Ceritasilat Novel Online

Kereta Berdarah 8

Eps 8 Kereta Berdarah - Khu Lung

Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung

Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.

Dengan perlahan Cha Ing Ing dongakkan kepalanya memandang ke arah pemuda tersebut, empat mata bertemu jadi satu membuat hati terasa berdebar.

Dengan meminjam sinar api yang menyorot masuk ke dalam gua mereka berdua dapat melihat bagaimanakah perubahan wajah dan masing-masing pihak pada saat itu.

"Engkoh Ing!!! sebelum mati maukah kau memeluk diriku?"

Seru Cha Ing Ing dengan amat sedih, Selesai berkata dengan perlahan dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemuda tersebut.

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras dan berdiri termangu-mangu di sana.

dia mengerti bilamana orang-orang buas itu kembali melancarkan serangan gabungan maka dirinya tidak bakal berhasil mempertahankan diri beberapa saat lamanya.

walaupun kini Sang Siauw-tan berhasil meloloskan diri tetapi Sang Su-im ada di tempat seratus li dari sini apakah mereka sempat datang memberi bantuan?

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya terakhir tak kuasa lagi tangannya mulai merangkul tubuh Cha Ing Ing lalu dipeluknya erat-erat.

Cha Ing Ing yang ada di dalam pelukannya segera menangis tersedu-sedu, pada saat ini entah dia baru merasa sedih atau gembira....

, Ditengah suara teriakan yang amat aneh dari luar gua mendadak melayang datang sebuah benda hitam yang terjatuh di atas tanah.

"Plaak ,....!"

Dengan ketajaman mata dari pemuda itu sekali pandang saja dia mengetahui kalau benda tersebut bukan lain adalah sesosok mayat.

Tidak selang lama kemudian sudah ada dua puluh sosok mayat yang dilemparkan masuk ke dalam gua, dalam hati baik Koan Ing maupun Cha Ing Ing mengerti kalau mayat2 tersebut bukan lain adalah mayat2 dari orang buas yang kena mereka bunuh tadi.

Setelah mayat itu selesai dilemparkan ke dalam gua lalu diikuti dengan panah api dilempar masuk ke dalam gua itu, melihat kejadian ini pemuda itu jadi amat kaget sekali.

Bilamana tidak menderita luka ada kemungkinan dia masih bisa melancarkan satu pukulan untuk menghajar keluar panah berapi itu, tapi kini dia lagi menderita luka parah bahkan boleh dikata tak ada kekuatan lagi untuk turun tangan, di dalam keadaan ssperti ini terpaksa dia cuma bisa menunggu saat kematiannya saja.

Ditengah mengepulnya asap api yang berkobar itu Cha Ing Ing berbatuk keras, Koan Ing yang melihat hal itu jadi berdesir hatinya.

Kini Cha Ing Ing tidak suka menutup pernapasannya dan ingin mencari mati, apa daya?

"Ing Ing!!

Bagaimana kau orang boleh berbuat demikian?

Apakah sudah tidak mau mengurusi ayah ibumu lagi?"

Teriak pemuda itu sambil mendorong tubuh Cha Ing Ing. Dengan wajah penuh air mata gadis itu melirik sekejap ke arah Koan Ing yang kemudian menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Kau tak usah mengurusi diriku!!"

Mendengar perkataan itu Koan Ing jadi amat terperanjat.

"Heeeei.... mari kita keluar saja!"

Ajaknya kemudian sambil bangun berdiri.

Dengan perlahan Cha Ing Ing dongakkan kepalanya kembali memandang ke arah pemuda itu, begitu melihat wajah yang kukuh dari Koan Ing air matanya kembali mengucur keluar dengan deras.

Lama sekali dia memnndang pemuda itu dengan terpesona, terakhir ia baru membuka mulut berkata.

"Engkoh Ing! aku tidak akan pergi dari kini, mau bukan kau kabulkan permintaanku untuk kali ini?"

Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau Cha Ing Ing bisa mohon pada dirinya mengenai soal ini.

seketika itu juga ia jadi tertegun.

Asap mulai menebal yang akhirnya memenuhi seluruh ruangan gua itu, kembali Cha Ing Ing berbatuk2 sedang air mata mengalir keluar semakin deras lagi.

"Ing Ing!"

Ujar pemuda itu lagi dengan suara yang halus sekali.

"Bilamana kita sampai mati di tempat ini, bagaimana nanti aku bisa bertanggung jawab di depan paman Cha?"

"Kau tidak usah menipu dan memaksa aku lagi, karena aku sekarang bukan bocah cilik lagi....!"

Teriak Cha Ing Ing tibatiba dengan suara keras.

"Kalau kau ingin bertemu dengan enci Siauw-tan katakanlah saija secara terus terang, kenapa harus berpura-pura dengan menipu diriku? Buat apa kau purapura jadi orang baik?"

Koan Ing yang disembur dengan kata-kata itu jadi melengak dibuatnya, karena dalam hati ia sama sekali tak menduga kalau Cha Ing Ing bisa berkata demikian, maka untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.

"Baiklah! kau suruh aku keluar akan kuikuti perkataanmu itu. Tetapi apa kau kira setelah keluar dari sini masih bisa lolos dari kematian?"

Teriak gadis itu lagi dengan gusar, Sehabis berkata dia lantas bergerak keluar dari gua itu. Melihat tindakan yang begitu nekat dari gadis tersebut Koan Ing jadi amat cemas.

"Ing Ing! kau jangan pergi sendiri, mari kita keluar bersama?"

Teriaknya.

Sekeluarnya dari gua itu terlihatlah Cha Ing Ing masih berdiri disana, hal ini membuat hatinya rada lega.

Tetapi sebentar kemudian seluruh bulu kuduknya sudah pada berdiri, karena di sekeliling tempat itu hanya tampaklah cahaya sinar yang amat terang, kiranya mereka sudah terkepung rapatrapat disana!

Diantara gerombolan orang-orang itu tahu-tahu muncullah seorang lelaki berusia pertengahan yang mengulapkan tangannya menghentikan suara teriakan yang sangat ramai tersebut, kemudian dengan bahasa Han yang lancar serunya.

"Kalian sudah membunuh orang, kalian harus ingat hutang nyawa harus dibajar dengan nyawa!!"

Selesai berkata dia lantas memberi tanda kepada orangorang yang ada dibelakangnya, tampaklah berpuluh-puluh orang buas dengan membawa senjata tulup panah beracun siap-siap melancarkan serangan ke arah kedua orang itu.

Koan Ing yang melihat kejadian ini jadi amat terperanjat karena dia tahu kalau panah2 yang digunakan mereka adalah sangat beracun sekali, siapa saja yang terkena tentu akan menemui ajalnya, karena itu buru-buru ia menarik Cha Ing Ing ke belakang tubuhnya dan berseru dengan perlahannya.

"Kau jangan bertindak dulu!!"

Dengan sekuat tenaga Cha Ing Ing meronta untuk melepaskan diri dari cekalan Koan Ing, walaupun begitu dia tak pergi jauh.

Pada saat dan keadaan seperti ini Koan Ing tetap tidak suka mengurusi lebih banyak lagi.

"Tahan!!"

Teriaknya tiba-tiba. Lelaki berusia pertengahan itu segera mendengus dingin, tangannya diulapkan menghentikan tindakan anak buahnya.

"Apa yang ingin kau ucapkan?"

Tanyanya tawar.

"Kami saling tak kenal dan tiada ikatan permusuhan apapun dengan kalian, cuma secara tidak sengaja lewat digunung ini, kenapa tanpa sebab kalian hendak membunuh kami!?"

Sinar mata lelaki berusia pertengahan itu berkelebat tiada hentinya lalu dia mendengus dingin.

"Selamanya tempat yang kami tinggali tidak memperkenankan ada orang asing yang menginjak."

Koan Ing yang mendengar perkataan mereka sama sekali tidak pakai aturan dia pun tidak dapat berbuat apa-apa, terpaksa ujarnya.

"Orang-orang itu akulah yang turun tangan membunuh, dan peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan dia, lebih baik kalian lepaskan dia pergi."

"Tidak bisa!!"

Potong lelaki berusia pertengahan itu dengan keras.

"Dia ada bersama-sama dengan dirimu, apalagi kamipun melihat dia juga ikut membunuh, kau lagi jual obat macam apa?"

Selesai berkata kembali tangannya diulapkan menyusun kembali jago-jago tulupnya.

Koan Ing yang melihat orang itu tidak bisa diajak damai hatinya dibuat semakin cemas lagi, buru-buru teriaknya kepada gadis tersebut.

"Ing Ing cepat kau terjang keluar!"

Selesai berkata dia membentak keras dan menerjang ke arah lelaki berusia pertengahan itu.

Ditengah suara sambaran senjata yang tajam sederetan panah2 beracun dengan cepat meluncur ke arah pemuda itu.

Cha Ing Ing yang melihat tindakan Koan Ing untuk memancing musuh dan memberi kesempatan baginya untuk meloloskan diri dia jadi terperanjat, kemudian teriaknya dengan cemas.

"Engkoh Ing!!"

Disertai suara jeritan yang keras itu diapun ikut menerjang dibelakangnya.

Dengan gesitnya Koan Ing mengajunkan pedang kiemhong-kiamnya menyapu jatuh anak panah yang menerjang ke arahnya, tapi sewaktu mendengar Cha Ing Ing ikut mengejar datang hatinya jadi bergetar keras dan karena berajal itulah lengan kanannya kena dihajar sebatang panah.

Seketika itu juga lengan kanannya menjadi kaku dan hilang daya kekuatannya.

Cha Ing Ing menjerit kaget, sambil menarik napas panjangpanjang teriaknya keras.

"Kau larilah ke arah lain!!"

Ditengah sambaran anak panah beracun yang amat deras laksana curahan air hujan itu mana mungkin Koan Ing bisa menghindarkan diri lagi?

Berturut-turut badannya kena dihajar kembali lima, enam batang anak panah.

Pada saat itulah cha ing Ing sudah menerjang ke samping tubuh pemuda itu, begitu melihat Koan Ing sudah tidak kuat memegang pedangnya lagi buru-buru dia menyambar pedang itu untuk melindungi tubuh.

"Engkoh Ing! aku sudah berbuat salah...."

Teriak gadis itu sambil menangis dan menyambar tubuh Koan Ing dengan menggunakan tangan kirinya.

Dengan pandangan sayu pemuda itu membuka matanya memandang sekejap ke arah Cha Ing Ing tapi kepalanya terasa amat pening sekali hingga sukar ditahan.

Sambil mengobat-abitkan pedangnya gadis itupun melirik sekejap ke arah pemuda yang ada dalam rangkulannya, tapi sewaktu melihat sinar matanya redup dan tak bercahaya lagi hatinya jadi cemas sehingga air matanya mengalir keluar bertambah deras.

Ditengah sambaran panah beracun yang amat deras itu akhirnya Cha Ing Ing pun kena dihajar badannya, buru-buru napas dan jalan darahnya ditutup, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mencoba terus memperiahankan diri.

Koan Ing yang melibat gadis itupun kena dihajar anak panah beracun hatinya jadi merasa amat menyesal, karena dia merasa perkataan dari gadis tadi sedikitpun tidak salah, memang di dalam hatinya cuma pikirkan Sang Siauw-tan seorang saja.

Tetapi kini....

mereka berdua hampir mati....

Tiba-tiba tardengar tiga buah letusan keras meledak ditengah udara membuat pemuda itu merasa hatinya targetar keras.

"Aaah.... Sang Siauw-tan tiba...."

Karena hatinya bergetar keras, tak kuasa lagi pemuda itu jatuh tak sadarkan diri Ooo)*(ooO Bab 42 ENTAH lewat beberapa saat lamanya dengan perlahan dia baru sadar kembali dari pingsannya dan waktu itu dia menemukan dirinya berbaring di atas sebuah pembaringan, Tetapi teringat akan peristiwa yang baru saja terjadi buruburu tubuhnya bergerak hendak bangun berdiri, Koan hian-tit, untuk sementara lebih baik kau jangan bergerak dulu!"

Seru seseorang secara tiba-tiba sambil menekan badannya.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang setelah pandangannya jadi terang diapun dapat melihat kalau di samping pembaringannya berdirilah dua orang, mereka bukan lain adalah Sang Su-im ayah beranak.

Lama sekali ia memandang ke arah mereka berdua dengan termangu-mangu, bagaimana dirinya bisa tidur di atas ranyang?

Waktu itulah dia dapat mencmukan kalau Sang Siauw-tan jauh lebih kurusan dari tempo dulu sedang Sang Su-im sambil tersenyum lagi memperhatikan dirinya.

"Kali ini akulah yang membuat kalian celaka,"

Ujar Sang Suim sambil tertawa.

"Sewaktu berada didaerab Tian Lam aku mendapatkan berita tentang Sang Siauw-tan, saking girangnya dan terkejutnya lantas membawa Tian Pian Ih Boen atau sitabib sakti dari daerah Tian Lam, dan itu Lam Kong Ceng kiranya juga telah memasuki daerah Tionggoan tetapi sama sekali tidak menyangka kalau orang-orang buas itu telah salah paham kalau dikiranya kami menculik tabib itu dengan paksa maka mereka lantas pada menguntit kemari untuk menghadapi diriku.... Tetapi siapa sangka kaulah yang kena getahnya!"

Koan Ing cuma tersenyum saja setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba di dalam benaknya teringat akan sesuatu ujarnya.

"Dimana Cha Ing Ing."

Sinar mata Sang Su-im berkelebat tiada hentinya sedang Sang Siauw-tan menundukkan kepalanya rendah-rendah, lewat beberapa saat kemudian baru terdengar Sang Su-im menjawab.

"Bocah itu sungguh keras kepala, baru saja sembuh dia sudah pergi dari sini tanpa pamit. Dan sampai ini hari kau sudab berbaring selama setengah bulan lamanya karena Lam Kong Ceng telah mencekoki dirimu dengan arak Pek Jien Coeinya yang lihay, sekarang lukamu sudah sembuh semua!"

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, karena sewaktu mendengar Cha Ing Ing sudah meninggalkan tempat itu tanpa pamit hatinya merasa tidak enak.

karena itu tak sepatah katapun yang dapat diucapkan keluar.

"Karena urusan manusia2 buas itu Lam Kong Ceng sudah kembali ke daerah asalnya,"

Ujar Sang Su-im lagi.

"Sebelum berangkat dia mengemukakan kalau dirinya sangat kagum dengan ilmu pengobatanmu, bilamana ada kesempatan dikemudian hari ia ingin minta beberapa petunjuk dari dirimu."

Dengan perlahan pemuda itu dongakkan kepalanya mcmaadang ke arah Sang Su-im lalu serunya.

"Empek Sang, terima kasih."

Kemudian kepada Sang Siauw-tan dia tersenyum.

"Siauw-tan! Beberapa hari ini kau tentu merasa sangat cemas bukan?"

"Eeeei.... karena tiba-tiba kau bicara begitu sungkansungkan terhadap diriku? Sekarang kau sudah sembuh hatikupun sudah lega,"

Kata gadis itu sambil tersenyum.

"Siauw-tan!"

Tiba-tiba Sang Su-im menyela dan samping.

"Kau antarkan engkoh Ingmu untuk jalan-jalan di tempat luaran, dengan demikian otot2nya yang sudah kakupun biar luwes kembali, di samping itu diapun memerlukan hawa segar!"

Sang Siauw-tan segera mengangguk, kemudian sambil membimbing Koan Ing untuk bangun berdiri.

Walaupun pada saat ini luka yang diderita Koan Ing sudah sembuh semua tetapi karena setengah bulan ini terus menerus dia berbaring membuat badannya pun menjadi amat lemah, maka sambil mencekal tubuh Sang Siauw-tan dengan perlahan-lahan ia berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.

Kiranya pada saat ini mereka berada di atas loteng, pemandangan yang ada di hadapannya adalah sebuah sungai besar yang berliku2, disisi kiri kanannya tumbuhlah pepohonan nan hijau, kaadaannya jauh berbeda dengan pemandangan sewaktu berada di daerah Tibet serta tanah salju.

"Siauw-tan! sekarang kita berada dimana?"

Tanyanya sambil manarik napas panjang.

"Coba kau tebak!"

Sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat pemuda itu memandang sekejap ke sekeliling tempat itu lalu ujarnya.

"Sungai yang kelihatan ini tentunya sungai Tiang Kang, jika ditinjau dari gunung yang ada dikedua belah sampingnya aku kira tempat ini pastilah selat Sam Shia, apa betul?"

Sang Siauw-tan segera tersenyum.

"Kita pada saat ini berada digunung Toa Wu-san, apakah kau sudah lupa dengan tantangan Sin Ti Lang Coen terhadap ayahku untuk merasakan kelihayan dari barisan Sang Loo Toa Tin dipuncak Jien Giok Hong? Dan mulai ini hari masih tinggal tiga hari saja!"

Koan Ing tersenyum, belum sempat dia mengucapkan sesuatu mendadak pemuda itu sudah menjerit kaget kiranya di samping sungai itu terlihatlah olehnya cahaya berdarah yang berkelebat dengan cepatnya.

jika dilihat dari keadaanya mirip sekali dengan kereta berdarah cuma hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Sang Siauw-tan yang mendengar Koan Ing menjerit tertahan tak terasa diapun menoleh ke arah sungai.

"Kau sudah melihat sesuatu?"

Tanyanya.

"Agaknya kereta berdarah, dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap tak berbekas!!"

"Kereta berdarah?"

Seru Sang Siauw-tan sambil memandang tajam ke arah sungai tersebut, Sang Su-im yang mendengar perkataan tersebut segera berjalan mendekat dan memandang ke arah depan.

"Kereta berdarah!!"

Serunya.

"Bagaimana mungkin kereta berdarah bisa muncul disini sungguh aneh sekali!! "Tia! apakah kereta berdarah bisa muncul disini?"

Tanya gadis itu sambil dengan perlahan menoleh ke arah Sang Suim.

"Memang selama beberapa hari Yaun Si Totiang serta sijaring emas penguasaha langit sudah memasuki daerah Tionggoan, sedang Thian Siang Thaysu itu ciangbunjien dari Siauw-lim-pay pun sudah kembali ke kuil untuk mempersiapkan delapan ratus lo han tin untuk menghadapi Yuan Si Tootiang tetapi toosu itu tidak ambil perduli karena jejaknya masih berkelebat tiada ujuug pangkalnya. Dan oleh karena perbuatan itu Thian Siang Thaytu terus menyebar undangan Bu-lim Tiap untuk mengundang seluruh jagoan Bulim bersama-sama menghadapi Yuan Si Tootiang serta Phoa ThiaD Coe mungkin sekali apa yang dilihat Koan hian-tit tadi memang kereta berdarah adanya."

"Empek Sang! apakah kau mengetahui siapakah majikan dari kereta berdarah pada saat ini?"

Tanya pemuda itu tibatiba.

"Aku rasa persoalan ini, adalah persoalan yang ingin diketahui oleh setiap orang yang ada di kolong langit"

Sahut Sang Su-im sambil tertawa. Baru saja dia selesai berkita mendadak terdengarlah suara dengusan yang amat dingin berkumandang datang disusul suara seruan dari sesesorang dengan amat dinginnya;

"Sang Su-im! sungguh pandai kau orang mencari kesenangan!"

Diantara berkumandangnya suara tersebut tampaklah sesosok bayangan abu-abu berkelebat naik ke atas loteng, Koan Ing melihat munculnya orang itu dalam hati merasa sangat terperanjat sekali.

Karena orang itu mencekal sebuah tombak yang besar dengan rambut yang sudah pada memutih, orang lain pasti bukan lain adalah Ciat Ih Toocu dari lautan Timur.

Ciu Tong adanya!

Sang Su-im yang melihat mUnculnya Ciu Tong disana sama sekali tidak merasa ada diluar dugaan "OooouuwW....

kiranya kau orang!"

Serunya tawar, Dengan pandangan dingin Ciu Tong segera menyapu sekejap ke seluruh kalangan, kemudian baru ujarnya dengan perlahan.

"Kau seorang diri berdiam disini dengan tenang, apakah kau masih tidak tahu kalau Yuan Si Tootiang serta Phoa Thian-cu dikarenakan hendak mengejar jejak kereta berdarah sudah pada berdatangan digunung Wu san?"

"Biarlah mereka mau mengejar atau tidak itu kereta berdarah untuk sementara bukan urusanku,"

Sahut Sang Suim cepat.

"Karena besok pagi2 aku masih ada urusan dipuncak Jien Giok Hong untuk menghadapi barisan Seng Loo Toa Tin dari Sin Ti Langcoen itu pangcu dan Sin Ti Pang!"

Terlihatlah sinar mata Ciu Tong berkelebat dengan tajam, agaknya dia merasa urusan ini rada berada diluar dugaan.

Pada saat itulah dari bawah loteng kembali berkumandang datang suara tertawa yang amat keras disusul dengan munculnya sesosok bayangan manusia yang meloncat naik ke atas loteng pula.

"Sang-heng selama perpisahan ini apa kau baik-baik saja?"

Serunya. Orang itu bukan lain adalah si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong adanya. Sang Su-im yang melihat munculnya Cha Can Hong segera tertawa.

"Kiranya kau orang, apakah istri serta putrimu tidak ikut?"

Tanyanya.

"Beberapa hari lagi dia baru tiba disini, tadi aku dengar orang bilang perkumpulan Sin Ti Pang sudah tiba disini, suasana kali ini benar-benar sangat ramai, apakah Sang heng sudah melihat budakku?"

Selesai berkata sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah Koan Ing.

Koan Ing yang melihat sinar mata orang itu amat tajam hatinya merasa tergetar keras, karena dari sinar mata Cha Can Hong ini seolah2 mengartikan kalau Cha Ing Ing lari dikarenakan dirinya.

"Oooh kau maksudkan Ing Ing? Memang beberapa hari yang lalu dia masih berada disini, cuma saja secara mendadak dia lari pergi tanpa pamit."

"Aaaah.... kalau begitu hatikupun agak tenang kembali, karena bilamana dia tidak menemukan diriku mungkin akan balik kembali kemari."

Ciu Tong yang ada di samping mendadak dengan suara yang amat dingin.

"Eeei.... lebih baik kalian jangan membicarakan terus soal bocah cilik, lebih baik kita bicarakan persoalan yang ada dihadapan kita pada saat ini. Karena sejak Yuan Si Totiang serta Phoa Thian-cu masuk ke daerah Tionggoan ini hingga kini kita orang tak dapat berbuat sesuatu apapun terhadap mereka bahkan dimanakah mereka pada saat ini kita juga tidak tahu".

"Soal itu mudah sekali diatasi, karena asalkan kita mendapatkan kereta berdarah itu mereka pasti akan mencari kita dengan sendirinya,"

Sahut Cha Can Hong sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu. Tetapi siapa yang tahu kereta berdarah itu ada dimana? Bukankah perkataanmu itu sama dengan perkataan kosong belaka?"

Seru Ciu Tong tawar.

Sang Su-im yang selama ini berdiam diri lantas ikut buka mulut, Mendengar perkataan itu dengan cepat Ciu Tong putar badannya, dari sepasang matanya memancarkan cahaya yang amat tajam.

"Dimana?"

Tanyanya.

"Sekarang sudah pergi jauh, sekalipun aku memberi tahu padamu juga percuma, apalagi sekarang kita belum tahu siapakab majikan dari kereta berdarah itu, orang itu bisa memperoleh kereta berdarah jelas sekali ilmu silatnya pasti luar biasa sekali."

"Hmm! Coba kau bilang siapa yang memiliki kepandaian begitu luar biasa?"

Tanya Ciu Tong sambil mengetuk2kan tongkatnya ke atas lantai loteng.

"Haaaa.... haaa.... haaa.... Ciu heng buat apa kau marah2 sendiri?"

Seru Cha Can Hong sambil tertawa terbahak-bahak.

"Urusan ini tidak mau kita pusing2 pikirkan lagi, karena nanti bila sampai pada waktunya pasti kita bisa ketahui sendiri!"

Ciu Tong segera mendengus dan tidak mengucapkan katakatanya lagi, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan sungai yang ada di hadapannya, agaknya dia bermaksud hendak mencari dimanakah jejak kereta berdarah itu sebenarnya.

Cha Can Hong tersenyum kepada Sang Su-im ujarnya lagi.

"Yuan Si Totiang itu jadi orang memang benar-benar kurang ajar sekali, aku rasa diapun tentu ada di sekeliling tempat ini, Sang-heng! Bagaimana kalau kau orang mengirim anak buah untuk mencari tahu jejaknya?"

Belum sempat Sang Su-im menjawab Ciu Tong sudah mendengus dan menoleh.

"Menurut penglihatanku lebih baik kita bersama-sama berangkat ke gunung Bu-tong-san bilamana dia tidak suka munculkan diri lebih baik kita hancurkan saja Bu-tong-pay."

Baru saja bicara sampai disitu mendadak terdengar suara seseorang yang amat dingin sudah menyambung.

"Aku rasa kau masih belum berhak untuk berbuat demikian."

Diantara suara pembicaran itulah tampak sesosok bayangan manusia berwarna hijau berkelebat naik Ke atas.

Sekali lagi Ciu Tong mendengus dingin, tubuhnya membalik melancarkan babatannya ke belakang dengan menggunakan tongkatnya.

Orang berbaju hijau itupan dengan cepat mencabut pedangnya, diantara berkelebatnya sinar hijau yang membentuk gerakan setengah lingkaran menekan ke arah tongkatnya itu.

Sinar mata iblis tua dari lautan Timur itu segera berkelebat tajam, dalam hati ia merasa amat gusar sekali karena di hadapannya ternyata ada orang yang berani begitu kurang ajar dan bernyali untuk melancarkan serangan ke arahnya.

"Turun!"

Bentaknya gusar....

Mendadak tongkatnya didorong sejajar dada menghajar tubuh orang berbaju hijau itu.

Orang berbaju hijau itu terkejut, pedangnya dibalik menyambut datangnya serangan tongkat, inilah jurus Bu-tong Kiam Hoat.

Nama besar Ciu Tong sejajar diantara nama2 empat manusia aneh sudah tentu tenaga dalam yang dimiliki juga amat dahsyat, sekalipun dia merasa kaget akan ke dahsyatan dari ilmu silat orang itu tetapi masih tidak dipikirkan dihati.

Tongkatnya kembali digetarkan ke depan, mendadak sambil meloncat melancarkan totokan ke arah bagian lehernya.

"Tiiing....!!"

Sekalipun tangan kanan dari orang berbaju hijau itu berhasil mencekal di atas kayu pagar tetapi pedang yang ada ditangannya kena dipukul lepas juga dari tangannya.

Sebentar kemudian tampaklah seorang lelaki berusia pertengahan dengan wajah amat terperanjat muncul dihadapan mereka, Sang Su-im memandang sekejap ke arah orang itu lalu tersenyum.

"Ooouw.... kiranya sute dari Yuan Si Tootiang, Koan Yuan Bee adanya!"

Ciu Tong dengan dinginnya mendengus dengan pandangan menghina dia orang melirik sekejap ke arahnya, Maka dengan paksakan diri Koan Yuan Bee naik ke atas loteng disertai wajah jengah karena bagaimanapun juga kesalahannya yang baru saja dialami benar-benar sangat memalukan sekali.

"Hmm"

Sakit hati ini hari tentu akan kubalas dikemudian hari?"

Serunya dengan rasa malu dan mendongkol. Selesai berkata dia putar tubuh dan melayang turun ke atas tanah.

"Haaaa.... haaa.... walaupun selama hiduppun jangan harap kau bisa berhasil membalas sakit hatimu ini!"

Teriak Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak. Pada saat itulah....

"Coba lihat, itu kereta berdarah!"

Teriak Cha Can Hong secara tiba-tiba.

Mendengar teriakan tersebut dengan hati tergetar semua orang pada menoleh kebawah, memang tampaklah kereta berdarah bagaikan sesosok bayangan dengan cepatnya berkelebat ke depan kemudian lenyap dari pandangan Ciu Tong segera menggerakkan badannya melayang kebawah.

dengan tangan mencekal tongkatnya erat-erat bagaikan seekor burung rajawali menubruk ke bawah loteng.' Cha Can Hong yang melihat Ciu Tong sudah barangkat diapun berseru dengan cepat.

"Sang-heng, siauwte pun berangkat lebih dulu."

Selesai berkata tubuhnya pun melayang sejauh dua puluh kaki, laksana seekor burung bangau dengan cepatnya melayang ke bawah dan mengejar dari belakang tubuh Ciu Tong.

Sang Su-im ragu-ragu sejenak, akhirnya dia pun berseru.

"Siauw-tan! kau temanilah engkoh Ing mu aku akan pergi sebentar!"

Tubuhnyapun bagaikan seekor rajawali dengan cepatnya berputar ditengah udara kemudian meluncur ke dalam hutan, diantara berkelebatnya bayangan hijau hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Koan Ing menghembuskan napas lega lalu memandang ke arah Sang Siauw-tan gadis tersebut, hanya di dalam sekejap saja loteng yang semula amat ramai itu kini tinggal mereka berdua.

"Apa yang hendak dilakukan oleh kereta berdarah itu?"

Pikirnya dihati.

Bilamana bukannya dia baru saja sembuh dari sakitnya mungkin dia sendiripun akan ikut melakukan pengejaran.

Sang Siauw-tan agaknya mengerti apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, maka dia tersenyum.

"Engkoh Ing, mari kita masuk saja kedalam, kau harus banyak beristirahat agar kesehatanmu bisa lekas pulih kembali!!"

Dengan sangat berterima kasih Koan Ing tersenyum dan mengangguk.

Demikianlah mereka berdua pun lantas masuk ke dalam kamar, setelah menutup pintu dan jendela Koan Ing mulai duduk bersila untuk melakukan latihannya.

Entab lewat beberapa saat lamanya sewaktu dia selesai berlatih tenaganya pun sudah pulih kembali, maka sambil tersenyum dia segera membuka matanya.

Waktu itu keadaan di dalam ruangan itu remang2 karena hanya diterangi dengan dua buah lilin saja, sedangkan Sang Siauw-tan lagi berjalan bolak-balik dengan amat cemas.

"Siauw-tan! jam berapa sekarang?"

Tanya pemuda itu kemudian sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Ooouw.... kau sudah bangun, sekarang sudah tengah malam"

Sabut gadis itu sambil menoleh. Koan Ing jadi melengak, belum sempat dia mengucapkan sesuatu Sang Siauw-tan sudah menyambut kembali.

"Tia bilang dia cuma pergi sebentar tetapi sampai sekarang masih tak ada sedikit beritanya entah apa yang sudah mereka temui? Kenapa mereka tidak juga pulang?"

Koan Ing menghela napas, diapun termenung berpikir sebentar kemudian baru turun dari alas pembaringan, membuka pintu dan berjalan keluar.

Bintang tersebar memenuhi seluruh angkasa sinar rembulan menerangi seluruh jagat suasana amat sunyi sekali kecuali tiupan angin malam yang menderu-deru serta gulungan ombak yang keras, sedikitpun tidak tampak bayangan manusia lain.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan berjalan mendekati samping tubuh pemuda itu dan berdiri bersama-sama.

"Siauw-tan, mungkin empek Sang sudah mengejar amat jauh sehingga tidak sempat pulang lagi,"

Ujar Koan Ing sambil mencekal tangan gadis itu kencang-kencang.

"Kau tidak usah kuatir dengan kepandaian silat yang dimiliki empek Sang tidak bakal dia orang tua menemui kesulitan!"

Sang Siauw-tan tersenyum dan dengan perlahan menundukkan kepalanya rendah-rendah tadi hatinya kacau dan murung berhubung tak ada yang menemani dirinya, kini setelah Koan Ing sadar kembali diapun tidak usah merasa kuatir lagi.

Koan Ing mengalihkan pandangannya keluar loteng lalu ujarnya sambil tertawa.

"Pemandangan di tempat ini sungguh indah sekali, bilamana ada suatu hari kita berdua bisa berdiam disini sungguh menyenangkan sekali!!"

Dengan perlahan Sang Siauw-tan menundukkan kepalanya semakin rendah lagi, lama sekali dia baru angkat kepalanya dan memandang ke arah pemuda itu dengan hati yang amat girang.

Empat mata bertemu jadi satu membuat hati berdebar, lama sekali tak seorang pun diantara mereka yang mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak ditengah suara tertawa panjang yang amat nyaring tampaklah sesosok bayangan hijau berkelebat naik ke atas loteng.

Sang Siauw-tan yang mendengar suara itu hatinya jadi bertambah kegirangan.

"Tia! kau baru kembali?"

Teriaknya sambil melepaskan tangannya dari cekalan pemuda tersebut. Begitu tubuh Sang Su-im melayang naik ke atas loteng sambil tersenyum dia menyapu sekejap ke arah dua orang anak muda itu.

"Mungkin kau masih tidak ingin aku kembali pada saat ini bukan?"

Godanya. Seketika itu juga wajah gadis itu berubah jadi merah jengah.

"Tia, kau bergurau lagi. dimana paman Cha sekalian? Kenapa mereka tidak ikut kemari?"

Serunya.

"Mereka entah sudah pergi kemana,"

Sahut Sang Su-im sambil tertawa keras.

"Aku cuma melihat kereta berdarah itu menuju ke sebelah Timur, aku lantas mengejar kesana, siapa sangka sekalipun sudah mengejar sampai saat inipun tanpa mendapat hasil apa-apa!"

Selesai berkata dia tertawa, agaknya ia sedang mentertawakan akan ketidak becusan dari dirinya. Pada saat itulah dari luar loteng kembali berkumandang datang suara yang amat dingin dan nyaring.

"Sang pangcu kiranya kau ada disini, sungguh tidak kusangka duuia benar-benar amat sempit dimanapun kita selalu berjumpa!"

Ditengah suara teriakannya itu tampaklah sesosok bayangan putih bagaikan segulung kabut dengan cepatnya melayang naik ke atas loteng itu.

Orang itu bukan lain adalah Sin Hong Soat-Nie adanya, Koan Ing yang melihat ni-kouw itu memandang ke arahnya dengan pandangan tajam hatinya lantas merasa rada berdesir.

"Ooouw....! kiranya Soat-nie adanya apakah selama ini kau baik-baik saja?"

Seru Sang Su-im sambil tertawa....

"Ehmm! sejak memasuki daerah Tionggoan hingga kini terus-menerus pinnie mengejar jejak dari Yuan Si Tootiang beserta kereta berdarah itu tetapi selama ini tak ada sedikit beritapun yang berhasil aku dapatkan, baru pada waktu ini pinnie dengar kereta berdarah itu muncul kembali disini mungkin sebentar lagi Thian Siang Thaysupun bakal tiba disini!!"

Sang Su-im menarik napas panjang-panjang dan tertawa.

"Walaupun tadi akupun ikut mengejar kereta berdarah itu tetapi tak mendapatkan hasil apa?, tetapi sinnie tidak usah kuatir cayhe sudah perintahkan anak murid perkumpulanku untuk memeriksa jejak musuh pada daerah sekitar lima ratus li di sekeliling tempat ini!!"

"Sang Pangcu!!"

Ujar Sin Hong Soat-nie tiba-tiba.

"Aku ingin meminjam semacam barang dari Sang Pangcu entah sukakah kau orang mengabulkannya?"

"Soat-nie kenapa kau harus berlaku sungkan? Bilamana mau pinjam sesuatu katakanlah biar aku mengambilkannya buat Soat-nie!!"

Dengan perlahan Sin Hong Soat-nie menyapu sekejap ke arah ketiga orang itu kemudian ujarnya.

"Kalau begitu akan harus mengucapkan terima kasih dulu kepada Sang Pangcu, karena aku ingin membawa Koan Ing pergi dari sini!"

Katanya.

Sang Su-im yang mendengar perkataannya ini jadi melengak dibuatnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sin Hong Soat-nie menghendaki diri Koan Ing.

Sewaktu ada di lembah Chiet Han Kok tempo hari Sin Hong Soat-nie memang sudah menginginkan Koan Ing, tapi berhubung waktu itu semua orang sedang berada ditepi maut maka urusan ini tidak diungkat kembali, tapi sekarang keadaan sudah aman ternyata kembali dia hendak mendapatkan diri Koan Ing, maka jika dilihat dari sikap Sin Hong Soat-nie ini agaknya dia bermaksud kurang baik terhadap pemuda itu "Soat-nie!

maaf di dalam urusan ini aku tidak sanggup untuk melaksanakannya!"

Serunya kemudian sambil tertawa.

"Bilamana diantara Soat-nie dengan Koan Ing benar-benar ada sesuatu yang kurang beres lebih baik kau mencari aku orang saja. buat apa kau harus begitu ngotot untuk mendapatkan dirinya? Bukankah dia cuma seorang boanpwee saja?"

"Heeeee.... heeeee.... aku rasa Sang pangcu tidak ingin bentrok dengan aku karena soal Koan Irg bukan?"

Seru si nikouw tua itu dengan dingin.

"Koan Ing sudah membohongi angkatan tua bahkan memancing anak muridku Cing It untuk menuruni puncak Sun Li Hong bahkan sampai kini jejaknya tidak ketahuan. Sang pangcu! apakah kau masih ingin melindungi orang yang terang-terangan bersalah?"

Koan Ing yang berdiri di samping pada saat ini sudah tidak kuat untuk menahan sabarnya lagi, maka tiba-tiba ujarnya.

"Aku Koan Ing merasa yakin belum pernah menipu Soat-nie, sedangkan mengenai Cing It suci, dia sendiri turun tangan atas kemauan sendiri, apa hubungannya dengan diriku? tempo hari akupun pernah bergebrak sekali dengan dirinya, apakah hal ini bisa dikatakan sebagai melarikan muridmu?"

"Hmm! pada saat ini apa kau kira merupakan waktumu untuk ikut berbicara?"

Bentak nikouw itu gusar.

"Soat-nie!!"

Sambung Sang Su-im pula dengan wajah serius.

"Suhu maupun supek dari Koan Ing sudah pada meninggal dan kita sebagai orang-orang Bu-lim yangan kata sama bersama-sama dengan mereka masih mau menggunakan kedudukan kita untuk menganiaja seorang boanpwee yang masih muda."

Mendengar kata-kata yang pedas itu air muka Sin Hong Soat-nie segera berubah hebat, ujung baju tangan kanannya segera dikebutkan ke depan.

"Baik!"

Teriaknya kemudian.

"Kalau kau orang masih juga membelai bangsat cilik itu akupun ingin sekali minta pelajaran beberapa jurus ilmu jari "Han Yang Ci"

Mu yang sudah pernah menggetarkan duma kangouw!!"

Sang Su-im yang mendengar Sin Hon Hoat Nie menantang dirinya untuk bergebrak dia lantas kerutkan alisnya rapatrapat, la u tertawa tawar.

"Ooooouw.... jadi Soat-nie bermaksud untuk memberi pelajaran kepada cayhe dengan ilmu pedang Sian Thian Kiam Khie-mu itu? Baik.... baiklah, aku akan menuruti keinginanmu!"

Sin Hong Soat-nie yang melihat dia orang sudah menerima tantangan maka sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat dengan perlahan mencabut keluar pedangnya, Ditengah kegelapan itu tiba-tiba berkumandang datang suara tertawa yang amat keras sekali diiringi dengan munculnya sesosok bayangan manusia diantara kedua orang itu.

Begitu tubuhnya mencapai lantai loteng tersebut serunya dengan suara yang amat keras.

"Buat apa kalian bergebrak sendiri? jejak dari Yuan Si Tootiang sudah aku dapatkan!"

Baik Sin Hong Soat-nie maupun Sang Su-im segera merasakan hatinya tergeta keras, ketika dongakkan kepalanya tampaklah orang itu bukan lain adalah Ciu Tong yang berdiri disana sambil mencekal tongkatnya.

Walaupun Ciu Tong tertawa terbahak-bahak tiada hentinya tetapi dari sinar matanya berkilas nafsu membunuh yang semakin menebal.

Pada saat ini Sin Hong Soat-nie tidak memperdulikan lagi bentrokannya dengan Sang Su-im, buru-buru tanyanya.

"Saat ini Yuan Si Tootiang ada dimana?"

Sinar mata yang mengandung nafsu membunuh berkelebat tiada hentinya dari mata Ciu Tong. terdengarlah dia mendengus dingin.

"Saat ini Cha Loo-te lagi mengawasi gerakgeriknya, aku takut dia tidak sabaran maka sengaja memberitahukan soal ini kepada kalian, kali ini kita harus hancurkan dirinya dari muka bumi!"

Perlahan-lahan Sang Su-im pun menarik napas panjangpanjang, dia tahu kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Yuan Si Tootiang jauh berada di atas mereka berempat, dia tahu bilamana serangannya kali ini meleset maka dikemudian hari toosu dari Bu-tong-pay itu pasti akan semakin berhati-hati lagi.

"Apakah sijaring emas penguasa langit Phao Thian Coe juga ada disana?' tanyanya kemudian. Cuma Yuan Si Tootiang seorang, agaknya diapun datang kemari karena mangejar kereta berdarah itu. sebetulnya kami berdua bisa untuk menahan dirinya tetapi bilamana dia bermakSud untuk melarikan diri maka tiada orang yang bisa menghalanginya, karena iTu aku Khusus datang kemari untuk beritahukan urusan ini kepada kalian, ini hari juga kita harus hancurkan dirinya."

"Bagus, mari kita segera berangkat!"

Seru Sin Hong Soatnie dengan cepat.

Sinar mata Ciu Tong berputar setelah itu sekali enjotkan badannya dengan cepat dia sudah meluncur ke depan disusul oleh Sin Hong Soat-nie serta Sang Su-im dibelakangnya.

Koan Ing pun dengan cepat mencekal sarung pedang Kiemhong-kiamnya lalu kepada Sang Siauw-tan serunya.

"Siauwtan, mari kitapun pergi!"

Sang Siauw-tan melirik sekejap ke arah pemuda tersebut sewaktu dilihatnya dia telah sembuh banar2 segera mengangguk.

Dengan cepatnya kedua orang itupun melayangkan tubuhnya kebawah lalu berlari mengejar ke arah tiga orang semula.

Tetapi beberapa saat kemudian mereka berdua sudah kehilangan jejak dari mereka bertiga, hal ini membuat Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia bingung harus kemanakah pergi mencari jejak orang-orang itu.

Waktu itu hari sudah terang, Koan Ing lantas termenung berpikir sebentar.

"Empek Sang berkata kalau kereta berdarah menuju ke Timur, baiknya kitapun lari ke sebelah Timur saja!"

Sang Siauw-tan pun waktu itu tak ada pendapat, pemuda tersebut tiba-tiba berkelebat ke sebelah Timur maka diapun dengan cepat mengikutinya dari samping.

Kurang lebih dua lie jauhnya mereka berlari tapi apapun tidak kelihatan, Koan Ing mulai merasakan hatinya rada cemas, sambil menarik napas panjang-panjang matanya mulai menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.

Mendadak dia menjerit kaget, karena sinar matanya terbentur dengan sebuah jaring merah yang amat besar dan tergantung pada dahan pohon disebelah kiri, bukankah jaring itu merupakan pertanda dari orang-orang lembah Chiet Han Kok?

Ooo)*(ooO Bab 43 DALAM HATI Koan Ing benar-benar merasa amat terperanjat.

dia sama sekali tak menyangka kalau dia orang bukannya berhasil mendapatkan Sang Su-im sekalian sebaliknya malah sudah masuk ke dalam perangkap musuh.

Sinar matanya kembali menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, suasana amat sunyi sekali tak kedengaran sedikit suarapun entah orang-orang dari lembah Chiet Han Kok itu sengaja tidak menampakkan diri atau kalau memang tidak ada orang disana.

Sang Siauw-tan sesudah menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu lalu ujarnya dengan perlahan.

"Kalau betul-betul mereka memasang jebakan disini tentunya saat ini mereka telah menemukan kita, tetapi kenapa mereka tidak juga munculkan dirinya? Apakah mereka lagi memancing ayahku supaja masuk ke dalam jebakan ini pula?"

Tiba-tiba di dalam benak pemuda itu berkelebat satu ingatan.

"Apakah mungkin orang-orang lembah Chiet Han Kok sengaja memasang jebakan disini memusnahkan kita semua?"

"Aku rasa ada kemungkinan mereka sengaja berbuat demikian untuk membendung kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang kita!"

Ujar Sang Siauw-tan setelah termenung berpikir sebentar.

Selesai berkata tangan kanannya diajunkan ke depan, sebatang anak panah berapi dengan cepat meluncur ke atas udara dan meledak tiga kali.

Inilah tanda penyerangan yang dikirim gadis tersebut kepada anak buahnya.

Begitu anak panah itu meledak dari dalam hutan itu segera terdengarlah suara yang amat gaduh sekali tapi sebentar kemudian sudah menjadi tenang kembali.

Diam-diam Koan Ing merasa hatinya berdesir, karena ditinjau dari suasana yang sangat gaduh itu dia bisa menerka kalau di dalam hutan pada saat ini sudah barsembunyi kirakira seratus orang banyaknya, tempat itu pastilah sarang kekuatan dari orang-orang lembah Chiet Han Kok.

Entah bagaimanakah jadinya bilamana pasukan dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah tiba disini?

Tapi yang aneh walaupun mereka sudah mengirim tanda bahaya kenapa tak seorangpun dari lembah Chiet Han Kok yang keluar dan mencari mereka?

Sewaktu dia lagi berpikir sampai disitulah tiba-tiba dari dalam hutan terdengarlah suara ringkikkan kuda yang memanjang.

Koan Ing merasa amat terkejut, bukankah itu suara ringkikkan kuda dari kereta berdarah?

jelas orang-orang dari lembah Chiet Han Kok sengaja mengatur jebakan di tempat ini bukannya ditujukan pada mereka melainkan terhadap kereta berdarah ini tidak aneh kalau orang-orang tersebut tidak mengambil tindakan apapun terhadap dirinya.

Suara berputarnya roda itu bergema semakin santar, dan dari arah sebelah kanan muncullah sebuah kereta yang dengan cepatnya menerjang datang.

Dari tengah hutanpun segera berkumandang suara yang amat gaduh sekali diiringi dengan suara desiran anak panah yang amat santar menghajar ke arah keempat ekor kuda kereta itu.

Koan Ing yang melihat kejadian itu merasa amat terperanjat, buru-buru dia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk menyingkir kesamping.

"Plaak....!!"

Dari dalam kereta itu muncullah sebuah cembuk panjang yang dengan amat cepatnya menyapu seluruh anak panah yang menyambar ke arahnya, dan kereta itu tidak menghentikan gerakannya lagi dan langsung menerjang keluar.

"Lepaskan jaring!!"

Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang amat keras bergema keluar dari dalam hutan.

"Braak....!"

Dari seluluh penjuru hutan tersebut segera tersebarlah berpuluh-puluh buah jaring berwarna merah yang seketika itu juga mengurung kereta itu di-tengah-tengah, jelas kalau siasat ini diatur khusus untuk menghadapi kereta berdarah tersebut.

Koan Ing yang melihat siasat dari orang-orang Lembah Chiet Han Kok itu ternyata benar-benar amat lihay dan sempurna dalam hati merasa rada berdesir juga.

Kembali kereta berdarah itu deugan cepatnya melanjutkan terjangannya ke depan cambuk panjang yang menyambar keluar dari dalam kereta membentuk setengah lingkaran ditengah udara lalu dengan cepatnya menghajar sebuah jaring merah yang mengancam keretanya, Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia tahu kedahsyatan dari ilmu silat yang dimiliki orang di dalam kereta berdarah itu benar-benar luar biasa sekali sukar dibajangkan, bilamana bukannya melihat dengan mata kepala sendiri mungkin dirinya tidak bakal mampercayainya.

Dan menurut pandangannya tenaga dalam orang itu tidak berada di bawah tenaga dalam si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong.

Begitu jaring merah itu kena dipukul miring ke samping dari dalam hutan segera berkumandang keluar suara bentakan yang amat keras disusul munculnya tiga sosok bayangan manusia ke depan.

Dengan cepatnya tiga jaring merah di sebarkan pula keluar, satu menutup jalan maju dari sang kereta sedang yang dua berebut mengurung kereta berdarahnya sendiri.

Bersamaan waktu itu pula anak panah meluncur keluar laksana hujan deras.

Dari dalam kereta berdarah itu segera terdengarlah suara dengusan yang amat dingin disuiul suara cambuk yang dihajarkan ke atas kudanya, ditengah suara ringkikan yang memanjang segulung hawa pukulan yang tak berwujud dengan cepatnya memukul jatuh seluruh anak panah yang mengancam kereta.

Cambuk panjang itupun berkelebat ditengah udara menggulung dua buah jaring merah yang mengurung ke arahnya kemudian dengan sedikit cambuk tersebut disentakkan maka jaring serta jagoannya kena dilemparkan ketengah udara.

Koan Ing yang melihat kejadian itu merasa hatinya berdebar-debar keras, dia merasa kuatir terhadap keselamatan dari orang yang ada di dalam kereta berdarah itu ditengah kurungan anak panah yang begitu santar ditambah lagi dengan kepungan jago-jago lihay, walaupun dia memiliki kepandaian silat yang amat tinggipun belum tentu bisa meloloskan diri dari sana.

Siapakah sebetulnya penghuni kereta berdarah itu?

Kepandaian silatnya benar-benar luar biasa tingginya karena hanya dengan menggunakan sebuah cambuk ternyata dapat menghadapi jaring-jaring raksasa yang mem bikin orang

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ orang Bu-lim merasa kepalanya pusing itu dengan demikian mudahnya, hal itu benar-benar luar biasa sekali!!!

Anak panah tiada hentinya menyambar ke depan mengurung seluruh kereta itu yang membuat kereta berdarah seketika itu juga berhenti bergerak.

Cambuknya kembali dikebutkan ke depan menyapu jatuh anak panah yang mengurung keretanya itu dan tali les kudanya ditarik membalikkan kereta berdarah itu meluncur ke arah Koan Ing serta Sang Siauw-tan berada.

Melihat kereta itu menerjang ke arahnya Koan Ing jadi amal terparanjat, buru-buru ia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk menyingkir kesamping.

Kali ini anak panah itu berubah arah meluncur ke arah Koan Ing berdua, pemuda itu jadi gusar maka dengan cepat dia mencabut keluar pedang Kiem-hong-kiamnya yang kemudian dengan cepatnya menyapu jatuh anak panah yang mengancam tubuh mereka berdua itu.

Ditengah suara ringkikan kuda yang amat keras itu kembali kereta berdarah itu menerjang ke depan.

Cambuk panjang yang muncul dibalik kereta kembali melayang ketengah udara menyambar kesana kemari dengan dahsyat.

"Lepaskan panah berapi!!!"

Dari tengah hutan kembali terdengar suara bentakan keras.

Baru saja dia menutup mulut dari empat penjuru bermunculan anak panah berapi yang dengan cepatnya meluncur ke arah keempat ekor kuda beserta kereta berdarah itu.

Orang yang ada di dalam kereta segera membentak gusar, empat ekor kudanya disenkkan sehingga meloncat ke atas bersamaan itu pula kereta berdarah itupun terangkat oleh tenaga sedotan dari jagoan tersebut sehingga melayang setinggi dua kaki lebih.

"Blaam!!"

Keempat ekor kuda itu dengan cepatnya berhasil melangkahi jaring merah itu sedang keretanya sendiri dengan tepat menindihi jaring merah tersebut.

Suara bentakan segera bergema memenuhi seluruh angkasa, berpuluh-puluh orang berkerudung dari lembah Chiet Han Kok bermunculan mencegat kereta berdarah itu.

Agaknya mereka telah mengambil keputusan untuk mendapatkan kereta tersebut walaupun dengan menggunakan cara apa pun, Cambuk panjang kembali digetarkan di tengah udara sehingga terdengar suara ledakan yang amat keras, jelas sekali kalau orang yang ada di dalam kereta itu sudah dibuat gusar sehingga menggerakkan nafsu membunuhnya.

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba terdeagar suara yang amat nyaring bergema datang.

Para jago yang siap melancarkan serangan itu segera menghentikan gerakannya sedang orang yang ada di dalam kereta itu pun tidak menggubris sama sekali, kereta berdarah segera dihentikan sedang cambuk yang ada ditengah udarapun ditarik kembali.

Seorang manusia berkerudung dengan mencekal sebuah jala emes dengan langkah yang perlahan muncul dari balik hutan.

Sekali pandang saja Koan Ing bisa mengenali kalau dia bukan lain adalah Kokcu dari lembah Chiet Han Kok, sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu adanya, agaknya pada saat ini dia bermaksud untuk turun tangan menghadapi sendiri pemilik kereta berdarah tersebut.

Dari mata Phoa Thian-cu segera terlihat memancarkan cahaya yang amat tajam, dan kepada orang yang berada di dalam kereta berdarah itu ujarnya.

"Saudara, sungguh dahsyat sekali kepandaian silat yang kau miliki! tetapi kenapa tidak suka kau orang unjukkan wajah aslimu?"

"Kau sendiri kenapa mengenakan karung juga pada wajahmu? Kau orang sendiri tidak suka memperlihatkan wajahmu buat apa aku perlihatkan diri?"

Sahut orang yang ada di dalam kereta itu dengan berat. Sijaring emas penguasa langit Phao Thian Coe segera dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... selamanya kami orang-orang lembah Chiet Han Kok paling pantang memperlihatkan wajah sendiri terhadap orang lain, lalu siapakah kau sendiri? Kami orangorang Bu-lim tidak pernah mengetahui adanya manusia semacam dirimu."

"Hmm! urusan yang belum kau ketahui masih terlalu banyak, akupun kini mengetahui kalau maksudmu hanya pada kereta bardarah ini, tetapi aku rasa kau masih terlalu jauh untuk punya pikiran semacam ini lebih baik lebih cepatlah menyingkir!!"

Selama puluhan tahun ini sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu selalu menganggap kepandaian silatnya adalah nomor satu di kolong langit, ternyata kini mendengar orang yang ada di dalam kereta berdarah itu sedemikian rendahnya menghina dirinya dalam hati merasa amat gusar sekali.

"Sungguh besar sekali omonganmu,"

Dengusnya murka.

"Ini hari aku Phoa Thian-cu kepingin melihat siapakah sebetulnya kau orang, dan seberapa tinggi kepandaian silatmu sehingga berani begitu congkak."

"Heeeee.... heeee.... bagus, bagus sekali, kalau begitu kita menggunakan taruhan menang kalah kita untuk menentukan milik siapakah akhirnya kereta berdarah ini!"

"Kau jangan bermimpi. sekalipun kau menang kereta berdarah ini herus ditinggalkan disini!"

Teriak Phoa Thian-cu dingin.

Selesai berkata tubuhnya dengan cepat menerjang ke depan, jaringan emasnya segera disebarkan ke depan mengurung kereta berdarah itu.

Sewaktu mendengar perkataan terakhir dari Phoa Thian-cu ini, orang yang ada di dalam kereta berdarah segera memakinya.

"Bangsat, kau sungguh tak punya malu!"

Sekali lagi cambuknya dikebutkan ke depan, dengan menimbulkan suara desiran yang amat tajam menyapu ke arah Phoa Thian-cu.

Sinar mata Phoa Thian-cu berkelebat tiada hentinya, walaupun kepandaiannya yang dimilikinya amat tinggi tetapi diapun sudah melihat bagaimana luar biasanya kepandaian silat yang dimiliki orang itu maka tanpa terasa hatinya sudah menaruh tiga bagian rasa jerinya.

Dan tangan kanannya dengan cepat digetarkan menarik kembali jaring emas itu menjadi segulung tali emas, ditengah babatan ke depan jaring emas itu kembali membentang mengurung ruangan duduk dari kereta berdarah itu.

"Hmm! Lumajan juga ilmu silatmu!"

Ejek orang itu dingin.

Cambuknya ditarik ke belakang dan dengan tepat menangkis datangnya jaringan tersebut.

Sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu yang melihat orang yang ada di dalam kereta berdarah tersebut hanya di dalam satu jurus sudah berani menangkis jaring emasnya dengan cambuk tersebut dalam hati semakin gusar sinar matanya berkelebat tiada hentinya.

kembali jaring itu dilemparkan ketengah udara.

Cambuk panjang yang ada di dalam kereta berdarah itu kembali menggetarkan cambuknya ditengah udara dengan membentuk gerakan setengah lingkaran busur.

Cambuk dan jaringan bergetar ditengah udara, mendadak terasalah serentetan cahaya terang menyambar ke arah Phoa Thian-cu.

Dari sepasang mata sijaring emas penguasa langit itu memancarkan cahaya yang berapi2, walaupun Koan Ing tak dapat melihat bagaimanakah wajahnya tetapi dalam hati bisa menebak kalau pada saat ini wajahnya tentu sudah berubah merah padam.

Rentetan cahaya itu dengan perlahan bergerak ke depan, tiba-tiba Phoa Thian-cu membentak gusar, jaring emasnya ditariknya ke belakang sedang sepasang kakinya dengan cepat melancarkan tendangan ke arah tanah sehingga debu pada beterbangan memenuhi angkasa.

Koan Ing yang melihat kejadian ini segera merasakan hatinya amat terperanjat karena walaupun keadaan Phoa Thian-cu kepepet tetapi ilmu tennga dalam meminjam benda melancarkan pukulannya ini benar-benar luar biasa sekali dan tidak malu apa bila disebut sebagai seorang jagoan kelas wahid.

Walaupun begitu tetapi yang jelas di dalam bentrokannya kali ini dia sudah menemui kekalahan.

Dengan gusarnya ia mendengus, jaring emasnya sekali lagi disebarkan ke depan.

sasaran yang dituju bukannya orang yang ada di dalam kereta itu melainkan keempat ekor kuda yang ada di depan.

Terdegarlah orang yang ada di dalam kereta berdarah itu mendengus dingin.

cambuk panjangnya bergerak setengah lingkaran busur ditengah udara kemudian laksana seekor naga beracun dengan cepatnya menyapu leher Phoa Thian-cu.

Dia orang bukannya menolong sang kudanya melainkan malah melancarkan serangan ke arah leher Phoa Tbian Coe, hal ini membuat sijaring emas penguasa langit jadi kelabakan yang terpaksa harus menarik kembali jaring emasnya untuk menolong diri sendiri dan menangkis cambuk tersebut.

Hanya di dalam sekejap saja puluhan jurus sudah berlalu dengan cepatnya walaupun kepandaian silat yang dimiliki oleh orang di dalam kereta itu jauh lebih lihay dari Phoa Thian-cu tetapi disebabkan tempatnya terbatas ditambah pula Phoa Thian-cu sebentar menyerang ke dalam kereta sebentar menyerang sang kuda itu membuat keadaan mereka berduapun jadi seimbang.

Koan Ing adalah seorang jagoan muda yang memiliki pengetahuan amat luas, tetapi sewaktu melihat berkelebatnya cambuk dari orang di dalam kereta berdarah itu hatinya merasa kebingungan juga, dalam hatinya sama sekali tak berhasil menebak dari aliran manakah jurus-jurus serangannya itu?

Dan siapakah orangnya?

"Engkoh Ing, mari kita pergi sana!"

Tiba-tiba Sang Siauwtan menegur.

Koan Ing jadi sadar kembali dari rasa terkejutnya, karena kini mereka berdua masih berada di dalam kepungan orangorang lembah Chiet Han Kok.

bilamana menang kalah berbasil ditemukan apakah waktu itu masih ada kesempatan buat mereka berdua untuk melarikan diri?.

Maka dengan perlahan ia mengangguk, walaupun begitu dalam hati masih merasa amat sayang sekali karena pertempuran yang sedang berlangsung ini merupakan satu pertempuran yang benar-benar luar biasa dan jarang sekali terjadi di dalam Bu-lim.

Tak terasa lagi kembali dia melirik sekejap ketengah kalangan.

Tetapi karena pandangannya inilah membuat pemuda tersebut merasa amat terperanjat, kiranya pada saat ini cambuk dari orang yang ada di dalam kereta berdarah itu sedang melancarkan serangannya menembusi jaring emas mengancam alis Phoa Thian-cu.

Bukankah jurus ini adalah jurus "Hwee Kong Ci Thian"

Dari "Hiat Hoo Sin Pian"

Ajaran si manusia tunggal dari Bu-lim sesaat menjelang kematiannya?

terhadap jurus serangan ini dia sangat hapal sekali karena tempo dulu ia pernah memikirkan hendak menggunakan jurus ini untuk memecahkan jaring raksasa dari lembah Chiet Han Kok, cuma sayang waktu itu tenaga dalamnya tidak memadahi sehingga tidak dapat ia lakukan, tidak disangka ini hari jurus serangan tersebut bisa digunakan orang lain di hadapannya.

Dalam hatinya semakin lama semakin terkejut bercampur curiga, akhirnya dia bersuit nyaring dan tubuhnya mendadak melayang ketengah udara kemudian menerjang ke arah kereta berdarah tersebut.

Pedang kiem-hong-kiam ditangannya dengan membentuk serangkaian sinar tajam menyapu ke arah horden tersebut, karena dalam hati dia bsrmaksud untuk mengetahui siapakah manusia misterius yang ada di dalam kereta berdarah itu.

Tindakan yang dilakukan oleh Koan Ing benar-benar berada diluar dugaan semua orang, agaknya mereka semua tidak menyangka kalau Koan Ing bisa melancarkan terjangannya secara tiba-tiba ke arah kereta itu.

Orang misterius yang berada di dalam kereta berdarah tersebutpun agaknya merasa rada ada diluar dugaan dengan kejadian ini, dan yang sebetulnya ia lagi melancarkan serangan-serangan gencar melawan Phoa Thian-cu tetapi dengan adanya kejadian ini gerakannya jadi rada merandek sedang Phoa Thian-cu sendiripun dibuat tertegun.

Sewaktu semua orang dibuat melongo-longo itulah pedang kiem-hong-kiam dari pemuda tersebut sudah mencapai pada horden kereta tersebut.

Orang yang ada di dalam kereta itu segera mendengus dingin, segulung serangan jari yang amat santar dengan cepatnya meluncur keluar manghajar bagian leher dari diri Koan Ing.

Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, pada saat yang sangat kritis ini tubuhnya buru-buru melompat mundur ketengah udara, ujung kakinya menutul tubuh sang kuda kemudian sekali lagi menerjang ke arah dalam kereta.

Cambuk panjang dari orang itu segera dikibaskan ke depan menggulung lengan kanan pemuda itu.

Kecepatan gerak dari serangannya sedikit pun tidak memberi kesempatan bagi Koan Ing untuk menyingkir, Koan Ing segera balas kebaskan pedang kiem-hong-kiamnya ke depan sedang ujuug kaki kanannya menutul permukaan kereta dan berdiri tegak tak bergerak, dan dengan tepatnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan cambuk itu.

Cambuk panjang itu dengan cepat membentuk bungabunga cambuk ditengah udara kemudian dihantamkan ke atas tubuh sang kuda, diantara suara ringkikan yang keras kereta berdarah kembali menerjang ke depan.

Dikarenakan kedatangan Koan Ing, maka Phoa Thian-cu jadi tertutup pandangannya, kini melihat kereta berdarah itu bermaksud hendak menerjang pergi maka dengan gusarnya lantas membentak dengan keren.

"Kau ingin pergi kemana lagi?"

Tubuhnya dengan cepat menubruk ke depan sedang jaring emasnya segera ditebarkan ke arah empat ekor kuda itu.

Orang yang ada di dalam kereta itu agaknya jadi gusar sekali dibuatnya, dia mendengus dingin sedang cambuknya dikebaskan ketengah udara menggulung ke arah tubuh Koan Ing.

Koan Ing yang melihat cambuk itu menyambar datang dengan membawa suara desiran tajam dia tidak berani menerimanya dengan kekerasan, malah buru-buru tubuhnya merendah kebawah untuk menghindar.

Cambuk panjang itu dengan disertai suara desiran yang tajam segera menyambar lewat dan dengan tepat menghajar jaring emas yang disebarkan Phoa Thian-cu.

Begitu jaringan itu berhasil kena disapu miring, kembali cambuk itu menyapu menghajar punggung Koan Ing.

Baik Koan Ing maupun Phoa Thian-cu merasakan hatinya berdesir atas kelihayan dari ilmu silat orang itu dan benarbenar sukar dipikirkan, tidak disangka serangan cambuk itu memang sukar dilawan.

Koan Ing yang punggungnya kena dibokong tubuhnya dengan cepat berputar setengah lingkaran, sedang pedang kiem-hong-kiamnya dengan disertai sambaran tajam menutul ke atas cambuk lawan.

Pada saat itulah kereta berdarah kembali menerjang keluar, sedang orang-orang lembah Chiet Han Kok pun dengan cepat mengepung kembali tempat itu rapat-rapat, diantara berkelebatnya jaringan merah yang disebar dari empat penjuru, berpuluh-puluh buah jaringan merah bersama-sama meluncur ke atas kereta berdarah tersebut.

Seketika itu juga kereta berdarah itu kena dikurung di dalam jaringan yang amat kuat.

Orang yang ada di dalam kereta itu dengan gusarnya segera mendengus, karena bukan saja saat ini kereta berdarahnya telah terjebak di dalam jaringan merah yang amat kuat dan banyak itu bahkan disini berada di dalam kepungan Koan Ing serta Phoa Thian-cu dua orang jagoan lihay Maka cambuk panjangnya setelah kena ditangkis oleh sang pemuda dengan dahsyatnya lantas digetarkan ke depan sehingga kaku laksana sebuah tongkat yang kemudian dengan cepatnya mencukil ke arah jaring-jaring merah tersebut.

Bersamaan itu pula terasalah segulung angin pukulan yang amat santar menyapu ke arah Koan Ing serta Phoa Thian-cu.

Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, jika dilihat dari serangan yang menyambar datang ini jelas sekali menunjukkan kalau orang yang ada di dalam kereta sedang merasa amat gusar sekali sehingga menurunkan tangan yang amat kejam.

Dimana sambaran angin dahsyat yang menggulung datang itu memaksa pemuda tersebut buru-buru menyingkir kesamping, Phoa Thian-cu sendiripun dengan terpaksa harus meloncat untuk menghindar.

Tetapi karena kokcu ini meloncat ketengah udara inilah cambuk tersebut berbasil menyingkirkan kesepuluh jaring itu lalu melarikan kereta berdarahnya menerjang ke arah mereka.

Phoa Thian-cu sebagai kokcu dari lemhah Chiet Hao Kok selamanya belum pernah menderita kalah ditangan siapapun juga, bagaimana dia orang mau sudahi dengan begitu saja pertempurannya ini hari dan apa lagi kereta berdarah itu merupakan benda yang di-incar2 sejak dahulu.

Selama ini lembah Chiet Han Kok dianggap orang sebagai tempat terlarang bagi orang-orang Bu-lim, bilamana kekalahannya ini hari sampai tersebar di dalam dunia kangouw, akan kemanakah mereka orang-orang lembah Chiet Han Kok hendak tancapkan kaki?

Berpuluh-puluh ingatan dengan cepatnya berkelebat di dalam benak si orang berkerudung ini, mendadak dengan gusarnya ia membentak lalu menubruk ke arah kereta berdarah tersebut.

Orang yang ada di dalam kereta berdarah itupun meraung keras, diantara menyambarnya angin serangan terasalah segulung hawa lweekang berwarna hijau tua bagaikan ombak menggulung dengan dahsyatnya ke arah tubuh Phoa Thian-cu.

Saat ini Phoa Tbian Coe sudah tidak memikirkan mati hidupnya lagi, di dalam hatinya ia cuma punya satu ingatan saja jaitu berusaha unluk mempertahankan kereta berdarah itu disana.

Maka sapasang telapak tangannya dengan sejajar dada segera dihantamkan ke depan segulung tenaga pukulan tak berwujut dengan cepatnya menyambut datangnya serangan pihak lawan.

"Braak....!"

Tubuh Phoa Thian-cu ketika terpukul mundur ke belakang dan menubruk sebuah pohon besar sehingga patah menjadi dua bagian dan rubuh ke atas tanah.

Begitu tubuh Phoa Thian-cu rubuh ke atas tanah dengan diiringi suara ringkikan kuda yang amat keras kereta berdarah itu segera menerjang ke arah tubuhnya dengan cepat, agaknya orang di dalam kereta berdarah itu sudah menaruh rasa benci terhadap dirinya sehingga bermaksud untuk membinasakan dirinya di bawah injakan kereta.

Phoa Thian-cu bukanlah seorang jagoan murahan, walaupun dia sudah menderita kalah di dalam bentrokan tadi tetapi tenaga pukulan tersebut olehnya sudah disalurkan ke arah pohon itu sehingga badannya tidak sampai menderita luka, kini melihat datangnya terjangan sang kereta maka buru-buru dia menggelinding ke samping untuk menghindar.

Dengan kecepatan yang luar biasa kereta berdarah menerjang ke depan, diantara ringkikan kuda dan berputarnya roda tampak dua orang anak buah lembah Chiet Han Kok yang tak sempat menghindar sudah kena diterjang.

Suara jeritan ngeri bergema datang memenuhi angkasa.

Pada saat itulah mendadak ditengah udara terdengar suara ledakan keras menggetarkan seluruh bumi.

Karena Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing ikut menerjang ke depan dalam hati merasa terkejut bercampur cemas, tapi diapun tak punya daya, sewaktu hatinya lagi merasa cemas itulah mendadak di udara terdengar suara ledakan.

Seketika itu juga hatinya merasa amat girang, karena dia tahu anak buah perkumpulan Tiang-gong-pang sudah pada berdatangan bahkan ada kemungkinan ayahnyapun sebentar lagi pasti ikut muncul disana.

Jilid 18 BARU suara ledakan bergema memenuhi angkasa terdengarlah suara pujian kepada sang Buddha menulikan telinga, seorang hweesio tua sambil merangkap tangannya melayang keluar dari tempat persembunyiannya menghadang jalan pergi dari kareta berdarah itu.

"Sicu, tunggu sebentar!"

Bentaknya dengan suara yang berat.

Dari dalam kereta berdarah segera bergemalah suara dengusan dingin yang amat menyeramkan, segulung hawa pukulan yang berat langsung menumbuk ke arah tubuh hweesio tua itu, Hweesio tua yang menghadang jalan pergi dari kereta bardarah itu bukan lain adalah Thian Siang Thaytu itu cianghun-jin dari Siauw-lim-pay, sewaktu dilihatnya kareta bardarah itu bukannya berhenti sebaliknya malah menerjang sambil melancarkan serangan, dengan gusarnya dia mendengus berat, sepasang telapak tangannya dengan sejajar dada didorong kedapan.

Tampaklah jenggot berwarna putih bergojang tiada hentinya tertiup angin, hawa khi-kang "Sie Boe Cin Khai"

Dari aliran Buddha dengan hebatnya sudah menggulung kedapan.

Pada saat yang bersamaan pula terdengarlah suara tertawa keras bergema datang disusul berkelebatnya seorang kakek berambut putih muncul dari balik hutan dengan garakan cepat laksana kilat, tubuhnya langsung manubruk ke arah kareta berdarah sedang toya ditangan kanannya bagaikan titiran air hujan melancarkan serangan berantai.

Dia bukan lain adalah Ciu Tong!!

Cambuk panjang yang meluncur keluar dari balik kareta bardarah dengan amat cepatnya menghajar tubuh Ciu Tong, Dari tengah hutan kembali berkelebat keluar seseorsng yang bukan lain adalah si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong, wajahnya dingin dan membeku.

"Siapa yang berada didalem karata? cepat hentikan garakanmu dan hentikan kereta ini!"

Bentaknya dengan suara berat, Begitu ucapannya meluncur keluar tanganya dengan cepat sudah menyambar kadepan menahan karinya kereta berdarah itu. Cambuk serta telapak bentrok jadi satu....

"Braaak....!"

Walaupun orang yang berada di dalam kereta itu harus dengan satu melawan dua orang ternyata sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apapun.

Hal ini seketika itu juga mambuat Thian Siang thaytu serta Ciu Tong merasa amat tarparanjat sekali, merek berdua boleh dikata terhitung sebagai jagoan kelas satu dari Bu-lim, eangan tenaga gabungan mereka berdua ternyata tidak mendatangkan hasil apa-apa, hal ini sudah tentu merupakan suatu peristiwa yang amat aneh.

Dari dalam hutan kembali muncul dua orang yang berjalan dengan langkah amat perlahan, mareka bukan lain adalah sijari Sakti Sang Su-im dan Sin Hong Soat-nie dua orang.

Di dalam sekejap saja kerata bardarah kembali terkapung rapat-rapat di dalam kurungan para orang gagah, suasana begitu tegang jelas sebentar lagi bakal terjadi suatu pertampuran yang benar-benar amat sengit....

Koan Ing yang melihat kejadian ini dalam hati merasa amat girang, dengan keadaan yang tertera di depan mata pada saat ini walaupun kapandaian silat yang dimiliki orang dibalik kerata berdarah itu jauh lebih lihaypun tidak mungkin bisa maloloskan dirinya lagi.

Sinar mata Ciu Tong dengan perlahan manyapu sekejap ke sekeliling tempat itu agaknya dia merasa amat puas dengan hasil yang dicapai pada saat ini, dan jika dilihat dari kaadaan ini terang-terangan pihak mareka itu sudah berada di atas angin, oraag yang berada di dalam kereta berdarah itu jangan harap bisa meloloskan dirinya kembali.

"Saudara!! sungguh dahsyat kepandaian silat yang kau miliki, kenapa kau orang tidak memperliaatkan wajah aslimu?"

Serunya kemudian terhadap orang yang berada di dalam kereta berdarah itu.

Ooo)*(ooO Bab 44 SELESAI berkata tubuhnya tampak barkelebat maju ke depan, tongkat ditangan kanannya menyontek ke atas dan menghajar horden dari kereta itu.

Dari balik kereta bardarah terdengarlah suara dengusan dingin yang amat berat, dua gulung hawa pukulan jari yang berwarna hijau muda dengan cepatnya menyambar keluar mengancam alis dari Ciu Tong.

Begitu melihat datangnya kedua gulung sambaran angin yang bagitu dahsyat Ciu Tong merasakan hatinya berdesir, tubuhnya buru-buru mangundurkan diri ke arah belakang.

Bukan saja Ciu Tong yang merasa terkejut sekalipun para orang gagah yang hadir disanapun merasakan hatinya tergetar keras, bukanlah kedua gulung hawa pukulan tersebut dihasilkan dari ilmu jari "Cha Liong Cie"

Yang dimiiiki manusia tunggal dari Bu-lim tempo hari? Pada dua puluh tahun yang lalu ilmu jari "Cha Liong Cie"

Pernah membinasakan berpuluh-puluh orang jagoan Bu-lim, kedahsyatannya boleh dikata jauh melebihi kedahsyatan dari ilmu jari "Han Yang Cie"

Milik Sang Su-im. Ilmu jari "Han Yang Cie"

Dapat memunahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki seseorang sedangkan ilmu jari "Cha Liong Cie"

Ini bukan saja dapat melenyapkan tenaga dalam yang dimiliki seseorang bahkan dapat menembusi pula ilmu Khikang yang melindungi tubuh seseorang.

Orang yang berada di dalam kereta bardarah itu sesudah berhasil mengundurkan Ciu Tong ternyata sama sekali tidak memperlihatkan gerakan apapun, agaknya dia tidak bermaksud untuk bentrok secara terang-terangan dengan mereka sebaliknya sedang menanti perubahan selanjutnya dari kalangan tersebut.

Ciu Tong yang kena dikejutkan sehingga mundur ke belakang, kembali bersiap-siap untuk menerjang ke depan untuk kedua kalinya, mendadak sinar matanya dapat menangkap kalau sijaringan emas Phoa Thian Coa lagi memerintahkan anak buahnya dari lembah "Chiat Han Kok"

Untuk menyabarkan diri dan mengepung mereka semua.

Dangan dinginnya dia lantas mendengus, walaupun kepandaian silat yang dimiiiki orang yang ada di dalam kereta berdarah itu amat aneh dan lihay tapi bagaimanapun juga dia cuma seorang diri, hal itu mudah diselesaikan ditambah pula siapakah dia tidak seorangpun yang tahu.

Bilamana membicarakan soal dendam boleh dikata diantara mereka tak ada persoalan apa-apa, sebaliknya terhadap Phoa Thian-cu dia adalah sakit hati terbunuhnya sang putra kesayangannya.

"Phoa Thian Coa!!"

Serunya kemudian dengan dingin.

"Kau tidak usah mengatur siasat lagi, ini hari tidak bakal ada jalan mundur buat dirimu!"

"Bagaimana perubaban selanjutnya dari keadaan ditengah kalangan siapapun tidak tahu, buat apa kau orang bicara tekebur?"

Ejek Phoa Thian Coa sambil tertawa dengan dingin.

Kiranya cara berpikir dari tiga manusia aneh serta dua manusia genah yang ada di dalam kalangan adalah sama, siapapun di antara mereka lebih penuju untuk menghadapi diri Phoa Thian Coa lebih dulu serta anak buahnya, karena pihak lembah "Chiet Han Kok"

Sudah membuat mereka kehilangan muka. Terdengar Sang Su-im tartawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.

"Hey Phoa Thian-cu, tidak ada gunanya kau mengatur siasat dan mengepung kami, sejak tadi di sekeliling tempat ini sudah menanti anak buah perkumpulan Tianggong-pang kami, Bilamana kau bermaksud hendak meninggalkan tempat ini aku rasa tidak bakal semudah apa yang kau pikirkan semula!"

Dengan cepat Phoa Thian Coa menyapu sekejap ke sekelilingnya, diam-diam dia merasa amat terperanjat bersamaan itu pula hatinya merasa heran mengapa sampai waktu itu belum juga kelihatan munculnya Yuan Si Tootiang disana.

bilamana apa yang diucapkan Sang Su-im adalah sungguh-sungguh maka keadaan tentu akan runyam, Pada waktu itulah dengan langkah yang amat perlahan Sing Siauw-tan serta Koan Ing barjalan ke arah Sang Su-im.

Sejak diketahui olehnya kalau orang yang barada di dalam kereta bardarah itu telah menggunakan ilmu silat aliran Hiatho-pay bahkan berhasil mempelajarinya dalam waktu yang amat singkat Koan Ing sudah kepingin sekali mengetahui siapakah orang itu.

tetapi orang-orang yang ada di dalam kalangan pada taat ini kebanyakan merupakan angkatan yang jauh lebih libay dari dirinya, dia merasa tidak leluasa untuk turun tangan sendiri sesaat mereka lagi bercakap2 dengan Phoa Thian Coa.

Walaupun langkahnya menuju ke samping Sang Su-im tetapi sepasang mata dari pemuda itu masih juga memperhatikan hordan kereta tersebut.

dia merasa heran di kolong langit pada taat ini masih ada jagoan dari mana yang memiliki kepandaian yang demikian dahsyatnya itu?

"Phoa Thian Coa!"

Terdengar Thian Siang Thaysu itu Jiangbunjien dari Siauw-lim-pay berkata dengan suaranya yang berat.

"Cepat perintahkan mereka untuk letakkan senjata, kau sendiripun seharusnya tahu mengorbankan nyawa anak buahmu sebetulnya tidak berguna, karena orangorang Bu-lim akan memberi suatu keadilan buat kalian"

Phoa Thian Coa menarik napas panjang sinar matanya berkelebat tiada hentinya.

"Thaysu, bukankah perkataanmu rada sedikit sombong!"

Tiba-tiba dari balik hutan berkumandang datang suara seseorang yang amat dingin sekali.

Mendangar suara tersebut Koan Ing merasa hatinya berdesir, ketika dia manoleh ke belakang, sedikitpun tidak salah tampaklah Yuan Sie Tootiang itu ciangbunjin dari partai Bu-tong sudah bertindak datang dan di belakang tubuhnya tampaklah sutenya si "Sin Kiam Tui Hong"

Kong Yan Bei.

Dalam hati ia merasa keheranan, bukankah Cha Can Hong sekalian sedang pada pergi mengejar Yuan Si Tootiang?

Bagaimana mungkin mareka bisa kehilangan jejaknya bahkan toosu itu bisa munculkan dirinya disini?

"Hmm!

tidak kusangka kaupun berani datang juga kemari,"

Terdengar Cha Can Hong memaki dengan gusarnya sewaktu melihat munculnya Yuan Si Tootiang disana.

"Kendati kau tidak berani bergebrak melawan aku pada waktu itu buat apa kau datang kemari lagi? tidak kusangka sebagai ketua partai Bu-tong-pay ternyata engkau adalah seorang manusia yang tidak tahu malu!!!"

"Sin Kiam Tui Hong"

Kong Yen Bei yang mendengar perkataan tersebut dengan gusarnya segera membentak.

"Cha Can Hong! kau jangan berbuat kurang ajar terhadap suhengku. Hm! aku tahu karena kalian beberapa orang merasa iri hati atas kedahsyatan kepandaian silat suhengku maka dengan menggunakan cara yang amat memalukan kalian memfitnah kalau suhengku hendak mancelakai kalian!"

Cha Can Hong yang mendengar perkataan ini semula rada melengak dibuatnya, tapi sebentar kemudian dia sudah bisa mengerti, tentunya Yuan Si Tootiang sudah mengarang satu cerita bohong guna menipu sutenya ini.

Tak terasa lagi dia dongakkan kepalanya tertawa terbahakbahak!.

"Haa.... , haa.... , alasan yang bagus, cuma aku ingin tahu kami mangira kepandaian silatnya yang mana yang dikatakan amat mengejutkan itu?"

Untuk babarapa saat lamanya Kong Yen Bei tak dapat mengucapkan sepatah katapun, dia sendiripun baru saja bertemu muka dengan Yuan Si Tootiang sehingga apa yang diketahui olehnya masih belum banyak.

"Hmm! Buat apa soal ini dibicarakan lagi?"

Sahutnya kemudian sambil mendengus dingin.

"Oooo...."

Jadi kau berkata pinceng pun lagi mengiri kepandaian silat yang dimiliki Yuan Si Tootiang itu?"

Sambung Thian Siang thaytu dengan gusar.

Kong Yen Bei tahu kalau hubungan persahabatan antara Thian Siang thaytu dengan suhengnya Yuan Si Tootiang amat erat sekali, selama ini antara Bu-tong-pay serta Siauw-lim-pay selalu terjalin satu kerja sama yang amat erat.

bagaimana mungkin Thian Siang Thaysu pun bisa mengatakan sedang mengiri kepandaian silat suhengnya?

Dia rada merandek, Akhirnya dengan terpakta jawabnya juga.

"Soal ini sulit juga untuk dikatakan?"

Mendengar perkataan tersebut Thian Siang Thaysu benarbenar merasa amat gusar baru saja dia mengumbar hawa amarahnya Sin Hong Soat-nie yang ada disampingnya sudah mendahului.

"Lalu bagaimana dengan diriku?"

Serunya tawar.

Sewaktu Kong Yen Bei mendengar perkataan dari Yuan Si Tootiang untuk baberapa saat lamanya dia merasa perkataan dari suhengnya ini benar, tetapi Sia Hong Soat-nie jarang sekali ikut berebut nama besar dan jarang menuruni puncak Su Li Hongnya, sudah tentu dia tidak berani memandang rendah dirinya.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang anak murid dari partai Bu-tong bersamaan itu pula dia tidak berani mempercayai kalau suhengnya Yuan Si Tootiang sebagai salah satu dari tiga manusia genah dan kedudukannya sebagai ciangbunjien suatu partai kenamaan bisa memiliki niat untuk membinasakan pada orang gagah dari daerah Tionggoan seperti yang tersiar di dalam Bu-lim.

"Pada saat dan keadaan seperti ini bicara banyakpuo tak berguna."

Akhirnya dia berseru sambil menarik napas panjangpanjang.

"Anak murid Bu-tong-pay saat ini sudah tiba disini, diantara kalian tentu ada yang belum pernah merasakan bagaimana lihaynya barisan "Thay Khek Jie In Tin"

Dari partai Bu-tong-pay kami bukan?"

Sembari berkata dia ulapkau tangannya.

dari balik hutan segera muncullah tujuh puluh dua orang tojin berbaju hijau yang masing-masing menduduki posisi Pat Kwa dan memalangkan pedangnya sejajar dengan dada.

Sang Su-im jadi melengak.

dia sudah berikan perintahnya kepada seluruh anggota perkumpulan Tiang-gong-pang untuk lepaskas orang masuk tapi mencegah setiap orang yang bermaksud meninggalkan tempat ini, tidak disangka anak murid dari Bu tong p ay pun sudah berdatangan.

Melihat kejadian itu Thian Siang Thaysu segera membaca doa memuji keagungan sang Buddha.

"Omihtohud! Kong sicu, cepatlah perintahkan untuk bubarkan barisan ini. kalau tidak pinceng rasa tidak bakal mendatangkan kebaikan buat partai Bu-tong-pay kalian!"

Kong Yen Bei yang sudah tarunkan perintah untuk membentuk barisan sudah tentu tidak suka menarik kembali kata-katanya, bagaimanapun juga diapun marupakan seorang jagoan yang punya nama di dalam kalangan persilatan, bagaimana mungkin dia orang suka bicara bolak-balik sehingga mencemarkan nama baik Bu-tong-pay!

Di dalam hati dia masih mendendam terhadap diri Ciu Tong, terdengar dia tertawa dan ejeknya ke arah si iblis tua dari lautan Timur.

"Hey tua bangka, apakah kau orang ada maksud untuk menjajal terlebih dulu bagaimana lihaynya barisan "Thay Khek Jie Ih Tin"

Dari Bu-tong-pay ini?"

"Haaaaa.... haaa.... suatu barisan yang demikian kecilnya masih juga ingin menyusahkan diriku, bukankah hal ini terlalu tidak memandang atas kekuatannya sendiri?"

Selesai berkata sambil dongakkan kepalanya dan busungkan dada dia berjalan ke depan. Pada waktu itulah Hauw Thian Kiem Wang Phoa Thian-cu sudah tertawa terbahak-bahak kepada Sang Su-im ujarnya.

"Apa gunanya anggota Tiang-gong-pang mengepung di tempat luaran? haa.... ha.... kini situasi ditengah kalangan sudah berubah, menurut penglihatanku keadaan kalian sudah berada di bawah angin, buat apa membicarakan lagi soal menyerah.... haa haa."

Selesai berkata dia mendengus dingin, tangan kanannya diulapkan.

Dari empat penjura hutan itu dengan cepat tertebarlah berpuluh-puluh jaringan merah mengepung mereka semua ditengah kalangan.

Dengan pandangan yang dingin Sang Su-im menyapu ke sekeliling tempat itu, mendadak sinar matanya berkelabat.

bukankah samar-samar keadaan mereka pada saat ini rada mirip dengan keadaan sewaktu terkurung di dalam lembah Chiet Han Kok?

Dalam hati dia mulai mengadakan perhitungan, walaupun untuk memperoleh kemenangan total tidak mungkin tetapi tidak bakal sampai menderita kekalahan.

saat ini hatinya lagi berpikir bagaimanakah caranya untuk memperoleh kemenangan total?.

Kekuatan dari Bu-tong-pay benar-benar luar biasa sekali, barisan "Thay Kek Jie In Tin"

Ini sebetulnya adalah barisan besar pelindung gunung yang selamanya hanya diatur di atas gunung Bu-tong san saja kini ternyata mereka sudah pindahkan barisan itu kemari jelas sekali barisan ini tidak mudah dipatahkan.

Ciu Tong yang hendak menerjang hancur barisan ini dengan seorang diri sudah tentu tidak mungkin terlaksana.

Nama besar Ciu Tong sudah lama menggetarkan seluruh Bu-lim, walaupun pada saat ini tubuhnya baru saja satu bulan sambuh dari lukanya tetapi bagaimanapun juga dia adalah saorang ketua partai, sudah tentu hatinya tidak akan bisa dibuat jeri oleh sikap dari musuhnya.

Sambil mencekal tongkatnya erat-erat pada tangan kanan dengan langkah lebar dia berjalan masuk ke dalam barisan.

Begitu tubuhnya menginjak masuk ke dalam barisan, barisan "Thay Khek Jie In Tin"

Itupun mulai bergerak, tujuh bilah pedang bar-sama-sama melancarkan serangan dari empat penjuru, menyerang ke arah diri Ciu Tong.

Ciu Tong mendengus dingin, tubuhnya merendah tongkat yang ditangannya balas melancarkan serangan, ilmu sakti dari lautan Timur dapat membuat pergelangannya berputar tanpa menemui kesulitan apapun pada saat tubuhnya merendah kebawah itulah dia orang sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan tujuh bilah pedang panjang itu.

Bagi Sang Su-im sekalian yang sudah mengerti seberapa lihaynya ilmu silat yang dimiiiki Ciu Tong pada saat ini merasa tidak seberapa terkejut, sebaliknya Kong Yen Bei benar-benar merasa amat terperanjat, dengan kepandaian silat yang dimilikinya jelas nama besar yang dimilikinya selama ini bukan kosong belaka, dia orang bisa menduduki sebagai "Iblis"

Dari nama empat manusia aneh jelas ilmunya benar-benar berisi.

Diam-diam dalam hati sute dari Yuan Si Tootiang ini merasakan, bilamana dirinya hendak berhasil menandingi Ciu Tong setidak2nya harus berlatih lagi selama setahun dengan rajin.

Dangan gerakan dari Ciu Tong untuk menyambut datangnya serangan ini maka segera memaksa barisan Thay Khak Jie Ih Tin mulai berputar dengan sesungguhnya, semakin berputar semakin cepat dan terus semakin santer.

Ciu Tong sendiripun melancarkan toyanya bagaikan samberan angin cepatnya, jurus-jurus yang digunakan olehnya jauh lebih aneh dan berbeda dari jurus-jurus serangan yang sering terlihat dalam Bu-lim, apalagi perputaran pergelangan tangannya semakin membuat anak murid dari Bu-tong-pay ini kabingungan.

Sekalipun bagitu barisan "Thay Khek Jie Ie Tin"

Ini adalah barisan pelindung gunung, walaupun pedang yang mengepung diri iblis dari lautan Timur ini berhasil dipukul pental oleh tongkat besinya tetapi dikarenakan mereka sangat hapal dengan perubaban dari barisan itu ditambah pula cara kerja sama saling mengisi yang begitu rapat membuat kedudukkannya tetap sangat kuat.

Hanya di dalam sekejap saja sepuluh jurus sudah berlalu dengan amat cepatnya, penjagaan dari bariaan "They Khek Jie Ih Tin"

Masih tetap rapat dan kuat.

untuk beberapa saat lamanya Ciu Tong tak berhasil menerobos keluar dari kepungan barisan tersebut bahkan untuk menggerakkan badanpun susah.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak dari luar hutan berkumandang datang suara pujian pada Buddha yang saling susul menyusul suara tersebut semakin lama semakin nyaring dan terakhir berpadu merupakan pujian pada Buddha yang membetot hati.

"Aaaach.... Thian Liong telah membawa barisan besar Pek Pah Loo Han Toa datang kemari!"

Tariak Thian Siang Thaysu rada tertegun.

Yuan Si Tooting maupun Phoa Thian-cu yang mendengar perkataan itu segera merasakan hatinya terperanjat, bilamana bantuan besar yang terdiri dari delapan ratus orang ini benarbenar diatur sekalipun kepandaian silat mereka jauh lebih lihaypun jangan harap bisa meloloskan dirinya, mereka sama sekali tidak menyangka kalaa Thian Siang Thaysu bisa memindahkan pula barisan tersebut datang kemari.

Tetapi yang jelas hweesio itu bisa berbuat demikian justru karena terlalu mendendam terhadap mereka hingga tanpa sayang lagi sudah kerahkan seluruh kekuatan dari Siauw-limpay.

Anak murid dari lembah "Chiet Han Kok"

Mana bisa menahan serangan laksana air bah itu, hanya di dalam sekejap saja jaring merah mereka pada hancur berantakan, ada berpuluh-puluh orang hweasio yang berhasil menerjang masuk ke dalam kalangan, bahkan terlihatlah delapan orang hweesio bar-sama-sama datang menghampiri diri Thian Siang Thaysu.

Yuan Si Tootiang yang melihat situasi sangat tidak menguntungkan bagi dirinya dalam hati merasa amat berdesir, dia tahu bilamana dirinya tidak melarikan diri dengan menggunakan kesempatan ini, bilamana barisan besar Pek Peh Loo Han Toa Tin itu sampai terbentuk maka jangan harap dirinya bisa meloloskan diri kembali.

"Cepat atur Chiet Ci Liam Sim!"

Bentaknya kemudian dengan keras. Barisan "Thay Khek Jie Ih Tin"

Dengan cepat berubah, Ciu Tong terdorong keluar dari dalam barisan sedang Toosu itupun dengan membentuk jadi tujuh orang tujuh barisan yang saling bersambung sambungan membentuk seekor naga.

Melihat kejadian itu dengan gusarnya Thian Siang Thaysu membentak keras.

"Yuan Si! kau ingin pergi kemana lagi?"

Tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan, bersama-sama dengan Sin Hong Soat-nie mereka pada menubruk ke arah Yuan Si Tootiang serta Phoa Thian-cu.

Melihat situais kembali berubah Sang Su-im dengan cepat kebaskan lengan kanannya ke atas.

sebuah panah berapi meluncur ke atas udara dan meletus sebanyak tiga kali.

inilah tanda dari penyerbuan besar2an oleh orang-orang perkumpulan Tiang-gong-pang Yuan Si Tootiang maupun Phoa Thian-cu buru-buru putar badannya mengundurkan diri ke belakang, sedang barisan "Chhet Ci Liam Sim"

Bagaikan kilat berputar menghadang perjalanan pergi dari Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soatnie!

Dengan gusarnya Ciu Tong meraung keras, tongkatnya berturut-turut melancarkan puluhan serangan gencar, angin serangan menajam laksana mengamuknya ombak ditengah samudra, Pada saat yang bersamaan pula Thian Siang thsysu yang melihat Yuan Si Tootiang hendak melarikan diri dengan gusarnya membentak keras, sapasang telapak tangannya bersama-sama didoroog sejajar dengan dada.

Serentetan suara ledakan yang amat keras bergema memenuhi angkasa, dengan menggunakan tenaga sepuluh bagian dari ilmu khie-kang "Sian Thian Cin Khai"

Nya dia menghantam ke arah depan.

Pada saat itulah Sin Hong Soat-nie membentak keras, diapun melancarkan satu serangan dahsyat ke depan.

Meraka bertiga merupakan jago-jago kelas wahid.

dari kalangan dunia persilatan, saat ini mereka harus bersamasama melancarkan serangan menghantam barisan "Chiet Ct Liam Sim itu."

Sekalipun mereka berjumlah tujuh, kali tujuh empat puluh sembilan orang tetapi bagaimanapun tak tahan juga tarhadap tenaga serangan yang begitu dahsyatnya.

Seketika itu juga barisan "Chiet Ci Liam Sim"

Kena dipukul bujar dan kacau berantakan. Si "Sin Kiam Tui Hong"

Kong Yen Bei mana pernah melihat situasi pertempuran yang demikian mengejutkan, saking tarperanjatnya dia berdiri mematung disana, untuk baberapa saat lamanya tak sepatah katapun bisa dtucapkan keluar.

Baru saja mereka bertiga berhatil memukul pecah barisan Chiet Ci Liam Sin Tin itu mendadak terdengar Phoa Thian-cu bersuit nyaring, dari empat penjuru hutan lebat itu bermunculanlah orang-orang berkeruduog yang bersamasama manghalangi perjalaaan mereka, Pada saat yang bersamaan pula orang yang ada di dalam kereta berdarah itu melancarkan serangannya dengan menggunakan cambuk panjang tersebut, laksana seekor naga berbisa dengan gesitnya menghantam tubuh Cha Can Hong, itu si dewa telapak dari gurun pasir.

Cha Can Hong jadi amat terkejut, dengan murkanya dia membentek.

di dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia melepaskan tali les pada kereta itu dan melayang ke atas, telapak tangannya bagaikan kilat cepatnya melpncarkan delapan buah serangan menghadang datangnya serangan cambuk iiu.

Sang Su-im sehabis melepaskan anak panah berapinya ada maksud untuk membantu Thian Siang Thaysu menghadang jalan pergi dari Yuan Si Tootiang, tetapi melihat kereta berdarah itu bermaksud untuk melarikan diri ia jadi amat terperanjat, dalam hati ia mengerti kalau Cha Can Hong tidak mungkin bisa menahan kereta berdarah itu seorang diri.

"Kau hendak lari kemana bentaknya dengan keras. Bersamaan dengan suara bentakannya itu sang tubuh melayang kaatas dan melancarkan tujuh buah totokan mematikan. Inilah jurus yang terlihay dari ilmu Han Yang Ci yang disebut sabagai "Huan Sia Chiet Cie."

Tenaga serangan berkelebat ditengah angkasa sehingga menimbulkan suara desiran tajam, dengan hebatnya angin serangan itu menghantam ruangan kereta berdarah.

Orang yang ada di dalam kereta berdarah itu dengan cepat mengebaskan cambuknya ditengah udara sehingga membentuk bunga-bunga cambuk yang banyak.

Keempat ekor kuda itu segera meringkik panjang, ditengah menyambarnya sang cambuk ditengah udara untuk membujarkan serangan jari dari Sang Su-im, kereta berdarah tersebut dengan cepatnya menerjang ke depan.

Melihat serangannya berhasil digagalkan oleh pihak musuh dengan demikian mudahnya Sang Su-im merasa sangat terkejut bercampur murka, dia mendengus dingin, lima jari tangan kanannya berturut-turut menyentil kembali ke depan.

Empat puluh sembilan serangan jari bersama-sama menyambar ke depan, seketika itu juga seluruh ruangan sudah dipenuhi suara desiran yang memekikkan telinga.

Orang yang berada dalam kereta bardarah itu begitu melihat datangnya serangan yang demikian gencar buru-buru mengebaskan cambuknya ditengah udara, tetapi menggunakan kesempatan itulah Cha Can Hong kembali melanijarkan delapan belas buah serangan menghantam ke arah depan.

Angin pukulan lastana senjata tajam dengan tanpa ampun lagi menggencet tubuh keempat ekor kuda itu.

Cambuk panjang rada merandek sejenak ditengah udara.

"Plaak!"

Pada mulanya ia menghantam bujar pukulan dari Cha Can Hong, akhirnya baru menyapu ke arah Sang Su-im menggagalkan sentilan jari dari Han Yang Ci ini.

Dengan amat cepatnya cambuk dan serangan jari bentrok menjadi satu ditengah udara, diantara suara desiran yang amat tajam sebagian besar dari cambuk itu mulai rontok dan tersebar memenuhi angkasa.

Sisa kekuatan dari tenaga sentilan itu pun dengac dahsyatnya melanjutkan daya luncurnya menghantam kereta bardarah itu.

Sang Su-im kontan merasa hatinya amat kaget, dimana kekuatan jarinya bertemu dengan orang itu segeralah terasa tubuh orang itu keras laksana batu emas, walau pun jari2nya berhasil mengenai dirinya tetap tak berhasil mengapa-apakan orang itu.

Ditengah suara ringkikan keempat ekor kuda berwarna merah darah itu dengan menarik kereta berdarah menerjaog ke arah depan.

Pada waktu ini paras muka Sang Su-im sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping untuk memberi jalan buat kereta itu lewat, Cha Can Hong yang melihat seluruh kekuatannya berhasil dipunahkan oleh orang itu saat inipun tidak berani turun tangan menghadang, tubuhnya dengan cepat pula meloncat pula kesamping.

Koan Ing yang melihat kejadian ini dengan cepat menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, dia tahu dirinya harus segera turun tangan untuk menghalangi jalan pergi dari kereta itu.

menanti hweesio-hweesio dari Siauw-lim-pay berhasil membentuk kedelapan ratus Loo Han Toa Tinnya maka pada saat itu tidak usah kuatir lagi bilamana kereta bardarah itu berhasil meloloskan diri.

Siapakah orang yang ada dalam kereta berdarah itu ia harus mengetahuinya walau pun dengan cara apapun.

Tubuhnya secara tiba-tiba berkelebat menubruk ke arah kereta berdarah itu.

Sang Siauw-tan yang melihat kejadian ini jadi amat terperanjat tapi gerakan dari Koan Ing dilakukan secara mendadak dan begitu cepat, menanti dia merasa untuk menghalangpun tidak sempat lagi.

Dengan cepatnya Koan Ing menubruk ke arah kereta berdarah itu, dari dalam kereta segera berkumandang suara dengusan yang amat berat, tiga gulung hawa pukulan yang amat dahsyat dengan cepat meluncur keluar mengancam tiga buah jalan darah penting ditubuh pemuda itu.

Buru-buru Koan Ing menutulkann badannya ke belakang, pedang kiem-hong-kiamnya dengan cepat dilintangkan di depan dada menangkis datangnya kedua gulung angin serangan itu.

Dengan cepat angin serangan bentrok jadi satu dengan pedang kiem-hong-kiam sehingga menimbulkan suara dengungan yang amat keras, seketika itu juga pedang kiemhong-kiamnya kena dipentalkan sehingga memancarkan cahaya hijau keamas-emasan yang menyilaukan mata.

Bersamaan itu pula Koan Ing merasakan seluruh tubuhnya kaku, hatinya jadi rada berdesir, dia sama sekali tidak menyangka kalau kedahsyatan dari ilmu jari "Cha Liong Cie"

Bisa demikian luar biasanya.

Baru saja tubuhnya terasa amat kaku, potongan cambuk kembali menyambar datang, membuat tubuhnya semakin sakit lagi hingga menusuk ke dalam tulang sumsum.

Otaknya jadi pusing dan tanpa ampun tubuhnya terseret ke dalam kereta dalam keadaan setengah sadar.

Setelah itu pemuda itu merasakan tubuhnya kena digulung masuk ke dalam kereta berdarah, ia merasa dari samping telinganya terdeagar suara bentakan yang amat santar dari luar kereta diikuti suara jeritan keras dari Sang Siauw-tan.

Suara itu semakin lama semakin lemah dan akhairnya lenyap dari pendengaran, Koan Ing hanya mendengar suara ringkikan kuda serta berputarnya roda kereta yang amat membisingkan telinga.

Hal ini semua membuat hatinya terasa amat berdesir.

Sekali lagi kereta berdarah berhasil meloloskan diri dari kepungan, inilah ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya.

Suara jeritan dari Sang Siauw-tan kambali bergama ditelinganya.

dia merasa suatu kengerian yang mencekam seluruh tubuh.

Di dalam keadaan setangah sadar setengah tidak Koan Ing hanya merasakan kereta berdarah itu berlari dengan amat cepatnya menuju ke arah depan.

Mendadak suatu ingatan yang amat aneh berkelebat di dalam benaknya, bagaimana mungkin dia bisa jatuh tidak sadarkan diri tanpa sebab?

Bilamana orang berada dalam kereta berdarah ini tiba-tiba turun tangan membunuh dirinya.

bukankah dia akan mati tanpa mengetahui siapa yang sudah melakukan pembunuhan tersebut?

Ooo)*(ooO Bab 45 BERPIKIR sampai disini kesadarannyapun rada pulih kembali.

Pada saat itulah terdengar suara deburan air yang amat ramai sekali disertai percikan air yang memancar keempat penjuru, agaknya kereta berdarah itu sudah menyebrangi sungai Tiang Kang.

Pemuda ini pernah mempelajari ilmu "Ih Cing Hoat"

Aliran Siauw-lim-sie serta "Boa Lan Sinkang"

Dari partai Hiat-ho-pay. bilamana bukannya ia sudah kena digetarkan terlebih dulu oleh ilmu jari "Cha Liong Ci"

Tidak mungkin tubuhnya bisa kena dicambuk oleh orang yang ada di dalam kereta berdarah itu dengan demikian mudah.

Dengan perlahan Koan Ing membuka matanya, tiba-tiba keempat anggota badannya menarik ke belakang lalu mancelat ke arah luar kereta tersebut dengan gerakan yang amat gesit.

Begitu kaki kirinya berhasil menginjak dipinggiran kereta matanyapun dengan tajam menyapu ke dalam ruangan kereta.

Seketika itu juga dia merasakan hawa berdesir memancar naik dari dasar lubuk hatinya, ia merasa tubuhnya seperti tertanam dalam salju yang tebal.

"Oooouw.... kiranya kau orang!"

Serunya tak terasa lagi.

Ternyata orang itu bukan lain adalah Tong Phoa Pek yang pernah menurunkan pelajaran ilmu silat kepadanya sewaktu masih berada di daerah Tibet, sama sekali tidak disangka orang yang tempo hari pernah mendapat julukan sebagai manusia yang terbaik kini sudah manjadi majikan dari kereta berdarah.

Suatu bayangan yang samar-samar telah berkelebat di dalam benak pemuda tersebut, sewaktu tadi Tong Phoa Pek melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Hwa Kong Ci Si"

Atau mementang busur membidik sasaran dari aliran Hiat-ho-pay dia merasa kepandaian orang itu demikian tingginya bahkan jauh melebihi kepandaian silat dari siapapun.

Dangan sifat serta tindak-tanduk dari Tong Phoa Pek ternyata bisa berbuat begitu, hal ini merupakan suatu peristiwa yang tidak mungkin!

tapi bukti ada di depan mata hal ini memaksa dirinya mau tak mau harus mempercayainya juga.

Percikan air sungai memancar ke atas membasahi empat penjaru, keampat ekor kuda berwarna merah darah itu sambil menarik keretanya melanjutkan perjalanannya dengan amat cepat.

Dengan perlahan Tong Phoa Pek menoleh sekejap ke arah Koan Ing lalu sambil tertawa dingin ujarnya.

"Sungguh tidak kusangka sama sekali kaupun mamahami ilmu Ie Cing Hoat dari aliran Siauw-lim-pay, perpisahan kita selama beberapa bulan ini boleh dikata membuat kepandaian silatmu memperoleh kemajuan yang amat pesat, hal ini benar-benar jauh berada diluar dugaanku!"

"Ehmm.... akupun tidak pernah menyangka kalau orang yang barada di dalam kereta berdarah ini ternyata adalah Tong Phoa loocimpwee!"

Seru Koan Ing pula sambil kerutkan keningnya. Mendengar perkataan itu Tong Phoa Pek tertawa tawar.

"Setelah aku mendapatkan pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie saat itulah hatimu baru mengakui jikalau ilmu silat aliran Hiat Hoo Bun benar-benar merupakan suatu rangkaian ilmu silat yang luar biasa, setelah aku memperoleh pedang pusaka "Hiatho Sin-pie"

Sudah seharusnya kereta berdarah ini aku miliki!"

"Heeeei.... walaupun kepandaian silat yang termuat di dalam kereta berdarah ini amat aneh tetapi bisa mendatangkan bencana bagi setiap orang, boanpwee sudah menerima perintah dari si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong, Jin loocianpwee untuk memusnahkannya!"

"Haaaaa.... haaa.... kepandaian silat yang ada di dalam kereta berdarah?"

Teriak Tong Phoa Pek sambil tertawa terbahak-bahak.

"Di dalam kereta berdarah mana mungkin ada ilmu silat? Aku lihat matamu sudah kabur dan kebingungan. bilamana di dalam kereta berdarah sungguhsungguh termuat ilmu silat, akupun tidak bakal ada di tempat ini"

Mendengar perkataan itu Koan Ing jadi melengak dibuatnya.

"Apakah di dalam kereta berdarah ini benar-benar tidak termuat ilmu silat?"

Tanyanya.

"Haaa.... haaa.... kuberitahu kepadamu pun tidak mengapa. di dalam kereta berdarah ini cuma termuat dua baris kata saja jaitu.

"Ingin memperoleh kepandaian yang mengejutkan. di dalam air ditengah batu selat Sam Shia"! tetapi tulisan bukan Jien Wong yang tulis mungkin dia mengharapkan kau suka memusnahknn kedua baris kata-kata itu!"

Koan Ing segera mengerutkan keningnya dalam hati diamdiam berpikir.

"Kenapa Jien Wong menyuruh aku memusnahkan kadua baris kata-kata itu? Dia berkata di dalam kereta ada tertera ilmu silat, kenapa sekarang tidak kelihatan?"

Tidak aneh kalau Tong Phoa Pek berjalan monda-mandir di daerah sekitar selat Sam Shia ini, kiranya diapun sedang mencari ilmu silat peninggalan dari partai Hiat-ho-pay.

"Hmm! Saat ini yang mengetahui siapakah yang menjadi majikan kereta berdarah cuma kau seorang diri, sebelum aku barhasil memperoleh kepandaian silat aliran Hiat-ho-pay aku tidak ingin ada orang yang ikut mengetahui rabasia ini,"

Kata Tong Phoa Pek dengan wajah membesi dan nada yang amat dingin.

Koan Ing yang mendengar nada ucapan dari Tong Phoa Pek mengandung maksnd untuk membinasakan dirinya dalam hati terasa rada berdesir, hampir-hampir dia tidak berani mempercayai atas kejadian yang berlangsung di depan matanya ini.

Sinar matanya dengan cepat berkelebat, dia menarik napas panjang-panjang dan mencekal pedang kiem-hong-kiamnya erat-erat.

Kelihayan dari ilmu silat yang dimiiiki Tong Phoa Pek bukanlah tandingannya, dia harus berusaha keras untuk mempertahankan nyawanya.

dia harus melarikan diri dari situ dan memberitahukan peristwa ini kepada Sang Su-im sekalian.

agar seluruh orang gagah dari Bu-lim pada mengetahui siapakah orang yang berada di dalam kereta berdarah itu.

Berpikir sampai disitu tanpa banyak membuang waktu lagi dia menjejak kakinya dan melayang keluar dari kereta, Agaknya Tong Phoa Pek sudah menduga akan gerakan dari Koan Ing ini, dia tertawa terbahak-bahak cambuk yang ada ditangan kanannya dengan cepat disambar ke depan.

Walaupun cambuk panjang itu sudah terputus hampir separuh bagian tetapi panjangnya masih ada dua, tiga kaki, potongan cambuk itu dengan cepat membentuk gerakan setengah lingkaran ditengah udara dan menyapu tubuh bagian depan dari Koan Ing.

Pemuda itu jadi amat terperanjat walaupun tenaga tekanan dari serangan ini tidak sebegitu besar tetapi arahnya dengan tepat menutup jalan mundurnya, hal ini berbahaya bagi keselamatan pemuda itu.

Pedang kiem-hong-kiamnya dengan cepat disentil ke depan, serentetan cahaya keemas-emasan dengan cepat meluncur ke depan membabat gagang cambuk itu.

Melihat datangnya setangan itu Tong Phoa Pek segera mendengus dingin.

"Hmm! kau masih ingin melarikan diri kemana?"

Ditengah suara bentakannya yang amat keras cambuk panjang ditangan kanannya melayang setengah lingkaran ditengah udara lalu melibat pergelangan tangan sang pemuda bersamaan itu pula tangan kirinya melancarkan tiga buah sentilan jari yang mengancam punggung Koan Ing dengan ilmu "Cha Liong Cie"

Nya yang lihay itu.

Di dalam keadaan cemas bercampur gusar Koan Ing bersuit panjang, tubuhnya bersalto bebarapa kali ditengah udara, pedang kiem-hong-kiamnya mendadak meluncur lepas dari taagannya menyambar keningnya Tong Phoa pek.

Serangannya yang terakhir ini telah menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, walaupun dia tahu pedang kiem-hong-kiam itu adalah barang peninggalan dari supeknya.

"Thian-yu Khei Kiam"

Sesaat menjelang kematiannya.

bahkan merupakan tanda kepercayaan sebagai ciangbunjin Thian-yupay, tapi dalam keadaan seperti ini mau tidak mau dia harus menggunakan pedang itu juga untuk menyerang lawannya.

Walaupun Tong Phoa Pek sendiri memiliki kepandaian silat yang benar-benar mengejutkan tetapi bagaimanapun juga tenaga dalam dari Koan Ing sudah hampir manandingi tenaga dalam dari tiga manusia genah empat manusia aneh, dia tidak berani memandangnya terlalu anteng.

Ketika melihat pedang Kiem-hong-kiam dari pemuda itu dengan disertai tenaga yang luar biasa besarnya meluncur ke arahnya dengan cepat Tang Phoa Pek menarik tangan kirinya ke belakang.

ditengah suara dengusannya yang amat dingin satu pukulan dahsyat dengan cepat menghantam ke arah pedang itu sehingga menceng ke samping dan menancap di atas dinding kereta berdarah itu.

Pada saat yang bersamaan pula cambuk panjang ditangan kanannya menggetar dan melibat pergelangan tangan pemuda itu dengan amat kencang.

Koan Ing yang pergelangan tangannya kena dilibat oleh cambuk lawan segera merasakan hatinya bergidik, tadi ia membuang pedangnya justru bermaksud untuk melarikan diri, siapa sangka kepandaian silat dari Tong Phoa Pek luar biasa lihaynya sehingga maksud yang dikandung bisa digagalkan.

Kembali dia bersuit nyaring, ditengah berkelebatnya bayangan hitam tahu-tahu pergelangan tangan kanannya yang tercengkeram sudah berhasil terlepas.

Kiranya dia sudah menggunakan ilmu "Ie Cing Hoat"

Serta "Boe Lao Sinkang"

Yang amat dahsyat itu.

"Kau ingin melarikan diri kemana?"

Bentak Tong Phoa Pek dengan gusarnya.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing dapat begitu dahsyat, bahkan hanya dalam sekejap saja berhasil meloloskan diri dari libatan cambuk panjangnya.

Ditengah suara bentakan yang amat keras tubuhnya meluncur ke depan, cambuknya menggetar dan bagaikan kilat cepatnya menghajar jalan darah "Pek Sim Hiat"

Pada punggung Koan Ing.

Belum sempat pemuda itu menoleh ke belakang tahu-tahu jalan darahnya sudah kena ditotok, ia segera merasakan badannya jadi kaku dan tanpa ampun jatuh ke dalam sungai.

Suatu perasaan yang amat dingin dengan cepat meliputi tubuhnya.

Saat itulah terdengar Tong Phoa Pek sudah bereteru sambil tertawa dingin.

"Hee.... hee jangan salahkan aku terpaksa turun tangan kejam, itulah penyakit yang kau cari sendiri!"

Koan Ing yang jatuh ke dalam sungai segera merasakan harapannya putus, saat ini arus sungai amat deras ditambah lagi jalan darahnya masih tertotok.

bilamana bermaksud untuk berenang ketepian hal ini tidak mungkin bisa terlaksana Apalagi jalan darah yang tertotok adalah jalan darah "Hong Hu Hian"

Pada punggungnya, harapannya semakin menipis lagi.

Suara menggulungnya arus yang memekikkan telinga bergema tiada hentinya, pemuda itu hanya merasakan tubuhnya tergetar amat keras dan rasa sakit yang luar biasa mencekam seluruh tubuhnya.

tak kuasa lagi ia jatuh tidak sadarkan diri.

Entah lewat beberapa saat lamanya dengan perlahan dia baru sadar kembali dari pingsannya.

yang terdengar saat itu hanyalah suara deburan air sungai yang menghantam batu cadas.

Walaupun begitu pemuda itu bisa menebak di tempat manakah ia berada, tadi tubuhnya berasa amat sakit disebabkan kar na tubuhnya yang terjatuh ke dalam air dengan tepat menghantam sela2 batu karang yang ada dikedua belah sampingnya.

Masih untung sejak tadi ia sudah menutup pernapasannya, kalau tidak mungkin dirinya tidak bakal bisa hidup sampai saat ini.

Hatinya mulai berpikir....

"Bilamana tidak ada orang yang monolong apakah aku harus menantikan kematian disini?....

"Jangan dikata di tempat itu jarang dilalui orang, sekalipun ada orang yang liwat belum tentu bisa menemukan dirinya yang terhimpit diantara dua buah karang.

Pikirannya diperas habis-habisan untuk mencari akal....

beberapa aaat kemudian mendadak suatu ingatan berkelebat dalam benaknya.

Bukankah diantara ilmu silat aliran Hiat-ho-pay ada semacam ilmu aneh yang disebut "Leng Coa Tong Cha"

Ilmu kepandaian semacam ini dapat digunakan untuk mengubah tempat kedudukan jalan darah yang ada di dalam tubuh sehingga tidak sampai tertotok.

Apakah ilmu itu bisa juga digunakan untuk membebaskan diri dari totokan jalan darah?

walaupun pemuda itu tidak tahu bagaimana hasilnya tetapi mau tak mau terpaksa dia harus mencobanya juga.

Berpikir akan hal itu dengan perlahan Koan Ing memejamkan matanya, ia mulai pusatkan seluruh pikirannya untuk berlatih ilmu sakti "Leng Coa Tong Cha"

Ini.

Dengan mengikuti rahasia dari ilmu itu pemuda itu mulai berlatih, mendadak dia merasakan seluruh tubuhnya seperti terjatuh ke dalam gudang es yang amat dingin sekali seluruh tubuhnya menyusut kecil sedang jalan darah "Hu Sim Hiat"

Yang tertotok pun terasa amat sakit sekali, saking tak tahannya kembali dia jatuh tidak sadarkan diri.

Segulung air sungai menghantam wajahnya membuat ia sadar kembali dari pingsannya dengan sekuat tenaga tangannya digerakkan untuk munculkan dirinya kembali ke atas permukaan air.

Jalan darah "Hu Sim Hiat"

Yang tertotok pada saat ini sudah terbebas, tetapi keadaannya jauh lebih pajah lagi, hanya dikarenakan gerakan tangan yang amat perlahan itu segera membuat seluruh tubuhnya tarasa sakit dan linu tak bertenaga.

Dia tidak menyarngka kalau kepandaian sakti "Leng Coa Tong Cha"

Walaupun berhasil membebaskan dirinya dari totokan tetapi seluruh tenaganya jadi musnah.

Sekali lagi Koan Ing mengangkat tangan kanannya ke atas, tetapi pada saat yang bersamaan kembali segulung ombak menghantam tubuhnya memmbuat dirinya jatuh terjungkir ke dalam air, pandangannya jadi gelap dan kepalanya terasa amat pening.

Menanti ia dongakkan kepalanya kembali saat itulah tubuhnya sudah dihantamam oleh sang ombak menuju kesebuah batu karang yang amat besar sekali.

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi terperanjat, bilamana tadi dia tak bergerak keadaan masih tidak mengapa, tidak disangka setelah jalan darahnya terbebas, kematianpun menjelang semakin cepat.

"Heei.... matipun tidak mengapalah"

Pikirnya kemudian dihati.

"Daripada bergerakpun tak dapat jauh lebih baik mati dengan cepat!!"

Dengan cepatnya sang tubuh menghantam batu karang itu sehingga terseret kesamping....

mendadak pemuda itu menjerit kaget!!

kiranya pada saat itu ia sudah terlibat ke dalam sebuah pusaran air yang amat gelap dan besar sekali....

, Dengan mengikuti pusaran air tersebut tubuhnya dengan cepat berputar keras, diantara putaran itulah tampak cahaya berwarna keperak2an tiada henli2nya memancar keluar....

Koan Ing benar-benar merasa amat terperanjat, dia tahu harapannya untuk hidup semakin menipis lagi.

Tubuh Koan Ing dengan cepat terhisap masuk ke dalam air, semakin dalam pusaran itu semakin mengecil dan tubuh pemuda itupun berputar semakin perlahan....

Mendadak....

"Sreet....!"

Tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar keluar dari pengaruh pusaran itu dan terjatuh ke atas sebuah batu besar yang amat halus.

Beberapa saat lamanya Koan Ing dibuat melongo dengan kejadian di tempat itu.

akhirnya dengan perlahan dia bangun berdiri.

Kiranya pusat pusaran air tersebut terletak di bawah batu cadas yang amat besar luarnya kurang lebih ada lima kaki.

separuh bagian dari batu itu terendam air....

jika ditinjau tingginya batu tersebut benar-benar luar biasa sekali.

Lama sekali Koan Ing memperhattkan ke adaan di sekeliling tempat itu, Akhirnya dia menemukan sebuah gua yang amat gelap di bawah batu karang yang amat besar itu, tinggi mulut gua itu ada kurang lebih dua kaki.

Diam-diam pemuda itu salurkan hawa murninya ke seluruh tubuh kemudian dengan perlahan berjalan memasuki sang gua.

Dengan cepatnya dia berhasil menerobos masuk ke dalam gua itu, keadaan disana amat gelap sedang permukaan tanahpun semakin lama semakin meninggi dan akhirnya keluarlah pemuda itu dari permukaan air.

Semakin ke atas gua itu semakir luas, tiba-tiba Koan Ing menemukan dua belas sosok kerangka manusia duduk bersila di dalam gua itu.

di atas dinding terteralah bebarapa huruf yang besar sekali.

"Dua belas orang ciangbunjien Hiat-ho-pay dari dua belas angkatan ada disini, siapa saja yang masuk ke dalam gua ini harap menghunjuk hormat lebih dulu."

Melihat beberapa patah kata itu Koan Ing jadi melengak dibuatnya.

beberapa patah kata itu ditulis dengan begitu angker dan gagahnya, hal ini membuat dia orang merasa hatinya berdesir.

Tak kuasa lagi tubuhnya sudah menjatuh diri ke atas tanah dan menjalankan penghormatan terhadap kedua belas sosok kerangka manusia itu.

Setelah itu dengan langkah yang amat perlahan dia berjalan maju ke depan untuk memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu.

Tampaklah pada dinding gua itu tergantung sebuah busur yang terbuat dari perak dengan sebuah tempat anak panah yang terbuat dari perak juga.

Disebelah kirinya tergantung sebuah cambuk panjang berwarna ke perak2an cambuk itu membentuk sebuah lingkaran dengan panjang kurang lebih delapan kaki.

Sedang disebelah kanan tergantuag sebuah sabuk pedang yang dibuat dari perak setiiap bilah pedang pendek itu panjangnya ada dua coen, keadaannya henar2 menyilaukan mata.

Melihat benda-benda tersebut Koan Ing merasakan hatinya amat terperanjat dia berjalan semakin mendekat lagi....

Terbaca kembali olehnya di atas dinding tertera beberapa patah tulisan yang amat kecil.

"Barang siapa yang memperoleh ketiga buah barang putaka dari Hiat-ho-pay ini dipersilahkan meguburkan terlebih dulu ke dua belas kerangka dari dua belas orang ciangbunjien!"

Sehabis membaca tulisan itu tiba-tiba Koan Ing teringat akan sesuatu....

"Bukankab tempat ini adalah tempat yang dikatakan oleh Tong Phoa Phek sebagai di atas batu cadas di dalam air diselat Sam Shia?"

Pikirca diam-diam. Di atas batu di bawah air!"

Sedikitpun tidak salah, tempat ini memang ada di atas batu di bawah air.

tetapi ada siapa yang bisa menemukan tempat ini?

Tong Phoa Phek sudah membuang waktu yang amat lama sekali untuk mencari tempat ini tetapi hasilnya nihil, tidak disangka karena bencana dirinya malah kejatuhan rejeki....

Dengan tanpa membuang waktu lagi Koan Ing segera menjatuhkan dirinya berlutut dan memberi hormat lagi kepada kedua belas kerangka manusia itu kemudian baru dia menggali liang dan memasukkan kerangka2 manusia itu untuk dikubur.

Menanti tiba gilirannya pada kerangka yang terakhir pemuda itu jadi rada tertegun dibuatnya, kiranya kerangka manusia itu berlapislah suatu sinar merah yang amat tawar, jika ditinjau sepintas lalu lapisan merah itu mirip sekali dengan sebuah tenaga tersembunyi.

Koan Ing benarZ tertegun dibuatnya, tetapi teringat kalau kerangka itu bagaimanapun juga harus dikuburkan tanpa buang waktu lagi dia pun membopong kerangka tersebut.

Tetapi....

baru saja sepasang tangannya menempel pada kerangka manusia itu mendadak terasalah suatu tenaga hisapan yang amat kuat meluncur keluar dari kerangka manusia itu dan menghisap kencang-kencang sepasang tangannya.

Pemuda itu benar-benar merasa amat terperanjat, tubuhnya terasa jadi kaku sedang untuk lepas tanganpun tak berhasil....

"Apakah aku terkena racun? Sungguh tidak berharganya aku harus menemui ajalnya di tempat ini!"

Pikirnya dihati.

Pada saat hatinya terasa amat gugup itulah segulung bawa aliran yang amat panas meluncur masuk ke dalam tubuhnya, keadaannya pada saat itu mirip sekali dengan adanya bantuan tenaga dari seseorang.

Hanya di dalam sekejap saja seluruh urat nadi dan jalan darahnya terasa panas seperti dibakar, otot dan badannya hampir-hampir dibuat lumer.

Tetapi perasaan tersebut hanya sebentar, kemudian sudah lenyap tak berbekas, seluruh tubuhnya telah basah kujup oleh keringat mengucur keluar dengan derasnya.

Tetapi hanya di dalam sekejap itu pula tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang dia sendiripun hampir tidak mempercayainya.

Dengan perlahan dia meletakkan kembali kerangka manusia itu ke atas tanah dan mengusap kering keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya, diam-diam dia menarik napas panjang-panjang.

Ketika matanya memandang lagi ke arah kerangka tersebut, kerangka yang semula diliputi oleh cahaya merah kini sudah berubah jadi memutih, kontan pemuda itu menjadi melengak dibuatnya karena peristiwa ini baru dialaminya untuk pertama kali.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang dengan cepat diapun mengubur kerangka tersebut.

Tiba-tiba matanya tertumbuk dengan beberapa buah tulisan yang ada di bawah kerangka tadi.

"Cayhe adalah ciangbunjien angkatan kedua belas dari Hiat-ho-pay, si "Boe Im Khek"

Soog Yen.

sewaktu partai ini berada di bawah perintahku dikarenakan desakan dari pihak Siauw-lim anak muridku pada binasa dan terluka, cayhe sendiri kena didesak untuk melarikan diri dengan meninggalkan kereta, karena luka yang parah maka aku tinggalkan seluruh tenagaku buat orang menguburkan jenazahku dikemudian hari, ketiga buah barang pusaka ini adalah milik ciangbunjien pertama, barang siapa yang memperoleh benda tersebut tak terkalahkan di seluruh kolong langit."

Sehabis membaca tulisan itu diam-diam Koan Ing merasa hatinya bergidik, dia tidak menyangka walaupun Song Yen mati ia berhasil kumpulkan seluruh tenaga dalamnya untuk diturunkan kepada orang dikemudian hari....

Setelah termenung sebentar akhirnya dia jatuhkan diri bersila dan mulai menyalurkan tenaganya untuk melumerkan tenaga dalam yang baru saja diperolehnya itu....

Kurang lebih setengah jam lamanya dia baru berhasil menggabungkan tenaga itu dengan tenaganya sendiri, berbagai ilmu silat dari ajaran Jien Wong yang belum berhasil terpecahkanpun dengan bertambahnya tenaga dalam memperoleh kemajuan yang pesat.

Menanti Koan Ing membuka matanya kembali hari sudah terang tanah, saat itulah ia baru teringat akan diri Sang Siauw-tan yang lagi merasa cemas karena dirinya terbawa oleh kereta berdarah, Dengan cepat ia menyimpan ketiga buah benda pusaka dari partai Hiot Hoo Pay Itu.

setelah memberi hormat kembali pada kedua belas kuburan baru itu dengan mengikuti pusaran air kembali pemuda itu munculkan dirinya ke atas permukaan air.

Begitu mencapai tepian sungai tanpa perduli bajunya masih basah lalu ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat ke arah depan.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di tempat yang sudah dikenal olehnya, jantungnya terasa berdebar amat keras, kareaa sebentar lagi dia bakal bertemu dengan Sang Siauw-tan.

Mendadak ia merasakan dari sebelah kirinya berkumandang datang suara langkah manusia yang amat perlahan.

dengan cepat dia berhenti dan menoleh ke arah mana.

Tampaklah dari tengah hutan berjalan keluar seorang toojien yang kurus dan kecil.

wajahnya kelihatan masih mengantuk sedang jubahnya yang berwarna hijau sangat dekil dan kotor.

Koan Ing yang tidak kenal dengan orang itu segera kerutkan alisnya rapat-rapat.

di dalam anggapannya Toojien itu kebanyakan adalah anak mund dari Bu-tong-pay karenanya tanpa ambil perduli lagi dia putar badan dan melanjutkan perjalanannya kedapan.

"Eeei saudara cilik!! kau hendak pergi kemana?"

Sapa Toojien itu sambil menguap beberapa kali.

Koan Ing yang disapa oleh toosu itu di dalam hati segera merasa amat cemas, sebenarnya ia tak bermaksud untuk menggubris dirinya tapi melihat Toojien itu sudah berusia lima puluh tahunan memaksa dia orang mau tak mau harus menoleh.

"Aku ada urusan penting, maaf harus jalan setindak lebih dahulu!"

Serunya kemudian. Sehabis berkata dengan cepat dia putar badan dan berlalu.

"Eeei.... eei sekalipun kau ada urusan penting tapi aku ada urusan yang lebih penting lagi untuk dirimu, bilamana kau mau membereskan urusan penting ini lebih baik jangan pergi dulu!"

Teriak Toojien itu lagi dengan suara yang amat keras. Dalam hati Koan Ing merasa rada tidak senang pikirnya.

"Hmm! siapakah sebetulnya sihidung kerbau ini? Aku sama sekali tidak kenal dengan dirinya buat apa dia cari urusan? Apa mungkin toosu ini adalah anak murid dari Bu-tong-pay?"

Berpikir sampai disini dengan wajah yang keren dia lantas berkata.

"Bilamana tootiang ada urusan lebih baik kita bicarakan dikemudian hari saja!"

Selagi berkata dia lantas putar badannya dan berlalu dari sana dengan amat cepat.

Gerakan dari Koan Ing amat cepat sekali, hanya di dalam sekejap saja ia sudah tiba di depan loteng yang pernah didiami itu dan langsung menerjang naik ke atas.

Tetapi suasana di dalam loteng tersebut amat sunyi sekali, sesosok bayangan manusiapun tak nampak.

Koan Ing benar-benar meresakan hatinya amat cemas, dengan suara yang keras dia berteriak memanggil nama Siauw-tan tetapi tak kedengaran juga suara sahutan.

Kemana perginya Sang Siauw-tan?

Apa mungkin gadis itu pergi mencari dirinya?

Mendadak dia mendengar suara helaan napas dari seseorang bergema datang dari belakang tubuhnya, terburuburu tubuhnya membalik dan melayang mundur ke belakang.

Ketika sinar matanya menyapu ke arah orang itu hatinya kembali merasa amat terparanjat sekali, Kiranya orang yang berada di depan pintu pada saat ini bukan lain adalah Toojien kurus kecil yang pernah ditemuinya ditengah jalan baru saja.

Siapakah orang itu?

Ada keperluan apa menguntit dirinya sampai disini?

Apakah dia orang tidak tahu kalau tempat ini adalah kediaman dari Sang Su-im?

Terdengar sitoojien itu kembali menguap beberapa kali.

"Pinto bernama Thian Tay Lan Toojien."

Ujarnya memperkenalkan diri.

"Tentunya kau orang pernah mendengar namaku bukan?"

Mendengar disebutnya nama itu Koan Ing jadi sangat terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka kalau sitoojien kate yang ada di hadapannya ini sebenarnya adalah Lan Toojien dari gunung Thian Thay yang terkenal akan ilmu meringankan tubuhnya itu.

Walaupun kepandaian silat dari Lan Toojien ini tidak begitu tinggi, tapi ilmu meringankan tubuhnya boleh dikata nomor satu dia terkenal karena kemalasannya karena itu jarang sekali ada orang yang menemuinya.

walaupun begitu namanya sudah sangat tarkenal sekali di seluruh dunia kangouw.

Tidak disangka ini hari dia bisa munculkan dirinya disini, jelas sekali tujuannya tentu pada kereta berdarah itu.

Dengan menggunakan tangannya Lan Toojien Mengujek2 matanya kamudian ujarnya dengan perlahan.

"Eeei bocah, bilamana kau menduga kedatanganku dikarenakan kereta berdarah maka kesalahan ini adalah suatu kesalahan yang amat besar, dengan kepandaian silatku pada saat ini sebetulnya aku tidak memerlukan kereta berdarah lagi, justru aku datang kemari hanya ingin menonton keramaian saja!!"

Sehabis berkata kembali ia menguap beberapa kali, beberapa saat kemudian dia barkata lagi;

"Aku melihat keadaanmu sungguh aneh sekali, jika ditinjau dari wajahnya mirip sekali dengan Koan Ing yang tersiar dalam Bu-lim tapi jika diteliti lagi tidak mirip. agaknya Koan Ing tidak membawa busur! Oouw jaa.... sungguh bagus sekali busurmu itu, mari bawa kemari aku mau lihat sebentar!"

"Cayhu memang Koan Ing adanya, maaf busur ini aku orang tidak dapat hadiahkan kepada orang lain."

"Aku sendiripun tahu kalau kau tidak bakal berikan busur itu kepadaku,"

Kata Lan Toojien sambil bersandar pada dinding loteng dan menyipitkan matanya.

"Tapi aku sudah berlari amat jauh sekali, bilamana kau tidak hadiahkan busur itu kepadaku buat apa aku melakukan perjalanan jauh!!"

Kembali Koaa Ing kerutkan alisnya rapat-rapat dia tidak ingin berbicara banyak, tanpa memperdulikan Lan Toojien lagi dengan langkah lebar ia putar badan dan berjalan ke tempat luaran.

Lan Toojien dari gunung Thian Thay pun tidak menghalangi, dengan malas2an diapun ikut berjalan keluar dari kamar itu, sedang mulutnya dengan tiada hentinya bergumam.

"Sayang.... sayang tadi aku melihat ada seorang gadis kena ditangkap orang!!"

Sebenarnya Koan Ing tidak bermaksud untuk menggubris Lan Toojien lagi, tapi setelah mendengar perkataan itu hatinya merasa tergetar amat keras, dengan cepat dia menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Siapa?"

"Kau serahkan dulu busur itu?"

Seru Lan Toojien tanpa membuka matanya, Sinar mata Koan Ing berkelebat tiada hentinya, saat ini hatinya benar-benar merasa cemas bercampur kheki.

dia kepingin sekali mengetahui siapakah yang sudah turun tangan menangkap gadis itu....

Tetapi bilamana dikatakan Cha Ing Ing yang ditangkap hal ini tidak mungkin....

"Aku masih belum tahu siapakah gadis itu buat apa harus serahkan busur ini kepadamu?"

Katanya kemudian. Dangan perlahan Lan Toojien mengangguk.

"Perkataanmu sedikitpun tidak salah!"

Sahutnya.

"Tetapi aku rasa gadis itu ada sangkut-pautnya dengan dirimu. bilamana kau tidak serahkan dulu busur itu kepadaku nanti setelah aku beritahu padamu kau tidak suka berikan busur tersebut bukankah sulit? orang muda paling susah untuk dipercaya!"

Dengan gusarnya Koan Ing segera mendengus, tetapi saat ini dia tak berbuat apa-apa lagi. Terpaksa dia lepaskan busur itu dan diserahkan kepada Lan Toojien.

"Nih, ambillah busur ini! Tetapi kau harus hati-hati, berani bicara sembarangan aku hajar batok kepalamu!"

Teriaknya. Lan Toojien tersenyum, sambil menerima busur perak itu ujarnya lagi.

"Busur itu sudah kau hadiahkan kepadaku, buat apa anak panahnya kau simpan?"

Koan Ing benar-benar dibuat gusar sekali, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa terpaksa anak panah itu dilepaskan juga dan diberikan saja kepada si toosu malas.

Lau Toojien tidak langsung menjawab, matanya yang masih mengantuk dipentangkan lebar2 untuk memperhatikan buiur perak serta anak panah dari perak itu.

"Heemm.... busur dan anak panah yang bagus!"

Pujinya. Sehabis berkata dia baru menoleh ke arah sang pemuda dan katanya.

"Tadi aku melihat dua orang lelaki berwajah bengis menawan seorang nona kecil, katanya nona itu ditawan untuk menghadapi dirimu, mereka sekarang pergi ke sebelah Barat, aku lihat kedua orang itu adalah anak murid dari Si Ih Tuo Su!"

Mendengar perkataan itu Koan Ing benar-benar merasa amat terperanjat, tidak disangka olehnya satu gelombang baru saja mereda gelombang lain sudah melanda.

urusan yang menyangkut soal lembah Chiat Han Kok belum beres si orang tua bongkok dari Si Ih sudah munculkan dirinya kembali di daerah Tionggoan.

Bagaimana mungkin iblis tua yang selama ini tidak pernah meninggalkan daerah Si Ih bisa munculkan dirinya di daerah Tionggoan?

"Siapakah nona itu?"

Tanyanya kemudian dengan cemas.

"Bagaimana aku bisa tahu siapakah nona itu?"

Sahut Lan Toojien dengan malasnya.

"Apakah kau sendiripun tidak tahu?"

Koan Ing benar-benar dibuat gemas olab sikap yang ogah2an dari Lan Toojien ini, dengan gusarnya dia mendepakkan kakinya ke atas tanah.

Pikirannya dengan cepat berputar, teringat olehnya kalau gadis yang paling erat hubungannya dengan dia cuma Sang Siauw-tan serta Cha Ing Ing, kini Sang Siauw-tan ada di samping ayahnya tidak mungkin dia orang bisa tertawan, apa mungkin Cha Ing Ing?

Sikap serta tindak-tanduk dari Lao ToOjien yang ogah2an itu membuat sang pemuda malas bertanya lagi, tanpa buang waktu tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke arah sebelah barat.

Seratus lie sudah dilewati dengan cepatnya, tetapi apa pun tidak kelihatan, menanti cuaca sudah mulai menggelap dengan hati sedih dan tak bersemangat dia memperlambat langkahnya.

Mandadak....

"Aaach.... bukankah itu busurku?"

Teriaknya tertahan.

Sedikitpun tidak salah busur perak serta sekantongan anak panah peraknya pada saat itu sudah targantung pada dahan pohon ketika dia mengambil kembali benda tersebut terlihatlah secarik kertas tertempel di baliknya.

"Hadiah busur aku terima dihati, benda itu kukembalikan pada empunya. bilamana ingin mencari sang gadis, masuklah kehutan yang lebih dalam."

Lama sekali Koan Ing memandang kertas itu dengan termangu-mangu, pada mulanya dia masih mencemooh diri Lan Toojien dari gunung Thian Thay karena terlalu licik siapa sangka dugaannya ternyata meleset.

dia marasa kecewa atas perasaannya tadi....

Lan Toojien ternyata bisa tiba di tempat itu lebih cepat dari dirinya, hal ini membuktikan kalau tenaga dalamnya luar biasa sekali, julukannya sebagai jagoan nomor Wahid di dalam ilmu meringankan tubuhpun bukanlah nama kosong belaka.

Setelah menggantungkan kembali busur serta anak panah tersebut matanya mulai menyapu ke arah hutan yang luar biasa lebatnya di depan mata.

Dia karutkan alisnya rapat-rapat, sedang dalam hati diamdiam berpikir.

"Apakah hutan ini yang dimaksudkan oleh Lan Toojien?"

Sinar matanya dengan cepat berkelebat, sedang tubuhnya pun dengan kecepatan yang luar biasa menerjang masuk ke dalam hutan tersebut.

Tidak jauh dia memasuki hutan yang amat lebat itu tertampaklah sebuah kuil yang amat besar dan megah muncul di hadapannya, dengan langkah yang perlahan pemuda itu segera menuju ke depan.

Burung berkicau dengan ramainya memecahkan kesunyian yang mencekam, dalam hati Koan Ing merasa heran, bagaimana mungkin tempat yang demikian tenang dan sunyinya sudah dialami oleh orang-orang dari Si Ih Mo Tuo?

walaupun dalam hati ia rada ragu-ragu tetapi perkataan dari Lan Toojien tak bisa tidak dipercaya.

Dengan hati ragu-ragu selangkah demi selangkah pemuda itu masuk ke dalam kuil.

Setelah masuk ke dalam pintu terasalah olehnya suara yang benar-benar sunyi, sesosok manusiapun tak nampak disana.

Dari keheranan Koan Ing jadi manaruh curiga, di dalam kuil yang demikian besar dan megahnya bagaimana mungkin tidak nampak sesosok manusiapun?

Apalagi kuil ini masih utuh dan megah.

Sinar matanya mulai menyapu sekejap sekeliling tempat itu, terlihatlah ditengah ruangan yang besar penuh diliputi oleh asap dupa yang wangi dan tipis.

Apakah mungkin inilah perangkap yang sengaja dipasang oleh Si Ih Mo Tuo?

tetapi dirinya sudah tiba disini ada seharusnya masuk juga ke dalam untuk melihat2.

Tanpa buang waktu lagi Koan Ing bertindak masuk ke ruangan tengah.

Di tengah-tengah ruangan berdirilah sebuah hioloo yang amat besar, setelah melingkari hioloo tersebut sampailah dibagian tengah ruangan kuil.

Asap dupa memenuhi ruangan tetapi suasana tatap sunyi senyap, sesosok bayangan manusiapun tak nampak.

Koan Ing semakin curiga lagi, dengan langkah yang berhati-hati ia melanjutkan perjalanannya ke depan, mendadak....

Ooo)*(ooO Bab 46

"Aaah....!!"

Seru Koan Ing tertahan.

Kiranya di atas lantai terlentanglah sesosok mayat manusia.

Mayat itu memakai baju biru yang sudah compang-camping, wajahnya kuning sedang usianya tidak ada lima enam puluh tahunan, agaknya mayat dari seorang pengemis.

Melihat hal itu Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat.

pikirnya.

"Di tempat ini bagaimana bisa muncul sesosok mayat? Kelihatannya orang itu mati belum lama, tetapi siapakah orang itu? Karena apa ia mati?"

Dengan langkah yang amat perlahan ia berjalan mendekati mayat tersebut, maksudnya untuk memeriksa orang itu mati di bawah serangan ilmu kepandaian apa.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, kepalanya didongakkan untuk berpikir keras.

Pada saat itulah sekonyong2 mayatnya itu meloncat ketengah udara, ujung kaki kanannya menutul permukaan tanah sedang tangan kanannya bagaikan kilat cepatnya menyambar ke arah leher Koan Ing.

Melihat dirinya dibokong secara mendadak pemuda itu jadi amat terperanjat, tubuhnya dengan cepat menyingkir kesamping, Di dalam keadaan yang amat kritis ia berhasil menghindarkan diri dari bokongan tersebut.

walaupun begitu tak urung pipinya terasa pedas juga tersambar sisi telapak pihak lawan Ia merasa terkejut bercampur gusar, jika ditinjau dari serangan tersebut tenaga dalamnya berada diantara Sang Suim sekalian.

Untung saja saat ini dia baru mengalami kejadian ini, bilamana pada dua hari yang lalu mungkin nyawanya sudah melayang.

Baru saja Koan Ing berbasil menghindarkan diri dari serangan yang pertama, orang itu kembali membentak keras, sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong ke depan melancarkan sepuluh serangan sekaligus.

Dengan gesitnya Koan Ing enjotkan badannya ketengah udara kemudian melayang keluar dari kurungan.

Ketika orang itu melihat serangannya tidak mencapai pada sasarannya dalam hati merasa rada berada diluar dugaan.

Ia tak berani berdiam lebih lama lagi, tubuhnya dengan cepat mencelat ketengah udara kemudian bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur keluar dari ruangan tersebut.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat di dalam benak sang pemuda.

"Apa mungkin dia adalah anak buah yang dibawa oleh si iblis bongkok dari daerah Si Ih?"

Pikirnya.

"Cepat hentikan langkahmu!"

Bentaknya kemudian dengan gusar.

"Kau ingin melarikan diri kemana!"

Tubuhnya pun dengan cepat meluncur keluar dari ruangan kuil itu.

Diluar kuil tampaklah dua orang sedang berdiri saling berhadap2an, yang satu adalah lelaki berpakaian compangcamping itu sedang lain bukan lain adalah si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong adanya.

Ketika Cha Can Hong melihat munculnya Koan Ing disitu hatinya rada melengak.

"Oooo.... kiranya kau!"

Serunya tertahan.

"Bagus sekali, kau berdirilah disamping!"

Koan Ing jadi tertegun, jika ditinjau dari sikapnya jelas Cha Can Hong kenal dengan orang ini, siapakah sebetulnya orang itu?

Kepandaian silatnya benar-benar amat lihay sekali.

Sebenarnya dalam hati Koan Ing kepingin sekali menanyakan keselamatan dari Sang Siauw-tan, tetapi melihat sikap Cha Can Hong yang amat serius ia tak berani membuka mulutnya.

Pada hari2 biasanya Cha Can Hong jarang sekali marah.

tetapi saat ini wajahnya berubah hijau membesi jelas ia lagi amat murka.

"Bagus sekali!!"

Terdengar si dewa telapak berseru dengan suara yang amat dingin.

"Tidak kusangka dua puluh tahun kemudian kau kembali lagi kemari, kenapa kau tidak mencari aku, sebaliknya menculik putriku? Apakah ini suatu cara yang bagus?"

"Aaach.... kiranya benar-benar Cha Ing Ing yang tertawan!"

Teriak Koan Ing dalam hati.

Tetapi bagaimana mungkin Cha Can Hong bisa memperoleh berita ini?

Apa mungkin Lan Toojien yang memberi tahu?

Agaknya orang itu tidak mengerti maksud dari perkataan Cha Can Hong ini, dia rada melengak tapi sebentar kemudian sudah tertawa dingin tiada hentinya.

"Cha Can Hong! aku Ih Su Seng adalah musuh bebuyutanmu sekalipun aku punya niat belum tentu suka menculik putrimu, kedatanganku kemari justru karena undangan dari orang-orang Sin Tie Pang untuk menghadapi Koan Ing, buat apa kau mengalihkan dosa2 itu ketubuhku?"

Koan Ing yang mendengar disebutnya nama itu dalam hati meresa terkejut, dia sama sekali tidak mengira kalau orang ini bukan lain adalah pangcu dari kay-pang tempo hari "Kioe Cho To Seng Kay"

Atau sipengemis tunggal dari sembilan selat Ie Su Seng adanya, dia ternama karena mengandalkan sepasang telapak tangannya tetapi pada dua puluh tarun yang lalu telah dikalahkan oleh Cha Can Hong sehingga memaksa dirinya untuk mengundurkan dari keramaian dunia kangouw.

perkataan terakhir sabelum dia mengasingkan diri adalah sebelum membalas dendam tidak akan muncul.

Tidak disangka dua puluh tahun kemudian dia sudah munculkan dirinya kembali disana.

Dengan dinginnya Cha Can Hong mendengus dingin, diapun tahu kalau Ih Su Seng tidak akan berbUat demikian, nama besarnya sudah runtuh pada dua puluh tahun yang lalu, bilamana kini ia menculik kembali putrinya untuk membalas dendam hal ini sudah tentu akan ditertawakan oleh orangorang Bu-lim.

"Hmmm! Demikianpun bagus juga!"

Seru Ih Su Seng sambil mendengus dingin."

Sebelum aku pergi mencari dirimu kita sudah berjumpa disini, ini hari kita tentukan kembali siapa menang siapa kalah, kekalahanku pada dua puluh tahun yang lalu aku akan kutebus pada ini hari juga?"

"Heeee.... heee.... boleh2 saja, aku ingin melihat apakah ilmu telapak "Ci Sin Ciang"mu mendapat kemajuan selama dua puluh tahun ini!"

Sambut Cha Can Hong dengan dingin.

Dengan cepat Ie Su Seng mengundurkan kaki kanannya setengah langkah ke belakang, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan diri Cha Can Hong.

Pada dua puluh tahun yang lalu dia pernah merasakan bagaimana lihaynya ilmu "Thay Mo Kiem Sah Cang"

Dari Cha Can Hong, kini ia sudah diundang "Sin Tie Langcoen"

Ti Siuwsu untuk membantu dirinya, terpaksa iapun harus menerima tantangan ini dengan hati berdesir.

Dengan cepat Cha Can Kong menggeserkan badannya ke kiri, mendadak tubuhnya berkelebat ke depan sepasang telapak tangannya berturut-turut melancarkan sepuluh serangan gencar dengan menggunakan jurus "Oei Sah Cian Lie"

Atau pasir gunung seribu lie dari ilmu telapak "Thay Mo Kiem Sah Ciang".

Begitu serangan tersebut dilancarkan ke depan, seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan suara desiran yang menyesakkan pernapasan.

Ie Su Seng membentak keras, telapak tangannya didorongkan ke depan melancarkan satu pukulan santar.

"Braak...."

Dengan disertai suara ledakan yang keras seluruh angin pukulan yang dilancarkan oleh Cha Can Hong berhasil dipukul bujar, Tubuh Cha Can Hong dengan cepat melayang ke atas permukaan tanah ilmu telapak "Thay Mo Kiem Sah Ciang Hoat"

Pun cepat dilancarkan.

Tubuhnya laksana pusaran angin dengan tiada hentinya mengelilingi tubuh Ie Su Seng, sedang sepasang telapaknya bagaikan kilat melancarkan pukulan yang mematikan.

Dengan gesitnya Ie Su Seng pun mendorong sepasang tangannya ketengah udara, diantara bentrokan2 yang amat ramai tubuhnya ikut berputar diantara berputarnya tubuh Cha Can Hong.

Gerakan tubuh kedua orang itu makin lama makin cepat, semakin berputar Cha Can Hong semakin menyempit sedang Ie Su Seng semnkin berputar semakin melebar, keadaan posisi mereka jadi saling berkejaran.

Angin pukulan saling bertumbukan ditengah udara sehingga membentuk selapis demi selapis hawa raksasa, suara bentakan pun semakin membisingkan telinga.

Koan Ing yang melihat cara bertempur dari kedua orang itu dalam hati merasa terperanjat, selama ini belum pernah dia orang menonton suatu pertempuran yang demikian sengitnya antara dua orang jagoan Bu-lim yang memiliki kepandaian dahsyat.

Beberapa saat kemudian mendadak bayangan mereka berdua berpisah, Ie Su Seng membentak keras dan mengundurkan dirinya ke belakang.

"Cha Can Hong!"

Serunya dengan wajah pucat pasi.

"Ini hari kembali kau yang menang. tetapi kedataaganku kali ini bukan bermaksud untuk mencari dirimu. kecuali kau mati atau kepandaianmu musnah aku tidak bakal kembali lagi."

Jilid 19

"HMM! SESUKAMU apa yang hendak engkau lakukan,"

Sahut Cha Can Hong dengan wajah yang dingin dan suara yang tawar. Ih Su Seng segera putar tubuhnya siap-siap meninggalkan tempat tersebut.

"Hee.... hee jangan pergi dulu!"

Tiba-tiba Koan Ing membentak keras.

"Kau sudah melupakan diriku!"

"Kau!"

Teriak Ih Su Seng sambil tertawa dingin.

"Ini hari aku tidak berhasil menghajar dirimu urusan akan aku bikin selesai sampai disini saja, apakah kaupun ingin menahan diriku?"

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Kau pura-pura mati dan hendak membokong diriku, urusan ini aku tidak akan menarik lebih panjang lagi. Tetapi terculiknya bocah perempuan tersebut bagaimana pun juga kau ikut tersangkut, bilamana ini hari kau tidak jelaskan kepadaku dimanakah gadis itu disembunyikan heee ,.... heee , . jangan harap bisa pergi dari sini dalam keadaan selamat!"

Katanya. Cha Can Hong yang mendengar perkataan dari pemuda tersebut dalam hati lantas mendengus dingin.

"Hmmm! Koan Ing sungguh amat sombong!"

Pikirnya dihati.

"Apakah dengan kepandaian yang dimiliki ih Su Seng bisa ia tahan semuanya? Hmmm! Sungguh tak tahu kekuatannya sendiri, walaupun aku sebagai cianpweenya, tetapi di dalam urusan ini aku tidak akan ikut campur. Biar dia merasakan bagaimanakah rasanya dihajar habis-habisan oleh Ih Su Seng, dengan demikian biar dia tahu di kolong langit bukan cuma dia seorang yang lihay."

Walaupun tadi Ih Su Seng tidak berhasil membokong dirinya tetapi ia tidak percaya kalau Koan Ing betul-betul memiliki kepandaian silat yang sangat lihay.

Setelah mendengar perkataan tersebut hatinya benar-benar merasa amat mendongkol bercampur marah.

Tak kuasa lagi sambil menengadah ke atas ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

"Haaaaa.... haaaa.... bagus! Bagus"

Teriaknya.

Inilah yang dinamakan harimau masuk kampung kena digoda oleh sang anjing.

Ini hari aku akan menggunakan kepandaianku untuk memberi ajaran adat kepadamu, Hmm!

anak muda!

Semakin hari kau orang semakin tak tahu diri, kau kira aku betul-betul bisa kau hina seenaknya?"

Koan Ing sama sekali tak tergetar hatinya, dia tahu Lan Toojien suruh dia datang kemari perkataannya tentu tidak akan salah, bagaimanapun juga Ih Su Seng pasti tersangkut di dalam peristiwa terculiknya Cha Ing Ing.

"Heeeee.... heeeee.... bagaimana juga bilamana kau ingin berlalu dari sini maka jelaskan dulu duduknya persoalan,"

Katanya kemudian dengan tawar, Kembali Ih Su Suseng dongakkan kepalanya tertawa seram tubuhnya mendadak berkelebat kehadapan Koan Ing sedang tangan kanannya dengan cepat dibabat ke arah depan mengancam pundak kanan dari pemuda tersebut.

Inilah jurus "Huan Ci Seng Gwat"

Atau desak hancur bintang dan bulan dari ilmu telapak "Ci Sin Ciang.

Walaupun serangannya dilancarkan amat biasa tetapi segulung hawa pukulan yang amat dahsyat tiada putusnya menerjang ke depan.

Koan Ing tanpa menggerakkan pundaknya tahu-tahu sudah menghindar kebalik hioloo besar yang ada ditengah ruangan itu.

Gerakannya itu bukan saja membuat Ih Su Seng merasa amat kaget sekalipun Cha Can Hong pun merasa amat terperanjat.

Bukankah gerakan tersebut adalah ilmu "Toa Nah Heng Ih Wie Kang"

Dari ilmu tenaga dalam tingkat teratas?

Bagaimana mungkin pemuda itu berhasil mempelajarinya?

Walaupun dalam hati Ih Su Seng merasa amat kaget tetapi keadaannya pada saat ini Sudah mirip dengan anak panah yang telah dipentangkan di atas busur, sekalipun tak sanggup harus dilepaskan juga.

Dengan cepat ia membentak keras, tubuhnya segera mengejar ke arah depan dan berturut melancarkan tiga serangan berantai.

Kembali Koan Ing berkelebat untuk menghindarkan diri dan serangan tersebut.

"Hmmm! Apakah kau orang masih belum tahu kalau aku lagi mengalah?"

Serunya dingin.

Walaupun mereka belum bergebrak secara resmi tetapi jelas kelihatan gerakan dari Koan Ing jauh lebih cepat dari diri Ih Su Seng tak usah dipertandingkan lagi sudah kelihatan kalau dia pasti kalah.

Lama sekali Orang bekas ketua Kay Pang ini termangumangu, akhirnya ia menghela napas panjang.

"Heeeei.... tidak kusangka kepandaian silatku tidak bisa memahami kepandaian dari seorang bocah cilikpun!"

Gumamnya.

"Di dalam kuil ini tidak mungkin tidak ada orang"

Kata Koan Ing lagi dengan perlahan.

"Lenyapnya bocah perempuan itupun tidak mungkin tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, bilamana kau tidak mau juga berbicara.... heee.... heeeee jangan kau salahkan aku akan bertindak kasar terhadap kau orang!"

Dengan perlahan Ih Su Seng menundukkan kepalanya berpikir sebentar.

sedang Koan Ing sambil kerutkan alisnya memperhatikan dirinya tak berkedip.

Cha Can Hong sebenarnya merasa tidak percaya kalau Ih Su Seng bisa turun tangan menculik puterinya tetapi melihat sikapnya yang lagi termenung ini, hatinyapun segera merasa ragu-ragu kembali.

Pada saat ini dia tidak ingin ikut campur, makanya sambil tutup mulutnya rapat-rapat ia menanti jawaban dari Ih Su Seng.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, baru saja dia bermaksud untuk berbicara mendadak Ih Su Seng membentak keras sedang tubuhnya dengan amat cepat menubruk ke arah Koan Ing.

Di dalam sekejab mata ia sudah melancarkan delapan buah serangan dahsyat menghajar ke atas tubuh pemuda tersebut, inilah jurus "Seng Gwat Hwie Hun"

Atau bintang dan rembulan terbang berpisah yang merupakan jurus andalannya selama ini.

Seketika itu juga seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan berpuluh-puluh suara ledakan yang memekakkan telinga.

Angin pukulan laksana mengamuknya ombak ditengah samudra dengan hebatnya menggulung tubuh Koan Ing.

Koan Ing sama sekali tidak menyangka di dalam saat seperti ini Ih Su Seng bisa melancarkan serangan bokongan.

Tubuhnya bagaikan kilat berkelebat ke samping.

Ditengah menyambarnya angin pukulan, dengan cepatnya pakaian yang dikenakan oleh pemuda itu berhasil dihancurkan sehingga terbang berkeping-keping.

Dengan demikian tampaklah sebaris pedang pendek serta cambuk perak yang dikenakan di pakaian sebelah dalam.

Di dalam keadaan amat terkejut bercampur gusar, Koan Ing membentak keras, tangan kanannya menyambar ke arah pinggang mencabut keluar cambuk perak sepanjang delapan kaki itu dan menghajar ke arah pinggang Ih Su Seng.

Serangan yang dilakukan di dalam keadaan gusar ini telah menggunakan hampir seluruh bagian dari tenaga dalamnya, tampaklah cahaya keperak2an memancar keluar memenuhi angkasa, seluruh ruangan seketika itu juga sudah dipenuhi dengan hawa serangan cambuk yang berdesir menyesakkan napas.

Melihat kedahsyatan tersebut Ih Su Seng merasakan nyalinya terpecah, Ketika serangan cambuk laksana kilat menyambar ke arahnya ia membentak keras, telapak kanannya berturut-turut melancarkan dua puluh delapan buah serangan ke arah cambuk tersebut sedangkan tubuhnya sendiri dengan amat gesit menyingkir ke arah samping.

Dengan cepat angin pukulan itu terbentur dengan serangan cambuk sehingga menimbulkan gulungan angin taupan yang amat menyeramkan.

Baru saja Ih Su Seng menyingkir ke samping Koan Ing sudah enjotkan badannya mengejar dari belakang, cambuk panjangnya berputar satu lingkaran ditengah udara sehingga membentuk bunga-bunga cambuk yang amat banyak kemudian dengan cepatnya mengurung sekeliling tubuh musuhnya.

Buru-buru Ih Su Seng mencelat ke samping sepasang telapaknya kembali melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan.

Berpuluh-puluh suara ledakan segera memenuhi angkasa, tetapi begitu serangan cambuk itu tiba maka lenyaplah suara ledakan itu kena dipunahkan.

Suara desiran serangan cambuk semakin lama semakin mengencang sedang suara ledakan dari hasil angin pukulan Ih Su Seng pun semakin lama semakin lemah dan terkurung.

yang satu maju yang lain mundur seketika itu juga membuat seluruh wajah bekas ketua Kay Pang ini telah dipenuhi dengan air keringat.

Di bawah serangan cambuk yang gencar dari Koan Ing ini napas dari bekas ketua Kay Pang benar-benar terasa amat sesak dan pusing kepala dibuatnya.

Mendadak ditengah angkasa berkumandang jeritan kaget yang amat keras.

dimana serangan cambuk berkelebat pakaian yang dikenakan oleh Ih Su Seng pun sudah kena berkeping-keping.

Dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat Ih Su Seng buruburu mengundurkan diri ke belakang dengan sempoyongan.

sedang tubuh Koan Ing dengan gagahnya menghadang jalan perginya.

Sebentar kemudian dari sepasang mata Ih Su Seng telah memancar keluar cahaya terkejut yang bukan alang-kepalang, di bawah serangan gencar dari cambuk Koan Ing itu benarbenar tidak memberi sedikit kesempatan pun baginya untuk balas menyerang, hal ini jelas memperlihatkan kalau tak ada harapan lagi buatnya untuk mengundurkan diri dari sana.

Koan Ing dengan cambuk panjang dilintangkan di depan dada tanpa mengucapkan sepatah katapun memperhatikan diri Ih Su Seng tajam-tajam.

Cha Can Hong yang menonton jalannya pertempuran dari sampingpun merasa agak terperanjat, jangan dikata kepandaian silat dari Ih Su Seng masih lebih rendah satu tingkat dari dirinya sekalipun dia sendiri yang maju belum tentu bisa menangkan diri Koan Ing.

"Ih Su Seng!"

Ujar Koan Ing dengan perlahan.

"Aku tidak akan mengungkap lagi soal perbuatanmu yang pura-pura mati dan membokong diriku, ini hari juga aku minta kau menjelaskan jejak dari bocah perempuan yang kau culik itu. Kalau tidak.... hmmm! Jangan harap bisa pergi dari sini!"

Sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan inipun merupakan jagoan dari Bu-lim, dia orang mana pernah menerima penghinaan yang seperti dialaminya ini hari?

Sambil menggigit kencang bibirnya ia lantas membentak keras.

"Koan Ing! kau terlalu menghina diriku?"

Koan Ing segera mengerutkan keningnya, belum sempat ia mengucapkan sesuatu mendadak dari belakang tubuhnya kembali berkumandang datang suara dari seseorang yang terasa amat dikenalnya.

"Koan Ing! kau terlalu menghina orang lain!"

Dengan perlahan pemuda itu putar badannya, tetapi setelah melihat siapakah dia orang dia jadi tertegun.

Kiranya orang itu bukan lain adalah Sin Tie Pangcu, Ti Siuw-su adanya.

Bukankah dia ada janji dengan Sang Su-im di atas gunung Jien Giok Hong?

Bagaimana kini bisa muncul disini?.

Dengan langkah yang amat perlahan "Sin Tie Langcun"

Ti Siuw-su berjalan masuk, ke dalam ruangan.

"Siapakah kau orang?"

Tanya Cha Can Hong dengan nada yang amat dingin. Cha Can Hong tidak kenal dengan diri Ti Siuw-su sebaliknya Ti Siuw-su kesal dengan Cha Can Hong, terdengar ia mendengus dingin.

"Hmm! walaupun nama besar dari si dewa telapak dari gurun pasir amat terkenal di dunia kang-ouw! tetapi aku percaya kau masih belum apa-apanya dengan nama Sin Tie Pang tempo hari!"

Perkataan ini secara tidak iangsung telah memperkenalkan dirinya, tetapi bagi Cha Can Hong sudah cukup mengerti kalau yang datang adalah Ti Siuw-su sendiri, hatinya jadi amat terperanjat.

Dengan kepandaian silat yang aku miliki apakah masih bisa menangkan diri Ti Siuw-su?"

Pikirnya diam-diam. Walaupun dihatinya dia berpikir demikian, tetapi wajahnya masih penuh dihiasi dengan senyuman.

"Heee.... heee.... apa gunanya kau mengungkap2 kembali peristiwa yang telah lalu?"

Katanya dingin.

"Kejajaan serta kecemerlangan nama Sin Tie Pang pun sudah merupakan peristiwa tempo hari, apa kau kira saat ini perkumpulanmu masih bisa main paksa?"

"Haaa.... haaa.... kurang ajar! sungguh kurang ajar sekali!"

Teriak Sin Tie Langcoen sambil tertawa seram.

"Bilamana hari ini aku tidak kasih sedikit hajaran terhadap dirimu, tentu kau tidak mau tahu bagaimanakah pengaruh perkumpulan Sin Tie Pang kami!"

Selesai berkata dengan gusarnya dia membentak.

"Atur barisan Seng Loo Toa Tin!"

Begitu suara perintah diucapkan, maka dari balik tembok segera bermunculan seratus orang bersenjatakan seruling besi yang masing-masing dengan cepat menempatkan diri pada posisi tertentu untuk mengurung seluruh ruangan tersebut.

Sinar mata Koan Ing berkilat dia pernah merasakan bagaimana dahsyatnya barisan "Seng Loo Tin", bilamana waktu itu Cha Ing Ing tidak datang tepat waktunya pasti bereslah sudah nyawanya.

Kini Ti Siuw-su telah mengatur barisan "Seng Loo Toa Tin"

Ini terhadapnya, barisan yang semula hendak digunakan untuk menghadapi Sang Su-im tentu maha dahsyat. Dengan dinginnya "Sin Tie Langcoen"

Ti Siuw-su mendengus dingin, kendati dalam hatinya dia telah bermaksud untuk menjagoi seluruh daerah Tionggoan sudah tentu ia telah mengerahkan semua tenaga serta kekuatannya pada barisan ini, Tetapi dengan diri si Dewa Telapak dari gurun pasir dia tak ada dendam sakit hati apa pun, untuk mencari gara2 terhadap dirinya sudah tentu tidak mungKin terjadi.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, akhirnya ia menarik napas panjang.

"Cha Can Hong!"

Ujarnya.

"Antara kita berdua tak ada ikatan sakit hati sedalam lautan, bilamana kau tidak ingin bermusuhan dengan diriku lebih baik cepat2lah mengundurkan diri dari kalangan!"

"Haaa.... haaa.... Ti Siuw-su!"

Teriak Cha Can Hong sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sejak kapan kau pernah melihat aku orang she Cha mengundurkan diri dan lari terbirit2 setelah kematian berada diambang pintu?"

Sin Tie Langcoen tidak berbicara lagi sedang sipengemis tunggal dari kesembilan keresidenan Ih Su Seng pun dengan perlahan mengundurkan diri ke samping dia yang melihat Ti Siauw Su telah membentuk barisan "Seng Loo Toa Tin"

Hatinya merasa rada lega.

"Paman Cha!"

Tiba-tiba Koan Ing berseru setelah memperhatikan sekejap keadaan sekelilingnya.

Hanya untuk menghadapi barisan yang sedemikian kecilnya buat apa kau orang harus turun tangan sendiri?

Lebih baik kau orang menyingkir saja ke samping kalangan dan menonton cayhe seorang diri mengobrak-abrik barisan jelek ini."

Mendengar perkataan tersebut Cha Can Hong jadi rada melengak, sebentar saja ia sudah menaruh rasa kheki terhadap pemuda itu.

"Hmm? Bocah ini sungguh sombong amat aku dengar barisan Seng Loo Toa Tin dari perkumpulan Sin Tie Pang amat dahsyat sekali sekalipun maju dua orangpun belum tentu bisa dipecahkan apalagi dia turun tangan seorang diri...."

Pikirnya dihati. Bukan begitu saja, walaupun nada ucapan sang pemuda yang menolak ia ikut campur kedengarannya amat enak didengar, tapi jelas mengandung maksud kata-kata.

"Kepandaian silatmu belum cukup, kau tidak usah mengacau perhatianku. Lebih baik silahkan menyingkir saja!"

Berpikir akan hal itu hawa amarah segera membakar seluruh hati Cha Can Hong! "Hmm! Hmm! Bagus, bagus, tidak malu kau orang jadi anak murid dari Thian-yu Khei Kiam"

Dengusnya dengan amat dingin "Baiklah, bilamana kau tidak membutuhkan aku Cha Can Hong akupun tidak akan memaksa, apalagi jelas sekali Ing Ing putriku bukan mereka yang culik, lebih baik aku pergi mencari putriku Hmm, manusia jahanam.

manusia sombong, jangan kau kira aku orang she Cha suka bantu dirimu untuk memukul jebol barisan tersebut!"

Sehabis berkata dengan murkanya ia mendengus, lalu tanpa menoleh lagi segera putar tubuh dan berlalu dari sana.

Sebetulnya Sin Tie Langcoen memang tak ada maksud untuk mencari gara2 dengan diri Cha Can Hong, diapun tidak berhasrat untuk menahan dirinya karenanya melihat si dewa telapak berlalu dalam keadaan gusar ia tidak turun tangan mencegah.

Lama sekali ia memandang bayangan punggung Cha Can Hong dengan termangu-mangu akhirnya suatu senyuman dingin menghiasi bibirnya.

"Koan Ing!"

Serunya kemudian dengan keras sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kau jadi orang sungguh terlalu sombong, bilamana kau berhasil memukul hancur barisan "Seng Loo Toa Tin"

Ku ini.

bukan saja sejak ini hari aku tidak bakal munculkan dirinya kembali di dalam dunia persilatan bahkan segera akan mengumumkan di seluruh dunia kangouw kalau kau adalah manusia nomor wahid dari Bu-hm!"

Sinar mata Koan Ing berkilat.

dia tidak mengucapkan sepatah katapun sebaliknya diam-diam mulai memikirkan cara-cara yang tepat untuk memukul hancur barisan itu.

Ti Siuw-su dengan cepat berkelebat ke atas tembok dan mengundurkan diri keluar dari barisan, suara tiga kali tepukan dengan cepat bergema memenuhi angkasa.

Koan Ing tahu Ti Siuw-su bermaksud untuk menggerakkan barisannya, pada saat itulah suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya.

"Siapa yang turun tangan terlebih dulu, ia bakal menang di atas angin."

Belum habis Sin Tie Langcoen bertepuk tangan, ditengah suara suitan yang amat nyaring tubuhnya sudah bergerak maju ke depan, cambuk peraknya dengan disertai suara sambaran yang amat keras menghajar kaki sebelah dari hioloo besar ditengah ruangan itu.

Dimana cambuk perak itu menyambar.

hioloo raksasa tersebut dengan disertai suara desiran yang amat tajam menyapu seluruh orang yang ada ditengah kalangan.

Seruling besi dengan cepat mulai bergerak, berturut-turut sembilan buah seruling besi bersama-sama bergerak menahan serangan hioloo raksasa itu, sedang orang yang ada di belakang tubuh pemuda itu mulai melancarkan serangan menghajar punggungnya.

Ditengah suara desiran cambuk ditengah udara tampaklah bunga-bunga cambuk memenuhi angkasa, hioloo raksasa yang ada di dalam libatan sang cambuk mendadak terlepas dari cekalan dan menindih ke atas tubuh tujuh orang, bersamaan waktunya pula cambuk perak tersebut menyapu ke arah belakang tubuh mereka, Melihat kejadian tersebut sinar mata Sin Tie Langcoen berkilat, dia sama sekali tidak percaya kalau orang yang ada di hadapannya saat ini adalah Koan Ing.

bagaimana mungkin perpisahannya yang amat singkat dengan pemuda itu bisa membuat kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya?

Bilamana kepandain silat dari Koan Ing benar-benar sedemikian lihaynya maka seberapa dahsyatnya kepandaian silat yang dimiliki empat manusia aneh?

cukup dengan jurus serangan terakhir dari Koan Ing ini saja telah lebih dari cukup untuk membuat hatinya terasa amat jeri.

Barisan "Seng Lo Toa Tin"

Mulai bergerak, ditengah sambaran seruling besi yang amat gencar terasalah segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat balik menekan cambuk perak dari Koan Ing, orang-orang yang ada disekiling barisan itupun mulai mendesak diri pemuda tersebut.

Koan Ing yang melihat cambuknya kena di desak hatinya rada berdesir, dia merasa barisan ini cuma bisa dipukul hancur di dalam sekali serangan saja, kalau tidak maka tenaga kekuatan yang mendesak ke arahnya akan semakin menghebat!

hal ini sangat berbahaya sekali bagi keselamatannya, Sinar matanya kembali berkilat, ditengah menyambarnya sang cambuk perak berturut-turut ia melancarkan delapan buah serangan sekaligus!

tetapi sayang, setiap serangannya berhasil kena dipunahkan oleh "Seng Lo Toa Tin"

Dengan amat mudahnya. Perlahan-lahan luas kepungan dari "Seng Lo Toa Tin"

Inipun mulai mengecil dan mengencang.

Ditengah rasa terperanjat yang bukan kepalang Koan Ing membentak keras, cambuk peraknya dengan cepat menyapu hebat ke depan sedang tangannya yang lain melepaskan busur peraknya.

Sin Tie Lang coen dapat melihat seluruh kejadian ini dengan amat jelas, buru-buru lantas ia berteriak.

"Cepat perketat serangan, jangan membiarkan dia orang lepaskan anak panah."

Barisan "Seng Lo Toa Tin"

Dengan cepat berputar, beratusratus buah tali serat dengan cepatnya berdesir memenuhi angkasa meluncur ke arah diri Koan Ing, Melihat kejadian itu Koan Ing jadi sangat terperanjat, cambuknya dengan dahsyat menyapu keluar.

Ditengah berkilatnya cahaya perak yang amat menyilaukan mata tali serat itu berhasil disapu hancur oleh serangannya, sekalipun begitu ia merasa ngotot sekali....

Pada saat itulah ada beberapa orang berhasil menerjang maju dari barisan Seng Lo Toa Tin dan berdiri kurang lebih tiga kaki dari dirinya, segulung hawa serangan yang amat dingin dengan cepatnya berdesir dari sisi tubuhnya, ia tahu bilamana lebih banyak lagi orang yang berhasil menerjang lebih dekat maka serangan cambuknya akan berhasil ditangkis dan dipunankan kejalan yang buntu, Dengan gusarnya ia meraung keras, cambuk peraknya ditarik kembali kemudian dilibatkan kepinggangnya.

Anak panah perak dengan menggunakan kecepatan yang paling top disambitkan ke arah depan, ditengah suara berkelebatnya cahaya keperak-perakan, terdengarlah suara jeritan ngeri memenuhi angkasa.

Tiga orang yang berada di hadapannya berhasil kena dihajar sehingga mati seketika itu juga.

Suara jeritan kaget segera bergema memenuhi angkasa, barisan "Seng Lo Toa Tin"

Dengan menggunakan kecepatan yang paling dahsyat menarik diri ke arah belakang.

Sinar mata pemuda itu kembali berkilat, ketiga anak panah yang berada ditangannya kembali disambitkan ke arah depan.

Sreeet!

Sreeet!

Sreeet!

Ditengah suara desiran yang amat tajam tampaklah serentetan cahaya keperak-perakan meluncur ke arah depan.

Kembali sepuluh orang berhasil kena dihajar hingga terpental oleh serangan panah itu.

Dengan dinginnya Sin Ti Langcoen mendengus dingin, dia tidak menyangka sesaat pemuda itu sudah berhasil didesak berada di bawah angin ia telah menggunakan busur serta anak panahnya.

Untuk menghadapi serangan cambuk panjangnya saja tadi barisan Seng Lo Toa Tin hampir-hampir kewalahan apalagi keadaannya pada saat ini, boleh dikata kekuatan dari barisan tersebut benar-benar kena tertutup dan berada pada jalan buntu.

Dalam hati iapun merasa kuatir bilamana secara tiba-tiba Koan Ing menerjang keluar dari dalam kepungan, tubuhnya dengan cepat berkelebat dan menghalang di depan pintu.

Dalam hati Koan Ing pun bermaksud untuk menerjang keluar dari tengah kepungan walaupun pada saat ini ia berhasil mengobrak-abrik barisan tersebut sehingga dirinya terbebas dari jepitan tetapi bilamana "Seng Loo Toa Tin"

Kembali bersatu padu untuk menahan belum tentu ia akan kuat.

Diapun bisa melihat maksud dari Sin Ti Langcoen Ti Siuwsu yang hendak menghalangi jalan pergi nya, Sekalipun begitu ia tidak jadi gentar karena di dalam hatinya telah ada perhitungan, ditengah suara suitan yang amat nyaring berturut-turut ia melancarkan dua buah serangan anak panah ke arah depan.

Anak murid dari perkumpulan "Sin Tie Pang"

Yang melihat Koan Ing berhasil membinasakan tiga orang di dalam sekali serangannya dalam hati sudah menaruh rasa was2, kini melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat bagaimana mungkin mereka berani menerimanya, buru-buru semua orang pada mengundurkan diri ke belakang sedang orang yang ada di belakang barisanpun berganti mengerumun ke depan.

Tidak jauh kedua batang anak panah itu menyambar keluar mendadak telah berputar setengah lingkaran ditengah udara sehingga membentuk gerakan membusur dan meluncur kembali ke arah belakang tubuhnya.

Bersamaan itu pula Koan Ing balikkan badannya, ditengah suara suitan yang amat nyaring ia telah menubruk ke arah belakang.

Dimana anak panah itu datang menyambar semua orang menjerit ngeri dan rubuh bermandikan darah sedang lima orang lainnya kena terbawa oleh tenaga pentalan sehingga jatuh terjengkang.

Cambuk Koan Ing kembali menyapu ke arah depan, sepuluh orang seketika itu juga rubuh mencium tanah.

Mengambil kesempatan itu pemuda itu mencelat ke atas ruangan karena menurut anggapannya begitu menjebol atap, maka selamatlah jiwanya.

Bilamana tubuhnya telah mencapai atas atap maka sekalipun barisan "Seng Lo Toa Tin"

Adalah sebagaimana lihaynya pun tidak mungkin bisa mengapa-apakan dirinya. Siapa tahu baru saja tubuhnya meluncur sampai ditengah udara, terdengarlah suara bentakan yang amat dingin bergema datang.

"Hmmm! Kau masih ingin meninggalkan ruangan ini, jangan bermimpi disiang hari bolong!"

Koan ing yang mendengar suara bentakan itu segera merasakan hatinya amat terperanjat, tampaklah tubuh sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan melayangkan diri dari samping kemudian berturut-turut melancarkan sepuluh buah serangan dahsyat menghalangi perjalanannya.

Koan Ing yang diserang secara demikian segera merasa amat kheki bercampur gusar, dia meraung keras, telapak kirinya menarik kembali busurnya dan melancarkan tiga buah serangan gencar dengan menggunakan tiga bilah pedang perak.

Ditengah suara desiran yang amat keras serta berkelebatnya cahaya keperak2an ketiga biiah pisau terbang tersebut dengan membentuk posisi yang amat aneh dan mengerikan mengancam seluruh tubuh ih Su Seng.

Bekas ketua Kay Pang ini lantas merasakan hatinya bergidik, tubuhnya buru-buru melajang ke samping dan mengundurkan dirinya ke belakang.

Siapa tahu dimana saat tubuhnya melayang tahu-tahu sudah terhalang oleh pintu ruangan....

"Braaak!"

Tak kuasa lagi kedua bilah pedang pendek tersebut menghajar disisi tubuhnya sedang pedang yang terakhir dengan tepat menghajar pundak kanannya sehingga menancap kegagang-gagangnya.

Kontan saja Ih Su Seng dibuat ketakutan sehingga terkencing2, keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.

Lama sekali ia berdiri termangu-mangu disana dengan paras muka berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

Sewaktu berputar badannya tadi Koan Ing telah berhasil menggantungkan busurnya kepinggang, tanpa buang banyak tempo lagi sepasang telapak tangannya kembali diajun ke depan.

Sisanya Sembilan bilah pedang perak dengan memancarkan cahaya yang berkilauan sudah dicekal pada ujung2 jarinya, lalu dengan sinar mata yang amat tajam ia menyapu sekejap ke seluruh kalangan.

Ooo)*(ooO Bab 47 DENGAN perasaan amat terperanjat dan tertegun "Sin Tie Lang coen"

Ti Siauw Su berdiri disana, ia benar-benar tergetar hatinya melihat kelihayan dari Koan Ing dimana dalam satu jurus saja telah berhasil memantek tubuh sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan Ih Su Seng di atas dinding, jelas bilamana bekas ketua Kay Pang ini sedikit bergerak saja pemuda itu pasfi membinasakan dirinya.

Sampai dimana tingginya tenaga dalam yang dimiliki oleh lh Su Seng, dalam hati dia mengetahui dengan jelas sekali, tapi kini ternyata ia sudah dikalahkan oleh Koan Ing hal ini menunjukkan kalau untuk menghadapi diri Koan Ing bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

KOan Ing!"

Ujarnya kemudian dengan amat dingin.

"Hitunghitung saja ini hari kau berhasil ungguli diriku, tetapi mulai ini hari juga kita sudah berhadapan sebagai musuh, perduli bagaimanapun juga akan membinasakan dirimu!"

Mendengar perkataan itu Koan Ing kontan kerutkan keningnya, memang sejak semula, ia sudah menduga kalau Ti Siuw-su bisa berbuat demikian tetapi ia sama sekali tidak menduga kalau Ti Siuw-su bisa bersumpah di hadapannya.

Dengan perlahan sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan itu mencabut keluar pedang pendek yang menancap pada pundaknya dan selama ini belum pernah ia menderita kekalahan seperti hari ini.

Maka sambil menggigit kencang bibirnya dan mencekal erat-erat pedang pendek itu pada tangan kiri, teriaknya dengan amat sinis.

"Pada suatu hari aku pasti akan menghancur leburkan tubuhmu!"

"Hmm? Itu urusanmu sendiri, tapi tinggalkan dulu pedang pendek itu!"

Sahut Koan Ing tawar.

Dengan gusarnya sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan mendengus, tangan kirinya segera diajunkan mengembalikan pedang pendek tersebut ke arah Koan Ing.

Koan Ing pun mengajunkan tangan kirinya ke atas dan membalikkan pedang pendek tersebut ke dalam telapak tangannya, kemudian disusul jari tengah serta telunjuknya disentilkan ke depan menahan datangnya tenaga sambaran.

Maka dengan mudahnya ia sudah berhasil menjepit pedang tersebut diantara kedua belah jari tangannya Sin Tie Langcoen tak dapat mengucapkan sepatah katapun, saat ini tidak ada waktu baginya untuk merasa menyesal.

"Beritahukan kepada Sang Su-im"

Katanya kemudian dengan suara yang amat dingin "Perjanjian di atas puncak Jien Giok Hong kubatalkan!"

Selesai berkata dia ulapkan tangan untuk mengundurkan seluruh anak murid dari perkumpulan Sin Tie Pangnya.

Hanya di dalam sekejab saja mereka sudah pada berlalu dari tempat itu, hingga tinggallah sebuah kuil yang amat sunyi saja.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, pakaiannya sudah pada kojak, serta iapun lalu masukkan pedang perak itu ke dalam sarungnya.

Dan kembali suasana begitu sunyisenyap, tak tampak sesosok manusiapun.

Lan Tojien meminta dirinya masuk ke dalam hutan tidak disangka bukannya tidak berhasil mendapatkan diri Cha Ing Ing sebaliknya malah sudah bertemu dengan Sin Tie Langcoen bahkan telah membuat si dewa telapak pergi dalam keadaan kheki.

Pemuda itu kerutkan alisnya rapat-rapat akhirnya dengan langkah yang perlahan berjalan keluar dari kuil.

Baca Juga: Anak Naga 1

Baca Juga: Gelang Perasa 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert