Eps 4 Maling Romantis - Khu Lung
Baca online Maling Romantis - Khu Lung
Cersil Maling Romantis - Khu Lung.
Coh Liu-hiang terloroh-loroh sambil menengadah, serunya.
"Berlinang air mata? Selama hidup orang she Coh tidak tahu bagaimana rasa air mata itu?"
Suara tawanya semakin lemah dan akhirnya berhenti.
"Tak!" , dengan keras ia turunkan cangkir arak, tak jadi diminumnya. Dengan mendelong nelayan tua itu mengawasinya sekian lama, mendadak ia menarik napas panjang dan berkata rawan.
"Ada yang begitu sedih bagi diriku, seumpama aku betul-betul mati, apa pula halangannya?"
Coh Liu-hiang berjingkrak bangun seraya menarik pundak si nelayan tua, teriaknya.
"Yong-yong kau.... benarkah kau?"
Tak perduli sampan itu bakal terbalik, sekali jinjing ia peluk orang sekencangnya, serunya bergelak tawa.
"Memang aku tahu kau takkan bisa mati, aku tahu takkan ada orang tega membunuhmu."
So Yong-yong memeluk lehernya, katanya pelan sambil berbisik di pinggir kupingnya.
"Turunkan aku, kau tidak malu dilihat orang?"
"Aku kan hanya memeluk kakek tua kerempeng. Meski dilihat orang, apa pula halangannya?"
Dengan sebelah tangannya ia pegang hidungnya, serta katanya.
"Ada seorang Song Thiam-ji, seorang Li Ang-siu, aku sudah cukup dibuat pusing kepala, tak kira kau malah jauh lebih nakal dari mereka, sengaja kau bikin aku sedemikian gugup dan sedih."
"Bukan aku hendak membuatmu gelisah, maksudku supaya orang-orang itu betul anggap diriku sudah mampus, maka mereka takkan berjaga-jaga lagi. Coba kau pikir, masakah aku tega membuatmu begitu gugup dan gelisah?"
Pelan-pelan Coh Liu-hiang menurunkannya, tanyanya dengan menatap mukanya.
"Adakah mereka melukaimu?"
"Cara kerja keempat orang itu sungguh kejam dan telengas. Untung sebelumnya aku sudah melihat gejala-gejala yang tidak benar, kalau tidak...... kalau tidak mungkin aku tak bisa bertemu denganmu lagi."
"Terhadap orang sepertimu mereka bisa menurunkan tangan jahat, pantas kalau mereka kupenggal kepalanya, lekas kau beritahu siapa mereka?"
"Mana aku kenal mereka?"
"Tapi kau ada bicara dengan mereka, bukan?"
"Kemarin aku sedang menunggumu di kapal itu, mendadak datang empat orang, salah satunya tanya apakah aku nona So, katanya mereka adalah murid-murid Cu-soa-bun, dikatakan pula bahwa kau yang suruh mereka menjemputku."
Dia tertawa manis, lalu melanjutkan.
"Tapi aku tahu, kau tahu bahwa aku menunggu di sini, sekali-kali tidak mungkin suruh orang lain, kau tahu aku paling benci berhadapan dengan laki-laki asing yang tak kukenal, oleh karena itu timbul rasa curigaku, sudah tentu kutolak permintaan mereka, kulihat pula mereka saling melirik memberi tanda, maka siang-siang aku sudah siap dan waspada."
"Untunglah kau tahu akan diriku, laki-laki yang tidak akan membuatmu muak dan benci.... tapi kenapa tidak kau bongkar saja kedok mereka waktu itu? Desak mereka untuk menjelaskan!"
"Sepak terjang orang-orang itu sedemikian kejam, rencananya sempurna dan teliti, di belakang mereka pasti ada orang lain, aku sendiri tidak tahu apa aku kuasa menghadapi mereka, maka....."
"Maka kau pura-pura terkena serangan senjata rahasia mereka, supaya urusan tidak berbuntut panjang."
"Kau tahu aku paling tidak suka berkelahi dengan orang."
"Tapi warna darah di dalam air, apa pula yang telah terjadi?"
So Yong-yong cekikikan, ujarnya.
"Kebetulan waktu aku lewat di Kilam, kubeli satu kotak yancu untuk Thiam-ji."
Coh Liu-hiang tertawa besar sambil tepuk tangan, tiba-tiba ia hentikan tawanya serta berkata dengan nada berat.
"Tapi tiada orang yang tahu bila kau sedang menungguku di sini, memangnya siapa orang-orang ini? Dari mana tahu kau menungguku di sini? Apakah Hek-tin-cu? Dia pasti bukan orang demikian."
"Persoalan ini boleh kelak kau pikir lebih lanjut."
Ujar So Yong-yong lembut.
"Benar! Sekarang tiba saat nya kutanya hasil dari tugas perjalananmu bagaimana? Sudahkah kau ketahui, biasanya laki-laki siapa saja yang keluar masuk Sin-cui-kiong?"
"Waktu hal ini kutanyakan kepada bibiku, coba kau terka bagaimana jawabannya?"
"Apa yang dia katakan?"
"Katanya. Jangan kata laki-laki, sampai pun ayam jago jangan harap bisa mondar-mandir keluar masuk Sin-cui-kiong."
Tak tahan Coh Liu-hiang menahan tawanya, katanya mengerut kening.
"Jikalau tiada laki-laki keluar masuk Sin-cui-kiong, bagaimana pula si gadis cilik itu bisa hamil? Biasanya bagaimana keadaan hidupnya? Adakah sesuatu barang peninggalannya?"
"Gadis itu bernama Sutouw King, gadis pendiam yang sehari-hari hidup dalam ketenangan, jarang bicara, kecuali biasa iseng memetik harpa, tiada sesuatu hobinya pula, siapa pun takkan percaya dan membayangkan bisa terjadi peristiwa itu."
"Gadis pendiam yang tak suka bicara, perasaannya biasanya paling subur. Jika sampai dia jatuh cinta terhadap seseorang, sampai mati pun cintanya itu takkan goyah dan luntur, oleh karena itu dia rela dirinya menjadi korban, betapa pun tak mau membocorkan rahasia lelaki itu."
"Terhadap berbagai tipe wanita, apakah kau tahu sedemikian jelasnya?"
Coh-Liu-hiang mengelus hidungnya, lekas ia menukas.
"Apa benar dia tidak meninggalkan sesuatu?"
"Tidak! Boleh dikata perjalananku sia-sia, apa pun tiada yang berhasil kutanyakan."
"Tapi orang-orang itu kuatir bila kau mendapatkan sesuatu rahasia, maka kau harus dibunuh untuk menutup mulut. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang itu punya sesuatu ciri yang merupakan sumber penyelidikan kita di dalam Sin-ciu-kiong, cuma sampai detik ini belum ada orang yang memperhatikan..... tapi kenapa sumber-sumber ini tidak sampai menjadi perhatian orang banyak?"
"Dan kau? Beberapa hari ini..... apa pula hasilmu?"
Balas tanya So Yongyong.
Coh Liu-hiang menceritakan dengan jelas sampai sedetil-detilnya, apa yang dia alami selama beberapa hari ini.
Mendengar betapa kejam dan ganasnya serta watak yang menyendiri dari Tionggoan It-tiam-ang, So Yong-yong menggeleng-gelengkan kepala.
Mendengar tentang gambar lukisan dan tulisan surat itu, matanya terbelalak.
Mendengar bahwa Chiu Ling-siok ternyata adalah istri eks pangcu Kaypang yang terdahulu, dan Coh Liu-hiang sendiri pun pernah menemuinya, tak tahan So Yong-yong pun berteriak tertahan.
Supaya So Yong-yong tidak kuatir dan terlalu tegang, sengaja Coh Liuhiang hanya ceritakan sepintas saja tentang pertempurannya di batu jembatan di atas jurang yang dalam itu.
Tapi So Yong-yong pun sudah terlalu tegang sampai mengepal kencang jari-jarinya.
Katanya gemetar.
"Bukan saja ilmu silat orang itu tinggi, malah keji dan telengas pula, banyak akal muslihatnya, kau menghadapi musuh macam itu betul-betul harus waspada dan lebih hati-hati."
Satu persatu Coh Liu-hiang membuka jari-jarinya yang terkepal itu, katanya lembut dengan tersenyum.
"Tahukah kau orang lain sering berkata Coh Liu-hiang adalah manusia yang paling ditakuti di seluruh jagat ini? Seumpama orang itu amat menakutkan, masakah dia bisa menandingi Coh Liu-hiang?"
"Coh Liu-hiang memang teramat tangguh, sayang sanubarinya terlalu bajik dan lemah. Orang lain tega membunuhnya, sebaliknya dia tidak tega melukai orang, coba katakan cara bagaimana aku takkan kuatir?"
Coh Liu-hiang menepuk-nepuk tangnnya, katanya tertawa.
"Jangan kuatir untuk membunuh Coh Liu-hiang, bukan soal gampang."
So Yong-yong unjuk tawa manis, namun alis berkerut pula, katanya.
"Coba kau pikir, mungkin tidak orang yang menyamar jadi Thian-hong-cap-si-long adalah orang misterius yang membunuh Thian-jiang-sing Song Kang dan orang yang terjun ke danau itu?"
"Memang dia. Jika terkaanku tidak salah, yang membunuh Ca Bok-hap, Cou Yu-cin, Ling Ciu-cu dan Sebun Jian pun dia, orang yang mencuri Thian-itsin-cui dari Sin-cui-kiong tentulah dia pula!"
"Begitu besar hasratnya hendak membunuhmu, berusaha pula merintangimu menemui Jin-hujin Chiu Ling siok, sungguh tak nyana Chiu-Ling siok tidak mau bicara apa-apa, bukankah segala usahamu itu sia-sia belaka?"
Mendadak Coh Liu-hiang unjuk senyum lebar, katanya.
"Chiu Ling-siok masih mengucapkan beberapa patah kata yang amat penting artinya."
"Apa katanya?"
"Dengarlah dengan seksama, dia berkata. ‘Kau pun tak perlu menyesal, suamiku almarhum sudah rebah berpenyakitan selama beberapa tahun, lalu mendadak meninggal, orang-orang yang dapat menemui beliau tidak banyak jumlahnya...."
So Yong-yong berpikir sejenak, katanya.
"Aku tak bisa meraba beberapa patah kata itu mengandung arti yang amat penting apa?"
"Coba kau pikirkan secara seksama, pasti kau dapat simpulkan."
Kembali So Yong-yong ulangi beberapa patah kata-kata itu. akhirnya sorot matanya bersinar, katanya.
"Aku tahu sekarang, kalau Jin-lopangcu itu sudah lama berpenyakitan di atas ranjang, mana mungkin bisa mati secara mendadak. Murid-murid Kaypang mereka, kalau toh tahu bahwa Pangcu mereka sakit menjelang ajal, sudah sepantasnya selalu menjaganya dan merawatnya, kenapa yang bisa bertemu dengan beliau hanya terbatas beberapa orang saja?"
"Begitulah!"
Seru Coh Liu-hiang tepuk tangan.
"Kedengarannya beberapa patah kata itu biasa saja, namun satu sama lain saling bertentangan. Jinhujin itu memang berotak cerdik. Coba kau pikir, kenapa dia mengeluarkan kata-kata yang saling bertentangan ini?"
"Apa bukan sedang memberi kisikan kepadamu?"
"Memang begitulah!"
"Tapi ada persoalan apa yang tidak langsung dia utarakan kepadamu? Memangnya persoalan itu dia rahasiakan terhadap Lamkiong Ling? Masakah Lamkiong Ling pun..."
"Meskipun rumit seluk-beluk dan banyak lubang kelemahan serta hubungan satu sama lainnya, tapi sekali-kali kita jangan secepat itu menarik kesimpulan, karena persoalan ini amat penting dan besar artinya, tidaklah sederhana seperti rabaan kita semula!"
"Kalau begitu, jadi kau harus pergi menemui Jin-hujin itu pula?"
"Ya, harus menemui sekali lagi!"
So Yong-yong menggenggam tangannya, katanya lembut.
"Tapi kau harus ingat, bahaya untuk kedua kalinya ini tentu lebih besar. Kalau toh mereka tahu kunci rahasia dari semua persoalan ini berada di tangan Jin-hujin, mana mungkin mereka mau memberi kesempatan kepadamu untuk berhadapan sendiri dengan Jin-hujin?"
"Kukira, sementara mereka takkan mengira bahwa aku pergi menemui Jinhujin lagi, maka perjalananku kali ini lebih cepat lebih baik. Kalau terlambat, bahayanya tentu semakin besar."
"Sekarang mereka paling baru membokong dan menyergapmu, tapi bila kau sudah hampir membongkar kedok rahasia mereka, pasti mereka bakal menggunakan segala cara untuk menghadapimu."
"Kalau hendak memancing ikan besar, sudah tentu harus berani memberi umpan yang besar pula."
"Masa kau.... kau sendiri hendak menjadi umpan itu untuk memancingnya keluar?"
Terasa oleh Coh Liu-hiang jari-jari tangan So Yong-yong yang menggenggam tangannya itu gemetar, maka tangannya yang hangat dan kokoh itu balas menggenggam, katanya tertawa.
"Umpan ini memang terlalu besar, betapa pun besar ikan itu takkan bisa menelannva bulat-bulat. Kau tidak usah kuatir, dengarkan saja kataku, lekas kau pulang, kemudian lemparlah botol-botol arakku ke dalam laut biar dingin, suruh pula Thiam-ji menyediakan beberapa ekor ayam, dalam lima hari mendatang pasti aku sudah pulang dan menggasak habis semuanya!"
So Yong-yong menatapnya dengan mata berkaca-kaca, namun biji matanya memancarkan sinar terang dan lembut hangat laksana bintang kejora. Akhirnya ia tertawa lebar dan katanya.
"Sudah tentu kau bisa pulang, dalam dunia ini siapa yang mampu merintangimu?"
Di atas dunia ini, tiada sesuatu yang lebih menggairahkan dari pada raut muka seorang jelita dan keyakinannya.
Waktu Coh Liu-hiang tiba di atas daratan, terasa tenaganya segar semangat bergairah.
So Yong-yong memang seorang gadis penurut.
Gadis jelita yang pintar, ternyata masih dengar kata-katanya, itulah kebahagiaan yang terbesar bagi seorang laki-iaki.
Dengan puas dan senang hati Coh Liu-hiang menggumam seorang diri.
"Dunia ini sungguh tiada sesuatu yang menyulitkan diriku...."
Terdengar seseorang menanggapi sambil tertawa.
"Tapi apakah kau tidak menyulitkan dunia kehidupan ini?"
Belum hilang suaranya, Bu Hoa tahu-tahu melayang turun.
Sikapnya yang agung suci, senyumannya yang welas asih di bawah penerangan sinar bintang, kelihatan demikian memukau seperti dewata dari langit.
Coh Liu-hiang tertawa lebar, serunya.
"Kukira hanya aku sendiri si kucing malam ini, tak nyana masih ada orang lain lagi."
"Masih ada dua."
Kata Bu Hoa.
Wuktu Coh Liu-hiang berpaling, dilihatnva seseorang berdiri mematung di dalam Hong-ih-ting sana, pakaian hitamnya kelihatan mengkilat ditimpa sinar bintang, siapa lagi kalau bukan Hek-tin-cu.
Entah lantaran apa pemuda yang aneh dan luar biasa itu tetap berdiri di sana, menjublek seperti orarg linglung.
"Malam pertama di Tay-bing-ouw, menyendiri di Hong-ih-ting, Pinceng kira itulah Coh-heng. Waktu aku hendak ke sana, tak kira Coh-heng sudah muncul di sini."
"Malam sudah selarut ini, tak kira kau masih ada selera pesiar ke tempat ini?"
"Janji main catur dan minum arak tempo hari, setiap waktu tak pernah terlupakan oleh Pinceng, memang sengaja aku ke mari mencari Coh-heng untuk menepati janji."
Mana ada selera Coh Liu-hiang main catur minum arak segala. Tapi biji matanya berputar, tiba tiba ia mendapat akal, katanya tertawa.
"Untuk main catur kita berdua sudah cukup, hendak minum arak perlu ditambah Lamkiong Ling lagi baru menarik."
"Kalau demikian, tiada halangannya kita gedor rumahnya menjadi tamu tak diundang!"
"Baiklah, kau tunggu di sini sebentar, biar kugugah dulu sahabat yang sudah tertidur di sana itu, sebentar kuiringi kau ke sana!"
Tanpa menunggu jawaban Bu Hoa, badannva sudah berkelebat ke arah Hong-ih-ting, dilihatnya Hek-tin-cu menjublek seperti patung tanpa bergeming, alisnya berkerut dalam seolah-olah ada sesuatu persoalan pelik yang merundung hatinya.
Coh Liu-hiang tertawa, katanya;
"Hanya kuda yang tidur sambil berdiri, Hek-heng kenapa meniru kuda?"
Hek-tin-Cu tersentak sadar dan berpaling, sekilas itu terkandung banyak perubahan dari kerlingan matanya, namun suaranya tetap dingin.
"Kalau tuan ingin bercanda, lebih baik pergilah kau mencari nelayan tua itu."
"Tidak jelek pandangan matamu."
Puji Coh Liu-hiang. Hek-tin-cu menengadahkan kepala tanpa hiraukan orang. Coh Liu-hiang tertawa besar, ujarnya.
"Malam ini aku sudah ada janji tak bisa temani kau minum arak, biar dua tiga hari lagi kita berbincang lebih lanjut."
Mendadak orang mengeluarkan kata-kata yang tiada juntrungannya ini, keruan Hek-tin-cu terheran heran.
Baru saja ia hendak umbar adatnya, tiba-tiba Coh Liu-hiang menekan suara dan berbisik dengan cepat.
"Bawa kudamu dan tunggu aku di luar pintu selatan. Soal ini menyangkut urusan penting, bisa tidak membongkar rahasia keseluruhannya, tergantung dari kerja sama kita ini."
Di saat Hek-tin-cu masih terlongong, Coh Liu-hiang sudah putar badan sambil bergelak tawa tinggal pergi.
Ada sementara orang, tanpa tidur tiga hari tiga malam pun tidak apa-apa, tentunya Coh Liu-hiang termasuk di antara orang-orang itu, demikian pula Bu-Hoa dan Lamkiong Ling.
Bahwasanya Bu Hoa tidak perlu mengetuk pintu, hakekatnya Lamkiong Lingpun tidak tidur, kini dia sedang menghadapi araknya minum seorang diri seolah-olah memang sedang menunggu kedatangan mereka.
Papan catur dengan biji-bijinya sudah tersedia di atas meja, demikian pula arak dan hidangan gegaresnya sudah siap di atas meja.
Lamkiong Ling tertawa, ujarnya.
"Akhirnya, kali ini kita bertiga harus benar-benar menentukan menang kalah. Sebelum rebah tak berkutik, siapa pun dilarang berlalu, entah bagaimana maksud Coh-heng?"
"Kau kan tahu aku ini pemabukan yang takkan pergi sebelum tenggelam dalam air kata-kata, kenapa tidak kau tanya Bu Hoa, malah tanya aku?"
Sembari main catur, dia tenggak araknya dengan lahap, sedemikian asyiknya seumpama dilecut dan dihajar pun dia takkan mau pergi.
"Lamkiong-heng toh tidak tahu betapa asyiknya orang main catur, sungguh suatu hal yang harus disesalkan."
Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya.
"Pemain catur harus peras otak, main secara serabutan akan kalah, mana bisa dibanding kenikmatan seorang penonton yang bebas merdeka?"
Sebelum Bu Hoa bicara pula, tiba-tiba dilihatnya Coh Liu-hiang meletakkan sebiji caturnya di garis pinggir paling sudut. Berkerut alis Bu Hoa, katanya.
"Teori catur sejak dulu kala sampai sekarang, Pinceng pernah membacanya semua, belum pernah kulihat cara permainan seperti ini. Daerah bawah yang amat penting ini, apakah Cohheng tidak perlu menjaganya?"
Bab 13 Keterangan. Diambil dari
Jilid 9 Pendekar Pengejar Nyawa di
http.//www.langka.info atas ijin bung bagusetia sebagai admin-nya.
Kontributor.
kalenteha, sikasep, bpranoto, agusis, axd002, iwan1991 ----------------------------------------------------------------------"Permainan caturku ini teramat menakjubkan.
Silahkan kau peras otak memecahkannya, aku berkesempatan untuk menunaikan hajat, di mana tempat hajat yang terdekat, terpaksa Lamkiong-heng harus tolong menunjukkan tempatnya."
Dengan tersenyum Lamkiong Ling bawa dia ke belakang.
Coh Liu-hiang sudah kebelet dan di ujung tanduk, terburu-buru ia berlari masuk, namun lewat lobang angin di sebelah belakangsana ia meluncur keluar.
Lobang angin ini kira-kira satu kaki lebarnya, bocah ingusan pun sukar lewat lobang sekecil ini, siapa tahu tulang belulang dan badan Coh Liu-hiang sudah dilatihnya sedemikian rupa sehingga bisa dipasang-surutkan menjadi kecil dan lemas, cara yang ditempuh benar-benar jalan yang tak mungkin dibayangkan orang lain.
Setelah melayang jauh puluhan tombak, barulah Coh Liu-hiang tersenyum geli, batinnya .
"Bu Hoa, Bu Hoa, permainan caturku tadi memang busuk dan tak bisa dicium, karena kau harus memecahkan letak kehebatan dari cara permainanku itu, boleh dikata laksana mencari tulang dalam telur.... tapi permainan caturku memang lain dari yang lain. Di saat kalian sangka aku terjeblos ke dalam kakus, mungkin aku sudah tiba di gunung Hi-san."
Pepohonan rimbun melambai bergoyang menyambut datangnya musim semi.
Di luar pintu selatan, memang pemandangan alam di Kilam menyerupai Kanglam, terutama pada malam bulan purnama seperti ini, lebih jelas kentara akan persamaan ini.
Di bawah bayangan dedaunan pohon yang menjuntai turun, tak kelihatan bayangan orang, yang ada hanyalah sepasang biji mata yang bersinar terang kemilau.
Bagai asap melayang, Coh Liu-hiang meluncur ke sana dan berbisik.
"Mana kudanya?"
"Kau masih sembunyi-sembunyi, sebetulnya hendak ke mana?"
Tanya Mutiara Hitam.
"Kalau bukan rahasia, masakah aku bisa bertindak sembunyi-sembunyi? Jikalau rahasia, mana boleh kuberitahu kepadamu."
"Kalau tidak percaya kepadaku, kenapa aku harus percaya kepadamu? Kalau aku tidak percaya kepadamu, buat apa kupinjamkan kuda kepadamu?"
"Hanya perempuan yang suka mencari tahu rahasia orang lain, cuma perempuan biasa menggunakan caranya ini untuk memeras orang. Kenapa kau jadi meniru watak seorang perempuan?"
Mutiara Hitam tercengang.
Walau tidak kelihatan perubahan air mukanya di malam nan gelap ini, namun dari sorot matanya yang dingin itu kelihatan terjadi perubahan yang rumit atas pikirannya.
Akhirnya dia bersuit perlahan, derap kuda lantas terdengar lari mendatangi, langkah kakinya sedemikian enteng laksana dahan pohon liu yang tergontai terhembus angin, hampir tak kedengaran tapak kakinya berdentam di atas tanah.
"Aku tahu, sekali-sekali kau tidak akan sudi dianggap sebagai kaum perempuan,"
Ujar Coh Liu-hiang. Mutiara Hitam melengos, tiba-tiba ia berpaling pula, tanyanya.
"Kapan kau kembalikan kudaku? Di mana aku harus menunggu?"
Coh Liu-hiang mencemplak naik ke atas kuda, sahutnya.
"Sekarang kau sudah tidak menghadapi bahaya, pergilah ke kota dan main sesuka hatimu, ingin ke mana pun tak usah kuatir diganggu murid-murid Kaypang. Dalam dua hari ini kudamu kukembalikan, bila aku belum mati lho."
Belum habis kata-katanya, Coh Liu-hiang sudah keprak kudanya membedal ke depan sambil tertawa panjang.
Kuda itu memang sakti dan hebat luar biasa.
Coh Liu-hiang mengeluarkan kemahirannya naik kuda, sekencang-kencangnya ia larikan kuda ini, terasa angin menderu di pinggir kupingnya, pepohonan di kedua samping jalan berkelebat mundur ke belakang cepat sekali.
Memang kecepatan laksana kilat inilah yang paling disenangi oleh Coh Liu-hiang, bukan lantaran tiada sebab maka Coh Liu-hiang ingin pinjam kuda ini, yaitu karena dia tidak ingin menguras tenaga hanya untuk menempuh perjalanan jauh ini.
Tenaga perlu dia pertahankan untuk melakukan sesuatu yang teramat penting artinya.
Waktu kuda Jian-li-kik membawanya tiba di Ni-san, sementara tengah malam sudah berselang, di bawah gunung Coh Liu-hiang mencari rumah pemburu dan titipkan kudanya di sana.
Dengan menyongsong terbitnya matahari, langsung ia mendaki ke atas gunung.
Cahaya matahari membuat balok batu yang melintang itu kelihatan sangat mengkilat, tapi kali ini tiada orang yang merintangi jalan Coh Liu-hiang.
Kicauan burung nan merdu seolah-olah menyambut kedatangannya, segalanya serba tenang dan tentram.
Gubuk-gubuk yang kokoh berderet di sana masih tetap di bawah tingkah sinar matahari, pintu masih setengah terbuka.
Melongok ke dalam lewat jendela yang terbuka, keadaan sunyisenyap tiada sesuatu gerakan.
Segala ketenangan ini tak kelihatan adanya tanda-tanda sesuatu kekerasan terjadi, tetapi terlalu tenang dan sunyi, sehingga hati Cob Liuhiang merasakan firasat jelek.
Tanpa mengetuk pintu, langsung ia menerjang masuk ke dalam.
Ternyata Chiu Ling-siok sudah tidak di tempatnya lagi.
Di atas kasur bundar tempat duduknya hanya ketinggalan sebuah tusuk konde hitam terbuat dari gading, bebauan harum masih terendus cukup keras.
Tersirap darah Coh Liu-hiang, serunya.
"Jin-hujin.... Jin-hujin.... di mana kau?"
Sudah tentu ia tahu seruannya itu takkan mendapat jawaban.
Sembari berteriak-teriak, lekas sekali ia sudah menggeledah ketiga gubuk berderet itu dengan seksama, namun bayangan nyamuk pun tidak ditemukan.
Selagi perabot dan benda di dalam gubuk masih tetap pada tempatnya seperti tidak pernah disentuh tangan, tidak terlihat pula adanya tanda-tanda perkelahian di sana.
Tapi Jin-hujin Chiu Ling-siok ke mana perginya?
Seperti anjing pelacak yang mengejar buruannya, sekali lagi Coh Liu-hiang mulai mencarinya dengan lebih teliti, dia mengharap Jin-hujin ada meninggalkan sesuatu apaapa meskipun itu hanya sebuah tanda rahasia, tapi tentulah amat besar artinya.
Tapi setiap sudut setiap tempat tertentu sudah dia periksa dengan teliti, tiada sesuatu tanda-tanda atau tulisan yang memberikan keterangan.
Bantal guling tertata rajin di atas ranjang, pakaian pun tertumpuk rapi di dalam lemari, di atas toilet menggeletak tiga batang sisir yang dijajar dan bersih, perabot-perabot rumah tangga berada di tempat masing masing.
Semuanya serba beraturan tidak ada satu kesalahan.
Kalau tempat ini mau dikatakan ada sesuatu yang ganjil, yaitu bahwa semua serba rapi, rajin dan beraturan pula seperti hendak sengaja ditata dan diatur sedemikian rupa untuk dipamerkan pada orang.
Dengan kepala terasa berat, Coh Liu-Hiang melangkah keluar, sorot matanya tiba-tiba tertumbuk pada tusuk konde hitam yang menggeletak di atas kasur bundar itu.
Kasur ini adalah kasur yg sering dipakai oleh Jinhujin, di atas kasur ada menggeletak tusuk kondenya, sebetulnya tidak perlu dibuat heran, maka pada waktu datangnya tadi Coh Liu-Hiang sedikit pun tidak menaruh perhatian.
Tapi sekarang setelah ia melihat keadaan rumah yang serba aneh dan ganjil ini, maka sebatang tusuk konde pun terasa terlalu menyolok pemandangan, karena tusuk konde ini melulu tidak diletakkan pada tempat yang sebenarnya, mana bisa berada di kasur bundar ini kalau tidak ada sesuatu maksud tertentu?
Dengan kedua jarinya, pelan pelan Coh Liu-Hiang menjepit tusuk konde ini, tiba-tiba didapatinya ujung tusuk konde ini menunjuk pintu kecil yg menembus ke belakang.
Sampai detik ini pintu itu masih tertutup rapat.
Tergopoh-gopoh Coh Liu-Hiang melompat ke arah pintu kecil tersebut, terasa daun pintu terkunci atau terpalang dari sebelah luar sana.
Sorot matanya seketika memancarkan cahaya terang yang amat menggembirakan hati, tanpa ayal ia mengayunkan kaki menendang jebol dan melompat keluar.
Belakang gunung jauh lebih belukar dan jarang diinjak kaki manusia.
Seperti seekor kucing yang hendak mengincar mangsanya di rumpun semak belukar, tiba-tiba dilihatnya di atas dahan pohon berduri sebelah kiri melambai secuil kain sobekan warna hitam.
Kain itu jelas sobekan baju yg dipakai oleh Jin-hujin.
Lekas Coh Liu-hiang membelok ke kiri lalu berjalan cepat-cepat dengan hati-hati, sekoyong-koyong didengarnya seringai tawa seram.
Seseorang berkata sambil terloroh-loroh kesenangan.
"Kalau kau tidak sudi aku menyentuh seujung jarimu, aku pun tidak mau memaksa, sampai sekarang kenapa tidak kau lekas lompat saja?"
Seringai tawa dan katakata ini ternyata dikeluarkan oleh pengemis galak dari Bulim, Pek-giok-mo adanya. Disusul terdengar suara Jin-hujin berkata.
"Aku toh bakal mampus, kenapa kau masih begitu tergesa-gesa?"
Pelan-pelan dan hati-hati Coh Liu-hiang menggeremel maju, perawakan tubuh Jin-hujin yang ramping semampai sedang berdiri di ambang jurang, hembusan angin gunung melambaikan pakaiannya, seolah-olah sembarang waktu dia bisa terhembus jatuh ke bawah.
Cadar hitam masih menutupi mukanya, kedua tangannya memeluk sebuah gentong kecil berisi abu Jin-lopangcu, sementara sambil menyeringai sadis Pek-giok-mo menghadang di depannya kira-kira empat kaki jauhnya, gaman yang dia pakai sekarang ganti sebatang Long-gee-pang yang berat dan ganas itu.
Hanya Pek-giok-mo seorang, diam-diam Coh Liu-hiang bersyukur dan lega hati.
Terdengar Pek-giok-mo membentak keras.
"Cepat mati lekas menitis pula, kalau kau tahu bakal mati, kenapa ulur-ulur waktu?"
"Nyawa amat berharga, bisa hidup sekejap lagi pun jauh lebih baik."
Gigi Pek-giok-mo gemeretak, desisnya.
"Untuk menuntut balas kepada Jinlothau, aku sudah menunggu dua puluh tahun! Meski aku tidak bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri, melihat abu jeneazahnya tersebar beterbangan dan sekarang dapat memaksamu putus jiwa lagi, terhitung terlampiaslah dendam hatiku selama ini."
"Aku tahu kau mencariku untuk menuntut balas, tapi cara bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"
Tanya Chiu Ling-siok. Pek-giok-mo menyeringai sinis, ujarnya.
"Kau kira tempatmu ini amat rahasia?"
"Memang tempat ini amat tersembunyi dan rahasia."
"Tempat yang begini tersembunyi, siapakah orang yang membawamu ke mari? Bukan mustahil kalau dia tahu bila kau berada di tempat ini?"
Sesaat lamanya Chiu Ling siok berdiam diri, katanya sambil menghela napas panjang.
"Ya, sejak lama seharusnya sudah kupikirkan hal ini, cepat atau lambat dia pasti takkan membiarkan aku hidup!"
"Kalau pertanyaanmu sudah habis, apa lagi yang kau tunggu?"
Bentak Pekgiok-mo.
"Kalau toh kau sudah menunggu dua puluh tahun, kenapa harus ribut dan tak sabar menunggu lagi beberapa kejap?"
Jelalatan mata Pek-giok-mo, katanya menyeringai.
"Apakah kau sedang menunggu orang untuk menolongmu? Bukankah kau sedang bermimpi?"
Chiu Ling-siok mendongak, agaknya sedang melihat cuaca, katanya memilukan.
"Sampai detik ini memang tiada orang yang akan bisa menolongku .... mati, bagaimana rasa sebenarnya?"
Dengan memeluk gentong berisi abu jenazah itu, dia sudah siap menerjunkan diri ke dalam jurang. Mendadak Coh Liu-hiang keluar seraya membentak.
"Pek-giok-mo, walau selamanya aku belum pernah membunuh orang, tapi asal tanganmu bergerak, biar kubunuh kau lebih dulu."
Long-gee-pang di tangan Pek-giok-mo sudah terangkat, namun seketika itu ia berdiri menjublek dengan mata terbelalak.
Cepat sekali Coh Liu-hiang bertindak tanpa memberi kesempatan orang memutar otak.
Di tengah suara bentakannya, bayangan badannya seperti elang menyambar mangsanya, ia jinjing badan Chiu Ling-siok dari pinggir jurang.
Baru sekarang Pek-giok-mo sadar dan gusar, bentaknya.
"Orang she Coh! Kenapa kau selalu turut campur urusan orang lain?"
Long-gee-pang yang panjang dan berat itu tahu-tahu sudah melanda datang menyapu ke arah Coh Liu-hiang dah Chiu Ling-siok.
Long-gee-pang adalah gaman panglima perang yang biasa digunakan dalam medan laga.
Betapa berat, kuat dan hebat macam senjata ini, jarang terlihat dipakai oleh tokoh-tokoh persilatan pada umumnya.
Pek-giok-mo memang dibekali tenaga raksasa pembawaan sejak dilahirkan, senjata yang begitu berat dapat dia mainkan dengan lincah, enteng dan serasi sekali.
Siapa nyana, tidak berkelit atau menyingkir, Coh Liu-hiang justru memapak maju.
Waktu menarik dan menjinjing badan orang tadi, Coh Liuhiang sudah menginsafi bahwa Chiu Ling-siok sudah kehilangan kepandaian silatnya, maka sekali-sekali ia takkan membiarkan orang cidera sedikit pun.
Oleh karena itulah maka ia bertindak cepat, tegas dan menempuh bahaya.
Tampak bayangan badannya menekuk dan menggeliat, tahu-tahu badannya sudah menyusup dan menerjang ke dalam sambaran Long-gee-pang yang bergigi-gigi tajam, runcing dan kemilau itu.
Secara mendadak ia turun tangan menarik dan menyodok ke sikut Pek-giok-mo.
Maka lengan Pek-giok-mo yang bergerak mengikuti ayunan Long-gee-pang itu serta merta tersentak naik dan tak kuasa mengendalikan diri pula!
Tahu-tahu tapak tangan Coh Liu-hiang sudah menepuk ke bawah ketiaknya.
Seketika Pek-giok-mo merasakan setengah badannya kesemutan dan kemeng, Long-gee-pang tak kuasa dipegang lagi dan terpental terbang ke tengah udara menembus mega, jatuh ke dalam jurang.
Gerakan menyanggah, menyodok dan menepuk dari Coh Liu-hiang, kalau dikatakan amat biasa dan tiada sesesuatu keistimewaannya, tapi betapa besar bahaya cara serangannya itu serta keanehan gerak tipunya, siapa pun takkan mampu melakukan atau menirunya.
Sungguh mimpi pun Pek-giok-mo tidak pernah berpikir, dalam satu gebrak saja gamannya secara aneh kena dilucuti oleh lawan.
Selama puluhan tahun ia malang melintang di Kangouw, belum pernah ia mengalami peristiwa yang memalukan seperti ini, tanpa sadar ia melongo di tempatnya.
Dilihatnya Coh Liu-hiang berdiri di hadapannya dengan adem ayem seperti tidak pernah terjadi apa-apa, katanya tersenyum lucu.
"Tidak kau lekas pergi?"
Ternyata ia tidak menyerang lebih jauh, malah memberi kesempatan Pekgiok-mo pergi demikian saja.
Lebih tak terpikir oleh Pek-giok-mo, hari ini ia mengalami kejadian yang lebih ganjil ini.
Dirinya kejam dan telengas bertangan gapah, sudah tentu takkan pernah terpikir olehnya jiwanya bakal diampuni sedemikian saja.
Sesaat lamanya ia kemekmek dan tak tahu entah kaget, girang atau heran.
Katanya tersendat.
"Kau.... masakah kau....."
Berkata Coh Liu-hiang tawar.
"Asal setiap saat kau berpikir 'kenapa aku belum mampus?', maka selanjutnya kau akan tahu diri cara bagaimana bersikap terhadap sesama manusia!"
Tanpa bicara lagi Pek-giok-mo segera putar tubuh dan lari sipat kuping.
"Klontang!"
Baru sekarang terdengar gema suara keras dari bawah jurang sana, kiranya baru sekarang Long-gee-pang jatuh menyentuh dasar jurang.
Coh Liu-hiang pelan-pelan putar badan menghadapi Chiu Ling-siok dengan tersenyum lebar.
"Agaknya cayhe datang terlambat!"
"Betapapun, akhirnya kau datang juga,"
Ujar Chiu Ling-siok bersyukur menghela napas, lalu sambungnya.
"Sekilas pandang aku lantas tahu kau seorang pandai, pasti bisa menangkap arti kata-kataku, maka kau pasti akan memburu datang pula. Maka waktu Pek-giok-mo mencariku, aku berusaha menyembunyikan diri dan perlahan lahan lari ke tempat ini. Mendengar aku ke mari hendak terjun ke bawah jurang, maka ia menundanunda turun tangan."
Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya.
"Kalau bukan karena keagungan Hujin, mana bisa membuat Pek-giok-mo yang buas bertangan gapah itu jeri menyentuh badan Hujin? Jikalau bukan mendapat petunjuk tusuk konde hujin, mana cayhe bisa memburu ke sini pula?"
Kedua orang lain jenis yang sama pintar dan cerdiknya itu ternyata bertemu di tempat ini secara kebetulan. Berkata Chu Ling-siok sambil tertawa-tawa.
"Ketahuilah bahwa apa yang kulakukan ini bukan demi mempertahankan jiwaku sendiri. Tapi jika tidak kubeberkan rahasia yang kupendam dalam relung hatiku, bukankah kematianku terlalu disayangkan?"
"Apakah boleh sekarang Hujin tuturkan rahasia hatimu itu?"
"Kalau sekarang tidak kubeberkan, maka mungkin selamanya tidak akan ada kesempatan lagi, tapi hal ini sangat rumit dan menyangkut persoalan besar yang amat penting artinya, cara bagaimana aku harus memulai ceritaku?"
Tanpa berpikir Coh Liu-Hiang berkata tegas."Surat!
Tentunya dari keempat pucuk surat yang Hujin kirim itu, surat-surat yang diterima oleh Ca Bok-hap, Sebun Jian, Ling Ciu-cu dan Cou Yu-cin bukan tulisan dan kiriman Hujin?"
"Ya ….. Akulah yang membuat celaka jiwa mereka."
"Kenapa Hujin menulis surat-surat itu, kesulitan apa yang Hujin hadapi?"
"Pernahkah kau dengar cerita Han Sian Te pada jaman kuno dulu. Sebagai raja dia seperti boneka atau golekan yang dikekang dan dipermainkan oleh para mentrinya, bukan saja tidak punya hak kekuasaan dan tak bebas bertindak, malah jiwa sendiri pun tak mampu dipertahankan."
Tersirap darah Coh Liu-hiang.
"Masakah Jin-lopangcu pun......."
"Keadaan Jin Jip selama tiga tahun belakangan ini, persis benar dengan raja yang harus dikasihani itu. Namanya saja dia sebagai Kaypang Pangcu, apa pun yang harus dia lakukan harus tunduk dan patuh oleh petunjuk seseorang."
Tak tahan bertanya Coh Liu-hiang.
"Terkekang oleh siapa dia?"
"Lamkiong Ling!"
Sahut Chiu Ling-siok sepatah demi sepatah dengan tandas. Coh Liu-hiang membanting kaki.
"Kiranya memang benar dia, memang dia!"
"Asal mulanya dia seorang anak yatim piatu, sejak kecil dia diasuh dan dirawat serta dididik oleh Jin Jip, diberi pelajaran ilmu silat lagi. Memang bocah itu berotak encer, pintar sekali, apa pun yang diajarkan Jin Jip pasti dapat dia pelajari dengan baik dan sempurna, malah lambat laun jauh mengungguli gurunya."
"Tapi mengandalkan kepandaian silat tinggi Jin-lopangcu........"
"Meski usianya lanjut, kepandaian Jin Jip tidak mundur, badan pun kekar dan sehat. Tapi tiga tahun belakangan ini, entah mengapa mendadak dia dihinggapi semacam penyakit aneh, bukan saja badan dan kesehatannya semakin lemah dan buruk, malah kaki tangan pun menjadi lumpuh, boleh dikata sudah menyerupai seorang cacat."
"Orang gagah paling takut menghadapi penyakit, sejak dulu kala memang demikianlah kejadiannya!"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Tapi penyakit ini datang tidak wajar, dan di luar batas nalar."
"Maksud Hujin, apakah ada orang yang sengaja meracuninya?"
"Ya, begitulah!"
Walau Coh Liu-hiang sudah tahu, namun tak tahan ia bertanya pula.
"Siapa?"
"Hanya ada seseorang yang mempunyai kesempatan menaruh racun, yaitu Lamkiong Ling. Sebelum kedok aslinya terbongkar, siapa pun akan beranggapan bahwa dia anak yang paling berbakti terhadap orang tua, bukan saja segala tugas urusan penting dan sulit dalam Pang dia sendiri yang menyelesaikan, sampai pun tempat tinggal, makan tidur Jin Jip pun dia sendiri pula yang meladeninya. Memang demikian telaten dia meladeni segala keperluan Jin Jip, aku malah menganggur. Semula aku amat terharu melihat kebaktiannya, siapa tahu apa yang dia lakukan itu tak lain hanya untuk mencari kesempatan untuk menurunkan tangan kejinya."
"Tapi lantaran khawatir menimbulkan kecurigaan orang lain, maka dia tidak berani meracuni Jin-lopangcu mati seketika. Betapa telengas dan kejam hatinya, begitu teliti dan cermat cara kerjanya, sampai aku pun kena dikelabui."
"Yang kena dia kelabui akan kekejamannya memang bukan kau seorang saja. Setelah Jin Jip sadar akan kekejian orang, namun sudah terlambat. Jin Jip sudah tidak mampu berbuat apa-apa atas dirinya, segala apa pun dia harus tunduk akan perintahnya. Bukan saja dia tidak berani membongkar tipu muslihat kejahatannya, malah dia harus pandang muka orang dan mesti menjilat dan mengagulkannya."
Sampai di sini, kata-kata yang semula tenang datar berubah menjadi gemetar dan tersendat dalam tenggorokan, maka dapatlah dibayangkan kehidupan tertindas dan terkekang serta terhina itu, pastilah diliputi rasa haru dan derita lahir batin yang kelewat batas.
Mendidih darah Coh Liu-hiang mendengar ceritanya ini, katanya marahmarah.
"Masakah tiada orang tahu atau perduli akan segala perbuatannya itu?"
"Di hadapan orang lain sikapnya sangat hormat dan patuh terhadap Jin Jip dan aku, siapa yang bisa menembus kedok aslinya yang kejam dan telengas itu?"
"Jin-lopangcu sudah kehilangan tenaga, sudah tentu tidak leluasa membongkar perbuatan jahatnya secara berhadapan. Tapi di saat dia tiada di tempat, kenapa tidak dibongkar saja tipu muslihatnya yang keji itu!"
"Hari-hari belakangan, aku dan Jin Jip boleh dikata sudah dia kurung secara halus, tanpa ijinnya siapa pun dilarang menemui kami. Terhadap orang luar dia katakan Jin Jip sedang sakit keras, tidak boleh diganggu, memangnya siapa yang tak percaya kata-katanya? Semua murid-murid Kaypang sama mengharapkan penyakit Jin Jip lekas sembuh, siapa yang berani datang mengganggunya?"
"Kalau demikian, cara bagaimana Hujin mengirimkan keempat pucuk surat itu?"
"Kuminta Lamkiong Ling mengirimkannya."
"Lamkiong Ling?"
Teriak Coh Liu-hiang melengak.
"Untuk mengirim surat kepada Sebun Jian dan Cou Yu-cin tidak sulit, tapi Ling Ciu-cu dan Ca Bok-hap, satu di laut selatan dan yang lain di gurun pasir nan jauh di barat laut sana, kecuali Lamkiong Ling yang bisa memimpin para pengemis di seluruh jagat ini yang bisa mengirim ke sana, siapa pula yang mampu mengirim surat itu tiba pada alamatnya dengan selamat?"
"Benarlah kalau begitu,"
Seru Coh Liu-hiang bertepuk tangan.
"Semula aku heran. Ca Bok-hap, Ling Ciu-cu, Sebun Jian dan Cou Yu-cin bertempat tinggal jauh dekat tidak menentu. Jikalau keempat pucuk suratmu kau kirim bersamaan, Sebun Jian dan Cou Yu-cin seharusnya sudah tiba, sebaliknya Ca Bok-hap dan Ling Ciu-cu mungkin belum menerima suratnya, tapi mereka berempat justru tiba pada saat dan waktu yang bersamaan, bukankah hal ini aneh?"
Coh Liu-hiang menelan ludah, lalu menyambung.
"Baru sekarang aku tahu, ternyata Lamkiong Ling sudah memperhitungkan waktunya. Ia sudah memperhitungkan, setelah Ca Bok-hap dan Ling Ciu-cu menerima surat dan berangkat dalam perjalanan, baru dia kirim surat untuk Sebun Jian dan Cou Yu-cin. Persis dan tepat benar perhitungannya akan kedatangan mereka berempat pada waktu yang sama, namun dia bikin mereka mati pada saat yang sama pula."
Setelah memahami semua seluk-beluk persoalan ini, semakin terasa olehnya betapa teliti dan cermatnya cara kerja Lamkiong Ling sungguh menakutkan.
Chiu Ling-siok menarik napas panjang, katanya pelan-pelan.
"Sejak Jin Jip jatuh sakit, laksaan murid kaypang yang tersebar di seluruh pelosok dunia sama menganggap dan memandang Lamkiong Ling sebagai calon tunggal pewarisnya. Cukup sepatah kata Lamkiong Ling, jangan kata hanya untuk mengirim surat, seumpama suruh mereka menempuh gunung berapi dan terjun ke air mendidih pun banyak orang yang berlompatan mendahului terima tugas ini. Betapa besar kekuatan dan kekuasaannya , masakah boleh dibuat permainan?"
"Tapi cara bagaimana dia mau mewakili Hujin mengirimkan surat itu?"
"Akhir-akhir ini, untuk membeli hati orang, pengeluaran teramat besar, tapi untuk mengangkat nama dan mendirikan wibawa di dalam dunia persilatan, masakah dia merasa pelit dan kikir untuk mengeluarkan segala harta benda meski dengan cara gelap?"
"Mungkinkah memang ada tujuannya yang lain?"
"Setelah aku menikah dengan Jin Jip, meski merubah she ganti nama, tapi dia cukup jelas mengenai seluk-belukku, sudah tentu hal ini lantaran Jin Jip yang terlalu percaya kepadanya. Hari ke hari, biaya yang dia keluarkan relatif amat besar jumlahnya, semua tabungan milik Kaypang selama puluhan tahun sudah dikurasnya sampai habis. Suatu hari dia paksa aku untuk mencarikan jalan keluarnya, oleh karena itu terpaksa kutulis keempat pucuk surat itu."
"Tidak salah, dalam surat Hujin itu tidak dijelaskan kesulitan apa sebenarnya yang Hujin hadapi. Sebaliknya Cou Yu-cin dan Sebun Jian amat gampang mengeruk uang sebanyak mungkin, harta milik pihak Hay-lam-pay pun tidak kecil jumlahnya, apalagi raja gurun pasir, tak perlu dikatakan lagi. Apakah Lamkiong Ling menyangka surat Hujin itu bertujuan untuk pinjam uang pada mereka?"
"Karena dia hendak memperalat aku, maka kesempatan ini pun kugunakan untuk ganti memperalat dia buat mengirimkan suratku itu. Asal dapat bertemu dengan mereka berempat, segala urusan gampang diselesaikan."
"Tapi kenapa pula Lamkiong Ling mengubah maksudnya semula? Tidak memeras uang mereka, sebaliknya malah mencabut jiwa mereka?"
"Itulah karena seseorang! Sehari setelah surat-surat itu dikirimkan, malamnya datanglah orang itu. Mereka bicara dalam kamar tertutup semalam suntuk, maka urusan lantas berubah seratus delapan puluh derajat!"
Bersinar mata Coh Liu-hiang, tanyanya segera.
"Siapa orang itu?"
"Aku sendiri tidak melihatnya."
Dengan kecewa Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Kau hanya tahu akan kedatangannya?"
"Demi mengawasi tindak tanduk kami, Lamkiong Ling menetap di gubuk sebelah. Kalau toh kami sudah menjadi ikan dalam jaringnya, maka dia tidak begitu hati-hati terhadap kami, maka segala keadaan dalam gubuknya itu kebanyakan dapat kudengarkan. Meski lwekangku sudah punah, untung kepandaian kupingku masih dapat kupertahankan."
"Kau dengar apa saja yang mereka bicarakan?"
"Pembicaraan mereka amat lirih, berat dan prihatin. Aku tahu persoalan yang mereka rundingkan pasti sesuatu rahasia yang teramat penting, kadang kala agaknya ada sedikit perdebatan yang cukup sengit, namun tak bisa kudengar persoalan apa yang mereka bicarakan."
"Sayang kau tidak bisa mendengarkan percakapan mereka, tokoh yang misterius ini bukan mustahil adalah orang di belakang layar yang pegang peranan akan semua peristiwa misterius ini."
"Tokoh misterius ini, hari kedua pagi-pagi benar lantas pergi. Tak lama kemudian Lamkiong Ling masuk membawa semangkok kuah kolesom, katanya untuk Jin Jip supaya tambah tenaga."
Berkilat sorot mata Coh Liu-hiang.
"Kuah kolesom ini pastilah membawa sesuatu akibat yang fatal?"
"Sudah lama dia tidak berbuat sebaik ini. Aku tahu di balik perbuatannya ini pasti tersembunyi suatu muslihat, tapi aku sudah gunakan tiga macam cara, namun tidak berhasil ketemukan adanya ramuan sesuatu jenis racun dalam kuah itu!"
Chiu Ling-siok menghela napas, lalu meneruskan.
"Tentunya kau pun tahu, dulu aku termasuk seorang tokoh yang cukup lihay, termasuk tingkatan kelas satu di Bulim dalam permainan racun. Kalau dalam kuah itu ada dicampur sedikit racun apa pun, perduli dengan cara dari aliran atau golongan mana saja, pastilah dapat kucoba dengan baik. Maka aku berpendapat bahwa kuah kolesom ini tentulah tidak ada apa-apanya yang perlu dikuatirkan."
"Oleh karena itu, dengan lega hati kau berikan kuah itu untuk diminum Jin-lopangcu?"
"Kalau toh kuah itu benar tiada racun, kenapa aku harus mengabaikan kebaikan Lamkiong Ling? Apalagi saban hari Jin Jip hanya bisa makan bubur, memang dia memerlukan bahan obat-obatan untuk menambah kesehatan dan semangatnya."
Tiba-tiba tergerak hati Coh Liu-hiang, tanyanya keras.
"Setelah minum kuah kolesom itu, apakah seluruh badan Jin-lopangcu menjadi melepuh besar?"
Chiu Ling-siok kaget dan terkesima dibuatnya, tanyanya.
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Thian-it-sin-cui! Kau tidak berhasil mencoba kadar racun di dalam kuah itu, karena itulah Thian-it-sin-cui."
Baru sekarang dia lebih yakin dan berkesimpulan lebih jelas bahwa biang keladi dari semua peristiwa pembunuhan ini ternyata adalah orang yang mencuri Thian-it-sin-cui dari Sin-cui-kiong itu.
Sudah tentu dia pula yang membunuh Thian-jiang-sin Song Kang dan orang yang menyamar jadi Thian-hong-cap-si-long itu.
Meski Lamkiong Ling seorang musuh yang cukup menakutkan, namun kelicinan dan kekejaman orang itu jauh melebihi Lamkiong Ling yang hanya diperalat saja.
Walau sekarang Coh Liu-hiang sudah tahu rahasia Lamkiong Ling, tapi jikalau dia tak berhasil menyelidiki siapa orang itu, maka segala jerih payahnya selama ini berarti sia-sia belaka.
Semakin hebat badan Chiu Ling-siok gemetar, katanya.
"Sejak mula aku tidak percaya Lamkiong Ling tega membunuh Jin Jip dengan tangannya sendiri, aku tidak percaya bahwa kuah itu beracun, tapi sekarang..... sekarang......"
Mendadak ia menubruk ke depan Coh Liu-hiang dan berseru dengan suara serak.
"Segala persoalan sudah kututurkan kepadamu, dapatkah kau membalaskan dendamku?"
Coh-Liu-hiang menghela napas, ujarnya.
"Setelah segala rahasia ini terbongkar, tanpa aku turun tangan, Lamkiong Ling sendiri takkan bisa hidup lebih lama lagi. Tidak heran, tak segan-segan dia gunakan segala cara dan menghabiskan seluruh harta benda, tujuannya hendak merintangi aku menemuimu."
"Tapi kenapa dia sudi membawamu ke mari?"
"Sejak semula dia segan bentrok secara berhadapan. Setelah kudesak dan kupaksa, saking kewalahan dan tak berdaya, barulah dia membawaku ke mari. Dia tahu, di hadapannya sekali-kali kau takkan berani membocorkan rahasianya."
Setelah merandek sebentar, lalu ia menggumam.
"Hari itu dia minta aku tunggu dua jam, maksudnya tentu bukan menyelesaikan urusan dalam Kaypang, melainkan supaya pembunuh kejam itu datang ke mari lebih dulu, menyaru jadi Thian-hong-cap-si liong dan menunggu aku di jembatan batu itu. Dengan dia sendiri yang mengiringi, bukan saja dia tak perlu takut aku berhadapan denganmu, dia pun hendak gunakan situasi tempat yang berbahaya ini untuk menyikat aku, supaya kelak tidak meninggalkan bibit bencana. Jikalau selamanya aku tak berhasil menemukanmu, sudah tentu dia akan jauh lebih lega dan hidup ongkang-ongkang kaki."
"Dia suruh orang menunggumu dan membunuhmu. Jikalau tak berhasil, lalu dia iringi kau menemui aku, dengan kehadirannya sudah tentu aku tidak bisa sembarangan bicara."
Mendadak Chiu Ling-siok tertawa pilu, lalu katanya pula.
"Dia sendiri berpendapat perbuatannya cukup rapi dan hatihati, siapa tahu Thian maha adil, akhirnya dia takkan lolos dari pertanggungan-jawab atas perbuatannya."
"Bahwasanya dia sendiri kukira belum tentu tega, dia pun kuatir aku akan kembali pula ke sini, maka dia bocorkan tempat tinggalmu kepada Pek-giokmo. Dengan pinjam tangan Pek-giok-mo untuk menyumbat mulutmu, di kala orang lain tahu kejadian ini, segala tanggung jawab boleh dia timpakan kepada Pek-giok-mo...."
Sampai di sini Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya pula.
"Tapi tidak terpikir olehnya, bahwa selekas ini aku sudah menyusul ke mari, permainan caturku itu agaknya tidak sia-sia kujalankan. Cuma di saat dia sadar akan muslihat permainan caturku itu, kejadian pasti sudah terlambat."
Sesaat lamanya Chiu Ling-siok menepekur, mendadak dia berkata pula.
"Thian-hong-cap-si-long, tadi kau ada menyinggung nama ini?"
"Ya, Apakah Hujin juga kenal akan orang ini?"
"Meski aku tidak mengenalnya, dulu sering aku mendengar Jin Jip menyinggung dirinya."
"Tak kuduga memang ada orang seperti itu dalam dunia ini, kukira nama Thian-hong-cap-si-long hanyalah nama palsu yang mereka sebut untuk mengada-ada saja!"
"Lahirnya Jin Jip halus di luar dan keras batinnya, selamanya jarang dia mau tunduk dan mengagumi orang lain, namun terhadap Thian-hong-cap-silong ini dia teramat kagum dan menghormatinya. Setiap kali menyinggung nama orang, selalu dia memujinya sebagai orang gagah laksana gemblengan besi baja."
"Orang seperti itu memangnya ada hubungan apa dengan Lamkiong Ling? Kenapa Lamkiong Ling meminjam namanya? ... Apa Hujin tahu di mana dia sekarang?"
"Orang ini sudah meninggal sejak dua puluh tahun yang lalu."
"Siapa yang membunuhnya?"
"Yang membunuhnya adalah Jin Jip."
Tak terasa Coh Liu-hiang tertegun, katanya tak mengerti.
"Jin-lopangcu sedemikian hormat dan mengaguminya, kenapa pula harus membunuhnya?"
"Thian-hong-cap-si-long menyeberangi lautan dan mendarat di Tionggoan, maksudnya hendak menjajal kepandaian dengan tokoh-tokoh Bulim. Waktu itu belum lama Jin Jip memangku jabatan Kaypang Pangcu, saat kegemilangan dan ketenarannya mencapai puncaknya, sudah tentu Thianhong-cap-si-long tidak sia-siakan kesempatan untuk bertanding sama dia. Tidak lama setelah dia berada di Tionggoan, langsung ia berkirim surat menantang kepada Jin Jip, di mana dijelaskan tanggal, waktu dan tempat pertandingan."
"Thian-hong-cap-si-long itu memang terlalu takabur. Betapa besar negeri kita dan berapa banyak tokoh-tokoh silat yang hebat kepandaian silatnya, seumpama harimau mendekam naga menyembunyikan diri, masa mengandalkan tenaganya seorang bisa malang melintang?"
"Setelah menerima surat tantangan Thian-hong-cap-si-long itu, demi nama baik Kaypang, sudah tentu dia tidak menolak tantangannya, apalagi waktu itu di saat jaya-jayanya, dia memang ingin juga berkenalan dengan pendekar pedang dari Tang-ni yang aneh dan luar biasa itu."
"Betapa hebat dan menakjubkan pertandingan kala itu tentulah menggetarkan bumi menggoncangkan langit. Sayang aku terlambat lahir dua puluh tahun, betapa menyenangkan bila bisa menyaksikan pertandingan besar yang tiada taranya ini."
"Kalau kau sudah lahir pada waktu itu, tentu kau akan kecewa, karena pertempuran itu tidak seru dan tidak menakjubkan."
"Kenapa begitu? tanya Coh Liu-hiang melongo.
"Biasanya Jin Jip tidak mau mengagulkan diri. Setelah menerima surat tantangan, kejadian ini tidak ia siarkan kepada umum, sampai sekarang tokoh-tokoh Kangouw yang tahu akan peristiwa ini pun tak banyak. Orang yang mengiringi dia dalam pertandingan itu cuma Sutouw Tianglo seorang yang kini sudah meninggal, kecuali itu boleh dikata tiada orang ketiga yang tahu."
"Di mana tempat pertandingan ditentukan?"
"Kabarnya tempat itu berada di Binglam, di sebuah gunung yang tidak begitu terkenal namanya, maksudnya supaya tidak menimbulkan perhatian sesama kaum persilatan."
"Kalau demikian, Thian-hong-cap-si-long yang takabur itu kiranya seorang yang tidak mengejar nama. Kalau tidak, seumpama Jin-lopangcu menutupi peristiwa itu, tentulah dia sendiri akan menyiarkan peristiwa besar itu."
"Di dalam surat tantangannya itu memang ada dijelaskan, bertanding demi mengukur kepandaian silat bukan untuk mengejar nama. Waktu Jin Jip dan Sutouw Tianglo tiba di tempat yang ditentukan, Thian-hong-cap-si-long ternyata sudah menunggu di sana. Tanpa banyak kata, segera ia turun tangan kepada Jin Jip."
"Sepatah kata pun tidak bicara?"
"Menurut cerita Jin Jip kepadaku, waktu ia tiba di atas gunung, Thianhong-cap-si-long sedang duduk di atas batu besar itu, kedua tangannya menyoren sebilah pedang panjang yang sudah terlolos dari sarungnya. Begitu melihat Jin Jip, segera ia bangkit dan pasang kuda-kuda menurut ajaran tunggal ilmu pedang dari Tang-ni, mulutnya hanya berkata dua patah saja."
"Dua patah kata apa?"
"Hanya berkata ‘marilah.’ lalu dia tutup mulut. Melihat orang sedemikian angkuh, Jin Jip naik pitam, maka dia pun malas buka suara."
"Apakah Jin-lopangcu menggunakan senjata juga?"
"Jin Jip bersenjata Pak-kau-pang, senjata tradisi dari leluhur para Pangcu Kaypang yang terdahulu. Belum sepuluh jurus mereka bertempur, Jin Jip sudah berhasil memukul pedang panjang di tangan Thian-hong-cap-si long, tongkatnya telak mengenai badannya, kontan Thian-hong-cap-si-long roboh dengan muntah darah."
Heran Coh Liu-hiang dibuatnya, teriaknya.
"Thian-hong-cap-si-long meluruk datang dari tempat jauh, membekal kepandaian yang tiada taranya, masakah tidak begitu becus ilmu pedangnya?"
"Waktu itu Jin Jip pun heran. Belakangan baru dia tahu, kiranya Jin Jip bukanlah orang pertama yang pernah bertanding dengan Thian-hong-cap si-long pada hari yang sama. Sebelumnya dia sudah bertanding dengan orang lain lebih dulu, malah membekal luka dalam yang amat parah. Jikalau dia mau buka suara, tentu Jin Jip tidak sudi mengambil keuntungan ini, namun dia justru tak mau bila orang sangka dirinya jerih, maka dia hanya mengeluarkan kata-kata ’marilah’, sepatah kata pun tidak dia singgung tentang luka-luka dalamnya. Jin Jip kira orang kelewat angkuh, tidak sudi banyak bicara dengan orang lain. Luka-luka dalam yang dideritanya memang teramat parah, ditambah sekali ketukan tongkat Jin Jip di dadanya lagi, manusia besi pun takkan kuat bertahan. Hari itu juga dia menemui ajalnya. Sebelum ajal, sepatah kata pun ia tidak mau unjuk kelemahannya, dia pun tidak salahkan Jin-jip, cuma berkata bahwa dia bisa ajal di medan laga maka tidak sia sialah perjalanannya ini."
Bergolak darah Coh Liu-hiang, katanya menengadah sambil menghela napas.
"Sampai ajalnya pun Thian-hong-cap-si-long tidak mau unjuk kelemahan, tidak mau kehilangan kepercayaan akan keyakinan diri sendiri. Sudah tahu bahwa jiwanya bakal ajal, namun dia tetap menghadapi pertandingan secara jantan, memang tidak malu dan jarang sekali ditemui orang gagah seperti gemblengan baja seperti itu."
"Mungkin itulah semangat juang yang paling dibanggakan oleh para Busu di Tang-ni sana???"
"Bagaimana jua, orang seperti dia patut dipuji dan dibuat bangga, tidaklah heran bila puluh tahun kemudian Jin-lopangcu masih sedemikian kagum dan mengenangnya."
"Memang tanggung jawab kematian Thian-hong-cap-si-long bukan lantaran Jin Jip, namun Jin Jip sendiri berkata bila waktu itu dia sedikit perhatikan, pastilah bisa mengetahui luka-luka yang diderita oleh Thianhong-cap-si-long."
"Siapakah orangnya yang sudah melukai berat Thian-hong-cap-si-long sebelum mati di tangan Jin-lopangcu?"
"Selama ini Jin Jip tidak pernah menyinggung orang itu."
"Tentulah orang itu pula seperti Jin-lopangcu, seorang tokoh yang tidak suka menonjolkan nama, sehingga pertarungannya dengan Thian-hong-cap si-long dulu sampai kini masih merupakan rahasia dan tiada orang yang tahu."
Berhenti sebentar, Coh Liu-hiang lalu meneruskan.
"Dengan kekuatan Lwekangnya orang itu memukul Thian-hong-cap-si-long sampai terluka berat, betapa tinggi kepandaian silatnya dapatlah dibayangkan! Setelah terluka parah melawan orang ini, Thian-hong-cap-si-long masih kuat memburu ke tempat perjanjiannya dengan Jin Jip, tentulah tempat di mana dia terluka parah itu masih termasuk dalam wilayah Binglam pula, lalu siapakah tokoh tersembunyi itu? ... Ah..., apakah... ?"
Mendadak Chiu Ling-siok menyela.
"Kuberitahukan cerita ini kepadamu bukan tanpa alasan."
"Masih ada alasan apa?"
"Sebelum ajalnya, Thian-hong-cap-si-long berpesan sesuatu kepada Jin Jip. Tapi bagaimana pun, dengan susah payah pernah kutanyakan kepada Jin Jip, namun dia selalu geleng kepala dan tidak mau menerangkan."
"Kenapa Jin-lopangcu begitu rapat merahasiakan hal itu?"
"Hal itu aku pun tidak tahu, tapi belakangan dapatlah aku menerka-nerka sebagian."
"Oh?"
"Setiap kali Jin Jip melihat Lamkiong Ling, dia selalu teringat kepada Thian-hong-cap-si-long. Karena hal itu, selalu dia menghela napas dan berdoa serta meneras diri. Belakangan, meski dia sudah tahu Langkiong Ling mencelakai jiwanya, tapi dia tetap bersikap alim dan tak mau mengeluarkan kata-kata yang menyinggung Lamkiong Ling. Selalu ia berkata, memang dialah yang bersalah terhadap Lamkiong Ling. Sampai dewasa, persoalan apa pula yang pernah dia salah lakukan terhadap Lamkiong Ling, tidak pernah dia ceritakan."
Sorot matanya seolah-olah terpancar keluar dari balik cadar hitamnya. Dengan tajam ia tatap Coh Liu-hiang, katanya tandas.
"Maka kupikir pesan terakhir menjelang ajal Thian-hong-cap-si-long tentulah mengenai Lamkiong Ling. Jin Jip merasa berdosa terhadap Thian-hong-cap-si-long, maka terhadap Lamkiong Ling pun ia mengalah dan memberi hati."
"Maksudmu bahwa Lamkiong Ling adalah keturunan Thian-hong-cap-silong?"
"Ya, begitulah tentunya!"
Coh Liu-hiang berpikir sebentar, katanya bertepuk tangan.
"Benar, Jinlopangcu tidak mau memberi tahu persoalan itu, tentulah dia kuatir Lamkiong Ling mengetahui rahasia riwayat hidupnya sehingga timbul rasa dendam dan keinginan menuntut balas."
"Terhitung kau bisa menyelami jerih payah Jin Jip. Waktu itu dia sudah pandang Lamkiong Ling sebagai anak kandungnya sendiri, sudah tentu dia harus merahasiakan bahwa dirinyalah yang membunuh ayah kandungnya. Selama hidupnya sepak terjangnya selalu terang-terangan, namun toh dia menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain. Betapa menderita batinnya, dapatlah dibayangkan."
"Tapi bagaimana pun juga ia menyimpan rahasia ini, yang mencelakai jiwanya toh tetap Lamkiong Ling juga. Duapuluh tahun yang lalu secara tidak sengaja dia melakukan kesalahannya itu, tak nyana duapuluh tahun kemudian dia harus mempertaruhkan jiwa sendiri untuk menebus dosadosa masa lalu."
"Kalau Thian yang maha kuasa menghendaki dia memberikan imbalan dengan jiwanya, kukira tidak adillah keputusan ini."
"Tapi apa benar Lamkiong Ling mengetahui persoalan ini? Pembunuh misterius itu apakah benar ada sangkut-pautnya dengan Thian-hong-capsi-long? Kalau tidak, dari mana dia memperoleh pelajaran tunggal Jin-sut dari Tang-ni?"
"Semua rahasia ini menjadi tanggunganmu untuk membongkarnya satu persatu, segala rahasia yang kuketahui sudah kuberikan kepadamu, sekarang boleh kau pergi"
Sorot mata Coh Liu-hiang balas menatap orang, katanya tiba-tiba.
"Cayhe masih ingin mohon sesuatu kepada Hujin."
"Masih ada persoalan apa?"
"Entah sudikah Hujin membuka cadar penutup muka supaya Cayhe dapat menikmati wajah Hujin yang rupawan?"
Lama Chiu Ling-siok tenggelam dalam renungannya, katanya rawan.
"Apa benar kau ingin melihat mukaku?"
"Bukan hanya satu dua hari saja Cayhe mempunyai keinginan ini."
Hatinya amat tertarik, memang ingin dia menikmati wajah tercantik sejagat yang dipuja-puja oleh khalayak ramai, kalau tidak mungkin dia akan menyesal seumur hidupnya.
"Dua puluh tahun mendatang,"
Kata Chiu Ling-siok akhirnya.
"Kau adalah orang kedua yang pernah melihat mukaku."
"Hanya dua orang yang bisa melihat wajah Hujin?"
Coh Liu-hiang menegas dengan heran dan tak mengerti.
"Ya, hanya dua orang. Kau dan Jin Jip...."
"Kenapa? Orang lain..."
Mendadak Coh Liu-hiang melongo dan tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
Selama hidupnya, entah betapa banyak berbagai persoalan dan kejadian aneh yang pernah dia alami, namun belum pernah terjadi sesuatu yang bisa bikin hatinya bergetar dan terkesima.
Cadar hitam itu pelan-pelan tersingkap.
Dalam hati Coh Liu-hiang mengharap bisa menikmati seraut wajah nan ayu rupawan laksana bidadari.
Siapa tahu setelah cadar hitam itu tertanggalkan, seraut muka yang terpampang di hadapannya ternyata menyerupai wajah setan iblis yang paling menakutkan.
Di atas mukanya itu, tiada secuil kulit daging pun yang utuh mengkilap, selembar mukanya tonjol-menonjol laksana permukaan kawah gunung yang sudah membeku, berlobang-lobang besar kecil, tiada panca indera yang berbentuk, apa pun tiada, yang ada hanya daging-daging merah darah yang buruk dan menjijikkan serta lobang-lobang yang merekah!
"Sekarang kau sudah puas belum?"
Tanya Chiu Ling-siok dengan pilu.
"Cayhe... sungguh Cayhe tidak habis mengerti...."
"Sekarang toh kau sudah tahu, kenapa hanya Jin Jip dan kau saja yang pernah melihat raut wajahku, karena sejak lama mukaku ini sudah rusak. Kupikir, tiada perempuan di dalam dunia ini yang sudi mukanya dilihat orang dengan bentuk yang menakutkan seperti ini, benar tidak?"
Lagu bicaranya ternyata sedemikian tenang dan dingin, namun mendengar kata-katanya ini serasa ditusuk sembilu ulu hati Coh Liu-hiang.
Dia seorang yang tak pernah tunduk, tanpa sadar sekarang dia tertunduk, katanya tersekat.
"Cayhe memang patut mati, kenapa Cayhe harus paksa Hujin...."
"Kau tidak memaksa, aku sendiri yang rela memperlihatkan kepadamu."
Kerlingan matanya masih lembut dan bersinar terang, sepasang matanya yang menyorot terang ini bukan saja tidak memperlihatkan rasa haru, takut dan penyesalan, malah menunjukkan sekulum senyuman manis.
Katanya lebih lanjut pelan-pelan.
"Cuma sayang kau terlambat datang, sehingga aku tidak bisa memperlihatkan raut wajahku dua puluh tahun yang lalu kepada Maling Romantis. Bagimu memang merupakan sesuatu yang mengecewakan, betapa aku pun tak merasa kecewa?"
"Bagaimanapun perubahan raut wajah Hujin, keagungan Hujin masih tiada bandingan di seluruh kolong langit. Cayhe bisa berhadapan dengan keagungan Hujin, sudah terhitung beruntung dan bahagia selama hidup."
"Kau tak usah menghiburku, karena aku tidak sedih dan menderita. Dua puluh tahun sejak raut mukaku ini dirusak, belakangan ini baru aku betulbetul mengecap kehidupan bahagia nan sejati."
Mengawasi segumpal mega yang terhembus angin pegunungan, ia berkata lebih tenang.
"Kadangkala aku malah berterima kasih kepada orang yang menyebabkan raut mukaku rusak ini. Jika bukan karena dia, masa aku bisa mengecap kehidupan bahagia dan tenang tenteram selama dua puluh tahun ini?"
"Entah siapakah orang yang setega itu?"
Chiu Ling-siok mengalihkan sorot matanya, dengan nanar ia tatap Coh Liuhiang, katanya kalem.
"Pernahkah kau dengar nama Ciok Koan-im?"
"Ciok Koan-im (Koan-im Batu)?"
Jerit Coh Liu-hiang.
"Tentu kau pernah dengar nama itu, memang dia seorang perempuan yang berilmu silat paling tinggi dan berjiwa sempit serta kejam tiada bandingannya di seluruh jagat ini. Kini mungkin dia terhitung perempuan tercantik di seluruh dunia!"
"Dia... ada dendam sakit hati apa dengan Hujin?"
"Tiada dendam sakit hati apa-apa, paling-paling dia hanya satu kali melihatku."
"Lalu kenapa dia....."
Chiu Ling-siok menukas kata-katanya.
"Menurut kabar yang tersiar di kalangan Kangouw, konon dia mempunyai semacam kaca cermin iblis. Setiap hari ia selalu bertanya kepada kaca ini.
"Siapakah perempuan tercantik di seluruh jagat ini?"
"Apakah kaca itu selalu menjawab bahwa dia adalah perempuan tercantik di seluruh dunia?"
"Benar, sampai suatu ketika jawaban kaca iblis ini mendadak berubah, dia mengatakan aku... katanyanya Chiu Ling-siok adalah perempuan tercantik di kolong langit, dan bencana yang menimpaku dimulai sejak jawabannya itu."
Tentunya hal ini menyerupai dongeng belaka.
Dongeng yang tidak menarik, namun mengandung mistik yang tak bisa diterima oleh kesadaran manusia.
Tanpa terasa Coh Liu-hiang sampai linglung mendengar ini, katanya sesaat kemudian dengan menghela napas.
"Oleh karena itu maka dia lantas mencari Hujin?"
"Setelah ia berhadapan denganku, ia memandangku tanpa berkedip selama dua jam. Akhirnya mendadak ia bertanya. ‘Chiu Ling-siok, kau ingin aku membunuhmu atau kau sendiri merusak raut wajahmu?’"
"Pertanyaan ini sungguh amat menggelikan."
"Tapi waktu itu sedikit pun aku tidak merasa geli, terasa kaki tanganku berkeringat dingin, sepatah kata pun tak kuasa bicara. Dia mengawasiku sekian lamanya pula, lalu tiba-tiba memutar badannya dan berkata.
"Tiga bulan lagi aku akan ke mari pula. Saat itu, jikalau kulihat mukamu masih sama seperti sekarang ini, biar kubunuh kau."
Di atas meja dia meninggalkan sebuah botol kecil serta berkata pula.
"Kubiarkan kau pertahankan kecantikanmu selama tiga bulan lagi, tentunya kau cukup tahu cara bagaimana menggunakan kesempatanmu!"
"Kalau dia sudah pergi, kenapa Hujin tidak pergi menyembunyikan diri saja?"
"Bila Ciok Koan-im sudah keluarkan kata-katanya hendak membunuh seseorang, tiada seorang pun yang bisa lolos dari tangannya. Dengan mata kepalaku sendiri aku saksikan kepandaian silatnya, waktu itu aku sendiri pun belum ingin mati!"
"Masakah dalam dunia ini ada orang yang betul-betul ingin mati?"
Pelan-pelan Chiu Ling-siok memejamkan matanya, ujarnya.
"Waktu itu aku masih muda, masih amat berat meninggalkan kehidupan yang romantis ini. Kupikir, meski aku tidak secantik ini lagi, tapi masih tetap bisa hidup, toh jauh lebih baik daripada mati."
Ia membuka mata seperti sedang tertawatawa, katanya menyambung.
"Kupikir pula, sedikitnya aku masih mempertahankan tiga bulan kecantikanku, sudah tentu aku harus sayang dan menggunakan kesempatanku ini. Lalu dalam jangka tiga bulan ini, apa pula yang harus kulakukan?"
Tak tahan Coh Liu-hiang menimbrung.
"Maka Hujin ingin meninggalkan kesan kecantikan itu di dalam sanubari setiap insan yang pernah melihatmu, maka Hujin lantas menemui ahli gambar yang paling terkenal pada jaman itu, Sun Hak-boh."
Chiu Ling siok melengak, katanya.
"Kau.... kau sudah tahu semua?"
"Cayhe sudah pernah menemui Sun-siansing!"
"Perbuatanku waktu itu memang terlalu kasar.... malam di mana ia berhasil menyelesaikan gambar lukisan diriku, batas waktu tiga bulan pun sudah tiba, Ciok Koan-im biasanya paling menepati janji dan waktu."
"Maka pada malam itu juga Hujin merusak roman muka sendiri?"
"Botol kecil peninggalan Ciok Koan-im itu berisi obat balur yang bisa membakar kulit, jauh lebih panas dari bara api,"
Sampai di sini lagu suaranya yang tenang kembali bergetar dan haru pula.
"Karena tidak ingin Sun-siansing melihat roman muka Hujin yang telah rusak, setelah siuman maka....."
"Waktu aku melolohkan cairan obat itu ke mukaku, aku sudah kehilangan kesadaran, kalau tidak mau dikata sudah gila, maka... oleh karena itu baru bisa aku melakukan perbuatan yang terkutuk itu, aku... aku..."
Mendadak ia menutup muka dengan kedua tangan sendiri dan tak bicara lagi. Coh Liu-hiang menghela napas panjang, ujarnya.
"Sampai sekarang baru Cayhe tahu kenapa Hujin berbuat sedemikian kejam terhadap Sunsiansing, kenapa pula harus membikin empat gambar lukisan. Dulu aku masih kabur dan tak tahu serta salah menebak akan maksud tujuan Hujin."
"Peduli apa pun maksud tujuanku, aku melakukan perbuatan serendah itu, kau tak pantas memaafkan aku, benar tidak?"
Sesaat lamanya Coh Liu-hiang terbungkam, katanya kemudian dengan suara haru.
"Cayhe hanya tahu Jin-hujin yang sekarang adalah perempuan yang paling lembut, welas asih dan bajik. Soal bagaimana sepak terjang Chiu Ling siok yang dulu, bukan saja Cayhe tidak tahu, juga tidak akan ambil perhatian."
Chiu Ling-siok juga berdiam lama, katanya kemudian.
"Dalam dua puluh tahun ini memang sudah banyak perubahanku, sudah tentu kau pun bisa menerka siapa yang membuatku berubah."
"Jin-lopangcu!"
Tidak menjawab, Chiu Ling-siok malah berkata.
"Dalam keadaan gila aku mengorek keluar kedua biji mata Sun Hak-boh, aku sendiri pun lantas jatuh pingsan. Waktu aku siuman kembali, seluruh kepalaku sudah diperban, selanjutnya aku hidup dalam kegelapan selama beberapa bulan. Waktu itu sungguh tak tahu aku betapa aku harus berterima kasih kepada Siok-sim Taysu. Jikalau bukan karena rawatannya yang telaten, mana bisa aku hidup sampai sekarang?"
Nada suaranya semakin tenang. katanya lebih lanjut.
"Tapi di saat aku melihat sinar matahari, baru aku tahu orang yang selalu mendampingiku ternyata bukan Siok-sim, namun Jin Jip."
"Oleh karena itu rasa terima kasih dan utang budi Hujin lantas ditujukan kepada Jin-lopangcu?"
"Waktu itu bukan saja aku tidak merasa berterima kasih atau utang budi, malah aku amat membencinya."
"Membencinya?"
"Waktu aku berhadapan dengan Jin Jip, kulihat pula raut mukaku. Setelah menyaksikan raut mukaku ini, baru sadar aku takkan bisa hidup lebih lama lagi, aku sudah kehilangan kecantikan mukaku, berarti kehilangan jiwa ragaku pula."
Sambil menghela napas, ia meneruskan.
"Waktu itu bukan saja aku teramat sedih, hatiku pun amat marah, lebih benci pula kenapa Jin Jip justru menemui aku pada saat seperti itu. Kembali gilaku kumat, kontan aku mengusirnya pergi."
"Keadaan Hujin waktu itu sedikit banyak Cayhe bisa merasakan dan memahaminya."
"Kalau begitu kau pun harus tahu, manusia seperti Jin Jip kau hajar, takkan gampang mengusirnya pergi. Hari kedua pagi-pagi, dia datang pula, aku mengusirnya lagi."
"Tapi hari ketiga dia tetap datang pula."
"Setiap hari datang, setiap hari kuusir dia. Kugunakan kata-kata paling kotor, paling rendah, untuk memakinya, malah menghajarnya pula, tapi setiap pagi dia tetap mengunjungiku."
Pelan-pelan ia mengelus gentong di pelukannya. Meskipun itu merupakan sebuah gentong kecil yang dingin, tapi seakan-akan membawa hawa hangat tak terbatas yang menghibur hatinya.
"Kau tahu,"
Demikian ia melanjutkan pula.
"Waktu itu dia sudah menjadi Kaypang Pangcu, sebetulnya tak perlu peduli terhadap perempuan yang buruk rupa dan kotor seperti aku ini. Dia bersikap begitu rupa, sekarang kau melihat mukaku ini, tentu kau pun bisa merasakan, kecuali Jin Jip, kukira tiada laki-laki dalam dunia ini yang sudi terima dihina dan direndahkan. Kecuali aku ini orang yang betul-betul sudah ayal, kalau tidak mana bisa hatiku tak terharu dan iba terhadap sikapnya itu?"
"Itulah karena yang dicintai Jin-lopangcu bukan kecantikanmu yang sudah hilang itu, tapi jiwa dan sukma Hujin. Dia kan tahu, meski raut muka Hujin sudah berubah, jiwa dan sukma takkan berubah!"
"Sayang di masa hidupnya Jin Jip tidak kenal denganmu, kalau tidak pasti dia akan menjadi sahabat karibmu.... Cuma pengertianmu terhadapnya sih belum cukup, terkaanmu tetap salah terhadap dia."
"Oh? Salah?"
"Sebelum peristiwa itu terjadi, hanya dua kali aku pernah berhadapan dengan Jin Jip, cara bagaimana dia bisa begitu kepincut terhadapku? Apalagi yang kelihatan cantik waktu itu hanyalah ragaku, sukma atau jiwaku justru teramat buruk dan kotor."
"Adakalanya seseorang bisa juga jatuh cinta pada penglihatan pertama, mencintai sampai ke tulang sumsumnya."
Agaknya Chiu Ling-siok tertawa mendengar kata-kata ini, ujarnya.
"Bagaimana pun, itu bukanlah sebab yang utama. Sebab yang utama adalah karena dia ikut merasakan betapa besar derita seorang perempuan setelah dia kehilangan kecantikannya. Dia pun tahu, hanyalah rasa iba dan kasih sayang yang dapat meringankan beban penderitaan ini, maka dia berkeputusan mengorbankan diri sendiri, untuk mendampingi aku dan menghiburku seumur hidup!"
Kepalanya menengadah, katanya pula.
"Sudah kukatakan, dia adalah orang yang paling bajik di seluruh kolong langit ini."
Bab 14 Keterangan. Diambil dari
Jilid 10 Pendekar Pengejar Nyawa di
http.//www.langka.info atas ijin bung bagusetia sebagai admin-nya.
Kontributor.
kalenteha, Sikasep, iwan1991 --------------------------------------------"Bagaimanapun, tidak bisa dikatakan dia mengorbankan diri sendiri."
Ujar Coh Liu-hiang.
"Meski dia tidak mempersunting perempuan tercantik di dunia, namun dia memperoleh kehalusannya, keagungannya, serta isteri yang setia."
"Terima kasih, terima kasih akan kata-katamu ini"
Kata Chiu Ling-siok lembut.
"Selamanya kau tidak akan mengerti, setelah mendengar katakatamu ini betapa riang gembira hatiku ini."
"Cayhe malah harus berterima kasih kepada Hujin, yang telah memberi tahu kejadian masa lalu. Selama hidup Cayhe, selamanya takkan bisa mendengar cintaasmara yang sedemikian suci murni dan mengasyikkan."
"Tahukah kau, kecuali Jin Jip, bukan saja kau orang kedua yang pernah melihat mukaku ini, kau pula laki-laki satu-satunya yang amat kukasihi, aku amat berterima kasih!"
Tatapannya semakin lembut dan semakin hangat. Dengan penuh kasih sayang ia mengelus gentong kecil, perlahan-lahan lalu melanjutkan kata-katanya.
"Karena, meskipun Jin Jip memberikan kehidupan bahagia dan tenteram selama duapuluh tahun, namun hanya Kau saja yang bisa memberikan ketenangan hati dan keteguhan iman untuk menghadapi kematianku."
"Mati?"
Coh Liu-hiang tersentak kaget.
"Setelah Jin Jip meninggal, tujuan hidupku hanyalah untuk membongkar rahasia pribadi dan kejahatan Lamkiong Ling. Sekarang cita-citaku sudah tercapai, kau kira aku masih bisa tetap hidup?" *** Perjalanan cukup jauh dan lama. Waktu tiba di Kilam, hati Coh Liu-hiang masih dirundung kesedihan. Dengan mendelong ia mengawasi badan Jinhujin melayang-layang jatuh ditelan mega ke dalam jurang yang tak terukur dalamnya, sedikitpun ia tidak mampu menolong atau berbuat apaapa. Walaupun dia melihat dengan jelas, sorot mata Jin-hujin menjelang ajal adalah sedemikian tenang, sedikitpun tidak memperlihatkan tekanan derita. Meski dia pun tahu, kematian bagi jiwa Jin-hujin yang sudah rapuh tidak lebih hanyalah istirahat yang abadi, tapi dia masih merasa amat pilu dan sedih, sungguh bukan kepalang rasa marah dan gusarnya. Dia bersumpah, dia harus menemukan Lamkiong Ling. Hampir saja dia hendak segera meluruk kepada Lamkiong Ling. Malam sudah larut, tapi di dalam Hiang-tong pihak Kaypang di Kilam, cahaya lilin masih terpasang terang-benderang seperti di tengah hari bolong. Setiba di Kilam sebetulnya tidak terpikir oleh Coh Liu-hiang untuk segera menemui Lamkiong Ling, maka dia hanya menemukan seorang murid Kaypang serta menanyakan di mana Lamkiong Ling sekarang berada. Di bawah penerangan sinar lilin yang terang benderang, di atas kursi cendana yang besar itu, bagai patung duduk seseorang dengan gagahnya, dia bukan lain adalah Lamkiong Ling. Tangannya sedang menopang dagu, duduk di sana seperti sedang memikirkan sesuatu yang amat berat mengganjal hatinya, seolah-olah pula sedang menunggu kedatangan seseorang. Siapakah yang dia tunggu? Dari wuwungan rumah yang di luar sana, Coh Liu-hiang sudah melihat dirinya. Pek giok mo pasti sudah pulang lebih dulu, tentunya dia pun sudah tahu seorang diri Coh Liu-hiang sudah berhadapan langsung dengan Chiu Ling siok dan bicara. Lalu kenapa dia tidak segera menyingkir? Kenapa masih tetap duduk di sana? Apakah ini merupakan sebuah jebakan? Di dalam pekarangan yang luas itu sudah terpendam tenaga pembunuh yang tak terhitung banyaknya, tanpa segan-segan Lamkiong Ling menjadikan dirinya sendiri umpan untuk memancing kedatangan Coh Liu-hiang? Tapi pekarangan sedemikian sunyi senyap, tak kelihatan bayangan manusia, tak terlihat adanya jebakan dan hawa angker, lantai batu hijau mengkilap ditingkah sinar bintang laksana kaca. Lamkiong Ling mendadak menengadah, serunya sambil tersenyum.
"Apa Coh-heng sudah tiba? Sudah lama Siaute menunggu di sini."
Rada kaget Coh Liu-hiang dibuatnya. Terdengar Lamkiong Ling berkata pula.
"Coh-heng tak usah kutlir, hanya Siaute seorang yang berada di sini, tiada jebakan atau perangkap segala."
Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya.
"Sudah tentu di sini tiada perangkap apa-apa, sudah tentu aku cukup lega hati, urusan seperti ini tentunya kau tidak suka bikin terkejut lain orang. Sudah tentu kau tahu lebih baik persoalan ini diselesaikan di antara kita berdua saja."
Di tengah kumandang kata-katanya, badannya sudah melayang masuk ke pendopo.
Dengan pandangan berkilat ia tatap Lamkiong-Ling.
Lamkiong Ling-pun balas menatapnya, sorot matanya setajam pisau, seperti mata serigala, setajam mata burung elang pula.
Lama sekali baru Lamkioug Ling menarik napas, katanya.
"Kau sudah tahu, bukan?"
Coh Liu-hiang manggut-manggut, ujarnya.
"Kau pun sudah tahu bahwa aku sudah tahu, benar tidak?"
Lamkiong Ling manggut-manggut pula, katanya.
"Tapi Siaute masih belum menyingkir, masih menunggu di sini, tentunya Coh-heng merasa heran, bukan?"
"Kau tidak menyingkir, karena kau tahu, kau takkan bisa menyingkir ke mana pun!"
"Aku tidak menyingkir lantaran aku memang tidak mau menyingkir. Kalau tidak, betapa besar dunia ini, ke mana saja aku toh bisa pergi."
Coh Liu-hiang menarik kursi lalu duduk, katanya.
"Kalau kau pergi, kau harus meninggalkan segala milikmu, terombang-ambing dalam hidup di pembuangan. Tapi jika dipaksa untuk meninggalkan ketenaran nama dan kekuasaan yang kau pegang sekarang, tentulah jauh lebih menderita daripada kau menghadapi kematian."
Lamkiong Ling terbahak-bahak, serunya.
"Coh-heng betul-betul seorang sahabatku yang paling karib, kau tahu segala isi hati dan cita-citaku."
Mendadak ia tarik senyum-tawanya, bentaknya bengis.
"Kalau toh begitu mendalam pengertianmu akan pribadiku, tentunya kau tahu sampai mati pun aku tidak akan sudi membuang segala itu. Sesuatu yang kudapat atas jerih payahku dengan memeras keringat dan darah, tiada seorang pun yang kuasa memaksaku untuk meninggalkanya demikian saja."
"Tidak bisa tidak, kau harus membuangnya!"
Lamkiong Ling berjingkrak bangun, hardiknya beringas.
"Kenapa tidak bisa tidak aku harus membuangnya? Meskipun aku sudah membunuh Jin Jip, tidak lebih karena aku harus menuntut balas bagi kematian ayahku! Dendam orang tua sedalam lautan, siapa manusia di dalam Kangouw yang berani mencercah perbuatanku?"
"Jadi kau sudah tahu rahasia tentang dirimu?"
"Jin Jip sangka dia bisa merahasiakan terhadapku, apa kau pun menyangka bisa mengelabui diriku?"
Coh Liu-hiang menghela napas panjang, katanya kalem.
"Seandainya perbuatanmu itu hanya untuk menuntut balas kematian ayahmu, seumpama tiada orang-orang Kangouw yang mengganggu usik dirimu, tapi murid-murid Kaypang, jika mereka tahu kau membunuh Jin Jip, apakah mereka masih berdiam diri dan membiarkan kau tetap menjadi Pangcu mereka?"
Bergetar badan Lamkiong Ling, tiba-tiba badannya melosoh tertunduk pula di atas kursinya, kata-kata Coh Liu-hiang laksana sebilah pisau menusuk telak ke ulu hatinya.
Seperti mendadak jauh lebih tua, kepalanya tertunduk, katanya rawan.
"Coh Liu-hiang! Coh Liu-hiang! Kenapa kau menyudutkan diriku demikian rupa? Sebetulnya sedikit pun aku tidak ingin melukaimu, kau....., kenapa kau suka turut campur urusan orang lain?"
Sesaat Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya tertawa kecut.
"Mungkin karena sejak dilahirkan aku sudah dibekali pembawaan suka mencampuri urusan orang lain."
"Sejak pertama kali aku melihatmu, lantas aku berpendapat kau boleh kuangkat sebagai temanku seumur hidup, kau..... masihkah kau ingat pertama kali kita bertemu di tempat mana?"
"Di kaki gunung Thay-san. Waktu itu bukan saja Ki-loh-su-hiong berhasil merampok barang kawalan Siang-gi-piaukiok dari Kim-leng, malah putri dari Cong-piauthau Sa Thian-gi pun diculiknya. Setelah mendengar kabar buruk ini, tak terkendali timbul sifatku suka mencampuri urusan orang lain. Cepat aku menyusul ke Thay san, tak kira kau tiba lebih dulu di tempat itu."
Sorot matanya yang tajam berkilat lambat laun menjadi tenang dan kalem, katanya pelan.
"Waktu aku tiba di sana, seorang diri dengan mengandalkan sepasang tapak tangan besimu, kau sudah bikin Ki-loh-su hiong terluka parah. Melihat kepandaian silatmu yang luar biasa, masih berusia muda dan gagah pula, aku jadi tertarik kepadamu. Waktu itu bila ada orang bertanya kepadaku, siapakah Enghiong muda nomor satu di selurub jagat ini, tanpa sangsi aku pasti akan mengatakan kepada mereka, Lamkiong Ling itulah orangnya."
"Sejak pertemuan itu, kau dan aku lantas jadi sahabat karib,"
Ujar Lamkiong Ling tertawa riang.
"Setiap aku punya waktu senggang, pasti aku bertamu ke atas kapalmu untuk berfoya-foya selama dua hari, masih ingat tidak waktu aku membuat lukisan So Yong-yong......"
"Waktu itu adalah hari-hari terlama sejak kita berkumpul. Dalam lima hari, kita berdua menenggak habis seluruh arak simpanan di dalam kapalku. Pernah satu kali, karena mabuk aku terjun ke dalam laut hendak menangkap rembulan, ternyata kau pun ikut terjun ke air hendak bantu aku. Rembulan akhirnya tak berhasil kita tangkap, diluar dugaan kita samasama menangkap seekor kura-kura laut yang amat besar."
"Kura-kura itu merupakan hidangan paling lezat yang pernah kunikmati selama hidup, kau dan aku berlomba siapa yang makan lebih banyak. Kurakura sebesar itu ternyata dapat kita habiskan dalam sehari, tapi karena itu perut kita berontak dan sakit dua hari."
Kedua orang itu tertawa gembira dan saling berpandangan seperti sudah melupakan ganjalan hati di antara mereka.
Tapi entah kenapa, lama kelamaan gelak tawa itu semakin lirih dan akhirnya sirap.
Coh Liu-hiang menggumam;
"Kehidupan beberapa hari itu sungguh nikmat dan menyenangkan, ada kalanya aku merasa heran kenapa kehidupan gembira selalu terasa begitu pendek."
"Asal kau tidak merusak hubungan baik ini, kita tetap masih bisa menikmati kehidupan yang jauh tebih menyenangkan. Asal kau tidak buka mulut, orang lain pun tidak akan ada yang tahu."
Lama Coh Liu-hiang menepekur, lama sekali ia berpikir, akhirnya berkata sambil menghela napas.
"Jikalau mau berkata ada sesuatu yang dapat menggerakkan hati Coh Liu-hiang, itulah persahabatan yang kental!"
"Kau ... kau mau tutup mulut?"
"Aku tidak akan mengatakan......."
"Sahabat ...... memang aku tahu Coh Liu-hiang memang sahabat kental Lamkiong Ling."
"Aku tidak akan katakan, tapi kau harus terima dua syaratku!"
Lamkiong Ling melengak, tanyanya.
"Dua syarat apa?"
"Walau kau harus menuntut balas terhadap kematian ayahmu, tindakanmu tidak semestinya begitu kejam, tidak pantas pula kau mencelakai jiwa beberapa orang yang tak berdosa. Aku harap untuk sementara kau meletakkan jabatan Pangcumu, pergilah cari suatu tempat menyekap diri dan renungkan segala kesalahanmu selama ini. Kau.... masih muda, kelak masih bisa bekerja mulai dari permulaan. Mengandalkan bakat dan kecerdikanmu, kelak tentu banyak yang bisa kau hasilkan."
Membesi muka Lamkiong Ling, katanya dengan tertawa menengadah.
"Coh Liu-hiang, sahabat baikku! Kau katakan tidak hendak membunuhku, tapi sebaliknya kau suruh aku bekerja dari permulaan. Sampai kapan? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun ..."
Mendadak ia berjingkrak bangun, sekujur badannya gemetar keras, katanya serak.
"Selama hidup seseorang, punya berapa kali masa dua puluh tahun? Kenapa kau harus paksa aku mengorbankan saat-saat terindah selama hidupku ini? Kenapa tidak cekak aos saja kau katakan hendak membunuhku?"
"Aku hanya ingin kau bertobat dan menebus dosa atas semua perbuatanmu, hanya ingin kau merubah cara hidup dan menyesali diri, aku tidak ingin kau mati. Ketahuilah, mati bukan cara terbaik untuk menebus dosa seseorang."
"Lalu apa pula syaratmu yang kedua? Ingin pula aku mendengarkan."
"Aku hanya ingin tahu dan sukalah kau memberi tahu kepadaku, siapakah sebetulnya si "dia"
Itu?"
"Dia?"
Lamkiong Ling menegas dengan mengerutkan alis.
"Ya. dia yang membunuh Thian-ing-cu dan Song Kang, dia adalah orang yang menyaru jadi Thian-hong-cap-si-long, orang yang hendak mencabut nyawaku, dia pula orangnya yang mencuri Thian-it-sin-cui dari Sin-cuikiong itu."
Seperti kena setrum kuat, badan Lamkiong Ling bergetar hebat, seketika ia terkesima dan melongo.
"Jelas kau sudah tahu, perbuatannya itu tentu bukan hanya ingin membunuh Jin Jip saja, dia pasti banyak mempunyai rencana jahat lainnya, sekali-kali aku tidak bisa berpeluk tangan menyaksikan rencana jahat kalian terlaksana, aku harus merintanginya."
Lamkiong Ling kertak gigi, katanya sepatah demi sepatah.
"Selamanya kau takkan bisa merintangi dia, tiada seorang pun di dunia ini yang mampu menghalangi maksudnya!"
"Sampai detik ini, kenapa kau masih merahasiakan dirinya? Tahukah kau, kematian Jin Jip tidak lebih hanyalah salah satu dari rencana jahatnya, kau tidak lebih hanya diperalat untuk membunuh Jin Jip saja. Bila tiba waktunya di mana dia memandang perlu, jiwamu sendiri pun bakal dia bunuh juga."
Mendadak Lamkiong Ling terkial-kial menggila lagi, serunya.
"Dia memperalat aku? Dia pun bisa membunuh aku?.... Tahukah kau siapa dia?"
"Justru aku tidak tahu siapa dia, maka kutanya kau."
"Sangkamu aku sudi mengatakan kepadamu?"
"Lamkiong Ling! Lamkiong Ling! Sebetulnya aku pun tidak ingin melukaimu, kenapa kau ingin mendesakku?"
"Kaulah yang memaksaku, bukan aku memaksamu. Walau aku tidak ingin melukaimu, kalau sudah terpaksa, apa boleh buat, aku harus turun tangan terhadapmu."
"Kau pasti takkan bisa turun tangan karena ilmu silatmu terang bukan tandinganku."
"Apa benar?"
Jengek Lamkiong Ling.
Kelihatannya badannya tidak bergerak, namun tahu-tahu tubuhnya melesat terbang lempang dari atas kursinya.
Demikian pula Coh Liu-hiang tidak pernah bergeming, tapi badannya pun ikut mencelat terbang.
Tapi setiba di tengah udara, Coh Liu-hiang masih bergaya orang duduk, kursi kayu cendana yang besar dan berat itu seolah olah lengket dengan kulit badannya.
Keduanya beradu di tengah udara, terdengar dua telapak tangan saling beradu keras beruntun sebanyak tujuh kali.
Dalam tempo sedemikian pendek dan secepat kilat, keduanya sudah adu pukulan tujuh kali.
Tujuh pukulan kemudian, bayangan keduanya terpental balik pula ke arah datangnya masing masing.
Membawa kursinya dengan enteng tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Coh Liu-hiang meluncur balik ke tempatnya, persis di tempatnya semula tanpa tergeser sedikit pun.
Sedemikian berat dan keras kursi cendana itu, namun tidak menimbulkan suara apa pun beradu dengan lantai batu hijau.
Sebaliknya Lamkiong Ling berjumpalitan balik dan meluncur pula ke atas kursinya, namum dia buat kursi cendana yang berat itu terkeresek mengeluarkan suara, roman mukanya pun berubah pucat dan bengis.
Walau keduanya tidak menderita luka-luka, namun tak dapat disangkal sudah menunjukkan perbedaan tingkat kepandaian silat mereka.
Meski pendek gebrak pertarungan adu kepandaian ini, jelas akibatnya bakal menentukan situasi yang akan datang.
Kelihatannya gebrak sekali ini sedemikian enteng dan singkat saja, namun betapa penting arti pertarungan ini tidaklah kalah genting dan gawat dari suatu pertempuran mati hidup yang pernah terjadi pada masa lalu.
"Lamkiong Ling! Masakah kau masih ingin paksa aku turun tangan terhadapmu?"
Dari merah berubah hijau dan memucat pula rona wajah Lamkiong Ling, sikapnya kelihatan sedih dan harus dikasihani, katanya menghela napas dengan menengadah.
"Lamkiong Ling! Lamkiong Ling! Kau berlatih menggembleng diri selama duapuluh tahun, ternyata tak mampu menghadapi gebrakan serangan musuh?"
Mendadak ia melompat bangun, bentaknya keras.
"Coh Liu-hiang, jangan kau takabur! Kalau Lamkiong Liong hari ini berani menunggumu di sini, masakah aku tidak punya cara lain untuk menundukkanmu?"
Ditengah hardikannya, sambil mengulapkan tangan, tahu-tahu seorang laki-laki tinggi besar delapan kaki, dengan telanjang dada dan kepala pelontos gundul seperti kingkong, beranjak keluar sambil menjinjing sebuah kursi tinggi di atas pundaknya.
Di bawah penerangan sinar lilin yang terang benderang, tampak jelas di atas kursi itu duduk pula seseorang, raut mukanya pucat pias, sepasang biji matanya yang indah tertuju kosong lempang ke depan.
Berubah pucat muka Coh Liu-hiang, teriaknya tersirap.
"Yong ji, kau.... bagaimana kau bisa berada di sini?"
So Yong-yong seperti tidak mendengar pertanyaannya. Ia duduk lemas tanpa bergerak. Lamkiong Ling tertawa dingin, ejeknya.
"sudah tentu akulah yang mengundang ke mari. Kecuali aku, siapa yang mampu mengundangnya ke mari?"
"Peristiwa di Hong-ih-ting, di pinggir Tay-bing-ouw, keempat laki-laki jubah hijau itu jadi orang-orang utusanmu?"
"Ya, tidak salah!"
Lamkiong Ling mengakui.
"Dari mana kau bisa tahu dia berada di sana?"
"Bulan purnama di Tay-bing-ouw, janji pertemuan menjelang magrib! Kalau Bu Hoa sudah memberi ingat kepadaku, sudah tentu aku harus menengok sendiri. Kalau aku dulu pernah menggambar lukisannya, kenapa aku tidak bisa mengenalnya?"
"Kau kuatir dia berhasil mencari tahu seluk-beluk rahasia pihak Sin-cuikiong, maka kau suruh anak-anak buahmu turun tangan jahat. Tapi kalau toh kalian sudah turun tangan serapi itu, dari mana pula kau bisa tahu bila dia belum ajal?"
Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya.
"Aku tahu pemuda baju hitam itu menyaksikan dari kejauhan, sengaja kubiarkan dia untuk membawa kabar kepadamu. Tapi waktu kau ke mari sedikit pun tidak menunjukkan kesedihan hati. Dari sini dapatlah kusimpulkan bahwa So Yong-yong hakekatnya belum mati! Oleh karena itu kau pura-pura masuk WC, terus melarikan diri. Aku tidak mengejarmu, malah mengejar dia! Memang sukar mengejarmu, tapi lebih gampang meringkus dia!"
"Sebaliknya dia sedikit pun tidak menaruh curiga terhadapmu, kalau tidak mana mungkin bisa terjatuh ke tanganmu?"
"Memangnya dia pernah mencurigai sahabat karib Coh Liu-hiang?"
Tiba-tiba Coh Liu-hiang seperti teringat sesuatu, bentaknya keras.
"Tidak benar! Waktu keempat laki jubah hijau turun tangan kepadanya, kau sedang menemani aku menemui Jin-hujin, terang kejadian itu ada orang lain yang merencanakan. Siapa dia? Dari mana pula dia bisa kenal dengan Yong-ji?"
Berubah pula air muka Lamkiong Ling, bentaknya bengis.
"Kalau aku sudah keluarkan perintahku, memangnya aku sendiri harus hadir di sana?"
Tanpa menunggu Coh Liu-hiang bicara kembali, ia membentak.
"Turunkan dia!"
Laki-laki besar seperti kingkong itu melempangkan kedua tangannya di depan dada, pelan-pelan ia turunkan kursi yang dipanggulnya tadi.
"Kenapa tidak kau pertotonkan kekuatan kedua tanganmu itu?"
Kata Lamkiong Ling kepada manusia kingkong itu.
Laki-laki besar itu membuka lebar mulutnya yang bertaring besar dan menyeringai lucu, kedua tapak tangan segede kilas itu pelan-pelan terulur ke depan meraih sebuah kursi, pelan-pelan pula kedua tangannya terangkap mundur dan sedikit gencet.
"pletak!" , kursi kayu cendana yang berat dan besar itu kena digencetnya hancur berkeping-keping. Lamkiong Ling tertawa besar, serunya.
"Bagus sekali! Sekarang letakkan kedua tapak tanganmu di atas kepala nona cilik itu. Cuma kau harus hatihati sedikit, jangan kau gencet kepalanya sampai pecah."
Betul juga, pelan-pelan tangan besar yang cukup untuk memegang kepala So Yong-yong itu lalu sedikit ditarik ke atas. Menuding Coh Liu-hiang, berkata Lamkiong Ling kepada manusia kingkong itu;
"Sekarang pentang lebar matamu, pandang seluruh badannya. Asal jarinya sedikit saja bergerak, lekas kau gencet remuk batok kepala nona itu."
Laki-laki kingkong itu ternyata terloroh-loroh senang, seperti mendapat suatu mainan yang menarik hatinya, sebaliknya Coh Liu-hiang merasa kaki tangan berkeringat dingin, katanya sambil menengadah.
"Lamkiong Ling! Lamkiong Ling! Tak nyana kau tega melakukan pebuatan serendah ini. Kau.... tindakanmu ini sungguh membuat hatiku kecewa."
Lamkiong Ling melengos, katanya serak.
"Sebetulnya aku tidak ingin berbuat begini, tapi kenapa kau harus mendesakku begini rupa?"
"Sekarang, kau.... apa keinginanmu yang sebenarnya?"
"Aku hanya ingin kau tahu So Yong-yong sudah terjatuh di tanganku. Kalau kau masih ingin dia tetap hidup, maka jangan sekali-kali ikut campur mengurusi persoalan pribadiku!"
Lama Coh Liu-hiang berpikir, katanya kemudian.
"Jikalau aku tidak hiraukan jiwanya, tetapi mencampuri urusanmu, bagaimana?"
Lamkiong Ling berpaling, sahutnya tertawa.
"Aku yakin benar Coh Liuhiang bukan laki-laki yang suka berbuat senekad itu."
"Kalau demikian, kau.... maksudmu kau hendak menahan So Yong-yong selamanya di tempatmu ini?"
"Peduli di mana saja, pasti akan kuusahakan supaya kau tahu bahwa dia masih tetap hidup. Kukira keputusan ini jauh lebih baik daripada kematiannya, benar tidak?"
"Tapi aku pun masih tetap hidup. Sehari aku masih bernyawa, jangan harap kau bisa berlega hati. Seandainya sekarang aku menyetujui saranmu ini, kalian toh tetap akan berusaha menamatkan jiwaku, benar tidak?"
Lambat-lambat Lamkiong Ling menarik muka, katanya sepatah demi sepatah.
"Itulah persoalan lain, mati hidupmu tiada hubungannya dengan mati hidupnya. Jikalau kau masih ingin dia tetap hidup, sekarang juga harus tunduk akan perkataanku."
"Setelah aku mati, kau pun akan membunuhnya juga?"
"Kalau kau sudah mampus, mati atau hidup masih ada hubungan apa dia dengan kau? Tetapi jikalau kau masih hidup, tentu takkan tega melihat kematiannya lantaran kau, ya?"
"Kukira imbalan syaratmu ini terlalu tidak adil!"
"Sampai detik ini kau masih bermimpi memperoleh imbalan syarat yang adil?"
Seru Lamkiong Ling terbahak-bahak.
"Apalagi, sebelum kau mampus, kau kan masih punya kesempatan bisa menolongnya keluar dengan selamat."
Dengan nanar Coh Liu-hiang mengawasi ke arah muka So Yong-yong, tanpa sadar ujung jarinya mulai gemetar.
Jikalau ada orang bilang ternyata Coh Liu-hiang bisa juga gemetar, mungkin tiada orang di kolong langit ini yang mau percaya.
"Coh Liu-hiang!"
Seru Lamkiong Ling tertawa besar.
"Sebenarnya aku cukup memahamimu sampai ke tulang-tulangmu, aku tahu kau harus tunduk kepadaku, sekarang tiada pilihan lain lagi bagimu!"
Ujung mata Coh Liu-hiang seperti mengerling sekilas kepadanya, lalu berkata dengan menghela napas lebih dulu.
"Lamkiong Ling, kalau kau sudah bikin aku kecewa, mungkin suatu ketika aku pun bisa bikin kau teramat kecewa terhadapku."
Ketika itu mendadak terdengar suara sambaran.
"serrr!" , selarik bayangan hitam membawa deru angin kencang, bagai ular jahat tahu-tahu membelit kencang ke leher laki-laki kingkong itu. Dengan menjerit marah, laki-laki kingkong itu angkat kedua tangannya. Baru saja tangannya terangkat, seenteng asap secepat kilat tahu-tahu Coh Liu-hiang sudah berkelebat ke sana dan menyambar So Yong-yong seperti elang menyambar anak ayam ke depan sana. Saking kagetnya, Lamkiong Ling hendak ikut menubruk maju, tetapi selarik sinar pedang yang tajam berhawa dingin tahu-tahu laksana bianglala meluncur tiba menghadang di depannya. Coh Liu-hiang membawa So Yong-yong ke pojok pendopo sana baru sempat menghela napas lega, gumamnya tertawa.
"Hek-tin-cu, It-tiam-ang, aku berkenalan dengan kalian, sungguh nasibku menjadi baik."
Cambuk di tangan Hek-tin-cu sudah ditariknya sekencang gendewa, dengan kedua tangannya ia menarik setakar tenaganya, seperti kawanan nelayan di sungai Tiang-kang yang menarik perahunya menanjak air di selat-selat yang berbahaya, badannya hampir rebah sejajar dengan lantai, jari-jari tangan dan lengannya yang halus sudah menghijau hitam dan merongkol otot-ototnya.
Walau dia sudah kerahkan setakar kekuatannya menarik, laki-laki kingkong itu ternyata tidak bisa ditarik roboh.
Ujung cambuknya boleh dikata sudah menjerat kencang masuk ke dalam kulit dagingnya, sampai kedua biji matanya yang besar itu melotot keluar seperti mata ikan mas, tapi sedikit pun ia tidak bergeming di tempatnya.
Bukan saja tidak ulur tangan mengendorkan jeratan ujung cambuk di lehernya, dia malah memburu ke arah Hek-tin-cu, sementara lehernya bersuara keruyukan, katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Anak muda, kau takkan bisa menarikku roboh!"
Bukan saja Hek-tin-cu belum pernah melihat orang yang bertenaga sedemikian besarnya, dia pun belum pernah melihat manusia dengan otak setumpul ini, sungguh hatinya terkejut dan heran.
Mendadak ia berseru lantang.
"Apa sebaliknya kau mampu menarikku roboh?"
Laki-laki kingkong itu membuka mulutnya tertawa lebar, betul-betul ia gunakan kekuatan lehernya untuk menarik cambuk panjang. Kedua pihak sama-sama menggunakan seluruh kekuatannya.
"Tas!" , cambuk panjang itu tiba-tiba putus di tengah-tengah. Badan Hek-tin-cu menumbuk tembok, saking kagetnya ia jejak kaki melambung naik ke atas belandar. Tampak badan laki-laki kingkong sebesar menara itu pelan-pelan roboh terjerembab, kulit mukanya hitam dan merah ungu, lidahnya sudah terjulur panjang keluar, demikian pula kedua biji matanya melotot keluar, seolah-olah masih melotot kepada Hek-tin-cu. Tak tahan Hek-tin-cu dibuatnya, katanya tertawa kecut dengan bergidik.
"Orang yang punya kekuatan luar biasa pada kaki tangannya, kenapa otaknya selalu tumpul!"
Memandang dari atas belandar, dilihatnya It-tiam-ang dan Lamkiong Ling sedang berhadapan seperti dua onggok kayu.
Sampai sedemikian jauh belum ada yang bergerak lebih dulu.
Mata Lamkiong Ling tertuju pada ujung pedang di tangan It-tiam-ang, melirik pun tak berani ke arah lain, tapi kejadian di sekitarnya meski dia tidak melihat pun bisa mendengar atau membayangkan.
Keringat dingin sudah menetes-netes di atas jidatnya.
Mendadak ia berkata dengan keras.
"It-tiam-ang, konon kau hanya membunuh orang karena uang, apa benar?"
Biji mata It-tiam-ang yang abu-abu dingin membeku seperli biji mata ikan yang sudah mati kaku menatap kepadanya tanpa bersuara.
"Jikalau kau mau bantu aku membunuh Coh Liu-hiang, kuberi kau selaksa tail."
Bergerak ujung mulut It tiam-ang, katanya sambil tertawa lebar.
"Selaksa tail? Apakah Coh Liu-hiang berharga setinggi itu?"
"Kau bunuh aku, jelas tiada orang yang sudi membayar kau setinggi itu, benar tidak!"
"Benar, karma manusia seperti kau ini sepeser pun tak berharga,"
Jengek It-tiam-ang.
"Kalau demikian, lebih tidak setimpal kau membunuh aku."
Terunjuk senyum sinis menghina di ujung mulut It-tiam-ang, katanya kalem.
"Tahukah kau, seumpama lonte (pelacur), bila dia kebentur tamu yang dia penujui, bolehlah dia layani sekali secara gratis, kali ini aku membunuhmu pula secara gratis!"
Habis kata-katanya, pedangnya pun bergerak. Merah jengah muka Hek-tin-cu, tapi tidak tertahan dia tertawa geli, katanya.
"Perumpamaan ini walau kotor dan kasar, tapi amat tepat sekali."
Tampak dalam sekejap itu It-tiam-ang sudah menusuk tujuh kali, ilmu pedangnya teramat brutal dan aneh, serba istimewa, lengan bagian atas sikut sedikit pun tak bergeming, tapi bintik-bintik sinar pedangnya laksana hujan gencarnya merangsek pada lawan!
Beruntun Lamkiong Ling tersurut mundur tujuh langkah, serunya dengan gelak tawa serak.
"It-tiam ang, kau kira aku takut padamu?"
"Aku tak suruh kau takut kepadaku, aku cuma ingin kau mampus!"
"Mungkin kaulah yg mampus,"
Damprat Lamkiong Ling. Sekali raih ia tarik sebuah kursi terus dilempar, berbareng tangan kanan meraba pinggang melolos sepasang Bian-to.
"Sret-sret-sret!" , sinar golok seperti sekuntum salju yang berterbangan di angkasa, tiga kali goloknya membacok dengan dahsyat. Gerak serangan goloknya tanpa kembangan atau variasi, tapi cepat, gesit, ganas dan nyata. Selama hidup dan malang-melintang, tidak terhitung berapa kali It-tiamang menghadapi lawan-lawan tangguh, sudah tentu ia cukup tahu banyak ilmu silat seperti ini yang cukup menakutkan. Jikalau kau beranggapan ilmu silat ini tidak enak dipandang mata, tahu-tahu sejurus sambaran kilatnya sudah menamatkan jiwamu. Ilmu golok semacam ini sebenarnya tidak ada sesuatu yang indah dan patut dibanggakan, tiada guna atau manfaat lainnya selain untuk membunuh orang dan manfaatnya dalam hal ini justru amat berguna sekali. Semakin menyala biji mata It-tiam-ang, serunya tertawa besar.
"Tak nyana hari ini aku bisa berhadapan dengan lawan tangguh seperti kau ini, tak sia sia perjalananku kali ini."
Sinar golok dan hawa pedang mendesak mundur dan membuat sesak napas Hek-tin-cu, sekujur badan terasa dingin.
Sudah banyak dia menyaksikan pertempuran tokoh-tokoh kosen, tapi belum pernah menyaksikan pertempuran seperti kedua orang ini.
Seolah-olah pertempuran ini bukan manusia yang sedang berkelahi, lebih pantas kalau dikatakan dua serigala kepalaparan sedang berebut mangsa.
Setiap jurus, setiap tipu serangannya, tujuannya mencabut jiwa musuhnya, terang tiada maksud lain kecuali membunuh musuhnya.
Sinar golok dan pedang saling sambar dan saling gubat-menggubat serang menyerang.
Walau tidak mendengar benturan kedua senjata, namun hawa membunuh yang bersuhu dingin menguap naik sehingga Hek-tin-cu yang berada di atas belandar pun terdesak, napas sesak dan tak kuat bertahan lagi.
Lekas ia melompat tiga tombak jauhnya, kemudian melayang turun ke lantai.
Dilihatnya Coh Liu-Hiang sedang sibuk mengurut dan melancarkan jalan darah So Yong-Yong, wajah So Yong-Yong yang pucat tadi lambat laun mulai merah berwarna darah.
Tak tahan Hek-tin-cu memburu maju dan menepuk pundah Coh Liu-Hiang.
"Tahukah kau orang lain sedang adu jiwa demi kau?"
"Tahu,"
Sahut Coh Liu-Hiang.
"Memangnya kau tidak perduli dan turut campur?"
Coh Liu-hiang tertawa-tawa, ujarnya.
"Kalau Tionggoan It-tiam-ang sudah turun tangan, memangnya perlu orang lain turut campur?"
"Agaknya kau lega sekali,"
Olok Hek-tin-cu.
"Masakah ilmu pedang It-tiam-ang tidak bisa melegakan hatiku?"
Terdengar "Cret!" , It-tiam-ang melompat miring tujuh langkah, baju atasnya tampak tergores robek terkena sambaran golok, darah segar sudah merembes membasahi badannya.
Lamkiong Ling tertawa besar, serunya.
"It-tiam-ang, kau masih belum puas?"
"Cis!"
It-tiam-ang berludah ke atas pundaknya yang terluka, tahu-tahu pedangnya sudah menusuk pula. Seketika berubah pula air muka Hek-tin-cu, bentaknya bengis."Sekarang kau masih berlega hati?"
Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya.
"Kalau It-tiam-ang sudah turun tangan, siapa yang ikut membantunya, dia adalah lawannya, apalagi kepandaian silat kedua orang ini sama setingkat dan sebanding, siapa pun jangan harap bisa melukai lawan."
"Oleh karena itu kau berpeluk tangan saja, begitu?"
"Dalam sepuluh jurus Lamkiong-Ling pasti kena dibikin cedera juga oleh pedang It-tiam-ang, tidak lebih dari tiga puluh jurus dia pasti minta menghentikan pertempuran. Kalau belum waktunya, tidak berguna aku ikut mencampuri."
"Mungkin hatimu sudah tumplek pada nona cantikmu ini, masa masih perduli dengan mati hidup orang lain? Sungguh tak nyana olehku, Coh Liuhiang yang cemerlang namanya ternyata lebih mementingkan paras cantik daripada persahabatan kental."
Belum habis kata-katanya, terdengar "Cret!"
Sekali lagi. Lamkiong Ling terhuyung mundur, pakaiannya berlubang, darah pun membasahi pakaiannya. Coh Liu-hiang menyengir sambil berpaling pada Hek-tin-cu, katanya.
"Belum penuh sepuluh jurus malah, benar tidak?"
Sekian lama Hek-tin-cu tertunduk, entah apa yang ia renungkan, akhirnya ia tujukan sorot matanya ke muka So Yong-yong.
Sorot matanya yang kelihatan dalam itu seakan-akan timbul suatu perubahan yang sedemikian rumit.
Katanya pelan-pelan.
"Dia memang teramat cantik."
"Bukan hanya cantik saja."
"Tapi menurut pendapatku, perempuan yang lebih cantik dari dia masih banyak jumlahnya."
"Mungkin dia tidak bisa terhitung yang tercantik, tapi paling lembut, paling setia, paling pandai melayani dan perempuan yang paling bisa menyelami hati orang lain. Menurut apa yang kutahu, mungkin belum pernah ada perempuan yang bisa dibandingkan dia di dalam dunia ini."
Pucat muka Hek-tin-cu, agaknya hendak mengucapkan apa-apa, namun ia tahan sambil mengigit bibir.
Tiba-tiba ia membalikkan badan dan tak sudi melihat mereka lagi.
Terdengar Lamkiong Ling sedang membentak."
Coh Liu-hiang! Marilah kau saja yang perang tanding denganku untuk menyelesaikan urusan ini. Kau sendiri tadi yang mengatakan hal ini, apa sekarang kau masih ingat?"
"Sudah tentu masih ingat."
"Jikalau kau ingin tahu siapa tokoh misterius itu, lekas kau suruh keparat berdarah dingin ini menghentikan pertempuran."
Coh Liu-hiang angkat pundak, katanya.
"Sayang bukan saja aku tidak bisa turun tangan, aku pun tidak bisa menyuruhnya berhenti…. Jikalau It-tiamang ingin membunuh seseorang, tiada seorang pun yang kuasa mencegahnya."
Siapa tahu, mendadak It-tiam-ang melompat setombak jauhnya, katanya dingin.
"Aku sudah berhenti, karena dia tidak mampu membunuhku, aku pun tidak mampu membunuhnya. Kalau perkelahian ini diteruskan, tidak ada artinya, biarlah kuserahkan kepadamu."
"Terima kasih."
Lama juga It-tiam-ang menatapnya lekat-lekat, katanya kalem "Tidak perlu terima kasih, asal kau ingat sejak semula sampai akhir It-tiam-ang tetap sahabatmu."
Belum habis berkata, badannya sudah melambung tinggi berjumpalitan ke belakang terus melesat ke luar jendela dan memghilang entah ke mana.
"Kenapa dia selalu bilang datang ya datang, mau pergi tinggal pergi."
Baru sekarang Lamkiong Ling berhasil mengatur nafas, katanya serak.
"Coh Liu-Hiang, kalau kau ingin menyelesaikan persoalan ini, marilah ikut aku!"
Coh Liu-hiang menengok ke arah So Yong-yong, katanya.
"Ikut kau?"
Hek-tin-cu menyela keras, katanya.
"Coh Liu-hiang saat ini amat berat untuk tinggal pergi, demi perempuan ini urusan apa pun boleh tidak usah diurus."
Berputar biji mata Lamkiong Ling, katanya.
"Jikalau kau tidak mau pergi, jangan salahkan aku."
Sengaja ia putar badan jalan lambat-lambat, agaknya ia tidak ingin melarikan diri, sebab ia tahu lari bukan suatu cara terbaik, kalau tidak sejak lama dia sudah menghilang tak karuan parannya.
Betapa Coh Liu-hiang tidak bisa membiarkan orang pergi demikian saja, katanya.
"Hek-heng, agaknya untuk sementara aku harus serahkan dia ke dalam pengawasanmu."
Hek-tin-cu mendongak memandang ke langit, sahutnya dingin.
"Masa kau tidak kuatir?"
"Dia tertotok Hiat-tonya dengan Jong-jiu-hoat, tapi setelah kuurut tadi sebentar lagi bakal siuman. Cukup asal Hek-heng beritahu kepadanya, suruh dia selekasnya pulang, urusan lain tidak perlu dia kuatirkan."
Sesaat Hek-tin-cu ragu-ragu, sahutnya kemudian.
"Baiklah! Pergilah kau, aku akan suruh dia pulang, tapi aku tetap akan menunggumu, masih ada pertanyaan yang hendak kuajukan kepadamu."
Setelah Coh Liu-hiang keluar mengikuti jejaknya, baru Lamkiong Ling mempercepat langkahnya.
Beberapa kejap mereka berlari-lari kencang, entah berapa jauh perjalanan sudah mereka tempuh, tiba-tiba Lamkiong Ling berkata.
"Agaknya kau lega menyerahkan dia kepada orang lain?"
"Kenapa aku harus kuatir?"
"Masalah kau tahu bila anak muda itu tidak akam mecelakai jiwanya?"
"Kau kira karakter dan martabat orang lain sekejam dan setelengas dirimu?"
"Aku hanya anggap kau ini orang yang cerdik pandai dan cermat, siapa tahu ada kalanya kau pun bertindak kurang hati-hati."
"Memang aku ini serba teliti. Jikalau pernah terpikir dalam benakku bila Hek-tin-cu punya alasan untuk mencelakai jiwa Yong-ji, meski sekarang aku terpaksa, sekali-kali tidak akan kuserahkan Yong-ji kepadanya. Jika kau pikir dengan persoalan ini kau hendak bikin hatiku tidak tenang sehingga gugup dan kacau, kunasehati kau untuk membatalkan saja niatmu itu."
Lamkiong Ling terloroh-loroh dingin, selanjutnya memang dia tidak banyak kata lagi.
Tampak tak jauh di depan sana bayangan air kemilau dibungkus kabut tebal, tahu-tahu mereka sudah tiba di Tay-bing-ouw.
Di bawah ayoman dahan pohon Liu yang menjuntai turun, sebuah sampan terikat di sana, di dalamnya ternyata terpasang sebuah pelita yang bersinar terang.
Dari luar jendela kelihatan di sana sudah tersedia sebuah meja hidangan yang serba komplit.
Setelah Coh Liu-hiang masuk ke dalam ruangan kapal, Lamkiong Ling menarik galah dan menutul tanggul, sehingga sampan meluncur ke tengah danau.
Kabut tebal, di mana-mana banyak asap seperti hujan.
Mengikuti riak gelombang yang mengalun halus, sampan melaju ke depan terbawa angin.
Di tengah alam semesta yang tak berujung pangkal ini, terkadang orang akan terpesona tanpa sadar, tak tertahan orang akan berdiri bulu kuduknya.
Coh Liu-hiang memilih kursi dan duduk dengan nyaman, namun hatinya sedikit pun tidak merasa nyaman, terasa olehnya persoalan yang dihadapinya ini makin lama semakin janggal.
Kenapa Lamkiong Ling membawa dirinya ke tempat ini?
Pembunuh misterius itu, apakah dia berada di atas sampan besar ini?
Tapi, kecuali Coh Liu-hiang dan Lamkiong Ling, jelas di atas sampan tiada orang ketiga!
Hal ini Coh Liu-hiang berani pastikan sesaat setelah dia beranjak ke atas sampan ini.
Hembusan angin malam nan sepoi-sepoi, menyibak bau harum arak dan masakan, bau daun pohon liu nan wangi, tapi yang tersedot dalam pernapasan Coh Liu-hiang sebaliknya adalah hawa membunuh yang amat tebal.
Kini Lamkiong Ling sudah duduk berhadapan dengan Coh Liu-hiang, katanya sambil mengawasinya.
"Tahukah kau kenapa aku membawamu ke mari?"
"Tentunya kau tidak ingin membunuhku di sini. Jikalau kau hendak membunuhku, tentunya lebih jauh meninggalkan air lebih baik."
"Benar, tiada orang yang mau membunuh Coh Liu-hiang di dalam air."
"Apakah si dia yang suruh kau membawaku ke mari?"
"Benar! Dia beritahu kepadaku, bila mana aku sendiri tidak bisa menyelesaikan persoalan ini, bawa saja kau ke mari, biar dia sendiri yang akan menyelesaikan."
"Kau kira dia akan datang?"
"Tentu akan datang!"
"Pikirmu, setelah dia datang, lantas bisa menyelesaikan persoalan ini?"
"Jikalau ada seseorang yang bisa menghadapi Coh Liu-hiang, orang itu adalah si dia itulah!"
"Siapa si dia itu, sungguh aku tak mengerti dia punya cara penyelesaian apa?"
"Cara yang dia gunakan tiada orang lain yang dapat menyimpulkan sebelumnya."
"Agaknya kau terlalu yakin akan kemampuannya?"
"Di dunia ini, jikalau ada orang yang dapat kupercayai, orang itu hanya dia saja."
Coh Liu-hiang pejamkan mata, katanya pelan-pelan.
"Siapakah orang yang demikian itu? Kalau toh dia sudah tahu membunuh Coh Liu-hiang di atas air jauh lebih sukar daripada di daratan, kenapa membawaku ke atas sampan ini? Sebetulnya rencana apa yang sedang dia atur? Sebenarnya dia punya cara apa untuk menghadapi aku? Sungguh aku tak sabar lagi menunggu, ingin secepatnya aku berhadapan dengan dia."
Teringat akan kelicikan orang, perbuatan telengas dan kejahatannya, mau tidak mau Coh Liu-hiang bergidik bulu romanya.
Musuh-musuh yang pernah dia hadapi selama hidupnya, sungguh tiada seorang pun yang begini menakutkan.
Lamkiong Ling menuangkan dua cangkir arak, katanya.
"Jikalau aku jadi kau, sekarang lebih baik minum-minum dulu, tidak berguna kau banyak peras otak, apalagi saat-saatmu menikmati arak toh takkan lama lagi."
Arak bening berwarna hijau pupus kelihatan memancarkan cahaya di dalam cangkir emas. Lamkiong Ling angkat cangkirnya terus ditenggak habis, katanya menengadah.
"Tapi aku berdoa, semoga yang menemukan rahasia ini bukan kau. Siapa pun dia, jikalau hendak membunuh sahabat yang dulu pernah menangkap kura-kura besar bersama tentunya bukan sesuatu yang patut dibuat girang!"
Jari tangan Coh Liu-hiang menyentuh pun tidak cangkir arak itu, katanya.
"Aku pun mengharap kau adalah Lamkiong Ling yang pernah bantu aku menangkap kura-kura itu."
Lamkiong Ling tertawa-tawa, tiba-tiba ia mengerutkan alis, katanya.
"Arakmu ...."
"Masih banyak waktu untuk aku minum arak, sekarang tidak perlu tergesagesa!"
Coh Liu-hiang ternyata tidak tergesa-gesa minum arak, sungguh suatu kejadian luar biasa dan aneh.
"Kau jangan lupa, aku adalah seorang yang amat teliti."
"Kedua cangkir arak ini kutuang dari poci yang sama. Jikalau kau masih kuatir, secangkir arak ini biar kuhabisi sekalian!"
Lalu ia raih cangkir di hadapan Coh Liu-hiang dan ditenggaknya habis.
"Agaknya orang yang terlalu teliti meski mungkin bisa berumur panjang, betapa pun dia harus mengorbankan arak-arak bagus yang seharusnya dia nikmati. Tidak seharusnya kau curiga arak ini mengandung racun, tokoh mana di dunia ini yang bisa meracun mati Coh Liu-hiang hanya dengan permainan arak beracun. Masakah dia bakal menaruh....."
Belum lagi kata-kata "racun"
Keluar dari mulutnya, air mukanya mendadak berubah hebat. Lengan, jidat dan lehernya.... otot-otot hijau menonjol keluar semua.
"Kenapa kau?"
Teriak Coh Liu-hiang kaget.
"Arak ini...."
Sahut Lamkiong Ling bergetar.
"Apa benar arak ini mengandung racun?"
Seru Coh Liu-hiang tersirap darahnya, lekas ia memburu maju dan membuka kelopak mata Lamkiong Ling, namun tak terlihat tanda-tanda keracunan, tapi sekujur badan Lamkiong Ling semakin panas seperti terbakar.
Melonjak jantung Coh Liu-hiang, teriaknya kaget.
"Thian-it-sin-cui, arak ini ada dicampur dengan Thian-it-sin-cui!"
Coh Liu-hiang membanting kaki, katanya.
"Sampai sekarang kau masih belum paham? Bahwa dia mencampuri air sakti itu di dalam arak ini, tujuannya bukan hendak mencelakai jiwaku, namun kaulah yang menjadi sasaran utama! Dia pun tahu, setiap waktu aku selalu bertindak hati-hati, sebaliknya kau tidak mungkin bersiaga terhadapnya."
Coh Liu-hiang menengadah dan melanjutkan.
"Sejak naik ke atas sampan ini, aku sudah merasa di sini diliputi mara bahaya, numun tak pernah terpikir olehku dengan cara apa dia hendak mencelakai diriku. Baru sekarang aku paham, ternyata yang dia tuju bukan aku, sebaliknya jiwamu yang diincarnya."
"Tapi dia.... kenapa dia harus membunuhku?"
Teriak Lamkiong Ling keras.
"Karena, asal kau mati, segala sumber penyelidikanku bakal putus semuanya. Asal kau sudah ajal, dia tetap boleh luntang-lantung ke mana dia suka, dan tidak akan ada orang tahu siapa sebenarnya si "
Dia"
Itu."
Bergetar badan Lamkiong Ling, agaknya ia amat kaget akan kata-kata ini, matanya mendelong.
Kini sekujur badannya mulai membengkak besar, kulit dagingnya mulai pecah, sampai pun urat nadi dan jalan darahnya pun merekah.
Ujung mata, hidung, sela-sela kuku jarinya, mulai merembeskan darah segar.
Coh Liu-hiang membentak keras.
"Tanpa kenal kasihan dia turun tangan jahat membunuhmu, kenapa kau masih bertahan menyimpan rahasianya? Lekas kau katakan siapakah dia sebenarnya, sekarang kau masih sempat mengatakannya."
Seperti mata ikan mas biji mata Lamkiong Ling melotot keluar, gumamnya.
"Katamu dia hendak membunuh aku.... aku masih tidak percaya...."
"Sudah tentu dia harus membunuhmu! Kalau tidak, jelas dia tahu aku takkakn minum arak, kenapa dia menaruh racun dalan arak? Kenapa tidak beritahu kepadamu lebih dahulu bahwa arak itu beracun?"
Agaknya Lamkiong Ling tidak memahami kata-katanya seluruhnya, mulutnya tetap menggumam sendiri.
"Aku tidak percaya.... aku tidak percaya...."
Sekali raih, Coh Liu-hiang mencengkram baju di depan dadanya, teriaknya serak.
"Kenapa kau tidak percaya? Masa kau...."
Bibir Lamkiong Ling yang sudah merekah, mendadak ia menampilkan senyum pilu, katanya.
"Tahukah kau siapa dia?"
"Siapa? Siapa dia?"
Desak Coh Liu-hiang. Sepatah dengan sepatah Lamkiong Ling meronta keluarkan kata-katanya.
"Itulah suatu rahasia, tiada seorang pun di kolong langit ini yang tahu akan rahasia ini. Aku.... aku punya seorang saudara sepupu. Engkoh sepupuku....., si "
Dia"
Bukan lain adalah engkoh sepupuku itu."
Coh Liu-hiang terlongong di tempatnya seperti linglung, badannya terhuyung mundur setengah langkah, bersandar di pinggir meja.
Serasa sekujur badan lemas lunglai dan hampir meloso jatuh.
Rada lama kemudian, baru dia bersuara dengan tertawa getir.
"Tak heran kau begitu percaya kepadanya, tak heran kau begitu mendengar petunjuknya. Tapi..... tapi siapakah engkohmu itu? Sampai detik ini kau masih segan menyebut namanya?"
Mulut Lamkiong Ling megap-megap seperti ikan mas yang menghirup napas di permukaan air, mulutnya penuh digenangi darah segar.
Kini lidahnya pun mulai merekah, sepatah kata pun tak kuasa bicara lagi.
*** Entah beberapa lama Coh Liu-hiang menjublek duduk di atas kursi.
Kini bahan penyelidikannya sudah putus sama sekali, dia harus mulai dari permulaan pula.
Entah berapa ia sudah mengalami mara bahaya, entah berapa jerih payahnya yang dia korbankan, baru diketahui bahwa Cou Yu-cin, Sebun Jian, Ling-ciu-cu dan Ca Bok-hap keluar pintu setelah masing-masing menerima sepucuk surat.
Entah sudah mengalami beberapa kali kegagalan dan kekecewaan baru berhasil dia selidiki si penulis surat itu sekaligus membongkar segala rahasia Kay-pang.
Betapa besar kesulitan dan derita yang dialaminya untuk semua itu, jikalau tidak dibekali kecerdikan dan keberanian yang luar biasa, boleh dikata takkan ada orang yang kuat bertahan menghadapi tantangantantangan yang hebat dan mengerikan itu.
Tapi Lamkiong Ling sekarang sudah ajal, segala jerih payah dan usahanya selama ini berarti sia-sia.
Karena sampai detik ini ia belum berhasil mengetahui siapakah biang keladi atau tokoh misterius dalam peristiwa ini.
Fajar sudah menyingsing, kabut di permukaan danau malah makin tebal.
Coh Liu-hiang menggeliat sambil menghirup napas segar, gumamnya.
"Kini yang kuketahui masih berapa banyak?"
Memang bahan-bahan yang masih berada di benaknya tidak banyak lagi. Bahan satu-satunya yang ketinggalan yaitu pembunuh misterius adalah saudara sepupu Lamkiong Ling. Di tangan si "dia"
Itu masih terdapat Thian-it-sin-cui yang cukup untuk mencelakai jiwa tiga puluh tiga orang. Tapi siapakah sebenarnya si "dia"
Itu?
Dengan Thian-it-sin-cui, dia sudah membunuh Jin Jip, Ca Bok-hap dan Lamkiong Ling.
Sasaran selanjutnya entah siapa!
Tentu tokoh kosen yang berilmu amat tinggi, namanya cukup tenar dan terpandang sebagai angkatan tertinggi di Bulim pula.
Tokoh itu tentu mempunyai hubungan yang amat erat dengan si "dia"
Itu, paling tidak takkan curiga bahwa si dia bakal mencelakai jiwanya, kalau tidak cara bagaimana si dia dapat mencampurkan Thian-it-sin-cui ke dalam cawan minumannya?
Coh Liu-hiang memejamkan mata, mulutnya menggumam.
"Thian-hong-capsi-long ternyata bukan seorang diri datang ke Tionggoan, dia masih membawa dua orang putra kandungnya. Setelah dia mati, seorang anaknya dia titipkan kepada Jin Jip supaya diasuh sampai besar, lalu seorang anak lainnya? Kepada siapa dia serahkan anaknya yang lain? Siapa pula yang tahu mengenai keajadian ini?"
Peristiwa itu sudah berlalu selang duapuluh tahun lamanya, kini boleh dikata sudah tiada sumber yang dapat dibuat bahan penyelidikan. Mendadak Coh Liu-hiang melompat bangun, katanya keras.
"Aku sudah tahu. Kalau Thian-hong-cap-si-long menyerahkan anaknya yang kecil kepada Jin Jip, putra besarnya tentu dia serahkan kepada tokoh kosen yang bertanding pertama kali dengan dia. Asal aku bisa menemukan siapa orang ini, tentulah dapat menemukan siapa si "
Dia"
Itu."
Kini Coh Liu-hiang memang belum tahu siapakah tokoh silat yang bergebrak dengan Thian hong cap-si-long sebelum Jin Jip, tapi dia sudah tahu.
Pertama.
Tingkat kedudukan dan nama tokoh itu tentu amat tinggi dan tenar, baru Thian-hong-cap-si-long sudi mencarinya, lalu menghadapi Jin Jip.
Tidak banyak tokoh-tokoh silat di kalangan kangouw yang lebih tinggi tingkatannya dan ketenarannya dari Kaypang Pangcu, maka kemungkinannya bisa lebih diperkecil.
Kedua.
Ilmu silat orang ini teramat tangguh, maka bisa melukai Thianhong-cap-si-long.
Ketiga.
Watak dan martabat orang ini tentu seperti Jin Jip, berjiwa besar, lapang dada dan welas asih, maka dia bersedia menerima anak yatim Thian-hong-cap-si-long, malah menurunkan ilmu silatnya yang tiada taranya kepada si bocah.
Keempat.
Orang ini tentu tidak suka mengagulkan diri dan membuat sensasi, maka walaupun dia berhasil unggul dan mengalahkan pendekar pedang (pendekar samurai) tersohor dari Tang-ni (Jepang), tiada tokoh Kangouw yang tahu akan kejadian besar itu.
Kelima.
Tokoh ini tentu menetap di daerah Binglam atau lingkungan yang tidak jauh dari sana, maka setelah Thian-hong-cap-si-long terkalahkan dengan luka parah, dia masih sempat memburu ke tempat pertandingan yang dia janjikan dengan Jin Jip.
Coh Liu-hiang menghela napas panjang-panjang, ujarnya.
"Kini terhitung tidak sedikit hasil analisaku ini."
Lekas ia memburu keluar, galah dia samber terus mendorong kapalnya ke tepi.
Sekali lompat ia dapat mendarat dengan enteng.
Mendadak derap kuda berlari mendatangi, seseorang membedal kudanya lari mendatangi.
Belum lagi dekat, badannya sudah mencelat tinggi lepas dari punggung kudanya meluncur hinggap di depannya, siapa dia kalau bukan Hek-tin-cu si Mutiara Hitam.
"Ternyata kau bisa menemukan aku,"
Sambut Coh Liu-hiang.
"Mana dia?"
Hek-tin-cu tidak lantas menjawab. Sesaat ia pandang orang, sahutnya dingin.
"Dia memang penurut dan dengar kata, kini sudah berangkat pulang."
Mendadak matanya melotot, katanya keras.
"Tapi ingin aku tanya kau, sebetulnya di mana ayahku berada? Kenapa selama ini kau mengulurulur waktu tak mau jelaskan tempat tinggalnya?"
Coh Liu-hiang tertunduk, sahutnya.
"Ayahmu sudah.... sudah meninggal dunia."
Tersentak badan Hek-tin-cu, serunya serak.
"Kau.... apa katamu?"
"Aku sudah mengurus baik-baik jenazah ayahmu di Ang-giok-gay di Lohtiong. Di dusun nelayan di pesisir laut sana, ada seorang bernama Li Thocu. Kalau kau pergi ke sana, boleh kau minta kepadanya untuk mengantarmu ke atas kapalku. Setelah kau bertemu So Yong-yong, kau akan bertemu dengan jenazah atau pusara ayahmu."
Hek-tin-cu mendesak maju menarik lengannya, bentaknya beringas.
"Jenazah ayahku kenapa bisa berada di atas kapalmu? Apakah kau yang mencelakai jiwanya?"
"Seluk-beluk persoalan ini sulit untuk dijelaskan dalam waktu singkat, tapi Yong-ji akan menjelaskan sedetailnya kepadamu.... Mengenai pembunuh ayahmu, kini berada di dalam sampan itu."
Belum habis kata-katanya, Hektin-cu sudah melesat naik ke atas sampan. Jelalatan sorot mata Coh Liu-hiang, mendadak ia berseru lantang.
"Kupinjam kuda saktimu sekali lagi, kelak pasti akan kukembalikan!"
Belum lenyap suaranya, badan sudah melejit naik mencemplak ke punggung kuda terus dibedal kencang ke arah selatan.
Setelah Coh Liu-hiang berhasil menemui Ciu Ling-Siok di Ni-san, lalu ia ambil kudanya yang dititipkan di rumah seorang pemburu langsung kembali ke Kilam, tujuan utamanya adalah menemui Lamkiong Ling, maka untuk memburu waktu ia belum kembalikan kuda hitam itu kepada pemiliknya Hek-tin-cu, cuma ia titipkan ke sebuah hotel yang berdekatan.
Waktu ia tiba di Hian-tong Kaypang, kuda yang cerdik ini menjebol kandang menerjang keluar mencari pemiliknya.
Lantaran kuda inilah maka Hek-tincu dan It-tiam-ang baru tahu bahwa Coh Liu-hiang sudah kembali ke Kilam, maka mereka menyusul tiba pada saatnya dan berhasil menolong So Yongyong pula.
Mengandalkan kepintaran kuda ini pula sehingga Coh Liu-hiang dalam waktu yang tersingkat memburu waktu pula menuju ke Bianglam.
Tetapi, setiba di Bianglam, mau tidak mau ia jadi putus asa dan kecewa dibuatnya.
Kejadian dua puluh tahun yang lalu orang-orang sudah lupa sama sekali, sedang keluarga besar dari marga Tan dan Lim yang merupakan simbol kebesaran kaum Bulim di daerah Binglam ini hakikatnya tidak tahu-menahu siapakah sebenarnya Thian-hong-cap-si-long.
Hari itu Coh Liu-hiang tiba di Sian-yu yang merupakan kota terbesar dan teramai.
Banyak tempat-tempat tamasya di sini.
Hati Coh Liu-hiang sedang masygul dan kesal, maka selera minum dan makan menjadi kendor, yang diinginkan hanyalah minum dua cangkir teh kental yang pahit.
Binglam merupakan daerah penghasil daun teh yang termashur.
Di dalam kota Sian-yu banyak terdapat warung-warung teh, alat-alat untuk minum teh di sini pun jauh berbeda dengan tempat lain, tampak setiap orang yang duduk di warung teh menikmati minuman tehnya sambil memejamkan mata, menggunakan cioki yang lebih kecil dari cangkir arak untuk menikmati atau menilai rasa air teh itu.
Orang yang minum teh dengan cawan besar di sini dalam pandangan masyarakat Binglam tak ubahnya dipandang sebagai kerbau dungu.
Tidak ketinggalan Coh Liu-hiang pun minta disediakan Thi-koan-im yang rasanya pahit getir dan wangi.
Kalau ditenggak teh ini memang pahit dan getir.
Namun setelah masuk ke perut, mulut terasa wangi dan semerbak sampai sekian lama tak hilang-hilang.
Setelah menghabiskan dua poci kecil, rasa masygul dan kesal Coh Liuhiang sudah semakin sirna dan ketenangan kembali menggayuti sanubarinya.
Dan baru sekarang dia mengerti aturan-aturan untuk minum teh di sini sedemikian banyaknya, tujuannya adalah untuk menekan perasan dan melatih kesabaran.
Cara atau kepandaian membina dan melatih watak dan kesabaran ternyata hasil gemblengan dari air teh kental yang pahit getir dari sepoci-poci kecil ini.
Jauh berlainan dengan warung arak di tempat lain yang penuh sesak, tentu timbul keributan.
Warung teh ini penuh sesak, namun setiap orang bicara secara bisik-bisik, tindak-tanduk orang pun amat hati-hati, kuatir mengganggu orang lain.
Bab 15 Diambil dari
Jilid 11 Pendekar Pengejar Nyawa di
http.//www.langka.info atas ijin bung bagusetia sebagai admin-nya.
Kontributor.
ferawati, axd002, monica, kalenteha, tanjung, mtv2006, agusis -------------------------------------------------------------------Tatkala itulah mendatangi dua laki-laki besar berjubah sutera memasuki warung teh ini sambil mengobrol panjang pendek.
Salah seorang laki-laki bermuka burik, di punggungnya menggendong sebuah buntalan kain kuning, sembari jalan ia berkata dengan tertawa.
"Bertemu sahabat karib di rantau, sungguh merupakan kesenangan yang tak terhingga. Hari ini Siaute harus ajak Pang-heng minum sepuasnya!"
Laki-laki yang lain mukanya penuh ditumbuhi cambang bauk yang kaku, katanya bergelak tawa.
"Chi-heng sudah lama menetap di Binglam ini, apakah hobimu hanya minum teh saja dan tak suka minum arak lagi?"
"Arak!"
Seru laki-laki burik tertawa lebar.
"Pang-heng, setiap hari kau sudah biasa minum arak, tapi hari ini akan kusuguh kepadamu air teh yang lain dari yang lain, boleh dikata sebagai dewa di antara teh. Bukan Siaute suka membual, air teh seperti ini mungkin seumur hidup Pang-heng belum pernah merasakannya."
Serta-merta perhatian dan pandangan semua hadirin dalam warung teh itu tertuju ke arah mereka.
Tapi laki-laki burik ini anggap sekelilingnya seperti tiada orang lain, dari buntalan kain kuningnya ia keluarkan sebuah bumbung bambu sepanjang satu kaki.
Begitu ia membuka sumbat bumbung, bau harum seketika merangsang setiap hadirin, seketika semangat terasa segar seperti memabukkan.
Laki-laki cambang bauk itu bergelak tawa, ujarnya.
"Harum benar teh ini! Beberapa tahun tak berjumpa, tak nyana Chi-heng sekarang menjadi begini kikir."
Dengan hati-hati laki-laki burik itu menuangkan secomot daun teh, lalu suruh pelayan menyeduhnya dengan air panas yang paling bening dari sumber asli, barulah dia berpaling dan berkata tertawa.
"Bicara terus terang, walau sudah lama aku menyimpan daun teh sepeti ini, tapi jikalau tidak bertemu dengan Pang-heng sahabat lamaku, rasanya Siaute amat sayang untuk meneguknya meski hanya seteguk saja."
Laki laki brewok itu tertawa, tanyanya.
"Kalau Chi-heng begini kikir dan sayang meminumnya, kenapa selalu kau bawa-bawa ke mana kau pergi?"
"Lantaran daun teh ini adalah kegemaran seorang tokoh kosen Bulim Cianpwe. Dulu Siaute pernah mendapat budi pertolongannya, tiada sesuatu yang dapat kubalas, maka selama beberapa tahun ini dengan susah payah aku berusaha menemukan daun teh ini untuk kuhaturkan kepada beliau, terhitung sebagai balasan budi kebaikannya dulu. Kalau kuberikan benda lainnya, tentu beliau tidak mau terima!"
Kata laki-laki brewok.
"Entah siapakah Bulim Cianpwe itu? Begitu patuh dan hormat sikap Chi-heng terhadapnya?"
Senyuman laki-laki burik itu semakin pongah, katanya kalem.
"Tentunya Pang-heng pernah dengar nama besar Thian-hong Taysu?"
"Thian-hong Taysu?...."
Jerit laki-laki brewok.
"Apakah Ciangbunjin Siaulim-si sekte Selatan, Hong-tiang Taysu dari Siau-lim-si di Poh-han?"
"Betul, memang beliau adanya!"
Sahut laki-laki burik dengan bangga. Tergerak tiba-tiba hati Coh Liu-hiang. Tak tahan segera ia maju menghampiri, serunya.
"Boan-tian-sing (bintang bertaburan di langit), aku ini kan teman lamamu, kenapa kau tak undang aku minum teh?"
Laki-laki burik itu meliriknya sekilas, seketika ia menarik muka, katanya.
"Siapa saudara ini? Cayhe agaknya amat asing terhadapmu."
Coh-Liu-hiang tersenyum, ujarnya;
"Tujuh tahun yang lalu di lorong Thisay-cu di Pak-khia, memangnya Chi-heng sudah melupakan kejadian dulu?"
Belum habis ia berkata, laki-laki burik itu sudah melonjak bangun, serunya bergetar.
"Apakah tuan adalah........"
Coh Liu-hiang terloroh-loroh, tukasnya.
"Cukup asal kau masih ingat, buat apa kau singgung namaku."
Tersipu-sipu laki-laki burik menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, serunya hormat.
"Tujuh tahun yang lalu, jikalau..... berkat pertolongan Kongcu, kalau tidak aku Chi-ma-cu (Chi si burik) tentu sejak dulu sudah terjungkal oleh Bwe-hoa-kiam Pui Hoan dan Siang-ciang-hoan-thian (Sepasang Tangan Membalik Langit) Cui Cu-ko. Aku Chi-ma-cu setiap saat selalu ingat dan ingin membalas budi pertolongan Kongcu dulu, sungguh amat gegetun karena jejak luhur Kongcu tidak menentu, sungguh tidak nyana hari ini akhirnya bisa bertemu dengan Kongcu di sini, sungguh aku ketiban rejeki besar."
Agaknya laki-laki brewok itu amat heran dan tergerak hatinya melihat Chi-ma-cu yang terkenal susah dilayani dan lincah tangan ini sudi berlutut dan bersikap hormat terhadap anak muda ini.
Tapi dia pun seorang kawakan Kangouw, bisa melihat gelagat lagi, lapat-lapat dia sudah dapat meraba bahwa pemuda ini tidak suka namanya disinggung di depan umum, sehigga asal-usulnya tidak diketahui orang banyak, maka ia pun tidak banyak tanya.
Lekas ia pun bersoja dan menyapa.
"Cayhe Pang Thian-ho, kelak kemudian harap Kongcu suka memberi petuah!"
Coh Lin-hiang tertawa lebar, ujarnya.
"Nama besar Ya-yu-sin (Malaikat Gelandangan Malam), Cayhe pun pernah mendengarnya seperti geledek yang menyambar di pinggir telinga."
Bertiga beruntun mereka menghabiskan tiga poci air teh kental.
Setelah mengobrol ala kadarnya, barulah Coh Liu-hiang mulai memancing ke persoalan yang dituju.
Katanya sambil pandang Chi-ma-cu dengan serius.
"Tadi kudengar Chi-heng menyinggung nama Thian Hong Taysu, apakah Hweesio yang kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan pada empat puluh tahun yang lalu, dengan pukulan tangan memberantas Pat-ok (delapan durjana) dan melawan Thian-bun-su-lo seorang diri itu?"
"Ya, memang beliau,"
Sahut Chi-ma-cu. Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya.
"Kabarnya Taysu ini sudah lama mengasingkan diri, tak nyana sampai sekarang masih punya hobi menikmati daun teh."
Chi-ma-cu ikut tertawa, katanya.
"Dulu setelah Jip Sin Taysu wafat, seharusnya beliau orang tua yang mewarisi Ciangbunjin Siau-lim-pay. Tapi beliau orang tua malah menyerahkan kepada Ji-sutenya Thian Ouw Taysu. Jauh-jauh dia malah hijrah ke Binglam sini, konon lantaran menyukai daundaun teh yang nikmat dan enak di sini."
Cob Liu-hiang menepekur, katanya.
"Sudah berapa lama Thian Hong Taysu pegang tampuk pimpinan Siau-lim-si di Poh-thian ini?"
"Hitung-hitung sudah lebih dari dua puluh tahun."
Mendadak Coh Liu-hiang gebrak meja, serunya keras.
"Tidak salah lagi! Tentu dia! Pasti dia! Seharusnya sudah kuingat akan dirinya."
Chi-ma-cu melongo heran, tanyanya.
"Apa Kongcu pun kenal baik dengan beliau?"
Selebar muka Coh Liu-hiang riang gembira, katanya.
"Coba kau katakan, ketenaran nama besar Thian Hong Taysu, apakah jauh lebih unggul dari Jin-lopangcu dari Kaypang yang terdahulu?"
Chi-ma-cu tidak tahu ke mana juntrungan pertanyaan ini, katanya hambar.
"Beliau orang tua boleh dikatakan merupakan simbol tertinggi dari seluruh Bulim di jaman ini. Memang ketenaran Jin-lopangcu amat berkumandang, tapi kalau dibandingkan beliau orang tua, kukira setingkat lebih rendah."
"Ilmu silat beliau orang tua tentunya teramat tinggi dan susah diukur,"
Kata Coh Liu-hiang pula.
"Betapa tinggi kepandaian silatnya, mungkin Kongcu sendiri..."
Chi-ma-cu merandek.
"bukan tandingannya."
Coh Liu-hiang tertawa.
"Beliau punya latihan yang lebih ampuh dan membekal Lwekang yang tiada taranya, sudah tentu tak terkatakan tingkat kepandaian silatnya, seumpama pedang pusaka yang selalu disimpan tak pernah memperlihatkan pancaran sinarnya yang cemerlang!"
Chi-ma-cu pun tertawa, katanya.
"Dalam kalangan Kangouw tersiar kabar bahwa lantaran senang minum teh maka beliau orang tua terima hijrah ke Binglam ini. Tapi menurut perkiraan Cayhe, mungkin beliau orang tua tidak suka keramaian dan memegang jabatan memikul tugas berat lagi, maka beliau tidak mau terima jabatan Ciangbunjin Siau-lim-pay di Siong-san."
"Itulah benar. Sebelum Jin Jip, tokoh kosen yang bertanding dengan Thian-hong-cap-si-long, kecuali dia, siapa lagi? Bahwa Thian-hong-cap-silong bisa menyerahkan putra sulungnya kepada beliau, sudah tentu mati pun ia bisa meram dengan tenteram!"
Chi-ma-cu semakin heran mendengar kata-kata ini, tanyanya memberanikan diri.
"Siapa pula Thian-hong-cap-si-long itu?"
"Itulah seorang yang amat aneh."
Sahut Coh Liu-hiang.
"Walaupun berita kematiannya terbenam dalam keramaian, namun ia berhasil membuat Pangcu dari suatu sindikat terbesar di dunia ini dan Ciangbunjin dari golongan silat terbesar di Tionggoan, terima mewakili dirinya mengasuh dan mendidik kedua putra-putranya sampai dewasa."
Tiba-tiba tergerak hatinya, mendadak ia menjerit tanpa kuasa.
"Dia menantang bertanding dengan Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu, bukan mustahil memang bertujuan menyerahkan kedua puteranya kepada beliau? Memang dia sendiri pernah mengalami derita hidup yang menyedihkan hatinya sehingga dia bosan hidup dan mencari jalan pendek, maka ia harap putra-putranya kelak bisa menonjol dan menjadi manusia besar yang berguna? Atau sebelumnya dia memang sudah berkeputusan pasrah jiwanya di tangan Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu, tujuannya supaya kedua orang ini dengan tekun dan gigih mendidik putra-putranya?"
Semakin bingung Chi-ma-cu mendengar omongan yang tak kenal juntrungan ini, tak tahan ia menyela pula.
"Kongcu bermaksud Thian-hongcap-si-long itu, demi.... ia rela korbankan jiwanya sendiri?"
"Dia tahu dua tokoh kosen seperti Thian-hong Taysu dan Jin-lopangcu tentulah tidak akan sembarangan mau menerima dan mendidik anak orang lain. Tapi jiwanya justru ajal di tangan mereka. Karena terpaksa, mau tidak mau tak bisa menolak lagi...."
"Sungguh patut dibanggakan dan harus dipuji ayah yang demikian, entah siapakah kedua putranya itu?"
Tanya Chi-ma-cu.
"Seorang adalah Lamkiong Ling,"
Sahut Coh Liu-hiang.
"Apakah Kaypang Pangcu yang baru?"
"Benar!"
"Dan seorang lagi?"
"Seorang lagi adalah... adalah..."
Mendadak Coh Liu-hiang mendongak sambil tertawa getir, katanya setelah menghela napas.
"Semoga tebakanku meleset. Dia sudah membunuh sembilan jiwa orang yang tak berdosa, sasaran selanjutnya...."
Mendadak Coh Liu-hiang berjingkrak berdiri, teriaknya.
"Sasaran selanjutnya apa bukan Thian-hong Taysu?"
"Untuk ini Kongcu tak usah kuatir,"
Kata Chi-ma-cu yakin.
"Peduli siapa pun orang itu, kalau dia ingin mencelakai jiwa Thian-hong Taysu, mungkin memang saat ajalnya sendiri sudah tiba. Meski Thian-hong Taysu sudah lama tidak mencampuri urusan duniawi, namun ilmu silatnya belum pernah berhenti dilatih."
Coh Liu-hiang menghela napas, katanya dengan tertawa kecut.
"Kalau kau tahu siapa orang itu, tentu takkan mengeluarkan kata-kata seperti ini, ‘dia’...."
Tak tahan Chi-ma-cu mengajukan pertanyaan pula.
"Siapakah dia sebetulnya?"
Agaknya Coh Liu-hiang segan mengatakan siapakah sebenarnya si ‘dia’ itu. Sesaat ia menepekur, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.
"Kebetulan aku ada urusan hendak menemui Thian-hong Taysu, kebetulan bisa membawa sekalian daun tehmu, kau kuatir tidak kalau kuantarkan?"
Bergegas Chi-ma-cu menurunkan buntalan kuning itu terus diangsurkan ke hadapan Coh Liu-hiang, katanya tertawa.
"Jangan hanya soal daun teh, umpama Chi-ma-cu menyerahkan jiwa raganya, aku Chi-ma-cu pun tak perlu kuatir."
Coh Liu-hiang tertawa-tawa.
Belum sempat ia bicara lebih lanjut, mendadak dilihatnya pemilik warung teh ini menghampiri dirinya dengan sangat tergopoh-gopoh.
Ia menjura hormat kepada Coh Liu-hiang, lalu berkata dengan unjuk seri tawa.
"Seorang tamu yang duduk di meja pojok sebelah sana ingin bicara beberapa patah kata dengan Kongcu, entah Koncu sudi pindah ke meja sana sebentar?"
Di pojok ruangan sebelah sana memang ada sebuah meja dengan tiga buah kursi.
Seorang berpakaian abu-abu sedang duduk menghadap pojok dinding, sejak tadi dia memang sudah duduk di sana, bergerak pun tidak, seperti patung layaknya.
Orang ini mengenakan topi rumput datar sebesar baskom, kini topi besarnya itu dia tanggalkan ke belakang lehernya, sehingga batok kepalanya tertutup dan tidak terlihat dari belakang, yang kelihatan hanya gulungan rambutnya yang sudah ubanan.
Sejak datangnya tadi, belum pernah dia menoleh atau mengamati Coh Liuhiang dengan jelas.
Coh Liu-hiang pun belum pernah melihat raut mukanya, kenapa pula mendadak orang itu minta Coh Liu-hiang pindah ke sana untuk bicara?
Karena hati merasa heran, Coh Liu-hiang jadi tertarik dan ingin ke sana untuk melihat apa sebenarnya yang diinginkan orang itu.
Baru saja kakinya melangkah ke sana, orang itu pun sudah bangkit dari tempat duduknya walau orang ini tetap tidak mau berpaling, seolah-olah di belakang punggungnya tumbuh sepasang mata saja.
Tergerak hati Coh Liu-hiang, sekonyong-konyong ia bergelak tawa, ujarnya.
"Apakah tuan ini adalah Sin-eng Go-lopothau?"
Badan orang itu agaknya rada tergetar, namun lekas sekali Coh Liu-hiang sudah menghampiri dan duduk di belakangnya, katanya tertawa besar.
"Di kolong langit ini, kecuali Go-lopothau (opas tua she Go), siapa lagi yang mempunyai ketajaman telinga sesakti ini?"
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 16
Baca Juga: Mustika Gaib Buyung Hok