Eps 5 Anak Naga - Chin Yung
Baca online Anak Naga - Chin Yung
Cersil Anak Naga - Chin Yung.
Maka terjadilah pertarungan yang amat seru, sebab mereka samasama mengeluarkan ilmu Kiu Im Pek Kut liauw.
sementara pertarungan antara Thio Han Liong dengan si Mo pun semakin seru dan sengit.
Thio Han Liong mengeluarkan ilmu Liong jiauw Kang (flmu Cakar Naga) untuk menangkis serangan-serangan yang dilancarkan si Mo, kemudian menyerang dengan ilmu Kiu Im Pek KutJiauw.
Puluhan jurus kemudian, Thio Han Liong mulai berada di bawah angin, itu membuat si Mo tertawa gelak.
suara tawa itu membuat Tan Giok Cu menoleh-Begitu melihat Thio Han Liong terdesak, cemaslah hatinya otomatis jadi lengah pula.
Maka Kwee In Loan berhasil menotokjalan darah Leng Tay Hiat dupunggung gadis itu.
"Aaaakh.-"
Jerit Tan Giok Cu lalu roboh tak bergerak lagi-Suara jeritannya membuat Thio Han Liong terkejut bukan main.
la segera menoleh dan di saat bersamaan, si Mo menyerang dadanya.
Thio Han Liong tidak sempat berkelit maupun menangkis, sehingga dadanya terpukul oleh pukulan itu.
Duuuk "Aaaakh -"
Jerit Thio Han Liong dan terpental beberapa depa. Kemudian ia roboh dan mulutnya menyemburkan darah segar.
"uaaaakh -"
"Kakak tampan..."
Seru Tan Giok Cu.
Walau badannya tidak bisa bergerak namun mulutnya masih bisa bersuara.
sementara Thio Han Liong berusaha bangkit berdiri, tapi roboh lagi.
si Mo menatapnya sambil tertawa dingin, lalu selangkah demi selangkah mendekatinya dengan maksud menghabiskan nyawanya.
Namun mendadak terdengarlah suara suling yang bernada aneh-Begitu mendengar suara suling itu, air muka Kwee In Loan langsung berubah hebat.
"si Mo"
Serunya cepat.
"Jangah sembarangan bertindak"
Sebetulnya si Mo juga tersentak oleh suara suling itu, maka ketika Kwee In Loan berseru, ia pun langsung berdiam di tempat.
Tak lama kemudian, muncullah sosok bayangan merahseorang tua berjubah merah berdiri di situ.
Rambut, wajah, dan jenggotnya semuanya merah bahkan suling yang di tangannya berwarna merah-"Hiat Locianpwee, terimalah hormatku"
Kwee In Loan sambil memberi hormat mengangguk-"Kwee In Loan, engkau sudah kembali di Tionggoan ini,"
Ujar orang tua berjubah merah "ya, Hiat Locianpwee"jawab Kwee In Loan.
"Engkau...."
Mendadak orang tua berjubah merah menuding si mo-"Engkau adalah si mo-Buyung Hok?"
"Betul,"
Sahut si Mo tanpa memberi hormat.
"Hmm"
Dengus orang tua berjubah merah-"Engkau berani tidak memberi hormat kepadaku?"
Si Mo diam saja-"si Mo"
Ujar Kwee In Loan sambil memberi isyarat-"
Cepat memberi hormat kepada Hiat Locianpwee"
Si Mo mengerutkan kening, kemudian memberi hormat kepada orang tua berjubah merah itu-"Ha ha ha"
Orang tua berjubah merah itu tertawa gelak "
Karena engkau sudah memberi hormat kepadaku, maka kuampuni."
"Terimakasih, Hiat Locianpwee,"
Ucap Kwee (n Loan.
"Engkau telah mendirikan Hek Liong Pang, bahkan mengangkat si Mo sebagai wakil ketua,"
Ujar orang tua berjubah merah itu sambil menatap Kwee In Loan.
"Engkau ingin menyaingi partai siauw Lim, Bu Tong dan Kay Pang?"
"ya."
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Apakah Hiat Locianpwee berniat menjadi ketua Hek Liong Pang?"
Tanyanya.
"Aku sama sekali tidak berniat,"
Sahut orang tua berjubah merah, kemudian memandang Tan Giok Cu yang menggeletak di samping Kwee In Loan.
"Cepat bebaskan jalan darahnya"
"ya-"
Kwee In Loan segera membebaskan jalan darah gadis itu. Begitu bisa bergerak, Tan Giok Cu langsung berlari ke arah Thio Han Liong dengan air mata bercucuran.
"Kakak tampan, bagaimana lukamu? Apakah parah sekali?"
Tanya Tan Giok Cu.
"Adik manis,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku tidak apa-apa, engkau tidak usah khawatir."
"Tapi tadi engkau memuntahkan darah segar, apakah dadamu masih terasa sakit?"
"Sudah tidak begitu sakit lagi."
Thio Han Liong tersenyum dan berbisik.
"Adik manis, entah siapa orang tua berjubah merah itu?"
"Aku justru masih merasa heran, kenapa bibi guruku kelihatan begitu takut kepadanya?"
Sahut Tan Giok Cu dengan suara rendah. Di saat mereka bercakap-cakap-orang tua berjubah merah itu menghampiri mereka, dan menatap Tan Giok Cu dengan tajam sekali.
"Gadis cantik, siapa namamu?"
Tanya orang tua berjubah merah itu.
"Namaku Tan Giok Cu. siapa Locianpwee?"
Tan Giok Cu balik bertanya sambil menatapnya.
"Aku adalah Hiat Mo dari Kwan Gwa (iblis darah Dari Luar Perbatasan)."
Orang tua berjubah merah memberitahukan.
"Hiat Mo?"
Tan Giok Cu mengerutkan kening.
"Ya-"
Hiat Mo mengangguk.
"Hiat...."
Gumam Thio Han Liong.
"Locianpweekah yang membunuh Kakek In?"
"siapa Kakek In?"
Tanya Hiat Mo-"In Lie Heng dari Bu Tong Pay"
Sahut Thio Han Liong.
"oooh"
Hiat Mo manggut-manggut.
"Kami bertanding, dadanya terkena pukulanku sehingga terluka parah-"
"Kakek In telah meninggal."
Thio Han Liong menatapnya dengan kening berkerut-kerut.
"siapa yang terkena ilmu Hiat mo Ciang (Ilmu Pukulan iblis Darah) pasti mati,"
Ujar Hiat Mo, kemudian memandang Tan Giok Cu.
"Giok Cu, engkau harus ikut aku."
"Kenapa aku harus ikut?"
Tanya Tan Giok Cu heran.
"Pokoknya engkau harus ikut aku."
Tegas Hiat Mo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Kalau tidak, engkau pasti kubunuh."
"Aku tidak mau ikut,"
Tan Giok Cu berkeras.
"Pokoknya aku tidak mau ikut engkau."
"oh?"
Hiat Mo tertawa.
"Biar bagaimana pun engkau harus ikut."
"Tidak mau Tidak mau Tidak mau..."
Teriak Tan Giok Cu, kemudian mendadak menyerangnya dengan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw.
Akan tetapi, tangan Hiat Mo bergerak cepat mencengkeram jalan darah Wan Kut Hiat yang di lengan gadis itu.
Begitu jalan darahnya tercengkeram.
Tan Giok Cu merasa tangannya berkesemutan dan tak bisa bergerak lagi.
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak-"Aku akan membawamu pergi"
"Lepaskan Lepaskan"
Teriak Tan Giok Cu.
"Locianpwee"
Thio Han Liong menghampirinya sambil memberi hormat-"Aku harap Locianpwee mau melepaskannya"
"Anak muda"
Hiat Mo menatapnya tajam-"Sudah kukatakan biar bagaimana pun aku akan membawanya pergi-"
"Locianpwee -"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Anak muda"
Ujar Hiat Mo sungguh-sungguh-"Kini engkau masih bukan lawanku, kelak apabila engkau mampu mengalahkanku, aku pasti mengembalikan Tan Giok Cu kepadamu."
"Locianpwe -"
Wajah Thio Han Liong langsung memucat.
"Anak muda, kalau engkau tak tahu diri sekarang, aku pasti membunuhmu,"
Ujar Hiat Mo dingin, kemudian memandang si Mo seraya berkata.
"Engkau jangan coba-coba membunuhnya, karena kelak dia masih akan berurusan denganku"
"Kakak tampan Telong aku"
Teriak Tan Giok Cu "Kakak tampan..."
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa terbahak-bahaki kemudian mendadak pergi laksana kilat.
"Adik manis Adik manis..."
Seru Thio Han Liong.
Namun Hiat Mo dan Tan Giok Cu sudah lenyap dari pandangannya, Itu membuatnya cemas sekali.
sementara si Mo dan Kwee In Loan saling berpandangan, setelah itu si Mo mendekati Thio Han Liong "Hmm"
Dengus si Mo dingin.
"Aku tidak akan membunuhmu sekarang, biar Hiat Mo yang membunuhmu kelak Ha ha ha..."
Thlo Han Liong diam saja.
"si Mo-mari kita pergi"
Ajak Kwee In Loan kemudian mereka berdua melesat pergi.
"Adik manis Adik manis..."
Panggil Thio Han Liong dengan suara rendah-"Adik manis -"
Entah berapa lama kemudian, barulah Thio Han Liong meninggalkan tempat itu.
la tidak menunggang kuda lagi.
selangkah demi selangkah ia berjalan dengan kepala tertunduk.
-ooo00000ooo-Bab 21 Gadis Berpakaian Merah sejak Tan Giok Cu dibawa pergi oleh Hiat Mo, Thio Han Liong tidak mengurusi diri, maka tidak heran kalau pemuda itu menjadi tidak karuan.
Rambut awut-awutan dan pakaiannya pun kotor sekali, la sering duduk melamun sambil memikirkan Tan Giok Cu, itu membual badannya menjadi agak kurus.
semula tujuannya ke gunung soat san untuk mencari Teratai salju-Namun kini ia malah tidak tahu harus ke mana, la betulbetul dalam kebingungan.
"Aaaah -"
Thio Han Liong menghela nafas panjang ketika duduk di bawah sebuah pohon.
"Giok Cu, Adik manis Engkau berada di mana? Aku rindu sekali kepadamu, orang tua berjubah merah itu membawamu pergi. Apakah aku mampu mengalahkannya kelak? Kepandaiannya begitu tinggi."
"Hi hi hi"
Mendadak terdengar suara tawa cekikikan dan tak lama kemudian muncullah seorang gadis berpakaian merahgadis itu ternyata Ciu Lan Nio, yang pernah mengecup pipi Thio Han Liong.
"Han Liong.,.."
"Engkau...."
Thio Han Liong kelihatan sudah lupa kepadanya.
"Engkau siapa?"
"Lupa ya?"
Ciu Lan Hio tersenyum sambil duduk di sisinya.
"Namaku Ciu Lan Nio, yang pernah mencium pipimu."
"ooohi engkau..."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala-"Han Liong"
Ciu Lan Nio menatapnya dengan kening berkerut-kerut.
"Kenapa engkau menjadi begini?"
"Aku...."
Thio Han Liong menundukkan kepala.
"oh ya, di mana kekasihmu? Kenapa tidak berada di sisimu?"
Tanya Ciu Lan Nio mendadak-"Dia -dia...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Dia telah meninggalkanmu?"
Tanya Ciu Lan Nio dengan wajah berseri.
"Dia tidak mencintaimu lagi?"
"Dia tidak meninggalkanku bahkan juga tetap mencintai aku. Hanya saja...."
Wajah Thio Han Liong murung sekali.
"seorang tua telah membawanya pergi, dan aku...."
"Engkau menjadi sedih, ya?"
"siapa orang tua itu?"
"orang tua itu mengaku dirinya Hiat Mo-"
"Hiat Mo?"
Ciu Lan Nio tampak terkejut sekali.
"ya"
Thio Han Liong mengangguk-"Hiat Mo bilang, apabila aku mampu mengalahkannya kelaki barulah dia akan melepaskan Giok Cu."
"Kalau begitu, engkau tidak usah cemas,"
Ujar ciu Lan Hio-"Aku yakin tidak akan terjadi suatu apa pun atas diri kekasihmu itu-"
"Tapi Hiat Mo itu kelihatannya kejam sekali, bagaimana mungkin Giok Cu akan selamat?"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala-"Aku berani menjamin."
"Engkau berani menjamin? Maksudmu menjamin keselamatan dirinya?"
"ya."
Ciu Lan Nio mengangguk sambil tersenyum.
"Hiat Mo pasti tertarik pada Giok Cu, maka ia ingin mengambilnya sebagai murid-Oleh karena itu, aku yakin Hiat MO tidak akan mencelakatnya." (Bersambung ke Bagian 11)
Jilid 11
"oooh"
Thio Han Liong menarik nafas lega.
"Tapi bagaimana mungkin kelak...."
"Kepandaian Hiat Mo memang tinggi sekali. Tapi kalau engkau tekun berlatih terus, kelak pasti mampu mengalahkannya"
"Itu tidak mungkin."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaian Hiatiat Mo sangat tinggi sekali. Aku... aku...."
"Han Liong"
Ciu Lan Nio menatapnya dengan kening berkerut-kerut.
"Engkau kok begitu cepat putus asa? Hanya dikarenakan urusan kecil, engkau sudah menjadi begini macam. Apalagi urusan besar, engkau akan mati barangkali."
"Aku bukan putus asa, melainkan...."
Thio Han Liong menghela nafas paniang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku rindu sekali kepada Giok Cu."
"Hi hi hi"
Ciu Lan Nio tertawa.
"Rindu? Kalau aku selalu berada di sisimu, apakah engkau masih akan rindu kepadanya.?"
"Walau engkau berada di sisiku, aku tetap merindukunnya,"
Sahut Thio Han Liong dengan jujur.
"Engkau...."
Ciu Lan Nio cemberut.
"oh ya Engkau jangan lupa lho Aku pernah menciummu."
"Itu...."
Wajah Thio Han Liong langsung memerah.
"Aku mau mencium itu dikarenakan...."
Ciu Lan Nio menundukkan kepalanya sambil melanjutkan.
"Aku sung-guh-sungguh menyukaimu."
"Terima kasih"
Ucap Thio Han Liong.
"Tapi aku sudah punya kekasih, maka tidak boleh menyukaimu."
"Engkau....""
Ciu Lan Nio melotot, kemudian tersenyum.
"Tidak apa-apa. yang penting aku menyukaimu, mungkin kelak akan mencintaimu pula.".
"Aku pasti menolak-"
Tegas Thio Han Liong.
"Aku tidak akan mencintai gadis lain lagi."
"Seandainya Giok Cu mati?"
"Akupun tidak akan mencintai gadis lain,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Aku mau menjadi Hweeshio saja-"
"Engkau bodoh sekali-"
Ciu Lan Nio tertawa nyaring.
"Tapi engkau begitu setia terhadap Giok Cu. Aku salut dan kagum padamu, otomatis makin membuatku makin menyukaimu."
"Lan Nio"
Thio Han Liong menatapnya, kemudian menghela nafas panjang seraya berkata.
"sebaiknya engkau jangan menyukaiku, sebab itu akan membuatmu menderita."
"Memangnya kenapa?"
"Sebab aku tidak akan menyukaimu."
"Tidak apa-apa."
Ciu Lan Nio tersenyum.
"Itu sudah resikoku. Aku berani menyukai harus pula berani menanggung penderitaan."
"Engkau...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Han Liong"
Ciu Lan Nio menatapnya.
"Rambutmu awut-awutan, pakaianmu kotor dan... badanmu pun agak kurus. Mulai sekarang engkau harus mengurus diri, jangan dibiarkan begini"
"Aku.-."
Thio Han Liong tersenyum getir.
"Han Liong"
Ciu Lan Nio tersenyum manis.
"Karena Giok Cu tidak berada di sisimu, maka mulai sekarang... biar aku yang menemanimu."
"Terima kasih"
Ucap Thio Han Liong sekaligus menolak secara halus-"
Itu tidak perlu, terima kasih atas maksud baikmu-"
"Eh? Engkau--"
Ciu Lan Nio melotot, namun setelah itu ia tersenyum lagi seraya berkata.
"Han Liong, aku senang sekali kalau engkau tersenyum-Ayolah cepat tersenyum"
"Aku. -"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala-"Han Liong"
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"Aku pandai bernyanyi dan menari, bagaimana kalau aku bernyanyi dan menari untukmu?"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala lagi, namun Ciu Lan Nio sudah bangkit berdiri gadis itu memandang Thio Han Liong sambil tersenyum-senyum, kemudian mulai bernyanyi sambil menari.
Bukan main merdunya suara gadis itu, tariannya pun sungguh indah gemulai.
Thio Han Liong terpesona menyaksikannya, sedangkan Ciu Lan Nio sering meliriknya dengan wajah ceria.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Ciu Lan Nio berhenti bernyanyi dan menari, lalu duduk di hadapan Thio Han Liong seraya bertanya.
"Han Liong, bagaimana suara dan tarianku?"
"suaramu merdu sekali,"jawab Thio Han Liong dengan jujur.
"Tarianmu amat indah dan lemah gemulai."
"oh?"
Ciu Lan Nio tersenyum gembira.
"Engkau menyukai suara dan tarianku?"
"Ng"
Thio Han Liong mengangguk-"Kalau begitu--"
Ciu Lan Nio menatapnya lembut.
"setiap hari aku akan bernyanyi dan menari untukmu. Aku ingin menggembirakan hatimu"
"Lan Nio, terima kasih atas maksud baikmu, namun...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau engkau begitu terhadapku, akhirnya engkau pula yang akan menderita."
"Aku menderita tidak apa-apa,"
Ujar Ciu Lan Nio sungguhsungguh-"Yang penting engkau gembira-"
"Aaah"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Engkau baik sekali terhadapku tapi aku tidak bisa membalas."
"Itu tidakjadi masalah-sungguh"
"Tapi"
Thio Han Liong memandang jauh ke depan.
"Hatiku merasa tidak enak-"
"Tidak apa-apa."
Ciu Lan Nio tersenyum.
"Han Liong...."
Ketika gadis itu baru mau mengatakan sesuatu, mendadak terdengar suara siulan yang amat halus. Maka air mukanya langsung berubah-"Lan Nio, kenapa engkau?"
Thio Han Liong menatapnya heran.
"Han Liong,"
Sahut Ciu Lan Nio dengan wajah murung.
"Aku harus segera pergi, kita akan bertemu lagi kelak"
"Selamat jalan"
Ucap Thio Han Liong dan menambahkan.
"Terima kasih atas kebaikanmu dan terima-kasih untuk nyanyian dan tarianmu itu"
"Han Liong...."
Mendadak gadis itu menciumnya, lalu melesat pergi seraya berseru.
"sampai jumpa..."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
Berselang sesaat barulah ia meninggalkan tempat itu.
Ciu Lan Nio melesat ke arah suara siulan itu.
Dilihatnya seorang tua berjubah merah dengan wajah dan jenggot merah pula berdiri di situ.
la adalah Hiat mo-"Kakek-.."
Panggil gadis berpakaian merah itu.
"Lan Nio"
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau dari mana? setengah mati kakek mencarimu."
"Kakek"
Ciu Lan Nio menatapnya.
"Kalau tidak salahi kakek menangkap seorang gadis bernama Tan Giok Cu. ya, kan?"
"Kok tahu?"
Hiat Mo heran.
"Aku memang tahu."
Ciu Lan Nio manggut-manggut.
"Mau apa Kakek tangkap gadis itu?"
"Kakek tertarik kepadanya, maka ingin mengambilnya sebagai murid,"
Sahut Hiat Mo-"Tentunya engkau tidak berkeberatan, bukan?"
"Kakek tidak akan menyiksa gadis itu?"
"Tentu tidak-"
Hiat Mo tersenyum.
"Kenapa kakek harus menyiksanya? Bukankah dia akan menjadi kawanmu?"
"Belum tentu."
Ciu Lan Nio menggelengkan kepala.
"Sebab dia kenal aku...."
"Apa?"
Hlat Mo tertegun.
"Engkau kenal gadis itu?"
"Ya."
Ciu Lan Nio mengangguk.
"Bahkan aku pun kenal kekasihnya."
"oh?"
Hiat Mo terbelalak.
"Engkau pun.kenal kekasihnya?"
"Kekasihnya adalah Thio Han Liong."
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"Sejak Kakek menangkap Tan Giok Cu, Thio Han Liong berubah tidak karuan. Rambutnya awut-awutan dan pakaiannya kotor sekali. Dia tidak mengurusi diri."
"oh?"
Hiat Mo menatapnya tajam.
"Kok engkau tahu?"
"Tadi aku bertemu dengannya. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Hiat Mo telah menangkap kekasihnya,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Dia sedih dan cemas, maka aku terpaksa menghiburnya."
"Eh?"
Hiat Mo menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Kok engkau begitu memperhatikan Thio Han Liong? Apakah engkau...."
"Aku memang menyukainya."
Ciu Lan Nio tersenyum.
"Hari itu aku menciumnya di hadapan Tan Giok Cu."
"oh?"
Hiat Mo tertawa gelak.
"Ha ha ha Engkau memang nakal sekali oh ya, bagaimana reaksi Tan Giok Cu ketika engkau mencium kekasihnya itu?"
"Dia marah-marah sedangkan aku terus tertawa,"
Sahut Ciu Lan Nio dan-menambahkan.
"Tadi aku pun mencuri menciumnya, setelah itu barulah aku ke mari."
"Kalau begitu..."
Hiat Mo menatapnya seraya berkata.
"Kakek yakin engkau pasti sudah jatuh cinta kepada pemuda itu."
"Kakek...."
Ciu Lan Nio membanting-banting kaki.
"Thio Han Liong memang tampan dan kepandaiannya pun sudah cukup tinggi. Kakek setuju apabila engkau mencintainya. Namun dia telah mencintai Tan Giok Cu, bagaimana kalau kakek bunuh gadis itu?"
"Jangan"
Ciu Lan Nio menggelengkan kepala.
"Kalau Kakek membunuh Tan Giok Cu, Thio Han Liong pasti akan membenciku."
"Dia tahu engkau adalah cucuku?"
"Tidak tahu."
"Kalau begitu, biar kakek bunuh gadis itu"
Ujar Hiat Mo dan melanjutkan.
"Apabila gadis itu sudah mati, sudah barang tentu Thio Han Liong akan mencintaimu"
"Pokoknya Kakek tidak boleh membunuh gadis itu"
Tegas Ciu Lan Nio.
"Kalau Kakek berani membunuhnya, aku pasti membenci kakek selama-lamanya"
"oh?"
Hiat Mo mengerutkan kening.
"Kakek justru tidak habis pikir, engkau sudah jatuh cinta pada Thio Han Liong, sedangkan Thio Han Liong dan Tan Giok Cu saling mencinta. Kalau engkau tidak melenyapkan gadis itu, bagaimana mungkin pemuda itu akan mencintaimu?"
"Mencintai seseorang harus dengan setulus hati. Aku mencintainya harus pula melihatnya hidup bahagia, oleh karena itu, aku tidak boleh egois,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Aaaahi-."
Mendadak Hiat Mo menghela nafas panjang.
"Engkau benar, seorang tua terhadap anak pun tidak boleh egois."
"Kakek"
Tanya Ciu Lan Nio mendadak-"Bagaimana ke dua orang tuaku meninggal?"
"Mereka--"
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala-"Mereka berdua menderita semacam penyakit yang tiada obatnya, akhirnya mereka mati-"
"Benarkah begitu?"
"Memang benar begitu"
"Kakek"
Ciu Lan Nio menatapnya dengan mata tak berkedip-"Pokoknya Kakek tidak boleh membunuh Tan Giok Cu dan mengganggu Thio Han Liong"
"Jangan khawatir"
Hiat Mo tersenyum.
"Kakek berjanji itu"
"Kakek,"
Tanya Ciu Lan Nio.
"Bolehkah aku pergi menemui Han Liong lagi? Aku... aku ingin mengucapkan selamat berpisah dengan dia-"
"Kenapa engkau ingin mengucapkan selamat berpisah dengan dia?"
Hiat Mo heran.
"sebab Kakek pasti akan kembali ke Kwan Gwa, maka aku akan berpisah dengan dia,"
Ujar Ciu Lan Nio.
"ya, kan?"
"Hgmm"
Hiat Mo manggut-manggut.
"Kakek harus membawa Giok Cu ke Kwan Gwa, karena kakek akan mewariskan kepandaian kakek kepadanya, setelah dia menguasai ilmu kepandaian Kakek, barulah kakek akan melepaskannya pulang ke Tionggoan."
"Kalau begitu, dia pasti akan bertemu Hai-Liong"
Ujar Ciu Lan Nio.
"Mereka memang akan bertemu, namun...."
Hiat Mo tertawa.
"Giok Cu tidak akan mengenalnya, sedangkan Giok Cu akan memakai cadar."
"Giok Cu tidak akan mengenal Han Liong?"
Ciu Lan Nio mengerutkan kening.
"Apakah Kakek akan menggunakan ilmu hitam untuk mempengaruhi Giok Cu?"
"ya."
Hiat Mo mengangguk-"Kakek --"
Air muka Ciu Lan Nio berubah-"Kenapa Kakek akan berbuat begitu?"
"Apabila Han Liong mampu mengalahkan kakek, barulah kakek melepaskan Giok Cu"
Sahut Hiat Mo dan menambahkan.
"sedangkan engkau punya kesempatan untuk mendekati pemuda itu. Ha ha ha-"
"Kakek -""
Wajah Ciu Lan Nio kemerah-merahan.
"Kakek, aku pergi sebentar ya?"
"Baik,"
Hiat Mo mengangguk-"Tapi jangan lama-lama, kakek menunggumu di dalam gua itu."
"ya. Kakek-Terima kasih"
Ucap Ciu Lan Nio lalu melesat pergi-"Aaaah -"
Hiat Mo menghela nafas panjang.
"Cucuku, aku telah bersalah kepadamu. Aku yang membunuh ayahmu, kemudian ibumu membunuh diri setelah melahirkanmu. Aku... aku sungguh berdosa"
Usai bergumam, Hiat Mo lalu melesat pergi menuju ke sebuah gua yang disebutnya tadi-Kalau tadi Ciu Lan Nio tidak menegaskan kepadanya jangan membunuh Tan Giok Cu, Hiat Mo pasti akan membunuh gadis itu demi cucunya.
ciu Lan Nio sudah tiba di tempat tadi di mana ia bertemu Thio Han Liong, namun pemuda itu sudah tidak ada di situ.
Ciu Lan Nio menengok ke sana ke mari, kemudian manggutmanggut ketika melihat rerumputan di sebelah kiri agak miring, sepertinya pernah diinjak orang, segeralah ia melesat ke sana.
Tak seberapa lama, dilihatnya seorang pemuda sedang berjalan dengan kepala tertunduk.
dialah Thio Han Liong.
"Han Liong Han Liong..."
Seru Ciu Lan Nio memanggilnya, sekaligus melesat ke hadapannya.
"Han Liong..."
"Eh?"
Thio Han Liong langsung berhenti dan terperangah ketika melihat gadis itu.
"Engkau...."
"Ya, aku."
Ciu Lan Nio mengangguk.
"Aku ke mari untuk menemanimu sebentar."
"Lan Nio...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa engkau menggeleng-gelengkan kepala?"
Ciu Lan Nio cemberut.
"Tidak senangkah aku ke mari?"
"Lan Nio...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Jangan terlampau baik terhadapku, sebab engkau akan menderita kelak"
"Aku sudah bilang dari tadi, itu tidak jadi masalah bagiku,"
Sahut Ciu Lan Nio sambil tersenyum.
"Han Liong, mari kita duduk sebentar"
Thio Han Liong menatapnya, lama sekali barulah mengangguk.
"Baiklah."
Thio Han Liong duduk di bawah sebuah pohon dan Ciu Lan Nio segera duduk di sisinya.
"Han Liong,"
Ujar gadis itu karena tiada pembicaraan.
"Pemandangan di sini indah sekali."
"Pemandangan di sini indah sekali?"
Thio Han Liong melongo karena di tempat itu hanya terdapat rerumputan dan tanah gersang, namun Ciu Lan Nio justru mengatakan indah sekali tempat itu.
"Engkau tidak salah? Di tempat ini hanya terdapat rerumputan kering dan tanah gersang, tapi kenapa engkau bilang indah sekali?"
"Karena...."
Ciu Lan Nio menundukkan kepala.
"Tiada pembicaraan, maka aku bilang begitu"
"oooh"
Thio Han Liong tersenyum.
"Haaa..H?"
Ciu Lan Nio terbelalak.
"Ada apa?"
Thio Han Liong heran karena gadis itu menatapnya dengan mata terbelalak-"Engkau -engkau sudah tersenyum-Engkau sudah tersenyum, maka aku gembira sekali,"
Sahut Ciu Lan Nio sambil tertawa gembira-"Lan Nio, engkau -"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala dan timbul rasa kasihan pula kepadanya-"Aku -"
"Jangan berkata apa pun"
Ciu Lan Nio tersenyum-"yang penting engkau gembira, kelak aku menderita atau bagaimana, itu adalah urusanku."
"Engkau adalah gadis yang baik, aku yakin engkau akan bertemu pemuda yang baik pula kelak."
"Han Liong -."
Mendadak Ciu Lan Nio tersenyum getir.
"Terus terang, aku tidak gampang jatuh cinta. Tapi -begitu bertemu denganmu -."
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, namun...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sudah punya kekasih, maka tidak bisa menerima cintamu. Aku -aku harap engkau maklum dan mau mengerti"
"seandainya -"
Tanya Ciu Lan Nio sambil menatapnya.
"Tan Giok Cu mati, bagaimana engkau?"
"Aku pun tidak bisa hidup lagi,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Aaah -"
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"engkau begitu setia kepada Tan Giok Cu, sungguh bahagia dia"
"Lan Nio...."
Ketika Thio Han Liong ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba sosok bayangan berkelebat ke arah mereka, sosok itu ternyata seorang pemuda berwajah pucat, yang tidak lain Kwan Pek Him, murid kesayangan si Mo-"Eh?"
Ciu Lan Nio langsung melotot.
"Mau apa engkau ke mari?"
"Nona Ciu, aku..."
Pemuda itu tergagap, kemudian melirik Thio Han Liong seraya bertanya.
"Nona ciu, pemuda ini kekasihmu?"
"Dia kekasih ku atau bukan adalah urusanku, engkau tidak perlu tahu dan tidak usah turut campur"
"Nona Ciu...."
Kwan Pek Him menghela nafas panjang.
"saudara"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku bukan kekasihnya, kami hanya teman biasa."
"oooh"
Kwan Pek Him menarik nafas lega.
"saudara, bolehkah aku tahu siapa engkau?"
"Namaku Thio Han Liong. Engkau?"
"Kwan Pek Him,"
Sahut pemuda itu sambil bergumam.
"Sepertinya aku pernah mendengar namamu."
"ohi ya?"
Thio Han Liong tercengang.
"oooh"
Kwan Pek Him manggut-manggut.
"Aku ingat sekarang, guruku pernah menyebut namamu."
"Siapa gurumu?"
Tanya Thio Han Liong.
"Guruku adalah si Mo-"
Kwan Pek Him memberitahukan.
"Apa?"
Thio Han Liong tersentak-"gurumu adalah si Mo? Engkau... engkau adalah muridnya?"
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk dan bertanya.
"Memangnya ada apa?"
"Ti... tidak-"
Thio Han Liong menggelengkan kepala-"oh ya, sudah lama engkau kenal Lan Nio?"
"Belum begitu lama-"
Sahut Kwan Pek Him dengan jujur.
"Dia pernah datang di markas Hek Liong Pang, aku bertemu dia di sana."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Lho?"
Sela Ciu Lan Nio mendadak-"Kalian kok jadi mengobrol? Kwan Pek Him Cepatlah engkau enyah dari sini"
"Nona Ciu, kita adalah teman. Kenapa aku tidak boleh berada di sini?"
Kwan Pek Him tampak kecewa sekali.
"Cepat pergi"
Bentak Ciu Lan Nio.
"Tempat ini bertambah gersang karena kehadiranmu di sini"
"Nona Ciu...."
Kwan Pek Him menghela nafas panjang.
"Aku -aku --"
"Lan Nio"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Kalian sudah saling kenal, maka tidak baik engkau bersikap begitu terhadapnya."
"Han Liong"
Ciu Lan Nio melotot.
"Ini adalah urusanku, engkau tidak perlu turut campur"
"Aku bermaksud baik,"
Ujar Thio Han Liong sungguhsungguh-"saudara Kwan ke mari tanpa berniat jahat, kenapa engkau mengusirnya?"
"Eh?"
Ciu Lan Nio terbelalak.
"Kenapa engkau membela pemuda muka pucat itu sih? Dia kan bukan temanmu, kenapa engkau membelanya?"
"Kalau sudah kenal berarti teman. Kini kita semua adatah teman,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"Lagipula... dia kelihatan sangat baik terhadapmu, engkau harus...."
"Diam"
Bentak Ciu Lan Nio.
"Aku... aku sebal kepadanya Kalau dia tetap berada di sini, rasanya aku mau muntah"
"Nona Ciu, engkau...."
Wajah Kwan Pek Him yang pucat itu bertambah pucat. Betapa sakit hatinya ketika mendengar ucapan Ciu Lan Nio itu.
"Engkau menghinaku? Apakah aku bersalah padamu sehingga engkau merasa sakit hati begitu?"
"Tempo hari aku sudah bilang, aku tidak akan menyukaimu, kenapa sekarang engkau ke mari menemuiku lagi?"
Sahut Ciu Lan Nio dingin.
"Aku... aku kebetulan lewat di sini. Karena melihatmu, maka aku...."
"Sudahlah"
Potong Ciu Lan Nio.
"Jangan banyak alasan, cepatlah engkau pergi"
"Lan Nio"
Thio Han Liong tampak tidak senang.
"Engkau tidak boleh begitu, padahal...."
"Heran?"
Gumam Ciu Lan Nio sambil mengerutkan kening.
"Kenapa engkau terus membelanya?"
"Karena dia pemuda baik,"
Sahut Thio Han Liong.
"Maka aku membelanya."
Ucapan ini membuat Kwan Pek Him terharu bukan main.
Setahunya gurunya pernah melukainya, bahkan ingin membunuhnya pula.
Namun kini Thio Han Liong justru membelanya.
maka ia memandangnya dengan penuh rasa haru dan terima kasih-"Dia pemuda baik?"
Tanya Ciu Lari Nio dengan suara hidung.
"Aku yakin dia pemuda baik,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan dengan suara rendah-"Lagipula dia sangat tertarik kepadamu, jadi -."
"Diam"
Bentak Ciu Lan Nio.
"Aaaah -"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Lan Hio, sudah dua kali engkau membentakku."
"oh?"
Ciu Lan Nio menundukkan kepala.
"Kalau begitu aku... aku minta maaf kepadamu."
"Engkau tidak usah minta maaf kepadaku, seharusnya engkau minta maaf kepada saudara Kwan,"
Ujar Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Minta maaf kepada si Muka Pucat itu? Huh Tak usah ya"
Ciu Lan Nio mencibir.
"Memangnya dia itu apa? Aku harus minta maaf kepadanya?"
"Lan Nio"
Thio Han Liong tampak gusar.
"Kenapa engkau terus-menerus menghinanya? Kenapa sifatmu, begitu macam? Bagaimana ke dua orang tuamu mendidikmu?"
"Aku tidakpunya orang tua. sebelum aku lahir ayahku sudah meninggal, dan setelah aku dilahirkan, ibuku pun meninggal."
"oooh"
Diam-diam Thio Han Liong menghela nafas, kemudian menatap gadis itu dengan iba.
"Lalu kini engkau bersama siapa?"
"Kakekku."
"Lan Nio, karena engkau tidak punya orang tua, maka sifatmu jadi begitu, aku harap engkau mau merubah sifat burukmu itu"
"Han Liong...."
Ciu Lan Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Pokoknya aku tidak mau berteman dengan si Muka Pucat itu Tidak mau"
"Lan Nio"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Dia pemuda baik yang sabar, kenapa engkau tidak mau menjadi temannya?"
"Aku...."
Ciu Lan Nio menundukkan kepala. Di saat itulah mendadak Thio Han Liong melesat pergi laksana kilat. Begitu Ciu Lan Nio mendongakkan kepala, Thio Han Liong sudah tidak kelihatan.
"Hah? Han Liong"
Teriak Ciu Lan Nio.
"Dia sudah pergi,"
Sahut Kwan Pek Him.
"Percuma engkau berteriak memanggilnya."
"Engkau...."
Ciu Lan Nio menuding nya.
"Gara-gara engkau di sini, maka dia pergi"
"Nona Ciu.."
Wajah Kwan Pek Him yang pucat itu tampak murung sekali.
"Aku sangat tertarik kepadamu dan aku... aku rela berkorban demi dirimu, sungguh"
"Kalau engkau rela berkorban demi diriku, kenapa tidak dari tadi engkau meninggalkanku? Akhirnya Han Liong yang pergi..."
Tiba-tiba Ciu Lan Nio melesat pergi mengikuti arah yang dituju Thio Han. Liong.
"Nona Ciu Nona Ciu"
Seru Kwan Pek Him memanggilnya.
"Nona Ciu..."
Kwan Pek Him berdiri termangu-mangu di tempat, la sama sekali tidak mengerti, kenapa Ciu Lan Nio begitu membencinya?
Di saat pemuda itu sedang melamun, sekonyong-konyong berkelebat sosok bayangan arahnya.
"Pek Him"
Seorang tua berwajah seram berdiri dihadapannya, ternyata si Mo-"guru"
Kwan Pek Him tersentak-"Kenapa engkau berdiri melamun di sini?"
Si Mo menatapnya tajam seraya bertanya.
"Engkau mengalami sesuatu di sini?"
"guru, aku...."
Kwan Pek Him menundukkan kepala.
"Cepat katakan apa yang telah terjadi di sini"
Desak si Mo sambil mengerutkan kening.
"Tadi aku melihat Ciu Lan Nio berada di sini, maka aku ke mari menjumpainya. Tapi...."
"Kenapa? Apakah dia bersama orang lain?"
"siapa orang itu?"
"Thio Han Liong."
"Apa?"
Si Mo tersentak-"Thio Han Liong?"
"ya."
"Hmm"
Dengus si Mo dingin-"Thio Han Liong bersama Ciu Lan Nio, padahal pemuda itu sudah punya kekasih bernama Tan Giok Cu, hanya saja Tan Giok, Cu telah dibawa pergi oleh Hiat Locianpwee-"
"oh?"
Kwan Pek Him terbelalak-"guru, siapa Hiat Locianpwee itu?"
"Entahlah-"
Si Mo menggelengkan kepala-"Yang jelas Ciu Lan Nio punya hubungan erat dengan Hiat Locianpwee itu."
"Heran?"
Gumam Kwan Pek Him sambil menggelenggelengkan kepala.
"Bagaimana Thio Han Liong bisa kenal gadis itu?"
"Hmmm"
Dengus si Mo dengan mata berapi-api.
"Kalau bukan dikarenakan Hiat Locianpwee itu, sudah kubunuh dia"
"Guru,"
Tanya Kwan Pek Him.
"Kenapa guru ingin membunuh Thio Han Liong?"
"Sebelum bertemu denganmu, guru sudah bertemu dia-"
Si Mo memberitahukan.
"guru ingin mengambilnya sebagai murid, tapi dia menolak sehingga membuat guru gusar sekali."
"oooh"
Kwan Pek Him manggut-manggut.
"Karena itu, guru ingin membunuhnya?"
"Ya."
Si Mo mengangguk kemudian menatapnya seraya bertanya.
"Engkau mencintai Ciu Lan Nio?"
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk,-"Kalau begitu, engkau harus membunuh Thio Han Liong,"
Ujar si Mo sungguh-sungguh-"Kenapa?"
Kwan Pek Him heran dan terkejut-"Kalau Thio Han Liong masih hidup, engkau jangan harap bisa mendekati Ciu Lan Nio."
Si Mo memberitahukan. Ternyata ia ingin meminjam tangan muridnya untuk membunuh Thio Han Liong.
"Karena kelihatannya gadis itu mencintai Thio Han Liong, maka engkau harus membunuh pemuda itu agar tidak ada saingan."
"Ya"
Guru."
Kwan Pek Him mengangguk. namun ia sama sekali tidak berniat membunuh Thio Han Liong.
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"Pek Him, mari ikut guru"
"Ke mana?"
Kwan Pek Him heran.
"Jangan banyak bertanya"
Sahut si Mo melotot "Pokoknya engkau ikut saja. Aku adalah gurumu, engkau harus menurut."
"Ya"
Guru."
Kwan Pek Him mengangguk-Si Mo langsung melesat pergi, dan Kwan pek Him segera mengikutinya dari belakang dengan pcjiuh keheranan, karena tidak tahu gurunya akan mengajaknya ke mana.
Walau ia melakukan perjalanan bersama gurunya, namun pikirannya justru menerawang tidak karuan, lantaran wajah Ciu Lan Nio terus muncul di pelupuk matanya, dan itu membuatnya menghela nafas panjang.
-ooo00000ooo-Bab 22 Pertemuan Para Ketua Di Kuil siauw Lim sie Hari itu tanggal lima belas.
Kuil siauw Lim sie tampak ramai sekali.
Ternyata Kong Bun Hong Tio (Ketua siauw Lim Pay) menyelenggarakan suatu pertemuan.
Yang diundang adalah ketua Bu Tong, GoBi, Kun Lun, Hwa san, Khong Tong Pay dan ketua Kay Pang.
Para ketua itu berkumpul di ruang Tay Hiong Po Thian (Ruang Para orang Gagah)-Beberapa Hweeshio menyuguhkan teh wangi dan arak wangi.
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Silakan minum"
Para ketua sebera meneguk minuman masing-masing, setelah itu Kong Bun Hong Tio berkata.
"Para ketua yang kuhormati, hari ini kita berkumpul di sini demi membahas beberapa hal, yaitu mengenai situasi rimba persilatan dan lain sebagainya."
"Kong Bun Hong Tio,"
Ujar ketua Kun Lun Pay.
"Kini situasi rimba persilatan sangat buruk, kelihatannya golongan hitam mulai menguasai rimba persilatan, oleh karena itu, kita harus cepat bertindak, sebab kalau tidaki rimba persilatan pasti akan dilanda banjir darah-"
"Betul."
Ketua Hwa San Pay manggut-manggut.
"Namun kini yang amat memusingkan kita adalah Si Pembunuh Misterius itu. Kita semua sama sekali tidak tahu siapa dia, lalu kita harus bagaimana?"
Justru kita harus bersatu untuk membasmi pembunuh itu,"
Sahut ketua Khong Tong Pay.
"Tapi tidak tahu pembunuh itu bersembunyi di mana, dan bagaimana kita membasminya?"
"Lagi pula..."
Ujar ketua Gobi Pay sambil menggelenggelengkan kepala.
"Kini telah muncul Hek Liong Pang dalam rimba persilatan. Si Mo adalah wakil ketua,sedangkan ketua Hek Liong Pang adalah seorang wanita, tapi kita pun tidak tahu siapa dia. Kelihatannya Hek Liong Pang berambisi menguasai rimba persilatan, sedangkan kekuatan"
Hek Liong Pang boleh dikatakan telah menyamai Siauw Lim Pay maupun Bu Tong Pay. oleh karena itu, kita harus waspada terhadap Hek Liong Pang."
"Benar,"
Ketua Bu Tong Pay manggut-manggut.
"Para anggota Hek Liong Pang sering melakukan kejahatan. Itu sungguh membahayakan Menurutku, Hek Liong Pang itu harus dibasmi."
"Setuju"
Ketua Kun Lun Pay manggut-manggut.
"omitohud"
Ucap KongBun Hong Tio.
"Terlebih dahulu kita bahas masalah pembunuh itu, sebab In tayhiap dari Bu Tong Pay sudah mati di tangan pembunuh itu."
"Haah?"
Para ketua partai lain terkejut, kemudian ketua Gobi Pay bertanya.
"Kapan In tayhiap mati?"
"Beberapa bulan lalu,"
Sahut ketua Bu Tong Pay dengan wajah murung.
"Kami merahasiakan hal itu agar tidak menggemparkan rimba persilatan. Kami telah menyelidiki jejak pembunuh itu, tapi tidak berhasil sama sekali."
"Setiap dada korban pasti terdapat sebuah tanda merah. apakah itu adalah semacam ilmu pukulan?"
Tanya ketua Khong Tang Pay.
"Omitohud"
Sahut Kong Bun Hong Tio.
"Itu memang semacam ilmu pukulan, namun aku tidak tahu ilmu pukulan apa itu."
"Heran?"
Gumam ketua Hwa San Pay.
"Kenapa pembunuh itu membantai para murid kita? Apakah pembunuh itu punya dendam kesumat terhadap kita?"
"Sulit diterka."
Ketua Bu Tang Pay menggeleng-gelengkan kepala, lalu memberitahukan.
"Sebelum In Sutee menghembuskan nafas penghabisan, dia masih sempat menyebuat 'Hiat', tapi kami tidak paham akan kata itu."
"Hiat?"
Ketua Kun Lan Pay mengerutkan kening.
"Mungkin itu adalah julukan atau nama pukulan pembunuh itu."
"Kami pun menduga begitu,"
Sahut ketua Bu Tang Pay.
"Namun..."
Hal Hilang...
"omitohud"
Wajah Kong Bun Hong Tio kemerah-merahan.
"Silakan duduk"
"Terima kasih"
Ucap Pak Hong sambil duduki begitu pula yang lain.
"Maaf"
Tanya Kong Bun Hong Tio.
"Kalian mau minum teh atau arak wangi"
"Ada arak wangi ya?"
Lam Khie terbelalak.
"Apakah para Hweeshio boleh minum arak?"
"Tentu tidak boleh,"
Sahut Kong Ti Seng Ceng sambil tersenyum.
"Arak wangi khusus untuk disuguhkan kepada para tamu."
"Oooh"
Lam Khie manggut-manggut.
"Kalau begitu, tolong suguhkan arak wangi saja"
Salah seorang Hweeshio segera menyuguhkan minuman keras itu.
Kemudian sambil tertawa Lam Khie, Pak Hong dan Tong Koay meneguk minuman keras itu.
sementara si Mo diam saja, namun sepasang matanya menatap mereka dengan mata berapi-api.
"Ha ha ha"
Lam Khie tertawa gelak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "si Mo Kenapa engkau menatap kami dengan mata membara seperti obat peledak?"
"Kalian...."
Si Mo berkeretak gigi-"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa terbahak-bahak-"Para anggota Hek Liong Pang yang bersembunyi di bawah itu, semuanya telah kami lumpuhkan. Bahkan kami pun telah memusnahkan semua obat peledak itu. Ha ha ha..."
"Bagus"
Sahut si Mo dingin-"Aku akan membuat perhitungan dengan kalian kelak"
"Tidak usah kelak."
Ujar pak Hong.
"sekarang pun boleh-sebab tanganku sudah gatal begitu melihatmu-"
"Kita sudah ada janji, kelak akan bertanding dipuncak gunung Hong san. Tunggu saja"
Sahut si Mo lalu berbisik kepada muridnya.
"Mari kita pergi"
Si Mo dan muridnya segera melesat pergi, sedangkan pak Hong terus tertawa terbahak-bahak-"Kali ini si Mo betul-betul mendapat pukulan dahsyatsungguh menggembirakan Ha ha ha»."
"ya"
"Dia tidak menyangka kita akan muncul di sini, bahkan kita pun telah menggagalkan rencana jahatnya itu,"
Ujar Lam Khie-"
Itu pasti membuatnya marah bukan main."
"omitohud"
Ucap Kong Bun HongTio-"Kami sangat berterima kasih atas bantuan kalian. Kalau tidak, kuil Siauw Lim Sie kami pasti akan berubah menjadi lautan api."
"Ha ha"
Tong Koay tertawa.
"Kong Bun Hong Tio tidak usah mengucapkan terima kasih kepada kami, sebab kami menghancurkan semua obat peledak itu, tempat ibadah ini jangan sampai terbakar musnah. Kasihan para Buddha akan ikut terbakar di dalam kuil ini."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Terima-kasih, terima kasih...."
"Maaf"
Tong Koay tertawa strata berkata.
"Ke-datangan kami telah mengganggu pertemuan kalian, aku harap kalian jangan mencaci kami dalam hati"
"Kami sangat berterima kasih kepada kalian,"
Ucap ketua Hwa San Pay.
"Secara tidak langsung kalian telah menyelamatkan kami dan kuil Siauw Lim Sie ini."
"Menyelamatkan kuil ini memang benar,"
Sahut Tong Koay sambil tertawa.
"Tapi menyelamatkan kalian, itu tidak benar lho. Karena kepandaian kalian sangat tinggi, tentunya tidak perlu kami yang menyelamatkan kalian."
"Tapi kami pasti terkurung dalam lautan api,", ujar ketua Hwa San Pay dan menambahkan.
"Setelah kalian musnahkan obat peledak itu, maka kami pun tidak usah terkurung oleh lautan api. Secara tidak langsung kalian telah menyelamatkan kami"
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa gelak.
"sekarang giliaran aku yang minta maaf kepada ketua Hwa San Pay. Sebab aku pernah mengalahkanmu, namun engkau sama sekali tidak membenciku. Aku sungguh kagum dan salut kepadamu"
"Kka bertanding secara jujur. Kepandaianku lebih rendah darimu. Aku... aku harus mengakui itu."
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa lagi.
"Aku memang angin-anginan, harap ketua Hwa San sudi memaafkan"
"sama-sama,"
Sahut ketua Hwa savn Pay sambil tertawa.
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Bagaimana kalian tahu si Mo akan ke mari denga membawa para anak buahnya dan obat peledak?"
"Beberapa anak buahku melihat mereka menuju ke mari, lalu segeralah melapor kepadaku. Maka, aku cepat-cepat ke mari bersama muridku. Namun di tengah jalan aku bertemu Lam Khie dan Pak Hong."
"oooh"
Kong Bun Hong Tio manggut-manggut, kemudian berkata.
"Kami sedang memba beberapa masalah, yaitu mengenai Hek Liong pang dan si Pem-bunuh Misterius itu, mendadak muncul si Mo-"
"Kong Bun Hong Tio tahu siapa ketua Hek Liong pang itu?"
Tanya Lam Khie mendadak.
"Kami cuma tahu dia seorang wanita, namun tidak jelas mengenai identitasnya,"
Jawab Kong Bun Hong Tio-"Belum lama ini aku memperoleh informasi tentang ketua Hek Liong Pang."
Tong Koay memberitahukan.
"Ternyata ketua Hek Liong pang itu bernama Kwee In Loan, yang kepandaiannya masih di atas si Mo."
"Kwee In Loan...."
Kong Bun Hong Tio menggelenggelengkan kepala.
"Aku tidak pernah mendengar nama itu."
"Kami pun tidak tahu dia berasal dari perguruan mana,"
Ujar Tong Koay dan menambahkan.
"Kelihatan-nya dia memang ingin menguasai rimba persilatan."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Apakah kalian bersedia bergabung dengan kami?"
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa.
"Bagaimana mungkin kami bergabung dengan partai yang lurus dan bersih? sebab kami kaum siluman yang tak tahu aturan, tentunya kami tidak bisa bergabung."
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio tersenyum.
"Tapi selama ini kalian tidak pernah melakukan kejahatan dalam rimba persilatan, maka kalian merupakan siluman yang baik-"
"Maaf"
Tong Koay menggelengkan kepala-"Kami tidak mau terlihat di sini, sebab kami lebih senang hidup bebas-"
"omitohud"
Keng Bun Hong Tio menghela nafas panjang.
"Tong Koay"
Ketua Bu Tong Pay menatapnya seraya bertanya.
"Apakah engkau tahu siapa pembunuh misterius itu?"
"Pembunuh misterius?"
Tanya Tong Koay.
"Maksudmu orang yang membantai para murid kalian itu?"
"ya."
Ketua Bu Tong Pay mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Maaf, ketua Bu Tong Pay"
Tong Koay menggelengkan kepala-"Aku tidak tahu-Memang sudah lama aku menyelidiki itu, tapi sia-sia-"
"In Lie Heng suteeku mati terbunuh, dadanya terdapat sebuah tanda merah-"
Ketua Bu Tong Pay memberitahukan.
"sebelum menghembuskan nafas penghabisan, dia sempat menyebut kata '"
Hiat'. Tong Koay tahu apa artinya itu?"
"Hiat..."
Gumam Tong Koay sambil mengerutkan kening.
"Aku tidak tahu apa artinya."
Mendadak Pak Hong berseru kaget dan air mukanya berubah hebat.
"Mungkinkah Hiat Mo?"
"Siapa Hiat Mo itu?"
Tanya ketua Bu Tong Pay dengan kening berkerut.
"Bolehkah engkau memberitahukan kepada kami?"
"Aku pun tidak begitu jelas"
Sahut Pak Hong dan melanjutkan.
"guruku pernah bilang, di Kwan Gwa (Luar Perbatasan) terdapat seorang tokoh yang amat tinggi kepandaiannya. Julukan tokoh itu adalah Hiat Mo (iblis Berdarah)-Namun Hiat Mo itu tidak pernah memasuki daerah Tionggoan, maka aku tidak yakin pembunuh misterius itu adalah Hiat Mo-"
"Ketua Bu Tong Pay,"
Ujar Lam Khie
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Alangkah baiknya engkau bertanya kepada gurumu. Mungkin gurumu tahu tentang Hiat Mo tersebut-"
"ya."
Ketua Bu Tong Pay mengangguk.
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa gelak-"Aku sudah mencicipi arak wangi dari kuil siauw Lim sie, kini aku mau mohon pamit-"
Tong Koay menarik muridnya, lalu melesat pergi sambil tertawa gelak. Begitu pula Lam Khie dan Pak Hong. Mereka berdua pun melesat pergi tanpa berpamit lagi.
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaian mereka sungguh tinggi"
"Kong Bun Hong Tio,"
Tanya ketua Kun Lun Pay.
"Bagaimana pertemuan kita, perlukah dilanjutkan lagi?"
"omitohud"
Sahut Kong Bun Hong Tio-"Kita masih belum memilih seorang Bu Lim Beng Cu"
"Menurut aku, seorang pendekar yang telah berjasa bagi rimba persilatan, barulah boleh dipilih sebagai Bu Lim Beng Cu. seperti halnya dengan Thio Bu Ki. Namun kini tiada seorang pendekar yang dapat menyamai Thio Bu Ki. Maka bagaimana mungkin kita sembarangan memilih seorang Bu Lim Beng Cu? ya, kan?"
Ujar ketua Kun Lun Pay.
"omitohud"
Keng Bun Hong Tio manggut-manggut.
"Memang benar apa yang dikatakan ketua Kun Lun Pay. Karena itu, kita tidak bisa memilih seorang Bu Lim Beng Cu."
"Kalau begitu, cara bagaimana kita bergerak untuk menumpas Hek Liong Pang dan pembunuh misterius itu?"
Ketua Bu Tong Pay menggeleng-gelengkan kepala.
"Begini,"
Sahut ketua Hwa san Pay.
Prinsip kita yakni bersatu.
Kalau sudah waktunya menumpas Hek Liong Pang, tentunya kita harus menyerbu ke markas Hek Liong Pang.
Tapi kini pihak Hek Liong Pang masih belum mengusik kita, maka kita tidak perlu menyerbu ke sana."
"omitohud"
Keng Bun HongTio manggut-manggut.
"Aku yakin untuk sementara ini,, Hek Liong Pang tidak akan mengganggu kita,, sebab Hek Liong Pang harus menghadapi Tong Koay, Lam Khie dan pak Hong."
"BetuL"
Ketua Bu Tong Pay manggut-manggut.
"Kalau begitu, pertemuan kita sampai di sini saja."
"omitohud"
Keng Bun Hong Tio mengangguk dan menambahkan.
"Mengenai soal Bu Lim Beng Cu, akan dirundingkan kelak."
Para ketua itu setuju, lalu mulailah mereka berpamit meninggalkan kuil siauw Lim sie. -ooo00000ooo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Ciu Lan Nio tidak berhasil menyusul Thio Han Liong, akhirnya ia pergi menemui kakeknya yang berada di dalam sebuah gua.
Wajah gadis itu masam.
Begitu berada di hadapan kakeknya ia langsung membanting-banting kaki-"Eeeh?"
Hiat Mo menatapnya heran.
"Kenapa engkau? Kok pulang-pulang membanting kaki?"
"Kakek, aku sedang kesal,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Kesal kenapa?"
Tanya Hiat Mo lembut.
"Di saat aku sedang bercakap-cakap dengan Han Liong, justru muncul Kwan Pek Him, murid si Mo-"
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"oh? kenapa tidak kau usir?"
"Sudah kuusir, namun dia tidak mau pergi,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Muka pemuda itu sungguh tebal, tak tahu malu sama sekali."
"Kenapa tidak kau tendang?"
Hiat Mo tersenyum.
"Yaaah--."
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"Entah apa sebabnya, Han Liong malah membelanya."
"Membelanya? Cara bagaimana dia membelanya?"
Tanya Hiat Mo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Dia bilang Kwan Pek Him adalah pemuda baik. aku tidak boleh menghinanya dan lain sebagainya,"
Jawab Ciu Lan Nio sambil cemberut.
"Padahal aku sebal sekali pada pemuda itu"
"Bagaimana tampang pemuda itu?"
"Seperti mayat hidup-Mukanya pucat pias tak berdarah sama sekali dan menyeramkan."
"Han Liong tidak tahu bahwa dia murid si Mo?"
"Dia tahu, karena Kwan Pek Him memberitahukannya-"
"Setelah tahu pemuda itu adalah murid si Mo, dia masih membelanya?"
"ya."
Ciu Lan Nio mengangguk-"Itu sungguh membuat hatiku kesal sekali, akhirnya dia pergi. Aku pergi menyusulnya, tapi dia --"
"sudah tak kelihatan?"
Tanya Hiat Mo-"ya."
Ciu Lan Nio mengangguk-"Kakek, aku -aku ingin pergi mencari Han Liong."
"Jangan"
Hiat Mo menggelengkan kepala-"sebab kita harus pulang ke Kwan Gwa, lain kali saja engkau pergi mencarinya-"
"Kakek,-"
"Lan Nio, engkau jangan bandel"
Hiat Mo menatapnya.
"Dua tiga tahun kemudian, kita akan ke mari lagi."
"Begitu lama, aku....".
"Lan Nio"
Hiat Mo tersenyum.
"Dua tiga tahun kemudian, mungkin Thio Han Liang sudah melupakan Tan Giok Cu. Nah, itu kesempatanmu lho"
"oh?"
Wajah Ciu Lan Nio agak berseri.
"Tapi kalau dia tidak melupakan Tan Giok Cu?"
"Apa boleh buat. Kakek terpaksa harus turun tangan"
Ujar Hiat Mo sungguh-sungguh.
"Kakek akan membuatnya melupakan gadis itu, sebaliknya dia akan mencintaimu."
"Kakek akan menggunakan ilmu hitam?"
"Tentu."
"Kakek-..."
Ciu Lan Nlo menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu tidak baik. lagipula aku tidak akan memperoleh cinta sejati darinya, karena dia cuma menurut dan seperti tidak punya sukma, Itu percuma."
"Yang penting engkau memilikinya. Apakah engkau tidak merasa puas?"
Hiat Mo menatapnya.
"Kakek...."
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"Aku akan merasa puas, tetapi tidak akan merasa bahagia. Apa artinya aku hidup bersama orang yang telah kehilangan sukmanya? Kakek, itu tiada artinya sama sekali."
"Kalau begitu, engkau mau bagaimana?"
"Walau dia tidak menerimaku, tapi aku akan merasa bahagia bersamanya. Meskipun cuma sekejap."
"Lan Nio...."
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"oh ya, engkau harus ingat satu hal"
"Hal apa?"
"Apabila dia tidak mampu mengalahkan Kakek, Tan Giok Cu tidak akan kembali ke sisinya, Itu berarti engkau punya kesempatan mendekatinya, hanya saja engkau harus bersikap lemah lembut kepadanya."
"Kakek...."
Ciu Lan Nio ingin mengatakan sesuatu, tapi dibatalkannya, kemudian malah menghela nafas panjang.
"Aaah sudahlah"
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang"
Ajak Hiat Mo.
"Kakek, bolehkah aku minta waktu beberapa hari?"
Tanya Ciu Lan Nio sambil menundukkan kepala.
"Engkau ingin pergi mencari Han Liong?"
Hiat Mo mengerutkan kening.
"ya. Kakek."
Ciu Lan Nio mengangguk.
"Haaaaaahhh"
Hiat Mo menghela nafas panjang.
"Baik-lah-Kakek akan menunggumu beberapa hari. Tapi bertemu dia atau tidaki engkau harus kembali."
"ya. Kakek-Terima kasih,"
Ucap Ciu Lan Nio lalu melesat pergi. Hiat Mo berdiri mematung, kemudian menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lan Nio cucuku, aku ingin membantu, namun takut melakukan kesalahan,"
Gumam Hiat Mo dengan wajah murung.
"Aku telah kehilangan anak dan menantu, maka tidak mau kehilangan cucu lagi." -ooo00000ooo-Thio Han Liong melakukan perjalanan tanpa arah tujuan, la terus memikirkan Tan Giok Cu, dan itu membuatnya tidak makan dan tidur, sehingga badannya semakin kurus dan pakaiannya pun semakin kotor. Kini ia betul-betul kehilangan gairah hidup, lagipula ia masih memikul beban tanggung jawab terhadap ke dua orang tua Tan Giok Cu.
"Aaah-"
Keluh Thio Han Liong.
"Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana...?"
Pemuda itu duduk di tepi sungai, kemudian memungut batu kecil dan dilemparkannya ke sungai itu.
"Bagaimana mungkin aku dapat mengalahkan orang tua berjubah merah itu? Bagaimana mungkin?"
Gumam Thio Han Liong.
"Kalau ke dua orang tua Giok cu tahu, aku harus bagaimana? "
Lagipula aku tidak tahu orang tua berjubah merah itu berada di mana. Aaahi"
"Han Liong Han Liong..."
Tiba-tiba terdengar suara seruan, lalu berkelebat sosok bayangan merah ke arahnya, yang ternyata Ciu Lan Nio.
"Han Liong...."
"Lan Nio?"
Thio Han Liong tercengang ketika melihat kemunculannya.
"Kenapa engkau menyusulku lagi?"
"Han Liong...."
Ciu Lan Nio menatapnya iba.
"Engkau semakin kurus...."
"Aku...-"
Thio Han Liong memandang jauh ke depan.
"Han Liong"
Ciu Lan Nio menatapnya dengan mata basah-"Janganlah engkau menyiksa diri sendiri Percayalah, kelak engkau pasti bertemu Tan Giok cu"
"Tapi..."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaian orang tua berjubah merah itu sangat tinggi sekali, bagaimana mungkin aku dapat mengalahkannya?"
"Han Liong"
Ciu Lan Nio mengerutkan kening.
"Kenapa engkau begitu cepat putus asa? Engkau harus ingat bahwa di atas gunung masih ada gunung. Kalau engkau giat berlatih, kelak pasti dapat mengalahkan orang tua berjubah merah itu"
"Aaaahi-"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Han Liong"
Ciu Lan Nio memegang tangannya.
"Menurutku, orang tua berjubah merah itu membawa pergi Tan Giok Cu dengan maksud baik. Kemungkinan besar Tan Giok Cu akan diangkat menjadi muridnya."
"oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Tapi kenapa orang tua berjubah merah itu bilang, aku harus mengalahkannya kelak-Kalau tidak, dia tidak akan mengembalikan Giok Cu kepadaku?"
"Itu agar engkau giat melatih ilmu silatmu, aku pikir begitu,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Tapi-..."
Thio Han Liong menghela nafas seraya berkata.
"Aku tidak tahu di mana tempat tinggal orang tua berjubah merah itu."
"Kalau kepandaianmu sudah tinggi, dia pasti mencarimu. Percayalah"
Ujar Ciu Lan Nio sambil tersenyum, gadis itu tidak berani memberitahukan bahwa orang tua berjubah merah itu adalah kakeknya, karena ia khawatir Thio Han Liong akan membencinya.
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Han Liong, aku...."
Mendadak wajah Ciu Lan Nio berubah murung.
"Ada apa, Lan Nio?"
Tanya Thio Han Liong sambil memandangnya.
"Kenapa wajahmu tampak murung?"
"Aku -aku harus pulang ke tempat tinggalku, maka kita akan berpisah,"
Jawab Ciu Lan Nio dengan mata bersimbah air.
"Padahal aku tidak mau berpisah denganmu."
"oh?"
Thio Han Liong tersenyum seraya bertanya.
"Di mana tempat tinggalmu?"
"Di Kwan Gwa."
"Di luar perbatasan? Begitu jauh?"
"ya."
Ciu Lan Nio mengangguk.
"Han Liong, engkau merasa berduka karena akan berpisah denganku?"
"Aku" -"
Thio Han Liong mengangguk perlahan.
"Engkau berharap kelak kita berjumpa kembali?"
Tanya Ciu Lan Nio dengan suara rendah-"Kita adalah teman, tentunya aku berharap kita berjumpa kembali kelak."
Sahut Thio Han Liong.
"Han Liong...."
Ciu Lan Nio menatapnya seraya berbisik.
"Aku -aku sungguh menyukaimu, dan engkau merupakan segala-galanya bagiku."
"Lan Nio...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Han Liong....-Ciu Lan Nio bangkit berdiri.
"Sesung-guhnya berat sekali aku berpisah denganmu. Tapi... aku memang harus pulang ke Kwan Gwa."
"Kwan Gwa adalah tempat tinggalmu, tentunya engkau harus pulang ke sana,"
Ujar Thio Han Liong.
"Beberapa tahun kemudian, kita akan berjumpa lagi."
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"Engkau akan ke Tionggoan lagi?"
"Ya. Aku pasti mencarimu,"
Ujar Ciu Lan Nio berbisik.
"Han Liong, karena kita akan berpisah, maukah engkau membelaiku?"
"Lan Nio..."
Thio Han Liong tampak ragu.
"Han Liong"
Ciu Lan Nio menatapnya dengan penuh harap.
Tatapan itu membuat Thio Han Liong merasa tidak tega, maka ia membelainya perlahan-lahan.
Belaian itu membuat Ciu Lan Mio langsung mendekap didadanya, kemudian terisakisak.
"Lan Nio, kenapa engkau menangis?"
Tanya Thio Han Liong heran.
"Aku... aku gembira sekali,"
Jawab Ciu Lan Nio.
"Han Liong, alangkah bahagianya aku kalau selamanya bisa begini."
"Lan Nio...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tahu...."
Ciu Lan Nio mendongakkan kepala memandangnya.
"Engkau sudah punya kekasih, aku...."
"Aku yakin kelak engkau pasti bertemu pemuda baik dan tampan,"
Ujar Thio Han Liong.
"Percayalah"
"Aaah-"
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"oh ya, Han Liong...."
"Ada apa?"
"Seandainya -seandainya aku bersedia menyerahkan diriku kepadamu, apakah engkau mau menerimanya?"
"Lan Nio--"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Maksudku..."
Bisik Ciu Lan Nio.
"Kalau aku bersedia menyerahkan kesucianku kepadamu, apakah engkau mau menerimanya?"
"Tidak mungkin aku terima,"jawab Thio Han Liong.
"sebab kita bukan suami isteri, itu tidak baik."
"Han Liong...."
Ciu Lan Nio memandangnya dengan air mata meleleh.
"Aku harus pergi sekarang, baik-baik menjaga dirimu"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Han Liong...."
Air mata gadis itu bercucuran.
"selamat tinggal"
"Selamat jalan, Lan Nio"
Sahut Thio Han Liong. Ciu Lan Nio menatapnya dalam-dalam, kemudian mendadak melesat pergi seraya berseru.
"Han Liong, kelak aku pasti mencarimu"
Thio Han Liong berdiri termangu-mangu, lalu kembali duduk di tepi sungai itu sambil melamun, la juga merasa kasihan kepada Ciu Lan Nio, namun tidak mungkin mencintainya, karena ia cuma mencintai Tan Giok Cu.
Bab 23 Menantang Para Ketua Thio Han Liong masih tetap duduk di tepi sungai sambil melamun.
Sementara hari pun sudah mulai senja.
Tiba-tiba terdengar suara tawa gelak.
seorang tua berpakaian sastrawan muncul di belakang Thio Han Liong, orang tua berpakaian sastrawan itu adalah Lam Khie (orang Aneh Dari Selatan).
"Ha ha ha Anak muda, kenapa engkau duduk melamun di situ?"
Thio Han Liong menoleh, kemudian memanggil dengan suara lemah.
"Locianpwee...."
"Eh?"
Lam Khie terbelalak.
"Kenapa engkau menjadi kurus dan tidak karuan? Apa yang telah terjadi atas dirimu?"
""Aku...."
Thio Han Liong menggeleng-geicngkan kepala.
"Anak muda"
Lam Khie dtidukdi sisinya.
"Beritahu-kanlah padaku apa masalahmu, mungkin aku bisa membantumu."
"Locianpwee, aku sedang melakukan pejalanan ke gunung Soat San bersama seorang gadis bernama Tan Giok Cu, tapi...."
Thio Han Liong memberitahukan tentang kejadian itu.
"Apa?"
Lam Khie tampak terkejut sekali.
"orang tua berjubah merah menculik gadis itu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"orang tua berjubah merah itu pun bilang, kalau kelak aku mampu mengalahkannya, barulah dia akan mengembalikan Giok Cu kepadaku, itu... itu bagaimana mungkin? Kepandaian orang tua berjubah merah itu sangat tinggi sekali."
"Tidak salah."
Lam Khie manggut-manggut.
"Sebab orang tua beri ubah merah itu adalah Hiat Mo-Justru sungguh mengherankan, kenapa dia datang di Tionggoan dan membunuh para murid tujuh partai besar?"
"Locianpwee kenal Hiat Mo im?"
"Tidak kenal, namun pernah mendengar dari kakekku.."
Lam Khie memberitahukan.
"Tempat tinggal Hiat Mo di Kwan Gwa. Kira-kira dua ratus tahun lalu, Hiat Mo pernah datang di Tionggoan, dan membantai kaum rimba persilatan golongan putih-sudah barang tentu hal itu membuat gusar empat jago di Tionggoan. Mereka berempat adalah Tong sla-Oey yok su, si Tok ouw yang Hong, Lam Ti-Toan Hong ya dan Pak Kay Ang cit Kong. Mereka berempat bertarung dengan Hiat Mo, namun kemudian Tokiouw yang Hong malah berbalik menyerang Pak Kay-Ang cit Kong. Maka, terjadilah pertarungan tiga lawan dua, akhirnya Hiat Mo pun jadi musuh tiga jago lain itu. Kejadian tersebut merupakan suatu rahasia bagi rimba persilatan masa itu.."
"Locianpwee,"
Tanya Thio Han Liong.
"Hiat Mo itu adalah Hiat Mo yang sekang juga?"
"Tentunya bukan,"
Sahut Lam Khie-"sebab tidak mungkin Hiat Mo itu hidup sampai sekarang. Mungkin Hiat Mo sekarang adalah anak atau cucu Hiat Mo yang dulu itu-"
"Aaaah -"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kalau begitu, bagaimana mungkin aku dapat mengalahkannya kelak?"
"Anak muda"
Lam Khie menatapnya tajam.
"Kenapa engkau begitu cepat putus asa? Belum apa-apa sudah menjadi begini macam. Kalau aku adalah kakekmu, engkau sudah kuhajar sampai babak belur." --"Locianpwee»»"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana kepandaian Locianpwee dibandingkan dengan Hiat mo itu?"
"Kepandaianku lebih rendah"
Jawab Lam Khie dengan jujur.
"Sebab ilmu Hiat Mo Kangnya sangat hebat sekali."
"Locianpwee saja tidak dapat melawannya, apalagi aku kelak?"
Thio Han Liong menghela nafas panjang lagi. Mendadak Lam Khie mengayunkan tangannya, ternyata ia menampar Thio Han Liong. Plaak "Aduuh "jerit Thio Han Liong kesakitan.
"Kenapa Locianpwee menamparku? Kenapa?"
"Ayahmu begitu gagah, mampu menghimpun kekuatan Beng Kauw untuk meruntuhkan Dinasti Goan, namun sebaliknya engkau begitu tak berguna"
Bentak Lam Khie gusar.
"Sikapmu ini telah mempermalukan ayahmu, maka aku mewakili ayahmu menghajarmu"
Plaaak Lam Khie menampar Thio Han Liong, lagi.
Kali ini Thio Han Liong tidak berani menjerit la berdiri diam di tempat, kemudian berkata dengan terisak-isak "Terima kasih atas kebaikan Locianpwee telah menamparku."
Thio Han Liong menatapnya.
"Kini aku sudah sadar, Terima kasih Locianpwee."
"Engkau masih muda sekali, tapi menghadapi sedikit masalah sudah begini macam Dimana letak kegagahan dan ketabahanmu? Lagi pula bukankah engkau bole berlatih, agar kelak mampu mengalahkan Hiat mo itu?"
"Ya, Locianpwee."
Thio Han Liong mengangguk.
"Baiklah."
Lam Khie menatapnya.
"Kini engkau telah sadar, maka aku harus pergi. Kita akan berjumpa lagi kelak-"
Lam Khie melesat pergi, dan Thio Han Liong tetap berdiri di tempat.
Lama sekali ia berpikir, akhirnya mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanannya ke gunung soat san.
-ooo00000ooo-Di ruang tengah di dalam markas Hek Liong Peng, tampak Kwee In Loan duduk dengan wajah dingin, sedangkan si Mo dan muridnya diam saja.
"Jadi yang menggagalkan rencana kita itu adalah Tong Koay, Lam Khie dan Pak Hong?"
Tanya ketua Hek Liong Pang itu.
"Ya."
Si Mo mengangguk"-"Itu sungguh di luar dugaan, bukan kesalahanku."
"Aku tahu, itu memang bukan kesalahanmu."
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Tapi perbuatan mereka bertiga sungguh menjengkelkan hatiku. Rasanya aku ingin menghabiskan mereka."
"Ketua,"
Ujar si Mo serius.
"Aku punya suatu rencana lain."
"Apa rencanamu itu?"
"Ketua boleh menantang para ketua tujuh partai besar untuk bertanding, siapa yang kalah, harus tunduk kepada Hek Liong pang.
" (Bersambung keBagian 12)
Jilid 12
"Ngmmm"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Memang bagus rencanamu itu Aku akan bertanding dengan mereka satu persatu, tentunya mereka tidak berani mengeroyokku."
"Itu sudah pasti."
Si Mo tertawa.
"Bagaimana mungkin para ketua itu berani mengeroyokmu?"
Tapi bagaimana dengan Tang Koay, Lam Khie dan Pak Hong? Mungkinkah mereka akan membantu para ketua itu?"
"Aku tidak yakin. Karena itu merupakan pertandingan yang adil, maka mereka pasti tidak akan mau turut campur."
"Ngmm"
Kwee In Loan manggut-manggut gembira dan menambahkan.
"Aku pasti dapat mengalahkan para ketua itu Setelah itu, semua partai besar dalam rimba persilatan akan tunduk kepada kita. Mulai saat itu, Hek Liong Pang yang berkuasa dalam rimba persilatan."
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak.
"Aku yakin berhasil."
Terus terang, aku cuma takut kepada satu orang."
Kwee In Loan-memberitahukan secara jujur.
"Siapa orang itu?"
"Hiat Mo,"
Jawab Kwee In Loan.
"Sebab kepandaiannya tinggi sekali, bahkanjuga memiliki ilmu hitam dan sebuah suling pusaka."
"Apa kegunaannya suling pusaka itu?"
Tanya Si Mo.
"Apabila Hiat Mo mengerahkan Iweekangnya meniup suling pusaka itu, maka dapat mempengaruhi pikiran orang lain. Kalau nada suara suling itu meninggi, dapat menggempur Iweekang lawan."
"ohi ya?"
Si Mo terbelalak.
"Kok engkau tahu begitu jelas?"
"sudah lama aku tinggal di Kwan Gwa. Ketika baru tiba di Kwan Gwa, aku pernah bertemu Hiat Mo-..."
Kwee In Loan memberitahukan.
"Kami bertanding, namun aku cuma dapat bertahan sampai seratus jurus. Dapat dibayangkan, betapa tingginya kepandaiannya itu."
"Haaah.-."
Mulut si Mo ternganga lebar.
"Kalau begitu, dia boleh dikatakan jago yang tanpa tanding di kolong langit."
"Kira-kira begitulah,"
Sahut Kwee In Loan.
"oh ya, kita harus segera menulis surat tantangan untuk para ketua tujuh partai besar, bukan?"
"ya."
Si Mo mengangguk-"Lalu kita suruh beberapa orang mengantar surat tantangan itu ke berbagai tempat."
"Ng"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Dalam surat tantangan harus dicantumkan tanggal satu bulan depan, dan para ketua itu harus berkumpul di Pek yun Kok (Lembah Awan putih) untuk bertanding melawanku."
"Baik,"
Si Mo tersenyum.
"Itu merupakan kejutan bagipara ketua itu Ha ha ha..."
"Pek Him"
Panggil Kwee In Loan.
"ya."
Kwan Pek Him langsung memberi hormat.
"siap terima perintah-"
"TUgasmu mengantar surat tantangan ke kuil siauw Lim sie dan ke gunung Bu Tong san. Jangan lalai"
Ya. Ketua."
Kwan pek Him mengangguk-"
Aku pasti melaksanakah tugas itu dengan baik,"
"Bagus, bagus"
Kwee In Loan tersenyum. Di ruang meditasi sam Cing Koan, tampak Thio sam Hong, song Wan Kiauw, jie Lian ciu, jie Thay Giam dan Thio song Kee, sedang duduk bersila dengan wajah serius-"Aaaah -"
Thio sam Hong menghela nafas panjang-Ternyata yang dimaksudkan In Lie Heng adalah Hiat Mo-"
"guru tahu tentang Hiat Mo itu?"
Tanya song wan Kiauw-Tidak begitu jelas-"
Thio sam Hong menggeleng-gelengkan kepala-"Namun ketika guru masih kecil, guru pernah mendengar sedikit tentang Hiat Mo dari ketua siauw Lim Pay masa itu Kira-kira dua ratus tahun lalu, di rimba persilatan telah muncul seorang berjubah merah yang wajah dan jenggotnya pun merah semua-Dia terus membantai para kaum rimba persilatan, baik golongan putih maupun golongan hitam, sehingga memperoleh julukan Hiat Mo-Akan tetapi, setelah itu dia menghilang begitu saja, dan tiada kabar beritanya lagi-"
"oh?"
Song Wan Kiuw terkejut-"guru, Hiat Mo itu berasal dari perguruan mana?"
"Entahlah-"
Thio sam Hong menggelengkan kepala-"Kalau tidak salahi dia datang dari Kwan Gwa."
"Kini muncul Hiat Mo, mungkinkah Hiat Mo yang dulu itu?"
Tanya jie Lian ciu.
"Tidak mungkin,"
Sahut Thio sam Hong.
"Guru tidak percaya Hiat Mo itu begitu panjang umur."
"Kalau begitu..."
Ujar song Wan Kiauw.
"Mungkin anak cucu Hiat Mo yang dulu itu."
"Itu memang mungkin."
Thio Sam Hong manggutmanggut.
"Kalau tidak salah, Hiat Mo memiliki ilmu Hiat Mo Kang yang amat hebat. Terus terang, guru masih tidak sanggup melawannya."
"oh?"
Song wan Kiauw terbelalak-"Begitu hebat ilmu Hiat Mo Kang itu? Lalu siapa yang mampu melawannya?"
"Tiada seorang jago pun yang sanggup melawannya-"
Thio sam Hong menghela nafas panjang.
"Tapi kemungkinan besar sembilan Dhalai Lhama Tibet masih sanggup melawannya, sebab mereka memiliki semacam ilmu istimewa."
"Guru, apabila Hiat Mo ingin menguasai rimba persilatan Tionggoan, tentunya gampang sekali."
"Tidak salah-"
Thio sam Hong manggut-manggut.
"Tapi -."
Ucapan Thio sam Hong terputus, karena salah seorang murid song wan Kiauw memberi laporan dari pintu ruang itu.
"Guru, ada utusan Hek Liong Pang ke mari"
"oh?"
Song Wan Kiauw mengerutkan kening.
"siapa dia?"
"Kwan Pek Him, murid si Mo-Dia ke mari menyampaikan sepucuk surat tantangan."
"Surat tantangan?"
Song waa Kiauw tersentaki lalu bersama jie Lian ciu berjalan ke ruang depan.
Tampak seorang pemuda bermuka pucat berdiri di situ.
Begitu melihat song wan Kiauw dan jie Lian ciu, segoralah ia memberi hormat.
"Maaf"
Ucapnya memberitahukan.
"Aku ke mari untuk menyampaikan surat tantangan."
"surat tantangan dari siapa?"
Tanya jie Lian ciu.
"Dari ketua Hek Liong Pang,"
Sahut Kwan Pek Him sambil menyerahkan sepucuk surat.
"Ketua Hek Liong Pang mengundang para ketua tujuh partai besar ke Pek yun Kok"
"Ngmm"
Jie Lian ciu manggut-manggut. Dibacanya surat tantangan itu, kemudian diberikan kepada song wan Kiauw.
"Tanggal satu bulan depan kami para ketua tujuh partai besar harus berkumpul di Pek yun Kok untuk bertanding dengan ketua Hek Liong Pang?"
Tanya jie Lian ciu dengan kening berkerut-kerut.
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk-"Maka ketua Hek Liong Pang mengharap kehadiran ketua Bu Tong Pay."
"Ha ha ha"
Jie Lian ciu tertawa gelak.
"Beritahukan kepada ketua Hek Liong Pang, bahwa Bu Tong Pay tidak akan mundur"
"Pasti kusampaikan kepada ketua Hek Liong pang,"
Ujar Kwan Pek Him dan setelah itu ia berpamit. song Wan Kiauw dan jie Lian ciu berjalan masuk menuju ruang meditasi. Thio sam Hong memandang mereka seraya bertanya.
"surat tantangan apa itu?"
"Ini surat tantangan dari ketua Hek Liong Pang,"
Jawab song Wan Kiauw sambil menyerahkan surat tersebut kepada Thio sam Hong. seusai membaca surat tantangan itu, kening Thio sam Hong pun berkerut-kerut.
"Aaah -"
Thio sam Hong menghela nafas panjang.
"Ketua Hek Liong Pang berani menantang para ketua tujuh partai besar, berarti kepandaiannya sudah tinggi -sekali. Kalau tidaki bagaimana mungkin dia berani menyebarkan surat tantangan?"
"Guru"
Jie Lian ciu memberitahukan.
"Ketika siauw Lim Pay menyelenggarakan pertemuan, justru muncul si Mo dengan suatu rencana busuk-"
"Engkau sudah memberitahukan tentang kejadian itu-"
Thio sam Hong manggut-manggut "Kali ini ketua Hek Liong mengundang para ketua tujuh partai besar ke Pek yun Kok untuk bertanding. Apakah merupakan suatu rencana busuk?"
Tanya jie Lian ciu sambil memandang gurunya.
"Mungkin tidaki"
Sahut Thio sam Hong.
"Hanya saja dia akan bertanding satu lawan satu. Nah, mumpung masih ada waktu, alangkah baiknya engkau terus berlatih."
"ya, guru."Jie Lian ciu mengangguk-"Aaah -"
Thio Sam Hong menghela nafas panjang.
"Entah bagaimana keadaan Bu Ki dan anaknya?"
Di dalam sebuah rimba, Lam Khie tampak santai sekali, la sedang membakar seekor kelinci sambil bersenandung.
Tak seberapa lama kemudian, kelinci yang dibakarnya itu sudah matang sehingga menyiarkan aroma yang harum sekali.
"Wuah"
Lam Khie mengendus wangi kelinci bakar itu, lalu mengeluarkan seguci araki Akan tetapi, ketika ia baru mau makan, mendadak muncul dua orang sambil tertawa-tawa.
Dua orang itu ternyata Tong Koay dan pak Hong.
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa.
"Jangan makan sendiri, harus bagi kami"
"Kalian...."
Lam Khie melotot.
"Kenapa kalian muncul sekarang? Tahu saja kelinci bakarku telah matang"
"Ha ha"
Pak Hong tertawa g elaki "Sebetulnya kami sudah lama berada di tempat ini, namun...."
"Jadi kalian berdua membiarkan aku membakar kelinci ini seorang diri, setelah matang barulah muncul?"
Tanya Lam Khie dan melotot lagi.
"Memang begitulah,"
Sahut Pak Hong.
"Hmm"
Dengus Lam Khie-"Kalau begitu, jangan harap kalian mendapatkan bagian"
"Engkau mampu menghadapi kami berdua?"
Tanya Pak Hong sambil tersenyum.
"Baik Hari ini aku akan menghadapi kalian berdua"
Ujar Lam Khie sungguh-sungguh.
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa.
"Sudahlah Kami tidak akan minta kelinci bakar itu, silakan engkau makan sendiri"
"Ngmmm"
Lam Khie manggut-manggut.
Di saat itulah mendadak Tong Koay dan Pak Hong Uakh...
Uakhh, sepertinya mau muntah-Lam Khie melirik mereka, kemudian mulai menikmati daging kelinci bakar itu-Tong Koay dan Pak Hong sating memandang dan setelah itu....
"Uaaakh"
"Uaaakh"
Mereka berdua muntah-muntah di hadapan Lam Khie, dan itu sungguh membuat perut Lam Khie menjadi mual.
Akhirnya ia punjkut-ikutan muntah, sedangkan Tong Koay dan Pak Hong langsung tertawa terbahak-"Ha ha ha Ha ha ha..."
"Kalian berdua sungguh keterlaluan"
Bentak Lam Khie gusar.
"Pokoknya aku tidak akan bagi kalian daging kelinci bakar ini"
Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya yang memegang kelinci bakar itu, dan seketika itu juga kelinci bakar itu terlempar jauh.
"Haaah...?"
Mulut Pak Hong ternganga lebar.
"Ke-napa kelinci bakar itu dibuang?"
"Dari pada dibagikan kepada kalian, lebih baik dibuang saja,"
Sahut Lam Khie dengan wajah merah padam.
"Kali ini kalian btreiua mempermainkan aku, kelak aku pasti membalasnya"
"Lam Khie,"
Ujar Tang Koay sambil tersenyum.
"Jangan gusar, kami cuma bergurau"
"Tapi tahukah kalian?"
Lam Khie melotot.
"Dari semalam perutku belum diisi?"
"Tenang"
Tang Koay tertawa, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam bajunya dan diberikan kepada Lam Khie.
"Kami bawakan makanan kesukaan-mu, tentunya engkau akan gembira."
"Apa ini?"
Tanya Lam Khie heran.
"Buka saja"
Sahut Tang Koay. Lam Khie membuka bungkusan itu, yang ternyata berisi dua ekor ayam bakar. Seketika juga Lam Khie terbelalak.
"Ayam bakar ini...."
"Silakan menghabiskannya"
Sahut Tang Koay.
"Dua ekor ayam bakar itu memang untukmu."
"oh?"
Lam Khie Melongo.
"Ha ha ha"
Tang Koay tertawa.
"Kalau kami tidak membawa ayam bakar ini, bagaimana mungkin kami berani bergurau denganmu? Ayohi makanlah"
"Terima kasih"
Ucap Lam Khie dan mulai menikmati ayam bakar itu sambil minum pula.
"oh ya Kenapa kalian ke mari? Tentunya ada sesuatu penting bukan?"
"Kami ke mari ingin memberitahukan, bahwa ketua Hek Liong Pang sudah menyebarkan surat tantangan kepada para ketua tujuh partai besar untuk bertanding di Pek Yun Kok-"
"T0ng Koay, itu adalah urusan mereka"
Sahut Lam Khie.
"Betul."
Tong Koay manggut-manggut.
"Itu adalah urusan ketua Hek Liong Pang dengan para ketua itu, tapi kelihatannya ketua Hek Liong pang ingin menundukkan partai-partai itu"
"Maksudmu kita harus turut campur?"
Tanya Lam Khie-"Turut campur sih tidaki namun kita bisa membantu secara diam-diam"
Sahut Tong Koay.
"oh?"
Lam Khie heran.
"Caranya?"
"Tentunya engkau tahu siapa ketua Hek Liong Pang itu."
Tong Koay menatapnya.
"Maka kita segera berangkat ke Ciong Lam san."
"Aku tidak tahu siapa ketua Hek Liong Pang itu, tidak tahu...."
Lam Khie menggeleng-gelengkan kepala.
"Lam Khie,"
Ujar Pak Hong.
"Biar bagaimanapun kita harus menyelamatkan tujuh partai besar itu. sebab kalau tujuh partai besar itu dikuasai Hek Liong pang, apa jadinya rimba persilatan?"
"Tumben"
Lam Khie memandang mereka dengan heran.
"Kalian memikirkan juga nasib rimba persilatan?"
"Sebab si Mo berada di pihak Hek Liong pang, sedangkan dia begitu licik dan jahat,"
Ujar Tang Koay.
"Aku yakin dia sedang memperalat ketua Hek Liong Pang itu"
"Lalu...."
Lam Khie mengerutkan kening.
"untuk apa kita ke Ciong Lam San?"
"Di belakang Ciong Lam San..."
Sahut Tang Koay.
"Tentunya engkau tahu maksudku."
"oooh"
Lam Khie manggut-manggut.
"Maksud kalian untuk memberitahukan kepada yo Sian sian tentang kemunculan ketua Hek Liong Pang itu?"
"Ya."
Tang Koay mengangguk.
"Karena ketua Hek Liong Pang itu adalah Kwee In Loan.".
"Aku sudah menduga itu Dia adalah murid murtad partai Kuburan Tua,"
Uiar Lam Khie.
"Tapi-....-"
"Engkau kenal baik ke dua orang tua yo Sian Sian, maka kalau engkau yang berteriak di depan kuburan tua itu, yo Sian Sian pasti membukanya."
"Itu...."
Lam Khie berpikir sejenaki kemudian mengangguk.
"Baiklah, mari kita berangkat sekarang juga"
Lam Khie, Tang Koay dan Pak Hong berdiri di depan sebuah kuburan tua yang amat besar, yakni tempat tinggal yo Sian Sian.
"Lam Khie,"
Ujar Tang Koay .
"Engkau boleh mulai berteriak memanggil yo Sian Sian."
Lam Khie mengangguk, kemudian mulai berteriak menggunakan Iweekang. Maka, suaranya bergema ke dalam, kuburan tua itu "Nonaa yo Aku Lam Khie-Toan Thian Ngie datang berkunjung, harap keluar sebentar"
Seusai berteriak, Lam Khie dan lainnya menunggu dengan sabar. Lama sekali barulah pintu rahasia kuburan, tua itu terbuka dan muncul empat wanita, setelah itu barulah muncul yo sian sian.
"cianpwee"
Yo sian sian memberi hormat kepada Lam Khie-"Ada urusan apa Cianpwee datang berkunjung?"
"Nona yo"
Lam Khie tersenyum.
"Kami ke mari memang ingin menyampaikan sesuatu. Mereka berdua adalah Tong Koay dan Pak Hong."
"selamat bertemu Cianpwee"
Ucap yo sian sian sambil memberi hormat kepada mereka.
"Ha ha ha"
Tong Koay tertawa gelak-"Sungguh tak disangka. Nona yo masih sedemikian muda"
"Terima kasih atas pujian cianpwee,"
Ucap yo sian sian dan bertanya-"Cianpwee-cianpwee ke mari untuk menyampaikan apa?"
"Nona yo"
Lam Khie memberitahukan.
"Kwee In Loan, kakak seperguruan Nona sudah muncul dalam rimba persilatan."
"oh?"
Yo sian sian tersentak-"Dia sudah muncul dalam rimba persilatan?"
"Betul-"
Lam Khie mengangguk.
"Bahkan dia menjadi ketua Hek Liong Pang dan mengangkat si Mo sebagai wakilnya. Kini dia --"
Lam Khie menutur tentang ketua Hek Liong Pang menyebarkan surat tantangan kepada para ketua tujuh partai besar, dan yo sian sian mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Tak disangka itu...."
Yo sian sian menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, aku terpaksa harus menghadapinya."
"Nona yo, itu adalah urusan perguruanmu, kami tidak akan turut campur"
Ujar Lam Khie dan menambahkan.
"seandainya kakak seperguruanmu tidak berambisi untuk menguasai rimba persilatan, tentunya kami pun tidak akan ke mari memberitahukan kepadamu."
"Terima kasih untuk itu,"
Ucap yo sian sian.
"Nona yo"
Lam Khie tampak serius.
"Engkau harus berhati-hati menghadapi kakak seperguruanmu itu, sebab kini kepandaiannya sudah tinggi sekali. Dia mampu mengalahkan si Mo-"
"oooh"
Yo sian sian manggut-manggut, kemudian tersenyum seraya berkata.
"Biar bagaimanapun, aku harus dapat menaklukkannya. Kalau tidak, dia pasti akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan."
"Bagus, bagus"
Lam Khie tertawa gelak-"Engkau memang harus menaklukkannya."
"ohya"
Yo sian sian memandang mereka sambil tersenyum.
"Biasanya kalian bertiga seperti api dengan bensin, begitu ketemu pasti ribut atau bertarung. Kenapa kali ini kalian bertiga justru tampak begitu akur?"
"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa.
"Kami sudah terikat oleh suatu janji, beberapa tahun lagi kami akan bertanding di puncak gunung Heng san, maka kini adalah masa gencatan senjata."
"Kalau kalian bertanding kelak, aku ingin menyaksikannya"
Ujar yo sian sian.
"Sekaligus menjadi wasit kalian. Tentunya kalian tidak berkeberatan kan?"
"Kami setuju engkau menjadi wasit. Kalau begitu, engkau jangan ingkar janji lho"
Ujar Tong Koay.
"Baik"
Yo sian sian mengangguk.
"Kalau begitu...."
Lam Khie menatapnya.
"Nona yo, kami mohon pamit, agar tidak mengganggu ketenanganmu-"
"Baiklah."
Yo sian sian manggut-manggut.
"Nona yo,"
Ucap Lam Khie-"sampai jumpa kelak"
"sampai jumpa, Cianpwee"
Sahut yo sian sian.
setelah mereka bertiga melesat pergi, barulah yo sian sian kembali masuk kuburan-tua itu.
-ooo00000ooo-Bab 24 Hek Liong Pang Bubar setelah menerima surat tantangan dari ketua Hek Liong Pang, para ketua tujuh partai besar cun langsung berangkat ke kuil siauw Lim sie untuk berunding dengan Keng Bun Hong Tio, dan mereka semua berkumpul diTay Hiong Po Tian (Ruang Para orang Gagah)-"omitohud"
Ucap Keng Bun Hong Tio-"Hari itu kita mengadakan pertemuan di sini, namun pertemuan itu tidak membawakan hasil apa-apa. Kini ketua Hek Liong Pang justru menantang kita. Itu sungguh diluar dugaan."
"Keng Bun Hong Tio"
Tanya Ci Hoat Tianglo dari Kay Pang.
"Apakah ada suatu rencana busuk dibalik itu?"
"Sulit diduga, sebab kita semua akan berkumpul di Pek yun Kek untuk bertanding dengan ketua Hek Liong Pang itu. Mungkinkah pihak Hek Liong Pang akan menanam obat peledak di situ?"
"Haaahhh"
Para ketua terkejut bukan main.
"Kalau begitu, kita semua pasti terkubur di Pek yun Keki"
"omitohud"
Ucap Keng Ti Seng Ceng.
"Menurutku ketua Hek Liong tidak akan berbuat begitu, sebab dia akan bertanding dengan kita satu persatu. Dia yakin menang, maka tidak akan merencanakan itu."
"Tapi-.-,"
Ujar ketua Kun Lun Pay dengan kening berkerut.
"si Mo itu amat jahat dan licik-Aku khawatir dia sudah merencanakan sesuatu untuk menjebak kita semua-"
"Kalau begitu, kita tidak usah ke Pek yun Kek itu,"
Usul ketua Hwa San Pay sungguh-sungguh -"omitohud"
Sahut Keng Bun Hong Tio-"Kita adalah partai besar dalam rimba persilatan.
Apabila kita tidak memenuhi tantangan ketua Hek Liong Pang, apakah kita masih punya muka untuk berdiri dalam rimba persilatan?"
"Benar."
Ketua Bu Tong Pay manggut-manggut.
"Kalau kita tidak ke Pek yun Kek bertanding dengan ketua Hek Liong Pang, kita pasti ditertawakan kaum rimba persilatan, oleh karena itu, kita harus ke sana."
"Tapi bagaimana kalau Pek yun Kek itu merupakan suatu jebakan bagi kita semua?"
Tanya ketua Khong Tong Pay.
"yang penting kita harus berhati-hati,"
Sahut ketua Bu Tong Pay menambahkan.
"Kita akan bertanding dengan ketua Hek Liong Pang secara adil, tapi apabila dia berani berbuat curang, kita terpaksa mengeroyoknya."
"Betul."
Ketua Hwa San Pay manggut-manggut.
"Daripada menanggung malu tidak ke sana, lebih baik berkorban di tempat itu."
"Omitohud"
Ucap Keng Bun Hong Tio-"Memang harus begitu-jadi nanti kita berangkat bersama dari sini-"
"Baik,"
Sahut para ketua sambil mengangguk,-"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio lagi.
"Ada satu hal yang cukup menggembirakan, yaitu sudah sekian lama Hiat Mo tidak membantai kaum rimba persilatan lagi. Mungkin dia sudah pulang ke tempat tinggalnya."
"Tapi -""
Ketua Bu Tong Pay menghela nafas panjang.
"Kini dia pulang ke tempat tinggalnya, tentunya akan muncul lagi kelak."
"Kalau dia muncul lagi kelak, mari kita tangani bersama"
Ujar ketua Hwa san Pay dan menambahkan.
"Apabila perlu, kita pun boleh mengeroyoknya."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Itu adalah urusan kelak, lebih baik dibicarakan kelak pula. sekarang pikiran kita harus dicurahkan pada tanggal satu itu."
"Kong Bun Hong Tio, kita semua tidak kenal ketua Hek Liong Pang itu-Maka, kita pun tidak tahu dia memiliki kepandaian apa. sebaliknya dia pasti tahu jelas ilmu rahasia kita-Nah, itu berarti gampang sekali baginya merobohkan kita satu persatu-ya, kan?"
Ujar ketua Kay Pang.
"Betul."
Kong Bun Hong Tio manggut-manggut.
"Kita semua tidak tahu siapa ketua Hek Liong Pang itu."
"Ha ha ha Kami tahu."
Terdengar suara sahutan dari luar, kemudian tampak tiga sosok bayangan berkelebat memasuki ruang itu.
"siapa?"
Kong Bun Hong Tio langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Ha ha ha Apa kabar Kong Bun Hong Tio dan para ketua?"
Terdengar suara sahutan lagi. lalu muncul tiga orang tua, yang tidayiain adalah Tong Koay, Lam Khie dan Pak Hong.
"omitohud"
Ucap Keng Bun Hong Tio dengan wajah berseri.
"Selamat datang selamat datang"
"sedang berunding ya? Ha ha ha Tanggal satu akan bertanding dengan ketua Hek Liong Pang kan?"
Ujar Tong Koay sambil memandang mereka.
"Eh? Keng Bun Hong Tio, kenapa tidak persilakan kami duduk? Tidak senang kami ke mari ya? Kalau begitu, lebih baik kami pergi saja."
"omitohud"
Ucap Keng Bun Hong Tio-"Tong Koay, Lam Khie dan Pak Hong, silakan duduk"
"Terima kasih"
Sahut Tong Koay lalu duduk, dan begitu pula Lam Khie dan Pak Hong. salah seorang Hweeshio segera menyuguhkan arak wangi., dan itu sungguh menggembirakan Lam Khie
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Ha ha ha Terima kasih Terima kasih"
Ucapnya sambil tertawa, kemudian mulai menikmati arak wangi itu-"Maaf"
Ujar ketua Kun Lun Pay.
"Tadi cianpwee berseru bahwa kenal ketua Hek Liong Pang, sudikah Cianpwee memberitahukan?"
"Kalau aku memberitahukan namanya, kalian tidak akan tahu siapa wanita itu,"
Sahut Lam Khie, kemudian memberitahukan.
"Ketua Hek Liong Pang bernama Kwee In Loan."
"omitohud"
Ucap Keng Bun Hong Tio-"Dia dari perguruan mana?"
Tanyanya.
"sudah lama perguruannya tidak muncul dalam rimba persilatan,"
Sahut Lam Khie-"Nanti tanggal satu kalian akan mengetahuinya-"
"Cianpwee?"
Tanya ketua Hwa San Pay mendadak-"Apakah ketua Hek Liong pang akan menjebak kami di Pek yun Kok itu?"
"Tidak"
Jawab Lam Khie sambil tertawa.
"Namun yang jelas kalian semua bukan lawannya, sebab kepandaiannya sangat tinggi sekali."
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio menatapnya.
"Betulkah itu?"
"Aku tidak bohong,"
Ujar Lam Khie sambil menggelenggelengkan kepala-"Terus terang, aku pun bukan tandingannya-"
"Kalau begitu -,"
Kening ketua Hwa san berkerut.
"Kami pasti kalah bertanding dengan dia-sudah pasti dia punya suatu tujuan tertentu."
"Tenang saja"
Pak Hong tertawa.
"sampai waktunya pasti ada kejutan."
"omitohud?"
Tanya Kong Bun Hong Tio-"Bolehkah kami tahu kejutan apa itu?"
"Kalau sekarang kuberitahukan, berarti bukan merupakan kejutan lagi"
Sahut Pak Hong serius.
"yang penting urusan itu beres, dan kalian pun pasti selamat."
"oooh"
Kong Bun Hong Tio menarik nafas lega-"omitohud Terima kasih...."
"Maaf"
Ucap ketua Hwa san Pay-"Apakah Cianpwee bertiga akan turun tangan menghadapi ketua Hek Liong Pang itu?"
"Tentu tidak"
Sahut Lam Khie
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Kalau kami bertiga mengeroyoknya, muka kami mau ditaruh di mana?"
"Maaf, maaf -,"
Ucap ketua Hwa san cepat. sementara ketua Go bi Pay diam saja, dan begitu pula ketua Bu Tong Pay. Namun mereka terus berpikir kejutan apa yang dimaksudkan pak Hong itu.
"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa gelak-"Nan, kami ke mari cuma ingin mencicipi arak wangi sekarang kami mau pergi."
Pak Hong melesat pergi, dan begitu juga Lam Khie dan Tong Koay. Mereka bertiga datang secara mendadaki dan perginya pun begitu, sehingga membuat semua orang tercengang.
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Mudah-mudahan akan seperti apa yang dikatakan Pak Hong itu omitohud"
"-ooo00000ooo-Pada tanggal satu, para ketua tujuh partai besar sudah tiba di Pek yun Kok. Di lembah tersebut telah dibikin sebuah panggung yang amat besar, itu adalah Pie Bu Thai (Panggung Adu silat). yang menyambut para ketua itu adalah si Mo dan muridnya. Mereka mempersilakan para ketua berdiri dekat panggung itu, kemudian si Mo meloncat ke atas canggung tersebut.
"Para ketua yang terhormat, ketua Hek Liong Pang mengundang kalian ke mari adalah untuk bertanding"
Seru si Mo dengan suara lantang.
"Ketua mana yang kalah bertanding dengan ketua Hek Liong Pang, maka partainya harus dibawah perintah Hek Liong Pang Harap kalian semua mengerti"
"omitohud"
Tanya Kong Bun Hong Tio-"Bagaimana seandainya ketua Hek Liong Pang yang kalah?"
"Hek Liong Pang akan dibubarkan"
Sahut si Mo-"omitohud"
Kong Bun Hong Tio manggut-manggut.
"Ketua Hek Liong Pang dipersilakan naik ke panggung"
Seru si Mo dengan menggunakan-Iweekang.
Seketika juga tampak sosok bayangan melesat ke panggung itu, yang tidak lain adalah Kwee In Loan, ketua Hek Liong Pang.
setelah-JCwee In Loan berada di atas panggung, si Mo segera meloncat turun.
"selamat datang para ketua"
Ucap Kwee In Loan dan memperkenalkan diri "Aku adalah ketua Hek Liong Pang.
Berhubung kini situasi rimba persilatan semakin memburuk, maka aku mengundang kalian ke mari untuk bertanding denganku, siapa yang kalah, partainya harus dibawah perintah Hek Liong Pang, secara tidak langsung aku adalah Bu Lim Beng cu (Ketua Rimba Persitatan), ini agar rimba persilatan bisa aman, tenang dan damai."
"Ketua Hek Liong Pang, bagaimana caranya pertandingan ini?"
Tanya ketua Hwa san Pay-"
Cukup dengan tangan kosong,"
Sahut Kwee In Loan.
"Bagaimana kalau engkau yang kalah?"
Tanya ketua Hwa san Pay lagi.
"Tentunya aku akan membubarkan Hek Liong Pang,"
Sahut Kwee In Loan dan menambahkan.
"Kalian boleh naik ke panggung satu persatu untuk bertanding denganku, siapa yang dapat mengalahkanku, aku pasti membubarkan Hek Liong Pang. Tapi kalau tiada seorang ketua pun yang dapat mengalahkan aku, maka partai kalian harus di bawah perintah Hek Liong Pang."
Para ketua itu saling memandang, kemudian manggutmanggut, setuju dan berunding.
"siapa yang akan bertanding duluan dengan ketua Hek Liong pang itu?"
Tanya ketua Kun Lun Pay.
"omitohud"
Sahut Keng Bun Hong Tio-"Biar aku yang duluan bertanding dengan ketua Hek Liong Pang itu"
"Keng Bun Hong Tio?"
Tanya ketua Bu Tong pay
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Bagaimana kalau aku duluan yang bertanding dengan dia?"
"omitohud"
Sahut Kong Bun Hong Tio-"
Lebih baik aku duluan. Apabila aku kalah, barulah giliran ketua Bu Tong Pay."
Usai menyahut, Kong Bun Hong Tio langsung meloncat ke atas panggung. Kwee In Loan menyambutnya sambil tersenyum.
"Ternyata ketua siauw Lim Pay Bagus, bagus"
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio sambil menatapnya.
"Aku adalah Kong Bun Hong Tio, silakan ketua Hek Liong Pang menyerang duluan"
"Baik-"
Kwee In Loan memberi hormat, lalu mulai menyerang Kong Bun Hong Tiosemula mereka bertanding dengan jurus-jurus biasa, namun berselang beberapa saat kemudian, pertandingan itu mulai tampak seru dan menegangkan.
Ternyata Kong Bun Hong Tio mengeluarkan ilmu Liong Jiauw Kang (Ilmu Cakar Naga), sedangkan ketua Hek Liong Pang mengeluarkan Kiu Im Pek Kut Jiauw untuk mengimbangi ilmu rahasia siauw Lim Pay itu.
Puluhan jurus kemudian, Kong Bun Hong Tio mulai berada di bawah angin, dan itu sungguh mencemaskan para penonton, begitu pula Kong Bun Hong Tio sendiri Di saat itulah Kong Bun Hong Tio mengeluarkan Kim Kong Hok Mo Ciang (Ilmu Pukulan Arhat Penakluk iblis).
Ketua Hek Liong Pang tertawa panjang dan segera mengeluarkan ilmu Kiu Im Cui sim Ciang (Ilmu Pukulan sakti Penghancur Hati), sehingga pertandingan itu merupakan pertandingan adu nyawa.
Betapa cemasnya para penonton, wajah mereka tampak pucat pias, sedangkan si Mo terus tersenyum-senyum.
Blaaaam...
Mendadak terdengar suara benturan.
Keng Bun Hong Tio termundur-mundur beberapa langkah dengan mulut mengeluarkan darah, sedangkan ketua Hek Liong tetap berdiri tegak di tempat.
Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan meloncat ke atas panggung, dia adalah Keng Tiseng ceng.
"suheng...."
"Tidak usah cemas, aku tidak apa-apa Hanya saja..."
Keng Bun Hong Tio menghela nafas panjang.
"Mulai saat ini, siauw Lim Pay sudah berada di bawah perintah Hek Liong Pang."
"suheng...."
Wajah Keng Ti seng ceng tampak murung sekali.
"Sudahlah"
Keng Bun Hong Tio menggeleng-ge-lengkan kepala, lalu berkata kepada ketua Hek Liong Pang.
"Kepandaianmu tinggi sekali, aku mengaku kalah."
"Terima kasih atas kemurahan hati Keng Bun Hong Tio untuk mengalah kepadaku,"
Sahut ketua Hek Liong Pang sambil tersenyum. Keng Ti seng Ceng memapah Keng Bun Hong Tio ke bawah, dan disaat itulah ketua Hwa san Pay meloncat ke atas.
"Ketua Hek Liong Pang"
Ujarnya sambil memberi hormat.
"Aku adalah ketua Hwa san pay, ingin mohon petunjuk"
"Bagus"
Ketua Hek Liong Pang manggut-manggut.
"silakan menyerang duluan"
Ketua Hwa San Pay langsung menyerang, sambil tersenyum ketua Hek Liong Pang berkelit, kemudian mendadak balas menyerang.
Pertandingan kali ini tidak begitu seru seperti tadi-setelah puluhan jurus, ketua Hwa san Pay roboh di tangan ketua Hek Liong Pang.
Bukan main malunya ketua Hwa san Pay, dan segeralah ia meloncat turun.
"Ketua Siauw Lim dan Hwa San pay telah kukalahkan, kini giliran siapa yang akan bertanding denganku?"
Tanya ketua Hek Liong sambil memandang ketua Bu Tong dan Gobi Pay. Ketua Bu Tong Pay dan ketua Gobi Pay saling memandang, setelah itu, mereka berbisik-bisik.
"Ketua Gobi Pay"
Biar aku yang bertanding dengan dia-"
"Lebih baik aku saja,"
Sahut ketua Gobi Pay
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku duluan. Apabila aku kalah, barulah giliranmu."
Ujar ketua Bu Tong Pay.
Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara suling dan kecapi.
Begitu mendengar iuafa musik itu, air muka ketua Hek Liong Pang langsung berubah hebat, demikian pula air muka si Mo-Tak seberapa lama kemudian, muncullah empat wanita berpakaian putih-Ternyata merekalah yang meniup suling dan memainkan kecapi-Mereka berempat berdiri, di atas panggung, setelah itu muncul lagi seorang wanita berpakaian kuning.
Wanita itu lemah lembut dan wajahnya cantik sekali putih bagaikan Salju-siapa wanita itu?
la tidak lain yo sian sian.
"suci (Kakak seperguruan)"
Panggil Yo sian sian sambil memberi hormat-"sudah hampir tiga puluh tahun kita tidak bertemu, apakah suci baik-baik saja selama ini?"
"Hm"
Dengus Kwee In Loan.
"Mau apa engkau ke mari?"
"suci"
Sahut Yo sian Sian.
"sudahlah mari ikut sumoy ke kuburan tua, jangan bikin kacau rimba persilatan"
"Engkau harus ingat, ke dua orang tuamu telah mengusirku. Maka aku bukan kakak seperguruanmu lagi, kita sudah tiada hubungan apa-apa."
"Suci...."
Yo Sian Sian menghela nafas panjang.
"Diam"
Bentak Kwee In Loan.
"Engkau jangan mencampuri urusanku, cepatlah pergi"
"Suci...."
Yo Sian Sian menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, aku terpaksa melawanmu."
"He he he"
Kwee In Loan tertawa terkekeh-kekeh.
"yo Sian Sian, engkau harus tahu Kini kepandaianku sudah lebih tinggi darimu, lebih baik engkau pergi saja. Jangan cari penyakit di sini"
"Maaf"
Sahut yo Sian Sian.
"Aku harus mencegah perbuatanmu ini"
"oh?"
Kwee In Loan menatapnya tajam.
"Jadi engkau ingin bertanding denganku?"
"ya."
Yo Sian Sian mengangguk.
"Apabila aku kalah, tentunya akan di bawah perintahmu. Namun kalau engkau yang kalah, maka harus membubarkan Hek Liong Pang"
"Baik"
Kwee In Loan manggut-manggut.
Setelah yo Sian Sian muncul, barulah para ketua itu tahu akan maksud Pak Hong yang memberitahukan bahwa akan ada suatu kejutan di Pek yun Koki ternyata ini yang dimaksudkannya.
Kemunculan wanita berpakaian kuning itu memang amat mengejutkan, apalagi setelah mendengar pembicaraan mereka.
Siapa pun tidak akan menyangka ketua Hek Liong Pang adalah kakak seperguruan wanita berpakaian kuning itu.
Sementara Kwee In Loan dan yo Sian Sian sudah mulai bertanding.
Mereka mengeluarkan ilmu yang sama, sehingga pertandingan itu tampak anehi tapi amat menegangkan.
Tak terasa pertandingan itu sudah melewati puluhan jurus.
Kwee In Loan tampak penasaran sekali karena tidak dapat merobohkan yo sian sian.
oleh karena itu ia mengerahkan Iweekangnya sampai pada puncaknya.
Begitu pula yo sian sian.
Kini gerakan mereka kelihatan agak lamban, sebab setiap gerakan disertai dengan Iweekang sepenuhnya, Itu sungguh mencemaskan para penonton, karena siapa yang lengah dalam pertandingan itu, pasti akan terkena pukulan yang penuh mengandung Iweekang.
Blaaaam...
Mendadak terdengar suara benturan yang amat dahsyat, sehingga membuat para penonton tersentak semua.
yo sian sian term undur-mundur beberapa langkah, sedangkan Kwee In Loan terpental kira-kira enam depa, kemudian rubuh dengan mulut menyemburkan darah segar.
Wanita berbaju kuning itu menatap kakak seperguruannya dengan senyum puas, meskipun sebenarnya tubuhnya sendiri didera luka parah.
seketika suasana di tempat itu berubah menjadi hening.
Berselang beberapa saat, barulah Kwee In Loan bangkit lalu menatap yo sian sian dengan penuh kebencian.
"Yo sian sian Kali ini aku mengakui keunggulanmu Mulai saat ini Hek Liong Pang telah bubar"
Ujar Kwee In Loan sepatah demi sepatah-"Tapi -kita akan berjumpa lagi kelak"
Yo sian sian tidak menyahut.
"Aku pasti membuat perhitungan denganmu kelak"
Ujar Kwee In Loan dengan penuh dendam, setelah itu barulah ia melesat pergisesudah Kwee In Loan melesat pergi, yo sian sian pun segera duduk bersila dikelilingi ke empat pengiringnya.
Ternyata tadi yo sian sian berusaha agar tidak muntah darah, karena tergempur oleh Kwee In Loan.
oleh karena itu, Kwee In Loan mengira Iweekangnya jauh lebih tinggi, sehingga membuatnya langsung kabur.
"uaaakh -"
Yo sian sian memuntahkan darah segar yang ditahannya dari tadi-"Uaaaakh -"
"omitohud"
Ucap Keng Bun Hong Tio.
"sutee beri dia sebutir pil"
"ya, suheng."
Keng Ti seng Ceng segera meloncat ke atas lalu memberikan sebutir pil kepada salah seorang pengiring itu seraya berkata.
"Tolong berikan pil ini kepada majikanmu"
"Terima kasih seng Ceng,"
Ucap wanita berpakaian putih sambil menerima obat tersebut, lalu dimasukkan ke mulut yo sian sian.
Keng Ti seng Ceng meloncat turun, sedangkan yo sian sian masih tetap bersila.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah wanita berpakaian kuning itu bangkit berdiri, lalu memberi hormat kepada Keng Bun Hong Tio-"Terima kasih Keng Bun Hong Tio, atas pemberian obat mujarab itu,"
Ucap yo sian sian.
"omitohud"
Sahut Keng Bun Hong Tio-"Kamilah yang harus berterima kasih karena engkau telah menyelamatkan kami."
"Aku membersihkan perguruanku, sebab Kwee In Loan adalah murid murtad dari perguruanku, maka aku sama sekali tidak menyelamatkan kalian,"
Sahutnya sambil tersenyum. Para ketua tahu, bahwa yo sian sian merendahkan diri, dan itu membuat mereka itu kagum bukan main.
"omitohud omitohud..."
Ucap Keng Bun Hong Tio-Yo Sian Sian memberi hormat kepada para ketua itu, lalu melesat pergi dan diikuti ke empat pengiringnya.
Terdengarlah suara suling dan suara kecapi makin lama makin jauh.
Para ketua itu saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik nafas lega, karena kini Hek Liong Pang telah bubar.
"Eeeh?"
Seru ketua Hwa San Pay "Kemana si Mo pergi?"
Ternyata si Mo dan muridnya sudah tidak ada di situ.
Ketika melihat Kwee In Loan terpental oleh pukulan yang dilancarkan yo sian sian, si Mo segera mengajak muridnya pergi.
Para ketua sedang mencurahkan perhatiannya ke atas panggung, maka sama sekali tidak tahu kepergian si Mo bersama muridnya.
"Sudahlah"
Sahut ketua Kun Lun Pay.
"Biar dia pergi, lagipula kita tiada urusan dengan dia-"
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Urusan di sini telah beres, mari kita tinggalkan tempat ini"
Para ketua itu mulai meninggalkan Pek yun Kok. Kebetulan ketua Bu Tong Pay berjalan bersama Kong Bun Hong Tio dan Kong Tt seng Ceng.
"Kong Bun Hong Tio, ketua Hek Liong pergi dengan penuh dendam. Apakah dia akan muncui lagi kelak?"
Tanya ketua Bu Tong Pay.
"omitohud"
Sahut Kong Bun Hong Tio-"Itu sulit diduga. Namun menurutku, dia tidak akan muncul lagi, sebab kepandaiannya masih setingkat di bawah kepandaian wanita berpakaian kuning itu."
"Mudah-mudahan begitu, Kong Bun Hong Tio"
Ketua Bu Tong Pay menghela nafas panjang.
"omitohud"
Keng Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala.
"omitohud..."
Kwee In Loan beristirahat di bawah sebuah pohon.
Kemudian ia menelan tiga butir pil, dan setelah itu mulailah duduk bersila dengan mata terpejam.
Berselang beberapa saat, ia membuka matanya dan justru terbelalak, karena Si Mo dan muridnya duduk di hadapannya.
"si Mo--"
Kwee In Loan menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana keadaan lukamu?"
Tanya si Mo sambil memandangnya dengan penuh perhatian.
"sudah membaik"
Sahut Kwee In Loan.
"Kini Hek Liong Pang telah bubar, namun engkau tetap sebagai ketua golongan hitam"
"Begini -,"
Ujar si Mo seakan mengusulkan.
"Apabila engkau setuju, kedudukanku sebagai ketua golongan hitam akan kuserahkan kepadamu."
"Terima kasih"
Ucap Kwee In Loan sambil menggelengkan kepala.
"Aku telah dikalahkan oleh yo sian sian, maka aku harus memperdalam kepandaianku. Aku harus membuat perhitungan dengan dia kelak,"
"Jadi engkau mau ke mana? tanya Si Mo-"Aku...."
Kwee In Loan memberitahukan.
"Aku akan pergi ke Kwan Gwa menemui Hiat Mo-"
"Engkau ingin mohon bantuannya?"
Si Mo agak terbelalak-"Apakah Hiat Mo mau membantumu?"
"Aku hanya ingin mohon petunjuk kepadanya mengenai ilmu silat. Aku akan memperdalam kepandaianku di tempat kediamannya"
"ooohi Si Mo manggut-manggut.
"Apabila kepandaianmu sudah bertambah tinggi, tentunya engkau akan kembali ke Tionggoan kan?"
"ya."
"Kalau begitu aku akan menyerahkan jabatanku kepadamu-"
"Itu... lihat saja kelak-sekarang aku harus berangkat ke Kwan Gwa."
Kwee In Loan bangkit berdiri "si mo sampai jumpa"
Kwee In Loan melesat pergi, sedangkan si Mo masih berdiri di tempat, sementara Kwan Pek Him, muridnya terus melamun, wajahnya tampak tidak ada semangat sama sekali.
"Hei Pek Him"
Bentak si Mo-"Kenapa engkau terus melamun? Apa yang engkau pikirkan?"
"Guru --"
Kwan Pek Him menundukkan kepala-"oooh"
Si Mo manggut-manggut sambil tertawa-"
Engkau sedang memikirkan gadis berpakaian merah ya?"
"Aku--"
Kepala Kwan Pek Him semakin tertunduki sedangkan si Mo menatapnya dengan tajam.
"Gadis itu tidak akan mencintaimu, karena masih ada pemuda lain. seharusnya engkau membunuh pemuda itu, agar gadis tersebut mencintaimu."
"guru...."
Kwan Pek Him menggeleng-gelengkan kepala.
"Pemuda itu sangat baik terhadapku, tidak mungkin aku membunuhnya."
"Kalau begitu...,"
Ujar si Mo dingin-"Jangan harap gadis itu akan jatuh cinta padamusudahlah.. jangan terus memikirkan gadis itu, mari kita pergi"
"Ya guru."
Kwan Pek Him mengangguk. kemudian mereka berdua melesat pergi
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Di saat mereka melesat pergi, justru mendadak muncul Tong Koay, Lam Khie dan pak Hong.
"Kita sudah dengar, Kwee In Loan berangkat ke Kwan Gwa menemui Hiat Mo,"
Ujar Lam Khie dan menambahkan.
"Dia akan membuat perhitungan dengan Nona yo kelak-Itu sungguh membahayakan Nona yo dan rimba persilatan"
"Kalau begitu -,"
Sela Pak Hong serius.
"Mumpung luka Kwee In Loan belum sembuh, bagaimana kalau sekarang kita pergi membunuhnya?"
"Tidak mungkin."
Lam Khie menggelengkan kepala.
"Itu adalah perbuatan pengecut, tidak boleh kita lakukan."
"Tapi -."
Pak Hong mengerutkan kening.
"Itu urusan kelak, kita tidak perlu membicarakannya sekarang."
Tandas Lam Khie-"Kelihatannya Kwee In Loan akan belajar ilmu silat lagi kepada Hiat Mo,"
Ujar Tong Koay sambil menghela nafas panjang.
"Entah apa yang akan terjadi lagi kelak?"
"Itu urusan kelak, percuma kita pikirkan sekarang,"
Ujar Lam Khie sambil tertawa.
"Ha ha ha Perutku sudah merengek-rengek minta diisi-"
Bab 25 Gua Hangat Di Puncak Hoat San yo sian sian dan ke empat pengiringnya tidak langsung pulang ke gunung ciong Lam san, melainkan menuju desa Hok An.
Ternyata yo sian sian ingin menengok Tan Giok Cu, murid kesayangannya itu.
Kini mereka sudah memasuki desa tersebut, dan langsung menuju rumah Tan Ek seng.
Kedalangan yo sian sian dan ke empat pengiringnya itu sangat menggembirakan Tan Ek seng dan Lim Soat Hong, dan mereka segera menyuguhkan teh wangi.
"Bagaimana keadaan muridku selama ini?"
Tanya yo Sian Sian.
"Dia baik-baik saja?"
"Giok Cu baik-baik saja,"
Jawab Lim Soat Hong dan memberitahukan.
"Tapi kini dia tidak berada di rumah."
"oh?"
Yo Sian Sian tercengang.
"-Dia pergi ke mana?"
"Dia ikut Thio Han Liong ke gunung Soat San. Mereka berdua...."
Lim Soat Hong tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa mereka berdua?"
Tanya yo Sian Sian dengan kening berkerut.
"Mereka berdua sudah saling mencinta,"
Jawab Lim Soat Hong.
"Giok Cu tidak mau berpisah dengan dia, maka dia ikut ke gunung Soat San."
"Mau apa Thio Han Liong pergi ke gunung Soat San?"
Tanya yo Sian sian.
"Dia mau mencari Teratai Salju di gunung itu untuk mengobati wajah ke dua orang tuanya"
"Kenapa wajah ke dua orangtuanya?"
Yo Sian Sian terkejut.
"Eniahlah."
Lim Soat Hong menggelengkan kepala.
"Kami tidak begitu jelas mengenai itu."
"Baiklah."
Yo Sian Sian bangkit berdiri dan berpesan.
"Kalau Giok Cu dan Thio Han Liong pulang, suruh mereka ke tempat tinggalku"
"ya."
Lim Soat Hong mengangguk.
"Aku mohon pamit,"
Ucap yo Sian Sian lalu melesat pergi, dan ke empat pengiringnya langsung mengikutinya. Tan Ek seng dan Lim soat Hong saling memandang, kemudian menghela nafas panjang.
"sudah sekian lama Giok Cu dan Thio Han Liong ke gunung soat san, tapi kenapa mereka belum pulang?"
Gumam Lim soat Hong.
"isteriku, janganlah cemas"
Ujar Tan Ek seng menghiburnya.
"Tidak lama lagi mereka pasti pulang."
"Aaahi.."
Lim soat Hong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku khawatir telah terjadi sesuatu atas diri mereka-"
"Itu tidak mungkin."
Tan Ek seng tersenyum berusaha menghibur isterinya.
"Aku yakin mereka sudah dalam perjalanan pulang, percayalah"
"suamiku...."
Lim soat Hong menatapnya seraya berkata.
"Entah apa sebabnya, akhir-akhir ini aku merasa tidak tenang."
"isteriku"
Tan Ek seng tersenyum lembut dan menjelaskan.
"engkau terlampau memikirkan Giok Cu, maka timbul rasa gelisah dalam hatimu, sehingga membuatmu tidak tenang. Padahal tidak ada apa-apa, percayalah"
"Aaah -"
Lim soat Hong menghela nafas panjang.
"Mudah-mudahan Giok Cu dan Han Liong tidak terjadi apaapa"
Setelah meninggalkan rumah Tan Ek seng, yo sian sian dan ke empat pengiringnya langsung pergi ke gunung ciong Lam san. Di tengah jalan, mendadak muncul Lam Khie sambil tertawa-tawa.
"Nona yo, tak disangka kita bertemu di sini."
Ujar Lam Khie-"cianpwee...."
Yo Sian Sian dan ke empat pengiringnya segera berhenti-"Selamat bertemu"
"Nona yo --"
Wajah Lam Khie berubah serius-"Kebetulan kita bertemu di sini, maka aku ingin menyampaikan sesuatu-"
"sesuatu apa?"
Tanya yo sian sian.
"Aku, Tong Koay dan Pak Hong melihat Kwee In Loan duduk di bawah sebuah pohon, kemudian muncul si Mo dan muridnya -."
Lam Khie memberitahukan tentang pembicaraan itu dan menambahkan.
"Kini Kwee In Loan sudah berangkat ke Kwan Gwa untuk menemui Hiat Mo-"
"oh?"
Air muka yo sian sian berubah-"cianpwee tahu mengenai Hiat Mo itu?"
"Cuma tahu sedikit,"
Jawab Lam Khie dan memberitahukan.
"Hiat Mo berkepandaian amat tinggi."
Lam Khie menceritakan tentang Hiat Mo, yo sian sian mendengar dengan penuh perhatian.
"Kalau begitu -"
Ujar yo sian sian seusai mendengar itu.
"Apabila Kwee In Loan berhasil menguasai ilmu silat Hiat Mo, tentunya dia akan mengaduk lagi dalam rimba persilatan."
"Itu sudah jelas."
Lam Khie manggut-manggut.
"Dia pasti menuntut balas padamu, maka engkau harus ber-hati-hati kelak"
"Terima kasih atas. perhatian cianpwee,"
Ucap yo sian sian.
"oh ya, Cianpwee tidak menyaksikan pertandinganku dengan Kwee In Loan?"
"Tidak-Tapi sudah mendengarnya,"
Jawab Lam Khie-"Kepandaianmu lebih tinggi dari Kwee In Loan."
"Aaaahi-"
Yo Sian Sian menghela nafas panjang.
"Sesungguhnya kepandaian kami seimbang, hanya saja Iweekang ku lebih unggul sedikit."
"oooh"
Lam Khie manggut-manggut.
"Pantas kemudian engkau muntah darah, ternyata engkau bertahan agar kelihatan kepandaianmujauh lebih tinggi dari Kwee In Loan ya, kan?"
"ya."
Yo sian sian mengangguk.
"oleh karena itu, dia langsung kabur, tidak tahu hal yang sebenarnya."
"yaah"
Lam Khie menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau Hiat Mo bersedia memberi petunjuk padanya mengenai ilmu silat, itu...."
"Kelak dia pasti menimbulkan bencana dalam rimba persilatan,"
Sahut yo sian.
"Rasanya aku sudah tidak sanggup menghadapinya, sebab kepandaiannya pasti bertambah tinggi."
"Nona yo"
Lam Khie tersenyum.
"Bukankah engkau bisa berlatih mulai dari sekarang? Kalau Kwee In Loan muncul lagi dalam rimba persilatan, tentunya kepandaianmupun sudah bertambah tinggi."
"ya."
Yo sian sian mengangguk.
"oh ya Kalau tidak salahi tiga tahun lagi Cianpwee dan lainnya akan bertanding dicuncak gunung Heng san. Mungkin aku tidak bisa hadir di sana sebagai saksi."
"Tidak apa-apa"
Sahut Lam Khie-"yang penting engkau harus terus berlatih, agar ilmu silatmu bertambah tinggi."
"ya, cianpwee-"
Yo sian sian manggut-manggut.
"Baiklahi"
Lam Khie menatapnya.
"Aku mau pergi, sampai jumpa kelak,"
"sampai kelak, Cianpwee"
Sahut yo sian sian.
"Nona yo, engkau harus terus berlatih"
Pesan Lam Khie lalu melesat pergi.
yo sian sian dan ke empat pengiringnya berdiri mematung di tempat.
Berselang beberapa saat kemudian barulah mereka melesat pergi ke gunung ciong Lam san.
sementara itu, Thio Han Liong sudah sampai di gunung soat san.
la menjelajahi gunung itu hingga ke puncaki namun tidak menemukan Teratai Salju yang dicarinya itu, sebaliknya ia malah menemukan sebuah gua di dekat puncak gunung tersebut.
Betapa dinginnya hawa udara di gunung soat san, namun ketika memasuki gua itu, justru terasa hangat, Itu sungguh mencengangkan Thio Han Liong, bahkan dinding gua itu pun memancarkan cahaya, sehingga gua itu agak terang.
semakin ke dalam gua itu semakin luas.
Tampak pula sebuah telaga kecil di situ, bahkan anehnya di dalam gua terdapat beberapa pohon, yang buahnya kemerahan-merahan.
Thio Han Liong tidak habis pikir tentang itu.
Padahal di luar gua hanya terdapat salju, namun di dalam gua malah tumbuh beberapa pohon dan hangat pula hawa udaranya.
Di tengah-tengah telaga kecil itu terdapat segundukan tanah yang mengeluarkan cahaya.
Di atas gundukan tanah itu tumbuh sebatang pohon kecil, yang berdaun seperti telapak tangan dan pada pucuknya terdapat satu buah yang aneh bentuknya.
Thio Han Liong hanya memandang sekilas ke arah pohon kecil itu, talu duduk beristirahat sambit berpikir-Akhirnya ia mengambil keputusan untuk melatih ilmu silatnya di dalam gua itu.
Mulailah ia melatih Kiu yang sin Kang dan Kian Kun Taylo Ie sin Kang.
Memang harus diakui, tidak begitu gampang mempelajari ke dua macam sin Kang tersebut.
Thio Bu Ki bisa begitu cepat menguasai Kiu yang sin Kang, karena secara kebetulan ia memakan kodok api, maka mempercepat latihannya-setetah itu, ia pun berhasil mempelajari Kian Kun Taylo Ie sin Kang sampai tingkat ke tujuh-sebab ia telah memiliki Kiu yan sin Kang, tidak heran dalam waktu relatif singkat ia berhasil mempelajari Kian Kun Taylo Ie sin Kang.
sedangkan Kiu yang sin Kang yang dimiliki Thio Han Liong masih dangkal, maka sulit baginya untuk mempelajari Kian Kun Taylo Ie sin Kang, cuma berhasil sampai di tingkat ke dua saja.
Namun, Thio Bu Ki telah mengajarnya Keuw Keat (Teori) pelajaran Kian Kun Taylo Ie hingga ke tingkat tujuh-Thio Han Liong menghafal semua teori itu, dan kini ia mulai berlatih tingkat ke tiga.
Akan tetapi, begitu mulai ia sudah merasa pusing dan darahnya bergolak-oleh karena itu, ia langsung berhenti, tidak berani me-lanjutkannya.
"Heran"
Gumamnya sambil mengerutkan kening.
"Kenapa setiap kali aku mulai berlatih Kian Kun Taylo Ie sin Kang tingkat ke tiga, kepalaku pasti pusing dan darahku bergolak -golak?"
Thio Han Liong tidak habis pikir, kemudian menggelenggelengkan kepala dan bergumam lagi.
"Kalau begitu, aku akan berlatih Kiu yang sin Kang saja."
Thio Han Liong mulai berlatih Kiu yang sin Kang.
selain berlatih Iweekang tersebut, ia pun berlatih ilmu pukulan Thay Kek Kun, Kiu Im Pek Kut Jiauw dan siauw Lim Liong Jiauw Kang.
la berharap dalam waktu beberapa tahun ilmu silatnya akan maju pesat, agar dapat mengalahkan Hiat Mo-Di Kwan Gwa (Luar Perbatasan) terdapat sebuah lembah yang amat indah-Hawa udara di lembah itu sangat sejuk menyegarkan, sehingga menciptakan suasana yang tenang, aman dan terasa damai pula.
Di lembah itu terdapat sebuah gua yang cukup besar dan indah-Penghuninya adalah Hiat Mo dan ciu Lan Nio, cucunya-Kini di dalam gua tersebut justru bertambah seorang gadis yang amat cantik, wajahnya putih bagaikan salju, yang tidak lain adalah Tan Giok Cu.
Tan Giok Cu duduk diam.
Ciu Lan Hio menatapnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya bertanya kepada Hiat Mo, yang sedang duduk bersila.
"Kakek sudah mempengaruhinya dengan ilmu sihir?"
"Ya."
Hiat Mo mengangguk-"
Kakek"
Ciu Lan Hio menghela nafas panjang.
"Kenapa Kakek berbuat begitu terhadapnya?"
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Agar dia melupakan Thio Han Liong, juga menuruti semua perintahku-"
"Kenapa Kakek begitu tega?"
Ciu Lan Hio menggelenggelengkan kepala.
"Terus terang,"
Ujar Hiat Mo-"Kakek ingin menciptakan seorang gadis pembunuh yang berhati dingin-Tiga tahun kemudian setelah dia berkepandaian tinggi, kakek akan mengajaknya ke Tionggoan."
"Kakek, aku boleh ikut kan?"
Tanya Ciu Lan Hio.
"Tentu."
Hiat Mo manggut-manggut.
"Sebab engkau harus menemui Thio Han Liong. Ya, kan?"
"Tapi--"
Ciu Lan Hio menghela nafas panjang.
"Dia cuma mencintai Giok Cu saja. Tidak mungkin dia akan jatuh cinta padaku."
"Kalau Tan Giok Cu sudah melupakannya, lalu dia akan bagaimana?"
Sahut Hiat Mo sambil tersenyum.
"Bukankah dia juga harus melupakan gadis itu? Nah, itu adalah kesempatanmu untuk mendekatinya. Ha ha ha..."
"Kakek,"
Ujar ciu Lan Nio sungguh-sungguh-"Aku memang amat mencintainya, namun aku tidak akan memaksanya untuk mencintaiku-Lagipula...
aku pun tidak mau melihatnya menderita, maka alangkah baiknya Kakek menarik kembali ilmu sihir yang telah Kakek masukkan ke dalam dirinya jadi dia tidak di bawah perintah Kakek-"
"Itu tidak bisa-"
Hiat Mo menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak bisa?"
Tanya Ciu Lan Hio dengan kening berkerut.
"Kalau kakek menarik kembali ilmu sihir yang telah kakek masukkan itu, justru akan membuatnya gila."
Hiat Mo memberitahukan.
"Maka tidak bisa ditarik lagi ilmu sihir itu"
"Kakek tidak bisa menyembuhkannya?"
"Tentu bisa. Tapi membutuhkan waktu, lagipula untuk apa menarik kembali ilmu sihir itu?"
"Kakek,.."
"sudahlah,"
Tandas Hiat Mo-"yang penting kelak Thio Han uong akan mencintaimu, sedangkan Giok Cu akan kuperintah agar membunuh para pesilat rimba persilatan Tionggoan."
"Kakek -."
Ciu Lan Hio menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa Kakek sering membunuh kaum rimba persilatan Tionggoan?"
"Engkau tidak tahu...."
Hiat Mo memandang jauh ke depan sambil memberitahukan.
"Kakek adalah Hiat Mo generasi ke tiga. Hiat Mo generasi pertama pernah ke Tionggoan, tapi dikeroyok tiga jago Tionggoan sehingga mengalami luka parah-"
"oh?"
Ciu Lan Nio tertarik-"siapa ke tiga jago Tionggoan itu?» "
Pada masa itu di Tionggoan terdapat empat jago yang berkepandaian amat tinggi Mereka adalah Tong sia Oey yok su, sia Tok Ouwyang Hong, Lam Ti-Toan Hong ya dan Pak Kay-Ang cit Kong.
Hiat Mo generasi pertama ingin menguasai rimba persilatan Tionggoan.
Begitu tiba di Tionggoan ia langsung membunuh para rimba persilatan Tionggoan, sehingga ke empat jago itu mengeroyok Hiat Mo generasi pertama.
Namun mendadak si Tokiouw yang Hong membantu Hiat Mo generasi pertama, maka terjadi pertarungan tiga lawan dua, akhirnya HiatMo generasi pertama mengalami luka parah, tapi masih bisa melarikan diri"
"Ternyata begitu Lalu bagaimana?"
"setelah pulang ke mari, Hiat Mo generasi pertama menerima seorang murid yang berusia belasan. Akan tetapi, murid itu sama sekali tidak berambisi apa pun. setelah Hiat Mo generasi pertama meninggal, Hiat Mo generasi ke dua tidak pernah ke Tionggoan, hanya hidup di daerah Kwan Gwa ini."
"Hiat Mo generasi ke dua benar, memang lebih baik hidup di daerah Kwan Gwa ini, tidak usah berambisi menguasai rimba persilatan Tionggoan."
"Kalau begitu, percuma kakek memiliki kepandaian tinggi,"
Sahut Hiat Mo-"Lagi pula...."
"Lagipula apa?"
Tanya Ciu Lan Nio karena Hiat Mo tidak melanjutkan ucapannya.
"Itu telah berlalu, tidak usah diungkit lagi"
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala dan wajahnya tampak murung.
Ciu Lan Nio tahu bahwa Hiat Mo menyimpan suatu rahasia, namun gadis itu tidak bertanya, sebab menurut-nya Hiat Mo tidak mungkin akan memberitahukan.
"oh ya Kenapa Kakek tidak mengajarku Hiat Mo Kang?"
Tanya Ciu Lan Hio mendadak.
"Kalau belajar ilmu Hiat Mo Kang, engkau akan berubah jadi jelek"
"Kenapa begitu?"
"Lihatlah diri kakek"
Hiat mo tersenyum.
"Rambut, muka, jenggot dan sekujur badan berubah merah-Nah, bukankah jelek sekali?"
"Itu karena Hiat Mo Kang Kakek telah mencapai kesempurnaan, maka jadi begitu,"
Ujar Ciu Lan Hio sambil tertawa.
"Kalau belum mencapai tingkat kesempurnaan, tentunya tidak akan berubah jadi begitu ya, kan?"
"Betul."
Hiat Mo manggut-manggut.
"Kakek,"
Tanya Ciu Lan Nio mendadak-"Apakah Han Liong kelak mampu mengalahkan Kakek?"
"Hal yang tak mungkin"
Sahut Hiat Mo sungguh-sungguh-"sebab latihan kakek sudah hampir mencapai seratus tahun, sedangkan dia masih begitu muda.
se-andainya dia berlatih sepuluh tahun lagi, juga tetap tidak akan sanggup mengalahkan kakek-"
"Seandainya kelak dia mampu mengalahkan Kakek, apakah Kakek akan menepati janji?"
"Tentu."
Hiat Mo mengangguk-"Kalau kelak dia mampu mengalahkan Kakek, tentunya kakek akan melepaskan Giok Cu-Karena kakek sudah berjanji begitu, kakek tidak boleh ingkar janji."
"Mudah-mudahan dia mampu mengalahkan Kakek"
Ucap Ciu Lan Hio.
"Apa?"
Hiat Mo terbelalak.
"Kenapa engkau malah berharap dia mampu mengalahkan kakek? Kalau dia mampu mengalahkan Kakek, Giok Cu akan bersamanya lho Lalu bagaimana engkau?"
"Aku -aku mau menjadi biarawati saja."
"Hah?"
Hiat Mo nyaris meloncat bangun saking kagetnya.
"Engkau... engkau mau menjadi biarawati?"
"ya."
Ciu Lan Hio mengangguk pasti. Tidak boleh Pokoknya engkau tidak boleh menjadi biarawati"
Bentak Hiat Mo sambil menatapnya.
"Engkau harus menikah dan punya anak sampai belasan"
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa geli.
"Kenapa Kakek begitu kalut?"
Tentu kalut,"
Ujar HiatMo-"Engkau adalah cucu perempuanku satu-satunya, maka apabila engkau tidak menikahi putuslah keturunanku-"
"Kakek, aku cuma mencintai Han Liong. Tidak mungkin akan mencintai pemuda lain, maka aku tidak akan menikah-"
"Kalau begitu,"
Tandas Hiat Mo-"Kakek akan berupaya dengan cara apa pun agar engkau menikah dengan Han Liong."
"Kakek tidak boleh berbuat begitu."
Teaas Ciu Lan Nio mengancam.
"Kalau Kakek berbuat begitu, aku... aku akan bunuh diri"
"Haaah -?"
Mulut Hiat Mo ternganga lebar.
"Lan Nio...."
Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara seruan penjaga gua.
"Kwee In Loan ingin bertemu Hiat Mo Apakah Hiat Mo bersedia menemuinya?"
"suruh dia masuk"
Sahut Hiat Mo-Tak seberapa lama kemudian, tampak Kwee In Loan berjalan ke dalam, lalu memberi hormat kepada Hiat mo-"Maaf, kedatanganku telah mengganggu ketenangan Hiat Locianpwee"
Ucap Kwee In Loan.
"Mau apa engkau ke mari menemuiku?"
Hiat Mo menatapnya tajam.
"Hiat Locianpwee,"
Jawab Kwee In Loan dengan jujur.
"Aku ke mari ingin mohon petunjuk kepada Hiat Locianpwee mengenai ilmu silat"
"oh?"
Hiat Mo tercengang.
"Kepandaianmu sudah tinggi, kenapa masih mau mohon petunjukku?"
"Kini Hek Liong Pang telah bubar."
Kwee In Loan memberitahukan.
"Aku.. aku kalah bertanding."
"Apa?"
Hiat Mo terbelalak.
"siapa yang dapat mengalahkanmu?"
"yo sian sian,"
Jawab Kwee In Loan sambil menundukkan kepala.
"Dia adalah adik seperguruanku."
"oooh"
Hiat Mo manggut-manggut.
"Hiat Locianpwee, aku mohon Loci anpwee sudi memberi petunjuk kepadaku"
Ujar Kwee In Loan.
"Aku ingin mengalahkan yo sian sian."
"Kecuali aku mengejarmu Hiat Mo Kang, tapi...."
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin aku mengajarmu Hiat Mo Kang?"
"Hiat Locianpwee"
Kwee In Loan segera berlutut di hadapannya.
"Aku mohon Locianpwee sudi mengajarku Hiat Mo Kang"
"Engkau bukan muridku, tak mungkin aku mengajarmu Hiat Mo Kang."
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala lagi.
"Bagaimana kalau aku menjadi muridmu, Locianpwee?"
"Ha ha"
Hiat Mo tertawa.
"Itu tidak mungkin, sebab aku tidak akan menerimamu sebagai murid."
"Bagaimana kalau begini, aku akan mengajarmu Hiat Mo Kang, tapi engkau harus mentaati semua perintahku kelak-Kalau engkau setuju, mulai besok aku akan mengajarmu Hiat Mo Kang."
"Terima kasih, Locianpwee-Terima kasih, aku setuju-"
Kwee In Loan girang bukan main.
"Dan ingat"
Tambah Hiat Mo sambil menatapnya tajam.
"Engkau pun harus menuruti Lan Nio, cucuku dan Giok Cu, muridku."
"ya, Locianpwee-"
Kwee In Loan mengangguk-"Terima kasih-"
Bab 26 Meninggalkan gunung soat san Thio Han Liong terus berlatih Kiu yang sin Kang, Thay Kek Kun, Kiu Im Pek Kut Jiauw dan Siauw Lim Liong Jiauw Kang.
Tak terasa sudah tiga tahun ia tinggal di dalam gua hangat di puncak gunung Soat San.
Da lam kurun waktu tiga tahun, ia hanya makan buah pohon yang tumbuh di dalam gua itu.
sementara buah yang tumbuh di tengah-tengah telaga kecil itu pun semakin besar, namun la sama sekali tidak begitu memperhatikan buah tersebut.
Kini Kiu yang sin Kang yang dimilikinya sudah bertambah tinggi, begitu pula ilmu silatnya, oleh karena itu, la mengambil keputusan untuk meninggalkan gunung Soat San, tujuannya ke desa Hok An menemui Tan Ek Seng.
Setelah mengambil keputusan demikian, keesokan harinya ia meninggalkan gunung Soat San.
la berjanji dalam hati, bahwa kelak akan ke mari lagi untuk mencari Teratai Salju.
(Bersambung ke Bagian 13)
Jilid 13 Beberapa hari kemudian, Thio Han Liong sudah tiba di kota Ki Ciu.
Di saat itu ia merasa lapar sekali.
Namun ia tetap harus bertahan, karena tidak punya uang sama sekali.
Kini usianya sudah hampir dua puluh, Badannya bertambah tinggi besar dan amat tampan.
la menengok ke sana ke mari.
Dilihatnya seorang pedagang bakpau di pinggir jalan, dan segeralah didekatinya.
"Paman,"
Tanyanya sopan.
"Bolehkah aku minta bakpau, aku... aku lapar sekali."
Pedagang bakpau itu tidak menyahut, hanya menatap Thio Han Liong dengan penuh perhatian. Pemuda tersebut sangat tampan dan kelihatan sopan, namun pakaiannya sudah kumal sekali.
"Anak muda, engkau dari mana?"
Tanyanya.
"Aku dari tempat yang jauh sekali. Aku tidak punya uang...."
Thio Han Liong menundukkan kepala.
"oooh"
Pedagang bakpau merasa kasihan parianya, lalu memberikannya sebuah bakpau.
"Terima kasih, Paman,"
Ucap Thio Han Liong sambil menerima bakpau itu, kemudian disantap nya dengan lahap sekali, dan dalam waktu sekejap habislah bakpau itu.
"Makanlah lagi"
Pedagang bakpau menyoriorkan sebuah bakpau lagi kepadanya.
"Cukup, Paman."
Ujar Thio Han Liong.
"Kalau aku makan lagi Paman akan rugi lho"
"Tidak apa-apa."
Pedagang bakpau itu tersenyum.
"Makanlah satu lagi"
"Terima kasih."
Thio Han Liong menerima bakpau itu, sekaligus memakannya dengan cepat sekali. Menyaksikan cara makannya, pedagang bakpau itu tertawa-Dipandangnya Thio Han Liong seraya bertanya.
"Anak muda, sudah berapa hari engkau tidak makan?"
"Hampir lima hari,"
Sahut Thio Han Liong dengan jujur.
"Apa?"
Pedagang bakpau terbelalak-"Hampir lima hari engkau tidak makan?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Engkau tidak apa-apa?"
Pedagang bakpau bingung.
"Engkau kok begitu tahan tidak makan lima hari?"
"Aku tidak punya uang untuk membeli makanan.".
"Kalau begitu, bagaimana engkau selanjutnya?"
Pedagang bakpau menggeleng-gelengkan kepala, dan kemudian teringat sesuatu.
"oh ya, besok adalah hari ulang tahun yap Khay Peng yang ke enam puluh, engkau boleh ke sana sekarang untuk makan besar."
"siapa yap Khay Peng?"
"Beliau adalah seorang tokoh rimba persilatan, tapi sudah mengundurkan diri"
Pedagang bakpau memberitahukan.
"Beliau sangat baik, siapa pun yang mengalami kesulitan, beliau pasti membantu tanpa pamrih-Engkau boleh kelana minta sedikit uang kepadanya, beliau pasti berikan-"
"oh?"
Wajah Thio Han Liong berseri-"Tapi -aku tidak kenal beliau, bagaimana mungkin aku ke sana?"
"Itu tidak menjadi masalah, engkau ke sana saja."
"Di mana rumahnya?"
"Dari sini terus ke depan...."
Pedagang bakpau itu menunjuk ke arah kiri-"sampai di ujung harus membelok ke kanan, kira-kira dua ratus langkah pasti sampai di rumah beliau"
"Terima kasih, Paman"
Ucap Thio Han Liong.
la melangkah pergi mengikuti petunjuk pedagang bakpau itu.
sampai di ujung ia membelok ke kanan, kemudian kira-kira dua ratus langkah, ia sudah melihat sebuah rumah yang amat besar.
Pintu Halaman terpentang lebar, namun tampak dua penjaga di situ.
Thio Han Liong mendekati mereka, kemudian memberi hormat seraya bertanya.
"Tuan, apakah ini adalah rumah pendekar tua yap Khay Peng?"
"Betul."
Salah seorang penjaga mengangguk-"Siau-hiap (Pendekar muda) dari mana?"
"Aku datang dari tempat yang amat jauh,"
Sahut Thio Han Liong.
"siauhiap berasal dari perguruan mana?"
Tanya penjaga itu.
"Aku tidak punya perguruan,"jawab Thio Han Liong.
"Aku bukan murid dari partai mana pun."
"oh?"
Penjaga itu terbelalak-"Engkau tidak mengerti ilmu silat?"
"Mengerti sedikit-"
"Kalau begitu...."
Penjaga itu agak ragu mempersilahkannya masuk-Pada saat bersamaan, muncul seorang tua berusia lima puluhan, lalu menghampiri Thio Han Liong sambil tersenyum-"Anak muda, aku adalah kepala pengurus di sini.
Engkau ke mari untuk memberi selamat kepada tuan besar?"
"ya, Paman."
Thio Han Liong mengangguk-"
Kalau begitu, silakan masuk"
Ucap kepala pengurus dengan ramah-Terima kasih, Paman."
Thio Han Liong melangkah ke dalam-"Anak muda, bolehkah aku tahu namamu?"
Tanya kepala pengurus sambil memandangnya.
"Namaku Thio Han. Liong."
"Ngmm"
Kepala pengurus manggut-manggut.
"Engkau boleh duduk beristirahat di tempat yang di sebelah kanan itu. Tempat itu khusus untuk para pemuda."
"ya."
Thio Han Liong berjalan ke tempat itu.
Tampak puluhan pemuda berpakaian mentereng sedang minum-minum di tempat itu.
Begitu Thio Han Liong muncul dengan pakaian kumal, mereka menyambut dengan dingin-Thio Han Liong sama sekali tidak mempedulikan sikap mereka, dan langsung duduk-"Ha ha ha"
Salah seorang pemuda tertawa.
"Ada pengemis dekil bersama kita lho Tempat ini berubah jadi bau sekali,"
"Suheng"
Tegur seorang pemuda.
"Tidak baik menghina orang, apalagi dia tamu yap Locianpwee"
"Engkau tahu apa?"
Pemuda itu melotot.
"Dia pengemis biasa, yang ingin makan gratis di sini, mungkin juga akan minta uang kepada yap Locianpwee-"
"Suheng--"
Sang sutee itu menggeleng-gelengkan kepala-Thio Han Liong diam saja, dan langsung mengambil teh wangi yang telah tersedia di atas meja lalu diteguknya.
"Ha ha ha Dasar pengemis kehausan"
Ejek pemuda itu-Di saat bersamaan muncul seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun, gadis yang berwajah cukup cantik itu, langsung menegur sang suheng-"suheng Kenapa engkau menghina orang?
Kalau ayahku tahu, engkau pasti dihukum"
"sumoy, aku. -"
Sang suheng menundukkan kepala.
"Aku cuma bergurau, sumoy jangan marah-"
"Hmm"
Dengus gadis itu, kemudian mendekati Thio Han Liong sambil memberi hormat.
"saudara, aku minta maaf"
Ucap gadis itu sambil menatapnya.
"Suhengku cuma bergurau-"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Thio Han Liong dengan tersenyumsenyumannya membuat hati gadis itu tergetar-getar dan wajahnya pun langsung memerah-"sumoy -"
Sang suheng itu tampak tidak senang.
"Kita tidak kenal dia, jangan dekat dia"
"oh ya"
Gadis itu segera memperkenalkan.
"Dia adalah Toa suheng ku bernama Lie Teng Kim,Ji suheng ku bernama Tan Coh seng dan aku bernama -Gouw Hui Eng."
Thio Han Liong manggut-manggut dan memperkenal-kan diri pula.
"Namaku Thio Han Liong."
"saudara Thio, engkau berasal dari perguruan mana?"
Tanya Gouw Hui Eng dengan suara rendah-"Aku tidak punya perguruan, dan cuma mengerti sedikit ilmu silat,"
Sahut Thio Han Liong.
"Engkau datang dari mana?"
"Dari tempat yang jauh sekali. Aku dengar besok Yap Locianpwee akan merayakan ulang tahunnya, maka aku ke mari...."
"Ingin makan enak di sini"
Sela Lie Teng Kim mendadak-"Mungkin mau minta ongkos juga-"
"Toa suheng"
Bentak Gouw Hui Eng.
"Kalau ayahku datang esok. aku akan beritahukan tentang tingkahmu itu"
"sumoy...."
Lie Teng Kim tersenyum dibuat-buat.
"Aku... aku cuma bergurau lho"
"Itu bukan bergurau, melainkan menghina"
Tandas Gouw Hui Eng sambil melotot.
Di saat itu, muncul seorang gadis berparas cantik jelita menghampiri mereka sambil tersenyum.
Di punggung gadis itu tampak bergantung sebatang pedang.
Begitu melihat gadis itu, Lie Teng Kim langsung pasang aksi agar tampak lebih gagah.
"Hui Eng Engkau kok marah-marah? Ada apa sih?"
Tanya gadis itu.
"Toa suhengku sungguh keterlaluan"
Gouw Hui Eng memberitahukan.
"Dia menghina pemuda itu."
"oh?"
Gadis itu langsung memandang Thio Han Liong, dan seketika juga hatinya berdebar-debar aneh-"Maaf, saudara siapa?"
"Namaku Thio Han Liong."
"Engkau dari perguruan mana?"
"Aku tidak punya perguruan, namun pernah belajar sedikit ilmu silat dari ayahku."
"oooh"
Gadis itu manggut-manggut.
"Namaku yap Ceng Ceng, ayahku adalah Yap Khay Peng."
"Nona Ceng Ceng, sebetulnya aku tidak kenal ayahmu."
"Tidak apa-apa."
Yap Ceng Ceng tersenyum.
"Kamu girang sekali alas kehadiranmu, oh ya, tentunya engkau belum makan, aku akan menyuruh pelayan menyajikan hidangan-hidangan lezat untukmu."
"Tidak usah. Nona"
Tolak Thio Han Liong. Akan tetapi, yap Ceng Ceng sudah melambaikan tangannya, dan seketika itu juga seorang pelayan meng-. hampirinya.
"Nona mau pesan apa?"
Tanya pelayan itu hormat.
"sajikan beberapa macam hidangan istimewa dan arak wangi, aku mau menjamu tamu ini"
Sahut yap Ceng ceng.
"ya. Nona"
Kata pelayan itu dan segera pergi.
Ketika menyaksikan sikap yap Ceng Ceng begitu ramah terhadap Thio Han Liong, wajah Lie Teng Kim langsung berubah tak sedap dipandang dan pemuda itu mencaci Thio Han Liong dalam hati.
"Hui Eng Mari kita duduk di sini"
Ajak yap ceng ceng.
"Baik,"
Gouw Hui Eng mengangguk-Ke dua gadis itu duduk di hadapan Thio Han Liong, kemudian yap ceng ceng memandangnya seraya bertanya-"Kok engkau tahu ayahku ulang tahun esok?"
"Pedagang bakpau yang memberitahu padaku dan menyuruhku ke mari,"
Jawab Thio Han Liong dengan jujur.
"Katanya, yap Locianpwee sangat ramah dan baik orangnya, bahkan suka menotong orang pula. Maka aku ke mari, kebetulan aku sudah lapar sekali. Tadi pedagang bakpau memberi ku dua buah bakpau...."
"Hi hi hi"
Yap Ceng ceng dan Gouw Hui Eng tertawa geli-"Engkau sungguh jujur Memang tidak salah ayahku sangat ramah dan baik hati.
Nanti akan kuberitahukan kepada ayahku, engkau pasti diberikan uang untuk bekal."
"Terima kasih Nona, tapi aku tidak akan menerima pemberian ayahmu,"
Ujar Thio Han Liong sungguh-sungguh-"Aku... aku cuma ingin makan di sini saja."
"Jangan sungkan-sungkan, anggaplah rumah sendiri"
Kata yap Ceng Ceng, kemudian wajahnya tampak memerah. Ketika itu muncullah dua pelayan membawa berbagai macam hidangan dan arak wangi kemudian ditaruh di atas meja.
"saudara Thio, silakan makan"
Ucap yap Ceng Ceng.
"Wuah"
Seru Thio Han Liong tak tertahan ketika menyaksikan hidangan-hidangan itu, lalu mulai makan bagaikan kelaparan.
Dalam waktu sekejap, habislah semua hidangan itu, yap Ceng Ceng dan Gouw Hui Eng menyaksikannya dengan mata terbelalak, sedangkan Lie Teng Kim langsung menyindir.
"Dasar setan kelaparan, jangan-jangan sudah satu tahun tidak makan"
"Betul."
Thio Han Liong mengangguk-"Sudah tiga tahun lebih aku tidak makan, hanya makan buah-buahan saja-"
"Apa?"
Yap Ceng Ceng tertegun.
"Kenapa engkau cuma makan buah-buahan?"
"Aku berada di gunung soat San, bagaimana mungkin menikmati hidangan-hidangan seperti ini?"
Sahut Thio Han Liong.
"Engkau berada di gunung Soat san?"
Yap ceng Ceng terbelalak-"Tempat tinggalmu berada di gunung itu?"
"Bukan"
Ujar Thio Han Liong.
"Aku ke gunung Soat san untuk mencari Teratai salju, tapi akhirnya malah tinggal di dalam sebuah gua di puncak gunung soat san itu hingga tiga tahun lebih."
"oooh"
Yap Ceng ceng tertawa.
"Pantas"
"Pantas jadi setan kelaparan"
Sela Lie Teng Kim yang merasa iri karena yap Ceng Ceng sangat baik terhadap Thio Han Liong.
"Teng Kim"
Bentak yap Ceng Ceng.
"Kalau aku tidak memandang gurumu, sudah kuhajar mulutmu"
"Nona...."
Lie Teng Kim menundukkan kepala.
"Toa suheng"
Ancam Gouw Hui Eng.
"Kalau engkau masih menghina saudara Thio, aku pasti beritahukan kepada ayah besok"
"Sumoy...."
Lie Teng Kim melirik Thio Han Liong dengan mata berapi-api. la sudah mengambil keputusan dalam hati akan menghajar Thio Han Liong.
"Tidak apa-apa."
Thlo Han Liong tersenyum.
"Aku memang setan kelaparan, karena sudah tiga tahun lebih tidak makan."
"saudara Thio,"
Ucap Gouw Hui Eng.
"Maafkanlah Toa suheng ku, sebab sifatnya memang begitu"
"Dia tidak menghinaku, melainkan sekedar bergurau saja"
Ujar Thio Han Liong.
"Aku tidak akan tersinggung maupun gusar, itu tidak apaapa."
"saudara Thio, engkau duduk saja di sini Aku akan ke dalam sebentar."
Yap ceng Ceng bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke rumah sambil tersenyum-senyum.
sin Kiam Tui Hun (Pedang sakti Pengejar Roh) yap Khay Peng berada di ruang depan dan sedang bercakap-cakap dengan beberapa tamu.
Ketika melihat putrinya masuk sambil tersenyum-senyum, orang tua itu tercengang.
"Ceng Ceng"
Serunya.
"Kenapa engkau tersenyum-senyum? Apa yang menggembirakan hatimu?"
"Tidak. Ayah,"
Sahut yap Ceng Ceng dengan wajah agak kemerah-merahan sambil terus berjalan ke dalam.
"Ha ha ha"
Salah seorang tamu tertawa gelak-"yap Loenghiong (orang Tua yang Gagah), aku juga punya anak gadis-Ketika anak gadisku bersikap seperti anak gadismu, ternyata anak gadisku mulai jatuh cinta-"
"oh?"
Yap Khay Peng terbelalak-"Benarkah?"
"Hari ini banyak pemuda ke mari, jangan-jangan dia jatuh cinta pada salah seorang dari mereka-"
"Kalau begitu, aku harus bertanya kepadanya-"
Yap Khay Peng bangkit berdiri seraya berkata.
"Maaf, aku mau ke dalam dulu"
"silakan, silakan"
Ucap para tamu itu sambil tertawayap Khay Peng menuju kamar yap Ceng ceng.
Dilihatnya gadis itu sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil tersenyum-senyum.
Perlahan-lahan yap Khay Peng menghampirinya, kemudian duduk di sisinya.
"Ayah..."
"Ngmm"
Yap Khay Peng manggut-manggut.
"Ceng Ceng, kenapa hari ini engkau kelihatan agak lain? Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa,"
Sahut yap Ceng Ceng sambil menundukkan kepala.
"Tidak ada apa-apa kok tersenyum-senyum?"
Yap Khay Peng menatapnya dengan penuh perhatian.
"jangan-jangan engkau tertarik kepada salah seorang pemuda yang hadir di sini"
"omong sembarangan. Ayah-"
Wajah yap Ceng Ceng langsung memerah-"Aku -aku tidak tertarik kepada pemuda yang mana pun."
"Ha ha ha"
Yap Khay Peng tertawa gelak-"Tuh Wajahmu memerah, pertanda benar lho"
"Ayah -"
Yap Ceng ceng cemberut.
"Katakan kepada ayah, siapa pemuda yang telah mencuri hatimu?"
Desak yap Khay Peng.
"Ayah jangan mengada-ada saja"
"Ceng Ceng, ketika engkau berumur tujuh tahun, ibumu meninggal -."
Yap Khay Peng menghela nafas panjang.
"Kini engkau sudah dewasa, tentunya ayah sangat memperhatikan perjodohanmu. Nah, katakanlah, siapa pemuda itu?"
"Dia -dia sama sekali tidak kenal Ayah-Dia tidak punya perguruan, hanya pernah belajar sedikit ilmu silat."
Yap Ceng Ceng memberitahukan secara jujur.
"Dia ke mari... dia ke mari ingin makan, sebab dia tidak punya uang."
"oooh"
Yap Khay Peng manggut-manggut.
"Ayah yakin pemuda itu pasti tampan sekali. Kalau tidak, bagaimana mungkin engkau akan tertarik kepadanya. Lie Teng Kim dan Tan con seng tergolong pemuda yang cukup tampan, namun engkau tidak begitu menggubris mereka."
"Ayah"
Yap Ceng Ceng memberitahukan.
"Lie Teng Kim sungguh keterlaluan, dia terus menghina pemuda itu."
"oh?"
Yap Khay Peng tersenyum.
"Engkau tidak senang pemuda itu dihina oleW Lie Teng Kim?"
"Tentu."
Yap Ceng Ceng mengangguk-"Pemuda itu ke mari berarti adalah tamu kita."
"Ngmmm"
Yap Khay Peng manggut-manggut.
"siapa pemuda itu?"
"Dia bernama Thio Han Liong."
"siapa orangtuanya?"
"Aku tidak bertanya."
"Begini,"
Ujar Yap Khay Peng sungguh-sungguh-"Ayah ingin bertemu dia, ajak dia ke ruang tengah, ayah tunggu di situ"
"Ayah -jangan menghina dia lho"
Pesan yap ceng Ceng.
"sebab pakaiannya sudah kumal sekali"
"Pakaiannya kumal?"
"Ya."
"Mungkinkah dia dari Kay Pang?"
"Tidak mungkin."
Yap Ceng ceng menggelengkan kepala.
"Karena dia sudah bilang tidak punya perguruan, seandainya dia dari Kay Pang, tentunya tidak berani mengatakan begitu."
"Mungkin -dia cuma mengerti sedikit ilmu silat. Kebetulan dia tiba di kota ini. maka mampir di sini."
"Memang mungkin."
Yap Ceng Ceng mengangguk, lalu pergi memanggil Thio Han Liong.
Ketika sampai di halaman, dilihatnya Gouw Hui Eng sedang asyik ber-cakap-cakap dengan pemuda itu, sedangkan Lie Teng Kim dan Tan coh seng masih berdiri di situ dan wajah Lie Teng Kim tampak masam sekali.
"Han Liong"
Seru yap Ceng Ceng sambil mendekati mereka-"Ayahku ingin bertemu denganmu"
"oh?"
Thio Han Liong tertegun.
"Aku... aku seorang pengemis dekil, tidak pantas menemui ayahmu."
"Paman yap sangat ramah, memang ada baiknya engkau menemuinya,"
Ujar Gouw Hui Eng dan menambahkan.
"Ceng Ceng pun ramah sekali."
"Eeeh?"
Wajah yap Ceng Ceng langsung memerah-"Hui Eng...."
"Cepatlah kalian ke dalam mungkin Paman yap sudah menunggu"
Gouw Hui Eng tersenyum serius.
"Han Liong Mari kita ke dalam"
Ajak yap Ceng Ceng, kemudian mendadak menariknya.
"Nona...."
Wajah Thio Han Liong kemerah-merahan.
"Aku tidak perlu dituntun, biar aku jalan sendiri"
"Ayolah"
Yap Ceng ceng terus menariknya dan tak lama mereka sudah sampai di ruang tengahyap Khay Peng duduk di sana.
Begitu Thio Han Liong masuk, la langsung menatapnya dengan tajam.
Thio Han Liong segera memberi hormat, kemudian berkata dengan sopan.
"Cianpwee, terimalah hormatku"
"Ngmmm"
Yap Khay Peng manggut-manggut.
la mengakui dalam hati bahwa pemuda itu memang tampan sekali, bahkan sangat sopan dan lemah lembut.
Tidak heran kalau putrinya tertarik kepadanya-Namun dia juga tidak habis pikir, kenapa pakaian pemuda itu begitu kumal?
"Namamu Thio Han Liong, ya?"
"ya-"
Thio Han Liong mengangguk..
"siapa ayahmu?"
"Ayahku bernama.... Thio Ah Ki."
"Thio Ah Ki?"
Yap Khay Peng berpikir dengan kening berkerut-kerut.
"Apa julukan ayahmu dalam rimba persilatan?"
"Ayahku tidak punya julukan."
"oooh"
Yap Khay Peng manggut-manggut.
Padahal sesungguhnya orangtua itu menghendaki menantu yang berasal dari keluarga terkenal.
Thio Han Liong memang tampan, tapi bukan berasal keluarga terkenal.
Akan tetapi, apabila putrinya mencintai pemuda itu, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Anak muda, engkau sudah makan?"
Tanya yap Khay Peng kemudian dan melanjutkan.
"Kalau belum makan, makanlah Jangan malu-malu"
"Terima kasih, Cianpwee,"
Ucap Thio Han Liong.
"Aku sudah makan tadi-"
"oh ya"
Yap Khay Peng menatapnya seraya berkata.
"Apabila engkau membutuhkan uang, beritahukanpadaku, aku pasti memberimu"
"Terima kasih atas kebaikan cianpwee, namun aku tidak membutuhkan uang,"
Sahut Thio Han Liong.
"Baiklah-"
Yap Khay Peng tersenyum.
"Nanti malam engkau boleh tidur di kamar belakang. pelayan di sini akan membawamu ke sana."
"Terima kasih, cianpwee,"
Ucap Thio Han Liong.
"Aku mohon diri ke depan. Maaf, aku telah mengganggu Cianpwee"
"Ha ha ha"
Yap Khay Peng tertawa gelak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku yang menyuruh Ceng ceng memanggilmu ke mari, maka engkau tidak menggangguku-"
Thio Han Liong berjalan ke luar, sedangkan yap ceng Ceng mengerutkan kening, gadis itu menatap ayahnya seraya bertanya.
"Ayah tidak senang kepadanya?"
"Dia memang tampan sekali, hanya saja...."
Yap Khay Peng menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia bukan berasal dari keluarga terkenal. itu sungguh sayang sekali"
"Ayah mempermasalahkan itu?"
"Kalau engkau menyukainya, tentunya ayah juga tidak akan mempermasalahkan itu,"
Sahut yap Khay Peng.
"Ceng Ceng, alangkah baiknya dia dapat mengalahkanmu."
"Ayah berharap kepandaiannya lebih tinggi daripadaku?"
"ya."
"Kalau begitu..."
Ujar yap ceng ceng setelah berpikir sejenak-"Aku akan bertanding dengannya."
"Itu terserah padamu-Tapi -janganlah engkau melukainya"
Pesan yap Khay Peng.
"ya. Ayah-"
Yap Ceng Ceng tampak girang sekali, sebab ia ingin mengalah agar Thio Han Liong menang.
"Ceng Ceng, kalau kalian mau bertanding, jangan lupa beritahukan kepada ayah"
Yap Khay Peng mengingatkan.
"Ayah ingin menyaksikan pertandingan kami?"
Tanya yap Ceng Ceng.
"Tentu."
Yap Khay Peng mengangguk-"Ayah memang harus menyaksikannya."
"Ayah--"
Yap Ceng Ceng cemberut.
"Ayah tidak usah menyaksikan pertandingan kami."
"Engkau ingin pura-pura kalah kan? Itu tidak jadi masalah bagi ayah-sebab ayah ingin tahu, cara bagaimana engkau pura-pura kalah."
"Ayah -"
Yap Ceng Ceng cemberut, kemudian berlari ke luar dan langsung menghampiri Thio Han Liong, yang duduk bersama Gouw Hui Eng.
"Ceng Ceng,"
Tanya Gouw Hui Eng sambil tersenyum.
"Kenapa ayahmu memanggil saudara Thio?"
"Tidak ada apa-apa,"
Sahut Yap Ceng Ceng.
"Hanya ingin bertatap muka dengan Han Liong."
"oh?"
Gouw Hui Eng tersenyum serius.
"Jangan-jangan ayahmu...."
"Hui Eng"
YaP Ceng Ceng cemberut-"Jangan omong yang bukan-bukan"
"Terus terang saja"
Desak Gouw Hui Eng.
"setelah bertatap muka, ayahmu bilang apa?"
"Tidak bilang apa-apa,"
Sahut Yap Ceng Ceng dan teringat sesuatu.
"oh ya, aku ingin bertanding dengan Han Liong."
"oh?"
Gouw Hui Eng terbelalak-"Engkau akan bertanding dengan Han Liong? Ayahmu yang menyuruh?"
"Kira-kira begitulah,"
Sahut Yap ceng ceng.
"Hi hi"
Gouw Hui Eng tertawa geli-"Ayahmu menyuruhmu menguji kepandaian Han Liong Kalau dia dapat mengalahkanmu, maka Han Liong akan menjadi menantu ayahmu kan?"
"omong sembarangan"
Wajah Yap Ceng Ceng memerahsementara Thio Han Liong, Lie Teng Kim dan Tan coh seng terus mendengarkan pembicaraan ke dua gadis itu-Thio Han Liong menarik nafas, Lie Teng Kim meliriknya dengan mata membara, sedangkan Tan coh seng bersikap biasa-biasa saja-Kenapa Lie Teng Kim begitu membenci Thio Han Liong?
Baca Juga: Kemelut Di Majapahit 3
Baca Juga: Si Racun Dari Barat 5