Eps 9 Kereta Berdarah - Khu Lung
Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung
Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.
Baru saja tiba di depan pintu kuil tiba-tiba satu ingatan kembali berkelebat di dalam benak pemuda tersebut.
Ia merasa Lan Toojien tidak ada alasan untuk menipu dia, lalu kenapa dirinya tak menemui seseorangpun?
Apakan mungkin si kakek bongkok dari daerah Sie Ih itu telah pergi?
Atau dia yang telah salah mencari?
Sinar mata pemuda itu dengan perlahan menyapu sekejap ke arah kuil tersebut, akhirnya setelah berpikir beberapa saat lamanya ia enjotkan badannya untuk mengitari pintu kuil itu menuju ke arah bagian belakang dari rumah ibadah tersebut.
Setelah kurang lebih dua lie sampailah dia itu ditengah jalan kecil seperti usus kambing diantara hutan itu yang menghubungkan tempat tersebut dengan sebuah mulut selat.
Sekali pandang saja pemuda itu lantas merasa kalau jalan itu mungkin masih ada satu lie.
Melihat akan hal tersebut Koan Ing merasa hatinya rada berdebar.
"Apa mungkin tempat ini yang dimaksudkan?"
Pikirnya dihati.
Sekali lagi tubuhnya bergerak menuju ke arah mulut selat.
dia yang berkepandaian tinggi serta bernyali tebal itu tanpa memperdulikan lagi apakah di tempat tersebut ada jebakan atau tidak dengan cepatnya menerjang ke depan.
Setelah berada di dalam selat itu sinar matanya kembali berputar, tampaklah batu-batu aneh bermunculan diempat penjuru, bunga tumbuh dengan suburnya di seluruh pelosok menambah semerbaknya suasana, kelihatannya tempat yang pemandangannya sangat indah....
Koan Ing berdiri termangu-mangu, lama sekali dia memandang ke arah mulut selat itu dengan pandangan melongo.
Mendadak dari balik sebuah batu muncullah seorang kakek tua yang berbadan bongkok, kakek itu menundukkan kepalanya rendah-rendah sehingga tidak tampak bagaimanakah wajahnya tetapi yang terang ditangannya mencekal sebuah tongkat yang terbuat dari pualam yang berwarna hijau.
Dengan pandangan yang tajam Koan Ing memperhatikan si kakek bongkok itu, mendadak tanyanya.
"Jang datang apakah Si Ih Tuo Su atau si kakek bongkok dari daerah Si Ih. Jien Kong Pang adanya!"
Kakek bongkok tua itu menghentikan langkahnya baru kemudian dongakkan kepalanya.
Terlihatlah sinar mata yang amat tajam memancar keluar dari matania, di atas kepalanya terikat secarik kain putih dengan selembar wajah yang penuh kerutan, hal ini membuat semua orang yang melihat pasti merasa rada bergidik.
"Ehmmm! memang akulah Si Ih Tuo So, ada urusan apa kau datang kemari mencari diriku?"
Kata orang itu dengan suara yang amat rendah serak dan berat.
Suaranya itu amat tidak enak didengar sehingga membuat hati seperti dipukul dengan martil besar, Koan Ing pun yang mendengar nada suaranya amat tawar kontan kerutkan alisnya rapat-rapat....
"Hmmm! kalau kau adalah Jien Kong Fang maka cepatlah lepaskan gadis cilik yang kalian culik pergi itu!"
Katanya.
"Heeee.... heeee.... mungkin kaulah Koan Ing sipemuda konyol itu!"
Seru Jien Kong Fang sambil ketawa dingin tak hentinya.
"Kau akan mengandalkan dirimu seorang buat minta orang? heee.... heee.... masih terpaut amat jauh, kendati aku berani menangkap orang sudah tentu berani pula menghadapi orang yang datang menolong dirinya!"
Koan Ing yang mendengar dia mengaku dengan begitu enaknya bahkan tak memandang sebelah matapun ke arahnya dalam hati merasa rada mendongkol juga, pikirnya;
"Hmm? Agaknya bilamana ini hari aku tidak menggunakan cara kekerasan urusan tidak akan bisa beres."
Maka sinar matanya segera berkilat2.
"Kalau begitu baiklah akan kuhadapi terlebin dulu dirimu!"
Katanya.
Koan Ing sebetulnya tidak mengetahui seberapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Jie Kiong Fang karenanya untuk sementara waktu ia tidak berani berlaku gegabah.
Dan dengan perlahan cambuk peraknya dilepaskan sedang sepasang matanya dengan tajam memperhaatikan terus si kakek bongkok tersebut.
"Heee.... heee.... sebelum bergebrak baiklah aku peringatkan dulu dirimu, selamanya aku tidak pernah melepaskan setiap mangsa yang berani cari gara2 dengan diriku!"
Ujarnya si kakek bongkok dari daerah Si Ih ini sambil tertawa dingin.
Dengan perlahan Koan Ing mengangkat cambuk peraknya kemudian disilangkan di depan dada, Pada saat itulah Jien Kong Fang merasakan ketegangan yang luar biasa, secara tiba-tiba ia merasa dengan keadaan dari Koan Ing pada saat ini tentu telah memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi dari pada apa yang didengarnya.
Maka tongkat pualam ditangannya segera didorongkan ke depan, sedang mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa dingin yang berat dan rendah.
Koan Ing membentak keras, tubuhnya segera melayang ke depan sedang cambuknya dia dipancangkan dan segera dibabat ke depan, membentuk bunga-bunga cambuk yang amat banyak bagaikan naga sakti dengan cepatnya menghajar tubuh Jien Kong Fang.
Buru-buru Jien Kong Fang segera menyingkir ke samping sambil melancarkan tiga buah serangan sekaligus.
hanya di dalam sekejap itu saja ditengah udara terdengarlah tiga kali suara ledakan nyaring, cambuk perak ditangan pemuda itu bagaikan seekor ular ketika dengan kencangnya melibat tongkat pualam itu Jien Kong Fang merasa hatinya rada berdesir karena ia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing dapat berhasil melibat tongkat pualamnya sewaktu ia sedang melancarkan tiga buah serangan gencar.
Maka lima jari tangan kanannya dengan kencarg2 memegang tongkat pualamnya sedang satu dengusan berat dengan bergema memenuhi angkasa dan secara diam-diam ia menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tongkatnya untuk memukul pental tubuh Koan Ing dan tangan kanannya dengan keras diangkat ke arah atas.
Tubuh Koan Ing yang ada ditengah udara buru-buru luruskan lengan kanannya ke depan, cambuk perak itu kontan jadi menegang laksana tongkat perak yang amar kuat, diantara menggetarnya tangan.
cambuk peraknya membusur ke belakang sia2 menghajar tubuh Jien Kong Fang.
Pada saat yang bersamaan kedua belah pihak masingmasing telah menggunakan tenaga yang amat besar, Koan Ing yang melihat serangannya tidak berhasil mencapai pada sasaran segera bersuit panjang, tubuhnya pun mencelat ke atas melepaskan cambuk peraknya lalu disusul satu sentilan dahsyat menjerat leher dari si kakek bongkok tersebut.
Sinar mata Jien Kong Fang kembali berkilat, ia sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing jauh berada dari dugaannya semula.
Maka tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas tongkat pualamnya dibabat mendatar menangkis datangnya serangan yang mengancam lehernya.
Mereka berdua sama-sama melancarkan serangan dengan seluruh tenaga.
hanya di dalam sekejap mata suara bentakan keras menggetarkan seluruh angkasa, masing-masing pihak telah saling bertukar serangan sebanyak puluhan jurus.
Dalam hati Koan Ing pun merasa hatinya rada berdesir, ia mengerti kalau tenaga dalam yang dimiliki dirinya pada saat ini telah berada jauh di atas empat manusia aneh, sedang tenaga dalam dari Jien Kong Fang pun tidak berada di bawah empat manusia aneh, terutama sekali ilmu silatnya yang begitu sakti dan aneh, hal ini benar-benar membuat hatinya rada tercengang.
Mendadak Jien Kong Fang mengundurkan dirinya ke belakang, dan melayang ke atas sebuah puncak batu yang tinggi.
Cambuk panjang sang pemuda itu dengan cepat mengejar dari arah belakang, siapa tahu gerakan dari si kakek bongkok itu amat cepat karena tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke dalam lembah.
Setelah berada di dalam keadaan seperti ini mana mungkin Koan Ing suka lepas tangan begitu saja!
Maka tubuhnya segera berkelebat mengejar dari arah belakang.
Tapi mendadak terdengarlah suara tertawa dingin yang melengking bergema memenuhi angkasa, Koan Ing pun segera merasa hatinya bergidig dan cepat2 menoleh ke belakang.
Tampaklah sesosok bayangan merah dengan kecepatan yang luar biasa muncul dari atas puncak batu dan menubruk ke arahnya dengan amat dahsyat.
Dia bukan lain adalah Si Budak Berdarah dari balik kegelapan, penyaruan dari Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien Bu-tong-pay.
Ditangan kanan toosu tua dari Bu-tong-pay ini mencekal sebuah pedang berwarna merah darah, tubuhnya laksana seekor burung elang dengan amat cepat menubruk kebawah sedang pedangnya laksana serentetan cahaya merah dengan kencang menyapu diri pemuda tersebut.
Koan Ing meraung keras, tubuhnya membalik cambuk peraknya balas menyapu diri Yuan Si Tootiang.
Ditengah berkumandangnya suara tertawa dingin dari Yuan Si Tootiang ia menarik kembali sepasang lengannya untuk menghindarkan diri dari serangan cambuk, sedang pedang merahnya kembali melancarkan satu tusukan menghajar alis Koan Ing.
Dimana pedang merah itu berkelebat segera terlintaslah suara desiran tajam yang membelah bumi, sinar mata Koan Ing kembali berkilat, cambuknya pun segera dikebatkan kebawah, kemudian dengan mempergunakan gagang cambuk menangkis datangnya serangan pedang dari Yuan Si Tootiang itu.
Pedang dan cambuk dengan cepat bentrok menjadi satu.
Pemuda itu hanya merasakan segulung tenaga dorongan yang maha dahsyat menggempur dirinya sehingga tak kuasa lagi tubuhnya mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan.
Rasa berdesir kembali meliputi hatinya, ia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam dari toosu itu dapat demikian dahsyat.
Tetapi tubuh Yuan Si Tootiang sendiripun ikut tergetar keras sehingga ia tidak melancarkan serangan dengan mengambil kesempatan ini tubuhnya mencelat dan melayang kehadapan tubuh sang pemuda.
Melihat akan hal ini Koan Ing mengerutkan keningnya rapat-rapat, baru saja ia bermaksud untuk berbicara mendadak terdengarlah satu suara yang amat dingin berkumandang keluar.
"Koan Ing ini hari habis sudah riwajatmu!"
Katanya.
Pemuda itu segera menoleh ke belakang tampaklah dibelakangnya berdiri seseorang yang memakai baju berwarna hitam dengan sebuah jaringan raksasa berwarna emas ditangannya, saat ini ia sedang memandang diri Koan Ing dengan pandangan yang amat dingin.
Dia bukan lain adalah jaring emas penguasa langit Poa Thian Coe adanya.
Dengan pandangan dingin dia memandang ke arah Poa Thian Coe lalu menoleh kesamping, dan terlihatlah si kakek bongkok dari daerah Si Ih, Jien Kong Fang pun telah kembali munculkan dirinya dan saat ini lagi melototi dirinya dengan pandangan dingin.
Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bisa terjatuh di dalam kepungan tiga umat manusia kuat, Kembali sinar matanya berkilat, saat inilah dia baru tahu kalau si kakek bongkok dari Si Ih itu sebetulnya telah mengadakan sekongkolan dengan diri Yuan Si Toootiang sekalian.
"Heeee.... heeee.... , terdengar Yuan Si Tootiang tertawa tiada hentinya.
"Tidak kusangka kepandaian silatmu berhasil mendapatkan kemajuan yang demikian pesatnya, entah jagoan lihay dari manakah yang telah sudi menyalurkan tenaga dalamnya untuk memberi tambahan pada tenaga dalammu!"
Koan Ing hanya memandang ke arah mereka dengan sikap amat tawar, hanya sinar matanya menyapu sekejap ke arah mereka bertiga.
Mendadak dia membentak keras, tubuhnya menubruk ke arah depan sedang cambuknya dengan menimbulkan suara yang amat nyaring melancarkan satu serangan dahsyat menghajar diri Jien Kong Fang.
Si kakek bongkok dari daerah Si Ih mendengus dingin, tongkat pualamnya dilintangkan di depan menghalangi datangnya serangan tersebut.
Dan Yuan Si Tootiang sama sekali tidak mengira kalau di dalam keadaan seperti ini Koan Ing masih berani melancarkan serangan maka dengan gusarnya ia membentak keras.
"Koan Ing! Apa kau cari mati?"
Ditengah suara bentakan yang amat keras itu tubuhnya pun menubruk ke depan, pedang merahnya laksana sambaran kilat menghajar ke arah punggung si pemuda mengancam pada jalan darah "Leng Thay Toa Hiat"-nya.
Si jaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu pun dengan mengambil kesempatan itu maju mendesak diri sang pemuda, jaringan emasnya segera disebarkan ke atas kepalanya.
Koan Ing segera menangkis datangnya serangan tongkat pualam dengan menggunakan cambuknya, sedang tangan kanannya dihentakkan ke depan dan berbalik tubuhnya melancarkan serangan kilat dengan menggunakan tiga bilah pisau terbang, Dua batang menghajar ke arah Yuan Si Tootiang, sedang sebilah lagi mengancam diri Phoa Thian-cu, Yuan Si Tootiang yang melihat datangnya serangan pisau terbang itu buru-buru menggetarkan sepasang lengannya untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya maut itu, tangannya kemudian membalikkan pedang merahnya dengan membentuk gerakan setengah busur ditengah udara langsung menusuk ke arah dada Koan Ing.
Koan Ing yang pada saat ini telah kehilangan pedang Kiemhong-kiamnya, merasa tidak leluasa di dalam gerakan serangannya.
Mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya.
"Kenapa aku tidak coba-coba untuk merebut sebilah pedang?"
Pikirnya dihati.
Dengan gusarnya ia membentak keras, dan tangan kanannya diajunkan ke depan maka sembilan bilah cahaya keperak2an yang menyilaukan mata dengan cepat meluncur ke depan dan membentuk gerakan setengah busur ditengah udara lalu bersama-sama menerjang ke seluruh tubuh toosu dari Bu-tong-pay itu.
Melihat datangnya serangan tersebut Yuan Si Tootiang merasa amat terperanjat, ia tidak mengira kalau Koan Ing bisa mengeluarkan kepandaiannya untuk melawan dia orang dan karena selama ini belum pernah ia menemui jurus serangan yang sedemikian aneh dan saktinya apalagi datangnya serangan kesembilan bilah pedang pendek itu amat cepat dan sama sekali tidak memberi sedikit kesempatan buat dirinya untuk menghindar.
Dan dengan gusarnya ia membentak keras, pedangnya dilintangkan di depan dada menangkis datangnya serangan dari kesembilan pedang pendek tersebut.
"Triiing.... triiing...."
Suara benturan yang amat nyaring berkumandang memenuhi angkasa.
kesembilan pedang pendek itu ternyata berhasil dipunahkan ditengah angkasa, kendati begitu separuh badannya telah dibuat kaku juga oleh getaran dari kesembilan bilah pedang tersebut.
Kembali tubuh Koan Ing bagaikan bayangan setan saja mendadak berkelebat ke depan, kelima jari tangannya laksana kilat cepatnya mencengkeram ke arah tubuh pedang di tangannya.
Jien Kong Fang serta Phoa Thian-cu yang melihat kejadian ini diam-diam merasa amat terperanjat, lepas tangan maju mendadak dan mencengkeram pedang lawan semuanya dilakukan KOan Ing hanya di dalam sekali gebrak saja, hal ini membuat mereka berdua sama sekali tak mendapatkan kesempatan untuk menghalangi gerakan dari pemuda tersebut.
Ditengah suara bentakan yang amat keras mereka berdua.
satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan dengan cepatnya menghajar tubuh Koan Ing.
Tujuan dari Koan Ing melepaskan kesembilan pedang pendeknya tadi justru bermaksud untuk merebut pedang pihak lawan, siapa sangka perubahan gerakan dari si kakek bongkok dari daerah Si Ih serta sijaring emas penguasa iangit dilakukan begitu cepatnya dan berada diluar sangkaan.
Dan dia tahu bilamana dirinya masih memaksa untuk merebut pedang dari toosu tersebut, maka tak ampun lagi tubuhnya pasti bakal menderita luka ditangan mereka berdua, Tetapi kesembilan bilah pedang pendeknya tadi justru disambit keluar guna merebut pedang, bilamana kesempatan ini dibuang dengan sia2 pada saat ini, mungkin kesempatan baik tidak bakal kunjung datang lagi.
Berbagai ingatan dengan cepatnya berkelebat dihatinya.
mendadak kelima jari tangan kanannya laksana kilat cepatnya menyambar ke depan mencengkeram pedang Yuan Si Tootiang, ditengah suara bentakan yang amat keras pedangnya berhasil kena direbut sedang kaki kirinya bersamaan waktunya melancarkan satu tendangan kilat mengancam jaringan emas dari Phoa Thian-cu, sedang tubuhnya laksana kitiran berputar ke sebelah kiri.
Sewaktu Koan Ing berhasil merebut pedang Yuan Si Tootiang itulah jaringan emas dengan cepatnya sudah menyambar kurang lebih beberapa inci dari batok kepalanya, sedangkan tongkat pualam dari si kakek bongkok dengan amat tepat berhasil menghadiahkan satu gebukan ke atas punggung Koan Ing.
Tubuh pemuda itu laksana kitiran dengan cepat berputar sejauh tiga kaki, lalu dengan sempoyongan mundur dua langkah ke belakang kemudian baru dapat berdiri tegak dan dari tenggorokannya ia merasa darah segar selalu mendesak ke atas.
Buru-buru matanya dipejamkan rapat-rapat dan dengan paksa menelan kembali darah yang mengucur keluar itu, Dengan sempoyongan Yuan Si Tootiang pun mundur tiga langkah ke belakang, dalam hati mereka bertiga merasa amat kaget.
Mereka tidak mengira kalau Koan Ing berhasil merebut pedang Yuan Si Tootiang dengan kekerasan di bawah kerubutan tiga orang jagoan lihay yang berkepahdaian amat tinggi, hal ini selamanya belum pernah terjadi apa lagi Koan Ing tidak lebih merupakan seorang pemuda yang baru berusia dua puluhan....
Paras muka Koan Ing berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, walaupun begitu dari sepasang matanya masih memancarkan cahaya yang tajam bagaikan kilat menyapu wajah ketiga orang itu, Si kakek bongkok dari daerah Sie Ih yang melihat gebukan tongkatnya tadi sama sekali tidak menimbulkan reaksi apapUn pada diri pemuda tersebut ia rada tidak percaya, sinar matanya berkilat kemudian tanpa mengucucapkan sepatah katapun secara tiba-tiba melancarkan serangan kembali menghajar diri Koan Ing.
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, maka tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan tongkat, siapa tahu saat itulah jaringan emas kembali ditebarkan, maka diantara berkilatnya cahaya keemas-emasan terasalah suasana yang amat berat dan tekanan yang menyesakkan napas mengurung di sekeliling tempat itu.
Koan Ing yang berhasil mencekal sebilah pedang hatinya semakin mantap, ia mendengus dingin.
Tubuhnya tiba-tiba mencelat ketengah udara, pedangnya dengan sejajar dada menekan keujung pinggiran jaring emas itu Inilah jurus "Ban Sin Beng To"
Atau selaksa malaikat menenangkan ombak dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam".
Dengan kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing pada saat ini ditambah dengan jurus-jurus pedang yang diandalkan olehnya di dalam menjagoi Bu-lim, dimana bagian yang ditekan tadi memaksa Phoan Thian Coe tidak berhasil berganti jurus sebelum pedang dari pemuda itu terangkat.
Sewaktu Koan Ing gerakan badannya tadi si kakek bongkok dari daerah Si Ih pun ikut menbabatkan tongkatnya ke depan, toya pualamnya dengan membawa serentetan cahaya putih yang menyilaukan mata mengancam punggung pemuda itu.
Koan Ing membentak keras, pedangnya ditarik lalu dengan disertai dengan tenaga dalam penuh berkelebat membentuk gerakan busur ditengah udara untuk menangkis datangnya serangan musuh itu, inilah Jurus "Noe Ci Sin Kiam"
Atau dengan gusar kebaskan pedang.
Pedang dan tongkat dengan cepat bentrok jadi satu sehingga menimbulkan bungaZ api dengan seluruh tenaga Jien Kong Fang menekankan tongkatnya ke arah tubuh pemuda tersebut, Dengan sejajar dada Koan Ing luruskan lengan kanannya pedang merahnya disentilkan ke depan dengan keras lawan keras mendorong diri Jien Kong Fang ke belakang.
Dalam hati sibongkok tua dari Si Ih merasa amat terperjat walaupun ia pernah mendengar nama besar dari "Thian-yu Khei Kiam"
Kong Boen Yu dan pernah mendengar pula nama dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam"
Tetapi ia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu pedang tersebut demikian dahsyatnya.
Koan Ing yang berhasil mendorong mundur Jien Kong Fang baru saja hendak ganti jurus untuk melancarkan serangan susulan tiba-tiba terdengarlah Yuan Si Tootiang mendengus dingin, dan dengan menggunakan sebuah cambuk panjang dia hendak menghajar batok kepalanya, Melihat datangnya serangan cambuk itu kontan pemuda itu mengerutkan alisnya rapat-rapat, cambuk itu bukan lain adalah cambuk peraknya yang dibuang tadi.
tidak dinyana saat ini Yuan Si Tootiang sudah memungutnya untuk digunakan menghadapi dirinya.
Dengan keras lawan keras Koan Ing putar tangannya dan menangkis datangnya serangan cambuk itu dengan menggunakan pedangnya.
Jaringan emas serta tongkat pualam bersamaan pada waktunya kembali melancarkan serangan dahsyat menjepit dirinya.
Koan Ing merasa hatinya bergidik, dia merasa bilamana keadaannya demikian terus menerus sekalipun dirinya tidak terkalahkan paling sedikit juga akan mati kepajahan, sekalipun kepandaian silatnya lebih lihaypun tidak mungkin bisa mengalahkan tiga orang jagoan lihay sekaligus di dalam keadaan terluka parah.
Pikirannya dengan cepat berputar, di dalam keadaan seperti ini ia harus mempertingkat serangannya atau paling tidak harus membinasakan Yuan Si Tootiang sibiang keladi dari semua peristiwa.
Baru saja Koan Ing melayang turun ke atas tanah tongkat pualam disertai jaringan emas kembali menghantam datang, ia segera bersuit panjang sedang pedang merahnya dengan sejajar dada ditusukkan ke arah depan inilah jurus "Hay Thian It Sian"
Atau langit dan laut satu garis yang merupakan jurus bertahan paling jempolan.
Melihat pemuda itu menggunakan jurus tersebut.
pikiran mereka adalah sama, Koan Ing sama sekali tidak pinter dengan tindakannya itu, ditengah suara bentakan yang amat keras jaring emas dari sijaring emas penguasa langit serta tongkat pualam dari sibongkok tua dari Si Ih bersama-sama dibabatkan ke depan menangkis datangnya serangan pedang dari Koan Ing.
Walaupun jurus "Hay Thian It Sian"
Ini merupakan satu jurus bertahan yang paling dahsyat dan kini jaring serta tongkat mereka setelah menempel pada pedangnya sama sekali tak bisa kerahkan tenaga, tetapi keadaan dari kedua orang itu sudah mirip dengan anak panah yang ada di atas busur yang setiap saat dapat dilancarkan keluar.
Kecuali bila Koan Ing tidak berganti jurus mereka berdua tak bisa berbuat apa-apa, seandainya tidak begitu pemuda itu sedikit bergojang saja maka tenaga mereka berdua akan laksana menggulungnya ombak disungai Tiang Kang menggempur tubuhnya dengan amat dahsyat.
Yuan Si Tootiang yang cambuknya kena dihantam balik oleh pedang Koan Ing membuat darahnya menjadi panas.
nafsu membunuh mulai berkilatan memenuhi sinar matanya.
Tiba-tiba ia menggetarkan kembali cambuknya ketengah udara lalu dengan membentuk gerakan satu lingkaran menghajar ubun2 dari Koan Ing.
Kali ini ia melancarkan serangan dengan seluruh tenaga, bilamana Koan Ing sampai tidak lepas pedang mungkin ia bakal terluka ditangannya.
Dan di dalam hati pemuda itu sudah ada perhitungan maka pedangnya tetap menangkis datangnya serangan dari jaring emas penguasa langit serta si kakek bongkok, tetapi begitu serangan cambuk Yuan Si Tootiang tiba di hadapannya tahutahu jari kirinya diangkat ke atas melancarkan tiga buah sentilan gencar dan mencengkeram ke arah ujung cambuk tersebut.
Yuan Si Tootiang jadi amat terperanjat dan buru-buru tangan kanannya ditarik ke belakang, tapi siapa tahu tarikannya ini tak berhasil sebaliknya membuat cambuk tersebut tertarik menegang.
Pedang ditangan kanan Koan Ing dengan menggunakan jurus bertahan yang paling rapat untuk menghalangi dua serangan dari dua orang jagoan tinggi.
Sedang tangan kirinya dengan mengerahkan tenaga dalam yang paling mengejutkan menahan cambuk perak itu dengan paksa.
Dengah demikian seorang diri ia telah melawan serangan dari tiga orang jagoan lihay sekaligus.
Ketiga orang itu merasa hatinya pada bergidik, dengan nama besar mereka bertiga ternyata tak berhasil menghadapi seorang pemuda seperti Koan Ing, bagaimana mungkin mereka masih ada muKa untuk tancapkan kakinya kembali di dalam dunia persilatan?
Apalagi bilamana urusan ini sampai dibicarakan orang lain mungkin akan menuak nama besar mereka bertiga.
Nafsu membunuh kembali berkelebat dari sepasang mata Yuan Si Tootiang, dia membentak dengan dinginnya.
Cambuk ditangan kanannya dengan melingkar dua lingkaran besar tiba-tiba menyambar ke arah Koan Ing sedang tubuhnya bersamaan itu pula mendesak ke arah pemuda tersebut.
Sepasang telapaknya dengan sejajar dada didorongkan ke depan, segulung hawa pukulan berwarna merah darah bagaikan menggulungnya ombak ditengah samudera menghajar tubuh lawannya.
Inilah ilmu khie-kang "Hwee Hiat Chiet Sah Kang Khie"
Dari Si Budak Berdarah dari balik kegelapan tempo hari.
Dengan gusarnya Koan Ing bersuit nyaring tangan kirinya digetarkan dengan sepenuh tenaga sehingga cambuk tersebut jadi menegang laksana sebuah pit baru kemudian dengan dahsyatnya menghajar ke atas tongkat pualam serta jaringan emas, dan bersamaan waktunya pula tiba-tiba ia menarik kembali pedangnya lalu dengan menggunakan jurus "Giok Sak Ci Hun"
Atau hancur lebur bagai abu menusuk ke depan dengan sejajar dada.
Begitu serangan pedang dilancarkan ke depan, ditengah udara segera bergemalah suara ledakan yang membelah bumi, pedang berwarna merah itu dengan cepatnya meluncur ke depan menyambut datangnya tubuh Yuan Si Tootiang.
Melihat kejadian itu Yuan Si Tootiang menjerit kaget, ia sama sekali tak menyangka kalau Koan Ing hendak mengadu jiwa dengan dirinya, ia tahu bilamana dirinya menerima serangan tersebut walaupan Koan Ing akan terluka tetapi ia sendiripun bakal binasa di ujung pedangnya.
Ooo)*(ooO Bab 48 MAKA pukulannya dengan cepat ditarik, sedang lengannya ditekankan kebawah, diantara berkelebatnya bayangan merah ia sudah paksakan diri mencelat ke arah sebelah atas.
Saat ini Koan Ing memang bermaksud untuk melukai dirinya, sudah tentu kesempatan yang demikian baiknya tidak sampai dilepaskan dengan begitu saja, tanpa memperduli lagi dibelakeng tubuhnya masih ada musuh tangguh dengan gusarnya ia meraung keras dan mengejar diri Yuan Si Tootiang.
Gerakan Koan Ing ini amat cepat bagaikan kilat, walaupun Yuan Si Tootiang sudah menguniurkan diri tetap Koan Ing masih mengejar terus tanpa ampun hal ini memaksa ia tak sempat lagi untuk melancarkan pukulannya dan hanya berdiri termangu-mangu dengan terperanjat.
Koan Ing yang dikarenakan hendak mengejar diri Yuan Si Tootiang telah menarik kembali jurus "Hay Thian It Sian"
Nya saat ini mungkin sanggup untuk menahan serangan dahsyat dari Phoa Thian-cu itu Kokcu dari lembah Chiet Hin Kok serta si kakek bongkok dari daerah Si Ih?
Tenaga pukulan dari keJua orang itu laksana menggulungnya ombak raksasa ditengah lautan dengan cepatnya menggulung ke arah depan.
Koan Ing yang hendak mengejar diri Yuan Si Tootiang tahu-tahu diri belakang tubuhnya terasa satu tenaga besar menghisap dirinya ia jadi amat terkejut.
Walaupun hal ini sudah diduga sejak semula tetapi sebelum maksudnya tercapai bagaimana mungkin ia suka menyerahkan nyawanya dengan begitu saja?
Suara suitannya berhenti, lalu disusul dengan dengusan berat, pedangnya dengan disertai tenaga penuh meluncur dari tangannya menghajar tubuh Yuan Si Tootiang.
Bersamaan waktunya ia berkelebat ke samping dan balikkan tubuh menyambut datangnya serangan gencar dari kedua orang itu.
Baru saja Koan Ing memutar tubuhnya setengah lingkaran, tenaga pukulan itu telah menghantam datang.
"Braaak....!"
Dengan dahsyatnya bentrokan terjadi ditengah udara, tubuh pemuda itu laksana layang-layang yang putus benang, segera terpental jatuh dan menumbuk sebuah batu cadas yang amat besar.
Ia merasakan seluruh persendian otot maupun tulangnya jadi berantakan, pandangannya jadi gelap dan hampir-hampir ia jatuh tidak sadarkan diri.
Dan tiba-tiba terdengarlah suaraa bentakan yang keras bergema memenuhi angkasa, segulung hawa pukulan dengan dahsyatnya menghantam ke arah tubuhnya.
Tetapi pada saat yang bersamaan pula terdengar suara seseorang berteriak keras.
"Tahan!"
Tapi dengan menggunakan seluruh tenaga Koan Ing sudah berkelebat dan mencelat sejauh lima, enam depa, walaupun begitu tak tertahan lagi darah segarpun muncrat keluar memenuhi permukaan tanah.
Dengan paksakan diri ia mencekal batu cadas dan merangkak bangun, terlihatlah waktu itu ada berpuluh-puluh titik hitam serta titik putih berputaran ditengah udara kemudian berbentuk jadi tiga sosok bayangan manusia yang kabur.
Ketika pandangannya jadi jelas kembali maka tampaklah olehnya Phoa Thian-cu serta si kakek bongkok dari daerah Si Ih lagi memandang ke arahnya dengan pandangan terkejut bercampur gusar, sedang Yuan Si Tootiang dengan wajah berubah pucat pasi lagi bersandar di samping sebuah pohon dan memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, di atas dada sebelah kanannya tertancaplah sebilah pedang yang menembus hingga pada gagangnya.
Melihat hasilnya itu Koan Ing merasa rada kecewa, karena timpukannya tadi ternyata tidak berhasil membinasakan dirinya Yuan Si Tootiang.
"Koan Ing!"
Terdengar Yuan Si Tootiang berkata dengan dinginnya sambil menutupi mulutnya yang luka dan masih mengucurkan darah dengan amat derasnya.
"Pertempuran kali ini sudah cukup untuk mengangkat namamu sebagai jagoan nomor wahid di kolong langit, cuma sayang tusukanmu ini tidak tepat, sehingga tidak sampai membinasakan diriku. Kau pun harus tahu kalau aku tidak ingin kau mati di dalam sekejab!"
Selesai berkata ia pun tertawa dingin dengan seramnya, kemudian tambahnya lagi.
"Kau harus tahu, aku akan memaksa kau mati dengan perlahan-lahan dan menahan berbagai macam siksaan!"
Koan Ing sama sekali lidak menggubris akan kata-kata dari Yuan Si Tootiang ini, dari dalam hatinya saat ini hanya menyesali perbuatannya yang tak berhasil membinasakan diri Yuan Si Tootiang.
Mengenai apa yang hendak dilakukan oleh tosu itu terhadap dirinya ia tidak gubris sama sekali.
Sehabis berkata, Yuan Si Tootiang kemba i tertawa dingin tiada hentinya, sedang keringat sebesar kacang kedelai dengan derasnya membasahi seluruh keningnya.
Selama hidup baru pertama kali ini ia menderita luka parah ditangan orang lain dan untuk pertama kalinya pula melihat orang lain memiliki kepandaian silat yang demikian tingginya.
Chiet Han Kokcu, Phoa Thian-cu serta Si Ih Tuo So diamdiam pun merasa amat terperanjat.
Tiba-tiba....
Suatu suara yang amat halus berkumandang datang dari mulut lembah.
Mereka bertiga dengan cepat menoleh ke depan sedang Koan Ing pun dengan hati heran menoleh ke arah mulut lembah itu.
Tampaklah seorang kakek tua berambut putih dengan mencekal sebuah tongkat berdiri kaku di depan mulut lembah, dan dia bukan lain adalah si iblis sakti dari lautan Timur, Ciu Tong adanya!!
Sepasang mata Ciu Tong yang amat tajam dengan cepat menyapu sekejap ke seluruh tempat, dari sinar matanya pun memperlihatkan rasa terperanjat yang bukan kepalang.
"Yuan Si!!"
Ujarnya kemudian dengan dingin.
"Hee.... hee tidak kusangka kaupun akan menemui sial seperti ini hari."
Walaupun saat ini Yuan Si Tootiang berada dalam keadaan terluka parah tetapi disana masih ada Phoa Thian-cu serta Si Ih Tuo So yang belum terluka, sudah tentu ia sama sekali tidak jeri terhadap Ciu Tong.
"Hmm! Tidak kusangka kedatanganmu begitu cepat,"
Katanya dingin.
"Aku rasa kau pun belum tentu bisa mempertahankan dirimu, buat apa kau mengejek dan mentertawakan orang lain?"
Si Ih Tuo So sambil kerutkan keningnya selangkah demi selangkah berjalan mendekati diri Ciu Tong.
Terlihatlah Ciu Tong hanya tertawa menghina, sinar matanya dengan cepat melirik sekejap ke arah diri Koan Ing.
Si Ih Tuo So pun mendengus dingin, tubuhnya mendadak mencelat ke depan, sedangkan tongkat pualamnya dengan cepat bagaikan kilat menotok jalan darah "Giok Hu Hiat"
Pada tubuh sang iblis tua.
Ciu Tong hanya mendengus dingin, tongkatnya dengan kuat-kuat dibabat ke atas menangkis datangnya serangan tersebut.
Gerakan jurus serangan dari si kakek bongkok buru-buru diubah, berturut-turut ia melancarkan delapan serangan sekalian menggencet musuhnya, Ciu Tong tidak mau kalah diapun dengan menggunakan tongkatnya berturut-turut balas melancarkan serangan dahsyat.
Walaupun begitu tak urung tubuhnya kena didesak juga sehingga mundur dua langkah ke belakang.
Melihat kejadian itu hatinya baru merasa terperanjat.
"Siapa kau?"
Tanyanya kaget.
"Heeeeee.... heeeee.... kau menggunakan tongkat, akupun menggunakan tongkat, apakah kau tidak tahu siapakah diriku?"
Balas tanya si kakek bongkok itu dengan dingin.
Waktu itulah Ciu Tong baru teringat akan diri si kakek bongkok dari daerah gurun pasir Jien Kong Fang yang amat lihay itu maka tak terasa lagi hatinya jadi bergidik.
Ia sama sekali tidak menduga, kalau si kakek bongkok Jien Kong Fang pun bisa munculkan dirinya di dalam daerah Tionggoan, hal ini membuat hatinya rada tidak tenang.
Jien Kong Fang kembali membentak keras, tongkat pualamnya dengan gencar kembali menyerang diri Ciu Tong.
Ciu Tong yang diserang secara demikian lantas kerutkan keningnya rapat-rapat, ia yang namanya tersusun dalam empat manusia aneh bagaimana mungkin suka perlihatkan kehadapan orang lain?
Ditengah suara tertawa panjangnya yang amat keras tubuhnya meloncat ketengah udara kemudian berturut-turut melancarkan dua puluh empat buah serangan sekaligus.
Mereka berdua sama-sama menggunakan tongkat sebagai senjata, dan hanya di dalam sekejap saja puluhan jurus sudah dilewatkan Lama kelamaan Jien Kong Fang berhasil juga dipaksa berada di bawah angin oleh serangan Ciu Tong yang gencar dengan menggunakan ilmu sakti dari lautan Timur itu.
Melihat kaWannya terdesak Phoa Thian-cu segera membentak keras, jaring emasnya digetarkan lalu mengurung seluruh tubuh sang iblis tua.
Sinar mata Ciu Tong berkilat, tubuhnya tiba-tiba bergerak dan menerjang ke arah diri Koan Ing.
Phoa Thian-cu serta Jien Kong Fang yang melihat gerakan dari Ciu Tong ini segera bisa mengetahui apa maksud tujuannya maka si kakek bongkok segera membentak keras, tongkat pualamnya di bawah putaran pergelangan tangannya bagaikan bayangan saja mengikuti diri Ciu Tong dan mengurung seluruh tubuhnya.
Buru-buru Phoa Thian-cu.
itu kokcu dari lembah Chiet Han Kok menaburkan jalanya ke depan jaringan emas dengan memancarkan cahaya yang amat tajam menekan tubuh Ciu Tong.
Walaupun kepandaian silat yang dimiliki Ciu Tong amat tinggi tetapi diapun tidak mungkin tidak menjaga diri di bawah kerubutan dua orang jagoan lihay, maka dia membentak keras tubuhnya balas menubruk ke arah depan.
Tongkatnya balik menghantam ke atas jaringan emas diiri Phoa Thian-cu.
Jien Kong Fang dengan gesitnya menghindar lalu menghantam tongkat pualamnya ke atas punggung Ciu Tong.
Ciu Tong menarik napas panjang-panjang, dengan mengerahkan ilmu "Hu Si Mo Kang"
Atau ilmu mayat membusuknya ia mengalihkan peredaran darah pada tubuh bagian kanan.
Tongkat pualam tersebut dengan kerasnya berhasil menghantam tubuh bagian kirinya, dan Ciu Tong hanya merasakan tubuhnya tergetar keras tapi tongkatnya tetap meneruskan desakannya menyingkirkan jaringan emas lalu bersuit panjang dan mencelat ketengah udara menotok kening Jien Kong Fang dengan kedua jari tangannya.
Jien Kong Fang yang melihat serangan tongkatnya bagaikan menghantam sebuah kayu lapuk saja tanpa mengakibatkan musuhnya menderita luka, ia jadi berdiri termangu-mangu dibuatnya, selama hidup belum pernah terdengar olehnya ilmu sakti yang demikian aneh dan lihaynya.
Saat itulah kedua jari tangan Ciu Tong sudah menyambar dihadapan wajahnya, hal ini membuat hatinya jadi bergidik.
Maka tubuhnya dengan cepat menghindarkan diri kesamping.
Kendati ia sudah berkelit tak urung pipinya kena disambar juga oleh desiran serangan jari dari Ciu Tong sehingga terasa linu dan panas sekali.
Sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu sendiripun merasa amat terperanjat.
iapun tidak mengira kalau kepandaian silat dari Ciu Tong sedemikian hebatnya.
walau pun tenaga dalam dari tiga manusia genah empat manusia aneh boleh dikata seimbang tetapi di dalam keganasan jurus serangan boleh dikata ia paling lihay.
Dengan gusarnya ia membentak keras, jaringan emasnya kembali digetarkan dan mengurung tongkat ditangan kanan Ciu Tong.
Di dalam hati Ciu Tong sudah ada perhitungan, sehingga dengan dinginnya ia membentak keras sepasang jarinya rada merandek, lalu pergelangan tangannya ditekan kebawah melancarkan totokan ke arah jalan darah "Cian Cing Hiat"
Pada tubuh si kakek bongkok dari daerah Si Ih itu.
Jien Kong Fang yang baru saja berhasil menghindarkan diri dari serangan jarinya kembali kini Ciu Tong melancarkan satu serangan dahsyat, dan karena saat itu untuk menangkis tidak sempat lagi terpaksa tubuhnya sekali lagi mundur ke arah belakang.
Ciu Tong yang melihat dirinya berhasil menduduki di atas angin sama sekali tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk berganti napas, kembali kedua jarinya menekan kebawah dan berganti menotok jalan darah "Yau Hu Thoa Hiat"
Pada pinggang si kakek bongkok. Phoa Thian-cu yang melihat serangan dari Ciu Tong segera mendengus dingin.
"Hmm! Agaknya Ciu Tong sudah tidak mengingini nyawanya lagi,"
Pikirnya dihati.
Walaupun begitu hatinya rada girang karena perhatian dari si iblis sakti itu cuma ditujukan pada Jien Kong Fang seorang terhadap dirinya, sama sekali tidak ambil perduli.
Dan tangan kanannya segera digetarkan jaringan emasnya kembali mengurung kebawah dan menggencet tongkat ditangan kanan Ciu Tong.
Si kakek bongkok dari daerah Si Ih ini ketika melihat Ciu Tong sudah kena didesak dan berada dalam keadaan berbahaya alisnya dikerutkan rapat-rapat tongkat pualamnya dengan disertai tenaga dalam penuh dengan dahsyatnya menghantam ke atas batok kepala musuhnya.
Terhadap tongkat serta lengan kanannya yang berhasil kena dijirat oleh jaringan emas dari Phoa Thian-cu ini si iblis tua dari lautan Timur sama sekali tidak ambil perduli dan hanya kedua jari tangan kirinya masih tetap tiada hentinya mengancam jalan darah "Yau Hu Hiat"
Pada tubuh Jien Kong Fang Jien Kong Fang jadi amat terperanjat ia tidak menyangka kalau Ciu Tong sama sekali tidak memperdulikan nyawanya, Kendati begitu ia masih inginkan juga nyawanya sendiri.
maka tubuhnya dengan cepat berkelebat kesamping.
Darah segar segera memancar keluar memenuhi seluruh angkasa, pada saat itulah lengan kanan dari Ciu Tong berhasil dihancurkan oleh jaringan Phoa Thian-cu di samping itu Jien Kong Fang pun kena ditotok rubuh oleh serangan dari Ciu Tong.
Dengan cepat Ciu Tong mencekal tongkatnya pada tangan kiri kemudian sambil mengempit tubuh Koan Ing ia melarikan diri keluar dari lembah tersebut.
Sijaring emas sipenguasa langit Phoa Thian-cu sama sekali tidak mengira kalau Ciu Tong suka mengorbankan tangannya untuk menolong jiwa Koan Ing.
hal ini kontan saja membuat ia jadi berdiri termangu-mangu disana dan lupa untuk mengejar diri Ciu Tong yang sedang melarikan diri.
Yuan Si Tootiang sendiripun tertegun dibuatnya, dia sama sekali tidak menyangka Peristiwa bisa berubah jadi demikian, dari merekapun tidak pernah menyangka kalau Ciu Tong masih memiliki ilmu "Menumbuhkan kembali lengan yang telah terputus"
Hatinya terasa amat murung dan kecewa, ia tidak mengira kalau dirinya sudah kena tertipu oleh siasat Ciu Tong, Ciu Tong yang membimbing Koan Ing melarikan diri dari mulut lembah tersebut dengan gerakkan yang amat cepat berlari melingkari dua buah bukit lalu berkelebat ke dalam sebuah gua dan meletakkan diri pemuda tersebut ke atas tanah.
Setelah itu ia baru mengambil keluar sebutir pil untuk dijejalkan ke dalam mulutnya dan duduk bersemedi, Koan Ing yang melihat Ciu Tong suka menolong dirinya dalam hati merasa amat keheranan, dengan termangu-mangu dia memandang diri Ciu Tong yang pada saat ini lengan kanannya sudah mulai tumbuh kembali dengan perlahanlahan.
Dan diapun menarik napas panjang-panjang kemudian ikut pula duduk bersila untuk mengatur pernapasan, ia bermaksud untuk menyembuhkan luka dalamnya, sesaat Ciu Tong pun lagi mengobati lukanya.
Entah lewat beberapa saat lamanya terdengar Ciu Tong mendengus dengan amat dinginnya.
Koan Ing pun dengan perlahan membuka matanya, saat itulah ia telah menemukan lengan kanan dari Ciu Tong sudah tumbuh kembali seperti sediakala.
Dengan perasaan amat terperanjat, pemuda itu memandang ke arah si orang tua tersebut, hatinya benarbenar merasa amat kagum atas kelihayan ilmu kepandaiannya.
"Toocu, terima kasih atas budi pertolonganmu!"
Katanya kemudian sambil bangun berdiri dan menjura.
"Koan Ing!"
Kata Ciu Tong dengan suara yang amat dingin.
"Kau tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku, selamanya aku tidak pernah bekerja untuk orang lain tanpa ada tujuan tertentu. Demikian pula de ngan perbuatanku kali ini yang telah turun tangan menolong dirimu. Kau harus tahu kesemuanya aku lakukan dikarenakan kereta berdarah tersebut!"
Koan Ing yang mendengar Ciu Tong berkata dengan begitu terus terang, ia tersenyum.
"Walaupun apa yang kau inginkan, aku tidak ingin tahu! Dan aku harus mengucapkan terima kasihku atas pertolonganmu itu!"
Katanya perlahan.
"Haaaa.... haaa.... buat apa kau melakukan hal yang sama sekali tak berguna ini?"
Seru Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak.
"Seharusnya kau dengarkan dulu perkataanku kemudian baru ucapkan terima kasihmu. Aku rasa sampai waktu itu kau sama sekali tidak akan mengucapkan terima kasih kepadaku!"
Dia berhenti sebentar kemudian tambahnya lagi.
"Aku tahu kau tentunya sudah mendapatkan kepandaian silat aliran Hiatho-pay, kini aku maui ilmu kepandaian tersebut!"
Koan Ing tersenyum tawar, dia merasa Ciu Tong si iblis tua dari Lautan Timur ini seharusnya patut dikasihani, betapa gagah dan kerennya sewaktu ia memasuki daerah Tionggoan untuk pertama kalinya, sedang kini....
dia sudah kehilangan putera kesayangannya bahkan apapun tak diperolehnya, Berpikir akan hal itu perlahan ia memejamkan matanya rapat-rapat, beberapa saat kemudian baru katanya;
"Sesaat Si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong menemui ajalnya, ia pernah menurunkan enam ribu katanya kepadaku, ia bilang kata-kata itulah inti sari dari seluruh kepandaian silat aliran Hiat-ho-pay, baiklah sekarang juga akan aku hapalkan buat dirri Toocu!"
Ciu Tong yang mendengar ia mengabulkan permintaannya dengan begitu mudah hatinya rada melengak, semula ia menduga kalau pemuda itu tentu tidak bakal mau, siapa tahu....
dan siapa sangka keadaan jauh berada diluar duaannya.
"Hmm! Kiranya kaupun bukan Orang yang tak mengenal budi,"
Dengusnya kemudian.
Koan Ing cuma tertawa tawar saja, ia tidak suka banyak keributan dengan dirinya.
Tanpa memperdulikan lagi si orang tua itu, ia sudah mulai pusatkan pikirannya untuk menghafalkan keenam ribu kata tersebut.
Usaha Ciu Tong yang dilakukan selama ini tidak lebih hanya dikarenakan ingin memperoleh kepandaian silat aliran Hiat-hopay kini setelah mendapatkannya sudah tentu dia tak berani berajal.
Maka seluruh perhatiannya dipusatkan pada satu arah dan mendengarkan semua kata-kata yang diucapkan oleh Koan Ing itu, semakin didengar ia merasa semakin girang, karena bukan saja ilmu silat, bahkan ilmu pengobatanpun sudah didapatkan olehnya pada saat ini.
Dia merasa keenam ribu kata-kata itu benar-benar amat dahsyat dan bisa membuat kepandaian silat seseorang yang mendapatkan kemajuan yang berlipat ganda, semakin didengar hatinya semakin girang sehingga hampir-hampir saja ia meloncat dan menari-nari.
Begitu Koan ing selesai membaca kata yang terakhir dari keenam ribu kata tersebut kembali ia mulai menghafal.
Mendadak Ciu Tong merasa hatinya berdesir.
hatinya mulai menjadi tenang kembali Walaupun keenam ribu kata itu tidak banyak jumlahnya tetapi tidak mungkin bisa ia hapalkan di dalam sekejap mata.
Dan kini Koan Ing menghapalkan untuk yang ketiga kalinya, ia merasa tiga kali sudah cukup bagi Ciu Tong untuk mengingatnya Siapa tahu baru saja dia menyelesaikan pembacaannya, terasalah segulung angin serangan menerjang datang, tahu
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ tahu jalan darah "Cian Cing Hiat"nya sudah kena dicekal, perlahan-lahan ia membuka matanya kembali Aaaakh....! kiranya perbuatan dari Ciu Tong, lalu apakah maksudnya? "Koan Ing"
Terdengar Ciu Tong berseru sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Sejak tadi aku sudah memberi tahu kepadamu jangan sekali-kali menolong diriku, karena kau itu adalah anak murid dari Thian-yu-pay dan dengan diriku sama sekali tak ada sangkut paut apapun, sebagai perkataanku yang terakhir aku ingin memberi nasehat kepadamu, lebih baik lain kali jikalau jadi orang lagi janganlah berbuat demikian gegabah."
Koan Ing hanya bisa tertawa tawar saja dengan perlahan dia memejamkan matanya kembali.
"Hmmm! Kau jangan mengira aku tak tega untuk membinasakan dirimu,"
Ujar Ciu Tong lagi dengan mata berkilat.
"Saat ini di kolong langit cuma kita berdua saja yang mengetahui ilmu silat aliran Hiat-ho-pay, karena itu diantara kita harus ada seorarg yang mati, dan orang itu bukan lain adalah kau!"
Selesai berkata telapak kirinya dengan dahsyatnya dihantamkan ke atas batok kepala pemuda itu, Dengan gusarnya Koan Ing membentak keras, tubuhnya tiba-tiba berputar ke samping dengan menggUnakan ilmu "Ih Cing Hoat"
Serta "Boe Lan Sinkang"
Tahu-tahu tubuhnya sudah meleset ke samping sedang cekalan Ciu Tong pada jalan darah "Cian Cing Hiat"
Itupun telah terlepas. Hal ini benar-benar membuat hatinya terasa berdesir, karena dia dapat melihat saat ini Koan Ing telah berdiri disisi tubuhnya
Jilid 20
"KOAN ING!"
Kata Ciu Tong dengan dingin sambil kerutkan dahi.
"Mungkin inilah ilmu Boe Lan Sinkang yang kau andalkan karena kelihayannya bukan? hmm! cuma sayang kau sudah menderita luka yang amat parah kendati kau telah berhasil menghindarkan diri dari serangan yang pertama, tapi belum tentu bisa menyingkir dari seranganku yang kedua!"
Sehabis berkata ia tertawa dingin tiada hentinya. Semakin bersabar Koan Ing merasa hatinya semakin kheki bercampur marah, akhirnya tak tertahan lagi ia berteriak.
"Walaupun kau berhasil membinasakan diriku lalu apa gunanya? Kini putramu sudah mati sedang kaupun sudah terdesak sehingga menelan racun. sekalipun kau berhasil mempelajari ilmu silat aliran Hiat Hoo Bun pun tidak ada gunanya!"
"Oouw.... kiranya kau tidak bermaksud sungguh-sungguh untuk mewariskan ilmu silat aliran Hiat Hoo Bun itu kepadaku?"
Kata Ciu Tong sambil tertawa sinis dan diapun mendesak satu langkah kembali ke depan.
"Jika ditinjau dan nada ucapanmu agaknya kau lagi menaruh rasa kasihan kepadaku ya?"
Kembali ia maju satu langkah ke depan, suara tertawa dingin tiada hentinya bergema memenuhi angkasa.
"Sebenarnya aku mengira kau bukanlah manusia yang tidak kenal budi,"
Ujarnya lagi.
"Tetapi sekarang pandanganku telah berubah, kalau memangnya kau menaruh kasihan kepadaku maka sekarang juga aku akan membinasakan dirimu!"
Koan Ing tetap berdiri tegak.
hanya dengan perlahan-lahan dia mulai melepaskan busur peraknya.
Ciu Tong pun menghentikan langkahnya, mendadak ia merasa saat inilah merupakan suatu kesempatan yang amat bagus untuk membereskan nyawa Koan Ing, karena bilamana kekuatan tubuh pemuda tersebut telah pulih kembali, maka bermimpi pun jangan harap bisa membunuh dia orang.
Kiranya saat itu bukannya ia yang bakal berhasil membunuh pemuda tersebut, justru kemungkinan ada sebaliknya mungkin Koan Ing yang akan turun tangan terhadap dirinya.
Begitu ingatan tersebut berkelebat di dalam benak si iblis sakti dari Lautan Timur ini.
tubuhnya segera mencelat ketengah udara dan menubruk ke arah musuhnya.
Sepasang telapak tangan dengan disertai sepenuh tenaga didorongkan ke depan sejajar dada menghantam tubuh sang pemuda.
Koan Ing pada saat ini masih menderita luka yang amat parah, baaimana mangkin ia dapat menerima datangnya serangan tersebut?
Ia tidak sempat lagi mencabut keluar anak panahnya, maka dengan menggunakan busur petak ia membabat ke arah depan sedang tubuhnya menyingkir ke sebelah kiri.
Namun pada saat yang bertepatan juga terasalah segulung angin pukulan yang maha dahsyat serta menyesakkan pernapasan telah menekan datang, sekalipun ia bermaksud untuk mengindarkan dirinya, tapi apa daya tenaganya tidak memadahi.
"Braaak....!"
Ditengah suara bentrokan yang amat keras tubuh Koan Ing kena dilempar ke arah samping.
Pemuda itu segera merasakan darah bergolak dengan amat kerasnya di dalam dada, tak kuasa lagi ia muntahkan darah segar dan kembali rubuh di atas tanah.
Dengan menggunakan sepasang tangannya ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menegakkan badannya kembali, di hadapannya terasalah sesosok bayangan manusia yang amat buram dan kabur berjalan semakin mendekati ke arahnya.
"Heee.... heee.... Koan Ing."
Terdengar suara tertawa dingin dari Ciu Tong bergema ke dalam telinganya.
"Kau jangan salahkan kepadaku akan turun tangan kejam, siapa yang suruh kau orang secara sukarela menurunkan ilmu silat aliran Hiat-ho-pay itu kepadaku? Selama ini aku selalu mengandung maksud untuk membinasakan dirimu, tetapi kali ini kau sendiri yang menghantarkan nyawamu!"
Ooo)*(ooO Bab 49 PERLAHAN-LAHAN Koan Ing memejamkan matanya, di dalam benaknya kembali terlintas berbagai ingatan yang sangat aneh, Ciu Tong menolong dirinya dan ia menurunkan kepandaian silat aliran Hiat-ho-pay kepadanya tetapi kenapa sekarang si iblis sakti dari lautan Timur ini hendak membinasakan dirinya?
Sungguh aneh sekali!
Kembali selangkah demi selangkah Ciu Tong mendesak ke depan, senyuman dingin yang memperlihatkan kebanggaannya tiada hentinya terlintas pada ujung bibir, Pada Saat yang kritis itulah tiba-tiba....
"Ciu Tong, tahan!"
Bentak seseorang dengan amat dinginnya dari balik gua.
Ciu Tong rada melengak, dengan perlahan ia menoleh ke belakang.
tampaklah seorang perempuan berusia pertengahan yang sama sekali tidak dikenal telah munculkan dirinya di dalam gua, bahkan pada saat ini sedang memandang ke arahnya dengan suatu senyuman yang amat tawar.
Koan Ing pun dengan cepat menoleh ke arah perempuan tersebut, tetapi sebentar kemudian ia telah mengenalkan kembali.
Ia bukan lain adalah Sian-thian-kauwcu Song Ing adanya!
Melihat munculnya perempuan tersebut, pemuda itu baru bisa menghembuskan napas lega, perlahan-lahan ia mulai pejamkaa matanya.
Song Ing pun dengan amat keren dan berwibawa selangkah demi selangkah berjalan mendekati diri Ciu Tong.
"Haaa.... haaa.... kau perempuan sungguh bernyali, kendati sudah tahu akulah Ciu Tong kenapa masih memaksa juga untuk berjalan masuk!"
Teriak si iblis dari lautan Timur itu sambil tetawa terbahak-bahak.
"Hm! Beranikah kau orang menerima tiga buah serangan pedangku....?"
Tantang Song Ing sambil tertawa sombong.
"Haa.... haa.... tiga jurus serangan pedang? Kau kira dengan mengandalkan dirimu sudah begitu berani menyuruh aku berhenti dan menerima tiga buah seranganmu! haa.... haa.... aku mau lihat, apa kau memang patut dinamakan perempuan tak tahu diri!"
Seru Ciu Tong menghina.
Siapa sangka baru saja dia menyelesaikan kata-katanya Song Ing telah mencabut keluar sebilah pedang dari sarungnya.
Cahaya perak berkelebat menyilaukan mata diantara suara dengungan yang amat keras pedangnya dengan kecepatan tinggi telah mengancam kening dari si iblis tua tersebut.
Begitu melihat datangnya serangan tersebut Ciu Tong merasa hatinya berdesir.
ia bukan merasa terkejut karena kedabsjatan tenaga dalam yang dimiliki Song Ing.
justru karena dia merasa amat kenal dengan jurus pedang yang digunakannya itu bahkan terlalu mengenalnya.
Bukankah jurus serangan tadi telah menggunakan jurus "Ci Cie Thian Yang"
Atau mengukur ujung langit dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam"?
Ia sama sekali tidak menyangka kalau perempuan di hadapannya ini ternyata masih ada hubungan dengan partai Thian-yu-pay, tetapi bukankah dari aliran Thian-yu Bun cuma tinggal Koan Ing seorang?
Bilamana dikatakan dia bukan aaggota Thian-yu-pay, lalu secara bagaimana perempuan itu bisa memahami pula jurus ilmu pedang 'Thian-yu Kiam Hoat"
Apa mungkin perempuan ini adalah cianpwee dari Koan Ing yang ia sendiripun tidak mengenalnya?
Maka dengan perlahan Ciu Tong menarik napas panjang?, tubuhnya menyingkir ke sebelah kanan, bersamaan itu pula iapun hendak menggunakan jurus serangan dari "Thian-yu Kiam Hoat"
Pula untuk menghadapi perempuan tersebut.
Namun baru saja ia berkelebat ke samping pedang panjang dari Song Ing telah menghadang di depan matanya pula.
Hal ini membuat hatinya terasa bergetar amat keras, ia merasa terkejut bercampur murka karena dirinya telah menemukan kalau separuh jurus selanjutnya bukanlah jurus serangan dari Thian-yu Kiam Hoat lagi, bahkan terhadap serangan itupun ia sangat mengenalnya.
Bukankah jurus serangan ini berasal dari 'ilmu sakti aliran pulau Ciat Ih To?
Tidak disangka jurus serangan tersebut bisa demikian hapalnya ditangan perempuan tersebut.
Maka tubuhnya buru-buru meloncat mundur beberapa langkah ke belakang sambil bentaknya dengan keras.
"Dari mana kau peroleh ilmu silat....?"
Belum habis Ciu Tong berteriak, jurus serangan dari Song Ing telah berubah lagi.
pedangnya mencukil ke atas dan membentuk berpuluh-puluh bayangan yang menyilaukan mata bersama-sama menerjang ke depan.
Inilah jurus "Tan Kiam Cing Thian"
Atau pedang tunggal menculik langit dari ilmu pedang Thian San Kiam Hoat.
Ciu Tong benar-benar merasa amat terperanjat, semula ia mengira untuk menghadapi serangan yang menggunakan jurus perguruannya hanya sekali menyingkir saja telah bisa menghindari, siapa sangka Song Ing sama sekali tidak menggunakan jurus yang dipikirkannya untuk menghantam dirinya.
Semula ia bermaksud untuk menanyakan dari siapakah Song Ing berhasil mempelajari jurus serangan itu, siapa sangka karena pikirannya bercabang maka jurus pedang dari perempuan tersebutpun telah berubah laksana sambaran kilat membabat ke arah lehernya.
Ciu Tong mendengus dingin, telapak kanannya menghantam ke depan sedang tubuhnya menyingkir ke kiri....
"Sreeet....!"
Tahu-tahu pakaiannya sudah kena dibabat robek oleh pedang Song Ing, hanya kurang beberapa coen saja lehernya kena dibabat putus, walaupun begitu hawa berdesir telah memenuhi seluruh tubuhnya.
Tenaga dalam yang dimiliki Song Ing tidak berada di bawah Ciu Tong sekalian ditambah pula ia mempelajari ilmu silat dari empat penjuru, hal ini membuat ia semakin lihay.
Walaupun Koan Ing telah mendapatkan kitab pusaka "Boe Shia Koei Mie"
Namun kesempunaan serta kemujijatannya tak berhasil ia keluarkan, hal itu cuma menambah pengetehuan serta daya tariknya terhadap ilmu saja.
Sebaliknya terhadap diri Song Ing yang telah memiliki hasil latihan selama puluhan tahun, sudah tentu kelihayannya luar biasa sekali.
Tadi Song Ing berjanji hanya bergebrak sebanyak tiga jurus saja dengan diri Ciu Tong, kini pedangnya berhasil merobek pakaian dari si iblis tua tersebut, sudah tentu dia tidak suka melepaskan tangan begitu saja, kembali tubuhnya laksana sambaran kilat dengan cepat mendesak ke depan lebih lanjut.
Ciu Tong yang namanya berada di dalam urutan empat manusia aneh kini harus menderita kekalahan yang sedemikian parahnya, sudah tentu dia tidak akan terima dengan begitu saja.
Maka dengan gusarnya ia membentak keras tubuhnyapun meloncat kesamping.
lalu dengan separuh badannya yang sebelah kiri menerima datangnya serangan pedang Song Ing.
Dan tangan kanannya dengan cepat melancarkan cengkeraman juga ke depan, ia bermaksud bilamana perempuan itu menusukkan pedangnya kebadannya sebelah kiri maka tangan kanannya segera akan membinasakan musuhnya.
Siapa sangka tempo hari Song Ing pernah mencuri pergi kepulau Ciat Ih To untuk menonton dia berlatih ilmu silat, maka terhadap kepandaian silat yang dimiliki Ciu Tong ia sudah mengenalnya bagaikan mengenal jari tangannya sendiri, apa maksud dari perbuatan si iblis sakti pada saat ini pun sudah tentu tidak bakal dapat mengelabui dirinya.
Maka pedang Song Ing dengan cepat disentakkan ke atas dan langsung menyerang batok kepala dari Ciu Tong, Melihat batok kepalanya yang diserang kembali Ciu Tong merasa amat terperanjat selama beberapa tahun ini ia selalu memikirkan cara untuk memecahkan kekurangan dari ilmu mayat membusuknya, dimana ia berhasil memindahkan aliran darah pada tubuh sebelah tetapi selama ini tak berhasil mengerahkan aliran darah itu pada bagian kepalanya.
Kini serangan Song Ing justru mengancam kepalanya, hal ini bagaimana mungkin tidak membuat hatinya jadi amat kaget!
Ciu Tong menarik napas panjang-panjang.
ia tidak menyangka kalau Song Ing berhasil mendahului dirinya dan menyerang titik kelemahan yang selama ini selalu ia rahasiakan itu.
Kembali tubuhnya terdesak dan dengan hati kebat-kebit ia mengundurkan dirinya ke belakang.
Song Ing yang melihat serangannya berhasil mendesak pihak musuhnya, sudah tentu ia tidak suka membuang kesempatan lagi dan jurus serangannya laksana air bah dengan dahsyatnya menggulung dari atas kebawah tiada hentinya, cahaya pedang pun berkilauan memenuhi angkasa.
"Braaak....!"
Pedang dan telapak tangan kembali bentrok menjadi satu, terdengarlah Ciu Tong mendengus berat dan mencelat mundur ke arah belakang.
Kali ini Song Ing tidak mengejar lagi dan dengan pandangan dingin ia memperhatikan diri si iblis sakti jari Lautan Timur ini.
Dengan gunakan tangan sebelah Ciu Tong mencekal lengan kanannya yang mengucurkan darah dengan deras dan dengan pandangan gusar ia melototi diri Song Ing.
Selama ini belum terpikirkan olehnya kalau ia bakal terluka ditangan seorang perempuan yang sama sekali tidak dikenal namanya!
Maka dengan gusarnya ia mendengus.
"Hmmm! siapakah nama besarmu? tanyanya dengan sinar mata berkilat2.
"Akulah Sian-thian-kauwcu!"
Kembali terdengar Ciu Tong menarik napas panjangpanjang ia tidak mengira kalau nama Sian-thian-kauwcu yang pernah didengarnya ditengah sungai Tiang Kang sewaktu untuk pertama kalinya terjun ke dalam dunia kangouw bukan lain adalah perempuan yang kini berada dihadapan matanya ini.
Dan dalam hati ia merasa amat terperanjat karena perempuan ini sangat memahami benar ilmu silat aliran Ciat Ih Too-nya bukan begitu saja bahkan ilmu sakti dari Thian-yupay serta seluruh partay di kolong langit manapun dapat ia pahami dan menggunakannya dengan begitu hapal, hal ini benar-benar sukar baginya untuk percaya.
"Heee.... heee.... ini hari aku berhasil kau lukai dalam tiga jurus, hal ini sudah tentu tidak menyalahkan dirimu, tetapi kaupun memahami ilmu silat dari aliran Ciat Ih Too kami, hal ini pasti akan aku selidiki sampai jelas!"
Katanya dingin. Selesai berkata ia putar badan dan berlalu dari sana, Menanti bayangan dari Ciu Tong telah lenyap dari pandangan mata Song Ing baru putar badannya Ke arah pemuda tersebut.
"Subo!"
Terdengar Koan Ing berseru sambil membuka matanya kembali.
Agaknya Song Ing sama sekali tak menyangka kalau Koan Ing bisa memanggil dirinya dengan sebutan itu, maka tubuhnya kelihatan tergetar amat keras diikuti tubuhnya sedikit bergerak tahu-tahu telapak kanannya sudah ditempelkan di atas punggung pemuda itu.
"Kau jangan banyak bicara. pusatkanlah seluruh perhatianmu karena aku mau bantu kau untuk sembuhkan lukamu itu."
Katanya dengan halus. Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau Song Ing suka menolong dirinya, ia jadi tertegun dan lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Kini musuh ada diempat penjuru, salah sedikit saja bakal mendatangkan bencana buat diri sendiri, bilamana kau tidak berusaha untuk sembuhkan lukamu lagi lalu siapakah yang bakal melindungi dirimu? Ajoh cepat pusatkan seluruh perhatian!"
Seru Song Ing dengan amat cemas.
Koan Ing merasa hatinya tergetar amat keras, buru-buru ia pejamkara matanya dan pusatkan seluruh pikiran Terasalah segulung hawa panas dengan cepat mengalir masuk melalui punggungnya untuk kemudian mengalir ke seluruh tubuh, begitu hatinya tenang maka pikiranpun telah terpusatkan untuk menyembuhkan luka.
Entah lewat beberapa saat lamanya menanti ia merasa lukanya sudah sembuh baru dengan perlahan pemuda itu membuka matanya kembali.
Saat ini cuaca telah menunjukkan malam hari.
Song Ing yang ada dibelakangnya dengan amat kelelahan telah menarik kembali tangannya dan tersenyum.
"Koan Ing ucapkan terjma kasih atas bantuan dari Subo!"
Serunya kemudian dengan menjatuhkan diri berlutut dihadapan perempuan tersebut. Song Ing pun tersenyum.
"Aku tidak menyangka kalau tenaga dalammu sudah berhasilkan latihan sedemikian tingginya, sekali pusatkan pikiran harus memakan waktu selama tiga hari tiga malam?"
Koan Ing yang mendengar perkataan itu jadi tertegun juga dibuatnya ia sendiripun tidak tahu bagaimana mungkin dirinya telah bersemedi selama tiga hari tiga malam.
hal ini bagi dirinya masih tidak mengapa'tetapi telah melelahkan diri Song Ing juga.
Selagi dalam hati ia merasa amat terharu itulah tampaklah sambil tersenyum Song Ing telah mengulapkan tangannya.
"Kau tidak usah banyak berbicara lagi,"
Katanya.
"Kini di tempat luaran sudah kedatangan musuh tangguh, sedang anak buah dari perkumpulan akupun telah setengah harian lamanya berjaga2, kita harus cepat2 keluar untuk memeriksa!"
Dalam hati kembali Koan Ing merasa amat terkejut, siapa yang telah datang?
Maka tanpa banyak bicara lagi ia mengikuti juga diri Song Ing berjalan keluar.
Baru saja Song Ing berjalan keluar dari mulut gua, dari luar gua telah terdengar suara bentakan yang amat keras;
"Kauwcu tiba!"
Seketika itu juga suasana diluar gua amat sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, bintang2 beterbangan memenuhi angkasa, sedang angin malam bertiup sepoi-sepoi.
Dengan tenangnya Song Ing menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, waktu itulah tampak dua orang budak berbaju putih dengan amat ringannya telah melayang turun dari balik batu dan berdiri disisi Song Ing.
Sinar mata Koan Ing berkilat, diapun menyapu sekejab ke sekeliling tempat itu tetapi sesuatu apapun tak terlihat olehnya.
Mendadak....
"Bo-liang-so-hud!"
Suara pujian bergema memenuhi angkasa dan dari balik pohon muncullah seorang toosu berjubah hijau yang bukan lain adalah Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tongpay.
Dibelakangnya mengikuti seorang kakek berkerudung serta seorang kakek bongkok, mereka bukan lain adalah sijaring emas penguasa yangit Phoa Thian-cu serta Si Ih Mo Tuo dua orang.
Dan dengan munculnya ketiga orang itu maka anak buah dari perkumpulan Sian-thian-kauw-pun pada bermunculan dari balik batu-batu cadas di empat penjuru, dan terlihatlah busur pada terpentang siap-siap melepaskan anak panah ke arah mereka bertiga.
Yuan Si Tootiang yang melihat Koan Ing pun beruda disana agaknya merasa berada di luar dugaan.
"Hmm! Aku kira yang hadir cuma orang-orang dari perkumpulan Sian-thian-kauw saja, kiranya disinipun muncul diri Koan Ing"
Serunya sambil mendengus.
"Hmm.... apakah kalian bertiga ada maksud untuk mengadu kekuatan dengan perkumpulan Sian-thian-kauw kami?"
Tanya Song Ing dingin.
"Haaa.... haaa.... apa itu perkumpulan Sian-thian-kauw?"
Teriak Phoa Thian-cu itu Kokcu dari lembah Chiet Han Kok sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kau berani menantang kami bertiga untuk bergebrak? Tetapi bilamana ini hari kau suka menyerahkan Koan Ing kepada kami maka urusan ini akan aku anggap selesai, tetapi kalau tidak.... heee.... cukup aku kirim perintah maka perkumpulan Sian-thian-kauw akan ludas dan binasa!"
Song Ing yang mendengar perkataan dari Phoa Thian-cu itu sama sekali tidak menjadi gusar.
"Walaupun perkumpulan Sian-thian-kauw kami tak ada kekuatan apa-apa, tetapi dengan mengandalkan kekuatan kalian beberapa orang saja belum tentu bisa berbuat semaunya!"
"Haaa.... haaa.... aku kepingin sekali melihat kau orang hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi diriku!"
Teriak Phoa Thian-cu kembali sambil tertawa panjang.
Song Ing kerutkan dahi, perlahan-lahan ia menoleh dan menyapu sekejap disekeliiing tempat itu kemudian dengan perlahan mengangkat tangan kanannya ke atas.
Dan dari empat penjuru dengan cepatnya bermunculan berpuluh-puluh orang lelaki kekar yang pada mencekal busur ditangannya.
Di atas busur terpasanglah sebatarg anak panah.
berwarna hitam yang aneh sekali bentuknya, anak2 panah tersebut siapsiap dibidikkan ke depan.
Terdengar Song Ing kembali tertawa tawar.
"Kalian ingin pergipun sudah terlambat!"
Katanya dingin.
"Tentunya kalian sudah pernah mendengar nama anak panah "Hek Siauw Lieh Hwee Ciam"
Bukan?"
Phoa Thian-cu sekalian yang mendengar disebutnya anak panah berapi tersebut air mukanya segera pada berubah sangat hebat.
Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat, tak kuasa lagi dia memandang lebih tajam lagi terhadap anak panah berwarna hitam itu.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau anak panah berapi "Hek Siauw Lieh Hwee Ciam"
Yang dimiliki oleh "Hwee Khie Thaysu Lam Hoa Lieh bisa muncul di tempat ini.
Ia pernah dengar orang berkata kekuatan dari anak panah ini bisa memusnahkan tempat seluas sepuluh kaki persegi tanpa meninggalkan kehidupan apapun bilamana benar-benar anak panah tersebut dibidikkan maka jangan harap lagi Yuan Si Tootiang bertiga bisa loloskan diri.
"Sebenarnya aku hendak menggunakan anak panah itu untuk mencegah kalian memasuki gua ini, tapi kalian tidak tahu diri, terpaksa aku harus perlihatkan dulu kepada kalian!"
Kata Song Ing lagi dengan tanpa perubahan.
Yuan Si Totiang mendengus dingin, ia mengerling sekejap ke arah sibongkok dari daerah Si Ih.
Si Ih Mo Tuo menyahut, tiba-tiba ia bertepuk tangan tiga kali ke arah hutan, sebentar kemudian tampaklah seorang berbaju hitam be jalan mendatang sambil menyeret seorang gadis.
Koan Ing yang melihat munculnya gadis tesebut jadi amat terperanjat, karena perempuan itu bukan lain adalah Cha Ing Ing adanya, Cha Ing Ing yang melihat Koan Ing pun ada disana tak kuasa lagi sambil mengucurkan air mata berteriak keras!
"Engkoh Ing!"
Walaupun beberapa hari ini dirinya tidak mendapat perlakuan yang buruk dari Yuan Si Tootiang yang karena ia tahu kalau gadis itu adalah puteri kesayangan dari Cha Can Hong tetapi gadis yang selalu dimanja ini bagaimana mungkin kuat menahan kesabarannya?
"Heee....
heee....
walapun anak panah berapi "Hek Siauw Lieh Hwee Ciam"
Tersebut amat lihay dan menakutkan tetapi aku ada puteri dari Cha Can Hong ditanganku. Bilamana kalian ingin lepaskan anak panah ayo cepat lakukan, aku tidak bakal takut"
Seru Yuan Si Tootiang sambil kerutkan keningnya rapatrapat.
Koan Ing yang melihat Yuan Si Tootiang hendak menggunakan Cha Ing Ing sebagai tameng, tidak kuasa lagi memandang sekejap ke arah diri Song Ing.
Sinar mata Song Ing berkilat, ia tertawa tawar.
"Buat apa kau begitu cemas", katanya dingin.
"Aku cuma memberi tahu kalian kalau aku punya cara untuk menguasai diri kalian, tetapi saat ini aku tidak bermaksud untuk membinasakan kalian, hmmm! Buat apa kalian merasa begitu tegang!"
"Hmm! akupun ingin memberi tahu kepadamu akupun punya cara buat paksa kau tidak bisa berbuat seperti apa yang telah kau rencanakan"
Seru Yuan Si Tootiang pula sambil mendengus dingin.
Song Ing kerutkan alisnya rapat-rapat lantas berdiam diri tidak mengucapkan sepatah katapun.
Walaupun dia tidak berbicara tetapi Koan Ing yang berada disampingnya dapat mengetahui kalau saat ini perempuan itu benar-benar telah mencapai pada puncak kegusarannya.
"Yuan Si!"
Terdengar perempuan itu berseru setelah memandang dingin wajah toosu tua tersebut.
"Ada satu hari aku akan membinasakan dirimu ditanganku!"
Koan Ing yang mendengar perkataan tersebut segera merasakan hatinya rada berdesir, dia mengetahui kalau Song Ing mempunyai kebiasaan apa yang diucapkan pasti dilakukan.
Yuan Si Tootiang sendiripun merasa rada berdesir setelah mendengar perkataan itu dia sendiri juga merasa heran bagaimana mungkin dirinya bisa menaruh rasa bergidik terhadap perempuan yang sama sekali tidak diketahui namanya ini!
"Untuk sementara kita mundur dulu dari sini!"
Serunya dengan suara berat terhadap diri Phoa Thian-cu serta Si Ih Mo Tuo. Sebetulnya mereka bertiga merasa takut bilamana secara tiba-tiba anak panah berapi "Hek Siauw Lieh Hwee Ciam"
Dibidikkan ke arah mereka, Maka dengan pandangan yang amat dingin Song Ing memandang mereka mengundurkan diri dari sana, Cha Ing Ing sendiripun memandang ke arah Koan Ing dengan pandangan yang sayu, dia tahu pada saat dan keadaan seperti ini pemuda itu benar-benar tak mungkin bisa menolong dirinya, dan saat inilah ia mulai merasa menyesal atas kepergiannya yang tanpa pamit itu.
Song Ing sendiripun dengan termangu-mangu memperhatikan diri Cha Ing Ing dalam hati ia bermaksud untuk menolong dirinya tetapi sayang maksud ada tenaga kurang, dan dengan kepandaian silat yang dimiliki Yuan Si Tootiang sekalian hanya di dalam sekali kelebatan saja mereka dapat membinasakan dirinya, Pada ujung bibir Yuan Si Tootiang mulai tersungginglah satu senyuman bangga.
Mendadak dari tengah hutan berkumandang datang suara ringkikan kuda yang amat keras sekali disusul dengan berkumandangnya suara tertawa keras yang amat menyeramkan.
Koan Ing hanya merasakan hatinya berdesir kata-kata "Kereta berdarah!"
Yang siap-siap meluncur keluar dari bibirnya segera ditarik kembali, karena tiba-tiba....
"Braam....!"
Dengan disertai mengepulnya debu dan pasir yang beterbangan memenuhi argkasa tergema keluar dua buah suara jeritan ngeri disusul dengan mencelatnya dua sosok mayat yang melayang keangkasa.
Sinar mata Koan Ing berkilat, belum sempat dirinya mengambil sesuatu keputusan kereta berdarah tersebut ditengah suara tertawa yang amat menyeramkan telah menerjang masuk ketengah kalangan yang disusul suara desiran angin dari serangan cambuk yang menghajar tubuh Yuan Si Tootiang sekalian.
Melihat datangnya serangan tersebut Yuan Si Tootiang merasa nyalinya pecah, karena ia baru saja sembuh dari luka yang amat parah sudah tentu tidak berani menerima datangnya serangan yang begitu dahsyat dari orang dibalik kereta berdarah tersebut.
Tubuhnya terburu-buru mengundurkan diri dua langkah ke belakang, tapi Phoa Thian-cu yang ada disisinya segera membentak keras.
Jaringan emasnya digetarkan ke depan sehingga tampaklah cahaya keemas-emasan berkilauan melindungi seluruh tubuh si tosu tua dari Bu-tong-pay ini, sedang Si Ih Mo Tuo pun dengan dengusannya yang berat melancarkan satu serangan toya ke arah ujung cambuk.
Cambuk panjang itu dengan cepat meleset ke samping lalu membentuk gerakan busur ditengah udara.
"Plaaak!"
Dengan disertai suara bentrokan yang amat nyaring, seorang berbaju hitam yang menjaga diri Cha Ing Ing sudah kena dipukul mental dan bersamaan itu pula tubuh Cha Ing Ing sudah kena telibat dan ditarik masuk ke dalam kereta.
Tindakannya ini benar-benar berada diluar dugaan semua orang yang hadir di dalam kalangan dan tampaklah kereta berdarah itu dengan cepatnya sudah menerjang kembali ke arah diri Koan Ing.
Melihat tindakan dari orang yang berada di dalam kereta berdarah itu, Koan Ing jadi teramat gusar.
"Tong Phoa Pek! Cepat lepaskan kembali gadis itu!"
Bentaknya keras.
Ditengah suara suitannya yang amat nyaring, tubuhnya laksana seekor burung rajawali dengan cepatnya sudah menubruk ke arah kereta berdarah sedang sepasang telapaknya ber~sama-sama didorong ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat.
Suara tertawa seram bergema memenuhi angkasa, dari balik kereta berdarah itupun segera bergulung satu pukulan yang maha dahsyat menyambut datangnya serangan dari pemuda tersebut.
"Braaak!"
Kedua gulung hawa pukulan tersebut bentrok menjadi satu ditengah udara, dan tubuh Koan Ing segera terpukul getar sehingga mundur setengah tindak ke belakang, sedangkan kereta berdarah itu sendiri pun goncang amat keras.
Sekali lagi Koan Ing menutulkan ujung kakinya ke atas tanah dan menubruk kembali ke arah kereta berdarah tersebut.
Ditengah larinia kuda berwarna merah yang amat cepat, kereta berdarah tersebut telah berlari meninggalkan tempat itu.
Sehingga ditengah kalangan cuma tinggal debu serta pasir yang mengepul memenuhi seluruh angkasa.
Semua orang yang hadir ditengah kalangan itu dibuat terperanjat oleh perubahan yang secara mendadak ini, apalagi tenaga dalam Koan Ing yang demikian dahsyatnya itu seketika itu juga membuat semua orang jadi tertegun.
Yuan Si Tootiang sendiri sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam dari pemuda itu bisa pulih dengan demikian cepatnya, ditambah pula setelah mendengar sipemuda membentak tadi, dua orang yang ada di dalam kereta berdarah itu bukan lain adalah "Thian Yang Siauw Yu"
Tong Phoa Pek.
hatinya semakin terperanjat lagi.
Menanti Koan Ing serta kereta berdarah itu sudah pada berlalu.
Yuan Si Tootiang baru sadar kembali dari lamunannya, aku melihat Song Ing masih ada disana terutama anak panah berapi "Hek Siauw Liew Hwee Ciam"nya buru-buru mereka bertiga melayang pergi dari sana.
Pada saat ini Song Ing pun tak ada kekuatan untuk menghadapi mereka bertiga, karena itu melihat mereka meninggalkan tempat tersebut dia sama sekali tidak turun tangan mencegah.
Kita balik pada Koan Ing yang mengejar kereta berdarah itu, hanya di dalam sekejap saja sepuluh li sudah dilalui dengan cepatnya, sedang yang dilalui kereta berdarah itupun semakin lama semakin curam dan semakin berbahaya.
"Tong Phoa Pek!"
Bentaknya kemudian sembari mengejar dari belakang kereta berdarah tersebut.
"Bilamana kau menyebut dirimu sebagai orang nomor wahid dari seluruh kolong langit, kenapa tak berani menghentikan kereta untuk bergebrak melawan aku?"
Tong Phoa Pek yang berada di dalam kereta berdarah itu sama sekali tidak menggubris akan perkataannya, sebaliknya kereta tersebut masih tetap berlari dengan amat cepatnya menuju ke arah depan.
Hanya di dalam sekejap saja sampailah mereka di atas sebuah tebing yang amat curam dan terjal dan secara tibatiba kereta berdarah itu berhenti berlari.
Buru-buru Koan Ing enjotkan badannjta menghalangi di depan kereta berdarah tersebut.
Saat itulah tampak Tong Phoa Pek sambil mengempit tubuh Cha Ing Ing dan tangannya yang satu mencekal tali les kuda sedang memandang ke arahnya dengan pandangan sinis.
Koan Ing pun dengan pandangan yang amat sinis memperhatikan diri Tong Phoa Pek.
Empat mata bertemu jadi satu, tetapi tidak seorangpun yang mengucapkan sepatah kata.
"Nih aku kembalikan kepadamu!"
Seru Tong Phoa Pek, kemudian seielah berdiam beberapa saat lamanya.
Selesai berkata tangan kirinya diajunkan ke depan melemparkan tubuh Cha Ing Ing ke arah Koan Ing.
Melihat tindakan tersebut Koan Ing merasa hatinya terperanjat, dia tidak mengerti apa maksud dari perbuatan Tong Phoa Pek ini tetapi tak ada salahnya ia menerima gadis tersebut.
Maka tangannya dengan cepat menyambut datangnya tubuh Cha Ing Ing, kemudian menepuk bebas jalan darahnya yang tertotok.
Cha Ing Ing dengan erat mencekal ujung baju Koan Ing lalu bersembunyi dibalik tubuh pemuda itu untuk memandang ke arah Tong Phoa Pek dengan pandangan amat terperanjat.
Sebetulnya banyak perkataan yang hendak diucapkan olehnya terhadap sang pemuda tetapi melihat keadaan dan situasi yang demikian tegangnya untuk sesaat tak sepatah katapun yang berhasil diucapkan keluar.
Saat inilah dia baru dapat melihat majikan dari kereta berdarah yang selama ini bertindak sangat misterius itu, Mendadak Tong Phoa Pek mengajunkan kembali tangan kanannya, dan terlihatlah serentetan cahaya keemasan berkelebat ke arah depan, Dengan gesitnya Koan Ing menyambut datangnya cahaya keemasan yang bukan lain adalah pedang Kiem-hong-kiamnya itu, dan tak kuasa lagi hatinya rada melengak.
Bagaimana mungkin ini hari Tong Phoa Pek bisa bersikap lapang dada terhadap dirinya?
"Koan Ing!"
Terdengar Tong Phoa Pek menegur dengan suaranya yang amat dingin.
"Sudahlah, ini hari di tempat ini tak bakal ada orang lain yang mengganggu kita lagi aku dengar nasibmu sangat mujur, bukan saja tidak mati bahkan sebaliknya telah mendapatkan ilmu silat peninggalan Hiat-hopay oleh karena itu ini hari juga aku akan mengadakan pertempuran untuk menentukan siapa yang unggul lebih diantara kita!"
Selesai berkata dengan perlahan dia bertindak turun dari kereta berdarahnya.
Koan Ing yang melihat sikap dari perkataannya itu segera mengetahui kalau Tong Phoa Pek telah mengambil keputusan untuk mengadakan pertempuran sengit dengan dirinya.
Tak kuasa lagi alisnya dikerutkan rapat-rapat, dan dengan menggunakan tiga buah jari tangan kirinya dia mulai menekuk pedang kiem-hong-kiamnya sehingga berbentuk setengah busur.
"Hee.... hee.... bisa memperoleh pengajaran dari Thian Yang Siuw-su hal ini merupakan keberuntungan dari aku orang she-Koan"
Katanya sambil tersenyum. Sehabis berkata tangan kirinya dilepaskan.... dengan menimbulkan suara dengungan yang memekikkan telinga pedang kiem-hong-kiamnya memantul kembali menjadi lurus.
"Koan Ing!!!"
Seru Tong Phoa Pek sambil dengan perlahan bertindak turun dari kereta berdarah itu dan tertawa dingin.
"Kepandaian silatmu terlalu tinggi, dengan usiamu yang masih begitu muda ternyata bisa memiliki kepandaian yang begitu dahsyat, hal ini sangat berbahaya bagi kita orang-orang dari angkatan tua karena itu tak ada jalan lain lagi kecuali menghukum mati dirimu!"
"Engkoh Ing hati-hati1ah!"
Ujar Cha Ing Ing perlahan sambil melepaskan cekalannya pada ujung baju pemuda tersebut, Setelah itu dengan hati yang kebat-kebit setindak demi setindak ia mengundurkan dirinya ke belakang.
Koan Ing tersenyum sambil menoleh ke arah Tong Phoa Pek katanya.
"Siapa yang bakal menderita kalah belum bisa ditentukan, buat apa kau orang bicara terlalu besar!"
Selesai berkata tubuhnya mencelat ke atas, pedang kiemhong-kiamnya dengan menimbulkan suara desiran yang amat memekakkan telinga segera membentuk gerakan satu lingkaran busur yang amat besar mengurung seluruh tubuh Tong Phoa Pek.
Inilah jurus "Noe Ci Sin Kiam"
Dari ilmu pedang "Thian-yu Khie Kiam".
Tong Phoa Pek-pun menggetarkan cambuknya ketengah udara, dan seketika itu juga seluruh angkasa telah dipenuhi dengan desiran angin tajam yang menyesakkan napas.
Mendadak Koan Ing berteriak keras, tubuhnya melayang ke atas, sedang pedang kiem-hong-kiamnya dengan gerakan jurus "Ban Sin Peng To"
Menekan ke arah bawah, menggencet ujung cambuk dari Tong Phoa Pek.
Air muka Tong Phoa Pek segera berubah hebat, cambuknya kembali ditegangkan laksana kawat baja yang amat kuat.
Cahaya keemas-emasan berkilat memenuhi angkasa.
yang membuat cambuk panjang itu seketika itu juga terbabat putus menjadi dua bagian.
Kembali Koan Ing membentak keras.
pedang kiem-hongkiamnya segera mengejar ke arah tubuh Thian Yang Siauw Su ini.
Tong Phoa Pek meraung keras, cambuknya segera disambitkan ke arah pemuda tersebut sedang tubuhnya sendiri mencelat ke dalam kereta berdarah.
"Criiiing....!"
Tahu-tahu sewaktu memutar tubuhnya kembali ditangannya telah bertambah sebilah pedang berwarna hijau yang memancarkan cahaya tajam.
Dan dengan kerennya dia berdiri di atas kereta berdarah itu sambil melintangkan pedangnya di depan dada, dia tahu untuk memperoleh kemenangan dengan mengandalkan cambuk tidaklah mungkin akan berhasil, apa lagi tenaga dalam dari Koan Ing telah memperoleh kemajuan begetu pesat.
karena itu akhirnya ia mengambil keputusan untuk menggunakan pedang saja untuk menghadapi pemuda tersebut.
Koan Ing yang tadi berhasil menangkis jatuh datangnya sambitan cambuk dari Tong Phoa Pek sewaktu melihat diapun mencabut keluar pedangnya hatinya jadi rada berdesir, diapun buru-buru melintangkan pedangnya di depan dada.
Dengan gusarnya Tong Phoa Pek membentak keras, tubuhnyapun segera melayang ke atas dan menubruk ke depan, pedangnya segera memainkan ilmu pedang "Suo Sim Kiam Hoat"
Yang merupakan ilmu pedang dari si iblis nomor satu dari Bu-lim, sijagoan penghancur sukma Pek Lie Si Beng.
Begitu pedang tersebut menyambar keluar segera terlihatlah cahaya pedang yang menyilaukan mata bermunculan dari ujung pedang mengurung beberapa depa di sekeliling tempat itu.
Koan Ing merasa amat terperanjat, ilmu pedang "Suo Sim Cap Pwee Kiam"
Inipun ia pernah mempelajarinya, kini Pong Phoa Pek hendak mengeluarkannya untuk menghadapi dia orang hal ini sudah tentu tidak membuat dirinya jadi jeri.
Maka ditengah suara bentakannya yang amat keras diapun mengeluarkan jurus-jurus serangan mengikuti iimu "Suo Sim Cap Pwee Kiam"
Tersebut.
Seketika itu juga seluruh kalangan dipenuhi dengan suara desiran angin serangan yang mengerikan.
Cha Ing Ing yang melihat mereka berdua saling serang menyerang dengan dahsyatnya, saking terperanjat tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.
Dan dengan kedahsyatan dari tenaga dalam yang mereka berdua memiliki mungkin pada saat ini sukar uniuk mennyarikan tandingannya.
Jurus-jurus serangan Tong Phoa Pek semakin lama semakin gencar dan semakin gesit, tetapi tiba-tiba ia menarik kembali pedangnya lalu menempelkan pada pedang ditangan Koan Ing.
Pedang Kiem-hong-kiam yang berada ditangan Koan Ing begitu kena ditempel oleh pedang pihak lawan, hatinya jadi rada terperanjat dibuatnya, secara samar-samar dia merasa dari balik pedangnya tergulunglah satu tenaga tekanan yang menggetarkan seluruh isi hatinya, dia orang yang berusaha untuk melepaskan diripun tak sanggup.
Dalam hati ia lantas menebak kalau jurus serangan ini tentulah sudah menggunakan ilmu pepang yang diunggulkan oleh "Bu-lim Kiam Sin"
Yong Ci Teng, maka sinar matanya kembali berkilat2 dan dia tahu bilamana dirinya tidak berusaha untuk melepaskan diri, maka pedangnya tentu akan terlempar lepas.
Berbagai ingatan dengan cepat berkelebat memenuhi seluruh benak pemuda tersebut dan ditengah suara suitan gusar yang amat nyaring pedang kiem-hong-kiamnya digetarkan sekeras2nya sekali lagi dia melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Noe Tai Sin Kiam"
Dari ilmu pedang "Thian-yu Kiam Hoat"
Tong Phoa Pek hanya tertawa dingin tiada hentinya, ia sama sekali tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
sebaliknya Koan Ing yang pedangnya kena dihisap itu boleh dikata sama sekali tak berhasil bergerak maka sudah tentu serangannya tadipun sama sekali tak berguna.
Sampai pada waktu itulah Koan Ing baru merasa amat terkejut bercampur cemas, dan dengan gusarnya kembali ia bersuit gagang pedangnya mendadak meluncur kebawah menghajar iga dari Tong Phoa Pek inilah serangan yang kedua dari ilmu Lian Huan Sam Ci.
Melihat datangnya serangan tersebut Tong Phoa Pek jadi sangat terkejut.
dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing masih memiliki jurus serangan yang demikian dahsyatnya, maka buru-buru tangan kirinya diangkat menghantam pergelangan tangan dari pemuda tersebut.
Belum habis Koan Ing bersuit nyaring tangan kirinya laksana kilat cepatnya sudah membentuk gerakkan setengah busur ditengah udara lalu dengan hebatnya menghajar jalan darah "Ci Bun Toa Hiat"
Pada dada sebelah kiri dari musuhnya Tong Phoa Pek jadi amat kaget, dia tak sempat untuk menghindarkan dirinya lagi karena jurus serangan ini adalah serangan yang dilatih Kong Boen Yu Selama dua puluh tahun ini, sudah tentu kedahsyatannya luar biasa sekali.
Maka pedang ditangan kanannya buru-buru di tarik ke belakang, tetapi siapa sangka Koan Ing pun pada saat itu telah menggunakan gerakan melengket untuk menghisap pedang pihak lawan, jadi walaupun ia sudah mencabutnya tetapi tetap tak berhasil melepaskan diri.
Baru saja Tong Phoa Pek merasa amat terperanjat tahutahu....
"Braaak....!"
Dengan kerasnya dada sebelah kirinya kena dihantam oleh serangan Koan Ing tersebut, dia meraung keras dan mengundurkan diri dengan sempoyongan sambil melepaskan pedangnya, karena tak kuasa lagi darah segar segera muncrat keluar dari mulutnya.
Dengan amat tenangnya Koan Ing segera kebaskan tangan kanannya untuk melepaskan diri dari hisapan pedang Tong Pho Pek.
"Bagaimana? Mau diteruskan tidak pertempuran kita ini?"
Ejeknya.
Tiba-tiba Tong Phoa Pek enjotkan badannya melayang ke atas kereta berdarah, ditengah suara bentakkannya yang amat keras bercampur gusar itu ia sudah melarikan kereta tersebut.
meninggalkan tempat tersebut.
Melihat tindakan itu Koan Ing jadi amat kaget dia tidak menyangka kalau sewaktu dirinya berada di dalam keadaan girang Tong Phoa Pek bisa melarikan diri dengan menggunakan kereta berdarah tersebut.
Kembali dengan termangu-mangu Koan Ing memandang kereta berdarah itu menjauh dari atas tebing, dan hampirhampir dia merasa tidak percaya atas pandangannya sendiri.
Manusia seperti "Thian Yang Siuw-su"
Tong Phoa Pek yang begitu sombong ternyata sudah pergi setelah kalah satu jurus dari dirinya.
Ooo)*(ooO Bab 50 BELUM HABIS BERPIKIR, Cha Ing Ing dengan cepatnya sudah berlari mendekati lalu menubruk ke dalam pelukan Koan Ing dan menangis tersedu-sedu.
"Ing Ing! Aku sudah membuat kau tersiksa,"
Ujar Koan Ing tersenyum dan merangkul tubuh gadis tersebut.
"Tetapi sekarang sudah tak ada urusan lagi, marilah kita pergi mencari ayahmu!"
Cha Ing Ing segera dongakkan kepalanya dan memandang ke arah Koan Ing, tetapi beberapa saat kemudian dengan perlahan ia menundukkan kepalanya kembali dan mengusap kering air mata yang menetes keluar membasahi pipinya Sebetulnya dia mengharapkan Koan Ing bisa sedikit mesra padanya, dan kini ternyata Koan Ing benar-benar suka padanya, dan perkataan ini ditimbulkan secara spontan dari dasar hatinya tanpa mencampurkan rasa cinta muda-mudi didalamnya.
Demi dirinya Koan Ing sudah rela bertempur dengan Tong Phoa Pek, dan dari sudut ini sudah cukup menunjukkan kalau dia sangat baik terhadap dirinya, Karena itu terhadap pemuda tersebut tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar, hanya saja dalam hati merasa kecewa.
Sambil tersenyum pemuda itu memandang wajah Cha ing Ing, dia telah mengetahui, apa yang dipikirkan gadis itu pada saat ini.
"Ing Ing! Mari kita berangkat"
Ajaknya kemudian sambil menggandeng tangan dara itu.
Mereka berdua melakukan perjalanan ke depan saat itu hari sudah terang tanah, cuma saja sekeliling tempat tersebut dipenuhi dengan kabut yang amat tebal sekali, sehingga permukaan tanah terasa sangat lembab dan basah.
"Sungguh aneh sekali!"
Ujar Koan Ing sambil memandang sekeliling tempat itu, dahinya dikerutkan rapat-rapat "Hari sudah terang tanah, kenapa tempat ini masih diliputi kabut yang demikian tebalnya?"
Siapa sangka baru saja dia menyelesaikan kata-katanya dari balik kabut terdengarlah suara seseorang yang amat berat.
"Aneh? Kalau cuma soal ini belum begitu mengherankan, peristiwa yang aneh masih banyak dibelakang!"
Mendengar munculnya suara tersebut baik Koan Ing maupun Cha Ing Ing merasa hatinya bergidik dan serentak menghentikan langkahnya.
Cha Ing Ing dengan rasa ketakutan segera bersandar pada tubuh Koan Ing sedang matanya dengan tajam menyapu ke sekeliling tempat tersebut.
Dia tidak menyangka sama sekali kalau perkataan dari Koan Ing tadi bisa mendatangkan jawaban dari seseorang yang sama sekali tidak dikenal.
Sinar mata pemuda tersebut dengan tajamnya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu walaupun begitu suasana di tempat itu masih tetap tenang-tenang saja tak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Apalagi Cha Ing Ing benar-benar terperanjat Oleh kejadian itu.
bisiknya kepada pemuda itu;
"Siapa?"
"Haaaa.... haaaa.... sekalipun kau bertanya kepada diri Koan Ing diapun tidak bakal tahu!"
Seru orang dibalik kabut itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Coba kau lihat aku perlihatkan semacam benda kepada kalian!"
Baru saja perkataannya selesai diucapkan, dari hadapannya mendadak Koan Ing dapat melihat munculnya seorang kakek tua berambut putih yang sedang berjalan mendekat dengan sempoyongan.
Tetapi begitu melihat munculnya orang itu Koan Ing jadi amat terperanjat karena dia bukan lain adalah Ciat Ih Toocu dari lautan Timur, Ciu Tong adanya!
Ditangan kanan si iblis sakti itu mencekal sebatang pohon yang amat besar sekali, sepasang matanya yang amat tajam telah berubah menjadi memerah.
Langkahnyapun sempoyongan dan tidak tetap.
Agaknya kesadaran dari orang tua itu sudah punah.
Koan Ing benar-benar merasa hatinya terperanjat, dengan kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tong untuk tidak tidur selama tiga hari tiga malampun bukan satu persoalan yang sulit tidak disangka baru saja mereka berpisah selama empat hari dia orang sudah berubah jadi demikian, jelas setelah perpisahannya dengan dia si kakek tua dari Lautan Timur ini pasti telah menemui peristiwa yang mengherankan, kalau tidak mana mungkin bisa jadi begini.
Walaupun dalam hati pemuda itu merasa amat gemas terhadap tindak-tanduk serta sikap dari Ciu Tong, tetapi melihat dia sudah berubah jadi demikian mengenaskan hatinya jadi iba juga.
"Siapakah orang yang berada dibalik kabut itu?"
Pikirnya di dalam hati.
"Kepandaian silatnya tentu sangat luar biasa, kalau tidak bagaimana mungkin Ciu Tong bisa berubah jadi begini?"
Dengan jalan sempoyongan Ciu Tong berjalan ke depan tubuh Koan Ing. lama sekali dia memandang pemuda itu termangu-mangu.
"Kaukah Koan Ing?"
Tanyanya perlahan "Cepat tolong aku Kalau tidak kaupun bakal ikut mati!!"
Selesai berkata tangannya mengendor dan rubuh tidak sadarkan diri. Koan Ing merasa hatinya berdesir, perlahan-lahan ia berjongkok memeriksa keadaan dari Ciu Tong.
"Heee.... heeee.... apakah pada saat ini kau masih punya niat untuk menolong dirinya? Kaulah manusia yang dicari oleh kami pihak rimba "Wang Yu Liem"!"
Seru orang yang berada dibalik kabut itu sambil tertawa.
Koan Ing jadi tertegun karena dari benaknya terlintaslah satu bayangan....
Rimba "Wang Yu Liem"?
Bukankah tempat itu adalah salah satu dari tiga tempat terlarang di dalam Bu-lim?
Bagaimana mungkin pihak rimba Wang Yu Liem pun ikut di dalam perebutan kereta berdarah ini?.
Maka dengan perlahan-lahan ia bangun berdiri, selama ini belum pernah ada manusia yang bisa loloskan diri dari dalam rimba Wang Yu Liem dan kini dirinya telah terjerumus ke dalam lingkungan rimba yang amat mengerikan itu.
Kabut mengalir semakin tebal, segulung angin dingin bertiup lewat membuat suasana terasa nyaman.
Selagi dia berdiri termangu-mangu itulah mendadak dari balik kabut berjalanlah keluar seseorang.
Melihat akan tampang orang itu seketika itu juga Koan Ing merasa darah panas di dalam tubuhnya bergolak amat hebat.
Dia bukan lain adalah musuh besar pembunuh ayahnya, si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng adanya.
Dalam gusarnya Koan Ing membentak Keras, tubuhnya mencelat ke atas, sedang pedang kiem-hong-kiamnya dengan membentuk serangkaian pelangi merah, dengan dahsyatnya menghajar diri Bun Ting-seng, Melihat musuh besarnya hendak melarikan diri, Koan Ing segera kibaskan pedangnya ke depan pula, dengan disertai suara desiran yang amat tajam ia mendesak lebih ke depan.
Tiba-tiba dari balik kabut terdengarlah suara tertawa terbahak-bahak yang amat nyaring bergema memenuhi angkasa.
"Haaa.... haaa.... di dalam rimba Wang Yu Liem tidak diperkenankan untuk membunuh orang!"
Seru orang itu keras.
Baru saja perkataan itu diucapkan keluar Bun Ting-seng kembali berkelebat ke arah belakang, kecepatan geraknya memaksa dia orang tak sempat lagi untuk mengejar.
Melihat kejadian itu Koan Ing terasa hatinya berdesir, karena hal ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang lain.
Dengan kesempurnaan dari tenaga dalamnya, orang tak akan bisa lolos.
Dia bersama-sama dengan Sang Siauw-tan pernah mengalami apa yang disebut 'Menipu mata memindah barang', bukankah apa yang dilihatnya sekarang ini sama dengan apa yang dialaminya dulu?
Berpikir akan hal itu Koan Ing segera putar balik dan berkelebat mengikuti jalan semula.
Siapa sangka sewaktu tiba ditempatnya semula itulah bayangan dari Cha Ing Ing serta Ciu Tong telah lenyap tak berbekas, kini hatinya jadi amat cemas bercampur gusar tetapi sekalipun begitu, apa daya tenaganya sendiri tak sampai.
Dengan hati amat menyesal ia menutupi wajahnya sendiri dengan tangan, karena tadi tidak seharusnya dia orang meninggalkan Cha Ing Ing sekalian.
Baru perlahan-lahan hatinya menjadi tenang kembali dan Koan Ing pun segera jatuhkan diri bersila, dia merasa saat ini dirinya telah bertemu dengan musuh yang paling tangguh, bilamana orang yang ada dibalik kabut itu tidak dihadapi dengan kesabaran, maka dirinya bakal menderita kekalahan total.
"Heeei.... bilamana Sang Siauw-tan ada pula disini, alangkah baiknya!"
Pikirnya di dalam hati.
Sewaktu hatinya telah jadi tenang, dengan perlahan ia baru bangun berdiri....
Pada saat itulah, tiba-tiba....
Suara bentakan nyaring bergema datang disusul dengan munculnya sebuah kereta yang amat besar menerjang masuk ke dalam rimba.
Koan Ing segera kerutkan dahinya, bukankah kereta itu adalah kereta berdarah?
Apa maunya datang kemari?
Apa mungkin Tong Phoa Pek telah melihat sesuatu?
Lalu siapakah majikan diri rimba Wang Yu Liem ini?
Bagaimana diapun memiliki ilmu iblis "Menipu mata memindah barang"
Yang amat lihay itu!
Saat inilah dari sudut yang diinjak Koan Ing serta kereta berdarah itu sama sekali berbeda, karenanya tak ada niat baginya untuk mengejar kereta tersebut.
Ditengah suara bentakan yang amat keras Tong Phoa Pek sambil menunggang kereta berdarah menerjang ke arah depan dengan cepatnya.
Dengan langkah yang amat perlahan Koan Ing pun melanjutkan perjalanannya ke depan dia tahu kabut inipun tentu sengaja disebar oleh orang-orang pihak rimba "Wang Yu Liem"
Sembari berjalan matanya dengan tajam mengingat2 terus keadaan di sekeliling tempat itu, karena dia takut kalau dirinya akan tersesat jalan.
Tiba-tiba bayangan dari Bun Ting-seng itu sisatrawan berbaju sutera muncul kembali di hadapannya.
Sinar mata Koan Ing berkilat, setelah secara diam-diam menghitung sudutnya mendadak dia melepaskan busur dan membidik ke arah bayangan tersebut.
Bayangan dari Bun Ting-seng seketika itu juga lenyap tak berbekas.
Bersamaan waktunya pula Koan Ing melesat ke arah bayangan itu, ternyata dugaannya sedikit pun tidak salah di tempat itu tampaklah sebuah batu berkaca yang memancarkan cahaya tajam terpapas jadi dua bagian.
Suara tertawa yang amat keras kembali bergema memenuhi angkasa.
dan begitu mendengar suara tersebut Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat.
Karena suara itu bergema dan memantul kesana kemari, agaknya orang itu mempunyai maksud untuk mengacaukan perhatiannya.
"Dimanakah majikan dari rimba Wang Yu Liem ini? Kenapa kau tidak suka munculkan diri?"
Teriak Koan Ing sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.
"Koan Ing!"
Teriak orang yang ada dibalik hutan itu sambil menarik kembali suara tertawanya.
"Orang-orang berkata kau adalah jagoan muda nomor wahid di dalam Bu-lim pada saat ini, ternyata sedikitpun tidak salah! Cuma saat ini aku tidak ingin berjumpa dengan dirimu, tidak sampai keadaan yang kepepet aku tidak bakal munculkan diri. Hey, ,anak muda! Tunggu saja sampai tiba saatnya!"
Selesai berkata suara tertawa yang amat keras kembali bergema memenuhi angkasa.
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia tahu dengan mengandalkan kekuatan seorang diri tidak bakal dirinya bisa memperoleh kemenangan.
dan kenapa tidak mengundurkan diri terlebih dahulu dari hutan ini?
Bilamana kekuatan dari Sian-thian-kauw bisa digabungkan dengan kekuatan dari Tiang-gong-pang bukankah untuk memusnahkan rimba Wang Yu Liem ini jadi amat mudah sekali?
Baru saja ia berpikir sampai disini mendadak dan balik kabut muncullah seorang nikouw berbaju putih.
Hati pemuda tersebut jadi amat terperanjat, bukankah dia adalah Cing It Nikouw?
Bagaimana mungkin dia bisa tiba disini juga?
Apakah itupun merupakan pengaruh dari menipu mata memindah barang?
Dan setelah menanti Cing It Nikouw sudah berjalan mendekati pemuda tersebut, Koan Ing baru tahu kalau dia bukanlah bayangan tipuan.
"Suci, bagaimana kau pun bisa tiba disini?"
Tanya Koan Ing buru-buru sambil maju menyongsong. Dengan perlahan Cing It Nikouw menundukkan kepalanya rendah-rendah lalu katanya dengan suara yang amat lirih.
"Majikan dari rimba Wang Yu Liem minta aku datang memberitahukan kepadamu, dia minta kaupun suka menggabungkan diri dengan pihak rimba Wang Yu Liem, karena pihak Wang Yu Liem bertujuan untuk membentuk keadilan di dalam Bu-lim, mereka tidak akan sembarangan turun tangan membunuh orang!"
Koan Ing tersenyum.
"Bagaimanapun aku bisa bertemu kembali dengan suci sudah cakup membuat hatiku jadi girang. tempo hari sewaktu ada di lembah Chiet Han Kok. aku sangat menguatirkan jejak dari suci, kini melihat suci tidak cedera sedikitpun hatiku jadi ikut lega pula"
Cing It nikouw yang mendengar perkataan tersebut segera merasakan hatinya tergetar sangat keras, dan dengan perlahan-lahan dia mulai dongakkan kepalanya.
memandang diri Koan Ing, ketika melihat sepasang biji matanya yang hitam dan bening seperti hendak mengucapkan banyak kata terhadap dirinya membuat dia merasa amat terharu sekali.
Koan Ing yang melihat sikap nikouw muda ini amat aneh sekali tak kuasa lagi dia lantas bertanya.
"Suci'! kau kenapa? Mari kita keluar dari hutan ini dulu baru berbicara lagi!"
Sehabis berkata sambil membimbing lengan Cing It Tootiang yang tinggal sebelah kiri itu mereka berjalan keluar dari hutan.
Sedangkan Cing It nikouw pun sambil tundukkan kepala dan tak mengucapkan sepatah katapun mengikuti diri pemuda tersebut.
Dari balik hutan kembali berkumandang datang suara tertawa terbahak-bahak yang amat nyaring sekali....
"Haa.... haa.... Koan Ing? Kerapa kau harus mencelakai dirinya, dia kan sudah memasuki rimba Wang Yu Liem dan telah bersumpah tak akan keluar lagi dari rimba ini. Dia apabila keluar hutan ini dia pasti bakal mati."
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi amat terperanjat, maka dengan cepat dia menghentikan langkahnya dan menoleh memandang wajah sang nikouw.
Cing It nikouw menundukkan kepalanya rendah-rendah, dan ketika melihat nikouw tersebut tidak berbicara diapun lantas tahu kalau urusan ini tidak mungkin bohong.
Tak kuasa lagi keningnya dikerutkan rapat-rapat.
"Suci!"
Ujarnya sambil tertawa ringan.
"Sebenarnya siapakah manusia jahanam yang ada di dalam rimba Wang Yu Liem itu? Apa yang dia suruh kau lakukan? cepat beritahukanlah kepadaku, kita sebagai kakak beradik seharusnya bicara blak2an!"
"Adik Ing!"
Seru Cing It nikouw dengan sedihnya sambil memandang wajah Koan Ing "Kau tak usah ngurusi apa yang dia suruh aku lakukan, orang ini terlalu kejam dan licik.
Cepat kau bawalah aku keluar dari hutan ini.
Sekalipun mati aku ingin mati disisi tubuhmu!"
Dengan pandangan sayu Koan Ing menyaksikan wajah Cing It Nikouw yang pucat pasi itu berbagai ingatan segera berkelebat memenuhi benaknya.
"Suci, buat apa kau begitu murung dan sedih hati?"
Ujarnya kemudian sambil tartawa.
"Aku tidak percaya kalau bangsat itu ada kepandaian yang melebihi orang lain!!"
Kembali dengan perlahan Cing It Nikouw menundukkan kepalanya. tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.
"Suci! mari kita cepat keluar dari sini,"
Ajak Koan Ing lagi sambil membimbing tubuh nikouw tersebut.
"Koan Ing!"
Kembali orang yang ada di dalam rimba itu berseru sambil tertawa keras.
"Buat apa kau mencelakai nyawanya? Apalagi kaupun tidak bakal memperoleh kebaikan dari dirinya, cepat atau lambat kau bakal menggabungkan diri dengan kami dari pihak rimba Wang Yu Liem, karena kami menghendaki damai! tidak sampai mengucurkan darah."
Koan Ing sama sekali tidak suka mendengarkan perkataan selanjutnya dari majikan Wang Yu Liem tersebut, maka tanpa mengucapkan kata-kata lagi dengan mengajak Cing It Nikouw berlalu dari dalam hutan.
Kurang lebih satu jam lamanya mereka berdua melakukan perjalanan di tengah kabut itu akhirnya sampailah mereka diluar rimba yang berudara segar.
Koan Ing segera menarik napas panjang-panjang, sedang Cing It Nikouw yang bersandar pada tubuhnya sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Koan Ing yang melihat nikouw tersebut sepertinya sama sekali tak bertenaga buru-buru merebahkan tubuhnya ke atas tanah.
"Suci! sekarang kau merasa bagaimana?"
Tanyanya dengan halus.
Cing It nikouw menundukkan kepalanya tidak berbicara, melihat sikapnya itu pemuda itupun lantas memeriksakan urat nadinya Terasalah denyutan jantungnya normal, sedikitpun tak perlihatkan tanda2 menderita sakit hal itu sudah tentu membuat sang pemuda mengerutkan dahi.
Selagi Koan Ing merasa amat cemas itulah mendadak dari hadapannya tampaklah Song Ing dengan membawa dua orang muncul di dalam pandangan.
Hatinya amat girang sekali.
"Subo! aku disini!"
Teriaknya keras, Song Ing jaga melihat Koan Ing pun ada disana dengan cepat enjotkan badannya melayang ke arah pemuda tersebut, Dengan mengajak Cing It Nikouw mereka berdua lalu serentak menjatuhkan diri memberi hormat.
Song Ing yang melihat Cha Ing Ing tak ada disana alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.
"Dimanakah gadis cilik yang satunya lagi?"
Tanyanya tanpa terasa.
"Rimba Wang Yu Liem tertera dihadapan mata, sedang Cha Ing Ing lenyap dibalik rimba tersebut...."
Sahut pemuda itu dengan mata berkilat2."
Baru saja boanpwee bertemu dengan Cing It suci, dan karena dia dipaksa menelan racun maka aku tolong ia keluar dari dalam rimba terlebih dulu kemudian baru berusaha mencari akal menghancurkan rimba Wang Yu Liem ini."
Song Ing yang mendengar rimba Wang Yu Liem sudah terpindah kesana dia lantas berseru tertahan setelah memperhatikan hutan serta kabut yang aneh itu perintahnya kemudian.
"Perintah seluruh anak murid perkumpulan untuk bersiap-siap melancarkan serbuan!"
Dua orang budak yang ada di belakangnya segera menyahut dan mengundurkan diri dari sana.
"Baru saja aku bertemu dengan Sang Su-im,"
Kata Song Ing kemudian sambil menarik napas panjang.
"Sebentar lagi dia bakal tiba kemari, Sang Siauw-tan pun akan ikut datang."
Baru saja dia bicara sampai disitu tampaklah Sang Siauwtan telah munculkan dirinya, Koan Ing yang melihat munculnya Sang Siauw-tan gadis idamannya itu hatinya jadi amat girang tak kuasa lagi dia berjalan menghampiri mereka.
Cing It nikouw yang melihat sikap dari pemuda itu dengan termangu-mangu memandang bayangan punggungnya, jelas ia merasa amat sedih sekali Song Ing yang melihat sikap dari nikouw tersebut dalam hati lantas memahami, dia tahu walaupun kedua orang tersebut masing-masing pihak sebagai kakak beradik tetapi secara diam tentu cing It nikouw telah menaruh rasa cinta terhadap pemuda tersebut.
Sang Su-im yang melihat Koan Ing hendak memberi hormat, buru-buru ulapkan tangannya.
"Buat apa kita masih menggunakan cara ini!"
Cegahnya sambil tertawa.
Sang Siauw-tan pun dengan cepat menerjang kehadapan Koan Ing dan mencekal tangannya erat-erat, mereka berdua masing-masing merasa hatinya amat girang dan ketika empat mata bertemu tak seorang pun yang megucapkan kata.
Lama sekali baru terdengar Sang Siauw-tan berkata;
"Engkoh Ing aku merasa amat gembira sekali bisa berjumpa kembali dengan dirimu!"
Sehabis berkata tak tertanan lagi air matanya bercucuran membasahi pipinya.
Koan Ing sendiripun merasa hatinya ikut terharu karena melihat Sang Siauw-tan menangis dan tak kuasa lagi diapun menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Siauw-tan! Bukankah aku masih sehat-sehat saja", katanya sambii tertawa dipaksakan. Bilamana di samping situ tak ada orang lain mungkin mereka berdua sudah berpekik2an dengan kencangnya. Song Ing hanya tersenyum, tiba-tiba ia berkata memecahkan kesunyian yang mencekam.
"Putri kesayangan dari Thja Can Hong terjerat di dalam rimba Wang Yu Liem. murid kesayangan dari Sin Hong Soat-nie pun membutuhkan obat pemunah, aku sudah perintahkan orang-orangku untuk siap-siap menyerbu. Kau Sang Pangcu! Bagaimana maksudmu!"
Sang Su-im merasakan hatinya tergetar amat keras, sinar matanya berkilat.
"Apakah kereta berdarah itupun juga ada didaiam rimba?"
Dengan perlahan Koan Ing mengangguk.
"Saat itu kereta berdarah pun ada di dalam rimba, tetapi siapakah majikan dari rimba Wang Yu Liem ini, aku sendiripun tidak tahu karena dia tak suka munculkan diri!"
Selagi Sang Su-im termenung berpikir keras itulah mendadak terdengar suara helaan napas perlahan, karena Cing It nikouw telah rubuh tak sadarkan diri.
Koan Ing jadi terperanjat, buru-buru dia menghampirinya.
Tampaklah wajah Cing It nikouw pucat pasi bagaikan mayat, denyutan jantungnya amat lemah jelas sekali dia sudah terkena racun amat jahat.
Akhirnya setelah memeriksa tak berhasil mendapatkan hasil ia dongakkan kepalanya menandang ke arah Song Ing bertiga.
Pada waktu itulah sitombak sakti Hoo Lieh telah tiba di tempat itu, dengan beratnya Sang Su-im segera mendengus.
"Cepat kirim perintah untuk kepung rapat-rapat rimba ini dan mengadakan pemeriksaan dengan teliti!"
Perintahnya. Dengan amat hormat Hoo Lieh menyahut. baru saja ia bersiap untuk mengundurkan dirinya tiba-tiba Sang Su-im berkata lagi.
"Bilamana keadaan terdesak bakar saja rimba ini!"
Baik Koan Ing maupun Song Ing yang mendengar perintah itu merasa amat terkejut tapi merekapun merasa kagum atas perbuatan dari Sang Su-im ini.
Kereta berdarah adalah benda yang diincar oleh semua orang.
Sedangkan Cha Ing Ing adalah putri kesayangan dari kawan karibnya, dan tanpa memperdulikan resikonya, pada saat yang perlu ia sudah turunkan peiintah untuk membakar hutan itu.
Bagi Koan Ing perbuatan ini adalah suatu tindakan yang paling tepat, karena di dalam rimba Wang Yu Liem ini amat sulit untuk mengadakan hubungan satu sama lainnya, bilamana tak ada hubungan maka terpaksa mereka akan terjerumus di dalam kancah pertempuran satu lawan satu, dari pada harus berbuat begitu, adalah jauh lebih baik bakar saja hutan itu.
Dengan termangu-mangu Song Ing memperhatikan rimba Wang Yu Liem yang penuh diliputi oleh kabut itu, setelah menarik napas panjang-panjang akhirnya dia berkata.
"Pangcu! Bilamana kau sudah ambil keputusan untuk mengadakan penyerbuan, maka anak buah dari perkumpulan kami dengan senang hati akan menjalankan perintah dari Pangcu!"
Keadaan seperti ini Sang Su-im tak sungkan-sungkan lagi, setelah memberi pesan terhadap beberapa rmacam tanda rahasia, iapun menyuruh Hoo Lieh mengirim perintah.
Tidak selang lama Hoo Lieh sudah ayunkan tanganya ke atas, sebuah anak panah berapi dengan cepat meledak sebanyak tiga kali ditengah udara inilah tanda dari perintah penyerbuan.
Segerombolan demi segerombolan manusia dengan cepatnya menerjang masuk ke dalam rimba tersebut.
Sinar mata Sang Su-im berkilat dia merasa pekerjaannya kali ini tentu akan memperoleh sukses seperti yang diinginkan.
Merpati seekor demi seekor dilepaskan tetapi selama ini belum pernah melihat apapun, entah orang-orang dari pihak lembah Wang Yu Liem itu sudah pada bersembunyi dimana.
Kembali Sang Su-im termenung berpikir keras, pada saat ini empat penjuru hutan telah terkepung rapat kecuali orang dari rimba Wang Yu Liem melarikan diri, dari tebing yang setinggi laksa kaki itu kalau tidak mereka tentu sedang bersembunyi.
Beberapa saat kemudian ia mengulapkan tangannya, Hoo Lieh segera perintah untuk melepaskan sepuluh ekor burung merpati keangkasa dan mengitari satu kali ke seluruh rimba.
Inilah tanda dari menarik mundur seluruh pasukan.
Tidak selang lama kemudian semua orang pada berjalan keluar dari balik hutan.
Waktu itulah Sang Su-im baru menoleh ke arah SOng Ing, perempuan itu mengangguk dan ulapkan tangannya.
Sepuluh orang lelaki dengan cepat berkelebat keluar, diantara desiran yang amat tajam, sepuluh batang anak panah berapi "Hek Siauw Lieh HWee Ciam"
Telah dibidik ke dalam hutan tersebut.
"Blaam...."
Seketika itu juga seluruh hutan sudah terjilat api dan terkurung di dalam lautan api setinggi puluhan kaki.
Koan Ing yang melihat kejadian itu dalam hatinya merasa agak tergetar, karena tidak menyangka akan kedahsyatan dari jilatan api yang dihasilkan oleh panah berapi "Hek Siauw Lieh Hwee Ciam"
Adalah sedemikian dahsyatnya, maka dengan perlahan dia lantas menoleh ke arah Cing It nikouw.
Waktu itu kening dari nikouw muda itu sudah dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya.
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya tak tertahan lagi kepada Song Ing serta Sang Su-im serunya.
"Bagaimana kalau aku pergi periksa sebentar keadaan dari hutan ini?"
Song Ing kerutkan alisnya rapat-rapat, belum sempat ia mengucapkan sesuatu pemuda itu sudah berkata lagi.
"Bilamana aku pergi mengadakan pemeriksaan maka segera akan tahu apa yang telah terjadi bilamana ada kemungkinan aku akan segera menolong Cha Ing Ing keluar dari rimba tersebut dan sekalian mintakan obat pemunah bagi Cing It suci."
"Kau pergilah ujar Sang Su-im kemudian sambil tertawa, Aku sih selamanya lega hati cuma Sang Siauw-tan mengijinkan atau tidak?"
"Siauw-tan!"
Seru pemuda itu kemudian sambil menoleh ke arah gadis pujaannya.
"Aku mau pergi sebentar, kau wakillilah diriku untuk menjaga diri Cing It Suci?"
Sambil tertawa paksa Sang Siauw-tan mengangguk.
Demikianlah Koan Ing dengan cepat mencabut keluar pedangnya, setelah memberi hormat terhadap Song Ing berdua dengan cepat dia putar badan dan mencelat masuk ke dalam hutan laksana seekor burung walet saja.
Dan ketika tubuhnya melayang ke atas permukaan tanah itulah terasalah asap mengepul memenuhi angkasa dan menyesakkan napas karena jilatan api membara dengan hebatnya.
Buru-buru sinar matanya menyapu sekejap di sekeliling tempat itu, lalu dengan cepatnya dia menyusup kehutan yang lebih dalam, Asap kabut tebal setelah terkena hawa api kini sudah separuh bagian bujar.
Dan ketika memperhatikan keadaan disana apapun tak kelihatan hal ini membuat hatinya jadi cemas.
Sewaktu pemuda itu lagi kebingungan itulah tiba-tiba terdengar suara sapaan dari seseorang yang sangat dikenalnya.
"Koan Ing!"
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, bukankah suara itu berasal dari majikan rimba Wang Yu Liem?
jelas sekali suaranya berasal dari sebelah kiri.
Kembali alisnya dikerutkan rapat-rapat, jelas ia bermaksud untuk memancing kedatangannya.
Tetapi kejadian sudah jadi begini tidak pergipun tidak mungkin terjadi.
Akhirnya setelah ragu-ragu sejenak dia melayang ke arah sebelah kiri dimana asalnya suara tersebut.
Kembali ia melakukan perjalanan beberapa saat lamanya, waktu itulah suara panggilan tersebut sekali lagi berkumandang datang dan kali ini dia dapat memastikan kalau suara tersebut muncul dari sebuah gua yang gelap disebelah kirinya.
Jelas sekali suara itu muncul dari dalam gua itu.
Dia yang berkepandaian tinggi dan bernyali tebal segera putar badan dan dengan langkah lebar berjalan menuju kegua tersebut.
Suara tertawa yang amat keras kembali bergema keluar dari gua itu.
Selangkah demi selangkah Koan Ing memasuki ke dalam gua itu, lewat beberapa saat belum juga tiba pada tempat tujuannya, tak terasa pikirnya dihati.
"Tidak aneh kalau mereka tak takut dengan api, kiranya mereka berdiam di dalam gua yang demikian dalamnya."
Kurang lebih puluhan kaki lagi ia berjalan akhirnya sampailah disuatu tempat yang diterangi dengan sinar yang amat kuat.
Tempat itu bukan lain adalah sebuah ruangan batu yang di sekelilingnya tertera permata yang memancarkan cahaya tajam, seluruh ruangan terang benderang sehingga terlihat apa saja yang ada disana.
Di-tengah-tengah gua duduklah seorang sastrawan berusia pertengahan yang tersungging satu senyuman yang amat tawar.
"Kaukah majikan dari rimba Wang Yu Liem ini?"
Tanya pemuda itu dengan memandang tajam si sastrawan.
"Haaaa.... haaaa.... , sedikitpun tidak salah, akulah majikan dari rimba Wang Yu Liem"
Kata sastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Siapakah namaku yang sebetulnya aku sendiripun tidak tahu, heee.... hee.... akhirnya kita dapat berjumpa pula!"
"Hmmm! apakah Cha Ing Ing ada ditanganmu? Masih ada pula obat pemunah dari Cing It nikouw!"
Kata Koan Ing dengan sinar mata berkilat.
"Haaa.... haaa.... kau tak usah cemas persoalan itu tidak lebih cuma soal yang amat kecil"
Kata sisasterawan berusia pertengahan itu sambil tertawa keras.
"Aku rasa diantara kita sudah terjalin suatu kesalah-pahaman!"
Tapi dengan perlahan Koan Ing mencabut keluar pedang kiem-hong-kiamnya, dan berkata dengan berat.
"Aku datang kemari bukannya bertujuan untuk membicarakan apakah ada kesalahan paham antara kita atau tidak, tapi aku datang kemari adalah bermaksud untuk minta orang dan obat pemunah, bilamana kau banyak cincong lagi.... hee.... jangan salahkan aku orang akan menggunakan kekerasan."
"Aku mengabulkan untuk melepaskan Cha Ing Ing serta serahkan obat pemunah itu, tetapi setelah perkataanku selesai kuucapkan kau masih punya permintaan apa lagi?"
Kata majikan rimba Wang Yu Liem itu lagi sambil tertawa.
Walaupun pada saat itu Koan Ing merasa amat cemas, tetapi orang itu ada maksud untuk mengundang dirinya masuk ke dalam gua, untuk menggunakan kekerasan rasanya tidaklah patut dan kurang sopan, karenanya dia suka untuk bersabar juga.
Dan berpikir sampai disitu dengan perlahan pedang kiem-hong-kiamnya diturunkan kebawah.
"Cayhe masih mempunyai satu permintaan yang sebenarnya tidak patut"
Kata si sastrawan berusia pertengahan itu lagi sambil mengerutkan keningnya.
"Kami dari pihak rimba Wang Yu Liem selamanya paling pantang menggunakan kekerasan, dan aku melihat pedang yang ada ditanganmu saja aku sudah merasa tak betah. Sukakah Koan siauw-hiap memasukkan kembali pedangmu ke dalam sarung dan duduk berbicara?"
Koan Ing yang berpikir kendati dirinya telah mempercayai omongannya, kenapa tidak sekalian memasukkan pedangnya ke dalam sarung?
Teringat akan kata-kata tersebut, diapun segera memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dan duduk bersila di atas tanah "Silahkan kau Orang cepat utarakan isi hatimu", katanya kemudian dengan dingin.
"Karena aku masih ada dua orang cianpwee yang lagi menunggu diriku diluar hutan, bilamana sampai sedikit kelamaan saja ada kemungkinan mereka jadi cemas. Apalagi kaupun harus tahu bagaimanakah kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang, semakin lama keadaannya semakin tidak menguntungkan bagi dirimu!"
"Inipun merupakan satu persoalan, aku sebetulnya tak ada urusan dengan dirimu. sedangkan ikatan sakit hatipun tak ada dan kini kau telah membakar rimba kami, bukankah tindakan ini kurang memperlihatkan rasa persahabatan?"
"Heee.... heee.... apakah diantara kita ada hal-hal yang bertentangan dan aku rasa dalam hati tentunya kau sudah merasakan sendiri, bukan?"
"Haa.... haaa.... Cing It Nikouw suka masuk ke dalam rimba secara sukarela bahkan sumpah berat yang diucapkan pun dia yang melakukan sendiri dan hal ini sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dirimu. Sebaliknya tentang Cha Ing Ing dia sendirilah yang sudah salah jalan sehingga tersesat, bukankah aku orang sama sekali tidak memperlakukannya kurang sopan terhadap dirinya!"
"Heee.... heee.... aku rasa tidak cuma begitu saja bukan."
Kata Koan Ing sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.
"Aku lihat lebih baik kau janganlah menganggap aku sebagai seorang bocah cilik dan menipu diriku mentah2, bilamana Cing It Nikouw masuk ke dalam rimba secara sukarela kenapa sewaktu dia hendak meninggalkan rimba ini kau berusaha menggertak dan menghalanginya? Sedang Cha Ing Ing pun bukan bocah cilik lagi. kenapa kau menahan dirinya bahkan dengan menggunakan ilmu "Menipu mata memindah benda"
Kau pancing ia agar tersesat."
"Kami dari pihak Wang Yu Liem paling pantang menggunakan kekerasan,"
Kata si sastrawan berusia pertengahan itu lagi sambil tertawa tawar.
"Ilmu silat cuma digunakan untuk melindungi nyawanya serta keselamatan sendiri, bilamana semua orang bisa menghadapi satu persoalan dengan hati tenang bukankah urusan dengan cepat bisa dibereskan? Kenapa kau harus turun tangan membunuh orang?"
Ooo)*(ooO Bab 51 Koan Ing yang mendengar dia berusaha untuk menghindarkan diri dari pertanyaannya dengan dingin segera mendengus.
"Perkataanku belum kau jawab!"
Serunya.
"Jadi urusan ini harus diselesaikan dengan kenyataan, Ya?"
Kata majikan dari rimba Wang Yu Liem itu sambil kerutkan dahinya.
"Aku sudah berjanji setelah aku menyelesaikan katakataku, segera akan melepaskan Cha Ing Ing serta menyerahkan obat pemunah, bukankah hal ini sudah menunjukkan maksudku?"
Untuk beberapa saat lamanya Koan Ing tak dapat berbicara lagi, diapun hanya tertawa tawar.
"Baiklah! untuk kali ini aku suka mempercayai dirimu,"
Katanya dingin.
"Tetapi sekarang aku ingin bertanya, bilamana ada orang turun tangan membinasakan ayahmu apakah kau pun harus berbicara dengan mengutamakan cengli?"
Selesai berkata ia kerutkan keningnya rapat-rapat sudah tentu yang dimaksudkan dari perkataannya itu adalah si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng adanya.
"Orang lain membunuh ayahmu, lalu apa gunanya kau pun turun tangan membinasakan dirinya?"
Kata si sastrawan sambil tertawa tawar.
Semuanya ini hanya dikarenakan nafsu sedetik saja, bilamana kau berhasil membujuk dirinya dengan kata-kata yang cengli sehingga dia orang suka menyesali perbuatannya dan bertobat, bukankah hal ini jauh lebih baik lagi?"
Koan Ing yang mendengar perkataan dari orang itu semakin lama semakin mendesak dirinya, tidak kuasa lagi dia segera tertawa dingin.
Jilid 21
"SOAL itu lak bisa aku kerjakan. haruslah kau ketahui hubungan yang paling erat di bawah kolong langit ini adalah hubungan kasih sayang antara ayah-ibu putra dan putri. bilamana diantara ini sama sekali tidak memperlihatkan rasa kasih sedikitpun maka manusia itu tidak lebih hanyalah binatang2 yang tak tahu diri!"
Selesai mendengar perkataan itu si sastrawan berusia pertengahan tersebut tertawa tergelak-gelak karena dia tahu bahwa perkataan tetsebut sengaja diucapkan Koan Ing untuk dia dengar tetapi ia sama sekali tidak ambil perduli.
"Haaa.... haaa.... kau tak kehilangan sifat dari seorang lelaki sejati cuma sayang ada cacatnya."
Katanya sambil tertawa.
Dengan pandangan yang sangat tajam.
Koan Ing memperhatikan si sastrawan berusia pertengahan itu, dia yang melihat di atas wajahnya sama sekali tidak kelihatan perubahan apapun dalam hati segera mengerti bilamana dia bukanlah seorang nabi sudah tentu adalah manusia licik yang sangat berbahaya.
"Aku rasa diantara kita tak usah membicarakan persoalan ini lagi,"
Ujarnya kemudian dengan perlahan.
"Kita sudah cukup banyak membicarakan tentang nasehat serta petuah yang tak berguna itu, tiap2 orang bertindak sesuai dengan kehendaknya sendiri2 aku rasa kitapun tak usah saling berusaha untuk menaklukan pihak lawannya dengan menggunakan kata-kata."
"Hmm! tapi aku tak bermaksud untuk menaklukan dirimu dengan menggunakan kata-kata. aku hanya mengharapkan kau suka memahami keadaan diriku."
"Kalau begitu katakanlah, akan aku dengarkan."
"Perbuatanmu kali ini benar-benar tidak memberi muka kepadaku seru si sastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa.
"tetapi biarlah! Aku akan bekerja sesuai dengan kemampuanku. Aku hanya mengharapkan di kolong langit ada kedamaian, dan satu2nya cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah melepaskan senjata."
Selesai berkata dia menoleh ke arah sipemuda dan memandangnya dengan tajam.
Koan Ing selama ini hanya mendengar saja tanpa ikut ambil komentar agaknya dia sama sekali tak tergerak hatinya oleh perkataan tersebut.
"Aku rasa inilah satu2nya cara yang bisa dilaksanakan"
Ujarnya kembali sambil tertawa.
"Balas-membalas, bunuhmembunuh, bilamana tidak diakhiri mulai saat ini, sampai kapan baru bisa berakhir? Bilamana semua orang tidak menggunakan kekerasan dan senjata lagi, maka di dalam duapuluh tahun terakhir dunia bakal aman dan damai!"
Koan Ing tertawa tawar, dia tetap tak mengucapkan sepatah katapun.
"Di dalam kolong langit pada saat ini kaulah yang paling terkenal dan paling gagah"
Ujar si sastrawan itu lagi sambil kerutkan dahi.
"Bilamana secara sukarela kau suka melepaskan pedang maka aku berani bertaruh pasti banyak orang yang ikut terharu dan mengikuti jejakmu, haaa.... haaa.... nah, sampai waktu itu dunia tentu akan aman dan tenteram!"
Selesai berkata kembali dia orang memandang tajam wajah Koan Ing.
Koan Ing pun mengerutkan alisnya rapat-rapat.
Sebelum dendam sakit hati ayahnya terbalas bagaimana mungkin dia orang suka lepaskan pedang?
"Hmm!
Jikalau kau merasa perkataanmu sudah habis maka kau serahkan Cha Ing Ing serta obat pemunahnya!"
Katanya tawar. Si sastrawan berusia pertengahan itu sewaktu melihat sang pemuda sama sekali tidak tergerak hatinya oleh perkataannya, kembali tertawa terbahak-bahak.
"Aku tahu kau orang tidak bakal suka mendengarkan perkataanku, tapi kau harus tahu perkataanku itu adalah perkataan yang keluar dari lubuk hatiku dan dengan maksuk baik untuk menasehati dirimu. Aku mengerti kalau banyak orang yang berotak tumpul dan tak bisa mengetahui apa yang aku maksudkan tetapi aku sama sekali tak punya cara lain."
Sinar mata Koan Ing berkilat, tetapi mulutnya tetap membungkam seribu bahasa.
Dari dalam sakunya si sastrawan berusia pertengahan itu segera mengambil keluar pil berwarna merah darah, katanya sambil tertawa.
"Orang berkata rimba Wang Yu Liem merupakan salah satu dari tiga tempat terlarang, tapi aku rasa tidaklah demikian! Selama hidup, aku selamanya mengutamakan kedamaian dan paling menentang orang yang suka mengutamakan kekerasan. Karenanya aku telah menyediakan sebutir pil yang bernama "Wang Yu Kuo"
Atau buah pelupa kemurungan, siapa saja yang telah menelan pil ini, maka dia pasti akan melupakan kemurungan dan kesedihan, bahkan kepandaian silatnyapun akan punah dan dia akan jadi seorang biasa yang mencintai kedamaian!"
"Bilamana orang lain tidak suka menelan pil tersebut? Aku kepingin tahu kau masih ada cara apa lagi untuk menggunakan cara damai tanpa meminta mereka menelen pil itu?"
"Haaa.... haaa.... sudah tentu aku mempunyai cara untuk memaksa mereka menelan pil ini secara sukarela, dan aku tidak bakal menggunakan kekerasan!"
Koan Ing yang mendengar perkataannya, semakin lama semakin tidak keruan dan hatinya jadi rada jengkel lalu pikirnya.
"Hmm! Apa-apaan nih. Karena bilamana apa yang ia katakan sungguh-sungguh bisa dilakukan, bukankah dia bakal jadi seorang Nabi besar?"
Berpikir Sampai disitU, tak kuasa lagi ia telah mendengus dingin.
"Apa yang kau pikirkan, aku orang telah memahami sejelas2nya, akupun tahu kalau pekerjaan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang yang berbakat dan berakal setan. Maaf aku orang tak sanggup untuk melakukannya, sekarang silahkan engkau serahkan obat pemunah serta Cha Ing Ing."
"Haaa.... haaa.... permintaanku yang terakhir adalah mohon kau suka menelan pil "Wang Yu Kuo"
Ini, dan setelah pil ini kau telan, maka aku segera akan melepaskan Cha Ing Ing dan menyerahkan obat pemunah tersebut kepadamu!"
Dengan dinginnya Koan Ing tertawa panjang, ia tidak menyangka kalau perkataan yang amat banyak dan berbelit2 itu akhirnya hanya memancing dia sudah terjatuh ke dalam perangkapnya, waktu itulah ia baru merasa menyesal, kenapa sejak tadi ia suka mempercayai orang semacam ini.
"Heee.... heee.... bilamana aku tidak suka menelan pil itu?"
Tanyanya dengan suara berat.
"Aku bisa bertahan pada pantanganku, jaitu tidak menggunakan kekerasan, tetapi kau adalah seorang manusia, yang penting aku harus berusaha hingga mencapai hasil dan melihat kau lepaskan pedang secara sukarela!"
"Hee.... hee, kebetulan, kebetulan, aku memangnya kepingin sekali melihat kau orang hendak menggunakan cara apa untuk paksa aku menelan pil tersebut!!"
Kata Koan Ing sambil bangun berdiri.
"Aku akan melanjutkan tujuanku membuat hatimu jadi takluk setelah kau takluk maka aku baru serahkan obat pemunah serta Cha Ing Ing kepadamu, kalau tidak aku tak akan serahkan semuanya itu kepadamu!"
Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi sangat gusar, sehingga dengan pandangan sinis dia memperhatikan diri si sastrawan berusia pertengahan itu.
"Kau sungguh merupakan seorang manusia yang tidak tahu malu!!"
Bentaknya dengan gusar.
"Hee.... hee semisalnya saja kau dengan Ciu Tong adalah musuh buyutan yang mempunyai sakit hati sedalam lautan,"
Kata majikan Rimba Wang Yu Liem lagi sambil tertawa tawar.
"Tetapi bilamana kalian suka menggabungkan diri dengan pihak Rimba Wang Yu Liem kami, maka kalian akan saiing mencintai dan saling mengasihi seperti saudara sendiri, bukankah hal itu sangat bagus sekali?"
"Ehmmm.... ternyata tidak jelek juga."
Kata Koan Ing sambil tertawa *Caramu untuk mencari kedamaian benarbenar sangat manjur sekali, tetapi akupun mempunyai cara untuk menghadapi manusia semacam kau, dan terhadap kau orang aku harus menggunakan hati yang terbuka dan menang buKannya menggunakan pedang!"
Selesai berkata dengan perlahan ia memasukkan kembali pedang kiem-hong-kiamnya ke dalam sarung, kemudian setelah memandang tajam sisasterawan berusia pertengahan itu baru selangkab demi selangkah dia mendesak maju ke depan.
"Kendati aku orang tak akan menggunakan kekerasan untuk menghadapi dirimu tetapi bilamana menghadapi keadaan yang kepepet aku masih punya kekuatan untuk membela diri!"
Seru orang itu tertawa.
"Hmm? Kau punya kekuatan untuk membela diri!?"
Teriak Koan Ing ssmbil tertawa dingin.
Tubuhnyapun menubruk ke depan pedang Kiem-hongkiamnya dengan disertai suara dengungan yang keras bagaikan kilat cepatnya meluncur ke arah sisasterawan berusia pertengahan itu, Buru-buru majikan dari rimba Wang Yu Liem ini mengundurkan diri ke belakang, sedang, pedang kiem-hongkiam dan Koan Ing laksana serentetan pelangi merah dengan meluncur ke depan, kecepatannya bagaikan sambaran kilat Agaknya sisasterawan berusia pertengahan ini sejak semula telah menduga kalau Koan Ing tak mungkin bisa ditaklukkan, tetapi dia pun tak menyangka kalau datangnya serangan pedang dari pemuda tersebut dapat demikian cepatnya.
Tubuhnya mepet ke arah dinding sedang tangan kanannya dengan cekatan menekan sebuah tombol....
"Grrr...."
Dengan menimbulkan suara yang amat keras terbukalah sebuah dinding batu yang amat besar disusul berkelebatnya sebuah cambuk menghajar pergelangan tangan Koan Ing.
Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing merasa hatinya rada berdesir, karena di dalam sekali pandangan saja ia telah dapat melihat kalau orang yang membokong dari tempat kegelapan itu bukan lain adalah Tong Phoa Pek.
Ditengah bentakan yang amat keras pedang kiem-hongkiamnya ditarik kembali, pada ujung pedangnya laksana kilat menyajat keujung cambuk tersebut.
Dan terlihatlah tubuh Tong Phoa Pek dengan ringannya mencelat kesamping, pada tangan kirinya masih mengempit tubuh Cha Ing Ing sedang tangan kanannya melemparkan cambuk tersebut ke arah sang pemuda disusul pedangnya dicabut keluar dari dalam sarung.
Melihat kejadian itu Koan Ing merasa amat kaget, bagaimana tingginya kepandaian ilmu silat yang dimiliki oleh Tong Phoa Pek pemuda itu mengetahui dengan amat jelas, kini iapun lagi mengempit tubuh Cha Ing Ing sebagai sandera.
hal ini menunjukkan keadaannya amat kejepit.
Berbagai ingatan dengan cepaf berkelebat di dalam benaknya, beberapa saat kemudian tiba-tiba ia membentak keras tubuhnya laksana burung elang saja dengan cepatnya menubruk ke depan, pedangnya menutul ke arah cambuk yang sedang melayang ke arahnya lalu diteruskan mengancam iga dari musuhnya.
"Tong Phoa Pek...."
Teriaknya marah....
Baru saja membentak sampai ditengah jalan mendadak ia menemukan kalau sinar mata Tong Phoa Pek amat sayu tak bersinar, jelas ia telah dikuasahi kesadarannya oleh si sastrawan berusia pertengahan itu, hatirja segera merasa rada berdesir laksana terjerumus ke dalam jurang es.
Tidak menanti majikan Rimba Wang Yu Liem buka bicara lagi ia telah berteriak keras.
"Bilamana kau berani memerintahkan Tong Phoa Pek untuk mengganggu seujung rambutnya saja aku akan menyuruh kau segera bermandikan darah di atas lantai. Bersamaan waktunya pula ia menubruk maju ke depan pedangnya membabat ketubuh Tong Phoa Pek....
"Traang....?"
Sepasang pedang terbentur menjadi satu menimbulkan bunga-bunga api tampaklah cahaya hijau dan keemas-emasan berkelebat menyilaukan mata, seketika itu juga seluruh angkasa telah dipenuhi dengan tenaga tekanan yang menyesakkan mata, Pada saat ini Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan sepenuh tenaga sebaliknya Tong Phoa Pek yang kena dipengaruhi kesadarannya oleh si sastrawan berusia pertengahan itu, tanpa terasa pula tenaga dalamnya telah mendapatkan sedikit gangguan.
Maka begitu masing-masing pedang terbentur satu sama lainnya Tong Phoa Pek segera kena terdesak di bawah angin dan mundur beberapa langkah ke arah belakang dengan sempoyongan.
Koan Ing yang serangannya berhasil mengubah posisinya di atas angin tidak mau membuang kesempatan yang baik ini lagi, ditengah suara suitan yang amat keras serangan pedangnya laksana curahan air hujan dengan gencarnya mencecar pihak musuh.
Melihat kejadian yang lagi berlangsung di depan mata si sastrawan berusia pertengahan itu hanya berdiri termangumangu saking kaget dan cemasnya, ia sama sekali tidak menduga bila mana Koan Ing berhasil meneter musuhnya hingga jatuh di bawah angin pada permulaan serangan.
Bahkan dugaannya terhadap Tong Phoa Pek yang memiliki kepandaian dahsyat ternyata sama sekali meleset.
Oleh karena kejadian ini jelas sekali telah membuktikan kalau Koan Ing sipemuda yang baru berusia dua puluhan itu memiliki tenaga dalam yang jauh berada di atas Tong Phoa Pek, Maka tubahnya dengan perlahan mengundurkan dirinya ke sebelah dalam guha itu.
Tujuan dari Koan Ing melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga justeru bermaksud untuk menawan si sastrawan berusia pertengahan itu.
Kini melihat ia pergi mau molor, tangan kirinya segera dengan cepat mengajun ke arah depan....
"Sreet!"
Sebuah anak panah dengan disertai suara desiran yang tajam menukik ke depan dan tepat menancap disisi wajahnya.
"Jangan bergerak!"
Bentak Koan Ing dingin.
Hati si sastrawan itu jadi tergetar, dia m rasa menyesal dirinya terlalu memandang rendah tenaga dalam serta kepandaian silat dari Koan Ing sehingga memaksa dirinya kini berada pada posisi yang amat membahayakan.
Kembali terlihat cahaya pedang yang berkilauan menyilaukan mata, dan masing-masing pihak saling menggencet dan meneter pihak lawannya dengan sepenuh tenaga, tetapi kelihatan sekali Tong Phoa Pek sudah terdesak karena saat ini ia terus mundur ke belakang tiada hentinya.
"Koan Ing cepat hentikan seranganmu."
Bentak sisasterawan itu secara tiba-tiba.
"Apakah kau sudah tidak maui obat pemunah ini lagi?!"
Koan Ing dengan tajam melirik sekejap ke arah orang itu, saat ini ia sudah mengerti benar kalau sisaserawan tersebut adalah seorang manusia yang sangat berbahaya dengan akalnya yang banyak serta sifatnya yang licik laksana ular berbisa.
"Heeee.... hee . aku rasa kaupun bakal serahkan barang itu secara suka rela."
Sahutnya tawar.
Walaupun perkataan dari Koan Ing ini diucapkan seenaknya saja tetapi bagi Majikan dari Rimba Wang Yu Liem hal ini membuat hatinya bergidik, karena jelas sekali maksud dari perkataan Koan Ing barusan ini adalah hendak memberi siksaan kepada dirinya kemudian baru paksa minta obat pemunah tersebut.
Buru-buru ia bersiul dua kali disusul dengan tangan kanannya diajunkan ke depan melemparkan sebungkus obat ke arah pemuda itu.
"Koan Ing terimalah obat pemunah itu!"
Koan Ing kerutkan keningnya rapat-rapat belum sempat dia orang mengambil keputusan untuk menerima bungkusan obat itu tahu-tahu Tong Phoa Pek telah ajunkan pula tangan kirinya melemparkan tubuh Cha Ing Ing ke arahnya.
Tujuan Koan Ing datang kesana justru dikarenakan benda serta manusia ini, maka tubuhnya buru-buru meloncat ke samping sedang, tangan kirinya berkelebat ke depan menyambut tubuh Cha Ing Ing serta bungkusan obat itu Setelah tubuhnya berdiri tegak kembali dalam hati pemuda itu baru merasa heran kenapa Tong Phoa Pek tidak melakukan pengejaran?
Matanyapun dengan cepat menyapu sekejap ke sekelilingnya.
Tampaklah dinding batu yang semula membuka kini telah merapat kembali, kiranya si sasterawan berusia pertengahan itu telah bersembunyi didalam, sebaliknya dari empat penjuru bermunculan puluhan orang berbaju hitam yang masingmasing pada mencekal sebilah pedang yang menyilaukan mata.
Melihat akan hal itu, Koan Ing merasa hatinya bergidik....
"Ooow.... kiranya begitu!"
Pikirnya dihati "Karena ia tak sempat melarikan diri maka orang-orang yang telah diatur sejak tadi tak bisa diperintahkan untuk keluar...."
Telapak tangannya dengan segera cepat ditabokkan ke atas tubuh Cha Ing Ing untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok.
Dan dengan perlahan-lahan Cha Ing Ing membuka matanya, setelah melihat Koan Ing ada di samping tak kuasa lagi sambil memeluk tubuh pemuda itu kencang-kencang ia menangis tersedu-sedu.
Engkoh Ing!
kau jangan tinggalkan aku lagi...."
Koan Ing tersenyum, tangannya dengan perlahan membelai rambut sang gadis yang hitam pekat tersebut, sedang matanya menyapu sekejap ke sekelilingnya....
Walaupun saat ini ia tidak mengetahui bagaimanakah keadaan dan situasi yang sebenarnya tetapi hatinya jauh lebih tenang daripada tadi.
Atau paling sedikit saat ini ia tinggal menerjang keluar dari kepungan dan bereslah sudah!
"Koan Ing!
kau menyerahlah, saat ini kau tak bisa lolos lagi....
walaupun kau punya sajappun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini!"
Seru sisasterawan berusia pertengahan itu dari balik dinding gua.
"Ooouw.... jadi inikah yang kau maksudkan sebagai cara yang sama sekali tidak menggunakan kekerasan?"
"Haa.... haa.... haa.... kau jangan berkata begitu tajam, karena untuk menghadapi manusia tumpul otak semacam engkau terpaksa aku harus menggunakan cara ini, apalagi akupun berbuat demikian untuk membela diri"
"Oouw bukankah tujuanmu adalah menginginkan semua orang jangan menggunakan kekerasan? Mana mungkin tindakanmu ternyata harus menggunakan kekerasan juga untuk mencapai tujuan?"
Ejek pemuda itu dingin. Selesai berkata, dia tertawa menghina, dan sambil menggandeng tangan Cha Ing Ing dengan langkah lebar berlalu dari sana.
"Engkoh Ing!"
Tiba-tiba Cha Ing Ing berseru sinar matanya berkilat.
"Mengapa kita tidak gunakan saja ilmu pedang "Cuo Ci Ju Ju"
Atau kiri menangkis kanan menahan?"
Seketika itu juga Koan Ing jadi sadar kembali, pikirnya.
"Ach.... perkataan dari Ing Ing ini sedikitpun tidak salah, kenapa aku orang begitu goblok?"
Maka dengan cepat ia serahkan pedang Kiem-hongkiamnya itu kepada Cha Ing Ing sedang ia sendiri menggunakan sarung pedang sebagai senjata kemudian bersama-sama bartindak keluar, Sisasterawan berusia pertengahan hanya dengus dingin, atau berturut-turut ia bertepuk tangan sebanyak tiga kali.
Dan orang-orang berbaju hitam diempat penjuru itu bersama-sama dengan Tong Phoa Pek yang berhasil dikuasai kesadarannya oleh si orang berusia pertengahan itu setelah menerima perintah bersama-sama menyerbu ke depan.
Koan Ing segera membentak keras, sarung pedangnya menyerang ke depan dengan tenaga gabungan dari mereka berdua yang mengirim satu babatan ke arah musuh2nya.
Tetapi orang-orang berbaju hitam yang ada diempat penjuru itu merupakan jago pilihan yang berhasil ditawan oleh orang-orang pihak Rimba Wang Yu Liem dan sudah tentu kepandaian silat mereka benar-benar luar biasa sekali.
Di bawah serangan gabungan dari berpuluh-puluh orang itu sekalipun jurus serangan yang dipergunakan Koan Ing berdua merupakan jurus serangan yang sangat anpuh di kolong langit tetapi tenaga tekanan dari empat penjuru benar-benar luar biasa sekali yang membuat mereka berdua hampir-hampir tak dapat menggeserkan badannya setengah tindakpun.
Baik Koan Ing maupun Cha Ing Ing segera amat terperanjat, karena bilamana jurus serangan mereka tak sempat dimainkan keluar maka di bawah serangan gabungan orang yang sedemikian banyaknya ini terpaksa hanya duduk sambil menanti ajalnya.
Mereka berdua merasa amat terperanjat.
apalagi sisasterawan berusia penengahan itu semakin terkejut lagi dibuatnya, karena dengan kekuatan gabungan dari beberapa orang ini sebetulnya tak bakal sampai memandang sebelah matapun terhadap tiga, lima orang semacam Koan Ing, tetapi dia tidak menyangka kalau Koan Ing serta seorang gadis cilik itu berhasil menangkis dan memunahkan serangan gabungan mereka.
Dengan dinginnya ia segera mendengus, orang-orang itupun bersama-sama membentak keras dan serangan pedangnya ditarik ke belakang kemudian dari serangan ke atas ini mulai menekan ke arah bawah, jelas sekali kalau mereka bermaksud agar Koan Ing berdua dapat menerima serangan pedang mereka dengan keras lawan keras.
Sinar mata Koan Ing jadi berkilat, dengan gusarnya ia membentak keras.
Tangan kirinya buru-buru memasukkan bungkusan obat itu ke dalam saku Cha Ing Ing sedangkan tangannya yang lain dengan menggunakan sarung pedang menahan serangannya yang mengarah lubang kelemahan mereka.
Cha Ing Ing benar-benar amat kaget, ia sama sekali tak menduga kalau Koan Ing bisa melakukan serangan dengan menggunakan tindakan tersebut, di dalam keadaan kurang waspada itulah tubuhnya yang terlempar ditengah udara hampir-hampir terjungkir jatuh.
"Cepat bawa obat itu untuk melarikan diri!"
Teriak Koan Ing dengan suara yang amat keras.
Cha Ing Ing dengan amat ringannya berhasil melayang turun ke atas permukaan tanah sewaktu menoleh ke belakang tampaklah pada waktu itu Koan Ing sedang bersuit nyaring dan menubruk ke arah depan sedang pedang kiem-hongkiamnya dengan sejajar kening diangkat tinggi2 ke atas, inilah jurus "Hay Thian It Sian"
Yang merupakan jurus pertahanan yang paling sempurna.
Dia rada tertegun, air mata bercucuran dengan amat derasnya, karena dalam hatinya dia benar-benar merasa amat bingung apa yang harus dilakukan pada saat itu.
Bilamana dia pingin balik kesisi Koan Ing saat ini ada maksud tetapi tenaga kurang, bilamana harus pergi....
dia merasa tak tega untuk melepaskan Koan Ing seorang diri di tempat yang sangat berbahaya itu!!
Bilamana tidak pergi dan berdiri terus disana....
bukankah hal ini sama saja telah menyia2kan maksud dari Koan Ing?
Air matanya kembali bercucuran semakin deras lagi....
Waktu itu Koan Ing telah menutup mulutnya kencangkencang, sepuluh bilah pedang dengan perlahan menekan semakin kebawah, agaknya jurus bertahan yang paling sempurna inipun tak berhasil menekan serangan gabungan yang amat dahsyat itu.
Hanya untung saja kesadaran mereka sudah dikuasai sehingga kebebasan berpikirpun sudah tak ada lagi, kalau tidak barang siapa pun yang merubah sedikit gerakan serangannya, maka Koan Ing akan segera rubuh bermandikan darah.
Tubuh Koan Ing dengan perlahan-lahan semakin tertekan kebawah, sinar matanya berkedip-kedip, ia memandang ke arah Cha Ing Ing yang sedang menagis itu, hatinyapun ikut kebingungan.
Semakin lama daya tekan itu semakin memberat, maka sambil menggigit kencang bibirnya Koan Ing terus bertahan diri sedang tanah yang diinjakpun satu coen demi satu coen mendesak kedalam....
Dengan perlahan si sastrawan berusia pertengahan itu munculkan dirinya kembali dari balik tempat persembunyiannya, kemudian sambil memandang ke arah mereka berdua ujarnya sambil tertawa.
"Cha Ing Ing, cepat nasehatilah Koan Ing untuk menyerah!! Aku tidak bermaksud untuk membunuh dirinya!"
Sinar mata Cha Ing Ing tiba-tiba menajam bilamana Koan Ing mati karena dia buat apa dirinya pun ikut hidup lebih lama lagi?
Dalam gusarnya ia segera membentak keras sedang pedangnya dengan disertai rentetan sinar yang amat tajam menubruk ke arah salah seorang musuhnya.
Orang itupun segera membentak keras, pedangnya membalik untuk menangkis datangnya serangan tersebut....
"Criing...."
Dengan disertai suara bentrokan yang amat keras tubuh Cha Ing Ing kena dipukul pental sehingga menumbuk dinding tembok sedangkan pedang kiem-hongkiamnya terlepas dari tangan dan meluncur ke arah dinding batu, Melihat kejadian itu si sastrawan berusia pertengahan itu tertawa terbahak-bahak dengain kerasnya , .
Siapa tahu pada saat itulah mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam gua dan menyambar tubuh Cha Ing Ing yang sedang melayang ke arah dinding tembok tersebut.
setelah itu dengan sinar mata yang amat dingin memperhatikan si sastrawan tersebut, pandangan tajam itu seolah2 hendak membinasakan orang seketika itu juga.
Koan Ing yang melihat Orang itu adalah orang tua dari Cha Ing Ing, si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong, hatinya jadi amat girang.
Ditengah suara bentakannya yang amat keras sarung pedang kiem-hong-kiamnya digetarkan keras2 sehingga kontan terangkat satu setengah coen kealas.
Setelah munculnya Cha Can Hong disana maka disusul munculnya Thian Siang Thaysu itu ciangbunjien dari Siauwlim-pay bersama Sin Hong Soat-nie.
Kemudian ditengah suara tertawa yang sangat nyaring sijari sakti Sang Su-im muncul pula bersama-sama dengan Sang Siauw-tan.
Ooo)*(ooO Bab 52 Melihat kejadian itu air muka si sastrawan berusia pertengahan itu segera berubah hebat, tubuhnya tergesa2 mengundurkan diri ke arah belakang sedang kesepuluh bilah pedang itupun dengan cepat bubaran dan membentuk posisi setengah busur mengurung sekeliling tempat itu.
Koan Ing yang terlalu banyak mengeluarkan tenaga setelah barisan pedang itu bubaran iapun merasakan pandangannya jadi gelap buru-buru dia menarik napas pajang2, kemudian meloncat kesisi tubuh Sang Siauw-tan.
Sang Siauw-tan dengan mesranya membimbing tubuh Koan Ing dan membelainya dengan kasih sayang.
"Haaa.... haaa.... apakah pihak rimba Wang Yu Liem ada nyali untuk mencari gara-gara dengan kami sekalian!"
Tegur Sang Su-im sambil tertawa terbahak-bahak. Airmuka si sastrawan berusia pertengahan itu pada saat ini telah berubah jadi tenang kembali, sinar matanya berkedip2 lalu tersenyum.
"Tidak kusangka seluruh orang gagah di kolong langit bisa pada berkumpul disini!"
Katanya sambil tertawa tawar.
"Aku lihat hal inipun semakin baik lagi, akupun bisa mengambil satu penyelesaian yang lebih cepat!"
Saat itulah tubuh Koan Ing mencelat ke atas untuk mencabut lepas pedang kiem-hong-kiamnya lalu melayang balik kesisi Sang Siauw-tan.
Cha Ing Ing yang melihat kejadian ini lantas melirik sekejap ke arah pemuda tersebut Lama sekali baru ia menundukkan kepalanya kembali dengan amat sedih.
Diantara para jago yang hadir disana pada saat ini adalah Cha Can Hong serta Sin Hong Soat-nie yang paling gusar, walaupun murid serta puteri kesayangan mereka berhasil ditolong tetapi pahit getir ini bagaimana pun juga harus ditebus.
Terdengar Cha Can Hong mendengus dingin.
"Hmm! Semua orang Bu-lim menganggap rimba Wang Yu Liem merupakan suatu tempat terlarang, tetapi aku tidak akan menggubrisnya. Kau adalah majikan dari rimba Wang Yu Liem ini, bilamana ini hari aku tak berhasil membinasakan dirimu hatiku tidak lega,"
Katanya.
"Apakah muridku kau juga yang meracuni?"
Tanya Sin Hong Soat-nie sambil dengan perlahan maju ke depan.
"Haaa.... haaa.... selama hidup aku orang paling benci untuk menggunakan kekerasan, ilmu silat hanyalah digunakan untuk melawan sesuatu yang mengancam keselamatan seseorang. Seperti aku, walaupun merupakan majikan dari rimba Wang Yu Liem tetapi sedikitpun ilmu silat aku tidak mengerti."
Seru si sastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Demikianpun lebih bagus lagi,"
Sahut Sang Su-im sambil tertawa keras.
"Aku rasa di dalam persoalan ini kita dapat selesaikan sebaik-baiknya. Dan aku tahu kau adalah orang yang sangat memahami ilmu bangunan serta mengenal akan ilmu perbintangan, maka itu sengaja aku meminjam dua batang anak panah "Hek Siauw Lieh Hwee Ciam"
Dari nona Song, maka itu aku harus berhati-hati bila mana kau bermaksud hendak menggunakan ilmu kepandaianmu itu untuk menjebak kami maka jangan salahkan aku akan bertindak menggunakan kekerasan!"
"Aku rasa saudara tentu adalah pangcu dari perkumoulan Tiang-gong-pang bukan?"
Seru majikan dari rimba Wang Yu Liem itu sambil tersenyum."
Selamanya aku paling mengutamakan kejujuran untuk menghadapi seseorang dan belum pernah menggunakan cara-cara yang licik serta keji, karena aku sangat mengharapkan diantara kita bisa terjalin satu pengertian....
aku tahu kedatangan kalian semua ini adalah dikarenakan persoalan kereta berdarah itu, kini kereta berdarah ada di dalam gua sebelah dalam aku rela membawa kalian kesana....
Tapi kalian harus tahu aku memperoleh kereta tersebut bukannya bermaksud untuk mendapatkannya tetapi hendak aku orang musnahkan."
Koan Ing yang mendengar perkataan tersebut segera kerutkan dahinya, ini hari ia baru tahu kalau di bawah kolong langit masih ada manusia yang bermuka begitu tebal, apa yang dikatakan sama sekali bertentangan dengan cara-cara tindakannya!
Thian Siang Thaysu yang mendengar perkataan tersebut iapun kerutkan alisnya rapat-rapat, kereta berdarah ada di dalam gua?
"Coba kau bawalah aku masuk!"
Serunya tanpa terasa.
Sinar mata Sang Su-im berkelebat lalu menyapu sekejap ke arah Thian Siang Thaysu saat inilah ia barulah merasa bilamana kereta berdarah itu sangat berbahaya sekali bagi keselamatan para jago karena mengandung nafsu membunuh yang sangat mengerikan sekali.
Tetapi kini adalah saat-saat untuk bekerja sama menghadapi pihak rimba Wang Yu Liem karenanya iapun merasa tak enak untuk mengutarakan pendapatnya.
Si sastrawan berusia pertengahan itu tersenyum, tangannya dengan cepat menekan sebuah tombol sehingga dinding batu itu membuka ke arah samping.
Dan dari balik dinding batu itu tampaklah dibelah dalam terlihatlah sebuah gua yang sangat gelap sekali.
Thian Siang Thaysulah pertama2 yang bertindak masuk terlebih dahulu mengikuti diri si sastrawan tersebut, dan Koan Ing tahu siflat serakah dari hweeshio Siauw-lim-pay ini belum lenyap karenanya ia tak suka menggubris dirinya.
Setelah Thian Siang Thaysu maka disusul Sin Hong Soat-nie mengikuti dari belakangnya, tetapi saat itulah....
"Braaak....!"
Dinding batu kembali menutup rapat bersamaan itu pula terdengarlah suara bentakan gusar dari Thian Siang Thaysu.
Sang Su-im jadi amat terkejut ia pun membentak keras dan sepasang telapak tangannya buru-buru melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar dinding batu itu, Cha Can Hong serta Koan Ing pun punya pikiran yang sama.
mereka pun bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan.
Dinding batu yang kena digempur oleh tiga orang jagoan lihay seketika itu juga hancur berantakan ditengah suasana yang kacau serta debu pasir yang berterbangan memehuhi angkasa tampaklah Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soatnie mengundurkan diri ke belakang dalam keadaan sempoyongan.
Pada saat yang bersamaan itu pula ditengah suara tertawa panjang yang amat nyaring kesepuluh orang yang berbaju hitam itu bersama-sama menubruk ke arah depan.
Koan Ing segera bersuit nyaring sedang pedang Kiemhong-kiamnya dicabut keluar dari dalam sarung.
dengan jurus serangan "Thian Hong Cu Lok"
Atau pelangi langit menutup jalan ia menahan datangnya serangan orang-orang itu dengan keras lawan keras.
Cha Tian Kong serta Sang Su-im pun dengan gusarnya membentak keras, jari serta telapak laksana menggulungnya ombak dahsyat menghajar ke arah orang-orang itu pula dengan santar.
Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soat-nie yang kena dihantam oleh tenaga gabungan kesepuluh orang itu pada saat ini telah pada menderita luka dalam.
Walaupun dalam hati kedua orang itu merasa amat gusar tetapi bagaimanapun juga mereka adalah jagoan Bu-lim yang berkepandaian tinggi, mereka tahu bilamana luka tersebut tidak buru-buru disembuhkan maka sangat mengganggu kelancaran gerak mereka karena itu buru-buru mereka jatuhkan diri bersila dan pusatkan pikiran.
Sebenarnya dengan kekuatan dari Koan Ing seorang tidak akan sanggup menerima serangan gabungan dari kesepuluh orang itu.
tetapi pada saat yang bersamaan Sang Su-im serta Cha Can Hong masing-masing telah mengirim pula satu serangan gencar hal ini membuat pedangnya berhasil mendesak mereka mundur ke belakang.
Pada waktu ini posisi dari pihak rimba Wang Yu Liem benar-benar amat bagus sekali, dan mereka bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan, maka terasalah segulung angin pukulan laksana ambruknya gunung Thay san dengan berat menekan Koan Ing sekalian.
Melihat kejadian itu Sang Su-im jadi amat terperanjat, karena saat ini pihak musuh telah menggunakan posisi yang baik serta dengan tenaga penuh menyerang mereka, bilamana mereka bermaksud untuk menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras maka pasti kontan mereka bertigapun bakal terpukul luka.
Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soat-nie setelah bersemedhi sebentar tenaganya hampir pulih kembali separuh bagian.
sekalipun lukanya belum sembuh tetapi sudah ada kekuatan.
Pada saatZ yang kritis itulah mereka berdua serentak bangun berdiri dan melancarkan pula pukulan ke depan, Koan Ing, Cha Can Hong serta Sang Su-im serentak mengirimkan satu pakulan pula ke depan.
"Braaaak...."
Suara bentrokan yang amat keras serasa membela bumi bergema memenuhi angkasa, karena tenaga masing-masing pihak begitu bertemu laksana lengket saja.
siapapun tak ada yang bergerak.
Dan masing-masing pihak dengan sekuat tenaga mempertahankan dirinya, sedang percikan bunga api karena pergesekan adu tenaga inipun beterbangan memenuhi angkasa.
Batu dan pasir pada berguguran ke atas tanah, semakin lama pasir serta batuan yang gugur semakin santer sehingga akhirnya laksana cucuran air hujan saja.
Dan seluruh guha kini jadi tergetar dan goncang bagaikan gempa, agaknya sebentar lagi bakal meledak dengan hebatnya.
Sinar mata Sang Su-im bertambah berkilat, dia tahu pihaknya lama kelamaan bakal tidak kuat untuk menahan serangan gabungan tersebut.
Apalagi Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soat-nie baru saja menderita luka dalam.
Pikirannya dengan cepat berputar....
"Lepaskan anak panah!"
Tiba-tiba bentaknya dengan keras.
Mendengar suara teriakan tersebut si sastrawan berusia pertengahan itu jadi terperanjat, tadi dia sudah dengar Sang Su-im berkata kalau mereka membawa anak panah berapi "Hek Siauw Lie Hwee Ciam"
Ke tempat itu, diapun tahu bagaimana dahsyatnya anak panah berapi tersebut.
Bilamana pada saat itu Sang Su-im benar-benar melepaskan anak panah berapi ditengah goncangnya adu tenaga dalam yang amat dahsyat itu, dirinya yang tidak mengerti ilmu silat bukankah akan terkubur hidup2 disana?
Maka ia buru-buru mengundurkan diri semakin ke belakang, sedangkan kesepuluh orang berbaju hitam itupun bersama-sama ikut berkelebat mundur ke arah belakang.
Sang Su-im yang melihat pihak musuh mengundurkan diri hatinya terasa amat girang, sewaktu ia hendak perintahkan untuk menyerbu itulah tiba-tiba telah menemukan wajah Thian Sian Thaysu Sin Hong Soat-nie berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, dan dengan perlahan mereka duduk bersila di atas tanah.
Melihat hal itu hatinya jadi tergetar sangat keras, jika ditinjau dari keadaan ini terang untuk melakukan pengejaran sudah tidak mungkin lagi.
Maka Sang Su-im segera mengajunkan sebatang anak panah "Hek Siauw Lie Hwee Ciam"
Ke arah dalam....
"Blaaam....?"
Dengan disertai suara ledakan yang amat keras dinding batu yang menghalangi perjalanan mereka sudah kena dihantam sehingga meledak dan hancur berantakan"
Sambil mencekal pedangnya erat-erat Koan Ing segera menerjang masuk ke dalam.tetapi sebentar kemudian dia sudah berdiri termangu-mangu Kiranya di dalam gua itu bukan saja mempunyai cabang yang luar biasa banyaknya bahkan setiap tempat terdapatlah selapis dinding tebal yang menahannya.
karena itu untuk beberapa saat lamanya ia jadi kebingungan.
Pada saat itulah dari balik gua yang amat dalam berkumandang datang suara ringkikan kuda yang amat panjang disusul berputarnya roda kereta berdarah yang amat berat bergema keluar kemudian hanya dalam sekejap saja telah lenyap tak berbekas.
"Heei.... tidak bakal kecandak? Mereka tentu sudah pergi,"
Kata Sang Su-im sambil tarik napas panjang-panjang.
"Tidak disangka kecuali berdinding lapis, lorongpun ada demikian banyaknya, bahkan di belakang sana masih ada jalan keluarnya!!"
Selesai berkata kembali ia menghela napas panjang dan berjalan keluar, Koan Ing pun bungkam diri tak mengucapkan sepatah katapun, karena kini hatinya masih terus saja mengingat2 si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng dan memikirkan kemana perginya orang itu?
Ketika tiba diluar gua, tampaklah Thian Siang Thaysu dengan muka kecewa dan penuh penyesalan bangun berdiri.
"Heei karena pinceng masih saja serakah tak disangka urusan jadi sedemikian rupa!"
Katanya penuh penyesalan.
Sang Su-im hanya tersenyum saja, dia tahu Thian Siang thajsu jadi orang amat sombong sekali apalagi kedudukannya sebagai seorang ciangbunjien, selama ini belum pernah dia mengemukakan perjesalannya terhadap orang lain, tidak nyana ini hari dia bisa memperlihatkan kesesalannya dihadapan banyak orang.
"Thaysu buat apa kau menyesali dirimu sendiri?"
Hiburnya sambil tertawa.
"Urusan telah lewat, lebih baik tak usah kau pikirkan lagi Kitapun masih bisa bertemu dengan Majikan Rimba Wang Yu Liem dikemudian hari!"
Baru saja berbicara sampai disitu, mendadak dari luar guha berkumandang datang lima kali suara ledakan keras. Air muka Sang Su-im seketika itu juga berubah hebat.
"Aaaah! Nona Song telah mengirim tanda bahaya, mungkin keadaan nona Song kepepet!"
Teriaknya cemas.
"Pasti ada musuh tangguh telah menyerbu datang. Mari kita cepat keluar!"
Selesai berkata, buru-buru ia meloncat keluar dari dalam guha, Koan Ing pun merasa amat terperanjat dia mengerti Song Ing adalah seorang perempuan yang berhati tinggi, bilamana tidak menemui urusan yang benar-benar amat berbahaya, tak mungkin dia orang suka melepaskan tanda bahaya, Tubuhnya pun dengan cepat ikut menerjang keluar membuntuti diri Sang Su-im.
Waktu itu pepohonan diluar guha hampir seluruh bagian telah musnah, saat ini tinggallah abu serta arang.
Baru saja tubuhnya keluar dari gua, mendadak terdengarlah suara tertawa seram berkumandang keluar, kiranya sebuah jaring emas telah menyambut kedatangannya.
"Kalian hendak pergi kemana lagi!"
Bentak seseorang dengan suara yang berat.
Koan Ing yang mendengar suara bentakan tersebut, segera bisa mengenal lagi kalau dia bukan lain adalah sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu adanya.
Song Ing terhadap dirinya amat baik apa lagi dirinyapun berhutang budi terhadap subonya ini, kini melihat ada orang yang bermaksud menghalangi perjalanannya untuk menolong Song Ing hatinya jadi amat gusar sekali.
Dia membentak keras, tubuhnya laksana sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur melewati Sang Su-im sedang pedang kiem-hong-kiamnya bagaikan sambaran kilat cepatnya menyerang ke depan menekan ujung jaringan emas itu.
Jurus ini adalah jurus "Ban Sin Peng To"* dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam"
Yang paling dahsyat pengaruhnya, Ujung pedangnya dengan cepat menekan jaring emas Phoa Thian-cu kebawah tubuhnya pun meminjam kesempatan itu meloncat ke atas udara disusul ujung kaki kanannya bagaikan sambaran angin melancarkan satu tendangan kilat menghantam iga musuhnya.
Seketika itu juga Phoa Thian-cu kelabakan dibuatnya, dalam hati benar-benar amat terperanjat sekali.
Dia tidak menduga kalau semakin lama tenaga dalam dari Koan Ing semakin dahsyat, hal ini merupakan satu peristiwa yang sukar untuk dipercaya.
Maka tubuhnya dengan gesit ke samping untuk menghindar, dan dengan mengambil kesempatan itulah tubuh Koan Ing bagaikan sambaran kilat cepatnya sudah meluncur ke arah depan.
Melihat pemuda itu berhasil meloloskan diri dengan begitu mudahnya, Tong Phoa Pek jadi tertegun, saat itulah serangan jari tangan Sang Su-im telah menyambar datang mengancam keninqnya, hal ini memaksa dia orang mau tidak mau harus putar badan untuk menyambut.
Tubuh Koan Ing setelah berhasil menerjang halangan dari Phoa Thian-cu dengan kecepatan yang paling tinggi ia berkelebat ke arah depan.
Kurang lebih setengah li jauhnya tampaklah si iblis bongkok dari Si Ih telah menantikan pula kedatangannya.
Begitu melihat munculnya Koan Ing disana maka terdengar si iblis bongkok menegur dengar suara yang dingin.
"Bukankah kau orang hendak menolong Sian-thian-kauwcu? Aku rasa tindakanmu sudah terlambat!"
Sambil berkata tongkat pualamnya laksana kilat menyambar ke arah depan mengancam jalan darah "Yauw Hu Hiat"
Dan tubuh Koan Ing.
Berbagai rasa curiga segera berkecambuk dihati pemuda itu, sebenarnya apa yang telah terjadi?
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Dirinya sepanjana jalan selalu ada saja jagoan yang mencegat dirinya, apa mungkin masih banyak jagoan berkepandaian tinggi yang telah pada datang?
Lalu mengapa Song Ing mengirim tanda bahaya?
Pedang kiem-hong-kiamnya berturut-turut lancarkan delapan buah serangan ke depan, semakin lama serangannya semakin gencar yang membuat si iblis bongkok dari daerah Si In ini kena didesak mundur tujuh langkah ke belakang.
Si Ih Mo Tuo benar-benar amat terperanjat melihat kedahsyatan diri Koan Ing yang berhasil mendesak mundur dirinya sejauh tujuh langkah itu karena hal ini belum pernah ditemuinya selama ini.
Koan Ing mendengus dingin, pedangnya kembali menyambar ke depan menahan serangan tongkat dari musuhnya setelah itu dengan sangat gesit tubuhnya mencelat ketengah udara dan berkelebat menuju ke arah depan.
Si Ih Mo Toa pun tidak turun tangan menghalangi Koan Ing, diam-diam hatinya merasa bergidik karena ia tahu bilamana Koan Ing tidak keburu pergi dari sana maka di dalam seratus jurus dirinya tentu akan terluka di bawah serangan pedangnya.
Dengan gerakan yang paling cepat Koan-Ing meluncur ke arah tempat dimana Song Ing berada, tetapi waktu itu suasana benar-benar amat sunyi tak tampak sesosok bayangan manusia pun di tempat itu.
Hatinya jadi amat terperanjat, matanya dengan cepat menyapu ke sekeliling tempat itu tetapi suasana tetap sunyi senyap tak tampak sesosok manusiapun.
Saat itulah pemuda itu baru merasa hawa berdesir berkecambuk dihatinya, ia merasa dirinya serasa berada di dalam gudang salju yang amat menggigilkan, Buru-buru kepalanya didongakkan ke atas.
tiba-tiba....
di atas sebuah puncak gunung disebelah kirinya terlihatlah seorang berdiri dengan angkernya dengan penjagaan yang ketat di sekeliling tempat itu.
bukankah dia adalah Song Ing yang hendak ditolongnya?
Melihat subonya berada dalam keadaan sehat-sehat saja hatinya jadi lega.
Tubuhnya segera meloncat ke depan berlari ke arah puncak tersebut, tetapi baru saja tubuhnya bergerak mendadak terdengarlah suara bentakan nyaring berkumandang datang.
"Koau Ing kau ingin pergi kemana lagi?"
Tubuhnya pun segera berputar ke belakang, tampaklah Yuan Si Tootiang dengan pandangan yang dingin sedang munculkan dirinya dari balik batu.
Saat ini toosu dari Bu-tong-pay itu mencekal sebilah pedang berwarna merah darah dari sinar matanya terlintaslah nafsu membunuh yang sangat mengerikan, lagaknya ia bermaksud untuk membinasakan dirinya dengan satu kali tusukan.
Maka dengan dinginnya Koan Ing pun memandang ke arah Yuan Si Tootiang.
dia tahu toosu itu pasti sangat membenci dirinya karena tusukan pedangnya tempo hari sehingga dalam hati kecilnya tentu sudah tertera maksud untuk membinasakan dia Orang.
Kepandaian silat dari Yuan Si Tootiang memang berada di atas kepandaian Phoa Thian-cu, terhadap dirinya boleh dikata merupakan musuh tangguh.
karena itu iapun tak berani berlaku ajal.
dan dengan perlahan hawa murninya disalurkan ke seluruh tubuh untuk bersiap-siap.
"Hmm! Kepandaian silatmu benar-benar sangat lihay sekali dan merupakan hal yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun ini. Tempo hari kau sudah menusuk badanku sehingga aku terluka parah, kini aku hendak membalas sakit hati itu, tapi aku ingin kau suka tinggalkan seluruh kepandaian silat yang kau miliki!"
Seru Yuan Si Tootiang sambil tertawa dingin.
"Haaa.... haaa.... kaupun harus tahu di kolong langit pada saat ini kau merupakan salah seorang yang ingin aku beset kulit tubuhnya dan mendahar daging tubuhmu!"
Balas Koan Ing sambil tertawa panjang.
Wajah Yuan Si Tootiang kontan berubah jadi merah padam bagaikan udang rebus, matanya dengan gusar memandang diri pemuda tersebut.
sedangkan pedang berwarna merah darahnya pun dengan perlahan diangkat sejajar dengan dada.
Koan Ing segera menarik napas panjang-panjang dia sengaja memperlihatkan sikap yang tidak waspada dan memandang hina toosu tersebut dan ujung pedang kiemhong-kiamnya ditudingkan ke arah permukaan tanah.
Yuan Si Tootiang bersuit nyaring, pedang merah darahnya digetarkan lalu melancarkan satu tusukan mengancam Koan Ing.
Koan Ing segera mendengus, tangan kanannya dengan ringan mencukil ke atas, diantara dengungan suara pedang yang amat keras pedang kiem-hong-kiamnya dibabatkan setengah lingkaran busur ke depan, dan dengan amat tepatnya ia berhasil menghalau serangan pedang dari Yuan Si Tootiang ini.
Baru saja kedua bilah pedang itu saiing menempel satu sama lainnya tiba-tiba Koan Ing menggetarkan tangan kanannya, dan diantara suara desiran yang keras itu pedang kiem-hong-kiamnya mencelat tegak dan mencukil pergi pedang merah darah dari Yuan Si Tootiang disusul kaki kanannya menutul permukaan tanah dan pedangnya langsung menusuk keperut toosu tersebut.
Maka dengan gusarnya Yuan Si Tootiang membentak keras pedangnya balas melancarkan serangan gencar ke depan sehingga hanya di dalam sekejap saja angin sarangan berkelebat memenuhi angkasa, diantara berkelebatnya tiga rentetan cahaya tajam pedang Yuan Si Tootiang kembali kena ditekan kebawah.
Baca Juga: Dendam Asmara 3
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 8