Eps 2 Kereta Berdarah - Khu Lung
Baca online Kereta Berdarah - Khu Lung
Cersil Kereta Berdarah - Khu Lung.
Sambil berkata dia menuding ke arah gua batu itu, tampak tubuh Cu Yu sedikit tergetar, mendadak dia termangu mangu kemudian dengan cepatnya berkelebat menuju kesana.
Koan Ing yang melihat sikap suhunya amat aneh, dia menjadi sangat terperanjat dia sama sekali tidak menyangka kalau suhunya bisa begitu terharu sesudah mendengar berita atas kematian Kong Bun-yu.
"Suhu...."
Teriaknya, tubuhnyapun dengan cepat ikut mengejar dari belakang.
Ketika dia berhasil memasuki ruangan batu itu tampaklah suhunya sedang berlutut termangu-mangu di depan jenazah Kong Bun-yu, air matanya menetes keluar membasahi seluruh wajahnya, sedang tangannya dengan perlahan mengelus-elus sepasang mata dari Kong Bun-yu.
Koan Ing menjadi tertegun.
"Suhu,"
Panggilnya kembali dengan perlahan. Cu Yu seperti baru saja tersadar dari lamunannya, mendadak dia berseru dengan suara yang gemetar sedang air mata menetes keluar semakin deras.
"Sedih dan senang laksana impian, cinta buta sepuluh tahun mendatangkan kepedihan...."
Koan Ing yang sama sekali tidak tahu urusan yang sudah terjadi di antara suhunya dengan Kong Bun-yu, saat ini menjadi tertegun, dia bingung harus berbuat bagaimana untuk menghibur suhunya kemudian.
"Suhu...."
Cu Yu termangu-mangu sebentar, akhirnya dia menghela napas panjang dan duduk bersila di samping jenazah Kong Bun-yu. ujar dengan perlahan.
"Ing jie, coba kau ceritakan pengalamanmu sewaktu bertemu dengan supekmu."
Koan Ing sewaktu melihat air mukanya amat sedih sekali tidak berani membangkang perintahnya, dengan perlahan dia mulai menceritakan kisahnya bagaimana bertemu dengan Cien-hu Thiat-lang, lalu bagaimana dia melarikan diri dan bertemu dengan Kong Bun-yu.
Dia bercerita terus, tidak lama kemudian sudah hampir sebagian besar telah diceritakan tetapi selama ini Cu Yu tidak mengucapkan sepatah katapun.
Koan Ing segera merasakan sesuatu yang tidak beres, mendadak dia menubruk maju ke depan dan memeriksa pernapasan dari suhunya.
Entah sejak dari kapan suhunya Cu Yu sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan, dia menjadi amat terkejut sekali.
"Suuuuhu...."
Teriaknya, saking tergoncang hatinya tak tertahan lagi dia jatuhkan tak sadarkan diri.
Lama sekali dia baru sadar kembali dari pingsannya, dia menangis kembali dengan sedihnya.
Dia orang sama sekali tidak menyangka kalau suhunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan, dengan termenung dia berpikir keras akhirnya dengan menggigit kencang bibirnya, dia jatuhkan diri berlutut di depan suhunya untuk memberi hormat kemudian dengan cepat meninggalkan gua itu.
Sekeluarnya dari gua, dia pun dengan cepat menutup kembali pintu gua tersebut, akhirnya setelah semuanya selesai dia baru berlalu dari sana.
Sungai Tiang Kang mengalirkan airnya dengan deras menuju ke arah sebelah Timur.
Sebuah perahu dengan lajunya berlayar ke depan, tampak Koan Ing dengan perlahan keluar dari ruangan kapal tapi sebentar kemudian dia sudah dibuat tertegun, kiranya di ujung perahu tersebut sudah berdiri seorang pemuda berbaju hijau dengan angkernya, Sekali pandang saja Koan Ing sudah mengenal kembali kalau orang itu bukan lain adalah Sang Siauw-tan, selama tiga hari tiga malam ini dia tak pernah bertemu dengan seorangpun di atas perahu itu, bagaimana sekarang dia orang bisa muncul disini?
Menurut kabar kereta berdarah itu sudah menuju ke arah Barat dan kini lenyap tanpa bekas, tapi dia sama sekali tidak menyangka di atas perahu yang sedang berlayar dengan lajunya ini, dia orang bisa bertemu kembali dengan Sang Siauw-tan.
Koan Ing yang di buat termangu, dengan cepat balik badan mau berjalan masuk kembali ke dalam bilik, tetapi saat itu pula Sang Siauw-tan sudah putar badannya.
Dia yang melihat Koan Ing pun ada di sana kelihatan sekali dibuat melengak juga.
"Hey, kau kemarilah!"
Terdengar dia berteriak. Koan Ing yang mendengar dia orang dipanggil dengan begitu kasarnya, dalam hati benar-benar merasa mendongkol pikirnya.
"Kesana. yaah kesana, apakah kau kira aku takut kepadamu?"
Berpikir sampai disitu dengan mengerutkan alisnya dia berjalan menuju ke ujung perahu. Sang Siauw-tan memperhatikan sebentar keadaan dari Koan Ing kemudian sambil tertawa tawar ujarnya.
"Kau mau kemana?"
Koan Ing yang melihat senyuman dingin yang sepertinya dia crang sama sekali tidak dipandang sebelah matapun kepada dirinya membuat hatinya terasa amat gusar sekali sebenarnya dia ingin sekali memaki dengan beberapa patah kata kepadanya, tetapi entah karena apa mendadak dia toleh kepalanya ke arah sungai tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing sudah dibuat mendongkol oleh dirinya, dia segera tertawa geli.
"Hey Koan Kongcu, aku sedang bertanya kepadamu!"
Serunya. Koan Ing semakin mendongkol lagi, jelas sekali Sang Siauw-tan sedang menggoda dirinya pikirnya dalam hati.
"Hmm, apa anehnya kau mempunyai seorang ayah yang lihay? Kalau benar-benar becus gunakanlah ilmu silatmu."
Dia mengerutkan alisnya kembali, sahutnya ketus.
"Aku sedang mengejar jejak kereta berdarah."
"Cuma mengandalkan kepandaian silat mu ini?"
Tanyanya tawar. Koan Ing semakin dibuat jengkel lagi setelah mendengar perkataan dari Sang Siauw-tan ini, pikirnya.
"Kau orang jangan sombong dulu, pada suatu hari aku bisa perlihatkan kelihayanku di depan matamu."
Saking khe-kinya dia bungkam di dalam seribu bahasa. Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing dibuat gusar sehingga bungkam hatinya semakin gembira tapi dia ingin menggoda dirinya lebih jauh.
"Hey Koan Ing, kau sudah pernah mendengar ilmu Thay So Ing dari Tibet?"
Tanyanya sambil tertawa.
Saking gemasnya Koan Ing merasa mulutnya seperti disumbat, sepatah katapun tidak dapat diucapkan keluar, terpaksa dia tetap menutup mulutnya rapat-rapat.
Sinar mata dari Sang Siauw-tan berputar ujarnya kembali.
"Perkataanku ini adalah benar-benar, kau jangan takut aku sudah membohongi dirimu."
Koan Ing tidak mau menggubris lagi, pandangan matanya dengan sayu memandang ke arah kejauhan sedang pikirannya berputar memikirkan urusannya.
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing dibuat gusar tanpa berani membalas dalam hati benar-benar merasa geli, pikirannya pun berputar terus memikirkan cara yang lain untuk menggoda diri Koan Ing.
Tampak dengan perlahan Koan Ing putar badannya, diapun cepat-cepat ikut putar badan, kurang lebih satu kaki dari mereka berdiri tiba-tiba tampaklah seorang lelaki berusia pertengahan yang memiliki tubuh amat tinggi besar dengan wajah yang amat hitam sekali.
Ketika orang itu melihat mereka berdua putar badan segera dibuat melengak.
Seketika itu juga Sang Siauw-tan sadar kembali, dengan ilmu meringankan tubuh yang demikian tinggi dari orang itu, dia tentu sedang mencuri dengar pembicaraan diantara dirinya berdua, hatinya menjadi amat gusar.
"Hmm...."
Dengusnya dingin.
"Kau orang dengan sembunyi-sembunyi sedang berbuat apa di sana?"
Lelaki bertubuh tinggi besar itu segera memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.
"Baru saja aku mendengar pembicaraan kalian berdua tentang ilmu Thay So Ing, cayhe pingin sekali menanyakan sesuatu hal kepada kalian berdua."
Sang Siauw-tan sama sekali tidak menyangka nyali orang itu ternyata begitu besar, apa yang sudah dicuri dengar ternyata langsung ditanyakan kepada mereka, tak terasa lagi alisnya dikerutkan rapat-rapat, ujarnya dengan dingin.
"Kau siapa? Kenapa sedikitpun tidak tahu sopan santun?"
Hee.... hee.... kalian berdua baru saja membicarakan soal ilmu Thay So Ing, apakah mungkin kalian mau berangkat ke daerah Tibet. Hahaa?"
Sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap ke arah mereka kemudian tambahnya.
"Walaupun kereta berdarah menyimpan suatu rahasia yang amat besar sekali, tetapi dia pun menyimpan suatu nafsu membunuh yang amat besar pula, aku nasehatkan kepada kalian lebih baik jangan mencari gara-gara buat kalian sendiri."
SeIesai berkata dia putar badannya siap meninggalkan tempat itu.
Sejak kecil Sang Siauw-tan sudah memperoleh kemanjaan dari ayahnya, mana dia orang mau menerima nasehat yang begitu pedasnya?
Hatinya benar-benar amat gusar, teriaknya keras.
"Tunggu dulu!"
Dengan perlahan lelaki itu menoleh kemudian mendengus dengan amat dinginnya.
"Aku memandang pada usia kalian berdua, tidak mau terima yaah sudahlah buat apa banyak cari urusan?"
Sang Siauw San tertawa dingin, saat ini dia benar-benar sudah dibuat jengkel, tanpa banyak berbicara lagi tubuhnya segera bergerak maju, sedang tangan kanannya dengan amat cepatnya menyambar ke atas pipi lelaki berusia pertengahan itu.
Lelaki berusia pertengahan itu segera tertawa dingin, kaki kanannya berkelebat, dengan amat tepat sekali dia berhasil menghindarkan diri dari serangan dari Sang Siauw-tan ini bersamaan waktunya pula tangan kanannya diangkat.
Di dalam sekejap saja telapak tangan kanannya mendadak mengembang besar lalu dengan dahsyatnya dihajarkan ke atas pundak sebelah kiri dari Sang Siauw-tan.
Sang Siauw-tan sama sekali tidak menyangka serangannya bisa mencapai pada sasaran yang kosong, tetapi diapun sudah mempersiapkan serangan susulan, melihat lelaki berusia pertengahan itu ternyata sudah menggunakan ilmu Thay So Ing dari Tibet hatinya semakin bergidik.
Kiranya ilmu sakti Thay So log ini merupakan ilmu silat yang amat ganas dan dahsyat sekali, orang-orang di daerah Tionggoan jarang sekali menemuinya, siapa orang ini tidak usah diterangkan sudah amat jelas sekali.
Di dalam keadaan terperanjat tubuhnya dengan cepat meloncat mundur ke belakang.
Agaknya lelaki berusia pertengahan itu sudah mengambil keputusan untuk menangkap dirinya, tubuhnya dengan cepat mendesak terus ke arah diri Sang Siauw-tan.
Melihat kelakuan lelaki kasar itu Sang Siauw-tan menjadi terkejut bercampur gusar, dia yang merupakan putri dari si jari sakti Sang Siauw-tan salah satu dari empat manusia aneh sampai saat itu mana pernah mendapatkan desakan semacam itu?
Apalagi siapakah pihak lawannya dia orang sama sekaii tidak tahu.
Dia membentak dengan nyaring, tubuhnya sedikit merendah, jari tengah serta jari telunjuk dari tangan kanannya berturut-turut disentil dengan memecah udara bagaikan kilat cepatnya menghajar tubuh si lelaki berusia pertengahan itu.
Dalam hati lelaki berusia pertengahan itu pun merasa sangat terperanjat, ketika dia melihat baru saja melancarkan serangan Sang Siauw-tan sudah menggunakan ilmu tunggal dari sinari sakti Sang Su-im membuat perasaan ingin mengundurkan diri meliputi di dalam hatinya.
Ketika masing-masing tenaga pukulan sudah bentrok menjadi satu, tubuh merekapun pada mengundurkan diri ke belakang.
Tampaklah lelaki berusia pertengahan itu berturut-turut mengundurkan diri tiga empat langkah ke belakang kemudian melepaskan topi yang dikenakan di atas kepalanya ujarnya kepada Sang Siauw-tan sambil merangkap tangannya di depan dada.
"Siauw ceng Husangko sudah salah menyerang Kongcu sebagai anak murid Sang Loocianpwe, harap kau orang suka memaafkan dosaku ini."
Baik Sang Siauw-tan sendiri maupun Koan Ing yang berdiri di sampingnya pada dibuat melengak semuanya, kiranya orang yang ada di hadapan mereka sekarang ini bukan lain adalah jagoan nomor wahid dari daerah Tibet, anak murid Hu Ing Thaysu, tetapi karena urusan apa dia sampai munculkan dirinya disini?
Diam-diam Sang Siauw-tan menghembuskan napas dingin, dalam hati sebetulnya dia merasa sangat tidak gembira tetapi setelah diketahuinya kalau orang yang ada di hadapannya ini bukan lain adalah Husangko yang sudah mempunyai nama amat terkenal di dalam Bu-lim bahkan berlaku begitu hormat kepada dirinya membuat perasaan jengkelnya pun sudah tersapu separuh dari dalam hatinya.
Dengan dingin dia mendengus.
Jurus ilmu sakti Thay So Ing yang amat bagus sekali, Hmm....
kini kereta berdarah sudah memasuki daerah Tibet, tidak kusangka sama sekali jagoan dari Tibet ternyata masih punya kegembiraan untuk berpesiar ke daerah Tionggoan."
Husangko tidak mengambil perduli, dia tersenyum.
"Entah dapatkah kongcu menghantarkan siauw-ceng untuk bertemu muka dengan Sang cianpwee? Siauw-ceng ada urusan penting yang hendak dilaporkan kepadanya."
Ketika Sang Siauw-tan mendengar perkataan dari Husangko ini sangat serius sekali bahkan jauh2 dari Tibet datang kemari khusus mencari ayahnya, dia tahu sudah tentu ada urusan penting yang hendak dibicarakan, dia mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Tiang Gong Sin-cie adalah ayahku, kau ada perkataan apa, silahkan laporkan saja kepadaku."
Serunya dingin. Air muka Husangko segera memperlihatkan serba salah, dia tertawa paksa ujarnya.
"Kiranya kau adalah Sang kongcu, tetapi urusan ini siauw-Ceng sudah mendapat perintah dari suhu untuk menghadap sendiri kepada Sang cianpwee,"
"Ada urusan apa, asalkan aku menyanggupinya sama saja seperti ayahku yang menyanggupinya, kau berlega hatilah,"
Seru Sang Siauw-tan kembali dengan hati kurang puas. Husangko tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa dia termenung berpikir beberapa saat lamanya.
"Tetapi urusan ini mempunyai sangkut paut yang amat besar sekali,"
Ujarnya kemudian.
"Bukan saja ada sangkut pautnya dengan kereta berdarah itu, bahkan mempunyai sangkut paut yang amat besar sekali dengan tiga manusia genah, empat manusia aneh dari Bu-lim, aku kira...."
Sang Siauw-tan yang mendengar dia berbicara demikian dia orang benar-benar dibuat tertegun, dia sama sekali tidak menyangka urusan ternyata menyangkut hal yang demikian besarnya, urusan tentang ayahnya dia masih mengetahui sedikit-dikit, tetapi urusan yang menyangkut juga diri tiga manusia genah,....
dia mana bisa tahu?
Tetapi kini Koan Ing ada di hadapannya, dia mana mau memperlihatkan kelemahannya?
Alisnya segera dikerutkan rapat-rapat ujarnya.
"Baiklah, aku yang tanggung semuanya."
Dengan keadaan serba salah Husangko melirik sekejap ke arah Koan Ing.
"Saudara ini...."
Koan Ing yang melihat mereka berdua hendak membicarakan sesuatu urusan yang penting, segera dia orang merasakan tidak enak untuk tetap tinggal disana terus, bara saja hendak mengundurkan diri dari sana mendadak terdengar Sang Siauw-tan sudah berbicara.
"Dia orang tidak mengapa, bahkan dalam sakunya menggembol pula pedang pusaka Hiatho Sin-pie jadi kedudukannya pun sebagai seorang ciangbunjin, urusan penting yang menyangkut keadaan Bu-lim memang seharusnya diapun mengetahui sedikit. Mendengar perkataan ini dengan pandangan penuh rasa terkejut Husangko melirik sekejap ke arah Koan Ing. Koan Ing walaupun di dalam hatinya merasa sangat tidak senang karena Sang Siauw-tan sudah mengungkit-ungkit soal pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie tetapi terpaksa diapun berpura-pura tidak mengetahui akan hal ini. Husangko berbatuk-batuk sebentar, sesudah melirik kembali ke arah diri Koan Ing ujarnya sambil menundukkan kepalanya.
"Selain persoalan munculnya kereta berdarah ke dalam daerah Tibet, di dalam daerah Tibet sendiri sudah terjadi banyak peristiwa, walaupun suhuku belum pernah bertemu muka dengan suhumu tetapi dia sudah lama ingin bertemu dengan dia orang tua."
Mendadak dia menutup mulutnya kembali, lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Sejak dahulu Sang Siauw-tan sudah mendengar kalau Hu Ing Thaysu merupakan seorang pendeta berilmu tinggi dari daerah Tibet, kehebatan dan kepandaian silatnya itu jauh melebihi empat manusia aneh dari daerah Tionggoan, ini hari seorang jago yang ilmunya jauh lebih tinggi ternyata sudah datang minta bantuan kepada ayahnya hal ini sudah tentu membuat hatinya terasa amat girang sekali, dia kepingin Husangko mau cepat-cepat mengatakannya keluar.
"Sebenarnya sudah terjadi urusan apa?"
Desaknya terus.
Husangko menarik napas panjang, mendadak tangan kanannya di tepuk ke depan menghajar dada Sang Siauw-tan.
Sang Siauw-tan sendiri sama sekali tidak menduga Husangko bisa turun tangan secara mendadak, dia menjerit kaget tubuhnya siap-siap menghindarkan diri ke sebelah kanan, Tetapi Husangko sebagai anak murid yang tertua dari Hu Ing Thaysu pula sebagai seorang jagoan berkepandaian tinggi dari daerah Tibet, sudah tentu tenaga dalamnya jauh lebih tinggi dari diri Sang Siauw-tan, apalagi kini dia melancarkan serangan secara tiba-tiba, serangannya tersebut dengan tepat menghajar pundak kanannya.
Koan Ing yang melihat secara tiba-tiba Husangko melancarkan serangan menghajar pundak kanan Sang Siauwtan, hatinya terasa amat terperanjat, dia membentak keras sedang telapak tangan kanannya dengan keras menghajar punggung Husangko itu.
Tetapi gerakan dari Husangko amat cepat sekali, jauh berbeda diluar dugaannya, baru saja dia melancarkan serangan Sang Siauw-tan sudah berhasil dihantam luka.
Agaknya Husangko sudah menduga sejak tadi kalau Koan Ing bisa melancarkan serangan ini, begitu serangannya dengan cepat berhasil menghajar rubuh Sang Siauw-tan, tubuhnya dengan cepat berjongkok ke bawah, tangannya dibalik dan lima bilah pisau terbang dengan amat cepatnya meluncur ke arah tubuh Koan Ing.
Koan Ing dengan keras membentak, kaki kanannya membentuk setengah busur di tengah udara dan dengan amat tepatnya dia berhasil menghindarkan diri dari kelima belah pisau terbang tersebut, sedang tangan kanannya tidak mau ambil diam dengan membantu gerakan busur dia menghantam batok kepala dan Husangko.
Husangko sama sekali tidak menduga Koan Ing bisa berganti jurus dengan begitu cepatnya, tenaga dalamnyapun begitu tinggi, Dengan sekuat tenaga tubuhnya menghindar ke samping meskipun demikian tak urung jubah yang dipakainya berhasil di cengkeram oleh Koan Ing sehingga meninggalkan lima buah sobekan yang amat besar.
Tubuhnya bagai kitiran berputar terus di tengah udara kemudian melayang turun ke atas tanah, bersamaan pula dia memperdengarkan suara suitan yang amat nyaring sekali.
Sebuah sampan kecil dengan cepatnya meluncur mendekat.
Husangko sedikitpun tidak mau berhenti lagi, tubuhnya dengan cepat bergerak melayang ke arah sampan kecil itu.
Koan Ing yang melihat serangannya mencapai sasaran kosong dia dibuat melengak pada saat itulah tubuh Husangko sudah melayang menuju ke arah perahu sampan tersebut.
Sang Siauw-tan yang berhasil kena hajar dengan terhuyung-huyung dia mundur dua langkah ke belakang, kini melihat Husangko mau meninggalkan tempat itu, dengan dinginnya dia mendengus tanpa mengucapkan sepatah katapun tubuhnya meloncat ke tengah udara kemudian dengan amat cepatnya mengejar ke arah diri Husangko.
Koan Ing melihat wajah Sang Siauw-tan amat pucat sekali segera tahu kalau luka yang dideritanya tidak ringan, di dalam keadaan terluka parah dia orang mana boleh mengejar diri Husangko?
Tubuhnya dengan cepat meloncat ke tengah udara, bagaikan burung bangau sakti tubuhnya melayang membentuk gerakan busur kemudian dengan cepatnya melayang turun ke arah perahu sampan tersebut.
Tampaklah olehnya Tubuh Sang Siauw-tan yang ke tengah udara baru saja mencapai di separuh jalan mendadak dia mendengus berat, tubuhnya dengan amat beratnya pula jatuh ke atas tanah.
Sejak tadi Koan Ing sudah mengadakan persiapan, tubuhnya dengan Cepat menekuk sedang tangan kirinya menyambar ke depan menahan pinggang diri Sang Siauw-tan, ketika matanya memandang pula ke depan, saat itu perahu yang mereka tumpangi sudah berlayar kembali sedang bayangan dari Husangko yang ada di atas perahu sampan itu pun sudah mulai bergerak menjauhi dirinya.
Hatinya terasa berdesir, kini dia menggendong seseorang sedangkan kepandaian silat dari Hosangkopun amat tinggi sekali jikalau dirinya tidak berhasil menaiki sampan itu tentu tubuhnya akan terjatuh ke dalam air, jika cuma dia seseorang hal ini tidak mengapa tetapi saat ini Sang Siauw-tan sudah jatuh tak sadarkan diri, apalagi luka yang dideritanya tidak ringan jikalau sampai terjatuh ke dalam air bukankah ke adaan akan bertambah celaka?
Suatu ingatan segera berkelebat di dalam hatinya, dia harus menggunakan paksaan untuk menaiki sampan tersebut.
Tubuh Koan Ing dengan cepat menubruk lebih mendekat, terdengar Husangko tertawa dingin tangan kanannya dengan menggunakan tenaga penuh melancarkan satu serangan dahsyat menghajar tubuh Sang Siauw-tan.
