Ceritasilat Novel Online

Kereta Berdarah 3

Eps 3 Kereta Berdarah - Khu Lung

Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung

Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.

Yang lihay dan sudah menggetarkan seluruh Bu-lim dari Thay-su!"

Serunya. Hud Ing Thaysu yang melihat sikap Koan Ing ternyata begitu ketusnya, bahkan sedikitpun tidak mau mengalah di hadapannya tidak urung dia mengerutkan alisnya juga.

"Kau bangsat cilik sungguh sombong!"

Teriaknya gusar. Tidak menanti perkataan selanjutnya di ucapkan, dengan cepat Koan Ing mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung, lalu dengan menggunakan jurus "Noe Ci Sin Kiam"

Atau dengan gusar kebaskan pedang menyerang tubuh Hud ing Thaysu.

Hud Ing Thaysu segera mendengus dingin ujung jubahnya dikebut ke depan sedang tubuhnya dengan miring mundur satu langkah ke belakang.

Jurus "Noe Ci Sin Kiam"

Ini merupakan jurus yang paling aneh diantara "Thian Ya Jie Cap Su Cau"

Baru saja Hud Ing Thaysu mundur satu langkah ke belakang pedang Cing Hong Kiam itu mendadak dengan disertai suara dengungan, yang amat keras membelok ke samping lalu menusuk iga sebelah kiri dari Hud Ing Thaysu.

Dengan memandang kedudukannya sebagai seorang cianpwee sebenarnya Hud Ing Thaysu hendak mengalah tiga jurus kepadanya, tetapi dia orang sama sekali tidak menyangka kalau ilmu pedang dari Koan Ing demikian anehnya, jikalau sekali lagi dia menghindarkan diri tentu seketika itu juga dia akan dipaksa menemui kekalahan.

Dia tidak mengira kalau maksudnya semula untuk mengalah tiga jurus kepadanya ternyata kini tidak berhasil mengalah barang sejuruspun, hatinya makin gusar lagi.

"Ilmu pedang yang bagus"

Teriaknya dengan gusar.

Telapak tangan kanannya mendadak membabat ke depan mengancam tubuh pedang yang ada di tangan Koan Ing.

Koan Ing tahu kalau tenaga dalam yang dimilikinya masih bukan tandingan dari Hud Ing Thaysu, pedangnya dengan cepat ditarik ke belakang berubah menjadi jurus "Ci Cie Thian Yang"

Atau mengukur ujung langit, kaki kanannya maju ke samping sedangkan ujung pedangnya mengancam alis dari Hud Ing Thaysu.

Hud Ing Thaysu segera mendengus, ketika dia orang melihat jurus-jurus serangan dari Koan Ing amat aneh sekali dalam hati segera punya niat untuk menjajal kepandaian "Thian-yu Khei Kang"

Lebih lanjut, pikirnya.

"Ehmmm.... sejak dulu aku orang kepingin menjajal kepandaian silat dari empat manusia aneh, kini murid keponakan dari Kong Bun-yu sudah datang kemari aku harus coba menjajal bagaimanakah kehebatan dari kepandaiannya"

Tangan kanannya dari gerakan telapak berubah menjadi gerakan jari, tiga jarinya dengan berpencar menyerang tubuh Koan Ing serta menjepit pedang yang menyerang ke arahnya.

Jurus yang digunakan oleh Koan Ing barusan ini adalah salah satu dari "Thian-yu Jie Cap Su Khei Cau"

Mana mungkin pedangnya berhasil dijepit oleh Hud Ing Thaysu dengan begitu mudahnya?

pedangnya dengan cepat miring ke samping berganti arah menyerang ke bagian tubuh yang lain.

Tampaklah sinar yang berkilauan memenuhi angkasa, dia mendesak mundur kedua jari dari Hud Ing Thaysu lalu pedangnya diteruskan menusuk pelipis kanan dari Hud Ing.

Baru saja Hud Ing Thaysu mau menghindar untuk menyerang dari arah samping tetapi ketika dilihatnya kedudukan kaki kanan dari Koan Ing amat rapat sekali dia menjadi sangat kaget, karena dengan demikian jalan majunya sudah terhambat mati.

Pikirnya di dalam hati.

"Kenapa sejak tadi aku tidak melihat akan hal ini?"

Sekali lagi dia terdesak mundur satu langkah ke belakang.

Dalam hati Hud Ing Thaysu benar-benar amat gusar sekali, dengan kepandaian siiat yang dimilikinya serta kedudukannya sebagai angkatan tua, ternyata dia orang berhasil didesak mundur oleh Koan Ing sebagai seorang dari angkatan muda di hadapan orang banyak, bagaimana urusan ini tidak membuat hatinya merasa amat malu?

Pada saat itulah Koan Ing yang melihat serangannya mencapai hasil segera melancarkan lagi serangan yang lebih gencar ke arahnya, Hud Ing Thaysu dengan gusar mendengus, tangan kanannya dipentangkan lebar-lebar, seketika itu juga berubah menjadi merah darah, inilah ilmu telapak "Thay Su Ing"

Yang amat dahsyat dari daerah Tibet.

Pada saat telapak tangannya mulai membesar itulah berturut-turut dia melancarkan tiga serangan sekaligus.

Koan Ing yang melihat telapak tangan Hud Ing Thaysu mulai berubah warna dalam hati segera tahu kalau urusan tidak beres, tetapi untuk menarik kembali pedangnya sudah tidak sempat lagi dari telapak tangan Hud Ing Thaysu segera terasalah segulung hawa sedotan yang amat kuat memaksa dia tidak sanggup untuk menarik pedangnya kembali.

Pedangnya segera tergetar dengan amat kerasnya.

"Ngoooong...."

Tidak kuasa lagi pandangnya segera terpental ke tengah udara.

Hud Ing Thaysu yang hanya di dalam tiga pukulan saja berhasil memukul jatuh pedang Koan Ing tubuhnya segera maju mendesak ke depan mendekati pihak lawannya^ Di dalam keadaan gugup Koan Ing cepat-cepat lintangkan telapak tangannya untuk menangkis datangnya serangan musuh, tapi keadaan sudah terlambat tangannya berhasil dicengkram oleh Hud Ing Thaysu.

Terdengar dengan amat dinginnya Hud lug Thaysu tertawa dingin.

"Kepandaian silat dari Koan sicu boleh dikata merupakan jagoan nomor wahid diantara angkatan muda, tetapi jikalau kau orang mau mengandalkan sedikit kepandaian itu untuk mengacau di kuil Han-poh-si kami.... hehehee.... bukankah kau orang terlalu pandang tinggi dirimu sendiri?"

Dengan amat tawarnya Koan Ing melirik sekejap ke arah diri Hud Ing Thaysu, tidak ada sepatah katapun diucapkan keluar.

"Bukankah tujuan Koan sicu datang ke mari untuk mencari jejak dari kereta berdarah itu?"

Tanya Hud Ing Thaysu lagi sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.

Koan Ing kini sudah berhasil kena tawan sudah tentu dia orang tidak mau mengucapkan sepatah katapun.

Sebenarnya tujuannya datang ke kuil Han-poh-si ini tidak mengandung maksud untuk berkelahi, tetapi sewaktu dilihatnya sikap Husangko demikian Congkaknya serta tidak tampaknya Hud Ing Thaysu maka hal ini memaksa dia mau tak mau harus turun tangan juga.

Saat dalam hati dia orang semakin tidak memandang sebelah matapun terhadap Hud Ing Thaysu.

Hud Ing Thaysu yang melihat Koan Ing tidak mengucapkan sepatah katapun, dia segera mengetahui sifat Congkak dari Koan Ing membuat dia orang bungkam, tetapi dia orang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya.

Sebetulnya di dalam hati dia ingin mengetahui apa tujuan dari Koan Ing datang kemari, tentang berita terbunuhnya Kong Ing Thaysu dia sudah tahu, cuma saja dia orang tidak tahu siapa yang sudah turun tangan terhadapnya.

Dia termenung berpikir sebentar, akhirnya sambil berjalan menuju ke kuil sebelah dalam ujarnya kepada Husangko.

"Bawa dia ke dalam kamarku"

Husangko agak melengak, setelah termenung beberapa saat lamanya dia turun tangan juga membebaskan jalan darah dari Koan Ing.

"Kau ikutilah diriku,"

Ujarnya.

Dengan sifat yang tinggi hati dan sombong dari Koan Ing mana dia orang mau melarikan diri dengan mengambil kesempatan itu?

Sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat, setelah memungut kembali pedangnya dengan mengikuti diri Husangko berjalan masuk ke dalam ruangan tengah.

Para Lhama yang ada di kedua belah samping dengan pandangan amat gusar memperhatikan dirinya terus, tetapi Koan Ing tidak mau ambil perduli, dia tetap lanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Setelah berputar melalui sebuah pendopo sampailah mereka di ruangan kuil sebelah belakang, tampak Hud Ing Thaysu sudah duduk di atas kasurnya, melihat Koan Ing berjalan masuk dia segera memberi tanda supaya dia duduk.

Dengan amat tawarnya Koan Ing memandang sekejap ke arahnya lalu duduk di tempat yang sudah ditunjuk.

Hud Ing Thaysu termenung sebentar, lalu baru terdengar dia berkata.

"Berita masuknya kereta berdarah ke daerah Tibet sudah tersebar luas di seluruh daerah Tionggoan, tetapi sampai saat ini kecuali kau seorang belum tampak ada orang lain yang munculkan dirinya, akupun tahu kalau jago-jago Bulim yang muncul disini tidak sedikit jumlahnya, tetapi kereta berdarah itu benar-benar tidak masuk ke daerah Tibet kami ini."

Koan Ing tertawa tawar, kini Hud Ing Thaysu bersikap hormat kepadanya membuat dia orang tidak dapat berdiam diri terus.

Dia tidak tahu perkataan dari Hud Ing Thaysu ini sungguh atau palsu tetapi palsunya Husangko benar-benar merupakan soal yang nyata, dia segera menarik napas panjang-panjang ujarnya.

"Perkataan dari Thaysu ini benar-benar atau tidak?"

"Tidak ada seorangpun yang pernah melihat kereta berdarah memasuki daerah Tibet"

Sahut Hud Ing Thaysu sambil tertawa.

Dalam hati Koan Ing merasa tidak percaya dengan perkataannya itu, tetapi pada mulutnya tetap berkata.^ "Aku datang kemari cuma ada satu tujuan saja yaitu untuk mengetahui jejak dari kereta berdarah dimana dia sudah membinasakan ayahku"

"Tetapi ini hari Koan sicu sudah melukai anak murid kami,"

Ujar Hud Ing Thaysu sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Tentang rusaknya patung-patung arca itu kami tidak akan mengungkit lagi tetapi aku ada satu permintaan harap Koan sicu mau segera meninggalkan daerah Tibet untuk menuju ke daerah Mongol."

Koan Ing menjadi melengak, dia tahu Hud Ing Thaysu bertujuan untuk memancing pergi kaum jago Bu-lim yang menguntit jejak dari Kereta Berdarah itu ke daerah lain, karena mereka semua tahu kalau Koan Ing sangat terburuburu untuk menguntit jejak dari kereta berdarah itu, dia orang tidak mungkin mau tanpa sebabjauh2 ke daerah Mongol.

Sekalipun misalnya dia orang belum terkena racun diapun tidak akan mau berbuat demikian apalagi sekarang dia bakal kehilangan seluruh ilmu silatnya beberapa puluh hari lagi, segera dia tertawa tawar.

"Tidak mungkin!"

Sahutnya singkat. Hud Ing Thaysu menjadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa bersikap demikian ketusnya.

"Apakah Koan sicu benar-benar tidak mau memberi muka kepadaku?"

Tanyanya dingin. Koan Ing tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Hud Ing Thaysu itu, dia tertawa dingin.

"Thaysu adalah seorang yang beribadat,"

Ujarnya kaku.

"Kenapa kau orang masih mau juga melakukan pekerjaan yang menghilangkan wajahmu sendiri?"

Hud Ing Thaysu yang dimaki dengan kata-kata itu hatinya menjadi teramat gusar.

"Ikat dirinya, tunggu sampai Kong Bun-yu datang baru lepas dia!"

Teriaknya keras.

Koan Ing tertawa dingin tidak mengucapkan sepatah katapun, Husangko dengan cepat berjalan mendekati badannya lalu menotok jalan darahnya tetapi Koan Ing sama sekali tidak memberikan perlawanannya segera mendengus dingin, dia segera bangkit berdiri dan mengundurkan diri dari sana.

Dengan mengempit tubuh Koan Ing, Husangko berjalan menuju ke kuil sebelah belakang lalu mengikat kaki serta tangannya dengan tali dan digantung di atas sebuah pohon.

"Koan sicu,"

Ujarnya sambil tertawa dingin.

"Kau tunggulah untuk sementara waktu di tempat ini, menunggu setelah Kong Bun-yu datang kau baru akan kami lepaskan kembali...."

Selesai berkata sambil tertawa keras dia berlalu dari sana, Koan Ing yang badannya tergantung di atas pohon dalam hati sadar, jikalau tidak ada orang yang datang memberikan pertolongannya kepada dirinya maka dia jangan harap bisa lolos dari sana, Tidak terasa lagi di dalam hati diam-diam pikirnya.

"Tidak perduli bagaimanapun aku bakal mati juga, bukankah diperlakukan secara demikianpun sama saja? hanya saja dendam sakit hati ayahku belum terbalas, haaaaai.... hal ini benar-benar membuat aku merasa menyesal."

Ooo)*(ooO Bab 12 BUNGA SALJU BERHAMBURAN memenuhi seluruh permukaan....

seluruh tubuh dari Koan sudah dipenuhi dengan hamburan salju, tetapi jalan darahnya saat ini sudah tertotok, dia tidak dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir rasa dingin tersebut membuat tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya.

Cuaca semakin lama semakin gelap, saking kedinginannya hampir-hampir Koan Ing jatuh tidak sadarkan diri.

Mendadak tampaklah sesosok bayangan merah berkelebat, sekali pandang saja Koan Ing sudah mengenal kembali kalau orang itu bukan lain adalah Sang Siauw-tan adanya.

Dengan amat cepatnya tubuh Sang Siauw-tan mendekati tubuh Koan Ing lalu dengan menggunakan sebilah pisau belati memutuskan otot kerbau yang digunakan untuk mengikat badan Koan Ing itu, setelah itu barulah dia orang menggendong badannya berkelebat menuju ke dalam rimba.

Diam-diam dalam hati Koan Ing merasa keheranan, bagaimana secara tiba-tiba Sang Siauw-tan bisa muncul di tempat itu?

Sang Siauw-tan membawa tubuh Koan Ing ke dalam sebuah hutan yang amat lebat sekali, setelah membantu dia orang melepaskan ikatan otot kerbau dia baru mengurutkan jalan darahnya.

Saat ini seluruh tubuh Koan Ing sudah membeku sehingga hampir-hampir tidak bisa bergerak lagi, dengan termangumangu Sang Siauw-tan memandang dirinya tiba-tiba dia melelehkan air matanya lalu dengan menggunakan sepasang tangannya mencekal tangan dari Koan Ing.

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dengan terpesona diapun balas memperhatikan diri Sang Siauw-tan.

Lama sekali....

baru terdengar Sang Siauw-tan menghela napas kemudian membuatkan api unggun disana.

Beberapa saat kemudian Koan Ing baru bisa menggerakkan badannya kembali, dengan termangu-mangu dia memandang diri Sang Siauw-tan dengan terpesona.

"Koan Toako, kau masih merasa kedinginan?"

Tanya Sang Siauw-tan sambil tertawa.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan tertawa sehingga kelihatan pipinya yang berwarna merah dadu membuat dia sekali lagi termangu-mangu, Sikap yang demikian baik dari Sang Siauw-tan ini benarbenar membuat dirinya sama sekali tidak menyangka.

Dengan amat ragu-ragu dia mengangguk.

Sang Siauw-tan tertawa lagi, sambil mengusap kering bekas air mata ujarnya sambil tertawa.

"Tia masih belum kembali, terpaksa aku pergi menolong dirimu seorang diri, aku sama sekali tidak mengira kau bisa kedinginan sehingga sebegitu hebatnya."

Dalam telinganya Koan Ing mendengar kalau Sang Siauwtan sedang berbicara tetapi dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang diucapkan olehnya, dia tidak tahu di dalam benaknya saat ini sedang memikirkan apa?

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing memandang dirinya terus menerus tak terasa lagi air mukanya menjadi merah padam.

"Koan Toa-ko kau masih membenci diriku?"

Tanyanya sambil menundukkan kepalanya, Tidak terasa lagi Koan Ing mencekal sepasang tangan dari Sang Siauw-tan dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang tetapi sebentar saja dia sudah melepaskannya kembali Sang Siauw-tan menjadi melengak, dia segera angkat kepalanya memandang ke arahnya.

Dengan perlahan Koan Ing menundukkan kepalanya, dia teringat kembali bagaimana perasaannya dahulu Sang Siauwtan, di dalam hati kecilnya dia benar-benar merasa sangat senang dengan perempuan ini, tetapi sekarang....

semuanya sudah terlambat Dia segera bangkit berdiri lalu dengan perlahan-lahan putar badan dan berjalan menuju ke tengah hutan.

Sang Siauw-tan tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan Koan Ing saat ini, diapun dengan cepat bangkit berdiri.

"Koan Toa-ko kau kenapa....?"

Tanyanya heran.

"Buat apa kau mengikuti diriku?"

Seru Koan Ing sambil menoleh lagi.

Sang Siauw-tan menjadi tertegun, dia sebenarnya adalah seorang gadis yang tinggi hati tetapi karena teringat akan pertolongan dari Koan Ing yang berulang kami maka tadi dia berusaha untuk menekan sifat tinggi hatinya itu, tetapi dia orang sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa berbuat demikian kasar terhadap dirinya....

Tidak kuasa lagi dia menangis tersedu-sedu, sambil menutupi mukanya dengan tangan dia putar badan lari dari sana.

Dalam hati Koan Ing merasa hatinya amat perih, titik-titik air mata menetes keluar membasahi wajahnya, bayangan tubuh dari Sang Siauw-tan sekali lagi berkelebat di dalam benaknya, bajunya yang berwarna merah serta sepasang pipinya yang merah dadu menarik jelas sekali dia sengaja berdandan buat dirinya melihat.

Sejak semula di dalam hati kecilnya dia sudah merasa senang dengan sifat dari Sang Siauw-tan yang gagah dan bersemangat, wajahnya yang cantik menawan serta sikap cemberut sewaktu marah membuat hatinya benar-benar tertarik, tetapi ini hari dia harus berbuat demikian, dia terpaksa harus berbuat begitu.

Setelah berdiri tertegun beberapa waktu lamanya akhirnya dia mengulapkan tangannya dan mendepakkan kakinya ke atas tanah, dia tidak punya jalan lain kecuali berbuat demikian, dengan tanpa berpikir panjang lagi cepat-cepat dia berlari ke depan.

Mendadak tampak cahaya terang membumbung ke angkasa, dia menjadi melengak dan menghentikan langkahnya.

Ketika menoleh ke belakang terlihatlah kuil Han-poh-si itu sudah berada di tengah lautan api.

Koan Ing tahu tentulah itu hasil perbuatan dari Sang Siauw-tan yang sedang berada di dalam keadaan amat gusar.

Di tengah membumbungnya api yang berkobar dengan amat dahsyatnya itulah mendadak secara samar-samar terdengar suara ringkikan kuda yang amat panjang berkumandang ke dalam telinganya.

Begitu mendengar suara ringkikan kuda itu semangatnya dari Koan Ing segera berkobar kembali, di dalam ingatannya segera terbayang kembali sesuatu benda....

Tampak empat ekor kuda jempolan berwarna merah darah dengan menarik sebuah kereta besar yang berwarna merah darah pula menerjang keluar dari antara lautan api terus menerjang ke arahnya Inilah kereta berdarah....

tidak di sangka olehnya kereta berdarah yang dikejarnya sejauh ribuan li ternyata bisa muncul di tempat dan pada saat seperti ini.

Koan Ing segera bersuit panjang, pedangnya dicabut keluar dari sarungnya lalu bagaikan kilat cepatnya melayang dan menubruk ke arah kereta berkuda itu.

Baru saja tubuh Koan Ing meloncat ke atas mendadak dari dalam ruangan kereta itu menggulung keluar hawa pukulan yang amat dahsyat sekali.

"Braaaak!"

Tidak kuasa lagi tubuh Koan Ing terpukul mental sejauh tiga kaki lebih dan menubruk sebuah pohon besar.

Begitu punggungnya menempel permukaan pohon, sekali lagi tubuhnya meloncat ke atas, disertai suara suitan gusar tubuhnya dengan amat cepatnya mengejar ke arah kereta berdarah itu.

Larinya kereta berdarah itu amat cepat sekali laksana menyambarnya kilat di tengah udara, di dalam sekejap saja sudah lenyap dibalik sebuah rimba di tengah gunung.

Koan Ing yang dengan susah payah baru berhasil menemukan jejak dari kereta berdarah itu sudah tentu tidak mau melepaskan dengan demikian mudahnya, dia bersuit nyaring, dengan sekuat tenaga tubuhnya berkelebat ke depan mengeja rjejak kereta berdarah tersebut.

Setelah mengejar sampai di tengah gunung dan berputarputar dua kali disana mendadak baik suara ringkikan kuda maupun suara berputarnya roda kereta berdarah itu sudah lenyap tak berbekas lagi.

Koan Ing tidak mau melepaskan begitu saja, diapun ikut mengejar ke arah depan.

Tampaklah kereta berdarah tersebut dengan kecepatan yang luar biasa meluncur masuk ke dalam sebuah gua yang luasnya ada satu kaki lebih.

Keadaan di dalam gua itu amat gelap dan sunyi sekali, agaknya merupakan sebuah gua buntu tetapi seperti juga sebuah gua yang dalamnya sukar diukur, di atas dinding gua tergantunglah pilar-pilar salju yang amat besar dan banyak sekali.

Koan Ing menjadi ragu-ragu untuk beberapa saat lamanya, pikirnya di dalam hati.

"Aku sudah melakukan pengejaran sejauh ribuan li, tidak seharusnya menemui kegagalan dengan begitu saja...."

Berpikir sampai disini, dengan melintangkan pedangnya di depan dada dia berjalan masuk ke dalam gua tersebut.

Dia orang pernah mengikuti Kong Bun-yu berdiam di dalam gua batu selama dua bulan lamanya sehingga matanya berhasil dilatih untuk melihat di tempat kegelapan, karena itu pandangannya amat tajam seluruh benda yang ada di dalam gua itu bisa dilihatnya dengan amat jelas sekali.

Agaknya gua itu kosong melompong tidak ada sebuah barangpun, walaupun dia sudah masuk sejauh puluhan kaki tetapi apapun tidak kelihatan Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa keheranan, dia tidak tahu seberapa dalamnya gua tersebut, harus membutuhkan waktu berapa lama baru bisa mencapai ujung gua tersebut?

Dia maju lagi beberapa saat lamanya, jalanan gua itu mulai membelok bahkan di atas tanah penuh dengan bekas roda dari kereta berdarah itu yang memanjang ke depan.

Koan Ing tidak mau ambil perduli dia meneruskan perjalanannya ke depan, akhirnya sampailah di sebuah perut gunung yang amat besar sekali dimana gua itu dipisahkan oleh pilar-pilar batu besar yang berbentuk amat aneh sekali.

Dengan pandangan yang amat tajam Koan Ing memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, tetapi apapun tidak kelihatan membuat hatinya tidak kuasa lagi merasa bergidik juga.

Dia menarik napas panjang-panjang, sambil mengerutkan alisnya kembali dia melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Bekas roda kereta mulai membelok ke sebelah kiri, tubuhnyapun dengan cepat pula berputar kesana....

mendadak....

Tepat pada belokan itu terlihatlah sesosok bayangan manusia sedang duduk dengan amat tenangnya disana, dia menjadi amat terperanjat, sambil membentak keras tangan kanannya dengan menggunakan jurus "Noa Ci Sin Kiam"

Menghantam tubuh orang itu.

Orang itu segera mendengus dingin, jarinya disentil ke depan menghajar ujung pedang Kiam Hong Kiam yang digunakan Koan Ing itu.

Seketika itu juga baik Koan Ing mau pun pedangnya terpental jatuh ke belakang oleh tenaga sentilan tersebut.

Dengan cepat Koan Ing bersalto dan berjumpalitan di tengah udara lalu dengan tenangnya melayang kembali ke atas permukaan tanah.

Ketika dia memperhatikan orang itu, tampaklah seorang yang kepalanya penuh ditumbuhi rambut serta jenggot yang berwarna putih duduk bersila disana, sepasang matanya yang amat tajam sekali sedang memperhatikan dirinya.

Dia orang merasakan hawa dingin menyusup masuk dari dasar hatinya, kepandaian silat yang dimiliki orang ini benarbenar amat dahsyat sekali bahkan jauh berada di atas kepandaian silat dari supeknya "Thian-yuu Khei Kiam"

Kong Bun-yu entah siapakah sebetulnya manusia aneh ini? "Siapa kau?"

Tanyanya ragu-ragu.

"Haaaa.... haaaa.... Bu-lim Ku-cu atau si manusia tunggal dari Bu-lim, Jien Wong."

Koan Ing menjadi betul-betul terperanjat, dia berdiri tertegun disana sepatah kata pun tidak bisa diucapkan keluar.

Pada pertemuan puncak di atas gunung Hoa-san sembilan belas tahun yang lalu Jien Wong sudah dihantam kempaskempis oleh empat manusia aneh lalu dengan meminjam kesempatan sewaktu keempat manusia aneh itu tidak waspada dengan menunggang kereta berdarah melarikan dirinya, menurut keadaan waktu itu sekalipun dia orang mempunyai kepandaian silat yang jauh lebih tinggipun belum tentu bisa hidup lebih lanjut, tetapi kini dia sudah munculkan dirinya kembali hal ini benar-benar merupakan satu berita yang mengerikan sekali.

Si Bu-lim Kucu, Jien Wong sewaktu melihat Koan Ing dibuat berdiri termangu-mangu, sekali lagi tertawa terbahak-bahak.

"Aku kira di dalam kolong langit saat ini tidak ada seorangpun yang bisa mencabut nyawaku, jikalau saat kematianku sudah tiba, aku bisa mati sendiri, orang lain siapapun tidak akan bisa mengapa-apakan diriku Koan Ing merasakan hatinya bergidik, keheranan dan kedahsyatan dari kepandaian silat Jien Wong benar-benar membuat hatinya merasa berdesir Jien Wong mengerutkan alisnya rapat-rapatr ujarnya lagi.

"Dari jurus serangan serta usiamu aku kira kau orang tentunya anak murid dari Kong Bun-yu bukan?"

Dengan perlahan Koan Ing berhasil menguasai ketenangan hatinya lagi, bukannya menjawab, sebaliknya dia malah balas bertanya.

"Dimanakah si Boe Cing Kongcu, Bun Ting-seng?"

Jien Wong jadi jengkel, dengan dinginnya dia mendengus.

Tangan kanannya dengan perlahan diangkat, lima jarinya dipentangkan ke depan segera terasalah lima gulung hawa pukulan menghajar ke tubuh Koan Ing.

Koan Ing menjadi terperanjat ilmu, ilmu khikang semacam ini dia pernah dengar orang membicarakannya tetapi selamanya belum pernah melihatnya sendiri, mungkin tidak disangka Jien Wong sudah berhasil melatih ilmu Khi-kang sehingga demikian dahsyatnya.

Pedang panjangnya diputar satu lingkaran, dengan menggunakan jurus "Kioe Ku Cang jiet"

Atau sembilan busur memanah sang surya menggetar pergi serangan dari Jien Wong itu.

Jien Wong segera tertawa dingin, mana dia orang mau membiarkan Koan Ing memberikan perlawanannya, lima jarinya yang mencengkeram tangannya semangkin mengencang.

"Heee.... heee.... semua orang bilang aku kalap, ganas makanya menyebut aku sebagai Jien Wong, tetapi aku lihat kau orang jauh lebih kalap, jauh lebih ganas dari diriku!"

Serunya sambil tertawa dingin.

Koan Ing yang berhasil ditawan oleh pihak musuh hanya dalam satu jurus saja membuat dia orang tidak bisa mengucap sepatah katapun juga.

Sekali lagi Jien Wong mendengus dingin.

Jikalau membicarakan kehebatan dari ilmu silatmu boleh dikata diantara anak murid empat manusia aneh kaulah nomor satu, dengan usiamu yang masih muda boleh dikata ilmu silatmu sudah mencapai pada puncak kesempurnaan tetapi memamerkan kepandaian bukanlah suatu pekerjaan yang baik.

Jilid 6 Mendengar perkataan dari Jien Wong ini, tidak terasa Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Hmmm...."

Dengus Jien Wong kembali dengan amat dingin.

"Sewaktu aku berumur tiga puluh tahun aku orang sama sekali tidak bernama di dalam Bu-lim, tetapi setelah berumur empat puluh tahun di dalam kolong langit tidak ada seorang manusiapun yang bisa menandingi diriku."

Dengan pandangan tajam Koan Ing memperhatikan wajah Jien Wong terus menerus, padahal di dalam hati diam-diam pikirnya.

"Bagus.... bagus sekali, aku tidak menemui ajalnya di tangan Ciu Tong, tidak mati di dalam kuil Han-poh-sie sebaliknya terjatuh ke tangan Jien Wong.... haa.... haaa.... boleh dikata inilah yang dinamakan Jodoh."

Tiba-tiba Jien Wong melepaskan tangan kanannya lalu sambil mengerutkan keningnya rapat-rapat ujarnya.

"Heeey kau terkena racunnya siapa? Kenapa begitu berat?"

Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi amat terperanjat, pikirnya.

"Jien Wong ini manusia memang seorang yang sangat aneh, ternyata cuma di dalam satu kali pandangan saja dia sudah tahu kalau aku terkena racun yang amat berat sekali, bakat manusia semacam ini sungguh jarang terdapat di kolong langit."

Jien Wong yang melihat Koan Ing tidak menjawab, seorang diri dia tenggelam kembali ke dalam lamunan.

"Kau orang tidak usah memberitahu aku sendiri juga tahu,"

Gumamnya seorang diri.

"Pekerjaan ini tentu hasil perbuatan dari Ciu Tong. kecuali dia orang tidak ada orang lain yang bisa berbuat pekerjaan seperti ini."

Sambil berkata pikirannya sudah terjerumus ke dalam lamunan yang amat mendalam mulutnya komat-kamit bergumam seorang diri agaknya dia sedang berpikir dan mau mengambil keputusan tentang satu persoalan yang amat sulit.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba telapak tangannya berkelebat dan membantu Koan Ing mengurutkan jalan darahnya, tetapi mulutnya tetap membungkam sedang pikirannya tetap terjerumus di dalam lamunan.

Koan Ing yang berdiri di samping juga berdiam diri, dengan pandangan amat tenang dia memperhatikan diri Jien Wong.

Di dalam sekejap saja tiba-tiba dia sepertinya sudah memahami akan suatu urusan Jien Wong ternyata bisa memperoleh kepandaian silat yang demikian tingginya sudah tentu diapun mempunyai hal-hal tertentu.

Sebentar saja dia sudah bisa memusatkan seluruh perhatian dan pikirannya untuk memikirkan satu persoalan tertentu, terhadap urusan lain bersiap seperti tidak melihat dan tidak mendengar, dengan kepandaian silat yang demikian tinggi dari dirinya hal ini merupakan satu-satunya titik kelemahan yang paling besar dari dirinya.

Tiba-tiba terdengar Jien Wong tertawa terbahak-bahak lagi dengan amat kerasnya.

"Haaaa.... haaaa.... haaaa.... racun dari Ciu Tong ini kemungkinan sekali bisa menyulitkan orang lain tetapi tidak akan menyulitkan diriku!"

Serunya girang.

"Aku kira di dalam kolong langit sekarang ini kecuali aku seorang sekalipun Ciu Tong sendiripun tidak akan berhasil memunahkan racun itu."

Sekali lagi Koan Ing melengak Jien Wong tentu telah menganggap dia sebagai anak murid dari Kong Bun-yu, tetapi pada tempo hari "Si Thian-yu Khei Kiam"

Pun merupakan salah seorang yang mengerubuti dirinya, kenapa ini hari dia mau membantu dirinya untuk mengobati racun yang ada di dalam tubuhnya? "Tentang Suhumu aku dapat pergi mencari dirinya,"

Ujar Jien Wong lagi.

"Urusan diantara kau dengan aku tidak punya sangkut pautnya dengan mereka."

Dengan pandangan melongo Koan Ing memperhatikan diri Jien Wong, sepatah katapun dia tidak berbicara.

Hampirhampir dia tidak mau percaya atas perkataan dari Jien Wong ini, walaupun kepandaian silatnya amat tinggi, pikirannya sekalipun dipusatkan sesuai dengan kehendaknya tetapi di dalam Bu-lim saat ini cuma Ciu Tong seorang saja yang paling pandai dan paling paham di dalam ilmu obat-obatan.

tidak mungkin seseorang cuma berpikir sebentar sudah dapat mengetahui segala-galanya.

Jien Wong yang melihat air muka Koan Ing memperlihatkan perasaan yang kurang percaya dia mendengus dingin.

"Di dalam tiga puluh hari aku bisa menyediakan obat penawar buat dirimu,"

Ujarnya sambil tertawa tawar. Koan Ing yang mendengar dia berkata demikian di dalam hati segera merasa semakin heran lagi, mendadak tanyanya.

"Kenapa kau tidak memandang sebelah matapun terhadap segala urusan."

Begitu perkataan ini diucapkan keluar di dalam hati tidak terasa lagi telah merasa sangat menyesal. Jien Wong dibuat agak melengak, tetapi sebentar kemudian dia telah tertawa terbahak-bahak.

"Ada urusan apa yang berharga untuk aku pandang dengan mata?"

Serunya keras.

"Haaa.... haaa.... semuanya pasrah pada nasib urusan lain asalkan kau kepingin pergi berbuat, ada apanya yang tidak dapat dilakukan...."

Koan Ing cuma merasakan otaknya bagaikan ditinju dengan martil besar.

"Pasrah pada nasib,"

Perkataannya ini mempunyai arti yang amat banyak, selama beberapa hari ini dia terus menerus menguatirkan mati hidupnya sendiri, selama ini pikirannya tidak terbuka tetapi di dalam sekejap ini, dia merasa hatinya jauh lebih ringan.

Si manusia tunggal dari Bu-lim, Jien Wong yang melihat Koan Ing dibuat tertegun oleh omongannya ini dia segera tertawa tergelak-gelak.

dia tidak mau percaya kalau hanya di dalam tiga puluh hari saja Jien Wong dapat membuat obat pemunah untuk dirinya.

Tetapi "Pasrah pada nasib"

Dia tidak perlu gelisah tentang soal ini Dengan perlahan dia putar tubuh dan berjalan keluar dari gua tersebut.

Sesampainya diluar gua terlihatlah seluruh hutan rimba yang ada di dekat kuil Han-poh-si sudah ikut terbakar oleh api yang menjalar dari kuil tersebut seketika itu juga seluruh permukaan tanah diliputi oleh lautan api yang amat dahsyat sekali, salju nan putih yang berhamburan dari atas udara sama sekali tidak dapat menahan berkobarnya api.

"Haaaa.... haaaa bocah cilik harus banyak belajar"

Serunya keras. Setelah berkata tubuhnya berkelebat lenyap dibalik gua. Pikiran Koan Ing menjadi sadar kembali, cepat-cepat teriaknya.

"Hey tunggu dulu, dimana itu bajingan Bun Tingseng?"

"Sejak semula dia pergi, pada lain waktu tentu kau dapat bertemu dengannya,"

Sahut si Manusia tunggal dari Bu-lim dengan keras."

Dengan cepat dia berlari turun gunung, mendadak sinar matanya terbentur dengan sesosok bayangan manusia yang berkelebat dengan cepatnya menuju ke arah dirinya.

Melihat bayangan tersebut dalam hati Koan Ing merasa hatinya tergetar amat keras.

orang itu memakai baju merah yang bukan lain adalah Sang Siauw-tan adanya sedang orang yang mengejar di belakangnya bukan lain adalah Husangko itu hwesio Tibet.

Dia sedikit tertegun, tetapi sebentar kemudian sudah lari mengejar ke depan.

Terlihatlah Sang Siauw-tan yang berhasil mencapai depan tubuhnya mendadak rubuh ke atas tanah, Koan Ing jadi amat terperanjat dengan cepat dia maju dua langkah ke depan membimbing tubuhnya.

Saat itu wajah Sang Siauw-tan pucat pasi bagaikan mayat, agaknya dia sudah kehabisan tenaga.

Husangko semakin lama semakin mendekat, sewaktu dilihatnya Koan Ing pun ada disana dia agak ragu-ragu sebentar akhirnya sambil menerjang maju ke depan teriaknya keras.

"Heee.... heee.... ini hari kalian berdua jangan harap bisa loloskan diri."

Waktu ini dalam hati Koan Ing pun sedang marah besar, melihat Husangko menerjang ke arahnya dengan amat gusarnya dia segera membentak keras, pedang panjangnya digetarkan dan berturut-turut melancarkan tiga serangan gencar.

Di tengah berkelebatnya bayangan pedang yang menyilaukan mata seketika itu juga Husangko dipaksa mundur tiga langkah ke belakang, dia menjadi tertegun.

"Cepat menggelinding dari sini!"

Bentak Koan Ing lagi dengan amat gusarnya, Jika kau tidak mau pergi jangan salahkan aku segera akan membuat darahmu berceceran mengotori permukaan tanah"

Dalam hati Husangko merasakan sedikit berdesir, dia benar-benar terpukul oleh kegagahan dan kewibawaan dari Koan Ing sehingga tidak terasa lagi sudah mundur dua langkah ke belakang.

Beberapa saat kemudian hatinya baru mulai tenang kembali, pikirnya di dalam hati.

"Eeeh.... kenapa aku ini? Kenapa aku begitu tidak berguna?"

Hatinya menjadi semakin jengkel dan semakin gemas, serunya dengan dingin.

"Koan Ing Kau jangan mengira kau adalah keponakan murid dari Kong Bun-yu lalu boleh bertindak sewenang-wenangnya, ini hari kalian berdua sudah membakar kuil Han-poh-si kami.... hee.... hee.... untuk selamanya jangan harap bisa keluar dari daerah Tibet barang selangkahpun."

"Kau mau pergi tidak?"

Bentak Koan Ing dengan dingin.

Husangko mana mau menunjukkan rasa jerinya terhadap diri Koan Ing?

Bukan saja saat ini Koan Ing harus melindungi seseorang bahkan sebentar lagi suhunya bakal datang, Cuma seorang Koan Ing saja bagaimana dia mau memandang sebelah mata kepadanya?

Dengan mematung dia berdiri tidak bergerak barang sedikitpun.

"Hee.... heee.... aku memangnya kepingin menjajal bagaimana tingginya tenaga dalam yang kau miliki,"

Ujarnya sambil tertawa dingin.

Dengan pandangan yang amat dingin Koan Ing memperhatikan diri Husangko, dia sudah memaksa Sang Siauw-tan sehingga menjadi sedemikian rupa, tidak perduli bagaimanapun ini hari dia tidak bisa melepaskan Husangko dengan begitu saja.

Dia memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan yang berada di dalam pangkuannya, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun sambil mengempit tubuhnya dia putar tubuh berlalu dari sana Melihat dirinya tidak digubris Husangko menjadi gusar.

"Mau lari kemana?"

Bentaknya dengan keras, dengan cepat dia lari mengejar.

Baru saja berjalan dua langkah ke depan mendadak Koan Ing membalikkan badannya melancarkan satu serangan dahsyat dengan menggunakan jurus "Hiat Cong Ban Li"

Atau menguntit selaksa li, tampak berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata sambil mengempit tubuh Siauw-tan dia melancarkan serangan gencar ke arah Husangko.

Husangko menjadi amat terperanjat, walaupun Koan Ing mengempit seseorang tetapi serangan padanya begitu ganas dan dahsyat membuat hatinya sedikit bergidik.

Mana dia orang mengetahui kalau jurus serangan yang baru saja dia gunakan merupakan salah satu jurus yang paling dahsyat dari kedua puluh empat jurus hasil ciptaan Kong Bun-yu sendiri, ditambah lagi Koan Ing melancarkan serangan tersebut di dalam keadaan gusar, kedahsyatannya sudah tentu amat hebat sekali sehingga membuat dirinya sendiripun merasa ada diluar dugaan.

Dengan cepat Husangko menggoyangkan toyanya ke samping memukul miring datangnya serangan dari Koan Ing, sedang tubuhnya Cepat-cepat melayang mundur ke belakang.

Koan Ing segera membentak keras, kaki kanannya melancarkan tendangan kilat menyambar toya yang ada di tangan Husangko, gerakan pedangnya sama sekali tidak berubah dengan dahsyatnya meneruskan serangannya menusuk alis dari Husangko.

Melihat datangnya serangan yang begitu cepat dari Koan Ing.

Husangko tidak berani memikirkan urusan lainnya, dengan cepat tubuhnya mundur ke belakang.

Baru saja Koan Ing mau mengejar lebih lanjut, mendadak terdengar suara bentakan yang amat berat berkumandang datang.

"Hmm.... kau cari mati!"

Segulung angin pukulan yang amat kuat menghantam belakang punggungnya, tanpa menoleh lagi Koan Ing segera mengetahui orang itu tidak akan lain daripada suhu Husangko, Hud Ing Thaysu itu manusia paling jagoan di daerah Tibet pada saat ini....

Ooo)*(ooO Bab 13 Koan Ing yang sedang enak-enaknya melancarkan serangan mendesak Husangko mendadak dari belakangnya terasa segulung angin pukulan laksana menggulungnya angin topan melanda badannya, dia tidak berani melanjutkan gerakannya untuk melukai diri Husangko, pedang panjang di tangan kanannya dengan cepat dibalik ke belakang "Bruuuuk....!"

Pedang panjangnya sudah terkena pukulan Hud Ing Thaysu sehingga mengeluarkan suara dengungan yang amat keras membuat tubuhnya seketika itu juga tergetar mundur sejauh dua langkah ke belakang.

Tetapi Husangko yang baru saja lolos dari kematian saking takutnya membuat seluruh wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

Hud In Thaysu yang melihat serangannya cuma berhasil menggetar mundur Koan Ing sejauh dua langkah saja di dalam hati diam-diam merasa sangat terperanjat sekali, dia orang sama sekali tidak menyangka di dalam keadaan gugup Koan Ing masih bisa menerima serangannya tanpa mengakibatkan pedangnya terlepas dari tangan.

Koan Ing yang melihat air muka Hud Ing Thaysu sudah berubah amat keren dia pun diam-diam mulai mengatur pernapasannya bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Dia tahu tenaga dalam yang dimilikinya masih terpaut amat jauh sekali dari tenaga dalam yang dimiliki Hud Ing Thaysu sedang saat inipun Hud Ing Thaysu sedang berada di dalam keadaan gusar dia tidak dapat mati konyol di tempat ini, apa lagi saat ini masih ada seorang Sang Siauw-tan yang berada di dalam keadaan tidak sadar.

Dengan amat dinginnya Hud In Thaysu mendengus keras, sinar matanya berkelebat tak henti-hentinya agaknya di dalam hati dia sedang memikirkan apakah perlu dia melancarkan pukulan yang mematikan untuk mencabut nyawa dari Koan Ing serta Sang Siauw-tan?

Bukan saja dikarenakan di belakang layar mereka berdua masih ada tameng yang amat atos bahkan dia orang sebagai jagoan nomor satu di daerah Tibet saat ini boleh dikata merupakan angkatan tua dari mereka berdua, bahkan merupakan seorang pendeta yang beribadat dan sangat dihormati oleh banyak orang Jikalau pada saat ini dia membinasakan diri Koan Ing bukan saja akan mencemarkan nama baik serta kedudukannya bahkan Sang Siauw-tan masih berada di dalam keadaan tidak sadar, bilamana dia turun tangan pada saat ini bukankah sama saja dengan turun tangan dikala orang lain dalam keadaan bahaya?

Tetapi dendam terbakarnya kuil Han-poh-si membuat hatinya amat gusar sekali, dia harus menuntut kerugian terbakarnya kuil tersebut.

Dia segera mendengus dengan beratnya.

"Hmmm Koan Ing!"

Teriaknya dengan dingin.

"Seharusnya kau orang tahu kau harus menerima kematianmu sekalipun Sian, Khei, Sin serta Mo ada disini semuapun di dalam ceng-li kau tidak bisa berbicara banyak."

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia tidak mengucapkan sepatah katapun, pikirannya terus menerus berputar memikirkan cara bagaimana menghadapi musuhnya yang amat tanggung ini Hud Ing Thaysupun mengerutkan alisnya rapat-rapat sepasang tangannya dengan perlahan diangkat siap melancarkan serangan yang mematikan Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, dia tahu begitu Hud Ing Thaysu turun tangan dia tentu akan menggunakan jurus serangan yang mematikan, kepandaian ilmu silat "Thay Su Ing"

Dari daerah Tibet bukanlah kepandaian yang biasa saja Mendadak di dalam benaknya berkelebat satu ingatan, di tengah suara suitan yang amat panjang tubuhnya meloncat ke atas lalu menubruk dengan dahsyatnya ke arah Hud Ing Thaysu, Hud Ing Thaysu sama sekali tidak menyangka Koan Ing berani turun tangan sambil mengempit tubuh dari Sang Siauw-tan di dalam keadaan tidak sadarkan diri, walaupun pemuda ini amat sombong sekali tetapi kepandaian silatnya tidak bisa memadahi dirinya walaupun begitu tetapi pemusatan pikiran sewaktu menghadapi musuh boleh dikata termasuk jagoan Bu-lim nomor satu.

Dia segera mendengus, sepasang telapak tangannya satu dari depan satu dari belakang berturut-turut melancarkan serangan dahsyat menghajar tubuh Koan Ing, Jurus serangan yang digunakan olehnya bukan lain adalah jurus "Thian Hud Bun Kian"

Atau Sang Buddha menampakkan diri yang merupakan jurus paling dahsyat dari ilmu "Thay Su Ing".

Di dalam serangan yang dilancarkan oleh Hud Ing Thaysu ini bukan saja chusus menyerang pihak lawannya bahkan terasalah ada segulung tenaga sedotan yang amat kuat menyedot seluruh tenaga dalamnya.

Tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing saat ini boleh dikata termasuk juga sebagai salah seorang jagoan nomor wahid dalam Bu-lim, sudah tentu terhadap perubahan yang dilakukan oleh Hud Ing Thaysu ini dia sama sekali memahami benar-benar, tetapi jika dibicarakan dengan mengambil keadaan pada saat ini dia sudah pasti tidak akan berani menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, Saat ini dia harus mengempit seseorang asalkan satu jurus saja dia menerima serangan lawan maka Hud Ing Thaysu segera akan mengejarnya, saat itu jalan mundur buat dirinya akan tertutup semua, sekalipun mempunyai kepandaian yang tinggi pada saat itu tidak akan lolos lagi dari bencana.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, pedang ditangan kanannya segera digetarkan sehingga membentuk gerakan setengah busur menyambut datangnya serangan.

Jurus serangan yang digunakan olehnya ini bukan lain adalah jurus "Hwee Hong Chiet Ci"

Atau pelangi terbang patah tujuh bagian hasil ciptaan dari Kong Bun-yu sendiri, jurus serangan ini sebetulnya mengharuskan seorang jagoan untuk mengerahkan seluruh tenaga dalamnya yang amat tinggi untuk disalurkan ke dalam pedang sehingga menjadi tujuh bagian tenaga serangan yang bersama-sama menghajar musuh.

Di dalam keadaan apa boleh buat Koan Ing terpaksa harus melancarkan serangan dengan menggunakan gerakan ini.

Di tengah bentrokan pedang serta telapak tangan yang amat ramai terdengarlah Hud Ing Thaysu tertawa dingin, mendadak telapak tangan kanannya ditarik ke belakang.

Tetapi belum sempat telapak kirinya melancarkan serangan kembali dia merasakan kalau tenaga serangan yang disalurkan Koan Ing ke dalam pedangnya secara tiba-tiba lenyap tak berbekas, tenaga sedotan tangan kanannyapun sudah mencapai pada sasaran yang kosong, hal ini membuat hatinya sedikit melengak.

Tiba-tiba dia merasakan adanya desiran angin yang amat aneh menghajar ke tepi atas telapak tangannya, dengan cepat dia menoleh ke samping terlihatlah pedang Koan Ing sudah berada amat dekat sekali dengan tangannya.

Hud Ing Thaysu menjadi amat gusar sekali, dia membentak keras telapak tangan kirinya dengan cepat melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar pedang dari Koan Ing.

Menurut pemikirannya begitu serangan ini dilancarkan maka pedang dari Koan Ing pasti akan terlempar jatuh dari tangannya, siapa tahu serangannya yang dihantam ke depan dengan menggunakan telapak tangan kirinya sudah mencapai pada sasaran yang kosong.

Hatinya terasa berdesir, segulungan hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari dasar lubuk hatinya, jurus yang demikian anehnya ini dia orang sama sekali tidak pernah menemuinya.

Koan Ing yang melancarkan serangannya dengan gencar hanya di dalam sekejap saja seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada jurus serangannya, pikirannya dikumpulkan jadi satu membuat kedahsyatan dari jurus "Hwee Hong Chiet Ci"

Ini bertambah hebat.

Hui Ing Thaysu yang serangannya mencapai pada sasaran yang kosong hatinya segera merasa kaget bukan main sekali, tetapi bagaimanapun dia adalah seorang pentolan dari satu aliran besar sepasang telapaknya dengan cepat berkelebat, dengan menggunakan jurus "Thian Hoo Ling Ling"

Atau sungai langit teramat dingin dari kedudukan menyerang berubah menjadi gerakan bertahan, Baru saja serangan pedang dan Koan Ing mencapai pada tengah jalan, terlihatlah sepasang telapak dari Hud Ing Thaysu berkelebat tak henti-hentinya menutup datangnya serangan tersebut.

Mengingat akan hal itu dengan cepat Koan Ing memiringkan pedangnya ke samping mengancam kening dari Hud Ing Thaysu.

Terhadap perubahan aneh Yang terjadi di dalam serangan pedang Koan Ing ini Hud Ing Thaysu sama sekali dibuat bingung, dengan namanya sebagai jagoan nomor wahid di daerah Tibet ternyata dia tidak sanggup untuk menerima gempuran dari serangan Koan Ing ini hal ini sungguh memalukan dirinya, Air mukanya segera berubah hebat, kaki kanannya berputar dengan cepat dia menghindar ke samping dengan menggunakan ilmu langkah "Thian Hud Poh"

Dari aliran Tibet.

Tetapi tidak urung jubah panjangnya tergores juga oleh serangan pedang Koan Ing ini segera terobek satu goresan panjang, Hud Ing Thaysu menjadi terkejut bercampur gusar, dia membentak keras, telapak kanannya didorong dengan hebatnya ke depan dengan menggunakan jurus "Hauw Han Cian Li"

Atau menyapu bersih selaksa li.

Koan Ing yang berhasil menggores sobek jubah dari Hud Ing Thaysu pun dibuat termangu-mangu oleh hasilnya ini, dia sama sekali tidak menyangka kedahsyatan dari jurus tersebut di dalam keadaan tertegun itulah hawa murni yang semula disalurkan malah balik kembali.

Sebetulnya Koan Ing menggunakan jurus "Hwee Hong Chiet Ci"

Ini sudah melampaui batas kemampuannya, tetapi dikarenakan tadi dia menggunakan jurus tersebut dengan pusatkan seluruh perhatiannya pada serangan itu maka untuk sementara masih dapat dipaksa, tetapi setelah perhatiannya kendor tenaga yang semula disalurkan pun kini malah balik menyerang badannya sendiri membuat darah yang ada di dalam rongga dadanya terasa bergolak dengan amat kerasnya.

Serangan dari Hud Ing Thaysu melanda kembali dengan dahsyatnya, dengan tergesa-gesa dia miringkan badannya ke samping lalu menarik napas panjang-panjang balik membabat ke arah pergelangan tangan dari Hud Ing Thaysu.

Hud Ing Thaysu adalah jagoan nomor wahid dari daerah Tibet, ternyata ini hari dikalahkan di tangan Koan Ing seorang bocah muda, di dalam keadaan gusar segera dia mengambil keputusan untuk membasmi diri Koan Ing dari muka bumi.

Karenanya serangan yang dilancarkan keluarpun semakin lama semakin dahsyat, lima jari tangan kanannya dipentangkan lebar-lebar sehingga membesar beberapa kali lipat dari keadaan semula lalu dengan dahsyatnya mencengkeram pedang yang ada di tangan Koan Ing.

Koan Ing menjadi sangat terkejut, dia ingin menarik pedangnya tetapi keadaan semakin celaka lagi.

Kiranya dia tadi meminjam gerakan serangan yang gencar itu untuk menekan pergolakan di dalam dadanya, kini serangannya ditarik kembali membuat kepalanya seketika itu juga menjadi amat pening sekali dan mundur ke belakang dua langkah dengan terhuyung2.

Pada saat yang bersamaan pula telapak kiri dari Hud Ing Thaysu sudah melanda datang.

"Bruuuk....!"

Dengan dahsyatnya serangan itu menghajar di atas punggung Koan Ing.

Seketika itu juga Koan Ing muntahkan darah segar dengan derasnya, tubuhnya dengan terhuyung2 mundur beberapa langkah ke belakang lalu dengan cepatnya menggendong tubuh Sang Siauw-tan dan lari masuk ke tengah gunung.

Sebetulnya Hud Ing Thaysu mengira serangannya ini sudah cukup untuk membinasakan diri Koan Ing hanya di dalam satu kali pukulannya ini saja, tetapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing masih mempunyai kekuatan untuk melarikan diri dari situ.

Dengan termangu-mangu dia berdiam memandang disana, untuk beberapa saat lamanya di dalam hati entah bagaimana rasanya.

Kepalanya dengan perlahan ditundukkan memandang bekas sobekan pada jubah hweesionya, di dalam hati tidak terasa lagi dia merasa amat kecewa sekali Jika dilihat dari Koan Ing yang menarik kembali pedangnya sambil mundur ke belakang dengan terhuyung2 agaknya dia telah menderita luka dalam yang amat parah, kini ditambahi lagi dengan satu pukulan yang begitu hebat, bukankah hal ini sama saja dengan menggunakan waktu orang susah turun tangan mencelakainya?

Dia adalah seorang hweesio yang beribadat tinggi, ternyata ini hari harus melakukan suatu pekerjaan yang demikian rendah, demikian hinanya di dalam hati benar-benar merasa sangat malu sekali.

Lama sekali Hud Ing Thaysu berdiam termangu-mangu disana.

"Suhu.... Koan Ing sudah melarikan diri,"

Terdengar Husangko yang ada disampingnya berteriak keras.

Hud Ing Thaysu menjadi melengak, dia angkat kepalanya dengan perlahan terlihatlah kuil Han-poh-si yang dibanggakan kini masih terbenam di dalam lautan api yang berkobar dengan dahsyatnya.

di bawah tiupan angin utara yang amat keras di dalam sekejap saja sebuah kuil yang begitu megah sudah hancur berantakan menjadi abu.

Air mukanya berubah sangat hebat, hatinya merasa amat benci.

amat gusar dan mendendam sekali.

Dia mendengus dingin, teriaknya.

"Kejar dia sampai dapat!"

Selesai berkata tubuhnya berkelebat ke depan, dengan memimpin diri Husangko dia melakukan pengejaran dengan cepatnya.

Tubuh mereka berdua bagaikan dua ekor burung elang yang melayang di atas permukaan salju hanya di dalam sekejap saja sudah melewati dua buah puncak gunung, terlihatlah dari tempat kejauhan Koan Ing sedang berlari menuju ke sebuah selat sambil menggendong tubuh Sang Siauw-tan.

Hud Ing Thaysu menjadi termangu-mangu.

"Hey kembali!"

Teriaknya kepada diri Husangko.

Husangko sendiripun tertegun dibuatnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing berani memasuki selat tersebut Koan Ing yang membopong tubuh Sang Siauw-tan berlari masuk ke dalam selat tersebut segera merasakan batu-batu cadas berserakan memenuhi seluruh permukaan tanah, dia dengan sekuat tenaga berlari semakin cepat lagi mengelilingi batu-batu cadas itu dan akhirnya berhasil keluar juga dari antara batu-batu itu.

Pada saat ini di dalam benaknya dia cuma merasa heran kenapa batu-batu cadas itu sukar benar untuk diketahui?

Ketika kepalanya didongakkan ke atas terlihatlah sebuah tebing batu yang curam terukirlah beberapa tulisan.

"Selat Hwee Im Shia, tahun Jien Hien."

Suto Tiang-sian menutup selat di tempat ini. Koan Ing yang melihat ditulisnya nama "Suto Tiang-siang"

Di tempat ini hatinya seketika itu juga merasa bergidik, walaupun saat ini dia sedang menderita luka dalam amat parah tetapi di dalam keadaan terperanjat otaknyapun menjadi sedikit sadar kembali.

Ketika membaca kembali, di samping tulisan besar itu dia bisa melihat adanya beberapa huruf yang agak kecil-kecil.

"Hwee Im mudah masuk sukar keluar, para jago Bu-lim terkubur di tempat ini."

Koan Ing menjadi sangat terperanjat, ketika menoleh kembali ke belakang dia merasakan tempat itu penuh dengan kabut putih yang menutupi seluruh permukaan, bagaimana dirinya bisa masuk sampai disitu dia sendiripun tidak tahu.

Ketika memandang kembali ke arah depan terlihatlah puncak gunung yang menembus awan berdiri berjajar dihadapan mata, saking tingginya sehingga sukar untuk didaki.

Untuk beberapa saat lamanya dia dibuat berdiri termangumangu disana Suto Tiang-sian merupakan seorang manusia aneh yang paling ditakuti selama ratusan tahun ini, pada umur dua puluh tahun kepandaiannya sudah amat tinggi sukar diukur tetapi jadi orang amat tawar sekali terhadap dunia luar, bahkan pandai di dalam ilmu perbintangan karenanya pada waktu itu dia boleh dianggap sebagai orang yang memiliki bakat paling aneh Tetapi dikemudian hari karena istrinya Cing Hong Li kedapatan mati ditangan "Hay Neh Sin Kiam"

Tan Ciu Cu dia menjadi mendendam terhadap orang-orang dari tujuh partai besar, dengan menggunakan akal akhirnya dia berhasil memancing ciangbunjin dari tujuh partai untuk memasuki selat ini lalu menutup pintu selat dan bunuh diri.

Waktu itu berita tersebut benar-benar menggetarkan seluruh Bu-lim, bukan saja dikarenakan kepandaian silat dari Ciangbunjin tujuh partai besar semuanya berada di atas kepandaian dari Suto Tiang-sian bahkan ciangbunjin dari Hoasan Pay "Than Siauw Suseng"

Pek Si Thian pandai sekali di dalam ilmu bangunan, tetapi setelah terkurung di dalam selat itu tidak seorangpun yang bisa hidup lebih lanjut.

Dikemudian hari banyak pula orang Bu-lim yang memasuki selat itu, tapi setelah masuk tidak ada seorangpun yang berhasil keluar dari selat itu, karenanya tempat itu lama kelamaan berubah menjadi tempat yang keramat bagi orangorang Bu-lim.

Siapa sangka Koan Ing ternyata bisa memasuki tempat yang paling keramat ini.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya akhirnya tidak tertahan lagi Koan Ing tertawa geli sendiri, pikirnya.

"Apakah mungkin aku diharuskan menemui ajal di tempat ini?"

Dengan perlahan dia memandang ke arah Sang Siauw-tan, mendadak terasalah dadanya amat mual dan sesak sekali, tidak kuasa lagi sekali lagi dia muntahkan darah segar dari mulutnya, Dia berusaha untuk mempertahankan dirinya, perlahanlahan dia jatuhkan diri duduk bersila di atas tanah dan menyandarkan tubuh Sang Siauw-tan ke dalam pelukannya.

Dengan pandangan sayu Koan Ing memperhatikan wajah dari Sang Siauw-tan yang pucat pasi bagaikan mayat serta bajunya yang berwarna merah darah, kelihatan sekali wajahnya amat kasihan sekali.

Lama sekali dia memperhatikan diri Sang Siauw-tan.

akhirnya tidak tertahan lagi dia tundukkan kepalanya memberi satu Ciuman mesra ke atas bibirnya yang kecil mungil itu.

Pada waktu Koan Ing mulai memasuki selat tadi Sang Siauw-tan sudah sadar kembali dari pingsannya cuma saja dia terus berpura-pura belum sadar, dia tidak menyangka kalau Koan Ing berani mencuri cium bibirnya, saking malu dan cemasnya tidak terasa lagi wajahnya berubah memerah tetapi dia tidak berani buka matanya, karena saat ini dia masih berpura-pura pingsan dia tidak mau menggerakkan badannya barang sedikitpun juga.

Koan Ing yang melihat wajah Sang Siauw-tan secara tibatiba berubah memerah dalam hati segera tahu kalau sejak semula dia sudah sadar kembali dari pingsannya, dia tertawa, tangannya semakin kencang merangkul tubuh Sang Siauwtan.

Semula Sang Siauw-tan mengira tentu Koan Ing akan melepaskan badannya, siapa sangka nyali dari Koan Ing ternyata jauh lebih besar daripada apa yang semula di duga, dengan pentangkan matanya lebar-lebar cepat-cepat dia melototi diri Koan Ing, Koan Ing pun tertawa tawar, dia balas memperhatikan dirinya, Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing berbuat demikian mendadak dalam hati merasa amat gusar sekali, dengan cepat dia meronta dari badan Koan Ing dan meloncat bangun.

Tetapi sewaktu dilihatnya wajah Koan In amat pucat dan murung sekali hatinya menjadi lembek.

"Kau kenapa?"

Tanyanya tertegun.

"Aku cuma sedikit terluka, tidak mengapa,"

Sahut Koan Ing sambil memandang ke arah Sang Siauw-tan lalu dengan perlahan bangkit berdiri.

Sang Siauw-tan menjadi tertegun, teringat kembali ketika tadi dia membakar kuil Han-poh-si, dalam keadaan gusar lalu bagaimana dia dikejar oleh Husangko, ditolong oleh Koan Ing dan selanjutnya jatuh tidak sadarkan diri....

Dengan kehebatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing saat ini ternyata dia terluka juga, sudah tentu orang yang melukai dirinya bukan lain adalah Hud Ing Thaysu adanya.

Tetapi bagaimana berhasil Hud Ing Thaysu mau membiarkan mereka loloskan diri dari cengkeramannya....?

Koan Ing segera maju ke depan memegang sepasang pundaknya, dia menghela napas panjang dengan amat sedihnya.

"Haaaaai.... tidak disangka kita berdua harus menemui ajal di tempat ini,"

Ujarnya murung.

Sang Siauw-tan jadi melengak, ketika dia dongakkan kepalanya dan melihat tulisan yang terukir di atas dinding tebing hatinya merasa sedikit bergidik, lama sekali dia berdiri mematung tidak bergerak barang sedikitpun juga.

Dengan perlahan Koan Ing memegang tangannya lalu ujarnya dengan perlahan.

"Siauw-tan kau tahu aku betul-betul suka padamu, perkataan ini baru sekarang, aku berani memberitahukan kepadamu...."

Sang Siauw-tan menjadi melengak, mendadak dia teringat kembali sikapnya sewaktu baru saja dia berhasil menolong dirinya keluar dari kuil Han-poh-si, sekarang....

sekarang dia bersikap demikian, bukankah hal ini jelas sedang mempermainkan dirinya?

"Dalam hati dia merasa amat gusar sekali, sepasang tangannya dengan cepat direntangkan ke samping lalu bentaknya dengan gusar.

"Pergi! Jangan sentuh aku!"

Koan Ing agak melengak, dia cuma tertawa tawar dan berpikir kini mereka semua sudah berada di tempat yang berbahaya, buat apa dikarenakan sedikit urusan kecil harus ribut?

Sewaktu Sang Siauw-tan menolong dirinya dulu dia merasa karena usianya tidak lama di dunia ini maka dia tidak ingin mendekati diri Sang Siauw-tan, tetapi kini....

mereka berdua sama-sama memperoleh nasib yang sama, di dalam waktu yang amat singkat ini dia harus bersikap sangat baik terhadap dirinya Sang Siauw-tan yang berhasil melepaskan diri dari tangan Koan Ing dengan cepat putar badan dan lari masuk ke dalam selat itu, dia sendiripun tidak tahu kenapa dia bisa begitu marah terhadap dirinya.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan lari menuju ke dalam lembah dalam hati merasa amat terkejut sekali, selat ini sudah ditutup oleh Suto Tiang-sian sudah tentu disetiap sudut dari selat ini sudah dipasangi alat rahasia yang dahsyat, jikalau Sang Siauw-tan menerjang seenaknya bukankah keadaannya akan sangat berbahaya sekali?

"Siauw-tan Jangan sembarangan lari!"

Teriaknya dengan cemas. Tetapi Sang Siauw-tan mana mau mendengar omongannya? Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia lari terus masuk ke dalam selat tersebut, sedang dalam hatinya diam-diam berpikir.

"Aku sudah ada di dalam selat pencabut nyawa ini, cepat atau lambat tetap saja akan mati kenapa aku harus takut memasuki tempat ini?"

Siapa tahu baru saja berjalan beberapa puluh langkah ke depan mendadak pan dengannya menjadi kabur, dia menjadi terkejut dengan sendirinya tubuhnyapun miring ke samping satu langkah.

Tetapi baru saja tubuhnya mundur ke belakang mendadak kakinya terasa menginjak di tempat kosong, dia merasa semakin terperanjat lagi tanpa terasa tangan kanannya dengan cepat mencengkeram dinding gunung erat-erat.

Di dalam sekejap mata dari atas puncak tebing terdengarlah suara yang amat gemuruh, beribu-ribu batu cadas yang amat besar dengan gencarnya berguling turun ke bawah.

Melihat hal itu Sang Siauw-tan jadi ketakutan sehingga tangan dengan kakinya amat lemas, untuk beberapa saat lamanya dia merasa kebingungan entah bagaimana baiknya Koan Ing sama sekali tidak melihat adanya sinar yang menyilaukan mata itu.

Dia cuma melihat Sang Siauw-tan mengundurkan diri ke belakang beberapa langkah dan terjerumus ke dalam keadaan yang sangat berbahaya sekali, dia segera membentak, tubuhnya melayang ke depan menyambar tubuh Sang Siauwtan lalu meluncur ke tempat kejauhan.

Sang Siauw-tan benar-benar amat terkejut sekali, dengan sekuat tenaga tangan kanannya mencengkeram, sedikit berayal itulah tampak batu-batu besar sudah semakin mendekati tubuhnya, Dengan gusar Koan Ing mendengus, pundak kanannya diterjangkan ke depan memukul sebuah batu cadas ke samping sedangkan tubuhnya tetap melanjutkan gerakannya berkelebat diantara batu-batu besar yang melayang memenuhi angkasa.

Ketika tubuhnya berhasil melayang turun ke bawah tanah dalam keadaan selamat tak bertahan lagi dia muntahkan darah segar.

Sang Siauw-tan jadi sangat terkejut.

"Ing-ko.... kau kenapa?"

Teriaknya cemas.

"Tidak mengapa,"

Sahut Koan Ing sambil tertawa dan mencekal sepasang tangannya erat-erat.

"Asalkan kau tidak cedera, apa pun yang akan terjadi terhadap diriku, aku tidak akan menggubris"

Untuk sesaat lamanya dalam hati Sang Siauw-tan benarbenar merasa amat malu sekali, dia menjatuhkan diri ke dalam rangkulan Koan Ing dan menangis tersedu-sedu.

Dengan perlahan Koan Ing mengelus pundaknya, dia tertawa.

"Siauw-tan,"

Ujarnya halus.

"Kau jangan menangis, seharusnya mulai sekarang kita harus gembira, sejak aku bertemu dengan dirimu untuk pertama kalinya aku sudah merasakan kegagahan dan kecantikan wajahmu, kau jadi orang sangat menarik sekali bagiku.... Tetapi dendam sakit hati ayahku masih belum terbalas sedang kaupun Siauw pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang.... kecongkakan hatimu membuat aku merasa rendah diri, kepandaian silatku tidak bisa memadahi kepandaian silat keluargamu Tetapi sekarang aku merasa amat girang karena aku bisa memberitahukan padamu kalau aku benar-benar cinta padamu."

Sang Siauw-tan dengan perlahan angkat kepalanya dan menghapus keringat dari mukanya.

"Bagaimana kau bisa memikirkan urusan Yang demikian banyaknya?"

Ujarnya sambil tertawa.

"Asalkan kau bisa bersikap baik terhadapku itu sudah terlalu cukup, aku tidak bisa memikirkan yang lainnya."

"Sungguh?"

Seru Koan Ing sambil membantu dia menghapus air mata yang membasahi wajahnya itu.

"Asalkan orang lain bersikap baik terhadapmu kaupun bisa bersikap baik terhadapnya?"

"Kau sedang membicarakan siapa?"

Tanya Sang Siauw-tan tertawa, matanya dipentangkan lebar-lebar.

Koan Ing agak melengak, dia sama sekali tidak menyangka Sang Siauw-tan bisa memberikan sahutan yang begitu cepat, dia cuma tertawa senang saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sang Siauw-tan pun ikut tertawa.

"Kini kita berdua sudah ada disini Ciu Pak?"

Ujarnya perlahan.

Dengan pandangan terpesona Koan Ing memperhatikan wajah dari Sang Siauw.

Tan, lama sekali dia baru tertawa, dia sendiripun tidak tahu kenapa secara tiba-tiba dia bisa teringat kembali terhadap Ciu Pak.

"Siauw-tan,"

Ujarnya sambil tertawa.

"Aku bisa bersikap baik terhadapmu untuk selamanya."

Dengan perlahan Sang Siauw-tan dongakkan kepalanya, sewaktu melihat Koan Ing sedang memandang ke arahnya dengan penuh mesra diapun tertawa.

"Aku juga akan bersikap baik kepadamu untuk selamalamanya,"

Sahutnya sambil menudingkan kepalanya.

Lama sekali mereka saling berpegangan tangan, siapapun tak ada yang berbicara, hati masing-masingpun bertemu menjadi satu....

Lama sekali Sang Siauw-tan baru angkat kepalanya, dia tertawa dan sedikit mendorong tubuh Koan Ing ke belakang.

Koan Ing menjadi sadar kembali dari lamunannya, dengan perlahan dia bangkit berdiri dan berjalan menuju dimana tadi Sang Siauw-tan melihat adanya sinar terang yang menyilaukan mata itu.

Terlihatlah dari tempat kejauhan di samping dimana dia berdiri memang sedikitpun tidak salah, serentetan sinar yang amat menyilaukan mata memancar dengan tajamnya menusuk matanya.

Diam-diam dalam hati dia merasa sangat terkejut, jikalau seorang jagoan Bu-lim melihat adanya sinar tajam yang berkelebat secara tiba-tiba maka dia pastilah akan mundur ke belakang untuk siap-siap menghadapi lawan, saat itulah mereka akan segera terjerumus ke dalam siasat dan jebakan yang diatur oleh Su-to Tiang Sian.

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing terjerumus ke dalam lamunan dia segera tertawa.

"Urusan yang telah lewat kenapa dipikirkan kembali?"

Ujarnya perlahan. Koan Ing segera menggenggam tangan Sang Siauw-tan, di dalam hatinya mendadak berkelebat satu ingatan, pikirnya.

"Kalau memangnya Sang Siauw-tan bersikap baik terhadapnya, dia tentu tidak akan membiarkan Sang Siauwtan mati di tempat ini, ayahnya begitu sayang kepadanya sedang aku sendiripun bukan saja menderita luka dalam yang amat parah, bahkan terkena racun juga, selat dari Suto Tiangsian ini tidak perduli bagaimana kuatnyapun harus diterjang dan harus di carikan akal agar bisa lolos dari sini. Atau sedikitdikitnya agar Sang Siauw-tan bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat...."

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing terjerumus ke dalam lamunan yang mendalam dengan termangu-mangu dia memandang ke arahnya, dia tahu tentu Koan Ing sedang memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari kurungan ini.

Lama sekali Koan Ing termenung memikirkan urusan ini, akhirnya kepada Sang Siauw-tan ujarnya.

"Siauw-tan, ayoh kita pergi dari sini!"

Sang Siauw-tan tertawa dengan mengikuti diri Koan Ing dia berjalan maju ke depan.

"Lukamu tidak mengapa bukan?"

Tanyanya halus.

Koan Ing cuma tersenyum saja tidak berbicara.

Pukulan dari Hud Ing Thaysu tadi memang sangat dahsyat sekali, jikalau berada di dalam keadaan biasa dia tentu sejak tadi sudah jatuh tidak sadarkan diri, tetapi semangatnya ini hari masih segar sekali, terhadap keadaan lukanya pun dia tidak terlalu memikirkan di dalam hati.

Dengan memimpin diri Sang Siauw-tan, Koan Ing berjalan menuju ke arah dimana berkelebatnya sinar terang tadi.

Baru saja mereka berdua berjalan sejauh puluhan kaki mendadak Koan Ing dapat melihat sesosok bayangan manusia berkelebat keluar.

Kurang lebih satu kaki dari tempat di mana dia berada terlihatlah sebuah kerangka manusia yang sedang duduk bersila di atas tanah, sebilah pedang panjang menggeletak disampingnya sedangkan sarung pedangnya sudah hancur berantakan.

Dia jadi termangu-mangu, kenapa dari tadi dia tidak melihat adanya sebuah kerangka manusia disana?

Dengan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya saat ini sekalipun di tempat kegelapan diapun bisa melihat seluruh benda dengan amat jelasnya, tetapi kenapa baru sekarang dia baru menemukannya?

Dengan cepat dia angkat kepalanya dan siap-siap maju ke depan.

Jangan maju ke depan!"

Mendadak terdengar Sang Siauw-tan berteriak keras.

Dengan cepat Koan Ing menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh memandang ke arah Sang Siauw-tan dengan pandangan melongo.

Lama sekali Sang Siauw-tan memandangi kerangka manusia itu lalu ujarnya dengan perlahan.

"Itulah yang dinamakan Huan Ow Ih Heng atau menipu mata memindah benda yang amat lihay."

Koan Ing menjadi melengak, Menipu Mata memindah benda?

Nama ini selamanya belum pernah didengarnya dari siapapun Sejak kecil Sang Siauw-tan sudah memperoleh didikan langsung dari ayahnya apa lagi ayahnyapun merupakan seorang pangcu dari sebuah perkumpulan besar yang namanya amat terkenal di dalam Bu-lim.

sebagai si jari sakti, sudah tentu pengetahuan maupun pengalamannya amat luas sekali jika dibandingkan dengan diri Koan Ing.

"Aku duga bayangan tadi tentunya bayangan dari Suto Tiang-sian itu,"

Ujar Sang Siauw-tan kepadanya.

"Aku pernah mendengar ayahku berkata, katanya ilmu yang paling lihay dari Suto Tiang-sian adalah Sin Koang Ci Sia atau ilmu sinar dan suara, sudah tentu dia sudah menggunakan pantulan sinar untuk memancing musuhnya mendekat"

Mendengar perkataan itu Koan Ing segera memungut sebuah batu dan disambitkan ke arah bayangan tersebut, ternyata sedikitpun tidak salah tempat itu memang kosong melompong tidak tampak sebuah bendapun.

"Di dalam gurun pasirpun ada pula kejadian seperti ini,"

Ujar Sang Siauw-tan lebih lanjut.

"aku kira di tempat inipun sudah dipasangi alat rahasia."

Sinar mata Koan Ing berkelebat tak henti-hentinya, di dalam hati dia merasa sangat terkejut sekali terhadap seluruh kejadian yang selamanya belum pernah dengar maupun diketahuinya ini, tetapi dengan kejadian ini pengetahuan maupun pengalamannyapun jadi bertambah, Jika seorang yang sama sekali tidak berpengalaman harus melalui tempat ini, sudah tentu dia segera akan terkena jebak."

Sang Siauw-tan tertawa.

"Kita sekarang sudah ada disini, bagai mana kalau pergi menemui juga jenazah dari Suto Tiang-sian?"

Tanyanya.

Dengan perlahan Koan Ing mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya melalui samping dari sinar terang tersebut.

Kurang lebih berjalan beberapa saat lamanya, akhirnya sampailah mereka di sebuah batu cadas yang amat mengkilap sekali, di bawah batu itu berdirilah sebuah batu nisan.

Koan Ing segera maju ke depan mendekati batu nisan itu, terbaca olehnya beberapa tulisan yang terukir di batu nisan itu.

"Ciangbunjin dari Bu-tong-pay, Si Hay Neh Sin Kiam Tan Ciu Cu terkubur di tempat ini!"

Hatinya terasa sedikit berdesir, sudah ada satu orang ciangbunjin dari tujuh partai Besar yang mati di tempat ini....

Entah dahulu Suto Tiang-sian sudah menggunakan cara apa hingga berhasil membinasakan Tan Ciu Cu di tempat ini?

Sang Siauw-tan segera tertawa.

"Kalau di tempat ini ada orang yang mati sudah tentu sekitar tempat ini aman,"

Ujarnya perlahan. Koan Ing pun tertawa, di dalam hati diam-diam merasa murung, jika ditinjau dari situasi macam ini kemungkinan sekali di setiap tempat di dalam "Selat Hwee Im Shia"

Ini sudah dipasangi alat-alat jebakan yang amat lihay, sedikit tidak berhati-hati saja seketika itu juga akan menerima bencana yang mengerikan untuk meloloskan diri dari sini sudah tentu bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang amat mudah "Eeei, buat apa kau memikirkan cara-cara untuk meloloskan diri dari sini saja?"

Seru Sang Siauw-tan sambil tertawa.

"Bukankah lebih baik kita hidup berduaan di tempat ini?"

Koan Ing tertawa paksa, ujarnya.

"Batu yang amat mengkilap dan amat bening ini tentunya merupakan benda yang memantulkan sinar tadi, ayoh kita pergi lihat Suto Tian Sian ini sebetulnya manusia macam apa, tidak kusangka dia orang begitu ganas dan sombongnya."

Sambil berkata dia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke depan.

Kurang lebih baru berjalan beberapa saat lamanya mendadak di depan mata mereka muncul kembali sebuah kuburan tanah yang amat besar.

Koan Ing menjadi tertegun, dia segera menduga benda tersebut tentunya "Menipu mata memindah benda"

Lagi, cepatcepat dia menghentikan langkahnya.

Di samping kiri di tempat dia berdiri terlihatlah sebuah batu nisan yang berdiri dengan angkernya, dalam hati Koan Ing benar-benar merasa amat murung sekali, terlihatlah pada batu nisan itu terukir beberapa kata.

"Ciangbunjin dari Kun-lun-pay, si telapak membeku"

Oei It Cun melanggar obat peledak dan terkubur di tempat ini"

Diam-diam Koan Ing merasa hatinya amat terperanjat sekali pikirnya.

"Heei.... tak disangka ilmu menipu mata memindah barang tersebut bisa begitu lihaynya, sudah ada dua orang yang mati tertipu oleh ilmu tersebut...."

Sang Siauw-tan yang dilihat Koan Ing bersikap demikian seriusnya dia segera tertawa geli.

"Sekalipun sudah bertemu dengan benda-benda yang berusia ratusan tahun lamanya mengapa kau harus keheranheranan?"

Ujarnya sambil berkata mereka melanjutkan kembali perjalanan ke depan, kurang lebih baru sampai beberapa puluh kaki jauhnya mendadak dari empat penjuru berkelebat keluar berpuluh-puluh bayangan yang mirip dirinya serta Sang Siauw-tan, dia jadi benar-benar terperanjat sekali, Sang Siauw-tan sendiripun merasa terkejut, dengan cepat dia meloncat ke samping badan Koan Ing, Dari empat penjuru segera terlihatlah banyak sekali Sang Siauw-tan yang mendekati badan Koan Ing membuat hatinya semakin terkejut, Tetapi sebentar kemudian wajahnya sudah berubah memerah, walaupun di sekeliling tempat itu dipenuhi dengan bayangan dirinya maupun diri Koan Ing tetapi tidak lebih cuma bayangan belaka.

Koan Ing segera memegang kencang tangan Sang Siauwtan, ujarnya sambil tertawa.

"Tidak kusangka Suto Tiang-sian mempunyai kepandaian yang demikian lihaynya."

Baru saja dia selesai berkata mendadak kembali dia menemukan sesosok kerangka manusia yang menggeletak di atas tanah, tak terasa lagi dia menjerit tertahan dan maju mendekati.

Tetapi bayangan itupun cuma sebuah tipuan belaka", hatinya semakin berdesir lagi, dia tidak menyangka kalau bayangan tipuan itu ternyata terlihat begitu banyak yang tertampak di tempat itu.

"Aaaa.... disini!"

Mendadak teriak Sang Siauw-tan sambil menoleh ke samping kanan.

Dengan cepat Koan Ing berjalan mendekat, tampaklah di samping kerangka manusia itu menggeletaklah sebuah pedang yang berkait melengkung, dalam hati dia segera paham kalau orang itu bukan lain adalah Ciangbunjin dari Cin Jan Pay Si "Sah Toojien"

Atau toosu goblok.

Giok Han.

adanya.

Pada masa yang silam Giok Han dengan mengandalkan pedang berkait melengkung itu pernah menggetarkan dunia kang-ouw.

tidak disangka dia sudah menemui ajalnya tanpa tempat kubur "

Sudah tentu keadaan pada masa itu amat dahsyat sekali, lima orang bersama-sama menemui beratus-ratus bahkan beribu-ribu bayangannya sendiri memenuhi seluruh ruangan, bersamaan waktunya pula Suto Tiang-sian muncul di tempat itu di tengah berpuluh-puluh bayangan yang bercampur aduk siapa yang asli siapa yang palsu tidak diketahuijelas membuat dia orang segera terluka ditangan Suto Tiang-sian dan menemui ajalnya di situ.

Sebaliknya keempat orang lainnya segera mengejar ke dalam selat membuat kesempatan untuk mengubur jenazah dan Giok Han pun tidak sempat lagi, Dua orang bersama-sama termenung berpikir keras, sebentar kemudian mereka segera bersama-sama mengubur jenazah dari Giok Han ini Mereka sungguh-sungguh merasa kagum atas kehebatan dan ketelitian cara berpikir dari Suto Tiang-sian.

Jikalau Suto Tiang-sian masih hidup di dalam dunia ini, mereka berdua tidak lebih baru melewati dua rintangan saja Saat ini Koan Ing benar-benar merasa murung untuk mencari jalan keluar dari tempat kurungan ini sebaliknya Sang Siauw-tan sama sekali tidak mau memikirkan urusan ini, agaknya dia tidak terlalu kuatir kalau sampai terkurung di tempat ini.

Sang Siauw-tan tertawa, kepada Koan Ing ujarnya.

"Mari kita maju lagi!"

Koan Ing mengangguk dengan perlahan mereka berdua segera melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.

Mendadak jenazah dari Suto Tiang-sian muncul kembali di depan mata, dia duduk kurang lebih sepuluh kaki dari tempat itu.

Mereka berdua bersama-sama menghentikan langkahnya, jenazah tersebut entah sungguh-sungguh atau cuma palsu untuk menipu mata saja?

Mereka tidak ada yang tahu Di sekeliling tempat itu tidak tampak batu ataupun batu nisan yang berserakan, jelas sekali, tempat ini paling gampang untuk dipasangi jebakan yang mematikan, jikalau mereka berdua maju lagi ke depan rejeki atau bencana masih susah untuk diduga Koan Ing termenung berpikir sebentar akhirnya dia memungut sebuah batu dan disentilkan ke depan.

Ooo)*(ooO Bab 14

"SREEET....!"

Dengan amat tepatnya batu itu menghajar kerangka manusia itu sehingga hancur berantakan dan tersebar di empat penjuru.

Dua orang itu menjadi melengak, kiranya kerangka manusia kali ini adalah sungguh-sungguh tetapi apa betul itu adalah kerangka manusia diantara sisa empat orang lainnya atau mungkin Suto Tiang-sian sendiri?

Mereka tidak tahu siapakah sebetulnya orang ini, ada kemungkinan juga kerangka itu adalah kerangka dari Suto Tiang-sian sendiri.

Lama sekali baru terdengar Sang Siauw-tan sambil tertawa berseru.

"Mari kita pergi lihat-lihat kesana lagi!"

Sehabis berkata sambil menarik tangan Koan Ing dia melanjutkan perjalanannya lagi menuju ke depan.

Baru saja berjalan kurang lebih tiga kaki dari depan kerangka Suto Tiang-sian itulah mendadak terdengar suara ledakan yang amat keras sekali, mendadak permukaan tanah dimuka mereka berada terangkat lalu terlempar ke atas dengan kerasnya.

Mereka berdua menjadi sangat terperanjat, tetapi kecepatan daya lempar permukaan tanah itu amat cepat sekali, belum sempat mereka berdua berpikir lebih panjang lagi tubuhnya sudah terlempar ketengah udara.

"Kraaak...."

Dinding gunung yang ada di samping mereka berdua mendadak membuka sendiri kesamping, setelah tubuh mereka berdua terlempar masuk ke dalam dinding tersebut menutup kembali seperti sedia kala.

Koan Ing segera memeluk tubuh Sang Siauw-tan erat-erat, tetapi punggungnya tidak urung menghantam dinding gua juga sehingga mengeluarkan suara yang amat keras sekali.

Luka dalam yang diderita olehnya sebetulnya sudah amat berat sekali kini terluka pula terjangan yang amat keras, seketika itu juga Koan Ing merasakan kepalanya pening dadanya mual, hampir-hampir dia jatuh tidak sadarkan diri.

Mendadak di dalam ingatannya berkelebat satu bayangan pikirnya.

"Tidak.... aku tidak boleh pingsan.... di tempat dan saat apakah ini? Bagaimana aku boleh jatuh tidak sadarkan diri?"

Koan Ing segera menarik napas panjang-panjang, darah segar yang bergolak di dalam dadanya terasa menerjang naik ke atas dengan kerasnya sehingga tidak kuasa lagi dia muntahkan darah segar dengan derasnya, kesadarannyapun mulai sedikit demi sedikit menghilang, tetapi dia berusaha untuk mempertahankan diri terus, dia menenangkan pikirannya dan mulai mengatur pernapasannya....

Lama sekali dia baru mendengar suara tangisan dari Sang Siauw-tan yang amat sedih berkumandang masuk ke dalam samping telinganya.

"Ing Koko.... kau kenapa?"

Serunya keras. Koan Ing gelengkan kepalanya.

"Tidak mengapa,"

Sahutnya sambil tertawa paksa.

Tiba-tiba dia mendengar suara tangisan dari Sang Siauwtan semakin menjadi, saat ini kesadarannya belum pulih seluruhnya sehingga tidak dapat melihat perubahan wajah pada diri Sang Siauw-tan.

Mendengar suara tangisan ini dia menjadi keheranan.

"Eeeei, Siauw-tan kau kenapa?"

Tanyanya.

"Kau.... kau bersikap sangat baik.... sangat baik terhadapku, aku.... aku...."

Serunya sambil menghapus air mata yang menetes keluar membasahi wajahnya itu.

"Aku dahulu bersikap tidak baik terhadapmu tetapi di kemudian hari aku tentu akan bersikap jauh lebih baik terhadap kau"

Dengan halusnya Koan Ing mengelus punggung Sang Siauw-tan, dia menarik napas panjang-panjang lalu memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, Terlihatlah di bawah sebuah perut gunung ternyata sudah muncul sebuah gua rahasia yang agaknya buntu, Setelah itu sekali lagi dia menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya.

Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa terharu, dia tidak menyangka sama sekali kalau Sang Siauw-tan bisa bersikap demikian baik terhadapnya dan demikian memperhatikan diri, dengan pandangan terpesona dia memperhatikan diri Sang Siauw-tan.

"Siauw-tan sisa hidupku semuanya adalah milikmu,"

Ujar perlahan.

"Ooooh.... Ing koko!"

Seru Sang Siauw-tan menangis sambil menubruk kedalam rangkulan Koan Ing.

"Aku tahu kau sungguh-sungguh bersikap baik terhadap diriku. Suto Tiang-sian jadi orang ternyata amat cermat sekali, dia tahu sisanya empat orang tentu akan marah-marah dan gusar sekali pada waktu itu. bilamana bertemu dengan dirinya mereka pasti akan mengejar terus ke depan, karena itulah dia sudah menggunakan alat rahasia yang ada di dalam perut gunung ini untuk menjebak mereka."

Dengan cepat tangannya meraba batu-batu cadas yang ada di belakang badannya, terasa batu itu ada selaksa kati beratnya, membuat dirinya di dalam hati diam-diam merasa geli sendiri.

Suto Tiang-sian yang hendak mengurung empat orang ciangbunjin dari empat partai besar di tempat ini sudah tentu tidak akan membiarkan mereka meninggalkan tempat tersebut dengan begitu mudah.

Bahkan di dalam gua rahasia ini pasti tidak mempunyai jalan keluar.

"Tetapi di manakah empat orang itu?"

Pikiran ini dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya, dengan cepat kepalanya menoleh menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, Walaupun keadaan di dalam perut gunung, itu amat gelap sekali tetapi dengan ketajaman matanya pada saat ini dia dapat melihat seluruh benda yang ada di dalam gua tersebut, apakah dia menemukan sesuatu?

Tidak Sedikit jejakpun tidak tampak ada disana."

Apakah mungkin ketiga orang ciangbunjin itu sama sekali tidak menggerakkan alat rahasia yang telah dipasang?

Atau mungkin cuma dirinya berdua saja yang telah menggerakkan alat rahasia ini?

Dia pikir terus dengan kerasnya, sedang di dalam hati diam-diam merasa bergidik.

Ketika menundukkan kepalanya memandang wajah Sang Siauw-tan, dia melihat ia sama sekali tidak berpikir tentang urusan ini, bahkan dengan seenaknya bersandar di dalam pelukannya.

Melihat hal itu Koan Ing.

segera tertawa pahit, pikirnya.

"Sungguh mirip seperti seorang bocah cilik saja, kini keadaannya sudah amat berbahaya sekali tetapi dia sama sekali tidak mengambil gubris"

Tak tertahan lagi tangannya dengan perlahan mulai membelai rambut Sang Siauw-tan yang terurai dan awut2an itu.

Agaknya Sang Siauw-tan merasa sedikit gatal, dia menoleh dan kirim satu senyuman manis kepadanya sedangkan kepalanya digesek-gesekkan ke atas tubuhnya.

Dengan tersenyum Koan Ing memperhatikan wajah dari Sang Siauw-tan lama sekali lalu kirim satu ciuman mesra ke atas bibirnya yang kecil, lama sekali dia memandang terpesona ke atas wajah Sang Siauw-tan.

Mendadak pikirannya berkelebat.

"Apa Mungkin mereka sudah menemukan jalan keluar dari gua ini? Kalau tidak dimanakah keempat orang ciangbunjin itu?"

Dia berpikir.... berpikir terus.... akhirnya tidak tertahan lagi sudah tertawa sendiri, bukankah buktinya sampai sekarang mereka belum pada keluar dari selat itu.

"Ing koko,"

Tiba-tiba terdengar suara dari Sang Siauw-tan memecahkan kesunyian.

"Kau sedang memikirkan apa?"

"Aku sedang berpikir, Suto Tiang-sian yang mengurung kita disini, entah ada jalan keluarnya tidak di sekeliling sini?"

Sahut Koan Ing sambil tertawa. Biji mata dari Sang Siauw-tan yang amat jeli berputar sebentar lalu tertawa manis.

"Tapi yang aku ingin ketahui apakah dia orang meninggalkan barang makanan buat kita atau tidak,"

Ujarnya tersenyum.

"Mari kita pergi mencari,"

Sahut Koan Ing tertawa sambil mendorong tubuh Sang Siauw-tan bangun.

"Ing koko, apakah kau menganggap sesudah berhasil mencari jalan keluar, jauh lebih baik daripada sekarang kita cuma berduaan saja?"

Koan Ing menjadi melengak, dia termenung dan berpikir keras.

"Heeei.... Sang Siauw-tan adalah seorang gadis yang begitu bagusnya, begitu cantik Tetapi usianya paling banyak cuma beberapa hari saja.... sungguh sayang.... sungguh sayang...."

"Siauw-tan,"

Ujarnya kemudian sambil tertawa pahit.

"Aku takut ayahmu merindukan dirimu."

Sang Siauw-tan jadi melengak, tadi hampir-hampir dia lupa kalau dia masih ada seorang ayah bahkan dia sudah berjanji dengan ayahnya untuk bertemu lagi di kuil Han-poh-si.

Kini kuil Han-poh-si sudah dia bakar sewaktu dalam keadaan gusar, ayahnya akan pergi kemana mencari dirinya?

Koan Ing yang melihat wajah Sang Siauw-tan menunjukkan kesedihan hatinya, dia jadi menyesal, seharusnya dia tidak boleh mengungkit kembali kata-kata yang menyedihkan hatinya sehingga suasana jadi tidak enak, suasana jadi amat murung dan diliputi oleh tekanan yang amat berat.

"Siauw-tan,"

Akhirnya dia berkata sambil tertawa.

"Kau jangan kuatir, coba kau bayangkan bagaimana terkejutnya dia orang tua jikalau ayahmu lahu kita berhasil meloloskan diri dari selat yang amat ditakuti ini"

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing berusaha menghibur dirinya, dia sendiripun tidak mau membiarkan Koan Ing merasa murung buat dirinya lagi, dia tertawa.

"Tetapi ayahku pasti tidak tahu kalau kuil Han-poh-si itu aku yang bakar"

Ujarnya perlahan.

Selesai berkata dia segera bangkit berdiri....

Koan Ingpun dengan perlahan bangkit berdiri, tetapi baru saja berdiri sampat separuh jalan, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit sekali sehingga tidak terasa lagi dia sudah mengerutkan alisnya rapat-rapat.

Melihat hal itu Sang Siauw-tan menjadi kuatir.

"Eeeh.... kau kenapa sudah tidak bisa jalan?"

Tanyanya. Koan Ing segera mencekal kencang-kencang tangan Sang Siauw-tan.

"Tidak mengapa, kau berlegalah hati,"

Ujarnya sambil tertawa.

Walaupun di dalam hati Sang Siauw-tan merasa amat kuatir tetapi dia tidak ingin Koan Ing merasa bersedih hati, terpaksa diapun tersenyum pahit dan mencekal tangan Koan Ing erat-erat.

Dengan bersusah payah akhirnya mereka berdua berjalan menuju ke perut gunung itu.

"Iiih.... Coba kau lihat begitu banyak jalan yang ada disini, entah kita harus berjalan ke arah mana?"

Ujar Koan Ing kemudian sambil menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu. Sedang dia berkata mendadak Sang Siauw-tan sudah berteriak keras.

"Aaah.... disana ada sinar terang, kita kesana lihat-lihat."

Koan Ing segera menoleh ke arah sebelah kiri, ternyata sedikitpun tidak salah dari tempat mana terlihatlah adanya sinar yang memancar keluar dengan amat tajamnya membuat dalam hati dia merasa keheranan.

Dengan cepat dia membawa Sang Siauw-tan meauju ke arah mana, dia ingin mengetahui apa yang telah terjadi di tempat itu, Beberapa saat kemudian tibalah mereka di tempat dimana berasalnya sinar terang itu, terlihat sebuah batu bening yang memancarkan sinar terang berdiri tegak di atas tanah, di atas batu itu duduklah tiga sosok kerangka manusia, Sinar terang itu memancar keluar dari antara kerangka2 manusia itulah Koan Ing menjadi tertegun, pikirnya.

"Aaaah.... telah terjadi urusan apa?"

Cepat-cepat dia berjalan mendekat, terlihatlah diantara ketiga sosok kerangka manusia itu ada seorang yang berada di dalam keadaan bersila dan merangkap tangannya di depan dada.

Jika dilihat dari keadaan jelas dia adalah Sang Hong Thaysu itu Ciangbunjin dari Siauw-lim-pay tempo hari.

Disebelah kirinya menggeletaklah sebilah golok tunggal yang amat berat, sudah tentu kerangka itu adalah kerangka dari "Noe Hu Kioe Liong"

Atau si penunduk naga Uh Sauw Hoa itu ciangbunjin dari Siong Yang Pay.

Sedang kerangka yang ada disebelah kanan meluruskan tangan kanannya sejajar dengan dada dengan telapak tangan menghadap ke bawah, inilah tanda dari Thay Khek Bun tempo hari, sudah tentu kerangka ini adalah kerangka dari Ciangbunjin Thay Khek Pay, Thian Yang Hwee Sian atau si pendendam seujung langit Tan Pek Cau adanya.

Diantara tujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar sudah ada enam orang yang menampakkan dirinya, kini cuma tinggal dia seorang saja yang entah pergi kemana.

"Urusan sungguh rada aneh"

Ujar Koan Ing kemudian sambil mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada diri Sang Siauw-tan.

"Kenapa mereka tidak mencari jalan keluar dengan jalan bersama-sama? Ketiga orang ini kepada ada di tempat ini sedangkan itu Tan Tiauw Suseng telah pergi kemana?"

Sang Siauw-tan pun termenung berpikir sebentar lalu katanya, Mereka berdua saling bertukar pandang sekejap, urusan ini ada sedikit membuat orang merasa keheranan, mengapa mereka bertiga duduk bersila di atas batu yang memancarkan sinar terang ini?

Agaknya mereka mempunyai maksud untuk menahan datangnya serangan sinar yang amat terang itu Masih ada lagi itu ciangbunjin dan Hoa-san Pay, Sisiucay suka guyon, Pek Si Thian pergi kemana?"

"Urusan ini harus ditanyakan sendiri kepada Si Tan Siauw Suseng baru bisa dibikin jelas...."

Koan Ing segera mengangguk, pikirnya.

"Entah dimanakah itu Tan Siauw Suseng berada? Ketiga orang inipun aku baru menemukan dengan petunjuk dari sinar...."

Berpikir sampai disini mendadak di dalam hatinya berkelebat satu ingatan, ketiga orang duduk ini agaknya sedang menahan serangan dari sinar tajam itu.

Apa mungkin Pek Si Thian mengundurkan diri dengan memungkuri sinar?

Di tempat inipun ada sebuah batu bening yang dapat memancarkan sinar tajam, tentunya tempo hari Suto Tiangsian meminjam batu-batu bening ini, untuk mengawasi seluruh gerak-gerik dari empat orang ini, makanya mereka mau tidak mau terpaksa harus menggunakan cara ini untuk menghadapi musuhnya.

Berpikir sampai disini kepada Sang Siauw-tan lantas ujarnya.

"Mari kira pergi mencari jejak dari Pek Si Thian"

Sambil tersenyum Sang Siauw-tan mengangguk, mereka berdua dengan perlahan melanjutkan perjalanan kembali ke depan.

Kurang lebih setelah berjalan beberapa saat lamanya mendadak di depan batu cadas yang bening itu muncul kembali sebuah batu cadas yang bening pula, hati Koan Ing semakin mantap lagi dia tahu apa yang diduganya semula tentu tidak akan salah lagi.

Dia memandang sejenak ke arah sudut sinar lalu dengan mengikuti arah dari sinar tersebut dia melanjutkan perjalanannya ke depan.

Jalan yang ditempuh semakin lama semakin meninggi dm semakin lama semakin lembab, agaknya perjalanan tersebut tidak ada ujung pangkalnya.

Pada saat ini Koan Ing sedang menderita luka dalam yang amat parah, diapun merasa haus dan lapar, jikalau bukannya ada Sang Siauw-tan disampingnya, mungkin sejak tadi dia sudah tidak kuat mempertahankan dirinya lagi.

Sang Siauw-tan sendiri walaupun merasa amat lelah dan lapar tetapi sama sekali tidak menderita luka dalam, melihat keadaan dari Koan Ing yang sudah amat payah, tidak kuasa lagi tanyanya.

"Ing Koko.... kau sudah terlalu lelah kita harus beristirahat sebentar"

"Mungkin sebentar lagi akan sampai,"

Ujar Koan Ing sambil menarik napas panjang-panjang. Jikalau kita sekarang berhenti, nanti kalau melanjutkan kembali perjalanan tentu akan terasa amat payah dan tidak kuat"

Sang Siauw-tan yang mendengar perkataan ini cuma tertawa saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya ke depan, kurang lebih setengah jam kemudian Koan Ing sudah mulai merasakan hawa murninya makin berkurang, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya sedang dalam hati diapun mulai merasa tenang, jika di lihat dari keadaan ini agaknya dia sudah tidak dapat bertahan lebih lama....

Mendadak Sang Siauw-tan menghentikan langkahnya, Koan Ing jadi melengak cepat-cepat dia angkat kepalanya memandang ke depan terlihatlah jalan di hadapannya adalah sebuah jalan buntu.

Dalam hati dia merasa hatinya tergetar amat keras, tenaganya yang dikerahkan sepenuhnya tidak disangka sudah memperoleh hasil yang nihil, saat ini harapannya musnah sudah bahkan dia merasa tenaga untuk berjalan balik sudah tidak ada lagi.

Koan Ing berkedip-kedip sebentar, tiba-tiba....

kembali dia melihat adanya sesosok kerangka manusia yang menggeletak pada ujung jalan buntu tersebut.

Dia menarik napas panjang-panjang, ketika melihat air muka Sang Siauw-tan kelihatan sedikit sedih dia segera tertawa paksa.

"Mari kita lihat kesana,"

Ujarnya kemudian.

Sang Siauw Tai tertawa tawar dan mengangguk.

Mereka berdua kembali berjalan ke depan, terlihatlah di samping kerangka manusia itu menggeletak sebuah kipas yang terbuat dari emas murni, dan kerangka itu bukan lain adalah kerangka dari Ciangbunjin Hoa-san Pay Pek Si Thian adanya Sang Siauw-tan segera tertawa pahit.

"Tidak perduli bagaimanapun juga akhirnya kita menemukan juga Pek Si Thian dia orang, dengan kecerdasan serta akalnya yang melebihi orangpun akhirnya menggeletak mati disini apa lagi kita, kelihatannya kitapun tidak punya harapan lagi,"

Ujarnya sedih.

Koan Ing pun terpaksa tertawa pahit, Saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Perlahan-lahan dia duduk kembali ke atas tanah siap memejamkan mata untuk mengatur pernapasan, mendadak matanya dapat melihat adanya sesuatu di samping kerangka manusia tersebut "

Dia orang yang pernah ikut Kong Bun-yu berlatih giat selama tiga bulan lamanya di dalam gua, ketajaman matanya saat ini boleh dikata jauh berada di atas tiga manusia genap empat manusia aneh yang ada di daerah Tionggoan.

Hanya di dalam sekali pandang saja dia bisa melihai di atas tanah itu terukirlah beberapa kalimat tulisan.

Dengan perlahan dia menyingkirkan kerangka manusia itu ke samping lalu membaca isi tulisan tersebut.

"Ciangbunjin angkatan kedelapan belas dari Hoa-san Pay, Pek Si Thian bersama-sama dengan Siauw lim, Thay khek serta Siong Yang, tiga orang Ciangbunjin terkurung di tempat ini. Kecerdikan dari Suto Tiang-sian memang amat lihay sekali, dia menggunakan batu-batu bening yang memantulkan sinar untuk menjebak kami semua di tempat ini, Untuk menghadapi batu-batu beningnya itu cuma ada satu jalan untuk menghindarkan yaitu jangan melihat dengan pandangan mata sendiri, karena sinar tersebut amat mempengaruhi mata kita. Dengan bantuan dari Siauw lim, Thay-khek serta Siong Yang tiga orang ciangbunjin akhirnya kami berhasil menggerakkan alat rahasia dan membuka jalan keluar ini Melihat adanya jalan keluar ini dalam hatiku merasa amat senang sekali, sebelum aku keluar dari kurungan ini mendadak di dalam ingatanku teringat kembali dengan tiga orang ciangbunjin bertiga, jika aku meninggalkan mereka bertiga bukankah aku orang akan malu dengan kawa^kawan Bu-lim yang lainnya? Sewaktu aku mau balik tiba-tiba di atas dinding ini aku menemukan sebuah batu bening lagi, aku duga Suto Tiangsian tentu menggunakan barang tersebut sebagai penggerak alat rahasianya atau kalau tidak tentulah suatu jalan keluar. Heee.... siapa sangka waktu itulah sifat licik dari Suto Tiang-sian muncul kembali, aku kena bokong dan tidak dapat bangun lagi....! Mereka berdua yang membaca sampai di sini dalam hati diam-diam merasa tertegun kemudian bersama-sama angkat kepalanya ke atas. Ternyata sedikitpun tidak salah di atas dinding tersebut memang tampak adanya sebuah batu bening kembali diamdiam dalam hati mereka berdua merasa amat terperanjat atas ketelitian dari Suto Tiang-sian ini, tetapi merekapun merasa kagum atas kelihayan dari Pek Si Thian. Tetapi yang dimaksud sebagai Pek Si Thian dengan pintu keluar itu berada di mana? Apa mereka benar sudah ada dipintu keluar? Sang Siauw-tan segera menggerakkan tangannya mendorong dinding disampingnya tetapi di tempat mana sama sekali tidak terjadi gerakan apapun juga. Lama sekali Koan Ing pun memperhatikan keadaan di sekeliling tempat ini, dia merasa heran dengan ketajaman pandangan matanya mengapa dia tidak menemukan juga sesuatu yang mencurigakan hatinya? Sekali lagi dia menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu tetap biasa saja sedikitpun tidak tampak adanya hal-hal yang mencurigakan, diam-diam hatinya merasa semakin heran lagi. Apa mungkin perkataan dari Siauw Ta Suseng, Pek Si Thien ini salah"

Tetapi Pek Si Thian adalah seorang ciangbunjin dari Hoasan Pay apa lagi pandai sekali di dalam ilmu bangunan, dia tidak mungkin bisa salah berkata, Berpikir akan hal ini sekali lagi Koan Ing menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu Tetapi tetap tidak menemukan sesuatu apapun Sekeliling dinding itu tidak ada, di bawah tanah tidak mungkin, apa mungkin di atas atap?

Berpikir sampai disitu dia segera mendongak ke atas atap dinding.

"Siauw-tan!"

Teriaknya kemudian dengan keras.

"Coba kau mendorong atap dinding itu"

Sang Siauw-tan segera bangkit dan dengan sepenuh tenaga mendorong atap dinding itu ke atas....

mendadak....

dinding tersebut membuka sebuah celah membuat hatinya merasa amat terperanjat bercampur girang.

"Aaaah.... benar. Kita bisa keluar."

Saking girangnya hampir-hampir air matanya mengucur keluar membasahi pipi Sang Siauw-tan, melihat hal itu Koan Ing tertawa tawar, berbagai pikiran kembali berkelebat di dalam benaknya.

"Siauw-tan Kau doronglah lagi, aku bantu kau membuka celah dinding tersebut"

Ujarnya sambil tertawa. Sambil tersenyum Sang Siauw-tan mengangguk, mereka berdua dengan sepenuh tenaga segera mendorong dinding itu ke atas.

"Braaak....!"

Dengan disertai suara yang amat keras dinding batu itu membuka kesamping, serentetan sinar surya yang menyilaukan mata segera memancar dengan amat tajamnya.

Koan Ing sebetulnya sudah kehabisan te naga, kini harus mendorong batu dinding itu pula dengan sekuat tenaga, begitu sinar surya menyorot masuk ke dalam ruangan dia segera merasakan pandangannya menjadi gelap, dadanya terasa amat sakit seperti diiris2 tidak kuasa lagi dia jatuh tak sadarkan diri di atas tanah Entah lewat beberapa saat lamanya dia sendiripun tidak tahu, dia cuma merasa Sang Siauw-tan sedang menangis dan memanggil-manggil namanya dia sadar kembali.

Terlihatlah saat itu dirinya berada di dalam rangkulan Sang Siauw-tan, dia segera menarik napas panjang lalu ujarnya sambil tertawa.

"Siauw-tan, aku tidak mengapa."

Luka dalamnya yang amat parah kambuh kembali rasa sakit yang amat sangat menyerang punggung serta dadanya, hampir-hampir tidak tahan seluruh tubuhnya gemetar.

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing sadar kembali dari pingsannya tetapi melihat air mukanya pucat pasi bagaikan mayat dia malah menangis semakin menjadi2.

"Ing koko.... Oooh Ing koko.... aku membuat kau menjadi begini!"

Teriaknya berulangkali.

Koan Ing tertawa, dia angkat kepalanya melihat sinar sang surya yang memancar masuk ke dalam gua itu.

sinar sang surya nan terang dengan lembutnya menyoroti rambut serta butiran2 air mata yang membasahi wajah Sang Siauw-tan, dia melihat keadaannya mirip sekali dengan Bidadari yang turun dari kahyangan dimana banyak terlihat di dalam lukisan.

Lama sekali dia berdiri tertegun, mendadak teriaknya keras.

"Haaa.... kita sudah lolos dari kurungan Siauw-tan. Kita sudah lolos dari kurungan...."

"Benar kita sudah lolos dari kurungan,"

Sahut Sang Siauwtan dengan tertawa malu-malu.

"Untuk selanjutnya kita bisa hidup bersama-sama untuk selamanya."

Mendengar perkataan itu Koan Ing hanya merasakan hatinya tergetar dengan amat keras, gumamnya seorang diri.

"Kita sudah lolos dari kurungan....? Kita sudah lolos dari kurungan....?"

Dengan perlahan dia bangun dan duduk di atas tanah, berbagai pikiran bercampur aduk di dalam benaknya, untuk selanjutnya dia harus berbuat bagaimana?....

Jilid 7 Di dalam hati kecilnya dia ingin membantu Sang Siauw-tan untuk meloloskan diri dari kurungan bahaya, tetapi waktu itu dia sama sekali tidak dapat membuktikan lamunannya tersebut, tetapi kini mereka benar-benar telah lolos dari kurungan bahaya, bagaimana selanjutnya?

Dia tidak boleh menghancurkan kebahagiaan Sang Siauw-tan selanjutnya.

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing bersikap demikian di dalam hati dia menganggap dia orang tarlalu girang hati, dia tertawa.

"Apa kau sudah lupa?"

Tanyanya merdu.

Dengan perlahan Koan Ing menundukkan kepalanya rendah-rendah berbagai urusan bercampur aduk dan saling bertentangan di dalam hatinya.

agaknya dia rada menyesal karena mereka sudah berhasil meloloskan diri dari kurungan tersebut, tetapi sebentar saja pikiran itu sudah tersapu oleh satu ingatan baru Dia tidak seharusnya bersikap demikian mementingkan dirinya sendiri, dia tidak punya alasan untuk meminta Sang Siauw-tan untuk ikut mati bersama-sama dirinya semakin tidak ada alasan lagi meminta dia menemani seorang yang usianya tinggal beberapa hari saja seperti dirinya Sebetulnya dia mengira diri mereka berdua sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa meloloskan diri dari lembah tersebut kini dia harus mengambil keputusan di dalam hatinya walaupun di dalam hati dia sama sekali tidak ingin Sang Siauw-tan meninggalkan sisi tubuhnya tetapi hal itu tidak mungkin bisa terjadi Sang Siauw-tan yang melihat lama sekali Koan Ing tidak memberikan jawabannya tetapi cuma termangu-mangu, tidak terasa di dalam hati rada cemas juga.

"Ing koko!"

Teriaknya dengan keras.

"Kau kenapa? Kau sedang memikirkan urusan apa?"

"Siauw-tan,"

Akhirnya tampak dari sepasang mata dari Koan Ing memancar keluar sinar yang amat tajam dan dengan amat halusnya memperhatikan diri Sang Siauw-tan.

"Aku ingin menyembuhkan lukaku dengan jalan menyalurkan tenaga dalamku, kau tunggu dulu sebentar yaaa?"

Sambil tersenyum Sang Siauw-tan mengangguk.

"Kita sekarang sudah lolos dari kurungan, kau suka berbuat apa lakukanlah sesuka hatimu,"

Ujarnya, Koan Ing memandang terpesona ke arah Sang Siauw-tan beberapa saat lamanya, kemudian baru pejamkan sepasang matanya untuk mulai menyalurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka yang diderita.

Sang Siauw-tan segera berjaga di samping badan Koan Ing dia yang melihat pandangan mata Koan Ing begitu mempesonakan dan mengandung rasa cinta yang amat sangat itu membuat hatinya seketika itu juga terasa amat hangat dan nyaman sekali Sejak kecil dia dibesarkan dengan mengikuti ayahnya terus walaupun Sang Su-im memandangnya seperti mutiara di dalam telapak tetapi dia yang menjabat sebagai pangcu dari Tiang-gong-pang dan harus berlatih ilmu silatnya terus menerus untuk persiapan pertemuan para jago yang ke dua di atas gunung Hoa-san membuat perhatiannya terhadap putrinya ini agak berkurang, Sekalipun Sang Siauw-tan memiliki wajah yang cantik dan banyak yang tunduk terhadap dirinya tetapi di dalam hati yang benar-benar dia cintai kecuali ayahnya seorang cumalah Koan Ing saja Sikap baik Koan Ing terhadap dirinya ini sama sekali bukan dikarenakan dia adalah putri dari si jari sakti Sang Su-im bahkan hal yang benar-benar mengena dan teringat terus oleh Sang Siauw-tan adalah beberapa kali dia berhasil ditolong oleh Koan Ing di saat-saat yang kritis.

Dengan pandangan mendelong dia memperhatikan diri Koan Ing, dalam hati dia berpikir bilamana dia bisa kawin dengan dirinya, lain kali setelah hidup bersama-sama keadaannya tentu akan jauh lebih gembira lagi, dia tentu akan mengajak dia untuk tinggal disebuah tempat yang sunyi....

disebuah gunung yang amat sunyi sehingga tidak ada yang datang mengganggu.

Sudah tentu ayahnya tahu mereka bertempat tinggal dimana, bahkaa sering pergi mengunjungi mereka....

dan lebih bagus lagi kalau mereka dikaruniai seorang anak Berpikir sampai disitu tidak kuasa lagi air mukanya berubah memerah, dengan perlahan kepalanya ditoleh ke arah Koan Ing yang sedang memusatkan pikirannya untuk menyembuhkan luka dalamnya.

Setelah pikirannya tenang kembali sekali lagi dia berpikir, dia tidak tahu Koan Ing bisa mengharapkan mereka dikaruniai seorang anak lelaki atau seorang anak perempuan saja....

,....

Dia berpikir....

berpikir terus....

seorang diri dia duduk termangu-mangu disana membuat apapun dia sudah lupa....

seluruh pikiran serta kesadarannya sudah terjerumus ke dalam lamunan yang indah itu.

Lewat beberapa saat kemudian terdengarlah Koan Ing menghembuskan napas panjang dan bangkit berdiri.

Sekali lagi wajah Sang Siauw-tan berubah memerah, serunya dengan amat girang.

"Ing Koko, kau sekarang merasa bagaimana?"

Dengan perlahan Koan Ing menoleh ke arah Sang Siauwtan yang wajahnya penuh diliputi oleh kegembiraan itu, dia jadi tertegun dan tidak terasa sudah menundukkan kepalanya untuk berpikir.

dia merasa dengan keadaan seperti ini bilamana dia harus meninggalkan dirinya seorang diri maka Sang Siauw-tan tentu merasa sangat lelah sekali.

Atau mungkin dia harus mengambil keputusan kembali yang baru, dia harus berpisah dengan diri Sang Siauw-tan secara perlahan-lahan, dengan berbuat begitu maka dia tentu tidak akan merasa terlalu sedih oleh kejadian tersebut.

Karena terlalu lama dia berpikir membuat dirinya lupa untuk memberikan jawabannya.

Sang Siauw-tan seketika itu juga dibuat termangu-mangu, dia heran kenapa Koan Ing sewaktu masih ada di dalam selat dia begitu bernafsu untuk meloloskan diri dari kurungan, kini setelah berhasil meloloskan diri dari kurungan kenapa tidak tampak rasa girang hatinya?

Berpikir akan hal ini keningnya segera dikerutkan rapat-rapat.

Mendadak Koan Ing tersadar kembali dari lamunannya, dia tertawa paksa.

"Aku sudah jauh lebih baikkan, terima kasih.... terima kasih"

Serunya cepat.

Sekali lagi Sang Siauw-tan mengerutkan alisnya rapat-rapat dia merasa heran agaknya Koan Ing sedikit tidak beres, dia merasa agaknya Koan Ing sedang diliputi oleh pikiran yang bertumpuk-tumpuk bahkan kelihatan sekali senyumannya terlalu dipaksakan.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan dibuat tertegun oleh sikapnya itu dia segera merasa kalau dia orang tentu telah merasakan sesuatu yang tidak beres dari dirinya membuat hatinya rada tidak tegah, tetapi ketika teringat kembali kalau dia adalah seorang manusia yang hampir mendekati ajalnya dia benar-benar tidak ingin agar orang lainpun merasakan siksaan yang amat berat itu.

Sinar matanya segera berkelebat dengan amat tajam, dia tersenyum.

"Siauw-tan,"

Ujarnya halus.

"Mari kita keluar dari sini. Sehabis berkata dia meloncat terlebih dulu ke atas, tetapi sebentar saja dia telah merasakan dadanya terasa amat mual kembali. Dia mengerutkan alisnya rapat-rapat, dalam hati dia tahu luka dalamnya yang ditekan ke bawah dengan paksa ini sedikit tidak berhati-hati saja segera dapat kambuh kembali. Dia segera menarik tangan Sang Siauw-tan dan memandang keadaan di sekeliling tempat itu Empat penjuru diliputi oleh kabut putih yang melayang dekat dengan permukaan tanah, Koan Ing perlahan-lahan angkat kepalanya memandang ke arah sinar Surya yang memancarkan sinar keemas-emasan itu. ujarnya dengan perlahan.

"Ayahmu tentu merasa amat cemas. bilamana dia tahu kau telah masuk ke dalam selat, ada kemungkinan dia orang tuapun ikut mengejar ke dalam, kita harus cepat-cepat turun dari sini dan menuju kepintu selat untuk melihat-lihat keadaan, kau rasa bagaimana?"

Dengan bimbangnya Sang Siauw-tan mengangguk, secara tiba-tiba dia merasa telah lolos dari kurungan tersebut sikap mesra dari Koan Ing yang diperlihatkan waktu masih berada di dalam selat sama sekali telah lenyap dari badannya apalagi hal yang benar-benar membuat dia merasa tidak tahan adalah Koan Ing yang terus menerus mengerutkan keningnya itu, agaknya dia mempunyai urusan yang membingungkan hatinya.

Di dalam hati diam-diam dia berpikir.

"Agaknya dia punya pikiran yang amat ruwet, tapi aku tidak akan bertanya apapun, aku mau lihat kau bisa beritahu kepadaku dengan sendirinya atau tidak."

Dia lantas anggukkan kepalanya dan menarik diri Koan Ing.

Dengan sentuhan badan ini baik Koan Ing maupun Sang Siauw-tan segera merasakan badan mereka seperti kena distrum saja dan tergetar dengan amat kerasnya, di dalam sekejap saja pikiran Koan Ing mulai bergolak.

"Aku tidak seharusnya membuat Sang Siauw-tan menerima pukulan yang amat berat sehingga membuat hatinya sedih"

Pikirnya di dalam hati.

"Apalagi sebelum bertemu muka dengan ayahnya, aku tidak boleh melukai hatinya."

Dia ragu-ragu sebentar, akhirnya satu senyuman kembali menghiasi bibirnya.

"Tidak tahu Sang Pepek ada dimana? Dia orang tua sewaktu tidak menemui dirimu, di dalam hati tentu merasa amat cemas sekali."

Dengan murungnya Sang Siauw-tan pun tersenyum, mereka berdua dengan saling berdampingan bersama-sama turun gunung.

Selama di dalam perjalanan ini, siapa pun tidak ada yang berbicara.

Sang Siauw-tan tidak bercakap2 sedang Koan Ing sendiripun agaknya sedang memikirkan sesuatu sehingga diapun tetap membungkam.

Setelah lewat beberapa saat lamanya akhirnya Sang Siauwtan tidak bisa menahan sabar lagi, kepada Koan Ing segera tanyanya.

"Ing Koko Sebetulnya kau sedang memikirkan urusan penting apa toch?.... ,.... kenapa kau tidak berbicara terus?"

Koan Ing seketika itu juga sadar kembali dari lamunannya, dia segera menjerit kaget dan termangu-mangu.

"Aaaah.... tidak mengapa.... tidak mengapa...."

Serunya.

"Aku sedang berpikir Si Sastrawan berbaju sutera Bun Tingseng entah sudah pergi kemana? Sewaktu aku menemukan kereta berdarah itu dia tidak ada disana.... Heeei.... hal ini betul-betul membuat aku merasa tidak tenang, untuk makan tidak enak untuk tidurpun tidak nyenyak."

Mendengar perkataan itu Sang Siauw-tan baru bisa menghembuskan napas lega.

"Ooouw.... kiranya begitu Kalau begitu tentu akulah yang sudah banyak menaruh curiga,"

Pikirnya di dalam hati. Teringat akan hal ini dia merasa rada menyesal.

"Oooh.... aku masih mengira kau sudah marah kepadaku dan terus menerus tidak mau bicara,"

Ujarnya tertawa.

"Mengenai Bun Ting-seng manusia itu pada suatu hari tentu bisa kau dapatkan, tidak perduli sampai di ujung langitpun aku sanggup untuk menemani dirimu terus menerus "

Seketika itu juga seluruh tubuh Koan Ing tergetar dengan amat kerasnya, dengan perlahan mereka berjalan diantara kabut yang amat tebal. Terlihatlah dia tersenyum.

"Heei.... cuma sayang aku tidak tahu bisakah aku hidup terus dengan selamat dan berhasil menemukan dirinya."

Mendengar perkataan itu Sang Siauw-tan merasakan hatinya seperti mau meloncat keluar, dia berhenti sebentar untuk kemudian berjalan kembali ke depan.

"Ing Koko,"

Ujarnya sesudah termenung berpikir sebentar.

"Kenapa secara tiba-tiba kau ingin mati?"

Koan Ing cuma tertawa tawa saja dan menundukkan kepalanya tidak mengucap kan sepatah katapun, dia akan memaksa diri Sang Siauw-tan untuk dengan perIahan2 meninggalkan dirinya dengan sendirinya, Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing sama sekali tidak berbicara segera ujarnya lagi.

"Bilamana kau sungguh-sungguh mati, aku bisa mewakili kau untuk membalaskan dendammu itu kemudian cukur rambut sebagai Nikouw "

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing benar-benar merasa sangat terperanjat sekali, dia yang melihat Sang Siauw-tan sehabis berbicara demikian lantas tundukkan kepalanya tidak berbicara lagi bahkan kelihatan sekali sikapnya yang bersungguh-sungguh, di dalam hati dia merasakan segulung hawa yang berdesir meliputi seluruh badannya.

Lama sekali dia berdiri tertegun, kemudian baru tersenyum pahit.

"Siauw-tan,"

Ujarnya halus.

"Kenapa kau bicara seperti aku benar-benar sudah mati? Kau mau jangan membicarakan soal ini lagi?"

Ooo)*(ooO Bab 15 SANG SIAUW-TAN tertawa, dia sendiripun merasa heran kenapa dia orang bisa begitu bersungguh-sungguh, dengan perlahan dia angkat kepalanya dan memandang terpesona ke arah diri Koan Ing.

Empat pasang mata bertemu jadi satu, lama sekali mereka baru tersenyum kemudian saling bergandeng tangan dan lari turun dari gunung itu.

Dengan cepatnya mereka berkelebat menuruni gunung itu dan tidak lama kemudian sudah tiba kembali di mulut selat tersebut.

Keadaan di sekeliling Selat itu sunyi senyap tak sesosok bayangan manusiapun, sinar mata dari Koan Ing segera berkelebat memandang ke sekeliling tempat itu.

Dia sama sekali tidak percaya kalau dengan manusia seperti Hud Ing Thaysu ternyata dia tidak meninggalkan seorang penjaga pun di depan mulut lembah itu.

"Ing Koko...."

Terdengar Sang Siauw-tan berkata sambil tertawa.

"Aku rasa Si keledai gundul itu kemungkinan sekali telah pergi ke kuil Siauw-limsi di atas gunung Siong San. Sebenarnya dia adalah hweesio keluaran Siauw-lim-pay, kali ini kuilnya telah aku bakar musnah sudah tentu untuk sementara waktu dia akan kembali lagi ke kuilnya dahulu di Siauw lim-si. Dengan perlahan Koan Ing mengangguk.

"Mari kita pergi menanti kedatangan dari Sang Pepek,"

Ujarnya tertawa, Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing telah tidak diliputi oleh pikiran-pikiran yang butek lagi dia segera tertawa manis, pikirnya.

"Aku harus membantu dirinya untuk mencarikan satu akal hingga dia dapat menemukan kembali jejak dari si sastrawan berbaju Sutera Bun Ting-seng itu."

Diam-diam di dalam hati dia telah mengambil keputusan untuk meminta bantuan ke ayahnya, jikalau ayahnya mau membantu, dengan ketajaman "Pendengaran"

Dari anggota perkumpulan Tiang-gong-pang suaranya tidaklah terlalu sukar baginya untuk memperoleh kabar tersebut, Kembali mereka berdua melanjutkan perjalanannya menuju ke arah luar....

Kurang lebih seperminum teh kemudian tiba-tiba terlihatlah sesosok bayangan abu-abu dengan kecepatan luar biasa berkelebat menuju ke arah mereka.

Ketika mereka bertiga saling bertemu tidak terasa semuanya pada tertegun dibuatnya, kiranya orang itu bukan lain adalah Hud Ing Thaysu adanya Tadi setelah Hud Ing Thaysu meninggalkan tempat itu di tengah perjalanan dia merasa hatinya tidak tenang, karenanya dengan cepat dia balik lagi ke tempat semula.

Sama sekali tidak disangka olehnya Koan Ing serta Sang Siauw-tan yang telah memasuki lembah itu ternyata dapat meloloskan diri bahkan bertemu lagi dengan dirinya, hal ini benar-benar tidak pernah dibayangkan di dalam benaknya Selama ratusan tahun ini tidak ada seorangpun yang berani memasuki "Selat Hwee Im Shia"

Ini, jikalau seandainya ada yang berani memasuki selat tersebut maka tidak mungkin baginya dapat keluar lagi dalam keadaan selamat tetapi bagaimana mereka berdua bisa dengan begitu mudahnya berhasil meloloskan diri dari selat itu?

Koan Ing dan Sang Siauw-tan sendiripun sama-sama dibuat tertegun, merekapun sama sekali tidak menyangka kalau orang pertama yang ditemuinya setelah lolos dari selat Hwee Im Shia itu adalah diri Hud ing Thaysu sendiri.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya akhirnya Hud Ing Thaysu dengan dinginnya mendengus.

"Hmmm.... ternyata Pinceng amat mujur benar dan dapat bertemu lagi dengan wajah dari sicu berdua,"

Serunya dingin.

Koan Ing seperti biasanya segera menarik tubuh Sang Siauw-tan ke belakang badannya, dengan menggunakan badannya sendiri dia menghalangi depan tubuhnya lantas dengan pandangan yang amat dingin memandang ke arah diri Hud Ing Thaysu.

"Hey! Keledai gundul!"

Terdengar Sang Siauw-tan yang ada di belakang badan Koan Ing membentak dengan keras.

"Kau berani berbuat apa terhadap diri kami? Tia sebentar lagi bakal datang, dia orang tua tidak akan mengampuni dirimu."

Hud Ing Thaysu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Sang Su-im tidak lebih cuma manusia-manusia dari golongan yang tidak becus, sekalipun dia datang akupun tidak akan melepaskan dia dengan begitu mudah"

Ujarnya dengan suara yang berat.

Koan Ing yang melihat munculnya Hud Ing Thaysu dengan mendadak, dia tahu urusan bakal celaka.

Saat ini luka dalam yang dideritanya sama sekali belum sembuh benar-benar, apalagi perutnya terasa amat lapar dan dahaga sekali, dia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk bertempur dengan Hud Ing Thaysu, tetapi saat ini Sang Siauw-tan ada di samping badannya.

dia mau tidak mau harus melindungi dirinya"

Dengan perlahan dia menoleh dan bisiknya kepada diri Sang Siauw-tan dengan suara yang amat lirih.

"Siauw-tan kau pergilah terlebih dulu, biar aku yang menghadapi dirinya seorang diri"

Sang Siauw-tan jadi melengak dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing yang masih menderita luka dalam masih dapat bersikap begitu baik terhadap dirinya, dia tahu dengan keadaan luka dari Koan Ing saat ini jangan di kata bertempur sekalipun menerima satu pukulannyapun tentu tidak sanggup, Dengan cepat dia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak.... aku tidak mau pergi!"

Serunya.

"Kau tidak seharusnya menyuruh aku berangkat terlebih dulu"

Baru saja dia berbicara sampai di situ mendadak terdengarlah satu suara yang amat dingin sudah menyambung.

"Hmm.... hmm, aku mau lihat kau hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi putriku."

Mendengar suara tersebut bukan saja Hud Ing Thaysu seorang yang merasa terperanjat sampai Sang Siauw-tan serta Koan Ing pun bersama-sama merasa sangat terkejut sekali.

Koan Ing berdiri tidak menjawab, dia merasa dirinya yang cuma berumur puluhan hari lagi ini sekalipun harus mati demi Sang Siauw-tan sebetulnya adalah berharga sekali, tetapi dia diharuskan mengatakan secara bagaimana kepadanya?"

Hud Ing Thaysu yang melihat mereka berdua tidak ada yang bergerak maupun bicara dia segera tertawa dingin lagi.

"Dengan perbuatan dari kalian berdua seharusnya pinceng hancur leburkan badan kalian, tetapi memandang di atas wajah Suhu kalian, sekarang aku musnahkan dulu seluruh ilmu silat kalian kemudian membawa kalian ke gunung Siong San untuk menanti kedatangan Suhu kalian berdua"

Sang Siauw-tan segera dongakkan kepalanya dan berteriak dengan kegirangan "Tia, kau baru datang."

Sehabis berkata dia melepaskan genggaman tangan Koan Ing dan berlari ke depan.

Hud Ing Thaysu jadi tertegun, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sang Su-im bisa munculkan dirinya disana, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Sang Su-im amat tinggi sekali, bilamana dia orang diharuskan bertempur dengan dirinya baginya untuk memperoleh kemenangan boleh dikata kemungkinan sekali tidaklah terlalu mudah Sang Su-im segera menarik tangan Sang Siauw-tan dan melirik sekejap ke arah diri Koan.

"Siauw-tan,"

Ujarnya sambil tertawa tawar.

"Tia pergi mengejar kereta berdarah itu sehingga datang terlambat satu tindak kemari, apakah hweesio ini mengganggu dirimu?"

Koan Ing yang melihat Sang Su-im bisa muncul tepat pada waktunya dia segera menghembuskan napas lega.

"Ing Koko, kau kemarilah!"

Seru Sang Siauw-tan secara tiba-tiba setelah melirik sekejap ke arah diri Koan Ing. Koan Ing dengan cepat maju ke depan dan bungkukkan diri menjuru terhadap diri Sang So Im.

"Koan Ing datang mengunjuk hormat terhadap Sang Pepek,"

Ujarnya dengan hormat.

"Kini aku sudah datang, kalian tidak usah takuti hweesio ini lagi,"

Ujar Sang Su-im sambil tertawa-tawa.

"Saat ini kereta berdarah sudah berlalu dan jauh memasuki daerah pedalaman Tibet dan akupun telah memerintahkan orang untuk pergi mengejarnya, kau ikutilah aku sembari mengejar kaupun bisa menyembuhkan lukamu."

Baru saja Sang Su-im selesai berkata terdengar Hud Ing Thaysu yang berdiri di samping sudah mendengus dengan amat dinginnya.

"Sang Su-im!"

Bentaknya dengan suara berat.

"Perkataanmu terlalu sederhana sekali, Koan Ing menerjang masuk ke dalam kuil ku dan merusak patung-patung arca yang ada disana sedangkan putrimu telah membakar kuil Hanpoh-si kami, kau kira kau orang dapat membawa pergi mereka dengan begitu mudah?"

Sinar mata dari Sang Su-im segera berkelebat tak hentihentinya.

dia tahu tentu Sang Siauw-tan serta Koan Ing telah membuat suatu kesalahan terhadap diri Hud Ing Thaysu, tetapi dia sama sekali tidak menyangka kalau putrinya Sang Siauw-tan telah membakar habis kuil Han-poh-si tersebut Dia orang yang membuntuti jejak dari kereta berdarah tetapi di tengah jalan tiba-tiba sudah kehilangan jejaknya memaksa dia harus kembali ke tempat semula, waktu itulah kebetulan dia lewat di tempat tersebut dan melihat Sang Siauw-tan serta Koan Ing sedang berdiri tidak bergerak di sini karena itulah terhadap peristiwa terbakarnya kuil Han-poh-si dia sama sekali tidak mengetahui.

Mendengar perkataan tersebut dia segera tertawa tawar.

"Hey Hweesio gede bilamana urusan ni menyangkut orang lain aku mungkin bisa lepas tangan, tetapi putriku aku larang kau untuk mengganggu barang seujung rambutnyapun."

Dengan gusarnya Hud Ing Thaysu mendengus berat.

"Kalau begitu aku mau menjajal2 kelihayan dari ilmu jari saktimu yang sudah pernah menggetarkan seluruh dunia kangouw itu!"

Serunya dengan berat. Sejak semula Sang Su-im sudah tahu kalau suatu pertempuran tidak bakal bisa lolos lagi, dia segera tersenyum.

"Heee.... heeee.... Hweesio gede nama besarmu sebagai jagoan nomor wahid dari seluruh daerah Tibet bukanlah satu nama yang kecil apalagi untuk mendapatkannyapun amat sukar sekali, kenapa kau harus memaksa hendak menghancurkannya pada hari ini?"

Ejeknya.

Mendengar perkataan itu Hud Ing Thay su semakin gusar lagi, jika didengar dari nada suara Sang Su-im agaknya dia sama sekali tidak menganggap dirinya di dalam hati, hal ini membuat dia benar-benar merasa sangat gemas sekali pikirnya.

"Hmm Ilmu Thay Su Ing dari Tibet sekalipun belum tentu bisa menangkan diri mu, tetapi dengan latihan tenaga dalamku selama sepuluh tahun belum tentu aku bisa menemui kekalahan Sungguh sombong sikapnya itu....

"Dia lantas tertawa dingin, sepasang tangannya didorong ke depan sambil menyalurkan hawa murninya, seketika itu juga sepasang telapak tangannya mengembang besar beberapa kali lipat Walaupun pada mulutnya Sang Su-im bicara dengan begitu ringannya, tetapi diapun tidak berani memandang rendah diri Hud Ing Thaysu, dengan cepat dia melepaskan tangan Sang Su-im dan tertawa.

"Kalian mundurlah ke belakang,"

Ujarnya.

Air muka Hud Ing Thaysu segera berubah amat keren sekali, tubuhnya mendadak berkelebat ke depan berturut-turut dia melancarkan delapan buah pukulan mengancam seluruh tubuh dari Sang Su-im, Melihat datangnya serangan itu Sang Su-im mengerutkan alisnya kencang-kencang, diiringi satu senyuman yang menghiasi bibirnya, jari tengah serta jari telunjuknya disentil ke depan sehingga terdengarlah suara desiran angin yang memecahkan kesunyian, dengan amat tajamnya meluncur ke atas alis dari Hud Ing Thaysu.

Hud Ing Thaysu yang melihat serangannya baru saja dilancarkan ternyata desiran angin sentilan itu berhasil menerobos angin pukulannya membuat dalam hati dia merasa sedikit berdesir, sejak lama dia sudah pernah mendengar tentang kedahsyatan dari ilmu jari "Han Yang Ci Lek"

Dari Sang Su-im yang sudah menjagoi seluruh Bu-lim itu, dia sama sekali tidak menyangka kalau kedahsyatannya ternyata jauh berada diluar dugaannya, Dia tahu hanya cukup satu totokan saja maka seluruh tenaga murni yang ada di dalam tubuhnya bakal buyar, jikalau ini hari dia tidak berhati-hati, seperti juga apa yang dikatakan oleh Sang Su-im tadi, nama besarnya yang dipupuk selama berpuluh puluh tahun ini bakal musnah seperti mengalirnya air sungai Dengan cepat dia membentak keras, telapak kirinya dibabat ke samping menghalau datangnya sentilan dari Sang Su-im, telapak kanannya membalik dengan menggunakan ilmu "Thian Ong Cap Pwee Ing"

Atau delapan belas pukulan raja langit, ilmu dahsyat dari daerah Tibet satu demi satu dia meneter musuhnya.

Sang Su-im segera tertawa terbahak-bahak, tubuhnya dengan cepat melompat ke depan dan melancarkan ilmu jari "Thian Kang Ci Hoat"

Dari Cian san Pay untuk menandingi ilmu "Thian Ong Cap Pwee Ing"

Dari Hud Ing Thaysu itu.

Di dalam hati diam-diam Hud Ing Thaysu merasa amat gusar sekali, dia merasa amat gemas karena Sang Su-im melawan dirinya dengan tidak menggunakan ilmu silatnya sendiri sebaliknya menggunakan ilmu silat dari aliran lain, hal ini jelas memperlihatkan kalau dia orang sama sekali tidak memandang sebelah matapun kepada dirinya.

Dia tertawa dingin, sepasang telapak tangannya dipisahkan ke kanan dan ke kiri, satu dari depan yang lain dari belakang bersama-sama ditepuk ke arah depan.

Sang Su-im bukanlah manusia rendahan yang mudah kena tipu, sekali pandang saja dia bisa tahu kalau jurus "Hay Sim Kiong Ing"

Atau tengah laut sembilan telapak dari Hud Ing Thaysu mengandung suatu tenaga pukulan yang amat dahsyat dan sukar untuk diterima.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping, tangannya dibalik balas melancarkan tiga totokan dengan menggunakan jurus "Ci Gwat Hwee Thian"

Atau menunjuk bulan mengaduk langit dari Thian Lam Pay.

Baru saja Hud Ing Thaysu mau melancarkan serangan kembali mendadak dia melihat Sang Su-im melancarkan serangan dengan menggunakan jurus ini membuat hatinya terasa sedikit bergidik.

Jurus dari Sang Su-im memang merupakan tandingan dari jurus "Hay Sim Kioe Ing"

Nya itu membuat dia sedikit merasa bingung.

Dia benar-benar merasa bergidik melihat pengetahuan yang begitu luas dari Sang Su-im terhadap segala macam ilmu jari dari aliran manapun, dengan tergesa-gesa serangannya diubah menjadi jurus "Gwat In Ing Hong"

Atau bayangan bulan membekas di puncak.

Di tengah suara tertawa tergelak dari Sang Su-im yang amat keras dia berturut-turut berkelebat maju ke depan mendesak musuhnya, sepuluh jari dari sepasang tangannya berturut-turut disentilkan ke depan dengan menggunakan ilmu jari tunggal dari Hay Neh Cap Pwee Kia yang amat terkenal itu.

Hud Ing Thaysu jadi sangat terperanjat, sepasang telapaknya berturut-turut di pukul ke depan menghalau datangnya serangan tersebut, dia tidak berani maju menyerang kembali terpaksa dari kedudukan menyerang berubah menjadi kedudukan bertahan.

Di dalam sekejap saja seluruh kalangan sudah dipenuhi dengan suara desiran angin pukulan yang amat tajam disertai suara bentrokan berat dari telapak tangan masing-masing.

Koan Ing yang menonton jalannya pertempuran itu di samping saat ini merasakan hatinya berdebar-debar dengan amat kerasnya.

Kecepatan perubahan jurus dari kedua orang itu benar-benar bagaikan kilat sehingga membuat dia tidak sanggup untuk memperhatikan lebih teliti.

Mendadak terdengar Sang Su-im tertawa panjang, tubuh kedua orang itu segera berpisah.

Tampak Hud Ing Thaysu dengan wajah pucat pasi mundur dua langkah kebela kang dengan terhuyung-huyung.

Sekali lagi Sang Su-im tertawa tergelak.

"Haaa.... haaaa.... tidak kusangka jagoan nomor wahid dari Tibet tidak lebih cuma begitu saja, baru saja aku menggunakan satu jurus "Han Liang Gong Ie"

Atau naga dingin menembus pakaian kau sudah menemui kekalahan.... haaa.... haaa sayang, sayang "

Lengan kanan dari Hud Ing Thaysu dengan lemasnya lurus ke bawah, dia menarik napas panjang-panjang kemudian tertawa dingin kepada Koan Ing serta Sang Siauw-tan dia melirik sekejap lalu ujarnya kepada diri Sang Su-im.

"Nama besar dari Tiang Hong Sin-cie ternyata bukan nama kosong belaka kekalahanku ini hari aku anggap saja sebagai ketidak becusan dari ilmu silatku sendiri, tetapi urusan ini untuk selamanya tidak bakal ada habisnya, tunggu saja di lain waktu."

Sang Su-im lantas tertawa terbahak-bahak.

"Menurut apa yang aku ketahui si hweesio tua dari Siauwlim-si, Thian Siangpun telah berangkat menuju ke daerah Tibet, lebih baik kau pergi saja mencari dirinya,"

Ujarnya.

Dengan pandangan terpesona Hud Ing Thaysu memperhatikan diri Sang Su-im lama sekali, kemudian dia baru putar badan, dan berlari menuju ke dalam hutan, Hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Setelah dilihatnya bayangan dari Hud ing Thaysu lenyap dari pandangan Sang Su-im baru tersenyum.

sambil menarik tangan Sang Siauw Im ujarnya kepada diri Koan Ing.

"Kau ikutilah diriku pergi ke arah Barat dan belajar sedikit kepandaian dari aku orang, sehingga tahun besok pada pertemuan para jago yang kedua di atas gunung Hoa-san kaupun bisa sedikit memperlihatkan kepandaian silatmu, dengan bakatmu yang ada untuk mendapatkan nama besar di kemudian hari agaknya bukanlah satu pekerjaan yang sulit."

Koaa Ing yang mendengar perkataan dari Sang Su-im ini sudah tentu tahu apa arti dari perkataannya itu, terangterangan dia bermaksud hendak menerima dirinya sebagai menantu.

Hatinya jadi terasa sedikit berdesir, dia teringat kembali kalau usianya cuma tinggal beberapa puluh hari lagi.

Ketika matanya menoleh ke arah Sang Siauw-tan, tampaklah dengan wajah yang amat kegirangan, dia sedang memperhatikan dirinya, terpaksa dia bungkukkan dirinya memberi hormat.

"Terima kasih loocianpwee."

Sang Su-im segera tertawa terbahak-bahak.

"Mari kita pergi,"

Ujarnya kepada Koan Ing. Belum mereka berjalan beberapa langkah mendadak terdengarlah satu suara yang amat dingin sekali sudah berkumandang datang.

"Sang Loo-te ada urusan apa yang membuat kau orang merasa begitu gembira apakah kau orang boleh membiarkan aku pun ikut merasa sedikit gembira?"

Tampaklah dari dalam hutan berjalan keluar dua orang yang bukan lain adalah Ciu Tong ayah beranak dua orang Sang Su-im yang melihat Ciu Tongpun tiba disana dia tertawa dingin.

"Ciu heng kaupun datang kemari? "ujarnya ketus.

"Apa kau orang sudah menemukan kereta berdarah itu?"

"Tia!"

Tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan menarik ujung baju dari ayahnya."

Tidak usah urus mereka, ayo kita pergi dari sini saja."

Waktu itulah Ciu Tong sudah memperhatikan diri Koan Ing beberapa saat lamanya kemudian kepada Sang Su-im ujarnya.

"Sang Loo-te, pertemuan kita pada tempo hari benar-benar keadaanku sangat terdesak sekali, kalau tidak akupun tidak bakal melakukan perbuatan tersebut, tentunya Sang Loo-te mau memaafkan bukan?"

Di dalam hati Sang Su-impun sudah punya perhitungan sendiri, dia tidak memperdulikan omengan dari Sang Siauwtan, kepada Ciu Tong dia tertawa tawar.

"Oooh itu cuma urusan kecil saja."

Serunya dingin.

"Kini kereta berdarah sudah menuju ke arah Barat. saat ini adalah waktu yang paling bagus buat kita untuk bekerja sama, kenapa aku harus mengingat-ingat urusan kecil di dalam hati? Urusan yang sudah berlalu tidak usah kita ungkat kembali."

Sinar mata Ciu Tong segera bersinar, pikirnya di dalam hati.

"Oouw.... ouw.... kiranya Sang Su-im mau menggunakan diriku untuk pergi mencari kereta berdarah."

Dia segera tertawa dingin, pikirnya kembali.

"Demikianpun baik juga, kita bisa saling bantu membantu, aku mau lihat siapakah akhirnya yang mendapatkan keuntungan."

"Perkataan dari Sang Loo-te sedikitpun tidak salah,"

Ujarnya kemudian.

"Saat ini peristiwa bangkitnya kembali manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong sudah tersiar di dalam dunia kangouw, bilamana kita tidak cepat-cepat menawan dirinya bagaimana nama besar kita empat manusia aneh bisa dipertahankan lebih lanjut?"

Sang Su-im tersenyum dan anggukkan kepalanya, diapun sudah tahu kalau Jien Wong itu si manusia tunggal dari Bu-lim masih hidup di dalam dunia Sebaliknya di dalam hati Sang Siauw-tan merasa sedikit keheranan, bagaimana sikap serta tindak tanduk dari ayahnya sama sekali berbeda dengan keadaan yang lampau?

Jika ditinjau dari kejadian dulu terang-terangan ayahnya sudah bentrok satu sama lainnya dengan diri Ciu Tong, bagaimana sekarang hubungannya bisa membaik kembali?

Apa mungkin dikarenakan peristiwa kereta berdarah?"

Ciu Tong segera tertawa.

"Urusan yang sudah lalu kini bisa dibikin beres, itulah sungguh bagus sekali, mari Sang Loo-te, kau berangkat bersama-sama dengan kami saja untuk pergi mengejar jejak dari kereta berdarah itu."

Ujarnya.

Sang Su-impun tertawa, baru saja mereka hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba....

Tampak dua orang gadis kembar dengan bergandengan tangan mendadak melompat keluar dari dalam hutan.

Koan Ing yang melihat kedua orang gadis itu, tak terasa lagi dibuat sedikit tertegun, usia kedua orang gadis itu kurang lebih baru delapan belas tahun, wajahnya seperti pinang dibelah dua, baik wajah pakaian serta dandanannya satu sama yang lain tidak ada bedanya cuma saja warna baju yang dipakai tidak sama.

Yang satu memakai baju berwarna kuning sedang yang lain memakai baju berwarna hijau, jikalau tidak begitu siapapun jangan harap bisa membedakan kedua orang itu.

Sang Su-im sendiripun dibuat tertegun, dia merasa kedua orang gadis itu tentu orang-orang dari daerah Tibet bahkan kelihatannya mereka berdua memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali, agaknya mereka merupakan anak murid dari seorang jagoan terkenal.

Sang Siauw-tan yang melihat munculnya kedua orang gadis itu dengan cepat dia menoleh memandang ke arah Koan Ing, ketika dilihatnya Koan Ing dengan mata terbelalak sedang memandang mereka dengan terpesona hatinya merasa agak panas.

"Ing Koko,"

Teriaknya dengan keras.

Koan Ing segera menoleh ke arahnya dan tertawa, sebetulnya dia mau bilang.

kedua orang gadis ini sungguh mirip, tetapi sewaktu dilihatnya wajah Sang Siauw-tan sedikit tidak beres, suatu ingatan mendadak berkelebat di dalam benaknya.

Entah bagaimana mendadak dia berkata.

"Siauw-tan Coba kau lihat sungguh menarik sekali kedua orang gadis itu"

Mendengar perkataan tersebut Sang Siauw-tan jadi melengak, dia segera melengos tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sang Su-im sendiri jadi tertegun, dia segera menoleh dan memandang ke arah diri Koan Ing.

Dia tahu putrinya Sang Siauw-tan sangat suka dengan diri Koan Ing, tetapi kenapa bocah ini begitu tidak tahu adat bahkan sembarangan memuji kedua gadis yang sama sekali tidak dikenalnya?

Jika dilihat dari wajah kedua orang gadis itu jelas belum ada sepersepuluhnya dari kecantikan wajah Sang Siauw-tan, tapi entah apa maksud dari Koan Ing berkata demikian?

Kedua orang gadis itu setelah berada di depan para jago cuma kirim satu senyuman saja lalu melanjutkan kembali perjalanan ke arah depan.

"Berhenti!"

Tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan membentak dengan keras sewaktu di lihatnya kedua orang gadis itu hendak pergi.

Selesai berkata tubuhnya segera bergerak mengejar dari belakang kedua orang gadis tersebut.

Saat itulah Koan Ing merasakan di dalam hatinya terasa satu perasaan yang sangat tidak enak sekali, dia memperhatikan bayangan punggung Sang Siauw-tan dengan termangu mangu, dia tidak tahu sebetulnya dirinya harus senang atau benci, pikirannya benar-benar amat kacau sekali....

perkataan yang hendak diucapkan mendadak ditarik kembali.

Sang Su-im yang melihat Sang Siauw-tan meninggalkan dirinya dan pergi mengejar kedua orang gadis itu di dalam hati dia merasa amat murung sekali, tetapi ketika dilihatnya gerakan tubuh dari kedua orang gadis itu dia baru bisa menghembuskan napas lega, sekali pandang saja dia sudah tahu kalau ilmu meringankan tubuh yang digunakan oleh kedua orang gadis itu bukan lain adalah ilmu "Liuw Sah Cian Li"

Yang merupakan ilmu tunggal dari Thay Mo Sian Ciang.

Dia tahu diantara empat manusia aneh orang yang mempunyai hati paling baik cumalah seorang Thay Mo Sian Ciang, Cha Can Hong saja, bahkan diapun paling suka dengan diri Sang Siauw-tan, karenanya dia berlega hati karena dia sudah tahu Sang Siauw-tan tidak mungkin bisa menemui bencana.

Tetapi diapun merasa sangat tidak puas dengan sikap serta tindak tanduk yang di perlihatkan oleh Koan Ing itu, matanya dengan perlahan ditoleh ke arah diri Koan Ing dan memandangnya dengan amat tawar sekali, Pada air muka Koan Ing sendiri sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apa pun, agaknya dia sama sekali tidak merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres.

Dalam hati Sang Su-im segera berpikir.

Sungguh aneh sekali sikapnya itu, pada satu hari aku tentu mau cari satu kesempatan untuk membicarakan urusan ini dengan dirinya, aku mau lihat sebetulnya bagaimana sikapnya terhadap diri Siauw-tan Pada saat itulah terdengar Ciu Tong yang berdiri di samping sudah tertawa ter bahak-bahak.

Selesai berkata dia melirik sekejap ke arah diri Koan Ing.

Dengan tawarnya Koan Ing balas melirik sekejap ke arahnya, berita kematian dari Kong Bun-yu sampai saat ini juga dia orang tidak mau menyiarkannya keluar.

Sang Su-im yang melihat Koan Ing sepertinya sama sekali tidak mendengar perkataan dari Ciu Tong itu diam-diam di dalam hati merasa keheranan, dia tidak tahu sebetulnya sudah terjadi urusan apa dengan pemuda ini?

Kenapa dia bisa jadi begitu?

Menanti lagi beberapa saat lamanya, akhirnya Sang Su-im tidak bisa menahan sabar lagi, ujarnya.

Jikalau Siauw-tan sudah bertemu dengan Paman Chanya, ada kemungkinan tidak segera kembali, mari kita berangkat dulu saja."

"Bagus, hal itu memang cocok dengan maksud hatiku,"

Sahut Ciu Tong tertawa.

"Haaa.... haha.... sungguh tidak disangka Thay Mo Sian Ciang, Ca Loo-tepun sudah datang, kini diantara empat manusia aneh cuma tinggal Thian-yu Khei Kiam Kong Bun-yu seorang saja yang belum munculkan dirinya,"

Serunya keras.

Dalam hati Sang Su-im jadi curiga, Cocok dengan maksud hatinya?

Entah Ciu Tong mau memperhatikan permainan apa lagi terhadap dirinya, sembari berjalan pikirannya terus berputar untuk menghadapi sesuatu.

Dengan perlahan mereka berempat melanjutkan perjalanan kembali menuju ke arah depan, sembari berjalan Koan Ing berpikir juga tentang diri Sang Siauw-tan dia tidak tahu Sang Siauw-tan pada saat ini sudah pergi kemana?

Bilamana dia bisa bertemu dengan "Thay Mo Sian Ciang"

Atau si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong masih tidak mengapa, bilamana tidak bertemu lalu bagaimana?

Bilamana dia sedang berada sendirian dan bertemu dengan musuh tangguh, hal ini bukankah sangat berbahaya sekali?

Diam-diam Sang Su-im memperhatikan terus gerak-gerik dari Koan Ing, ketika dilihatnya wajahnya sangat tidak tenang sekali dia merasa keheranan, pikirnya.

"Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?jika dilihat dari sikap Koan Ing pada saat ini agaknya dia menaruh rasa cinta kepada diri Siauw-tan tetapi kenapa tadi sengaja dia memperlihatkan sikap ademnya? Sungguh membingungkan...."

Sewaktu Koan Ing sedang terjerumus ke dalam lamunan itulah mendadak terdengar suara ringkikan kuda yang amat panjang dan nyaring sekali, bergema datang, dia jadi terperanjat sekali.

"Kereta berdarah,"

Teriaknya tanpa terasa.

Di dalam sekejap saja keempat orang itu bersama sama jadi merasa tegang sekali, hati terasa berdebar sedang mata dipentangkan lebar-lebar.

Sebaliknya Sang Su-im jadi sedikit ragu-ragu, terangterangan dia melihat Kereta berdarah itu menuju ke arah Barat bagaimana kini bisa balik kembali kesini?

Tetapi dia tahu Koan Ing tidak mungkin bisa balik menipu dirinya.

Baik Sang Su-im maupun Ciu Tong masing-masing mempunyai satu tujuan yang sama, masing-masing dengan memandang diri Koan Ing serta Ciu Pak cepat-cepat berkelebat menuju ke arah dimana berasalnya suara ringkikan kuda tadi.

Sebaliknya di dalam hati Ciu Tong ayah beranak sejak semula sudah punya perhitungan, dengan amat bangganya mereka memperhatikan diri Koan Ing.

Ketika keempat orang itu tiba di sebuah bukit kecil, terlihatlah sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda jempolan berwarna merah darah dengan amat cepatnya sedang berlari menuju ke arah Barat.

Mereka berempat tidak ragu-ragu lagi, dengan kekuatan seluruh tenaga mereka melakukan pengejaran terus.

Cuaca semakin lama semakin gelap, hujan saljupun mulai melayang turun dengan derasnya, akhirnya bayangan dari kereta berdarah itu lenyap dari hadapan mereka.

Tampak Ciu Tong mengerutkan alisnya rapat-rapat.

setelah memperhatikan sekejap ke arah di sekeliling tempat itu ujarnya kemudian, Ooo)*(ooO Bab 16

"SANG Loo-te, bagaimana kalau kita masuk ke dalam gua itu untuk beristirahat sebentar...."

Sang Su-im yang melihat mereka tidak bisa meneruskan kejarannya lagi terpaksa cuma mengangguk saja.

sambil mengempit badan Koan Ing mereka berlari masuk ke dalam gua tersebut.

Tinggi gua itu ada beberapa kaki dengan keadaan yang amat gelap sekali, tetapi mereka berdua yang merupakan jagoan berkepandaian tinggi dari Bu-lim sudah tentu tidak takut akan hal itu, sesampainya didalam gua mereka segera meletakkan diri Koan Ing serta Ciu Pak ke atas tanah.

Tetapi sebentar kemudian....

"Aaah.... huh....!"

Suara teriakan kaget memenuhi angkasa, kiranya di atas dinding gua itu mereka sudah menemukan selapis kulit manusia yang masih baru dengan darah segar masih menetes keluar dengan derasnya.

Ciu Tong tidak mengucapkan sepatah katapun, dia segera putar badannya melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar ke dalam gua.

"Brak....!"

Terdengar suara ledakan yang keras memecahkan kesunyian.

"Eei.... tidak ada orang di dalam gua!"

Serunya kemudian dengan tawar.

Sang Su-im tidak mengucapkan sepatah katapun, dengan perlahan dia duduk di atas tanah.

Ciu Pak segera pergi mengumpulkan kayu-kayu bakar serta ranting untuk membuat api unggun, sedangkan Koan Ing setelah sedikit bersantap bersama-sama dengan Sang Su-im duduk bersemedi, Ciu Tong serta Cio Pak dengan termenung memandangi api unggun yang sedang berkobar dengan jilatan api yang amat besar itu.

Ciu Tong tidak berani mengambil kesimpulan apakah Sang Su-im benar-benar sudah melupakan urusan yang telah lalu ataukah hal ini cuma palsu saja.

Dia harus bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan bilamana dia turun tangan secara membokong, tetapi ketika dilihat Sang Su-im sama sekali tidak menggubris akan hal ini dia jadi ragu-ragu sendiri.

Ketika melihat pula ke arah diri Koan Ing yang sedang menyalurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya dia diam-diam merasa geli sendiri, dia sudah menghitung nyawa Koan tinggal delapan puluh hari saja, sekalipun kepandaian silatnya jauh lebih tinggipun semuanya bakal tidak terpakai lagi, Di dalam sekejap saja cuaca sudah terang tanah kembali, tumpukan api unggun itupun kini sudah tinggal abunya saja, sejak tadi Ciu Pak sudah tertidur, sebaliknya Ciu Tong belum berani untuk memejamkan matanya, Dengan perlahan Koan Ing membuka sepasang matanya, dia berpikir sendiri dalam hatinya.

"Hee.... lukaku paling sedikit harus ada beberapa puluh hari baru bisa sembuh benar, sedang jawaku saat ini tinggal delapan puluh lima hari, bagaimana selanjutnya? Sinar matanya dengan sangat tawar sekali menyapu sekejap ke arah Ciu Tong ayah beranak lalu memandang pula ke arah Sang Su-im. Dia melihat cuma Sang Su-im saja yang tidak mau mengetahui urusan lain, dengan amat tenangnya dia bersemedi untuk mengembalikan tenaga murninya. Sinar mata dari Ciu Tong dengan perlahan dialihkan ke atas wajah Koan Ing lalu tersenyum kepadanya, kepada Sang Suim tiba-tiba ujarnya.

"Sang Loo-te Aku punya beberapa perkataan yang hendak aku katakan dengan dirimu"

Walaupun diluarnya Sang Su-im kelihatan sedang mengatur pernapasan padahal di dalam hati secara sangat berhati-hati sekali dia terus menerus memperhatikan seluruh gerak-gerik dari Ciu Tong.

Bcgilu Ciu Tong membuka mulut mengajak dia berbicara dengan perlahan dia mementangkan matanya kembali.

"Sang Loo-te,"

Ujar Ciu Tong sambil tertawa.

"Aku pernah dengar katanya urusan perkawinan putrimu harus ditentukan oleh pemenang di dalam pertemuan puncak para jago yang akan datang di atas gunung Hoa-san, bukan begitu?"

Dengan tajamnya Sang Su-im memperhatikan diri Ciu Tong kemudian dengan perlahan baru mengangguk untuk mengakuinya. Ciu Tong tertawa kembali.

"Tetapi menurut tindak tanduk dari Sang Loo-te yang bisa Siauw-heng lihat agaknya kau bermaksud hendak menjodohkan putrimu kepada diri Koan Ing."

Dia berhenti sebentar untuk kirim satu senyuman mengejek lalu sambungnya lagi.

"Entah apa yang aku ucapkan ini benar atau tidak?"

Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im segera mengerutkan alisnya rapat-rapat pikirnya.

"Aaaaah.... tidak aneh bangsat tua ini tadi bilang sesuai dengan maksud hatinya kiranya dia maksudkan persoalan ini. Hmm kalau memang hendak berbuat demikian kau hendak berbuat apa lagi?"

Berpikir sampai disini dia segera menjawab.

"Buat apa Ciu heng mengungkit persoalan ini pada saat seperti ini?"

Ciu Tong segera memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

"Aku sih tidak hendak berbuat apa-apa,"

Ujarnya setelah melirik sekejap ke arah diri Koan Ing. Tetapi aku merasa Sang loo-te tentu tidak akan menjodohkan putrimu dengan seorang manusia yang umurnya tinggal beberapa puluh hari saja bukan?"

Sang Su-im jadi melengak, dengan perlahan dia menoleh ke arah Koan Ing dan memandang sekejap ke arahnya.

Terlihatlah Koan Ing bungkam diri tidak mengucapkan sepatah katapun.

Tempo hari sekalipun aku sudah melepaskan dirinya...."

Sambung Ciu Tong lebih Ianjut.

"Tetapi aku cuma melepaskan dia selama seratus hari saja, aku berbuat begitu agar Kong Bun Yu jangan bilang aku jadi orang keterlaluan."

Sang Su-im yang mendengar perkataan ini dengan pandangan terpesona dia memperhatikan diri Koan Ing, gerak-gerik yang aneh serta tindak tanduk dari Koan Ing yang lain dari pada yang lain itu sama sekali lagi berkelebat di dalam benaknya, dia bingung bagaimana dia harus berbuat pada saat ini.

Dia tahu racun dari Ciu Tong sama sekali tidak ada obat untuk melenyapkannya, Lama sekali Sang Su-im memperhatikan dirinya, mendadak tangan kanannya berkelebat mencengkeram dirinya,.

Sebetulnya Koan Ing sedang menderita luka dalam yang amat parah, ditambah lagi dia sama sekali tidak memberi perlawanan hanya di dalam satu jurus saja dia berhasil ditawan oleh diri Sang Su-im.

Sang Su-im yang berhasil menawan diri Koan Ing dengan gerakan yang amat cepat sekali dia berkelebat menuju keluar.

Dengan pandangan yang amat dingin Ciu Tong memperhatikan bayangan tubuh Sang Su yang mulai lenyap dari pandangan, dengan perlahan dia menoleh ke arah anaknya.

"Bilamana Sang Su-im tidak senang, kemungkinan sekali Koan Ing tidak bakal hidup lebih lama lagi,"

Ujarnya. Sehabis berkata dia tertawa dingin lagi, ujarnya kembali.

"Atau sedikitpun Sang Siauw-tan tidak bakal bisa dia peroleh Tindakan kita selanjutnya kita harus mencari akal agar dia mau tidak mau harus mengawinkan putrinya Sang Siauw-tan kepada dirimu."

Pada ujung bibirnya Ciu Pak segera memperlihatkan satu senyuman yang amat dingin sekali, bayangan dari Sang Siauw-tan kembali berkelebat di dalam benaknya, pikirnya.

"Hmmm, asalkan tidak ada Koan Ing lagi maka Sang Siauwtan tentu dapat kuperoleh dengan mudah, Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terlihatlah tiga sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat datang, dengan cepat dia memperhatikan diri mereka bertiga. Ternyata orang-orang itu bukan lain adalah diri Sang Siauw-tan serta kedua orang gadis yang mempunyai wajah seperti pinang dibelah dua itu. Begitu mereka bertiga berkelebat mendatang, dengan amat girangnya Ciu Pak segera bangkit berdiri.

"Siauw-tan Moay-moay,"

Serunya sambil tersenyum tengik.

"Kau sudah bertemu dengan paman Cha?"

Dengan dinginnya Sang Siauw-tan mendengus dia tidak mengucapkan sepatah katapun, sebaliknya kedua orang gadis itu segera saling memperlihatkan wajah yang mengejek.

Ciu Tong yang melihat keadaan dari Sang Siauw-tan itu mendadak satu pikiran berkelebat di dalam benaknya.

"Siauw-tan."

Ujarnya sambil tertawa.

"Apakah paman Cha mu sudah datang?"

Sang Siauw-tan yang melihat ayahnya serta Koan Ing tidak kelihatan disana sebetulnya dia tidak ingin memperdulikan lagi diri Ciu Tong ayah beranak, tetapi sekarang mau tidak mau dia harus menjawab juga.

"Empek Cio, dimana Tia serta Ing Koko?"

Tanyanya. Sinar mata dari Ciu Tong segera berkelebat dengan amat tajamnya. Ayahmu serta Koan Ing ada urusan sedang pergi, mungkin beberapa hari kemudian baru kembali", ujarnya sambil tertawa tawar.

"dia bilang jikalau dia kembali lagi kesini maka kau disuruh berangkat dulu bersama kami, dia bisa datang mencari dirimu dengan sendirinya,"

Sang Siauw-tan jadi melengak, dia tahu Ciu Tong pasti sedang menipu dirinya, pikirannya dengan cepat berputar.

"Baiklah,"

Ujarnya kemudian sambil mengangguk.

"Kita berangkat bersama saja,"

Ciu Tong tersenyum. Kedua orang ini apakah anak murid dari Cha Loo-te?"

Tanya kemudian.

"Dia adalah ayah kami,"

Sahut kedua orang gadis itu berbareng, Ciu Tong jadi melengak, sembilan belas tahun yang lalu sewaktu diadakannya pertemuan puncak di gunung Hoa-san, Cha Can Hong waktu itu belum kawin, tidak disangka perpisahan yang tidak lama ini dia sudah memperoleh dua orang putri yang sangat cantik "Ooh....

kiranya kalian berdua adalah keponakan perempuanku, bagaimana keadaan dari ayahmu?"

Ujarnya tertawa.

"Ayahku sebentar lagi bakal datang ke mari,"

Ujar gadis berbaju kuning itu setelah memandang sekejap ke arah diri Sang Siauw-tan.

"Bilamana bukannya Siauw-tan cici terus mendesak kami untuk berangkat terlebih dulu mungkin kami bisa datang kesini bersama-sama dengan ayah."

"Oooo.... sebenarnya ayahmu ada urusan apa tokh sehingga tidak datang bersama-sama dengan kalian?"

Tanyanya kemudian sambil tertawa.

"Siauw-tan cici bilang kau adalah seorang jahat, aku tidak mau beritahu kepadamu,"

Sambung gadis berbaju hijau itu dengan cepat.

Untuk beberapa saat lamanya CiuTong dibuat serba salah, jikalau orang lain yang berkata demikian mungkin sejak semula dia sudah turun tangan terhadap dirinya.

Tetapi pihak lawan bukan saja merupakan seorang nona yang sama sekali tidak tahu urusan bahkan merupakan putri kesayangan dari Si dewa telapak dari gurun pasir, Cha Can Hong, sudah tentu dia tidak berani berlaku gegabah.

Walaupun Cha Can Hong jadi orang baik hati tetapi dia paling benci orang yang berbuat jahat, bilamana sampai terjadi bentrokan dengan dirinya maka pulau Ciat Ie To nya jangan harap bisa mendapat suasana ketenangan.

Diam-diam di dalam hati dia merasa sangat gusar sekali, sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas tubuh Sang Siauw-tan.

Tampak Sang Siauw-tan dengan mata terbelalak lebar2 sedang memandang ke atas atap gua, agaknya dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh gadis berbaju hijau itu.

Terdengar Ciu Tong kembali tertawa dingin.

"Heee.... heee.... di dalam kolong langit pada saat ini mana ada orang baik atau orang jahat? Semuanya sama saja"

"Siapa yang bilang tidak ada orang jahat atau tidak ada orang baik?"

Bantah gadis berbaju kuning itu dengan cepat.

"Seperti Tia kami dialah orang yang sangat baik"

Untuk sesaat Ciu Tong semakin tidak bisa berkutik lagi, di dalam hati dia merasa sangat gemas sekali terhadap diri Sang Siauw-tan.

dia sama sekali tidak menyangka kalau seorang gadis perempuan yang demikian cantiknya ternyata bisa begitu licik dan jahatnya, bilamana dia bukannya putri kesayangan dari Sang Su-im serta perempuan kesukaan putranya mungkin sejak tadi dia tidak akan berlaku demikian sungkannya.

Pikirnya di dalam hati.

"Hmm, tunggu saja setelah kau berhasil dikawini oleh putraku, hee.... hee aku mau kasih lihat kelihayanku. Berpikir sampai disini dia tidak mau ambil perduli terhadap diri Sang Siauw-tan lagi tanyanya kemudian.

"Eeei siipa nama kalian?"

Gadis berbaju kuning itu segera tertawa.

"Aku adalah cicinya bernama Cing Cing dia adalah adikku bernama Ing Ing."

Sang Siauw-tan Yang melihat Ciee Tong sudah mengalihkan bahan pembicaraannya dia baru berbicara kembali.

"Empek Ciu. Ayahku ada urusan apa toh? Apa dia tidak memberitahukan kepadamu?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Ciu Tong sambil gelengkan kepalanya berulang kali, tetapi ada kemungkinan dikarenakan soal kereta berdarah itu.

Sinar mata Sang Siauw-tan dengan cepat berputar, dia mengangguk kemudian menoleh memandang ke arah Cing Cing serta Ing Ing.

"Kalau begitu tidak tahu juga kapan dia baru bisa kembali lagi kesini,"

Ujarnya sambil tertawa.

Ciu Tong yang mendengar Sang Siauw-tan berkata demikian dia jadi semakin berhati-hati, dia tahu gadis ini tentu sedang mempersiapkan satu permainan setan buat dirinya karena itu secara diam-diam dia sudah bersiap sedia.

"Soal itu tidak tentu,"

Sahutnya sambil tertawa tawar.

"Kemungkinan sekali setiap saat dia bisa kembali lagi,"

"Oow.... kalau begitu bisa jadi,"

Ujar Cing Cing sambil mengedip2-kan matanya.

"kita tidak boleh terus menerus menunggu lebih baik kita bertiga berangkat terlebih dulu,"

Sekali lagi Ciu Tong jadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka Sang Siauw-tan bisa melakukan perbuatan seperti ini, dia tidak mengira dia berani bekerja sama dengan kedua orang gadis cilik ini untuk mempermainkan dirinya kemudian baru berangkat.

"Siauw-tan,"

Sambung dengan cepat.

"Ayahmu suruh kau tinggal disini, jikalau kau tidak tinggal disini bagaimana aku memberi pertanggunganjawab terhadap ayahmu?"

"Empek Ciu,"

Timbrung Ing Ing yang ada di samping secara tiba-tiba.

"Jikalau kita diharuskan berangkat bersama-sama dengan kalian maka di samping harus berhati-hati terhadap sikap kalian ayah beranak bahkan harus jaga2 juga terhadap siasat setanmu, waah.... kita kan tidak dapat leluasa untuk bergerak, apalagi Siauw-tan cicipun punya burung merpati, empek Ciu tidak usah merasa kuatir lagi."

Sang Siauw-tan yang mendengar perkataan tersebut segera tersenyum lalu menggandeng tangan kedua orang gadis itu berlalu dari sana.

"Empek Ciu kami pergi dulu,"

Ujarnya kepada Ciu Tong.

Sehabis berkata mereka bertiga sambil tertawa segera berlalu dari dalam gua itu.

Saking khekinya untuk beberapa saat, ia hanya pandang Ciu Tong, tidak dapat mengucapkan sepatah katapun juga, sinar matanya berkelebat tak hentinya lama sekali baru perintahnya kepada Ciu Pak.

"Ayoh kita kejar!"

Sejak semula Ciu Pak memang mempunyai maksud ini, mendengar perkataan dari ayahnya itu di dalam hati dia merasa sangat girang sekali, tubuh mereka berdua dengan amat cepatnya berkelebat keluar dari gua dan mengejar ke arah dimana Sang Siauw-tan bertiga tadi melenyapkan dirinya, Kita balik pada Sang Su-im yang mengempit diri Koan Ing berlari ke arah tempat luaran, setelah melakukan perjalanan selama beberapa puluh lie jauhnya dia baru berhenti berlari, Dengan perlahan dia meletakkan diri Koan Ing ke atas tanah lantas memperhatikan dirinya dengan pandangan yang sangat dingin sekali.

Koan Ing yang diletakkan Sang Su-im ke atas tanah diapun jadi bingung harus berbuat bagaimana baiknya, terpaksa dia duduk di atas tanah tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Lama sekali Sang Su-im memperhatikan pemuda ini, di dalam hati dia benar-benar merasa sangat benci sekali terhadap diri Ciu Pak, Sang Siauw-tan adalah satu-satunya putri kesayangannya, dia tidak bakal membiarkan Sang Siauwtan menderita siksaan selama hidupnya.

Terhadap diri Koan Ing dia merasa amat puas terhadap segala-galanya, cuma saja dia tidak lebih adalah seorang manusia yang mendekati kematiannya.

Lama sekali Sang Su-im termenung berpikir keras, akhirnya dengan perlahan telapak tangannya ditempelkan ke atas pundak diri Koan Ing, Koan Ing jadi sangat terperanjat sekali, baru saja dia siapsiap hendak mengerahkan tenaga dalamnya untuk melakukan perlawanan mendadak dia merasakan satu aliran hawa yang amat panas menerjang.

masuk ke dalam badannya, dia jadi termangu-mangu.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Sang Su-im mengerahkan tenaga dalamnya untuk bantu dia mengobati luka dalamnya Dia tidak tahu dikarenakan urusan apa Sang Su-im mau membantu dirinya untuk menyembuhkan luka dalamnya, dia cuma merasakan ada satu tenaga dalam yang maha dahsyat menyedot dirinya sehingga membuat dirinya tidak dapat bergerak.

Hawa panas dengan cepatnya berputar mengelilingi seluruh tubuhnya sebanyak tiga kali, dia merasa dimana terdapat luka dalamnya dengan perlahan-lahan mulai jadi sembuh kembali.

Setelah selesai menyembuhkan luka dalamnya Sang Su-im duduk termenung kembali ke atas tanah untuk beristirahat sebentar.

akhirnya dia pentangkan matanya kembali.

"Kapan Supekmu hendak datang ke daerah Tibet?"

Tanyanya kemudian. Lama sekali Koan Ing termenung berpikir keras, akhirnya sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat, sahutnya.

"Supekku sudah lama meninggal "

Sang Su-im yang mendengar berita ini seketika itu juga dibuat tertegun, diantara empat manusia aneh usia Kong Bunyu lah yang paling muda dan tenaga dalamnya yang paling sempurna, menurut pandangannya ada kemungkinan diantara mereka bertiga dialah satu-satunya orang yang bisa memperoleh gelar jagoan pada pertempuran di puncak gunung Hoa-san tahun depan, siapa sangka ternyata dia telah menemui ajalnya.

Agaknya dia rada tidak percaya dengan berita ini, tetapi ketika teringat kembali kalau Kong Bun-yu sudah menyerahkan tanda kepercayaan ciangbunjinnya kepada Koan Ing diapun rada percaya juga, karena menurut apa yang dia ketahui pedang tersebut selamanya belum pernah lepas dari badannya.

Tetapi selamanya dia sama sekali belum pernah berpikir kalau Kong Bun-yu bisa mati dengan begitu cepatnya, hal ini benar-benar berada diluar dugaannya Dalam hati Sang Su-im merasa sangat menyesal sekali, lama sekali dia termenung tidak mengucapkan sepatah katapun.

Akhirnya ketika teringat kembali kalau Koan Ing sudah tidak bisa hidup lebih lama lagi dia segera bertanya lagi kepada dirinya.

"Apakah perkataan yang diucapkan oleh Ciu Tong benar?"

Dengan sayunya Koan Ing mengangguk. Sang Su-impun tahu kalau jawaban dari Koan Ing tentu membenarkan, dia berkata lagi.

"Apakah di dalam hati kecilmu kau suka dengan Siauw-tan?"

Koan Ing seperti merasakan kepalanya seperti digodam dengan martil besar, dia jadi bingung sekali untuk menjawab secara bagaimana, setelah ragu-ragu sebentar akhirnya dia mengangguk juga.

"Aku tahu Siauw-tan pun suka dengan dirimu,"

Ujar Sang Su-im kemudian setelah termenung berpikir sebentar.

"Sebetulnya akupun ingin menjodohkan dirimu kepada diri Siauw-tan dan sangat berharap kau bisa baik-baik menghadapi dirinya, dia adalah seorang bocah yang amat baik sekali cuma sayang sifatnya rada keras."

Koan Ing termenung tidak mengucapkan sepatah katapun, dia teringat kembali terhadap diri Sang Siauw-tan berlaku amat baik sekali terhadap dirinya, tetapi usia dirinya cuma tinggal delapan puluh lima hari saiya, dia tidak bisa mencelakai dirinya Sebetulnya Sang Su-im berbicara demikian bertujuan agar Koan Ing mau menjauhi diri Sang Siauw-tan dengan sendirinya, tetapi kini melihat dia tidak mengucapkan katakata lagi, terpaksa ujarnya lagi.

"Sejak kecil Siauw-tan sudah kehilangan ibunya, akupun tidak punya waktu yang banyak untuk menjaga dan menemaninya, kini dia sudah besar dan aku sebagai orang tuanya malah merasa tambah tidak leluasa lagi, aku kira kalau dia dikawinkan cepat-cepat malah jauh lebih baik lagi."

Berbicara sampai disini dia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.

"Sifat, tindak tandukmu serta kepandaian silatmu memang amat cocok sekali dengan diri Siauw-tan, aku sangat mengharapkan kau bisa memperoleh obat penawar dengan cepat dan menyembuhkan racunmu terlebih dulu kemudian baru cari dia lagi, kalau tidak. dia tentu akan sangat berduka sekali."

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera tertawa sedih.

"Sejak semula aku sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan diri Siauw-tan,"

Ujarnya kemudian.

Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im jadi melengak, dalam hati dia merasa semakin kecewa lagi, dia sama sekali tidak menyangka Koan Ing adalah seorang lelaki sejati, lama sekali dia termenung akhirnya tak tertahan lagi satu helaan napas panjang memecahkan kesunyian.

"Aku adalah ayahnya,"

Ujarnya perlahan.

"Tentunya kau bisa paham bagaimana perasaan seorang ayah menghadapi urusan semacam ini, aku sangat kagum atas sifat serta tindak tandukmu tetapi aku tidak bisa mengorbankan seluruh kebahagiaan dari Siauw-tan."

"Aku paham apa yang kau maksudkan,"

Sahut Koan Ing sambil tersenyum sedih.

"Akupun harus mengucapkan banyak terima kasih karena kau sudah membantu diriku untuk menyembuhkan luka dalam yang aku derita."

Sang Su-im yang takut dalam hati Koan Ing merasa semakin sedih lagi dengan cepat dia berkata kembali.

"Aku sanggup untuk mewariskan seluruh kepandaian silatku kepadamu termasuk juga ilmu jari "Han Yang Ci Hoat"

Yang paling kuandalkan itu."

Lama sekali Koan Ing memperhatikan diri Sang Su-im, akhirnya dia memperlihatkan satu senyuman paksa.

"Terima kasih atas kebaikan budi dari Empek Sang"

Ujarnya kemudian sambil bangkit berdiri.

"Budi tersebut aku tidak berani menerimanya, bilamana kau menganggap hal ini sebagai pengganti kerugian ku, sebetulnya hal ini tidak perlu lagi, karena aku sama sekali tidak menderita kerugian apapun...."

Sehabis berkata dia segera bungkukkan badannya menjura.

"Empek Sang, lain waktu bila ada jodoh kita bertemu kembali."

Selesai berkata dia putar badan, dengan langkah yang lebar berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Dengan pandangan mata yang mendelong, Sang Su-im memperhatikan bayangan dari Koan Ing yang mulai lenyap dari pandangannya, dia menghela napas panjang sedang pikirannya semakin bertambah kacau lagi, Koan Ing dengan seorang diri melanjutkan perjalanannya menuju ke arah sebelah Barat, dengan perlahan dia naik ke atas sebuah bukit yang kecil....

Ooo)*(ooO Bab 17 WAKTU ITU bunga-bunga salju beterbangan memenuhi angkasa, dengan termangu-mangu dia berdiri seorang diri di atas bukit kecil itu, Dia merasa setiap bunga salju yang melayang memenuhi angkasa sudah berubah jadi bayangan Sang Siauw-tan yang amat banyak sekali.

Berpuluh-puluh bayangan dari Sang Siauw-tan dengan perlahan melayang turun di hadapannya lalu lenyap tak berbekas.

Dengan kuat-kuat dia menggosok matanya untuk menghilangkan bayangan lamunan itu.

dia sekarang tidak berhak lagi untuk pergi memikirkan diri Sang Siauw-tan.

kalau dipikirkan lebih lanjut tidak lebih cuma mendatangkan kemurungan serta kebingungan hatinya saja Kesemuanya bisa jadi begini hal ini tidak lebih dikarenakan Ciu Tong sudah memaksa dia untuk menelan obat racun tersebut....

semuanya ini dikarenakan ilmu silatnya tidak bisa melebihi diri Ciu Tong, bilamana kepandaiannya jauh melebihi dirinya....

Mendadak satu bayangan berkelebat kembali di dalam benaknya, diam-diam gumamnya seorang diri.

"Apa sungguhsungguh tidak bisa? Apakah aku Koan Ing tidak bisa berbuat sesuatu pekerjaan yang orang lain merasa suatu pekerjaan yang tidak mungkin terjadi? Pada tempo hari si manusia aneh dari Bu-lim Jien Wong pun bisa bangkit berdiri kembali setelah dipukul hingga terluka parah, hal itu adalah satu pekerjaan yang tidak mungkin bisa terjadi, tetapi dia bisa melakukannya, apa dirinya tidak sanggup....?"

Berpikir sampai disini, dengan amat sedihnya Koan Ing menundukkan kepalanya, lantas menghela napas panjang, dirinya yang sudah berlatih selama hidupnyapun belum bisa menandingi Ciu Tong, apa lagi usianya kini tinggal delapan puluh lima hari saja, selama delapan puluh lima hari ini dapatkah dia melatih ilmu silatnya sendiri jauh lebih tinggi dari kepandaian silat yang dimiliki oleh Ciu Tong?

hal itu tidak mungkin bisa terjadi atau boleh dikata cuma satu kata-kata impian belaka....

Sinar matanya dengan perlahan berkelebat, kenapa dirinya tidak mencoba-coba dulu?

Dengan sisa hidupnya yang tinggal tidak seberapa lama dia harus menciptakan satu peristiwa yang luar biasa dan lain daripada yang lain....

Tetapi harus berbuat bagaimana?jikalau berdiam diri terus menerus tidak mungkin bisa memperoleh satu kejadian yang luar biasa.

Berpikir sampai disitu Koan Ing mendadak teringat kembali akan sesuatu, mendadak dia teringat kembali.

Kitab pusaka Boo Shia Koei Mie yang pernah diperoleh dari tangan Song Ing, selama ini dia belum pernah melihatnya barang sekejappun.

dengan perlahan dia mulai mengambilnya keluar dari dalam sakunya.

Dia masih teringat sikap dari Song Ing sewaktu menghadiahkan kitab pusaka tersebut kepadanya, tetapi selama ini dia terlalu memandang enteng kitab tersebut karena menurut anggapannya sekalipun kepandaian silat yang dimiliki Song Ing amat tinggi tetapi dia belum termasuk luar biasa.

Dengan per lahan-lahan Koan Ing mengambil kitab pusaka Boe Shia Koei Mia tersebut lalu duduk bersila dan mulai membuka halaman pertama.

Di atas kitab yang terbuat dari kain sutera itu terlihatlah beberapa kata yang ditulis dengan amat indahnya, pada baris pertama kira-kira bertuliskan.

ilmu silat tak ada ujung pangkalnya, walaupun aku sudah mengadakan penyelidikan selama lima belas tahun lamanya di daerah Tionggoan dan memperdalam ilmu silat dari sepuluh partai besar tetapi apa yang aku peroleh tidaklah terlalu banyak.

Apa yang aku peroleh tempo hari bersama-sama dengan kepandaian yang aku dapatkan sebelumnya kini aku bukukan jadi satu, barang siapa saja yang dapat mempelajarinya maka segera akan menjadi seorang jagoan tanpa tandingan, harap suka memelihara buku ini baik-baik, Lama sekali Koan las termenung membaca tulisan tersebut, dia sama sekali tidak mengira kalau kitab tersebut adalah hasil penyelidikan dari Song Ing sendiri yang kemudian dibukukan.

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 10

Baca Juga: Pisau Terbang Li Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert