Ceritasilat Novel Online

Kereta Berdarah 7

Eps 7 Kereta Berdarah - Khu Lung

Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung

Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.

"Soat-nie itu sungguh terlalu banyak curiga,"

Kata Yuan Si Tootiang sambil tertawa tawar.

"Orang yang aku lihat benarbenar adalah Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, tempo hari karena keteledoran kita dia sudah berhasil melarikan diri tetapi kali ini dia tidak bakal bisa lolos lagi dari tanganku."

Dengan dinginnya Ciu Tong mendengus.

"Tootiang tadi bilang kereta berdarah berlari menuju ke arah Ku-lun-san, karenanya baru mengajak kita untuk mengejar kemari, bukan begitu?"

"Ciu Tong kau terlalu menaruh curiga"

Air muka Ciu Tong yang semula diliputi oleh senyuman, mendadak berubah jadi amat dingin bahkan sangat menakutkan sekali.

"Tetapi sewaktu Soat-nie datang kemari dia melihat kereta berdarah itu lari menuju ke Timur laut"

Mendengar perkataan tersebut hati semua orang yang ada di dalam gua tergetar amat keras.

Cha Can Hong, Sang Su-im dan Yuan Si Tootiang dengan penuh rasa curiga.

Mereka sama sekali tidak menyangka kalau bisa terjadi peristiwa semacam ini, untuk mengejarjejak dari kereta berdarah mereka telah tiba disini, bilamana kereta tersebut sama sekali tidak kemari, lalu apa maksud Yuan Si Tootiang memimpin mereka datang kemari?

Air muka Ciu Tong berobah semakin dingin lagi.

"Bahkan Soat-nie dapat melihat kalau tempat ini sebenarnya adalah sebuah tanah pembunuhan yang mengerikan, sebelum kita sampai disini lembah Chiet Han Ku sudah mengadakan persiapan terlebih dulu, kini tak seorangpun yang bisa keluar dari lembah ini!"

Semua orang yang ada di dalam gua itu segera merasakan hatinya amat terperanjat.

"Ciu Toosu bagaimana kau orang begitu berani memfitnah diriku!"

Teriak Toosu dari Bu-tong pay itu sambil mengerutkan alisnya.

"Bilamana aku orang tidak menemui kereta berdarah tersebut lari kemari lalu apa maksudku memimpin kalian datang kemari? Apakah boleh dikata perbuatan ini berguna bagiku? Bilamana tak seorang yang bisa lolos, bukankah hal itu termasuk juga diriku karena sekarang akupun ada disini?"

Dengan tajamnya Koan Ing memperhatikan diri Yuan Si Tootiang, dia merasa sangat tidak puas dengan perkataan toosu itu.

Toosu itu sama sekali tidak menjelaskan soal itu tetapi dia lagi menerangkan kalau diapun ada disitu sehingga tak mungkin ada rencana busuk.

Suasana tenang yang meliputi gua itupun segera pulih kembali seperti sediakala.

Tampak Ciu Tong pun menghela napas panjang, keningnya dikerutkan.

"Heei.... dia cuma bilang tempat ini adalah tempat pembunuhan secara besar2an."

Para jagopun kini merasa hatinya murung, agaknya pihak lembah Chiet Han Ku telah mengadakan persiapan untuk membasmi seluruh jago Tionggoan di tempat tersebut.

Setelah lewat beberapa hari lagi menanti makanan mereka habis dan badanjadi penat maka tanpa banyak rewel lagi semua orang yang ada disana akan menjadi tawanan di bawah cengkeramannya.

"Buat apa kalian murung?"

Tiba-tiba seru Yuan Si Tootiang sambil tertawa.

"Anak murid dari Pangcu sudah melakukan perjalanan siang malam dan mungkin sebentar lagi mulai melancarkan serbuan, waktu itu harapan untuk meloloskan diri lebih besar buat apa kalian pada murung semua,"

"Eeei bagaimaaa Tootiang bisa tahu kalau anak buah Tiang-gong-pang sudah pada berdatangan?"

Seru Ciu Tong dengan penuh rasa curiga, ^ "Ciu heng kenapa selalu menaruh rasa curiga kepadaku?

Apakah kau merasa tidak percaya terhadap diriku?

Sewaktu aku datang kemari anak murid dari Tiang-gong-pang sudah mengepung seluruh penjara tempat ini, bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu,"

Ciu Toog terpaksa hanya tersenyum saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, Semua orang yang ada di dalam guapunpada termenung menurut jalan pemikiran masing-masing, menanti kedatangan malam berikutnya, Mendadak sesosok bayangan hitam berkelebat menerjang masuk ke dalam gua Yuan Si Tootiang yang ada di samping gua segera mendengus, telapak tangannya dengan mengerahkan tenaga pukulan dahyat menghajar ke arah orang itu.

"Braaak...."

Dengan amat dahsyatnya pukulan tersebut menyambar ke depan, tapi keburu kena dihindari oleh orang tersebut dengan jalan meloncat mundur ke belakang.

inilah baru untuk pertama kalinya Koan Ing melihat Yuan Si Tootiang melancarkan serangan dengan amat dahsyat.

Melihat kejadian tersebut hatinya jadi rada bergerak, sewaktu pertemuannya tempo hari dengan Toosu itu di atas permukaan salju dia sudah meraba kalau tenaga dalam yang dimiliki Toosu tersebut benar-benar amat dahsyat dan jauh berada di atas Sang Su-im sekalian, kini setelah melihat kedahsyatan daripululan itu dia merasa kalau dugaannya agak meleset, karena pukulan itu biasa saja dan seimbang dengan Sang Su-im sekalian.

Tetapi apakah tujuannya untuk menyembunyikan kepandaian yang sesungguhnya?

Apakah dia mempunyai maksud2 tertentu?

Apalagi pukulan yang dilancarkan Yuan Si Tootiang tadi agaknya sengaja hendak menahan pukulan yang dilancarkan Thian Siang Thaysu serta Cha Can Hong di samping menghadang Ciu Tong serta Sang Su-im untuk melancarkan serangan.

Apa tujuannya dia berbuat demikian?

Sewaktu Koan Ing lagi berpikir dengan hati melongo itulah mendadak Yuan Si Tootiang sudah menyapu sekejap ke arahnya dengan pandangan yang amat tajam.

Tetapi sebentar kemudian dia sudah mengalihkan pandangannya ke arah kepada Sang Su-im.

"Sang Pangcu, berapa banyak orang yang kau bawa kali ini?"

Tanyanya kemudian kepada Sang Su-im.

"Perjalanan kali ini menuju ke gunung Kun lun san merupakan suatu tindakan yang luar biasa sekali,"

Kata Sang Su-im sambil tertawa tawar.

"Saat ini anak buahku ada lima ratus orang yang tersebar dalam lingkungan lima puluh li sekitar tempat ini, sisanya yang lima ratus orang lagi ada di dalam lingkungan seratus li dari tempat ini."

Para jago yang ada di dalam gua setelah mendengar perkataan tersebut semangatnya segera berkobar kembali, bilamana dengan kekuatan yang begitu besarnya anak murid perkumpulan Tiang-gong-pang benar-benar mengadakan penyerbuan ke dalam lembah Chiet Han Ku ini ada kemungkinan orang-orang lembah tersebut tidak bakal kuat untuk memberi perlawanan, Yuan Si Tootiang yang mendengar perkataan tersebut segera mengangguk.

"Kalau begitu harapan kita untuk meloloskan diri dari kurungan ini jauh lebih besar lagi,"

Katanya sambil tertawa. Sang Su-im hanya tersenyum.

"Soal itu harus ditinjau dari bagaimana persiapan dari orang-orang lembah Chiet Han Ku, tapi yang jelas sebelum aku masuk ke dalam gua sudah kuperintahkan setelah hari jadi gelap mereka sudah harus mulai melancarkan serangan,"

Katanya, Ooo)*(ooO Bab 35 KOAN ING yang selama ini selalu memikirkan bagaimana caranya untuk memecahkan serangan dengan menggunakan senjatajaring mendadak tanyanya pada Sang Su-im.

"Empek Sang, kekuatanjari Han Yang Ci mu bisa mencapai seberapa jauh?"

Sang Su-im yang ditanyai begitu lalu tahu apa maksud dari pemuda itu, dia tersenyum.

"Untuk menghadapi orang-orang yang biasa saja kekuatan dari Han Yang Ci Ku bisa mencapai dua puluh kaki jauhnya, tetapi untuk menghadapi orang-orang semacam jago-jago lembah Chiet Han Ku ini yang begitu dahsyat mungkin hanya mencapai lima kaki saja".

"Lalu bagaimana dengan kekuatanjari empek Sang bilamana menjepitkan potongan pedang serta golok di dalam jari2 tangan lalu menyentil dengan kekuatan Han Yang Ci?"

Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im jadi kegirangan.

Haaa....

haaa....

bagaimana aku bisa melupakan jurus tersebut, haaa....

haa....

serangan itu pasti bisa menjebolkan serangan dengan senjatajaringan tadi!"

Serunya.

"Memang bagus sekali ilmu itu, mari kita bersama-sama pergi mencoba,"

Ajak Yuan Si Tootiang.

Sang Su-impun merasa amat girang sekali, sebelum masuk dalam gua tadi ia sudah kena dipecudangi oleh permainan jala itu, kini setelah diperingatkan oleh Koan Ing hatinya jadi amat cemas dan bergolak keras.

Cuaca dengan perlahan mulai menggelap.

Mendadak dari luar kembali berkelebat datang sesosok bayangan hitam, Sang Su-im segera mendengus dingin.

"Bajingan ini mau cari mati atau hendak menerjang masuk ke dalam...."

Serunya, Diantara suara bentakan yang keras berturut-turut, dia melancarkan sepuluh sentilan dahsyat, bersamaan itu pula Thian Siang Thaysu melancarkan satu pukulan ke depan.

Dimana angin pukulan bentrok dengan tubuh orang itu tampaklah bayangan manusia berkelebat kembali, orang itupun sudah meluncur keluar.

"Terang-terangan dia tahu kalau tak mungkin bisa menerjang kedalam, buat apa terus2an dia berbuat begitu?"

Seru Ciu Tong sambil mengerutkan alisnya.

Koan Ing pun merasa hatinya rada bergerak, di tempat itu ada lima orang jagoan lihay yang sedang berkumpul sekalipun Jien Wong yang memiliki kepandaian silat lihaypun belum tentu bisa menerjang masuk lalu kenapa orang itu terus menerus menerjang saja?

Apa mungkin ada maksud tujuan tertentu?

Terdengar Yuan Si Tootiang tersenyum.

"Mungkin mereka tahu kita sudah kena dikurung maka sengaja dua kali berusaha untuk menerjang masuk"

Katanya.

"Semoga saja memang begitu,"

Sambung Ciu Tong sambil tertawa.

Semua orang yang ada di dalam gua segera terjerumus di dalam lamunan sendiri-sendiri, Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan sambil bersandarpada dinding tak berbicara sepertinya lagi memikirkan sesuatu hatinya jadi heran.

Tak terasa lagi tanyanya dengan suara perlahan.

"Siauw-tan kau lagi memikirkan apa?"

"Aah tidak mengapa,"

Sahut gadis itu sambil memandang ke arah Koan Ing dengan amat tenang.

"Aku cuma lagi memikirkan perkataan dari empek Ciu tadi yang mengatakan Soat Nio turun gunung karena muridnya."

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sang Siauw-tan terus menerus memikirkan persoalan itu.

"Dia memang datang untuk mencari Cing It suci,"

Sahutnya kemudian sambil tertawa.

"Cing It suci turun gunung secara diam-diam adalah bermaksud untuk mencari dirimu setelah bertemu dengan dirimu bagaimana mungkin nikouw itu suka melepaskan kalian dengan begitu saja?"

Koan Ing jadi melengak, dia sama sekali tidak memberitahukan hal ini kepadanya tetapi bagaimana mungkin gadis itu bisa tahu kalau Cing It nikouw turun gunung secara diam-diam bahkan sengaja datang mencari dirinya?

Dia sama sekali tidak tahu kalaujejak serta gerak-gerik yang mencurigakan dari Cing It itu sudah diketahui oleh Sang Siauw-tan bahkan sewaktu gadis itu ada di atas puniyak Su Li Hong dia jauh lebih mengerti sifat dari Koan Ing, sudah tentu dalam soal ini dia sudah bisa menebak sendiri.

Koan Ing merasa tidak enak untuk ber bohong terhadap diri Sang Siauw-tan, maka dengan perlahan dia menundukkan kepalanya "Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?"

Desak Sang Siauwtan lebih lanjut. Koan Ing menarik napas panjang, dengan sikap apa boleh buat dia dongakkan kepalanya.

"Kami berdua hampir-hampir mati ditangannya, tetapi Cing It Suci sudah kehilangan lengan kirinya, hanya saja karena nasibnya masih baik sehingga tidak sampai mati ditangan gurunya itu".

"Dimanakah Cing It Suci saat ini?"

Walaupun dia sangat percaya terhadap Koan Ing tetapi selama ini dia takut Cing It nikouw terus menerus mendekati Koan Ing, walaupun begitu setelah didengarnya nikouw muda itu sudah kehilangan sebuah Iengannya maka dalam hatinyapun dia terharu juga.

Waktu itu bilamana bukannya sengaja dia menyingkir untuk melihat bagaimanakah sikap Koan Ing terhadap nikouw itu ada kemungkinan tidak sampai terjadi peristiwa ini, peristiwa ini pasti terjadi karena Sin Hong Soat-nie sudah menaruh salah paham.

"Sewaktu aku pergi tadi dia masih ada di dalam air terjun, sekarang ia ada dimana aku sendiri juga tidak tahu,"

Ujar pemuda itu sambil gelengkan kepalanya.

Bicara sampai disitu mereka berdua pada bungkam hingga suasanapun diliputi keheningan.

Yuan Si Tootiang menarik napas panjang-panjang, dengan perlahan dia memandang ke arah Koan Ing.

"Nona itu adalah siauw-li,"

Terdengar Sang Su-im memperkenalkan.

"Putrimu sudah pernah aku temui, dia memang merupakan pasangan yang setimpal dengan Koan siauw-hiap."

Wajah Sang Siauw-tan segera berubah jadi merah, walaupun dia sudah berkasih2an secara terbuka dengan diri Koan Ing tetapi saat ini Yuan Si Tootiang berbicara dihadapan umum, bagaimanapun juga sebagai seorang gadis dia merasa malu juga.

Sang Su-im yang mendengar perkataan itu lantas tersenyum.

"Terhadap muridmupun aku pernah bertemu, aku minta Tootiang suka mendidik dan mengawasi dirinya lebih ketat dan keras lagi!"

Serunya. Pada paras muka Yuan Si Tootiang segera terlintaslah satu senyuman pahit.

"Dia adalah keponakanku, selama ini aku memang rada teledor untuk memberi didikan kepadanya apalagi dia terlalu manja terhadap diriku, bilamana dia sudah berbuat sesuatu yang kurang pantas harap Sang pangcu dengan memandang di atas wajah pinto suka melepaskan dirinya."

"Sang Su-im yang mendengar perkataaa itu dia sudah salah menganggap mungkin Yuan Si Tootiang masih tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Sak Huan sehingga begitu membelai dirinya. Alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.

"Muridmu beberapa kali mendesak siauw li untuk kawin dengan dirinya, apakah Tootiang tidak tahu akan urusan ini?"

"Aach ada urusan? Kenapa Sang pang cu tidak memberi tahu kepadaku?"

Seru Yuan Si Tootiang kaget.

Koan Ing yang melihat sikapnya itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, apakah mungkin Yuan Si Tootiang sama sekali tidak tahu apa yang sudah diperbuat oleh Sak Huan?

"Ooow....

kalau begitu aku sudah salah bertindak?"

Sindir Sang Su-im dingin, Dari sepasang mata Yuan Si Tootiang tiba-tiba menetes keluar titik-titik air mata, dia menghela napas panjang.

"Bilamana dia sungguh-sungguh berbuat demikian aku pasti akan membinasakan dirinya dihadapan umum kalau tidak aku orang mana punya muka lagi untuk bertemu dengan kawan2 Bu-lim?"

Serunya, Sang Su-im yang melihat tosu itu benar-benar terharu sehingga meneteskan air mata, diapun lantas menghela napas panjang-panjang.

"Tootiangpun tidak usah terlalu bersedih hati,"

Hiburnya.

"Dalam soal ini lebih baik kita rundingkan saja setelah kita keluar dari gua ini, orang-orang muda memang masih berdarah panas sehingga mudah saling bentrok satu sama lainnya, Tootiang cukup memberi peringatan yang keras saja kepadanya"

Yuan Si Tootiang hanya menghela napas panjang saja, kepalanya digelengkan berulang kali, sedang air mata mengucur keluar semakin deras.

Koan Ing sendiripun diam-diam lantas menghela napas, sebenarnya di dalam hati dia merasa gemas dan benci terhadap diri Yuan Si Tootiang, karena toosu itu tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap muridnya, tetapi setelah melihat kejadian ini hatinya malah merasa menyesal.

Ciu Tong mendadak tertawa terbahak-bahak.."Haa....

haa....

mati hidup kita yang ada di dalam guapun belum bisa ditentukan, buat apa harus menguatirkan urusan yang lain?

Bilamana ada urusan lain, lebih baik dibicarakan setelah kita lolos dari sini saja,"

Tegurnya.

Pada saat mereka sedang bercakap2 itulah mendadak dari luar kembali terdengar suara bentakan keras.

Sang Su-im dengan cepat menoleh dan kirim tiga sentilan dahsyat ke depan, tampaklah tiga gulung desiran angin pukulan dengan cepatnya menyambar keluar.

Dari mulut gua tampak bayangan manusia berkelebat datang, tahu-tahu di dalam gua sudah muncul Sin Hong Soatnie.

"Aah.... Soat-nie kaupun sudah datang!"

Diantara mereka Thian Siang Thaysulah yang paling girang, di tengah suara bentakan yang keras sepasang telapaknya dengan sejajar dada didorong ke depan, inilah suatu pukulan dengan menggunakan ilmu "Si Bu Sian Thian Cin Khei"

Yang amat dahsyat. Yuan Si Tootiang yang melihat muncul bayangan putih itu diapun lantas merangkap tangannya memberi hormat lalu menghembuskan napas panjang.

"Terima kasih atas bantuan dari Sang Pangcu serta Thaysu berdua,"

Terdengar suara dari Sin Hong Soat-nie bergema datang.

Begitu masuk ke dalam gua nikouw tua itu lantas menyapu sekejap ke seluruh ruangan sambil tertawa, tetapi sewaktu melihat Koan Ingpun ada disana, air mukanya seketika itu juga sudah berubah hebat.

Jilid 15

"KAU BELUM MATI?"

Tanya Sin Hong Soat-nie dingin.

Percakapan antara Koan Ing serta Sang Siauw-tan tadi sekalipun dilakukan amat lirih tetapi dengan kehebatan dari tenaga dalam yang dimiliki Sang Su-im sekalian sudah tentu tak ada sepatah katapun yang ketinggalan oleh mereka.

"Sin Nie, kau jangan salah paham!"

Seru Sang Su-im dengan cepat.

"Dia tidak lebih hanya bermaksud untuk menolong muridmu saja."

Dengan pandangan yang dingin Sin Hong Soat-nie melirik sekejap ke arah Sang Su-im lalu dia menoleh kembali ke arah Koan Ing.

"Sekarang dia berada dimana?"

Tanyanya Koan Ing segera mengetahui bahwa yang dimaksudkan dia sebagai dia bukan lain adalah Cing It Nikouw, mendengar pertanyaan tersebut segera jawabnya.

"Dia terjatuh ke dalam air terjun dan sewaktu aku pergi dia masih berada disana."

Dengan dinginnya Sin Hong Soat-nie segera mendengus.

"Haaa.... haaa.... Soat-nie!"

Teriak Ciu Tong tiba-tiba.

"Bagaimana kalau urusan itu dibicarakan kembali setelah kita keluar dari tempat ini? Bukankah tadi kau sudah mengatakan tak akan datang lagi, kenapa sekarang balik kemari? Apakah ada urusan penting?"

Sin Hong Soat-nie sedikit mengerutkan alisnya, setelah berpikir sebentar akhirnya ujarnya kepada pemuda itu.

"Baiklah setelah keluar dari sini aku baru menanyai dirimu"

Sehabis berkata dia menoleh ke arah Sang Su-im dan sambungnya lagi.

"Sang pangcu, anak buahmu sebagian besar sudah berada diluar lembah Chiet Han Ku, aku lihat mereka tidak menemui persoalan yang rumit lagi, sebelum malam hari menjelang sudah bisa dipersiapkan rencana penyerbuan secara besar2an, agaknya pihak lembah Chiet Han Ku tidak bakal kuat menahan gempuran mereka."

"Aah.... tentunya mereka sudah memperoleh bantuan yang tidak sedikit dari Soat-nie,"

Kata Sang Su-im tertawa.

Macan2 tutul dari lembah Chiet Han Ku benar-benar sangat membosankan sekali, tapi anak buah dari Sang pangcu luar biasa sekali sehingga tidak memperoleh kerugian yang besar, kiranya di tengah lembah pun tidak bakal menemui kesulitan apa-apa?"

Serunya.

"Lalu mengapa kau tidak tinggal di tempat luar lembah saja?"

Sela Ciu Tong sambil tertawa.

"Karena ada beberapa persoalan yang hendak aku tanyakan pada Yuan Si Tootiang"

Semua orang segera merasakan hatinya bergetar keras, seluruh perhatianpun tak terasa lagi sudah ditujukan pada Yuan Si Tootiang semua, mereka merasa bilamana Sin Hong Soat-nie tidak mendapatkan penemuan yang luar biasa sekali tak mungkin dia suka menempuh bahaya untuk mendatangi tempat itu.

Mendengar perkataan dari nikouw itu dan melihat pula seluruh perhatian, para jago ditujukan kepadanya Yuan Si Tootiang mengedip2kan matanya dengan tajam.

"Apakah Suthay menaruh curiga terhadap diriku?"

Balik tanyanya, Mendengar Toosu tua itu berusaha untuk mengalihkan perkataan Sin Hong Soat-nie tersenyum.

"Tootiang"

Serunya.

"Kau rasa Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan apakah bisa bangkit kembali?"

Thian Siang Thaysu itu Ciangbunjien dari Siauw-lim-pay sewaktu mendengar Sin Hong Soat Nio masih juga mempersoalkan hal itu dalam hati dia merasa kurang puas.

"Omintohud Si manusia Tunggal dari Bu-lim pun sudah bangkit kembali, apakah Suthay tidak mengetahuinya?"

Sindirnya.

"Hmm.... aku tahu si manusia Tunggal dari Bu-lim sudah bangkit kembali,"

Kata Nikouw sambil tersenyum.

"Tetapi hal ini tidak bisa dikatakan bangkit kembali, dia sama sekali tidak binasa dan berhasil melarikan diri sewaktu mendekati ajalnya, jelas di dalam hal ini tidak bisa dikatakan sudah bangkit kembali,"

Sehabis berkata sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke seluruh jago, lalu tambahnya.

"Tetapi sewaktu Si Budak Berdarah dari tempat kegelapanjatuh ke dalam jurang, ulu hatinya sudah kena tusukan oleh pedangku, diajatuh ke dalam jurang dengan ulu hati yang masih tertancap pedang dan jelas tak mungkin masih mempunyai harapan untuk hidup lagi "

"Sekalipun begitu belum tentu dia harus mati!"

Bantah Thian Siang Thaysu sambil kerutkan alisnya.

"Ada kemungkinan tusukan pedang suthay ini miring ke samping sehingga tidak sampai menimbulkan kematian buat dirinya. Jien Wong pun pada mulanya sudah menggeletak jatuh, tetapi akhirnya dia sadar dari pingsannya dan melarikan diri dengan menunggang kereta, jelas di dalam persoalan ini Si Budak Berdarahpun waktu itu juga jatuh tak sadarkan diri saja."

Sin Hong Soat-nie segera mendengus dingin.

Thian Siang Thaysu tahu di dalam menghadapi urusan ini bilamana minta Yuan Si Tootiang memberi penjelasan sendiri sama sekali tak berguna, sedang empat manusia aneh pun agaknya tidak suka campur tangan karenanya terpaksa dia harus mewakili Yuan Si Tootiang untuk memberi penjelasan.

"Suthay,"

Ujarnya sambil tertawa.

"Bilamana kau mencurigai aku yang sudah menyamar sebagai Si Budak Berdarah maka hal ini merupakan suatu lelucon yang sangat menggelikan sekali."

Dalam hati para jago yang hadir merasa kalau Sin Hong Soat-nie terlalu menaruh curiga terhadap toosu tersebut, dan kesemuanya ini hanyalah disebabkan dia sudah menusukkan pedangnya ke dada sebelah kiri dari Si Budak Berdarah itu.

Kembali Siu Hong Soat-nie mengerutkan alisnya rapat-rapat kepada Koan Ing tanyanya lagi.

"Apakah kau masih ingat dengan suara dari Si Budak Berdarah itu?"

"Suaranya sangat tinggi melengking dan amat tajam "jawab pemuda itu setelah termenung berpikir sebentar.

"Thaysu!"

Seru Sin Hong Soat-nie dengan cepat sambil menoleh ke arah Thian Siang Thaysu.

"Benarkah suara dari Si Budak Berdarah amat tinggi melengking dan sangat tajam?"

"Suara manusia tidak mungkin tetap apalagi setelah terpaut puluhan tahun lamanya bilamana suthay masih tetap ngotot mengatakan Yuan Si Too-henglah yang sedang menyaru, hal ini benar2 amat menggelikan sekali?"

Air muka Sin Hong Soat-nie mendadak berubah hebat, serunya tiba-tiba.

"Aku tidak percaya kalau Si Budak Berdarah itu belum mati, setelah dia terjatuh dalam jurang aku pernah menuruni tebing tersebut untuk mengadakan pemeriksaan mayat serta tulang belulang dari Si Budak Berdarah masih tetap menggeletak disana bahkan aku sudah menemukan suatu benda di sisinya."

Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah medali yang terbuat dari batu pualam. Ooo)*(ooO Bab 36

"Ooooh.... itu medali pedangku!"

Tiba-tiba Yuan Si Tootiang berseru dengan wajah yang tetap tenang.

Mendengar perkataan tersebut semua orang menjadi amat terperanjat, tak tersangka oleh mereka kalau Yuan Si Totiang bisa mengakui dengan begitu terus terang.

"Pedangku yang kutusuk kebagian dada dari Si Budak Berdarah hingga kini masih tetap utuh di atas kerangkanya. bagaimana mungkin bisa hidup kembali, kerangka manusia tak bisa bangkit kembali,"

Kata Sin Hong Soat-nie kembali dengan gusar.

Thian Siang Thaysu jadi termangu-mangu, saat ini dia tak dapat mengucapkan sepatah katapun, dengan perlahan kepalanya ditolehkan ke arah Yuan Si Tootiang agaknya dia bermaksud agar toosu itu memberi pembelaan sendiri.

Di dalam hati kecil Sang Su-im sekalian pun mulai merasa kalau urusan semakin ruwet dan bukanlah semudah apa yang dipikirkan mereka semula, jelas kebersihan hati Yuan Si Tootiang masih merupakan satu persoalan yang besar.

Munculnya Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan kali ini kecuali ilmu silatnya saja yang sama, ia sama sekali tidak memperlihatkan wajah yang sebetulnya, suara tidak sama bahkan Sin Hong Soat-nie pun sudah menyelidiki kembali mayat Si Budak Berdarah itu dan masih menggeletak di bawah jurang.

Terdengar Yuan Si Tootiang tertawa tawar.

"Kalian harus tahu selama ini aku selalu bersama-sama dirimu, sewaktu Si Budak Berdarah munculkan diri, kalian bisa melihat sendiri dari tempat kejauhan, bilamana aku mempunyai suatu maksud tertentu tidak bakal kembali lagi kemari. Koan Ing sendiripun merasa keheranan, dia tahu bilamana Yuan Si Tootiang bermaksud tidak baik maka dia tidak akan kembali lagi kesana.

"Hmm"

Terdengar Sin Hong Soat-nie mendengus dingin.

"Selama dua puluh tahun ini ada siapa yang pernah melihat jejaknya?"

Sekali lagi Sang Su-im sekalian dibuat melengak, selama beberapa tahun ini Soat-nie bersumpah tidak menuruni puncak Sun Li Hong, Thian-yu Khei Kiam lenyap, di samping itu memang Yuan Si Totiang lah yang tidak pernah kelihatan batang hidung maupun beritanya.

"Heee.... heee.... selama ini aku selalu berada di gunung Bu Tong san, agaknya belum tentu setiap orang harus mengetahui berita sertajejakku,"

Kata Yuan Si Tootiang sambil tersenyum. Dia berhenti sebentar untuk kemudian tambahnya.

"Menurut suthay, aku harus berbuat apa saat ini?"

"Tidak ada,"

Jawab Sin Hong Soat-nie sambil menyapu sekejap kesemua orang.

"Cuma saja kereta berdarah menuju ke Tenggara kenapa kau membawa mereka ke Timur? Si Budak Berdarah sudah binasa bagaimana mungkin di samping badannya ada medali pedangmu itu?"

"Medali pedang itu bisa ada di samping badan Si Budak Berdarah ada kemungkinan benda itujatuh sewaktu pertempuran kita tempo hari, sedang soal kereta berdarah akupun berada di sini, jelas tidak mungkin merupakan suatu hal yang bohong"

Jawab Yuan Si sambil tundukkan kepala. Sin Hong Soat-nie segera mengerutkan alisnya rapat-rapat dia mundur satu langkah ke belakang.

"Apa kau tidak sedang berbohong?"

Serunya dingin.

"medali pedang itu cuma menggeletak di atas tanah, benda yang terjatuh dari tempat ketinggian beberapa ratus kaki tidak akan ada di atas permukaan tanah."

Mendengar perkataan itu semua orang segera merasakan hatinya tergetar keras, Yuan Si Tootiang bilamana suka berterus terang mengatakan kalau dia pernah turun kedasarjurang, hal ini malah tidak mengapa tapi kini dia sudah berbohong, jelas dalam hatinya bermaksud untuk mengelabui semua orang.

Biji mata Yuan Si Tootiang kembali berputar2, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tidak mengucapkan kata-kata lagi.

Diantara mereka, Thian Siang Thaysulah yang merasa paling gusar, perjalanannya kali ini ia sudah membawa seluruh jagonya yang paling lihay di bawah ruangan Tat Mo Tong, dan kini sebagian besar sudah terluka maupun binasa di dalam lembah Chiet Han Ku ini.

"Tootiang, bagaimana penjelasanmu?"

Dengusnya dengan murka.

"Heei.... baiklah biarlah aku akan bicara terus terang kepada kalian,"

Kata Yuan Si Tootiang kemudian sambil dongakkan kepalanya. Dia menarik napas panjang, setelah termenung beberapa saat lamanya dia baru membuka mulut.

"Sejak semula aku sudah mengetahui kalau Si Budak Berdarah sudah mati,"

Katanya.

"Akupun sudah menuruni dasarjurang itu untuk mengadakan pemeriksaan secara diamdiam, tetapi waktu itu pakaian yang dikenakan oleh Si Budak Berdarah sudah robek, jelas sudah ada orang yang pernah memeriksa badannya."

Mendengar perkataan tersebut Thian Siang Thaysu segera mendengus dingin, selama ini dia selalu menganggap Yuan Si Tootiang adalah seorang beribadat yang amat suci, luhur dan ramah, tidak disangka sebenarnya dia adalah seorang manusia yang demikian rendah.

"Aku merasa perbuatanku ini ada resiko merusak nama baik Bu-tong-pay, apalagi tidak ada saksi yang melihat kalau aku sama sekali tidak memperoleh apa-apa. maka itu selama ini tidak pernah aku ceritakan soal tersebut. Heeei.... , tidak disangka Soat-nie sudah menuruni dasarjurang untuk mengadakan pemeriksaan dan menemukan medali pedangku tertinggal di sana sehingga karena soal itu sudah menimbulkan kesalah pahaman yang demikian mendalam. Ciu Tong yang sudah kehilangan putra serta muridnya di tempat itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Kalau begitu kali ini kau bermaksud untuk memancing kita masuk ke lembah Chiet Han Ku ini?"

Serunya dingin. Yuan Si Tootiang termenung sebentar setelah itu baru mengangguk perlahan.

"Aku tahu lembah Chiet Han Ku merupakan salah satu dari tiga tempat terlarang maka itu sengaja memancing kalian datang kemari, kereta berdarah kini sudah terjatuh ke tangan Si Budak Berdarah, aku rasa murid ku sudah pergi mengadakan pengejaran."

Baru saja dia selesai berbicara dengan gusarnya Ciu Tong sudah membentak keras, tongkatnya diangkat siap dibabat ke arah pinggangnya. Buru-buru Sang Su-im menarik badannya ke belakang.

"Ciu Tong tahan dulu, biarlah perkataannya selesai diucapkan baru kita mulai turun tangan."

Terdengar Yuan Si Tootiang menghembuskan napas panjang, lalu ujarnya lagi.

"Aku hanya ingin memancing agar kalian terkurung semua di sini, tapi di tengah jalan mendadak aku menemukan bayangan berdarah berkelebat sehingga aku melakukan pengejaran, siapa sangka di sini kalian sudah kena dihajar kocar-kacir oleh orang-orang lembah Chiet Han Ku."

Thian Siang Thaysu kembali mendengus dingin dia sama sekali tidak menyangka kalau Yuan Si Tootiang demikianjahatnya, bilamana bukannya Sin Hong Soat-nie yang mendesak terus menerus ada kemungkinan selama ini dia selalu menganggap dirinya sebagai orang baik-baik.

"Tetapi akhirnya di dalam liang-sim aku menemukan kalau aku sangat berdosa bilamana kalian sampai menemui ajal di tempat ini apalagi diantara kita adalah kawan karib yang sudah lama, karena itu aku sudah balik lagi kemari,"

Kata Toosu tua itu lagi.

"Hmm tidak disangka kau masih teringat akan Liang-sim dua kata!"

Seru Cha Can Hong sambil mendengus, Sewaktu berbicarajelas terlihat dia amat marah sekali, agaknya di dalam hati ia baru merasa menyesal dan kecewa karena orang yang selama ini dianggap sebagai pendekar sejati tidak lain dan tidak bukan adalah manusia rendah seperti ini.

Semakin dipikir dia semakin khe-ki, saking gemasnya kepingin sekali menghajar mati dirinya di dalam satu kali gaplokan.

"Aku kini merasa malu terhadap kalian,"

Seru Yuan Si Tootiang sambil tertawa sedih.

"Dan akupun tahu kalau aku harus merasa malu terhadap para jago di kolong langit, merasa malu terhadap diriku sendiri, tetapi sedikitnya sebelum mati aku akan menebus dosa2ku ini sekeluarnya dari gua ini tidak usah kalian memaksa, aku bisa melakukan bunuh diri dihadapan kalian,"

Walaupun di dalam hati Thian Siang Thaysu merasa amat gusar tetapi diapun merasa tidak tega, bagaimanapun juga Yuan Si Tootiang tetap merupakan seorang Ciangbunjien dari suatu partai besar, bilamana sampai mendesak dia harus melakukan bunuh diri hal ini sangat mengenaskan sekali.

"Omintohud!"

Serunya kemudian sambil merangkap tangannya di depan dada.

"Bila mana tootiang sudah merasa menyesali dosa-dosamu itu maka aku suka menjamin kalau urusan ini tidak sampai tersiar di dalam dunia kangouw, dengan begitu nama besar dari Bu-tong-pay pun tidak sampai ikut rusak."

"Terima kasih Thaysu,"

Sahut Yuan Si Tootiang menunduk. Ciu Tong yang baru saja kematian putranya mana mau melupakan dendam tersebut terdengar dia berteriak secara tiba-tiba dengan suara yang amat keras.

"Aku Ciu Tong tidak akan ikut menjamin "keselamatannya."

"Bilamana saudara-sekalian suka menjaga nama baik Butong-pay, hal ini benar' merupakan suatu budi yang amat besar, aku Yuan Si mengucapkan banyak terima kasih tetapi bilamana berita ini hendak disiarkan akupun tidak bisa berbuat apa-apa karena itu memang kesalahanku sendiri", kata Yuan Si Tootiang sambil tertawa pahit. Koan Ing yang selama ini selalu berdiam diri setelah mendengar perkataan tersebut dalam hati lantas menaruh rasa kagum, pikirnya.

"Hmm tidak kusangka kalau Yuan Si Tootiang masih merupakan seorang lelaki sejati "

"Heei.... kalian bersiap-siap hendak menjatuhi hukuman apa kepadanya?"

Tanya Sin Hong Soat-nie tiba-tiba.

Sang Su-im termenung tidak menjawab, dia adalah seorang pangcu dari suatu perkumpulan besar apalagi dengan Yuan Si Tootiang tidak mempunyai ikatan budi maupun dendam sudah tentu iapun tidak suka bertindak gegabah di hadapan orang banyak.

"Aku mau menghisap darahnya!"

Tiba-tiba terdengar Ciu Tong yang menaruh dendam paling mendalam berteriak keras.

Semua orang bungkam seribu bahasa, mereka tahu Ciu Tong bisa menaruh begitu benci terhadap diri Yuan Si Tootiang hal ini disebabkan putranya sudah mati di tangannya, sekalipun perkataannya ini ada banyak orang yang merasa tidak setuju tetapi tak seorangpun yang mengucap kata-kata.

"Pinceng rasa malam kini sudah tiba, Yuan Si Tootiang sebagai seorang ciangbunjien dari suatu partai besar apalagi kini dia sudah menyesali dosanya, maka perkataan yang sudah diucapkan tidak bakal diingkari sendiri,"

Kata Thian Siang Thaysu dengan suara perlahan "Bagaimana kalau urusan ini kita bicarakan kembali setelah ke luar dari gua ini....?"

"Bilamana di dalam beberapa waktu ini terjadi suatu peristiwa, siapa yang akan menanggung?"

Bentak Ciu Tong marah.

"Pinceng yang tanggung!"

Bagaimanapun juga Thian Siang Thaysu dengan Yuan Si Tootiang semula adalah kawan karib, sekalipun pada saat ini diapun menaruh rasa gemas dan benci terhadap dirinya tetapi melihat keadaannya yang kepepet ini hatinya merasa tidak tega juga, dia merasa sikap dari Ciu Tong sedikit keterlaluan.

Bagaimanapun juga jalan pikiran tiga manusia genah serta empat manusia aneh tidak akan sama.

Hweesio dari Siauw-limsi ini berbuat demikian karena makin menaruh rasa kasihan terhadap Yuan Si Tootiang, juga persoalan inipun sedikit2nya mempengaruhi kecemerlangan dari tiga manusia genah, karena itu walaupun dia merasa toosu Bu-tong-pay itu bersalah mau tak mau dia harus membelanya juga.

"Hmm hweesio apakah kau merasa kuat untuk memikul tanggung jawab tersebut?"

Ejek Ciu Tong dingin.

Kini perkataan sudah diucapkan keluar, walaupun Thian Siang Thaysu merasa beban ini sangat besar dan berat, tetapi perkataan sudah diucapkan keluar tidak bakal bisa ditarik kembali, Setelah termenung beberapa saat lamanya dia baru berkata.

"Bilamana dia berhasil melarikan diri, sekalipun lari ke ujung langitpun akan pinceng kejar terus ", Ciu Tong lantas menarik napas panjang-panjang, keadaan pada saat ini sudah tidak mengijinkan lagi buat mereka saling bentrok, setelah memandang sejenak keadaan cuaca terakhir dia baru mengangguk.

"Baiklah biarlah kali ini aku menyetujui usulmu itu."

Semua orang baru menghembuskan napas lega setelah mendengar perkataan Ciu Tong, walaupun begitu diantara mereka tak ada seorangpun yang berbicara.

Lama sekali baru terdengar Sin Hong Soat-nie menoleh ke arah Yuan Si Tootiang dan bertanya.

"Sekarang kau sudah teringat belum siapakah yang menyaru sebagai Si Budak Berdarah?"

"Pinto tidak tahu."

Sewaktu bicara sampai di situ mendadak dari luar gua berkumandang datang suara dentuman tiga kali yang amat keras sekali.

"Blaaammm.... Blaaammm.... Blaamm....!"

"Ahh.... serangan total sudah dimulai!"

Teriak Sang Su-im cepat.

Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar Yuan Si Tootiang membentak keras, tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat sudah menubruk ke arah Koan Ing serta Sang Siauw-tan.

Melihat kejadian itu para jago yang berada di tengah kalangan menjadi amat kaget.

Thian Siang Thaysu menjadi sangat terperanjat, mana mungkin dia suka memberi kesempatan bagi Yuan Si Tootiang untuk melakukan kejahatan lagi.

Di tengah suara bentakan yang amat keras, tubuhnya berkelebat ke depan sedang sepasang telapaknya dengan sejajar dada menghantam ke tubuh Yuan Si Tootiang dengan menggunakan tenaga lweekang "Sian Thian Si Boe Cin Khie".

Yuan Si Tootiang tertawa seram, tangan kanannya membalik melancarkan satu pukulan disertai hawa murni yang berwarna merah tawar mengancam tubuh Thian Siang Thaysu.

"Aaach ilmu kh.^-kang Hwee Soat Chiet Sah Kang Khie!"

Teriak Sin Hong Soat-nie kaget. Semua orang menjadi terperanjat dengan cepat dua gulung angin pukulan itu terbentur satu sama lain membentuk gulungan angin taupan yang amat dahsyat.

"Braaak!"

Dengan disertai suara benturan nyaring pasir serta kerikil pada beterbangan memenuhi angkasa.

Dengan cepatnya Sin Hong Soat-nie mencabut keluar pedangnya melancarkan serangan, dia merasa kaget karena Yuan Si Tootiang berhasil menangkis datangnya angin pukulan dari Thian Siang Thaysu dengan tangan sebelah, dari hal inijelas sekali tenaga dalam yang dimiliki sudah mencapai pada taraf kesempurnaan.

Sewaktu Sin Hong Soat-nie melancarkan serangan itu Yuan Si Tootiang sudah berhasil menangkis datangnya Thian Siang Thaysu, sedang tangan kanannya dengan cepat menyambar tubuh Sang Siauw-tan.

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi terperanjat, dengan diiringi suara suitan yang amat nyaring pedangnya dengan cepat membabat ke depan dengan menggunakan jurus "Thian Hong Coe Lok".

Sin Hong Soat-nie yang pedangnya berhasil dipukul ke samping oleh tenaga sabetan telapak kiri toosu Bu-tong-pay ini hatinya terperanjat segera menarik kembali serangannya, di dalam sekejap saja pedangnya kembali menyambar ke depan mengancam batok kepala Yuan Si Tootiang.

Dengan amat gesitnya Yuan Si Tootiang meloncat ke atas, kakinya melancarkan serangan tendangan memukul mental pedang Kiem-hong-kiam ditangan Koan Ing sedang tangan kanannya menotok jalan darah pingsan dari Sang Siauw-tan, sewaktu tubuhnya melayang turun ke atas permukaan tanah dengan lincahnya dia berhasil menghindarkan diri dari tusukan pedang Sin Hong Soat-nie.

Sang Su-im serta Cha Can Hong pun merasa amat terperanjat, ilmu jari Han Yang Ci serta ilmu pukulan Kiem Sah Ciang dari gurun pasir di dalam waktu yang bersamaan melancarkan serangan menghajar Toosu itu.

"Tahan!"

Tiba-tiba Yuan Si Tootiang membentak dengan suara yang amat keras sekali.

Selesai membentak dia sudah menarik tubuh Sang Siauw-tan ke hadapannya.

Dari mulut gua tampak bayangan manusia berkelebat, dengan gusarnya Ciu Tong membentak keras toyanya dengan menimbulkan angin serangan yang dahsyat menyapu datangnya serangan dari orang itu.

Sang Su-im serta Cha Can Hong yang melihat Sang Siauwtan berhasil kena ditangkap oleh Yuan Si Tootiang untuk dijadikan sebagai tameng dalam hati menjadi sangat terperanjat, di dalam keadaan terburu-buru serangannya kembali menerjang keluar gua.

Seketika itu juga mulut gua tersumbat rapat, orang yang sedang menerjang masuk ke dalam gua itupun seketika itu juga kena dihantam oleh tenaga gabungan tiga orang jagoan lihay, di tengah suara dengusan berat dia mengundurkan diri kembali keluar gua.

"Hey hweesio gundul, bagus sekali sekarang aku mau lihat bagaimana kau hendak bertanggung jawab"

Ejek Ciu Tong sambil menoleh ke arah si hweesio dari Siauw-lim-si ini, Thian Siang Thaysu merasa gusar bercampur khe-ki, tanpa perduli situasi pada saat itu lagi, Sambil mengeluarkan bentakan yang amat keras dia melancarkan serangan kembali untuk menghajar diri Yuan Si Tootiang, Sang Su-im cuma mempunyai seorang putri saja, sudah tentu dalam hati tidak akan mengijinkan Sang Siauw-tan mati di sana, melihat Thian Siang Thaysu melancarkan serangan dengan terburu-buru dia mendorong pukulan hweesio tersebut.

"Jangan menyerang!"

Bentaknya keras, Angin pukulan menyambar ke depan....

Braaak seketika itu juga seluruh dinding gua itu tergetar amat keras terkena hajaran tersebut.

Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak-bahak, dengan perlahan dia menoleh ke arah Sang Su-im.

"Haaa.... haaa.... Sang pangcu, silahkan kau perintah mereka untuk berhenti menyerang....!"

Sang Su-im jadi melengak, selama ini belum pernah ada orang yang berani memaksa dirinya, tidak disangka ini hari dia harus jatuh kecundang ditangan orang lain.

Tetapi kenyataan memang demikian, dengan hati mendongkol terpaksa dia mengayunkan tangannya ke depan, sebuah panah berapi dengan cepat meluncur keluar dari gua tersebut dan meledak di tengah udara.

