Ceritasilat Novel Online

Kereta Berdarah 4

Eps 4 Kereta Berdarah - Khu Lung

Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung

Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.

Lama sekali dia termenung, akhirnya dia membuka kembali halaman yang kedua, di sana tercatatlah berbagai ilmu silat yang paling dahsyat dari Thian-yu-pay, di samping itu ternyata masih termuat juga berpuluh-puluh jurus gerakan yang dia belum pernah memperoleh sebelumnya, bahkan disampingnya masih terdapat juga kritikan dari Song Ing sendiri.

Selanjutnya pada halaman berikutnya termuat berbagai ilmu silat dari partai2 yang lain, ternyata Song log itu memang benar amat dahsyat sekali tidak disangka seluruh ilmu silat di dalam dunia kangouw dia memahaminya benar-benar, bahkan terdapat pula perubahan serta pecahan2 menurut pendapatnya sendiri, Di dalam hati Koan Ing benar-benar merasa amat kagum atas ketelitian dan ketajaman otaknya, dia cuma merasa heran secara bagaimana Song Ing bisa mencuri begitu banyak ilmu silat yang amat lihay dari jago-jago Bu-lim, bahkan dapat memahaminya pula.

Satu halaman demi satu halaman dibacanya dengan teliti, semakin melihat dia merasa semakin tertarik lagi dan dia merasa apa yang dimuat di dalam kitab itu mengandung maksud yang mendalam dan mempunyai perubahan yang amat luas sekali, sehingga tanpa terasa lagi dia sudah membacanya sampai halaman terakhir.

Setelah habis membaca kitab itu dia termenung berpikir beberapa saat lamanya.

dia merasa jurus serangan yang termuat di dalam kitab pusaka "Boe Shia Koei Mia"

Itu dahsyat laksana menggulungnya ombak, di tengah samudra yang saling susul menyusul dengan tak henti-hentinya berkelebat di dalam benaknya.

Lama sekali Koan Ing termenung berpikir keras, dia merasa perkataan Song Ing yang mengatakan "Ilmu silat tidak ada ujung pangkalnya"

Memang benar, dia merasa semakin belajar semakin tertarik dan tidak ada jemu2nya. Tidak tertahan lagi sekali lagi dia membaca seluruh isi yang termuat di dalam kitab pusaka "Boe Shia Koei Mia"

Itu, kali ini dia benar-benar merasa hatinya amat girang benar, dia merasa menyesal kenapa tidak sejak dahulu dia mempelajarinya.

Ketika Koan In selesai membaca isi kitab pusaka itu untuk kedua kalinya cuaca sudah mulai menggelap, dia jadi tertegun dia sama sekali tidak menyangka dirinya sudah membaca kitab itu selama satu harian penuh.

Dengan perlahan dia kebut jatuh bunga-bunga salju yang mengotori bajunya, pada waktu itu dia sama sekali tidak merasa lapar ataupun dahaga, di dalam benaknya cuma dipenuhi dengan jurus-jurus serangan dari perbagai aliran yang ada di dalam Bu-lim pada saat ini, Pada waktu Koan Ing sedang berpikir keras itulah mendadak dari tempat kejauhan berkelebat mendatang dua sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya, dia mengerutkan alisnya rapat-rapat.

Di tengah tanah salju yang demikian sunyi dan sepinya jagoan berkepandaian tinggi dari mana lagi yang sedang melakukan perjalanan?

Jilid 8 DI TENGAH suasana magrib kabut melayang menutupi pandangan, ketika Koan Ing dapat melihat, orang yang datang adalah Ciu Tong ayah beranak, Ciu Tong pun saat itu sudah dapat melihat dirinya.

Dia tahu bilamana mau melarikan diri dari sana bukanlah satu pekerjaan yang gampang, jauh lebih baik kalau menanti kedatangan mereka.

Ciu Tong yang melihat Koan Ing seorang diri berdiri di tengah tanah salju dia pun rada dibuat tertegun, tetapi sebentar kemudian sudah tertawa.

"Ooow.... kiranya kau orang adanya, tidak disangka kau bisa disini seorang diri."

Sembari berkata tubuh kedua orang itu mulai berkelebat mendekati diri Koan Ing.

Kiranya kedua orang itu sedang mengejar diri Sang Siauwtan sudah bersembunyi di tempat mana, maka itu setelah mencari seharian penuh tidak menemukan juga sebaliknya secara diluar dugaan sudah berjumpa kembali dengan Koan Ing.

Koan Ing cuma tertawa tawar tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ciu Tong yang melihat Koan Ing berdiri di tempat itu dengan amat tenangnya di dalam hati diam-diam berkelebat satu ingatan.

"Apa mungkin dia sengaja berada di sini untuk menunggu kedatangan Sang Siauw-tan?"

Pikirnya. Berpikir sampai disini tidak tertahan lantas tanyanya.

"Hey kau melihat diri Sang Siauw-tan tidak?"

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, diam-diam di dalam hati berpikir.

"Dengan kepandaian silat yang aku miliki saat ini masih bukan tandingan dari Ciu Tong jikalau aku cari gara-gara dan ngotot menantang dia untuk bertempur bukankah hal ini sama saja dengan mencari gebuk?"

Heeei....

, begini saja kalau Ciu Tong bangsat tua ini sudah bersikap keterlaluan aku lebih baik jangan turun tangan, Berpikir sampai disitu dengan perlahan dia lantas gelengkan kepalanya, Ciu Tong yang melihat air muka serta sikap dari Koan Ing ini segera menduga di dalam hati kalau Sang Su-im tentunya sudah mengucapkan sesuatu terhadap dirinya tetapi kenapa dia masih berada di tempat ini seorang diri?

Tetapi dia percaya Sang Su-im tidak mungkin dapat menjodohkan Sang Siauw-tan dengan diri Koan Ing.

Jika dilihat dari sikap Sang Siauw-tan sendiri, dia bisa melihat kalau Sang Siauw-tan mencintai Koan Ing dengan tulus ikhlas dan cintanya adalah cinta murni dia masih harus berusaha untuk menghalangi diri Koan Ing mendekati Sang Siauw-tan lagi, Dia termenung berpikir sebentar, akhirnya satu suara tertawa yang amat seram berkumandang memenuhi angkasa.

"Aku dengar sewaktu Jien Wong munculkan dirinya untuk pertama kali, cuma kau seorang saja yang sudah bercakapcakap dengan dirinya Hmm.... hmm.... selamanya dia jarang melepaskan mangsanya di dalam keadaan bernyawa, tetapijika dilihat dari kau orang yang dikecualikan aku rasa tentunya diantara kalian ada sedikit hubungan persahabatan. Hehe.... heee.... aku rasa membawa kau serta pergi mencari Jien Wong adalah satu pekerjaan yang paling cocok.

"Aku sama sekali tidak mempunyai ikatan persahabatan apa-apa dengan dirinya, aku rasa kau bajingan tua sudah salah duga, tapi...."

"Ehmm.... kalau memangnya kau ingin aku pergi bersamasama dengan kalian akupun dengan senang hati akan menyanggupi."

Ciu Tong jadi melengak, dia tahu sifat dari Koan Ing amat kukoay sekali dan sukar diraba, dia sama sekali tidak menyangka ini hari dia orang bisa berlaku begitu sembarangan, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa terbahak bahak.

"Haaa.... haaa.... tidak kusangka ini hari kau bisa bicara dengan baik?"

Di tengah suara kerasnya itulah tiba-tiba.

"Hmmm, masih ada aku seorang yang akan berangkat bersama sama dengan kalian...."

Satu suara yang dingin bergema datang.

Sekali lagi Ciu Tong jadi melengak, dengan cepat dia menoleh memandang ke arah darimana berasalnya suara tersebut.

Tampaklah Sang Su-im dengan wajah yang adem sedang berdiri tidak jauh dari dirinya, sinar matanya yang amat tajam pada saat ini terang memandang ke arahnya dengan penuh perhatian.

Dalam hati Ciu Tong segera merasa keheranan, dia tidak habis mengerti.

Sang Su-im yang tadi orangnya sudah pergi jauh, bagaimana secara tiba-tiba bisa muncul kembali disana, tetapi dia tahu, jikalau ada dia disana maka perduli dia mau mengurusi diri Koan Ing maupun menghadapi diri Sang Siauwtan tentu bakal menemui kesulitan2.

"Haaa.... haaa.... kiranya Sang Loo-te sudah datang"

Serunya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Aku ayah beranak sudah cari kau kemana-mana tanpa memperoleh hasil, tidak kusangka kau bisa munculkan dirinya sendiri di sini."

Dengan dinginnya Sang Su-im memperdengarkan suara dengusannya, dia sudah termenung berpikir lama sekali akhirnya di dalam hati merasa sangat tidak senang, kini melihat Ciu Tong agaknya bermaksud tidak baik terhadap diri Koan Ing membuat hatinya semakin mendongkol lagi.

"Ciu heng, Kong Bun-yu sudah mati, jikalau bersikap demikian kasarnya terhadap diri keponakan muridnya bukankah tindakanmu ini sedikit keterlaluan?"

Serunya terhadap diri Ciu Tong.

Ciu Tong jadi tertegun, selama ini di dalam hatinya dia terus menerus sedang berpikir dengan cara bagaimana hendak memberikan penjelasannya bilamana Kong Bun-yu datang, saat ini dia mendengar Kong Bun-yu sudah mati, seketika itu juga membuat hatinya merasa terkejut bercampur girang.

Tetapi diluarnya dia pura-pura memperlihatkan rasa sedihnya, dia menghela napas panjang dan tundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Heeei.... Kong Loo-te masih muda dan berkepandaian amat tinggi sekali, tidak disangka dia diberkahi umur yang begitu pendek."

Padahal di dalam hati saking girangnya dia kepingin meloncat-loncat, justru dikarenakan Koan Ing bukan anak murid dari Kong Bun-yu melainkan cuma keponakan muridnya itulah dia baru menurunkan tindakan kejam kepadanya, kini setelah mendengar berita atas kematian dari Kong Bun-yu membuat dia diberi satu kesempatan lagi untuk lebih memperhebat siksaannya terhadap Koan Ing.

Sikap serta tindak tanduk yang pura2 dari Ciu Tong ini sudah tentu tidak dapat lolos dari pandangan mata Koan Ing maupun Sang Su-im berdua,....

dalam hati mereka berdua segera mendengus dengan amat dinginnya.

Tetapi bagaimana Sang Su-im secara tiba-tiba bisa membuka rahasia ini dihadapan Ciu Tong?

Bukankah Koan Ing sudah pesan wanti2 kepadanya untuk jangan di bocorkan?

Sang Su-im yang bukan baru pertama kalinya terjunkan diri ke dalam Bu-lim di dalam hati sudah tentu mempunyai perhitungannya sendiri, dia tidak akan berlaku gegabah di dalam melakukan tindakan tertentu.

Selesai berkata Ciu Tong lalu menoleh ke arah Sang Su-im dan sambungnya lagi.

"Sang Loo-te, mari kita pergi mencari kereta berdarah itu."

Sang Su-im tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu tapi mendadak air mukanya sudah berubah amat hebat....

Koan Ing pun mengerutkan alisnya rapat-rapat sinar matanya berkelebat menyapu sekeliling tempat itu, dia merasa kaget dan ngeri sewaktu melihat keadaan di sekeliling sana.

Kiranya entah sejak kapan di empat penjuru dari empat orang itu sudah muncul berpuluh-puluh api setan Air muka Ciu Tong berubah sangat hebat, kepada Sang Suim serunya sambil tertawa.

"Sang Loo-te, apa mungkin orang yang sudah pada mati kini telah pada bangkit kembali dari kuburan?"

"Bangkitnya kembali Yu Ming Hiat Noe aku sudah memperoleh kabar sejak semula, tetapi dia orang yang ada diratusan li dari tempat ini bagaimana dengan begitu cepatnya bisa sampai disini?"

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi sangat terperanjat.

"Yu Ming Hiat Noe"

Atau Si Budak Berdarah yang terjadi pada dua puluh tahun yang lalu, yang satu adalah munculnya Kereta Berdarah di dalam di dunia persilatan sedang yang lain adalah munculnya iblis dari daerah See Ih "Yu Ming Hiat Noe"

Atau Si Budak Berdarah dari kegelapan yang mulai menyebarkan pengaruhnya ke dalam daerah Tionggoan.

Akhirnya kereta berdarahnya setelah dikerubuti oleh empat manusia aneh berhasil dirubuhkan, walaupun kemudian Jien Wong berhasil melarikan diri tetapi sejak itu beritanya lenyap dan dalam.

Sedangkan Si Budak Berdarah dari kegagalan itu setelah terjadi pertempuran yang amat sengit di atas gunung Thian San melawan tiga manusia aneh sekalipun di kemudian hari tiga manusia genah pulang ke gunung di dalam keadaan terluka tetapi sejak itu pula Si Budak Berdarah dari kegelapanpun lenyap dari pendengaran Bu-lim.

Sungguh tak disangka sama sekali api setan Yu Seng Koei Kwe -nya bisa munculkan diri kembali di tempat ini.

Ciu Tong serta Sang Su-im tahu pada dua puluh tahun yang lalu kepandaian silat dari tiga manusia genah empat manusia aneh adalah seimbang satu sama lainnya, tetapi mereka belum pernah bertempur dengan Si Budak Berdarah dari kegelapan ini, kini secara tiba-tiba mendengar dia munculkan dirinya kembali bahkan dengan menggunakan api setan "Liuw Seng Koei Hweenya menantang mereka berdua untuk bertempur, tidak urung membuat mereka berdua merasa sedikit bergidik juga.

Bilamana bertemu dengan si manusia tunggal dari Bu-lin Jien Wong ada kemungkinan mereka bisa mengadakan perjanjian untuk bergebrak pada satu saat tertentu tetapi terhadap Si Budak Berdarah dari kegelapan ini mereka cuma pernah mendengar namanya saja tanpa mengetahui orangnya yang sebetulnya.

Kedatangan Thian Siang Thaysu itu ciangbunjin dari Siauwlim-pay kali inipun di samping soal kereta berdarah, yang penting adalah persoalan munculnya kembali Si Budak Berdarah dari kegelapan ini Ciu Tong menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, lantas dia tertawa dingin.

"Heee.... heee.... buat apa kau mempergunakan permainan setan ini untuk menakuti-nakuti orang?"

Bentaknya dengan keras.

"Kalau kau orang benar-benar bernyali, ayoh cepat keluar dan kita bergebrak dengan terang-terangan "

Tetapi api setan itu cuma naik turun saja di tengah udara, di sekeliling tempat itu sama sekali tidak tampak sesosok bayangan manusiapun, membuat suasana bukit tersebut terasa amat seram dan mendirikan bulu roma.

Sang Su-im segera tertawa tawar.

Jikalau dia orang punya minat untuk munculkan diri dan bertemu dengan kita, tidak perlu kau berteriakpun dia bisa menampakkan diri!"

Serunya. Ciu Tong mengerutkan alisnya.

"Apa?"

"Aku tidak percaya dengan kepandaian silat kita berdua masih ada orang yang berani mencabut kumis macan, Hmm hmm.... kecuali orang yang sudah tidak kepingin hidup lagi"

Teriaknya sambil tertawa.

"Aku lihat Si Budak Berdarah dari kegelapan itupun tidak terlalu luar biasa."

Sang Su-im cuma tertawa saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Diantara keempat manusia aneh, masing-masing mempunyai kepandaian silat dahsyat yang mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri, ilmu pedang dari Kong Bun-yu boleh di kata tanpa bandingan di seluruh kolong langit, ilmu jari "Han Yang Ci"

Dari Sang Su-im merajai Bu-lim, ilmu mayat membusuk dari Ciu Tong juga boleh di kata tak ada bandingannya ditambah pula dengan sepasang telapak dari Toa Mo Sian Ciang.

Dia percaya pada dua puluh tahun ini tidak bakal ada orang yang berani mencari gara-gara dengan diri mereka berempat.

Berpikir sampai disini nyalinya jadi semakin besar, dia segera memimpin tiga orang yang lain untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke arah depan.

Cio Tong pun bukanlah seorang manusia yang bernyali kecil, walaupun pada permulaan dia rada merasa keder tetapi rasa kedernya itu pada saat ini sudah lenyap tak berbekas.

Alisnya dikerutkan rapat-rapat, kemudian dia memperdengarkan kembali suara tertawanya yang amat keras.

"Haaa.... haaa.... Bagaimana bentuk badan dari Si Budak Berdarah dari kegelapan itu kitapun cuma pernah mendengar dari berita yang tersiar di dalam Bu-lim saja dan belum pernah menemuinya sendiri, kalau ini hari dapat bertemu muka dengan dirinya, hal ini boleh dikata sangat untung sekali."

Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanannya ke depan, kira-kira seperempat jam kemudian mendadak Sang Su-im menghentikan langkah kakinya.

Sekali pandang saja Koan Ing dapat melihat di atas permukaan salju di hadapannya menggeletaklah sesosok mayat, di dalam hati diam-diam dia merasa sedikit terperanjat.

Sinar mata Sang Su-im segera menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu kemudian baru berjalan mendekati mayat itu.

Kiranya mayat itu adalah mayat dari seorang hweesio, dengan cepat dia membalikkan mayat itu menghadap ke atas dengan menggunakan kakinya.

Tetapi sebentar saja suara teriakan kaget sudah bergema memenuhi angkasa, kiranya bagian depan dari mayat hweesio itu sudah ditabas lenyap, kini cuma tinggal badannya yang bagian belakang menempel di atas permukaan salju, Ciu Tong walaupun disebut sebagai Si iblis sakti dari Lautan Timur dan menduduki kedudukan iblis diantara Malaikat, manusia aneh, manusia sakti serta iblis tetapi dia sendiripun tidak pernah melakukan tindakan yang demikian kejamnya.

"Hmmm Aku rasa Si Budak Berdarah dari kegelapan itu bilamana bukannya sedang menanti kedatangan kita, tentunya sedang menunggu kedatangan dari si hweesio tua dari Siauwlim-pay itu!"

Seru Sang Su-im sambil mendengus.

"Bilamana dia orang melakukan perjalanan siang malam dari gunung Siong San kemungkinan sekali sudah hampir tiba disini."

"Haa.... haaa.... kiranya anggota perkumpulan Tiang-gongpang dari Sang Loo-te seluruhnya sudah tersebar ke dalam daerah Tibet ini!"

Seru Ciu Tong sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Entah secara bagaimana aku orang belum pernah bertemu muka dengan mereka?"

Sang Su-im segera tertawa tawar, dia tahu Ciu Tong merasa sangat tidak puas sekali terhadap dirinya tetapi dia tidak mau mengambil gubris.

Kiranya bukan saja Sang Su-im selain mengawasi gerak gerik dari kereta berdarah itu, diapun memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi setiap jagoan berkepandaian tinggi yang ada di daerah Tibet sudah tentu termasuk Ciu Tong pula.

Dengan tawarnya dia segera menjawab.

"Siauwte sudah perintahkan mereka untuk jangan memperlihatkan jejaknya sudah tentu tidak bakal ada yang tahu."

Sinar mata dari Ciu Tong berkelebat tak hentisnya, dia lalu memandang keadaan di sekeliling tempat itu.

"Aku tidak suka berkenalan dengan hweesio-hweesio dari kalangan lurus yang sok bersifat jagoan dan pendekar itu!"

Serunya dengan dingin.

"Kelihatannya mereka sudah bakal sampai di tempat ini, bagaimana kalau kita pergi bersembunyi dulu?"

Agaknya Sang Su-impun tidak begitu senang bergaul dengan hweesio-hweesio dari Siauw-lim-pay itu, dia segera mengangguk dan bersama-sama dengan tiga orang lainnya melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Walaupun mereka sudah bergerak ke depan dengan cepatnya tetapi tidak urung sebagian kecil dari api setan yang mengelilingi tempat itu mengikuti juga terus diri mereka dengan kencangnya.

Ciu Tong jadi mendongkol, dia segera tertawa dingin "Haa....

ha....

aku masih mengira dia tidak bakal berani mencari gara-gara dengan kita orang ternyata mereka bermaksud untuk memperlihatkan sedikit permainan busuk dengan kita"

"Buat apa mengurusi hal itu?"

Seru Sang Su-im tertawa tawar.

"Kita berjalan dengan kaki kita sendiri, jikalau dia bermaksud untuk menemui kita sudah tentu dia bisa munculkan diri dengan sendirinya. Hehe.... akupun merasa benci juga dengan tindakannya yang sengaja memperlihatkan kemisteriusan ini,"

Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, sewaktu hari sudah gelap mereka telah tiba di sebuah gua yang cukup besar, tanpa ragu lagi mereka berjalan masuk ke dalam gua tersebut.

Sesampainya di dalam gua Ciu Tong segera menyapu sekejap memperhatikan keadaan gua itu, tampaklah suasana di tempat tersebut sunyi senyap tak tampak sesuatupun, cuma saja api setan itu masih tetap mengelilingi mereka tak buyar.

Dengan dinginnya dia segera mendengus di dalam hati dia merasa rasa tak tenang dia tak tahu Si Budak Berdarah dari kegelapan sedang mempertunjukkan permainan apa.

Terlihatlah wajah Sang Su-im amat tenang sekali, sedikitpun tidak tampak perubahan yang aneh, diam-diam di dalam hati dia merasa menyesal sendiri.

Mereka berdua angkat nama bersama-sama, jikalau ketenangannya tidak dapat menangkan diri Sang Su-im, bukanlah hal itu merupakan satu peristiwa yang sangat memalukan sekali?

Dia menarik napas panjang-panjang lalu sekali lagi menyapu sekejap sekeliling gua itu, dia tertawa.

"Hmm, dengan kepandaian silat yang aku miliki saat ini ada siapa yang berani bermain gila denganku?"

Pikirnya.

"Buat apa sikapku begitu waspada dan berhati-hati?"

Perlahan-lahan dia memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan. Lewat beberapa saat kemudian mendadak....

"Si Budak Berdarah!"

Teriak Sang Su-im.

Ciu Tong merasakan hatinya bergidik, sepasang tangannya dari kiri dan kanan bersama-sama melancarkan pukulan menutup mulut gua tersebut.

Tetapi baru saja dia melancarkan serangannya itulah mendadak dia merasakan suara desiran angin serangan yang amat tajam sekali sudah menghajar badannya.

Seketika itu juga dia sadar sudah terkena serangan bokongan.

dengan cepat tubuhnya berputar untuk menghadapi sesuatu.

Tetapi serangan jari dari Sang Su-im ini sudah dipersiapkan sejak tadi, mana mungkin dia berhasil menghindarkan diri?

Walaupun dia sudah berputar badannya untuk menghindar tetapi waktu sudah terlambat jalan darah Tiong Hu, Sauw Yang serta Hay Sim tiga buah jalan darah pentingnya terasa dingin, hawa murninya seketika itu juga buyar dari badannya.

Tampaklah Sang Su-im sambil tertawa dingin berdiri di sana dan memandang ke arah Ciu Tong dengan pandangan yang amat dingin sekali.

Koan Ing yang melihat kejadian itu dari samping, dalam hati merasa terkejut pula, dia sama sekali tidak menyangka di saat-saat seperti ini Sang Su-im dapat turun tangan membokong diri Ciu Tong, bahkan cukup di dalam satu gerakan saja sudah berhasil mengalahkan dirinya.

Ciu Tong yang kena tertotok di dalam hati merasa amat terkejut bercampur gusar.

"Kau...."

Serunya, Ciu Pak yang melihat ayahnya tertawan, dia jadi ketakutan setengah mati, cepat dia mundurkan diri dan bersembunyi di pojokan gua itu. Terdengar Sang Su-im tertawa dingin.

"Ini yang dinamakan dengan menggunakan cara yang sama untuk membalas cara yang kau gunakan tempo hari terhadap diriku,"

Serunya tertawa. Sang Su-im dengan perlahan segera menoleh ke arah Koan Ing yang saat itu sedang bangkit berdiri.

"Sejak dahulu aku sudah menanti kesempatan yang baik ini,"

Ujarnya sambil tertawa tawar.

"Paling sedikit lima tahun kemudian tenaga dalamnya baru bisa pulih kembali seperti sediakala, sekarang kan boleh turun tangan sesukamu untuk menghukum dirinya. Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera memandang ke arah Ciu Tong dengan termangu-mangu, kini Ciu Tong sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan.... Tenaga dalamnya sudah buyar dan inilah suatu kesempatan buat dirinya untuk membalas dendam, tetapi dia yang teringat kalau dirinya adalah seorang ciangbunjin dari satu partai mana mau berbuat tindakan tersebut. Dia segera angkat kepalanya dan tertawa.

"Bagus.... bagus sekali.... Sekarang kau boleh merasakan bagaimana rasanya kalau dibokong orang lain, tetapi aku tidak mau membinasakan dirimu pada saat ini, kalau aku berbuat demikian tidak lebih cuma mendatangkan kerugian buat nama besar dari Thian-yu-pay kami.

"Bagus.... bersemangat,"

Puji Sang Su-im yang mendengar perkataannya itu.

"Walaupun aku adalah seorang pangcu dari satu perkumpulan besar tetapi saat ini aku merasa amat kagum sekali atas sifatmu yang amat gagah ini."

Sehabis berkata dia segera menoleh memandang ke arah diri Ciu Tong.

"Sekarang kau boleh pergi, lima tahun kemudian kita berjumpa kembali,"

Ujarnya dingin.

Tenaga dalam dari Ciu Tong sudah buyar saat ini, badannya sama sekali tidak bertenaga, dalam hati dia merasa sangat sedih bercampur gusar, walaupun pada saat ini dia bermaksud hendak mengadu jiwa dengannya, tapi hal ini juga tidak berguna.

Karenanya terpaksa sambil merangkul badan Ciu Tong serunya dengan dingin.

"Pada suatu hari bilamana tenaga dalam ku sudah pulih kembali aku akan datang kembali untuk membalas dendam...."

Sehabis berkata dia melirik kembali sekejap ke arah diri Koan Ing.

Dia sama sekali tidak menyangka dia orang yang sering membokong orang lain, Dia bisa mendapatkan bokongan juga dari Sang Su-im, tetapi nasi sudah jadi bubur, dia cuma bisa menghela napas panjang dan menyesali dirinya kurang berhati-hati....

Sang Su-im memandang sampai bayangan punggung dari Ciu Tong lenyap dari pandangan kemudian baru menghela napas panjang, dia merasa tindakannya kali ini rada sedikit kejam, tetapi ketika teringat kembali akan keganasan serta kelicikan dan Ciu Teng dia merasa tindakannya ini adalah sangat tepat sekali untuk dirasakan oleh dia orang.

Koan Ing sendiri yang melihat keadaan Ciu Tong pada saat ini, diapun tidak tahu haruskah merasa bergirang hati ataukah menyesal.

Hari sudah hampir terang tanah, kita harus beristirahat sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali, tiba-tiba terdengar suara dari Sang Su-im memecahkan kesunyian.

Belum sempat Koan Ing memberikan jawabannya mendadak terdengar suatu suara tertawa yang amat dingin sekali berkumandang dari kejauhan yang semakin lama semakin mendekat seluruh angkasapun dengan cepat sudah dipenuhi dengan suara tertawa yang melengking tinggi dan mendirikan bulu roma itu.

Mendengar suara tertawa seram itu air muka Sang Su-im seketika itu juga berobah sangat hebat.

"Si Budak Berdarah dari kegelapan sungguh-sungguh sudah datang!"

Teriaknya dengan suara yang amat berat.

Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat, dengan cepat dia melongok ke depan gua.

Tampaklah api-api setan berwarna merah darah itu bergerak semakin ke atas diikuti sesosok bayangan merah darah dengan kecepatan yang luar biasa menubruk datang.

Sang Su-im segera membentak rendah, tidak menanti bayangan darah itu menerjang masuk ke dalam gua, dia babat tangannya ke depan berturut-turut melancarkan tujuh totokan dahsyat.

Seketika itu juga suara desiran angin serangan yang amat tajam berkelebat memenuhi seluruh gua tersebut.

Segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan dahsyatnya segera mengalir masuk ke dalam gua....

"Braak!"

Dengan hebatnya menghajar di depan dinding gua membuat seluruh gua dipenuhi dengan suara dengungan yang memekikkan telinga.

Koan Ing jadi terperanjat, dengan cepat dia berkelebat menyingkir ke samping.

Terdengarlah Sang Su-im bersuit nyaring, tangannya kembali membabat ke depan menyentilkan tujuh gulung angin serangan yang amat tajam, tampak bayangan jari berkelebat menutupi gua membuat bayangan darah itu tak dapat maju ke depan barang selangkahpun.

Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pujian kepada sang Buddha yang amat rendah tapi berat sekali bayangan darah itu dengan cepatnya berkelebat kembali ke arah luar.

Air muka Sang Su-im berubah jadi pucat pasi, selamanya dia belum pernah didesak di bawah angin oleh serangan musuhnya, tidak disangka hari ini ternyata untuk menerjang keluar dari gua itu pun dia sudah menemui kegagalan.

Waktu ini cuaca sudah terang tanah, tanpa keluar dari gua lagi Sang Su-im sudah tahu kalau Thian Siang Thaysu dari Siauw-lim-pay sudah tiba di sana, dia mengkerutkan alisnya rapat-rapat, agaknya saat ini dia ingin bertemu dengan diri mereka.

Kepada Koan Ing cepat ujarnya.

"Mari kita keluar saja."

Koan Ing segera mengangguk dan berjaIan keluar dari gua itu Tampaklah di depan gua sudah berdiri menanti berpuluh orang hweesio, di tengah-tengah para hweesio itu berdirilah seorang hweesio tua Yang alisnya sudah memutih dengan memakai pakaian kasa berwarna kuning, di belakangnya berdirilah seseorang yang bukan lain adalah Hud Ing Thaysu adanya.

Di belakang Hud Ing Thaysu berdirilah sebaris hwesio bersenjatakan toya dan paling belakang berdirilah dua puluh empat orang hwesio lagi, Ketika Sang Su-im berjalan keluar dari gua itu segera tampaklah hweesio tua berkasa kuning itu merangkap tangannya memberi hormat.

"Pinceng Thian Siang, bukankah sicu adalah Sang pangcu?"

Ujarnya, Sang Su-im tertawa tawar, sinar matanya menyapu sekejap ke arah hweesio tersebut lantas balik tanyanya.

"Thaysu datang kemari entah ada urusan apa?"

"Pinceng datang ke daerah Tibet sebetulnya ada tiga urusan,"

Sahut Thian Siang Thaysu sambil tertawa.

"Pertama adalah dikarenakan munculnya kembali Si Budak Berdarah dari kegelapan Pak Li Heng, kedua, karena urusan kereta berdarah dan ketiga dikarenakan urusan Sang Pangcu."

Sembari berkata sinar matanya dengan sangat tajam memperhatikan wajahnya.

Sang Su-im yang namanya ada di deretan empat manusia aneh ditambah pula sebagai pangcu dari satu perkumpulan besar sudah tentu mengetahui keadaan dari setiap kalangan, dia yang melihat Thian Siang Thaysu bersikap demikian segera tertawa tawar.

"Apakah dikarenakan urusan terbakarnya kuil Han-poh-si?"

Thian Siang Thaysu sama sekali tidak menyangka kalau Sang Su-im bisa bersikap demikian tawarnya, dia orang yang berkedudukan sebagai seorang ciangbunjin satu pantai besar dan merupakan juga seorang pendeta beribadat tinggi nafsu ingin menangnya di dalam hati sudah lenyap sejak semula, walaupun begitu pada saat ini tak kuasa ujarnya juga.

"Sang Pangcu apakah tidak merasa kalau tindakan putrimu membakar kuil Han-poh-si adalah satu tindakan keterlaluan."

"Tentang urusan ini lebih baik Thaysu jangan banyak bertanya saja!"

Potong Sang Su-im dengan dingin.

"Hud Ing sute juga berasal dari Siauw-lim-pay kami, jikalau Sang pangcu berbuat demikian bukankah sedikit keterlaluan?"

Ujar Thian Siang Thaysu dengan perlahan.

"Walaupun perbuatan ini bukanlah perbuatan dari Sang Pangcu sendiri tetapi asalkan Sang Pangcu mau meminta maaf terhadap Hud Ing Sute, maka urusan ini akan kami bikin beres saja."

Mendengar perkataan itu Sang Su-im segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Hud Ing memukul luka diri Koan Ing lalu memaksa mereka masuk ke dalam selat Im Shia apakah perbuatan ini tidak keterlaluan? Aku rasa lebih baik kau hweesio gede tidak usah ikut campur saja sehingga membuat semua orang merasa tidak gembira."

Dengan perlahan-lahan Thian Siang Thaysu memejamkan matanya.

"Hal itu adalah permintaanku yang paling murah, bilamana Sang Pangcu masih tidak mau menerimanya juga maka di tengah peradilan para Bu-lim aku rasa Sang Pangcu tidak akan dapat mengingkari dosa itu lagi."

Koan Ing yang melihat Thian Siang Thaysu sebagai seorang Ciangbunjin sebuah partay besar ternyata omongannya sangat mendesak orang, membuat di dalam hati dia merasa sangat tidak puas.

"Apa yang dimaksud pengadilan para Bu-lim?"

Serunya keras-keras.

"Aku sama sekali tidak pernah mendengar,"

"Koan Ing, di tempat seperti ini kau tidak berhak untuk ikut campur berbicara."

Ujar Thian Siang Thaysu dengan cepat.

"Tetapi dia mewakili aku berbicara,"

Sambung Sang Su-im dengan cepat. Dengan pandangan yang amat tajam Thian Siang Thaysu segera memperhatikan diri Sang Su-im.

"Bilamana Sang pangcu masih tidak mau menerima keputusan ini. aku rasa ini hari terpaksa pinceng harus minta pelajaran ilmu Han Yang Ci dari sang pangcu yang sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw itu.

"Oooh kiranya Thaysu datang kemari sengaja mengurusi peristiwa ini."

Ujar Sang Su-im sambil tertawa tawar.

"sampai saat ini aku Sang Su-im belum pernah menjajal ilmu silat dari kalangan lurus hee.... hee.... ini hari aku boleh buka mata menambah pengalaman."

"Omitohud,"

Puji Thian Siang Thaysu kepada sang Buddha, ini hari terpaksa pinceng harus minta sedikit pelajaran dari ilmu jari Sang pangcu."

Sang Su-im menarik napas panjang-panjang, dia tertawa tawar, tetapi di dalam hati diam-diam sudah mengambil persiapan untuk menghadapi sesuatu.

Dari antara tiga manusia genah empat manusia aneh selamanya belum pernah bentrok satu sama lainnya, pertempuran yang bakal terjadi ini hari bukan saja merupakan pertempuran diantara mereka berdua melainkan pertempuran antara tiga manusia genah dengan empat manusia aneh.

Ooo)*(ooO Bab 18 DENGAN perlahan Thian Siang Thay su memejamkan matanya rapat-rapat, dia berdiri di tempat itu sama sekali tidak bergerak sedangkan para hweesio lainnyapun segera pada mengundurkan diri ke belakang.

Sinar mata dari Sang Su-im segera berkelebat tak hentihentinya, di dalam hati diam-diam pikirnya.

"Hmmm.... Hweesio gundul ini begitu berani menantang aku untuk bergebrak, sungguh bernyali Aku tidak percaya dia mempunyai jurus serangan yang dapat memperoleh kemenangan dengan pasti."

Di tengah suasana yang amat hening itulah mendadak terdengar seorang hweesio tua maju ke depan dan berteriak keras.

"Sang Su-im adalah seorang iblis dari kalangan Hek-to kenapa ciangbunjin harus turun tangan sendiri? Biarlah aku Thian Liong mewakili ciangbunjin menerima serangannya untuk kali ini!"

Sang Su-im yang melihat Thian Liong Thaysu penjaga dari Tat Mo Tong hendak maju ke depan mewakili Ciangbunjin dia segera mendengus dengan amat dingin Thian Siang Thaysu yang melihat Thian Liong Thaysu hendak maju mewakili dirinya, dia rada ragu-ragu sebentar pikirnya.

"Walaupun kepandaian silat dari Thian Liong Thaysu tidak seberapa tinggi kalau dibandingkan dengan kepandaianku tetapi sekalipun dia maju belum tentu bisa menderita luka, bahkan mungkin kalau memperoleh kemenangan malah bisa angkat namanya di dalam Bu-lim...."

Berpikir akan hal ini dengan perlahan dia mengangguk.

"Kalau begitu sute harus sedikit berhati hati!"

Serunya. Setelah itu dia mengundurkan diri dua langkah ke belakang. Thian Liong Thaysu segera maju ke depan, kepada Sang Su-im ujarnya dengan suara yang amat dingin sekali.

"Hmm, hmm, tidak kusangka yang disebut sebagai empat manusia aneh tidak lebih cuma manusia-manusia goblok yang pintarnya ngomong besar. Di dalam hati diam-diam Sang Su-im merasa amat gemas sekali dia gemas senjata Cap jie Sin Kiamnya tidak dibawa serta, kalau tidak terhadap manusia semacam ini dia sama sekali tidak akan memandang sebelah matapun. Baru saja dia hendak berbicara, mendadak terdengar Koan Ing yang ada disampingnya sudah berseru.

"Empek Sang, bagaimana kalau pertempuran kali ini siauwtit yang menerimanya?"

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar oleh Koan Ing masing-masing pihak segera pada merasa kaget, Thian Liong Thaysu adalah merupakan seorang hwesio berkepandaian tinggi dari ruangan Tat Mo Tong di kuil Siauw-lim-si, sebaliknya walaupun kepandaian dari Koan Ing amat tinggi, dia tidak lebih cuma anak murid angkatan kedua, bagaimana saat ini dia berani menantang dari angkatan tua?

Sang Su-im rada sedikit melengak dibuatnya, dengan perlahan dia menoleh memandang ke arah Koan Ing, dia tahu dia orang berbicara secara sungguh-sungguh karena itu tak terasa lagi dia sudah mengangguk.

"Baiklah,"

Serunya. Tetapi sebentar kemudian dia sudah merasa menyesal kembali karena telah bicara demikian, terpaksa sambungnya lagi.

"Tapi kau harus sedikit berhati-hati!"

Di dalam hati dia benar-benar merasa sangat berterima kasih sekali terhadap tindakan dari Koan Ing yang melindungi wajah serta kedudukannya itu, bagaimanapun juga dia tidak akan membiarkan Koan Ing menderita luka di bawah serangan Thian Liong Thaysu.

Thian Liong Thaysu yang melihat Sang Su-im membiarkan Koan Ing maju menghadapi dirinya, dengan dinginnya dia segera mendengus.

"Susiok!"

Tiba-tiba terdengar seorang hwee-sio berusia pertengahan yang ada di belakang berseru kepada Thian Liong Thaysu.

"Bagaimana kalau pertempuran kali ini biar aku yang menerima?"

Di dalam hati Thian Liong Thaysu merasa amat marah karena Sang Su-im sudah menyuruh Koan Ing menghadapi dirinya, dia segera tertawa dingin.

"Tidak perlu!"

Sahutnya.

"Aku orang memang ingin sekali menjajal kepandaian silat dari jagoan berkepandaian tinggi yang baru saja menerjunkan diri ke dalam Bu-lim ini."

Koan Ing tahu Thian lang Thaysu tentu akan marah sekali atas kejadian ini, dia tersenyum lantas mencabut keluar pedang Kim Hong Kiamnya.

"Cayhe hendak menggunakan pedang ini minta sedikit pelajaran dari Thaysu."

Sepasang alis dari Thian Liong Thaysu segera dikerutkan rapat-rapat, dia tidak ingin banyak bicara lagi tubuhnya segera bergerak menubruk ke arah diri Koan Ing.

Melihat gerakan tersebut dalam hati Sang Su-im segera paham kalau Thian Liong Thaysu hendak mengalahkan diri Koan Ing di dalam waktu yang amat singkat karena itu baru saja maju ke depan dia sudah mengeluarkan ilmu Thian Liong Fat Su-nya.

Saat ini kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing jauh lebih lihay jika dibandingkan dengan kepandaiannya dahulu, melihat Thian Liong Thaysu menubruk maju ke depan, tangan kanannya segera digetarkan....

pedang panjangnya dengan membentuk gerakan busur di tengah berkelebat sinar keemasemasan mengancam jalan darah Thay Yang Hiat pada tubuh Thian Liong Thaysu.

Thian Liong Thaysu segera mendengus dingin, tubuhnya yang ada di tengah udara segera membalik, lima jari tangan kanannya bagaikan kilat cepatnya mencengkeram pedang Kiem-hong-kiam tersebut, Koan Ing segera menggetarkan pedangnya sehingga balik seperti keadaan semula dan menghindarkan diri dari cengkeramannya mencapai pada sasaran yang kosong, tubuhnya dengan cepat menubruk ke bawah, jurus serangannya dilancarkan bagaikan mengalirnya air sungai, tubuhnya sedikit merandek di tengah udara kemudian meneruskan tubrukannya ke atas tubuh Koan Ing.

Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat dia sama sekali belum pernah melihat ilmu silat yang bisa berhenti di tengah udara begitu lamanya.

Pikirannya segera berputar mendadak jurus serangannya yang pernah dibacanya di dalam kitab pusaka Boe shia Koei Mie kembali berkelebat dalam benaknya, pedang panjangnya di tangan kanannya segera dilintangkan ke depan dengan menggunakan jurus "Thian Hong Cu Lok"

Atau pelangi langit menghalangi jalan memunahkan datangnya serangan tersebut. Jurus serangannya ini sebenarnya adalah jurus "Thian Hong Cu Lok dari "Thian-yu Ji Cap Su Cau"

Tetapi mirip juga dengan ilmu pedang Lam Hay Kiam Hoat yang sangat menggetarkan dunia kangouw yaitu jurus "Thian Hong Teh Bun atau langit tertutup tanah membelah."

Tetapi di dalam jurus itu mengandung juga tenaga dari ilmu pedang "Thian-yu Kiam Hoat".

Thian Liong Thaysu bukanlah manusia sembarangan, pengetahuannya amat luas, di dalam sekali pandang saja dia telah mengetahui jurus pedang dari Koan Ing itu.

Dia mendengus dingin, lima jari dari tangan kanannya segera mencengkeram tubuh pedang Kiem-hong-kiam itu, agaknya dia bermaksud hendak merebutnya.

Sinar mata dari Koan Ing berkelebat tak henti-hentinya, mendadak dia teringat kembali akan beberapa patah kata yang pernah di bacanya di dalam kitab pusaka itu.

Tangan kanannya digetarkan pedang Kiem-hong-kiam balik menyerang ke kanan, dengan tetap menggunakan jurus "Thian Hong Coe Lok"

Dia menyerang kembali ke depan tetapi secara diam-diam dia sudah menyalurkan tenaga dalam tingkat atas dari aliran Bu-tong-pay.

Lima jari Thian Liong Thaysu yang mencengkeram di atas tubuh pedang itu segera terlepas bahkan badannya tergetar mundur beberapa langkah ke belakang membuat hatinya benar-benar merasa sangat terperanjat.

Sang Su-im yang berada diluar kalangan ketika melihat hal inipun merasa terkejut dia sama sekali tidak menduga kalau pengetahuan jurus serangan dari Koan Ing jauh melebihi dirinya.

Jurus serangan "Thian Hong Teh Bun"

Dari Lam Hay ini walaupun dia pernah mendengar tetapi selama ini belum pernah melihat barang sekalipun.

Ternyata hari ini dengan mata kepala sendiri dia dapat melihat jurus tersebut sudah berada di dalam jurus serangan pedang Koan Ing, bahkan tenaga dalam aliran Bu-tong-pay yang tidak pernah diturunkan kepada orang lainpun kini digunakan oleh Koan Ing, bukankah hal ini benar-benar merupakan satu peristiwa yang aneh sekali.

Thian Liong Thaysu yang melihat serangannya tidak mendapatkan hasil dia menjadi amat gusar sekali.

Belum sempat tubuhnya melancarkan serangan kembali, pedang panjang dari Koan Ing sudah digetarkan kembali, tubuhnya meloncat ke tengah udara lantas balik menubruk ke tubuh Thian Liong Thaysu.

Dengan meminjam kesempatan ini sekali lagi Thian Liong Thaysu meloncat ke atas udara tetapi sewaktu dilihatnya Koan Ing membuntuti dirinya di dalam hati dia merasa amat gusar sekali.

Di tengah suara dengusannya yang amat dingin telapak tangan kanannya dengan disertai tenaga dalam yang amat dahsyat menghantam ke arah depan.

Segulung angin pukulan yang amat dahsyat laksana menggulungnya ombak di tengah samudra segera menghajar badan Koan Ing.

Koan Ing jadi amat terperanjat, dia tahu dengan kehebatan dari tenaga dalam Thian Liong Thaysu ini bilamana dia berani menerima satu pukulannya saja, maka tubuhnya segera akan kena hajar sehingga terluka parah.

Tubuhnya dengan cepat bergerak menyingkir ke samping....

Thian Liong Thaysu yang terlalu memandang enteng musuhnya sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam dari Koan Ing amat lihay, jurus serangan yang digunakanpun jauh berada diluar dugaannya.

Saat ini untuk melindungi mukanya sendiri terpaksa dia harus mengeluarkan ilmu sakti Thian Liong Sinkang untuk menghadapi diri Koan Ing.

Tubuh Koan Ing dengan cepat berkelebat menyingkir dari serangan tersebut tetapi Thian Liong mana mau melepaskan begitu saja, tubuhnya mendadak merendah ke bawah, lima jari tangan kanannya dengan disertai tenaga dalam yang amat dahsyat mencengkeram punggung Koan Ing.

Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing merasa hatinya sedikit bergidik, berbagai jurus serangan yang termuat di dalam kitab pusaka Boe Shia Koei Mie kembali berkelebat di dalam benaknya, tubuhnya bagaikan sebuah busur mendadak meletik ke atas, inilah yang dinamakan jurus Yu Yah Ih Cho atau ikan meloncat dari selat dari aliran Thian-san-pay.

Thian-san-pay mengutamakan ilmu meringankan tubuh menjagoi Bu-lim, selama beberapa tahun ini sekalipun tidak mempunyai jago-jago yang menonjol tetapi di dalam Bu-lim juga tidak ada yang berani memandang hina mereka.

Di tengah udara Thian Liong Thaysu kembali menarik hawa murninya mengelilingi tubuhnya, cengkeramannya sekali lagi menemui kegagalan membuat sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah sedangkan telapak tangannya dengan disertai angin pukulan yang amat dahsyat menghantam tubuh Koan Ing.

Dengan cepat Koan Ing meloncat menghindar, tubuhnya membalik balas menerjang ke arah Thiang Liong Thaysu, pedang Kiem-hong-kiam di tangannya berkelebat dengan amat tajamnya lantas membabat pergelangan tangan kanan dari Thian Liong Thaysu.

Dalam hati Thian Liong Thaysu mendengus dingin.

"Bocah ini sungguh jumawa sekali. Hmmm berani beradu tenaga dengan diriku,"

Pikirnya.

Telapak tangan kirinya dengan cepat di babat ke depan sedang telapak tangan kanannya sedikit merendah, satu gulung angin pukulan laksana topan yang menyambar menerjang badan Koan Ing.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, tubuhnya sedikit merandek di tengah udara di saat pedang Kiem-hong-kiam digetarkan keras serentetan bunga-bunga pedang dengan cepatnya menghantam leher dari Thian Liong Thaysu.

Thian Liong Thaysu jadi sangat terperanjat, dia sama sekali belum pernah melihat jurus-jurus serangan macam ini, alisnya dikerutkan rapat-rapat sedang satu ingatan mendadak berkelebat di dalam benaknya.

Dia lantas bersuit nyaring tubuhnya berputar telapak tangannya menyambar ke depan melancarkan lagi satu pukulan.

Koan Ing sama sekali tidak menyangka Thian Liong Thaysu berani melanjutkan kembali serangannya, bilamana dia tidak cepat-cepat menarik pedangnya ke belakang maka nyawanya akan diganti dengan sebuah lengan dari Thian Liong Thaysu.

Di saat yang amat kritis itu dia tidak banyak berpikir lagi, di tengah suara sultannya yang amat nyaring tangan kanannya menyentil ke depan sedang tubuhnya melayang mundur ke belakang.

"Braaak!"

Dengan disertai suara bentrokan yang amat keras Koan Ing segera merasakan tangan kanannya jadi kaku dan amat linu, tubuhnya setelah mencapai permukaan tanah dengan terhuyung-huyung mundur kembali dua langkah ke belakang.

Air muka Thian Liong Thaysupun berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, dia sama sekali tidak pernah menduga kalau Koan Ing berani melancarkan serangan dengan menyambitkan pedangnya, bahkan kecepatan dari serangan itu sama sekali tidak pernah terduga sebelumnya.

Pada saat pedang Kiem-hong-kiam itu meluncur mendatang, sekalipun dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menghindarkan diri tetapi tidak urung pundak kirinya tertembus juga oleh pedang Kiem-hong-kiam itu.

Darah segar segera berceceran mengotori seluruh permukaan tanah dengan menahan sakit dia mencabut keluar pedang tersebut dan dilemparkan ke atas tanah, kemudian dengan menggunakan tangan kanannya menutupi luka pada lengan kirinya dia melototi dirinya Koan Ing dengan amat gusar.

Perubahan yang terjadi di tengah kalangan secara tiba-tiba ini membuat semua orang jadi berdiri melongo, mereka semua sama sekali tidak menyangka pertempuran tersebut bisa berakhir dengan demikian.

Thian Siang Thaysu yang melihat kejadian ini dalam hati diam-diam merasa sangat tidak tenang, dia tidak menyangka kalau pertempuran ini diakhiri dengan seimbang, Thian Liong Thaysu adalah hweesio berkepandaian tinggi yang menjaga ruangan Tat Mo Tong, tidak disangka ini harus kecundang di tangan Koan Ing, Tetapi rasa terkejut dari Sang Su-im jauh lebih hebat lagi, terang-terangan dia dapat melihat jurus terakhir yang digunakan Koan Ing untuk menyambit pedang tadi adalah jurus "Han Yan Cie"

Yang paling diandalkan olehnya, tetapi peristiwa ini boleh dikata tidak masuk di akal, bagaimana mungkin Koan Ing bisa memahami ilmu jari "Han Yang Cie?".

Bilamana dia tidak menggunakan ilmu jari Han Yang Cie tidak mungkin Thian Liong Thaysu dapat menderita luka....

Sebetulnya dia ingin mewariskan ilmu jari "Han Yang Cie"

Nya itu kepada Koan Ing tetapi dia telah menolaknya, tetapi bagaimana saat ini dia bisa memiliki kepandaian tersebut?

Semakin dipikir pikirannya semakin kacau, walaupun ada kemungkinan Koan Ing mendapatkan ilmu itu dari orang lain bahkan dengan hubungannya yang amat rapat sekali dengan dirinya saat ini bilamana bukannya dia orang cuma tinggal hidup beberapa hari saja kemungkinan sekali dia hendak menanyai sampai sejelas2nya.

"Kau sekarang merasa bagaimana?"

Terdengar Sang Su-im membuka mulut bertanya. Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia merasa separuh tangan kanannya masih terasa amat linu dan kaku tetapi dia tertawa.

"Terima kasih atas perhatian dari empek Sang, lukaku tidak begitu berat,"

Sahutnya.

Sang Su-im segera mengangguk, walaupun dia berhasil menghindarkan diri dari hajaran langsung tetapi diapun menderita luka yang tidak ringan, paling sedikit sesudah beristirahat tiga-lima hari dia baru bisa sembuh benar-benar.

Dengan perlahan Thian Siang Thaysu berjalan maju ke depan, lima jari tangan kanannya dengan kencangnya mencengkeram pedang Kim Hong Kian itu.

"Koan siauwsicu kepandaianmu sungguh hebat"

Ujarnya dengan dingin.

Sehabis berkata telapak tangan kanangnya sedikit bergerak, pedang Kiem-hong-kiam itu segera meloncat ke depan kemudian meluncur ke arah diri Koan Ing.

Melihat hal itu Sang Su-im segera tertawa tawar.

"Buat apa kau hweesio gede menganiaya seorang dari angkatan muda?"

Ejeknya. Sehabis berkata tangannyapun segera menyentil ke depan, segulung angin serangan dengan amat cepatnya berkelebat menghajar pedang Kiem-hong-kiam tersebut.

"Tiing....!"

Pedang Kiem-hong-kiam itu sedikit merandek di tengah udara kemudian dengan amat cepatnya jatuh di depan kaki Koan Ing.

Thian Siang Thaysu yang melihat Sang Su-im mendemonstrasikan kepandaiannya, diam-diam di dalam hati merasa rada terkejut pikirnya.

"Nama besar dari Sang Su-im sebagai si jari sakti kiranya bukan nama kosong belaka, agaknya dia orang adalah salah satu musuh tangguh ku."

Walaupun tiga manusia genah empat manusia aneh bersama-sama berkelana di dalam Bu-lim, tetapi nama besar dari si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong jauh melebihi nama dari Si Budak Berdarah dari kegelapan tersebut apalagi di dalam beberapa tahun ini dia sering sekali munculkan dirinya di dunia persilatan, sudah tentu hal ini membuat nama dari empat manusia anehpun jauh melebihi tiga manusia genah, dengan sendirinya karena terkenalnya nama empat manusia aneh ini membuat tiga manusia genah jadi kedesak ke bawah.

Thian Siang Thaysu yang menghadapi situasi seperti ini, dia orang mana bisa bersabar lagi, ditambah lagi dengan adanya peristiwa kuil Han-poh-si yang dibakar Sang Siauw-tan membuat dia orang mendapat kesempatan untuk menemui Sang Su-im sebagai salah satu anggota empat manusia aneh ini.

Terlihatlah Koan Ing sudah mencabut kembali pedangnya kemudian kepada Sang Su-im ujarnya.

"Terima kasih atas bantuan dari empek Sang", Sang Su-im cuma tertawa saja, kepada Thian Siang Thaysu segera ujarnya.

"Hey hweesio gundul, Thaysu dari ruangan Tat Mo Tong telah memperlihatkan kelihayannya, sekarang aku rasa Thaysupun harus memperlihatkan sedikit kepadaku."

Perkataannya amat dingin dan penuh mengandung nada sindiran Membuat Thian Siang Thaysu yang mendengar jadi termangu-mangu, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa tawar.

"Ilmu jari Han Yang Ci dari Sang sucu amat lihay dan sudah menjagoi seluruh kolong langit ini hari Pinceng memang punya niat untuk menjajal."

Sehabis berkata mendadak jubah hweeesionya yang lebar dengan perlahan lahan mulai mengembung jadi besar. Melihat kejadian ini diam-diam Sang Su-im merasa sangat terperanjat sekali, pikirnya.

"Hmm kelihatannya hweesio tua ini sudah berhasil melatih ilmu Khiekang Thay Si Bu Sian Thian Ceng Khie dari kalangan Budhha, tidak aneh kalau dia berani cari garaa dengan aku Hmm.... kiranya sesudah punya sedikit pegangan lantas mau cari gara-gara."

Berpikir sampai di sini di dalam hati dia mulai merasa kalau Thian Siang Thaysu yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang musuh tangguh yang maha besar ini hari asalkan sedikit tidak berhati-hati saja maka nama besarnya yang dipupuk bertahun-tahun akan lenyap tak berbekas.

Berpikir akan hal ini Sang Su-im mana berani berlaku gegabah lagi, dengan cepat dia pusatkan seluruh pikirannya dan menyalurkan hawa murninya mengitari seluruh tubuh, sinar matanya dengan sangat tajam memperhatikan diri Thian Siang Thaysu.

Suasana di sekeliling tempat itu jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, siapapun tak berani berisik bahkan sampai suara bernapas pun tidak berani terlalu keras.

Mendadak terdengar Thian Siang Thaysu membentak keras, seluruh jenggotnya pada berdiri bersamaan dengan berjongkoknya sang badan bawah sepasang tangannya bersama-sama didorong ke depan.

Segulung angin pukulan yang menyesakkan pernapasan dengan dahsyatnya segera menggulung tubuh Sang Su-im.

Sang Su-im cepat-cepat bersuit panjang, di tengah suara suitannya itulah sang tubuh bagaikan secarik daun kering dengan ringannya melayang di tengah udara, tangan kanannya bagaikan kilat cepatnya berkelebat melancarkan tujuh serangan sekaligus....

Sreet....!

Srett....!

tenaga Khie kang yang maha dahsyat dari Thian Siang Thaysu itu segera terkena tembus oleh serangannya ini dan langsung meluncur mengancam tujuh buah jalan darah kematian di atas tubuh bagian atas dari Thian Siang Thaysu.

Masing-masing pihak begitu mulai mengerahkan tenaga dalamnya bersamaan pula tubuhnya segera berkelebat dengan cepatnya, tubuh dimana Sang Su-im berada segera terbungkus di dalam lapisan angin yang kencang sebaliknya pohon besar yang ada di belakang tubuh Thian Siang Thaysu pun sudah terkena hajar oleh tujuh serangan jari Sang Su-im itu sehingga menimbulkan tujuh buah lubang yang amat besar.

Melihat kedahsyatan itu, Koan Ing merasakan hatinya berdebar-debar, sedang airmukanya berubah amat hebat dia tidak menduga kalau tenaga dalam dari Thian Siang Thaysu amat dahsyat, agaknya untuk merebut kemenangan diantara mereka berdua bukanlah satu urusan yang mudah.

Kedua belah pihak yang saling bertempur dengan menggunakan tenaga dalam, setelah saling serang sebanyak satu jurus mereka segera pada pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan, sekalipun begitu perhatian mereka tidak berani bercabang, mereka takut sedikit saja berayal maka pihak musuh akan segera melancarkan serangannya kembali.

Pertempuran yang maha sengit dan mendebarkan hati ini seketika itu juga membuat suasana di sekeliling tempat itu jadi hening, masing-masing dengan hati bergidik menonton jalannya pertempuran itu dengan mata terbelalak.

Sesudah beristirahat sebentar, mendadak masing-masing pihak kembali bergerak saling serang menyerang dengan gencarnya, jurus-jurus serangan yang digunakanpun semakin lama semakin cepat sehingga akhirnya cuma kelihatan bayangan yang menyilaukan mata memenuhi angkasa.

Si jari sakti Sang Su-im adalah seorang pangcu dari sebuah perkumpulan besar di mana pengaruhnya sudah melebar ke seluruh pelosok dunia persilatan, terhadap ilmu silat dari setiap aliranpun boleh dikata sangat hapal sekali, sebaliknya Thian Siang Thaysu khusus mempelajari ilmu silat dari aliran Siauw-lim-pay terhadap ke seratus delapan jurus Loo Han Ciang boleh dikata sudah mendarah daging, cukup dengan mengandalkan ilmu telapak ini saja dia sudah bisa menghadapi musuh yang bagaimana lihaynyapun.

Koan Ing yang ada di samping ketika melihat mereka berdua saling bertukar jurus, di dalam hati diam-diam merasa terkejut bercampur girang, karena terhadap pengantar dari jurus-jurus tersebut dia sudah pernah membaca di dalam kitab pusaka Boe Shia Koei karya Song Ing, kini ditambah dengan apa yang dilihat bukankah ilmu silatnya akan memperoleh tambahan yang besar?

Semakin melihat Koan Ing merasa semakin gembira, setiap jurus yang dilihatnya segera dibandingkan dengan apa yang dibacanya di dalam kitab pusaka itu, makin lama dia semakin paham sehingga saking girangnya dia jadi meloncat-loncat, Di dalam sekejap saja dua ratus jurus sudah berlalu dengan amat cepatnya, mendadak kedua orang itu saling kirim satu pukulan ke depan lantas bersama-sama membentak keras dan mundur ke belakang.

Mereka berdua kembali berpandang2an mendadak tubuh mereka berkelebat maju lagi kemudian saling serang menyerang kembali.

Kali ini Koan Ing dapat melihat kedua orang itu bertempur jauh lebih dahsyat lagi jika dibandingkan dengan tadi, jurus jurus serangannya digunakan kadangkala banyak yang belum pernah dia temui sebelumnya, jelas sekali mereka berdua sedang menggunakan jurus-jurus serangan simpanan yang belum pernah digunakan.

Pertempuran kali ini benar-benar membuat seluruh perhatian dari Koan Ing tersedot ke dalam kalangan, dia merasa pikirannya rada pening dibuatnya.

Thian Liong Thaysu yang ada di samping selama ini terus menerus memperhatikan seluruh gerak-gerik dari Koan Ing, dia yang melihat Koan Ing memandangi jurus serangan mereka berdua dengan begitu perhatian diam-diam mendengus dingin.

Sekalipun begitu di dalam hati dia merasa terkejut juga, dia heran kenapa dirinya yang sama sekali tidak melihat adanya keanehan apapun sebaliknya Koan Ing di buat begitu tertarik, jelas sekali bakat orang ini amat bagus dan mungkin di dalam ratusan tahun jarang sekali ditemui satu.

Yang jelas kepandaian silat yang dimilikinya tidak berada di bawah kepandaian sendiri.

Di dalam sekejap saja Sang Su-im dengan Thian Siang Thaysu sudah bertempur sebanyak ribuan jurus lebih, tetapi menang kalah masih belum kelihatan.

Mendadak terdengar Thian Siang Thaysu membentak keras, tubuhnya kembali bergerak ke depan.

di tengah berkibarnya jubah lhasa yang tertiup angin sepasang matanya melolot lebar-lebar ke depan sedangkan telapak tangannya melancarkan tiga pukulan dahsyat.

Seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan kabut yang berwarna keperak-perakan menyapu seluruh tubuh Sang Su-im.

Sang Su-im dengan keras mengaum, tubuhnya kembali melayang ke tengah udara disaat badannya membalik berturut turut dia melancarkan empat puluh sembilan totokan di dalam waktu yang amat singkat selurah angkasa penuh diliputi hawa murni yang dahsyat.

Begitu serangan totokan itu terbenam ke dalam hawa khie kang yang menyelimuti seluruh angkasa, dengan cepat hawa khie kang itu berhasil digulung musnah.

Sebaliknya keempat puluh sembilao desiran angin tajam itupun berhasil tersapu lenyap pula dari angkasa.

Mereka berdua saling serang dengan menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya tetapi begitu tenaga dalamnya buyar mereka berduapun dengan kehabisan tenaga pada lepas tangan.

Air muka Thian Siang Thaysu berubah jadi pucat pasi dan duduk di atas tanah tidak bergerak sedangkan tubuh Sang Suim begitu mencapai permukaan tanah dengan terhuyunghuyung dia mundur dua langkah ke belakang, dengan cepat Koan Ing segera maju membimbing.

Para hweesio Siauw-lim-pay yang melihat Thian Siang Thaysu sudah kehabisan tenaga dan jatuh terduduk dengan cepatnya mereka pun bergerak maju ke depan, kedua puluh empat hweesio itu masing-masing dengan cepat mengambil sikap mengurung mengelilingi diri Sang Su-im serta Koan Ing berdua.

Koan Ing dengan tangan kirinya mencekal pedang, sinar matanya menyapu sekejap ke arah dua puluh empat orang hweesio itu, sebaliknya Sang Su-im sama sekali tidak ambil gubris terhadap kejadian itu, sampai kelopak matanyapun tidak bergerak, dia cuma berusaha untuk memulihkan tenaganya.

Dengan pandangan yang amat dingin Thian Liong Thaysu memandang sekejap ke arah dua orang itu, dia mendengus tetapi tidak berani mengambil tindakan apapun.

Lewat beberapa saat kemudian Thian Siang Thaysu serta Sang Su-im baru bersama-sama membuka matanya, dengan perlahan Sang Su-im segera bangkit berdiri, sinar matanya dengan amat dingin sekali menyapu sekejap ke arah dua puluh empat orang hweesio tersebut.

Thian Siang Thaysupun bangkit berdiri.

"Kekuatan ilmu jari Han Yang Cie dari Sang pangcu benarbenar buka nama kosong belaka,"

Ujarnya dengan dingin. Sang Su-im segera angkat kepalanya tertawa terbahakbahak.

"Tenaga Khie-kang Sie Bu Sian Thian Ceng Khie dari kau hweesiopun tidak jelek,"

Sahutnya keras.

"Urusan ini kita sudahi sampai disini saja,"

Ujar Thian Siang Thaysu kemudian.

"Tetapi terbakarnya kuil Han-poh-si lebih baik Sang pangcu ambil satu keputusan yang adil, kalau tidak.... Hmm kami partai Siauw-lim-pay tidak akan melepaskan diri Sang pangcu dengan begitu saja, lebih baik Sang pangcu berpikir tiga kali sebelum melakukannya."

Sang Su-im yang mendengar omongan Thian Siang Thaysu ini mengandung nada gertakan alisnya lalu dikerutkan rapatrapat.

"Kalau sudah Siauw-lim-pay, lalu kalian mau apa?"

Ejeknya.

"Kami dari Tiang-gong-pang bukannya tidak ada orang, cukup aku seorang saja apabila pihak Siauw-lim-pay hendak menahan diriku ku kira hal ini bukanlah satu urusan yang sederhana."

Thian Siang Thaysu segera mendengus dingin.

"Perkataan pinceng sampai disini saja, lain waktu masih panjang. Pinceng tidak menghantar lebih jauh!"

Serunya. Sang Su-im segera tertawa tawar, kepada Koan Ing ujarnya kemudian.

"Mari kita pergi saja, hutang ini hari biar aku tagih besok saja"

Sehabis berkata dengan langkah lebar bersama-sama dengan Koan Ing, dia berjalan meninggalkan tempat itu, para hweesio dari kuil Siauw-lim-si yang melihat mereka berdua meninggalkan tempat itupun tidak dapat berbuat apa-apa, sekalipun misalnya Thian Siang Thaysu turunkan perintah belum tentu mereka berani maju menghalangi perjalanan mereka.

Sang Su-im seria Koan Ing berdua setelah meninggalkan para hweesio Siauw-lim-si di tengah perjalanan terdengar dia orang tertawa.

"Kau lihat bagaimana dengan pertempuran ini?"

Tanyanya.

"Boanpwee selamanya belum pernah menemuinya,"

Sahut Koan Ing sambil menarik napas panjang-panjang.

"Perkataanmu memang benar,"

Ujar Sang Su-im lagi sambil tertawa.

"Teringat sewaktu pertemuan puncak para jago di gunung Hoa-san tempo hari dimana aku serta supekmu berempat bertempur melawan si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong, kiranya pertempuran ini hari sepuluh kali lipat jauh lebih dahsyat lagi. Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lantas ujarnya lagi.

"Tetapi peristiwa ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, kepandaian silatku pada waktu itu sudah tentu jauh berbeda dari sekarang, aku sama sekali tidak menyangka hweesio tua itu sudah berhasil melatih ilmu khie kang yang demikian dahsyatnya, tidak aneh kalau dia begitu sombong dan berani menantang aku bertempur."

Koan Ing yang selesai mendengar perkataan tersebut lalu termenung berpikir sebentar kemudian baru ujarnya.

Kiranya Sang Pepek dengan mereka sebenarnya tidak akur, tidak aneh kalau dikatakan masuknya kereta berdarah ke dalam daerah Tibet sebetulnya hanyalah satu jebakan belaka, jikalau demikian adanya, tentu tenaga murni dari empek Sang pada saat itu sudah memperoleh kerugian yang amat besar sekali.

Sinar mata Sang Su-im berkelebat, setelah diungkat oleh Koan Ing akan urusan ini, di dalam hati dia baru merasa terperanjat.

Thian Siang Thaysu dari Siauw-lim-pay sudah masuk ke daerah Tibet, kepandaian silat dari Ciu Tong pun sudah dimusnahkan olehnya, kini cuma si telapak malaikat dari gurun pasir Cha Can Hong seorang yang tidak menemui sesuatu peristiwa yang diluar dugaan, dengan tindakannya yang saling bunuh membunuh seperti ini bilamana salah satu diantara mereka bertemu dengan si manusia tunggal dari Bu-lim, Jien Wong serta Si Budak Berdarah dari kegelapan, mereka harus menghadapinya dengan cara bagaimana?

Sebelum memasuki daerah Tibet dia selalu mengira cukup dia seorang diri saja sudah dapat menghadapi si manusia tunggal dari Bu-lim, tetapi setelah pertempurannya kemarin malam melawan Si Budak Berdarah dari kegelapan dia baru teringat kalau kepandaian silat orang lainpun di dalam beberapa tahun ini memperoleh kemajuan yang pesat.

Entah bagaimana di kemudian hari?

Dia tidak berani berpikir terlalu panjang.

Bagaimana nasib dari kedua belas orang Hu Hoat yang dikirim olehnya untuk membuntuti kereta berdarah?

Dia berjalan....

berjalan terus sampai dirinya tidak dapat berjalan lagi, baru ujarnya kepada Koan Ing.

"Cepat kita mencari sebuah tempat yang tenang untuk beristirahat kau lindungilah diriku, aku harus mengembalikan tenaga dalamku di dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,"

Koan Ing agak melengak tapi sebentar kemudian dia sudah mengangguk.

Mereka berdua segera berkelebat menuju ke sebuah gua yang ada di dekat tempat itu, setelah berjalan masuk ke dalam gua tersebut Sang Su-im melihat dulu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu kemudian baru duduk bersila di atas tanah.

Koan Ing tahu seorang jagoan tenaga dalam apabila sedang memusatkan pikirannya dia tidak diperkenankan memperoleh serangan dari luar, cukup seorang yang berkepandaian biasa saja sudah cukup untuk mencabut nyawanya.

Koan yang memperoleh pesanan untuk melindungi dirinya tidak berani berlaku gegabah, dia segera berjalan ke pintu gua dan duduk bersila disana tanpa bergerak, Di dalam sekejap saja cuaca sudah mulai menggelap tetapi saat ini Sang Su-im masih memusatkan pikiran untuk mengembalikan hawa murninya, wajahnya tenang-tenang tanpa terjadi sedikit perubahanpun.

Agaknya dia sudah berada di dalam keadaan lupa segala2nya, Koan Ing menarik napas panjang-panjang, sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Suasana terlihatlah amat tenang dan sunyi sekali, di dalam hati diam-diam pikirnya.

"Daripada membuang waktu yang amat senggang ini, kenapa aku tidak memperdalam isi ilmu silat yang tertera di dalam kitab pusaka Boe Shia Koei Mie tersebut?"

Baru saja pikiran tersebut berkelebat di dalam benaknya tiba-tiba tampaklah sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat mendatang.

Orang itu ternyata bukan lain adalah Ciu Tong adanya.

Melihat kedatangan Si iblis Sakti dari luar lautan itu, Koan Ing jadi sangat terperanjat sekali, dengan cepat dia menarik badannya ke belakang.

Bukankah kepandaian silat dari Ciu Tong sudah dimusnahkan oleh Sang Su-im?

Bagaimana sekarang dia bisa berkelebat dengan begitu cepatnya?

Bagaimana ilmu silatnya dapat kembali lagi seperti keadaan semula?

Berpikir akan hal ini, Koan Ing segera mengintip kembali ke depan, ternyata sedikitpun tidak salah, orang itu adalah Ciu Tong si iblis sakti dari Lautan Timur.

Tampak rambutnya awut2an tidak karuan dan terus memanjang ke bawah, pada tangannya mencekal sebuah tongkat besi sedang tangan kirinya menggandeng tangan Ciu Pak dan berkelebat dengan amat cepatnya di atas permukaan salju, kelihatan sekali kalau dia orang masih berilmu silat.

Melihat keadaan itu Koan Ing benar-benar sangat terkejut hampir-hampir dia tidak mau percaya atas pandangan matanya sendiri, orang itu benar-benar Ciu Tong adanya, dia tidak mungkin bisa salah melihat lagi, tetapi Ciu Tong tidak memperhatikan dirinya, agaknya dia sama sekali tidak menemukan kalau Koan Ing ada di situ.

Ciu Tong ayah beranak dengan cepatnya berlari menuju ke arah gua dimana Sang Su-im sedang bersemedi.

Koan Ing bena2 merasa hatinya bergidik, dalam hatinya dia segera mengharapkan kalau Ciu Tong cuma lewat saja di depan gua tanpa berjalan masuk ke arah sebelah dalam.

Ketika Ciu Tong ayah beranak tiba di depan gua itu, mereka segera berhenti, terdengar Ciu Tong tertawa dingin.

"Aku dengar Sang Su-im setelah bertempur mati2an melawan si hweesio tua itu dia sudah berlalu ke arah sebelah barat, bagaimana setelah kita kejar semakin lama masih belum kecandak juga? Kelihatannya dia masih ada di sekitar tempat ini. Mendengar perkataan itu Koan Ing semakin merasa terkejut lagi, saat itulah dia baru tahu kalau Ciu Tong sengaja datang mengejar mereka.

"Ayah...."

Terdengar Ciu Pak berkata dengan suara yang amat perlahan.

"Aku lihat malam ini kita tidak usah pergi mengejar lagi, bagaimanapun juga di dalam beberapa hari ini dia tidak bakal bisa mengembalikan seluruh tenaganya, sekali kita kecandak. dia orang tidak bakal bisa lolos kembali, sekarang lebih baik kita beristirahat dulu."

Ciu Tong mendengus dengan dinginnya, dia segera berjalan menuju ke pintu gua.

"Baiklah,"

Sahutnya kemudian.

"Aku ti dak takut dia dapat terbang ke langit."

Sesampainya di depan mulut gua Ciu Tong segera membalikkan tangannya melancarkan satu pukulan menghajar gua tersebut.

Koan Ing jadi terkejut, dia tahu maksud Ciu Tong melancarkan satu pukulan ke dalam gua itu adalah hendak memeriksa di dalam gua ada orangnya atau tidak, tetapi dia tidak boleh berpeluk tangan, jikalau pukulannya ini tidak diterima maka serangan itu dengan tepat akan menghajar badan Sang Su-im, Sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan tersebut.

"Braaak!"

Dengan disertai suara ledakan yang amat keras tubuhnya mundur terhuyung-huyung ke belakang, dia merasakan dadanya amat panas sekali.

Sebaliknya Ciu Tung yang serangannya diterima oleh pihak lawan diapun segera tergetar mundur satu langkah ke belakang.

"Siapa yang ada di dalam gua? Ayoh cepat keluar!"

Bentaknya dengan dingin.

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia yang melihat Sang Su-im belum sadar juga dari semedinya, sedang diapun tidak dapat membangunkan dirinya membuat di dalam hati dia merasa amat cemas sekali, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.

Pikirannya terus menerus berputar mencari akal yang bagus untuk mencegah peristiwa tersebut.

Tetapi Ciu Tong yang ada diluar agaknya sudah tidak sabaran lagi, dia mendengus dingin tubuhnya dengan cepat menubruk masuk ke dalam, Koan Ing tidak dapat berpeluk tangan lagi, diapun membentak keras, pedang Kiem-hong-kiamnya dicabut keluar dari dalam sarung kemudian berturut-turut melancarkan tiga serangan gencar menghalangi mulut gua, Ciu Tong yang mendadak melihat dari dalam berkelebat keluar sinar keemasemasan dia segera menjerit tertahan.

"Iiiih.... Koan Ing?"

Tongkat hitam ditangan kanannya segera diputar dengan amat kencangnya di tengah udara sehingga memperlihatkan tiga perubahan yang aneh.

"Criiing...."

Dengan amat tepatnya dia pukul mental pedang Kiem-hong-kiam yang ada ditangan Koan Ing itu.

Tubuhnyapun dengan diikuti suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan segera menerjang masuk ke dalam gua.

Koan Ing jadi sangat cemas, bilamana dia membiarkan Ciu Tong masuk ke dalam gua maka akibat yang bakat diterima oleh Sang Su-im dia tidak berani memikirkan lebih lanjut.

Tangan kanannya segera diayun ke depan, berturut-turut dia melancarkan beberapa kali serangan menghajar iga kiri dari Ciu Tong, jurus yang dipergunakan olehnya bukan lain adalah jurus serangan yang berasal dari ilmu Thay Jin Na So Hoat dari aliran Bu-tong-pay itu, jurus Hun So Na Koay atau balik tangan menangkap aneh.

Pengetahuan dari Ciu Tong amat luas sekali, begitu Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan jurus tersebut dia segera sudah mengenalnya kembali, dia tertawa dingin, tubuhnya dengan tak henti-hentinya menerjang masuk ke dalam gua tangan kirinya dibalik mencengkeram pergelangan tangan dari Koan Ing.

Belum habis satu jurus digunakan, Koan Ing segera berganti jurus lagi, telapak tangannya diubah jadi serangan totokan, jari tengah serta telunjuknya disentil mengancam jalan darah "Hay Bin Toa Hiat"

Pada pinggang Ciu Tong.

Serangannya ini bukan lain menggunakan jurus "Chiet Hay Tan Pao atau tujuh lautan mencari harta ilmu Han Yang Ci Hoat.

Ciu Tong jadi melengak, dia memang kenal dengan jurus serangan "Huan Su Ma Koay"

Tetapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa begitu cepatnya berganti jurus bahkan sudah menggunakan jurus Chiet Hay Tan Pao dari Sang Su-im.

Saat ini dia mau tidak mau harus menghentikan langkah kakinya dan tarik kembali tongkatnya untuk dibabat mengancam pergelangan tangan dari Koan Ing.

Pada waktu ini seluruh perhatian dari Koan Ing cuma ditujukan untuk menghalangi perjalanan selanjutnya dari Ciu Tong, tangan kanannya disentil ke depan, di dalam sekejap saja dia sudah berganti jurus serangan lagi, dengan menggunakan jari menggantikan pedang dia menggunakan jurus "Ci Cie Thian Yang"

Mendesak Ciu Tong lebih lanjut.

Dalam hati Ciu Tong merasa hatinya amat terkejut, jurusjurus serangan ini sebetulnya dia sangat hapal sekali tetapi kini Koan Ing mencampurkan berbagai jurus serangan menjadi satu jurus serangan membuat dia menderita rugi, dia terdesak mundur kembali satu langkah ke belakang.

"Jurus serangan yang bagus!"

Teriaknya memuji.

Baru saja dia selesai berteriak, tongkatnya segera diputar sedemikian rupa menghajar kening dari Koan Ing.

Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau jurus serangannya tadi bisa mendapatkan hasil, dia merasa terkejut bercampur girang.

Dia segera membentak keras, tubuhnya merendah menghindarkan diri dari serangan tongkat dari Ciu Tong ini lantas berturut-turut melancarkan beberapa buah jurus serangan yang amat aneh.

Ciu Tong menderita rugi karena dia hapal benar dengan jurus-jurus serangan tersebut sehingga membuat dia orang harus mengeluarkan jurus-jurus serangan tandingannya, siapa tahu baru saja menggunakan jurus itu separuh jalan Koan Ing sudah mengganti lagi dengan jurus yang lain membuat Ciu Tong benar-benar terdesak dan terkurung di dalam serangannya, Di dalam sekejap saja lima jurus telah berlalu dengan amat cepatnya, Ciu Tong jadi sangat gusar sekali, pikirnya.

"Hmm aku sebagai seorang ketua suatu aliran yang besar kalau cuma Koan Ing saja tidak dapat memperoleh kemenangan, buat apa aku pergi mencari Sang Sn Im lagi?...."

Dengan gusarnya dia membentak keras, tongkat di tangan kanannya berturut-turut melancarkan beberapa kali serangan balasan sedangkan tangan kirinya melancarkan satu pukulan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang dahsyat melanda ke tubuh Koan Ing.

Melihat datangnya serangan tersebut, Koan Ing jadi termangu-mangu, dengan cepat dia balas melayangkan satu pukulan pula untuk menghalangi datangnya serangan itu, tapi tidak urung badannya terpukul juga ke samping.

Dengan meminjam kesempatan itulah bagaikan bayangan setan yang lewat dengan cepat dia berkelebat menubruk ke dalam gua tersebut, Koan Ing jadi terkejut, dengan cepat dia memutar tubuh untuk siap-siap melancarkan serangan kembali.

Ooo)*(ooO Bab 19 TERLIHATLAH pada waktu itu Ciu Tong dengan tersenyum licik sudah berdiri di belakang tubuh Sang Su-im sedangkan telapak kirinya ditempelkan ke atas punggungnya.

Saat itu Sang Su-impun baru saja selesai dari semedinya, tetapi keadaan sudah terlambat satu tindak.

Dia adalah seorang manusia yang luar biasa, tidak perlu menoleh lagi dia sudah menoleh lagi dia sudah tahu apa yang sudah terjadi di sana.

Ciu Tong yang melihat Sang Su-im sudah sadar kembali dia segera tertawa terbahak-bahak.

"Sang Loo-te selama berpisah ini apakah kau orang baik-baik saja?"

Tanyanya mengejek. Sang Su-im tidak mengucapkan sepatah katapun, di dalam hati dia sedang merasa sangat heran bagaimana mungkin Ciu Tong yang sudah terkena ilmu totokan "Han Yang Ci"

Nya hanya di dalam satu hari saja tenaga dalamnya sudah pulih kembali seperti sedia kala? Sekali lagi Ciu Tong tertawa terbahak-bahak.

"Sang Loo-te.... kenapa kau tidak berbicara?"

Ejeknya lagi.

"Apa kau merasa heran? Bagaimana aku bisa pulihkan tenaga dalamku dengan begitu cepat."

Sehabis berkata dengan bangganya dia tertawa lagi.

"Aku sama sekali tidak menyangka kau bisa melancarkan serangan bokongan terhadap diriku!"

Serunya dengan amat gusar.

"Lima tahun kau mengira aku bisa menunggu lima tahun lagi baru datang mencari dirimu? Kalau begitu kau sudah salah menerka, bagaimana aku bisa begitu bersabar untuk menanti lima tahun lagi"

Sehabis berbicara Ciu Tong mendengus dan dengan amat dingin sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat.

"Seratus hari!"

Serunya keras.

"Tenaga dalamku mendapatkan tambahan seperti latihan sepuluh tahun, tetapi nyawanyapun cuma tinggal seratus hari lagi!"

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi terkejut pikirnya.

"Aaaaah, kiranya Ciu Tong sudah menelan obat racun seperti yang aku telan, kalau begitu sudah tentu tenaga dalamnya di dalam satu hari saja sudah pulih kembali seperti sedia kala"

Ciu Tong setelah mengucapkan kata-kata itu dia berdiam beberapa saat lamanya, entah pada waktu itu dia sedang merasa menyesal atau bangga, sebentar kemudian dia sudah berkata lagi.

Dengan perlahan dia menyapu sekejap ke arah Koan Ing, lantas tambahnya.

"Tentunya kau masih ingat sewaktu aku memaksa kau menelan obat racun itu bukan?"

"Aku tahu kau pasti tidak akan menyangka kalau tenaga dalamku bisa pulih dengan begitu cepat, asalkan aku bisa menyandak dirimu maka kau pasti tidak akan bersiap sedia, saat itulah dengan menggunakan kata-kata orang tidak bersiap sedia aku lancarkan serangan segera menguasai dirimu."

Dia mendengus dengan amat dinginnya, lalu sambungnya lagi.

"Tidak kusangka baru saja aku melakukan perjalanan sampai di tengah jalan aku dengar kau sudah bertempur mati2an melawan si hweesio tua itu, akhirnya masing-masing pihak tidak ada yang memperoleh kebaikan, mendengar berita tersebut aku segera menyusul kemari setelah membuang setengah harian lamanya secara kebetulan saja aku bisa bertemu dengan dirimu disini Hee.... heee.... tentunya kau tidak pernah menduga akan memperoleh akibat seperti demikian bukan? walaupun aku cuma bisa hidup seratus hari saja tetapi kau orang tidak bakal bisa hidup melewati hari ini."

Jilid 9 MENDENGAR suara yang begitu tidak enak dari Ciu Tong, diam-diam Sang Su-im berpikir.

"Hmm.... sekalipun kini aku harus mati, aku tidak akan melepaskan dirinya dengan keadaan segar bugar.... aku harus melukai dirinya dengan menggunakan seluruh tenaga dalam yang aku miliki pada saat ini."

Dia sama sekali tidak menyangka kalau nama baik yang dipupuknya selama puluhan tahun harus hancur di tangan Ciu Tong pada hari ini.

Semakin berpikir hatinya merasa semakin seperti terbakar, tidak kuasa lagi dengan gusarnya dia lantas berseru.

"Hmm.... bilamana kau ingin turun tangan, cepatlah turun tangan urusan yang terjadi di dunia ini tiada yang kekal aku takut sedikit lebih lama urusan bisa terjadi perubahan."

"Apa? waktu lebih lama urusan bisa terjadi perubahan? haaa.... haaa.... aku belum pernah memikirkan sampai disitu,"

Sahut Ciu Tong sembari tertawa terbahak-bahak.

"Eeeei.... aku mau tanya padamu. Kini Koan Ing ada bersamamu tetapi entah putrimu ada dimana? Di dalam seratus hari ini aku bermaksud hendak mengatur perkawinan diantara dirinya dengan putra ku, hal ini jikalau tidak dilakukan secepatnya hatiku tidak akan merasa lega."

Mendengar suara ejekan tersebut Sang Su-im mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia merasa Ciu Tong lagi menghina dan memperolok2 dirinya, daripada harus menanggung penghinaan tersebut jauh lebih baik mengadu jiwa saja dengan dirinya Tetapi sewaktu teringat kembali kalau dirinya tidak kepingin cepat mati, kenapa tidak tunggu2 lagi beberapa saat lamanya sehingga ada satu kesempatan yang baik untuk meloloskan diri?

Atau sedikit2nya dia harus bisa memukul luka Ciu Tong semanusia laknat tersebut.

"Hmmm Tentang urusan perkawinan Siauw-li, sekalipun aku tidak ada, Cha Chan Hong bisa mewakili aku untuk menguruskan,"

Serunya dengan tawar.

"Haaa.... haaa.... haaa.... perkataan tepat perkataan bagus...."

Teriak Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kau jauh2 mendatangi daerah Tibet dan menyebarkan mata

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ matamu di seluruh daerah ini tetapi tidak pernah kusangka bukan? Kalau ini kali tidak bakal bisa pulang lagi ke rumah? Haaa.... haaaa.... haaaa!"

Mendadak dia menarik kembali suara tertawa kerasnya disusul satu dengusan dingin bergema memenuhi angkasa.

"Hal ini berarti pula kalau setiap urusan tidak akan bisa terlaksana sesuai dengan cara pemikiranmu yang gampang itu,"

Tambahnya. Sang Su-im lantas tertawa tawar.

"Sekalipun aku harus mati hal ini juga tiada mendatangkan kegembiraan bagi dirimu sendiri,"

Katanya.

"Bukankah nyawamu juga tinggal seratus hari saja? Urusan yang terjadi di dalam dunia inipun tidak akan berjalan selancar seperti apa yang kaupikirkan dihati."

Ciu Tong segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, sewaktu di dengarnya pada dalam keadaan seperti ini Sang Su-im masih terus mengejek dan memperolok2 dirinya.

Dalam hati merasa sedikit gusar juga, dia segera mendengus dengan dinginnya.

"Sebelum mati apakah kau mempunyai satu permintaan?"

Tanyanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas.

"Namaku berada diempat manusia aneh dan menjabat sebagai pangcu dari perkumpulan Tiong Gong Pang, bilamana harus menemui ajalnya di dalam gua hal ini tidaklah seharusnya,"

Kata Sang Su-im sambil mengedip2kan matanya.

"Bilamana kau tidak menolak, aku ingin melihat sekejap langit nan biru"

"Bagus sekali soal ini mudah untuk dilakukan,"

Ujar Ciu Tong mengabulkan.

"Tetapi kau harus ingat telapak tanganku selalu akan menempel di punggungmu, kau harus hati-hati Heze.... heee.... asalkan kau berani mengerahkan tenaga murnimu maka aku akan segera turun tangan telengas!"

Sang Su-im segera merasakan hatinya berdebar, dia tahu harapan untuk lolos tidak akan ada lagi.

"Soal itu terserah padamu mau mengancam secara bagaimanapun aku tidak dapat melarang dirimu lagi,"

Sahutnya tawar.

Sehabis berkata dengan perlahan-lahan, dia berjalan keluar dari dalam gua tersebut.

Ciu Tong yang menempelkan telapak tangannya di belakang punggung Sang Su-impun tidak berani berlaku gegabah, dengan kedahsyatan dari ilmu yang dimiliki Sang Su-im, bilamana sedikit dia pecahkan pikirannya maka ada kemungkinan dengan menggunakan kesempatan itu dia akan menerjang keluar.

Dengan perlahan-lahan Koan Ing pun ikut mengundurkan diri keluar dari gua itu dia yang melihat Sang Su-im kena ditawan dalam hati merasa kecewa bercampur sedih, tetapi sekalipun begitu tidak berani juga turun tangan memberikan pertolongannya.

Koan Ing tahu asalkan sedikit dia tidak berhati hati maka Sang Su-im akan menemui ajalnya di bawah serangan Ciu Tong.

Sekeluarnya dari gua terdengarlah Ciu Tong tertawa girang.

"Haa.... haa.... sekarang kau boleh melihat langit yang dicintai ini, haa.... ha...."

Ejeknya.

Dengan sedihnya Sang Su-im segera menghela napas panjang,dia dongakan kepalanya memandang ke angkasa.

Teringat kembali seluruh pengalamannya pada masa lalu dimana untuk pertama kalinya keluar dari perguruan dan mendirikan perkumpulan Tiang-gong-pang, mengeroyok si manusia tunggal dari Bu-lim, pertemuan puncak para jago di gunung Hoa-san....

satu demi satu terbayang kembali di depan matanya.

Nama besar yang dipupuk selama puluhan tahun ini sebentar lagi bakal musnah tak kembali lagi....

kesemuanya ini dikarenakan dirinya yang kurang hati-hati sehingga dengan begitu mudahnya terjatuh ke tangan Ciu Tong, Heei....

masa hidupnya hampir habis sampai disini saja entah inikah yang dinamakan takdir atau nasib?

Dengan termangu-mangu lama sekali dia memandang ke angkasa....

mendadak terdengar suara bentakan dari Ciu Tong yang bernadakan rasa terkejut.

"Aaah.... Kereta Berdarah"

Dia segera merasakan telapak tangannya Ciu Tong yang menempel di punggung sedikit tergetar, satu pikiran lantas berkelebat dihatinya.

Tanpa banyak cakap bagaikan kilat cepatnya dia berkelebat ke arah depan.

Ciu Tong yang melihat munculnya Kereta Berdarah dalam hati merasa amat terkejut sehingga telapak tangannya tergetar kini melihat Sang Su-im menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri dalam hati jadi sangat terperanjat telapak kirinya dengan terburu-buru ditekan ke depan menghajar pundak kiri dari Sang Su-im, Sang Su-im yang sedang berusaha untuk menghindarkan diri dari ancaman Ciu Tong tiba-tiba merasakan pundak kirinya jadi sakit dia mendengus sewaktu matanya melirik ke belakang itulah dia melihat tongkat baja di tangan kanan Ciu Tong sudah dihantamkan ke atas kepalanya.

Dengan gusarnya dia segera membentak keras, saat ini merupakan saat-saat yang amat kritis bagi keselamatan jiwanya, tangan kirinya segera membalik ke belakang melancarkan serangan dahsyat, tiga gulung angin serangan dengan tajamnya berderu menghajar iga Ciu Tong yang ada di belakang.

Melihat dalangnya serangan tersebut Ciu Tong jadi merasa bergidik, tergesa-gesa dia tarik napas panjang-panjang untuk mengerahkan ilmu mayat membusuknya, separuh bagian aliran darahnya seketika itu juga berhenti mengalir.

Bersamaan waktu itulah tiba-tiba dia merasakan satu desiran angin tajam menyambar datang dari belakang badannya, sebilah pedang Kiem-hong-kiam yang ada di tangan Koan Ing sudah menyambar mendekati sang leher.

Sedikit dia berayal, itulah tiga buah serangan jari yang amat dahsyat dari Sang Su-im berhasil menghajar badannya, dia segera mendengus berat.

Tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang terkena dorongan angin serangan itu, bersamaan pula kepalanya menunduk ke bawah menghindarkan diri dari serangan pedang Koan Ing.

Tetapi pada saat itu ujung toya yang di babat ke depan berhasil pula menghantam iga Sang Su 1m dengan kerasnya Dengan kepandaian silat serta tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tong pada saat ini, Sang Su-im mana kuat menahan babatan tongkat dari Si iblis sakti dari luar lautan, Terdengar diapun mendengus berat, tubuhnya terpental sejauh tiga kaki terkena sapuan yang dahsyat dari Ciu Tong ini, Diantara suara ringkikan kuda yang amat ramai dan memekikkan telinga bagaikan bayangan setan saja kereta berdarah itu menerjang datang,....

Koan Ing yang serangannya tidak mencapai pada hasil dengan terburu-buru menarik kembali pedangnya sedang tubuhnya bagaikan kilat cepatnya berkelebat ke samping badan Sang Su-im, dengan cepat dia membimbing bangun Sang Su-im yang saat ini sudah jatuh tidak sadarkan diri, Ciu Tong yang melihat situ kesempatan yang paling baik untuk membinasakan Sang Su-im di bawah serangannya ternyata mengalami kegagalan, dalam hati merasa khe-ki bercampur gusar, sambil bersuit nyaring dengan dahsyatnya dia menubruk ke arah Koan Ing, Koan Ing yang sedang menggendong tubuh Sang Su-im sewaktu melihat wajah Ciu Tong menyengir amat menakutkan dalam hati merasa sedikit bergidik, pedang panjangnya berturut-turut melancarkan lima buat serangan dahsyat menangkis datangnya hantaman toya dari Ciu Tong yang dilancarkan dalam keadaan gusar itu, tetapi tidak urung telapak tangannya terasa sakit juga.

Ciu Tong yang melihat serangannya tidak mendapatkan hasil, dengan gusarnya dia lantas membentak keras, sekali lagi dia melancarkan satu serangan laksana menggulungnya ombak di samudra dan ambruknya gunung Thay-san.

Melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat, Koan Ing jadi sangat terperanjat bagaimanapun juga sambaran toya dari Ciu Tong ini sukar baginya untuk menerima, saat ini kereta berdarahpun lagi menerjang ke arahnya membuat hatinya jadi benar-benar amat bingung.

Mendadak satu ingatan berkelebat di hati Koan Ing, tanpa banyak berpikir lagi sembari menggendong tubuh Sang Su-im dia segera meloncat naik ke arah kereta berdarah yang sedang menerjang datang.

Ciu Tong jadi tertegun melihat kejadian ini, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing berani meloncat naik ke atas kereta berdarah sembari menggendong tubuh Sang Su-im, Di tengah suara ringkikan kuda serta ramainya putaran roda kereta bagaikan segulung angin yang berlalu kereta berdarah itu sudah berkelebat melalui permukaan yang tertutup oleh salju.

Lama sekali Ciu Tong berdiri termangu mangu di tempat semula, dia tidak tahu bagaimana keadaan dari Sang Su-im pada saat ini, hatinya jadi merasa sedikit sedih.

Di dalam sekejap saja Kereta berdarah itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Tidak disangka sama sekali olehnya Kereta berdarah sebenarnya adalah demikian misterius dan demikian menakutkan, tujuannya yang terutama mendatangi daerah Tibet tidak lain adalah dikarenakan kereta berdarah itu tetapi kini dengan mata kepala sendiri dia melihat kereta berdarah itu berlalu bahkan melihat pula Koan Ing sembari menggendong tubuh Sang Suim meloncat naik ke dalam kereta.

Tetapi mendadak hatinya merasa amat ketakutan, dia sama sekali tidak berani pergi mengejar.

w Koan Ing yang menggendong tubuh Sang Su-im masuk ke dalam kereta berdarah segera merasakan adanya seseorang yang lagi memandang dirinya dengan pandangan dingin sekali.

Dia jadi sangat terkejut, sewaktu memperhatikan lebih tajam lagi waktu itulah Koan Ing baru menemukan kalau dia orang bukan lain adalah Si manusia tunggal dari Bu-lim.

Sinar mata si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong dengan terpesonanya memandang diri Koan Ing, tak sepatah katapun diucapkan olehnya.

Koan Ing sendiripun tidak tahu bagaimana pada waktu tadi dia begitu berani untuk meloncat naik ke dalam kereta berdarah, waktu itu dia cuma memikirkan bagi keselamatannya sendiri dan kini....

setelah berada di dalam ruangan kereta hatinya mulai merasa amat tegang.

Jien Wong tak mengucapkan sepatah katapun, dia cuma memperhatikan dirinya dengan pandangan terpesona....

Di bawah tarikan empat ekor kuda berwarna merah, kereta berdarah itu bagaikan kilat cepatnya berkelebat melalui permukaan tanah yang sudah tertutup olah salju itu....

Saat itulah dengan perlahan Sang Su-im baru membuka matanya kembali, tetapi sewaktu dilihatnya Jien Wong musuh bebuyutannya muncul di hadapan mata, air mukanya segera berubah sangat hebat.

"Aaah.... si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong!"

Serunya tertahan.

Walaupun pada saat ini dia lagi menderita luka parah tetapi saking terkejutnya tidak tertahan lagi tubuhnya sudah meloncat bangun.

Sejak si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong menemui ajalnya di bawah kereta karena kerubutan empat manusia aneh pada masa yang lampau sehingga dia bangun dan melarikan diri hingga....

saat ini belum pernah dia bertemu muka dengan Jien Wong, tidak disangka kini selagi menderita luka parah Jien Wong munculkan dirinya kembali di depan mata, bagaimana hal ini tidak membuat hatinya jadi sangat terkejut?

Si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong masih tetap duduk di tempat semula tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sambil menghembuskan napas panjang Sang Su-im berbatuk batuk, darah segar segera memancur keluar dan mulutnya.

Dia tidak berani banyak berpikir lagi, dengan perlahan sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat untuk beristirahat sedang hawa murninyapun tidak dikerahkan lagi untuk mengobati luka yang diderita, karena dia tahu lukanya ini tidak bakal bisa sembuh hanya di dalam satu dua hari saja.

Sedang diapun tidak percaya kalau dirinya bisa lolos dari tangan si manusia tunggal Jien Wong ini.

Dengan cepatnya kereta berdarah meluncur masuk ke dalam sebuah gua gunung yang tinggi besar, lewat seperminum teh kemudian kereta itu berhenti dengan perlahan-lahan.

Jien Wong masih tetap memandang ke dua orang itu tidak bergerak, lama sekali baru terdengar dia berkata dengan suara perlahan.

"Untuk menuruni kereta ini tentunya kalian berdua tidak perlu aku yang bantu membimbing bukan?"

Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im segera membuka matanya kembali, alisnya dikerutkan rapat-rapat, dia sama sekali tidak menyangka si manusia tunggal Jien Wong hendak melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Koan Ing yang sejak semula sudah tidak pikirkan keselamatannya sendiri, dengan terburu-buru lantas membimbing diri Sang Su-im.

"Empek Sang mari kita turun dari kereta,"

Ajaknya.

Dengan perlahan Sang Su-im mengangguk, di bawah bimbingan Koan Ing dia segera turun dari kereta berdarah tersebut.

Tampaklah di tempat mana mereka berada merupakan sebuah lambung gunung yang amat tinggi dan besar sekali, di sekeliling dinding gua penuh dihiasi dengan tiang2 salju telah membeku, kelihatannya gua ini merupakan satu gua salju alam yang sudah berusia sangat lama.

Jien Wong pun ikut meloncat turun dari dalam kereta, tetapi selama ini dia tidak memandang ke arah mereka, bagaikan tiada orang saja, matanya memandang ke tempat kejauhan.

Lewat sejenak kemudian Jien Wong baru menepuk kuda yang menarik kereta berdarah itu, disertai suara ringkikan yang ramai kereta berdarah itu mulai bergerak menuju ke ruangan gua yang lebih dalam lagi.

Menanti setelah kereta tersebut lenyap dari pandangan, sambil mungkuri kedua orang itu dia baru berkata dengan suaranya yang adem.

"Sang Su-im, perpisahan kita selama sembilan belas tahun ini apakah selalu baik-baik saja?"

"Kedatanganku ke daerah Tibet kali ini justru hendak mencari dirimu,"

Jawab Sang Su-im dengan berat alisnya dikerutkan rapat-rapat. Mendengar perkataan tersebut Jien Wong segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya dengan perlahan-lahan dia putar tubuhnya.

"Sejak pertempuran kita di gunung Hoa-san pada masa yang lalu kini sudah ada sembilan belas tahun lamanya. Hee.... hee kau masih berani mencari diriku?"

Serunya.

Dengan tawarnya Sang Su-im memandang sekejap ke arah Jien Wong, tetapi tak sepatah katapun diucapkan keluar.

Mendadak tampak Jien Wong angkat tangan kanannya dan antara ujung lima jarinya segera terlihatlah lima gulung sinar berwarna merah darah memancar keluar, diantara berkelebatnya bayangan jari batu cadas di samping badannya sudah kena cengkeram sebagian sehingga haacur lebur bagaikan bubuk.

Diam-diam dalam hati Sang Su-im merasa sangat terperanjat melihat kejadian ini, jika ditinjau dari peristiwa ini jelas menunjukkan kalau tenaga dalam yang dimiliki Jien Wong pada saat ini jauh melebihi mereka berempat selama sembilan belas tahun ini kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang begitu pesat sehingga sangat mengejutkan sekali.

Dengan pandangan yang sangat dingin Jien Wong memperhatikan diri Sang Su-im.

"Apakah kau masih ada sanak keluarga?"

Tanyanya dengan perlahan.

Sang Su-im jadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau Jien Wong sudah menanyakan soal ini.

Sewaktu hatinya jadi ragu-ragu itulah tampak sinar mata yang sangat tajam dari Jien Wong sudah mendesak dirinya.

"Cuma ada seorang putri saja,"

Jawabnya tidak kuasa lagi. Dengan perlahan Jien Wong mengangguk, lalu menghela napas panjang.

"Untung sekali kau masih ada seorang anak perempuan, aku tetap seorang diri saja.... Heei.... ternyata aku benar-benar si manusia tunggal dari Bu-lim!"

Diam-diam Sang Su-im merasa heran melihat sikap yang aneh dan Jien Wong ini, bagaimana mungkin sifatnya selama sembilan belas tahun ini bisa berubah amat besar?

pada masa yang lalu begitu dia munculkan diri tanpa banyak bercakap lagi sudah menerjang ke arah empat manusia aneh, tetapi kini....

dia mengajak dia banyak berbicara bahkan yang dibicarakanpun merupakan persoalan yang sama sekali tidak ber guna.

Dengan perlahan Jien Wong menoleh ke arah Koan Ing dan memandangnya beberapa saat lamanya.

"Siapa kau?"

Tanyanya kemudian.

"Aku tidak kenal dengan kau, bagaimana kau bisa menerjang masuk ke tempatku?"

Koan Ing jadi melengak, terang pada beberapa hari yang lalu dia sudah pernah bertemu muka dengan Jien Wong bahkan mengatakan juga hendak membuatkan obat pemunah baginya, bagaimana sekarang dia bisa berpura-pura tidak kenal dengan dirinya?

"Cayhe Koan Ing sengaja datang menghunjuk hormat buat cianpwee,"

Katanya dengan perlahan. Air muka Jien Wong segera berubah sangat hebat, teriaknya tiba-tiba dengan seram.

"Selamanya tiada seorangpun yang bisa hidup lebih lama lagi setelah bertemu dengan aku."

Sehabis berkata tangan kanannya membalik ke samping, Lima jarinya dengan disertai lima gulung angin serangan yang dahsyat mencengkeram leher Koan Ing.

Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat kini tangan kanannya lagi terluka, tangan kirinya sambil mencekal pedangnya kencang2 segera melancarkan serangan ke depan.

Terlihatlah serentetan sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata dari pedang Kiem-hong-kiam tersebut dengan dahsyatnya menggulung kelima buah serangan jari dari Jien Wong.

Tahu-tahu Jien Wong memperkencang lima jarinya....

"Tiiiing....!"

Disertai suara yang meletik nyaring dengan paksa dia berhasil merebut pedang Kiem-hong-kiam tersebut dari tangan Koan Ing. Dengan terkejutnya Koan Ing mundur dua langkah ke belakang.

"Hmmm....! Kiranya anak murid dari Kong Bun-yu!"

Terdengar Jien Wong mengejek dengan suara yang dingin.

Selesai berkata tangan kanannya segera mengencang, agaknya dia bermaksud hendak mematahkan pedang Kiemhong-kiam tersebut tetapi sekalipun dia sudah kerahkan seluruh tenaga tidak berhasil juga menghancurkan pedang itu.

Saking gemasnya dia segera melemparkan kembali pedang itu ke arah Koan Ing.

"Hmm Hmm.... pedangnya sih bagus, cuma sayang kepandaian silatnya terlalu cetek!"

Serunya kembali. Dia lantas termenung lagi beberapa saat lamanya, kira-kira seperminum teh kemudian tampaklah dia tertawa.

"Aaaah.... benar aku punya satu cara untuk mengubah kau menjadi seorang jagoan yang berkepandaian sangat tinggi di Bu-lim, hal ini pasti bisa terjadi!"

Katanya.

Pikiran Koan Ing segera tergerak, sewaktu melihat perubahan air muka dari Jien Wong yang amat bangga ini dia teringat kembali sikapnya yang sama sewaktu mengatakan hendak memunahkan racun dibadannya itu, mendadak saja dia menaruh satu perasaan yang amat aneh tetapi perasaan tersebut sukar baginya untuk mengucap kan keluar.

Terdengar Jien Wong kembali bergumam seorang diri.

"Di dalam kolong langit pada saat ini cuma aku seorang saja yang bisa berbuat demikian."

Sang Su-im yang melihat sikapnya yang sangat aneh dari Jien Wong dalam hati diam-diam merasa bingung, mendadak dia teringat akan sesuatu.

"Eeeei.... kenapa tadi kau menjalankan keretanya di atas permukaan salju?"

Tanyanya. Jien Wong agak melengah dengan cepat dia putar kepalanya ke arah Sang Su-im.

"Sudah tentu sengaja pergi menjemput kalian,"

Jawabnya.

Sinar mata Sang Su-im berkedip-kedip sedang Koan Ing jadi tertegun.

Sengaja pergi menjemput mereka?

Hal ini mana mungkin bisa terjadi?

Apakah Jien Wong sebelumnya bisa menduga kalau dirinya bakal hendak meloncat naik ke atas keretanya....

Sewaktu Jien Wong melihat Sang Su-im memandang ke arahnya dengan keheran-heranan, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.

"Apakah kau merasa tidak percaya?"

Serunya. Sang Su-im tersenyum lalu mengangguk.

"Lalu ada urusan apa kau sengaja menjemput kami?"

Tanyanya lagi.

"Aku mau suruh kalian tahu kalau kepandaian silat yang paling tinggi di dalam kolong langit pada saat ini adalah diriku,"

Jawab Jien Wong setelah berpikir sebentar.

"Dimana kereta berdarahmu sekarang berada?"

Tanya Sang Su-im secara tiba-tiba.

Ooo)*(ooO Bab 20 JIEN WONG melirik ke kanan sebentar, setelah itu bersuit panjang.

Tidak selang berapa lama kereta berdarah itu dengan amat cepatnya sudah menerjang datang, tubuhnya lantas meloncat naik kereta.

kereta berdarah kemudian diselingi suara tertawa tergelaknya dengan amat menyeramkan dia melarikan Kereta Berdarah tersebut ke tempat luar.

Dengan termangu-mangu Koan Ing memandang ke arah dimana kereta berdarah itu pergi, dia merasa heran mengapa Jien Wong pergi meninggalkan tempat itu Dengan perlahan Sang Su-im meaoleh kaarah Koan Ing lalu ujarnya dengan perlahan.

"Manusia tungal dari Bu-lim, Jien Wong sudah jadi gila"

Koan Injadi terkejut Jien Wong sudah jadi gila?

peristiwa ini sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, teringat akan dua kali perkataan terhadap dirinya, dia segera merasa kalau sikap serta tindak tanduk dari Jien Wong benar-benar rada aneh dan berbeda dengan manusia biasa.

Koan Ing yang mendengar perkataan dari Sang Su-im kemudian dicocokkan pula dengan perkataan serta tindak tanduk dari Jien Wong, maka segera terasalah olehnya kalau perkataan ini sedikitpun tidak salah.

Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang harus diperbuat terhadap beberapa perkataan yang diucapkan itu,"

Ujar Sang Su-im lagi "Dia cuma merasa dirinya merupakan jagoan yang paling lihay di kolong langit, hal inijelas menunjukkan kalau urat syarafnya sudah terganggu, Heei, untung sekali dia masih bisa kidup sampai saat ini, ya....

boleh dikata hal ini merupakan satu kejadian yang amat aneh sekali."

Sebetulnya Jien Wong sudah menyanggupi dirinya untuk bantu dia bebaskan diri dan pengaruh racun, walaupun tentang soal ini dia sama sekali tidak memikirkan dihati tetapi di dalam hati dia selalu berdoa dan mengharapkan kalau Jien Wong benar bisa berhasil membuatkan obat pemunah baginya.

Tetapi kini setelah mendengar berita kalau Jien Wong adalah seorang gila, tidak kua"a iagi dalam hati merasa sedikit kecewa juga.

Tampak Sang Su-im termenung sebentar lalu berkata.

"Aku tahu dua tiga kali kau menolong nyawaku dan hal ini dikarenakan soal Siauw-tan. aku tidak akan menanyakan kepadamu kau ingin minta apa, sejak ini hari urusan antara kau serta Siauw-tan boleh kalian putuskan sendiri. Koan Ing jadi melengak, sebenarnya dia sendiripun tidak mengerti kenapa dua tiga ikali dia turun tangan menolong Sang Su-im, dia cuma merasa pekerjaannya ini adalah satu keharusan, tetapi setelah mendengar perkataan itu dia mulai merasa kalau alasan itu adalah benar dan tidak dapat dibantah. Dengan perlahan Koan Ing menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Aku tidak akan mencelakai diri Siauw-tan, harap Empek Sang suka melegakan hati"

"Heeei.... urusan di dalam dunia selalu saja berubah dan hal ini siapapun tidak dapat menduganya terlebih dulu. Urusan di antara kalian akupun tidak ingin banyak ikut campur lagi, sejak ini hari urusan diantara kalian berdua boleh dibereskan oleh kalian sendiri,"

Ujar Sang Su-im sam bil menghela napas panjang.

Selesai berkata dengan perlahan dia putar tubuhnya dan berlalu dari tempat itu.

Dengan pandangan yang melongo Koan Ing memperhatikan diri Sang Su-im sehingga lenyap dari pandangan, untuk sesaat lamanya dia merasakan perubahan yang terjadi di dalam dunia ini benar-benar sangat besar seakan di dalam satu hari seorang manusia bisa mengalami keadaan yang berbahaya sampai dua tiga kali banyaknya.

Sejak memasuki Daerah Tibet Ciu Tong bentrok dengan Sang Su-im, dipaksa dirinya menelan racun, ilmu silat dari Ciu Tong dimusnahkan oleh Sang Su-im, Pertempuran antara Sang Su-im dengan Thian Siang Thaysu.

Ciu Tong menelan racun untuk melukai Sang Su-im satu demi satu berkelebat dihadapan matanya, masih ada lagi....

yaitu psrsoalan antara dia serta Sang Siauw-tan dua orang.

Sembari berpikir dengan perlahan Koan Ing berjalan keluar dari gua tersebut.

Waktu itu cuaca sudah amat gelap, kecuali pantulan sinar dari salju yang putih apapun tidak kelihatan lagi.

Lama sekali dia termenung berpikir keras, sejenak kemudian cuacapun mulai terang tanah, Koan Ing agak ragu-ragu memandang sekelilingnya, akhirnya dia melanjutkan perjalanannya ke samping kanan.

Tiba-tiba....

seorang penunggang kuda dengan amat cepatnya berlari mendatang.

Orang itu berusia kurang lebih tiga puluh tahunan dengan wajah yang putih bersih, pada tubuhnya memakai satu mantel berwarna hitam dan menunggang seekor kuda hitam pula.

Makin lama orang itu semakin mendekati diri Koan Ing, akhirnya setelah memperhatikan beberapa saat dia bertanya.

"Tahukah Ciat Ie Toocu ada dimana?"

Sinar mata Koan Ing berkelebat, sewaktu melihat sikap yang sombong danjumawa dari orang itu dalam hati diamdiam merasa sedikit mendongkol.

"Hmm, ada urusan apa dia hendak mencari Ciong Tong si manusia laknat itu?"

Pikirnya dihati. Dengan tawarnya dia segera menyapu sekejap ke arah orang itu.

"Cayhe tidak tahu,"

Jawabnya kemudian. Mendengarjawaban itu, orang berbaju hitam tersebut segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Agaknya kau merasa tidak senang untuk menjawab pertanyaatiku haa? Kurang ajar"

Teriaknya. Dalam hati Koan Ing pun merasa rada gusar atas kelakuan dari orang itu, dia tidak menyangka kalau di dalam dunia ini masih ada orang yang demikian sombongnya seperti orang itu.

"Memangnya aku merasa tidak senang untuk menjawab pertanyaanmu, lalu kau mau apa?"

Tantangnya kemudian sambil memandang sekejap ke arah orang berbaju hitam itu dengan tawar.

"Haa.... haa.... aku bisa menyuruh kau merasa senang,"

Sahut orang tersebut sambil meloncat turun dari kudanya.

Sehabis berkata tubuhnya segera berkelebat ke depan, tangan kanannya dengan kecepatan yang luar biasa mencengkeram pundak kiri dari Koan Ing.

Koan Ing segera mendengus dingin, dengan kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini, kecuali terhadap orang yang kepandaian silatnya jauh berada di atas tiga orang genah empat manusia aneh, dia sama sekali tidak merasa takut, dia merasa walaupun misalnya terluka maka lukanya itu tidak akan parah.

Tubuhnya dengan amat gesit berkelebat menyingkir dari datangnya serangan itu.

Gerakan tubuh orang berbaju hitam itu laksana mengalirnya air dengan cepat meluncur ke depan, mendadak tangannya membabat mencengkeram kembali ke arah Koan Ing.

Koan Ing yang melihat datangnya serangan itu mendadak pikirannya teringat akan sesuatu, dengan dinginnya dia lantas mendengus.

"Hmm, kiranya manusia-manusia dari pulau Ciat It To,"

Pikirnya.

Tangan kirinya segera balas menghantam ke depan, menutup datangnya cengkeraman dari orang berbaju hitam itu.

Orang tersebut segera berkelebat kembali ke tempat semula, dengan pandangan yang tidak percaya dia memperhatikan diri Koan Ing.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu silat yang paling lihay dari pulau Ciat Io To bisa dipecahkan Koan Ing hanya di dalam satu gerakan yang sangat mudah.

"Siapa kau?"

Tanyanya kemudian sembari memandang tajam diri Koan Ing.

"Hmm.... bukankah kau adalah anak murid dari Ciu Tong, Bu Sian adanya?"

Tanya Koan Ing sambil tertawa menghina.

Orang berbaju hitam itu segera merasa hatinya bergidik, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa memecahkan asal usulnya di dalam waktu yang amat singkat, diapun tidak mengira kalau sejak munculnya dia orang di daerah Tibet, bukannya bertemu dengan Ciu Tong sebaliknya sudah bertemu dengan seorang pemuda aneh semacam Koan Ing ini, Tetapi hal ini terhadap diri Koan Ing boleh dikala merupakan satu urusan yang amat mudah sekali untuk dilakukan, dia tahu Bee Sian pun sudah memasuki daerah Tibet bahkan mengetahui pula kalau dia angkat nama bersamaa dengan si kongcu berbaju sutera Bun Ting-seng, maka sewaktu dilihatnya tenaga dalam yang dimilikinya lumayan juga maka dia segera bisa menduga akan orang itu.

Lama sekali Bu Sian berdiri termangu-mangu, beberapa saat lamanya kemudian baru terdengar dia membentak.

"Siapa kau? Kalau sudah mengetahui nama besarku kenapa sikapmu masih begitu congkaknya?"

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Hmm Buat apa aku sungkan-sungkan terhadap dirimu?"

Katanya dingin.

Dalam hati Bu Sian merasa amat gusar, dengan pandangan yang tajam dia memperhatikan diri Koan Ing.

Dia tidak menyangka kalau orang yang ada di hadapannya ini sudah banyak mengetahui akan dirinya, sebaliknya dia sendiri sama sekali tidak mengetahui asal usul maupun siapakah Koan Ing ini.

Di dalam hati dia punya maksud untuk turun tangan lagi, tetapi sewaktu teringat akan asal-usul yang tak jelas dari musuhnya dalam hati merasa sedikit ragu-ragu pula.

"Kau masih belum beritahu kepadaku siapakah kau sebenarnya,"

Ujarnya sambil tertawa.

"Akulah Koan Ing"

Jawabnya tawar. Bu Sian mengertikan alisnya rapat-rapat.

"Aah.... kiranya pemuda yang ada di hadapanku ini bukan lain adalah Koan Ing yang namanya sudah lama terkenal di dalam Bu-lim,"

Pikirnya.

Teringat akan serangannya yang digagalkan oleh Koan Ing hanya di dalam satu jurus saja dalam hati kembali merasa bergidik, dia tidak menyangka kalau Koan Ing memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya.

Jejak dari suhuku apakah Koan Siauwhiap mengetahui?"

Tanyanya kemudian sambil menarik napas panjang, Koan Ing yang melihat sikap Bu Sian sudah berubah seratus persen, dalam hati diam-diam merasa heran, tetapi dia segera menduga kalau pada saat ini Boe Siao tidak ingin bentrok dengan dirinya.

karena itu dia tidak memikirkan lebih panjang lagi.

"Aku tidak tahu....

"jawabnya setelah termenung sebentar. Sebelum habis Koan Ing berbicara mendadak Bu Sian meloncat ke atas, sedangkan tangan kanannya dengan dahsyat menghajar pundak kanan dari Koan Ing, Koan Ing merasa terkejut bercampur gusar, kiranya Bu Sian sudah melihat kalau tangan kanannya lagi terluka sehingga memancing dia untuk berbicara kemudian menggunakan kesempatan itu melancarkan serangan membokong dirinya, Koan Ing bukanlah manusia yang sembarangan, jurus serangan yang dilancarkan oleh Bu Sian ini mana bisa berhasil melukai dirinya tampak tubuhnya dengan amat gesit dan lincah sudah meloncat ke samping menghindarkan diri dari serangan bokongan lari Bu Sian ini, Bu Sian yang melihat serangannya tidak mencapai hasil, dia tidak ragu-ragu lagi, pedang panjangnya segera diiyabut keluar dari sarungnya kemudian dengan amat gencar melancarkan serangan mengancam tangan kiri dari Koan Ing, Melihat arah yang diserang Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dengan gusarnya dia membentak keras, tubuhnya berputar tangan kanannya balik mencabut keluar pedang Kiem-hong-kiam, sebaliknya tangan kirinya didorong ke depan melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Hay Ciau Thian Yang"

Dari ilmu "Thian-yu Jie Cap Su Cau"

Yang dahsyat itu, Tampak serentetan sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi angkasa, pedang Kiem-hong-kiam tersebut bagaikan sambaran kilat cepatnya menyerang bagian Ieher dari Boo Sian.

Melihat datangnya serangan yang sangat dahsyat ini, Bu Sianjadi terperanjat dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing di dalam keadaan luka masih bisa melancarkan serangan yang begitu dahsyatnya.

Jurus Hay Ciau Thian Yang ini adalah satu jurus serangan ciptaan Kong Bun-yu sendiri, juga bel um pernah ditemuinya sejak dahulu.

Karenanya tanpa bisa dicegah lagi mantel hitam yang dipakainya sudah kena terbabat kurang lebih empat lima Cun panjangnya.

Di dalam keadaan yang sangat terkejut, dengan terburuburu dia mengundurkan dirinya ke belakang....

Dengan dinginnya Koan Ing segera membentak kembali, tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk ke depan, pedang Kiem-hong-kiam yang ada ditangan kirinya menyambar ke depan, dengan menggunakan jurus Ci Co Thai Yang dia mengancam alis dari Bu Sian.

Dalam hati Bu Sian merasakan hatinya bergear membuat kepalanya pening.

Ditambah pula dengan jurus serangan yang dilancarkan Koan Ing dengan menggunakan tangan kirinya membuat dia benar-benar terdesak.

Di dalam keadaan yang pecah nyali, dia mana berani menerima jurus serangannya ini, tubuhnya segera menjatuhkan diri ke atas tanah lalu menggelinding pergi.

Tubuh Bu Sian dengan cepatnya menggelinding sampai dua kaki jauhnya, terasa olehnya angin pedang masih tiada hentinya menyambar lewat dari samping badan membuat dia tidak berani bangkit berdiri, sedang keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi bajunya.

Sewaktu dia meloncat bangun lagi, terlihatlah olehnya Koan Ing dengan pandangan yang amat dingin sedang memperhatikan dirinya sedang pada ujung bibir tersungginglah satu senyuman yang sangat menghina.

Diam-diam dalam hati dia merasa bergidik, umpama tadi Koan Ing mengejar terus, maka pada saat ini tubuhnya tentu sudah berbaring diantara ceceran darah, dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing jauh lebih dahsyat dari apa yang diingatnya dari orang lain.

Dia tidak mengira setelah dalam keadaan luka, tangan kirinya masih bisa memainkan pedang dengan begitu dahsyat sehingga memaksa dirinya terdesak mundur terus menerus.

"Hmm...."

Terdengar Koan Ing mendengus dengan amat dinginnya.

"Orang-orang dari pulau Ciat Ie To tidak disangka cuma pandainya membokong orang lain saja."

Bu Sian menghembuskan napas lega, dia pun mendengus dengan amat dingin.

"Hmm.... kepandaian silat dari Koan siauw-hiap jauh berada di atas aku orang she-Boe,"

Katanya.

"Tetapi kami orangorang dan pulau Ciat Ie To tidak akan membiarkan kau mengumbar kata-kata yang begitu menghina kami, hati-hati saja dengan kata-katamu, hmm lain kali kami bisa datang untuk mencari balas dengan dirimu."

"Haa.... haa aku Koan Ing akan selalu menantikan kunjungan dari orang-orang Ciat Ie To."

Dengan perlahan Bu Sian Ialu berjalan ke samping kuda hitamnya dan meloncat naik ke atas tunggangannya.

"Kalau begitu kita berjumpa lagi dilain waktu!"

Serunya kemudian.

Sehabis berkata dengan cepat dia melarikan kudanya meninggalkan tempat itu, Koan Ing cuma tertawa tawar saja, Bu Sian tidak tahu kalau Ciu Tong sejak semula sudah bentrok dengan dirinya, sekalipun tidak terjadi urusan ini setelah bertemu muka dengan Ciu Tong diapun tidak bakal banyak memberi kesempatan buatnya untuk tetap hidup di dalam dunia ini.

Sedangkan dia pun bilamana ada kesempatan tidak akan melepaskan Ciu Tong dengan begitu saja.

Baru saja berpikir sampai disitu mendadak dia mendengar suara tertawa yang amat ramai berkumandang datang, tampak lah seorang gadis berbaju kuning berjaIan mendatang sambil menggandeng seorang gadis berbaju hijau, sembari tertawa mereka melanjutkan perjalanannya datang kemari, Koan Ing jadi melengak, semula dia pernah menemui kedua orang ini bahkan Sang Siauw-tan pun sudah pernah mengejar mereka berdua, tetapi bagaimana sekarang mereka bisa munculkan dirinya di tempat ini?

Sesampainya dihadapan Koan Ing kedua orang gadis itu segera tersenyum.

"Engkoh Ing!"

Serunya berbareng.

"Kemaren dulu kami tidak kenal denganmu maka tidak menyapa, sungguh maaf yaa."

Koan Ing jadi melengak.

"Apakah nona berdua adalah murid dari Cha Thayhiap?"

Tanyanya kemudian sambil tertawa.

"Bukan, dia adalah ayahku, aku bernama Cing Cing dan dia bernama Ing Ing,"

Sahut ke dua orang gadis itu lagi sambil tertawa. Koan Ing yang melihat kedua orang gadis itu amat polos bahkan tidak tampak rasa malu2, dia lantas tertawa.

"Eei, apakah kalian pernah melihat Siauw-tan?"

Tanyanya.

"dia sekarang ada dimana?"

Cing Cing serta Ing Ing saling bertukar pandang dan tertawa.

"Siauw-tan cici pergi mencari dirimu,"

Kata Cing Cing sambil tersenyum.

"Namamu pun dapat kami ketahui dari Siauw-tan cici yang memberitahu."

"Oooh...."

Seru Koan Ing.

Diam-diam dia mengerutkan alisnya.

Sang Siauw-tan seorang diri pergi mencari dirinya tetapi entah dia sudah mencari ke mana?

Apakah dia tidak mengetahui peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan Ciu Tong?

Bilamana sampai bertemu kembali dengan Ciu Tong, kemungkinan sekali manusia laknat itu tidak akan melepaskan dirinya kembali.

Kedua orang gadis itu sewaktu melihat Koan Ing mengerutkan alisnya, segera sama-sama tertawa.

Mendadak Koan Ing merasakan hatinya sedikit tergerak, kedua orang gadis ini adalah putri dari Cha Can Hong sedangkan Cha Can Hong pun paling suka terhadap Sang Siauw-tan, maka diantara mereka tentu tidak akan ada terjadi kesalah pahaman apapun.

Berpikir sampai disini dia lantas bertanya kembali.

"Kenapa kalian tidtk ikut dengan Cha Thayhiap?"

"Ayah masih ada urusan, dia minta kami berangkat bersama sama Siauw-tan otot terlebih dulu,"

Seru Ing Ing tidak terasa. Tetapi Siauw-tan cicipun hendak mencari kalian, maka terpaksa dia meninggalkan kami untuk berangkat sendiri."

Sambung Cing Cing dengan cepat.

Koan Ing segera merasakan hatinya kembali bergerak, dia menarik napas panjang, karena dia tahu Sang Siauw-tan pasti ada di sekitar tempat ini, tentu sengaja dia menyuruh kedua orang gadis ini untuk memancing dirinya sehingga dia mengetahui apakah bisa kuatir terhadap dirinya atau tidak.

Setelah berpikir sebentar mendadak dia tertawa kembali.

"Waaah.... paman Cha bisa mempunyai dua orang gadis yang demikian cantiknya seperti kalian sungguh mujur sekali"

"Tidak, Siauw-tan cici jauh lebih cantik dari kami!"

Bantah Cing Cing sambil gelengkan kepalanya "Tidak, yang sesungguhnya kalian jauh lebih cantik dari dirinya!"

Bantah Koan Ing dengan cepat. Sepasang biji mata dari Ing Ing segera berputar.

"Hmm perkataan yang kau katakan tentunya bukan lagi menggoda kami bukan? Engkoh Ing?"

Serunya perlahan. Tiba-tiba Cing Cing mendorong tubuh Ing Ing dan memberi tanda kepadanya untuk jangan bertanya kembali.

"Engkoh Ing,"

Ujarnya kemudian dengan nada kurang senang. Bukanlah kau sangat baik sekali dengan Siauw-tan cici?"

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dia ragu-ragu sebentar lalu gelengkan kepalanya.

"Siapa yang memberitahu hal ini kepada kalian? Terus terang saja tidak ada urusan ini...."

Cing Cing maupun Ing Ing jadi melengak, kemudian bersama-sama menengok ke arah belakang dibalik sebuah gundukan tanah.

Lama sekali mereka berdiri termangu mangu disana setelah itu dengan perlahan mengundurkan dirinya ke belakang.

Sebaliknya Koan Ing pun berdiri tertegun disana.

Sepatah katapun tidak bisa di ucapkan keluar.

Dia tahu Sang Siauw-tan tentu ada di sana, dia ragu sebentar teringat akan seluruh lagaknya yang mirip sesunggihan, tidak terasa membuat hatinya radi merasa sedih.

"Eeeh kalian kenapa?"

Tanyanya kemudian kepada Cing Cing serta Ing Ing sambil tertawa paksa.

Selesai berkata dengan perlahan dia putar badannya.

Tampaklah Sang Siauw-tan dengan wajah yang pucat pasi berdiri di samping gundukan tanah itu kemudian selangkah demi selangkah berjalan mendekat.

Dalam hati Koan Ing pun merasakan hatinya seperti diirisiris, tetapi dengan paksa dia menahannya di hati.

"Siauw-tan Moay, baik-baik kah kau selama ini?"

Sapanya.

Sang Siauw-tan tidak menjawab, dia berjalan mendekati diri Koan Ing dengan wajah penuh tetesan air mata.

Lama sekali dia memandang terpesona ke arah sang pemuda, setelah itu dengan nada yang gemetar tanyanya.

"Per.... perkataanmu.... aaaa.... apa sungguh?"

"Apa semua perkataanku sudah kau dengar?"

Tanya Koan Ing lagi. Sang Siauw-tan termenung, dia tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya.

"Lalu.... lalu sewaktu kita ada dilereng gunung itu....?"

"Waktu itu cuma ada kira berdua saja maka aku mengatakannya dengan sesuka hati."

Sambung Koan Ing dengan tawar sebelum Sang Siauw-tan habis berbicara.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan memejamkan matanya rapat-rapat lalu menundukkan kepalanya rendah, titik air mata mengucur keluar semakin deras lagi.

"Dengan sesukanya?...."

Gumamnya.

Dengan kaku dan tawarnya Koan Ing berdiri tak bergerak, bibirnya kelihatan gemetar, hampir dia sendiripun tidak tahu apa yang diucapkan olehnya itu, dalam hati dia merasa sangat sedih dan perih sekali sehingga tidak kuasa lagi sudah tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Ooo)*(ooO Bab 21 ENTAH lewat berapa lama kemudian sewaktu dia mendongakkan kepalanya kembali, tampak suasana di sekeliling tempat itu sunyi senyap tak kelihatan seorangpun.

Saat ini dia berdiri seorang diri ditanah yang kosong dan Iuas, sedang Sang Siauw-tan serta Ing Ing dan Cing Cing entah sudah pergi kemana.

Bagaikan baru saja sadar diri satu impian buruk dia dongakkan kepalanya memandang keangkasa, tidak kuasa lagi titik air mata mulai mengucur keluar membasahi pipinya.

Dengan termenung Koan Ing berdiri seorang diri di atas permukaan salju, dia memandang ke arah dimana bayangan tubuh Sang Siauw-tan melenyapkan diri, akhirnya dengan perlahan menundukkan kepalanya kembali.

Dia tidak tahu bagaimana harus diperbuat olehnya sejak sekarang walaupun Sang Siauw-tan saat ini harus bersedih hati tetapi sebentar kemudian rasa sedih itu tentu akan lenyap dengan sendirinya, dia cuma merasa dirinyalah yang merasakan kesedihan dan kepedihan ini.

Jejak serta kabar berita dari Bun Tiang Seng sama sekali tak diketahui olehnya, harus kemanakah dia pergi mencari?

Sewaktu dia lagi termenung itulah mendadak dari tempat kejauhan kembali berkelebat datang beberapa sosok bayangan.

Dia bisa melihat orang yang baru saja datang ada empat orang banyaknya, sepasang lelaki perempuan serta Ing Ing dan Cing Cing.

Belum sempat dia berpikir lebih lanjut tampaklah keempat orang itu sudah berada dihadapan tubuhnya.

Lelaki berusia pertengahan itu mempunyai bentuk wajah empat persegi dengan alis yang tebal, keadaannya sangat berwibawa sekali.

"Kaukah Koan Ing?"

Tanyanya orang itu setibanya di hadapannya. Koan Ing mengangguk.

"Apa locianpiwee adalah Cia thay-hiap?"

Tanyanya pula. Lelaki berusia pertengahan itu mendengus kemudian mengangguk.

"Akulah Cha Cau Hong, dimanakah Siauw-tan berada?"

Koan Ing termenung tidak berbicara, dia memandang sekejap ke arah Cing Cing serta Ing Ing sama sekali tidak tahu olehnya apakah yang sudah dikatakan oleh Sang Siauw-tan sebelum meninggalkan tempat itu sehingga kedua orang gadis itu pergi mengundang ayahnya.

Perempuan yang satunya tentulah istri Cha Can Hong, walaupun usianya sudah ada tiga puluh tahunan tetapi wajahnya masih cantik bahkan mirip sekali dengan wajah Cing Cing maupun Ing Ing.

Cha Can Hong yang mendengar Koan Ing tidak menjawab, dia memandang sekejap ke arah Cing Cing serta Ing Ing, lalu ujarnya kembali.

"Koan Ing, walaupun kau adalah jagoan dari angkatan muda, bahkan rnerupakan ahli waris dari Thian-yu-pay tetapi Sang Siauw-tan adalah keponakanku, kenapa kau mengganggu dirinya?"

Mendengar perkataan itu Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tahu setelah Can Ca Hong mendengar perkataan dari kedua orang putrinya tentu akan timbul kesalah pahaman dengan dirinya, tetapi dia tidak ingin menjelaskan urusan ini.

Dia merasa urusan ini adalah urusan di antara dirinya dengan Sang Siauw-tan, asalkan dia merasakan perbuatannya benar, maka terhadap urusan yang lain tidak perlu pikirkan lagi dihatinya.

Cha Can Hong yang melihat Koan Ing tidak maujawab dalam hati merasa sangat tidak senang.

"Hmm, sekalipun kepandaian dari pemuda itu sangat tinggi tidak seharusnya bersikap demikian sombongnya, bilamana perlu aku harus kasih sedikit pelajaran kepadanya, demikian pikirnya dihati. Sepasang alisnya segera dikerutkan rapatrapat.

"Hey Siauw-tan sudah pergi kemana?"

Bentaknya kembali. Koan Ing ragu sebentar, akhirnya dia menjawabjuga dengan suara yang amat lirih.

"Dia sudah meninggalkan tempat ini, tetapi entah sudah pergi kemana?"

"Hari ini aku akan melepaskan dirimu untuk sementara, setelah mengetahuijelas urusan ini dari Siauw-tan aku akan segera datang kembali untuk mencari dirimu."

Seru Ca Can Hong sambil mendengus.

Sehabis berkata dia putar badan dan meninggalkan tempat itu.

Cing Cing dengan pandangan gusar melototi sekejap ke arah Koan Ing, sebaliknya Ing Ing yang tidak tahu urusan dengan melongo memandang ke arah Koan Ing sebentar lalu memandang ke arah encinya setelah itu baru berlalu mengikuti ayah ibunya.

Dengan termangu-mangu Koan Ing memandang mereka meninggalkan tempat itu sedang di hati diam-diam berpikir apakah perbuatannya ini benar atau tidak, tetapi dia mengerti kecuali menggunakan cara ini tiada cara lain lagi yang bisa digunakan.

Dia memandang ke arah kiri kanan, kemudian dengan mengikutijejak roda dari kereta berdarah berlari ke depan.

Lewat beberapa saat bemudian mendadak terdengarlah suara derapan kaki kuda yang amat ramai berkumandang keluar dari belakang badannya, sewaktu dia menoleh ke belakang tampaklah olehnya dua ekor kuda dengan amat cepatnya berlalu melewati sisi tubuhnya.

Pada saat itulah Koan Ing bisa melihat kalau penunggang kuda itu bukan lain adalah dua orang hwesio, bukan lain hweesio dari Siauw-lim-si.

Dia mengerutkan alisnya rapatrapat pikirnya.

"Apakah Ciangbunjin Siauw-lim-pay, Thian Siang Thaysu sekalian sudah mengejar datang kemari"

Ketika menoleh, mereka kembali ke belakang terlihatlah dari tempat kejauhan dari atas permukaan salju berkelebat datang beberapa sosok bayangan manusia, ditinjau dari jubah yang lebar dari beberapa sosok bayangan itu dia bisa menduga kalau mereka bukan lain adalah hweesio dari kuil Siauw-lim-si.

Koan Ing segera menoleh ke samping kiri kanan untuk mencari tempat persembunyian tetapi yang tampak permukaan salju yang kosong tidak ada sedikit tempat pun yang bisa digunakan untuk bersembunyi.

Dia merasa dirinya tidak bakal berhasil meloloskan diri kembali.

"Daripada gugup tidak keruan lebih baik aku bersikap tenang saja,"

Pikirnya.

Tidak lama kemudian tindakan kaki yang halus sudah semakin mendekat sebaliknya kedua orang Hweesio penunggang kuda itu sudah lenyap tak berbekas.

Koan Ing pura-pura pilon, dengan kalemnya dia melanjutkan perjalanannya ke depan.

Terasa beberapa sosok bayangan manusia berkelebat di tengah suara dengusan yang amat dingin tampaklah sesosok bayangan manusia yang tinggi besar sudah menghalangi di depan tubuhnya, Dengan perlahan Koan Ing dongakkan kepalanya, orang itu bukan lain adalah Thian Liong Thaysu adanya.

Sejak semula dia sudah menduga tentu hweesio-hweesio dari kuil Siauw-lim-sie tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, karenanya diam-diam dia sudah mengerahkan tenaga dalam siap-siap menghadapi sesuatu.

Dengan pandangan amat tawar dia melirik sekejap ke arah Thian Liong Thaysu lalu dengan perlahan tertawa.

"Thaysu, baik-baikkah selama perpisahan ini?"

Serunya.

Thian Liong Thaysu yang melihat Koan Ing ada maksud hendak mengejek dirinya dengan dingin segera mendengus, sepatah katapun tidak diucapkan keluar, sedangkan sinar matanyapun segera beralih ke arah Thian Siang Thaysu yang ada di belakang tubuh Koan Ing.

Dengan pandangan yang mendongkol Thian Siang Thaysu memandang ke belakang punggung dari Koan Ing, dia tahu pemuda ini terang-terangan sudah mengerti akan kedatangannya tetapi dia sudah pura-pura berlaku pilon bahkan sampai badannyapun tidak mau berputar, sungguh jumawa sekali.

Walaupun kepandaian silat dari pemuda ini sangat tinggi tetapi dia sebagai seorang ciangbunjin sebuah partai besar ditambah pula merupakan pemimpin dari tiga manusia genah sudah tentu tidak pantas baginya kalau bertempur sendiri melayani Koan Ing, tetapi dengan tindak tanduk yang amat sombong dari Koan Ing ini dia ingin sedikit memberi pelajaran kepadanya.

Setelah lama berpikir akhirnya dia menegur juga.

"Hey. Koan Ing!"

Koan Ing sama sekali tidak menggubris dia tidak tahu mengapa terhadap si hweesio dari Siauw-lim-pay yang merupakan pimpinan dari tiga manusia genah ini menaruh rasa tidak puas, dia merasa kesal terhadap tindak tanduknya yang sama sekali tidak sesuai sebagai seorang jagoan dari kalangan lurus.

Karenanya tanpa menoleh lagi dia sudah tertawa gusar.

"Siapa yang sudah berbicara di belakang orang lain? Kenapa kalau mau bicara datang ke depan?"

Serunya.

Thian Siang Thaysu jadi melengak, tetapi sebentar kemudian hawa amarahnya sudah berkobar dihatinya.

Tidak disangka sama sekali sikap dari Koan Ing ternyata demikian sombong dan jumawanya, sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat sedang untuk beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata.

"Koan Ing Kau kira tindakanmu bersama-sama Sang Siauw-tan membakar kuil Han-poh-si bisa diselesaikan dengan begitu saja karena mengandalkan nama besar dari empat manusia aneh?"

Koan Ing tetap tidak menoleh.

"Hey Hweesio gede kalau mau bicara katakanlah sejelas2nya, buat apa selalu saja menuduh orang lain yang berdosa?"

Ejeknya sambil tertawa tawar, Thian Siang Thaysu yang mendengar Koan Ing menyebutnya dengan si hweesio gede, hatinya seperti dibakar oleh api, dengan gusarnya dia segera mendengus, alisnya dikerutkan rapat-rapat kemudian kepada Thian Liong Thaysu teriaknya.

"Sute Kau membawa dua belas orang arak murid Siauw-Iim tangkap pemuda ini, aku mau berangkat mengejar kereta berdarah terlebih dahulu".

"Tecu terima perintah"

Sahut Thian Liong Thaysu dengan hormat.

Dengan pandangan tawar Koan Ing memperhatikan Thian Siang Thaysu membawa sisa anak muridnya meninggalkan tempat itu, dia tahu Thian Siang Thaysu benar-benar sudah membenci dirinya sehingga dia sudah meninggalkan kedua belas anak murid Tat Mo Tong untuk menawan dirinya.

Dengan pandangan yang tajam Thian Liong Thaysu memperhatikan diri Koan Ing, setelah dirasanya Thian Siang Thaysu sudah jauh meninggalkan tempat itu, dia baru tertawa dingin setelah itu memerintahkan kedua belas orang hweesiohweesio dari ruangan Tat Mo Tong untuk mengurung diri Koan Ing.

Dia kembali tertawa dingin, kepada Koan Ing ujarnya.

"Sejak pertama kali aku terjunkan diri ke dalam Bu-lim belum pernah pinceng bertemu dengan manusia yang sombong benar seperti kau."

Koan Ing tertawa, dia melirik sekejap ke arah kedua belas orang hweesio itu.

"Heee.... heeee.... aku Koan Ing seorang diri harus menggerakkan otot untuk melawan dua belas orang hwessio berkepandaian tinggi dari ruangan Tat Mo Tong serta si hweesio sakti Thian Liong Thaysu, kenapa aku Koan Ing tidak boleh merasa bangga dan sombong"

Ejeknya. Thian Liong Thaysu segera tertawa dingin.

"Koan Ing kau mau mengikuti aku dengan sendirinya atau mengharuskan aku turun tangan?"

Serunya sembari memerintahkan kedua belas orang itu mulai menyebar.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, tangan kirinya dengan perlahan segera mencabut keluarpedang Kiemhong-kiamnya, dan siap-siap melancarkan serangan.

"Thaysu, pernahkah melihat orang yang mencekal pedang Kiem-hong-kiam mengalami kekalahan?"

Ejeknya lagi sambit tertawa. Thian Liong Thaysu tertawa dingin.

"Sungguh bersemangat, tetapi haruslah kau ketahui lukamu belum sembuh, sedikit tidak berhati-hali maka seluruh kehidupan mu akan habis sampai disini,"

Balasnya.

Koan Ing tahu arti dari perkataan Thian Liong Thaysu ini, dia bermaksud hendak memusnahkan kepandaian silatnya.

Hal ini membuat hawa amarahnya jadi memuncak.

Tetapi air mukanya masih tetap kelihatan amat tawar sekali "Masings pihak bertempur tidak akan terhindar dari luka, hee....

hee....

kalian pun lebih baik sedikit berjaga-jaga.' serunya.

"Bagus sekali"

Sinar mata Koan Ing segera berkelebat dia mengerti kedua belas orang jagoan Siauw-iim ini memiliki kepandaian yang amat dahsyat, walaupun dimulutnya dia berbicara congkak padahal dihati mulai memikirkan cara-cara untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut.

Pedang Kiem-hong-kiamnya segera di angkat sejajar dengan dada, sinar matanya dengan amat dingin menyapu ke arah kedua belas orang hweesio itu.

Kedua belas orang itu merupakan hweesiojagoan dari Siauw-lim-pay, kehebatan dari ilmu silatnya boleh dikata termasu di dalam jagoan kelas satu, kini mereka dua belas orang harus bersama-sama turun tangan untuk menawan Koan Ing, sebagai seorang dari angkatan muda, sudah tentu mereka tidak akan mau turun tangan terlebih dulu.

Sinar mata Koan Ing kembali menyapu ke arah mereka, mendadak pedang Kiem-hong-kiamnya dengan menggunakan jurus "Han Lin Sin Wie"

Menyerang hweesio yang ada di hadapannya.

Saat ini Koan Ing berdiri ditengah-tengah kepungan dua belas orang, dia tidak bergerak yang namun berdiam diri tetapi begitu pedangnya bergerak maka dari empat penjuru segera terasalah adanya angin serangan yang amat dahsyat.

Sejak semula Koan Ing sudah menduga akan hal ini, diantara berkelebatnya angin pukulan tangan kanannya sudah dibabat ke samping, jurus pedangnya dari "Han Lin Sin Wie"

Kini sudah diubah jadi jurus "Thian Hong Sie Lang"

Atau angin berlalu menggoyangkan ombak,.

Serentetan suara pekikan yang amat nyaring segera menembus angkasa, diantara berkelebatnya sinar yang keemas-emasan, pedang Kiem-hong-kiam ditangannya sudah berubah jadi segulung lingkaran bulat laksana pelangi emas dengan dahsyatnya menghalangi datangnya serangan dari kedua belas orang tersebut.

Kedua belas orang hweesio dari ruangan Tat Mo Tong itu mana mau melepaskan dirinya dangan begitu saja?

Mereka yang sudah berlatih sangat lama, kerja samanya pun amat dahsyat sekali.

Mendadak mereka bersama-melancarkan satu pukulan menghajar pedang Kiem Hong Kiam ditangan Koan Ing, agaknya hweesio-hweesio itu bermaksud hendak memukul terbang pedang tersebut.

Koan Ing yang baru saja melancarkan satu serangan hendak mendesak mundur pihak musuhnya mendadak melihat mereka telah bersama-sama maju ke depan, dalam hati merasa agak bergidik, dengan keadaannya pada saat ini dimana lukanya masih belum sembuh apa lagi harus melayani pula dua belas pasang tangan sudah tentu keadaannya benarsangat terdesak.

Selamanya dia belum pernah menemui kejadian seperti ini, begitu hatinya gugup, angin serangan dengan amat tepatnya sudah berhasil menghajar di atas tubuh pedang Kiem-hongkiamnya.

Di tengah suara dengungan yang amat keras pedang ditangannya sudah terpukul lepas ke tengah udara.

Koan Ing jadi sangat terkejut, dia bersuit nyaring, sedang tubuhnya segera berkelebat ke depan mengejar pedangnya yang terlepas itu.

Dari belakang badannya lantas terdengar suara bentakan yang amat nyaring, empat orang hweesio sambil melancarkan serangan sudah menubruk ke arahnya.

Dangan tangan kiri Koan Ing menyambar gagang pedangnya sedang tubuhnya yang masih ada di tengah udara mendadak berputar lalu melancarkan tendangan berantai menghajar keempat hweesio yang mengikuti dari belakangnya itu.

Dengan terburu-buru keempat orang hweesio itu menarik kembali serangannya, sedang yang dua segera membalikkan tangannya mencengkeram kaki Koan Ing.

Dengan gugup Koan Ing menarik kembali kaki kanannya, pedangnya bagaikan kilat cepatnya menyerang kedua orang hweesio tersebut dengan menggunakan jurus Ci Cie Thian Yang Dimana pedang tersebut menyambar, ke dua orang hweesio itu segera terdesak mundur ke belakang sembari menarik kembali serangannya, Baru saja Koan Ing menghembuskan lega, kembali sudah ada delapan orang hweesio lagi yang menubruk dengan dahsyatnya ke arah dirinya.

Di dalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak Koan Ing teringat kembali akan jurus serangan yang termuat di dalam kitab pusaka Boe Shia Koei Mie, dia segera menarik napas panjang-panjang sedang tubuhnya berjumpalitan di tengah udara.

Dua orang hweesio kembali membentak keras, tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dan busurnya bersamasama menubruk ke arah depan.

Pedang panjang Kiem-hong-kiam ditangan Koan Ing segera dibabat ke belakang mengancam tubuh kedua orang hweesio tersebut.

Kedua orang itu lantas mendengus dingin, yang seorang dengan menggunakan tangan kosong mencengkeram pedang di tangannya sedang yang lain mencengkeram dadanya, agaknya mereka bermaksud hendak membinasakan dirinya seketika itu juga.

Koan Ing segera melirik sekejap, dia tahu kedua orang hweesio itu melatih ilmu Pauw Heng Cau yang dahsyat diri ilmu tunggal Siauw-lim-pay.

Di tengah suara suitan yang amat nyaring tangan kirinya segera digetarkan sehingga mengeluarkan suara dengungan yang memekikkan telinga, diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan pedangnya sudah berubah membentuk bulatan kemudian laksana roda kereta menggulung ke arah kedua orang hweesio tersebut.

Inilah yang dinamakan jurus Noe Ci Sin Kiam atau dengan gusar mata pedang dari ilmu pedang Thian-yu Ji Cap Su Cau.

Melihat datangnya serangan tersebut kedua orang hweesio itu jadi sangat terperanjat dengan terburu-buru mereka menarik kembali cengkeramannya untuk melindungi dirinya sendiri, Dengan cepatnya Koan Ing mengejar ke depan disertai suara sentilan yang memekikkan telinga, tubuhnya dengan mengambil kesempatan itu meloncat keluar dari tengah kalangan, Baru saja tubuhnya mencapai permukaan tanah mendadak dari belakang punggungnya kembali terasa adanya segulung angin serangan yang amat dahsyat menghajar punggungnya, dia jadi terkejut karena terasa olehnya datangnya angin serangan itu meresap hingga dalam tulang, Diantara kedua belas orang hweesio itu walaupun kepandaian silat mereka sangat tinggi tetapi tidak mungkin di dalam keadaan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun berhasil mendesak hingga di belakang tubuhnya, kecuali mereka berdua belas hanya ada seorang saja yang dapat melakukan perbuatan tersebut, orang itu bukan lain adalah Thian Liong Thaysu.

Koan Ing yang merasa terkejut tidak berani berlaku ayal lagi terburu-buru tubuhnya merendah ke bawah sedang tangan kirinya membabat ke belakang, pedang Kiem-hong-kiamnya laksana kilat yang menyambar sudah membentuk gerakan busur kecil yang amat santar, jurus ini bukan lain adalah jurus Hiat Cong Ban Lie yang chusus digunakan untuk menangkis datangnya serangan bokongan, Thian Liong Thaysu yang melihat Koan Ing meloncat keluar dari dalam kalangan, dalam hati merasa cemas dia merasa walau pun tenaga dalam dari kedua belas orang hweesio ini tidak di bawah kepandaian Koan Ing tetapi jurus serangan dari Koan Ing lebih sempurna, bilamana sampai membiarkan Koan Ing berhasil meloloskan diri dari kurungan ada kemungkinan sulit sekali untuk mengejarnya kembali, karenanya terpaksa dia harus turun tangan melancarkan serangan bokongan.

Dia yang mendapat malu banyak karena Koan Ing dan sekarang tidak berhasil pula menawan diri Koan Ing, bukankah hal ini sangat memalukan sekali?

Bagaimana nanti dia hendak bertanggung jawab di hadapan ciangbunjin?

Kedua belas orang hweesio dari ruangan Tat Mo Tong itupun demi kedudukan serta kehormatannya sendiri harus berusaha keras untuk menawan diri Koan Ing, bilamana kali ini Koan Ing sampai berhasil lolos, bukankah nama baik merekapun akan ikut hancur?

Thian Liong Thay-su yang melancarkan serangan bokongan, dia menduga Koan Ing tidak bakal bisa lolos lagi, siapa tahu di dalam keadaan yang amat kritis itu, Koan Ing bisa membabatkan pedangnya ke belakang, sehingga membuat dirinya terdesak, hal ini benar-benar membuat hatinya jadi terperanjat.

"Aaaaa.... bukankah jurus ini adalah ilmu tunggal dari perguruan Ciat Ie To?"

Bagaimana Koan Ing pun bisa menggunakannya, demikian pikirnya di hati.

Hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan, bahkan dia merasa ragu-ragu untuk mempercayainya, bagaimana mungkin Koan Ing bisa memahami kepandaian silat dari tiga manusia aneh?

Sebetulnya pukulan ini bisa membinasakan diri Koan Ing, tetapi dikarenakan dia merasa heran akan kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing, membuat dia orang jadi melengak sehingga sulit baginya untuk meloloskan diri dari serangan tersebut.

Tubuhnya sedikit miring ke samping lalu mendengus berat.

Dada sebelah kiri dari Thian Liong Thaysu terkena tusukan pedang itu dengan amat tepat sekali sehingga menembus beberapa Cun dalamnya sedangkan tubuhnya segera tergetar mundur dua langkah ke belakang.

Sebaliknya Koan Ing pun terkena pukuIan dari Thian Liong Thaysu sehingga terhuyung2 maju dua langkah ke depan, darah segar muncrat keluar dari mulutnya diikuti tubuhnya segera lari ke depan.

Melihat kejadian itu, kedua belas orang hweesio dari Tat Mo Tong itu jadi melengak semua dibuatnya, walaupun mereka merupakan anak murid dari Siauw-lim-pay tetapi dalam hati diam-diampun merasa rada menyesal.

Kejadian mereka dua belas orang harus menyerang seorag dari angkatan muda sudah merupakan satu perbuatan yang tercela, apalagi Thian Liong Thaysu yang sudah bilang tidak turun tangan ternyata sampai terakhir malahan turun tangan membokong dirinya, bukankah hal ini amat memalukan sekali?

Sembari menggunakan tangannya memegang mulut lukanya, dengan ter huyung-kembali Thian Liong Thaysu mundur dua langkah ke belakang, wajahnya berubah pucat pasi.

Dia yang melihat Koan Ing dengan paksa menahan rasa sakit melarikan diri dari situ, sinar matanya segera menyapu sekejap ke arah kedua belas orang hweesio itu.

"Hmmm cepat kalian tangkap dia kembali, tidak usah urusi aku lagi."

Perintahnya dengan dingin.

Kedua belas orang hweesio itu jadi melengak, tetapi sebentar kemudian bersama-sudah merangkap tangannya memberi hormat lalu putar tubuh mengejar diri Koan Ing, Koan Ing yang melarikan diri dari kepungan para hweesio dari Siauw-lim-pay, walaupun luka yang dideritanya amat parah tetapi kesadarannya belum pudar, dia tahu pada saat ini dia harus berusaha untuk meloloskan diri diri kejaran para hweesio-hweesio Siauw-lim-pay ini, mati ditangan mereka sama sekali tidak ada harganya, Karena itu mau tidak mau dia harus berusaha untuk tetap hidup hingga dendam ayahnya berhasil dibalas.

Dengan sekuat tenaga dia melarikan diri ke depan, bahkan hampir melupakan luka dibadannya.

Walaupun Koan Ing sudah berusaha untuk lari lebih cepat tetapi bagaimanapun juga badannya yang menderita luka membuat kecepatan larinyapun semakin berkurang, baru saja mencapai dua li jauhnya, para hweesio dari Siauw-lim-pay sudah pada mendekat.

Koan Ing juga mendengar suara langkah di belakang tubuhnya semakin lama semakin mendekat, dia segera mengetahui kalau para hweesio-Siauw-lim-pay itu sudah mengejar datang lebih dekat lagi.

Terpaksa dengan sekuat tenaga dia berlari lebih kencang lagi ke depan.

Mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras bergema datang dari belakang tubuhnya disusul berkelebat sesosok bayangan manusia yang melancarkan serangan dahsyat menekan kepalanya.

Koan Ing yang melihat kejadian itu dalam hati jadi amat gusar sekali, tanpa memperdulikan lukanya yang diderita dia bersuit nyaring, tubuhnya membalik tangan kirinya yang mencekal pedang Kiem-hong-kiam segera menyerang ke arah hweesio itu sedangkan tangan kanannya menotok jalan darah dipelipisnya.

Datangnya serangan tersebut amat cepat sekali, hweesio itu sama sekali tidak menduga kalau Koan Ing berani putar badannya memberikan perlawanan, hatinya jadi berdesir.

"Braaak....!"

Disertai suara ledakan yang keras pedang dari Koan Ing sudah menembus dada hweesio itu sedangkan kedua buah jarinyapun dengan amat tepat berhasil menembus pada pelipisnya.

Tetapi sesaat sebelum menemui ajalnya hweesio itupun melancarkan satu cengkeraman menghajar dada Koan Ing, saking beratnya cengkeraman itu membuat tubuhnya jadi menempel di sisi tubuh Koan In Pada saat itulah kesebelas orang hweesio lainnya sudah tiba dikalangan dan mengurung Koan Ing rapat-rapat.

Waktu itu Koan Ing cuma merasakan kepalanya amat pening sekali, tetapi dia berusaha untuk jangan sampai jatuh pingsan dia tetap bertahan sembari mencekal kencangkencang mayat dari hweesio tersebut.

Sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arah sebelas orang hweesio lainnya, mendadak sikut kanannya menyambar ke depan, dengan disertai suara benturan yang amat keras mayat hweesio itu sudah terlemparjatuh ketanah.

Darah segar segera mengucur keluar dengan derasnya sedang dada Koan Ing pun terasa amat sakit masih untung dia tetap sadar sehingga bisa bertahan beberapa saat kembali.

Dengan pandangan yang dingin dia memperhatikan kesebelas orang itu alisnya dikerutkan rapat-rapat lalu dengan dingin tantangnya lagi.

"Siapa lagi yang berani maju?"

Kesebelas orang hweesio itu seketika itu juga dibuat termangu-mangu disana, mereka adalah orang yang beribadat sewaktu melihat keadaan yang amat mengerikan itu, tidak terasa hatinya merasa bergidik juga.

Mereka juga melihat seluruh tubuh Koan Ing sudah berlepotan darah segar bahkan boleh dikata merupakan seorang manusia berdarah, hal ini benar-benar amat menyeramkan sekali, untuk beberapa waktu lamanya tak seorangpun diantara mereka yang mengucapkan kata-kata.

Dengan dinginnya Koan Ingpun memperhatikan orangorang itu, kemudian dengan langkah lebar berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Dari antara kesebelas orang hweesio itu tak ada seorangpun yang turun tangan menghalangi dirinya, mereka cuma memandang ke arah mayat kawannya dengan tertegun.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kurungan kesebelas orang hweesio itu, sembari memegang kencang-kencang dadanya, Koan Ing melarikan diri kembali ke depan.

Dia terus lari ke depan tanpa memperoleh gangguan lagi, dalam hati diam-diam merasa heran.

Pikirnya.

"Kenapa hweesio-hweesio itu tidak mengejar aku? Mereka takut aku beradujiwa dengan mereka ataukah karena menurut anggapan mereka aku pasti mati?"

Selamanya dia belum pernah membunuh orang, dan ini hari adalah yang pertana kalinya.

Walaupun hal ini dikarenakan untuk melindungi dirinya sendiri tetapi wajah yang amat menyeramkan dari hweesio itu sesaat menemui ajalnya selalu saja terbayang kembali di dalam benaknya.

Saat ini dia tidak memikirkan apa-apa lagi, sekalipun ingin berpikir, juga tak terpikir olehnya....

hatinya terasa kalut, kacau dan bingung sekali.

Kini di hadapannya muncullah sebuah gua yang amat besar dan gelap sekali, tanpa pikir lagi dia berlari masuk ke dalam gua tersebut.

Di dalam benaknya dia berniat untuk istirahat sebentar disana.

Tetapi agaknya gua itu sangat dalam sekali, walaupun dia sudah berlari selama seperminum teh lamanya belum sampai juga pada ujungnya.

Semakin lama Koan Ing tidak kuat untuk bertahan lagi, akhirnya dia berniat untuk istirahat saja di tempat tersebut.

Mendadak....

suara seseorang bergema datang dengan dinginnya.

"Siapa?"

Dalam hati Koan Ing raeiasakan hatinya tergetar amat keras, dia sama sekali tidak menyangka kalau di dalam gua tersebut ternyata masih ada penghuninya.

Pikirannya yang semula mulai pudar kini menjadi sadar kembali oleh suara bentakkan itu, kepalanyapun segera ditoleh kesamping.

Tetapi suasana tetap sunyi senyap tak tampak sesosok manusiapun, dia cuma menemukan adanya serentetan sinar terang yang menyilaukan mata dan di tengah cahaya tersebut mendadak terlihat ada sesosok bayangan manusia yang menubruk datang.

Koan Ing jadi sangat terperanjat, pedang Kiem-hong-kiam ditaagannya dengan menggunakan jurus "Ci Cie Thian Yang"

Dengan sekuat tenaga segera berkelebat ke depan mengancam leher kiri dari orang itu.

"Ilmu pedang yang bagus "Puji orang itu dengan keras. Mendadak tangannya berkelebat merebat datangnya serangan pedang itu dengan menggunakan tangan kosong. Koan Ing jadi sangat terkejut kesadarannya kembali menjadi pudar, saat ini dia cuma mengandalkan kepercayaan pada dirinya sendiri untuk menyerang ke depan.

"Hmm kau masih hendak membandel?"

Bentak orang itu dengan gusar.

Di tengah sambaran tangan kirinya, dia segera merasakan seluruh tubuhnya jadi kaku beberapa buah jalan darah ditubuhnya sudah kena tertotok oleh serangan tersebut sehingga tidak kuasa lagi dia sudah rubuh ke atas tanh.

Orang itu segera menggotong badan Koan Ing menuju ke tempat semula.

Sesudah membebaskan jalan darahnya yang tertotok dan menutup mengalirnya darah didada dia baru meletakkan kembals tubuh Koan Ing ke atas tanah.

"Kau ingin mencari mati? Darah didadamu terus menerus mengalir keluar...."

Omelnya. Sambil berkata mendadak dia memungut kembali sesuatu benda yang terjatuh dari dada Koan Ing, lalu menjerit kaget.

"Aaah.... pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie!"

Teriaknya.

Koan Ing jadi sangat terkejut, ketika dia angkat kepalanya terlihatlah olehnya orang yang ada di hadapannya merupakan seorang kakek tua yang usianya diantara lima puluh tahunan dengan rambut putih yang terurai hampir menutupi separuh bagian wajahnya.

Ditangan kanannya pada saat ini mencekal sebilah pedang Hiat-ho Sin-pie yang sedang ditelitinya dengan amat cermat.

Koan Ing jadi terkejut, menurut pengetahuannya orang yang berhasil melatih ilmu khie-kangnya sehingga bisa dikerahkan dan ditarik sesuai dengan kemauannya cuma seorang saja yaitu si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong yang sudah gila Dia sama sekali tidak menyangka sewaktu dia menderita luka di tempat seperti ini kembali menemui seorang manusia aneh yang memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi sekali.

Tetapi siapakah orang ini?

Lama sekali orang itu memperhatikan pedang pusaka Hiatho Sin-pie tersebut kemudian gumamnya seorang diri.

"Pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie.... akhirnya aku berhasiljuga melihatnya."

Diam-diam Koan Ing menarik napas panjang-panjang, tetapi dengan tarikan napasnya inilah dia merasakan seluruh tubuhnya amat sakit saking sakitnya sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, bahkan saking tak tertahannya hampir-hampir dia jatuh tak sadarkan diri.

Orang itu angkat kepalanya memandang terpesona ke arah diri Koan Ing, lalu tanyanya secara tiba-tiba.

"Kau baru saja berkelahi dengan siapa sehingga terluka demikian parahnya?"

Koan Ing memandang sekejap ke arah orang itu tetapi mulutnya tetap bungkam dalam seribu bahasa.

"Walaupun kau tidak suka berbicara akupun bisa tahu kalau kau adalah anak murid dari Kong Bun-yu, lukamu terlalu parah sekali, walaupun kau tidak bisa menyembuhkannya tetapi aku bisa membantu dirimu untuk menyembuhkan luka tersebut asalkan pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie ini kau serahkan kepadaku."

Koan Ing tertawa tawar, dia sama sekali tidak menduga ada orang yang mengingini pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie ini, tetapi entah siapakah orang ini sehingga mau membantu dia untuk menyembuhkan Iukaanya?"

Ketika orang itu melihat Koan Ing tertawa tawar, dia sudah salah menganggap kalau dia tidak mau mengabulkan usulnya itu, cepat-cepat ujarnya lagi.

"Bilamama lukamu tidak kau sembuhkan memiliki pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie ini apa gunanya?"

Sekali lagi Koan Ing tertawa tawar lalu mengangguk, tetapi sepatah katapun tidak diucapkan keluar.

Jilid 10 SEBETULNYA dia membawa Pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie inipun tidak ada gunanya, sekalipun harus diberikan kepadanya secara cuma2 tidak ada salahnya.

Ketika orang itu melihat Koan Ing menyetujuinya dengan begitu cepatnya malah sebaliknya dibuat tertegun.

"Menurut keadaan yang sesungguhnya aku tidak seharusnya menggunakan keadaan yang kepepet dari orang lain untuk memaksa kau menyerahkan barang itu kepadaku, tetapi sepasang kakiku sudah cacat, bilamana tidak ada pedang Hiat-ho Sin-pie mi aku tidak akan berhasil memulihkan kembali sepasang kakiku yang sudah cacat ini,"

Katanya. Sehabis berkata tampak dia termenung sebentar, kemudian baru tambahnya lagi.

"Kau suka menyerahkan ilmu silat dari partai Hiat-ho-pay kepadaku, untuk mengucapkan terima kasih ini selain aku akan menyembuhkan luka yang kau derita bahkan aku turunkan juga ilmu silat yang di ketahui olehku selama beberapa tahun ini."

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi melengak.

Kiranya ilmu silat dari partai Hiat-ho-pay disimpan di dalam pedang Hiat-ho Sin-pie ini Sebetulnya dia tidak mengetahui akan hal ini, bahkan sekalipun tahu juga tidak ada gunanya, karena itu sekalipun saat ini dia mengetahui kalau di dalam pedang Hiat-ho Sin-pie itu termuat ilmu silat dari aliran Hiat-ho-pay tetapi hatinya sama sekali tidak jadi menyesal barang sedikit pun juga.

Terdengar orang itu tertawa kembali.

"Kau orang sungguh Iucu sekali, siapa dirikupun kau tidak tahu kenapa kau suka menyerahkan pedang ini kepadaku? Kau tidak takut aku adalah jagoan dari kalangan hitam Koan Ing tersenyum.

"Soal dari kalangan lurus atau dari kalangan hitam tidaklah penting, yang ingin aku ketahui adalah siapakah engkau?"

"Aku bernama Tong Phoa Pek, kemungkinan kaupun pernah mendengar namaku ini dari orang lain,"

Jawab orang itu tertawa. Mendengar disebutnya nama tersebut Koan Ing jadi terperanjat. Tong Phoa Pek? mungkin dia adalah jagoan nomor wahid dari partai Thiansan-pay pada dua puluh tahun yang lalu.

"Thian Yang Siuw-su atau si sastrawan seujung langit Tong Phoa Pek? Bagaimana dia bisa muncul di tempat ini? Dua puluh tahun yang lalu sewaktu kereta berdarah munculkan dirinya untuk pertama kalinya, berpuluh-puluh orang jago dari daerah Tionggoan bersatu padu untuk mengerubuti kereta berdarah itu Ketika kereta berdarah memasuki daerah Tibet dan berpuluh-puluh orang jagoan itupun mengejar terus dengan kencangnya, di tengah perjalanannya kembali berpuluh-puluh orang jago luka maupun binasa. Sehingga sewaktu tiba di daerah Sin kiang para jago yang mengejar tinggal sebelas orang saja, tapi merekapun sejak itu lenyap tak berbekas. Kereta berdarah kembali munculkan dirinya orang-orang Bu-lim lantas mengambil kesimpulan kalau kesebelas orang itu telah mati semua dan Tong Phoa Pek ini adalah salah satu diantaranya. Selama dua puluh tahun lamanya dia tidak ada ujung beritanya, tidak disangka hari ini bisa muncul disini. Tampak Tong Phoa Pek mengerutkan alisnya rapata kemudian tertawa.

"Tempo hari sewaktu kami sebelas orang memasuki daerah Tibet disana sepuluh orang pada mati ditangan pemilik kereta berdarah tersebut sedang sepasang kakipun terhajar putus oleh ilmu "Khet Sim Cen Khie"

Dari Jien Wong, untung saja aku berhasil melarikan diri dan bersembunyi di dalam gua ini, hee.... hanya dalam sekejap saja dua puluh tahun sudah lewat."

Dengan pandangan terpesona Koan Ing memperhatikan Tong Phoa Pek, sungguh tak pernah disangka olehnya kalau si sasterawan seujung langit yang tempo hari disebut sebagai seorang jagoan kelas wahid dari Bu-lim kini sudah menemui akibat yang amat mengerikan.

Dia tahu bukan saja kepandaian silat dari Tong Phoa Pek ini amat tinggi bahkanjadi orangpun sangat baik dan disebut sebagai seorang penolong yang budiman.

Hanya saja kepandaian silatnya tidak bisa memadai kepandaian silat dari Kong Bun-yu sekalian, bagaimana mungkin hanya di dalam dua puluh tahun ini kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang demikian mengerikan?

Tong Phoa Pek yang melihat Koan Ing terjerumus di dalam lamunan, dia kembali tertawa.

"Eeei.... kau tidak usah banyak berpikir lagi, mari aku bantu untuk menyembuhkan lukamu."

Sambil berkata dia tempelkan telapak tangannya ke atas telapak tangan Koan Ing lalu mulai salurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka yang diderita olehnya.

Dengan perlahan Koan Ing pejamkan matanya rapat-rapat, dia cuma merasakan adanya aliran hawa murni yang amat lunak dengan tiada putus2nya mengalir masuk ke dalam badannya membuat dia segera merasa amat segar dan bersemangat sekali.

Dimana hawa murni itu mengalir Koan Ing lantas meratakan lukanya seperti telah disembuhkan sama sekali, dia benar-benar kagum terhadap ilmu silat dari Tong Phoa Pek.

Tetapi diapun merasa amat terkejut ter hadap kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki orang ini, sekalipun Sang Suim sendiri belum tentu bisa memiliki tenaga dalam yang begitu tingginya Dia merasa luka dalam yang dideritanya sudah sembuh kembali, baru saja hatinya merasa kegirangan mendadak....

Dia merasakan tenaga dalam dari Tong Phoa Tek tiba-tiba menggetar keras lalu disusul segulung hawa murni yang amat panas sekali mengalir masuk dan mendesak terus ke dalam tubuhnya.

Koan Ing benar-benar amat terperanjat dia tidak mengerti apa tujuan dari Tong Phoa Pek berbuat demikian Ooo)*(ooO Bab 22 TERDENGAR Tong Phoa Pek mendengus dingin, hawa murninya agak sedikit tergetar lalu dengan dahsyatnya menyusup masuk kembali Koan Ing dengan derasnya.

"Cepat kerahkan tenaga dalammu untuk mengikuti!"

Teriak Tong Phoa Pek dari samping telinganya dengan suara yang cemas.

Koan Ing menurut dan salurkan hawa murni yang menerjang masuk ke dalam tubuhnya itu.

Dia merasakan hawa murni yang amat panas itu segera bersatu padu dengan hawa murninya sendiri, begitu bertemu lalu dengan cepatnya berputar mengelilingi tubuhnya satu lingkaran saja, dia sudah merasa tenaga dalamnya telah mendapatkan kemajuan satu kali lipat.

Koan Ing tidak mengerti apa maksud Tong Phoa Pek berbuat demikian terhadap dirinya, dengan perlahan dia membuka matanya dan memandang ke arah Tong Phoa Pek yang melihat wajahnya kini sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat tetapi masih tersungging satu senyuman.

Tong Phoa Pek yang melihat dia sudah membuka matanya lantas tertawa.

"Tadi sewaktu aku salurkan tenaga dalamku untuk menyembuhkan luka dalammu waktu itu aku menemukan kalau di dalam badanmu sudah terkena semacam racun yang tidak dapat disembuhkan lagi, bila mana aku minta pedang Hiat-ho Sin-pie mu itu dengan begitu saja, dalam hati aku merasa rada tidak enak. Karenanya aku lantas bagikan separuh tenaga dalam yang berhasil aku latih selama dua puluh tahun ini kepadamu"

Koan Ing jadi termangu-mangu, orang bilang Tong Phoa Pek adalah seorang manusia baik-baik, ini hari dia baru merasa percaya kalau perkataan tersebut sedikitpun tidak salah bahkan boleh dikata hampir-hampir dia merasa tidak percaya kalau di dalam dunia saat ini benar-benar ada orang yang demikian baiknya.

Tong Phoa Pek kembali tertawa.

Jika ditinjau dari luka dalam yang kau derita pada saat inijelas musuh besarmu itu adalah seorang iblis pembunuh manusia yang tak berkedip, kau boleh pergi membalas dendam kepadanya sesaat sebelum racun yang bersarang di dalam badanmu kambuh, dengan begitu sewaktu racun mulai bekerja hatimupun sudah rada sedikit lega.

"Imiah hasil yang aku dapatkan dari anak murid partai Siauw-lim-pay yang diperintah oleh Ciangbunjien,"

Ujar Koan Ing dengan suara yang perlahan.

Tong Phoa Pek jadi melengak, dia sama sekali tidak mengira kalau semua orang yang melukai diri Koan Ing adalah anak murid dari Siauw-lim-pay, tapi Thian Siang Thaysu menduduki sebagai pimpinan dari tiga manusia genah, tidak mungkin dia suka sembarangan melukai orang lain.

Walaupun pada masa yang lampau ada beberapa kali dia berjodoh bisa bertemu muka dengan Kong Bun-yu dan merasakan sifatnya amat congkak danjumawa tapi dia percaya terhadap muridnya dia orang masih mengawasinya dengan ketat keras, dia bukan seorang dari kalangan Hek To sudah tentu muridnya tidak jelek bahkan diwaktu lampau diapun menaruh rasa hormat terhadap diri Kong Bun-yu.

Lama sekali dia termenung kemudian sambil tertawa baru ujarnya.

"Akupun tidak ingin bertanya kepadamu apa sebabnya sehingga terjadi peristiwa ini, tetapi aku percaya akan hatimu, kau bukanlafa seorang manusia yang jahat cuma saja.... sifatmu rada sombong, cacat ini persis seperti apa yang dialami oleh Kong Bun-yu tempo hari, mudah melukai hati orang."

Koan Ing tersenyum, saat ini hatinya benar-benar merasa kagum bercampur terharu terhadap diri Tong Phoa Pek sehingga tak terasa lagi dia sudah jatuhkan diri berlutut di hadapannya.

"Terima kasih atas budi dari loocianpwee yang sudi menolong jiwaku,"

Ujarnya.

"Tidak usah.... tidak usah."

Cegah Tong Phoa Pek sambil tersenyum.

"Tempo hari sewaktu aku berhasil melarikan diri masuk ke dalam gua ini kebetulan di tempat ini aku sudah temukan se

Jilid kitab ilmu pedang "Suo Siam Kiam Boh"

Yang ditinggalkan oleh seorang iblis sakti yang pernah menjagoi seluruh Bu-lim pada masa yang lalu, di samping itu terdapat pula kepandaian silat hasil peninggalan dari "Bu-lim Kiam Sin"

Atau si rasul pedang Yong Ci Teng, coba kau pergilah ke belakang untuk pelajari seluruh ilmu pedang "Suo Sim Cap Pwee Kiam"

Tersebut."

Koan Ing merasa agak ragu-ragu, dia tahu ilmu pedang "Suo Sim Cap Pwee Kiam"

Adalah merupakan serangkaian ilmu pedang yang terganas di dalam Bu-lim pada masa yang lampau, pemiliknya si "Suo Sim Kiam"

Atau jagoan pedang penghancur sukma Pek Li Si Beng bersama-sama dengan Bulim Kiam Sin atau si rasul pedang Yong Ci Ceng telah lenyap dan Bu-lim beberapa puluh tahun yang lalu, soal ini hingga kini masih merupakan satu teka teki buat orang lain....

tidak disangka merekapun ada disini.

"Kepandaian silat dari Yong Ci Teng terlalu mendalam dan bukannya bisa dipelajari hanya di dalam sehari dua hari saja,"

Ujar Tong Phoa Pek sambil tertawa.

"Aku tidak bisa banyak berbicara lagi dan harus cepat-cepat bersemedhi, kau pergi lah berlatih dengan baik-baik setelah itu boleh keluar dari sini tanpa perdulikan aku lagi"

"Terima kasih atas perhatian cianpwe!"

Seru Koai Ing kemudian sambil bungkukkan badannya memberi hormat.

Tong Phoa Tek tersenyum dan pejamkan matanya kembali sedang Koan Ing segera berjalan masuk ke dalam gua, terlihat lah olehnya di atas dinding gua sudah terukir delapan belas macam gaya ilmu pedang yang setiap lukisan terukir amat dalam sekali di atas batu, jelas orang yang melukiskan gambar2 itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Sinar matanya dengan cepatnya menyapu sekejap ke arah gambar2 tersebut, hatinya terasa berdebar-debar dengan amat kerasnya.

Dengan kehebatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing pada saat ini terhadap segala macam ilmu silat asalkan bisa melihatnya sekejap tentu dapat memahami, ditambah lagi dia sudah pernah menghapalkan seluruh isi dari kitab pusaka "Boe Shia Koei Mie"

Pemberian Song Ing, membuat daya ingat terhadap kepandaian silat menemui kemajuan yang pesat, Cukup hanya di dalam sekali pandang saja dia sudah bisa mengetahui gaya mana yang lihay dan gerakan mana sempurna.

Keistimewaan dari ilmu pedang "Thian-yu Khei Kiam"

Terletak pada keanehannya, setiap serangan yang dilancarkan dengan ilmu tersebut bisa membingungkan pihak lawan arah mana yang hendak dituju, tetapi kelemahannya bilamana keistimewaan itu sudah diketahui orang maka perubahan jurus akan menemui kemacetan2.

Sebaliknya ilmu pedang "Suo Sin Kiam Hoat"

Ini jauh berbeda sekali dengan ilmu padang "Thian-yu Khei Kiam", bukan saja ganas, telengas bahkan amat cepat, disamping itu terdapat pula jurus-jurus serangan yang dilancarkan dengan menggunakan hawa pedang untuk menghajar musuhmusuhnya, hal ini membuktikan kalau ilmu pedang inipun rnerupakan ilmu pedang golongan atas.

Lama sekali dia memperhatikan gambar2 itu kemudian baru dengan perlahan dilatihnya sekali....

dua kali....

tiga kali....

Dimana jurus pedang tersebut berkelebat disanalah hawa pedang tersebar memenuhi angkasa, Koan Ing yang melihat tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang amat pesat dalam hati merasa semakin girang lagi.

Hanya di dalam sekejap saja tiga hari sudah berlalu dengan amat cepatnya....

terhadap ilmu pedang "Suo Sim Kiam Hoat"

Itupun Koan Ing sudah berhasil menghapalkannya.

Sewaktu dia keluar dari dalam gua.

Tong Phoa Pek masih duduk bersemedi sehingga dia tidak suka mengganggunya lagi.

Untuk melampiaskan rasa terima kasih yang meliputi hatinya, Koan Ing lantas jatuhkan diri berlutut dihadapan orang itu untuk menjalankan penghormatan setelah itu baru berjalan keluar dari dalam gua, Sesampainya diluar goa, hatinya merasa kebingungan, kemana dia harus pergi?

Lama sekali dia berdiri termangumangu disana.

Tiba-tiba teringat olehnya kalau semua orang pada berangkat menuju ke sebelah Barat Mengapa dirinya tidak sekalian pergi kesana?

Ada kemungkinan di sana dirinya bisa mendapatkan sedikit berita tentang diri Bun Ting-seng Berpikir sampai di situ Koan Ing lalu berjalan menuju ke arah setelah Barat, Lama sekali dia berjalan ke depan tapi yang tampak kecuali permukaan salju nan putih, sedikit bayangan manusia pun tidak tampak.

Alisnya segera dikerutkan, sembari berjalan dia menundukkan kepalanya berpikir.

"Haai.... mungkin di daerah Tibet saat ini sudah terjadi kekacauan.... para jago Bu-lim sudah pada berdatangan kemari....

"Dia berpikir....

berpikir terus, mendadak kepalanya didongakkan ke atas.

Seekor kereta yang tinggi besar dengan kecepatan yang luar biasa berlarik Koan Ing jadi melengak, kereta berdarah kembali munculkan dirinya!

Teringat akan lenyapnya Bun Ting-sengg dengan menaiki kereta berdarah, dia lalu merasa dari kereta berdarah ini pula ada kemungkinan dia bisa memperoleh sedikit jejaknya.

Bagaikan terbang larinya kereta berdarah berlari mendatang hatinya rada bergerak, tanpa pikir panjang lagi badannya segera melayang keangkasa dan menubruk ke arah kereta berdarah.

Di tengah mara ringkikan keempat ekor kuda berwarna merah darah itu tubuhnya sudah melayang turun di atas kereta, sedang telapak tangannya cepat-cepat disilang di depan dada siap menghadapi serangan mendadak dari Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim itu.

Tetapi sebentar saja dia sudah dibuat tertegun....

Kiranya kereta tersebut kosong melompong tak tampak sesosok manusiapun.

Kemana perginya Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim itu?

walaupun dia rada gila tetapi dengan kedahsyatan dari ilmu silatnya tidak bakal ada orang yang bisa mengapa-apakan dirinya.

Pikiran Koan Ing dengan cepat berputar, dia lantas menarik tali les kuda itu untuk menghentikan Iarinya kereta berdarah tersebut", agaknya pemuda ini bermaksud untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

Tetapi sebentar kemudian dari arah belakang telinganya dapat menangkap suara larinya kuda yang mengejar mendatang.

Koan Ing menoleh ke arah belakang, hanya d dalam sekali pandang saja dia dapat melihat ada dua orang hweesio dengan menunggang dua ekor kuda dengan cepatnya mengejar datang dari arah belakang dan pada saat ini sudah berada tidak jauh dari kereta berdarah tersebut, Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, walaupun dia dia tidak takut terhadap mereka berdua tetapi hatinya rada benci.

Tali les kudanya dengan cepat digetarkan kembali, keempat ekor kuda itu sambil meringkik panjang segera berlari kembali ke arah depan.

Kedua orang pengejar itu mana suka melepaskan kereta berdarah itu dengan begitu saja, dengan kencangnya mereka melakukan pengejaran terus sejauh tujuh delapan li, Diam-diam Koan Ing mulai merasa gusar, mendadak dia menahan tali les untuk menghentikan larinya kereta, sedang dalam hati diam-diam berpikir.

"Hmmm.... nyali kalian berdua sungguh amai besar, bilamana penghuni di dalam kereta pada saat ini adalah Jien Wong sendiri sejak semula kalian sudah pada modar."

Hanya di dalam sekejap saja kedua orang pengejar itupun sudah tiba, jelas kedua orang hweesio itu sudah dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya, cepat-cepat mereka silangkan kudanya menghalangi perjalanan pergi diri kereta berdarah.

Koan Ing yang berada di atas kereta dengan dinginnya lantas memandang ke arah kedua orana hweesio itu.

Sedang kedua orang hweesio yang melihat orang yang ada di dalam kereta berdarah itu bukan lain adalah Koan Ing pada melengak semua dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.

Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 4

Baca Juga: Hong Lui Bun 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert