Eps 10 Kereta Berdarah - Khu Lung
Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung
Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.
Saat itulah Yuan Si Tootiang baru merasa terperanjat karena tenaga dalam dari Koan Ing sebenarnya seimbang dengan tenaga dalamnya sendiri tetapi jika ditinjau dari keadaannya pada saat ini terlihatlah tenaga dalamnya jauh lebih setingkat dari dirinya bahkan di dalam hal jurus seranganpun dia jauh melebihi dirinya.
Sewaktu kedua orang itu lagi bertempur dengan serunya itulah menandakan dari tempat kejauhan berkumandang datang suara tiupan seruling yang amat keras sekali.
Mendengar suara itu Koan Ing jadi amat kaget.
karena bukankah suara seruling itu merupakan tanda dari perkumpulan Sin Tie Pang tidak aneh kalau Song Ing kirim tanda bahaya kiranya di sekeliling tempat itu sudah terkurung oleh kekuatan musuh.
Pedang kiem-hong-kiamnya berturut-turut melancarkan serangan gencar ke depan, tetapi Yuan Si Tootiang pun segera mengetahui kalau pemuda itu bermaksud untuk melepaskan diri pedangnya laksana sekerat tali dengan kencangnya mengikat tubuhnya sehingga tak bisa bergerak.
Melihat tindakan dari Toosu tersebut Koan Ing benar-benar murka, sehingga dengan gusarnya ia segera membentak keras.
"Siapa yang menghindar akan selamat, tapi siapa yang menentang pasti binasa!"
Dan pedang kiem-hong-kiamnya dengan dahsyat disentilkan ke depan dan menyerang ke depan sejajar alis. Inilah jurus "Giok Sak Ci Hun"
Yang amat dahsyat.
Pedang kiem-hong-kiamnya berdesir tajam ke depan dengan disertai suara ledakan yang memekikkan telinga.
Yuan Si Tootiang jadi bergidik melihat serangan itu, dia orang mana berani menerima serangan tersebut?
Maka tubuhnya buru-buru meloncat ke samping untuk menghindar, Mengambil kesempatan itulah Koan Ing mencelat ketengah udara kemudian laksana meluncurnya bintang dilangit meluncur ke atas puncak gunung di hadapannya.
Manusia yang ada diempat penjurupun buru-buru menyingkir ke samping memberi jalan.
"Koan Ing menghunjuk hormat buat Subo"
Serunya kemudian sambil jatuhkan diri berlutut.
Song Ing yang melihat Koan Ing lah yang nomor satu berhasil menerjang naik ke atas puncak hatinya jadi ikut terharu lama sekali ia termenung akhirnya sambil membimbing tubuh pemuda itu bangun katanya.
"Bocah, kau tak usah banyak adat!"
Sewaktu berbicara tak kuasa lagi air matanya ikut bercucuran dengan amat derasnya, Suara dari tiupan seruling semakin lama semakin santar dan semakin memekikkan telinga, sinar mata Koan Ing segera berkelebat menyapu ke sekelilingnya sedang sang badan dengan perlahan bangun berdiri, Tetapi ketika melihat situasi yang ada di depan mata hatinya jadi amat terperanjat, karena kiranya ditengah suara tiupan seruling yang amat santar itu tampaklah be-ratus2 macam binatang buas bersama-sama menerjang datang dengan dahsyatnya.
Sungguh tak disangka kalau perkumpulan Sin Tin Pang pun memiliki kepandaian untuk menaklukan binatang, karena ternyata mereka telah memancing datangnya seluruh binatang buas digunung itu untuk menghadapi dirinya.
Walaupun kepandaian silat mereka rata2 tinggi, tetapi untuk menghadapi binatang yang demikian banyaknya akhirnya pasti akan kewalahan sendiri.
Tampak Song Ing tersenyum.
"Entah siapa yang sudah memperlihatkan permainan macam ini,"
Katanya perlahan "Ditambah pula racun ditubuh Cing It belum sembuh. Akupun tak dapat pecahkan perhatianku, karena melihat musuh sudah mengurung empat penjuru, terpaksa aku panggi! kalian pulang."
"Obat pemunahnya sudah ada, cuma saja masih ada disaku Cha Ing ing!"
Sahut pemuda itu sambil menarik napas, Sewaktu ia habis berbicara tampaklah Sang Su-im serta Cha Can Hong sekalian telah tiba pula di bawah puncak tersebut, karena mereka berjumlah banyak, terpaksa melakukan perjalanan perlahan-lahan.
Koan Ing yang mendengar suara seruling itu semakin mendekat, hatinya jadi benar-benar bingung, ia menduga binatang2 itu tentu sudah berada kurang lebih lima li dari sana dan sebentar lagi tentu sudah tiba disini!
Lalu apa yang hendak diperbuatnya saat ini?
Sang Su-im sekalian yang telah tiba di atas puncak sewaktu melihat situasi tersebut, mereka pun jadi melengak dibuatnya.
Mereka tak mengira kalau pihak perkumpulan Sin Tie Pang telah mengurung sekeliling tempat tersebut.
Selagi semua orang sedang berdiri tepekur itulah dari tiga jurusan telah tampak munculnya beratus-ratus ekor binatang buas.
Para jago yang berada di atas puncak, setelah melihat situasi di sekelilingnya kontan merasa hatinya bergidik.
Bulu kuduk pada berdiri semua.
Ooo)*(ooO Bab 53 DENGAN termangu-mangu Cha Can Hong memandang kebawah puncak, tak sepatah kata pun yang diucapkan keluar sedangkan Cha Ing Ing dengan tawarnya memandang sekejap ke sekeliling tempat itu lalu ia berjongkok dan mencekoki obat tersebut kemulut Cing It Nikouw.
Sin Hong Soat-nie yang melihat sikap dari Cha Ing Ing cuma bisa menghela napas panjang saja di dalam hatinya.
Waktu itulah dari empat penjuru sudah bermunculan binatang buas yang hanpir memenuhi seluruh tempat berapa jumlah yang sebenarnya sulit sekali untuk dihitung.' "Heeei....
tidak disangka dari pihak perkumpulan Sin Tie Pang mempunyai orang yang berbakat"
Seru nikouw tua itu sambil tundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Kiranya kita sebentar lagi bakal akan menemui bencana di tempat ini!"
"Haa.... haa . ,Suthay kenapa kau harus memuji kegagahan orang lain sebaliknya melenyapkan kegagahan sendiri,"
Tegur sijari sakti Sang Su-im sambil tertawa terbahak-bahak.
Pada pinggangnya gunung saat ini telah dipenuhi dengan anak buah dari Tiang-gong-pang serta Sian-thian-kauw.
walaupun Sang Su-im diluarnya bicara begitu tapi dalam hatinya iapun tahu bilamana bermaksud untuk melarikan diri bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, walaupun saat ini orang-orang yang ada dipuncak merupakan jago-jago berkepandaian tinggi tetapi binatang yang tak diketahui jumlahnya ini benar-benar sangat menakutkan sekali pada akhirnya mereka bakal juga kewalahan sendiri.
Selagi mereka sedang kebingungan itulah tiba-tiba suara seruling telah berhenti berbunyi.
dan dari puncak di hadapannya pun muncullah sesosok bayangan manusia.
Orang itu sambil tertawa terbahak-bahak telah berseru keras.
"Hey kalian jago-jago Bu-lim sampai keadaan seperti ini masihkah tidak mau menyerah kepada dirrku?"
Orang itu bukan lain adalah Sin Tie Pangcu Ti Siuw-su adanya! Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat belum sempat dia mengucapkan kata-katanya Thian Siang taysu sudah membentak keras.
"Dengan meminjam kekuatan dari binatang apa gunanya?"' Ti Siuw-su segera tertawa terbahak-bahak, tangannya diulapkan ke samping kemudian tampaklah seorang berbaju putih yang mencekal sebuah seruling muncul di atas puncak, Sebentar kemudian suara seruling telah berkumandang kembali memenuhi angkasa. kali ini suara seruling itu mengandung nafsu membunuh yang tajam dan membuat kawanan binatang buas itu meraung dan mulai menyerbu ke atas puncak bagaikan aliran air bah. Dan sinar mata Sang Su-im pun terlintas nafsu membunuh, kepada Song Ing segera ujarnya.
"Nona Song, kau ingin menggunakan cara apa untuk hadapi mereka?"
Song Ing gelengkan kepalanya tidak berbicara, sewaktu Sang Su-im menoleh kembali maka terlihatlah anak murid perkumpulan Tiang-gong-pang sedang melancarkan serangan anak panah kebawah.
Seketika itu juga berpuluh-puluh ekor binatang buas meraung kesakitan dan tubuh binasa, walaupun begitu binatang yang ada dibelakangnya tetap melanjutkan serangannya ke depan.
Setiap langkah binalang buas itu menerjang ke atas, maka anak murid Tiang Cong Pang ikut terdesak mundur selangkah ke arah belakang, dan anggauta dari Sian Thian Pauw yang melihat kejadian itu buru-buru pada menerjang kebawah memberi bantuan.
Walaupun begitu mereka tetap tak kuat membeodung datangnya serangan kawanan binatang itu.
Sang Su-im benar-benar amat gusar sekali di buatnya, terlihatlah cahaya membunuh tiada hentinya terlintas diantara sinar matanya.
"Kita adalah jago-jago Bu-lim yang dihormati orang, apaKah saat ini harus duduk sambil menunggu saat kematian?"
Teriaknya sambil menyapu sekejap ke seluruh jago lainnya. Koan Ing nenarik napas panjang-panjang, tiba-tiba tanyanya.
"Suara dari Ti Siuw-su tiba disini secara samar-samar saja, paling tidak juga jaraknya ada limapuluh kaki,"
Sahut Cha Can Hong sambil tertawa tawar.
"Ditambah pula waktu turun puncak dan naik puncak, menanti kau tiba dipuncak sebelah sana, pihak kita sudah ada separuh bagian yang telah binasa!"
Koan Ing menoleh memandang sekejap ke arah sebuah pohon besar yang ada disebelah kiri lalu kepada Song Ing katanya.
"Subo! Bagaimana kalau kau orang tua bantu aku untuk meluncur kepuncak seberang?"
Semua orang yang mendengar perkataan itu segera merasakan hatinya tergetar keras, jarak yang sedemikian jauhnya dengan sebuah jurang sedalam ratusan kaki sebagai penghalang kini Koan Ing minta dilemparkan ke depan, bukankah hal ini sangat berbahaya sekali?"
Sinar mata Song Ing berkilat, saat itu semua orang yang ada di bawah puncak telah mengundurkan dirinya mendekati punggung gunung, walaupun anak panah berapi telah mulai beraksi, tetapi sampai kapan mereka bisa mempertahankan diri?
"Mau pergi kesana tidak semudah apa yang kau pikirkan pada saat ini!"
Serunya perlahan. Baru saja Koan Ing hendak menyahut suara seruling kembali telah berhenti disusul dengan suara tertawa keras dari Tie Siuw-su berkumandang datang.
"Manusia binatang paling banter cuma bisa bertahan selama tiga jam saja,"
Katanya dengan nada yang tawar.
"Asalkan kalian suka serahkan nyawa Koan Ing dan mengakui kekuasaan dari pekumpulan Sin Tie Pang kami di daerah Tionggoan maka kami akan segera lepaskan kalian semua.
"Heee.... heeee.... daripada harus menanti kematian di tempat ini lebih baik pergi menempuh bahaya lebih baik."
Kata Koan Ing sambil tertawa. Apalagi akupun memiliki delapan bagian pegangan. kalau tidak mana berani aku orang buka suara. Subo! Bagaimana ia kalau kita coba dulu!"
Song Ing termenung berpikir sebentar akhirnya dengan perlahan ia mengangguk.
Cha Can Hong sekalian sama sekali tidak percaya akan pendengarannya sendiri, tidak disangka Koan Ing memiliki nyali yang begitu besar, mungkin mereka serdiri pun tak ada yang berani mencoba untuk menempuh bahaya ini.
Dengan rasa terharu Sang Su-im maju ke depan menepuk pundak pemuda tersebut.
"Thian-yu-pay bisa memiliki seorang anggota seperti dirimu sungguh beruntung sekali, Kong Boen Yu yang sudah matipun tidak akan menyesal pujinya.
"Terima kasih atas pujian dari empek Sang."
Sahut Koan Ing merendah,"
Koan Ing ada budi dan jasa apa yang patut menerima pujian tersebut.
"Koan Ing!"
Terdengar Sin Hong Soat-nie pun berseru.
"Sejak ini hari sakit hati antara kau dengan pihak Sun Lie Hong kami akan aku sudahi sampai disini saja!"
Sedangkan Cha Can Hong serta Thian Siang Thaysu pada bungkam diri, karena dalam hati kecil merekapun mempunyai jalan pemikiran yang sama.
Setelah termenung beberapa saat lamanya akhirnya Sang Su-im berjalan ke arah pohon besar itu disusul oleh Cha Can Hong serta Thian Siang Thaysu mereka bersama-sama menarik pohon itu sehingga jadi bengkok laksana sebuah busur.
Koan Ing memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan dengan pandangan sayu dan gadis tersebut dengan amat sedihnya menundukkan kepalanya dalam2.
Sesaat kemudian pemuda itu telah mencabut keluar pedang kiem-hong-kiamnya dan berkelebat ke arah batang pohon.
"Koan Ing, kau baik-baiklah jaga diri!"
Seru Song Ing setengah berbisik. Ditengah suara bentakan yang amat keras Sang Su-im bertiga bersama-sama melepaskan pohon tersebut.
"Sreeet....!"
Bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dan busur dengan cepat ia berjungkir balik ditengah udara kemudian melayang ke arah puncak seberang.
Menanti daya melempar dari pohon itu telah habis buruburu Koan Ing bersuit nyaring, empat anggota badannya dipentang kemudian laksana seekor burung elang melayang jauh ke arah depan.
Tetapi menanti tiba pada jarak dua puluh kaki dari punljak itu tubuhnya telah menuju kebawah dengan cepatnya.
Sepasang tangannya dengan cepat dipentangkan, ia bersalto beberapa kali kemudian baru melayang ke arah bawah.
Dimana tubuhnya melayang turun tepat adalah punggung gunung diseberang, begitu kakinya menutul permukaan tanah bagaikan sambaran kilat cepatnya ia sudah meluncur ke atas.
Tiga orang lelaki berbaju putih segera membentak keras dan menghalangi perjalanannya.
Maka dengan amat gusar Koan Ing membentak keras, tangannya dikebaskan ke depan menahan serangan dari kedua orang yang ada di hadapannya itu.
"Biarkan dia naik ke atas puncak!"
Tiba-tiba dari atas puncak berkumandang datang suara bentakan yang amat dingin.
Orang-orang itu segera menarik kembali pedangnya dan mengundurkan diri ke belakang.
Koan Ing ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menggerakkan badannya melayang ke atas gunung.
Menanti setelah tiba di atas puncak tampaklah suasana disana telah berubah.
kecuali Ti Siuw-su serta si lelaki berbaju putih yang meniup seruling tadi kini telah bertambah lagi dengan seorang kakek tua beralis putih yang sedang duduk bersila di bawah sebuah pohon.
"Hmm! sungguh besar nyalimu!"
Bentak Ti Siuw-su dengan dingin.
"kepandaian silatmu sungguh tinggi. tetapi aku rasa datangnya gampang tetapi pergi tidak akan semudah itu."
Koan Ing menarik napas panjang-panjang tak sepatah katapun yang diucapkan keluar....
tiba-tiba tubuhnya menubruk ke arah si orang lelaki berbaju putih itu.
Baru saja tubuh sang pemuda bergerak, siorarg tua beralis putih yang lagi duduk bersemedi itu mendengus dingin, tangan kanannya membalik mengambil keluar seruling pualamnya dari balik saku kemudian mengirim satu pukulan berkabut putih ke arah Koan Ing.
Merasakan kedahsyatan dari serangan itu, Koan Ing jadi berdesir.
Karena dia tidak mengira kalau di tempat tersebut bisa muncul seorang musuh tangguh yang kepandaian silatnya tidak berada di bawah si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong tempo hari.
Tubuhnya yang menubruk ke depan pada saat ini terpaksa ditarik kembali dengan paksa "Iiiih....!"
Si orang tua beralis putih itu berseru tertahan, dan sepasang matanya dipentangkan lebar2 memandang sekejap ke arah pemuda itu dengan pandangan tajam.
Agaknya ia merasa kaget karena tenaga dalam dari Koan Ing sangat luar biasa sekali.
Dalam mempertahankan tubuhnya ditengah udara bukanlah merupakan satu peristiwa yang aneh, tetapi bisa menarik kembali tubuhnya yang telah meluncur ke depan benar-benar luar biasa!
Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat karena pertemuannya dengan seorang jagoan lihay di tempat itu, tidak aneh kalau Ti Siuw-su berani melepaskan dirinya naik ke atas puncak.
"Siapakah orang itu?"
Pikirnya diam-diam.
Dengan perlahan pedang kiem-hong-kiamnya dicabut keluar dan memandang ke arah si orang tua itu dengan pandangan dingin.
Dengan dinginnya Ti Siuw-su segera mundur kesamping, dia percaya dengan kepandaian silat dari si orang tua itu pasti telah lebih dari cukup untuk menghadapi diri Koan Ing maka selama ini dia tak perlu lagi ikut campur di dalam urusan ini.
"Kau hendak mengapakan muridku?"
Terdengar si orang tua beralis putih itu bertanya. Kembali Koan Ing merasa berdesir, kiranya si orang tua berbaju putih yang meniup seruling itu bukan lain adalah anak murid dari si orang tua ini.
"Aaaach.... agaknya sebelum berhasil menembusi halangan ini, aku akan menemui kesukaran untuk mencegah perbuatan mereka selanjutnya,"
Pikirnya dihati. Sinar matanya segera berkilat.
"Heee.... heee.... perintahkan muridmu untuk meletakkan seruling tersebut, bilamana tidak jangan salahkan aku hendak bertindak menggunakan kekerasan!"
Katanya.
"Hmm! Sungguh besar omonganmu!"
Desis si orang tua beralis putih itu dengan dingin.
"Aku tidak akan takut menghadapi dirimu?"
Mendengar jawaban yang ketus itu Koan Ing segera mengangkat pedang kiem-hong-kiamnya ke atas, dan sepasang matanya memandang tajam si orang tua tersebut sedang hawa murninya dengan cepat disalurkan ke arah pedang.
Ditengah suara bentakan yang amat keras tubuhnya mencelat ke depan.
sedang pedangnya dengan sejajar kening didorong ke depan menusuk tubuh musuhnya.
Inilah jurus yang paling lihay di kolong langit pada saat ini "Giok Sak Ci Hun."
Sinar keemas-emasan berkelebat memenuhi angkasa, sebenarnya si orang tua itu hendak menanti datangnya serangan tetapi bagitu melihat kedahsyatan dari serangan tersebut hatinya jadi berdesir.
maka tubuhnya segera melayang ke atas lalu menangkis datangnya serangan dengan menggunakan seruling pualamnya.
Pedang serta seruling dengan cepat terbentur satu sama lainnya sehingga menimbulkan percikan bunga api.
setelah serulingnya berhasil memunahkan datangnya serangan dari Koan Ing buru-buru ia melancarkan gencetannya ke depan.
Tampaklah bayangan putih berkelebat memenuhi angkasa, hawa serangan berkelebat tak ada putusnya menghantam tubuh pihak musuh.
Hanya di dalam sekejap saja ia telah melancarkan delapan buah serangan sekaligus.
Koan Ing jadi amat terkejut, pedang kiem-hong-kiamnya diputar satu lingkaran memunahkan ketujuh buah serangan musuh, kemudian ditengah suara bentakan yang amat keras pedang kiem-hong-kiamnya digetarkan keras.
Suara dengungan yang amat keras menulikan telinga, pedang tersebut seketika ita juga membentuk gerakan setengah lingkaran.
Inilah jurus serangan "Noe Ci Sin Kiam"
Dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam", dengan dahsyatnya pedang tersebut mengancam iga kanan dari si orang tua beralis putih, Maka buru-buru si orang tua beralis dutih itu menggunakan serulingnya untuk menangkis tubuh masing-masing pihakpun segera berpisah dan melayang kembali ke tempatnya semula.
Walaupun bentrokan yang terjadi diantara mereka hanya berlangsung di dalam sekejap mata saja tetapi masing-masing pihak sudah saling menyerang sebanyak sebelas jurus dalam keadaan seimbang, Dengan hati terperanjat masing-masing pihak mengundurkan dirinya ke belakang dan saling berpandangan tajam.
"Anak murid siapakah kau?"
Tanya si orang tua beralis putih itu dengan suara berat. Koan Ing tidak menjawab sebaliknya berteriak keras.
"Cepat perintahkan anak muridmu untuk lepaskan seruling, kalau tidak masing-masing pihak tentu akan menemui kesulitan."
"Haaa.... haaaa.... bocah! kau orang sungguh sombong sekali, aku Giok Yang Coen selamanya belum pernah bertemu muka dengan manusia sesombong kau, dan kau sudah berani dua tiga kali memerintahkan diriku. hmmm! kurang ajar!"
Seru si orang tua itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Mendengar disebutnya nama Giok Yang Coen, Koan Ing segera merasa sangat terperanjat.
ia tidak menyangka kalau Giok Yang Coen.
Suma Han masih sehat-sehat saja bahkan saat ini saling berhadap2an dengan dirinya.
Tempo hari Giok Yang Coen ini adalah seorang manusia yang paling pandai menjinakkan binatang tetapi ia mendengar pula kalau si orang tua ini telah lama meninggal, tetapi tidak disangka orang itu bukannya mati bahkan masih segar bugar.
"Ooow.... kiranya Suma Cianpwee!"
Seru Koan Ing tawar, air mukanya sedikitpun tidak memperlihatkan perubahan apapun.
"Cuma sayang cianpwee sebagai seorang manusia berbakat yang amat terkenal kini harus menggunakan kekuatan binatang untuk mencelakai orang, hal ini benarbenar sangat memalukan sekali!"
Dengan pandangan tawar "Giok Yan Coen"
Suma Han memandang ke arah pemuda tersebut.
"Hmmm! Bilamana tadi kau Orang memohon dengan baikbaik mungkin aku bisa mengabulkan permintaan itu, tapi datang2 kau sudah mengubar kesombonganmu bahkan berani mencari gara2 dengan diriku, sehingga sekarang aku jadi kepingin coba-coba ada seberapa tingginya kepandaian yang kau miliki."
Dengan pandangan yang tajam Koan Ing memandang sekejap ke arah puncak seberang saat itu suara ledakan telah berhenti jelas kalau anak panah berapi telah habis digunakan sedang anak murid kedua perkumpulan selangkah demi selangkah kena didesak mundur ke arah punggung gunung.
Dalam keadaan cemas bercampur gusar, itulah ia membentak keras, sedang pedangnya digetar keras sehingga menimbulkan suara desiran yang amat tajam.
dengan membentuk gerakan satu lingkaran menghantam ke atas tubuh Suma Han.
Inilah jurus "Han Lie Sin Wei"
Atau dingin membeku tunjuk kekuatan.
Suma Han pun membentak keras, seruling pualamnya diobat-abitkan berulang kali, ditengah berkelebatnya berpuluhpuluh bayangan pualam dari ujung seruling munculnya si sastrawan hawa tenaga dalam berwarna putih mengurung seluruh tubuh sang pemuda.
Kiranya ia telah mengeluarkan ilmu seruling andalannya "Kioe Thian Giok Sah Kang Khie"
Atau ilmu tenaga khie-kang sembilan langit malaikat pualam.
Koan Ing merasa hawa bergidik mulai mencekal hatinya, buru-buru pedangnya ditarik kembali dan diangkat sejajar alis.
Inilah jurus bertahan yang paling sempurna.
"Hay Thian It Sian".
"Heee.... heeee.... apa yang kau pelajari ternyata tidak sedikit!"
Seru Suma Han dengan amat dinginnya.
Koan Ing tetap membungkam, iapun tidak berani menggerakkan pedangnya karena dalam hati dia mengerti kalau tenaga dalam dari si orang tua itu tidak berada dibawahnya, sedikit salah saja maka masing-masing pihak akan menderita luka yang parah.
Seruling serta pedang saling bertahan pada posisinya masing-masing, mereka berdua sama-sama takut untuk menyerang terlebih dahulu mengambil kesempatan itu, tetapi merekapun tak mau menarik serangannya terlebih dulu, Diam-diam Koan Ing merasa hatinya amat cemas, dia tidak tahu bagaimanakah situasi diseberang puncak sana, karena hatinya sedikit bercabang inilah tekanan dari pihak musuh semakin memberat.
Suma Han tertawa dingin tiada hentinya, saat ini ia telah berada di atas angin dan sebentar kemudian serangannya tentu bakal memperoleh hasil.
Sedang suasana mencapai saat-saat tegangnya itulah dari bawah puncak kembali berkelebat sesosok bayangan hijau yang berteriak sambil tertawa keras;
"Mari aku bantu dirimu!"
Baru saja suara tersebut bergema datang tampaklah serentetan cahaya tajam berkelebat datang, sebilah pedang yang dengan cepatnya menusuk ke arah punggung Koan Ing.
Sinar mata Koan Ing berkelebat, di dalam sekali pandang saja dia bisa melihat kalau orang itu bukan lain adalah Yuan Si Tootiang itu ciangbunjin dari Bu-tong-pay, hatinya jadi semakin berdesir.
Di bawah gencetan serangan seruling dari Suma Han ini ia sudah tak bisa bergerak lagi apalagi kini mengambil kesempatan tersebut Yuan Si Tootiang telah menyerang datang, sehingga untuk mengubah jurus sudah tak sempat lagi, maka satu2nya jalan hanyalah tutup mata menanti saat kematian saja.
Tapi pada saat itulah mendadak terdengar Giok Yang Coen membentak keras dengan amat gusarnya.
"Kau berani!"
Ditengah suara bentakan yang keras seruling pualamnya telah ditarik kembali dan balik menyerang ke arah iga kanan dari Yuan Si Tootiang.
Yuan Si Tootiang sendiri sama sekali tidak menyangka kalau Suma Han bisa melancarkan serangan ke arahnya, buruburu pedangnya ditarik kembali untuk menghalangi serangan seruling pihak musuh.
Dengan kejadian itu maka Koan Ing pun berhasil meloloskan diri dari kematian, tubuhnya merasa amat ringan dan satu ingatan segera berkelebat di dalam benaknya.
Tangan kirinya dengan cepat membalik, ditengah suara bentakan yang amat keras sebatang anaK panah telah disambitkan ke arah si lelaki berbaju putih yang meniup seruling itu.
Sewaktu pedang dan seruling dari Suma Han dan Yuan Si Tootiang berpisah itulah suara dengusan dengan berat berkumandang datang, si lelaki berbaju putih itu telah kena tertancap anak panah didadanya, dan kini rubuh ke atas tanah, Melihat serangannya dengan sangat mudah mendapatkan hasil Koan Ing jadi melengak, ia sama sekali tidak menyangka kalau si orang berbaju putih itu sama sekali tidak mengertii akan ilmu silat.
Sebenarnya dia bermaksud untuk melukai orang itu saja sehingga tiupan serulingnya terganggu, tidak disangka orang itu dengan mudahnya kena dihajar sehingga mati seketika itu juga, Melihat muridnya mati air muka Suma Han kontan berobah jadi merah padam bagaikan darah, belum sempat ia mengucapkan kata-kata selanjutnya dari bawah puncak sekali berkelebat datang dua sosok bayangan manusia.
Mereka adalah Kokcu dari lembah Chiet Han Kok, Phoa Thian-cu serta si iblis bongkok dari daerah Si Ih, Jien Kong Fang dua orang.
Dan Suma Han sama sekali tidak memperdulikan kedatangan dari kedua orang itu, hanya dengan napas ngosngosan menahan kemarahannya yang memuncak ia berteriak keras.
"Bagus! aku, aku menolong kau kini kau malah membinasakan muridku."
Koan Ing sendiripun saat ini rada menyesal sama sekali tadi ia berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Yuan Si Tootiang yang berdiri di samping segera tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haaaa.... haaaa.... terhadap manusia semacam itu buat apa kau masih dapat bicara secara baik-baik, bunuh mati saja kan beres sudah!"
Teriaknya, Selama ini Suma Han hanya menerima dua orng murid saja, murid tertua mati ditangan musuh besarnya karena itu sejak peristiwa tersebut ia tidak menurunkan ilmn silat kepada muridnya yang terakhir ini, siapa sangka karena hal itu muridnya malah mati ditangan Koan Ing, Hatinya pada saat ini benar-benar merasa amat sedih ditambah kini mendengar perkataan dari Yuan Si Tootiang hatinya jadi semaKin amat gusar, karena ia tabu bilamana sitoosu tersebut tidak muncul maka muridnya tidak bakal mati ditangan orang lain.
"Hey hidung kerbau, di tempat ini lebih baik kau jangan banyak bicara, nanti aku hajar bacotmu!"
Teriaknya dengan keras.
Yuan Si Tootiang sebagai ciangbunjien dari partai Bu-tongpay selamanya belum pernah dibentak orang secara begini.
apalagi di tempat itu bukan hanya mereka berdua.
kehormatannya kali ini benar-benar tersinggung.
"Aku gembira bicara apa siapa yang berani menghalangi diriku?"
Ejeknya sambil mendengus dingin, Suma Han sebenarnya memang telah merasa kheki terhadap dirinya, kini melihat Yuan Si Tootiang tidak suka mengalah ia segera tertawa keras dengan seramnya.
"Bilamana kau tahu diri cepatlah menggelinding pergi dari puncak ini, kalau tidak jangan salahkan aku orang lemparkan kau dari sini!"
Teriaknya keras. Air muka Yuan Si Tooiang berubah hebat. Sebenarnya ia bermaksud untuk buka bicara tetapi saat itulah "Sin Tie Langcoen"
Ti Siuw-su telah berjalan mendekat dan berbisik perlahan.
"Dia adalah Giok Yang Coen. lebih baik Tootiang bersabarlah sedikit. yang penting pada saat ini adalah binasakan dulu Koan Ing kemudian urusan baru dibereskan secara damai. Buat apa kau orang harus mencari gara-gara dengan dirinya?"
Yuan Si Tootiang yang mendengar si orang tua di hadapannya ini adalah Giok Yang Coen Suma Han hatinya rada melengak, meskipun hatinya agak kaget tetapi ia yang sudah berada di atas angin mana suka mengalah begitu saja.
Sinar matanya berkilat lalu mendengus dingin.
"Hmm! Lebih baik kau bereskan dulu urusanmu dengan Koan Ing, kemudian kita baru bereskan urusan diantara kita!"
Serunya. Suma Han yang mendengar perkataan dari Yuan Si Tootiang begitu pandang rendah dirinya, dalam hati ia merasa sangat panas.
"Heee.... heee.... kau tidak usah banyak bacot lagi, aku ingin menjajal seberapa lihaynya ilmu pedangmu,"
Katanya kemudian sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Hm! apa kau kira aku betul-betul takut kepadamu?"
Melihat kedua orang itu sudah siap-siap hendak bergebrak Koan Ing baru menoleh ke arah puncak seberang waktu itu suara seruling sudah berhenti, dengan sendirinya kawanan binatangpun telah bubar keempat penjuru hal ini membuat hatinya jadi lega.
Suma Han dengan dingin memandang sekejap ke arah Koan Ing, dalam hati ia merasa kelabakan sendiri, ia tidak pingin melepaskan Yuan Si Tootiang dengan begitu saja tetapi diapun tidak mau melepaskan Koan Ing.
Jilid 22 TETAPI BILAMANA ditinjau dari situasi saat ini ia harus melepaskan salah satu pihak, dan ia mengharapkan Koan Ing tidak berhasil melarikan diri.
Selagi Suma Han dibuat kebingungan itulah "Sin Tie Langcoen"
Ti Siuw-su telah berteriak keras.
"Buat apa kalian berdua harus beribut sendiri dan malah lepaskan Koan Ing disamping? Menurut pendapatku bagaimana kalau kita lihat saja siapa yang berhasil membinasakan Koan Ing terlebih dulu dialah yang menang?"
Mendengar perkataan itu Suma Han merasa hatinya rada tergerak, pikirnya.
"Ehmm.... suatu pendapat yang bagus!"
Sinar matanya segera dialihkan ke atas wajah Yuan Si Tootiang. sudah tentu tosu inipun sangat setuju.
"Heee.... heee.... inilah suatu pendapat yang bagus!"
Katanya dingin. Diantara suara percakapan itu tiba-tiba tubuhnya merendah, pedangnya dengan menggunakan jurus "It Tiap Jie Ciu"
Atau selembar dedaun menentukan musim bagaikan kilat cepatnya ditusuk ke arah iga kanan Koan Ing.
Suma Han mana mau ketinggalan, ia mendengus dingin seruling pualamnya dengan cepat menusuk ke arah mata sebelah kiri dari pemuda itu.
Sewaktu Sin Tie Langcoen berbicara tadi Koan Ing telah waspada, melihat Yuan Si Tootiang baru saja selesai menjawab telah melancarkan serangan ke arahnya disusul serangan dari Suma Han hatinya jadi bergidik!
Tubuhnya mundur setengah langkah ke belakang, pedangnya membentuk satu lingkaran ditengah udara menangkis terlebih dulu pedang panjang dari Yuan Si Tootiang kemudian baru memunahkan serangan seruling pualam.
Mereka berdua walaupun merupakan jagoan berkepandaian tinggi tetapi di dalam pertempuran kali ini siapapun tidak suka memberi kesempatan buat pihak lawannya, mereka berdua sama-sama menggunakan jurus serangan yang paling cepat dan paling ganas untuk merubuhkan pemuda tersebut.
Sebaliknya Koan Ing yang menggunakan ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam"
Yang merupakan ilmu pedang paling sempurna bertahan terus, hanya di dalam sekejap saja seratus jurus telah lewat.
Pertempuran semakin lama berlangsung semakin ganas dan semakin seru, siapapun tak suka mengalah pada pihak yang lain.
Setelah lewat seratus jurus tiba-tiba Suma Han membentak keras, seruling pualamnya laksana curahan hujan dengan gencarnya menotok ke depan.
Kelihatannya Koan Ing segera akan terluka di bawah serangan seruling tersebut, siapa tahu mendadak....
"Ting, ting.... ting...."
Serangan seruling tersebut berhasil dipunahkan oleh Yuan Si Tootiang.
"Kau manusia sungguh tak tahu malu!"
Bentak Suma Han dengan gusarnya.
Sambil berkata dengan dahsyat ia melancarkan satu serangan menghantam tubuh Yuan Si Tootiang, Sitoosu dari Bu-tong-pay itu dengan cepat rintangkan pedangnya di depan dada untuk memunahkan datangnya serangan seruling itu.
"Heran! kita belum pernah berjanji untuk tidak saling menghalangi pihak yang lain, kenapa kau orang sembarangan memaki orang lain!"
Teriaknya pula.
Suma Han yang merasa perkataan tersebut sedikitpun tidak salah ia jadi bungkam dibuatnya.
Dengan dingin si orang tua itu mendengus, seruling pualamnya berturut-turut melancarkan lima buah serangan sekaligus, tetapi diantaranya ada tiga serangan yang mengancam tubuh Yuan Si Tootiang.
"Sin Tie Langcoen"
Ti Siuw-su yang melihat kejadian itu hatinya merasa sangat cemas, karena ia merasa bilamana hal ini berlangsung terus maka siapapun diantara mereka bakal berhasil melukai diri Koan Ing karena bilamana salah satu hampir berhasil melukai pemuda itu maka pihak lain pasti turun tangan menghalang.
Sesaat hatinya amat cemas itulah mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya.
"Mari kita musnahkan diri Koan Ing!"
Teriaknya keras.
Selesai berkata seruling pualamnya dikebaskan ke depan, Kokcu dari lembah Chiet Han Kok, Phoa Thian-cu serta si iblis bongkok dari daerah Si Ih.
Jien Kong Fang memang dia punya maksud untuk berbuat demikian, mereka mengangguk dan bersama-sama menerjang ke dalam kalangan pertempuran.
"Kalian hendak pergi kemana?"
Tiba-tiba bentak seseorang dengan amat keras disusul segulung serangan jari yang amat dahsyat menghalangi jalan pergi mereka bertiga.
Sesosok bayangan hijau dengan cepatnya berkelebat datang, orang itu bukan lain adalah si jari sakti Sang Su-im adanya.
Dengan munculnya Sang Su-im ini maka si dewa telapak Cha Can Hong sekalipun pada bermunculan.
Kiranya menanti kawanan binatang buas itu berhasil lari kocar-kacir maka mereka buru-buru berlari menuju kemari.
Hanya di dalam sekejap saja di atas puncak tersebut telah muncul banyak sekali jagoan berkepandaian tinggi, hal ini memaksa Yuan Si Tootiang serta Suma Han pada berkelebat mundur ke belakang.
Pada kening Koan Ing sudah mulai kelihatan keringat yang mengucur keluar, ia mundur dua langkah ke belakang untuk hembuskan napas lega.
Saat itulah Sang Siauw-tan buru-buru maju menghampiri dan membimbing lengan kanannya.
Koan Ing yang melihat pada kelopak mata gadis itu telah digenangi air mata segera tersenyum manis dan melepaskan pedang Kiem hong-kiamnya untuk kemudian mencekal tangan gadis itu erat-erat.
"Siauw-tan! Sekarang kita tak ada urusan lagi,"
Ujarnya sambil tertawa.
Sinar mata semua orang yang hadir di dalam kalangan itu dialihkan kepada kedua orang itu, tetapi Sang Siauw-tan tidak menggubrisnya, ia dongakkan kepalanya memandang ke arah Koan Ing sedangkan butiran air mata mengucur keluar dengan derasnya.
"Siauw-tan! Kau jangan menangis, selanjutnya kita tak akan berpisah kembali,"
Hibur Koan Ing sambil mengusap kering air matanya.
Sang Siauw-tan tak kuat menahan diri lagi, sambil kucurkan air mata ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemuda tersebut.
Koan Ing yang melihat begitu mesra dan perhatian gadis tersebut terhadap dirinya dalam hati terasa amat terharu, hampir-hampir saja air matanya ikut berlinang.
Sejak ia mencintai diri Sang Siauw-tan maka saat itu pula mara bahaya selalu mengancam diri mereka, walaupun mereka berdua jarang berkumpul tetapi hati mereka telah saling memahami, masing-masing pihak telah terjerumus di dalam keadaan "jauh dimata dekat dihati".
Saat ini mereka berdua baru saja lolos dari kematian, hal ini benar-benar membuat hati mereka terasa terharu.
Tanpa perduli lagi keadaan di sekitarnya mereka saling berpelukan dengan amat mesranya.
Cha Ing Ing serta Cing It nikouw yang melihat kejadian itu pada menundukkan kepalanya rendah-rendah, tak sepatah katapun yang mereka ucapkan.
Suasana jadi amat sunyi tak kedengaran sedikit suarapun....
"Koan Ing! kau jangan lupakan masih ada kami disini!"
Tibatiba Yuan Si Tootiang membentak keras memecahkan kesunyian.
Sambil menarik tangan Sang Siauw-tan pemuda itu mundur satu langkah ke belakang kemudian memandang ke arah si toosu tersebut dengan pandangan tawar, setelah memungut kembali pedangnya ia berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Yuan Si! Ini hari aku akan bereskan perhitungan diantara kita...."
Teriak Thian Siang Thaysu dengan dingin. Suma Han menyapu sekejap kesemua orang kemudian mendengus dengan amat beratnya.
"Hmm! Ini hari aku akan melihat diantara kalian siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah. orang-orang yang hadir di atas puncak pada saat ini boleh dikata semuanya merupakan jago nomor wahid, aku ingin melihat diantara kalian ada beberapa orang yang masih bisa hidup untuk turun gunung ini."
"Haaa.... haaa aku rasa dugaanmu itu belum tentu benar"
Potong Sang Su-im sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hmm! Diantara kalian ada siapa yang memiliki kepandaian silat jauh lebih lihay dari diriku? Diantara kalian ada berapa orang yang merasa yakin bisa lolos dari kematian? Diantara kalian ada siapa yang kuat untuk melawan ilmu suara iblis pembetot sukma "Si Hun Mo Ing?"
Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar maka seluruh kalangan jadi gempar, suara jeritan kaget memenuhi angkasa.
"Si Hun Mo Ing"
Atau ilmu suara iblis pembetot sukma ini adalah semacam ilmu iblis yang sangat dahsyat sekali pengaruhnya, menurut berita yang tersiar tempo dulu Pek Ling Loojien pernah menggunakan ilmu suara iblis pembetot sukma ini untuk mengurung tiga puluh enam orang jagoan lihay.
Sejak Pek Ling Loojien meninggal dunia maka ilmu itupun lantas musnah, tak disangka saat ini Suma Han berhasil mempelajarinya, tidak aneh kalau semua orang yang mendengar pada merasa terkejut.
Begitu suara itu diucapkan keluar, maka suasana di seluruh kalangan jadi tegang, nafsu membunuh mulai meliputi seluruh angkasa raya.
Walaupun Cha Can Hong sekalian belum pernah merasakan bagaimana hebatnya ilmu suara iblis "Si Hun Mo Ing"
Tersebut tetapi mereka mengerti bilamana ilmu tersebut tiada kekuatan yang bisa melawannya sejak dahulu kala.
Sinar mata Sang Su-im berkilat, tubuhnya tiba-tiba menubruk ke depan sedang tangan kanannya menyentil melancarkan segulung angin serangan menghajar tubuh Suma Han.
Begitu tubuhnya bergerak Cha Can Hong pun bersamaan waktunya melancarkan tiga buah serangan menghajar si orang tua tersebut.
Thian Siang Thaysu sekalianpun tidak ingin bilamana Suma Han sampai keburu pula mengeluarkan ilmu suara iblis "Si Hun Mo Ing"
Nya sehingga nyawa mereka semua terancam.
Satu demi satu mereka pada meloncat ke depan melancarkan serangan dengan sangat gencarnya.
Ooo)*(ooO Bab 54 TIBA-TIBA YUAN SI TOOTIANG membentak keras, tubuhnya bagaikan kilat berkelebat ke depan menghadang di depan tubuh Suma Han sedang Phoa Thian-cu sekalian pun bersama-sama menerjang ke depan menahan datangnya serangan dari Sang Su-im serta Cha Can Hong sekalian.
Cha Can Hong sekalian yang melihat serangannya tidak mencapai sasaran buru-buru mendesak ke depan lebih lanjut dan menyerang untuk kedua kalinya.
Siapa tahu saat itulah tubuh Suma Han buru-buru mengundurkan dirinya ke belakang, seruling pualamnya dilintangkan dekat bibir lalu memperdengarkan irama seruling yang amat dahsyat itu.
Begitu suara seruling bergema memenuhi angkasa hati setiap orang jadi tergetar keras, masing-masing orang merasakan jantungnya berdebar-debar serasa hendak meloncat saja dari dalam rongga tubuh.
Bukan Koan Ing sekalian saja sekalipun Yuan Si Tootiang sekalianpun sama saja keadaannya.
Koan Ing sekalian buru-buru duduk bersila di atas tanah, pemuda itupun tak lupa mencekal urat nadi sang Siauw-tan erat-erat mencegah dirinya menuju ke api iblis.
Ditengah bergemanya suara irama seruling tersebut selangkah demi selangkah Suma Han maju ke depan dalam posisi Pat Kwa, sikapnya sangat serius sekali.
Agaknya dia sendiripun tak berani berlaku gegabah, karena sedikit saja ia kurang hati-hati dan pecah perhatian bukannya tidak berhasil melukai pihak lawan sebaliknya malah balik mengenai dirinya sendiri sehingga memancing dirinya menuju ke dalam keadaan jalan api menuju neraka.
Para jago yang hadir disana mulai mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, secara samar-samar mereka merasa suara seruling itu mengandung nafsu membunuh yang kuat sedikit saja mereka tidak berhati-hati maka dirinya akan terluka oleb serangan suara seruling itu.
Suara seruling dengan merdunya berkumandang tiada hentinya mengelilingi seluruh kalangan, saat ini para jago benar-benar terkurung di dalam cengkeraman musuh, bukan saja tak dapat bergerak bahkan keadaannya sangat berbahaya sekali.
Koan Ing sendiri merasa amat cemas sekali, berbagai pikiran berkelebat di dalam benaknya.
Sinar mata Suma Han berkelit, langkah kakinya dengan perlahan bergeser ke arah Koan Ing sekalian.
Ia tahu bilamana suara seruling itu tak berhasil untuk mengapa-apakan mereka dalam waktu singkat maka sebentar kemudian Ti Siuw-su sekalian akan tidak tahan dan terluka di bawah serangan suara seruling itu.
Makanya dengan perlahan ia bergeser ke sisi Koan Ing sekalian untuk menggunakan kesempatan tersebut membereskan mereka satu demi satu.
Walaupun Koan Ing sendiri tidak berani bergerak tetapi dalam hatinya ada perhitungan, ia tahu tujuan Suma Han mendekati ke arahnya adalah bermaksud jelek bahkan bilamana ia turun tangan pada saat itu akan berhasil dengan sangat mudahnya.
Tiba-tiba....
satu ingatan berkelebat di dalam benaknya.
Ketika melihat Suma Han semakin mendekati dirinya, mendadak dengan suara yang amat berat bentaknya.
"Sin Liong Ci Khie atau naga sakti kumpulkan tenaga, jalan darah Leng Thay Toa Hiat?"
Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar hatinya terasa tergetar amat keras.
seketika itu juga pandangannya jadi berkunang-kunang sedang darah segar muncrat keluar dari mulut.
ujar Sang Su-im sekalian adalah jago-jago Bu-lim yang memiliki kepandaian silat yang amat lihay, begitu Koan Ing berseru merekapun lantas mengerti apakah maksudnya.
"Sin Liong Ci Khie"
Atau naga sakti mengumpulkan tenaga ini merupakan pelajaran ilmu tenaga dalam tingkat teratas.
Sang Su-im yang mendengar perkataan tersebut tangan kanannya dengan cepat diangkat dan ditekankan ke atas jalan darah "Leng Thay Toa Hiat"
Pada punggung Koan Ing. Bersamaan itu pula Cha Can Hong pun meletakkan telapak tangannya di atas jalan darah "Leng Thay Hiat"
Pada pungguug Sang Su-im.
Di dalam sekejap saja Thian Siang Thaysu.
Song Ing, serta Sin Hong Soat-nie sekalian melakukan tindakan yang sama sehingga terbentuklah serangkaian manusia naga, Koan Ing yang jalan darahnya kena ditekan segera merasa badannya nyaman kembali.
Sebenarnya ilmu tersebut adalah sebuah ilmu sakti dari 'Hiat Hoo Sinkang", walau pun lihay tetapi banyak orang yang tidak mengetahui cara penggunaannya, Koan Ing sendiripun tidak mengerti apakah Kali ini bakal mendatangkan manfaat atau tidak, tetapi dalam keadaan kepepet terpaksa ia harus mengeluarkannya untuk dicoba, Suma Han yang melihat tindakan para jago itu sinar matanya berkilat, sekalipun Koan Ing sekalian telah membentuk jadi manusia naga dia pun tidak takut.
Tubuhnya segera maju ke depan untuk sekali tepuk menghajar mati semua orang itu, karena dia tidak ingin mereka bertahan lebih lama lagi.
Tubuhnya selangkah demi selangkah semakin mendekati diri Koan Ing.
Sepasang mata Koan Ing masih tetap dipejamkan rapatrapat.
mendadak ia membentak keras.
Ditengah suara bentakan Koan Ing yang amat keras tubuh Sang Su-im sekalian bergetar keras, tak terasa lagi telapak tangan kanan mereka masing-masing ditempelkan pada punggung orang yang berada di depannya.
Di dalam keadaan terkejut mereka tidak mungkin untuk menarik kembali tangannya, karena itu daripada terluka mereka masing-masing pada menambahi lagi tenaga dalamnya sendiri.
Kejadian aneh segera berlangsung, walau pun orang yang berada di belakang telah menambahi tenaga dalamnya tetapi orang yang ada di depan sama sekali tidak terluka sebaliknya tubuh Koan Ing yang ada dipaling depan laksana anak panah yang terlepas dari busurnya tiba-tiba meluncur ke depan.
Diantara berkelebatnya cahaya keemas-emasan tampaklah ia sudah melancarkan serangan ke depan dengan menggunakan jurus "Giok Sak Ci Hun".
Serangan tersebut dikerahkan sangat dahsyat sekali, dimana cahaya tajam berkelebat pedangnya dengan cepat menghajar tubuh Suma Han.
Melihat datangnya serangan itu Suma Han jadi sangat kaget, tangan kanannya diangkat ke atas dengan menggunakan serulingnya ia menangkis datangnya serangan tersebut.
Pedang dan seruling dengan cepat bentrok menjadi satu.
terdengarlah suara bentrokan yang amat nyaring dan tubuh kedua belah pihaK masing terpental mundur ke belakang.
"Triiiing....!"
Seruling pualam yang ada ditangan Suma Han berhasil dibabat putus jadi dua bagian oleh tabasan pedang dari Koan Ing itu.
Semua orang yang hadir ditengah kalangan itu jadi amat terperanjat, sebaliknya air muka Suma Han berubah sangat hebat.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu iblisnya yang sangat dahsyat itu berhasil dipunahkan oleh pemuda tersebut.
Dengan termangu-mangu dan mulut melongo memandang potongan serulingnya yang tercecer di atas tanah, wajahnya semakin lama semakin pucat.
Koan Ing yang menggunakan jurus "Sin Liong Si Swie"
Atau naga sakti menghisap air dari ilmu sakti "Hiat Hoo Sinkang"
Ditambah pula dengan sebagian tenaga gabungan Sang Su-im sekalian berhasil mengalahkan diri Suma Han, hal ini membuat dia pun rada tertegun dan berdiri termangu-mangu.
Dengan wajah penuh kegusaran akhirnya Suma Han memperhatikan potongan serulingnya, beberapa saat kemudian ia mendongakkan kepalanya menyapu sekejap ke arah semua orang.
Tiba-tiba ia membentak keras, tangan kanannya diajunkan ke depan menyambitkan potongan serulingnya itu ke arah Koan Ing sedang tubuhnya sendiri bagaikan kilat melarikan diri kebawah puncak.
Koan Ing segera kebaskan pedangnya memukul jatuh seruling itu.
"Cepat halangi dirinya!!"
Tiba-tiba terdengar Thian Siang Thaysu membentak keras.
Koan Ing merasa hatinya tergetar, dia tahu bilamana Suma Han hendak menggunakan kembali kumpulan binatang buas untuk mengurung diri mereka maka hal itu merupakan satu persoalan yang merepotkan sekali.
Satu ingatan berkelebat di dalam benaknya.
"Kau ingin melarikan diri kemana?"
Bentaknya keras.
Ditengah suara bentakan yang amat keras tubuhnya mencelat ke atas kemudian laksana seekor burung elang cepatnya menubruk ke depan.
Gerakan tubuh Suma Han laksana tiupan angin tanpa menoleh lagi melarikan dirinya kebawah puncak.
Koan Ing tidak berani melepaskan dirinya sang tubuh dengan kencangnya mengikuti terus dari belakang.
Hanya di dalam sekejap saja mereka berdua telah tiba di atas sebuah puncak gunung yang penuh dengan tumbuhan bambu.
Mendadak tubuh Suma Han merandek dan meloncat turun di atas sebuah pohon bambu.
Koan Ing pun menghentikan gerakannya lalu memandang tajam ke arah si orang tua.
"Heee.... heee.... nyalimu sungguh besar. berani benar kau orang mengejar kemari seorang diri!"
Seru Suma Han dengan nada yang amat dingin. Koan Ing segera melintangkan pedangnya di depan dada.
"Asalkan kau orang suka mengatakan tidak bakal ikut campur di dalam persoalan kereta berdarah ini, maka aku segera akan melepaskan dirimu."
"Omong kosong, sekalipun aku menyanggupi, belum tentu kau suka melepaskan diriku!"
Bentak si orang tua itu sambil tertawa seram.
Sambil berkata dengan cepat tangannya menyambar sebuah bambu lalu dengan menggunakan telapak tangan kanannya menyajat dan mengupas untuk dibuat seruling bambu.
Melihat kejadian tersebut Koan Ing jadi sangat terperanjat, buru-buru bentaknya keras.
"Bilamana kau tidak hentikan gerakanmu jangan kau salahkan aku orang akan turun tangan kejam. Suma Han tertawa dingin tiada hentinya, jari tengah tangan kanannya mendadak disentilkan ke depan. Segulung angin serangan yang lembut telah melubangi seruling bambu tersebut. Koan Ing tak bisa berdiam diri lagi, pedang kiem-hongkiamnya membentuk gerakan setengah lingkaran ditengah udara, kemudian dengan disertai suara desiran tajam serta rentetan cahaya yang menyilaukan mata mengancam tubuh Suma Han. Melihat dahsyatnya serangan itu Suma Han jadi bergidik, agaknya serangan dari Koan Ing ini telah menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, ia tidak mengira kalau pemuda tersebut bisa memiliki tenaga dalam yang demikian dahsyatnya, Hatinya tidak berani memandang rendah datangnya serangan pedang itu, tubuhnya dengan cepat mencelat ke atas, lalu melancarkan satu serangan dahsyat kebawah. Segulung angin serangan yang amat kuat dengan dahsyatnya menggulung ke depan. Pedang serta bambu dengan cepat bentrok menjadi satu, tubuh suma Han buruburu mundur ke belakang, bersamaan itu pula jari tengah serta telunjuk tangan kanannya berkelebat melubangi kembali seruling itu. Koan Ing mengerti bilamana seruling bambu dari Suma Han itu telah selesai dibuat maka suatu pertempuran yang amat sengit bakal berlangsung semakin dahsyat. Pedangnya dengan cepat ditarik ke belakang, ditengah suara suitan yang amat nyaring sekali lagi ia melancarkan tusukan dahsyat ke depan. Tampaklah cahaya keemas-emasan beterbangan pedangnya dengan membentuk gerakan busur langsung menutul ke arah kening Suma Han. Suma Han mendengus dingin, seruling bambunya dibalik menotok ke arah pergelangan tangan dari pemuda tersebut sedangkan jari tangan kirinya kembali menyentil membuat lubang-lubang pada serulingnya. Sinar mata Koan Ing berkilat, pedang kiem-hong-kiamnya didorong ke kiri menghindarkan diri dari serangan seruling itu, kemudian diantara perputaran pergelangan tangannya gagang pedang itu telah menghajar ke atas jalan darah "Thay Yang Hiat"
Sebelah kiri dari si orang tua tersebut.
Suma Han jadi amat terperanjat, semula ia menduga totokan serulingnya tadi akan memaksa Koan Ing untuk berganti jurus.
tetapi ia sama sekali tidak menduga kalau Koan Ing bukannya mengubah serangan justeru menggunakan gagang pedangnya mengancam kening.
Saat ini keadaannya sudah kepepet terpaksa tangan kirinya menekan kebawah, seruling ditangan kanannya dilintangkan untuk menahan datangnya serangan gagang pedang dari Koan Ing.
Koan Ing kembali membentak keras, gagang pedangnya diketukkan ke atas seruling bambu itu sedang sikut kanannya bagaikan putaran roda kereta dengan kerasnya menyikut jalan darah "Thay Yang Hiat"
Sebelah kirinya. Inilah jurus serangan "Lian Huan Sam Ci Thian-yu Khei Riam!"
Suma Han jadi sangat terperanjat, seruling bambu ditangan kanannya dengan cepat disambar ke depan menangkis datangnya serangan sikut itu.
Seruling bambu itu dengan kerasnya kena tersikut hingga terbang ketengah udara, mengambil kesempatan serulingnya terlepas itulah Suma Han buru-buru melayang mundur ke belakang dengan wajah penuh perasaan terkejut bercampur gusar, ia sama sekali tidak menduga kalau dirinya bisa menderita kalah ditangan Koan Ing....
Koan Ing meloncat ke depan, pedang kiem-hong-kiamnya dengan membentuk serentetan cahaya pelangi dengan kencangnya meluncur ketubuh musuhnya.
Suma Han kembaii melayang ke belakang sebenarnya ia bermaksud untuk mematahkan sebuah ranting pohon tetapi kecepatan serangan pedang dari pemuda itu sama sekali tidak memberi sedikitpun kesempatan baginya, hal ini membuat si orang tua itu jadi berkaok2 kegusaran.
Tubuh mereka berdua bersama-sama melayang turun kebawah, baru saja Koan Ing bersiap-siap hendak melancarkan kembali mendadak terdengarlah suara ringkikan kuda yang amat panjang berkumandang datang.
Ia jadi melengak, ingatan kedua belum sempat berkelebat di dalam benaknya kareta berdarah tersebut telah menerjang datang "Grrr....
grrr .!"
Ditengah ledakan yang amat keras tampaklah di belakang kereta berdarah tersebut mengikuti datangnya lima orang berbaju hitam.
Hati Koan Ing tergetar keras, ia sama sekali tidak menyangka di tempat ini bisa bertemu dengan kereta berdarah, bagaimana mungkin si sastrawan berusia pertengahan yang merupakan majikan dari rimba Wang Yu Liem bisa melepaskan kereta berdarah tersebut sehingga berhasil melarikan diri?
Tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya berkelebat ke depan, ditengah suara suitan yang amat nyaring ia mengejar ke arah kereta berdarah tersebut.
Ditengah suara ringkikan kuda berdarah yang amat keras mendadak kereta berdarah berlari semakin cepat lagi, Koan Ing yang ketinggalan setengah langkah di belakang semula rada tertegun dibuatnya tetapi sebentar kemudian ia sudah melanjutkan tubrukannya ke arah kereta itu.
Suma Han sendiripun rada tertegun, tetapi sebentar kemudian dengan cepat iapun melakukan pengejaran.
Tujuh orang mengejar sebuah kereta bagaikan kilat cepatnya berlari ke arah depan....
"Grrrrr.... grrrrr...."
Putaran roda kereta berbunyi memekikkan telinga meninggalkan debu yang mengepul memenuhi angkasa, tujuh orang jagoan berkepandaian tinggi dengan kencangnya mengejar terus kereta tersebut dari arah belakang tanpa tertinggal selangkahpun.
Akhirnya sampailah kereta berdarah itu di sebuah selat gunung yang sempit, dengan kecepatan yang tinggi kereta itu melanjutkan terjangannya lebih ke depan.
Mendadak....
Suara tertawa yang amat keras bergema memenuhi seluruh selat tersebut, tampaklah sesosok manusia dengan gesitnya melayang turun kebawah, Koan Ing yang melihat munculnya Orang itu dalam hati rada berdesir, bukankah dia adalah Thian Yang Siuw-su?
Saat ini dia orang telah digunakan oleh Wang Yu Liem hal ini berarti pula kalau si sastrawan berusia pertengahan itupun berada di sekitar tempat ini.
Tubuh Thian Yang Siuw-su laksana sambaran kilat meluncur ke depan, siapa tahu kereta berdarah itu mendadak berputar dan menerjang ke arah bukit sebelah kiri."
Pikiran Koan Ing segera tergerak, jelas di dalam kereta berdarah masih ada penunggangnya.
Tubuhnya tanpa berhenti melakukan pengejaran terus sedang tubuh Thian Yang Siuw-su pun bersamaan waktunya tiba juga disana sehingga tanpa bisa dicegah lagi antara mereka berdua telah bertemu muka.
Ditengah suara bentakan yang amat keras Thian Yang Siuw-su melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar dada Koan Ing.
Pemuda itu buru-buru angkat pedangnya menepuk, ditengah suara dengungan yang amat keras pedang kiemhong-kiam itu berhasil dipukul getar oleh serangan telapak itu.
Suma Han yang ada dibelakangnya sewaktu melihat kejadian ini hatinya jadi kembali berdesir.
"Siapakah orang itu?"
Pikirnya diam-diam "Bagaimana mungkin di tempat ini kedatangan lagi seorang yang memiliki kepandaian silat demikian tinggi!"
Koan Ing setelah menerima datangnya telapak tadi kontan balas kirim satu tendangan ke depan, tetapi serangannya itupun berhasil dipunahkan oleh Thian Yang Siuw-su.
Dikarenakan saling serang menyerang diantara mereka berdua itulah maka tubuh Suma Han berhasil melampaui setengah pundak dari mereka berdua.
Thian Yang Siuw-su jadi terperanjat, ia tidak mengira kalau di tempat ini telah kedatangan seorang musuh tangguh.
Mereka bertiga tak berani saling berbicara, masing-masing pihak saling berusaha untuk mengejar kereta berdarah itu terlebih dulu.
Tetapi dikarenakan persaingan diantara mereka bertiga itu pula kereta berdarah telah berada kurang lebih tiga kaki lebih jauh dari mereka.
Mendadak kuda2 yang menarik kereta itu meringkik dan pada meloncat berdiri, mengambil kesempatan itu bagaikan anak panah yang terlepas dad busurnya Suma Han meluncur ke depan.
Thian Yang Siuw-su membentak keras, telapak kanannya mengirim satu satu pukulan menghajar kereta berdarah itu.
"Grrrrr...."
Kereta berdarah tersebut segera terjun ke arah bawah tebing dengan cepatnya, Kiranya dikanenakan sebelah depan dari tempat itu adalah jalan buntu yang tak bisa dilalui lagi, sedangkan Thian Yang Siuw-su takut Suma Han berhasil mendapatkan kereta itu terlebih dulu maka ia telah mengirim satu pukulan menghajar kereta itu jatuh kebawah lembah.
Sebenarnya Suma Han dapat menduduki kereta berdarah tersebut, dengan kejadian ini maka dia jadi kehilangan kereta itu.
Di dalam keadaan gusar tercampur gemas, tubuhnya membalik ditengah udara sambil membentak keras ia melancarkan satu pukulan menghajar tubuh Thian Yang Siuwsu.
Thian Yang Siuw-su pernah melihat kedahsyatan dari tenaga dalam Suma Han, melihat datangnya serangan tersebut ia tidak berani berayal tangannya pun melancarkan satu serangan menghantam ke arah depan.
Dua gulung angin pukulan segera menumbuk menjadi satu, ditegah suara ledakan yang keras timbullah suatu pusaran angin yang amat keras.
Ketika tubuh mereka berdua bersama-sama melayang turun kebawah masing-masing pada pusatkan perhatiannya ke arah musuh, siapapun tak ada yang berani berlaku gegabah.
Tubuh Koan Ing berputar ke udara, sinar matanya dapat melihat kalau kereta berdarah itu telah jatuh ke dalam jurang yang dalamnya kurang lebih selaksa kaki, ia tahu kereta tersebut pastilah akan hancur berantakan.
Tubuhnya berputar dua kali lingkaran ditengah udara lalu meluncur ke atas dinding bukit.
Suma Han serta Thian Yang Siuw-su sehabis saling bertukar satu pukulan di dalam hati masing-masing telah mempunyai perbitungan sendiri2, walaupun kini melihat Koan Ing meninggalkan tempat itu tetapi tak seorangpun yang berani bergerak.
Tubuh Koan Ing dengan gesitnya meloncat diantara dinding gunung kedua belah sisi tubuhnya laksana sebuah kelereng meloncat dan memantul menuju kebawah jurang.
Menanti tubuhnya mencapai dasar jurang maka terlihatlah kereta berdarah itu sudah hancur dan berserakan di atas tanah, kuda2 berwarna darah pun kini sudah menggeletak ditengah ceceran darah, disisinya menggeletak pula sesosok tubuh orang tua.
Ketika Koan Ing dapat melihat orang itu hatinya jadi kaget sehingga hampir-hampir saja meloncat ke atas, bukankah orang tua itu adalah Ciu Tong, Toocu dari pulau Ciat Ih To dilautan Timur?
Setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru maju ke depan dan berjongkok membimbing bangun tubuh orang tua itu.
Dengan amat pajah Ciu Tong membuka matanya dan memandang ke arah Koan Ing beberapa saat lamanya.
"Bukankah kau adalah Koan Ing?"
Tanyanya. Dengan perlahan pemuda itu mengangguk "Aku memang Koan Ing adanya!"
"Kedatanganmu sungguh bagus sekali, saat ini kereta berdarah akan menjadi milikku untuk selamanya,"
Kata Ciu Tong dengan ngotot sekali, Walaupun begitu satu senyuman masih tetap menghiasi bibirnya.
Koan Ing merasa hatinya bergidik, setelah dilihatnya tubuh si orang tua itu berada dalam keadaan pajah dan bermandikan darah maka dalam hati pemuda itu merasa bilamana Ciu Tong tak tertOlong lagi.
"Hei.... , tentunya dia berhasil mencuri kereta berdarah itu dari tangan si sastrawan berusia pertengahan itu, tidak disangka akhirnya ia malah memperoleh akibat yang demikian ngerinya!"
Diam-diam pikirnya dihati. Ia mulai merasa kalau orang tua yang ada di hadapannya adalah seorang tua yang patut dikasihani.
"Empek Ciu, perkataanmu sedikitpun tak salah!"
Sahutnya tanpa terasa. Ciu Tong tertawa kering, dengan paksakan diri ia melanjutkan kembali kata-katanya.
"Aaa.... aku.... aku sudah.... ada.... du.... duuuuu.... dua puluh tahun lamanya.... selalu.... mee.... meee.... memikirkan keeee. kereta berda.... darah.... mulai ini haa . hari.... mulai ini haa.... hari.... kereta be.... berdarah ada.... dalah mii.... milikku....!"
Berbicara sampai disitu, kepalanya tiba-tiba rubuh ke samping dan putuslah napasnya.
Melihat si orang tua itu telah mati Koan Ing merasa hatinya amat sedih sekali, perduli Ciu Tong jahat atau baik ia masih mempunyai nama besar diantara empat manusia aneh, tidak disangka dikarenakan kereta berdarah mereka ayah beranak harus menemui akhir yang begitu mengenaskan, hal ini benarbenar amat mengharukan.
Kini Ciu Tong sudah mati dengan amat mengerikan, sedang sesaat menjelang kematianya ia masih belum juga melupakan kereta berdarah....
tidak aneh kalau Jien Wong memerintahkan dirinya untuk memusnahkan kereta tersebut, tidak nyana kalau kereta berdarah ini benar-benar mendatangkan mala petaka saja!
Selagi pikirannya sedang berputar keras di tengah suara sambaran angin yang keras, tampaklah dua sosok bayangan manusia melayang turun ke atas permukaan tanah.
Buru-buru Koan Ing meletakkan mayat dari Ciu Tong ke atas tanah dan ia sendiri menyingkir kesamping, sekali pandang saja pemuda itu dapat melihat kalau yang datang bukan lain adalah Thian Yang Siuw-su serta Suma Han.
Baru saja tubuh Koan Ing mundur ke belakang, mendadak Thian Yang Siuw-su berkelebat menubruk ke arah kereta berdarah yang telah hancur berantakan itu.
Sinar mata Koan Ing berkelebat, hatinya merasa terperanjat karena di tempat itupun sinar matanya telah menemukan segulung kertas yang terguling keluar dari hancuran kereta berdarah tersebut.
Rahasia dari kereta berdarah ini jarang sekali ada orang yang mengetahui, kiranya rahasia tersebut berada di dalam gulungan kertas itu.
hanya tidak tahu kertas itu semula disembunyikan dimana?
Mungkin bilamana kereta ini tidak hancur.
kertas itupun tidak mungkin bisa muncul.
Sewaktu pemuda itu lagi berdiri termangu-mangu itulah tangan kanan dari Thian Yang Siuw-su telah berhasil mencekal ujung sebelah atas dari gulungan kertas itu.
Ia segera membentak keras pedang kiem-hong-kiamnya langsung menghajar pergelangan tangan dari Thian Yang Siuw-su.
Thian Yang Siuw-su mendengus dingin, tangan kirinya diangkat langsung menyerang ke arah tangan kanannya, dua jari tangannya dengan kecepatan yang tertinggi menotok ke atas tubuh pedang kiem-hong-kiam tersebut.
Suma Han yang selama ini berdiri di samping sesudah melihat kejadian ini sudah tentu tidak mau ambil diam, ditengah suara bentakan yang amat keras kelima jari tangannya dengan dahsyat mencengkeram ke arah punggung Thian Yang Siuw-su.
Thian Yang Siauw Su merasa terperanjat, di bawah serangan gabungan dari dua orang jagoan berkepandaian tinggi ini memaksa ia mau tak mau harus meloncat ketengah udara.
"sreeeet....!"
Ditengah sambaran setentetan cahaya keemas-emasan setengah gulungan kertas tersebut berhasil dibabat putus oleh pedang kiem-hong-kiam dan tersebar ke atas lembah.
Dengan cepat Koan Ing menyambar separuh bagian gulungan kertas itu sedang sebagian gulungan itupun berhasil didapatkan oleh Suma Han.
Waktu itu Koan Ing tidak sempat memperhatikan lagi lukisan di dalam gulungan kertas itu, ia segera memasukkannya ke dalam saku.
Dengan perlahan Thian Yang Siuw-su mencabut keluar pedangnya.
sambil dilintangkan di depan dada sinar matanya yang tajam memperhatikan terus ke arah musuh-musuhnya.
"Bilamana kalian berdua tidak suka menyerahkan ilmu silat aliran Hiat Hoa Pay itu janganlah harap bisa loloskan diri dari sini!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang bergema datang dengan dinginnya.
Koan Ing hanya terasa hatinya tergetar keras dan segera menoleh ke belakang.
Tampaklah dari sisi sebelah kiri muncul seseorang yang bukan lain adalah Majikan dari rimba Wang Yu Liem, si sastrawan berusia pertengahan itu dengan membawa delapan orang lelaki berbaju hitam.
Ia merasa sangat terkejut sinar matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.
Suma Han yang melihat kejadian itupun merasa amat terperanjat sekali, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Thian Yang Siuw-su tidak berada di bawah dirinya apalagi dengan munculnya orang tersebut berserta kedelapan orang berbaju hitamnya, kepandaian silatnya tentu tidak rendah.
Hal ini berarti pula kalau kedudukannya pada saat ini benar-benar sangat berbahaya sekali.
Si sastrawan berusia pertengahan itu memandang sekejap ke arah Suma Han lalu sambil tertawa tanyanya;
"Entah siapakah nama besar dari Loo sian seng ini?"
"Loohu adalah Giok Yan Coen'' sahutnya kemudian sambil mendengus sedang tangannya mematahkan sebatang pohon bambu. Sehabis berkata tangannya mulai menyambar mematahkan ranting pada bambu tersebut. Si sastrawan berusia pertengahan itu agak terkejut sewaktu disebutkan nama itu tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa kembali.
"Selamat bertemu, selamat bertemu? cayhe adalah majikan Rmba Wang Yu Liem tentunya Suma Han thayhiap pernah mendengarnya bukan!"
Dalam hati Suma Han pun merasa rada berdesir, ia sama sekali tidak menyangka Kalau orang yang ada di hadapannya pada saat ini adalah majikan dari Rimba Wang Yu Liem, salah satu dari tiga tempat terlarang di dalam Bu-lim, sekali pandang saja ia sudah tahu bilamana orang ini sangat berbahaya dan banyak akal.
Bambu yang ada ditangannya dengan cepatnya dibabat, disajat.
membentuk sebuah seruling bambu.
"Ooow.... selamat bertemu, selamat bertemu!"
Sahutnya sambil bekerja tanpa berhenti.
Koan Ing yang melihat Suma Han kembali membuat sebuah seruling hatinya merasa sangat terperanjat, tetapi keadaannya pada saat ini juga amat berbahaya maka itu ia merasa tidak ada perlunya untuk memberi peringatan kepada si sastrawan berusia pertengahan itu, maka itu mulutnya tetap bungkam sedang hatinya secara diam-diam mulai mencari akal untuk meloloskan diri dari sana.
Sinar mata si sastrawan berusia pertengahan itu berkilat, ia yang melihat Suma Han menyajat bambu dalam hati lantas mengira si orang tua itu lagi memamerkan ilmu silatnya, karenanya tak terasa lagi ia sudah tertawa.
"Perbuatan dari Suma thayhiap selama hidupnya selalu jujur dan halus, tetapi tak sejujur dan sehalus tindakan dari kami orang-orang Rimba Wang Yu Liem, coba kau lihat Thian Yang Siuw-su itupun kini telah menggabungkan diri dengan Rimba Wang Yu Liem kami!"
Sekali lagi Suma Han merasa hatinya tergetar keras, nama besar dari Thian Yang Siuw-su pernah dia orang mendengarnya, tidak disangka ini hari ia telah digunakan oleh orang lain, hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh.
Walaupun ia mengerti saat ini keadaannya sangat berbahaya tetapi karena merasa ilmu suara iblis "Si Hun Mo Ing"nya tanpa tandingannya maka hatinya sediKitpun tidak gentar.
Jang terpenting baginya pada saat ini adalah.
berusaha untuk merebut waktu, jarinya dengan dahsyat disentilkan ke atas bambu dan jadilah sebuah seruling yang amat indah.
Tiba-tiba si sastrawan berusia pertengahan itu menjerit kaget, hatinya terasa berdesir karena saat itulah ia baru teringat bilamana si orang tua itu pandai menjinakkan binatang dengan mengandalkan serulingnya.
"Cepat rebut seruling bambu itu!"
Bentaknya keras.
Pedang panjang Thian Yang Siuw-su berkelebat dengan cepat, ganas dan telengas ia langsung menusuk tenggorokan Suma Han.
Saat ini Suma Han tinggal melubangi sebuah lubang lagi maka jadilah seruling itu, kini melihat maksud hatinya terhalang, hatinya jadi mendongkol bercampur gusar, ditengah suara bentakan yang amat keras seruling bambu itu dengan disertai suara desiran yang amat tajam menotok ke atas alis Thian Yang Siuw-su.
Sinar mata Koan tag berkil-i, fiba2 tubuh nya meloncat ke atas, ia berkelebat menuja ke arah lembah gunung sebelah belakang.
"Cepat halangi Koan Ing!"
Bentak si sastrawan berusia pertengahan itu cepat2, Tiga orang berbaju hitam segera meloncat ketengah udara dan langsung mengejar diri pemuda itu.
Gerakan Koan Ing cepat laksana sambaran kilat berlari menuju keluar selat, Suma Han yang melihat kejadian tersebut hatinya terasa amat berdesir, pikirnya.
"Aku tidak boleh berada disini seorang diri untuk menghantarkan kematian!"
Dengan gesitnya ia menghindarkan diri dari serangan Thian-yuan Siuw-su lalu tubuhnya mencelat dan bersalto ditengah udara untuk kemudian mengejar ke arah Koan Ing.
Thian Yang Siuw-su sewaktu melihat musuhnya melarikan diri, tubuhnya pun ikut berkelebat ke depan melakukan pengejaran.
Dengan demikian mereka berdua satu di depan yang lain di belakang bersama-sama mengejar Koan Ing dengan kencangnya, Pikiran Koan Ing dengan cepat berputar.
bilamana demikian terus keadaannya ia tidak bakal bisa meloloskan dirinya apalagi Suma Han tidak suka melepaskan dirinya terus menerus, ia harus mencari satu akal untuk menghindari mereka.
Tubuhnya laksana sambaran kilat berkelebat ke depan, hanya di dalam sekejap mata dia telah keluar dari selat tersebut.
Tiba-tiba tampaklah sesosok bayangan tubuh manusia berkelebat datang.
segulung angin serangan jari dengan dahsyatnya meluncur menghantam tubuh Suma Han, Suma Han dengan gesitnya berkelit, melihat serangannya tidak mencapai pada sasaran bayangan itupun segera berkelebat kesamping.
Kiranya orang itu bukan lain adalah sijari sakti Sang Su-im adanya.
Tubuh Koan Ing baru saja berdiri tegak dari balik hutan kembali muncul seseorang yang bukan lain adalah Sang Siauw-tan.
Kiranya Sang Su-im serta Sang Siauw-tan merasa tidak lega hatinya karena kepergian Koan Ing, karena itu mereka segera menyusul tidak disangka di tempat itu mereka telah berjumpa.
"Kau baik-baik bukan?"
Tanya sijari sakti itu kepada sang pemuda.
"Terima kasih atas perhatian empek Sang, aku tidak ada urusan sama majikan dari Rimba Wang Yu Liem kembali telah munculkan dirinya sedang empek Ciu sudah mati karena kereta berdarah yang ditumpanginya terjatuh ke dalam jurang!"
Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im jadi sangat terperanjat.
"Ooow.... begitu?"
Ia sama sekali tidak menyangka kalau Ciu Tong telah mati, walaupun dirinya dengan Ciu Tong rada tidak cocok tetapi bagaimanapun juga mereka adalah jago-jago yang mengangkat nama bersama-sama.
Dengan kematian dari Ciu Tong ini benar-benar satu pukulan yang amat berat bagi hatinya.
Saat itu Suma Han telah berhasil membuat satu lubang lagi, tetapi kini Sang Su-im telah munculkan dirinya.
Ia takut ilmu suara iblis "Si Hun Mo Ing"
Tersebut tak manjur untuk digunakan terhadap Koan Ing karena tempo hari ilmunya inipun telah berhasil dipunahkan oleh pemuda tersebut dengan menggunakan ilmu saktinya.
Sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arah dua orang itu, hatinya benar-benar merasa ragu-ragu.
Sang Siauw-tan dengan perlahan berjalan kesisi Koan Ing, mereka berdua tak ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Ketiga orang berbaju hitam itupun saat ini sudah berdiri di belakang tubuh Thian Yang Siuw-su, mereka bersama-sama memperhatikan Koan Ing tajam-tajam.
Beberapa saat kemudian tampaklah lima orang berbaju hitam dengan menggendong si sastrawan berusia pertengahan itupun tiba disana.
Begitu si sastrawan tersebut munculkan dirinya ditengah kalangan sambil tertawa dingin ia segera berseru.
"Beginipun sangat bagus sekali, urusan boleh kita selesaikan disini!"
Sinar mata Suma Han berkilat.
seruling bambunya tiba-tiba ditempelkan pada ujung bibirnya.
Begitu suara seruling tersebut bergema memenuhi angkasa Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras, tangannya dengan cepat menggenggam tangan Sang Siauw-tan sedang sepasang matanya memperhatikan Suma Han tajam-tajam.
Kini si orang tua itu kembali memperdengarkan suara iblis "Si Hun Mo Ing"nya, maka itu ia harus berusaha mencari kesempatan untuk turun tangan dahsyat terhadap dirinya.
Sang Su-im sendiri pun merasa sangat terperanjat, tidak menanti Koan Ing buka suara telapak tangan kanannya telah ditempelkan ke atas jalan darah "Leng Thay Hiat"
Pada punggungnya.
Thian Yang Siuwsu yang ada diSudut lain Pun buru-buru mencekal tangan si sastrawan berusia pertengahan itu, sisanya delapan orang lelaki berbaju hitam telah kena dikuasai.
saat ini mereka menggeletak tak bisa berkutik.
Hal itu terjadi diluar dugaan mereka, sudah tentu membuat Thian Yang Siuwsu merasa amat gusar sekali, dengan mata melotot ia memperhatikan diri Suma Han.
Dengan langkah PatKwanya, Suma Han mulai memperhatikan diri Koan Ing, dalam hatinya ia bermaksud untuk sekali hantam membinasakan pemuda tersebut tetapi ketika melihat Sang Su-im telah menempelkan telapak tangannya pada punggung pemuda itu, hatinya jadi berdesir.
Buru-buru ia mengundurkan dirinya kembali ke tempat semula, Sinar matanya berkilat, ia bermaksud pula untuk membinasakan Thian Yang Siuwsu l bih dahulu, tetapi hatinya merasa tidak tenteram.
Setelah berpikir beberapa saat lamanya terakhir ia mengundurkan dirinya dan naik ke atas sebuah puncak gunung.
Koan Ing yang melihat Suma Han naik ke atas puncak hatinya jadi amat terperanjat di dalam benaknya segera teringat akan sesuatu peristiwa!
Dengan langkah yang amat perlahan Suma Han naik ke atas puncak tebing itu, tiba-tiba irama seruling berubah.
Ditengah suara irama seruling laksana retaknya batu serta mengamuknya ombak ditengah samudra terlihatlah dua ekor macan dengan ganas dan dahsyatnya menubruk ke arah Thian Yang Siuw-su.
Ooo)*(ooO Bab 55 THIAN YANG SIUW-SU mengerutkan dahi, sepasang telapak tangannya segera dipentangkan kesamping, ditengah suara desiran yang tajam macan buas tersebut berhasil dibinasakan olehnya.
Tubuhnya dengan cepat menubruk ke arah tebing tersebut, mendadak seekor ular aneh berbintik2 menyusup keluar antara rerumputan dan langsung menyambar tubuh Thian Yang Siuw-su, bersamaan itu pula dari empat penjuru terdengarlah suara auman harimau serta jeritan kera yang membelah bumi.
Pikiran Koan Ing dengan cepat bergerak, ia tahu bilamana kumpulan binatang2 buas itu berhasil dikumpulkan disana maka sulit sekali baginya untuk meloloskan diri.
Tubuhnyapun ikut meloncat ke atas dan menubruk ke arah tebing gunung tersebut.
Kawanan ular menyambar silih berganti di atas tebing gunung itu, pedang panjang Koan Ing berkelebat tiada hentinya kesana kemari menghalau datangnya sambaran tersebut.
Sang Su-im sambil menarik tangan Sang Siuw Tan pun ikut mengejar dari belakang.
"Jangan lepaskan orang itu!"
Teriak si sastrawan berusia pertengahan dengan suara yang amat keras.
Ketika Koan Ing tiba di atas puncak tebing tersebut Suma Han sejak semula telah meninggalkan tempat itu.
Karena tubrukan harimau serta sambaran ular inilah gerakan mereka jadi sangat terlambat!
Sambil melancarkan sentilan2 jari, Sang Su-im berhasil menyusul ke atas puncak tebing itu, kepada Koan Ing segera berkata.
"Kita tidak bakal berhasil menyandak dirinya, mari kita mencari dulu tempat untuK menghindar!"
Koan Ing pun merasa perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, ia tak memaksa lagi walaupun hatinya terasa sangat cemas, Sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap di sekeliling tempat itu, tiba-tiba diantara bergeraknya kawanan binatang ia menemukan segerombolan manusia bergerak mendekat....
Beberapa saat kemudian ia baru bisa melihat jelas kalau orang-orang itu bukan lain adalah Song Ing serta Thian Siang Thaysu sekalian Melihat kejadian tersebut Koan Ing jadi sangat girang, sedangkan Sang Su-im merasa hatinya sedikit ada diluar dugaan.
Sebetulnya Thian Siang Thaysu sekalian tertinggal di atas puncak untuk mengawasi Yuan Si Tootiang sekalian, bagaimana mungkin mereka bisa tiba disini?
Tentunya Yuan Si Tootiang sekalian berhasil melarikan diri dengan pinjam kesempatan waktu suasana amat kacau.
Mereka bertiga bersama-sama berlari untuk menggabungkan diri dengan Thian Siang thay su sekalian, kemudian bersama-sama berangkat menuju kesebuah puncak gunung disebelah kanan.
Puncak guouog itu sangat tinggi sekali sehingga menembus awan, menanti semua orang telah tiba di atas puncak hatinya baru terasa lega, karena di atas puncak gunung yang demikian tingginya ini binatang buas tak mungkin bisa mencapainya.
"Heeei.... tidak disangka ini hari kembali kita orang terkurung di dalam kurungan binatang buas! Entah harus menggunakan cara apa kita baru bisa terbebas?"
Sang Su-im yang membimbing tubuh Sang Siauw-tan tetap membungkam, sinar matanya memandang ke tempat kejauhan. Cha Can Hong pun menghela napas panjang.
"Tempo hari kita semua orang adalah jago-jago Bu-lim yang dihormati oleh setiap orang tidak disangka ini hari bisa terjatuh jadi sedemikian rupa.... tiga manusia genah empat manusia aneh telah mendapatkan malu yang benar-benar memilukan!"
"Ciu heng telah mati!"
Kata Sang Su-im tiba-tiba dengan suara yang amat tawar.
Tubuh Cha Can Hong kelihatan tergetar keras, ia membungkam dalam seribu bahasa.
Kematian dari Ciu Tong boleh dikata merupakan satu pukulan yang keras terhadap dirinya, karena kematian salah satu anggotanya berarti pula nama besar empat manusia aneh jadi tersapu.
Kepalanya dengan perlahan ditundukan rendah-rendah, lama sekali dia termenung.
Semua jago yang hadir di dalam kalangan pada saat ini pada tahu bagaimana tingginya kepandaian silat yang dimiliki, ditambah pula ilmu obat-obatan yang amat lihay sungguh merupakan suatu keajaiban alam....
Tidak disangka sioiang tua itu kini telah mati!
Thian Yang Thaysu merangkap tangannya memuji keagungan Buddha, mendadak ia merasa dirinya telah mempermainkan nyawanya sendiri, bukan begitu saja bahkan iapun telah menggunakan nyawa dari anak murid Siauw-limpay guna merebutkan sebuah kereta berdarah yang tidak diketahui apakah kegunaannya hal ini benar-benar merupakan suatu pekerjaan yang sangat bodoh.
Hatinya mulai merasa menyesal, kecewa karena perbuatannya yang sangat tolol itu!
SesOsok bayangan hijau dengan amat ringannya melayang datang, Koan Ing putar badan sambil melancarkan tiga serangan berantai.
Ditengah suara tertawa panjang yang amat keras orang itu segera balas melancarkan lima pukulan dahsyat.
Ditengah suara dengungan pedang kiem-hong-kiam orang itu dengan ringannya melayang kepinggiran puncak.
Orang itu ternyata adalah Thian Yang Siuwsu.
Tidak selang beberapa saat kemudian muncul delapan orang lelaki berbaju hitam yang segera meletakkan si sastrawan berusia pertengahan tersebut ke atas tanah.
Melihat munculnya Orang itu Thian Siang Thaysu sekalian segera bersiap-siap untuk melancarkan serangan, mereka bermaksud untuk mengadu kekuatan dengan orang-orang Rimba Wang Yu Liem.
Kawanan ular telah mencapai ke atas puncak tebing, Sang Su-im sambil putar badan melancarkan satu serangan jari untuk menghajar hancur seekor ular raksasa sebesar kepala!
Suara auman binatang buas bergema memenuhi empat penjuru, suasana semakin menegang.
"Haaa.... haaa.... saat ini bukanlah saat buat kita untuk saling bermusuhan,"
Kata si sastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa.
"Buat apa kalian mau saling bunuh membunuh?"
"Kalau begitu bagus sekali,"
Sahut Koan Ing dengan tawar.
"Kau serahkan dulu separuh dari gulungan kertas yang diperoleh dari kereta berdarah, setelah itu kami akan memberi separuh tempat di atas puncak ini buat kalian berlindung, Kalau tidak! Lebih baik kalian cepat menyingkir dari sini!"
"Haaa.... haaa.... Koan Ing, jangan kau kira kita benarbenar takut kepadamu!"
Teriak si sastrawan itu dengan tertawa terbahak-bahak.
"Sebetulnya kau harus tahu kalau kekuatan diantara kita berdua adalah seimbang, sikapmu janganlah terlalu sombong!"
"Hmmm! mau atau tidak itu terserah dirimu, bilamana kau tidak rela, heee.... hee.... boleh coba-coba saja."
Waktu itu kedelapan orang berbaju hitam itu sudah putar badannya untuk menghadapi serangan dari kawanan ular sedang dipihak Koan Ing, Song Ing, serta Sin Hong Soat-nie masing-masing dengan menggunakan sebilah pedang menyapu serangan dari kawanan ular tersebut hal ini jelas kelihatan kalau kekuatan dari pemuda tersebut jauh melebihi kekuatan lawannya.
"Baik!"
Sahut si sastrawan berusia pertengahan itu kemudian setelah berpikir sebentar.
"Mati hidup kita masingmasing belum bisa diketahui biarlah aku mengalah satu kali buat kalian."
Sehabis berkata tangannya diangkat.
Thian Yang Siuw-su yang ada disampingnya dengan cepat mengambil keluar gulungan kertas itu kemudian diserahkan kepada Koan Ing.
Pemuda itu dengan cepat menerimanya, ketika sinar matanya berputar terasalah pandangan semua orang ditengah kalangan itu sedang memperhatikan gulungan kertas ditangannya.
Tetapi ia tidak mengambil gubris, dari sakunya iapun mengambil keluar seperampat bagiannya.
Rasa ingin tahu mulai menyelimuti hati setiap orang walaupun mereka tidak bermaksud untuk merebut tetapi terhadap rahasia ilmu silat aliran Hiat-ho-pay ini mereka sangit mengharapkan bisa mengetahuinya.
Dengan menggunakan tangan kanannya Koan Ing melemparkan gulungan kertas itu ketengah udara, bersamaan itu pula pedang kiem-hong-kiamnya dicabut keluar dari dalam sarungnya.
Diantara berkelebatnya serentetan cahaya keemas-emasan gulungan kertas tersebut telah tersajat hancur berantakan dan tersebar keempat penjuru oleh tiupan angin gunung yang amat kencang.
Melihat kejadian itu hati semua orang merasa kecewa, mereka menyesal sebelum melihat apakah rahasia yang termuat di dalam gulungan kertas itu, benda tersebut keburu sudah dihancurkan oleh Koan Ing.
Si sastrawan berusia pertengahan itupun tak menyangka kalau Koan Ing bisa menghancurkan gulungan kertas itu tanpa melihat sekejappun isinya, hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang berada diluar dugaannya.
Rasa menyesal mulai menyelimuti hati kecilnya, dia menyesal kenapa tadi tidak menggunakan gulungan kertas palsu untuk menipu pemuda tersebut.
Suara seruling dengan perlahan mulai merendah, kawanan ular yang menyerangpun mulai mengundurkan diri, walaupun begitu suara aumun macan serta pekikan binatang buas masih berlangsung tiada hentinya di sekeliling tempat itu.
Dalam hati mereka mengerti kalau dalam pada saat ini dirinya telah terkepung di atas puncak tersebut.
Sihar mata si sastrawan berusia pertengahan itu dengan perlahan menyapu sekejap ke seluruh kalangan, kemudian ujarnya.
"Dengan hadirnya jagoan Bu-lim yang sedemikian banyaknya, ada seharusnya mencari sesuatu cara untuk meloloskan diri!"
"Hmm! Diantara kita bagaikan air sungai yang tidak mengganggu air sumur, kalian tak diperkenankan melewati garis ini! Kalau tidak kami akan turun tangan tanpa sungkansungkan"
Seru Song In tiba-tiba sambil membuat satu garis di atas permukaan tanah.
Si sastrawan berusia pertengahan itu agak melengak, ia sama sekali tidak menduga kalau Song Ing bisa bertindak tanpa sungkan-sungkan terhadap dirinya, untuk beberapa saat saking mendongkolnya ia tertawa dingin tak henti-hentinya kemudian melengos memandang ke arah kejauhan.
Lama sekali suasana berubah jadi hening.
"Sang-heng!"
Tiba-tiba Cha Can Hong memecahkan kesunyian.
"Siauwte ada urusan yang hendak dirundingkan, entah sudikah kiranya Sang-heng untuk mengabulkan?"
Sang Su-im rada melengak ia sama sekali tidak menduga Cha Can Hong bisa berkata demikian.
Selama ini hubungannya dengan si dewa telapak dari gurun pasir ini sangat intim sekali apalagi diantara empat manusia aneh tinggal mereka berdua saja hal ini sudah tentu membuat hubungan mereka semakin rapat....
Selama ini Cha Can Hong bersifat tinggi hati, bagaimana mungkin ini hari bisa berkata begitu?
urusan apa yang hendak diajak berunding?
"Kalau ada urusan silahkan Cha Loo-te bicarakan, asalkan aku orang she Sang bisa melaksanakannya tentu akan kerjakan dengan sepenuh tenaga, buat apa kau orang bicara lambat-lambat?"
Tegurnya sambil tertawa.
"Heee.... soal ini mengenai puteriku yang paling kecil ini."
Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im jadi tersadar kembali, sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah Cha Ing Ing.
Saat ini gadis cilik itu telah menundukkan kepalanya rendah-rendah, wajahnya amat mengenaskan sekali seperti ia mau menangis tapi tak dapat melelehkan air mata.
Koan Ing sendiripun jadi melengak, dia sama sekali tidak menduga Cha Can Hong bisa mengungkit persoalan tersebut dihadapan orang banyak.
untuk beberapa saat lamanya pemuda itu jadi kebingungan dan memandang ke arah Song Ing dengan pandangan melongo.
Perlahan-lahan Sang Siauw-tan maju mendekati diri Cha Ing Ing lalu mencekal tangannya erat-erat.
"Haaaaa.... haaaaa.... Cha Loo-te! sudah tentu di dalam urusan ini aku tak ada perkataan lain lagi,"
Kata Sang Su-im sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kong Boen Yu adalah kawan karibku tempo hari, bilamana kau ada urusan kenapa tidak dibicarakan langsung dengan nona Song saja?"
Song Ing memandang sekejap ke arah Koan Ing, kemudian tersenyum "Urusan ini bilamana dibicarakan pulang pergi akhirnya ya sama saja karena merupakan satu lingkaran setan, kenapa tidak ditanyakan saja kepada orangnya sendiri, asalkan dia setuju maka urusan kan bisa selesai dengan sendirinya.
buat apa ditanyakan lagi kepada kami?"
"Heeeei.... putriku yang terkecil ini sudah aku manja sejak kecil."
Seru si dewa telapak sambil menghela napas panjang.
Kini ia telah menginjak dewasa, bilamana dalam keadaan aman aku tidak bakal akan membicarakannya tetapi keadaan kita sangat berbahaya sekali karena itu aku terpaksa harus menyelesaikan urusan tersebut ini hari juga!"
Cha Ing Ing yang mendenear perkataan tersebut segera tundukkan kepalanya menangis tersedu-sedu, agaknya ia merasa amat bersedih hati.
Sementara jago yang melihat kejadian itupun merasa hatinya ikut sedih, dengan nama besar dari Cha Can Hong di dalam Bu-lim tidak disangka karena urusan puterinya tidak memperduli lagi kedudukkannya, hal ini benar-benar sangat mengharukan.
Koan Ing sendiri juga dibuat kebingungan setelah mendengar perkataan dari Cha Can Hong tersebut tak mungkin baginya untuk menampik lagi, tetapi iapun tak berani menyanggupi.
Saking bingungnya tanpa terasa sinar matanya sudah dialihkan ke atas wajah Song Ing.
Song Ing memandang sekejap ke arah Koan Ing kemudian tersenyum.
"Jika dihitung aku adalah subonya, dengan beranikan diri biarlah aku mewakili dirinya untuk menyanggupi urusan ini!"
Koan Ing jadi melengak, ia sama sekali tak menyangka kalau Song Ing bisa mewakili dirinya untuk menyanggupi urusan tersebut mulutnya jadi melongo-longo dan selama beberapa saat lamanya tak dapat mengucapkan sepatah katapun.
"Tetapi ia sudah ada ikatan terlebih dulu dengan nona Sang, aku takut hal ini rada sedikit menyiksa nona Cha,"
Sambung Sang Ing lagi sambil tertawa.
Kini ganti Sang Siauw-tan yang tertegun, diapun tidak menduga kalau Song Ing bisa berkata begitu.
Kontan saja wajahnya berubah menjadi merah padam, saking malunya ia menundukkan kepalanya rendah-rendah sedang dalam hati merasa kheki bercampur girang.
Cha Can Hong yang melihat Song Ing telah menyanggupi, hatinya jadi sangat girang.
"Haaa.... haa.... nona Song, terima kasih, terima kasih"
Teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ing-jie!"
Tegur Song Ing kemudian terhadap Koan Ing.
"Haruslah kau ketahui perbuatan seorang lelaki sejati harus ditanggung sendiri resikonya, urusan terhadap nona Cha pun terjadi karena dirimu apalagi kaupun sudah menyajangi dirinya terlampau batas, kini kau tidak bisa menampik lagi. Ajoh cepat memberi hormat buat kedua orang Gak-hu Thayjien!"
Koan Ing rada tertegun, urusan inipun terjadi karena tempo hari ia berusaha untuk menghindari Sang Siauw-tan.
sebenarnya dalam hati pemuda itu tidak mencintai Cha Ing Ing, hanya saja dikarenakan keadaan memaksa mau tak mau ia harus menerimanya juga, Apalagi urusan ini sudah jadi begitu, mati hiduppun masih belum diketahui, karenanya tanpa terasa tubuhnya sudah menjatuhkan diri berlutut.
"Haaaaa.... haaaa.... Hian-say tidak usah banyak adat.... Hian say tidak usah banyak adat"
Seru Sang Su-im serta Cha Chan Hong berbareng.
Sang Siauw-tan dan Cha Ing Ing buru-buru putar badan untuk melengos, walaupun kedua orang gadis itu bersikap terbuka dan lapang dada tetapi di dalam keadaan seperti ini mau tak mau mereka dibuat jengah juga.
Dengan kejadian ini maka suasana tegang-segera tersapu bersih diganti dengan suasana yang penuh dengan kegembiraan.
Hati semua jago terasa lebih kendor dan nyaman.
Jilid 23
"SONG SICU!"
Tiba-tiba Sin Hong Soat-nie angkat bicara pula dengan suaranya yang kalem.
"Loo-niepun dengan memberanikan diri hendak bertindak sebagai mak comblang buat muridku, muridku Cing It justru turun gunung dikarenakan Kuan Ing. maka itu saat ini juga aku perintahkan dia orang untuk lepaskan jubah nikouw dan kembali jadi rakjat biasa untuk kawin dengan Koan Ing!"
Begitu perkataan dari Sin Hong Soat-nie diucapkan keluar, suasana di seluruh puncak jadi gempar.
mereka semua pada termangu-mangu dibuatnya....
Para jago tidak menyangka kalau Sin Hong Soat-nie bisa bertindak begitu, hal ini benar-benar berada diluar dugaan mereka.
Song Ing sendiripun jadi melengak dibuatnya.
ia memandang sekejap ke arah Koan Ing.
Belum sempat perempuan ini mengucapkan sesuatu tampaklah Cing It nikouw sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Hong Soat-nie.
"Suhu! kau orang tua janganlah berbuat begitu!"
Serunya sambil melelehkan air mata....
"Haaeee.... suthay!"
Sela Song Ing pula sambil menghela napas panjang.
"Urusan ini kami tak bisa berbuat apa-apa, asalkan mereka setuju maka tak ada persoalan lagi yang dapat dibicarakan!"
Semula Cha Can Hong yang mendengar perkataan itu jadi tertegun dibuatnya, tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak dan berseru kepada Sang Su-im.
"Sang Toako! tidak disangka hian-say kita bukan saja memiliki kepandaian yang bagus diapun merupakan seorang pemuda yang begitu romantis...."
Sang Su-im pun tertawa.
"Suthay!"
Ujarnya kemudian kepada Sin Hong Soat-nie.
"Kali ini nona Song tidak berani mengabulkan permintaanmu, tetapi aku Sang Su-im boleh mewakili Koan Ing untuk menerimanya. Hey, Koan Ing. ajoh cepat menghunjuk hormat buat Suthay!"
Perkataan dari Sang Su-im inipun kontan membuat suasana jadi gempar.
Sin Hong Soat-nie meminta muridnya untuk melepaskan jubah nikouw kawin dengan pemuda tersebut hal ini sudah merupakan satu kejadian yang mengejutkan, siapa sangka Sang Su-im tanpa berpikir lebih panjang lagi ternyata sudah mengabulkan.
"Empek Sang! Ini...."
Teriak pemuda itu kaget. Sinar mata sijari sakti berkilat. ujarnya dengan serius.
"Perempuan ini sangat baik memperlakukan dirimu, sewaktu kau naik kepuncak Sun Lie Hong secara diam-diam ia sudah mengalah buat dirimu, setelah turun dari gunung iapun baikbaik merawat kau orang, kini suhunya sudah setuju apa yang hendak kau bicarakan lagi?"
Koan Ing tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia menoleh ke arah Song Ing tetapi perempuan itu cuma tersenyum saja tanpa berbicara.
Ketika menoleh pula ke arah kedua orang gadis itu, saat ini Cha Ing Ing serta Sang Siauw-tan sedang bergandengan tangan dan memandang ke arahnya sambil tertawa.
Hatinya jadi mantab.
diam-diam pikirnya.
"Mati hidup kita belum bisa ditentukan biarlah aku menurut saja!"
Diapun teringat kalau tangan dari Cing It terpotong dikarenakan dirinya, nikouw itu benar-benar bersikap baik terhadap dirinya.
Ditambah pula tempo dulu ia pernah berpikir bahwa siapa saja yang bisa mendapatkan Cing It sebagai istri maka orang itu bakal hidup berbahagia.
Teringat akan perkataan tersebut tanpa terasa lagi ia sudah jatuhkan diri berlutut.
"Koan Ing mengucapkan banyak terima kasih atas maksud baik dari suthay"
Katanya.
"Heeei.... kalian baik-baiklah berjaga diri,"
Sahut Sin Hong Soat-nie kemudian sambil menarik tangan Cing It.
"Cing It suci!"
Tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan menegur.
"Siauw-tan sumoay! ada urusan apa?"
Sang Siauw-tan jadi melengak, sebenarnya ia bermaksud untuk menggoda Cing It tetapi melihat sikapnya yang amat tenang untuk beberapa saat lamanya ia jadi gelagapan dibuatnya.
"Aku merasa.... merasa amat girang!"
Sahutnya kemudian dengan gugup.
Cing It tersenyum, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.
Melihat hal itu Sang Su-im segera tertawa terbahakbahak.
Pada saat itulah suara seruling berkumandang memenuhi angkasa, beratus-ratus ular yang amat besar mulai bergerak naik ke atas puncak.
Sinar mata Koan Ing berkilat, pedang kiem-hong-kiamnya segera dibabat ke depan membinasakan lima ekor ular.
Kesepuluh jari tangan Sang Su-im pun berturut-turut menyentil keluar.
terasalah serbuan dari kawanan ular itu semakin lama semakin banyak, dibunuh satu datang sepuluh, bunuh sepuluh datang seratus, seketika itu juga membuat semua orang terdesak.
Thian Yang Siuwsu sekalianpun kena didesak sehingga musti mendekati mereka.
Ooo)*(ooO Bab 56 KOAN ING yang melihat kejadian itu matanya berkilat tubuhnya tiba-tiba bergerak dan membentuk sebuah lingkaran seluas sepuluh kaki lebih dan teriaknya.
"Barang siapa yang berani masuk ke dalam lingkaran ini jangan salahkan aku akan turun tangan jahat!"
Setelah daerah gerak ditentukan maka semua orang terasa jadi lebih ringan ditambah pula kedelapan Orang lelaki berbaja hitam serta Thian Yang Siauwsu merupakan jago-jago dari Bulim, untuk menjaga diripun sudah lebih dari cukup.
Tetapi kawanan ular itu agaknya menerjang terus tiada hentinya, tenaga manusia ada batasnya bilamana hal ini diteruskan maka lama kelamaan akan pajah juga.
Satu jam dengan cepatnya berlalu, tetapi serbuan dari kawanan ular itu bukannya berkurang, sebaliknya semakin bertambah.
Matanya Thian Siang Thaysu mendelik bulat2, serangannya dilancarkan semakin dahsyat.
Segulung angin pukulan laksana mengamuknya ombak ditengah samudera dengan cepatnya menyapu datang, kurang lebih seribu ekor ular kecil berhasil dihantam hancur dan terpental jatuh ke dalam jurang disisinya.
Melihat kejadian itu Cha Can Hong jadi cemas.
Buru2 teriaknya.
"Thaysu jangan semberono dan terlalu mengumbar nafsu, bilamana Thaysu menghantam dengan menggunakan tenaga murni terus menerus maka hal ini hanya mendatangkan bahaya saja buat Thaysu sendiri."
Sekali lagi Thian Siang Thaysu mengirim satu pukulan dahsyat menghalau hampir separuh bagian dari kawanan ular itu.
"Daripada harus berpeluk tangan menanti saat kematian jauh lebih baik mengumbar hawa amarah dihati!"
Teriaknya murka.
"Haaa.... haaa.... kalau aku sih masih ingin tinggalkan sedikit tenaga untuk menghadapi Yuan Si!"
Seru Cha Can Hong sambil tertawa, tangannya kembali menyentil mati tiga ekor ular.
Mendengar perkataan itu Thian Siang Thaysu merasa hatinya bergidik, ia jadi sadar kembali dan teringat kalau dirinya pun harus meninggalkan sedikit tenaga untuk menghadapi Yuan Si Tootiang.
Setelah hatinya jadi sadar nafsu murkapun jadi sirap.
"Tetapi siapa yang bisa lolos dari kurungan kawanan ular ini?...."
Tiba-tiba sisastrawau berusia pertengahan itu menimbrung.
"Sekalipun ada orang yang berhasil meloloskan diri dari kurungan ular ini ada siapa pula yang bisa meloloskan diri dari kurungan binatang buas? untuk menghadapi Yuan Si Tootiang aku rasa hanyalah suatu impian disiang hari bolong saja."
"Heeee.... heeee.... Bangsat! Lebih baik kau orang jangan bicara sembarangan, hati-hati aku bunuh kau sampai mati."
Potong Koan Ing dengan kerasnya.
Si sastrawan berusia pertengaban itu tertawa dingin tiada hentinya.
Cuaca semakin lama semakin gelap, walau pun orangorang yang ada ditengah kalangan pada saat ini adalah jagojago Bu-lim yang berkepandaian sangat tinggi tetapi mereka mulai merasa lemah.
Hanya si sastrawan berusia pertengahan seorang diri duduk bersila, agaknya terhadap suasana di sekelilingnya.
dia Orang sama sekali tidak ambil gubris.
Sebaliknya Koan Ing merasa hatinya sangat cemas, ia telah memikirkan berpuluh-puluh cara tetapi tak ada sebuahpun cara yang bisa dilaksanakan.
Ditengah suara tiupan seruling kawanan ular itu menerjang semakin santar lagi, sedang cuacapun mulai gelap....
keadaan benar-benar amat menyeramkan.
"Heeeeeei.... tak kusangka aku orang harus menemui kematian di tempat ini!"
Tiba-tiba si sastrawan berusia petengahan itu bergumam sambil menengadah ke atas langit.
Koan Ing sama sekali tidak ambil gubris terhadap perkataan orang itu, pedang kiem-hong-kiamnya tetap melanjutkan serangannya melawan ular tersebut, menoleh pun tidak!
"Koan Ing!"
Tiba-tiba si sastrawan berusia pertengahan itu berseru dengan menghela napas. Setelah menghancurkan tiga ekor ular. barulah pemuda tersebut menoleh ke belakang.
"Ada urusan apa....?"
"Aku sudah hidup di kolong langit selama delapan puluh tahun tetapi yang kuketahui selama ini hanyalah manusia2 yang mengutamakan nama besar dan kekajaan, tidak kusangka hari ini aku bisa temui pemuda semacam kau, hal ini benar-benar membuat hatiku girang.
"Pujian darimu, aku orang she Koan tidak berani untuk menerima hal tersebut!"
Kembali si sastrawan berusia pertengahan itu menghela napas panjang.
"Heeeee.... kau kemarilah, aku ada perkataan yang hendak disampaikan benar-benar kepadamu!"
Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat. tubuhnya segera meloncat akan menghampirinya. Saat itulah Sang Suim yang ada disisinya sudah memberi peringatan dengan suara yang lirih.
"Orang ini amat licik dan banyak akal kau harus bertindak hati-hati dan selalu waspada?"
Koun Ing mengangguk kemudian berjalan kehadapan si sastrawan berusia pertengahan.
"Kau orang ada urusan apa?"
Tanyanya sambil menyimpan kembali pedang kiem-hong-kiam tersebut. Si sastrawan berusia pertengahan itu tertawa sedih lalu menengadah menandang bintang dilangit.
"Selama hidup aku pernah berbuat jahat dan pernah berbuat baik, tetapi ada beberapa perkataan yang hendak aku sampaikan kepadamu, kau harus percaya kalau perkataan yang diucapkan oleh seseorang yang mendekati ajalnya adalah benar-benar dan sungguh. burung sesaat menemui ajalnya berpekiK tiada hentinya.... walaupun apa yang diucapkan Sang Su-im terhadap dirimu aku tidak tahu tetapi jika ditinjau dari perubahan air mukamu aku bisa menduganya?"
"Eeeei majikan rimba. perkataanmu sungguh aneh sekali."
Tegur Koan Ing sambil tertawa.
"Bukankah sekarang kita orang masih hidup semua? Buat apa kau bicarakan soal kematian?"
Si sastrawan berusia pertengahan itu tertawa pahit.
"Orang-orang yang aku tangkap untuk dijadikan anggota Rimba Wang Yu Liem kebanyakan adalah lelaki sejati, kau harus tahu harapanku untuk hidup telah putus. bilamana harapan hidup telah putus maka orang itu pasti mati. Setelah aku orang berpikir sangat lama akhirnya dalam hatiku mengambil keputusan sebelum menemui ajal aku ingin berbuat suatu pekerjaan baik!"
Katanya.
"Orang-orang itu telah menelan pil "Thian Ci Pek Siauwtan"
Ku dan selamanya tidak bisa baik kembali,"
Ujar si sastrawan berusia pertengahan itu lagi sambil memandang sekejap bayangan punggung dari Thian Yang Siuwsu serta kedelapan orang berbaju hitam itu.
"Tetapi sesudah aku mati tak ada orang yang bisa memberi petunjuk kepada mereka kecuali ada seseorang yang suka menelan semacam obat maka orang itu bisa menguasai mereka untuk selamanya, karena itu aku berharap kau suka menelan obat itu mewakili untuk memberi petunjuk buat mereka! kau sanggup bukan?"
Koan Ing jadi melengak, Ia sama sekali tidak menyangka kalau si sastrawan berusia pertengahan itu bisa mengajukan permintaan seperti itu, untuk sesaat lamanya ia jadi bungkam dan termenung.
Kembali si sastrawan berusia pertengahan itu tertawa pahit.
"Akupun tidak perlu berbuat licik terhadap dirimu. aku hanya berharap sebelum kematianku menjelang kau suka mengabulkan permintaanku ini. bilamana kau tidak setuju maka hal ini sama artinya kau tak punya Liang-sim?"
Selesai berkata dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebutir pil berwarna merah dan diserarakan kepada Koan Ing.
Tidak menanti Koan Ing menerimanya lagi tangan kirinya tiba-tiba mencabut sebilah belati dan ditusukan ke arah pinggangnya sendiri!
Suara dengusan berat bergema memenuhi angkasa.
ditengah mengucurnya darah segar dari si sastrawan berusia pertengahan itu rubuh menggeletak di atas tanah.
Koan Ing jadi melengak, ia sama sekali tidak menyangka kalau si sastrawan berusia pertengahan itu bisa melakukan bunuh diri, tanpa terasa lagi tangannya sudah menerima pil berwarna merah itu dan memandang ke tempat kejauhan.
Saat itu si sastrawan berusia pertengahan itu telah menggeletak ditengah ceceran darah segar, pedangnya menyobek pinggang hal ini membuktikan kalau ia benar-benar sudah mati.
Sesaat sebelum menemui ajalnya ia minta dirinya menelan pil itu untuk menguasai beberapa orang tersebut, apakah maksudnya agar ia tetap hidup terus?
Alisnya dikerutkan rapat-rapat, pertanyaan ini benar-benar membuat pikirannya kacau.
Pada saat itulah mendadak tampak seso sok bayangan maunsia melayang turun kesis tubuhnya.
"Bocah! jangan telan pil tersebut"
Perintahnya. Koan Ing jadi sangat terperanjat, ia mendongak.... kiranya orang itu bukan lain adalah Song Ing.
"Bilamana dia sungguh-sungguh mati biarlah aku tusuk lagi tubuhnya dengan dua kali tusukan"
Seru Song Ing lagi sambil menusukkan pedangnya ke atas tubuh si sastrawan berusia pertengahan itu.
Baru saja pedangnya ditusukkan kebawah mendadak tubuh Si sastrawan berusia pertengahan itu menggelinding kesamping.
Melihat hal tersebut Song Ing jadi semakin gusar, sebenarnya dalam hati ia telah menaruh curiga, tidak sangka orang itu benar-benar sedang pura-pura mati.
"Keledai, kau sungguh licik dan kejam!"
Bentaknya gusar. Sembari berkata pedangnya dengan cepat menutul ke arah kening dari si sastrawan berusia pertengahan itu.
"Tahan!"
Teriakan majikan dari Rimba Wang Yu Liem itu dengan suara keras.
"Kau ada urusan apa lagi, ajoh cepat katakan."
Koan Ing yang melihat kejadian itupun hatinya ikut merasa gusar, bilamana pil itu sungguh-sungguh ia telan mungkin situasi ditengah kalangan saat ini telah berubah.
"Hmmm! perkataan baik menjelang kematian.... heee.... kau benar-benar seorang yang berhati baik!"
Dengusnya dingin. Si sastrawan berusia pertengahan itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Kali ini aku benar-benar telah kalah. pil "Thian Ci Pek Siauw-tan"
Ini setelah ditelan akan membuat orang itu seratus persen mendengarkan perkataanku bahkan sampai mati takkan sadar kembali.
kini maksudku telah gagal....
heeei....
bilamana tadi kau suka menelan pil tersebut.
dengan kekuatan dari jago-jago yang ada tidaklah sukar untuk menolong aku lolos dari mara bahaya, cuma saja saat ini kalian pun belum menang karena bagaimanapun juga kalian belum tentu bisa hidup lebih lanjut.
Heee....
heee....
walaupun begitu aku sebagai majikan Rimba Wang Yu Liem tidak sudi mati ditangan Suma Han!"
Selesai berkata belati ditangan kanannya segera ditusukkan ke arah dadanya sendiri tubuhnya dengan perlahan ikut rubuh ke atas tanah.
Koan Ing segera maju satu langkah ke depan untuk cekal denyutan jantungnya.
terasalah denyutan itu semakin lama semakin perlahan dan akhirnya berhenti sama sekali.
Kali ini si sastrawan berusia pertengahan itu betul-betul telah membunuh diri!
Selagi ia berdiri termangu-mangu, mendadak mendengarlah Thian Yang Siuw-su serta kedelapan orang berbaju hitam itu membentak keras kemudian dengan dahsyatnya menerjang ke arah bawah tebing.
Koan Ing yang memandang bayangan punggung mereka cuma bisa menghela napas panjang.
orang-orang itu sudah jadi gila semua....
Kepandaian silat dari Thian Yang SiUw-su pun sangat lihay sekali, tetapi dikarenakan kereta berdarah tak disangka ia tidak memperoleh akhir cerita yang sangat mengenaskan.
Hanya di dalam sekejap saja tengah malam telah menjelang datang....
Semua Orang yang lagi putus asa tiba-tiba dapat menangkap suara tertawa tergelak yang amat nyaring bergema memenuhi seluruh angkasa, suara tertawa itu seketika itu juga mengacaukan irama dari seruling tersebut, seketika itu juga serangan kawanan ular itu jadi kacau balau dan pada melarikan diri keempat penjuru.
Melihat kejadian tersebut hati semua orang jadi amat girang bercampur terkejut....
dari manakah datangnya bala bantuannya?
Ditengah suara gelak tertawa, irama seruling itu berusaha untuk meronta tetapi akhirnya berhasil juga ditirukan oleh suara tertawa itu hingga suasana jadi amat kacau.
Binatang buas yang semua berhasil ditaklukkan melalui irama seruling kini pada bubar dan lari serabutan kesanakemari.
Lama sekali Sang Su-im memperhatikan, akhirnia dengan rasa terkejut bercampur girang teriaknya.
"Aaaah.... kiranya dia!"
Baru Saja perkataan itu diucapkan keluar tampaklah seorang kakek tua berjubah putih yang berperawakan tinggi besar telah melayang datang.
"Haa.... haaa.... kiranya Orang Sang-heng masih teringat akan diriku!"
"Lam Kong-heng Bagaimana mungkin kau orang bisa tiba disini dari tempat yang begitu jauh? Hal ini benar-benar berada diluar dugaanku!"
Teriak Sang Su-im kegirangan.
Mendengar perkataan tersebut semua orang jadi tersadar kembali, kiranya orang itu adalah sitabib sakti dari daerah Tian Pian, Lam Kong Ceng adanya, tidak disangka dari daerah yang begitu jauh ia bisa muncul disini bahkan membantu mereka untuk mengundurkan kawanan binatang tersebut dengan suara tertawanya.
Sang Siauw-tan buru-buru majU memberi hormat dan disusul oleh Koan Ing mengucapkan terima kasih atas budi dan pertolongannya tempo hari.
"Haaa.... haaa.... saudara cilik kau tak usah banyak adat."
Seru Lam Kong Ceng sambil tertawa.
"Ilmu pertabibmu telah aku ketahui sejak dahulu, kali ini akupun ada maksud untuk membantu kau orang!"
Setelah itu Sang Su-im pun mewakili dirinya untuk memperkenalkan para jago lainnya. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Thian Siang Thaysu merangkap tangannya memberi hormat.
"Pinceng mohon diri dulu dari saudara sekalian, sebelum berhasil menawan Yuan Si hatiku merasa belum lega,"
Katanya.
"Haaa.... haaa.... Taysu, kau tidak usah begitu tergesa!"
Seru Lam Kong Ceng sambil tertawa.
"Orang yang meniup seruling itu masih ada di sekeliling tempat ini, dia pun tidak berani meninggaikan tempat tersebut. Bagaimana kalau kita jalan bersama-sama?"
"Haaa.... haaa.... kalau begitu kebetulan sekali."
Teriaknya.
Demikianlah dengan dipimpin oleh Lam Kong Ceng para jago mulai menuruni puncak tebing itu dan menuju kesebuah puncak yang ada disebelah kiri.
Puncak tebing itu amat curam dan berbahaya sekali.
Setelah mencapai di atas puncak maka terlihatlah di hadapannya muncul sebuah lekukan lembah yang ditengahnya dihubungkan dengan sebuah jembatan batu, di bawah jembatan merupakan suatu jurang sedalam ribuan kaki.
Di atas jembatan batu duduklah beberapa orang, yang paling depan bukan lain adalab "Sin Tie Langcoen"
Ti Siuw-su adanya.
Tiga orang yang ada dibelakangnya bukan lain adalah silblis bongkok dari daerah Si Ih Chiet Han Kokcu serta Yuan Si Tootiang.
Dan terakhir di atas puncak dihadapan mereka duduklah seseorang yang bukan lain adalah Giok Yang Coen"
Suma Han! Untuk menghubungi tebing sebelah sini dengan puncak diseberang sebelah sana hanya ada satu jalan saja. Thian Siang Thaysu kerutkan alisnya rapat-rapat, tiba-tiba serunya.
"Biarlah aku yang coba!"
Sehabis berkata tubuhnya menubruk ke depan naik ke atas jembatan batu tersebut. Song Ing yang melihat kejadian itu segera mengerutkan dahi.
"Kau ikutilah dari belakang!"
Serunya kepada Koan Ing.
Pemuda itu dengan hormatnya menjura kemudian meloncat ke atas jembatan batu.
Saat ini Thian Siang Thaysu benar-benar sudah mencapai pada puncak kegusarannya, ditengah suara bentakan yang amat keras sepasang telapak tangannya didorong sejajar dada, dengan menggunakan ilmu kepandaian andalannya "Siang Thian Ciang Mo Ceng Kie"
Ia menghajar tubuh Ti Siuwsu.
Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyatnya Ti Siuw-su sangat terperanjat.
ia pun bersuit nyaring sedang tubuhnya meloncat menyingkir.
Mengambil kesempatan itulah Thian Siang Thaysu segera menerjang ke depan.
Pada waktu itu Koan Ing telah mencabut keluar pedang kiem-hong-kiamnya tetapi sewaktu melihat tempat yang dipijak Ti Siuw-su hatinya jadi curiga.
Jembatan batu itu sudah lama sekali mendapatkan serangan angin dan hujan dan kini boleh dikata amat lapuk setelah dilewati Ti Siuw-su tadi maka sebagian dari jembatan tersebut telah mengendor.
Bilamana ingin naik ke atas jembatan itu masih tidak mengapa, tetapi bilamana bermaksud hendak melukai orang dan kerahkan tenaga, hal itu tidak mungkin terjadi.
Selagi hatinya tergerak itulah Ti Siuw-su telah balikkan badannya menubruk datang.
seruling besinya dengan disertai desiran tajam menotok ke arah batok kepala pemuda tersebut.
Sebaliknya Si Ih Mo Tuo yang ada dibelakangnya telah menubruk ke arah Thian Siang Thaysu.
Koan Ing merasa hatinya bergidik, tubuhnya menghindar ke samping lalu melayang ketangah udara!
Thian Siang sendiripun tahu kalau dia orang tidak dapat menerima serangan musuh di atas jembatan batu tersebut.
tubuh mereka berdua bersamaan waktunya meloncat ke atas.
Ti Siuw-su serta si Iblis bongkok yang melihat kejadian itu buru-buru membabatkan tongkat serta serulingnya ke atas jembatan batu tersebut.
"Brraaaaaaaammm....!"
Jembatan batu kena dipukul hancur berantakan.
sedang tubuh kedua orang itupun meloncat balik ke atas batu semula, Dengan adanya kejadian ini bukan saja Koan Ing serta Thian Siang Thaysu merasa amat terperanjat, sekalipun Sang Siauw-tan serta Cha Ing Ing yang ada diataspun pada menjerit kaget.
Koan Ing membentak keras.
tubuhnya yang ada ditengah udara bersalto beberapa kali lantas balik menubruk ke arah Ti Siuw-su, sedangkan Thian Siang Thaysu menghantam diri si Iblis bongkok.
Seruling besi ditangan Ti Siuw-su dengan membentuk gerakan lingkaran menghalau datangnya serangan pedang dari Koan Ing, saat ini tubuh pemuda tersebut ada ditengah udara dan dibawahnya adalah jurang, maka itu asalkan dirinya berhasil memaksa ia untuk meluncur kebawah maka tamatlah riwajatnya.
Hati Thian Siang Thaysu benar-benar sangat murka, tubuhnya yang ada ditengah udara segera melancarkan serangan dengan menggunakan "Sian Thian Ceng Kie"nya, terasalah segulung asap putih yang amat dahsyat menekan diri Si Ih Mo Tuo.
Si lh Mo Tuo tertawa terbahak-bahak tongkat pualamnya berturut-turut melancarkan tiga serangan dahsyat menghantam hawa pukulan dari Thian Siang Thaysu.
Thian Siang Thaysu yang melihat serangannya tidak mengenai sasarannya, ia jadi semakin gemas, tubuhnya dengan amat hebatnya menubruk tubuh Si In Mo Tuo.
Koan Ing yang melancarkan serangan pedang ke depan dengan cepat kena ditangkis oleh seruling besi dari Ti Siuw-su, pedang serta seruling bentrok menjadi satu menimbulkan bunga-bunga api.
seketika itu juga seruling besi tersebut kena dihisap oleh tenaga dalam Koan Ing.
Hal ini benar-benar membuat Si Tie Langcoen merasa berdesir.
Serangan dari Thian Siang Thaysu pada saat ini sudah lebih mirip dengan serangan binatang terluka, melihat kejadian itu Si Ih Mo Tuo jadi sangat terperanjat.
Tongkat pualamnya dibabatkan sejajar dada kemudian menekuk ditengah jalan menghantam batok kepala hweesio tersebut, agaknya ia hendak membinasakan musuhnya di dalam sekali kemplangan.
Thian Siang Thaysu dengan kalapnya berteriak keras, tangannya dengan keras lawan keras menerima datangnya tongkat pualam itu Tak kuasa lagi tubuhnya tergetar sangat keras.
Si Ih Mo Tuo merasa amat terperanjat Tangan kanannya dengan gugup ditarik ke arah belakang dengan gerakan cepat.
Tetapi pada saat yang bersamaan pula tubuh Thian Siang Thaysu telah menubruk datang Braaak!!
Tubuh mereka berdua terpisah dan bersama-sama jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam yang tak terlihat dasarnya itu!
Koan Ing merasa terkejut bercampur gusar, ia sama sekali tidak menyangka kalau Thian Siang Thaysu ternyata mengajak Si Ih Mo Tuo untuk mati bersama-sama.
Ti Siuw-su yang melihat kejadian itu hatinya pun merasa amat terperanjat, ditengah suara bentakan yang amat keras tangan kanannya mengendor.
Ditengah ajunan tangannya ia bermaksud untuk memukul jatuh Koan Ing berserta pedangnya ke dalam jurang.
Koan Ing bukanlah manusia biasa, ia menarik napas panjang dan tetap menghisap kencang-kencang seruling besinya itu.
Ti Siuw-su yang melihat senjatanya ikut terhisap kencang hatinya jadi bergidik.
Pertempuran antara jagoan berkepandaian tinggi justru ditentukan pada detik2 ini sedikit saja Ti Siuw-su berajal pedang kiem-hong-kiam ditangan Koan Ing telah membabat ke arah tubuhnya dan dengan paksa mendorong tubuh Ti Siuw-su terjatuh ke dalam jurang.
Suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tanpa ampun lagi, tubuh Ti Siuw-su melayang ke dalam jurang dan semakin lama tubuhnya semakin kecil kemudian lenyap tak berbekas.
Kematian dari Thian Siang Thaysu membuat hawa amarah pemuda ini memuncak, dengan dinginnya ia memandang ke arah Chiet Han Kokcu, Phoa Thian-cu.
Tubuhnya tiba-tiba melayang ke depan dan berdiri ditengah batu yang digunakan oleh Si Ih Mo Tuo tadi.
Kokcu dari lembah Chiet Han Kok ini benar-benar sudah dibuat bergidik oleh sikap Koan Ing yang amat menyeramkan itu.
mendadak ia menutup kembali jaringan emasnya dan menjura ke arah pemuda tersebut.
"Phoa Thian-cu rela mengaku kalah!"
Katanya perlahan.
"Hmmmm! kalau begitu cepatlah menyingkir!"
Phoa Thian-cu menghela napas panjang tubuhnya meloncat ketengah udara kemudian bersalto beberapa kali dan melayang turun ke atas batu yang digunakan oleh Ti Siuw-su tadi.
Yuan Si Tootiang yang melihat Koan Ing berhasil pukul rubuh Ti Siuw-su ke dalam jurang Thian Siang Thaysu adu jiwa dengan Si Ih Mo Tuo ditambah kini Phoa Thian-cu mengaku kalah membuat hatinya terasa berdesir.
Mendadak dengan mata membara ia mengajunkan telapak tangannya ke depan, segulung hawa pukulan yang maha dahsyat dengan disertai suara desiran yang amat keras menggulung ke arah depan.
Sikokcu dari lembah Chiet Han Kok, Phoa Thian-cu sama sekali tidak menyangka bilamana Yuan Si Tootiang bisa melancarkan satu pukulan yang begitu dahsyat untuk membokong dirinya.
Di dalam keadaan gugup tubuhnya mencelat ketengah udara untuk menghindarnya.
"Yuan Si-heng, apa maksudmu?"
Teriaknya dengan amat terperanjat.
Yuan Si Tootiang hanya mendengus dingin telapak tangannya kembali mengirim satu pukulan yang sangat dahsyat ke depan.
Kali ini Phoa Thian-cu sudah mengadakan persiapan tubuhnya kembali mencelat ketegah udara dan bersalto beberapa kali untuk menghindar.
"Yuan Si-heng, kau jangan terlalu memaksa aku pun bisa memberi perlawanan kepadamu!"
Teriaknya gusar. Yuan Si Tootiang kembali mendengus dingin, teriaknya tiba-tiba.
"Heee.... kau berani mengkhianati diriku dan meninggalkan diriku selagi aku terjepit nyawamu tak bisa diampuni lagi!"
Sehabis berkata telapak tangannya kembali menyambar ke depan disusul tiga rentetan cahaya tajam berkelebat mengiringi angin pukulan tersebut.
Phoa Thian-cu sama sekali tidak menyangka Yuan Si Tootiang bisa turun tangan jahat terhadap dirinya, tubuhnya meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dari kedua buah angin pukulan tersebut, sedangkan jalanya disambar kebawah memunahkan datangnya ketiga rentetan cahaya tajam yang mengancam dirinya.
Siapa sangka agaknya Yuan Si Tootiang sudah menduga akan hal itu, begitu ia selesai menyambitkan ketiga buah batu itu, kembali satu pukulan dahsyat menyusul datang.
Pukulan yang terakhir ini telah menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya.
Phoa Thian-cu tak sempat untuk menghindar tanpa ampun dadanya kena terhantam.
ditengah suara jeritan ngeri yang menyajatkan hati darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Tubuhnya pun dengan keras terpental lima kali ke belakang dan jatuh ke dalam jurang yang tak kelihatan dasarnya itu, Setelah berhasil membereskan nyawa Phoa Thian-cu dengan angkernya Yuan Si Tootiang baru menoleh ke arah diri Koan Ing.
Wajah pemuda itu pada saat ini sangat dingin, pada masa hidupnya Thian Siang Thaysu justru bermaksud untuk menghadapi Yuan Si Tootiang, kini hweshio dari Siauw Sim pay itu sudah mati, maka itu bagaimana pun juga ia tidak akan melepaskan tosu itu.
Pedang Kiem-hong-kiamnya setelah berkelebat membentuk suatu gerakan setengah lingkaran lantas disilangkan di depan dada.
Lama sekali mereka berdua saling berpandangan mendadak Koan Ing bersuit nyaring tubuhnya dengan disertai sambaran pedang menubruk ke depan.
Pedangnya laksana naga emas yang melayang ditengah angkasa berkelebat menembusi udara kemudian menusuk lambung Toosu itu.
"Inilah jurus "Giok Sak Ci Hun!"
Yuan Si Tootiang tertawa dingin, pedangnya pun segera dicabut keluar. Diantara menyambarnya cahaya tajam, hawa pedang memenuhi angkasa. Dia telah menggunakan jurus "Koei Coa Peng Koei"
Atau pura?
ular mati berbaring dari ilmu pedang "Toa Cing Kiam Hoat".
Sepasang pedang terbentur menjadi satu menimbulkan percikan bunga-bunga api.
hawa pedang dengan cepat mengurung tubuh mereka berdua.
Para jago yang melihat kejadian itu dari samping merasa hatinya sangat terperanjat pertempuran pedang semacam ini benar-benar luar biasa sekali.
Walaupun mereka semua merupakan jago-jago lihay tetapi selama hidup mereka belum pernah menemuinya.
Masing-masing pihak berusaha dengan menggunakan hawa pedang untuk rebut kemenangan, mendadak bayangan manusia berpisah, tubuh Koan Ing mencelat ke atas sedang Yuan Si Tootiang ditengah suara suitan yang amat panjang sepasang telapaknya dipentangkan.
Selapis kabut merah mulai meliputi tubuhnya, laksana seekor burung rajawali dengan seramnya ia mengejar tubuh Koan Ing, Cha Ing Ing yang melihat kejadian itu menjent kaget, hati semua jagopun merasai tergetar.
Tenaga dalam Yuan Si Tootiang sudah berhasil mencapai pada taraf kesempurnaan ditambah lagi dengan kabut berdarahnya hal ini membuat dia orarg semakin lihay lagi.
Walaupun para jago ada maksud untuk turun tangan membantu tetapi di dalam keadaan situasi seperti ini tak seorangpun yang sanggup untuk membantu, Koan Ing bersuit nyaring, tubuhtnya yang ada ditengah udara kembali mencelat ke atas.
Dengan cepatnya Yuan Si Tootiang berhasil menyusulnya, sepasang pedang kembali bentrok menjadi satu, Tubuh Koan Ing dengan cepat melayang turun kebawah.
"Hmm! Kau hendak lari kemana?!"
Teriak Yuan Si Tootiang sambai mendengus dingin.
Ketika dilihatnya hawa murni pemuda itu seperti telah habis, ia segera membentak keras pedangnya dengan disertai desiran yang tajam disambitkan ke arah depan mengancam punggung Koan Ing.
Koan Ing berteriak keras, ujung kaki kirinya kembali menutul batu, lalu bagaikan kilat balik badan menangkis datangnya sambitan pedang dari Yuan Si Tootiang itu.
Yuan Si tootiang jadi terperanjat, ia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing berhasil menerima datangnya serangan pedang tersebut.
Buru-buru tubuhnya merandek ditengah udara kembali bersalto kebelaksng untuk melarikan diri.
Siapa tahu dalam hati pemuda itu telah ada perhitungan, pedang kiem-hong-kiamnya di dalam sekejap saja telah melancarkan serangan mengancam delapan belas posisi yang berbeda.
kemudian tangannya diajunkan ke depan mengembalikan pedang dari Yuan Si Tootiang tadi.
Toosu Bu-tong-pay ini pada saat ini lagi kelabakan sekali, ia tak berhasil menghindarkan diri....
Diantara berkelebatnya cahaya tajam pedangnya telah menembusi punggungnya hingga ke depan dada.
Suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa.
Para jago yang menonton jalannya pertermpuran itupun pada mengucurkan keringat.
Tubuh Koan Ing dengan gesit melanjutkan gerakannya kepuncak seberang.
Waktu ini Suma Han sudah dibuat keder oleh pertempuran yang baru saja berlalu keringat dingin mengucur keluar membasahi keningnya, ia merasa tenaga dalamnya tak dapat melampaui pemuda itu dan iapun tahu bilamana terjadinya pertempuran dirinya tentu kalah.
Karena itu sewaktu Koan Ing tiba di hadapannya tak kuasa lagi Suma Han sudah menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.
Koan Ing tetap membungkam seribu bahasa, pedangnya tiba-tiba berkelebat ke depan mencukil keluar gulungan kertas yang ada di dalam sakunya kemudian diantara kilatan pedang kertas itu sudah hancur berkeping-keping.
"Heeei.... Kereta berdarah telah berlalu kau pergilah,"
Kata pemuda itu kemudian kepada Suma Han.
Si orang tua itu tertegun, sama sekali ia tak mengucapkan kata-kata.
Saat itulah Sang Siauw-tan serta Sang Su-im sekalian telah tiba disana, mereka hanya bisa menghela napas panjang saja....
Dan dengan demikian peristiwa KERETA BERDARAH itupun telah berlalu....
T A M A T Harap Anda puas dengan cerita ini!!!!!
Baca Juga: Pendekar Baja 7
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 3