Ceritasilat Novel Online

Kereta Berdarah 6

Eps 6 Kereta Berdarah - Khu Lung

Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung

Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.

Mendadak dia tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya....

"Haa.... haa demikianpun baik juga, ayoh pada menyingkir!"

Sehabis berkata dengan langkah yang lebar mereka berjalan ke sebelah depan.

Cha Can Hongpun lantas menyingkir dua langkah ke samping melindungi diri Koan Ing dan mengikuti dari belakang Ciu Tong.

Thian Siang Thaysu yang melihat kejadian inipun tidak banyak bicara, dia tidak ingin terjadi bentrokan pada saat ini, dia akan menanti sewaktu Cha Can Hong bentrok dengan Ciu Tong soal Sang Siauw-tan dia akan menggunakan kesempatan yang baik itu untuk turun tangan.

Demikianlah dengan Ciu Tong berjalan di depan, lainnya pada mengikuti terus dari belakangnya, Agaknya dia sama sekali tidak mengambil gubris terhadap soal tersebut asalkan dia berhasil menawan diri Sang Siauwtan maka apapun tidak perlu ditakuti lagi, dia tahu dirinya bisa membinasakan Sang Siauw-tan terlebih dulu sebelum terlambat.

Dalam hati iblis tua inipun percaya kalau Koan Ing sekalian tidak bakal berani berbuat ambil tindakan, maka itu dia tidak takut kalau mereka tidak sampai mendengarkan dirinya.

Dengan langkah lebar Ciu Tong berjalan ke depan, beberapa saat kemudian sampailah dia disebuah gua yang amat besar.

Ciu Tong kembali tertawa keras, teriaknya.

"Gua ini cukup besar dan muat untuk didiami sedemikian banyak orang, kitapun bereskan urusan ini disini juga."

Selama ini Koan Ing terus menerus memikirkan suatu cara untuk menolong diri Sang Siauw-tan dari tangan Ciu Tong, tetapi keadaan semakin lama semakin kacau bahkan Thian Siang Thaysupun kini sudah datang.

^ Dengan munculnya Thian Siang Thaysu ini, memang dia memperoleh satu kebaikan yaitu tidak usah tersiksa dikarenakan Sang Siauw-tan, tetapi hweesio itu lagi mencari dirinya atau dengan perkataan lain suatu persoalan yang rumit kembali terpapar di hadapannya.

Dalam hati Koan Ing tahu kalau Thian Siang Thaysu bukannya tidak ingin, tidak mendapatkan Sang Siauw-tan, karena persoalannya dengan Sang Su-im belum selesai apalagi gadis itupun sudah membakar habis kuil Han-poh-si, maka gadis tersebut adalah satu barang penting pula dimatanya.

Cuma saja selama ini dia selalu mengalah dikarenakan dia tidak ingin mendapat musuh yang lebih banyak.

Setelah masuk ke dalam gua mereka melakukan perjalanan kembali beberapa saat lamanya, mendadak Ciu Tong berhenti dan putar badannya.

"Terima kasih saudara-saudara sekalian suka datang kemari, putraku sebentar lagi bakal datang"

Ujarnya sambil tertawa. Dengan dinginnya Cha Can Hong segera mendengus dingin.

"Ciu Tong sebenarnya kau ingin main setan apalagi?"

Ciu Tong segera tertawa terbahak-bahak, dia duduk di atas batu cadas, tangan kanannya mencekal toya sedang tangan kirinya memeluk Sang Siauwtan.

dia sama sekali tidak menggubris perkataan Cha Can Hong itu.

Dalam hati Cha Can Hong merasa semakin gusar, suatu putulan yang keras dengan amat cepatnya menghajar di atas batu cadas di samping tubuhnya.

"Ciu Tong. Kau jangan sombong!"

Bentaknya gusar. Ciu Tong si iblis dari lautan ini lantas menarik kembali suara tertawanya, sambil mengerutkan aliinya dia menyapu sekejap kesemua orang.

"Biarlah aku berkata setelah putraku datang,"

Katanya.

Sehabis berkata dengan perlahan dia memejamkan matanya dan duluk bersemedi.

Saat ini Thian Siang Thaysu tidak bisa menahan sabar lagi, dengan dinginnya dia maju ke depan mendekati diri Ciu Tong.

"Cha Can Hong!"

Mendadak si iblis tua dari luar lautan ini membuka matanya dan membentak dengan amat gusarnya.

"Aku peringatkan dulu kepadamu, bilamana kau membiarkan si hweesio gundul ini mendekati diriku maka segera akan aku bunuh dulu diri Sang Siauw-tan."

Mendengar ancaman itu Cha Can Hong jadi berdesir.

"Thaysu tahan!"

Teriaknya ragu-ragu.

Antara Thian siang Thaysu dengan Cha Can Hong sama sekali tidak ada ganjeIan sakit hati apa-apa, sedang mereka berdua pun agaknya tidak ingin saling bentrok, kini mendengar Cha Can Hong berteriak di a pun lantas berhenti.

"Cha sicu,"

Ujarnya.

"Walaupun kita berdua belum kenal lama teiapi kitapun tidak ingin sampai terjadi bentrokan diantara kita berdua, bagaimana kalau kitajangan saling mengganggu."

"Maaf cayhe tidak mengerti maksud dari Thaysu."

"Aku merasa sangat tidak puas dengan cara Ciu Tong yang train culik, bilamana dia berani melukai barang seujung rambutpun dari diri Sang Siauw-tan maka aku tidak akan mengampuni dirinya lagi."

Mendengar perkataan itu Cha Can Hong merasakan hatinya amat girang, bilamana Thian Siang Thaysu suka turun tangan membantu dirinya ada kemungkinan mereka berhasil paksa Ciu Tong untuk melepaskan diri Sang Siauw-tan.

Sebaliknya Ciu Tong Yang mendengar perkataan tersebut segera meratakan hatinya amat terperanjat, bilamana mereka berdua sungguh-sungguh bekerja sama dia sendiri tidak akan berani mengapa-apakan diri Sang Siauw-tan sekalipun boleh dikata usianya tidak panjang lagi tetapi dihati kecilnya dia masih berharap bisa hidup lebih lama.

"Cha Can Hong"

Ujarnya dengan dingin.

"Kau harus ingat bilamana Sang Siauw-tan sampai terluka hal mi terlalu tidak baik", Cha Can Hong cuma mengerutkan alisnya saja, dan tidak ambil gubris diri Ciu Tong. Dia tahu Thian Siang lhaysu tidak akan memberi bantuan kepadanya dengan percuma. Thian Siang Thaysu yang melihat sikap Cha Can Hong rada setuju dia kembali berkata.

"Tetapi setelah urusan selesai kau harus menyerahkan Koan Ing kepadaku"

Cha Can Hong jadi tertegun, dengan menggunakan Koan Ing untuk menukar Sing Siauw-tan walaupun di dalam hati dia menyetujui tetapi diapun tahu dengan kelicikan dari Ciu Tong urusan tidak bakal bisa berjalan lancar.

Dia tahu sekalipun Thian Siang Thaysu mempunyai sesuatu maksud terhadap diri pemuda itu tetapi dia jauh lebih lurus daripada Ciu Tong, bilamana Koan Ing ada ditangannya tidak akan terlalu berbahaya.

Apalagi nyawa Koan Ing pun tinggal sepuluh hari saja....

Tetapi bilamana ditinjau lagi dari peraturan Bu-lim, hal ini sama sekali tidak boleh dilakukan....

Lama sekali Cha Can Hong berdiri tertegun disana, Ciu Tong yang takut dia benar-benar setuju dengan cepat menimbrung dengan nada yang amat dingin.

"Cha Can Hong, kau haruslah ketahui bila sedikit aku gerakkan tanganku, maka Sang Siauw-tan akan menemui ajalnya, sebelum bertindak, lebih baik kau pikir dulu masakmasak!"

Sinar mata Cha Can Hong kembali berputar, dia masih ragu-ragu untuk mengambi tindakan.

"Thaysu!"

Tiba-tiba terdengar Koan Ing menimbrung dari samping.

"bilamana kau suka membantu paman Cha menolong Siauw-tan lolos dari tangannya aku rela menerima hukumanmu,"

Ciu Tong jadi kaget. tergesa-gesa dia bangun dan lintangkan toyanya ke depan.

"Hmmm kalianjangan mengira denganjumlah yang banyak bisa berhasil melakukan sesuatu tindakan sesuka hati, siapa saja yang berani maju selangkah lagi aku segera akan suruh Sang Siauw-tan bermandikan darah."

Cha Can Hong jadi terperanjat dia takut di dalam keadaan terdesak Ciu Tong benar-benar turun tanganjahat terhadap gadis itu, dengan cepat dia putar tubuh mencegah.

"Tahan aku belum menyanggupi,"

"Haaa.... haaa.... haaa...."

Tiba-tiba Ciu Tong tertawa tergelak dengan amat kerasnya.

"Putraku sudah datang, urusan inipun segera bisa dibereskan"

Semua orang jadi terkejut, tampaklah Ciu Pak bersamasama Bun Sian dengan amat tenangnya berjalan masuk kedalam.

Menanti mereka berdua sudah berada di sisi Ciu Tong si iblis tua dari luar lautan ini baru tertawa.

"Apakah kalian sudah mengambil keputusan?"

Tanyanya sambil menyapu sekejap diri Cha Can Hong.

Dalam hati si dewa telapak dari gurun pasir ini benar-benar amat bingung, bilamana dia sungguh-sungguh melakukan tindakan dengan melukai Koan Ing untuk menolong dinnya Sang Siauw-tan setelah sadar apa dia bisakah memaafkan perbuatannya?

Soal ini masih merupakan satu hal yang patut dicurigai.

"Aku mau dengar dulu apa yang hendak kalian lakukan,"

Ujarnya kemudian setelah termenung sebentar. Dengan perlahan Ciu Tong tertawa dan memandang sekejap ke arah diri Koan Ing.

"Ini hari aku maujodohkan Sang Siauw-tan sebagai istri anakku, dan kalianlah bertindak sebagai saksinya"

Seketika itu juga Koan Ing merasa kepalanya seperti digodam dengan martil besar, lama sekali dia berdiri termangu-mangu.

Dia tidak menyangka kalau Ciu Tong bisa berbuat demikian, tetapi dia yakin Sang Siauw-tan tidak bakal setuju.

"Heee.... heee.... Koan Ing"

Ujar Ciu Tong lagi sambil tertawa.

Jauh lebih baik akujodohkan Siauw-tan kepada putraku daripada kau kawini, karena umurmu tinggal sepuluh hari lagi, sebelum aku mati aku ingin kawinkan dulu diri mereka."

Ooo)*(ooO Bab 29 CHA CAN HONG sendiripun dibuat tertegun, diapun tidak mengira kalau Ciu Tong bisa berbuat demikian.

Lama sekali dia termenung tidak mengucapkan sepatah katapun.

Koan Ing yang melihat Cha Can Hong sama sekali tidak membantah hatinya jadi amat gusar.

"Soal ini tidak mungkin bisa dilakukan!"

Bentaknya.

"Hmmm tapi jauh lebih baik dikawinkan dengan putraku daripada harus dikawinkan dengan seorang manusia yang sebuah kakinya sudah mulai menginjak tanah kubur"

Ujar Ciu Tong dingin. Sinar mata pemuda itu dengan cepat beralih ke arah Cha Can Hong, tetapi orang itu ragu-ragu sejenak.

"Kau tidak ingin Siauw-tan terluka bukan?"

Ujarnya kepada Koan Ing.

Koan Ingpun tahu kalau Cha Can Hong merasa tidak rela bilamana Sang Siauw-tan bisa berkumpul dengan dirinya, dengan usia yang tinggal sepuluh hari ini memang seharusnya tidak pantas bilamana dia merusak seluruh penghidupan Sang Siauw-tan.

Tetapi yang disukai Ciu Pak hanyalah kecantikan wajah Sang Siauw-tan, apalagi antara Ciu Tong serta ayahnya mempunyai ikatan permusuhan yang sedalam lautan sudah tentu urusan ini tidak bisa dikabulkan.

Tempo hari dia menolak Sang Siauw-tan walaupun diluarnya kelihatan dia sedang mengorbankan dirinya dan demi kebaikan dari Sang Siauw-tan tetapi keadaan yang sesungguhnya dia sedang melarikan diri dari tugas.

Tetapi yang didapat adalah sebaliknya, Sang Siauw-tan bukan saja tidak memperoleh hasil sebaliknya hampir-hampir nyawa mereka berdua lenyap dipuncak Su Li Hong.

Akhirnya dia tertawa tawar.

"Siauw-tan tidak bakal menyetujui caramu itu,"

Katanya. Cha Can Hong dengan pandangan tajam memandang pemuda itu lalu mengerut kan alisnya rapat-rapat.

"Kau terlalu rakus perduli kau berpikir secara bagaimanapun urusan ini tidak bakal bisa kau putuskan!"

Serunya.

Ciu Tong yang melihat antara Cha Can Hong serta Koan Ing sendiri terjadi keributan dalam hati merasa amat girang dengan pandangan dingin dia memandang ke arah dua orang itu Kini Cha Can Hong sudah berdiri pada golongannya, dia tahu perduli bagaimanapun dirinya masih berada di atas angin.

Sebaliknya Thian Siang Thaysu yang mulai merasa hatinya tidak tenang, bilamana Cba Can Hong serta Ciu Tong berdamai maka walaupun dia tetap ada disitu juga tak ada gunanya.

Tetapi saat ini dia tak boleh mengundurkan diri terlebih dulu, sedang apa yang diributkan merekapun dia tak bisa ikut campur bicara cuma di dalam hati mulai berpikir cara-cara untuk menghadapi perubahan secara mendadak ini, Koan Ing yang mendengar dimaki rakus oleh Cha Can Hong secara mendadak hatinya terasa suatu perasaan yang aneh.

Biji matanya lantas berputar2 kemudian tertawa tergelak.

"Haa.... haa.... paman Cha tidak perduli kau berpikir secara bagaimana, seharusnya perbuatanmu tidak boleh begitu."

Nama besar Cha Can Hong berada diantara empat manusia aneh, Koan Ing pun merupakan seorang angkatan muda seharusnyalah di depan orang banyak dia memberi sedikit wajah kepadanya.

Dengan gusarnya dia mendengus, belum sempat mengucapkan sepatah katapun mendadak terdengar Ciu Tong sudah tertawa terbahak.

"Haa,.... haa Cha Loo-te di dalam urusan ini buat apa banyak beribut dengan seorang angkatan muda."

Baru saja perkataan dari Ciu Tong itu selesai diucapkan mendadak satu suara yang amat dingin berkumandang masuk dari luar gua.

"Di dalam urusan ini lebih baik pinto saja yang berbicara."

Dengan cepat Koan Ing menoleh ke depan, tampaklah kini di dalam gua sudah bertambah lagi dengan dua orang Toosu.

Mereka bukan lain adalah Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tong-pay serta Sak Huan yang memancarkan sinar mata dingin.

Thian Siang Thaysu yang melihat kemunculan Yuan Si Tootiang disana dalam hati merasa amat girang.

"Too-heng kapan kau datang ke daerah Tibet? Bagaimana Too-heng baru muncul saat ini?"

Cha Can Hong serta Ciu Tong yang melihat munculnya Yuan Si Tootiang di dalam gua secara mendadak dalam hati rada merasa terkejut.

Ciu Tong sama sekali tidak menyangka kemunculan Yuan Si Tootiang secara mendadak itu, dia tidak tahu bagaimana perubahan selanjutnya keadaan di tengah kalangan, diamdiam pikirnya mulai berputar mencari akal.

Yuan Si Tootiang tersenyum, kepada Thian Siang Thaysu ujarnya.

"Perpisahan selama dua puluh tahun ini kiranya Thaysu masih berada di dalam keadaan biasa saja, kedengarannya ilmu khie-kang Si Bo Sian Cin Khei dari Thaysu sudah berhasil dilatih, selamat.... selamat"

Thian Siang Thaysupun tertawa.

"Selama beberapa tahun ini pincengpun belum pernah mendengar berita tentang tootiang, teringat akan Sian Bun Kuang Kie yang Tootiang latih tentu ada kemajuan yang mengejutkan bukan? Kini kereta berdarah muncul kembali, sedang Si Budak Berdarah dari tempat kegelapanpun belum mati, seharusnya kali ini merupakan satu kesempatan buat Tootiang untuk memperlihatkan kepandaian ", Ciu Tong yang melihat kedua orang itu bercakap2 tiada habisnya segera tertawa terbahak-bahak "Haaa.... haa.... kalian dua orang manusia tidak usah saling menyanjung lagi, lebih baik perkataan kalian dihentikan sampai disini saja, bila diteruskan waah.... waah.... terlalu mengerikan.... haa.... haaa...."

Yuan Si Tootiang yang mendengar tersebut dengan tawarnya melirik sekejap ke arah Ciu Tong.

"Suhu,"

Tiba-tiba terdengar Sak Huan buka mulut.

"Biarlah muridmu pergi mencoba-coba kepandaian silat dari jagoan Bulim ini...."

Dengan perlahan Yuan Si Tootiang mengangguk tanda setuju. Sebaliknya Ciu Tong yang melihat akan hal itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, pikirnya.

"Hmm Yuan Si Tootiang sihidung kerbau ini sungguh keterlaluan, dia begitu menghina aku.... berani perintahkan muridnya untuk menghadapi aku, tidak kusangka dia orang begitu sombong...."

Dengan langkah yang perlahan Sak Huan berjalan mendekati Ciu Tong lalu berhenti kurang lebih lima depa dari dirinya.

"Cha Loo-te,"

Ujar Ciu Tong dengan amat tawarnya terhadap diri Cha Can Hong si dewa telapak masih mengira di kolong langit pada saat ini Koan Ing lah yang paling sombong dan jumawa tidak disangka murid ciangbunjien ini jauh lebih jumawa lagi.

Dia sengaja tidak melibat sekejappun ke arah diri Sak Huan.

tetapi toosu muda itu sama sekali tidak bergerak maupun melancarkan serangan dia cuma memandang ke arah iblis tua dari luar lautan itu dengan pandangan tajam.

Sinar mata Koan Ing dengan pelahan berputar, dia tahu Sak Huan bertujuan pada Sang Siauw-tan saja, jika ditinjau dari keadaan pada saat ini dirinya tidak akan berhasil menahan Cha Can Hong apalagi Iukanya belum sembuh dan berada seorang diri, terang dan jelas dia tak ada tempat untuk menancapkan kaki diantara para jago-jago tersebut.

Tetapi Sang Siauw-tan tidak boleh terjatuh ke tangan Ciu Tong semakin tidak boleh lagi bila terjatuh ditangan Sak Huan.

Ciu Tong yang melihat Sak Huan sama sekali tidak menunjukkan gerakan apapun dalam hati merasa keheranan, dengan sombongnya dia tertawa dan putar badannya kembali.

Sinar mata Sak Huan berkelebat, baru saja tubuh Ciu Tong berputar setengah jalan, tangan kanannya sudah mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung, pedang diikuti desiran angin yang amat tajam dia melancarkan satu serangan dahsyat ke arah Ciu Tong.

Ciu Tong pun bukan seorang manusia sembarangan, walaupun dia merasa terperanjat akan kecepatan gerak dari Sak Huan ini tetapi tubuhnya dengan cepat sudah berputar pula, toya ditangan kanannya segera mengejar ke arah Sak Huan.

Pedang dan toya bentrok menjadi satu menimbulkan percikan bunga-bunga api, Sak Huan kembali membentak gusar, pedangnya di dalam sekejap saja sudah melancarkan sembilan kali serangan ke arah toya tersebut, Air muka Ciu Tong berubah hebat, kedahsyatan dari tenaga yang dipantul keluar dari tubuh pedang itu amat hebat jauh diluar dugaannya, bilamana bukannya dia bisa cepat-cepat menyalurkan seluruh tenaga murninya ke arah toya, ada kemungkinan toyanya pada saat ini sudah terlepas dari tangannya, saking terperanjatnya wajahnyapun berubah hebat, dia membentak dengan amat gusarnya, disusul dengan toya ditangan menggetar balas menyerang ke arah diri Sak Huan.

Cha Can Hong sekalian yang melihat jalannya pertempuran dari samping kalanganpun diam-diam merasa terperanjat, mereka tidak menyangka kalau ilmu silat dari Sak Huan anak murid dari Yuan Si Tootiang ini ternyata amat dahsyat bahkan kelihaiannya jauh berada di atas diri Koan Ing.

Terhadap kehebatan tenaga dalam Koan Ing mereka sudah merasa amat aneh sekali, tetapi kini muncul kembali seorang pemuda yang tenaga dalamnya jauh di atas Koan Ing, hal ini merupakan suatu berita yang mengerikan sekali.

Sak Huan sendiri juga merasa ada diluar dugaan, dia mengira dengan perbuatannya itu maka toya Ciu Tong berhasil di getar pental kemudian menggunakan kesempatan itu merebut diri Sang Siauw-tan.

Serangannya tak mencapai pada sasarannya sedang Ciu Tongpun dengan amat gusarnya sudah balas melancarkan serangan....

dia lantas sadar bilamana sekali lagi dia menerima serangan tersebut maka pedangnya akan terpental lepas, karena itu pikiran untuk mengundurkan diri segera berkelebat di dalam benaknya.

Dalam keadaan amat gusar, Ciu Tong mana suka membiarkan dia meloloskan diri, dia mendengus dingin sambil mengepit tubuh Sang Siauw-tan, toyanya melancarkan serangan kembali menghajar Sak Huan.

"Tunggu sebentar!"

Teriak Yuan Si Tootiang dengan keras.

"Biarlah aku terima seranganmu itu."

Sehabis berkata tubuhnya berkelebat menghalangi dihadapan Ciu Tong, pedangnya dengan disertai sarungnya sekalian menghajar datangnya serangan dari Ciu Tong itu, dengan jurus "Cing Hay It Su"

Atau laut dingin satu gelombang dari aliran Bu-tong kiam hoat.

Koan Ing yang melihat Yuan Si Tootiang turun tangan mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya.

Di tengah suara suitan yang amat nyaring tubuhnya meloncat ke atas udara sedang pedangnya dengan cepat menuding ke arah punggung Ciu Tong.

Ciu Tong yang baru saja melancarkan serangan kena ditahan oleh pedang Yuan Si Tootiang, kini melihat Koan Ing menubruk datang pula dengan dinginnya dia mengerutkan alisnya rapat-rapat, pikirnya.

"Hmm.... kau bangsat cilik lukamu saja belum sembuh sudah berani bergebrak melawan aku berduel."

Tubuhnya melayang ke atas tanah, toyanya dibabat ke depan bermaksud hendak menggunakan tenaga gabungan dari Yuan Si Tootiang serta toyanya sendiri menyambut datangnya serangan dari sang pemuda.

Siapa tahu begitu toyanya menempel dengan pedang Yuan Si Tootiang ternyata sedikitpun tidak menunjukkan reaksi apaapa, hatinya jadi amat terperanjat, dia tidak menyangka kalau tenaga dalam dari Yuan Si Tootiang berhasil dilatih sedemikian tingginya bahkan jauh berada di atas tenaga dalamnya sendiri.

Saat itu pedang Koan Ing sudah sampai dipunggungnya, baginya cuma ada duajaIan saja, melepaskan Sang Siauw-tan atau menghajar mati gadis itu kemudian baru menerima datangnya serangan pedang sang pemuda.

Bilamana dia membinasakan Sang Siauw-tan mungkin Cha Can Hong tidak akan melepaskan dirinya, apalagi kini tujuannya pun tidak ada disitu, maka dia tidak bermaksud membinasakan diri Sang Siauw-tan.

Tetapi bilamana harus lepas tangan....

dalam hati dia merasa tidak rela.

Sewaktu dia merasa ragu-ragu itulah pedang Kiem-hongkiam ditangan Koan Ing sudah mengancam punggungnya.

Dengan gusarnya dia membentak keras, setelah melepaskan tubuh Sang Siauw-tan dia balik tangan menyerang Koan Ing.

Koan Ing sama sekali tidak bermaksud untuk melukai Ciu Tong.

tubuhnya segera merendah ke bawah menyambar tubuh gadis tersebut.

Dalam hati Ciu Tong benar2 merasa amat gusar, kaki kanannya dengan cepat melancarkan satu tendangan mengancam punggung Koan Ing.

Koan Ing yang sedang menggendong tubuh Sang Siauwtan mendadak merasa adanya segulung angin pukulan membokong badannya, dalam hati jadi amat kaget untuk menghindar tak sempat lagi membuat dia orang jadi kebingungan.

"Ciu Tong, kau berani?"

Bentak Cha Can Hong secara tiba-tiba.

Kaki kanan Ciu Tong dengan disertai angin sambaran menerjang ke depan, tubuhnya pun mendadak berkelebat ke depan dan meloncat ke tengah udara Dengan berpisahnya Ciu Tong serta Yuan Si Tootiang, Cha Can Hong pun dengan terburu-buru mendekati diri Koan Ing serta Sang Siauw-tan.

Koan Ing lantas membebaskan jalan darah Sang Siauw-tan yang tertotok dan mengurutnya beberapa kali.

"Engko Ing...."

Terdengar Sang Siauw-tan menjerit keras lalu menubruk ke dalam pelukan pemuda tersebut, air matanya keluar bercucuran dengan amat derasnya.

Cha Can Hong yang melihat kejadian ini dalam hati lantas merasa amat kecewa dan menyesal.

Sebaliknya Ciu Tong merasa malu bercampur gusar, sebab Koan Ing ternyata berhasil merebut Sang Siauw-tan dari tangannya dan hal ini benar-benar amat memalukan dirinya, tetapi kini Cha Can Hong ada di hadapannya diapun tidak bisa berbuat apa-apa.

Mendadak satu ingatan berkelebat di iblis tua dari luar lautan ini, kepada Thian Siang Thaysu ujarnya.

"Thaysu kau maui Koan Ing sedang aku menghendaki Siauw-tan, bukankah begitu?"

Mendengar perkataan itu Cha Can Hong jadi amat terkejut, tidak disangka Ciu Tong hendak bekerja sama dengan Thian Siang Thaysu untuk menghadapi dirinya.

"Ciu Tong kau manusia tidak tahu malu!"

Teriaknya gusar. Ciu Tong tertawa terbahak-bahak, belum sempat dia berbicara Yuan Si Tootiang sudah berkata.

"Kalian mengatakan dirinya sebagai manusia aneh dari Bu-lim dan bertujuan atas kereta berdarah tersebut, tidak disangka kiranya hanya ingin beradu sendiri saja.... Hmmm apakah perbuatan kalian itu mirip dengan seorang ketua partai?"

Sehabis berkata dengan dinginnya dia menyapu sekejap ke arah semua orang, Ciu Tong, serta Thian Siang Thaysu pada merasa menyesal, sejak masuk ke daerah Tibet belum pernah mereka menjaga nama serta kedudukannya, kini setelah di tegur oleh Yuan Si Tootiang mereka baru sadar kembali kalau mereka bagaimanapun juga tetap merupakan seorang ketua partai, Sedang Cha Can Hong diam-diam merasa kagum terhadap diri Yuan Si Tootiang, kiranya ciangbunjien dari Bu-tong-pay ini lain daripada yang lain, bilamana bukan perkataannya ini maka sebelum mendapatkan kereta berdarah ada kemungkinan mereka sudah saling bentrok sendiri, Koan Ing pun dengan perlahan memandang sekejap ke arah Yuan Si Tootiang, dia tidak menyangka kalau seorang yang begitu menyayangi muridnya ternyata bisa memiliki tindakan lain yang berbeda, dalam hati dia merasa amat keheranan.

Tetapi saat ini diapun merasa menyesal, Yuan Si Tootiang pernah beberapa kali minta maaf kepadanya sebaliknya dia sendiri menghadapi dia orang dengan pikiran manusia picik.

Yuan Si Tootiang yang melihat mereka semua tidak mengucapkan sepatah katapun lantas memandang kembali sekejap kesemua orang.

"Menurut apa yang aku ketahui,"

Ujarnya.

"Kini kereta berdarah sudah menuju ke tenggara dengan melakukan perjalanan siang malam, bilamana dugaanku tidak salah maka kereta tersebut lagi menuju ke gunung Kun Lun San. Dia berhenti sebentar untuk tukar napas kemudian tambahnya.

"Kecuali kita segera melakukan pengejaran kalau tidak jangan harap bisa menyandak dirinya."

Sebetulnya terhadap soal kereta berdarah Koan Ing sudah tidak tertarik, tetapi teringat akan Bun Ting-seng si kongcu berpakaian sutera itu dia merasa dirinya harus ikut melakukan pengejaran apalagi masih ada satu hal yang membingungkan dirinya, kemanakah itu manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong?

Apakah dia bukan majikan dari kereta berdarah?

Bagaimana bisa lenyap secara mendadak?

Cha Can Hong yang mendengar perkataan tersebut termenung berpikir sebentar, kemudian baru ujarnya.

"Perkataan dari Tootiang sedikitpun tidak salah, kini harap Totiang suka membuka jalan."

"Cha Thayhiap kau terlalu sungkan."jawab Yuan Si Totiang sambil tertawa tawar "Kepandaian silat aliran Toa Moa selamanya tak ada bandingannya di dalam kolong langit, aku lihat lebih baik Cha Thayhiap saja yang memimpin."

"Omiotohud,"

Seru Thian Siang Thaysu sambil merangkap tangannya memberi hormat.

"Tooheng sebagai ciangbunjin partai dari Bu tong yang namanya sudah terkenal di seluruh Bu-lim, memang sepatutnya menjadi kepemimpinan ini, perkataan dari Cha thayhiap sangat cocok dengan jalan pikiranku. harap Tooheng tidak usah menolak lagi, Yuan Si Tootiang tidak langsung menjawab sebaliknya termenung berpikir sebentar, akhirnya dia tertawa. Kalau begitu kita berangkat bersama-sama saja, asalkan semua orang suka bekerja sama buat apa harus memilih pemimpin macam-macam? Cha Can Hong yang mendengar perkataan ini diam-diam merasa semakin kagum lagi atas keluhuran budi dari Yuan Si Tootiang ini, mereka semua angkat nama bersama-sama, bilamana sampai kedudukan pemimpin ini terjatuh ke tangannya maka dengan sendirinya nama besarnya di dalam Bu-lim akan semakin cemerlang tidak di sangka dia sudah menolak.

"Mari kita segera berangkat!"

Ajak Yuan Si Tootiang kemudian sambil tertawa.

Sehabis berkata dia berjalan ke arah luar, Ciu Tong dengan membawa serta Ciu Pak serta Bu Sian pun ikut pergi disusul Thian Siang Thaysu dibelakang.

Cha Can Hong memandang sekejap ke arah Koan Ing serta Sang Siauw-tan, belum sempat dia berkata gadis itu sudah tertawa.

"Paman Cha kini lukanya belum sembuh, kami tidak akan pergi!"

Cha Can Hong menundukkan kepalanya termenung berpikir sejenak, akhirnya dia tertawa.

"Siauw-tan Akupun setuju kalau kalian tidak ikut pergi, walaupun perbuatan dari paman Cha mu tadi tidak benar tetapi ke semuanya demi kebaikanmu, aku sama sekali tidak punya maksudjahat terhadap dirimu"

Sebenarnya Koan Ing masih mengandung rasa tidak paham terhadap diri Cha Can Hong, tetapi setelah mendengar perkataannya ini dia baru tahu kalau tindakannya tersebut diambil demi kebaikan dari gadis tersebut.

Setelah berpikir sebentar dia lantas menjawab.

"Kami mana berani menyalahkan diri paman Cha."

Waktu itu Suto Beng Cu yang berdiri di samping bungkam seribu bahasa, Cing Cing memandang tajam diri Koan Ing sedang Ing Ing menundukkan kepalanya tidak berbicara.

Akhirnya setelah menghela napas panjang Cha Can Hong dengan membawa ketiga orang perempuan itu berlalu dari dalam gua.

Hoo Lieh yang melihat semua orang sudah pergi diapun tidak suka berdiam disana lebih lama lagi, diam-diam dia orang mengundurkan diri pula dari sana.

Ruangan gua yang semula diliputi oleh ketegangan dan diliputi oleh nafsu membunuh itu kini sudah berubah jadi sunyi senyap, manusia yang semula begitu banyak kini Cuma tinggal dua orang saja.

Koan Ing memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan lalu tertawa.

Sang Siauw-tan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu kemudian sambil tertawa dia menarik tangan Koan Ing.

"Engkoh Ing,"

Ujarnya manja.

"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam gua ini lebih dalam untuk melihat-lihat?"

Sambil tersenyum Koan Ing mengangguk, demikianlah mereka berdua lantas masuk kedalam gua itu.

Semakin ke dalam keadaan gua tersebut semakin aneh, beberapa saat kemudian mendadak terdengarlah suara percikan air yang perlahan.

Sebuah selokan kecil muncul di hadapannya, sang surya menyoroti masuk ke dalam gua melalui celah2 di atas dinding membuat suasana disana terasa amat nyaman.

Mereka berdua jadi amat terperanjat, sejak memasuki daerah Tibet baru untuk pertama kali mereka menemukan pemandangan yang demikian indahnya, keadaannya sangat berbeda sekali dengan tempat tempat lain yang tertutup oleh salju tebal.

Sang Siauw-tan lantas menarik tangan Koan Ing untuk diajak duduk ditepi selokan tersebut sambil main air dia memandang ke arah sang pemuda dengan pandangan mesra, Dengan perlahan Koan Ing mendongak ke atas, mendadak teringat olehnya akan jurus serangan yang digunakan Sak Huan, dia merasa dirinya harus belajar ilmu silat lebih mendalam lagi kalau tidak bagaimana mungkin bisa melindungi diri Sang Siauw-tan?

Berpikir sampai disitu dia lantas mulai duduk bersila uatuk menyembuhkan lukanya, Sang Siauw-tan dengan pandangan terpesona memandang ke atas wajah sang pemuda yang pucat pasi bagaikan mayat itu, dia tidak mau percaya kalau pemuda yang ada di hadapannya hanya mempunyai usia selama sepuluh hari saja, Koan Ing adalah seorang yang baik, dia tidak seharusnya mati dengan begitu cepat dengan pandangan terpesona gadis itu memandang ke arah wajah pemuda yang pucat pasi itu, dia tertawa,....

tertawa geli buat dirinya sendiri.

Bilamana Koan Ing mati, diapun bisa mati maka waktu itu mereka akan menjadi satu untuk selamanya.

Mendadak dari samping kirinya berkumandang datang suara dengusan yang amat dingin, Sang Siauw-tanjadi terperanjat ketika menoleh ke belakang tampaklah seorang tosu muda berdiri tidak jauh dari dirinya.

Orang itu bukan lain adalah Sak Huan.

Koan Ing dengan perlahan membuka matanya, dia memandang ke arah Sak Huan dengan pandangan kaget walaupun dia merasa ada sedikit di luar dugaan tetapi yang aneh bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan diri Yuan Si Tootiang dengan begitu mudah.

Dengan perlahan dia bangun berdiri dan memandang ke arah Sak Huan dengan pandangan tajam sekali.

Sak Huan mengerutkan alisnya, dia memandang diri Sang Siauw-tan lalu ujarnya.

"Aku sungguh merasa tidak paham kenapa kau suka mengikuti diri Koan Ing?"

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi amat gusar, sekali lagi Sak Huan menghina dirinya kembali.

"Kau berbuat begini apakah tidak takut sampai merusak nama baik suhumu?"

Teriaknya dengan amat gusar. Sak Huan tertawa dingin.

"Saat ini cuma ada kita bertiga saja, sama sekali tidak ada suhu sekalian yang hadir!"

Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa amat gusar, dia ingin mengumbar hawa amarahnya disana.

"Engkoh Ing kita pergi saja, jangan urusi orang gila itu!"

Seru Sang Siauw-tan dengan cepat sambil menarik tangan Koan Ing.

Beberapa perkataannya ini sengaja di ucapkan agar Sak Huan bisa mendengar, dengan cepatnya dia menarik tangan pemuda itu dan berjalan menuju kegua sebelah dalam.

Dari sepasang mata Sak Huan segera terlintaslah suatu nafsu membunuh, tetapi hanya sekejap saja sudah lenyap kembali, bukan saja dia tidak mengambil tindakan apa-apa, sebaliknya hanya memandang bayangan punggung mereka berdua dengan pandangan amat dingin.

Dalam hati Sang Siauw-tan serta Koan Ing merasa heran, menurut apa yang diketahui mereka berdua, Sak Huan tidak bakal lepas tangan dengan begitu saja, bilamana cuma begitu saja buat apa dia munculkan diri disitu Tetapi dengan tidak mengejarnya Sak Huan, hal ini malah jauh lebih baik lagi, mereka berdua saling bertukar pandangan.

Sambil tertawa kemudian berjalan masuk kegua bagian dalam, Mereka berdua tidak tahu hendak pergi ke mana, tetapi merekapun tidak perduli hendak pergi kemana asalkan dapai ber sama-sama hal ini sudah amat mengembirakan sekali, Beberapa saat kemudian Koan Ing serta Sang Siauw-tan sudah berada di dalam gua yang amat lurus, tetapi amat gelap dan tak nampak ujungnya, Lama sekali mereka berdua berdiri ter mangu-mangu, akhirnya sambil menarik tangan sang pemuda ujar Sang Siauw-tan.

"Kita hendak pergi kemana?"

Koan Ing rada ragu-ragu sebentar lalu sambil tertawa dia mengangguk, buat dirinya gelap atau terang adalah sama saja karena matanya bisa melihat di tempat kegelapan seperti disiang hari saja, Kembali lewat beberapa saat lamanya, mendadak Koan Ing menghentikan langkah kakinya, Sang Siauw-tanjadi melengak, diapun dapat mendengar suara napas yang amat berat berkumandang keluar dari dalam gua, agaknya ada orang yang lagi kepayahan.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tidak tahu siapakah yang berada di dalam gua itu.

Dengan ketajaman matanya dia berusaha untuk melihat keadaan di sekeliling tempat itu, tetapi apa yang dilihatnya hanyalah kegelapan saja, apapun tidak kelihatan.

"Mari kita pergi lihat-lihat"

Ujar Sang Siauw-tan kemudian dengan perlahan.

Koan Ing mengangguk, mereka berdua berjalan kembali ke sebelah dalam gua tersebut, tetapi suara napas yang amat berat itupun mendadak berhenti.

Pada ujung gua kembali terdapat suatu tikungan, mendadak mereka berdua jadi tertegun, kiranya di tempat tersebut terdapat sebuah ruangan batu yang sudah hancur, agaknya dahulu pernah ada orang yang terkurung di tempat ini.

Sewaktu dia lagi berdiri termangu-mangu itulah mendadak terdengar Sang Siauw-tan menjerit kaget.

Koan Ing terburu-buru menoleh, tampaklah sesosok bayangan manusia dengan disertai segulung angin sambaran yang amat tajam menerjang ke arahnya.

Koan Ing segera merasakan hatinya bergidik, pada saat itulah Sang Siauw-tan sudah menubruk terlebih dahulu ke arah orang itu.

Koan Ing tidak punya akal lagi, diapun bersuit panjang, sambil mencekal pedang Kiem-hong-kiamnya dia menyerang ke arah orang itu.

Dengan gesitnya orang itu menangkis pedang Koan Ing ke samping lalu mencengkeram tubuh Sang Siauw-tan dan dilempar kan ke arah ke belakang.

"Kau bocah perempuan ayoh menyingkir"

Teriaknya.

Koan Ing yang merasa serangan pedangnya berhasil dibabat miring oleh suatu tenaga yang amat besar dalam hati merasa rada bergidik, dia tidak tahu sebenarnya apa yang sedang dilakukan orang itu terhadap diri Sang Siauw-tan, maka sepasang kakinya dengan cepat menjejak permukaan tanah dan menubruk ke arah dimana tubuh Sang Siauw-tan melay Dengan gusarnya orang itu kembali meraung gusar, lima jarinya dipentangkan siap-siap mencengkeram tubuh Koan Ing, Pemuda itu segera mendengus, pedang kiem-hongkiamnya dengan sekuat tenaga ba las menyerang orang itu, Tetapi ketika dapat melihat jelas wajahnya dia jadi tertegun, Kiranya orang itu bukan lain adalah si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong yang telah lenyap dari kereta berdarahnya, Saat ini sepasang mata Jien Wong merah berapi2, rambutnya terurai kacau wajahnya menyengir amat menyeramkan, Bagaimana mungkin Jien Wong bisa muncul disini?

Apalagi agaknya mempunyai suatu dendam sedalam lautan dengan dirinya sehingga dia menyerang dia orang dengan begitu kalapnya.

Belum habis suatu pikiran berkelebat di dalam benaknya pedang kiem-hong-kiam ditangan kanannya sudah kena direbut oleh babatan Jien Wong, iga kanannya kena dihantam keras sehingga tubuhnya terlempar ke tengah udara dan menumbuk dinding gua.

Dia cuma merasakan darah panas bergolak di dalam dadanya, darah segar tak kuasa lagi menyembur keluar dari mulutnya, dengan paksakan diri dia merangkak bangun untuk mencari diri ^adis tersebut.

Tarlihatlah Sang Siauw-tan berbaring tepat disisinya dalam keadaan tidak sadar kan diri, Ketika mendongakkan kepalanya ke arah Jien Wong, tampaklah wajah penuh rasa gusar setindak demi setindak si manusia tunggal dari Bu-lim itu berjalan mendekat.

Keadaan Koan Ing benar-benar amat berbahaya sekali, dirinya tidak sampai mati terkena pukulan Jien Wong tadi sudah merupakan suatu peristiwa yang ajaib, dengan paksakan diri dia merangkak ke samping tubuh gadis tersebut dan memeriksa urat nadinya.

Tetapi bersamaan waktunya pula dengan disertai auman gusar yang amat mengerikan Jien Wong sudah menubruk datang.

Dengan terburu-buru Koan Ing membentuk serangan satu lingkaran ditangan kanannya lalu didorong ke depan.

"Plaaak....!"

Serangannya tidak mencapai pada sasaran sebaliknya kena ditangkis sehingga mencong kesamping, saking luar biasanya sehingga keringat pada bercucuran.

Ooo)*(ooO Bab 30 DENGAN gusarnya Jien Wong menubruk semakin mendekat, Koan Ing jadi semakin terperanjat.

dia tidak ingin mati dalam keadaan bingung, karenanya dengan paksakan diri telapak kirinya kembali melancarkan satu serangan ke depan.

Lima jari tangan Jien Wong bagaikan kilat cepatnya menyambar mencengkeram jalan darah "Cian Ching Hiat"

Nya, membuat tubuhnya jadi lemas sedikitpun tak bertenaga.

Dengan ganasnya Jien Wong segera mendorong dia jatuh terlentang kemudian dengan menunjukkan sebaris giginya yang putih runcing dia hendak menggigit leher pemuda tersebut.

Seluruh tubuh Koan Ing tak bisa bergerak tetapi dia melihat dan merasakan segulung hawa dingin merembes ketulang sumsumnya.

di dalam hati dia tidak menyangka kalau ini hari dirinya bisa menemui kematian dengan cara yang demikian mengenaskan.

Dengan ganas dan kalapnya Jien Wong menggigit leher pemuda tersebut lalu menghisap darahnya, karena saluran pernapasan tidak sampai putus maka dia masih tetap hidup....

, Kepalanya semakin lama terasa semakin pening, akhirnya diajatuh tidak sadarkan diri.

Entah lewat beberapa saat lamanya dengan perlahan Koan Ing membuka matanya kembali.

Dia merasa badannya amat lemas sedikitpun tak bertenaga, dia merasa heran kenapa dirinya tidak mati?

Bukankah terangterangan tadi Jien Wong lagi menghisap darahnya.

Apa mungkin pada saat-saat yang amat kritis ada orang yang sudah turun tangan menolong dirinya lolos dari cengkeraman Jien Wong?

Jilid 13 WAKTU itu kepalanya terasa amat berat serasa ingin tidur, tetapi Sang Siauw-tan, gadis itu sama sekali tidak berada di sisinya.

Koan Ing jadi terperanjat, di dalam sekejap mata itulah rasa mengantuknya lenyap dari benaknya, kepalanya didongakkan memandang ke arah Jien Wong yang lagi duduk di hadapannya.

"Dimana Sang Siauw-tan?"

Teriaknya.

"Dia ada di dalam ruangan batu itu, dia baik-baik saja,"

Sahut Jien Wong sambil memandang kebingungan ke arahnya lalu bangun dan berjalan ke sisinya.

Tampaklah pada ujung bibir Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim ini masih berlepotan darah, dan darah itu adalah darahnya sendiri.

Kini sesudah mendengar Sang Siauw-tan berada di dalam keadaan selamat hatinya jadi amat lega....

lega sekali.

"Cepatlah kau lepaskan dia keluar!"

Serunya kembali sambil menundukkan kepalanya sesudah menarik napas panjang. Pada wajah Jien Wong terlintaslah suatu perasaan yang amat aneh sekali, dia termenung sebentar kemudian baru berkata.

"Bocah darah dibadanmu sudah aku hisap separuh, untuk sementara lebih baik kau jangan berbicara dulu."

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi terperanjat, sepasang tangannya sam bil memegang tanah dan kepalanya didongakkan ke atas memperhatikan si manusia aneh ini, Dia tidak menyangka kalau manusia aneh ini tidak membunuh mati dia, apakah pikirannya kini sudah tidak genah?

Tetapi kenapa sekarang....?

Dia menghisap darahnya, bahkan menghisap separuh dari darah yang ada dibadannya.

Semakin dipikir semakin menyeramkan, akhirnya seluruh bulu kuduknya pada berdiri, Kembali Jien Wong tertawa tawar.

"Tadi aku mengira kau adalah manusia yang membokong diriku maka itu aku hisap darahmu,"

Katanya perlahan. Dia berhenti sebentar untuk tertawa kemudian tambahnya lagi.

"Kau yang bernama Koan Ing bukan aku mempunyai ikatan persahabatan yang amat erat dengan kakekmu "Siang Kang Bun Su"

Atau si kakek asing dari Siang Kiang, seharusnya kau masih ingat aku pernah bersembunyi di dalam rumahmu sampai akhirnya dikelabui ayahmu."

Koan Ing merasakan hatinya tergetar amat keras, secara tiba-tiba semangatnya pulih kembali karena dalam hati dia merasa heran....

heran mengapa Jien Wong masih dapat mengingat jelas akan peristiwa tersebut.

Dengan perlahan Jien Wong mengangkat kepalanya memandang ke atas dan termenung melamun.

Sedang Koan Ing yang mendadak merasa Jien Wong sama sekali tidak mempunyai maksud jahat terhadap dirinya diapun terjerumus ke dalam lamunan, siapapun tak ada yang berbicara.

Suasana yang sunyi itu mendadak dipecahkan kembali oleh suara Jien Wong, terdengar dia berkata.

"Tempo hari sewaktu aku terjunkan diri ke dalam dunia kangouw untuk pertama kalinya aku adalah anak murid dari Kun-lun-pay, tetapi waktu itu pengaruh Kun-lunpay di dalam Bu-lim amat suram dan lemah sudah tentu tak seorangpun jagoan kangouw yang sebelah matapun terhadap partai besar tersebut dan dengan sendirinya kepandaian silat yang aku milikipun tidak tinggi "

Berbicara sampai disini dia tertawa geli sendiri, setelah menghembuskan napas panjang kembali sambungnya.

"Aku sendiri sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada siapapun juga karena itu disebut orang sebagai si manusia tunggal dari Bu-lim, tetapi diantara para jago-jago kangouw itu hanya kakekmu seorang saja yang memahami dan mengerti akan perasaan hatiku, karena itu kami lantas mengikat satu persahabatan yang akrab"

Dalam hati Koan Ing merasa semakin keheranan, selamanya dia tidak pernah mendengar jikalau kakeknya kenal dengan Jien Wong, bahkan ayahnyapun tak mengerti akan urusan ini, kalau tidak dengan melalui peristiwa yang mengerikan ini cerita itu tidak bakal terdengar olehnya"

"Kau tentu merasa keheranan bukan?"

Seru Jien Wong sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Padahal yang sebenarnya aku serta kakekmu cuma bertemu sebanyak tiga kali, percakapanpun terbatas pada ratusan patah kata, tetapi kau harus tahu persahabatan lelaki sejati tawar laksana air, nah.... , inilah yang dimaksudkan."

Dengan termangu-mangu dan mulut bungkam Koan Ing memandang ke arah si orang aneh itu, dia tidak menyangka kalau urusan sebenarnya adalah begitu "Akhirnya karena aku orang tidak kuat menahan sikap sombong dan Congkak dari orang-orang kangouw, dalam keadaan gusar lantas meninggalkan daerah Tionggoan, siapa tahu secara kebetulan itulah aku menemukan kereta berdarah tersebut."

Berbicara sampai disini alisnya melentik biji matanya berputar, agaknya dia merasa amat bangga sekali.

"Selama tiga tahun lamanya aku berlatih tekun,"

Sambungnya lagi.

"Sewaktu aku kembali munculkan diri di dalam dunia kangouw banyak jago yang iri dan timbul rasa rakus untuk merebut kereta berdarahku ini hee.... heee.... barang siapa saja yang punya maksud begitu tanpa ampun lagi, tentu mati ditanganmu inilah yang dikatakan sebagai rasa iri dan rakus muncul dihati, berbagai ingatan berkumpul di dalam benak seperti yang diucapkan oleh ciangbunjien angkatan pertama partai Hiat-ho-pay, maka itu sekalipun aku bunuh habis mereka yang ingin merebut kereta berdarah ku ini dalam hati aku sama sekali tidak merasa menyesal "

"Hmmm siapakah sebenarnya ciangbunjien angkatan pertama dari partai Hiat-ho-pay ini? Sungguh dahsyat nafsu membunuhnya."

"Kau merasa heran bukan?"

Seru Jien Wong tertawa.

"Padahal yang menjadi ciangbunjien angkatan pertama dari partai Hiat-ho-pay ini bukan lain adalah suheng dari ciangbunjien angkatan ketiga puluh lima partai Siauw-lim-pay, Pek Hong Thaysu adanya. karena di dalam partai Siauw-lim dia diasingkan maka di dalam keadaan gusar dia lantas menyelidiki dan berlatih ilmu silat dari seluruh kolong langit untuk kemudian mendirikan partai Hiat-ho-pay "

Bicara sampai disini dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu sambungnya.

"Tetapi mereka tetap ngotot mengadakan pengejaran, sudah mati satu rombongan kembali muncul satu rombongan yang lain, terang-terangan kedatangan mereka disebabkan karena kereta berdarah tetapi dimulutnya mereka memakai alasan hendak melenyapkan bibit bencana dari Bu-lim, Hm sungguh kurangajar sekali, Tetapi dengan kepandaian silat yang aku miliki setiap kali kereta berdarah lewat disanalah terjadi banjir darah, akhirnya aku lari ke daerah Tibet untuk menyingkir, sebetulnya di Tibet ini aku mempunyai perjanjian dengan ciangbunjien dari kuil Han-pohsi itu, bilamana dia bisa bantu aku menahan serbuan orangorang Tionggoan dan bisa mengalah aku dengan mengandalkan orang-orang Tibet maka kereta berdarah ini harus kuhadiahkan kepadanya."

Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi sadar kembali.

"Oouw kiranya begitu,"

Pikirnya.

"Tidak aneh kalau Hud Ing Thaysu suruh aku jauh menyingkir kegurun pasir, kiranya dia bermaksud hendak mendapatkan kereta berdarah itu sendiri ", Terdengar Jien Wong tertawa terbahak^, kembali dengan amat kerasnya.

"Haa,.... haaa.... selama perjalanan ku menuju ke daerah Tibet para jagoBu-lim yang mati ditanganku ada ratusan orang banyaknya. ada orang yang bermaksud merebut dengan menggunakan akal ada pula yang merebut secarajantan tetapi tak seorangpun yang berhasil memenuhi maksud hatinya Dia berhenti sebentar lalu tambahnya.

"Ketika aku muncul kembali untuk ke tiga kalinya di dalam Bu-lim guna melihat siapa saja yang berani mengganggu aku, siapa tahu di dalam dunia kangouw sudah muncul "Sian, Khei, Sin, Mo"

Empat manusia aneh, di dalam pertempuran digunung Hoa-san aku sudah dikalahkan oleh mereka."

Sewaktu berbicara sampai disini Jien Wong termenung sebentar agaknya dia sedang membayangkan kembali pengalamannya tempo hari.

Kurang lebih seperminum teh kemudian baru dia berkata lagi tambil tersenyum.

"Tetapi walaupun begitu aku menaruh rasa kagum terhadap kepandaian silat mereka berempat, mereka amat dahsyat sekali, cuma saja aku kalah tapi mereka tak mengetahui kalau aku belum mati, menanti sewaktu mereka bergebrak sendiri untuk memperebutkan gelar jago nomor wahid, diam-diam aku naik ke atas kereta dan melarikan diri dari sana,"

"Setelah turun dari gunung Hoa-san mereka tidak berhasil menyandak diriku, sehingga aku berhasil melarikan diri ke daerah Siang Kang dan dengan bantuan kakekmu aku lantas dapat bersembunyi disebuah ruangan rahasia untuk mengobati lukaku"

Koan Ing yang mendengar Jien Wong di dalam kerubutan empat manusia aneh ternyata berhasiljuga melarikan diri dalam hati benar-benar amat tercengang, hal ini merupakan satu peristiwa yang amat mengejutkan hati ^ Tetapi diapun merasa kagum dan memuji kegagahan diri Jien Wong, dia orang walaupun berhasil meloloskan diri dari kematian bukannya merasa mendendam terhadap keempat manusia aneh itu sebaliknya memuji dan mengagumi, dia orang benar-benar berlapang dada dan tidak berpikiran sempit.

Jien Wong termenung sebentar, kemudian melanjutkan kembali kisahnya.

"Tetapi akhirnya ada juga yang mengejar datang, mereka berjumlah sepuluh orang, dalam keadaan luka aku pukul rubuh delapan orang dan membinasakan enara orang dengan menggunakan pedang pendek akhirnya cuma tinggal dua orang saja, salah satu diantara meraka adalah Bun Ting-seng anak murid dari si iblis sakti dari lautan timur Ciu Tong"

Diam-diam Koan Ing menarik napas panjang.... Jien Wong ini sungguh kejam sekali, di dalam keadaan terluka parah dia masih bisa membinasakan empat belas orang banyaknya,"

Pikirnya di dalam hati.

"Waktu itu pikiran serta kesadaranku sudah punah, Bun Ting-seng lantas angkat aku sebagai gurunya,"

Kata Jien Wong lagi.

"Hee.... hee cuma sayang dia tidak tahu dimana aku simpan kepandaian silat dari partai Hiat-ho-pay itu."

Dia berhenti dan tertawa tawar, kemudian tambahnya.

"Walaupun seluruh tubuhku terluka, urat syaraf terganggu sukar disembuhkan tetapi di dalam hal ilmu silat aku memperoleh kemajuan yang pesat, seluruh kepandaian silat dari aliran Hiat-ho-pay aku sudah memahaminya seperti memandang jari tanganku sendiri ", Tempo hari Koan Ing memang pernah mendengar Sang Suim berkata kalau Jien Wong sudah menjadi gila, kalau memang benar-benar begitu bagaimana saat ini dia berada dalam keadaan sehat walafiat? Terdengar Jien Wong menghela napas panjang....

"Heeei.... kemudian ayahmu menerjang masuk tapi mati ditangan Bun Ting-seng dan kaupun menerjang masuk, akhirnya kami melarikan diri ke daerah Tibet dengan menunggang kereta, siapa tahu sewaktu kami tiba di daerah Tibet, Bun Ting-seng bersama muridnya telah lenyap tak berbekas, terpaksa aku seorang diri melanjutkan perjalanan dan bersembunyi di dalam kuil Han Po Si."

Mendengar Bun Ting-seng tidak ikut masuk deerah ^ibet bahkan Jien Wong sendiripun tidak tahu dia pergi kemana biji mata Koan Ing berputar tiada hentinya, dia merasa rada kecewa....

tapi diapun tidak bisa menyalahkan diri Jien Wong karena waktu itu dia berada dalam keadaan tidak sadar sudah tentu tidak mengetahui pula dengan jelas.

"Akhirnya kuil Han Poo Si terbakar dan aku melarikan diri dari dalam kuil tersebut "sambung Jien Wong sesudah berhenti sebentar.

"Tetapi waktu itu juga aku mulai merasa musuh tangguh mulai mengelilingi sekeliling tempat itu, walaupun kesadaranku belum pulih tetapi aku mengetahui kalau di sekitar tempat ada bayangan yang bersembunyi mereka tak ada yang suka munculkan diri secara terangterangan, aku yang berkepandaian tinggipun tak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka."

"Apa mungkin kedua belas orang pelindung hukum dari perkumpulan Tiang-gong-pang?"

Tanya Koan Ing tak terasa tagi.

"Bukan,"

Jawab Jien Wong sambil gelengkan kepalanya.

"Selama ini aku tidak pernah melihat mereka munculkan dirinya tetapi dengan pengalamanku selama puluhan tahun berkelana di dalam dunia kangouw aku yakin kalau ada orang yang mengawasi aku terus."

Dalam hati Koan Ing merasa semakin tercengang, tetapi diapun mempunyai satu dugaan kalau di dalam daerah Tibet ini sudah berselimut suatu siasat busuk yang maha besar, terbukti sampai kinipun dia tidak tahu siapakah yang sudah menyamar sebagai Hu Sang Ko dan muncul di daerah Tionggoan."

Walaupun pikirannya berputar terus tetapi mulutnya tetap membungkam di dalam seribu bahasa. Terdengar Jien Wong kembali menghela napas panjang.

"Heeei.... beberapa hari yang lalu aku bersembunyi di dalam gua ini dan mengusir pergi kereta berdarah. Walaupun aku terluka dan terkurung tetapi mereka tak bisa mengapa-apakan diriku pun tidak akan bisa memperoleh kereta berdarah itu."

Dalam hati Koan Ing merasa tergetar kembali, walaupun Jien Wong berada dalam keadaan tidak sadar pikirannya tetapi dengan kepandaian silatnya yang amat dahsyat dan mengerikan itu siapa yang berani memandang rendah dirinya?

Tetapi kiniJiu Wong mengalami kerugian, hal ini membuktikan kalau orang tersebut amat dahsyat sekali.

"Orang-orang itu amat banyak"

Ujar Jien Wong lagi sambil mengerutkan alisnya.

"Dan mereka semua adalah jago-jago lihay dari Bu-lim, selamanya belum pernah aku nenemui rencana yang demikian rapat dan sempurnanya sehingga berhasil mendesak aku masuk ke dalam penjara batu ini. Dia berpikir sebentar, lalu tambahnya.

"Diantara mereka sembilan orang berkerudung, orang yang pertama2 masuk ke dalam penjara batu dan tak berkerudung itu akhirnya kena dibabat wajahnya oleh serangan "Thian Kang Ci"

Mereka lalu menggusur pergi kereta berdarah tersebut"

Kembali Koan Ing merasa terperanjat, ada begitu banyak jago-jago lihay yang bersembunyi di sekeliling tempat ini, cuma dia tak berhasil menemukan seorangpun, kelihatannya di sekitar tempat ini benar-benar sudah diselimuti oleh nafsu membunuh yang setiap saat bisa berkobar.

"Setelah aku kena didesak masuk ke dalam penjara batu ini orang itu sudah membokong aku satu pukulan lalu mengunci pintu dan melarikan diri, aku yang tak bisa membuka pintu tersebut lantas terkurung di tempat ini, tetapi aku pikir mereka pasti bakal kembali lagi. karena itu aku menunggu terus.... heeei.... siapa sangka akhirnya yang datang adalah kau orang."

Koan Ing mendengarkan seluruh kisah itu dengan termangu-mangu, berbagai soal yang mencurigakan hatinya kini sudah tersapu lenyap.

Kiranya peristiwa yang sungguh-terjadi sejak kereta berdarah memasuki daerah Tibet ini diliputi oleh suatu kemisteriusan, semua peristiwa terjadi karena rencana busuk seseorang, bilamana diantara mereka saling bergebrak lagi ada kemungkinan orang-orang Bu-lim bakal musnah di tempat itu juga.

Jien Wong tertawa pahit dan menghela napas panjang.

"Aku salah mengira kau adalah mereka2 itu sehingga telah menghantam kau sehingga hampir mati, hal ini benar-benar berada di luar dugaanku kiranya orang yang aku hisap darahnya bukan mereka."

"Ketika aku mengisap darahmu sampai separoh jalan itulah pikiranku jadi sadar kembali,"

Aku kenal kau adalah Koan Ing dan waktu itu racun yang bercampur di dalam darah ditubuhmupun sudah berhasil aku hisap semua, aku tidak menyangka kalau racun yang mengeram di dalam tubuhmu itu adalah obat yang paling mujarab buatku untuk memulihkan kembali pikiran gila yang aku derita selama dua puluh tahun ini, sekalipun begitu usiaku tidak panjang lagi, aku hanya bisa hidup beberapa hari saja sedang kau....

kau sudah terbebas dari bencana."

Dengan termangu-mangu Koan Ing berdiri mematung disana, racun di dalam darahnya sudah kena dihisap semua oleh Jien Wong?

Dia tidak mengetahui waktu ini harus merasa senang atau sedih, urusan ini terjadi diluar dugaannya.

"Ada kemungkinan inilah nasibku,"

Ujar Jien Wong lagi sambil tertawa.

"Tetapi selama hidupku ini masih ada satu urusan yang membuat aku menyesal yaitu hutang budi terhadap kakekmu serta matinya ayahmu karena aku. hal ini benar-benar membuat aku merasa sangat sedih...."

"Kini aku adalah seorang manusia yang hampir mendekati ajalnya, sebetulnya aku bisa menggunakan ilmu sim hoat tingkat atas "Cuan Kang Lok Ti"

Untuk menyalurkan tenagaku kepadamu, tetapi aku tidak suka kau berbuat begitu, aku ingin kau berjuang sendiri dan membentuk tenaga sendiri, dengan begitu kau bisa tahu betapa beratnya suatu perjuangan untuk mencapai pada tujuan."

Di atas kereta berdarah ada termuat ilmu silat dari ciangbunjin angkatan yang terdahulu, sedang di dalam pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie termuat ilmu silat aliran Hiatho-pay, tetapi kepandaian silat itu tidak ada gunanya bagimu, bilamana lama belajar pikiran bisa jadi sinting dan akhirnya gila, terhadap ilmu silat Hiat-ho-pay itu aku mengerti amat jelas, sebelum aku mati akan kuturunkan seluruh kepandaian itu kepadamu."

Koan Ing jadi tertegun, belum sempat dia bicara Jien Wong sudah tertawa kembali.

"Kesemuanya ini hanyalah dikarenakan kau di sekeliling tempat ini bayangan hitam berkelebat tiada hentinya bilamana kau tidak berkepandaian maka tak mungkin bisa melindungi diri sendiri, apalagi setelah kau berhasil mempelajari ilmu tersebut aku memberi tugas kepadamu untuk memusnahkan kereta berdarah tersebut."

Dalam hati Koan Ing tahu kalau Jien Wong memerintahkan dia untuk menyelidiki manusia misterius itu dan memusnahkan sekalian orang-orang yang merebutkan kereta berdarah.

"Terima kasih cianpwee,"

Sahutnya kemudian sambil berlutut di atas tanah.

"Tidak usah.... tidak usah, walaupun aku berbuat demikian belum Cukup bagiku untuk membalas budi kebaikan kakekmu,"

Cegah Jien Wong sambil goyangkan tangannya. Sehabis berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah kitab dan berkata lagi.

"Orang yang menulis kitab pusaka "Boe Shia Koei Mie"

Ini benar-benar amat lihay hanya sayang dia haoya menulis sepintas lalu dan tidak cukup mendalam, sepuluh tahun kemudian orang ini tentu akan berubah menjadi seorang manusia aneh, kini kau sudah pernah membaca kitab pusaka "Boe Shia Koei Mie"

Ini berarti pula pekerjaanku hampir sudah selesai separuh, cukup aku memberi pelajaran bagaimana caranya memperdalam isinya maka kau bakal sukses,"

Koan Ing yang melihat kitab pusaka "Boe Shia Koei Mie"

Nya terjatuh ke tangan Jien Wong dia lantas tahu kalau kitab itu tentunya sudah diambil sewaktu diajatuh tidak sadarkan diri tadi.

"Selama hidupku ini aku mengutamakan ilmu tabib serta ilmu pedang sebagai andaIan, kesemuanya itu aku susun dalam enam ribu kata, kau harus menghapalnya sehingga masak betul-betul"

Kata Jien Wong lagi. Sehabis berkata tangan kanannya lantas menekan jalan darah "Giok Shen Hiat"

Di belakang otaknya.

Koan Ing hanya merasakan satu hawa segar menusuk ke dalam tubuhnya membuat benaknya jadi tajam, Waktu itulah terdengar suara yang amat nyaring dari Jien Wong sudah berkumandang masuk ke dalam telinganya.

"Ilmu tabib mengutamakan keahlian, dengan ketajaman otak membuktikan kepalsuan...."

Setiap perkataan tersebut dengan jelasnya teringat di dalam benaknya Dengan amat sabar dan telitinya Jien Wong mengulangi keenam ribu kata-kata itu sebanyak tiga kali, suaranyapun semakin lama semakin kecil tetapi setiap patah kata yang diucapkan merupakan hal-hal yang penting dalam ilmu ketabiban.

Dengan amat telitinya Koan Ing mengingat2 terus keenam ribu kata itu sehingga kapan Jien Wong berhenti berbisik dia sendiri juga tidak tahu.

Ketika pikirannya sadar kembali, tibatiba....

"Aah...."

Entah sejak kapan Jien Wong sudah menggeletak di atas tanah tak bernyawa lagi, seluruh tubuhnya kaku dan hangus seperti terbakar, Lama sekali Koan Ing termangu-mangu disana, tidak disangka Jien Wong sudah mati dengan begitu cepatnya....

tak terasa lagi air mata bercucuran membasahi pipinya.

Beberapa saat kemudian mendadak dia teringat akan Sang Siauw-tan, terburu-buru dia bangun sendiri.

Siapa tahu darahnya yang kena dihisap separuh oleh Jien Wong membuat badannya amat lemah, baru saja bangun berdiri dia sudah rubuh kembali ke atas tanah, Dengan perlahan dia bangun kembali dan berjalan ke dalam penjara batu itu, tampaklah waktu itu Sang Siauw-tan sedang berbaring disana dengan mata terbuka lebar-lebar, Sang Siauw-tan yang secara tiba-tiba melihat Koan Ing berjalan masuk dengan amat girangnya lantas meloncat bangun.

"Engko Ing dimanakah manusia aneh itu? Dia tidak memperkenankan aku ke luar"

Sembari berkata dia berjalan mendekat diri pemuda tersebut.

"Iiiih.... engkoh Ing, kau kenapa?"

Tanyanya kemudian sambil menjerit tertahan.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan sembari bertanya butiran air mata mengucur keluar dengan derasnya, dia lantas mengerti kalau parasnya saat ini pasti amat jelek sekali sehingga membuat gadis itu terperanjat dan ketakutan.

"Aku tidak mengapa,"

Sahutnya kemudian sambil tertawa.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan mencekal tangan pemuda itu erat-erat, dalam hati diapun tahu kalau pemuda tersebut tidak ingin dia menaruh rasa kuatir, karenanya setelah termenung sebentar tanyanya.

"Dimanakah manusia aneh itu?"

"Dia adalah Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim, tetapi kini ia telah meninggalkan dunia."

"Mati?"

Seru Sang Siauw-tan tertegun.

Koan Ing yang melihat gadis itu tidak percaya dia lantas tertawa dan menarik dirinya keluar dari penjara batu itu dan menunjukkan mayat dari Jien Wong tersebut.

Saking terkejutnya lama sekali Sang Siauw-tan berdiri termangu-mangu disana, sepatah katapun tak diucapkan.

Koan Ing tersenyum, dengan suara yang halus dia lantas menceritakan kisahnya yang baru saja dialaminya itu.

Sang Siauw-tan lantas menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang pemuda, air mata bercucuran dengan derasnya membasahi pipinya.

dalam hati dia sendiri tidak mengetahui haruskah dia merasa gembira atau bersedih hati.

Untuk kedua kalinya dia bersama-sama Koan Ing berhasil lolos dari tangan malaikat elmaut Kini semuanya sudah berlalu, racun yang mengeram di dalam tubuh Koan Ing pun sudah dihisap keluar oleh Jien Wong hal ini berarti juga sejak kini mereka berdua bisa hidup berdampingan hingga tua.

Saking girangnya tak kuasa lagi Sang Siauw-tan menangis semakin keras....

"Siauw-tan,"

Ujar Koan Ing perlahan sambil membelai rambutnya yang panjang itu.

"Sekarang kita bisa berkumpul lagi untuk selamanya, aku tidak akan meninggalkan dirimu...."

Berbicara sampai disini mendadak teringat olehnya ajakan Sak Huan si toojien berbaju hijau itu, agaknya dia tahu kalau Jien Wong ada disini sehingga sengaja melepaskan mereka berdua masuk kemari.

Bahkan diapun tahu kalau Jien Wong tak akan membinasakan orang perempuan.

Pikiran tersebut dengan amat cepatnya berkelebat di dalam benaknya, apa mungkin Sak Huan mempunyai sangkut paut dengan orang yang membokong diri Jien Wong?

Semakin dipikir dia merasa semakin curiga....

tetapi sekarang luka parahnya belum sembuh, teringat akan lukanya yang baru bisa sembuh tujuh hari kemudian dia lantas menghela napas panjang.

Dia tahu Sak Huan tentu lagi menanti di tempat luaran, karenanya sambil memeluk tubuh Sang Siauw-tan ujarnya.

"Siauw-tan aku hendak menyembuhkan lukaku dulu, di dalam tujuh hari ini tak boleh ada orang yang mengganggu, Coba kau berjagalah buat keselamatanku kau suka bukan?"

Dengan perlahan Sang Siauw-tan mengangguk, diapun tahu kalau Sak Huan masih ada di depan, dia belum tahu Jien Wong sudah mati karena itu tidak berani menerjang masuk.

Kini Koan Ing masih terluka, bilamana dia sampai tiba disana bukankah urusan bakal runyam?

Lain halnya bilamana luka Koan Ing sudah sembuh, waktu itu mereka tidak takut lagi terhadap toosu muda itu, Pemuda itu lantas mencari satu pojokan dinding dan mulai duduk bersila menghadap ke arah dalam.

Hanya di dalam sekejap saja tujuh hari sudah berlalu dengan cepatnya, Sang Siauw-tan pun sudah lega hatinya Mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat datang, gadis itu segera merasakan hatinya terperanjat tubuhnya buru-buru berkelebat menyingkir kesamping.

Kembali terdengar suara dengusan dingin berkumandang datang, Sang Siauw-tan semakin kaget lagi.

"Bukankah suara dengusan ini berasal dari suara Sak Huan?"

Pikirnya. Tidak disangka Toosu bangsat yang tidak tahu malu ini masih belum meninggalkan tempat ini"

Bilamana dia sampai menerjang masuk ke dalam apa yang harus diperbuat?

Sak Huan inipun sungguh bernyali, dia ternyata berani menerjang masuk ke dalam apakah dia orang tidak takut munculnya Jien Wong?

Sak Huan yang ada diluar sengaja berjalan bolak-balik dengan memberatkan langkahnya selama seperminum teh lamanya, tetapi dia tidak juga masuk kedalam, Dengan termangu-mangu Sang Siauw-tan bersembunyi dipojokan dinding, dia tahu Sak Huan tentu merasa keheranan karena dirinya berdua sesudah masuk ke dalam tidak pernah keluar lagi....

bilamana Koan Ing sudah mati ditangan Jien Wong, seharusnya dirinya melarikan diri keluar dari sana....

tapi mereka berdua tak ada yang keluar....

Sinar mata Sang Siauw-tan berputar2, mendadak dia meloncat dan bersembunyi dibalik mayat Jien Wong.

Baru saja dia bersembunyi terdengarlah Sak Huan mendengus dingin dan munculkan dirinya disana.

Sinar mata toosu muda itu segera menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu lalu berdiri melengak.

Tampaklah olehnya tubuh Koan Ing menggeletak dipojokkan tembok dengan melingkar, keadaannya mirip seperti sudah mati.

Sebaliknya Jien Wong duduk ditengah, keadaannyapun mirip sudah mati tapi mirip juga sedang tidur.

Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, di manakah Sang Siauw-tan?

Apakah dia berada dalam ruangan batu itu?

Bagaimana dahsyatnya kepandaian silat yang dimiliki Jien Wong diapun tahu dalam hati ia mengerti bilamana secara gegabah dirinya maju ke depan maka tidak bakal bisa lolos dari cengkeramannya.

Berpikir akan hal itu hatinya merasa bergidik, Koan Ing masih hidup?

Atau sudah mati?jaraknya amat jauh membuat toosu muda ini tak bisa melihat lebih jelas, Dengan perlahan Sak Huan mencabut keluar pedangnya, sekalipun Koan Ing belum mati diapun tidak akan takut sebaliknya Jien Wong, cukup dia masih bernapas sudah membuat hatinya merasa jeri, Selangkah demi selangkah tubuhnya mulai bergerak mendesak ke arah diri Jien Wong.

Setibanya di depan tubuh si manusia tunggal dari Bu-lim dia melihat orang itu masih tak bergerak sedikitpun, pedangnya lantas disentuhkan ke atas badannya sebentar, akhirnya sambil menghembuskan napas lega dia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah diri Koan Ing.

Sang Siauw-tan yang bersembunyi dibalik mayat Jien Wong sama sekali tidak berani bernapas, mendadak tubuhnya meloncat ke depan sedang tangan kanannya berturut-turut melancarkan tujuh buah sentilan mengancam tubuh Sak Huan.

Sak Huan yang secara tiba-tiba diserang dalam hati merasa amat terperanjat tubuhnya baru saja berputar ketujuh buah seranganjari itu sudah mendekati tubuhnya membuat dia orang merasa berdesir, Dalam hati Sak Huan tahu kalau serangan jari ini menggunakan ilmu sakti "Hun Yang Ci"

Yang amat dahsyat itu.

Walaupun dia sendiri memiliki kepandaian silat yang amat tinggi tetapi terhadap kepandaian silat yang amat dahsyat ini tidak berani memandang terlalu enteng.

Di tengah suara bentakan yang amat nyaring Sak Huan melayang mundur ke belakang sedang pedangnya dengan santar membabat ke arah depan.

"Criiing....!"

Dengan menimbulkan suara yang amat nyaring ujung pedang di tangannya sudah kena disambarputus oleh serangan tersebut, dengan wajah penuh keringat dingin tubuhnya terburu-buru meloncat mundur semakin jauh lagi.

Sang Siauw-tan yang melancarkan dengan sepenuh tenaga tadi sewaktu melihat ketujuh buah sentilannya tidak mencapai pada sasarannya hawa murni di dalam tubuhnya sudah bergolak, maksudnya dia hendak melakukan pengejaran tetapi tenaganya tidak memadai membuat dia orang terpaksa berdiri termangu-mangu.

Dengan pandangan yang amat dingin dia memandang ke arah Sak Huan, dalam hati terasa amat murung sekali, dia takut Sak Huan melancarkan serangan kembali ke arahnya....

Dengan pandangan yang amat girang Sak Huan si toosu muda itu memperhatikan terus diri Sang Siauw-tan, sekalipun begitu hatinya rada jeri juga atas kedahsyatan dari ilmu jari "Han Yang Ci"

Yang baru saja diperlihatkan oleh gadis tersebut.

"He.... hee kelihatannya Koan Ing masih hidup bukan?"

Serunya sambil tertawa dingin.

Sang Siauw-tan tidak berani membuka mulut, dia takut bilamana dirinya berbicara maka Sak Huan bisa mendengar kalau tenaga murninya sudah buyar, karena itu dengan tenangnya dia mengatur pernapasan mengembalikan hawa murni yang sudah buyar.

Sak Huan tersenyum, dia sadar bilamana saat ini Koan Ing tidak luka terpaksa dia harus mengundurkan diri dari sana.

Tetapi jika ditinjau dari keadaan pemuda itu ada kemungkinan dia sudah terluka parah dan kemungkinan juga dia lagi menipu dirinya, bilamana Koan Ing benar-benar melancarkan serangan dia dengan ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam"

Nya bukan suatu ilmu sembarangan.

"Ha.... haa kini Jien Wong mati tapi kalian tidak cedera, hal ini sungguh suatu pemandangan yang aneh sekali!"

Serunya sambil tertawa.

Sehabis berkata dia memandang kembali ke arah Sang Siauw-tan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat di dalam benaknya, pedang sudah putus dilemparkan ke atas tanah sedang tubuhnya mulai bergerak mendekati diri Koan Ing.

"Kau berani?"

Teriak Sang Siauw-tan cemas.

Sak Huan yang mendengar gadis itu buka mulut hatinya jadi paham kembali, waktu itulah dia baru tahu kalau gadis tersebut tidak melanjutkan pengejarannya karena tenaga murni di dalam tubuhnya sudah buyar.

Di tengah suara tertawanya yang amat keras itulah tubuhnya sudah berkelebat menubruk ke arah diri Koan Ing.

Sang Siauw-tan jadi amat cemas, di tengah suara bentakan yang amat nyaring tubuhnya pun ikut menerjang ke arah toosu muda itu, Dengan gesitnya Sak Huan berhasil mencengkeram pundak pemuda itu kemudian putar badannya membentak.

"Berhenti kau sudah tidak maui nyawa Koan Ing?"

Sang Siauw-tan segera merasakan hatinya tergetar amat keras, tubuhnyapun dengan sendirinya berhenti bergerak.

Dengan seramnya toosu muda itu tertawa dingin kemudian memandang sekejap ke arah diri Koan Ing.

Waktu itu Koan Ing sedang berusaha menyembuhkan lukanya sehingga terhadap apa yang sudah terjadi di tempat luaran dia sama sekali tidak tahu.

ak Huan agak melengak, dia merasa heran apa yang sedang dikerjakan Koan Ing.

bagaimana mungkin dia tidak bangun juga.

Tangan kanannya segera ditempelkan pada pundak pemuda itu, terasalah jantungnya masih berdenyut yang berarti pula Koan Ing masih hidup.

Tapi kenapa dia tidak sadar juga?

Sungguh aneh sekali urusan ini Dengan perlahan matanya beralih ke arah Sang Siauw-tan lalu ejeknya dengan suara sinis.

"Bilamana aku membunuh dirinya, kau hendak berbuat apa?"

Sang Siauw-tan segera merasakan hatinya bergidik.

"Bilamana kau berani berbuat begitu aku akan suruh kau orang mati disini juga tanpa tempat untuk mengubur dirimu!"

Serunya dingin.

Walaupun begitu dalam hati dia merasa amat sedih sekali, baru saja dia bersama Koan Ing lolos dari bahaya, tidak disangka kini kembali pemuda tersebut jatuh ditangan pihak musuh.

Tak kuasa lagi titik-titik air mata mengucur keluar dengan derasnya.

"Hey Siauw-tan!"

Seru Sak Huan kembali sambil memandang gadis itu termangu-mangu.

"Bilamana kau suka kawin denganku, maka pemuda ini akan aku lepaskan."

Sejak semula Sang Siauw-tan sudah mengetahui kalau toosu muda itu bermaksud demikian, dia lantas mendengus dingin.

"Tidak mungkin!"

Sak Huan jadi melengak, jawaban dari Sang Siauw-tan ini amat kukuh membuat dia jadi melengak, urusan ini benarbenar berada diluar dugaannya.

Apakah Sang Siauw-tan benar-benar sudah tidak ingini lagi nyawa dari Koan Ing?

hal itu tidak mungkin "Kalau begitu aku mau melepaskan dia atau bunuh mati dia adalah sama saja?"

Ujarnya sambil tertawa. Dengan dinginnya Sang Siauw-tan mengerutkan alisnya, tak sepatah katapun yang diucapkan. Dengan termangu-mangu Sak Huan memandang ke arah gadis itu, lama sekali baru ujarnya.

"Kau begitu cantiknya, perduli bagaimanapun aku harus mendapatkan dirimu, apa yang bakal terjadi aku tidak perduli bilamana ada orang yang berani menghalangi maksudku maka akan kubunuh orang itu, termasuk Koan Ing."

Ooo)*(ooO Bab 31 MENDENGAR perkataan itu, Sang Siauw-tan segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dia tahu tindakan Sak Huan amat kejam sekali, apa yang diucapkan olehnya ada kemungkinan bisa dilaksanakan, Sak Huan yang melihat gadis itu masih juga tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, dia lantas mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Walaupun aku bunuh diri Koan Ing, aku tahu kau akan tidak suka kawin dengan diriku,"

Ujarnya dengan dingin.

"Tetapi bilamana aku tidak bunuh dirinya kaupun tak ada harapan buat kawin dengan dia orang. setelah dia mati kau harus kembali kepuncak Su Li Hong."

"Hmm cuma sayang dia tidak bakal mati lagi,"

Sahut gadis tersebut dengan nada yang amat dingin.

Mendengar perkataan tersebut Sak Huan jadi amat terperanjat, Koan Ing tidak bakal mati?

Kalau begitu jikalau dia tidak membinasakan pemuda itu mereka tentu akan kawin dan hidup bersama-sama.

Suatu ingatan buruk berkelebat di dalam benaknya, dengan perlahan telapak tangannya siap diangkat....

"Tahan!"

Mendadak terdengar suara yang amat dingin dan berat berkumandang datang.

Sang Siauw-tan jadi terperanjat, ketika dia menoleh ke belakang tampaklah seorang lelaki berusia pertengahan yang berbaju hijau sudah berdiri beberapa kaki di belakang tubuhnya.

Orang itu bukan lain adalah Si Jari sakti Sang Su-im, ayahnya "Tia...."

Saking girangnya tak tertahan lagi gadis itu menjerit sambil menangis dan menubruk ke dalam pelukan ayahnya.

"Siauw-tan kini kau sudah besar, jangan menangis lagi,"

Hibur ayahnya sambil merangkul anaknya.

"Aku dengar setelah kalian turun dari puncak Su Li Hong lantas masuk ke daerah Tibet lagi, aku dengar dari paman Hoo mu kalian sudah amat lama sekali masuk ke dalam gua ini maka itu aku sengaja datang kemari."

Sak Huan yang melibat munculnya Sang Su-im disana dia jadi melengak dibuatnya, nama si jari sakti sudah lama dia dengar apalagi ilmu jari "Han Yang Ci"

Nya yang amat sakti itu, Teringat akan ilmu jari "Han Yang Ci"

Hatinya terasa jadi bergidik.

Bilamana dia masih berani melanjutkan maksudnya untuk membinasakan Koan Ing di tempat itu maka dia sendiripun bakal menemui ajalnya disini, Dan untuk menghadapi Sang Su-im baginya kini masih terlalu pagi.

Berbagai ingatan dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya, tak terasa lagi sambil bungkukan kepalanya dia berseru.

"Sak Huan menghunjuk hormat buat cianpwee."

Sang Su-im memandang sekejap ke arah Sak Huan lalu mendengus dengan dinginnya.

dia sebagai pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah tentu kenaljuga dengan murid kesayangan ciangbunjien dari Bu-tong-pay ini.

"Lepaskan Koan Ing"

Perintahnya kemudian dengan dingin sambil memperhatikan diri Sak Huan beberapa saat Iamanya, Biji mata tosu muda itu tampak berputar^, dia yang tidak mengerti apa yang hendak dilakukan Sang Su-im terhadap dirinya sudah tentu tidak suka melepaskan Koan Ing dengan begitu saja.

"Nama besar dari Sang cianpwee sudah lama boanpwee dengar di dalam Bu-lim. kali ini Cianpwee muncul kembali dari daerah Tibet biarlah aku mewakili suhu menghunjuk hormat, suhuku kini sudah jauh berada digunung Kun-lu-san,"

Katanya. Sang Su-im yang melihat dia orang tidak suka melepaskan Koan Ing kembali mendengus dengan dinginnya.

"Cepat lepaskan diri Koan Ing, aku kasi satu jalan hidup bagi dirimu untuk mengundurkan diri dari sini."

Justru Sak Huan tidak mau lepaskan diri pemuda itu karena Sang Su-im belum mengucapkan kata-kata ini, ketika didengarnya orang tua itu sudah setuju untuk melepaskan dirinya diapun lantas meletakkan Koan Ing ke atas tanah.

"Terima kasih cianpwee!"

Serunya.

Sehabis berkata dia lalu putar tubuh dan berjalan keluar.

Mendadak Koan Ing membuka matanya, waktu tujuh hari baginya sudah lewat yang berarti pula lukanya sudah sembuh benar-benar ketika dilihatnya Sak Huan hendak berlalu dari sana tubuhnya segera berkelebat menghalangi perjalanannya Sang Su-im yang melihat kepandaian silat pemuda itu memperoleh kemajuan lagi, dalam hati semakin keheranan....

"Kepandaiannya begitu tinggi, bagaimana mungkin dia orang bisa ditawan oleh Sak Huan si Toosu itu?"

Pikirnya.

"Hian-tit!"

Serunya kemudian.

"Aku sudah menyanggupi untuk lepaskan dia orang, kau jangan menghalangi perjalanannya lagi"

Terhadap apa yang terjadi baru-baru ini Koan Ing sama sekali tidak tahu, karena itu dia lantas menyahut, Empek Sang, siauw-tit mau menanyai satu urusan dari dirinya."

Dia lantas menoleh ke arah Toosu rnuda itu dan serunya.

"Siapa yang sudah membinasakan si manusia tunggal dari Bulim ini?"

"Siapa itu si manusia tunggal dari Bu-lim?"

Teriak Sak Huan melengak.

"Aku cuma tahu di dalam gua ini ada seorang gila yang memiliki kepandaian silat amat tinggi, tetapi aku tidak tahu kalau dia adalah si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong adanya."

Dengan termangu-mangu Koan Ing memandang tajam wajah toosu muda itu, dalam hati dia merasa rada tidak percaya terhadap perkataannya itu tapi Sang Su-im sudah menyanggupi terlebih dahulu.

dia tidak mau memaksa Sang Su-im harus melanggarjanji.

Karenanya dia lantas menyingkir ke samping memberi jalan buat Sak Han sitoosu itu untuk berlalu.

Sang Siauw-tan yang begitu melihat luka Koan Ing sudah sembuh benar-benar dengan amat girangnya lantas menubruk ke depan.

Koan Ing sendiripun sudah tahu kalau nyawanya baru saja ditolong oleh Sang Su-im, karena itu sambil membelai rambut gadis itu tanyanya.

"Siauw-tan, dimanakah ayahmu?"

"Haa.... haa Siauw-tan, sekarang kau tidak maui ayahmu lagi, aku akan merasa cemburu!"

Seru Sang Su-im tiba-tiba sambil tertawa terbahak2.

Sang Siauw-tan menoleh dan tertawa, diapun lantas menceritakan kisahnya bagaimana Koan Ing naik ke gunung Su Li Hong dan hingga bertemu dengan Jien Wong.

Sang Su-im termenung sebentar, akhirnya sambil memandang ke arah mayat si manusia tunggal dia menghela napas.

"Tidsk kusangka di dalam urusan ini sudah terjadi perubahan yang amat besar, kini Jien Wong dibunuh orang hal ini menunjukkan kalau rencana manusia misterius itu tidak kecil, sedang jejak Yuan Si Tootiang pun sangat mencurigakan, tetapi aku rasa kedua orang itu tidak mungkin suka bersekongkol dengan orang lain hanya dikarenakan kereta berdarah itu saja, bagaimanapun mereka adalah orang-orang Bu-lim dari kalangan lurus, perbuatannya tidak akan keterlaluan sehingga mempengaruhi nama baik Bu-tong-pay di dalam dunia kangouw."

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar untuk kemudian tambahnya.

"Tetapi aku yakin dibalik kesemuanya ini pasti ada otak yang memimpin peristiwa ini, cuma saja tidak tahu siapakah orang itu?"

Mendadak dia tertawa dan serunya.

"Ttdak perduli apa yang sudah terjadi asalkan kalian berdua kini berada di dalam keadaan sehat-sehat saja hal ini sudah cukup membuat aku orang tua merasa amat gembira."

Sang Siauw-tan yang melihat ayahnya amat girang diapun lantas tertawa.

"Tia, Jien Wong sudah memerintahkan engkoh Ing untuk pergi memusnahkan kereta berdarah sedang paman Cha sekalian sudah berangkat ke gunung Kun lun san, kini kita harus berbuat bagaimana?"

Biji mata Sang Su-im berputar-putar, dia termenung sebentar lalu baru menjawab.

"Tujuh hari kita sudah tak bakal bisa menyusul mereka, kini Yuan Si Tootiang bilang kereta berdarah sudah pergi ke arah barat daya tetapi orang-orang perkumpulan Tiang-gong-pang yang aku kirim tak seorangpun yang berhasil menemukanjejak kereta berdarah tersebut."

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dalam hatinya kembali berkelebat satu pertanyaan yang membuat hatinya bertambah curiga.

Yuan Si Tootiang tidak ada alasannya uatuk menipu orang-orang itu.

bilamana kereta berdarah sungguhsungguh tidak menuyu ke arah barat daya lalu apa maksud Yuan Si Tootiang menipu mereka?

Yuan Si Tootiang adalah ciangbunjin dari partai Bu-tongpay, dia orang tidak mungkin sengaja memancing orang-orang itu meninggalkan daerah Tibet untuk mengejar kereta berdarah sedang dia sendiri tinggal di daerah Tibet mengadakan pencaharian.

Apalagi dia sendiripun berangkatnya bersama dengan Thian Siang Thaysu sekalian, tak mungkin Tootiang ini mempunyai ilmu untuk membelah diri menjadi dua Berbagai pikiran yang mencurigakan berkelebat di dalam benaknya, dia merasa gerakan serta tindakan dari Yuan Si Tootiang kali ini merupakan suatu persoalan yang amat mencurigakan.

Tiba-tiba terdengar Sang Su-im tertawa.

"Apakan benar-benar kereta berdarah menuju ke arah barat daya? Sedang anak murid dari perkumpulan Tiang-gongpang tak ada seorangpun yang mengetahui? Ada kemungkinan juga anak murid Bu-tong-pay yang menemukan sehingga Yuan Si Tootiang tahu."

"Empek Sang lalu tahukah kau orang kenapa Yuan Si Tootiang begitu terlambat baru munculkan diri di daerah Tibet?"

Tanya Koan Ing tiba-tiba setelah berpikir sebentar.

"Kau merasa heran akupun merasa heran,"

Kata Sang Suim sambil mengerutkan alisnya.

"Sewaktu Thian Siang si hweesio tua itu meninggalkan kuil Siauw-lim menuju ke daerah Tibet anak murid dari perkumpulan Tiang-gong-pang kita pada tahu tetapi munculnya Yuan Si Toosiang terlalu mendadak bahkan cuma membawa seorang murid saja, hal ini sangat aneh dan mengherankan sekali."

Sehabis berkata dia termenung sebentar dan tambahnya.

"Apa kau menaruh rasa curiga kalau dia orang punya maksud tertentu terhadap kereta berdarah itu?"

"Aku cuma merasa kalau tindak tanduk dari Yuan Si Tootiang sangat misterius sekali, kedahsyatan dari ilmu silatnya ada kemungkinan jauh di atas empek Sang sendiri."

Sang Su-im hanya tersenyum saja dan tidak jadi marah oleh perkataan dari pemuda tersebut, rasa Congkak yang melipu ti hatinya kini sudah sirap separuh oleh kejadian tempo hari sewaktu berada dalam daerah Tibet.

Walaupun begitu selama ini dia masih selalu mengira kalau tenaga dalam dari tiga manusia genah, empat manusia aneh berada seimbang, tetapi jurus serangan serta pengalaman bertempur dari empat manusia aneh kini jauh lebih lihay daripada tiga manusia genah.

Apalagi selama dua puluh tahun ini mereka pada berlatih terus, sudah tentu dia merasa tidak percaya bilamana dikatakan kepandaian serta tenaga dalam Yuan Si Tootiang jauh berada diatasnya.

Sang Su-im termenung sebentar lalu ajaknya.

^ "Mari kitapun segera berangkat kegu-nung Kun""lunpay untuk melihat keramaian."

Dengan perlahan Koan Ing mengangguk-saat ini dia harus cepat-cepat mengejarjejak kereta berdaiah itu sudah tentu kalau diapun harus berangkat pula ke gunung Kun-lunsan.

Apalagi ada bantuan dari Sang Su-im sebagai pangcu suatu perkumpulan besar, hal ini benar-benar amat menguntungkan bagi dirinya.

Dengan cepatnya mereka bertiga keluar dari gua itu, dari dalam sakunya Sang Su-im lalu mengambil keluar seekor burung dara dan ujarnya sambil tertawa.

"Kini seluruh kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah bergeser ke Tibet, dengan adanya perintahku ini maka seluruh anak buah Tiang Gong ^ang akan tersebar disepanjang jalan menuju ke gunung Kun-lunsan, gerak-gerik para jagoBu-lim yang bagaimana lihaypunjangan harap bisa lolos dari pengawasanku", Sehabis berkata dia tertawa dengan bangganya, Koan Ingpun tahu bagaimana luasnya pengaruh dari Tianggong-pang tetapi Sang Su-im yang tidak suka akan penonjolan pengaruh tidak pernah secara terang-terangan menyebarkan anak buahnya di depan umum, Kini secara tiba-tiba dia bermaksud untuk menyebarkan anak buahnya secara terang-terang an, jelas sudah kalau Sang Su-im bermaksud untuk memperlihatkan pengaruhnya, Baru saja mereka bertiga mendekati sebuah kota kecil mendadak dan depan muncul berpuluh-puluh orang berbaju putih dengan dipimpin oleh Hoo Lieh. Melihat hal itu Koan Ing jadi amat gembira, dia tidak menyangka kalau anak murid dari Tiang-gong-pang sudah menyamar masuk ke Tibet, dan kini setelah penyamaran dilepaskan maka di seluruh Tibet semuanya hanya anak murid dari perkumpulan Tiang-gong-pang yang berkeliaran dimana2. Dengan cepat Hoo Lieh menyongsong diri Sang Su-im lalu bungkukkan badannya menjura.

"Tecu Hoo Lieh menghunjuk hormat buat pangcu!"

Serunya.

"Tidak usah banyak adat, apakah semuanya sudah siap?"

Seru Sang Su-im sambil mengulapkan tangannya.

"Kereta buatpangcu sudah dipersiapkan kedua belas orang pelindung hukumpun segera akan tiba, sedang anak buah yang di sebar di sekeliling kun-lun-san baik yang bersembunyi maupun yang terang-terangan sedang diatur, di dalam tiga hari kemudian semuanya akan sudah siap, sedang Cha Thayhiap sekalian kemarin sudah kirim burung dara yang mengabarkan bahwa mereka sudah tiba digunung Ku^lun san"

Dengan perlahan Sang Su-im mengangguk sebaliknya Koan Ing merasa amat terperanjat, kiranya anak murid dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah membuntuti terus diri Thian Siang Thaysu sekalian bahkan seluruh gerak-gerik mereka selama di perjalanan pun diketahuinya dengan amat jelasnya, Mereka bertiga masuk kesebuah rumah penginapan dan beristirahat semalam, untuk kemudian hari kedua berangkat kembali ke gunung Kun^lun-san, Sang Su-im serta Koan Ing masing-masing menunggang seekor kuda sebaliknya Sang Siauw-tan duduk di dalam kereta itu.

Berturut-turut beberepa hari sudah lewat dengan cepatnya sedang mereka sudah tiba digunung Kun^lun-san, selama beberapa hari inijejak dari Thian Siang Thaysu sekalian agaknya sudah lenyap tak berbekas, sedang anak murid dari Tiong Gong Pang yang tersebar digunung Ku.^Iun sanpun lenyap tak berbekas.

Dalan hati Koan Ing serta Sang Su-im penuh diselimuti oleh rasa heran dan curiga yang memberatkan hatinya.

Seluruh jago-jago dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah dikerahkan keluar semua tetapi hingga saat ini tidak nampak jejak maupun beritanya.

Dengan perlahan Sang Su-im dongakan kepalanya memandang ke arah gunung Kun lun-san yang tinggi dan amat curam itu, dia tidak menyangka kalau perkumpulan Tiang-gong-pang kali ini bakal menemui bencana yang begitu besar, jika benar-benar terjadi maka Yuan Si Tootiang tentu mengajak para jago itu mendatangi tempat jebakan yang sudah diatur oleh manusia misterius dibalik layar itu, Dia tahu pihak lawan tentu sudah menyebarkan seluruh mata-matanya di daerah Tibet mereka ada maksud tertentu sudah tentu pula segala gerak-gerik dari anak buah pun kena diawasi mereka sejak semula.

Baru saja dia orang berpikir sampai di situ mendadak dari balik gunung terbang mendatang seekor burung merpati yang dengan sekuat tenaga mengibas2kan sayapnya.

Sang Su-im merasakan hatinya tergetar amat keras, bukankah burung ini adalah burung dara dari perkumpulan Tiang-gong-pang?

Seekor burung dara yang terluka terbang mendatang dengan membawa berita dari Kun lun san!

Semua orang merasakan semangatnya berkobar kembali, temani pula anak buah Tiang-gong-pang sudah mengepung gunung Kun-lun-san rapat-rapat.

Baru saja burung dara itu melayang da tang mendadak sebuah anak panah dengan cepatnya menyambar ke atas tepat menghajar di atas badan burung dara tersebut, Sang Su-im kontan merasa hatinya tergetar, dia tidak menyangka kalau ada orang yang begitu bernyali mencari gara-gara dengan dirinya yang telah mempunyai nama besar didadalam Bu-lim ini, tangannya segera di ulapkan sedang kedua belas orang pelindung hukum yang ada dibelakangnya segera memencar ke samping dan lari ke atas, Kembali tampaklah sebatang anak panah yang disertai dengan suara desiran nyaring melesat ke tengah udara....

"Empek Sang, biar aku pergi memeriksa!"

Seru Koan Ing dengan hati terperanjat. Sang So Im ragu-ragu sebentar, akhirnya dia mengangguk.

"Tia akupun ikut pergi!"

Seru Sang Siauw-tan pula dari samping.

Sehabis berkata dia meleset ke tengah udara dan melayang ke atas kuda Koan Ing.

Koan Ing ragu sejenak, lalu dia menoleh untuk minta persetujuan, dengan perlahan Sang Su-im mengangguk, Koan Ing segera menjepit perut kudanya dan melarikan tunggangannya ke arah puncak gunung.

Sebaliknya kedua belas pelindung hukum itu dengan menyebar dari kedua belah sayap kanan dan kiri mengepung ke arah di mana burung merpati itu jatuh.

Setibanya di bawah gunung Koan Ing lantas menarik tubuh Sang Siauw-tan melesat ke atas meninggalkan pelana kuda dan melayang ke arah dimana burung dara itu menggeletak.

Bersamaan itu tampaklah bayangan putih berkelebat tiada hentinya sehingga sekeliling hutan tersebut sudah terkepung rapat-rapat oleh kedua belas pelindung hukum dari perkumpulan Tiang-gong-pang itu.

^ Dengan cepatnya Koan Ing berlari ke depan, dia menyapu sekejap dulu ke arah sekeliling tempat itu, Dan tampaklah burung dara itu menggeletak diantara ranting2 pohon sedang suasana saat itu amat sunyi senyap.

"Siauw-tan kau berjaga2lah di bawah melindungi aku!"

Serunya kemudian kepada gadis tersebut.

Sehabis berkata dia berkelebat dan melayang ke atas pohon.

Siapa tahu baru saja tangan pemuda itu mencekal burung dara tersebut terdengarlah Sang Siauw-tan yang ada di bawah pohon sudah berteriak kaget.

"Awas!"

Segulung bau amis yang menusuk hidung menyambar datang, Koan Ing jadi terperanjat tubuhnya dengan cepat membalik dan melayang ke arah batang pohon yang lain Ketika menoleh kembali ke belakang hatinya semakin terkejut lagi, kiranya seekor macan kumbang dengan seramnya lagi mengawasi dirinya, sedang tubuhnya siap-siap menerkam ke arah bawah.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, tubuhnya berdiri tegak sedikitpun tidak bergerak sedang matanya mengawasi binatang buas itu tak berkedip.

Mendadak macan tutul itu mengaum lalu meloncat ke atas pohon yang lain dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Melihat binatang itu sudah berlalu Koan Ing pun lantas melayang turun ke atas tanah sambil menarik tangan sang gadis dia lari menuruni gunung tersebut.

"Sungguh aneh sekali munculnya macan kumbang itu,"

Pikirnya diam-diam dihati,"

Apa mungkin binatang itu sengaja berbuat begitu?"

Dengan gerakan yang amat cepat mereka kembali kehadapan Sang Su-im dan menyerahkan burung dara itu.

Dengan hati cemas orang tua itu menerima burung tersebut dan mengambil secarik kertas yaog diikat dikakinya untuk di baca isinya, Tapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah hebat, sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat dia menyerahkan kertas itu kepada Koan Ing, Dengan hati yang berdebar-debar pemuda itu lantas membaca isi surat itu....

"Terkurung.... di lembah Chiet Han Ku...."

Tampaklah lima buah kata yang ditulis dengan darah segar.

"Lembah Chiet Han Ku?"

Diam-diam hatinya merasa amat terperanjat sekali, bukankah lembah itu merupakan salah satu tempat terlarang dari tiga tempat terlarang lainnya di dalam Bu-lim?

Bukankah lembah Chiet Han Ku merupakan tempat bahaya di samping selat "Hwee Im Shia"

Serta hutan "Wang Yu Liem"?"

Ooo)*(ooO Bab 32 DARI ANTARA ketiga tempat terlarang dari Bu-lim ini dia pernah terjerumus ke dalam selat Hwee Im Shia bersamasama Sang Siauw-tan, bilamana bukannya alat rahasia yang ada di dalam selat itu selama ratusan tahun ini sudah hampir musnah ditambah nasib mereka berdua amat baik ada kemungkinan sejak dulu sudah mati di dalam selat itu, Sungguh tidak disangka di dalam lembah Chiet Han Ku inipun kembali mereka menemui urusan Lembah Chiet Han Ku, selama ini terpisah dari gunung Kun lun san dianggap orang sebagai tempat terlarang....

apalagi katanya banyak terdapat jago-jago Bu-lim terkurung disana.

Koan Ing benar-benar amat terperanjat, dia bingung apa yang harus diperbuat pada saat ini.

Sang Siauw-tan yang melihat dia orang kebingungan segera mendengus dingin.

"Orang-orang itu terlalu memandang tinggi urusan, apakah lembah Chiet Han Ku benar-benar merupakan tempat terlarang bagi orang-orang Bu-lim? Mereka anggap tempat itu terlarang justru aku ingin menginjak rata tempat2 ini,"

Katanya. Di tengah udara kembali terdengar suara desiran anak panah yang amat nyaring sekali.

"Heee.... heee.... kiranya di sekitar tempat ini sudah lama menanti musuh-musuh!"

Seru Sang Su-im sambil tersenyum, Koan Ing hanya tersenyum saja, mendadak satu iagatan berkelebat di dalam benaknya apakah macan tutul itupun sengaja dikirim oleh pemilik lembah Chiet Han Ku untuk merebut burung merpati?

"Empek Sang"

Ujarnya mendadak kepa da Sang Su-im.

"Tadi sewaktu aku bersama-sama Siauw-tan memungut burung merpati itu agaknya ada seekor macan kumbang yang sedang mencari burung itu juga, dia yang tidak berhasil mendapatkan mangsanya lantas mengundurkan diri cepatcepat."

"Ouw begitu?"

Seru Sang Siauw-tan, dia termenung berpikir sebentar untuk kemudian ujarnya.

"Tidak perduli apa yang bakal terjadi, yang penting saat ini kita sudah tahu siapakah lawan kita."

Berbicara sampai disini dia termenung dan bergumam kembali seorang diri.

"Lembah Chiet Han Ku terkurung lalu siapa yang terkurung?"

Sang Su Tm kembali mengerutkan alisnya rapat-rapat, kepada Hoo Lieh yang ada dibelakangnya dia lantas berbisik.

"Penjagaan diperkuat dan kurung jaIan besar sekitar lima li, aku dengan membawa Siauw-tan serta Koan Ing naik ke atas gunung terlebih dulu."

Sehabis berkata dia lantas menggape ke arah Koan Ing lalu berjalan terlebih dulu ke atas gunung, dia merasa tidak percaya kalau lembah Chiet Han Ku yang tidak besar itu mencari gara-gara dengan tiga manusia genah dan empat manusia aneh.

Perkumpulan Tiang Gony Pang merupakan perkumpulan yang terbesar di seluruh kolong langit, apakah untuk bergebrak dengan pemilik lembah Chiet Han Ku pun tidak kuat?

"Tia?"

Tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan bertanya.

"Berapa jauh jarak artara lembah Chiet Han Ku dengan tempat ini?"

"Kurang lebih seratus li"jawab Sang Su-im, setelah termenung berpikir sebentar.

"Kini hari sudah tidak pagi lagi, mungkin sebelum besok sore kita sudah berhasil menemukan mereka"

Cuaca semakin menggelap, anak panah berapi pun sering sekali berkelebat menerangi udara.

Air muka Sang Su-im kelihatan terus murung, mendadak dia berhenti di bawah pohon dan menoleh ke arah Koan ng serta Sang Siauw-tan.

"Mari kita beristirahat semalam disini!"

Serunya.

"Hian-tit"

Terdengar Sang Su-im membuka mulut dan berkata kepada pemuda itu.

"Selama dua puluh tahun ini baru pertama kali perkumpulan Tiang-gong-pang menemui musuh lihay, terus terang aku beritahukan kepadamu, bahwa tiga puluh enam orang anak murid Tiang-gong-pang yang dikirim di sekitar lima puluh li dari tempat ini tak seorangpun yang kembali untuk memberi kabar, diantara mereka masih ada empat orang Touw^cu serta dua orang pelindung hukum yang memasuki tanah terlarang itu, bagaimana nasib mereka?"

Mendengar perkataan itu Koan Ing merasa hatinya tergetar, dia tidak menyangka kalau situasi pada saat ini amat jelek, jika ditinjau dari hal inijelas menunjukkan kalau kekuatan dari lembah Chiet Han Ku benar-benar amat mengerikan sekali.

"Empek Sang, bagaimana kalau aku yang berangkat?"

Ujarnya kemudian setelah termenung sebentar. Dengan perlahan Sang Su-im menggelengkan kepalanya.

"Kau tidak perlu menempuh bahaya dengan berbuat begitu,"

Katanya sambil tertawa.

"Kitapun tidak tahu bagaimana keadaan paman Cha sekalian, dengan kepandaian mereka yang begitu tinggi ternyata tak ada kabar berita juga tentang hal ini benar-benar membuat hatiku merasa amat kuatir"

Dengan termangu-mangu Koan Ing duduk ter menung, dia tahu berita mengenai lembah Chiet Han Ku serta berita dari Thian Siang Thaysu sekalian sudah tertutup, hal ini membuat mereka seolah2 sama saja dengan meraba di tempat kegelapan.

Selagi dia termangu-mangu itulah mendadak....

"Plaak...."

Sebuah anak panah berapi meledak di tengah udara. Air muka Sang Su-im segera berubah hebat.

"Di depan ada tanda bahaya, kalian menyusul saja dari belakang!"

Serunya kemudian dengan tergesa-gesa .

Sehabis berkata tubuhnyapun berkelebat dan menubruk ke arah dimana berasalnya anak panah berapi itu, Koan Ing jadi melengah dengan cepat dia menarik tangan Sang Siauw-tan dan berkelebat pula ke arah depan.

"Buat apa kau begitu cemas?"

Terdengar Sang Siauw-tan tertawa ringan.

"Suara ledakan itu tidak menunjukkan urusan apa-apa tetapi ledakan itu terdengar sejak kita di gunung Kun-lun san ini, hal itu berarti juga kalau orangorang dari lembah Coiet Han Ku sudah ada yang bercampur kemari."

Koan Ing segera menarik napas panjang dia menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu, jika ditinjau dari perkataan itujelas sebentar lagi mereka bakal bentrok dengan orang-orang dari lembah Chiet Han Ku.

Setibanya dihadapan Hoo Lieh sekalian mereka berdua mendadak tidak menemukan Sang Su-im ada disana, dalam hati mereka berdua jadi amat kaget.

"Dimana ayahku?"

Terdengar gadis itu bertanya dengan suara cemas.

"Pangcu dia orang tua sudah berangkat ke daIam lembah Chiet Han Ku, dia meninggalkan pesan wanti2 agar kalian berhati-hati. setelah ini setiap satujam penjagaan harus dimajukan sepuluh li ke depan. Koan Ing benar-benar merasa hatinya tergetar, tampaklah di atas tanah menggeletak dua sosok mayat yang pada bagian lehernya sudah dicengkeram hancur, kelihatannya kedua orang itu mati terkena cakar macan tutul tadi.

"Engkoh Ing ayoh kita cepat mengejar ayah"

Seru Sang Siauw-tan kemudian kepada diri Koan Ing. Agaknya Koan Ingpun mempunyai maksud begitu, kepada Hoo Lieh lantas pesannya.

"Paman Hoo kami akan ikut mengejar ke atas, tempat ini aku serahkan semua kepada paman Hoo."

Sehabis berkata mereka berduapun segera bergerak dan berkelebat ke arah depan.

Beberapa saat kemudian mendadak Sang Siauw-tan menarik tangan Koan Ing ke belakang.

Koan Ing jadi kaget dan menoleh, sebentar kemudian hatinya jadi berdesir, kiranya diantara pepohonan yang rindang itu tampak sepasang mata berwarna hijau dengan tajamnya sedang memperhatikan mereka, Kiranya dari pihak lembah Chiet Han Ku telah menggunakan macan tutul untuk menjaga gunung, tidak aneh kalau pihak perkumpulan Tiang-gong-pang mengalami kerugian besar, Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terasa bau amis yang disertai sambaran angin tajam menubruk dari belakang tubuhnya, terburu-buru dia menarik Sang Siauw-tan ke depan sedang pedang Kiem-hong-kiamnya dicabut keluar dari sarungnya, Diantara berkelebatnya cahaya emas, pedangnya sudah meluncur ke depan.

Macan kumbang itu dengan cepat dan gesitnya bersalto di tengah udara lalu menubruk ke dalam hutan.

Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang ke atas pedangnya yang masih dibasahi darah, dia tahu macan itu tentu pernah memperoleh latihan kalau tidak serangannya tidak bakal bisa dihindari sehingga dapat berhasil melarikan diri dengan hanya membawa luka "Engkoh Ing macan yang lain juga melarikan diri."

Tiba-tiba seru Sang Siauw-tan dari samping.

Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, ternyata sedikitpun tidak salah sepasang mata berwarna hijau yang terlihat tadi kini telah lenyap.

Dia lantas termenung diam.

"Siauw-tan perduli dia mempunyai sarang macan atau telaga naga, mari kita terjang ke dalam,"

Ajaknya.

Sang Siauw-tan tersenyum, teringat akan selat Hwee Im Shia mereka berani terjang apalagi lembah Chiet Han Ku ini?.

Kembali mereka berdua melanjutkan perjalanannya ke depan, mendadak dari dalam hutan meloncat keluar seekor macan tutul yang kemudian lari keluar hutan.

Koan Ing yang melihat macan itu bukannya lari ke dalam hutan sebaliknya malah meloncat keluar, dalam hati lantas tahu kalau inilah siasat untuk memancing musuhnya.

Sedikitpun tidak salah, tampaklah macan tutul itu setelah keluar dari hutan lantas berhenti padajarak lima kaki dari mereka berdua dan menoleh ke belakang sambil mengaum keras.

Melihat kejadian itu Sang Siauw-tan segera mendengus dingin "Macan tutul ini sungguh menakutkan sekali!"

Serunya.

Dengan pandangan halus pemuda itu menyapu sekejap ke arah binatang itu, dia tahu orang-orang lembah Chiet Han Ku tentunya sengaja mengeluarkan binatang.^ itu untuk menjebak para jago, jelas kalau rencana mereka sudah disusun amat rapi sekali.

"Benar agaknya binatang itu hendak memancing kita menuju ke suatu tempat tertentu."

Katanya perlahan. Dengan pandangan ragu-ragu kembali Sang Siauw-tan memandang ke arah depan, mendadak dia menjerit.

"Aaaah.... di atas badannya membawa anak panah berapi, bagaimana kalau kita kejar ke depan untuk melihat apa yang sudah terjadi?"

Koan Ing ragu-ragu sejenak.

"Ada kemungkinan ayahmu sudah masuk"

Katanya.

Sang Siauw-tan kaget kinijejak ayahnya sudah tak kedengaran lagi, bagaimana kalau misalnya dia orang tua kena tertipu dan masuk dalam jebakannya?

Tangan kanannya dengan cepat mengayun ke depan, dua batang anak panah berapi warna merah dan hijau dengan cepat disambitkan ke tengah udara.

"Blaamm.... blamm...."

Suara yang amat nyaring segera menggetarkan seluruh udara.

"Mari kita pergi,"

Ajaknya kemudian.

"Biarlah paman Hoo sekalian yang menghadapi dirinya, mereka berjumlah sangat banyak."

Dengan cepatnya mereka berdua berkelebat masuk ke dalam hutan.

Pada waktu itulah mendadak terdengar suara petir yang menyambar, agaknya hari akan hujan.

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi panik, dia mengetahui bahwa anak panah berapi akan musnah bila mana kena air hujan, dengan adanya kejadian ini maka bagi perkumpulan Tiang-gong-pang akan menemui kesulitan di dalam mengadakan hubungan.

Sedang dia berpikir sampai di situ mendadak terasalah hujan sebesar kedelai mulai turun dengan amat derasnya Dengan cepat pemuda itu menyambar tangan Sang Siauwtan dan berkelebat masuk ke dalam sebuah gua.

Waktu itu mereka sudah keburu basah oleh hujan yang turun dengan derasnya, melihat rambut yang basah kuyup dari sang gadis, Koan Ing jadi merasa iba hati.

"Siauw-tan, apa kau kedinginan?"

Tanyanya halus.

Sang Siauw-tan tersenyum dan gelengkan kepalanya.

Dengan terburu-buru Koan Ing lantas mengumpulkan ranting kering yang banyak tersebar di sana untuk membuat api unggun, sedang mereka berduapun duduk disampingnya untuk menghangatkan badan.

Hujan turun semakin deras seperti ditumpahkan dari langit saja membuat hawapunjadi bertambah dingin.

"Siauw-tan, bagaimana keadaan ayahmu, saat ini?"

Tanya Koan Ing tiba-tiba setelah termenung sebentar.

"Dengan kepandaian silat yang dimiliki Tia, aku rasa kau tidak usah menaruh rasa kuatir lagi."jawab gadis itu sambil tersenyum. Koan Ing lantas tersenyum dan tidak berbicara lagi. Mendadak dia meloncat bangun dan menoleh ke arah depan dengan sikap siap sedia. Tampaklah sesosok bayangan putih dengan cepatnya berkelebat masuk ke dalam gua, hanya gerakan serta tindakannya sempoyongan tidak genah. Sewaktu dapat melihat siapakah orang itu mereka semakin terkejut lagi, karena orang itu bukan lain adalah anak murid dari Sin Hong Soat-nie. Cing It Nikouw.

"Suci, kau kenapa?"

Tanyanya dengan terkejut sambil membimbing badannya.

Wajah Cing it nikouw pucat pasi bagaikan mayat, tubuhnya yang putih kini sudah berlepotan darah, tangan kanannya memegang pedang sedang keadaannya sungguh mengenaskan, jelas baru saja bertempur sengit dengan orang lain.

Tubuhnya dengan sempoyongan nyeruduk ke depan dan akhirnyajatuh di dalam pelukan Koan Ing.

Sang Siauw-tan sendiri juga kaget, dengan cepat dia bangun dan meloncat ke depan.

Bagaimana mungkin Cing It nikouw bisa turun dari puncak Su Li Hong?

Bahkan seluruh tubuhnya berlepotan darah Cing It nikouw yang tubuhnya kena dipegang oleh Koan Ing agaknya dia merasa amat terkejut, tetapi setelah dilihatnya orang itu bukan lain adalah Koan Ing dia baru menghembuskan napas lega.

"Kau?"

Baru saja berbicara sampai di situ tenaganya sudah habis, sedang pedang yang ada di tangannya terjatuh ke atas tanah dan dia sendiri jatuh tidak sadarkan diri di dalam pelukan Koan Ing.

Dengan cepat Koan Ing serahkan badan Cing It nikouw ke arah Sang Siauw-tan lalu memungut pedangnya dan membawa tubuhnya ke samping api unggun.

Sang Siauw-tan memandang sejenak ke arah Cing It nikouw kemudian baru ujarnya.

"Aah,., cuma terluka ringan saja, tenaganya sudah dikuras habis, agaknya baru saja dia bergebrak seru melawan orang", Dengan perlahan Koan Ing mengangguk dan menoleh ke belakang Sang Siauw-tan pun lantas memeriksa keadaan luka dari Cing It Nikouw, membubuhi obat dan membalutnya. Hujan turun semakin kecil sedang Cing It Nikouw pun masih jatuh tidak sadarkan diri membuat Koan Ing serta Sang Siauw-tan terpaksa berdiam diri tidak bercakap2. Lama sekali tampaklah dengan perlahan Cing It Nikouw membuat matanya kembali. Pandangan pertama yang terlihat olehnya adalah Koan Ing yang ada di hadapannya, lama sekali dia memandang ke arahnya, kemudian baru duduk.

"Suci. kau beristirahatlah dulu,"

Cegah Sang Siauw-tan dengan cepat. Cing It Nikouw menoleh dan memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan lalu merangkap tangannya memberi hormat.

"Terima kasih sumoay serta Koan Siauwhiap yang suka menolong jiwa pinnie,"

Ujarnya. Sang Siauw-tan segera tersenyum.

"Suci bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Tanyanya.

"Sebenarnya sudah terjadi urusan apa? Suhu dia orang tua apakah juga ikut mendatangi gunung Kun lun san ini?"

Cing It Nikouw termenung sebentar akhirnya dia menghela napas panjang.

"Hei.... aku kena dikejar macan tutul yang dilepaskan orang-orang lembah Chiet Han Ku."

Sehabis berkata dia lantas memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

Diam-diam Koan Ing merasa amat terperanjat, tidak disangka sama sekali sebelum orang-orang lembah Chiet Han Ku munculkan dirinya dia sudah menemui cedera seperti ini, lalu bagaimana hebatnya orang-orang dari lembah tersebut?

Sebaliknya Sang Siauw-tan sama sekali tidak memikirkan hal itu, dia berpikir bagaimana mungkin Cing It Nikouw bisa sampai di situ sedang puncak Su Li Hong tidak mungkin bisa dituruni seenaknya.

Apalagi Cing It Nikouw adalah murid tertua dari ciangbunjiennya, bilamana dia orang tidak menerima perintah bagaimana mungkin bisa turun gunung?

Apa mungkin dikarenakan Koan Ing?

Dia memandang ke arah Koan Ing yang waktu itu sedang memandang ke arah Cing It Nikouw dengan termangu-mangu, Setelah itu sinar matanya dialihkan ke atas tubuh Cing It Nikouw, Tampaklah olehnya walaupun Cing It nikouw merupakan seorang nikouw tapi tidak malu dia menjadi murid tertua dari Sin Hong Soat-nie, tubuhnya amat halus dan lembut melebihi dirinya, Berpikir akan hal itu hatinya jadi tergetar amat keras, bilamana Cing It nikouw benar-benarjatuh cinta kepada engkoh Ingnya, lalu dia harus berbuat bagaimana?"

Koan Ing sama sekali tidak berpikir sampai di situ, dia hanya memandang ke arah luar gua dan ujarnya dengan perlahan.

"Siauw-tan hari sudah terang"

Mendengar perkataan tersebut Cing It nikouw mendadak membuka matanya dan memandang ke atas wajah Koan Ing yang lagi memandang ke depan gua itu.

Waktu ini sinar api unggun sudah padam, sedang cahaya sang surya pun sudah menyorot masuk ke dalam gua, dengan termangu-mangu nikouw itu memandang ke arah pemuda tersebut sedang pipinya memerah dadu.

Sang Siauw-tan yang selama ini terus menerus mengawasi gerak-gerik nikouw itu dalam hati segera merasa terperanjat.

"Aaah.... kiranya begitu!"

Serunya kemudian di dalam hati. Mendadak Cing It nikouw memejamkan matanya kembali dan termenung berpikir sebentar.

"Heei.... hari sudah terang, akupun harus pergi,"

Ujarnya kemudian sambil angkat kepalanya. Selesai berkata dengan perlahan dia bangun berdiri.

"Suci lukamu belum sembuh bagaimana boleh pergi?"

Seru Koan Ing melengak, diapun ikut bangun berdiri,"

Apakah suhumu juga ikut datang kemari? Bilamana su ci tak ada urusan penting bagaimana kalau berangkat bersama-sama kita?"

Sang Siauw-tan pun ikut bangun berdiri diam-diam dia merasa amat cemas, bilamana Koan Ing terus menerus hendak menahan Cing It nikouw dan semisalnya nikouw itu benar-benar berangkat bersama-sama mereka apa yang akan terjadi?"

Tetapi kini Cing It nikouw berada di dalam keadaan terluka, di dalam aturan dan cengli memang seharusnya Koan Ing menahan dirinya, sedang diapun tidak ada alasan untuk melarang pemuda itu menahan nikouw tersebut untuk berangkat bersama-sama, Dengan perlahan Cing It nikouw menundukkan kepala dan melirik sekejap ke arah Sang Siauw-tan.

"Aku masih ada urusan,"

Katanya.

"Apa lagi kalianpun masih ada urusan yang harus diselesaikan, luka yang pinie derita amat ringan juga kesempatan buat kita untuk bertempur masih banyak, lebih baik aku berangkat dulu"

Koan Ing yang baru untuk kedua kalinya bertemu dengan Cing It nikouw, saat ini melihat dia orang dengan kukuh mau pergi, dia pun tidak berani menahan lebih lama lagi.

"Kalau begitu harap suci suka baik-baik berjaga diri,"

Ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Sute, sumoay, selamat tinggal"

Seru Cing It nikouw pula sambil merangkap tangannya memberi hormat.

Sehabis berkata dia lantas putar tubuh dan berlalu dari sana.

Ooo)*(ooO Bab 33 SANG SIAUW-TAN yang melihat Cing It nikouw akhirnya pergi juga diam-diam dia menghela napas panjang.

"Eeei Siauw-tan, kau lagi pikirkan apa?"

Tiba-tiba terdengar Koan Ing menegur.

"Oooow tidak mengapa hari sudah siang, kitapun tak usah beristirahat lagi, mari kita berangkat"

Seru gadis itu buru-buru.

Koan Ing mengangguk dan berjalan ke luar dari gua.

Pada saat itulah mendadak di hadapan mereka kembali berkelebat datang seseorang dalam keadaan sempoyongan, keadaannya amat mengenaskan, Koan Ing yang melihat munculnya seorang dalam hati benar-benar merasa amat terperanjat, bukankah orang itu adalah Ciu Tong?

Seluruh tubuh si iblis sakti dari lautan Timur ini sudah berlepotan darah, tangannya mencekal tongkatnya erat-erat sedang keadaannya amat menyedihkan sekali, kegagahannya tempo hari sama sekali musnah tak berbekas, Ketika Ciu Tong tiba dihadapan mereka berdua napasnya semakin memburu.

"Sang Su-im ada dimana?"

Tanyanya terengah2 sambil mempertahankan tubuhnya dengan tongkat, Koan Ing yang melihat keadaannya amat menyedihkan itu terburu-buru maju membimbing, Empek Sang ada di depan, loocianpwee, kau kenapa?"

Serunya.

"Kami terkurung didalam.... lembah.... lembah Chiet Han Ku."

Akhirnya dia tak kuat mempertahankan diri lagi dan jatuh tak sadarkan diri.

Jilid 14 KOAN ING merasa amat terkejut sekali, tak disangka olehnya dengan kepandaian silat yang begitu tinggi dari Cha Can Hong, Ciu Tong, Thian Siang Thaysu serta Yuan Si Tootiang sekalian kini bisa terkurung di dalam lembah tersebut, bahkan saat ini Ciu Tong sendiripun sudah menderita luka.

Jadi yang dimaksudkan oleh surat berdarah yang dibawa burung merpati itu menunjukkan Ciu Tong sekalian yang terkurung Dengan cepat dia mencekal tangan iblis tua dari lautan Timur ini untuk diperiksa denyutanjantungnya amat lemah, jelas kalau dia kini sudah menderita luka dalam yang amat parah.

Pemuda itu tidak habis berpikir siapakah orang yang memiliki tenaga dalam yang sedemikian tinggi bisa melukai Ciu Tong yang memiliki kepandaian tenaga iblis mayat membusuk sehingga demikian parahnya.

Koan Ing pun segera membantu Ciu Tong masuk ke dalam gua, walaupun diantara mereka berdua boleh dihitung merupakan musuh bebuyutan tapi keadaan pada saat ini sama sekali berbeda, dia harus menolong Ciu Tong karena dialah satu-satunya orang yang berhasil menerjang keluar dari lembah Chiet Han Ku dan dia pula satunya manusia yang mengetahui apa yang terjadi Setelah membimbing Ciu Tong masuk pemuda itu kembali memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu untuk memeriksa adakah orang-orang dari lembah Chiet Han Ku yang menguntit datang Setelah dirasanya keadaan pemuda itu baru membuka pakaian sebelah atas dari sang iblis tua untuk diperiksa, Mendadak....

"Aach"

Teriak Koan Ing dengan kagetnya.

Di atas gunung Ciu Tong terteralah sebuah bekas telapak tangan berwarna merah darah, berkilat laksana membaranya seonggokan api unggun.

Diam-diam dia mulai menghembuskan napas panjang, dalam hati Koan Ing tahu bilamana bukannya Ciu Tong memiliki ilmu mayat membusuk yang melindungi badannya mungkin pada saat ini dia tak mungkin berhasil meloloskan diri dari serangan tersebut.

"Siauw-tan!"

Serunya kemudian kepada gadis itu setelah termenung berpikir sebentar.

"Coba kau buatkan api unggun, aku mau bantu dirinya untuk menyembuhkan luka yang diderita."

Mendengar perkataan tersebut, Sang Siauw-tan jadi melengak, membantu Ciu Tong untuk menyembuhkan lukanya?

Tapi dia tidak mau membantah, api unggun segera disiapkan.

Perlahan-lahan Koan Ing memejamkan matanya, mulai berpikir, Jien Wong pernah memberi pelajaran yang amat banyak sekali cara-cara untuk menyembuhkan luka, dia percaya luka yang diderita Ciu Tong waktu ini bisa disembuhkan olehnya dengan mudah apalagi kepandaian silatnya pada saat ini sudah memperoleh kemajuan yang....

Mendadak dia membuka matanya kembaIi dan membuka seluruh pakaian yang dikenakan si iblis tua dari lautan Timur itu, Tangan kanan mulai disentilkan melancarkan segulung angin serangan dimana terdapat luka pukulan kemudian baru bangun dan berjalan ke samping api unggun, kesepuluh jari tangannya dengan tiada hentinya disentilkan menotok seratus delapan buah jalan darah yang ada dibagian tubuh bagian atas, sedang Koan Ing sendiri semakin berjalan semakin cepat, tubuhnya pun mulai gemetar, Sang Siauw-tan yang tadi melengos tak tertahan menoleh juga pada saat ini, melihat cara Koan Ing menyembuhkan luka ini hatinya jadi amat terperanjat.

"Bukankah cara menyembuhkan luka ini menggunakan ilmu Kioe Yang Si Meh yang amat lihay?"

Pikirnya dihati.

Dari ayahnya Sang Su-im gadis itu pernah mendengar cara menyembuhkan luka dengan ilmu tersebut, cuma ayahnya tidak bisa tidak disangka Koan Ing ternyata memahami benarbenar bahkan kelihatannya begitu sempurna, hal ini sungguh berada di-luar dugaan.

Beberapa saat lamanya pemuda itu baru duduk kembali, air mukanya dengan perlahan sudah pulih seperti sedia kala sedang dari mulutnya menghembuskan napas panjang.

Cara menyembuhkan luka dengan menggunakan ilmu "Kioe Yang Si Meh"

Ini tergantung pada mengerahkan hawa murni yang lihay untuk disalurkan ke dalam tubuh orang yang terluka, kini pemuda itupun merasa amat lelah sekali.

Setelah beristirahat sejenak, kesegaran badannya baru pulih kembali, dia lantas bantu Ciu Tong memakai pakaiannya kembali dan tersenyum.

Waktu itulah Ciu Tong pun sudah sadar kembali dari pingsannya .

"Ciu Tong I sekarang kau sudah sembuh, tetapi harus beristirahat dulu beberapa saat"

Katanya tersenyum, Dengan pandangan melongo si iblis dari lautan Timur itu memperhatikan pemuda tersebut lama sekali, hampir-hampir dia tidak percaya kalau Koan Ing Iah yang sudah menyembuhkan lukanya.

Jangan bicarakan soal permusuhan antara mereka, cukup dengan kepandaian yang dia miliki seharusnya tidak mungkin bisa menyembuhkan luka yang dideritanya dengan cara ini, dia tidak mungkin memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna.

Dia memandang sekejap ke arah Koan Ing lalu menghela napas panjang.

"Heeei.... Yuan Si Tootiang lenyap tak berbekas, aku serta Cha Can Hong masih ada lagi sihweesto tua kena dikepung oleh delapan orang manusia berkerudung yang amat lihay"

Ujarnya perlahan.

"Hweesio-hweesio cilik sudah ada puluhan orang yang binasa, kita terdesak lalu mengundurkan diri ke dalam gua. siapa tahu disana kita terkurung, putraku serta muridku pada mati semua dalam keadaan yang sangat mengerikan."

Mendengar perkataan itu baik Koan Ing maupun Sang Siauw-tanjadi amat terperanjat, Yuan Si Tootiang lenyap?

Di dalam hal ini pasti tersembunyi satu persoalan yang amat besar-Biasanya cukup salah seorang saja dari antara tiga manusia genah empat manusia aneh munculkan diri di dalam dunia kangouw sudah cukup menggetarkan setiap orang, kini mereka bertiga ditambah dengan Suto Beng Cu, Hud Ing hweesio itu jagoan nomor wahid di Tibet serta Thian Liong Thaysu jagoan nomor wahid di daerah Loo Han Tong kini pada terkurung semuanya.

Kembali Ciu Tong tertawa pahit.

"Aku sendiripun sebetulnya tidak percaya tetapi buktinya memang demikian, tindakan mereka benar-benar amat buas, setelah kami terkurung mereka mulai menyerang dengan menggunakan api, untung sekali di atas gua tersebut ada sebuah lubang kecil sehingga menyerang dengan menggunakan api tidak mendatangkan hasil, dan mereka pun tidak berani menyerbu ke dalam gua, karena itu terpaksa pada mengurung dan mengepung sekeliling tempat tersebut."

Koan Ing jadi melengak, dia tidak mengira kalau kekuatan dari lembah Chiet Han Ku jauh berada diluar dugaannya, di dalam lembah itu ternyata terdapat begitu banyak jagoan berkepandaian aneh.

Berpikir akan hal itu hatinya jadi bergidik, cara pemikiran terhadap pihak musuhpun jadi berubah kembali, Tampak Ciu Tong kembali mengerutkan alisnya rapat-.

"Tetapi kami tahu Sang Su-im bakal menyerang datang, menggunakan kesempatan sewaktu kemarin malam hujan deras aku menerjang keluar dari gua tersebut, siapa sangka punggungku kena dihajar oleh mereka."

Koan Ing mengerti Ciu Tong yang namanya ada di dalam deretan empat manusia aneh selama dua puluh tahun ini tak seorangpun yang berani memandang rendah dirinya, siapa sangka ini hari dirinya kena di hajar satu kali sewaktu bergebrak dengan orang hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang amat memalukan dirinya, Mendadak Ciu Tong tertawa, ujarnya lagi.

"Tetapi diapun tidak bisa memperoleh keuntungan yang banyak, sewaktu aku balik tangan tongkatku berhasil pula menghajar dirinya, dengan begitu keadaan kitapun seimbang"

Koan Ing cuma tersenyum saja, dia tidak berbicara.

"Heei.... bilamana aku tidak terluka sedang Yuan Si Tootiang yang pergi mengejar musuh sudah kembali, maka situasi ki ta pada waktu itu akan berubah"

Ujar si iblis tua itu lagi sambil menghela napas panjang.

"Sekalipun lembah Chiet Han Ku merupakan daerah terlarang tetapi aku pun masih bisa keluar dari sana dalam keadaan segar bugar."

"Apakah paman Cha sekalian kini berada dalam keadaan baik-baik, saja?"

Tanya Koan Ing kemudian sambil mengerutkan alisnya.

"Kini mereka masih terkurung, untuk sesaat tak berhasil meloloskan diri dari kepungan, tetapi diantara kedelapan orang berkerudung itupun tak seorangpun yang meninggalkan tempat tersebut, aku takut lama kelamaan mereka akanjadi lelah sendiri dan tidak kuat."

Koan Ing termenung sebentar, dia merasa Sang Su-im yang masuk ke dalam lembah Chiet Han Ku tentu akan terhadang disuatu tempat, sesampainya di dalam gua itupun ada kemungkinan sekalian kena terkurung.

Berpikir akan hal itu hatinya jadi kuatir, tak terasa lagi dia lantas bangun berdiri.

"Cianpwee kau beristirahatlah dulu disini, aku serta dia akan masuk dulu ke dalam lembah."

Dengan termangu-mangu Ciu Tong memandang wajah pemuda itu, dia tidak percaya kalau Koan Ing suka menolong dirinya, Sikap yang begitu hormat dari Koan Ing serta tindakannya yang suka menolong dirinya membuat Ciu Tong merasa terharu, dalam hati dia amat berterima kasih sekali kepada dirinya.

"Heei.... kita datang bersama-sama dari daerah Tionggoan apalagi akupun angkat nama bersama^ supeknya, kenapa kita harus saling bergebrak sendiri? Bukankah tindakan yang salah ini hanya mendatangkan keuntungan bagi lembah Chiet Han Ku?"

Pikir si iblis tua itu diam-diam, Kini melihat pemuda itu hendak berlalu diapun lantas mengangguk.

"Kalian berhati-hatilah, akupun akan berusaha berangkat kesana secepat mungkin."

Setelah menjura memberi hormat dengan menarik tangan Sang Siauw-tan mereka berlari keluar gua. Dengan termangu-mangu Ciu Tong memperhatikan bayangan punggung dari kedua orang itu, pikirnya kembali.

"Heei.... kini aku tidak boleh memisahkan kedua orang muda mudi itu lagi, setiap urusan sudah diatur oleh Thian, bilamana aku paksakan diri juga, maka seperti kejadian ini hendak mencelakai orang malahan mencelakai diri sendiri."

Koan Ing dengan menggandeng tangan Sang Siauw-tan dengan cepatnya lari menuju ke dalam lembah Chiet Han Ku.

Terhadap lenyapnya Yuan Si Tootiang secara mendadak dalam hati dia merasa tidak paham, lenyap karena mengejar musuh?

Atau mungkin sejak semula dia sudah punya rencana untuk memancing para jago Bu-lim ini masuk ke dalam daerah terlarang itu?, Atau mungkin pula dia mempunyai sangkut paut dengan rencana busuk yang diatur kali ini?

Berpikir sampai disitu Koan Ing merasakan hatinya bergetar, dapatkah Yuan Si Tootiang bersekongkol dengan pihak lembah Chitt Han Ku?

Tetapi hal itu tidak mungkin bisa terjadi, karena dengan nama baik serta kecemerlangan dari partai Bu-long tidak mungkin dia orang sudi berbuat demikian.

Tubuh mereka berdua dengan amat cepatnya berkelebat menuju kelembah Chiet Han Ku tanpa bertemu dengan rintangan apapun.

Waktu itu hari sudah amat siang, tetapi cuaca amat buruk dan diliputi oleh awan gelap, agaknya hujan kembali akan turun.

Dengan cepatnya mereka berdua sudah tiba dimulut lembah Chiet Han Ku yang merupakan dua buah batuan besar yang tajam, di atas sebuah batu yang tajam terukirlah Chiet Han Ku tiga tulisan besar, selain itu apapun tidak kelihatan.

Mereka berdiam diri beberapa saat lamanya diluar lembah tersebut, setelah itu kembali tubuhnya bergerak menubruk ke dalam lembah.

Lembah itu amat luas sekali laksana tak ada ujung pangkalnya, sekeliling tempat itu dikurung dengan gunung yang tinggi, bentuknya mirip sekali dengan sebuah ember.

Dengan ragu-ragu Koan Ing memeriksa sejenak keadaan di sekeliling tempat itu, sewaktu dilihatnya di depan tampak sebuah hutan, mereka berduapun lantas melanjutkan perjalanannya menuju ke arah sana.

Siapa tahu baru saja tubuh mereka masuk ke dalam hutan, mendadak terdengarlah suara yang aneh berkumandang keluar.

Buru-buru pemuda itu putar tubuhnya, tampaklah di atas sebuah tanah lapang sedang terjadi suatu pertempuran yang amat sengit antara seseorang dengan puluhan orang berkerudung.

Orang yang menyekal pedang itu bukan lain adalah Cing It nikouw sedang kesepuluh orang manusia berkerudung itu masing-masing sedang mengayunkan sebuah jala berwarna merah yang luasnya beberapa kaki sedang mengurung dirinya.

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi amat terperanjat dia tidak menyangka kalau Cing It nikouw kembali menerjang masuk ke dalam lembah tersebut.

Waktu itulah kesepuluh buah jaring berwarna merah itu telah disebarkan ke atas mengurung seluruh tubuh nikouw muda itu, sedang pada wajah Cing It nikouw penuh diliputi oleh kegelisahan.

Maka dengan amat gusarnya Koan Ing bersuit panjang, tubuhnya bagaikan kilat meluncur kedepm menerjang ke arah sepuluh orang itu.

Pedang Kiem-hong-kiamnya dengan membentuk cahaya keemas-emasan membentuk gerakan setengah busur membabat ke arah mereka dengan ganasnya.

inilah jurus "Noe Ci Sin Kiam"

Dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam".

Kesepuluh jaring warna merah yang berhasil mementalkan pedang Cing It nikouw sewaktu melihat datangnya serangan dari pemuda itu dengan cepat ditarik untuk menangkis datangnya babatan itu.

Sinar mata Koan Ing berkelebat tajam, dia tidak ingin Cing It nikouw yang baru saja sembuh dari lukanya kini kembali terluka, maka pedangnya disentakkan ke depan bermaksud membabat putus jaringan merah itu.

Tetapi baru saja pedangnya terbentur denganjaring itu pedang kiem-hong-kiamnya sudah kena digulung, hatinya jadi berdesir apalagi waktu itu ada dua buah jaringan merah kembali mengurung ke bawah dari sebelah kiri serta sebelah kanan.

Di tengah suara suitan yang amat keras ujung pedang Kiem-hong-kiam memancarkan cahaya yang berkilauan, dua buah jaring berwarna merah itu sudah kena dibabat putus sedang tubuhnyapun dengan mengambil kesempatan itu menerjang ke tengah udara.

Cing It nikouw yang kehilangan pedangnya melihat kembali ada sebuah jaring berwarna merah mengurung ke atas tubuhnya, terburu-buru dia menyingkir kesamping.

Tubuh Koan Ing yang ada di tengah udara segera berputar setengah lingkaran, baru saja dia bermaksud turun tangan menolong Cing It mendadak tampaklah olehnya dua orang yang mendesak ke arah Sang Siauw-tan, hatinya jadi terperanjat.

"Siauw-tan hati-hati!"

Teriaknya keras.

Pada waktu itulah Cing It nikouw sudah mendengus berat, tubuhnya kena diseret sejauh satu kaki oleh ujung jaringan tersebut.

Pemuda itu lantas merasa rada bergidik, baru pertama kali ini dia menemui musuh yang melancarkan serangan dengan menggunakan senjatajaring, untuk beberapa saat lamanya dia jadi kebingungan apa yang harus dikerjakan.

"Serahkan nyawamu!"

Bentaknya kemudian sambil berkelebat menerjang ke arah depan.

Diantara suara bentakan yang amat keras itulah pedangnya melancarkan satu serangan dahsyat menghajar orang berkerudung yang lagi mendesak ke arah Cing It nikouw.

Orang berkerudung itu jadi terperanjat makajaring merahnya ditarik untuk mengurung tubuh Koan Ing, Pemuda itu segera mengerutkan alisnya, pedang denganjaring segera bentrok menjadi satu sedang tubuhnya dengan mengambil kesempatan itu meluncur ke bawah dan menerjang keluar.

Dimana pedang Kiem-hong-kiamnya berkelebat, orang barkerudung itupun mendengus berat, pedangnya dengan cepat berhasil menyayat dada orang itu, tapi dirinya pun kena terkurung oleh jaring merah yang disebar oleh mereka itu.

Orang barkerudung lainnya melihat kejadian itu segera pada membentak keras, tubuh mereka dengan cepat menubruk.

Koan Ing yang melihat tubuhnya terjerat sedang jaringjaring lainnynpun sudah ditebarkan ke atas badannya dengan gusar dia membentak^ Tubuhnya segera menggelinding ke arah luar sedang pedang kiem-hong-kiamnya berturut-turut melancarkan delapan serangan gencar membabat tubuh bagian bawah dari orang-orang berkerudung itu, Munusia-sia berkerudung itupun terdesak menyingkir kesamping, mengambil kesempatan itu tubuh Koan Ing meluncur ke tengah udara, diantara berkelebatnya cahaya pedang yang dipancarkan dari pedang kiem-hong-kiam jaringjaring warna merah itu sudah kena dibabat putus semua, Kembali tubuhnya dengan cepat berjumpalitan diteugah udara, mendadak....

"Ah.... kemana perginya Sang Siauw-tan?"

Teriaknya kaget. Begitu tubuhnya melayang turun ke atas tanah pedangnyapun melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Hay Thian It Sian"

Tangannya yang sasu melancarkan serangan menghalangi serangan-seranganjaring merah, tangan yang lain menyambar tubuh Cing It nikouw yang jatuh tidak sadarkan diri, diantara suitan yang amat nyaring tubuhnya dengan cepat meluncur ke dalam hutan itu.

Sewaktu dilihatnya orang berkerudung itu tidak melanjutkan pengejarannya dia pun mulai memperlambat larinya.

Hutan itu amat lebat dengan pepohonan yang tumbuh merapat, selain itu apapun tak kelihatan lagi.

Hatinya mulai merasa cemas, kemana perginya Sang Siauw-tan?

Apakah dia orang kena ditawan?

Sambil menggendong tubuh Cing It pemuda itu lari terus ke arah depan, tapi tak berhasiljuga menemukan gadis tersebut sedang dirinya semakin masuk semakin berada jauh di tengah hutan, Akhirnya sampailah dia orang di sebuah jeram yang amat deras dengan pemandangan yang indah.

Koan Ing menghentikan larinya dan meletakkan lubuh Cing It di atas batu, dia melihat wajah nikouw itu pucat pasi bagaikan mayat.

Sebetulnya dalam hati pemuda itu bermaksud untuk memeriksa keadaan luka dari Cing It ini, tapi walaupun dia adalah seorang beribadat tapi bagaimanapun juga dia tetap seorang perempuan, buat dirinya agak tidak leluasa untuk membuka pakaiannya untuk mengadakan pemeriksaan.

Akhirnya diajatuhkan diri duduk bersila dan memangku tubuh Cing It di atas lututnya, dia takut nikouw itu kedinginan tapi merasa kuatir pula akan lukanya hal ini membuat pemuda itu jadi kebingungan Suara air terjun bergema memekikkan telinga....

Dengan termangu-mangu Koan Ing memperhatikan air yang dengan derasnya mengalir ke bawah, dia mulai berpikir kemana perginya Sang Siauw-tan?

Bagaimana dia harus berbuat terhadap Cing It yang ada di hadapannya.

Waktu itulah mendadak suara dengusan yang amat dingin bargema dari belakang tubuhnya, Pemuda itu jadi terperanjat, dia sama sekali tidak merasa kalau ada orang yang sudah barada di belakang tubuhnya, dengan cepat dia meloncat ke tengah udara sedang tangan kanannya mencabut keluarpedang Kiem-hong-kiam yang tersoren pada punggungnya.

Tetapi sebentar kemudian kembali dia jadi melengak karena orang yang ada dibelakangnya pada saat ini adalah seorang nikouw berjubah putih dengan wajah yang penuh senyuman, orang itu bukan lain adalah Sin Hong Soat-nie Cuma saja waktu ini wajah nikouw tua iiu anat keren dan berwibawa, dengan dinginnya dia sedang memandang ke arahnya.

Koan Ing jadi amat terperanjat, selama ini dia belum pernah melihat sikap yang begitu dingin dari Sin Hong Soatnie.

Setelah ragu-ragu sejenak akhirnya dia berkata.

"Suthay, muridmu...."

"Koan Ing"

Potong Sin Hong Soat-nie dengan suara dingin.

"Kau hendak bunuh diri atau menunggu aku yang turun tangan?"

"Apa? Aku tidak mengerti apa yang di maksud oleh suthay!"

Seru pemuda itu dengan terperanjat. Sin Hong Soat-nie segera tertawa dingin.

"Aku sudah melanggar peraturan dengan melepaskan kau serta Siauw-tan turun gunung, tetapi kau sudah memikat hati murid ku, bukan begitu saja bahkan luka yang kau derita kini sudah sembuh, hal ini benar-benar berada diluar dugaanku", Koan Ing jadi melengak, Sin Hong Soat-nie menuduh dia telah memikat hati muridnya Cing It nikouw, hal ini mana mungkin bisa terjadi? Sewaktu dia lagi termangu-mangu itulah mendadak terdengar Cing It mengeluh. Terburu-buru dia lantas meletakkan tubuh nikouw muda itu ke atas tanah.

"Suthay, kau jangan salah paham."

Sewaktu dia lagi berbicara sampai disitu Cing It nikouw sudah bangun, sewaktu dilihatnya Sin Hong Soat-nie ada disana dia lantas memanggil.

"Suhu!"

"Siapa yang jadi suhumu?"

Dengus nikouw tua itu dengan dingin.

Tubuhnya mendadak meloncat ke atas, pedang ditangan kanannya dengan amat cepatnya melancarkan satu tutukan menghajar leher Cing It nikouw.

Koan Ing yang melihat kejadian itu jadi amat terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sin Hong Soat-nie bisa melancarkan serangan menghajar tenggorokan dari Cing It nikouw dia tahu Sin Hong Soat-nie tentu sudah menaruh salah paham terhadap dirinya, nikouw tua itu pastilah sudah mengira muridnya dengan dia orang sudah mengikat suatu hubungan yang intim.

"Suthay, tunggu dulu!"

Cegahnya dengan keras.

Diantara suara bentakan yang amat keras, pedang Kiemhong-kiam ditangan kanannya sudah menangkis datangnya serangan dari nikouw tua itu.

Sin Hong Soat-nie yang melihat Koan Ing berani turun tangan menangkis serangannya dalam hati semakin gusar lagi.

"Bangsat! Kau berani?"

Bentaknya keras Dengan gerakan yang tidak berubah pedang ditangan kanannya segera membabat ke arah pergelangan tangan pemuda itu, sedang tubuhnya sambil melayang ke atas melancarkan tendangan dahsyat.

Tendangannya kali ini dilancarkan amat keras, bahkan disertai dengan angin serangan yang tajam, Koan Ing jadi terperanjat tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas udara sedang kaki kanannya melancarkan tendangan pula menangkis datangnya tendangan dari nikouw itu.

Sin Hong Soat-nie sendiripun diam-diam merasa amat terperanjat, dia yang melihat kecepatan gerak pemuda itu sewaktu berubah serangan dalam hati sudan mengerti kalau kepandaian silatnya kembali mendapatkan kemajuan pesat, dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian dari pemuda itu bisa demikian lihaynya.

"Suhu...."

Waktu itulah terdengar Cing It nikouw sudah menjerit sambil menangis, tubuhnya dengan cepat menubruk ke arah pedang dari suhunya.

Masing-masing pihak jadi amat terperanjat, diantara berubahnya jurus serangan tampak darah segar muncrat memenuhi permukaan tanah, sebelah lengan kanan dengan cepatnya kena dibabat putus dan mencelat setinggi satu kaki.

Sedang badan Cing It nikouw sendiri sudah rubuh tak sadarkan diri di tengah ceceran darah.

Melihat kejadian ini Koan Ing jadi terperanjat, jari tangan kirinya buru-buru menyentilkan ke depan lima gulung angin serangan menotok jalan darah dari nikouw muda itu untuk menghentikan mengalirnya darah, Sin Hong Soat-nie sendiri merasa terkejut bercampur gusar, tadi dia sudah merasa gusar karena campur tangan Koan Ing di dalam tindakannya untuk menghukum Cing It, kini melihat muridnya kehilangan satu lengan di bawah serangan pedangnya sendiri hatinya merasa semakin gusar.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat, pedangnya dengan amat cepat melancarkan serangan dahsyat menghajar diri pemuda tersebut.

Koan Ing dengan satu tangan menjepit Cing It nikouw, pedang Kiem-hong-kiamnya berturut-turut berkelebat menangkisi setiap serangan yang ditujukan kepadanya.

Pertempuran yang terjadi kali ini sama sekali berbeda dengan suasana pertempuran di atas puncak Su Li Hong, kali ini Sin Hong Soat-nie sudah berada dalam keadaan amat gusar sekali, pedangnya menyerang dengan cepat bagaikan kilat, serangannya benar-benar amat mengejutkan sekali, Bagaimanapun juga tenaga dalam Koan Ing masih ketinggalanjika dibandingkan dengan nikouw itu, belum sempat dia punahkan serangan pertama, Sin Hong Soat-nie sudah merubah jurusnya kembali, matanya cuma merasa sinar keperak2an berkelebat tiada hentinya membuat dia terkurung di dalamnya.

Sin Houg Soat-nie yang melihat Koan Ing berani saling bergebrak dengan dirinya, maka pedangnya dilancarkan semakin cepat lagi, satu serangan lebih cepat dari serangan selanjutnya, semakin lama semakin ganas, agaknya dia bermaksud membinasakan Koan Ing di bawah serangan pedangnya.

Setindak demi setindak Koan Ing terdesak mundur ke belakang, walaupun saat ini dia memiliki beribu-ribu jurus serangan tetapi tenaga dalamnya yang masih kalah setingkat itu memaksa dia tidak berhasil mengikuti perubahan jurus dari Sin Hong Soat-nie tersebut, Setiap kali kakinya mundur selangkah maka tanah yang diinjakpun semakin menurun ke bawah, dia merasa segulung hawa dingin meresap masuk dari punggungnya, Hatinya mulai bergidik, Koan Ing sadar bilamana sekali lagi dia mengundurkan diri ke belakang maka seketika itu juga dia akan menemui ajalnya disana, Suatu pikiran mendadak berkelebat di dalam benaknya, diantara suara suitan gusar yang amat keras, pedang Kiemhong-kiamnya dengan mengerahkan seluruh tenaga melancarkan serangan ke depan dengan menggunakan jurus "Hay Thian San"

Yang amat lihay. Jurus bertahan "Hay Thian Sian"

Ini merupakan suatu jurus yang paling rapat untuk mempertahankan diri, perduli pihak musuh melancarkan serangan dari sudut manapun tidak akan berhasil membobolkan pertahanan tersebut.

Tempo hari sewaktu Sin Hong Soat-nie bergebrak dengan Koan Ing di atas puncak Su Li Hong dia pernah memikirkan bagaimana caranya untuk memecahkan jurus bertahan ini, akhirnya dengan menggunakan tenaga dalam yang lihay dia berhasil menjadikan jurus tersebut buyar kini melihat pemuda itu kembali melancarkan serangan dengan menggunakan jurus itu, pedangnya dengan cepat menutul ke atas tubuh pedang Koan Ing.

Sepasang pedang bertemu Sin Hong Soat-nie segera membabatkan pedangnya ke samping dan menghisap pedang yang ada ditangan Koan Ing beberapa Cun diluar pertahanan, mengambil kesempatan tubuhnya segera menerjang ke depan sedang telapak kirinya melancarkan satu pukulan menghajar dada pemuda itu, Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau jurus bertahannya "Hay Thian It Sian"

Kena dipukul bobol oleh nikouw tua itu, hatinya jadi amat kaget, Sewaktu dia sedikit berayal itulah dadanya sudah kena dihajar oleh telapak tangan Sin Hong Soat-nie.

Dengan beratnya Koan Ing mendengus, kakinya kembali mundur selangkah ke belakang tapi mendadak hatinya terperanjat.

Tempat yang dipijak waktu itu ternyata adalah tempat yang kosong.

Di dalam keadaan gugup kakinya segera menjejak ke depan, tetapi keadaan sudah terlambat tubuhnya dengan cepat meluncurjatuh ke dalam jurang.

Sin Hong Soat-nie yang melihat kejadian itu jadi tertegun dibuatnya, dia tidak mengira kalau Koan Ing serta Cing It bisajatuh ke dalam jurang yang amat dalam dalam dengan air terjun yang begitu derasnya.

Lama sekali dia berdiri termangu-mangu di samping jurang, wajahnya kelihatan murung sekali.

Akhirnya sambil menghela napas panjang dia berlalu juga dari sana.

Tubuh Koan Ing yang meluncurjatuh ke dalam jurang dengan cepatnya membentur dasar dinding, karena getaran yang amat keras pemuda itu segerajatuh tidak sadarkan diri.

Entah lewat beberapa saat lamanya mendadak pemuda itu merasa wajahnya amat dingin, dengan perlahan dia membuka matanya.

Tampaklah waktu itu dirinya sedang berbaring di dalam pelukan Cing It sedang wajah yang cantik dari nikouw muda itupun sedang memperhatikan dirinya.

Dengan amat terperanjat Koan Ing segera meronta bangun.

"Sut kau jangan bergerak dulu, lukamu belum sembuh dan beristirahatlah sebentar!"

Cegah Cing It Nikouw terburu-buru sambil menahan badannya.

Terpaksa Koan Ing tidak bergerak, dalam hati dia merasa heran bagaimana mungkin dirinya tidak sampai mati?

Dia masih teringat sewaktu tubuhnya terjatuh dari atas tebing tubuhnya kena dihantam air terjun yang amat santar itu sehingga terpental menghantam dinding, bagaimana mungkin tubuhnya tidak remuk?

Matanya mulai menyapu memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, terlihatlah olehnya waktu itu dirinya serta Cing It uikouw ada di atas sebuah batu yang menongol keluar diantara tebing serta air terjun.

diam-diam lantas pikirnya.

"Aakh.... untung sekali aku tidak sampai jatuh ke dalam air terjun tersebut."

Dengan perlahan Cing It nikouw menyobek ujung pakaiannya setelah dibasahi dengan air telaga lantas ditempelkan ke atas kening pemuda tersebut.

"Sute kau merasa baikan bukan?"

Serunya, Dengan termangu-mangu Koan lag memperhatikan diri Cing It nikouw yang waktu itu sedang tersenyum, walaupun dia sudah cukur rambut jadi nikouw apalagi wajahnya tidak begitu cantik menurut penglihatannya tetapi dia memiliki suatu daya penarik yang amat aneh sekali.

Tiba-tiba Koan Ing teringat kembali akan kata-kata dari Sin Hong Soat-nie.

"Suci...."

Serunya tidak tenang. Agaknya Cing It nikouw mengerti apa yang sedang dipikirkan dihatinya, lalu dia tersenyum.

"Sute kau jangan banyak berpikir"

Ujarnya.

"Tidak perduli orang lain berbicara apapun janganlah kau perduli, maksudku turun dari puncak Su Li Hong tidak lebih karena merasa kuatir buat keselamatanmu, asalkan kau jangan mensia-siakan diri Sang Siauw-tan, itulah sudah lebih amat cukup sekali."

Koan Ing jadi melengak, dengan pandangan terpesona dia memperhatikan diri Cing It nikouw, dia merasa bahwa nyali perempuan ini sungguh tidak kecil, dia orang ternyata sama sekali tidak memperdulikan kedudukannya sebagai seorang nikouw maupun terhadap hubungannya dengan Sang Siauwtan.

"Sute,"

Terdengar Cing lt nikouw kembali berkata sambil membereskan rambut pemuda itu.

"Tidak kusangka kau sudah demikian besarnya tapi masih belum bisa menjaga diri sendiri"

Untuk beberapa saat lamanya Koan Ing mempunyai suatu perasaan yang aneh, dia merasa Cing It serta Sang Siauw-tan merupakan manusia lain jenis, dia merasa Cing It benar-benar terlalu memperdulikan dirinya bahkan tanpa memperdulikan lukanya yang diderita dia sudah merawat dirinya.

"Ah.... , alangkah baiknya bilamana Cing It suka menjadi enciku...."

Pikirnya. Dengan perlahan dia bangun duduk lalu tersenyum.

"Suci aku sama sekali tidak terluka, bagaimana kalau kita bercakap2 sambil duduk"

Cing It nikouw yang melihat dia bermaksud untuk duduk kali ini tidak mencegah lagi.

"Sute,"

Sahutnya.

"Coba kau tarik dulu napas panjangpanjang, bilamana tidak kuat janganlah terlalu dipaksa"

Koan Ing yang melihat Cing It begitu menaruh rasa kuatir terhadap dirinya dia pun tidak enak untuk membangkang maka diapun menarik napas panjang.

Terasalah kecuali dadanya agak sesak, tidak terdapat rasa apapun lainnya, dia lantas tertawa.

"Terima kasih atas perhatian dari suci, aku tidak mengapa."

Cing It tersenyum, diapun segera mengambil keluar barang serta pedang.

"Sute setelah kaujatuh tidak sadarkan diri aku takut badanmu yang berbaring itu terganjal dengan barang-barang ini maka itu aku lantas mengambil keluar barang-barang itu, sekarang kau terimalah kembali,"

Katanya sambil tertawa.

"Koan Ing segera menerima benda-benda itu dan memandang ke arah Cing It nikouw dengan terpesona. Di dalam hati pemuda itu merasa amat terharu atas perhatian yang diberikan nikouw muda itu terhadap dirinya. Cing It nikouw yang meiihat pemuda itu termenung dia lantas tersenyum, ujarnya.

"Sute, coba kau lihat jeram ini amat indah bukan?"

Dengan perlahan Koan Ing pun dongakkan kepalanya memandang ke arah air terjun itu, walaupun begitu berbagai ingatan kembali berkelebat di dalam benaknya.

"Suci aku hendak mencari Siauw-tan,"

Katanya mendadak.

Selesai berkata dia menoleh dan memandang sekejap ke arah Cing It nikouw.

Agaknya nikouw itu dibuat melengak oleh perkataan dan pemuda itu, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya, titik-titik air matapun mengucur keluar membasahi pipinya, lama sekali dia termenung tidak rnengucapkan sepatah katapun, Koan Ing yang melihat kejadian itu hatinya menjadi tidak tenang, tetapi dia tidak bisa berdiam lebih lama lagi tanpa pergi mencari diri Sang Siauw-tan.

Cing It nikouw yang baru saja terluka tetapi dia begitu perhatian merawat dirinya, kini setelah dirinya sadar kembali bagaimana mungkin lantas pergi?

Apalagi selama ini dia terus menerus memperhatikan dirinya....

"Suci,"

Ujarnya kemudian dengan hati tidak tenang.

"Sebenarnya aku ingin berdiam disini, tetapi sekarang mau tak mau aku harus pergi mencari Siauw-tan."

Dengan perlahan Cing It nikouw dongakkan kepalanya dan memandang ke arah pemuda tersebut.

"Kau pergilah dan jagalah dirimu baik-baik"

Ujarnya kemudian, Koan Ing yang mendengar perkataan itu, hatinya benarbenar dibuat amat terharu.

"Suci, terima kasih."

Wajah Cing It nikouw yang putih bersih itu kini sudah dibasahi dengan butiran2 air mata yang amat banyak, sambil menahan isak tangis yang semakin menjadi itu dia memandang ke arah pemuda itu dengan pandangan sayu.

Akhirnya Koan Ing merasa tidak tega sendiri, katanya dengan suara yang amat halus.

"Suci tempat ini mungkin rada tidak leluasa buat dirimu, biarlah aku hantar kau keluar dari tempat ini dulu."

"Terima kasih, tidak usah aku bisa keluar sendiri apalagi kini aku sedang ingin berdiam beberapa saat disini,"

Kata Cing It nikouw sambil tertawa paksa, kepalanya pun ditundukkan rendah-rendah.

"Kau pergilah terlebih dulu, asalkan kau selamat saja, hatiku sudah lega", ^ Lama sekali Koan Ing termenung, akhirnya dengan beratkan hati dia bangkit berdiri juga.

"Suci, selamat tinggal!"

Serunya kemudian, Sehabis berkata tubuhnyapun meloncat melewati jeram itu, dengan beberapa kali bersalto di tengah udara akhirnya sampai juga dia di atas batu putih itu, Lama sekali dia berdiri termenung ditepijeram tersebut hatinya benar merasa terharu oleh sikap yang begitu tulus dari Cing It nikouw, diam-diam pikirnya.

"Bilamana aku mempunyai seorang enci seperti Cing It sungguh menyenangkan sekali,...."

Teringat akan hal itu diapun kembali terbayang wajah Sang Siauw-tan, maka tubuhnya segera berputar dan lari menuju ke arah luar, Waktu itu cuaca sudah mulai menggelap kembali, sesudah melakukan perjalanan beberapa saat akhirnya sampai juga Koan Ing di dalam sebuah hutan yang lebat.

Ooo)*(ooO Bab 34 SUASANA di dalam hutan itu amat sunyi sekali, tak terdengar sedikit suarapun, angin bertiup sepoi-sepoi membawa suara hembusan yang amat syahdu sekali.

Di dalam hati Koan Ing merasa amat heran, pikirnya.

"Akh.... kenapa di tempat ini tak kelihatan sesosok manusiapun?"

Dengan langkah yang amat perlahan dia berjalan masuk ke dalam hutan itu sedang matanya dengan tajam memperhatikan sekeliling tempat itu.

Tampaklah di depan sebuah tebing duduk enam orang di atas permukaan tanah.

Di atas tebing itu tampaklah sebuah celah yang amat sempit yang cukup untuk diterobosi oleh seorang manusia saja.

"Bukankah tempat ini mirip sekali dengan tempat dikurungnya Thian Siang Thaysu sekalian seperti apa yang diceritakan oleh Ciu Tong?"

Pikirnya diam-diam.

Penemuan yang secara mendadak ini seketika itu juga membuat hatinya merasa amat tegang.

Keenam orang itu duduk bersila dengan angkernya membentuk kedudukan setengah lingkaran, ditangan masingmasing mencekal sebuah jaring merah yang mengurung celah tersebut rapat-rapat.

Agaknya memang mereka tidak berani menerjang masuk kedalam, terbukti dari sikap yang tenang dari keenam orang itu, tapi sepasang matanya dicurahkan kesana.

Suasana di dalam gua itupun amat sunyi, bilamana orang yang tidak mengerti akan peristiwa ini tentu tidak bakal menyangka kalau di dalam gua itu sudah terkurung begitu banyak jagoanBu-lim yang sudah punya nama di dunia kangouw, Dengan mengikuti pinggiran hutan Koan Ing mulai bergeser mendekati gua itu.

Sedang keenam orang itu tetap duduk membelakangi Koan Ing, agaknya mereka sama sekali tidak merasa atas kedatangan dari pemuda tersebut, Dengan pandangan yang tajam Koan Ing memperhatikan bayangan setiap punggung dari keenam orang itu, dia merasa tenaga dalam dari orang-orang itu pasti jauh berada di atas tenaga dalam dirinya, kalau tidak bagaimana mungkin "Cha Can Hong"

Sekalian bisa terkurung di dalam gua tersebut, Pikirannya dengan cepat berputar, dia mulai mencari akal bagaimana caranya supaya lolos dari kepungan tersebut, Orang-orang dari lembah Chiet Han Ku pada menggunakan jaringan besar sebagai senjata, pikirannyapun segera berputar mencari akal bagaimana cara pemecahannya, Sewaktu sedang enakkan berpikir itulah mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara dengusan dingin.

Dengan gesitnya dia putar badan, tampaklah seorang manusia berkerudung dengan mencekal sebuah jaringan besar berwarna emas sedang memandang ke arahnya dengan pandangan dingin.

Dengan cepat Koan Ing melayang mundur ke belakang, pedang Kiem-hong-kiamnya dilyabut keluar lalu dilintangkan di depan dada siap-siap menghadapi serangan.

Kembali orang berkerudung itu mendengus dingin, tangan kanannya diayunkan ke depan makajaringan tersebut sudah terpentang lebar-lebar seluas lima kaki lebih.

Melihat keiyadian tersebut Koan Ing jadi amat terperanjat, apalagi melihat jaringan besar yang memencarkan cahaya ke emas-emasan itu sudah mengurung tubuhnya maka dengan cepat dia berkelebat mundur ke arah belakang .

Orang berkerudung itupun dengan cepat meloncat ke depan, jaringan emasnya kembali diayunkan ke atas.

Koan Ing segera merasakan hatinya bergidik, bukan saja jaringan emas itu amat lihay bahkan kecepatan geraknyapun jauh berada diluar dugaannya.

Pedangnya dengan cepat digetarkan ke depan menutul pinggiran jaringan emas itu, dia bermaksud mementangkan jaring itu lalu meloloskan diri dari kurungan.

Dengan dahsyatnya pedang serta jaringan tersebut terbentur satu sama lainnya, mendadak jaringan emas itu bergetar amat keras sedang pedang Kiem-hong-kiam ditangannya kini sudah kena dijirat.

Koan Ing jadi amat terperanjat, dia sama sekali tidak menduga kalau kepandaian silat dari orang itu jauh berada di atas tiga manusia genah empat manusia aneh, maka di tengah suara bentakannya yang amat keras seluruh lweekang yang dimilikinya sudah disalurkan ke dalam tubuh pedang tersebut.

Sinar mata manusia berkerudung itu berkelebat, tangannya digetarkan dengan keras tidak menanti Koan Ing mengerahkan seluruh Iweekangnya dia sudah balas mengerahkan tenaga lwekangnya untuk menggetarkan balik pukulan itu.

Saat ini Koan Ing benar-benar tergetar dengan keras, bilamana kini dia tidak cepat-cepat melepaskan pedangnya paling sedikit tubuhnya akan terpukul luka, tapi bilamana dia terpaksa harus melepaskan pedangnya maka tubuhnya tidak bakal berhasil menghindarkan diri dari tiga terangan musuh.

Belum habis pikirannya berputar untuk mengambil keputusan tahu-tahu tubuhnya sudah kena dilemparkan ke tengah udara oleh manusia berkerudung itu.

Dengan cepat Koan Ing bersalto beberapa kali di tengah udara lalu berputar bagaikan roda kereta.

Belum sempat tubuhnya melayang ke atas permukaan tanah kembali angin pukulan sudah menyerbu datang.

Sebuah jaringan berwarna merah dengan cepatnya sudah menjiret, saat ini Koan Ing sudah merasa bergidik karena tenaga dalamnya sudah buyar sehingga tak ada tenaga sisa lagi untuk menghadapi serangan.

Dengan cepatnyajaringan itu melayang turun ke bawah mengurung tubuhnya, Pada saat yang kritis itulah mendadak dari dalam gua berkumandang keluar suara dengusan dingin, segulung angin serangan yang amat dahsyat menyambar ke depan mengh tubuh lelaki berkerudung yang baru saja melancarkan seranganjaring ke arah Koan Ing.

Mendengar akan suara bentakan tersebut pemuda itu jadi amat girang, dia tahu suara itu pastilah berasal dari Sang Suim si jari sakti.

Entah secara bagaimana Sang Su-impun kena dikurung di dalam gua tersebut, tapi saat ini tak ada waktu baginya untuk berpikir panjang ^ Manusia berkerudung yang kena dibokong secara mendadak dia buru-buru melindungi dirinya dengan begitu serangannya terhadap pemuda itupunjadi kendor.

Mengambil kesempatan ini Koan Ing lalu menggelinding keluar dari kurungan.

Tetapi pada saat yang bersamaan itu pula dari empat penjuru berkelebat datang puluhan buah jaringan merah menggulung ke arahnya.

Hatinyapun semakin bergidik lagi, mendadak.

"Braaak....!"

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya meluncur ke depan menggulung kearab orang-orang itu. Barsamaan waktunya pula terdengar suara teriakan seseorang.

"Engkoh Ing cepat masuk!"

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras, bukankah suara itu berasal dari Sang Siauw-tan?

Kini dia pergi kemana-mana untuk mencari gadis tersebut, tidak disangkanya dia orang sudah berada disitu.

Dengan amat girangnya Koan Ing sagera berkelebat masuk ke dalam gua tersebut.

Begitu tubuh Koan Ing berkelebat masuk ke dalam gua, beberapa orang berkerudung yang ada diluar guapun bersama-samapada menubruk ke depan.

"Braaak....!"

Kembali segulung angin pukulan yang maha dahsyat menggulung ke arah luar membuat pasir serta batu kerikil pada beterbangan keangkasa, suaranya benar-benar amat memekikkan telinga.

Diam-diam Koan Ing merasa amat terperanjat juga melihat kejadian itu, ketika dia menoleh ke belakang tampaklah Sang Su-im Thian Siang Thaysu serta Cha Can Hong bertiga sedang duduk bersila di dalam gua, Thian Liong Thaysu, Hud Ing Thaysu, Suto Beng Cu, Cha Cing Cing, Cha Ing Ing, serta Sang Siauw-tan berdiri di belakang tiga orang itu, sedang dipaling belakang tampaklah sebaris hweesio-hweesio siauw""lim sie, ada yang lagi berbaring ada pula yang sedang terluka tetapi kebanyakan dari mereka sudah pada cedera.

Kepada ketiga orang itu pemuda tersebut, segera menjura.

"Koan Ing menghunjuk hormat buat cianpwee bertiga, terima kasih atas buj pertolongan cianpwee sekalian."

Katanya. Sang Su-im tersenyum.

"Kau tidak usah sungkan-sungkan lagi, jaringan emas dari kaucu lembah Chiet Han Ku itu sunggah amat dahsyat sekali, sekalipun ilmu jari Han Yang Cipun tak bisa mengapa-apakan dirinya, untung sekali kini kau masih bisa loloskan diri dari serangannya."

Terdengar Cha Can Hong yang ada di belakangnya menghela napas panjang, demikian pula dengan Thian Siang Thaysu mereka pada bungkam dalam seribu bahasa.

Dengan hati yang amat girang Sang Siauw-tan segera maju ke depan menyongsong kedatangan pemuda tersebut.

"Engkoh Ing, tidak disangka kaupun ikut datang kemari."

"Aakh.... tadi kau sudah kemana? Aku mencari dirimu kemana2"

Sahut Koan Ing tertawa.

"Lalu dimanakah Cing It suci?"

Tanya gadis itu kembali sambil menarik Koan Ing lebih mendekat lagi. Koan Ing agak ragu-ragu sebentar, akhirnya dia tertawa pahit.

"Dia sangat baik."

Sang Siauw-tan yang melihat paras muka Koan Ing rada berubah hatinya jadi keheranan, terhadap sikap Cing It nikouw yang menaruh perhatian terhadap pemuda tersebut dia sudah tahu tetapi yang membuat dia keheranan adalah kini dirinya ternyata tidak datang kemari bersama-sama dengan Koan Ing.

"Lalu dimanakah dia sekarang?"

Tanyanya lagi, Koan Ing hanya tersenyum, dia bukannya menjawab pertanyaan iiu sebaliknya malah mengganti bahan pembicaraan.

"Sin Hong Sout Nie cianpwee pun ikut datang,"

Katanya Mendengar perkataan itu Cha Can Hong segera dongakkan kepalanya.

"Sin Hong Soat-nie sudah datang?"

Pikirnya.

"Hal ini benar-benar tidak mungkin terjadi."

Sin Hong Soat-nie pernah bersumpah tidak akan terjunkan dirinya kembali ke dalam dunia kangouw bagaimana mungkin dia kini bisa muncul di lembah Chiet Han Ku?

Kiranya bukan Cha Can Hong saja yang merasa keheranan, tapi semua orang yang ada di dalam gua itupun pada merasa keheranan.

"Apakah kau sudah bertemu dengan dirinya?"

Tanya Sang Su-im kemudian.

Dengan perlahan Koan Ing mengangguk.

Thian Sian Thaysu yang mendengar perkataan tersebut semangatnya berkobar kembali, dia orang yang tenaga dalam "Si Bu Sian Thian Cin Khei"nya pada tahuii2 ini sudah berhasil dilatih mencapai puncak kesempurnaan bilamana bisa digabungkan dengan tenaga khi-kang "Sian Bun Kang Khie"

Dari Yuan Si Tootiang serta ilmu "Ciang Mo Kiam Khei"

Dari Sin Hong Soat-nie maka tidak perduli bagaimana lihaynya pihak musuh pasti tidak akan kalah. Kembali terdengar Cha Can Hong menarik napas panjangpanjang, ujarnya.

"Kini kita sudah terkurung di dalam gua ini, mungkin sejak kini tak ada lagi orang yang bisa membantu kita."

"Kau jangan berkata demikian, bukan kah hal itu sama saja dengan mematahkan semangat sendiri!"

Bantah Thian Siang Thaysu sambil mengerutkan alisnya. Cha Can Hong kembali tertawa.

"Mereka pada menghadang di depan gua2, seharusnya Thaysupun sudah tahu kalau di antara kita tak ada seorangpun yang bisa menahan pukulan mereka."

Mendengar perkataan tersebut Thian Siang Thaysu bungkam dalam seribu bahasa, jangan dikata bergebrak seorang lawan seorang, sekalipun untuk lolos dari mulut gua yang sempit itupun belum tentu bisa.

"Tapi apakah kita harus menunggu kematian dengan duduk terpekur...."

Serunya sambil mengerutkan alisnya.

"Coba kalianjangan ribut dulu,"

Sela Sang Su-im sambil tersenyum.

"Malam ini ada kemungkinan anak murid Tianggong-pang berhasil menyerbu masuk lembah Chiet Han Ku ini, waktu itu ada kemungkinan kita masih bisa tertolong,"

"Kucu dari lembah Chiet Han Ku ini, amat tajam dan pandai sekali, mungkin sulit sekali untuk menyerbu ke dalam lembah, apalagi orang-orang dari lembah Chiet Han Ku pada bersembunyi semua, bilamana mereka menyerbu datang dengan kekerasan bukankah akan sia-sia belaka gerakan mereka itu?"

Seru Cha Can Hong sambil geleng2kan kepalanya.

"Kalau begitu orang-orang dari lembah Chiet Han Ku ini sudah mengadakan persiapan,"

Kata Sang Su-im sambil mengerutkan alisnya.

"Yuan Si Tootiang yang pergi mengejar musuhpun tidak muncul2 kembali, apa mungkin dia sengaja menjebak kita untuk memasuki lembah Chiet Han Ku ini?"

Mendengar perkataan tersebut Thian Siang Thaysu segera mendengus dingin.

"Sang pangcu, apakah kau tidak merasa perkataanmu itu sedikit keterlaluan? Dengan sikap serta keluhuran budi Yuan Si Tootiang apakah dia bisa berbuat begitu kejamnya sesuai dengan apa yang dicurigai Sang Pangcu? Hmm mungkin saat ini dia lagi menemui bahaya."

Sinar mata Cha Can Hong berkedip-kedip, tapi dia tetap bungkam dalam seribu bahasa.

"Eeehm.... mungkin juga memang begitu,"

Akhirnya jawab Sang Su-im juga. Air muka Thian Siang Thaysu mendadak berubah anat keren.

"Sang Pangcu,"

Ujarnya lagi.

"Kalau hanya dikarenakan urusan ini saja kau sudah menaruh begitu curiga kepada dirinya, apakah kau tidak takut ditertawakan oleh orang-orang Bu-lim?"

"Hee.... hee.... anak murid perkumpulan Tiang-gong-pang belum pernah melihat dia orang menuruni gunung Bu-tong san, selama di dalam perjalananpun tidak ada yang melihat jejaknya, kemunculan yang secara mendadak ini benar-benar mencurigakan sekali, apalagi begitu dia munculkan diri lantas mengajak kalian masuk ke dalam lembah Chiet Han Ku ini, apakah hal ini tidak semakin mencurigakan? Ditambah lagi menurut pengamatan dari anak buah ku kereta berdarah tersebut sama sekali tidak pernah mendatangi Kun-lun san ini,"

Kata Sang Su-im dingin. Untuk beberapa saat lamanya Thian Siang Thaysu dibuat bungkam, beberapa saat kemudian baru terdengar dia berkata.

"Bilamana sampai setiap gerak-geriknya bisa diketahui oleh Tiang-gong-pang bukankah hal ini sedikit keterlaluan", Dalam hati Cha Can Hong pun merasa amat curiga, Baru saja dia bermaksud berbicara mendadak terdengar suara bentakan berkumandang kembali di tempat luaran, Terburu-buru dia menoleh ke arah luar lalu teriaknya.

"Aakh.... Yuan Si Tootiang sudah datang."

Mendengar perkataan itu Thian Siang Thaysu jadi amat girang, di tengah suara bentakan yang keras sepasang telapaknya dengan sejajar dada melancarkan pukulan dahsyat ke depan.

Bersamaan waktunya pula mendadak teriaknya.

"Tooheng lekas lari masuk!"

Sesosok bayangan manusia dengan cepatnya berkelebat masuk ke dalam gua, Orang itu bukan lain adalah Yuan Si Tootiang.

saat ini wajahnya telah dibasahi oleh keringat tapi paras mukanya masih kelihatan sangat berwibawa.

^Pinto sedang mengejar musuh sehingga meninggalkan kalian disini, maaf...."

Serunya tersenyum, sinar matanyapun menyapu sekejap kesemua orang.

Sang Su-im yang melihat akhirnya Yuan Si Tootiang muncul juga disana hatinya rada menyesal, bagaimanapun dia orang bukanlah seorang manusia berhati sempit, dalam hati dia tahu bilamana Yuan Si Tootiang benar-benar bermaksud memancing mereka datang kemari maka tak mungkin dirinya muncul kembali disana.

Thian Siang Thaysu melirik sekejap ke Sang Su-im lalu ujarnya kepada toosu tersebut.

"Tooheng silahkan duduk."

Yuan Si Tootiang menghembuskan napas panjang lalu duduk di atas tanah.

"Pinto sedang mengejar Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, siapa sangka maksudku gagal, ada kemungkinan dia sudah bersekongkol dengan pihak lembah Chiet Han Ku ini,"

Katanya Mendengar perkataan itu Sang Su-im jadi sadar kembali, hal ini memang mungkin sekali Si Budak Berdarah setelah memperoleh kereta berdarah tersebut tentu kini sudah bersekongkol dengan pihak lembab Chiet Han Ku, dan untuk melindungi kereta tersebut sudah tentu mereka mengadakan perlawanan.

Saat ini semangat Thian Siang Thaysu sudah berkobar kembali, kepada Yuan Si Too tiang tanyanya.

"Too-heng apakah kau mempunyai siasat yang lebih baik untuk memecahkan pertahanan musuh?"

Yuan Si Tootiang termenung sebentar, lalu kepada Sang Su-im katanya.

"Senjata yang digunakan Kucu dari lembah Chiet Han Ku ini adalah sebuah jaring besar, senjata apapun tidak bakal bisa mengapa-apakan dirinya, untuk menghadapi dirinya terpaksa kita harus mengandalkan ilmu dari Han Yang Ci dari Sang pang cu, karena cuma terhadap ilmu itu saja dia menaruh rasa jeri."

Sang Su-im mendengar Yuan Si Tootiang memuji ilmu jari Han Yang Cinya dalam hati meraba amat girang, pikirnya.

"Toosu ini tidak malu disebut sebagai pemimpin dari tiga manusia genah, ternyata dia memang memiliki ketajaman mata yang luar biasa."

Terpaksa dia lalu tersenyum, ujarnya merendah.

"Jaring yang digunakan Kucu dari lembah Chiet Han Ku serta keenam orang lainnya ada lima kaki panjangnya, walaupun ilmu jari Han Yang Ci bisa menakuti mereka tetapi belum tentu mempunyai kegunaan yang besar!"

Yuan Si Tootiang mengangguk, lama sekali dia berdiam diri tidak berbicara.

Sebaliknya Koan Ing yang melihat Yuan Si Tootiang walaupun sudah kembali tapi hatinya masih menaruh curiga, bagaimana mungkin Sak Huan bisa mengetahui urusan dari si manusia tunggal dari Bulim, Jien Wong?

Dan bagaimana mungkin dia begitu tega meninggalkan Sak Huan seorang diri disana padahal di tempat itu tak ada urusan Yuan Si Tootiang termenung berpikir keras kemudian menghela napas panjang dengan perlahan.

"Mari kita berpikir kembali, asalkan sudah mendapatkan cara untuk memecahkan seranganjaring mereka, urusanurusan lain tentu menjadi beres pula."

Mendengar perkataan itu Koan lag segera merasa hatinya rada bergerak.

Diapun mulai memikirkan seluruh kepandaian silat yang diajarkan Jien Wong kepadanya Setelah berpikir sebentar dia dongakkan kepalanya, tapi pada saat itulah hatinya tergetar amat keras karena dari sepasang mata Yuan Si Tootiang secara samar-samar diliputi oleh nafsu membunuh.

"Duajam lagi hari sudah mulai menggelap, kalian pikirlah lebih teliti lagi,"

Ujar Yuan Si Tootiang sambil menundukkan kepalanya.

Dengan perlahan Sang Su-im tertawa, pikirnya bilamana anak murid Tiang-gong-pang sudah pada datang maka dia sudah tentu bisa menerjang keluar, kecuali bila pihak lembah Chiet Han Ku mempunyai kekuatan yang sebesar kekuatan perkumpulan Tiang-gong-pang sehingga mungkin bisa menahan serangan total dari anak buahnya, Dari luar gua kembali terdengar suara bentakan yang amat keras menggetarkan seluruh angkasa, Muka Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tong-pay segera berubah hebat, Sang Su-impun dengan terkejut menoleh ke arah luar gua.

Aaah Ciu Tong...."

Terdengar Cha Can Hong berseru kaget.

Bersamaan dengan suara teriakannya itu dia melancarkan delapan pukulan dahsyat ke depan, dimana pukulan tersebut berkelebat segera membawa suara desiran yang amat tajam, inilah keistimewaan dari ilmu pukulan "Kiem Sah Ciang"

Dari aliran gurun pasir, Sang Su-impun bersamaan waktunya menyentilkan lima buah seranganjarinya ke depan.

Sebaliknya Yuan Si Tootiang serta Thian Siang Thaysu masing-masing melancarkan empat kali pukulan.

Empat orang jagoan berkepandaian tinggi bersama-sama melancarkan pukulan ke depan, seketika itu juga membuat hawa sesak memenuhi angkasa disertai suara ledakan yang maha dahsyat.

Sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat masuk ke dalam gua tersebut.

Tampaklah Ciu Tong dengan tangan kanan mencekal tongkat berwarna hitam serta kepala yang dibalut kain putih sudah muncul dihadapkan para jago.

Walaupun terhadap si iblis dari lautan Timur ini Sang Su-im punya sedikit ganjalan tetapi saat ini semua orang sedang bekerja sama untuk menghadapi serangan pihak musuh apalagi kini Ciu Tong yang sudah pergi suka balik kembali lagi kesana untuk memberi bantuan cepat-cepat dia mengalah kesamping.

"Ciu heng silahkan duduk"

Ujarnya.

"Haaa.... haaa.... Sang Loo-te kau tidak usah sungguh^, aku tidak duduk"

Sahut Ciu Tong sambil tertawa terbahakbahak. Sehabis berkata dia menyapu sekejap ke arah Koan Ing serta Yuan Si Tootiang.

"Oooouw.... ouww.... kiranya Ciangbunjien kita dari Bu Tong-paypun sudah pada berdatangan,"

Sindirnya.

"Hmm.... apa maksud dari perkataan Ciu Tong itu?"

Seru Yuan Si Tootiang.

Perkataan yang diucapkan oleh Ciu Tong terhadap Yuan Si Tootiang bukan saja membuat Tosu tua itu tidak paham tapi juga Koan Ing.

Cha Can Hong....

bahkan setiap orang yang ada di dalam gua itupun pada merasa keheranan.

"Haa.... haa.... tadi aku sudah bertemu dengan Sin Hong Soat-nie bahkan telah ^ bercakap2 dengan dirinya,"

Terdengar Ciu Tong berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak.

"Dia ada dimana?"

Tanya Yuan Si Tootiang sambil mengerutkan alisnya. Ciu Tong tidak langsung menjawab, matanya dengan perlahan menyapu sekejap kesemua orang lalu baru ujarnya.

"Kali ini dia turun dari puncak di samping hendak membereskan urusan yang menyangkut diri muridnya tetapi yang lebih penting adalah karena urusan Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, dia merasa kejadian ini sebenarnya adalah suatu rencana yang amat busuk sekali dari seseorang."

Semua orang yang mendengar perkataan tersebut jadi amat terperanjat sekali. Sebaliknya cuma wajah Yuan Si Tootiang seorang saja yang tidak berubah, dengan perlahan dia bangun berdiri.

"Ciu Toocu sudah mendengar perkataan apa saja?"

Ciu Tong mengerutkan alisnya rapat-rapat, kepada Thian Siang Thaysu tiba-tiba tanyanya.

"Apakah Thaysu merasa Si Budak Berdarah yang membawa lukajatuh ke dalam jurang itu pasti menemui ajalnya?"

Thian Siang Thaysu termenung sebentar.

"Tempo hari sudah tentu kami menganggap bahwa dia pasti sudah mati, kalau tidak bagaimana mungkin kami suka menyudahi urusan tersebut tetapi kini dia hidup kembali seperti juga dengan Jien Wong bukankah dia hidup kembali?"

Sinar mata Ciu Tong kembali berkilat dengan perlahan dia menoleh ke arah tosu Bu-tong-pay itu.

"Tootiang yang baru saja mengejar dirinya apakah merasa kalau dia orang benar adalah Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan?"

Baca Juga: Neraka Hitam Khu Lung

Baca Juga: Pedang Hati Suci 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert