"Ha ha ha"
Lam Khie tertawa gelak.
"Bagaimana? Engkau mau bertarung sekarang atau tunggu beberapa tahun-lagi sesuai dengan perjanjian kita?"
"Terserah"
Sahut Si Mo-"Baik"
Lam Khie manggut-manggut.
"Kita tunggu beberapa tahun lagi, barulah kita berempat bertanding di puncak gunung Heng san"
"Hmm"
Dengus Si Mo dingin-"
Aku pasti akan merobohkan kalian semua, lihat saja nanti"
"Eeeeh?"
Mendadak Tong Koay menengok ke sana ke mari.
"siapa yang kentut barusan?"
"gurau ouw yang Bun mengendus.
"Kok bau sekali, itu adalah kentut yang luar biasa."
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa gelak-"Biasanya orang kentut melalui pantat, tapi kentut yang barusan itu melalui mulut, maka lebih bau-"
"Tong Koay"
Bentak Si Mo yang kena sindir.
"Engkau -."
"He he he"
Tong Koay tertawa terkekeh-kekeh-"Mau menantangku berkelahi ya?"
"Baik"
Si Mo manggut-manggut "Karena kita sudah ada perjanjian, maka lebih baik yang maju sekarang murid kita-"
"setuju-"
Tong Koay memandang muridnya-"Murid-ku, beranikah engkau bertarung dengan pemuda muka pucat itu?"
"Kenapa tidak?"
Sahut ouw yang Bun sambil tertawa-"Belum bertarung mukanya sudah begitu pucat, apalagi sudah bertarung."
"Hmmm"
Dengus Kwan Pek Him dingin dan sekaligus bangkit berdiri-"Jangan banyak bacot, mari kita bertarung saja"
"Ha ha"
Ouw yang Bun tertawa.
"Aku memang lagi kesal, maka engkau akan kuhajar"
"oh?"
Kwan Pek Him menatapnya dingin-"Aku pun lagi kesal, maka akan kulampiaskan padamu"
"Bagus, bagus"
Ouw yang Bun tertawa lagi
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Ayoh, mari kita berkelahi sampai oenjol-benjol"
"Hmm"
Dengus Kwan Pek Him dingin-Mereka berdua saling memandang, lalu berjalan ke tengahtengah ruangan tersebut dan berdiri berhadapan, setelah itu mendadak mereka saling menyerang dan memukul dengan tidak karuan.
Buuuk Duuuk Plaaak Mereka berkelahi mirip anak kecil, tentunya membuat tercengang semua orang.
"Murid gendeng"
Tegur Tong Koay sambil meng-garuki Garuk kepala.
"Kenapa kalian berkelahi dengan cara begitu?"
"Pek Him"
Seru Si Mo dengan wajah padam.
"Kenapa engkau? Kek begitu caramu bertarung?"
"guru...."
Ouw yang Bun menggeleng-gelengkan kepala, begitu pula Kwan Pek Him. Mereka saling memandang.
"Kenapa engkau?"
Tanya Kwan Pek Bun.
"Aku sedang kesal gara-gara seorang gadis,"
Sahut ouw yang Bun memberitahukan.
"sama,"
Ujar Kwan Pek Him.
"Tadi ada seorang gadis berpakaian merah ke mari. Aku tertarik dan sekaligus jatuh hati. Tapi dia tidak mau menerima hatiku."
"sama,"
Sahut ouw yang Bun.
"Belum lama ini aku jatuh cinta kepada seorang gadis, namun dia sudah punya kekasih."
"Kita senasib, sudahlah, kita tidak perlu bertarung lagi"
Ujar Kwan Pek Him.
"Baik"
Ouw yang Bun mengangguk-Mereka berdua kembali ke tempat duduk-Tong Koay dan Si Mo menatap murid masing-masing dengan mata melotot.
"Murid gendeng"
Tong Koay menggeleng-geleng-kan kepala.
"Engkau telah mempermalukan guru Tahu?"
"guru, aku...."
Ouw yang Bun menundukkan kepala, sementara Si Mo juga menegur dan mencaci muridnya.
"Engkau adalah murid Si Mo, tapi justru tak berguna"
Si Mo menudingnya.
"gara-gara gadis berpakaian merah itu, engkau tak bersemangat mengangkat nama gurumu Engkau berkelahi dengan cara tidak karuan, sehingga mukamu benjol-benjol begitu macam Huh sungguh memalukan"
"guru...."
Kwan Pek Him menundukkan kepala-"Ha ha ha"
Mendadak Lam Khie tertawa gelaki "Pertandingan tadi telah berakhir dengan seri-Murid Si Mo bonyok-bonyok, sedangkan murid Tong Koay pun benjolbenjol-Ha ha ha Pertandingan tadi akan dilanjutkan kelaksekarang kami mohon diri-Ha ha ha -"
Tong Koay dan muridnya langsung melesat pergi-Lam Khie pun ikut melesat pergi sambil berseru-"sampai jumpa"
Kwee In Loan dan Si Mo tetap duduk di tempat setelah Lam Khie, Tong Koay dan muridnya melesat pergi, mereka berdua pun saling memandang.
"Sayang sekali"
Ujar Kwee In Loan menghela nafas panjang.
"Mereka tidak mau bergabung dengan kita"
"Kalau mereka bergabung dengan kita, Hek Liong Pang pasti jaya,"
Sambung Si Mo-"oh ya, sudikah engkau mengajar muridku beberapa macam ilmu pukulan?"
"Baik."
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Sebab kelak dia harus mengalahkan murid Tong Koay itu."
"Terima kasih."
Ucap Si Mo sambil memberi hormat.
"sama-sama."
Kwee In Loan tersenyum.
"Muridmu juga boleh dikatakan muridku juga, sebab kita sudah dalam satu perkumpulan, begitu pula muridku."
"Betul."
Si Mo mengangguk sambil tertawa gelak-"Ha ha ha..."
"Terima kasih, Ketua,"
Ucap Kwan Pek Him kepada Kwee In Loan.
"Pek Him"
Kwee In Loan menatapnya dalam-dalam.
"Lebih baik engkau jangan memikirkan gadis berpakaian merah itu, sebab gurunya...."
"Kenapa gurunya?"
Tanya Kwan Pek Hun cepat.
"Muridku"
Si Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau jangan bertanya sekarang, kelak akan mengetahuinya."
"Guru-""
"Kalau kami memberitahumu sekarang, itu malah akan membahayakan dirimu, oleh karena itu, lebih baik engkaujangan tahu,"
Ujar Si Mo sungguh-sungguh.
"Aaah -"
Kwan Pek Him menghela nafas panjang. Kelihatannya hatinya memang telah tercuri oleh gadis berpakaian merah itu. (Bersambung keBagian 10)
Jilid 10 Setelah meninggalkan markas Hek Liong Pang, Teng Koay, Lam Khie dan Ouw Yang Bun duduk beristirahat juga di bawah sebuah pohon.
"Tak disangka Si Mo telah bergabung dengan Pek Liong Pang,"
Ujar Teng Koay sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kini Hek Liong Pang bertambah kuat, entah apa yang akan terjadi?"
"Kelihatannya Hek Liong Pang ingin menguasai rimba persilatan. Kalau benar begitu, Siauw Lim dan Bu Teng Pay pasti dalam bahaya,"
Sahut Lam Khie.
"Lam Khie"
Teng Koay menatapnya.
"Bagaimana kalau engkau bergabung dengan aku, agar kita lebih kuat menghadapi Hek Liong Pang?"
"Aku bersedia bergabung denganmu, tapi harus ada syaratnya,"
Sahut Lam Khie.
"Apa syaratmu?"
"Engkau harus mengaku kalah kepadaku, barulah aku mau bergabung denganmu."
"oh?"
Teng Koay melotot.
"Kalau begitu, lebih baik kita bergabung saja."
"Ha ha"
Lam Khie tertawa.
"Kita berempat memang sudah ada janji, tiga tahun lagi akan bertanding di puncak gunung Heng San."
"Kalau begitu, kita tunggu tiga tahun lagi"
Ujar Teng Koay, kemudian memandang muridnya yang duduk melamun itu.
"Murid gendeng Ken apa engkau terus melamun seperti kehilangan sukma?"
"guru...."
Ouw Yang Bun menundukkan wajahnya dalamdalam.
"Engkau memang sudah gila"
Tegur Tong Koay dengan mata melotot-"gadis itu sudah punya kekasih, tapi engkau masih terus memikirkannya Dasar..."
"Celaka"
Seru Lam Khie.
"Tak disangka murid mu jatuh cinta kepada gadis yang sudah punya kekasih Itu betul-betul celaka"
"Muridku memang gendeng dan sialan."
Caci Tong Koay.
"Masih begitu banyak gadis di kolong langit. Mau yang mana tinggal sabet, tapi dia -dia justru jatuh cinta pada gadis yang sudah punya kekasih."
"Ha ha ha"
Lam Khie tertawa gelak-"Untung aku belum punya murid-Kalau aku punya murid seperti muridmu, aku pasti mati muntah darah-"
"Jangan menyindir"
Tong Koay melotot.
"Aku lagi kesal nih-"
"oh?"
Lam Khie tertawa lagi-"
Kalau begitu, perlukah kita berkelahi sampai benjol-benjol seperti muridmu dan murid si Mo itu?"
"Sudahlah Lebih baik engkau diam,"
Ujar Tong Koay dingin.
"jangan bikin aku naik darah-"
"Ha ha"
Lam Khie menatapnya-"Begitu tampangmu sedang naik darah? Itu sih bukan naik darah, melainkan masuk angin."
"Engkau...."
Tong Koay langsung mengayunkan tangannya memukul Lam Khie-Lam Khie cepat-cepat meloncat ke belakang, tapi justru punggungnya terbentur pohon, membuatnya menjerit kesakitan.
"Aduuuh Punggungku...."
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa terpingkal-pingkal.
"Belum terpukul sudah menjerit kesakitan"
"Pohon sialan"
Caci Lam Khie dan mendadak mengerahkan Iweekangnya sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya ke arah pohon itu. Braaaak Pohon itu roboh seketika.
"Cukup lumayan Iweekangmu, tapi cuma dapat merobohkan pohon,"
Ujar Tong Koay dan menambahkan.
"Jangan harap dapat merobohkan diriku Ha ha ha..."
"Hmm"
Dengus Lam Khie, lalu melesat pergi seraya berseru.
"Tong Koay, kelak aku pasti merobohkanmu"
"Ha ha ha"
Teng Koay tertawa terbahak-bahak "yang akan roboh kelak justru adalah engkau"
Katanya.
Bab 19 An Lok Kong Cu (Putri yang Tenang Dan gembira) Di halaman istana Cu Goan ciang yang amat indah dan luas tampak seorang gadis remaja duduk termenung dekat taman bunga, dan beberapa dayang berdiri di belakangnya.
siapa gadis remaja yang cantik manis itu?
Ternyata adalah putri kesayangan Kaisar Cu Goan ciang yang bernama Cu Ay Ceng dengan gelar An Lok Kong cu (Putri yang Tenang Dan gembira).
"Aaaah..."
An Lok Kong Cu-Cu Ay Ceng menghela nafas panjang.
"Kenapa Tuan Putri menghela nafas?"
Tanya salah seorang dayang yang bernama Lan Lan.
"Lan Lan"
Sahut An Lok Kong Cu-Cu Ay Ceng.
"Kini usiaku sudah lima belas tahun. tapi dalam kurun waktu selama ini, aku sama sekali tidak pernah bermain ke luar. Aku bagaikan seekor burung di kurung di dalam sangkar emas."
"Jangan berkata begitu. Tuan Putri"
Ujar Lan Lan.
"Engkau adalah Tuan Putri, tentunya tidak boleh main di luar."
"Aaaah -""
An Lok Kong cu menghela nafas panjang lagi.
"Alangkah bahagianya aku kalau dilahirkan di keluarga biasa, jadi lebih bebas...."
"Tuan putri,"
Lan Lan memandangnya sambil menggelenggelengkan kepala.
"Terus terang. Tuan putri sangat beruntung dilahirkan sebagai putri kaisar. Seharusnya Tuan Putri bersyukur, tidak boleh menyesali apa pun."
"Tapi-..."
An Lok Kong cu menghela nafas panjang.
"Kebebasanku terkekang sekali, tidak bisa ke mana-mana."
"Tuan putri"
Lan Lan tersenyum.
"Kini Taan Putri baru berusia lima belas tahun, tentunya belum boleh ke mana-mana. Bila nanti Putri sudah dewasa kelak, sudah pasti boleh ke luar istana."
"Itu tidak mungkin,"
An Lok Kong cu menggelengkan kepala.
"Ayahku pasti tidak akan mengijinkannya."
"Tuan Putri"
Bisik Lan Lan.
"Bukankah Tuan Putri boleh meninggalkan istana secara diam-diam?"
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut dan wajahnya pun tampak cerah-"Engkau benar, terima-kasih-"
"Tuan putri --"
Mendadak dayang itu memberi isyarat, ternyata muncul beberapa Dhalai Lhama.
"Guru"
Panggil An Lok Kong cu-"Ngmm"
Dhalai Lhama jubah merah manggut-mang-gut sambil tersenyum.
"Sudah usaikah engkau berlatih?"
"ya, Guru."
An Lok Kong cu mengangguk-"Tuan putri"
Dhalai Lhama jubah merah menatapnya.
"Sudah hampir delapan tahun engkau belajar ilmu silat pada kami, kini kepandaianmu sudah lumayan. Tapi engkau harus terus berlatih, sebab Iweekangmu masih kurang."
"Guru...."
An Lok Kong Cu tersenyum.
"Kapan Guru akan mengajarku ilmu Ie Kang tu Tik (Memindahkan Iweekang Menggempur Musuh)?"
"Tuan putri...."
Dhalai Lhama jubah merah memberitahukan.
"Guru tidak bisa mengajarkan ilmu itu kepadamu."
"Kenapa?"
"Sebab ilmu itu harus bekerja sama satu dengan yang lain, paling sedikit harus lima orang. Kalau cuma seorang diri, sudah barang tentu tidak bisa."
"guru, bagaimana kehebatan Ilmu itu?"
"sangat hebat sekali"
Ujar Dhalai Lhama jubah merah.
"Kami berjumlah sembilan orang, coba engkau bayangkan betapa dahsyatnya Iweekang kami kalau digabungkan. Di kolong langit ini tiada seorang jago pun yang mampu menangkis pukulan itu. Buktinya Thio Bu Ki masih terluka parah terkena pukulan itu."
"Guru,"
Tanya An Lok Kong cu mendadak-"Kenapa ayahku mengutus guru pergi melukai Thio Bu Ki? Apakah Thio Bu Ki adalah orang jahat?"
Dhalai Lhama jubah merah menghela nafas panjang.
"Itu adalah urusan pribadi ayahmu, guru tidak tahu apaapa."
"guru...."
An Lok Kong cu ingin menanyakan sesuatu, tapi kemudian dibatalkan lalu ia menundukkan kepala.
"Tuan putri"
Dhalai Lhama jubah merah tersenyum.
"Ada sesuatu yang terganjel dalam hatimu?"
"Tidaki guru."
Ay Lok Kong cu menggelengkan kepala.
"Kalau tidak, kenapa wajahmu tampak agak murung?"
Dhalai Lhama jubah merah memandangnya dengan penuh perhatian.
"Guru, aku...."
An Lok Kong cu menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Aku lagi kesal.".
"Kesal kenapa?"
"Aku sama sekali tidak boleh main di luar, hanya hidup dalam istana saja,"
Sahut An Lok Kong cu mengeluh-"Aku sudah bosan terus begini, bosan sekali-"
"Tuan Putri"
Dhalai Lhama jubah merah menggelenggelengkan kepala-"Engkau adalah Tuan putri, tentu tidak boleh sembarangan main di luar."
"Tapi aku bagaikan seekor burung yang terkurung di dalam sangkar, tiada kebebasan sama sekali."
An Lok Kong cu menghela nafas panjang.
"Aku ingin tahu, bagaimana keadaan di luar-"
"Tuan putri"
Wajah Dhalai Lhama jubah merah berubah serius.
"Engkau harus tahu, keadaan di luar sangat bahaya-"
"Bahaya bagaimana?"
"Banyak penjahat dan orang licik, maka lebih baik engkau tetap diam di dalam istana saja."
"guru, aku justru sudah merasa bosan."
"Begini,"
Ujar Dhalai Lhama dengan suara rendah.
"Mulai besok guru akan mengajarmu Cai Hong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pelangi). Engkau harus belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh, sebab ilmu pedang tersebut sangat lihay dan hebat, setelah engkau menguasai ilmu pedang itu, engkau boleh pergi berkelana."
"oh? sungguhkah?"
Tanya An Lok Kong cu dengan wajah berseri.
"sungguh"
Dhalai Lhama jubah merah mengangguk-"Tapi engkau harus ingat, setelah kami pulang ke Tibet, barulah engkau boleh meninggalkan istana dengan cara menyamar sebagai pemuda sastrawan."
"ya, guru."
An Lok Kong cu girang sekali.
"Terima kasih"
Ucapnya.
sementara itu, Thio Han Liong dan Tan Giok Cu terus melanjutkan perjalanan menuju gunung soat san.
Dalam perjalanan ini, hati mereka penuh diliputi kegembiraan dan kadang-kadang mereka juga bercanda ria.
Hari itu mereka beristirahat di bawah sebuah pohon, sedangkan kuda mereka dibiarkan bebas makan rumput di sekitarnya.
"Kakak tampan, apa rencanamu setelah memperoleh Teratai salju?"
Tanya Tan Giok Cu.
"Tentunya harus cepat-cepat pulang ke rumahmu,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Jangan lupa akan pesan ke dua orang tuamu lho"
"Aku tidak akan lupa. Lalu setelah itu?"
"Kita ke pulau Hong Hoang To, karena engkau harus bertatap muka dengan ke dua orang tuaku"
"Kita akan tetap tinggal di pulau itu?"
Tanya Tan Giok. Cu dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Itu... bagaimana nanti saja"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"Kita belum cukup dewasa, tentu belum bisa menikah-ya, kan?"
"Memangnya aku ingin cepat-cepat menikah?"
Tan Giok Cu cemberut-"Huh Tak usah ya"
"Adik manis"
Thio Han Liong tersenyum-"Maafkan aku karena tidak sengaja menyinggung perasaanmu-Engkau tidak marah kan?"
"Kakak tampan,"
Sahut Tan Giok Cu setengah berbisik-"Bagaimana mungkin aku marah, engkau benar kok, Kita masih belum cukup dewasa, tentu belum boleh menikah-"
"Adik manis"
Thio Han Liong memegang tangannya-"Setelah kita berusia dua puluh lebih, barulah kita menikah-"
"ya-"
Tan Giok Cu mengangguk-"Pulau Hong Hoang to, tempat tinggal kami itu sangat indah sekali. Kita ajak ke dua orang tuamu tinggal di sana. Bagaimana menurutmu?"
"Itu usul yang baik sekali. Ke dua orang tuaku pasti mau, percayalah"
Tan Giok Cu tersenyum, kemudian bertanya perlahan.
"oh ya, setelah kita menikah nanti, engkau ingin punya anak berapa?"
"Harus lebih dari sepuluh, sebab kata orang tua, banyak anak banyak rejeki lho"
Ujar Thio Han Liong sambil tertawa.
"Apa?"
Tan Giok Cu cemberut.
"Engkau anggap aku ini apa? Bisa melahirkan begitu banyak anak? Dasar..."
"Engkau harus tahu, di pulau Hong Hoang To cuma ada ke dua orang tuaku."
Thio Han Liong memberitahukan.
"sedangkan pulau itu amat besar. Kalau cuma kita beberapa orang, tentu sepi sekali, oleh karena itu, kita harus punya anak sebanyak-banyaknya."
"Kalau begitu,"
Ujar Tan Giok Cu sambil tertawa kecil.
"setiap tahun aku akan melahirkan satu anak selama lima belas tahun aku akan terus menerus melahirkan."
"Hah?"
Thio Han Liong terbelalak.
"Yang benar?"
"Tentu benar."Tan Giok Cu manggut-manggut.
"Aku ingin bikin ramai pulau Hong Hoang Te-"
"Adik manis, engkau sungguh baik sekali"
Thio Han Liong memeluknya erat-"Eeeh --"
Wajah Tan Giok Cu kemerah-merahan.
"Engkau...."
Di saat itulah mendadak terdengar suara tawa cekikikan, kemudian melayang turun sosok bayangan merah-"Hi hi hi"
Seorang gadis berpakaian serba merah berdiri di hadapan mereka sambil tertawa-gadis itu ternyata Ciu Lan Hio.
"Asyik deh mesra-mesraan"
"Eh?"
Thio Han Liong dan Tan Giok cu terperanjat. Mereka tidak menyangka mendadak muncul seorang gadis berpakaian merah yang begitu cantik.
"Kalian terkejut ya?"
Ciu Lan Nio memandang mereka.
"Maaf, maaf Aku telah mengganggu keasyikkan kalian. Maaf...."
"Siapa engkau?"
Tanya Tan Giok Cu sambil bangkit berdiri dengan wajah tidak senang.
"Mau apa engkau ke mari?"
"Namaku Ciu Lan Nio,"
Sahut gadis berpakaian merah itu sambil tersenyum.
"Aku ke mari karena ingin menyaksikan kalian bermesramesraan."
"Engkau...."
Tan Giok Cu menatapnya dengan mulut cemberut.
"Engkau kok tidak tahu diri?"
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa cekikikan.
"Aku yang tidak tahu diri atau engkau yang tidak tahu malu?"
"Engkau...."
Tan Giok Cu membanting-banting kaki saking gusarnya.
"Engkau...."
"Kenapa aku?"
Ciu Lan Nio tersenyum.
"Hi hi hi Marah ya"
"Engkau mau pergi tidak?Jangan mengganggu kami"
Bentak Tan Giok Cu sambil melotot.
"Engkau sungguh galak, tapi memang cantik sekali,"
Ujar Ciu Lan Nio dan menambahkan.
"Kalau aku tidak mau pergi, engkau mau apa?"
"Engkau-.."
Dada Tan Giok Cu turun naik saking marahnya.
"Kakak tampan, dia -dia menghinaku Cepatlah usir dia"
"Adik manis,"
Ujar Thio Han Liong lembut.
"Tempat ini bukan milik kita, maka kita tidak berhak mengusirnya."
"Tapi dia --"
Tan Giok Cu membanting-banting kaki-"Dia tidak menghinamu. Biar dia berdiri di situ. Tidak mengganggu kita kan?"
Sahut Thio Han Liong, kemudian memandang Ciu Lan Hio dan memberi hormat.
"Namaku Thio Han Liong."
"Ngmmm"
Ciu Lan Nio manggut-manggut.
"Engkau sungguh tampan dan lemah lembut, tapi kekasihmu itu galak sekali, oh ya, bolehkah aku tahu namanya?"
"Dia bernama Tan Giok Cu."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Nona, kalau ucapannya tadi menyinggung perasaanmu, aku harap engkau sudi memaafkannya"
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa nyaring.
"Engkau sopan sekali, aku jadi suka padamu. Hi hi hi-"
"Hmm"
Dengus Tan Giok Cu.
"Dasar tak tahu malu, berani omong begitu"
"gadis galaki ada hubungan apa engkau dengan pemuda ini?"
Tanya Cu Lan Hio mendadak.
"Dia dan aku adalah--"
Tan Giok Cu tidak melanjutkan ucapannya, melainkan menundukkan kepala dengan wajah kemerah-merahan.
"Ayoh lanjutkan"
Desak Ciu Lan Hio.
"Jangan malu-malu"
"Dia kekasihku. Engkau sudah dengar? Kami adalah sepasang kekasih yang saling mencinta,"
Ujar Tan Giok Cu setengah berteriak-"Cepatlah engkau pergi, jangan mengganggu kami"
"Hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa.
"Kalian belum menjadi suami isteri, dan belum tentu pemuda ini akan menjadi milikmu. Aku masih boleh merebutnya lho"
"Engkau...."
Tan Giok Cu mclotot-"Nona,"
Ujar Thio Han Liong sabar.
"Aku harap nona jangan bergurau Itu tidak baik, sebab akan merendahkan diri nona sendiri, lagipula tidak pantas bagi nona bergurau begitu"
"oh?"
Ciu Lan Hio menatapnya dalam-dalam.
"Engkau sungguh merupakan pemuda yang berpengertian, sehingga membuatku makin suka kepadamu."
"Ih Dasar tak tahu malur ujar Tan Giok Cu dingin "
Aku memang suka kepada Thio Han Liong. Engkau mau apa?"
Tanya Ciu Lan Nio sambil tersenyum.
"Engkau kok begitu tak tahu malu? Dia kekasihku, tapi engkau masih berani menyatakan suka kepadanya. Apakah engkau tidak merasa malu sama sekali?"
Tan Giok Cu menatapnya dengan wajah gusar.
"Kenapa aku harus merasa malu? Kalian bukan suami isteri. Kalaupun dia suamimu, aku pun akan mendekatinya. Apalagi kini dia baru merupakan kekasihmu, tentunya aku boleh mendekatinya, ya, kan?"
"Engkau...."
Tan tiiok Cu melotot.
"Dasar gadis liar"
"Adik manis,"
Ujar Thio Han Liong lembut.
"Engkau harus belajar sabar dan harus bisa menekan emosi. Nona itu cuma ingin memanasi hatimu."
"Kakak tampan, dia. -"
"Sudahlah"
Thio Han Liong tersenyum.
"Dia mau omong apa, itu adalah mulutnya, biarkan saja"
"Tapi hatiku panas sekali,"
Ujar Tan Giok Cu.
"Hei gadis galak"
Ciu Lan Nio tersenyum-senyum.
"Aku tahu engkau berkepandaian cukup tinggi, namun masih di-bawah kepandaianku. Maka engkau jangan cobacoba menantangku"
"Nona"
Thio Han Liong menjura kepada Ciu Lan Nio.
"Aku mohon Nona jangan bergurau lagi, itu tidak baik."
"Tadi aku memang bergurau, tapi barusan aku berkata sesungguhnya,"
Sahut gadis berpakaian merah-"Engkau pun berkepandaian tinggi, namun masih di bawah kepandaianku."
"Aku percaya."
Thio Han Liong mengangguk "Aku tidak percaya"
Sela Tan Giok Cu sambil mendengus dingin-"Hmm Kita boleh bertarung sekarang juga"
"Adik manis"
Thio Han Liong meng geleng-geleng-kan kepala-"Engkau jangan begitu-Dari pada kalian berdua bertarung, bukankah lebih baik berkawan?"
"Aku tidak mau berkawan dengan dia"
Sahut Tan Giok Cu.
"Dia gadis liar yang tak tahu malu"
"Huh"
Ciu Lan Nio mengeluarkan suara hidung.
"Aku pun tidak mau berkawan denganmu kebagusan"
"Kakak tampan"
Tan Giok Cu menarik tangannya.
"Mari kita pergi"
Ciu Lan Nio tersenyum, kemudian mendadak menarik tangan Thio Han Liong seraya berkata.
"Kakak tampan, aku ikut"
"Nona...."
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Hei"
Bentak Tan Giok Cu.
"Kenapa engkau begitu tak tahu malu, berani menarik tangannya"
"gadis galaki Ciu Lan Nio tertawa. Jangankan cuma menarik tangannya, menciumnya pun aku berani"
Sekonyong-konyong Ciu Lan Nio mengecup pipi Thio Han Liong. Begitu cepat gerakannya. sehingga pemuda itu tidak sempat berkelit.
"Cuuup,"
Sebuah kecupan yang berbunyi cukup nyaring itu mendarat ke pipi Thio Han Liong.
"Haaah -?"
Pemuda itu terbelalak dengan wajah kemerahmerahan saking jengahnya.
"Engkau... engkau...."
Tan Giok Cu menuding Ciu Lan Nio dengan mulut ternganga lebar.
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa cekikikan.
"Aku sudah mencium kekasihmu. Apakah engkau juga pernah menciumnya?"
"Engkau...."
Tan Giok CU melotot-"Nona"
Thio Han Liong menatap Ciu Lan Hio dengan tajam sekali.
"Aku harap nona jangan keterlaluan nona adalah seorang gadis, maka harus tahu kesopanan."
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa we.riv^o,.
"Sekarang aku ingin bertanya. Kalau engkau tidak bersama gadis galak ini, apakah engkau akan menyukaiku?"
"Karena sifatmu begitu macam, tentunya aku tidak akan menyukaimu,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"seandainya aku tidak bersifat begitu macam, apakah engkau akan menyukaiku?"
"Aku tidak akan menyukaimu."
"Kenapa?"
"Entahlah-"
"Hi hi"
Ciu Lan Nio tertawa.
"Engkau tidak berani menjawab sejujurnya karena gadis galak ini berada di sini?"
"Nona"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Aku pikir sudah cukup engkau bergurau. kalau masih dilanjutkan, aku pasti marah."
"oh?"
Ciu Lan Nio menatapnya.
"Engkau berani marah padaku?"
"Kenapa tidak?"
Sahut Thio Han Liong.
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa cekikikan.
"Karena masih ada urusan lain, aku harus pergi sekarang. Kita akan berjumpa lagi kelak-gadis galak, engkau harus menjaganya baik-baik, sebab aku masih akan mendekatinya-Hi hi hi -"
Gadis berpakaian merah itu melesat pergi-Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Tan Giok Cu masih tampak gusar.
"Adik manis, sudahlah"
Ujar Thio Han Liong sambil memegang bahunya.
"Dia sudah pergi, engkau jangan gusar lagi"
"Kakak tampan...."
Tan Giok Cu cemberut. Tadi gadis itu menciummu, bagaimana perasaanmu di saat itu?"
Tiada perasaan apa pun,"
Sahut Thio Han Liong sungguhsungguh.
"Engkau jangan memikirkan yang bukan-bukan, sebab gadis itu memang sengaja memanasi hatimu oleh karena itu, mulai sekarang engkau harus belajar sabar dan belajar menekan hawa emosi-"
"Itu bagaimana mungkin?"
Tan Giok Cu menggelenggelengkan kepala-"Sebab aku punya rasa cemburu-"
"Aku tahu-"
Thio Han Liong manggut-manggut-"Tapi gadis itu cuma bergurau denganmu, maka kejadian tadi jangan kau simpan dalam hati"
"Ya"
Tan Giok Cu mengangguki kemudian bergumam.
"Heran? entah siapa gadis itu? Mendadak muncul dan pergi begitu saja"
"Aku yakin dia adalah gadis rimba persilatan, bahkan kepandaiannya pun tinggi sekali"
Ujar Thio Han Liong.
"Entah murid siapa dia?"
"Gadis itu begitu liar dan tak tahu aturan, burunya pun pasti bukan orang baik-baiki"
Sahut Tan Giok Cu dan melanjutkan.
"Kakak tampan, aku... aku...."
"Kenapa engkau?"
Thio Han Liong menatapnya lembut.
"Gadis itu begitu berani, karena itu aku khawatir kelak dia akan berhasil merebutmu dari sisiku."
Tan Giok Cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik manis"
Thio Han Liong menggenggam tangannya.
"Engkau tidak usah mengkhawatirkan itu. Percayalah hanya engkau yang kucintai."
"Kakak tampan...."
Tan Giok Cu mendekap di dadanya.
Thio Han Liong segera membelainya dengan penuh kasih sayang, setelah itu, barulah mereka melanjutkan perjalanan dengan wajah cerah ceria.
seekor kuda berlari tidak begitu kencang di sebuah lembah.
Yang duduk di punggung kuda itu adalah Thio Han Liong dan Tan Glik Cu.
Tiba-tiba kuda itu meringkik, Thio Han Liong terkejut dan cepat-cepat menghentikan kudanya.
"Ada apa?"
Tanya Tan Giok Cu yang duduk di belakangnya-"Banyak orang yang tergeletak di depan. Mari kita pergi lihat"
Sahut Thio Han Liong sambil meloncat turun, Tan Giok Cujuga cepat-cepat meloncat turun, kemudian ke duanya segera melesat ke depan.
Begitu sampai di tempat itu, mereka terbelalak karena orang-orang yang tergeletak itu sudah tak bernyawa lagi dan di bagian dada mereka terdapat sebuah tanda merah darah.
"Mereka semuanya sudah mati,"
Ujar Tan Giok Cu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Di antaranya terdapat Hweeshio-Kelihatannya mereka semua adalah kaum rimba persilatan."
"Benar."
Thio Han Liong mengangguk sambil memperhatikan mayat-mayat itu, kemudian menggelenggelengkan kepala.
"Mereka mati terkena semacam ilmu pukulan, entah ilmu pukulan apa itu?"
"Haaah -?"
Seru Tan Giok Cu mendadak.
"Kalau tidak salahi Paman Tua In Lie Heng juga terkena ilmu pukulan ini."
"oh?"
Thio Han Liong tersentak, lalu memeriksa dada salah seorang yang menjadi mayat itu.
"Bagaimana?"
Tanya Tan Giok Cu.
"Engkau tahu mereka terkena ilmu pukulan apa?"
"Aaahi-."
Thio Han Liong menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak tahu sama sekali, entah ilmu pukulan apa itu?"
"Kakak tampan...."
Tan Giok Cu ingin mengatakan sesuatu, tetapi mendadak terdengar suara tawa terkekeh-kekeh.
"He he he He he he..."
Setelah itu muncullah sosok bayangan yang ternyata seorang tua berpakaian kumal dengan muka kotor sekali, la berdiri di hadapan mayat-mayat itu.
"Mereka sudah mati semua Hweeshio siauw Lim Pay, murid Go Bi Pay dan beberapa anggota Kay Pang He he he Mereka sudah mati semua"
"Paman Tua yang membunuh mereka?"
Tanya Tan Giok Cu mendadak-"Hei gadis cantik"
Sahut orang tua itu mendadak-"Engkau bertanya atau menuduh?"
"Bertanya."
"Perlukah aku menjawab?"
"Memang perlu."
"Kalau aku yang membunuh mereka, lalu engkau mau apa?"
"Paman Tua...."
Tan Giok Cu mengerutkan kening.
"Kenapa engkau begitu kejam, tega membunuh orang sebanyak itu?"
"He he he"
Orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Engkau bisa memastikan bahwa akulah yang membunuh mereka?"
"Paman Tua...."
Tan Giok Cu menggeleng-gelengkan kepala-"Paman Tua"
Thio Han Liong memberi hormat seraya bertanya.
"Apakah Paman Tua tahu siapa pembunuh mereka?"
"Anak muda"
Orang tua itu menatapnya tajam.
"Engkau tidak menuduhku sebagai pembunuh mereka?"
"Aku yakin Paman Tua bukan pembunuh mereka,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"oh?"
Orang tua itu tertawa gelak.
"Ha ha ha Kenapa engkau yakin aku bukan pembunuh mereka?"
"Kalau Paman Tua pembunuh mereka, tidak mungkin akan kembali ke mari lagi untuk melihat mayat-mayat ini. ya kan?"
Sahut Thio Han Liong sambil memandangnya.
"Ha ha ha"
Orang tua itu tertawa terbahak-bahaki "Anak muda, engkau memang pintar siapa engkau?"
"Namaku Thio Han Liong."
Pemuda itu memperkenalkan.
"Dia bernama Tan Giok Cu."
"Kekasihmu?"
"ya."
"Dia sangat galak dan cepat menuduh orang,"
Ujar orang tua itu dan menambahkan.
"Anak muda, engkau harus baik-baik membimbingnya."
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk "Paman Tua kok usil?"
Tan Giok Cu cemberut.
"Ini adalah urusan kami berdua, kenapa Paman Tua turut campur?"
"Ha ha ha"
Orang tua itu tertawa sambil menyahut.
"Aku memang orang tua usil, maka sekaligus menasihatimu. Engkau jangan galak-galak, nanti hati kekasihmu ini akan berubah terhadapmu."
"Omong kosong"
Tan Giok Cu melotot.
"Jangan-jangan Paman Tua sudah gila? Kalau tidak, kenapa omong sembarangan?"
"Ha ha ha"
Orang tua itu terus tertawa.
"Aku memang orang tua gila, sebab aku adalah Pak Hong (si ciila Dari utara) Ha ha ha..."
"oh?"
Thio Han Liong dan Tan Giok Cu terkejut. Mereka pernah mendengar nama orang tua tersebut.
"Kalian terkejut?"
"Kenapa harus terkejut?"
"Wuahh"
Pak Hong tertawa lagi.
"Engkau memang gadis galak dan pemberani, orang lain begitu mendengar namaku, pasti kabur terbirit-birit dan terkencing-kencing. Tapi engkau justru tidak"
"Hmm"
Dengus Tan Giok Cu.
"Paman Tua tahu siapa pembunuh mereka?"
Tanya Thio Han Liong.
"Tidak tahu."
Pak Hong menggeleng-gelengkan kepala.
"Tadi sayup,sayup aku mendengar utfYB suling yang bernada anehi maka aku segera ke mari. Tapi mereka semua sudah menjadi mayat"
"suara suling yang bernada aneh?"
Kening Thio Han Liong berkerut, karena ia pun pernah mendengar suara suling bernada aneh itu, ketika berada di rumah hartawan Ltm. setelah itu muncul pula dua orang berpakaian serba merah.
"Kalian tidak mendengar suara suling itu?"
Tanya Thio Han Hong sambil memandang mereka.
"Tidak"
Tan Giok Cu menggelengkan kepala-"Paman Tua"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Kami dari arah kiri, sedangkan Paman tur dari arah kanan, maka mendengar suara suling itu."
"Kalau begitu,"
Pak Hong setelah berpikir sejenak-"Pembunuh itu pasti lari ke arah utara-"
"Paman Tua sama sekali tidak tahu siapa pembunuh itu?"
Tanya Thio Han Liong lagi.
"Aku sama sekali tidak tahu,"
Sahut Pak Hong.
"Belum lama ini, sudah banyak kaum rimba persilatan dengan dada berbekas sebuah tanda merah-"
"Seperti yang terdapat di dada mayat-mayat itu?"
Tanya Tan Giok Cu.
"Ya."
Pak Hong mengangguki "Beberapa murid Hwa san, Kun Lun dan Khong Tong Pay juga mati dengan tara yang sama."
"oh?"
Thio Han Liong tersentak dan kemudian bergumam.
"Heran? siapa pembunuh itu dan kenapa membunuh muridmurid partai besar itu?"
"Beberapa tahun lalu telah muncul empat jago yang berkepandaian tinggi, yaitu Teng Koay, si Mo, Lam Khie dan aku Pak Hong. Kami berempat pernah bertanding dan kepandaian kami berempat seimbang. Kemunculan kami dalam rimba persilatan, hanya ingin menyamai empat tokoh masa siiam, yaitu Teng sia, si Tek ki Lam Ti, dan Pak Kay. Namun kemudian muncul pula satu perkumpulan baru, yang tidak lain adalah Hek Liong Pang. -Kini si Mo sudah bergabung dengan perkumpulan itu."
"Paman Tua"
Tan Giok Cu memberitahukan.
"Aku pernah bentrok dengan pihak Hek Liong Pang."
"Kalau begitu,"
Ujar Pak Hong sungguh-sungguh.
"Kalian harus berhati-hati, sebab kini si Mo sudah menjadi wakil ketua Hek Liong Pang."
"Paman Tua tahu siapa ketua Hek Liong Pang itu?"
Tanya Tan Giok Cu.
"Dia seorang wanita berusia lima puluhan, namun aku tidak tahu namanya. Aku dengar kepandaiannya masih di atas kepandaian si Mo, karena si Mo sudah bertanding dengan dia-"
"Kalau begitu..."
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Kini Hek Liong Pang pasti kuat sekali."
"Betul."
Pak Hong mangguj-manggut.
"Kelihatannya ia ingin menyaingi perguruan siauw Lim sie. Bu Teng Pay dan Kay Pang."
"Paman Tua, mungkinkah pembunuh mereka ketua Hek Liong Pang itu?"
Tanya Thio Han Liong.
"Tidak mungkin"
Sahut Pak Hong.
"sebab kini Hek Liong pang sudah resmi berdiri di rimba persilatan, tentunya tidak akan membunuh kaum rimba persilatan dengan cara begitu"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"sebetulnya siapa pembunuh itu?"
Gumamnya.
"Pembunuh itu memiliki ilmu pukulan aneh dan istimewa, bahkan juga amat lihay, hebat dan ganas."
Pak Hong menghela nafas panjang.
"Kelihatannya hanya berikutnya adalah para ketua partai."
"oh?"
Thio Han Liong tersentak-"Kok Paman Tua menduga begitu?"
"Karena kelihatannya pembunuh itu ingin menguasai rimba persilatan. Kalau ia bergabung dengan Hek Liong Pang, rimba persilatan betul-betul dilanda banjir darah-"
"Kalau begitu,"
Ujar Thio Han Liong seakan-akan mengusulkan.
"Alangkah baiknya Tong Koay, Lam Khie dan Paman Tua bergabung untuk menghadapi pembunuh itu dan Hek Liong Pang."
"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa gelak "Itu tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin"
"Kenapa?"
Tanya Thio Han Liong.
"Karena kami berempat ingin saling mengalahkan, itu adalah gengsi kami,"
Ujar Pak Hong memberitahukan.
"oleh karena itu, tidak mungkin kami bergabung."
"Tapi situasi rimba persilatan...."
"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa.
"Situasi rimba persilatan tiada urusan dengan kami."
"Dasar gila"
Ujar Thio Han Liong.
"sudah tahu rimba persilatan bakal dilanda banjir darah, tapi malah tinggal diam."
"Gadis galak"
Pak Hong tertawa lagi.
"Aku memang si Gila dari utara, maka engkau tidak usah heran"
"Paman Tua memang gila,"
Sahut Tan Giok Cu. Gila Gila Gila -"
"Eeh?"
Pak Hong terbelalak.
"Gadis galaki engkau murid siapa? Kok begitu tidak karuan?"
"Bibi sian sian adalah guruku,"
Sahut Tan Giok Cu.
"siapa Bibi sian sian itu?"
Tanya Pak Hong.
"Guruku."
Tan Giok Cu tersenyum-senyum, gadis itu memang sengaja mempermainkan Pak Hong.
"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, Bagus Aku sangat tertarik kepada kalian. Maukah kalian menjadi muridku?"
"Terima kasih atas maksud baik Paman, tapi...."
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Engkau menolak?"
Pak Hong tertegun.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"
Kalau dalam sepuluh jurus Paman mampu mengalahkannya, maka kami berdua bersedia jadi muridmu,"
Ujar Tan Giok Cu mendadak-"Adik manis--"
Thio Han Liong ingin menegurnya, namun Pak Hong sudah tertawa sambil berkata kepada Thio Han Liong.
"Baik-Mungkin kalian tidak percaya akan kehebatan kepandaianku. Kalau dalam sepuluh jurus aku tidak "Paman Tua -." "Tidak apa-apa." Pak Hong tersenyum. "Kita hanya bertanding sepuluh jurus dengan tangan kosong. Bersiapsiaplah" "Paman tua...." "Hati-hati, aku akan mulai menyerangmu" Pak Hong dan langsung menyerangnya. Thio Han Liong terpaksa berkelit, namun Pak Hong menyerangnya lagi. Thio Han Liong tidak keburu berkelit, maka terpaksa menangkis serangan itu dengan ilmu Thay Kek Kun. "Thay Kek Kun" Pak Hong tersenyum. "Ternyata engkau adalah murid Bu Teng Pay sambutlah jurus ke tiga ini" Pak Hong mulai menyerang dengan dahsyat. Thio Han Liong mengelak dan sekaligus balas menyerang dengan ilmu Liong Jiauw Kang. (Ilmu Cakar Naga) yang didapatkannya dari Tiga Tetua siauw Lim Pay. "Eh?" Pak Hong tercengang. "Engkau bisa ilmu andalan siauw Lim Pay juga, sebetulnya engkau murid siapa?" Thio Han Liong tidak menyahut, sebab Pak Hong bertanya sambil menyerangnya, maka ia harus mencurahkan perhatiannya untuk menangkis. Kini ia mengeluarkan itmu Kiu Im Pek Kut Jiauw, menangkis sekaligus balas menyerang. "Haah?" Pak Hong tampak terkejut, karena serangan Thio Han Liong begitu hebat. "Tak disangka engkau begitu hebat juga" Usai berkata begitu. Pak Hong langsung menyerangnya bertubi-tubi. "Berhenti Berhenti sudah sepuluh jurus" Ujar Tan Giok Cu mendadak-Pak Hong segera berhenti menyerang. si Gila dari utara itu berdiri termangu-raangu di tempat, lama sekali barulah membuka mulut. "Anak muda, sebetulnya engkau murid siapa?" "Aku belajar ilmu silat dari ayah" Jawab Thio Han Liong jujur. "Tapi juga pernah mendapat petunjuk dari sucouw Thio sam Hong dan Tiga Tetua siauw Lim Pay." "ooooh" Pak Hong manggut-manggut. "siapa ayahmu?" "Ayahku adalah Thio Bu Ki." "Hah?" Pak Hong tampak terkejut. "Pantas engkau begitu lihay. Engkau adalah anak Thio Bu Ki, bagaimana mungkin aku dapat mengalahkanmu dalam sepuluh jurus? Ha ha ha Anak muda sampai jumpa" Pak Hong melesat pergi, namun sayup,sayup terdengar suara tawanya-Thio Han Liong dan Tan Giok Cu menggelenggelengkan kepala-"Kepandaian Pak Hong sangat tinggi," Ujar Thio Han Liong sambil menghela nafas. Kalau pertandingan tadi tidak dibatasi sepuluh jurus, aku pasti kalah." "Betul." Tan Giok Cu manggut-manggut. "Kakak tampan, kapan kepandaian kita akan setinggi Pak Hong dan lainnya?" "Adik manis" Thio Han Liong tersenyum. "Kita masih kurang pengalaman dan Iweekang kita pun belum mencapai tingkat tinggi, sebab cuma beberapa tahun kita berlatih Iweekang. sedangkan mereka sudah puluhan tahun berlatih, maka Iweekang mereka tinggi sekali." "oooh" Tan Giok Cu mengangguk "Kakak tampan, aku tidak begitu suka berkecimpung di rimba persilatan, setelah kita memperoleh Teratai salju, bagaimana kalau kita semua ke pulau Hong Hoang Te?" "Aku sependapat denganmu," Sahut Thio Han Liong. "Dalam rimba persilatan akan sering terjadi pertikaian, sehingga menimbulkan pembunuhan. Aku memang tidak mau berkecimpung dalam rimba persilatan." "Mari kita melanjutkan perjalanan" Ajak Tan Giok Cu. Thio Han Liong mengangguk, kemudian mereka berdua meloncat ke atas punggung kuda tunggang mereka. -ooo00000ooo Tiraikasih WEBSITE http.//kangzusi.com Bab 20 Kejadian yang Tak Terduga sunyi sepi di dalam kuil siauw Lim sie. Tampak dua padri tua sedang duduk berhadapan di ruang meditasi. Mereka berdua saling memandang dengan kening berkerut-kerut. "Aaaah -" Kong Bun Hong Tio menghela nafas panjang. "sutee, situasi dalam rimba persilatan makin memburuk-Tempo hari Seng Hwi membantai para murid kita lantaran salah paham, kini muncul lagi seorang pembunuh lain." "Suheng. -" Kong Ti seng ceng menggeleng-gelengkan kepala-"Pembunuh itu juga membunuh para murid partai lain. entah apa tujuannya berbuat begitu?" "omitohud" Ucap Kong Bun Hong Tio-"Kita sama sekali tidak tahu siapa pembunuh itu. sungguh mengherankan, setelah Thio Bu Ki hidup mengasingkan din di pulau itu, justru bermunculan jago jago berkepandaian tinggi dalam rimba persilatan." "Seng Hwi memiliki ilmu pukulan cing Hwee Ciang. Pembunuh yang baru muncul itu entah memiliki ilmu pukulan apa, pada dada setiap korban pasti terdapat tanda merah sebesar telapak tangan." "Itu adalah semacam ilmu pukulan." Kong Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala. "Kita tidak tahu ilmu pukulan apa itu." Di saat mereka sedang bercakap-cakap denganserius, tibatiba muncul Goan Liang. "Hong Tio, ketua Bu Teng Pay Jit Lian ciu dan song Tayhiap datang berkunjung. Mereka sudah berada di ruang depan," Ujarnya. "omitohud" Sahut Kong Bun Hong Tio-"Goan Liang, cepat suguhkan teh wangi untuk mereka" "ya." Goan Liang segera pergi. "sutee" Kong Bun Hong Tio bangkit berdiri "Mari kita pergi menemui mereka. Mungkin ada sesuatu yang penting." "Baik suheng" Kong Ti seng Ceng mengangguk dan bangkit berdiri, kemudian mereka berdua berjalan menuju ruang depan. "Kong Bun Hong Tio, Kong Ti seng Ceng" Lie Lian ciu dan song wan Kiauw segera memberi hormat. "Maaf, kedatangan kami telah mengganggu ketenangan Hong Tio dan seng ceng" "omitohud" Sahut Kong Bun Hong Tio-"Tidak "apa-apa, silakan duduk" Jie Lian ciu dan song wan Kiauw duduki setelah itu jie Lian ciu pun bertanya dengan serius. "Apakah siauw Lim Pay tidak mengalami sesuatu?" "omitohud" Kong Bun Hong Tio menghela nafas panjang. "Beberapa murid kami mati terbunuh." "Dada mereka terdapat sebuah tanda merah?" Tanya song Wan Kiauw. "ya." Kong Bun Hong Tio mengangguk dan mem beritahukan. "Beberapa murid partai lain juga sudah menjadi korban" "Aaahi.." Song wan Kiauw menghela nafas panjang. "Kong Bun Hong Tio, In Lie Heng sutee kami pun mati terbunuh." "omitohud" Kong Bun Hong Tio terkejut bukan maini "Kapan kejadian itu?" "Beberapa bulan yang lalu," Jawabjie Lian ciu memberitahukan. "seorang gadis remaja bernama Tan Giok Cu membawanya pulang ke gunung Bu Tong." "Tan Giok cu?" Kong Bun Hong Tio tertegun. "Gadis itujuga ke sini, katanya ingin menemui Thio Han Liong." "Mereka bertemu?" Tanya song wan Kiauw. "omitohud" Sahut Kong Ti seng Ceng. "Mereka tidak bertemu, namun Thio Han Liong secara tidak langsung telah menyelamatkan siauw Lim sie-" "oh?" Jie Lian ciu tercengang. "Ketika Thio Han Liong berada di sini, kebetulan pembunuh misteri yang memiliki ilmu pukulan cing Hwee Ciang muncul pula. Thio Han Liong memberitahukan kepadanya tentang urusan seng Kun dengan cia sun, setelah itu seng Hwi mengajak Thio Han Liong pergi menemui ibunya." "oooh" Jie Lian ciu manggut-manggut. "omitohud" Ucap Kong Bun Hong Tio-"Hari itu In Tayhiap pulang, apakah di tengah jalan ia bertemu pembunuh itu?" "Aku pikir memang begitu. Kebetulan gadis remaja itu melihatnya, maka membawanya pulang ke gunung Bu Tong," Ujar song wan Kiauw memberitahukan. "Guru tidak mampu mengobatinya, hanya dapat menyadarkannya saja. Ketika sadar In sutee menyebut kata 'Hiat' entah apa maksudnya?" "Hiat?" Kong Bun Hong Tio mengerutkan kening. "Mungkin julukan si pembunuh itu" "Kami pun menduga begitu, tapi...." Song wan Kiauw menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata. "Seingat-ku, tiada seorang kaum rimba persilatan punva julukan Hiat-." "Hiat -" Gumam Kong Ti seng Ceng. "Di dada setiap korban terdapat tanda merah, mungkinkah Hiat Ciang (Pukulan Berdarah)?" "Hiat Ciang?" Song Wan Kiauw dan lie Lian ciu mengerutkan kening. "Apakah dalam rimba persilatan terdapat ilmu tersebut?" "Tidak pernah dengar," Sahut Kong Bun Hong Tio sambil menghela nafas panjang. "Aaaahi-" "oh ya" Song Wan Kiauw memandang Kong Bun Hong Tio seraya bertanya. "Apakah Hong Tio mendengar tentang Hek Liong Pang?" "Sudah." Kong Bun Hong Tio mengangguk-"Belum lama ini Hek Liong Pang berdiri dalam rimba persilatan secara resmi-Wakil ketua Hek Liong Pang adalah si Mo, namun kami tidak tahu siapa ketua Hek Liong Pang itu-Kalau tidak salah Hek Liong Pang di ketuai oleh seorang wanita yang berkepandaian tinggi sekali-" "Kini rimba persilatan semakin kacau," Ujar song wan Kiauw sambil menggeleng-gelengkan kepala. "mungkinkah ketua Hek Liong Pang adalah pembunuh itu?" "Entahlah," Kong Bun Hong Tio menggelengkan kepala-"Kelihatannya kaum setan iblis ingin menguasai rimba persilatan. Dulu Thio Bu Ki berhasil menuntun mo Kauw kejatan yang benar. Kini siapa lagi yang akan menaklukan kaum setan iblis ilu? omitohud--" Di saat bersamaan, muncul Goan Liang melapor, bahwa ketua Kay Pang dan Dua Tetua datang berkunjung. "Cepat undang mereka masuki sahut Kong Bun Hong Tio-Goan Liang segera pergi. Berselang sesaat tampak seorang gadis berusia dua puluhan membawa sepasang tongkat bambu berwarna hijau, berjalan ke dalam bersama dua orang pengemis tua. Gadis itu bernama su Hong seki ketua Kay pang. sedangkan ke dua pengemis ilu adalah Ci Hoat dan Coan Kang Tianglo. "omitohud" Ucap Kong Bun Hong Tio-"Selamat datang Ketua dan Tetua Kay Pang" "Ha ha ha" Ci Hoat Tiang lo tertawa gelak-"Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng Ceng, sudah sekian lama kita tidak bertemu-Apa kabar selama ini?" "omitohud Kami baik-baik saja," Sahut Kong Bun Hong Tio-"Ketua Bu Tong Pay dan song Tayhiap, apa kabar?" Coan Kang Tianglo memberi hormat. "Kami baik-baik saja." Jie Lian ciu segera membalas memberi hormat. "Bagaimana Gan Kang Tianglo?" "Kami pun baik-baik saja," Sahut Tianglo itu. "Ketua Kay Pang" Tanya Kong Bun Hong Tie "Kalian ke mari secara mendadak, tentunya ada sesuatu yang penting kan?" "Betul, Hong Tio-su Hong sek mengangguk-Belum lama ini banyak anggota kami yang terbunuh, dada mereka terdapat tanda merah." "omitohud" Ucap Kong Bun Hong Tio-"Kami sudah tahu itu, sebab beberapa murid kami pun terbunuh dengan cara yang sama." "Kong Bun Hong Tio tahu siapa pembunuh itu?" Tanya su Hong sek-"Maaf" Kong Bun Hong Tio menggelengkan kepala. "Kami sama sekali tidak tahu, tapi...." Kong Bun Hong Tio memandang jie Lian ciu, maka su Hong sek dan ke dua Tianglo itu langsung memandang ketua Bu Tong pay. "In Lie Heng sutee kami itu pun terbunuh beberapa bulan lalu, dadanya juga terdapat sebuah tanda merah" Ujar jie Lian ciu sambil menghela nafas panjang. "sebelum menghembuskan nafas penghabisan, dia menyebut 'Hiat', entah apa maksudnya itu?" "Hiat?" Ci Hoat Tiang lo mengerutkan kening. "Itu adalah julukan pembunuh atau nama ilmu pukulan?" "Kami justru sedang membicarakan ini, tapi...." Jie Lian ciu menggeleng-gelengkan kepala. "Kesimpulan kami memang begitu, namun tetap tidak dapat menduga siapa pembunuh itu" "Hek Liong Pang secara resmi berdiri dalam rimba persilatan. Wakil ketua adalah si Mo-Buyung Hok. Tapi ketua Hek Liong Pang...." Gan Kang Tianglo menggelengkan kepala "Tiada seorang pun yang tahu siapa dia, hanya tahu dia adalah seorang wanita berusia lima puluhan. Mungkinkah ketua Hek Liong Pang adalah pembunuh itu." "oh?" Ci Hoat Tianglo menatap song wan Kiauw seraya bertanya. "Kenapa song Tayhiap menduga begitu?" "Menurutku...." Song Wan Kiauw menjelaskan. "Dia menghendaki kita berkumpul semua, lalu membunuh kita semua pula." "Mungkinkah begitu?" Tanya Gan Kang Tianglo dengan kening berkerut. "Apabila kita bergabung, sanggupkah pembunuh itu membunuh kita?" "Kalau dia tidak yakin, tentunya dia tidak berani memancing kemarahan kita kan? sebab dia pun membunuh murid-murid GoBi, Kun Lun, Hwa san dan Khong Tong Pay." "Bukankah pembunuh itu bisa menantang langsung kepada kita?" Ujar Gan Kang Tianglo. "Kenapa harus membunuh dengan cara sadis begitu?" "Dia ingin memperlihatkan kelihayan ilmu pukulannya,"jawab lie Lian ciu dan melanjutkan. "perbuatannya itu membuktikan bahwa ia amat licik, bahkan juga pengecut." "omitohud" Ucap Kong Bun Hong Tio-"Mungkinkah dia punya suatu rencana tertentu?" "Memang mungkin." Jie Lian ciu manggut-manggut. "Tapi aku masih tidak habis pikir, apa sebabnya orang itu memusuhi kita? Apakah dia punya dendam kesumat pada kita?" "Tempo hari yang membuat kami pusing adalah seng Hwi, kini muncul lagi seorang pembunuh misteri lain memusingkan kita semua, omitohud, itu sungguh membingungkan" Kong Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala-"Apa boleh buat" Ujar Jie Lian ciu. "Apabila perlu, kita bergabung saja untuk melenyapkan pembunuh itu." "Setuju," Sahut Coan Kang Tianglo dan menambahkan. "Ketua GoBi, Kun Lun, Hwa san dan ketua Khong Tong Pay juga harus bergabung dengan kita. otomatis kita akan bertambah kuat." "selain menghadapi pembunuh itu, kita pun harus bersiapsiap menghadapi Hek Liong Pang," Ujar song Wan Kiauw-"Karena kelihatannya Hek Liong pang ingin menguasai rimba persilatan." "omitohud" Ucap Kong Bun Hong Tio-"Untuk itu kita harus mengadakan pertemuan resmi, dan harus mengundang para ketua partai lain." "Betul-" Ci Hoat Tianglo manggut-manggut. "Tapi kapan pertemuan itu diadakan?" "Bagaimana kalau tanggal lima belas bulan depan?" Tanya jie Lian ciu. "Baiki" Su Hong seki ketua Kay Pang mengangguk-"Tapi di mana tempat pertemuan kita?" "omitohud" Sahut Kong Bun Hong Tio-"Bagaimana kalau di kuil ini saja?" "Baiki" Coan Kang Tianglo mengangguki "Tapi harus ada arak lho" "omitohud Itu apa boleh buat. Asal jangan minta daging saja," Ujar Kong Bun Hong Tio sambil tertawa, kemudian menambahkan. "Jadi kita pastikan tanggal lima belas bulan depan berkumpul di sini semua." Setelah ada kepastian itu, maka pihak Kay pang berpamit, begitu pula pihak Bu Teng pay. "oh ya Kong Bun Hong Tio, siapa yang akan pergi mengundang para ketua? Kami atau pihak siauw Lim?" Tanya jie Lian ciu-"Karena pertemuan itu diadakan di kuil kami, maka harus kami yang mengundang," Jawab Kong Bun Hong Tio-"Baiklah" Jie Lian ciu manggut-manggut-"Kong Bun Hong Tio, Kong Ti seng Ceng, kami mohon pamit." Sementara itu, Thio Han Liong dan Tan Giok Cu terus melakukan perjalanan menuju gunung soat san. Dalam perjalanan ini cinta kasih mereka semakin bersemi, maka tidak heran kalau Tan Giok Cu terus tersenyum bahagiaitu, ketika mereka memasuki sebuah hutan, mendadak muncul dua orang menghadang di depan mereka-seorang lelaki tua dan seorang wanita berusia lima puluhan, namun masih tampak cantik, siapa mereka berdua itu? Tidak lain adalah si Mo-Buyung Hok dan ketua Hek Liong Pang-Kwee In Loan. "Ha ha ha Anak muda, kita berjumpa lagi" Ujar si Mo sambil menatap Thio Han Liong dengan dingin sekali. "Selamat berjumpa, si Mo" Ucap Thio Han Liong sekaligus memberi hormat. "Hmm" Dengus si Mo memberitahukan. "wanita itu adalah ketua Hek Liong pang. Hari ini dia akan membuat perhitungan dengan kekasihmu itu." "oh?" Thio Han Liong menatap Kwee In Loan, kemudian memberi hormat seraya berkata. "Ketua Hek Liong Pang, urusan Giok Cu dengan pihakmu hanya dikarenakan salah paham." "Diam" Bentak Kwee In Loan, lalu menatap Tan Giok Cu dengan tajam sekali. "Kenapa engkau membunuh beberapa anggotaku?" "Aku hanya menyelamatkan Hakim souw," Sahut Tan Giok Cu dingin-"Engkau adalah ketua Hek Liong Pang, kenapa barusan membentak-bentak kakak Han Liong?" "oh?" Kwee In Loan tersenyum dingin. "Engkau begitu menyayanginya?" "ya." Tan Giok Cu mengangguki "Hmm" Dengus Kwee In Loan. "Kalau tidak salahi engkau bernama Tan Giok Cu. Katakan siapa gurumu?" "Guruku adalah Bibi sian sian" "she apa gurumu?" "she Yo." "Apa?" Kwee In Loan tersentak-" Yo sian sian adalah gurumu?" "Ya." Tan Giok Cu mengangguki "Engkau kenal guruku?" "He he he" Kwee In Loan tertawa terkekeh. "Tak disangka sama sekali, ternyata engkau adalah muridnya " "He he he,-" "Engkau--" Tan Giok Cu mengerutkan kening dan tiba-tiba teringat sesuatu, sehingga langsung berseru tak tertahan. "Engkau adalah Kwee In Loan Bibi guruku?" "Betul." Kwee In Loan mengangguk "Bibi guru" Tan Giok Cu sebera memberi hormat. "Gurumu sudah menceritakan tentang diriku?" Tanya Kwee In Loan dengan nada dingin. "Ya." Tan Giok Cu mengangguk " Kalau begitu...." Kwee In Loan, tertawa dingin. "Engkau pasti tahu bagaimana sifatku." "Bibi guru adalah tingkatan tua, aku tidak berani, berkomentar apa pun" Sahut Tan Giok Cu. "Giok Cu" Ujar Kwee In Loan. "Aku akan menangkapmu, setelah itu barulah aku akan pergi ke kuburan tua itu mencari gurumu." "Ketua Hek Liong Pang" Thio Han Liong maju ke hadapan Kwee In Loan. "Kalau begitu aku terpaksa harus menghadapimu" "Ha ha ha" Si Mo tertawa gelak-"Anak muda hari ini aku akan membunuhmu Ha ha ha...." "si Mo--" Thio Han Liong mengerutkan kening, kemudian seaera mengerahkan Kiu Yang sin Kang. "Anak muda Bersiap-siaplah untuk mampus" Bentak si Mo sambil menyerangnya. Thio Han Liong cepat berkelit, kemudian balas menyerang dengan Thay Kek Kun.. Tan Giok Cu ingin membantu Thio Han Liong, tapi mendadak dihadang oleh Kwee In Loan, bahkan sekaligus diserangnya. Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 5 Baca Juga: Pendekar Patung Emas 14