Melihat hal ini Koan Ing menjadi amat gusar sekali, bukannya menyerang kepada dia, orang sebaliknya melancarkan serangan ke arah Sang Siauw-tan, hal ini jelas sekali memperlihatkan kalau orang itu amat licik dan kejam sekali.
Dengan dinginnya dia mendengus, tangan kanannya dibalik, pedang Kiem-hong-kiam sudah dicabut keluar dari sarungnya, dengan membentuk gerakan busur pedangnya dengan amat cepatnya membabat pergelangan tangan Husangko.
Husangko Yang melihat munculnya pedang Kiem-hongkiam hatinya merasa berdesir juga.
bukankah pedang itu merupakan pedang milik si Thian-yu Khei Kiam Kong Bun-yu, salah satu dari empat manusia aneh?
Serangan pedang itu amat cepat dan tepat sekali, kecuali dia menarik kembali serangannya, tidak ada jalan lain lagi untuk menghindarkan diri dari serangan itu.
Pikiran Husangko dengan cepat berputar tidak perduli bagaimanapun tugas yang di terimanya untuk datang ke daerah Tionggoan sudah terlaksana dengan sempurna, asalkan dia berhasil mendesak Koan Ing terjauh ke dalam air maka tugasnya berarti sudah selesai pula.
Pergelangan tangan kanannya segera ditekuk ke bawah berganti jurus, dari serangan telapak diubah menjadi cengkeraman.
Lima jarinya dengan menggunakan jurus "Kiem Kong Na Koei"
Atau tangan besi menangkap setan mencengkeram dada Koan Ing.
Keadaan dari Koan Ing saat ini benar-benar sangat berbahaya sekali, pedang panjang di tangan kanannya dengan cepat dibalik membentuk gerakan busur kembali mendesak minggir cengkeraman dari Husangko ini, bersamaan pula kaki kanannya menginjak tepian sampan, gagang pedangnya dengan membentuk gerakan busur di tengah udara dihantamkan ke atas iga Husangko.
Husangko menjadi amat terperanjat, dia sama sekali tidak menduga gerakan dari Koan Ing ternyata bisa begitu cepatnya kepandaian silatnya memang sudah tidak bisa menandingi diri Koan Ing, apalagi kini tubuh Koan Ing sudah ada di atas perahunya, di dalam keadaan terperanjat dia menghindar satu langkah ke samping.
Sekali lagi Koan Ing membentak keras dengan cepat dia melancarkan serangan kembali dengan menggunakan "Lian Hoan Sam Ci"
Atau tiga serangan berantai dari ilmu sakti Thian-yu Khei dan baru saja Husangko mengangkat kakinya, tangan kanan Koan Ing dan arah bawah menuju ke atas dengan cepatnya sudah menyerang jalan darah Ci Bun di bawah ketiak kanan dari Husangko, Serangan "Lian Huan Sam Ci"
Ini amat dahsyat sekali, bukan saja gerakannya laksana berputarnya angin topan bahwa letak arah serangannya tertutup dengan gerakan busur, sudah tentu Husangko tidak akan menyangka akan hal ini, Kini serangan dari Koan Ing dengan cepatnya sudah mendekati tubuh Husangko, cepat-cepat dia menghindarkan diri dari ancaman jalan darah "Ci Bun"
Ini, tapi baru saja tubuhnya miring ke samping, mendadak serangan dari Koan Ing dengan amat dahsyatnya sudah menghajar di atas iga Husangko sehingga seketika itu juga tulang iganya terhajar patah, tak kuasa lagi tubuhnya terjatuh ke dalam sungai itu, Koan Ing segera mengerutkan alisnya, tubuhnya dengan perlahan berputar ke belakang, Hweesio lainnya yang ada di ujung perahu itu dengan cepat melarikan diri dengan terjunkan diri ke dalam sungai, Saat itulah dia baru menghembuskan napas lega, melihat perahu yang ditumpanginya sudah berlayar jauh dengan perlahan dia meletakkan tubuh Sang Siauw-tan ke atas sampan tersebut.
Sang Siauw-tan yang jatuh tak sadarkan diri karena terluka parah kini sudah sadar kembali dari pingsannya, dia menengok ke sekelilingnya di dalam sekali pandang saja dia sudah tahu apa yang telah terjadi, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk bangkit berdiri.
Koan Ing melihat Sang Siauw-tan dengan ngotot berusaha bangkit berdiri sehingga wajahnya pun sudah berubah memerah segera menggerakkan bibirnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi baru saja kata-katanya mendekati mulut, entah karena apa mendadak dia menelan kembali perkataan yang hendak dikeluarkan itu.
Sang Siauw-tan tidak mengucapkan sepatah katapun, matanya dengan sayu memandang ke tempat kejauhan, dia sama sekali tidak mengira dirinya bisa mendapatkan malu dihadapan Koan Ing, bahkan dirinya terima bokongan orang lain tanpa bisa melancarkan serangan balasan, hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat memalukan sekali.
Semakin berpikir hatinya merasa semakin sedih, dia terasa semakin murung, dia kepingin sekali menangis tersedu-sedu dengan amat kerasnya untuk melampiaskan kemangkelan hatinya, tetapi sekarang Koan Ing masih ada disini, dia merasa malu untuk meneteskan air matanya.
Dia tak tahu kenapa di dalam perpisahan yang hanya dua bulan ini kepandaian silatnya bisa memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya, bahkan sekali lagi Koan Ing menolong nyawanya, dalam hati dia merasa hatinya sangat benci terhadap diri Koan Ing, memang sangat mengherankan dia harus membenci dirinya?
Bukankah dirinya dengan Koan Ing sama sekali tidak ada dendam sakit hati apapun?
Dan lagi kenapa Koan Ing mau turun tangan menolong dirinya?
Dengan perlahan Koan Ing menoleh ke arah Sang Siauwtan.
tampaklah wajahnya saat ini semakin memerah sehingga seperti kepiting rebus.
Entah kenapa mendadak hatinya terasa amat cemas sekali, dia tidak berani memandang diri Sang Siauw-tan kembali, kepalanya dengan perlahan dialihkan ke arah sungai, apa yang sedang dipikirkan di dalam hati kecilnya?
Sang Siauwtan?
Entahlah.
Mendadak dia merasakan bahwa dirinya sedikit tertarik oleh sinar kecantikan dari Sang Siauw-tan, segera makinya kepada diri sendiri.
"Kenapa aku ini? Dendam ayahku belum terbalas bagaimana aku sudah menaruh perasaan cinta kepada gadis lain?"
Alisnya dikerutkan rapat-rapat, dia tertawa ringan kemudian angkat kepalanya ke atas.
Saat itu Sang Siauw-tan sedang merogoh ke dalam sakunya mengambil keluar sebuah botol obat dan mengambilnya sebutir untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
Air sungai mengalir dengan tenangnya, angin bertiup sepoisepoi membuat udara terasa amat nyaman.
Di atas sebuah perahu besar yang berlayar dengan lajunya mengikuti arus sungai duduklah dengan tenangnya dua orang, yang satu tua yang lain muda.
Perahu layar itu dengan perlahannya mulai mendekati, dari tempat kejauhan Koan Ing sudah bisa melihat kalau pemuda itu bukan lain adalah putra dari si iblis sakti dari luar lautan, si kongcu tak berbudi Ciu Pak adanya.
Melihat hal itu dia menjadi bergidik, bagaimana si kongcu tak berbudi itu bisa munculkan diri di tempat ini?
Di samping tubuhnya duduklah seorang kakek tua berambut putih dengan sinar matanya seperti elang tajam sekali, pada tangan kanannya mencekal sebuah tongkat berwarna hitam pekat kelihatannya amat angker, apakah orang itu adalah si iblis sakti dari luar lautan Ciu Tong adanya.
Agaknya saat itu Ciu Tong pun sudah melihat dirinya bersama-sama dengan Sang Siauw-tan, sepasang matanya yang amat tajam dengan melotot memandang dirinya berdua.
Perahu semakin lama semakin mendekat, terdengar Ciu Pak dengan perasaan amat girang berteriak.
"Yah.... Siauw-tan Moay-moay ada disana...."
Sang Siauw-tan pun saat itu sudah melihat mereka berdua, ketika didengarnya Ciu Pak memanggil orang itu dengan sebutan ayah, hatinya terasa semakin terperanjat, dengan cepat dia angkat kepalanya memandang sekejap ke arah orang tua itu.
Orang itu memang bukan lain adalah iblis sakti dari luar lautan, Ciu Tong adanya, sungguh tidak terkira pada saat seperti ini dia sudah munculkan dirinya di daerah Tionggoan apa yang dicari olehnya?
"Siauw-tan Moay-moay, ayoh kemari, cepat naik ke atas perahu!"
Terdengar dengan suara keras Ciu Pak sudah berteriak-teriak dari ujung perahu.
Di tengah suara teriakan itu perahu besar tersebut sudah berhenti tepat di samping perahu sampan itu, Ciu Tong dengan pandangan dingin menyapu sekejap ke arah dua orang itu kemudian ujarnya kepada diri Sang Siauw-tan.
"Kaukah putri dari Sang Loo-te?"
Sang Siauw-tan tahu Ciu Tong sebagai seorang iblis sakti merupakan seorang manusia yang tidak mudah diganggu, apa lagi kini ayahnya tidak berada disini, adalah sebaiknya dia jangan sampai membuat dia orang marah, mendengar pertanyaan tersebut terpaksa sahutnya sambil tertawa.
"Ciu Pepek, kau baik saja bukan...."
Suatu senyuman segera melintasi wajahnya, dia tertawa perlahan.
"Sungguh tidak kusangka Sang Loo-te bisa mempunyai seorang putri semacam kau, mari kalian naik kesini semua."
"Ayah,"
Tiba-tiba timbrung Ciu Pak yang ada di sampingnya.
"Orang yang ada di samping Siauw-tan Moay-moay itu adalah Koan Ing."
"Ooooh...."
Dengan pandangan amat tawar Ciu Tong memperhatikan sekejap ke arah diri Koan Ing, kemudian ujarnya.
"Sudah lama Kong Loo-te tidak kelihatan, tidak kusangka sama sekali dia sudah menerima seorang murid yang begitu bagus semacam kau, heee.... tidak kusangka ini hari aku bisa bertemu dengan angkatan-angkatan muda dari kawan-kawan ku dahulu, apakah suhumu baik-baik saja selama ini?"
"Supek baik-baik saja, terima kasih atas perhatian dari cianpwee,"
Jawab Koan Ing tertawa. Segera Ciu Tong mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Oooooh.... kiranya kau anak murid dari Cu Yu!"
Serunya kemudian semakin tawar. Saat itu tangga sudah diturunkan, terdengar secara tibatiba Ciu Pak bertanya kepada ayahnya.
"Ayah, apakah bocah cilik itu juga diperbolehkan naik?"
Sang Siauw-tan sejak dulu memangnya sudah membenci diri Ciu Pak, kini dia segera tertawa tawar.
"Ciu Pepek...."
Ujarnya sambil tertawa.
"Aku tidak akan naik, ayahkupun sedang menanti diriku ditepian sebelah sana."
"Oooh itu lebih bagus lagi!"
Seru Ciu Tong tawar.
"Cepat kau naiklah ke atas perahu, aku memangnya sedang cari ayahmu, sudah sepuluh tahun lamanya aku tidak bertemu, mari kita bersama-sama pergi mencari dia orang."
Dalam hati Sang Siauw-tan semakin bingung lagi dibuatnya, di dalam hatinya dia benar-benar tidak ingin naik ke atas perahunya baru saja dia hendak membantah kembali, mendadak terdengar Ciu Pak sudah membuka mulut.
"Siauw-tan Moay-moay, apakah kau tidak mau naik keperahu kami?"
Ujarnya tawar.
"Luka yang kau derita belum sembah benar-benar sedang Sang Pepekpun ada ditepi sana, aku kira tentunya kalian tidak akan takut terhadap kami bukan?"
"Hmmm, kenapa aku harus takut kepadamu?"
Dia tersenyum.
"Ciu pepek kau hendak kemana?"
Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah bertemu dengan kawan lama, sekarang sengaja berjalan-jalan keluar untuk mencari mereka.
Sang Siauw-tan segera tertawa, dia tahu Ciu Tong tentu hendak berangkat menuju ke daerah Tibet, tetapi dia tidak ingin memecahkan rahasia ini, ujarnya sambil menoleh ke arah Koan Ing.
"Mari kitapun ikut naik kesana...."
Sehabis berkata dia mulai menaiki tangga itu.
Koan Ing ragu-ragu sebentar, tetapi ketika teringat akan luka dari Sang Siauw-tan yang masih belum sembuh dan mengetahui juga Ciu Tong ayah beranak jadi orang sangat berbahaya sekali terpaksa diapun ikut naik ke atas perahu tersebut.
Ciu Pak yang selama ini melihat sikap Sang Siauw-tan dengan Koan Ing amat mesra sekali, dalam hatinya terasa amat cemburu, dia melirik sekejap ke arah ayahnya, tetapi Ciu Tong sama sekali tidak memberikan komentar.
Ooo)*(ooO Bab CIU PAK segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, ketika dilihatnya Sang Siauw-tan naik ke atas tangga perahu dia segera mengulurkan tangannya sambil tertawa.
"Siauw-tan Moay-moay, mari aku bantu kau naik ke atas...."
"Hmm, tidak perlu!"
Seru Sang Siauw-tan sambil menghindarkan diri ke samping.
Sejak tadi Ciu Pak sudah menduga kalau Sang Siauw-tan tidak akan membiarkan dirinya dibantu dia orang naik ke atas perahu tetapi tujuannya yang sebenarnya tidak ada pada situ, mendadak tangan kanannya dibalik dengan kerasnya dia melancarkan satu serangan bokongan menghajar pundak Koan Ing bentaknya nyaring.
"Ayoh turun....!"
Koan Ing tidak bersiap sedia dia sama sekali, tidak menyangka kalau Ciu Pak bisa melancarkan serangan bokongan pada saat seperti ini, tetapi saat ini tenaga dalamnya sudah mencapai amat tinggi sekali, dia bukanlah Koan Ing tempo hari.
Koan Ing sekarang jauh lebih hebat berpuluh-puluh kali lipat.
Pikirannya dengan cepat berputar, tubuhnya miring ke samping menerima hajaran dari tangan Ciu Pak ini, dia mendengus berat tapi tangannya tidak berdiam diri, mendadak tangan kanannya diayun mencengkeram tangan kanan dari Ciu Pak.
Dengan cepat tenaganya dikerahkan.
Braak....!
Dengan amat tepat sekali dia berhasil menarik tubuh Ciu Pak tercebur ke dalam sungai, sedang tubuhnya dengan meminjam kesempatan itu meloncat naik ke atas perahu.
Begitu tubuh Koan Ing mencapai permukaan perahu, dengan pandangan amat dingin dia melirik sekejap ke atas tubuh Ciu Tong.
Air muka Ciu Tong sedikit berubah, tetapi dia tidak memperlihatkan gerakan apa-apa, cuma dengan pandangan amat tawar dia melirik sekejap ke arah diri Koan Ing.
Koan Ing yang melirik gerak-gerik dari Ciu Tong segera dia tahu kalau dia orang sudah terlalu pandang tinggi kedudukannya sehingga tidak mau bergerak dengan dirinya.
Saat itulah dirinya baru menghembuskan napas lega, walau pun pundak kirinya yang terkena hajaran terasa sedikit sakit tetapi untung saja serangannya tersebut tidak berat sehingga tidak sampai membuat dia terluka.
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing berhasil menarik tubuh si kongcu tak berbudi masuk ke dalam sungai tak terasa lagi sudah memberikan sebuah senyuman manis kepadanya.
Terhadap jatuhnya Ciu Pak ke dalam sungai Ciu Tong sama sekali tidak melirik barang sekejappun, pandangannya yang amat dingin dengan perlahan-lahan di alihkan ke atas wajah Koan Ing, dia sama sekali tak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing jauh di atas Ciu Pak sendiri.
Selama ini terus menerus menganggap Ciu Pak sebagai jagoan berkepandaian tinggi dari murid angkatan kedua, kini dia sudah dikalahkan oleh Koan Ing membuat dia orang dengan pandangan terpesona memandang tajam diri Koan Ing.
"Kau apa benar-benar anak murid dari Cu Yu?"
Tanyanya perlahan.
"Aku tidak punya kegunaan untuk menipu dirimu."
Saat itu dengan perlahan Ciu Pak sudah memanjat naik ke atas perahu, tiba-tiba Ciu Tong melirik sekejap ke arahnya sambil perintahnya.
"Ehmm.... coba kau sekali lagi minta beberapa petunjuk dari diri Koan Ing."
Dengan pandangan amat gusar Ciu Pak melirik sekejap ke arah Koan Ing tadi benar-benar sudah membuat dia kehilangan muka, dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian ilmu silat Koan Ing sudah memperoleh kemajuan yang demikian tingginya.
Dia merasa gemas dan benci karena Koan Ing sudah membikin dia malu di depan muka Sang Siauw-tan, kini mendengar ayahnya menyuruh dia orang menjajal kembali ilmu silat dari Koan Ing, tubuhnya dengan cepat berkelebat berturut-turut dia melancarkan tiga serangan gencar ke arah Koan Ing, Koan Ing pun tahu keanehan dan kelihaian ilmu silat Ciu Pak-bilamana dia harus kehilangan kesempatan lagi kemungkinan sekali dia orang akan menerima rugi yang amat besar.
Berpikir sampai disitu, tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping untuk kemudian bergeser pula tiga langkah ke belakang bahkan hal ini hampir-hampir tidak mungkin bisa terjadi, karena Koan Ing tidak akan mau memperlihatkan kelemahannya di depan mata Sang Siauw-tan.
Tetapi saat ini tidak ada kesempatan buat dia orang untuk berpikir panjang, begitu Koan Ing mengundurkan dirinya ke belakang dia segera mendesak kembali ke depan, ejeknya.
"Hey Koan Ing, sekarang kau orang mau melarikan diri kemana?"
Tiba-tiba kaki kanan Koan Ing membentuk gerakan busur, dengan cepatnya dia melemparkan tendangan kilat mengancam tumitnya, Ciu Pak mendengus dengan amat dingin, dia percaya dengan ilmu mayat membusuk dari lautan Timur yang dimilikinya sekarang ini dia ingin menghancurkan Koan Ing di dalam serangannya ini, terhadap serangan tendangan yang dilancarkan Koan Ing barusan ini dia sama sekali tidak ambil perduli, mendadak tangan kanannya dibalik mengancam jalan darah Sin Cuang hiat pada leher Koan Ing, Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, ketika dia orang melihat ternyata Ciu Pak berani menerima tendangannya dengan keras lawan keras membuat dia mendengus dengan dinginnya, ujung kaki kanannya dengan cepat menghajar tumit kaki Ciu Pak.
Ujung kakinya yang tepat menghajar tumit Ciu Pak segera merasakan kakinya itu keras bagaikan baja agaknya persendiannya sudah terbuyarkan oleh serangannya itu.
Hatinya menjadi amat terperanjat, tubuhnya dengan cepat menghindar ke samping tetapi pada saat yang bersamaan pula lima jari dari Ciu Pak sudah menyambar di belakang lehernya, terasa segulung angin yang amat dingin menyambar datang membuat dia orang saking terkejutnya keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya.
Terdengar Ciu Pak mendengus dengan beratnya.
air mukanya berubah menjadi pucat pasi sedang tubuhnya berdiri tak bergerak, jelas sekali dia sudah mendapatkan serangan yang tepat menghajar badannya.
Melihat kejadian itu Ciu Tong segera mendengus dingin, dia tahu pemuda yang ada di hadapannya ini jelas sudah memperoleh seluruh pelajaran ilmu silat aliran Thian-yu, kehebatan dari tenaga dalamnya jauh melebihi diri Ciu Pak.
Pikirannya dengan cepat berputar, dia tahu manusia semacam Koan Ing ini tidak bisa ditinggal lebih lama lagi, bilamana dia orang adalah anak murid dari Kong Bun-yu dirinya bagaimanapun juga masih merasa sedikit jeri, tetapi dia mengaku sebagai muridnya Cu Yu, dia orang tidak usah merasa ragu-ragu lagi.
"Hey orang muda,"
Terdengar Ciu Tong berkata dengan suara yang amat dingin.
"kepandaian silatmu tidak jelek."
Walaupun Koan Ing berhasil memperoleh kemenangan tetapi kini Ciu Tong ada di sampingnya dalam hati diapun merasa sedikit jeri, mendengar perkataan tersebut segera dia mengerti apa maksud dari Ciu Tong itu.
"Aaah mana, mana.... cuma api kunang-kunang tidak bisa dikatakan bagus...."
Ciu Tong tersenyum.
"Orang muda kau jangan terlalu pandang rendah dirimu, saat ini dari angkatan kedua, orang yang bisa memiliki kepandaian silat setinggi kau boleh dikata cuma kau seorang saja."
Ciu Pak yang mendengar ayahnya sudah membuka mulut terpaksa dengan terpincang-pincang dia mengundurkan diri ke samping, tendangan dari Koan Ing tadi benar-benar di luar dugaannya, dia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu mayat membusuknya bisa terpecahkan oleh serangannya tersebut.
Koan Ing melirik sekejap ke arah Ciu Pak, dia tertawa tawar, saat ini dia tidak tahu Ciu Tong begitu memuji dirinya entah mempunyai maksud baik atau maksud jahat terhadap dirinya, bagaimanapun juga dia merasa bangga juga.
Sekali lagi dia tertawa.
"Cianpwee, kau terlalu memuji."
Ciu Pak pun tertawa dengan perlahan, dia menoleh ke tengah sungai ujarnya perlahan.
"Di dalam Bu-lim semua orang tahu kalau beberapa turunan Toocu dari pulau Ciat Ie To di lautan Timur paling gemar menggunakan obat-obatan, tapi tak seorang pun yang tahu apa tujuan dari pihak Ciat Ie To kami untuk menggunakan obat-obatan tersebut.... Sambil berkata sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap diri Koan Ing, ujarnya kemudian.
"Mungkin ini hari kau orang mau mencobacobanya."
Koan Ing yang disapu oleh pandangan mata Ciu Pak segera merasakan hatinya bergidik, tetapi suatu pergolakan yang amat keras mempertahankan dirinya, dia menarik napas panjang-panjang dengan sikap seperti orang tidak paham tanyanya.
"Boanpwee tidak tahu apa maksud dari perkataan Cianpwee, harap kau orang suka menjelaskan."
Ciu Tong tertawa dingin, sepasang tangannya ditepuk beberapa kali, dan dalam ruangan perahu itu segera meloncat keluar dua orang pemuda berbaju hitam yang wajahnya amat pucat pasi dan menakutkan sekali, agaknya mereka berdua belum pernah terkena sinar matahari.
Sang Siauw-tan yang melihat munculnya kedua orang itu dalam hati diam-diam merasa amat terkejut, kini perahu berlayar terus dengan lajunya sedang jarak dengan tepi pantaipun amat jauh, kelihatan sekali Ciu Tong sama sekali tidak bermaksud untuk menemui ayahnya, mereka berdua entah sedang memainkan peranan siasat licik apa?
Kedua orang berbaju hitam itu begitu meloncat keluar dari dalam ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun segera menggunakan pedangnya masing-masing melancarkan serangan ke arah Koan Ing.
Melihat hal itu Koan Ing menjadi amat terkejut bercampur gusar, dia sama sekali tidak menyangka Ciu Tong hendak membinasakan dirinya di tempat ini.
Tangan kanannya dengan cepat dibalik.
"Crrriinng....!"
Pedang Kiem-hong-kiam sudah dicabut keluar dari sarungnya.
Begitu pedang tersebut muncul di hadapan mereka, kedua orang itu segera berpisah menjadi dua bagian, yang satu dari kiri yang lain dari kanan bersama-sama membabat pinggang Koan Ing.
Koan Ing dengan cepat menggetarkan pedangnya kemudian dengan keras lawan keras menahan datangnya serangan kedua orang itu.
Pada saat dia sedikit berayal itulah kedua orang itu dengan kecepatan bagaikan kilat sudah melancarkan enam serangan sekaligus.
Melihat hal itu Koan Ing menjadi sangat gusar, walaupun mereka berdua melancarkan serangan dengan amat cepat tetapi sama sekali tidak mengadakan pertahanan buat mereka sendiri, dia segera mengerti kedua orang itu tentu sengaja dikirim Ciu Tong untuk mengadu jiwa dengan dirinya.
Dengan gusarnya dia bersuit nyaring, pedang panjangnya digetarkan, di tengah-tengah suara dengungan yang amat keras, pedang Kiem-hong-kiamnya segera berubah bentuk menjadi gerakan setengah busur, dengan amat cepatnya dia berhasil memunahkan keenam serangan gencar itu.
Begitu Koan Ing mengeluarkan pedangnya Ciu Tong sekalian segera merasa amat terperanjat bukankah pedang Kiem-hong-kiam yang ada di tangan Koan Ing sekarang ini merupakan tanda kepercayaan dan ciangbunjin Thian-yu-pay, ketika melihat lagi pada gerakan pedang, segera mereka mengetahui gerakan tersebut bukan lain merupakan ilmu Sim Hoat dari Thian-yu Jie su-kiam, hati mereka semakin terperanjat lagi.
Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, tubuh kedua orang yang ada di tengah udara kini terbuka suatu lubang kelemahan, agaknya mereka sama sekali tidak takut kalau Koan Ing melancarkan serangan menusuk ke arah mereka.
Pertengkaran antara Cu Yu serta suhengnya Thian-yu Khei Kiam Kong Bun-yu mereka sudah pernah mendengar, bagaimana sekarang Kong Bun-yu mau menyerahkan pedang Kiem-hong-kiamnya kepada dia?
Terpikir akan hal ini diam-diam Ciu Tong merasa menyesal sekali, selama hidupnya Kong Bun-yu jadi orang amat congkak, jikalau kini muridnya diganggu mana dia orang mau berdiam diri?
pulau Ciat Ie To-nya mungkin akan diobrak-abrik olehnya.
Tetapi urusan kini sudah berjalan, menyesalpun tak ada gunanya lagi.
Kedua orang pemuda berbaju hitam itu ketika melihat keenam buah serangan mereka berhasil dipukul balik berturutturut melancarkan kembali delapan serangan gencar, agaknya mereka sama sekali tidak punya maksud untuk mengundurkan diri.
Dengan dinginnya Koan Ing mendengus, tangan kanannya diayun pedang panjangnya dengan menggunakan jurus Thian Hong Ih Wie atau pelangi merah menutupi ekor melancarkan serangan mengancam tangan ke dua orang itu, segera terlihatlah sinar emas yang menyilaukan mata memenuhi seluruh angkasa disertai desiran angin serangan yang amat tajam.
Tetapi kedua orang itu seperti tidak melihat datangnya serangan gencar itu, kedua bilah pedang mereka yang satu mengancam alis Koan Ing sedang yang lain menusuk ke arah lambungnya.
Dalam hati Koan Ing segera merasakan hatinya amat mendongkol sekali, dia sama sekali tidak menyangka kalau orang itu bisa begitu tololnya, dia ingin menggunakan lengannya untuk ditukar dengan nyawanya sendiri, segera pikirnya di dalam hati.
"Hmmm, aku mau lihat kalian bisa menyerang aku tidak?"
Jurus-jurus serangan yang digunakan kedua belah pihak amat aneh dan cepat sekali, sebenarnya Koan Ing bermaksud menggunakan jurus ini untuk mendesak mereka berdua sehingga menarik kembali serangannya, tetapi dia tidak menyangka akan hal ini dalam keadaan bingung dia segera meloncat naik ke atas.
Sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat urusan sudah menjadi begitu rupa, orang tidak mau ambil perduli lagi, pedangnya dengan cepat berkelebat kedua buah lengan orang itu sudah terkena babatan sehingga putus menjadi dua bagian, darah segar mengucur keluar dengan derasnya tetapi mereka berdua sama sekali tidak merasakan akan hal ini.
Koan Ing tidak berani pikirkan bayangan yang kedua, tangan kirinya segera dibabatkan ke depan sedang tubuhnya menjatuhkan diri ke arah belakang, dimana tangannya berkelebat segera membentuk sebuah gerakan busur di tengah udara.
Dimana tangan kanannya berkelebat dengan amat cepatnya dia berhasil menangkis seluruh serangan yang dilancarkan ke dua orang itu ke arahnya.
Jurus serangan yang digunakan Koan Ing ini bukan lain adalah jurus serangan yang diciptakan Kong Bun-yu sewaktu ada di ruangan bawah tanah, ilmu pedang "Thian-yu Jie sukiam"
Sebenarnya memang sudah lihay dan aneh sekali dimana serangan bisa digunakan dengan pedang bisa pula digunakan dengan telapak tangan, kini ditambah lagi serangannya dilancarkan dengan sepenuh tenaga sudah tentu kehebatannya luar biasa sekali.
Tempo hari Kong Bun-yu dengan membuang waktu selama sepuluh tahun lamanya bermaksud hendak menggabungkan seluruh ilmu silat yang diketahuinya di dalam Bu-lim untuk menciptakan sebuah ilmu baru demi persiapan untuk menghadapi pertemuan puncak di atas gunung Hoa-san di kemudian hari, akhirnya dia berhasil juga menciptakan ilmu tersebut, tapi akhirnya ilmu-ilmu semua itu diturunkan semua kepada diri Koan Ing.
Koan Ing yang berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut segera merasakan keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya....
Ciu Tong yang melihat Koan Ing berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut dalam hati merasa bergidik juga, dia mengetahui jelas kalau Koan Ing sudah memperoleh ilmu silat dari Kong Bun-yu muridnya saja sudah begitu lihay sudah tentu tenaga dalam dari Kong Bun-yu selama sepuluh tahun ini sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali, kelihatannya pada pertemuan puncak di kemudian hari di atas gunung Hoa-san dia harus memperhatikan tiga bagian terhadap Kong Bun-yu ini, kalau tidak, mungkin sebutan jago nomor wahid bisa direbut olehnya.
Jilid 4 Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terdengar suara yang amat dingin bergema mendatang.
"Ciu heng, kau sungguh gembira sekali ini hari jauh dari lautan timur berpesiar ke daerah Tionggoan."
Ciu Tong agak tertegun dibuatnya, ketika dia angkat kepalanya tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya berkelebat menuju ke ujung perahunya, orang itu bukan lain adalah pangcu dari Tiang-gong-pang, si jari sakti Sang Su-im adanya.
Dia orang yang angkat nama bersama-sama dengan Sang Su-im masing-masing orang selama sepuluh tahun ini pada berlatih dengan amat giatnya, bagaimana kemajuan dari kepandaian silat, yang diperoleh masing-masing pihak mereka sama sekali tidak tahu, sedang dia sendiripun tidak ingin kalau Sang Su-im mengetahui jerih payahnya selama beberapa tahun ini.
Dia segera tertawa, tangannya digape mengundurkan kedua orang berbaju hitam itu lantas ujarnya.
"Tidak kusangka sama sekali Sang Loo-te bisa datang ke sini secara begitu mendadaknya, putrimu tadi bilang kau sedang menunggu mereka di tepian sungai."
Sang Siauw-tan yang melihat munculnya Sang Su-im di sana dalam hati merasa amat girang, dengan cepat dia menubruk maju ke depan sambil panggilnya.
"Tia...."
Sang Su-im tertawa, dengan perlahan dia miringkan kepalanya memperhatikan gerak-gerik dari kedua orang berbaju hitam itu dimana saat itu mereka berdua sedang memungut putungan lengan mereka kemudian berlari masuk ke dalam ruangan perahu, diam-diam hatinya merasa teramat heran, pikirnya.
"Ehmm.... bagaimana mereka berdua bisa bersikap begitu?"
Walaupun pikirannya diperas terus tetapi pada air mukanya sedikitpun tidak memperlihatkan perubahan apapun, sinar matanya dengan perlahan dialihkan kembali ke arah si iblis tua itu, Ciu Tong yang melihat sinar matanya melirik sekejap ke arah kedua orang itu hatinya merasa amat kaget, dia benarbenar tidak menginginkan kalau Sang Su-im berhasil menemukan sesuatu dari mereka itu, dia tidak ingin sampai maksud jahat yang sudah disusun selama mi diketahui oleh pihak lawannya.
Segera dia tertawa serak.
"Aaaah tidak mengapa.... tidak mengapa,"
Ujarnya dengan cepat.
"Mereka berdua baru saja dikutungi lengannya."
Sang Su-im cuma tertawa tawar saja di dalam hati dia sudah mempunyai rencana yang tersendiri karenanya dia tidak ingin memperpanjang persoalan itu kembali, Sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah putrinya Sang Siauw-tan, mendadak air mukanya berubah hebat tanyanya kepada Siauw-tan dengan suara berat.
"Siauw-tan, kau sudah dipukul oleh siapa?"
Sembari berkata matanya melirik sekejap ke arah Ciu Tong.
"Tia, aku sudah dipukul oleh Husangko itu muridnya Hu Ing Thaysu dari Tibet."
Mendengar jawaban tersebut Sang Su-im segera mendengus dengan amat kerasnya, dia tahu walaupun Hu Ing Thaysu dikatakan sebagai jago nomor wahid dari daerah Tibet tetapi orang-orang Bu-lim jelas mengetahui kalau kepandaian silatnya masih belum bisa menandingi kepandaian silat dari empat manusia aneh, buat apa muridnya sekarang datang ke daerah Tionggoan untuk mencari gara-gara?
Koan Ing sendiri sama sekali tidak menduga kalau Sang Suim bisa muncul disana secara mendadak, dia benar-benar merasa sangat keheranan.
Pada saat Sang Su Iu munculkan dirinya itulah kedua perahu layar milik perkumpulan Tiang-gong-pang sudah berlayar mendatang dengan menggencet perahu yang di tumpangi Ciu Pak, satu dari sebelah kanan yang lain dari sebelah kiri.
Ciu Tong yang mendengar Sang Siauw-tan terluka di tangan Husangko itu jagoan dari Tibet, hatinya diam-diam merasa keheranan mereka semua adalah jago-jago Bu-lim yang sudah lama berkelana di dalam dunia persilatan, sudah tentu merekapun tidak percaya kalau urusan bisa terjadi dengan begitu mudahnya.
Sang Su-im sendiripun tahu peristiwa ini tidak mungkin terjadi dengan begitu mudahnya, tetapi dia mana mau membiarkan putrinya mendapatkan kerugian?
Sekalipun Hu Ing Thaysu sendiri yang datang diapun tidak akan membiarkan putrinya mendapatkan gangguan dari mereka.
Segera dia tertawa dingin, kepada orang yang ada pada perahu sebelah kanan serunya.
"Sampaikan perintah kepada kedua belas orang Hu Hoat untuk ikut lohu memasuki daerah Tibet."
Angin bertiup kencang membuat arus sungai sedikit berombak, tetapi perkataan yang disampaikan olehnya secara perlahan ini dapat didengar dengan amat jelas di atas perahu tersebut., tampak orang ttu segera melepaskan burung merpati ke udara.
Ciu Tong yang melihat gerak-gerik mereka ini diam-diam merasa kaget, kelihatannya keorganisasian perkumpulan Tiang-gong-pang jauh lebih maju lagi daripada tempo hari, kekuatan tersebut dia tidak boleh memandangnya terlalu rendah, Sang Su-im sesudah memberi perintah dia segera putar badannya menoleh ke arah Ciu Tong.
"Terima kasih atas bantuan dari Ciu heng kepada siauw lie,"
Ujarnya keren.
"Di kemudian hari, tentu aku balas budi ini, kali ini aku tidak bisa menemani lebih lama lagi."
"Sang Loo-te, jangan keburu pergi!"
Dengan cepat Ciu Tong mencegah sewaktu dia mendengar Sang Su-im hendak pergi.
"Kita empat manusia aneh selamanya selalu bekerja sama, jika Hu Ing Thaysu sudah berbuat salah maka satu bagianku tidak bisa berkurang lagi. Apalagi kereta berdarah kini sudah memasuki Tibet, persoalan dahulu yang belum diselesaikan kini bisa kita selesaikan sekalian disana, mari kita berangkat ber sama-sama."
Keberangkatan Sang Su-im kali ini ke daerah Tibet di samping persoalan-persoalan lain, peristiwa kereta berdarah termasuk juga salah satu tujuannya, kini mendengar Ciu Tong mau berangkat bersama-sama dengan segera dia menyanggupi karena dia merasa sudah mendapatkan satu orang bantuan kembali.
"Kalau begitu bagus sekali,"
Ujarnya kemudian sambil tertawa. Ciu Tong pun tertawa.
"Kenapa kalian tidak menumpang perahu ku saja? Bagaimana kalau kita berlayar mengikuti arus sungai sampai ke daerah Pa Siok kemudian baru menggunakan jalan darat melanjutkan perjalanan menuju ke daerah Tibet?"
Ketika Sang Su-im mendengar Ciu Tong minta dia orang ikut di dalam perahunya, walaupun dia tahu dengan jelas Ciu Tong bukanlah seorang manusia baik-baik, tetapi kini dia orang sudah membuka mulut, sudah tentu dia sendiri tidak akan mau memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain.
"Baiklah kalau begitu kita putuskan demikian saja,"
Ujarnya sambil tertawa.
"Biar aku perintahkan kedua belas orang Hu Hoat untuk memasuki daerah Tibet terlebih dulu, kemudian kita baru menyusul mereka dari belakang. Ciu Tong tersenyum, dia melirik sekejap ke arah diri Koan Ing lalu ujarnya sambil tertawa.
"Ooooh.... aku sudah melupakan seseorang di dalam perahu ini masih ada lagi seorang ciangbunjin dari Thian-yupay yang merangkap pula sebagai Ciangbunjin dari Pay.
"Ooooh begitu?"
Seru Sang Su-im tertahan, dengan pandangan penuh keheranan dia melirik sekejap ke arah Koan Ing.
Dia tahu Koan Ing memiliki pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie, tetapi dalam persoalan ini dia tidak terlalu tertarik karena kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing sekarang ini, pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie itu pasti ditemukan secara tidak sengaja.
Sebaliknya jabatan ciangbunjin dari Thian-yu-pay, hal ini benar-benar membuat ia merasa heran, bagaimana mungkin Kong Bun-yu bisa memberikan jabatannya itu kepada diri Koan Ing?
Sang Siauw-tan yang melihat mereka sedang membicarakan diri Koan Ing, dengan diam-diam segera bisiknya kepada Sang Su-im.
"Tia, tadi dia orang sudah menolong lagi satu kali kepadaku."
Ketika Sang Su-im mendengar Koan Ing adalah ahli waris dari Kong Bun-yu, dalam hatinya sudah menaruh tiga bagian perasaan simpatiknya, kini mendengar pula kalau dia sudah menolong Sang Siauw-tan satu kali, tak terasa lagi dia sudah melemparkan satu senyuman manis ke arahnya.
Dia tahu hubungan Koan Ing dengan putrinya Sang Siauwtan tentu amat baik sehingga dia mau berturut-turut menolong dua kali kepada dirinya, benar-benar dia menaruh rasa senang kepada ketampanan wajahnya.
Cuma ada satu hal yang membuat dia merasa kecewa, kepandaian silat yang dimilikinya terlalu rendah sekali.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im melemparkan satu senyuman manis kepada diri Koan Ing segera mengetahui kalau dia orang sudah menaruh rasa simpatik kepada dirinya, mendadak dalam pikirannya berkelebat satu ingatan.
"Sang Loo-te...."
Ujarnya kemudian.
"Aku punya satu urusan yang hendak dirundingkan dengan dirimu, entah Sang Loo-te mengijinkan atau tidak?"
"Ciu heng, bilamana ada urusan yang hendak dikatakan, silahkan berbicara,"
Ujarnya sambil tertawa senang.
Dia benar-benar merasa amat girang sekali karena Ciu Tong mau membuka pembicaraan dengan memohon kepada dirinya, selama ini empat manusia aneh tak ada yang mau tunduk kepada siapa pun, siapa tahu Ciu Tong sudah membuka mulut untuk memohon kepada dirinya, sudah tentu hal ini membual hatinya merasa kegirangan.
Ciu Tong pun tertawa.
"Aku ingin menjodohkan putraku dengan putrimu."
Sang Su-im menjadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka dia orang bisa mengajukan permintaan di dalam hal ini semua dia masih mengira Ciu Tong tentu mempunyai urusan yang meminta bantuan dari dirinya.
Tetapi dia sudah membuka mulut, apa yang harus diperbuat sekarang?
Ciu Pak sendiripun sama sekali tak menduga kalau ayahnya bisa membuka mulut meminangkan buat dirinya, mendengar perkataan tersebut dia menjadi sangat girang, sambil tersenyum senang dia melirik sekejap ke arah diri Sang Siauwtan.
Sebaliknya Sang Siauw-tan sendiri mimpi pun tidak pernah menyangka kalau Ciu Tong berani membuka mulut melamar dirinya pada saat ini, dia yang sudah merasa tidak puas terhadap sifat Ciu Pak dengan cepat melengos ke samping.
Sang Su-im melirik sekejap ke arah putrinya, dia tahu Sang Siauw-tan sangat benci terhadap pemuda itu, terpaksa dia tertawa tawar.
"Perkataan dari Ciu heng walaupun siauwte menerimanya, tetapi untuk mengambil keputusan, siauwte kira masih belum saatnya."
Sinar mata Ciu Tong dengan berkelebat, hatinya benarbenar merasa sangat tidak senang.
"Sang Loo-te. kau merasa putraku dalam hal apa tidak sesuai?"
Sang Su-im tertawa, dia termenung sebentar kemudian baru jawabnya.
"Ciu heng, kau jangan salah paham, sewaktu ibunya mendekati ajalnya dia sudah berjanji untuk kawin dengan seorang pemuda murid dari manusia yang berilmu paling tinggi di dalam pertemuan para jago yang kedua di atas gunung Hoa-san."
Ooo)*(ooO Bab CIU TONG segera tertawa terbahak-bahak.
"Jikalau orang ini tidak bermurid?"
Tanyanya keras.
Sang Su-im segera tertawa, dia tahu saat ini orang yang bisa kawin dengan putrinya cuma beberapa orang saja, sedang Ciu Tong ini tidak perduli jadi orang lurus atau jahat, pokoknya merupakan seorang jagoan pula.
"Haa.... haa.... pada saat itu sudah tentu putramu yang aku pilih."
Mendengar perkataan tersebut Ciu Tong semakin senang.
"Cepat ucapkan banyak terima kasih kepada Sang Pepek,"
Ujarnya kemudian kepada Ciu Pak. Tanpa menunggu lama lagi Ciu Pak dengan cepat maju memberi hormat kepada diri Sang Su-im.
"Terima kasih atas kemurahan Sang Pepek."
"Nanti dulu, kau jangan begitu terburu-buru!"
Seru Sang Su-im sambil tertawa tawar.
"Sang Siauw-tan belum tentu berhasil kau kawini."
"Haaa.... haaa Sang Loo-te, di dalam Bu-lim saat ini cuma ada kita empat keluarga besar saja, kau dan aku sudah menduduki dua keluarga. Cak Loo-te tidak bermurid kini tinggal Kong Loo-te seorang saja, aku lihat diapun tidak bermurid."
"Tetapi maksudku aku mau mencarikan suami baginya dari antara para pemenang pada pertemuan puncak para jago yang kedua di gunung Hoa-san pada kemudian hari."
Ciu Tong segera tertawa terbahak-bahak, dia melirik sekejap ke arah Koan Ing kemudian ujarnya.
"Kelihatannya kesempatan buat kita dua keluarga untuk mengikat hubungan amat besar sekali,"
Sang Siauw-tan yang mendengar mereka ngoceh terus tentang dirinya, dalam hati merasa amat tidak senang, kepalanya segera dipalingkan ke tengah sungai, Koan Ing yang melihat perahu tersebut sama sekali tidak menepi tak terasa lagi sudah kerutkan alisnya rapat-rapat, dia merasa tidak betah untuk tinggal bersama dengan mereka tetapi untuk membuka mulut memohon diapun tidak mau, hatinya benar-benar merasa serba susah sekali.
Ciu Tong yang melihat perubahan sikap dari Koan Ing segera merasakan hatinya sedikit bergerak, asalkan Koan Ing tidak ada disini bukankah urusan besar akan segera bisa diselesaikan?
"Apakah kau orang mau naik ke daratan?"
Tanyanya kepada Koan Ing sambil tertawa. Belum sempat Koan Ing memberikan jawabannya Sang Su-im sudah tertawa.
"Koan Hian-tit,"
Ujarnya perlahan.
"kau tinggal di atas perahu saja, aku dengar ayahmu juga terbinasa di bawah serangan kereta berdarah itu, bilamana kau mau memasuki daerah Tibet bagaimana kalau kau berangkat bersama dengan kita sekalian."
Koan Ing sewaktu mendengar Sang Su-im mengungkit kembali persoalan ayahnya dalam hati dia amat sedih, untuk mengucapkan kata-kata dia tidak sanggup lagi. Sang Su-im tertawa kembali, katanya.
"Supekmu apakah selama ini baikbaik saja?"
Teringat akan pesan terakhir dari Kong Bun-yu, Koan Ing segera menganggukkan kepalanya.
"Sudah ada beberapa tahun lamanya aku tidak bertemu dengan Kong Bun-yu entah bagaimana keadaannya sekarang ini?"
Ujarnya lagi kepada diri Ciu Tong, tetapi jika dilihat dari pedang kesayangannya yang sudah diberikan kepadanya, hal ini membuktikan kalau dia orang mempunyai suatu kelebihan yang istimewa, kalau tidak Kong Bun-yu tidak akan sembarangan menghadiahkan barang kesayangannya kepada orang lain.
Ciu Tong yang mendengar dari nada ucapan Sang Su-im agaknya dia orang merasa amat sayang dengan diri Koan Ing, segera tertawa "Kepandaian silat dari Koan Ing inipun boleh dikata merupakan jagoan nomor wahid dari murid angkatan kedua."
Walaupun pada mulutnya dia berbicara demikian, padahal di dalam hati dia sudah mengambil keputusan yang lain, dia sedang berpikir harus menggunakan cara apa untuk menghadapi diri Koan Ing, dia ingin melihat dulu keanehan dan kelihayan dari ilmu silatnya Koan Ing, agar pada pertemuan puncak para jago yang kedua di atas gunung Hoasan di kemudian hari dia orang jangan sampai menemui kekalahan di tangan Kong Bun-yu, Pada saat itulah mendadak dari arah depan meluncur datang sebuah perahu layar yang bergerak mendatang dengan amat cepatnya.
Sang Su-im yang melihat datangnya perahu layar tersebut diam-diam mengerutkan alisnya, dia segera mendengus dingin.
"Ciu heng,"
Ujarnya tawar.
"ternyata ini hari ada orang yang sengaja datang mencari setori dengan aku."
Sepasang mata dari Ciu Tongpun segera melotot keluar, dari ujung perahu dia mengambil keluar seutas tali, kemudian dengan menggunakan tangan kanannya dia menyambitkan tali tersebut mengarah tiang layar dari perahu yang meluncur datang itu, Dengan amat gusarnya dia bersuit panjang, pada saat tangan kanannya digetarkan, terdengarlah suara ambrukan yang amat keras, tiang layar dari perahu itu sudah berhasil dipukul patah menjadi dua bagian, Dengan gerakan dari Ciu Tong ini seketika itu juga membuat Sang Su-im merasa sangat terkejut., dia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam dari Ciu Tong ternyata sudah berhasil mendapatkan kemajuan yang amat pesat sekali, hanya di dalam waktu beberapa tahun saja, agaknya dia orang tidak dapat dipandang terlalu rendah, Ilmu jari Han Yang Ci Kang dari dirinya sekalipun bisa menghancurkan ilmu mayat membusuk yang dimiliki olehnya, tetapi jikalau serangannya mencapai kegagalan maka dirinyalah yang akan ditawan olehnya.
Begitu tiang layar itu terputus menjadi dua bagian maka tubuh perahupun menjadi miring ke samping.
Dari ujung perahu itu segera meloncatlah keluar sesosok bayangan manusia yang dengan amat cepatnya meluncur ke arah ujung perahu mereka.
Koan Ing dapat melihat orang itu mempunyai bentuk badan yang tinggi besar dengan wajah yang berwarna merah padam sedang memandang mereka berlima dengan pandangan amat gusar.
Ciu Tong maupun Sang Su-im pada melengos ke arah sungai, mereka berdiri dengan amat tenangnya seperti tidak pernah terjadi sesuatu urusan apapun, bahkan melirik sekejap ke arah orang itupun tidak.
Sinar mata orang itu dengan amat tajamnya menyapu sekejap ke arah mereka semua, kemudian dengan nada suara yang amat berat tanyanya.
"Siapa orang yang begitu berani merusak perahuku?"
Perahumu? Siapa kau orang?"
Seru Sang Siauw-tan dengan amat dinginnya. Orang itu segera mengerutkan alisnya, baru saja mau membuka mulut untuk memberikan jawaban mendadak Ciu Pak yang ada di samping sudah meloncat keluar.
"Siauw-tan Moay-moay"
Ujarnya dengan cepat.
"Biar aku saja yang menghadapi dirinya."
Sambil berkata tangan kanannya diputar satu lingkaran di depan dada kemudian dengan cepatnya dihajarkan ke atas tubuh lelaki berusia pertengahan yang berwajah merah itu.
Dengan amat gusarnya lelaki berusia pertengahan itu mendengus, sepasang tangannya balas berputar melancarkan serangan dahsyat menutup datangnya serangan dan Ciu Pak itu.
Koan Ing yang melihat jurus serangan dari lelaki berusia pertengahan itu mendadak merasa hatinya berdebar, jurus itu bukan lain adalah jurus serangan Jiet Gwat Siang Huan atau matahari rembulan saling berputar dari ilmu sakti Thian-yu Sinkang, bagaimana disinipun bisa muncul seorang ahli waris dari Thian-yu-pay?
Begitu Ciu Pak melancarkan serangan tadi, mendadak sikut kanannya ditekuk melancarkan bokongan ke arah lambungnya, orang itu menjadi amat terkejut dia sama sekali tidak menyangka sikut Ciu Pak secara tiba-tiba bisa melancarkan serangan ke arahnya.
Sepasang matanya segera berkelebat tangannya dibalik balas mengirim satu pukulan ke depan.
"Braaak!"
Masing-masing dengan keras lawan keras menerima satu pukulan dari pihak lawan.
Koan Ing yang melihat serangan dari orang itu semuanya menggunakan jurus-jurus serangan dari Thian-yu-pay, hatinya semakin kaget, mendadak bentaknya dengan nada berat.
"Tahan....
"Mereka berdua sudah saling menerima satu pukulan dari lawannya, dalam hati bermaksud untuk bertanding lebih lanjut, kini mendengar suara bentakan dari Koan Ing yang begitu dingin tanpa terasa dengan penuh keheranan masingmasing sudah mengundurkan diri satu langkah ke belakang dengan pandangan keheranan mereka ber dua sama-sama memperhatikan Koan Ing.
Ciu Tong serta Sang Su-im yang semula berpura-pura tidak melihat setelah mendengar suara bentakan dari Koan Ing ini tidak terasa lagi sudah mengambil perhatian juga.
Dengan sinar mata yang amat tajam Koan Ing memperhatikan orang itu beberapa saat lamanya kemudian baru tanyanya dengan suara yang amat dingin.
"Kau murid siapa?"
Lelaki berusia pertengahan yang dipandang Koan Ing seperti demikian, dia segera mendengus dingin, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Koan Ing yang merasa dirinya sebagai ciangbunjin dari partai Thian-yu, seharusnya mengambil perhatian penuh di dalam urusan ini, dengan perlahan dia mencabut keluar pedang Kiem-hong-kiamnya.
"Kau kenal dengan pedang ini?"
Tanyanya tawar.
"Aku bukan murid dari Thian-yu-pay, buat apa kau orang mengurusi diriku?"
Koan Ing segera mengerutkan alisnya, dia tidak paham dari mana orang ini bisa mendapatkan pelajaran ilmu silat aliran Thian-yu-pay, ini hari juga dia harus memecahkan teka teki yang membingungkan ini.
Pedangnya segera dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.
"Hmm, aku harus menjajal ilmu silatmu."
Sembari berkata tubuhnya meloncat ke atas, sepasang tangannya dengan berkelebat simpang siur ke kanan dan ke kiri dia melancarkan serangan ke arah musuhnya, inilah jurus Jiet Gwat Siang Huan"
Dari ilmu sakti "Thian-yu Sinkang".
Sekalipun jurus yang digunakan sama, tetapi sewaktu digunakan di tangannya jauh berbeda sekali, terasa segulung angin pukulan yang amat keras menghajar ke arah dada orang itu, Sinar mata lelaki berusia pertengahan itu berkelebat tak henti-hentinya, tangan kanannya dengan cepat membabat ke depan menghalangi serangan dari Koan Ing tersebut, Koan Ing segera mendengus, bukankah jurus yang baru saja digunakan oleh orang itu adalah jurus Thian Hong Cu Lok dari partainya?
Bilamana orang ini hendak menggunakan ilmu silat dari aliran Thian-yu-pay untuk merobohkan dirinya, bukankah hal ini merupakan suatu urusan yang sangat menggelikan sekali?
Sekalipun dia harus memejamkan mata, arah yang akan diserang oleh orang itu diapun tahu.
Tangan kanan Koan Ing dengan cepat digetarkan ke depan, tahu di dalam satu kali kelebatan saja dia sudah berhasil mencengkeram urat nadi dari tangan kanan lelaki berusia pertengahan itu.
Lima jarinya dengan cepat diperkencang, bersamaan pula tangannya ditarik ke belakang, tubuh lelaki berusia pertengahan itu sudah berhasil ditarik ke tengah udara.
Ketika orang itu berhasil dilemparkan Koan Ing ke tengah udara, keringat dingin sudah mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia benar-benar dibuat pecah nyalinya oleh gerakan itu.
"Hmmm, kau murid siapa?"
Tanya Koan Ing kembali dengan amat tawar.
Sang Su-im yang selama ini menonton jalannya pertempuran dari samping diam-diam merasa amat heran sekali, bagaimana cuma di dalam dua bulan saja kepandaian silat dari Koan Ing sudah memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya?
Dengan cara apa dia orang bisa melatih tenaga dalamnya sehingga memperoleh kemajuan yang amat pesat tapi hanya di dalam waktu yang amat singkat ini?
Ciu Tong yang berdiri di samping segera tertawa dingin.
"Koan Ing...."
Serunya dengan nada kurang senang.
"Di hadapanku kau orang begitu berani mencari keonaran?"
Koan Ing sewaktu mendengar Ciu Tong hendak mencegah perbuatannya ini diapun segera tertawa dingin.
"Urusan ini merupakan urusan dari Thian-yu-pay kami pribadi, setelah urusan ini selesai nanti aku bisa minta maaf dari locianpwee."
Ciu Tong terpaksa cuma bisa mendengus. dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sang Su-im yang melihat Ciu Tong tidak senang segera melirik sekejap ke arahnya, ujarnya sambil tertawa.
"Ciu heng, kepandaian silat dari bocah ini hanya di dalam dua bulan saja ternyata sudah mencapai kemajuan yang demikian pesatnya, entah bagaimana dengan tenaga dalamnya?"
Ciu Tong yang mendengar dari nada ucapan Sang Su-im agaknya dia orang sangat kagum terhadap diri Koan Ing, dalam hati merasa semakin mendongkol lagi, pikirnya dalam hati.
"Hmm, Koan Ing bangsat cilik ini merupakan penghalangku, aku harus cari suatu kesempatan untuk menghadapi dirinya,"
Sebetulnya dia tidak terlalu memikirkan urusan Koan Ing ini di dalam hatinya, dia menganggap dengan kedudukannya sebagai salah satu dari empat manusia aneh tidaklah seharusnya merasa bingung untuk mengurusi persoalan Koan Ing, tetapi jika dilihat dari kemajuan ilmu silat yang diperolehnya, agaknya urusan ini harus ditangani oleh dia sendiri baru bisa beres.
Lelaki berusia pertengahan yang urat nadinya berhasil di cengkeram oleh Koan Ing walaupun keringat sebesar kedelai sudah mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya tetapi dia tetap menutup mulutnya tidak mengucapkan sepatah katapun.
Pikiran Koan Ing dengan cepat berputar, dengan perlahanlahan dia melepaskan kembali cengkeramannya.
"Kau orang sudah memperoleh pelajaran ilmu silat ini dari mana?"
Tanyanya tawar.
Lelaki berusia pertengahan itu melirik sekejap ke arah Koan Ing, dalam hati dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian silat dari pemuda ini bisa begitu hebatnya, mulutnya tetap bungkam.
"Hmm, jika kau tidak mau bicara, janganlah salahkan aku berlaku kurang sopan terhadapmu,"
Ancam Koan Ing kemudian.
Si lelaki kasar berusia pertengahan yang baru saja berhasil ditawan oleh Koan Ing segera mengetahui kalau kepandaian silatnya ada yang di atas dirinya, dia tidak bisa berbuat apaapa, lagi terpaksa jawabnya.
"Aku mendapat pelajaran ini dari Kauwcu kami."
Siapa Kauwcu kalian?"
Tanya Koan Ing kemudian sambil mengerutkan dahinya.
"Apakah Cian Thian Kauw pun kau tidak tahu?"
Koan Ing menjadi melengak.
"apakah itu perkumpulan Sian-thian-kauw? Kenapa selama ini dia belum pernah mendengar? Ciu Tong serta Sang Su-impun diam merasa amat heran sekali, sekalipun dirinya sebagai seorang pangcu dari suatu perkumpulan besar serta Toocu dari pulau Ciet Ie Too tetapi terhadap adanya perkumpulan Sian-thian-kauw ini sama sekali tidak pernah mendengar. Koan Ing termenung sebentar, tanyanya kembali.
"Siapakah nama Kauwcu kalian?"
"Hmmm.... kau kira nama dari Kauwcu kami boleh disiarkan kepada orang lain dengan seenaknya?"
Koan Ing segera mengerutkan alisnya, baru saja dia hendak mendesak lebih lanjut mendadak terdengar suara teriakan dari Sang Siauw-tan.
"Aaaah.... ada perahu lagi."
Koan Ing dengan cepat menoleh, tampak sebuah perahu layar yang amat besar dengan perlahannya berhenti di tengah sungai di hadapan mereka.
Sang Su-im yang melihat munculnya sebuah perahu, dalam hati merasa amat keheranan, dia tidak kenal asal usul dari perahu itu, apa tujuan mereka yang sebenarnya?
Dia segera mendengus dingin, kepada Ciu To ujarnya.
"Agaknya di dalam urusan ini kita harus ikut campur."
"Haaa.... haaa...."
Terdengar lelaki berusia pertengahan itu sudah tertawa kegirangan.
"Kauwcu kami sudah datang."
Sambil berkata dia tertawa keras sekali, agaknya dia orang sudah menganggap Kauwcunya bagaikan malaikat saja.
Dengan perlahan Koan Ing mengalihkan pandangan matanya ke arah perahu tersebut, terlihatlah perahu itu berhenti di tengah sungai sedikitpun tidak bergerak.
Dia benar-benar sudah merasa tidak sabaran lagi, tubuhnya mendadak meloncat ke atas kemudian membentuk gerakan busur di tengah udara dan dengan amat ringannya melayang turun pada ujung dari perahu tersebut.
Jarak yang ada sejauh lima kaki ternyata bisa ditempuh dengan gaya yang amat menarik sekali.
Baru saja Koan Ing melayang turun ke atas perahu tersebut segera terdengarlah suara dari Sang Su-im yang amat perlahan.
"Kita lebih baik lihat-lihat dulu."
Dia tahu mereka berdua sebagai seorang angkatan tua di dalam Bu-lim tidak ingin merendahkan kedudukannya dengan menampilkan diri pada saat itu, bila tidak perlu benar mereka berdua tidak akan mau melompat kesana.
Tapi Koan Ing tidak mau ambil perduli semuanya itu, dengan tenangnya dia berdiri di ujung perahu itu, Lama sekali dia berdiri disana tetapi dari balik perahu itu tak terdengar sedikit suarapun, akhirnya dia orang tidak bisa menahan sabar lagi, teriaknya.
"Koan Ing ingin menghadap kepada Kauwcu dari Sian-thian-kauw kalian."
Walaupun dia sudah berteriak beberapa kali, dari dalam perahu tersebut tidak terdengar sedikit suarapun, hatinya menjadi mendongkol juga, pikirnya.
"Siapakah sebenarnya Kauwcu dari Sian-thian-kauw itu, kenapa begitu misterius jejaknya."
"Hmm, dia tidak mau keluar, apakah dirinya tidak bisa masuk sendiri ke dalam?"
Berpikir akan hal itu dengan cepat dia berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut, Koan Ing yang berjalan masuk ke dalam ruangan perahu itu segera melihat di dalam ruangan tersebut sama sekali tidak tampak sesosok manusiapun tetapi barang yang di dalam sana amat mewah dan rapi sekali.
Di tengah-tengah ruangan itu berdirilah sebuah meja sembahyangan, di atas meja tergantung juga sebuah pedang yang memancarkan sinar yang berkilauan.
Dia menjadi melengak, kakinya dengan perlahan mulai bergeser memasuki ruangan sebelah dalam.
Tapi....
baru saja Koan Ing membuka horden pada pintu ruangan dalam mendadak terasalah segulung hawa pukulan yang amat dingin sekali menerjang tubuhnya.
Dia menjadi terperanjat di dalam ke adaan terdesak dia mundur satu langkah ke belakang.
Tapi begitu tubuhnya mundur ke belakang segera terasalah empat bilah pedang dari empat penjuru bersama-sama melancarkan serangan ke arahnya.
Dengan cepat tubuhnya merendah, kakinya berturut-turut melancarkan tiga langkah dengan menggunakan ilmu langkah Ku Hien Poh Hoat.
Walaupun dia berusaha untuk menghindarkan diri dari empat buah serangan tersebut tak urung jubah pajangnya tergores juga oleh sambaran pedang sehingga sebagian besar terkoyak.
Tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping, dalam hati dia benar-benar merasa bergidik.
Dia bukan merasa terperanjat karena kelihayan dari kepandaian silat orang itu melainkan dikarenakan jurus pedang yang bayu saja digunakan bukan lain adalah perubahan daii ilmu Lian Huan San Cie dari ilmu pedang Thian-yu Si Cap Pwee Si yang amat terkenal itu.
Ilmu Lian Huan Sim ci ini merupakan ilmu silat ciptaan Kong Bun-yu sendiri untuk melindungi badan, bilamana bukannya dia sudah sangat hapal terhadap ilmu silat tadi mungkin di bawah serangan gabungan empat bilah pedang tadi dia sudah menemui ajalnya, tapi bagaimana mereka bisa mengetahui juga ilmu silat ciptaan dari Kong Bun-yu ini?
Di dalam keadaan terperanjat sinar matanya dengan cepat berputar memandang ke empat penjuru, tampaklah empat orang pelayan perempuan dengan masing-masing mencekal sebilah pedang sedang berdiri tak bergerak pada empat buah sudut yang berlainan, saat ini merekapun sedang memandang dirinya sambil melotot.
Di belakang mereka berempat berdirilah seorang perempuan berbaju putih yang sedang membelakangi dirinya, Dengan perlahan perempuan itu putar badannya, tampaklah pada wajahnya tertutup oleh selembar kain sutera yang amat tipis walaupun begitu tidak menutupi kecantikan yang amat mempesonakan, hal ini membuat dia benar-benar terpesona dibuatnya.
Perempuan itu dengan amat tajamnya memperhatikan Koan Ing, ujarnya kemudian sambil tertawa.
"Ouw.... tidak kusangka yang datang ternyata seorang pemuda yang begitu tampan...."
Wajah Koan Ing segera berubah memerah, dia menarik napas panjang sambil tertawa paksa tanyanya.
"Tolong tanya, kauwcu dari Sian-thian-kauw sekarang ada dimana?"
"Kau mau mencari dia? Akulah orangnya!"
Seru perempuan itu sambil tertawa.
Koan Ing menjadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka kauwcu dari Sian-thian-kauw ternyata adalah seorang perempuan, untuk beberapa saat lamanya dia benarbenar dibuat tertegun.
Sinar mata perempuan itu dengan perlahan berputar, sesudah menyuruh keempat orang budaknya mengundurkan diri, ujarnya lagi sambil tertawa.
"Bukankah kau adalah anak murid dari Kong Bun-yu? Aku bisa melihatnya dari gerakan tubuhmu sewaktu memasuki perahu ini."
"Tapi sayang aku bukan muridnya!"
Jawab Koan Ing ketus. Air muka perempuan itu segera berubah amat hebat.
"Kong Bun-yu juga merupakan salah satu dari empat manusia aneh, kau tidak berani mengakui sebagai muridnya, apa kau takut kepadaku? Kau takut aku membinasakan dirimu?"
Teriaknya dingin.
Koan Ing menjadi amat terperanjat air muka perempuan itu ternyata sudah berubah menjadi amat menakutkan sekali, agaknya dia hendak membinasakan dirinya di dalam satu kali pukulan.
Dia sama sekali tidak menyangka sinar mata dari perempuan itu bisa demikian menakutkan, dia tidak berhasil mempertahankan golakan dalam hatinya sehingga tanpa terasa lagi sudah mengundurkan diri dua langkah ke belakang, tangannya dengan cepat dibalik mencabut keluar pedangnya.
Hanya di dalam sekejap itulah dia merasakan hatinya bergidik, dia merasa amat takut sekali sehingga membuat seluruh bulu kuduknya pada berdiri.
Ooo)*(ooO Bab KETIKA gadis itu melihat pedang yang berada di tangannya mendadak sinar matanya berkelebat.
"Hmmm,"
Dengusnya dingin.
"Kiranya kau adalah ciangbunjin dari Thian-yu-pay, aku sungguh kurang hormat, maaf.... maaf...."
Sambil berkata selangkah demi selangkah dia mendesak diri Koan Ing.
Koan Ing yang memandang ke arah gadis berkerudung itu untuk beberapa saat lamanya di buat termangu-mangu, dia bukan saja merasa terperanjat kalau kauwcu dari Sian-thiankauw ternyata adalah seorang perempuan bahkan kecantikan wajah perempuan itu benar-benar membuat dirinya terpesona.
Ketika perempuan itu melihat Koan Ing memperhatikan dirinya dengan mata membelalak, dengan dinginnya dia mendengus, dengan perlahan tubuhnya mulai bergeser ke arah diri Koan Ing.
Koan Ing segera sadar dari lamunannya, dalam hati dia merasa hatinya berdesir, baru saja dia hendak bergerak siapa tahu tubuh perempuan itu sudah mendesak semakin dekat lagi, sepasang tangannya dengan cepat bergerak melancarkan serangan gencar ke arahnya.
Koan Ing benar-benar dibuat terperanjat, karena serangan yang baru saja digunakan oleh perempuan itu bukan lain adalah Sim Hoat tingkat tertinggi dari aliran Thian-yu mereka, gerakan yang dilancarkan olehnya ternyata begitu cepat tidak berada di bawah sendiri.
Sinar matanya dengan cepat berkelebat, dia orang sudah mengikuti diri Kong Bun-yu selama dua bulan lamanya di dalam ruangan bawah tanah dan setiap hari berlatih dengan amat rajin, boleh dikata terhadap semua serangan dari partainya dia sudah memahami seperti memahami jari tangannya sendiri, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya dengan cepat berkelebat telapak tangannya memotong ke samping dan dengan amat tepatnya berhasil menghajar pergelangan tangan perempuan itu bahkan memisahkan pula datangnya serangan dari dirinya.
Agaknya perempuan ini sejak semula sudah menduga akan hal ini, terdengar dia mendengus dengan amat dinginnya, sikutnya dengan amat cepat dibalik ke belakang menghajar.
Koan Ing menjadi sangat kaget dia hanya merasakan segulung hawa yang amat dingin sekali merembes masuk ke dalam tulang punggungnya.
Jika tadi dia menggunakan jurus-jurus silat dari ilmu lain dia masih tidak mengapa, tetapi jurus yang digunakan barusan ini merupakan ilmu ciptaan dari Kong Bun-yu, bagaimana sang perempuan bisa mengetahuinya dengan begitu jelas, semakin dipikir hatinya semakin berdebar, tak terasa lagi bulu kuduknya pada berdiri.
Jagoan berkepandaian tinggi bertanding paling mengutamakan pemusatan pikiran sedikit meleng saja keadaan akan segera menjadi bahaya.
Koan Ing yang baru saja pikirannya bercabang segera merasakan datangnya serangan musuh yang amat gencar menerjang iganya, untuk menghindar sudah terlambat baru saja tubuhnya miring ke samping, iganya telah berhasil terhajar oleh ujung tangan perempuan itu, Dia segera mendengus berat separuh badannya terasa menjadi kaku membuat dia merasa amat terperanjat bercampur heran dia orang sama sekali tidak menyangka kalau jurus serangan yang terakhir dari perempuan itu ternyata menggunakan ilmu silat dari aliran pulau Ciat Ie To.
Pikiran kedua belum sempat berkelebat di dalam benaknya Koan Ing cuma merasakan tubuh perempuan itu dengan amat ringannya sudah menerjang kembali ke tubuhnya, dia cuma merasakan iganya amat sakit kesadarannya seketika itu juga lenyap.
Entah sudah lewat beberapa saat lamanya, dengan perlahan dia sadar kembali dari pingsannya.
Dengan perlahan Koan Ing membuka matanya, dia melihat dirinya masih menggeletak di atas tanah, di samping empat orang budak berbaju hijau itu duduklah seorang perempuan yang bukan lain adalah perempuan yang sangat misterius itu.
Hatinya merasakan bergidik, hanya dalam satu jurus saja orang itu sudah berhasil menguasai dirinya, jika dilihat dari hal inijelas sekali kalau kepandaian silatnya jauh di atas kepandaian silat empat manusia aneh, tetapi kenapa dia orang belum pernah mendengar namanya?
Pikiran Koan Ing terus menerus berputar, akhirnya pikirnya dalam hati.
Perempuan ini sebenarnya hendak berbuat apa terhadap diriku?
"Hmm, kaukah yang bernama Koan Ing?"
Terdengar perempuan bertanya dengan suara yang amat dingin.
Koan Ing menjadi melengak, pada saat pikirannya berputar tangannya sudah meraba ke dalam sakunya, bukan saja pedang pusaka yang tersoren pada pinggangnya sudah diambil, bahkan pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie yang disembunyikan di dalam sakunyapun sudah diambil.
Saat ini pikirannya menjadi sedikit terang, tetapi dia merasa heran, kemana perginya Ciu Tong serta Sang Su-im sekalian?
Kenapa mereka tidak ikut masuk ke mari?
Perempuan itu mengerutkan keningnya, agaknya dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan di dalam hatinya.
"Hm, tentu kau orang sedang memikirkan kenapa Sang Suim serta Ciu Tong tidak menyusul kemari? Bagaimana mereka bisa mengejar perahuku ini? Kau sudah berbaring selama sepuluh hari lamanya di sini, lebih baik kau tidak usah memikirkan mereka lagi, Koan Ing menjadi melengak, dengan perlahan dia bangkit berdiri.
"Aku sudah rebah disini sepuluh hari lamanya?"
Pikirnya di dalam.
Dia benar-benar tidak bisa percaya kalau dia orang sudah ada sepuluh hari tidak sadarkan diri, ilmu totokan macam apakah yang sudah digunakan perempuan itu?
Bagaimana dia bisa berbaring selama sepuluh hari lamanya tanpa menderita sedikit lukapun?
Pada saat pikirannya berputar, mulutnya sudah menjawab.
"Benar, akulah Koan Ing...."
"Kau sebenarnya murid dari Kong Bun-yu atau murid dari Cu Yu?"
Tanya perempuan itu kemudian sesudah berpikir keras beberapa saat lamanya.
Koan Ing tidak paham kenapa dia mau menanyakan suhunya, tetapi hatinya secara tiba-tiba merasa kalau perempuan ini sama sekali tidak mengandung maksud jahat terhadap dirinya, karenanya sahutnya.
"Suhuku adalah si pendekar menyendiri...."
"Ooooh...."
Dengan perlahan dia tundukkan kepalanya berpikir kembali, lama sekali dia baru angkat kepalanya.
"Pernahkah suhumu mengungkit akan diriku Song Ing?"
Sekali lagi Koan Ing melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau perempuan ini ternyata kenal dengan suhunya, dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.
Lalu kau mendapatkan pedang Kiem-hong-kiam ini dari mana?"
Tanya perempuan itu kembali dengan wajah sedikitpun tidak berubah.
Koan Ing tidak tahu Song Ing ini mempunyai hubungan apa dengan suhunya, ketika dia mendengar dia orang mengangkat persoalan pedang Kiem-hong-kiam mendadak pada ingatannya teringat kembali kalau diapun mengerti benar akan ilmu silat perguruannya membuat perasaan curiga mulai meliputi dirinya.
Dia melirik sekejap ke arahnya kemudian baru menjawab.
"Supekku yang berikan barang tersebut kepadaku."
"Bagaimana dengan keadaan suhumu?"
"Suhu maupun supek sudah pada binasa."
Dengan perlahan Song Ing angkat kepalanya, sekilas senyuman berkelebat di atas wajahnya. Lama sekali dia baru angkat kepalanya kembali, ujarnya.
"Dahulu ada seorang perempuan yang sangat cantik sekali, pada saat yang bersaman ada dua orang suhengte sama-sama mencintai dirinya suhengnya bukan saja memiliki wajah tampan bahkan sangat pintar sekali, kepandaian silatnyapun amat lihay, sedangkan sutenya berwajah biasa saja hanya sifatnya amat luhur dan jadi orang sangat jujur."
Dia berhenti sebentar, matanya memandang ke tempat kejauhan agaknya sedang mengingat-ingat kembali peristiwa yang sudah lalu.
Dalam hati Koan Ing merasa hatinya tergetar dengan amat kerasnya, dia mengira perempuan ini kenal dengan suhu serta supeknya, tetapi jika didengar dari perkataan Song Ing ini agaknya dia sedang menceritakan kisahnya antara dia dengan suhu serta supeknya pada masa yang lalu.
Dia sama sekali tidak mengira kalau perempuan yang sama-sama dicintai suhu serta supeknya adalah Song Ing yang ada di hadapannya sekarang ini.
Song Ing termenung berpikir keras beberapa saat lagi, lama sekali dia baru menambahkan.
"Tetapi suhengnya itu jadi orang terlalu sombong dan jadi orang amat kasar sekali, perempuan itu ternyata sudah jatuh cinta terhadap sutenya, setelah suhengnya tahu akan hal ini mendadak ada satu hari dia pergi mencari perempuan itu dan memaki dia kenapa jatuh cinta pada sutenya? Berbicara sampai disini dia berhenti sebentar untuk tukar napas.
"Gadis itu cuma tertawa dingin saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, suheng itupun tertawa dingin, pada saat itulah dia sudah mengutarakan cintanya bahkan mau memberi pelajaran seluruh kepandaian silat yang dimilikinya dan mendadak dia berpesiar ke semua tempat yang indah dan terkenal."
Gadis itu cuma tertawa dingin saja, dia sama sekali tidak memberikan komentar, tetapi mendadak sang suheng berkata kalau sutenya dia sudah pukul sampai terluka dan dia tidak akan kembali lagi karena umurnya bakal pendek.
Koan Ing yang mendengarkan kisah ini benar-benar merasa hatinya tergetar amat keras, dia sama sekali tidak mengira kalau supeknya bisa berbuat begitu curang terhadap suhunya, tindakannya ternyata begitu telengas.
Dengan perlahan sinar mata Song Ing beralih ke atas wajah Koan Ing sambungnya kembali.
Setelah perempuan itu mendengar perkataan tersebut, dia mulai tertawa dan mereka berdua mulai melakukan perjalanan berpesiar kesemua tempat yang terkenal.
Koan Ing menjadi melengak, dia memandang diri Song Ing tajam-tajam, dia tidak percaya kalau Song Ing adalah manusia macam ini, Song Ing pun balas memperhatikan diri Koan Ing, dari sepasang matanya memancar keluar sinar kegirangan yang samar-samar, tetapi di dalam sekejap saja sudah lenyap kembali, sambungnya terus.
"Kepandaian silat yang dipelajari akhirnya cukup sempurna juga, pada suatu tengah malam dengan menggunakan obat bius dia membuat suheng itu menjadi mabok, kemudian menggunakan pedangnya mengorek keluar otot kakinya, pada mukanya dia beri tiga buah goretan pedang, kemudian pada punggungnya kirim delapan buah serangan dahsyat. Mendengar sampai di sana Koan Ing cuma merasakan hatinya bergidik, ternyata tindakan dari Song Ing demikian kejamnya bukan saja dia sudah mencabut ke luar otot kakinya bahkan sudah kirim delapan pukulan pula ke arah punggungnya. Song Ing tersenyum tawar."
"Kepandaian silat dari suheng itu ternyata amat tinggi, sesudah sadar kembali dari maboknya, dengan perasaan terperanjat dia melarikan diri dari sana dengan membawa luka yang amat parah, gadis itupun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya."
Saat itulah dia baru tahu sebab supeknya jadi demikian menderitanya, walaupun tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna tetapi punggungnya yang berturut-turut mendapatkan delapan buah serangan membuat dia akhirnya kehabisan darah pula dan menemui ajalnya.
Kong Bun-yu yang jadi orang amat congkak sudah tentu setelah memperoleh luka dia tidak mau keluar kembali ke dalam Bu-lim sehingga merusak nama baiknya, makanya selama hidupnya sejak itu dia orang bersembunyi di dalam gua.
Koan Ing menghembuskan napas dingin, sekarang dia merasa suatu perasaan yang menghormat muncul di dalam hatinya.
Bilang terus terang saja, kemunculanku kali ini di samping mencari berita suhumu aku sudah mempersiapkan diri untuk mencari Kong Bun-yu untuk menuntut batas.
Tetapi supek dia orang tua sudah memperoleh hukumannya."
Ujar Koan Ing dengan cepat, dia segera menceritakan keadaan dari Kong Bun-yu yang sebenarnya.
"Heeey,"
Song Ing tak tertahan lagi sudah menghela napas panjang.
"Selama beberapa tahun ini secara sembunyisembunyi aku sering mencuri lihat Sang Su-im, serta Ciu Tong sewaktu berlatih ilmu silatnya, kepandaian mereka masingmasing mempunyai keistimewaan yang tersendiri di tambah lagi dengan ilmu sakti Thian-yu Khei Kang serta ilmu-ilmu silat lainnya yang pernah aku lihat aku sudah berhasil menciptakan suatu ilmu yang amat dahsyat sekali. Heeey siapa sangka aku sudah terlambat satu langkah."
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian tambahnya.
"Selama sepuluh hari ini aku sudah pikirkan masak-masak, haruskah aku membinasakan dirimu, tetapi selama ini pula aku selalu berharap agar kau bukanlah anak murid dari Kong Bun-yu, pedangmu aku taruh di atas meja, selain pedang itu, kitab silat merupakan hasil jerih payahku selama beberapa tahun ini, walaupun aku belum berhasil menyelami seluruhnya tetapi aku kira ilmu tersebut sudah cukup untuk mengangkat namamu di dalam Bu-lim, Kini aku sudah tahu kalau kau orang adalah muridnya, barang-barang tersebut boleh kau terima semua, anggap saja barang itu merupakan tanda mata pertemuan kita ini."
Koan Ing menjadi melengak, tampak di atas meja di samping sebilah pedang panjang serta pedang pendek terdapatlah sebuah kitab yang di
Jilid amat rapihnya. Di atas kitab tersebut tertulislah kata-kata Boe Shia Koei Mie yang amat besar sekali, sedang pada sampingnya tertulislah beberapa kata dengan huruf kecil.
"Ilmu silat dari seluruh Bu-lim tidak akan terlewat di dalam kitab ini."
Dari dalam hatinya segera timbul suatu ingatan yang sangat aneh sekali, pikirnya.
"Hmmm.... sombong benar...."
Baru saja dia hendak membuka mulut untuk menolak terdengar Song Ing sudah berkata kembali.
"Sekalipun aku orang belum pernah kawin dengan suhumu tetapi hatiku sudah aku serahkan padanya, juga boleh dikata merupakan subomu. Kau tidak boleh untuk tak menerimanya."
Koan Ing dengan pandangan tajam memperhatikan diri Song Ing, dalam hati diam-diam dia orang merasa sangat kaget, walaupun perkataan dari Song Ing barusan ini sangat halus tetapi terasa ada satu tenaga yang amat kuat membuat dirinya merasa tidak tahan, Dia segera menerima pedang serta kitab itu lalu jatuhkan diri memberi hormat kepada diri Song Ing.
Song Ing juga tidak menghindar, dia tetap duduk tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya itu.
"Aku tahu kau orang mau berangkat ke daerah Tibet makanya aku hantar kau sampai ke daerah Lok Cho,"
Ujarnya perlahan.
"Di dalam urusan ini aku memang bisa memberi bantuan kepadamu tetapi urusanmu sendiri harus kau kerjakan sendiri, aku tidak mau ikut campur. Sekarang kau boleh meninggalkan tempat ini."
Koan Ing dibuat agak melengak, tapi dengan cepat dia sudah sadar kembali.
Setelah memberi hormat kembali kepada diri Song Ing dengan langkah perlahan dia berjalan keluar dari perahu tersebut.
Cuaca amat gelap sekali, salju melayang turun dengan derasnya terasa segulung angin dingin dengan kencangnya dari arah barat membuat badan terasa menggigil.
Tampak sesosok bayangan manusia dengan menempuh badai salju melanjutkan perjalanan menuju ke arah Barat, orang itu memakai jubah berwarna abu-abu, pada punggungnya tersoren pedang dan melanjutkan perjalanan dengan tergesa-gesa, orang itu bukan lain adalah diri Koan Ing yang sedang melakukan perjalanan ke daerah Tibet.
Suasana amat sunyi, di sekeliling tempat itu hanya tampak salju nan putih menutupi seluruh permukaan tanah, tiba-tiba sinar mata Koan Ing bisa melihat sebuah kuil yang berdiri dengan angkernya di tempat kejauhan.
Dia berpikir sebentar, akhirnya dengan langkah cepat tubuhnya berkelebat menuju ke arah sana.
Tubuhnya semakin lama semakin mendekati kuil itu, mendadak matanya tertumbuk dengan sesuatu....
di depan kuil itu menggeletaklah sesosok mayat yang sudah membeku.
Koan Ing menjadi melengak, dengan cepat tubuhnya maju ke depan memeriksa, terasalah olehnya mayat itu mati belum terlalu lama, jadi berarti juga pembunuhnya belum lama meninggalkan tempat itu.
Lhama itu terbinasa dengan sepasang mata melotot keluar, jelas dia orang sudah terkena binasa oleh pukulan berat dari seorang jagoan yang mempunyai tenaga dalam yang amat tinggi.
Pikiran Koan Ing berputar terus dengan amat cepatnya, sebentar kemudian tubuhnya sudah bergerak dan melayang masuk ke dalam kuil yang ada di depannya.
Begitu tubuhnya masuk ke tengah ruangan segera tampaklah olehnya berpuluh sosok mayat menggeletak simpang siur di atas tanah, asap dupa masih mengepul dengan tebalnya di tengah meja sembahyang sedangkan barang-barang sembahyangan sudah pada kocar-kacir ke atas tanah jelas baru saja terjadi suatu pertempuran yang amat sengit di tempat tersebut.
Sinar matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke seluruh ruangan, tiba-tiba telinganya menangkap suara berisik yang amat perlahan sekali dari belakang ruangan kuil itu, tubuhnya dengan cepat melayang kesana.
Baru saja tubuhnya mencapai depan pintu ruangan segera terdengarlah olehnya suara seseorang yang sangat di kenalnya.
"Hee.... hee sekarang kau bisa berbuat apa lagi?"
Mendadak Koan Ing bisa mengenalnya kembali, bukankah itu suara dari si kongcu tak berbudi Ciu Pak adanya, hatinya merasa amat terperanjat.
Sinar matanya yang amat tajam tidak berhenti sampai disana.
segera dia mengintip ke dalam ruangan.
Tampaklah Sang Siauw-tan sudah tertawan oleh diri Ciu Pak dan saat ini sudah berada di dalam pelukannya yang kencang.
Ia menjadi sangat terkejut, bentaknya dengan suara berat.
"Ciu Pak! coba kau lihat siapakah aku?"
Ciu Pak Yang sebenarnya sedang berdiri membelakangi diri Koan Ing sesudah mendengar perkataan tersebut tubuhnya dengan cepat berputar.
Tapi ketika dilihatnya Koan Ing sudah muncul di tempat itu secara tiba-tiba hatinya terasa bergidik, kekalahannya tempo hari membuat dia orang tanpa terasa sudah menaruh tiga bagian rasa jeri terhadap dirinya.
Dia benar-benar merasa amat terkejut, tidak disangka olehnya Koan Ing bisa muncul secara begitu mendadak disana.
Perlahan-lahan hawa amarah mulai meliputi seluruh hatinya, dia merasa gemas dan benci terhadap pemuda itu karena setiap kali dia ada kesempatan buat melakukan niatnya terhadap diri Sang Siauw-tan, dia orang tentu muncul secara tiba-tiba sehingga mengacaukan perbuatan baiknya.
"Koan Ing"
Teriak Ciu Pak dengan amat gusar sambil meletakkan tubuh Sang Siauw-tan ke atas tanah.
"Aku sudah lama mencari dirimu, kiranya kau ada disini,"
Selama ini Koan lag menaruh suatu perasaan yang amat aneh sekali terhadap diri Sang Siauw-tan, kini dilihatnya Ciu Pak hendak berbuat jahat terhadapnya, membuat keningnya dikerutkan semakin mengencang, tubuhnya dengan cepat meloncat ke tengah udara, sepasang tangannya dengan mengambil gerakan setengah busur melancarkan serangan ke depan.
Inilah yang dinamakan jurus "Thian Kay keh Tong"
Atau langit membuka tanah merekah dari ilmu sakti "Thian-yu Ji cap si Khie Cau"
Andalan Kong Bun-yu tempo hari.
Di tengah gulungan serta sambaran angin yang tak terasa suatu tenaga tekanan yang amat berat menghajar tubuh Ciu Pak.
Ciu Pak yang melihat tenaga dalam dari Koan Ing mendapatkan kemajuan kembali hanya di dalam beberapa hari saja hatinya terasa berdesir, dalam hati dia orang kepingin menghindar tapi ketika teringat akan nama besarnya sebagai si kongcu tak berbudi dia menjadi malu sendiri untuk melompat mundur, pikirnya.
"Hmmm aku si kongcu tak berbudi tidak seharusnya takut dengan seorang bangsat cilik. Setelah mendengus dingin dia bersuit panjang, sepasang telapaknya dengan mendatar didorong ke depan dengan kecepatan yang luar biasa, inilah ilmu mayat membusuk ini sinarnya merupakan ilmu silat yang mengutamakan tenaga Im, tenaga dalam dan si kongcu tak berbudipun sudah boleh dikata jagoan nomor wahid dari angkatan muda, sudah tentu serangannya ini tidak enteng. Sebaliknya Koan Ing walaupun mempunyai suhu yang ilmu kepandaian tidak begitu tinggi letapi dia orang mempunyai bakat yang amat bagus, ditambah pula dengan latihannya selama tiga bulan di dalam gua batu serta jerih payahnya sesudah berpisah dengan Song Ing, membuat kehebatan dan ilmu silatnya berada seimbang dengan kepandaian dari Ciu Pak. Telapak mereka berdua dengan cepat terbentur menjadi satu kemudian melengket tak terlepas kembali. Koan Ing yang berhasil memperoleh seluruh ilmu silat yang dimiliki Kong Bun-yu, begitu merasakan telapak tangannya melengket dengan telapak tangan pihak musuh dengan amat cepatnya dia sudah berganti jurus. Di tengah gerak sepasang telapak mereka suatu hawa pukulan yang amat kuat menerjang keluar, inilah yang dinamakan jurus "Kioe Ku Ceng jiet"
Atau sembilan busur menghancurkan matahari hasil ciptaan Kong Bun-yu sendiri.
Saat itulah Ciu Pak baru merasakan tenaga pukulan dari Koan Ing sedikit mencurigakan segera terasalah olehnya tenaga pukulan yang disalurkan ke depan sudah terpukul kembali, membuat hatinya tergetar dengan amat kerasnya, Di dalam keadaan terkejut, dia cepat-cepat menarik tangannya, siapa tahu Koan Ing justru pada saat yang bersamaan sudah mengerahkan serangannya yang terakhir.
Ciu Pak menjadi kaget, dia sama sekali tidak menyangka kalau jurus serangan dari Koan Ing bisa demikian aneh dan saktinya.
Untuk menghindarkan diri tidak sempat lagi, terpaksa dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan dari Koan Ing itu.
Koan Ing segera merasakan telapak tangannya yang menghajar tubuh Ciu Pak seperti sedang menghajar kayu lapuk saja, hatinya menjadi sangat kaget.
Dia memang pernah melihat Ciu Pak dengan menggunakan ilmu mayat membusuknya mengalirkan seluruh jalan darahnya pada separuh badannya, tetapi dia tidak mengira kalau serangannya ini sama sekali tidak berguna terhadap dirinya.
Untuk beberapa saat lamanya dia menjadi bingung harus menggunakan jurus serangan apa untuk memecahkan ilmunya ini, tetap dia tidak ingin memberi kesempatan buat Ciu Pak untuk menarik napas lagi.
Tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas kemudian dengan menggunakan jurus sakti Si Ciet Kioe Hwee atau sinar memancar ke sembilan penjuru dari ilmu Thian-yu Jie cap Si Khei Cau, dia melancarkan kembali serangan gencar menghajar tubuh musuhnya.
Pada saat itulah....
tiba-tiba suara sampokan ujung baju terkena angin bergema memasuki ruangan kuil itu.
Dia tidak tahu siapa yang sudah datang tetapijika didengar dari suara sempokan ujung bajunya jelas merupakan jagoan berkepandaian tinggi setingkat dengan empat manusia aneh.
Dia tidak berani menyerang Ciu Pak lagi, tubuhnya berputar di tengah udara kemudian melayang turun ke pojokan lain.
Ketika Ciu Pak melihat tubuh Koan Ing meloncat ke atas, hatinya merasa amat terkejut dan ketakutan sekali, walaupun dia berhasil mengalihkan jalan darahnya ke separuh badan yang lain dan menerima satu pukulan dari Koan Ing tetapi tenaga dalamnya sudah memperoleh kerugian yang amat besar sekali.
Dia tahu jika dirinya harus bertempur kembali jangan dikata seratus jurus, sekalipun sepuluh jurus juga tidak akan tahan, kini melihat secara tiba-tiba Koan Ing mengundurkan diri dengan cepat dia merangkak bangun, kemudian memandang ke arah orang yang baru saja datang itu.
"Ayah,"
Teriaknya keras.
Memang sedikitpun tidak salah, orang itu memang adalah si Ciu Tong itu manusia iblis nomor wahid dari pulau Ciat Ie To serta si jari sakti Sang Su-im dua orang.
Sinar mata dari Ciu Tong dengan cepat menyapu sekejap ke seluruh ruangan, hanya di dalam satu kali pandang inilah dia sudah tahu apa yang telah terjadi disana.
"Hmmm, bangsat cilik, kita berjumpa kembali!"
Serunya sambil mendengus dingin, Mendadak telapak tangan kanannya menghantam ke depan melancarkan satu serangan dahsyat mengarah tembok yang ada di sebelah kiri.
Koan Ing menjadi melengak.
dia tidak tahu Ciu Tong sedang memainkan permainan apa?
Saat itulah dia baru merasakan segulung angin pukulan yang amat keras memantul dari tembok itu kemudian menerjang tubuhnya dengan amat dahsyat.
Dengan tenaga dalam yang amat tinggi dari Ciu Tong siapa orang yang bisa menahan pukulannya itu?
Terdengar suara bentrokan yang amat keras, tubuhnya tak tertahan lagi sudah terpental oleh angin pukulan tersebut menerjang ke atas dinding tembok di dalam ruangan itu.
Koan Ing cuma merasakan punggungnya amat sakit, dia tahu dirinya sudah terluka dalam, sekalipun begitu dengan paksakan diri dia bangkit berdiri kemudian memandang ke arah iblis tua itu dengan amat gusarnya.
Diam-diam dalam hati Ciu Tong pun merasa sangat terperanjat.
kekuatan dari pukulannya ini amat aneh dan sangat dahsyat sekali, dia tahu Koan Ing tidak mungkin bisa menerima datangnya serangan itu, dia pasti akan terbinasa.
Siapa tahu dengan keras lawan keras dia orang masih berhasil menerima juga serangan dahsyatnya itu.
Walaupun kini Koan Ing terluka juga oleh angin pukulannya, tetapi luka yang diderita tidaklah terlalu berat.
Dalam hati Sang Su-im merasa semakin heran lagi, dia tahu Koan Ing sama sekali tidak berpengalaman, tapi dia orang ternyata bisa tahu Keistimewaan dari pukulan Ciu Tong, ini jelas sekali menunjukkan kalau kecerdasan otaknya luar biasa.
"Hmm, bangsat cilik."
Teriak Ciu Tong dengan amat dingin.
"Kau bisa juga menerima serangan itu, baiklah, dengan memandang di atas wajah Kong Loo-te aku lepaskan dirimu kali ini."
Sang Su-impun bukanlah seorang yang tolol, ketika mereka masuk kes ana dan melihat Ciu Tong mengumbar hawa amarahnya, apalagi Sang Siauw-tan pun masih menggeletak di atas tanah, dia segera mengetahui sudah terjadi peristiwa apa di sana, dia segera tertawa dingin.
"Ciu-Tong!"
Serunya gusar.
"Putramu sungguh pintar sekali!"
Ciu Tong tahu Sang Su-im tentu tidak mau menyudahi urusan tersebut sampai di sana, diapun balas berseru dengan tawar.
"Entah apa maksud dari perkataan Sang loo-te ini?"
Sang Su-im yang melihat dia masih saja berpura-pura pilon, hatinya menjadi amat gusar sekali.
"Putramu akan kau serahkan kepadaku ataukah Ciu heng sendiri yang kasih hukuman?"
Ciu Tong tertawa tawar, dia tahu urusan ini hari tidak bisa dibereskan dengan jalan damai, karena itu begitu dia sampai disana tanpa ragu-ragu lagi Koan Ing sudah dihajar sampai terluka, kini Koan Ing sudah tersingkir sudah tentu dia tidak takut kepada siapa lagi.
"Haaa.... haaa.... aku lihat lebih baik Sang loo-te menyudahi urusan ini saja?"
Ujarnya tertawa. Sang Su-im benar-benar dibuat gusar oleh sikapnya ini.
"Heee.... heee...."
Teriaknya gemas.
"Aku kira kepandaian silat dari Ciu heng sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali sehingga tidak memandang sebelah matapun kepada siauw-te."
Sambil berkata ujung bajunya dikebut menghajar tembok yang ada di sebelah timur.
"Oooh.... kiranya Sang Loo-te mau menjajal kepandaian silatku, hahaha.... boleh.... boleh...."
Tangan kanannya dengan cepat dikebut ke depan menghajar tembok yang ada disebelah barat dengan kecepatan kedua buah tenaga pukulan itu terbentur menjadi satu sehingga menimbulkan suara ledakan yang amat keras sekali.
Segulung hawa pukulan yang amat hebat segera terpental ke atas membuat atap ruangan menjadi berlobang, pasir dan debu pada rontok dan beterbangan memenuhi seluruh angkasa.
Koan Ing yang melihat mereka berdua sedang saling menyerang dengan dahsyatnya, dia orang segera menyingkir ke samping, Sekali pandang saja dia sudah bisa tahu kalau tenaga dalam mereka berdua adalah seimbang.
Terdengar Sang Su-im tertawa terbahak-bahak serunya.
"Siauwte hendak menjajal juga ilmu mayat membusuk dari Ciu heng!"
Sembari berkata tubuhnya melayang ke atas kemudian tangan kanannya dibalik menotok tubuh Ciu Tong.
Ciu Tong segera melihat empat jari Sang Su-im memancarkan sinar kehijau2an yang amat cemerlang, dia segera tahu inilah ilmu jari Han Yang Ci Kang yang paling diandalkan oleh si jari sakti Sang Su-im.
Walaupun saat ini dia tidak takut terhadap dirinya tetapi ketika teringat akan kerugian dirinya yang diterima sewaktu pertemuan puncak para jago tempo hari tak terasa lagi dia menaruh juga tiga bagian rasa jeri terhadap ilmu Han Yang Kang ini.
Ciu Tong segera tertawa terbahak-bahak.
"Selama sembilan belas tahun ini kekuatan dari Han Yang Ci-mu tentu mendapatkan kemajuan yang amat pesat sekali. Sang Loo-te, siauw-heng mau menjajal saya."
Seluruh aliran darahnya segera dialihkan ke separuh badannya yang sebelah kiri lalu dengan menggunakan tubuh sebelah kanannya dia menyambut diri Sang Su-im, Sang Su-im segera membentak keras, jari tengah serta jari telunjuknya dikencangkan kemudian berturut-turut melancarkan tujuh totokan dahsyat.
Seketika itu juga suara desiran yang amat tajam memecahkan kesunyian tujuh buah totokan dahsyat dengan amat cepatnya menyambar tubuh Ciu Tong.
Menanti angin totokan itu mendekati tubuhnya, Ciu Tong baru tertawa keras, badannya yang sebelah kanan bagaikan sebatang pohon yang sudah layu menerima seluruh serangan Han Yang Ci Kang dari Sang Su-im.
Walaupun serangan itu bisa menghancurkan batu atau baja tetapi terhadap diri Ciu Tong sama sekali tidak berguna, Air muka Sang Su-im segera berubah amat hebat.
Ciu Tong cepat-cepat menarik kembali tubuhnya yang sebelah kanan-sinar matanya dengan pandangan ragu-ragu memandang sekejap ke arah musuhnya.
Mendadak tubuhnya meloncat ke atas, sepasang telapak tangannya bagaikan ikan belut, dengan amat cepatnya menerjang bagian leher dari Sang Su-im.
Sang Su-impun membentak keras, tubuhnya meloncat ke atas jari tengah serta telunjuk pada tangan kanannya dengan berturut-turut melancarkan empat puluh sembilan totokan gencar, seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan suara desiran angin serangan yang amat tajam sekali.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im sudah mengadakan persiapan, sinar matanya dengan cepat berkelebat, dengan disertai suara bentakan yang amat keras sepasang tangannya bergerak ke depan menyambar batang leher Sang Su-im.
Air muka Ciu Tong berubah hebat, sejak tadi dia sudah merasakan tenaga serangan dari Sang Su-im jauh lebih dahsyat dari tempo hari, walaupun hatinya merasa kaget tetapi dia tidak ingin melepaskan kesempatan ini begitu saja.
Sang Su-im yang melihat serangan dari Ciu Tong ini penuh disertai dengan tenaga yang amat kuat dia menjadi sangat terperanjat, dia tahu jikalau lehernya sampai tercengkeram oleh serangan tersebut bahaya maut segera akan mengancam, Dia sama sekali tidak mengira pada saat Ciu Pak bertempur dengan Sang Siauw-tan dulu dia sudah memamerkan ilmu barunya ini sehingga memberi kesempatan kepada Sang Suim untuk membuat persiapan.
Tadi sengaja Sang Su-im memperlihatkan sikapnya yang amat terkejut untuk memancing keteledoran dari Ciu Tong, ketika dilihatnya Ciu Tong dibuat kegirangan dengan permainannya itu dia orang segera melancarkan serangan yang benar-benar.
Jari tangan kanannya dengan cepat digetarkan, berturutturut dia melancarkan kembali tujuh buah totokan menghajar kedua buah lengan tersebut.
Ciu Tong yang telah melancarkan serangannya dengan menggunakan kedua buah lengannya dengan cepat mengalirkan seluruh jalan darahnya pada belakang punggung.
Tetapi waktu sudah tidak mengijinkan lagi, terdengar suara dengusan yang amat berat, tubuh mereka berdua berpisah dan mundur sempoyongan ke belakang, sebentar kemudian jatuh terduduk ke atas tanah.
Serangan jari sakti dari Sang Su-im membutuhkan tenaga dalam yang sangat banyak sekali.
ditambah dia telah kena hajaran dari sepasang tangan dari Ciu Tong, walaupun keadaannya jauh lebih baik tetapi wajahnya tak urung berubah memucat juga.
Koan Ing yang menonton jalannya pertempuran, diam-diam merasa hatinya sangat terkejut dia sama sekali tidak menyangka tenaga dalam dari mereka berdua ternyata jauh lebih tinggi dari apa yang diduga semula.
Ciu Pak yang melihat ayahnya terluka, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat, tubuhnya mulai bergerak menerjang ke arah Sang Su-im.
Koan Ing segera mendengus dengan amat dinginnya, pedang Kiem-hong-kiam segera dicabut keluar dari dalam sarungnya.
Walaupun dengan Sang Su-im dia tidak mempunyai ikatan keluarga maupun persahabatan, tetapi dia tidak akan mengijinkan Ciu Pak turun tangan sewaktu orang lain dalam keadaan terluka.
Ciu Pak yang melihat Koan Ing mencabut keluar pedangnya, dalam hati merasa sedikit bergidik, walaupun dia melihat Koan Ing berhasil dihajar oleh ayahnya, tetapi Koan Ing sama sekali tidak mengalami cedera bahkan dengan keanehan dan kesaktian dari ilmu silatnya dia merasa kalau dirinya bukanlah tandingannya.
Tiba-tiba Ciu Tong membuka matanya kembali.
"Kau kemari!"
Serunya kepada diri Ciu Pak.
Bagaikan baru saja sadar dari impian dengan cepat Ciu Pak berjalan menuju ke arah diri Ciu Tong.
Dari dalam saku ayahnya dia mengambil keluar dua butir pil kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
Saat ini Sang Su-im tetap memejamkan matanya mengatur pernapasan, terhadap peristiwa yang terjadi di tempat itu dia tidak mau tahu.
Dengan pandangan tajam Koan Ing memperhatikan diri Ciu Tong terus menerus diapun diam-diam mengatur pernapasan.
Beberapa saat kemudian mendadak sepasang alis Ciu Tong mulai bergerak lalu mengulur keluar sepasang tangannya, dia benar-benar dibuat terkejut dengan kejadian ini.
Agaknya Sang Su-impun merasakan keadaan sedikit tidak beres, matanya dengan perlahan-lahan dibuka dan memandang tajam ke arah pihak lawan.
Terdengar Ciu Tong tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Heee.... heee.... hitung-hitung saja ini hari aku mengalami kekalahan kembali, tetapi urusan ini aku tidak akan ambil diam sekarang juga kau bisa merasakan sedikit pembalasanku."
"Aku cuma gemas kenapa tidak turun tangan lebih berat lagi sehingga kau bisa meloloskan diri kembali."
Ciu Tong tak bisa menahan tertawanya lagi, semakin tertawa suaranya semakin keras.
"Hey Sang Loo-te,"
Ujarnya dingin.
"Tentu kau tahu bukan kalau aku orang mempunyai dua orang murid? Yang satu adalah Bun Ting-seng dan masih ada satu lagi bernama Bu Sian. Bun Ting-seng sudah lenyap amat lama sedangkan Bu Sian sebentar lagi akan segera tiba disini, hehehe.... heee, Sang Loo-te tentu kau tahu maksudku bukan?"
Koan Ing yang mendengar perkataan itu hatinya menjadi amat gusar sekali, teriaknya.
"Hmmm.... tidak kusangka Ciu Tong si iblis tua yang mempunyai kedudukan sebagai pemuka partai ternyata bisa berbuat permainan yang begitu rendahnya."
"Koan Ing kau tidak usah kuatir,"
Sambung Sang Su-im sambil tertawa tawar.
"dengan kekuatan beberapa orang kawanan tikus itu masih belum bisa mengapa-apakan diriku."
Ciu Tong pun tertawa dingin tak henti-hentinya, cuma dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Ciu Tong tetap duduk bersila dengan amat tenangnya, tidak selang lama luka dalamnya sudah dapat disembuhkan.
Pada saat itulah tiba-tiba....
Suara langkah manusia yang amat berat sekali bergema mendatang memenuhi seluruh ruangan, seketika itu juga seluruh ruangan penuh diliputi nafsu membunuh yang amat tebal.
Sang Su-im yang semula sudah memejamkan matanya kembali saat ini melototkan matanya, dengan pandangan amat tajam dia memperhatikan terus seluruh gerak-gerik dari Ciu Tong.
Ciu Tong semakin tertawa semakin menyengir kejam, tetapi mulutnya tetap membungkam di dalam seribu bahasa.
Koan Ing pun diam-diam merasa amat terperanjat, pikirnya.
"Waah.... jika yang datang adalah Bu Sian, urusan tidak akan beres dengan mudah, apalagi luka dalamku belum sembuh, jikalau Bu Sian bekerja sama dengan Ciu Pak bukankah diriku akan bertambah konyol?"
Ooo)*(ooO Bab 10 MENDADAK langkah manusia itu berhenti di tengah ruangan, air muka Ciu Tong segera berubah agak hebat tapi sebentar kemudian dia sudah tenang kembali dan memejamkan mata tidak bergerak.
Suara langkah manusia Yang amat berat sekali lagi bergema datang, semakin lama suara itu semakin mendekat bahkan disertai dengan suara dengusan yang amat berat pula.
Ciu Pak segera merasa urusan sedikit tidak beres terburuburu dia menyingkir ke samping Ciu Tong dan memandang pintu ruangan dengan pandangan penuh perasaan terkejut.
Seorang Lhama berjubah kuning dengan potongan badan tinggi besar selangkah demi selangkah memasuki ruangan itu.
Wajah dari Lhama berjubah kuning itu penuh ditumbuhi dengan brewok yang tebal pada tangan kanannya mencekal sebuah toya yang amar kasar dan berat dengan memancarkan sinar mata yang amat buas dia menyapu sekejap ke seluruh ruangan.
Koan Ing yang melihat orang itu ternyata adalah seorang lhama, dalam hatipun merasa amat terperanjat pikirnya.
"Aduh celaka, orang itu sudah tentu sengaja datang untuk membalaskan dendam bagi hweesio-hweesio yang terbunuh di dalam kuil ini, untuk meloloskan diri dari sini sudah tentu akan sangat sukar. Terdengar Lhama berjubah kuning itu mendengus dengan amat dinginnya lalu menyapu kembali ke arah lima orang itu. Terhadap datangnya Lhama berjubah kuning itu, Sang Suim maupun Ciu Tong sama-sama berpura-pura tidak tahu, mereka tetap duduk bersila di atas tanah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sekali lagi Lhama berjubah kuning itu mendengus dingin.
"Orang-orang itu siapa yang membunuh?"
Bentaknya dengan suara amat berat.
Suara bentakan ini sangat datar dan berat sekali laksana guntur yang membelah bumi membuat seluruh ruangan berdengung dengan amat kerasnya.
Tetapi Sang Su-im serta Ciu Tong tetap duduk dengan amat tenangnya, jangan dikata berbicara, sekalipun menggerakkan kelopak matanyapun tidak.
Koan Ing yang mendengar suara bentakan yang amat keras itu diam-diam merasa sangat terperanjat, pikirnya.
"Haaa siapa orang ini? Agaknya tenaga dalam yang dimiliki sangat tinggi sekali."
Ketika Lhama berjubah kuning itu tidak mendengar adanya suara jawaban, dia segera mendengus dingin dan melirik sekejap ke arah Sang Su-im serta Ciu Tong yang berduduk bersila di atas tanah.
"Hmmm, aku kira siapa kiranya adalah kalian Sin Mo dua manusia aneh,"
Ujarnya kemudian sambil maju dua langkah ke depan.
"Hmmm, Hmmm tidak kusangka ini hari aku orang bisa bertemu dengan dua manusia aneh selamat bertemu.... selamat bertemu."
Siapa tahu baik Sang Su-im maupun Ciu Tong tetap tidak menggubris dirinya.
Kali ini Lhama berjubab kuning itu benar-benar dibuat mendongkol, sambil menyeret toyanya yang berat jalan ke samping mereka berdua ujarnya.
"Ini hari aku Gong Ing Thaysu ingin minta beberapa petunjuk dari kalian berdua."
Koan Ing yang mendengar nama tersebut dalam hati menjadi bergidik pikirnya.
"Gong Ing Thaysu adalah sute dari Hu Im Thaysu itu jagoan dari Tibet, wah urusan ini hari tentu tidak bisa dibereskan dengan damai."
Jilid 5 KOAN ING yang melihat Sang Su-im maupun Ciu Tong sama sekali tidak menggubris terhadap bentakan dari Gong Ing Thaysu, dia segera sadar kembali, diam-diam pikirnya.
"Hmmm! kenapa aku demikian gobloknya? Bukankah saat ini merupakan saat yang paling baik untuk menyembuhkan lukaku sendiri lalu menonton keramaian yang bakal terjadi?"
Berpikir akan hal ini dia segera pejamkan mata untuk mulai mengalirkan hawa murninya menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.
Gong Ing Thaysu yang melihat Sang Su-im maupun Ciu Tong tidak mengambil gubris suara bentakannya segera dia tahu kalau mereka berdua sedang terluka dalam.
Mereka berdua merupakan jago-jago berkepandaian tinggi yang amat ditakuti oleh setiap jago, walaupun saat ini mereka terluka parah dan sedang menyalurkan tenaga murni untuk menyembuhkan luka tersebut tetapi bilamana dirinya berani menggunakan kesempatan itu untuk maju mengirim serangan bokongan kemungkinan sekali bukannya mereka terkena serangan sebaliknya menerima serangan gabungan dari mereka berdua, saat itu apakah dirinya kuat menahan serangan tersebut.
Dengan menyeret toyanya dia berputar beberapa kali mengelilingi tempat dimana kedua orang itu duduk bersila, tetapi sampai waktu itu dia masih tidak berani berlaku gegabah.
Akhirnya Gong Ing Thaysu menghentikan gerakannya, beberapa kali dia ingin turun tangan melancarkan serangan bokongannya tetapi diapun tahu kalau serangannya ini menyangkut soal mati hidupnya sendiri.
Karena itu setelah ragu-ragu beberapa saat lamanya dia masih tetap tidak berani melanjutkan serangannya.
Sinar mata dari Gong Ing Thaysu berkelebat tidak hentihentinya, mendadak pandangannya terhenti di atas tubuh Ciu Pak.
Ciu Pak segera merasakan hatinya berdesir, dia tidak tahu Gong Ing Thaysu ini adalah sute dari Hul Ing Thaysu itu jagoan nomor wahid dari Tibet, tangan kanannya dengan kencang mencekal toya milik ayahnya sedangkan pandangannya dengan sangat dingin sekali memperhatikan seluruh gerak-gerik dari Goan Ing Thaysu.
Sekali pandang saja Gong Ing Thaysu sudah tahu siapakah Ciu Pak adanya, saat ini dia sedang berdiri membelakangi Ciu Tong, bilamana secara tiba-tiba dia melancarkan serangan untuk menguasainya tentu hal ini akan memancing serangan balasan dari Ciu Tong Terakhir matanya beralih ke arah Koan Ing.
"Siapa kau?"
Terdengar Gong Ing Thay su bertanya dengan suara yang amat berat.
Koan Ing yang sendang memusatkan seluruh perhatian untuk bersemedi segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dengan perlahan dia mementangkan matanya kembali.
Dia merasa heran kenapa Gong Ing Thaysu yang sewaktu datang kelihatannya begitu buas dan bengisnya, tetapi akhirnya sama sekali tidak berani berbuat sesuatu terhadap Sang Su-im serta Ciu Tong?
Dia sendiri adalah murid dari Cu Yu dan sejak kecil ikut dirinya sampai menginjak dewasa, sedangkan Cu Yu pun merupakan sute dari Kong Bun-yu.
dan Kong Bun-yu ini pernah menurunkan ilmu silatnya kepada dirinya.
Makanya terhadap empat manusia aneh dia sama sekali tidak merasa asing, tetapi dia tidak tahu bagaimana tingginya kedudukan empat manusia aneh itu di dalam Bu-lim, siapapun tidak ada yang berani mengganggu mereka, sudah tentu diapun tidak paham kenapa Gong Ing Thaysu begitu jeri terhadap diri mereka berdua?
Bilamana bukannya Sang Su-im serta Ciu Tong sudah terluka parah, mungkin sejak tadi Gong Ing Thaysu sudah melarikan dirinya terbirit-birit.
"Siapakah aku buat apa kau orang ikut campur?"
Serunya sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.
Gong Ing Thaysu yang memperoleh sikap dingin dari Sang Su-im maupun Ciu Tong di dalam hatinya sudah merasa sangat gusar sukar ditahan, tetapi dikarenakan takut terhadap nama besar mereka berdua dia orang tidak berani mengapaapakan kedua orang itu.
Kini mendengar Koan Ing pun memberi jawabannya dengan ketus dan sangat dingin hatinya benar-benar merasa amat gusar.
"Bagus.... bagus.... punya semangat"
Teriaknya marah.
"Cuma sayang aku orang mau ikut campur, kau mau berbuat apa?"
Koan Ing segera tertawa dingin, sekali lagi dia pejamkan matanya tidak berbicara.
Dengan mementangkan matanya lebar-lebar Koan Ing melirik sekejap ke arah Gong Ing Thaysu, terhadap sikap Gong Ing Thaysu yang takut terhadap yang kuat dan berani terhadap yang lemah di dalam hati dia merasa tidak puas.
Melihat sikapnya itu Gong Ing Thaysu benar-benar berbuat mendongkol sekali, alisnya dikerutkan rapat-rapat mendadak tangan kanannya diayun ke depan toyanya dengan diikuti sambaran angin pukulan yang amat keras membabat ke atas kepala Koan Ing.
Sejak semula Koan Ing sudah mengadakan persiapan, tubuhnya dengan cepat mundur ke belakang tangannya segera mencabut pedang Kiem-hong-kiamnya.
Di tengah berkelebatnya sinar emas yang berkilauan pedang tersebut dengan gerakan lurus menangkis datangnya serangan toya dari Gong Ing Thaysu itu.
"Criiing....!"
Dengan disertai suara benturan yang amat nyaring toya tersebut segera terpukul mental kesamping.
Koan Ing yang berhasil memukul mental toya Gong Ing Thaysu dengan menggunakan jurus "Lieh Boe Gong Thian"
Atau kuda binal menjurus ke langit, dikarenakan menggunakan tenaga terlalu besar membuat tubuhnya dengan sempoyongan mundur dua langkah ke belakang lalu muntahkan darah segar dari mulutnya.
"Aaaah.... Thian-yu Khei Kiam!"
Teriak Gong Ing Thaysu dengan terperanjat. Di bawah kolong langit saat ini cuma ada satu aliran diri "Thian-yu Khei Kiam"
Kong Bun-yu saja yang menggunakan ilmu silat dengan gerakan busur, dia orang sama sekali tidak menduga kalau munculnya si jari sakti Sang Su-im serta si iblis sakti dari luar lautan, Ciu Tong disini ternyata Thian-yu Khei Kiampun ikut muncul "Kau orang adalah anak murid dari Thian-yu Khei Kiam, Kong Thayhiap?"
Tanyanya dengan perasaan terperanjat.
"Bukan,"
Sahut Koan Ing dengan gusar, dia merasa mendongkol melihat Gong Ing Thaysu yang ketakutan mendengar nama besar dari seorang jago.
Gong Ing Thaysu agak melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa mengatakan demikian.
Bilamana Koan Ing benar-benar adalah anak murid dari Kong Bun-yu dia orang tidak mungkin menyangkal, tetapijika bukan....
bukan saja dia memiliki kepandaian silat yang amat aneh dari aliran "Thian-yu-pay bahkan di tangannya mencekal pedang "Kiem-hong-kiam"
Yang merupakan tanda kepercayaan dari ciangbunjin Thian-yu-pay, tidaklah mungkin barang itu bisa terjatuh ke tangan orang lain Saat ini dia orang tidak mau pikir panjang lagi, teriaknya dengan keras.
"Kami orang-orang dari daerah Tibet selama ini tidak ada dendam sakit hati apapun dengan kalian, kenapa secara tiba-tiba kalian memasuki daerah Tibet dengan membunuhi hweesio-hweesio kami?"
"Hmmm.... hmmm.... bukankah murid tertua dari Hud Ing Thaysu dari partai kalian Husangko yang mengundang kita untuk memasuki daerah Tibet?"
Seru Koan Ing dengan nada yang amat dingin....
Gong Ing Thaysu jadi melengak.
Jikalau kalian bermaksud untuk menguntit jejak dari kereta berdarah lebih baik berterus terang saja, buat apa meminjam nama dari Husangko segala?"
Mendengar perkataan dari Gong Ing Thaysu ini Koan In yang berganti jadi melengak, pikirnya.
"Eeeei.... apa mungkin ada orang yang memalsukan nama Husangko? Kalau tidak bagaimana Gong Ing Thaysu menyangkal? Lalu siapa yang sudah menyamar sebagai Husangko....?"
Bukan Koan Ing saja yang dibuat melengak, sampai Sang Su-im serta Ciu Tong pun dibuat terkejut oleh perkataan dari Gong Ing Thaysu ini sehingga pada mementangkan matanya lebar-lebar.
Sebenarnya sejak semula Sang Su-im sudah menduga kalau urusan ini tidak mungkin demikian mudahnya, tetapi dia orang sama sekali tidak menyangka Gong Ing Thaysu bisa demikian berterus terangnya menyangkal kalau Husangkolah yang mengundang mereka untuk memasuki daerah Tibet.
Bilamana bukannya perkataan dari Gong Ing Thaysu ini bohong tentu di dalam persoalan ini masih menyangkut suatu rencana busuk yang lebih besar lagi, ternyata orang itu begitu berani memancing empat manusia aneh untuk memasuki daerah Tibet berarti pula kalau nyali orang itu tidak kecil bahkan jikalau tidak mempunyai pegangan yang kuat dia orang tidak mungkin berani melakukan hal ini.
Gong Ing Thaysu yang melihat Koan Ing sekalian dibuat melengak, dia sendiri pun tertegun dibuatnya.
"Sampai hari ini juga Husangko sutit belum pernah meninggalkan daerah Tibet barang selangkahpun, yang kalian temui kemungkinan sekali bukanlah dirinya,"
Ujarnya dengan cepat. Ciu Tong segera mendengus dengan amat dinginnya, ujarnya sambil bangkit berdiri.
"Heee.... heeee.... ternyata di kolong langit saat ini masih ada juga orang yang berani main setan dengan aku orang."
Sang Su-im pun mendengus dengan dingin lalu dengan perlahan bangkit berdiri.
Walaupun dia tahu beberapa orang ini hendak memasuki sebuah jebakan yang amat menakutkan sekali, tetapi saat ini dia merasa sangat tidak puas terhadap diri Ciu Tong Masuknya ke daerah bahaya merupakan satu urusan sedangkan dendam sakit hatinya dengan Ciu Tong merupakan urusan yang lain.
Ciu Tong yang melihat sikap Sang Su-im yang demikian dinginnya sinar matanya segera berkelebat tidak hentihentinya, tubuhnya mendadak berkelebat maju mendesak ke arah Gong Ing Thaysu.
Gong Ing Thaysu menjadi amat terperanjat, dia orang sama sekali tidak menyangka Ciu Tong bisa mendesak dirinya secara tiba-tiba.
Tangan kanannya dengan cepat diangkat telapak tangannya seketika itu juga mengembang beberapa kali lipat lebih besar lalu ditepukkan ke arah Ciu Tong.
Perbuatannya ini sebenarnya hanya merupakan gerakan langsung yang muncul dari dasar hatinya, ketika serangan tersebut baru saja mencapai di tengah jalan mendadak hatinya terasa berdesir.
Kepandaian silat dari Ciu Tong amat lihay sekali dan bukanlah tandingan dari dirinya, tetapi ketika teringat kalau Ciu Tong sudah terluka parah kemungkinan sekali dia masih bisa bertahan dua tiga jurus banyaknya.
Apalagijika dilihat keadaan agaknya Ciu Tong serta Sang Su-im rada tidak akur, Sang Su-im pasti tidak akan membiarkan dirinya terluka di bawah serangan Ciu Tong.
Sekali lagi Gong Ing Thaysu siap melancarkan serangannya kembali.
Tetapi jago berkepandaian tinggi bergebrak paling mengutamakan kecepatan gerak, apalagi Ciu Tong pun merupakan jago yang amat terkenal di dalam Bu-lim saat ini, walaupun rasa ragu-ragu tersebut hanya berkelebat di dalam benaknya dalam waktu yang amat singkat tetapi pada saat yang bersamaan itulah lima jari dari Ciu Tong berhasil mencekal pergelangan tangannya.
Begitu lima jari dari Ciu Tong berhasil menempel pergelangan tangan Gong Ing Thaysu, sambil tertawa keras dia segera mengundurkan dirinya ke belakang.
Gong Ing Thaysu cuma merasakan pergelangan tangannya terasa sangat dingin berturut-turut dia mengundurkan diri dua langkah ke belakang, ketika menundukkan kepalanya memandang pergelangan tangannya terlihatlah di atas tangannya itu sudah bertambah dengan bekas lima jari yang berwarna hijau tua.
Seketika itu juga air mukanya berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat.
Dia tahu bukan saja kepandaian silat dari Ciu Tong amat tinggi sekali bahkan diapun pandai di dalam ilmu obat-obatan.
Ciu Tong yang cuma hanya menempelkan lima jarinya ke atas pergelangan tangannya lalu memundurkan diri bahkan bekas lima jari itu berwarna hijau, jelas sekali menunjukkan kalau aku dia sudah terkena racun yang amat ganas sekali.
Sang Su-im dengan dingin mendengus, tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan langkah lebar dia berjalan ke arah Sang Siauw-tan yang menggeletak di atas tanah.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im berjalan ke arah Siauwtan dari ujung bibirnya segera memperlihatkan senyuman yang amat tawar dan dingin sekali.
Sang Su-im yang sedang berjalan keluar dari ruangan itu segera menghentikan langkahnya sewaktu mendengar perkataan tersebut, sambil menoleh dengan pandangan gusar dia tertawa dingin.
"Perkataan dari Ciu heng bukankah sedikit keterlaluan? pemberian hadiah buat Siauwte ini hari pada kemudian hari aku orang pasti akan membalasnya."
Dengan dinginnya Ciu Tong mengerutkan alisnya, dia tidak mengucapkan kata-kata lagi.
Sebenarnya di dalam hati kecilnya dia ingin memaksa Sang Su-im untuk mengaku kalah di hadapannya tetapi pada hal sekalipun Gong Ing Thaysu sudah berhasil dikuasai tetapi diapun belum berani mengapa-apakan diri Sang Su-im.
Sang Su-im yang berjalan ke arah samping tubuh Sang Siauw-tan segera menggendong tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tidak terasa lagi Ciu Tong mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Sang Loo-te,"
Ujarnya sambil tertawa.
"Kehebatan musuh yang kita hadapi sekali ini kaupun tentunya mengetahui dengan jelas, bagaimana sifatku, kaupun tentu mengetahui bukan, hari ini kau ingin mendesak orang lain, keterlaluan."
Selesai berkata Sang Su-im melirik kembali ke arah Koan Ing dengan pandangan penuh berterima kasih, lalu tanpa menoleh lagi berlalu dari sana dengan tergesa-gesa.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im meninggalkan tempat itu dia cuma tertawa tawar saja, sekalipun sejak hari itu dia bakal memperoleh tambahan seorang musuh tangguh lagi tetapi Koan Ing yang masih tertinggal disana menunjukkan kalau dia masih berada di atas angin.
Bahkan dia merasa di dalam adu kecerdasan dia jauh lebih pintar daripada diri Sang Su-im.
hal ini terbukti dengan kejadian ini hari.
Asalkan sejak ini hari dia orang lebih waspada lagi maka semuanya tidak perlu ditakuti lagi.
Sang Su-im adalah seorang manusia yang paling suka menjaga namanya sendiri, urusan ini hari dia pasti tidak akan mau menceritakan kepada orang lain, dengan sendirinya peristiwa ini haripun tidak bakal yang tahu pula.
Dia tertawa, ujarnya kepada Ciu Pak.
"Hey bocah kau sudah demikian besarnya, coba kau katakan selama hidupku ini aku paling mementingkan apa?"
Ciu Pak yang mendengar perkataan tersebut segera mengetahui apa yang sedang diartikan oleh ayahnya.
"Menurut apa yang aku tahu...."
Ujarnya cepat.
"Selama hidupnya ayah paling mementingkan perbedaan tingkat antara angkatan tua dengan angkatan muda."
Selesai berkata dengan sinar mata yang amat dingin dia melirik sekejap ke arah Koan Ing.
Koan Ing tahu ini hari dirinya sukar untuk meloloskan diri dari bencana, dia yang melihat Ciu Tong ayah beranak sengaja memperlihatkan gaya serta tindak tanduk seperti itu segera tertawa tawar, dengan perlahan matanya dipejamkan kembali untuk menyalurkan tenaga dalamnya menyembuhkan luka yang diderita.
Gong Ing Thaysu yang berdiri tertegun disana dia orang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Ciu Tong ayah beranak, tetapi di dalam hati dia merasa bergidik terhadap kekejaman serta keganasan dari Ciu Tong sehingga sepatah katapun dia tidak berani berbicara.
Ciu Tong pun di dalam hati diam-diam merasa terkejut atas ketenangan dari Koan Ing ini, tetapi pada air mukanya dia sengaja memperlihatkan sikapnya yang amat tenang, sekali lagi dia tertawa terbahak-bahak, kepada Ciu Pak ujarnya kembali.
"Orang berkata untuk mengetahui putranya harus mengetahui juga ayahnya, tetapi kau tidak malu disebut sebagai putraku karena mengetahui dengan jelas apa yang aku pikirkan di dalam hati, tetapi ini hari aku mau turun tangan menghajar seorang anak muda, kau kira bagaimana?"
"Selamanya ayah berani berkata berani berbuat...."
Ujar Ciu Pak sambil tertawa.
"Pada tempo hari bukankah Tia sudah pernah berbuat demikian, buat apa sekarang merasa kebingungan?"
Kembali Ciu Tong melirik sekejap ke arah Koan Ing, melihat dia orang sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apa pun, dia segera tertawa tawar.
"Tetapi orang ini adalah murid keponakan dari Thian-yu Khei Kiam"
Ujarnya mengejek.
"Aku merasa tidak tega untuk membinasakan dirinya, tetapi akupun tidak dapat melepaskan dirinya begitu saja."
Ciu Pak agaknya tidak tahu apa arti dari perkataan dari ayah Ciu Tong ini, dengan perlahan ujarnya.
"Siasat dari Tia tidak ada keduanya di dalam kolong langit pada saat ini, biarlah aku mendengarkan saja semua petunjuk dari Tia."
Dengan dinginnya Ciu Tong segera tertawa keras, mendadak tangan kanannya di angkat segera terlihatlah sebutir pil dengan cepatnya meluncur keluar dari tangannya.
Koan Ing yang sedang pejamkan matu untuk mengerahkan tenaga dalamnya tiba-tiba mendengar adanya segulung desiran angin tajam menyerang ke arahnya, di dalam hati merasa sangat berdesir, sepasang matanya dengan cepat dipentangkan lebar-lebar, bersamaan pula waktunya dengan menggunakan jurus "Lieh Bhe Gong Thian"
Atau kuda binal menjura ke langit dia menyambut datangnya serangan desiran angin tajam itu, Ciu Tong adalah manusia macam apa?
Kalau memandangnya dia orang sudah turun tangan sudah tentu, tidak akan membiarkan Koan Ing menyampoknya dengan amat mudah dia orang setelah melihat Koan Ing menggunakan jurus serangannya ditambah jurus serangan yang sering digunakan oleh Kong Bun-yu tempo hari membuat dia orang sudah bisa menebak delapan, sembilan bagian jurus apa yang bakal digunakan oleh Koan Ing ini.
Baru saja Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan jurus tersebut, mendadak sambaran angin tajam itu miring ke samping membuat serangannya ini mencapai pada sasaran kosong.
Dia agak melengak tetapi tidak berani berpikir lebih panjang lagi, tangan kirinya dengan cepat diangkat melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Ci Cie Thian Yang"
Atau mengukur ujung langit.
Tangan kirinya dengan sangat tepat sekali berhasil menyampok jatuh butiran pil yang disambit oleh Ciu Tong tadi.
Ciu Tong jadi melengak, dia orang sama sekali tidak menduga kalau jurus serangan "Ci Cie Thian Yang"
Ini bisa demikian sempurnanya. Dia segera mendengus dingin.
"Hemm anak murid dari Kong Bun-yu ternyata tidak jelek juga!"
Serunya.
Sembari berbicara jari tangan kanannya sekali lagi menyambitkan sebutir pil mengarah diri Koan Ing.
Kali ini dia menggunakan tenaga dalam yang jauh lebih besar, apalagi datangnya seranganpun amat cepat sekali membuat Koan Ing sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir, tangan kanannya dengan cepat membalik menggunakan jurus "Noe Chi Sin Kiam"
Atau pedang sakti mengunjuk amarah menyentil datangnya pil itu, Begitu serangan tersebut dihantam ke depan, segera terlihatlah pil itu sedikit tergetar, lalu meloncat masuk ke dalam mulutnya.
Koan Ing menjadi tertegun, dia sama sekali tidak menyangka Ciu Tong bisa menggunakan tenaga dalam yang demikian besarnya untuk menyambitkan sebutir pil saja, pada dia sedikit berayal itulah pil tersebut sudah meluncur masuk ke dalam mulutnya dan hancur terkena ludah masuk ke dalam perutnya, Di dalam sekejap saja Koan Ing hanya merasakan hawa dingin menyusup ke seluruh tubuhnya, walaupun saat ini dia memiliki tenaga dalam yang amat tinggi tetapi tidak tertahan lagi diapun bersin beberapa kali, Segulung hawa murni yang amat panas sekali mengalir memenuhi seluruh tubuh membuat tubuhnya terasa amat segar sekali.
Ciu Tong segera tertawa dingin, ujarnya kepada Koan Ing.
"Selama sembilan belas tahun ini, aku selalu berpikir ingin sekali menjadi seorang jagoan nomor wahid yang tidak terkalahkan di dalam Bu-lim. dengan seluruh tenaga yang aku punyai aku orang telah pergi ke seluruh penjuru kolong langit untuk mencari tujuh puluh dua macam bahan obat dan membuat tiga butir pil yang dibuat menurut resepku, ketiga butir pil itu setiap butirnya bisa menambah tenaga dalamku seperti sepuluh tahun latihan sehingga dengan demikian aku berhasil menjadi jagoan nomor wahid."
Dia berhenti sebentar lalu tertawa dingin, sambungnya lagi.
"Salah seorang muridku telah mencuri sebutir pilku itu. tetapi untung dia orang sama sekali tidak menyangka kalau di dalam obat tersebut sudah aku beri Sin Ciah serta Thian Ci dua macam obat racun, setelah seratus hari kemudian keempat buah anggota badannya akan berubah menjadi hitam hangus, mulutnya tidak bisa berbicara sedang tangannya tidak akan bisa bergerak lagi."
Koan Ing segera merasakan kepalanya segera digodam dengan sebuah martil yang amat berat sekali, dia tidak dapat mendengar perkataannya lebih lanjut dia cuma mendengar suara tertawa dingin dari Ciu Tong lalu pandangannya menjadi gelap....
gelap sekali....
dia jatuh tidak sadarkan diri.
Ciu Tong tertawa dingin lagi, ujarnya.
"Hmmm.... hmmm.... kecuali kau sudah bertemu dengan seorang tabib yang jauh lebih pandai dari diriku, tetapi menurut apa yang aku ketahui di dalam kolong langit saat ini tidak akan ada manusia seperti itu."
Sesaat sebelum jatuh tidak sadarkan diri Koan Ing cuma merasakan telinganya mendengung-dengung dengan amat kerasnya.
di dalam benaknya cuma berkelebat satu ingatan saja, di dalam seratus hari kemudian dia bakal menjadi seorang cacat....
dia tidak akan bisa membalas dendam atas kematian ayahnya lagi....
soal kereta berdarahpun dia tidak bisa menguntit lebih jauh....
Entah lewat beberapa saat lamanya dia baru sadar kembali dari pingsannya, sewaktu matanya dipentangkan saat itu cuaca sudah terang tanah, suasana di sekeliling tempat itu sunyi senyap tidak tampak sesosok manusiapun kecuali sesosok mayat yang menggeletak dengan keadaan yang amat mengerikan di atas tanah.
Dia mengerutkan alisnya, lantas dengan perlahan bangkit berdiri.
Di dalam sekali pandang saja dia sudah mengenal kembali kalau mayat itu adalah mayat dari Gong Ing Thaysu, akibat yang bakal diterima olehnya sejak tadi dia sudah menduga, orang semacam Ciu Tong tidak akan turun tangan ringan, terhadap dirinya saja yang ada nama Kong Bun-yu di belakangnya dia masih berani turun tangan jahat apalagi terhadap Gong Ing Thaysu?
Dengan termangu-mangu dia berdiri tertegun beberapa saat lamanya disana, sebelum ilmu silatnya musnah dia harus pergi mencari kereta berdarah itu Teringat akan diri Ciu Tong di dalam hatinya dia merasa sangat mangkel sekali, dengan cepat dia kerahkan tenaga dalamnya menghajar sebuah patung manusia yang ada di sampingnya.
"Braaaaaak.... dengan disertai suara ledakan yang amat keras patung tersebut segera terpukul hancur menjadi berkeping-keping. Dia melihatnya sebentar lalu tertawa tawar.... kekuatan tenaga dalamnya seperti latihan sepuluh tahun? Tidak lebih cuma bisa bertahan seratus hari saja.... setelah itu.... setelah itu.... dengan amat sedihnya dia menundukkan kepalanya, dengan hati perih dia berpikir.... Di atas permukaan salju yang amat tebal sekali terlihatlah seorang pemuda yang wajahnya amat murung sedang melakukan perjalanannya ke depan. Kuil yang ada di hadapannya sekarang itu bukan lain adalah kuil Jien Ko Ci yang merupakan pusat pemerintahan para Lhama di daerah Tibet. Dengan perlahan Koan Ing berjalan maju ke depan, tidak selang lama kemudian dia sudah tiba di kuil Han-poh-si yang merupakan kuil terbesar di Jien Ko Ci, dia tahu peristiwa masuknya kereta berdarah ke daerah Tibet tidak bakal salah lagi. Dia cuma tidak tahu bagaimana jejak selanjutnya dari kereta berdarah itu.... dia harus mendapatkan "Kereta berdarah"
Itu untuk membalas dendam sebelum kepandaian silatnya musnah, sedangkan untuk mendapatkan kereta berdarah itu cuma ada Hud Ing Thaysu seorang saja yang bisa memberikan bantuan yang paling besar kepadanya.
Dengan tenangnya dia berjalan masuk ke dalam kuil Hanpoh-si, terlihatlah kedua belah samping dari pintu kuil tersebut berdirilah berpuluh-puluh patung arca malaikat yang tingginya beberapa kaki, setiap arca tersebut terbuat dari emas yang menyilaukan mata, keadaannya sangat angker sekali.
Di dalam ruangan kuil itu penuh dengan asap dupa yang amat tebal, terlihatlah banyak sekali orang-orang Tibet yang sedang bersembahyang disana.
Setelah berdiri beberapa saat lamanya di depan kuil, akhirnya dengan langkah perlahan Koan Ing berjalan masuk ke dalam.
Para Lhama yang melihat Koan Ing berjalan masuk ke dalam kuil segera dengan menggunakan pandangan yang amat terkejut bercampur heran memandang ke arahnya.
Koan Ing sama sekali tidak mau ambil gubris keadaan mereka yang keheranan itu, baru saja berjalan sampai di ruangan kuil segera terlihatlah seorang Lhama tua berjalan maju ke depan Koan Ing lalu merangkap tangannya memberi hormat.
Ujarnya dengan menggunakan bahasa Han yang agak lancar.
"Tolong tanya sicu datang kemari ada urusan apa?"
Koan Ing melirik ke arah Lhama tersebut lalu mendengus tawar.
"Cayhe bernama Koan Ing, ada urusan hendak bertemu dengan Hud Ing Thaysu ciangbunjin dari kuil ini? Entah apakah Thaysu ada di dalam kuil?"
"Ciangbun Thaysu ada di ruangan sebelah belakang,"
Ujar Lhama itu sambil tertawa.
"Biarlah siauw-ceng pergi melapor, harap Koan sicu menanti sejenak di kamar samping."
Segera terlihatlah seorang hweesio cilik berjalan mendatang dan memimpin Koan Ing menuju ke kamar samping, sedangkan Lhama itupun dengan langkah yang tergesa-gesa berjalan masuk ke dalam ruangan kuil itu.
Dengan amat tenangnya Koan Ing mengikuti hweesio itu berjalan masuk ke dalam ruangan samping.
Tidak selang lama tampaklah Lhama tadi sudah berjalan datang kembali, kepada Koan Ing sambil merangkap tangannya memberi hormat, ujarnya.
"Ciangbun Thaysu mempersilahkan Koan sicu untuk bertemu di dalam ruangan tengah."
Sewaktu dia berbicara sampai disitu genta besar yang ada di kuil berbunyi tidak henti-hentinya membuat suara tersebut bergema memenuhi seluruh kuil.
Koan Ing segera mengangguk dan berjalan keluar dari kamar samping tersebut saat itu orang-orang yang sedang bersembahyang di dalam kuil itu sudah mulai pada bubaran.
Diam-diam dia kerutkan alisnya rapat-rapat, dia tidak tahu kenapa Hud Ing Thaysu harus berbuat demikian repotnya hanya untuk bertemu dengan dia orang?
Tetapi dia tidak mau berpikir panjang lagi, dengan langkah perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan sebelah dalam.
Sesampainya di dalam ruangan tengah sepasang matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke tempat itu terlihatlah tinggi ruangan tersebut ada sepuluh kaki dengan patung Buddha yang terbuat dari emas setinggi sembilan kaki berdiri dengan angkernya di tengah ruangan, asap dupa membumbung memenuhi seluruh ruangan laksana selapis kabut tebal yang melayang dekat dengan permukaan.
Koan Ing segera berdiri di tengah ruangan, waktu itu ruangan tersebut kosong tidak tampak seorangpun sehingga kelihatan jauh lebih megah, suara genta sudah berhenti para umat yang sedang sembahyang pun telah pergi, sebuah kuil Han-poh-si yang begitu besar berada di dalam keadaan sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.
Sekali lagi Koan Ing menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu, terlihatlah beratus-ratus buah patung arca dengan megahnya berdiri memenuhi sekeliling ruangan tersebut.
Mendadak....
suara genta yang amat gencar kembali bergema memenuhi angkasa, di tengah ruangan yang amat sunyi itu mendadak berkumandang datang suara nyanyian doa yang amat ramai disusul suara langkah manusia yang amat perlahan berjalan memasuki ruangan.
Diam-diam Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat lalu putar badannya, tampaklah dua puluh empat Lhama berjubah kuning dengan masing-masing membawa senjata ditangannya dengan langkah perlahan berjalan masuk ke tengah ruangan.
Sinar matanya segera berkelebat memancarkan sinar tajam dan menyapu sekejap ke arah Lhama-lhama tersebut.
Mendadak suara nyanyian berhenti disusul berkelebatnya sesosok bayangan kuning masuk ke dalam ruangan.
Wajah Lhama itu putih bersih dan segar, usianya kurang lebih baru tiga puluh tahunan, tetapi sikapnya amat gagah sekali.
Diam-diam pikir Koan Ing di dalam hati.
"Hud Ing Thaysu adalah seorang pendeta kenamaan, sekalipun aku belum pernah bertemu dengan dirinya tetapi kiranya tidak mungkin baru berusia sedemikian mudanya."
Begitu Lhama berjubah kuning itu masuk ke dalam ruangan, sepasang matanya segera memandang ke arah Koan Ing dengan tajamnya.
Diantara kedipan serta sapuan matanya itulah Koan Ing bisa menduga kalau kepandaian silatnya berada di atas diri Ciu Pak, itu putra kesayangan dari iblis sakti dari Lautan Timur, diam-diam dalam hati merasa keheranan....
Siapa sebetulnya orang itu?
Bagaimana kepandaiannya bisa begitu tingginya?
Lhama berjubah kuning itu melirik sekejap ke arah Koan Ing lalu ujarnya.
"Pinceng Husangko, entah Koan sicu mempunyai urusan apa hendak bertemu dengan suhuku?"
Dalam hati Koan Ing merasa melengak pikirnya.
"Aaaah.... kiranya orang inilah yang bernama Husangko, kalau begitu orang yang sudah mengaku sebagai Husangko sewaktu ada di sungai Tiang Kang adalah palsu. Jika dilihat gerak-geriknya jelas kepandaian silatnya berada di atas diri Ciu Pak, tetapi kepandaian silat Hud Ing Thaysu sendiri tidak lebih sejajar dengan kepandaian silat dari Ciu Tong. bagaimana dia bisa mempunyai murid yang memiliki kepandaian silat demikian tingginya?"
Tetapi mana dia tahu kalau Ciu Pak serta Sang Siauw-tan sekalian sejak kecil belajar ilmu silat tetapi dikarenakan ayahnya merupakan salah satu dan empat manusia aneh yang amat terkenal membuat mereka tidak takut terhadap siapapun sehingga sekalipun tidak belajar ilmu silat, juga tidak ada orang yang berani mengganggu mereka.
Sebaliknya Husangko sejak kecil dibesarkan di dalam kuil dan sejak kecil pula sudah diterima sebagai murid oleh ciangbunjin sehingga mau tidak mau dia orang harus berlatih setiap hari.
Koan Ing yang mendengar dia orang menyebut dirinya sebagai Husangko segera sahutnya dengan tawar.
"Aku mau bertemu dengan Hud Ing Thaysu...."
Husangko sama sekali tidak menduga Koan Ing bisa berbuat demikian tidak tahu adatnya, dia agak melengak.
Dia adalah murid tertua dari Hud Ing Thaysu sebagai ciangbunjin dari kuil-kuil daerah Tibet, mana dia orang pernah memperoleh hinaan seperti ini?
Tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang yang beribadat sehingga tidak mau mengumbar nafsu berlebihan.
Jikalau Koan sicu ada perkataan silahkan bicara dengan aku saja,"
Ujarnya halus.
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia mau bertemu Hud Ing Thaysu dengan menggunakan kedudukannya sebagai ciangbunjin dari Thian-yu-pay, tidak seharusnya Hud Ing Thaysu cuma mengirim Husangko saja untuk menemui dirinya, apalagi dia orang tidak mempunyai waktu yang banyak.
"Kalau memangnya suhumu tidak ada, yah sudahlah, aku Koan Ing mohon diri dulu,"
Sahutnya dengan amat tawar.
Sehabis berkata dia merangkap tangannya memberi hormat dan siap meninggalkan tempat itu.
Melihat sikap Koan Ing yang amat ketus dalam hati Husangko merasa amat gusar sekali.
"Tunggu dulu!"
Bentaknya sembari mendengus dingin. Waktu itu Koan Ing sudah berada di pintu sebelah depan dari kuil itu, mendengar suara bentakan tersebut dengan cepat dia putar badannya.
"Hmmm,"
Dengusnya sembari memandang beberapa saat lamanya ke arah Husangko.
"Aku Koan Ing dengan menggunakan kedudukanku sebagai ciangbunjin dari Thianyu-pay hendak bertemu dengan Hud Ing Thaysu, aku bukannya hendak bertemu dengan Hud Ing Thaysu dengan menggunakan kedudukanku sebagai seorang boanpwee."
Sehabis berkata dengan pandangan yang amat dingin dia memperhatikan diri Husangko, Sejak kecil Husangko sudah ditentukan sebagai calon pengganti ciangbunjin dari aliran Tibet sehingga sudah terbiasa bersikap congkak, kini dia orang mana bisa tahan menerima pandangan rendah dari diri Koan Ing?
Dia segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
"Untuk bsrterau dengan suhu tidak sukar"
Serunya dingin.
"Kau menyebut diri mu sebagai ciangbunjin dari aliran Thianyu-pay, seharusnya sekarang ciangbunjin harus memperlihatkan sedikit kelihayan sedikit kepadaku, asalkan kau orang bisa menangkan diriku segera aku akan membawa kau untuk bertemu dengan dia orang tua."
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera tertawa dingin.
"Bilamana kau memaksa aku orang untuk memperlihatkan kelihayanku terlebih dulu baru bisa bertemu dengan suhumu. Heeee.... heeee.... hal ini bukanlah merupakan satu persoalan yang sukar!"
Serunya mengejek.
Air muka Husangko segera berubah sangat hebat.
Jelas sekali usia dari Koan Ing ini jauh lebih kecil sepuluh tahun dari dirinya tetapi perkataannya sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirinya, bagaimana dia orang bisa tahan atas hinaan itu Ooo)*(ooO Bab 11 DIAPUN segera tertawa dingin.
"Bilamana kau bisa keluar dari pintu besar kuil Han-poh-si ini, suhuku sudah tentu bisa keluar sendiri untuk bertemu dengan dirimu."
Dengan dinginnya Koan Ing menoleh ke belakang lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun berjalan keluar dari ruangan.
Tetapi baru saja dia berjalan keluar dari pintu ruangan itu mendadak tampaklah olehnya kedua belah sampan dari pintu tersebut sudah berdiri berpuluh-puluh orang Lhama berjubah kuning dengan sikapnya yang amat angker sekali.
Tiba-tiba suara genta berbunyi kembali sebanyak tiga kali, Lhama-lhama tersebut segera pada bergeser menutupi jalan tengah.
Sinar mata Koan Ing segera berkelebat, di tengah suara suitannya yang amat nyaring tubuhnya segera meloncat ke tengah udara lalu melayang turun ke tengah jalan keluar.
Baru saja tubuhnya bergerak maju ke depan, di tengah suara bentakan yang amat keras segera tampaklah dua sosok bayangan kuning berkelebat menubruk ke arahnya, satu dari kanan yang lain dari kiri dengan dahsyatnya melancarkan serangan gencar mengancam seluruh tubuhnya.
Koan Ing segera mendengus dingin, tangan kanannya didorong ke depan dengan menggunakan jurus "Han Lin Sin Wei"
Atau dingin membeku unjuk kekuatan balas melancarkan serangan dahsyat menghajar kedua orang itu. Ilmu sakti "Thian-yu Jie Cap Su Cau"
Merupakan salah satu ilmu aneh yang amat dahsyat di kolong langit saat ini, serangan yang dilakukan dengan menggunakan tenaga dalam yang dimiliki saat ini mana bisa ditahan oleh Lhama-lhama tersebut?
Bagitu serangannya dilancarkan keluar, dari gerakan telapak segera diubah menjadi gerakan mencengkram lantas dengan dahsyatnya mencengkram tangan kanan Lhama tersebut.
"Kraaaak!"
Dengan tepatnya serangan tersebut berhasil menghajar iga dari Lhama tersebut.
Sang Lhama yang terkena serangan dahsyat dari Koan Ing seketika itu juga ada dua kerat tulang iganya terpukul patah dia segera mendengus berat tubuhnya dengan kerasnya menubruk ke arah sebuah patung arca.
Koan Ing sama sekali tidak berkedip lagi, tangan kanannya kembali menyambar mencengkram Lhama yang satunya lagi lalu melemparkannya ke arah patung arca yang ada di sekeliling ruangan "Braaaak....!"
Seketika itu juga patung arca yang terbuat dan emas itu tertumbuk rubuh berantakan di atas tanah.
Baru saja tubuhnya melayang turun ke atas permukaan tampaklah kembali ada lima enam orang Lhama berjubah kuning dengan disertai suara bentakan yang amat keras pada menubruk ke arahnya.
Begitu ujung kaki kiri dari Koan Ing menginjak permukaan tanah tubuhnya mendadak dengan merendah berputar satu lingkaran, di tengah pentangan tangannya kembali ada dua orang Lhama berjubah kuning terlempar jatuh dengan kerasnya.
Patung arca yang memenuhi seluruh ruangan itu segera pada rubuh berantakan ke atas tanah membuat debu serta bekas-bekas salju pada berhamburan memenuhi angkasa.
Husangko yang saat ini sedang menjaga di pintu depan kuil sewaktu melihat kejadian ini diam-diam dalam hati merasa bergidik juga, bukan saja jurus-jurus serangan yang digunakan Koan Ing ini amat aneh dan belum pernah ditemui bahkan tenaga dalam yang dimiliki jauh melebihi tenaga dalamnya sendiri.
Kedua puluh empat Lhama berjubah kuning yang terbagi menjadi dua bagian dan berdiri di samping Husangko itu segera pada maju ke depan menyerbu diri Koan Ing.
Koan Ing yang melancarkan serangan-serangannya dengan menggunakan jurus-jurus aneh berturut-turut melemparkan lima, enam orang ke tempat kejauhan memaksa orang-orang itu pada ketakutan dan mengundurkan dirinya ke belakang, mendadak dia bisa melihat kalau kedua puluh empat Lhama berjubah kuning itu dengan membawa senjata yang aneh-aneh mulai menerjang ke arah dirinya.
Di tengah suara bentakan yang amat keras tampaklah sepasang gelang berganda sudah menghajar ke arah pundak kanannya.
Koan Ing segera mendengus dingin, tubuhnya merendah ke bawah diantara berkelebatnya bayangan tangan dia sudah mencabut keluar pedang Kiam Hong Kiam-nya.
Dia segera membentak keras, pedang Kiam Hong Kiamnya dengan disertai suara dengungan yang amat keras segera membentuk gerakan busur yang amat besar, dengan menggunakan jurus "Thian Hong si Lan"
Atau angin langit meniup ombak melancarkan serangan dahsyat ke depan.
Pedang di tangannya mendadak membelok ke bawah, sewaktu Lhama itu dibuat tertegun tangannya sudah terasa menjadi kaku,sepasang gelang berganda yang ada di tangannya sudah berhasil dipukul mental oleh pedang panjang Koan Ing.
Pada saat yang bersamaan itulah terasa sebuah toya dengan disertai desiran angin pukulan yang amat keras menghajar punggungnya, bahkan masih ada empat, lima buah senjata aneh dengan disertai desiran angin dahsyat pula bersama-sama menyerang tubuhnya.
Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, musuh demikian banyaknya apakah dengan kekuatan seorang diri dia masih mampu menghadapi mereka semua?
Pikirannya segera berputar, kaki kanannya mendadak bergeser maju ke samping tubuh Lhama bersenjatakan toya itu, pedang panjangnya dengan disertai suara sambaran yang amat tajam ditarik kembali ke belakang, inilah jurus "Han Lin Sin Wie"
Yang amat dahsyat.
"Ilmu sakti Thian-yu Jie Cap Su Cau"
Bukan saja di dalam ilmu telapak bahkan di dalam jurus-jurus pedangpun mempunyai perubahan-perubahan aneh yang amat banyak sekali, apalagi untuk menghadapi para jago dari daerah Tibet yang jarang pergi ke daerah Tionggoan, sewaktu menghadapi jurus-jurus aneh untuk pertama kalinya tidak urung dibuat kalang kabut juga, dengan demikian seluruh peranan ada di tangan Koan Ing seorang.
Begitu Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan jurus tersebut, Lhama itu segera terdesak dan dengan gugupnya menarik kembali toyanya untuk melindungi tubuh sendiri.
Sambaran angin tajam yang melanda ke belakang badannya, tangan kiri Koan Ing cepat-cepat dibabat ke belakang mencengkram Lhama tersebut, dia segera membentak keras tubuhnya membalik ke belakang.
Empat lima Lhama lainnya segera pada ketakutan dan cepat-cepat menarik kembali serangannya untuk mengundurkan diri ke belakang.
Koan Ing segera kerahkan tenaganya melemparkan Lhama tersebut ke tempat kejauhan, dengan meminjam tenaga lemparan tersebut diapun melayangkan tubuhnya keluar kuil, Baru saja tubuhnya mencapai tengah udara tiba-tiba terdengarlah suara seruang yang amat dingin sekali.
"Hmm.... hmmm mau keluar dari kuil Han-poh-si? Tidak mudah kawan!"
Sekali dengar saja Koan Ing segera mengetahui kalau suara itu berasal dari diri Husangko, sinar matanya dengan cepat berkelebat ke arahnya Tampaklah tubuh Husangko sudah melayang menghalangi perjalanannya, toya berlapiskan emas yang ada di tangan kanannya segera dibabat ke depan menyambut datangnya tubuh Koan Koan Ing segera mendengus dingin, pedang panjangnya berputar satu lingkaran di tengah suara dengungan ringan yang memekakkan telinga dengan menggunakan jurus "Hay Ciauw Thian Yang"
Atau pojok laut ujung langit pedangnya membentuk gerakan busur lalu menusuk ke pundak kanan dari Husangko.
Husangko adalah murid tertua dari Hud Ing Thaysu itu jagoan nomor wahid di daerah Tibet, sudah tentu kepandaian silatnya tidak bisa dibandingkan dengan Lhama2 lainnya, tubuhnya segera mencelat ke samping dengan melintangkan toyanya ke depan menghalangi jalan pergi dari Koan Ing.
Toyanya segera dicukil dan dibabat menghajar lambung dari Koan Ing, inilah jurus "Kiem Kong Ciang Mo"
Atau malaikat sakti penakluk hantu dari "Hu Mo Chiet"
Atau ilmu toya penakluk iblis yang paling diandalkan oleh jago-jago di daerah Tibet.
IImu toya penakluk iblis ini menjadi tenar dikarenakan mengandalkan tenaga dalam yang amat dahsyat, sebaliknya walaupun "Thian-yu Jie Cap Su Kiam"
Merupakan sebuah jurus pedang yang amat aneh tetapi alirannyapun menganut kekerasan.
Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, pedang panjangnya ditekan ke bawah lalu menggencet serangan musuh, inilah jurus "Ban Sin Peng To""
Atau selaksa malaikat menenangkan ombak, dengan amat tepatnya toya Husangko cuma merasakan toyanya menjadi amat berat laksana ditindihi dengan gunung Thay san.
Dia jadi sangat terperanjat, di tengah suara bentakan yang amat keras toyanya dicabut ke belakang lalu balik menghajar tubuh Koan Ing.
Koan In tidak mau bertempur lebih lanjut, begitu Husangko mencabut kembali toyanya diapun dengan meminjam ke sempatan ini meloncat ke atas.
Husangko yang melihat serangannya tidak mencapai sasaran bahkan Koan Ing pun mau meninggalkan tempat tersebut, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas, ujung kaki kanannya menutul atas kepala arca emas disana, lalu laksana seekor bangau kuning yang menembus awan di tengah suara bentakan gusar yang amat keras tubuhnya bagaikan kilat cepatnya sekali lagi menghalangi perjalanan dari Koan Ing.
Koan Ing yang melihat Husangko menghalangi perjalanan perginya lagi, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.
Bilamana tubuhnya sampai terjatuh ke atas permukaan tentu tidak ada cara lagi untuk keluar dari kuil itu.
Pikirannya segera berputar, pedang panjangnya mendadak berkelebat membabat pergelangan tangan dari Husangko.
Husangko dengan dinginnya mendengus, tangan kanannya digetarkan toyanya dengan mendatar menghantam dada Koan Ing, sedangkan jari tengah serta jari telunjuk tangan kirinya menotok ke badan pedang Koan Ing.
Saat ini Koan Ing sudah punya perhitungan masak, dia segera membentak gusar pedangnya miring kes amping....
"Tiiiing!"
Gagang pedangnya dengan amat tepat sekali berhasil menyapu ujung toya dari Husangko.
Tangan kirinya dengan meminjam sewaktu toya di tangan Husangko rada perlahan segera menangkap ujung toyanya, tubuhnya dengan meminjam gerakan tersebut melayang ke atas, ujung kaki kanannya dengan amat dahsyatnya menghajar ke atas wajah Husangko, Gerakan dari Koan Ing yang amat aneh dan dahsyat ini sama sekali tidak memberikan waktu buat Husangko untuk berpikir lebih panjang lagi, Husangko sama sekali tidak menduga kalau Koan Ing bisa melancarkan jurus serangan yang demikian anehnya, saking terperanjatnya dia menjadi tertegun lalu cepat-cepat melepaskan tangannya.
Koan Ing yang berhasil merebut toya pihak lawan di dalam hati punya maksud untuk menjajal kepandaian silatnya lebih lanjut, tangan kirinya dengan cepat ditarik kembali.
Di tengah suara suitan yang amat nyaring.
"Nguuuung!"
Dengan menggunakan tenaga dalamnya dia berhasil menggetarkan toya tersebut sehingga berubah menjadi gerakan busur yang amat besar.
Pedang panjang di tangan Koan Ing cepat-cepat ditarik kembali, tangannya yang sebelah segera mencekal ekor toyanya lalu ditarik dengan keras ke belakang, sebuah toya yang terbuat dari baja murni seketika itu juga berubah menjadi sebuah benda bulat.
Di tengah suara sultannya yang amat nyaring patung emas tersebut sudah ditendang terbalik lalu toya di tangan kirinya dengan kerasnya disambit ke depan dan menancap pada mata dari patung yang tertendang terbalik itu.
Pameran kesaktian yang dilakukan Koan Ing ini seketika itu juga membuat para lhama dari kuil Han-poh-si pada berdiri melongo, matanya terbelalak lebar-lebar, tak seorangpun yang mengucapkan kata-kata....
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan bisa memiliki kepandaian yang demikian tingginya.
Siapa yang percaya kalau dia memiliki tenaga dalam yang amat tinggi sekali?
Tubuh Koan Ing dengan cepat melayang ke depan kuil, baru saja tubuhnya hendak melayang turun ke atas permukaan mendadak tampak berkelebatnya sesosok bayangan kuning, kembali seorang Lhama menghadapi perjalanannya.
Koan Ing tidak mau ambil perduli lagi, tubuhnya yang masih ada di tengah udara segera berjumpalitan lalu dengan kecepatan bagaikan kilat kaki kanannya melancarkan tendangan dahsyat menghajar dada hweesio tersebut.
Tetapi baru saja tendangannya dilancar kan hweesio itu sudah melayang kembali menghalangi tepat di depan tubuhnya.
Koan Ing menjadi tertegun, dia sama sekali tidak menyangka kalau di depan pintu kuil itu masih ada seorang hweesio yang berkepandaian tingginya menghalangi perjalanan selanjutnya, matanya dengan cepat berputar terlihatlah orang itu bukan lain adalah seorang hweesio tua yang kurus kering.
Dengan cepat Koan Ing menarik kembali kaki kanannya lantas dengan dahsyat sikut kanannya didorong mengancam iga hweesio itu.
Dengan suara yang amat berat hweesio itu segera memuji keagungan Buddha, begitu serangan Koan Ing mencapai pada sasarannya dia segera merasakan dari iga hweesio tua itu memancar keluar tenaga pantulan yang amat keras sekali membuat tubuhnya tidak kuasa lagi tergetar mundur satu langkah ke belakang.
Tampak hwesio itu dengan wajah tenang berdiri di hadapannya, ujarnya dengan suara berat.
"Loolap adalah Hud Ing, Koan sicu ada urusan apa mencari aku orang?"
Koan Ing menjadi sangat terperanjat dia sama sekali tidak menyangka kalau jagoan nomor wahid dari daerah Tibet ternyata merupakan seorang hweesio tua yang sama sekali tidak terpandang mata, tidak terasa lagi dia menjadi termangu-mangu dibuatnya.
Dengan amat dinginnya sekali lagi Hud log Thaysu memperhatikan seluruh tubuh Koan Ing.
"Hmm.... sungguh dahsyat kepandaian silat dari Siauw sicu,"
Ujarnya dingin.
Koan Ing pun dengan pandangan tajam memperhatikan diri Hud Ing Thaysu, tampaklah diantara berkelebatnya sinar mata serentetan cahaya tajam memancar ke luar tak henti-hentinya, jelas sekali kalau kepandaian silat Yang dimilikinya amat tinggi sekali, agaknya tidak berada di bawah tenaga dalam Ciu Tong "Koan sicu...."
Terdengar Hud Ing Thaysu berkata kembali dengan suara yang amat berat.
"Sekalipun kau orang hendak menemui aku dengan menggunakan sebagai seorang ciangbunjin suatu parlai, tapi di dalam pandanganku, Koan sicu tidak lebih cuma seorang dari angkatan muda saja."
Selesai berkata sinar mata tajamnya memperhatikan dirinya kembali, tambahnya.
"Urusan ini hari apakah Koan sicu mau menyerah dibelenggu untuk minta maap ataukah hendak memaksa Loolap menjajal-jajal kepandaian silat Thian-yu Khie Kangmu?"
Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa berdebar, ujarnya kemudian dengan dingin pula.
"Chayhe minta bertemu dengan menggunakan peraturan dan adat sebaliknya anak muridku pada goblok dan kasar, sekalipun aku cuma seorang dari angkatan muda tetapi jelek2pun merupakan seorang ciangbunjin dari satu partai, bukannya Thaysu menyalahkan murid-muridmu kenapa sekarang malah suruh aku meminta maaf kepadamu?"
Hud Ing Caysu dengan dinginnya mendengus, sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke sekeliling ruangan itu, terlihatlah ada puluhan orang anak muridnya terluka parah dan separuh lebih arca2 emasnya rubuh berantakan, tidak terasa lagi hal ini membuat hawa amarahnya semakin membara.
"Seorang ciangbunjin dari partai besar!"
Serunya dengan amat dingin.
"Sungguh besar omonganmu.... hmmm.... hmm sekalipun Kong Bun-yu datang sendiri kesinipun tidak seharusnya berbuat demikian gegabah"
Koan Ing tahu dia orang bukanlah tandingan dari Hud Ing Thaysu, tetapi sikap dari Hun In Thaysu yang demikan tidak memandang hormat terhadap seorang ciangbunjin dari "Thian-yu-pay"
Membuat hatinya merasa sangat tidak puas, dia segera tertawa dingin.
"Hmmm?.... heee.... heeee aku Koan Ing ingin sekali menjajal kepandaian "Thay Su Ing"
Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 2
Baca Juga: Bara Maharani 1