Mendengar suara ledakan tersebut Yuan Si Tootiang tertawa semakin keras lagi.

Koan Ing yang tangan kanannya kena di tendang oleh Yuan Si Tootiang dalam hati merasa terkejut bercampur gusar, walaupun serangannya tadi dilakukan di dalam keadaan tergesa-gesa tetapi tendangan dari Yuan Si Tootiang itu dilakukan demikian cepatnya sehingga tak ada kesempatan baginya untuk menghindarkan diri, Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang ke arah Yuan Si Tootiang sedang dalam hati mulai berpikir bagaimana caranya untuk menolong Sang Siauw-tan dari tangannya.

Sin Hong Soat-nie yang melihat kejadian itu segera mendengus dingin, kepada Toosu dari Bu-tong-pay ancamnya.

"Bilamana kau berani membinasakan diri Sang Siauw-tan, maka sejak kini jangan harap bisa keluar dari sini", Mendengar perkataan itu Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak-bahak.

"Yuan Si sungguh indah sekali cerita karanganmu tadi, kau sungguh berbakat sekali untuk menjadi seorang pembohong"

Seru Cha Can Hong dengan gusar.

Sekali lagi Yuan Si Toatiang tertawa ter bahak-bahak.

Pada waktu ini Thian Siang Thaysu benar-benar sangat gusar sehingga seluruh badannya gemetar, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkannya.

Mendadak dari belakang tubuhnya kembali sesosok bayangan manusia berkelebat masuk kedalam, dengan gusarnya Thian Siang Thaysu segera membentak keras, sambil membentak dia melancarkan satu pukulan dahsyat dengan manggunakan ilmu lweekang "Sian Thian Si Boe Cia Khie".

"Braaak!"

Di tengah suara ledakan yang amat keras bayangan manusia itu kembali kena dipukul pental ke belakang.

"Yuan Si kau kepingin berbuat apa?"

Bentak Sang Su-im dengan kasar.

"Heee.... heee.... sungguh sayang!"

Seru Yuan Si Tootiang sambil tertawa dingin.

"Sebenarnya aku mempunyai rencana untuk membasmi kalian di lembah ini, tidak disangka kalian bisa bersembunyi di dalam gua ini bahkan memperoleh bantuan dari seluruh anggota perkumpulan Tiang-gong-pang"

Setelah mendengar perkataan itu semua orang menjadi terkejut bercampur gusar, tidak disangka kejadian ini hari tidak lain merupakan siasat yang telah disusun oleh Yuen Si Tootiang sendiri, tidak disangka kalau hatinya begitu kejam dan licik sehingga bermaksud hendak membasmi seluruh jago Tionggoan disini.

"Kau.... kau manusia laknat!"

Teriak Thian Siang Thaysu saking khekinya sehingga seluruh badannya gemetar keras. Ooo)*(ooO Bab 37 MENDENGAR makian itu Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... dari dulu aku memang bukan lelaki sejati, haaa.... sekarang aku mau lihat apa hendak kalian terbuat?"

Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi sambil tertawa dingin.

"Kini keadaan situasi sudah berubah, bukan saja aku sudah memasuki gua ini bahkan ditanganku masih terdapat seorang tawanan."

Koan Ing yang melihat Yuan Si Tootiang begitu bangga dalam hati merasa menyesal dan gemas, dia menyesal kenapa sejak tadi tidak terpikir olehnya bagaimana mungkin Sak Huan bisa mengetahui urusan yang meyangkut diri Jien Wong bilamana dia sendiri tidak ikut menerjunkan diri.

"Kalau begitu orang yang menyaru sebagai Si Budak Berdarah adalah kau,"

Sela Sin Hong Soat-nie dingin.

"Haa,.... haa.... dugaaamu sedikitpun tidak salah,"

Jawab Yuan Si Tootiang sambil tertawa terbahak-bahak.

"Cuma sayang kau mengetahuinya sudah sedikit terlambat, kau harus tahu ilmu khie-kang Hwe Hiat Chiet Sah Kang Khie tidak ada keduanya di dalam kolong langit dan bisa menghisap tenaga dalam orang lain, sejak dulu aku sudah bermaksud untuk menjagoi Bu-tim tapi selama itu tak ada kesempatan yang baik, tempo hari setelah Si Budak Berdarah terjatuh kedasarjurang dan dengan menggunakan kesempatan setelah kalian berdua pergi dari sana aku turun sendiri kesisi mayatnya dan berhasil memperoleh rahasia dari ilmu khiekang Hwee Hiat Chiet Sah Kang Khie tersebut."

Selesai berkata dia segera tertawa terbahak-bahak.

"Hmm aku kira kau adalah ciangbunjien dari suatu partai besar, tidak disangka kau orang tidak lebih merupakan manusia laknat yang berhati rendah!"

Maki Thian Siang Thaysu dengan gusar.

"Haa.... haa.... kau baru tahu sekarang hweesio gundul?"

Ejek Yuan Si Tootiang sambil tertawa gelak.

"Tahun dulu aku sudah bertemu dengan Kaucu dari lembah Chiet Han Ku ini, Hauw Thiau Kiem Wang atau si jaring emas penguasa langit Phoa Thian Cu untuk menyusun rencana membasmi seluruh jagoan lihay yang ada di kolong langit"

"Hmm apa kau kira tindakan ini bisa terlaksana?"

Ejek Cha Can Hong sitelapak dewa dari gurun pasir sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Sudah tentu aku merasa yakin pasti bisa terlaksana,"

Sahut Yuan Si Tootiang sambil tertawa dingin.

"Sekalipun kepandaian silat yang kalian miliki berada diluar dugaanku tetapi kalianpun harus ingat bila mana tidak ada kekuatan dari anak buah-perkumpulan Tiang-gong-pang kalianpun belum tentu bisa keluar dari lembah ini dengan selamat, sekarang Sang Su-im sudah berhasil aku kuasai"

Paras muka Sang Su-im segera berubah menjadi hijau membesi, dengan pandangan termangu-mangu dia memperhatikan diri Yuan Si Tootiang dengan mata berapi2, sekalipun begitu dia tidak bisa berbuat apa-apa karena pada saat ini Sang Siauw-tan masih berada ditangannya, Terdengar Sin Hong Soat-nie mendengus dingin.

"Walaupun Sang Su-im berhasil kau kuasai tetapi masih ada Cha Can Hong, Thian Siang Thaysu serta aku tiga orang."

"Heee.... heee.... Cha Can Hong paling suka dengan diri Sang Siauw-tan, rasanya mereka berdua tidak akan berani bertindak secara gegabah, sedang kalian berdua, Hooo.... hooo.... kalian berdua apakah merasa yakin bisa mengalahkan diriku? Terhadap kalian aku tidak akan memandang sebelah matapun."

Sin Hong Soat-nie benar2 amat gusar, tetapi dia tahu keadaannya pada saat ini sangat tidak menguntungkan dan Yuan Si Tootiang sudah menduduki di atas angin, karenanya dia tidak berani banyak bertingkah.

"Kau siap-siap berbuat apa?"

Tanyanya kemudian. Yuan Si Tootiang tertawa tawar, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke seluruh gua.

"Menurut caraku yang paling baik adalah membinasakan kalian semua disini,"

Sahutnya dingin.

Para jago yang ada di dalam gua menjadi sangat terperanjat Sang Su-im merasa hatinya tergetar amat keras, dia tahu bilamana Yuan Si Tootiang tidak membinasakan dirinya maka peristiwa ini pasti akan tersiar ke dalam dunia kangouw sedang partai Bu-tong-pay selamanya tidak akan bisa menancapkan kakinya kembali di dalam Bu-lim.

Berpuluhpuluh bayangan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya.

"Kau kira apakah maksudmu itu bisa tercapai?"

Ejeknya kemudian.

"Haa.... haa dengan sepenuh tenaga kau kupaksa untuk mengambil jalan ke arah ini"

"Baiklah begini saja, aku akan memberi satujaminan kepadamu, asalkan kau suka melepaskan Siauw-tan maka urusan ini hari tidak akan kusiarkan di Bu-lim, sehingga nama besar Bu-tong-pay pun tidak bakal menemui kerugian,"

Kata Sang Su-im kemudian dengan mata berkedip-kedip.

"Tidak bisa."

Ujar Yuan Si Tootiang sambil menggeleng."

Bukan saja aku bermaksud hendak membinasakan kalian semua, bahkan hingga kini aku belum berhasil mendapatkan kereta berdarah, aku tidak akan melepaskan barang siapapun "

Koan Ing yang mendengar perkataan tersebut menjadi tertegun, dia masih mengira kereta berdarah itu sudah terjatuh ke tangan Yuan Si Tootiang, tetapijika di dengar dari perkataannya tadijelas kereta berdarah masih belum terjatuh ke tangannya, lalu ada dimanakah barang incaran para jagojago Bu-lim itu.

Kejadian apa yang kembali sudah berlangsung?

Dengan pandangan tajam Sang Su-im memandang ke arah Yuan Si Tootiang dalam hati pada saat ini benar-benar amat gusar sukar ditahan, tangan kanannya mendadak diayun ke depan sebatang anak panah berapi segera meluncur keluar dari gua dan meledak sebanyak tiga kali di tengah udara.

"Perintah penyerbuan aku sudah kirim"

Ujarnya kemudian sambil tertawa mengejek.

"Bilamana kau berani melukai Sang Siauw-tan maka dengan tenaga gabungan kami berempat kau segera akan hancur berantakan, aku rasa lebih baik kau tahu diri."

Yuan Si Tootiang sama sekali tidak menyangka kalau Sang Su-im berani melakukan tinndakan ini, air mukanya segera berubah hebat, dalam hati toosu itu tahu bilamana dirinya nekad turun tangan juga terhadap Sang Siauw-tan maka dirinya tidak bakal kuat menahan satu pukulan dari tenaga gabungan mereka berempat.

Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan tak mengetahui apa yang harus diperbuat pada saat itu.

"Yuan Si, kau sudah mengalami kegagalan,"

Ujar Sang Suim sambil kerutkan alisnya.

"Di dalam keadaan yang sangat kepepet, sekalipun tenaga dalam serta kepandaian silat dari orang-orang lembah Chiet Han Ku amat lihaypun, tidak mungkin bisa menahan serangan gabungan, hmm.... maksudmu untuk melenyapkan para jago Bu-lim ini sungguh menggelikan sekali!"

"Sang Su-im!"

Teriak Yuan Si Tootiang kemudian sambil menggigit kencang bibirnya.

"Kau harus tahu putrimu berada ditanganku, sekalipun aku sudah membinasakan dirinya masih cukup tenaga untuk menerjang keluar dari sini!"

Air muka Sang Su-im berubah menjadi hijau membesi, hatinya benar' amat gusar sekali.

"Hmmm kau harus tahu aku sebagai pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang, bisa melakukan beratus-ratus macam tindakan, kalau kau tidak percaya boleh!"

Tantangnya.

"Hmm.... sekalipun anak buahmu sudah memasuki lembah tapi harus membutuhkan setengah jam lagi baru bisa sampai disini, pihak lembah Chie Han Ku bukannya tidak mengadakan persiapan,"

Balas dengus Yuan Si Tootiang dengan ketus.

Sang Su-im segera tertawa dingin, dia puas kalau pihak lembah Chie Han Ku memang sudah mengadakan persiapan, agaknya Yuan Si Tootiang berkata demikian hendak maksudkan kalau kekuatan pihak lembah Chiet Han Ku pun tidak kecil.

"Sang Su-im!"

Ancam Yuan Si Tootiang dengan dingin.

"Setelah mereka datang kemari dan aku tahu tidak bakal lolos dari sini, waktu itu nyawa putrimu. Hmmmm...."

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras dia tahu Sang Su-im tidak bakal membiarkan Sang Siauw-tan menemui ajalnya ditangan Yuan Si Tootiang.

"Lalu apa rencanamu?"

Tanya Sin Hong Soat-nie. Dengan amat tawar Yuan Si Tootiang menyapu ke arah Sin Hong Soat-nie, mulutnya tetap membungkam, beberapa saat kemudian ia baru berkata kepada Sang Su-im.

"Kita bisa lolos dari sini dalam keadaan aman, dikemudian hari seluruh Bu-lim hanyalah milik kita berdua orang saja. Sang pangcu bagaimana kalau kita bekerja sama?"

"Mau bekerja sama sih boleh saja"jawab Sang Su-im sambil menghembus napas panjang.

"tapi aku tidak setuju kalau kita kerja sama untuk menjagoi Bu-lim, lebih kita baik bergabung untuk menghadapi orang-orang lembah Chiet Han Ku saja, bagaimana pendapatmu?"

Sinar mata Yuan Si Tootiang berkelebat tiada hentinya, dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bisa tertahan oleh Sang Su-im sekalian di dalam gua, sewaktu pikirannya lagi berputar itulah dari luar gua secara samar-samar sudah terdengar suara bentakan serta tindakan manusia yang amat banyak sekali.

Pikirannya dengan cepat berputar, mendadak dia mendengus dingin tengan kanannya mendorong tubuh Sang Siauw-tan ke samping kiri sedang tubuhnya dengan cepat berkelebat keluar dari dalam gua, Para jago yang berada di dalam gua jadi amat terperanjat sekali, Sang Su-im yang menaruh rasa kuatir atas keselamatan putrinya maka tak mempunyai minat untuk mengejar diri Yuan Si Tootiang, tubuhnya dengan cepat bergerak menubruk ke arah tubuh Sang Siauw-tan.

Cha Cin Hong pun di dalam waktu yang bersamaan melancarkan tiga pukulan menghajar toosu dari Bu-tong-pay itu sedang tubuhnya dengan cepat menubruk ke arah Sang Siauw-tan.

Sin Hong Soat-nie, Thian Siang Thaysu serta Ciu Tong beramai2 melancarkan pukulan dahsyat ke depan.

Toya, pedang serta tenaga pukulan dengan mengambil tiga arah serangan yang berbeda menerjang ke tubuh Yuan Si Tootiang.

Sewaktu tubuh Yuan Si Tootiang menubruk ke depan pedangnya sudah dicabut keluar, di tengah suara tertawanya yang amat keras pedangnya bergetar tiada hentinya melancarkan jurus-jurus kiam hoat yang luar biasa dahsyatnya untuk menghadang datangnya serangan gabungan dari ketiga orang tadi.

Belum habis dia tertawa tubuhnya bagaikan seekor ikan belut sudah berkelebat keluar dari dalam gua, Melihat kejadian itu Koan Ing jadi melengak, setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya dia baru menghembuskan napas lega, walaupun Yuan Si Tootiang berhasil meloloskan diri dari dalam gua tadi setidak2nya Sang Siauw-tan berhasil ditolong dalam keadaan selamat.

Dengan perlahan dia berjalan ke depan, terlihatlah Sang Su-im sambil memeluk tubuh Sang Siauw-tan sedang berdiri termangu-mangu disana.

Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, karena matanya dapat melihat kalau air muka Sang Siauw-tan pada waktu itu sudah berubah menjadi pucat bagaikan mayat dan berbaring disisi Sang Su-im tak bergerak, sekalipun napasnya tidak sampai putus tapi jelas tubuhnya sudah terluka parah oleh tenaga pukulan yang amat dahsyat dari Yuan Si Tootiang.

Ciu Tong yang melihat Sang Siauw-tan terluka dengan cepat maju ke depan, beberapa saat kemudian dia baru menghela napas panjang.

"Siauw-heng, bagaimana ini bisa jadi?"

Katanya.

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, Ciu Tong yang mengenal ilmu obat-obatan tidak mengerti bagaimana luka yang diderita oleh Sang Siauwtan itu bagaimana baiknya.

Dengan cepat dia memegang pergelangan tangan kanan dari Sang Siauw-tan dan memeriksa urat nadinya, terasalah denyutanjantungnya amat lemah sekali cuma tidak mengetahui dia sudah terluka oleh pukulan macam apa, tetapi yang jelas pastilah suatu ilmu pukulan yang amat beracun sekali.

Berpikir akan hal itu Koan Ing dengan gusarnya lantas membentak keras, tubuhnya bergerak dan menerjang keluar dari dalam gua.

"Hati-hati jangan gegabah!"

Teriak Cha Can Hong dengan suara keras.

Tangannya dengan cepat menyambar ke depan, siapa tahu gerakan Koan Ing jauh lebih cepat, tahu-tahu dia sudah berada diluar gua, Cha Can Hong jadi amat kaget, jangan dikata diluar ada jago-jago kelas wahid lembah Chiet Han Ku yang mengepung tempat itu rapat-rapat, sekalipun mereka tidak berani menerjang keluar apalagi Koan Ing pemuda itu, bukankah hal ini sama saja dengan mencari jalan kematian buat dirinya sendiri?

Siapa tahu setelah Koan Ing menerjang keluar dari dalam gua, suasana diluar gua tenang-tenang saja, dalam hati para jago yang berada di dalam gua segera menduga kalau Koan Ing sudah mati di tengah kerubutan orang banyak.

Tetapi kejadian yang sesungguhnya sama sekali bukan demikian.Koan Ing yang berhasil menerjang keluar dari mulut gua sama sekali tidak menemukan gangguan apapun, orangorang dari lembah Chiet Han Ku sudah pada bubaran sedang dari tempat kejauhan tampaklah sesosok bayangan manusia dengan cepatnya berkelebat masuk ke dalam hutan, dengan cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk meluncur ke belakang lembah tersebut.

Sebatang anak panah berapi kembali meledak di tengah udara menimbulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Suara bentakan saling sahut menyahut dari empat penjuru.

laksana air bah suara tersebut melanda mendekat, dalam hati pemuda itu lantas mengerti kalau orang-orang perkumpulan Tiang-gong-pang telah berhasil menjebolkan pertahanan lembah Chiet Han Ku dan kini sudah mulai mendekati tempat itu.

Para jago yang terkurung selama beberapa hari dalam gua akhirnya terbebas juga.

Sang Su-im sambil menggendong tubuh Sang Siauw-tan berjalan keluar dari dalam gua, dari sepasang matanya mengucur keluar titik-titik air mata, hatinya benar-benar amat kegirangan.

Dengan termangu-mangu Cha Can Hong memandang ke arah para jago yang sedang keluar dari gua saling susul menyusul, hatinya lagi merasa kuatir atas keselamatan diri Koan Ing yang meluncur ke belakang Lembah.

Pada saat itu anak buah dari perkumpulan Tiang-gongpang mulai bermunculan dari empat penjuru.

Koan Ing yang sedang mengejar Yuan Si Tootiang sewaktu melihat toosu itu melarikan diri ke dalam rimba di belakang lembah hatinya merasa amat cemas bercampur gusar.

Dia gemas karena Yuan Si Tootiang sudah turun tanganjahat terhadap gadis itu, dalam hati ia bersumpah hendak mencari sampai dapat toosu dari Bu-tong-pay itu dan menuntut balas.

Beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di dalam sebuah hutan yang jauh lebih lebat dari hutan di depan lembah, setelah menembusi hutan tersebut di hadapannya muncul sebuah bangunan istana yang amat megah sekali.

Dia rada merandek, sedang pikirannya dengan cepat berputar.

"Bangunan rumah itu tentu markas mereka, bilamana aku tidak berani memasuki sarang macan, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan?"

Berpikir akan hal itu tubuhnya dengan cepat berkelebat masuk ke dalam bangunan mewah tersebut.

Pintu rumah terpentang lebar-lebar, di dalam ruangan sunyi senyap tak tampak sesosok bayangan manusiapun, keadaan benar-benar amat menyeramkan sekali.

Koan Ing tidak sempat berpikir panjang lagi, sambil memegang pedangnya kencang-kencang dia segera menerjang masuk ke dalam rumah tersebut.

Di dalam rumah itu tak ada seorang manusiapun, di tengah ruangan yang luas cuma tampak dua buah kursi saja, keadaan begitu sunyi sehingga terasa amat menyeramkan.

"Yuan Si!"

Terdengar Koan Ing mendengus dingin dan berteriak keras, setelah dirasanya Yuan Si Tootiang benarbenar berada di dalam rumah tersebut.

"Aku hanya seorang diri, apakah kau merasa takut kepadaku?"

"Koan Ing kau sungguh bernyali besar, berani betul kau menerjang kemari seorang diri!"

Seru Yuan Si Tootiang sambil berkelebat muncul di depan pemuda tersebut.

"Siauw-tan sudah kau apakan?"

"Ooow.... kiranya kedatanganmu karena soal ini, aku lihat kau menjadi orang terlalu gegabah tetapi aku kagum akan semangatmu, sekalipun kepandaianmu dahsyat tetapi masih terpaut jauh dari diriku."

Sehabis berkata dia memutar badannya dan berlari masuk ke dalam rumah.

Sinar mata Koan Ing berkelebat dia tahu Yuan Si Tootiang hendak memancing dirinya masuk dalam jebakan, tetapi di dalam keadaan seperti ini mau tidak mau dia harus menerjunkan dirinya juga untuk mengikuti dia masuk ke dalam ruangan.

Sambil menggigit kencang bibirnya dia lantas lari mengejar dari belakang, saat ini dia cuma mengharapkan munculnya suatu kejadian yang aneh atau sedikit2nya bisa menahan Yuan Si Tootiang untuk melarikan diri.

Yuan Si Tootiang yang melihat pemuda itu melakukan pengejaran dari belakang segera tertawa terbahak-bahak, dengan cepat dia berkelebat ke depan dan melayang masuk ke dalam sebuah lorong.

Koan Ing tidak suka lepas tangan begitu saja, dengan cepat dia mengejar ke belakang.

Lorong itu ada beberapa kaki panjangnya, Yuan Si Tootiang yang lari di depan mendadak lenyap tak berbekas.

Koan Ing menjadi kaget, dengan cepat tubuhnyapun melayang ke depan menerjang ke arah dimana Yuan Si Tootiang melenyapkan dirinya tadi.

Siapa tahu baru saja dia melayang turun ke atas permukaan tanah, mendadak dari kedua belah samping meloncat keluar enam orang lelaki berbaju hitam laksana bayangan setan berputar ke samping dan menyebarkan enam buah jaring merah yang amat besar ke atas kepalanya.

Melihat datangnya serangan tersebut, Koan Ing menjadi berdesir, pedang Kiem-hong-kiam ditangannya dengan cepat mencukil ke atas membabat ke arah ke enam lembarjaring merah tersebut disusul tangan kirinya menekan tembok dan melayang ke arah samping, Kepandaian silat dari enam orang manusia berkerudung hitam itu sungguh lihay dan aneh sekali, begitu pedang sertajaring terbentur satu sama lainnya pedang kiem-hongkiam ditangan Koan Ing sudah kena dihantam dan terlepas dari tangannya, Koan Ing jadi terperanjat tubuhnya dengan cepat melayang turun ke atas tanah kemudian sekali lagi melayang ke atas menubruk ke arah pedangnya, Siapa tahu baru saja tubuhnya melayang ke atas tanah kembali ada sebuah jaring merah yang akan menggulung kakinya, Dengan gesitnya tangan kanan pemuda itu menyambar pedangnya, kedua kaki ditarik ke atas sedang pedang kiemhong-kiamnya kembali membabat jaring merah itu, Belum habis orang berkerudung itu menarik jaring merahnya kelihatan kelima buah jaring lainnya di dalam waktu yang bersamaan sudah mengurung tubuh sang pemuda.

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi terperanjat belum habis dia berpikir pedangnya mendadak disambit ke depan dengan disertai suara bentakan yang amat keras.

Pedang Kiem-hong-kiam dengan cepatnya meluncur ke arah keenam orang itu memaksa mereka harus menarik kembali jaringnya untuk melindungi tubuh mereka sendiri.

Koan Ing yang dua kali didesak untuk melepaskan pedangnya dalam hati merasa kheki bercampur gusar.

"Yuan Si Tootiang Apakah kau takut padaku?"

Bentaknya.

Keenam lembarjaring merah itu dengan cepatnya berhasil melemparkan pedang kiem hong kiam tersebut ke atas atap sedang jaring tersebut kembali menyapu ke arah Koan Ing dengan dahsyat.

Koan Ing yang tidak mendengar suara jawaban dari Yuan Si Tootiang hatinya benar2 amat kheki bercampur gemas, kini pedangnya sudah terlepas, untuk memaksa dengan kekerasan pun percuma, terpaksa dia meloncat kesana kemari untuk menghindar.

Untuk mencabut kembali pedangnya yang tertancap di atas atap tidak mungkin baginya, di dalam keadaan kepepet tubuhnya kembali terdesak mundur beberapa langkah.

Mendadak punggungnya terasa menempel pada dinding, hal ini membuat dia terkejut sehingga keringat dingin pada mengucur keluar dengan amat deras, dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bakal menemui kematian di tempat ini.

"Heeee.... bagaimanapun aku tidak akan mati dengan siasia di tengah kurcaci2 yang wajahnyapun tak sampai terlihat olehku, paling sedikit aku harus membinasakan satu dua orang diantara mereka pikirnya, Sinar matanya berkelebat tajam, tubuhnya mendadak melayang mundur ke belakang dan menempel pada dinding. Pada saat itulah keenam orang itu mendadak merandek dan menghentikan gerakannya, Koan Ing yang melihat kejadian ini menjadi keheranan. Tiba-tiba....

"Braak!"

Sebuah pintu berjeriji yang terbuat dari batujatuh ke bawah tepat mengurung dirinya didalam, diantara terbangnya debu memenuhi angkasa suara tertawa dari Yuan Si Tootiang memenuhi angkasa.

"Koan Ing"

Terdengar Yuan Si Tootiang berteriak sambil munculkan dirinya.

"Alat-alat rahasia yang dipasang di dalam lembah Chiet Han Ku ini tidak pernah terduga oleh Sang Suim, dia tidak akan bisa menerjang masuk sampai kesini, kau bolehlah beristirahat secara tenang-tenang disitu."

Koan Ing yang melihat dirinya kena dikurung dalam hati merasa cemas bercampur gusar.

"Yuan Si!"

Makinya.

"Malu sekali nama mu ikut tercantum diantara tiga manusia baik, tidak disangka kalau kau sebenarnya adalah manusia yang paling licik di dalam dunia pada saat ini "

Mendengar suara makian tersebut Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak2.

"Haa.... haa kau sama sekali tidak ada harganya untuk bergebrak melawan diriku, biarlah aku mengurung kau sampai mati kelaparan saja, coba bayangkan saja Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim tempo haripun bisa menemui ajalnya ditanganku, apalagi kau sebagai kurcaci biasa haa.... haa."

Di tengah suara tertawanya yang amat keras dia lantas berlalu dari tempat itu.

Dengan termangu-mangu Koan Ing memperhatikan bayangan punggung dari Yuan Si Tootiang Ienyap dari pandangannya, dalam hati dia merasa amat sedih sekali, Di bawah kakinya kembali ditemui anak tangga terbuat dari batu yang menurun ke bawah, saat ini dia berada di tengah sebuah ruangan batu yang amat gelap sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, untung saja sewaktu terkurung bersama Kong Bun-yu tempo hari dia sudah berhasil mempelajari memandang di tempat kegelapan.

Disebelah kiri dari ruangan batu tampak sebuah pintu, cuma saja dinding batu itu amat tebal sehingga tak sedikit sinarpun bisa memancar masuk, Dengan hati yang amat kecewa Koan Ing duduk ditanah, dia merasa menyesal atas kehilangan pedang kiem-hong-kiam, Pikirannya mulai melayang kemana2, terbayang kembali seluruh ilmu silat yang ia pelajari selama ini, dia merasa walaupun kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat tetapi masih belum bisa menandingi kepandaian tiga manusia genah empat manusia aneh, Pada saat pikirannya lagi berputar itulah mendadak terdengar suara bentakan keras bergema datang disusul terbukanya pintu batu, sesosok bayangan kembali melayang ke bawah disusul ditutupnya pintu batu dengan amat keras.

Koan Ing jadi amat terperanjat, ketika memandang lebih tajam lagi dia lantas dapat mengenali kalau orang itu bukan lain adalah putri dari Cha Can Hong, cuma tidak tahu dia adalah Ca Cing Cing atau Cha Ing Ing.

Agaknya gadis tersebut sama sekali tidak bisa melihat jelas keadaan di sekelilingnya, lama sekali dia berdiri di dalam ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun beberapa saat kemudian dia baru berteriak.

"Engkoh Ing kau berada dimana, aku Ing Ing."

Dengan perlahan Koan Ing menghembuskan napas panjang, dalam hati dia merasa bingung bagaimana mungkin Ing Ing bisa sampai di tempat ini.

"Ing Ing aku ada disini , kau...."

Belum habis dia berkata mendadak Cha Ing Ing sudah menggerakkan badannya menubruk ke arah diri Koan Ing.

Melihat tindakan dari gadis tersebut Koan Ing jadi amat terperanjat, tangannya dengan cepat dipentangkan memeiuk Ca Ing Ing yang sudah muiai menangis.

Koan Ing menjadi meiengak tapi sebentar kemudian dia sudah paham mengapa gadis tersebut menangis, tentunya gadis ciiik ini iagi merasa takut karena baru untuk pertama kaiinya ditawan dan dikurung.

Peiukannya pada tubuh gadis itupun semakin diperkencang iagi.

"ing ing kau jangan menangis, segaia urusan bakai beres dengan sendirinya."

"Engkoh Ing hatiku benar-benar amat girang seteiah bertemu dengan dirimu,"

Kata Cha Ing Ing mendongak. Dengan periahan Koan Ing membimbing bangun badannya iaiu tersenyum ramah.

"Bagaimana kau bisa sampai disini?"

Tanyanya sambii tertawa.

Waktu itu Cha Ing Ing cuma bisa meiihat bayangan dari Koan Ing secara samar-samar tetapi dia mengerti kalau waktu itu pemuda tersebut lagi memandang ke arahnya.

Air muka berubah menjadi merah jengah, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya tak berbicara.

Beberapa saat kemudian baru angkat kepalanya kembali dan berkata.

"Engkoh Ing sewaktu aku datang kesini sudah menemukan pedangmu, nih aku sudah mengambilkannya buat dirimu."

Selesai berkata dia segera angsurkan pedang yang ada ditangannya itu kepada Koan Ing.

Pemuda itu segera menerima angsuran pedang Kiem-hongkiamnya itu, dalam hati dia benar2 merasa amat berterima kasih terhadap Cha Ing Ing.

"Terima kasih, Ing Ing dimanakah paman Cha? Kenapa kau tidak bersama-sama mereka?"

Tanyanya kemudian dengan hati keheranan.

"Aku tidak tahu, aku tadi kemari seorang diri"jawab Ing Ing. Mendadak dia menarik tangan Koan Ing dan berseru dengan wajah berubah menjadi merah padam.

"Engkoh Ing bukankah pertemuan ini adalah pertemuan yang pertama kalinya buat kita berdua?"

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar keras, mendadak dia menjadi paham kembali peristiwa apa yang terjadi, dia jadi tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.

"Engkoh Ing apa aku benar2 cantik?"

Tanya Ing Ing kembali dengan paras yang berubah semakin merah.

Kembali Koan Ing dibuat bungkam dalam seribu bahasa, dia tidak mengira kalau perkataan yang diucapkan secara geguyon tempo hari sudah ditanggapi dengan begitu serius oleh gadis cilik ini, hatinya benar-benar kebingungan.

"Kau benar-benar amat cantik, tetapi...."

"Engkoh Ing"

Seru Ing Ing dengan girang tidak menanti Koan Ing meneruskan kataknya.

"Tempo hari Sang Siauw-tan ci ci bilang kau tidak baik, aku sedikit tidak percaya...."

Bicara sampai disitu dia termenung berpikir sejenak lalu sambungnya lagi.

"Aku tahu enci Siauw-tan bersikap sangat baik terhadap dirimu bahkan mencintai dirimu, kalau tidak dia tidak mungkin menaiki puncak Sun Li Hong karena dirimu tetapi aku tahu saat ini tak mungkin dia bisa tiba disini, bilamana sekarang...."

Mendadak dia mengangkat kepalanya dengan wajah penuh air mata tambahnya lagi.

"Aku tahu tidak seharusnya aku berpikir demikian, tetapi engkoh Ing aku mengharapkan kita bisa berkumpul untuk selamanya, engkoh Ing kau boleh marah boleh memaki aku asal janganlah mengusir aku dari sisimu"

Lama sekali Koan Ing dibuat berdiri termangu-mangu, sampai lama sekali dia baru menyahut sambil membelai rambutnya.

"Ing Ing bagaimana kalau aku menjadi engkohmu saja?"

"Aku bukan anak kecil lagi, kau tidak usah membohongi aku."

Seru Ing Ing secara tiba-tiba sambil menyampuk tangan pemuda itu, suara tangisnya semakin menjadi.

Koan Ing jadi sangat terperanjat, dengan pandangan terpesona dia memperhatikan diri Ing Ing sigadis itu, selama ini dia tidak pernah menyangka kalau Ing Ing secara diamdiam menaruh hati terhadap dirinya.

agaknya saat ini pemuda tersebut baru mengetahui kalau Ing Ing bukanlah seorang gadis cilik lagi.

Kini dia sudah menginjak dewasa Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya dia baru menghela napas panjang.

"Ing Ing, kau harus tahu bilamana aku sudah ada Siauw-tan...."

Bicara sampai disini tak tertahan lagi dari kelopak matanya mengucur keluar titik-titik air mata, walaupun pergaulannya dengan Siauw-tan tidak cukup lama tetapi hatinya masingmasing sudah saling memahami, dia tidak seharusnya pergi mencintai lagi gadis lain.

Dengan perlahan Ing Ing dongakkan kepalanya memandang ke arah Koan Ing, agaknya baru pertama kali ini dia menemukan kalau rasa cinta dari Koan Ing terhadap Sang Siauw-tan begitu mendalamnya, dalam hati dia mulai merasa menyesal.

Dalam hati Ing Ing sangat mengharapkan dia adalah Sang Siauw-tan sehingga memperoleh cinta kasih dari pemuda tersebut, tetapi dia bukan gadis itu hatinya menjadi sedih....

"Ing Ing, aku tidak bisa menipu dirimu,"

Kata Koan Ing lagi.

Mendengar perkataan tersebut Ing Ing merasa hatinya semakin sedih, kepalanya di tundukkan rendah-rendah sedang air mata mengucur keluar dengan derasnya.

Sambil menundukkan kepalanya gadis itu termenung seorang diri, bayangan dari Koan Ing benar' sudah melekat di dalam benaknya, dia tak bertenaga untuk menghapus bayangan tersebut bagaimana dia harus berbuat pada saat ini?

Kembali gadis itu menangis terseduh2.

Dalam hati Koan Ing pun ikut merasa sedih, bagaimanapun dia merasa Ing Ing adalah seorang gadis yang baik bahkan menaruh rasa cinta terhadap dirinya.

Beberapa saat kemudian Ing Ing baru menarik kembali suara tangisannya, dia melepaskan diri dari cekalan Koan Ing dan berjalan keujung tembok, memejamkan matanya dan duduk bersila.

"Ing Ing,"

Terdengar Koan Ing menyapa sambil berjalan mendekati sisi tubuhnya.

"Bagaimana kalau kita bersamasama melatih semacam ilmu silat?"

Cha Ing Ing tetap memejamkan matanya tidak menggubris, melihat sikap gadis tersebut Koan Ing segera tertawa.

"Bilamana kita bermaksud untuk meloloskan diri dari kurungan ini maka ilmu tersebut harus dilatih baik-baik, kalau tidak sekalipun berhasil meloloskan diri dari kurunganpun belum tentu bisa mengalahkan mereka,"

Mendengar perkataan itu Ing Ing lantas mementangkan matanya kembali memandang ke arah pemuda tersebut. Ooo)*(ooO Bab 38

"ING ING,"

Ujar Koan Ing dengan suara yang amat halus.

"Di dalam ilmu silat aliran Hiat-ho-pay ada semacam ilmu kepandaian yang bernama "Cio Ci Yu Su"

Dan membutuhkan kerja sama dari dua orang yang menyerang menggunakan pedang bilamana dia menghalangi kiri tidak bakal bisa menangkis serangan kanan.

bilamana dia menyerang kanan belum tentu bisa bertahan dari pukulan kiri, tapi ilmu baru berhasil bilamana ada kerja sama yang amat baik, bagaimana kalau kita bersama-sama mencoba?"

Dengan perlahan Ing Ing memejamkan matanya kembali tanpa mengatakan sepatah katapun, dia merasa bilamana berhasil lolos dari situ maka dia bakal berpisah dengan Koan Ing, daripada berpisah lebih baik samasama menemui ajal di tempat ini.

Koan Ing yang melihat Ing Ing tidak mau mengikuti permintaannya, maka dengan perlahan lalu memutar tubuhnya dan berpikir keras.

Di dalam kitab pusaka Boe Shia Koai Mie baik dari Jien Wong maupun dari Song Ing pada mengungkit ilmu untuk menghadapi serangan bokongan, di dalam kitab pusaka pemberian Song Ing ada membicarakan ilmu Cang Su dari Siauw lim-pay sedang Jien Wong pernah memberi ilmu "Boe Jiei Kang"

Dari aliran Hiat Hoo Bun.

Kini setelah termenung sebentar Koan Ing merasa diantara kedua ilmu itulah bisa digunakan untuk menghadapi serangan jaring musuh.

Karena ajarannya terhadap gadis itu di tolaki akhirnya Koan Ing bangun dan mulai berlatih seorang diri, Ing Ing yang mendengar lama sekali tidak terdengar sedikit suarapun hatinya mulai tidak sabaran, dengan perlahan matanya dibuka kembali, terlihatlah waktu itu Koan Ing sedang berlatih ilmu dengan giatnya....

Lama kelamaan Ing Ing tidak tahan untuk berdiam diri lagi di tengah kegelapan itu, dia menarik napas panjang-panjang lagi berseru -dengan perlahan.

"Engkoh Ing."

Waktu itu Koan Ing sedang berlatih hingga di tengah jalan, walaupun begitu dia tidak memusatkan seluruh perhatiannya karena di dalam keadaan waktu seperti ini dia masih harus menjaga serangan dari pihak musuh, karenanya sewaktu Ing Ing memanggil dirinya dengan cepat dia sudah membuka matanya kembali.

"Engko Ing, mari kita bersama-sama melatih ilmu "Cuo Ci Yu Su"

Tersebut,"

Ajaknya sambil menahan isak tangis.

Selesai berkata tak kuasa lagi dia menangis tersedu-sedu.

Dengan termangu-mangu Koan Ing memperhatikan diri Ing Ing, hatinya merasa amat tidak enak, setelah termenung beberapa saat lamanya baru berseru.

"Ing Ing, kau jangan menangis lagi."

Mendengar suara itu bukannya berhenti menangis, Ing Ing malah menangis semakin keras.

Koan Ing tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa dia bungkam dan memandang ke arah Ing Ing dengan melongo.

Setelah menangis beberapa saat lamanya dia baru merasakan dadanya mulai lega.

"Engkoh Ing, mari kita berlatih...."

Ajaknya sambil mengusap kering bekas air mata. Koan Ing pun lantas berdiri dan menjelaskan kedelapan belas jurus ilmu "Cuo Ci Yu Su"

Itu.

Dengan dasar ilmu silat yang baik dari mereka berdua hanya di dalam waktu yang singkat mereka sudah memahaminya.

Ilmu sudah berhasil dipelajari, kini hanya kekurangan sebilah pedang saja, terpaksa Koan Ing serahkan pedang Kiem-hong-kiam itu kepada diri Ing Ing.

"Kau gunakan pedang ini, biar aku memakai sarungnya saja,"

Ujar pemuda itu perlahan.

Ing Ing agak ragu-ragu sebentar, tetapi akhirnya dia menerima juga pedang Kiem-hong-kiam tersebut.

Koan Ing pun lantas mempersiapkan sarung pedang dan dengan menggunakan tenaga gabungan mereka berdua bersama-sama menghantam ke atas pintu batu tersebut.

"Braak...."

Dengan menimbulkan suara yang amat keras pintu tersebut terpentang lebar.

Baru saja mereka berdua siap-siap meloncat keluar, mendadak tampaklah tiga orang lelaki berbaju hitam sudah menghalangi perjalanan mereka, tiga lembarjaring merah dengan cepat dipentangkan dan siap mengurung tubuh kedua orang itu.

Koan Ing segera tertawa terbahak-bahak, tubuhnya berkelebat ke samping sarung pedang yang ada ditangannya segera menekan ke atas jaring merah tersebut.

^ Ing Ing yang berada di sisi pemuda tersebut pun tidak berdiam diri, dia membentak keras dan pedang Kiem-hongkiam ditangannya dengan memancarkan cahaya yang amat tajam membabat ke atas kepala salah seorang diantara orang berbaju hitam itu, Orang berkerudung itu menjadi terperanjat, tubuhnya terburu-buru mengundurkan diri satu langkah ke belakang sedang jaring merahnya dengan cepat dilemparkan ke atas tubuh gadis tersebut.

Ing Ing dengan gerakan yang amat gesit meloncat ke atas, jurus pedang mereka berdua pun dengan cepat berubah, sarung pedang ditangan Koan Ing dengan dahsyatnya membabat pundak orang itu.

Dengan kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki pemuda tersebut mana mungkin orang itu kuat menahan babatan dari sarung nedang Koan Ing ini?

Terdengar dia menjerit keras tubuhnya dengan sempoyongan mengundurkan diri ke belakang sedang jaring yang ada ditangannya sudah terlempar lepas dari tangannya.

Bersamaan dengan gerakan dari Koan Ing segera membabat ke depan menghajar tubuh kedua orang itu.

Pedang serta sarung pedang bersilang di tengah udara, dua buah jaring merah lainnya kena disapujatuh oleh kedua orang itu.

Melihat kedahsyatan dari ilmu tersebut Koan Ing jadi termangu-mangu, dia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dikerahkan melalui ilmu "Cio Ci Yu Su"

Ini bisa berubah demikian dahsyatnya, bukan pemuda itu saja sekalipun Ing Ing pun jadi melengak.

Mengambil kesempatan sewaktu kedua orang muda mudi ini lagi berdiri termangu-mangu itulah ketiga orang berkerudung itu dengan cepat melarikan diri dari situ.

Koan Ing bertukar pandangan sekejap dengan Ing Ing lalu bersama-sama menerjang keluar.

Tetapi sebentar kemudian mereka berdua sudah dibuat tertegun kembali, karena apa yang dihadapinya pada saat ini hanya merupakan reruntuhan belaka sedang bayangan dari ketiga orang berkerudung itu sudah lenyap tak berbekas.

Koan Ing yang melihat reruntuhan itu lalu mengerti kalau tempat itu sudah terbakar musnah, sedang cuacapun waktu itu menunjukkan tengah hari.

Dalam hatinya dia mulai menghitung, dia merasa sejak memasuki ruangan batu hingga sekarang sudah ada dua atau tiga setengah hari lamanya tak disangka dalam waktu yang singkat ini dia sama sekali tidak mengetahui kejadian apa yang sudah berlangsung selama ini, Dengan gesitnya mereka berdua lari ke depan, suasana di sekeliling tempat itu amat sunyi sekali, agaknya tak ada sesosok manusia pun yang masih tertinggal disana, Selagi mereka berjalan mendekati ke tepi hutan mendadak terdengarlah suara seseorang lagi memanggil.

"Aah Koan Siauw-hiap, kiranya kau berada disini", Dengan cepat Koan Ing menoleh ke belakang, kiranya orang yang baru saja menyapa dirinya itu bukan lain adalah Hoo Lieh, dia lantas tertawa.

"Oouw.... kiranya paman Hoo"

Serunya.

"Nona Cha kiranya kaupun ada disini,"

Terdengar Hoo Lien berseru kembali sambil berjalan mendekati mereka berdua.

"Ayahmu Cha Thay-hiap merasa amat cemas sekali atas lenyapnya kau."

"Ayahku sekarang berada dimana?"

Tanya gadis itu cepat.

"Paman Sang dan kawan-kawan kini berada dimana?"

Tanya Koan Ing pula dengan hati cemas.

"Selama tiga hari ini kita melakukan penyerangan dengan dahsyat tetapi tidak berhasil, terpaksa akhirnya kami menyerang dengan menggunakan api, Yuan Si Tootiang serta sebagian dari orang-orang lembah Chiet Han Ku berhasil melarikan diri sedang Cha Thay-hiap sekalian sedang melakukan pengejaran."

Berbicara sampai disitu dia menghembuskan napas lega, dan sambungnya lagi.

"Pangcu sangat menaruh rasa kuatir atas keselamatan dari siocia dan kini telah berangkat ke daerah TiamPian untuk minta bantuan dari si tabib sakti Lam Kong Ceng untuk mengobati luka nona, dia sekarang sudah berangkat tapi pangcu sudah berpesan bilamana ini hari kita berhasil menemukan Koan Siauw-hiap maka aku harus menghantar nona ke daerah Tiam Pian."

Jadi Siauw-tan sekarang masih berada disini?"

Tanya Koan Ing kegirangan. Dengan cepat Hoo Lieh mengangguk.

"Mari, aku antar kalian kesana!"

Serunya. Dengan cepat Koan Ing menoleh ke arah Ing Ing dan ajaknya.

"Ing Ing, mari kita pergi menengok diri Siauw-tan!"

Walaupun dalam hati Ing Ing merasa tidak suka, tetapi di dalam keadaan seperti ini dia mau tak mau harus ikut, dengan hati berat akhirnya dia mengikuti juga kedua orang itu berjalan masuk ke dalam hutan.

Setelah melewati jalan hutan beberapa saat lamanya mendadak Hoo Lieh menghentikan langkahnya dan menepuk tangan tiga kali, dari balik hutan segera muncullah sepuluh orang anak buah dari perkumpulan Tiang-gong-pang.

Diam-diam Koan Ing merasa amat terkejut tidak disangka Hoo Lieh adalah seorang manusia yang berbakat, tidak aneh kalau Sang Su-im begitu menghargai dirinya, cukup dengan penyagaan yang diatur olehnya ini sudah lebih dari cukup untuk menahan serangan yang bagaimana dahsyatnya.

"Saat ini nona masih berada di dalam keadaan tidak sadar diri,"

Ujar Hoo Lieh.

"Karenanya aku tidak berani berlaku gegabah, di sekeliling tempat ini sudah dipasang enam lapis penjagaan ketat dengan empat lapis yang diperlengkapi panah2 beracun. Koan Ing yang mendengar perkataan itu dalam hati merasa amat kagum, dia lalu mengangguk.

"Kali ini harus menyusahkan paman Hoo"

Katanya.

Dengan cepat mereka berjalan masuk ke dalam hutan, tampaklah ditengah-tengah antara pepohonan yang rindang berdirilah sebuah rumah kecil yang dibikin dari kain.

Di dalam ruangan itu tampaklah Sang Siauw-tan dengan wajah yang pucat pasi sedang berbaring di atas sebuah pembaringan.

Dengan langkah yang tergesa-gesa Koan Ing lantas berjalan mendekati badannya dan mengeluarkan tangan gadis itu dari balik pembaringan.

Denyutanjantungnya masih amat lemah sekali seperti keadaan semula, agaknya tak terjadi sedikit perubahanpun atas dirinya.

Dalam hati diam-diam pemuda itu mulai merasa cemas, tempat itu ada seribu li jauhnya dari daerah Tiam Pian, bilamana di tengah jalan luka Sang Siauw-tan terjadi perubahan apa yang harus dia perbuat pada waktu itu?

Apa lagi saat ini dia masih tidak mengetahui apa yang telah terjadi, Mendadak suatu ingatan berkelebat dihati, pikirnya diamdiam.

"Aku sudah memperoleh pelajaran ilmu obat-obatan serta tabib dari Jien Wong, apa kah semuanya ini tak ada gunanya?"

Teringat akan Jien Wong, dalam benaknya kembali terbayang seluruh perkataan yang diucapkan si manusia tunggal dari Bu-lim itu sesaat menjelang kematiannya, Hoo Lieh serta Ing Ing yang melihat wajah Koan Ing diliputi oleh kemurungan agaknya lagi memikirkan satu urusan yang penting mereka tiada yang berani mengganggu, Mendadak....

Koan Ing teringat kembali kalau di dalam pelajaran dari Jien Wong ada semacam ilmu pengobatan yang disebut "Kiem Ciam Than Meh"

Atau ilmu menusuk jarum.

"Paman Hoo, apakah kau membawajarum emas?"

Tanyanya kemudian kepada diri Hoo Lien. Sinar mata Hoo Lieh segera berkelebat tiada hentinya.

"Apakah Koan Ing bisa menyembuhkan penyakit?"

Pikirnya.Dalam hati dia merasa tidak percaya, dia takut bilamana Sang Siauw-tan semakin dibuat parah lagi, waktu itu bagaimana dirinya harus bertanggung jawab terhadap diri Sang Su-im?

Jilid 16

"Paman Hoo kau boleh berlega hati, aku cuma ingin tahu apakah ditubuh Sang Siauw-tan ada hal-hal yang aneh!"

Kata Koan Ing sambil tertawa.

"Dibadannya tidak terdapat apa-apa, tetapi aku tetap akan membawanya kemari!"

Sahut Hoo Lieh sambil mengangguk. Selesai berkata diapun berjalan keluar dari rumah.

"Penyakit enci Siauw-tan apakah bisa disembuhkan?"

Tanya Cha Ing Ing sambil memandang ke arah gadis itu.

Dalam hati ia merasa amat bingung, haruskah dia mengharapkan penyakit Sang Siauw-tan bisa lekas sembuh atau tidak sama sekali?

Baginya kedua keputusan ini sangat membingungkan hatinya.

"Aku sendiri juga tidak tahu."

Sahut Koan Ing sambil tertawa tawar.

"Tetapi bagaimanapun juga aku akan mencoba menyembuhkan dirinya."

Cha Ing Ing dengan perlahan menundukkan kepalanya tidak berbicara lagi.

Pada waktu itulah tampak Hoo Lieh dengan membawa sebuntal jarum emas berjalan masuk dan menyerahkannya kepada pemuda tersebut.

Koan Ing dengan hati ragu-ragu menerima juga jarum emas tersebut, sebenarnya dalam hatinya semula sudah merasa mantap, tetapi kini teringat kalau dirinya tak berpengalaman bilamana sampai meleset bagaimana jadinya?

Lamasekali dia berdiri termangu-mangu, keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.

Hoo Lieh serta Cha Ing Ing yang melihat kejadian ini pada berdiri termangu-mangu, karena mereka tak mengerti kalau pemuda tersebut sedang berbuat apa?

"Koan Sauw-hiap, kau kenapa?"

Terakhir Hoo Lieh tidak kuat menahan sabar lagi dan bertanya.

"Aakh! tidak mengapa."

Seru pemuda itu tersadar kembali dari lamunannya.

Dengan perlahan hawa murninya disalurkan ke dalam tubuh untuk menenangkan hatinya yang lagi bergolak itu, pada saat dan keadaan semacam ini untuk turun tanganpun tidak mungkin, dia terpaksa harus menggunakan seluruh kepandaiannya untuk turun tangan menolong nyawa gadis itu.

Maka tangannya mulai mencabut keluar sebatang jarum emas lalu dengan gerakan yang cepat ditusukan ke dalam urat nadi pada pergelangan tangannya Sang Siauw-tan.

Melihat kejadian itu Hoo Lieh yang berdiri disisinya jadi amat terperanyat sekali.

"Aaach, apa yang sedang diperbuat Koan Ing?"

Pikirnya.

"Bilamana jarum emas itu salah menusuk dan mengenai urat nadinya sehingga darah mengucur keluar terus, apa jadinya nanti?"

Walaupun di dalam hati dia berpikir demikian tetapi tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Terlihatlah waktu itu Koan Ing memejamkan matanya rapat-rapat, sedang kedua jari tangannya ditempelkan di atas ujung jarum tersebut.

Seluruh denyutan jantung serta aliran darah pada tubuh gadis itu dapat dirasa oleh kedua jari tangannya, dia merasa denyutan jantung Sang Siauw-tan serasa telah bergabung dengan denyutan jantungnya sendiri.

Untuk beberapa saat pemuda itu baru membuka matanya kembali dan mencabut keluar jarum emas itu.

"Paman Hoo! penyakit Sang Siauw-tan dapat aku sembuhkan."

Katanya. Mendengar perkataan tersebut Hoo Liae jadi amat girang sekali.

"Bagian manakah yang sudah terluka?"

Tanyanya terburuburu.

"Sewaktu tadi Yuan Si Tootiang hendak pergi, dia telah melengketkan jalan darah Ciauw-yang serta Sam-im denan menggunakan tenaga dalamnya, hal inilah yang membuat Sang Siauw-tan sangat menderita."

"Aaaach.... kiranya begitu."

Seru Hoo Lieh dengan mata berkedip2 tiada hentinya.

"Tidak aneh kalau tak nampak adanya tanda-tanda penyakit pada tubuhnya."

"Paman Hoo!"

Terdengar Koan Ing berbicara lagi sesudah termenung beberapa saat lamanya.

"Coba kau sediakan sekuali air panas yang masih mendidih."

Hoo Lieh mengiakan lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyediakan air panas tersebut.

Tidak selang lama kemudian air panas tersebut sudah disediakan, bahkan kuali yang berisi air panas itu masih tertumpang di atas tungku dengan api yang berkobar-kobar.

"Paman Hoo!"

Ujar pemuda itu lagi sambil menarik napas panyang-panyang.

"Aku hendak menggunakan tenaga dalamku untuk melumerkan kembali kedua buah urat nadi itu, tetapi ada kemungkinan badanku jadi teramat dingin, bilamana nanti badanku jadi dingin harap paman Hoo suka membasahi tubuhku dengan air panas tersebut!"

Hoo Lieh segera memngangguk.

Koan Ing pun lantas membalik badan Sang Siauw-tan dan tempelkan telapak tangannya pada punggungnya, sedang dia sendiri duduk bersila untuk mulai mengerahkan tenaga dalamnya.

Sejurus kemudian seluruh kepala dan keningnya sudah dibasahi oleh keringat sebesar kacang kedelai, hal ini membuat Hoo Lieh yang menonton dari samping merasa amat terperanyat sekali.

Hal yang membuat orang tua itu semakin terkejut adalah keringat yang mengucur keluar itu tidak sampai sedetik telah mulai membeku bagaikan es.

Buru-buru dia memandang badan Koan Ing, dan terasalah badannya amat dingin bagaikan potongan es yang telah membeku, maka dengan cepat dia mengambil air panas dan mengguyurnya dengan amat deras.

Dari atas batok kepala Sang Siauw-tan pun engan perlahan mulai mengeluarkan asap yang amat tipis.

Untuk ketiga kalinya Hoo Lieh merasa amat terperanyat, karena selama hidupnya belum pernah ia menemukan cara pengobatan semacam ini.

Beberapa saat kemudian sekuali air panas telah habis digunakan, Hoo Lieh lalu memerintahkan orang untuk mengambil sekuali air panas lagi.

Kurang lebih setengah jam lamanya itu berlangsung terus, akhirnya Hoo Lieh merasa temperatur dibadan pemuda ini mulai menaik.

"Aaach....!"

Tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan merintih perlahan.

Maka dengan cepat Koan Ing menarik kembali telapak tangan kanannya dan mengatur pernapasannya, seluruh tubuhnya kini sudah basah kuyup oleh keringat, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, jelas kalau untuk menyembuhkan penyakit Sang Siauw-tan tadi ia sudah menggunakan tenaga yang amat besar sekali.

Kurang lebih seperminum teh kemudian Sang Siauw-tan baru membalikkan badannya dan membuka mata.

Bersamaan itu pula Koan Ing pun membuka matanya.

Melihat pemuda tersebut ada di hadapannya, Sang Siauwtan agak melengak, tapi sebentar kemudian dia sudah menjerit keras.

"Angkoh Ing!"

Air mata mengucur keluar dengan derasnya membasahi kelopak matanya yang indah itu.

Koan Ing yang melihat usahanya untuk menyembuhkan luka Sang Siauw-tan ternyata mendatangkan hasil yang memuaskan, maka hatinya amat girang sekali.

"Siauw-tan, kau beristirahatlah dan yangan banyak bicara!"

Serunya sambil tertawa.

Hoo Lieh pun merasa amat giang sekali melihat gadis itu dapat sembuh dan sadar kembali dari lukanya.

Dengan pandangan sayu Sang Siauw-tan memandang wajah pemuda itu terpesona, dia tahu kalau karena menyembuhkan luka dalam yang dideritanya itu pemuda itu sudah mengorbankan tenaga murninya, saking terharunya tak kuasa lagi titik air mata mengucur keluar membasahi pipipnya.

Lama sekali dia baru bertanya.

"Dimana Tia (ayah)? Apakah dia berada dalam keadaan baik-baik?"

"Empek Sang berada dalam keadaan baik-baik, kau tidak usah merasa kuatir!"

Setelah jatuh tidak sadarkan diri selama beberapa hari, ditambah pula sewaktu menyembuhkan lukanya tadi harus mengorbankan tenaga yang amat banyak, saat ini badan gadis tersebut amat lemah dan payah, beberapa saat dia sudah jatuh pulas dengan nyenyaknya.

Koan Ing melihat Sang Siauw-tan telah tertidur, diapun menghembuskan napas lega.

Dengan perlahan ia menoleh ke belakang, tapi sebentar kenudian pemuda itu sudah melengak karena entah kapan Cha Ing Ing ternyata sudah meninggalkan tempat itu tanpa pamit, sedang pedang Kim-kong-kiam tersebut tergantung di atas dinding, jelas kalau dia sudah pergi karena tidak tahan merasa keperian hatinya.

Melihat kejadian ini Koan Ing segera merasakan hatinya ragu-ragu dan kebingungan.

Akhirnya sambil menghela napas ia menoleh dan memandang ke atas wajah Sang Siauw-tan yang tertidur pulas itu....

o-oo-OOO-oo-o Salju melayang turun dengan derasnya, membuat permukaan tanah jadi memutih, tampaklah dua sosok bayangan hitam bergerak maju dengan amat perlahan di atas permukaan salju, mereka bukan lain adalah Koan Ing dan Sang Siauw-tan.

Luka yang diderita Sang Siauw-tan kini sudah sembuh sama sekali.

Hoo Lieh pun telah melaporkan hal ini kepada Sang Su-im dengan burung merpati, di samping itu bukan saja Yuan Si Totiang serta Kaucu dari lembah Chiet Han Kok itu si jaring emas penguasa langit Phoa Thian Cu yang sudah munculkan diri di daerah Tionggoan, bahkan kereta berdarah pun telah munculkan dirinya pula di daerah Tionggoan.

Koan Ing serta Siang Siauw-tan yang menerima berita itu segera melakukan perjalanannya kembali ke daerah Tionggoan.

Perjalanan kali ini memasuki daerah Tibet sama sekali tidak mendatangkan hasil apapun, jejak sikongcu berbaju sutera Boan Ting-seng sampai kinipun masih tidak dikeahui, Jien Wong sudah menemui kematiannya bahkan mereka semua pun hampir-hampir menemui ajalnya di dalam lembah Chiet Han Kok.

Dengan amat cepatnya kedua orang itu melakukan perjalanan ke depan, suatu saat tiba-tiba dari hadapannya muncullah satu titik hitam y6ang semakin lama semakin mendekat.

Koan Ing yang melihat titik hitam tersebut ternyata bukan lain adalah seekor kuda dengan seorang penunggang diatasnya diam-diam merasa amat terperanyat, karena waktu itu dia dapat menemukan kalau orang yang ada di atas punggung kuda itu sudah mati.

Sang Siauw-tan sendiri pun merasa amat terperanyat sekali, setelah mereka saling bertkar pandangan sekejap lantas berjalan mendekati orang itu.

Dia adalah seorang lelaki berusia pertengahan yang pada pinggangnya tersoreng sebilah pedang, seluruh anggota badannya sudah dingin kaku, jelas kalau sudah mati beberapa saat lamanya.

Dengan amat telitinya Koan Ing lantas menggendong mayat itu turun dari atas kudanya dan memeriksanya, ternyata di atas tubuh mayat itu sama sekali tidak ditemukan bekas luka apapun.

Melihat kejadian itu, pemuda tersebut segera mengerutkan alisnya dan termenung.

"Iiiiih, kelihatannya dia mati karena tak dapat bernapas."

Tiba-tiba Sang Siauw-tan menjerit tertahan.

Buru-buru Koan Ing dongakkan kepala mayat itu, sebentar kemudian dia sudah merasa amat terkejut karena pada leher mayat lelaki berusia pertengahan itu terteralah sebuah bekas darah yang amat tawar sekali.

Dengan termangu-mangu mereka kembali saling bertukar pandangan dan bungkam diri dalam seribu bahasa, karena tiada yang tahu dengan menggunakan ilmu pukulan apakah orang itu sehingga dapat menemui ajalnya....

Sambil menghela napas panyang, akhirnya Koan Ing mencabut keluar pedangnya dan menggali sebuah liang untuk mengubur jenazah tersebut.

Setelah selesai mereka berdua baru naik ke atas kuda dan kembali melakukan perjalanan ke depan.

Kurang lebih sepertanak nasi, kemudian dari hadapan mereka kembali muncul seekor kuda dengan sesosok mayat di atas tunggangan kuda tersebut.

"Aaakh! kembali sesosok mayat!"

Seru pemuda itu kepada Sang Siauw-tan.

Terlihatlah Sang Siauw-tan mengerutkan alisnya rapatraoat, dia tetap membungkam.

Setelah kuda itu semakin dekat, mereka pun baru dapat melihat kalau mayat itu adalah mayat seorang kakek tua, padahal lehernyapun tampak bekas berdarah yang memanyang, selain itu sama sekali tak terlihat bekas luka lainnya.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan dongakkan kepalanya memandang ke tempat kejauhan, lalu ujarnya setelah termenung sebentar;

"Apa mungkin karena kita berdua peristiwa ini baru terjadi?"

"Heei.... siapa tahu? Aku tidak mengerti ada jagoan darimanakah yang memiliki sifat begitu kejam dan telengas."

Sahut Koan Ing sambil tertawa tawar. Kembali gadis itu termenung berpikir beberapa saat lamanya.

"Apa mungkin perbuatan itu merupakan hukuman yang dijatuhkan oleh sebuah perkumpulan rahasia di dalam Bu-lim? Tetapi.... heei hal ini tidak mungkin, bilamana ada ayahku disini maka teka-teki ini tentu bisa dipecahkan."

"Wah aku sendiri juga tidak tahu siapakah dia?"

Seru pemuda itu.

Selesai berkata kembali dia mencabut keluar pedangnya dan menggali sebuah lobang pula untuk mengubur mayat si kakek tua itu.

Siapa tahu waktu nitulah kembali muncul seekor kuda dengan sesosok mayat diatasnya pula.

Melihat kejadian itu Koan Ing segera mengerutkan alisnya semakin kencang.

"Apa-apaan ini? Lagi menakut-nakuti orang atau bagaimana?"

Pikirnya dalam hati.

Dengan perlahan dia menoleh ke belakang, tampaklah waktu itu Sang Siauw-tan lagi tersenyum ke arahnya.

Hatinya yang semula merasa amat tidak gembira setelah melihat senyuman manis dari gadis itu diapun ikut tersenyum.

Setelah kuda tadi mendekat merekapun mendapatkan kembali mayat seorang pemuda di atas tunggangannya.

Demikianlah setelah mengubur mayat pemuda itu berturutturut mereka kembali mengubur tujuh mayat.

Walaupun mereka berdua tidak akan jeri oleh kejadian ini tetapi hatinya merasa tidak leluasa juga, benaknya dipenuhi dengan berpuluh-puluh pertanyaan yang mencurigakan, ada permainan macam apakah ini?

Kalau mau cari gara-gara seharusnya menemui secara gagah, buat apa berbuat pekerjaan rendah semacam itu?

Pasa saat mereka lagi berpikir keras itu, dari tempat kejauhan kembali muncul seekor kuda.

Koan Ing segera tersenyum.

"Siauw-tan, coba kau lihat kembali muncul sesosok mayat lagi."

Katanya kepada gadis itu.

"Waah.... waah, kalau begitu ini hari kita harus jadi tukang kubur yang tidak digaji."

Seru Sang Siauw-tan. Koan Ing pun tersenyum lalu memandang ke arah kuda yang ada di tempat kejauhan itu, tiba-tiba dia mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Siauw-tan! kali ini kiranya bukan sesosok mayat."

Serunya keras.

"Ooh yaa? Aakh!! Benar seorang Tosu, tetapi apa maksudnya mencari kita?"

Koan Ing segera menghembuskan napas panyang2 dan memandang sekejap ke arah gadis itu lalu tertawa.

"Dia datang pasti karena kau, karena Tosu itu bukan lain adalah Sak Huan adanya!"

Sang Siauw-tan yang melihat sikap dari Koan Ing ini wajahnya segera berubah jadi merah karena menahan jengah.

"Hmmm! Tojin itu benar-benar bermuka kuali, agaknya dia sudah tidak maui jiwanya lagi."

Katanya. Koan Ing cuma tersenyum saja, lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata.

"Mari kita kesana lihat-liha, aku mau tahu siasat serta rencana busuk apa lagi yang sedang disusun olehnya!"

"Maksudmu dengan mayat-mayat yang kedelapan ini?"

Tanya gadis tersebut sambil mengerutkan alisnya.

Mendengar perkataan itu Koan Ing ta dapat menahan rasa gelinya lagi, diapun tertawa terbahak-bahak karena Sang Siauw-tan sudah menganggap Sak Huan sebagai mayat yang kedelapan.

Dengan wajah yang amat dingin Sak Huan berjalan mendekati kedua orang itu, tetapi sewaktu dilihatnya mereka berdua sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan tertawa dan bercakap2 sendiri seperti tak memandang sebelah matapun kepadanya, maka dalam hati jadi amat gusar sekali.

Dengan wajah hijau membesi dia lantas menyapu sekejap ke arah Koan Ing berdua, kemudian baru tanyanya perlahan.

"Selama perpisahan ini apakah kalian berdua masih dalam keadaa baik-baik saja?"

"Hmm! kiranya hasil kerjamu tadi bertujuan hendak membuat kita ketakutan ya? hee.... hee yangan mimpi."

Teriak Sang Siauw-tan dengan amat gusar. Sak Huan sama sekali tidak menggubris, lewat beberapa saat kemudian dia baru tertawa dingin.

"Aku sudah cukup lama menantikankedatangan kalian!"

"Oow.... kiranya ada urusan apa?"

Tukas Koan Ing tawar. Sak Huan kembali tertawa, lalu menoleh da memandang sekejap ke arah diri Sang Siauw-tan.

"Suhuku Yuan Si Totiang sudah memperoleh kepandaian silat dari Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, agar urusan ini tidak sampai diketahui oleh orang-orang Bu-lim dia membiarkan aku untuk melakukan pekerjaan apapun."

Katanya dingin.

"Dia tidak akan ikut campur di dalam urusanku, tetapi sekarang keadaannya sudah berbeda, dia telah kembali ke daerah Tiaonggoan sedang akupun kini sudah belajar ilmu Hwee Hiat Chiet Sah kang Ki, aku rasa urusan diantara kita tidak dapat diulur-ulur lebih lama, maka ini hari juga aku hendak mengambil suatu keputusan."

"Hmm! mengambil keputusan apa?"

Tanya pemuda itu sambil tertawa menghina. Ooo)*(ooO Bab 39

"Sang Siauw-tan harus kawin dengan aku!"

Seru Sak Huan sambil melirik sekejap ke arah pemuda tersebut.

"Walaupun kau tidak bakal mati tetapi dengan kepandaian silat yang kau miliki kini tidak bakal bisa menangkan diriku lagi, kau pasti akan mati konyol bilamana berani mencari gara-gara. Dan sekarang juga aku akan membawa Sang Siauw-tan lari keujung langit dan hidup bahagia disana, bilamana kau memang sungguh-sungguh mencintai dirinya seharusnya ka harus rela membiarkan aku mengawini dirinya."

"Hee.... hee.... sungguh enak sekali perkataanmu itu! seru Koan Ing yang karena merasa perkataannya itu sama sekali tidak pakai aturan.

"Bilamana di kolong langit semua urusan bisa diselesaikan dengan amat mudah, maka dunia bakal tenang untuk selamanya."

"Engkoh Ing mari kita pergi saja! yangan perduli orang edan itu."

Sela Sang Siauw-tan pula dari samping dengan nada gusar. Sak Huan sama sekali tidak ambil gubris terhadap perkataan dari Sang Siauw-tan itu, dia kembali memandang tajam pemuda itu, lalu berkata.

"Akupun tahu kalau kau tidak bakal setuju, oleh karena itu aku sudah mengambil keputusan untuk menantang kau bergebrak, bilamana kau yang menang tidak bakal aku bisa lolos dari kematian, sebaliknya bilamana aku yang menang kau pun tidak boleh menghalangi niatku membawa dia pergi dari sini."

Sang Siauw-tan yang mendengar perkataan dari Sak Huan ini hatinya semakin gusar lag, teriaknya sambil melototkan matanya lebar-lebar.

"Tutup bacot anjingmu. Engkoh Ing, kau tidak usah gubris orang edan ini lagi."

Koan Ing yang mendengar perkataan dari Sak Huan sama sekali tidak pakai aturan, hatinya pun merasa mendongkol.

"Hmm! selama hidup belum pernah aku menemui orang sekasar seperti kau."

Serunya. Sak Huan tertawa dingin dan dengan perlahan dia mencabut keluar pedang panyangnya.

"Koan Ing, kini dengan cepat kau bakal merasakan kekasaranku!"

Ejeknya sinis.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, tangan kanannya membalik mencabut keluar pedang Kim-hongkiamnya, setelah memasang kuda-kuda dia lantas menubruk ke depan, diantara berkelebatnya sinar pedang dengan membentuk gerakan setengah lingkaran menerjang ketubuh Sak Huan.

Jurus ini adalah jurus 'Nu Jut Sin Kiam' dari ilmu pedang Thian-yu Khi Kiam!

Dengan dinginnya Sak Huan mendengusdia tetap duduk tak bergerak di atas punggung kuanya, mendadak pedang ditangan kanannya digetarkan lalu menyambut datangna serangan pedang Kim-hong-kiam dari Koan Ing.

Wajahnya penuh dihiasi dengan sikap yang amat congkaknya, agaknya kini terhadap diri Koan Ing sama sekali tidak memandang sebelah matapun.

Melihat sikapnya yang sangat jumawa, Koan Ing merasa amat gusar, sinar matanya berkelebat tiada hentinya, mendadak Kim-hong-kiamnya mendengus keras dan miring kesamping, arah tujuannya pun segera berubah.

Inilah yang dinamakan jurus "Cie Ci Thian Yang"!

Kedahsyatan serta keanehan dari perubahan jurus serangan ini membuat Sak Huan yang amat congkak it menyadi terperanyat, tubuhnya buru-buru miring ke samping sedan pedangnya menangkis ke depan.

Koan Ing yang melihat serangannya kembali kena ditangkis maka dengan cepatnya menggerakkan pedangnya kembali merubah jurus.

Tetapi pada saat itulah mendadak dari tubuh pedang yang ada ditangan Sak Huan memancarkan cahaya merah yang amat menyilauka mata, seketika itu juga pedang Kim-hongkiam ditangannya kena terhisap.

Hatinya terasa tergetar keras, dengan sekuat tenaga ia kebaskan pedangnya kesamping, siapa tahu justru karena gerakannya ini kedua bilah pedang itu saling melengket semakin keras lagi.

Dari ujung bibir Sak Huan segera tersungging satu senyuman dingin yang amat tawar sekali.

Koan Ing yang melihat Sak Huan hendak mengajak dia beradu tenaga dalam hatinya terasa amat gusar, dia menarik napas panyang2, mendadak pedang Kim-hong-kiamnya memancarkan cahaya emas yang amat tajam.

Begitu muncul cahaya emas itu ditengah udara segera terdengarlah suara ledakan yang amat keras.

Karena kedua bilah pedang yang saling melengket itu segera tergetar keras, mendadak Koan Ing bersuit nyaring dan pedang Kim-hongkiamnya berhasil ditarik lepas, kemudian langsung melancaran tiga tusukan mematkan.

"Traaaang! traaaang!"

Berturut-turut ketiga tusukan tersebut berhasil ditangkis pula oleh Sak Huan.

Dengan cepatnya Koan Ing melayang ke atas punggung kudanya kembali, di dalam hati ia merasa amat terperanyat, ia sama sekali tak sangka kalau Sak Huan telah memiliki ilmu pedang yang demikian sempurnanya.

Sebaliknya Sak Huan sendiri merasa hatinya semakin terperanyat, karena di dalam pikirannya semula dengan ilmu pengisap dari budak berdarah dimana ia sudah berhasil mengisap tenaga dalam dari banyak orang, saat ini tentu jauh berada di atas pemuda tersebut, karena itu dia baru menggunakan tenaga dalam untuk menghisap pedang Koan Ing yang paksa dia untuk lepaskan pedang mengaku kalah, tidak disangka tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu ternyata tidak berada dibawahnya.

Percobaannya kali ini membuat dalam hati ia merasa sangat mendesir.

Lama sekali kedua orang itu saling bertukar pandanan, mendadak terdengar Sak Huan tertawa dingin.

"Mari kau ikutlah diriku, kita tentukan siapa menang siapa kalah."

Tantangnya.

Koan Ing yang merasa tenaga dalam yang dimiliki Sak Huan pada saat ini tidak lebih hanya seimbang dengan dirinya membuat kepercayaan diri sendiri semakin menebal, maka begitu mendengar Sak Huan hendak menantang dia untuk bergebrak segera tertawa tawar.

"Waktu ini kau telah menyadi perhatian dari para jago di Bu-lim, bilamana kau tidak tahu diri dan terus cari gara-gara, yanganlah salahkan kalau aku bertindak kurang sopan terhadap dirimu."

Ancamnya. Sak Huan segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa, bilamana hari ini kau berhasil melarikan diri, waktu itulah kau beru boleh merasa bangga, sekarang lebih baik yangan banyak bacot dulu!"

Selesai berkata tanpa memperdulikan kedua orang itu lagi, dia lantas menarik kudanya dan putar tubuh berjalan pergi.

Sang Siauw-tan yang melihat Sak Huan tidak dapat berbua apa-apa terhadap diri Koan Ing dia lantas berseru keras;

"Engkoh Ing, halangi dirinya."

Di dalam hati sebenarnya Koan Ing lagi merasa kheki melihat Tosu itu, ditambah lagi teringat akan ketujuh orang yang dibunuh tanpa bersalah itu membuat hatinya semakin terbakar.

Dengan segera dia mengempit perut kudanya dan lari mengejar.

"Hey, Sak Huan, berhenti! Buat apa kita mencari tempat lain? Ayoh turun kita bereskan disini saja."

Sak Huan tertawa terbahak-bahak, dengan cepat dia cambuk kudanya semakin keras lagi menerjang ke depan.

"Hey, Sak Huan, kalau kau bermaksud untuk menentukan siapa menang siapa kalah, kenapa melarkan diri?"

Ejek Koan Ing sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.

Demikianlah mereka berdua satu di depan yang lain di belakang saling berkejaran, sedang Sang Siauw-tan menguntit dari empat kejauhan.' Beberapa saat kemudian mendadak gadis itu merasa keadaan tidak beres, buru-buru teriaknya.

"Engko Ing, berhenti!"

Mendengar suara jeritan itu Koan Ing segera menahan tali les kudanya. Pada saat itulah Sak Huan tertawa terbahak-bahak dan menoleh ke belakang.

"Kalian sudah terlambat untuk menarik diri, kini kalian sudah masuk ke dalam jebakan, tak ada jalan lagi buat kalian untuk melarikan diri."

Serunya.

Begitu mendengar perkataan itu Koan Ing serta Sang Siauw-tan jadi amat terkejut, dengan cepat mereka menoleh kesamping.

Tampaklah dari empat penjuru muncul enam ekor kuda yang mengepung tempat itu rapat-rapat, ditangan setiap orang mencekal sebuah jala merah yang siap-siap disebarkan ke depan.

Keenam orang itu bukan lain adalah enam orang yang mengurung lembah Chiet Han Kok tempo hari, atau dengan perkataan lain mereka adalah jago-jago yang diandalkan oleh Sak Huan.

Hal ini seketika itu juga membuat pemuda itu merasa hatinya tergetar, lalu berdiri termangu-mangu.

Kali ini mereka berdua benar-benar terjebak, kini untuk melarikan diripun tidak bakal terlaksana.

Ditengah kepungan keenam orang penunggang kuda itulah terdengar Sak Huan tertawa Terbahak-bahak.

Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba satu pikiran berkelabat di dalam benak pemuda itu, tubuhnya tahu-tahu meloncat ke depan menyambar tubuh Sang Siauw-tan dan menerjang keluar.

Dengan gusarnya Sak Huan membentak keras, sambil memegang pedangnya dia segera menubruk ke depan dan melancarkan serangan dahsyat mendesak Koan Ing untuk melayang turun kembali.

Koan Ing yang merasa dirinya diserang segera membentak keras, pedang ditangannya pun segera didorongkan sejajar dada.

"Traaang....!"

Dengan cepat sepasang pedan itu saling berbentur satu sama lainnya dengan menimbulkan percikan bunga-bunga api, dan dengan mengambil kesempatan inilah Koan Ing melayang semakin jauh.

Pada saat itulah keenam orang naggota lembah Chiet Han Kok sudah mulai bergerak dan menyaga perjalanannya dari empat penjuru.

Koan Ing segera bersuit panyang, pedang Kim-hongkiamnya didorong pula sejajar dada, ujung pedang di depan sedang tubuhnya mencelat ke atas.

Diantara berkelebatnya sinar pedang dan melayangnya jaring merah yang mengurung tubuhnya terdengarlah suara jeritan ngeri bergema memenuhi angkasa, kiranya salah seorang musuhnya kena ditusuk roboh.

Orang-orang berkerudung itu sama sekali tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan, dan hanya di dalam satu kali gebrakan saja sebuah lengan kanan sudah kena ditabas putus, walaupun begitu baju yang dikenakan pemuda itupun tersobek besar sedang rambutnya awutawutan.

Begitu Koan Ing melayang turun ke atas permuakaan tanah, buru-buru dia duduk bersila dengan pedang diacungkan sejajar keningnya, inilah jurus adu jiwa "Giok Sak Ci Hun"

Dari Hiat Hoo Kiam Hoat.

"Siauw-tan yangan bergerak!"

Pesannya kepada gadis itu.

Sang Siauw-tan tahu dengan tenaga dalam yang dimilik pemuda itu pada saat ini tidak bakal seorangpun yang dapat melukai dirinya, karena itu dia tidak bergerak secara sembarangan sebaliknya duduk dengan tenangnya disisi Koan Ing.

Maka dengan cepatnya Sak Huan serta kelima orang berkerudung itu sudah mengurung tempat itu rapat-rapat, tetapi mereka tiada yang berani bergerak secara gegabah karena pelajaran yang baru saja diperlihatkan oleh pemuda itu sudah cukup membuat mereka merasa jeri.

Walaupun mereka tak ada yang kenal dengan jurus serangan dari Koan Ing, tapi bagaimana pun juga mereka semua adalah jago-jago Bu-lim yang berpengalaman, sudah tentu tidak akan tidak mengerti kalau jurus serangan yang dipersapkan Koan Ing kali ini adalah jurus adu jiwa.

Dengan pandangan yang amat tajam Sak Huan memperhatikan diri Koan Ing dia tahu seluruh tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu sudah dikumpulkan di atas pedangnya, barang siapa diantara mereka ada yang berani maju terlebih dulu dialah yang akan mati nomor satu.

Lama sekali ia termenung, akhirnya dia tertawa dingin.

"Koan Ing, tidak kusangka kau adalah manusia yang tak berguna lebih baik cepat menyerah saja!"

Serunya. Koan Ing membungkam dalam seribu bahasa, tangannya yang sebelah menarik tangan Sang Siauw-tan kencangkencang. Sak Huan yang melihat Koan Ing tidak suka berbicara dia tertawa dingin.

"Sekalipun kau berbuat begitu juga tiada gunanya, akhirnya kau bakal mati juga, aku mau lihat kau kuat bertahan seberapa lama!"

Selesai berkata bersama-sama dengan kelima orang lainnya segera duduk di sekeliling Koan Ing membentuk barisan melingkar.

Dengan pandangan yang ama tawar Koan Ing menyapu sekejap ke arah tiga orang yang ada di hadapannya, kemudian dengan perlahan memejamkan matanya.

Sinar mata Sak Huan kembali berkelebat, dia yang melihat Koan Ing memejamkan matanya dalam hati ingin sekali menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan bokongan, tetapi sewaktu melihat tenaga dalamnya sudah disalurkan seluruhnya di atas pedang tersebut maka dengan hati berat terpaksa menarik kembali niatnya itu.

Sak Huan tahu bilamana dirinya maju melancarkan serangan,maka kematian sudah tentu saja ada diambang pintu, sekalipun Koan Ing yang dihadapinya memiliki tenaga dalam yang jauh lebih rendah dari dirinya pun pada saat ini dia tidak bakal berani maju apalagi tenaga dalamnya seimbang, hal ini semakin tidak mungkin lagi.

"Heeei.... bagaimana pun juga Koan Ing tidak bakal kuat menahan diri lebih lama lagi, walaupun aku tidak mendesak akhirnya dia bakal lelah sendiri, baiknya aku menanti saat yang baik saja."

Pikirnya dihati.

Tanpa banyak cakap lagi diapun duduk bersila disana.

Yang paling ditakuti Koan Ing adalah kelima buah jaring merah itu, asalkan salah satu diantara mereka berenam ada yang berani menerjang secara kekerasan dia sendiripun tidak bakal bisa meloloskan diri dari sana.

Dan untuk memecahkan persoalan ini hanya ada satu jalan saja yaitu berusaha secepatnya memahami ilmu "Ih Cian Hoat"

Serta ilmu tanpa senyata yang baru dipelajari separuh bagian itu.

Dan kini dalam keadaan seperti ini terpaksa dengan menempuh bahaya dia harus mencoba, dia tahu bilamana pada saat-saat ini Sak Huan sekalian melancarkan serangan bukan saja ia tak berhasil menolong nyawanya sendiri bahkan dengan mudahnya bakal mati ditangan mereka.

Tapi keadaan sudah kepepet, mau tak mau ia harus pejamkan matanya untuk berlatih.

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing pejamkan matanya tanpa mengubah jurus serangannya dalam hati jadi kebingungan juga dengan termangu-mangu dia memandang dia memandang ke arahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Hanya di dalam sekejap saja empat jam sudah berlalu dengan cepatnya, sudah beberapa kali dia bermaksud untuk mengajak Koan Ing berbicara, tetapi melihat pemuda itu tetap duduk tak bergerak membuat iapun tidak berani menganggu.

Dan sudah beberapa kali ia hendak menyadarkan pemuda itu tetapi setiap kali dia batalkan niatnya.

Sak Huan pun dengan pandangan tajam memperhatikan terus seluruh gerak-gerik dari Koan Ing, sinar matanya berkedip-kedip, dia tidak menyangka kalau selama empat jam ini jurus serangan pedang ditangan kanan penuda itu sama sekali tidak berubah, diapun menaruh rasa kagum atas kelihayan dari Koan Ing.

Dengan perlahan Sak Huan menarik napas panyangpanyang, dia ingin melihat pemuda itu kuat bertahan berapa lama lagi.

Sinar matanya mulai beralih ke atas wajah Sang Siauw-tan yang amat cantik itu, kembali berpuluh-puluh persoalan berkelebat di dalam benaknya.

Lama sekali Tosu itu termenung, tiba-tiba ia mendengus.

"Sang Siauw-tan, kau tidak usah bersama-sama dengan Koan Ing lagi!"

Serunya perlahan.

"Bangsat! Nenek kura-kura, Tosu cabul, kau tidak usah banyak bacot lagi."

Maki gadis itu sambil mencibirkan bibirnya.

"Hee.... hee.... asalkan aku sehari bisa hidup di dunia, aku bersumpah pasti akan mendapatkan dirimu."

Kata Tosu itu sambil tertawa cengar-cengir.

"Walaupun kau marah tetapi sikapmu itu semakin menambah rasa cintaku terhadap dirimu, bagaimana juga akhirnya kau pasti milikku."

Sang Siauw-tan yang melihat semakin bicara Sak Huan semakin tidak kenal sopan, dia jadi gusar sekali.

"Bangsat cabul, kau tidak usah mengingau disiang bolong."

Dengan termangu-mangu dan pandangan terpesona Sak Huan masih memandang wajah Sang Siauw-tan yang penuh dihiasi rasa gusar itu, hatinya benar-benar menaruh rasa cinta pada dirinya, dia merasa gemas tak berhasil menangkap tubuh Sang Siauw-tan, menelanyanginya lalu menidurinya.

Baru saja ia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dalam benaknya teringat sesuatu.

"Iiih, kenapa selama ini Koan Ing tak berbicara?"

Serunya tertahan Dia tahu setiap kali dirinya bersikap kuarng ajar pada Sang Siauw-tan, pemuda itu pasti akan gusar, tapi kali ini Koan Ing sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun, hal ini benarbenar membuat hatinya keheranan.

Pada saat itulah mendadak Koan Ing membuka matanya kembali dan tersenyum kepada gadis itu.

"Siauw-tan, sekarang kita boleh pergi!"

Serunya.

Selesai berkata dengan perlahan dia menurunkan kembali pedang Kim-hong-kiamnya.

Sak Huan yang melihat sikap dari Koan Ing ini segera dibuat tertegun, di bawah kurungan enam orang jagoan yang memiliki tenaga dalam amat dahsyat ternyata pemuda itu masih berani berbicara seenaknya, hal ini bukankah sama saja tidak memandang sebelah matapun kepada mereka?

"Hee....

hee....

kau ingin keluar dari sini?

hmm!

Boleh....

boleh, aku mau lihat kau hendak menggunakan cara apa?"

Ejeknya kemudian setelah tertegun beberapa saat lamanya. Dengan pandangan dingin Koan Ing menyapu sekejap keempat penjuru, mendadak kepada Sang Siauw-tan ujanya;

"Siauw-tan! kau jalanlah lebih dulu!"

Selesai berkata tangan kirinya yang merangkul pinggang gadis itu dilepaskan dan mendorong tubuhnya keluar.

Bersamaan itu pula Sang Siauw-tan enjotkan badannya ke depan, dengan menggunakan tenaga gabungan itulah dengan ringannya dia berhasil melayang jauh keluar kalangan.

Sak Huan yang melihat kejadian ini segera mendengus dingin, pedangnya dibabatkan ke depan menghalangi gerakan Koan Ing sedang kelima lembar jaring merah itupun bersamasama menggulung ke arah pemuda tersebut.

Koan Ing sedikitpun tidak jadi gugup, sewaktu pedangnya saling bentrok dengan pedang Sak Huan itulah dia meminyam tenaga pantulan itu, dia melayang mundur ke belakang.

Tetapi pada saat itu sebuah jaring kembali mengancam dari atas kepalanya.

Sak Huan tertawa dingin, tubuhnya merendah sedang pedangnya dengan gerakan yang amat cepat menusuk pemuda itu.

Koan Ing yang diserang dari empat penjuru dengan cepat membentak keras, anggota badannya dikerutkan dan di dalam waktu yang bersamaan itu ilmu merebut senyata dengan tangan kosong serta Ih-cin-hoatnya dilancarkan keluar.

Tubuhnya lemas sama sekali tak bertenaga, dimana jaring merah itu menutup segera mendapatkan sasaran yang kosong.

Melihat kedahsyatan dari ilmu tersebut keenam orang itu jadi amat terperanyat, pada waktu itulah Koan Ing bersuit nyaring, tubuhnya menggetar lalu meloncat ke arah Sang Siauw-tan.

Melihat kejadian itu Sak Huan merasa sangat terkejut bercampur gusar, diapun membentak keras, diantara berkelebatnya sang tubuh tahu-tahu dia melancarkan satu cengkeraman mengancam pinggang pemuda tersebut.

Jarak antara Koan Ing dengan dirinya tidak lebih cuma lima depa, dengan cepatnya cengkeraman itu telah mencapai pada sasarannya.

Sewaktu hatinya lagi merasa teramat girang itulah mendadak dia merasakan kelima jarinya seperti menangkap suatu benda yang amat licin, tahu-tahu Koan Ing sudah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman itu.

Melihat kejadian itu Sak Huan baru merasa hatinya berdesir, dengan kerasnya satu tendangan dari Koan Ing telah bersarang di atas pundak kanannya membuat saking sakitnya dia mendengus berat, sedang pedang ditangannya kena terpukul jatuh.

Dengan meminyam tenaga tendangan tadi Koan Ing pun lantas melayang kesisi tubuh Sang Siauw-tan lagi.

Melihat pemuda pujaannya memperlihatkan ilmu sakti Sang Siauw-tan benar-benar merasa amat girang.

"Engkoh Ing!"

Teriaknya.

"Ilmu silat apa yang baru saja kau gunakan? Sungguh dahsyat sekali."

"Haa.... haa, ilmu biasa saja, Siauw-tan! mari kita pergi, tidak usah urusi mereka lagi."

Ajak Koan Ing lagi sambil tertawa terbahak-bahak.

Selesai berkata sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka berdua kembali melakukan perjalanan ke depan.

Sak Huan sekalian enam orang yang melihat kelihayan dari ilmu silat pemuda itu, hatinya sudah merasa amat jeri sehingga tak seorang pun yang berani turun tangan mencegah, walaupun melihat kedua orang itu meninggalkan tempat tersebut dihadapan mata kepala mereka sendiri.

Sak Huan yang pundak kanannya kena ditendang saat ini merasa amat sakit serasa menusuk ke dalam tulang sumsum, maka sambil menggigit kencang bibirnya dia berusaha tidak sampai merintih.

Sebenarnya di dalam hatinya dia bermaksud untuk melanjutkan pengejarannya tetapi teringat akan kelihayan dari pemuda tersebut hatinya kembali merasa jeri.

"Sungguh aneh sekali!"

Pikirnya dihati.

"Sejak kapan Koan Ing berhasil mempelajari ilmu silat yang sedemikian aneh dan lihaynya ini?"

Dia menggigit bibirnya kencang-kencang, dalam hati benarbenar merasa amat gemas dan kecewa.

"Pokoknya pada suatu hari aku harus bisa membinasakan diri Koan ing dan rebut Sang Siauw-tan!"

Batinnya kembali.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau rencana bagus dan rapat yang disusunnya selama ini berhasil juga digagalkan oleh pemuda itu, dia merasa kecewa kenapa tadi tidak melancarkan serangan ke arah Koan Ing sewaktu pemuda itu lagi berlatih.

Saking khekinya Sak Huan mendepak-depakan kakinya ke atas tanah dan putar badan berlalu dari sana.

Dan karena Yuan Si Totiang sudah berjanji dengan dirinya, ia cuma mau membantu dirinya untuk kali ini saja lain kali untuk menghadapi Koan Ing ia harus turun tangan sendiri....

Walaupun dalam hati ia tahu kalau dirinya bukanlah tandingan pemuda tersebut tetapi bilamana tidak berhasil membinasakan Koan Ing hatinya benar-benar merasa tidak puas.

Tetapi harus menggunakan cara apakah untuk menghadapi pemuda itu?....

Sembari berjalan seorang diri Sak Huan mulai memikirkan siasat-siasat busuk dan licik lainnya untuk menghadapi Koan Ing dikemudian hari....

Koan Ing serta Sang Siauw-tan yang berhasil meloloskan diri dari Sak Huan sekalian dalam hati merasa amat lega, bilamana bukannya keinginan hidup yang mendesak dia untuk mempelajari ilmu2 sakti tersebut mungkin pada saat ini mereka berdua sudah menemui ajalnya.

Sang Siauw-tan merasa hatinya amat girang sekali.

"Engkoh Ing."

Ujarnya sambil tertawa.

"Ini hari kau berhasil memberi suatu pelajaran yang keras terhadap Sak Huan si Tosu cabul dan laknat itu!"

Ooo)*(ooO Bab 40

"Untung sekali mereka tidak melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan sewaktu aku berlatih, kalau tidak entah apa jadinya waktu itu?"

Sahut Koan Ing tertawa. Sang Siauw-tan tersenyum, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu, mendadak dia menjerit tertahan.

"Aaakh! Ada orang datang."

Serunya.

Koan Ing pun dengan cepat menoleh ke depan, tampaknya disebuah bukit disebelah kiri mereka, berdirilah seekor kuda putih dengan tegaknya, maka buru-buru ia mencegah Sang Siauw-tan untuk mendekati tempat itu.

"Jangan kesana, belum tentu dia datang untuk mencari kita."

Serunya cepat.

Sang Siauw-tan menarik napas panyang-panyang, karena dia merasa orang itu pasti munculkan diri karena diri mereka berdua.

Di dalam benak Koan Ing pun sebetulnya mempunyai perasaan demikian, tapi urusan sudah jadi begini, bilamana mereka harus menghindar diri hal ini sangat tidak sedap dipandang, tapi....

siapakah orang itu?

Dengan menyalankan kudanya perlahan-lahan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya mendekati si pemuda berbaju putih yang ada di atas kuda putihnya itu.

Sewaktu pemuda itu melihat kedua orang itu berjalan mendekati ke arahnya dengan segera lalu bertanya dengan suara yang amat keras.

"Yang datang apakah Koan siauw-hiap?"

Koan Ing memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan lalu tertawa tawar.

"Cayhe benar Koan Ing adanya!"

"Kalau memang saudara adalah Koan Siauw-hiap, tentunya kau pun sudah bertemu dengan tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat dari pangcu kami bukan?"

Baik Koan Ing mapun Sang Siauw-tan sama-sama merasa amat terkejut, semula mereka menganggap munculnya tujuh sosok mayat itu adalah hasil permainan dari Sak Huan, tidak disangka dugaannya adalah salah, kiranya perbuatan itu merupakan tanda dari satu perkumpulan tertentu.

"Eeeei.... kalau begitu apa nama perkumpulan kalian?"

Tanya Sang Siauw-tan dengan rasa keheranan.

"Nama besar perkumpulan kami sudah terkenal di dalam Bu-lim, bilamana kalian berdua tidak mengetahui tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat, hal ini membuat kalian sangat bodoh sekali."

Sahut pemuda berbaju putih itu tawar.

Kembali Koan Ing dan Sang Siauw-tan merasa terkejut, memang mereka pernah dengar kalau tempo hari di dalam Bu-lim pernah ada sebuah perkumpulan yang bernama "Sin Ti Pang"

Yang menggunakan "Tujuh Sosok Mayat Penyambut Tetamu Terhormat"

Sebagai penghormatan.

Tetapi kejadian itu merupakan peristiwa pada empat puluh tahun yang lalu, tidak disangka hari ini perkumpulan tersebut kembali munculkan dirinya.

Mereka ternyata sudah menggunakan penghormatan "Tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat"

Hal ini membuktikan kalau mereka sangat menghargai dirinya.

"Oooouw.... kiranya Sin Ti Pang!"

Sahut Koan Ing sambil tersenyum manis.

"Dimanakah pangcu kalian? hantarkan aku pergi menghadap."

Pemuda berbaju putih itu tidak mengucapkan sepatah katapun, iapun segera memutar kudanya dan menuruni bukit tersebut.

Di belakang bukit itu ada sebuah tempat yang terhindar dari tiupan angin, salju yang melapisi permukaan tanah amat tipis sekali sehingga tampaklah batu-batu cadas hitam yang besar dan tajam.

Dengan dipimpin oleh pemuda berbaju putih itu mereka berdua melakukan perjalanan beberapa saat lamanya, yang akhirnya sampailah mereka disebuah mulut selat.

Pada kedua belah samping selat itu yang separuh merupakan batu-batuan yang amat besar sedang sebagian lagi merupakan tanah ladang yang bersalju, di atas tanah bersalju itu tampaklah dua kursi kosong ditengah-tengah meja duduklah seorang lelaki berusia pertengahan dengan wajah berwarna kuning serta dua orang bocah cilik berdiri dibelakangnya.

Maka dengan cepat Koan Ing meloncat turun dari kudanya, dan pada waktu itulah terdengar si pemuda berbaju putih itu berseru.

"Koan Ing tiba!"

Dengan perlahan lelaki berbaju putih itu bangun berdiri dan tertawa.

"Kiranya kau adalah Koan Ing yang namanya mulai menanyak di dalam dunia persilatan, cuma aku merasa heran bagaimana mungkin kedatangan dari Koan Siauw-hiap begitu lambat, maaf aku "Sin Ti Lang Cun"

Atau si lelaki tampan seruling sakti Ti Siuw-su tidak menyambut dari tempat kejauhan."

Sinar mata Koan Ing berkelebat karena teringat kalau penghormatan "Tujuh sosok mayat penyambut tetamu"

Itu merupakan tanda buat seorang tetamu terhormat dari Sin Ti Pang, bisa juga merupakan tanda bagi seorang musuh bebuyutan dari perkumpulan tersebut.

Tetapi dirinya tak ada ikatan sakit hati apa-apa dengan mereka, ada maksud apa ia mengundang dirinya datang?

"Ti Pangcu!"

Sapanya kemudian sambil tersenyum.

"Ada urusan apa kau orang mengundang cayhe."

Dia tidak menyawab pertanyaan dari Koan Ing itu sebaliknya malah berkata.

"Nona itu tentunya nona Sang Siauw-tan putri kesayangan dari Pangcu Tiang-gong-pang bukan?"

"Benar!"

Sahut Koan Ing lagi sambil tertawa.

"Entah ada urusan apa Ti Pangcu mengundang kami datang kemari?"

Sin Ti Lang Cun tertawa dan maju dua langkah ke depan.

"Dikarenakan ayahku meninggal dunia, maka selama empat puluh tahun ini perkumpulan Sin Ti Pang belum pernah munculkan dirinya kembali di dalam dnia kangouw, tapi kini berhubung urusan kereta berdarah sekali lagi kami munculkan diri, kami mengundang kalian berdua datang kemari justru karena ada tiga urusan penting."

Sang Siauw-tan yang melihat Sin Ti Lang Cun berlagak misterius, pertama-tama dia yang merasa tidak sabaran.

"Ti Pangcu, cepat kau katakan!"

Serunya. Ti Siuw-su tersenyum, dia merendek sejenak, kemudian berkata kembali.

"Pertama, perkumpulan yang terbesar di dalam kolong langit pada saat ini boleh dihitung adalah partai Sin Ti Pang kami, atau dengan perkataan lain kami harap kalian berdua suka menyampaikan kepada Sang Su-im untuk mengembalikan kedudukan di dalam daerah Tionggoan itu kepada partai Sin Ti Pang kami."

"Hmm! kau lagi bermimpi."

Teriak gadis itu sambil tertawa dingin. Tetapi Ti Siuw-su sama sekali tidak jadi marah, dia tersenyum, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.

"Kedua, aku minta kalian berdua masuk menyadi anggota perkumpulan kami, bilamana kita sudah menyadi satu keluarga maka diantara kitapun tidak usah terjadi bentrokan lagi!"

Selesai berkata dia putar badan kembali ke tempatnya semula.

"HM! urusan ini harus kita putuskan sendiri bukan?"

Seru Koan Ing tawar. Sewaktu Ti Siuw-su hampir mendekati bangkunya itulah mendadak dia putar badan dan berkata lagi dengan wajah yang amat keren.

"Dan terakhir aku menginginkan kereta berdarah! kalian yang datang kemari karena penghormatan "Tujuh sosok mayat penerima tetamu terhormat"ku tentunya tahu juga bukan akan maksudku!"

Sinar mata Koan Ing segera berkelebat, dia tahu maksud Ti Siuw-su adalah mengartikan kalau mereka adalah musuh bukan kawan, maka dengan cepat ia mendengus dan menoleh ke arah Sang Siauw-tan.

"Siauw-tan!"

Serunya keras.

"Aku sama sekali tidak menyangka kalau Sin Ti Pang yang tempo dulu pernah menyagoi Bu-lim, ternyata tidak cukup saatnya untuk bergerak, biasanya orang-orang Bu-lim bekerja dengan mengandalkan kekuatan sendiri, perbuatan semacam ini baru aku temui untuk pertama kalinya!"

"Heee.... heee.... kau tidak usah menyindir aku lagi."

Sahut Ti Siuw-su sambil tersenyum.

"Sejak semula aku pun sudah tahu kalau kalian tidak bakal menurut, satu-satunya cara pada saat ini adalah berusaha untuk sementara waktu yangan bergebrak, aku mau menanti kalian pikir masak-masak dulu."

Koan Ing yang melihat Ti Siuw-su bermaksud hendak menahan mereka, diapun lantas tersenyum.

"Kalau begitu pangcu ingin minta beberapa petunjuk ilmu silatku bukan?"

Sindirnya lagi. Ti Siuw-su cuma tersenyum saja tanpa mengucapkan sesuatu, sebaliknya pemuda berbaju putih yang ada disisinya sudah berteriak.

"Buat apa pangcu turun tangan sendiri, cukup tecu saja sudah lebih dari cukup untuk menghadapi dirinya."

Sejak semula Ti Siuw-su memang kepingin mengerti seberapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Koan Ing, kini mendengar perkataan dari pemuda berbaju putih itu dia lantas mengangguk.

"Di bawah nama besar tak bakal ada manusia goblok, kau jangan terlalu memandang enteng dirinya!!"

Pemuda berbaju putih itupun segera barjalan maju ke depan dan bungkukkan dirinya memberi hormat, sesudah itu sambil mencabut keluar sebatang seruling besi ujarnya.

"Koan sauw-hiap, silahkan memberi beberapa petunjuk."

Koan Ing tertawa tawar, dia tahu dengan nama besar serta kejajaan dari perkumpulan Sin Ti Pang tempo hari, pada saat ini tidak akan berbuat gegabah, di sekeliling tempat ini tentu sudah dikurung oleh mereka....

Karena itu diapun tabu untuk meloloskan diri dari tempat itu bukanlah satu persoalan yang mudah.

"Bagus sekali!"

Ujarnya kemudian.

"Di-bawah perkumpulan Sin Ti Pang pasti ada jagoan yang lemah, aku rasa kepandaian silat yang jien-beng milikipun pasti sangat mengejutkan sekali."

Dengan perlahan dia mencabut keluar pedang kiem-hongkiamnya, dengan ujung pedang menghadap tanah dia memandang tajam ke arah pemuda berbaju putih itu.

Pemuda berbaju putih itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dengan diiringi suara jeritan yang tajam senjata seruling yang ada ditangannya segera melancarkan serangan menotok alis dari diri Koan Ing Tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing pada saat ini sama saja dengan tenaga dalam yang dimiliki jagoan kelas wahid di dalam Bu-lim, jika dibandingkan dengan pemuda berbaju putih ini sudah tentu perbedaannya sama dengan langit dan bumi.

begitu tubuhnya mencelat maju ke depan pedang panjangnya bagaikan kilat menutul ke atas ujung seruling yang ada ditangan pemuda itu.

Sin Ti Langcoen yang melihat gaya serangan dari Koan Ing ini hatinya merasa sangat terperanjat, juga karena dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya, baru saja ia hendak mencegah tahu-tahu ujung pedang dari Koan Ing sudah menempel di atas ujung seruling pemuda berbaju putih itu.

Walaupun pemuda itu bisa melihat dengan gerakan bagaimana Koan Ing melancarkan serangan, tapi dengan kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing bagaimana mungkin pemuda berbaju putih itu bisa menghindarkan dirinya, maka terasalah pergelangan tangan kanannya tergetar amat keras seruling besinya sudab dipukul miring kesamping.

Hatinya segera merasa berdesir, maka dengan cepat seruling besinya ditarik kembali inilah jurus "Seng Kwang Hwee In"

Atau sinar bintang berkelebatan, yang merupakan jurus bertahan dari ilmu serulingnya.

Koan Ing tertawa tawar, pedang kiem-hong-kiamnya segera diangkat ke atas bersamaan dengan tubrukan badannya ke depan kaki kanannya melancarkan satu tendangan kilat menghajar pergelangan tangan dari pemuda berbaju putih.

Buru-buru pemuda itu menekan pergelangannya kebawah.

pada saat itulah pedang Koan Ing mendengung ditengah udara lalu ujung pedangnya sambil berputar menerobos turun kebawah.

jurus seranganpun berubah jadi jurus "Cie Ci Thian Yang."

Saking terkejutnya Pemuda berbaju putih itu menjerit kaget, buat dia tak sempat untuk menghindarkan diri lagi terpaksa sambil pejamkan matanya menanti kematian.

Siapa tahu pada saat itulah Koan Ing sudah menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kembali ke tempat asalnya.

Sang Siauw-tan yang ada di samping setelah melihat Koan Ing menang dia segera tertawa senang ejeknya.

"Ti Pangcu! parkumpuian kalian patutnya diberi nama di bawah nama besar sabenarnya tidak ada jagoan palsu!!"

Ti Siuw-su sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing sedemikian tingginya, diam-diam dia merasa terkejut.

Sebenarnya ilmu silat yang dimiliki pemuda berbaju putih itupun juga tidak rendah siapa tahu hanya di dalam tiga jurus saja sudah jatuh kecundang.

Dia manatik ttapas panjang-panjang dan pujinya tawar.

"Nama besar Koan siauw-hiap ternyata bukan nama kosong belaka."

"Oooouuw.... jadi Ti pangcu mau memberi pelajaran juga kepadaku!"

Seru Koan Ing sambil tertawa. Mendengar perkataan itu Ti Siuw-su segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa Koan siauw-hiap, apakah kau tahu bagaimanakah cara kematian yang dialami oleh ketujuh orang penyambut tetamu terhormat itu?"

Tanyanya.

"Cayhe memang tidak tahu. tetapi aku rasa urusan itu tiada sangkut pautnya dengan urusan kita."

Ti Siauw Su tidak menggubris dirinya, mendadak dia bertepuk tangan tiga kali, dan dari balik batu segera munculah dua belas orang lelaki berbaju putih.

"Heee.... heee.... sebentar lagi kau bakal tahu, bagaimana lihaynya,"

Ejeknya sambil tertawa.

Dengan pandangan yang amat dingin Koan Ing menyapu sekejap ke arah dua belas orang itu, dia yang pernah merasakan kepungan dari hweeshio2 Siauw-lim-si beberapa kali, sudah tahu pada saat ini tidak bakal memandang sebelah matapun terhadap mereka.

"Ti pangcu! apakah kau ingin mencoba kepandaian silatku lagi kemudian baru suka turun tangan sendiri!"

Ujarnya tertawa.

"Koan Ing! haaa.... haaa.... kau terlalu sombong yang tidak memandang sebelah matapun kepada kami!"

Seru Ti Siauw Su sambil tertawa terbahak-bahak."

Haruslah kau ketahui bilamana ini hari kau berhasil meloloskan diri dari kepungan barisan Sang Loo Tin dari perkumpulan Sin Ti Pang kami. urusan ini hari juga kita bikin selesai."

Sinar mata pemuda itu segera berkelebat, tampaklah Ti Siuw-su selesai berkata segera kebutkan ujung bajunya kemudian dengan membawa pemuda berbaju putih dia berlalu dari sana.

Koan Ing pun lantas menarik tangan Sang Siauw-tan "Siauw-tan, kitapun harus pergi!"

Serunya.

Mereka berdua pun dengan cepat berjalan ke depan untuk berlalu dari sana.

Sejak tadi kedua belas orang berbaju putih itu sudah pada mencabut keluar senjala seruling besinya, baru saja kedua orang hendak berjalan melalui batu-batuan mendadak terasalah ada tiga orang bersenjatakan seruling besi dua dari belakang dan satu dari depan melancarkan serangan gencar.

Pedang ditangan kanan Koan Ing segera didorong ke depan mendesak mundur orang yang ada di depan sedang Sang Siauw-tan dengan disertai suara bentakan yang amat keras membalikkan badannya melancarkan dua sentilan jari menghajar dua orang yang dibelakangnya.

Belum habis jurus serangan mereka gunakan mendadak ketiga orang itu sudah mengundurkan diri ke balik batu sedang tiga orang lainnya munculkan dirinya kembali, ketiga orang serta ketiga batang seruling besi itu dengan amat tepat berhasil menangkis datangnya serangan kedua orang itu.

Sang Siauw-tan serta Koan Ing yang melihat kejadian itu jadi amat terperanjat, ketepatan dari ketiga batang seruling untuk menggagalkan serangan tersebut sungguh tepat sekali, hal itu benar-benar membuat ke dua orang itu tak dapat berkutik.

Baru saja mereka berpikir keras, kembali menyusul tiga orang dengan tiga batang seruling menangkis pedang Koan Ing untuk kemudian ditekan ke arah bawah.

Kerja sama diantara mereka ini benar-benar luar biasa rapatnya, maju mundur dilakukan bagaikan angin.

Koan Ing yang belum sempat berpikir apa-apa tahu-tahu pedang kiemhong-kiamnya kena diapit dan ditekan ke bawah hatinya jadi merasa amat terperanjat, kini berada di dalam posisi semacam itu berarti pula telah kehilangan seluruh tenaga untuk melawan Pada saat tiga orang musuhnya berkelebat ke samping itulah tampak empat untai benang serat yang amat kuat dilemparkan ke depan hendak menjerat leher Koan Ing berdua.

Kembali pemuda itu merasa berdesir pikirnya.

"Aaaach.... kiranya demikian, jika dilihat dari kerja sama mereka yang bagitu erat tentu ketujuh mayat tadi mati karena terjerat oleh benang serat yang amat kuat ini, agaknya ini hari akupun sukar untuk meloloskan diri."

Kedua belas orang itu dibagi menjadi empat kelompok yang maju dan yang mundur bekerja sama dengan eratnya, hampir boleh dikata mereka sama sekali tak memberi kesempatan untuk dirinya berdua buat berganti napas.

"Engkob Ing, hati-hati...."

Tiba-tiba terdengar Sang Siauwtan menjerit keras.

Berturut-turut dia melancarkan tiga buah sentilan jari menghajar ke arah musuh.

dia tahu bilamana di dalam keadaan semacam ini dirinya tidak turun tangan dengan cepat mungkin mereka berdua akan segera menemui ajalnya.

Ilmu jari "Han Yang Ci"

Merupakan ilmu sakti turunan keluarga Sang, ketiga buah sentilan tadi seketika itu juga menahan datangnya tiga utas benang serat yang mengancam datang.

"Haaa.... haaa.... mereka bertujuh pun pada mati di dalam barisan ini,"

Terdengar suara dari Ti Siauw Su berkumandang keluar dari balik batu.

Koan Ing benar-benar merasa hatinya tergetar keras.

karena walaupun Sang Siauw-tan berhasil menahan datangnya serangan tersebut tetapi kembali muocul tiga orang yang bersama-sama melancarkan serangan ke arahnya kali ini mereka berubah jadi satu depan dua belakang bersama-sama menggencet kedua orang ini.

Kecepatan dari berubahnya barisan itu benar-benar tidak memberi kesempatan bagi Koan Ing untuk memikirkan cara yang baik untuk menghadapi mereka, kini dia membentak keras pedangnya berturut-turut menusuk ke depan dengan menggunakan jurus "Hay Thian It Sian yang amat lihay.

Barisan "Seng Loo Tin"

Pun mulai berulah berputar, dari antara seruling besi yang berkelebat tiada hentinya itu secara samar-samar mulai mengeluarkan suara yang amat nyaring, Koan Ing yang setiap kali melancarkan serangan dengan menggunakan jurus serangan apapun pasti kena ditangkis lama kelamaan mulai terdesak juga, baru saja berjalan lima puluh jurus mereka berdua mulai merasa tidak tahan.

Seluruh aagkasa dipenuhi dengan berkelebatnya benang serat yang amat kuat, Sang Siauw-tan yang tidak berhasil mengatur pernapasannya saat ini benar-benar kepajahan, wajahnya berubah pucat pasi sedang napasnya tersengalsengal.

Di dalam keadaan terpaksa Koan Ing segera menggunakan lengan kirinya untuk menangkisi setiap serangan benang serat yang mengancam dirinya, walaupun dia mempunyai ilmu "In Cing Hoat"

Tetapi serangan yang menggunakan tenaga dalam ini mana dapat dipergunakan olehnya, kini pakaiannya robek2 sedang sebuah bekas berdarah membekas pada lengannya itu.

Sekali lagi Ti Siuw-su tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa Koan Ing!! Lebih baik kau lempar pedangmu itu dan menyerah kalah saja!"

Sambil menggigit kencang bibirnya pemuda itu tak mengucapkan sepatah katapun, berturut-turut dia melancarkan tiga serangan dahsyat.

Mendadak terdengarlah suara dengusan ringan, maka buruburu dia menoleh ke belakang tampaklah Sang Siauw-tan dengan wajah pucat pasi karena kehabisan napas terjatuh ke atas tanah.

Dia jadi amat terkejut, dengan cepat tangan kirinya menyambar tubuh gadis tersebut.

Ditengah suara tertawa yang amat keras kembali ada tiga batang seruling besi menekan ke arahnya, maka dengan cepat pemuda itu menggerakkan pedang kiem-hong-kiamnya untuk menangkis, tetapi pada saat yang bersamaan pula kembali tiga batang seruling menyambar datang.

Dengan gusarnya Koan Ing meraung keras, tubuh Sang Siauw-tan yang ada dilangan kirinya segera dilepaskan sedang pedangnya dengan gencar melancarkan serangan mendesak mundur ketiga orang itu.

Jurus yang digunakan olehnya ini bukan lain adalah jurus "Giok Sak Ci Hwee"

Dari Hiat Hoo Kiam Hoat.

Tampaklah serentetan cahaya emas yang amat mengerikan berkelebat memotong cahaya seruling menembus ke arah dalam, serangannya kali ini telah menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, sudah tentu mereka bertiga tidak kuat untuk menahan serangan tersebut.

Terdengarlah suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tangan kanan dari ketiga orang itu sudah kena dibabat putus menjadi dua bagian.

Walaupun begitu jurus "Giok Sah Ci Hwea"

Ini sedikitpun tak ada gerakkan untuk bertahan.

di dalam sekejap mata itulah pundak kiri, iga serta punggungnya sudah kena digebuk oleh seruling pihak lawan sedang tiga utas benang serat itu juga berhasil menjerat lehernya.

Dia mendengus berat, terasa pandangan jadi gelap, hampir-hampir ia jatuh tidak sadarkan diri.

Bagaimanapun juga dia pernah mempelajari ilmu "Ih Cing Hoat"

Serta ilmu tanpa senjata maka kini di dalam keadaan semacam ini mana mungkin dia orang menyerah dengan begitu saja?

tangannya dengan cepat balik membabat putus ketiga utas benang serat yang menjerat lehernya itu.

Pada saat itulah lehernya terasa amat dingin tak tertahan lagi ia muntahkan darah segar.

Kesembilan orang berbaju putih lainnya walaupun pada merasa terperanjat dengan kejadian yang mereka hadapi tetapi kini melihat Koan Ing telah terluka parah maka dengan cepat pada bergerak maju ke depan enam batang seruling bersama-sama melancarkan serangan ke arah pemuda tersebut.

Dengan gusarnya Koan Ing mendengus, pedang kiem bong kiamnya diangkat dan dipalangkan di depan dada.

Di dalam keadaan terluka parah mana mungkin pemuda itu kuat menahan serangan musuh?

Begitu pedang dan seruling terbentur satu sama lain maka dia segera tergetar mundur sejauh empat lima langkah ke belakang dengan sempoyongan, sekali lagi dia muntahkan darah segar dan rubuh ke atas tanah.

Melihat musuhnya rubuh kesembilan orang itu segera merubung maju ke depan, tetapi pada saat itulah....

"Jangan bergerak!"

Dengan keadaan pajah Koan Ing membuka matanya, saat itu dia dapat melihat orang yang baru saja membentak keras bukan lain adalah si seruling sakti Ti Siuw-su adanya.

"Eei.... Koan Ing, bagaimana rasanya?"

Ejek Ti Siuw-su sambil tertawa dingin. Dengan perlahan Koan Ing bangkit berdiri, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia melototi orang itu. Kembali Ti Siuw-su tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa, bila mana kau ingin menggunakan kekerasan lagi maka jangan salahkan aku akan menggunakan cara yang luar biasa untuk menghadapi dirimu, kaupun merupakan seorang yang cerdik, tentu kau mengetahui bukan apa akibatnya bilamana Sang Siauw-tan ada ditanganku apa lagi hubungan kalian yang begitu erat! hee hee.... hee, Koan Ing! pikirlah dengan pikiran jernih!!"

Koan Ing yang mendengar Ti Siuw-su hendak menggunakan Sang Siauw-tan untuk memaksa dirinya, dia tertawa dingin.

"Hee.... hee, dia adalah putri kesayangan dari Sang Su-im pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang"

Ujarnya dingin.

"Bilamana kau berani berbuat sesuatu terhadap dirinya mungkin untuk melangkahi Tionggoan kalian akan menemui kesukaran apalagi ilmu jari sakti Han Yang Ci bukanlah main-main!!"

"Haa.... haa, bilamana kau tidak suka mendengarkan omonganku aku akan segera turun tangan membinasakan dirimu dan tinggal Sang Siauw-tan sebagai barang sandaran pertempuran kita dikemudian hari dengan perkumpulan Tianggong-pang!"

"Hmm! kau hendak berbuat apa sesukamu, tetapi kalau ingin aku mendengarkan perkataanmu hee.... hee jangan harap!"

Seru Koan Ing sambil mendengus dingin. Ti Siuw-su segera tertawa terbahak-bahak, nafsu membunuh segera berkelebat pada sinar matanya.

"Perkataan yang diucapkan selamanya tidak pernah berubah.

"Tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat"

Yang aku ke luarkan pertanda musuh besar. Dan Sang Siauwtan tentu akan menurut padaku. dan bilamana kau ingin mati aku pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi!"

Selesai berkata dia mendengus dingin, tangannya diulapkan maka segera tampaklah tiga batang seruling besi dengan dahsyatnya melancarkan serangan ke arah pemuda tersebut.

Ooo)*(ooO Bab 41 SINAR MATA Pemuda itu segera berkedip, dia tahu dengan keadaannya pada saat ini untuk menghadapi serangan gabungan dari tiga orang itu tidak mungkin bisa terlaksana.

Maka pada saat-saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara panggilan dari seseorang.

"Engkoh Ing!"

Dengan terperanjat dia dongakkan kepalanya tampaklah Cha Ing Ing dengan menggunakan sebilah pedang menangkis datangnya serangan ketiga orang itu.

Koan Ing jadi amat terkejut bercampur girang, tanpa memperdulikan lagi bagaimana Cha Ing Ing bisa munculkan dirinya disana dia membentak keras, pedang kiem-hongkiamnya segera berkelebat ke depan melancarkan satu tebasan dahsyat.

Jurus ini bukan lain adalah jurus "Im Gong Cian Sin"

Atau mega kosong jeram curam.

Diantara berkelebatnya cahaya pedang terdengarlah suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, darah segar muncrat memenuhi angkasa, kini kembali seorang pemuda berbaju putih kena ditabas putus tangan kanannya.

Dengan cepatnya ilmu pedang gabungan "Cuo Ci Yu So"

Dilancarkan keluar, ditengah suara bentakkan nyaring sepasang pedang itu bersama-sama melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Ci Lek Toan Kiem".

Ditengah suara bentakan yang keras mereka berdua bersama-sama menggetarkan dua batang seruling terakhir.

Si seruling sakti Ti Siauw Su yang melihat kejadian itu benar-benar merasa amat terperanjat, kerapatan dan kedahsyatan dari kerja sama ilmu pedang itu belum pernah ditemuinya selama ini.

Di dalam sekejap saja antara kedua belas orang itu ada empat orang sudah terluka parah, dengan sendirinya barisan Seng Loo Tin itupun segera terpukul pecah.

"Kalian lekas mundur!"

Ujar Ti SiauW Su dengan segera.

Melihat musuh2nya sudah mengundurkan diri Koan Ing baru bisa menarik napas panjang-panjang, diaangkat kepalanya dan memandang ke arah Cha Ing Ing.

Tampaklah paras muka gadis itu pucat pasi dan penuh dibasahi butiran air mata, diapun lagi memandang pamuda itu dengan terpesona.

Koan Ing yang melihat kejadian ini hatinya benar-benar merasa amat menyesal, karena bilamana bukannya Cha Ing Ing munculkan dirinya di dalam keadaan kritis ini mungkin saat ini ia sudah menemui ajalnya.

"Ing Ing, kau datang dari mana?"

Sapanya kemudian dengan suara halus.

"Selama ini aku terus menerus menguntit kalian!!"

Jawab Cha Ing Ing sambil menundukkan kepalanya.

Koan Ing jadi melengak, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.

Demikianlah mereka berdua berdiam diri sambil berdiri saling berhadap2an.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba Cha Ing Ing menundukkan kepalanya dan berseru.

"Engkoh Ing. biar aku pergi melihat keadaan dari enci Siauw-tan."

Selesai berkata dengan tergesa2 dia mengusap kering air matanya yang mengucur keluar setelah itu berjalan mendekati diri Sang Siauw-tan yang masih menggeletak di atas tanah itu.

"Hee.... hee kerja sama ilmu pedang kalian berdua benarbenar amat dahsyat sekali!"

Seru Ti Siuw-su sambil memandang tajam kedua orang itu bergantian.

"Ini hari aku mau minta beberapa petunjuk dari kalian beidua."

Dengan dinginnya Koan Ing mendongak lalu mendengis berat.

"Hmm! tidak kusangka perkataan dari seorang pangcu tidak bisa dipercaya, kini barisan Seng Loo Tinmu sudah terbobol, siapa sangka janji yang sudah diucapkan sendiri sekarang hendak ditarik kembali hee.... hee pangcu macam apa itu!"

Ti Suw Su yang mendengar perkataan tersebut jadi berdiri melengak, dia memang pernab mengatakan bilamana Koan Ing berhasil menghancurkan barisan Seng Loo Tin-nya dia akan melepaskan untuk pergi, walaupun akhirnya pihak lawan sudah bertambah lagi dengan satu orang tetapi buktinya barisan yang paling diandalkan olehnyapun telah dipukul hancur, bagaimana kini dia harus memenuhi janjinya sendiri.

Setelah berpikir beberapa saat lamanya akhirnya Ti Siuw-su mendengus dingin dan menyapu sekejap ke arah mereka bertiga.

"Baik! untuk sementara waktu aku lepaskan kalian, dan jangan lupa sampaikan ke pada Sang Su-im, katakan aku Thiat Ti Langcoen menantang dia untuk membobolkan barisan "Seng Loo Toa Tin"

Ku di atas puncak Jie Giok Hong digunung Wu San."

Koan Ing yang mendengar Ti Siuw-su suka melepaskan mereka dan mendengar pula perkataan terakhir dari orang itu dia lantas mengerutkan keningnya.

"Hmmm! jangan kuatir. sampai waktunya empek Sang pasti akan datang untuk memenuhi janjinya,"

Sahutnya keras.

Sang Siauw-tan sebetulnya tidak terluka dia hanya jatuh pingsan karena kehabisan tenaga, setelah dibantu Cha Ing Ing beberapa saat kemudian dia sudah sadar kembali.

Sewaktu dilihatnya Cha Ing Ing ada disana dia segera tertawa.

"Aaach Ing moay-moay, bagaimana kau pun bisa sampai disini?"

Tanyanya.

Cha Ing Ing merasa jengah untuk menceritakan keadaan yang sesungguhnya, maka dengan wajah berubah merah dia menundukkan kepalanya rendah-rendah Walaupun selama ini Koan Ing belum pernah menceritakan sikap Cha Ing Ing terhadap dirinya tetapi dengan ketajaman mata dari Sang Siauw-tan dia bisa menebak juga tiga bagian.

"Ing moay-moay!"

Serunya kemudian sambil tertawa dan menarik tangan gadis itu untuk diajak bangun.

"Ini hari aku harus mengucapkan terima kasih atas bantuanmu!!"

Agaknya Cha Ing Ing tak ada perkataan yang bisa diucapkan, dan karena itu selama ini terus bungkam diri.

Waktu itulah Koan Ing sudah menuntun kudanya mendekati mereka, Sang Siauw-tan yang melihat pemuda itu terluka tetapi tidak ingin menyedihkan hati Ing Ing maka lantas ujarnya dengan tawar.

"Engkoh Ing, kau baik-baiklah menjaga dirimu sendiri!"

Koan Ing pun tahu apa maksud dari perkataan Sang Siauwtan ini, maka dengan perlahan dia mengangguk.

Demikianlah Sang Siauw-tan dan Cha Ing Ing menunggpng seekor kuda sedang Koan Ing sendiri menunggang kuda yang lain mereka melakukan perjalanan meninggalkan tempat itu.

Dengan termangu-mangu Ti Siuw-su memandang bayangan punggung mereka bertiga yang mulai lenyap dari pandangan setelah itu dia baru menghela napas panjangpanjang.

Semangatnya untuk menjagoi Bu-lim yang semula berkobar2 di dalam hatinya kini setelah menemui kejadian inipun sudah paham separuhnya.

Dengan cepatnya Koan.

Ing bertiga meninggalkan tempat berjaga perkumpulan Sin Ti Pang, Dan pada suatu saat mendadak dari udara meluncur datang seekor merpati pos berwarna putih.

Dengan cepat Sang Siauw-tan menerima merpati itu dan melepaskan surat yang terikat dikakinya.

sesudah membaca sebentar akhirnya sambil tertawa ujarnya.

"Aaah.... ayahku sudah ada pada seratus li dari sini, tidak selang lama segera akan tiba disini!"

Selesai berkata dia menoleh dan memandang ke arah Koan Ing serta Cha Ing Ing.

"Bagaimana kalau kita menyambut keda itangan mereka?"

Njaknya dengan penuh gembira. Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan begitu gembira karena bakal bertemu dengan ayahnya diapun tidak ingin menyia2kan harapannya ini. maka dengan cepat ia mengangguk.

"Sudah tentu bagus sekali,"

Sahutnya senmbil tertawa.

"Akupun sudah lama sekali tidak bertemu muka dengan empek Sang!"

Sang Siauw-tan yang melihat pemuda itu sudah setuju diapun lantas menoleh ke arah Cha Ing Ing.

Cha Ing Ing dengan perlaban mengangguk pula, tetapi dia masih tetap bungkam seribu bahasa.

Mereka bertigapun lantas menjalankan kudanya menuju sebelah Barat daya untuk memapaki Sang Su-im sekalian.

Kembali mereka melakukan perjalaran sejauh beberapa puluh li, sewaktu mendekati daerah pegunungan cuaca sudah mulai gelap.

Sang Siauw-tan yang melihat hari mulai gelap dan rasa kuatir lantas ujarnya.

"Engkoh Ing, mungkin Tia tidak melihat kalau kita ada disini!"

"Kita bikin saja api unggun disini untuk menanti kedatangan ayahmu, bukankah hal ini lebih bagus?"

Sahut Koan Ing tersenjum.

Jilid 17

"BAIK!"

Sahut Sang Siauw-tan sambil mengangguk.

"Bersama-sama dengan Ing moy moy aku pergi cari kayu kering, biarlah kau beristirahat sebentar! "

Sebenarnya Koan Ing tidak bermaksud untuk beristirahat tapi karena lukanya pada saat ini sangat parah, maka bilamana sampai terjadi suatu urusan lagi mungkin tak ada kekuatan untuk melawan maka terpaksa sambil tesenyum dia mengangguk juga.

Sang Siauw-tan pun lalu menarik Cha Ing Ing turun dari kuda dan pergi mengumpulkan kaju2 kering sedang Koan Ing sendiri segera turun dari kuda untuk bersemedi di atas sebuah batu.

Tidak selang lama kemudian kedua orang gadis itu sudah berhasil mengumpulkan setumpuk kayu kering untuk kemudian mulai membuat api unggun, Ditengah berkobarnya api unggun mereka bertiga duduk berkumpul di sekeliling api unggun itu dan selama ini Cha Ing Ing tidak mengucapkan sepatah katapun sedang Koan Ing berduapun merasa hatinya murung sehingga tak seorangpun diantara mereka bertiga yang berbicara, Koan Ing dengan termangu-mangu memandang ke atas api unggun, mendadak dia dongakkan kepalanya hendak berkata tapi....

tampaklah olehnya sesosok bayangan manusia berkelebat dengan amat cepatnya di samping tempat itu.

"Aach....!"

Jeritnya kaget, Sang Siauw-tan maupun Cha Ing Ing yang mendengar suara jeritan tersebut pada meloncat kaget kemudian buruburu dongakkan kepalanya memandang ke depan, kini tampaklah sebatang tombak dengan disertai suara desiran yang amat tajam menghajar ke atas punggung pemuda tersebut.

"Engkoh Ing, awas!"

Teriak kedua orang itu hampir berbareng, Walaupun Koan Ing berada di dalam keadaan terluka parah tetapi pendengarannya masih tetap tajam, maka tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas sedang pedang kiem-hongkiamnya dicabut keluar dari dalam sarung.

Diantara berkelebatnya sinar tajam tahu-tahu tombak tersebut sudah kena dibabat putus jadi dua bagian dan menggeletak dipinggangnya.

Begitu Koan Ing mencabut keluar pedangnya dari empat penjuru segera terdengarlah suara teriakan yang gegap gempita, berpuluh puluh batang tombak dengan disertai suara desiran yang menderu-deru menyambar ke arah mereka bertiga.

Ketiga orang itu bersama-sama jadi amat terperanjat, sejak kapan pihak musuh telah mengurung tempat itu merekapun tak ada yang tahu.

Maka dengan cepat Koan Ing meloncat ke atas, pedangnya berkelebat memukul jatuh tiga batang tombak sedang sinar matanya berkelebat memandang ke arah hutan di sekelilingnya.

Saat itulah tampak bayangan manusia berkelebat tiada hentinya, agaknya sekeliling tempat itu sudah dikurung rapatrapat oleh pihak musuh.

Saking terkejutnya sambil memukul jatuh tombak yang menyambar datang laksana titiran air hujan teriaknya keras.

"Kita sudah terkurung musuh!!"

Tanganaja deagan cepat membalik menerima datangnya sambaran sebatang tombak kemudian dengan menggunakan tombak itu mengobat-abitkan kiri kanan memukul jatuh seluruh tombak yang menyerang ke arahnya.

"Engkoh Ing!"

Terdengar Sang Siauw-tan berteriak keras sembari menyambar sebatang tombak.

"Kau jagalah adik Ing baik-baik aku mau pergi mencari Tia!"

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi amat kaget, baru saja dia hendak berteriak untuk mencegah tahu-tahu Sang Siauw-tan sudah meloncat naik ke atas kuda dan menerjang keluar dari kepungan.

Suara teriakan aneh segera bergema memenuhi seluruh angkasa diantara berkelebatnya sinar mata pemuda itu mendadak membentak keras, tombak ditangan kirinya dengan disertai tenaga sambitan yang amat kuat menyambar ke depan membantu Sang Siauw-tan membuka satu jalan pergi.

Cha Ing Ing pun segera berlari menghampiri diri pemuda itu dan dengan menggunakan pedangnya menangkis setiap batang tombak yang menyambar pada dirinya.

Menanti Sang Siauw-tan berhasil menerjang keluar dari kepungan itu Koan Ing baru menyambar tubuh Cha Ing Ing sambil ujarnya.

"Kita tidak boleh berdiam terlalu lama disini, mari kita pergi bersama-sama coba menerjang keluar dari kepungan!"

Sehabis berkata mereka berlari mendekati kudanya, siapa tahu pada saat itulah mendadak datang menyambar sebatang tombak yang dengan tepat menghajar perut kuda itu sehingga seketika itu juga rubuh bermandikan darah.

Koan Ing yang melihat kejadian itu jadi tak bisa berbuat apa-apa lagi, kepada gadis itu kembali serunya."

"Ing Ing, kita lari ke atas gunung saja!"

Segera Cha Ing Ing mengangguk, demikian mereka berdua segera kerahkan seluruh tenaganya untuk menerjang naik ke atas gunung.

Pada saat yang bersamaan ditengah suara teriakan yang aneh orang-orang yang mengurung tempat itu pada munculkan diri dan menghampiri mereka berdua.

Koan Ing yang melibat munculnya orang-orang itu hatinya jadi amat terkejut, kiranya wajah maupun kulit orang-orang itu semuanya berwarna hitam gelap dengan selembar kulit macan tutul menutupi badannya, ditangannya pada mencekal sebatang tombak yang amat runcing, jelas kalau mereka adalah segerombolan orang-orang liar.

Maka dengan gerakan yang amat gesit Koan Ing berdua melanjutkan terjangannya naik ke atas gunung, tetapi orang yang mengepung mereka semakin lama semakin banyak sehingga akhirnya boleh dikata tak ada jalan untuk bergerak maju lagi.

Luka parah yang diderita Koan Ing pun belum sembuh, saking cemas dan khekienya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dan sambil menggigit kencang bibirnya dia bertahan terus.

Cha Ing Ing sendiripun merasa amat cemas sekali, sambil memandang keadaan sekelilingnya dia berteriak cemas.

"Engkoh Ing! Disana ada sebuab gua!"

Dengan cepat Koan Ing menoleh kesana ketika dilihatnya di tempat itu memang benar ada sebuah gua dengan cepatnya dia menarik tangan gadis itu untuk menerjang masuk ke dalam gua tersebut....

Dengan kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu sudah tentu orang-orang liar itu tidak bakal kuat bertahan diri, tidak selang beberapa saat lamanya mereka sudah berhasil menerjang masuk ke dalam gua tersebut.

Begitu mereka masuk ke dalam gua, orang-orang liar itupun ikut menerjang datang.

Koan Ing segera membentak keras, sambil balik badan dia melancarkan satu serangan mematikan, diantara berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata berturut-turut dia bisa berhasil membunuh mati dua orang manusia liar sedang sisanya segera berteriak keras dan pada mengundurkan diri ke belakang.

Koan Ing yang melihat orang-orang liar itu berhasil dipukul mundur dalam hati merasa amat lega, tak kuasa lagi pandangannya jadi gelap dan rubuh tak sadar ke atas tanah.

Tapi begitu tersentuh hawa dingin pada lantai gua itu dia menjadi sadar kembali.

"Engkoh Ing!"

Teriak Cha Ing Ing sambil menangis tersedusedu.

Tiba-tiba pemuda itu mengerutkan keningnya rapat-rapat dan mengajunkan pedang kiem-hong-kiamnya ke depan dengan disertai suara bentakan yang amat keras?

Kiranya pada saat gadis itu tidak waspada itulah tampaklah sesosok manusia berkelebat masuk ke dalam gua, Walaupun serangannya ini mencapai hasil tetapi seluruh tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat dingin maka sambil menghembuskan napas panjang-panjang ujarnya .

"Ing Ing! aku tidak mengapa, badanku cuma terasa amat lelah sekali...."

Lama sekali gadis itu memandang Koan Ing dengan pandangan terpesona, akhirnya dia bangun berdiri dan memungut kembali pedarg kiem-hong-kiam tersebut.

Koan Ing yang melibat kelopak mata gadis tersebut dipenuhi dengan air mata hatinyapun ikut merasa sedih, sambil tertawa paksa hiburnya.

"Haaa.... , haaa.... , entah dari mana datangnya manusia2 buas yang begitu liar, apalagi tahu? Mennyari gara2 dengan kita.... sungguh mengherankan?"

Dengan perlahan Cha Ing Ing menyerahkan pedang itu kepada Koan Ing lalu berjongkok di hadapannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Ing Ing! kau tidak usah kuatir"

Ujar Koan Ing sambil memegang tangan gadis itu erat-erat kemudian menarik napas panjang-panjang.

"Untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bakal berani menerjang kemari, bukankah tempo hari kitapun baru saja berhasil meloloskan diri dari kematian."

Cha Ing Ing segera menundukkan kepalanya rendahrendah, air mata mengalir keluar semakin deras lagi.

Koan Ing jadi melengak melihat kejadian ini, dia tidak mengerti mengapa secara tiba-tiba Cha Ing Ing bisa begitu sedih sehingga terus-menerus melelehkan air mata, apakah dia sedih karena teringat peristiwa yang lalu?

Suara teriakan2 yang semula bergema di luar gua itupun dengan perlahan mulai sirap?

Kembali, suasana di sekeliling tempat itu kembali jadi sunyi senyap.

Koan Ing segera menghela napas panjang, dia tahu bilamana orang-orang buas yang amat liar itu tanpa perduli nyawa sendiri menerjang terus ke dalam gua sekalipun mereka memiliki kepandaian silat yang lebih tinggi pun tidak bakal ada gunanya, apalagi bila mana mereka menyerang ke dalam dimana dirinya terluka parah mana masih punya harapan untuk meloloskan diri tapi bilamana sebaliknya....

Mendadak dari luar gua berkumandang datang suara teriakan yang amat keras disusul dengan suara suitan yang amat menyeramkan suasana di sekeliling tempat itu kembali jadi gaduh, entah ada berapa banyak orang lagi yang muncul disana....

Suara jeritan yang amat seram dan teriakan2 yang tidak dipahami ini walaupun tidak merupakan serangkaian kata-kata tetapi di dalam pendengaran mereka berdua mengetahui jelas kalau inilah suara teriakan Untuk membalas dendam.

Di dalam hati kedua orang itu, kembali merasa amat ngeri sekali.

Baca Juga: Maling Romantis 4

Baca Juga: Kedele Maut 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert