Ceritasilat Novel Online

Kereta Berdarah 5

Eps 5 Kereta Berdarah - Khu Lung

Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung

Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.

Dari tempat jauh segera terdengarlah suara tertawa keras yang amat memekik kau telinga, tampak sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya menubruk datang.

"Hee.... heee.... apakah Thian Siang si hweesio tua itu cuma mengirim kalian berdua saja?"

Taayanya dengan suara yang serak dan mirip gembrengan bobrok itu.

Air muka kedua orang hweesio itu segera berubah sangat hebat, jika didengar dari suaranyajelas orang itu bukan lain adalah Toocu dari pulau Ciat Ie Too di lautan Timur, Ciu Tong adanya Tubuh Ciu Tong dengan amat cepatnya berkelebat mendatang, pada tangan kanannya mencekal sebuah tongkat yang berwarna hitam pekat.

Hanya di dalam sekejap saja tubuhnya sudah berada sangat dekat dengan tempat itu, ketika dilihatnya di dalam kereta berdarah cuma ada Koan Ing seorang diri, dia jadi rada melengak.

"Dimanakah Jien Wong si manusia tung gal dari Bu-lim?"

Tanyanya tak tertahan.

Jien Wong si manusia tunggal dari Bulim tidak ada disini, kereta berdarah ini adalah milikku"jawab Koan Ing tawar, Ciu Tong segera tertawa terbahak-bahak tubuhnya sedikit bergerak tangannya dengan cepat sudah menyambar tali les tersebut, kepada kedua orang hweeiio itu lantai ujarnya "Kalian berdua pulanglah dan beritahu keoada si hweesio gede, katakan saja kereta berdarah ini mulai sekarang sudah menjadi milik aku orang Ciu Tong."

"Ciangbunjien sebentar lagi akan tiba,"

Sahut kedua orang hweesio itu setelah saling bertukar pandangan sejenak. Air muka Ciu Tong segera berubah sangat hebat.

"Kalian berdua apakah benar-benar tidak ingin pergi dengan sendirinya? Kalian minta aku yang paksa kalian pergi?"

Ancamnya.

Kedua orang hweesio itu dengan amat tenangnya berdiri tidak bergerak.

Pada saat itulah kembaii ada dua orang bergerak mendatang dan orang itu bukan lain adalah Ciu Pak serta Bu Sian dua orang Dengan pandangan yang tercengang bercampur kaget mereka berdua memandang sekejap ke arah Koan Ing, agaknya kedua orang itu sama sekali tidak menyangka kalau orang yang berada di atas kereta bukan lain, adalah diri Koan Ing.

Sewaktu melihat kedatangan kedua orang itu Ciu Tong lantas berseru.

"Usir pergi kedua orang hweesio itu!"

Perintahnya. Koan Ing diam-diam mengerutkan alisnya, tangan kanannya dengan cepat digetarkan untuk melemparkan Ciu Tong ke samping.

"Minggir!"

Bentaknya.

"Heee.... he.... Koan Ing, sungguh besar nyalimu!"

Teriak Ciu Tong sambil tersenyum, Diantara teriakannya yang amat keras badannya dengan cepat menubruk ke arah Koan Ing sedang tangan kirinya kembali menyambar ke arah tali les kuda itu.

Tangan kanan Koan Ing kembali digerakkan, dengan menggunakan ujung cambuk kuda itu menghajar pundak Ciu Tong.

Serangannya kali mi disertai dengan tenaga dalam yang amat dahsyat membuat Ciu Tong merasa hatinya berdesir, dengan dahsyat dari tenaga dalam Koan Ing pada saat ini bukankah sudah berhasil mencapai apa yang dimiliki Kong Bun-yu tempo hari?"

Pada permulaan Ciu Tong sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap diri Koan Ing, tidak disangka karena ia berlaku sedikit gegabah hampir-hampir sajajatuh kejurang, dengan cepat kakirya melancarkan tendangan cambuk itu.

"Sungguh dahsyat tenaga dalammu!"

Serunya dengan dingin.

Koan Ing pun tahu kalau serangannya tadi tidak bisa mengapa-apakan diri Ciu Tong, tidak menanti dia orang melancarkan tendangan, tangan kanannya cepat-cepat di tarik ke belakang lalu melemparkan cambuk tersebut ke dalam kereta.

Ciu Tong yang tendangannya kembali mencapai pada sasaran yang kosong hatinya rada sedikit melengak.

Perubahan jurus yang dilakukan oleh Koan Ing ini benarbenar sangat luar biasa sekali membuat dalam hati dia mulai menggerutu.

Tubuhnya yang ada di tengah udara segera berjumpalitan kemudian menubruk ke arah kereta.

Sejak semula Koan Ing sudah mengadakan persiapan, tangan kanannya dengan cepat mencabut keluar pedangnya, diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan pedang Kiemhong-kiam dengan mengubah jadi gerakan setengah busur menghajar tubuh Ciu Tong.

Ciu Tong segera mendengus dingin, walaupun dalam hati dia lagi menggerutu tetapi melihat datangnya serangan yang amat dahsyat dari Koan Ing ini dia tidak berani berlaku gegabah.

Tangan kanannya dengan cepat diulapkan tongkat ditangannya dengan disertai sambaran yang tajam menghajarpergelangan tangan dari sang pemuda.

Saat ini tenaga dalam Koan Ing sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat dan bukanlah seperti tempo hari lagi, pedang panjangnya segera disentil ke depan ujung pedangnya menekan ujung toya dari Ciu Tong guna menahan datangnya serangan tersebut, inilah yang dinamakan jurus "Ban Sin Pek To"

Atau selaksa malaikat menenangkan ombak.

"Hmmmm.... Bangsat cilik ini berani adu kekerasan dengan aku.... kurang ajar Ini hari aku harus menjajal sebetulnya tenaga dalammu ada seberapa tingginya sehingga sikapmu jadi begitu sombong"

Pikir Ciu Tong dalam hati.

Serangan yang sebenarnya bisa dihindar kini sebaliknya malah dihadapi dengan keras lawan keras.

Begitu ujung pedang Koan Ing berhasil menempel ujung toyanya dia terus bersuit nyaring, ujung pedangnya menekan ke bawah sedang tubuhnya melayang keang kasa menginjak toya tersebut pedang kiem-hong-kiam ditangan kanannya dengan menggunakan jurus "Hiat cong Ban Lie"

Atau jejak berdarah selaksa li mendesak Ciu Tong lebih lanjut.

Ciu Tong jadi amat terperanjat, kecepatan merubah jurus dari Koan Ing benara berada diluar dugaannya, dengan di injaknya uyung toya oleh Koan Ing segera membuat keadaannya jadi kepepet.

Terpaksa dia harus menarik kembali toyanya dan meloncat turun, dalam hati Ciu Tong benara merasa terkejut bercampur gusar, dengan kedudukannya sebagai salah satu anggota empat manusia aneh ternyata tidak berhasil merebut kereta berdarah itu, sebaliknya malah dipaksa turun oleh Koan Ing, bukankah hal ini merupakan suatu hal yang amat memalukan sekali?

Dalam hati dia bermaksud untuk sekali lagi meloncat naik ke atas kereta, tetapi pada saat itiYah ujung matanya dapat menangkap berkelebatnya beberapa sosok bayangan yang dengan cepat lari mendekat.

Orang itu bukan lain adalah Thian Siang Thaysu itu ciangbunjien dari Siauw-lim-pay beserta anak muridnya, Thian Siang Thaysu yang melihat kereta berdarah sudah ada dihadapan matanya dengan cepat dia melayang datang, tubuhnya laksana seekor burung bangau dengan cepatnya melayang turun ke tengah kalangan.

Begitu tubuhnya mencapai permukaan tanah sepasang matanya segera bisa menangkap kalau orang yang ada di atas kereta berdarah itu bukan lain adalah Koan Ing adanya, dia jadi melengak.

Dari tempat kejauhan dia bisa melihat Ciu Tong lagi bergebrak dengan seseorang di atas kereta, di dalam anggapannya orang itu pastilah si Jien Wong manusia tunggal dari Bu-lim itu, tidak disangka dugaannya ternyata meleset orang itu adalah Koan Ing adanya.

Tetapi hal ini hampir boleh dikata tidak mungkin biia terjadi, menurut apa yang dia ketahui Koan Ing lagi menderita luka parah, bagaimana hanya di dalam waktu yang amat singkat pemuda itu sudah berhasil memulihkan kembali tenaganya?

Apalagi dia harus bergebrak melawan Ciu Tong, hal ini semakin membuat hatinya kebingungan.

Sinar matanya dengan cepat berkelebat sekejap sewaktu dilihatnya di atas kereta berdarah hanya Koan Ing seorang matanya lalu berkedip memberi tanda.

Ketiga puluh orang jagoan kelas wahid penjaga ruangan Tat Mo Tong dikull Siauw-lim-si dengan cepatnya menyebarkan diri dan mengurung diri Koan Ing.

"Hey hweesio gede, sungguh seru permainanmu ini,"

Ejek Ciu Tong dari samping sambil tersenyum Thian Siang Thaysu melirik sekejap ke arah Ciu Tong lalu mendengus dengan kasar.

"Koan Ing sudah membinasakan anak muridku, urusan ini sudah pasti haruslah aku yang mengambil keputusan. Ciu sicu harap jangan ikut campur."

Sinar mata Ciu Tong berkelebat, dengan perkataan dari Thian Siang Thaysu inijelas dia tidak pandang sebelah mata pun kepada dirinya, di dalam anggapan Thian Siang Thaysu terlalu sombong membuat hatinya jadijengkel.

"Heey hweesio gede!"

Serunya sambil tertawa seram.

"Urusanmu dengan diri Koan Ing aku Ciu Tong tidak akan ikut campur, tetapi yang aku maui adalah Kereta berdarah ini. Bagaimana kalau kau si hweesio gede berikan saja kereta berdarah ini untuk aku bawa pergi?"

Mendengar perkataan tersebut Thian Siang Thaysu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, saat ini kereta berdarah tidak berpemilik, bahkan siapapun boleh mendapatkannya. Dia lantas tertawa tawar.

"Ciu sicu Tahukah kau orang kalau kereta berdarah ini kini sudah terjatuh ke tangan kami pihak Siauw-lim-pay?"

Mendengar omongan itu Ciu Tong jadi gusar, dia segera menganggap Thian Siang Thayiu dengan mengandalkan jago-jago penjaga ruangan Tat Mo Tongnya untuk merebut kereta berdarah itu dengan paksa hal ini membuat dia saking gusarnya lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haa,.... haa perkataan dari kau si hwesio gede sungguh menggelikan sekali, seharusnya akulah yang mengatakan kalau kereta berdarah ini adalah milikku."

Dengan perlahan Thian Siang Thaysu menarik napas panjang-panjang lalu merangkap tangannya di depan dada dan tidak bergerak lagi.

Ciu Tong yang melihat sikapnya itu segera mengetahui kalau dia orang hendak menggunakan ilmu khie-kang "Sian Bu Sian Thian Ceng Khio"

Untuk melancarkan serangannya, dia tertawa dingin toya ditangan kanannya dengan cepat diayunkan ke depan siap-siap menghadapi sesuatu.

-"lni hari aku orang ingia menjajal kepandaian Sian Thian Ceng Khie dari kau si hweesio gede!"

Serunya dengan dingin.

Dengaa pandangan tajam Thian Siang Thaysu memperhatikan diri Ciu Tong, mendadak hatinya merasa rada tidak aman sinar matanya kembali menyapu sekejap ke arah Koan Ing.

Saat itulah dia dapat melihat sang pemuda dengan tangan kiri mencekal tali les kuda dan tangan kanan mencekal pedang sedang memandang ke arah mereka berdua deaganpaadangan yang sangat dingin.

Hatinya rada bergidik, pikirnya.

"Bilamana aku serta Ciu Tong sama-sama terluka parah, apakah para jago penjaga ruangan Tat Mo Tong bisa menahan serangan dari sipemuda aneh itu?"

Thian Liong Thaysu serta Hud Ing Thaysu adalah jago kelas satu pula tetapi beberapa Ikali mereka tidak berhasil menawan diri Koan Ing, dia tidak berani terlalu mengandalkan mereka lagi apalagi di ujung pedang pemuda itupun sudah berlumuran darah seorang hweesio dari Siauw-lim-pay.

Dia diharuskan menghadapi Ciu Tong pada saat ini atau nanti adalah sama saja tetapi terhadap Koan Ing adalah sangat berlainan.

Setelah pikirannya berputar keras, dengan perlahan Thian Siang Thaysu melirik sekejap ke arah diri Ciu Tong, pikirnya kembali.

"Ciu Tong manusia inipun tidak terlalu lihay, dengan Thian Liong, Hud Ing di tambah ketiga puluh tiga orang anak murid penjaga Tat Mo Tong agaknya masih bisa kuasai dirinya."

Tangan kanannya dengan perlahan diturunkan kembali, sedang telapak kirinya di silangkan di depan dada, ujarnya kepada diri Ciu Tong.

"Bilamana Ciu sicu tidak suka mundur akupun tidak akan memaksa tetapi aku akan peringatkan dirimu terlebih dahulu, Ciu sicu bilamana kau suka mengundurkan diri pada saat ini keadaan masih mengijinkan bahkan tidak akan mengganggu persahabatan kita, tetapi bilamana tidak...."

Ciu Tong tahu apa maksud dari perkataan Thian Siang Thaysu ini, sinar matanya berkedip-kedip lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... bagaimana kalau kita tentukan saja siapa menang siapa kalah dengan melibat siapa orang yang lebih cepat mengalahkan diri Koan Ing?"

Katanya.

Dia sendiripun tahu bagaimana dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki pihak Siauw-lim-pay, bilamana mengharuskan dia seorang untuk menghadapi orang-itu dengan keras lawan keras maka hal ini tidaklah terlalu menguntungkan dirinya sendiri.

Thian Siang Thaysu sendiri juga bukanlah seorang bocah cilik, sudah tentu terhadap apa yang dimaksud Ciu Tong ini diapun tahu, bilamana pihak lawan berani kenapa dirinya tidak berani?

Tetapi bilamana harus bertanding satu lawan satu dia percaya walaupun tidak sampai dikalahkan tetapi bakal menemui kerugian.

Setelah berpikir sejenak akhirnya dia tertawa tawar.

"Demikianpun juga boleh,"

Sahutnya kemudian.

Sehabis berkata dia menyapu sekejap ke arah Thian Liong serta Hud Ing berdua.

Ciu Tong tertawa terbahak-, tubuhnya dengan cepat begerak menubruk ke arah diri Koan Ing sedang Thian Liong serta Hud Ing pun bersama-bergerak dari kiri dan kanan menghajar ke arah diri Ciu Tong.

Thian Siang Thaysu tertawa tawar, dengan menggunakan saat itulah dia mengancam diri Koan Ing, Ciu Tong yang melihat Hud Ing serta Thian Liong Thaysu menubruk ke arahnya dalam hati merasa rada bergidik, matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah samping.

Waktu itulah dia dapat menemukan kalau Boe Siao serta Ciu Pak pun pada saat ini sudah terkurung rapat-rapat di dalam kerubutan para hweesio Siauw-lim-pay, Dalam hati dia benar-benar merasa amat gusar, di tengah suara aumannya yang amat keras, toya ditangan kanannya menyapu ke arah kedua orang itu sedang tubuhnya melanjutkan tubrukannya ke arah kereta berdarah.

Thian Liong Thaysu serta Hud Ing thay su yang merupakan jago-jago berkepandaian tinggi satu tingkat di bawah Thian Siang Thaysu apalagi kini bekerja sama-sama bisa dihindari dengan begitu mudah?

Melihat Ciu Tong berusaha untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut, mereka berdua lantas mengubah jurus serangannya, Thian Liong Thaysu meloncat ke tengah udara dan melancarkan babatan menghajar ke arah pundak Ciu Tong sedangkan Hud Ing Thaysu dengan mengerahkan ilmu telapak Thay So Ingnya menghajar pundak kanan dari Ciu Tong.

Ciu Tong si iblis tua bukanlah manusia sembarangan, sewaktu dilihatnya kedua orang itu sudah berubah jurus serangannya, dia lantas tahu kalau keadaan tidak menguntungkan, bila dia tidak cepat-cepat memutar badannya, ada kemungkinan dirinya bisa dipaksa berada di bawah angin oleh serangan kedua orang itu Tubuh Thian Siang Thaysu laksana seekor burung bangau dengan cepatnya menerjang ke depan diri Koan Ing Sedangkan Koan Ing dengan amat ringannya sedang memperhatikan keadaan situasi di sekeliling kalangan.

Thian Siang Thaysu mendesak semakin mendekat melihat hal ini segera Koan Ing bergerak, tangan kiri yang mencekal cambuk dengan cepat digetarkan ke depan sedang pedang ditangan kanannya bergetar ke samping dan membentuk gerakan setengah lingkaran menyambut datangnya diri Thian Siang Thaysu.

Thian Siang Thaysu segera mengerutkan alisnya, dia sama sekali tidak menduga pemuda ini berani menyambut kedatangannya dengan keras melawan keras.

Telapak tangannya segera membentuk satu lingkaran dan menghajar ke atas pedang yang ada ditangan Koan Ing tersebut.

Demikianlah hanya di dalam sekejap saja mereka berdua sudah saling serang menyerang sebanyak beberapa jurus ditambah lagi goncangan yang ditimbulkan dari kereta berdarah itu....

"Brak...."

Pedang Kiem-hong-kiam ditangannya dengan cepat berubah jadi gulungan sinar keemas-emasan yang amat menyilaukan mata.

Koan Ing mundur satu langkah ke belakang tetapi si hweesio dari Siauw-lim-pay itu telah tergetar mundur.

Thian Siang Thaysu merasa gusar bercampur terkejut, tenaga pukulannya tadi, dia orang sudah menggunakan delapan bagian tetapi kena digetar mundurjuga oleh tusukan pedang Koan Ing jelas tenaga dalam pemuda itu sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Bahkan diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan dari tubuh pedangnya secara samar-samar membawa hawa pedang yang amat tajam.

Dia tidak dapat percaya, perpisahan hanya di dalam tempo tiga hari Koan Ing sudah memperoleh penemuan aneh lagi, bagaimana kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing diketahui amat jelas.

Dia tahu walaupun kepandaiannya amat menonjol di dalam angkatan muda tetapi bilamana menghadapi jago-jago kelas satu kepandaian dari pemuda itu sebenarnya masih belum apaanya.

Tetapi tenaga dalam dari Koan Ing sudah memperoleh kemajuan amat pesat sekali, hanya di dalam sekejap saja dia sudah jadi sangat lihay sekali.

Di dalam keadaaa terkejut bercampur gusar, Thian siang Thaysu segera menjejakkan kakinya ke atas permukaan tanah lalu di tengah bentakannya yang amat keras kembali menubruk ke depan.

Di tengah berkelebatnya bayangan itujubahnya yang berwarna keabu-abuan sudah menggelembung kemudian menghajar ke arah badannya.

Melihat gaya dari Thian Siang Thaysu ini Koan Ing merasa hatinya rada bergidik.

IImu Khie-kang "Siau Bu Sian Thian Ceng Khie"

Merupakan tenaga pukulan penghancur gunung, jelas Thian Siang Thaysu ingin membinasakan dirinya di dalam pukuIan ini.

Begitu sepasang telapak tangan dari Thian Siang Thaysu didorong ke depan seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan sambaran angin topan yang memekikkan telinga, diantara mengamuknya salju yang pada beterbangan dengan dahsyatnya menggulung ke arah diri Koan Ing.

Saat ini terpaksa Koan Ing harus menghadapi serangan tersebut dengan seluruh tenaga.

Di tengah suara suitannya yang nyaring badannya melayang ke depan meninggalkan kereta berdarah tersebut, pedang Kiem-hong-kiamnya dengan sejajar dada lantas ditusuk ke arah depan.

Dimana tudingan ujung pedang tersebut, segera terlihatlah segulung sinar keemasan berkelebat ke depan, inilah jurus "Ban Sin Sin Peng To"

Dari ilmu "Thian-yu Jie Cap Su cau"

Yang dicampurkan dengan ilmu pedang "Suo Si yi Cap pwe kiam"

Kehebatannya benar-benar luar biasa sekali. Melihat kejadian tersebut Thian Siang Thaysu segera merasakan hatinya amat terkejut, dengan perlahan dia pejamkan matanya.

"Tenaga pukulan berhawa khie-kangnya yang melanda datang begitu bertemu dengan sinar keemasan yang muncul dari ujung pedang Kiem-hong-kiam ditangan Koan Ing segera menyebar ke kiri dan ke kanan membuat salju di atas permukaan tanah pada beterbangan memenuhi angkasa. Saat ini rubuh mereka berdua masih ada di tengah udara, sepasang telapak tangan Thian Siang Thaysu satu Cun demi satu Cun didorong ke arah depan Sedang sinar keemas-emasan yang di pantul kan keluar dari pedang Kien. Kong Kiam ditangan Koan Ing pun sedikit demi sedikit menyusut ke belakang, dimana sambaran angin berlalu segera menimbulkan desiran tajam yang memekikkan telinga. Orang-yang lagi bertempur di atas permukaan tanahpun saat ini pada dibikin terperanjat oleh kedahsyatan pertempuran ini sehingga tanpa terasa sudah pada berhenti bergebrak. Pertempuran dengan menggunakan hawa khie-kang serta hawa pedang adalah satu cara bertempur yang sangat unik danjarang sekali terjadi, sudah tentu hal ini menarik perhatian semua orang. Ciu Tong sendiri sama sekali tidak percaya kalau tenaga dalam dari Koan Ing bisa memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya, dia tak menyangka kalau dia bisa bertempur melawan Thian Siang Thaysu itu ciangbunjin dari Siauw-lim-pay, hal ini mungkin tidak bisa terjadi., tetapi dia pun mau tak mau harus mempercayainya juga karena bukti ada di depan mata. Kening Koan Ing sudah mulai dibasahi oleh keringat dingin, sinarpedang yang dipancarkan keluar dari ujung pedang kiemhong-kiam pun semakin lama semakin pendek tetapi semakin bercahaya, dia tahu bilamana serangannya ini tak bisa diterima olehnya dengan baik maka sebentar lagi dirinya akan mati ditangan orang itu. Semua orang bisa melihat keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Koan Ing sedang tubuhnya pun mulai bergoyang tiada hentinya. Sebaliknya kepala Thian Siang Thaysu ditundukkan semakin rendah, sepasang telapak tangannya satu demi satu didorong ke arah depan. Pikiran Ciu Tong dengan cepat berputar dia tahu memang kalah sebentar lagi bakal terjadi dan Koan Ing pasti akan menemui ajalnya ditangan Thian Siang Thaysu. Walaupun dia merasa benci terhadap Koan Ing tetapi kematian dari Koan Ing pada saat ini atau sepuluh hari kemudian adalah tidak sama karena bilamana pemuda itu saat ini juga mati maka kereta berdarah tersebut akan terjatuh ke tangan pihak Siauw-lim-pay. Pikiran tersebut dengan amat cepatnya berkelebat di dalam benaknya, tanpa berpikir panjang lagi di tengah suara bentakannya yang amat nyaring tubuhnya menubruk ke arah depan, toya di tangannya dengan melancarkan satu serangan dahsyat menghajar diri Thian Siang Thaysu, Thian Siang Thaysu yang secara tiba-tiba mendapatkan serangan bokongan sepasang matanya segera melotot lebarlebar, tangannya didorong ke depan balas menghajar tubuh Ciu Tong. Koan Ing yang kena terpancing oleh pukulan Thian Siang Thaysu sehingga serangan pedangnya malah sebaliknya menyerang ke arah diri Ciu Tong, hatinya merasa rada berdesir, berturut-turut dia melancarkan tiga serangan sekaligus memunahkan serangan tersebut. Ooo)*(ooO Bab 23 SEWAKTU dia menarik kembali serangannya dengan menggunakan kesempatan itulah tubuhnya meloncat ke atas permukaan tanah lalu lari mengejar ke arah kereta berdarah tersebut. Tubuh Thian Siang Thaysu maupun Ciu Tong begitu mencapai permukaan tanah tanpa memandang sekejappun ke arah pihak lawannya mereka segera pergi mengejar ke arah kereta berdarah tersebut. Tubuh Koan Ing dengan cepatnya berlari ke depan, dengan tangan kanan mencekal cambuk kuda bagaikan kilat cepatnya dia berlari ke arah depan membuntuti kereta berdarah itu, hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menaiki kereta itu kemudian melarikan keretanya semakin cepat lagi. Beberapa puluh kaki di belakangnya tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya mengejar kencang. kemudian dipaling belakang kembali tampak segerombolan manusia. Kereta berdarah dengan cepatnya berlari di atas permukaan salju, Koan Ing yang saling beradu tenaga dengan Thian Siang Thaysu saat ini merasakan dadanya amat mangkel sedang seluruh tubuhnya tak bertenaga. Dia tahu bilamana dirinya tidak cepat-cepat meninggalkan orang-orang itu maka bilamana sampai terkurung kembali dirinya tidak bakal bisa meloloskan diri. Kereta berdarah dengan gerakan yang amat cepat berlari terus ke arah depan, mendadak kuda berwarna merah itu meringkik panjang Koan Ing jadi sangat terperanjat dia tahu tentunya kuda tersebut telah melihat akan sesuatu. Baru saja dia berpikir sampai di situ mendadak terlihatlah dari hadapannya berkelebat mendatang sesosok bayangan manusia. Begitu tubuh orang itu berkelebat datang tangannya dengan cepat menyambar ke atas tali les kuda. Kuda berdarah itu kembali meringkik panjang, orang itu dengan gusarnya lantas mendengus kemudian menahan larinya kereta kuda itu. Sekali lagi Koan Ing merasa sangat terperanjat, tak tersangka olehnya disaat dan tempat seperti ini hari dari hadapannya kembali muncul seorang berkepandaian tinggi, kecuali oranga dari tiga manusia genah empat manusia aneh entah ada siapa lagi yang memiliki kepandaian begitu tingginya? Ketika matanya memandang lebih jelas lagi, dia bisa melihat orang itu bukan lain adalah si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong adanya Pada saat itulah Ciu Tong serta Thian Siang Thaysu pun sudah pada mengejar sampai di tempat tersebut.

"Hee.... hee Cha Loo-te tidak kusangka kaupun bisa tiba di tempat ini!"

Seru Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak.

Begitu Cha Can Hong tiba maka Cing Cing, Ing Ing serta istrinya pun pada tiba di sana.

Dengan tawarnya dia menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu lalu memandang Koan Ing dengan terpesona.

"Siauw-tan sudah jadi pendeta,"

Ujarnya dengan perlahan.

"Apa?"

Teriak Koan Ing tertegun, dadanya seperti digodam dengan martil besar.

"Sang Siauw-tan jadi nikouw?"

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Sang Siauw-tan bisa mengambil tindakan demikian, dia masih mengira nona itu sudah melupakan dirinya, tidak disangka....

Dengan pandangan yang amat dingin Cha Can Hong memperhatikan diri Koan lag, hanya di dalam sekejap ini dia tidak dapat mengerti sebenarnya apa hubungannya antara pemuda ini dengan Sang Siauw-tan?

Agaknya pemuda ini ada rasa cinta kepadanya tetapi seperti juga tak mempunyai perasaan tersebut....

"Dia ada dimana? Aku mau pergi mencarinya!"

Seru Koan Ing termangu-mangu. Cha Can Hong segera tertawa dingin.

"Siauw-tan sudah menaiki puncak Su Lie Hong dan mengangkat Sin-san Soat-nie sebagai gurunya."

Koan Ing kembali melengak, Sin-san Soat-nie yang tinggal di puncak Su Lie Hong adalah salah satu anggota dari tiga manusia genah yang tempo hari terkenal akan kebajikan serta keramah-tamahannya selamanya tak seorangpun yang tahu dari mana berasalnya perguruan orang itu tetapi yang jelas puncak Su Lie Hong melarang setiap orang lelaki untuk memasukinya dan tak ada orang yang berani pergi kesana.

Tetapi....

Sang Siauw-tan sudah menaiki puncak Su Lie Hong.

Bagaimana dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki Sin-san Soat-nie tak seorangpun yang tahu tetapi kebanyakan orang percaya kalau kedahsyatan tenaga dalamnya tidak berada di bawah dua manusia genah serta empat manusia aneh lainnya bahkan jurus serangannya amat dahsyat sekali, Ciu Tong memandang sekejap ke arah Cha Can Hong lalu ujarnya sambil tertawa.

"Cha Lote, perpisahan kita selama sembilan belas tahun ini keadaanmu sungguh sudah berubah, tidak kusangka kalau istrimu kiranya adalah Han Hay Cing Hong atau siburung hong hijau dari Han Hay, Suto Beng Cu adanya, bahkan kedua orang putrimu sudah demikian besarnya. Cha Can Hong tertawa tawar, dia memandang sejenak ke kiri dan ke kanan sedang dalam hati merasa keheranan, bagaimana mungkin kereta berdarah itu bisa jatuh ke tangan Koan Ing? Bahkan memancing datangnya pengejaran dari Ciu Tong serta Thian Siang Thaysu. Sewatu dilihatnya Koan Ing lagi berdiri termangu-mangu seorang diri, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat, dia tahu manusia yang ada di dalam dunia kangouw adalah sangat kejam dan berbahaya sekali, Koan Ing ini sudah berbuat salah terhadap diri Sang Siauw-tan, jelas diapun adalah seorang manusia jahat.... Cha Can Hong termenung berpikir sebentar, akhirnya dengan dinginnya dia berkata.

"Aku sudah menggunakan burung merpati untuk laporkan urusan ini kepada Sang Su-im, sebentar lagi dia bisa tiba disini untuk menyelesaikan urusan ini sendiri dengan dirimu."

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, pikirnya.

"Tidak.... aku harus pergi menemui sekejap Sang Siauw-tan. Tali les kudanya segera digetarkan untuk menekan mundur tenaga tekanan dari Cha Can Hong, setelah itu mengebutkan talinya ke depan. Siapa tahu walaupun dia sudah berusaha keras, kereta itu tak dapat bergerak juga karena sudah kena ditahan olah tenaga sakti dari Cha Can Hong si dewa telapak. Dengan tindakannya ini Cha Can Hong semakin jengkel, di dalam anggapannya Koan Ing hendak melarikan diri.

"Koan Ing, kau hendak pergi dari sini?"

Serunya dingin.

"Cha sicu kenapa tidak sekalian binasakan saja keempat ekor kuda tersebut?"

Sela Thian Siang Thaysu dari samping, Cha Can Hong segera menoleh, terlihatlah olehnya anak murid partai Siauw-lim-pay sudah pada mengurung tempat itu rapat-rapat, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.

"Thaysu, kau ingin berbuat apa?"

Tanyanya dengan suara berat.

"Tahukah Cta Sicu, kalau Koan Ing su dah membinasakan anak murid dari Siauw-lim-pay?"

Seru hweesio itu dingin.

Kembali Cha Can hong melengak di buatnya, sewaktu melihat Koan Ing tidak jadi melarikan kereta kudanya, melainkan duduk termenung, kembali dengan dinginnya dia segera mendengus, pikirnya.

"Hmm.... orang ini adalah keponakan murid dari Kong Bunyu sudah tentu pikirannya amat licik dan sangat berbahaya. Dia termenung berpikir sebentar lalu ujarnya.

"Kalau memangnya demikian aku serahkan dirinya kepada diri Thaysu, tetapi Sang Su-im sebentar lagi bakal datang anak putrinya sudah jadi nikouw, dia pasti akan pergi mencari Koan Ing untuk mencari balas."

Dengan dinginnya Thian Siang Thaysu mendengus sejak semula dia sudah bentrok dengan diri Sang Su-im, bagaimana saat ini dia suka untuk bersama-sama dengan dirinya untuk memberi hukuman kepada diri Koan Ing?

"Lalu Cha sicu hendak berdiri di pihak pinceng sini atau berdiri di pihak Sang Su-im sana?"

Tanyanya kemudian dengan perlahan.

Cha Can Hong jadi melengak, dia masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Thian Siang Thaysu itu.

Pada saat itulah terdengar Ciu Tong yang ada di samping sudah tertawa tergelak.

"Haaa.... haaa.... sejak dahulu mereka berdua sudah tidak akur, apakah Cha Loo-te tidak mengetahui akan urusan ini?"

Mendengar perkataan itu Cha Can Hong jadi paham kembali. Terdengar Ciu Tong sudah melanjutkan kembali katakatanya.

"Kita empat manusia aneh sama-sama mengangkat nama sudah tentu tentang kereta berdarah ini harus diputuskan dari kita empat oranng, sedang mengenai diri Koan Ing mau dihukum mati atau tidak buat aku tidak ada usul apa apa lagi.

"Hmmm...."

Dengus Thian Siang Thaysu dengan bertanya.

"Koan Ing baru saja memperoleh kereta berdarah, apalagi tenaga dalamnya sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan, dia orang tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi, soal ini biarlah dari pihak siauw-lim-pay kami saja yang mengambil keputusan. Sang Su-im tidak usah ikut campur lagi."

Mendengar perkataan ini alis yang dikerutkan Cha Can Hong semakin diperkencang lagi.

"Perkataan dari Thaysu ini apakah tidak terlalu sombong? Kau terlalu tidak pandang sebelah matapun terhadap kami orang-orang dari kalangan Bu-lim"

Serunya.

Sinar mata Thian Siang Thaysu dengan perlahan menyapu sekejap ke arah diri Ciu Tong sekalian, dia tahu Suto Beng Coe istri dari si dewa telapak dari gurun pasir itupun merupakan satu musuh yang amat tangguh, dia merasa dengan kekuatan tenaga dalamnya sendiri tidak mungkin bisa memperoleh hasil, apalagi saat ini masih ada Koan Ing disana.

Sewaktu dia hendak menyingkir ke samping dan dilihatnya Ciu Tong lagi memandang dirinya sambil tertawa dingin, hatinya jadi amat gusar sekali, alisnya dikerutkan rapat-rapat.

"Pinceng pasti akan basmi dirinya."

Katanya dengan gesar.

"Kurang ajar, Thian Siang Thaysu jadi orang sungguh amat sombong, semua adalah orang yang pada angkat nama berbareng, kenapa dia harus berbuat demikian?"

Berpikir akan hal itu dia lantas tertawa tawar.

"Kalau memangnya Thaysu demikian ngotot, aku Cia Can Hong hendak menangkap orang itu."

Thian Siang Thaysu tahu dirinya sudah menggusarkan Cha Cian Hong tetapi dia tidak dapat berbuat apa apa.

"Kalau memangnya Cha sicu hendak berbuat demikian, silahkan turun tangan."

Cha Cian Hong segera tertawa terbahak babak, tubuhnya bergerak maju ke depan menubruk ke arah diri Koan Ing.

"Cha sicu, terimalah seranganku!"

Bentak Thian Siang Thaysu dengan cepat.

Pandangannya terhadap Cha Can Hong masih lumayan juga, karenanya sewaktu hendak turun tangan, dia sudah memberi peringatan dulu.

Cha Can Hong menoleh tidak, pada saat itulah terdengar si burung hong hijau dari daerah Han Hay, Suto Beng Coe sudah membentak keras, sedang tubuhnya berkelebat ke depan, berturut2 melancarkan tiga pukulan dahsyat menghajar diri Thian Siang Thaysu.

Thian Siang Thaysu jadi sangat terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka kalau Suto Beng Coe bisa melancarkan serangan pada saat itu, bahkan keanehan dan kedahsyatan dari angin pukulannya membuat dia orang mau tidak mau terpaksa harus putar badannya menerima datangnya serangan itu.

Bilamana saat ini dia harus putar badan maka Cha Can Hong akan menghajar diri Koan Ing dengan seluruh tenaga, hatinya jadi merasa amat cemas, di tengah suara aumannya yang amat keras tenaga khie-kang Sian Thian Ceng Khienya dengan mengikuti gerakan telapak tersebut balas menghajar diri Suto Beng Cu.

Cha Can Hong yang mendengar datangnya sambaran angin tajam hatinya merasa bergidik, sambil putar badan dia membentak keras, berturut-turut telapak tangannya melancarkan delapan belas buah serangan sekaligus, inilah jurus Hwee Sah Cu Sak atau pasir terbang batu berjalan dari ilmu Thay Mo Ciangnya yang sudah terkenal di seluruh Bu-lim, Cha Can Hong yang melihat Thian Siang Thaysu ternyata sudah menggunakan tenaga khie-kangnya untuk menghantam sang istri, dengan gusarnya dia lantas balikan badannya kirim satu pukulan.

Seketika itu juga seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan angin yang menderu-deru membuat napas terasa menjadi sesak.

Serangan dari Thian Siang Thaysu tadi sebetulnya hanya ingin memancing agar Cha Can Hong suka menoleh.

Kini melihat dia sudah putar badan balas melancarkan serangan dengan cepat telapak tangannya ditarik kembali ke belakang"

Pada saat itulah Hud Ing Thaysu sudah berkelebat ke depan menghalangi din Suto Beng Cu.

Sinar mata Koan Ing dengan cepat berputar, tali les kudanya mendadak disentakkan ke depan sehingga kereta berdarah tersebut dengan cepafaya sudah menerjang ke arah depan.

Dengan gerakan yang amat ganas dari kereta tersebut ternyata tak seorangpun yang berani menghalanginya, Di tengah suara bentakan yang mengandung rasa terkejut Ciu Tong, Cha Can Hong serta Thian Siang Thaysu tiga orang bersama-sama berkelebat ke depan mengejar ke arah kereta berdarah.

Di tengah suara tertawa tergelaknya yang amat keras Ciu Tong dengan menggunakan toyanya yang ada ditangan kanan menghajar Cha Can Hong, tangan kirinya menghantam pula ke arah Thian Siang Thaysu.

Mereka bertiga boleh dikata bersama-sama menginjakkan kakinya ke atas kereta berdarah, tetapi dengan perbuatan dari Ciu Tong yang ada diluar dugaan ini mereka berdua jadi sedikit terhalang sehingga terlambat satu langkah dari diri Ciu Tong.

Begitu mereka berdua terjatuh ke permukaan tanah dengan gusarnya segera melanjutkan kejarannya ke depan.

Sebaliknya Ciu Tong sendiri yang sudah ada di atas kereta berdarah segera tertawa terbahak-bahak, walaupun jarak mereka berdua dengan kereta berdarah cuma beberapa langkah tetapi tidak bisa bakal menyandak.

Sewaktu Ciu Tong lagi tertawa tergelak dengan bangganya itulah Koan Ing yang ada di depan sudah mendengar suaranya itu.

Pemuda itu agak ragu-ragu sebentar, dalam hati dia tahu untuk meloloskan diri dari Ciu Tong bukanlah satu pekerjaan yang gampang sehingga tanpa terasa lagi berpuluh-puluh pikiran kembali berkelebat di dalam benaknya.

Koan Ing dengan tangan kanan mencekal pedang tangan kiri memegang kemudi dia melarikan kereta berdarah tersebut jauh lebih cepatnya menuju ke depan.

Mendadak tubuhnya meloncat ke atas kereta, sedang pedangnya melancarkan tiga serangan sekaligus.

Ciu Tong yang melihat datangnya serangan dari Koan Ing itu tidak jadi gugup dibuatnya, sejak tadi dia sudah menduga akan datangnya serangan tersebut karena itu toya yang ada ditangan kanannya dengan cepat dibabat ke depan menghalangi datangnya serangan tersebut.

Koan Ing tergetar mundur dua langkah ke belakang, dia tahu bilamana serangannya ini mencapai pada sasaran yang kosong maka keadaannya sangat berbahaya sekali.

Ciu Tong segera tertawa terbahak-bahak kepada Koan Ing ujarnya.

"Bilamana kau suka melarikan kuda ini terus, aku masih tak mengapa, kalau tidak.... Hmm kau harus tahu akupun bisa memaksa kau untuk meloncat turun dari kereta ini."

Sinar mata Koan Ing berputar-putar, tubuhnya mendadak meloncat kembali ke depan, sedang Kiem-hong-kiamnya dengan menimbulkan sinar cemerlang menghajar tubuh Ciu Tong.

Ciu Tong si iblis tua dari lautan Timur itu lantas tertawa dingin, dia tidak mengira kalau Koan Ing sambil melarikan kudanya berani melancarkan serangan yang begitu gencar kepadanya, dia yang pernah melihat pertempurannya dengan Thian Siang Thaysu sudah tentu tidak berani memandang terlalu gegabah kepadanya.

Tangan kanannya dengan cepat diayun ke depan, toyanya dengan menimbulkan suara yang menderu-deru menghajar pedang Kiem-hong-kiam dari Koan Ing.

Pemuda itu dengan terburu-buru lantas menarik kembali pedangnya ke belakang, di tengah dengusan yang amat nyaring pedangnya dengan menggunakan jurus "Ci Cie Thian Yang"

Menghantam diri Ciu Tong serangannya ini sudah menggunakan seluruh kemampuannya.

Ciu Tong dengan cepat miringkan toyanya kesamping, agaknya dia sudah menduga kalau Koan Ing bisa menggunakan jurus itu, karenanya sewaktu Koan Ing berganti jurus toyanya sudah diangkat untuk menyambut datangnya serangan itu.

Koan Ing jadi amat terperanjat, dia sama sekali tidak mengetahui kalau tempo dulu Ciu Tong pernah bertempur sengit melawan diri Kong Bun-yu sehingga membuat dia orang agak mengetahui tentang ilmu Thian-yu Kiam Hoat tersebut, pengalamannya ini bilamana dibandingkan dengan Thian Siang Thaysu memang rada berbeda dan dia memang jauh lebih berpengalaman.

Koan Ing yang melihat serangannya berhasil ditahan oleh pihak musuh tangan kanannya dengan cepat dibabat kesamping, pedang Kiem-hong-kiamnya dengan menimbulkan suara yang nyaring lantas balik menusuk ke arah alis dari Ciu Tong.

Sinar mata Ciu Tong dengan cepat berputar, jurus serangan Koan Ing ini ternyata jauh lebih lihay daripada ilmu "Thian-yu Khie Kiam"

Dari Kong Bun-yu tempo hari.

Toya di tangannya dengan cepat membalik, dengan datar menangkis datangnya serangan tersebut.

Saat ini kepandaian siiat dari Koan Ing sudah berhasil dilatihnya hingga mencapai pada taraf yang sempurna, jurus serangannya digunakan belum selesai tangan kanannya sudah menarik ke belakang "He....

hee bocah, kau boleh terhitung sebagai jagoan nomor wahid!"

Seru Ciu Tong tertawa.

Saat ini dia tidak berani pandang rendah diri Koan Ing lagi, tangan kanannya dengan cepat dipentangkan lebar-lebar toyanya bagaikan bayangan iblis dengan cepatnya mengurung seluruh pedang dari Koan Ing membuat gerakannya jadi kurang leluasa.

Koan Ing jadi terperanjat, sebenarnya dia ingin menyerang dan menarik kembali serangannya dengan gerakan cepat, siapa sangka perubahan jurus dari Ciu Tong jauh lebih dahsyat lagi, sehingga sewaktu dia sadar keadaan sudah terlambat.

Dia sadar tenaga dalamnya masih bukan tandingan dari Ciu Tong, bilamana pedangnya sampai kena terhajar toya itu maka pedang tersebut akan terpukul mental ke tengah udara.

Pikirannya dengan cepat berputar, tubuhnya mendadak merendah, pedangnya disentil ke depan menjauhi datangnya serangan dari Ciu Tong itu.

Ciu Tong segera mendengus dingin, toyanya bagaikan ambruknya gunung Thay-san segera menindih dirinya, Ujung pedang dari Koan Ing yang kena tertempel dengan toya pihak lawan tidak mau berdiam sampai disitu saja, tangan kirinya berturut-turut menyentil ke depan, segulung angin serangan dengan menggunakan kesempatan tersebut meluncur ke depan menghajar Iambung dari Ciu Tong.

Sinar mata Ciu Tong yang terhalang oleh putaran toyanya sendiri sama sekali tidak dapat melihat Koan Ing melancarkan sentilanjari, Ketika dia mendengar datangnya angin serangan itu hatinya jadi berdesir tak tersangka olehnya kalau Koan Ing bisa menggunakan "Han Yang Sin Ci"

Dari Sang Su-im. Dalam hati dia merasa kheki bercampur gusar.

"Hmmm Serangan yang bagus!"

Serunya dingin.

Sehabis berkata toyanya dimiringkan ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran lima jari Koan Ing lalu dengan meminjam kesempatan itu membentuk gerakan lingkaran di tengah udara dan menghajar tubuh pemuda tersebut.

Kecepatan gerak dari Ciu Tong ini membuat Koan Ing merasa hatinya rada berdesir, tubuhnya baru saja sedikit bergerak toya dari Ciu Tong telah menyambar datang.

Dengan menggunakan kesempatan itulah kembali Koan Ing melayang ke tengah udara lalu meluncur pergi.

Ciu Tong tertawa dingin, toyanya rada merandek lalu kembali menyapu ke atas, di mana toya tersebut menyernbar datang segera terasalah ada segulung angin menyambar dari tiga jurusan mengancam tubuh Koan Ing.

Melihat hal tersebut pemuda itu jadi kerutkan alisnya rapatrapat, pikirnya.

"Aku tidak boleh menghindar terus seperti begini, kalau begitu terus hal ini bukanlah satu cara yang baik."

Dia lantas bersuit panjang, pedangnya menekan ke bawah menghajar ujung toya tersebut inilah yang dinamakan jurus "Ban Sin Peng To"

Dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam".

Begitu pedang serta toya saling bertemu suara suitan pun lantas berhenti, dengan sekuat tenaga dia menekan toya itu ke bawah.

Ciu Tong sendiripun cepat-cepat pusatkan pikirannya tidak bergerak, toyanya dengan berat menghisap pedang Kiem-hong-kiam dari Koan Ing, dengan perlahan tenaga dalamnya makin diperberat, agaknya dia bermaksud hendak menggetarjatuh dirinya dari atas kereta berdarah tersebut.

Kereta berdarah itu masih lari terus ke depan dengan cepatnya, sedang orang yang ada di atas keretapun berdiri tak bergerak, laksana dua buah patung arca.

Pada waktu itu Thian Siang Thaysu serta Ca Can Hong dua orang sudah berhasil menyandak kereta itu beberapa depa di belakangnya, sewaktu dilihatnya Koan Ing lagi melawan diri Ciu Tong mati2an, dalam hatipun ikut merasa rada tegang, mereka berharap kereta berdarah itu bisa bergerak lebih lambat lagi sehingga ada kesempatan buat mereka untuk meloncat naik ke atas kereta.

Dari wajah Ciu Tong perlahan demi perlahan muncullah suatu senyuman, dia tidak perlu membinasakan diri Koan Ing, asalkan bisa merubuhkan dirinya dari atas kereta berdarah itu maka Thian Siang Thaysu serta Cha Can Hong yang lagi mengejar dari belakang bisa membereskan nyawanya.

Mendadak Ciu Tong membentak keras, tubuhnya merendah sedang toyanya disodok ke depan berusaha mendorong tubuh Koan Ing dari atas kereta tersebut.

Koan Ing yang mendadak merasakan pedangnya menekan pada tempat yang kosong hatinya jadi amat terperanjat, tubuhnya dengan cepat bersalto beberapa kali di tengah udara lalu ujung kakinya menutul pada pinggiran kereta.

Ciu Tong sama sekali tidak mengira kalau Koan Ing tak berhasil dijatuhkan dari atas kereta, tangan kanannya dengan cepat membabat ke arah depan menghajar tubuh Koan Ing.

Koan Ing yang baru saja berhasil mantapkan dirinya mendadak melihat iblis tua itu kembali melancarkan serangan dalam hati jadi merasa terkejut pedang panjangnya digetarkan ke depan sehingga memancarkan sinar keemas-emasan, ujung pedangnya bergetar berkelebat tiada hentinya ke depan, inilah jurus untuk mempertahankan diri "Hay Thian It Sian"

Atau langit dan lautan satu garis. Melihat datangnya serangan bertahan dari sang pemuda, Ciu Tong lantas mendengus dingin, dia tidak menyangka kalau jurus "Hay Thian It Sian"

Yang merupakan jurus rahasia dari Thay Mo Pay dia bisa memahami.

Berturut-turut dia melancarkan tiga serangan sekaligus berusaha untuk mendesak sang pemuda sehinggajatuh dari kereta.

Tetapi tubuh Koan Ing pun seperti di pantek pada pinggiran kereta itu sedikit pun tidak bergeming.

Thian Siang Thaysu serta Cha Can Hong yang melihat kejadian tersebut hatinya merasa berdebar dengan amat kerasnya, mereka tahu bilamana Koan Ing mundur satu langkah ke belakang maka dia segera akan terjatuh dari atas kereta dan bilamana kereta berdarah itu berhasil di kuasai oleh Ciu Tong maka mereka harus membuang banyak tenaga lagi untuk memilikinya.

Tetapi bilamana ditinjau dari keadaannyajelas di dalam waktu yang singkat semata tidak bakal terjatuh dari atas kereta Waktu ini Thian siang Thaysu cuma mengharapkan Koan Ing dapat bertahan sejenak lagi, sedangkan Cha Can Hong yang melihat kekukuhan hati sang pemuda jauh melebihi dirinya dalam hati mulai menaruh rasa kagum terhadap dirinya.

Saat ini pedang serta toya pada melengket jadi satu membuat Koan Ing mau tak mau terpaksa harus mengadu kekerasan.

Sepasang kakinya masih menempel pinggiran kereta dengan payahnya dia saling serang menyerang sebanyak puluhan jurus.

Dalam hati Ciu Tong merasa hatinya amat terkejut bercampur gusar, di dalam keadaan begini bilamana sampai dilihat oleh Thian Siang Thaysu serta Cha Can Hong, apa yang bakal dikatai oleh mereka?

Dirinya tak berhasil pukul rubuh Koan Ing, Dengan gusarnya dia lantas meraung keras, toyanya dengan kecepatan yang luar biasa menerjang ke depan, jurus-jurus serangannyapun semakin ganas lagi, agaknya dia bermaksud hendak menjatuhkan diri Koan Ing jauh lebih cepat lagi.

Melihat serangan yang begitu ganas pemuda itu jadi berdesir, dia tahu datangnya serangan ini amat dahsyat dan tidak mungkin dirinya berhasil bertahan lebih lanjut.

Pada saat itulah kuda berdarah tersebut kembali meringkik panjang, sesosok bayangan hijau dengan kecepatan yang luar biasa sudah berkelebat mendatang.

Begitu tiba di atas kereta orang itu lantas melancarkan seranganjari menghajar punggung diri Ciu Tong.

Ciu Tong jadi amat terkejut, jika didengar dari seranganjarinyajelas orang yang baru datang itu bukan lain adalah Sang Su-im adanya.

Toyanya dengan cepat diputar sedemikian rupa menyapu pergi datangnya angin serangan tersebut.

Tubuh Sang Su-im cepat-cepat bergerak mempertahankan larinya kereta berdarah sehingga rada merandek, dan dengan menggunakan kesempatan itulah tubuh Cha Can Hong bergerak maju ke depan lalu mencekal erat-erat ujung kereta dan menariknya kuat-kuat.

Sang Su-im yang muncul secara tiba-tiba lantas menyapu sekejap ke arah keempat orang itu, tadi dari tempat kejauhan dia bisa melihat pertempuran antara Koan Ing dengan diri Ciu Tong, dia masih menyangka matanya yang kabur, tetapi sekarang dia baru percaya pemuda itu benar-benar adalah Koan Ing.

Ooo)*(ooO Bab 24 DIA sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing, berani bergebrak melawan diri Ciu Tong bahkan berada di atas kereta berdarah pula.

Sang Su-im sama sekali tidak menduga kalau urusan di dalam dunia ini bisa terjadi begitu kebetulan, jika dilihat dari tindakan si Dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong serta Thian Siang Thaysu yang lagi mengejar kereta berdarah, jelas merekapun seperti lagi menghadapi Koan Ing.

Cha Can Hong sendiri merasa rada heran, dia merasa bingung bagaimana mungkin Sang Su-im yang munculkan dirinya lalu menolong diri Koan Ing, kenapa dia tidak menghajar sekalian diri sang pemuda?

Waktu itulah berturut-turut Thian Liong Thaysu, Hud Ing Thaysu, Suto Beng Coo, Ing Ing, Cing Cing serta para hwesio dari Siauw-lim-pay pada berdatangan.

"Sang-heng, apakah kau orang sudah menerima suratku?"

Tanya Cha Can Hong kemudian.

Dengan perlahan Sang Su-im mengangguk, di dalam sekejap itulah pada air mukanya sudah terjadi beberapa kali perubahan yang mengandung rasa yang amat aneh entah dia lagi merasa sedih, murung atau marah.

"Heeei soal ini bukan kesalahan dari Koan Ing, akulah yang seharusnya merasa berdosa,"

Sahutnya dengan perlahan.

Cha Can Hong jadi melengak, bukan kesalahan dari Koan Ing?

Dia tidak paham apa yang diucapkan oleh Sang Su-im itu apa dia orang belum melihat jelas isi suratnya?

hal ini tidak mungkin terjadi!

Dengan perlahan dia menarik napas panjang-panjang, lalu menoleh memandang sekejap ke arah Koan Ing.

Tampaklah waktu itu pemuda tersebut lagi menundukkan kepalanya, sepatah kata pun tidak diucapkan olehnya.

Si dewa telapak dan gurun pasir ini segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tidak mengerti sebetulnya tudah terjadi urusan apa.

Terdengar Sang Su-im dengan perlahan menghela napas panjang, ujarnya kepada Koan Ing.

"Aku tahu paman Cha pasti akan menaruh kesalah pahaman terhadap dirimu maka itu aku mengejar datang kemari agar urusanjadi semakin tidak karuan."

Koan Ing yang melihat Sang Su-im sengaja datang untuk menolong dirinya, di dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali, saat ini dia merasa dirinya dengan Sang Su-im rasanya sudah ada satu ikatan batin, karenanya tak sepatah kata pun di ucapkan kembali.

Dengan perlahan senyuman mulai menghiasi bibirnya.

"Aku sudah memperoleh kereta berdarah ini, mereka datang merebutnya dari tanganku,"

Katanya perlahan. Sinar mata Sang Su-im rada bergerak, dia tersenyum lalu menyapu sekejap ke arah Ciu Tong serta Thian Siang Thaysu kemudian kepada Cha Can Hong ujarnya.

"Cha Hian-te Koan Ing adalah orang dari golonganku, kita harus membantu dia untuk mempertahankan kereta berdarah ini"

Pada mulanya Cha Can Hong memang menaruh rasa kesalah pahaman terhadap sang pemuda bahkan hampir-hampir melukai dirinya, kini melihat dia orang mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan Sang Su-im bahkan merupakan murid dari Kong Boon Yu pula membuat dia lalu tersenyum dan mengangguk.

"Hal ini sudah tentu."

"Hmm tetapi sayang urusan ini bukanlah bisa diputuskan oleh kalian berdua saja,"

Sela Thian Siang Thaysu secara tibatiba sambil mendengus dingin.

"Betul"

Timbrung Ciu Tong pula sambil tertawa.

"Masih ada aku si orang tua juga belum setuju."

Sang Su-im tertawa tawar, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arah kedua orang itu.

"Perduli kalian setuju atau tidak, kali ini tidak ada bagian buat kalian berdua!"

Serunya. Thian Siang Thaysu yang merasa Ciu Tong pun ada dendam dengan diri Sang Su-im sehingga dirinya punya kawan seiring nyalinyapun semakin bertambah besar dia lantas tertawa dingin.

"Hmmm.... jangan omong begitu gampang, pokoknya ini hari Koan Ing tidak bakal bisa kau bawa"

Cha Can Hong segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tahu agaknya ini hari harus terjadi suatu pertempuran yang amat sengit dengan beberapa orang itu, matanya lantai dikerlingkan memberi tanda kepada Suto Beng Cu.

Suto Beng Cu menyahut dengan membawa Cing Cing serta Ing Ing mereka bertiga pada meloncat naik ke atas kereta.

Sang Su-im yang melihat tindakan dari Cha Can Hong ini dia lantas mengetahui kalau dirinya hendak menyerang secara tiba-tiba.

"Tahan!"

Serunya cepat.

Sudah tentu Thian Siang Thaysu pun bisa melihat maksud hati dari Cha Can Hong hendak mengadakan penyerangan secara tiba-tiba itu, dengan terburu-buru diapun lantas memberi perintah kepada anak muridnya.

Tetapi setelah mendengar suara teriakan dari Sang Su-im ini diapun lantas berhenti.

"Heeey Hweesio gede!"

Seru Sang Su-im sambil tertawa dingin.

"Kekuatan dari Siauw-lim-si sungguh tidak jelek."

"Kenapa Sang pangcu tidak suka mencobanya sendiri?"

Balas Thian Siang Thaysu dengan dingin.

Sang Su-im segera angkat kepalanya tertawa terbahakbahak belum habis suara tertawanya bergema diangkasa dari tempat kejauhan tampaklah segerombolan penunggang kuda laksana bertiupnya angin dengan amat cepatnya sudah bergerak datang.

Sekali pandang saja Thian Siang Thaysu dapat melihat kalau setiap penunggang kuda dari kedua belas orang itu pada memakai mantel lebar, mereka bukan lain adalah kedua belas orang pelindung hukum dari perkumpulan Tiang-gong-pang hal ini seketika itu juga membuat hatinya rada berdesir.

Telah lama tersiar berita kalau perkumpulan Tiang-gongpang merupakan satu perkumpulan yang paling besar di daerah Tionggoan tetapi sejak memasuki daerah Tibet belum pernah dia menemui seorang pun, tidak disangka pada saat keadaan seperti ini kedua belas orang pelindung hukum dari perkumpulan tersebut bisa munculkan diri disini.

Air mukanya segera berubah sangat hebat, hanya di dalam sekejap mata kedua belas orang pelinduag hukum itu sudah menerjang masuk dari kepungan para hweesio Siauw-lim-si lalu mengadakan penjagaan di sekeliling kereta berdarah untuk mengawasi gerak-gerik para hweesio.

Koan Ing yang melihat munculnya kedus belas orang pelindung hukum tersebut tidak kuasa lagi sudah berseru.

"Anak buah dari empek Sang baru untuk pertama kali ini aku bisa menemuinya sendiri."

Sang Su-im tersenyum, walaupun dia berkedudukan sebagai seorang pingcu dari suatu perkumpulan besar tetapi sifatnya lebih suka menyendiri dan bebas laksana burung bangau, walau kemanapun dia paling tidak suka membawa pengikut tetapi dikarenakan pada saat ini Thian Siang Thaysu dari Siauw-lim-pay sudah membawa pula hweesiojagoannya untuk memasuki daerah Tibet memaksa dia mau tidak mau harus menggerakkan juga kedua belas orang pelindung hukum perkumpulan Tiang-gong-pang itu.

Dia mengirim satu senyuman kepada Koan Ing lalu menoleh ke arah Ciu Tong serta Thian Siang Thaysu.

"Kalian berdua silahkan untuk turun dari kereta!"

Perintahnya.

Dengan dinginnya Thian Siang Thaysu mendengus, jika ditinjau dan keadaannya pada saat ini kecuali menerjang dengan kekerasan satuanya jalan adalah mengaku kalah dan menarik kembali pasukannya.

Bilamana dia ingin menerjang kekar dengan menggunakan kekerasan dengan kekuatannya pada saat ini kiranya tidak mungkin bisa berhasil, bahkan malah ada kemungkinan besar bisajatuh di bawah angin.

Apalagi saat ini kedua belas orang pelindung hukum dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah munculkan dirinya, bilamana secara gegabah dia menerjang dengan kekerasan bukan saja bakal banyak anak muridnya yang akan terluka bahkan rasa malu itu sukar untuk dipikul.

Tetapi sebaliknya jikalau menyuruh dia mengundurkan diri dengan demikian saja hatinya masih rada tidak rela Sewaktu dia masih ragua itulah Ciu Tong sudah tertawa terbahak-bahak.

"Sang Su-im!"

Teriaknya.

"Kiranya ini hari kau sudah mengalihkan seluruh kekuatan perkumpulan Tiang-gong-pang datang kemari"

"Heee.... heee.... oranga dari pulau Ciat Ih To dari lautan Timurpun bukannya tidak mengirim orang masuk ke daerah Tibet, cuma sayang sebagian besar sudah terhalang"

Seru Sang Su-im balas mengejek.

Ciu Tong jadi melengak, di dalam hati dia merasa sangat menguatirkan kemanakah perginya anak buah dari pulau Ciat Ie To, apalagi diapun tahu bilamana terus menerus berada disini bukanlah satu cara yang baik untuk menghadapi musuhanya.

Dia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haa,.... haa kalau begitu mohon diri lebih dahulu, untuk sementara biarlah kereta berdarah itu terjatuh ke tangan seorang boanpwee di bawah empat manusia aneh, lain kali kita bertemu kembali."

Sehabis beikata toya ditangan kanannya sedikit menutul permukaan tanah tubuhnya laksana seekor burung elang dengan cepatnya melayang ke tengah udara lalu berlalu dari situ bersama-sama Ciu Pak serta Bu Sian, Thian Siang Thaysu yang melihat Ciu Tong berlalu terlebih dulu hatinya jadi berdesir, dengan demikian kekuatan kedua belah pihak jauh tidak seimbang, bilamana dia bermaksud untuk merebut kereta berdarah itu maka hal ini tidak bakal biia terjadi lagi,....

Dalam hati dia menghela napas panjang, pikirnya.

"Heei.... kenapa sampai sekarang Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tong-pay masih belum muncula juga, bilamana saat ini dia bisa datang hal itu sungguh bagus sekali, kereta berdarahpun bisa dihalangi."

Berpikir sampai disitu dia lantas melayang turun dari kereta berdarah dan berlalu menuju ke arah barat.

Para hweesio dari Siauw-lim-si lainnya sewaktu melihat ciangbunjiennya sudah berlalu, sudah tentu merekapun tidak berani mengurung kereta berdarah itu lebih lama lagi, mereka bersamaa pada bubaran dan mengikuti diri Thian Siang Thaysu berlalu dari sana.

Sang Su-im memandang hingga bayangan dari hweesiohweesio Siauw-lim-pay itu lenyap dari pandangan lalu dengan perlahan menoleh ke arah Koan Ing.

Di dalam hati dia merasa rada heran, tak disangka hanya perpisahannya selama beberapa hari ini tenaga dalam dari Koan Ing kembali memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya.

Dia menoleh dan menghela napas panjang.

"Cha Hian-te!"

Serunya kemudian kepada diri si dewa telapak dari gurun pasir.

"Koan Ing sama sekali tidak salah, nyawanya cuma tinggal sepuluhan saja, akulah yang memaksa dia untuk berbuat demikian."

Dalam hati Cha Can Hong merasa hatinya berdesir tetapi tak sepatah katapun diucapkan keluar.

"Apa?"

Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget berkumandang keluar dari sisi tubuhnya.

Ketika menoleh ke samping terlihatlah putrinya yang terkecil Ing Ing lagi berdiri melongo-longo.

Melihat kejadian itu dia jadi melengak, lalu saling tukar pandangan dengan Suto Beng Cu, di dalam hati mereka berdua mulai merasa rada tidak tenang.

Kiranya Cha Ing Ing si dara cilik ini pun secara diam-diam sudah mencintai sang pemuda Sang Su-im serta Koan Ing yang lagi memikirkan keadaan dari Sang Siauw-tan sama sekali tidak pernah berpikir lebih teliti lagi terhadap sikap yang aneh dari Ing Ing ini, air muka mereka amat murung sekali.

Cha Ing Ing yang merasa dirinya sudah terlanjur berteriak dengan cepat tutup mulutnya, tetapi sewaktu dilihatnya orang tuanya lagi memperhatikan dirinya dia lantas tundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Heeei.... kesemuanya adalah kesalahanku!"

Seru Koan Ing tiba-tiba sambil angkat kepalanya.

"Akulah yang sudah mengambil keputusan untuk berbuat begitu."

Selesai berkata dia tundukkan kepalanya kembali dan tambahnya.

"Tetapi aku tidak tahu kalau Siauw-tan bisa pergi menjadi Ni-kouw."

"Lalu kenapa tidak sejak semula kau beritahukan soal itu kepadaku!"

Tegur Cha Can Hong. Koan Ing lantas tertawa.

"Itu adalah soalku, bagaimana mungkin aku boleh ceritakannya kepada orang lain?"

Selesai berkata dia tersenyum kembali.

"Padahal tidak lebih aku bakal kehilangan ilmu silat sedang badan merasa lelah saja."

Tidak usah dipikir panjang lagi, Cha Can Hong pun tahu tentu hal itu disebabkan oleh permainan setan dari Ciu Tong, bilamana benar-benar sampai kehilangan ilmu silat jika ditinjau dari oranga kalangan Bu-lim hal ini jauh lebih tersiksa daripada menemui kematian, dengan perlahan dia lantas menundukkan kepalanya rendaha.

Dia termenung berpikir beberapa saat lamanya, lalu ujarnya.

"Sekarang Siauw-tan belum dicukur gundul, tetapi kalau sudah naik kepuncak Su Li Hong maka berarti pula urusan ini tidak bisa ditarik kembali."

Mendengar perkataan itu Koan Ing semakin merasakan hatinya tergetar amat keras.

"Biarlah sekarang juga aku berangkat menuju kepuncak Su Lie Hong"

Serunya.

"Bagaimana kau boleh pergi?"

Teriak Sang Su-im melengak.

"Sebenarnya aku sudah ambil keputusan untik mencari dirinya, kini Siauw-tan belum dicukur gundul maka aku mau pergi mencari dirinya!"

Sang Su-im, Cha Can Hong serta Suto Beng Cu pada melengak.

Puncak Su Lie Hong selamanya selalu di anggap sebagai tempat yang keramat oleh para jago Bu-lim, apalagi disanalah bertempat tinggal Sin-san Soat-nie membuat setiap orang baik dari kalangan Hek To maupun dari kalangan Pek To pada merasa hormat terhadap tempatnya.

Tidak disangka kini Koan Ing mau menerjang dengan menggunakan kekerasan.

Dengan sedihnya Sang Su-im menghela napas panjang....

"Heei.... bilamana kau sungguh berbuat demikian maka hal ini sama saja dengan pelanggaran satu pantangan yang terbesar di dalam dunia kangouw.... tetapi.... tetapi sesukamulah"

Dia tahu sekalipun masa hidup Koan Ing tidak akan lama lagi, bilamana dia bisa berbuat demikian hal ini lebih bagus lagi, biarlah dengan menggunakan waktu yang singkat ini dia berbuat satu pekerjaan baik, menasehati Sang Siauw-tan agarjangan menjadi nikouw.

Jilid 11 SEHABIS berkata Sang Su-im termenung sebentar lalu sambungnya lagi.

"Aku tahu kau masih ada urusan yang belum diselesaikan. musuh besar pembunuh ayahmu Bun Ting-seng bisa aku usahakan untuk pencariannya menanti setelah kau kembali dari puncak Su Li Hong aku bisa beritahukan kepadamu!"

Dia tahu Koan Ing adalah seorang yang berhati keras, karena itu dia tidak mau bilang hendak mewakili dirinya untuk mencari balas.

"Terima kasih empek Sang!"

Ujar Koan Ing sambil bungkukkan badannya memberi hormat.

Tubuh Cha Can Hong segera berkelebat bersama-sama dengan Sang Su-im meloncat turun dari atas kereta.

Koan Ing lantas berpamitan kepada semua orang lalu ambil sentakkan tali les kudanya dia berlalu dari sana.

Cuaca semakin lama semakin menggelap angin utara berhembus dengan santarnya, bunga salju bertaburan dari tengah udara membuat permukaan tanah menjadi putih.

Tampaklah sebuah kereta berwarna merah darah dengan kecepatan yang luar biasa berlari menuju ke arah sebelah timur.

Puncak Su Li Hong terletak disuatu tempat lima li diluar perbatasan Tibet.

Koan Ing merasakan hatinya amat cemas dia merasa kepingin cepat2 bertemu muka dengan Sang Siauw-tan semakin cepat semakin baik, sekalipun puncak Su Li Hong adalah sarang macan atau gua naga diapun tetap akan menerjang kesana.

Saat ini jaraknya dengan puncak Su Li Hong tinggal seratus li saja, keempat ekor kuda berwarna merah darah itu dengan tiada lelahnya berlari terus ke depan, dalam hati diam-diam pemuda itu berpikir.

"Aku harus melakukan perjalanan siang malam, aku harus cepat2 tiba dipuncak Su Li Hong!"

Dengan cepatnya kuda itu berlari ke depan.

Saat ini cuaca semakin menggelap, kereta berdarah dengan cepatnya menerjang masuk ke dalam sebuah selat yang sempit, angin utara berhembus semakin kencang lagi.

Setelah memasuki selat itu baru saja berjalan sejauh setengah li mendadak sinar matanya menemukan sinar api yang berkedip2 diantara selat tersebut, tak terasa hatinya jadi rada tertegun.

Apa mungkin "Yu Ming Hiat Noe"

Atau Si Budak Berdarah dari kegelapan hendak mencegat dirinya disana?

Koan Ing segera menggigit kencang bibirnya, urusan sekarang sudah menjadi begini dia tidak mungkin lagi untuk membalik.

Apalagi jarak dengan puncak Su Li Hong tinggal seratus li, disanalah Sang Siauw-tan sedang menerima siksaan batin, dia harus cepat2 tiba di tempat itu.

Dari dalam ruangan kereta dia mengambil keluar sebuah cambuk lalu tangan kanannya diajunkan ke depan.

Dengan menimbulkan bunga-bunga cambuk laksana ledakan mercon dengan cepatnya bergema memenuhi angkasa.

Keempat ekor kuda itu meringkik semakin panjang lagi, dengan cepatnya kuda2 itu bergerak ke depan.

Dari dalam selat itu mendadak berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat mengerikan sekali, suara tersebut bergema tiada hentinya dan mendengung2 memantul ke seluruh penjuru.

Koan Ing hanya merasakan segulung hawa dingin yang menusuk tulang menerobos masuk ke dalam punggungnya.

Cambuk panjang berputar dan berkelebat ditengah udara sehingga menimbulkan berpuluh-puluh ledaKan bunga cambuk, keempat ekor kuda itu berlari semakin cepat, Di dalam sekejap seluruh selat sudah dipenuhi dengan sinar api yang berkedip2 menyilaukan mata, diantara sinar kehijauhijauan yang mengerikan keempat ekor kuda yang berwarna merah darah itu segera berubah semakin menyeramkan membuat suasana ojadi amat mengerikan.

"Heee.... heee.... Koan Ing!"

Tiba-tiba terdengar suara leriakan disertai tertawa dingin berkumandang datang.

"Cepat tinggalkan kereta itu dan melarikan diri, kalau tidak jangan salahkan aku akan turun tangan kejam terhadap dirimu."

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tetap melarikan kereta berdarah itu ke depan bahkan terhadap suara ancaman itu sama sekali tak terpikirkan dihatinya.

Hanya di dalam sekejap saja kereta berdarah itu sudah berlari kembali sejauh setengah li, tapi agaknya selat itu amat panjang dan tak ada ujung pangkalnya walaupun sudah berlari amat lama tak keluar juga dari selat tersebut.

Hatinya mulai merasa amat cemas, keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya.

"Koan Ing, cepat tinggalkan kereta itu!"

Kembali suara tersebut bergema datang....

Agaknya suara itu berkumandang keluar dari samping telinganya membuat dia merasakan pendengarannya berdengung.

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, hatinya mulai terasa terbakar.

"Hey budak berdarah dari kegelapan bilamana kau punya nyali cepat unjukkan diri, buat apa berbuat sembunyi2 seperti cucu kura2! apa kau orang tidak takut ditertawakan oleh orang-orang Bu-lim?"

Teriaknya dengan gusar.

Dari tengah selat kembali berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menusuk telinga.

Koan Ing tidak suka banyak bicara lagi dia tidak mau ambil gubris terhadap orang itu, kereta berdarahnya dilarikan semakin cepat lagi.

Di hadapannya kini muncul sebuah tikungan yang tajam, baru saja kereta berdarah itu berbelok mendadak keempat ekor kuda itu meringkik panjang dan pada berdiri.

Koan Ing jadi sangat terperanjat, dengan cepat dia memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Terlihatlah jalan di depannya sudah terputus, sebatang pohon yang amat besar sudah tumbang dan menghalangi perjalanannya.

Dalam hati dia merasa terkejut bercampur gusar, bilamana bukannya keempat ekor kuda itu mundur dengan cepat bakankah keretanya akan menumbuk pohon itu hingga hancur?

Dengan guiarnya dia lantas membentak keras, telapak tangan kanannya dengan disertai tenaga lweekang yang lihay segera melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan.

"Braaak!"

Dengan disertai suara yang nyaring angin pukulan tersebut dengan amat tepatnya menghantam pohon itu sehingga ranting dan pohon pada berguguran.

Serentetan suara yang dingin dan tajam kembali berkumandang datang memenuhi angkasa....

Koan Ing jadi melengak, terlihatlah olehnya di atas sebuah tebing kurang lebih dua puluh kaki dari dirinya berdirilah sebuah bayangan berwarna merah darah.

Walaupun di dalam hati Koan Ing sudah menduga akan munculnya Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, tapi tak urung hatinya merasa tegang juga.

"Koan Ing!!"

Terdengar Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan berteriak sambil bertolak pinggang.

"Aku tidak ada s kit hati dengan dirimu, akupun tidak ingin menyusahkan dirimu, asalkan kau suka melepaskan kereta itu untukku, maka aku akan lepaskan jalan hidup buat dirimu."

Dia berbicara sambil dongakkan kepalanya ke atas karena itu suaranya segera memantul keempat penjuru.

Ooo)*(ooO Bab 25 KOAN ING yang melihat sikap Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sangat jumawa hatinya rada mendongkol, dia tahu kepandaian silatnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari kepandaian silat tiga manusia genah empat manusia aneh tetapi saat ini dia hendak menuju kepuncak Su Li Hong dia harus melakukan perjalanan cepat karena itu kereta berdarah ini tidak mungkin dapat diserahkan kepadanya.

"Kau masih pikirkan apa lagi?"

Terdengar suara dari Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan berkumandang lagi dengan dinginnya.

Sinar mata Koan Ing segera berputar memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, dia mulai memikirkan cara-cara untuk meloloskan diri dari sana.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan segera mendengus dingin.

"Aku akan menghitung sampai tiga, bila mana setelah angka ketiga kau orang tidak juga turun dari kereta itu janganlah salahkan aku akan menghancurkan tubuhmu di tempat itu juga!"

Koan Ing menarik napas panjang-panjang dia mendengar Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sudah mulai menghitung angka pertama, dengan cepat keretanya ditarik untuk mundur beberapa langkah ke belakang.

"Hee.... heee.... kau jangan harap bisa melarikan diri dari sini, dua!"

Seru Si Budak Berdarah itu sambil tertawa dingin, Dengan cepat Koan Ing berkelebat dan melayang turun ke belakang kereta itu.

"Hmm! agaknya kau ingin merasakan kelihayanku!"

Bentak Si Budak Berdarah dengan gusar.

Tidak menanti dia banyak berbicara lagi cambuk ditangan kanan Koan Ing segera ia hajarkan ke atas tubuh keempat ekor kuda berdarah tersebut.

Diantara suara ringkikan panjang keempat ekor kuda segera menerjang ke depan.

ditengah suara bentakan yang keras Koan Ing segera mengangkat kereta itu melewati halangan tersebut setelah itu meloncat kembali ke atas kereta.

"Kau ingin melarikan diri?"

Teriak b dak berdarah dengan keras.

Diantara suara bentakannya yang amat mengerikan tubuhnya meloncat turun dari atas tebing.

Koan Ing yang berhasil mengangkat kereta tersebut melewati pohon menghalang itu keringat sudah mengucur keluar membasahi seluruh keningnya pikirnya dihati.

"Aaaach.... sungguh mujur!"

Tubuhnya dengan cepat melayang ke atas, tali les kudanya disentakan keras2.

untuk kedua kalinya kereta berdarh itu berlari dengan cepatnya menuju ke arah depan.

Ketika menoleh ke belakang Koan Ing segera merasakan hatinya amat terperanjat, kiranya Si Budak Berdarah dari tempat Kegelapan sudah meloncat turun dari atas tebing setinggi dua puluh kaki, sepasang telapak tangannya yang berwarna merah darah sudah dipentangkan siap-siap melancarkan serangan sedang tubuhnya bagaikan seekor burung elang dengan dahsyatnya menerjang ke arahnya.

Cambuk ditangan kanan pemuda itu dengan cepat diajun ke belakang menghajar tubuh musuhnya.

Saat ini tubuh Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sudah melayang turun s tinggi satu kaki, melihat datangnya serangan cambuk dari Koan Ing itu sepasang lengannya sedikit bergetar, tubuhnya melayang lebih ke depan lagi, diantara ajunan tangan kanannya dia telah mencengkeram gagang cambuk itu.

Saat ini Koan Ing cuma menginginkan cepat meloloskan diri dari tempat itu, melihat cambuknya kena dicekal dengan cepat dia lepas tangan, kereta berdarahnya segeia meluncur semakin cepat lagi ke depan.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa melepaskan cambuk tersebut, dia agak melengak tapi sebentar kemudian tubuhnya kembali berkelebat mengejar diri Koan Ing.

Koan Ing untuk kedua kalinya menoleh ke belakang, sewaktu dilihatnya Si Budak Berdarah tetap mengejar terus tiada hentinya bahkan kecepatan larinya semakin cepat hatinya jadi sangat terperanjat.

Diam-diam pikirnya dalam hati.

"Aduuuh.... celaka, celaka! Bilamana sampai kecandak maka aku tidak punya kekuatan lagi untuk meloloskan diri."

Mendadak satu pikiran berkelebat di dalam benaknya, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas sambil mencekal pedang dia berdiri di atas atap kereta.

Sibdak berdarah dari tempat kegelapan yang melihat Koan Ing meloncat ke atas atap kereta dia lantas tertawa dingin, tubuhnya dienjotkan ke atas kemudian melayang ke arah atap kereta tersebut.

Saat itulah Koan Ing baru dapat melihat kalau di atas wajah Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan ini sebenarnya memakai sebuah topeng berwarna merah darah, agaknya dia tidak ingin orang lain melihat wajahnya yang sebenarnya.

Pedang Kiem-hong-kiam ditangan kanannya dengan menggunakan jurus "Kioe Ku Ceng Jiet"

Atau sembilan busur menggetarkan sang surja menyerang ke arah depan.

Diantara berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata pedang Kiem-hong-kiam itu tiada hentinya memperdengarkan suara dengungan yang memekikkan telinga.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan segera tertawa dingin, tangan kanannya dipentangkan mencengkeram tubuh pedang tersebat, inilah yang dinamakan ilmu Ing Jiauw Kang dari aliran Siong Yang Pay yang amat lihay itu.

Melihat akan hal itu Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar ami!

kara?, jurus ini dia pernah melihatnya dari kitab pusaka "Boe Shia Koei Mie"

Pemberian Song Ing. Pedang Kiem-hong-kiam ditangan kanannya dengan cepat digerakan, lalu membabat ke kanan. inilah yang dinamakan jurus "Cing To To Ci"

Atau pulau hijau memupuk kepandaian, Kiranya jurus ilmu silat dari ilmu pedang "Cing Shia Kiam Hoat"

Ini justru merupakan jurus yang khusus digunakan untuk memecahkan ilmu Ing Jiauw Kang dari aliran Siong Hang pay.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan segera tertawa dingin, tangan kanannya menekan kebawah, lima jarinya mencengkeram tubuh pedang Kiem-hong-kiam itu.

gerakan tubuhnya amat cepat membuat Koan Ing susah untuk menghindar.

Koan Ing segera merasakan hatinya rada berdesir, jelas Si Budak Berdarah itu sudah menduga kalau dia bakal melancarkan jurus tersebut....

dia tidak menyangka kalau jurus serangan dari musuhnya ini secara samar-samar mengandung ilmu sah cap lak Jien Na So dari aliran Bu-tongpay.

Dia merasa terperanjat kalau di kolong langit pada saat ini ternyata masih ada orang yang bisa menggunakan ilmu Jien Na So dari aliran Bu-tong-pay sehingga demikian sempurnanya.

kiranya kesempurnaan dan kecepatan geraknya ini jauh melebihi dari Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari partai Bu-tong-pay sendiri.

Pedang Kiem-hong-kiamnya segera menekan kebawah, ujung pedangnya menunjuk kelangit, inilah jurus untuk bertahan yang amat lihay Hay Thian It Sian atau satu garis langit dan lautan.

Baru saja Koan Ing melancarkan serangan itu sampai dttengah jalan mendadak lima jari tangan kanan Si Budak Berdarah menekan kebawah memunahkan separuh bagian kekuatan dari ujuag pedangnya itu.

Dengan perbedaan dua coen inilah maka jurus bertahan Hay Thian It Sian jadi terpecahkan.

Koan Ing benar-benar merasa hatinya sangat terperanjat, agaknya Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan ini sangat memahami ilmu silat aliran Bu-tong-pay, bukankah ilmu khiekang tingkat tinggi dari aliran Bu-tong-pay?

Apa mungkin jurus serangan ini dia belajar dari diri Yuan Si tootiang sewaktu tiga manusia genah mengerubuti dirinya tempo hari?

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan yang melihat jurus serangannya berhasil memecahkan jurus bertahan dari Koan Ing tubuhnya bagaikan seekor ular dengan cepatnya mendesak tubuh Koan Ing lebih hebat, telapak tangannya dengan cepat menghajar dadanya.

Koan Ing benar-benar meresa amat kaget, dia sama sekali tidak menyangka kalau musuhnya bisa menduduki posisi yang membuat dia orang sama sekali tidak jelas, hatinya benarbenar tertegun amat keras bahkan jauh lebih hebat rasanya dibandingkan seWaktu untuk pertama kali dia menghadapi Ciu Tong itu iblis tua dari pulau Ciet Ie To tempo hari.

Koan Ing kembali terdesak mundur dua langkah ke belakang.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan tidak menyia-nyiakan waktu lagi dia lantas meloncat naik ke atas atap kereta berdarah tersebut sedang tangan kanannya dergan cepat menghajar dada Koan Ing Dalam bati Koan Ing merasa amat terkejut, dia membentak keras sedang pedang kiem-hong-kiam ditangan kanannya digetarkan sehingga membentuk satu gerokan busur yang amat besar mengurung tubuh Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan.

Jurus serangan yang baru saja digunakan ini bukan lain adalah d|urus Noe Ci Sin Kiam kaki kanannya bersamaan Waktu maju ke depan merebut posisi kedudukan yang paling menguntungkan bagi Si Budak Berdarah untuk menghindarkan diri.

Jarak antara Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan dengan Koan Ing kini tinggal tiga depa saja, dan justru serangannya ini mengancam titiK kelemahannya, tak kuasa lagi dia kembali terdesak mundur satu langkah ke belakang.

Baru saja dia mundur tubuhnya sudah berada ditepi kereta.

dengan dinginnya dia lantas membentak keras dengan rambut awut2an sepasang telapaknya kembali mendorong sejajar dada.

Segulung hawa pukulan disertai bayangan merah yang menyilaukan mata segera bergulung dan menghajar tubuh Koan Ing.

Koen Ing merasa benar-benar sangat terperanjat.

bukankah serangan ini telah menggunakan ilmu khie-kang aliran jahat Si Hiat Mo Kang yang amat dabsjat itu?

Tempo hari justru dikarenakan Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan mempelajari limu khei-kang aliran jahat ini maka tiga manusia genah baru turun tangan bersama-sama, tidak disangka ini hari dia menggunakan ilmunya itu juga untuk menghadapi dirinya.

Pedasg Kiem-hong-kiamnya digetarkan ke depan, diantara berkelebatnya sinar pedang dia hanya merasakan daya hisap dari sepasang tangan Si Budak Berdarah itu amat dahsyat sehingga menusuk ke dalam tulang sum-sum.

Dia tidak berani bergebrak saling berhadap-hadapan lagi.

berturut-turut tubuhnya mundur dua langkah ke belakang tangan kiri melancarkan lima kali serargan totokan jari.

Limaa gulung angin pukulan dengan dahsyatnya menghajar ke arah sibudakberdarah.

Si Budak Berdarah segera mendengus dingin diantara berkelebatnya hawa khie-kang berwarna merah tawar beberapa gulung serangan jari yang amat dshsjat itu segera terhisap punah tanpa menimbulkan akibat apa pun juga.

Sekali lagi Koan Ing merasa hatinya sangat terperanjat, pedangnya diangkat ke atas diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata hawa pedang memenuhi angkasa.

Hawa hisapan dari Si Hiat Mo Kang itu laksana benda lengkat yang amat kental segera bertaburan dari ujung pedang tersebut, Di dalam sekejap saja seluruh angkasa dipenuhi dengan suara desiran angin tajam yang memekakkan telinga, Koan Ing dapat merasa kalau tenaga lwee-kang yang dimiliki oleh budak berdarah dari kegelapan ini jauh berada di atas kepandaian Thian siang Thaysu, dengan ngotot dan Susah pajajnya dia berusaha untuk menghindarkan diri dari tenaga hisapan hawa khie-kang pihak musuh.

Si Budak Berdarah segera tertawa dingin, rambutnya yang awut-awutan berkibar tiada hentinya ditengah angkasa sinar mata yang amat ganas, kejam dan dingin berkelebat tiada hentinya dari balik topeng berwarna merah darah itu agaknya dia merasa tidak puas bilamana tidak berhasil membinasakan diri Koan Ing di bawah serangan telapak tangannya.

Dengan pandangan terpesona Koan Ing berdiri tegak disana, dia tahu bilamana masing-masing pihak beradu tenaga dalam maka jangan sekali-kali menggunakan kegesitan badan, karena bilamana dia coba menghindar maka pihak lawan segera akan menekan lebih hebat lagi yang ada kemungkinan bisa mengakibatkan kematian buat dirinya sendiri.

Apalagi ilmu iblis Si Hiat Mo Kang ini justru dapat menghancurkannya yang amat dahsyat itu, bilamana dia coba menarik kembali tenaga pukulannya maka tidak tertahan lagi hawa murninya sendiri akan tersedot oleh pihak lawan.

Sinar mata pemuda itu mulai berkedip-kedip, dia sudah mulai merasa tidak tahan lagi tetapi sekarang dirinya harus berangkat kepuncak Su Li Hong, dirinya harus berusaha untuk berusaha sehingga tidak sampai menemui kematian ditangan musuh.

Berbagai pikiran dengan tepatnya berkelebat menemui benaknya, walaupun di dalam benaknya, walaupun di dalam kitab pusaka Boe thia koeimie itu terbuat berbagai ilmu silat dari partai besar yang ada di kolong langit tetapi sama sekali tidak pernah menyinggung soal tenaga khie-kang serta hawa pedang dua hal.

Sambil menggigit kencang bibirnya dia bersuit panjang, tubuhnya mendadak merendah dengan menempuh bahaya.

dia lantas melancarkan tenaga membentot menurut ajaran Butong-pay, pedangnya dicukil ke atas dengan menggunakan gerakan Thian Ie Teh Tong, Si Budak Berdarah dari kegelapan sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa menggunakan ilmu silat dari aliran Bu-tong-pay sepasag telapak tangannya yang didoroog ke depan ada separoh bagian sudah berhasil dihindar oleh Koan Ing.

Sekalipun demikian tidak urung separuh bagian pukulannya lagi berhasil menghajar pundak kirinya.

Koan Ing segera mendengus 'sret', tubuhnya terpukul mental oleh pukulan tersebut, Untuk beberapa saat lamanya Si Budak Berdarah dari kegelapan dibuat termangu-mangu, sebetulnya dia punya maksud untuk membinasakan diri Koan Ing dengan menggunakan tenaga hisapannya, tetapi keadaan tidak mengijinkan terpaksa dia harus turun tangan melancarkan pukulan.

Sebetulnya diapun kepingin menambahi lagi dengan satu pukulan, tetapi karena takut kereta berdarah itu lolos dari tangannya maka tanpa pedulikan diri pemuda itu dia lantas lari mengejar.

Tubuh Koan Ing dengan menimbulkan suara yang amat keras segera terjatuh ke atas tanah, pundak kirinya terasa amat sakit sekali bahkan secara samar-samar terasa ada segulung hawa dingin yang menusuk hingga ketulang sumsumnya.

tak kuasa lagi hatinya bergidik.

Dengan menahan rasa sakit perlahan-lahan dia merangkak bangun, pundak kirinya saat ini sudah hancur dan berpelepotan darah.

Dia menarik napas panjang-panjang, lalu duduk bersila untuk berusaha menggunakan hawa murninya menahan darah yang mengalir semakin deras itu.

Kurang lebih seperminum teh kemudian dia baru bangkit berdiri kembali.

Luka dipundak kirinya semakin lama semakin erat, tetapi dia masih berusaha juga untuk berangkat kepuncak Su Li Hong dia harus bertemu muka dengan Sang Siauw-tan.

Koan Ing angkat kepalanya memandang ke kiri ke kanan.

dia tidak tahu dimanakah dirinya pada saat ini.

tetapi sewaktu bertempur seru melawan Si Budak Berdarah dari kegelapan di atas kereta berdarah tadi dia masih mengingat dirinya menuju ke arah Timur, tidak salah lagi kinipun dia lagi menuju ke sebelah timur, Diam-diam dia menarik hawa murninya panjang-panjang lalu pejamkan matanya rapat-rapat dalam hati dia mulai merasa rada kecewa karena walaupun tenaga dalamnya sendiri semakin hari semakin tinggi tetapi musuh yang ditemuipun semakin lama semakin lihay, Tetapi dia tidak mau berpikir lebih jauh yang penting.

pada saat ini adalah cepat2 menemui Sang Siauw-tan.

Koan Ing dengan cepat kerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari menuju ke sebelah Timur.

Setelah sudah beberapa lamanya tampaklah sang surja sudah mulai munculkan dirinya diufuk sebelah timur.

Hatinya semakin lama semakin cemas larinyapun semakin lama semakin cepat, lewat beberapa saat kemudian cuaca benar-benar sudah terang tanah sedang puncak Su Li Hong pun sudah terbentang dihadapan matanya.

Saat ini kepalanya mulai terasa pening, tetapi dia masih bertahan dia harus cepat2 tiba di atas puncak Su Li hong itu untuk menemui Sang Siauw-tan.

Beberapa saat kemudian tibalah pemuda itu di bawah puncak, terlihatlah di atas sebuah batu cadas yang tingginya ada beberapa kaki terukirlah "Su Li Hong"

Tanpa memandang lebih jauh lagi Koan Ing segera berlari mendaki ke atas puncak tersebut.

Secara samar-samar dari atas puncak bergema datang suara bertalunya genta yang amat nyaring dan memantul keempat penjuru baru saja dia berjalan sejauh setengah li mendadak dari balik pepohonan berkelebatlah keluar dua orang nikouw berbaju putih.

"Sicu, harap berhenti!"

Serunya sambil merangkap tangannya memberi hormat.

"Apakah Sang Siauw-tan ada di atas puncak?"

Tanya Koan Ing sambil menyapu sekejap ke arah kedua orang nikouw itu. Ni-kouw yang ada disebelah kiri memandang sekejap ke arah Koan Ing lalu tegurnya;

"Sicu, tahukah kau tempat ini adalah puncak Su Li Hong? Semua orang lelaki perduli dia tua. muda maupun kecil dilarang naik ke atas puncak, orang perempuan yang naik ke atas puncakpun harus cukur rambut jadi ni-kouw."

"Cayhe sendiri juga tahu akan hal ini sahut Koan Ing sambil tertawa pahit.

"Tetapi aku harus pergi menemui Sang Siauwtan!"

"Kau ingin mencari Siauw-tan sumoay? Seru nikouw itu, dia termenung sebentar lalu ujarnya lagi.

"Saat ini Siauw-tan sumoay sudah bersiap-siap hendak mencukur rambut menerima pantangan, bilamana kau baru melanggar sampai di tempat ini ada kemungkinan masih bisa balik lagi, tetapi bilamana berani naik lagi maka jalan mundur bagimu tidak akan ada lagi."

"Kalau begitu silahkan suci berdua melepaskan aku naik"

Ujar Koan Ing sambil tertawa.

Dengan pandangan terperanjat kedua orang nikouw itu saling berpandangan sekejap, mereka sama sekali tidak menyangka kalau pemuda yang menderita luka parah ini berani menerjang naik ke atas puncak Su Li Hong.

Ni-kouw itu memandang sekejap ke arah diri Koan Ing lalu menundukkan kepalanya.

"Sicu!"

Ujarnya.

"Lautan kesengsaraan tak ada ujung pangkalnya menolehlah disana akan ditemui tepian, kami berdua tidak bisa mengabulkan permintaan sicu, harap sicu jangan terburu nafsu karena hal itu bakal menambahkan rasa menyesal untuk selamanya."

Koan Ing yang mendengar perkataan itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, bakal menyesal untuk selamanya?

Bilamana tidak dapat bertemu muka dengan Sang Siauw-tan itulah baru merasa menyesal unluk selamanya.

Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak dari atas puncak Su Li Hong kembali berkumandang datang suara genta yang berbunyi bertalu2.

Koan Ing yang takut Sang Siauw-tan keburu sudah cukur rambut segera berteriak keras.

"Kalau begitu maaf aku harus menerjang!!"

Baru saja dia selesai berteriak tubuhnya sudah melayang melewati kedua orang ni-kouw tersebut.

Saking cepatnya gerakan itu sampai kedua orang ni-kouw itu tidak punya kekuatan untuk menghalanginya, terpaksa dengan pandangan melongo mereka memandang bayangan punggung dari pemuda itu....

Koan Ing yang berhasil meloloskan diri dari cegatan kedua orang Ni-kouw itu dengan gerakan yang amat cepat segera berlari menuju ke atas puncak.

Beberapa saat kemudian....

mendadak terdengar suara dengusan yang amat dingin bergema datang, seorang ni-kouw berusia pertengahan dengan gerakan yang amat cepat sudah menghalangi perjalanannya.

"Lemparkan pedang menyerah! pinnie ampuni nyawamu."

Serunya dengan dingin. Dengan cepat Koan Ing merandek, tapi sebentar kemudian tubuhnya sudah melanjutkan terjangannya ke atas, tangan kanannya disilangkan di depan, siap-siap menghadapi sesuatu.

"Hmrm! nyalimu sungguh amat besar!"

Bentak nikouw berusia pertengahan itu dengan dingin.

Ditengah suara bentakannya yang amat keras lima jari tangannya segera dipentangkan mencengkeram pundak kiri dari Koan Ing.

Pundak kiri Koan Ing sudah terluka dan titik kelemahan pastilah terletak dibadan sebelah kiri karena itu begitu turun tangan dia lantas menyerang tubuh sebelah kirinya.

Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, saat ini dia harus membereskan musuhnya secepat mungkin.

Tangan kanarnya dengan cepat diangkat tanpa peduli cengkeraman dari nikouw berusia pertengahan itu lagi dia balas mengancam lehernya.

Nikouw berusia pertengahan yang melihat pemuda itu sama sekali tidak mengambil gubris terhadap serangannya benar-benar merasa amat gusar.

"Bangsat! sungguh sombong kau orang!"

Makinya.

Sekalipun begitu dia tidak ingin mengadu jiwa dengan diri Koan Ing.

Dia mendengus dingin, telapak kirinya dibabat menghadang pukulan dari pemuda itu sedang telapak kanannya yang siap hendak mencengkerami pundak kirinya berganti arah menghajar wajahnya.

Koan Ing dengan dingin memandang datangnya serangan tersebut tangan kanannya tetap mengubah jurus.

lima jarinya dipentangkan dengan menggunakan telapak sebagai pengganti pedang dia membabat ke arah tangan kiri Nikouw berusia pertengahan itu.

Bukannya berganti jurus, dia melanjutkan gerakannya hal ini jelas memperlihatkan kalau kepandaian jauh lebih tinggi dari Nikouw itu.

Dalam hati nikouw berusia pertengahan itu merasakan hatinya berdesir, dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian silat dari pemuda ini dahsyat, dia tidak berani berlaku gegabah lagi telapak kanannya dengan cepat ditarik sedang tubuhnya mundur satu langkah ke belakang.

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, lima jari tangan kanannya mendadak disentil ke depan, lima gulung desiran angin serangan yang amat tajam dengan cepat meluncur ke arah nikouw berusia pertengahan itu.

Saking kagetnya air muka nikouw itu segera berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

dia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam dari Koan Ing jauh lebih tinggi dari pada apa yang dipikirkan bahkan saat ini pemuda itu berada di dalam luka berat.

Sambil menjerit kaget tubuhnya dengan cepat menyingkir kesamping.

Dimana angin pukulan jari itu menyambar datang jubah putihnya sudah tertembus lima buah lubang kecil, masih untung Koan Ing tidak bermaksud melukai dirinya.

Walaupun begitu saking kagetnya keringat dingin sudah mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia berdiri termangu-mangu disana beberapa saat lamanya.

Langkah kaki Koan Ing tidak mau berhenti sampai disitu saja, tubuhnya dengan cepat berkelebat menerjang naik ke atas puncak.

Kembali lewat Beberapa saat lamanya, jalanan gunung semakin lama semakin berbahaya.

Sewaktu dia melewati sebuah tikungan tebing tampaklah seorang nikouw muda dengan argkernya sudah menanti kedatangannya ditengah jalanan.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, baru saja dia siap-siap menerjang ke atas mendadak nikouw itu membuka matanya.

"Apakah yang datang adalah Koan Ing Koan Siauw-hiap?"

Tegurnya.

Koan Ing jadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau ada orang yang mengenali dirinya, dia lalu mengangguk dan memperhatikan nikouw itu dengan pandangan tajam.

Nikouw itu memakai jubah warna putih dengan wajah yang cantik hanya saat ini rada kepucat2an.

jika dipandang dari sikap serta wajahnya jauh berbeda dengan kedua orang nikouw yang terdahulu, dia mempunyai satu pengaruh yang memaksa orang untuk menaruh hormat kepadanya.

"Pinnie Ceng It. murid tertua dari Sin-san Soat-nie!"

Ujar Nikouw muda itu dengan perlahan.

Sawaktu Koan Ing mendengar nikoW yang ada di hadapannya saat ini adalah murid tertua dari Sin-san Soat-nie hatinya rada kaget, walaupun saat ini dia bermaksud untuk menerjang naik ke atas puncak, tidak urung sebagai penghormatan terhadap nikouw muda itu dia mengurungkan niatnya juga.

"Ooouw.... kiranya Cing It suci!"

Serunya sambil bungkukkan badan memberi hormat.

"Koan Ing mempunyai satu permintaan yang tidak sesuai harap suci suka mengabulkannya."

Dengan pandangan yang tawar Cing It memandang sekejap ke arah pemuda itu lalu Katanya;

"Setiap orang yang menaiki puncak Su Li Hong rintangan pertama masih boleh berjalan balik, tetapi bilamana telah menerjang masuk rintangan kedua, yang lelaki harus dipapas putus sebuah lengannya sedang yang perempuan harus cukur rambut jadi nikouw. Tetapi bilamana bertemu dengan orang yang memiliki kepandaian silat maka satu2nya keputusan adalah mati!"

"Tetapi aku harus menemui Sang Siauw-tan!"

Seru Koan Ing dengan ngotot. Air muka Cing It masih tetap amat tawar, dia tidak menggubris perkataan dari pemuda itu sebaliknya dengan dingin sambungnya lagi.

"Mengingat kau adalah keponakan murid Kong Boen Yu dan paman gurumu itu mempunyai ikatan persahabatan dengan suhuku tempo hari maka asalkan kau orang melepaskan pedang dan minta maaf, suhuku akan menyudahi urusan ini."

Koan Ing yang mendengar Cing It Nikouw berbicara demikian, dalam hati lantas mengetahui kalau urusan ini tidak bakal bisa diselesakan dengan cara damai, dia tertawa.

"Kalau begitu terpaksa aku harus menerjang dengan menggunakan kekerasan!"

Serunya.

Dari pinggangnya Cing It Nikouw lantas mencabut keluar sebilah pedang panjang siap-siap menghadapi sesuatu.

Koan Ing pun mencabut keluar pedang Kiem-hongkiamnya, dia memandang sekejap ke arah Cing It Nikouw lalu katanya.

"Suci harap kau orang suka turun tangan lebih ringan terhadap diriku"

Dia bungkukkan badannya memberi hormat terlebih dulu kemudian tubuhnya baru berkelebat menerjang ke depan.

Dengan cepat Cing It Nikouw menyingkir ke samping pedang panjang ditangannya dengan cepat membabat ke depan, serentetan sinar kehijau2-an berkelebat ditengah angkasa menabas jalan pergi dari Koan Ing.

Gerakannya amat dahsyat sekali sehingga mengejutkan pemuda itu!

Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, pedang panjangnya digetarkan sehingga mendengung amat keras, dengan menimbulkan gerakan separuh busur dia membabat datangnya serangan pedang dari Cing It ni-kouw itu, inilah yang dinamai jurus "Ci Cie Thian ang."

Cing It nikouw yang untuk pertama kalinya harus bergebrak melawan ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat hatinya merasa rada berdesir juga, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing yang ada di hadapannya pada saat ini walaupun lagi menderita luka parah tetapi tenaga dalamnya masih amat dahsyat sekali!

Diantara berkehbatnya bayangan putih berturut-turut dia melancarkan tiga buah serangan tusukan yang setiap gerakannya membawa hawa pedang yang amat dahsyat....

Dengan kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing pada saat ini ditambah dengan banyaknya pengalaman yang didapatkan sewaktu melawan musuh pada masa yang lalu sudah tentu pemuda ini tidak bakal merasa jeri terhadap ketiga buah serangan tusukan pedang dari Cing It nikouw ini.

Pedarg panjangnya segera disentil ke depan....

"Criiing....!"

Dengan menimbulkan suara yang amat tajam dia menusuk alis muka Cing It nikouw.

Cing It nikouw menarik napas panjang.

tubuhnya mundur ke belakang sedang gerakkan pedangnya dari kedudukan menyerang kini berubah jadi kedudukan bertahan.

berturutturut dia mengubah tiga buah gerakkan pedang untuk menghalangi jurus serangan dari Koan Ing ini.

Ditengah suara sUitan yang panjang tubuh Koan Ing berkelebat ke depan, pedang kiem-hong-kiamnya balas melancarkan serangan ke arah Cing It nikouw dengan menggunakan jurus-jurus "Thian Hong Si Lang"

Atau angin langit meniup ombak! "Hay Ciauw Thian Yang"

Atau pojok laut ujung langit, serta "Noe Ci Sin Kiam"

Atau gemas gusar kebutkan pedang.

Cing It nikouw yang melihat kedahsyatan tenaga dalam Koan Ing walaupun berada dalam keadaan luka berat masih berada jauh diatasnya, dengan cepat pedangnya dikebaskan ke depan, sedang tubuhnya tergetar mundur selangkah demi selangkah ke arah belakang.

Begiiu Koan Ing berhenti bersuit pedangnya sudah berhasil menekan ujung pedang dari Cing It nikouw, inilah jurus serangan "Ban Sin Ping To"

Atau selaksa malaikat menenangkan ombak.

Pedang panjang ditangan kanan Citig It nikouw yang terkena tekanan kini tak dapat maju maupun mundur tetapi air mukanya sama sekali tidak memperlihatkan rasa gugup maupun terkejutnya.

Sebenarnya Koan Ing mempunyai maksud untuk paksa dia untuk melepaskan pedang tetapi sewaktu angkat kepalanya dan memandang sinar matanya yang berkedip2 entah mengapa hatinya merasa berdebar amat keras, dia merasa ada suatu perasaan yang sangat aneh.

Pedangnya segera miring kesamping, dengan meminjam kesempatan tenaga pantulan ke samping itulah Cing It nikouw cepat2 berjumpalitan beberapa kali ditengah udara untuk melenyapkan tenaga tekanan ditubuhnya kemudian melayang turun ke atas tanah.

"Terima kasih atas kemurahan hati suci!"

Ujar Koan Ing kemudian sambil bupgkukkan badannya memberi hormat.

Cing It nikouw sendiripun tahu kalau Koan Ing tidak bermaksud untuk paksa dia melepaskan pedang, melihat pemuda itu menjura kepadanya diapun lantas balas memberi hormat.

"Sute harap suka baik-baik berjaga diri, semoga kau berbasil mencapai keinginanmu", Koan Ing lantas putar tubuh dan berlari menuju ke atas puncak. Dikarenakan adu tenaga dengan Cing It nikouw baru2 ini pemuda tersebut merasakan kepalanya mulai pening. Dia tidak ingin sampai Cing It nikouw melihat keadaannya yang amat mengenaskan itu. setelah berputar satu pojokan gunung dia baru mencekal dinding batu untuk menahan badannya, saat ini keringat dingin mengucur keluar terus dengan amat derasnya, pandangannya jadi gelap hampirhampir tidak kuasa untuk mempertahankan diri. Dia mulai pejamkan matanya untuk beristirahat, setelah itu sambil menggigit kencang bibirnya dia meneruskan perjalanannya naik ke atas puncak, dia takut bilamana sampai sedikit terlambat maka selamanya akan menyesal. Setelah berjalan sampai di atas puncak matanya mulai memandang ke kanan memandang ke kiri memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu. Di atas puncak gunung Su Li Hong berdirilah sebuah kuil yang amat megah, di depan pintu kuil duduklah seorang nikouw berbaju putih dengan amat tenangnya, keadaan di sekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Selangkah demi selangkah Koan Ing maju ke depan, terlihatlah olehnya seluruh tubuh nikouw berbaju putih itu berwarna putih bersih laksana salju dan saat ini sedang memejamkan matanya duduk disana, agaknya dia sama sekali tidak melihat munculnya Koan Ing disana. Tetapi sekali pandang saja Koan Ing sudah tahu kalau orang itu bukan lain adalah Sin Hong Soat-nie. Dengan cepat pemuda itu jatuhkan diri berlutut di hadapannya.

"Boanpwee Koan Ing menghunjuk hormat buat Soat-nie!"

Serunya.

"Ada maksud tujuan apa kau datang kemari?"

Tanya Sin Hong Soat-nie sambil membuka matanya.

Dengan perlahan Koan Ing mendongakkan kepalanya, terlihatlah olehnya sepasang mata nikouw yang berwarna hitam laksana intan permata memancarkan cahaya yang gemerlapan.

Hatinya jadi merasa rada tergetar.

Dia tidak menyangka kalau pada masa yang silam Sin Hong Soat-nie adalah seorang gadis cantik.

Dia tidak berani melihat lagi, cepat2 kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

"Boanpwee datang kemari hendak menemui Sang Siauwtan."

"Kau orang bukannya tidak mengetahui peraturan dari puncak Su Li Hong ini, kenapa nyalimu begitu besar?"

Teriak Sin Hong Soat-nie dengan dingin.

"Aku harus menemui dirinya, tidak perduli bagaimanapun aku harus bertemu muka dengan dirinya!"

Sinar mata Sin Hong Soat-nie dengan perlahan menyapu sekejap ke atas pundaknya lalu ujarnya dengan perlahan.

"Baru2 ini aku mendengar munculnya kembali kereta berdarah di dalam Bu-lim bahkan Si Budak Berdarah dari kegelapan pun sudah munculkan dirinya kembali, pundakmu sudah terluka apakah terluka ditangan Si Budak Berdarah itu?"

Dengan perlahan Koan Ing mengangguk. Dari sepasang mata Sin Hong Soat-nie segera memancar keluar sinar mata yang sangat aneh.

"Kau berani naik ke atas gunung dengan membawa luka, nyalimu sungguh tidak kecil"

Ujarnya dengan perlahan.

"Kau sudah datang kemari maka jangan harap bisa turun gunung dalam keadaan hidup2, kau hendak bunuh diri atau aku yang turun tangan!"

Selamanya Koan Ing tidak pernah.

tunduk kepada otang lain atau minta ampun kepada orang lain mendengar perkataan dari Sin Hong Soat-nie ini hatinya rada tersinggung.

Dengan perlahan dia bangkit berdiri dan mencabut keluar pedang kiem-hong-kiamnya lalu tertawa tawar.

"Walaupun kepandaian silat aku Koan Ing tidak tinggi tetapi aku pun ingin sekali minta berapa jurus petunjuk dari jagoan pandai dari Bu-lim!"

Sin Hong Soat-nie yang melihat Koan Ing berani dia menantang untuk bertempur dengan pandangan tajam segera memperhatikan diri Koan Ing.

Sejak pertemuaannya untuk pertama kali tadi dia sudah merasa kalau pemuda ini bukanlah manusia yang lemah seperti apa yang sedang dipikirkan semula bahkan taruhan nyawa dia hendak menemui Sang Siauw-tan entah dikarenakan soal apa?

Tetapi sikap yang sangat jumawa dari Koan Ing membuat dia merasa sangat tidak puas!

"Selama dua puluh tahun ini cuma kau seorang yang berani berbuat begitu jumawa terhadap diriku bahkan kau berani juga naik kepuncak dalam keadaan luka dalam, bilamana kau bisa menangkan diriku bukan saja dapat bertemu dengan Sang Siauw-tan bahkan puncak Su Li Hong ini pun cuma kau seorang yang boleh pulang pergi!"

Katanya parlahan.

Ooo)*(ooO Bab 26 KOAN ING tidak mengucapkan sepatah katapun, Kiemhong-kiam ditangannya dengan perlahan-lahan diangkat sejajar dengan dada.

Dengan pandangan terpesona Sin Hong Soat-nie memperhatikan diri Koan Ing lalu ujarnya.

"Aku sudah sangat lama tidak bergebrak dengan orang, bilamana kau suka melawan aku dengan menggunakan pedang dan berhasil untuk menerima seranganku sebanyak seratus jurus aku bisa kabulkan permintaanmu untuk bertemu dengan Sang Siauwtan! saat ini dia masih belum cukur rambutnya. Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat dia tidak memikirkan apakah dirinya bisa bertahan terhadap seratus jurus serangan dari Sin Hong Soat-nie. saat ini benaknya lagi dlpenuhi dengan berbagai ilmu silat yang pernah dipelajarinya untuk mencari apakah ada cara untuk mengalahkan Sin Hong Soat-nie.

"Terima kasih suthay."

Sahutnya.

Dari pinggangnya Sin Hong Soat-nie segera mencabut keluar sebilah pedang lalu dengan menggunakan tangan kirinya mengelus-elus.

Koan Ing tetap berdiri tak bergerak di atas tanah, berbagai jurus-jurus ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari kitab pusaka Boe Shia Koei Mie mulai berkelebat memenuhi benaknya, tetapi dia masih belum dapat mendapatkan apakah dengan kekuatan tenaga dalamnya saat ini bisa mengalahkan diri Sin Hong Soat-nie.

Dengan dinginnya Sin Hong Soat-nie membentak keras.

"Awas....!!"

Tubuhnya dengan cepat menubruk ke depan, pedang panjang tangannya dengan kecepatan yang luar biasa bergerak keluar, diantara berkelebatnya sinar keperakperakan.

dia menghajar tubuh Koan Ing.

Pedang kiem-hong-kiam ditangan kanan Koan Ing segera disentilkan ke depan, lalu dengan menggunakan jurus untuk bertahan Hay Thian It Sian yang paling lihay dia mempertahankan diri.

Dengan rasa terperanjat Sin Hong Soat-nie menjerit kaget, tubuhnya segera melayang ketengah udara sedang pedangnya sewaktu berputar dengan cepat menekan pedang kiem-hongkiam ditangan Koan Ing.

Inilah jurus Ban Sin Peng To dari ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat.

Sinar mata Koan Ing dengan cepat berputar, pedang kiemhong-kiamnya dengan menimbulkan suara desingan yang amat keras Segera membentuk satu lingkaran busur inilah jurus Noe Ci Sin Kiam dari ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat.

Sin Hong Soat-nie yang melihat Koan Ing dalam keadaan luka parah masih berani menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras hatinya rada bergidik juga.

Pedangnya dengan cepat berkelebat, ujung pedangnya segera menekan ke atas tubuh pedang yang ada ditangan Koan Ing itu.

Koan Ing bersuit nyaring.

pedang kiem-hong-kiamnya menyentil ke depan, diantara berkelebatnya sinar pedang yang berwarna keemas-emasan dia sUdah menyalurkan hawa khei-kang tingkat tertinggi dari aliran Bu-tong-pay ke dalam jurus pedang tersebut.

Pedang kiem-hong-kiamnya segera menyentil ke depan berturut-turut berkelebat sebanyak tujuh kali mengancam tujuh tempat yang berbeda, inilah gerakan "Ku Koang Chiet Ci" .

Pedang Sin Hong Soat-nie dengan beratnya menekan kebawah.

tetapi hanya di dalam beberapa sentilan saja tenaga tekanannya berhasil dipunahkan semua yang melihat kejadian itu dengan rasa amat terkejut segera pujinya;

"Jurus pedang yang bagus! "

Koan Ing benar-benar terdesak.

terpaksa dia harus mengerahkan jurus baru ciptaannya sendiri untuk melancarkan serangan itu.

Melihat serangannya mencapai pada sasaran, tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan sedang pedang kiem-hongkiamnya berkelebat dan menotok ke depan menusuk alis dari Sin Hong Soat-nie.

Sin Hong Soat-nie dengan cepat melintangkan pedangnya ke depan, serentetan sinar tajam yang menyilaukan mata menghalangi datangnya serangan dari Koan Ing kemudian meneruskan gerakannya menekan dada sang pemuda.

Saat ini pemuda tersebut sudah benar-benar terjerumus ke dalam lamunan, berbagai jurus serangan dari kolong langit tiada hentinya berkelebat di dalam benaknya, dia cuma tahu dirinya harus cepat2 menangkan diri Sin Hong Soat-nie.

Pedang Kiem-hong-kiam ditangannya berturut-turut berganti jurus, dengan meleburkan seluruh kepandaian silat yang ada di dunia ini ke dalam ilmu silat "Thian-yu Si cap pwee cau"

Pedang kiem-hong-kiamnya dengan gerakan menutup, menekan bersama-sama menggencet diri Soat-nie.

Dalam hati Sin Hong Soat-nie merasa sangat terperanjat, mendadak dia mulai merasakan kalau Koan Ing bukanlah seorang musuh yang enteng ilmu pedang dari pemuda itu benar-benar membuat hatinya bergidik....

bahkan selamanya dia belum pernah menemui orang yang memiliki kepandaian silat yang demikian sempurnanya.

Pedangnya dengan cepat berkelebat menutup datangnya serangan dan Koan Ing.

Saat ini Koan Ing benar-benar sudah terjerumus ke dalam alam lamunan, jurus-jurus serangan yang dilancarkan melalui pedangnya dengan tiada hentinya mengalir keluar, agaknya seluruh kepandaian silat yang ada di dalam dunia ini sudah diketahui olehnya.

Pedang Kiem-hong-kiamnya dengan mengikuti gerakan tubuhnya laksana serentetan sinar keemas-emasan segera berkelebat menghajar tubuh Sin Hong Soat-nie, Sin Hong Soat-nie merasakan hatinya rada bergidik, pedang panjangnya dengan cepat berkelebat menghalangi gerakan dari Koan Ing.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam pemuda itu amat lihay bahkan setiap jurus serangan belum habis dilancarkan jurus serangan yang lain sudah menyusul datang.

Demikianlah seluruh angkasa segera dipenuhi dengan bayangan sinar emas serta perak yang saling berkelebat tiada hentinya, Saat ini Koan Ing sudah benar-benar dibuat mabok oleh jurus pedang yang dilancarkan keluar seluruh pengetahuan yang pernah diperolehnya selama ini diperas keluar habishabisan membuat pedang kiem-hong-kiamnya setiap kali berkelebat tentu melancarkan serangan-serangan yang ada diluar dugaan, Sin Hong Soat-nie sendiripun sama sekali tidak menyangka akan kedahsyatan serta kehebatan dari jurus serangan yang dilancarkan oleh sang pemuda.

Hanya di dalam sekejap saja masing-masing pihak sudah saling bergebrak sebanyak lima puluh jurus, Sin Hong Soat-nie mulai mengerutkan alisnya rapat-rapat dia tahu bilamana pertempuran melawan Koan Ing ini dilanjutkan lebih lama maka keadaan akan semakin tidak genah.

Dengan nyaringnya dia membentak keras, tubuhnya meloncat ke atas sedang pedangnya digetarkan mementalkan pedang kiem bong kiam yang mengancam badannya itu tubuhnya dengan cepat berkelebat ke depan sedang pedangnya digetarkan membentuk bintang2 berwarna keperak-perakan menghajar tubuh Koan Ing, Koan Ing cuma merasakan angin pukulan yang amat tajam menusuk badannya dia lantas membentak keras, pedang kiem horg kiamnya ditarik kembali membentuk satu lingkaran mekar memunahkan serangan dari nikouw tersebut.

Dengan dinginnya Sin Hong Soat-nie mendengus.

keanehan dari ilmu pedang Koan Ing ini benar-benar membuat hatinya keheranan.

bilamana dia tidak dapat memegang kesempatan ini maka sebelum seratus jurus ada kemungkinan dia bisa memperoleh kekalahan.

Pedang panjangnya segera disambar ke arah depan dengan menggunakan jurus Cian So Suo Ci yang paling dibanggakan....

Ditengah berkelebatnya sinar keperak-perakan tampaklah pedang kiem-hong-kiam ditangan kanannya tergetar amat keras sehingga menimbulkan suara dengungan yang memekikkan telinga.

Pedang Kiem-hong-kiamnya segera membentuk gerakan busur memecahkan berbagai serangan-serangan gencar lalu menyentuh tusukan pedang dari nikouw tersebut.

Kecepatan perubahan ini dilakukan hanya di dalam sekejap saja membuat Sin Hong Soat-nie jadi kelabakan.

Hanya di dalam sekejap saja kembali puluhan jurus berlalu, Sin Hong Soat-nie mulai merasa hatinya amat terkejut bercampur gusar bilamana di dalam seratus jurus dia tidak berhasil mengalahkan diri Koan Ing maka bagaimaaa malunya dia orang dengan kawan2 Bu-lim lainnya.

Sinar matanya dengan cepat berkelebat, ketika dilihatnya sinar mata Koan Ing amat terperanjat dia tidak tahu Koan Ing lagi memikirkan urusan apa, di dalam anggapan Koan Ing sudah tersesat sehingga memainkan serangan sesat yang membingungkan.

Pelangnya kembali digetarkan ke depan.

serentetan sinar keperak2an yang panjangnya ada setengah depa segera memancar ke depan.

Mendadak Koan Ing jadi sadar kembali dari lamunannya, pedang ditangan kanannya menekan kebawah lalu dengan lurus menusuk ke depan inilah jurus "Hay Thian It Sian".

Diantara berkelebatnya sinar keemasan hawa pedang memenuhi angkasa menggetarkan serangan-serangan tersebut, Sin Hong Soat-nie yang telah melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu h wa pedang yang paling tinggi untuk menyerang musuhnya jelas sudah mempunyai niat untuk mengalahkan Koan Ing di bawah serangan pedangnya, tetapi sama sekali tak terduga olehnya kalau tenaga dalam Koan Ing pun amat dahsyat sekali.

Serangan pedangnya dilancarkan keluar terus menerus, pedangnya laksana serentetan sinar keperak-perakan yang disertai hawa tekanan yang amat hebat menghajar tubuh Koan Ing.

Sebaliknya Koan Ing berada dalam keadaan tenang-tenang saja, air mukanya berubah jadi amat kukuh sedang pedangnya perlahan-lahan digetarkan menuding ketengah angkasa.

Diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata pemuda itu baru merasa kaget kalau kedahsyatan hawa pedang Sin Hong Soat Hie sama sekali berada diluar dugaannya, dia tahu ilmu tenaga dalam yang demikian dahsyatnya tidak dapat diperoleh kemenangan dengan mengandalkan kegesitan serta kebagusan saja.

Harapan untuk menang mulai lenyap dari dasar lubuk hatinya, saat ini dia cuma mengharapknn bisa bertahan sampai seratus jurus lebih.

Sin Hong Soat-nie yang melihat kekukuhan hati Koan Ing dalam hati merasa terperanjat, walaupun dia lahu kalau tenaga lweekang dari pemuda itu jauh lebih lemah dan tenaga lweekangnya sendiri tetapi hati seseorang yang telah bulat tekad untuk mati dan bertempur mati2an akan jauh lebih dahsyat tenaganya.

Pedang ditangannya berturut-turut berkelebat kesana kemari Demikian pedang kiem-hong-kiam itu terpaksa harus mundur ke belakang.

Akhirrja tibalah pada jurus yang terakhir.

dia mendengus dingin pedangnya dengan menimbulkan pelangi perak disentilkan ke depan, inilah jurus yang terlihay dari ilmu pedang "Sin Hong Kiam Hoat"nya jaitu jurus "Sin Sian Hwee Jong"

Atau sumber air muncrat menyebar.

Koan Ing yang melihat kedahsyatan dari tenaga tekanan jurus serangan itu hatinya merasa terperanjat, dia tahu bilamana dia tidak membuang pedang untuk mengaku kalah maka sebentar saja tubuhnya akan menggeletak di atas tanah dengan bermandikan darah segar.

Berpuluh-puluh ingatan dengan cepat berkelebat dalam hatinya, kini adalah jurus keseratus!

Bilamana dia tidak berhasil menerima serangan ini dan menderita kalah maka tak ada kemungkinan lagi baginya untuk menemui diri Sang Siauw-tan, untuk memenuhi harapan tersebut dengan paksakan diri dia harus menerima juga serangan terakhir ini.

Ditengah berputarnya berbagai ingatan Koan Ing bersuit panjang lalu menggerakkan pedang kiem-hong-kiamnya menyambut datangnya serangan dari Sin Hong Soat-nie itu.

Dengan cepatnya sepasang pedang bentrok menjadi satu sehingga menyebabkan beterbangannya bunga-bunga api, diantara mengamuknya hawa pedaag yang amat santar itulah sesosok bayangan manusia terlempar keangkasa sejauh tiga kaki lebih.

Koan Ing masih memegang kencang-kencang pedang kiemhong-kiamnya, dengan perlahan dia bangkit berdiri dan tertawa.

"Suthay, seratus jurus sudah lewat!"

Serunya, Pandangannya mulai menggelap, tetapi dengan mengikuti ingatannya dia mulai putar badan menghadap ke arah dimana Sin Hong Soat-nie berdiri.

Sin Hong Soat-nie yang melihat seluruh tubuh Koan Ing sudah bermandikan darah hatinya merasa rada menyesal, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk melukai diri sang pemuda, dia ingin paksa Koan Ing untuk melepaskan pedangnya.

Tetapi dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu berani bertaruhan nyawa untuk menerima juga serangannya yang terakhir itu dengan keras lawan keras.

Walaupun pada hari biasa dia sering melihat orang terluka tetapi keadaan seperti Koan Ing ini hari dia belum pernah menemuinya.

Koan Ing bisa lolos dari serangan dahsyatnya hal ini merupakan suatu kemujuran buat dirinya!

Dengan pandangan terpesona Sin Hong Soat-nie memperhatikan diri Koaa Ing, selamanya dia belum pernah menemui orang yang demikian kukuh dan bersemangatnya.

Lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata dengan suara perlahan.

"Sang Siauw-tan ada di dalam ruangan tengah, kau pergilah menemui dirinya!"

Koan Ing cuma merasakan kepalanya amat pening sedang dadanya terasa sangat mual, dengan menggunakan pedangnya untuk mempertahankan badan dia coba berdiri tegak kemudian setelah mengetahui jelas arah tujuannya dengan perlahan baru berjalan maju ke depan.

Dengan termangu-mangu Sin Hong Soat-nie memandang puuggung pemuda itu, dalam hati dia merasakan suatu perasaan sedih yang sangat tidak enak.

Dia tidak menyangka kalau dirinya yang disebut orang sebagai manusia berwajah welas berhati kejam ini hari harus menaruh rasa sedih buat orang lain.

Dengan langkah yang rada sempoyongan Koan Ing berjalan masuk melalui pintu besar.

dia memasukkan dulu pedangnya ke dalam sarung lalu membereskan pakaiannya yang sudah robek dan kumal setelah itu baru berjalan masuk kedalam.

Dalam hati diam-diam pikirnya.

"Ini kali adalah pertemuan kami yang terakhir, aku harus bersikap baik-baik agar pandangannya tidak jelek kepada diriku dan akupun tidak akan merasa menyesal sampai akhir jaman!"

Baru saja Koan Ing berjalan maju satu langkah pandangannya kembali jadi gelap hampir-hampir dia terjatuh ke atas tanah.

Dengan terburu?

tangannya mencekal pintu depan lalu pikirnya sambil mentertawakan dirinya sendiri.

"Bisa bertemu dengan Sang Siauw-tan atau tidakpun masih merupakan Satu persoalan buat apa aku bereskan pakaian segala macam."

Lama sekali dia berhenti di depan pintu kemudian dengan perlahan baru berjalan masuk ke dalam ruangan.

Nikouw berbaju putih berlalu-lalang menlaluinya dikedua belah sampingnya tetapi dia sama sekali tidak melihat jelas, selangkah demi selangkah pemuda itu berjalan melewati ruangan pertama menuju keruangan tengah.

Dengan langkah perlahan dia menaiki anak tangga lalu berdiri tersandar di pintu beberapa saat lamanya.

Terlihatlah olehnya seorang bayangan putih menghampiri dirinya, sekali pandang saja dia tahu kalau orang itu bukan lain adalah Sang Siauw-tan, walaupun saat ini dia membelakangi dirinya tetapi tidak mungkin salah lagi.

Saking girangnya tidak kuasa lagi air mata mulai bercucuran membasahi wajahnya.

Lama sekali Koan Ing berdiri termangu-mangu beberapa saat kemudian dengan rada gemetar sapanya.

"Siauw-tan!"

Sang Siauw-tan tetap membelakangi pemuda itu, dia duduk dengan tenangnya di tempat tersebut.

"Kau datang kemari ada urusan apa?"

Tanyanya kemudian setelah termenung beberapa saat lamanya.

"Aku ingin melihat wajahmu untuk teeakhir kalinya, aku ada banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirimu,"

Kata Koan Ing sambil berjalan maju dengan perlahan, matanya memandang ke arah punggung gadis itu dengan mendelong....

"Kau beiani menyerbu puncak terlarang Su Li Hong sekalipun mati juga seharusnya, kau jangan mengira aku bisa menaruh rasa kasihan kepadamu Sang Siauw-tan sudah lama mati, kau boleh pergi!"

Koan Ing jadi melengak.

"Siauw-tan!! Kau jangan begitu membenci aku. Bilamana kau bisa memahami hatiku akupun tidak usah memberi penjelasan kepadamu, tetapi bilamana kau menyuruh aku pergi.... baiklah! aku segera akan pergi!"

Sang Siauw-tan yang duduk membelakangi pemuda itu kini berada dalam keadaan kebingungan, dia tidak mau menoleh karena takut hatinya bertambah sedih....

walaupun begitu air mata tak kuasa lagi mulai mengucur keluar dengan amat derasnya.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan tidak berbicara dalam hati lantas mengerti kalau dara tersebut sudah mau mendengarkan perkataannya.

"Siauw-tan! Aku tidak ingin mencelakai dirimu!"

Ujarnya dengan perlahan.

"Sekalipun aku tidak naik kepuncak Su Li Hong nyawakupun tidak akan lebih dari sepuluh hari, tentunya kau tahu bukan kenapa aku suruh kau merasa kecewa? Aku tidak bisa mencelakai kebahagiaan seumur hidupmu!"

Dengan termangu-mangu Sang Siauw-tan duduk termenung, hampir-hampir dia tidak mau percaya terhadap telinganya sendiri.

Koan Ing mau mati?

Nyawanya tinggal sepuluh hari saja?

Apa yang sudah terjadi?

Urusan yang lalu mulai berkelebat kembali di dalam benaknya, Koan Ing bagaimana bisa....

Ach!

pasti perbuatan dari Ciu Tong!

Dia mulai merasa menyesal kenapa dirinya naik kepuncak Su Li Hong, dia menyesal karena perbuatannya yang mengikuti nafsu waktu itu menbuat mereka berdua jadi bjgini.

"Siauw-tan!"

Ujar Koan Ing lagi."

Aku tahu tidak seharusnya aku bersikap begitu kepadamu.

tetapi kaupun harus berpikir pula dengan lebih mendalam.

kau masih ada ayahmu yang sudah tua....

apa kau merasa tega untuk tinggalkan orang tuamu untuk jadi Ni-kouw?"

Mendadak Sang Siauw-tan menoleh ke belakang dan memandang terpesona diri Koan Ing yang penuh berpelepotan darah.

Akhirnya tidak tertahan lagi dia menubruk tubuh pemuda tersebut dan menangis tersedu-sedu.

"Oooow.... engkoh Ing! kenapa tidak kau katakan sejak dulu!"

Teriaknya.

"Siauw-tan!"

Kata Koan Ing sambil memegang erat tangan gadis tersebut, Kau barus turun dari puncak....

,kau harus meninggalkan tempat ini.

Sang Siauw-tan yang berada di dalam pelukan pemuda itu menangis semakin keras lagi.

"Engkoh Ing. aku akan turun gunung bersama-sama kau . kau.... kau.... , kau tidak boleh mati!"

Koan Ing menarik napas panjang?

Lalu tertawa sedih, dia tahu urusan itu tidak mungkin terjadi, Urusan sulah jadi begini apakah mereka masih bisa turun gunung dengan selamat!?

hal ini tidak bakal bisa terjadi.

Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak dari luar ruangan kuil itu berkumandang masuk suara helaan napas panjang.

Kalian berdua boleh turun gunung, tetapi Siauw-tan boleh kembali lagi setelah Koan Ing mati.

Setelah berbicara sampai disitu suasana kembali menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Di dalam hati Koan Ing benar-benar merasa terkejut bercampur girang, dia sama sekai tidak mengerti Sin Hong Soat-nie yang selamanya dikatakan orang sebagai si manusia berwajah welas berhati kejam kenapa ini hari bisa berbuat begitu ramah dan baik?

Dia bilang Sang Siauw-tan boleh kembali, tetapi terangterangan dia tahu kalau ayah Sang Siauw-tan adalah sijari sakti Sang Su-im apalagi Sang Siauw-tan belum menyanggupi, sampai waktunya bilamana dia kembali nikouw inipun tidak bisa berbuat apa-apa.

Sang Siauw-tan sendiri juga termangu-mangu, beberapa perkataannya tadi sebenarnya diucapkan karena golakan hatinya, dia sendiri sama sekali tidak memikirkan apakah urusan ini bisa dikabulkan atau tidak, siapa sangka Sin Hong Soat-nie ternyata sudah mengabulkan perkataannya itu dengan cepat.

Mereka berdua saling berpandangan beberapa saat lamanya, kemndian dengan dibimbing oleh Sang Siauw-tan mereka berdua mulai berjalan keluar dan kuil itu.

Cuaca baru saja terang tanah, udara sangat dingin sekali....

ditengah tiupan angin kencang yang amat dahsyat bungabunga salju beterbangan memenuhi permukaan tanah.

Dari antara permukaan salju yang tebal itulah tampak dua sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat menuju ke sebelah barat.

Mereka berdua adalah Koan Ing serta Sang Siauw-tan berdua, setelah beristirahat dua hari sekembalinya dari puncak Su Li Hong dan luka yang diderita Koan Ing sudah sembuh mereka berdua malanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah Barat.

Koan Ing yang merasa yakin Bun Ting-seng itu pembunuh ayahnya pasti berada di daerah Tibet, lantas mengajak Sang Siauw-tan untuk bersama-sama berangkat ke Tibet.

Saat ini hubungan batin diantara mereka berdua sudah maju lagi satu tingkat sedang rasa cinta yang meliputi mereka berduapun sudah lebih mendalam satu lapis, Mendadak....

Dari antara permukaan salju di tempat kejauhan tampaklah dua sosok bayangan manusia berkelebat dengan amat cepatnya menuju ke arah mereka berada.

Koan Ing yang melihat munculnya dua sosok bayangan manusia menuju ke arah mereka alisnya segera dikerutkan rapat-rapat....

jika dilihat dari kecepatan geraknya jelas mereka berdua adalah jago-jago kelas wahid dari kalangan Bu-lim.

Cepat2 dia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk memperlambat gerakannya.

Kedua sosok bayangan manusia itu dengan cepatnya berkelebat mendatang dan akhirnya berhenti dihadapan mereka.

Melihat akan hal itu Koan Ing pun terpaksa menghentikan langkahnya lalu memperhatikan sekejap dua orang itu.

Tampaklah orang yang ada di hadapannya saat ini adalah dua orang TooSu yang satu tua yang lain muda jang tua rambut serta jenggotnya sudah pada memutih semua sedang yang muda berusia kurang lebih tiga puluh tahuran, pada pundaknya masing-masing tersoreng sebilah pedang panjang.

"Apa kau orang adalah Koan Ing?"

Tanya sitoosu tua itu setelah memperhatikan diri Koan Ing beberapa saat lamanya.

"Cayhe memang Koan Ing adanya. tolong tanya siapakeh Tootiang berdua....?"

Tanya Koan Ing kembali sambil menyapu sekejap ke arah mereka berdua.

Mendadak dia menemukan keadaan dari sitoosu muda itu rada tidak beres.

sinar matanya dengan cepat berputar dan memperhatikan dirinya lebih tajam lagi.

Tampaklah sinar mata sitoosu itu Sedang melototi diri Sang Siauw-tan dengan tajam agaknya dia bermaksud untuk menelan seluruh tubuh gadis itu.

Melihat akan hal itu dia lantas mengerutkan alisnya, terlihat olehnya pada Saat itu Sang Siauw-tan pun lagi memandang Teosu tersebut dengan pandangan gusar pikirnya.

Kurang ajar siapakah toosu itu?

Kenapa sedikitpun tidak tahu atuan?

terang Toosu mana boleh melototi seorang gadis tanpa berkedip....

Pinto Yuan Si ujar Toosu tua itu lagi memperkenalkan diri.

Bersama dengan muridku Sak Huan baru saja tiba di daerah Tibet, apakan kau tahu dimanakah Thian Siang Thaysu berada?" .

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia memandang sekejap ke arah Toosu muda itu dengan amat gemas.

Walaupun dalam hati dia merasa rada berada diluar dugaan terhadap munculnya Yuan Si Tootiang secara tiba-tiba tetapi terhadap diri Sak Huan dia merasa sangat tidak puas.

Yuan Si Tootiang yang melihat air mukanya pemuda itu rada berubah dia lantas melirik sekejap ke arah Sak Huan.

Agaknya waktu itu Sak Huan sitoosa muda tersebut sama sekali tidak merasa, sapasang matanya masih memandang ke atas tubuh Sang Siauw-tan tak berkedip.

Yuan Si Tootiang segera mendengus dingin, mendengar suara dengusan tersebut Sak Huan baru merasa terkejut sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah diri Koan Ing lalu memandang ke tempat kejauhan.

Koan Ing yang disapu sekejap oleh Sak Huan itu segera merasakan hatinya melonjak, saat itulah dia dapat melihat kalau sinar mata Toosu muda itu penuh diliputi oleh rasa dengki dan bermusuhan.

Alisnya dikerutkan semakin rapat, tak sepatah katapun diucapkan keluar.

Yuan Si Tootiang kembali mendengus, sinar matanya dengan rada mendongkol melirik sekejap ke arah Sak Huan.

"Jejak kereta berdarah apakah kau tahu?"

Tanyanya lagi sambil menoleh ke arah Koan Ing.

"Menurut apa yang cayhe ketahui kereta berdarah itu sudah terjatuh ketangan Si Budak Berdarah dari kegelapan!"

Yuan Si Tootiang termenung sebeataran terhadap sikap yang tawar dari Koan Ing serta tidak mau menyebut dirinya sebagai boanpwee dalam hati dia merasa sangat tidak puas.

"Kalau begitu sudahlah!"

Serunya kemudian sambil memperhatikan sekejap ke arah Koan Ing.

Sehabis berkata dengan mengajak Sak Huan dia berlalu menuju ke arah Barat.

Lama sekali Koan Ing memperhatikan mereka berdua, setelah bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan baru ujarnya kepada sang gadis.

"Mari kitapun pergi!"

Sang Siauw-tan mengangguk, mereka berdua segera berangkat menuju ke arah Barat daya.

dia tidak ingin berjalan dengan arah yang sama seperti Yuan Si Tootiang berdua karena itu sengaja sedikit mengubah arahnya.

Cuaca semakin lama semakin menggelap, akhirnya sampailah kedua orang itu disebuah kuil bobrok.

Ruangan kuil itu sudah hancur dan amat kotor tetapi cukup untuk berteduh.

mereka berdua saling berpandangan sekejap lalu duduk bersandar di dinding untuk beristirahat.

"Eagkoh Ing! mata sitoosu muda tadi sungguh kurang ajar sekali,"

Ujar Sang Siauw-tan tiba-tiba. Koan Ing tertawa tawar.

"Tiga manusia genah merupakan orang-orang dari kalangan lurus, aku lihat terhadap Sak Huan muridnya Yuan Si Tootiang sangat sayang, Hmmm! Dari antara ketiga manusia genah itu tak ada seorangpun yang bisa menandingi paman Cha. Sang Siauw Ian tertawa sedih.

"Entah dimanakah ayahku pada saat ini. Koan Ing cuma tersenyum dengan perlahan dia meraba rambut gadis itu dengan penuh kemesraan.

"Empek Sang mewakili aku pergi mencari tahu jejak dari Bun Ting-seng, kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang amat besar. dengan cepat kita bakal menemui anak buahnya dari perkumpulan Tiang-gong-pang."

Dengan perlahan Sang Siauw-tan menyandarkan kepalanya di atas pundak Koan Ing lalu pejamkan matanya untuk beristirahat, Mendadak dari tempat kegelapan berkumandang datang suara dengusan yang amat dingin, Kedua orang yang lagi saling berpelukan dengan cepat memisahkan diri, sinar mata Koan Ing dengan cepatnya menyapu sekejap memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Dengan ketajaman matanya yang bisa melihat tempat kegelapan seperti memandang di tempat terang pemuda itu segera dapat menangkap sesosok bayangan manusia dengan cepatnya berkelebat menuju kepojokkan ruang kuil.

Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa amat terperanjat, sewaktu memasuki kuil tadi dia sudah memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu, waktu itu dia tidak menemukan siapapun, tetapi bagaimana orang ini bisa tiba di tempat itu sepengetahuan dirinya?

Dari hal ini saja sudah menunjukkan kalau kepandaian silat orang itu amat tinggi, tenaga lweekang yang dimilikipun tidak berada di bawah dirinya.

Koan Ing segera mencekal tangan Sang Siauw-tan erat-erat tenaga dalam orang itu sangat tinggi bahkan ada maksud untuk mengejar dirinya terus hal ini menunjukkan kalau dia orang mempunyai maksud jelek....

Sinar matanya dengan cepat berputar, dia tertawa kepada gadis itu ujarnya.

"Entah siapakah orang itu, kelihatannya dia sengaja memancing agar aku pergi mengejar dirinya.... Hmmm! Kita tidak usah gubris dirinya lagi."

Sang Siauw-tan tersenyum, tadi diapun mendengar suara dengusan yang amat dingin itu cuma sayang matanya tak dapat menangkap bayangan yang berkelebat.

Suara dengusan kembali berkumandang dari luar kuil.

Koan Ing serta Sang Siauw-tan lalu saling bertukar pandangan sekejap, mereka berdua merasa heran entah siapakah dia orang....

agaknya dia paksa dirinya berdua untuk meninggalkan tempat itu.

Lama kelamaan Sang Siauw-tan mulai merasa tidak senang terhadap orang itu.

dia mengerutkan alisnya rapat-rapat lalu menarik tangan Koan Ing.

"Engkoh Ing, mari kita keluar untuk melihat siapakah orang itu lalu sedikit beri hajaran!"

Koan Ing tersenyum dan mengangguk, kemudian bersamasama dengan Sang Siauw-tan berjalan keluar kuil itu.

Sekeluarnya dari ruangan dia dapat melihat diluar halaman sudah berdiri seseorang yang sedang memandang dirinya dengan pandaiagan dingin.

Dia jadi melengak....

kiranya orang itu bukan lain adalah Sak Huan itu anak murid dari Yuan Si Tootiang Ciangbunjien dari Bu-tong-pay.

Dengan pandangan dingin Sak Huan memandang ke arah Koan Ing lalu ejeknya.

"Hmm! usiamu paling tidak tinggal sepuluh hari saja, kau punya hak apa untuk tetap bersamasama dengan Sang Siauw-tan!"

Mendengar perkataan itu Koan Ing jadi amat gusar, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sak Huan bisa mengejar mereka berdua sampai disini secara terang mengucapkan kata-kata tersebut.

"Agaknya di dalam urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu bukan....?"

Serunya dingin. Sinar mata Sak Huan berkedip2, dia tak menggubris perkataan dari Koan Ing itu sebaliknya kepada Sang Siauw-tan ujarnya.

"Koan Ing tidak bakal hidup lebih lama lagi, kenapa kau senang bersama-sama dirinya?"

Saking khekinya air muka Sang Siauw-tan sudah berubah jadi merah padam.

"Buat apa kau ikut campur?"

Bentaknya gusar. Dengan termangu-mangu Sak Huan memperhatikan diri Sang Siauw-tan mendadak dia tertawa dingin.

"Justru aku mau ikut campur, dengan kecantikan wajahmu tidaklah seharusnya berkawan dengan Koan Ing si manusia yang sudah mendekati ajalnya!"

Saking gemas dan mendoogkolnya seluruh tubuh gadis itu gemetar amat keras, dia meronta dari cekalan Koan Ing dan berjalan maju ke depan.

Ooo)*(ooO Bab 27 DENGAN cepat Koan Ing menarik kembali tubuh Sang Siauw-tan, lalu maju setengah langkah ke depan.

"Dimana Suhumu?"

Sak Huan segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... buat apa harus suhuku yang turun tangan?"

"Dengan luka yang kau derita saat ini ada kemungkinan sepuluh jurus pun kau tidak bakal tahan.... heee.... heee.... bilamana tak percaya kita boleh coba-coba."

Koan Ing yang melihat anak murid Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tong-pay ternyata begitu jumawa segera tertawa dingin.

"Kepandaian silat dari tiga manusia genah sudah aku temui. aku rasa suhupun tidak lebih hanya demikian saja.... , .walaupun aku terluka tetapi tidak akan kalah di dalam sepeluh jurus!"

"Kalau tidak percaya kenapa tidak coba-coba!"

Tantang Sak Huan dengan keras. Koan Ing yang melihat Sak Huan sangat tidak puas, hatinya merasa kheki juga.

"Hmm! Bangsat ini sungguh jumawa sekali, aku harus kasih sedikit hajaran kepadanya. apalagi lukanya sudah sembuh dua hari sedang tenagapun sudah ada lima enam bagian telah pulih...."

Tanpa mengucapkan kata-kata lagi dia lalu menuruni tangga2 batu itu. Dari punggungnya Sak Huan segera mencabut keluar pedangnya. sinar matanya dengan tajam memperhatikan pemuda itu.

"Luka dari Koan Ing belum sembuh benar-benar, aku harus kalahkan dia di dalam sekali serangan.... aku harus hajar dirinya,"

Pikir toosu itu diam-diam.

Walaupun Koan Ing baru saja sembuh dari lukanya.

tetapi demi dilihatnya toosu itu amat jumawa sekali hatinya rada mendongkol juga, pedang kiem-hong-kiamnya dengan cepat dicabut keluar siap-siap menantikan serangan dari Sak Huan.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Sak Huan sebagai seorang toosu ternyata sudah jatuh hati terhadap diri Sang Siauw-tan....

bahkan dengan begitu berani menguntit dirinya dan tantang dia orang untuk bergebrak....

, Terdengar Sak Huan tertawa dingin tiada hentinya.

"Koan Ing.... kau tidak suka hidup beberapa hari lagi, baiklah! kalau kau sampai mati janganlah salahkan aku berlaku terlalu telengas!"

Koan Ing yang di dalam hati lagi gusar mendengar perkataan itu segera mendengus dingin.

"Justru aku ingin sekali mencari tahu kepandaian silat dari aliran Bu-tong-pay!"

Sak Huan segera tertawa terbahak-bahak....

Ditengah suara tertawanya itulah pedang panjangnya dengan amat dahsyat menghajar tubuh Koan Ing.

Sekali pandang saja Koan Ing sudah dapat tahu kalau jurus tersebut bukan lain adalah jurus "Ku Bok Jan Thian"

Dari ilmu pedang Bu-tong Kiam Hoat.

jika ditinjau dari kedahsyatan ilmu pedang itu dia dapat menduga kalau tenaga dalamnya tidak berada di bawah tenaga dalam sendiri sewaktu tidak terluka.

Diam-diam dalam hati dia orang mulai menggerutu, jika dilihat dari kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki Sak Huan jelas memperlihatkan kalau tenaga dalam Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tong-pay amat dahsyat sekali, apa mungkin jauh lebih tinggi dari Thian Siang Thaysu?

Jilid 12 KOAN ING segera miringkan pedang Kiem-hong-kiamnya kesamping, dengan menggunakan jurus "Hay Thian It Sian"

Dia memunahkan datangnya terangan dari Sak Huan.

Belum habis jurus serangan itu digunakan tubuhnya sudah melayang ke tengah udara menubruk ke depan, pedangnya membengkok dengan menggunakan jurus "Cie Ci Thian Yang"

Dia balas menyerang kening Sak Huan.

Sinar mata Sak Huan yang tajam berkedip, pedangnyapun didorong sejajar dada menghajar musuhnya, agaknya dia melihat luka dalam yang diderita Koan Ing belum sembuh kini hendak mengadu tenaga dalam dengan dirinya.

Melihat perbuatan musuhnya demikian, pemuda itu mendengus dingin, sewaktu berada dipuncak Su Li Hong diapun menghadapi Sin Hong Soat-nie di dalam keadaan terluka parah juga, terhadap pertempuran semacam ini boleh dikata dia sudah mempunyai pengalaman yang cukup luas.

Kini Sak Huan berani menghadapi dirinya dengan cara ini sudah tentu dia orang jadi gemas.

Luka dalamnya kini walaupun baru sembuh lima, enam bagian tetapi dia merasa yakin bahwa kepandaian silat dari Sak Huan ini tidak bakal bisa melebihi kepandaian dari Sin Hong Soat-nie.

Maka ujung pedangnya ditarik, tubuhnya berkelebat dari tengah udara bagaikan seekor burung elang dia menubruk ke arah Sak Huan.

Pedang Kiem-hong-kiamnya dengan berubah jadi serentetan sinar yang menyilaukan mata menuding diri Sak Huan tiada lepasnya, seluruh jurus serangan dilancarkan dengan tiada hentinya laksana mengalirnya air sungai Tiang Kang meluncur terus menerus, setiap serangan tentu mengandung kedahsyatan yang semakin bertambah.

Pedang panjang ditangan Sak Huan berputar tiada hentinya, terhadap keanehan serta kecepatan gerak dari Koan Ing yang luar biasa ini memaksa dia tidak sanggup untuk balas melancarkan serangan, dia sama sekali tidak bisa menduga datangnya serangan dari Koan Ing yang tiada habisnya itu.

Yang paling celaka lagi, ada kalanya Koan Ing menggunakan jurus-jurus serangan aliran Bu-tong-pay yang dimainkan lain dari keadaan biasanya.

Yang penting bagi para jago sewaktu bertanding adalah dapat menduga terlebih dulu bagian mana yang bakal diserang pihak musuh, sudah tentu terhadap cara yang kebalikan dari keadaan biasanya ini bukan saja dia tak dapat menduga terlebih dulu terhadap jurus serangan Koan Ing bahkan sebaliknya dipaksa jadi kelabakan dan terdesak, Jurus serangan yang dilancarkan Koan Ing laksana deburan ombak di tengah sungai Tiang Kang, dia menitik beratkan serangannya pada perubahan jurus yang cepat dengan menggunakan tenaga dalam sedikit2nya hal ini dilakukan karena untuk melindungi lukanya yang baru saja sembuh.

Tetapi Sak Huan masih tetap menghadapi dengan keadaan yang tenang-tenang saja, hal ini membuat Koan Ing diamdiam merasa keheranan.

Menurut pandangannya tenaga dalam yang dimiliki Sak Huan pada saat ini jauh lebih tinggi daripada apa yang diperlihatkan pada saat ini, kenapa dia tidak menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya?

Waktu itu Koan Ing tiada waktu lagi buat memikirkan soal itu, pedang panjangnya melancarkan serangan diperhebat beberapa kali lipat, dia mulai memikirkan cara yang lain untuk merebut kemenangan karena kecepatan gerak dari Sak Huan yang memaksa setiap serangannya mencapai pada sasaran yang kosong.

Hanya di dalam sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu dengan cepatnya, sebenarnya Sak Huan mengira bahwa dengan amat mudahnya dia berhasil membereskan diri Koan Ing, tetapi kini bukannya menang justru dipaksa berada di bawah angin, maka dengan dinginnya dia lantas mendengus, pikirannya mulai berputar mencari akal untuk menghadapi diri sang pemuda ini Mendadak Sak Huan memejamkan sepasang matanya, sedang pedang panjang yang ada ditangannya berturut-turut melancarkan dua tebasan menghalangi Koan Ing.

Koan Ing yang melihat Sak Huan mengganti pandangannya dengan pendengaran dalam hati diam-diam rada terperanjat, dia tahu walaupun kebanyakan orang pandangan matajustru lebih tajam dari pendengaran tetapi di dalam suatu pertempuran jarak dekat dari dua orang jago berkepandaian tinggi pendengaran jauh lebih tajam dari penglihatan, kini Sak Huan berbuat demikian bukan saja kedudukannya jadi bertambah kuat diapun bisa terhindar dari gangguan salah penglihatan.

Baru saja hatinya merasa terperanjat mendadak Sak Huan sudah membentak keras pedangnya dengan gencar mendesak dirinya.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, berturut-turut dia melancarkan tiga tusukan ke depan, tubuhnya melangkah ke samping dan berdiri dengan amat tenangnya di samping kalangan.

Sak Huan sendiripun berturut-turut meluncurkan beberapa kali tusukan, lama kelamaan dia baru menemukan kalau Koan Ing sudah berdiam diri.

Untuk beberapa saat lamanya dia tidak melihat di manakah Koan Ing sedang berdiri karena waktu itu angin taupan bertiup dengan kencangnya dari sebelah utara.

Akhirnya dia terdesak dan membuka matanya kembali dengan perlahan Dengan pandangan yang amat dingin Koan Ing memandang sekejap ke arah Sak Huan lalu katanya.

"Kepandaian silat dari aliran Bu-tong-pay kini aku sudah minta beberapa petunjuk, walaupun kepandaian silat saudara tidak rendah tetapi sayang tidak bisa disebut amat lihay, apalagi sifat serta tindak tanduk saudara amat kurangajar sekali", Mendengar perkataan itu dalam hati Sak Huan merasa amat gusar, tetapi dia tidak berani bertindak sembarangan karena dalam hati Ielaki berusia pertengahan ini mengerti kalau dirinya tak mempunyai pegangan yang kuat untuk memperoleh kemenangan.

"Hmm ini hari aku akan menyudahi sampai disini saja,"

Ujarnya kepada Koan Ing dengan dingin.

"Tetapi pada satu hari Sang Siauw-tan pasti akan terjatuh ke tanganku, apalagi kaupun tidak bakal hidup sampai waktu kematianmu,"

Sehabis berkata dengan amat dinginnya dia memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan lalu memasukan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Di dalam hati Koan Ing benar-benar merasa amat gusar, tetapi lukanya pada saat ini belum sembuh maka diapun tidak bisa berbuat apa-apa.

"Lebih baik sedikit berhati-hati, bilamana lain kali bertemu kembali dengan diriku,"

Ancamnya dengan dingin.

"Bilamana perkataanmu waktu itu tidak sopan aku akan membuat kau mau tertawapun tak dapat tertawa, hati-hatilah kau berjaga diri."

Sehabis berkata diapun menarik kembali pedangnya dengan amat tenangnya.

Sinar mata Sat Huan berkelebat tiada hentinya, mendadak tubuhnya berkelebat pedang panjangnya dengan membentuk pelangi panjang menghajar leher Koan Ing dengan kejamnya.

Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau Sak Huan bisa melancarkan serangan kembali setelah dia menyimpan kembali pedangnya, dalam keadaan amat terkejut itulah tangan kanannya berkelebat ke depan mencengkeram tubuh pedang tersebut.

Sang Siauw-tan yang melihat kejadian itupun merasa amat terkejut, tubuhnya berkelebat menubruk ke arah Sak Huan di iringi suara bentakan yang amat gusar.

Di tengah udarajari tangannya berturut-turut melancarkan tujuh buah sentilan sakti ke depan, tujuh buah gulung angin serangan yang tajam dengan cepat menghajar tubuh Sak Huan.

Babatan pedang dari Sak Huan ini dengan amat cepatnya berhasil dicengkeram oleh lima jari dari Koan Ing.

Dia tertawa dingin, pedangnya dibabat ke depan, siap-siap membinasakan Koan Ing di bawah tusukan pedangnya, mendadak dia merasakan tugyuh gulung totokan jari meluncur mendatang....

Hatinya terasa berdesir, dalam hati dia tahu inilah serangan Han Yang Ci yang amat dahsyat itu, Pedangnya terburu-buru ditarik kembali, tubuhnya berjumpalitan beberapa kali di tengah udara lalu melayang keluar dari balik tembok.

Kiranya dia yang melihat serangannya tidak mencapai pada sasarannya lantas mengerti kalau dirinya berdiam lebih lama di sanapun tak ada gunanya karena itu sambil tertawa dingin dia lantas melarikan diri dari sana.

Serangan yang dilancarkan Sang Siauw-tan dengan sekuat tenaga ini walaupun tidak mencapai pada sasaran tetapi air mukanya sudah berubah jadi pucat pasi, Dari ujung lima jari pemuda itupun dengan perlahan menetes keluar darah segar dia sama sekali tidak menyangka kalau Sak Huan sebagai seorang murid kenamaan ternyata jauh lebih kejam dan licik daripada Ciu Tong si iblis tua itu.

Dengan pandangan gusar dia memandang ke arah depan, lama sekali tak sepatah katapun dapat diucapkan keluar.

Sang Siauw-tan sendiri diam-diam menarik napas panjang setelah itu baru berjalan kesisi Koan Ing.

"Engko Ing, kau terluka?"

Tanyanya. Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan mendekati dirinya dia lantas tersenyum.

"Akh.... tidak mengapa, cuma aku tahu serangan terakhir yang dilancarkan sekuat tenaga itu bukanlah ilmu silat aliran Bu-tongpay, ada kemungkinan jurus itu adalah yang baru saja diciptakan oleh Yuan Si Tootiang?"

Tenaga dalam yang dimiliki Sang Siauw-tan saat ini jauh lebih tinggi daripada tenaga dalam yang dimlikinya dahulu, walaupun baru saja dia melancarkan serangan dengan sekuat tenaga tubuhnya masih bisa bertahan diri.

"Hmm tidak kusangka anak murid Bu-tong-pay begitu tidak tahu malu!"

Serunya sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Aku mau suruh Tia menegurjadah tua itu, bagaimana dia bisa memperoleh seorang murid yang selicik itu."

Dalam hati Koan Ing merasa keheranan, Sak Huan sungguh merupakan seorang bernyali srigala apa mungkin Yuan Si Tootiang sama sekali tidak mengetahui akan urusan yang menyangkut diri Sak Huan?

Atau mungkin dia sengaja berpura-purapilon, Dia merasa heran bagaimana mungkin Yuan Si Tootiang hanya mendengus saja sewaktu untuk pertama kalinya mereka bertemu dan waktu itu Sak Huan melototi diri Sang Siauw-tan tak berkedip.

Dengan kedudukan Sak Huan sebagai seorang toosu tiada seharusnya dia berbuat begitu, ditambah lagi Yuan Si Tootiang adalah seorang ciangbunjin Bu-tong-pay yang mempunyai nama besar di Bu-lim, apakah terhadap urusan ini dia orang menanggapi dengan begitu tawar?

Dengan perlahan mereka berdua kembali ke dalam ruangan tengah.

"Engkoh Ing."

Tiba-tiba Sang Siauw-tan menegur "Kita tidak usah tinggal lebih lama lagi disini, mari kita mencari tempat yang lain atau melanjutkan perjalanan malam ini saja, aku tidak ingin tidur lagi.

Koan Ing yang diganggu oleh Sak Huan dalam hatipun merasa rada tidak puas, dia tersenyum.

"Baiklah. mari kita meninggalkan tempat ini."

Sehabis berkata mereka berdua lantas berjalan keluar dari rumah tersebut menuju ke tempat luar.

Baru saja mereka melakukan perjalanan beberapa saat lamanya mendadak Koan Ing menarik diri Sang Siauw-tan untuk bersembunyi dibalik sebuah pohon besar, Sang Siauw-tanjadi melengak, dengan cepat dia memandang ke arah depan terlihatlah di atas salju berdirilah seorang yang bukan lain adalah Sak Huan, Lewat beberapa saat kemudian tampaklah sesosok bayangan manusia dengan cepatnya lari mendatang, dari tempat kejauhan Koan Ing sudah bisa mengetahui kalau orang itu bukan lain adalah ciangbunjien dari Bu-tong-pay, Yuan Si Tootiang adanya....

Dalam hati dia merasa amat terperanjat, Yuan totiang juga ikut mengejar datang?

Agaknya Sak Huan sedang menanti kedatangan Yuan Tootiang disana, apakah mungkin persoalannya tadi sudah memperoleh ijin dari dia orang?

Tetapi hal ini tidak masuk diakal, Yuan Tootiang adalah salah satu anggota dari tiga manusia genah apalagi kedudukannya sebagai ciangbunjien suatu partai besar, sekalipun dia tidak becus tidak mungkin dia bisa memberi ijin kepada Sak Huan untuk berbuat demikian, Dengan cepatnya Yuan Si Tootiang sudah tiba dihadapan Sak Huan, mereka berdua mulai berbicara dan bersama-sama lalu menuju kejalan semula.

"Dari tadi aku sudah tahu,"

Ujar Yuan Si Tootiang dengan keren. Tetapi baru saja berbicara sampai separuh jalan, mendadak tubuhnya merandek.

"Siapa yang bersembunyi dibalik pohon?"

Bentaknya dengan gusar Koan Ing jadi amat terperanjat selama ini dia bersamasama Sang Siauw-tan sama sekali tidak bergerak, bagaimana mungkin Yuan Si Tootiang bisa mengetahui kalau mereka lagi bersembunyi dibalik pohon?

Jika ditinjau dari hal inijelas menunjukkan kalau tenaga dalam yang dimiliki Yuan Si Tootiang jauh berada di atas dua manusia genah lainnya.

Sambil menarik tangan Sang Siauw-tan dia lantas berjalan keluar dari balik pohon itu dan memandang ke arah Yuan Si Tootiang dengan tajam.

Yuan Si Tootiang yang melihat munculnya Sang Siauw-tan serta Koan Ing di tempat itu, sinar matanya berputar-putar.

"Ooouw.... kiranya kalian berdua,"

Katanya kepada mereka berdua.

"Murid keponakanku ini dikarenakan terlalu kagum dengan nona Sang sudah mengejar kemari, mau tak mau terpaksa pinto harus mengejar kemari juga dengan melakukan perjalanan malam, harap kalian berdua suka memaafkan diri pinto."

Koan Ing yang mendengar perkataan tersebut lantas jadi melengak, kiranya Sak Huan adalah keponakan dari Yuan Si Tootiang, tidak aneh kalau dia begitu membela dan melindungi dirinya.

Dalam hati dia merasa semakin tidak senang lagi, sahutnya tawar.

"Buat apa Tootiang berbuat sungkan-sungkan, tetapi dengan perbuatan dari muridmu itu aku rasa merupakan suatu perbuatan yang terkutuk dan dibenci setiap orang, harap Tootiang suka memberi peringatan yang lebih sebegitu saja."

Nama Yuan Si Tootiang terdapat diantara nama-nama tiga manusia genah, pada biasanya mana mungkin dia memperoleh peringatan yang pedas dari orang lain?

Bilamana peristiwa baru-baru ini sampai terdengar di dalam Bu-lim maka akan dibawa kemana wajahnya?

Dia menghela napas panjang-panjang, untuk minta maaf sudah tentu dia orang tidak akan melakukannya karena hal ini bakal merusak kedudukannya, dia memandang sekejap ke arah diri Koan Ing serta Sang Siauw-tan, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun berlalu dari sana sambil menarik tangan Sak Huan, Koan Ing yang melihat Yuan Si Tootiang sama sekali tidak berbicara dia pun tidak suka mengambil perduli, Menanti bayangan mereka berdua sudah amat jauh barulah terdengar Sang Siauw-tan berkata.

"Sungguh aneh sekali bilamana dikatakan Yuan Si Tootiang mengejar kemari bagaimana mungkin Sak Huan bisa menanti dirinya disini?jika dilihat sikap, si jadah setengah tua itu sedikitpun tidak takut kepada hidung kerbau tersebut, hmm agaknya dalam urusan ini ada sesuatu yang tidak beres."

Dalam hati Koan Ing pun merasa keheranan, tetapi berhubung dia mempunyai dugaan hal ini dikarenakan rasa sayang yang berlebih-lebihan, dia lantas tersenyum.

"Tidak kusangka Yuan Si Tootiang memandang nama besarnya tetapi suatu permainan, kecermelangannya selama puluhan tahun ini ada kemungkinan bakal rusak di tangan Sak Huan. waktu itu akan ditaruh dimanakah wajahnya? Sehabis berkata dengan menarik tangannya Sang Siauwtan dia melanjutkan kembali perjalanannya ke arah depan. Cuaca semakin terang, Koan Ing serta Sang Siauw-tan yang melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap sama sekali tidak merasa lelah akhirnya mereka tiba disebuah kota yang cukup besar. Setelah masuk ke dalam kota mendadak seekor kuda berlari lewat dari samping mereka. Dengan cepat Koan Ing angkat kepalanya memandang, dia jadi melengak kiranya orang itu adalah Hoo Lieh yang ditemuinya untuk pertama kali bersama-sama Sang Siauw-tan tempo hari. Terburu-buru Hoo Lieh meloncat turun dari kudanya.

"Oouw.... tidak kusangka di tempat ini aku bisa bertemu kembali dengan nona serta Koan siauw-hiap,"

Ujarnya sambil tertawa Sang Siauw-tan yang melihat munculnya Hoo Lieh dengan wajah girang dalam hati dia merasa amat gembira.

"Dimana ayahku?"

Hoo Lieh agak ragu-ragu sejenak, akhirnya dia tertawa.

"Pangcu dia orang tua agaknya sudah putus asa terhadap urusan kereta berdarah itu, pada tiga hari yang lalu dia orang tua sudah kembali ke daerah Tionggoan, kini cuma tinggal beberapa orang saja yang mendapat perintah untuk mencari jejak Bun Ting-seng."

Koan Ing yang mendengar Sang Su-im sudah kembali ke daerah Tionggoan dalam hati merasa amat menyesal sekali, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya rendah-rendah lalu tersenyum.

"Lalu dimanakah orang-orang itu?"

Tanyanya kepada Hoo Lieh. Hoo Lieh yang melihat munculnya Koan Ing serta Sang Siauw-tan dalam hati benar-benar merasa amat girang sekali.

"Setelah Koan siauw-hiap pergi kereta berdarah itu kembali munculkan dirinya, kami lantas pergi mencarijejak kereta berdarah itu bahkan Cha Thay^hiap merasa amat cemas sekali dengan keselamatan siauw-hiap, mereka tahu orang yang menunggang kereta berdarah itu adalah Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan"

"Ooow...."

Seru Koan Ing, dia tahu di dalam soal ini semua orang bisa mengetahuinya dengan amat cepat tentunya waktu ini Ciu Tong sekalian lagi mengejar kereta berdarah itu, mengejar Si Budak Berdarah dari kegelapan.

Sewaktu dia berada di dalam kereta berdarah itu selama itu tak pernah dia menemukan ilmu silat dari ciangbunjien Hiatho-pay seperti yang telah disiarkan, Si Budak Berdarah dari kegelapan pernah menghantam dirinya satu kali, dendam ini dia akan membalasnya tetapi mengingat tenaga dalam yang dimiliki pada saat ini belum bisa mengalahkan Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, maka sekalipun pergi menemukan dirinya juga tiada gunanya.

Hoo Lieh melihat pemuda itu lagi termenung dengan perlahan lantas tertawa.

Mereka semua kini berada di sekitar tempat ini, luka Koan siauw-hiap belum sembuh benar-benar lebih baik untuk sementara waktujangan ikut di dalam gerakan untuk mencari kereta berdarah itu.

Koan Ing tahu kalau Hoo Lieh bisa berbicara demikian disebabkan dia bersikap sangat baik terhadap dirinya, dengan rasa berterima kasih serunya.

"Terima kasih Hoo Thay-hiap sebetulnya akupun tidak punya perhatian lagi terhadap kereta berdarah itu."

Baru saja dia selesai berkata mendadak tampillah sesosok bayangan manusia berkelebat dihadapan matanya.

"Kau tidak tertarik tidak jadi soal, aku yang punya perhatian sudah datang"

Serunya dingin, Koan Ing merasa hatinya tergetar, kiranya orang yang baru datang itu bukan lain adalah Ciu Tong.

Rambutnya yang sudah memutih pada serabutan tidak karuan, tangan kanannya mencekal tongkat sedang sepasang matanya dengan amat dingin memperhatikan Koan Ing.

Ciu Pak serta Bu Sian berdua tidak tampak mengikuti dirinya.

Hoo Lieh yang melihat munculnya orang itu diam-diam merasa terperanjat juga, dia menarik napas panjang-panjang.

"Oouw.... kiranya Ciu Tocu sudah datang, Pangcu kami memangnya lagi menanti kedatanganmu disini."

Ciu Tong adalah manusia yang amat licik, sudah tentu Hoo Lieh yang bermaksud menipu dirinya tidak bakal bisa. Terdengar dia mendengus dingin, sinar matanya dengan tajam memperhatikan diri Hoo Lieh.

"Heee.... heee.... Sang Su-im sudab kembali ke daerah Tionggoan, kau ingin menipu aku? Mengingat dosamu baru untuk pertama kali ini maka aku ampunijiwamu sekali, ayoh cepat menggelinding pergi!"

Hoo Lieh segera merasakan hatinya bergidik, belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun mendadak tardengar Sang Siauw-tan tertawa.

"Paman Hoo kau pergilah mencari ayah dan undang beliau datang kemari", perintahnya. Hoo Lieh tahu Sang Siauw-tan takut dirinya bilamana tidak pergi maka Ciu Tong akan turun tangan kejam terhadap dirinya, dalam hati dia merasa sangat berterima kasih sekali terhadap diri nona itu. Diapun tahu sekalipun dirinya tetap tinggal disana juga tiada gunanya, kini Sang Su-im sudah kembali ke daerah Tionggoan sedang Cha Can Hong pun ada di sekitar tempat ini, bilamana dia tidak bisa mendapatkan Sang Su-im sedikitdikitnya bisa menemukan Cha Can Hong. Cha Can Hong paling menyayangi diri Sang Siauw-tan, setelah mengetahui dia berada di dalam keadaan bahaya dia orang sudah pasti akan turun tangan membantu. Dia lantas bungkukkan badannya memberi hormat kepada diri sang gadis.

"Nona baik-baiklah kau berjaga diri!"

Serunya. Kemudian kepada diri sang pemuda katanya pula.

"Koan siauw-hiap aku Hoo Lieh berangkat dulu."

Sehabis berkata dia putar badan berlalu dari sana.

Dengan pandangan yang amat dingin Ciu Tong memandang hingga tubuh Hoo Lieh lenyap dari pandangan baru kemudian dengan perlahan beralih ke atas wajah mereka berdua.

"Sekalipun kalian bergabung diri juga tidak bakal berhasil menerima seratus jurus seranganku, kalian ingin mengikuti aku dengan rela dan ikhlas ataukah menanti setelah aku turun tangan sendiri menawan kalian....?"

Sinar mata Sang Siauw-tan berkelebat., dia tahu Ciu Tong jadi orang amat kejam dan licik, pekerjaan apapun bisa dia lakukan.

Tetapi diapun mendengar Cha Can Hong ada di sekeliling tempat ini dan Hoo Liah lagi pergi mencari dirinya.

maka saat ini dia harus berusaha mengulur waktu selama mungkin untuk menanti datangnya bala bantuan.

"Empek Ciu,"

Ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Kenapa sifatmu ini hari amat kasar sekali?"

"Siauw-tan,"

Ujar Ciu Tong dengan dingin.

"Sejak semula ayahmu sudah bentrok dengan diriku, anak murid perguruanku yang masuk ke daerah Tibetpun kebanyakan binasa ditangan anak buah perkumpulan Tiang-gong-pang, akupun kena dibokong ayahmu, coba kau pikir apakah dendam ini tidak boleh aku balas?"

Terhadap ikatan dendam antara ayahnya serta Ciu Tong sejak semula nona mi sudah mendengar dari mulut Koan Ing, tetapi untuk mengulur waktu lebin lama dia pura-pura tidak paham.

"Empek Ciu,"

Ujarnya keheranan.

"Kau masuk ke daerah Tibet bersama-sama ayahku bahkan pernah berjanji hendak bekerja sama mengejar kereta berdarah itu, bagaimana boleh dikarenakan sedikit urusanjadi saling bentrok?"

Dengan dinginnya Ciu Tong mendengus dingin, dia merasa curiga terhadap gadis itu setelah mendengar perkataannya, kini Koan Ing ada disampingnya sudah tentu Sang Siauw-tan ikut mengetahui juga di dalam urusan ini, jelas dia mempunyai tujuan tertentu.

Ciu Tong bukanlah seorang bocah yang baru berusia tiga tahun, dia lantas paham gadis itu berbuat demikiian adalah dikarenakan ingin mengulur waktu.

Thian Siang Thaysu serta Cha Can Hong suami istti semuanya ada di sekeliling tempat ini, sebentar lagi mereka pasti akan tiba disana.

"Hmmm.... Siauw-tan!"

Serunya sambil mendengus dingin.

"Bilamana kau ingin benar-benar mengetahui urusan ini, aku bisa bercerita kepadamu, cuma saja kau harus ikut dulu dengan diriku."

Sang Siauw-tan jadi terperanjat, dia tahu tentulah Ciu Tong sudah mengerti maksudnya hendak mengulur waktu.

Ooo)*(ooO Bab 28 SINAR MATANYA dengan cepat berputar memperhatikan tempat di sekitar sana, tiba-tiba dia menemukan si dewa telapak dari gurun pasir dengan kecepatan yang luar biasa sudah berlari mendatang.

Hatinya jadi amat girang, dia merasa amat lega sehingga tak terasa sudah kirim satu senyuman kepada si iblis tua itu.

Tetapi pada saat itulah mendadak terdengar Ciu Tong membentak keras, dari sepasang matanya memancarkan nafsu membunuh yang menyala-nyala, tubuhnya dengan diiringi suara desiran angin yang tajam menubruk ke arahnya.

Sewaktu Sang Siauw-tan melihat munculnya Cha Can Hong tadi Ciu Tongpun dapat melihat munculnya si dewa telapak tersebut, sanpai keadaan ssmacam itu mana dia dapat berpeluk tangan lagi maka itu sambil melancarkan serangan dia menubruk ke arah gaiis tersebut.

Begitu tubuhnya bergerak dengan rasa amat terperanjat Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan pedang Kiem-hong-kiamnya, diantara suara suitan yang amat keras serentetan sinar pelangi emas berkelebat menghajar tubuh Ciu Tong.

Toya ditangan Ciu Tong si iblis tua itu dengan dahsyatnya menghantam kepala Koan Ing, agaknya dia bermaksud menggetar pergi tubuh pemuda tersebut.

Sang Siauw-tan yang berhasil kena dicengkeram oleh Ciu Tong hanya di dalam sekejap saja kontan tak dapat berkutik, iblis tua itu lantas menariknya mendekati tubuhnya dan membentak dengan suara yang amat keras.

Jangan bergerak."

Cha Can Hong melengak, terpaksa dia menghentikan langkah kakinya.

Saat ini cukup Ciu Tong menambahi dengan satu bagian tenaga saja maka Sang Siauw-tan seketika itu juga akan terpukul terbinasa.

Koan Ing sendiripun tertegun, dia menarik kembali pedangnya dengan lemas.

Kiranya pedang Kiem-hong-kiam ditangannya berhasil digetarkan terpental oleh sambaran toya Ciu Tong.

untung sekali luka dalamnya tidak sampai kambuh lagi.

"Ciu Tong,"

Terdengar Cha Can Hong mendengus dengan amat marahnya, Namamu berada diantara empat manusia aneh tetapi perbuatanmu sangat terkutuk, ternyata seorang angkatan muda pun berani bertindak dengan menggunakan cara yang paling rendah ini.

Ciu Tong lantas angkat kepalanya tertawa terbahak bahak.

"Haaaa.... haaaa.... empat manusia aneh?"

Teriaknya keras.

"Kesemua itu hanyalah urusan tempo hari saja, sejak masuk ke dalam Tibet hanya cukup seorang Koan Ing saja tidak bisa menangkan dirinya, buat apa aku perlu gagah gagahan lagi? Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi.

"Aku sudah menelan racun dan sembiIan puluh hari kemudian seluruh kepandaian silatku akan musnah, sedang hidupku pun habis sudah, bilamana aku tidak berbuat demikian mungkin sepuluh tahun lagipun belum tentu bisa berhasil menyelesaikan semua urusan ini. Sehabis berkata sinar matanya dengan amat dinginnya memandang sekejap ke arah Suto Beng Cu bertiga yang baru saja mengejar datang. Cha Can Hong tidak bisa berbuat apa-apa lagi, walaupun dia adalah seorang jagoan yang namanya berada dideretan empat manusia aneh tetapi diapun tahu sebelum Ciu Tong turun tangan sendiri tidak bakal dia berhasil menolong gadis itu dari cengkeramannya, Bahkan diapun merasa tidak punya pegangan untuk menahan Ciu Tong walaupun seandainya dia berhasil melukai gadis tersebut.

"Lantas kau ingin berbuat apa?"

Tanyanya kemudian.

"Heeee.... heee.... kini kita berada di dalam keadaan yang amat kritis dan saling bekerja untuk kepentingan diri sendiri."

Ujar iblis tua itu sambil tertawa dingin.

"Siapa yang unggul maka yang lain harus mendengarkan perkataannya kalau tidak hal itu sama saja dengan mencari penyakit buat dirinya sendiri,"

Ca Can Hong yang mendengar perkataan tersebut segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, walaupun perbuatan dari Ciu Tong amat rendah tetapi benar-benar bisa menghadapi keadaan, asalkan syarafnya tidak terlalu berat sudah tentu mereka suka mendengar kan perkataannya, Dengan pandangan yang amat dingin Ciu Tong menyapu sekejap kesemua orang, lalu kepada Koan Ing ujarnya dengan dingin.

"Aku tak tahu bagaimana kau bisa menolong Sang Siauwtan turun dari puncak Su Li Hong, tetapi kau yang mau naik ke puncak Su Li Hong tentunya mau juga bukan ikut aku pergi?"

Biji mata Koan Ing berputar, pada saat ini dia benar-benar berada di dalam keadaan kepepet. Ciu Tong kembali tertawa terbahak-bahak, ujarnya lagi kepada Cha Can Hong.

"Kau jangan mengira bisa berbuat bagaimana kepadamu, kita belum pernah bentrok maka boleh dikata masih merupakan kawan lama, kau jangan kuatir kalau aku bisa menggunakan dirimu."

Cha Can Hong yang mendengar perkataan itu mengandung nada menyindir, dia jadi gusar.

"Ciu Tong Lebih baik berbicara terus terang saja, bilamana kau berani berbuat sesuatu terhadap Sang Siauw-tan maka aku tidak akan berbuat sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu apalagi Sang Su-impun bukannya manusia yang bisa dipermainkan."

Dalam hati Ciu Tong sudah punya perhitungan, dia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haa.... kau jangan kuatir, aku tidak akan berbuat sesuatu terhadap dirinya walaupun aku pernah bentrok dengan diri Sang Su-im tetapi diantara kitapun tidak ada ikatan budi maupun sakit hati, aku tidak bakal membinasakan dirinya."

Dengan dinginnya Cha Can Hong mendengus.

"Ciu Tong,"

Tegurnya dengan berat.

"Tidak perduli kau akan bicara bagaimana pokoknya kau tidak boleh mengganggu seujung rambutnyapun."

"Hmm tentunya kau tidak akan tega melihat dia menemui ajalnya hanya dikarenakan sedikit urusan kecil bukan?"

Mendengar ancaman itu Cha Can Hong kontan merasa hatinya menjeblos.

"Kau ingin apakan dirinya?"

Teriak Koan Ing sambil melintangkan pedangnya.

"Kau ikut aku pergi, apa yang bakal aku perbuat terhadap dirinya nanti kau bisa melihat dengan sendirinya."

Sehabis berkata sambil menyeret tubuh Sang Siauw-tan dia berjalan ke depan. Koan Ing pun dengan cepat mengikuti dari belakang tubuhnya.

"Engkoh Ing"

Tiba-tiba terdengar Sing Siauw-tan menoleh berteriak keras. Jangan ikuti diriku.... jangan ikuti diriku...."

Ciu Tong tertawa dingin, jari tangannya berkelebat menotok jalan darah kaku dari gadis tersebut kemudian tanpa menoleh lagi berjalan ke arah depan.

Koan Ing rada ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya diapun ikut ke depan.

Ca Can Hong benar-benar merasa gusar bercampur cemas.

tetapi diapun tak bisa berbuat apa-apa, terpaksa ikut saja dari belakang pemuda tersebut.

Matanya dengan tajam memperhatikan diri Ciu Tong sedang hati mulai berpikir bagaimanakah caranya pergi menolong diri Sang Siauw-tan.

Dengan gemasnya Koan Ing memperhatikan Sang Siauwtan di dalam cengkeraman Ciu Tong, walaupun dia punya maksud untuk menolong gadis tersebut tetapi dia takut....

dia takut serangannya gagal sebaliknya malah mencelakai dirinya.

Berbagai pikiran dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, tetapi sama sekali tidak berhasil mendapatkan cara yang baik.

Suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya, dengan kecepatan yang luar biasa dia maju dua langkah ke depan mendesak semakin mendekat dengan diri Ciu Tong.

"Hmmmm, Koan Ing kau jangan main kayu dihadapanku lagi,"

Dengus Ciu Tong tanpa menoleh lagi.

"Dengan kepandaian yang kau miliki jangan harap bisa merebut gadis ini dari tanganku, bilamana kau lebih mendekat lagi jangan salahkan aku akan bertindak tanpa sungkan-sungkan terhadap Sang Siauw-tan."

Koan Ing tertegun, sebetulnya dia bermaksud hendak menggunakan menyiksa diri untuk menolong gadis tersebut, tetapijika dilihat dari keadaan iblis tua itu agaknya cara apapun tidak bakal bisa di jalan kan.

Selagi dia menundukkan kepalanya termenung itulah mendadak Ciee Tong menghentikan langkahnya.

Koan Ing jadi melengak dan dongakkan kepalanya ke atas, seketika itu juga dia merasa terkejut bercampur girang.

Kiranya perjalanan mereka sudah dihalangi oleh Thian Siang Thaysu, sedangkan di belakangnya sudah ada Hud Ing Thaysu, Thian Liong Thaysu serta anak murid Siauw-lim-pay lainnya.

"Hmm hweesio gundul, kau mau apa?"

Serunya dengan berat.

Sinar mata Thian Siang Thaysu segera menyapu sekejap kesemua orang, dia bukanlah untuk pertama kali menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw, sudah tentu di dalam urusan ini hanya di dalam sekali pandang saja sudah tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.

"Kau tinggalkanlah Koan Ing disini, aku lantas lepaskan kau pergi!"

Serunya tawar, Ciu Tong segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, sebetulnya bagi dia orang untuk meninggalkan Koan Ing bukanlah jadi persoalan, tetapi dengan kedudukannya pada saat ini sudah tentu dia tidak suka mengalah dengan begitu saja, Tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haaa.... kau ingin aku tinggalkan Koan Ing buat dirimu?"

Ejeknya ambil menuding Thian Siang Thaysu, Selesai berkata kembali dia tertawa terbahak-bahak, Thian Siaug Thaysu yang dituding oleh Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak sudah tentu tidak bisa menahan sabar lagi dia tertawa dingin.

"Pinceng justru ingin kau tinggalkan Koan Ing buat diriku", Ciu Tong menarik kembali senyumannya, tanpa menoleh lagi kepada Cha Can Hong katanya.

"Cha Loo-te kau boleh hadapi hwesio gundul dari Siauwlim-si ini", Cha Can Hong yang melihat sikap dari Ciu Tong ini mirip orang yang lagi memberi perintah dalam hatinya merasa amat gusar.

"Sudah tentu dia tidak ingin berbuat begitu sesuai dengan perkataan dari iblis luar lautan itu, Ciu Tong!"

Serunya sambil mendengus dingin.

"Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan Siauw-tan, lebih baik kau turun tangan sendiri saja".

"Ouw, jadi maksud Cha Loo-te kau rela membiarkan Koan Ing dibawa pergi oleh mereka."

Cha Can Hong jadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau Ciu Tong bisa menggunakan Koan Ing untuk menakut-nakuti dirinya, Setelah termenung berpikir sebentar, akhirnya dia mau juga ke depan.

Ciu Tong kembali tertawa dingin.

"Cha Loo-te sejak masuk ke daerah Ti bet kau orang belum pernah secara resmi memperlihatkan ilmu telapak "Toa Mo Hwee Kiom Ciang"

Mu itu, ini hari justru kau harus memamerkannya dihadapan kita", Thian Siang Thaysu Yang melihat Ciu Tong ternyata bisa menggunakan tenaga dari si dewa telapak Cha Can Hong dalam hati merasa agak bergidik, bilamana si dewa telapak dari gurun pasir turun tangan maka istrinya Suto Beng Cu pun pasti tidak akan berpeluk tangan, Ditambah lagi dengan Koan Ing sendiri, Ciu Tong serta kedua orang gadis tersebut yang bersama-sama mengerubuti mereka, ada kemungkinan suatu bencana tidak bakal lolos, Baru saja berjalan dua langkah ke depan mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benak Cha Can Hong, dia pikir buat apa dirinya digunakan oleh Ciu Tong hanya hendak diadu dengan hweesio dari Siauw-lim-pay tersebut, Mendadak dia mendapatkan satu cara.

"Thaysu!"

Serunya kepada Thian Siang hweesio.

"Buat apa di antara kita harus bergebrak sendiri, aku pikir lebih baik untuk sementara waktu kita berjaga dengan situasi sekarang ini, bagaimana kalau kita turun tangan setelah melihat Ciu Tong hendak berbuat apa atas diri Sang Siauw-tan?"

Sebenarnya dihati kecil Thian Siang Thaysu sendiri juga tidak mau bergebrak melawan diri Cha Can Hong "Perkataan sicu amat betul, hal ini sangat cocok dengan maksud hatiku,"

Sahutnya sambil merangkap tangannya memberi hormat.

Ciu Tong yang melihat mereka berdua bukannya bergebrak sebaliknya malah berkawan, sinar matanya kembali berkedip.

Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 6

Baca Juga: Tiga Maha Besar 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert